Eps 8 Badai Laut Selatan - Kho Ping Hoo
Baca online Badai Laut Selatan - Kho Ping Hoo
Cersil Badai Laut Selatan - Kho Ping Hoo.
Joko Wandiro berseru kaget.
la menoleh dan melihat wanita cantik itu melayang turun dengan gerakan ringan seperti seekor burung, kemudian mulut yang selalu tersenyum manis itu mengeluarkan suara mencemooh dan sekali berkelebat, wanita itu lenyap.
Kemudian terdengar suara derap kaki kuda pergi menjauh.
Rasa penasaran hampir saja membuat Joko Wandiro meninggalkan Ayu Candra untuk mengejar dan memberi hajaran kepada wanita cantik itu.
Akan tetapi pada saat itu Ayu Candra merintih-rintih dan ia cepat menghampiri dan berlutut.
Alangkah kagetnya ketika ia melihat betapa anak panah itu menancap di dada dan betapa di sekitar kepala anak panah itu kulit yang tadinya putih kuning tampak menghitam.
Anak panah beracun!
Masih untung bahwa Ayu Candra bukan seorang wanita biasa.
Ketika tadi mengelak kemudian melihat bahwa sebatang anak panah tak mungkin dielakkan, ia mengerahkan tenaga dalam dan hal ini membuat anak panah itu menancap hanya sampai di kepala anak panah saja, tidak terlalu dalam.
Namun cukup membahayakan keselamatan nyawanya karena racun di ujung anak panah mulai bekerja.
"Ayu, diamlah saja jangan bergerak, dan maafkan aku. Ini demi keselamatan nyawamu, Ayu."
Tanpa meragu lagi, Joko Wandiro membalikkan tubuh Ayu Candra sehingga terlentang, kemudian sekali mengerahkan tenaga ia mencabut keluar anak panah itu.
Darah yang hitam mengalir keluar dari luka di dada.
Joko Wandiro lalu mengerahkan tenaga dalam, menyalurkan hawa sakti.
Kemudian menunduk.
Ia harus mengerahkan kekuatan batin seluruhnya, bukan hanya untuk pengobatan, melainkan terutama sekali untuk menekan guncangan hatinya.
Terpaksa ia meramkan mata untuk mengusir bayangan dada yang membusung, kulit yang halus putih ketika ia menempelkan bibirnya pada luka menghitam itu.
Dengan mengerahkan tenaga ia menyedot luka itu, menyedot terus sampai darah hitam memenuhi mulutnya.
Ia melepaskan mukanya dan meludahkan darah hitam itu keluar.
Ketika ia hendak menempelkan mukanya lagi, tiba-tiba Ayu Candra menampar pipinya.
"Plakk...!!"
Berkunang pandang mata Joko Wandiro.
Pipi yang ditampar terasa berdenyut-denyut panas.
Ketika ia menatap wajah dara itu, ia melihat Ayu Candra menjadi merah sekali kedua pipinya dan dua butir air mata menitik turun.
Ia tidak perduli.
Luka itu belum bersih betul dari racun.
Dengan nekad Joko Wandiro kembali menempelkan mukanya pada dada, mulutnya menyedot luka.
Ia merasa betapa tubuh dara itu meronta, mendengar suara dara itu mengeluh dan merintih, akan tetapi ia tidak perduli.
Ia cukup maklum betapa keadaan ini amat janggal, betapa perbuatan ini merupakan pelanggaran susila yang hebat, tetapi Apa artinya pelanggaran itu kalau dipikirkan betapa keselamatan nyawa dara ini terancam hebat?
Kembali ia meludahkan darah dari dalam mulutnya.
Hatinya lega melihat warna hitam di sekitar luka itu telah menipis, tinggal warna hijau.
"Sekali lagi cukup"
Katanya perlahan dan kembali ia menunduk.
"Plakk...!!"
Tamparan di pipi kirinya lebih keras daripada tadi, sampai terasa nanar kepalanya.
Kini air mata di kedua pipi dara itu makin banyak.
Joko Wandiro maklum akan perasaan dara itu namun keyakinan bahwa Apa yang ia lakukan itu berlandaskan kebenaran dan usaha menolong, ia tidak perduli, terus saja ia membenamkan muka pada dada yang lembut dan menempelkan mulut pada luka, lalu menghisap.
Baru sekarang setelah perasaannya tidak tercekam kegelisahan lagi, ia merasa betapa lembut dada itu, dan jantungnya berdebar seperti hendak meledak.
Tiba-tiba ia merasa betapa kedua tangan gadis itu mencengkeram rambut di kepalanya, menjambak-jambak dan betapa Ayu Candra menangis terisak-isak.
la melepaskan mukanya dan ketika ia menyemburkan darah dari mulutnya, darah itu sudah banyak yang merah.
Ia memandang ke arah luka.
Tidak ada warna hijau lagi dan darah mulai mengalir keluar.
Bahaya sudah lewat.
Akan tetapi Ayu Candra menangis tersedu-sedu, bangkit duduk dan menyembunyikan muka di belakang kedua tangan, pundaknya berguncang-guncang, tangisnya tersedu-sedu.
"Ayu, kenapa kau menangis? kau sudah bebas daripada bahaya maut. Diamlah, Ayu, mengapa kau begini berduka?"
Dara itu tidak menjawab, bahkan tangisnya makin menjadi, sampai mengguguk sehingga Joko Wandiro menjadi bingung sekali. Dengan gerakan halus ia menyentuh pundak dara itu dan berkata lagi.
"Ayu, aku mengaku salah. Aku... aku telah berlaku amat tidak sopan kau maafkanlah aku, Ayu. Tadipun sebelumnya aku sudah minta maaf. Sekarang, aku minta maaf lagi dan kalau kau mau melampiaskan kemarahanmu, kau pukullah aku, kau bunuhlah aku."
Ayu Candra tiba-tiba menghentikan tangisnya, mengangkat muka dari balik telapak tangan.
Mukanya masih merah padam, akan tetapi basah air mata.
Hanya sebentar saja ia berani bertentang pandang dengan Joko Wandiro karena ia segera menundukkan muka seperti orang yang merasa malu.
Bibirnya bergerak perlahan, berbisik lirih.
"Mengapa kau lakukan itu?"
"Mengapa? Tentu saja untuk menolongmu, Ayu. kaupun maklum bahwa anak panah itu mengandung bisa yang amat jahat. Karena tidak mungkin mendapatkan obat yang bias cepat menyedot racun, jalan satu-satunya terpaksa harus menyedotnya langsung dengan mulut untuk mengeluarkan racunnya. Memang aku lancang... kurang ajar, tapi... kau maafkanlah aku, aku terpaksa"
"Tidak Apa, bukan itu. yang kumaksud, kenapa kau menolongku dan rela melakukan hal semacam itu? Kenapa?"
Joko Wandiro bingung.
"Kenapa aku menolongmu? Ah, Ayu, aku harus menolongmu, biar apapun akibatnya. Andaikata aku akan kehilangan nyawa untuk menolongmu, aku rela."
Kembali Ayu Candra mengangkat muka memandang, kini amat tajam pandangannya, penuh selidik.
"Kenapa begitu? Mengapa kau rela berkorban nyawa untukku? Kita baru saja bertemu, kita bukan apa-apa, bukan sanak bukan kadang. Kenapa kau rela berkorban nyawa untukku?"
Joko Wandiro merasa terpojok.
lapun memeras otaknya untuk mencari jawaban dari pertanyaan yang sama, yang mengaduk hatinya.
Memang sudah menjadi kewajibannya sebagai seorang pendekar untuk menolong sesamanya.
Hal ini sudah ia janjikan kepada gurunya.
Akan tetapi, mengapa terhadap gadis ini landasan itu berubah?
Tidak sekedar sebagai kewajiban lagi, bahkan agaknya ia, akan rela mati berkorban nyawa untuk gadis ini.
Mengapa?
"Karena...
karena aku tidak ingin melihat kau mati, Ayu.
Dan karena bagiku kau bukanlah seorang yang baru saja kukenal.
Bagiku, kau seakan-akan sudah selama hidupku kukenal baik, bahkan lebih dari itu.
Aku sendirit idak mengerti mengapa begini, Ayu, Semenjak pertemuan kita tadi, aku tidak dapat menguasai hatiku sehingga aku melakukan hal-hal yang tidak patut.
Sudah mengintaimu, mengikutimu secara diam-diam sampai-sampai menimbulkan kemarahanmu.
Aku sendiri tidak mengerti, Ayu.
Selama hidupku baru kali ini aku mengalami hal aneh seperti ini.
Agaknya...
kalau menurut dongeng...
dalam kelahiran dahulu, agaknya kita sudah saling mengenal, tidak asing lagi.
Aku malah ingin bertanya kepadamu mengaku kau berhal seperti ini, Ayu Candra."
Dara itu menundukkan mukanya, menyembunyikan senyum!
Senyum yang mekar dari hati penuh kebungahan.
Ia sendiripun tidak mengerti mengapa hatinya menjadi begini bungah mendengar ucapan pemuda itu.
Sedangkan perasaannya sendiri yang aneh ia tidak dapat mengerti artinya, apalagi keadaan pemuda itu.
Ia hanya tahu bahwa ia senang sekali dekat dengan pemuda ini, dan bahwa tadi, biarpun ia merasa amat malu dan marah, namun di balik itu ia merasakan kebahagiaan yang amat aneh dalam hatinya.
"Joko"
La sendiri kaget mengapa mulutnya memanggil nama ini. Ia tidak bermaksud memanggil, akan tetapi sebutan dalam hatinya ini menyundul sampai ke mulutnya.
"Ya...? Ada Apa, Ayu?"
"Ahh"
Tidak ada Apa-Apa, Joko. Eh, maksudku, kau baik sekali dan aku berterima kasih atas pertolonganmu tadi. kau telah menyelamatkan nyawaku, Joko."
Girang bukan main hati Joko Wandiro.
Dara ini ternyata benar seorang yang amat baik hatinya, tidak seperti yang kadang kadang ingin diperlihatkannya.
Saking girang hatinya, ia memegang gadis itu, memegang kedua tangannya.
"Bukan aku yang baik, Ayu, melainkan engkau. Aku hanya membalas, ingat? kau lah yang pertama-tama nekat berusaha menyelamatkan nyawaku dari dalam air. kau lah seorang yang berhati mulia, Ayu."
"Ahh, kau hanya pura-pura tenggelam."
"Betapapun juga, kau mengira aku benar-benar akan mati tenggelam dan kau telah terjun menolongku. Apa bedanya? Aku yang berterima kasih kepadamu."
Sejenak kedua orang remaja itu berdiri dan saling berpegang tangan.
Jari-jari tangan mereka saling menggenggam.
Hati mereka berdebar aneh penuh kebahagiaan.
Mereka sendiri tidak tahu mengapa begitu, tidak tahu Apa artinya perasaan yang menerbangkan semangat mereka ke angkasa ini.
Namun jari-jari tangan mereka, digerakkan oleh perasaan halus, lebih tahu.
Jari-jari tangan mereka membelai mesra, saling mencurahkan rasa kasih asmara.
Akan tetapi hanya sebentar.
Kewanitaannya membuat Ayu Candra melepaskan kedua tangannya karena jengah.
Mukanya merah sekali, matanya bersinar-sinar, akan tetapi pandang matanya tidak berani langsung menatap wajah Joko Wandiro.
Untuk menenangkan dada yang berdebar-debar ia mengalihkan perhatian.
"Joko, siapakah wanita tadi?"
"Entahlah, aku tidak tahu, sungguhpun serasa pernah aku melihatnya, akan tetapi entah di mana."
"Dia cantik sekali."
"Hemmm, agaknya dia berkepandaian hebat, melihat cara ia melayang turun dari pohon. Cara dia melepaskan anak panah tanpa busur, benar-benar membutuhkan tenaga yang hebat. Akan tetapi ia kejam."
"Dia cantik sekali,"
Ayu Candra mengulang.
"Memang cantik dia."
"Lebih cantik daripada aku."
"Lebih cantik daripada engkau? memang, pakaiannya lebih cantik, lebih mewah, akan tetapi orangnya...hemmm, tiada bidadari kahyangan, apalagi manusia biasa, yang menandingi kecantikanmu, Ayu."
Makin merah wajah dara itu, sampai ke leher dan daun telinganya. Akan tetapi giginya berkilat putih di balik bibirnya.
"Bisa saja kau memuji."
"Bukan memuji, melainkan bicara sebenarnya. Dia memang cantik dan kepandaiannya hebat. Hal itu tidak ada artinya. yang mengkhawatirkan, ia amat kejam dan entah mengapa dia memusuhi kita."
"Karena harimau."
"Bukan, Ayu. Tidak mungkin kalau hanya karena harimau tadi ia melepas anak panah untuk membunuh kita. Aku khawatir sekali kalau-kalau ia akan datang kembali ke sini dan mengganggumu. kau katakan tadi bahwa ayah-bundamu sedang bepergian, bukan?"
"Kalau begitu engkau jangan pergi dulu, Joko. kau temani aku sampai ayah-bundaku pulang."
Di balik kata-kata ini ada harapan di hati Ayu Candra agar pemuda ini berkenalan dengan ayah-bundanya!. Joko Wandiro mengangguk-angguk.
"Baiklah, Ayu. Akan tetapi karena engkau hanya seorang diri di pondok, tidak baik kalau aku bermalam di pondokmu. Biarlah aku tinggal di luar pondokmu, menjaga kalau-kalau wanita kejam itu datang kembali."
"Apa engkau mampu melawan dia? Tidak kusangka kau seorang yang sakti, Joko. Kalau kubayangkan betapa tadi kusangka kau seorang..."
Dia menutupi mulut menahan tawa."...seorang gendeng dan berpenyakit ayan...!"
"Kau bocah nakal Aku bukan orang sakti, bukan pula gendeng atau ayan, akan tetapi sedikit-sedikit aku mengerti bagaimana caranya menghadapi orang jahat."
Ketika mereka berjalan menuju ke pondok Ayu Candra, kadang-kadang tangan Joko Wandiro menggandeng tangan dara itu.
Mula mula tangan dara itu gemetar, akan tetapi tak lama kemudian, tangan itu menjadi hangat dan mereka bergandengan tangan sambil bercakap-cakap.
Ketika Ayu Candra bercerita tentang laki-laki buntung, Joko Wandiro mengerutkan keningnya, akan tetapi tidak menyatakan sesuatu.
Setelah tiba di depan pondok, dari jauh mereka melihat laki-laki buntung duduk di atas bangku depan pondok Mereka saling melepaskan gandengan tangan.
"Ayu Candra! Kalau ayah-bundamu mendengar, bahwa engkau bermain-main dengan seorang pria muda, tentu mereka akan menjadi marah sekali!"
Ayu Candra terkejut mendengar teguran ini.
Dan ia merasa heran pula mengapa laki-laki buntung itu kelihatan begitu marah.
Menurutkan suara hatinya, ia membentak laki-laki bunting itu, ingin mengatakan agar laki-laki itu tidak mencampuri urusannya.
Akan tetapi mengingat bahwa laki-laki itu sudah tua dan buntung pula kedua kakinya, ia hanya menjawab dengan mata bersinar marah.
"Paman Jatoko, dia ini adalah seorang sahabat baruku yang telah menolongku dari maut. Namanya Joko, dan dia akan menemaniku di sini sampai ayah ibuku pulang."
Dalam ucapan yang sifatnya memberi keterangan ini terkandung tantangan dan penandasan bahwa dialah pemilik pondok dan dia pula yang berhak menentukan Apa yang akan dibuatnya.
Mendadak sikap Ki Jatoko berubah.
Lenyap sinar matanya yang marah, lenyap pula sikapnya yang keras dan kaku.
Mulutnya kini tersenyum dan Joko Wandiro mendadak merasa kasihan.
Muka yang buruk itu makin jelek kalau tersenyum, Laki-laki yang malang, pikirnya.
"Ahh, lain lagi kalau begitu! Ada terjadi apakah? Aku tadipun mendengar suara harimau menggereng-gereng marah. Saking takut aku tadi masuk ke pondok bersembunyi. Apakah kalian diserang harimau?"
Ayu Candra lalu menceritakan pengalaman mereka.
Tentu saja ia tidak bercerita tentang anggapannya semula bahwa Joko adalah seorang gila atau ayan.
Ia menceritakan betapa mereka diserang harimau dan betapa Joko telah mengalahkan harimau itu.
Ia bercerita pula tentang munculnya wanita keji yang membunuh harimau dan berusaha membunuh mereka pula, dan tentang dirinya yang terkena anak panah, sehingga hampir saja nyawanya melayang.
"Aduh kau terpanah? Ah, kulihat dadamu itu... di situkah yang terpanah?"
Ki Jatoko membelalakkan kedua matanya, kelihatan terkejut dan khawatir sekali.
"Betul, paman. Akan tetapi sekarang sudah sembuh."
Ki Jatoko memandang ke arah Joko Wandiro penuh selidik.
"Kalau wanita itu demikian jahat dan kau hendak melindungi Ayu Candra, hal itu adalah baik sekali. Biarlah aku berganti tempat, kalau malam aku tidur di bilik belakang dan kau boleh tidur di bangku ini, orang muda."
Joko Wandiro menggeleng kepalanya.
"Tidak usah, paman. Biarlah saya akan mencari tempat di luar untuk mengaso. Saya tidak mau mengganggu Ayu dan paman."
"Sesukamulah! Ayu Candra, biarkan hari ini aku yang masak. Aku sudah menanak nasi dan tadi kebetulan sekali ada seekor kelinci yang kudapati terluka dan tidak bisa lari. Mungkin terluka oleh harimau tadi. Aku akan memasaknya."
Tanpa menanti jawaban, Ki Jatoko turun dari bangku dan berjalan terbongkok-bongkok dan sukar sekali ke samping pondok, diikuti pandang mata Joko Wandiro dengan kening berkerut.
"Ayu,"
Bisiknya.
"Kau berhati-hatilah terhadap dia..."
"Apa?!"
Ayu Candra juga berbisik, wajahnya terheran.
"Dia seorang tapadaksa, orang yang lemah dan patut dikasihani"
"Ssttt, aku melihat sesuatu yang tak menyenangkan akan dirinya. Aku tidak percaya kepadanya. kau berhati-hatilah, Ayu." 'Tapi"
Melihat wajah Joko Wandiro yang bersungguh-sungguh, Ayu Candra tidak mau membantah lagi.
"Baiklah, Joko, akan kuperhatikan pesanmu. Akan tetapi... engkau hendak bermalam di mana?"
Pemuda itu tersenyum.
"Mudah bagiku. Kalau perlu biar di atas pohon dekat pondokmu, agar lebih mudah aku menjaga keselamatanmu."
Ayu Candra menyentuh tangan Joko Wandiro yang segera menggenggam tangan yang kecil hangat itu.
"Engkau baik sekali kepadaku, Joko."
"Aku harus baik kepadamu, Ayu. Harus, dan selamanya."
"Siapa mengharuskan?"
"Hatiku."
"lhh, bicaramu aneh sekali, tapi... tapi... hatiku sendiripun mengharuskan aku berbaik dan tunduk kepadamu, Joko."
Kembali kedua tangan itu saling genggam ketika mereka bercakap-cakap sambil berbisik dan baru mereka saling menjauhkan diri ketika Ki Jatoko berteriak memanggil mereka, mengundang mereka untuk makan.
Sia-sia saja Ki Adibroto membujuk-bujuk isterinya agar suka membatalkan niatnya mencari Pujo untuk membalas dendam.
Ia sudah berusaha sekuatnya dan melakukan perjalanan secara memutar, tidak langsung menuju ke Sungapan Kali Progo.
Dengan dalih mencari sabahat baiknya, ia bahkan mengajak isterinya menyimpang ke kaki Gunung Merbabu untuk mengunjungi Ki Darmobroto, saudara seperguruannya dan sahabat baiknya yang tinggai di dusun kecil.
Perjumpaan dengan kakak seperguruannya ini amat menggembirakan, apalagi ketika Ki Adibroto melihat putera tunggal sahabatnya itu.
Seorang pemuda berusia dua puluh dua tahun yang tampan dan gagah, bersikap halus dan berkulit putih bersih.
Karena kulitnya yang putih sejak lahir itulah maka oleh ayahnya diberi nama Joko Seta.
Sebagai seorang putera tunggal yang teiah kehilangan ibunya semenjak kecii, Joko Seta mewarisi ilmu kepandaian ayahnya dan biarpun masih muda, ia merupakan seorang yang sakti mandraguna.
Melihat pemuda ini, timbullah rasa suka dalam hati Ki Adibroto dan dengan persetujuan isterinya pula, ia lalu mengajukan usul kepada Ki Darmobroto untuk berbesanan.
Ki Darmobroto menerima usul ini dengan penuh kegembiraan.
Biarpun ia menjadi saudara seperguruan yang lebih tua, namun ia sudah cukup tahu akan sepak terjang adik seperguruannya yang mengagumkan, sudah mengenal watak adik seperguruannya ini sebagai seorang pendekar besar yang sakti.
Kacang tidak akan meninggalkan lanjarannya, demikian ia berpendapat.
Ayahnya seorang pendekar, puterinyapun tentu seorang yang berbudi.
Adapun Joko Seta adalah seorang putera yang amat berbakti dan patuh kepada ayahnya.
Di lubuk hatinya memang ia kurang puas menerima keputusan itu, menjodohkan dengan seorang dara yang sama sekali belum pernah ia melihatnya.
Akan tetapi maklum bahwa penolakannya akan menyusahkan hati ayahnya, maka ia menerima dengan wajah gembira untuk menyenangkan hati ayahnya.
Demikianlah, ikatan perjodohan itu diresmikan oleh kedua orang tua.
* * * Penyimpangan perjalanan ini tidak membuat Listyokumolo berubah niat hatinya.
Setelah meninggalkan rumah calon besan itu, ia lalu mengajak suaminya melanjutkan perjalanan ke tempat tujuan, yaitu ke Bayuwismo, bekas tempat tinggal Resi Bhargowo yang diduga menjadi tempat tinggal Pujo dan isterinya sekarang.
Sambil menghela napas Ki Adibroto terpaksa meluluskan kehendak isterinya dengari hati penuh kekhawatiran.
Dalam percakapannya dengan Ki Darmobroto, ia telah menyinggung tentang Pujo yang dicari-cari isterinya itu dan Apa kata calon besan itu tentang diri Pujo?
"Aku mengenal baik paman Resi Bhargowo dan aku pernah bertemu satu kali dengan adimas Pujo, murid dan mantunya yang gagah perkasa, pendekar yang menjunjung kebenaran dan keadilan."
Jawaban Ki Darmobroto itu menambah kedukaan hati Ki Adibroto.
Tepat seperti yang telah diduganya dan ditakutinya.
Pujo adalah seorang satria yang perkasa dan tentang permusuhan Itu, tak salah lagi tentulah bekas suami-isterinya, Wisangjiwo, yang memulainya.
Betapapun juga, ia merasa tidak setuju dengan sepak terjang Pujo dalam membalas dendam.
Kalau Wisangjiwo yang bersalah terhadap pendekar itu, kenapa Pujo membalasnya kepada Listyokumolo dan puteranya yang sama sekali tidak berdosa?
Dengan modal pendapat inilah maka ia mengikuti isterinya menuju ke Bayuwismo.
Ia hanya akan melihat dan mendengar dan siap membela isterinya daripada marabahaya dan mencegah isterinya melakukan sesuatu yang melanggar kebenaran.
Menjelang senja mereka tiba di Sungapan.
Dan kebetulan sekali mereka berdua melihat Pujo berdiri seorang diri di pinggir hutan kering di dekat pantai, di lembah sungai yang menumpahkan airnya ke laut.
Begitu melihat laki-laki itu, Listyokumolo segera mengenalnya.
Wajahnya menjadi merah, sinar matanya berapi dan ia mendesis.
"Itulah dia, si keparat Pujo!"
Hampir ia berlari menuju ke tempat musuh besarnya berdiri. Namun suaminya sudah memegang lengannya dan berbisik.
"Kau bersikaplah tenang, isteriku. Jangan dibikin mabuk oleh nafsu dendam. kau boleh menemuinya dan bertanyalah secara baik-baik, tegurlah ia akan perbuatannya yang lalu dan tanyakan di mana adanya puteramu. Jangan bertindak terburu nafsu, dan apabila puteramu dalam keadaan baik, kurasa tidak perlu kau melanjutkan permusuhan ini. Aku akan tinggal di sini dan mengamat-amati dari sini, karena aku merasa tidak enak kalau mencampuri urusan ini."
Listyokumolo mengangguk kemudian meninggalkan suaminya yang bersembunyi di balik gerombolan pandan itu.
Dengan hati berdebar dan tangan menggigil saking menahan gelora hatinya, wanita itu berlari cepat menghampiri Pujo yang tengah berdiri melamun seorang diri.
Pondok kecii di pinggir laut tampak puluhan meter dari tempat itu dan keadaan sekeliling tempat itu sunyi.
Pria itu memang Pujo adanya.
Beberapa tahun sudah ia tinggal di Bayuwismo, hidup penuh kebahagiaan dengan kedua orang isterinya, yaitu Kartikosari dan Roro Luhito.
Dua orang wanita ini seakan berlumba dalam pencurahan cinta kasih yang mendalam terhadap dirinya sehingga Pujo merupakan seorang pria yang amat bahagia dalam hal ini.
Akan tetapi, kadang-kadang ia suka termenung kalau berada sendirian, teringat akan puterinya yang tak pernah dilihatnya, yaitu Endang Patibroto.
Kalau teringat akan hal ini, penyesalan memenuhi hatinya, menghambarkan semua kebahagiaan hidupnya.
Ia merasa amat rindu kepada puterinya, anak tunggal yang tidak pernah ia lihat itu.
Memang ada hal yang mengurangi kedukaan dan penyesalan ini yaitu bahwa kini kedua orang isterinya sedang mengandung!
Sekaligus ia akan mendapatkan pengganti puterinya yang hilang sebanyak dua orang anak.
Akan tetapi, betapapun juga, ia masih sangat ingin bertemu dengan puterinya yang hilang.
Apalagi kalau ia ingat betapa Kartikosari sering kali menangis sedih apabila teringat akan Endang Patibroto.
Teringat akan ini, hati Pujo merasa perih dan membuat ia teringat akan semua sepak terjangnya yang lalu.
Kalau sudah begitu, timbullah penyesalan besar di dalam hatinya.
Teringatlah ia akan Wisangjiwo yang disangkanya menjadi musuh besarnya.
Teringatlah ia betapa nafsu dendam membuat ia seperti gila, membuat ia mengamuk di Kadipaten Selopenangkep, membunuhi orang tak berdosa, bahkan telah menculik isteri Wisangjiwo dan puteranya.
Teringat akan keadaan isteri Wisangjiwo yang menjadi gila karena perbuatannya itu sehingga wanita yang malang nasibnya itu dipulangkan ke desanya, kemudian bahkan dibawa lari perampok.
Semua ini gara-gara perbuatannya yang didorong nafsu dendam yang menggila.
"Ah, agaknya hilangnya puteriku merupakan hukuman bagi perbuatanku itu. Beginilah rasanya kehilangan anak, dan aku telah merenggut Joko Wandiro dari tangan dan hati ayah-bundanya! Hukum karma, tepat seperti yang dikatakan bapa Resi Bhargowo. Semoga Dewata sudi mengampuni dosaku dan anakku dalam keadaan aman sentausa"
Demikianlah pada senja hari itu ia melamun dan menyesali perbuatannya.
Tiba-tiba Pujo meloncat dan memutar tubuhnya membalik.
Biarpun gerakan di sebelah belakangnya itu perlahan sekali, namun sebagai seorang sakti ia telah dapat mendengarnya.
Alangkah heran dan kagetnya ketika ia melihat seorang wanita cantik telah berdiri di situ, menentangnya dengan pandang mata penuh kebencian dan kemarahan serta memegang sebatang keris yang mengeluarkan sinar, sebuah keris pusaka!
Akan tetapi, pendekar sakti ini segera dapat menenangkan hatinya dan dengan sabar dan tenang ia bertanya.
"Siapakah andika dan apakah kehen..."
"Pujo! Sudah butakah matamu sehingga kau tidak mengenal aku? Ataukah engkau pura-pura tidak mengenal? Lupakah kau akan peristiwa di Guha Siluman delapan belas tahun yang lalu?"
Wanita itu membentak dan memotong pertanyaannya.
Kini Pujo benar-benar kaget sekali.
la mengenal suara ini, mengenal pula sekarang wajah ini dan ia benar-benar terkejut bukan main.
Kedua matanya terbelalak dan ia berdiri bagaikah arca, bibirnya bergerak.
"Andika... Listyokumolo...??"
Ia masih belum percaya akan dugaan ini dan memandang dengan penuh keheranan. Listyokumolo tersenyum mengejek, dan tangan yang memegang keris itu gemetar.
"Bagus, engkau masih ingat kepadaku. Aku datang untuk menuntut balas, untuk minta pertanggungan jawabmu atas kekejian yang kau lakukan delapan belas tahun yang lalu! Hayo katakan di mana kau kubur anakku? kau tentu telah membunuh Joko Wandiro!"
Seketika lemas kedua lutut Pujo ketika mendapatkan kenyataan bahwa wanita ini memang betul Listyokumolo.
Wanita inilah yang selama ini ia bayangkan, menjadi pengganggu kebahagiaan hidupnya karena ia merasa berdosa kepada wanita ini.
Sekarang wanita ini datang.
Dia ibu Joko Wandiro, muridnya!
Melihat sinar mata penuh kebencian, penuh dendam dan kedukaan, tak tertahankan lagi Pujo menjatuhkan diri berlutut.
Sejenak ia merasa kepalanya pening dan ia menutupi muka dengan kedua tangannya.
Alangkah besar dosanya kepada wanita ini, wanita yang tidak berdosa sama sekali.
Ia telah merenggut semua kebahagiaan hidup wanita ini, merampas puteranya, membuat ia menjadi gila sehingga terpisah pula dari suami.
Kehidupan wanita ini telah hancur lebur, semua karena akibat perbuatannya.
Dendamnya kepada Wisangjiwo dahulu telah membuat ia gila, membuat ia menumpahkan dendamnya kepada wanita tak berdosa ini.
Alangkah kejamnya ia.
Alangkah menyesal hatinya sekarang, apalagi kalau dia ingat bahwa dendamnya kepada Wisangjiwo dahulu itu salah alamat!
Dosanya kepada wanita ini adalah dosa tak berampun.
Ia telah merusak kehidupan Listyokumolo, merusak sehingga tak dapat diperbaikinya kembali.
"Aku berdosa..., aku mengaku bersalah. Aku telah menjadi gila dan buta oleh dendam kepada suamimu, dendam yang salah alamat pula. Engkau sudah datang, engkau berhak menuntut balas. Aku menerima segala pembalasanmu. Akan tetapi, percayalah, puteramu Joko Wandiro tidak kubunuh. Dia kupelihara baik-baik, bahkan menjadi puteraku, menjadi muridku. Kini ia menjadi murid Ki Patih Narotama"
"Bohong! Pengecut kau! Inikah seorang satria? Berani berbuat tidak berani bertanggung jawab, tidak berani mengaku. Aku tak percaya omonganmu! Kalau Joko Wandiro masih hidup, tentu dia sudah mencari ibu kandungnya"
"Aku sengaja tidak menceritakan kepadanya tentang ibu kandungnya, baru akhir-akhir ini ia tahu dan aku mendengar kau diculik perampok dan suamimu kakangmas Wisangjiwo telah gugur dalam perang"
Suara Pujo terisak menahan getaran perasaannya yang penuh penyesalan dan iba kepada wanita di depannya itu.
"Huh, siapa percaya obrolanmu? kau kemukakan ini semua karena kau takut akan pembalasanku. kau takut menebus dosa-dosamu, pengecut!"
Pujo bangkit berdiri, mukanya menjadi pucat sekali.
"Tentu kau tidak mau percaya kepadaku, orang yang telah melakukan perbuatan kejl terhadap dirimu, terhadap puteramu. Listyokumolo, sudah kukatakan tadi, aku bersalah dan aku menerima kesalahanku. Aku tidak akan mundur untuk menghadapi hukumanmu, tidak akan gentar untuk menerima pembalasanmu. Nah, lakukanlah niat yang sudah membayang di matamu, aku takkan melawan!"
Pujo memasang dadanya dengan penuh penyerahan karena ia merasa akan dosanya yang hebat terhadap wanita ini.
"Kau telah merusak hidupku, kau telah membunuh puteraku. Rasakan pembalasanku ini!"
Listyokumolo menggerakkan tangan kanannya menusuk. Pujo tidak mau melawan dan sengaja memasang tubuhnya.
"Blesss...!!"
Keris pusaka itu nancap di lambung Pujo sampai ke gagangnya!
Biarpun Listyokumolo seperti gila oleh dendam, dan belasan tahun ia digembleng suaminya dengan ilmu kesaktian, akan tetapi ia bukanlah seorang wanita kejam dan belum pernah selama hidupnya ia membunuh orang.
Kini merasa betapa lambung itu dengan mudah tertusuk kerisnya, tangannya menggigil dan ia meloncat mundur dengan muka pucat.
Ia menggunakan tangan menutup mulutnya yang hendak menjerit ketika ia melihat Pujo terhuyung-huyung ke belakang sambil memegang lambung yang ditancapi keris sanpai ke gagangnya.
Pujo tersenyum.
Lenyaplah sekarang perasaan sesalnya.
Ia telah menebus dosa yang selama ini menyelubungi dan menggelapkan kebahagiaan hidupnya!
"Sudah tertebus...!"
Ia menggumam lalu terhuyung-huyung ke belakang dan akhirnya roboh terduduk di atas rumput.
"Aku aku tidak bohong... Joko Wandiro masih hidup dia di lereng Gunung Bekel"
Ia masih berusaha untuk memberi keterangan.
"Kakangmas Pujo...!!"
Mendengar jerit melengking ini Listyokumolo terkejut dan mengangkat mukanya memandang dua orang wanita yang datang berlari-lari secepat terbang.
Matanya terbelalak ketika ia mengenal bahwa seorang dl antara dua wanita cantik itu bukan lain adalah Roro Luhito, bekas adik iparnya.
Dan lebih-lebih lagi keheranannya ketika ia melihat Roro Luhito menubruk Pujo yang duduk bersandar pohon, memeluknya dan menangis.
Tiba-tiba Listyokumolo meloncat ke samping, menghindarkan diri daripada terjangan wanita ke dua yang amat hebat.
"Kau..., wanita Iblis... kau berani melukai suamiku?"
Teriak wanita itu yang bukan lain adalah Kartikosari.
Mendengar bentakan ini, Roro Luhito agaknya baru sadar bahwa musuh yang melukai suaminya masih berada di situ.
Sekali tubuhnya bergerak, ia telah meloncat dan berhadapan dengan Listyokumolo.
"Kau...?!? Kang-mbok Listyo"
Tentu saja Roro Luhito terkejut bukan main setelah mengenal wanita yang masih berdiri bingung itu.
Teguran ini membuyarkan semua kebingungan hati Listyokumolo.
Matanya mengeluarkan sinar berapi ketika ia memandang bekas adik iparnya.
"Benar, Roro. Akulah Listyokumolo. Akulah orang yang dihancurkan kebahagiaannya oleh si keparat Pujo ini. Akulah yang diculiknya, dirampas puteraku sehingga aku menjadi gila dan dipulangkan oleh kakakmu. Dia ini musuh besarku dan pula yang menjerumuskan aku sampai aku terculik oleh perampok-perampok liar. Roro Luhito, dia, si keparat ini telah menyerbu dan mengacau Selopenangkep, dia musuh besar kita. Mengapa sekarang kulihat engkau menangisinya??"
"Kau kau kah yang melukainya...? Kang-mbok... dia... dia ini adalah suamiku..."
"Suamimu?!? Keparat...!"
"Wuuuttt!"
Listyokumolo kini sudah dapat menguasai dirinya sehingga ia menjadi marah sekali mendengar pengakuan Ini.
Serta-merta ia melakukan serangan hebat dengan melancarkan pukulan maut ke arah dada bekas adik iparnya.
Roro Luhito kaget sekali, kaget dan heran sambil mengelak cepat.
Tidak disangkanya bahwa kini bekas kakak iparnya dapat melakukan penyerangan begini hebat, padahal dahulu Listyokumolo adalah seorang wanita yang halus dan lemah.
Melihat betapa penyerangannya gagal, Listyokumolo menerjang lagi, Roro Luhito kembali mengelak.
Betapapun sakit hatinya melihat suaminya dilukai, namun di dalam hatinya Roro Luhito memaklumi sakit hati yang diderita bekas kakak iparnya, maka ia bersikap mengalah dan hanya mengeiak saja.
Tidak demikian dengan Kartikosari.
Ketika ia memeriksa keadaan suaminya dan melihat betapa keris itu menancap sampai ke gagangnya dalam lambung suaminya, ia hampir gila oleh rasa marah dan duka.
Ia maklum bahwa keadaan suaminya amat parah dan terancam bahaya maut.
Hal ini membuat ia hampir gila dan dengan pekik dahsyat wanita ini lalu menerjang maju.
Ketika Listyokumolo menangkis pukulan ini, ia sampai terpental ke belakang hampir terjengkang roboh.
"Wanita jahat, kau harus mampus!"
Bentak Kartikosari sambil mtenubruk ke depan.
"Tahan dulu..."
Terdengar suara halus dan sebuah lengan yang amat kuat menangkis lengan Kartikosari yang cepat melompat ke samping.
Diam-diam ia harus mengakui bahwa yang menangkis ini memiliki tenaga yang amat kuat.
Ketika memandang, ia melihat bahwa yang menangkis adalah seorang laki-laki setengah tua yang bersikap tenang, namun wajahnya diselimuti kedukaan dan penyesalan.
"Nimas Sari nimas Roro, sudahlah... tak perlu dilanjutkan permusuhan ini aku sudah menerima salah, aku sudah menebus dosaku terhadap Joko Wandiro dan ibunya. Jangan kalian mengulangi lagi dosaku, jangan kalian mengotori lagi Apa yang sudah kucuci bersih dengan darah..."
Terdengar suara Pujo berkata lemah.
Mendengar kata-kata ini, Kartikosari dan Roro Luhito teringat kembali akan suaminya.
Mereka menengok dan keduanya menubruk Pujo sambil rnenangis.
Mereka sibuk ingin menolong suami mereka yang tercinta ingin merenggut kembali nyawa yang sudah dalam cengkeraman maut.
Akan tetapi Pujo menggeleng kepala.
"Tiada guna aku sudah merasa takkan hidup lagi nimas Sari, ketahuilah... dia itu."
Telunjuknya menuding ke arah Listyokumolo yang berdiri pucat di samping suaminya.
"dia itu isteri Wisangjiwo... dialah ibu kandung Joko Wandiro. Dia dahulu yang kuculik, kurampas puteranya dalam kegilaanku hendak membalas Wisangjiwo, dalam dendam kita yang salah alamat kini ia datang membalas sudah sepatutnya, aku sengaja membiarkan dia menanamkan kerisnya sudah kuhancurkan hidupnya... biarlah dia yang merenggut nyawaku..."
"Tidak...! Tidak boleh! Ahh... kakangmas tidak mungkin aku mendiamkannya saja tanpa membalas!"
Bagaikan seekor singa betina Kartikosari meloncat lagi dan rnenerjang Listyokumolo.
"Harap andika sudi bersabar!"
Ki Adibroto kernbali menangkis pukulan Kartikosari yang ditujukan kepada isterinya.
"Dukkk!"
Tubuh Kartikosari terpental ke belakang, namun karena pendekar itu menggunakan tenaga lemas, ia tidak merasa nyeri.
"Siapa engkau?!?"
Kartikosari membentak, tangan kanan meraba gagang keris pusakanya, yaitu keris pusaka Ki Banuwilis milik suaminya. Ki Adibroto membungkuk dengan sikap hormat.
"Saya bernama Adibroto, sekarang menjadi suami Listyokumolo..."
"Kau hendak membela isterimu? Boleh!!"
Kartikosari membentak.
"Harap bersabar."
Ki Adibroto menarik napas panjang penuh sesal dan duka."Sudah bertahun-tahun isteri saya merajuk dan membujuk untuk mencari puteranya dan mencari musuh besarnya, saudara Pujo.
Sudah sebanyak itu pula saya mencegah dan berusaha menghapus dendam, namun sia-sia.
Akhirnya kami datang dan tadi saya melihat sendiri betapa saudara Pujo sengaja menyerahkan diri untuk dibalas.
Saya menyesal dan berduka sekali.
Saudara Pujo ternyata seorang satria utama dan seorang yang suka mengenal diri pribadi, suka mengakui kesalahan sendiri.
Alangkah bahagianya seorang yang dapat mengakui kesalahan sendiri kemudian menikmati hukuman yang akan membebaskannya dari rasa salah diri.
Saudara Pujo dahulu melakukan pembalasan dendam secara membuta, tidak kepada orang yang telah menyakitkan hatinya, melainkan kepada keluarga orang itu.
Dan sekarang saya amat prihatin, tidak ingin melihat isteri saya melakukan kekeliruan yang sama.
Urusannya dengan saudara Pujo sudah beres dan terhadap andika berdua, isteri saya tidak punya urusan sesuatu yang patut dipersoalkan lagi.
Harap andika berdua suka berpikir mendalam akan hal ini dan menghentikan dendam-mendendam Ini."
"Enak saja kau bicara! Suamiku telah dibunuh isterimu dan aku disuruh menerima begitu saja? laki-laki bedebah! Kalau aku tidak dapat membunuh Listyokumolo, tidak patut aku menjadi puteri Resi Bhargowo dan namaku bukan Kartikosari lagi!"
Setelah berkata demikian, Kartikosari yang seperti orang gila oleh kedukaan dan kemarahan itu rnenerjang maju sambil menghunus keris pusaka Banuwilis.
Wajah Adibroto menjadi pucat dan ia sedih bukan main, akan tetapi tak mungkin ia menyaksikan isterinya yang terkasih itu dibunuh orang begitu saja di depannya.
Ia cepat menarik lengan isterinya dan mendorong tubuh isterinya ke arah belakangnya sehingga dialah yang menghadapi Kartikosari.
"Kau benar-benar hendak membela isterimu?"
Kartikosari membentak. Ki Adibroto hanya menggeleng kepalanya, tidak mampu menjawab dan memandang sedih.
"Nimas Sari!"
Terdengar suara Pujo memanggil.
Akan tetapi Kartikosari seperti tidak mendengar panggilan ini karena ia sudah menerjang maju, menusukkan kerisnya ke arah dada Ki Adibroto.
Pendekar ini dapat melihat betapa dahsyatnya terjangan lawan, maklum bahwa wanita di depannya ini sama sekali tidak boleh dipandang ringan.
Cepat-cepat ia menggeser kaki dan mengelak ke kiri.
Pada saat itu tampak bayangan putih berkelebat, sukar diikuti pandangan mata saking cepatnya.
Bayangan putih ini berkelebat di antara Kartikosari dan Ki Adibroto dan tubuh Ki Adibroto terjengkang ke belakang sampai terhuyung-huyung dan hampir roboh.
Bukan main kagetnya pendekar itu.
Bayangan tadi hanya mendorongkan tangan, namun serangkum tenaga dahsyat sekali telah mendorongnya, tak dapat dipertahankan lagi tubuhnya terdorong seperti daun kering terbawa angin.
Ketika ia membuka mata memandang, keheranannya makin menghebat karena kiranya bayangan putih itu hanyalah dara yang masih amat muda, seorang dara remaja sebaya puterinya.
Dara remaja yang cantik jelita, berpakaian serba mewah, dengan hiasan rambut dari emas permata, gelang tangan dan lengan, kalung, pendeknya pakaian seorang puteri keraton!.
Dara remaja itu tidak memperdulikannya lagi.
Kini dara itu memutar tubuh menghadapi Kartikosari yang juga berdiri tercengang.
Sejenak kedua orang wanita itu berdiri berhadapan dan saling pandang.
Dan dalam keadaan seperti itu, Ki Adibroto merasa bulu tengkuknya meremang.
Jelas sekali tampak persamaan di antara kedua orang wanita itu.
Bentuk mukanya sama benar, seperti pinang dibelah dua, hanya bedanya, yang seorang setengah tua, yang seorang lagi masih muda belia.
"Bunda...!!!"
"Endang... Ohhh, Endang...! Engkaukah ini, Endang Patibroto anakku...??"
Kartikosari menjerit dan kedua orang wanita itu saling tubruk dan saling rangkul.
"Kakangmas, jangan bergerak..."
Roro Luhito mencegah Pujo yang berusaha hendak bangun. Tadi ia sudah rebah terlentang dan kini ia berusaha bangkit, matanya terbelalak memandang ke arah Endang Patibroto.
"Biar... biar... aku harus melihat dia, ohhh, Endang puteriku..."
Mendengar ini barulah Kartikosari sadar dan teringat akan suaminya. Ia memegang tangan puterinya mendekati Pujo yang sudah duduk.
"Endang, lihatlah baik-baik, inilah ayah kandungmu, anakku. Inilah ayahmu Pujo, beri sembah kepadanya, anakku..."
Kartikosari tak tahan lagi, terisak menangis.
"Ayah?... Ayah kandungku..."
Sejenak Endang Patibroto tertegun, kemudian terbelalak memandang ke arah gagang keris yang menempel pada lambung laki-laki itu.
Setelah saling pandang sampai lama, Endang Patibroto lalu berlutut menyembah.
"Ayah!"
"Anakku!... Endang Patibroto! Anakku...!"
Pujo merangkul dan mengambungi rambut yang harum dan halus itu."Ha-ha-ha-ha, terima kasih kepada Dewata yang Maha Agung!
Sebelum mati aku diberi kebahagian bertemu muka dengan anakku...!
Ha-ha-ha-ha!
Tiada penasaran lagi sekarang, dosa hapus anak jumpa...!
Nimas Sari..., nimas Luhito...
dengar baik-baik, untuk terakhir ini...
kalian harus memenuhi pesanku...
ja...
jangan kalian membalas kepada Listyokumolo..."
"Aduh, kakangmas Pujo... Jangan... tinggalkan aku, kakangmas bawalah aku...!"
Kartikosari memeluki, menciumi dan menangis tersedu-sedu.
Juga Roro Luhito memeluk dan menangis.
Tinggal Endang Patibroto yang memandang semua ini dengan kening berkerut.
Tidak biasa ia menangis.
Semenjak menjadi murid Dibyo Mamangkoro, hatinya mengeras melebihi batu.
"Endang... anakku cah ayu, anakku yang cantik jelita kau... kau turutilah permintaan ayahmu, nak"
Suara Pujo makin lemah, napasnya terengah-engah.
"Permintaan apakah, ayah?"
Endang Patibroto mendekatkan kepalanya dan memegang tangan ayahnya. Pujo meremas jari jari tangan puterinya, sejenak matanya yang sudah layu itu bersinar-sinar.
"Anakku..., kau... kau... kujodohkan dengan... Joko Wandiro jangan jangan... uggghhh..."
Suara terakhir ini mengantar nyawa Pujo meninggalkan badannya.
"Kakangmas Pujo...!!"
Kartikosari terguling roboh dan pingsan.
"Kakangmas..."
Roro Luhito merangkul tubuh suaminya dan menangis menjerit-jerit.
Listyokumolo berdiri dengan muka pucat sekali.
Setelah kini menyaksikan akibat pembalasan dendamnya sedemikian menyedihkan, hatinya diliputi keharuan yang amat hebat, tubuhnya bergoyang-goyang dan ia tentu akan roboh terguling kalau tidak dipeluk suaminya yang juga memandang dengan muka pucat.
Ki Adibroto menghela napas panjang dan diam-diam ia membaca mantera untuk mengantar nyawa Pujo yang dianggapnya seorang satria luhur budi pekertinya.
suami-isteri ini berdiri seperti arca, tidak tahu harus berbuat Apa.
Ketika Kartikosari sadar dari pingsannya dan melihat Roro Luhito masih menangis menjerit-jerit dan memanggil-manggil nama suaminya, segera ia meloncat dan menudingkan telunjuknya ke arah muka Listyokumolo.
"Kau perempuan keji! kau telah membunuh suamiku... dan aku tidak berani melanggar pesannya terakhir. Hayo kau bunuhlah aku sekalian, agar aku dapat menyusul suamiku...! bunuhlah aku... bunuhlah..."
Sambil menangis dan berteriak-teriak minta dibunuh Kartikosari yang amat menclnta suaminya Itu jatuh berlutut di depan Listyokumolo.
Tidak dapat lagi Listyokumolo menahan hatinya yang hampir meledak karena rasa haru.
Iapun berlutut dan merangkul Kartikosari sarnbil menangis.
Akan tetapi tiba-tiba rangkulan Listyokumolo terenggut dan tubuhnya terlempar sampai terjengkang.
Ketika wanita ini meloncat, ia dan suaminya sudah berhadapan dengan Endang Patibroto!
suami-isteri itu merasa ngeri memandang wajah yang demikian cantik jelitanya Itu seakan-akan merupakan kedok yang mati, begitu dingin dan tidak membayangkan apa-apa.
"Engkau yang membunuh ayahku?"
Pertanyaan ini terdengar halus dan merdu, tenang dan, seakan-akan biasa saja.
"Betul!"
Jawab Listyokumolo yang sudah dapat menekan perasaannya, suaranya tegas dan agak marah.
Biarpun dara ini cantik jelita seperti puteri keraton, namun sikapnya mengerikan seperti iblis betina.
Gadis ini oleh Pujo hendak dijodohkan dengan puteranya!
Berarti bahwa puteranya benar-benar masih hidup.
Ia sudah merasa menyesal telah membunuh Pujo, akan tetapi ia benar-benar tidak setuju kalau puteranya dijodohkan dengan gadis yang sikapnya seperti siluman ini.
"Aku yang membunuhnya dan ia sudah menerima kematiannya dengan rela karena dosanya terhadap dirlku."
"Hemmm, begitukah?"
Dengan sikap tenang Endang Patibroto menghampiri mayat ayahnya yang masih ditangisi Kartikosari dan Roro Luhito, kemudian dicabutnya keris yang menancap dilambung Pujo.
Sedikit darah keluar dari luka di lambung dan tanpa memperdulikan Kartikosari dan Roro Luhito yang berteriak kaget, Endang Patibroto membawa keris itu sambil menghampiri Listyokumolo.
Ia memegang ujung keris pusaka Itu dan mengangsurkannya kepada pemiliknya.
"Nah, karena engkau sudah membunuh ayahku, sekarang gunakan kerismu ini untuk menusuk perutmu sendiri!"
Ucapan inipun dikeluarkan dengan suara halus dan sewajarnya, tanpa perasaan sehingga Listyokumolo dan Ki Adibroto yang mendengarnya menjadi bergidik.
Bahkan Kartikosari dan Roro Luhito juga tercengang.
"Endang! Apa yang kau lakukan...?"
Kartikosari berseru sambil melompat ke depan dan memeluk pundak puterinya.
Akan tetapi dengan halus akan tetapi bertenaga Endang Patibroto mendorong ibunya sehingga Kartikosari kembali duduk di dekat mayat suaminya dengan mata terbelalak.
"Angger, Endang Patibroto. kau ingatlah pesan ayahmu..."
Roro Luhito juga berusaha mengingatkannya. Endang Patibroto memandang Roro Luhito dengan kening berkerut.
"Siapakah wanita ini?"
Pertanyaan ini ia tujukan kepada ibunya akan tetapi pandang matanya tetap menatap wajah Roro Luhito.
"Dia Roro Luhito, dia juga ibumu, Endang, karena diapun isteri ayahmu..."
Kembali Kartikosari terisak dan merangkul mayat suaminya.
"Hemm, ibu berdua jangan mencampuri urusan ini, biar kubereskan sendiri."
Ia lalu membalikkan tubuh menghadapi Listyokumolo kembali.
"Hayo lekas, belum juga kau tusuk perutmu sendiri?"
Bentaknya ketika melihat Listyokumolo yang tadi menerima kerisnya masih memandang keris di tangan dengan mata terbelalak, seakan-akan ia merasa ngeri melihat ujung keris yang berlumuran darah yang kini sudah menghitam itu.
Ki Adibroto mengerutkan kening dan dengan suara tegas ia berkata.
"Isteriku telah membunuh Pujo untuk membalas dendam yang amat mendalam. Pujo sendiri telah mengakui kesalahannya dan telah menyerahkan nyawanya tanpa melawan sehingga ia tewas di tangan isteriku. Sekarang engkau menyuruh isteriku membunuh diri, Apa maksud dan kehendak mu?' "Kau suaminya? Bagus! Hayo suruh dia tusuk perutnya sendiri atau kalau dia tidak berani, kau yang mewakilinya dan menusuk perutnya dengan keris itu sampai mampus!"
"Babo-babo! Dara remaja sungguh sombong dan bermulut besar! Kalau kami tidak mau melakukan permintaanmu yang gila itu, lalu bagaimana?"
"Mau atau tidak, dia harus menusuk perutnya sampai mati."
"Tobat-tobat sombongnya. Hendak kami lihat Apa yang hendak kau lakukan!"
"Engkau banyak bantahan, engkaupun harus dihajar!"
Endang Patibroto berseru dan tubuhnya berkelebat ke depan rnenerjang Ki Adibroto.
Betapapun juga, Ki Adibroto adalah seorang pendekar sakti yang berilmu tinggi.
Biarpun ia maklum betapa dahsyatnya terjangan itu, namun ia tidak takut.
Melihat betapa tangan kiri dara itu bergerak dengan jari-jari tangan kiri terbuka hendak mencengkeram ubun-ubun kepalanya, ia bergidik.
Alangkah kejinya cara penyerangan ini!
Sungguh tidak patut dilakukan seorang dara jelita semuda itu, lebih patut serangan seorang iblis kejam.
Dengan pengerahan hawa sakti untuk melawan tendangan ini, ia menangkis dari bawah dengan melintangkan lengan kanan ke atas kepala.
"Dessss...!!"
Dua lengan bertemu di udara dan tubuh Endang Patibroto terpental ke belakang sampai tiga meter.
Akan tetapi terpentalnya dalam keadaan enak saja, dan wajahnya tetap tersenyum-senyum.
Tidak demikian dengan Ki Adibroto.
Biarpun ia menang tenaga karena memang menang matang latihannya, namun ketika bertemu lengan, ia merasa betapa lengannya panas seperti dimasuki api yang terus menyelinap ke dalam tubuhnya, membuat dadanya terasa sakit.
Ia kaget bukan main, juga terheran-heran.
Bocah ini benar-benar tidak menyombong kosong belaka, melainkan memiliki llmu yang tinggi, seorang yang sakti mandraguna!
Endang Patibroto diam-diam marah pula karena tenaga lawannya benar hebat sehingga ia terpental.
Biarpun-hal ini tidak berarti ia kalah, akan tetapi pada lahirnya memang kelihatan bahwa dia tidak mampu menandingi tenaga lawan.
Dengan gemas ia lalu menggerakkan tangannya dan "Sing...
sing...
sing!!"
Tiga batang anak panah meluncur ke arah paha, perut dan tenggorokan Ki Adibroto.
Anak panah ini diluncurkan dengan sentilan jari tangan, namun kecepatannya luar biasa, tidak kalah oleh anak panah yang diluncurkan dengan gendewa.
Apalagi dilepas dari jarak empat lima meter, bukan main cepatnya laksana kilat menyambar.
Endang Patibroto sudah memastikan bahwa kali ini lawannya pasti akan roboh.
Akan tetapi alangkah kaget dan herannya ketika ia melihat tubuh lawannya itu tiba-tiba mencelat ke atas setinggi dua meter lebih sehingga tiga batang anah panah itu lewat di bawah kakinya dan tidak sebatangpun mengenai sasaran.
Dengan gemas yang meluap-luap Endang Patibroto lalu meloncat ke depan, tubuhnya agak merendah kemudian kedua tangannya melakukan gerak memukul ke depan.
Inilah ilmu pukulan yang luar biasa ampuhnya, yaitu Aji Wisangnolo Api Beracun yang amat dahsyat, ilmu pukulan jarak jauh yang telah ia latih masak-masak dari gurunya!.
Ketika itu, tubuh Ki Adibroto masih belum turun, masih melayang.
Hatinya sudah berdebar karena serangan tiga batang anak panah tadl benar-benar amat berbahaya dan hanya sedikit selisihnya.
Nyaris ia terkena anak panah yang ia dapat menduga tentu mengandung bisa ujungnya.
Pada saat itu, Ki Adibroto sama sekali tidak menyangka bahwa lawannya yang masih begitu muda, dapat melakukan siasat pertandingan yang demikian licik dan curangnya.
Karena inilah, maka dengan tidak menduga akan datangnya pukulan jarak jauh yang demiklan hebat, tahu-tahu ia merasa dadanya dlhantam hawa pukulan yang panas sekali Tubuhnya terlempar ke belakang dan robohlah ia terbanting ke atas tanah dalam keadaan pingsan!.
"Perempuan iblis...!"
Listyokumolo menjerit sambil rnenerjang maju dengan keris di tangan.
Namun, dengan mudah sekali Endang Patibroto miringkan tubuh, tangannya menyambar tangan kanan Listyokumolo yang memegang keris, kemudian ia memaksa tangan lawan itu untuk membalikkan keris dan menusuk lambung sendiri!
Hebat bukan main tenaga dan ketangkasan Endang Patibroto.
Listyokumolo tahu benar betapa tanganya yang memegang keris itu tiba-tiba membalik, akan tetapi ia tidak kuasa mencegah atau menahan tangannya sendiri.
Seolah-olah tangan kanannya itu bergerak di luar kekuasaannya dan seolah-olah tangannya itu kini sudah bukan tangannya lagi.
Melihat betapa tangannya sendiri tanpa dapat dicegahnya menusuk ke arah lambungnya sendiri, Listyokumolo menjerit dengan mata terbelalak lebar.
Dengan tenaga terakhir ia berusaha menahan tangan kanan dengan tangan kirinya, namun sia-sia belaka usahanya.
Dengan mata terbelalak ia melihat jelas betapa keris itu menusuk lambungnya, terus menusuk dan amblas sampai ke gagangnya.
Ia merasa perih dan panas, mendengar suara ketawa lirih dari dara remaja yang sudah melepaskannya, suara ketawa yang bagi pendengarannya merupakan ketawa iblis yang menyeramkan.
Listyokumolo sekali lagi menjerit kemudian tubuhnya terhuyung-huyung ke belakang.
Keris itu menancap tepat di lambung kiri, persis seperti lambung Pujo tadi!
(Lanjut ke
Jilid 28) Badai Laut Selatan (Seri ke 03 Serial Serial Keris Pusaka Sang Megatantra) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo
Jilid 28 Ki Adibroto tersentak kaget mendengar jerit isterinya.
la melompat bangun, mengeluh karena dadanya terasa terbakar dan lehernya seperti dicekik.
Ketika menoleh ke bawah, ia melihat isterinya berkelojotan.
"Nimas!!"
Ia menubruk, hanya untuk menyaksikan isterinya menghembuskan napas terakhir tanpa dapat mengeluarkan suara lagi.
Seketika api kemarahan membakar diri Ki Adibroto.
Ingin ia melompat dan menerjang pembunuh isterinya.
Akan tetapi kesadarannya mencegahnya.
Bunuh-membunuh akibat dendam-mendendam.
Dara remaja itu adalah anak Pujo, kini membunuh isterinya karena mendendam dan membalaskan kematian ayahnya.
la menahan napas, menahan air mata, lalu memondong tubuh isterinya dan berjalan terhuyung-huyung pergi dari tempat itu, diikuti pandang mata mengejek Endang Patibroto yang berdiri tegak sambil bertolak pinggang.
"Endang... Apa yang telah kau lakukan? Mengapa kau membunuhnya...?"
Tanya Kartikosari dengan penuh penyesalan, teringat akan pesan suaminya.
Betapapun ia mencinta suaminya dan merasa sakit hati sekali karena suaminya dibunuh orang, namun setelah mendengar pengakuan suaminya, setelah mendengar pesan suaminya, sebagai seorang puteri pendeta yang bijaksana, ia sadar dan suka mentaati pesan suaminya.
Karena itulah ia merasa amat menyesal melihat puterinya telah membunuh Listyokumolo dan melukai Ki Adibroto dengan hebat.
"Mengapa? Ibu, dia sudah membunuh ayah dan aku membunuh dia. Bukankah ini sudah tepat dan punah? Suaminya terluka dan pasti mati pula, adalah salahnya sendiri!"
Terbelalak mata Kartikosari mendengar jawaban dan melihat sikap puterinya inl.
Terbayang kekerasan hati yang melebihi batu, terbayang sikap dingin melebihi ampak-ampak pada wajah puterinya.
Di samping perubahan sikap puterinya yang luar biasa ini, juga jelas tampak kesaktian yang menggiriskan pada diri puterinya.
Ia sendiri tadi sudah bergebrak dengan Ki Adibroto dan dapat menaksir bahwa Ilmu kepandaian Ki Adibroto amat tinggi, seimbang dengan ilmunya sendiri.
Akan tetapi dalam beberapa gebrakan saja, Ki Adibroto nudah dirobohkan oleh Endang Patibroto sampai pingsan dan terluka hebat.
"Endang... kau... kau... telah membunuh calon... calon ibu mertuamu sendiri...?"
"Apa kata ibu?"
Endang Patibroto bertanya, keningnya berkerut, matanya mengkilat.
"Apa kau lupa akan pesan ayahmu tadi? kau dijodohkan dengan Joko Wandiro..."
"Uhh! ah yang mengaku murid ayah dahulu itu? Menyebalkan! Nah, biarpun demikian, Apa hubungannya urusan Itu dengan kematian perempuan pembunuh ayah tadi?"
"Ohh, anakku. Engkau tidak tahu. Listyokumolo yang kau bunuh tadi adalah ibu kandung Joko Wandiro"
Endang Patibroto kini memandang jenazah ayahnya dengan kening berkerut.
"Aneh-aneh saja ayah tadi. Kalau dia membunuh ayah, kenapa aku dijodohkan dengan anaknya? Aku tidak sudi!"
"Endang..."
Melihat Kartikosari marah, Roro Luhito merangkulnya.
"Urusan itu dapat dirundingkan perlahan-lahan. Bukankah yang perlu sekarang mengurus jenazah dia...?"
Kembali ia menangis sehmgga Kartikosari ikut pula menangis.
Dua orang isteri yang sepenuh jiwa mencinta suami Itu sambil menangis, dibantu oleh Endang Patibroto, mengurus jenazah, membawanya ke pondok kemudian upacara pembakaran dilakukan dengan sederhana.
Abu jenazah dlsebarkan di laut, diantar hujan air mata Kartikosari dan Roro Luhito.
Diam-diam Kartikosari merasa heran dan juga amat menyesal mengapa sedikitpun Endang Patibroto tidak kelihatan berduka, bahkan tidak setetespun air mata keluar untuk menangisi ayah kandungnya!
Pada keesokan harinya, Seorang laki-laki penunggang kuda sampai di Bayuwismo.
Melihat kedatangan laki-laki muda belia dan berpakaian amat mewah, berwajah tampan dan bersikap agung ini, Kartikosari dan Roro Luhito tercengang.
Apalagi ketika mendengar laki-laki itu dari jauh sudah berteriak memanggil nama Endang Patibroto.
"Endang...! Engkau di situkah...?"
Endang Patibroto sedang menggosok-gosok tubuh kudanya.
Ia datang ke Bayuwismo berkuda dan sengaja meninggalkan kudanya ketika ia mencampuri urusan orang tuanya dengan Listyokumolo.
Melihat laki-laki itu, Endang Patibroto berseri wajahnya dan membalas dengan lambaian tangannya sambil berbisik kepada ibunya.
"Ibu, dia gusti pangeran."
"Apa...?!"
Kartikosari dan Roro Luhito terkejut bukan main dan cepat-cepat menyambut ketika pangeran itu melompat turun dari kudanya dan berlari-lari di atas pasir menghampiri Endang Patibroto.
Melihat dua orang wanita cantik bersembah sujut, ia bertanya.
"Endang, siapakah kedua orang bibi ini?"
"Yang ini ibu kandungku, yang itu ibu tiriku."
"Ah! Bibi berdua, silakan bangun, di tempat sunyi ini tidak perlu menggunakan banyak peraturan,"
Kata pangeran itu dengan ramah sehingga Kartikosari dan Roro Luhito menjadi senang juga.
Pangeran ini tidak angkuh seperti bangsawan-bangsawan lainnya dan anehnya, sikap Endang Patibroto terhadapnya seperti sikap seorang teman biasa saja!
"Mengapa paduka terlambat sekali, gusti pangeran?
Dan mana gusti puteri?
Mengapa tidak kelihatan?"
Tanya Endang Patibroto.
"Celaka sekali, Endang. Setelah kau membalapkan kudamu meninggalkan kami, kami berdua lalu berusaha mengejarmu. Kuda yang ditunggangi adinda puteri memang lebih baik daripada kudaku ini, maka akhirnya aku tertinggal. Aku membalap dan berusaha menyusul, akan tetapi sia-sia dan akhirnya adinda puteri tidak tampak lagi. Dengan hati khawatir aku melanjutkan perjalanan seorang diri ke sini dan sampai sekarang aku tidak pernah melihat lagi. Semua ini gara-garamu, Endang. Hayo kau cari dia sampai dapatl"
Wajah sang pangeran tampan itu kelihatan gelisah. Akan tetapi Endang Patibroto tenang-tenang saja.
"Jangan khawatir, gusti pangeran. Pasti dapat hamba cari gusti puteri."
Kemudian ia menoleh kepada Kartikosari dan Roro Luhito sambil berkata,"Ibu, kuharap ibu berdua suka ikut saja bersamaku dan tinggal di istana. Aku yakin bahwa gusti prabu tentu akan mengijinkannya."
Kartikosari mengerutkan keningnya, kemudian bertanya.
"Anakku, sebetulnya apakah kedudukanmu di istana dan istana manakah itu?"
Kini pangeran itulah yang menjawab.
"Bibi, apakah Endang belum menceritakan keadaannya? Sungguh aneh kalau begitu. Bibi, puterimu yang perkasa ini sekarang menjadi kepala pengawal istana Kerajaan Jenggala. Saya adalah Pangeran Panjirawit dari Jenggala, bersama Endang dan adik saya Puteri Mayagaluh sengaja hendak mencari bibi di sini. Benar Apa yang diusulkan Endang Patibroto tadi, bibi. Lebih baik bibi berdua pindah ke istana."
Dapat dibayangkan betapa kaget dan sedih rasa hati Kartikosari setelah mendengar bahwa puterinya bekerja kepada Kerajaan Jenggala!
Padahal semenjak ayahnya, Bhagawan Rukmoseto atau Resi Bhargowo masih hidup, sampai dia sendiri dan suaminya semua adalah pengikut-pengikut Pangeran Sepuh yang kini menjadi Raja di Kerajaan Panjalu.
Bagaimana sekarang Endang Patibroto malah memihak kepada musuh?
Biarpun pangeran muda ini dari Jenggala, akan tetapi betapapun juga ia masih keturunan Sang Prabu Airlangga dan sikapnya amatlah menyenangkan, maka ia menyembah sambil menjawab.
"Terima kasih atas penawaran dan keramahan paduka."
Kemudian ia menghadapi puterinya dan berkata,"Anakku, aku dan ibumu Roro Luhito sudah biasa hidup di alam bebas, tidak ingin hidup dalam istana.
Kami akan tetap tinggal di sini.
kau saja, anakku, kalau memang mencinta ibumu, kau jangan tinggalkan aku lagi.
Kembalilah kepada ibumu dan temani kami di sini."
Mendengar ajakan ibunya ini, Endang Patibroto mengerutkan keningnya.
Sejenak ia memandang kepada kedua orang ibunya, dengan pakaian mereka yang sederhana, dan keadaaan gubuk Bayuwismo yang lebih sederhana pula.
Kemudian ia menundukkan muka, memandangi pakaiannya yang mewah dan indah, perhiasan emas permata yang berkilauan di tubuhnya.
Kerut pada keningnya makin mendalam dan ia menjawab.
"Belum bisa, ibu. Apalagi sekarang selagi Kerajaan Jenggala menghadapi ancaman perang saudara dengan Kerajaan Panjalu. Kerajaan Panjalu yang menjadi musuh kami mempunyai banyak orang pandai, ibu. Kalau aku sudah berhasil membasmi mereka dan Kerajaan Jenggala terbebas dari pada bahaya, barulah aku akan pikir-pikir untuk menemani ibu berdua di sini."
Dengan singkat Endang Patibroto lalu menuturkan bahwa ia menjadi murid Dibyo Mamangkoro dan betapa ia digembleng sampai bertahun-tahun di Pulau Nusakambangan, dan betapa kemudian ia dibawa berhamba kepada Kerajaan Jenggala.
Juga ia bercerita betapa ia diuji oleh sang prabu di Jenggala dan berhasil mengambil bendera pusaka dan membawa kembali kepala dua orang pengawal keraton Panjalu.
Mendengar penuturan Endang Patibroto ini, mula-mula Kartikosari dan Roro Luhito kaget, kemudian terheran-heran, dan akhirnya marah sekali.
Kartikosari tak dapat lagi menahan kemarahannya dan ia memandang tajam puterinya lalu membentak.
"Endang Patibroto, engkau tersesat jauh!!"
"Hemmm, Apa maksudmu, ibu?"
Tanya Endang Patibroto sedangkan Pangeran Panjirawit juga memandang heran. Kartikosari tidak perdulikan lagi pada pangeran itu dan ia berkata, suaranya tegas dan keras.
"Endang, engkau telah tersesat jauh dan mungkin hal itu terjadi karena kau tidak mengerti. Ketahuilah, Raja Jenggala sekarang Ini dahulu adalah Pangeran Anom, sedangkan Raja Penjalu adalah Pangeran Sepuh. Dahulu terjadi perang saudara antara Pangeran Anom dan Pangeran Sepuh. Tahukah engkau fihak mana yang dibela mati-matian oleh eyangmu Resi Bhargowo, oleh ayahmu Pujo, dan oleh ibumu berdua? Kami membela Pangeran Sepuh atau Raja Panjalu yang sekarang! Adapun Pangeran Anom dahulu dibela oleh orang-orang kotor macam Cekel Aksomolo, Warok Gendroyono, Krendayakso, Nogogini, Durgogini dan lain-Iain. Bagaimana sekarang engkau, anak kandungku, cucu Resi Bhargowo, menjadi kepala pengawal di keraton Jenggala? Engkau bersekutu dan berkawan dengan orang-orang jahat macam Cekel Aksomolo dan Iain-Iain itu?"
Kaget juga hati Endang Patibroto melihat betapa ibu kandungnya marah hebat seperti itu.
"Tidak, ibu. Biarpun Cekel Aksomolo dan yang lain-lain itu bekerja membela Jenggala, namun aku tidak bersekutu dan tidak bersahabat dengan mereka!"
Ia mencoba untuk membantah.
"Keparat! Tahukah engkau betapa mereka itu dahulu pernah mengeroyok eyangmu di Pulau Sempu dan hampir saja membunuh eyangmu? Tahukah engkau bahwa ayah-bundamu ini banyak menderita karena perbuatan biadab seorang di antara pembantu-pembantu Jenggala? Dan sekarang engkau menjadi hamba Jenggala? Endang Patibroto, engkau anakku, engkau harus mentaati ibu kandungmu. Mulai detik ini juga, engkau harus berhenti menjadi hamba Jenggala, engkau tidak boleh kembali ke sana!"
Kemarahan Kartikosari sudah meluap-luap dan tak dapat ditekan lagi.
Hening sejenak, hening penuh ketegangan, terutama bagi Pangeran Panjirawit yang mendengarkan dan melihat dengan jantung berdebar-debar.
Kemudian Endang Patibroto menarik napas panjang, memandang ibunya dan menggeleng kepalanya.
"Tidak mungkin begitu, Ibu. Sudah banyak aku menerima hadiah dan kebaikan dari keluarga gusti prabu. Sebelum aku membalas semua kebaikan itu dengan pahala, bagaimana aku bisa meninggalkan Jenggala dengan begitu saja?"
"Kebaikan?? kau bicara tentang kebaikan? Apakah kau tidak tahu betapa ibumu ini hampir berkorban nyawa berkali-kali untukmu? Tidak tahu betapa sengsara hidupku, betapa tersiksa, betapa dengan susah payah memelihara dan mendidikmu, betapa digerogoti dendam dan sakit hati. Dan kau lupakan semua itu, tertutup oleh kebaikan orang lain yang tidak ada artinya itu? Endang, apakah kau ingin menjadi anak durhaka, anak murtad? Sekali lagi, lepaskan semua itu dan, kembalilah kepada ibumu, anakku"
Kalimat terakhir ini mengandung isak-tangis. Endang Patibroto menggeleng kepala lagi.
"Ibu tidak adil... ibu terlalu mendesak, tanpa memberi kesempatan kepadaku."
Kartikosari melompat maju.
"Sekali lagi. Kuminta engkau melepaskan kedudukanmu dan kembali kepada ibumu!"
Suara Kartikosari parau, wajahnya memucat. Endang Patibroto menggeleng kepala.
"Tidak bisa, ibu."
"Anak durhaka! Kalau begitu, daripada melihat engkau hidup tersesat, lebih baik melihat engkau mati!"
Secepat kilat Kartikosari mencabut keris pusaka Banuwilis lalu maju menubruk, menusukkan kerisnya ke arah dada anaknya sendiri.
"Yunda Sari...!"
Roro Luhito menjerit dan bergerak hendak mencegah.
Namun terlambat.
Keris itu sudah menusuk dada Endang Patibroto.
Dara jelita ini sama sekali tidak mau mengelak atau menangkis sehingga Pangeran Panjirawit juga berseru kaget dan cemas.
"Capp...!"
Keris itu menyeleweng ke samping ketika bertemu dengan dada Endang Patibroto, hanya menancap miring, memasuki kulit dan sedikit melukai daging, akan tetapi tidak kuat menembus ke dalam karena Endang Patibroto mengerahkan sedikit hawa sakti di tubuhnya.
Kalau dara ini menghendaki, tentu keris itu tadi membalik dan kulitnya sedikitpun tidak lecet.
Akan tetapi ia sengaja membiarkan kulitnya dan sedikit dagingnya terluka sehingga ketika keris itu jatuh terlepas, darah mengalir keluar.
Melihat darah ini, Kartikosari agaknya seperti baru sadar dan ia menjerit sambil mundur dan menahan mulut dengan tangan agar tidak menangis mengguguk.
Endang Patibroto tersenyum, senyum dingin yang membuat tengkuk Kartikosari meremang.
"lnginkah kau minta kembali sedikit darah yang kau tumpahkan ketika melahirkan aku? Nah, darahku sudah tertumpah. Apakah hatimu puas?"
Endang Patibroto menggunakan jari kakinya menyentil keris pusaka Banuwilis yang terletak di atas tanah.
Keris itu melayang naik dan di sambut tangan kanannya.
Kemudian ia menusukkan keris itu pada dadanya sendiri.
"Krakkk! Patahlah keris pusaka itu menjadi dua potong! Endang Patibroto memperlebar senyumnya dan membuang gagang keris buntung ke atas tanah. Agaknya dengan perbuatan ini ia hendak membuktikan bahwa kalau tadi ia menghendaki, tusukan ibunya tidak akan melukai dadanya, dan bahwa dadanya terluka karena ia sengaja!.
"Aahhh..."
Kartikosari membelalakkan matanya, hatinya serasa ditusuk-tusuk, lalu ia menangis mengguguk-guguk menyebut-nyebut nama suaminya.
"Aduh kakangmas Pujo... kenapa tidak kau bawa saja aku serta? Kenapa kau membiarkan aku terhina oleh anak sendiri?"
Roro Luhito memeluk dan dengan air mata berlinang berkata.
"Sudahlah, ayunda Sari. Ingatlah akan kesehatanmu, ingatlah akan kandunganmu"
Endang Patibroto mengangkat pundaknya, lalu berjalan kearah kuda dan sekali loncat ia telah berada di punggung kudanya.
Sekali lagi ia menoleh, memandang ibunya dengan sinar mata penuh kedukaan, kemudian ia menarik kendali kuda dan binatang itu meloncat ke depan.
"Endang, tunggu...!"
Pangeran Panjirawit menengok ke arah dua orang wanita yang bertangis-tangisan itu, meloloskan dua buah gelang tangannya yang bertabur intan, meletakkannya ke dekat dua orang wanita itu, kemudian iapun lari dan meloncat ke arah kudanya, terus membedal kuda mengejar Endang Patibroto.
* * * Menjelang senja, amat sunyi di daerah Telaga Sarangan.
Sunyi dan dingin.
Permukaan telaga seakan-akan mengeluarkan uap keabu-abuan.
Joko Wandiro dan Ayu Candra bergandeng tangan, berjalan perlahan meninggalkan telaga, menuju ke pondok.
Selama belasan hari, hubungan mereka makin akrab dan seringkali mereka berdua bercengkerama di tepi telaga.
Walaupun tiada kata-kata kasih dan cinta keluar dari mulut mereka yang belum mengenal ucapan itu, namun sinar mata dan getaran jari tangan mereka merupakan bahasa indah tak terucapkan yang langsung membisiki hati masing-masing.
Asyik-masyuk percakapan mereka selalu, percakapan yang tidak ada artinya, kadang-kadang seperti dua anak-anak bergurau.
Namun selalu perhatian mereka tercurah penuh kepada diri masing-masing sehingga mereka tidak tahu betapa sepasang mata yang bersinar tajam mengintai mereka penuh cemburu, iri hati dan marah.
Itulah sepasang mata Ki Jatoko yang tentu saja sama sekali tidak disangka-sangka oleh sepasang muda-mudi itu.
Ketika menjelang senja hari itu mereka berdua seperti biasanya kembali ke pondok, tubuh Ki Jatoko menyelinap di antara gerombolan pohon dan mengikuti mereka dari jauh.
"Ayu Candra..."
"Itu suara ayah...!"
Ayu Candra berseru kaget dan girang ketika tiba-tiba terdengar suara panggilan itu.
Ia segera lari ke arah suara yang datangnya dari pondok.
Joko Wandiro lari pula dl belakang dara itu.
Alangkah kaget hati Ayu Candra ketika dalam cuaca yang sudah remang-remang itu ia melihat ayahnya rebah tertelungkup di depan pondok sambil merintih-rintih dan bergerak-gerak lemah.
"Ayahhh...!"
Ia meloncat dan berlutut, menubruk ayahnya.
Dengan hati cemas dara ini membalikkan tubuh ayahnya dan memangku kepalanya.
Dapat dibayangkan betapa kaget dan ngeri hatinya ketika melihat wajah ayahnya yang tampan itu kini mengerikan, berubah biru kehitaman, napasnya terengah-engah dan warna putih bola matanya menjadi merah sekali!
"Ayah...!
kau kenapa?
Ayah ayah...
Apa yang terjadi?
Mana ibu?"
Dara ini menjerit-jcrit dan mengguncang-guncang tubuh ayahnya. Joko Wandiro yang juga berlutut di dekat tubuh Ki Adibroto, menjadi terkejut sekali setelah memeriksa tubuh orang tua itu.
"Akibat pukulan berbisa yang amat hebat...!"
Katanya lirih. Mendengar ini, Ayu Candra menangis dan mengguncang-guncang tubuh ayahnya sambil memanggil-manggil.
"Ayah...! Ayah...!!"
"Ayu, minggirlah sebentar. Biar kucoba menyadarkannya,"
Bisik pula Joko Wandiro.
Kemudian ia memeriksa dada Ki Adibroto.
Tepat dugaannya, dada pendekar itu totol-totol hitam merah, dan hawa beracun sudah menjalar naik sampai ke muka!
Diam-diam Joko Wandiro merasa ngeri.
Pukulan ini hebat sekali dan kalau bukan Ki Adibroto yang memiliki kesaktian, tentu sekali terkena pukulan ini terus tewas.
Kini keadaan orang tua itu sudah tak mungkin tertolong lagi, maka Joko Wandiro lalu menggunakan lima buah jari tangan kirinya mengurut kedua pundak dan menotok tengkuk.
Seketika Ki Adibroto terbatuk-batuk, lalu bergerak-gerak dan mengeluh.
"Ayah...!"
Ayu Candra sudah menubruk dan kembali memangku kepala ayahnya, Ki Adibroto membuka matanya yang merah, memandang Ayu Candra, lalu bibirnya bergerak-gerak dan terdengar ia berkata dengan bisikan lemah.
"Ayu kau pergilah kepada Ki Darmobroto di kaki Merbabu..., dia...dia calon mertuamu, kujodohkan engkau dengan puteranya, Joko Seto."
"Ayah, kau kenapa? Di mana ibu...?"
Ayu Candra yang amat pucat mukanya itu bertanya. Ia lebih mengkhawatirkan keadaan ayahnya dan gelisah karena tidak melihat ibunya sehingga pesan tentang perjodohan itu sama sekali tidak ia perdulikan.
"Ibumu... ibumu sudah tewas...kalau bertemu dengan Joko Wandiro dia putera ibumu yang sulung... kau beritahukan... uuuhhh-uuhhh..."
"Ayah...!"
Ayu Candra merangkul sambil menangis.
"Beritahukan bahwa ibunya telah meninggal dunia..."
"Ayah, siapa pembunuh ibu? Kenapa ibu tewas?? Katakanlah ayah... katakanlah!"
Ayu Candra menjerit-jerit sehingga ia tidak melihat betapa Joko Wandiro yang mendengar pesan terakhir itu menjadi pucat wajahnya dan terbelalak matanya.
Ki Adibroto sudah payah sekali keadaannya.
ia berusaha untuk bicara banyak, namun tenaganya sudah tidak mengijinkannya.
Ia hanya mampu berbisik-bisik.
"Jangan... jangan melanjutkan permusuhan... kau cari tunanganmu... Joko Seto..."
"Ayah, kenapa ibu tewas? Siapa yang membunuhnya? Dan siapa yang melukai ayah?"
Kembali Ayu Candra mendesak-desak dengan suara parau.
Hampir ia pingsan, namun rasa penasaran membuat ia dapat bertahan dan kemarahannya melihat ayahnya terluka hebat dan mendengar ibunya tewas membuat ia lupa diri, berteriak-teriak dan mengguncang-guncang tubuh ayahnya yang keadaannya sudah payah itu.
"Ibumu... ibumu... mencari anaknya... Joko Wandiro... kau beritahu dia telah tewas... dia itu bukan... bukan..."
Agaknya Ki Adibroto dalam saat terakhir itu hendak membuka rahasia bahwa Listyokumolo bukan ibu kandung Ayu Candra, namun ia tidak kuat lagi dan putuslah napasnya.
"Ayaaaahhh...!!!"
Ayu Candra merangkul dan pingsan di atas dada ayahnya.
Joko Wandiro juga terpukul perasaannya.
lapun sedang mencari ibu kandungnya.
Ia hanya tahu bahwa ibu kandungnya itu kabarnya diculik perampok.
Kini ia mendengar pesan ayah Ayu Candra bahwa ibu kandungnya telah tewas, padahal yang tewas itu adalah ibu kandung Ayu Candra pula!
Hal ini hanya berarti bahwa Ayu Candra adalah anak ibunya pula, jadi adik tirinya!
Keterangan ini baginya lebih hebat daripada berita kematian ibu kandungnya yang belum pernah ia kenal.
Lebih hebat daripada kematian ayahnya Ayu Candra.
Lebih hebat dari Apa saja yang mungkin terjadi.
Kenyataan ini membuat hatinya serasa ditusuk keris berkarat.
Ayu Candra, dia adiknya, adik tirinya, anak kandung ibunya!
Namun Joko Wandiro pemuda gemblengan itu dapat segera menguasai kesadarannya kembali.
Betapapun juga, dara remaja yang sudah merebut hatinya ini bukan orang lain, melainkan adiknya sendiri, sekandungan, seibu.
Ia akan tetap mencintanya.
Mereka tetap akan saling mencinta sebagai kakak dan adik.
Selain itu, oleh ayahnya, Ayu Candra sudah dijodohkan dengan seorang pemuda Iain.
Hal ini lebih baik lagi.
Setelah dapat menguasai hatinya yang tertusuk, baru Joko Wandiro bergerak menolong Ayu Candra yang pingsan.
Pada saat itu, ia mendengar gerakan perlahan di belakangnya.
Ketika ia menengok, kiranya Ki Jatoko yang datang terhuyung-huyung dengan kedua kaki buntungnya.
Joko Wandiro sama sekali tidak tahu bahwa laki-laki buntung itu sudah sejak tadi mengintai dan kini melihat Ki Adibroto sudah mati, lalu datang dan membantu Joko Wandiro mengangkat jenazah Ki Adibroto ke dalam pondok.
Ayu Candra yang sudah siuman kembali itu menangis sedih, dihibur oleh Joko Wandiro dan Ki Jatoko.
Setelah pembakaran jenazah selesai dan abunya dihanyutkan di Telaga Sarangan, Ayu Candra duduk di pinggir telaga itu.
Wajahnya pucat sekali, matanya sayu dan ia tampak lemas karena duka dan kurang tidur.
Rambutnya kusut.
Hati dan pikirannya sekusut rambutnya.
Biar bokor terisi abu jenazah ayahnya sudah tenggelam dan abu itu sendiri telah menjadi satu dengan air telaga, ia masih belum bergerak pergi dari pinggir telaga.
Ki Jatoko diam-diam pergi dari telaga.
Joko Wandiro dengan hati penuh keharuan dan kedukaan berjongkok di belakang Ayu Candra yang duduk bersimpuh di atas tanah berumput.
Hening keadaan di situ pagi hari itu.
Tiada suara burung yang agaknya ikut berkabung.
Air telaga juga tenang, tidak ada angin bersilir.
Telaga yang tua itu sudah banyak menyaksikan suka-duka manusia, karenanya ia tenang-tenang saja.
Ia maklum bahwa manusia hidup memang selalu menjadi permainan suka-duka, si kembar sakti yang selalu bercanda dan bermain-main dengan manusia secara bergilir.
Telaga tua itu tenang-tenang saja karena ia tidak mengenal suka-duka, karena baginya, suka-duka itu tidak ada,t yang ada hanya kewajaran.
Hal ini hanya dapat dimiliki oleh mereka yang telah menyatukan diri dengan alam, telah menjadi sebagian daripada alam itu sendiri.
Tanpa pamrih, karenanya wajar.
Karena wajar, maka tiada suka maupun duka.
"Ayu...!"
Panggilan ini hanya merupakan bisikan yang keluar dari mulut Joko Wandiro, bisikan yang keluar dari hati yang merintih.
Getaran bisikan ini amat kuat sehingga Ayu Candra seketika tersadar.
seperti orang kaget ia sadar, seakan-akan diseret turun kembali dari alam mimpi, ke alam kenyataan yang pahit.
Ia menoleh dan menghadapi Joko Wandiro.
Sejenak mereka saling pandang, dua pasang mata yang bersinar sayu.
"Joko..."
"Ayu!"
Seperti digerakkan tenaga ajaib, keduanya saiing tubruk dan saling rangkul.
Ayu Candra menangis tersedu-sedu di atas dada Joko Wandiro sehingga sebentar saja dada itu menjadi basah.
Joko Wandiro merasa seakan akan yang membasahi dadanya itu adalah darah yang bercucuran dari jantungnya.
Ia mengelus-elus kepala gadis itu, penuh kasih sayang, kasih sayang yang kini ia paksa dan belokkan dari kasih sayang seorang pria terhadap wanita, menjadi kasih sayang seorang kakak terhadap adiknya.
Joko Wandiro merasa sangat kasih kepada adiknya ini.
Ia tahu bahwa mereka tadinya saling mencinta dan ia tahu bahwa sampai saat ini, perasaan Ayu Candra terhadap dirinya tetap tidak berubah.
Karena Ayu Candra belum tahu siapa sebenarnya ia.
Tidak tahu bahwa dialah Joko Wandiro, bahwa dialah kakaknya yang kemarin disebut-sebut Ki Adibroto dalam pesan terakhirnya.
Dara ini harus diberitahu, akan tetapi ia tidak tega untuk menghacurkan hati yang sudah parah itu, hati yang penuh kedukaan karena sekaligus kehilangan ayah-bunda.
Dia sendiripun kehilangan ibu kandungnya, yang katanya tewas oleh musuh.
Akan tetapi kedukaan hatinya tidaklah begitu besar karena ia belum pernah bertemu ibunya, tidak tahu bagaimana rupa ibu kandungnya.
Ia lebih berduka karena kenyataan bahwa Ayu Candra adalah adik tirinya, satu ibu!
"Joko...!"
Ayu Candra berbisik tanpa mengangkat mukanya yang bersembunyi di dada Joko Wandiro.
"Ada Apa, Ayu?"
"Engkau mendengar semua pesan ayah kemarin?"
"Aku mendengar, Ayu."
"Joko engkau tahu bahwa kini aku tidak punya siapa-siapa lagi..."
Ia terisak lalu menyambung.
"...Aku sebatangkara di dunia... aku hanya... hanya punya... engkau, Joko. Katakanlah, Apa yang harus kulakukan sekarang?"
Berdebar jantung Joko Wandiro. Bagaimana ia harus menjawab? la masih tidak tega untuk membuka rahasia yang akan rnenghancurkan hati dara itu. Karena itu ia mengalihkan kepada soal lain.
"Apa yang harus kau lakukan, Ayu? Kurasa sementara ini tidak ada apa-apa. Aku setuju dengan pesan ayahmu bahwa kita... eh, kau tidak perlu mencari musuh, tidak perlu memperbesar permusuhan."
Sebagai murid Ki Patih Narotama, tentu saja Joko Wandiro sudah mendapat gemblengan batin yang hebat sehingga ia dapat mengatasi rasa dendam karena kematian ibunya dibunuh orang.
Ayu Candra mengangkat mukanya dari dada Joko Wandiro.
Akan tetapi, dalam keadaan seperti itu ia nampak makin jelita sehingga Joko Wandiro mengerutkan kening dan terpaksa ia mengalihkan pandang matanya.
"Hal itu harus kupertimbangkan lebih dulu, Joko. Memang semestinya aku mentaati pesan ayah, akan tetapi bagaimana mungkin aku diam saja karena ayah dan ibuku terbunuh orang? Akan kuselidiki mengapa ayah dan ibu sampai tewas di tangan orang dan Apa pula sebabnya ayah meninggalkan pesan seperti itu..."
"Mungkin karena musuh itu luar biasa saktinya, Ayu. Melihat luka di dada ayahmu, memang pukulan itu amat luar biasa, keji dan hanya dapat dilakukan orang yang sakti mandraguna. Agaknya ayahmu tidak ingin engkau bermusuhan dengan orang sakti itu, demi keselamatanmu sendiri."
"Kalau itu sebabnya, tidak mungkin aku berdiam diri saja!"
Ayu Candra berkata marah, mencabut sebatang rumput dan mengigit-gigit rumput itu di antara kedua baris giginya.
"Kalau sebabnya hanya karena musuh amat sakti, aku tidak takut. Dan aku yakin bahwa engkau akan suka membantuku. Bukankah engkau suka membantuku, Joko?"
"Tentu saja, Ayu. Akan tetapi amatlah tidak baik kalau tidak mentaati pesan terakhir ayahmu sendiri. Ada hal yang lebih penting... lagi"
"Hal Apa lagi? Kalau menurut pendapatmu, aku harus bagaimana?"
"Daripada mencari musuh yang tidak diketahui siapa dan yang dilarang pula oleh ayahmu, lebih baik apabila engkau mentaati pesan ayahmu, pergi mencari Joko Seto tunanganmu, Ayu"
Tiba-tiba Ayu Candra meloncat bangun dan berdiri dengan muka merah dan mata terbelalak.
"Tidak mungkin!!"
Ia membanting-banting kaki kanannya. Joko Wandiro juga bangkit berdiri, membujuk.
"Mengapa tidak mungkin, Ayu? Ayahmu sudah meninggalkan pesan yang amat jelas. Joko Seto adalah putera Ki Darmobroto di kaki Gunung Merbabu. Biarlah aku membantumu, Ayu. Kita pergi bersama mencari rumah calon mertuamu..."
"Joko...!!!"
Ayu Candra menjerit, sepasang mata yang tadinya bersinar sayu itu kini memancarkan api kemarahan.
"Sekejam itukah hatimu? Seganas itukah engkau hendak menyiksa hatiku? Engkau hendak membalas karena engkau marah mendengar ayah menjodohkan aku dengan orang Iain? Joko, kau tahu bahwa itu kehendak ayah, bukan kehendakku, dan ayah tidak tahu bahwa ada engkau.."
"Ah, engkau salah mengerti, Ayu. Aku bicara dengan hati tulus ikhlas, aku tidak menyindir, tidak ingin merusak hatimu, Ayu, percayalah, sebaiknya kalau aku antarkan engkau mencari tunanganmu...!"
"Cukup!!"
Kembali Ayu Candra menjerit.
"Joko, engkau... engkau tega mengeluarkan kata-kata seperti itu setelah kau tahu bahwa hal itu tidak mungkin kulakukan? kau masih bicara seperti itu padahal engkau tahu bahwa aku"
Aku bahwa kita...
ah, Joko, tak tahukah kau bahwa tak mungkin aku menjadi...
isteri orang lain?
Ataukah...
kau kini hendak mengaku bahwa sikapmu yang lalu itu hanya palsu belaka?
Engkau sengaja hendak mempermainkan aku?"
Joko Wandiro meramkan kedua matanya. Jantungnya terasa dibetot-betot, ditusuk-tusuk. Ia masih meramkan kedua mata menahan keluarnya air mata ketika menjawab dengan suara gemetar.
"Ayu Candra..., adikku sayang... ketahuilah, hal itu tidak mungkin... antara kita... aku... aku adalah Joko Wandiro, aku... kita kakak adik sekandung... ibumu adalah ibuku, berlainan... ayah"
"Aduh Gusti!!"
Tubuh Ayu Candra menjadi limbung dan tak dapat berdiri lagi, lemas seluruh sendi tulangnya.
Ia jatuh berlutut dan menangis, mengguguk di belakang kedua telapak tangannya.
Kenyataan yang menjadi pukulan ke dua benar-benar meremukkan kalbunya.
Kematian ayah-bundanya membuat ia kehilangan pegangan, sebatangkara di dunia.
Namun di sana masih ada Joko yang telah merebut hatinya, orang yang dicintanya sepenuh jiwa raga, yang menjadi pegangan terakhir baginya.
Kini pegangan itupun direnggut kenyataan bahwa laki-laki yang dipuja dalam hatinya itu adalah kakak tirinya, sekandung, dan bahwa ia harus ikut dengan laki-laki lain, menjadi isteri laki-laki lain.
"Ayah ibu... kenapa tidak membawaku bersama? Kenapa meninggalkan aku hidup seorang diri menderita siksa ini...?"
Ia merintih di antara tangisnya.
"Jagad Dewa Batara kuatkanlah batin hamba!"
Joko Wandiro berdoa sambil menekan perasaannya, menarik napas panjang beberapa kali.
Setelah guncangan batin itu mereda dan kedua matanya tidak terasa panas lagi, ia membuka matanya.
Sambil menggeleng-geleng kepala ia memandang dara yang mengguguk dalam tangisnya itu.
Beberapa kali ia menggerakkan bibir, namun suara hatinya tak terucapkan.
Lalu ia mendekat dan berlutut pula, menyentuh kepala Ayu Candra.
"Ayu, adikku jangan engkau khawatir. Ada kakakmu disini, aku pengganti ayah-bundamu, aku akan mengantarmu mencari Joko Seto tunanganmu."
Ia berkata dengan suara halus menghibur.
Tiba-tiba Ayu Candra menghentikan tangisnya, menurunkan kedua tangannya dan wajah yang kini berada di depan Joko Wandiro dan memandangnya, adalah sebuah wajah pucat sekali dengan sepasang mata yang telah lenyap sinar dan semangatnya.
Ayu Candra memandang sejenak, lalu meloncat bangun sambil menjerit.
"Tidak! Tidak!!"
Kemudian ia lari meninggalkan Joko Wandiro yang masih berlutut di atas tanah.
Joko Wandiro meloncat pula berdiri, akan tetapi mengurungkan niatnya mengejar.
Ia menarik napas panjang, wajahnya juga pucat dan ia malah kembali ke pinggir telaga.
Percuma menemui Ayu Candra pada saat itu, pikirnya.
Dara itu baru saja mengalami pukulan batin yang luar biasa hebatnya.
Sedangkan dia sendiri yang hanya kehilangan ibu kandung yang belum pernah dilihatnya dan mendengar bahwa dara yang dikasihinya itu ternyata adik sendiri, sudah merasa betapa jantungnya serasa ditusuk-tusuk.
Apalagi Ayu Candra yang kehilangan ayah-bunda yang tak pernah berpisah semenjak kecil, yang amat dicintanya, ditambah lagi kenyataan bahwa satu-satunya orang yang diharapkannya ternyata adalah kakak sendiri dan karena itu terpaksa mereka akan berpisah pula karena ia harus menikah dengan laki-laki lain.
Penderitaan yang berat, terutama bagi seorang wanita yang perasaannya tentu lebih halus.
Pagi hari sampai sore, sehari penuh, Joko Wandiro duduk termenung di pinggir telaga.
Tidak pernah ia berkisar dari tempat duduknya, merenungi nasibnya yang buruk.
Dalam renungannya ini, tampaklah jelas-jelas dalam ingatannya betapa tepat sekali wejangan gurunya.
Ki Patih Narotama pernah memberi wejangan kepadanya, bahwa sekali hati menikmati kesenangan, maka hati itu pun takkan kebal terhadap kedukaan.
Atau, singkatnya, siapa menikmati kesenangan harus siap untuk menderita kedukaan.
Sebelum ia bertemu dengan Ayu Candra hatinya kosong, batinnya tenang dan ia berada dalam kebahagiaan, karena sesungguhnya kebahagiaan letaknya di antara susah dan senang, letaknya di tengah-tengah di mana tiada kesenangan dan kesusahan.
Akan tetapi, begitu berjumpa dengan Ayu Candra, hatinya jatuh, darah mudanya menuntut dan menggelora, dan ia menikmati perasaan senang yang luar biasa.
Siapa kira, baru beberapa hari saja, saudara kembar kesenangan, ialah kedukaan, muncul dan menggantikan kedudukan dalam hatinya.
Lenyap kesenangan, datang kedukaan!
Menjelang senja hari itu, batin Joko Wandiro mulai tenang setelah ia teringat akan pelajaran gurunya ini.
la bangkit dan merasa heran bercampur kaget melihat bahwa cuaca sudah mulai gelap.
Tidak disangkanya bahwa saat itu sudah senja.
Tidak terasa waktu terlewat sedemikian cepatnya.
Ia teringat akan Ayu Candra dan ia bernapas panjang dengan hati lega.
Wejangan gurunya itu menyadarkannya dan kini ia mengenang Ayu Candra dengan hati lega, menganggap dara itu adiknya dan mulailah ia dapat mengganti rasa kasihnya dengan kasih seorang kakak.
"Kasihan Ayu, aku harus menghiburnya...!!"
Ia lalu berjalan perlahan menuju ke pondok.
Pondok itu sunyi, sesunyi hati Joko Wandiro.
Lebih sunyi lagi hatinya ketika ia memasuki pintu pondok dan mendapatkan pondok itu kosong.
Ke manakah perginya Ayu Candra?
Ia keluar lagi dan mencari-cari di sekitar pondok.
Tidak hanya Ayu Candra, juga Ki Jatoko tidak tampak!
Rasa khawatir menyelinap di dada Joko Wandiro.
Ia mulai memanggil-manggil, tiada jawaban.
Kemudian ia memasuki pondok, memasuki bilik dara itu.
Semua pakaian Ayu Candrapun tidak ada lagi di dalam bilik.
Jelas kini bahwa Ayu Candra telah pergi, pergi meninggalkan Sarangan, meninggalkan pondok, meninggalkan dia.
Joko Wandiro duduk di atas bangku depan pondok, keningnya berkerut.
Kalau Ayu Candra pergi seorang diri, hal itu tidak akan menggelisahkan hatinya benar.
Dara itu cukup perkasa, cukup mampu menjaga keselamatan diri sendiri.
Akan tetapi, yang benar-benar mencemaskan hatinya adalah lenyapnya Ki Jatoko, laki-laki buntung itu.
Ia tidak percaya kepada Ki Jatoko dan kalau Ayu Candra pergi bersama Ki Jatoko, benar benar membuat hatinya tidak enak.
Berpikir demikian, Joko Wandiro lalu meloncat dan lari untuk mencari jejak dan mengejar.
Sebentar saja ia telah meninggalkan tempat itu.
Memang tepat Apa yang dikhawatirkan Joko Wandiro itu.
Ayu Candra bukan pergi seorang diri, melainkan bersama Ki Jatoko.
Dan juga kepergiannya atas bujukan Ki Jatoko pula.
Ketika tadi ia meninggalkan Joko Wandiro sambil menangis, Ki Jatoko menyambutnya.
Dara ini tidak tahu bahwa orang buntung yang kelihatannya lemah itu sesungguhnya berilmu tinggi dan tadipun telah mendengarkan semua percakapannya dengan Joko Wandiro.
Ketika dara itu meninggalkan Joko Wandiro dan berlari ke pondok, Ki Jatoko telah mendahuluinya dan kini menyambut dara itu dengan muka serius.
"Kasihan sekali engkau, nini!"
Suara Ki Jatoko menggetarkan keharuan, karena sesungguhnya Ki Jatoko memang menaruh rasa iba yang amat besar terhadap gadis yang diam-diam dicintanya itu.
Ki Jatoko selama hidupnya belum pernah mencinta orang, mencinta dalam arti kata yang semurninya.
Biasanya ia mencinta wanita berdasarkan nafsu berahi semata.
Kini entah bagaimana, ia betul-betul jatuh cinta dan melihat gadis itu berduka, ia merasa kasihan dan juga ikut menderita.
Namun di samping perasaan ini, kelicikan juga membuat ia melihat kesempatan baik sekali untuk melaksanakan maksud dan niat hatinya.
Orang yang sedang berduka dan tertimpa malapetaka, apalagi kalau ia wanita, paling tidak kuat mendengar orang yang menyatakan iba hatinya.Mendengar ucapan Ki Jatoko yang menggetar penuh keharuan, makin menggungguk tangis Ayu Candra.
Dara ini menjatuhkan diri duduk di atas bangku depan pondok, menutupi mukanya dengan kedua tangan dan menangis, memanggil-manggil ayah ibunya.
"Ayu Candra, aku mengerti betapa sakit hatimu dan betapa engkaupun bingung karena tidak tahu siapa pembunuh ayah-bundamu. Akan tetapi jangan khawatir, bocah ayu, pamanmu ini jelek-jelek tahu siapa musuh besarmu dan percayalah, aku bersumpah kepada Dewa yang Maha Agung untuk membantumu mencari musuh-musuhmu dan membalaskan sakit hatimu."
Seketika Ayu Candra menghentikan tangisnya. Ia menurunkan tangan dan memandang laki-Iaki buntung itu dengan mata terbelalak kaget.
"Engkau... engkau tahu betul siapa pembunuh ayah-bundaku, paman...?"
Ki Jatoko mengangguk-angguk dan memandang kedua kakinya yang buntung, lalu menarik napas panjang.
"Tidak hanya tahu, bahkan musuhmu itu juga musuh besarku, Ayu Candra. Ketika ayahmu dalam pesannya mengatakan bahwa ibumu adalah ibu Joko Wandiro, maka jelaslah semua bagiku. Bukankah ibumu itu bernama Listyokumolo?"
Lenyap seketika keraguan hati Ayu Candra.
Ia ingat betul bahwa selama ini tidak pernah ia menyebutkan nama ibu kandungnya.
Dari mana si buntung ini mengetahui nama ibunya kalau tidak memang mengetahui hal ini sejak dahulu?
Akan tetapi kalau tahu nama ibunya mengapa tidak mengenal Joko Wandiro?
Betapapun juga, peringatan Joko Wandiro kepadanya agar ia berhati-hati terhadap orang buntung ini membuat Ayu Candra berhati-hati.
Ia cukup cerdik, maka untuk meyakinkan hatinya, ia bertanya.
"Paman Jatoko, kalau engkau mengenal ibuku, tentu engkau mengenal pula puteranya yang bernama Joko Wandiro."
Ki Jatoko menggeleng-geleng kepalanya.
"Aku tidak pernah melihat puteranya karena puteranya itu hilang ketlka masih kecil, diculik musuhnya, Ibu kandungmu, kalau benar dia itu ibu Joko Wandiro, tentu bernama Listyokumolo. Dahulu ibumu itu adalah Isteri Raden Wisangjiwo, putera kadipaten di Selopenangkep. Nah, kemudian muncullah musuh besar keluarganya, menculik ibumu dan puteranya yang baru berusla setahun bernama Joko Wandiro. Agaknya kemudian ibumu menikah dengan ayahmu dan mempunyai anak engkau ini. Mendengar ucapan mendiang ayahmu, tidak salah lagi, ibu dan ayahmu tentu pergi mencari Joko Wandiro itu dan bertemu dengan penculik yang menjadi musuh besarnya, kemudian bertanding. Memang musuh besarnya itu amat sakti mandraguna sehingga ibumu tewas dan ayahmu terluka hebat. Tidak bisa salah lagi. Aku sendiri mengalaminya. Kedua kakiku ini buntung karena mereka"
"Mereka...?"
Ki Jatoko mengangguk-angguk.
"Ya, selain dia... sendiri... sakti mandraguna, si keparat itu masih mempunyai dua orang isteri yang juga tinggi ilmunya. Karena itu tidaklah mudah bagimu untuk membalas dendam. Akan tetapi kalau engkau percaya kepadaku, aku dapat membawamu. Asal saja engkau tidak bicara kepada siapapun juga, jangan pula kepada orang muda temanmu itu."
Kini lenyaplah semua syak wasangka di hati Ayu Candra, namun ia masih bertanya lagi.
"Paman Jatoko, bagaimana paman tahu akan hal itu semua?"
"Ayu Candra, engkau masih tidak percaya kepadaku? Aku adalah seorang penduduk Kadipaten Selopenangkep, tentu saja peristiwa yang menimpa keluarga Selopenangkep itu kuketahui jelas. Sekarang, hendak kutanya kepadamu. Apakah kau tidak ingin membalaskan kematian ayah-bundamu?"
Ayu Candra bangkit berdiri, mengepal kedua tangannya.
"Tentu saja!"
Jawabnya penuh kemarahan dan dendam.
"Bagus! Kalau begitu, hayo kita berangkat sekarang juga."
"Beri tahu saya, paman. Siapa musuhku Itu dan di mana dia?"
Ki Jatoko menggeleng kepalanya.
"Tidak bisa. Mereka itu berpindah-pindah, hanya aku yang akan dapat mencari mereka. Akupun menaruh dendam, akan tetapi aku sudah cacat, sudah buntung. Aku mengharapkan engkau akan dapat membalas mereka, dan aku harus menyaksikannya dan membantumu. Marilah!"
Tanpa disadarinya, Ayu Candra menoleh ke arah telaga.
Hatinya berdebar keras.
Girang bahwa ia kini mendapat jalan untuk membalaskan sakit hati ayah-bundanya.
Akan tetapi teringat kepada Joko Wandiro, ia bersangsi.
"Aku akan memberitahu lebih dahulu kepadanya"
"Apa?? Kepada pemuda itu? kau keliru, rahasia pribadi yang begini penting tidak boleh sekali-kali diberitahukan orang lain."
"Paman Jatoko, hal yang ajaib telah terjadi. Engkau tidak tahu. kau kira siapakah pemuda itu? Dialah Joko Wandiro... kakak kandungku Dialah putera... ibuku."
Tidak dapat ditahan lagi, ucapan yang menusuk perasaannya ini kembali mendorong keluar air matanya.
Ki Jatoko benar-benar kaget dan tanpa disadarinya lagi ia lupa bahwa ia sedang bersandiwara, pura-pura menjadi orang tapadaksa yang lemah.
Tubuhnya mencelat ke atas, tinggi sekali lalu melayang turun bagaikan seekor burung garuda, kedua kaki buntungnya hinggap kembali di atas tanah tanpa mengeluarkan suara, tubuhnya ringan dan gerakannya tadi cepat.
Karena ia menggunakan aji meringankan tubuh Bayu Sakti, tentu saja hebat sekali sehingga Ayu Candra yang tidak menduganya semula, memandang dengan bengong.
"Wah, kiranya engkau berkepandaian hebat, paman Jatoko!"
Serunya terheran-heran.
Ki Jatoko menyesal mengapa ia tidak dapat menguasai dirinya sehingga membuka rahasianya sendiri.
Ia menghela napas.
Sungguh mengagetkan sekali kenyataan bahwa pemuda yang gerak-geriknya tangkas itu adalah Joko Wandiro, putera Wisangjiwo yang dahulu lenyap diculik Pujo.
"Aku mengerti sedikit ilmu, karenanya aku akan membantumu dalam menghadapi musuh kita, Ayu Candra. Akan tetapi, setelah sekarang aku tahu bahwa pemuda itu adalah Joko Wandiro, lebih-lebih lagi kau tidak boleh bicara tentang membalas dendam kepada musuh kita itu kepadanya!"
"Eh, mengapa, paman? Bukankah musuhku berarti musuhnya pula? Pembunuh ibuku berarti pembunuh ibunya pula?"
"Engkau tidak tahu, Ayu Candra. seperti sudah kuceritakan tadi, ketika ibumu diculik oleh musuh besar keluarganya, Joko Wandiro baru berusia setahun. Kemudian ibumu dibebaskan oleh musuhnya, akan tetapi Joko Wandiro tidak dibebaskan bahkan diambil sebagai murid! Nah, pemuda itu semenjak kecil dipelihara dan dididik oleh musuh besar keluarganya. Sudah tentu hatinya lebih berat kepada gurunya daripada kepada ibunya yang semenjak ia berusia satu tahun tidak pernah dilihatnya. Kalau sekarang kau mengatakan bahwa kau dan aku hendak membalas dendam kepada gurunya, kalau dia tidak melawan kita, tentu ia akan memberi tahu kepada gurunya supaya musuh besar kita itu menyembunyikan diri!"
Berkerut kening Ayu Candra.
Teringat ia betapa tadi Joko Wandiro juga mengeluarkan kata-kata mencegah ia membalas dendam kepada musuh!
Tentu saja Joko Wandiro sudah dapat menduga bahwa yang membunuh ibunya adalah gurunya sendiri, guru yang semenjak ia berusia setahun telah memelihara dan mendidiknya.
Kekecewaan hatinya karena laki-laki yang dicintanya itu ternyata saudara sekandung, kini berubah menjadi kemarahan.
"Hemm, dia murid musuh besarku...?"
Ia bersungut-sungut.
"Betul, nini. Kalau saja dia itu bukan putera ibumu sendiri, tentu sekarang juga kuajak engkau menyerangnya!"
Ayu Candra termenung, kemudian ia mengambil keputusan tetap.
"Paman Jatoko, aku ikut bersamamu!"
Demikianlah, tak lama kemudian sambil membawa buntalan pakaiannya, Ayu Candra pergi bersama Ki Jatoko yang kini tidak lagi menyembunyikan kepandaiannya sehingga Ayu Candra makin terkejut dan kagum karena laki-laki itu ternyata dapat berlari lebih cepat daripadanya!
Di antara para pangeran dan puteri Kerajaan Jenggala, yang paling suka dan akrab dengan Endang Patibroto hanyalah kakak beradik, putera dan puteri sri baginda dari selir yang ke lima.
Pangeran Panjirawit dan adiknya, Puteri Mayagaluh segera menjadi sahabat baik Endang Patibroto setelah dara perkasa ini menjadi kepala pengawal istana Jenggala.
Yang menarik kedua orang muda bangsawan itu adalah karena Endang Patibroto seorang yang sakti mandraguna.
Di antara putera dan puteri Raja, hanya mereka berdua inilah yang suka akan olah keperwiraan dan ketangkasan.
Ibu mereka yang menjadi selir ke lima sri baginda adalah seorang bekas perajurit wanita, puteri seorang senopati Kahuripan, maka tidak mengherankan apabila puteri tunggalnya suka pula akan ilmu keperajuritan.
Kesukaan akan ilmu ini agaknya menurun pula kepada Pangeran Panjirawit dan adiknya sehingga semenjak kecil dua orang putera dan puteri ini suka mempelajari ilmu silat.
Di samping kesukaan akan aji kedigdayaan, juga kakak beradik bangsawan ini memiliki watak yang periang, ramah dan tidak sombong seperti putera-putera Raja lainnya.
Agaknya hal ini yang membuat Endang Patibroto suka pula kepadanya dan ia tidak menolak ketika mereka menariknya sebagai sahabat dan sering pula ia memberi petunjuk kepada mereka tentang ilmu ketangkasan.
Semenjak dua orang muda bangsawan itu menjadi sahabat baik Endang Patibroto mereka bertiga seringkali keluar dari istana, menunggang kuda dan pergi ke hutan berburu binatang hutan.
Akan tetapi selalu Endang Patibroto yang menjadi pimpinan dan kakak beradik bangsawan itu hanya menurut saja ke mana Endang Patibroto pergi.
Mereka tidak pula menolak ketika pada suatu hari Endang Patibroto mengajak mereka pergi merantau jauh ke barat sampai ke Telaga Sarangan.
seperti telah diceritakan di bagian depan, dalam perjalanan ini, ketika lewat dekat Sarangan, kuda Endang Patibroto terkejut oleh suara gerengan harimau yang bertanding melawan Joko Wandiro.
Endang Patibroto marah dan turun dari kudanya, terus berkelebat lenyap memasuki hutan sampai ke pinggir telaga.
Ia membunuh harimau dan melukai Ayu Candra yang dianggapnya kurang ajar kepadanya.
Ketika ia bertemu pandang dengan Joko Wandiro, ia merasa seperti kenal pemuda Itu, akan tetapi ia lupa lagi dan ia kagum melihat pemuda itu berhasil menghindarkan diri dari serangan anak panahnya.
Padahal biasanya anak panahnya itu seratus kali lepas tiada satupun luput.
Namun ia sudah puas melihat dara cantik itu terkena anak panahnya, karena yang kurang ajar kepadanya hanya dara cantik itu saja, maka ia lalu pergi melanjutkan perjalanannya bersama Pangeran Panjirawit dan Puteri Mayagaluh.
Tiga orang muda ini usianya hampir sebaya.
Pangeran Panjirawit berusia dua puluh satu tahun, Endang Patibroto berusia delapan belas tahun, dan Puteri Mayagaluh tujuh belas tahun.
Mendengar mereka bercakap-cakap dan bersenda-gurau secara bebas sungguh sukar diduga bahwa yang dua adalah putera Raja Jenggala sedangkan yang seorang, wanita lagi, adalah seorang hamba sungguhpun pangkatnya cukup tinggi, yaitu kepala pengawal dalam istana Jenggala.
Kuda yang mereka tunggangi adalah kuda-kuda pilihan, namun harus diakui bahwa di antara mereka bertiga, Endang Patibroto yang paling tangkas dan pandai menunggang kuda.
Hal ini adalah berkat kesaktiannya yang jauh berada di atas tingkat putera-puteri Raja itu.
Tentu saja kalau bicara tentang latihan, Endang Patibroto kalah terlatih.
Putera dan puteri itu sejak kecil sudah biasa menunggang kuda yang besar, sedangkan Endang Patibroto sendiri baru saja, belum genap setahun, melatih ilmu menunggang kuda.
Akan tetapi, karena hawa sakti di tubuhnya yang luar biasa, sebentar saja ia menguasai ilmu ini dan malah lebih mahir daripada yang sudah berlatih puluhan tahun.
Setiap gerak kedua kakinya, setiap hentakan kendali, demikian bertenaga dan antep.
Hal ini terasa oleh kuda yang ditungganginya sehingga kuda itu menjadi penurut sekali.
Tujuan perjalanan Endang Patibroto kali ini adalah Bayuwismo di Sungapan!
Sudah bertahun-tahun ia rindu kepada ibunya.
Ketika ia berada di Pulau Iblis bersama gurunya, Dibyo Marnangkoro ia sama sekali tidak mendapat kesempatan untuk mencari ibunya.
Bahkan ia tak pernah menyebut-nyebut tentang ibunya di depan gurunya.
Sekarang, setelah ia hidup bebas bahkan menduduki pangkat tlnggi dl Jenggala, ia banyak menganggur dan teringatlan ia kepada ibunya.
Kesempatan berburu binatang dengan dua orang muda bangsawan itu ia pergunakan untuk terus pergi ke barat, mencari ibunya.
Ibunya pernah mengatakan dahulu bahwa kampung halaman ibunya adalah Bayuwismo di Sungapan, di pantai Laut Selatan.
Makin dekat dengan Bayuwismo, makin gembira hati Endang Patibroto.
Ketika melewati Pegunungan Seribu dan mendengar keterangan dari seorang penduduk bahwa Bayuwismo tidak jauh lagi, ia lalu berkata kepada kedua orang sahabatnya.
"Gusti pangeran dan gusti puteri, tempat tinggal ibuku tidak jauh lagi. Jalan ini terus ke selatan sampai di pantai laut, di sanalah tempat tinggal ibuku. Mari kita berlomba!"
Tanpa menanti jawaban, Endang Patibroto membalapkan kudanya menuju ke selatan.
"Jangan tergesa-gesa..."
Pangeran Panjirawit menegur, akan tetapi melihat Endang Patibroto tidak memperdulikannya, ia menoleh kepada adlknya.
"Mari kita kejar dia!"
Tiga ekor kuda itu membalaplah.
Mereka melalui jalan-jalan yang cukup sukar karena Pegunungan Seribu belum juga habis.
Selain jalan-jalan sukar juga mereka melalui hutan-hutan kecil yang cukup lebat.
Makin lama Endang Patibroto makin jauh meninggalkan dua orang sahabatnya.
Pangeran Panjirawit yang sudah berbulan-bulan jatuh hati kepada Endang Patibroto, tidak mau tertinggal jauh, lalu membalapkan kudanya mengejar.
Puteri Mayagaluh tentu saja masih kalah oleh kakaknya.
Betapapun ia membedal kudanya, la maslh tertinggal dan akhirnya bayangan kakaknyapun lenyap dan derap kaki kuda hanya terdengar jauh di depan.
Namun, karena puteri itu bukan seorang lemah, bukan pula penakut dan memiliki jiwa satria, dia mengglglt bibir, membedal kudanya, menjepit perut kuda dengan kedua betisnya yang halus dan putih, terus berusaha mengejar.
Pangeran Panjirawit tetap tak bisa menyusul Endang Patibroto dan akhirnya ia teringat kepada adiknya.
la menahan kudanya dan melihat adiknya membalap dengan cepat sekali.
Ia tersenyum, membiarkan adiknya lewat kemudian ia yang mengejar dari belakang.
Biarpun ia menang mahir dalam hal menunggang kuda, namun ia harus mengakui bahwa kuda yang ditunggangi adiknya itu lebih baik daripada kudanya sendiri.
Tidak lama kemudian, kuda tunggangan Pangeran Panjirawit terhuyung-huyung.
Pangeran itu terkejut lalu menahan kudanya, dan membiarkan kudanya membereskan napasnya yang sudah hampir putus itu.
Ketika napas kudanya mereda dan ia mengejar lagi, ia sudah tidak melihat bayangan adiknya.
Ternyata Bayuwismo yang dikatakan oleh penduduk gunung disebut dekat itu sama sekali tidak dekat.
Setelah naik turun gunung dan melalui hutan-hutan, belum juga Pangeran Panjirawit melihat pantai.
Mulailah hatinya menjadi gelisah.
Ia mengejar terus dan seperti telah diceritakan di bagian depan, ketika ia berhasil tiba di Bayuwismo setelah berputaran mencari adiknya dan tersesat ke sana-sini, ia tetap tidak bertemu dengan Puteri Mayagaluh.
Adiknya itu telah lenyap tidak meninggalkan jejak!
Ke manakah perginya Puteri Mayagaluh?
Ia memang tersesat seperti juga kakaknya dan lebih daripada itu, ia tertimpa bencana!
Sebagai seorang puteri, biarpun ia seringkali pergi berburu, akan tetapi biasanya ia berteman dan hutan yang didatanginya adalah hutan yang sudah dikenalnya.
Kini untuk pertama kalinya ia berkuda seorang diri melalui pegunungan yang asing, ditambah banyak hutan-hutan liar sehingga tanpa disadarinya, ia bukannya membalapkan kuda menuju ke selatan lagi, melainkan ke arah barat!
Karena makin lama hutan itu makin lebat dan ia masih juga belum mampu menyusul Endang Patibroto, setelah agak lama timbul kekhawatiran hatinya.
Ia memperlambat jalannya kuda untuk menanti kakaknya.
Akan tetapi alangkah cemas hatinya ketika ditunggu-tunggu, kakaknya belum juga muncul, bahkan derap kaki kuda kakaknya juga tidak terdengar sama sekali!
Puteri ini memang berhati tabah, akan tetapi setelah malam tiba, hatinya penuh rasa takut juga.
Untung baginya, semenjak ia seringkali berburu binatang bersama Endang Patibroto, ia memperoleh banyak pengalaman sehingga ia memberanikan diri naik ke pohon untuk melewatkan malam itu, sedangkan kudanya ia cancang di bawah.
Pada keesokan harinya, ia melanjutkan usaha mencari Endang Patibroto atau rakandanya, akan tetapi makin lama ia tersesat makin jauh.
Puteri Raja ini berkeliaran seorang diri di dalam hutan.
Dapat dibayangkan betapa bingung dan gelisah hatinya setelah berhari-hari ia tidak dapat bertemu dengan dua orang yang dicari-carinya itu, bahkan tidak pernah bertemu dengan seorang manusiapun.
Daerah Pegunungan Kidul adalah daerah pegunungan batu kapur yang tidak subur dan tandus sehingga orang-orang tidak suka tinggal di daerah ini.
Itulah scbabnya mengapa Puteri Mayagaluh tak pernah melihat pedusunan.
Ia menunggang kudanya, kadang-kadang menuntunnya, berkeliaran, tak tahu bahwa beberapa kali ia kembali ke tempat yang itu-itu juga karena tidak mengenal Jalan.
Dalam waktu beberapa hari saja, wajah puteri itu menjadi pucat, tubuhnya kurus dan rambutnya kusut.
la hanya makan kalau terlalu lapar saja, makan seadanya sekedar menyambung hidup.
Masih untung baginya, banyak pohon kelapa di daerah ini, dan ada pula beberapa ekor binatang seperti kelinci dan kijang yang ia robohkan dengan anak panah dan ia panggang dagingnya.
Setelah kurang lebih sepuluh hari ia berkeliaran di dalam hutan-hutan di daerah Pegunungan Kidul ini, akhirnya Puteri Mayagaluh mengambil keputusan untuk pulang sendiri ke Jenggala, meninggalkan Endang Patibroto dan Pangeran Panjirawit yang tak diketahuinya berada dimana itu.
la hanya tahu bahwa Jenggala berada jauh di sebelah tirnur, karena ketika melakukan perjalanan dari Kerajaan, mereka bertiga terus pergi ke barat.
Karena inilah, maka setelah bermalam lagi dalam hutan, pada keesokan harinya sang puteri menjalankan kudanya menuju ke arah matahari terbit, yaitu ke timur.
Kalau aku terus menuju ke timur, akhirnya tentu sampai ke Jenggala, pikirnya.
Di tengah jalan ia dapat bertanya kepada orang yang dijumpainya.
(Lanjut ke
Jilid 29) Badai Laut Selatan (Seri ke 03 Serial Serial Keris Pusaka Sang Megatantra) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo
Jilid 29 Ia sama sekali tidak tahu bahwa Pegunungan Kidul merupakan sebaris pegunungan yang tiada putusnya, pegunungan yang seakan-akan merupakan tanggul yang membendung laut Selatan di sepanjang pantai selatan.
Pegunungan Kidul ini terus berbaris sepanjang pantai selatan sampai jauh di sebelah timur, bahkan sambung-menyambung sampai di pegunungan scbelah selatan Kerajaan Jenggala sendiri!
Karena sang puteri mengambil jalan langsung ke timur dari pegunungan, tentu saja la tidak pernah terbebas dari daerah pegunungan sehingga berhari-hari la terus menerus naik turun gunung kecil, melakukan perjalanan yang amat sukar dan lambat.
Selama tiga hari ia melakukan perjalanan dan gunung-gunung itu belum juga habis, dusun belum juga ditemukan!.
Pada hari ke empatnya, ketika pagi pagi ia sudah menuntun kudanya pada jalan sempit yang amat sukar, tiba-tiba terdengar bentakan orang.
"Orang yang lewat, tinggalkan kuda dan pakaian!"
Dari balik semak-semak belukar meloncat keluar lima orang laki-laki tinggi besar yang berdiri menghadang di dcpan.
Mayagaluh kaget sekali schingga mukanya berubah pucat akan tetapi kelirna orang itu lebih kaget dan heran ketika sekarang melihat penuntun kuda yang mereka cegat itu kiranya seorang dara muda yang amat cantik jelita dan berpakaian serba indah!
Tentu saja perampok-perampok ini menjadi girang sekali.
Kuda itu amat bagus dan tentu mahal harganya.
Pakaian wanita itupun amat mewah dan halus, apalagi perhiasan perhiasan emas permata itu.
Disamping ini, wanita itu sendiri amat cantik menarik, seperti dewi kahyangan.
Puteri Mayagaluh memandang dengan mata tcrbelalak.
Lima orang itu bertubuh tinggi besar dan berwajah galak, terutama sekali orang yang paling muda di antara mereka yang pakaiannya agak berbeda dan agaknya menjadi kepala, bertubuh seperti raksasa dan memandang kepadanya seperti seorang kelaparan nasi.
Ia maklum bahwa mereka adalah perampok-perampok, maka ia segera berkata dengan sikap agung seorang putri Raja.
"Jangan kalian mengganggu aku! Aku puteri Raja Jenggala yang kehilangan jalan dan hendak pulang ke Jenggala. Kalau kalian suka, boleh kuhadiahkan gelang dan kalungku."
Sambil berkata demikian, sang puteri meloloskan kedua gelangnya.
Akan tetapi, lima orang itu adalah perampok-perampok kasar.
Keadaan hidup mereka membuat mereka seakan-akan menjadi Raja dalarn hutan, tentu saja mendengar disebutnya Raja Jenggala, mereka tidak menjadi takut.
Akan tetapi pemimpin mereka bukan seorang bodoh.
la tahu bahwa seorang puteri bangsawan, apalagi puteri Raja seperti ini, kalau pergi tentu ada banyak pengawal yang mengantarkannya.
Kini sang puteri sesat jalan, tentu sedang dicari-cari.
Kalau para pengawal muncul, mereka bisa celaka karena ia mendengar bahwa para pengawal memiliki ilmu kepandaian yang hebat.
"Rampas dulu kudanya,"
Katanya kepada anak buahnya.
Dua orang anak buah perampok yang bernafsu sckali untuk segera merampas kuda dan perhiasan serba mahal itu, melompat maju dan dengan kasar bertindak merenngut kendali kuda dari tangan Puteri Mayagaluh.
"Berani kalian merampas kudaku"
Sang puteri membentak marah, kedua kakinya melakukan gerakan menendang bergantian amat cepatnya, mengarah bawah pusar lawan.
Irulah ilmu tendangan yang amat keji dan ganas, begitu tepat mengenai sasaran tentu akan menewaskan lawan.
Ilmu tendangan ini adalah satu di antara banyak ilmu yang ia pelajari dari Endang Patibroto.
Terdengar jerit mengerikan dan dua orang perampok itu terpelanting roboh, berkelojotan dan tak mungkin dapat hidup lebih lama lagi karena anggauta tubuh di bawah pusar pecah terkena tendangan tadi!.
Biarpun semenjak kecil mempelajari ilmu silat, akan tetapi selama hidupnya belum pernah Mayagaluh membunuh orang.
Kini menyaksikan betapa dua orang yang ditendangnya itu berkelojotan sekarat, ia merasa ngeri.
"Pergilah...! Jangan ganggu aku...!!"
Katanya setengah memohon, wajahnya sudah pucat dan tubuhnya menggigil.
Melihat sikap ini, tiga orang perampok itu mengira bahwa tentu tendangan tadi secara kebetulan saja mengenai bagian tubuh yang paling lemah dari kedua kawannya.
Kalau gadis itu memang berilmu, tentu tidak ketakutan seperti itu.
Kepala rampok yang muda itu lalu membentak kepada dua orang temannya.
"Tangkap kudanya. Masa tidak mampu?"
Dua orang perampok maju bersama.
Mayagaluh yang ketakutan itu kini terpaksa menghunus kerisnya, keris kecil yang biasa dipakai para puteri.
Kini dua orang perampok itu agak terkejut.
Cara puteri itu mencabut dan memegang gagang keris jelas membayangkan bahwa puteri ini mengerti ilmu silat, mahir dalam tata tempur menggunakan keris.
Maka mereka bersikap hati-hati dan menubruk dari kanan kiri untuk merampas kendali kuda yang dipegang tangan kiri Mayagaluh.
Puteri ini cepat menggerakkan kerisnya, menerima perampok dari kanan dengan tusukan, sedangkan perampok yang menubruk dari kiri ia sambut dengan sebuah tendangan kilat, kini agak tinggi mengarah lambung.
Dua orang perampok yang mati tertendang tadi sebetulnya juga bukan orang lemah, melainkan orang-orang kasar yang biasa berkelahi.
Tadi mereka sekali tendang roboh oleh Mayagaluh karena mereka memandang rendah dan tidak menduga-duga.
Kini, dua orang lagi perampok yang sudah berhati-hati, cepat mengelak dan mengurungkan niatnya merampas kendali kuda ketika melihat sambutan wanita muda itu.
Maklum bahwa wanita itu bukan seorang lemah, dua orang perampok ini lalu bergerak menyerang, seorang mencengkeram ke arah pergelangan tangan kanan yang memegang keris, orang ke dua menubruk untuk mencengkeram pundak dan menangkapnya!
Sebetulnya dua orang perampok ini hanya orang-orang kasar yang lebih banyak mengandalkan tenaga dan keberanian daripada mengandalkan gerakan ilmu silat.
Mayagaluh dapat melihat dengap jelas dan maklum bahwa sebetulnya ia tidak perlu takut melawan mereka.
Akan tetapi dasar kurang pengalaman, melihat dua orang laki-laki menerjang dengan muka beringas, mulut menyeringai, mata melotot lebar, ia merasa serem dan muak oleh bau keringat mereka.
Karena jijik ia menjadi gugup, menyelinap untuk menjauhkan diri, akan tetapi perasaan jijik dan ngeri membuat ia ingin cepat-cepat mengakhiri ancaman ini maka kerisnya bergerak cepat sekali ke arah lambung perampok ke dua ketika ia menghindar.
"Capp...!"
Ketika gadis bangsawan ini meloncat sambil mencabut keris, darah muncrat-muncrat dari perut perampok itu yang mendekap perutnya sambil berkaok-kaok seperti kerbau disembelih, lalu roboh dan berkelojotan.
Melihat darah muncrat-muncrat ini, hampir saja Mayagaluh pingsan.
"Aduh! Kuminta kepada kalian pergilah, bawa kuda dan perhiasanku semua!"
La mengeluh sambil memandang korbannya dengan mata terbelalak ngeri.
Akan tetapi perampok yang melihat kawannya roboh menjadi marah sekali.
Ia mencabut goloknya yang besar dan tajam lalu mengayun golok itu, menyerang dengan kemarahan meluap.
'Genjul, jangan bunuh dia!"
Kepala perampok yang muda itu menegur anak buahnya yang tinggal seorang.
Akan tetapi si Genjul, perampok itu yang melihat tiga orang kawannya sudah tewas, tak dapat menahan kemarahannya lagi.
Goloknya menyambar ganas ke arah leher Mayagaluh.
Puteri ini terkejut, cepat ia menekuk lutut miringkan tubuh sehingga golok lawan lewat di atas kepalanya mengeluarkan bunyi "Swingggg!!"
Menyeramkan sekali.
la maklum bahwa kalau ia tidak cepat-cepat merobohkan orang ini, keselamatannya sendiri terancam.
Maka melihat lawan membuka lengan ketika membacok, dari bawah kerisnya meluncur pula menusuk lambung.
Perampok bernama Genjul ini sudah siap-siap, maka cepat ia meloncat mundur sambil mengayun golok ke bawah.
Mayagaluh menarlk kembali kerisnya, tidak mau membiarkan kerisnya dihantam golok yang berat.
Ketika perampok itu menerjang lagi, kini membabat pinggang, Mayagaluh sudah mendahului meloncat ke atas sehingga babatan golok itu lewat di bawah kakinya.
Dari atas, Mayagaluh yang sudah menaksir bahwa golok itu tentu akan lewat di bawah kakinya, menggunakan kakinya menendang ke depan, tepat mengenai pergelangan tangan yang memegang golok.
"Aduhh...!"
Perampok itu berseru keras, goloknya terlepas dari pegangan.
Dan pada saat itu dari atas, tubuh Mayagaluh sudah meluncur dengan didahului kerisnya yang menusuk ke arah leher lawan.
Perampok bernama Genjul itu terkejut sekali dan timbul rasa takutnya yang hebat.
Ketakutannya membuat Genjul menjadi nekat dan ia segera mengembangkan kedua lengannya, terus menubruk ke depan, ke arah tubuh puteri yang meluncur turun itu, langsung memeluk pinggang yang ramping!
Kalau saja Mayagaluh melanjutkan tusukannya, tentu akan berhasil dan kerisnya akan menembus leher.
Akan tetapi melihat betapa laki-laki kasar itu mengembangkan lengannya, Mayagaluh merasa ngeri dan jijik sehingga tangan yang memegang keris seketika menjadi lemas.
Ia menjerit ketika merasa betapa pinggangnya dirangkul dan tubuhnya merapat pada tubuh yang tinggi besar dan keras.
Hampir saja ia pingsan.
Sambil menggigit bibir dan menjauhkan mukanya agar hidungnya tidak dekat dada yang penuh bulu dan keringat, ia menggerakkan tangan kanannya dan...
"Ceppp...!!"
Kerisnya sudah menancap di dada kiri lawannya.
Seketika Genjul seperti disambar halilintar, pelukannya terlepas, mulutnya mengeluarkan suara rintihan, tubuhnya lemas dan berkelojotan.
Mayagaluh yang berusaha mencabut kerisnya, tidak berhasil.
Keris itu menancap dan menyangkut di antara tulang iga sehingga sukar dicabut.
Kalau saja puteri ini tidak hampir pingsan oleh rasa jijik dan ngeri, tentu ia akan dapat mencabut kerisnya.
Kini ia meloncat ke belakang, melepaskan gagang keris, takut kalau-kalau darah lawan akan muncrat membasahi tubuh dan mukanya.
Tubuh Genjul berkelojotan dan roboh terlentang, kerongkongannya mengorok dan matanya mendelik.
Mayagaluh mengkirik.
Pada saat itulah, kepala rampok sudah menerjangnya dari belakangnya dan sebuah pukulan dengan tangan miring tepat menghantam tengkuk Puteri Mayagaluh.
Puteri ini mengeluh dan tubuhnya menjadi lemas, matanya meram.
la pingsan!
Kepala rampok yang berhasil merobohkan Mayagaluh, segera memondong puteri itu dan meloncat ke atas punggung kuda sang puteri, terus membedal kuda membalap karena khawatir kalau-kalau para pengawal sang puteri akan menyusul ke tempat itu.
Guncangan-guncangan dan tiupan angin menyadarkan Mayagaluh.
Ia membuka rnata dan alangkah kaget hatinya ketika ia mendapat kenyataan bahwa dia berada dalam pondongan kepala perampok, dilarikan di atas kuda.
"Tolooongggg... Toloooongggg...!!"
Ia menjerit dua kali, akan tetapi lalu tak dapat mengeluarkan teriakan lagi karena mulutnya didekap tangan kasar dan kepala rampok itu mengancam.
"Sekali lagi kau berteriak, golokku akan memenggal lehermu!"
Seluruh tubuh Mayagaluh menggigil penuh kengerian. La berusaha meronta-ronta dan membentak-bentak.
"Lepaskan aku! Lepaskan! Lepaskan!!"
Namun sia-sia saja dan akhirnya ia tidak berani lagi meronta karena kudanya lari cepat sekali dan apabila ia dapat melepaskan diri, tentu ia akan terbanting dan terseret, mungkin akan terinjak kaki kuda.
"Heh-heh, kau cantik sekali. kau pantas menjadi biniku, sayang!"
Si kepala rampok terkekeh, kemudian menundukkan mukanya hendak mencium muka yang cantik jelita itu.
Mayagaluh terkejut dan lupa akan rasa takutnya.
Rasa ngeri dan marah mengaduk hatinya dan kembali ia meronta, tangannya menampar ke atas.
"Plakk!."
Muka perampok itu kena tamparan yang cukup keras sehingga kepala rampok itu membatalkan niatnya mencium, mukanya berubah merah dan ia marah sekali.
Dengan tangan kirinya, dicekiknya leher Mayagaluh.
Sang puteri meronta dan berusaha melepaskan diri namun sia-sia sehingga ia terengah-engah dan tubuhnya menjadi lemas.
Setelah Mayagaluh pingsan baru kepala rampok itu menghentikan cekikannya dan terus membalapkan kuda.
Pada saat itu, sesosok bayangan berkelebat cepat sekali laksana kijang melompat.
Bayangan ini bukan lain adalah Joko Wandiro!
seperti telah kita ketahui, Joko Wandiro mengejar Ayu Candra yang melarikan diri pergi dari pondoknya bersama Ki Jatoko.
Akan tetapi karena tidak tahu ke mana perginya dara itu, juga tidak dapat mengira-ngira ke mana gerangan tujuannya, Joko Wandiro mengejar ke jurusan yang berlawanan.
Pemuda ini mengejar ke selatan, terus ke selatan sampal akhirnya ia tiba di Pegunungan Kidul dan teringatlah ia akan pesan ayah angkatnya bahwa ayah angkatnya dahulu tinggal di Bayuwismo, di pantai Laut Selatan Karena lapun tidak mempunyai tujuan tertentu, tidak tahu pula ke mana harus mencari Ayu Candra, maka ia lalu membelok ke barat, hendak pergi ke Bayuwismo.
Di dalam hutan itu ia tadi mendengar jerit minta tolong.
Mendengar jerit wanita minta tolong ini, hatinya berdebar keras.
Jangan jangan Ayu Candra yang tertimpa malapetaka, pikirnya sambil meloncat dan mengerahkan aji kesaktian dan lari bagaikan kijang melompat cepatnya.
Sebentar saja ia sudah dapat menyusul dan ia melihat seorang laki-laki tinggi besar memondong tubuh seorang dara yang tak bergerak-gerak dan lemas, agaknya pingsan, kemarahannya timbul.
Ia tidak menegur lagi, terus melompat dan tubuhnya menyambar bagaikan seekor elang Rajawali, sambil mulutnya membentak.
"Bedebah!"
Kepala rampok melihat tiba-tiba ada orang menyambarnya dari atas seperti Raden Gatutkaca terbang menyambar, kaget setengah mati.
Ia melepaskan kendali kuda dan menangkis dengan tangan kanannya sambil mengerahkan tenaga.
Tentu saja ia bukan seorang lemah.
Tenaganya besar dan ia pandai ilmu silat.
Akan tetapi sekali ini ia bertemu batu.
Begitu lengannya bertemu dengan lengan Joko Wandiro, tubuhnya terguling dan terlempar dari atas punggung kuda, dan entah bagaimana tahu-tahu tubuh sang puteri telah berpindah tangan, berada di pondongan Joko Wandiro!.
Ada rasa kecewa di hati Joko Wandiro ketika ia melirik dan melihat wanita itu, walaupun cantik jelita dan muda remaja, ternyata bukan Ayu Candra.
Kemarahannya mereda dan ia berdiri tenang sambil memandang kepala perampok yang kini sudah meloncat bangun sambil mencabut golok.
"Babo-babo, si keparat dari manakah berani merampas tawananku? Hayo kembalikan kalau engkau tidak ingin mampus di tanganku!"
"Kisanak,"
Jawab Joko Wandiro tenang,"namaku Joko Wandiro.
Tadi aku mendengar jerit wanita ini minta tolong, lalu melihat engkau melarikannya secara paksa.
Tadinya aku ragu-ragu dan tidak tahu siapakah wanita ini dan mengapa kau larikan.
Setelah kini aku tahu bahwa dia tawananmu, tentu saja aku tidak boleh tinggal diam saja.
Aku harus menolongnya dan dia takkan kukembalikan kepadamu."
"Keparat Joko Wandiro, kalau begitu kau sudah bosan hidup!"
Bentak si perampok sambil menerjang maju dengan ayunan goloknya.
Melihat gerakan golok yang cepat dan bertenaga, Joko Wandiro maklum bahwa lawannya ini memiliki kepandaian biasa saja.
Ia mengelak dengan tenang, kakinya menyambar dari samping dan perampok itu terbanting roboh!
Si perampok kaget setengah mati.
Belum pernah selama hidupnya ia mengalami hal seperti ini.
Ia bergolok.
Orang muda itu bertangap kosong.
Bukan itu saja, bahkan kedua tangan orang muda itu memondong tubuh sang puteri, tidak ikut bergerak, hanya menggunakan kakinya tapi dalam segebrakan saja ia roboh!
Rasa kaget dan heran merubah penasaran dan marah sekali.
Kembali ia menerjang setelah meloncat bangun, kali ini terjangannya lebih ganas daripada tadi dan kembali Joko Wandiro mengelak sambil mengangkat kaki dan untuk kedua kalinya perampok itu terbantmg roboh, lebih keras daripada tadi.
Ia tidak tahu bahwa pemuda sakti itu merobohkannya dengan meminjam tenaganya, maka makin kuat ia menyerang, makin keras pula ia terbanting roboh oleh tangannya sendiri.
Sampai nanar kepalanya dan sampai kabur pandang matanya sehingga setelah terbanting roboh, ia hanya mampu bangkit duduk dan sejenak ia menggoyang-goyangkan kepalanya untuk rnengusir kepusingan.
Dasar perampok ini seorang kasar dan bodoh.
Ia masih belum kapok dirobohkan dua kali, bahkan makin penasaran dan marah.
Setelah hilang kepusingan kepalanya, ia meloncat bangun dan sambil mengeiuarkan terlakan marah, goloknya diputar-putar, kemudian sambil menubruk maju ia membacokkan goloknya ke arah...
sang puteri yang dipondong Joko Wandiro!
Pemuda ini terkejut dan marah sekali.
Tidak disangkanya bahwa lawan itu akan menggunakan siasat begini keji.
"Manusia jahat!"
Bentaknya, kini tubuhnya bergerak menendang susul-menyusul. Kaki kanan menendang pergelangan tangan lawan yang memegang golok, kaki kiri mendugang ke arah dada.
"Bress! Ngekkk!!"
Tubuh perampok itu terlempar sampai tiga meter ke belakang, goloknya mencelat entah ke mana dan kini ia bangkit duduk sambil terengah-engah dan memegangi ulu hati.
Napasnya sesak, perutnya mulas dan ia tidak dapat mengeluarkan suara.
Kemudian, matanya jelilatan dan tubuhnya mencelat ke atas, lari ke arah kuda, meloncat ke punggung kuda, dan membalapkan kuda seperti orang dikejar setan!
Joko Wandiro hanya tersenyum-geli melihat tingkah laku perampok itu.
Ia mengira bahwa kuda itu kuda tunggangan si perampok, maka ia mendiamkannya saja.
Wanita muda dalam pondongannya masih pingsan.
Joko Wandiro menduga-duga.
Pakaian dara ini amat indah, bukan pakaian sembarang orang.
Juga wajahnya yang cantik jelita itu terpelihara, rambutnya halus mengeluarkan ganda harum, terhias emas permata.
Siapakah gadis ini?
Baru saja ia datang dari timur dan sepanjang pegunungan itu tidak terdapat dusun.
Juga di kanan kiri tempat itu merupakan daerah sunyi dan mati.
Tak mungkin gadis ini berasal dari tempat ini, dan agaknya tidak mungkin pula gadis ini seorang dusun.
Tentu seorang kota, seorang puteri bangsawan.
la mengingat-ingat dan timbul dugaan bahwa tempat tinggal gadis ini tentu berada di sebelah barat.
Bayuwismo tak jauh lagi, juga Selopenangkep.
Mungkinkah gadis ini tinggal di Selopenangkep?
la tidak tahu lagi siapa gerangan kini yang menguasai Selopenangkep, setelah keluarga ayahnya tidak menguasai tempat itu lagi.
Berpikir sampai di situ, Joko Wandiro mengambil keputusan untuk membawa gadis ini ke barat, melanjutkan perjalanan dan kalau perlu mengajaknya ke Bayuwismo atau ke Selopenangkep.
Maka ia Lalu mempergunakan ilmu lari cepat, memondong dara ayu itu menuju ke barat.
Matahari telah naik tinggi, hawa mulai panas.
Joko Wandiro yang memondong puteri itu, mulai merasa gerah.
Ia tidak lelah, tubuhnya sudah amat kuat sehingga untuk berlari cepat sehari saja tidak nanti melelahkannya.
Akan tetapi, berlari sambil memondong tubuh orang membuat gerakannya canggung.
Apalagi tubuh itu mengeluarkan hawa yang hangat, ini menurut perasaannya, ditambah teriknya sinar matahari, membuat peluhnya keluar juga.
Berhentilah ia sebentar di bawah sebatang pohon, lalu menyusutkan muka pada pundak bahunya di kanan kiri.
Sebenarnya, Sang Puteri Mayagaluh sudah sadar semenjak tadi!
Puteri ini tadi sadar dari pingsannya dan segera tahu bahwa ia tidak lagi dibawa lari di atas kuda, melainkan dipondong dan dibawa lari orang.
Ketika ia membuka mata dan memandang, ia terheran heran.
Wajah di atas itu sama sekali bukan wajah perampok yang kasar, bengis, dan menyeringai menjijikkan.
Tubuhnya bukan tubuh penuh bulu pada dada dan lengan.
Wajah ini muda dan tampan sekali, lengannya yang kuat berkulit halus tidak berbulu.
Ketika Joko Wandiro berhenti sebentar untuk menghapus peluh di mukanya dengan pundak dan pangkal lengan bajunya, Mayagaluh sudah sadar betul.
Ia mengintai muka orang dan jantungnya berdebar.
Dapatlah ia menduga bahwa tadi dalam keadaan pingsan, pemuda ini telah menolong dirinya, telah mengalahkan perampok kemudian membawanya pergi.
Ke manakah kudanya?
Dan siapakah pemuda ini?
Melihat cara pemuda ini mendukungnya, kedua lengannya menyangga bagian punggung, leher dan bawah paha, ia tahu bahwa pemuda ini seorang yang bersusila, tidak seperti perampok tadi yang memeluknya secara kurang ajar.
Joko Wandiro yang sedang mengusap keringatnya, tiba-tiba merasa betapa dada orang yang dipondongnya berdetak-detak keras.
Dalam keadaan terpondong itu, samping dada gadis itu tentu saja merapat pada dadanya dan kini dari dalam dada gadis itu timbul detakan-detakan yang seakan-akan memukuli dadanya sendiri.
la melirik ke arah muka orang yang dipondongnya.
Joko Wandiro menahan senyumnya.
Hemm, ternyata gadis itu sudah sadar, pikirnya.
Hampir ia tertawa melihat betapa dara jelita itu berpura-pura pingsan, menutup sebelah mata kanan rapat-rapat, akan tetapi mata kiri bergerak-gerak bulu matanya, agaknya sedang mengintainya dari balik bulu-bulu mata yang panjang lentik.
Hemmm, bukan main cantiknya gadis ini, pikir Joko Wandiro.
Hatinya juga berdebar dan pipinya terasa panas.
Timbul rasa kasihan dan juga suka.
Entah bagaimana, perasaan mujijat menguasai hatinya dan membuat ia perlahan-lahan menundukkan mukanya dan hidung dan bibirnya menyentuh pipi yang halus dan putih kemerahan itu.
Hanya sebentar dan cepat-cepat Joko Wandiro menjauhkan lagi mukanya sambil memaki diri sendiri dalam hatinya.
Ihh!
Benar-benar dia telah gila.
Setan telah menguasai hatinya.
Benarkah ia seorang mata keranjang?
Seorang yang gila akan wajah jelita?
Kalau tidak demikian, mengapa ia suka sekali kepada gadis ini, suka mendukungnya dan bahkan ingin sekali berdekatan, ingin sekali menciumnya?
Makin berdebar jantung Joko Wandiro ketika ia merasa betapa dada gadis itu terengah-engah, betapa detak jantung gadis itu seakan-akan hendak memecahkan rongga dadanya, kemudian melihat betapa warna kemerahan pada wajah yang berkulit halus putih itu kini menjadi makin merah seperti udang dipanggang.
Tiba-tiba dara itu meronta, membuka matanya yang lebar dan amat indah, mulutnya menahan isak dan ia merintih perlahan, lalu berkata.
"Lepaskan aku...!"
Joko Wandiro melepaskan dukungannya.
Melihat gadis itu berdiri di depannya dengan wajah penuh kemarahan, mata itu memancarkan sinar dan kedua tangan kecil terkepal, Joko Wandiro menundukkan mukanya dan berkata perlahan.
"Maafkan aku, nona. Aku sudah berani... berani memondongmu... karena kau tadi... dilarikan perampok dan kau pingsan,"
Kata Joko Wandiro gagap.
Mata gadis itu tidak sehebat mata Ayu Candra, akan tetapi harus ia akui bahwa tidak banyak ia bertemu dengan gadis yang bermata seindah ini.
Karena tidak berani berterus terang, Joko Wandiro merasa seperti orang membohong dan mukanya seketika menjadi merah sekali.
"Engkau laki-laki lancang! Engkau sudah berani... hemm... berbuat kurang ajar kepadaku. Apakah kau tahu siapa aku? Aku adalah Puteri Mayagaluh, puteri Raja Jenggalal"
Bukan main kagetnya hati Joko Wandiro.
Celaka, pikirnya.
Ia telah melakukan dosa besar sekali.
Ia telah berani mencium pipi puteri Raja!
Dosa yang tak dapat diampuni lagi.
Biarpun gurunya berpesan agar ia membantu Kerajaan Panjalu untuk menghadapi Jenggala, namun betapapun juga, Kerajaan Jenggala masih bersaudara dengan Kerajaan Panjalu.
Raja Jenggala adalah adik kandung Raja Panjalu, masih keturunan mendiang Sang Prabu Airlangga.
Dan ia telah berani mencium pipi sang puteri.
Wajahnya seketika menjadi pucat, kedua kakinya lemas dan ia sudah menjatuhkan diri berlutut sambil menundukkan mukanya.
"Karena hamba tidak tahu, hamba mohon paduka suka memberi ampun,"
Katanya merendah.
Dan karena ia tertunduk itulah, ia tidak melihat betapa wajah sang puteri berseri-seri dan kemerahan, betapa sepasang mata yang jeli itu menatap wajahnya dengan tajam dan senyum simpul menghias bibir merah.
"Sudahlah, tidak mengapa. Karena kau tidak tahu, dan juga karena aku sedang pingsan sehingga aku tidak tahu akan perbuatanmu, biarlah kita jangan bicarakan hal itu pula. Betapapun juga, engkau sudah menolongku dari tangan perampok jahat. Orang muda, siapakah namamu?"
Lega rasa hati Joko Wandiro.
Terasa lapang dan kepucatan wajahnya segera terganti warna merah.
Ia tahu betul bahwa sang puteri tadi tidak pingsan lagi ketika ia menciumnya, tapi kini sang puteri menyatakan bahwa sang puteri dalam keadaan pingsan ketika ia melakukan "perbuatan"
Tadi dan menghendaki agar hal itu jangan dibicarakan lagi.
Memang tidak akan ia bicarakan, akan tetapi bagaimana akan dapat ia lupakan?
Ia telah mencium pipi seorang puteri Raja!
Biarpun puteri ini puteri Kerajaan Jenggala, namun ternyata baik budi dan mudah mengampuni kesalahan orang serta menghargai pertolongan orang.
"Nama hamba Joko Wandiro, gusti puteri."
"Joko Wandiro, aku mengucap banyak terima kasih kepadamu atas pertolonganmu tadi. Engkau kawula manakah? Dan di mana tempat tinggalmu?"
Joko Wandiro tidak suka menceritakan keadaannya.
Apalagi menceritakan tentang gurunya, Ki Patih Narotama karena gurunya ini amat tidak suka kepada ayah puteri ini.
Di samping itu, tidak ada keinginan hatinya pula menceritakan keadaan keluarganya.
Bukankah ia sekarang sudah yatim piatu?
Ayahnya yang bernama Wisangjiwo sudah tewas dalam perang membela Pangeran Sepuh yang kini menjadi Raja Panjalu, yaitu dalam perang melawan bala tentara ayah puteri ini!
Ibunya belum lama ini terbunuh orang pula.
Dan tempat tinggalnya Dia tidak mempunyai tempat tinggal tertentu.
"Hamba adalah seorang yang hidup sebatangkara, tidak mengabdi kepada siapapun juga dan tiada tempat tinggal tertentu seperti sehelai daun kering terbawa angin tanpa tujuan."
Berkerut kening sang puteri, dan pandang matanya membayangkan iba hati.
"Ah...! Betapa mungkin seorang seperti engkau tidak mempunyai pekerjaan!"
Hampir saja terloncat kata-kata"gagah dan tampan"
Dari mulut puteri ini. Segera ia menyambung.
"Joko Wandiro, maukah engkau menolongku? Kelak tentu ramanda prabu akan memberi ganjaran yang setimpal dengan jasamu ini."
Lucu, pikir Joko Wandiro.
Sudah jelas tadi tanpa diminta ia sudah menolong puteri ini, mengapa sekarang masih ditanya lagi apakah suka menolong Adapun tentang ganjaran...
ah, kembali mukanya menjadi merah sekali karena harus la akui bahwa ia tadi telah menerima ganjaran yang lebih menyenangkan daripada ganjaran apapun juga!.
"Tentu saja hamba akan melakukan segala perintah paduka tanpa mengingat akan ganjaran apapun juga."
"Engkau baik sekali, Joko Wandiro. Aku minta agar kau suka mengantar aku pulang ke Jenggala."
"Kalau tidak salah, Kerajaan Jenggala amatlah jauh dari sini, gusti puteri. Maka amatlah mengherankan bagaimana paduka bisa sampai di tempat sejauh ini, seorang diri pula dan terjatuh ke tangan penjahat?"
"Kau tidak tahu, Joko Wandiro. Aku tadinya tidak melakukan perjalanan seorang diri. Aku pergi mengikuti kakakku, Pangeran Panjirawit, dan dikawal oleh panglima kepala pengawal istana sendiri. Akan tetapi ketika kami berlomba, aku kehilangan jalan dan tersesat, kemudian bertemu dengan lima orang perampok. yang empat orang dapat kurobohkan, akan tetapi kepala perampok itu dapat menawanku dan membawaku lari. Untung ada engkau yang menolong, hanya sayang kudaku tidak dapat kau rampas kembali."
"Ahhh! Kalau hamba tahu bahwa dia itu tadi kepala perampok, tentu hamba tidak akan semudah itu melepaskannya Dan kuda itu hamba sangka miliknya. Benar keparat!"
Joko Wandiro mendongkol sekali, dan berbareng juga kagum terhadap puteri ini.
Seorang puteri bangsawan, puteri Raja, dapat merobohkan empat orang perampok Benar-benar hebat!
"Sudahlah, engkau sudah membebaskan aku dari tangannya, itu sudah merupakan jasa yang amat besar.
Joko Wandiro, mari kau antar aku pulang ke Jenggala."
"Baiklah, gusti. Hanya sayang, kuda itu dirampas perampok. Kalau tidak, tentu paduka dapat menunggang kuda dan perjalanan dapat dilakukan lebih cepat lagi."
"Tidak mengapa. Kita jalan kaki. Jangan kau khawatir, biarpun seorang puteri Raja namun aku bukan seorang lemah. Aku dapat berjalan cepat."
"Ssttt...! Ada orang datang! Harap paduka bersernbunyi..."
Bisik Joko Wandiro yang merasa khawatir kalau-kalau yang datang adalah perampok tadi bersama teman-temannya.
Jika terjadi pertempuran, ia piker lebih baik sang puteri bersembunyi saja sehingga tidak menambah bebannya harus melindungi diri sang puteri.
Akan tetapi Mayagaluh mengerutkan keningnya dan memasang telinga mendengarkan.
Pendengaran telinganya tidak setajam Joko Wandiro dan setelah agak lama barulah ia mendengar derap kaki kuda dari jauh.
Segera wajahnya berubah girang.
"Ah, itulah kakakku dan kepala pengawal!"
Teriaknya sambil meloncat dan menghadap di tengah jalan.
Joko Wandiro juga girang mendengar ini.
Kalau puteri ini bertemu dengan kakaknya dan pengawal, ia akan terbebas daripada tugas mengantar ke Jenggala.
Sebetulnya, iapun segan untuk pergi ke Jenggala, pertama karena ia masih merasa cemas akan hilangnya Ayu Candra dan sedang mencari dara itu, ke dua ia ingin mengunjungi ayah angkatnya di Bayuwismo, ke tiga iapun merasa tidak enak harus membantu puteri Raja Jenggala yang dianggap musuh oleh gurunya, Ki Patih Narotama.
Setelah derap kaki kuda terdengar makin jelas, Puteri Mayagaluh berseru heran.
"Mengapa begitu banyak kuda? Dengan siapakah rakanda pangeran datang??"
Kembali Joko Wandiro merasa tidak enak hatinya.
Akan tetapi sekarang sudah tidak ada waktu lagi bagi sang puteri untuk bersembunyi.
Sebelum ia minta kepada sang puteri supaya bersembunyi, para penunggang kuda itu sudah muncul dari sebuah tikungan jalan.
Mereka Itu ternyata adalah tujuh orang pria menunggang kuda-kuda besar.
Lega hati Joko Wandiro ketika melihat tujuh orang itu, karena pakaian mereka menunjukkan bahwa mereka adalah ponggawa-ponggawa berkedudukan tinggi dan sama sekali bukanlah perampok perampok.
Tujuh orang itupun merasa heran melihat dua orang muda itu berada di dalam hutan liar di pegunungan sunyi.
Mereka menahan kuda mereka yang tubuhnya sudah basah oleh keringat.
"Eh, bukankah andika Joko Wandiro??"
Seorang di antara mereka menegur ketika mengenal pemuda itu.
"Betul, anda Joko Wandiro!"
Seru orang ke dua.
Joko Wandiro memandang dan kini iapun teringat bahwa dua orang ini adalah dua orang di antara panglima Kerajaan Panjalu, anak buah Ki Patih Suroyudo dan dahulu ikut menyaksikan ketika la menghadapi pengeroyokan Ni Durgogini dan Ni Nogogini.
Lima orang yang lain agaknya juga Panglima-panglima Panjalu karena pakaian mereka menunjukkan bahwa merekapun perajurit-perajurit tingkat tinggi dan karena usia mereka sudah tua daripada kedua orang itu, tentu mereka memiliki kepandaian yang lebih tinggi pula.
"Benar, hamba adalah Joko Wandiro. Paduka sekalian ini datang dari mana dan hendak ke mana?"
Akan tetapi sebelum ada yang menjawab, tiba-tiba seorang di antara mereka berseru sambil memandang kepada sang puteri.
"Dan paduka ini bukankah Gusti Puteri Mayagaluh dari Jenggala??"
Yang Iain-Iain kaget dan kini semua orang memandang.
Biarpun mereka adalah Panglima-panglima Panjalu yang bermusuhan dengan Jenggala, akan tetapi sang Raja di Jenggala adalah putera mendiang Sang Prabu Airlangga pula sehingga puteri ini termasuk anak kemenakan Raja Panjalu, maka tentu saja mereka menghadapinya dengan sikap hormat pula.
Dengan sikap agung dan gagah, menyembunyikan kekhawatiran hatinya, Puteri Mayagaluh menjawab, 'Benar, aku adalah Mayagaluh.
Paman sekalian hendak ke mana?"
Seorang di antara mereka yang tertua dan yang kumisnya panjang ujungnya menjulang ke atas, segera meloncat turun dari kudanya, diikuti enam orang teman-temannya.
Dengan sikap hormat si kumis panjang ini menghampiri sang puteri, kemudian berkata.
"Kalau begitu, hamba persllahkan paduka menunggang kuda ini untuk hamba antar menghadap paman paduka, sang prabu di Panjalu."
Puteri itu nampak terkejut.
Sebagal seorang puteri Raja, tentu saja ia maklum Apa artinya kata-kata yang halus itu.
Di balik sikap halus dan ucapan mempersilahkan, ia telah dijadikan seorang tawanan!
Akan tetapi ia tidak takut.
Ia maklum bahwa biarpun ayahnya bermusuhan dengan pamannya, namun permusuhan itu hanya karena urusan Kerajaan, sehingga dia sendiri tentu tidak akan diganggu oleh pamannya.
la tidak takut maupun khawatir, hanya ia menjadi tidak senang sekali.
"Paman, aku mau pulang ke Jenggala! Kalau aku berniat mengunjungi paman prabu di Panjalu, tidak perlu kalian minta! Pergilah dan jangan menggangguku."
Wajah perwira berkumis panjang itu menjadi merah.
la tak dapat menyangkal kebenaran jawaban puteri itu.
Akan tetapi, setiap orang ingin menonjolkan pahala kepada yang dipertuan.
Secara kebetulan ia bertemu dengan seorang Puteri Jenggala.
Kalau ia dapat menawannya ke Panjalu dan menyerahkan puteri itu sebagai tawanan, tak dapat tidak sang prabu tentu akan merasa senang.
Biarpun sang puteri takkan diganggu, akan tetapi hal ini sedikitnya akan menyuramkan Jenggala dan siapa tahu puteri itu akan dapat dijadikan semacam cara untuk menundukkan musuh.
"Harap saja paduka tidak menyulitkan hamba. Paduka adalah seorang Puteri Jenggala, karena itu termasuk musuh hamba sekalian. Hanya karena mengingat bahwa paduka adalah anak kemenakan gusti prabu, maka hamba memperlakukan paduka sebagai seorang tamu agung, bukan sebagai seorang tawanan. Gusti puteri, silahkan menunggang kuda ini."
Menyaksikan betapa sang puteri dipaksa secara halus, Joko Wandiro lalu melangkah maju dan berkata.
"Paman, yang berselisih adalah Raja Panjalu dan Raja Jenggala, yang berperang adalah perajurit-prajurit Panjalu melawan perajurit-perajurit Jenggala. Kurasa dalam hal itu sang puteri tidak ikut-ikut. Jelas bahwa sang puteri tidak suka singgah di Panjalu, mengapa kalian hendak memaksa? Apakah perbuatan ini tidak memalukan kalian sebagai perwira-perwira yang perkasa? Menghina wanita bukanlah perbuatan jantan!"
Seorang perwira yang paling muda menghardik.
"Joko Wandiro! Begini mudahkah engkau berkhianat? Belum lama ini engkau memohon kepada gusti prabu untuk menghambakan diri kepada Panjalu, dan sekarang engkau sudah ingin melindungi puteri musuh?"
"Kalau kalian berperang melawan perajurit-perajurit Jenggala, aku tidak akan membantu Jenggala, akan tetapi saat ini kalian tidak sedang perang, melainkan sedang melakukan perbuatan yang tidak benar. Kalian hendak memaksa, hal itu berarti hendak menculik sang puteri. Hal ini mana mungkin aku mendiamkan saja? Pendeknya, kalau sang puteri tidak dengan suka rela sendiri ikut kalian menghadap pamannya, aku akan membelanya!"
"Keparat, kau memang manusia sombong!"
Bentak perwira muda itu yang segera menerjang maju dengan pukulan keras ke arah dada Joko Wandiro. Pemuda ini tenang saja, tidak menangkis, juga tidak mengelak.
"Blukkk!!!!"
Kepalan yang besar dan keras Itu dengan tenaga dahsyat menghantam dada Joko Wandiro.
Akan tetapi akibatnya tubuh perwira Panjalu itu sendiri yang terlempar dan terjengkang ke belakang!
Melihat datangnya pukulan tadi, Joko Wandiro maklum bahwa lawannya ini hanya memiliki tenaga kasar yang kuat, maka ia lalu mengerahkan hawa saktinya, menggunakan tenaga menendang pada dadanya sehingga akibatnya lawan itu terjengkang.
Bukan main marahnya perwira ini.
la meloncat bangun tanpa memperdulikan tangannya yang sakit dan membengkak.
Ia telah dibikin malu di depan rekan-rekannya.
Seorang perwira Panjalu adalah seorang perajurit pilihan yang sudah lulus ujian ketangkasan, bagaimana kini menghantam dada seorang pemuda malah roboh sendiri?
Ia menerjang lagi sambil mengeluarkan suara menggereng seperti harimau.
Melihat kenekadan orang ini Joko Wandiro mendongkol.
Kini kepalan lawan di arahkan ke perutnya.
Sekali lagi ia tidak menangkis rnaupun mengelak, melainkan diam-diam mengerahkan hawa sakti, menggunakan tenaga menempel dan menekan.
"Krakkk!"
Si berangasan menjerit dan tubuhnya tcrlempar sampai tiga meter ke belakang, di mana ia terbanting jatuh dan menggereng kesakitan sambil memegangi lengan yang sudah patah tulangnya.
"Keparat engkau, Joko Wandiro Merobohkan seorang perwira Kerajaan berarti memberontakl"
Bentak perwira ke dua yang bertubuh tinggi besar.
Diikuti empat orang temannya yang semua menghunus keris, mereka maju dan menerjang Joko Wandiro.
Pemuda ini merasa menyesal.
Teringat akan pesan gurunya, ia tidak suka bermusuhan dengan orang-orang Panjalu.
Bahkan ketika ia dipandang rendah di istana dan tidak ditenma penghambaan dirinya, ia tidak merasa sakit hati.
Akan tetapi, kali ini ia menghadapi perwira-perwira Panjalu bukan sekali-kali membela Jengga!a, dan di dalam hatinyapun bukan sekali-kali ia hendak membela seorang puteri Jenggala, melainkan ia hendak membela seorang wanita yang terancam kebebasannya oleh sekelompok orang-orang yang hendak menawannya.
"Aku tidak memberontak atau melawan Panjalu, aku menentang dan melawan kalian orang-orang yang hendak menghina wanita!"
Jawabnya dan kini ia tidak berani menerima sambaran keris para perwira itu.
Bukan saja ia khawatir bajunya akan rusak oleh tikaman keris-keris itu, juga ia tahu bahwa perwira-perwira Panjalu bukanlah orang-orang sembarangan dan keris merekapun tentu saja merupakan senjata-senjata ampuh yang tak boleh dipandang rendah.
Memang sesungguhnya demikianlah.
Gerakan lima orang itu tangkas dan cepat sekali dan biarpun mereka berlima bergerak berbareng mengurung Joko Wandiro, namun gerakan mereka tidak kacau dan dapat saling membantu.
Lima orang perwira ini adalah perwira-perwira setengah tua yang sudah banyak pengalaman.
Mereka tidak sembrono seperti perwira berangasan tadi.
Mereka tahu bahwa pemuda ini pernah mengalahkan pengeroyokan Ni Durgogini dan Ni Nogoginl yang membuktikan bahwa pemuda Ini seorang sakti mandraguna.
Oleh karena itulah kini mereka mengeroyok dengan gerakan hati-hati.
Kalau saja mereka tidak sudah tahu bahwa Joko Wandiro adalah seorang yang memiliki ilmu kesaktian tinggi, tentu saja sebagai perwira-perwira Panjalu mereka akan merasa malu untuk mengeroyok.
Keris pertama yang menyerangnya dengan tusukan kilat ke arah pusar adalah keris perwira tinggi besar.
Joko Wandiro menggeser kaki miringkan tubuh.
Pada detik berikutnya, dua batang keris perwira Iain menyambarnya dari kanan kiri, mengarah leher dan lambung.
Ia merendahkan tubuh mengelak dari tusukan keris di leher sambil memutar tubuh dan mencengkeram lengan yang memegang keris menusuk Iambung sehingga si pemegang keris cepat-repat menarik kembali kerisnya.
Namun pada saat itu, kembali ada dua batang keris menyerangnya dengan gerakan cepat sekali, dari depan dan helakang.
Terpaksa Joko Wandiro meloncat ke kanan dan menggerakkan kakinya menendang ke arah pergelangan tangan lawan yang berada di belakang, namun tendangannya juga luput karena perwira itu sudah menarik kembali kerisnya sambil meloncat mundur.
Joko Wandiro terus didesak, dihujani serangan dari lima penjuru, serangan yang cepat, kuat, dan susul-menyusul.
Dengan Aji Bayu Sakti, Joko Wandiro seenaknya mengelak ke sana ke mari.
Jangankan baru dikeroyok lima, biarpun ditambah sepuluh orang lagi kalau ia menggunakan aji ini, tak mungkin tubuhnya akan dapat dicium senjata lawan.
Lima orang perwira itu menjadi pusing dan mata mereka berkunang ketika tubuh lawan yang dikeroyok bergerak-gerak amat cepatnya sehingga lenyap bentuk tubuhnya, hanya tampak bayangan yang tentu saja sukar sekali untuk diserang.
Sementara itu, perwira berkumis panjang yang tidak ikut mengeroyok, cepat-cepat membujuk dengan kata-kata mengandung ancaman.
Karena tidak ingin diperlakukan kasar dan dipaksa naik kuda, terpaksa sekali Sang Puteri Mayagaluh meloncat ke atas punggung kuda itu, diikuti oleh perwira berkumis panjang yang meloncat ke atas seekor kuda lain.
Mayagaluh menoleh dan melempar pandang terakhir ke arah Joko Wandiro yang masih sibuk menghadapi lima orang pengeroyoknya, kemudian kudanya dicambuk dari belakang oleh perwira berkumis sehingga kuda itu meloncat ke depan dan berlari cepat.
Joko Wandiro mendengar derap kaki kuda cepat menengok.
Alangkah kaget dan mendongkol hatinya melihat sang puteri sudah dilarikan seekor kuda, diikuti si perwira berkumis.
Tadinya ia tidak berniat merobohkan lima orang perwira ini karena ia masih merasa segan untuk bermusuhan dengan mereka.
Akan tetapi melihat sang puteri dibawa pergi dan menduga bahwa betapapun juga, puteri seorang musuh tentu takkan mendapat perlayanan baik kalau terjatuh di tangan musuh, timbul kekhawatirannya.
Sekali ia berseru keras, kedua tangannya bergerak dan dua orang pengeroyok tak dapat mempertahankan diri terhadap dorongan kedua tangan Joko Wandiro yang mengandung hawa pukulan luar biasa panasnya itu.
Mereka berteriak kaget dan terdorong roboh, keris mereka mencelat entah ke mana.
Menggunakan kesempatan ini, Joko Wandiro meloncat jauh melakukan pengejaran.
Biarpun kuda yang membawa lari puteri itu membalap, namun Joko Wandiro yang mengerahkan Aji Bayu Sakti, sebentar saja sudah hampir dapat menyusulnya.
Namun tiga orang perwira yang belum roboh, juga sudah mencemplak kuda dan mengejar sambil berteriak-teriak.
Tiga orang perwira itu adalah ahli-ahli dalam hal menunggang kuda, maka sebelum Joko Wandiro dapat turun tangan merampas kembali Puteri Mayagaluh, la sudah tersusul dan kembali mereka menerjang dan mengurungnya sambil melompat dari atas kuda masirtg-masing.
Gerakan mereka cukup gesit dan tangkas dan sekali lagi Joko Wandiro terpaksa menggunakan Aji Bayu Sakti untuk menghindarkan diri dari hujan tikaman keris.
Melihat sang puteri makin jauh, Joko Wandiro panas hatinya.
"Kalian ini benar-benar tak tahu diri!"
Bentaknya dan mulailah ia menggerakkan kaki tangan untuk menangkis dan balas menyerang.
Pada saat itu, dua orang perwira yang tadi hanya roboh oleh tenaga dorongan dahsyat dan tidak terluka, kini sudah datang pula menyerbu sambil melompat turun dari atas kuda masing-masing.
Kembali lima orang perwira mengeroyok Joko Wandiro.
Dua orang perwira yang kehilangan keris, kini malah menggunakan tombak yang tadinya terselip di punggung kuda.
Dari jauh tampak perwira ke enarn yang patah tulang lengannya, berjalan perlahan karena kudanya ditunggangi oleh sang puteri.
Tentu saja setelah tulang lengannya patah, ia tidak dapat membantu teman-temannya.
Tadi ketika Joko Wandiro hanya menggunakan kegesitannya berlandaskan Aji Bayu Sakti untuk mengelak ke sana ke sini, lima orang itu sudah tak berdaya dan sama sekali tidak mampu menyentuh ujung bajunya.
Sekarang, dengan menggunakan Aji Kukilo Sakti yaitu gerak silat tangan kosong yang amat lincah dan hebat, tubuh Joko Wandiro menyambar-nyambar seperti seekor burung garuda dan kocar-kacirlah lima orang pengeroyoknya.
Terdengar teriak-teriakan kaget, keris terlempar dan tubuh terbantmg.
Dalam beberapa menit saja, lima orang itu sudah roboh tanpa memegang senjata lagi dan biarpun mereka tidak menderita luka parah, namun tamparan tangan Joko Wandiro membuat mereka pening dan untuk beberapa lama mereka tidak mampu bangun!
Tiba-tiba berkelebat sesosok bayangan putih dan seorang kakek berusia kurang lebih lima puluh lima tahun berdiri di depan Joko Wandiro.
Kakek itu bertubuh sedang namun berdiri tegak dan gagah seperti tubuh seorang pemuda, wajahnya kemerahan dan keren gagah, alis, kumis dan jenggotnya masih hitam akan tetapi rambutnya sudah berwarna dua.
Di tangan kanannya terpegang sebatang tongkat kehitaman yang mengkilap dan pakaiannya ringkas serba putih.
"Hemmm, pemuda jahat dari manakah berani mengandalkan kepandaian menghina dan merobohkan para perwira Kerajaan Panjalu?"
Katanya dengan suara keren, matanya bersinar keras dan tangan kirinya mengelus jenggot.
Berkelebatnya bayangan kakek ini tadi membuktikan bahwa kakek ini seorang berilmu, rnaka Joko Wandiro tidak berani memandang rendah.
Pemuda ini segera membungkuk dan berkata penuh hormat.
"Paman, aku tidak menganggap mereka ini perwira-perwira Panjalu yang gagah, melainkan orang-orang jahat yang hendak menculik seorang wanita. Harap paman jangan mencampuri urusan ini."
Seorang di antara para perwira, yaitu yang lengannya patah, mengenal kakek ini dan segera berkata.
"Paman Darmobroto! Saya Jatmiko dari kaki Merbabu pula, sahabat putera paman Joko Seto! Paman, orang muda ini hendak membela seorang puteri Jenggala yang menjadi tawanan kami. Harap paman suka membantu kami dan jangan membiarkan dia mengejar seorang kawan kami yang membawa puteri itu menghadap Gusti Prabu."
"Orang muda, menyerahlah!"
Ki Darmobroto, kakek itu membentak.
Mendengar disebutnya nama kakek ini, dan disebutnya pula nama Joko Seto putera kakek ini, sejenak Joko Wandiro tertegun.
Itulah nama-nama yang disebut oleh Ki Adibroto dalam pesan terakhir!
Inilah Ki Darmobroto calon mertua Ayu Candra!
Hatinya makin tidak enak.
Kalau tadi ia meragu untuk melawan kakek ini, sekarang ia makin merasa berat pula.
"Paman Darmobroto, kumohon agar paman jangan mencampuri urusan ini, biarlah lain kali aku akan datang menghadap paman, minta-maaf dan akan bicara hal yang amat penting bagi paman dan putera paman, Joko Seto"
"Hemm, kau sudah merobohkan perwira-perwira Panjalu, siapa peraaya omonganmu? Bocah, lebih baik kau pergi dan jangan lanjutkan perbuatanmu menentang Panjalu, dan akupun sudah memaafkanmu."
Diam-diam Ki Darmobroto yang kini memperhatikan para perwira yang roboh, merasa kaget dan kagum.
Perwira-perwira itu bukan orang-orang muda, tentu bukan perwira sembarangan dan sudah memiliki kepandaian yang lumayan.
Akan tetapi enam perwira itu semua roboh oleh pemuda ini, tanda bahwa pemuda ini benar-benar memiliki kesaktian yang luar biasa.
Apalagi melihat betapa mereka berenam itu tidak ada yang menderita luka berat, hal ini kembali membuktikan bahwa pemuda ini bukan orang yang kejam.
Inilah yang membuat Ki Darmobroto merasa suka dan sayang kepada Joko Wandiro dan ingin menyudahi urusan itu asal Joko Wandiro suka pergi dan tidak melanjutkan usahanya merampas puteri.
Akan tetapi justeru hal inilah yang memberatkan hati Joko Wandiro.
Ia suka mengalah asal Puteri Mayagaluh dibebaskanl Dengan suara bingung karena sang puteri kini sudah dilarikan jauh, ia berkata.
"Paman Darmobroto, aku tidak berniat melawanmu, juga tidak ingin bermusuhan dengan perwira Panjalu. Aku hanya ingin membebaskan sang puteri!"
Setelah berkata demikian, tubuhnya berkelebat cepat sekali, meloncat jauh dan kembali ia mengejar sang puteri dan si perwira berkumis.
Ki Darmobroto makin kagum menyaksikan gerakan pemuda itu.
Iapun cepat mengejar sambil mengerahkan ilmunya berlari cepat.
Alangkah kagum hatinya ketika ia mendapat kenyataan bahwa ilmu lari cepat pemuda ini tidak kalah olehnya.
Padahal ia sudah mempergunakan aji keringanan tubuh yang merupakan ilmu warisan dari nenek moyangnya dan yang sudah amat terkenal di daerah Merbabu!
Ia makin penasaran dan mengerahkan seluruh tenaganya.
Namun karena Joko Wandiro juga mengerahkan seluruh tenaganya, menggunakan Aji Bayu Sakti yang ia dapat dari Empu Bharodo, maka pendekar Gunung Merbabu itu hanya mampu membayanginya, belum mampu menyusulnya.
Para perwira juga segera berloncatan ke atas kuda dan mengejar.
Perwira yang lengannya patah membonceng salah seekor kuda mereka.
Kejar-kejaran terjadi dengan seru.
Debu mengepul dan tubuh mereka berkelebat keluar masuk hutan.
Dengan loncatan-Ioncatan jauh dan berlari cepat sekali, akhirnya Joko Wandiro berhasil menyusul Mayagaluh dan perwira berkumis.
"Gusti puteri, hentikan kuda paduka! Jangan takut, hamba melindungi paduka!"
Teriak Joko Wandiro.
Perwira berkumis marah sekali, membalikkan tubuhnya dan menyerang dengan sebatang tombak yang panjang ke arah Joko Wandiro.
Akan tetapi tanpa mengelak, pemuda itu menggerakkan tangan dan berhasil menangkap leher tombak lalu membetot keras.
Perwira itu terkejut sekali dan terpaksa melepaskan tombak karena kalau tidak, ia tentu akan turut terbetot jatuh dari atas kuda.
"Perwira Panjalu, jangan kurang ajar dan bebaskan sang puteri!"
Joko Wandiro membentak marah.
Puteri Mayagaluh kagum memandang Joko Wandiro, mulutnya tersenyum manis dan matanya bersinar-sinar, wajahnya berseri.
Ia senang sekali melihat kesetiaan pemuda itu.
Maka ia lalu menahan kudanya.
Akan tetapi pada saat itu, sesosok bayangan putih sudah tiba di tempat itu dan langsung menerjang Joko Wandiro sambil dibarengi bentakan.
"Orang muda, kau lah yang kurang ajar!"
Itulah Ki Darmobroto yang sudah menyerang dengan tangan kirinya mencengkeram ke arah pundak Joko Wandiro.
Hebat gerakan kakek ini, didahului angin menyambar amat kuat.
Joko Wandiro maklum bahwa kakek ini memiliki tenaga yang hebat, maka ia tidak mau membiarkan pundaknya dicengkeram.
Akan tetapi iapun sebagai seorang sakti ingin sekali menguji sampai di mana keampuhan tangan kakek Merbabu itu, maka ia lalu mengangkat tangan kanannya menangkis sambil berkata.
"Paman, aku hanya ingin mencegah orang menghina seorang wanita!"
Dua buah lengan yang mengandung tenaga mujijat itu saling bertemu dan terkejut bukan main hati pendekar Merbabu ketika tidak hanya lengannya tergetar, bahkan sebagian dadanya kesemutan akibat benturan itu.
Di lain fihak, Joko Wandiro juga kagum karena tenaga kakek itu cukup ampuh, tidak kalah banyak kalau dibandingkan dengan tenaga sakti mendiang Wirokolo yang tangguh.
Karena maklum bahwa pemuda ini merupakan lawan berat, maka Ki Darmobroto lalu memegang tongkatnya erat-erat, melangkah maju dan bertanya.
"Orang muda, apakah engkau seorang ponggawa Jenggala? Kalau engkau seorang ponggawa Jenggala, aku hormati kesetiaanmu dan pembelaanmu terhadap gusti puterimu. Akan tetapi kalau engkau bukan ponggawa Jenggala, harap kau suka pergi dengan aman, jangan mencari penyakit."
"Dia bukan ponggawa Jenggala, akan tetapi sebentar lagi tentu dia diberi anugerah kedudukan mulia oleh ramanda prabu!"
Tiba-tiba Puteri Mayagaluh berkata. Joko Wandiro terkejut dan cepat-cepat ia berkata.
"Aku bukan ponggawa Kerajaan mana pun, paman. Aku membelanya berdasar keadilan karena aku tidak suka melihat seorang wanita muda tanpa dosa diculik."
Akan tetapi pada saat itu, para perwira yang lain sudah tiba di situ dan mendengar ucapan puteri tadi mereka sudah menerjang lagi dan mengurung Joko Wandiro.
Adapun Ki Darmobroto yang melihat kenekatan Joko Wandiro hendak melindungi sang puteri, sudah turun tangan pula memutar tongkatnya ikut menerjang.
Sebetulnya, mengingat kedudukannya sebagai seorang tokoh besar Merbabu, seorang angkatan tua yang terkenal, Ki Darmobroto merasa sungkan untuk melawan Joko Wandiro yang bertangan kosong itu dengan tongkatnya yang sakti, Apa pula mengeroyoknya bersama lima orang perwira Panjalu.
Akan tetapi karena yang dihadapinya ini bukan urusan pribadi, melainkan urusan membela Panjalu, ia mengesampingkan perasaan pribadi dan mendahulukan kepentingan junjungannya.
Akan tetapi tidak seperti para perwira yang sudah marah dan terhina karena tadi beberapa kali dikalahkan Joko Wandiro dan kini menyerang dengan mati-matian, Ki Darmobroto menggerakkan tongkatnya hanya untuk merobohkan dan menawan pemuda itu.
Biarpun demikian, segera Joko Wandiro mendapat kenyataan betapa serangan orang tua ini amat hebat, ujung tongkatnya menyambar-nyambar dan pecah menjadi belasan batang agaknya saking cepatnya gerakan.
Tongkat kayu cendana itu mengeluarkan bau harum dan ketika digerakkan, memperdengarkan suara mengaung.
Joko Wandiro terkejut dan segera ia mengerahkan kepandaiannya untuk menghindari hujan senjata itu.
Serangan para perwira yang lima orang jumlahnya itu dapat dengan mudah ia hindarkan, akan tetapi bayangan tongkat kayu cendana di tangan Ki Darmobroto benar-benar membuat ia repot.
Ketika ia melompat jauh ke belakang untuk menjauhi para pengeroyoknya, bayangan tongkat dan bayangan putih itu mengejarnya, ujung tongkat tak pernah meninggalkan jalan darah di lehernya dan terdengar orang tua itu berseru.
"Menyerahlah!"
Sambil menusukkan ujung tongkat kearah jalan darah di leher yang akan membuatnya lumpuh seketika!
Joko Wandiro terpaksa mengeluarkan kepandaiannya.
Dengan kelincahan mengandalkan Aji Bayu Sakti, ia miringkan tubuh ke kiri, kemudian dengan jari jari tangan terbuka ia memukul ujung tongkat.
itulah pukulan Aji Pethit Nogo yang ampuhnya bukan main.
Jangankan hanya tongkat kayu, biarpun tongkat besi akan dapat dipukul patah oleh jari jari tangan yang penuh Aji Pethit Nogo!.
Akan tetapi kakek itu ternyata hebat.
Agaknya dari sambaran angin yang keluar dari tangan Joko Wandiro, kakek itu maklum akan keampuhan Pethit Nogo, maka ia menarik tongkatnya dan menggoyang tangan sehingga ujung tongkat itu kini menyambar dan menotok ke arah telapak tangan Joko Wandiro.
Pemuda itu terkejut dan kagum.
Dalam segebrakan ini saja ia maklum bahwa tingkat kepandaian Ki Darmobroto ini tidak berada di sebelah bawah tingkat kepandaian Ni Durgogini atau Ni Nogogini!
Totokan pada telapak tangannya itu amat berbahaya.
Pusat jalan darah di tangan berada di telapak tangan, antara ibu jari dan telunjuk, kalau sampai kena tertotok, tentu kelima buah jarinya akan kaku dan tak dapat dipergunakan lagi untuk beberapa lama.
Totokan serupa ini sekaligus melumpuhkan atau membuyarkan keampuhan ilmu pukulan Pethit Nogo yang dilakukan dengan telapak tangan terbuka, mengandalkan kepretan jari jari tangan.
Maklum bahwa ilmu tongkat kakek Itu dapat mengatasi ilmunya Pethit Nogo, Joko Wandiro segera menggerakkan tubuhnya dan mulailah ia melakukan gerakan-gerakan dari Ilmu Silat Bramoro Seto.
Tubuhnya berkelebat cepat sekali dan ia menggunakan kecepatannya yang mengatasi kecepatan kakek itu untuk berusaha merampas tongkat.
Ketika kakek ini menggerakkan tongkatnya menyabet dari kanan ke kiri, Joko Wandiro merendahkan tubuh dan secepat kilat tangannya menyambar ke depan.
Di lain saat dua jari tangannya telah berhasil menjepit tongkat kayu cendana itu.
Betapa kagetnya hati Ki Darmobroto ketika merasa betapa jepitan itu kuat sekali.
la mengerahkan tenaga menarik, namun sia-sia, tongkatnya tak dapat terlepas dan pada detik itu, tangan kiri Joko Wandiro dengan jari tangan terbuka melakukan pukulan Pethit Nogo ke arah pelipisnya!.
"Celaka...!!"
Seru Ki Darmobroto, terkejut sekali.
La dapat menduga bahwa pukulan dengan jari tangan itu amat berbahaya, maka ia tadi memunahkannya dengan totokan-totokan tongkat.
Kini tongkatnya terjepit dan dengan tangan kosong, tak mungkin ia berani menerima tamparan dengan jari jari seperti itu.
Untuk mengelak, terpaksa ia harus melepaskan tongkatnya dan hal ini alangkah akan mendatangkan malu baginya.
Ia bertongkat, bahkan dibantu lima orang perwira.
Pemuda itu bertangan kosong, namun pemuda itu masih dapat merampas tongkatnya?
Tidak!
Tiba-tiba Ki Darmobroto mengeluarkan pekik nyaring dan tiba-tiba tubuhnya menggelinding ke bawah, terus bergulingan dan tentu saja tongkat itupun ikut terbawa olehnya.
Caranya bergulingan amat aneh, akan tetapi Joko Wandiro merasa betapa lengannya yang jarinya menjepit tongkat itu tak dapat menahan dan hendak ikut terbawa gerakan si kakek.
Terkejutlah ia dan pada saat itu, kakek itu meloncat sambil menggerakkan kedua kakinya, bertubi-tubi melakukan tendangan.
"Bagus!"
Joko Wandiro berseru kagum. Terpaksa kini ia melepaskan tongkat kakek itu dan melompat ke samping sambil menggerakkan tangan kiri menangkis kaki lawannya.
"Desss...!!"
Tubuh kakek itu berputar-putar, namun dengan cekatan sekali kakek itu melompat ke atas dan mematahkan gaya berpusing sehingga ia tidak sampai roboh.
Kembali Joko Wandiro memuji.
Akan tetapi Ki Darmobroto mengeluarkan keringat dingin.
Dua gebrakan tadi hampir saja mencelakainya.
Kini tahulah ia bahwa pemuda ini benar-benar amat sakti, maka ia lalu menggerakkan tongkatnya dan menerjang tanpa sungkan-sungkan lagi.
(Lanjut ke
Jilid 30) Badai Laut Selatan (Seri ke 03 Serial Serial Keris Pusaka Sang Megatantra) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo
Jilid 30 Kalau tadi ia hanya berusaha mengalahkan dan menaklukkan pemuda itu, kini ia menyerang sungguh-sungguh dan mengerahkan seluruh kepandaiannya.
Kebetulan lima orang perwira juga sudah maju lagi mengurung sehingga keadaan Joko Wandiro benar-benar terancam.
"Paman sekalian sungguh terlalu, mendesak-desak tanpa mernberi kesempatan kepadaku. Kuharap paman suka mernbiarkan aku mengantar sang puteri kembali ke Jenggala."
"Tak perlu banyak cakap!"
Bentak seorang perwira.
Sesabar-sabarnya orang, tentu ada batasnya Joko Wandiro sama sekali tidak ingin bermusuhan dengan para perwira Panjalu yang ia tahu adalah orang orang gagah perkasa dan perajurit perajurit utama ini, lebih-lebih lagi ia tidak ingin bermusuhan dengan Ki Darmobroto, calon ayah mertua Ayu Candra yang sedang di cari carinya itu!
Akan tetapi ia pun tidak mungkin membiarkan Sang Puteri Mayagaluh menjadi tawanan, karena perang di antara kedua Kerajaan kakak beradik itu sebetulnya sama sekali tidak ada sangkut pautnya dengan pribadi sang puteri.
la menganggap tidak semestinya dan amat curanglah kalau mempergunakan permusuhan Kerajaan itu untuk menyeret seorang gadis muda menjadi tawanan.
Melihat betapa kini kuda yang ditunggangi Puteri Mayagaluh kembali sudah dituntun dan dibedalkan cepat oleh si perwira berrkumis, kesabarannya lenyap.
"Paman-paman sekalian, sekali lagi hamba minta bebaskanlah sang puteri. Kalau tidak, terpaksa hamba berlaku kurang hormat!"
Sengaja ia merendahkan diri kali ini.
"Joko Wandiro! Dengan berpihak kepada Jenggala, engkau menjadi pengkhianat dan menjadi musuh kami!"
Bentak seorang perwira dan mereka yang dipimpin oleh Ki Darmobroto yang sakti itu sudah menerjang maju bersama.
"Kalau begitu, terimalah ini!"
Joko Wandiro mengeluarkan bentakan nyaring sekali, pekik dahsyat yang bukan menyerupai suara manusia lagi.
Pekik dahsyat ini mengiringi dorongsn kedua tangannya yang bergerak mendorong sambil membuat lingkaran kearah pengeroyoknya.
Inilah pekik Dirodo Melu (Gajah Mengamuk) yang mengiringi Aji Bojro Dahono (Kilat Berapi) scbuah pukulan sakti yang dahulu pernah membuat Ki Patih Narotama terkenal!
Hebat bukan main daya serangnya, baru pekik dahsyat itu saja sudah cukup untuk merobohkan lawan kuat yang tergetar jantungnya dan terbang semangatnya, apalagi aji pukulan yang mendatangkan angin lesus dan panasnya kilat menyambar itu.
Tubuh lima orang perwira Panjalu terlempar ke sana ke mari dalam keadaan pingsan!
Hanya Ki Darmobroto yang dapat mempertahankan diri, hanya terhuyung-huyung sampai beberapa meter jauhnya, mukanya pucat dan dahinya mengeluarkan keringat dingin.
Masih untung bahwa pemuda itu tidak bermaksud mencelakai mereka, dan hanya mempergunakan tenaga terbatas saja.
Kalau tidak, tentu mereka semua termasuk Ki Darmobroto, akan tewas semua.
Kakek itu berdiri terbelalak, menarik napas panjang berkali-kali untuk menghimpun tenaga memulihkan keadaan tubuhnya, memandang tubuh Joko Wandiro yang berkelebat cepat lari mengejar sang puteri yang dilarikan.
Kemudian Ki Darmobroto menggeleng geleng kepalanya dan berkata seorang diri.
"Dari mana gerangan datang seorang muda yang begini hebat? Kalau pihak Jenggala memiliki jago muda seperti ini... ahh, tiada harapan bagi Panjalu agaknya...!"
Karena merasa tidak akan mampu melawan Joko Wandiro, Ki Darmobroto tidak mengejar, melainkan segera memberi pertolongan kepada para perwira yang masih pingsan.
Ternyata Sang Puteri Mayagaluh telah dilarikan jauh sekali oleh perwira berkumis tadi.
Joko Wandiro menjadi bingung ketika tidak melihat bayangan mereka.
Terpaksa ia beberapa kali meloncat naik ke atas pohon tinggi untuk melihat ke sekeliling.
Setelah berlari-lari cepat dan meloncat ke atas beberapa batang pohon tinggi besar, akhirnya ia melihat banyak sekali pernunggang kuda berkumpul di tempat jauh.
Ia menjadi girang akan tetapi juga khawatir akan keselamatan Puteri Mayagaluh, lalu meloncat turun dan cepat-cepat mempergunakan ilmu lari cepatnya untuk mengejar ke tempat yang tampak dari atas itu.
Dia seorang yang amat berhati-hati.
Begitu dekat dengan tempat itu, ia tidak langsung memperlihatkan diri.
Melihat banyak sekali orang di situ, ia lalu menyelinap dan bersembunyi, memandang penuh perhatian.
Kaget dan heranlah ia melihat betapa sang puteri tadi kini menangis di atas dada seorang pemuda tampan yang menghiburnya dengan ucapan dan belaian mesra, kemudian pemuda tampan itu menghardik kepada perwira berkumis yang berlutut dan menyembah-nyembah di depannya.
"Manusia lancang! Berani sekali kau menghina diajeng Mayagaluh? Biarpun Kerajaan kita bermusuh dengan Kerajaan paman di Jenggala, akan tetapi musuhmu adalah perajurit-perajurit Jenggala, bukan diajeng Mayagaluh! Laki-laki macam apa engkau ini? Pengawal, hajar dia dengan sepuluh kali cambukan!"
Kasihan juga si perwira berkumis itu.
Susah payah ia melarikan Puteri Jenggala dengan harapan mendapat puji dan pahala.
Siapa tahu, bukan pahala didapat, melainkan cambukan sepuluh kali.
Pengawal yang tubuhnya seperti raksasa itu bertenaga besar.
Biarpun hanya sepuluh kali, akan tetapi begitu selesai hukuman itu, si perwira berkumis tak sanggup bangkit lagi dan terpaksa harus digotong pergi dari situ oleh dua orang perajurit.
Melihat perkembangan yang sama sekali tidak diduga-duganya ini, hati Joko Wandiro menjadi girang sekali.
Siapakah pemuda itu?
Apakah sang pangeran kakak Puteri Mayagaluh yang disebut-sebut oleh gadis bangsawan itu tadi?
Bersama para pengawalnya?
Akan tetapi, mengapa ucapan pemuda bangsawan itu demikian?
Saking herannya dan karena menduga bahwa tak perlu lagi ia bersembunyi, ia lalu meloncat keluar dari tempat sembunyinya dan berjalan menghampiri tempat itu.
Melihat munculnya seorang pemuda yang tak dikenal, belasan orang pengawal segera maju dan sebentar saja Joko Wandiro sudah dikurung.
Akan tetapi terdengar seruan Puteri Mayagaluh.
"Tahan! Dia adalah penolongku Eh Joko Wandiro ke sinilah engkau. Jangan takut, ini adalah kakangmas Pangeran Darmokusumo!"
Joko Wandiro cepat menghampiri puteri itu dan para pengawal yang mendengar seruan Puteri Mayagaluh memberi jalan kepadanya. Puteri itu kini berpaling kepadanya dan berkata.
"Joko Wandiro, kakangmas Pangeran Darmokusumo ini adalah pangeran dari Panjalu, kakak misan saya."
Joko Wandiro terkejut, heran, akan tetapi juga girang hatinya.
Kiranya pangeran ini tidak sepicik anak buahnya dan bersikap baik terhadap Puteri Jenggala.
Maka ia lalu cepat menghaturkan sembah dengan sikap hormat.
Pangeran Darmokusumo adalah putera sang prabu di Panjalu dari selir, berusia dua puluh empat tahun, wajahnya tampan sekali dan sikapnya agung.
Ketika Kerajaan Kahuripan belum terpecah dahulu, yaitu ketika kakek mereka Sang Prabu Airlangga belum meninggal dunia, para pangeran dan puteri cucu Sang Prabu Airlangga masih tinggal menjadi satu dalam lingkungan keraton.
Biarpun banyak di antara mereka sudah terbawa dalam permusuhan ayah mereka, namun antara Pangeran Darmokusumo dan Puteri Mayagaluh telah terdapat hubungan yang amat akrab.
Bahkan diam-diam kedua orang muda ini saling mencinta.
Ketika Kerajaan terpecah, mereka terpaksa saling berpisah dan dengan hati sedih kedua orang muda ini melihat betapa ayah mereka saling bermusuhan.
Tentu saja sebagai anak, mereka harus berfihak kepada ayah dan Kerajaan masing masing, namun di lubuk hati mereka ini tak dapat saling melupakan.
Maka pertemuan di dalam hutan, pertemuan yang tak disangka-sangka antara dua hati yang saling dipisahkan ini merupakan pertemuan mengharukan dan mesra.
Biarpun mereka dahulu belum pernah saling menyatakan perasaan cinta kasih masing-masing, dalam pertemuan ini perasaan itu tertumpah dan tadi mereka saling peluk tanpa malu-malu lagi.
Pangeran Darmokusumo ketika mendengar nama Joko Wandiro, sudah terkejut dan memandang penuh perhatian.
Kini melihat pemuda yang kelihatannya sederhana itu menghaturkan sembah, ia bertanya, suaranya halus namun mengandung wibawa.
"Joko Wandiro namamu? Bukankah engkau ini satria yang pernah menghadap ramanda prabu dan yang telah mengusir mundur Ni Durgogini dan Ni Nogogini dari Panjalu?"
"Benar seperti yang paduka katakan gusti pangeran."
"Joko Wandiro, kau pernah menghadap ramanda prabu hendak mengabdikan diri, sekarang engkau melakukan perlawanan terhadap perajurit-perajurit Panjalu. Apakah hal ini berarti bahwa engkau kini telah berfihak kepada Jenggala?"
"Tidak, dalam peristiwa ini hamba sama sekali tidak mengingat tentang Kerajaan manapun. Hamba hanya melihat seorang wanita yang hendak dibawa secara paksa oleh serombongan pria yang mempergunakan kekerasan. Andaikata wanita itu bukan kebetulan sang puteri dari Jenggala, sekalipun seorang gadis dusun, sudah pasti hamba juga akan turun tangan membelanya. Sebaliknya, andaikata rombongan pria itu bukan perajurit-perajurit Panjalu, misalnya mereka itu para perajurit Jenggala yang mengganggu seorang puteri Panjalu, hambapun tentu akan bertindak mencegah dan menentang mereka."
Senyum kagum menghias wajah tampan itu dan sepasang mata Pangeran Darmokusumo bersinar-sinar, kemudian ia mengangguk-angguk dan menoleh ke arah Puteri Mayagaluh dan berkata.
"Diajeng Mayagaluh, sungguh bahagia sekali engkau mendapatkan seorang penolong seperti satria bagus ini."
Kemudian ia memandang Joko Wandiro dan berkata halus.
"Joko Wandiro, aku sudah mendengar tentang pertolonganmu kepada sang puteri dari tangan perampok jahat. Sebagai kakak misannya, aku mengucapkan terima kasih atas pertolonganmu dan harap kau jangan kepalang dalam melepas budi kepada kami keluarga yang tak bahagia. Antarkan diajeng Mayagaluh sampai selamat ke Jenggala."
Joko Wandiro menyembah, hatinya kagum terhadap pangeran ini. Alangkah akan senang hatinya kalau ia dapat menghambakan diri kepada seorang junjungan yang bijaksana seperti Pangeran Panjalu ini.
"Memang sudah hamba janjikan kepada gusti puteri untuk mengantar beliau pulang ke Jenggala. Kewajiban ini hamba sekali-kali tidak menganggap sebagai pertolongan, maka harap paduka jangan memuji hamba terlalu tinggi."
Pada saat itu, Ki Darmobroto dan perwira Panjalu yang tadi mengejar sudah tiba di tempat itu.
Para perwira masih lemah dan pucat akibat pukulan Bojro Dahono dan mereka hanya dapat menundukkan muka ketika ditegur oleh sang pangeran.
Akan tetapi pangeran ini hanya bertanya dengan suara halus kepada Ki Darmobroto.
"Paman Darmobroto, mengapa pula paman mencampuri pertandingan antara Joko Wandiro dan perwira-perwira Panjalu yang kurang ajar ini?"
Ki Darmokusumo menghaturkan sembah lalu menjawab, suaranya tenang karena ia merasa dalam kebenaran.
"Hamba hanya melihat para perwira Panjalu bertanding melawan orang muda yang sakti ini dan sebagai seorang hamba Panjalu tentu saja hamba tidak dapat tinggal diam. Menyesal sekali bahwa kepandaian hamba tidak ada artinya sehingga biarpun hamba bantu, para perwira paduka tetap saja mengalami kekalahan."
Setelah berkata demikian, Ki Darmobroto melirik dengan pandang mata kagum terhadap bekas lawannya yang masih bersimpuh di dekatnya, depan sang pangeran.
Mendengar ini, Pangeran Darmokusumo menjadi makin kagum terhadap pemuda itu.
"Joko Wandiro, karena diajeng Mayagaluh telah sesat jalan dan berpisah dari rakandanya Sang Pangeran Panjirawit, maka lebih baik kau lekas-lekas mengantar pulang ke Jenggala agar jangan sampai menggelisahkan keluarganya."
Pangeran itu lalu memerintahkan anak buahnya untuk menyiapkan dua ekor kuda pllihan.
Setelah dua ekor kuda yang pilihan dipersiapkan, Puteri Mayagaluh sejenak saling pandang dengan Pangeran Darmokusumo, kemudian sang puteri menangis dan mengeluh.
"Kakangmas, mungkinkah kita dapat saling bertemu kembali..."
Pangeran itu tersenyum sedih dan ketika Mayagaluh menangis, ia lalu memeluknya dan mengusap-usap rambutnya yang hitam halus, berbisik-bisik memberi hiburan kepada puteri itu.
Betapa hancur hati kedua orang muda yang saling mencinta ini menghadapi kenyataan betapa ramanda mereka saling bermusuhan.
Melihat dua orang itu mengadakan perpisahan yang mengharukan, Joko Wandiro mempergunakan kesempatan ini untuk mendekati Ki Darmobroto dan berkata.
"Paman Darmobroto, saya gembira sekali dapat bertemu dengan paman. Memang saya mempunyai niat untuk mencari paman."
Ki Darmobroto tersenyum. Ia merasa kagum dan suka kepada orang muda ini, yang memiliki kesaktian hebat akan tetapi selalu bersikap rendah hati dan juga tidak sombong, tidak keji.
"Akupun amat senang dapat berkenalan dengan anakmas Joko Wandiro yang sakti mandraguna. Kehormatan Apa gerangan yang hendak anakmas berikan sehingga anakmas bersusah payah mencari pamanmu yang miskin ini?"
Karena ia tahu bahwa berita yang hendak disampaikannya bukan hal yang menggembirakannya, Joko Wandiro mengerutkan keningnya dan mukanya berubah suram.
Hal ini tak terlepas dari pandang mata Ki Darmobroto yang awas, maka kakek itu cepat-cepat bertanya.
"Ada apakah, anakmas Joko Wandiro?"
"Paman, sungguh berat rasa hati saya untuk menyampaikan berita ini. Paman... secara tak disengaja saya telah menjadi saksi akan kematian paman Adibroto dan... isterinya, serta mendengar pula pesan terakhir mendiang paman Adibroto."
Ki Darmobroto adalah seorang sakti yang gentur tapa (tekun bertapa), batinnya sudah amat kuat, tidak mudah dipengaruhi suka-duka duniawi.
Namun mendengar berita bahwa sahabat baiknya, Ki Adibroto dan isterinya telah meninggal dunia, ia terkejut bukan main sehingga sejenak ia tak dapat berkata-kata.
Kemudian ia bertanya, suaranya gemetar.
"Adibroto dan isterinya... meninggal dunia...? Belum lama ini mereka berdua singgah di rumahku...!!"
"Saya menyaksikan kematian paman Adibroto dengan kedua mata saya sendiri, paman. Beliau tewas karena luka-luka yang dideritanya"
"Terbunuh!!"
Ki Darmobroto berseru."Siapa pembunuhnya? Mengapa orang sebaik budi Adibroto dibunuh?"
Joko Wandiro menggeleng kepalanya, hatinya terasa perih.
Diam-diam ia menduga bahwa kematian Ki Adibroto dan isterinya, atau ibu kandungnya sendiri, tentu ada hubungannya dengan Pujo, guru dan ayah angkatnya.
Hal inilah yang membuat hatinya sangat berduka setiap kali ia teringat.
"Saya tidak tahu, paman. Paman Adibroto tidak mengatakan apa-apa, hanya meninggalkan pesan kepada... Ayu Candra bahwa bahwa Ayu Candra telah dijodohkan dengan putera paman yang bernama Joko Seto."
"Betul sekali. Di mana kini adanya nini Ayu Candra? Kasihan sekali anak itu, kehilangan ayah-bundanya!"
Kemudian kakek itu teringat sesuatu dan bertanya, memandang penuh selidik.
"Anakmas Joko Wandiro, bagaimana anakmas dapat menyaksikan itu semua? Kenalkah anda dengan keluarga itu?"
Joko Wandiro merasa berat untuk membentangkan semua keadaannya. Ia hanya menggeleng kepala dan menjawab.
"Secara kebetulan saja saya lewat di Telaga Sarangan dan menyaksikan hal itu. Adapun... diajeng Ayu Candra telah pergi, saya sendiri tidak tahu ke mana, bahkan sekarangpun sebenarnya saya sedang mencarinya dengan maksud mengantarnya ke Merbabu, ke tempat tinggal paman."
"Mengapa pergi? Kemana?"
"Saya tidak tahu, paman. Mungkin pergi mencari musuh yang telah menewaskan paman Adibroto dan isterinya, padahal dia sendiripun tidak tahu siapa musuhnya itu dan paman Adibroto sudah berpesan agar jangan membalas dendam, jangan mencari musuh."
Ki Darmobroto masih ingin banyak bertanya, akan tetapi pada saat itu terdengar suara Puteri Mayagaluh.
"Joko Wandiro, sudah siapkah engkau? Mari kita berangkat!"
Joko Wandiro bangkit berdiri lalu berpamit kepada Pangeran Darmokusomo, kemudian meloncat ke atas punggung kuda yang disediakan untuknya, lalu bersama Puteri Mayagaluh yang sudah naik ke atas kuda pula meninggalkan tempat itu.
Sang puteri beberapa kali menengok dan bertukar pandang mesra dengan Pangeran Darmokusumo, kemudian setelah mereka berbelok pada sebuah tikungan, sang puteri menghapus air mata dari pipinya dengan tangan.
"Gusti Pangeran Darmokusumo sungguh seorang yang berbudi luhur!"
Joko Wandiro berkata perlahan.
Sang puteri terkejut dan mengangkat muka memandang kepada pemuda yang menjalankan kuda di sebelah kirinya, lalu memaksa senyum.
Senyum yang amat cerah sehingga lenyaplah semua kedukaan dan kekecewaan.
"Mengapa kau berkata demikian, Joko Wandiro?"
"Mengapa? Hamba memuji gusti pangeran dari Panjalu itu, dan memang sepatutnya dipuji."
"Hemm, tiada hujan tiada angin engkau memuji-mujinya di depanku. Apa yang tersembunyi di balik kata-katamu, orang muda?"
Joko Wandiro menjadi merah mukanya. Kiranya sang puteri amat peka perasaannya, seakan-akan dapat menjenguk dan mengintai isi hatinya.
"Maaf, gusti puteri. Hamba eh, hamba kira eh, gusti pangeran amat sayang kepada paduka dan... eh, memang sepadan benar. Sayang sekali, ramanda paduka berdua tak dapat hidup berdampingan dalam suasana damai."
Mendengar ini, sang puteri menarik napas panjang.
"Matamu awas benar, Joko Wandiro. Memang..."
Puteri jelita itu menunduk malu.
"Kangmas Pangeran Darmokusumo amat sayang kepadaku, semenjak dahulu sayang"
Melihat wajah yang jelita itu kembali terselubung awan kedukaan, cepat-cepat Joko Wandiro berkata.
"Sesungguhnya hamba heran sekali, bagaimanakah paduka sampai dapat melakukan perjalanan begini jauhnya? Kalau boleh hamba bertanya, paduka bersama rakanda paduka dan pengawal, hendak pergi ke manakah?"
"Ah, ini gara-gara kakanda Pangeran Panjirawit yang selalu menuruti semua kehendak Endang Patibroto!"
Sang puteri menarik napas panjang lalu menyambung lirih,"Orang kalau sudah jatuh cinta... ah, aneh-aneh saja kelakuannya...!!!"
Akan tetapi ketika sang puteri menengok dan memandang kepada Joko Wandiro, ia melihat pemuda itu memandangnya dengan mata terbelalak dan mulut ternganga, seakan-akan melihat dia telah berubah menjadi benda yang menakjubkan.
Seketika wajah sang puteri menjadi merah sekali, teringat betapa pemuda ini ketika menolongnya dari tangan perampok, telah mencium pipinya!
Hal itu telah ia maafkan mengingat bahwa ia telah terbebas daripada bahaya mengerikan, tertolong oleh pemuda ini.
Akan tetapi kini melihat betapa joko Wandiro memandangnya seperti itu, ia cepat cepat berkata.
"Kakanda Pangeran Panjirawit jatuh cinta kepada pengawal kami Endang Patibroto sedangkan aku... aku... dan kakangmas Pangeran Darmokusumo juga saling... eh, mencinta. Entah siapa di antara kami yang gagal kelak!"
La menundukkan mukanya. Puteri ini dengan bijaksana memaksa diri menyatakan cinta kasihnya kepada Pangeran Darmokusumo untuk mengusir perasaan yang "Bukan-bukan"
Dari dalam hati pemuda penolongnya yang amat ia kagumi ini.
Joko Wandiro seperti baru sadar daripada mimpi buruk.
Ucapan terakhir ini hanya lewat saja di telinganya dan dianggapnya tidak ada artinya.
la tadi begitu kaget mendengar nama Endang Patibroto disebut-sebut.
Sebagai kepala pengawal!
Kepala pengawal Kerajaan Jenggala lagi!
la begitu heran mendengar ini sampai tadi terlongong dan disalah artikan oleh sang puteri.
Untuk memulihkan lagi ketenangannya, Joko Wandiro terbatuk-batuk.
"Maafkan hamba, gusti puteri. Hamba melamun tadi. Jadi paduka pergi bertiga bersama rakanda paduka dan kepala pengawal yang bernama Endang Patibroto? Kepala pengawal seorang wanita?"
Sang puteri tertawa.
Sikap dan kata-kata pemuda ini sudah kembali biasa dan hatinya menjadi lega karenanya.
Ia tadinya khawatir kalau-kalau pemuda ini tak mampu menguasai hatinya.
la akan merasa berduka sekali kalau sampai pemuda ini menjadi korban asmara karena dia.
Kembali Lagi kegembiraan sang puteri.
Ia tertawa sehingga tampak giginya berderet putih seperti mutiara.
"Ah, engkau tidak tahu, Joko Wandiro. Memang Endang Patibroto seorang wanita, akan tetapi wah, wanita yang bagaimana! Sakti mandraguna pilih tanding. Cantik jelita dan muda belia, akan tetapi kiraku orang senegara tidak ada yang akan dapat menandinginya. Dibandingkan dengan engkau, Joko Wandiro eh betul juga kalian ini!"
Sepasang mata yang indah bening seperti burung nun itu bersinar-sinar, wajah yang kedua pipinya kemerahan berseri-seri.
Joko Wandiro tersenyum dan mengeluh dalam hati.
Puteri ini lincah, gembira, dan nakal!
Namun ia pura-pura tidak mengerti dan bertanya.
"Apa yang paduka maksudkan?"
"Kau tunggu saja sampai kau berjumpa dengan orangnya, Joko Wandiro! Ah, kalau saja kami mempunyai sepasang jagoan seperti kalian!"
Kini wajah Joko Wandiro yagg menjadi merah dan jantungnya berdebar aneh.
Endang Patibroto!
Hampir ia lupa Lagi bagaimana wajahnya.
Sudah terlalu lama ia berpisah dengan anak itu.
Anak yang nakal sekali!
Puteri ayah angkatnya.
terbayang di dalam ingatannya betapa dahulu seringkali ia bertengkar dengan anak perempuan itu.
Dan sekarang telah menjadi kepala pengawal Kerajaan Jenggala!
Bagaimana mungkin ini?
Ayah angkatnya, Pujo dan juga eyangnya, Bhagawan Rukmoseto atau Sang Resi Bhargowo, adalah pembela-pembela Kerajaan Panjalu, seperti juga gurunya, Ki Patih Narotama.
Bagaimana sekarang Endang Patibroto bisa menjadi kepala pengawal Kerajaan Jenggala?
Teringat pula ia akan peristiwa di Pulau Sempu, ketika eyang mereka, Sang Resi Bhargowo, menyerahkan pusaka Mataram kepada mereka.
Makin merah mukanya ketika ia teringat betapa Endang Patibroto anak nakal itu memilih keris pusaka yang luar biasa ampuhnya, sedangkan ia mendapat bagian warangkanya, yaitu patung kencana yang ia simpan dalam cabang pohon randu alas yang besar di Pulau Sempu.
Semua ini terbayang dalam ingatannya dan membuatnya termenung.
"Sayang aku terpisah dari mereka,"
Terdengar pula suara sang puteri yang menyeret kembali kesadaran Joko Wandiro.
"Paduka bertiga tadinya hendak pergi ke manakah?"
"Ah, kami berdua terbawa oleh Endang Patibroto yang katanya hendak pergi mencari ibunya di Bayuwismo."
"Bayuwismo??"
Seruan Joko Wandiro ini membuat sang puteri memandang tajam kepadanya.
"Apakah engkau sudah tahu di mana letaknya Bayuwismo?"
"Hamba belum pernah ke sana, akan tetapi hamba dapat mengantar paduka ke sana. Memang seyogyanya, kalau paduka tidak keberatan, kita pergi saja ke Bayuwismo, hamba rasa paduka akan dapat bertemu dengan mereka di sana atau di tengah jalan."
"Bagus! Begitu lebih baik, karena tidak enak juga rasanya kalau aku pulang sendiri tanpa rakanda Panjirawit dan Endang Patibroto. Jauhkah Bayuwismo dari sini, Joko Wandiro?"
"Hamba rasa tidak begitu jauh lagi, gusti,"
Kata Joko Wandiro dengan hati berdebar.
Mengapa begini kebetulan, pikirnya.
ibu kandungnya, diantar oleh Ki Adibroto, pergi mencari dia dan mudah diduga bahwa ibu kandungnya tentu hendak mencari Pujo, ayah angkatnya yang dahulu telah menculiknya.
Sangat boleh jadi Ki Adibroto dan isterinya itu pergi ke Bayuwismo.
Dan Endang Patibroto, yang menurut penuturan Sang Puteri Mayagaluh kini merupakan seorang yang sakti mandraguna, telah pergi pula ke Bayuwismo.
Lalu terjadi ibu kandungnya dan Ki Adibroto tewas di tangan musuh!
la harus segera pergi ke Bayuwismo, menemui ayah angkatnya, mencari tahu perihal kematian ibu kandungnya.
Diam-diam ia menjerit kepada Dewata dengan harapan semoga ibu kandungnya tidak terbunuh oleh Pujo, karena kalau hal itu terjadi, ia tidak tahu Apa yang harus ia perbuat!
"Duh, Hyang Maha Wisesa, lindungilah hamba-Mu daripada malapetaka itu..."
Keluhnya.
"Kau bicara Apa, Joko Wandiro?"
Sang puteri yang melihat gerak bibirnya tanpa mendengar suara, bertanya.
"Ohh hamba hendak mengatakan bahwa lebih baik kita segera berangkat sekarang agar jangan kemalaman di tengah hutan, gusti."
"Baiklah, Joko Wandiro. Mari!"
Sang puteri lalu menyendal kudanya dan membalapkan kudanya menuju ke barat.
* * * Dengan hati uring-uringan Endang Patibroto meninggalkan ibu kandungnya.
Ia membalapkan kudanya dengan cemberut, pandang matanya menyalanyala dan hatinya kecewa sekali.
Bertahun-tahun ia tidak bertemu lbunya dan merasa amat rindu kepada ibunya.
Baru saja bertemu, ia telah ditinggal mati ayah kandungnya.
Kemudian, ibu kandungnya sendiri marah-marah kepadanya, hendak memaksanya meninggalkan Jenggala, bahkan ibunya telah menyerangnya dengan keris, hendak membunuhnya.
Ibu kandungnya sendiri, Ingin sekali Endang Patibroto menangis dan menjerit-jerit, akan tetapi hatinya yang sudah menerima gemblengan gurunya, Dibyo Mamangkoro, sudah membeku dan tidak ada setitikpun air mata di pelupuk matanya.
"Endang...! Endang Patibroto...! kau tunggulah aku!"
Berkali-kali Pangeran Panjirawit berteriak sambil mengejar.
Diam-diam pangeran inipun merasa prihatin sekali.
Sebagai seorang pangeran, ia maklum pula akan segala peristiwa di Bayuwismo tadi.
Sebagai seorang satria, iapun tidak bias menyalahkan ibu Endang Patibroto yang berjiwa satria.
Dan sebagai seorang pria yang amat mencinta Endang Patibroto, iapun maklum betapa hancur hati dara perkasa yang dicintanya itu.
Akan tetapi Endang Patibroto yang sedang marah-marah itu tidak memperdulikan panggilan sang pangeran.
Bahkan ia tidak memperdulikan kudanya yang sudah terengah-engah hampir putus napasnya dan sudah bermandi peluh karena dilarikan kencang terus-menerus tak kunjung henti.
Tiba-tiba dari depan nampak tiga orang penunggang kuda.
Mereka itu bukan lain kepala rampok yang kemarin dulu telah menawan Puteri Mayagaluh.
Setelah berhasil diusir oleh Joko Wandiro, kepala rampok ini melarikan diri di atas kuda tunggangan Sang Puteri Mayagaluh.
Akan tetapi hatinya masih penasaran karena puteri yang cantik jelita dan yang bagaikan sepotong daging telah berada di depan mulutnya, kini terampas orang lain.
Sengoro, kepala rarnpok ini tidak pergi jauh, yaitu ke tempat persembunyian dua orang kakak seperguruannya yang bernama Kolodumung dan Kolomedo, dua orang kakak beradik yang tentu saja memiliki kesaktian lebih hebat daripada Sengoro sendiri.
Setelah menuturkan perihal puteri jelita terutama perhiasan-perhiasan indah yang dipakainya, Sengoro lalu mengajak kedua orang kakak seperguruannya ini untuk melakukan pengejaran.
Tentu saja kedua orang jahat itu menjadi tertarik dan segera mereka menunggang kuda lalu bersama Sengoro pergi mencari.
"Nah itu dia agaknya!"
Seru Sengoro ketika melihat di depan seorang dara jelita berpakaian mewah membalapkan kuda yang sudah payah.
Hati kedua orang temannya juga girang sekali karena gadis itu benar-benar amat cantik jelita dan perhiasan yang dipakai di kedua tangan dan di pinggangnya sudah berkilauan dan jelas dapat mereka ketahui bahwa perhiasan-perhiasan itu terbuat daripada emas permata yang mahal harganya!
Mereka bertiga sengaja menghadang di tengah jalan sehingga jalan sempit itu penuh dengan tiga ekor kuda mereka.
Endang Patibroto sedang marah.
Andaikata ia tidak sedang marah sekalipun, ia tentu takkan mengampuni tiga orang yang berani menghadang perjalanannya.
Apalagi pada saat itu ia sedang diamuk kemarahan maka dari jauh ia sudah membentak.
"Tiga ekor anjing busuk, minggir!!"
Akan tetapi tiga orang laki-laki itu sama sekali tidak mau minggir, bahkan Kolodumung segera menggerakkan tangan kanannya dan sinar hitam menyambar ke depan, tepat mengenai kepala kuda yang ditunggangi Endang Patibroto.
Kuda itu meringkik keras, mengangkat kaki depan ke atas, terhuyung-huyung lalu roboh dan mati seketika!
Untung Endang Patibroto sudah melompat turun sehingga ia tidak terhimpit badan kuda.
Tiga orang laki-laki itu tertawa dan melompat turun dari atas kuda pula.
"Ha-ha-ha, kakang berdua! Perempuan y"ng kumaksudkan bukan ini. Akan tetapi, dia inipun hebat sekali, malah lebih liar daripada yang kumaksudkan!"
"Hua-ha-hah! Bagus kalau begitu, lebih banyak lebih baik"
Jawab Kolodumung gembira.
Endang Patibroto yang sedang dilanda kemarahan itu kini berdiri dengan mata seakan-akan mengeluarkan api.
Dapat dibayangkan betapa hebat kemarahannya, makin menyalanyala melihat kuda tunggangannya roboh dan tewas.
Menurutkan kemarahannya, ingin la sekali turun tangan membunuh tiga orang kasar ini.
Akan tetapi pandang matanya tertarik oleh kuda yang ditunggangi Sengoro.
Ia mengenal kuda itu sebagai kuda tunggangan Mayagaluh!
Kalau kuda itu terjatuh ke dalarn tangan iblis ini, berarti Mayagaluh juga tertawan!
Berdebar keras jantung Endang Patibroto.
Betapapun juga, dialah yang bertanggung jawab kalau terjadi sesuatu yang tak baik atas diri sang puteri.
Dia adalah pengawal, dan dia pula yang membawa sang puteri sampai ke tempat ini dan harus menyiksa mereka ini dan memaksa mereka mengaku di mana adanya Mayagaluh dan Apa yang terjadi atas diri puteri itu.
Karena teringat akan puteri itu maka Endang Patibroto menahan kemarahannya dan tidak ingin menurunkan tangan maut.
Ia menoleh dan melihat sebatang pohon waru di dekatnya.
Tangannya lalu menjangkau dan memetik beberapa helai daun waru, kemudian ia berseru keras sambil menyambitkan daun-daun itu ke depan.
"Anjing busuk rasakan ini!!"
Tiga orang itu tertawa makin lebar melihat betapa Endang Patibroto menyerang mereka dengan sambitan daun-daun waru.
Mereka menganggapnya lucu sekali dan tentu saja sebagai orang-orang yang digdaya, mereka sama sekali tidak perdulikan serangan ini.
Siapa yang sudi mengelak dari sambaran daun-daun waru, apalagi yang disambitkan oleh seorang wanita ayu?
Riuh-rendah mereka tertawa-tawa.
"Huah-hah-hah ha-ha-ha-ha... haa-uupp!"
"Ha-hauiiihhh!"
"Ha-haduuuhhh!!"
Suara ketawa mereka segera terhenti, muka yang tadinya tertawa-tawa itu kini menyeringai dengan mata terbelalak dan mereka mengaduh-aduh kesakitan.
Daun-daun waru menempel di muka dan lengan mereka dan kulit di bawah daun itu keluar darah bertetes-tetes!
Saking hebatnya sambitan itu, daun-daun waru kini menempel menjadi satu dengan kulit daging, bahkan ada yang gagangnya menancap sampai dalam seperti paku.
Daun yang agak berbulu ini selain menimbulkan sakit dan perih, juga gatal-gatal.
"Perempuan lblis...!!"
"Kuntilanakl"
"Keparat, tunggu kau, kuengkuk-engkuk (tekuk-tekuk) engkau...!"
Rasa kaget, heran, dan kesakitan kini berubah menjadi kemarahan hebat.
Tiga orang itu memang orang-orang kasar yang biasanya jarang bertemu tanding, yang selalu dapat memaksakan kehendaknya kepada orang lain mengandalkan kekerasan, sehingga kemenangan-kemenangan itu membuat mereka sombong dan merasa seakan-akan tiada tandingan mereka di dunia ini.
Kini bertemu dengan Endang Patibroto yang hanya seorang dara ayu, biarpun mereka dikejutkan oleh serangan daun waru, namun belum membuka mata mereka bahwa mereka sedang berhadapan dengan seorang yang memiliki kesaktian jauh iebih tinggi daripada mereka.
Serentak ketiganya menerjang maju dengan kedua lengan dikembangkan, jari jari tangan dibuka seperti tiga ekor harimau hendak menerkam seekor domba.
Betapapun marah hati mereka, tiga orang laki-lakl kasar ini masih merasa sayang untuk membunuh seorang dara muda belia yang jelita tu, maka mereka menerjang maju untuk menangkap dan tidak mau menggunakan senjata.
Tentu saja Endang Patibroto tidak sudi disergap laki-laki kasar macam mereka.
Sekali tangan kirinya bergerak eperti orang menampar dari kanan kiri, tiga orang itu merasa seakan-akan disambar petir, pandang mata berkunang, kepala pening dan tubuh mereka terpelanting kemudian jatuh ke atas tanah!
Masih baik bahwa Endang Patibroto tidak mengerahkan seluruh tenaga dalam aji pukulan Wisang Nolo (Api Beracun) ini, kalau hal itu dilakukannya, tentu mereka bertiga sudah roboh tak bernapas lagi dan dengan tubuh hangus-hangus!
Mendapat kenyataan betapa dara itu tanpa menyentuh mereka telah dapat membuat mereka terpelanting, tahulah tiga orang kasar ini bahwa lawannya, biarpun muda belia dan ayu manis, ternyata adalah seorang yang sakti mandraguna, memiliki aji kesaktian tidak lumrah manusia, seperti iblis saja.
Mereka menjadi makin marah akan tetapi kali ini juga gentar, maka sambil melompat bangun, mereka serentak mencabut senjata mereka.
Kolodumung memegang senjata cambuk yang berwarna hitam.
Cambuk ini terbuat daripada kulit kerbau, ulet dan kuat sekali, dan ujung cambuk dipasangi kaitan baja seperti pancing.
Celakalah lawan kalau terkena sambaran kaitan ini, sekali masuk ke dalam daging sukar ditarik keluar lagi.
Sambil berteriak-teriak marah Kolodumung memutar cambuknya ke atas kepala dan terdengar suara meledak-ledak keras.
Kolomedo mengeluarkan senjatanya sebatang pedang melengkung yang amat tajam sehingga mengeluarkan sinar berkilauan ketika ia putar-putar dan tenaga yang besar membuat pedang itu mengeluarkan bunyi berdesing-desing.
Juga Sengoro sendiri sudah mencabut goloknya yang besar dan berat.
"Perempuan iblis! kau mencari mampus sendiri!"
Seru Kolodumung sambil menerjang maju dengan ayunan cambuknya, melecutkan ujung cambuk ke arah leher Endang Patibroto.
Alangkah akan mengerikan kalau kaitan baja di ujung cambuk itu mengenai leher yang berkulit kuning halus itu!
juga pada detik berikutnya, Kolomedo dan Sengoro sudah menerjang dengan bacokan pedang dan golok dari kanan kiri.
Dalam kemarahannya yang meluap-luap, Endang Patibroto tidak sudi melayani tiga orang ini.
Diserang seperti itu, ia sama sekali tidak beranjak pergi dari tempat ia berpijak.
Ia hanya mengangkat kedua lengannya ke atas, dengan lengan telanjang ia menerima kaitan baja berikut ujung cambuk itu.
Kaitan baja yang menghantam kulit lengannya yang putih halus itu sama sekali tidak membuat lecet kulitnya dan kini ujung cambuk melibat lengannya.
Dengan gerakan cepat sekali kedua tangan Endang Patibroto berputar-putar dan pedang serta golok dari kanan kiri telah terlibat oleh cambuk.
Begitu ia menarik dengan sentakan keras, tiga orang lawannya terkejut dan terhuyung ke depan.
Endang Patibroto menggerakkan kaki kanan, tiga kali menendang maju dan kembali tiga orang itu terpental ke belakang dengan senjata sudah terampas.
Tendangan tadi tepat mengenal kempungan perut mereka sehingga ketika terlempar dan terbanting jatuh, mereka tidak dapat segera bangun berdiri, melainkan merintih-rintih dan bergulingan memegangi perut yang menjadi mulas dan senep!
"Tar-tar-tar!"
Tiga kali cambuk rampasan itu meledak dan ujungnya mematuk tubuh tiga orang itu.
"Aduhh...!"
"Mati aku...!"
"Aduhhhh...!!"
Tiga orang itu seperti cacing kepanasan, menggeliat-geliat dan berkelojotan karena kaitan baja di ujung cambuk telah mencokel keluar otot dan daging.
"Hayo katakan, di mana adanya sang puteri??"
Kembali cambuk itu berkelebat dan terdengar suara meledak-ledak di atas kepala tiga orang itu.
Dengan penuh kengerian, tiga orang laki-laki kasar yang biasanya sewenang-wenang ini menggunakan kedua lengan menutupi kepala.
"Aku tidak tahu"
Jawab Kolodumung.
"Kami kakak beradik tidak tahu, tanyalah kepada adi Sengoro ini"
Kata Kolomedo.
"Tar-tar!"
Kolodumung dan Kolomedo menjerit dan menangis tak kuat menahan rasa sakit ketika ujung cambuk itu menggigiti kulit daging muka mereka.
Endang Patibroto menghampiri Sengoro yang kini tanpa malu malu Lagi sudah berlutut dan menyembah-nyernbah.
Wajah yang cantik jelita itu kini berubah menjadi kedok, dingin dan kaku.
"Hayo kau katakan, di mana sang puteri dan bagaimana kudanya sampai kau rampas?"
"Ampun... ampunkan hamba... dewi!!"
"Tarr!"
"Aduhhh... mati aku...!"
Sengoro bergulingan karena kaitan baja itu sudah menancap di pundaknya dan kaitannya mengait urat besar di pundak! "Ampun...!!"
"Hayo bilang, benarkah dua orang ini tidak tahu menahu tentang sang puteri?"
"Be... benar..."
Endang Patibroto memandang kepada Kolodumung dan Kolomedo yang kini membayangkan kelegaan hati mendengar jawaban adik seperguruan ini.
Terbayang senyum di bibir yang berbentuk indah dan kemerahan itu, kemudian Endang Patibroto memegang pedang dan golok rampasan.
Sekali ia menggerakkan tangan, pedang dan golok meluncur bagaikan anak panah cepatnya dan...
"Cepp! Cepp!!"
Dua buah senjata itu sudah menancap di ulu hati Kolodumung dan Kolomedo sampai menembus ke dalam tanah sehingga dua orang itu tewas seketika.
Menyaksikan peristiwa mengerikan menimpa dua orang kakak seperguruannya Sengoro terbelalak ketakutan, mukanya pucat dan dengan tubuh menggigil ia menyembah-nyembah minta ampun.
"Tar-tar-tar!"
Cambuk yang mengerikan itu kembali sudah meledak-ledak di atas kepala Sengoro, membuat kepala rampok makin ketakutan.
"Hayo lekas ceritakan di mana adanya sang puteri yang kudanya kau pakai itu!"
Suara Sengoro menggigil ketika ia berkata.
"...Hamba... hamba tidak tahu, dia... sang puteri dibawa... oleh pemimpin kami hamba... mana berani...? Hanya mendapatkan kudanya..."
"Di mana dia? Di mana sang puteri dan pimpinanmu. Dibawa ke manakah?"
Dengan telunjuk menggigil Sengoro menunjuk ke belakang.
"Mungkin di... di sana... hamba tak tahu benar ke mana"
"Crattt!"
Kaitan baja di ujung cambuk itu menancap ke dalam pelipis Sengoro yang menjerit keras dan roboh berkelojotan dalam sekarat.
"Endang, siapakah mereka?"
Derap kaki kuda yang datang disusul pertanyaan suara Pangeran Panjirawit yang melihat tiga orang laki-laki menggeletak tak bernyawa di depan kaki Endang Patibroto.
Endang Patibroto menunjuk ke arah kuda tunggangan Puteri Mayagaluh dan berkata.
"Gusti puteri tertawan perampok, ini kudanya dan mereka ini adalah anak buah perampok."
"Aduh, Jagad Dewa Bathara! Di mana sekarang diajeng Mayagaluh?"
Kembali Endang Patibroto menunjuk ke arah mayat Sengoro dan berkata.
"Menurut pengakuan dia, gusti puteri berada di tangan kepala rampok yang kini masih berkeliaran di sekitar hutan ini. Mari kita mencarinya!"
Terhibur hati Pangeran Panjirawit ketika melihat sikap Endang Patibioto yang tenang.
Timbul kepercayaannya kembali bahwa sudah pasti kepala pengawal yang cantik dan gagah perkasa itu akan dapat menolong adiknya, membebaskan dari tangan kepala rampok.
"Kenapa engkau menuntun seekor kuda lain?"
Tanya pangeran itu ketika melihat Endang Patibroto meloncat ke atas punggung kuda tunggangan sang puteri sambil menuntun seekor kuda lain bekas tunggangan perampok.
"Untuk gusti puteri,"
Jawab Endang Patibroto dan membalapkan kudanya ke depan diikuti oleh Pangeran Panjirawit.
Ketika tiba di bagian yang tinggi di tanah Pegunungan Seribu, Endang Patibroto menghentikan kudanya, kemudian ia meloncat dan memanjat sebatang pohon besar sampai di puncaknya yang paling tinggi.
Dari tempat tinggi inilah ia memandang ke sekeliling dan tak lama kemudian terdengar seruannya.
"Ah, itu dia...!!"
Pangeran Panjirawit ikut berdebar hatinya mendengar suara girang ini dan begitu wanita cantik dan perkasa itu melompat turun, ia bertanya.
"Kau sudah melihat diajeng Mayagaluh?"
"Mereka di sana, naik kuda. Mari kita menghadang, kita jalan kaki saja agar penjahat itu tidak mengetahui kedatangan kita dan kabur."
Mereka meloncat turun dari atas kuda, mencancang kuda di bawah pohon, kemudian pangeran itu mengikuti Endang Patibroto menyelinap di antara pohon-pohon dan menuju ke sebelah selatan.
Tidak lama kemudian sang pangeran mendengar derap kaki kuda makin lama makin mendekat.
Endang Patibroto mengajaknya bersembunyi di belakang pohon.
Jantung pangeran itu berdegup tegang.
Endang Patibroto tenang-tenang saja, namun dara perkasa ini sudah siap untuk menerjang maju.
Akhirnya, setelah menanti dengan ketegangan hati yang makin memuncak, Pangeran Panjirawit melihat munculnya dua orang penunggang kuda dari sebuah tikungan jalan setapak dalam hutan itu.
Tidak salah lagi, seorang di antara mereka adalah Mayagaluh, adiknya.
Akan tetapi wajah adiknya yang cantik itu sama sekali tidak tampak seperti seorang tawanan, tidak menangis atau ketakutan, melainkan tersenyum-senyum manis!
Dan penunggang kuda di sebelahnya adalah seorang laki-laki yang muda belia dan amat tampan, sungguhpun pakaiannya sederhana sekali namun sungguh jauh berbeda jika dibandingkan dengan tiga orang perampok yang terbunuh oleh Endang Patibroto tadi.
Orang muda ini tidak akan lebih tua daripadanya, dan lebih pantas disebut seorang satria gunung daripada seorang perampok!
Ia menjadi ragu-ragu dan hendak memberi peringatan kepada Endang Patibroto tentang pendapatnya itu.
Namun terlambat karena pada saat itu, tubuh Endang Patibroto sudah berkelebat ke depan dan langsung dara perkasa ini bagaikan seekor harimau betina yang marah, telah melompat jauh kedepan, menerkam laki-laki penunggang kuda di samping Mayagaluh sambil mengeluarkan pekik dahsyat.
"Celaka dia...!"
Sang Pangeran Panjirawit mengeluh dan mengira bahwa laki-laki tampan itu tentu tewas seketika diserang seperti itu oleh Endang Patibroto yang sudah cukup ia kenal kedigdayaannya yang menggiriskan.
la segera melompat dan lari ke depan.
Joko Wandiro yang sedang enak-enak menunggang kuda bersama Puteri Mayagaluh dalam perjalanan mereka ke Bayuwismo di pantai Laut Selatan, tentu saja kaget setengah mati ketika tiba-tiba ada sesosok bayangan putih menyambar dan menerkamnya laksana seekor harimau.
Dan kedua tangan yang menerkamnya itu tahu-tahu telah melancarkan pukulan dengan kedua tangan yang mendatangkan angin pukulan dahsyat sekali ke arah pelipis dan ubun-ubun kepalanya!
Dari sambaran angm pukulan mi saja maklumlah Joko Wandiro bahwa siapapun juga yang menyerangnya, penyerang ini adalah seorang yang amat ganas dan kejam, akan tetapi memiliki ilmu kepandaian yang sangat tinggi dan dahsyat.
la belum dapat melihat siapa penyerangnya dan juga tidak tahu mengapa orang ini datang-datang menyerangnya sedahsyat itu, maka lapun hanya mengangkat kedua tangannya untuk menangkis sambil mengerahkan tenaga sakti Bojro Dahono ke dalam kedua tangannya.
"Dessss!!"
Hebat bukan main pertemuan dua pasang tangan di udara itu.
Joko Wandiro menggunakan Aji Bojro Dahono yang sifatnya panas dan kuat cepat bagaikan kilat menyambar.
Di lain fihak Endang Patibroto mempergunakan AJI Wisang Nolo, juga sifatnya panas sekali mengandung hawa beracun.
Baca Juga: Kisah Si Bangau Putih 14
Baca Juga: Pendekar Super Sakti 21