Ceritasilat Novel Online

Pendekar Patung Emas 2

Eps 2 Pendekar Patung Emas - Qing Hong

Baca online Pendekar Patung Emas - Qing Hong

Cersil Pendekar Patung Emas - Qing Hong.

"Mana.. mana"

Ujar Ti Then dengan merendah "Bilamana tadi Hong heng menjerang dengan sekuat tenaga kemungkinan sekali boanpwe tidak akan bisa menahan serangan tersebut "

Sehabis berbicara dengan sangat hormat sekali dia menjerahkan pedang ditangannya kepada Hong Mong Ling.

Terdengar Wi Ci To tertawa terbahak bahak, tanyanya "Apakah Ti-heng pernah berpesiar ke atas gunung Go-bi ini?"

"Belum pernah"

Sahut Ti Then.

"Hanya aku dengar di atas gunung Go bi ada puncak Ban hud Ting, Kim Teng serta Jian Pay Teng sebagai tiga tempat yang terindah di atas gunung ini, pada waktu yang lalu boanpwe memang punya niat untuk berpesiar ke sana."

Dengan perlahan Wi Ci To menoleh memandang kearah Shia Pek Tha, ujarnya "Pek Tha, kau temanilah Ti-heng berpesiar ke atas gunung, nanti siang cepat pulang untuk makan siang."

Shia Pek Tha segera membungkukkan diri menyahut, kepada Ti Then sambil tertawa ujarnya.

"Entah Lo-te ini hari punya minat untuk berpesiar tidak ?"

"Sudah tentu."sahu Ti Then sambil tersenjum. Kedua orang itu sesudah berpamit kepada Wi Ci To serta Huang Puh Kiam Pek dua orang segera meninggalkan halaman belakang untuk berpesiar keluar Benteng. Wi Ci To sesudah melihat bajangan tubuh Ti Then lenyap dari pandangan mendadak air mukanya berubah menjadi amat keren, sinar matanya dengan sangat tajam memandang kearah Hong Mong Ling sambil ujarnya dengan berat.

"Mong Ling, kau tahu tidak untuk menjadi seorang pendekar pedang harus memperhatikan hal apa?-.

"Silahkan.suhu memberi petunjuk."

Sahut Hong Mong Ling sambil menundukkan kepalanya rendah-rendah.

"He .-. he.."

Ujar Wi Ci To sambil tertawa dingin.

"Bilamana kau sudah lupa maka aku akan memberitahu padamu sekali lagi, seorang yang berlatih ilmu silat yang terpenting adalah jujur, berbudi dan ramah, jangan sekali-sekali merasa sombong bila mendapatkan kemenangan. dan jangan iri atau mendendam bilamana dikalahkan oleh orang lain."

"Benar suhu"

Sahut Hong Mang Ling dengan wajah yang penuh bernadakan kekecewaan.

"Hmm... tadi betul-betul kau sedang mengadu jiwa, kelihatannya kau benar-benar benci kepadanya sehingga ingin sekali membunuh dirinya dalam satu kali tusukan karena apa?"

"Muridmu tahu kesalahan, karena muridmu tahu kalau ilmu pedangnya amat tinggi dan hebat maka perasaan ingin menrang segera timbul di dalam hatiku, di samping itu ...aku ingin .. aku ingin mencoba-mencoba .."

"Mencoba apa?"

Bentak Wi Ci To dengan keras.

"Muridmu curiga kalau dia kemungkinan sekali adalah orang berkerudung yang kemarin malam mencegat muridmu ditengah jalan!"

Hati Wi Ci To menjadi tergerak, sambil memandang tajarn kearahnya ujarnya "Bukankah kemarin kau bilang orang berkerudung itu berusia kurang lebih lima puluh tahunan?"

"Hal ini adalah dugaan dari muridmu berdasarkan suara ucapannya, tetapi mungkin juga suaranya disengajakan begitu"

Sinar mata Wi Ci To berkedipit tanyanya lagi "Dia mem punyai alasan apa menyamar sebagai orang berkerudung memukul rubuh kau kemudian menolong kau kembali?,"

"Tujuannya kemungkinan sekali meminyam kesempatan ini memasuki benteng dengan kedudukan dan pandangan sebagai seorang tamu terhormat, seudah itu secara diam-diam melakukan sesuata pekerjaan yang mendatangkan bencana bagi benteng kita" -Hm ."Dengus Wi Ci To.

""tetapi benteng kami sama sekali tidak punya ganyalan apa-apa dengan dirinya dia mem punyai alasan apa untuk berbuat sesuatu yang jelek bagi benteng kita?"

"Penyahat di dalam menyalankan perampokannya juga tidak menggunakan alasan yang kuat "

"Tetapi sipendekar baju hitam Ti Then itu bukan merupakan orang dari kalangan Hek-to "Tidak,"

Potong sipedang naga perak Huang Puh Kiam Pek.

"selama beberapa sekali pun sipendekar baju hitam Ti Then itu bertindak sebagai seorang pendekar budiman tetapi hati manusia ditutup dengan kulit yang tebal siapa pun tidak bisa mengetahui dia seorang yang balk atau seorang yang buruk "

Dengan perlahan Wi Ci To mengalihkan pandangannya kearahnya ujarnya. Siauw-heng masih tidak dapat terpikir juga dengan menggunakan alasan apa dia memasuki benteng kita untuk melakukan pengacauan ."

"Hmm . dengus Huang Puh Kiam Pek dengan dinginnya.

"dia tidak mau menyebutkan asal usul serta nama suhunya, mungkin sekali suhunya adalah sipendekar pedang tangan kiri, Cian Pit Yuan Wi Ci To mengerutkan alisnya rapa-rapa, ujarnya ."Tetapi Ti Then sama sekali tidak menggunakan tangan kirinya untuk bergebrak".

"He..he..urusan sudah lewat dua puluh tahun lamanya, kemungkinan sekali Cian Pit Yuan sudah menciptakan ilmu baru yang tidak perlu menggunakan tangan kiri lagi Tak terasa lagi sambil menggendong sepasang tangannya Wi Ci To berjalan bolak balik_ di dalam ruangan itu, setelah berpikir sejenak ujarnya.

"Ehm ..Cian Pit Yuan jadi orang tidak terlalu jahat hanya saja sifatnya terlalu berangasan apabila dia hendak membalas dendam atas terpapasnya telinga sebelah kanannya kenapa tidak datang berkunjung sendiri ??"

"Suhu"

Seru Hong Mong Ling."Bagaimana pun juga cara berpikir dari seorang pengecut tidak dapat ditangkap oleh pikiran orang budiman, kemungkinan sekali Cian Pit Yuan sama sekali sudah tidak punya maksud untuk mengadakan pertandingan secara blak blakan dengan suhu."

Wit Ci To menghela napas panjang ujarnya Bilamana sipendekar baju hitam itu benar benar merupakan murid Cian Pit Yuan, dengan kelihayan dari Ti Then saat ini kemungkinan sekali aku sudah bukan merupakan tandingannya, dia masih punya pegangan yang amat kuat untuk menantang pertempuran secara terang terangan."

Menurut dugaan dari tecu"

Ujar Hong Mong Ling.

"Mungkin dikarenakan Cian Pit Yuan belum mengetahui kepandaian yang diciptakan itu apa bisa memukul rubuh suhu oleh sebab itulah mengirim Ti Then terlebih dahulu untuk menjelidiki keadaan sesungguhnya"

Wi Ci To mengangguk dengan perlahan sekali lagi dia berjalan bolak balik mengitari ruangan itu, ujarnya kemudian.

Apa yang kau duga mernang sangat beralasan sekali tetapi bagaimana pun juga hal ini hanya dugaan belaka, kita tidak dapat menyalahi orang lain sebelum mendapatkan bukti yang nyata .."

"Tetapi..suhu, mungkin bilamana, kita berhasil mendapatkan bukti kalau dia adalah murid dari Cian Pit Yuan, saat itu sudah terlalu terlambat"

Tiba-tiba Wi Ci To menghentikan langkahnya, dengan pandangan yang amat tajam tanyanya.

"Menurut kau kita harus berbuat bagaimana untuk menghadapinya?"

"Siapa yang turun terlebih dahulu dialah yang kuat, buat apa kita meninggalkan bencana dikemudian hari." ---ooo0dw0ooo---"Omong kosong"

Bentak Wi Ci To dengan amat gusarnya. Tubuh Hong Mong Ling segera tergetar dengan kerasnya, sambil menundukkan kepalanya sahutnya.

"Bagaimana pun juga seharusnya di dalam pikiran tecu tidak boleh mem punyai pikiran seperti ini, tetapi untuk keutuhan di kemudian hari bila kita tidak berbuat demikian.."

"Tidak usah ngomong lagi"

Potong Wi Ci To dengan amat gusar.

"Sebelum kita berhasil mendapatkan bukti penjelewengan dari dirinya, aku melarang kalian untuk bertindak secara gegabah.

"Baik"

Sahut Hong Mong Ling dengan sangat hormat. Kemudian kepada Huang Puh Kiam Pek ujarnya pula.

"Sute, kau mengutus dua orang pendekar pedang merah untuk siang malam mengawasi segala gerak gerik dari Ti Then bilamana terlihat sesuatu yang mencurigakan harus segera lapor tetapi seluruh gerak gerik kita jangan sampai diketahui olehnya.

"Baik."

"Hmm..ooh masih ada lagi, kirim dua orang lainnya siang malam jaga itu loteng penyimpan kitab" ---ooo0dw0o000---Pada siang hari itu pula terlihatlah Ti Then bersama dengan Shia Pek Tha dengan langkah yang perlahan berjalan kembali ke dalam Benteng. Dengan resmi segera Wi Ci To mengadakan jamuan menyambut kedatangan Ti Then, orang-orang yang menemani Ti Then saat itu masih tetap Huang Puh Kiam Pek, Shia Pek Tha, Hong Mong Ling serta Wi Lian In, di dalam jamuan itu pembicaraan mereka tidak lebih berkisar pada persoalan ilmu pedang dari berbagai partai di dalam dunia persitatan, juga tiba-tiba bahan pembicaraannya telah berputar tentang diri Ti Then. Sambil tertawa ujar Huang Pub Kiam Pek.

"Ti-heng lohu punya sesuatu pertanyaan yang merasa tidak enak untuk ditanyakan, harap kau jangan sempai tersinggung .

"Tidak mengapa.. tidak mengapa, silahkan cianpwe untuk bertanya""

Sambil menuding kearah Shia Pek Tha"

Ujarnya.

"Tahun yang lalu, ketika Ti-heng membantu Pek Tha memukul mundur Hoa San Ji koay, pada saat Pek Tha pulang ke dalam Benteng pernah menceritakan hal itu dengan amat teliti sekali, saat itu Pek Tha bilang katakan ilmu pedang dari Ti-heng berada diantara pendekar pedang putih serta pendekar pedang merah dari Benteng kami, dengan bukti dari hari ini terbukti kalau penglihatan dari Pek Tha sama sekali salah besar tetapi sekali pun telah melihat juga seharusnya tidak terlalu jauh perbedaannya, sesudah peristiwa dikota Tiang An ini apa mungkin Ti-heng telah menemui sesuatu peristiwa yang aneh?"

"Tidak ada"

Sahut Ti Then cepat.

"Di dalam satu tahun ini boanpwe memang merasa kepandaianku telah mengalami kemajuan yang amat pesat hal ini kemungkinan sekali dikarenakan pengalaman yang terlalu banyak yang boanpwe alami, hal ini tidak bisa disebut sebagai suatu peristiwa yang aneh."

"Bilamana dikarenakan dari pengalaman yang didapat, maka asalkan Ti heng berkelana lagi selama beberapa tahun di dalam dunia Kangouw tentunya akan jauh lebih hebat lagi ?"

"Cianpwe terlalu memuji, padahal kesempurnaan yang boanpwe dapatkan ini masih jauh lebih rendah jika dibandingkan dengan kalian berdua Pocu."

Tiba tiba Wi Lian In membuka mulut bertanya.

"Toako, bagaimana pandanganmu terhadap kami orang-orang dari Benteng Pek Kiam Po ini??"

"Kepandaian dari ajahmu sangat tinggi ..."

"Kita tidak usah membicarakan soal kepandaian silat "

Potong Wi Lian In dengan cepat. Ti Then menjadi tertegun sejenak kemudian barulah ujarnya.

"Pendekar pedang dari Benteng Pek Kiam Po ini tidak ada seorang pun yang bukan merupakan pendekar pedang kenamaan jadi orang sangat budiman di dalam dunia kangouw pun sangat sering menolong yang lemah menindas yang kuat, oleh karena itu cayhe amat kagum dan menghormati orang-orang ini" -ooo0dw0ooo-

Jilid 4.1. Ti Then, ilmu silat mu mencengangkan! "Kalau begitu"

Ujar Wi Lian In sambil tersenjum.

"Kita dapat menjadi kawanmu sedang kau pun dapat menjadi kawan kami, benar tidak ?"

"Tidak salah"

Sahut Ti Then sambil tersenjum. Wi Lian In tersenjum lagi, ujarna.

"Tetapi sajang sekali sekali pun kau memandang kami sebagai kawan tetapi sebaliknya kami tidak bisa menganggap kau kawan"

Dengan terburu-buru bentak Wi Ci To.

"In ji, jangan ngomong sembarangan ?"

"Ha ..ha .. ha ha . ha "

Udiar Ti Then sambil tertawa terbahak-bahak.

"Perkataan dari nona Wi ini tentu mem punyai maksud yang sangat mendalam, dapat kah nona menjelaskan lebih teliti lagi?"

"Kami senang berkawan dengan seorang teman yang suka berterus terang, sedang kau sekali pun memandang kami orang-orang dari Benteng Pek Kiam Po sebagai teman tetapi tidak mau berterus terang kepada kami ? "Ha .. ha...lalu nona Wi ingin cayhe berterus terang dalam hal apa sehingga bisa menjadi teman ? "Bilamana kau merasa kalau kami merupakan kawan-kawan yang dapat dipercaya dan merupakan kawan-kawan karib, maka seharusnya kau memberi tahukan kepada kami asal usul serta nama dari suhumu"

"Ooh ..begitu?"

Sahut Ti Then sambil tertawa. Ha... ha benar ? Nona memang seharusnya menyalahkan diri cayhe ..?"

"Ehm Ti-heng harap jangan marah atas kelancangan dari putriku ini."

Ujar Wi Ci To sambiftertawa paksa.

"Tidak"

Ujar Ti Then sambil gelengkan kepalanya.

"Boanpwe memang seharusnya memberitahukan nama dari suhuku, kemarin malam boanpwe tidak mau menyebutkan dikarenakan boanpwe merasa sekali pun disebut Wi Pocu juga tidak akan percaya."

".Ha, ha, ha . mata Lohu belum sampai kabur, perkataan dari siapa pun dapat mempercayainya tetapi perkataan dari siapa pun juga bisa tidak dipercaya masih bisa melihatnya sendiri -Kalau begitu Wi Pocu mau percaya atas perkataan dari boanpwe?"

"Sudah tentu"

Sahut Wi Ci To sambil mengangguk.

"Baiklah, sekarang juga boanpwe akan beritahu nama dari suhuku Dengan perlahan dia angkat cawannya yang berisikan arak dan diteguknya dengan perlahan-lahan. Lagaknya mirip sedang menceritakan suatu cerita biasa ujarnya kemudian "Jika boanpwe katakan mungkin saudara sekalian tidak akan percaya, suhu cayhe adalah seorang Bu Beng Lojin atau orang tua tanpa nama.

"Bu Beng Lojin?"

Tanya Wi Ci To dengan keheran-heranan sedang sinar matanya dengan, tajam memandang wajahnya.

"Benar"

Sahut Ti Then sambil menundukkan kepalanya. ...Boanpwe belajar silat selama delapan tahun darinya tetapi selama ini dia tidak pernah mengijinkan boanpwe untuk mengetahui namanya...

"Kenapa dia berbuat demikian? "

Ti Then tertawa pahit, sahutnya "Siapa yang tahu, setiap kali boanpwe mohon dberi tahu nama besar dari dia orang tua maka setiap kali pula dia bilang kalau "Nama"nya sudah binasa beberapa tahun yang lalu, agaknya dia orang tua pernah mengalami peristiwa menjedihkan yang menimpa dirinya pada masa yang lalu"

"Lalu kenapa dia menerima kau sebagai muridnya?"

"Dia bilang manusia boleh mati tetapi kepandaian silat tidak boleh musnah, dia tidak tega melihat kepandaiannya ikut terkubur bersama tubuhnya oleh karena itulah menerima boanpwe sebagai muridnya, bahkan dia sudah membuat peraturan yang sangat keras bagi diri boanpwe asalkan boanpwe berani berbuat kejahatan maka dengan tanpa am pun dia akan mencabut nyawa boanpwe."

"Wajah dari suhumu apakah Ti-heng mau juga melukiskan? ujar Wi Ci To.

"Boleh"

Sahutnya sambil tersenjum.

"Rambutnya sudah berubah dan memutih semuanya, sedang usianya kurang lebih delapan puluh tahun lebih bentuk tubuhnya sedengan hanya saja matanya yang sebelah sudah cacad, agaknya terluka oleh semacam benda semasa mudanya."

Wi Ci To menundukkan kepalanya her pikir, kemudian tanyanya lagi "Apa suhumu sendiri yang bercerita kalau matanya itu terluka semasa dia masih muda?"

"Tidak, hanya dugaan dari boanpwe sendiri "

"Selain sebelah mata dari suhumu yang cacad, apa masih terdapat anggota badan lain yang cacad?"

Timbrung Huang Puh Kian pek.

"Tidak ada"

Sahutnya sambil menggelengkan kepalanya.

"Telinganya juga tidak cacad?"

"Tidak"

Sahutnya sambil menggeleng kan kepalanya kembali.

"Suhumu apa sering memakai tangan kiri mengambil barang?"

"Ha ..ha ... ha .."

Sahut Ti Then sambil tertawa tergelak.

"Huang Puh cianpwe apa mencurigai suhuku adalah sipendekar pedang tangan kiri Cian Pit Yuan? Bukan, bukan . .. suhuku bukan sipendekar tangan kiri Cian Pit Yuan."

Air muka Huang Puh Kian pek segera berubah menjadi merah padam sambil angkat bahu ujarnya.

"Maaf, maaf sekali, di dalam dugaan Lohu hanya tahu bahwa di dalam Bu-lim saat ini selain sipendekar tangan kiri Cian Pit Yuan sebenarnya tidak mungkin ada orang lain yang bisa melatih kepandaian silat setinggi apa yang dimiliki Ti-heng saat ini."

"Ada satu kali"

Ujar Ti Then.

"Suhu pernah bercerita kalau dia orang tua sudah mengundurkan diri dari kalangan dunia kangouw pada lima puluh tahun yang lalu, maka bilamana Huang Puh cianpwe ingin mengetahui dengan jelas siapakah suhuku itu seharusnya pergi mencari jago-jago yang terkenal pada lima puluh tahun yang lalu"

"Ha . ha ..lima puluh tahun yang lalu Lohu masih ingusan"

"Lohu ini tahun juga baru berusia enam puluh satu.-sambung Wi Ci To sambil tertawa "pada lima puluh tahun yang lalu baru berusia sebelas tahun, saat itu lohu belum belajar silat"

"Lalu dimana tempat tinggal dari suhumu ?"

Ujar Hong Mong Ling dengan cepat.

"Sejak dia orang tua menerima siauwte sebagai muridnya selalu tinggal bersama dengan siauw-te di dalam sebuah gua di atas gunung Kwua Cang San, pada tiga tahun yang lalu dia memerintahkan siauw-te turun gunung berkelena di dalam dunia kangouw, pada tahun kedua siauwtle pernah satu kali naik ke atas gunung tetapi sudah tidak tampak dia orang tua berdiam di dalam gua, maka tempat tinggal dari dia orang tua sekarang ini sekali pun siauw-te sendiri juga tidak tahu"

"Jika demikian adanya suhumu sudah tidak ingin bertemu lagi dengan Ti-heng."

Ujar Hong Mong Ling..

"Jika dilihat keadaannya memang begini"

Sahut Ti Then dengan sedih.

"Tadi Siauw-te pernah bilang bahwa dia mewarisi Siauw-te ilmu silat semuanya adalah dikarenakan dia tidak tega melihat kepandaian silatnya turut dengan tubuhnya, jika bicara dalam perhubungan antara guru dengan murid boleh dikata sangat tawar sekali."

Dengan wajah yang sangat serius ujar Wi Ci To.

"Jika didengar dari perkataan ti-heng suhumu pada usia tiga puluh tahun sudah mengundurkan diri dari Bu-lim agaknya pernah mengalami suatu peristiwa yang menjedihkan hatinya sehingga di dalam keadaan yang putus asa dia berbuat demikian"

Ti Then hanya mengangguk tanpa mengucapkan sepatah kata pun.

"Kepandaian silat dari suhumu apakah mengandalkan ilmu pedangnya yang paling lihay?"

Tanya Wi Lian In tiba-tiba.

"Tidak,Kepandaiannya di dalam ilmu pukulan, telapak serta ilmu meringankan tubuh baru boleh dikata merupakan ilmu tunggalnya"

"Seluruh kepandaiannya sudah kau kuasai?"

"Benar."

Sahut Ti Then mengangguk.

"Hanya bakat cayhe ada batasnya sekali pun sudah berhasil mempelajari seluruh ilmu silat dari suhuku tetapi belum mencapai pada kesempurnaan."

Teringat oleh Wi Lian In akan ilmu pedangnya sudah demikian mengejutkan bilamana ilmu pukulan serta ilmu meringankan tubuhnya jauh lebih lihay dan lebih hebat dari ilmu pedangnya sudah tentu sukar ditandingi lagi, untuk sesaat lamanya tak tertahan ujarnya.

"Maukah kamu mendemonstrasikan sedikit permainan pukulan serta ilmu meringankan tubuh yang pernah kau pelajari ?"

"Hei Budak"

Bentak Wi Ci To sambil tertawa, ternyata makin lama kau semakin tidak karuan.

"Tia"

Ujar Wi Lian In sambil tertawa.

"Ti Toako juga sangat mengharapkan bisa mengetahui siapakah suhunya kini minta dia memperlihatkan beberapa jurus kepandaiannya kemungkinan sekali dari permainan silatnya itu Tia bisa mengetahui asal usul dari suhunya."

"Sekali pun memang benar tetapi."

"Perkataan dari putrimu memang benar."

Potong Ti Then.

"Apabila Pocu tidak memandang rendah diri cayhe maka boanpwe akan sedikit mempertunjukkan kepandaian cakar ajam yang boanpwe miliki."

Dia bisa dengan demikian cepat dan gembiranya menerima permintaan dari Wi Lian In ini semuanya dikarenakan pertama dia ingin menarik simpatik dan kegembiraan dari Wi Lian In sedang kedua, dia ingin sedikit gujon-gujon dengan Wi Ci To (Menurut perkataan dari Shia Pek Tha kepadanya katanya Wi Ci To pernah meninggalkan Benteng selama empat lima bulan lamanya sehingga di dalam hati dia menganggap Wi Ci To adalah majikan Patung Emas) ...dengan mempertunjukkan sedikit kepandaian silat yang diajarkan oleh Wi Ci To di hadapan Wi Ci To sendiri bukankah merupakan permainan yang sangat menarik sekali?

Terlihat Wi Ci To mengerutkan alisnya ujarnya.

"Ilmu pedang yang Ti-heng perlihatkan pagi tadi saja sudah cukup membuat Lohu bingung dan tidak tahu asal usulnya apalagi di dalam pukulan, Lohu kira juga sama saja?"

"Ha ... ha , ha . ha."

Potong Huang Puh Kian Pek.

"Tidak perduli dibagaimana pun semuanya tidak mendatangkan bahaja, hanya melihat-lihat saja juga tidak mengapa bukan?"

Wi Ci To melihat semua orang demikian tertariknya terpaksa bangkit dari tempat duduknya sambil ujaraja "Baiklah mari kita pergi ke lapangan latihan silat."

Lapanqan latihan silat dari Benteng seratus pedang ini terletak ditengah Benteng, luasnya kurang lebih tiga puluh kaki, pada saat tua muda enam orang tiba ditengah lapangan latihan silat itu terlihatlah ditengah lapangan sedang terdapat puluhan orang dari Pendekar pedang hitam yang sedang melatih ilmu pedangnya.

Ujar Ti Then sesudah melihat hal itu.

"Pendekar-Pendekar pedang dari Benteng kalian sungguh amat rajin sekali sampai saat ini masih juga melatih ilmu pedangnya"

"Ha.. ha ...Lote telah salah menduga"

Ujar Shia Pek Tha.

"Beberapa pendekar pedang hitam ini pada hari biasa amat malas berlatih sehingga kini kami sengaja menghukum mereka untuk berlatih ilmn pedang satu hari penuh."

"Ooh...kiranya demikian."

Wi Lian In yang sudah kepingin melihat kepandaian silat dari Ti Then segera mendepakkan kakinya ke atas tanah, ujarnya .

"Sudahlah, Ti Toako harus mendemonstrasikan kepandaiannya dulu"

Dengan perlahan Ti Then menyapu sekeliling tempat itu, terlihatlah di sebelah kiri dari lapangan terdapat sebuah rak senyata segera ujarnya.

"Baiklah sekarang cayhe akan memperlihatkan ilmu meringankan tubuh terlebih dulu."

Sambil berkata dengan langkah yang lebar dia berjalan mendekati rak senyata tajam itu.

Terlihatlah setiap senyata tombak yang terdapat di dalam rak itu runcing-runcing sekali bahkan kelihatannya sangat tajam diam-diam dalam hatinya sangat kagum, pikirnya.

"Kepandaian dari Wi Ci To sungguh sebanding dengan apa yang disiarkan di dalam dunia kangouw, hanya cukup dengan senyata-senyata tajam yang terdapat di dalam rak senyata ini saja sudah sangat berlainan dengan tempat. Biasanya, apabila pada satu setengah tahun yang lalu menjuruh aku meloncat melalui atas senyata mungkin sukar untuk melaksanakannya sebaliknya kini bilamana aku tidak menggunakan sedikit kembangan mungkin belum bisa memperlihatkan kelihayanku"

Pikirannya dengan cepat berputar, kemudian kepada Hong Mong Ling sambil tertawa ujarnya.

"Hong heng, tolong ambillah beberapa batang hio (alat sembahjangan orang Tionghoa) untuk siauwte"

Air muka Hong Mong Ling segera berubah, tanyanya dengan kaget--Ti-heng menghendaki hio untuk apa? Untuk sedikit permainan dalam ilmu meringankan tubuh?"

Hong Mong Ling melihat dia tidak mau memberikan penjelasan yang tegas terpaksa mengangguk dan berlalu dari lapangan.

Tidak lama dia sudah kembali dengan membawa beberapa batang hio.

Ti Then segera mengucapkan terima kasih dan mengambil benda itu dari tangannya.

Setelah itu dengan perlahan-perlahan dia medekati rak senyata dan meloncat naik ke atas ujung senyata yang sangat tajam tersebut.

Wi Ci To serta Huang Puh Kian Pek yang melihat kepandaiannya ini dimana menancapkan hio ke atas ujung senyata tajam tidak tertahan lagi pada berubah wajahnya.

Sudah tentu dalam hati mereka tahu kalau Ti Then hendak memperlihatkan ilmu meringankan tubuh di atas hio itu tetapi yang membuat hati mereka kini merasa sangat terkejut adalah menancapkan hio di atas ujung tombak itu, haruslah diketahui alat sembahjangan yang terbuat dari bambu yang sangat tipis itu merupakan benda yang mudah putus sedang ujung tombak merupakan benda dari baja tetapi dia bisa dengan mudahnya menancapkan ke atas ujung tombak, kepandaian ini boleh dikata sudah mencapai pada taraf memetik daun melukai orang, melukai orang di balik gunung, Sebaliknya dia hanya merupakan pemuda yang baru berusia kurang lebih dua puluh tahunan.

Diam-Diam Wi Lian In menarik ujung baju ajahnya, ujarnya dengan perlahan.

"Tia, kepandaiannya sungguh amat tinggi"

Wi Ci To mengangguk..dengan suara yang setengah berbisik ujarnya.

"Benar, sekali pun ajahmu juga tidak bisa melakukan hal seperti itu"

"Bukankah dia akan memperlihatkan permainan ilmu meringankan tubuhnya di atas hio"

Tanya Wi Lian In Lagi.

"Benar, kepandaian ini tidak terhitung ajahmu di dalam dunia kangouw saat ini juga hanya si kakek pemalas Kay Kong Beng serta si pendekar tangan kiri Cian Pit Yuan dua orang yang bisa melakukan"

Wi Lian In menjadi sangat terkejut, tanyanya dengan cepat.

"Apa mungkin dia murid dari si kakek pemalas Kay Kong Beng?"

"Bukan."

Sahut Wi Ci To sambil gelengkan kepalanya.

"Sejak dua puluh tahun yang lalu sesudah si kakek pemalas Kay Kong Beng menerima muridnya yang tidak berbakti itu pernah bersumpah bahwa selamanya tidak akan menerima murid lagi, bahkan jika dilihat dari kepandaian yang dimiliki Ti Then sekarang agaknya sekali pun si kakek pemalas juga tidak mungkin bisa mengajari hingga demikian lihay."

Pada saat ajah beranak berbisik dengan perlahan itulah Ti Then sudah selesai menancapkan hionya ke ujung tombak. Terdengar Huang Puh Kiam Pek sambil menghela napas panjang pujinya.

"Kepandaian sakti, kepandaian sakti, cukup melihat permainan dari Ti-heng ini saja Lohu tidak lihat sudah tahu kalau kepandaian lainnya pun tentu sangat menarik sekali"

Ti Then hanya tersenjum saja, setelah memberi hormat kepada Wi Ci To dan Huang Puh Kiam Pek ujarnya.

"Boanpwe akan memperlihatkan sedikit kejelekan, harap Pocu berdua suka beri petunjuk ?"

Sehabis berkata tubuhnya melayang ke atas dan berdiri dengan kaki sebelah di atas ujung hio yang menancap pada ujung tombak itu, jurus yang, digunakan ini adalah jurus Kim Ki Tok Lie atau ajam emas berdiri disatu kaki.

Hio itu sendiri sebenarnya hanya terkena sedikit tenaga saja maka segera okan putus, kini di atasnya diinyak oleh seorang dengan ratusan kali beratnya ternyata sedikit melengkung pun tidak hal ini memperlihatkan kalau ilmu meringankan tubuhnya telah mencapai pada kesempurnaan, bahkan tubuhnya yang berat itu bisa diubah menjadi sangat ringan bagaikan kapas.

"Bagus..."

"Ilmu meringankan tubuh yang sempurna..."

"Kepandaian yang sangat lihay..."

Suara pujian dan seruan kagum dengan cepat berkumandang dari seluruh penjuru lapangan membuat suasana menjadi sangat ramai.

Kiranya beberapa puluh orang pendekar pedang hitam yang sedang berlatih ilmu pedang itu ketika melihat Ti Then menancapkan hio di ujung tombak tadi sudah mulai memperhatikan dengan penuh kekaguman dari tempat jauh, saat ini begitu TiThen meloncat naik dan berdiri di ujung hio yang kecil dan mudah putus itu tidak tertahan lagi pada bersorak memuji.

Ditengah suara sorakan memuji yang sangat ramai itulah terlihat Ti Then sedikit memutar tubuhnya bagaikan segulung asap yang sangat ringan telah mumbul ke tengah udara kemudian bersalto beberapa kali dan melayang turun pada ujung Hio yang kedua sedang benda yang diinyak ini sedikit pun tidak melengkung atau bergerak.

Setelah itu tubuhnya dengan gerakan yang sama melayang pula pada ujung yang ketiga.

Demikianlah dia mulai berlari dengan kecepatan yang luar biasa di atas ujung tombak yang ditancapi Hio itu, semakin lari semakin cepat sehingga akhirnya hanya terlihat segulung bajangan manusia yang menari dan berkelebat diantara ujung Hio disekeliling lapangan itu.

Suara tepukan tangan, suara sorakan memuji semakin lama semakin keras sehingga menggetarkan seluruh lapangan, Selama hidupnya Wi Lian In juga belum pernah melihat ilmu meringankan tubuh yang demikian saktinya, sehingga saking girangnya air mukanya berubah menjadi merah padam, dengan penuh kegirangan dia bertepuk tangan dan bersorak sorai.

Sebaliknya Hong Mong Ling sekali pun ikut bertepuk tangan tetapi wajahnya semakin lama berubah semakin membesi.

Ditengah suara tepukan serta sorakan yang ramai itulah berturut-turut Ti Then mengitari lapangan puluhan kali banyaknya, mendadak tubuhnia menerjang ke atas udara setinggi tiga kaki lebih kemudian dengan sangat ringannya melayang turun ke atas tanah kepada para badirin sambil merangkap tangan memberi hormat ujarnya.

"Permainan yang jelek. Permainan yang jelek"

"Heei.."puji Wi Ci To sambil menghela napas panjang.

"Bilamana bukannya Lohu melihat dengan mata kepala sendiri sesungguhnya sukar untuk mempercayai."

"Benar" -sambung Huang Puh Kiam Pek.

"Dengan usia Ti-heng yang masih demikian mudanya ternyata sudah berhasil melatih kepandaiannya hingga sedemikian sempurnanya sungguh sukar untuk diduga"

Ti Then hanya mengucapkan banyak terima kasih berulang kali, ujarnya kemudian "Boanpwe akan mempertunjukan ilmu pukulanku yang masih cetek, harap Po cu berdua suka beri petunjuk"

Sesudah mengucapkan kata-kata itu dia menoleh memandang kearah Hong Mong Ling, sambil tertawa ujarnya.

"Hong-heng, kali ini merepotkan kau lagi"

Terpaksa Hong Mong Ling tersenjum, tanyanya.

"Kali ini Ti-heng membutuhkan barang apa lagi ?"

"Hanya ingin meminyam pakaian longgar yang Hong-heng pakai itu"

Sekali pun dalam hati Hong Mong Ling merasa tidak puas tetapi dia juga tidak berani menolak terpaksa dengan hati yang mangkal dia melepaskan pakaiannya dan di angsurkan kearah Ti Then.

Dengan segera Ti Then menyambut sambil mengucapkan terima kasih, kepada Wi Ci To kemudian ujarnya lagi.

"Entah Po cu mengijinkan tidak kedua orang saudara Pendekar pedang hitam untuk membantu boanpwe ? Wi Ci To segera mengangguk, kepada para pendekar pedang hitam yang sedang menonton itu teriaknya.

"Teng Eng Kiat Kauw Huan Tiong kalian kemari"

Dua orang pendekar pedang hitam segera menyahut dan meloncat datang.

Ti Then segera menjerahkan pakaian itu kepada mereka dan menjuruh mereka berdiri masing-masing disatu pojok mementangkan pakaian itu kemudian dirinya mundur lima enam langkah ke belakang.

Tiba-Tiba Hong Mong Ling tertawa tanyanya.

"Ti-heng apa hendak melancarkan serangan menghancurkan pakaian itu?"

"Tidak salah"

Hong Mong Ling tertawa lagi"

Ejeknya.

"Dengan menggunakan batu cadas bukankah malah bisa memperlihatkan kepandaian asli dari Ti-heng?"

Ti Then hanya tersenjum tanpa mengucapkan sepatah kata pun punggungnya membelakangi kedua orang pendekar pedang hitam itu sesudah memusatkan seluruh tenaga dalamnya mendadak tubuhnya berputar setengah lingkaran ditengah udara dan melancarkan serangan yang dahsyat kearah depan.

"Sreeet ?--pakaian yang dibentangkan itu sudah terpukul hingga berlubang. Win Ci To yang melihat kepandaian itu diam-diam mengerutkan alisnya rapat-rapat sedang hadirin lainnya pun dibuat melongo dan memandang terpesona ke atas pakaian yang berlubang itu lewat beberapa saat kemudian baru terdengar suara sorakan yang sangat ramai, Dengan satu pukulan tangan membuat pakaian berlubang sebenarnya bukan merupakan suatu peristiwa yang aneh tetapi "lubang"

Yang dihasilkan dari angin pukulan Ti Then ini sangat berbeda dengan keadaan lainnya.

Dia bukannya memukul pakaian itu hingga hancur dan berlubang-lubang melainkan hanya membuat pakaian itu berlubang tidak besar tidak kecil persis sebesar kepalannya.

Hal ini sama saja artinya kekuatan pukulannya berhasil dipusatkan pada satu tempat saja bukan menjebar keseluruh tangan bahkan kecepatan pukulannya pun laksana sambaran kilat yang sedang berkelebat.

Hong Mong Ling mimpi pun tidak pernah menyangka kalau Ti Then bisa memiliki kepandaian yang demikian menakutkan teringat akan kata-kata ejekan yang tadi dia lontarkan tidak tertahan lagi wajahnya berubah menjadi merah padam dengan sangat malu dia menundukkan kepalanya rendah.

Ti Then segera maju ke depan mengambil pakaian dari tangan kedua orang pendekar pedang hitam itu dan diserahkan kembali kepada Hong Mong Ling, ujarnya.

"Sungguh maaf sekali telah merusak pakaian dari Hong-heng "

Hong Mong Ling segera menyambut pakaiannya, sambil tertawa tawar sahutnya.

"Tidak mengapa, hanya untung cuma melubangi sebuah pakaian saja dan bukan melukai hati siauwte" -Hong-heng tadi bilang batu cadas, bagaimana kalau minta tolong Hong heng mengambilkan sebuah batu cadas kemari?"

Hong Mong Ling mengangguk tetapi bukannya dia mengambil sendiri tetapi menoleh ke salah seorang pendekar pedang hitam serunya.

"Huan Tiong, ambil sebuah batu cadas kemari"

Pendekar pedang hitam itu menyahut dan pergi, tidak lama dia sudah kembali dengan membopong sebuah batu cadas berbentuk persegi panjang setebal lima cun dan diletakkan di hadapan Ti Then.

Ti Then memberi hormat kembali kepada Wi Ci To dan Huang Puh Kian Pek sambil ujarnya.

"Boanpwe sekali lagi akan mempertunjukkan permainan yang jelek, bilamana sampai tidak baik harap jangan ditertawakan"

Wi Ci To hanya tersenjum sambil mengangguk sepatah kata pun tidak diucapkan.

Dengan tangan kirinya Ti Then mengangkat batu cadas itu dan dilemparkan ke atas kemudian telapak tangannya disertai dengan tenaga dalam menekan di atas permukaan batu itu, baru saja terdorong setengah depa batu cadas itu sudah jatuh ke atas tanah.

Dari permukaan batu cadas hancuran kapur beterbangan mengikuti arah bertiupnya angin dan muncullah sebuah bekas telapak tangan yang sangat jelas sedalam satu cun lebih.

Kali ini tidak ada orang yang bertepuk tangan atau bersorak memuji semuanya membisu seribu bahasa hanya sepasang matanya melotot keluar sebesar-besarnya agaknya mereka sudah dibuat terkejut oleh kelihayan dari tenaga dalamnya.

Lama sekali Wi Ci To termenung memandang terpesona kearah Ti Then kemudian barulah dia menoleh kearah para pendekar pedang hitam yang sedang mengerumun itu, ujarnya.

"Kalian sudah melihat sendiri Pendekar baju hitam Ti Then ini masih sangat muda dan usianya sebanding dengan kalian ternyata sudah berhasil melatih kepandaiannya hingga mencapai demikian sempurnanya, bilamana kalian ingin berubah seperti dia maka mulai ini hari harus lebih giat lagi berlatih."

Agaknya dia tidak punya bahan percakapan untuk dibicarakan maka dengan mengambil dalih memberi nasehat menutupi kesunyian itu, Ujar Wi Lian In tiba-tiba.

"Tia, kau sudah berhasil melihat asal usul dari perguruan Ti Toako ??. Wi Ci To tidak menyawah hanya dengan langkah yang perlahan berjalan meninggalkan lapangan. Semua orang terpaksa mengikuti dia juga berjalan kembali ke dalam ruangan tamu tanya Wi Lian In lagi. -Tia, kau sudah tahu belum ??. Wi Ci To gelengkan kepalanya, sambil tertawa pahit sahutnya.

"Belum."

"Hei.."

Ujar Hong Mong Ling sambil menghela napas.

"Kepandaian Ti heng sungguh amat tinggi sekali, untung merupakan kawan dari benteng kami, bilamana merupakan musuh dari benteng Pek Kiam Po maka saat itu entah harus dengan cara bagaimana untuk menghadapi diri Ti-heng."

"Ha . ha . ha "

Ujarnya sambil tertawa.

"Bilamana Hong-heng mencurigai kedatangan Siauw-te ini mem punyai maksud buruk lebih baik sekarang juga Siauw-te mohon diri."

Sehabis berkata dia bangkit berdiri dari kursinya.

"Ti-heng harap duduk kembali."

Ujar Wi Ci To dengan gugup ketika melihat tamunya akan pergi.

"Baiklah"

Ujar Ti Then dengan sangat hormat dan duduk kembali ketempat semula.

Wi Ci To dengan wajah yang gusar menoleh kearah Hong Mong Ling, makinya "Mong Ling, Ti-heng merupakan tuan penolongmu bagaimana sekarang kau berani mengeluarkan kata-kata semacam ini."

Air muka Hong Mong Ling segera berubah menjadi merah padam seperti kepiting rebus sambil tertawa paksa ujarnya.

"Suhu, tecu sedang bergurau dengan Ti-heng sama sekali tidak mem punyai maksud lain."

Wi Ci To hanya mendengus dengan dinginnya, sambil tertawa dia menoleh kearah Ti Then kembali ujarnya.

"Ti-heng maukah menceritakan asal usulmu kepada Lohu ??"

"Baiklah"

Sahut Ti Then sesudah berpikir sebentar.

"Boanpwe berasal dan Kay Hong sejak kecil sudah ditinggal mati oleh orang tuaku, kehidupan sehari hari hanya tergantung dari Sam-siokku. Pada usia sepuluh tahun Sam-siok ternyata menjual boanpwe kepada seorang hartawan didesa itu untuk bekerja sebagai kacung buku di samping putra hartawan. Dua tahun kemudian ada suatu hari mendadak Toa Sauvv-ya mendapat serangan penyakit dan meninggal karena sedihnya kematian putranya itu kegusaran ini ditimpakan kepada diri boanpwe dengan demikian boanpwe diusir dari rumahnya. Saat itu karena takut dimaki oleh Sam Siok maka boanpwe tidak berani pulang kerumah sesudah. meninggalkan rumah hartawan itu berkelana diseluruh tempat akhirnya kalau sesudah lewat setengah tahun baru bertemu dengan suhu dan diterima sebagai muridnya."

"Jika demikian adanya."

Ujar Wi Ci To "Sejak kini Ti-heng sudah merupakan sebatang kara saja di dalam dunia ini?"

"Benar."

Tiba-Tiba Shia Pek Tha tertawa terbahak bahak, ujarnya.

"Perkataan dari Lote ini apa sungguh-sungguh? "

"Sudah tentu sungguh-sungguh."

"Kalau begitu kemarin Lote bilang kalau harta dari leluhur sudah kau habiskan, tolong tanya Lote mendapat harta dari leluhur yang mana?"

Sama sekali Ti Then tidak pernah menyangka kalau dia bisa mengingat-ingat perkataannya dengan demikian telitinya, segera dia pura-pura memperlihatkan perasaan malunya, sambil tertawa sahutnya.

-Sungguh maaf kemarin malam siauwte hanya membual saja, perkataannya sekarang ini barulah merupakan perkataan yang sesungguhnya"

"Kalau begitu"

Ujar Shia Pek Tha lagi.

"Kali ini apa sebabnya Lote berkelana dan berkeliaran di dalam dunia kangouw?"

"Tiga tahun yang lalu sesaat Siauwte meninggalkan suhu dia orang tua pernah memberi siauwte ratusan tail emas tetapi pada waktu-waktu mendekat ini sudah digunakan hingga ludas" -Tetapi dengan kepandaian Lote yang demikian sempurnanya untuk mencari uang, bukanlah merupakan pekerjaan yang sulit"

"Behar"

Sahut Ti Then sambil tertawa. -Siauwte memang bisa bekerja sebagai guru silat atau sebagai pengawal barang tetapi kedua macam pekerjaan ini siauwte tidak ada yang senang"

Wi Ci To batuk-batuk ringan, tanyanya mendadak.

"Sesudah ini Ti-heng punya rencana hendak kemana?"

"Heei.. saat ini keadaan sudah sangat mendesak terpaksa Siauwte menerjunkan diri sebagai pengawal barang saja."

"Dari pada Ti-heng menjadi pengawal barang lebih baik tinggal saja di dalam Benteng kami"

Sesudah mendengar perkataan dari Wi Ci To ini dalam hati Ti Then semangkin menganggap dia adalah majikan patung emas, segera pura-pura tertegun oleh perkataannya, ujarnya.

-Bagaimana hal ini bisa jadi, sekali pun boanpwe tidak punya kepandaian apa-apa tetapi boanpwe percaya masih sanggup untuk mencari hidup bagi diriku sendiri" -Ha ha ha ha"

Potong Wi Ci To.

"Lohu minta Ti-heng tinggal di dalam benteng kami bukannya menjuruh Ti-heng makan minum dengan tanpa bekerja"

"Ooh...."

Dia menguncak-uncak matanya kemudian tanyanya lagi dengan keheran-heranan. Kalau tidak lalu Po cu menginginkan boan pwe bekerja apa ? ", Wi Ci To termenung berpikir sebentar kemudian barulah sahutnya.

"Sebelumnya Lohu ingin tanya sesuatu apa suhumu pernah memberi wanti wanti kepada Ti-heng untuk melarang kau menurunkan ilmu silat kepada orang lain ?,-""Tidak ? "Kalau memangnya begitu Lohu akan mengangkat Ti-heng sebagai pimpinan di dalam Benteng kami ini yang bertugas memberi petunjuk ilmu silat kepada para pendekar pedang merah pendekar pedang putih serta pendekar pedang hitam dari Benteng Pek Kiam Po, setiap bulan kami akan membajar tiga ratus tail uang perak, bagaimana ?"

Perkataan ini begitu keluar dari Wi Ci To sampai air muka dari Shia Pek Tha pun kelihatan berubah dengan sangat hebat, karena kesembilan puluh sembilan pendekar pedang merah dari Benteng Pek Kiam Po semuanya merupakan jago-jago pedang kenamaan di dalam Bu-lim bahkan selain Hong Mong Ling seorang lainnya sudah merupakan orang-orang yang sudah lanjut, kini ternyata Wi Ci To akan mengangkat Ti Then yang usianya masih sangat muda sebagai pimpinan dari seluruh pendekar pedang di dalam Benteng Pek Kiam Po sebenarnya merupakan suatu pandangan rendah terhadap diri mereka pendekar pedang merah.

Air muka Hong Mong Ling pun kelihatan berubah menjadi sangat jelek yang semakin lama semakin tegang dan membesi, sejak semula dia sudah tahu kalau Ti Then sebenarnya merupakan "Lu kongcu"

Yang memukul rubuh dirinya di dalam sarang pelacur Touw Hoa Yuan itu, tetapi karena urusan ini menyangkut nama baik dirinya dia diuga tidak berani menceritakan keadaan yang sesungguhnya kepada bakal mertuanya, dia takut karena hal itu perkawinan antara dirinya dengan Wi Lian In bisa dibatalkan tetapi kini bilamana Ti Then menyanggupi menyabat sebagai pimpinan dari seluruh pendekar pedang dari Benteng Pek Kiam Po sama saja dengan sebuah pedang panjang yang ditusuk ke dalam hatinya, membuat dia selamanya akan sukar tidur njenyak sukar makan dengan nikmat.

Ti Then sendiri pun sudah tahu perubahan "Aneh"

Dari air muka Shia Pek Tha, dalam hati diam-diam merasa sangat geli pikirnya.

"Ha ha ha ....orang She Hong rasakanlah, sekali pun dalam hatimu punya maksud untuk berbicara tetapi tidak berani untuk mengutarakan keluar. Dalam hatinya dia berpikir demikian tetapi pada air mukanya sengaja memperlihatkan perasaan menjesal, sahutnya.

"Terima kasih atas kebaikan Pocu, boanpwe tidak berani menerimanya."

"Kenapa ???. Pertama, dengan kepandaian dari boanpwe agaknya tidak punya hak untuk menjadi pimpinan pendekar pedang merah"

"Sembilan puluh sembilan pendekar pedang merah dari Benteng Pek Kiam Po semuanya merupakan didikan langsung dari Lohu, sedang kepandaian dari Ti-heng sudah sangat jelas jauh di atas kepandaian Lohu sendiri maka jika berbicara dalam berhak atau tidak Ti-heng sudah tidak ada persoalan lagi -Kedua,-, ujar Ti Then.

"usia boanpwe masih sangat muda sedang pendekar pedang merah dari Benteng Pek Kiam Po hampir seluruhnya jauh lebih tua usianya dari boanpwe, maka.."

"Belajar kepandaian tidak memandang tua muda"

Potong Wi Ci To lagi.

"siapa yang mencapai dahulu sebagai guru tentang hal ini semakin tidak ada persoalau lagi"

Sehabis berkata dia menoleh kearah Shia Pek Tha, tanyanya "Pek Tha, suhumu akan mengangkat Ti heng sebagai pimpinan dari seluruh pendekar pedang di dalam Benteng kita, menolak tidak?-Dalam hati Shia Pek Tha merasakan serba susah tetapi dia pun merasa tidak punya alasan yang kuat untuk menolak terpaksa dengan serius sahutnya.

-'Tecu tidak menolak?

-Dengan perlahan sinar mata Wi Ci To beralih ke atas wajah Hong Mong Ling tanyanya pula.

"Mong Ling, kau bagaimana??-.

"Tecu juga tidak menolak hanya "

"Hanya apa ? "Ti-heng merupakan kawan dari Benteng kita tetapi dengan Benteng kita sama sekali tidak mem punyai ikatan perguruan mau pun aliran, bilamana suhu mengundang Ti-heng sebagai pimpinan dari para pendekar Benteng Pek Kiam Po kita bilamana sampai diketahui orang luar bukankah hanya akan dibuat sebagai bahan ejekan saja"

"Hmm ,"

Dengus Wi Ci To dengan keren.

"Aku mendirikan. Benteng Pek Kiam Po hanya bertujuan melindungi keselamatan dari Bu-lim selamanya tidak punya niat untuk mengagungkan nama besar sendiri mau pun nama besar dari Benteng kita bahkan di dalam ilmu silat semuanya juga berasal dari satu aliran aku selamanya tidak pernah memikirkan soal aliran mau pun perguruan, bilamana mereka mau mengejek biarkanlah mereka mengejek ? Dengan perlahan dia menoleh kearah Ti Then kembali tanyanya.

"Bagimana pendapat Ti-heng sendiri?"

Sengadia Ti Then memperlihatkan sikapnya yang serba salah ujarnya dengan gugup.

"Tentang ini ..ini -"

"Bilamana Ti-heng merasa tiga ratus tahil perak terlalu kurang, lohu bisa menambah satu kali lipat lagi ? "

"Bukan... bukan..."

Sahut Ti Then dengan gugup.

"Bukan soal uang ..bukan soal uang ."

Ti-heng masih punya kesulitan apa lagi ? Boan pwe ingin berpikir dulu...".

"Itu sangat bagus, sesudah Ti-heng berpikir harulah beri jawaban kepada Lohu,.. Pek Tha ? tadi pagi kalian pesiar kemana saja ? "

Puncak seribu Buddha" --Untuk berpesiar ke puncak emas serta Ban Hud Teng waktunya sudah tidak cukup lebih baik kau ajak Ti-heng pesiar ke gua Kiu Lo Tong juga tidak jelek"

Ti Then segera bangkit berdiri dan memberi hormat ujarnya "Baiklah, boan pwvee minta ijin untuk pesiar ke atas gua Kiu Lo Tong dan sekalian memikirkan maksud hati dari Pocu ini"

Shia Pek Tha segera ikut dan memberi hormat kepada kedua orang Pocu kemudian bersama-sama Ti Then berjalan keluar dari ruangan tamu.

Menanti sesudah bajangan punggung dari Ti Then serta Shia Pek Tha hilang dari pandangan mata dengan perlahan barulah Huang Puh Kian Pek menoleh ke atas Wi Ci To sambil tanyanya.

"Apa benar Toako akan mengundang dia sebagai pimpinan para pendekar pedang dari Benteng kita?"

"Benar " _Tetapi musuh atau kawan kita masih belum jelas, bagaimana toako bisa berbuat"

"Ha . ha .ha..."

Aku mengundang dia sebagai Cong Kiauwtouw atau pimpinan sebenarnya memang sedang menjelidiki asal usul serta maksud hati nya "

"Bagaimana maksudnya ? tanya Huang Puh Kiam Pek dengan termangu-mangu.

"Bilamana dia menyanggupi untuk menjadi pimpinan para pendekar pedang kita, tidak sampai satu bulan kita sudah akan tahu dengan jelas dia kawan atau lawan"

Dia berhenti sejenak kemudian tambahnya.

"Bilamana dia punya tujuan terhadap Benteng kita tentu tidak akan bersungguh-sungguh memberi pelajaran silat kepada para pendekar pedang sebaliknya bilamana dengan bersungguh-sungguh hati dia memberi petunjuk kepada para pendekar kita maka hal ini membuktikan kalau apa yang diutijapkan memang benar-benar, saat itu di dalam Benteng punya pimpinan seperti dia bukankah sangat untung sekali?"

"Tidak salah. tidak salah"

Sahut Huang Puh Kian Pek sambil mengangguk.

"Jika ditinyau dari kepandaian silatnya, bilamana sampai terjadi suatu gerakan dari dirinya agaknya dua orang pendekar pedang dari Benteng kita masih belum cukup untuk menahan dirinya, menanti sesudah dia pulang dari pesiar kirim lagi dua orang pendekar pedang merah untuk mengawasi seluruh gerak geriknya setiap saat "

"Baiklah, nanti aku perintahkan."

"Masih ada, loteng penyimpanan kitab kirim juga dua orang untuk menyaganya, siang malam."

Malam semakin larut udara begitu dinginnya sedang angin pun bertiup dengan kencangnya saat itulah Ti Then serta Shia Pek Tha baru saja pulang dari goa Kiu Lo Tong.

Huang Puh Kian Pek segera menunjuk seorang pelajan tua khusus melajani keperluan Ti Then, membantu dia mengambil air teh, dahar serta lain-lainnya membuat dia yang bertindak sebagai "patung emas"

Makin lama merasa semakin senang dan kerasan. Baru saja dia selesai membersihkan badan dan berganti pakaian Shia Pek Tha sudah datang mengundang dia lagi, ujarnya.

"Lo-te, Pocu sedang menanti kedatanganinu di dalam ruangan dalam" -Pocu demikian memperhatikan diriku sungguh membuat Siauw-te merasa tidak enak hati" .-Ha..ha... tidak perlu mengucapkan kata-kata begini, marilah !"

Kedua orang itu berjalan mendatangi ruangan dalam, tampak di dalam ruangan itu sudah disediakan meja perjamuan, Wi Ci To, Huang Puh Kian Pek, Hong Mong Ling serta Wi Lian In sudah hadir di dalam meja perjamuan begitu melihat Ti Then berjalan masuk ke dalam ruangan segera mereka besama sama berdiri menyambut kedatangannya.

Dengan tersenjum Ti Then memberi hormat kepada semua orang.

Ujar Wi Ci To sambil.

tersenjum.

"Ti-heng silahkan duduk, bagaimana pemandangan gua Kiu Lo Tong ?" -Bagus, bagus sekali, hanya burung waletnya sangat banyak sehingga permukaan tanah penuh dengan kotoran burung dan merusak pemandangan bagus.' "Di dalam gua ada patung dewa Cau Kong Beng yang katanya sangat cocok, apa tadi Ti-heng sudah bersembahjangan menanyakan rejeki ? Tidak -"

Sahut Ti Then sambil tersenjum.

"Manusia hidup semuanya tergantung Thian, buat apa menanyakan rejeki atau tidak terhadap sebuah patung?"

Begitulah mereka tua muda enam orang duduk kembali ke tempat masing-masing dan mulai bersantap.

Jilid 4.2. Jadi Kiauwtauw benteng Pek Kiam Po Ujar Ti Then lagi."

Goa Kiu Lo Tong disebut sebagai Kiu Lo, tetapi kenapa di dalamnya hanya terdapat patung dewa Cau Kong Beng seorang saja? "Ooh .."

Ujar Wi Ci To.

"patung dewa Cau Kong Beng ini entah akhirnya secara bagaimana bisa ikut masuk di dalam goa itu, padahal nama dari Kiu Lo itu masih mem punyai arti lain."

Sambil menjumpit sajur ujarnya.

"Menurut dongeng ketika Kaisar mengunjungi Thian Huang Cinyien ditempat itu pernah bertemu dengan seorang pertapa tua ketika Kaisar bertanya kepada pertapa itu ada berapa orang yang ikut bertapa maka jawabnya ada sembilan orang maka sejak itu orang-orang menamakan goa itu sebagai Kiu Lo Tong". Di dalam dunia ini banyak pemandangan yang menggunakan nama yang aneh-aneh, misalnia saja dengan gunung Lo Cin san..Pocu pernah berpesiar ke atas gunung Lo Cin san ??"

Tanya Ti Then.

"Belum pernah ! "

Sahutnya sambil gelengkan kepalanya.

"Ha.. ha..ha "

Di dalam gunung Lo Cin San itu ada sebuah gua cupu-cupu itu hanya punya nama gua cupu-cupu saja padahal sama sekali tidak mirip dengan sebuah cupu-cupu, sungguh tidak tahu dia sedang jual jamu apa di dalam cupu-cu punya."

Wi Ci To tertawa terbahak-bahak tetapi sama sekali tidak memperlihatkan pendapat apa pun.

Sesudah semua orang selesai mendahar dengan diam-diam Wi Ci To menggojangkan kakinya memberi tanda kepada Huang Puh Kian Pek yang ditendang dengan kaki itu segera merasa tanyanya.

"Terhadap undangan pocu tadi siang apakah Ti-heng sudah ngambil keputusan?"

"..,Benar "

Sahut Ti Then sambil mengangguk. -,Bagaimana?"

"Boanpwe mau menerimannya tetapi ada beberapa syarat..."

"Silahkan beri petunjuk"

"Boanpwe punya sifat suka bergerak dan dolan bilamana Pocu berdua mengijinkan boanpwe untuk keluar masuk maka boanpwe akan menyanggupi juga menyabat sebagai pimpinan dari Para pendekar pedang"

"Apa yang dimaksud dengan keluar masuk dengan bebas?"tanya Huang Puh Kian Pek_ "Misalnya boanpwe gemar berjalan-jalan keluar dari benteng, harap Pocu berdua tidak melarang"

Wi Ci To tersenjum, sahutnya.

"Sesudah Ti-heng menerima jabatan sebagai pimpinan para pendekar pedang dalam Benteng kami sudah tentu kita semua merupakan orang scndiri sedang Lohu saja sama sekali tidak melarang keluar masuk dari para pendekar pedang merah apalagi diri Ti-heng ?"

"Kalau memangnya demikian, boanpwe menerimanya hanya saja bilamana tidak baik dalam cara memberi petunjuk harap Pocu mau memaafkan !"--Ha ha ha ha . asalkan Ti-heng bisa menurunkan kepadaian silat dari sepuluh bagian menjadi tiga bagian saja kepada para pendekar pedang di dalam Benteng kami ini Lohu sudah merasa sangat puas sekali?"

Berbicara sampai di sini sepasang tangannya mengangkat cawan arak, dan bangkit berdiri ujarnya.

"Marilah Lohu akan menghormati Ti Cong Kauw-tauw secawan?"

Dengan tergesa-gesa Ti Then bangkit membalas hormatnya, sahutnya.

"Tidak berani Pocu terlalu memandang tinggi diri Boanpwe !"

Maka Huang Puh Kian Pek, Shia Pek Tha, Hong Mong Ling serta Wi Lian In berturut turut berdiri memberi hormat, membuat Ti Then menjadi repot juga untuk membalasnya.

Sudah tentu Hong Mong Ling suka diluarnya, gemas di dalam hatinya melihat hal ini.

Wi Ci To sendiri juga mungkin sengaja atau tidak mendadak ujarnya kepada putrinya Wi Lian In sambil tersenjum.

"In-ji, selanjutnya kau pun harus sering minta petunjuk dari Ti Cong Kiauw tauw ?"

Dengan tersenjum malu-malu sahut, Wi Lian In.

"Kepandaian silat Ti toaku sangat tinggi, sudah tentu putrimu harus belajar dari dirinya?" -Mulai besok pagi"

Ujar Wi Ci To lagi.

"lohu akan mengumpulkan seluruh jago pedang dari seluruh Benteng untuk mengumumkan Ti-heng sebagai pimpinan seluruh pendekar dari benteng kita, tetapi, tetapi... ."

Dia termenung berpikir sebentar, kemudian barulah ujarnya lagi.

-Kini sekali pun pendekar pedang merah yang berada di dalam Benteng hanya dua puluh orang saja tetapi pendekar pedang putih serta pendekar pedang hitam hampir mencapai dua ratusan, bilamana Ti Kiauwtauw seorang harus memberi petunjuk berapa ratus orang banyaknnya mungkin akan terlalu payah, baiklah demikian saja, Lohu akan menunjuk sepuluh orang pendekar pedang merah belajar terlebih dulu dari Ti Kiauw-tauw kemudian dengan menggunakan tenaga dari kesepuluh orang pendekar pedang merah menurunkan ilmu itu kepada para pendekar pedang putih serta pendekar pedang hitam"

"Lalu Tia akan menunjuk siapa saja diantara sepuluh orang itu?"

Tanya Wi Lian In.

"Yuan Ci Liong, Pan Kia Yang, Tay Tiauw Eng, Njoo Ceng Bu, Tong Shit le, Lan Liang Kim, Lak Hong, Kian Ceng Haan, Hong Ling dan kau"

Air muka Hong Mang Ling segera berubah menjadi merah padam, ujarnya.

"Suhu, tecu punya rencana akan pergi ke Tiang An pada masa sekarang ini, maka..."

Wi Ci To menjadi tidak senang, bentaknya.

"Kau tidak ingin belajar silat dari Ti heng?" -Bukan ..bukan"

Ujar Hong Mong Ling dengan gugup"

Tecu pernah menyanggupi In Moay untuk membelikan barang dikota Tiang An."

"Soal ini tidak perlu kau sendiri pergi beli, perkawinan kalian juga tinggal tiga bulan lagi barang-barang yang In ji inginkan biarlah beberapa hari lagi Lohu kirim orang untuk pergi membeli ?"

"Tetapi ... tetapi..."

Ujar Hong Mong Ling lagi dengan terputus putus.

""Tecu ,.tecu juga . ..juga ingin sekalian menengok ."

Wi Ci To segera mengulap tangannya memutuskan pembicaraan selanjutnya ujarnya .

"Tidak usah bilang lagi tidak ada urusan yang jauh lebih penting lagi dari pada belajar ilmu silat dari Ti Kiauw-tauw ?"

Hong Mong Ling tidak berani berbicara lagi, dengan berdiam diri dia menghabiskan daharnya.

Sesudah semuanya merasa kenyang maka bahan pembicaraan pun beralih pada soal-soal remeh kehidupan sehari-hari saja, saat malam semakin kelam itulah perjamuan baru bubar sedang Ti Then pun bangkit mohon diri dan kcmbali kekamarnya sendiri.

Pelajan tua yang melajani dirinya begitu melihat dia sudah kembali segera mengikuti dirinya masuk kadalam kamar, tangannya diluruskan ke bawah dengan sangat hormatnya menanti perintah.

Tanya Ti Then dengan perlahan.

"Orang tua, siapa namamu?-.

"Lapor kongcu"-sahut pelajan tua itu dengan sangat hormat.

"Budakmu she Ci bernama Tiang Siang, pocu selamanya memanggil budakmu dengan sebutan Lo Cia, lebih baik kongcu pun memanggil budakmu dengan sebutan ini saja"

"Sudah berapa lama kau berdiam di dalam Benteng Pek Kiam Po ini? "

Tanya Ti Then lagi sambil tersenjum.

-,Sudah puluhan tahun lamanya sebelum pocu kami mendirikan benteng Pek Kiam Po ini budakmu sudah mengikuti dirinya, jika dihitung kurang lebih hampir mendekati empat puluh tahun lamanya.-"Kau mengikuti Pocu sudah demikian lamanya, sudah tentu kepandaian silatnya tidak lemah?"

"Tidak bisa jadi, tidak bisa jadi"

Sahut Locia sambil gelengkan kepalanya..

"Budakmu tidak mem punyai bakat untuk belajar silat, pernah Pocu menjuruh budakmu ikut dia belajar silat tetapi selamanya tidak bisa berlatih dengan baik"

"Kali ini Pocu yang mengirim kau untuk melajani aku? "Bukan"

Sahut Locia lagi sambil gelengkan kepalanya.

"Wakil Pocu yang mengirim budakmu kemari karena usia yang sudah tua maka pada beberapa tahun ini budakmu berganti bekerja di samping wakil Pocu-. Ti Then mengangguk dengan perlahan dengan langkah yang kalem dia berjalan mendekati jendela dan mendorong hingga terpentang lebar, sambil menunjuk kesebuah bangunan berloteng tanyanya.

"Ruangan itu sangat besar sekali siapa yang tinggal di sana?"

Dia teringat kembali akan pesan dari majikan patung emas, bilamana hendak mengadakan hubungan dengan dia, pasang lampu didekat jendela dan ketuk tiga kali kini dia harus memeriksa keadaan disekeliling tempat itu, dia mengira bahwa bila mana diam memasang lampu sebagai tanda hendak berhubungan dengan majikan patung emas maka orang yang bisa melihat dengan sangat jelas tandanya itu seharusnya orang yang berdiam di dalam loteng itu, karena itulah dia sengaja menanya dengan sangat jelas.

Dengan cepat Lo-cia berjalan mendekati tubuhnya, sambil menunjuk kearah bangunan loteng itu tanyanya.

"Kongcu menanyakan bangunan itu?" -Benar."

"Itu tempat kamar buku Pocu kami"

"Ooh."

Kemudian dia menunjuk pula kearah bangunan loteng yang berada disebetah kiri dimana bangunan itu berdiri sendiri, tanyanya lagi.

"Lalu yang itu?" -"Ooh, itu loteng penyimpanan kitab"

"Loteng penyimpanan kitab?"

Tanya Ti Then dengan penuh keheranan. -Benar, loteng penyimpanan kitab dari Pocu kami." -Kalau sudah ada kamar baca buat apa mendirikan sebuah loteng penyimpan kitab lagi ?"

"Pocu kami gemar membeli dan menyimpan kitab"

Ujar Lo-cia.

"Karena jumlah buku yang terlalu banyak hanya sebuah kamar baca saja tidak cukup untuk menam pungnya maka sengaja mendirikan sebuah loteng penyimpanan buku untuk menjmpan kitab-kitab tersebut.

"Ooh..kiranya begitu, pada kemudian hari bilamana ada kesempatan tentu aku akan pergi ke dalam untuk melihat-lihat kitab, aku kira buku yang Pocu kalian simpan tentu merupakan benda-benda yang sangat berharga..."

"Kiranya tidak mungkin bisa."

Potong Lo-cia.

"Kenapa ?"

Tanya Ti Then yang dibuat tertegun oleh perkataannya "Loteng penyimpanan kitab itu selamania pocu kami melarang orang lain memasukinya, termasuk wakil Pocu kami serta nona Wi sendiri.

"Mungkin di dalamnya menyimpan banyak rahasia ? ~Tentang hal ini budakmu tidak tahu' sahut Lo-cia sambil gelengkan kepalanya.

"Budakmu hanya tahu bahwa Pocu tidak mungkin akan mengijinkan orang lain ikut dia memasuki loteng penyimpanan kitabnya itu"

"Dia sendiri sering masuk ke sana?"

"Setiap lewat beberapa hari tentu dia masuk satu kali ke dalam, dia senang seorang diri membaca buku di dalam tempat itu.

"Bagaimana kau bisa tahu dia membaca buku?"

Tanya Ti Then sambil tersenjum.

"Tidak membaca buku, buat apa dia masuk ke dalam?"

"Mungkin juga di dalam loteng penyimpan kitab itu bersembunyi seorang yang sangat misterius"

Sahut Ti Then dengan tersenjum. Lo-cia menjadi tertawa terbahak-bahak sahutnya .

"Kongcu suka gujon, bilamana di dalam sana berdiam seseorang saat ini tentu dia sudah mati kelaparan.

"Mana mungkin ?"

"Selamanya kami tidak pernah melihat Pocu membawa makanan masuk ke dalam bilamana di dalam sana ada orang bukankah sudah mati kelaparan ?"

Ti Then tertawa terbahak-babak, sambil menepuk bahunya ujarnya lagi.

"Ha.ha ha ha , ..orang itu akan mati kelaparan karena dia disebut Yan Yu Giok"

Lo-cia menjadi termangu-mangu beberapa saat kemudian barulah menjadi sadar, sambil tertawa terbahak-bahak sahutnya.

"Tidak salah ? tidak salah ? di dalam buku memang ada yang disebut Yan Yu Giok..ha..haa.ha.."

Dengan perlahan Ti Then menutup jendela dan kembali ketempat pembaringannya ujarnya.

"Di sini sudah tidak ada urusan, kau boleh beristirahat Lo-cia segera menangkap tangannya memberi hormat, sahutnya .

"Baiklah, budakmu berdiam dikamar sebelah bilamana kongcu punya perintah silahkan mengetuk dinding tembok maka budakmu akan mendengarnya". Sehabis berkata din mengundurkan diri dari dalam kamar. Ti Then pun segera melepaskan pakaiannya dan berbaring dengan tenang di atas pembaringan memikirkan berbagai persoalan yang sangat rumit. Menurut bukti yang dia dapatkan sampai saat ini dia merasa bahwa Wi Ci To memang merupakan majikan patung emas itu, maka sekarang yang dia ingin ketahui adalah selain Wi Ci To menginginkan dirinya memperistri putrinya apa mungkin masih ada"rencana"

Lainnya ?

Loteng penyimpan kitab itu sampai wakil Pocu serta putrinya sendiri pun tidak boleh masuk, mungkinkah di dalamnya tersimpan berbagai macam barang yang berharga atau menyimpan rahasia yang mem punyai hubungan yang sangat erat dengan urusan ini?"

Di dalam suasana pemikiran yang sangat ruwet itulah tidak terasa lagi dia jatuh pulas dengan sangat njenyaknya.

Keesokan harinya, pagi-pagi sekali sipedang naga perak Huang Puh Kiam Pek sudah mengumpulkan seluruh pendekar pedang yang ada di dalam Benteng ketengah lapangan latihan silat.

Sebenarnya "Pendekar Pedang Merah"

Dari Benteng Pek Kiam Po berjumlah sembilan puluh sembilan orang, tetapi ada tujuh puluh empat orang sedang berkelana di dalam dunia kangouw karena itulah saat ini yang berada ditengah lapangan termasuk Wi Liam In serta Hong Mong Ling hanya berjumlah dua puluh lima orang.

Mereka berbaris dipaling depan kemudian disusul dengan ratusan pendekar Pedang putih dan ratusan pendekar pedang hitam sehingga seluruhnya berjumlah dua ratusan orang dengan sangat rapinya berdiri berjajar ditengah lapangan, pada pinggang setiap orang tersoren sebilah pedang panjang keadaannya sangat angler dan gagah sekali.

Tidak berselang lama sipedang naga emas Wi Ci To beserta Ti Then sudah berjalan masuk ke dalam lapangan.

Wi Ci To langsung naik ke atas mimbar yang disediakan, sesudah menerima penghormatan dari seluruh muridnya ujarnya dengan suara yang sangat lantang .

"Saudara-Saudaraku sekalian ini hari lohu mengumpulkan kalian di sini bertujuan hendak mengenalkan kepada kalian seorang pendekar aneh dari Bu-lim yang masih sangat muda, orang itu adalah pendekar baju hitam Ti Then yang sekararig berdiri di hadapan Lohu."

Dari tengah lapangan segera gemuruh suara tepukan serta sorak sorai yang sangat ramai, sudah tentu suara tepukan dari pendekar pedang putih serta pendekar pedang hitam yang paling ramai.

Ti Then menjadi repot untak membalas hormat kepada semua hadirin.

Menanti sesudah suara tepukan serta sorak sorai itu mereda sambung Wi Ci To lagi .

"Nama besar dari pendekar baju hitam Ti Then tentunya kalian sudah lama mendengar, dia merupakan seorang pendekar yang suka menolong sesamanya berlaku adil bijaksana dan bersifat jantan, apa lagi kepandaian silatnya sudah berhasil dilatih hingga mencapai pada tarap kesempurnaan, kemarin sudah ada beberapa orang pendekar pedang hitam yang dengan mata kepala sendirt melihat kelihayan dari Ti Siauwhiap, mungkin mereka pun sudah menceritakan keadaan itu kepada kalian oleh sebab itulah tentang bagaimana kelihayan dan kepandaian yang dimiliki Ti siauwhiap tidak perlu lohu ceritakan lagi di sini. Sekarang lohu akan mengumumkan suatu berita baik kepada kalian jaitu Ti siauwhiap sudah menerima tawaran lohu untuk menyabat sebagai pimpinan dari seluruh pendekar pedang yang ada di dalam Benteng Pek Kiam Po kita"

Suara tepukan dan sorak sorai sekali memecahkan kesunyian. Sedang Ti Then pun dengan repot memberi hormat kepada semua orang. Sambung Wi Ci To lagi.

"Kemungkinan sekali diantara kalian ada yang merasa bahwa Ti Siauwhiap bukan orang Benteng kita sehingga tidak seharusnya menyabat pimpinan ini, bilamana diantata kalian ada yang berpikir secara demikian maka kalian sudah salah besar, pada saat Lohu mendirikan Benteng ini pernah baca suatu keputusan bahwa Benteng Pek Kiam Po yang Lohu dirikan ini bukanlah melulu untuk mencari nama yang terkenal di dalam Bu-lim, semakin tidak punya maksud untuk menduduki pucuk pimpinan diseluruh Bu-lim dan tidak ingin bentrok atau saingan dengan partai-partai lainnya. Lohu hanya ingin mengumpulkan para ahli ilmu pedang untuk bersama-sama menjelidikinya, dengan semangat yang berkobar kobar bersama sama menjelidiki kepandaian silat bersama-sama, membasmi kejahatan berbuat baik, .berbuat amal menolong sesamanya dan bersikap pendekar dimana pun, oleh karena itulah asalkan orang yang berhati luhur dan mem punyai bakat di dalam ilmu silat boleh menjadi anggota Benteng kita, diantara kalian pun ada banyak yang bcrasal dari suatu perkumpulan atau partai yang bcrbeda, dengan bakal ilmu yang lalu masuk ke dalam Benteng karena itulah ini hari Lohu mengangkat Ti siauw hiap sebagai pimpinan diantara kalian juga mengunakan alasan yang sama"

Dia berbenti sejenak sedang pada bibirnya pun tersungging suatu senjuman, sambungnya.

"Sudah tentu diantara kalian ada yang merasa bahwa usia Ti siauw-hiap masih sangat muda sedang usia kalian jauh iebih tua kini diharuskan belajar silat dengan dia tidak urung akan merasa malu juga soal ini merupakan suatu soal yang sangat biasa tetapi kalian haruslah memahami suatu kenyataan yang dikatakan belajar ilmu tidak mengingat tua atau muda yang mencapai terdahulu dialah guru. Kepandaian silat dari Ti siauwhiap jauh melebihi kepandaian kalian sudah tentu kalian harus menghormati dia sebagai guru-Dia berhenti sejenak.lagi, sesudah memandang setiap pendekar pedang yang berdiri di sana ujarnya lagi sambil tersenjum "Untuk membuktikan kalau Ti siauwhiap punya hak dan punya alasan yang kuat bertindak sebagai pimpinan kalian maka muiai sekarang Lohu akan memberikan suatu kesempatan kepada kalian, bagi siapa yang merasa tidak puas boleh keluar minta pelajaran dari Ti Siauwhiap, Lo hu tidak akan marah, ada tidak?"

"Tidak ada"

Kedua puluh lima orang pendekar pedang merah tidak ada yang bergerak dari tempatnya, sejak semula mereka sudah mendengar kalau kemarin pagi dengan tidak melancarkan serangan apa pun Ti Then sudah berhasil mengalahkan seorang pendekar pedang putih, kemudian tidak sampai sepuluh jurus berhasil rnengalahkan si naga Hong Mong Ling pula, di samping itu ada pula yang secara sembunyi-sembunyi melihat Ti Then ketika dia sedang mendemontrasikan ilmu meringankan tubuh serta ilmu pukulan karena itu mereka merasa bahwa dirinya masih belum apa-apanya jika dibandingkan dengan Ti Then, sudah tentu tidak ada yang berani mengajukan dirinya.

Para pendekar pedang putih dan pendekar pedang hitam yang berdiri di belakang sudah tentu semakin tidak berani bergerak lagi.

Senjuman yang menghiasi bibir Wi Ci To dengan pelahan menghilang dari wajahnya dengan serius ujarnya.

"Bilamana tidak ada orang yang berani keluar untuk minta pelajaran dengan Ti siauw-hiap maka sejak hari ini kalian semua harus menghormati dirinya dan mengikuti petunjuknya, barang siapa yang berani kurang ajar dengan Ti siauw-hiap maka Lohu tidak akan mengam puni lagi"

Perkataannya barn saja selesai dari antara pendekar pedang merah tiba-tiba terlihat seseorang mengacungkan tangan kanannya agaknya dia hendak mengatakan sesuatu.

Orang itu merupakan seorang kakek tua berusia lima puluh tahunan dengan bentuk tubuh yang kurus kecil tetapi kedua belah pelipisnya menonjol keluar sepasang matanya memancarkan sinar yang sangat tajam agaknya dia merupakan seorang jago berkepandalan tinggi yang sempurna Melihat hal itu ujar Wi Ci To de ngan cepat "Ki Kiam-su apa mau minta pelajaran dari Ti siauw-hiap ?

"Benar"

Sahut pendekar pedang merah she-Ki itu.

"Baiklah, kau kemarilah ? Dengan langkah yang mantap pendekar pedang merah she-Ki itu berjalan ke depan kemudian memberi hormat kepada Wi Ci To. Dengan perlahan Wi Ci To menolak memandang Ti Then, sambil tersenjum ujarnya.

"Lohu akan memperkenalkan dahulu pada Ti siauwhiap, dia merupakan pendekar pedang merah yang paling tua diantara lainnya yang disebut sebagai To Hun Kiam Khek atau pendekar pedang pencabut sukma Ki Tong Hong"

Ti Then segera merangkap tangannya memberi hormat ujarnya.

"Sudah lama mendengar nama besar dari saudara ini hari bisa bertemu sungguh sangat beruntung sekali"

Si pendekar pedang pencabut sukma Ki Tong Hong pun membalas hormat, sahutnya.

"Tidak berani Ti siauw-hiap terlalu sungkan"

Dengan perlahan dia menoleh kearah Wi Ci To ujarnya sambil tersenjum.

"Pocu, hamba tahu bahwa hamba bukan tandingan dari Ti siauw-hiap tetapi dalam hal kepandaian silat yang diutamakan adalah pengalaman di dalam menghadapi musuh, dengan memberanikan diri hamba ingin mencoba-coba pengalaman dari Ti slauwhiap."

"Baik., mau mencoba dengan tiara apa.."

Sahut si pendekar pedang pencabut sukma Ki Tong Hong dengan perlahan.

"Kepandaian silat dari Ti siauw-hiap sudah mencapai pada taraf kesempurnaan hal ini hamba dengar dari saudara saudara sekalian, di dalam demonstrasi sudah tentu berbeda dengan pertempuran-yang menentukan mati hidup seseorang, bilamana bisa memperoleh kemenangan ditengah pertempuran dengan senyata tajam yang sungguh-sungguh dapat dihitung liehay"

"Jadi maksudmu akan bertempur dengan Ti siauwhiap di dalam suatu pertempuran yang menentukan mati hidup?"

Tanya Wi Ci To dengan nyaring.

"Benar"

Sahut Ki Tong Hong.

"Dengan memggunakan seluruh kekuatan berusaha mengalahkan pihak lain, dalam turun tangan tidak boleh menaruh belas kasihan sedang bilamana salah satu menerima luka juga tidak diperkenankan menyalahkan"

Mendengar perkataan itu Wi Ci To mengerutkan alisnya, sambil menoleh kearali Ti Then tanyanya.

"Bagaimana pendapat dari Ti siauwhiap ? -Bagus"

Boanpwe akan menggunakan nyawaku sebagai jaminan untuk menemani saudara ini"

Wi Ci To menoleh lagi kearah Ki Tong Hong tanyanya .

"Kau siap hendak menggunakan kepandaian apa bertempur melawan Ti Siauw-hiap ? "Yang terutama sudah tentu harus menggunakan pedang, tetapi hamba tadi sudah bilang kalau pertempuran ini merupakan suatu pertempuran yang menentukan mati hidup seseorang sehingga harus menggunakan seluruh kepandaian yang dimilikinya untuk bertempur tidak perduli dengan menggunakan kepandaian yang ganas atau kejam macam apa pun boleh digunakan"

"Baiklah"

Ujar Wi Ci To "

Bilamana kau mem punyai kemungkinan untuk membinasakan Ti siauw-hiap Lohu tentu tidak akan menyalahkan kau tetapi bilamana sampai kau dikalahkan oleh Ti Siauwhiap sehingga menderita cacad jangan sampai mendendam di dalam hati"

"Hal ini sudah tentu"

Dengan perlahan Wi Ci To mengangkat kepalanya serunya dengan keras.

-Hong Ling, pinyamkan pedangmu kepada Ti Siauw-hiap ?

Mendengar perkataan itu dalam hati Hong Mong Ling menjadi sangat girang segera dia melepaskan pedangnya dari pinggang dan berjalan ke depan menjerahkan pedang berikut sarungnya kepada Ti Then.

Pada wajahnya menampilkan perasaan yang sangat girang sekali.

Bagaimana dia bisa girang ?

Ti Then menyambut pedang itu sedang dalam hati pikirnya .

"Orang ini begitu mendengar Wi Ci To menjuruh dia meminyamkan pedangnya kepadaku pada air mukanya segera memperlihatkan perasaan girang, apa mungkin dia sudah bersekongkol dengan Ki Tong Hong untuk melaksanakan sebuah rencana keji untuk mencelakai diriku ?"

Berpikir sampai di sini segera dia mencabut pedangnya dan memeriksa dengan teliti.

Sesudah memeriksa seluruh bagian dari pedang itu ternyata sedikit pun tidak menemukan tempat-tempat curiga apa pun.

Akhirnya dia menyingkirkan sarung pedang itu ke samping kemudian bergeser tiga langkah ke samping, kepada Ki Tong Hong ujarnya sambil tertawa .

"Ki cianpwe silahkan melancarkan serangan."

Ki Tong Hong pun mencabut keluar pedangnya dengan nyaring sahutnya .

Ti siauw-hiap harap berhati-hati, cayhe dalam dunia kangouw terkenal sebagai orang yang suka mengadu jiwa, banyak akal dan jadi orang licik bahkan pekerjaan yang paling rendah juga bisa aku keluarkan."

Sekali pun perkataannya ini diucapkan dengan nada bergurau tetapi cukup membuat orang yang mendengar merasa ngeri dan bergidik.

Kiranya si pendekar pedang pencabut sukma ini merupakan seorang jago "tanpa am pun"

Yang sangat terkenal, hanya saja dia khusus turun tangan terhadap orang-orang dari golongan Hek-to saja sehingga dengan demikian Wi Ci To juga tidak bisa mengambil tindakan atau hukuman terhadap dirinya.

Dengan sangat tenang Ti Then tersenjum ujarnya .

"Terima kasih atas peringatanmu, kan melancarkan serangan."

"Maaf"

Mendadak tubuhnya maju tiga langkah ke depan pedangnya diputar setengah lingkaran ditengah udara kemudian menusuk ke depan dengan kekuatan yang sangat luar biasa.

Gerakan ini dilakukan begitu cepatnya sehingga mirip dengan berkelebatnya sinar kilat, sungguh tidak malu disebut sebagai seorang pendekar pedang yang kenamaan.

Sebaliknya Ti Then sudah bisa melihat kalau serangan yang dilancarkan ini merupakan suatu jurus serangan tangan kosong maka tubuhnya sama sekali tidak bergerak atau menghindar bahkan pedangnya pun tidak diangkat untuk balas melancarkan serangan.

Ki Tong Hong melihat dia tidak mau juga melancarkan serangan segera menarik.

kembali serangan kosongnya itu ditengah jalan, jurus serangan segera berubah dari menusuk mendiadi gerakan menabas, tubuhnya mendesakmaju lagi ke depan dari arah dada kini berubah menyambar pinggang Ti Then.

Diantara berkelebatnya sinar pedang tahu-tahu pedang itu sudah mencapai pinggang Ti Then tidak lebih sejauh tiga cun.

Saat itulah Ti Then baru bersuit nyaring, mendadak tubuhnya melonyak ke atas dengan menggunakan jurus 'Yan Cu Can Swi"

Atau burung walet menyapu air, sedang pedangnya ditekan ke bawah memusnahkan jurus serangan itu.

Jurus serangan ini diika dilihat dari depannya sekali pun mirip dengan sebuah jurus untuk menangkis serangan musuh tetapi di belakang dari jurus serangan selandutnya secara diam-diam tersembunyi sebuah serangan dahsyat yang mematikan.

Dia percaya bahwa Ki Tong Hong akan sukar untuk menghindarkan diri dari jurus serangan yang mematikan ini hanya saja dia tidak ingin mematikan nyawa dari Ki Tong Hong dalam hati dia hanya punya niat melukai Ki Tong Hong saja Siapa tahu, begitu pedangnya digunakan untuk menangkis serangan pihak lawan suatu peristiwa yang diluar dugaan telah terjadi terhadap dirinya.

"Criiiing ."

Dengan menimbulkan suara yang sangat nyaring pedang yang digunakan untuk menangkis serangan pedang dari Ki Tong Hong menjadi terasa sangat ringan sekali.

Pedangnya sudah terputus...??

Bahkan putusnya dari ujung gagang pedang hingga ujung pedangnya sendiri.

Terhadap setiap jago berkepandaian tinggi dari Bu-lim peristiwa ini boleh dikata merupakan suatu peristiya yang sangat menakutkan sekali.

Sesaat Ti Then sedang merasa tertegun itulah dia hanya merasakan pinggangnya terasa amat sakit ternyata dia sudah berhasil dilukai oleh pedang Ki Tong Hong yang tidak mau menyia-nyiakan ke sempatan yang sangat baik itu.

Darah segar segera memancar keluar membasahi seluruh pakaiannya.

"Tahan ?"

Bentak Wi Ci To dengan cepat. Dengan cepat Ki.Tong Hong mengundurkan diri ke belakang hingga beberapa kaki jauhnya dari tempat semula. -Pocu, kenapa ?"

Ujar Ti Then sambil tersenjum.

"Lukamu tidak mengapa bukan ?"

Tanya Wi Ci To.

"Ha ha ha ha , tidak sampai binasa"

"Hal ini merupakan suatu peristiwa yang diluar dugaan, bilamana bukannya pedang itu terputus kau pun tidak sampai menderita luka, biarlah sekarang ganti sebilah pedang lagi untuk melanjutkan bertempur"-Pada saat dia bilang "Peristiwa yang di luar dugaan itu dengan tanpa sadar dia sudah melirik sekejap kearah Hong Mong Ling agaknya dalam hati dia sudah tahu kalau hal ini merupakan permainan licik dari Hong Mong Ling.

"Tidak bisa ganti pedang baru-"Kenapa"

Tanya Wi Ci To dengan tercengang.

"Tadi Ki cianpwe sudah memberi penjelasan dengan sangat jelas sekali, dia bilang dia mau bertempur di dalam pengalaman bertempur dengan diri boanpwe sedang putusnya pedang sekali pun merupakan suatu peristiwa yang berada diluar dugaan bilamana boanpwe tidak segera bisa mengubah keadaan bahaja menjadi keadaan yang menguntungkan hal ini mengertikan kalau pengalaman boanpwe masih sangat cetek -Jika demikian adanya kau sudah mengakui kalau sudah dikalahkan?"

Ujar Wi Ci To keren sedang air mukanya berubah menjadi demikian seriusnya.

"Tidak"

Sahut Ti Then tegas.

"Boanpwe juga tidak akan mengakui kalah karena sebelumnya Ki ciatipwe sudah beri penjelasan bahwa pertempuran ini merupakan suatu pertempuran yang menentukan mati hidup sedang kini boanpwe hanya menderita suatu luka sangat ringan, ha ha ha belum sampai terbinasa".

"Kalau memangnya demikian kau boleh ganti dengan sebilah pedang lainnya"

"Tidak bisa"

Ujar Ti Than sambil menggelengkan kepalanya"Kedua belah pihak dengan menggunakan nyawanya bertempur mati-matian bilamana satu pihak terputus pedangnya sudah tentu pihak yang lain tidak akan mengijinkan pihak yang terputus pedangnya berganti dengan pedang baru, maka itulah bilamana boanpwe sampai bertukar dengan pedang yang baru ini namanya tidak adil"

Sehabis berkata dia membuang gagang pedang itu ke atas tanah dan berjalan mendekati Ki Tong Hong, ujarnya tersenjum.

"Ki cianpwe silahkan melanjutkan serangan selanjutnya"

Ki Tong Hong melihat pinggangnya terluka dan darah segar masih terus menerus mengalir keluar dengan derasnya tetapi dia sama sekali tidak melihatnia barang sekejap pun tak terasa hatinya menjadi tergetar, juga, sambil mundur satu langkah ke belakang ujarnya sambil tersenjum "Ti siauw-hiap sudah terluka, biarlah sampai di sini saja pertempuran kita kali ini"

Ti Then tertawa dingin ujarnya.

"Kau tak .mau turun tangan, cayhe akan turun tangan terlebih dahulu."

"Baiklah"

Ujar Ki Tong Hong sambil tertawa serak.

"Kau dengan menggunakan tangan kosong melanjutkan pertempuran ini, baiklah kau terlebih dahulu yang menjerang."

Ti Then hanya mengangguk dengan perlahan, mendadak tubuhnya mendesak maju ke depan dua langkah tangaanya dengan sangat perlahan ditepuk kearah depan.

Ki Tong Hong tidak berani berlaku gegabah dengan tergesa-gesa dia menggeserkan diri ke samping, dari sebelah samping segera melancarkan satu serangan dahsyat menusuk jalan darah "Yu Bun Hiat"

Di bawah dada Ti Then.

Pada saat dia melancarkan serangan tusukan yang sangat dahsyat itulah mendadak tubuh Ti Then berkelebat dengan sangat cepat dan tahu-tahu Ki Tong Hong te!ah kehilangan bajangan musuhnya.

Menanti dia merasakan kalau Ti Then sudah berada di belakang tubuhnya saat itulah belakang lehernya sudah bErhasil dicengkeram oleh Ti Then dan dilemparkan seluruh tubuhnya ketengah udara.

Kecepatan gerakannya demikian dahsyatnya sehingga Wi Ci To sendiri pun belum sempat melihat dengan jelas gerakan apa yang dilakukan tubuh dari Ki Tong Hong sudah terlempar ketengah udara.

"Bluuk..."

Dengan mengeluarkan suara yang keras tubuh Ki Tong Hong yang dilemparkan Ti Then itu terjatuh ke atas tanah beberapa kaki dari tempat semula, untuk beberapa saat lamanya tidak sanggup untuk berdiri.

Setiap hadirin di dalam lapangan itu dibuat menjadi pada melongo, air mukanya berubah menjadi pucat pasi siapa pun tidak pernah menyangka dan siapa pun tidak akan percaya kalau Ti Then berhasil menguasai seorang pendekar pedang merah yang tertua dari Benteng Pek Kiam Po hanya di dalam satu jurus saja dengan menggunakan tangan kosong, Tetapi peristiwa yang sesungguhnya telah terjadi di hadapan mata mereka semua.

Untuk beberapa saat lamanya seluruh lapangan menjadi sunyi senyap, secara samar-samar diliputi oleh selapis napsu untuk membunuh yang sangat hebat.

Para pendekar pedang merah lainnya dari perasaan terkejut kini berubah menjadi perasaan gusar yang meluap-meluap karena mereka rasa kalau Ti Then terlalu menghina Ki Tong Hong yang dibantingnya dengan demikian kerasnya.

Seat itulah agaknya Wi Ci To pun merasakan keadaan yang aneh itu segera bentaknya dengan keren.

"Njoo Kiam-su, cepat bangunkan Ki Kiam-su dan bawa ke samping Seorang pendekar pedang merah segera menyahut dan membangunkan tubuh Ki Tong Hong, dengan perlahan dia membimbing dirinya mengundurkan diri dari lapangan untuk beristirahat dihalaman belakang. Air muka Wi Ci To berubah menjadi sangat keren, sambil menyapu sekejap kearah para pendekar pedang merah ujarnya lagi dengan keren "Saudara sekalian, ini semua adalah keluhuran dari hati Ti Kiauw-tauw yang tidak menggunakan akal licik apa pun juga, dia menggunakan kepandaian silat yang sesungguhnya mengalahkan Ki-kiam-su, diantara kalian bilamana ada yang masih tidak puas boleh minta pelajaran darinya saat ini juga"

Para pendekar pedang merah yang melihat wajah Pocu mereka sudah berubah menjadi demikian serius serta kerennya tidak terasa pada merasa jeri apalagi mereka pun merasa kalau kepandaian silat dari Ti Then sudah mencapai pada taraf yang sangat tinggi, sehingga dengan demikian tak seorang pun yang berani keluar untuk men coba-coba.

Setelah menanti beberapa seat lamanya Wi Ci To melihat tak adaseorang pun yang berani keluar minta pelajaran segera ujarnya.

"Kalau memang sudah tidak ada lagi tetap dengan perkataan lohu tadi sejak ini hari kalian harus menghormati dan menurut perkataan dari Ti siauw-hiap, bilamana ada orang yang berani berlaku kurang ajar terhadap dirinya maka lohu akan segera mengusir dia dari dalam Benteng Pek Kiam Po ini"

Sehabis berkata dia turun dari mimbar ujarnya kepada Ti Then.

"Ti Kiauw-tauw silahkan naik mimbar untuk menerima penghormatan "

"Buat apa harus demikian"

Ujar Ti Then sambil tersenjum.

"Harus berbuat demikian, ini merupakan peraturan dari Benteng kami"

Terpaksa dengan langkah yang periahan Ti Then berjalan naik ke atas mimbar sesudah menerima penghormatan dan sorak sorak dari seluruh pendekar pedang yang ada ditengah lapangan dia merangkap tangannya membalas hormat, ujarnya "Saudara-Saudaraku sekalian, dengan mendapatkan perhatian dari Pocu terpaksa cayhe menerima jabatan sebagal pimpinan dari saudara-saudara sekalian, semoga saja saudara-saudaraku sekalian jangan terlalu memandang tinggi kepada diri cayhe, cayhe harap kalian dengan menggunakan kedudukan sesama saudara saling hormat menghormati, saling belajar ilmu silat dan saling bantu membantu disegala bidang, sejak ini bilamana cay he melakukan kesalahan harap sandara-sandara sekalian mau memberi petunjuk"

Sehabis berkata dia memberi hormat lagi dan turun dari atas mimbar. Sesudah itu Wi Ci To lah yang angkat bicara ujarnya.

"Sejak besok pagi Ti Kiauw-tauw akan mulai memberikan petunjuk-petunjuk dalam ilmu silat, untuk ini yang akan menerima petundiuk adalab Yuan Ci Long -Fan Kia Yong, Tay Tiauw Eng, Njoo Ceng Bu Tong Shu In Lin Liang, Kim Lok Hong, Kian Ceng Haan, Mong Ling serta Lian In dari pendekar pedang merah, kalian sepuluh orang setiap pagi harus sudah berkumpul di sini tanpa ada alasan untuk meninggakannya"

Sehabis berkata dia menoleh kearah si pedang naga perak Huang Puh Kian Pek sambil tanyanya. -Sute kau punya urusan ? "Tidak ada ? "Baiklah, sekarang kalian boleh bubar"

Sekembalinya Ti Then ke dalam kamarnya sebentar kemudian Shia Pek Tha sudah datang lagi dengan membawa dua stel pakaian berserta obat luka, ujarnya sambil tertawa.

-Ti-heng cayhe mendapat perintah dari pocu sengaja datang untuk mengobati luka dari Ti-heng---Aah , tidak berani, hanya suatu luka yang sangat kecil biarlah siauw-te turun tangan sendiri"

Dia melepaskan pakaian bagian atasnya terlihatlah pada pinggangnya tergores sebuah luka sepanjang empat cun dengan dalam setengah cun, sedang darah segar masih terus mengalir keluar dengan derasnya tak terasa dia tertawa pahit, ujarnya.

"Heei ..untung saja nyawaku belum dipanggil oleh Thian, bilamana tergurat setengah cun lebih dalam lagi kiranya sejak tadi sudah binasa"

Sambil membantu Ti Then membalut lukanya ujar Shia Pek Tha.

"Memang sungguh merupakan suatu peristiwa yang sangat aneh, sekali pun pedang dari Mong Ling bukan merupakan pedang kuno yang antik tetapi merupakan suatu pedang yang bagus, bagaimana secara mendadak bisa putus sendiri ?"

"Mungkin pedang itu ada kekuatan gaibnya sehingga lebih baik putus dari pada aku yang memakainya ?"

Shia Pek Tha menoleh memandang keluar pintu kamar kemudian ujarnya dengan suara perlahan.

"Ti-heng tidak akan mencurigai hal itu perbuatan licik dari Mong Ling bukan?" -.Tidak ! tidak"

Ujar Ti Then sambil gelengkan kepalanya. -Mong Ling heng merupakan seorang budiman bagaimana bisa melakukan pekerjaan semacam ini"

Siauw-te kira hal itu hanya merupakan suatu peristiwa diluar dugaan saja" -Aku pikir dia tidak mungkin bisa berbuat demikian, kau sudah menolong dia kembali ke dalam benteng kenapa dia harus membalas suatu budi dengan dendam ?

Sesudah lukanya dibalut dan berganti dengan sebuah pakaian semangat Ti Then telah pulih kembali, ujarnya.

"Mari pergi, kita pergi lihat Ki Kiam su itu"

"Sesudah terbanting dengan keras oleh kau kini dia masih terlentang di atas pembaringan, bilamana sekarang kita pergi menengok dirinya, kiranya..."

"Dia akan berpikir secara bagaimana pun sesukanya, pokoknya hal ini merupakan kejujuran dari hati siauw-te."

"Baiklah"

Ujar Shia Pek Tha sambil mengangguk.

"Cayhe akan membawa Ti-heng ke sana."

Ketika mereka berdua sampai di depan kamar Ki Tong Hong terlihatlah pintu kamar terbuka lebar-lebar, Ki Tong Hong berbaring di atas pembaringan sedang di depan pembaringan berdirilah empat orang pendekar pedang merah Hong Mong Ling merupakan salah satu diantaranya, entah mereka waktu itu sedang membicarakan soal apa tetapi begitu melihat kedatangan Ti Then segera bersarna-sama menutup mulutnya rapat-rapat sedang pada air mukanya memperlihatkan perasaan terkejutnya.

Dengan langkah perlahan Ti Then berjalan masuk ke dalam kamar, kepada Ki Tang Hong yang berbaring di atas pembaringan dia merangkap tangannya memberi hormat, ujarnya.

"Maaf tadi sudah melukai Ki toako, entah kini merasa bagaimana?"

"Untung masih baik"

Sahut Ki Tong Hong dengan tawar.

"Atas kemurahan Kiauw-tauw yang tidak turun tangan jahat cayhe merasa sangat berterima kasih"

"Heei ... tadi siawwte tidak sempat menahan diri sehingga mambuat Ki toako terluka, dalam hati merasa tidak enak"-"Kiauw-tauw terlalu sungkan, cayhe belajar ilmu tidak rajin bagaimana harus menyalahkan diri kiauwtauw"

"Semoga Ki Toako jangan sampai memasukkan peristiwa hari ini ke dalam hati" -ooo0dw0ooo-

Jilid 5.1. Mengusir Pendekar pedang tangan kiri Cian Pit Yuan "Sudah tentu, sudah tentu"

Ujar Ki Tong Hong.

"Sekali pun cayhe telah mengalami kekalahan total tetapi di dalam hati merasa sangat girang, sejak hari ini di dalam benteng terdapat seorang Ti Kiauwtauw yang memimpin hal ini merupakan suatu keuntungan bagi seluruh pendekar pedang dari benteng kami"

Dengan perlahan Ti Then menoleh kearah Shia Pek Tha, ujarnya sambil tertawa.

"Shia heng, siauwte ingin menggunakan uang saku sendiri menyamu seluruh saudara-saudara dari Benteng, kau bilang kurang lebih harus membutuhkan uang berapa?"

"Ti kiawtauw tidak usah berbuat demikian"

Ujar Shia Pek Tha sambil tertawa.

"Seharusnya dari pihak kami yang menyamu kau"

"Tidak, tidak..siauwte akan mengundang...tiga puluh meja perjamuan, seratus tahil uang perak cukup tidak?"

"Ha ha ha ha...satu meja perjamuan tiga tahil perak, ini sudah merupakan suatu perjamuan yang mewah"

"Siauwte juga hanya memiliki seratus tahil saja, kalau memangnya sudah cukup, baiklah kita putuskan demikian saja, mari kita laporkan pada Pocu malam ini kita bersama-sama bergembira"

Malam itu seluruh lapangan latihan silat telah penuh dengan meja-meja perjamuan yang diatur dengan sangat rapih, lampu menerangi seluruh penjuru, dengan tenangnya Pocu sendiri si pedang naga emas Wi Ci To sampai orang yang terbawah pendekar pedang hitam kini menjadi tamu sendiri Ti Then, dua ratus orang banyaknya bersama-sama bergembira pada meja perjamuannya masing-masing membuat suasana demikian ramainya.

Ti Then sendiri satu persatu menghormati setiap meja perjamuan dengan secawan arak, sikapnya sangat ramah dan simpatik sehingga orang-orang yang semula merasa tidak senang dengan kehadirannya ini lama kelamaan timbul pula perasaan simpatik dari dalam hati mereka.

Tetapi karena orang yang harus dihormati demikian banyaknya membuat dia makin lama semakin mabok oleh air kata-kata itu.

Wi Ci To yang melihat langkahnya mulai gentajangan segera ujarnya pada Shia Pek Tha sambil tertawa.

"Pek Tha, Ti kiauwtauw sudah tidak kuat dengan kekuatan arak, cepat antar dia ke dalam kamar untuk beristirahat"

Dengan sangat hormat Shia Pek Tha menyahut, segera dia meninggalkan meja perjamuan, mendekati Ti Then yang sedang minum dengan puasnya di samping Ki Tong Hong, ujarnya dengan perlahan.

"Ti Kiauwtauw, kamu orang sudah mabuk"

Sahut Ti Then sambil gelengkan kepalanya.

"Ki toako, mari kita teguk secawan lagi"

"Bila Ti Kiauwtauw tidak mau istirahat sebentar ke dalam kamar lebih baik kurangi sedikit dalam meneguk arak, kamu orang sudah meneguk terlalu banyak"

Ti Then sesudah saling meneguk secawan arak dengan Ki Tong Hong segera putar tubuhnya dengan sempojongan dia berjalan kembali ke meja perjamuan Wi Ci To, ujarnya sambil tersenjum.

"Wi pocu, boanpwe sama sekali tidak mabok, harap kamu orang tua legakan hati"

"Ha ha ha ha..."

Sahut Wi Ci To sambil tertawa.

"Lohu lihat kamu orang sudah menghabiskan tiga puluh cawan arak, bilamana tidak berhenti mungkin kamu orang sebagai majikan akan rubuh terlebih dahulu"

"Tidak mengapa...tidak mengapa, justru karena mabuk membuat hati menjadi semakin tenteram, boanpwe pernah satu kali meneguk menghabiskan arak sebanyak delapan kati akhirnya otakku masih tetap segar dan bersih"

"Heeei..buat apa kamu orang meneguk arak sebegitu banyaknya, haruslah kamu orang ketahui banyak minum merusak badan apalagi lukamu belum sembuh benar-benar"

"Ha ha ha..."

Sahut Ti Then sambil tertawa terbahak-bahak.

"Boanpwe tidak takut merusak badan, hanya takut semakin miunum semakin tidak mabok"

Wi Ci To tersenjum, tanyanya.

"Kau gemar minum arak hingga mabok?"

"Sekali mabok menghilangkan beribu-ribu macam kemurungan di dalam hati, boanpwe kepingin sekali mabok selamanya tidak sadar kembali..semakin mabok semakin tenang semakin sadar semakin memusingkan kepala"

Wi Ci To yang mendengar perkataannya ini segera memandang tajam wajahnya, tanyanya lagi.

"Kamu punya kemurungan hati?"

"Benar, kemurungan yang sangat banyak sekali, misalnya ...ehmm..misalnya ada seorang lelaki menjual obat tetapi boanpwe sama sekali tidak tahu di dalam cupu-cu punya menjual obat macam apa?"

Wi Ci To yang mendengar kata-kata dalam keadaan mabok itu tidak terasa menjadi tertawa geli, ujarnya.

"Coba lihat, kamu masih bilang tidak mabok.."

Baru saja kata-kata "mabok"

Keluar dari mulutnya sekonyong-konyong..sebuah benda melayang turun dengan cepatnya dari tengah udara.

"Braaak.."

Dengan menimbulkan suara yang keras benda itu tepat terjatuh di atas meja perjamuan membuat cawan serta mangkok pada beterbangan dan jatuh ke atas tanah.

Orang-Orang yang duduk dimeja perjamuan itubegitu melihat benda tersebut tidak tertahan lagi air mukanya segera berubah hebat, sambil menjerit kaget mereka pada meloncat berdiri dari tempatnya masing-masing.

Coba anda terka benda macam apa yang terjatuh dari tengah udara itu?

Ternyata sebutir batok kepala manusia yang masih meneteskan darah segar dari bekas bacokannya.

Shia Pek Tha yang melihat kejadian itu segera berteriak keras.

"Oh Thian, bukahkah dia adalah Kang Kian Sian dari pendekar pedang hitam?"

Sepasang mata dari Wi Ci To berubah menjadi merah padam, dengan berat tanyanya.

"Dia sedang meronda di atas gunung?"

"Benar!"

Sahut Shia Pek Tha.

Di dalam sekejap mata saja semua orang sudah bisa menduga peristiwa apa yang sedang terjadi, seluruh hadirin menjadi tenang kembali keadaan begitu sunyi senyapnya sehingga tidak terdengar sedikit suara pun, masing-masing tangan dengan kencang mencekal gagang pedangnya masing-masing sedang seluruh perhatian ditujukan siap menghadapi perubahan yang bakal terjadi.

+++ "Siapa yang datang?"

Tanya Ti Then dengan perlahan. Wi Ci To menggelengkan kepalanya, agaknya dia sendiri pun tidak tahu, tubuhnya dengan perlahan bangkit berdiri dari kursi, ujarnya dengan nada yang berat.

"Kawan dari mana yang sudah datang mengunjungi benteng kami, silahkan unjukkan diri untuk bertemu"

Suatu suara aneh yang sangat menjeramkan segera berkumandang datang dari atas wuwungan rumah di samping kiri lapangan latihan silat itu, sahutnya dengan seram.

"Aku, he he he..orang she Wi sungguh pandai kamu orang bersenang senang mengadakan perjamuan hingga jauh malam tetapi tahukah kamu orang majat-majat yang bergelimpangan di tengah jalan sudah mulai mendingin?"

Para pendekar pedang merah yang ada ditengah perjamuan begitu mendengar di atas wuwungan rumah ada orang segera siap menubruk ke atas, saat itulah Wi Ci To sudah membentak dengan keras.

"Jangan bergerak!"

Para pendekar pedang merah tidak berani membangkang perintahnya terpaksa duduk kembali ketempatnya masing-masing.

"Siapa sebenarnya saudara itu?"

"He he..kawan lamamu"

Sahut orang itu sambil tertawa menjeramkan.

"Hmm..hmm..selamanya lohu hanya bersahabat dengan orang-orang jujur dan suka berterus terang, selamanya belum pernahberkenalan dengan seorang manusia yang suka main sembunyi-sembunyi seperti anak kura-kura"

Orang itu tertawa terbahak-bahak, sahutnya.

"Lohu sendiri juga tidak punya niat untuk main sembunyi-sembunyi seperti cucu kura-kura"

Sambil berkata terlihatlah sesosok bajangan manusia dengan kecepatan yang luar biasa melayang turun dari atas atap.

Gerakan tubuhnya sangat ringan bagaikan burung walet, di dalam sekejap mata saja dia sudah melayang turun beberapa kaki diluar lapangan latihan silat tersebut.

Rumah itu jaraknya dengan permukaan tanah tidak lebih setinggi tujuh delapan kaki, kini dengan satu kali lompatan saja ternyata dia bisa melayang turun dengan mudahnya hal ini dengan jelas memperlihatkan kalau ilmu meringankan tubuhnya sudah mencapai pada taraf kesempurnaan.

Bentuk tubuhnya kaku persis seperti sesosok majat hidup yang baru saja bangkit dari kuburan.

Jika dilihat usianya kurang lebih diantara enam puluhan, tinggi tubuhnya sedengan sedang bentuknya kurus kering rambutnya terurai awut-awutan, wajahnya kotor dan baju yang dipakainya pun compang camping persis seperti orang pengemis, hanya saja dipinggang sebelah kanannya tersoren sebilah pedang panjang.

Di samping itu dia memiliki sepasang mata yang sangat tajam bagaikan sambaran kilat, pada saat berkelebat membuat orang yang melihat pada bergidik saking ngerinya.

Diam-diam Wi Ci To menghembuskan napas dingin, karena walau pun dia tidak tahu siapa orang itu tetapi dalam hatinya sadar kalau malam ini kedatangan seorang musuh yang sangat tangguh.

Sesudah berhasil menenangkan pikirannya barulah ujarnya.

"Maaf pandangan lohu sudah lamur, siapakah sebenarnya saudara ini?"

Orang aneh itu mementangkan mulutnya tertawa dingin sehingga terlihatlah sebaris giginya yang kuning memuakkan, sahutnya.

"Selama beberapa tahun ini Wi Pocu selalu memimpin Bu-lim, kedudukannya pun sangat terhormat, tidak aneh kalau sudah melupakan kawan lama"

"Hemmm..hmm.."ujar Wi Ci To sambil tertawa dingin tak henti-henti-nya.

"Walau pun sudah lama Lohu mem punyai kedudukan sebagai pimpinan seluruh Bu-lim tetapi selamanya tidak pernah terlalu memandang tinggi kedudukan ini, asalkan kawan-kawan karib dari satu jalan yang sama Lohu tidak akan melupakan untuk selamanya"

"Tetapi kamu orang sudah lupakan aku?"

"Hal ini dikarenakan saudara memang bukannya kawan lama dari Lohu"

Mendadak Huang Puh Kian Pek berjalan mendekati Wi Ci To, ujarnya dengan perlahan.

"Suheng coba lihat telinga kanannya!"

Mendengar perkataan itu dengan cepat Wi Ci To memperhatikan telinga sebelah kanan dari orang itu dengan sangat teliti saat itulah dia baru menemukan kalau telinga kanannya jauh lebih kecil dari telinga kirinya, tidak tertahan tubuhnya tergetar dengan sangat keras, serunya.

"Haaa? Kau adalah si pendekar pedang tangan kiri Cian Pit Yuan?"

"Ha ha ha..bagus sekali, bagus sekali..akhirnya kenal juga..sungguh untung sekali..untung sekali"

Walau pun Wi Ci To boleh dihitung merupakan seorang yang sangat tenang tetapi saat ini pada wajahnya tidak urung menampilkan perasaan terkejutnya juga, sama sekali tidak terduga olehnya si pendekar pedang tangan kiri Cian Pit Yuan yang pada masa lalu merupakan seorang pemuda tampan kini sudah berubah menjadi seorang jelek yang sangat mengerikan.

Yang datang tidak akan punya maksud baik, yang bermaksud baik tidak akan datang, ini hari si pendekar pedang tangan kiri Cian Pit Yuan muncul ditempat itu sudah tentu membawa maksud yang tidak baik, apalagi jika dilihat gerak-geriknya yang tambah lincah agaknya sukar untuk dihadapi jika dibandingkan dengan dahulu.

Bahkan kedatangannya kali ini bertepatan dengan beradanya Ti Then di dalam Benteng, apa mungkin Ti Then benar-benar merupakan muridnya?

Apa betul dia yang perintahkan Ti Then untuk masuk Benteng bertindak sebagai mata-mata?

Sesudah berpikir sampai di sini tidak tertahan lagi hati Wi Ci To berdebar dengan kerasnya.

Kepandaian yang dimiliki Ti Then saja dia sendiri sudah merasa sulit untuk hadapi, kalau benar-benar Ti Then merupakan muridnya si pendekar pedang tangan kiri Cian Pit Yuan ini maka dengan jelas sekali memperlihatkan kalau kepandaian silat dari pihak lawan sudah mencapai pada taraf yang jauh lebih tinggi dari dirinya, dengan demikian kemungkinan sekali Benteng Pek Kiam Po akan musnah di dalam serangannya kali ini.

Pikiran tersebut dengan cepat berkelebat di dalam benaknya, segera dia putar tubuhnya berkata kepada Huang Puh Kian Pek yang berdiri di sisinya.

"Sute, perhatikan seluruh gerak-gerik dari Ti Then..dengan perlahan-perlahan coba dekati tubuhnya bila menemukan gerak-geriknya sedikit mencurigakan segera turun tangan kuasai dia"

Huang Puh Kian Pek sedikit mengangguk kemudian dengan berpura-pura tidak sadar tubuhnya mulai bergeser kesisi tubuh Ti Then.

Ti Then yang selama ini selalu menganggap Wi Ci To sebagai Majikan Patung Emas sudah tentu tidak terlalu memperhatikan gerak-gerik dari Huang Puh Kian Pek yang mulai bergeser mendekati tubuhnya itu.

Pada air muka Wi Ci To dengan perlahan-lahan mulai menampilkan senjuman, sambil memandang tajam kearah si pendekar pedang tangan kiri Cian Pit Yuan ujarnya.

"Dua puluh tahun tidak bertemu, tidak disangka Cian-heng sudah berubah menjadi sedemikian rupa.."

"Semuanya ini merupakan pemberian dari Wi Toa Pocu"

Sahut si pendekar pedang tangan kiri Cian Pit Yuan dengan dinginnya.

"Bagaimana perkataanmu ini?"

"Sejak aku orang she Cian kau lukao telinga kananku di depan umum karfena merasa malu untuk bertemu dengan orang maka di dalam beberapa tahun ini aku orang she Cian selalu bersembunyi ditengah gunung hingga saat ini"

"Tapi"

Ujar Wi Ci To.

"Sesaat sebelum terjadinya pertandingan pada waktu itu kita pernah berjanyi terlebih dulu, tidak perduli siapa pun yang terluka atau terkalahkan tidak diperkenankan mendendam di dalam hati, mungkin Cian-heng sudah melupakan akan hal ini?"

"Ha ha ha ha..tidak lupa..tidak lupa, aku orang she Cian sama sekali tidak mendendam"

"Lupa atau tidak hanya dalam hatimu sendiri yang jelas"

Ujar Wi Ci To sambil tersenjum.

"Aku orang she Cian benar-benar tidak akan mendendam di dalam hati, ada pepatah mengatakan menang kalah merupakan kejadian yang biasa di dalam suatu pertempuran, kemarin kalah mungkin hari ini akan pulang dengan memperoleh kemenangan, buat apa mendendam di dalam hati?"

"Lalu ini hari Cian-heng punya perhitungan pulang dengan memperoleh kemenangan?"

Tanya Wi Ci To lagi.

"Benar"

Sahut Cian Pit Yuan sambil mengangguk.

"Aku orang she Cian tentu punya hak ini bukan?"

"Sudah tentu ada..sudah tentu ada, tetapi kamu orang tidak seharusnya membunuh anak murid lohu, kamu orang merupakan seorang jago yang punya nama sangat terkenal di dalam Bu-lim, kini ternyata turun tangan membunujh seorang boanpwe yang masih rendah tingkatannya, hal ini membuat lohu merasa kecewa bagi dirimu"

"Sebenarnya aku orang she Cian tidak punya niat untuk bunuh dia, kesemuanya karena dia sendiri yang mencari mati"

"Oooh benar begitu?"

Tanya Wi Ci To sambil tertawa dingin.

"Aku orang she Cian sebetulnya punya niat dengan hormat untuk menemui kau Wi Toa Pocu, siapa tahu anak muridmu itu terlalu memandang rendah orang lain, dia melihat aku orang she Cian berpakaian compang-camping dan miskin ternyata tidak memperkenankan aku masuk bahkan memaki-maki dan meperolok-olok aku orang, terpikir olehku dengan peraturan yang keras dari Bentengmu ini sudah tentu tidak mungkin memiliki seorang anak murid semacam dia, karena itulah orang semacam itu tidak mungkin bisa terpakai lagi di sini maka aku mewakili kamu orang menyingkirkan nyawa dari sini"

Shia Pek Tha yang mendengar perkataan ini menjadi sangat gusar, mendadak dia meloncat bangun dari tempat duduknya, sambil mengaum keras bentaknya.

"Omong kosong, Kang Kian Sian merupakan pendekar pedang yang paling luhur hatinya, paling jujur dan paling menuruti aturan , kamu bangsat tua sudah bunuh dirinya kini memfitnah lagi, aku akan adu jiwa denganmu terlebih dulu"

Sambil berkata dia meloncat kearahnya sambil mencabut pedang dari sarung segera dia melancarkan satu serangan dahsyat ke depan.

Cian Pit Yuan tertawa terbahak-bahak, tubuhnya sedikit miring ke samping segera terhindarlah dari tusukan dahsyat Shia Pek Tha ini bersamaan pula kaki kanannya maju satu langkah ke depan dengan tepat berhasil menghajar pundak Shia Pek Tha, membuat tubuhnya tidak tahu lagi mundur beberapa langkah ke belakang dengan sempojongan sambil tertawa keras ujarnya.

"Minggir sedikit, kau masih terlalu jauh untuk lawan aku"

Shia Pek Tha merupakan salah satu pendekar pedang merah yang tertua di dalam Benteng Pek Kiam Po ini, julukannya Satu kali tusukan menembus ulu hati, sudah sangat terkenal di dalam dunia kangouw, kini satu tusukannya bukan saja berhasil digagalkan oleh Cian Pit Yuan bahkan tubuhnya sendiri berhasil pula dipukul oleh Cian Pit Yuan hingga mundur sempojongan, hal ini merupakan suatu kejadian yang jauh diluar dugaan.

Dengan perkataan lain, hal ini membuktikan kalau kepandaian silat dari si pendekar pedang tangan kiri Cian Pit Yuan ini sudah berhasil dilatih hingga mencapai pada taraf kesempurnaan.

Wi Ci To yang melihat kejadian itu segera sadar kalau Shia Pek Tha bukanlah musuh dari Cian Pit Yuan itu, jika pertempuran ini diteruskan tidak lebih juga bikin malu saja segera bentaknya dengan keras.

"Pek Tha, kau mundur!"

Tetapi Shia Pek Tha sama sekali tidak mau ambil perduli bentakannya itu, sambil membentak keras sekali lagi dia menyambarkan pedangnya ke depan, pedangnya diputar hingga mirip naga yang sedang menari di dalam sekejap mata saja dia sudah berhasil melancarkan empat jurus serangan sekaligus dengan gerakan menusuk, membabat, membacok serta menyambar.

Keempat jurus serangan ilmu pedang ini walau pun dilakukan dengan sedikit perbedaan waktu tetapi waktu dilancarkan keluar mirip sekali dengan empat buah serangan dilancarkan sekaligus disekeliling tubuh Cian Pit Yuan itu.

Tetapi sebaliknya Cian Pit Yuan sama sekali tidak mencabut keluar pedangnya, tubuhnya masih tetap berada ditempat semula hanya saja kakinya dengan sangat ringannya bagaikan mengalirnya mega di angkasa, tubuhnya dengan sangat lincah berhasil menghindarkan diri dari seluruh serangan itu, pada saat serangan yang keempat baru saja dilancarkan terlihatlah telapak tangannya sedikit miring dengan sangat hebat dia berhasil menghajar perut Shia Pek Tha.

Waktu melancarkan serangan itu sama sekali tidak dilakukan dengan cepat, hanya kecepatan serta kejituan serangannya itu membuat Shia Pek Tha tidak berhasil menghindarkan diri lagi dari serangan itu.

Bagaikan sebuah tiang besar tubuh Shia Pek Tha dengan mengeluarkan dengusan berat rubuh ke atas tanah dengan kerasnya.

Seluruh hadirin ditempat itu begitu melihat hanya di dalam satu gerakan saja Cian Pit Yuan berhasil memukul rubuh Shia Pek Tha tidak terasa pada melototkan matanya lebar-lebar sedang air mukanya berubah dengan sangat hebatnya.

Dalam hati Wi Ci To sadar kalau dia harus secepat mungkin turun tangan sendiri, tetapi baru saja dia hendak maju ke depan, Ti Then yang berada di sampingnyajauh lebih cepat satu tindak dari dirinya, terlihat tubuh Ti Then sedikit berkelebat dia sudah berada di hadapan Cian Pit Yuan.

Sebenarnya Huang Puh Kian Pek terus menerus bersiap diri untuk menguasai Ti Then, tetapi gerakan dari Ti Then jauh lebih cepat daripada apa yang dipikirkan, hampir-hampir boleh dikata sesaat tubuh Ti Then sudah berada satu kaki dari tempat semula dia baru turun tangan berusaha mencegah kepergian Ti Then itu, tetapi gerakannya ini sudah tentu tidak mencapai pada sasarannya tidak terasa air mukanya berubah menjadi merah padam, bentaknya.

"Ti Then, kamu mau berbuat apa?"

Ti Then sudah menjongkokkan diri di samping tubuh Shia Pek Tha, terlihatlah dari samping mulutnya darah segar masih menetes keluar dengan derasnya sedang keadaannya pun berada di dalam keadaan tidak sadarkan diri, segera dia angkat kepala sambil ujarnya.

"Saudara itu cepat kemari membimbing Shia toako ke samping!"

Seorang pendekar pedang putih yang berada didekatnya segera maju ke depan dan membopong tubuh Shia Pek Tha yang tidak sadarkan diri itu ke samping tubuh Wi Ci To.

Setelah itu barulah dengan perlahan Ti Then bangkit berdiri dan memandang tajam kearah Cian Pit Yuan, ujarnya sambil tertawa dingin.

"Gerak-gerikmu sungguh tidak jelek hanya bilamana dengan mengandalkan kepandaian ini saja sudah berani mengacau benteng Pek Kiam Po ini mungkin tidak begitu mudah"

Tadi Cian Pit Yuan sudah melihat dengan jelas kalau gerakan tubuhnya sangat cepat sekali, dalam hatinya tidak urung merasa terkejut juga kini tidak terasa lagi dia lebih memperhatikan beberapa kejap kearahnya, dengan pandangan yang sangat tajam dengan sangat teliti dia mulai memeriksa Ti Then dari atas kepala hingga ujung kakinya, kemudian barulah katanya.

"Siapa kau?"

"Hemm..hmmm..orang yang ada di dalam kalangan ini kecuali saudara seorang lainnya merupakan orang-orang dari benteng Pek Kiam Po"

"Ha ha ha...ooh..begitu?"

Ujar Cian Pit Yuan sambil tertawa terbahak-bahak.

"Lohu pernah dengar di dalam benteng Pek Kiam Po terdapat pendekar pedang merah, putih serta hitam, hey bangsat cilik kamu termasuk dari tingkatan yang mana?"

"Pendekar pedang hitam"

Sahut Ti Then singkat. Cian Pit Yuan yang mendengar perkataan ini tidak tertahan lagi mengerutkan alisnya kencang-kencang, ujarnya dengan kurang percaya.

"Pendekar pedang hitam? Kalau begitu cepat menggelinding dari sini, kalau tidak hemmm..hmmm jangan salahkan lohu turun tangan kejam lagi terhadap dirimu"

"Sekali pun aku hanya seorang pendekar pedang hitam tetapi dalam hati aku masih punya pegangan untuk membereskan orang semacam kamu"

Cian Pit Yuan begitu mendengar perkataan itu segera menjadi gusar, sambil angkat kepala serunya dengan keras.

"Hey orang she Wi, kamu orang apa mau lihat pendekar pedang hitammu yang ini juga kehilangan nyawa?"

Begitu Wi Ci To melihat sikap dari Ti Then terhadap pihak lawannya segera tahulah dia bahwa Ti Then tidak mungkin merupakan anak muridnya, tetapi untuk membuktikan kalau Ti Then sama sekali tidak punya hubungan dengan pihak lawan di dalam hatinya segera timbul keinginan untuk melihat masing-masing pihak saling bergebrak dulu, maka sambil tertawa keras ujarnya.

"Cian-heng, kalau memangnya kamu orang tahu kalau di dalam bentengku ini terdapat pendekar pedang hitam, putih serta merah, apa mungkin kamu orang tidak tahu kalau di dalam benteng kami ini berlaku juga satu peraturan?"

Cian Pit Yuan menjadi tertegun, tanyanya.

"Peraturan apa?"

"Setiap orang yang masuk ke dalam benteng ini bilamana hendak bertempur lawan lohu maka terlebih dahulu harus melewati tiga rintangan, memukul rubuh pendekar pedang hitam terlebih dahulu kemudian melewati rintangan pendekar pedang putih, merah baru kemudian bergebrak sendiri dengan lohu"

"Hemm..hmmm.."

Ujar Cian Pit Yuan sambil tertawa dingin.

"Tapi seorang pendekar pedang hitammu sudah aku bunuh"

"Lohu tidak melihat dengan mata kepala sendiri siatuasi pada saat itu, mungkin juga kamu bunuh dia dengan siasat licin?"

Cian Pit Yuan menjadi sangat gusar, sahutnya kemudian.

"Baiklah pendekar pedang hitam itu boleh tidak dihitung tetapi yang baru saja ini?"

"Dia bukan orang yang lohu tunjuk sudah tentu tidak bisa dihitung"

Cian Pit Yuan semakin gusar lagi, sambil menuding kearah Ti Then ujarnya sambil tertawa dingin.

"Kini dengan resmi kamu tunjuk pendekar pedang hitam ini untuk bergebrak lawan aku orang she Cian?"

"Tidak salah!"

Sahut Wi Ci To sambil mengangguk.

"Aku orang she Cian kalau tidak turun tangan masih tidak mengapa, tapi begitu turun tangan maka pasti akan bunuh orang, apa kau tega melihat anak muridmu terbunuh oleh aku orang she Cian?"

"Ha ha ha...sebaliknya lohu malah yang mau beri nasehat padamu lebih baik sedikit berhati-hati, mungkin yang binasa adalah kamu orang sendiri"

Cian Pit Yuan mendengus dengan dinginnya, dia tidak mau ambil bicara lebih banyak lagi, sambil menoleh kearah Ti Then ujarnya.

"Hey bangsat cilik, ajoh mulai turun tangan!"

"Tidak bisa..tidak bisa"

Ujar Ti Then.

"Kamu orang adalah pihak yang menjerbu ke dalam benteng kami ini sudah seharusnya kamu orang yang turun tangan terlebih dulu"

Cian Pit Yuan tidak bisa menahan hawa amarahnya lagi, bentaknya.

"Bangsat cilik, orok busuk..kamu orang berani mengejek di depan mata lohu"

Sambil berkata tangannya dengan sangat dahsyat menghajar dada pihak musuhnya.

Dia tetap tidak siap sedia menggunakan pedangnya, hal ini dikarenakan dia sama sekali tidak percaya kalau seorang pendekar pedang hitam semacam Ti Then ini bisa mengalahkan dirinya.

Padahal Ti Then sendiri juga tak punya pegangan yang teguh untuk memperoleh kemenangan ini tetapi kini dengan nyalinya yang besar dia ingin mencoba bergebrak dengan seorang musuh yang tangguh ini, dia tidak takut kalau sampai dikalahkan bahkan dalam hatinya dia mengharapkan kalau dirinya bisa dikalahkan, sehingga dengan demikian dia bisa membatalkan perjanyiannya dengan Majikan patung emas itu, karena dia sudah berjanyi dengan Majikan patung emas asalkan di dalam Bu-lim dia bisa menemui seorang yang bisa mengalahkan dirinya atau bertempur seimbang dengan dirinya maka segera dia akan memperoleh kebebasan kembali.

Maka itulah dia sangat mengharapkan bisa dikalahkan oleh pihak lawannya yang tangguh ini, tetapi dia tidak berani mengalah secara sengaja oleh karena itulah begitu melihat Cian Pit Yuan melancarkan serangan dahsyat kearah dadanya dengan cepat dia menyambut serangan itu dengan telapaknya juga.

"Plak..!"

Sepasang telapak tangannya masing-masing bertemu menjadi satu terlihatlah tubuh Ti Then mundur satu langkah ke belakang.

Cian Pit Yuan begitu melihat Ti Then hanya berhasil dipukul mundur satu langkah saja tidak terasa air mukanya berubah sangat hebat, sambil tertawa aneh ujarnya.

"Hemmm..hmmmm punya simpanan juga, coba terima satu seranganku ini lagi"

Suaranya baru keluar dari mulut, telapak tangannya sudah menyambar datang.

Dengan menggunakan jurus Co Yuan Hoa Su, telapak tangannya dengan dahsyat menghajar perut dari Ti Then.

Ti Then tidak mau adu keras lawan keras lagi, tubuhnya sedikit miring ke samping dengan menggunakan jurus "Pek Hok Liang Ci atau bangau putih mementangkan sajap tubuhnya dari bawah ke atas balas mengancam bahu pihak lawan.

Cian Pit Yuan tertawa dingin, telapak tangannya segera berubah jurus, tubuhnya memutar ke sebelah kanan dengan menggunakan jurus "Ji Lang Tan San auat Ji Lan memikul pakaian, balas menjerang jakan darah Thay yang hiat, dikening sebelah kiri dari Ti Then.

Kedua orang itu saling serang menjerang dengan kecepatan bagaikan kilat, di dalam sekejap saja puluhan jurus sudah berlalu tetapi masing-masing tetap seimbang tanpa ada yang berhasil merebut di atas angin.

Dengan keadaannya seperti ini lama kelamaan hati Cian Pit Yuan menjadi sedikit gugup dan bingung.

Pada dua puluh tahun yang lalu dia dikalahkan di bawah serangan pedang Wi Ci To dengan menahan perasaan malu segera hilang dari dunia kangouw untuk berlatih dengan giat ditengah pegunungan yang sunyi, kini sesudah berhasil melatih ilmunya di dalam hati menganggap dengan mudah mungkin dia berhasil mengalahkan Wi Ci To sehingga terbalas dendam sakit hati terpapasnya telinga sebelah kanannya itu, siapa tahu pada pertempuran pertamanya secara resmi dia sudah berhadapan dengan seorang "Pendekar Pedang Hitam"

Yang sukar untuk ditundukkan, hanya cukup seorang Pendekar pedang hitam saja sudah demikian lihaynya hal ini membuktikan kalau Wi Ci To yang sekarang jauh lebih lihay daripada Wi Ci To dua puluh tahun yang lalu.

Semakin bertempur hatinya semakin terperanyat sehingga di dalam keadaan yang tidak tenang itu membuat seluruh jurus serangan yang dilancarkan semakin tidak karuan, karena itulah sesudah lewat lima enam puluh jurus lagi lama kelamaan dia sudah terdesak hingga berada di bawah angin.

Dalam hati Ti Then juga tidak menginginkan dia terkalahkan dengan sangat cepat karena itulah bentaknya dengan keras.

"Pusatkan seluruh perhatian untuk bertempur, kalau tidak segera kamu akan dikalahkan"

Cian Pit Yuan menjadi sangat terkejut segera dia pusatkan seluruh perhatiannya untuk menghadapi musuh, tenaga murninya diatur sehingga lancar dengan demikian dia berhasil juga menyambut setiap serangan musuh yang sangat genting itu.

Kedua orang itu semakin bertempur semakin cepat hingga akhirnya semua hadirin hanya melihat sekumpulan bajangan manusia yang sebentar naik sebentar turun kemudian terdengar pula suara menyambarnya angin pukulan yang sangat dahsyat.

Siapa pun tidak bisa melihat dengan jelas yang mana Ti Then dan mana pula Cian Pit Yuan sendiri.

Sesudah bertempur kurang lebih empat jurus lagi tiba-tiba.

"Plok.."

Terlihatlah bajangan manusia itu berpisah dan masing-masing mengundurkan diri beberapa langkah ke belakang.

Air muka dari Cian Pit Yuan berubah menjadi hijau membesi, tangan kirinya di balik terdengar suara pekikan naga pada tangannya sudah bertambah dengan sebilah pedang panjang yang sangat tajam dan memancarkan sinar kebiru-biruan, bentaknya dengan keras.

"Bangsat cilik, cepat ambil pedangmu, Lohu akan mencoba juga kepandaianmu di dalam permainan pedang, bila kau berhasil menyambut seratus jurus serangan lohu ini maka sejak ini hari lohu akan mengundurkan diri dari Bu-lim selamanya tidak akan mendatangi benteng Pek Kiam Po ini untuk menuntut balas"

"Bagus..bagus sekali"

Sahut Ti Then sambil tersenjum.

"Hanya saja kamu orang sudah bunuh satu saudara kami maka sebelum kau meninggalkan tempat ini maka telinga sebelah kirimu harus ditinggalkan juga"

Saking gusarnya air muka Cian Pit Yuan yang sudah berubah menjadi hijau membesi semakin jelek lagi, teraknya dengan keras.

"Bangsat cilik..bangsat cecunguk anying, mungkin kamu orang sudah bosan hidup..cepat ambil pedangmu"

Kiranya pada dua puluh tahun yang lalu Cian Pit Yuan sekali pun jadi orang sangat aneh tetapi suka kebagusan, sesudah telinga sebelah kanannya terluka oleh pedang Wi Ci To karena perasaan malunya inilah segera dia angkat sumpah untuk membalas dendam sakit hati itu, kini dia dengar Ti Then mau menabas telinga sebelah kirinya juga tidak terasa menjadi sangat gusar sekali.

Tiba-tiba terdengar Wi Ci To tertawa terbahak-bahak ujarnya.

"Cian-heng, bagaimana kalau ganti baju dulu baru menlanjutkan pertempuran ini?"

Air muka dari Cian Pit Yuan segera berubah menjadi merah padam, ujarnya dengan gusar.

"Hey orang she Wi menang kalah masih belum ditentukan jangan keburu girang dulu!"

Semua orang yang hadir ditempat itu sesudah mendengar perkataan dari Wi Ci To ini barulah memperhatikan keadaan dari Cian Pit Yuan, terlihatlah pakaian bagian dadanya sudah sobek beberapa bagian hal ini memperlihatkan kalau pertempuran yang baru saja selesai ini dia sudah terkalahkan, tidak aneh kalau dia minta berganti dengan pertempuran pedang.

Ti Then ketika melihat seluruh sinar mata dari orang-orang yang ada disekitar tempat itu memandang kearahnya dengan perasaan kagum tidak terasa hatinya merasa sangat bangga, ujarnya sambil tertawa tawar.

"Saudara mana yang mau meminyamkan pedangnya untuk siauwte gunakan?"

Sebilah pedang panjang segera dilemparkan kearahnya. Ti Then sesudah berhasil menyambut pedang itu dilihatnya sebentar seluruh tubuhnya kemudian barulah ujarnya kepada Cian Pit Yuan sambil tertawa.

"Mari, silahkan mulai melancarkan serangan"

Perasaan gusar yang menghiasi wajah Cian Pit Yuan dengan mendadak lenyap tanpa bekas sedang sikapnya pun segera berubah menjadi sangat serius.

Pedangnya dilintangkan disepan dada sepasang matanya memandang mendatar ke depan agaknya seluruh perhatiannya sedang dipusatkan pada ujung pedangnya, sehingga kelihatan sekali sikapnya yang gagah tidak malu disebut sebagai seorang jago nomor wahid.

Wi Ci To yang melihat keadaannya itu menganggukkan kepalanya dengan perlahan, kepada Huang Puh Kian Pek yang berada disisinya ujarnya dengan perlahan.

"Kamu lihat bagaimana?"

"Tidak jelek"

Sahut Huang Puh Kian Pek dengan perlahan juga.

"Orang ini sudah melumerkan tiga kekuatan luar menjadi satu kekuatan dahsyat, agaknya latihannya sudah mencapai pada tingkatan yang keenam dari puncak kesempurnaan"

Wi Ci To menghela napas perlahan, ujarnya.

"Heei..bila ini hari bukannya Ti Then yang turun tangan mungkin kerugian dan penderitaan yang akan dialami benteng ini akan jauh lebih berat lagi"

Huang Puh Kian Pek mengangguk dengan perlahan dan tidak ambil bicara lagi, karena saat ini Ti Then serta Cian Pit Yuan yang sedang bertempur ditengah kalangan sudah mencapai pada situasi yang sangat tegang dan seru, jika dibicarakan terhadap mereka boleh dikata pertempuran kali ini merupakan suatu pertempuran yang paling sengit yang tidak mungkin tidak dilihat.

Ti Then serta Cian Pit Yuan yang saling berhadap-hadapan dengan perlahan mulai menggeserkan diri ketengah kalangan, suatu suasana pertempuran yang sangat seru dan sengit membuat pernapasan setiap hadirin terasa sangat sesak.

Sesudah melewati suatu pertempuran-sunyi-yang cukup seru dan menegangkan, pertama-pertama Cian Pit Yuan lah yang mulai bergerak maju, terdengar dia membentak keras tubuhnya bersama pedang panjangnya bagaikan kilat cepatnya menubruk kearah Ti Then.

Terlihat sinar pedang berkelebat beberapa kali, di dalam sekejap mata dia sudah melancarkan tujuh kali serangan gencar kearah seluruh tubuh Ti Then.

"Criing..criiing...criing....criiing..!"

Pedang panjang Ti Then dengan lincahnya bergerak dan menari ditengah bajangan serangan pedang dari Cian Pit Yuan itu, dengan sangat mudahnya dia berhasil mematahkan ketujuh buah serangan dahsyat itu, pedang panjangnya menjadi semakin kencang bersama-sama dengan angin sambaran yang sangat tajam dia balas menjerang tujuh buah serangan dahsyat kearah tubuh Cian Pit Yuan.

Cian Pit Yuan dengan cepat mematahkan setiap serangan itu kemudian masing-masing meloncot mundur ke belakang sekali lagi dengan saling pandang kearah pihak lawan mereka mulai bergeser mengelilingi kalangan pertempuran.

Kali ini Ti Then melancarkan serangannya terlebih dahulu, dia bersuit dengan nyaringnya, pedang panjangnya diputar sedemikian rupa sehingga terlihat bunga pedang berterabngan memenuhi angkasa sedang tubuhnya terus menerjang ke depan hingga mencapai di depan tubuh pihak musuh.

Pedangnya digetarkan sehingga bunga-bunga pedang memancar kearah wajah wjah si pendekar pedang tangan kiri Cian Pit Yuan itu sedang ujung pedangnya sendiri menabas kearah pinggangnya.

Dengan cepat Cian Pit Yuan menggetarkan pedangnya mematahkan serangan itu sedang tubuhnya dengan cepat mundur dua langkah ke belakang baru bisa terhindar sama sekali dari serangan Ti Then ini.

Begitu tubuhnya mundur dengan beraninya dia menerjang kembali ke depan, kakinya dengan mantap setindak demi setindak maju ke depan satu serangan, disusul dengan satu serangan yang lain sehingga bagaikan terbangnya naga serta burung hong yang sedang menari, mirip juga seperti mengamuknya hujan badai melanda tengah samudra membuat Ti Then terpaksa mundur dua langkah juga ke belakang.

Kedua orang itu sekali lagi menerjang ke depan, ditengah berselimutnya bajangan pedang membuat tubuh kedua orang itu sukar dibedakan, semua orang hanya merasakan pandangannya menjadi kabur sukar dilihat jelas keadaan yang sesungguhnya, mereka hanya sering mendengar benturan senyata tajam diselingi dengan percikan bunga-bunga api, tidak tertahan lagi hati mereka ikut berdebar-debar.

Seluruh lapangan latihan silat itu berubah menjadi sunyi senyap, selain suara desiran serta menyambarnya angin serangan yang tajam ditimpah dengan hiruk pikuk dari meja-meja perjamuan yang terbentur sama sekali tidak terdengar suara lainnya lagi setiap orang dengan pandangan yang melongo memandang pertempuran pedang yang sangat seru dan menegangkan itu.

Diam-Diam Wi Lian In menyawil ujung baju dari Hong Mong Ling, ujarnya setengah berbisik.

"Kini kamu tidak cemburu dan iri lagi bukan terhadap dia?"

Air muka dari Hong Mong Ling segera berubah menjadi merah padam, dengan setengah tertegun tanyanya.

"Iri terhadap siapa?"

Wi Lian In segera mencibirkan bibirnya, ujarnya.

"Hmmm kamu orang jangan pura-pura lagi di hadapanku"

Hong Mong Ling menjadi bingung dan gugup ujarnya.

"In moay kamu bagaimana bisa bicara begini? Aku mana mungkin iri terhadapnya, kepandaian silatnya begitu tinggi asalkan kita mau berlatih dengan rajin di bawah bimbingannya maka aku.."

"Tidak usah bicara lagi"

Potong Wi Lian In sambil tertawa merdu.

"Aku hanya ingin meminyam kesempatan ini beri nasehat kepadamu, kepandaian silatnya jangan dikata kita tidak akan sanggup menangkan dia sekali pun ajahku sendiri juga mungkin bukan tandingannya, sejak ini hari kau harus berlatih sungguh-sungguh di bawah bimbingannya, jangan lagi mengorek dan menyakiti hatinya sehingga dia tidak betah hidup di dalam benteng kita"

Hong Mong Ling sengaja memperlihatkan perasaan bingungnya, tanyanya.

"Bagaimana aku bisa menyakiti hatinya sehingga memaksa dia meninggalkan benteng kita ini?"

"Kamu orang jangan terlalu pandang rendah aku, aku juga bukan seorang anak kecil berusia tiga tahun, tadi pagi dengan sengaja kau berikan sebilah pedang yang supah putus kepadanya, aku melihat hal ini dengan sangat jelas sekali"

Air muka dari Hong Mong Ling sekali lagi berubah menjadi merah padam ujarnya.

"In-moay makin bicara kau makin tidak karuan, pedang itu diputuskan oleh Ki suko bagaimana bisa dihubungkan dengan aku?"

"Hmm..kau lihat ajahku sangat pandang dia sehingga dalam hati merasa tidak puas, tentang hal ini aku sendiri juga paham maka aku mau memaafkan dirimu, tetapi bilamana kau mendesak terus janagn salahkan aku kalau tidak mau perduli kau lagi"

Hong Mong Ling melihat Wi Lian Ini dibuat marah olehnya segera ujarnya dengan gugup.

"Kau anggap pedang itu aku yang patahkan terlebih dahulu?"

"Apa bukan begitu?"

Sengaja Hong Mong Ling memeprlihatkan perasaan tidak puasnya, ujarnya lagi.

"Coba kau pikirkan, aku juga tidak punya kepandaian untuk menduga hal-hal yang akan datang bagaimana bisa tahu kalau ajahmu akan pinyam pedang dariku untuk dia gunakan? Dan dengan sengaja aku rusak pedangnya terlebih dahulu?"

"Hemmm..sejak sebelumnya kamu sudah menduga kalau ajahku tentu akan pinyam pedang darimu"

"Heei.."

Ujar Hong Mong Ling sambil menghela napas panjang.

"Kalau kamu berpikir begitu aku juga tidak bisa berbuat apa-apa lagi"

Agaknya Wi Lian In sedikit menjadi gusar karena sikapnya yang ketus itu, sambil memandang tajam kearah wajahnya katanya lagi.

"Jika didengar omonganmu, agaknya kamu tidak puas dengan aku?"

"Aku tidak punya perasaan begitu, aku hanya takut kamu salah paham terhadap omonganmu"

Wi Lian In segera tertawa dingin, ujarnya.

"Omong yang sejujurnya urusan pagi ini sekali pun ajahku juga dapat melihat dengan jelas, sebetulnya dia punya niat untuk maki kamu hanya karena permintaanku untuk memaafkan kesalahanmu ini sehingga dia tidak jadi, hemmm kini jika kamu masih begitu..."

Mendadak suatu jeritan ngeri yang sangat aneh sekali berkumandang ditengah lapangan dengan kerasnya memotong pembicaraan selanjutnya dari Wi Lian Ini itu.

Si pendekar pedang tangan kiri Cian Pit Yuan sudah dikalahkan?

Pada saat pertempurannya dengan Ti Then mencapai pada jurus yang kesembilan puluh mendadak dia bersuit keras tubuhnya dengan cepat mengundurkan diri beberpa kaki jauhnya dari tempat semula kemudian disusul dengan putar tubuh ujung kakinya menutul permukaan tanah dan melayang pergi dari situ, terlihatlah bagaikan segulung asap hitam dengan kecepatan yang luar biasa dia melarikan diri keluar dari Benteng Pek Kiam Po.

Di dalam sekejap mata saja dia sudah melenyapkan dirinya tanpa bekas.

Seluruh pendekar pedang yang ada ditengah kalangan itu dibuat tertegun oleh kejadian ini, mereka semua tahu kalau Cian Pit Yuan dudah dikalahkan tetapi tidak paham dengan cara bagaimana dia bisa menderita kekalahannya itu.

Jilid 5.2.

Kecurigaan Wi Lian In Pedang panjang dari Ti Then ditunjukkan ke bawah, sesudah berdiri termenung beberapa waktu lamanya barulah dengan menggunakan ujung pedangnya menusuk sebuah telinga yang penuh dibasahi oleh darah segar.

Ternyata dia memapas juga telinga sebelah kiri dari Cian Pit Yuan.

Seluruh pendekar pedang yang hadir di sana sesudah melihat hal itu barulah meletus sorak sorai yang sangat keras, bahkan tidak sedikit diantara mereka yang meloncat-loncat dan menari saking girangnya.

Kepandaian silat dari Ti Then membuat mereka menjadi mabok, membuat mereka menjadi terpesona dan kagum.

Ditengah suara sorak sorai serta teriakan memuji itulah dengan setengah berbisik ujar Huang Puh Kian Pek kepada diri Wi Ci To.

"Jika melihat keadaan ini agaknya dugaan kita sama sekali meleset"

"Siapa bilang tidak, sejak sekarang juga kita tidak boleh bertindak gegabah sehingga membuat dia merasa curiga terhadap kita"

"Tidak"

Ujar Huang Puh Kian Pek.

"Dengan pedangnya dia melukai Cian Pit Yuan hal ini hanya bisa membuktikan kalau dia bukan murid dari Cian Pit Yuan, sedangkan mengenai dia musuh dari Benteng kami ataukah kawan dari Benteng kami kita masih membutuhkan waktu untuk membuktikannya."

Wi Ci To yang mendengar perkataan itu dalam hatinya merasa sedikit tidak puas, ujarnya.

"Bilamana di dalam hatinya punya niat busuk terhadap Benteng kita, dengan mengandalkan kepandaian silat yang dimilikinya sekarang ini kenapa dia harus berbuat demikian, dengan terang-terangan bukankah masih sanggup?"

Dia berhenti sejenak kemudian sambungnya lagi.

"Sekarang persoalan yang terpenting adalah dengan cara bagaimana membuat dia mau tinggal di dalam Benteng kita ini untuk selamanya"

"He he he he..."

Sahut Huang Puh Kian Pek sambil tertawa ringan.

"Siauwte punya satu siasat yang bagus yang akan memaksa dia berdiam di benteng kita untuk selamanya, hanya mungkin suheng tidak akan menjetujuinya"

Wi Ci To segera memandang tajam wajahnya, lewat beberapa saat kemudian barulah sahutnya.

"Coba kau utarakan"

"Ha ha haha..jodohkan saja In-ji kepadanya!"

Sahut Huan Puh Kian Pek dengan nada setengah gujon. Wi Ci To menjadi tertegun, kemudian termangu-mangu lama kemudian barulah ujarnya sambil tertawa paksa.

"Sute, kamu sedang omong gujon? Ie-suheng mu sudah menjodohkan In-ji kepada Hong Mong Ling bagaimana kini bisa membatalkan perjodohan itu untuk berbalik dijodohkan kepadanya?"

Sambil berkata dengan langkah yang lebar dia berjalan menuju kearah Ti Then yang saat ini sedang dike pung oleh pendekar pedang ditengah-tengah kalangan.

"Malam ini dengan keadaan mabok Ti-Kiauwtauw berhasil memukul rubuh pendekar pedang tangan kiri Cian Pit Yuan, jika berita ini sampai tersiar di dalam dunia kangouw agaknya tidak akan ada orang yang mau percaya"

"Boanpwe tidak sanggup menawan dia sebenarnya dalam hati sedang merasa kecewa"

Ujar Ti Then sambil tersenjum.

"Ha ha ha ha..hanya ini saja sudah sangat cukup, waktu itu sesudah lohu melukai satu telinganya membuat dia harus bersembunyi ditengah gunung selama dua puluh tahu lamanya tanpa berani bertemu dengan seorang manusia pun ini malam Ti Kiauwtauw berhasil melukai telinga lainnya mungkin selama hidupnya ini tidak punya muka untuk berkelana di dalam Bu-lim lagi"

"Heei.."

Ujar Ti Then sambil menghela napas.

"Jika dia tidak bunuh seorang saudara kita terlebih dahulu, boanpwe juga tidak punya niat untuk melukai dia"

Berbicara sampai di sini segera tanyanya lagi.

"Bagaimana dengan luka dari Shia toako?"

"Heei..luka dalamnya agak parah tetapi tidak ada bahaja terhadap nyawanya, Lohu sudah kirim orang menghantar dia pulang kekamar untuk berobat"

"Mari pergi. Kita lihat-lihat bagaimana keadaan lukanya"

Kata Ti Then.

Hari kedua karena pertempurannya melawan Cian Pit Yuan membuat luka di pinggang Ti The kambuh kembali, sehingga dia tidak pergi ke lapangan latihan silat untuk memberi pelajaran silat kepada ke sepuluh orang pendekar pedang merah itu, dengan langkah yang perlahan menuju kamar Shia Pek Tha untuk menjenguk keadaan lukanya kemudian kembali kekamar untuk beristirahat.

Siang harinya, terlihatlah Hong Mong Ling menuju kekamarnya untuk menjenguk keadaan luka dari Ti Then, ujarnya.

"Ti Kiauwtauw, bagaimana dengan luka di pinggangmu? Baikan bukan?"

"Oooh..terima kasih atas perhatianmu, sedikit baikan"

"Siauwte menerima perintah dari suhu untuk datang menemani Ti Kiauwtauw bilamana Ti Kiauwtauw punya niat berpesiar ke atas gunung siauwte akan bertindak sebagai petunjuk jalan"

"Heei..."

Ujar Ti Then.

"Luka di pinggang siauwte masih belum sembuh, untuk berpesiar ke puncak Selaksa Budha atau puncak emas rasanya tidak begitu leluasa biarlah lain hari saja"

"Tapi di atas gunung ada sebuah tempat yang mem punyai pemandangan alam yang sangat indah sekali bahkan tidak perlu mengeluarkan tenaga untuk mendakinya, lebih baik kita pesiar ke sana saja"

"Ooh melihat pemandangan desa?"

Tanya Ti Then lagi.

"Tidak, sumber air sembilan naga"

Ti Then berpikir sebentar kemudian barulah sahutnya sambil mengangguk.

"Baiklah, biar bagaimana pun kita juga sedang nganggur, jauh lebih baik untuk jalan-jalan"

Sehingga kedua orang itu sesudah membereskan pakaiannya dan meminta ijin dari Wi Ci To segera bersama-sama keluar dari dalam Benteng Pek Kiam Po itu.

Gunung Go bi san ini merupakan pusat agama Budha yang umum sehingga kuil-kuil yang didirikan di atas gunung sangat banyak jumlahnya, kedua orang itu sesudah melewati kuil Lian Hoa Si, Hoa Jen Si, Tiang Lo Ji Koan Sim Si dan terakhir sampailah pada kuil yang terbesar jaitu Ban Nian Si.

Kuil selaksa tahun ini didirikan pada jaman Kim.

Hwesio Tong Hwi Tong pernah bertapa ditempat ini juga, ruangan di dalam kuil boleh dikata dibagi menjadi tujuh ruangan besar misalnya Loteng Thay Oh Lu, ruangan Kun Lo Tien, ruangan Khiet Hud Tien, ruangan Thian Ong Cee, ruangan Kim Kong Tien, ruangan Thay Auh Tien serta yang terakhir Coan Tien.

Bangunan dari ruangan Coan Tien itu sangat aneh sekali, bagian atas dari bangunan itu berbentuk persegi panjang sedang bagian bawahnya berbentuk bulat sehingga bentuknya mirip dengan paku terbalik seluruh bangunan terbuat dari bata merah tanpa menggunakan sebuah tiang pun, bagian depan mau pun bagian belakang terdapat pintu yang tingginya kurang lebih tiga kaki hingga mirip dengan pintu kota, di dalam ruangan terletakkan patung-patung Budha yang terbuat dari tembaga setinggi satu kaki lebih lima enam lebarnya tujuh depa, keadaannya sangat angker dan gagah bahkan bentuk ukirannya pun sangat indah membuat setiap orang yang melihat tidak tertahan pada menghela napas panjang.

Ti Then sesudah melihat-lihat kuil itu dan minum the di dalam kuil barulah bersama-sama Hong Mong Ling keluar dari kuil untuk meneruskan perjalanan ke depan.

Sesudah melewati kuil Hay Hwe Si, Ie Ong Si, Khie Lok Si, Kiam Liong Si, Be Sian Kang serta jembatan Cing Hong Beng Gwat Ciauw sampailah mereka di selat Liong Bun.

Di samping sebuah telaga terdapatlah suatu tebing yang terjal, air bening dengan derasnya memancar keluar dari bagian di atas menrjang ke bawah sehingga terbentuklah sebuah air terjun yang sangat indah sekali, di samping air terjun berdirilah berpuluh-puluh gua kecil yang mirip sekali dengan gua naga, air yang terjun dari atas dengan mengeluarkan suara yang gemuruh memancarkan percikan air keempat penjuru, inilah yang disebut sebagai sumber air Kiu Liong dan merupakan satu pemandangan aneh yang terdapat di atas gunung Go bi san ini.

Ti Then yang melihat pemandangan di tempat itu tidak terasa hatinya menjadi mabok dan terpesona oleh keindahan tempat tersebut, tidak terasa pujinya.

"Orang-orang bilang selat serta sumber air yang paling bagus dan paling aneh diseluruh dunia boleh dikata Liong Bun di atas gunung Go-bi san ini merupakan yang pertama, ternyata berita itu sedikit pun tidak salah, pemandangan di situ sungguh indah sekali"

Hong Mong Ling yang dalam benaknya sedang memikirkan urusan lain saat ini hanya berdiam diri saja tanpa mengucapkan sepatah kata pun.

Ti Then yang melihat Hong Mong Ling lama sekali tidak menyawab segera ujarnya sambil tertawa.

"Hong heng, kamu bilang betul tidak?"

"Ooo..benar ..benar"

Sahut Hong Mong Ling dengan gugup.

"Ti Kiauwtauw bilang..bilang.."

"Ha..ha..haa...aku bilang pemandangan dari sumebr air Liong Bun ini sungguh indah sekali"

"Benar.benar.."

Sahut Hong Mong Ling termenung sambil mengangguk. Melihat sikapnya yang gugup sinar mata Ti Then segera memandang kearahnya dengan sangat tajam, tanyanya.

"Hong heng kamu sedang pikirkan apa?"

Hong Mong Ling termenung sebentar kemudian barulah sahutnya dengan perlahan.

"Aku sedang pikirkan urusan malam itu"

"Urusan kemarin malam?"

"Bukan, urusan pada malam yang lalu"

Sengaja Ti Then memperlihatkan sikapnya yang bingung dan tidak paham terhadap perkataan ini, tanyanya lagi.

"Kenapa dengan malam yang lalu?"

Hong Mong Ling memandang sekejap kearahnya kemudian memandang lagi kearah percikan air terjun itu, ujarnya.

"Malam yang lalu bilamana siauwte tahu kalau Lu Kongcu itu adalah si pendekar baju hitam Ti Then yang punya nama sangat terkenal di dalam Bu-lim sudah tentu tidak mungkin akan terjadi urusan yang sangat tidak menjenangkan itu"

Dalam hati diam-diam Ti Then merasa sangat geli, tetapi pada air mukanya sengaja memperlihatkan perasaannya yang sedang tertegun, tanyanya.

"Hong-heng kamu sedang bicara apa?"

Hong Mong Ling menjadi sedikit gemas, sambil pukul batok kepalanya sendiri ujarnya.

"Sudahlah, Ti Kiauwtauw-ku yang baik, siauwte sejak dulu sudah mengenal kau adalah Lu Kongcu itu"

"Aku tidak mengerti kau sedang bicara apa?"

"Yang tidak mengerti seharusnya adalah aku"

Ujar Hong Mong Ling sambil tertawa pahit.

"Malam itu dengan gaja seorang kongcu kaja yang suka pelesiran kau pergi ke sarang pelacur Toau Hoa Yuan mencari Liuw Su Cen karena waktu itu siauwte tidak tahu kalau kau adalah si pendekar baju hitam Ti Then, begitu dengar perkataanmu yang sombong membuat perasaan gusar dalam hatiku bergolak sehingga terjadilah bentrokan dengan kau, tetapi...kalau memangnya di sarang pelacur Touw Hoa Yuan kau sudah menang kenapa sampai sekarang kau masih begitu tidak puas terhadap aku?"

"Hong-heng"

Ujar Ti Then sambil tersenjum.

"Sebetulnya kau sedang bicarakan apa?"

"Ti Kiauwtauw tidak perlu pura-pura bodoh, di sini tidak ada orang lebih baik kita bicara dengan blak-blakan saja"

"Hong-heng sudah salah mengenal orang, siauwte pada malam yang lalu tidak pernah pergi ke sarang pelacur Touw Hoa Yuan"

"Hemm..hemm.."

Hong Mong Ling tertawa dingin tak henti-hentinya, ujarnya.

"Siauwte tidak akan membocorkan rahasia dari Ti Kiauwtauw, kau legakan hati saja sekarang siauwte hanya ingin mengetahui tujuan yang sebenarnya dari Ti Kiauwtauw"

"Heeeii Hong-heng"

Seru Ti Then sambil mengerutkan alisnya rapat-rapat, sedang air mukanya mulai kelihatan berubah.

"Semakin bicara semakin tidak karuan, sebenarnya sudah terjadi urusan apa? Bagaimana jika Hong-heng ceritakan dengan jelas urusan yang sebenarnya mungkin siauwte akan bantu pikirkan"

Dengan pandangan yang gusar Hong Mong Ling memandang beberapa saat lamanya kearahnya, kemudian ujarnya dengan marah.

"Baiklah kau tidak mau bicara juga tidak mengapa, aku yang akan bicara. Karena kau tahu aku sering pergi cari Liuw Su Cen untuk bersenang-senang dan tahu juga kalau aku sudah dijodohkan dengan nona Wi maka sengaja kau menanti di sarang pelacur Touw Hoa Yuan untuk mencari setori dengan aku kemudian membawa aku bersama Cang Bun Paiuw kembali ke Benteng. Hemmm dalam anggapanmu dengan mencekal titik kelemahanku ini hendak berusaha mencapai tujuan dari siasat licinmu, bukan begitu?"

Air muka dari Ti Then segera berubah menjadi sangat keren, ujarnya sambil bangkit berdiri.

"Jalan, kita kembali ke dalam Benteng Pek Kiam Po"

"Mau apa?"

Tanya Hong Mong Ling berubah air mukanya.

"Laporkan seluruh kejadian ini kepada suhumu agar dia yang pergi melakukan penjelidikan yang teliti, mari kita buktikan bersama, Lu Kongcu yang kau temui di dalam sarang pelacur Touw Hoa Yuan itu benar-benar tidak aku yang berbuat"

Seperti ajam jago yang kalah bertempur, dengan lemasnya Hong Mong Ling menundukkan kepalanya rendah-rendah, ujarnya kemudian.

"Dengan jelas kamu tahu kalau aku tidak akan berani menceritakan keadaan yang sesungguhnya, buat apa kamu mau menggunakan cara ini?"

"Hmm kau takut sesudah menceritakan kejadian ini lalu nona Wi tidak mau dikawinkan dengan kau?"

Hong Mong Ling mengangguk dengan perlahan. Ti Then tertawa dingin lagi, ujarnya.

"Tetapi kau sudah menganggap siauwte adalah Lu Kongcu itu, urusan ini harus dilaporkan kepada suhumu agar urusan bisa menjadi jelas kembali" +++oo+++ Hong Mong Ling yang dikata begitu menjadi lemas, ujarnya sambil menundukkan kepalanya rendah-rendah.

"Ini hari siauwte mengajak kau kemari semuanya bertujuan untuk membicarakan urusan ini, aku ingin kau melepaskan aku kali ini saja, kini kalau memangnya kau tidak mau mengakui maka...maka..jaah..sudahlah!"

"Tidak bisa, urusan ini harus diselidiki sampai jelas"

Hong Mong Ling menjadi semakin gugup, ujarnya.

"Buat apa? Bilamana urusan ini sampai tersiar luas sekali pun nama dan kedudukanku akan hancur akan tetapi kau sendiri juga sama sekali tidak akan mendapatkan keuntungan apa-apa, bukan begitu?"

"Aku tidak takut"

Sahut Ti Then tegas.

"Sebetulnya aku memangnya tidak punya niat untuk tetap tinggal di dalam Benteng Pek Kiam Po kalian, apalagi aku sendiri juga bukanlah Lu Kongcu yang kau maksudkan tadi, bilamana urusan ini sampai tersiar luas malah membuat namaku pun menjadi bersih"

Berbicara sampai di sini, segera ujarnya lagi tegas.

"Ajoh jalan, kita pulang"

Air muka dari Hong Mong Ling berubah menjadi pucat pasi bagaikan majat, sahutnya kemudian dengan gugup.

"Baik..baik..sudahlah..biarlah anggap siauwte sudah salah menduga orang lain, di sini siauwte minta maaf terlebih dulu bagaimana? Mau bukan?"

"Hmm.."

Dengus Ti Then dengan sangat dingin.

"Aku mewakili nona Wi merasa kecewa, tidak disangka kau Hong Mong Ling ternyata seorang macam begitu"

Wajah Hong Mong Ling segera berubah menjadi merah padam bagaikan kepiting rebus, sahutnya.

"Siauwte pergi ke sarang pelacur Touw Hoa Yuan cari hiburan, sebetulnya hanya iseng saja, padahal di dalam hati siauwte hanya terpikir Wi Lian In seorang saja"

"Liuw Su Cen itu apakah pelacur dari Touw Hoa Yuan?"

Potong Ti Then.

"Benar"

"Aku lihat wajah dari nona Wi sangat cantik bagaikan sekuntum bunga yang baru saja mekar, kalau kau sudah miliki dia buat apa pergi luaran cari kesenangan lagi sehingga menjadi seorang calon suami yang busuk?"

"Heei.."

Ujar Hong Mong Ling sambil menghela napas.

"Tadi siauwte sudah bilang kesemuanya ini hanya karena iseng saja"

"Hemm..cari kesenangan bersama dengan Cang Bun Piauw seorang ahli di dalam main judi, minum, pelesiran serta mengganggu ketentraman rakjat jelata"

"Persahabatan siauwte dengan Cang Bun Piauw boleh dikata tidak terlalu rapat, kemarin malam ketika dia melihat siauwte minum arak seorang diri di atas loteng kedai arak maka dia datang mendekat untuk berkenalan dengan siauwte kemudia memaksa siauwte untuk temani dia pergi kesarang pelacur Touw Hoa Yuan untuk cari kesenangan, padahal..padahal di sana paling banyak siauwte juga minum arak saja...tidak akan berbuat lebih jauh dari itu"

"Akhirnya di dalam sarang pelacur Touw Hoa Yuan kalian bertemu dengan Lu Kongcu itu?"

Potong Ti Then dengan cepat.

"Benar"

"Dia sedang ditemani Liuw Su Cen minum arak cari kesenangan?"

"Benar"

"Lalu kalian juga akan mengundang Liuw Su Cen., Lu kongcu itu tidak mau melepaskan sehingga dengan demikian kedua belah pihak terjadi ribut-ribut diakhiri dengan suatu pertempuran?"

"Hmmm"

"Macam apa Lu kongcu itu?"

"Dia menyebutkan diri sebagai putra dari Menteri Negara Lu Ko Sian dan merupakan seorang pemuda suka pelesiran yang sangat terkenal sekali di ibu kota, wajahnya mirip sekali dengan kau bahkan boleh dikata pinang dibelah dua"

"Hoo, bisa ada urusan ini...lalu bagaimana?"

Tanya Ti Then dengan sedikit terkejut.

"Dia tidak mau melepaskan Liuw Su Cen untuk keluar menyambut kedatangan kami bahkan mengoceh dan mencemooh aku dari dalam kamar membuat kemarahan siauwte memuncak, saat itulah segera siauwte terjang ke dalam kamar untuk beri hajaran kepadanya, siapa tahu..."

"Dia juga bisa ilmu silat?"

"Benar"

Sahut Hong Mong Ling.

"Karena siauwte tidak tahu kalau dia juga seorang berilmu maka di dalam keadaan yang tidak memandang sebelah mata kepada pihak musuh leherku terhajar satu kali oleh kepalannya.."

"Kalau didengar kisahmu sekarang ini maka ceritamu ketika di hadapan Pocu yang mengatakan sudah bertemu dengan seorang berkerudung ditengah jalan merupakan cerita yang bohong belaka?"

"Heeii..siauwte terpaksa harus berbuat demikian"

Sahut Hong Mong Ling sambil menghela napas panjang.

"Karena bilamana suhuku dan nona Wi tahu kalau siauwte pergi ketempat pelacuran untuk cari kesenangan maka di dalam keadaan gusar mungkin sekali segera membatalkan ikatan perkawinan kami"

"Ehmmm..tadi kau bilang Lu kongcu itu mirip dengan aku, coba kamu bilang apanya yang mirip?"

"Semuanya mirip"

"Ha ha sungguh menarik sekali"

Sahut Ti Then sambil bertepuk tangan.

"Di dalam dunia ini ternyata ada orang yang mem punyai wajah mirip denganku bahkan bisa ilmu silat juga"

"Heeei..waktu itu walau pun siauwte tidak menduga kalau dia bisa ilmu silat tetapi gerakan tangan siauwte saat itu tidak perlahan, bilamana bukannya lkepandaian silat yang dimilikinya jauh melebihi siauwte tidak mungkin bisa memukul rubuh siauwte hanya di dalam satu gebrakan saja"

"Karena itu lalu kau anggap dia adalah aku yang berbuat?"

Sambung Ti Then sambil tertawa.

"Benar, tetapi sekarang...sekarang siauwte tahu kalau dugaanku itu salah"

"Oooh jaah?"

Ujar Ti Then lagi.

"Kemarin malam secara diam-diam kau rusak pedangmu kemudian memerintahkan Ki Tong Hong untuk bergebrak lawan aku kamu orang punya rencana untuk bunuh aku jaah?"

"Tidak, tidak !"

"Heemmm...sungguh tidak?"

"Benar..memang demikian"

Sahut Hong Mong Ling dengan wajah yang merah padam.

"Siauwte mana berani memerintahlkan Ki Tong Hong untuk bunuh kau, siauuwte hanya mengharapkan dia bisa melukai kau sehingga dengan begitu kamu tidak punya muka lagi untuk menyabat kedudukan sebagai Kiauwtauw benteng Pek Kiam Po kami"

"Aku lihat urusan ini terpaksa harus dilaporkan kepada suhumu agar dia orang tua bisa mengirim orang untuk menjelidiki asal usul yang sebenarnya dari Lu kongcu itu"

"Jangan...jangan.."

Ujar Hong Mong Ling gugup.

"Bila bertindak demikian maka urusan siauwte di dalam sarang pelacur Toau Hoa Yuan menjadi diketahui juga oleh mereka, Ti-kiauwtauw, tolonglah.."

"Heemm..tidak bisa"

Ujar Ti Then dengan wajah yang sengaja diperlihatkan keren.

"Sekarang dikarenakan urusan ini menyangkut dirimu sangat hebat maka kau bilang tidak akan mencurigai diriku, begitu kau sudah berhasil kawin dengan nona Wi saat itu kau bisa bicara sembarangan lagi, karena itu aku anggap lebih baik sekarang juga kita bikin jelas urusan ini"

"Ti-kiauwtauw harap berlegakan hatimu, yang siauwte takutkan adalah tidak bisa menikah dengan nona Wi, sesudah kita kawin maka tidak ada urusan lainnya lagi yang penting bagi diriku"

"Heeh...kalau begitu kau harus angkat sumpah, kalau tidak aku tidak akan lega hati"

"Baiklah"

Sahut Hong Mong Ling sungguh-sungguh.

"Thian Ong berada di atas aku Hong Mong Ling sejak hari ini bilamana berani menunjuk Ti-kiauwtauw sebagai Lu kongcu, maka aku akan mendapatkan kematian tanpa tempat kubur yang baik"

Ti Then yang melihat dia berlutut di atas tanah dan mengangkat sumpah dengan sikap yang betul-betul serius dalam hatinya segera merasa memandang rendah terhadap sikapnya, pikirnya dalam hati.

"Hemmm bangsat cilik ini hanya bagus diluar jelek di dalam, sudah licik banyak akal tidak bersemangat lagi, tidak aneh kalau Wi Ci To merasa menjesal putrinya dijodohkan kepadanya. Hong Mong Ling sehabis angkat sumpah segera bangkit berdiri dari atas tanah, saat itulah mendadak seperti sudah menemukan sesuatu air mukanya berubah sangat hebat, serunya.

"Celaka!"

"Kenapa?"

Tanya Ti Then dengan tertegun. Sambil menunjuk kearah sebuah hutan rima ditempat kejauhan ujarnya dengan gemetar.

"Aku...aku melihat sesosok bajangan manusia berkelebat..berkelebat diantara hutan itu"

Dengan cepat Ti Then menoleh kearah hutan itu, tanyanya.

"Sudah melihat jelas siapa orang itu?"

"Mirip sekali dengan sumoayku"

"Aaah tidak mungkin"

Sahut Ti Then sambil gelengkan kepalanya keras-keras.

"Bagaimana dia bisa sampai di sini juga?"

"Mungkin dia menguntit kita kemari?"

Ti Then menjadi tersenjum, ujarnya.

""Bilamana dia ingin ikut kemari buat apa harus menguntit secara diam-diam?"

Sambil mengusap kering keringat yang mengucur keluar membasahi keningnya ujar Hong Mong Ling lagi.

"Ti-Kiauwtauw kau tidak tahu, pada saat kejadian terputusnya pedang kemarin pagi dia juga dapat mengetahui kalau kejadian itu merupakan perbuatan siauwte sebelumnya, pada kemarin malam sesaat Ti Kiauwtauw bertempur melawan Cian Pit Yuan dengan meminyam kesempatan ini dia memaki diri siauwte, ini hari siauwte mengundang Ti-Kiauwtauw naik gunung untuk pesiar sudah tentu dia merasa curiga kalau siauwte akan berbuat tidak senonoh terhadap diri Ti-Kiauwtauw sehingga sengaja menguntit kemari"

"Kemungkinan juga orang itu bukan dia, buat apa kamu begitu terkejut dan cemasnya?"

"Heei..siauwte ingat sekali malam itu dia memakai pakaian berwarna merah, sedang bajangan tadi pun agaknya memakai pakaian berwarna merah juga"

"Sekali pun orang itu adalah dia, tetapi kau sama sekali tidak berbuat senonoh kepadaku buat apa takut?"

Hong Mong Ling tertawa pahit, sahutnya.

"Siauwte takut dia mendengar seluruh perkataan yang kita ucapkan tadi"

"Kemungkinan ini sangat tipis, jaraknya dari sini ke sana sangat jauh sekali, dia tidak mungkin bisa dengar jelas"

Keadaan dari Hong Mong Ling saat itu mirip sekali dengan semut yang kepanasan, dengan cepat sekali dia berjalan pulang pergi ujarnya kemudian.

"Tidak bisa...tidak bisa jadi..pikirannya sangat tajam dan cerdik, asallkan dia bisa dengar sedikit saja maka segera dia akan bisa menduga delapan sembilan bagian. Heeeii..heei..Bagaimana sekarang enaknya?"

Ti Then memandang sekejap ke sekeliling tempat itu kemudian barulah ujarnya dengan nada yang rendah.

"Aku akan ajari kamu satu cara, nanti sesudah kita pulang ke dalam Benteng segera kau pergi jenguk dia, bilamana melihat sikapnya sedikit tidak beres maka terbukti kalau orang itu adalah dia, saat itu dengan cepat kau pergi menemui suhumu dan berlutut di hadapannya untuk mengakui seluruh perbuatanmu itu, saat itu kau minta maaf dan am pun, dengan sifat yang peramah dari suhumu dan melihat kejujuranmu mungkin dia akan memaafkan dirimu asalkan dia mengam puni kamu dipihak sumoaymu dengan sendirinya tidak ada kesukaran lagi"

Pemikirannya ini sama sekali tidak mengandung siasat licik lainnya, sebaliknya merupakan pemikiran yang sungguh-sungguh keluar dari dasar lubuk hatinya untuk membebaskan kesukaran dari Hong Mong Ling, saat ini juga dia tetap tidak ingin merusak perhubungan cinta dari orang lain, dia hanya mengharapkan agar Majikan patung emas melihat kegiatan dan usahanya yang mati-matian tetapi sama sekali tidak mengharapkan bisa menjelesaikan tugas ini dengan sempurna.

Hong Mong Ling ketika merasakan cara ini sangat beralasan barulah sahutnya dengan cepat.

"Bagus sekali, mari kita cepat pulang"

Demikianlah mereka berdua dengan tergesa-gesa sekali berangkat kembali ke dalam Benteng Pek Kiam Po, sesudah sampai di dalam Benteng Ti Then masuk ke dalam kamarnya sendiri untuk beristirahat sedang Hong Mong Ling langsung menuju keruangan dalam untuk menemui Wi Lian In di dalam kamarnya.

Sesudah berhasil dia menenangkan pikirannya barulah dengan tangan yang sedikit genetar mengetuk pintu kamar.

"Siapa?"

Terdengar suara seorang pelajan perempuan sedang bertanya.

"Cun Lan, aku.."

Dengan perlahan pintu kamar dibuka, seorang budak yang disebut sebagai Cun Lan itu berdiri di depan pintu sambil memberi hormat kepada Hong Mong Ling ujarnya.

"Oooooh kiranya Hong siangkong"

"Nona ada di dalam?"

Cun Lan segera menyahut ada, kemudia menoleh ke belakang dan teriaknya dengan keras.

"Nona, Hong siangkong datang"

"Silahkan dia masuk"

Suara Wi Lian In berkumandang keluar dari dalam kamarnya.

Dengan cepat Hong Mong Ling berjalan masuk ke dalam kamar dan menuju ke meja riasnya, terlihatlah saat itu Wi Lian In sedang menyisiri rambutnya yang panjang terurai itu, agaknya siap hendak pergi mandi, segera dia maju ke depan, ujarnya sambil tersenjum.

"In-moay kamu mau pergi mandi?"

"Benar, ada urusan apa?"

Ketika Hong Mong Ling melihat wajahnya tetap ramah dalam hati segera merasa lega, sahutnya.

"Tidak ada apa-apa, hanya ingin datang lihat-lihat kau.."

Dengan perlahan Wi Lian In putar tubuhnya sambil tersenjum tanyanya.

"Aku dengar ini hari kau menemani Ti-kiauwtauw pergi pesiar ke atas gunung?"

"Benar, aku membawa dia pergi lihat sumber air Kiu Liong"

"Air yang diterjunkan dari Kiu Liong ini hari merupakan air yang manis atau air yang pahit?"

Dalam hati Hong Mong Ling merasa bergetar, sambil tertawa malu sahutnya.

"In-moay jangan bergurau, air yang diterjunkan di Kiu Liong bukan air yang manis juga bukan air pahit"

Wi Lian In tertawa cekikikan, tanyanya lagi.

"Kamu bisa bicara baik-baikan dengan Ti-kiauwtauw?"

"Biasa"

Sahut Hong Mong Ling sambil menangguk.

"Makin lama kakakmu yang bodoh ini semakin merasa orangnya tidak jelek, kepandaian silat yang dimiliki pun sangat tinggi tetapi jadi orang tidak sombong, dia merupakan seprang sahabat yang patut kita rapati"

"Ehmmm..kau bisa berubah sikap terhadap dirinya aku merasa sangat girang sekali, sekarang kau boleh pergi aku mau pergi mandi"

Dengan sangat hormat sekali Hong Mong Ling menyahut dan mengundurkan diri dari dalam kamarnya, sedang dalam hati dia merasa sangat girang dan puas. Sekali pun perkataan "air pahit"

Dari Wi Lian In itu membuat hatinya merasa sangat terkejut tetapi perkataan selanjutnya yang mesra dan penuh dihiasi dengan senjum manis itu membuat perasaan di dalam hatinya mulai lega sedang dugaan kalau bajangan yang dilihatnya di air terjun Kiu Liong adalah Wi Lian In pun mulai lenyap dari pikirannya.

Sehabis makan malam Wi Ci To, Huang Puh Kian Pek serta Ti Then sesudah berbicara dengan orang-orang beberapa saat lamanya mereka pada berpisah untuk beristirahat di dalam kamarnya masing-masing.

Sesudah lewat tengah malam dengan sangat perlahan-lahan dan gerak-gerik yang berhati-hati Wi Lian In kelihatan berjalan menuju ke kamar buku ajahnya kemudian mengetuk dengan perlahan.

Kiranya sejak ibu dari Wi Lian In meninggal beberapa tahun yang lalu selama ini Wi Ci To selalu berdiam seorang diri di dalam kamar buku itu.

Sesudah mengetuk beberapa saat lamanya terdengar dari dalam kamar buku itu berkumandang keluar suara dari Wi Ci To yang sedang bertanya.

"Siapa?"

"Aku, Tia"

"Oooh..In-ji"

Dengan cepat Wi Ci To bangun dari pembaringannya untuk berpakaian dan membuka pintu kamarnya.

"Tengah malam seperti ini kamu tidak pergi tidur, buat apa kemari?"

Dengan cepat Wi Lian In berkelebat masuk ke dalam kamarnya, kemudian barulah ujarnya dengan perlahan.

"Tia, mari kita pergi main-main ke kota Go-bi"

Wi Ci To begitu mendengar ajakan putrinya yang sangat aneh ini menjadi tertegun, ujarnya.

"Jangan gujon, pada saat seperti ini bagaimana bisa pergi ke kota Go-bi untuk main-main?"

"Putrimu ingin mencari seseorang di dalam kota"

"Cari siapa?"

Tanya Wi Ci To tercengang. Wi Lian In memperlihatkan senjumnya yang sangat misterius, sahutnya.

"Sesudah sampai di dalam kota putrimu baru akan beritahu pada kau orang tua"

Dengan wajah yang penuh dibasahi oleh embun Wi Ci To melototkan matanya, ujarnya dengan agak keras.

"Tidak, sebetulnya kamu sedang berbuat permainan apa?"

Mendadak pada air muka Wi Lian In memperlihatkan perasaannya yang sedih dan menderita, sahutnya.

"Putrimu hendak ke dalam kota untuk menjelidiki suatu urusan, urusan ini mem punyai hubungan yang sangat erat dengan urusan putrimu untuk selama hidupnya"

Ketika Wi Ci To melihat dia berbicara dengan sangat serius sekali pada wajahnya semakin memperlihatkan perasaan terkejutnya, tanyanya dengan cepat.

"Sebetulnya sudah terjadi urusan apa?"

"Heei.."

Ujar Wi Lian In sambil tertawa pahit.

"Sebelum mendapatkan bukti yang nyata putrimu tidak ingin utarakan keluar"

Wi Ci To semakin mengerutkan alisnya kencang-kencang, ujarnya.

"Hemm ditengah malam buta mendadak kau ingin ajahmu menemani kau pergi ke dalam kota..kamu membuat ajahmu makin lama makin bingung"

"Sesudah sampai di dalam kota dan berhasil menemui orang itu, ajah tentu akan memahami urusan apa sebenarnya yang sudah terjadi"

"Besok pagi pergi bukankah sama saja?"

"Tidak bisa!"

Ujar Wi Lian In tegas.

"Harus malam ini juga pergi bahkan tidak diperbolehkan mengejutkan orang-orang kita sendiri"

Dengan tajam Wi Ci To memandang wajah putrinya, beberapa saat lamanya dia tidak mengucapkan sepatah kata pun, agaknya dia sedang menduga perasaan hatinya.

"Tia"

Ujar Wi Lian In lagi memecahkan kesunyian itu.

"Bilamana Tia sajang pada putrimu, maka tia harus menjetujui untuk menemani putrimu"

"Baiklah, ajahmu akan temani kau pergi"

Sesudah berpakaian dan dandan sebentar barulah berjalan keluar dari kamar bukunya untuk kemudian keluar dalam Benteng bersama-sama Wi Lian In.

Ajah beranak berdua sudah tentu tahu dengan jelas di tempat mana di sekeliling benteng itu terdapat penjagaan malam.

Karena itulah dengan sangat mudah sekali mereka berhasil menghindarkan diri dari mereka, dengan tidak menimbulkan suara sedikit pun mereka sudaah berhasil meninggalkan benteng Pek Kiam Po untuk berangkat menuju ke kota Go-bi.

Pada saat kentongan kedua mereka ajah beranak berdua sudah sampai di kota Go-bi, sesudah melewati tembok kota yang tinggi sampailah mereka disebuah jalan raja yang sangat sunyi, kepada seorang penjual makanan maalam tanyanya.

"Toa siok ini tolong tanya rumah dari Cang Bun Piauw Cang Kongcu terletak di jalan sebelah mana?"

Penjual bakso itu segera menurunkan pikulannya, dengan air muka yang sangat terkejut dia memandang beberapa saat lamanya kearah Wi Ci To serta putrinya kemudian barulah tanyanya.

"Yang nona tanyakan apakah putra dari Cang Pek Li Cang Lo-ya?"

Wi Lian In sendiri juga tidak tahu ajah dari Cang Bun Piauw itu bernama Cang Pek Li atau Cang Pek To, balik tanyanya.

"Apakah putranya yang bernama si tikus rakus dari Go-bi Cang Bun Piauw?"

"Benar"

Sahut kakek itu sambil mengangguk.

"Memang benar dia, nona cari dia ada urusan apa?"

"Kami ajah beranak merupakan kawan dari seorang familinya, familinya itu mem punyai sebuah barang yang dititipkan kami untuk disampaikan kepadanya, sebetulnya kami ingin menanti sesudah terang tanah baru temui dia, tetapi karena kami juga punya urusan yang harus diselesaikan di luar kota maka terpaksa kami harus kerjakan sekarang juga"

"Tetapi pintu kota sudah tertutup, bagaimana kalian ajah beranak bisa keluar?"

Wi Lian In hanya tersebjum saja, tanyanya.

"Tolong beritahu tempat tinggal dari Cang kongcu sebetulnya berada dimana?"

Dengan perlahan kakek penjual bakso itu menunjuk ke satu jalan besar, sahutnya.

"Jalan dari tempat ini sesudah sampai di persimpangan belok ke sebelah kanan, kurang lebih berjalan seratus tindak terdapatlah sebuah bangunan besar dengan pintu besar bercat merah, pokoknya asalkan di samping rumahnya ada dua patung macan yang besar, itulah rumahnya"

Wi Lian In segera mengucapkan banyak terima kasih dengan menarik tangan ajahnya Wi Ci To untuk mereka segera berjalan menuju kejalan yang ditunjuk, sesudah berjalan kurang lebih berpuluh-puluh tindak dengan wajah yang penuh perasaan terkejut tanya Wi Ci To.

"Hey budak, orang yang hendak kau cari apakah Cang Bun Piauw itu?"

"Benar"

"Buat apa kamu cari dia?"

Tanya Wi Ci To dengan tercengang.

"Sesudah menawan dia tentu ajah akan segera paham"

Agaknya Wi Ci To menjadi sadar sebenarnya urusan apa yang sedang terjadi, ujarnya kemudian.

"Ehmm..apa punya hubungannya dengan Hong Mong Ling ketika malam itu terpukul oleh seorang berkerudung?"

"Benar"

Sahut Wi Lian In.

"Putrimu menemukan kisah yang diceritakan suko waktu itu agaknya tidak mirip dengan kejadian yang sesungguhnya maka itu putrimu mau menangkap Cang Bun Piauw untuk kita tanyai dengan jelas"

"Ceritera dari Hong Mong Ling bagaimana bisa tidak sesuai dengan kejadian yang sesungguhnya?"

Tanya Wi Ci To dengan nada terkejut.

"Tentang hal ini sesudah kita menanyai Cang Bun Piauw baru putrimu akan menceritakan dengan jelas kepada Tia"

Wi Ci To ajah beranak dengan mengikuti petunjuk dari kakek penjual bakso itu tidak lama kemudian sudah sampai di depan rumah dari Cang Bun Piauw..,sebuah bangunan dengan pintu besar berwarna merah serta dua buah patung macan yang terbuat dari batu.

Waktu menunjukkan kentongan ketiga tengah malam, di depan pintu besar tidak tampak sesosok bajangan manusia pun.

"Tia"

Ujar Wi Lian In dengan perlahan.

"Kau masuklah dan tawan dia keluar dari rumahnya"

Sudah tentu Wi Ci To sendiri tidak akan mengijinkan putrinya ditengah malam buta masuk ke dalam rumah orang lain hanya untuk menawan seorang lelaki segera mengangguk menyahut, tubuhnya dengan sangat ringan sekali melayang melewati tembok halaman dan berkelebat masuk ke dalam ruangan.

Dengan kepandaian dari Wi Ci To untuk menangkap seorang yang tidak memiliki kepandaian silat seperti Cang Bun Piauw ini sudah tentu bukan merupakan suatu urusan yang sangat sukar, tidak lebih selama seperminum the kemudian kelihatan dari atas tembok berkelebat sesosok bajangan manusia..Wi Ci To sudah berhasil menawan keluar Cang Bun Piauw dari dalam rumahnya.

Agaknya jalan darah bisu dari Cang Bun Piauw sudah tertotok, sehingga sekali pun orangnya sudah sadar dari tidurnya tetapi tidak bisa mengeluarkan sepatah kata pun.

-ooo0dw0ooo-

Jilid 6.1. Batalnya perjodohan Wi Lian In -Hong Mong Ling "Tia,"

Ujar Wi Lian In perlahan"

Kita cari satu tempat yang sunyi saja"

"Ehmmm...benar.."

Sahut Wi Ci To sambil mengangguk.

"Diujung jalan ini ada sebuah rumah gubuk yang tidak ditinggali lagi, kita ke sana saja"

Sehabis berkata, dengan mengapit tubuh Cang Bun Piauw dia berjalan terlebih dulu ke depan.

Dalam sekejap saja mereka sudah berada di dalam rumah gubuk itu, dengan perlahan Wi Ci To meletakkan tubuh Cang Bun Piauw di atas tanah, sedang Wi Lian In dengan cepat mencabut keluar pedang panjangnya yang dituding ke depan leher Cang Bun Piauw, dengan wajah yang dingin kaku ujarnya.

"Sesudah aku bebaskan jalan darah bisumu bilamana kamu orang berani teriak jangan salahkan pedangku akan menembus tenggorokanmu!"

Saking terperanyatnya air muka Cang Bun Piauw sudah berubah pucat pasi, matanya dikedip-kedipkan seolah-olah minta am pun tetapi seperti juga sudah menyerah kepada mereka.

Setelah itu barulah Wi Lian In bebaskan jalan darah bisunya, dengan menempelkan ujung pedang di atas leher ujarnya dengan dingin.

"Kamu boleh pilih mau mati atau hidup?"

"Mau hidup..mau hidup..Nona Wi, am punilah nyawaku..am puni hamba..hamba belum pernah menyalahkanmu!"

"Bilamana kamu ingin hidup, jawab seluruh pertanyaanku dengan sejujurnya?"

"Baik..baik..! silahkan nona Wi mulai bertanya, asal hambamu tahu tentu akan kuberi jawaban yang sesungguhnya, hanya hamba mohon nona Wi jangan membunuh aku"

"Baik, cepat ceriterakan satu kali lagi peristiwa malam itu!"

Cang Bun Piauw menelan ludah, dalam hati dia tahu kalau cerita karangan Hong Mong Ling malam itu sudah diketahui kebohongannya oleh nona ini, karena itulah sekarang dia tidak berani bohong lagi, ujarnya.

"Baik...begini...begini, maghrib itu Hong Mong Ling heng datang ke kota dan bertemu dengan hamba ditengah jalan, lalu dia mengundang hamba untuk minum arak dikedai arak sesudah dari sana dia mengundang lagi hamba pergi ke sarang pelacur Touw Hoa Yuan untuk mencari kesenangan dengan Liuw Su Cen, hamba tidak enak untuk menampik, terpaksa ikut dengan dia ke sana"

"Kalian sudah bersahabat berapa lama?"

Kata Wi Lian In.

"Kurang lebih dua tiga tahunan"

"Setiap kalian bertemu tentu pergi ke sarang pelacur Touw Hoa Yuan mencari Liuw Su Cen?"

"Be..benar.."

"Siapa yang mengajak untuk pertama kalinya?"

"Tentang hal ini.."

Sahut Cang Bun Piauw sambil melirik kekiri kanan.

"Tentang hal ini bukan dia yang mengajak aku, juga bukan aku yang mengajak dia, kita berkenalan di dalam sarang pelacur Touw Hoa Yuan itu"

"Bagus, lanjutkan!"

Cang Bun Piauw menghembuskan napas panjang, sesudah berhenti sebentar sambungnya lagi.

"Mong Ling heng hanya senang dengan Liuw Su Cen seorang, maka setiap kali hanya mengundang satu orang saja, malam itu kita pergi lagi kesarang pelacur Touw Hoa Yuan tetapi waktu itu Liuw Su Cen tidak keluar menyambut kita karena sedang menemani tamu lain. Mong Ling heng tidak bisa menahan sabar lagi maka diperintahnya Ku Ie untuk panggil dia keluar.."

"Siapa Ku Ie itu?"

"Germo dari sarang pelacur Touw Hoa Yuan itu"

"Hemm..lalu Liuw Su Cen itu tidak keluar?"

"Benar !"

Sahut Cang Bun Piauw sambil menundukkan kepalanya rendah-rendah.

"Sebab itulah Mong Ling heng sudah menghamburkan banyak uang untuk tubuhnya itu"

"Hemm..lanjutkan!"

"Waktu itu hamba menasehati dia jangan berlalu gegabah, tamu dari nona Liuw itu tentu seorang yang punya nama terkenal sehingga dia tidak berani keluar menyambut kita, lebih baik lain kali saja datang lagi, tetapi Mong Ling heng tidak mau dengar perkataanku dan berjalan ke depan kamar nona Liuw itu untuk mencari tahu siapa tamunya, saat itulah dari dalam kamar terdengar suara pertanyaan dari tamu itu kepada Ku Ie.

"Siapa orang itu?"

Yang dijawab oleh Ku Ie.

"Seorang pendekar pedang dari benteng Pek Kiam Po yang bernama In Tiong Liong Hong Mong Ling."

Mendengar perkataan itu tamu tersebut tertawa dingin ujarnya .

"Hemmm..aku kira orang terkenal macam apa tidak tahunya seorang kuli silat kasaran."

Mendengar perkataan itu Mong Ling heng menjadi sangat gusar, sambil menerjang masuk ujarnya.

"Tidak salah, cayhe memang seorang kuli silat kasaran, tetapi kawan kamu harus tahu di dalam dunia ini hanya kuli silat kasaran yang bisa memaksa orang berlutut sambil menyumpahi bapak ibunya sendiri.."

"Siapa orang itu?"

"Eh..Nona Wi belum tahu siapa dia?"

"Cepat katakan !"

"Waktu itu.."

Sambung Cang Bun Piauw.

"Sesudah orang itu mendengar perkataan Mong Ling heng, balas mengejek juga.

"Cecunguk mana berani mengganggu kesenangan kongcu-mu, hemmm..agaknya sudah bosan hidup?"

Ku Ie menjadi gugup dia bilang sama Mong Ling heng kalau orang itu adalah putra dari menteri Lu Ko Sian, ketika Mong Ling heng dengar orang itu adalah kongcu suka pelesiran yang sangat terkenal hatinya semakin gemas lalu bentaknya kepada Lu kongcu itu untuk berlutut di hadapannya, Lu kongcu tidak gubris omongannya Mong Ling heng segera maju menyerang, siapa tahu Lu kongcu memiliki kepandaian silat yang sangat lihay, dia tetap duduk sebaliknya tangannya mencengkeram tangan kanan Mong Ling heng dan melempar tubuhnya hingga terjungkir balik, sesudah itu lehernya dihajar satu kali membuat Mong Ling heng dengan demikian jatuh tak sadarkan diri"

"Kemudian kamu juga dipukul rubuh oleh Lu kongcu itu? "Benar"

Sahutnya sambil menundukkan kepala.

"Ketika sadar kembali kami sudah berada di dalam benteng."

"Kalian curiga kalau Lu kongcu itu adalah pendekar baju hitam Ti Then yang menolong kalian kembali ke dalam Benteng malam itu? Kenapa?"

"Karena wajah dari pendekar baju hitam Ti Then mirip dengan Lu kongcu hanya saja pakaiannnya tidak sama"

"Hemm.."

Dengus Wi LIan In dengan dingin.

"Kenapa malam itu kalian bilang sudah bertemu dengan seorang berkerudung?"

"Ini...ini..sudah tentu dikarenakan Mong Ling heng takut nona tahu dia cari kesenangan di sarang pelacur Toauw Hoa Yuan"

Wi Lian In memasukkan kembali pedangnya ke dalam sarung, kepada ayahnya Wi Ci To, ujarnya.

"Tia, mari kita pulang"

Sikap Wi Ci To kelihatan sedikit semangat, sinar matanya dengan tajam memperhatikan Cang Bun Piauw, kemudian tanyanya dengan keren.

"Kamu orang berani pastikan Lu kongcu itu adalah pendekar baju hitam Ti Then?"

Cang Bun Piauw ragu-ragu sejenak, tapi sahutnya juga.

"Wajahnya boleh dikata mirip sekali, hanya saja....yang satu memakai pakaian bagus sedang yang lain memakai pakaian yang compang-camping"

"Hemm..sekarang kamu boleh pulang"

Ujar Wi Ci To sesudah termenung sejenak.

"Tapi.. jangan sekali-kali menceritakan peristiwa malam ini kepada siapa pun, kalau tidak...Hmm jangan salahkan Lohu akan mencabut nyawa anyingmu"

Cang Bun Piauw menjadi sangat girang, sambil merangkak bangun sahutnya berkali-kali.

"Baik..baik..hamba akan berkata sedang punya urusan yang harus diurus, malam itu juga, tapi harap Pocu jangan membiarkan Mong Ling heng tahu kalau rahasia ini hamba yang bocorkan, kalau tidak..kalau tidak dia akan bunuh hamba"

"Pergi!"

Bentak Wi Lian In keras-keras.

Cang Bun Piauw tidak berani bicara lagi, dengan terbirit-birit dia melarikan diri dari dalam rumah itu.

Sesudah berdiam diri beberapa saat lamanya, tidak tertahan air matanya mengucur keluar dengan derasnya membasahi wajah Wi Lian In.

Pikiran Wi Ci To waktu itu juga sedang kacau, sesudah menghela napas panjang barulah ujarnya.

"Kamu keluar kota dulu, aku mau ke sarang pelacur Touw Hoa Yuan sebentar"

Sehabis bicara tubuhnya berkelebat keluar dari rumah gubuk yang tidak ditinggalkan itu dan lenyap ditengah kegelapan.

Sesudah Wi Ci To pergi, Wi Lian In pun keluar dari rumah gubuk dan berjalan keluar pintu kota, sesampainya di bawah tembok kota dengan satu kali lompatan dia berhasil keluar dari kota dan menanti di pinggiran jalan.

Kurang lebih setengah jam kemudian barulah kelihatan Wi Ci To berlari mendatang.

Dengan cepat Wi Lian In bangkit berdiri, tanyanya.

"Bagaimana?"

"Heeiii.."

Sahut Wi Ci To dengan wajah sangat serius.

"Keadaannya mirip sekali dengan apa yang diceritakan Cang Bun Piauw, hanya ada satu hal"

"Hanya ada satu hal tentang apa?"

Tanya Wi Lian In cepat.

"Menurut pengakuan dari Ku Ie serta pelayan sana, Lu kongcu sesudah memukul rubuh Mong Ling dan Cang Bun Piauw lalu perintah itu pelayan untuk sediakan kereta, dengan dihantar Lu kongcu sendiri dia membawa kedua orang itu keluar kota dan dibuang di samping jalan"

"Hal ini membuktikan Ti Kiauwtauw bukan Lu kongcu itu?"

"Benar!"

Sahut Wi Ci To sambil hela napas panjang dengan langkah perlahan dia berjalan bolak-balik di sana.

"Tetapi dapat juga diartikan sesudah Ti Then membuang mereka di pinggir kota lalu berganti pakaian, dengan gaya seorang miskin dia membawa mereka kembali ke dalam benteng"

"Tetapi dia punya tujuan apa dengan berbuat demikian?"

"Sudah tentu mem punyai niat jelek!"

"Tetapi.."

Ujar Wi Lian In lagi.

"Di dalam beberapa hari ini sikapnya tidak jelek, bahkan membantu Tia memukul mundur pendekar pedang tangan kiri Cian Pit Yuan.."

"Hemm..hemm.."

Ujar Wi Ci To sambil tertawa dingin.

"Seseorang dalam tindakannya untuk mencapai tujuan rencananya sudah tentu harus berusaha mendapatkan kepercayaan dulu dari orang lain"

"Tetapi kepandaian silatnya sangat tinggi, apabila punya maksud jelek terhadap Benteng kita seharusnya dengan terang-terangan turun tangan buat apa berbuat demikian"

"Itulah merupakan hal yang membingungkan ayahmu, dengan sifat serta tingkah lakunya yang sopan dan ramah ditambah dengan kepandaian silat yang berhasil dilatih saat ini tidak seharusnya menjadi seorang mata-mata yang berniat busuk.."

"Tia.."

Ujar Wi Lian In lagi dengan perlahan.

"Kemarin sore Mong Ling ajak dia bermain ke sumber air Sembilan naga, karena putrimu merasa Mong Ling pernah berbuat jahat terhadapnya, maka sengaja secara diam-diam menguntit akhirnya di sumber air sana aku berhasil mendengar perkataan mereka berdua"

"Mereka bicarakan soal apa?"

"Mong Ling di hadapannya menuding dia sebagai Lu kongcu dan Tanya apa maksud kedatangannya, tetapi dia seperti tidak paham persoalan apa yang sedang dibicarakan akhirnya Mong Ling menceritakan kembali peristiwa yang terjadi di sarang pelacur Touw Hoa Yuan itu, begitu dengar persoalan ini dia mengusulkan untuk melaporkan urusan ini kepada Tia dan minta kirim orang untuk menyelidiki urusan ini, sebaliknya Mong Ling menjadi gugup dibuatnya dan mohon dia jangan membocorkan rahasia ini, semula dia tidak menyetujui sikapnya ini akhirnya sesudah Mong Ling bersumpah untuk tidak menuduh dia sebagai Lu kongcu lagi barulah dia menyanggupi untuk menyimpan rahasia ini"

"Telur busuk, anying busuk, sungguh tidak bersemangat anying itu!"

"Tia, aku tidak mau dijodohkan dengan dia, Tia, kamu tega melihat putrimu dikawinkan dengan seorang manusia rendah"

"Hei..tentang urusan ini biarlah ayahmu pikir-pikir dulu"

"Tapi Tia.."

Seru Wi Lian In setengah merandek.

"Apanya yang mau dipikirkan lagi?"

"Heii..bukannya begitu"

Sahut Wi Ci To dengan sedih.

"Banyak kawan-kawan kita sudah tahu kalau kamu telah dijodohkan dengan dia, kini mendadak membatalkan perkawinan ini, kiranya.."

"Aku tidak mau tahu aku tidak mau kawin dengan dia, sekali pun mati aku juga tidak mau dijodohkan dengan dia!"

"Baik..baiklah..di luaran dia mengadakan hubungan dengan manusia tidak genah ditambah lagi secara diam-diam mencari hiburan disarang pelacur hal ini sudah melanggar peraturan benteng kita dan cukup untuk mengusir dia dari dalam perguruan"

"Kalau begitu besok pagi-pagi suruh dia menggelinding dari dalam benteng"

"Baiklah"

Sahut Wi Ci To sambil menghela napas panjang.

"Tetapi selain dalam hidupnya dia kurang genah agaknya tidak ada kejahatan lain yang diperbuat, apa kamu bersikap begitu galaknya terhadap dia"

"Asalkan dia kembalikan tanda mataku dan menggelinding pergi dari Benteng Pek Kiam Po untuk selamanya itu sudah cukup"

"Heeii.."

Ujar Wi Ci To sambil menghela napas panjang lagi.

"Sifatnya sangat bagus, bakatnya pun terpilih, tidak disangka gemar melakukan pekerjaan rendah seperti itu. Heeiii...sungguh mengecewakan, sungguh mengecewakan.."

"Tia...bagaimana dengan Ti Kiauwtauw?"

"Kau bilang bagaimana baiknya?"

"Putrimu tidak berani bilang dia bukan Lu kongcu, tetapi dalam hati aku merasa dia bukanlah seorang manusia licik"

"Hati manusia siapa yang bisa menduga, contohnya saja Hong Mong Ling, apa kamu anggap dia seorang jahat? Siapa tahu..hee.."

"Perkataan Tia sedikit pun tidak salah, kalau begitu usir saja sekalian dari dalam Benteng"

"Tidak bisa"

Sahut Wi Ci To sambil gelengkan kepalanya.

"Tidak bisa usir dia keluar "

"Kenapa?"

"Baru saja ayahmu mengangkat dia sebagai Kiauwtauw, kemarin hari dia pun sudah bantu aku memukul mundur musuh tangguh, apalagi kita pun tidak punya bukti yang cukup untuk membuktikan dia adalah Lu kongcu, bilamana secara mendadak kita usir saja dia, berita ini jika sempat tersiar di Bu-lim harus dibuang kemana wajah ayahmu ini?"

"Tetapi..tetapi bila dia punya niat jahat bukan hanya mendatangkan kerepotan saja?"

"Tidak mengapa"

Sahut Wi Ci To sambil menundukkan kepalanya pelan-pelan.

"Aku sudah tugaskan beberapa orang unuk mengawasi seluruh gerak-geriknya siang dan malam, sedikit saja dia ada gerakan tidak akan lolos dari pengawasan kita"

"Tetapi Tia..selalu tugaskan orang mengawasi dia juga bukan cara yang tepat"

"Sesudah lewat satu bulan bilamana dia tetap tiada gerakan yang mencurigakan hal ini membuktikan dia tidak punya niat jahat terhadap Benteng kita, sampai saat itu kita pun tidak usah mengawasi gerakannya lagi"

Wi Lian In berdiam beberapa saat lamanya, kemudian sambil memandang Wi Ci To tanyanya lagi.

"Jika dia bukan Lu kongcu, lalu siapakah Lu kongcu itu?"

"Di kota Go-bi sering bermunculan jago-jago berkepandaian tinggi dari Bu-lim, tentang hal ini tentu kamu tahu bukan?"

"Tetapi Tia..usia dari Lu kongcu itu paling tidak belum mencapai tiga puluh tahunan, di dalam satu gerakan saja dia berhasil menguasai Mong Ling, kepandaian setinggi ini agaknya belum pernah terdengar di dalam Bu-lim"

"Jika dia bukan Ti Then, maka menurut dugaanku kepandaian silatnya hanya sedikit di atas Mong Ling"

"Tetapi Tia.."

Bantah Wi Lian In lagi.

"Hanya di dalam satu gebrakan saja dia berhasil menguasai Mong Ling"

"Hal ini karena Mong Ling tidak tahu kalau orang itu memiliki kepandaian silat sehingga waktu turun tangan terlalu gegabah, peristiwa semacam ini sering juga terjadi di dalam Bu-lim"

Wi Ci To ayah beranak sambil berkata, melanjutkan perjalanan, sesaat menjelang fajar menyingsing mereka sudah tiba di dalam Benteng Pek Kiam Po.

Hari sesudah terang.

Dengan langkah yang mantap serta air muka yang keren Wi Ci To berjalan menuju ke kamar Hong Mong Ling, baru saja bangun dari tidurnya begitu melihat suhunya dengan wajah gusar berjalan memasuki kamarnya, dalam hati merasa sangat terkejut, dengan cepat dia bangkit untuk memberi hormat sambil ujarnya.

"Suhu, selamat pagi.."

Wi Ci To tetap membungkam, sesudah menutup pintu kamar ujarnya dengan dingin.

"Mong Ling, ceritakan sekali lagi peristiwa malam itu di dalam kota Go-bi"

Mendengar perkataan itu Hong Mong Ling segera sadar kalau urusan sudah runyam, sambil menundukkan kepala.

"Muridmu harus binasa, harap suhu mau mengam puni dosaku"

Dengan pandangan berapi-api Wi Ci To memandang tajam wajahnya kemudian dengan keren ujarnya.

"Suhumu selalu menganggap sifatmu paling baik, paling sopan sehingga dengan begitu aku menjodohkan putriku kepadamu, siapa tahu kiranya kamu merupakan seorang manusia rendah yang tidak tahu malu"

Air mata mengucur keluar dengan derasnya, membasahi wajah Hong Mong Ling, dengan setengah merengek ujarnya.

"Karena berkenalan dengan kawan tidak genah membuat tecu melakukan pekerjaan yang tidak senonoh, mohon suhu mau am puni kesalahan tecu sekali lagi"

"Hemmm...sudah berapa lama kenal dengan orang itu?"

"Baru...baru, satu, satu hari"

"Apa? satu hari..?"

Potong Wi Ci To dengan sangat gusar.

"Kamu sudah berkenalan selama dua tiga tahun lamanya, kau sudah menipu suhumu, sudah menipu In-ji"

Tubuh Hong Mong Ling semakin gemetar, sambil menyatuhkan diri berlutut di tanah ujarnya.

"Tecu sumpah akan mengubah sifatku yang buruk ini, harap suhu mau mengam puni dosaku ini"

"Hemm...hmm..hemm, sayang sudah terlambat"

Mendadak tubuh Hong Mong Ling tergetar dengan kerasnya sambil angkat kepala ujarnya .

"Suhu bilang.."

"Peraturan perguruan yang lohu susun selamanya dipegang teguh selamanya tidak mengijinkan seorang manusia gemar pipi licin bercampur di dalam benteng ini, semakin tidak mengijinkan putriku dijodohkan dengan seorang manusia gemar pelesiran, cepat serahkan tanda mata dari In-ji!"

Berkata sampai di sini dia mengambil sebuah mainan yang terbuat dari pualam dari dalam saku yang kemudian dibuang ke hadapan Hong Mong Ling, ujarnya lagi.

"Tanda mata yang kamu berikan pada putriku boleh diterima kembali"

Air muka Hong Mong Ling berubah hebat, dengan gemetar ujarnya.

"Suhu, kamu...kamu tidak mau memaafkan tecu untuk terakhir kalinya?"

"Hemmm..hemm..walau pun lohu mau memaafkan kau juga tidak akan menjodohkan putriku kepadamu"

Sahut Wi Ci To dengan wajah semakin dingin.

"Kalau begitu dapatkah tecu menemui sumoay untuk terakhir kalinya?"

"Dia sudah bersumpah tidak akan menemui kamu orang barang sekejap pun"

Kepala Hong Mong Ling ditundukkan semakin rendah, dengan setengah berbisik ujarnya .

"Urusan ini tentu Ti-kiauwtauw yang menceritakan kepada suhu, bukan?" -oooOOooo-"Bukan"

Ujar Wi Ci To dengan dingin.

"Urusan ini didengar In-ji dengan mata kepala sendiri, kemarin secara diam-diam dia menguntit kalian pergi ke sumber air Sembilan naga..sudah cukup, cepat kau kembalikan tanda mata putriku!"

Hong Mong Ling masih tetap berlutut di tanah, ujarnya lagi.

"Kalau begitu tecu masih ada satu rahasia yang hendak dilaporkan kepada suhu, Ti Kiauwtauw itu adalah..."

"Tidak usah banyak omong lagi"

Potong Wi Ci To sambil mengulap tangannya.

"Dia benar atau tidak Lu kongcu yang kau telah temui berada di dalam sarang pelacuran Touw Hoa Yuan aku bisa menyelidiki sendiri, urusan ini tidak ada hubungannya dengan kamu orang"

"Dia benar adalah Lu kongcu, tecu berani memastikan dengan jaminan nyawaku"

"Hemm, hemm.."

Potong Wi Ci To lagi dengan sangat gusar hingga wajahnya berubah merah padam.

"Kalau memangnya dia adalah Lu kongcu kenapa sampai sekarang kamu masih tetap merahasiakan? Demi keselamatan dan keuntungan sendiri kamu tidak memperdulikan keselamatan dari seluruh benteng, kamu orang terhitung manusia macam apa?"

Hong Mong Ling yang disemprot dengan kata-kata tajam ini tidak bisa banyak bicara lagi, dengan wajah yang sudah berubah merah padam dengan perlahan dia bangkit berdiri membuka sebuah lemari pakaian.

Dari sana dia mengambil keluar sebuah tusuk konde dan diangsurkan ke tangan Wi Ci To, ujarnya sambil melelehkan air mata.

"Tanda mata dari sumoay harap suhu menerima kembali"

Wi Ci To menerima tusuk konde dan memasukkan ke dalam saku, ujarnya.

"Masih ada. Lohu harus mengumumkan pembatalan perkawinanmu dengan In-ji di hadapan seluruh murid dari Benteng Pek Kiam Po, biar mereka jadi tahu jelas sebab-sebab pembatalan perkawinan ini. Aku kira hal ini tentu memberatkan dirimu bukan? Tetapi demi nama baik serta pengertian dari semua orang, lohu terpaksa harus melakukan hal ini juga"

"Suhu.."

Seru Hong Mong Ling sambil melelehkan air mata.

"Kamu orang tua juga akan mengumumkan pemecatan tecu dari perguruan dan mengusir tecu dari Benteng?"

"Dosamu tidak sampai begitu berat, tetapi lebih baik untuk sementara kau jalan-jalan diluar Benteng, sesudah perasaan gusar dari In-ji mereda kamu baru kembali lagi"

Hong Mong Ling mengangguk, sedang air matanya jatuh berlinang semakin deras.

"Ayoh jalan, semua pendekar pedang dari benteng kita sudah menanti kedatanganmu di lapangan latihan silat"

Ketika mereka berdua sampai di lapangan latihan silat, terlihatlah seluruh pendekar pedang dari benteng Pek Kiam Po sudah berdiri sejajar dengan rapinya di depan mimbar.

Semua orang tidak ada yang tahu Pocu mereka akan berbuat apa, hanya Ti Then seorang begitu melihat sikap serta air muka Hong Mong Ling yang sedih segera dapat menebak peristiwa apa yang hendak terjadi, dia sudah menganggap Wi Ci To adalah Majikan Patung Emas kini membawa Hong Mong Ling ke tengah lapangan sudah tentu akan mengumumkan pembatalan perkawinan antara Hong Mong Ling dengan putrinya, dalam hati diam-diam merasa sedih pikirnya.

"Heeii..semuanya ini karena kamu cari penyakit sendiri, dengan usiamu yang masih sangat muda sudah menduduki sebagai pendekar pedang merah dari Benteng Seratus Pedang, dijodohkan pula dengan putri dari Wi Ci To tetapi karena masih tidak puas, masih merasa kurang sehingga mencari senang dengan kaum pelacur kelas rendahan, kini sesudah terjadi peristiwa yang demikian tragisnya, harus kamu salahkan siapa?"

Kini dia merupakan kepala pimpinan dari seluruh pendekar pedang di dalam benteng Pek Kiam Po ini begitu melihat Wi Ci To berjalan naik ke atas mimbar, dengan cepat ia memberi hormat mewakili seluruh pendekar pedang yang hadir.

Wi Ci To dengan cepat membalas hormat, sesudah itu barulah ujarnya.

"Murid-muridku sekalian, ini pagi lohu mau mengumumkan sebuah berita yang tidak menyenangkan, sejak hari ini juga Hong Mong Ling bukan bakal mantu lagi. Lohu sudah ambil keputusan untuk membatalkan perjodohan ini"

Begitu perkataan ini diucapkan keluar, seluruh hadirin pada menjerit kaget sehingga suasana sedikit gaduh. Ujar Wi Ci To dengan nada yang keren.

"Alasannya, kelakuan dari Hong kiam-su tidak baik, diluar berhubungan dengan manusia-manusia tidak genah, tiap hari mabok-mabokan bahkan tergila-gila dengan pelacur Liuw Su Cen dari sarang pelacur Touw Hoa Yuan"

Sesudah mendengar perkataan itu seluruh hadirin semakin kaget lagi, beberapa ratus pasang mata dengan pandangan tidak percaya pada beralih ke atas wajah Hong Mong Ling, agaknya mereka sama sekali tidak percaya kalau Mong Ling adalah manusia macam begitu.

Dengan perlahan Wi Ci To menoleh, tanyanya kepada Hong Mong Ling.

"Mong Ling, kamu mengakui tidak?"

Hong Mong Ling mengangguk dengan perlahan, sedang mulutnya masih tetap membungkam.

"Kalian tidak percaya omongan lohu ini"

Ujar Wi Ci To kepada seluruh hadirin.

"Boleh pergi ke sarang pelacur Touw Hoa Yuan untuk mengadakan penyelidikan, setelah itu tentu kalian akan tahu perkataan lohu ini sedikit pun tidak bohong"

Dia berhenti sejenak kemudian sambungnya.

"Diantara kalian bilamana masih ada orang-orang yang gemar mabok-mabokan, gemar main perempuan, harap cepat-cepat menyesali perbuatan tersebut dan bertobat, kalau tidak, begitu lohu mengetahui akan hal ini jangan harap kalian bisa mendapat am pun, cukup sekarang boleh bubar"

Dengan menundukkan kepala Hong Mong Ling dengan cepat berlalu dari sana untuk kembali ke dalam kamarnya, sesudah menyelesaikan buntalannya dengan menahan perasaan malu dia berlalu dari Benteng Pek Kiam Po itu.

Dalam hati Ti Then merasa bahwa di hadapan Wi Ci To tentu Hong Mong Ling sudah mengungkap kalau dirinya adalah Lu kongcu, maka begitu bubaran dia langsung menuju keruangan dalam untuk bertemu dengan Wi Ci To.

Waktu itu Wi Ci To sedang berada di dalam kamar buku bersama Huang Puh Kian Pek, agaknya mereka sedang membicarakan Hong Mong Ling yang tergila-gila dengan pelacur Liuw Su Cen itu.

Begitu melihat Ti Then berjalan mendatangi sambil tertawa ujarnya.

"Ti-Kiauwtauw silahkan duduk, di dalam beberapa hari ini mungkin putriku tidak akan membaik, sesudah lewat beberapa hari Lohu akan antar dia belajar silat dengan Ti Kiauwtauw"

"Tidak"

Ujar Ti Then sambil merangkap tangannya memberi hormat.

"Boanpwe datang kemari untuk minta pamit dari pocu berdua"

Air muka Wi Ci To menjadi berubah, ujarnya dengan keren.

"Minta pamit?"

"Harap Pocu mau membatalkan jabatanku sebagai ketua pimpinan ini kemudian boanpwe ini hari juga meninggalkan benteng Pek Kiam Po"

"Kenapa kamu berbuat begini?"

Tanya Wi Ci To dengan penuh keheranan.

"Heeiii..untuk menghindari perasaan curiga orang lain"

"Mencurigai hal apa?"

"Apa Mong Ling heng tidak menceritakan Lu kongcu yang ditemuinya di sarang pelacur Touw Hoa Yuan?"

"Ehmm..benar !"

"Karena itulah boanpwe merasa jauh lebih baik meninggalkan Benteng Pek Kiam Po ini, dengan demikian boanpwe pun tidak perlu banyak bicara untuk berusaha menyangkal"

Dengan pandangan yang sangat tajam Wi Ci To memperhatikan wajahnya, kemudian dengan serius ujarnya.

"Ti-Kiauwtauw, pernahkah kamu merasa kalau lohu menaruh perasaan curiga kepada Ti Kiauwtauw?"

"Seharusnya Pocu merasa curiga"

Sahutnya sambil tertawa pahit.

"Menanti sesudah lohu merasa curiga terhadap tingkah laku Ti Kiauwtauw, saat itu Ti Kiauwtauw baru pergi juga belum terlambat"

Sengaja Ti Then memperlihatkan perasaannya yang keheran-heranan, tanyanya.

"Kenapa Pocu tidak mencurigai diri boanpwe?"

"Ehmm..tentang hal ini lohu sudah punya pegangan"

Sahut Wi Ci To sambil memandangi wajahnya.

"Lohu tahu siapa orang yang harus dicurigai dan siapa orang yang tidak patut dicurigai"

"Tetapi mungkin juga Lu kongcu itu memang boanpwe yang menyamar"

Ujar Ti Then sambil tertawa.

"Ti Kiauwtauw masih ada urusan lain?"

"Tidak ada"

"Kalau begitu silahkan Ti Kiauwtauw pergi ke lapangan latihan silat untuk melaksanakan tugas sebagai seorang ketua pimpinan seluruh pendekar pedang dalam benteng ini"

Terpaksa Ti Then memperlihatkan sikapnya yang sungguh-sungguh, sambil merangkap tangannya memberi hormat ujarnya.

"Pocu tidak menaruh perasaan curiga terhadap diri boanpwe membuat hati boanpwe merasa sangat berterima kasih, tetapi sejak hari ini jika Pocu merasa tidak tenang harap memberi tanda kepada boanpwe, untuk menghindari perasaan curiga setiap orang boanpwe sanggup untuk meninggalkan Benteng ini setiap saat"

Sehabis berkata dia mengundurkan diri dari dalam kamar buku.

Dalam anggapannya dia sudah melakukan suatu guyon yang sangat menggelikan dengan majikan patung emas, karena itulah dengan langkah yang riang gembira dia berjalan ke lapangan latihan silat.

Wi Ci To dan Huang Puh Kian Pek yang berada di dalam kamar buku sesudah menanti dia berjalan keluar barulah saling tukar pandangan.

Ujar Huang Puh Kian Pek mendadak.

"Suheng, kamu sungguh-sungguh tidak merasa curiga terhadap dirinya?"

"Siapa bilang aku tidak merasa curiga? Hanya saja sebelum aku mendapatkan bukti yang sangat kuat kita tidak dapat berbuat salah dan menyakiti hatinya"

"Jika dia betul-betul adalah Lu kongcu lalu apa tujuan sebenarnya dia memasuki Benteng Pek Kiam Po ini?"

"Siapa tahu.."

"Mungkin mem punyai tujuan terhadap loteng penyimpan kitab dari suheng itu?"

Air muka Wi Ci To berubah sangat hebat, ujarnya dengan dingin.

"Semoga saja bukan, kalau dia berani punya niat terhadap loteng penyimpan kitab itu, Hmm..hmm..lohu tidak akan membiarkan dia meninggalkan Benteng ini dalam keadaan hidup"

Berbicara sampai di sini, agaknya dalam pikirannya teringat akan sesuatu sehingga sinar matanya berkelebat dengan sangat tajam, ujarnya sambil tertawa.

"Untuk menyelidiki apakah Lu kongcu itu adalah dia yang menyamar atau bukan padahal merupakan urusan yang sangat sederhana sekali"

"Mau diselidik dengan cara apa?"

"Asal pergi ke kota Tiang An dan melihat sendiri wajah dari Lu kongcu bukankah akan tahu. Jika wajahnya mirip dengan Ti Then maka hal ini membuktikan kalau Ti Then sama sekali tidak pernah berbuat jahat, jika wajah dari Lu kongcu itu sangat berlainan dari wajah Ti Then maka hal ini dapat membuktikan kalau Lu kongcu yang muncul disarang pelacur Touw Hoa Yuan adalah samara dari Ti Then"

Huang Puh Kian Pek yang mendengar perkataan ini segera mengangguk, tetapi sebentar kemudian menggelengkan kepalanya kembali, ujarnya.

"Sekali pun wajah dari Lu kongcu itu berlainan dengan wajah dari Ti Then tetapi belum bisa memastikan kalau Ti Then adalah itu Lu kongcu yang muncul di dalam sarang pelacur Touw Hoa Yuan"

"Kenapa?"

"Orang lain juga bisa menyamar sebagai dia"

Dengan sangat tajam Wi Ci To memandang wajah Huang Puh Kian Pek kemudian baru ujarnya.

"Maksudmu ada orang lain yang menyamar sebagai wajah Ti Then kemudian menggunakan nama Lu kongcu?"

"Benar"

"Yang kamu maksud sengaja atau tidak sengaja?"

"Orang itu bisa mengetahui dengan jelas waktu Ti Then melewati kota ini tentu tindakannya ini mengandung maksud yang mendalam"

"Benar"

Ujar Wi Ci To sambil tersenyum.

"Bilamanatidak sengaja, Lohu tidak akan percaya kalau di dalam dunia ini bisa terjadi urusan yang demikian bersamaan"

"Tetapi"

Ujar Huang Puh Kian Pek lagi.

"Jika orang itu sengaja menyamar sebagai Ti Then hal ini membuktikan kalau dia mau mencelakai diri Ti Then, tindakannya ini boleh dibilang terlalu kejam bukan? Karena bilamana bukannya secara tidak sengaja In-ji menemukan perbuatan yang sangat rendah dari Mong Ling kita pun sama sekali tidak akan menduga Ti Then adalah seorang manusia yang harus dicurigai"

"Karena itulah sesudah lohu pikir bolak-balik, maka satu-satunya kesimpulan yang bisa diambil adalah Lu kongcu itu adalah hasil penyamaran dari Ti Then"

"Kini suheng punya rencana untuk kirim siapa pergi ke kota Tiang An untuk menyelidiki urusan ini?"

Tanya Huang Puh Kian Pek dengan nada berat.

"Lohu akan berangkat bersama-sama dengan seorang pendekar pedang merah"

Mendengar Wi Ci To mau berangkat sendiri tidak terasa Huang Puh Kian Pek mengerutkan alisnya rapat-rapat, ujarnya.

"Pada saat seperti ini suheng meninggalkan benteng, aku kira tidak sesuai"

"Tidak mengapa"

Potong Wi Ci To dengan cepat.

"Dengan cepat aku akan kembali, pada saat lohu tidak ada di dalam Benteng harap kau mengawasi gerak-gerik dari Ti Then dengan lebih teliti, coba kamu lihat sewaktu aku tidak berada akan melakukan pekerjaan apa?"

"Ehmm..baiklah"

Sahut Huang Puh Kian Pek sambil menganggukkan kepalanya.

"Memang tindakan ini merupakan satu siasat yang sangat jitu, kapan suheng mau berangkat?"

"Besok"

Keesokan harinya Wi Ci To dengan membawa seorang pendekar pedang merah yang bernama pendekar pedang pemetik bintang, Hung Kun, meninggalkan Benteng Pek Kiam Po untuk berangkat kekota Tiang An.

Di depan Ti Then dia mengatakan hendak mengejar Hong Mong Ling untuk mengawasi gerak-geriknya apakah masih menyeleweng atau tidak.

Ti Then sama sekali tidak menaruh curiga terhadap terhadap dirinya, dengan memusatkan seluruh perhatian dia tetap memberi pelajaran silat kepada kedelapan orang pendekar pedang merah itu.

Kedelapan pendekar pedang merah itu adalah Yuan Ci Liong, Fan Kia Jong, Cay Tiau Eng, Yang Ceng Bu, Tong Su Ie, Lan Liang Kim, Lok Hong serta Kian Ceng, kedelapan orang itu merupakan pendekar pedang merah yang usianya paling muda di dalam Benteng seratus pedang itu, semula mereka semua merasa malu untuk belajar silat dari Ti Then yang usianya jauh lebih muda dari mereka tetapi sejak Ti Then mengalahkan si pendekar pedang tangan kiri Cian Pit Yuan, mereka tidak merasa malu lagi, bahkan sangat kagum dan tunduk betul terhadap Ti Then, maka itulah dengan menaruh perhatian penuh mereka menerima pelajaran silat dari Ti Then.

Sebaliknya Ti Then juga tidak menyembunyikan ilmu silatnya lagi, seluruh kepandaian silat yang berhasil dipelajari dari majikan patung emas diturunkan kepada mereka, hal ini dikarenakan dia sudah menganggap Wi Ci To itu adalah majikan patung emas..kalau majikan patung emas menghendaki dia menurunkan kepandaian silat kepada murid-muridnya buat apa dirinya menyembunyikan kepandaian silatnya lagi?

Hanya saja dalam hatinya dia mem punyai perasaan curiga, hal ini adalah, Wi Ci To atau dalam anggapan Ti Then sebagai majikan patung emas kalau memiliki kepandaian silat yang sangat tinggi kenapa ilmu itu tetap disimpan sedemikian lamanya?

Bahkan putrinya sendiri pun tidak diberi pelajaran?

Alasan ini apa mem punyai hubungan yang erat dengan rahasia loteng penyimpan kitab itu?

Di dalam loteng penyimpan kitab itu sebetulnya menyimpan rahasia apa?

Apa mungkin di dalam loteng penyimpan kitab itu disimpan berbagai kitab silat yang berisikan macam-macam kepandaian yang dahsyat?

Sedang Wi Ci To sendiri dikarenakan berbagai macam alas an tidak dapat menurunkan kepandaian silatnya itu kepada murid-muridnya sehingga sengaja menggunakan dirinya sebagai "patung emas"

Untuk menurunkan ilmu silat itu kepada murid-muridnya? "Tidak, tidak mungkin begitu"

Hmm, sekarang Wi Ci To sudah tidak berada di dalam Benteng, kenapa dirinya tidak mau menyelidiki loteng penyimpan kitab itu di tengah malam?

Benar, malam ini saat kentongan ketiga harus masuk ke dalam loteng itu untuk memeriksa lebih jelas?

Keputusan ini diambil cepat pada pagi hari itu juga dan sedang berada ditengah lapangan latihan silat untuk memberi pelajaran kepada kedelapan pendekar pedang merah itu.

Mendadak, Wi Lian In tiba.

Kelihatan sekali dia sedang berusaha mengobati luka hatinya, begitu tiba ditengah lapangan sambil tertawa paksa ujarnya.

"Ti Kiauwtauw, aku sudah datang terlambat?"

Ti Then menjadi termangu-mangu, ujarnya.

"Perasaan hati nona masih kacau, kenapa tidak istirahat beberapa hari dulu baru datang latihan?"

"Siapa yang bilang hatiku kacau? Aku sama sekali tidak merasa kacau atau sedih?"

"Ti Then hanya tersenyum saja tidak memberi komentar apa-apa lagi. Wi Lian In ketika melihat kedelapan orang pendekar pedang merah itu sedang melatih satu jurus ilmu pukulan segera melepaskan pedangnya dan meletakkan ke atas tanah, ujarnya.

"Ti Kiauwtauw silahkan mulai memberi petunjuk aku harus berbuat bagaimana?"

"Baiklah"

Ujar Ti Then dengan perlahan.

"Cayhe akan mainkan beberapa kali jurus pukulan ini harap nona perhatikan dengan sungguh-sungguh"

Sehabis berkata dia mulai mainkan sebuah jurus pukulan dengan gerakan yang sangat perlahan.

Sesudah mengulangi tiga kali barulah satu gerakan demi satu gerakan dia memberi keterangan kepada Wi Lian In, akhirnya Wi Lian in pun seperti juga dengan kedelapan pendekar pedang merah lainnya dengan mengikuti peraturan melatih jurus ilmu pukulan itu.

Tidak lama tengah hari sudah menjelang.

Ujar Ti Then dengan keras .

"Kawan-kawan, hari ini latihan cukup sampai di sini, nanti sore kalian boleh berlatih sendiri asalkan ada hal-hal yang kurang jelas boleh pergi kekamar cayhe di sana kita bersama-sama memikirkan kesukaran itu"

Kedelapan orang pendekar pedang merah itu segera memberi hormat dan mengundurkan diri, sedang Ti Then beserta Wi Lian In bersama-sama menuju ke ruangan tengah.

Sambil melerai rambutnya yang panjang ujar Wi Lian In sambil tersenyum.

"Kamu lihat bagaimana dengan latihanku tadi?"

"Bagus sekali"

"Tapi kamu belum beritahu padaku apa nama dari jurus pukulan itu, mau bukan kamu beritahukan padaku?"

"Tidak bisa"

Sahut Ti Then sambil menggelengkan kepalanya. Wi Lian In menjadi melengak, tanyanya.

"Mengapa?"

"Karena cayhe sendiri juga tidak tahu apa nama dari jurus pukulan itu"

"Ooh, mungkin suhumu tidak memberitahukan padamu"

Ujar Wi Lian In sambil tersenyum.

Jilid 6.2. Menolong Wi Lian In di puncak selaksa Buddha "Benar"

Sahutnya sambil mengangguk.

"Dia orang tua hanya mengajari aku ilmu tetapi sama sekali tidak mau beri penjelasan apa nama jurus pukulan ini dan apa nama jurus pukulan itu"

"Ehm..suhumu sungguh misterius sekali"

"He he he..siapa bilang tidak?"

"Ti Kiauwtauw"

Ujar Wi Lian In sambil memandangi wajah Ti Then.

"Ilmu pukulan ini mengandung maksud yang sangat mendalam perubahannya pun sangat banyak sekali, entah harus berlatih seberapa lama baru berhasil"

"Asalkan berlatih dengan sungguh-sungguh tanpa gangguan urusan samping, mungkin paling lama dua bulan sudah akan berhasil"

Wi Lian In tersenyum lagi, ujarnya.

"Tadi kau bilang hatiku kacau dan sedih, dengan dasar apa kamu berani bilang begitu?"

Ti Then memandang sekejap kearahnya kemudian sambil tersenyum sahutnya.

"Kamu tidak suka dengan Hong Mong Ling heng?"

"Kemarin hari aku masih suka padanya"

"Walau pun sekarang kamu tidak suka padanya"

Ujar Ti Then dengan perlahan.

"Tetapi jika aku yang mengalami, secara mendadak harus berpisah dengan seorang kekasih yang disayanginya tidak urung akan merasa sangat sedih sekali"

"Kemarin malam aku memang sangat sedih hingga merasa sukar untuk hidup lebih lama lagi, tetapi hari ini bukan saja aku tidak sedih bahkan merasa sangat gembira sekali"

"Gembira sekali?"

Tanya Ti Then tercengang.

"Tidak salah"

Sahut Wi Lian In dengan serius.

"Aku merasa gembira atas keberuntunganku karena belum dikawinkan dengan dia"

"Agaknya nona tidak terlalu memandang tinggi terhadap nama?"

"Siapa bilang aku tidak memandang tinggi akan nama, tetapi aku lebih baik tidak kawin untuk selamanya daripada dijodohkan dengan seorang manusia yang berpribadi rendah dan pura-pura saja menaruh cinta"

"Aku lihat Mong Ling heng sangat mencintai diri nona, hanya saja karena nafsu sesaat.."

"Hemmm..kamu bantu dia bicara?"

Ujar Wi Lian In sambil mencibirkan bibirnya.

"Aku bukannya bantu dia bicara"

Sahut Ti Then sambil tertawa.

"Aku hanya bilang walau pun dia tergila-gila dengan seorang pelacur, tetapi bukannya dia tidak cinta padamu"

"Hemmm perkataan apa itu? Bilamana dia mencintai aku bagaimana bisa tergila-gila dengan seorang pelacur?"

"Seorang lelaki ada kalanya bersamaan waktu mencintai dua orang nona sekaligus, misalnya saja orang yang mem punyai beberapa orang istri sudah banyak terjadi sekarang ini"

"Tetapi diharuskan aku bersuamikan bersama-sama dengan seorang pelacur terkutuk, aku tidak akan tahan"

"Tetapi agaknya Mong Ling heng tidak punya maksud untuk mengawini Liuw Su Cen sebagai istrinya"

"Liuw Su Cen itu tentu cantik bukan?"

"Tidak tahu, aku belum pernah bertemu"

"Ehmmm sungguh menarik sekali"

Ujar Wi Lian In sambil tersenyum manis.

"Ternyata dia sudah salah menyangka kamu adalah Lu kongcu itu"

"Lalu menurut nona aku benar dia atau bukan?"

"Aku kira tidak mungkin"

"Mungkin saja benar"

"Tidak"

Sahut Wi Lian In sambil menggelengkan kepalanya.

"Jika Lu kongcu itu adalah hasil penyamaranmu maka kau hanya punya satu tujuan saja"

"Tujuan apa?"

"Berusaha memecahkan perjodohanku dengan dia, tetapi kamu sama sekali tidak berbuat demikian kamu masih membantu dia bicara"

"Ehmmm...."

"Sore ini kamu ada urusan tidak?"

"Tidak ada"

"Kalau begitu temani aku bermain ke puncak emas, bagaimana?"

"Tentang hal ini..."

"Kamu takut?"

"Bukannya begitu"

Sahut Ti Then sambil meringis.

"Baru saja nona bentrok dengan Mong Ling heng, jika kini kita pesiar bersama-sama begitu diketahui oleh kawan-kawan Benteng, mungkin akan bermunculan omongan iseng"

"Aku tidak taku, kamu takut apa lagi?"

"Perkataan orang sukar dijaga, cayhe tidak berani berbuat gegabah"

"Baiklah, kamu tidak mau pergi, aku pergi sendiri"

Bercerita sampai di sini kedua orang itu sudah berada diruangan tengah, begitulah mereka berpisah untuk kembali ke dalam kamarnya masing-masing.

Ti Then pergi menjenguk sejenak kekamar Shia Pek Tha kemudian berjalan-jalan disekitar Benteng.

Sejak memasuki Benteng Pek Kiam Po hingga saat ini sudah ada empat lima hari lamanya tetapi banyak tempat di dalam Benteng itu yang belum disinggahi, karena itulah sambil menggendong tangan dia berjalan mengelilingi seluruh Benteng hingga akhirnya sampailah di depan Loteng penyimpan kitab itu.

Loteng penyimpan kitab ini bertingkat tiga,keadaannya seperti gapura, bangunannya pun sangat kuat tetapi pintu serta jendelanya ditutup rapat-rapat sedang diluar bangunan terlihatlah empat orang pendekar pedang berjaga siang malam di sana.

Dengan sikap seperti jalan-jalan Ti Then memeriksa dengan teliti keadaan sekitar bangunan itu, sudah memilih jalan untuk maju dan mundur nanti malam barulah dia kembali ke dalam kamarnya sendiri untuk beristirahat.

Menjelang magrib seorang pelayan datang mengundang Ti Then untuk bersantap, sesampainya di ruangan makan terlihat di sana hanya Hu Pocu Huang Puh Kian Pek seorang saja berada di meja makan.

Tanya Huang Puh Kian Pek begitu melihat Ti Then muncul di sana.

"Bagaimana dengan kedelapan orang pendekar pedang itu? Berbakat untuk belajar silat?"

"Bagus sekali, mereka punya bakat yang sangat baik"

"Ake dengar nona Wi juga pergi berlatih?"

Tanya lagi Huang Puh Kian Pek sambil tersenyum.

"Tidak salah, tidak malu nona Wi disebut sebagai seorang pendekar wanita, ternyata bisa menghilangkan kesedihan untuk datang berlatih"

"Ehmmm...memang sifatnya seperti ayahnya, periang dan suka bergaul"

"Heii.."

Ujar Ti Then tiba-tiba sambil menghela napas panjang.

"Sebetulnya Mong Ling heng jadi orang tidak jelek, boanpwe sangat mengharapkan nona Wi bisa berhubungan kembali seperti sedia kala"

"Aku kira tidak mungkin bisa terjadi, sifatnya sangat berangasan dan tegas, urusan yang sudah diputuskan olehnya tidak akan disesali lagi"

"Heii..jika tahu urusan akan terjadi begini, malam itu boanpwe tidak akan membawa Mong Ling heng kembali"

"Ti Kiauwtauw"

Ujar Huang Puh Kian Pek sambil tersenyum.

"Kamu jangan bicara begini, urusan ini sama sekali tidak ada sangkut pautnya dengan Ti Kiauwtauw"

"Heiii...hal ini juga karena kebodohan boanpwe sendiri, terhadap kepandaian silat lainnya boanpwe masih bisa tetapi terhadap ilmu menotok jalan darah paling tidak paham sehingga sama sekali tidak tahu kalau jalan darah pingsannya yang tertotok, waktu itu jika boanpwe paham mengenai jalan darah cukup sadarkan dirinya maka urusan sudah selesai dan Mong Ling heng bisa kembali ke dalam Benteng sendirian. Heiii...urusan yang tidak menyenangkan ini pun tidak mungkin bisa terjadi"

"Tapi perkataan tidak bisa dibicarakan begini"

Ujar Huang Puh Kian Pek sambil menggelengkan kepalanya.

"Jika Ti Kiauwtauw tidak tolong dia kembali mungkin jika sampai tergigit binatang lalu bagaimana jadinya?"

Kedua orang itu sambil dahar sambil berbicara, mendadak terlihatlah budak Wi Lian In yang bernama Cun Lan masuk ke dalam ruangan dengan tergesa-gesa, air mukanya kelihatan sangat murung, agaknya ada perkataan yang hendak disampaikan.

Tanya Huang Puh Kian Pek begitu melihat sikapnya yang ragu-ragu dan cemas itu .

"Cun Lan, ada urusan apa?"

Dengan cepat Cun Lan berjalan ke hadapan Huang Puh Kian Pek dan member hormat, sahutnya.

"Lapor pada Hu Pocu, sejak sore tadi siocia keluar Benteng hingga kini belum kembali, entah bisa terjadi tidak urusan yang tidak menyenangkan"

"Nona pergi kemana?"

Tanya Huang Puh Kian Pek dengan tercengang.

"Budakmu juga tidak tahu"

Sahut Cun Lan sambil menggelengkan kepalanya.

"Hu Pocu"

Timbrung Ti Then dari samping.

"Mungkin nona Wi pergi ke puncak emas untuk pesiar, tadi siang dia pernah beritahu pada boanpwe katanya mau bermain di puncak emas"

Air muka Huang Puh Kian Pek segera berubah hebat, sahutnya.

"Seorang diri dia berpesiar ke puncak emas?"

Ti Then merasa tidak enak untuk menceritakan kalau dia pernah mengajak dirinya untuk pesiar bersama-sama, terpaksa sahutnya.

"Benar, mungkin untuk menenangkan hatinya"

"Tetapi hari sudah gelap, menurut peraturan dia sudah seharusnya tiba di dalam Benteng"

Ujar Huang Puh Kian Pek sambil memandang tajam kearahnya. Sesudah berhenti sejenak dia menoleh kearah Cun Lan, tanyanya lagi.

"Sewaktu nona keluar Benteng pernah membawa barang apa saja?"

"Tidak ada, hanya sebilah pedangnya"

Alis yang dikerutkan pada wajah Huang Puh Kian Pek semakin mengencang, ujarnya kepada Ti Then.

"Sifat budak itu sangat berangasan sekali, entah bisa tidak dia pergi mencari gara-gara?"

Hati Ti Then terasa dipukul sangat keras, sahutnya dengan cepat.

"Hal ini sukar untuk dibicarakan, bilamana pikirannya kacau..."

"Cepat, kita cepat pergi cari dia!"

Ujar Huang Puh Kian Pek sambil bangkit berdiri.

Demikianlah Huang Puh Kian Pek serta Ti Then tidak menanti selesai makan segera keluar benteng dengan tergesa-gesa dan lari dengan cepatnya menuju puncak emas.

puncak emas merupakan puncak yang tertinggi di gunung Go-bi san ini, sesudah puncak selaksa Buddha, mereka berdua dengan berlari dua jam lamanya barulah sampai di tempat tujuan.

Kiranya yang disebut dengan sebagai puncak Emas itu adalah sebuah kuil yang semula merupakan ruangan tengah dari Koang Siang Si, juga disebut sebagai kuil Beng Sim Si, menurut dongeng kuil itu didirikan pada jaman kaisar Han Beng Tio dikarenakan angin yang bertiup di atas gunung sangat keras maka seluruh kuil menggunakan atap dari timah karena itulah tempat itu disebut juga sebagai ruangan Si Wua Tien.

Tempat ini ada dua tempat yang paling menarik perhatian orang, yang satu adalah tugu tembaga yang tingginya enam depa dengan lebar tiga depa, di atas tugu itu tertuliskan dua macam huruf dibolak-baliknya, yang satu bertuliskan tulisan Ong Ji, sedang yang lain bertuliskan tulisan Cu In Liang Ji.

Pemandangan menarik yang lainnya adalah tebing di belakang ruangan itu.

Yang paling menguatirkan hati Huang Puh Kian Pek adalah di dalam keadaan sedih mungkin sekali Wi Lian In akan terjun ke dalam tebing untuk bunuh diri.

Dengan tergesa-gesa, dia membawa Ti Then ke dalam kuil itu, kepada seorang hwesio tua tanyanya .

"Toa suhu, apa kamu melihat nona Wi pergi ke sini?"

Kiranya semua hwesio di dalam kuil ini mengenal dengan orang-orang dari Benteng Pek Kiam Po, begitu hwesio tersebut melihat Huang Puh Kian Pek masuk ke dalam kuil segera merangkap tangannya memberi hormat, sahutnya kemudian .

"Omintohud, kiranya Huang Puh sicu yang datang, silahkan masuk dalam ruangan untuk minum the"

"Tidak perlu"

Ujar Huang Puh Kian Pek dengan tergesa-gesa.

"Cayhe sedang mencari nona Wi kami, apakah Toa suhu melihat dia?"

"Pernah..pernah, kurang lebih dua jam yang lalu nona Wi pernah masuk ke dalam kuil untuk bersembahyang, tetapi sesudah itu telah keluar dari kuil dan pergi"

"Pergi kearah mana?"

Tanya Huang Puh Kian Pek semakin cemas.

"Agaknya menuju ke tebing di belakang kuil ini"

Air muka Huang Puh Kian Pek berubah semakin hebat lagi, dengan cepat dia putar tubuh dan lari bagaikan kilat cepatnya keluar kuil kemudian berdiri menuju ke tebing di belakang kuil itu.

Ti Then dengan kencang mengikuti dari belakangnya, kedua orang itu hanya di dalam sekejap mata sudah sampai di samping tebing di belakang kuil itu, tetapi tempat itu gelap gulita sedikit pun tidak tampak bayangan tubuh dari Wi Lian in itu.

Kedua orang itu semakin mendekat lagi ke pinggiran tebing, ketika menengok ke bawah tempat itu hanya terlihat kegelapan yang membuta saja, sedikit pun tidak terlihat lagi pemandangan sedikit pun.

Huang Puh Kian Pek menghembuskan napas panjang, agaknya hatinya merasa sangat tidak tenang, ujarnya kemudian.

"Ti Kiauwtauw, coba kamu lihat mungkin tidak dia ambil keputusan pendek?"

Ti Then menundukkan kepala berpikir sebentar, kemudian barulah sahutnya dengan perlahan.

Baca Juga: Darah Pendekar 4

Baca Juga: Kisah Pendekar Bongkok Kho Ping Hoo

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert