Eps 1 Pendekar Patung Emas - Qing Hong
Baca online Pendekar Patung Emas - Qing Hong
Cersil Pendekar Patung Emas - Qing Hong.
Judul Baru . Pendekar Bersinar Kuning Karya . Qing Hong diterjemahkan Tjan Ing Djoe Tahun 1971 Di Upload Masroni/Mazrizki di Indozone (Makasih) Final editor & PDF Ebook by . Dewi KZ
http.//kangzusi.com/
http.//cerita-silat.co.cc/
http.//ebook-dewikz.com/
Jilid 1.1.
Majikan Patung Emas yang misterius Suatu tengah hari yang terik di padang gurun yang kering, sesosok tubuh berjalan melintasi lautan pasir itu dengan perlahan.
Tak ada orang lain lagi yang ada di jalan itu.
Tampak peluh bercucuran di dahi dan sekali-kali terdengar hembusan napas yang perlahan.
Sejumlah elang pemakan daging terbang berputar-putaran di atas langit, siap memangsa kalau orang itu rubuh.
Kiranya sesosok tubuh itu sudah tidak kuat menahan haus dan lapar serta keletihan, rubuhlah dia di atas permukaan tanah.
Elang-elang di atas memperhatikan sambil berputaran, untuk menyaksikan bahwa tubuh di bawah itu sudah binasa.
Beberapa saat kemudian...dengan lekas elang-elang itu mulai menukik ke bawah sambil mementangkan cakarnya yang tajam siap menjobek daging manusia yang dikiranya sudah menjadi majat tersebut.
Mendadak...suatu peristiwa yang sangat aneh telah terjadi.
Tangan kanan dari orang itu mendadak bagaikan kilat cepatnya menyapu ke atasnya, disusul dengan pukulan yang dahsyat dan tepat mengenai kepalanya.
Pukulan ini dilancarkan begitu cepat serta tepat , Oleh sebab itu "kesempatan"
Bagi elang itu untuk merasakan terkejutnya, belum sernpat kepalanya telah hancur luluh dan rnenggeletak ke atas tanah, sajapnya rnemukul mukul beberapa kali di atas tanah kemudian tenang kembali.
Dengan cepat orang itu bangkit berdiri, dari dalam sakunya mencabut keluar sebilah pisau belati yang amat tajam, dengan sekali tabason kepala elang itu jatuh menggelinding.
Tububnya dengart cepat di pungut sedang darah yang mulai memancar keluar dengan derasnya itu diisap dengan lahapnya.
Hal ini memperlihatkan kalau orang tersebut amat lapar serta dahaga, dia terus menghisap darah segar hingga betul-betul habis baru berhenti, sambil menghembuskan nafas lega dia menampilkan senjuman kekemenangannya.
Gumamnnya.
"Hidup sebagai seekor binatang, di dalam perebutan untuk melanjutkan hidup kau telah kalah satu langkah dari aku"
Orang itu berusia kurang lebih dua puluh tiga tahunan, bajunya compang camping, rambutnya kusut tetapi air mukanya masih tetap segar.
Mungkin dikarenakan baru saja melakukan perjalanan jauh di bawah terik matahari sebingga wajahnia telah berubah menjadi kecoklatan-kecoklatan bahkan berlapiskan minyak.
Tetapi sekali pun bentuknya kurang sedap dipandang, sepasang matanya memancarkan sinar yang amat tajam bahkan penuh dengan semangat untuk tetap mempertahankan hidupnya.
Dengan perlahan lahan dia bangun berdiri sambil menenteng binatang elang itu dengan perlahan berjalan ke bawah sebuah pohon siong dan tangannya mulai bekerja menguliti elang itu kermudian membelah perutnya, mengumpulkan kaju bakar menjulut api.
Kelihatannya dia telah beberapa hari menderita kelaparan, oleh karena itu baru saja daging elang itu matang dengan lahapnya dia telah menyikat tanpa sungkan sungkan, tidak ada beberapa saat lamanya seluruh daging elang itu telah berpindah ke dalam perutnya.
Sambil menepuk nepuk perutnya pada bibirnya tersungging suatu senjuman gumamnya.
"Bagus? kali ini mungkin rnasih bisa bertahan dua tiga hari lagi . .."
Setelah itu dengan perlahan dia mulai melemaskan otot otot kaki dan tangannya, punggungnya bersandar pada batang pohon sedang tangannya, merogoh ke dalam sakunya mengambil keluar lima carik kertas yang penuh berisikan tulisan, sinar matanya dengan tajam memandang kearah tulisan itu sedang mulutnya tak henti-hentinya berkata.
"Berjalan kearah Barat tiga ratus lie, gunung Pek Gouw San di bawah puncak Gouw Ong Hong..Berjalan kearah Barat laut dua ratus li, di bawah pohon siong yang tua di atas gunung Mao Gouw San . Berjalan kearah selatan dua ratus lie, di atas gunung Sek To San di dalam gua Sek To Tong... Berjalan kearah Barat dua ratus li, di atas puncak gunung Koang Mao San. berjalan kearah Barat dua ratus li. daIam gua Hu Lu Tong di atas gunung Lo Cin San ..."
Sehabis membaca kelima carik kertas tersebut dia menarik napas panjang, pikirnya.
"Aku telah melakukan perjalanan sejauh seribu li, disaat sebelum malam nanti mungkin aku telah sampai di dalam gua Hu Lu Tong di atas gunung Lo Cin San semoga saja kali ini merupakan penderi taan yang diberikan padaku untuk terakhir kaIinya... Setelah berpikir keras seorang diri dengan perlahan dia mulai memasukkan kelima carik kertas itu ke dalam sakunya. Pada saat itu terdapat seekor burung elang lagi yang terbang mengitari kepalanya tetapi burung elang itu sama sekali tidak tertarik pada dirinya lagi. Dengan cepat dia mulai melanjutkan perjalanannya menuju kearah Barat. Dengan rnenggunakan ilmu meringankan tubuhnya yang cepat bagaikan kilat tak berapa lama rentetan pegunungan Lo Cin San secara samar-samar mulai terlihat di hadapan matanya. Pada saat itu matahari dengan perlahan mulai menyembunyikan diri di balik pegunungan Lo Cin San, sedang dirinya pun telah berada di bawah lereng gunuing itu. Dari kejauhan dilihatnya seorang kakek tua sedang duduk di bawah sebuah pohon besar, dengan cepat dia lari menjongsong kearahnya sambil merangkap tangannya memberi hormat ujarnya.
"Losianseng permisi !"
"Ada urusan apa?"
Tanya kakek tua itu sambil mengangkat kepalanya sedang air mukanya menunjukkan perasaan yang amat heran.
Sambil menunjuk kearah rentetan gunung Lo Cin San tanyanya.
-Gunung itu apa disebut sebagai gunung Lo Cin San?
"Benar, sahut kakek tua itu sambil mengangguk.
"Kenapa gunung itu disebut sebagai gunung Lo Cin San?--"Menurut dongeng jaman dahulu, seorang yang bernama LoaCin pernah bertapa digunung ini oleh karena itulah gunung ini disebut sebagai gunung Lo Cin San Lo-te kenapa kau menanyakan tentang hal ini?"
"Aku punya rencana untuk melihat pemandangan di atas gunung ini, aku dengar di atas gunung ini ada sebuah gua yang disebut-sebagai gua Hu Lu Tong atau gua cupu-cupu,apa betul?"
Tidak pernah kudengar nama itu"
Sahut kakek tua itu sambil menggelengkan kepalanya..
"Tetapi di atas gunung ini memang ada sebuah gua hanya letaknya jauh di puncak gunung. Pada masa muda dahulu Lo hu pernah naik sekali ke atas puncak dan melihat gua itu keadaannya memang sangat aneh tetapi menarik sekali, hanya....apa..Lo-te benar-benar datang untuk berpesiar?,. Kakek tua itu bisa miengeluarkan pertanyaan ini dikarenakan pakaian yang digunakan olehnya telah compang camping sehingga mirip sekali dengan seorang pengemis sehingga sudah tentu dengan bentuk seperti ini tidak mirip seorang yang sedang berpesiar. Sebaliknya dia tidak menyawab atas pertanyaannya itu, sambil tersenjum matanya memandang tajam ke atas puncak gunung Lo Cin san, tanyanya lagi.
"Gua yang kau orang tua katakan tadi kurang lebih terletak pada puncak sebelah mana ?"
Kakek tua itu dengan cepat mengangkat jarinya menunjuk kearah sebuah jalan gunung yang kecil sahutnya kemudian.
"Lo-te kau dapat mengikuti jalanan gunung ini mendaki ke atas gunung, JaIanlah terus sampai tidak ada jalanan lagi dimana terdapat tiga buah puncak gunung, gua tersebut terletak di atas puncak gunung yang berada di tengah."
Dia berhenti sejenak kemudian sambungnya lagi.
"Kini hari telah hampir gelap, bila Lo-te ingin berpesiar ke atas gunung lebih baik besok pagi saja baru pergi, ditengah malam banyak binatang buas yang berkeliaran, bahaja sekali bagi dirimu,"
"Tidak ada halangan "
Sahutnya sambil tersenjum. ,""Cayhe adalah seorang pemburu, tentang binatang buas bukanlah merupakan soal yang sulit bagiku terima kasih atas petunjuk dari kau orang tua, aku minta diri dahulu"
Tangannya dirangkap memberi hormat kemudian dengan langkah yang lebar berjalan kearah jalanan kecil itu.
Disekitar daerah gunung Lo Cin San seluas beberapa lie saat itu teiah diliputi oleh kabut yang amat tebal karena itulah baru saja berjalan tidak jauh dari jalanan gunung itu dia sudah tidak dapat melihat dengan jelas kearah kakek tua itu, bagaikan kilat cepatnya dia mengerahkan ilmu meringankan tubuhnya sehingga laksana seekor kelinci dengan gesitnya lari ke atas gunung.
Di dalam sekejap saja jalanan gunung itu telah mencapai pada ujungnya, di hadapannya terbentanglah sebuah rimba yang amat gelap dan liar.
Ketika dia mengangkat kepalanya memandang ke atas terlihatlah kurang lebih setengah li di hadapannya menjulang tinggi tiga buah puncak yang diliwati oleh awan tebal.
Melihat hal itu tak terasa dia menghela napas panjang pikirnya.
"Bila hendak mendaki ke atas puncak gunung itu kita harus membutuhkan waktu setengah harian, bilamana di dalam gua Hu Lu Tong itu sekali lagi dia meninggalkan sepucuk surat memerintahkan diriku pergi ke tempat lain. boleh dikata perbuatannya ini sangat keterlaluan."
Baru saja berpikir sampai di situ mendadak dari belakang tubuhnya menyambar datang sebuah senyata rahasia yang disertai dengan desiran angin keras...agaknya sebuah batu cadas sedang disambitkan tepat mengarah batok kepalanya.
Hatinya menjadi tergetar, tubuhnya dengan cepat menyingkir ke samping sedang tangan kanannya jajunkan menyambut datangnya batu cadas itu.
Ketika benda itu berhasil ditangkap hatInya menjadi sangat mendongkol kiranya hanya sebuah buah Tho yang telah masak.
Melihat hal itu dia menjadi tertegun, ketika mengangkat kepalanya memandang terlihatlah di atas sebuah pohon yang lebat tidak jauh dari dirinya bergergelantungan seekor kera dengan lincahnya, sedang mulutnya tidak henti-hentinya mengeluarkan suara mencicit yang ramai.
keadaannya sangat lucu sekali.
"Binatang, kau berani menggoda aku"
Baru saja suara bentakannya keluar darimulut tubuhnya bagaikan sebuah anak panah yang terlepas dari busurnya meluncur kearah pohon besar itu.
Dengan mengeluarkan suara mencicit kera itu dengan cepat menyambar sebuah akar pohon dan melayang kepohon yang lain.
Melihat hal itu hawa amarahnya semakin memuncak, bentaknya dengan keras.
Kau larilah, aku hendak melihat kau bisa lari seberapa jauh"
Tubuhnya dengan lincah .berjumpalitan ditengah udara sedang ujung kakinya dengan ringan menutul ke atas batang pohon, Dengan kecepatan yang luar biasa sekali lagi dia melayang kearah pohon tersebut.
Siapa tahu....
menanti dia melayang ke arah pohon itu kera tersebut telah lari kearah sebuah pohon lain.
Lagi kira-kira tiga depa .dari tempat semula.
Kali ini hawa amarahnya benar-benar telah meledak, sambil bersuit nyaring tubuhnya sekali lagi mumbul ke atas dan berkelebat ke arah pohon itu, dengan sekuat tenaga dia mengerahkan seluruh kepandaian meringankan tubuhnya mengejar kera itu.
Dalam hatinya dia telah rnengambil keputusan akan menggunakan ilmu meringankan tubuh serta sepasang kepalannia untuk menangkap kera itu hidup-hidup.
Siapa tahu gerak gerik dari kera itu jauh lebih lincah, sekali pun dia tak memiliki kepandaian sehingga tidak dapat berlari dengan cepat tetapi loncatannya dari sebuah pohon kepohon yang lain amat cepat sekali,sekali pun orang lelaki itu telah mengerahkan seluruh tenaganya tidak lebih jaraknya masih tetap tertinggal tiga depa di belakang Hanya yang untung, arah yang ditempuh oleh kera itu tepat merupakan puncak gunung yang dituju olehnya.
Oleh sebab itulah semakin mengejar dia semakin bersemangat, karena dia merasa sekali pun tidak berhasil mengejar kera tersebut tetapi tenaganya juga tidak dibuang secara percuma.
Akhirnya sesosok tubuh manusia dengan seekor kera, yang satu berada di depan sedarng yang lain berada di belakang mengejar, bagaikan meluncurnya sebuah bintang dari langit dengan cepat berkelebat diantara Rimba itu.
Di dalam sekejap saja mereka telah tiba di bawah puncak gunung, sedang waktu itu jarak antara dirinya dengan kera tersebut juga dari tiga depa makin lama makin dekat hingga tinggal satu depa setengah saja.
Kelihatannya hanya tinggal beberapa langkah saja dia akan berhasil menawan kera tersebut.
Tetapi di dalam sekejap itu pula kera tersebut telah mencapai di dalam rimba pada bawah puncak gunung.
Hanya dengan beberapa loncatan saja tubuh kera itu telah lenyap dari pandangan.
Kiranya puncak gunung itu sekali pun tingginya beberapa ratus kaki tetapi pada lerengnya penuh ditumbuhi dengan pepohonan yang lebat, sedang kepandaian memanyat dari kera itu bagaimana pun juga jauh lebih tinggi satu tingkat dari manusia sehingga dengan demikian ketika mengejar hingga ke bawah puncak, kera itu telah berhasil melarikan dirinya tak menentu.
Dengan cepat dia menghentikan langkah kakinnya sambil mengeringkan keringat yang mengucur keluar membasahi keningnya.
Terpikir kembali ketika tadi siang dia membunuh burung elang.
Tak terasa dia tertawa pahit, gumamnya.
Sungguh menarik sekali aku dapat menangkap seekor burung elang yang terbang jauh ditengah awang-awang tetapi tidak berhasil menangkap seekor kera yang lari di atas pohon .
Tetapi sekali pun demikian dia tidak menjadi sedih.
pengejarannya kali ini tidak sia sia belaka, karena puncak di hadapannya memang harus didaki malam itu juga.
Sesudah beristirahat sejenak mulailah dia berjalan mendaki puncak itu, sekaIi pun harus mengerahkan seluruh tenaganya tetapi setindak demi setindak dia terus melanjutkan perjalanannya.
Tidak sampai sepertanak nasi dia telahberada di atas puncak gunung itu, bahkan dengan tidak usah susah payah lagi telah menemukan sebuah gua di atas puncak itu.
Gua itu tertetak pada ujung sebelah kiri dari puncak gunung itu, lebarnya tidak lebih tiga depa sedang tingginia kurang lebih dua depa sehingga mirip sekali dengan sebuah tebing yang retak.
"Inikah yang disebut sebagai "Gua Hu Lu Tong "
Atau gua cupu-cupu??
Hm ..
tentu tidak salah, bukankah tadi kakek tua itu bilang kalau di atas gunung Lo Cin San ini hanya terdapat sebuah gua saja, Kalau begitu gua ini tentu adalah gua Hu Lu Tong yang sedang dicari olehnya.
Dalam hatinya dia terus berpikir sedang kakinya tetap berhenti pada tempat semula, dia takut kalau dalam gua itu akan menemukan secarik kertas lagi yang tertuliskan"
"Berjalan kearah........dua ratus li di atas gunung...... puncak........atau gua...."Karena dia telah melakukan perjalanan sejauh seribu li, sebenarnya dia sudah merasa tidak sabar lagi dipermainkan oleh orang lain. Setelah bingung beberapa saat lamanya barulah dengan hati yang tidak tenang dan ragu-ragu dengan perlahan mulai berjalan memasuki gua itu, Satelah berjalan enam tujuh tindak. di hadapannya terbentanglah sebuah gua yang amat lebar. perkataan dari kakek tua itu ternyata tidak salah, keadaan dari goa itu memang benar-benar sangat aneh. Sekeliling tempat itu penuh berserakan batu-batu cadas yang amat aneh bentuknya ada yang berbentuk harimau sedang tidur ada pula yang berbentuk kera sedang meloncat bahkan ada yang menjerupai sebuah tugu yang tinggi bersusun-susun. Pemandangan tempat itu benar-benar sangat mengagumkan, Sebaliknya, pada saat itu dia sama sekali tidak punya minat untuk menikmati keindahan alam goa itu, setelah memeriksa ke adaan sekeliling goa tersebut segera dia, terjerumus ke dalam perasaan yang kecewa serta bingung, Yang membuat dia kecewa adalah, kiranya dalam goa itu sama sekali tidak dijumpai orang yang hendak ditemuinya itu, Sedang yang membuat dia bingung adalah, dia. merasa curiga apakah gua ini benar-benar-merupakan gua Hu Lu Tong. yang dimaksud orang itu di dalam suratnya. Karena jika ditinyau dari nama goaitu tentunya bentuk dari goa Hu Lu Tong ini mirip dengan sehuah cupu-cupu, seharusnyalah terdapat dua buah gua yang besar baru cocok dengan nama itu, tetapi yang dilihatnya sekarang ini hanya sebuah goa biasa saja sedang di samping dan di hadapannya sama sekali tidak terlihat jalan yang menghubungkan gua itu, oleh sebab itulah dia dapat mengambil kesimpulan bahwa selain gua "Hu Lu Tong"
Ini mungkin dinamakan begitu karena sebab-sebab lain maka gua itu bukanlah gun cupu-cupu atau gua Hu Lu Tong yang sedang dicarinya.
Tetapi, bukankah tadi kakek tua itu bilang kalau di atas gunung Lo Cin San ini hanya terdapat sebuah gua saja?
Bilamana gua ini bukan cupu-cupu lalu gua cupu-cupu yang sebenarnya terletak dimana?
Sambil berpikir dengan telitinya dia melanjutkan pemeriksaannya terhadap setiap jengkal tanah dari gua itu, semakin dia melihat keadaannya semakin dia dapat mengambil kesimpulan kalau gua itu bukanlah gua cupu-cupu yang sedang dicarinya.
Alasan dari kesimpulannya ini karena gua itu jika benar gua cupu-cupu yang sedang dicarinya kenapa orang itu tidak datang menemui dirinya atau meninggalkan secarik kertas pada suatu tempat yang menjolok?
Pada waktu-waktu yang lalu orang itu tentu meletakkan secarik kertas pada tempat yang menjolok bahkan di samping kertas itu terdapat sebuah pukulan telapak yang amat nyata, sedang jika dilihat keadaan gua ini sama sekali tidak terdapat tanda-tanda adanya secarik kertas yang ditinggalkan.
Dengan perlahan dia menghela napas panjang, kemudian memutarkan tubuhnya berjalan keluar dari gua itu.
"He..hee...kenapa kau mau pergi?"
Suara itu secara mendadak sekali berkumandang keluar dari dalam gua itu bahkan suara itu sangat mendatar, sedikit pun tidak memperlihatkan suara dari seorang manusia Tubuhnya terasa tergetar dengan kerasnya bahkan dengan cepat menjadi kaku bagaikan sebuah patung arca.
"Kau sudah betul menemukan tempat yang kau cari kenapa kini malah mau pergi?"
Suara itu berkumandang keluar lagi dari dalam gua bahkan bergetar dengan tak henti-hentinya dalam ruangan gua yang kosong itu, membuat orang sukar mengetahui tempat persembunyiannya.
Dengan cepat dia memutar tubuhnya memandang keempat penjuru, dengan perasaan yang amat terkejut tanyanya.
"Kau?"
"Tidak salah...."
Sahut orang itu dengan amat dingin. Sepasang matanya yang amat tajam dengan cepat menyapu kesekeliling goa itu, sedang perasaan terkejut yang menghiasi wajahnya semakin tebal, serunya.
"Kau .. kau berada dimana ?"
Pada jarak kurang lebih dua depa dari dirinya berdiri mendadak berkumandang suara .
"Ting... ting...ting "
Yang nyaring seperti sebuah benda yang terbuat dari besi terbentar pada tanah, kemudian terdengar sahutan dari orang itu.
"Aku berada di sini "
Dengan kecepatan yang luar biasa da memutar tubuhnya, tetapi begitu dia melihat kearah mana tak terasa bulu kuduknya pada berdiri secara mendadak, dengan cepat dia mengundurkan dirinya satu langkah ke belakang.
Apakah orang itu bentuknya sangat jelek sehingga menakutkan ?
Bukan, karena orang itu tak lain adalah sebuah patung arca yang terbuat dari emas yang amat menyilaukan mata.
Kiranya didalarn goa itu telah berdiri sebuah patung arca yang terbuat dari emas, Tingginya kurang lebih dua depa sedang wajahnya kelihatan amat gagah sekali.
Pada kepalanya memakai sebuah kopiah pahlawan, pada tubuhnya memakai seperangkat pakaian yang amat ketat sedang pada tangannya mencekal sebilah pedang panjang, sepanjang delapan cun, kelihatannya sangat gagah sekali bahkan mirip dengan seorang jago pedang kenamaan.
Dia dengan kakunya berdiri di atas sebuah batu cadas yang rata di hadapannya.
Dengan perasaan yang amat terkejut dia memandang tajam kearah patung emas itu beberapa saat lamanya, kemudian dengan nada yang agak gemetar tanyanya.
"Kau .....kau manusia atau setan ?"
Patung emas itu tertawa aneh, balik tanyanya.
"Kau percaya di dalam dunia ini benar-benar ada setan?"
"Tidak!"
Kali ini dia dapat mendengar dengan amat jelas suara itu bukan berasal dari patung emas itu sebaliknya berasal dari dalam gua di belakang patung emas tersebut.
Sudah tentu orang itu kini sedang bersembunyi di atas atap gua itu.
Pada saat itulah dia baru dapat menghembuskan napas lega, dengan perlahan dia berjalan maju beberapa langkah ke depan.
Ketika dia memandang lebih teliti lagi barulah terlihat olehnya kalau pada tubuh patung emas itu bergantungan beberapa utas tali berwarna hitam sudah tentu tali itu digunakan untuk menggerakkan patung emas tersebut.
Kesepuluh tali hitam itu bergantungan dari atas atap dinding gua, dengan demikian dia dapat memastikan kalau benda itu diturunkan dari atas gua, Hanya sajang ketika dia memandang lebih tajam lagi ke atas dinding itu sama sekali tidak terlihat apa-apa olehnya, karena sebuah batu cadas yang amat besar menutupi pandangannya.
Dengan cepat dia menggerakkan kakinya lagi, pikirnya hendak maju lagi hingga dapat melihat jelas orang yang bersembunyi di atas atap dinding gua tersebut.
Siapa tahu mendadak terdengar suara bentakan yang amat keras.
"Berhenti. Kau tidak dapat berjalan lebih dekat lagi !"
Bersamaan dengan suara bentakan orang itu, tiba-tiba patung emas itu telah maju satu tindak ke depan.
"pedang panjang"
Ditangannya dengan cepat dilintangkan ke depan menghalangi perjalanannya.
Tak terasa dalam hati dia menjadi amat geli, terpaksa ia menghentikan langkahnya sambil angkat kepaia tanyanya lagi "Siapakah kau sebenanya?"
"Kau tak perlu tahu"
Sahut orang itu dengan nada yang dingin.
"Lalu kenapa kau bersembunyi di atas?"
"Tentang hal ini kau juga tidak perlu tahu"
Tidak terasa lagi dia mengerutkan alisnya, sambil tertawa pahit tanyanya lagi "Oh... kiranya aku tidak boleh mengetahui semua-semuanya!"
"Dengan menempuh seribu li jauhnya kau datang kemari, tentunya kau ingin menanyakan nama serta asal usulku bukan?"
Dia termenung berpikir keras beberapa saat lamanya, kemudian dengan mengangkat bahu sahutnya "Perkataanmu boleh tidak salah, tidak perduli di tempat mana pun asalkan ada dua orang yang tidak saling kenal bila bertemu sudah tentu harus memperkenalkan nama masing-masing.
"Tetapi keadaan kali ini tidak sama"
Sahut orang itu singkat "Keadaan ini membuat aku merasa jauh diluar dugaan", Orang itu tertawa terbahak bahak, sahutnya.
"Ada suatu urusan yang tak akan diuar dugaanmu, kali ini aku membantu kau untuk mencapai cita-cita yang kau inginkan" -Benarkah?-tanyanya sambil tertawa pahit, Nada dari orang itu segera berubah, dengan nada yang amat serius sahutnya.
"Tidak salah, kini jawablah pertanyaanku terlebih dahulu. Siapa namamu?"
Da menjadi ragu-ragu untuk sesaat lamanya, seperminum teh kemudian barulah ujarnya.
"Kau tidak mau memberitahukan padaku siapakah sebenarnya dirimu kenapa aku harus memberi tahukan namaku padamu?"
"Baiklah. Kalau tak mau bilang juga tidak mengapa"
"Tidak, aku akan memberitahukan padamu"
Sahutnya sambil tertawa paksa.
"Aku she Ti bernama Then"
"Ooh apakah kau adalah Hek Ie hiap atau si pendekar berbaju hitam Ti Then. yang telah menggemparkan seluruh dunia kangouw?"
Tanya orang itu dengan nada yang agak terkejut.
"Benar"
Sahut Ti Then singkat.
"Kepandaian silatmu tidak cetek bahkan menurut berita dalam Bu-lim saat ini kau sukar untukmendapatkan tandingan, Kenapa kau malah pergi ke atas puncak gunung Kim Teng San mohon Put Tong Ong alias si Kakek Pemalas Kay Kong Beng menerima dirimu sebagai murid?"
Dengan senjuman sedih sahut Ti Then.
"Sebab-Sebab ini apa aku harus memberitahukan padamu juga?"
"Aku tidak memerintahkan kau harus memberitahukan padaku"
"Kalau begitu kebetulan sekali "
Sahut Ti Then dengan serius. ''Aku minta maaf sebesar-besarnya karena sebab-sebab ini aku tidak dapat diberitahukan padamu.."
Orang itu tertawa tergelak, ujarnya.
"Tidak ada halangan, kau ada rahasia yang tidak dapat diberitahukan pada orang lain pula, apalagi aku punya niat untuk menurunkan kepandaian silat padamu"
"Kau ingin menurunkan kepandaian silat kepada diriku?"
Tanya Ti Then dengan termangu-mangu.
"Kenapa kau memancing aku untuk menempuh perjalanan sejauh seribu li?"
"Aku ingin mewarisi kau ilmu silat"
Ti Then tidak menyawab lagi, pada saat ini benar-benar dia telah dibikin bingung oleh kelakuannya yang aneh serta melanggar kebiasaan itu. Orang itu tertawa lagi, ujarnya.
"Hari itu secara kebetulan aku melihat kau berlutut di atas gunung Kim Teng San di depan Kakek Pemalas untuk minta dia menerima dirimu sebagai muridnya. Seballiknya si kakek pemalas itu tetap seperti sebuah patung malas tak menghiraukan dirimu, pada saat itulah timbul keinginanku untuk mewarisi kepandaian silat padamu."
Dia berhenti sejernak kemudian lanjutnya lagi.
"Sudah tentu, kepandaian yang kau dapat dari diriku jika dibandingkan dengan kepandaian yang didapatkan dari si Kakek Pemalas jauh lebih liehay beberapa kali lipat, aku pernah memukul rubuh dirinya"
Pada saat Ti Then untuk pertama kali menerima surat yang ditinggalnya ditambah lagi telapak tangan yang ditinggalkan di atas batu cadas, dalam hatinya telah tahu kalau kepandaiannya sangat tinggi sekali, tetap kini ketika mendengar kalau dia pernah mengalahkan diri si kakek pemalas Kay Kong Beng hatinya malah merasa tidak percaya, oleh karena selama puluhan tahun kakek pemalas Kay Kong Beng telah dianggap sebagai jago nomor wahid di dalam Bu-lim, kepandaian silat yang dimilikinya sejak dahulu telah dikenal oleh orang-orang Bu-lim, bahkan tidak pernah terdengar berita ada orang yang bisa bertempur seimbang dengan dirinya, semakin tidak pernah didengar pula kalau dia pernah dikalahkan oleh orang lain.
Kini.
"Majikan patung emas"
Itu mengaku pernah mengalahkan diri si kakek Pemalas sudah tentu dia tidak mau mempercayai perkataannya itu Agaknya orang itu tahu kalau Ti Then tidak mau percaya atas perkataannya, sambil tetap tertawa ujarnya lagi.
"Bilamana kau tidak percaya pada kesempatan dikemudian hari kau boleh bertanya pada dirinya apa dia pernah dikalahkan oleh seorang yang bernama majikan patung emas......he...he...he... aku pikir tentunya dia tidak berani mengakuinya oleh karena dia tahu., kalau aku belum mati"
"Aku akan mempercayainya"
"Kini kau tidak percaya juga tidak mengapa"
Sahut majikan patung emas itu sambil tertawa.
"Pokoknya pada suatu hari tentu kau dapat membuktikan kebenaran perkataanku ini"
"Tetapi aku tidak punya minat untuk belajar kepandaian dari dirimu"
Ujar Ti Then tiba-tiba.
Agaknya majikan patung emas itu tidak pernah menyangka kalau Ti Then dapat mengucapkan perkataan itu, untuk sesaat lamanya dia dibuat tertegun agaknya.
Setelah lewat beberapa saat lamanya barulah tanyanya.
"Kenapa kau tidak punya minat?"
"Oleh karena aku tidak mau berhutang budi dari dirimu"
Sahut Ti Then dengan kukuhnya. Sehabis berkata dengan cepat dia membalikkan tubuhnya meninggalkan gua tersebut.
"Tunggu sebentar"
Seru majikan patung emas itu dengan keras. Dengan cepat Ti Then menghentikan langkahnya, tanyanya dengan perlahan.
"Ada petunjuk apa lagi?"
Kau tidak ingin berhutang budi dari diriku apakah dikarenakan aku tidak mau mengangkat kau sebagai muridku?"
Ti Then mengangguk dengan perlahan, sahutnya.
"Benar, Bilamana kau mau menerima aku sebagai muridmu..dengan begitu hubungan kita adalah guru dengan murid, sudah tentu sebagai murid dapat belajar kepandaian dari dirimu. Kini kau. tidak mau menerima aku sebagai murid sudah tentu aku tidak punya alasan untuk belajar kepandaian dari dirimu"
"He..hee..kelihatannya sifatmu amat jujur dan polos. he... he. ."
Ti Then tidak menyawab, dengan melanjutkan langkah kakinya dia berjalan keluar dari dalam gua.
"Jangan pergi dulu"
Teriak majikan patung emas itu.
"Bagaimana jika kita saling bertukar beberapa syarat?"
"Saling bertukar syarat?"
Tanya Ti Then sambil memutarkan tubuhnya.
"Aku akan menurunkan kepandaian silat pada dirimu hingga kau dapat menjadi jago nomor tiga dalam dunia ini, sedang kau melakukan pekerjaan bagiku sebagai pembalasannya"
"Apa yang kau maksudkan dengan jago nomor tiga dari dunia?"
Tanya Ti Then sambil tertawa.
"Artinya aku punya cara untuk membuat dirimu berubah menjadi seorang jago yang memiliki kepandaian sangat tinggi dan dapat menjagoi seluruh dunia selama setengah tahun ini. Selain aku beserta si Kakek pemalas kau dapat dihitung paling lihay dalam dunia ini"
Hati Ti Then menjadi tErtarik akan perkataannya, bukannya dia punya ambisi untuk menjadi jago nomor tiga dalam dunia melainkan karena dia merasa bilamana dia dapat berhasiI melatih ilmu hingga setinggi itu maka urusan pribadinya dapat diselesaikan dengan sangat mudah.
Maka tanyanya lagi.
"Benarkah kau dapat mengubah aku menjadi jago nomor tiga di dalam dunia ini ?"
"Sama sekali tidak ada persoalan. sesudah kau selesai melatih ilmumu bilamana di dalam Bu-lim kau bisa menemui orang yang bertempur seimbang dengan dirimu, maka kau dapat mengnapus perjanyian diantara kita dan tidak usah melakukan pekerjaan sesuai dengan perintahku"
Dia berhenti sejennk, kemudian lanjutnya lagi.
"Sudah tentu kau tidak dapat sengaja mengaiah kepada orang lain kemudian mengingkari perjanyian kita"
"Bilamana aku menyanggupi sudah tentu tidak akan berbuat pekerjaan seperti itu."
Sahut Ti Then tegas.
"Kau menyanggupi tidak?"
"Kau menjuruh aku berbuat pekerjaan apa?"
Tanya Ti Then.
"Mudah sekali permintaanku, aku hanya ingin kau berbuat seperti ini, ha...ha.. ha .."
Sambil tertawa dia mulai menggerakkan kaki serta tangan patung ema tersebut. Semula Ti Then menjadi tertegun dibuatnya, kemudian sambil.tersenjum sahutnya.
"Maaf saja. Aku bukan seorang pandai besi, sudah tentu tidak bisa membuat patung seperti itu"
"Kau telab menyalahkan artiku, aku bukannya minta kau buatkan sebuah patung besi bagiku, apa yang aku perintahkan maka kau lakukanlah perintahku itu tanpa mernbantah."
Di dalam hati sekali pun Ti Then merasa amat gusar tetapi tidak sampai diperlihatkan pada wajahnya, dengan angkat kepalanya dia tertawa keras kemudian membalikkan tubuhnya dengan langkah yang lebar berjalan keluar dari dalam gua.
Melihat hal itu segera majikan patung emas berseru.
"Bagaimana bila kau dengarkan dulu perkataanku baru pergi?"
Ti Then tidak mau memperdulikan dirinya lagi dan tetap melanjutkan langkahnya berjalan keluar dari gua itu. Tiba-tiba terdengar majikan patung emas tersebut berteriak dengan keras.
"Syarat ini hanya berlaku selama satu tahun saja, sesudah lewat satu tahun kau boleh bebas dan memperoleh kemerdekaan kembali untuk pergi membereskan urusanmu sendiri"
Hati Ti Then menjadi tergerak sedang langkah kakinya pun tak terasa bertambah perlahan.
Pada saat itu dalam benaknya terlintas banyak sekali persoalan yang rumit dan akhirnya dia mendapatkan satu keputusan dalam hatinya.
Sekali pun syarat pihak lawan hampir-hampir dikata tidak berperikemanusiaan, tetapi ini merupakan suatu kesempatan yang santgat bagus bagi dirinya untuk mempertinggi ilmu silatnya, bilamana dirinya harus membuang kesempatan ini dengan percuma mungkin untuk selamanya dia tidak akan mendapatkan kesempatan kedua kalinya untuk menjelesaikan persoalan sendiri yang amat rumit.
Akhirnya tubuhnya yang telah berjalan keluar dari gua itu diputar kembali, sambil tertawa tanyanya.
"Sebenarnya kau ingin aku kerjakan pekerjaan apa?"
Majikan patung emas yang melihat dia kembali menyaid sangat girang sekali, sambil tertawa terbahak-bahak sahutnya.
"Sekarang kau tidak perlu bertanya, menanti setelah kau selesai belajar silat tentu aku akan beritahukan padamu"
"Urusan ini harus diterangkan lebih jelas lagi,"
Ujar Ti Then.
"Kalau tidak bilamana pada waktu itu kau menjuruh aku menerjang lautan api apa aku harus melakukannya juga?"
"Menerjang lautan api hanya merupakan suatu gambaran saja dari ucapan seseorang. Padahal tidak ada urusan yang benar-benar begitu"
"Tetapi, dalam dunia ini banyak sekali terdapat urusan yang jauh lebih sukar dari menerjang lautan api !"
"Benar !"
Sahut majikan patung.emas.
"Tetapi tidak perduli bagaimana sukar urusan itu juga tidak akan membahajakan jiwamu. Sekali pun misaInya kau harus menerjang lautan api.
"Baiklah. Keselamatan diriku boleh tidak usah klta bicarakan, tadi kau bilang akan membuat aku sebagai patung emasmu, kau perintah aku berbuat apa aku harus melakukannya. Kalau begitu bilamana kau menjuruh aku membunuh seorang budiman aku juga harus membunuh orang itu tanpa membantah?"
Jilid 1.2. Menjadi jago nomor tiga di Bu-lim "Yang tegas memang begitu Hanya aku tidak akan memerintahkan kau untuk pergi membunuh orang"
"Benar?"
Potong Ti Then dengan cepat.
"Tugas yang kuberikan padamu kemungkinan sekali tidak dapat terhindar dari suatu pertempuran yang amat sengit dan mungkin juga harus membunuh orang, sudah tentu terserah pada kebijaksanaan serta kepandaianmu"
Mendengar penjelasan itu Ti Then termenung berpikir keras, kemudian barulah sahutnya.
"Aku kira pekerjaan yang kau hendak perintahkan tentu merupakan pekerjaan yang tidak lurus"
"Benar"
Saghut majikan patung emas sambil tertawa.
"Tetapi kau bisa menggunakan jalan yang lurus untuk menjelesaikannya, tegasnya bila aku memerintahkan kau menangkap seekor ajam, bereslah, sedang kau mau mencuri atau mau membeli aku tidak akan melarang"
Ti Then mengangguk agaknya dalam pikirannya sedang teringat akan sesuatu urusan yang menggelikan, mendadak tak tertahan lagi dia tertawa terbahak-bahak.
"Kau sedang menertawakan apa?"
Tanya majikan patung emas dengan penuh keheranan.
"Ketika di bawah gunung tad aku telah menemukan seorang kakek tua, dia biIang di atas gunung ini tidak ada yang bernama gua cupu-cupu, aku kira nama dari gua cupu-cupu ini tentu kau yang memberikan bukan?"Ha ha..."
Tidak salah."
Sahut majikan patung emas.
"Coba kau bilang tepat tidak?-"
"Memang sangat tepat sekali, aku benar-benar tidak tahu di dalam cupu-cupumu sedang menjual jamu apa? Majikan patung emas itu tertawa terbahak-terbahak, ujarnya.
"Mungkin pada suatu hari kau akan tahu, kini berilah jawaban yang tegas kau mau atau tidak? "Aku menjetujuinya"
Sahut Ti Then,"
Hanya....yang kau maksud satu tahun harus dihitung mulai kapan?"
"Sudah tentu harus dihitung sejak kau tamat dari latihan silatmu"
Ti Then menjadi sangat girang, ujarnya.
"Baiklah, sekarang silahkan kau memperlihatkan kelihayanmu untuk aku lihat dulu, aku akan membuktikan apa kau boleh dianggap sebagai jago tanpa tandingan yang memiliki kepandaian amat tinggi"
"Boleh, aku akan menggunakan patung emas ini bergebrak dengan kau""
Ti Then menjadi tertegun, tanyanya.
"Bertempur dengan patung emas ini?"
"Benar"
Sahutnya.
"Tetapi bukannya bertempur secara sungguh-sungguh, dengan menggunakan patung emas ini aku akan melancarkan satu jurus serangan kepadamu asalkan kau bisa menyebutkan jurus pecahannya sudah cukup"
"Ha..ha..sungguh menarik sekali permainan ini"
"Sesudah patung emas ini melancarkan satu jurus serangan, kau harus segera menyebutkan satu jurus pecahannya, asalkan kau tidak menyawab secara cepat maka aku akan menganggap kau telah kalah"
"Sudah tentu"
Sahut Ti Then sambil mengangguk.
"Kalau bertempur secara sungguh-sungguh, apabila aku tidak berhasil segera mengeluarkan jurus pecahannya pada saat itu mungkin aku telah terluka bahkan mungkin binasa"
"Aku dengar ilmu pedangmu amat sempurna dan telah menjagoi seluruh Bu-lim, tetapi aku akan mengalahkan kau di dalam lima jurus ini mengalahkan dirimu, aku juga tidak akan ada muka lagi untuk bertukar syarat dengan dirimu"
Sejak Ti Then untuk pertama kalinya berkelana dalam dunia kangouw selamanya sukar baginya untuk menemukan lawan yang dapat bertempur seimbang dengan dirinya, saat ini begitu mendengar majikan patung emas itu hendak mengalahkan dirinya di dalam lima jurus saja, dalam hatinya sangat tidak percaya.
Segera dia mengangguk sambil sahutnya.
"Baiklah, silahkan kau melancarkan jurus serangan"
Majikan patung emas itu tidak membuka mulutnya lagi tampak patung emasnya segera digerakkan olehnya, sepasang kakinya mendadak menarik ke belakang, tubuhnya berdiri tegak.
sedang pedangnya dilintangkan di depan dadanya.
Sikarmja mirip sekali dengan seorang manusia hidup.
Sepasang matanya memandang mendatar sedang hawa murninya dipusatkan pada pusar sehingga secara samar-samar memperlihatkan keadaan yang amat serius sekali.
Ti Then tidak berani berlaku gegabah, dengan memusatkan seluruh perhatiannya dia memandang kearahnya.
Tiba-tiba terdengar majikan patung emas itu membentak dengan keras.
"Sambutlah serangan ini""
Tubuh patung emas itu sedikit merendah, kakinya berbentuk gambar panah sedang tubuhnya mendadak berputar setengah lingkaran.
Pedang panjangnya setelah berputar di depan secara tiba-tiba meneruskan gerakannya menusuk ke depan.
Jurus ini kelihatan amat sederhana sekali dan disebut dengan jurus "Coan Sin Si Yen"
Atau memutar tubuh memanah burung seriti. Tampak jurus itu Ti Then tertawa, sahutnya dengan cepat.
"Hwi Liong Tiam Cu atau naga membalik menutul mata"
"Jurus pecahan jan amat bagus, terima lagi seranganku ini"
Begitu suara tersebut keluar dari mulutnya, pedang panjang dari patung emas itu lebih ditekan ke bawah bersamaan pula kaki kirinya diangkat ke atas, gajanya mirip sekali dengan jurus ajam emas berdiri disatu kaki, tetapi mendadak pedang panjangnya melancarkan tusukan ke depan.
Ti Then melihat jurus yang digunakan ini pun merupakan jurus "Jin Liong Jut Si"
Atau naga menjelam timbul di atas air yang merupakan jurus sangat biasa sekali dalam hatinya diam-diam merasa sangat geli, segera sahutnya.
"Sun Swi Tui Co atau mengikuti air mendorong perahu"
Mendadak kaki patung emas ini menggelincir ke depan sedang tubuhnya berputar di tengah udara, pedang panjangnya dengan mengikuti gerakan itu menusuk ke bawah.
Ti Then tidak berpikir panjang lagi, ujarnya dengan segera.
"Yu Tiau Liong Bun atau ikan melompat ke pintu naga..menjerang alismu"
Pada saat itu tubuh patung emas masih belum berdiri tegak, tampak kepalanya miring ke samping pedang panjangnya yang menusuk ke bawah mendadak mengencang dan menusuk ke atas dengan kecepatan yang luar biasa.
Air muka Ti Then segera berubah, dengan gugup serunya.
"Aku menggunakan jurus Koay meng Huan Sin atau ular aneh membalikkan tubuh"
Perkataannya baru saja keluar dari mulutnya, patung emas itu telah meloncat ke atas sedang pedang panjang ditangannya menusuk ke sebelah kiri tubuhnya.
Saat itu Thi Then telah tahu kalau kepandaian pihak lawan sangat lihay sekali sehingga sukar diukur, bukannya dia merasa sedih atas kekalahannya ini malah sebaliknya sangat gembira sekali, sambil tertawa sahutnya.
"Benar, aku mau belajar kepandaian silat dari kau dan menjadi patung emasmu selama satu tahun"
Agaknya majikan patung emas itu pun merasa sangat girang, ujarnya kemudian.
"Kalau begitu, ada suatu syarat yang harus kau ketahui terlebih dahulu, apabila kau telah menjadi patung emasku dan berani melanggar apa yang aku perintahkan bahkan tidak mau menjelesaikan tugas yang aku berikan dengan sebaik-baiknya, aku dapat membunuh dirimu"
"Baiklah!"
Sahutnya Ti Then sambil mengangguk.
"Aku akan menyanggupi syaratmu itu dan kini silahkan kau turun untuk memperlihatkan dirimu"
"Tidak"
Ujar majikan patung emas.
"Mulai hari ini juga hingga saat kau selesai belajar kepandaian silat aku akan tetap berdiam terus di atas atap dinding gua ini"
Mendengar perkataan itu Ti Then menjadi tertegun, tanyanya.
"Kalau begitu kau akan menggunakan cara apa untuk memberi pelajaran ilmu silat kepadaku?"
Sambil menggerakkan kaki tangan patung emasnya dia tertawa terbahak-bahak, sahutnya.
"Aku akan menggunakan patung emas ini menurunkan ilmu silat kepadamu"
Sekali lagi Ti Then menjadi tertegun dibuatnya, serunya.
"Kalau begitu...apa kau tidak akan makan untuk selamanya?"
"Aku akan makan dan akan tidur di atas atap dinding gua ini juga"
"Oooh.."
"Besok pagi kau harus turun gunung untuk membeli bahan makanan serta peralatan yang diperlukan, besok lusa aku akan mulai menurunkan pelajaran ilmu silat padamu"
"Kau..kenapa kau harus berbuat secara demikian?"
"Ini merupakan rahasiaku!"
"Tidak dapat diberitahukan kepadaku?"
Tanya Ti Then.
"Tidak dapat"
Sahut majikan patung emas itu.
"Kau tidak perlu tahu dan lebih baik tidak usah bertanya terus, hal ini akan mendatangkan celaka bagi dirimu"
"Ehmm..."
"Baiklah"
Ujar majikan patung emas itu lagi.
"Kini cuaca telah mulai gelap, malam ini kau tidurlah di dalam gua ini bilamana perutmu telah lapar di atas batu cadas di belakang tubuhmu telah tersedia rangsum untukmu"
"Sekarang perutku masih belum lapar, aku pikir hendak mandi dulu di mata air"
Tiba-tiba terdengar Majikan patung emas itu berbicara lagi, ujarnya.
"lima puluh langkah di sebelah barat diluar gua terdapat sebuah mata air dan ini merupakan persediaanku selama setengah tahun mendatang ini, janganlah kau bikin kotor"
"Baik"
Sahut Ti Then singkat.
"Ada lagi, apa kau akan menggunakan kesempatan ini untuk melarikan diri?"
"Keinginanku ini tumbuh dari lubuk hatiku, buat apa harus melarikan diri?"
Sahut Ti Then.
"Itulah lebih bagus, kau pergilah!"
Ti Then memutar tubuhnya berjalan keluar dari dalam gua dan pergi mencari sumber air di gunung untuk mandi, agar air yang dingin dan segar itu membuat seluruh tubuhnya terasa segar dan bersemangat kembali.
Pada saat itu rembulan telah terpancang jauh ditengah angkasa yang telah berubah menjadi hitam gelap itu, dengan termangu-mangu dia membaringkan diri ditengah mengalirnya sumber air itu, dengan tenang dia mengingat kembali pengalaman aneh yang dialaminya hari ini serta memikirkan keputusan hati dirinya.
Terhadap keputusannya untuk menjadi patung emas selama satu tahun dan mau mengikuti segala perintah majikan patung emas, dia sama sekali tidak menjesal.
Sekali pun dia tahu pekerjaannya amat memalukan sekali tetapi dia pun merasa kalau inilah satu-satunya kesempatan yang paling baik bagi dirinya untuk memperoleh pelajaran ilmu silat yang sangat mengejutkan..satu-satunya jalan pula untuk menjelesaikan persoalan pribadinya yang terasa amat sulit itu.
Sekarang, terhadap gerak-gerik serta cara bertindak di dalam segala persoalan dari majikan patung emas itu dia amat merasa terkejut dan tidak mengerti.
Dengan tidak henti-hentinya dia putar otak, memeras keringat untuk memperoleh jawaban, siapa dia sebenarnya?
Kenapa dia tidak mau memperlihatkan wajahnya?
Dia minta dirinya menjadi patung emas sebenarnya punya tujuan apa?
Semua persoalan ini tidak dapat diperoleh jawabannya saat ini, tetapi masih ada suatu hal yang masih dapat dia simpulkan.
Majikan patung emas itu tidak mau memperlihatkan wajah sesungguhnya, semuanya bukanlah dikarenakan wajahnya yang tumbuh sangat jelek sehingga takut diperlihatkan pada orang lain.
Oleh karena dia tidak selalu menyembunyikan diri di atas atap dinding gua itu, dia telah memancing dirinya..Ti Then..dari gunung Kim Teng San yang amat jauh letaknya hingga ke tempat ini.
Dengan demikian, kalau majikan patung emas itu berani memperlihatkan wajah aslinya di depan banyak orang, kenapa kini tidak mau menampilkan dirinya untuk bertemu muka dengan dirinya.
Dari hal ini dia dapat mengambil dua kesimpulan lagi.
Pertama Majikan patung emas itu tentu sedang menggunakan dirinya untuk menjelesaikan suatu rencana yang tidak jelas sebaliknya dia pribadi tidak ingin tersangkut secara langsung di dalam urusan ini.
Kedua, mungkin dia adalah merupakan seorang jago berkepandaian tinggidari Bu-lim yang dia kenal baik.
Oleh karena itu dia tidak ingin bertemu muka secara langsung dengan dirinya.
Kepandaian dari majikan patung emas itu memang benar-benar sangat tinggi sekali, bahkan tenaga pukulannya juga merupakan jago yang sukar untuk dicarikan tandingannya, terbukti dia dapat menekan batu cadas yang besar sehinggga meninggalkan bekas telapak tangan sedalam tiga cun.
Teringat kembali oleh Ti Then terhadap setiap bekas telapak tangan yang ditinggalkan majikan patung emas di tengah jalan, teringat kembali keempat jurus serangan ilmu pedang yang mengalahkan dirinya barusan ini, tidak terasa lagi pikirannya semakin terjerumus ke dalam lamunan yang memabokkan.
Keesokan harinya, dengan perantara patung emasnya majikan patung emas itu memberikan lima puluh tail perak serta sbuah daftar keperluan yang dibutuhkan untuk mereka kepada diri Ti Then dan memerintahkan dirinya untuk membeli barang-barang keperluan sesuai dengan perintahnya itu.
Dengan menurut perintah Ti Then berjalan turun gunung, setelah melakukan perjalanan sejauh kurang lebih lima puluh li barulah ditemukan sebuah dusun kecil yang sangat ramai, ketika dia berhasil mengangkut seluruh kebutuhan serta bahan makanan ke atas gunung Lo Cin San cuaca pun telah mendekati magrib kembali.
Dengan bagi dua kali jalan, barang-barang kebutuhan serta bahan makanan berhasil dimasukkan ke dalam gua cupu-cupu di atas puncak gunung, kemudian segera memasang api memasak air.
Tanya Majikan patung emas itu.
"Waktu dahulu apa kau pernah melakukan pekerjaan seperti ini?"
"Tidak pernah"
Sahut Ti Then singkat.
"Dapat masak sajur?"
Tanya Majikan patung emas itu lagi.
"Apabila kau tidak terlalu membicarakan rasa dari setiap masakan, kemungkinan masih boleh juga mematangkan sajur-sajur ini"
Majikan patung emas itu tertawa keras, ujarnya lagi.
"Bila aku tidak membicarakan soal rasanya dari setiap masakan sama saja dengan kau makan daging elang tanpa menggunakan garam"
Mendengar perkataan itu Ti Then menjadi termangu-mangu, katanya.
"Di dalam perjalanan ini kau selalu membuntuti diriku?"
"Tidak salah!"
Sahut Majikan patung emas.
"Aku harus mengetahui apakah ditengah jalan kau bisa berubah pikiran atau tidak"
"Kalau begitu, kenapa kau begitu teganya melihat aku hampir-hampir mati tetapi sama sekali tidak turun tangan memberi pertolongan?"
"Kau menanyakan peristiwa ditengah pegunungan yang sunyi kemarin siang itu?"
Tanya Majikan patung emas.
"Benar"
Sahut Ti Then.
"Waktu itu aku telah empat hari lamanya tidak makan sebutir nasi pun, hampir-hampir saja mati saking laparnya"
Majikan patung emas itu tertawa terbahak-bahak, ujarnya.
"Aku tahu kalau kau sangat lapar dan dahaga sekali, tetapi ketika kemarin kau rubuh ke atas tanah dan tidak bergerak lagi aku telah tahu kalau kau sedang berpura-pura"
Ti Then berdiam diri tidak menyawab dan menggoreskan korek api untuk membuat api. Terdengar majikan patung emas itu berkata lagi.
"Tujuanmu pura-pura mati kemarin siang ada dua, tujuan yang pertama adalah untuk memancing datangnya burung elang itu untuk kau dahar, sedang tujuan yang kedua adalah memancing munculnya diriku, bukankah begitu?"
"Tidak benar"
Sahut Ti Then dengan tawarnya.
"Sama sekali aku tidak pernah mem punyai ingatan kalau kau sedang membuntuti diriku"
"Benarlah"
Sahut Majikan patung emas sambil tertawa keras.
"Sekali pun dahulu aku tidak pernah tahu kalau kau adalah Hek Ie hiap, Ti Then adanya. Tetapi ketika aku mengawasi secara diam-diam segala gerak-gerikmu ditengah perjalanan segera telah kuketahui kalau kau merupakan seorang pemuda yang amat cerdik lagi licin...saking licinnya hingga seperti seekor rase"
"Bila aku adalah seekor rase maka kau tentunya merupakan seekor siluman rase pula"
Perkataannya ini bilamana ditinyau dari keadaan situasi sekarang ini dimanan orang itu hendak menurunkan kepandaian silat kepada dirinya boleh dikata sangat tidak hormat sekali, tetapi perkataan itu meluncur keluar dari mulutnya tanpa dipikir lebih panjang lagi oleh karena dia hanya sangat kagum dan memuji terhadap kepandaian silatnya yang amat tinggi, tetapi sama sekali tidak memuji atau kagum terhadap tingkah lakunya, sebab dia menganggap kalau dirinya sedang melakukan pertukaran syarat dengan orang itu jadi sama sekali tidak perlu bersikap hormat terhadapnya.
Siapa tahu majikan patung emas itu sama sekali tidak dibuat gusar oleh perkataannya itu, sambil tertawa terbahak-bahak sahutnya.
"Tidak salah, memang aku harus disebut siluman rase, siluman rase yang memiliki pikiran serta kepandaian yang tinggi"
Tidak lama, sajuran serta nasi yang ditanaknya dengan amat sederhana itu telah matang, sambil menghembuskan napas lega, Ti Thenangkat kepalanya bertanya.
"Dengan cara apa aku harus mengantar makanan ini untukmu?"
"Taruh saja di atas batu cadas tepat di bawahku itu sudah cukup"
Dengan mengikuti perkataannya Ti Then meletakkan sajuran serta nasi itu di atas batu cadas, dengan menggunakan kesempatan ketika mundur ke belakang itu dengan tergesa-gesa dia melirik sekejap ke atas tetapi yang dilihatnya hanya tempat yang amat gelap saja.
Ujar Majikan patung emas itu secara tiba-tiba.
"Kita masih ada waktu untuk berkumpul selama setengah tahun lamanya, aku harap kau jangan begitu keheran-heranan melihat ke atas, hal ini sangat berbahaja terhadap keselamatanmu"
Hati Ti Then serasa berdesir, dengan tertawa yang dipaksa sahutnya.
"Pada suatu hari bila aku tahu siapakah kau sebenarnya bukankah kau akan segera membunuh diriku?"
"Tidak salah"
Sahut majikan patung emas itu dengan dinginnya.
Ti Then tidak mengucapkan kata-kata lagi dan mengundurkan diri ketempat semula untuk mulai mendahar mengisi kekosongan perutnya.
Dengan perlahan-lahan majikan patung emas mengambil nasi serta sajuran yang berada di atas batu cadas itu, tak lama kemudian terdengar sambil mendahar ujarnya dengan tertawa.
"Bagus sekali, masakanmu ternyata tidak jelek"
Ti Then tetap tidak membuka mulutnya untuk berbicara, bukannya dia tak senang berbicara dengan majikan patung emas sebaliknya memangnya dia merupakan seseorang yang pendiam dan wegah untuk berbicara lebih banyak.
Ketika majikan patung emas itu mendengar tidak ada lagi jawaban, mendadak tertawa lagi ujarnya.
"Ti Then, ada orang bilang kau merupakan seorang yang sangat aneh serta misterius sekali, kenapa begitu?"
"Karena orang-orang di dalam dunia kang-ouw hanya tahu aku bernama pendekar baju hitam Ti Then saja, sedang tentang lainnya tidak seorang pun yang mengetahuinya"
"Siapa suhumu?"
Tanya majikan patung emas lagi.
"Tidak tahu!"
Majikan patung emas itu segera tertawa tergelak, tanyanya kemudian.
"Siapakah orang tuamu tentunya kau tahu bukan?"
"Juga tidak tahu"
Sahutnya sambil menggelengkan kepalanya. Sekonyong-konyong majikan patung emas itu tertawa terbahak-bahak dengan kerasnya, ujarnya."
"Baik, baiklah. Masih tetap pada perkataan kemarin malam, aku mem punyai rahasia yang tidak dapat diberitahukan kepada orang lain, kau pun mem punyai rahasia yang tidak dapat diberitahukan kepada orang lain, sejak hari ini juga aku tidak akan menanyakan urusan apa pun terhadap dirimu"
Ti Then hanya tertawa-tawa sahutnya.
"Bukannya aku tidak ingin memberitahu padamu, sebaliknya memangnya aku benar-benar tidak mengetahuinya"
Suara tertawa tergelak dari majikan patung emas itu semakin keras, suaranya bergema tak henti-hentinya di dalam gua yang kosong melompong itu membuat telinga Ti Then serasa berdengung dengan tak hentinya.
Pada hari ketiga, pagi-pagi sekali majikan patung emas itu sudah mulai mewarisi ilmu silatnya pada Ti Then, dengan menggunakan patung emasnya dia mula-mula mengajar suatu ilmu pukulan yang amat aneh tetapi sakti sekali.
Oleh karena perubahan yang terdapat di dalam ilmu pukulan itu sangat banyak serta mendalam sekali artinya, maka selama satu hari penuh Ti Then hanya berhasil mengingat seperlima dari rangkaian ilmu pukulan tersebut.
Sampai pada hari ketujuh barulah dia berhasil mengingat-ingat serangkaian ilmu pukulan itu.
Saat itulah majikan patung emas baru mulai menjelaskan kegunaan dari setiap jurus ilmu pukulan itu, berturut-turut selama tiga hari lamanya barulah Ti Then berhasil menjelami seluruh inti serta kegunaan dari ilmu pukulan itu.
Tetapi memahami bukannya berarti telah terlatih hingga matang, maka pada malam kesepuluh, ujar Majikan patung emas itu.
"Mulai besok kau boleh berlatih ilmu pukulan itu seorang diri diluar gua, ilmumu haruslah kau latih hingga bisa memukul balok kaju hingga sedalam tujuh cun, saat itulah kau baru dapat dianggap sudah matang tiga bagian"
Keesokan harinya Ti Then dengan mengikuti perintahnya berlatih ilmu pukulan itu seorang diri diluar gua, sebenarnya dia memang sudah memiliki bakat yang sangat bagus sehingga setelah berlatih beberapa kali mendadak dengan mengerahkan tenaganya dia melancarkan pukulan kearah sebuah pohon besi yang sangat besar sekali.
"Kraaak...."
Pohon besi yang sangat besar itu dengan mengeluarkan suara yang amat nyaring telah terpukul rubuh hingga menjadi dua bagian.
Melihat hal itu Ti Then menjadi amat girang, sambil berlari ke dalam gua teriaknya.
"Aku sudah berhasil...aku sudah berhasil"
Siapa tahu majikan patung emas itu dengan tertawa dingin ujarnya.
"Bukankah kau berhasil memukul rubuh sebatang pohon besar?"
"Benar"
Sahut Ti Then. Pohon itu sangat besar sekali, dahulu aku belum pernah berhasil berbuat seperti ini"
"Mungkin kau telah lupa akan rahasia yang telah aku terangkan padamu, aku memerintahkan kau untuk berlatih hingga pukulanmu dapat meninggalkan bekas telapak pada pohon itu sedalam tujuh cun, bukannya meminta kau untuk pukul rubuh pohon tersebut"
Ti Then menjadi tertegun atas perkataannya itu, bantahnya.
"Tetapi bukankah memukul rubuh sebatang pohon jauh lebih lihay daripada hanya meninggalkan bekas pukulan telapak sedalam tujuh cun pada batang pohon itu?"
"Tidak, pukulan dahsyat yang hanya meninggalkan bekas telapak sedalam tujuh cun tetapi tidak sampai merubuhkan batang pohonnya sendiri barulah dapat disebut lihay"
Dengan kebingungan ujar Ti Then lagi.
"Tetapi untuk memukul hingga meninggalkan bekas sedalam tujuh cun itu harus menggunakan tenaga yang besar, dengan demikian pohon itu mungkin akan ikut tumbang pula"
Majikan patung emas itu tertawa ringan, sahutnya.
"Agaknya aku harus memberi suatu contoh padamu baru dapat membuat kau benar-benar paham"
"Silahkan memberi petunjuk"
"Pada tahun yang telah silam aku pernah menggunakan sebatang pedang membunuh seseorang, pedangku dengan satu kali sambaran saja sudah berhasil memutuskan pinggang pihak lawan, tetapi dia sama sekali tidak merasa bahkan tetap memaki-maki terus kepada diriku, menanti ketika dia mulai menggerakkan kakinya tubuh yang bagian atas baru lepas dari tubuhnya bagian bawah, tahukah hal ini apa sebabnya?"
Selamanya Ti Then belum pernah mendengar peristiwa yang demikian anehnya, tidak terasa lagi dia menjadi sangat terkejut, tanyanya.
"Apa sebabnya?"
"Sebabnya karena gerakan pedangku terlalu cepat sehingga sama sekali dia tidak tahu kalau pedangku telah berhasil membabat putus pinggangnya, seseorang bilamana tidak tahu kalau dirinya sebenarnya telah "binasa", maka seluruh semangat serta tenaganya masih bisa mempertahankan hidupnya untuk suatu saat tertentu"
Dengan nada yang penuh keheranan dan terkejut, tanya Ti Then.
"Kau..ilmu pedangmu apa benar-benar sudah mencapai kecepatan begitu?"
"Tidak salah"
Sahut majikan patung emas.
"Pengalaman kita pada hari pertama aku memangnya telah sungguh-sungguh menggunakan jurus serangan yang sesungguhnya bertempur melawan kau, maka kau masih bisa menahan tiga buah seranganku. Padahal bila aku benar-benar turun tangan jangan dikata tiga jurus hanya cukup satu jurus pun mungkin kau sudah tidak sanggup untuk menerimanya, kepandaianku sebenarnya mengutamakan kecepatan gerak"
"Aku dengar katanya kepandaian dari kakek pemalas Kay Kong Beng juga mengutamakan gerakan yang cepat"
Ujar Ti Then.
"Sekali pun ilmu pedangnya sangat cepat tetapi dia tidak secepat diriku, aku dapat melancarkan tujuh kali serangan tusukan di dalam sekejap, sebaliknya dia hanya bisa mencapai lima kali tusukan saja"
Dia berhenti sejenak kemudian tanyanya lagi.
"Kini sudah paham belum?"
"Sudah paham"
Sahut Ti Then sambil mengangguk.
"Kalau begitu, teruskanlah berlatih dengan rajin"
Ti Then memutarkan tubuhnya dan berlalu dari tempat itu, tetapi baru saja berjalan beberapa langkah telah berhenti lagi, tanyanya.
"Menurut penglihatanmu aku harus berlatih berapa lama hingga bisa berhasil memukul hingga meninggalkan bekas pukulan sedalam tujuh cun pada batang pohon tetapi tidak sampai mematahkannya"
Mendengar pertanyaan itu majikan patung emas termenung berpikir keras beberapa saat lamanya, kemudian barulah sahutnya.
"Bakatmu tidak jelek, asal berlatih dengan rajinnya setiap hari kemungkinan sesudah setengah bulan baru berhasil"
"Ehmm.."
Sahut Ti Then kemudian bertindak keluar dari dalam gua dan mulai berlatih lagi dengan rajinnya.
Berturut-turut dia berlatih selama lima hari lamanya, pukulannya telah berhasil meninggalkan bekas pukulan sedalam satu cun pada batang pohon tanpa menggojangkan tubuh pohon itu sendiri, setelah itu setiap tiga hari dia berhasil menambah satu cun lagi, tidak salah lagi setelah setengah bulan lamanya akhirnya dia berhasil mencapai hasil seperti apa yang diminta oleh Majikan patung emas itu.
Pada bulan yang kedua dia mulai mempelajari suatu rangkaian ilmu telapak dari Majikan patung emas itu.
Ilmu telapak ini jauh lebih sukar dipelajari jika dibandingkan dengan ilmu pukulan.
Jurus-jurus serangannya amat ruwet dan sukar apalagi tenaga pukulan telapaknya harus berhasil meninggalkan bekas telapak sedalam satu cun pada permukaan batu cadas yang sangat keras bahkan tidak diperkenankan kalau sampai permukaan batu menjadi hancur oleh pukulannya.
Dengan tidak mengenal lelah Ti Then , berlatih keras selama empat puluh hari lamanya dan akhirnya berhasil juga dia menguasai ilmu telapak itu.
Jika dihitung dengan jari sejak dia naik gunung hingga kini telah dua bulan lamanya, sedang di dalam dua bulan ini boleh dikata merupakan penghidupan yang paling susash selama hidupnya, tetapi dengan tidak mengenal lelah dan letih dia berlatih terus dengan rajinnya karena dia seratus persen telah percaya kalau majikan patung emas itu akan berhasil membuat dirinya menjadi jago nomor tiga di dalam dunia Kang-ouw pada saat itu.
Majikan patung emas yang melihat cara berlatihnya amat rajin juga merasa amat gembira sekali, sesudah itu dia mulai menurunkan ilmu meringankan tubuh pada dirinya.
Sebulan telah lewat dengan cepatnya, ilmu pukulan, ilmu telapak serta ilmu meringankan tubuh yang dimiliki Ti Then telah jauh lebih maju jika dibandingkan sesaat dia mulai naik gunung.
Hari itu sesudah makan malam tiba-tiba tanya majikan patung emas.
"Ti Then, kau naik gunung sudah berapa bulan lamanya?"
"Tiga bulan lebih sembilan hari"
Sahut Ti Then singkat.
"Hee..he..perhitunganmu sungguh amat jelas sekali!"
Ti Then tidak menggubris, ujarnya lagi.
"Jaraknya dengan setengah tahun perjanyian kita masih ada kurang lebih delapan puluh hari lamanya"
"Tidak salah, kemajuan yang kau capai ternyata jauh lebih cepat dua puluh hari dari dugaanku semula, aku mengira paling cepat kau tentu harus menghamburkan empat bulan lamanya untuk berhasil melatih ilmu pukulan, ilmu telapak serta ilmu meringankan tubuh tiga macam kepandaian. Tetapi jika dilihat sekarang ini kemungkinan sekali tidak perlu setengah tahun kau sudah bisa turun gunung.
"Kau masih akan mewariskan kepandaian apa lagi kepada diriku?"
Tanya Ti Then.
"Ilmu pedang"
"Untuk ini harus membutuhkan berapa lamanya?"
Tanyanya lagi.
"Sebenarnya harus membutuhkan dua bulan lamanya"
Sahut majikan patung emas.
"Tetapi dengan kemajuanmu yang kau capai sekarang ini, kemungkinan hanya cukup satu setengah bulan sudah berhasil"
"Kalau benar-benar begitu tentunya aku akan turun gunung tiga puluh hari lebih pagi?"
"Benar"
Sahut majikan patung emas.
"Kau turun gunung lebih pagi berarti juga kau dapat bebaskan dirimu sendiri satu bulan lebih cepat, terhadap dirimu tidak ada ruginya"
"Sudah tentu, kapan kau akan mulai menurunkan ilmu pedang kepadaku?"
"Besok"
Sahut majikan patung emas singkat.
Keesokan harinya ternyata Majikan patung emas itu menepati janyinya dan mulai menurunkan ilmu pedang kepada Ti Then, baru saja dia melihat gerakan beberapa jurus serangan dari patung emas itu segera dia sadar kalau ilmu pedang ini beberapa ratus kali lipat jauh lebih sukar dilatih jika dibandingkan dengan berlatih ilmu pukulan, ilmu telapak mau pun ilmu meringankan tubuh, tetapi dia tidak memperdulikannya juga, dia tahu bahwa orang yang mau menerima penderitaan lebih dahulu itulah yang dapat mencapai kesuksesan.
Meski pun begitu untuk menjelesaikan kesukaran dirinya pun mau tak mau dia harus mengukuhkan pendiriannya untuk tetap berlatih dengan sabarnya.
Di dalam sekejap saja satu setengah bulan telah lewat dengan cepatnya, ilmu pedangnya telah mencapai pada taraf yang hampir-hampir dirinya sendiri tidak percaya, di dalam satu kali gerakan pedangnya dia dapat membabat putus tiga batang lilin tanpa menggerakkan lilin itu sendiri dari tempat semula.
Melihat kemajuan itu, majikan patung emas menjadi sangat girang sekali ujarnya.
"Sudah cukup!"
Ti Then, dalam dunia kangouw saat ini selain aku serta si kakek pemalas Kay Kong Beng tidak akan ada lagi seorang pun yang merupakan tandinganmu"
"Aku pun merasa kalau aku telah berubah menjadi seorang lain"
Sahut Ti Then dengan perlahan.
"Kini apakah aku benar-benar telah menjadi jago nomor tiga dalam dunia kang-ouw, aku masih membuktikan dengan mata kepalaku sendiri"
"Kecuali kalau di dalam bu-lim masih terdapat jago-jago berkepandaian tinggi yang menyembunyikan diri, kalau tidak sekarang kau boleh dikata telah merupakan seorang jago berkepandaian tinggi yang tanpa tandingan di dalam dunia kangouw"
Ti Then hanya tertawa saja, ujarnya kemudian.
"Apabila aku sampai bertemu dengan jago berkepandaian tinggi yang dapat mengalahkan diriku, aku akan segera membatalkan perjanyian kita dan tidak akan menjadi patung emasmu lagi"
"Baiklah"
Sahut majikan patung emas.
"Tetapi kau tidak dapat pura-pura kalah, bilamana kau sengaja mengalah pada orang lain, aku akan segera membunuh dirimu"
"Perkataan seorang lelaki sejati selamanya tidak akan ditarik kembali, apa yang sudah aku katakan tentu tidak akan kulanggar sendiri dan berbuat pekerjaan yang demikian memalukan"
Majikan patung emas itu hanya tertawa-tawa, ujarnya.
"Aku akan menggunakan waktu untuk membuktikannya?"
"Tetapi bilamana aku benar-benar dikalahkan orang lain, dengan cara apa aku harus membuktikan agar kau mau mempercayainya?"
"Sesudah kau turun gunung"
Sahut majikan patung emas.
"Aku akan bertindak seperti cacing di dalam perutmu, selamanya akan mengikuti jejakmu, bilamana kau sunggug-sungguh dikalahkan orang lain aku akan bisa melihatnya dengan sangat jelas"
Mendengar hal itu tidak terasa lagi seluruh bulu kuduk Ti Then pada berdiri, ujarnya.
"Kenapa secara diam-diam kau akan terus menerus mengikuti diriku?"
"Kalau tidak berbuat demikian bagaimana aku dapat memberi petunjuk serta memberi perintah kepadamu?"
"Oooh.."
Sahut Ti Then.
"Baiklah, pertanyaan yang terakhir tugasmu yang kau serahkan kepadaku apabila ada yang merupakan tugas yang bukan seharusnya diselesaikan dengan menggunakan kepandaian silat.."
Tidak menanti dia selesai berkata, memotong majikan patung emas itu dengan cepat.
"Kau dapat menjelesaikannya dengan menggunakan cara lain"
"Tetapi apabila sekali pun telah berusaha sekuat tenaga masih tetap tidak bisa membereskannya?"
"Asalkan kau telah bekerja sekuat tenaga, sekali pun tidak berhasil aku juga tidak akan menyalahkan dirimu"
"Itu pun sangat bagus, kapan aku harus turun gunung?"
Tanya Ti Then lagi.
"Sebelum aku memberi tahu tugas apa yang harus kau laksanakan untuk pertama kali ini aku harus menjelaskan padamu terlebih dahulu, sejak besok pagi kau adalah patung emasku, aku memerintahkan kau berbuat apa pun kau harus melaksanakannya tanpa membantah. Dengan perkataan lain, sekali pun kau merupakan seorang yang masih hidup tetapi merupakan sesosok tubuh tanpa nyawa, tidak memiliki akal budi, tidak tahu baik buruk dan tak ada pendapat apa pun juga. Bilamana aku menjuruh kau makan yang manis sekali pun kau tidak suka akan barang-barang yang manis juga harus dimakan, paham tidak?"
"Paham"
Sahut Ti Then sambil mengangguk.
"Tetapi hanya ada satu urusan yang aku tidak akan melaksanakannya, kau tidak boleh memerintahkan aku untuk membunuh seseorang yang berbudi"
"Baiklah"
Sahut majikan patung emas sambil tertawa.
"Tetapi untuk mengetahui baik buruknya orang-orang yang ada di dalam dunia ini sebenarnya amat sukar, apa kau bisa membedakannya?"
"Aku pasti sanggup"
Sahut Ti Then dengan mantap.
"Perkataanmu begitu tegas serta mantapnya, hal ini membuktikan kalau pengetahuanmu terhadap manusia masih sangat kurang"
"Sekali pun sangat jelas terhadap seluk beluk manusia juga tidak tentu berguna..silahkan sekarang kau mulai memberi tahu tugasku yang pertama untuk aku selesaikan"
Majikan patung emas itu berdiam diri lama sekali, kemudian barulah ujarnya sepatah demi sepatah.
"Tugas pertama yang harus kau selesaikan adalah pergi mengawini seorang nona menjadi suami isteri"
Mendengar tugasnya itu Ti Then menjadi amat terkejut, dengan melongo serunya.
"Kau bilang apa?"
"Menjadi suami isteri dengan seorang nona"
"Ini mana mungkin, aku masih tidak ingin kawin terlebih dahulu"
Teriak Ti Then dengan keras.
"Harap kau perhatikan"
Sahut majikan patung emas itu dengan dinginnya.
"Kau adalah patung emasku, kau tidak punya nyawa, kau tidak tahu baik buruknya, kau tidak punya pendapat"
Ti Then mimpi pun tidak menyangka kalau tugas pertamanya yang harus dia kerjakan adalah pergi mengawini seorang nona, tidak terasa lagi hatinya menjadi amat gugup dan kacau, ujarnya.
"Tetapi.."
"Tidak ada tetapi segala"
Potong majikan patung emas itu dengan dinginnya. Ti Then menarik napas panjang-panjang, sesudah berhasil menenangkan pikirannya barulah dia berkata sambil tertawa pahit.
"Coba kau dengarkan dulu perkataanku"
Potong majikan patung emas itu dengan cepat.
"Tidak perduli kau berkata apa pun sekarang sudah terlambat"
Aku hanya menyanggupi untuk menjadi patung emasmu selama satu tahun bukannya menjual diriku untuk selamanya"
Timbrung Ti Then.
"Aku tidak pernah berkata kalau selama hidupmu kau jual padaku"
"Tetapi perkawinan merupakan suatu peristiwa yang amat besar selama hidup"
Bantah Ti Then. Satu tahun sesudah perjanyian kita habis, bilamana kau tidak suka padanya kau boleh membuang dirinya"
"Perkataan macam apa itu, apa kau kira perkawinan dapat dianggap sebagai barang mainan?"
Ujar Ti Then dengan agak gusar.
"Bilamana kau merasa tidak baik untuk melepaskan dirinya, kau boleh terus menjadi suaminya"
"Tetapi aku masih tidak ingin berkeluarga"
"Itulah pendapatmu?"
Tanya Majikan patung emas.
"Benar!"
"Hee...hee..hee..tetapi kini aku sudah menjadi patung emasku, kau tidak berhak merusak penghidupanku untuk selamanya"
"Aku tidak punya maksud untuk merusak seluruh hidupmu, aku hanya minta kau menjadi suami isteri dengan nona itu selama setahun ini, setelah satu tahun lewat kau mau atau tidak meneruskan perkawinan itu bukan urusanku lagi"
Bagaikan digujur oleh sebaskom air dingin dengan lemasnya Ti Then menyatuhkan diri ke atas tanah, semangatnya telah hancur luluh oleh perkataan itu. Sambil menghela napas ujarnya.
"He..bila sejak dari dahulu sudah tahu harus melakukan pekerjaan ini tentu aku tidak akan menyanggupinya"
"Ini salahmu sendiri kenapa tidak mau tanya lebih jelas lagi"
Sahut majikan patung emas itu sambil tertawa dingin. Dengan sedihnya Ti Then menundukkan kepalanya, dengan bingung dan perasaan menjesal pikirnya secara diam-diam.
"Hei..sungguh celaka kali ini, semula aku masih menganggap apabila aku tidak ingin pergi membunuh orang baik, tentu tidak akan ada urusan yang lebih berat lagi, mana kusangka kalau dia ternyata minta aku menjadi suami isteri dengan seorang nona"
Majikan patung emas yang mendengar dia tidak mengeluarkan suara lagi, segera tanyanya.
"Ti Then, kau menjesal bukan? "Benar!"
"Ingin melarikan diri?"
Tanya majikan patung emas itu lagi.
"Tidak"
"Itulah sangat bagus"
Sahut Majikan patung emas sambil tertawa.
"Padahal pekerjaan ini merupakan tugas yang paling menggembirakan. Jangan kita bicarakan yang lain, nona itu memiliki wajah yang amat cantik sekali dan merupakan seorang gadis cantik yang sangat jarang bisa ditemui"
Tidak terasa hati Ti Then menjadi bergerak, dengan tawar tanyanya.
"Putri siapa?"
"Putri tunggal Toa pocu dari Benteng Pek Kiam Po, Kim Liong Kiam atau si Pedang Naga Emas Wi Ci To, Wi Lian In adanya"
Mendengar disebutnya nama itu dalam hati Ti Then merasa sangat terperanyat, dengan sangat terkejut serunya.
"Ha...putri tunggal dari Wi Ci To Pocu dari Benteng Pek Kiam Po? Kau..bukankah kau punya niat untuk mencelakai diriku?"
Kiranya jika menyinggung Pek Kiam Pocu, si pedang naga emas Wi Ci To boleh dikata semua orang di dalam bu-lim tidak seorang pun yang tidak kenal nama besarnya.
Dia merupakan seorang jago berkepandaian tinggi yang sedikit di bawah si kakek pemalas Kay Kong Beng, juga merupakan seorang pimpinan yang pengaruhnya paling kuat dan paling luas di dalam bu-lim, murid-muridnya tidak terhitung banyaknya sedang dari "Pendekar Pedang Merah"nya saja yang dia ketahui sudah ada sembilan puluh sembilan orang banyaknya, oleh karena itu dia merupakan sebuah keluarga ilmu pedang yang paling kuat dan paling disegani di dalam Bu-lim.
Tetapi perasaan terkejut dari Ti Then sesudah mendengar nama itu bukannya karena kepandaian silat yang amat tinggi dari si pedang naga emas Wi Ci To, sebaliknya karena sikap serta tindak tanduk dari Wi Ci To.
Dia pernah dengar oarng bilang kalau Wi Ci To jadi orang amat gagah, ramah, sosial serta membela keadilan dan merupakan seorang giam lo ong bagi kaum penyahat di kalangan Hek to, kini Majikan patung emas menghendaki dia pergi mengawini putri tunggal dari Wi Ci To jaitu Wi Lian In, tidak dapat diragukan lagi kalau dia tentu sedang menggunakan dirinya untuk melaksanakan suatu rencana busuk, ketika majikan patung emas telah mencapai pada cita-cita, rencana kejinya segera dia dapat menghindarkan diri dan cuci tangan dari urusan ini, sebaliknya dia...Ti Then..harus melarikan diri kemana?
Kini soal yang paling penting, bagaimana dia dapat membantu seorang yang tidak jelas asal usulnya untuk pergi membunuh seorang jago berkepandaian tinggi dari kalangan lurus?
Semakin berpikir dia merasa semakin tidak tenteram, sambil angkat kepala tanyanya.
"Apa tujuanmu sebenarnya? Kenapa kau menjuruh aku memperisteri putri Wi Ci To?"
"Tentang hal ini aku akan memberitahu padamu sesudah kau menjadi menantu kesajangan dari Wi Ci To"
"Kalau begitu adanya, sekarang kau boleh turun"
Ujar Ti Then sambil tertawa pahit.
"Kau bicara apa?"
"Kau boleh turun untuk membunuh aku" -ooo0dw0ooo-
Jilid 2.1. Rusuh di Touw Hoa Yuan Untuk beberapa saat lamanya majikan patung emas itu tidak mengucapkan sepatah kata pun, kemudian dengan nada yang amat dingin bertanya.
"Kau tidak mau menurut perintahku?".
"Tidak salah ?"
Sahut Ti Then dengan tegas. Tiba-Tiba Majikan patung emas itu tertawa terbahak-bahak, ujarnya.
"Aku paham sebab apa kau tidak mau menyalankan perintah sesuai dengan perjanyian, kau takut aku memerintahkan kau pergi membunuh Wi Ci To bukan?."
"Apa mungkin aku salah menerka?"
Sahut Ti Then sambil tertawa dingin. Suara tertawa Majikan patung emas itu mendadak berhenti, dengan suara yang mantap tetapi tegas serunya.
"Sama sekali salah besar, tujuanku sama sekali tidak mendatangkan kerugian pada diri Wi Ci To mau pun anak muridrnya, yang ada adalah sesudah perjanyian kita satu tahun penuh dan kau tidak mau meneruskan menjadi suami istri dengan Wi Lian In, saat itulah akan mendatangkan sedikit kerugian dan kesedihan pada diri Wi Lian In."
"Aku tidak percaya"
Ujar Ti Then sambil menggelengkan kepalanya.
"Boleh saja aku mengangkat sumpah sekarang juga bilamana pekerjaan yang aku lakukan ini mendatangkan kerugian pada orang-orang dari Benteng Pek Kiam Po, aku akan mendapatkan kematian dengan cara yang mengerikan."
Ti Then yang mendengar sumpahnya di ucapkan begitu jujur serta tegasnya tidak terasa dia menjadi semakin bingung, ujarnya kemudian.
"Kalau benar tidak akan mendatangkan kerugian pada orang-orang dari benteng Pek Kiam Po lalu ada urusan apa sebenarnya kau menjuruh aku pergi menjadi suami Wi Lian In ?"
"Tadi aku sudah bilang, sebab musababnya aku tidak akan mernberitahukan padamu sekarang juga."
"Bagaimana ini bisa jadi, pada saat sesudah aku menjadi suami Wi Lian In bilamana kau memerintahkan aku untuk melakukan pekerjaan yang merugikan orang-orang benteng Pek Kiam Po aku akan segera membatalkan perjanyian kita sedang kau pun tidak dapat membunuh aku karena pembatalan perjanyian itu "
Majikan patung emas itu termenung berpikir keras beberapa saat lamanya, kemudian barulah sahutnya.
"Aku hanya dapat menanggung tidak sampai mengganggu seutas rambut pun dari orang-orang benteng Pek Kiam Po"
Dalam hati diam-diam Ti Then berpikir keras, asalkan satu tahun telah lewat, dirinya akan meneruskan menjadi suami istri dengan Wi Lian In atau tidak sebenarnya bukan merupakan urusan yang sangat besar, sambil menghela napas panjang sahutnya "Baiklah, tetapi ada satu hal yang harus kau ketahui, bilamana Wi Lian In tidak mau dikawinkan dengan diriku hal itu bukan salahku."
"Dengan bakat serta wajahmu"
Ujar majikan patung emas itu.
"Kemudian di tambah dengan sedikit permainan kemungkinan sekali tidak sampai tiga bulan kau telah berhasil mendapat kecintaannya!"
Dia berbenti sejenak, kemudian sambil tertawa lanjutnya lagi.
"Yang dimaksud dengan sedikit permainan, selain kau harus berusaha untuk memasuki Benteng Pek Kiam Po dan merebut kepercayaan serta kecintaan dari Wi Ci To dan putrinya kau pun harus menggunakan sedikit kepandaianmu agar Wi Lian In merasa benci dan bosan terhadap "In Tiong Liong atau sinaga mega Hong Mong Ling. Ti Then menjadi tertegun untuk sesaat lamanya dia tak dapat berbuat apa apa tanyanya kemudian. Siapa itu si Naga mega Hong Mong Ling ? "Murid kesajangan dari Wi Ci To, juga merupakan bakal suami dari Wi Lian In.
"Haaa??? Wi Lian In sudah dijodohkan kepada orang lain ? "Benar !"sahut Majikan patung emas itu.
"Itu merupakan suatu urusan yang baru saja terjadi setengah tahun yang lalu, oleh karena Si naga mega Hong Mong Ling itu tumbuh dengan wajah yang sangat tampan, bakat serta tindak tanduknya pun sangat menarik akhirnya dia berhasil memenangkan hati Wi Lian In sehingga menjadi kekasihnya bahkan dengan demikian dia berhasil pula diangkat Wi Ci To sebagai bakal menantunya."
Mendangar penjelasan itu Ti Then mengerutkan alisnya, ujarnya.
"Jika demikian adanya, kau menginginkan aku untuk pergi merusak dan mengacau perjodohan orang lain ?"
"Tidak!"
Sahut majikan patung emas.
"Menurut penglihatanku Wi Lian In jauh lebih cocok bila dijodohkan kepadamu dari pada harus dijodohkan dengan Hong Mong Ling itu."
"Kau terlaiu memuji"
Sahut Ti Then sambil tertawa tawa. Majikan patung emas itu tidak menggubris perkataannya dan lanjutnya lagi.
"Secara diam-diam aku pernah mengadakan pemeriksaan dan telah kutemui kalau Hong Mong Ling itu sekalj pun bakatnya sangat bagus tetapi sifatnya sebenarnya tidak baik hati tidak jujur secara sembunyi sembunyi sering dia keluar benteng untuk bermain dengan pelacur-pelacur"
Ti Then mengucak-ucak matanya, mendadak tertawa terbahak-bahak, ujarnya.
"Ha .. ha .. , ha ... aku sekarang paham, aku sekarang sudah paham benar-benar ...."
"Kau sudah memahami tentang apanya?"
Tanya majikan patung emas itu sambil tertawa pula.
"Kau adalah Pocu dari benteng Pek Kiam Po, sipedang naga emas Wi Ci To, bukankah begitu? "
"Ha ..ha ha ..bagaimana kau bisa punya pikiran kalau aku adalah si Pedang naga emas, Wi Ci To?"
"Sesudah kau menjodohkan putrimu kepada Hong Mong Ling karena mengetahui kalau perbuatan serta tindak tanduknya tidak lurus sehingga timbullah pikiran untuk membatalkan perjodohan ini, tetapi dikarenakan cintanya putrimu terhadap dirinya sudah sangat mendalam, di dalam keadaan yang sangat kepepet inilah terpikir olehmu akan menggunakan cara ini dan meminta aku pergi merusak hubungan seerta perasaan cinta diantara mereka berdua kemudian memperisteri putrimu itu, dengan tindakan ini kau akan berhasil menolong putrimu dari penderitaan dikemudian hari."
Majikan patung emas itu tertawa terbahak-terbahak lagi sahutnya.
"Ha ..ha . otakmu ternyata sangat tajam sekali, hanya sajang semua dugaanmu salah besar."
Ti Then mana mau mempercayai omongannya, sambil tersenjum ujarnya lagi.
"Alasanku hingga bisa kerkata demikian adalah ilmu pedang yang kau miliki jauh lebih tinggi jika dibandingkan dengan ilmu ilmu yang lain, bahkan sekali pun kau menggunakan kekerasan juga tidak akan mengganggn orang-orang dari benteng Pek Kiam Po itu, tentang hal ini saja sudah cukup membuktikan kalau kau adalah majikan dari benteng Pek Kiam Po itu."
Dengan nada yang sangat kalem dan halus sahut majikan patung emas jtu "llmu pedang dari benteng Pek Kiam Po sekali pun tidak jeiek tetapi dengan ilmu kepandaian yang kau berhasil pelajari sampai kini sudah cukup untuk mengalahkan dia di dalam ratusan jurus saja, sedang mengenai aku sekali pun menggunakan kekerasan juga tidak akan mengganggu seujung rambut pun dari orana orang benteng Pek Kiam Po tetapi aku belum pernah tidak menjetujui kalau kau mau rneninggaikan Wi Lian In sesudah perdianyian kita satu tahun penuh.
Bilamana aku adalah Wi Ci To maka aku akan memutuskan kalau selamanya kau tidak diperkenankan meninggalkan dia bahkan harus hidup bersama dengan dia hingga tua, coba kau pikir betul tidak perkataanku ini?
Pikiran Ti Then terus berputar, terasa olehnya kalau perkataannia sedikit pun tidak salah bahkan sangat beralasan sekali membuat dia segera terjerumus kedaiam pikiran-pikiran yang sangat ruwet, tetapi dia malas untuk bertanya, lebih banyak lagi dengan perlahan-perlahan mulai merebahkan diri diri di atas batu cadas dimana setiap malam dia tidur, dengan tidak bersemangat tanyanya "Kau masih mau pesan apa lagi?-"Sudah tidak ada"
Sahut majikan patung emas.
"aku hanya merintahkan padamu di dalam tiga bulan ini kau harus berhasil manyadi suami istri dengan Wi Lian In itu, perkataan lain boleh kita bicarakan tiga bulan kemudian.
"Bilamana dia tetap kukuh tidak mau dikawinkan dengan diriku lalu bagaimana? "Bila perlu, gunakanlah tentera dahulu bisa disusul dengan upacara, sehingga urusan jadi kenyataan. Saat itu aku tidak takut kalau dia tidak mau ..he, he..."
Sehabis berkata mendadak dia menyatuhkan sebuah buntalan yang kelihatan sangat berat sekali, ujarnya lagi "Di dalam buntalan itu telah aku sediakan tiga ratus tahil uang perak sebagai ongkcos jalanmu besok pagi sesudah kau turun gunung pergilah membeli beberapa buah pakaian yang bagus, kau harus dandan lebih gagah dan lebih perlente"
Dengan perlahan Ti Then bangkit dan memungut buntalan uang perak itu, sambil tertawa pahit sahutnya "Semoga saja sebelum aku berhasil mencapai benteng Pek Kiam Po dapat bertemu dengan seseorang yang bisa mengalahkan diriku ."
"Hee ..he . kecuali aku serta sikakek pemalas Kay Kong Beng jangan harap di dalam hidupmu ini bisa bertemu ddengan seorang lawan tangguh yang bisa mengalahkan dirimu"
Beberapa hari kemudian terlihatlah Ti Then telah munculkan dirinya di atas loteng kedai arak dikota Go-bi dalam keresidenan Siok Si.
Dia telah berdiam di atas loteng penjual arak ini selama tiga hari berturut turut.
Kedai arak yang memakai merek Go bi lo ini mem punyai bentuk yang paling mewah di dalam kota itu, arak mau pun masakan dari kedai itu pun merupakan yang paling baik dan paling terkenal, tetapi ke semuanya ini bukanlah dikarenakan hal ini saja sehingga loteng "-Go bi Lo"
Ini menjadi sangat ramai dan terkenal, alasan yang lebih tepat adalah dikarenakan orang-orang yang setiap hari mengunjungi kedai arak arak itu tak lebih merupakan, orang-orang dari kalangan persilatan.
Sedang kedai arak ini dapat digemari oleh orang-orang dari kalangan persilatan alasan yang paling kuat adalah dikarenakan jaraknya dengan benteng Pek Kiam Po sangat dekat sekali.
Si kakek pemalas Kay Kong Beng sekali pun dikenal oleh orang-orang Bu lim sebagai jago nomor wahid di dalam dunia saat ini tetapi benteng Pek Kiam Po ini merupakan sebuah partai perguruan yang memiliki kekuasaan paling kuat dalam Bu-lim, oleh karena itulah kota Go-bi ini boleh dikata sudah merupakan kota yang paling banyak dikunjungi oleh orang orang dari kalangan persilatan.
Setiap hari Ti Then tentu berada di dalam loteng kedai arak itu hingga jauh malam baru meninggalkan tempat itu, dandanannya masih tetap tidak berubah, ditengah rambutnya yang terurai tidak karuan terbentanglah sebuah wajah yang sangat dengkil, pada tubuhnya pun masih mengenakan pakaian compang camping yang amat kotor hanya saja pelajan dari kedai itu tak ada seorang pun yang berani memandang rendah terhadap dirinya bahkan pelajannya jauh lebih ramah daripada yang lain-lainnya.
Karena mereka-mereka itu sudah memiliki pengalaman yang sangat luas sekali, mereka tahu bentuk luaran yang semakin aneh kepandaian yang dimiliki orang itu semakin lihay, tamu-tamu semacam ini tidak boleh diperlakukan tidak sopan barang sedikit pun.
Sudah tentu hal ini termasuk juga Ti Then yang memakai pakaian tidak karuan.
Seorang pelajan kedai dengan membawa secawan teh wangi dengan perlahannya di letakkan di hadapannya, wajahnya memperlihatkan senjuman yang manis, ujarnya.
"Khek-koan si naga mega Hong Mong Ling itu sudah datang."
Tak terasa semangat Ti Then menjadi bangkit kembali, dengan perlahan tanyanya.
"Dimana? Dengan cepat pelajan itu mendekati telinganya sambil berbisik sahutnya.
"Orang yang memakai baju berwarna hijau muda dan duduk dimeja ketiga dari sini itulah dia orangnya."
Dengan cepat Ti Then menoleh memandang ke sana, terlihatlah dimeja itu duduklah dua orang pemuda yang baru saja duduk tidak lama, salah satu diantara mereka merupakan seorang pemuda yang memakai baju berwarna hijau muda sinaga mega Hong Mong Ling ...
wajahnya sangat tajam, sikapnya gagah dan merupakan seorang lelaki bagus yang sukar di carikan tandingannya, tak terasa lagi diam-diam hatinya memuji, pikirnya.
"Hm... wajahnya ternyata demikian tampannya bahkan kelihatannya merupakan seorang pemuda yang jujur dan lurus hatinya . He ... he ... tidak disangka kalau pemuda semacam ini ternyata gemar pipi licin dan suka main perempuan" . Begitu pikiran tersebut berkelebat di dalam pikirannya, segera tanyanya lagi dengan perlahan.
"Orang yang duduk bersama dia itu siapa?"
"He ...he . .. hi ..hihi..."
Pelajan itu ternyata hanya tertawa nyaring saja sedang mulutnya tetap tidak mengucapkan sepatah kata pun. Ti Then segera mengambil keluar sekeping perak dan di lemparkan ke atas bakinya,tanyanya.
"Ini ..sudah cukup tidak?"
Dengan cepat pelajan itu mengambil kepingan perak tersebut dan dimasukkan ke dalam sakunya, kemudian sambil tertawa barulah sahutnya.
"Dia adalah putra dari Hartawan Cang bernama Bun Piauw dengan sebutan "Go-bi Te Ci atau tikus rakus dari Go-bi, dia merupakan seorang putra hartawan yang suka pelesiran, pada waktu dekat-dekat ini sering sekali bersama sama dengan si naga mega Hong Mong Ling bermain dan berpesta, pada waktu seperti ini mereka minum arak di sini tetapi sesudah malam tiba mereka akan secara sembunyi sembunyi pergi ketempat pelacuran Toaw Hoa Yuan mencari pelacur terkenal Liuw Su Cen untuk main-main."
"Dimana itu letaknya tempat pelucuran Touw Hoa Yuan ?"
Tanya Ti Then sambil manggut-manggut.
"Belakang jalan raja ini ?"
"Baiklah terima kasih."
Tetapi pelajan itu tidak pergi, sambil tertawa ujarnya "Khek koan mencari Hong Kouw-ya dari benteng Pek Kiam Po ini entah ada urusan apa ?"
Dengan perlahan Ti Then mengangkat cawannya. dan meneguk habis isinya, kemudian dengan menundukkan kepalanya barulah sahutnya.
"Kau mau minta jawaban dari diriku harus beri persen dulu? "
Pelajan itu menjadi serba susah dan tidak berani bertanya lebih banyak lagi, sambil tertawa perlahan dia mengundurkan diri dari tempat itu.
Dengan cepat Ti Then menghabiskan hidangannya kemudian meletakkan sekeping perak ke atas meja kembali ke dalam penginapannya.
Tidak selang lama dia sekali lagi keluar dari penginapan itu, pada saat ini pemilik kedai serta pelajan itu dengan sinar mata yang mengandung keheran-heranan memandang kearahnya.
Kiranya seorang pemuda yang rambutnya tidak karuan serta mernakal baju compang camping yang sangat dekil itu kini telah berubah menjadi seorang kongcu yang sangat tampan serta perlente.
Tangannya dengan menggojangkan sebuah kipas yang berlapiskan emas dengan langkah serta gaja seorang hartawan dengan perlahannya berjalan menuju kesarang pelacuran Touw Hoa Yuan itu.
Pada saat itu malam terah tiba, lampu-ampu mulai dipasang menyinari seluruh tempat, sedang jalanan menuju kesarang pelacuran itu pun kelihatan mulai ramai orang yang lewat.
Saat itu Ti Then dengan langkah yang sangat perlahan telah tiba di depan sarang pelacuran, kemudian dengan tanpa riku lagi dia mulai memasuki halaman rumah itu, terlihatlah seorang penjaga tempat itu dengan cepat mempersilahkan dia untuk duduk, menjuguh teh wangi, kemudian barulah sambil tertawa katanya .
"Kongcu, kau..."
"Cepat undang ibu germo kalian ke luar"
Sahut Ti Then sambil ulapkan tangannnya, Penjaga itu menjadi termangu-mangu, sambil tertawa paksa ujarnya lagi.
"Bilamana kongcu mau mencari seorang nona untuk menemani malam ini hambamu masih bisa mencarikan satu orang untuk kongcu nikmati."
"Kau sanggup untuk mencarikan?"
Tanya Ti Then sambil melirik kearahnya.
"Benar ..benar..."
"Kalau begitu sangat bagus sekali aku akan menemui nona Liuw Su Cen?-Penjaga itu menjadi tertegun, tanyanya dengan agak gugup.
"Nona..nona Liuw Su Cen?"
"Tidak salah"
Sahut Ti Then sambil mengangguk. Air muka penjaga itu segera berubah menjadi merah padam, dengan gugup. ujarnya.
"Ini . ini . ini ."
"Bagamana ? tidak bisa bukan ? "
Ujar Ti Then sambil tertawa dingin tak henti-hentinya.
"Benar"
Sahut penjaga itu sambil ter tawa paksa ."Hanya nona Liuw seorang yang harus ditentukan oleh Ku-Ie."
Dari dalam sakunya Ti Then mengambil keluar uang perak sebanyak sepuluh tail dan dilemparkan kearahnya, sahutnya.
"Cepat undang Ku-Ie itu datang kemari ? "
Satu kali keluar uang telah memerseni sebanyak sepuluh tail perak, sekali pun pun cucu raja atau hartawan pun juga tidak akan sebanyak itu.
Dengan cepat penjaga itu menerima uang sepuluh tail perak tersebut, saking girangnya air mukanya telah berubah menjadi pucat pasi, beberapa kali dia mengucapkan terima kasihnya kemudian dengan cepat putar tubuh dan pergi.
Tidak selang lama seorang wanita berusia pertengahan yang berdandan amat menjolok telah keluar dan mendekati diri Ti Then.
Dangan segera Ti Then bangkit, tanyanya.
"Ku Ie..?"
Wanita berusia pertengahan itu mengangguk, sambil tertawa matanya tak henti-henti nya melirik kearahnya, kemudian barulah tanyanya.
"Kongcu she apa??"
"Aku she Lu "Ooh . Lu kongcu, entah berasal dari mana???"
Tanya Ku le itu sambil tertawa.
"Tiang An"
"Ooh.. senjuman yang menghiasi bibir wanita itu pun semakin manis "
"Kiranya adalah Lu Toa Kongcu yang telah datang menyambangi, maaf. .. maaf, aku tidak datang menyambut"
Ti Then hanya tertawa tawar, sahutnya.
"Mana, mana..."
"Silahkan duduk, Silahkan daduk. Kemudian kuberkata pada penjaga yang berada di samping tubuhnya.
"Cepat kau sediakan sepoci teh wangi yang paling terkenal."
Penjaga itu segera menyahut dan pergi melakukan perintahnya, setelah itulah si Ku Ie itu barulah duduk di hadapan Ti Then, sambil tersenjum katanya.
"Lu Toa Kongcu adalah seorang cerdik pandai yang telah sangat terkenal di kota Tiang An, baik di dalam hal surat mau pun pelesiran semuanya merupakan ilmu yang telah terkenal diseluruh tempat, ini hari dapat berkunjung ketempat ini sungguh merupakan kebahagiaan dari kami semua"
"Ha ..ha.. mana, mana...aku pernah mendengar katanya wajah dari nona Liuw amat cantik bahkan tak ada bandingannya di dalam kota ini kali ini dari tempat jauh aku datang kemari harap Ku Ie mau memenuhi harapanku ini."
Ku Ie itu menjadi demikian girangnya, sahutnya dengan cepat.
"Su Cen bisa mendapatkan perhatian yang demikian besarnya dari Lu Toa kongcu sungguh sangat beruntung sekali, harap kongcu tunggu sebentar aku akan panggil dia datang. Sehabis berkata dengan cepat dia bangkit dan berlalu. Tidak lama kemudian seorang gadis cantik yang mem punyai bentuk tubuh ramping kecil serta sangat padat dengan sangat menggiurkan sekali berjalan di belakang tubuh Ku le itu, lagaknya kemalu maluan seperti seorang gadis pemalu. Pelacur terkenal Liuw Su Cen ini usianya baru tujuh-delapan belas tahunan, mem punyai bentuk wajah seperti kwaci, alisnya hitam disertai dengan sepasang matanya yang sangat indah, bibirnya kecil mungil berwarna merah sedang kulit tubuhnya putih bersih bagaikan salju, ditambah lagi dandanan yang memakai barang yang paling mahal, sehingga sangat mirip sekali dengan seorang bidadari yang turun dari kahjangan. Ku le yang melihat sikap kemalu maluan darinya segera menarik ke hadapan Ti Then, sambil tertawa ujarnya.
"Cen-ji, cepat beri hormat kepada Lu Toa Kongcu ini, dia adalah putra dari panglima Tiang An Pembesar Lu Aan merupakan seorang siucay yang sangat terkenal dikota Tiang An, ini hari dengan tidak menghiraukan perjalanan yang jauh datang menyambangi dirimu."
Dengan sikap, yang mash kernalu-maluan Liuw Su Cen dengan sangat hormatnya memberi hormat pada Ti Then, kemudian dengan merdu ujarnya .
"Lu Toa kongcu harap memberi petunjuk."
Ku le itu pun tersenjum, ujarnya kemudian.
"Sudahlah, marl aku akan memimpin kongcu menuju ke dalam kamarnya,"
Ti Then dengan tanpa sungkan lagi berdiri dan mengikuti di belakang tubuhnya berjatan masuk, sesampainya di depan pintu sebuah kamar yang pintunya tertutup horden dengan perlahan Ku Ie itu mendorong dirinya artinya menjuruh dia masuk ke dalam kemudian barulah ujarnya dengan perlahan .
"Aku akan pergi memerintah orang untuk membantu kongcu menjediakan arak serta sedikit sajuran."
Sehabis berkata dengan perasaan yang amat girang meninggalkan tempat tersebut.
Dengan perlahan-lahan Ti Then menyingkap tirai itu dan berjalan masuk, terlihatlah Liauw Su Cen itu dengan menundukkan kepalanya duduk di depan meja rias segera dia maju ke depan memberi hormat, sambil tersenjum ujarnya.
"Kedatanganku yang mengganggu ketenangan nona harap nona tidak sampai marah. Liuw Su Cen pun segera membungkukkan tubuhnya membalas hormat, sahutnya sambil tersenjum.
"Mana, mana kongcu silahkan duduk."
Dengan perlahan Ti Then duduk ke atas kursi sedang matanya dengan tak henti-hentinya berputar menikmati keindahan dari kamarnya itu, diam-diam pikirnya.
"Hm .. tak nyana kamar ini dapat diatur demikian rapi serta indahnya Sinar matanya dengan perlahan dialihkan ke atas wajah gadis itu, dan katanya."
"Aku telah lama mendengar tentang kecantikan serta kecerdikan dari nona setelah bertemu hari ini dan dapat melihat dengan mata kepala sendiri atas kecantikan wajah nona membuat aku benarbenar merasa sangat beruntung sekali.
"Ha.. .kongcu terlalu memuji, dengan kejelekan wajahku ini ternyata bisa mendapatkan pujian serta perhatian dari kongcu membuat aku merasa amat malu."
"Aku dengar katanya nona Liuw bukan saja berwajah cantik tetapi kepandajan di dalam menari menyanyi mau pun membuat syair sangat tinggi sekali, malam ini aku sangat mengharapkan nona mau memamerkan di hadapanku agar aku benar benar terbuka mata untuk menikmatinya. -Wajah Liuw Su Cen itu segera berubah menjadi kemerah merahan, ujarnya dengan kemalu maluan.
"Hanya sedikit permainan yang sangat jelek masih mengharapkan Lu kongcu jangan sampai mentertawakan."
Pada saat kedua orang bercakap-cakap itulah seorang pelajan dengan membawa arak serta sajuran masuk ke dalam kamar.
Liuw Su Cen melihat sajur serta arak telah dihidangkan, dengan lemah lembut yang sangat menggiurkan ujarnya.
"Kongcu silahkan duduk."
"Terima kasih atas perhatian nona."
Begitulah kedua orang itu segera duduk saling berhadapan, dengan perlahan Liuw Su Cen mulai mengangkat poci arak dan memenuhi cawan Ti Then kemudian cawannya sendiri, ujarnya.
"Aku akan menghormati kongcu dengan satu cawan terlebih dahulu"
Segera Ti Then mengangkat cawannya dan meneguk isinya hingga habis.
Tiba-tiba dilihatnya Liuw Su Cen sambil menutupi mulutnya dengan tangan tertawa merdu tak henti-hentinya seperti teringat akan sesuatu yang sangat lucu baginya.
Ti Then, menjadi tertegun dibuatnya, tanyanya "Kenapa nona tertawa?"
"Nama besar dari Lu kongcu kudengar sangat lama sekali"
Sahut Liuw Su Cen sambil tetap tertawa.
"Tetapi setelah bertemu ini hari ternyata jauh berbeda dengan apa yang aku dengar"
"Ooh...."
Sahut Ti Then sambil tertawa pula.
"entah menurut kabar yang kau dengar Lu Kongcu itu orangnya bagaimana? dan Lu kongcu yang kau lihat ini hari bagaimana pula?? "
"Bila aku katakan harap kongcu jangan sampai marah"
"Ooh ... tentu tentu aku tidak marah, harap nona cepat katakan Dengan manyanya Liuw Su Cen itu tersenjum senjum, kemudian barulah ia berkata "Menurut kabar yang aku dengar katanya Lu Kongcu jadi orang suka pelesiran dan gemar bermain main dengan perempuan bahkan jadi orang amat sombong, sedang kini setelah aku bertemu dengan Lu kongcu sendiri ternyata sama sekali tidak tampak adanya tanda-tanda seperti itu, bahkan sikapnya sangat gagah serta jujur. Mendengar perkataan itu Ti Then tertawa terbahak-bahak, katanya.
"Nona terlalu memuji, aku memang merupakan seorang yang sangat sombong dan suka menangan sendiri, kalau nona tidak percaya boleh kau lihat nanti"
"Di samping itu"
Ujar Liuw Su Cen sambil tersenjum,"
Pada alis kongcu kelihatan samar-samar mengandung perasaan sedih serta bingung agaknya dalam hati masih punya urusan yang sangat memakan pikiran, tentang hal ini juga tidak mirip dengan apa yang aku dengar..."
"Ooh..kiranya nona pun masih pandai melihat wajah orang"
"Ehm..hanya memandang saja juga bisa, kali ini kongcu meninggalkan kota Tiang An tentunya bukan dikarenakan untuk mencari kesenangan saja bukan?"
"Aku datang karena tertarik oleh nama serta kecantikan dari nona, urusan yang lain tidak ada"
"Baiklah, bagaimana kalau aku memainkan satu lagu untuk kongcu dengarkan"
Maka mulailah dia mengambil khim dan menyanyikan sebuah lagu, lagu ini memiliki nada kesedihan yang amat mendalam.
Ditengah alunan suara yang sangat merdu itu nada suaranya membawa kesedihan yang tak terhingga, membuat orang yang mendengar suara nyanyian itu tak terasa tergerak juga hatinya.
Dengan perlahan Ti Then meletakkan kembali cawan araknya, sambil tertawa tawar ujarnya.
"Nyanyian dari nona keluar dari dasar lubuk hati, membuat orang yang mendengarkannya ikut juga terjerumus ke dalam lembah kesedihan. Hei.. sekarang aku tidak ingin memikirkan urusan yang membuat kesedihanmu timbul kembali harap kau pun jangan menyanyikan lagu yang bisa membuat air mataku meleleh keluar "
Liuw Su Cen hanya tersenjum saja, sesaat kemudian barulah sahutnya dengan perahan .
"Kalau memang demikian adanya, aku akan menyanyikan sebuah lagu yang lebih enak lagi."
Jari tangannya yang ramping kecil serta halus itu mulai bermain diantara senar-senar Khiem tersebut, baru saja dia akan mulai menyanyi tiba-tiba diluar pintu kamar itu berkumandang datang suara tiga kali ketukan.
"Siapa?"
"Aku."
"Ooh..Ku le, silahkan rnasuk."
Ku Ie dengan perlahan mendorong pintu dan berjalan masuk, kenapa Ti Then dia hanya tersenjum-tersenjum saja sedang langkah kakinya meneruskan perjalanannya hingga di samping tubuh Liuw Su Cen, ujarnya kemudian dengan suara yang perlahan di samping telinganya.
"Ku le ..beritahukan saja padanya kalau tubuhku ini hari masih tidak enak, suruh besok datang lagi. Ku le segera melirik sekejap kearah Ti Then, sedang pada wajahnya pun terlihat terlintas senjuman yang dipaksa, ujarnya.
"Tidak mungkin. Bilamana bilang tubuhmu tidak enak tentu dia akan paksa masuk juga. Air muka Liuw Su Cen segera berubah ujarnya dengan agak gusar.
"Kalau begitu bilang saja padanya kalau aku sekarang masih ada tamu, suruh dia besok kembali lagi.
"Tetapi dia sukar sekali untuk bisa datang kemari, bagaimana kini menjuruh dia pulang dengan tangan kosong?"
"Ku le,"
Ujar Liuw Su Cen dengan nada yang tidak senang.
"Kau hanya mengajari aku tiara menari, cara menghadapi orang lain tetapi belum pernah kau beri pelajaran tentang cara memisahkan tubuh menjadi dua ? "
"Aku lihat kau budak semakin bicara semakin tidak genah-genah"
"Kalau begitu kau suruh aku harus berbuat bagaimana? "
Dengan setengah berbisik sahut Ku Ie itu.
"Keluar temuilah dia sebentar asalkan kau sudah bicara beberapa patah kata dengan dia sudahlah cukup, pokoknya tidak sampai membuat dia merasa tersinggung."
Liuw Su Cen ragu ragu sejenak kemudian barulah dia menoleh tersenjum kepada Ti Then ujarnya "Kongcu, aku ada sedikit urusan yang harus dikerjakan segera kini mohon pergi sebentar tentu kongcu tidak akan marah bukan?
"Siapa yang telah datang?
, tanya Ti Then dengan nada yang kurang senang.
"Ooh ..seorang ..seorang tamu yang tidak boleh aku singgung perasaannya dia baru saja datang."
Sahutnya dengan kemalu maluan.
"Kenapa tidak boleh menyinggung perasaannya ? "
"Karena dia punya asal usul yang terkenal-sahut Liuw Su Cen sambil menundukkan kepalanya.
"Orang orang yang bisa berkenalan dengan nona tentu paling sedikit harus punya asal usul yang terkenal, tetapi malam ini aku harus lihat dulu sebenarnya siapakah orang itu, bilamana asal usulnya tidak bisa mengalahkan asal usuIku, maka silahkan dia cepat cepat menggelinding dari sini,"
Ku le melihat sikapnya yang ketus serta sombong itu tak terasa lagi mendiadi sangat cemas, dengan cepat ujarnya.
"Kongcu harap jangan bicara begitu sekali pun dia bukan putra atau murid dari seorang pembesar kerajaan tetapi merupakan seorang yang telah sangat terkenal sekali namanya, orang orang seperti kami ini mana berani menyinggung perasaannya."
Sepasang alis Ti Then dikerutkan dalam-dalam, dengan tidak sabar tanyanya.
"Siapa toh sebenarnya orang itu ?"
"Seorang pendekar pedang dari benteng Pek Kiam Po yang disebut sebagai sinaga mega Hong Mong Ling."
"Hu..."
Ujar Ti Then "Aku kira siapa orangnya yang begitu terkenal serta terhormatnya, tidak terkira hanya seorang budak kasar yang suka main kepalan"
Baru perkataan itu diucapkan mendadak.
"Brak..."
Pintu kamar itu telah diterjang hingga rubuh, seorang pemuda dengan sangat gagahnya telah berdiri di depan pintu kamar itu, dengan nada yang berat dia tertawa dingin tak henti-hentinya,ujarnya "Tidak salah"
Cayhe adalah seorang budak kasar yang suka main kepalan saja yang bisa memaksa seseorang berlutut di hadapannya sambil memaki ajah ibunya sendiri "
Orang yang baru saja datang itu tidak lain adalah si naga mega Hong Mong Ling adanya, dan di belakang tubuhnya berdirilah seseorang yang tidak lain adalah si tikus rakus dari Go-bi, Cang Bun Piauw.
Dengan pandangan yang sangat dingin Ti Then melirik sekejap kearahnya kemudian barulah bentaknya "Bocah bangsat dari mana yang berani mengganggu kesenangan dari Kongcu Ya mu??
apa kalian sudah bosan hidup lebih lama lagi?"
Ku Ie yang melihat mereka berdua dengan sama-sama gusar telah saling berhadapan segera menjadi gugup dan bingung dibuatnya, sambil menggojang-gojangkan tangannya ujarnya .
"Kalian berdua jangan gusar, semuanya ini adalah salahku. Hei...Hong Siangkong mari aku kenalkan kepada kalian, Kongcu ini adalah putra kesajangan dari Panglima perang Lu Ko Sian Lu Thayjin dari kola Tiang An, ini hari dia ..."
Dengan sangat kasar si naga mega Hong Mong Ling itu mendorong dia ke samping kemudian dengan langkah yang lebar berjalan masuk ke dalam kamar, sinar matanya dengan sangat tajam memandang Ti Then tanpa berkedip sedang mulutnya tertawa dingin tidak henti-hentinya, ujarnya kemudian .
"He ..he . Hm . Hm.. Kiranya adalah seorang pemuda yang gemar pelesiran. Sungguh bagus sekali, aku Hong Mong Ling selamanya memang paling suka mencari gara-gara dengan seorang Kongcu yang dojan pelesiran. Berkata sampai di situ mendadak suara ucapannya berubah, dengan keras bentaknya .
"Bertutut!"
Ti Then sama sekali tidak menggubris dirinya malah dengan tenangnya dia mengangkat poci berisi arak dan dituangkan ke dalam cawannya setelah itu dengan perlahan diteguknya hingga habis, kepada Liuw Su Cen ujarnya.
"Nona Liuw bukankah kau tadi bilang mau menyanyikan sebuah lagu untukku!"
Sejak munculnya Hong Mong Ling ditempat tersebut dengan perlahan-lahan Liuw Su Cen telah menyingkir keujung kamar, kini mana dia berani mengucapkan sepatah kata pun.
Hong Mong Ling melihat perkataannya sama sekali tidak digubris bahkan seperti di sampingnya tidak terdapat orang dengan seenaknya bergerak, tak terasa lagi kegusarannya memuncak.
Sambil tertawa dingin tubuhnya dengan cepat menubruk maju ke depan telapak kanannya men jambar mencengkeram urat nadi ditangan kanan Ti Then.
Sambarannya ini dilakukan bagaikan kilat cepatnya, sekali pun orang yang memiliki kepandaian silat pun belum tentu bisa menghindarkan diri dengan mudah.
Tetapi gerakan dari Ti Then jauh lebih cepat beberapa kali lipat dari dirinya.
Tangan kanannya sedikit diangkat ternyata telah berhasil mencengkeram urat nadinya terlebih dahulu, kemudian disusul tangannya melayang dan diputar sepasang kaki Hong Mong Ling segera meninggalkan tanah, tubuhnya bagaikan sebuah baling-baling berputar dengan kencangnya ditengah udara.
Sebelum tubuhnya rubuh ke atas tanah belakang batok kepalanya telah keburu kena hajaran telapak tangan Ti Then.
Begitu tubuhnya rubuh ke atas tanah, dia segera jatuh tak sadarkan diri sedang tubuhnya dengan terlentang kaku bersandar di bawah kaki Ti Then.
Si tikus rakus dari Go-bi Cang Bun Piauw begitu melihat gelagat tidak baik dengan cepat memutar tubuhnya siap lari keluar dari kamar itu, siapa tahu baru saja kakinya diangkat siap lari belakang batok kepalanya telah keburu dihajar oleh cawan arak yang dilontarkan Ti Then, tak tertahan lagi tubuhnya sedikit bergojang dan jatuh rubuh tak sadarkan diri pula di atas tanah.
Melihat kejadian yang berlangsung hanya sekejap itu tetapi sangat mengejutkan tersebut tak tertahan lagi air muka Ku le berubah menjadi pucat pasi, teriaknya..
"Celaka . wah ..celaka "bencana ini terlalu besar mak ."
Dengan tenangnya Ti Then bangkit berdiri dan menggusur tubuh si tikus rakus dari Go-bi, Cang Bun Piauw, itu ke dalam kamar, kemudian berjaian kembali ke tempat semula, ujarnya sambil tersenjum "Jangan takut, sekali pun ada urusan yang lebih besar pun aku ada di sini yang menanggung"
Dengan wajah yang hampir menangis kata Ku le itu lagi "Lu kongcu kau tidak tahu sekali pun kau berhasil mengalahkan dirinya tetapi bagaimana pun juga merupakan tamu dari tempat kami ini, begitu kongcu nanti meninggaikan tempat ini urusan sudah beres, sedang kami.
harus tetap menetap ditempat ini seteiah terjadinya urusan ini kami Touw Hoa Yuan juga akan sulit untuk menghindarkan diri dari bencana"
Mendengar perkataan itu Ti Then tertawa nyaring sahutnya "Ku Ie, pengetahuanmu terhadap benteng Pek Kiam Po itu seberapa banyak?"
"Nama benteng Pek Kiam Po telah menggetarkan seluruh dunia, pendekar-pendekar pedang dari dalam Benteng pun tak seorang pun yang bukan merupakan jago berkepandaian tinggi, tentang ini semuanya sudah mengetahui dengan sangat jelas"
"Tetapi ada satu urusan yang tidak kau ketahui"
Ku le menjadi termangu-mangu, tannya .
"Urusan apa ??"
"Orang-orang Benteng Pek Kiam Po dari Pocu sendiri Wi Ci To sampai bawahannya pun dan murid-muridnya semuanya merupakan orang yang jujur dan berpikiran lurus, mereka tidak mungkin akan bermain atau membalas dendam terhadap Touw Hoa Yuan mu ini hanya dikarenakan urusan sekecil ini."
Ku Ie memandang sekejap kearah si naga mega Hong Mong Ling yang rubuh terlentang di atas tanah, dengan ragu-ragu ujarnya.
"Tentang ini sukar untuk dibicarakan, misainya saja dengan Hong Siangkong ini, dia..."
Ti Then tertawa terbahak-bahak, potongnya.
"Dia pun tidak pernah melakukan kejahatan-kejahatan yang melampaui batas hanya sajang jadi orang dia punya sedikit cacad jaitu gemar akan pipi licin dan suka main perempuan"
Dia berhenti sejenak kemudian tambahnya.
"Apalagi Hong Mong Ling yang sering mencari kesenangan ditempat ini semuanya dilakukan secara sembunyi-sembunyi sehingga tidak diketahui oleh bakal mertuanya, ini hari dia mendapatkan sedikit kerugian sekali pun telah pulang juga tidak berani lapor, maka itu kau legakanlah hatimu."
Dengan perlahan-perlahan Ku Ie menghembuskan napas, ujarnya kemudian .
"Perkataan memang Kongcu ucapkan seperti itu, hanya aku takut kalau Hong siangkong ini menyatuhkan seluruh kegusarannya kepada diri kami dikemudian hari."
"Aku akan menyamin kalian kalau sejak hari ini dia tidak akan berani menginyak tempat ini lagi."
Ku Ie memandang sekejap lagi kearah Hong Mong Ling yang rebah tak sadarkan diri di atas tanah, tanyanya "Kini dia jatuh tak sadarkan diri ditempat ini, kita harus berbuat bagaimana?."
"Kau punya kereta kuda ?"
"Ehm..ada sebuah, biasanya digunakan nona-nona untuk pesiar keluar kota"
"Perintahkan orang-orang untuk siapkan kereta, aku akan menghantar sendiri mereka-mereka ini ke dalam benteng Pek Kiam Po"
Mendengar perkataan itu Ku Ie menjadi sangat terkejut, tanyanya.
"Kongcu tidak takut dengan orang-orang dari benteng Pek Kiam Po?"
"Aku ada cara untuk menghadapi mereka"
Sambil menuding kearah Cang Bun Piauw ujarnya Ku Ie itu lagi.
"Cang siangkong ini bukan anggota dari benteng Pek Kiam Po, apa kongcu juga akan menghantar dia ke dalam Benteng?"
"Tidak salah"
Sahut Ti Then sambil mengangguk.
Dalam hati Ku Ie memangnya mengharapkan semua urusan dengan cepat dibereskan perkataan itu dengan cepat dia keluar kamar untuk menyiapkan kereta.
Setelah Ku Ie berlalu dari dalam kamar barulah dengan perlahan Ti Then memutar tubuhnya, ujarnya kepada Liuw Su Cen sambil tersenjum "Heei...aku telah membuat kesalahan kepada kawan nona, harap nona tidak menjadi marah"
Pada saat ini sebaliknya pada wajah Liuw Su Cen menampilkan perasaan girangnya, sambil tertawa sahutnya "Lu Kongcu harap jangan bicara demikian, Hong siangkong ini memang seharusnya mendapatkan hajan, aku sama sekali tidak punya perasaan apa pun terhadap dirinya, pada waktu-waktu yang lalu pun aku terpaksa baru mau menemui dia"
Berkata sampai di situ, mendadak dia merendahkan nada suaranya, tanyanya.
"Lu kongcu pada kemudian hari apa kau mau datang lagi?"
"Tentang ini sukar dipastikan mungkin datang mungkin tidak datang lagi. .."
Air muka Liuw Su Cen berubah menjadi kemerah merahan, sambil menundukkan kepalanya dia tertawa malu-malu katanya.
"Bilamana kongcu tidak menampik harapanku ini dan tidak bosan dengan wadiahku harap mau datang berkunjung lagi,"
"Baiklah"
Sahut Ti Then sambil mengangguk.
"Kalau aku ada waktu yang luang tentu akan segera berangkat kemari"
Pada saat itulah Ku Ie dengan perlahan berjalan masuk, katanya.
"Kereta kuda sudah dipersiapkan, kongcu akan berangkat kapan.?"
"Sekarang juga"
Sahutnya sambiI bangkit berdiri.
Sehabis berkata dari dalam buntaiannya dia mengambil keluar ratusan tail uang perak yang dengan perlahan diletakkan ke atas meja, kemudian membungkuk memanggul tubuh Hong Mong Ling serta Cang Bun Piauw berjalan keluar dari kamar itu.
Jilid 2.2.
Masuk Benteng Pek Kiam Po Ku Ie yang melihat sekali keluar uang ratusan tail banyaknya menjadi amat girang, dengan membuntuti di belakang tubuhnya dia mengucapkan terima kasihnya dengan tidak henti hentinya, ujarnya.
"Lu Kongcu, pada kemudian hari harap datang lagi, bila kau datang aku akan memerintahkan Liuw Su Ceng untuk masakkan beberapa macam sajuran untuk menyambut kedatangan Kongcu, Su Cen kami ini bukan saja sangat pandai di dalam menari menyanyi serta membuat syair dia pun pandai memasak!"
Ti Then hanya menyahut dengan sembarangan, dengan cepat dia membopong, tubuh Hong Mong Ling serta Cang Bun Piauw keluar dari sarang pelacur Touw Hoa Yuan itu tidak salah lagi di depan telah tersedia sebuah kereta kuda yang amat mewah, dengan cepat dia mengangkat kedua orang itu ke dalam kereta sedang dirinya pun mengikuti duduk di dalam kereta tersebut.
Orang yang menjadi kusir kereta tak lain adalah penjaga yang diberi upah dirinya tadi, dengan cepat dia menutup pintu kereta dan manyalankan keretanya dengan cepat.
Dengan perlahan lahan Ti Then mulai menggeserkan diri mendekati kusir kuda, tanyanya.
"Kau tahu tidak jalan menuju ke benteng Pek Kiam Po ? "
"Tahu . tahu . pada tahun yang lalu ketika Pocu merajakan ulang tahunnya yang keenam puluh di dalam Benteng telah diadakan perlombaan, hamba pada saat itu juga ikut masuk ke dalam benteng untuk melihat keramaian."
Ehm...
itu sangat bagus sekali perjalanan menuju kebenteng Pek Kiam Po masih ada dua puluh li jauhnya aku akan berbaring untuk beristirahat sebentar, bilamana kereta sudah tiba di bawah sebuah pohon siong yang tua kau hentikanlah kereta kuda dan memanggil bangun diriku."
"Baik....baik....kongcu silahkan beristirahat, hambamu tidak akan salah mencari jalan."
Dengan perlahan Ti Then masuk ke dalam kereta kembali, tangannya dengan sangat cepat sekali rnenotok jalan darah pingsan ditubuh Hong Mong Ling serta Cang Bun Piauw setelah itu barulah dia membaringkan diri untuk beristirahat.
Dengan cepat dia telah jatuh tidur dengan njenyaknya, dikarenakan dia telah kebiasaan untuk berkelana keseluruh tempat oleh karena itu sejak dahulu telah terbiasa dengan tidur ditempat mana-mana, asalkan dalam hatinya tidak memikirkan urusan apa-apa maka dengan cepat dia telah jatuh pulas dengan njenyaknya.
Kereta kuda itu dengan mengikuti jalan raja di bawah gunung itu berlari selama satu jam lamanya, sesampainya di bawah pohon siong tua yang dimaksudkan oleh Ti Then dengan cepat penjaga sarang pelacur Touw Hoa Yuan itu menghentikan keretanya dan turun untuk memanggil diri Ti Then, teriaknya "Lu kongcu....Lu Kongcu...kau sudah mendusin belum?"
Pada saat kereta kuda itu berhenti Ti Then telah mendusin dari tidurnya mendengar panggilan itu dengan perlahan dia duduk dan tanyanya "Ehm ...sudah sampai??"
"Belum, bukankah tadi kongcu memesan pada hamba untuk memanggil kongcu ditempat ini ? ?"
"Ehm . ."
Segera dia membuka pintu kereta kuda itu dan meloncat turun, kepalanya diangkat memandang sejenak keadaan cuaca, ujarnya kemudian "Sudah kentongan kedua ?"
"Benar, setelah berjalan dua li lagi kita akan tiba di dalam benteng Pek Kiam Po itu"
Dengan tangannya Ti Then menggosok gosok wajahnya sehingga kesadarannya pulih kembali, kemudian dengan menyeret keluar tubuh Hong Mong Ling serta Cang Bun Piauw dari dalam kereta kuda ujarnya "Cukup, sekarang kau boleh pulang"
Penjaga sarang pelacuran itu di tertegun, tanyanya.
"Kongcu tidak rnenghantar mereka sampai di dalam Benteng Pek Kiam Po?"
"Sudah tentu harus dihantar.
"Tetapi . tetapi "
Kenapa?"
"Bilamana aku menggunakan kereta kuda dari Touw Hoa Yuan kalian menghantar mereka masuk ke dalam Benteng, tentu Wi Pocu tidak akan mengam puni Hong Mong Ling ini ... dimana bisa mengam puni orang lakukanlah pengam punan itu terhadap setiap orang, buat apa kita berbuat keterlaluan."
Agaknya penjaga itu dibuat sadar oleh perkataan dari Ti Then ini, segera sahutnya.
"Ooh...agaknya kongcu tidak ingin menjelaskan urusan yang sebenarnya kepada Pek Kiam Pocu, Wi Ci To?"
"Benar."
Sepasang mata penjaga Touw Hoa Yuan itu sedikit melirik kearah tubuh Cang Bun Piauw yang menggeletak di atas tanah, lalu ujarnya lagi.
"Kalau begitu, Lu kongcu akan menggunakan cara apa untuk menjelaskan tentang Cang siangkong ini kepada diri Wi Ci To itu pimpinan dari benteng Pek Kiam Po "
"Biar Hong Mong Ling yang menjelaskan sendiri"
Penjaga itu tertawa, setelah memberi hormat lalu ujarnya.
"Kalau memangnya begitu, hamba akan segera kembali"
Sehabis berkata dia kembali ke atas kereta dan memutar haluan untuk kembali ke dalam sarang pelacurnya. Sebelum berangkat terdengar Ti Then telah memesan wanti-wanti lagi ujarnya dengan agak keras.
"Setelah peristiwa ini bilamana terdapat orang lain yang rnencari berita tentang urusan yang sebenarnya terjadi, kalian orang-orang dari Touw Hoa Yuan boleh menjelaskannya dengan sejujurnya tetapi jangan bilang kalau kau pernah menghantar mereka berdua hingga tempat ini, cukup kau bilang aku telah membawa mereka berdua sampai diluar kota"
"Baik.."
Sahut penjaga itu, pecutnya diajunkan kepantat kudanya, dengan sangat cepat kereta kuda itu meluncur kearah kota.
Ti Then berdiam diri hingga kereta kuda itu jauh dari pandangannya barulah dengan perlahan mulai membuka pakaian serta sepatunya yang baru serta mewah itu, kemudian rambutnya dibuat kacau sehingga kembalilah bentuknya seperti semula.
Kiranya sekali pun diluar dia memakai pakaian yang sangat bagus dan mewah tetapi di dalam tubuhnya masih tetap memakai pakaiannya yang sudah dengkil serta compang camping itu, sehingga begitu pakaian barunya dicopot maka di dalam sekejap saja dari seorang "Lu Kongcu yang perlente berubah menjadi wajah asli dari Ti Then yang kotor serta dengkil.
Sesudah membuka pakaian serta sepatu barunya dengan cepat disimpannya benda-benda itu sesuatu tempat yang sangat tersembunyi disekitar tempat itu sesudah itulah dengan langkah yang cepat pula berjalan kembali ke bawah hohon siong tua dan sambil mengempit tubuh Hong Mong Ling serta Cang Bun Piauw berjalan ke depan.
Setelah berjalan puluhan tindak lamanya tiba-tiba di dalam benaknya teringat kembali akan kata-kata dari Majikan patung emas .
Sesudah turun gunung aku bertindak seperti seekor cacing dalam perutmu selamanya akan mengikuti kau kemana pun juga."
Pikirannya segera berkelebat diam diam batinnya.
"Hm ..kenapa aku tidak mau mencoba-coba untuk membuktikan apa benar dia terus mengikuti diriku ? Berpikir sampai di situ tanpa ragu ragu ujarnya.."Aku akan segera memasuki Benteng Pek Kiam Po, coba lihat permainanku ini bagus tidak ? Tetapi setelah suara itu berkumandang, keluar lama sekali tetap tidak terdengar suara sahutan.
"Apa mungkin Madikan patung emas tidak ikut datang kemari ?"
"Atau mungkin dia sengaja tidak mau memberi jawabannya?"
Pikirannya segera berkelebat lagi, batinnya.
"Hm...hm...agaknya perkataan yang diucapkan tempo hari hanya untuk menggertak diriku saja. Hm...Hmm... Berpikir sampai di sini dengan segera dia mempercepat langkah kakinya berjalan kearah Benteng Pek Kiam Po. Perjalanan menuju kebenteng Pek Kiam Po itu makin lama terlihat makin cepat, jalan raja yang menghubungkan Benteng itu dengan kota Go bi pun dibuat demikian lebar serta ratanya, sungguh tidak nyana kalau dapat dibuat sedemikian bagusnya. Baru saja dia lari dengan cepatnya ke depan, tiba-tiba tetlihatlah olehnya di atas tanah bertuliskan enam buah tulisan yang sangat besar sekali.
"Semoga kau cepat mencapai hasil yang dicita-citakan."
"Haa....Tidak salah lagi tulisan dari Majikan Patung Emas". Ti Then menarik napas panjang-panjang, pada air mukanya pun dengan perlahan-lahan timbul perasaan apa boleh buat, sambil tertawa pahit dia mengangkat bahunya, dan ujarnya.
"Kalau kau memangnya sudah datang aku mau memberitahukan padamu akan suatu urusan, tiga ratus tahil perak yang kau berikan kepadaku kini sudah kuhamburkan hingga habis."
Sehabis berkata dengan rnenggunakan kakinya menghapus tulisan di atas tanah, setelah itu barulah melanjutkan perjalanannya menuju ke depan.
Setelah berjalan kurang lebih ratusan tindak terlihatlah jawaban dari Majikan Patung Emas yang ditulis di atas tanah ditengah jalan juga.
Kira-Kira tulisan itu berbunyi.
Kau jadi orang terlalu sosial, sikapmu yang dernikian sosialnya terhadap Liuw Su Cen membuat orang merasa sajang, kini aku beri seratus tail perak lagi harap kau gunakan lebih hemat lagi, jangan di hambur hamburkan seenakmu ?
Di samping beberapa patah tulisan itu terletaklah sebuah bungkusan yang berisikan uang perak.
Ti Then segera memungut buntalan itu dan dimasukkan ke dalam sakunya, setelah menghapus tulisan itu sambil tertawa ringan ujarnya.
"Untuk mencuri seekor ajam juga harus disediakan segenggam beras, Liuw Su Cen bagaimana pun juga merupakan seorang pelacur yang sangat terkenal dan punya nama yang cemerlang sekali pun kuberi ratusan tail perak kepadanya juga tidak mengapa, perlu apa kau demikian kikirnya."
"Kau mau ikut aku memasuki Benteng Pek Kiam Po tidak ?"
Sehabis berkata dengan kecepatan yang luar biasa dia berlalu dari tempat itu.
Kali ini setelah berjalan seratus tindak baru terlihat jawaban dari Majikan Patung Emas, jawaban nya sangat singkat sekali hanya tertuliskan satu huruf saja jakni "Ikut."
Tak terasa lagi tirnbul perasaan yang sangat tertarik dan girang sekali di dalam hatinya.
Sekali pun dia belum pernah memasuki Benteng Pek Kiam Po tetapi dia tahu dengan amat jelas kalau penjagaan di dalam Benteng Pek Kiam Po tetapi amat rapat dan keras sekali, tidak mungkin seseorang dapat menjusup ke dalam dengan sangat mudah tanpa ditemukan oleh penjaganya.
Sudah tentu dengan kepandaian yang dimiliki Majikan Patung Emas dia bisa menjusup ke dalam benteng Pek Kiam Po tanpa diketahui oleh penjaganya, tetapi persoalannya yang penting, Dapatkah dia bertahan lebih lama di dalam Benteng Pek Kiam Po itu ????
Tugas dirinya yang terutama di dalam memasuki Benteng Pek Kiam Po ini adalah memperistri Wi Lian In tetapi tugasnya ini tidak mungkin akan mencapai hasilnya di dalam satu hari satu malam saja, bila mana dirinya harus berdiam selama setengah tahun di dalam benteng ini apa mungkin dia pun dapat menyembunyikan diri di dalam Benteng selama setengah tahun lamanya tanpa diketahui oleh orang lain ??
Hal ini tidak mungkin akan bisa terlaksana!
Tetapi bilamana dia dapat bertahan dan bersembunyi di dalam Benteng Pek Kiam ini selama setengah tahun lamanya tentu tanpa diragu-ragukan lagi dia merupakan anggota dari Benteng Pek Kiam Po ini.
Sedang bilamana dia benar-benar merupakan salah satu anggota dari Benteng Pek Kiam Po ini maka tidaklah akan sukar untuk menjelidiki sebenarnya rencana busuk apakah yang sedang disusun olehnya untuk dilaksanakan oleh dirinya sendiri.
Ti Then yang sembari jalan sambil berpikir semakin terasa amat tertarik dan girang, tak terasa dia tertawa tergelak, ujarnya.
"Sungguh bagus sekali, dengan demikian bilamana aku membutuhkan petunjuk darimu maka sembarangan waktu aku bisa meminta keterangan, tetapi aku harus menggunakan cara apa untuk mengadakan hubungan dengan dirimu ?"
Sehabis berkata dia melanjutkan lagi perjalanannya ke depan. Seperti yang semula kali ini pun pada ratusan tindak baru ditemukan jawabannya.
"Hubungan dilakukan pada malam hari ketuklah jendela sebanyak tiga kali dan sulutlah lampu minyak didekatnya, tetapi aku tidak tentu akan munculkan diri"
Di sampingnya terlihat ada tulisan yang tertuliskan.
"Sudah cukup, di depan sudah ada anak buah dari Benteng Pek Kiam Po yang melakukan jaga malamnya, kau tidak perlu bertanya lagi-Ti Then pun dengan cepat menghapus tulisan-tulisan itu, setelah itu dengan langkah yang lebar melanjutkan perjalanan ke depan. Jalanan gunung itu berkelok-berkelok dan berputar-berputar diantara lereng gunung, puncak gunung Go bi san dipandang ditengah malam yang buta itu kelihatan semakin menjeramkan, puncaknya yang aneh serta banyak berserakan disekitar tempat itu, pohon siong tumbuh bagaikan mega rapatnya, tebing-tebing yang amat curam diselingi dengan jurang yang amat lebar dan dalam menambah keseraman sekitar tempat itu, di sekitar tempat itu pun sering terdengar suara pekikan dari kera-kera yang berkeliaran ditambah dengan desiran pohon siong tertiup angin memecahkan kesunyian malam yang mencekam . Ti Then belum pernah mengunjungi Benteng Pek Kiam Po hanya dia pernah dengar orang bilang katanya Benteng Pek Kiam Po itu terletak di bawah puncak Sian Ciang Jen itu, hanya dia tahu asalkan mengikuti jalan gunung ini terus berjalan ke atas maka akhirnya akan sampai juga ke dalam benteng Pek Kiam Po itu. Dengan mengikuti jalanan gunung itu dia berjalan kurang lebih satu li jauhnya setelah melalui sebuah jembatan gantungan mendadak di hadapannya berkelebat sebuah bajangan manusia yang melayang turun dari atas pohon, dalam hati segera dia tahu kalau orang itu tentunya penjaga malam dari Benteng Pek Kiam Po, dengan cepat dia menghentikan langkah kakinya dan berdiri diam ditempat. Orang yang datang itu adalah seorang pemuda yang memakai pakaian singsat berwarna hitam pekat, pada punggungnya tersoren sebilah pedang yang berwarna hitam pula, sesaat ketika dia melayang turun dari atas pohon sama sekali tidak menimbulkan suara sedikit pun hal ini memperlihatkan kalau kepandaiannia tidak lemah. Begitu Ti Then melihat kalau pemuda itu menjoren sebilah pedang yang berwarna hitam segera dia tahu kalau orang itu termasuk di dalam "Pendekar pedang hitam"
Dari Benteng Pek Kiam Po. Kiranya di dalam Benteng Pek Kiam Po ini para pendekar pedang yang tergabung di dalamnya dibagi menjadi tiga macam jaitu "Pendekar Pedang Merah", Pendekar pedang putih"
Dan Pendekar Pedang Hitam", diantara ketiga tingkatan itu kedudukan "Pendekar pedang Merah lah yang tertinggi kemudian disusul oleh "Pendekar Pedang Putih dan akhirnya baru "Pendekar pedang hitam.
Orang-Orang dari "Pendekar Pedang Hitam.
bilamana hendak naik ke dalam kedudukan "Pendekar pedang Putih haruslah mendapat pengujian dari para "Pendekar pedang merah "
Terlebih dahulu sedang dari pendekar putih bilamana akan naik kependekar pedang merah harus diuji oleh Majikan Benteng ini sendiri sedang setiap orang yang telah naik di dalam kedudukan ,"Pendekar pedang merah"
Barulah diperkenankan berkelana di dalam dunia kang ouw sebaliknya pendekar pedang putih serta pendekar pedang hitam tidak diperkenankan keluar dari Benteng untuk mengadakan perjalanan di dalam Bu-lim, bilamana mendapat perintah untuk dilaksanakan di dalam Bu-lim mereka pun tidak diperkenankan dengan menggunakan kedudukan pendekar pedang putih atau pendekar pedang hitam untuk menyebut dirinya.
Oleh karena itulah sekali pun orang-orang di dalam Bu-lim tahu kalau di dalam Benteng Pek Kiam Po terdapat pendekar pedang hitam serta pendekar pedang putih tetapi selamanya belum pernah menemuinya sendiri.
Sesuai dengan namanya tentu keadaannya pun harus sama dan jika menurut penilaian dengan tingkatan itu maka kepandaian yang dimiliki orang orang dari pendekar pedang hitam seharusnya paling cetek dan paling lemah tetapi setelah Ti Then melihat sendiri pendekar pedang hitam yang berdiri di hadapannya segera tahu kalau pemikiran dirinya pada waktu yang lalu adalah salah besar, diam-diam dalam hatinya sangat memuji, pikirnya.
"Hanya seorang pendekar pedang hitam saja sudah memiliki kepandaian yang demikian tingginya apalagi kepandaian silat dari orang orang pendekar pedang merah kelihatannya kepandaian silat yang dimili si sipedang naga emas Wi Ci To tidaklah lemah sesuai dengan dugaan dari majikan patung emas semula... Dia bisa punya pikiran seperti ini dikarenakan majikan patung emas pernah berkata kepadanya kalau dia sudah sanggup untuk mengalahkan sipedang naga emas Wi Ci To di dalam ratusan jurus saja. Di dalam sarang pelacuran Touw Hoa Yuan dia bisa berhasil membekuk batang leher Hong Mong Ling dari "Pendekar pedang merah"
Kesemuanya ini hanya hasil dari luar dugaannya.
Baru saja pikiran-pikiran itu berkelehat di dalam benaknya dengan kecepatan bagaikan kilat.
Pendekar pedang hitam yang menghalangi perjalanannya itu telah membuka mulut bertanya.
"Kawan siapa namamu, ditengah malam buta ini naik gunung ada urusan apa yang penting"
Sikap serta nada ucapannya tidak sombong juga tidak halus, sepasang matanya yang sangat tajam dengan tak henti-hentinya memandang kearah Hong Mong Ling serta Cang Bun Piauw yang dikepit diketiak Ti Then.
Dikarenakan malam yang semakin larut ditambah lagi jaraknya masih ada tiga empat kaki jauhnya oleh karena itu sama sekali dia tidak menduga kalau diantara dua orang yang dikempit di bawah ketiak Ti Then itu adalah Si naga mega Hong Mong Ling dari "pendekar pedang merah"
Benteng Pak Kiang Po. Dengan cepat Ti Then membungkukkan dirinya memberi hormat dan sahutnya.
"Cayhe Ti Then, tadi malam ketika berjalan diluar kota Go-bi telah menemukan kedua orang ini dipukul tak sadarkan diri dan menggeletak di tengah jalan. Oleh karena kenal kalau salah satu diantaranya adalah "Pendekar Pedang Merah"
Dari Benteng Pek Kiam Po maka sengaja aku datang menghantarkan mereka"
Dengan sedikit pun tidak ragu-ragu dia telah melaporkan nama aslinya kepadanya karena di dalam hatinya dia telah mengambil keputusan, dia merasa sekali pun dirinya menerima perintah yang mengharuskan memperistri Wi Lian In tetapi bagaimana pun juga urusan ini menyangkut nama baik dari seorang nona, dirinya harus menanggung segala beban serta resikonya dan tidak mungkin menggunakan nama palsu untuk meni punya.
Pendekar pedang hitam itu begitu mendengar perkataan tersebut air mukanya segera berubah hebat, dengan cepat dia maju dua langkah ke depan, begitu melihat orang yang berada di bawah ketiak sebelah kanan dari Ti Then adalah bakal menantu kesajangan dari majikan Benteng Pek Kiam Po perasaan terkejutnya semakin menghebat, serunya.
"Ooh Thian... .dia....kenapa dia,"
"Hanya jatuh tidak sadarkan dirinya saja, agaknya di dalam tubuhnya tidak mengalami cedera apa pun. Dengan perasaan yang arnat terkejut tanya pendekar pedang hitam itu lagi .
"Siapa orang yang satunia ? "Cayhe juga tidak kenal.."
"Tetapi dia bukan orang dari Benteng kami."
Ujar pendekar pedang hitam "Tadi dia menggeletak bersama-sama dengan kawan pendekar pedang merah ini, maka itu cayhe terpaksa bawa sekalian kemari."
"Dengan tjara bagaimana dia bisa terluka."
"Tidak tahu"
Sahut Ti Then sambil menggelengkan kepalanya. Ketika cayhe hendak mamasuki kota telah menemukan mereka menggeletak ditengah jalan diluar kota"
Dengan perasaan yang sangat terkejut dan ragu ragu pendekar pedang hitam itu tak henti-hentinya memandang kearah tubuh Hong Mong Ling yang tidak sadarkan diri itu, gumamnya.
"Sungguh heran."
Sungguh mengherankan sekali, di dalam Bu-lim saat ini ada siapa yang berhasil memukul dia hingga seperti ini ?."
Ti Then segera tersenjum ujarnya.
"Menanti dia sadar kembali tentu akan mengetahui dengan lebih jelas lagi."
Pendekar pedang hitam itu tidak berani berlaku ajal lagi, sambil mengangguk sahutnya .
"Baik silahkan saudara mengikutiku masuk ke dalam Benteng Sehabis berkata dia maju menyambut tubuh Hong Mong Ling dan memutar tubuhnya berlalu, Ti Then dengan mengempit tubuh Cang Bun Piauw terpaksa mengikuti di belakang orang itu, tanyanya.
"Jaraknya dari sini sampai ke dalam Benteng masih seberapa jauhnya ? "
"Tidak jauh, segera akan tiba."
"Ehm...saudara termasuk pendekar pedang hitam dari Benteng Pek Kiam Po?"
"Benar"
Sahut pendekar pedang hitam itu.
"Cayhe She Ki bernama Hong?"
"Ooh jaa... Lo-heng tadi bilang she Ti, Ti apa ?."
"Ti Then"
Sahut Ti Then singkat.
"Ti Then? 'Sepertinya nama ini pernah kudengar, agaknya..Hmm.. tak dapat kuingat kembali Kakinya didepakkan ke atas sesaat kemudian tiba-tiba dengan kejut bercampur girang menoleh kembali memandang kearah Ti Then, ujarnya.
"Kau adalah si pendekar berbaju hitam Ti Then?"
Ti Then hanya tersenjum saja, sahutnya.
"Hek Ie Hiap tiga buah kata, cayhe tidak sanggup menerimanya.
"Aku dengar ilmu pedangniu amat tinggi, bukan begitu? tanya Ki Hong dengan girangnya.
"Tidak benar "sahut Ti Then sambil gelengkan kepalanya "Pada saat ini ada siapa yang dapat menandingi kehebatan serta kelibayan dari ilmu pedang Benteng Pek Kiam Po?"
Ki Hong masih tetap meneruskan perjalanannya menuju ke dalam Benteng Pek Kiam Po, sembari berjalan ujarnya.
"Cayhe sering mendengar katanya ilmu Pedang dari Lo-heng bisa rnenandingi pendekar pedang merah dari Benteng kami orang-orang yang memiliki usia seperti Lo-heng sekarang hanya Hong Mong Ling seorang, karena itulah Lo-heng boleh dikata merupakan bintang diantara kami orang-orang muda.
"Ki-heng terlalu mernuji"
Sahut Ti hen sambil tertawa.
"Kepandaian yang cetek dari Cayhe mana bisa dibandingkan dengan kelihayan ilmu pedang pendekar pedang merah dari Benteng Pek Kiam po."
"Aah .,, Ti-heng terlalu sungkan, nama besarmu sekali pun Pocu dari benteng kami pun telah mengenalnya."
"Haa ..."
Sahut Ti Then.
"Bisa mendapatkan penghargaan dari orang berkepandaian tinggi sungguh membuat Cay he merasa sangat bahagia...Bagaimana pandangan Pocu kalian tentang diriku ini? "Menurut apa yang diucapkan majikan Benteng kami kepada orang lain, Kaum pendatang baru di dalam Bu-lim yang paling menonjol pada saat ini ada tiga orang, diantara ketiga orang itu adalah Ti-heng sendiri, kemudian bakal menantu majikan benteng kami jaitu Hong Kouw-ya dan yang terakhir adalah . -"
Bukankah si Hong Liuw Kiam Khek atau sipendekar pedang suka pelesiran Ing Ping Siuw ini?"
Timbrung Ti Then.
"Benar, apa Ti-heng pernah bertemu muka dengan si pendekar pedang suka pelesiren Trig Ping Siuw "Belum pernah, hanya pernah mendengar nama besarnya. -"Cayhe dengar ilmu pedangnya sangat tinggi sekali bahkan pernah dengan menggunakan pedangnya membabat habis Lauw San Lak Hiong atau enam penyahat dari gunung Lauw san"
"Benar, Lauw San Lak Hiong bukanlah merupakan lawan yang sangat enteng, tetapi Ing Ping Siuw ternyata bisa menahan serangan keenam orang itu bahkan di dalam sekejap saja membunuh habis mereka, sungguh bukan merupakan pekerjaan yang mudah "
Sedang mereka berbicara itu dari hadapan jalanan gunung itu telah muncul seorang pendekar pedang hitam yang melintangkan pedangnya menghalangi perjalanan mereka teriaknya dengan keras "Siapa yang datang?"
"Saudara, aku adanya"
Sahut Ki Hong dengan cepat.
"Oooh . ."segera pendekar pedang hitam itu memasukkan kembali pedangnya ke dalam sarung kemudian berjalan ke depan menjongsong datangnya Ki Hong tetapi ketika melihat datangnya membopong tubuh sinaga mega Hong Mong Ling sedang di belakang tubuhnya pun berjalan seorang pemuda yang asing, tak terasa dia menjadi amat terkejut, serunya.
"Aduh ....terjadi urusan apa?"
Ki Hong segera menjelaskan yang sebenarnya bahkan rnemperkenalkan orang itu kepada Ti Then, tanyanya kemudian "Kau sudah bertemu dengan kepala barisan Shia Kiauw To ???"
"Aku tidak melihat dia berjalan keluar, mungkin masih berada di dalam Benteng"
"Kalau begitu bagus sekali, Siauw-te akan masuk mencari dia untuk memberi laporan. Sehabis berkata segera dia memimpin jalan menuju kedalarn Benteng..
"Siapa itu kepala barisan she-Shia ?"
Tanya Ti Then.
"Oooh... dia adalah seorang pendekar pedang merah dari benteng kami, sebutannya sebagai Juan Sim Kiam atau si pedang penembus ulu hati, Shia Pek Tha din merupakan salah satu dari murid-murid kesajangan majikan Benteng kami, ini malam dialah yang bertugas sebagai kepala regu jaga asal kita menemukan sesuatu urusan harus dilaporkan kepada dirinya terlebih dahulu"sahut Ki Hong.
"Ooh kiranya sipedang penembus ulu hati Shia Pek Tha, pada tahun yang lalu dikota Tiang An Cayhe pernah bertemu dan minum arak bersama dengan dia, ehm dia memang merupakan seorang yang sangat periang dan suka bergaul."
"Dengan cara bagaimana Ti Then bisa berkenalan dengan dirinya?"
"Pada suatu malam pada tahun yang lalu"
Sahut Ti Then "ketika Caybe sedang berpesiar didaerah istana delapan dewa, tiba-tiba kulihat didekat tempat itu tiga orang sedang bertempur, ketika aku melihat lebih dekat lagi segera kukenal kalau dua diantaranya adalah iblis dari kalangan Hek to, ketika aku lihat Shia Pek Tha agaknya tidak kuat melawan mereka maka aku munculkan diri untuk menolong menggempur mundur kedua orang itu, demikanlah kami berkenalan dan ketika saling omong-omong itulah baru aku ketahui kalau dia merupakan pendekar pedang merah dari Benteng Pek Kiam Po.
Keesokan harinya Shia Pek Tha mengundang cayhe minum arak di atas loteng Cuang Yuan Lo...
Ki Hong menjadi amat girang, ujarnya "Jika dernikian adanya, maka Ti heng dengan kepala regu Shia Pek Tha merupakan kawan lama, nanti bilamana bertemu dengan Ti heng tentu akan sangat girang"
Sembari berbicara mereka telah berjalan berputar putar di dalam puncak gunung itu sebuah bangunan yang sangat megah dan kokoh kuat segera terbentang di hadapan mata, ketika dipandang lebih teliti lagi terlihatlah benteng Pek Kiam Po yang sangat terkenal dan menggetarkan kangouw ini mem punyai bentuk bangunan yang amat aneh tetapi sangat angker.
Bangunan itu didirikan di bawah tebing yang amat curam disekelilingnya dikelilingi oleh tembok yang amat tinggi, di depan pintu benteng berdirilah sebuah loteng pengintai sehingga keadaannya mirip sekali dengan sebuah kota kecil.
setiap ruangan di dalam benteng tersebut terang benderang sehingga kelihatan besar keangkerannia.
"Benteng Pek Kiam Po."
Tiga buah tulisan yang amat besar terpancang jauh tinggi di depan pintu benteng dan terlihat terbuat dari emas murni di bawah sorotan sinar rembulan memancarkan sinarnya yang menyilaukan mata.
Benteng Pek Kiam Po.
Inilah Benteng Pek Kiam Po yang mewakili keadilan dan kebenaran di dalam dunia Kangouw.
Oleh karena di dalam hati Ti Then memangnya mem punyai suatu rencana yang tertentu begitu melihat benteng Pek Kiam Po yang amat megah serta angker itu tak terasa lagi menjadi amat tegang.
Untuk menenangkan pikiran serta hatinya dia menarik napas panjang-panjang, kemudian ujarnya.
"Ehm . sungguh besar benteng ini mungkin seluruh benteng ini berisi ribuan orang banyaknya?"
Ki Hong hanya mengia saja tanpa memberikan penjelasan yang lebih panjang.
Agaknya semua anggota dari benteng Pek Kiam Po itu mem punyai kewajiban untuk menutup mulutnya rapat-rapat terhadap segala rahasia dari benteng itu sehingga mereka sama sekali tidak mau membuka rahasia di depan orang luar.
Ti Then pun segeta merasakan kalau pertanyaannya sudah keterlaluan, segera dia putar haluan ujarnya lagi.
"Tebing itu pun amat besar sekali, apa tebing itu yang disebut sebagai Sian Ciang Jen ??.
"Tidak salah"
Sahut Ki Hong"
Sian Ciang Jen ini jauh lebih indah dari Sian Ciang Jen yang terdapat di atas gunung Hoa San.
Ketika itulah mereka telah sampai di depan pintu benteng yang sangat besar itu.
Dua orang penjaga pintu benteng begitu melihat yang datang adalah orang sendiri segera membukakan pintu mempersilahkan Ki Hong serta Ti Then masuk, segera Ki Hong membawa Ti Then kesebuah ruang tamu yang amat luas dan meletakkan tubuh Hong Mong Ling serta Cang Bun Piauw ke atas kursi, ujarnya kemudian.
"Ti heng, silahkan menunggu sejenak, aku hendak memberi laporan sebentar kepada Shia-te "
Baru saja dia selesai berbicara, tiba-tiba dari luar ruangan tamu yang luas itu berkumandang datang suara yang amat nyaring dan sedikit serak-serak yang sedang bertanya .
"Ki Hong, kau membawa siapa datang kemari ?"
Sehabis berkata seorang lelaki berusia pertengahan yang memiliki bentuk tubuh yang tinggi besar dan amat kekar berjaIan masuk ke dalam ruangan itu.
Wajah dari orang lelaki berusia pertengahan itu amat keren dan gagah, wajahnya persegi dengan telinga yang besar, alisnya tebal bagaikan sapu, matanya bagaikan bola mata seekor harimau hidungnya bagaikan hidung singa, berewoknya memenuhi seluruh wajahnia sedang tubuhnya memakai baju berwarna merah darah dengan sebilah pedang berwarna merah yang disorenkan dipinggangnya, sikap serta tindak tanduknya memperlihatkan seorang yang amat gagah sekali.
Orang ini tidak lain adalah sipedang penembus ulu hati, Shia Pek Tha adanya.
Ketika sinar matanya bertemu denga tubuh Hong Mong Ling serta Cang Bun Piauw yang bersandar di atas kursi dengan lemasnya itu tak terasa air mukanya berubah hebat, kakinya sedikit menutul tanah dengan kecepatan yang luar biasa melayang ketengah udara dan berkelebat ke samping tubuh kedua orang itu.
Tetapi ...ketika dia berjaIan lebih dekat lagi dan dapat melihat wajah dari Ti Then dengan sangat jelas, air,mukanya terlintaslah perasaan tertegunnya, serunya.
"Kau ...Ti Then??"
Ti Then segera merangap tangannya memberi hormat, ujarnya.
"Sejak perpisahan..apa.Shia..heng baik-baik saja??"
Si pedang penembus ulu hati Shia Pek Tha menjadi amat terkejut bercampur girang, sambil memandang kearah Hong Mong Ling serta Cang Bun Piauw dua orang tanyanya "Sebenarnya apa yang telah terjadi?"
"Ketika tadi siauwte berjalan hendak memasuki kota Go bi menemukan kedua orang ini menggeletak di pinggir jalan agaknya mereka telah dipukul hingga jatuh tidak sadarkan diri, karena siauwte kenal diantara mereka dua ada seorang yang merupakan pandekar pedang merah dari Benteng Pek Kiam Po maka sengaja datang mengantar mereka kembali "
Si pedang penembus ulu hati Shia Pek Tha setelah mendengar perkataan itu segera memeriksa keadaan dari Hong Mong Ling dan mengadakan pemeriksaan dengan teliti pada seluruh tubuhnya setelah itu barulah dia membuka kelopak matanya, ujarnya "Ehm ..tidak ada tanda-tanda terIuka dalam, agaknya hanya tertotok jalan darah pingsannya saja"
"Oooh... kiranya hanya tertotok jalan darah pingsannya saja"sahut Ti Then. Pada saat itu sipedang penembus ulu hati Shia Pek Tha telah memutar tubuhnya berkata kepada Ki Hong ujarnya.
"Cepat undang Pocu serta Siaocia datang."
Ki Hong menyahut dan segera berlalu dengan targesa gesa dari dalam ruangan.
Setelah itu barulah dengan perlahan Shia Pek Tha memeriksa keadaan dari Cang Bun Piauw, ketika menemukan kalau Cang Bun Piauw pun juga tertotok jalan darah pingsannya tak terasa lagi menjadi mengerutkan alis dalam dalam, ujar nya.
"Sungguh mengherankan sekali, bagaimana bisa terjadi urusan seperti ini?"
"Shia heng apa kenal dengan orang ini ? "
"Kenai"
Sahut Shia Pek Tha.
orang ini bernama Cang Bun Piauw dengan julukan sitikus rakus dart Go-bi dia merupakan seorang yang paling gemar pelesiran, bukan saja berjudi, mabok mabok kan serta suka main perempuan bahkan perbuatannya pun tidak ada yang merupakan pekerjaan baik-baik."
"Benar..memang hal ini amat aneh dan mengherankan sekali"
"Kalau benar mereka hanya ditotok jalan darah pingsannya kenapa Shia heng tidak membantu membebaskan jaIan darahnya yang tertotok.?.."
"Tidak"
Sahut Shia Pek Tha sambil menggelengkan kepalanya.
"Menanti setelah suhu datang baru kita bicarakan lagi, suhuku mem punyai pangetahuan yang sangat luas di dalam cara menotok jalan darah dari seluruh penjuru dunia, asalkan dia orang tua melihat sendiri cara menotok jalan darah ini kemungkinan sekali bisa mengetahui siapakah sebenarnya orang yang merubuhkan mereka."
Setelah itu dia bangkit berdiri, kepada Ti Then sambil merangkap tangannya memberi hormat ujarnya.
"Aku orang she-Shia seharusnya mengucapkan banyak terima kasih terlebih dahulu pada Lo-te."
"Oooh... tidak perlu sungkan-sungkan"
"Sesudah perpisahan kita di kota Tiang An di dalam sekejap saja sudah lama tidak bertemu selama ini Lo-te baik-baik bukan ?"
Mendengar perkataan itu Ti Then tertawa pahit, sahutnya.
"Sangat buruk, semakin lama semakin miskin". Sejak tadi Shia Pek Tha telah dapat melihat si pendekar baju hitam yang berdiri di hadapannya sekarang jauh berbeda keadaannya dengan sewaktu bertemu dikota Tiang An pada tahun yang lalu, ketika tahun yang lalu dia bertemu dengan Ti Then bukan saja pakaian yang dipakainya sangat mewah serta perlente bahkan keadaannya pun sangat gagah, sedang kini Ti Then telah berubah demikian miskinnya sehingga baju yang dipakai pun compang camping tidak karuan dan sangat dengkil sekali tidak terasa hatinya menjadi amat terkejut bercampur heran, kini ketika mendengar dia bilang kalau dirinya semakin lama semakin miskin tak tertahan tanyanya. -ooo0dw0ooo-
Jilid 3.1. Hong Mong Ling si pendusta "Lo-te telah menemui bencana apa yang demikian seriusnya?"
"Tidak ada "
Sahut Ti Then sambil gelengkan kepalanya.
"Hanya siauw-te telah menghabiskan harta benda peninggalan leluhurku, sehingga kini telah berubah menjadi seorang yang amat miskin"
Shia Pek Tha tertawa terbahak-bahak, tanyanya .
"Perkataan dari Lo-te ini apa benar benar ?"
"Buat apa aku menipu dirimu ?? "
Shia Pek Tha tersenjum ujarnya.
"Kalau begitu aku orang she-Shia benar-benar mengagumi dan memuji dirimu."
Perkataan dari Shia-heng ini bagaimana bisa diucapkan ??"
Tanya Ti Then sambil tertawa kaget.
"Lo-te punya kepandaian silat yang demikian tingginya ternyata dapat hidup tenteram di dalam keadaan yang miskin, tidak pernah menggunakan kepandaian silatnya untuk merampok atau merampas barang orang lain, bukankah hal ini patut dikagumi dan dipuji '???"
Shia-heng tidak usah terlalu memuji dan kagum terhadap Siauw-te, kemungkinan sekali pada suatu hari bilamana Siauw-te sudah tidak bisa menahan kemiskinan yang menimpa segera akan mendaftarkan diri menjadi anggauta perampok.
Baru saja Shia Pek Tha hendak berbicara lagi, mendadak matanya dapat melihat suhunya si pedang naga emas Wi Ci To beserta putrinya Wi Lian In telah berjalan memasuki ruangan itu, dengan nada yang serius ujarnya dengan cepat .
"Suhu telah datang! "
Orang yang disebut sebagai jago nomor dua di dalam Bu-lim ini, pocu dari Benteng Pek Kiam Po sipedang naga emas Wi Ci To sekali pun usianya sudah lebih dari enam puluh tahun tetapi jika dilihat dari wajah serta bentuknya tidak lebih kelihatan baru berusia lima puluh tahunan.
Tubuhnya tinggi besar dengan sikap serta tindak tanduk yang halus bagaikan siucay tetapi keren bagaikan baja bahkan sikapnya amat menjenangkan sekali, bila orang yang tidak tahu tentu tidak akan percaya kalau dia merupakan seorang jago berkepandaian tinggi yang memiliki ilmu pedang yang amat lihay, bahkan mungkin menganggap dia sebagai seorang siucay yang hanya tahu akan syair-syair saja.
Agaknya dia telah mendapatkan keterangan yang amat jelas dari mulut Ki Hong oleh karena itu setelah berjalan masuk ke dalam ruangan sedikit pun tidak memperlihatkan sikapnya yang amat terperanyat, dengan tidak mengucapkan sepatah kata pun juga dia berjalan mendekati tubuh Hong Mong Ling kemudian menggendong tubuhnya dan direbahkan ke atas tanah, tangannya tidak ambil diam sampai di situ saja dengan amat cekatan mengadakan pemeriksaan diseluruh tubuhnya.
Putri dari Wi Ci To jaitu Wi Lian In yang berada di sampingnya dengan wajah yang penuh perasaan kuatir memandang tak henti-hentinya ketubuh Hong Mong Ling, ujarnya dengan agak gugup.
"Dia, dia tidak mengapa bukan ?"
Putri dari Wi Ci To itu memang amat cantik sekali wajahnya, agaknya perkataan dari majikan patung emas sedikit pun tidak salah.
Wajah dari Wi Lian In hampir mem punyai kesamaan dengan wajah dari Liuw Su Cen dari sarang pelacur Touw Hoa Yuan, wajahnya berbentuk kuaci dengan alisnya bagaikan bulan, matanya yang cemerlang bagaikan bintang timur, bibirnya yang keciI mungil berwarna kemerah-merahan sehingga kelihatan amat cantik sekali, keadaan serta sikapnya pun jauh lebih agung dan lebih halus jika dibandingkan Liauw Su Cen, Ti Then yang melihat kecantikan wajahnia tak terasa diam-diam memuji tak henti-henti-nya, pikirnya.
"Hong Mong Ling sudah mempunyai bakal istri yang demikian cantiknya ternyata masih pergi bermain cinta dengan seorang pelacur urusan ini memang sedikit mengherankan . ."
Ketika terpikir olehnya kalau Wi Lian In ini kemungkinan sekali akan berubah menjadi bakal istrinya tak terasa lagi jantungnya berdebar dengan amat keras.
"Dapatkah dia berhasil memperistri Wi Lian In yang cantik jelita itu?"
Ketika dia sudah menjadi istrinya, perintah selanjutnya dari majikan patung emas itu akan menjuruh dia berbuat apa lagi? Apakah dengan meminyam sebutan "menantu"
Dari dirinya untuk menutupi gerak-gerik selanjutnya kemudian mengadakan gerakan-gerakan untuk mengacau dan menghancurkan benteng Pek Kiam Po ini dari dalam?
Tidak, Majikan patung emas sudah pernah memberi penjelasan kepadanya kalau dia tidak akan memerintahkan dirinya untuk melakukan pekerjaan yang membahajakan orang-orang dari benteng Pek Kiam Po, tetapi perkataannya apa boleh dipercaya?
Kalau begitu sekali pun "Rencana"
Dari majikan patung emas itu tidak mendatangkan kerugian bagi orang-orang dari Benteng Pek Kiam Po, apa mungkin "rencana"
Nya mendatangkan keuntungan bagi benteng Pek Kiam Po ini?
Kalau mendatangkan keuntungan bagi Benteng Pek Kiam Po lalu apakah keuntungan itu?
Ketika Ti Then berpikir sampai di sini tidak terasa lagi dia mulai melayangkan pandangannnya memperhatikan sipedang naga emas Wi Ci To itu.
Sampai saat ini juga dalam hatinya dia masih tetap mencurigai kalau Majikan patung emas itu adalah rubahan dari si pedang emas Wi Ci To ini dikarenakan dia hendak melindungi putrinya Wi Lian In tidak sampai dijodohkan dengan seorang pemuda hidung bangor maka dia hendak menggunakan dirinya untuk mengacau dan merusak hubungan cinta antara putrinya dengan Hong Mong Ling, dengan demikian putrinya Wi Lian In bisa dijodohkan dengan dirinya.
Dan kini terlihatlah olehnya pada wajah Wi Ci To memperlihatkan perasaan `tidak suka"
Dan 'tidak puas"
Nya terhadap Hong Mong Ling ini. Sipedang naga emas Wi Ci To sesudahnya memeriksa dengan teliti seluruh tubuh dari Hong Mong Ling, alisnya dikerutkan kencang-kencang ujarnya dengan keren.
"Hm..dia terpukul belakang lehernya terlebih dahulu kemudian baru ditotok jalan darah pingsannya"
"Suhu, dia tertotok oleh cara menotok jalan darah yang macam bagaimana?"
Tanya Shia Pek Tha. Cara.menotok jalan darah yang sangat biasa, tidak ada tempat yang terlalu mengherankan "
Sesudah berhenti sejenak dia menoleh kearah Cang Bun Piauw sambil tanyanya.
"Siapa orang ini?"
"Si tikus rakus dari Go bi Cang Bun Piauw"
Si pedang naga emas Wi Ci To sambil menggerakkan tangannya membebaskan jalan darah yang tertotok pada tubuh Hong Mong Ling tanyanya.
"Orang mana tikus rakus dari Go bi itu?"
"Rumahnya tinggal didaiam kota Go bi, dia adalah seorang kongcu yang suka pelesiran, suka judi mau pun mabok-mabokan"
Mendengar perkataan itu dengan wajah yang penuh perasaan terkejut Wi Lian In angkat kepalanya, tanyanya pada Shia Pek Tha.
"Pek Tha suheng, kau bilang apa? Pada wajah Shia Pek Tha segera timbul perasaan bimbang dan sedihnya, sesaat kemudian barulah sahutnya.
"Sumoay, kau tidak usah marah kemungkinan sekali suhengmu telah salah bicara' "Hmm...Dengus Wi Ci To dengan dinginnya."
Cepat katakan dengan jelas kau kenal dengan orang ini ?"
"Tecu hanya tahu tindakan serta gerak gerik dan perbuatan orang ini saja, dengan dirinya sama sekali tidak kenal"
"Hmm..aku lihat dia sama sekali tidak paham ilmu silat."
"Benar"
Sahut Shia Pek Tha,"
Ajahnya pernah memangku jabatan sebagai pembesar kota sehingga harta kekajaannya amat banyak sekali sedang dia lalu menggunakan nama besar dari bapaknya serta kekajaannya untuk berbuat tidak senonoh diluaran dan menganiaja kaum rakjat yang lemah."
Dengan-perlahan Wi Ci To putar tubuhnya pergi membebaskan jalan darah dari Cang Bun Piauw, tanyanya lagi.
"Lalu bagaimana mungkin Mong Ling bisa bergaul dengan orang macam ini?"
"Tentang ini tecu juga tidak tahu,"
Sahut Shia Pek Tha dengan cepat.
"Kemungkinan sekali Mong Ling sute sama sekali belum pernah kenal dengan orang ini, hanya mungkin... pokoknya bagaimana keadaan sesungguhnya lebih baik tunggu saja Mong Ling sute sesudah sadar kembali baru kita tanyai"
Wi Ci To melihat Hong Mong Ling belum juga sadarkan diri segera putar tubuhnya mengangguk kepada Ti Then, ujarnya sambil tertawa.
"Inikah si pendekar baju hitam Ti Then ?"
"Benar"
Sahut Ti Then sambil rangkap tangannya memberi hormat.
"Ha...ha...ha .Lohu telah tidak sedikit mendengar cerita mengenai pendekar baju hitam, lohu amat girang bisa bertemu dengan seorang pendekar muda yang amat terkenal di dalam dunia kang ouw."
"Pocu terlalu memuji"
"Siapakah suhu dari Ti-heng ?"
Ditanyai dengan pertanyaan itu Ti Then segera menjadi serba susah, dengan gugup sahutnya.
"Tentang hal ini boanpwe..........."
"Ha... ha.. ha.. bilamana Tiheng merasa ada sesuatu yang tidak enak untuk dibicarakan lebih baik tidak usah menyawab, orang yang bisa menggembleng seorang pemuda seperti Ti heng ini tentunya merupakan seorang diago tua yang telah lama menyembunyikan diri dan mengasingkan diri dari pengalaman."
"Tidak salah"
Sahut Ti Then cepat.
"Suhuku memang telah lama mengasingkan diri dari pergaulan, dia orang tua pernah memberi tahu pada boanpwe untuk tidak secara sembarangan mernberitahukan namanya kepada orang lain"
Bagaimana pun juga pengalaman dari Wi Ci To telah amat luas, begitu melihat keadaan itu segera dia tukar pembicaraan, ujarnya lagi.
"Pada tahun yang lalu Ti-heng pernah membantu Shia Pek Tha memukul mundur musuh tangguh dan ini hari Ti-heng menolong muridku lagi pulang ke dalam Benteng dalam hati Lohu benar-benar merasa sangat berterima kasih.
"Aah..mana, mana . hanya secara kebetulan saja, perlu apa terlalu dipikirkan."
Saat itulah terdengar suara Shia Pek Tha yang sedang berseru.
"Suhu ... Mong Ling sute sudah sadar kembali"
Sinaga mega Hong Mong Ling yang rebah terlentang ditengah ruangan dengan perlahan sadar kembali, sambil mengucak-ucak matanya dia memandang dengan perlahan kesekelilingnya, tetapi ketika dia melihat dengan jelas kalau dirinya sedang rebah ditengah ruangan dalam Benteng Pek Kiam Po dengan cepat segera meloncat bangun.
Pada saat itu pula ketika dilihatnya Cang Bun Piauw berada pula disisi tubuhnya tak terasa air mukanya berubah dengan hebatnya.
Dengan dingin ujar Wi Lian In.
"Hm.. telah terjadi peristiwa apa?"
Hong Mong Ling tidak segera memberi jawaban, dengan wajah yang penuh perasaan terkejut dan ketakutan dia memandang wajah Wi Ci To, Shia Pek Tha serta akhirnya berhenti pada wajah Ti Then.
Dengan pandangan yang amat tajam dia memandang beberapa saat lamanya ke atas wajahnya kemudian dengan bimbang gumamnya.
"Kau..kau ....siapa kau? "
"He ..he ,sahut Wi Ci To sambil tertawa dingin.
"Dia adalah sipendekar baju hitam Ti Then, juga merupakan in-jin yang telah menolong kau kembali."
Mendengar perkataan itu dengan cepat sambung Ti Then.
"Malam tadi cayhe kebetulan sedang lewat hendak masuk kota ketika sampai diluar kota telah melihat di samping jalan rebah Hong-heng berdua dengan tidak sadarkan diri, oleh karena cayhe kenal kalau Hong-heng adalah pendekar pedang merah dari benteng Pek Kiam Po ini maka sengaja menolong Hong heng berdua kembali ke dalam benteng. Ketika Hong Mong Ling dengar kalau Ti Then menemukan dirinya berada diluar kota dalam hatinya baru merasa amat lega sedang perasaan terkejut serta ketakutan yang menghiasi wajahnya pun dengan perlahan mulai lenyap. Dengan cepat dia bangkit berdiri sambil ujarnya.
"Ooh ... kiranya begitu, kalau begitu cayhe mengucapkan banyak terima kasih dahulu atas budi pertolongan dari Ti-heng,. Sambil berkata dia merangkap tangannya memberi hormat kepada Ti Then. Wi Lian In yang berdiri disisinya dengan wajah yang cemberut ujarnya dengan amat dingin.
"Cepat bilang, bagaimana bisa terjadi peristiwa ini?"
Hong Mong Ling melihat sekejap kearah Cang Bun Piauw yang masih belum sadarkan dirinya, pikirnya dalam hati.
"Hmm ...sekarang dia belum sadar kembali, biar aku tunggu sebentar lagi baru bicara."
Berpikir sampai di situ, tangannya memegang belakang leher, ujarnya .
"Ehm..bicara sesungguhnya aku sendiri juga tidak tahu telah terjadi peristiwa apa...Wajah Wi Ci To segera berubah, dengan keren bentaknya.
"Hmm..Kau dipukul orang hingga tidak sadarkan diri mana mungkin tidak tahu apa yang telah terjadi ? Dengan tetap menggosok kedua pelipisnya ujar Hong Mong Ling dengan perlahan, .
"Suhu...kau orang tua tidak usah marah biarlah tecu dengan tenang mengingat-ingat kembali-Heeei...kepalaku masih tetap pusing sekali...aduh."
"Hmm ...sungguh kurang ajar"
Dengus Wi Lian In sambil depakkan kakinya ke atas tanah. Hong Mong Ling dengan tundukkan kepalanya "berpikir keras"
Menanti setelah dia melihat Cang Bun Piauw dengan perlahan-lahan sadar kembali barulah angkat kepalanya kembali sambil sahutnya.
--Tecu sekarang sudah teringat kembali peristiwa yang sebenarnya adalah begini, ini hari ketika tecu sampai diluar kota Go bi cuaca sudah hampir gelap, baru saja hendak melangkah masuk kota tiba-tiba di belakang tubuhku terdengar ada seseorag yang sedang berteriak teriak memanggil tecu.
Hei ..yang berada di depan bukan kah Mong Ling heng?"
Ketika tetiu menoleh terliharlah orang itu adalah Cang Bun Piauw adanya"
"He... h.e..Potong Wi Lian In sambil tertawa dingin "bagus sekali kiranya kau sudah berkenalan dengan si tikus rakus dari Go bi Cang Bun Piauw ini"
"In moay jangan salah paham"
Ujar Hong Mong Ling dengan ketakutan.
"Siau heng sama sekali tidak kenal dengan orang ini, kami tidak lebih hanya punya kesempatan bertemu satu kali saja"
"Hmmm .. lanjutkan !", bentak Wi Ci To. Hong Mong Ling ragu-ragu sejenak kemudian barulah sambungnya.
"Ketika tecu melihat orang itu adalah dia maka segera tecu tanya dia punya urusan apa, dia tidak ada hanya katanya baru saja menagih hutang dari desa dan kini akan pulang dalam kota, dia ingin berjalan bersama-sama dengan tecu. Ketika baru saja berjalan tidak jauh mendadak dari samping jaIan meloncat keluar seorang berkerudung menanyakan tecu apakah benar pendekar pedang merah dari Benteng Pek Kiam Po, maka segera tecu membenarkan pertanyaan itu. Siapa tahu orang berkerudung itu tanpa mengucapkan kata-kata lagi segera menjerang tecu."
Ti Then yang berdiri di samping ketika mendengar ceritera itu diam-diam merasa amat geli, pikirnya.
"Majikan patung emas bilang Hong Mong Ling ini berhati tidak lurus jadi orang amat curang ternyata sedikit pun tidak salah. Didengar dari cerita bohongnya ini sudah tahu kalau kepandaiannya di dalam hal itu amat liehay sekali."
Sinar mata Wi Ci To memancarkan sinar yang amat tajam potongnya.
"Bagaimana nada suara dari orang berkerudung itu? Berapa besar usianya?"
"Jika didengar dari nada ucapannya agaknya berasal dari daerah San Si, sedang usianya kurang lebih lima puluh tahunan."
"Pakai senyata?"
"Tidak"
Sahut Hong Mong Ling dengan cekatan.
"Tetapi ilmu telapaknya amat aneh dan liehay sekali, tecu yang didesak dengan serangan telapak yang bertubi-bertubi itu memaksa tecu sama sekali tidak punya kesempatan untuk mencabut pedang menyambut datangnya serangan musuh. Sehingga akhirnya-...akhirnya belakang leherku terkena gaplokannya sesudah itu urusan selanjutnya tecu tidak tahu sama sekali Sinar mata Wi Ci To berkelebat tak henti-hentinya, dengan berat ujarnya.
"Kau tidak.tahu kepandaian silatnya dari golongan apa?"
Wajah Hong Mang Ling segera menampiIkan perasaan kecewanya, sahutnya dengan sedikit malu.
"Benar tecu sama sekali tak tahu"
"Ehm.."
Sambil mengelus jenggotnya Wi Ci To berpikir keras sejenak.-"Didaerah sekitar San-si siapa yang paling hebat dalarn ilmu telapaknya?"
"Apa mungkin Thiat Sah Ciang atau si pukulan pasir besi, Cau Si Pei? "
"Tidak mungkin"
Sahut Wi Ci To sambil gelengkan kepalanya.
"sekali pun ilmu telapak dari si pukulan pasir besi. Cau Si Pei sangat hebat tetapi dia tidak mungkin memenangkan kalian"
"Tia"
Seru Wi Lian In.
"dia sudah sadar, coba tanyakan pada dirinya"
Wi Ci To ketika melihat Ceng Bun Piauw sudah bangkit dan duduk di atas tanah segera memutar tubuhnya. Sinar matanya dengan amat tajam memperhatikan seluruh tubuhnya,kemudian barulah tanyanya.
"Cang kongcu, dapatkah kau menceritakan peristiwa yang terjadi kemarin malam dengan amat teliti kepada Lo hu? "
Kau orang tua apakah majikan dari Benteng Pek Kiam Po?"
"Tidak salah! memang lohu sendiri."
Sahut Wi Ci To sambil mengangguk.
"Selamat bertemu, selamat bertemu. Siauw-cu telab lama rnendengar nama besar dari Wi Pocu, hanya selama ini tidak punya jodoh untuk bertemu, ini hari dapat ..."
Wi Lian In yang tahu orang itu merupakan seorang kongcu yang suka pelesiran, judi mabok-mabokan dalam hatinya sudah timbul perasaan bencinya, kini tak tertahan lagi bentaknya dengan keras.
"Tidak usah banyak ngomong, cepat bicara."
Cang Bun Piauw yang dibentak men jadi berdiri termangu-mangu, segera dengan wajah yang penuh senjuman tengik lanjutnya.
"Baik.. baik.
"peristiwa yang sebenarnya adalah begini. Ini hari Siauw seng pergi kedesa Lie-khia-cung untuk menarik pajak sawah, pada saat pulang dan tiba diluar kota secara kebetulan telah bertemu dengan Hong-heng ini, lalu siauw-seng berjalan bersama dengan dirinya, tetapi belum berjalan begitu jauh secara tiba-tiba dari samping jalan meloncat keluar seorang yang berkerudung ..."
Apa yang diceritakan olehnya persis dengan cerita yang dikisahkan oleh Mong Ling. Tanya Wi Ci To .
"Sesudah dia merubuhkan muridku, baru memukul rubuh dirimu?"
"Benar "-sahut Cang Bun Piauw sambil mengangguk.
"Siauw seng tidak punya dendam dan sakit hati dengan dirinya ternyata dia berani turun tangan terhadap siauw seng, sungguh kurang ajar sekali "
"Hmm sesudah dia pukul rubuh muridku pernah mengucapkan kata-kata apa?"
Cang Bun Piauw menundukkan kepalanya pura-pura berpikir keras, sesaat kemudian baru sahutnya.
"Ooh .. ada, sesudah dia pukul rubuh Hong heng dia pernah tertawa dingin sambil ujarnya..He he... pendekar pedang merah dari Benteng Pek Kiam Po tidak lebih juga hanya begini saja"
Sehabis berbicara segera dia lajangkan tangannya memukul rubuh Siauw seng. Wi Ci To mengangguk perlahan kemudian dengan perlahan dia menoleh ke arah Hong Mong Ling sambil tanyanya.
"Sebenarnya kau kuat menahan beberapa jurus serangannya?"
"Di dalam keadaan yang amat gugup dan kelabakan tecu hanya berhasil menyambut sepuluh jurus saja"
"He..he..orang yang bisa mengalahkan kau hanya di dalam sepuluh jurus saja tidak banyak"
"Suhu..tahukah kau siapa orang itu?"
"Ehm . aku masih belum bisa mengetahui"
Sahut Wi Ci To sambil gelengkan kepalanya.
"Apa mungkin musuh bujutan suhu pada masa yang lalu...Co Shu Koay kiam atau sipendekar pedang tangan kiri, Cian Pit Yuan? "
Tanya Shia Pek Tha.
"Bila dia orang yang melakukan"
Sahut Wi Ci To-"
Seharusnya dia langsung datang mencari aku, tidak mungkin bisa pergi menjerang Hong Mong Ling"
"Suhu"
Seru Hong Mong Ling "Siapa itu sipendekar pedang tangan kiri, Cian Pit Yuan ?
"Seorang pendekar pedang kenamaan yang pada dua puluh tahun yang lalu pernah kalah di bawah ilmu pedangku dan dia pernah bersumpah untuk mencari balas."
Berbicara sampai di sini dia menoleh memandang Shia Pek Tha lagi, lanjutnya.
"Tidak perduli siapakah orang berkerudung itu, tetapi dia sudah menghina Hong Mong Ling sudah tentu kedatangannya tidak punya niat baik, cepat kau pergi bangunkan beberapa orang pendekar pedang merah untuk menyaga diseluruh tempat sekitar Benteng?."
Shia Pek Tha segera bungkukkan dirinya menerima perintah dan mengundurkan diri dari dalam ruangan.
Sesudah memberi perintah pada Shia Pek Tha dengan perlahan Wi Ci To menoleh lagi kearah Hong Mong Ling, ujarnya.
"Mong Ling, kau bawalah Ti-heng beserta Cang kongcu masuk ke dalam kamar untuk beristirahat, besok pagi-pagi suruhlah orang menghantar Cang Kongcu masuk ke dalam kota Go-bi terlebih dahulu"
Hong Mong Ling segera bungkukkan diri menerima perintah, setelah itu kepada Ti Then serta Cang Bun Piauw ujarnya.
"Kalian berdua silahkan mengikuti siautw-te masuk kamar untuk beristirahat."
Ti Then serta Cang Bun Piauw segera minta ijin pada Wi Ci To dan mengikuti di belakang tubuh Hong Mong Ling ke luar dari ruangan tamu, setelah berjalan beberapa lama sampailah mereka disebuah deret kamar yang memanyang, Hong Mong Ling dengan cepat membuka dua buah pintu kamar, semula dia mempersilahkan Ti Then memasuki salah satu kamar kemudian barulah membawa Cang Bun Piauw kekamar yang lain.
Sesudah masuk ke dalam kamar tangannya segera menutupi pintu dan menjulut lampu, ujarnya kepada Cang Bun Piauw dengan nada yang amat perlahan.
"Sungguh amat bahaja, kurang sedikit saja diketahui rahasia kita""
"Siapa bilang tidak, semula kita masih berada di dalam Touw Hoa Yuan dan di pukul rubuh oleh Lu kongcu itu, bagaimana akhirnya bisa dibuang diluar kota?"
"Hmm . .mungkin Lu kongcu itu telah membawa kita keluar kota . kali ini berhasil mengelabuhi mereka tetapi kau harus ingat jangan sekali-sekali sampai keadaan yang sesungguhnya bocor dan diketahui orang lain.
"Ooh ..sudah tentu sudah tentu..
"He...he ."ujar Hong Mong Ling lagi.
"Bilamana urusan ini sampai diketahui orang lain dan sumoayku tahu kalau aku pernah pergi main wanita .he . he ..tentu dia tidak mau kawin sama aku lagi, saat itu aku akan membereskan nyawamu."
Cang Bun Piauw yang diancam seperti itu terpaksa hanya bisa tertawa pahit saja sambil sahutnya "Kau legakanlah hatimu, orang lain aku berani main-main tetapi terhadap Hong-heng aku tidak akan berani main-main"
"Masih ada"
Tambah Hong Mong Ling.
"Besok pagi sesudah kau pulang ke dalam kota segera pergi ke dalam Touw Hoa Yuan untuk memberi peringatan kepada Ku le, katakan padanya untuk jangan menceritakan urusan kemarin malam kepada orang lain kalau tidak hmm . hm hmm aku tidak akan berbuat sungkan-sungkan lagi terhadap dirinya."
"Baik, baik...siauwate tentu melaksanakan perintah ini dengan sebaik-baiknya"
"Bagus, sekarang kau boleh beristirahat, aku pergi."
Sehabis berkata segera dia putar tubuh untuk berlalu dari dalam kamar tersebut.
"Hong-heng tunggu sebentar !"-"Ada urusan apa?"
Tanya Hong.
Mong Ling sambil balikkan tubuhnya, Cang Bun Piauw menuding kearah kamar sebelah, ujarnya dengan perlahan "Siauw-te rasa orang ini agaknya pernah kita jumpai, entah bagaimana perasaan Hong-heng?"
"Hm..dia adalah sipendekar baju hitam Ti Then dan merupakan seorang dari kalangan yang punya nama sangat terkenal, kau pernah bertemu dengan dia ? "Tidak...tidak..."
Sahut Cang Bun Piauw cepat.
"Hanya saja siuaw-te rasa wajahnya sedikit mirip, sedikit mirip dengan bangsat she Lu itu "
Mendengar perkataan itu wajah Hong Mong Ling segera berubah, sinar matanya dengan tajam memandang wajah Cang-Bun Piauw, ujarnya.
"...Tapi ini tidak bisa mungkin terjadi."
"Kenapa tidak mungkin?,"
"Ehm..kau curiga kalau bangsat she Lu itu adalah jelmaan dari dirinya?"
"Sama sekali Cang Bun Piauw tidak pernah berpikir kalau urusan bisa berubah ,demikian seriusnya, mendengar perkataannya itu dia menjadi sangat terperanyat, balik bertanya.
"Kau lihat benar tidak?"
Hong Mong Ling menggigit kencang sesaat kemudian barulah angkat bicara lagi, sahutnya.
"Hm..untung saja kau cepat peringatkan diriku, siauw te pun merasa kalau dia mirip sekali degan bangsat she Lu itu, tetapi kalau memang perkataan ini benar apa tujuan darinya untuk berbuat demikian?"
"Mungkin dia hendak menggunakan kesempatan ini untuk masuk ke dalam Benteng dan melakukan suatu pekerjaan yang tidak menguntungkan bagi keselamatan Benteng Pek Kiam Po"
"Tidak mungkin"
Sahut Hong Mong Ling sesudah berpikir sejenak"
Alasannya ada dua, pada urusan sebelumnya dia sama sekali tidak tahu kalau kita akan pergi ke Touw Hoa Yuan untuk mencari senang, seperti mungkin bisa menyamar sebagai "Lu kongcu"
Untuk menunggu kita di sana, ke dua dia adalah jago dari kalangan Pek-to di dalam dunia persilatan dengan Benteng Pek Kiam Po sama sekali tidak punya ganyalan apa-apa, mana mungkin dia bisa menggunakan kesempatan ini untuk mamasuki Benteng dan melakukan pekerjaan yang tidak menguntungkan bagi Benteng Pek Kiam Po kita ini?"
"Kalan tidak sudah tentu dia punya tujuan untuk merusak perkawinan antara kau dengan nona Wi"
"Tidak mungkin.."
Sahut Hong Mong Ling sambil gelengkan kepalanya lagi "Dia tidak punya alasan untuk merusak perhubungan antara diriku dengan sumoay, kita boleh berbicara satu langkah ke belakang, bilamana dia punya tujuan ini kenapa dia pun ikut membantu kita untuk mangelabuhi mereka ?"
"Bilamana bangsat she-Lu itu adalah jeimaan dirinya, masih ada satu kemungkinan ... dia ingin merebut bakal istrimu ?", Pada air muka Hong Mong Ling segera terlintas senjuman yang amat dingin sahutnya.
"Hmm..dengan wajah serta keadaannya yang amat miskin itu dia masih belum mamadahinya?"
Sekali pun pada mulutnya dia bicara demikian padahal dalam hatinya telah timbut perasaan curiganya yang, amat tebal, segera ujarnya lagi.
"Kau beristirahatlah, biar aku pergi menjelidiki keadaan yang sesungguhnya."
Sehabis berkata segera dia putar tubuhnya berlalu dart kamar Cang Bun Piauw.
Ketika dia berjalan sampai di depan kamar Ti Then dillhatnya suasana kamar itu sudah amat sunyi, dengan perlahan dia angkat tangannya mengetuk kamar itu, panggilnya..
"Ti-heng "
Ti-heng..Ti-heng kau sudah tidur?"
Dari dalam kamar segera terdengar sahutan dari Ti Then, sahutnjna.
"Ooooh ..siapa? Hong-heng?silahkan masuk "
Hong Mong Ling setelah ragu-ragu sejenak kemudian mendorong pintu dan berjalan masuk, terlihatlah baju luar dari Ti Then telah dilepaskan dan dia sedang berbaring di atas pembaringan.
Melihat hal itu dengan cepat dia pura-pura mau mengundurkan diri sambil udiarnya.
"Ooh , kiranya Ti-heng sudah siap hendak tidur, kalau begitu siauw-te telah mengganggu"
"Hong-heng silahkan duduk."
Ujar Ti Then sambil bangkit duduk di atas pembaringan "Siauw-te belum punya maksud untuk tidur, lebih balk kita cerita-cerita saja.
Hong Mong Ling yang mendengar parkataannya persis seperti maksud di dalam hatinya diam-diam merasa amat girang, cepat dia duduk di atas sebuah kursi sambil rangkap tangannya memberi hormat, ujarnya.
"Budi pertolongan dari Ti heng membuat siauw-te bingung harus berbuat bagaimana untuk membalasnya."
"Ha..Ha..ha.....mana bisa dihitung sebagai menolong nyawamu, harap Hong-heng tidak usah risaukan dalam hati."
"Nama besar Ti-heng bagaikan halilintar yang memekikkan telinga, sudah lama siauw-te mengandung maksud untuk bertemu dengan Ti-heng, ini hari bisa bertemu muka boleh dikata sangat menjenangkan hati siauw-te.
"Ha...ha .. ha ... mana..mana..Sinaga Mega Hong Mong Ling nama ini jauh-lebih nyaring dan lebih terkenal di dalam Bu-lim."
Teringat kembali di dalam benak Hong Mong Ling ketika dia di dalam satu jurus saja telah dipukul rubuh oleh "Lu kong cu"
Tidak terasa lagi telinga serta wajahnya berubah menjadi kemerah-merahan, ujarnya.
"Mana mungkin, kepandaian siauw-te masih terlalu jauh ketinggalan jika dibandingkan dengan Ti-heng, harap mulai saat ini Ti-heng mau memberi banyak petunjuk kepada siauw-te."
"Ha... ha .. ha . Hong-heng berbicara demikian mungkin bisa membuat siauwte mejadi malu dengan sendirinya."
Hong Mong Ling pun tertawa, sahutnya.
"Ha ... ha, . Ti-heng terlalu merendahkan diri "
"Ooh ...kali ini Ti-heng berkunjung kekota Go-bi entah punya tujuan apa ?"
"Ooh ...siauwte hanya secara tidak sengaja lewat di sini, sebenarnya aku punya rencana untuk mencari kawan bermain."
"Ini hari Ti-heng dapat berkunjung ke dalam Benteng harap kaki mau tinggal beberapa hari di sini."
"Baiklah."
Sahut Ti Then tanpa pikir panjang lagi,"Memangnya sudah datang bilamana tidak mengganggu beberapa hari suhengmu juga tidak mungkin mau melepaskan diri siauw-te."
Hong Mong Ling lihat dia menyanggupi dengan demikian cepatnya tak terasa semakin curiga lagi, sambil tertawa paksa ujarnya.
"Asalkan Ti-heng tidak terlalu kesunyian atas kejelekan Benteng kami, siauw te dengan segala senang hati akan menyambut Ti-heng untuk berdiam beberapa hari lamanya di dalam, Benteng."
"Baiklah, siauw-te pun punya perasaan simpatik begitu bertemu muka dengan Hong-heng, dalam hatiku merasa amat girang sekali bisa berkawan dengan seorang semacam Hong-heng ini."
"Ha...ha, mana..mana... siauw-te dengar ilmu pedang dari Ti-heng amat lihay sekali, pada kemudian hari masih mengharapkan petunjuk-petunjuk dari Ti-heng."
"Memberi petunjuk dua buah kata Siauw-te tidak berani menerima, bilamana saling bertukar pikiran masih jauh lebih bagus lagi."
Diam-Diam hati Hong Mong Ling semakin girang pikirnya.
"Hmm...bagus sekali, kau pendekar baju hitam Ti Then sekali pun namanya tidak kecil tetapi bilamana bicara dalam hal ilmu pedang aku masih punya kepercayaan untuk merubuhkan dirimu, menanti besok pagi aku akan mencari kesempatan untuk minta petunjuk darimu, di hadapan orang banyak memukul rubuh dirimu, pada saat ini aku mau lihat kau masih punya muka tidak untuk bertamu di sini."
Sampai saat ini juga dia masih tetap berani untuk mengambil kesimpulan bahwa Ti Then adalah Lu Kongcu tetapi dia pun tidak berani untuk mengambil kesimpulan kalau Ti Then adalah Lu kongcu oleh karena itulah dia baru mengambil keputusan untuk mengajak dia bertanding ilmu pedang dan mengambil kesempatan itu mebuat malu Ti Then sehingga dia tidak berani berdiam lebih lama lagi di dalam Benteng Pek Kiam Po dengan sendirinya secara tidak langsung dia pun telah melenyaplan sebuah bencana dikemudian hari.
Terhadap kemampuannya dengan mengandalkan ilmu pedangnya bisa mengalahkan diri Ti Then dia sudah merasa mem punyai pegangan yang amat kuat oleh sebab itulah semakin berpikir semakin merasa girang, segera dia bangkit mohon diri, ujarnya.
"Hari sudah mendekati pagi Ti-heng silahkan beristirahat, siauwte mohon diri terlebih dahulu"
Sehabis berkata dia memberi hormat lagi dan mengundurkan diri dari dalam kamar.
Sesudah melihat Hong Mong Ling pergi jauh barulah dengan perlahan Ti Then bangkit berdiri untuk menutup pintu kamar dan balik lagi ke atas pembaringan, matanya dipejamkan rapat-rapat.
Padahal dia tidak bisa tidur karena dia merasa bahwa masib banyak urusan yang harus dipikirkan terlebih dahulu, banyak siasat yang harus diselidiki, persoalan pertama yang harus dipikirkan terlebih dahulu adalah.
"Benarkah sipedang naga emas Wi Ci To itu adalab majikan patung emas?"
Tadi dia pernah melakukan pemeriksaan yang amat teliti terhadap sikap serta seluruh gerak gerik dari sipedang naga emas Wi Ci To, tetapi sekali pun telah diperhatikan amat teliti dia tetap tidak bisa mengambil keputusan benar tidak dia adalah majikan patung emas, maka itu kini dia harus memikirkan sebuah "Bukti"
Dari penjelidikannya itu.
Dengan cara dan siasat apakah dia baru bisa menjelidiki kalau Wi Ci To itu benar atau tidak sebagai Majikan patung emas?
Ooh ..ada.
Asalkan bertanya dan menjelidiki sebentar kepada Shia Pek Tha atau Hong Mong Ling apakah, di dalam setengah tahun ini Wi Ci To selalu berada di dalam Benteng atau tidak maka dengan cepat dia akan mengerti benarkah dia majikan patung emas atau bukan.
Bilamana selama setengah tahun yang lalu Wi Ci To tidak pernah berada di dalam Benteng Pek Kiam Po maka dia tentu dan pasti adalah Majikan patung emas.
Tetapi bilamana selama setengah tahun yang lalu dia selalu berada di dalam Benteng maka sudah tentu dia tidak mungkin adalah Majikan patung emas.
Bilamana hasil dari penjelidikannya membuktikan kalau Wi Ci To bukan majikan patung emas, lalu apa mungkin majikan patung emas itu adalah sipendekar pedang tangan kiri Cian Pit Yuan?
Mengenai "Si pendekar pedang tangan kiri Cian Pit Yuan"
Ini dia pernah mendengar dan mengetahui kalau dia pun merupakan seorang pendekar yang amat lihay ilmu pedangnya, pada dua puluh tahun yang lalu dia pernah memiliki nama besar yang sejajar dengan nama Wi Ci To di dalam Bu-lim, kemudian di bawah hasutan serta gosokan orang banyak maka kedua orang, itu di hadapan orang banyak telah mengadakan pertandingan untuk menentukan tinggi rendahnya kepandaian masing-masing akhirnya Cian Pit Yuan kalah sedang telinga sebelah kanannnya pun berhasil ditabas oleh pedang Wi Ci To hingga tinggal separuh, sejak saat itulah Cian Pit Yuan lenyap dari dalam Bu-lim sampai saat ini.
Seorang pendekar pedang kenamaan secara tiba tiba mendapat kekalahan ditangan orang lain bahkan sebuah telinganya berhasil ditabas putus, hinaan dan perasaan malu seperti ini sudah tentu membuat hatinya merasa dendam, sedang sakit hati ini pun sudah tentu harus dicari balas.
Tetapi bilamana majikan patung emas itu adalah sipendekar pedang tangan kiri Cuan Pit Yuan, bilamana dia ingin membalas dendam seharusnya turun tangan sendiri, kenapa kini memerintahkan dirinya untuk menjusup ke dalam Benteng bertindak sebagai "Patung emas ?
Dia menggunakan "patung emas"
Ini untuk mencari kemenangan dari Wi Ci To, apa mungkin dia ingin memenangkan .pertandingan ini dengan tanpa menggunakan kepandaian silat?
Oleh sebab Itulah dia semakin merasa kalau Cuan Pit Yuan ini tidak mungkin adalah Majikan patung emas.
Lalu, siapakah sebenatnya Majikan patung emas itu?
Apakah dia sudah mengikuti dirinya masuk ke dalam Benteng Pek Kiam Po ini ?
Atau, apa mungkin dia merupakan salah satu anggota dari Benteng Pek Kiam Po ini?
Beberapa pertanyaan ini membuat dia benar-benar sukar untuk memejamkan matanya sebaliknya masih terdapat banyak sekali urusan yang membuat dia merasa tidak tenteram, sekarang dia sudah memasuki Benteng seratus pedang, sejak saat ini kemungkinan sekali dia bisa menggantikan kedudukan Hong Mong Ling sebagai mantu dari Wi Ci To tetapi sekali pun dirinya dapat dengan sungguh hati pergi mencintai Wi Lian In apabila pada suatu hari Majikan patung emas secara tiba tiba memerintahkan dirinya untuk melakukan sesuatu perbuatan yang tidak mendatangkan kebaikan bagi Wi Ci To, lalu dia harus berbuat bagaimana ?
Bilamana dia menolak perintah dari patung emas ini sudah tentu dia akan membunuh dirinya, kematian dari dirinya tidak perlu disajangkan tetapi bukankah dengan demikian malah merusak kebahagiaan dari Wi Lian In ?
Heeei, apabila kepandaian silat yang dimiliki o!eh Wi Ci To bisa mengalahkan dirinya itulah sangat bagus sekali, tetapi majikan patung emas pernah berkata selain si kakek pemalas Kay Kong Beng tidak mungkin ada orang yang bisa mengalahkan dirinya Hari telah pagi.
Terdengar suara orang yang sedang mengetuk pintu dari luar.
Dengan cepat Ti Then bangkit berdiri dan membuka pintu, terlihatlah si pedang penembus ulu hati Shia Pek Tha dengan menyinying sebuah buntalan telah berdiri di depan dengan cepat dia memberi hormat ujarnya.
"Ooh .. Shia heng, pagi benar."
"Ha . -ha .bagaimana tidurmu kemarin malam ???"
Ujar Shia Pek The sambil melangkahkan kakinya berjalan masuk ke dalam kamar.
"Masih baikan, apakah telah menemukan seseorang yang menjelundup masuk ke dalam benteng ??"
"Tidak ada"
Sahut Shia Pek Tha sambil gelengkan kepalanya.
"Kelihatannya orang berkerudung itu sama sekali tidak punya maksud berbuat jahat terhadap benteng Pek Kiam Po ini."
"Ooh... benar ??,"
"Menurut dugaan Ie-heng, tentunya dia merupakan seorang jago berkepandaian tinggi dari dalam Bu-lim yang ingin mencoba kepandaiannya sendiri sehingga dia sengaja dengan wajah yang berkerudung sengaja munculkan dirinya bergebrak melawan Mong Ling sute, sesudah kemarin malam berhasil mengalahkan Mong Ling sute dengan hasil yang puas telah meninggalkan kota Go-bi ini."
"Ehm ..benar"-sahut Ti Then sambil mengangguk "Kelihatannya mungkin memang demikian "
Shia Pek Tha berbatuk ringan, sambil tertawa ujarnya.
"Tadi siauwheng dengar dari Mong Ling sute katanya Lote sudah menyanggupi untuk berdiam di dalam Benteng selama beberapa hari?"
"Benar, tetapi sudah tentu harus melihat dulu apakah Wi Pocu serta Shia heng man menerima atau tidak."
"Ha . ..ha...ha....kenapa tidak mau menerima? Lote sukar sekali bisa berkunjung ketempat ini, kali ini bilamana kau tidak tinggal selama beberapa hari di tempat ini, aku juga tidak akan melepaskan dirimu dengan demikian mudahnya."
Sehabis berkata dia berhenti sejenak dan memandang seluruh tubuh Ti Then sekejap, tiba-tiba dengan merendahkan suaranya ujarnia lagi.
Tetapi ada beberapa urusan yang terpaksa aku harus minta maaf darimu terlebih dahulu"
Ti Then menjadi tertegun dibuatnya, tanyanya cepat.
"Ada urusan apa?"
"Ha...ha ..ha....sebelum aku jelaskan urusan ini terlebih dahulu aku harap Lo-te jangan sampai memandang maksudku yang tulus hati ini sebagai suatu hinaan atau cemoohan terhadap Lo-te."
"Sebenarnya urusan apa?"
Tanya Ti Then.
"Ha...ha ..kau harus menyanggupi dahulu kalau tidak akan menerima maksud baikku ini sebagai suatu hinaan atau cemoohan, kalau tidak maka "
He...he..maap saja aku tidak berani untuk meneruskan."
"Selamanya Shia-heng selalu suka blak-blakan, kenapa ini hari secara mendadak bisa berubah demikian seriusnya?"
"Urusan ini menyangkut perhubungan antara majikan rumah dengan tamu, mau tidak mau harus berbuat demikian."
"Hee .. kalau begitu baiklah siauw-te menerimanya, cepat Shia-heng silahkan bicara."
Dengan perlahan-lahan Shia Pek Tha membuka buntalan yang dibawa ditangannya, dari dalam buntalan itu diambilnya seperangkat baju yang sangat baru serta sepasang sepatu yang baru pula, kemudian diangsurkan ke depan Ti Then, ujarnya sambil tertawa.
"Hanya ini saja, barang ini merupakan sedikit penghormatan siauw-heng kepada diri Lo-te harap Lo-te tidak sampai salah paham terhadap maksudku ini?"
Secara tiba-tiba Ti Then menjadi sadar kembali, sambil tertawa terbahak bahak sahutnya.
"Sungguh maaf, siauwte kini bertemu di dalam Benteng seharusnya tidak boleh memakai baju yang telah compang camping ini ? "Ha.... ha ..perkataan bukannya demikian, sekali pun lo te memakai pakaian yang lebih dengkil serta compang-camping pun orang-orang dalam Benteng tidak akan ada yang berani memandang rendah terhadap diri Lo te, hanyalah siauw-heng merasa kalau Lo te seharusnya berdandan baru benar., ada pepatah yang mengatakan bahwa Budha memakai pakaian emas manusia memakai pakaian dari kain? sudah seharusnya Lo te harus yang lebih baik lagi"
Dalam hati Ti Then tahu akan maksud balk yang tulus dari kawan lamanya ini, segera dia membuka pakaiannya yang dengkil itu dan berganti dengan pakaian barunya kemudian barulah dia membereskan rambutnya, seperminum teh kemudian sambil tertawa ujarnya.
"He ...he... sampai aku sendiri pun telah tidak kenal ?"
Sesudah bertukar dengan pakaian yang baru ditambah lagi dengan dandanannya yang rapi, di dalam sekejap saja dia telah "berubah'"
Jauh lebih mirip dengan Lu-kongcu lagi.
Jilid 3.2. Mempermalukan Hong Mong Ling Ujar Shia Pek Tha sambil tertawa.
"Begini barulah wajahmu yang sesungguhnya, pada waktu yang lalu ketika siauwheng bertemu kau di kota Tiang An, saat itu kau pun gagah dan perlente seperti sekarang?"
Seorang pembantu segera mengangsurkan sebaskom air hangat kepadanya untuk cuci muka, setelah semuanya selesai barulah dengan mengikuti Shia Pek Tha berjalan keluar dari dalam kamar. Ujar Shia Pek Tha.
"Suhuku telah menunggu di dalam ruangan dalam menanti lo-te untuk dahar bersama,, cepat Lo-te ikuti diriku"
Ti Then segera menggerakkan langkahnya mengikuti di belakangnya sambil tanyanya.
"Bagaimana dengan Cang kong-cu itu?"
"Sejak tadi sudah dihantar pulang !"
"Sejak perpisahan kita pada tahun yang lalu di kota Tiang An apakah Shia heng pernah melakukan perjalanan keluar Benteng?".
"Tidak pernah"
Sahut Shia Pek Tha,"Suhu bilang sifat dari siauw-heng, amat berangasan dan kasar mudah sekali bentrok dengan orang lain maka sengaja tidak perbolehkan siauw-heng untuk mengadakan perjalanan di luaran."
Dengan meminyam kesempatan inilah tanya Ti Then lagi "
Suhumu juga tidak suka keluar benteng?'"
"Benar, dia orang tua memang pada masa dekat ini jarang sekali melakukan perjalanan keluar Benteng"
"Setengah tahun baru-baru ini apa juga tidak pernah pergi?"
"Ehm..."sahut Shia Pek Tha sesudah mengingat ingat sebentar.."Pernah satu kali pergi ke kuil Sang Cing Kong di atas Cing Jen mencari Cui Toojin bermain catur, baru pada beberapa hari yang lalu pulang ke dalam benteng, satu-satunya kegemaran dia orang tua pada waktu mendekat ini hanya bermain catur"
Ti Then yang mendengar keterangan itu dalam hatinia menjadi tergerak tanyanya lagi.
"Pada saat dia melakukan perjalanan diluaran apa Shia heng sekalian mengawani?"
Dalam pikiran Shia Pek Tha mengira kalau dia amat menaruh perhatian terhadap cara hidup sehari-hari dari suhunya sebab itulah seluruh pertanyaannya dijawab tanpa ragu-ragu, kini ditanyai dengan pertanyaan ini segera sahutnya "Tidak perlu, dia suka berpesiar seorang diri "
"Jarak dari sini ke Cing Jen kira-kira tiga ratus li jauhnya, ternyata suhumu hanya sengaja ke sana untuk bermain catur dengan Cui Toojin. Ha ha...ha , sungguh hebat sekali kegemarannya ini"
Shia Pek Tha pun tertawa, ujarnya.
"Ha..ha..ha... bagaimana pun juga dia orang tua memangnya tidak punya urusan sehingga tidak perlu mengejar waktu, ada kalanya begitu keluar pintu selama setengah tahun lamanya baru pulang, umpama saja kepergiannya kali ini untuk bermain catur catur dengan Cui Toojin saja sudah menghabiskan waktu empat, lima bulan lamanya.."
Ti Then yang mendengar perkataan ini dalam hatinya semakin mantap dugaannya kalau Wi Ci To adalah Majikan patung emas itu, tak terasa lagi pikirnya "Bagus sekali, kelihatannya kau Wi Ci To ternyata adalah majikan"
Ku"
Hanya dikarenakan tidak ingin putrimu dijodohkan kepada Hong Mong Ling ternyata telah memeras otak untuk mengatur siasat semacam ini. Setelah berpikir sejenak ujarnya lagi.
"Shia heng, agaknya hubungan putri suhumu dengan Mong Ling heng tidak jelek"
"Benar "
Sahut Shia PekTha.
"Sejak semula mereka sudah mengikat tali perkawinan mungkin dua tiga bulan lagi mereka akan segera dikawinkan secara resmi."
"Ooh.. kiranya demikian adanya tidak aneh kalau kemarin malam nona Wi kelihatan demikian tegangnya,"
"Ha ..ha . ha ha ha sumoayku itu memangnya sangat suka dengan Mong Ling sute, melihat dia bersama sama dengan Cang Bun Piauw sudah tentu menjadi tegang."
Kedua orang itu sambil berjalan berbicara tidak terasa lagi telah sampai di.
dalam ruangan bagian dalam, terlihatlah di tengah ruangan besar itu telah diatur meja perjamuan sedang si pedang naga emas Wi Ci To beserta seorang kakek tua berbaju hijau telah menanti di sana, sinaga mega Hong Mong Ling berdiri di belakang kedua orang itu.
Begitu dia melihat wajah serta dandanan dari Ti Then yang sangat rajin dan perlente itu mendadak air mukanya berubah hebat, sepasang matanya dengan tajam memperhatikan seluruh tubuh Ti Then sedang dalam hatinya pikirnya dengan gemas.
"Hmm..tidak. salah kiranya kau adanya."
Kiranya satu kali pandang saja dia sudah dapat melihat kalau Ti Then yang berdiri di hadapannya saat ini tidak lain adalah Lu kongcu yang memukul rubuh sewaktu berada di dalam sarang pelacuran Touw Hoa Yuan.
Dengan langkah yang amat perlahan Ti Then berjalan masuk ke dalam ruangan, sinar matanya dengan perlahan dialihkan ke atas wajah kakek tua berbaju hijau itu, terlihatlah orang itu mem punyai wajah yang amat angker, sikapnya gagah sedang pada janggutnya terurai jenggot berwarna hitam yang amat panjang.
Ketika dia melihat dandanannya itu segera tahu kalau orang itu tentunya adalah sute dari si pedang naga emas Wi Ci To, Hien Liong Kiam atau si pedang naga perak Huang Puh Kiam Pek yang merupakan wakil majikan dari benteng Pek Kiam Po, dengan tidak berpikir lebih banyak lagi dia maju ke depan memberi hormat kepada Wi Ci To sambil ujarnya.
"Boanpwe Ti Then memberi hormat kepada Wi Pocu"
Dengan cepat Wi Ci To angkat tangannya mengulap, ujarnya sambil tersenjum.
"Tidak usah terlalu sungkan, tentunya kemarin malam Ti heng tidak bisa tidur njenyak.??"
"Aah mana, mana tidak perlu Pocu tarlalu kuatir, boannwe dapat tidur dengan sangat njenyak"
Wi Ci To segera menuding kearah kakek tua berbaju hijau yang duduk di sampingnya ujarnya.
"Ini adalah sute dari lohu, Huang Puh Kiam Pek"
Ti Then segera memutar tubuhnya dan merangkap tangannya memberi hormat ke pada sipedang naga perak Huang Puh Kiam Pek itu, sambil tersenjum ujarnya.
"Boanpwe Ti Then, memberi hormat kepada Huang Puh cianpwe."
"Ha...h a ."
Sahut sipedang naga perak itu sambil .tertawa.
"Ti-heng masih muda belia ternyata bisa memiliki kepandaian silat serta ilmu surat yang demikian tingginya, sungguh merupakan jago yang dapat dipandang sebagai pembawa kebahagiaan dalam Bu-lim."
"Aah ..cianpwe terlalu memuji, boannwe tidak berani menerima."
"Ti heng."
Terdengar suara panggilan dari Wi Ci To.
"Silahkan duduk, mari kita mulai bersantap."
Dengan tidak sungkan-sungkan lagi Ti Then segera duduk di samping Wi Ci To. Sesudah itu kepada Hong Mong Ling serta Shia Pek Tha ujarnya pula.
"Kalian berdua pun duduklah menemani tamu."
Shia Pek Tha serta Hong Mong Ling segera menyahut secara berbareng, demikianlah tua muda lima orang bersama-sama mulai bersantap sambil bercerita panjang lebar.
Apa yang menjadi bahan pernbicaraan mereka tidak lebih merupakan bahaja-bahaja yang mengancam keutuhan dari dunia persilatan.
Sesudah seiesai bersantap, terdengar Wi Ci To buka mulut tanyanya.
"Kali ini Ti Then rnengunjungi kota Go-bi entah punya tujuan apa?"
"Ooh..tidak ada yang penting pada bulan yang lalu boanwe punya urusan untuk menuju ke telaga Tian Ci, kali ini dalam perjalanan pulang sebenarnia ingin mengunjungi teman-teman untuk bermain.
"Ti-heng apa sudah berd janjj untuk bertemu dengan kawan-kawan?"
"Tidak"-sahut Ti Then.
"Temanku itu adalah seorang terpelajar. Waktu yang lalu kami berkenalan dikota Tiang An selama itu selalu dia mengajak boan pwe untuk bermain kerumahnya. Padahal tempat itu sudah sering boanpwe kunjungi sehingga kini pergi atau tidak pergi tidak mengapa.
"Kalau memang demikian adanya"
Ujar Wi Ci To dengan girang.
"Ti-heng kali ini harus berdiam selama beberapa hari di dalam Bentengku yang buruk ini"
"Ha..ha..bisa mendapatkan kesempatan untuk berkumpul dengan para cianpwe sekalian sudah tentu boan-pwe tidak berani menampiknya, hanya saja.."
Wi Ci To mengulap tangarnya memotong pembicaraan selanjutnya.
"Ti-heng tidak perlu demikian sungkannya, sekali pun lohu tidak tahu asal usul suhumu tetapi lohu tahu kalau kau merupakan seorang pemuda yang berhati tulus, selama hidupku ini lohu paling suka berkenalan dengan seorang pemuda seperti Ti-heng ini, bilamana kau tidak rnenampiknya silahkan berdiam di sini beberapa lama"
Diam-Diam dalam hati Ti Then merasa amat geli pikirnia "Hm..kau menginginkan aku untuk memperistri putrimu sudah tentu dengan sangat gernbira dan tangan terbuka menyambut kedatanganku ini "tetapi pada mulutnya, sahutnya dengan lembut "Terima kasih atas perhatian dan kecintaan dari Pocu terhadap diri boanpwe?"
Si pedang naga perak Huang Puh Kiam Pek yang selama ini berdiam diri tiba-tiba menambahkan.
"Dengan rnemberanikan diri lohu ingin bertanya apakah suhu dan Ti heng masih sehat-sehat saja?"
"Boanpwe sudah ada tiga empat tahun lamanya tidak bertemu dengan dia orang tua, entah bagaimana keadaan dari dia orang tua mendekat ini.."
Sipedang naga Perak, Huang Puh Kiam Pek tersenjum, ujarnya lagi.
"Ti-heng dengan mengandalkan ilmu pedang menjagoi seluruh dunia kang-ouw melihat muridnya sudah cukup untuk menunjukkan gurunya sudah tentu ilmu pedang dari suhumu telah mencapai pada taraf kesempurnaan yang amat tinggi"
"Tidak berani"
Sahut Ti Then tetapmerendah.
--Bagaimana kehebatan dari kepandaian silat suhuku, boanpwe sukar untuk mengukurnya tetapi keberhasilan dari boanpwe tidak setinggi apa yang cianpwe pikirkan, kalau sembarangan saja masih boleh jadi tetapi bilamana harus dibandingkan dengan seorang jago pedang kenamaan, ha..ha...ha .maaf kalau boanpwe tidak berani meneriman ja"
"Ha..ha . , ha..."
Ujar si pedang naga perak, Huang Puh Kiam Pek.
"Ti-heng ternyata sangat pandai untuk merendah diri, teringat akan Tiong Lam Siauw Toojin itu juga merupakan seorang jago pedang kenamaan yang sukar dicari tandingannya di dalam Bu-lim tetapi ternyata bisa bergebrak seimbang dengan diri Ti-heng, hanya cukup dari hal tadi saja sudah cukup untuk membuktikan kalau kepandaian silat Ti-heng telah mencapai pada taraf kesempurnaan"
"Ha -ha "
Mana, mana, itu hanya secara kebetulan saja tidak bisa terhitung sebagai kepandaian yang sebenaraja."
"Lohu punya semacam permintaan yang kurang pantas entah Ti-heng mau menerimanya atau tidak"
"Silahkan cianpwe memberi petunjuk"
Sahut Ti Then cepat."
Asalkan boanpwe bisa melakukannya tentu akan melaksanakannya dengan tidak membantah"
"Anggota benteng kami dari atas sampai ke bawah semuanya mengandalkan kepandaian ilmu pedang, oleh karena itu begitu mendengar ada orang yang pandai di dalam permainan ilmu pedang tidak dapat dihindarkan lagi timbul perasaan girangnya, asalkan Ti-heng tidak menyalahkan, ketidak sopanan dari lohu ini maka lo-hu ingin menjuruh seseorang mencoba-coba dengan kepandaian Ti-heng sudah tentu hanya cukup dengan tutulan dianggap selesai. Bagaimana ? ? "Baik sih baik, hanya takutnya sampai menjadi tidak enak saja."
"Ha...ha...siapa menang siapa kalah tidak boleh dimasukkan ke dalam hati dan tidak dapat disiarkan keluar, bilamana sudah disebutkan terlebih dahulu sudah tentu tidak sampai merasa enak dengan lainnya bukan?"
"Kalau memang demikan adanya, boan-pwe menurut perintah saja."
Sipedang naga perak, Huang Puh Kiam Pek segera menoleh kearah Hong Mong Ling sambil ujarnya.
"Mong Ling, cepat panggil seorang pendekar pedang putih datang"
Dia tidak mengundang seorang pendekar pedang merah untuk bertanding denganTi Then sudah tentu hal ini memperlihatkan kalau dia tidak memandang terlalu tinggi kepandaian silat dari Ti Then ini.
Agaknya Wi Ci To merasa tidak tenang di dalam hatinya, tetapi dia pun hanya melirik sekejap saja kearah Huang Puh Kiam Pek sedang mulutnya tetap ditutup rapat-rapat.
Hong Mong Ling begitu mendengar susioknya tidak mengirim dirinya untuk bertanding melawan Ti Then di dalam hatinya sedikit merasa kecewa, tetapi sesudah berpikir sejenak dia pun merasa bilamana harus rnengirirn seorang pendekar pedang putih untuk bertanding dengan Ti Then terdahulu jauh lebih baik sehingga dia pun bisa melihat kehebatan dari kepandaiaa silat Ti Then segera dengan sangat hormatnya menyahut dan berlalu dari meja perjamuan.
Ujar Wi T'i To mendadak.
"Pendekar pedang putih dari benteng kami ini sudah tentu bukan tandingan dari Ti-heng, harap nanti bilamana terjadi pertandingan jangan turun tangan lebih ganas"
"Mana. .mana"
Sahut Ti Then dengan cepat.
"padahal kepandaian dari boan-pwe sangat terbatas, kemungkinan sekali masih belum sanggup untuk mengalahkan seorang pendekar pedang hitam dari benteng Pek Kiam Po ini"
"Ha...ha..wajah Ti-heng bersinar tajam. Semangatnya pun sangat mantap. luar tidak sama dengan dalamnya, bilamana lo-hu tidak melihat salah, mungkin diantara pendekar pedang merah dari Benteng Pek Kiam Po ini pun tak ada yang sanggup untuk menerima serangan dari Ti Then."
"Mungkin Wi Pocu telah salah melihat, pendekar pedang merah dari Benteng Pocu merupakan jago-jago pedang gemblengan mana mungkin boanpwe bisa berhasil menandingi mereka"
Pada saat mereka berbicara saling merendah itulah terdengar suara merdu.
"Selamat pagi"
Air mukanya bening sebening embun pagi. Begitu cantik dan segar.Wi Lian In yang cantik jelita.
"Ha..ha..ha..Inyie, cepat datang memberi hormat kepada Ti Siauwhiap, kemarin malam orang lain sudah berhasil menolong Mong Ling kembali kau masih belum juga mengucapkan terima kasih kepada orang"
Saat itulah dengan. resmi Wi Lian In memberi hormat kepada Ti Then samblt ujarnya.
"Ti Siauw-hiap kau baik-baik saja."
Dengan cepat Ti Then bangkit membalas hormat sahutnya.
"Terima kasih atas perhatian nona Wi "
Dengan perlahan sinar mata Wi Lian In berputar kesekeliling ruangan ketika dilihatnya Hong Mong Ling tidak berada di sana dengan perasaan heran bertanya "Tia, dia belum bangun ??."
"Sudah sudah bangun, hanya saja Huang Puh susiok barn saja memerintahkan dia untuk mengundang seorang pendekar pedang putih datang kemari ."
Wi Lian In menjadi tertegun, tanyanya.
"Buat apa memanggil seorang pendekar pedang putih datang ?? "Untuk meminta pengajaran ilmu pedang denganTi siauw hiap"
Perasaan ingin tahu dan tertarik dalam dalam hati Wi Lian In segera timbul, sambil bersorak kegirangan ujarnya .
"Bagus sekali sudah lama aku tidak melihat orang bertanding kapan kau mulai ??"
"Menanti sesudah Hong Mon g Ling membawa seorang pendekar pedang putih maka kita boleh mulai "
Perkataanya baru selesai tampak Hong Mong Ling dengan membawa seorang pemuda dari Pendekar pedang putih berjalan memasuki ruangan.
Pendekar pedang putih itu sudah memberi hormat kepada Wi Ci To serta Huang Puh Kiam Pek, lalu dia memberi hormat juga kepada Ti Then sambil ujarnya.
"Siauw-te Hong Ling An menghunjuk hormat kepada Ti-heng"
Nada ucapannya sekali pun sangat halus dan sopan tetapi sepasang matanya memancarkan sinar yang amat buas.
Sekali pandang saja Ti Then sudah tahu kalau pihak lawannya telah mendapatkan banyak petunjuk dari Hong Mong Ling tetapi dia tidak mau pikirkan di dalam hatinya sambil merangkap tangannya membalas hormat sahutnya.
"Selamat bertemu."
Air muka Wi Ci To terlihat secara mendadak berubah menjadi amat keren dengan sangat serius sekali ujarnya.
"Ling An, di dalam pendekar pedang putih kau merupakan seorang yang mem punyai sipat paling keras dan paling berangasan, kemungkinan sekali dapat naik menjadi pendekar pedang merah, sekarang aku beri satu kali kesermpatan bagimu untuk bertanding melawan Ti siauw-hiap. Tetapi kemungkinan sekali kau bukan lawannya seumpama sampai bisa menang aku melarang kau untuk menyiarkan berita ini keluar.
"Baik"
Sahut Hong Ling An sambil bungkukkan dirinya.
"Bilamana kau berani melanggar peritah ini segera dikeluarkan dari perguruan"
Air muka Hong Ling An segera berubah sekali lagi dia membungkukan dirinya sambil sahutnya.
"Baik"
Selesai berbicara tidak menanti lainnya lagi segera Wi Ci To bangkit berdiri ujarnya.
"Baik, sekarang kita semua menuju ke halaman beiakang!"
Wi Lian In yang berdiri di samping menjadi tertegun, tanyanya dengan penuh keheranan.
"Kenapa tidak pergi bertanding dilapangan latihan silat?"
"Tidak perlu"
Sabut Wi Ci To dengan keren.
"cepat kehalaman belakang"
Tidak perlu dia menjelaskan sebab-sebab kenapa tidak diadakan dilapangan latihan silat tetapi semua orang asal berpikir sebentar saja sudah tahu artinya, sudah tentu dikarenakan dia hendak melindungi kekalahan yang akan dialami oleh satu pihak maka ingin mengadakan pertandingan ini di hadapan umurn.
Sebaliknya di dalam pandangan Ti Then dia mengira bahwa tentunya dia bertujuan hendak menjelamatkan perasaan malu dari Hong Ling An barulah berbuat dernikian dalam hatinya diam-diam merasa amat geli, pikirnya "Hm...kau ingin aku tinggal di sini tetapi juga tidak tahu kalau muridmu dipukul hingga kalah oleh diriku, pikiranmu sungguh tajam sekali?"
Segera dengan dipimpin oleh Wi Ci To berjalanlah mereka keluar dari ruangan menuju ke halaman belakang.
Di dalam sekejap saja sampailah rombongan orang-orang itu di halaman belakang, halaman itu tidak begitu luas hanya kurang lebih lima kaki saja besarnya, di atas tanah berlapiskan batu-batu jubin yang besar sehingga sangat cocok sekali untuk bertanding kepandaian silat.
Sesudah Wi Ci To berdiri tegak ditengah halaman, matanya dengan perlahan melirik sekejap ke pinggang Ti Then, terlihatlah dia sama sekali tidak membawa senyata maka tak terasa lagi sambil tertawa ujarnya.
"Ooh.kiranya Ti-heng tidak membawa pedang.?"
"Sebenarnya boanpwe mem punyai sebilah pedang hanya.dikarenakan di tengah jalan kehabisan perbekalan sehingga terpakasa harus menjualnya?"
"Heeei?"
Sahut Wi Ci To sambil menghela napas ternyata Ti-heng lebih rela menjual pedang sendiri daripada melakukan pekerjaan yang tidak senonoh, sungguh membuat orang amat kagum!"
Dengan perlahan dia menoleh kearah Hong Mong Ling sambil ujarnya.
"Mong Ling, cepat lepaskan pedangmu dan pinyamkan kepada Ti-heng!"
"Baik!"
Sahut Hong Mong Ling sambil melepaskan pedangnya kemudian dengan menggunakan sepasang tengannya diangsurkan pedang itu ke hadapan Ti Then. Ti Then segera menyambut dan dipandangnya sekejap, pujinya.
"Ha . ha sungguh sebilah pedang bagus ? "Ha ha..bagaimana ? Cocok?."
Tanya sipedang naga perak Huang Puh Kiam Pek sambil tertawa.
"Bagus ..bagus sekali !"
"Kalau begitu mulailah ?"
Pendekar pedang putih Hong Ling An segera memberi hormat kepada Wi Ci To serta Huang Puh Kiam Pek kemudian mencabut keluar pedang panjangnya dan berjalan menuju ketengah halaman, sambil merangkap pedangnya di depan dada ujarnya.
"Ti-heng silahkan memberi petunjuk "Tidak berani? sahut Ti Then sambil membalas hormat.
"harap Hong-heng mau memberikan pelajaran dengan tidak terlalu ganas."
Sehabis berbicara dia pun berjalan menuju kearah Selatan dan berdiri tegak tidak bergerak.
Hong Ling An melihat dia sudah bersiap-siap, dengan kuda-kudanya diperkuat seluruh perhatiannya dipusatkan ke depan kemudian berturut maju tiga langkah ke depan.
Seluruh perhatiannya dipusatkan ke depan ujung pedangnya bergetar tak henti-hentinya sedang hawa murninya dipusatkan di pusar, sungguh tidak dapat dipandang rendah sikapnya ini.
Ti Then pun dengan cepat maju tiga langkah ke depan, tetapi dia tidak menggunakan gerakan jurus serangan apa pun pedang panjang ditangannya pun masih tetap menunjuk ke bawah, hal ini membuktikan kalau sama sekali dia tidak mau ambil peduli dengan sikap pihak musuh.
Wi Ci To yang melihat hal itu diam-diam.
menganggukkan kepalanya agaknya dalam hatinya merasa amat kagum terhadap kemantapan dari Ti Then yang seperti sebuah gunung Thay san itu.
Tetapi sikap serta bentuk dari TI Then yang demikian tenangnya ini di dalam pandangan Hong Ling An membua hawa amarahnya memuncak, dia menganggap kalau Ti Then terlalu sombong sehingga dalam hatinya seger timbul pikiran untuk memberi pelajaran kepada Ti Then ini di dalam keadaan apa pun juga.
Sinar matanya dengan tajam memandang tubuh Ti Then, langkah kakinya dengan perlahan mulai digeserkan ke depan agaknya.
dia sedang menanti suatu kesempatan untuk mengadakan penjerangan dengan amat dahsyat.
Siapa tahu sekali pun dia telah bergeser setindak demi setindak tetapi tetap juga tidak berhasil melancarkan satu jurus serangan pun.
Karena dia sama sekali tidak mendapatkan kesempatan untuk melancarkan serangannya, sesudah Ti Then maju tiga langkah ke depan selama ini dia selalu tidak bergerak.
Tetapi.
sekali pun tidak bergerak seluruh tubuhnya terjaga begitu rapatnya sehingga tidak ada lubang kelemahan sedikit pun bisa digunakan untuk menjerang.
Bukan saja Hong Ling An yang merasakan kalau tubuh Ti Then terjaga amat rapat sekali sekali pun Wi Ci To serta Huang Puh Kiam Pek yang berdiri di samping pun merasakan kalau tubuh Ti Tnen itu amat sukar untuk diserang, oleh karena itulah tidak terasa lagi air mukanya berubah semakin tegang.
Dugaan dari Wi Ci To terhadap diri Ti Then jauh lebih tinggi dari dugaan Huang Puh Kiam Pek, tetapi agaknya dia pun sama sekali tidak pernah menyangka kalau Ti Then ternyata dapat demikian menakutkan.
Suasana ditengah kalangan sunyi senyap tak kedengaran suara, mungkin jatuhnya sebuah jarum pun saat itu dapat di dengar dengan nyata.
Berturut-Berturut Hong Ling An mengubah dengan beberapa macam jurus serangan, agaknya ingin memancing Ti Then untuk menggeserkan tubuhnya tetapi selama ini Ti Then terus menerus bagaikan sebuah patung Buddha tetap tidak bergerak sedikit pun juga sedang pada wajahnya tersungging suatu senjuman yang amat manis.
Kedua belah pihak sama-sama mempertahankan diri kira-kira seperempat jalan lamanya tetapi masing-masing tetap tidak ada yang turun tangan terlebih dahulu, terlihatlah wajah Hong Ling An telah mulai basah kujup oleh butiran-butiran keringat yang mengucur keluar dengan sangat deras.
Agaknya dia sudah kelihatan sangat lelah sekali napasnya mulai terengah-engah sedang air mukanya berubah menjadi merah padam.
Dalam hatinya dia merasa amat gemas sekali ingin sekali dengan satu kali serangan mengalahkan diri Ti Then.
Makin lama dia mulai kehilangan ketenangannya sedang hatinya pun mulai menjadi kacau dan bimbang.
Wi Ci To begitu melihat keaadan segera tahu kalau dia bukanlah lawan dari Ti Then, sambil menghela napas ajarnya.
"Sudahlah Ling An kau sudah dikalahkan !"
Wajah Hong Ling An segera berubah menjadi merah padam, dia tidak berani lagi untuk melanjutkan pertempuran itu dengan cepat mengundurkan dirinya ke belakang , tangannya dirangkap memberi hormat sambil ujarnya .
"kepandaian dari Ti heng amat lihay, siauwte sungguh amat kagum sekali dan terimakasih atas welas kasih dari Ti heng tadi."
Dalam hatinya dia pun paham bilamana Ti Then punya maksud untuk turun tangan saat ini kemungkinan sekali dirinya sudah dikalahkan oleh karena itu mau tak mau dia pun harus mengucapkan kata-kata ini.
Ti Then segera merangkap pedagnya memberi hormat, sahutnya.
"Tidak berani Hong heng terlalu sungkan "
"Heeei..."
Ujar Wi Ci To sambil menghela napas panjang.
"dengan berdiam diri berhasil mengundurkan musuh, ini hari hitung-hitung Lohu telah terbuka mata. Huang Puh Kiam Pek pun ikut memuji ujarnya.
"Sungguh hebat, sungguh hebat tidak kusangka sama sekali kalau Ti heng dengan usia yang demikian mudanya ternyata telah dapat melatih diri hingga mencapai taraf yang demikian sempurnanya Sebaliknya dalam hati Hong Mong Ling diam-diam merasa tidak puas ujarnya .
"Suhu biarlah muridmu minta petunjuk beberapa jurus dari Ti heng bagaimana ?? "Heeei ..kau pun bukan lawan dari Ti-heng "
"Tentang hal ini murid mu sudah tahu"
Sahut Hong Mong Ling.
"Tetapi biar pun bagaimana Ti-heng merupakan tamu terhormat dari benteng kita, demikian baiknya kesempatan bilamana tidak minta beberapa petunjuk bukankah sangat sajang sekali? "Baiklah"
Sahut Wi Ci To sambil mengangguk.
"Kalau memangnya niat untuk minta petunjuk sekarang juga boleh mulai"
Hong Mong Ling menjadi amat girang segera dia minta pedang panjang ditangan Hong Ling An dan turun ketengah kalangan,kepada Ti Then sambil bungkukkan diri memberi hormat ujarnya..
"Thi-heng silahkan memberi petunjuk"
"Tidak berani "
Sahut Ti Then .sambl membalas hormatnya "Pedang ditangan siauwte ini merupakan benda dari Hong-heng, lebih baik Hong heng mernakai ini saja,"
Sambil berkata segera dia melemparkan pedang itu kearahnya.
"Tidak perlu"
Seru Hong Mong Ling dengan keras.
"Biar siauwte menggunakan yang ini saja""
Sambil berkata dia menggerakkan pedangnya mengembalikan pedang tersebut kearah Ti Then, kemudian disusul dengan satu serangan dahsyat.
Wi Ci To yang melihat Hong Mong Ling ternyata menggunakan kesempatan mengembalikan pedang itu telah melancarkan serangan dahsyat dalam hatinya merasa tidak puas, baru saja, dia bendak membentak tetapi siapa tahu saat itu juga dia dibuat menjadi tertegun.
Kiranya di dalam sekejap mata itu juga Ti Then ternyata telah berhasil meloloskan diri dari bahaja.
Kiranya ketika Hong Mong Ling melancarkan serangan dahsyatnya itu bukannya Ti Then mengundurkan diri untuk menghindarkan diri sebaliknya malah maju ke depan entah dengan menggunakan kepandaian apa tahu-tahu dia sudah berkelebat berdiri di belakang tubuh Hong Mong Ling, sedang tangannya menyambar menyambut pedang yang dilemparkan kearahnya tadi.
Sebaliknia begitu Hong Mong Ling melihat di hadapannya telah kehilangan bajangan tubuh dari Ti Then segera dengan cepat dia memutar tubuhnya, lutut sebelah kirinya setengah berlutut di tanah sedang tubuh bagian atasnya berputar dengan cepat, pedangnya dengan membawa sambaran angin yang amat tajam menyapu mendatang.
Kegesitari dari geraknya sungguh membuat setiap orang merasa amat kagum.
Ti Then sudah menduga kalau dia tentu bisa melancarkan serangan ini oleh karena itu begitu dia menyambut pedangnya dengan cepat ditekan ke bawah.
"Criing."
Dengan tepat sekali dia berhasil menahan sambaran pedangnya.
Hong Mong Ling yang melihat sambarannya tidak mencapai pada hasil segera pedangnya berubah kembali, dengan kecepatan yang luar biasa pedangnya berputar sehingga terlihatlah sinar pedang yang menyilaukan mata memenuhi seluruh angkasa.
"Sret "
Sret...berturut-berturut dia melancarkan tujuh kali serangan hebat keseluruh tubuh Ti Then sedang tempat yang diancam pun merupakan jalan darah yang terpenting.
Tujuh kali serangannya sekali pun ada perbedaan waktunya tetapi, di dalam sekejap saja sudah selesai dilancarkan, kecepatannya sungguh luar biasa.
Tetapi Ti Then sama sekali tidak geserkan kakinya setindak pun, pedangnya tetap disambar mematahkan setiap serangannya, ternyata dengan amat mudah dia berhasil memunahkan ketujuh buah serangan dahsyat yang dilancarkan Hong Mong Ling itu.
Ketika sampai pada jurus yang terakhir mendadak terdengar."Criing...
"yang amat nyaring sekali, tubuh Hong Mong Ling bagaikan terpukul oleh suatu tenaga "yang amat besar sekali, tidak am pun lagi tubuhnia dengan terhujung-terhujung mundur beberapa langkah ke belakang.
"Cukup!"
Terdengar suara bentakan dari Wi Ci To menghentikan pertandingan itu.
Wajah Hong Mong Ling segera berubah menjadi merah padam, sambil melemparkan pedangnya kearah Hong Ling An, dia merangkap tangannya memberi hormat, ujarnya "Kepandaian Ti-heng sungguh amat hebat sekali, siauwte tak sanggup untuk menahan lebih lama lagi"
"Ha..ha . mana mana, Hong heng terlalu mernuji"
Dia tahu bahwa ketujuh buah serangan pedang yang baru saja dilancarkan oleh Hong Mong Ling itu tentunya merupakan ketujuh buah jurus andalan dari Wi Ci To, semakin dia tahu kalau pihak sana mengandung maksud untuk membereskan nyawanya tetapi dalam hal ini sama sekali dia tidak mengambil perduli, Air muka Wi Ci To berubah semakin jelek lagi, dengan amat gusarnya dia melotot sekejap kearah Hong Mong Ling, kepada Ti Then dengan tertawa yang di paksa ujarnya "Ilmu pedang yang Ti heng miliki ternyata demikian tingginya sehingga jauh berada diluar dugaan lohu, sungguh tidak malu disebut sebagai jago berkepandaian tinggi dari dunia kangouw"
Baca Juga: Naga Beracun 6
Baca Juga: Mestika Golok Naga Kho Ping Hoo