Ceritasilat Novel Online

Badai Laut Selatan 7

Eps 7 Badai Laut Selatan - Kho Ping Hoo

Baca online Badai Laut Selatan - Kho Ping Hoo

Cersil Badai Laut Selatan - Kho Ping Hoo.

"Ha-ha-ha! Baru tujuh belas tahun lagi! Paman Dibyo, sungguh kau lucu, akan tetapi leluconmu ini kau keluarkan tidak pada saat yang tepat. Sedangkan Ni Nogogini dan Ni Durgogini berdua yang merupakan wanita-wanita paling sakti di dunia ini, masih tidak sanggup memimpin semua barisan menghadapi Panjalu. Apalagi gadis remaja ini!"

"Huh, nenek-nenek!"

Dibyo Mamangkoro berseru mengejek."Harap paduka jangan memandang rendah murid hamba ini. Benar dia baru tujuh belas tahun usianya, akan tetapi nenek-nenek Durgogini dan Nogogini bukan tandingannya!"

"Ahhh...!!"

Para hulu-balang tidak dapat menahan seruan kaget mereka.

"Benarkah itu, paman Dibyo Mamangkoro?"

Sang prabu juga terkejut dan heran.

"Hamba tidak berkata bohong. Mohon paduka perintahkan apa saja, tentu akan dapat dilakukan murid hamba."

Sang prabu mengerutkan kening, masih meragu. Benarkah seorang wanita begini muda dapat menandingi kedigdayaan Ni Durgogini dan Ni Nogogini? Sukar dipercaya. Ia menarik napas panjang lalu berkata.

"Menjadi senopati bukanlah hal mudah, paman. Tentu saja tentang hal ini paman sendiri yang pernah menjadi senopati besar telah mengerti, bukannya aku tidak percaya kepadamu, akan tetapi melihat muridmu ini hanya seorang wanita muda, memang amatlah.sukar dipercaya kalau tidak ada buktinya. Pada saat kami menghadapi perang besar ini, hanya dua hal yang selalu membuat hatiku selalu khawatir. Pertama, adalah paman Narotama yang kini masih menjadi pertapa di lereng Gunung Bekel. Biarpuri semenjak pembagian Kerajaan, paman Narotama tidak pernah mencampuri urusan pemerintahan, namun aku tahu bahwa diam-diam ia berfihak kepada Panjalu! Sebelum dia mati, hatiku takkan merasa tenteram dan aku selalu masih ragu-ragu untuk mulai perang melawan Panjalu. Ke dua, keadaan di Panjalu kini tertutup, penuh rahasia sehingga sukarlah bagi para penyelidikku untuk mengukur kekuatan mereka. Pernah aku mengutus Ni Durgogini dan Ni Nogogini pergi menyelidik, akan tetapi hampir saja mereka berdua tertawan. Kiranya Panjalu sudah mengumpulkan banyak orang sakti."

Dibyo Mamangkoro tertawa bergelak. Suara ketawanya mengumandang di seluruh ruangan yang luas itu.

"Terbukalah kesempatan bagi murid hamba untuk memperlihatkan kepandaian. Apa yang tidak dapat dicapai oleh dua orang nenek itu, tentu akan dapat diiakukan oleh murid hamba. Eh, Endang muridku yang denok montok, muridku yang ayu manis! Engkau sudah mendengar sabda sang prabu. Beranikah engkau menyelidiki keadaan keratin Panjalu?"

Sambil mengangkat muka dan membusungkan dada Endang Patibroto menjawab.

"Mengapa tidak berani? Kapan aku harus berangkat, bapa? Dan apa yang harus kukerjakan di keraton Panjalu?"

Selagi sang prabu dan para menteri terkejut mendengar jawaban seenaknya ini, Dibyo Mamangkoro tertawa lagi saking girang dan bangga hatinya.

"Huah-ha-ha! Muridku, kau berhati-hatilah kalau berada di Kotaraja Panjalu. Jangan bertindak sembrono dan jangan sekali-kali membiarkan dirimu terkepung atau tertawan. kau selidiki keadaan di sana, sedapat mungkin kau tangkap pembicaraan antara sang prabu di Panjalu dengan menteri-menterinya, kemudian sebagai tanda kenang-kenangan kau bawa ke sini bendera pusaka yang berkibar di atas keraton Panjaiu. Sanggupkah?"

"Sanggup, dan aku berangkat sekarang juga, bapa. Hamba mohon diri, gusti!"

Belum lenyap gema suaranya, gadis remaja itu telah berkelebat secepat kilat dan tahu-tahu sudah lenyap dari ruangan itu!.

"Jagad Dewa Bathara! Bukan main muridmu itu, paman Dibyo Mamangkorol"

Sang prabu akhirnya bersabda setelah sejenak terpaku keheranan.

Juga para menteri dan hulubalang saling pandang.

Menipis keraguan mereka terhadap gadis remaja tadi, menyaksikan gerakan yang sedemikian cepat seakan-akan gadis itu pandai ilmu"menghilang"

Saja.

"Sudah hamba haturkan tadi, murid hamba takkan mengecewakan paduka. Akan tetapi, tentu saja untuk berhadapan dengan Narotama, murid hamba kalah gemblengan dan kalah pengalaman. Untuk mengatasi Narotama, hamba sendirilah yang akan maju, gusti. Perkenankan hamba mundur, karena hamba hendak langsung menuju ke Gunung Bekel dan mencari si Narotama, musuh besar hamba!"

"Apakah engkau tidak membutuhkan pasukan pengawal, paman?"

"Ha-ha-ha! Tidak perlu, gusti. Hamba sudah mempunyai pasukan sendiri, yang telah hamba beri kabar dan sekarang agaknya sudah menanti di alun-alun."

Pada saat itu, tiba-tiba terdengar lapat-lapat suara gagak. Dibyo Mamangkoro tertawa.

"Ha-ha, itulah mereka, gusti, para anak buah hamba telah menanti di alun-alun."

Semua menteri dan senopati merasa serem.

Benar-benar kakek raksasa ini seorang yang menyeramkan.

Adapun sang prabu yang merasa girang melihat datangnya bantuan seorang sakti seperti Dibyo Mamangkoro, segera berkata.

"Baiklah, paman. Berangkatlah, doaku mengiringimu dan biarlah kutunda pesta penghormatan untukmu setelah kau kembali menyelesaikan tugas."

"Huah-ha-ha Seorang panglima yang baik tidak akan bicara tentang jasa sebelum tugas terlaksana, gusti. Hamba mohon diri!"

Setelah sang prabu mengangkat tangan kanan memberi perkenan, raksasa tua itu mengundurkan diri dan melangkah lebar menlnggalkan Keraton Jenggala.

Benar saja seperti perhitungannya, di alun-alun telah menanti pembantu-pembantunya, yaitu Wirokolo, sepasang Gagak dan sepasukan orang-orang tinggi besar berjumlah tiga puluh enam orang.

"Hayo, konco, kita berangkat sekarang juga ke Gunung Bekel!"

Teriak Dibyo Mamangkoro setelah tiba di alun-alun disambut oleh Wirokolo dan sepasang Gagak.

"Gunung Bekel??"

Sepasang Gagak bertanya hamper berbareng. Agaknya Gagak Kunto dan Gagak Rudro masih teringat akan pengalaman mereka ketika menyerbu Jalatunda sehingga disebutnya gunung itu membuat mereka jerih.

"Huah-ha-ha! Sang prabu ingin agar kita lebih dulu membereskan si keparat Narotama!"

"Na... Narotama...??"

Gagak Kunto berseru kaget. Juga Gagak Rudro nampak pucat.

"Huh, kalian takut apa? Bersama kakang Dibyo Mamangkoro, iblis mana yang takkan dapat kita hancurkan?"

Bentak Wirokolo sambil melototkan mata.

Teringat akan hadirnya Dibyo Mamangkoro, sepasang Gagak timbul pula keberaniannya dan tertawa-tawalah mereka ketika rombongan ini bergerak menuju ke Gunung Bekcl.

"Sekarang ujilah Aji Bojro Dahono pada pohon itu!"

Terdengar kakek tua yang duduk bersila di atas batu kepada Joko Wandiro yang baru saja selesai berlatih di depan gurunya.

Mendengar perintah ini, Joko Wandiro mengerahkan hawa sakti, menyalurkan hawa dari pusar ke arah kedua lengannya, lalu kedua kakinya bergerak, tubuhnya diputar dan kedua lengannya dipukulkan ke depan, ke arah pohon trembesi yang besarnya sepelukan orang dan yang letaknya kurang lebih tiga meter di depannya.

"Werrrr...!!"

Tidak terjadi apa-apa pada pohon itu, akan tetapi Joko Wandiro mengeluarkan keringat pada dahinya, tanda bahwa ia telah mengerahkan tenaga.

Sehabis melakukan gerak pukulan ini, ia lalu meramkan mata dan menyalurkan pernapasan panjang untuk memulihkan tenaganya.

"Bagus! Cukup baik, kuat, dan tepat gerakannya. Muridku yang baik, kau dorong roboh pohon itu ke sebelah sana, agar jangan roboh oleh angin dan menimpa pondok kita."

Joko Wandiro menghampiri pohon trembesi yang dihantamnya dari jarak jauh tadi, lalu perlahan ia mendorong dan...

dengan amat mudahnya pohon itu tumbang.

Kiranya di sebelah dalam pohon itu sudah hangus seperti dibakar atau seperti disambar geledek!

Demikian hebat ilmu pukulan Bojro Dahono (Api Berkilat) yang telah dimiliki Jok"

Wandiro.

"Ke sinilah, angger Joko Wandiro, dan dengarlah wejanganku."

Dengan suara penuh kasih sayang, kakek yang bukan lain adalah Ki Patih Narotama yang sakti mandraguna itu memanggil Joko Wandiro.

Joko Wandiro, kini sudah menjadi seorang pemuda tampan dan gagah berusia Sembilan belas tahun, cepat menghampiri gurunya, menjatuhkan diri berlutut, menyembah dan bersila di depan kaki gurunya.

"Hamba siap menanti perintah dan petuah bapa guru yang mulia,"

Kata Joko Wandiro, sikapnya penuh hormat.

Ia amat mencinta gurunya ini yang selama bertahun-tahun telah menggemblengnya, baik dengan ilmu silat yang luar biasa, aji-aji mantera yang hebat, maupun ilmu batin dan filsafat hidup yang tinggi.

"Angger, Joko Wandiro, muridku. Setelah Bojro Dahono dapat kau lakukan dengan baik, berarti tamatlah sudah pelajaranmu. Tidak ada aji lain yang belum kuberikan kepadamu, Joko. Dan aku merasa puas melihat hasilnya. Engkau sudah menjadi seperti aku ketika masih muda. Sekarang sebelum kita saling berpisah..."

"Berpisah, bapa guru? Mengapa... mesti saling berpisah...?!"

Resi Narotama tersenyum dan terbayanglah ketampanannya yang sudah terselimut usia tua.

"Mengapa? Ha-ha-ha, pertanyaan yang selalu akan timbul dalam hati sanubari manusia. Ya, mengapa selalu ada perpisahan sebagai akhir pertemuan? Mengapa ada kematian sebagai akhir kelahiran? Mengapa ada ketidakadaan sebagai akhir keadaan? Karena memang sudah semestinya demikian, angger! Karena ada pertemuan, maka timbul perpisahan. Karena ada kelahiran, maka timbul kematian dan seterusnya. Hal ini tidak perlu engkau herankan, lebih-lebih tidak boleh kau sesalkan, Joko. Sudah banyak kuwejangkan kepadamu tentang sebab akibat. Sekarang kulanjutkan kata-kataku tadi yang terputus oleh pertanyaanmu. Kuulangi lagi, sebelum kita saling berpisah, kau jawablah lebih dulu pertanyaanku ini. Setelah bertahun-tahun engkau bersusah payah mempelajari segala macam ilmu dan kini telah tamat belajar dengan hasil memiliki ilmu, akan kau pergunakan untuk apakah ilmu yang kau pelajari dengan segala pengerahan jerih payah itu, angger?"

Joko Wandiro menundukkan mukanya, berpikir dalam-dalam sebelum menjawab.

Pertanyaan yang gawat dan pelik ini harus ia jawab dengan hati-hati, maka ia kumpulkan kembali segala wejangan yang pernah ia terima dari gurunya untuk bahan jawaban, kemudian ia menyembah dan menjawab, suaranya lantang.

"Hamba akan pergunakan segala ilmu yang hamba dapat berkat bimbingan bapa guru yang bijaksana, untuk melakukan prikebajikan, membela kebenaran dan keadilan, memberantas, menindas, dan melenyapkan kejahatan, melindungi kau m lemah tertindas, menentang mereka yang sewenang-wenang adigang-adigung-adiguna mengandalkan kepintaran, kedudukan, kekuasaan, dan kekuatan untuk bersimaharajalela meiakukan kejahatan yang menyusahkan lain orang. Semoga hamba akan selalu ingat akan hal itu seperti yang diajarkan oleh bapa guru."

Resi Narotama mengangguk-angguk.

"Benar, angger. Kalau demikian, tidak percuma kau berjerih payah selama bertahun-tahun mempelajari ilmu. Baik buruknya ilmu, bersih kotornya kepandaian yang dimiliki, tergantung daripada penggunaannya. Betapapun baik ilmu, betapa tinggi kepandaian, kalau dipergunakan untuk kejahatan, maka ilmu itupun akan menjadi ilmu jahat. Hitam putihnya ilmu tergantung daripada pemakaiannya. Ilmu merupakan alat, angger. Tiada bedanya dengan sebatang golok. Kalau golok dipergunakan untuk membabat alang-alang, menebang kayu membuat alat rumah tangga, golok itu merupakan alat berguna. Akan tetapi kalau dipergunakan untuk membacok leher manusia lain tanpa dosa, golok itu menjadi alat pembunuh keji! Oleh karena itu, bahagialah orang yang pandai mempergunakan ilmu untuk kebajikan dan terutama sekali, untuk mendatangkan manfaat bagi orang-orang Iain. Sebaliknya, kasihanlah mereka yang setelah dikaruniai ilmu lalu menjadi besar kepala, sombong dan merasa diri sendiri paling pintar, paling jagoan sehingga ia terperosok ke dalam jurang kegelapan, melakukan segala tindak maksiat dan kejahatan."

"Hamba perhatikan segala perintah bapa guru"

Jawab Joko Wandiro.

"Kulanjutkan lagi pertanyaanku sebagai ujian terakhir dan bekal bagimu, kulup Joko Wandiro. Setelah kau mengerti kegunaan ilmu yang kau pelajari itu untuk melakukan kebajikan, apakah pamrihmu dalam melakukan kebajikan? Apakah untuk membikin puas hati? Apakah dengan pamrih agar Dewata kelak memberi ganjaran kemuliaan di kahyangan? Apakah ingin agar dicinta orang, dipuja dan disebut satria budiman dan perkasa? Ataukah ingin kelak diganjar kedudukan tinggi oleh Raja? Heh, kulup Joko Wandiro, katakan kepada gurumu, apakah pamrihmu hendak mempergunakan ilmu guna kebajikan?"

"Ampun kalau jawaban hamba keliru dan mohon petunjuk, bapa guru. Sesungguhnya, kalau hamba pergunakan ilmu yang ada pada hamba untuk kebajikan, hamba tiada berpamrih apa-apa di dalam hati hamba, bapa."

"Hemm..., tidak berpamrih? Lalu, apa dasarnya? Mengapa engkau memilih kebajikan, mengapa tidak memilih sebaliknya? Ada dasarnya maka engkau hendak mempergunakan ilmu untuk perbuatan bajik, membela kebenaran dan keadilan dan sebagainya tadi?"

"Sesungguhnya memang ada dasarnya, bapa guru. Sesuai dengan segala petunjuk dan nasehat bapa, kalau hamba tidak keliru, dasarnya adalah pelaksanaan kewajiban, tidak ada dasar lain!"

Kembali Resi Narotama mengangguk-angguk dan mengelus-elus jenggot memelintir kumisnya yang penuh uban.

"Mendasarkan segala langkah di dalam hidup di atas kewajiban! Sungguh baik sekali ini, kulup. Orang yang mengenal wajib tidak mudah terperosok ke dalam jurang kenistaan. Akan tetapi engkau lupa hal yang jauh lebih penting daripada itu, angger. Seyogjanya engkau dasarkan kepada kewajiban sebagai manusia yang sadar akan kemanusiaannya, dan terutama sekali, engkau dasarkan kepada kebaktian terhadap Hyang Wisesa (Yang Maha Kuasa)!"

"Aduh..., ampunkan hamba, bapa. Hamba tidak mengucapkan karena hal itu sudah sejiwa dengan hamba, bagaikan pernapasan yang sampai tidak terasa lagi, namun tidak pernah terlupa."

"Bagus! Memang engkau tak akan salah langkah dalam hidupmu, segala perbuatanmu, segala penggunaan Ilmu yang ada padamu, engkau dasarkan sebagai korban kepada Hyang Wisesa, sebagai tanda bakti kepadaNya. Perbuatan yang disertai pamrih tidaklah bersih lagi, tidak wajar lagi. Betapapun besar pertolongan yang kau berikan kepada orang lain, namun apabila pertolongan itu kau lakukan dengan pamrih di dalam hati, betapapun kecilnya pamrih itu, maka perbuatanmu menolong itu bukan menolong lagi namanya! Itu bukan kebajikan lagi namanya, angger, karena engkau bergerak menolong orang lain, digerakkan oleh pamrih demi kepentingan diri pribadi! Pamrih boleh bermacam-macam, namun sama juga. Pamrih dipuji orang? Siapa yang dipuji? Diri sendiril Pamrih disebut satria perkasa dan budiman. Siapa yang disebut? Diri pribadil Perbuatan kebajikan yang berpamrih bukanlah kebajikan, karena andaikata pamrihnya tidak ada, tentu tidak akan terlahir kebajikan itu. seperti seorang anak kecil yang bersikap rajin dan patuh dengan pamrih agar dipuji dan diberi ganjaran. Kalau tidak akan ada pujian dan ganjaran, takkan terdorong keluar lah sikap rajin dan patuhnya! Berbeda dengan mereka yang mendasarkan langkah hidup dengan wajib dan bakti kepada Hyang Wisesa. Perbuatannya wajar, tiada dorongan demi kepentingan pribadi. Jelaskah bagimu, angger?"

"Cukup jelas, bapa."

"Sekarang kulanjutkan lagi pertanyaanku. Setelah engkau tahu akan penggunaan ilmu yang kau pelajari dan tahu pula bahwa perbuatan yang didasari pamrih itu palsu, jawablah . Apakah yang menjadi cita-citamu? Jelasnya, apakah yang menjadi keinginanmu dalam hidup di dunia ini, kulup Joko Wandiro?"

"Maaf, bapa. Apakah orang bercita-cita itu bukan berpamrih?"

"Ha-ha! Bukan, angger. Pamrih bukan cita-cita. yang dimaksud pamrih tadi adalah pamrih yang mendasarl tiap pcrbuatan manusia. Adapun cita-cita adalah tujuan hidup. Manusia sudah dikurniai akal budi dan sudah menjadi kewajiban manusia pula untuk mempegunakan akal budi itu, untuk mencari a"a yang belum diketahuinya, untuk menjenguk dan memandang masa depan, untuk bercita-cita sebagai pengisi hidupnya. Manusia berhak untuk menikmati hidup, untuk memuaskan keinginan hatinya, asal saja tidak melanggar kebajikan, tidak merugikan orang lain. Kesenangan dan kenikmatan hidup adalah anugerah Dewata yang Maha Murah, Maha Kasih. Manusia biasa, bukan pendeta yang menggayuh tingkat lebih tinggi, berhak menikmati hidup, berhak bercita-cita. Karena itu, aku bertanya kepadamu, angger. Apakah yang menjadi cita-cita hidupmu?"

Setelah berpikir sejenak, Joko Wandiro menjawab.

"Hamba bercita-cita untuk memperjuangkan kewajiban hamba sehingga lenyaplah kejahatan di dunia, sehingga hamba tidak perlu lagi mempergunakan ilmu untuk menentang kejahatan. Hamba ingin melihat dunia yang tata tenteram karta raharja, ingin hidup bersama-sama manusia lain dalam keadaan rukun, kasih-mengasihi, hormat-menghormat i, tolong-menolong, di mana tiada dengki tiada iri, tiada murka, tiada permusuhan, yang ada hanya persahabatan dan persaudaraan."

"Ha-ha-ha-ha-ha!"

Resi Narotama tertawa sampai terbahak-bahak dan ia menghapus dua butir air mata yang keluar karena tertawa itu.

"Alangkah indahnya kalau ada keadaan seperti itu di dunia, angger. Sayang seribu sayang, aku sendiri belum pernah mengalami hidup dalam dunia seperti itu indahnya. Mudah-mudahan saja engkau kclak akan mengalaminya. Akan tetapi, muridku. Cita-cita tinggal cita-cita, yang penting adalah pelaksanaan yang menjadi kewajiban. Jangan sekali-kali engkau mabok oleh cita-cita kosong, angger."

"Bagaimanakah maksud bapa? Hamba kurang mengerti."

"Cita-cita adalah harapan akan tercapainya sesuatu yang indah sebagai akibat atau hasil daripada perjuangan. Karena cita-cita adalah hasil atau akibat, oleh' karena itu takkan tercapai tanpa perjuangan, tanpa pelaksanaan. Dan karena keindahannya maka dapat memabokkan orang. Seorang yang lemah batinnya selalu menghendaki sesuatu yang indah tanpa perjuangan yang susah payah, selalu menghendaki tercapainya cita-cita dengan mudah, tidak perduli baik buruknya cara yang ditempuhnya. Namun seorang bijaksana, tidak mabok oleh cita-cita, melainkan penuh ketekunan dan keyakinan melaksanakan tugas sebagai kewajibannya. Karena cita-cita hanya akibat, maka dengan sendirinya akan datang dan tercapai apabila kewajibannya dilaksanakan. seperti halnya orang yang bercita-cita mengenyam buah manga yang harum manis dari pohon mangga yang hendak ditanamnya. Kalau ia hanya mabok dalam cita-citanya yang muluk-muluk, ia hanya akan mengenyam mangga dalam alam mimpi belaka. Sebaliknya, orang yang sadar akan kewajibannya, akan tekun menanam bibit mangga, memeliharanya baik-baik, menyiraminya setiap hari, menjaganya dari gangguan luar. Kelak hasilnya akan datang sendiri!"

Joko Wandiro mengangguk.

"Hamba mengerti sekarang, bapa."

"Setelah engkau berpisah dariku, berhati-hatilah dan waspadalah, angger. seperti kau ketahui, dunia ini penuh dengan pertentangan, iblis dan setan selalu berusaha menyeret manusia untuk melakukan kejahatan, sebaliknya para dewata bertugas menuntun manusia ke arah jalan kebajikan. Akan tetapi iblis dan setan amatlah pandai, kadang-kadang membujuk manusia sambil menyamar sebagai dewata. Kadang-kadang ia akan membujukmu melakukan sesuatu yang kelihatannya baik, namun sesungguhnya adalah kejahatan belaka. Inilah sebabnya maka timbul kebaikan-kebaikan palsu, yang pada hakekatnya hanya kejahatan yang berkedok, seperti musang berbulu ayam. Inilah sebabnya mengapa orang-orang memperebutkan kebenaran dan keadilan, Kebajikan yang diperebutkan pada hakekatnya bukanlah kebajikan lagi karena kebajikan itu sifatnya memberi, bukan meminta. Kebenaran dan keadilan bagi orang lain, barulah benar! Kebenaran dan keadilan untuk dan demi diri pribadi, masih diragukan kebersihannya!"

Hening sejenak mengikuti gema ucapan sang resi ini, seakan-akan alam sendiri termenung memikirkan dan mencari-cari makna daripada wejangan itu.

Kemudian tiba-tiba sekali terdengarlah suara parau kasar.

"Gaaaokk... gaaaoookkk...!"

Suara burung gagak!

Suara ini seakan-akan suara iblis sendiri yang menjawab wejangan-wejangan tadi, penuh ejekan.

Guru dan murid itu saling pandang, Wajah si murid berkerut tegang, akan tetapi wajah si guru tetap tenang, bahkan tersenyum.

"Agaknya para dewata sudah menghendaki, muridku, bahwa pada saat terakhir ini engkau harus menghadapi ujian berat. Pernahkah engkau mendengar suara itu?"

Joko Wandiro mengangguk, berusaha menenteramkan hatinya.

"Kalau hamba tidak keliru, mereka adalah Gagak Kembar, bapa."

"Benar, suara itu sudah kukenal baik. Gagak Kunto dan Gagak Rudro, kaki tangan Wirokolo si manusia liar. Heran, apa yang mereka kehendaki, sedangkan bertahun-tahun aku telah menjauhkan diri dari dunia ramai."

Tiba-tiba agaknya sebagai jawaban ucapan sang resi ini, terdengar ketawa terbahak-bahak, nyaring sekali sampai menggema di seluruh lereng dan memasuki telinga seperti jarum-jarum berbisa!

"Wah!

Siapa lagi itu kalau bukan Dibyo Mamangkoro?"

Resi Narotama tampak tercengang dan kaget, akan tetapi hanya sebentar karena ia segera tersenyum kembali dan wajahnya tenang-tenang saja.

"Joko, kita kedatangan orang-orang sakti yang masih belum kuketahui niatnya. Akan tetapi, mendengar suaranya, agaknya sang waktu tidak merobah watak mereka dan kalau dugaanku ini benar, berarti kita akan diserang. Akan tetapi kau hanya boleh bergerak kalau kusuruh."

Suara burung gagak makin lama makin sering dan makin dekat.

Kemudian, tampaklah pasukan terdiri dari orang-orang tinggi besar berjumlah tiga puluh enam orang itu, dipimpin oleh dua orang yang sama bentuk, sama wajah, dan sama pakaian, Yaitu Sepasang Gagak, kakak beradik kembar, Gagak Kunto dan Gagak Rudrol Setelah tiba di depan pondok, mereka segera membuat setengah lingkaran, berbaris rapi, siap dan menanti komando.

Kemudian muncullah dua orang raksasa yang dengan langkah lebar mendatangi tempat itu sambil tertawa-tawa.

Mereka itu bukan lain adalah Dibyo Mamangkoro si raksasa tua tampan dan gagah bersama adik seperguruannya, Wirokolo.

Dibyo Mamangkoro segera melangkah maju sedangkan Wirokolo berdiri di sebelah Sepasang Gagak.

Melihat Resi Narotama yang duduk bersila di atas batu, didampingi seorang pemuda tanggung yang menundukkan muka, Dibyo Mamangkoro tertawa bergelak dan mengelus-elus jenggotnya yang panjang.

"Huah-ha-ha-ha! Narotama...! Kiranya engkau masih hidup dan bersernbunyi di sini?"

Dengan sikap tenang Resi Narotama mengangkat muka memandang.

Sepasang matanya memandang dan biarpun sikapnya tenang wajahnya tidak membayangkan sesuatu, namun sepasang mata itu berkilat penuh wibawa.

Suaranya halus penuh kesabaran ketika ia berkata.

"Dibyo Mamangkoro, makin dalam orang mengenal dirinya, makin dinginlah hatinya untuk mernbiarkan diri hanyut oleh gelombang nafsu. Tiada yang lebih baik daripada diam dan tenang di dunia ini, Mamangkoro. Engkau datang mengganggu ketenanganku, mempunyai kehendak bagaimanakah?"

Kembali raksasa tua itu tertawa bergelak.

"Narotama, kita sudah sama-sama tua sekarang, agaknya tidak patut kalau kita harus bertanding yuda seperti belasan tahun yang lalu. Tentu kita akan ditertawai kanak-kanak kalau masih berkelahi. Dengarlah, aku diutus sang prabu di Jenggala untuk memanggil engkau menghadap ke keraton Jenggala sekarang juga."

"Hemmm! Sudah bertahun-tahun aku Narotama bertapa di gunung ini, tidak mengganggu orang lain, juga tidak ingin diganggu. Antara Jenggala dan Narotama tidak ada urusan sesuatu, Dibyo Mamangkoro, tidak ada sangkut-pautnya, maka terpaksa aku tidak dapat memenuhi permintaanmu ini."

"Heh-heh, ingatlah Narotama! Engkau adalah Patih Kahuripan. Bukankah ia junjunganmu juga? Mengapa kau membangkang?"

"Memang dahulu aku Patih Kahuripan, akan tetapi sekarang bukan Patih lagi, melainkan Resi Narotama. Antara Resi Narotama dan Kerajaan Jenggaia sungguh tidak ada urusan apa-apa."

"Jadi kau kukuh tidak akan mau ikut bersamaku ke Jenggala?"

"Sekarang tidak, besokpun tidak, Mamangkoro."

"Heh, si sombong Narotama! Tahukah engkau bahwa aku telah diberi purbawa sesa (mandat penuh) oleh sang prabu? Tahukah kau bahwa kalau aku tidak dapat membawamu bersamaku ke Jenggala, aku harus membawa kepalamu?"

Narotama tersenyum dan kilat sinar matanya makin terang.

"Apakah itu berarti bahwa engkau hendak memenggal leherku dan membawa kepalaku ke Jenggala, Dibyo Mamangkoro?"

"Benar begitu, Narotama."

"Kalau begitu silahkan, hendak kulihat apakah engkau mampu memanggal leherku!"

"Engkau menantang, si keparat??"

"Aku hanya mengiringi kehendakmu, selaras gending yang kau minta, melayani segala sepak-terjang dan tandang-tandukmu, Mamangkoro."

"Babo-babo, si keparat Narotamal Engkau terlalu memandang rendah Dibyo Mamangkoro! Dibyo Mamangkoro sekarang tidak sama dengan Dibyo Mamangkoro belasan tahun yang lalu, Narotama!"

Narotama menggeleng kepala.

"Aku tidak melihat sedikitpun perubahan dalam dirimu, Mamangkoro. Masih menjadi abdi angkara murka seperti dahulu juga!"

"Ijinkanlah hamba berdua memberi hajaran kepada mulut kakek sombong ini, kakang senopati!"

Gagak Kunto dan Gagak Rudro sudah melompat maju dengan senjata di tangan.

Gagak Kunto memegang tombak pusaka sedangkan Gagak Rudro memegang ruyungnya.

Mereka berdua adalah anak buah Dibyo Mamangkoro dan sampai waktu itupun mereka masih menyebut kakang senopati kepada Dibyo Mamangkoro.

Tentu saja keduanya cukup maklum akan kesaktian Narotama yang menggiriskan, akan tetapi karena di situ hadir Wirokolo dan terutama Dibyo Mamangkoro, mereka berdua tentu saja ingin menonjolkan jasa, dan keberanian merekapun meningkat.

Dibyo Mamangkoro tertawa.

"Heh-heh, boleh-boleh! Biar kulihat bagaimana sepak terjang Narotama sekarang."

Akan tetapi pada saat itu, Joko Wandiro sudah berlutut di depan gurunya dan menyembah, berkata memohon.

"Bapa guru, hamba harap bapa suka mengabulkan hamba mewakili bapa memberi hajaran kepada orang-orang kasar ini. Kiranya tidak perlu bapa yang sudah sepuh mengotorkan tangan melayani orang-orang jahat ini."

Narotama mengangguk.

"Majulah, Joko. Lawan mereka dan jangan ragu-ragu untuk memberi hajaran keras. Membasmi mereka seperti membersihkan bumi daripada abdi-abdi iblis yang kejam. Akan tetapi berhati-hatilah, angger."

Dengan hati girang Joko Wandiro melompat bangun menghadapi Sepasang Gagak yang sudah siap dengan sikap menantang itu.

"Bukankah kalian ini Gagak Kunto dan Gagak Rudro yang pada lima tahun lalu telah dirobohkan secara mudah oleh eyang Resi Bhargowo? Dan sekarang kalian masih berani berlagak di sini? Sungguh kalian orang-orang bermuka tebal dan tidak tahu malu, orang-orang bebal yang tidak juga hendak insyaf dan sadar kcmbali ke jalan benar."

"Bocah bermulut besar! Siapakah kau, hayo mengaku agar jangan mampus tanpa nama!"

Bentak Gagak Kunto.

"Namaku Joko Wandiro."

"Keluarkan senjatamu, keparat!"

Gagak Rudro membentak sambil memutar-mutar ruyung di atas kepalanya.

Joko Wandiro teringat akan jawaban Resi Bhargowo lima tahun yang lalu ketika menghadapi Sepasang Gagak ini, yang menyatakan bahwa senjatanya adalah kebenaran, maka ia tersenyum dan menjawab.

"Senjataku adalah kebenaran. Majulah kalian dengan senjata kalian, akan kuhadapi dengan tangan kosong!"

"Babo-babo si keparat! Ujudmu kecil, sumbarmu sebesar gunung anakan! kau sendiri yang mencari mati, bukan kami yang tak tahu diri melawan bocah!"

Bentak Gagak Kunto makin marah.

"Ah,bukankah pemuda ini bocah yang dahulu berani kurang ajar ketika kita menyerbu Jalatunda?"

Teriak Gagak Rudro.

Mereka kini mengenal Joko Wandiro dan hal ini menambah kemarahan mereka.

la segera menerjang maju dengan langkah lebar dan menyerang Joko Wandiro dengan hantaman ruyungnya ke arah kepala.

Serangan ini disusul oleh Gagak Kunto yang sudah menusukkan tombak ke arah dada pemuda itu.

Dua serangan susul-menyusul yang amat berbahaya!

Namun Joko Wandiro bersikap tenang.

Dahulu ketika ia melihat Resi Bhargowo diserang oleh dua orang ra ksasa liar ini, ia menganggap kakek itu terlalu tenang dan kurang cepat bergerak.

Akan tetapi sekarang setelah digembleng oleh Resi Narotama, mengertilah Joko Wandiro mengapa kakek itu demikian tenang.

Kiranya untuk menghadapi lawan yang gerakannya buas memang amat dibutuhkan ketenangan, makin tenang makin mudahlah untuk mengikuti gerakan lawan.

Kini, menghadapi terjangan dua orang lawannya ini, Joko Wandiro hanya menggeser kakinya, menggerakkan kedua lengan dan hanya dengan langkah kecil disertai kebutan lengan yang membuat tubuhnya miring ke sana ke mari, dua serangan itu dapat ia elakkan secara amat mudah.

Gagak Kunto berseru keras dan kini ia menusukkan lagi tombaknya ke arah perut setelah tadi tombaknya mengenai tempat kosong...

Gerakan ini disusul oleh hantaman ruyung Gagak Rudro yang mengarah tengkuk.

Melihat datangnya tombak lebih cepat, Joko Wandiro miringkan tubuh ke kanan, lengan kirinya menangkis dari bawah, tepat mengenai leher tombak yang mencelat atau menyeleweng ke atas.

"Taangggg!!"

Tombak yang ditangkis dan terpental ke atas itu tepat sekali bertemu dengan ruyung sehinga seakan-akan Gagak Kunto mewakili Joko Wandiro menangkis serangan ruyung.

"Keparat!!"

Gagak Kunto marah sekali, kini ia sudah memutar tombaknya setengah lingkaran dan tiba-tiba tubuhnya merendah, tombaknya diayun menyabet ke arah kaki Joko Wandiro.

Gagak Kunto menggunakan jurus ini yang dilakukan secara tak tersangka-sangka, dengan maksud mengagetkan lawannya yang muda dan lincah itu, agar meloncat ke atas untuk dipapak ruyung saudaranya.

Gagak Rudro maklum akan hal ini, maka ruyungnya sudah menggigil di tangan, siap menghantam kepala Joko Wandiro kalau orang muda itu mengelak sambil meloncat.

Namun Joko Wandiro yang sikapnya amat tenang dapat melihat semua ini dan ia tidak mengelak.

Dengan gerakan yang amat berani, ia mengangkat kaki kiri ke atas, kemudian begitu tombak menyambar dekat, ia menurunkan kakinya secepat kilat sehingga tahu-tahu tombak itu telah terinjak olehnya, digencet di atas tanah sambil mengerahkan aji yang membuat tubuhnya seberat gunung anakan!

Kagetlah Gagak Kunto, ia berusaha membetot tombaknya, namun sia-sia, seakan-akan tombaknya telah berakar di bawah injakan kaki Joko Wandiro yang memandang sambil bertolak pinggang.

Gagak Kunto terengah-engah, mengerahkan tenaga sehingga mengeluarkan suara ah-ah-uhuh membetot-betot.

Melihat hal ini Gagak Rudro lalu menerjang dari belakang, memukulkan ruyungnya sambil menge rahkan semua tenaganya.

Biarpun Joko Wandiro tidak melihat serangan ini, namun telinganya dapat menangkap sambaran angin.

Ia sengaja berlaku lambat, menanti sampai ruyung itu menyambar dekat, baru ia secara tiba-tiba melepaskan injakan kakinya pada tombak dan dengan Aji Bayu Tantra, yaitu ilmu mer ingankan tubuh yang amat hebat sehingga tubuhnya lenyap dari situ tak dapat diikuti pandang mata kedua lawannya.

Tentu saja tubuh Gagak Rudro terperosok ke depan terbawa ruyungnya yang menyambar terus, lalu menghantam tanah dan ia terjungkal mencium tanah.

Sebaliknya Gagak Kunto yang sedang membetot-betot Itu, tiba-tiba terjengkang ke belakang setelah injakan dilepas.

Dua orang itu bergulingan, mengalami babak-belur.

Perlu diketahui bahwa sebelum Joko Wandiro digembleng di Gunung Bekel, ia telah belajar ilmu meringankan tubuh Bayu Tantra dari Pujo, kemudian disempurnakan oleh Resi Bhargowo.

Setelah ia berlatih di Gunung Bekel, kepandaiannya meningkat hebat,karena ilmu meringankan tubuh itu lebih disempurnakan lagi ketika ia menerima hadiah Aji Bayu Sakti dari Empu Bharodo.

Tidak mengherankan apabila gerakannya menghindar tadi sedemikian cepatnya sehingga tidak tampak oleh kedua orang lawannya.

Sepasang Gagak sudah melompat bangun.

Muka mereka merah sekali karena marah dan malu.

Dalam gebrakan ke dua, mereka telah dibikin jatuh bangun oleh pemuda itu tanpa si pemuda membalas serangan, benarbenar merupakan hal yang amat memalukan.

Begitu melompat bangun, mereka sudah mengeluarkan senjata-senjata rahasia mereka yang terkenal.

Kedua orang Gagak ini selain terkenai akan ilmu silat mereka, juga terkenal sebagai ahli-ahli meng gunakan senjata rahasia.

Gagak Kunto memiliki senjata rahasia berupa tombak-tombak kecil sepanjang dua jengkal yang ujungnya kebiruan karena direndam racun.

Adapun Gagak Rudro terkenal dengan senjata rahasia Watu Lintang (Batu Bintang), merupakan batu-batu sebesar kepalan tangan, juga batu-batu ini sudah direndam wiso (racun) ular sehingga kulit lawan yang terserempet sedikit saja sampai lecet, tentu akan mendatangkan bahaya maut.

Kini Sepasang Gagak itu memutar tubuh, melihat Joko Wandiro berdiri tidak jauh, hanya dalam jarak empat lima meter, mereka lalu menggerakkan tangan menyerang dengan sambitan.

"Sing-sing-singggg...!"

Tiga batang tombak kecil menyambar laksana anak panah terlepas dari gendewa, amat cepat, ke arah sepasang mata dan tenggorokan.

"Wer-wer-werrr..."

Juga Watu Lintang terbang dari tangan Gagak Rudro, menyambar ke arah kepala, dada, dan pusar.

Joko Wandiro tidak pernah mendapat latihan mempergunakan senjata rahasia.

Semua gurunya adalah satria-satria perkasa yang tidak sudi mempergunakan siasat curang dalam pertandingan untuk mencari kemenangan.

Ia tidak dapat menggunakan senjata rahasia.

Akan tetapi oleh karena tingkat kepandaiannya sudah amat tinggi sehingga semua panca inderanya bekerja sempurna, pemuda ini dapat melihat jelas terbangnya tombak-tombak kecil itu.

Cepat ia miringkan tubuh atas sambil menggerakkan tangan dengan jari-jari terbuka.

Tombak yang mengarah tenggorokannya, lewat dekat lehernya dan terbang entah ke mana.

Akan tetapi dua batang tombak kecil yang tadinya mengarah sepasang matanya kini telah terjepit di antara jari tengah dan telunjuk kedua tangannya!.

(Lanjut ke

Jilid 24) Badai Laut Selatan (Seri ke 03 Serial Serial Keris Pusaka Sang Megatantra) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo

Jilid 24 Pada saat itu, tiga buah Watu Lintang sudah menyambar pula.

Joko Wandiro mengenjot tanah, tubuhn"a rnencelat ke atas dan tiga buah.

Watu Lintang itu lewat di bawah kakiriya.

Kelika la berjungkir balik turun, kedua tangannya bergerak dan dua batang tombak kecil rampasan tadi kini melayang ke arah Gagak Kunto dan Gagak Rudro.

Joko Wandiro tidak biasa mempergunakan senjata ini, maka kini dua batang tombak kecil itu yang ia lemparkan tidak rneluncur seperti anak panah, melainkan berputaran, namun amat cepat menerjang lawan seperti dua baling-baling angin!

Gagak Kunto dan Gagak Kudro, dua orang ahli dalam permainan ini, tentu saja dapat cepat menghindarkan diri.

Mereka sejenak terlongong kagum dan mulailah mereka merasa jerih terhadap pemuda yang benar-benar sakti mandraguna itu.

Joko Wandiro yang sudah turun ke atas tanah, kini menudingkan telunjuknya ke arah mereka sambil berkata.

"Gagak Kunto dan Gagak Rudro! Belum terlambat bagi kalian untuk sadar dan insyaf. Mundurlah dan rubahlah jalan hidupmu, bertaubat dan hidup sebagai manusia baik-baik. Mundurlah sebelum terlambat!"

Sepasang Gagak ini dalah bekas perwira perwira Kerajaan Wengker.

Hidup mereka sudah penuh dengan kejahatan, berlepotan darah tangan tangan mereka.

Mereka tidak mengenal hukum lain kecuali sia"a kuat dia menang.

Hukum rimba yang mengakibatkan mereka menjadi buas dan pengecut, menindas bawahan menjilat atasan.

Tentu saja peringatan seorang muda seperti Joko Wandiro sama sekali tidak meninggalkan kesan di hati mereka, bahkan membangkitkan kemarahan karena merasa dihina.

Sambil mengeluarkan suara seperti burung-burung gagak marah, keduanya sudah menerjang maju lagi.

Kini mereka telah mengeluarkan semua aji, dan sedikit llmu hitam yang mereka miliki membuat wajah mereka tampak beringas menakutkan, ada getaran hawa dingin menyeramkan menyerang Joko Wandiro dan sekeliling dua orang itu tampak awan gelap menyelimuti mereka.

Aka"

Tetapi, semenjak digembleng oleh Resi Narotama, permainan ilmu hitam itu sama sekali tidak ada artinya bagi Joko Wandiro.

Sekali dia membaca mentera singkat memperkuat batin dan kedua tangannya mengebut ke depan, lenyaplah hawa dingin dan awan gelap itu.

Saat itu, Gagak Kunto dan Gagak Rudro sudah menyerbu ke depan sambil mengayun senjata mereka.

Sikap mereka ganas sekali, liar dan buas, tidak seperti manusia lagi.

Joko Wandiro menarik napas panjang.

Tubuhnya tidak beralih dari tempatnya, hanya kedua tangannya yang menyambut, bergerak dengan jari-jari terbuka.

Begitu kedua senjata lawan itu menyambar, ia memapaki dengan tamparan-tamparan jari tangannya yang menggunakan Aji Pethit Nogo.

"Krakkk...! Krakkk...!!"

Gagak Kunto dan Gagak Rudro berteriak kaget, akan tetapi teriakan mereka segera disusul lengking tinggi yang merupakan jerit maut.

Ketika tadi tamparan-tamparan Pethit Nogo berhasil mematahkan kedua senjata lawan, Joko Wandiro melanjutkan tamparannya dua kali yang dapat menyambar pelipis Gagak Kunto dan tengkuk Gagak Rudro.

Kelihatannya perlahan saja tamparan itu, namun akibatnya hebat bukan main.

Sepasang Gagak Itu mengeluarkan pekik maut, tubuh mereka berputar putar seperti disambar halilintar, mata mereka terbelalak dan agaknya dalam ingatan terakhir, mereka hendak melarikan diri ke arah pasukan mereka, akan tetapi di depan Wirokolo, mereka jatuh tersungkur, tertelungkup dan tidak bergerak-gerak lagi karena nyawa mereka telah melayang pergi!

"Bojleng-bojleng iblis laknat!"

Wirokolo memaki dan menggereng-gereng saking marahnya menyaksikan kedua orang pembantunya yang setia itu tewas.

"Joko Wandiro bocah keparat! kau harus mengganti nyawa mereka!"

Serta-merta raksasa tinggi besar ini menerjang maju dengan gerakan kilat.

Pukulan tangannya mengandung hawa panas Aji Anolo Hasto (Tangan Berapi) dan tampak betapa kedua telapak tangannya kemerahan mengeluarkan asap!

Lima tahun yang lalu, di Jalatunda, pernah Joko Wandiro menerjang Wirokolo dengan sepasang goloknya, akan tetapi hantaman goloknya tidak melukai tubuh yang kebal itu, sebaliknya sekali ia kena ditampar, ia roboh pingsan.

Joko Wandiro cukup maklum akan kesaktian raksasa ini yang menggiriskan, bahkan Resi Bhargowo bersama Empu Bharodo yang mengeroyok raksasa inipun tidak dapat menang!

Raksasa ini sakti mandraguna dan ahli ilmu hitam.

Ular yang melilit leher, pergelangan tangan dan kaki sungguh mengerikan, juga amat berbahaya karena setiap saat ular-ular itu dapat membantu Wirokolo menyerang lawan dengan semburan atau gigitan berbisa.

Inilah sebabnya maka Joko Wandiro sama sekali tidak berani memandang rendah lawannya, sejak tadi sudah siap sedia dengan penuh kewaspadaan.

Gemblengan Resi Narotama membuat Joko Wandiro menjadi seorang pemuda yang tidak sombong, berhati-hati dan tabah.

Juga filsafat kebatinan yang berdasarkan sari pelajaran Sri Bathara Wishnu yang dipuja oleh mendiang Sang Prabu Airlangga dan juga oleh Resi Narotama, telah mendalam di sanubarinya.

Oleh karena itu pula, tadi ketika dalam pertandingan melawan Sepasang Gagak, ia berhasil membunuh mereka, tidak terjadi sesuatu di hatinya, tenang saja.

Ia tidak merasa membunuh yaitu menurut faham dia dan pelajarannya, ia tidak mempunyai hasrat membunuh, tidak pula membenci lawan-lawannya.

Kematian kedua lawannya adalah wajar, sebagai akibat daripada pelaksanaan kewajibannya.

Kewajiban seorang satria harus menantang segala bentuk kejahatan.

Betapapun juga, karena pemuda gemblengan Ini kurang pengalaman dalam pertempuran, maka gebrakan pertama dalam menghadapi Wirokolo hampir mencelakainya.

Melihat terjangaan Wirokolo sedemikian hebatnya, amat cepat dan mengandung hawa panas pula, Joko Wandiro cepat mengerahkan hawa sakti di tangannya, menggeser kaki kiri ke bala kang sehingga tubuhnya miring dan darl samping tangan kirinya menangkis pukulan lawan yang dahsyat itu.

"Desss...!!"

Joko Wandiro merasa betapa tubuhnya didorong tenaga mujijat yang amat kuat dan tak mungkin ia tahan lagi.

Kalau ia mempertahankan kedudukan kedua kakinya, ada bahayanya ia akan terjengkang atau setidaknya akan terhuyung-huyung.

Oleh karena inilah, ia malah mengerahkan Aji Bayu Saktl, membuat tubuhnya ringan dan membiarkan tubuhnya mencelat ke belakang sampal lima meter jauhnya.

Akan tetapi ia terlempar dalam keadaan berdiri, tanpa mengubah sedikitpun kedudukan kuda-kuda kakinya dan dengan ringan bagaikan sehelai daun kering ia turun pula ke atas tanah.

Wajahnya tetap biasa, lengannya yang beradu dengan lawan tidak terasa sakit.

Namun diam-diam ia harus mengakui bahwa lawannya mempunyai tenaga yang mujijat dan amat kuat.

Karena hawa sakti di tubuhnya lebih murni daripada lawan, maka untuk pertahanan di dalam tubuh ia tidak akan kalah oleh lawan.

Akan tetapi mengenai tenaga luar, tenaga otot yang kasar, ia kalah jauh!

Mengertilah ia bahwa tindakannya menangkis tadi keliru, namun membuat ia dapat mengukur tenaga sendiri dan dapat berlaku lebih hati-hati.

Di lain fihak, Wirokolo sejenak berdiri seperti tertegun, terheran-heran dan juga kagum dan penasaran menjadi satu.

Pertemuan lengan tadi menginsafkannya bahwa pemuda itu sungguh bukan merupakan lawan yang ringan!

Dapat menangkis tangannya yang mengandung Aji Anolo Hasto sepenuhnya, tanpa mengalami cedera, bahkan sekaligus dapat mengatasi kekalahan tenaga kasar dengan loncatan ke belakang sebagus itu, benar-benar menjadi bukti bahwa hawa sakti pemuda itu amat kuat, tidak berada di bawah tingkatnya sendiri.

Ia mengeluarkan pekik dahsyat sambil menerjang maju lagi mengerahkan semua ajinya.

Dalam keadaan seperti itu, Wirokolo amat menggiriskan.

Lima ekor ular yang melilit leher dan kaki tangannya, bergerak kepalanya, mendesis-desis dan lidahnya yang merah menjilat-jilat keluar dari mulut, Wirokolo sama sekali tidak berani mengeluarkan Aji Calon Arang atau ilmu hitamnya yang lain mengingat bahwa di situ ada Narotama yang tentu akan datang membuyarkan ilmu hitamnya dengan mudah.

Pula penggunaan ilmu hitam kalau menemui lawan yang lebih tangguh amatlah berbahaya karena ilmu itu bisa membalik dan memukul diri sendiri.

Betapapun juga, karena Aji Calon Arang sudah mendarah daging padanya, ketika ia menjadi marah, tampaklah bayangan nenek iblis yang mengerikan di belakangnya.

Mendengar pekik dahsyat dan melihat keadaan Wirokolo dan nenek iblis membayang di belakangnya itu, tergetar juga hati Joko Wandiro.

Pemuda ini cepat-cepat menggosok kedua telapak tangannya tiga kali sambil membaca mantera Widodo Mantera.

Begitu bibirnya mengucapkan Widodo Mantera, seketika bayangan iblis betina itu lenyap atau tidak tertampak lagi olehnya, dan Wirokolo juga tidak tampak menakutkan lagi.

Adapun kedua telapak tangannya setelah ia gosok tiga kali, menjadi panas dan mengeluarkan cahaya.

Menghadapi lawan setangguh Wirokolo, Joko Wandiro tidak berani memandang rendah maka ia sudah mengeluarkan Aji Bojro Dahono yang tadi ia latih dan coba pada batang pohon!

"Hyyaaaahhh...

mampus kau...!!'"

Bentakan ini mengiringi serangan Wirokolo yang sudah menubruk maju dengan pukulan kedua tangan saling susul, ke arah kepala dan dada Joko Wandiro.

"Wuuuttt... wuuuttt...!"

Joko Wandiro sudah menggunakan Aji Bayu Sakti dan dengan gerakan lincah sekali ia mengelak, akan tetapi elakan yang sama sekali tidak menjauhkan diri, bahkan gerakan mengelak ke samping dengan tubuh setengah melingkar ini membuat ia mendekati lawan, kemudian ia langsung mengirim pukulan balasan.

Karena ia tadi bergerak mengelak dengan Aji Bayu Sakti, maka untuk mengimbangi aji ini, ia melanjutkan serangan dengan pukulan Pethit Nogo, yaitu dengan jari-jari tangan dikipatkan.

Memang lebih mudah menggunakan pukulan Pethit Nogo dengan kebutan jari-jari tangan dalam kedudukan tubuh melengkung seperti itu.

Kembali Wirokolo terkejut.

Tidak disangkanya lawannya yang masih muda ini dapat mengelak secara demikian anehnya, mengelaknya sambil mendekat dan balas menyerang.

Demikian cepat gerakan Joko Wandiro sehingga tahu-tahu jari-jari tangan pemuda itu sudah mengancam pelipisnya, bagian yang paling lemah di kepala.

"Celaka...!!"

Wirokolo berteriak sambil membuang tubuhnya ke belakang.

Dari sambaran angin pukulan Pethit Nogo itu saja ia maklum bahwa amatlah berbahaya mengandalkan kekebalannya untuk menerima tamparan macam itu dengan pelipis kepalanya!

"Tasss!"

Oleh elakan ini, pelipis luput tertampar, akan tetapi sebagai gantinya, pundak dekat leber raksasa itu terkena jepretan jari-jari tangan yang ampuh.

Wirokolo terhuyung-huyung.

Tubuhnya kebal dan kuat luar biasa.

Kalau pukulan Pethit Nogo ini mengenai pundak sebelah luar saja tak mungkin ia sampai terhuyung.

Akan tetapi karena kenanya dekat leher, terasa juga olehnya.

Pandang matanya sampai berkunang!

"Bocah setan!

Awas kau Kalau tertangkap olehku, kubeset kulitmu, kuganyang dagingmu, kuhisap darahmu dan kukemah-kemah tulangmul"

Wirokolo mengancam dengan muka merah seperti udang direbus.

Biarpun ancamannya menunjukkan kemarahan luar biasa dan kini ia menerjang lagi dengan buas, namun Wirokolo tidak sembrono seperti tadi, maklum bahwa lawannya biar masih muda akan tetapi amat kuat.

Ia menerjang dengan hati-hati sehingga ketika Joko Wandiro mengelak lalu balas memukul, ia dapat pula menangkis.

Terjadilah pertandingan yang seru dan hebat.

Pukulan dan gerakan Wirokolo mendatangkan angin berpusing, tenaganya yang dahsyat membuat bumi yang diinjaknya tergetar, angin pukulan tangannya membuat tetumbuhan di sekitar tempat itu bergoyang-goyang.

Namun sukar sekali baginya untuk dapat menyentuh Joko Wandiro karena pemuda ini memillki gerakan yang lebih gesit.

Sebaliknya, hujan serangan lawan yang buas dan dahsyat itu membuat Joko Wandiro sukar sekali untuk membalas dengan serangan yang seimbang karena ia maklum akan bahayanya pukulan tangan lawan yang ampuh.

Ia selalu menghindar atau kalau menangkispun hanya berani ia lakukan dalam keadaan posisi tubuh menang kuat, itupun dengan cara mendorong dari samping.

Tidak mau ia menempatkan diri dalam bahaya dengan cara menangkis langsung mengadu tenaga.

Akan tetapi, sikapnya yang amat berhati-hati ini membuat ia sukar sekali dapat merobohkan lawan.

Balasan serangannya yang hanya kadang-kadang itu ada kalanya berhasil menyentuh tubuh lawan.

Akan tetapi karena kenanya tidak tepat, tubuh Wirokolo yang kebal seakan-akan tidak merasa apa-apa!

Pertandingan sudah berlangsung sejam lebih, namun belum tampak siapa yang akan menang.

Melihat ini, diam-diam Dibyo Mamangkoro terkejut bukan main.

Ia tahu akan kesaktian adik seperguruannya, yang tidak kalah jauh olehnya sendiri.

Bagaimana kini adik seperguruannya itu tidak mampu mengalahkan seorang pemuda?

Timbul kekhawatiran di dalam hatinya.

Tadinya ia mengira bahwa di dalam dunia ini, orang muda satu-satunya yang memiliki ilmu kesaktian tinggi hanyalah muridnya.

Siapa kira, pemuda inipun hebat.

Kalau tidak dibunuh sekarang, kelak tentu merupakan tandingan berat bagi Endang Patibroto.

Pemuda ini tidak banyak selisih tingkatnya dengan Wirokolo, hanya menang cepat.

Kalau pertandingan itu dilanjutkan, belum dapat dipastikan siapa yang akan menang, akan tetapi sudah jelas akan makan waktu lama sekali.

Keadaan mereka berimbang, maka kalau Wirokolo dibantu sedikit saja, pemuda itu tentu akan dapat dirobohkan.

Lebih baik pasukan dikerahkan untuk membantu Wirokolo, sedangkan Narotama sendiri kalau turun tangan, dialah yang akan menanggulanginya!

"Apa kerja kalian?

Hanya menonton saja?

Hayo serbu bocah setan itu!"

Tiba-tiba Dibyo Mamangkoro berseru.

Pasukan terdiri dari tiga puluh enam orang itu terkejut.

Tadi mereka tertegun dan terpesona menyaksikan pertandingan yang demikian hebatnya.

Karena kepala pasukan, Sepasang Gagak sudah roboh dan tewas oleh pemuda itu dan kini bahkan Wirokolo sendiri sampai sekian lamanya belum mampu mengalahkannya, pasukan itu menonton dengan hati berdebar, tidak berani bergerak kalau tidak diperintah, maklum akan hebatnya kepandaian Joko Wandiro.

Akan tetapi kini mendengar bentakan Dibyo Mamangkoro, mereka segera bergerak, mencabut senjata masing-masing dan mendekat medan pertandingan.

Melihat ini, tiba-tiba Narotama meloncat dari atas batu tempat ia bersila, mengerahkan Aji Dirodo Meto dan terdengarlah pekik melengking dahsyat sekali yang seakan-akan menimbulkan gempa bumi hebat dan angin taufan mengamuk!

Aji Dirodo Meto (Gajah Mengamuk) merupakan aji kewibawaan yang berdasarkan pekik dahsyat sekali seakan-akan pekik seekor gajah jantan yang sedang marah.

Mendengar pekik dahsyat ini tiga puluh enam orang itu seketika seperti lumpuh, jantung serasa copot, tubuh menggigil dan muka pucat.

Ketlka mereka menengok dan memandang ke arah Narotama yang berdirl tegak, pandang mata mereka seakan-akan melihat seekor gajah raksasa yang mengancam.

Tanpa dapat dicegah lagi, tiga puluh enam orang itu memaksa kaki mereka yang dengkelen (menggigil sukar digerakkan) untuk lari tunggang langgang meninggalkan tempat itu.

Bahkan Wirokolo sendiri merasa betapa jantungnya tergetar hebat dan ketika ia mengerahkan hawa sakti untuk menahan pengaruh pekik meiengking, ia merasa kelelahan.

Bukan main marahnya Dibyo Mamangkoro.

Ia sendiri memiliki ilmu yang sangat tinggi sehingga Aji Dirodo Meto yang dahsyat itu dapat ia lawan dengan pengerahan hawa sakti.

"Si keparat Narotama! kau curang!!"

Bentaknya.

"Hemm, Dibyo Mamangkoro, siapa yang curang? Engkau yang mengerahkan balamu hendak mengeroyok muridku ataukah aku yang menghalangi pengeroyokan curang itu? Sudah kukatakan tadi, aku siap melayani segala tingkahmu!"

"Babo-babo, Narotama! Kalau begitu kita harus mengadu nyawa! Sambutlah!!"

Setelah berkata demikian, Dibyo Mamangkoro menggerakkan tangan kanannya, diputar-putar dan tubuhnya agak merendah, kemudian dengan tangan terkepal ia memukul ke depan, ke arah Narotama.

Inilah pukulan maut yang bernama Aji Wisangnala!

Namanya saja sudah menyebutkan keampuhannya, yaitu Api Berbisa!

Kalau dilakukan dari jarak jauh, angin pukulannya yang membawa hawa panas beracun dapat merobohkari dan menewaskan lawan tangguh.

Apalagi kalau sampai mengenai kulit lawan, sukar dibayangkan akibatnya.

Terlalu ngeri!

Namun Narotama yang cukup mengenal kesaktian lawannya ini, sudah siap sedia.

Dua puluh tahun yang lalu, dalam perang menundukkan Kerajaan Wengker, la sudah pernah bertanding yuda melawan Dibyo Mamangkoro.

Dalam pertandingan mati-matian yang memakan waktu sampai dua hari dua malam, setelah mengeluarkan semua aji dan kesaktian, barulah ia berhasil mengalahkan Dibyo Mamangkoro yang lalu melarikan diri!

Kini melihat betapa begitu menyerang, Dibyo Mamangkoro menggunakan aji pukulan maut yang demikian ganas dan dahsyatnya, ia terkejut dan maklum bahwa benar-benar raksasa Wengker itu hendak mengadu nyawa dan tidak ingin bertempur berlambat-lambatan seperti dahulu lagi.

Serangan Itu adalah serangan maut dan akibatnya hanyalah dua, kalah atau menang!

Ia cukup maklum bahwa untuk pukulan macam itu, pukulan yang sedemikian hebatnya sehingga kepalan tangan raksasa itu mengeluarkan sinar, tidak dapat dielakkan tanpa merugikan dirinya.

Oleh karena itu iapun lalu mengerahkan tenaga memutar tubuhnya dan berseru keras sambil mengangkat tangan kiri ke atas kepala dari belakang tubuh, sedangkan tangan kanannya dikepal dan dlpukulkan ke depan, menyambut hawa pukulan Dibyo Mamangkoro.

"Syuuuuttt!!"

Dua hawa sakti yang sama-sama ampuh dan mengandung hawa panas bertemu di udara dengan hebatnya.

seperti Dibyo Mamangkoro yang menggunakan Aji Wisangnala, Narotama juga mengerahkan Aji Bojro Dahono yang mengandung hawa panas yang keluar dari sumbernya di pusar.

Biarpun kedua kepalan tangan itu masih terpisah satu depa lebih jauhnya satu kepada yang lain, namun pertemuan kedua hawa sakti Itu menimbulkan cahaya bagaikan api ber kilat.

Dahsyat sekali pertemuan tenaga sakti ini.

Resi Narotama masih tetap kedudukan kakinya, akan tetapi ia terdorong ke belakang sampai setombak lebih, kedua kakinya yang masih tetap memasang kuda-kuda itu menggurat tanah sampai sejengkal dalamnyal Wajahnya pucat keningnya berkerut dahinya berkeringat.

Adapun Dibyo Mamangkoro juga terhuyung ke belakang, tampaknya ia tertawa mengejek, akan tetapi matanya merah sekali, berbeda dengan mukanya yang memperlihatkan bayangan kehijauan.

Ia masih tertawa ketika melompat maju lagi dan kembali ia melakukan pukulan seperti tadi bahkan kini dibarengi dengan suaranya yang parau berteriak seperti srigala marah.

Narotama juga melakukan gerakan menyambut seperti tadi, melayani lawan tangguh itu sambil berteriak keras pula.

"Wessss!!!"

Akibat pertemuan dahsyat tenaga sakti mereka untuk yang kedua kalinya ini, Resi Narotama jatuh bertekuk lutut, tubuhnya agak menggigil dan keringat di dahi makin banyak.

Akan tetapi Dibyo Mamangkoro mencelat ke belakang, melakukan gerak jungkir balik tiga kali dan akhirnya dapat ia menguasai keseimbangan tubuhnya sehingga tidak roboh terguling.

Matanya yang tadi merah itu kini makin merah sehingga seperti berubah hitam, mulutnya masih tertawa menyeringai akan tetapi di ujung bibirnya tampak sedikit darah!

"Belum puaskah engkau...?"

Narotama berkata, suaranya halus agak terengah.

"Huah-hah-hahl Mampuslah...!"

Dibyo Mamangkoro kembali melakukan pukulan ke tiga, lebih hebat karena agaknya ia mengerahkan seluruh tenaganya.

Narotama yang sudah bangkit berdiri kembali menyambut seperti tadi, juga bekas Patih Kahuripan yang sakti ini mengerahkan seluruh tenaga terakhir, maklum sepenuhnya bahwa ia mempertahankan nyawanya dalam gempuran tenaga sakti ini.

"Desss werrrrr...!!!!"

Kini akibatnya lebih hebat lagi daripada dua pukulan pertama.

Bukan saja karena pukulan ke tiga ini mereka lakukan dengan pengerahan tenaga sepenuhnya, juga karena tubuh mereka sudah lelah dan lemah oleh benturan dua kali tadi.

Resi Narotama mengeluh perlahan, tubuhnya terhuyung-huyung ke belakang lalu ia jatuh terduduk di atas tanah, napasnya terengah-engah mukanya pucat.

Adapun Dibyo Mamangkoro terpental dan roboh miring di atas tanah, lalu bergulingan menjauhkan diri lalu lenyap dari situ, hanya suara ketawanya saja yang terdengar bergema sampai di tempat itu, suara ketawa yang aneh karena bercampur rintihan.

Sementara itu, pertandingan antara Wirokolo dan Joko Wandiro juga berkesudahan amat hebat.

Wirokolo yang merasa amat penasaran belum juga dapat merobohkan lawannya yang muda, menerjang makin dahsyat.

Akan tetapi ketika tadi Resi Narotama mengeluarkan aji pekik melengking dahsyat Dirodo Meto, jantungnya tergetar hebat sekali.

Sejenak matanya berkunang dan jantungnya berdebar-debar.

Hanya dengan pengerahan tenaga dalam sekuatnya saja ia mampu menahan.

Akan tetapi, serangan pekik mujijat Resi Narotama yang sebetulnya tidak langsung ditujukan kepadanya ini membuat tenaga dalamnya banyak berkurang.

Namun, Wirokolo yang berwatak sombong dan terlalu bangga akan kesaktian sendiri ini tidak sadar akan hal ini.

Ketika itu Joko Wandiro yang juga ingin mengakhiri pertandingan karena melihat gurunya sudah menghadapi Dibyo Mamangkoro yang amat sakti, telah mengirim pukulannya yang paling ampuh, yaitu Bojro Dahono.

Pukulannya dilakukan dengan kepalan tangan kiri yang meluncur ke arah dada Wirokolo.

Tadi sebelum musuh-musuh datang, pemuda ini sudah mendemonstrasikan kepandaiannya ini dan dengan Aji Bojro Dahono telah membuat sebatang pohon menjadi hangus sebelah dalamnya!

Tentu saja Wirokolo juga merasa akan datangnya hawa panas mujijat.yang mengiringi pukulan anak muda itu.

Akan tetapi karena ia terlalu mengandalkan ajinya Anolo Hasto, melihat datangnya pukulan tangan kiri ini, ia menjadi girang dan segera menyambut dengan telapak tangan kanannya yang lebar dan besar.

Begitu kepalan tangan kiri Joko Wandiro tiba, Wirokolo menerimanya dengan telapak tangan kanan dan menggenggamnya.

Kepalan tangan yang kecil itu lenyap dalam genggaman tangan kanannya yang penuh dengan Aji Anolo Hasto sehingga kepalan tangan Joko Wandiro seakan-akan masuk dan terjepit ke dalam tungku api membara!

Melihat ini, Joko Wandiro memukul lagi, kini dengan tangan kanannya, juga tetap menggunakan Aji Bojro Dahono.

Melihat kenekadan pemuda ini, Wirokolo tertawa terbahak-bahak dan menggunakan tangan kirinya menyambut pukulan ke dua dan di lain saat kembali kepalan tangan kanan Joko Wandiro lenyap dalam genggaman tangan kiri Wirokoio!

Sambil mengerahkan kekuatannya untuk menghancurkan kedua kepalan tangan Joko Wandiro dalam genggaman tangannya, Wirokolo tertawa bergelak.

Akan tetapi tiba-tiba suara ketawanya terhenti, matanya terbelalak, mukanya pucat sekali dan bagaikan disambar petir, tubuhnya mencelat ke belakang, kedua tangannya yang tadi menggenggam kepalan tangan Joko Wandiro kini mencengkeram dadanya sendiri, kemudian ia mengeluarkan jerit mengerikan dan sambil mencengkeram dadanya Wirokolo membalikkan tubuh, lari terhuyung-huyung dan membabi buta sehingga tanpa disadarinya ia lari ke arah jurang.

Ketika tubuhnya terjungkal ke dalam jurang, kembali ia memekik nyaring.

Kemudian sunyi.

Wirokolo salah hitung, terlalu memandang rendah lawan atau terlalu membanggakan diri sendiri sehingga ia lalai dan ketika menggenggam kedua kepalan pemuda tadi, ia hanya ingin menghancurkan kepalan dengan remasan tenaga kasar.

Siapa kira, dari kepalan Joko Wandiro tersalur hawa sakti Bojro Dahono (Kilat Api) sehingga karena Wirokolo tidak mengerahkan hawa saktinya, maka ia terserang aji itu yang membuat isi dadanya seperti disambar petir!

Andaikata ia tidak terjungkal ke dalam jurang yang membuat tubuhnya hancur, juga ia akan tewas oleh Bojro Dahono yang ampuhnya menggiriskan itu.

Joko Wandiro memandang kedua tangannya.

Punggung tangannya kebiruan dan membengkak.

Untung tulang-tulang tangannya tidak sampai remuk.

Bukan main hebatnya Wirokolo.

Kemudian ia teringat gurunya, menoleh.

Dilihatnya Resi Narotama duduk bersila di atas tanah, wajahnya pucat, napasnya memburu, dari ujung kanan kiri bibirnya keluar darah!

"Bapa guru!"

Joko Wandiro lari nienghampiri lalu berlutut di depannya. Resi Narotama membuka mata, lalu dengan gerakan lemah menghapus darah di kedua ujung bibirnya.

"Sungguh mengagumkan Dibyo Mamangkoro..."

Ia menghela napas panjang.

"Tapi, bukankah tadi dia kalah dan lari, bapa!!"

Narotama menggeleng kepala.

"Ia jerih terhadap aku, akan tetapi sesungguhnya, dia hebat. Kalau dia tidak jerih dan tadi melanjutkan, belum tentu aku akan menang. Hemmm..."

Resi Narotama mengerutkan kening, jelas menahan rasa nyeri hebat, tangannya meraba dada.

"Bapa terluka..."

Resi Narotama mengangguk.

"Joko, muridku. Kini tibalah waktunya kita saling berpisah. kau harus meninggalkan tempat ini"

"Akan tetapi, bapa. Hamba yang bertahun-tahun menerima petunjuk bapa guru, bagaimana sekarang dapat berlaku sekeji itu? Hamba melihat bapa sedang menderita luka dan perlu perawatan, bagaimana hamba tega untuk meninggalkan bapa? Tidak, hamba mohon agar diperkenankan tinggal di sini, merawat bapa guru sampai sembuh."

"Tidak, muridku. Perawatanmu takkan menolong tubuhku. kau tidak bisa tinggal di sini, karena aku sendiripun akan meninggalkan tempat ini. Tidak guna kau bertanya ke mana aku hendak pergi."

Narotama tersenyum, lalu berkata lagi.

"Sudah kuceritakan padamu bahwa aku sudah berjanji kepada mendiang Sang Prabu Airlangga bahwa aku tidak akan mencampuri urusan Kerajaan kedua orang puteranya. Akan tetapi, melihat betapa Kerajaan Jenggala sudah mempergunakan tenaga orang-orang seperti Dibyo Mamangkoro, kurasa tidaklah adil kalau fihak Kerajaan Panjalu tidak menerima bantuan pula. Engkau pergilah ke Panjalu, menghadap sang prabu di Panjalu dan mohon diterima suwita (berhamba) di sana. Aku sekali-kali tidak menganjurkanmu untuk mencari kedudukan, muridku, hanya engkau harus sadar akan kewajibanmu menentang kejahatan. Dan menurut wawasanku, setelah Kerajaan Jenggala mempergunakan Dibyo Mamangkoro, kewajibanmulah untuk menentang mereka."

"Hamba akan rnentaati perintah bapa.Akan tetapi... bilakah hamba diperkenankan menghadap bapa lagi? Dimana?"

Resi Narotama menggeleng kepala sambil tersenyum.

"Dasar orang muda, nafsu perasaan masih tebal menyelimuti kesadaran. Pergunakanlah kesadaranmu. Lupakah kau bahwa sebetulnya tidak ada kesusahan seperti juga tidak ada kesenangan? Sadarlah dan kembalilah kepada kepribadianmu yang berpegang kepada kewajiban hidup berdasarkan kebaktian. Nah, engkau berangkatlah sekarang, muridku dan kau terimalah Ki Megantoro ini, kuberikan kepadamu."

Sambil berlutut dan menyembah Joko Wandiro menerima keris pusaka gurunya, Ki Megantoro, keris eluk tujuh yang ampuh dan puluhan tahun menjadi sahabat setia Resi Narotama.

Kemudian pergilah Joko Wandiro menuruni lereng Gunung Bekel, diikuti doa restu dan pandang mata penuh kasih gurunya Sang Resi Narotama.

* * * Wajah sang prabu di Kerajaan Panjalu kelihatan muram.

Demikian pula para senopati dan hulubalang yang menghadap di persidangan, tampak muram dan gelisah.

Peristiwa sebulan yang lalu masih saja membekas di hati mereka.

Sang prabu berikut semua senopati merasa terhina.

Sang prabu selalu marah-marah kepada para pengawal yang dianggapnya tiada guna.

Bayangkan saja!

Pada suatu malam, kurang lebih sebulan yang lalu, dua orang kepala pengawal tahu-tahu tewas tanpa kepala!

Kepala mereka lenyap bersama dengan bendera pusaka yang berkibar di puncak istana!

Tidak seorangpun tahu siapa yang melakukan hal yang menggemparkan itu.

Seakan-akan iblis sendiri yang sudah turun tangan mendatangkan bencana dan meramalkan mala petaka hebat di Kerajaan Panjalu!

Bahkan para menteri dan para pendeta yang dimintai nasehat, tidak seorangpun dapat menduga siapa gerangan pelaku perbuatan dahsyat itu.

Dan pada pagi hari itu, persidangan terganggu oleh datangnya seorang pemuda gunung yang menghadap sang nata untuk mohon diterima menjadi ponggawa keraton!

Seorang pemuda tampan dan berpakaian sederhana yang kelihatan pendiam dan pemalu.

Ketika pemuda itu berlutut di depan sang Prabu yang memandang dengan wajah muram, para ponggawa saling berbisik.

"Untuk apa pemuda lemah ini?"

Demikian bisik mereka.

"Kita membutuhkan seorang sakti mandraguna untuk menandingi maling haguna, bukan seorang bocah dusun!"

"Untuk kacung kandang kudapun masih belum memenuhi syarat!"

Bisik yang lain.

"Berani mampus, bocah desa berani mengotori lantai persidangan menghadap sang prabu. Tentu beliau akan marah!"

Kata yang lain.

Akan tetapi ketika sang prabu menggerakkan kepala mengangkat muka untuk memandang ke arah mereka yang kasak-kusuk itu, semua suara lenyap dan semua orang duduk bersila dengan anteng seperti area.

Sang prabu lalu menunduk dan kembali memandang kepada pemuda yang masih bersila di depannya itu.

"Siapa namamu tadi? Ruangan ini seperti pasar sehingga kami tidak begitu mendengar keteranganmu!"

Sabda sang prabu yang semenjak peristiwa memalukan itu menjadi seorang pemarah.

"Hamba Joko Wandiro, gusti,"

Kata pemuda itu dengan suaranya yang lantang dan sikapnya yang tenang, menundukkan muka.

"Engkau mohon akan menghambakan diri di sini?"

"Betul seperti sabda paduka, gusti."

"Hemmm, engkau bocah dari mana, Joko Wandiro?"

"Hamba hidup sebatangkara, gusti, tiada ayah-bunda, tiada tempat tinggal. Hamba laksana sehelai daun kering tertiup angin, melayang ke mana saja menurutkan arah angin."

"Joko Wandiro! Engkau minta bekerja di sini. Bekerja apakah, dan apa yang dapat kau lakukan?"

"Bekerja apa saja hamba sanggup melakukan, gusti. Hamba menyediakan jiwa raga hamba untuk melakukan tugas yang paduka perintahkan."

Sang prabu mengeluarkan suara mengejek.

"Huh, semua orang sebelum diterima bekerja, memberi janji muluk-muluk setinggi langit. Setelah diberi tugas, tidak seorangpun becus memegangnya. Begini banyak perajurlt dan pengawal, seperti tidak ada manusia saja!"

Semua senopati dan hulubalang tertunduk mendengar ini, maklum bahwa kembali sang prabu teringat akan peristiwa sebulan yang lalu.

"Kaupun agaknya hanya pandai berjanji seperti yang lain-lain, Joko Wandiro"

"Hamba siap untuk diuji bila perlu, gusti."

"Engkau berani menghadapi musuh? Melawan maling haguna yang sakti?"

Sejenak Joko Wandiro tertegun, tidak mengerti apa yang dimaksudkan Raja itu.

Akan tetapi ketika melirik ke kanan kiri untuk minta keterangan dari para penghadap, ia melihat bahwa mereka itu memandang kepadanya dengan sinar mata mencemooh, ia segera menyembah.

"Hamba tidak akan mundur, demi menjunjung titah paduka."

Kembali Joko Wandiro melirik ke kanan kiri karena telinganya yang tajam terlatih itu mendengar suara tawa tertahan, suara penuh ejekan yang merupakan dengus dari hidung.

Ia.

maklum bahwa mereka itu diam-diam memandang rendah kepadanya dan menganggap jawaban tadi seperti sebuah lelucon belaka.

Akan tetapi sang prabu, putera mendiang Prabu Airlangga, sedikitnya mewarisi ketajaman mata dan kcwaspadaan ayahnya.

Sang prabu melihat sesuatu pada diri pemuda itu, sesuatu yang tidak tampak oleh mata orang biasa.

Sang prabu mengerti bahwa pemuda ini bukan pemuda gunung biasa dan bahwa semua ucapannya tadi keluar dari lubuk hati.

"Hemm, Joko Wandiro. Kesanggupan dan kesetiaan saja tanpa kepandaian, takkan ada gunanya. jika sewaktu-waktu Kerajaan kedatangan musuh yang tangguh, beranikah engkau menghadapi dan melawannya?"

"Hamba berani asal mendapat titah paduka."

"Murid siapakah engkau?"

Joko Wandiro sudah mendapat pesan dari Resi Narotama agar jangan menyebut nama kakek itu, apalagi di depan sang prabu di Panjalu.

"Hamba murid seorang pertapa yang tidak mau disebut namanya, gusti Kepandaian hamba tidak ada artinya, akan tetapi dengan kebulatan tekad dan dengan berkah paduka, kiranya hamba akan dapat melaksanakan tugas yang paduka titahkan kepada hamba."

Girang hati sang prabu mendengar kesanggupan ini.

Agak jernih wajahnya.

Pemuda ini boleh diharapkan, sungguhpun masih amat disangsikan kepandaiannya.

Kelihatannya hanya seorang pemuda sederhana, sederhana lahir batinnya.

Pada saat itu, terdengar suara rlbut-ribut di luar dan dua orang yang berpakaian prajurit menyerbu masuk, muka mereka pucat sekali dan serta-merta mereka menjatuhkan diri berlutut di depan anak tangga ruangan persidangan itu.

Dengan tubuh menggigil mereka menyembah kepada sang prabu.

Para senopati dan hulubalang melempar pandang marah kepada dua orang perajurit ini yang dianggap mengganggu.

"Heh, bocah perajurit! Mengapa kalian berani lancang menghadap dan mengganggu persidangan?"

Sang prabu menegur sambil mengerutkan keningnya.

"Mohon diberi ampun, gusti. Hamba berdua berani menghadap tanpa diperintah karena terpaksa, hamba... hamba..."

Dua orang itu tergagap-gagap ketakutan.

"Apakah kalian Ini sudah bosan hidup? Keparat! Hayo bikin laporan yang betul di hadapan gusti prabu!"

Bentak Ki Patih yang sejak tadi sudah memandang dengan mata melotot.

"Kalau tidak, kuhancurkan kepala kalian!"

Melihat sikap Patih ini, kedua orang perajurit menjadi makin bingung dan gugup.

"Hamba... ham..."

Mereka menelan ludah berkali-kali, akan tetapi tetap saja tidak dapat melanjutkan katanya karena leher serasa tercekik. Ki Patih makin marah dan sudah hendak bangkit untuk memberi hajaran.

"Patih Suroyudo, biarkan mereka tenang dan memberi laporan yang betul. Heh, bocah perajurit. Jangan takut dan ceritakan, apa yang terjadi?"

Kata sang prabu.

"Ampun, gusti. Di alun-alun ada dua orang musuh melakukan amuk. Banyak sudah para perajurit dan perwira yang tewas. Mereka berdua amat digdaya dan menyebar maut di antara perajurit. Sepak terjang mereka seperti iblis betina..."

"Apa? Dua orang wanita?"

Sang prabu memotong heran.

"Betul seperti sabda paduka. Dua orang pengamuk itu adalah wanita-wanita cantik."

"Siapa nama mereka?"

Sang prabu memotong.

"Mereka mengaku bernama Ni Nogogini dan Ni Durgogini, gusti.-..."

"Patih Suroyuda, kiranya dua orang iblis itu yang datang lagi mengacau! Bawa pasukan dan kerahkan senopati, tangkap mereka!"

"Paduka jangan khawatir. Hamba akan menangkap mereka!"

Jawab Patih Suroyuda yang segera pamit keluar diikuti para senopati dan hulubalang.

Karena sedang pusing menghadapi banyak kekacauan, sang prabu meninggalkan ruangan itu, lupa kepada Joko Wandiro yang masih duduk bersila.

Setelah semua orang pergi, barulah Joko Wandiro sadar bahwa ia ditinggalkan begitu saja.

Selagi ia bingung, seorang pengawal membentaknya.

"Heh bocah gunung! Mau apa lagi di sini? Hayo keluar!"

"Tapi...! tapi... hamba ingin menghambakan diri kepada sang prabu..."

"Bocah seperti engkau ini mau bekerja apa di sini? Tidak tahukah engkau betapa sang prabu sedang duka? Engkau tidak diterima, tahu? Hayo pergi keluar!"

Joko Wandiro mendongkol sekali, akan tetapi ia menekan perasaannya dan bersikap sabar.

Setelah menarik napas panjang ia lalu keluar dari tempat itu.

Diam-diam ia berpikir, andaikata ia mengaku sebagai murid Resi Narotama yang dahulu merupakan seorang Patih junjungan di Kahuripan, agaknya tidak akan begini sikap sang prabu dan para pengawal.

Setelah ia tiba di luar istana, ia melihat keadaan kacau dan geger, terutama sekali di alun-alun.

Tampak para perajurit berlarian ke sana ke mari membawa tombak.

Ada pula perajurit-perajurit yang mengangkut temantemannya yang terluka atau yang telah tewas.

Teringatlah Joko Wandiro akan pelaporan dua orang perajurit tadi.

Di alun-alun ada dua orang wanita mengamuk, dua orang wanita musuh.

Karena adanya pelaporan tentang mengamuknya dua orang wanita inilah sang prabu lalu membubarkan persidangan dan meninggalkannya.

Karena gara-gara dua orang wanita itulah maka ia sampai dilupakan begitu saja sehingga ia ditegur dan diusir pengawal.

Joko Wandiro membelokkan kakinya berjalan ke arah alun-alun.

Ingin ia melihat siapa gerangan dua orang wanita yang demikian digdaya, berani melawan dan merobohkan para perajurit dan pengawal.

Dari jauh sudah kelihatan betapa di tengah alun-alun terjadi pertandingan hebat.

Joko Wandiro mempercepat langkahnya dan ketika ia tiba di tempat pertempuran, ia memandang.dengan kaget dan heran.

Benar saja laporan tadi.

Di situ terdapat dua orang wanita yang mengamuk.

Dua orang wanita yang cantik-cantik, mengamuk dengan kaki tangan tanpa senjata.

Akan tetapi gerakan mereka hebat sehingga para perajurit yang mengeroyok dan bersenjata itu tidak mampu mendesak mereka.

Bahkan Patih Suroyudo sendiri bersama beberapa orang senopati yang tadi memandangnya penuh ejekan, kini berdiri dengan senjata di tangan dan ikut menyerang.

Namun dua orang wanita itu benar-benar hebat dan gesit gerakan mereka.

Hanya Ki Patih dan senopati yang baru keluar dari istana saja yang tidak roboh oleh sambaran tangan kedua orang wanita itu.

Para perajurit biasa, baru terkena sambaran hawa pukulan saja sudah jatuh tunggang-langgang!

Sepasang mata Joko Wandiro yang berpemandangan awas itu melihat hawa yang kotor dari ilmu hitam.

Juga kedua wanita itu memiliki wajah cantik yang tidak sewajarnya, dengan kilatan sepasang mata genit dan cabul.

Sekali pandang saja Joko Wandiro tahu bahwa dua orang wanita ini bukanlah orang baik-baik.

Diam-diam ia menduga-duga siapa gerangan kedua orang wanita itu.

Joko Wandiro memang belum pernah bertemu dengan dua orang wanita ini yang bukan lain adalah Ni Durgogini dan Ni Nogogini.

Mengapa kedua orang wanita sakti ini datang ke Panjalu dan mengamuk di alun-alun?

Hal ini ada hubungannya dengan perbuatan Endang Patibroto.

Telah kita ketahui betapa Endang Patibroto diajak gurunya, Dibyo Mamangkoro untuk menghadap sang prabu di Jenggala dan di sana kepandaiannya diuji oleh sang prabu.

Gadis remaja ini disuruh menyelidiki keadaan di Panjalu dan mencuri bendera pusaka yang berkibar di puncak istana!

Gadis remaja yang sakti itu segera berangkat menuju Kerajaan Panjalu dan dengan kepandaiannya yang tinggi, malam hari itu ia berhasil menyelundup ke pekarangan belakang istana.

Dengan cara melompat ke atas genteng istana seperti seekor kucing Candramawa, ia berhasil mencuri bendera pusaka yang sedang berkibar di atas puncak istana tertiup angin malam.

Ketika ia melompat turun, Endang Patibroto bertemu dengan dua orang perwira pengawal yang segera menerjang Untuk menangkapnya.

Akan tetapi dengan mudah Endang Patibroto merobohkan mereka, menggunakan golok mereka memenggal leher keduanya dan menjambak rambut dua buah kepala itu dibawa kembali ke Jenggala untuk bukti bahwa tugasnya telah terlaksana dengan baik!

Tentu saja hal ini menggemparkan Jenggala.

Sang prabu di Jenggaia merasa kaget, heran dan juga girang sekali.

Tanpa menanti kembalinya Dibyo Mamangkoro lagi, sang prabu lalu mengangkat Endang Patibroto sebagai kepala pengawal istana!

Semua senopati di Jenggala membicarakan hal ini dengan penuh kekaguman, memuji-muji Endang Patibroto setinggi langit, padahal mereka itu seorangpun tidak ada yang pernah menyaksikan dengan mata kepala sendiri akan kesaktian gadis remaja itu.

Sudah lajim di dunia ini semenjak jaman dahulu sampai sekarang, setiap ada orang mencapai kemuliaan, sudah tentu ada orang lain yang merasa iri hati dan dengki.

Hal ini tidak terluput pada diri Endang Patibroto.

Banyak di antara para senopati dan orang-orang sakti yang menghambakan diri di Jenggala merasa iri hati.

Masih untung bagi Endang Patibroto bahwa dia adalah murid Dibyo Mamangkoro.

Nama gurunya Ini cukup mengerikan sehingga mereka yang merasa iri hati merasa ragu-ragu dan takut untuk mcngganggu murid Dibyo Mamangkoro.

Mereka tidak takut terhadap Endang Patibroto yang mereka buktikan kesaktiannya, akan tetapi tak seorangpun di antara mereka yang tidak gentar menghadapi Dibyo Mamangkoro.

Di antara mereka yang merasa iri hati kepada Endang Patibroto, juga termasuk mereka yang terkenal sebagai orang-orang sakti yang membantu Kerajaan Jenggaia, yaitu tokoh-tokoh yang sudah lama kita kenal dan yang sejak Sang Prabu Jenggala masih menjadi Pangeran Anom dahulu telah pula membantunya.

Mereka ini adalah Cekel Aksomolo, Ki Warok Gendroyono, Ki Krendoyakso, Ni Durgogini dan Ni Nogogini.

Sebelum Dibyo Mamangkoro dan muridnya, bersama pengikutnya Wirokolo, Sepasang Gagak dan anak buahnya datang ke Jenggaia, mereka adalah orang-orang terhormat yang dianggap sebagai pembantu-pembantu utama.

Kini menyaksikan betapa murid Dibyo Mamangkoro seorang diri sanggup menyerbu Panjalu, berhasil mencuri bendera pusaka, tentu saja mereka merasa kedudukan mereka terancam.

Apalagi setelah mendengar betapa sang prabu amat menghormat dan menyambut Endang Patibroto penuh kcgembiraan, memberi gadis remaja itu kedudukan tinggi di dalam istana sebagai kepala semua pengawal pribadi sang prabu, mereka menjadi makin tidak enak.

Sudah tentu saja yang merasa paling iri dan tidak enak di antara mereka, adalah Ni Durgogini dan Ni Nogogini.

Bukan hanya karena Endang Patibroto hanyalah seorang gadis remaja, akan tetapi terutama sekali karena mereka berdua pernah berusaha mcncuri bendera pusaka itu dan gagal!.

Usaha Endang Patibroto yang berhasil baik itu merupakan tamparan bagi mereka berdua, maka untuk "Menebus kekalahan"

Dan menebus muka, mereka berdua lalu pergi menyerbu ke Panjalu dan melakukan pengamukan di alunalun!

Tentu saja perbuatan mereka ini hanya terdorong hati panas dan untuk mengangkat kembali nama mereka yang jatuh oleh persaingan Endang Patibroto.

Mereka berdua, betapapun saktinya, maklum bahwa hanya tenaga mereka berdua saja tidak mungkin dapat melawan perajurit dan pengawal Panjalu yang ribuan orang banyaknya.

Merekapun bukan bermaksud untuk menaklukkan Panjalu hanya dengan tenaga mereka berdua, melainkan hanya untuk mengamuk, kemudian kalau kewalahan akan melarikan diri, kembali ke Jenggala dengan perasaan bangga.

Tentu saja sang prabu di Jenggala akan mendengar hal ini dan akan menghargai mereka.

Demikianlah, ketika Joko Wandiro yang keluar dari istana Kerajaan Panjalu dengan hati mendongkol menonton keributan di alun-alun, ia melihat dua orang wanita cantik itu tengah mengamuk.

Pasukan perajurit Panjalu sama sekali bukan lawan kedua orang wanita sakti ini, seperti mentimun melawan durian saja.

Kalau saja perasaan hatinya tidak terpukul oleh penolakan yang dilakukan terhadap dirinya di dalam istana, tentu Joko Wandiro sudah menyerbu dan menghadapi dua orang wanita yang berhawa jahat itu.

Akan tetapi karena hatinya masih mendongkol, ia kini hanya duduk di pinggiran, di atas akar pohon waringin yang tumbuh di pinggir alun-alun, menongkrong dan menonton pertandingan.

"Minggir! Biarkan kami menangkap iblis-iblis betina ini!"

Tiba-tiba terdengar bentakan.

Para perajurit pengeroyok yang memang sejak tadi sudah gentar sekali, girang mendengar bentakan ini dan cepat-cepat mereka mundur sambil menarik pergi teman-teman yang menggeletak terluka.

Joko Wandiro kini terpaksa berdiri agar dapat menonton lebih jelas karena mundurnya para perajurit itu menjadi penghalang bagi penglihatannya.

Ia melihat betapa yang melompat maju adalah dua orang senopati yang tadi ikut menghadap sang prabu.

Dua orang senopati yang tadi berbisik-bisik ketika ia menghadap.

Mereka itu tampak kuat dan sinar mata mereka membayangkan bahwa sedikit banyak mereka memiliki aji kesaktian.

"He, tahan dulu! Dua orang perempuan setan dari mana berani rnernbikin kacau di Panjalu? Mengakulah sebelum kami turun tangan membunuhmu!"

Teriak seorang di antara mereka berdua yang kumisnya sekepal sebelah.

"Bukankah kalian ini yang pernah mengacau pada waktu malam hari beberapa bulan yang lalu?"

Ni Durgogini dan Ni Nogogini berdiri tegak sambil bertolak pinggang.

Mereka tampak gagah dan cantik sekali.

Benar hebat dua orang wanita ini.

Ni Durgogini yang dahulu pernah menjadi selir terkasih Ki Patih Narotama dan bernama Lasmini adalah seorang wanita yang usianya sudah lima puluh enam tahun, akan tetapi masih tampak muda dan cantik jelita seperti wanita berusia dua puluh enam tahun saja!

Demikian pula Ni Nogogini, dahulu bekas selir Sang Prabu Airlangga dan bernama Mandari, usianyapun hanya dua tahun lebih muda daripada Lasmini, akan tetapi juga masih amat muda dan cantik jelita.

Semua ini adalah berkat khasiat obat Suket-sungsang, semacam rumput laut yang amat sukar didapat, ditambah dengan ilmu hitam mereka.

Ketika Ni Durgogini tertawa, giginya putih indah ber kilat.

"Hi-hik, orang-orang Panjalu! Ketahuilah, aku bernama Durgogini dan ini adikku Ni Nogogini. Beberapa bulan yang lalu kami menyerbu dan kalian sudah merasakan hajaran kami. Hayo, orang Panjalu, keluarkan semua jagomu dan lawanlah kami, dua orang kepercayaan sang prabu di Jenggaia!"

"Ehh, kalian ini dua ekor tikus, lebih baik mundur saja. Suruh senopati yang paling sakti maju. yang kalian andalkan hanya kumis tebal saja, huhhh, menjijikkan!"

Ni Nogogini berkata, kemudian dua orang wanita itu tertawa-tawa geli.

Melihat lagak dua orang wanita itu, dua orang senopati muda menjadi tertarik hatinya.

Mereka berdua ini sama sekali tidak tahu bahwa saat itu, Ni Durgogini dan Ni Nogogini telah mengerahkan aji pengasihan Guno Asmoro sehingga dalam pandang mata dua orang senopati itu mereka yang tersenyum-senyum tampak makin cantik jelita seperti dua orang bidadari yang baru turun dari kahyangan!

Lebih celaka lagi, mereka berdua adalah laki-laki yang tak dapat menahan nafsu berahi kalau berhadapan dengan wanita cantik.

Maka seketika lenyaplah kemarahan mereka, lenyap nafsu mereka untuk menangkap atau membunuh dua orang wanita musuh yang membikin kacau itu.

Si kumis tebal mendengar ucapan Ni Nogogini yang menyinggung kumisnya, merasa seperti dipuji, mengira bahwa Ni Nogogini jatuh hati kepadanya.

Ia lalu melangkah maju dan dengan cengar-cengir memasang aksi, mengelus-elus dan memilin-milin kumisnya, ia berkata.

"Duhai yayi dewi nan ayu rupawan melebihi bidadari! Sayang nian apabila yayi dewi nan cantik jelita menerima hukuman mati. Lebih baik menyerahlah saja, dewi. Menyerahlah kepada kakanda Diroprono, heh Ni Nogogini. Kakanda yang akan mohon kepada gusti prabu agar adinda diampuni dan menjadi isteri kakanda!"

Bagaikan orang mabok senopati Diroprono merayu-rayu Ni Nogogini yang tersenyum makin manis.

"Hi-hik!"

Ni Nogogini tertawa genit sambil menutupi mulutnya dengan tangan kiri."Engkau ingin memperisteri aku?

Diroprono, namamu cukup gagah dan aku suka kepadamu.

Akan tetapi..., kumismu itu lho yang nggilani (menjijikkan).

Asal kau cukur kelimis dulu kumismu, baru aku mau mempertimbangkan pinanganmu!"

"Heh...? Kumisku dicukur kelimis? Bagaimana ini? Kumisku bagus seperti kumis Raden Gatotkaca kok disuruh buang? Apa kau tidak kecewa nanti, manis? Tapi biarlah, asal engkau yang mencukurnya, aku rela berkorban kumis!"

Setelah berkata demikian, senopati Diroprono melangkah maju seperti orang mabok, mendekatkan mukanya pada Ni Nogogini.

Melihat betapa lawannya ini sudah terjatuh ke dalam pengaruh aji pengasihan, Ni Nogogini sambil tertawa lalu menggerakkan tangan mencengkeram ke depan dan sekali renggut saja kumis yang tebal itu telah dicabutnya dari atas bibir.

"Aduhhh...!"

Diroprono mencengkeram bibir atasnya yang robek dan berdarah.

Akan tetapi pada saat itu, sebuah tendangan susulan yang dilakukan Ni Nogogini sambil tertawa terkekeh membuat tubuhnya terlempar.

Adapun senopati muda yang ke dua, seperti Diroprono, telah mabok oleh kekuasaan aji pengasihan itu dan seketika tubuhnya menjadi lemas, lenyap semua semangat hendak bertandirg dan tanpa disadari lagi ia sudah menjatuhkan diri berlutut hendak memeluk kaki Ni Durgogini!

Tentu saja iapun menjadi makanan empuk bagi wanita sakti itu.

yang sekali pukul telah berhasil membuat senopati muda itu terjungkal tak dapat bangkit kembali.

Joko Wandiro yang menyaksikan semua itu menjadi makin tak senang.

seperti itu sajakah perwira Panjalu?

Sungguh memalukan sekali.

Dan dua orang wanita itu sungguh keji.

"Amuk-amuk! Mana senopati-senopati pilihan di Panjalu? Mana mereka yang beberapa bulan yang lalu telah mengeroyok kami? Hayo keluarlah jago-jago Panjalu! Inilah Ni Durgogini menanti tanding!"

Durgogini bersumbar dengan lagak sombong.

"Bukankah Resi Telomoyo membantu Panjalu? Mana monyet tua itu? Dan juga Pujo dan dua orang isterinya. Hayo keluarlah!"

Teriak pula Ni Nogogini.

Mendengar disebutnya ayah aggkat atau gurunya, Joko Wandiro terkejut juga, sungguhpun ia sudah mendengar dari Resi Narotama bahwa guru pertama atau ayah angkatnya itu membantu Panjalu bersama dua orang isterinya.

Ia tidak tahu apakah Pujo berada di Panjalu ataukah masih berada di Bayuwismo di pantai Laut Selatan.

Melihat sikap congkak dan tantangan yang ditujukan kepada Pujo, panas juga hati Joko Wandiro.

Ia sudah melihat Ki Patih Suroyudo dan beberapa orang senopati tua yang tampaknya memiliki kepandaian berarti, tidak seperti dua orang senopati muda tadi, sudah maju.

Akan tetapi Joko Wandiro sudah mendahului mereka, meloncat dengan gerakan sigap sehingga tahu-tahu pemuda ini telah berhadapan dengan Ni Durgogini dan Ni Nogogini.

Ketika dua orang sakti itu memandang, sejenak mereka tertegun.

Dengan pandang mata mereka yang awas, kedua orang wanita sakti ini mengerti bahwa pemuda di depan mereka ini bukanlah orang sembarangan.

Dengan kagum mereka memandang pemuda itu.

Timbul rasa sayang di hati wanita cabul ini.

"Eh-eh, bocah bagus. Siapakah engkau? Pakaianmu bukan seperti seorang ponggawa Kerajaan. Apa kehendakmu maju menghadapi kami?"

Tanya Ni Durgogini sambil tersenyum memikat.

"Bocah sigit, siapakah namamu? Kalau kami pulang nanti, ikutlah kami karena kau mempunyai bakat yang baik sekali untuk menjadi murid kami yang terkasih!"

Kata Ni Nogogini.

Kali ini mereka mengerahkan aji pengasihan bukan untuk melumpuhkan dan mengalahkan, melainkan terdorong hati tertarik dan rasa suka.

Joko Wandiro tidak biasa bersikap kasar, sungguhpun ia maklum akan hawa mujijat yang seakan-akan menarik dirinya mendekat dan membuat kedua orang wanita itu seakan-akan menjadi makin cantik.

Diam-diam ia lalu membaca mantera pelindung diri dari ilmu hitam, kemudian tersenyum menjawab.

"Namaku Joko Wandiro dan aku menghadapi kalian untuk menyambut tantanganmu tadi. Aku mewakili Pujo, guruku dan juga ayah angkatku!"

Dua orang wanita itu tersenyum lebar.

Pujo sendiri bukan lawan mereka, apalagi hanya seorang muridnya.

Akan tetapi diam-diam mereka terheran bagaimana Pujo dapat mempunyai seorang murid seperti ini.

Mereka saling pandang, mulai terheran mengapa pemuda ini belum juga memperlihatkan tanda-tanda terpengaruh Aji Guno Asmoro!

Ni Durgogini mengerahkan tenaga batinnya, lalu melangkah maju dengan langkah bergaya, lenggangnya menarik seperti orang menari, matanya disipitkan, hidungnya kembangkempis.

Demikian hebat pengaruh Guno Asmoro yang ditrapkan oleh Ni Durgogini pada saat itu sehingga biarpun aji itu ditujukan kepada Joko Wandiro, namun para perwira dan tamtama yang mengepung alun-alun itu ikut terpengaruh dan terpesona menatap wajah cantik jelita dan bentuk tubuh padat menggiurkan itu.

"Joko Wandiro, bocah bagus, mari ke sini, kuberi peluk cium...!"

Suara Ni Durgogini merdu merayu bagaikan orang bertembang.

"Ni Durgogini dan Ni Nogogini, hentikan permainan kotor ini! Ilmu setanmu itu hanya merobohkan hati laki-laki mata keranjang. Bagiku hanya menimbulkan muak dan jijik! Lebih baik lekas minggat kalian dari sini!"

"Aiiihhhh!!"

Ni Durgogini tersentak kaget dan meloncat mundur.

Wajahnya sebentar pucat sebentar merah.

Para senopati yang kini melihat wajah yang tidak diselimuti Aji Guno Asmoro lagi juga kaget karena wajah kedua orang wanita itu kini menjadi beringas.

Mereka semua terlongong menyaksikan betapa pemuda yang tadi menghadap sang prabu yang mereka jadikan bahan ejekan, kini dengan penuh keberanian menghadapi dua orang wanita sakti seperti iblis itu.

"Bocah keparat, rasakan pukulan mautku!"

Ni Durgogini berteriak marah.

"Bocah tak tahu disayang, lebih baik mampus!"

Ni Nogogini juga berseru, kedua orang wanita itu lalu meloncat maju dan menyerang Joko Wandiro dengaan tamparan tangan mereka yang ampuh.

Gerakan mereka serupa dan ketika mereka berdua menggerakkan tangan kanan dengan jari-jari terbuka, terdengar suara mencicit nyaring memekakkan telinga.

Itulah aji pukulan Ampak-ampak yang ampuhnya menggila.

Joko Wandiro mengerti bahwa ia menghadapi serangan dahsyat.

Hawa dingin yang diakibatkan sambaran tangan itu memberi tahu kepadanya bahwa kedua orang lawannya mempergunakan pukulan yang berdasarkan hawa sakti di dalam tubuh, pukulan berhawa dingin yang amat berbahaya bagi tulang-tulangnya.

Oleh karena itu, iapun cepat mengerahkan hawa sakti ke arah kedua tangannya, kemudian dengan tabah ia memapaki kedua lawannya ini sambil mengipatkan kedua tangan dengan jari-jari terbuka pula.

Untuk melawan hawa dingin yang keluar dari tangan lawan, ia sengaja menggunakan Aji Bojro Dahono dan tangannya digerakkan dengan pukulan Pethit Nogo.

"Plakk... plakkk...!!"

Tamparan kedua orang wanita sakti itu ditangkisnya dan sengaja Joko Wandiro mengadu telapak tangannya dengan telapak tangan mereka.

"Iiiiihhh...!!"

Ni Durgogini dan Ni Nogogini mengeluarkan jerit nyaring ketika tubuh mereka terlempar sampai lima meter lebih seakan-akan dilontarkan tenaga mujijat.

Namun sebagai dua orang wanita yang memiliki kedigdayaan, mereka dapat meloncat turun dan tidak sampai terbanting.

Kemarahan mereka meluap-luap, bercampur rasa keheranan dan penasaran.

Adapun Ki Patih Suroyudo dan para perwira Kerajaan, kini benar-benar berdiri dengan mata.

terbelalak lebar dan mulut ternganga.

Andaikata ada lalat memasuki mulut pada saat itu, agaknya mereka tidak merasakannya.

Mereka tenggelam ke dalam keheranan yang amat sangat.

Kalau tidak menyaksikan dengan mata kepala sendiri, sudah tentu takkan ada yang percaya kalau mendengar bahwa pemuda gunung yang tadi minta pekerjaan di istana, kini dalam gebrakan pertarna sudah sanggup membuat Ni Durgogini dan Ni Nogogini terlempar sampai jauh!

Dengan dua kali loncatan, Ni Durgogini dan Ni Nogogini sudah kembali ke hadapan Joko Wandiro.

Sepasang mata mereka berkilat-kilat penuh kemarahan, wajah mereka kini cemberut kehiiangan manisnya, kening berkerut.

Sinar maut membayang pada mata mereka yang dengan penuh kebencian menentang wajah Joko Wandiro.

Pemuda ini tetap tenang, lalu berkata.

(Lanjut ke

Jilid 25) Badai Laut Selatan (Seri ke 03 Serial Serial Keris Pusaka Sang Megatantra) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo

Jilid 25

"Sesungguhnya aku tidak mencari permusuhan. Andaikata kalian ini tidak melakukan sesuatu yang jahat, tidak nanti aku akan mencampuri urusan kalian. Akan tetapi, melihat kalian mengamuk di alun-alun Kerajaan Panjalu, membunuh banyak orang kemudian malah menantang-nantang semua orang yang terkenal sebagai satria-satria utama, tidak mungkin aku mendiamkannya saja."

"Bocah keparat!"

"Jahanam sialan!"

"Ni Durgogini dan Ni Nogogini, belum terlambat apabila kalian insyaf dan pergi dari sini."

Akan tetapi dua orang wanita itu mana mau berhenti sampai sekian saja?

Sambil memekik nyaring, suaranya melengking seperti bukan suara manusia lagi, kakak beradik yang sakti mandraguna ini lalu menerjang Joko Wandiro.

Gerakan mereka cekatan sekali, tubuh mereka seperti lenyap dan hanya tampak bayangan mereka menyambar-nyambar di sekeliling Joko Wandiro.

Apabila bayangan tangan mereka berkelebat, terdengar angin bersiutan.

membuat debu beterbangan daun-daun pohon waringin yang kecil-kecil itu bergoyang-goyang.

Namun Joko Wandiro menghadapi mereka dengan tenang.

Gerakannyapun lambat dan tenang, namun kedua tangannya yang bergerak itu membentuk lingkaran-lingkaran hawa sakti yang amat kuat, yang merupakan benteng melindungi tubuhnya daripada terjangan-terjangan lawan.

Semua pukulan lawan, sebelum dapat menyentuh tubuhnya telah bertemu dengar lingkaran hawa sakti itu dan membalik.

Bagi pandangan para perwira yang kurang tinggi ilmunya, keadaan Joko Wandiro seperti terdesak.

Pemuda ini kelihatan menggerak-gerakkan kaki tangan melawan dua bayangnn yang amat cepatnya.

Akan tetapi bagi Ki Patih Suroyuda dan mereka yang ahli, terutarna bagi Ni Durgogini dan Ni Nogogini sendiri, mereka amat kagum menyaksikan perlawanan Joko Wandiro yang jelas membuktikan keunggulannya.

"Pergilah!!"

Tiba-tiba Joko Wandiro berseru keras dan tubuh dua orang wanita itu kembali terlempar jauh, melayang seperti daun kering tertiup angin.

Bentakan tadi disertai Aji Dirodo Meto dan kedua tangannya mendorong dengan Aji Bojro Dahono.

Demikian dahsyat serangan balasan ini sehingga tidak tertahankan oleh kedua orang lawannya yang mencelat sampai beberapa meter jauhnya.

Namun Ni Durgogini dan Ni Nogogini juga bukan orang sembarangan.

Biarpun mereka tidak kuat menahan hawa sakti yang mendorong sedemikian dahsyatnya, namun tubuh mereka juga memiliki kekebalan sehingga biarpun terlempar, mereka masih belum terluka karena cepat-cepat mereka tadi rnengerahkan tenaga sehingga ketika terbanting ke tanah, mereka dapat mencelat kembali ke atas dan kini sudah berdiri dengan muka merah saking marahnya.

"Tar-tar-tar!!"

Terdengar ledakan-ledakan nyaring ketika Ni Durgogini menggerakkan dan melecutkan cambuknya di udara.

Kiranya dalam keadaan marah sekali wanita ini telah mengeluarkan senjatanya yang ampuh, yaitu cambuk Sarpokenoko Juga Ni Nogogini tidak mau ketinggalan.

Ia pun merasa marah dan malu, maka dengan gerakan cepat penuh kegemasan ia telah menghunus pusakanya, yaitu sebuah cundrik yang terkenal ampuh dan mengeluarkan sinar berkilauan.

Inilah cundrik Embun Sumilir!

Joko Wandiro cepat mengerahkan Bayu Sakti untuk menyelamatkan diri daripada hujan serangan itu.

Cambuk Sarpokenoko hebat bukan main.

Suaranya saja sudah cukup untuk merobohkan lawan yang kurang kuat, karena suara ledakan-ledakan itu mengandung daya menggetarkan jantung.

Dari atas, cambuk itu menyambar-nyambar ganas sekali melingkar-lingkar, ujungnya mematuk-matuk mencari bagian tubuh yang berbahaya atau jalan darah mematikan, seperti seekor ular sakti!

Selain diserang oleh sambaran cambuk dari atas yang sudah amat berbahaya, dari bawah Joko Wandiro diterjang bertubi-tubi oleh Ni Nogogini yang mernpergunakan keris pusakanya Embun Sumilir.

Hanya dengan gerakan Bayu Sakti yang luar biasa cepatnya, barulah ia dapat menghindarkan diri dari serangkaian serangan itu lalu melompat ke belakang.

Dua orang lawannya berseru garang dan menerjarg maju lagi.

Akan tetapi pada saat itu, para senopati dan pengawal yang menonton pertandingan, tiba-tiba menjadi gaduh, menuding-nuding ke arah dua orang wanita itu, berseru kaget dan ada yang menahan ketawa.

Hal ini mengherankan hati kedua orang wanita itu sehingga sesaat mereka menunda penyerangan mereka lalu saling pandang.

Begitu mereka saling pandang, keduanya menahan jerit, tangan kiri membuat gerakan menutup mulut.

"Aiiiiihh! Mbok-ayu Lasmini...! kau kenapa...? Rambutmu penuh uban, mukamu penuh keriput...!"

Ni Nogogini menegur dengan mata terbelalak.

"Kau... kau... juga, Mandari...!"

Ni Durgogini berkata sambil menudingkan telunjuk kiri ke arah adiknya dan dengan suara terisak.

Kedua orang wanita itu lalu sibuk meraba-raba rambut dan wajahnya sendiri.

Jelas terasa oleh ujung jari betapa kulit muka yang biasanya halus itu kini menjadi kasar dan kerut-merut berkeriputan.

Dan ketika mereka membawa rambut ke depan untuk dilihat, sebagian besar rambut itu membodol (rontok) dan yang masih tinggal bercampur banyak uban!

Sebagai orang-orang berkepandaian tinggi, mengertilah kedua orang wanita ini Apa yang telah terjadi.

Ternyata pukulan pemuda tadi yang mengandung hawa panas seperti halilintar, disertai pekik dahsyat, yang membuat mereka berdua terlempar, telah membuyarkan aji dan khasiat obat Suketsungsang yang membuat mereka menjadi awet muda.

Getaran hebat yang hampir mematahkan tungkai jantung, yang tadi menjalar ke seluruh tubuh, telah membuat mereka terluka di sebelah dalam sehingga hawa yang mempengaruhi jalan darah membuat mereka awet muda itu terdorong keluar.

Akibatnya, keadaan mereka menjadi badar dan kembali asal, atau menjadi sewajarnya, Rambut mereka beruban, kulit mereka berkeriput, sesuai dengan keadaan semestinya wanita-wanita yang usianya mendekati enam puluh tahun!.

Bagi seorang wanita biasa dan normal, dalam usia hampir enam puluh tahun, kiranya kenyataan ini tidak mempengaruh"

Hatinya, uban dan keriput bukan hal yang mengecilkan hati.

Akan tetapi, bagi Ni Durgogini dan Ni Nogogini, kenyataan ini amat hebat.

Mereka adalah orang-orang yang telah menjadi hamba nafsu berahi, bagi mereka hidup adalah senang, dan senang hanya dapat mereka nikmati melalui wajah cantik dan tubuh muda menarik.

Kini mereka telah sadar dan kenyataan ini bagi mereka terasa lebih menderita daripada luka-luka maut.

Wajah mereka menjadi pucat sekall, tubuh gemetaran dan urat syaraf lemas, Kedukaan hati mereka demikian besar, jauh melampaui kemarahan mereka terhadap Joko Wandiro.

Terdengarlah ratap tangis mereka.

"Aduh Dewa, cabutlah saja nyawa hamba...!"

Ni Nogogini mengeluh.

"Aduh rama (ayah)..., rama bhagawan..., ketiwasan (celaka), rama...!"

Ni Durgogini menjerit-jerit lalu lari pergi dari tempat itu sambil menyeret cambuknya.

Ni Nogogini juga mengikuti kakaknya sambil menangis.

Dalam waktu sebentar saja lenyaplah bayangan kedua or"ng wanita sakti itu.

Sejenak Joko Wandito berdiri tertegun.

Kemudian la menarik napas panjang, hatmya terasa trenyuh.

Dia tidak membenci mereka berdua dan hanya menentang mereka berdua karena mereka membuat geger, membunuh banyak orang dan menantang ayah angkatnya.

Kini, menyaksikan keadaan mereka, mendengar ratap tangis mereka, hati pemuda ini merasa kasihan dan terharu.

Akan tetapi tidak ada rasa sesal di hatinya oleh karena bukan dialah yang membuat mereka berdua menderita.

Dia sama sekali tidak ada niat membuat mereka menderita seperti itu dan semua yang terjadi tadi adalah buah daripada perbuatan mereka sendiri.

"Orang muda, kiranya andika adalah seorang satria yang perkasa!"

Terdengar Ki Patih Suroyudo berkata kagum.

"Raden Joko Wandiro, maafkan kami yang tadi kurang hormat kepada andika,"

Kata seorang perwira.

"Marilah, Joko Wandiro. Mari ikut bersamaku menghadap sang prabu, akan kulaporkan tentang kedigdayaanmu dan kau tentu dianugerahi kedudukan yang pantas,"

Kata pula Ki Patih Suroyudo.

Di daiam hatinya, Joko Wandiro merasa senang.

Ternyata sekarang bahwa Ki Patih dan para ponggawa keraton ini adalah orang-orang yang baik hati, tidak menaruh iri hati dan dengki kepada orang lain yang berjasa.

Kiranya tadi memandang rendah kepadanya karena memang ragu-ragu dan tidak percaya kepada seorang pemuda dari dusun seperti lajimnya sikap para bangsawan terhadap rakyat kecil.

Perasaan Joko Wandiro yang halus segera dapat memaklumi hal ini dan dia memang tidak suka memelihara dendam.

Akan tetapi, sejak semula ia memang tidak mempunyai hasrat untuk menghambakan diri ke istana.

Kalau tadi ia menghadap Raja, hanyalah untuk memenuhi pesan gurunya.

Dan ia tadi sudah menghadap, berarti ia tidak mengabaikan pesan gurunya.

Kalau ia tidak diterima, itu bukan salahnya.

Maka ia cepat-cepat memberi hormat dan berkata.

"Gusti Patih, hamba tidak berani lagi mengganggu gusti prabu. Biarlah lain kali saja hamba datang menghadap."

Setelah berkata demikian, tanpa jawaban lagi, Joko Wandiro sudah melompat jauh ke belakang lalu menggunakan Aji Bayu Sakti lari meninggalkan tempat itu.

Ki Patih Suroyudo dan para senopati dan pasukan pengawal, hanya dapat memandang dengan melongo.

Mereka semua merasa menyesal sekali mengapa seorang pemuda sakti mandraguna seperti itu kini tidak mau tinggal di Kotaraja karena kekeliruan sikap mereka tadi.

Agaknya hanya orang sesakti pemuda itu yang akan mampu menandingi si maling haguna yang telah menggegerkan istana sebulan yang lalu.

Telaga Sarangan di lereng Gunung Lawu itu amat luas dan indah.

Air kebiruan menelan bayangan pohon-pohon cemara yang tumbuh di tepinya.

Sunyi dan damai keadaan sekelilingnya.

Hanya kicau burung dan teriakan-teriakan kera bercanda kadang-kadang terdengar, menambah indah keadaan.

Hawa udaranya sejuk bersih.

Di pinggir telaga sebelah selatan tampak sebuah pondok kayu berdiri sunyi menyendiri.

Para pendeta, pertapa, dan orang-orang yang sudah bosan akan keramaian kota dan dusun, yang ingin menyatukan diri dengan keindahan alam aseli itu, tentu akan mengilar karena kepingin melihat pondok dan suasana di sekitarnya yang hening dan bersih ini.

Dahulu, beberapa tahun yang lalu, pondok ini menjadi tempat tinggal Ki Tejoranu.

seperti telah kita ketahui, Ki Tejoranu beberapa tahun yang lalu telah pergi meninggalkan Pulau Jawa, pulang ke tanah asalnya, yaitu Negeri Cina.

Pondok itu ditinggalkan begitu saja tak terpelihara dan menjadi rusak.

Akan tetapi setahun yang lalu, datanglah seorang laki-laki tinggi kurus bersama isteri dan puterinya.

Mereka menemukan pondok kosong ini, memperbaikinya dan selanjutnya merekalah yang tinggal di tempat indah sunyi ini.

Mereka bertiga hidup penuh damai dan bahagia.

Siapakah gerangan mereka bertiga yang memilih tempat sunyi sebagai tempat tinggal ini?

Laki-laki tinggi kurus berusia lima puluh tahun itu adalah seorang pendekar terkenal.

Namanya Ki Adibroto, seorang sakti mandraguna dari Ponorogo.

Di Ponorogo iapun terkenal sebagai seorang warok yang gemblengan dan namanya tidak kalah terkenalnya kalau dibandingkan dengan Ki Warok Gendroyono.

Akan tetapi, berbeda dengan Ki Gendroyono, Ki Adibroto ini adalah tokoh warok golongan putih yang selalu menentang kejahatan.

Berkat pimpinan Ki Adibroto bersama saudara-saudara seperguruan dan para tokoh warok aliran atau golongan putih inilah maka daerah Ponorogo menjadi aman dari gangguan para warok golongan hitam.

Bahkan Ki Warok Gendroyono yang menjadi tokoh utama warok golongan hitam, terdesak dan akhirnya menghilang dari daerah Ponorogo.

Tadinya, Ki Adibroto hidup bahagia bersama isterinya dan seorang puteri yang diberi nama Ayu Candra, tinggal di Ponorogo sebagai seorang yang dihormati kawan disegani lawan.

Namun, seperti segala Apa di permukaan bumi ini, juga keadaan hidup seseorang tidaklah kekal.

Ketika Ayu Candra berusia satu tahun, ibu anak ini meninggal dunia karena sakit.

Hal ini menghancurkan kebahagiaan Ki Adibroto yang tenggelam dalam laut kedukaan.

Tidak tahan lagi hati Ki Adibroto untuk tinggal di tempat di mana ia akan selalu terkenang kepada isterinya.

Maka ia lalu membawa puterinya yang masih kecil itu pergi merantau.

Pada suatu pagi, sambil memondong puterinya, Ki Adibroto berjalan perlahan melewati sebuah hutan di lereng Gunung Lawu sebelah barat.

Ia berniat hendak menuruni gunung ini dari barat.

Melihat anaknya yang tidur pulas dalam pondongannya, hati pendekar ini amat trenyuh.

Anak ini mirip benar dengan ibunya, dan teringat akan isterinya yang sudah meninggal, meninggalkan dia dan puterinya, Ki Adibroto mengeluh dan mengambungi pipi anaknya yang masih tidur pulas.

"Duh Hyang Wiseso yang menguasai jagad semoga hamba diberi kekuatan menahan segala derita ini demi anak hamba Ayu Candra!"

Dua butir air mata menetes di atas pipi anaknya.

Pada saat itu muncullah belasan orang perampok yang segera mengurung Ki Adibroto.

Kalau saja Ki Adibroto tidak sedang tenggelam dalam duka nestapa, tentu sejak tadi ia sudah tahu bahwa di sekeliling tempat itu terdapat banyak orang.

Kini ia baru sadar bahwa ia telah dikepung, ketika beberapa orang di antara para perampok itu tertawa.

Ki Adibroto mengangkat mukanya dan memandang ke sekeliling.

Ada tujuh belas orang laki-laki kasar yang mudah diduga dari golongan Apa.

Dan di belakang mereka ini, di tempat-tempat tersembunyi, masih ada belasan orang lagi.

Di sudut kiri berdiri seorang laki-laki yang mukanya penuh brewok.

Melihat pakaiannya, agaknya laki-laki brewokan ini tentulah kepala perampok.

Ia berdiri sambil merangkulkan lengan kirinya pada leher seorang wanita yang cantik manis.

Heran sekali hati Ki Adibroto melihat seorang wanita cantik dan gerak-geriknya halus seperti itu dapat bersama dengan orang-orang kasar macam ini.

Melihat wajah orang-orang kasar yang mengepungnya itu menyeringai, Ki Adibroto menegur.

"Kalian ini mengApa mengepungku?"

"Ha-ha-ha! Lihat mukanya sudah pucat!"

"Heh-heh-heh, tubuhnya menggigil!"

Banyak suara mengejek dan menertawakannya. Kemudian terdengar suara laki-laki brewokan, suara yang parau dan keras.

"Kisanak, tinggalkan semua pakaian, juga perhiasan-perhiasan emas di tubuh anak itu!"

Ki Adibroto penasaran.

"Untuk Apa harus kutinggalkan?"

Kembali muka-muka yang mengerikan itu tertawa bergelak.

"Untuk ditukar dengan nyawamu, tolol!"

Teriak seorang di antara mereka.

Si kepala rampok hanya tersenyum-senyum saja, tangannya yang merangkul leher itu kini meraih dagu dan hendak mencium muka yang ayu manis itu.

Akan tetapi wanita itu mengeluh, memalingkan mukanya dan keningnya berkerut tanda tidak senang hati.

Namun pandang mata wanita itu tidak pernah beralih dari anak dalam pondongan Ki Adibroto.

"Ha-ha-ha-ha, bojoku denok ayu, sudah hampir setahun kau bersamaku, mengapa masih jual mahal? Hayo beri cium...!"

Laki-Iaki brewokan itu menangkap dagu wanita itu, lalu dengan paksa menariknya dan mencium bibirnya dengan kasar sekali.

Kembali wanita itu mengeluh dan meronta, namun tak mungkin ia dapat melepaskan diri dari cengkeraman dua tangan kasar dan kuat itu.

Para anak buah perampok hanya tertawa-tawa menyaksikan perbuatan tak tahu malu ini.

"Kekasihku yang ayu kuning, denok montok, kau lihatlah Ada rejeki datang, perhiasan emas anak itu akan menghias tubuhmu, manis..."

Kata laki-laki brewokan setelah melepaskan mukanya yang brewokan dari atas muka yang halus itu.

Menyaksikan peristiwa ini, dada Ki Adibroto terasa panas.

Kemarahan bergejolak dalam hatinya.

la dapat menduga kini bahwa wanita cantik itu tentulah seorang wanita yang dipaksa, diperkosa atau diculik oleh kepala perampok itu.

Dengan sepasang mata berkilat dan muka merah saking marahnya, Ki Adibroto memandang kepala perampok itu.

Agaknya dadanya yang panas terasa oleh anaknya karena tiba-tiba Ayu Candra terbangun dari tidurnya lalu menangis menjerit-jerit!.

"Anakku! Kesinikan anakku!!"

Tiba-tiba wanita cantik itu menjerit dan memberontak dari dekapan kepala perampok.

Pengaruh tangisan anak itu sedemikian hebat sehingga agaknya wanita itu memperoleh tenaga mujijat dan ia berhasil merenggutkan diri dan terlepas dari pelukan, lalu lari menubruk Ki Adibroto dengan kedua tangan terbuka, agaknya hendak merampas Ayu Candra.

"Anakku! Kembalikan anakku!"

Berdiri bulu tengkuk Ki Adibroto ketika ia cepat mengelak.

Gilakah wanita itu?

Ataukah dia sendiri yang gila dan melihat yang bukan-bukan?

Ataukah arwah isterinya menyusup kedalam tubuh wanita ini?

Akan tetapi, melihat betapa kepala rampok brewokan itu agaknya marah melihat wanita cantik itu melepaskan diri, Kemudian sekali menggerakkan cambuk panjang kepala rampok itu telah membelit kaki si wanita dengan ujung cambuk dan menarik cambuk sehingga wanita itu roboh terguling, hatinya tak dapat menahan kemarahannya lagi.

Sambil mengeluarkan suara gerengan, Ki Adibroto yang masih memondong anaknya yang menangis menjerit-jerit lalu menerjang ke depan.

Tangan kirinya memondong anaknya, namun dengan tangan kanannya ia menyerang.

Tubuhnya berkelebat ke arah kepala rampok, tangan kanannya bergerak memukul.

Kepala rampok itu berusaha untuk menangkis akan tetapi tangkisan tangannya tidak ada gunanya karena selain tangannya terpental, juga pukulan Ki Adibroto terus meluncur mengenai kepalanya.

"Desss...!!"

Terdengar jerit ngeri dan tubuh kepala rampok yang tinggi besar itu terlempar beberapa meter jauhnya, terbanting ke atas tanah dalam keadaan tidak bernyawa lagi karena kepalanya sudah pecah berantakan terkena hantaman tangan yang ampuh itu.

Para perampok yang terdiri dari orang-orang kasar itu terkejut sekali, akan tetapi mereka kurang cerdik untuk memaklumi bahwa pendekar yang memondong anak kecil itu sama sekali bukanlah tandingan mereka.

Mereka hanya menurutkan nafsu amarah melihat kepala mereka roboh tewas.

Sambil berteriak-teriak mereka lalu menyerbu dengan senjata di tangan.

Golok, pedang, keris dan tombak berkilauan datang bagaikan hujan menyerbu Ki Adibroto.

Tentu saja para perampok kasar itu tidak dipandang sebelah mata oleh Ki Adibroto.

Akan tetapi oleh karena ia sedang memondong anaknya, ia lebih mengkhawatirkan keselamatan puterinya itu.

Maka cepat ia melolos lepas sabuk dan pinggangnya.

Ketika ia menggerakkan sabuk berwarna putih ini di tangan kanannya, terdengar teriakan-teriakan kesakitan.

Senjata-senjata lawan beterbangan dan bagaikan membabat rumput saja, tubuh para perampok bergelimpangan.

Ternyata sabuk yang lemas itu ketika disabetkan, dapat memecah kulit meremuk tulang sehingga banyak perampok roboh untuk tak dapat bangun kembali karena telah pingsan.

Kini para perampok yang tadinya tinggal di belakang, sudah maju pula.

Namun Ki Adibroto mengamuk dan sebentar saja belasan orang perampok sudah roboh.

Setelah setengah lebih para perampok roboh bertumpang tindih, baru sisanya sadar bahwa kalau dilanjutkan pengeroyokan itu, berarti mereka semua membunuh diri.

Timbul sifat pengecut mereka.

Dengan tubuh gemetar mereka melempar senjata lalu menjatuhkan diri berlutut sambil menyembah-nyembah minta ampun!

Ki Adibroto tegak berdiri.

Anaknya di pondongan masih menangis.

Ia memandang ke arah para perampok yang berlutut, lalu tersenyum masam.

"Kalau menurut sepatutnya kalian harus kubunuh semua. Akan tetapi biarlah aku melihat muka anakku ini dan mengampuni kalian semua!"

Setelah berkata demikian, tanpa menoleh ke belakang lagi Ki Adibroto lalu meninggalkan tempat itu sambil memondong dan mengayun-ayun anaknya yang masih terus menangis.

Hatinya bingung dan gelisah sekali.

Pendekar ini boleh jadi gagah perkasa dan selalu tenang menghadapi apapun juga.

Akan tetapi, semenjak melakukan perjalanan, apabila anaknya menangis dan rewel seperti ini, ia betul-betul bingung dan tak tahu Apa yang harus ia lakukan kecuali mengayun-ayun tubuh kecil lemah ini dengan keringat membasahi dahi dan jantung serasa diremas-remas.

Sudah jauh juga ia meninggalkan tempat pertempuran tadi, akan tetapi anaknya masih juga menangis.

Saking bingungnya ia lalu duduk di bawah pohon yang teduh, memangku anaknya sambil mengeluh berkali-kali.

"Aduh anakku sayang... angger Ayu Candra, kau diamlah, nak. Diamlah anakku bocah ayu... jangan kau membikin hancur hati ayahmu"!"

Akan tetapi anak kecil itu tetap menangis sampai terisak-isak.

Saking bingungnya, tak terasa pula dua butir air mata menetes turun ke atas pipi Ki Adibroto.

Pendekar yang baru saja dengan sebelah tangan membikin kocar-kacir pengeroyokan tiga puluh lebih perampok-kasar, kini ingin sekali menangis meraung-raung saking sedih dan bingungnya menghadapi puterinya yang menangis terus!

"Anakk...!

Aduh kasihanilah aku, kasihani anakku...

mari kembalikan anakku, biar dia kugendong selendang, kubopong kutimang-timang, kutidur-tidurkan"

Ki Adibroto terkejut.

Saking bingungnya, ia tidak tahu bahwa sejak tadi, wanita yang tadi bersama kepala rampok telah rnengikutinya.

Cepat ia melompat bangur dan memandang.

Wanita itu amat cantik.

Cantik jelita, akan tetapi wajahnya pucat, rambutnya kusut, pakaiannya sudah robek sana-sini, sebagian membayangkan kulit tubuhnya yang kuning halus.

Kini wanita itu memandangnya dengan mata penuh permohonan, mata yang bercucuran air mata.

"Apa... Apa maksudmu...??!!"

Ki Adibroto tergagap."Siapakah engkau?"

"Dia anakku anakku sayang kembalikanlah..."

Kini wanita itu menekuk lutut, mengembangkan kedua lengannya, wajahnya menimbulkan iba.

"Dia anakku, jangan engkau mengaku yang tidak-tidak!"

Ki Adibroto berkata, masih ragu-ragu tidak tahu dengan orang bagaimana ia berhadapan.

Gilakah wanita ini?

Atau mempunyai niat buruk hendak mencelakai puterinya?

Ataukah ataukah berpikir begini kembali bulu tengkuknya meremang, arwah isterinya menyusup ke dalam tubuh wanita ini?

"Kasihanilah dia...

ooohhh, betapa kejam hatimu...!

Lihat, dia menangis begitu hebat...

aduh, bisa putus dan sesak napasnya...

dia minta dipondong ibunya...

hu-hu-huukk!!"

Wanita itu menangis makin keras sampai tersedu-sedu.

Ki Adibroto menundukkan muka memandang puterinya.

Benar-benar aneh anak ini.

Menangis begini hebat.

Kembali bulu tengkuknya meremang.

Benarkah anak ini minta dipondong ibunya?

Dan wanita itu benarkah arwah isterinya di situ?

Tanpa disadarinya lagi ia mengulurkan kedua lengan, memberikan puterinya.

Namun seluruh urat syaraf di tubuhnya siap untuk mencegah kalau-kalau wanita itu akan mencelakai anaknya.

Dengan teriakan girang sekali wanita itu menerima Ayu Candra yang masih menangis, mendekap anak itu ke dadanya, menciumnya sambil bercucuran air mata dan berbisik-bisik.

"Anakku... anakku... diamlah, nak. Ini ibumu ini ibumu... engkau juntung hatiku, pujaan kalbu, mustika hidupku... ahhh, anakku, Joko Wandiro."

Ki Adibroto memandang dengan mata tcrbelalak.

Benar saja.

Anaknya mulai berkurang tangisnya, kemudian malah berhenti menangis ketika wanita itu memangkunya, menidurkannya membujur di ruas pangkuan sambil melepas-lepaskan baju dan selimut sarung yang membungkusnya.

"Aduh kasihan engkau, anakku... tentu saja kau menangis karena panas Orang telah berlaku nakal kepadamu manis? Engkau merasa panas? Ah, tentu saja, tapi diamlah, ibu kini menjagamu, nak"

Ki Adibroto melongo. Tahulah ia kini bahwa anaknya tadi menangis sampai begitu kerasnya. Kiranya anak itu merasa gerah, panas tubuhnya dibungkus serapat itu!.

"Nah, ini dia! Engkau digigit semut ini, anakku? Semut kurang ajar. Huh mampus tidak kau sekarang!"

Wanita itu meremas seekor semut angkrang yang tadi rnenempel di paha anak kecil itu.

Makin mengertilah kini Ki Adibroto Kiranya hawa panas dan semut angkrangl la mulai merasa girang dan tertarik ke pada wanita itu.

Ia memandang jari-jari tangan halus yang cekatan sekali membuka-buka pakaian anaknya dan tiba-tiba wanita itu terbelalak dan berteriak keras.

"Joko anakku kenapa menjadi perempuan...???"

Mengertilah kini Ki Adibroto.

Wanita ini sama sekali tidak disusupi arwah mendiang isterinya.

Wanita ini terganggu jiwanya, agaknya karena kehilangan puteranya yang bernama Joko Wandiro.

Entah hilang karena tewas ataukah hilang karena diculik orang.

Akan tetapi agaknya puteranya itu tewas, mengingat bahwa wanita ini sendiri terjatuh ke tangan kepala rampok yang demikian kejam.

Naik hawa amarah di dadanya, akan tetapi segera dingin kembali setelah ia ingat bahwa kepala rampok itu telah ia bunuh tadi.

Mau rasanya ia membunuh sekali lagi kepala rampok keji itu.

Dengan hati penuh iba menyaksikan wajah wanita itu demikian kaget, bingung, dan duka, ia lalu berjongkok di dekatnya dan berkata halus.

"Harap andika jangan kaget. Anak ini adalah anak saya, bernama Ayu Candra. Tentu saja perempuan. Karena itulah tadi tidak saya berikan kepadamu."

Setelah berkata demikian, Ki Adibroto mengambil anaknya dari pangkuan wanita itu dan memondongnya kembali.

Wanita itu kini diam saja hanya memandang dengan mata terbuka lebar, mata yang bening dan bagus bentuknya, sayang bersinar layu dan penuh duka.

Alangkah akan indahnya mata ini kalau sinarnya penuh bahagia pikir Ki Adibroto.

"Aduh, Jagad Dewa Bathara kenapa tidak dicabut saja nyawa hamba??"

Wanita itu merintih-rintih lalu menangis tersedu-sedu, menutupi mukanya sambil tetap berlutut.

Wanita itu bukan lain adalah Listykumolo, isteri Raden Wisangjiwo, mantu Kadipaten Selopenangkep.

seperti telah diceritakan di bagian depan cerita ini wanita yang bernasib malang ini setelah kehilangan anaknya, Joko Wandiro yang dibawa lari Pujo, telah terganggu ingatannya.

Oleh suaminya ia dipulangkan kerumah ayahnya yang menjadi lurah Selogiri di lereng Gunung Lawu.

Ketika Wisangjiwo sudah insyaf dan menyuruh pasukan menjemput isterinya, ia mendengar bahwa Listyokumolo telah diculik oleh gerombolan perampok, tidak lama setela pulang ke dusun itu, sedangkan dusun Selogiri dibumi hanguskan para perampok!

Memang amat malang nasib wanita ini.

ia diculik oleh perampok kasar dan ada baiknya bahwa kepala rampok itu jatuh cinta padanya, biarpun ia memperlihatkan tanda-tanda tidak waras otaknya.

Cinta kasih kepala rampok ini menyelamatkan Listyokumolo dari serbuan para perampok yang haus perempuan itu.

Namun, ia harus menderita siksaan lahir batin di tangan kepala perampok.

Wanita ini seakan-akan mati sekerat demi sekerat.

Baiknya Ki Adibroto yang membebaskannya dari siksaan batin itu.

Melihat Listyokumolo menangis sedih, hati Ki Adibroto serasa ditusuk.

Ia merasa terharu dan kasihan sekali.

Apalagi ketika itu anaknya mulai menangis lagi!

"Di manakah rumah andika?

Biar saya antar andika pulang."

Akhirnya Ki Adibroto bertanya, suaranya mengandung getaran iba hati.

Listyokumolo mengangkat mukanya, memandang.

Matanya kemerahan, pipinya basah oleh air mata yang masih terus bercucuran, sangat mengharukan.

"Pulang...? Pulang...? Ke mana pulang? Aku aku tidak mempunyai rumah, tidak mempunyai keluarga... aku sebatangkara... tinggal menanti maut datang menjemput. Sungguh tega benar para Dewata membiarkan aku hidup seperti ini..."

Ki Adibroto menarik napas panjang, kembali memandang anaknya.

Berkali-kali ia menggeleng kepala, ragu-ragu.

Ia amat mencinta isterinya dan seakan-akan merasa berdosa kalau sepeninggal isterinya ia menoleh kepada wanita lain.

Ah, tidak, bukan demi aku sendiri, melainkan demi Ayu Candra, demikian akhirnya ia menghibur hatinya dan menekan debar jantungnya sebelum berkata.

"Saya amat kasihan melihat anda. Siapakah nama anda dan Apa yang telah terjadi dengan keluargamu? Mengapa sampai terjatuh ke tangan perampok laknat itu? Harap anda suka ceritakan kepada saya dan percayalah bahwa saya tentu akan menolong anda sekuasa saya."

Semenjak ditimpa malapetaka ketika la dicilik Pujo sampai saat itu, agaknya baru kali ini Listyokumolo mendengar kata-kata yang menyatakan kasihan kepadanya dan baru kali ini ada orang hendak menolongnya.

Hal ini menggetarkan jantungnya dan tangisnya makin tersedu-sedu.

Akan tetapi ketika ia mengangkat mukanya melihat anak dalam pondongan Ki Adibroto, kembali ia mengulurkan kedua lengannya ke depan dan merintih.

"Kembalikan anakku... berikan anak itu kepadaku..."

Ki Adibroto menarik napas panjang. Kumat lagi wanita ini, pikirnya.

"Sudah saya jelaskan tadi bahwa anak ini bukanlah anakmu yang bernama Joko Wandiro, anak ini adalah Ayu Candra, anak saya yang sudah tidak beribu lagi"

Listyokumolo membelalakkan mata memandang anak itu.

Mata yang masih amat indah bentuknya, lebar dengan bulu mata panjang lentik yang membentuk bayang-bayang teduh di bawah mata, dengan biji mata bening dan ujung mata yang meruncing tajam.

Mata yang membayangkan berahi.

Akan tetapi mata yang diselimuti kesayuan pandang dan dilayukan hati duka.

"Tidak beribu lagi...?"

Agaknya kenyataan ini sejenak menyadarkan Listyokumolo dari keadaan bingung, timbul dari hati iba. Kemudian ia bangkit dan menghampiri Ki Adibroto.

"Biarkan dia kugendong, biarkan aku menjadi pengganti ibunya, aduh kasihan biar aku menjadi pengganti ibunya dan ia menjadi pengganti anakku..."

Kata-kata Ini dikeluarkan dengan suara penuh harap, setengah berbisik, suara yang keluar langsung dari lubuk hatinya.

Ki Adibroto sejenak memandang dan tahulah orang sakti ini bahwa sekaligus hatinya terampas oleh wajah yang ayu tapi menyedihkan itu, terampas oleh kepribadian yang menimbulkan cinta kasih akan tetapi sekaligus keharuan dan iba hati.

Ia memberikan anaknya dan berbisik pula.

"Aku... aku akan bahagia sekali Kalau anda sudi menjadi pengganti ibunya"

Mungkin makna dari kata-kata Ki Adibroto ini dapat menembus kegelapan yang menyelimuti pikiran Listyokumolo karena tiba-tiba ketika menerima anak itu, kedua pipinya menjadi kemerahan, matanya menunduk dan bibirnya terhias senyum ditahan, senyum malu-malu.

Akan tetapi hanya sebentar saja karena segera wajahnya berubah gembira penuh bahagia ketika ia merasa betapa anak itu bergerak-gerak di dadanya.

Sebentar saja anak itupun tertidur setelah didekap oleh dada yang lunak dan hangat.

Tanpa pernah membantah sedikitpun, Listyokumolo lalu ikut dengan Ki Adibroto ke manapun pendekar itu pergi.

Setelah setiap hari merawat Ayu Candra, mulai teringatlah ia akan keadaan dirinya dan akhirnya iapun sembuh dari gangguan pikirannya.

Bahkan hal yang tak dapat dicegah lagi terjadi setelah wanita cantik jelita yang masih muda ini berkumpul dengan Ki Adibroto, pendekar yang juga belum tua yang gagah serta tampan itu, yaitu mereka saling jatuh cinta.

Akhirnya mereka menjadi suami-isteri yang saling mencinta, saling menghormat dan saling mengasihi.

Dengan kasih sayang besar mereka berdua mendidik dan membesarkan Ayu Candra sehingga anak ini sama sekali tidak pernah tahu bahwa wanita itu bukanlah ibu kandungnya.

Setelah Ayu Candra berusia enam belas tahun, ayah-bundanya pindah dan memilih Telaga Sarangan di lereng Gunung Lawu sebagai tempat tinggal yang baru.

Tadinya Ayu Candra yang tinggal bersama orang tuanya di daerah Ponorogo, menyatakan keberatan hatinya mengapa ayahnya ke tempat yang sunyi itu.

Akan tetapi mengertilah gadis remaja yang cukup cerdik ini ketika ayahnya menjawab.

"Kita tinggal di tempat aman ini hanya untuk sementara, Candra. Ketahuilah bahwa perang saudara antara Kerajaan Panjalu dan Jenggala sudah hampir pecah. Permusuhan terjadi di mana-mana. Kalau perang pecah, berarti keadaan akan menjadi kacau dan tidak aman. Engkau sudah remaja puteri, tidak akan baik jadinya kalau kita tinggal di tempat ramai. Biarlah kita tidak mencampuri keributan, kita tinggal di tempat yang indah dan aman ini sampai keadaan Negara menjadi aman kembali. Aku sudah bosan akan perang dan keributan, apalagi perang antara saudara sendiri!"

Mereka bertiga hidup tenang dan penuh damai di pinggir telaga.

Sampai setahun lebih lamanya mereka bertiga tinggal di tempat yang indah itu.

Akan tetapi hanya kelihatannya saja mereka hidup penuh ketenangan dan damai.

Sebetulnya ada hal yang mengganggu hati Listyokumolo.

Di waktu malam, setelah tidur pulas, seringkali suami-isteri ini berbantahan.

Listyokumolo tidak pernah dapat melupakan sakit hatinya terhadap Pujo!

Dendam ini pula yang membuat ia semenjak menjadi isteri Ki Adibroto, dengan tekun dan rajin bersama puteri tirinya menggembleng diri dengan ilmu silat dan kesaktian.

Biarpun ia tidak semaju Ayu Candra, namun setelah lewat enam belas tahun, Listyokumolo yang sekarang bukanlah Listyokumolo belasan tahun yang lalu.

Ia kini menjadi seorang wanita yang berkepandaian.

Dan setiap malam, ia membujuk suaminya untuk membantunya mencari Pujo, mencari puteranya, Joko Wandiro dan membalaskan dendamnya kepada Pujo.

Ki Adibroto adalah seorang yang memiliki pandangan luas dan karena ia telah mendengar riwayat isterinya, ia dapat menduga bahwa suami-isterinya yang pertama, Raden Wisangjiwo tentu bukan seorang baik-baik sehingga dimusuhi orang yang bernama Pujo.

Ia selalu mengingatkan isterinya.

"Engkau sendiri menyatakan bahwa bekas suamimu, Wisangjiwo adalah seorang yang menyeleweng daripada kebenaran. Sangat boleh jadi dia itu melakukan sesuatu yang mendatangkan dendam kepada Pujo."

"Memang begitulah. Agaknya Wisangjiwo telah memperkosa isteri Pujo karena ketika menculikku, Pujo menyatakan hal itu kepadaku. Akan tetapi mengapa dia membalasnya kepadaku dan membawa pergi anakku?"

Listyokumolo penasaran. Ki Adibroto menghela napas panjang.

"Isteriku, orang yang diracuni dendam hatinya menjadi seperti orang buta. Mungkin Pujo melarikan engkau, kemudian menculik anakmu, sama sekali tidak bermaksud sesuatu kepada dirimu pribadi melainkan semua ia tujukan untuk merusak hati bekas suamimu. Sudah kukatakan tadi bahwa dendam membuat orang seperti buta sehingga ia tidak melihat bahwa perbuatannya itu bukan hanya merusak hati Wisangjiwo secara tidak langsung, akan tetapi bahkan secara langsung merusak hatimu dan Joko Wandiro. Akan tetapi, setelah tahu bahwa dendam amat tidak baik, apakah engkau masih mau diracuni dendam terhadap Pujo?' "Kakang Adibroto, aku tidak akan ngawur seperti Pujo. Aku hanya akan membalas kepadanya, bukan kepada orang lain. Pula, aku harus bertemu dengan dia untuk menanyakan dimana adanya Joko Wandiro. Kalau engkau tidak mau mengantarku, biarlah aku mencarinya sendiri. Biarpun belum tentu aku mampu mengalahkan Pujo, akan tetapi Apa yang telah kupelajari darimu kiranya cukup untuk bekal melakukan perjalanan."

Ki Adibroto yang amat mencinta isterinya, tentu saja tidak dapat membiarkan isterinya pergi seorang diri menempuh bahaya.

Akhirnya ia terpaksa menerima permintaan isterinya.

Apalagi kalau ia ingat bahwa kini puterinya, Ayu Candra sudah berusia tujuh belas tahun, sudah cukup dewasa untuk menjaga diri sendiri di tempat yang aman itu sampai mereka kembali dari perjalanan.

Malah selain memenuhi permintaan isterinya, ia juga ada keperluan lain, yaitu pergi menemui sahabat-sahabatnya untuk mencari dan memilihkan seorang calon suami bagi Ayu Candra!

"Candra, ayah-bundamu ada keperluan penting sekali, akan pergi untuk beberapa pekan lamanya.

Engkau harus tinggal sendiri di sini, menanti sampai kami pulang."

Alis yang kecil panjang hitam melengkung itu berkerut.

"Mengapa aku tidak diajak pergi, ayah? Mengapa ditinggal sendiri di sini? Ayah dan ibu hendak ke manakah?"

"Negara sedang kacau, Candra. Permusuhan terjadi di mana-mana dan banyak orang jahat berkeliaran bebas. Engkau seorang wanita muda yang tentu akan menarik perhatian dan menimbulkan pertentangan. Pula, urusan yang akan kami urus adalah urusan kami orang-orang tua, tidak ada sangkut-pautnya denganmu. Perhatikanlah, jangan kau pergi ke mana-mana, tinggal saja di sini dan tunggu sampai kami pulang."

Ayu Candra memang seorang anak yang taat kepada ayahnya.

Biarpun hatinya amat kecewa dan tidak senang, ia tidak berani banyak membantah lagi.

Akan tetapi ketika pagi hari itu ia melihat ayah-bundanya pergi turun dari lereng, ia berdiri termangu-mangu dan memandang ke arah bayangan mereka sampai mereka lenyap di sebuah tikungan.

Barulah ia menjatuhkan diri di atas rumput dan menghapus air matanya.

Namun, Ayu Candra bukan seorang anak perempuan yang cengeng.

Hanya sebentar saja ia melepaskan kekecewaannya dengan menangis Tidak lama kemudian ia sudah bekerja seperti biasa, menyapu pekarangan mengumpulkan daun kering yang memenuhi pekarangan dan membakarnya.

Kemudian ia rnelakukan pekerjaan rumah seperti biasa.dan wajahnya sudah cerah kembali.

Beberapa hari kemudian, karena kayu bakar persediaan mereka habis, Ayu Candra pagi-pagi telah meninggalkan pondoknya dan berlari-lari mendaki jalan yang menanjak.

Sejak kecil ia sudah dilatih ayahnya untuk melawan hawa dingin pegunungan di waktu pagi dengan berlari-larian.

Amat lincah gerakannya, laksana seekor kijang muda ketika ia lari mendaki jalan yang licin dan sukar itu.

Namun bagi Ayu Candra tidaklah sukar.

Selain untuk melawan hawa dingin, juga pagi itu amat indah, udara cerah dan sinar matahari pagi mulai menerobos rnelalui celah-celah daun pohon membagi cahaya kehidupan ke muka bumi.

Pagi cerah yang menimbulkan rasa gembira di hati Ayu Candra, segembira burung-burung di pohon yang berkicau riang, segembira bajing-bajing yang berloncatan dari cabang ke cabang, kelinci yang lari berkejaran menyusup semak-semak.

Baru kali ini Ayu Candra merasa betapa senangnya bebas seperti itu.

la merasa bebas, seorang diri di dunia ini setelah ayah-bundanya pergi.

Ia masih ingat akan pesan ayahnya agar ia jangan pergi mengunjungi dusun-dusun yang terletak di kaki gunung.

Akan tetapi pagi ini ia tidak mengunjungi dusun-dusun itu, ia malah mendaki naik menjauhi dusun dusun, menjauhi manusia.

Apa salahnya?

Belum pernah ia pergi ke hutan di sebelah puncak kiri itu.

Ia akan mencari kayu bakar di sana sambil melihat lihat keadaan hutan yang belum pernah ia kunjungi.

Dari jauh tampak beberapa batang pohon kelapa dan hal ini menambah tertarik hatinya.

Sukar mencari pohon kelapa di daerah Sarangan, dan agaknya hanya kebetulan saja di hutan sebelah depan itu terdapat beberapa batang pohon kelapa.

Makin girang hatinya setelah dekat ia melihat bahwa sebatang di antara pohon-pohon kelapa itu ada buahnya yang sudah besar.

Sudah lama ia tidak pernah makan dawegan (kelapa muda), maka tiga butir buah yang tergantung di pohon tinggi itu merupakan daya penarik yang amat kuat sehingga Ayu Candra mempercepat larinya.

Setelah tiba di bawah pohon kelapa, ia segera mengambil batu dan dua kali lontaran saja dengan tangannya yang kuat, ia telah berhasil merontokkan tiga butir kelapa muda itu.

Dengan girang ia mengambil tiga butir buah itu, membayangkan kesedapan air dawegan dan kelezatan dagingnya.

Akan tetapi teringat olehnya akan kayu bakar yang habis persediaannya.

Ia segera pergi mengumpulkan kayu bakar yang amat banyak terdapat di hutan itu, kemudian setelah mengikat kayu-kayu kering itu ia menggendongnya dan menjinjing tiga butir kelapa, hendak dibawa pulang.

Ayu Candra dengan wajah berseri berjalan keluar dari hutan itu.

Ia sengaja menahan haus dan baru di pondok nanti akan menikmati air dawegan yang manis dan sedap.

Akan tetapi ketika tiba dl pinggir hutan dan melewati sebuah pohon randu alas yang besar sekali karena tiga batang pohon tumbuh menjadi satu, mendadak ia berhenti melangkah karena mendengar suara orang!

"Duh Dewa...

kenapa tidak dicabut saja nyawaku?

Tidak kuat aku menderita siksaan ini...!"

Ayu Candra adalah seorang gadis yang tidak pernah mengenal takut karena sejak kecil ia telah digembleng ayahnya Akan tetapi, mendengar dengan telinga sendiri betapa pohon randu alas dapat bicara dan mengeluh seperti manusia benar-benar ia merasa ngeri juga dan wajahnya yang cantik jelita itu berubah agak pucat.

Ia tahu bahwa iblis dan setan berkeliaran di atas bumi ini, akan tetapi di waktu malam hari.

Sekarang, di waktu matahari masih bersinar seterang-terangnya, menjelang tengah hari, bagaimana ada iblis berani muncul dan memperdengarkan suaranya?

Kalau bukan iblis, mustahil ada pohon randu alas benar-benar bisa mengeluh seperti manusia dan menyatakan bosan hidup?

Ah tak mungkin, pikirnya.

Tentu orang!

Akan tetapi kalau ada orangnya, di mana sembunyinya?

Ayu Candra merasa curiga dan karena kedua tangannya menjinjing buah buah kelapa, ia lalu melemparkan tiga butir buah kelapa itu ke atas tanah.

Kemudian ia mendekati pohon randu alas dan bertanya.

"Siapakah orangnya yang mengeluarkan suara keluhan tadi?"

Sunyi mengikuti pertanyaan ini, seakan akan orang yang mengeluarkan suara tadi merasa kaget.

Kemudian terdengar orang merintih, suaranya keluar dari dalam pohon!

"Sudah begini menderita masih ada wanita menggangguku lagi?

Ah, Dewata yang Agung, sampai di ambang maut masih haruskah aku berhadapan dengan penggodaku?"

Tiba-tiba "Kulit"

Pohon itu terbuka dari dalam dan seorang laki-laki menggelundung keluar.

Kiranya batang pohon itu berlubang dalamnya dan laki-laki ini tadi bersembunyi di dalam pohon.

Melihat keadaan laki-laki ini, Ayu Candra terkejut bukan main.

Keadaan laki-laki ini mengerikan.

Laki-laki itu usianya tentu empat puluh tahun lebih pakaiannya compang-camping, wajahnya penuh bekas luka.

Melihat ke bawah Ayu Candra merasa makin ngeri.

Kedua kaki orang itu buntung sebatas lutut!

Karena celananya juga compang camping maka tampaklah kaki yang buntung itu yang ujungnya merupakan tulang menjedol keluar dikelilingi daging terbungkus kulit berkeriputan.

Laki-laki itu setelah menggelundung keluar, lalu menoleh dan sepasang matanya terbelalak penuh kekaguman memandang wajah cantik jelita dan tubuh yang muda, montok, dan padat.

Akan tetapi hanya sebentar saja kekaguman itu terpancar keluar dari sinar matanya.

Segera ia mengerang kesakitan dan sinar matanya layu.

"Aduh... mati aku...!"

Ayu Candra memiliki dasar watak yang penuh welas asih seperti watak ayahnya.

Melihat keadaana orang itu dan mendengar rintihannya, ia merasa sangat kasihan sekali.

Bagaimana ada orang sampai begini sengsara?

"Kasihan sekali engkau paman Mengapa engkau sampai menjadi begini?!."

Laki-laki itu mengerang panjang, tubuhnya yang miring itu terlentang dan ia memandang ke arah wajah yan cantik Jelita itu.

"Aku... aku menderita sakit"

Ohh... tolonglah aaugghhh."

Kembali ia mengerang dan melanjutkan, terengah-engah,"lapar... Haus"

Aduh..."

Ayu Candra merasa hatinya seperti di tusuk-tusuk.

Entah bagaimana wajah orang ini mendatangkan iba dalam hatinya.

Ia dapat melihat bahwa dahulunya orang ini memiliki bentuk wajah yapg tampan dan pakaiannya walaupun butut, dilihat dari celana, baju, kain dan destarnya, pasti bukan orang dusun biasa.

Dan sinar mata itu amat tajam berpengaruh menandakan seorang "Berisi."

"Aku hanya punya kelapa. Maukah kau minum air dawegan?"

Laki-laki itu menggerakkan kepala mengangguk.

Ayu Candra lalu berjongkok memungut sebutir dawegan yang tadi ia lemparkan keatas tanah, kemudian menggunakan sepotong batu untuk mengupas kulitnya bagian atas dan membuat lubang.

Hal ini dapat ia lakukan dengan mudah, menggunakan tenaga dalam.

Orang biasa saja, biarpun ia laki laki, takkan mungkin mengupas kulit kelapa yang amat liat dan keras itu hanya menggunakan sepotong batu!

Hal ini rupanya dimengerti pula oleh laki-laki buntung karena ia kini sudah bangkit duduk sambil memandang dengan mata terbelalak kaget.

Kalau saja Ayu Candra tidak sedang asyik membuka kulit kelapa, dan melihat cara laki-laki itu bangkit duduk, tentu ia akan menjadi curiga, Ketika itu, laki-laki buntung itu tidak kelihatan selemah tadi, bahkan sekali tubuhnya bergerak ia sudah dapat bangkit dan duduk.

Ketika Ayu Candra membalikkan tubuh membawa kelapa yang sudah terkupas dan terlubang, laki-laki itu kembali kelihatan menyeringai kesakitan, sungguhpun matanya masih terbelalak heran dan kaget.

"Minumlah air kelapa ini, paman. baik untuk kesehatan selain mengurangi haus,"

Kata Ayu Candra dengan suara halus dan penuh perasaan.

Makin dipandang, makin kasihan ia terhadap laki-laki itu.

Sebaliknya bagi laki-laki itu, makin dipandang, makin luar biasa cantik jelita dan halus budi pekerti gadis itu, membuat ia menelan ludah bukan karena haus.

"Terima kasih. terima kasih"

Katanya menerima dawegan, menyembunyikan debar jantungnya yang berdegupan ketika jari tangannya menyentuh jari tangan yang halus dan hangat.

Diteguknya air dawegan itu sampai habis, kemudian diusapnya air yang membasahi ujung bibir dan dagunya.

"Aaahhhh segar sekali. Sudah berkurang peningku. Terima kasih, nak. Engkau sungguh baik sekali."

Tiba-tiba Ayu Candra merasa betapa mukanya menjadi agak panas dan cepat ia membuang muka.

Pandang mata orang itu membuat hatinya berdebar.

Pandang mata itu seakan-akan menembus jantungnya dan menjenguk isi hati dan pikirannya.

Bukan main tajamnya dan ia merasa aneh.

Untuk menghilangkan rasa anehnya ini ia lalu memandang dan berkata.

"Apakah paman mau dahar daging dawegan ini?"

Kembali laki-laki itu mengangguk-angguk, menjilati bibir dengan lidah dan memandang kelapa muda sambil berkata.

"Bagaimana membukanya? Kulihat engkau tidak membawa parang..."

Ayu Candra merasa bahwa di depan seorang tapadaksa itu tidak perlu lagi ia berpura-pura dan menyembunyikan kepandaiannya.

"Tidak perlu pakai parang,"

Katanya singkat sambil mengangkat tangan kanan, dipukulkan pada kelapa muda yang berada di atas telapak tangan kirinya.

"Prakkk!"

Kelapa muda itu pecah menjadi dua, terbelah seperti dibacok kapak tajam saja.

Padahal kelapa itu masih terbungkus serabutnya yang liat!

Laki-laki itu makin heran sampai melongo, kemudian diam-diam ia mengangguk-anggukkan kepalanya, diterimanya kelapa itu dan dimakanlah daging kelapa muda yang lembut, gurih dan manis dengan lahapnya.

"Mau lagikah, paman? Aku masih punya dua butir..."

Tanya Ayu Candra sejujurnya ketika melihat orang itu sudah makan daging kelapa muda.

"Tidak..., sudah cukup. Terima kasih"

"Di manakah rumah paman? Dan mengapa sampai di tempat. ini dalam keadaan seperti... itu?"

Ia menudingkan telunjuknya ke arah kedua kaki yang buntung. Laki-laki itu memandang kepadanya dan pcrlahan-lahan beberapa butir air mata menetes turun... Trenyuh sekali hati Ayu Candra.

"Apakah paman dicelakai orang? Siapa mereka yang mencelakai paman? Kejam benar mereka!"

Mewarisi watak ayahnya, seorang pendekar besar, Ayu Candra mengepal kedua tinju, merasa marah sekali menyaksikan kekejaman orang terhadap laki-laki buntung ini.

Dengan suara pilu laki-laki itu berkata.

"Terima kasih atas perhatianmu, nak. Aku... aku memang seorang yang bernasib buruk. Aku disiksa orang-orang jahat, kedua kakiku dibuntungi dan nyaris dibunuh mereka. Akan tetapi, aku sendiri tidak tahu siapa mereka. Namaku Ki Jatoko dan aku tidak bersanak-kadang, tidak berkeluarga tidak punya tempat tinggal. Aku berusaha mencari pedusunan sambil merangkak-rangkak sedapatnya, sampai di tempat ini terserang sakit dan agaknya Dewata sudah akan mencabut nyawaku. Akan tetapi engkau muncul dan menolongku, ini hanya berarti kematianku agak diperpanjang berikut siksaan dan derita"

Wajah Ayu Candra menjadi pucat.

Ia tidak tahu bagaimana harus menolong orang ini.

Kalau sekarang ia pulang dan meninggalkan orang ini di sini, tentu orang Ini akan mati.

KaJau tidak mati diterkam harimau atau binatang buas lain, tentu akan mati kelaparan dan kehausan.

Membawanya pulang?

Bagaimana caranya?

Dia sudah buntung kedua kakinya.

Pula, kedua orang tuanya tidak berada di rumah.

"Sayang. Ayah dan ibu tidak ada di rumah. Entah kapan pulangnya. Kalau ada ayah, tentu dia akan dapat menolongmu, paman. Ayah tidak akan membiarkan orang Iain menderita tanpa menolongnya."

Ayu Candra tidak melihat betapa sinar mata laki-laki itu berkilat ketika mendengar bahwa ayah-bunda gadis itu tidak berada di rumah.

"Siapakan nama ayahmu yang mulia,nak? Dan siapakah namamu?Aku harus tahu nama dewi penolongku"

"Ayah bernama Ki Adibroto. Kini bersama ibu sedang pergi, mungkin masih lama kembalinya karena baru sepekan dan menurut pesan ayah, mungkin sampai berbulan. Aku bernama Ayu Candra."

"Ayu Candra, anak yang baik, engkau telah menyambung nyawaku tadi apakah sekarang engkau tega meninggalkan paman mati kelaparan di sini? Tolonglah aku, nak, tolonglah...biarlah aku ikut mondok di tempat tinggalmu, sampai orang tuamu datang, atau sampai aku sembuh kembali aduuhhh...!"

Laki-laki itu roboh dan bergulingan di atas tanah.

Ayu Candra kaget sekali, cepat ia berjongkok dan meraba dahi orang.

Amat panas!

Terang bahwa orang ini terkena penyakit demam.

Bagaimana mungkin ia membiarkan saja orang yang sakit ini di dalam hutan tanpa menolongnya?

"Aku suka menolongmu, paman.

Dan aku tidak keberatan kau mondok di pondok kami.

Akan tetapi bagaimana kau dapat sampai ke sana?

Dari tempat ini agak jauh juga, dan jalannya sukar, naik turun dan licin."

Laki-laki ini mengeluh dan kembali bangkit duduk sambil menekan tanah. Cepat-cepat ia menjawab.

"Jangan khawatir, nak. Keadaanku ini membuat aku terpaksa dapat berjalan menggunakan kedua tanganku. Bertahun-tahun aku melatih jalan dengan kedua tanganku dan aku berhasil. Asal tidak terlalu cepat, agaknya aku akan dapat bersamamu pergi ke pondokmu."

Ayu Candra mengangguk-angguk.

"Baiklah, paman. Dan nanti apabila menemui jalan yang terlalu sukar, aku dapat membantumu."

Laki-laki yang mengaku bernama Ki Jatoko itu kelihatan girang sekali. Dengan menekankan kedua tangan ke Atas tanah, ia bangkit dan"Berdiri"

Di atas kedua kakinya"

Yang buntung. Kemudian ia menggerakkan kedua kaki dan ia dapat berjalan cukup baik, seperti seorang anak kecil.

"Jika aku merasa lelah dan kedua kakiku yang bunting terasa nyeri, aku dapat membantunya dengan kedua tangan seperti ini."

Katanya dan kini ia berjalan dengan"empat kaki,"

Sehingga Ayu Candra yang melihatnya merasa terharu sekali. Melihat keharuan membayang di wajah yang cantik manis itu, Ki Jantoko berkata dengan suara memelas.

"Ayu Candra, bocah ayu yang berhati emas, cantik berbudi seperti Dewi Suprobo, sudikah engkau menolong paman yang sengsara ini? Kalau engkau tidak merasa jijik untuk menggandeng tanganku, agaknya aku akan berjalan lebih cepat, tidak usah merangkak seperti binatang berkaki empat"

Suara itu amat mengharukan hati Ayu Candra yang merasa heran kepada dirinya sendiri mengapa ia begini lemah perasaannya sehingga terhadap laki-laki ini, yang sudah setengah tua, buntung lagi buruk mukanya menjijikkan penuh bekas luka, ia merasa amat kasihan dan juga merasa suka!

Betapapun juga, ia memiliki batin yang amat kuat dan masih murni, bersih daripada niat dan pamrih buruk, sehingga andaikata dia tidak merasa amat kasihan kepada Ki Jatoko tentu ia tidak sudi melaksanakan permintaan si buntuhg itu.

"Marilah agar kita cepat sampai di pondokku,"

Katanya mengulurkan tangan kiri kepada Ki Jatoko.

Dengan pandang mata penuh haru dan syukur laki-laki itu memegang tangan kiri Ayu Candra dengan tangan kanannya.

Di dalam hati laki-laki ini menyebut nama Dewata yang memberi berkah sedemikian besar kepadanya.

Jantungnya berdebar-debar ketika kulit tangannya meraba kulit tangan gadis remaja yang halus lunak dan hangat itu.

Kehangatan lembut yang seakan-akan menjalar melalui tangannya dan bagaikan embun membasahi hatinya yang mulai melayu sehingga hatinya menjadi segar kembali, semangatnya yang sudah tidur menjadi bangkit kembali.

Kedua kakinya yang buntung tidak terasa sakit lagi ketika ia berlari-lari kecil dalam langkahnya untuk mengimbangi langkah Ayu Candra yang tentu saja lebih lebar daripada langkah kedua kaki buntungnya.

Siapakah gerangan laki-laki buntung itu?

Benarkah seperti Apa yang ia ceritakan bahwa ia dianiaya oleh orang-orang jahat sehingga kedua kakinya buntung dan mukanya penuh cacad?

Ah, kalau saja Ayu Candra tahu siapa dia sebenarnya!

Laki-laki itu sama sekali bukanlah orang lemah seperti tampaknya.

Dan kedua kaki yang buntung itu tidak lagi terasa sakit seperti yang diperlihatkannya.

Tidak, sama sekali tidak.

Kaki itu sudah buntung selama lima tahun yang lalu!

Dan laki-laki itu sama sekali bukan orang lemah, bahkan dengan kedua kakinya yang buntung itu masih memiliki kesaktian yang hebat.

Karena dia ini bukan lain adalah Jokowanengpati!

Ya, kedengarannya aneh, akan tetapi sebetulnya tidak aneh.

Tidak ada yang aneh di dunia ini, bahkan di alam semesta, apabila Tuhan menghendaki.

Semua sudah wajar dan semestinya demikian, sesuai dengan kehendak Tuhan karena apabila Tuhan tidak menghendaki, tentu tidak akan terjadi demikian!

Ketika Jokowanengpati dalam pertandingan melawan pengeroyokan Kartikosari dan Roro Luhito, terjun ke dalam Laut Selatan dan mengejek kedua orang wanita musuh besarnya itu, ia disambar ikan hiu.

Dalam pandangan Kartikosari dan Roro Luhito, juga Pujo yang diam-diam menyaksikan babak terakhir pertandingan hebat itu, tentu saja Jokowanengpati tewas karena diseret ikan hiu yang buas dan lenyap ke bawah permukaan air laut.

Mereka ini tidak melihat Jokowanengpati muncul kembali, maka sudah tentu menganggap bahwa musuh besarnya itu habis riwayatnya dikubur ke dalam perut ikan.

Akan tetapi sesungguhnya tidak seperti yang mereka sangka dan harapkan.

Jokowanengpati adalah seorang yang sakti dan memiliki tubuh yang kebal, juga amat cerdik, licin dan penuh akal.

Tadinya ia memang kehilangan akal ketika secara tiba-tiba diserang ikan hiu yang besar dan amat kuat itu.

Rasa ngeri dan takut membuat ia menjerit-jerit minta tolong, lupa untuk mempergunakan kecerdikan dan kekuatan sendiri untuk menolong dirinya.

Akan tetapi ketika ikan hiu itu membawanya menyelam, menyeretnya sampai jauh di dalam air, dalam keadaan pelik ini, dalam cengkeraman maut yang agaknya takkan dapat dihindarinya lagi, Jokowanengpati menjadi marah sekali.

Marah terhadap ikan itu dan kini seluruh perhatiannya dicurahkan kepada musuh barunya ini, yang mengancam keselamatan nyawanya.

Timbul akalnya.

yang digigit ikan itu adalah kedua kakinya.

Ketika tadi ia meronta, gigitan ikan itu melorot turun dan kini gigi ikan yang seperti gigi gergaji itu tertanam di kedua paha dekat lutut.

Kini kedua tangannya dapat menjangkau ke bawah.

Jokowanengpati tadi telah menghirup napas sepenuh paru-parunya ketika akan dibawa menyelam, ketika ia melepaskan perlawanannya ketika diseret ke bawah permukaan air laut.

Kini, sambil mengerahkan seluruh tenaga ke dalam jari-jari tangan kanannya, ia meraih ke depan, sejauh mungkin sehingga ia mampu mencapai mata ikan.

(Lanjut ke

Jilid 26) Badai Laut Selatan (Seri ke 03 Serial Serial Keris Pusaka Sang Megatantra) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo

Jilid 26 Ia mengerahkan tenaganya dan...

jari-jari tangannya menusuk mata ikan itu dan mengoreknya keluar, lalu cepat tangannya meraih mata yang sebelah lagi.

Ikan itu kesakitan dan berkelojotan, membawa tubuh Jokowanengpati ikut pula terbanting-banting dan berputaran di dalam air.

Akan tetapi dia berhasil membikin buta mata yang Scbelah lagi.

Karena sakit sekali agaknya, ikan itu mengatupkan mulutnya dengan tenaga yang luar biasa dan Jokowanengpati tiba-tiba merasa tubuhnya terlepas dari pada gigitan ikan hiu.

Rasa girang berbareng dengan timbulnya harapan membuat tenaganya menjadi berlipat ganda.

la menggerakkan kedua tangan menekan air dan tubuhnya mumbul ke atas.

Hari telah menjelang malam dan Jokowanengpati segera menggerakkan kedua tangannya berenang menuju ke pantai yang kelihatan remang remang.

Ketika ia berenang dan menggerakkan kaki, ia merasa jantungnya seperti tidak berdenyut lagi.

Kedua kakinya!

Begitu ringan!

la menoleh dan matanya terbelalak lebar.

Kedua kakinya tidak ada lagi!

Hampir ia pingsan saking kagetnya.

Dan sekiranya ia pingsan pada saat itu, tentu akan tamatlah riwayat hidupnya.

Akan tetapi Jokowanengpati masih suka hidup dan berenanglah ia tanpa kaki, dengan susah payah menuju pantai.

Ketika tiba di tempat dangkal ia tak dapat berenang lagi, tidak dapat berdiri pula.

la lalu merangkak dan pada saat itulah semua rasa nyeri yang hebat menyelubungi tubuhnya.

Nyeri pada kedua kaki yang mendenyut-denyut sampai menembus jantung dan tulang sumsum.

Nyeri karena perih dan sakit-sakit pada seluruh tubuh, pada mukanya.

Nyeri yang tak tertahankan lagi, bagaikan dibetot-betot nyawa dari tubuh.

Serasa ditarik-tarik semua urat di tubuhnya.

Jokowanengpati tidak kuat lagi dan akhirnya ia roboh pingsan di atas pasir.

Saat itulah penentuan mati hidupnya.

Dan jelas bahwa Tuhan menghendaki dia hidup.

Buktinya, secara kebetulan sekall air laut menjadi surut setelah ia roboh pingsan.

Andaikata air laut tidak surut dan sebaliknya malah pasang, tentu ia akan terendam air atau dibawa hanyut ke tengah oleh ombak.

Air laut yang surut membuat Jokowanengpati menggeletak tertelungkup di atas pasir, seperti mayat.

Semalarn suntuk ia menggeletak tak sadarkan diri di atas pasir.

Kalau saja ia tidak terluka sewaktu berada di dalam air laut, tentu ia akan tewas, bukan saja karena luka akan tetapi juga karena kehabisan darah.

Agaknya air laut menjadi obat penawar yang mujijat.

Pada pagi harinya, Jokowanengpati siuman dari pingsannya.

Dengan merangkak-rangkak ia mendarat.

Setelah ia terbebas daripada cengkeraman maut yang mengerikan, biarpun ia harus mengorbankan kedua kakinya, kini ia ingin hidup terus!

la belum mau mati dan timbul pula semangatnya untuk hidup.

Biarpun harus mernngkak-rangkak, akhirnya ia dapat memasuki sebuah hutan dan merawat luka-lukanya sampai sembuh.

la tidak berani keluar dari dalam hutan-hutan lebat.

la maklum bahwa kalau musuh-musuhnya mengetahui bahwa ia masih hidup, tentu mereka akan datang mencarinya dan rnembunuhnya.

Dan dalam keadaan seperti itu, tak mungkin ia mampu mengadakan perlawanan seimbang.

Karena itulah, Jokowanengpati hidup di dalam hutan-hutan, merawat luka-lukanya dan juga memperdalam ilmu-ilmunya karena la ingin hidup terus.

Dan untuk dapat hidup terus ia harus memperdalam ilmu-ilmunya untuk mengatasi kebuntungan kakinya.

Untuk menyambung hidupnya di dalam hutan ia tidak khawatir.

Biarpun kedua kakinya buntung, namun kedua tangannya masih ampuh.

Sekali sambit dengan batu ia mampu merobohkan binatang hutan, baik binatang kelinci, kijang, maupun harlmau.

Demikian, lima tahun lebih ia merantau seperti binatang di dalam hutan-hutan sehingga akhirnya ia naik ke lereng Gunung Lawu.

Ia tadinya berniat hendak bertapa dan memperdalam kesaktiannya.

Akan tetapi karena selama lima tahun lebih tidak bergaul dengan manusia, ia merasa kesepian dan terutama sekali ia merasa rindu akan seorang wanita.

Perasaan sepi dan rindu ini yang membuat ia tergoda dan tersiksa dalam tapanya sehingga ia mengeluh dan merintih ketika secara kebetulan sekali Ayu Candra lewat.

Alangkah kaget, heran, dan girang hati Jokowanengpati ketika ia mendengar suara wanita menegur di luar pohon dimana ia bertapa!

Hampir ia tidak percaya akan pendengaran telinganya.

Suara wanita!

Dan begitu merdu, begitu halus.

Telinganya yang sudah hafal akan suara wanita segera dapat menduga bahwa yang berdiri di luar pohon adalah seorang wanita muda, seorang gadis remaja.

Maka ia lalu bersandiwara, membuka pintu tempat pertapaannya di dalam batang gerowong, lalu menggelundung keluar.

Dengan akal yang cerdik sekali, disertai Aji Asmoro-kingkin yang pernah ia pelajari dari Ni Nogogini, ia berhasil membuat hati gadis itu terharu dan suka kepadanya, ia berhasil mempengaruhinya dan kini dengan hati girang ia ikut gadis remaja yang cantik jelita itu pulang ke pondok!

Dapat dibayangkan betapa jantung laki-laki yang sudah bobrok moralnya ini berdebar tidak karuan ketika ia digandeng oleh Ayu Candra yang menaruh kasihan kepadanya.

Akan tetapi, mengingat akan cara gadis jelita ini tadi memecah buah kelapa dengan telapak tangan, kemudian melihat pula cara Ayu Candra mendaki dan menuruni bukit sambil menggandengnya sedemikian cekatan, pula merasa betapa ketika menggandengnya, gadis itu menyalurkan hawa sakti untuk dapat membawanya melompati jurang-jurang kecil, Jokowanengpati yang kini sudah berganti nama Ki Jatoko (Sengsara) itu maklum bahwa Ayu Candra bukanlah gadis sembarangan.

Tentu orang tuanya yang bernama Ki Adibroto juga seorang yang memiliki kesaktian.

Maka ia berlaku hati-hati dan menahan-nahan hasrat hatinya yang timbul oleh dorongan nafsu berahi melihat gadis yang benar-benar amat jelita ini.

Hatinya girang dan lega mendengar bahwa ayah-bunda gadis itu tidak berada di pondok.

Gadis itu berada seorang diri!

Calon korban yang mudah dan lunak.

Betapapun juga, ia tidak mau berlaku sembrono dan ada sesuatu dalam gerak-gerik dan sikap Ayu Candra yang amat menarik dan yang mengguncangkan hatinya, perasaan yang selamanya belum pernah ia alami.

Biasanya, menghadapi setiap orang wanita dari gadis dusun sampai puteri bangsawan, ia memandang dan menganggapnya sebagai setangkai bunga yang menarik hati, yang menimbulkan rangsang dan hasrat untuk memetik, menikmati keindahannya, mencium keharumannya, kemudian melemparkannya bunga yang melayu tanpa perasaan kecewa atau menyesal lagi.

Akan tetapi, kali ini tidak demikian.

Memang tersentuh berahinya menyaksikan gadis jelita ini, mendorong nafsunya untuk memiliki Ayu Candra, Akan tetapi berbeda dengan yang sudah-sudah, ia mendapat keyakinan dalam perasaannya bahwa hidupnya akan selalu bahagia apabila ia dapat terus berdampingan dengan gadis ini!

Inilah yang membuat hati Ki Jatoko ragu-ragu untuk mempergunakan kekerasan seperti yang seringkali ia lakukan terhadap para wanita korbannya.

Inilah yang membuat Ki Jatoko timbul keinginan di hatinya untuk mempersunting Ayu Candra dengan bujuk rayu, ingin dicinta gadis itu sepenuh hati, dan ingin melihat gadis itu menyerahkan diri dan jiwa kepadanya dengan landasan cinta kasih!

Menggelikan sekali!

Ki Jatoko, atau Jokowanengpati, yang dahulunya seorang pria yang gagah dan tampan, yang tidak pernah jatuh hati kepada wanita manapun juga, yang hanya suka untuk mempermainkannya, Kini setelah berusia empat puluh tahun lebih, setelah kedua kakinya buntung dan badan serta mukanya penuh cacad, secara mendadak ia jatuh cinta kepada seorang gadis cantik jelita berusia tujuh belas tahun!

Sungguh gila!

Gilakah Jokowanengpati karena mencinta gadis jelita remaja puteri?

Kalau dia dikatakan gila, maka agaknya di dunia ini penuh orang gila!.

Betapa banyaknya di dunia ini terdapat orangorang seperti Jokowanengpati, malah banyak yang lebih gila daripada itu.

Orang-orang dimabuk cinta, dimabuk benci, dirangsang marah, dibakar dendam, digoda iri dan dengki.

Tidak, Jokowanengpati atau Ki Jatoko tidak gila, melainkan lemah.

Dia lemah seperti manusia kebanyakan, lemah terhadap nafsu nafsu pribadi, menjadi hamba nafsu dan karenanya menjadi abdi iblis dan setan!

Cinta kasih yang bersemi secara aneh di lubuk hati Ki Jatoko inilah yang membuat Ayu Candra terjamin keamanannya dalam perjalanan pulang itu.

Andaikata tidak ada cinta kasih yang ganjil ini tentu ia telah ditubruknya dan diperkosa dengan kekerasan.

Dan betapapun pandai gadis itu dalam ilmu silat dan kesaktian, dia bukanlah lawan Ki Jatoko atau Jokowanengpati!

Dalam perjalanan pulang ke pondok di Sarangan ini, sambil bergandeng tangan, Ki Jatoko berhasil memancing Ayu Candra menceritakan keadaannya.

Gadis ayu yang sama sekali tidak menaruh curiga itu menceritakan bahwa ayahnya, Ki Adibroto, adalah seorang pendekar daerah Ponorogo yang terkenal, seorang"warok"

Golongan putih, yang tidak akan ragu-ragu untuk membasmi kejahatan. Dalam bercerita tentang ayahnya, Ayu Candra merasa bangga.

"Pantas saja engkaupun hebat sekali!"

Ki Jatoko memuji."Aku tadi merasa kagum dan heran ketika engkau memecah buah kelapa dengan tanganmu yang halus lunak ini. Kiranya engkau puteri seorang pendekar perkasa!"

Ayu Candra adalah seorang gadis yang masih hijau dalam pergaulan dan pengalaman.

Ia tidak dapat membedakan antara bujuk rayu dan pujian sesungguhnya.

Ia merasa bangga dan dengan kedua pipi kemerahan ia berkata.

"Ah, paman Jatoko, kau terlalu memuji. Kepandaianku tidak ada artinya kalau dibandingkah dengan ayah. kau tunggulah sampai ayah pulang, tentu ayah akan menolongmu."

"Aku boleh tinggal bersamamu di pondok? Apakah ayah-bundamu tidak akan marah?"

Ayu Candra masih bodoh.

Belum begitu mendalam pengertiannya tentang tata susila antara pria dan wanita.

ApaJagi, dalam pandang matanya, Ki Jatoko adalah seorang tua yang bercacad, pantas menjadi pamannya.

Apa salahnya kalau mondok di rumahnya?

Orang yang berpikiran bersih memang tidak ada syak wasangka yang bukan-bukan.

"Mengapa tidak boleh? Tentu saja mereka tidak akan marah! Siapa orangnya takkan menolong kalau melihat keadaanmu seperti ini?"

"Kau baik sekali... kau baik sekali..."

Entah mengapa, Ki Jatoko menggigil seluruh tubuhnya dan biarpun ia berusaha menekan, tangan Ayu Candra yang menggandeng tangannya merasa betapa tangan laki-laki buntung itu tergetar.

Hal ini dianggap oleh gadis itu sebagai perasaan terharu si laki-laki buntung yang merasa amat bersyukur dan berterima kasih.

Ia menjadi makin kasihan.

Setibanya di pondok, Ayu Candra cepat menanak nasi dan memasak sayuran untuk Ki Jatoko yang duduk di lincak (bangku bambu) depan pondok.

Setelah matang, gadis itu mempersilahkan tamunya dahar yang diterima dengan rasa syukur dan girang oleh Ki Jatoko.

Malam itu Ki Jatoko bermalam di pondok.

Akan tetapi ia menolak ketika oleh Ayu Candra ditawarkan bilik belakang.

"Tidak, anak manis, biarlah di sini saja di atas lincak ini cukuplah."

"Akan tetapi, di luar dingin sekali, paman. Pula, kalau malam nanti datang binatang buas,kan berbahaya?"

Di dalam hatinya, Ki Jatoko mentertawakan. Masa ia takut akan segala binatang buas? Akan tetapi mulutnya menjawab.

"Ah, kiranya tidak akan ada binatang buas yang doyan tubuhku lagi. Pula, biasanya binatang buas tidak berani mendekatl tempat tinggal manusia. Aku sudah biasa tidur di luar, mungkin kalau tidur di dalam pondok malah menjadi gelisah tak dapat tidur."

Ayu Candra tidak memaksa dan malam itu dia segera memasuki biliknya.

Betapapun juga, tidak enak hatinya kalau malam-malam bercakap-cakap dengan laki-laki buntung itu, ia merasa canggung juga.

Ia tidak tahu bahwa Ki Jatoko memang sengaja tidak mau tidur di dalam pondok karena ada niatnya.

Di samping itu, laki-laki yang cerdik ini menjaga kalau-kalau orang tua gadis itu sewaktu waktu pulang.

Jika pulang di waktu malam dan melihat dia sebagai seorang pria berani tidur sepondok dengan puteri mereka, tentu mereka akan marah dan menganggap dia tidak tahu aturan.

Sungguh dia polos, suci murni dan baik budi Demikian Ki Jatoko termenung memikirkan gadis ayu itu yang tanpa ragu-ragu mempersilahkan dia seorang laki-laki asing, untuk tidur di dalam pondok.

Bagi umum, tentu hal ini dianggap pelanggaran susila, akan tetapi ia tahu betul bahwa gadis itu menawarkan pondok dengan hati bersih daripada segala pikiran yang bukan-bukan.

Ki jatoko gelisah sekali.

Sampai jauh malam ia tidak dapat tidur, hanya duduk merenung di atas lincak.

Bayangan wajah yang cantik jelita, bentuk tubuh yang ramping padat, keindahan dan keranuman usia muda, kulit tangan yang halus lunak dan hangat, semua ini menggoda hatinya, membangkltkan berahi yang makin berkobar.

Apalagi kalau ia terkenang akan semua perbuatannya di masa lalu, membanding-bandingkan semua korbannya, yaitu wanita-wanita yang dimilikinya baik secara halus maupun kasar, secara suka rela maupun perkosaan, dalam kenangannya tidak ada yang dapat melawan Ayu Candra!

"Aku harus dapatkan dia!

Harus!

Matipun takkan penasaran lagi, setiap waktu matipun aku akan rela asal sudah mendapatkan dia.

Ah, Ayu Candra bocah ayu denok, kau membikin aku tergila-gila"

Ki Jatoko lalu bersedakap dan matek aji sirep.

Sejam kemudian, keadaan pondok dan sekelilingnya sunyi mati, tidak terdengar suara sedikitpun karena terkena pengaruh aji sirep yang ampuh.

Ki Jatoko lalu meloncat turun dari lincak dan kini gerakannya amat gesit ketika ia membuka daun pintu pondok dan berjalan biasa menggunakan kedua kaki buntungnya.

Berindap-indap ia menghampiri bilik tempat tidur Ayu Candra.

Dari dalam bilik bersinar cahaya dian yang menyorot keluar menembus celah-celah anyamam bambu, menyinari wajah Ki Jatoko yang kelihatan mengerikan sekali.

Wajah itu lebih buruk daripada biasanya.

Kini berkilat-kilat basah oleh peluh, matanya agak kemerahan dan bersinar-sinar penuh nafsu berahi, mulutnya menyeringai basah, napasnya agak tersendat-sendat tertahan karena gelora nafsu asmara.

Dengan tangan gemetar didorongnya daun pintu bilik itu dan di lain saat ia sudah memasuki bilik.

seperti terpesona ia berdiri di ambang pintu.

Dian itu kecil sumbunya.

Api minyak kelapa itu kecil namun anteng dan membuat keadaan bilik remang-remang.

Ayu Candra tampak tidur nyenyak.

Rambut yang panjang gemuk dan hitam itu terurai, sebagian menutupi muka, terus terurai ke bawah menutupi dada, membuat kulit dada itu tampak makin putih halus di balik kehitaman rambut.

Dada padat membusung itu bergerak perlahan naik turun seirama dengan napas yang halus dan tidak bersuara.

Mata yang membuat bulu mata tampak panjang melengkung dan membuat bayang-bayang di bawah mata.

Bibir yang merah membentuk gendewa terpentang itu mengulum senyum, manis mengalahkan sari madu.

Tubuh yang padat, denok dan ramping, kelihatan panjang ketika tidur telentang.

Lengan kiri dara itu ditekuk ke atas, lengan kanan menyilang perut, seperti gerak tari yang amat indah gemulai.

Ki Jatoko mengejapkan matanya, menggoyang-goyang kepala.

Akan tetapi ketika memandang kembali, tetap saja ia menjadi seperti mabuk.

Berkali-kali ia menelan ludah, tubuhnya makin menggigil, dan perlahan-lahan ia mendekati pembaringan.

"Ayu... Ayu Candra... aduhhh alangkah cantik jelita engkau... belum pernah kumelihat wanita secantik engkau, Ayu...!"

Ucapan ini tidak dibisikkannya, melainkan diucapkan.

Akan tetapi Ayu Candra yang biasanya peka dan mudah bangun dari tidurnya setiap mendengar suara yang tidak sewajarnya, kini tetap pulas.

Ternyata ia telah terkena pengaruh aji sirep yang ampuh tadi sehingga keadaannya seperti orang pingsan.

Jangankan hanya suara manusia, biar suara harimau mengaum dekat telinganya, ia takkan dapat bangun.

Andaikata ia diseret turun dari atas pembaringan sekalipun, ia takkan dapat sadar!.

Ki Jatoko kini sudah dekat, berdiri di pinggir pembaringan.

Harum kembang mawar putih yang tersebar di atas pembaringan membuat ia sejenak memejamkan kedua matanya.

Cuping hidungnya tergetar dan napasnya menjadi sesak.

Ketika ia membuka matanya kembali, tampak matanya membasah.

Keindahan yang tampak di depan matanya begitu mempesona, begitu memikat, begitu indah sampai mendatangkan rasa haru.

"Aduh, dewiku... kalau engkau tidak membalas cintaku, aku tidak mau hidup lagi...!"

Kedua tangan Ki Jatoko terulur, jari-jari tangannya tergetar, ia bergerak memeluk, hendak merangkul.

Akan tetapi sebelum jari tangannya menyentuh kulit yang putih halus itu, tiba-tiba ia tersentak kaget dan menarik kembali tangannya.

"Duh Jagad Dewa Bathara! Gilakah aku? Ayu Candra... bocah ayu kuning... bagaimana aku dapat memperlakukannya seperti wanita-wanita lain? Bagaimana aku tega untuk memperkosanya? Tentu dia akan benci kepadaku! Tentu ia akan memandang rendah, akan mengutukku, memusuhiku. Ahhh... tidak boleh begini! Jokowanengpati, engkau sudah gila! Gadis ini benar-benar telah menjatuhkan hatiku. Aku aku cinta kepadanya, tidak boleh ia membenciku. Aduh,... Ayu Candra... engkau maafkan aku, nimas! Aku tidak tega memaksamu, aku akan menanti sampai engkau dengan suka rela menyerahkan diri kepadaku, membalas cinta kasihku...!!"

Lemaslah kedua kaki yang tinggal paha itu dan Ki Jatoko hanya berani mencium ujung rambut yang terurai keluar dari pembaringan.

Kemudian dengan pipi basah air mata ia keluar lagi dari bilik menutupkan pintu dan merebahkan diri di atas lincak di depan pondok.

Ia gelisah tak dapat tidur, mengeluh panjang pendek, dan akhirnya baru bisa pulas menjelang fajar.

Cinta memang perasaan ajaib.

Akibat daripada cintapun banyak macamnya dan aneh-aneh.

Orang merasa dirinya dalam surga dunia karena cinta.

Akan tetapi dapat juga merasa dirinya dalam neraka dunia karena cinta.

Cinta ditempeli nafsu berahi membuat orang lupa akan tata susila.

Cinta dicampur cemburu dapat membuat orang menjadi kejam dan suka menyiksa.

Cinta dapat merubah seorang baik-baik menjadi seorang yang jahat dan keji.

Sebaliknya cinta dapat pula merubah seorang yang biasanya jahat menjadi seorang yang baik dan setia terhadap orang yang dicintainya.

Cinta mampu merubah watak domba menjadi watak harimau, sebaliknya watak harimau dirubah menjadi watak domba.

Ayu Candra bangun dari tidurnya, bangkit dengan malas, menggeliat dan menguap di belakang kepalan tangannya.

Ia merasa tubuhnya segar.

Enak sekali tidurnya malam tadi.

Akan tetapi...

tiba-tiba ia mengerutkan alisnya yang hitam melengkung.

Ia bermimpi malam tadi!

Mimpi aneh sekali, dan tiba-tiba ia menggerakkan kedua pundaknya yang telanjang seperti orang jijik.

Ia mimpi menggandeng tangan Ki Jatoko seperti kemarin akan tetapi tiba-tiba Ki Jatoko mencium ujung jarinya.

Ketika dilepaskan pegangannya, tangan yang dicium itu menjadi busuk dan rusak, seperti orang saklt kusta dan makin lama penyakit itu menjalar makin ke atas, makan jarinya, tangannya, lengannya!

"Ihhh...!

Gila, menjijikkan!"

La melompat turun dari pembaringan dan mencoba untuk menghibur diri dengan keyakinan bahwa hal itu hanya terjadi dalam mimpi.

Akan tetapi hatinya tetap tidak enak, seakan-akan ada kotoran yang hinggap pada tubuhnya dan harus segera dibersihkan!.

Di luar pondok, ayam hutan terdengar berkokok saling sahut.

Memang sudah biasa dara ini bangun pagi-pagi sekali.

Bangun pagi di waktu ayam berkokok menyehatkan dan menyegarkan badan.

Ia lalu meniup padam dian di atas meja, dan berjalan keluar dari bilik.

Hati-hati ia membuka pintu depan dan ketika menjenguk keluar, ia melihat Ki Jatoko masih tidur meringkuk di atas lincak.

Kelihatan pendek sekali.

Mulutnya terbuka dan dengkurnya kasar.

Ayu Candra bergidik teringat akan mimpinya semalam.

Makin tak enak perasaan hatinya setelah melihat orang yang kakinya buntung itu tidur mendengkur di atas lincak.

Benar menjijikkan sekali.

Karena keadaan si buntung itu tidak menderita seperti siang tadi, rasa kasihan menipis di hatinya dan rasa jijik timbul.

Sialan, pikirnya.

Mimpi saja kok macam itu.

Ia jarang sekali mimpi dan mimpi yang sekali ini benar-benar membuat ia tak tenang jiwanya.

Ia menutup daun pintu depan lalu melangkah keluar dan ccpat-cepat ia berlari menuju ke telaga.

la sengaja jalan memutar dan memilih bagian yang jauh dari pondoknya, yang sunyi dan memang bagian ini menjadi tempat ia mencuci pakaian dan mandi.

Bagian ini airnya paling bersih.

Sampai tempat itu, ia duduk di atas batu yang bersih licin.

Duduk termenung.

Mengapa ayah-bundanya lama amat perginya?

Kalau mereka pulang, tentu hatinya akan tenteram.

Kini teringat ia betapa sepasang mata orang buntung itu seperti mata setan.

Aneh sekali, pikirnya.

Orang buntung yang sengsara dan lemah itu memiliki sepasang mata yang memancarkan cahaya aneh dan begitu kuatnya, seakan-akan mampu menjenguk isi hatinya.

Mata seperti itu sepatutnya dimiliki seorang yang sakti!

Ada persamaan dengan sinar mata ayahnya, hanya kalau sinar mata ayahnya yang tajam itu mengandung kelembutan dan ketenangan, adalah mata orang buntung ini juga tajam akan tetapi mengandung sesuatu yang aneh dan liar tidak tenang.

Ayu Candra tidak segera turun keair.

Hari masih terlalu pagi, dan hawa udara amat dingin.

Biasanya, ia baru berani terjun ke air kalau matahari sudah muncul sehingga begitu selesai mandi ia dapat berjemur menghangatkan tubuh dan mengeringkan rambut.

Apalagi sekarang karena tergesa-gesa hendak segera meninggalkan pondok dan orang buntung itu, ia teiah kelupaan membawa kain pengganti.

Ibunya melarangnya mandi bertelanjang, kecuali di waktu malam gelap.

Banyak mata laki-laki kurang ajar, kata ibunya.

Pernah dibantahnya bahwa di telaga tidak ada orang lain.

Siapa tahu, kata ibunya.

Di mana-mana dalam dunia ini akan kau jumpai laki-laki kurang ajar yang suka mengintai wanita mandi, apalagi kalau mandi bertelanjang, kata pula ibunya.

Ia teringat akan laki-laki buntung.

Apakah mata laki-laki itupun mata kurang ajar?

Ayu Candra belum mampu membedakan dengan jelas.

Pernah ketika di Ponorogo dahulu, ketika ia pulang dari pasar, lima orang pemuda berandalan menggodanya dengan ucapan ucapan kasar, bahkan tangan mereka berlancang hendak menjamahnya.

Mula-mula Ayu Candra melayani mereka bicara, akan tetapi setelah tangan mereka mulai jahil, ia mengeluarkan kepandaiannya dan membuat mereka berlima berjungkir balik dan babak belur.

Mulailah ia dikenal orang dan tak seorangpun pemuda berani berkurang ajar kepadanya.

Apalagi setelah orang tahu bahwa dia puteri pendekar Adibroto!.

Kalau teringat kepada Ki Jatoko dan mimpinya semalam, Ayu Candra masih merasa jijik dan merasa seakan-akan tubuhnya menjadi kotor.

Ia bangkit dari duduknya dan mencari daun pandan dan bunga-bungaan karena ia hendak keramas.

Kalau hanya mandi biasa tanpa keramas, ia takkan merasa dirinya bersih kembali.

Sementara itu, matahari sudah mulai menyinarkan cahayanya yang lembut dan kemerahan.

Lama juga gadis ini duduk termenung tadi.

Ayu Candra sama sekali tidak tahu bahwa ketika sedang memetik daun pandan dan bunga-bunga mawar, sepasang mata yang baru bangun tidur menatapnya dari atas sebatang pohon yang besar.

Mata itu mula-mula terbuka kaget dan bangun dari tidur ketika Ayu Candra menginjak daun-daun kering, kemudian terbelalak memandang ke bawah, lalu ketap-ketip (berkejap-kejap) dan tangannya menggaruk-garuk kepala, menggosok-gosok kedua mata yang masih sepet, memandang kembali dan sekali lagi melongo.

"Mimpikah aku? Gila benar, ada mimpi begini jelas?"

Tangan itu kini mencubit pahanya sendiri dan mulutnya menyeringai ketika ia merasa nyeri.

Ketika memandang ke bawah lagi, ia melihat dara jelita itu yang sudah selesai memetik bunga, kini berjalan pergi.

Lenggang yang seenaknya tak dibuat-buat itu seakan-akan mempunyai daya tarik dan membetot-Betot hati laki-laki yang rebah di atas batang pohon besar.

Ia bangkit dan duduk di atas cabang pohon, matanya terbelalak memandang pinggul yang menari-nari itu.

"Bukan mimpi! Dia itu peri penjaga hutan atau peri telaga yang kesiangan! Atau bidadari kahyangan hendak mandi! Kalau manusia tak mungkin. Bagaimana seorang dara remaja berada seorang diri dihutan sunyi dan liar ini? Dan kalau manusia tidak ada yang sedemikian eloknya, wajahnya bersinar-sinar seperti mengeluarkan cahaya keemasan, rambutnya seperti awan hitam berarak, kakinya begitu ringan tak menyentuh bumi! Aduh Gusti, benar-benarkah aku melihat bidadari?"

Laki-laki itu menyingkap rambut yang turun ke dahi itu, lalu sekali menggerakkan tubuh ia telah melayang turun dari pohon.

Gerakannya amat ringan dan sigap, kedua kakinya menginjak tanah tanpa mengeluarkan suara!

Dia seorang laki-laki yang masih amat muda, bertubuh sedang dengan bentuk tegap kuat, wajahnya tampan.

Akan tetapi pada saat itu sinar matanya yang tajam berpengaruh itu diselimuti kebingungan yang timbul dari hati yang berdebar-debar.

Dengan gerakan yang amat gesit namun sama sekali tidak mengeluarkan suara, ia mengejar ke depan dan mengikuti Ayu Chandra yang berjalan dengan lenggang sewajarnya menuju ke pinggir telaga.

Sinar matahari pagi disambut keriangan burung yang berkicau merdu, tanda bahwa permukaan bumi mulai bangun untuk menyambut kemegahan sang surya.

Keadaan yang indah ini agaknya mempengaruhi hati Ayu Candra karena mulutnya mulai tersenyum-senyum, wajahnya berseri dan ia lalu bersenandung.

"Ana pandhita akarya wangsit, minda kumbang angajab ing tawang, susuh angin ngendi nggone, lawan galihing kangkung, wekasane langit jaladri, Isining wulung wungwang, lan gigiring punglu, tapaking kuntul anglayang, manuk miber uluke ngurgkuli langit, kusuma jrahing tawang."

Pemuda yang mengikuti dari belakang itu melongo.

Aduhh, pikirnya, tentu bidadari kahyangan.

Kalau seorang gadis gunung biasa tak mungkin bertembang seperti itu!

Suaranya merdu melebihi burung kenari.

Tembang Dandanggendis itu tepat dan indah alunannya seperti nyanyian waranggana istana saja.

Dan kata-katanya Mengandung makna yang amat dalam, penuh filsalat kebatinan yang hebat!

Selama hidupnya, baru kali ini Joko Wandiro terpesona oleh seorang wanita.

Ya!

Pemuda itu bukan lain adalah Joko Wandiro.

Setelah ia gagal mengabdi kepada Sang Prabu Panjalu, kemudian di alun-alun Kerajaan itu ia berhasil mengalahkan dan mengusir Ni Durgogini dan Ni Nogogini, Joko Wandiro lalu meninggalkan Kerajaan Panjalu.

Ia terus mengembara ke barat karena tujuan hatinya adalah mencari ayah angkatnya dan bibinya di Bayuwismo pantai Laut Selatan.

Ia melakukan perjalanan seenaknya, melalui gunung-gunung sambil menikmati pemandangan alam yang indah sehingga akhirnya ia sampai di lereng Gunung Lawu dan bermalan di sebuah hutan tidak jauh dari Telaga Sarangan.

Perjumpaannya dengan Ayu Candra benar-benar tak disangkanya sama sekali.

Tidak pernah ia menyangka bahwa di tempat sunyi ini tinggal seorang gadis jelita seorang diri sehingga mau ia percaya bahwa gadis itu tentulah sebangsa bidadari penghuni kahyangan.

Biarpun Joko Wandiro semenjak kecil digembleng oleh orang-orang pandai, memiliki batin yang amat kuat, namun ia seorang manusia juga.

Manusia laki-laki yang masih muda, baru berusia dua puluh tahun kurang.

Sebagai seorang manusia biasa, tentu saja iapun mempunyai perasaan wajar terhadap wanita, teristimewa kepala wanita yang memiliki daya penarik khas terhadap perasaan dan seleranya.

Joko Wandiro bukanlah seorang laki-laki mata keranjang, dan biasanya hatinya acuh tak acuh apabiia ia bertemu dengan wanita muda.

Memang setelah dewasa, ia dapat menilai akan cantik tidakhya seorang wanita, namun belum pernah ia merasa tertarik dan boleh dikatakan hatinya selalu dingin.terhadap mahluk jenis lawan ini.

Akan tetapi sekali ini lain sama sekali.

Begitu melihat Ayu Candra, ia terpesona, jantungnya berdebar-debar tidak karuan dan semangatnya serasa melayang layang.

Tidak ada hasrat lain di hatinya kecuali mengikuti ke manapun juga dara itu pergi!

Seperti, seorang linglung kini ia berindap-indap dan mengikuti dara itu yang menuju ke pinggir telaga sambil bertembang amat merdunya.

Ayu Candra tidak tahu bahwa dirinya diikuti dan diperhatikan orang.

Ia lalu turun ke dalam air, terus ke depan di mana air sampai di pinggangnya.

Amat sejuk dan segar.

Ia menyelam tiga kali lalu menggosok-gosokkan daun pandan dan bunga-bungaan kepada rambutnya yang terurai basah.

Rambut yang hitam gemuk panjang itu mengkilap tertimpa sinar matanari pagi dan kulit yang putih menguning itu seperti kencana muda.

Joko Wandiro berindap-indap mendekat pantai.

seperti mimpi ia terus mendekat sampai berada di tepi pantai, hanya beberapa meter jauhnya dari gadis itu, lalu bersimpuh di atas rumput.

Kini ia tidak bersembunyi lagi, melainkan duduk menonton di tepi telaga seperti orang tak sadar akan keadaan dirinya.

Terpesona ia memandang ke depan, melihat tubuh belakang dara itu.

Kain yang basah itu menempel ketat dan mencetak tubuh belakang yang ramping, padat dan gempal.

Di bagian pinggul, kain itu seakan-akan hendak pecah, tidak kuat menahan gumpalan daging yang menonjol haus akan kebebasan.

Ketika kedua tangan dara itu bergerak-gerak mulai menggosok leher dan dadanya, dari belakang tampak tulang belikatnya bergerak-gerak, membuat punggung yang halus itu bergerak-gerak pula seperti menari.

Melihat semua keindahan yang selama hidupnya baru kali ini mengikat perhatiannya, Joko Wandiro menahan napas.

Pandang mata manusia mengandung getaran-getaran yang kuat, apalagi kalau pandang mata itu didorong perasaan.

Juga manusia diperlengkapi alat-alat halus untuk menerima getaran ini, menangkap dengan indera ke enam.

Makin bersih batin manusia, makin kuat indera ke enam ini sehingga membuat ia mungkin menerima getaran-getaran yang paling halus, memungkinkan ia melihat yang tak terlihat mata, mendengar yang tak terdengar telinga.

Ayu Candra yang tadi sedang tenggelam dalam lamunannya sendiri, sampai-sampai tidak memperhatikan getaran-getaran halus yang semenjak tadi menyerangnya, kini mulai merasakan getaran itu dan membuatnya melakukan gerak otomatis membalikkan tubuhnya secara tiba-tiba ke belakang.

Dua pasang mata bertemu pandang.

Dua pasang mata yang bersinar sama tajam, penuh getaran.

Sampai lama dua pasang mata itu bergelut pandang, yang satu terpesona yang ke dua kaget dan heran.

Menyaksikan tubuh dara itu dari belakang sudah hebat, kini menatapnya dari depan, benar-benar menakjubkan, membuat kerongkongan Joko Wandiro serasa kering tercekik sehingga terpaksa ia berusaha menelan ludah.

Kemudian, terdorong oleh keharuan dan perasaan kagum terpikat yang sukar dilukiskan dengan kta-kata, terdorong pula oleh rasa kesadaran bahwa ia telah bersikap tidak sebagaimana mestinya dan melakukan pelanggaran susila yang semenjak ia kecil sudah digariskan oleh guru-gurunya, mendadak Joko Wandiro menunduk dan menyembah!

"Duh sang dewi, hamba mohon ampun akan kelancangan hamba, berani menjatuhkan pandang mata terhadap paduka."

Sejenak Ayu Candra tertegun.

Sinar kemarahan yang mulai menyelubungi mukanya, perlahan-lahan lenyap, berganti keheranan, tidak mengerti, kemudian setelah sikap pemuda yang amat aneh itu dapat ia duga maksudnya, ia tersenyum lebar dan menutupkan tangan kiri ke depan mulut menahan ketawa geli.

"Hi-hi-hik! kau sangka aku ini dewi penjaga telaga? Hi-hik!"

Joko Wandiro mengangkat muka memandang dan hampir saja ia terjungkal ke dalam telaga!

Setelah kini tersenyum, wajah itu makin hebat!

Dan dara itu tertawa dan mengeluarkan kata-kata, ia menjadi sadar akan keadaannya yang tidak sewajarnya, menyeretnya kembali kealam dunia dari alam mimpi.

Seketika wajahnya menjadi kemerahan dan rasa malu membuat mukanya terasa dingin panas tidak keruan!

Ia hanya bisa memandang dengan mulut melongo dan hal ini kembali mendatangkan kemarahan di hati Ayu Candra karena kembali timbul prasangka bahwa pemuda itu tentu mengintainya dengan sengaja untuk bersikap kurang ajar "Heh!

mau Apa kau di situ?

kau mau mengintai orang mandi, ya?

Kurang ajar...!"

Joko Wandiro yang telah sadar bahwa ia berhadapan dengan seorang manusia, seorang dara jelita, seakan-akan disiram air dingin.

Ia gelagapan, bingung, malu dan gugup.

Jelas tertekan dalam benaknya betapa ia telah berlaku terlalu kurang ajar, melanggar tata susila.

Dengan gagap-gugup ia menyangkal.

"Tidak... tidak...! Aku tidak berniat kurang ajar...!"

Diam-diam Ayu Candra memperhatikan pemuda itu dan iapun kagum. Pemuda ini amat tampan dan muka seperti itu tak mungkin kurang ajar! Akan tetapi dengan mulut cemberut ia mendesak.

"Kalau tidak mau kurang ajar, mau Apa kau di sini?"

"Aku mau... mau mandi...!"

Ayu Candra membentak.

"Mana ada orang mandi di darat?"

"...Aku... belum...sekarang juga... mandi..."

Dengan gagap dan gugup Joko Wandiro yang hendak menyembunyikan rasa malunya itu bangkit dan segera pergi ke sebelah kanan, terpisah sepuluh meter dari tempat dara itu mandi, kemudian ia melompat ke air tanpa membuka pakaian pula!.

"Eeeeeeh, awas di situ amat dalam...!"

Ayu Candra menjerit kaget, akan tetapi sudah terlambat, pemuda itu sudah ambyur ke air sehingga air muncrat tinggi ketika terdengar suara menjebur.

Tubuh pemuda itu tenggelam dan tak tampak lagi sampai permukaan air menjadi tenang kembali dan hanya tampak air berbunyi blekutuk-blekutuk karena ada hawa naik dari bawah.

"Celaka...!"

Ayu Candra berseru kaget Melihat cara pemuda tadi terjun ke air, begitu kaku dan dengan perut lebih dulu, dapat diduga bahwa pemuda itu tidak pandai berenang, kini ternyata pemuda itu tenggelam dan tidak muncul kembali!

Gerak gerik pemuda tadi amat aneh.

Kalau bukan orang yang miring otaknya tentu orang yang mempunyai penyakit ayan!

Menurut ayahnya, penyakit ini hebat sekali dan kabarnya orang yang mempunyai penyakit ayan sama sekali tidak boleh dekat air yang dalam karena sekali tergelihcir ke dalam air di waktu penyakitnya kumat, orang itu tentu akan mati!

Teringat akan hal ini, bangkit sikap pendekar dalam diri Ayu Candra.

Bagian di mana pemuda tadi terjun amat dalam, kata ayahnya dalamnya setinggi pohon bambu tua!

Ia lalu berenang ke depan, ke bagian telaga yang dalam di mana pemuda tadi terjun, kemudian mengambil napas panjang dan menyelam.

Dengan gerakan kedua kakinya disertai tenaga dalam yang amat kuat, Ayu Candra terus menyelam.

Ia membuka mata di dalam air dan untung baginya bahwa sinar matahari ada yang menimpa bagian itu dan air amat jernih sehingga ia dapat melihat ke bawah.

Tidak jauh di sebelah bawah ia melihat benda hitam bergerak-gerak.

Tidak salah lagi, tentulah itu pemuda yang gendeng tadi, atau mungkin sedang sekarat karena penyakit ayannya kumat.

Dengan gerakan kaki dan tangan, Ayu Candra menyelam terus dan setelah dekat, benar saja ia melihat bayangan kepala orang.

Menolong orang kalap (tenggelam di air) sekali-kali tidak boleh sembrono, pikirnya, teringat akan nasehat ayahnya.

Kalau yang ditolong itu saking takutnya merangkul dan memeluk mencari pegangan, bisa celaka pula orang yang berusaha menolong.

Harus dijambak rambutnya, atau dibikin tak berdaya, atau dipukul sekali biar pingsan!.

Ayu Candra meragu.

Untuk menempiling kepala itu ia khawatir kalau-kalau pukulannya terlalu keras dan yang dipukul akan mampus sama sekali!

Ketika tangannya meraih ke depan, jari-jari tangannya mencengkeram muka dan menangkap hidung.

Ia merasa betapa muka itu hangat dan dari hidungnya keluar hawa yang menimbulkan gelembung-gelembung air, maka ia cepat merangkul leher orang itu dan memiting (menjepit) dengan lengan erat erat.

Kalau ia meronta dan hendak mencengkeram, kuperkeras jepitanku pada lehernya, hendak kulihat apakah ia takkan tercekik pingsan, pikirnya.

Dengan lengan kiri memiting leher, Ayu Candra lalu menjejakkan kedua kaki bergantian ke bawah dan tangan kanannya membantu.

Memang hebat tenaga dalam dara ini sehingga dalam waktu singkat, kepalanya sudah tersembul keluar dari permukaan air.

Ia mengguncang-guncang kepala dan menghapus air dari muka dengan tangan kanan, kemudian melihat sejenak ke arah yang menempel di dadanya.

Orang yang dipiting lehernya itu matanya meram, napasnya terengah-engah akan tetapi tidak mati.

Ayu Candra lalu berenang ke pinggir dan setelah tiba di pinggir, di tempat dangkal, ia melepaskan pitingannya dan menyeret orang itu dengan mencengkeram leher bajunya, menariknya ke darat.

Akan tetapi, perut orang itu sama sekali tidak kembung, tidak terisi air seperti biasanya orang yang tenggelam.

Bahkan begitu sampai di darat, pemuda itu membuka matanya dan bangkit duduk!

Matanya terbelalak lebar, mukanya kemerahan dan pemuda itu memandangnya dengan bengong.

Ayu Candra melihat arah pandang mata pemuda itu ditujukan ke dadanya.

Cepat ia menunduk dan hampir ia menjerit ketika melihat betapa kainnya telah merosot turun sampai ke pinggang membuka bagian dadanya yang hanya sebagian tertutup rambutnya.

Secepat kilat tangan kirinya menarik kainnya ke atas dan tangan kanannya menampar.

"Plakk!!"

Tamparan itu keras sekali dan diam-diam Joko Wandiro kaget bukan main.

Tidak disangkanya dara ini memiliki tenaga yang demikian hebatnya.

Untung dia memiliki kesaktian, kalau orang biasa menerima tamparan sehebat itu, tentu akan rontok giginya!

Akan tetapi, karena tidak menyangkanyangka sehingga ia tidak mengerahkan tenaga, untuk menerima tamparan, pipinya terasa panas dan perih juga.

Joko Wandiro mengangkat tangannya, mengusap-usap pipinya yang kena tampar.

Ia tidak tahu bahwa dara itu lebih terkejut dan lebih heran daripadanya.

Ayu Candra merasa kaget melihat betapa pemuda yang disangkanya gendeng (setengah gila) atau berpenyakit ayan itu menerima tamparannya seperti orang yang pipinya dihinggapi lalat saja agaknya!

Padahal tadi karena malu dan marah ia telah melakukan penamparan yang cukup keras untuk membikin gigi rontok bibir pecah Ataukah tanpa disadarinya ia merasa kasihan dan menampar tidak sekeras yang ia kehendaki semula?

Kini Joko Wandiro sudah dapat menentramkan hatinya kembali.

Agaknya tamparan tadi mengusir semua sisa kegugupan dan kecanggungan yang masih ada di hatinya.

Akan tetapi kalau teringat akan penglihatan yang baru saja terbentang di depan matanya, ia merasa ubun-ubun kepalanya berdenyut-denyut dan kedua pipinya terasa panas.

Kini ia bangkit berdiri dan berkata.

"Sungguh aku tidak mengerti sama sekali mengapa engkau begini marah kepadaku. Sudah kuakui kesalahanku tadi yang tidak sengaja datang ke tempat ini dan mendapatkan kau sedang berjalan seorang diri lalu mandi. Aku sudah minta maaf dan akupun hendak mandi, sudah menjauhimu dan..."

"Cerewet! kau orang tak kenal budi, tak tahu terima kasih dan mata keranjang!"

Ayu Candra berkata marah sekali.

Joko Wandiro menekan jantungnya yang berdebar keras.

Bukan main!

Marah-marah malah bertambah manisnya.

Heran ia mengapa hatinya berhal demikian.

Mengapa ia kini sekali bertemu tergila-gila kepada seorang wanita?

Apakah ini yang namanya mata keranjang?

"Benar mata keranjang!"

Joko Wandiro menampar kepalanya dan ia kaget sendiri karena kata-kata dan gerakannya ini di luar kehendaknya.

Saking kerasnya berpikir, ia sampai mengeluarkan suara hati melalui mulutnya tanpa disadarinya.

"Apa...kau bilang...?"

Ayu Candra bertanya dengan mata terbelalak lebar, memandang penuh perhatian.

Tidak salah lagi.

Orang ini otaknya miring!

Sayang sekali, muda belia yang tampan sekali ini, yang memiliki sifat gagah juga karena ditampar sama sekali tidak mengeluh, ternyata tidak beres ingatannya.

Tentu saja Joko Wandiro makin gagap.

"Ku... kumaksudkan... eh, biarpun mata... eh, sama sekali tidak mata keranjang, tapi aku...aku bukan tidak mengenal budi dan sama sekali tidak berniat kurang ajar, dan..."

Berhenti dan bingung sendiri. Mata gadis itu yang membingungkannya. Matanya begitu lebar, begitu jernih, begitu indah.

"Apa? Engkau hampir mampus di kedung itu, susah payah aku menolongmu. Akan tetapi kau... kau memandang... dengan mata melotot! Apa itu namanya tahu terima kasih, mengenal budi? Apa itu namanya tidak mata keranjang dan kurang ajar?"

"Memandang...? Melotot...?"

"Ya! Biji matamu tadi hampir terloncat keluar, melotot memandang... memandang... hemm, ini!"

Ayu Candra menuding ke arah dadanya dan tiba-tiba pipinya menjadi merah sekali. Kedua pipi Joko Wandiro lebih merah daripada pipi dara itu. Ia menundukkan mukanya dan menjawab.

"Bu... bukan aku yang menyebabkan kain... merosot."

"Tentu saja, akan tetapi matamu memandang!"

Joko Wandiro menjadi penasaran juga. Gadis ini hebat, cantik jelita dan menarik, akan tetapi terlalu galak dan mau menang sendiri.

"Aku tidak sengaja memandang, habis... di depan mata sih. Dan lagi, untuk Apa punya mata kalau tidak untuk memandang? Kalau aku tahu bakal menjadikanmu marah, aku lebih senang meramkan mataku tadi. kau kira aku ini begitu ceriwis untuk memandangi... anu orang?"

Diserang begini, Ayu Candra kewalahan. Bagaimanapun juga, pemuda itu tak dapat dipersalahkan karena begitu membuka mata melihat dadanya terbuka di depannya.

"Mata sih boleh dipakai memandang, tapi kau memandang sampai melotot!"

Wah benar-benar dara yang mau menang sendiri.

"Kuharap engkau sekali lagi suka maafkan aku. Sesungguhnya, ketika kau berada di hutan sana tadi, aku menjadi amat heran dan kaget melihat betapa seorang dara berada di tempat sesunyi ini sendirian saja. Sungguh mati, aku menyangka kau bukan manusia, sebangsa peri atau bidadari kahyangan, maka scperti orang bermimpi aku mengikutimu sampaai di sini. kau lalu mandi dan aku... aku menjadi gugup ketika kau tegur. Akupun hendak mandi..."

"Gila! Mana ada orang mandi berpakaian lengkap begitu, langsung terjun tanpa melihat air itu dalam atau tidak? Nyaris engkau mampus!"

"Hemm, agaknya ada salah pengertian di sini. Aku tadi sudah minta maaf, akan tetapi mengapa engkau tidak membiarkan aku mandi dengan aman? Aku sudah menjauhimu akan tetapi engkau malah mendekat, menyusul ke bawah air dan dengan sewenang-wenang engkau memiting leherku sampai hampir patah, menyeretku ke darat. Belum juga kutegur perbuatanmu ini, baru saja mataku kubuka, kau sudah menamparku. Coba, kalau perbuatanmu terhadapku ini tidak sewenang-wenang, Apa namanya?"

Ayu Candra membelalakkan matanya lagi dan kembali Joko Wandiro merasa jantungnya jungkir balik.

Celaka, pikirnya sambil mengalihkan pandang agar ia jangan menentang mata yang sedemikian indahnya.

Kalau terlalu sering ia membelalakkan matanya, aku akan gila, pikimya "Jadi kau...

kau tidak gendeng...?"

"Gendeng...?!?"

Joko Wandiro berteriak kaget.

"Ya, gendeng, begini...!"

Ayu Candra menaruh telunjuk di depan dahi, melintang. Aih, aih... orang ini terlalu amat, pikir Joko Wandiro dan kini ia yang melototkan matanya.

"Kukira engkau tadi gendeng atau setidaknya mempunyai penyakit ayan"

"Ayan...? Aku..., ayan...?!?"

Cuping hidung Joko Wandiro mulai kembang-kempis. Dara ini benar-benar lancang mulut. Terlalu amat sangat melewati ukuran! Melanggar batas Kesabarannya.

"Kau jangan main-main, memaki orang seenak perut sendiri saja!"

Ia balas menghardik.

"Habis engkau yang bikin orang mendongkol! Kalau tidak gendeng tidak ayan, kenapa pura-pura tenggelam?"

"Siapa yang pura-pura? Memang aku menyelam. kau kira hanya kau seorang di dunia ini yang pandai berenang dan menyelam? Hayo kita bertaruh, kita berlumba renang atau kuat-kuatan menyelam!"

Joko Wandiro menantang.

Akan tetapi Ayu Candra tidak memperhatikan tantangannya.

Dara ini agaknya teringat akan sesuatu dan kembali matanya terbelalak.

Aduh, jangan lagi!

Joko Wandiro mengeluh dalam hati dan mengalihkan pandang.

"Kalau begitu... ketika kau kutolong tadi, ketika kurangkul..."

"Maksudmu kau piting sampai leherku hampir patah tadi?"

"Ketika itu... engkau... tidak pingsan?"

"Siapa bilang pingsan! Baru enak-enak menyelam kau seret saja aku!"

"Kenapa kau pura-pura pingsan? Kenapa kau diam saja? kau sengaja, ya? kau mempergunakan kesempatan selagi aku salah menduga kau tenggelam, kau membiarkan lehermu kurangkul... mukamu... kudekap... kau, manusia kurang ajar!"

Ayu Candra kini marah sama sekali dan ia sudah menerjang dengan kedua tangan dikepal.

Melihat kedudukan dara ini memasang kuda-kuda, kembali Joko Wandiro terkejut.

Agaknya dara ini selain cantik jelita dan mau menang sendiri, juga memiliki kepandaian pula.

"Eh, eh... sabar dulu! Jangan mau menang sendiri dan jangan kukuh akan kebenaran sendiri. kau memiting leherku erat-erat sampai hampir tercekik. Aku berada dalam air ketika kau tiba-tiba memitingku. Habis Apa yang harus kulakukan ketika itu? Apakah aku harus memberontak dan melawanmu? Kalau kulakukan itu, tentu kita berdua akan celaka. Apakah harus berteriak? Di dalam air mana dapat? kau sendiri yang salah, tanpa periksa lebih dulu tahu-tahu menjatuhkan dugaan aku orang edan atau orang ayan yang akan mampus tenggelam. Maksud hatimu memang mulia akan tetapi pelaksanaannya yang keliru. Betapapun juga, kau telah bermaksud menolong nyawaku dan untuk itu biarlah aku memaafkan maki-makianmu tadi dan aku menghaturkan banyak terima kasih."

"Kau bisa saja membela diri. Lidah memang tak bertulang!"

"Kalau lidah bertulang, tentu sukar bergerak dalam mulut,"

Joko Wandiro membantah karena merasa jengkel juga.

"Kau tidak meronta dan berteriak di dalam air siapa peduli? Akan tetapi ketika sudah tersembul di atas permukaan air, mengapa kau masih enak-enak saja, pura-pura memejamkan matamu?? Hayo jawab, bukankah ini kau sengaja menyalahgunakan pertolongan orang untuk melakukan penghinaan?"

Joko Wandiro menarik napas panjang.

"Agaknya kau berkeras hati untuk memaksa aku mengaku kurang ajar. Apa boleh buat, engkau sudah menamparku, biarlah aku berterus terang. Ketahuilah, ketika kita tersembul di permukaan air, aku memang membuka mata. Baru kuketahui bahwa aku hemm bahwa mukaku tadi ah, bagaimana ini, terus terang saja, aku tidak berani membuka mata atau membuka suara. Aku terlalu bingung, terlalu... ngeri!! Ah, sudahlah. Aku jadi bingung kau desak-desak. Apakah kau tidak mau memaafkan aku?"

Sejenak Ayu Candra membuang muka dengan mulut cemberut.

Apa yang harus ia lakukan terhadap pemuda ini?

"Engkau menggigil.

Berdiri di sini dengan kain basah tertiup angin dingin, bisa masuk angin.

Pulanglah, kalau engkau punya rumah, dan jangan pikir lagi.

Aku bersedia minta maaf dan biarlah kuakui lagi kesalahanku."

Suara Joko Wandiro kini amat halus dan penuh kesabaran, jelas ia mengalah.

Ayu Candra mengangkat muka memandang.

Kini wajah pemuda itu amat tampan dan ia heran melihat pandang mata yang demlkian tajam, seperti mata harimau.

"Aku sudah biasa dengan hawa dingin, tidak apa-apa. Engkau malah yang bisa sakit demam, pakaianmu basah kuyup."

Joko Wandiro tersenyum, girang hatinya. Agaknya dara ini tidak segalak yang ia sangka tadi. Mungkin tadi galak terdorong rasa malunya.

"Akupun sudah biasa melawan hawa dingin atau panas. Engkau baik sekali, dan terima kasih atas kemurahan hatimu yang suka memaafkan aku!"

"Hemm,siapa yang bilang aku sudah memaafkanmu, habis... ada Apa?"

"Tidak apa-apa, hanya setelah kita berjumpa secara kebetulan di sini dan sudah lama juga bercakap-cakap, kalau boleh, aku ingin mengetahui siapa anda ini dan di mana tempat tinggalmu?"

"Namaku Ayu Candra, tempat tinggalku di sana, tak jauh dari tempat ini. Ayah ibuku sedang pergi, aku sendirian saja di pondok, akan tetapi ada..."

Tiba-tiba Ayu Candra menahan kata-katanya.

Cuping hidungnya bergerak sediklt.

Ia mencium bau wengur, bau seekor harimau berada dekat tempat itu!

Ia terkejut, akan tetapi bersikap tenang kembali.

Malu kalau memperlihatkan kekagetannya.

Pula ia meragu apakah ia harus bercerita sebanyak itu tentang dirinya?

Mengapa ia mendadak menaruh kepercayaan yang mendalam kepada pemuda ini yang tadinya ia anggap seorang laki-laki kurang ajar?

"Ada Apa?

Mengapa tidak kau lanjutkan?"

Joko Wandiro mendesak.

"Tidak ada apa-apa lagi, sudah cukup keteranganku. kau sendiri, kau orang dari manakah dan di mana tempat tinggalmu?"

Joko Wandiro menarik napas panjang, memandang wajah gadis itu dan sikapnya seolah-olah ia tidak mendengar pertanyaannya.

Bukannya menjawab pertanyaan orang, ia melainkan berkata lirih seperti orang melamun.

"Ayu Candra... bukan main indahnya nama ini... memang ayu seperti candra (bulan)"

"Hishh! Ditanya tidak menjawab malah ngaco...!"

Ayu Candra menghardik dan mukanya menjadi merah sekali namun jantungnya berdebar girang!

"O ya, aku tidak punya tempat tinggal tertentu di dunia ini.

Rumahku buana bebas, atap rumahku langit biru, dinding rumahku pohon-pohon, lantai rumahku bumi ditilami rumput hijau, batu batu dan akar-akar pohon meja kursiku, ranting-ranting pohon pembaringanku, bintang-bintang di langit pelitaku."

Ayu Candra tertawa mendengar jawaban ini, akan tetapi jantungnya makin berdebar gelisah ketika bau yang wengur makin keras.

"Kau seperti badut saja, suka melucu. Dan namamu...?"

"Namaku Joko..."

Aduh, tertelan kembali lanjutan namanya karena pada saat itu Ayu Candra sudah membelalakkan matanya lagi sehingga Joko Wandiro merasa semrepet (pusing dan gelap mata).

Akan tetapi, tiba-tiba Ayu Candra menjerit.

"Joko... awas...!!"

Kedua tangan gadis itu secepat kilat mendorong ke depan, ke arah dada Joko Wandiro.

Pemuda ini tentu saja maklum bahwa sejak tadi di dekat situ terdapat seekor harimau, akan tetapi ia memang pura-pura tidak tahu, karena selain tidak suka membikin dara itu terkejut, juga ia tentu saja tidak takut sama sekali.

lapun tahu bahwa pada saat itu sang harimau telah meloncat dan menerkam ke arahnya dari belakang.

Karena ia tadi terpesona oleh sepasang mata yang melebar indah, maka ia seperti orang yang kehilangan kesadaran.

Begitu dadanya didorong, ia membiarkan dirinya terlempar sampai tiga meter lebih!

Seekor harimau yang amat besar telah menerkam dan kini, karena terkamannya luput, harimau itu membalik dan menggereng.

Suara geramannya itu amat keras, seakan-akan menggetarkan seluruh permukaan telaga dan menggema di dalam hutan-hutan di sekitarnya.

Bibir atas binatang itu bergerak-gerak tertarik ke atas memperlihatkan taring yang runcing kuat, tubuhnya yang panjang merendah sampai perutnya menempel tanah, sepasang matanya tajam penuh kemarahan menatap Joko Wandiro.

Pemuda ini yang tadi terlempar oleh dorongan Ayu Candra, sudah bangkit kembali dan menghadapi ancaman harimau dengan sikap tenang sekali.

"Joko jangan bergerak. Biarkan aku melawannya!"

Terdengar Ayu Candra berkata.

Gadis itu sudah memasang kuda kuda dan kakinya berindap-indap menghampiri harimau.

Melihat gerak-gerik dara itu, Joko Wandiro dapat menduga bahwa Ayu Candra memiliki kepandaian yang tinggi juga.

Akan tetapi harimau itu amat besar dan buas.

Menghadapi binatang sebuas ini banyak bahayanya bagi Ayu Candra.

Biarpun bukan bahaya maut, setidaknya kalau terkena cakaran kaki harimau, tcntu akan menimbulkan luka-luka parah.

"Jangan, Ayu. Biarkanlah, menghadapi harimau macam ini saja, biar ada lima ekor aku tidak gentar."

Jawaban ini membuat Ayu Candra tertegun.

"Kau...? kau... berani... melawannya??"

Joko Wandiro tersenyum bangga.

Baru sekali ini selama hidupnya ia merasa bangga akan kepandaiannya.

Dan baru sekali ini ia ingin memamerkan kepandaiannya di depan orang lain!

Biasanya ia sama sekali tak mengharapkan pujian orang lain, akan tetapi sekali ini, ia bahkan ingin sekali mendengar pujian si dara jelita.

Karena itu, tanpa disadarinya sendiri, ia secara sembarangan malah berjalan mendekati harimau yang sudah menggereng-gereng dan siap menerkamnya itu!

"Eh, Joko hati-hatilah harimau ini kelaparan!"

Ayu Candra menjerit kembali ketika Joko Wandiro menghampiri harimau itu sampai dekat sekali. Joko Wandiro kembali tersenyum.

"Tidak ada binatang sebuas manusia, Ayu. Harimau inipun tidak sebuas manusia. Ia hanya akan menerkam mahluk lain kalau perutnya lapar karena ia membutuhkan makan sebagai penyambung hidupnya. Manusia akan menerkam manusia lain hanya untuk memuaskan nafsu-nafsunya."

"Joko awas!!"

Ayu Candra memperingatkan, gelisah juga melihat pemuda itu masih enak-enakan mengobrol dan bahkan membelakangi harimau itu yang kini jaraknya hanya tinggal dua meter di belakangnya.

Harimau itu menerkam untuk kedua kalinya.

Dahsyat terkamannya, dengan cakar runcing melengkung siap merobek kulit daging dan moncong terbuka lebar siap meremukkan tulang-tulang.

"Joko...!"

Kembali Ayu Candra menjerit dengan muka berubah pucat.

jerit penuh kekhawatiran dan kengerian yang terdengar merdu memasuki telinga Joko Wandiro.

Dara itu mengkhawatirkan dirinya!

Berarti dara itu tidak ingin melihat ia dirobek robek dan dijadikan mangsa harimau.

"Jangan khawatir, Ayu...!"

Katanya sambil menggerakkan tubuhnya.

Dengan sebuah gerakan yang indah cekatan sekali Joko Wandiro sudah menghindar dengan amat mudahnya.

Kembali harimau itu menerkam tempat kosong.

Kini Ayu Candra melongo keheranan.

Gerakan pemuda itu jelas membayangkan bahwa pemuda itu bukan seorang lemah, bukan penyombong seperti gentong kosong.

Ketika harimau itu kini menerkam kembali, dan dari jarak dekat dan dengan gerakan yang lebih indah mengagumkan pemuda itu kembali menghindar, mulai berkuranglah kekhawatiran hati Ayu Candra.

Mulailah ia mencurahkan perhatiannya dan menonton, tidak cemas lagi seperti tadi, melainkan menonton dengan kagum.

Sudah tujuh kali harimau itu menerkam, makin lama makin dahsyat dan makin marah.

Akan tetapi selalu terkamannya mengenai tempat kosong karena dielakkan secara mudah dan cepat oleh Joko Wandiro yang tersenyum-senyum dan melirik ke arah Ayu Candra, hatinya berdebar girang melihat sinar kekaguman terpancar keluar dari sepasang mata bintang itu.

"Joko, kenapa main-main dengan dia? Lekas bunuh saja!"

Akhirnya Ayu Candra berteriak karena mengganggap bahwa dengan main kelit pemuda itu membahayakan diri sendiri.

"Ah, bagaimana aku tega?"

Balas Joko sambii mengelak lagi ketika si harimau menerkam dari samping."Dia menyerangku untuk makan. Akan tetapi aku tidak membutuhkan kematiannya. Lihat, Ayu, akan ku akhiri permainannya ini!"

Sebelum harimau itu membalik, Joko Wandiro sudah mendahuiui dengan loncatan cepat sekali ke belakang tubuh harimau dan tangan kanan Joko Wandiro menyambar ekor harimau yang panjang.

Harimau itu menggereng keras dan berusaha membalikkan tubuh untuk mencakar orang yang memegang ekornya, akan tetapi tiba-tiba tubuhnya terangkat dari atas tanah dan terus tubuhnya itu diputar-putar oleh Joko Wandiro di atas kepalanya, seperti seorang kanak-kanak mempermainkan seekor tikus saja.

Ayu Candra terbelalak kagum.

Dia sendiri tidak takut menghadapi harimau, malah sanggup mengalahkan binatang itu.

Akan tetapi untuk memegang ekornya dan memutar-mutar seperti itu, benar-benar membutuhkan tenaga dahsyat dan keberanian yang luar biasa!

Kiranya pemuda ini seorang yang sakti!

Dan dia tadi telah menduganya seorang gila, bahkan disangkanya pemuda itu seorang penderita penyakit ayan!

Teringat akan hal ini, mendadak kedua pipi dara ini menjadi merah padam.

(Lanjut ke

Jilid 27) Badai Laut Selatan (Seri ke 03 Serial Serial Keris Pusaka Sang Megatantra) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo

Jilid 27 Dan dia tadi berusaha menolong Joko dari dalam air!

Ah, benar-benar ia telah salah sangka.

Pemuda yang tampan dan halus gerak-geriknya itu kiranya memiliki ilmu kesaktian yang mungkin melebihi tingkat kepandaiarmya sendiri.

Ayu Candra menggigit bibirnya menahan rasa jengah.

"Lihat, Ayu. Biar dia mandi dan minum air banyak-banyak menghilangkan laparnya!"

Teriak Joko Wandiro dan sekali melernpar, tubuh harimau yang besar dan berat itu melayang ke arah telaga dan terdengarlah suara menjebur ketika binatang itu terbanting kedalam air.

Harimau itu mengaum dan menggereng penuh kemarahan dan juga ketakutan.

la meronta-ronta dan akhirnya berhasil juga berenang ke pinggir lalu mendarat dengan tubuh basah kuyub.

Ketika Joko Wandiro meloncat ke depannya, harimau itu kembali menggereng dan tiba-tiba ia menyelinap ke kiri dan lari sambil menekuk ekornya kebawah di antara kedua kaki belakang.

Ayu Candra dan Joko Wandiro tertawa-tawa melihat harirnau itu lari ketakutan.

Akan tetapi tiba-tiba suara ketawa mereka terhenti seketika dan pandang mata mereka terbelalak ditujukan ke arah tubuh harimau yang mendadak terjungkal dan rebah berkelojotan di atas tanah.

Dengan beberapa kali loncatan, Ayu Candra dan Joko Wandiro sudah tiba di dekat harimau itu.

Keduanya makin terheran ketika melihat sebatang anak panah yang kecil pendek sudah menancap di antara kedua mata binatang itu yang kini berkelojotan dalam keadaan sekarat.

yang mengerikan adalah keadaan luka di mana anak panah itu menancap karena di sekitar tempal itu, ialah seluruh muka harimau, menjadi biru kehitaman tanda bahwa anak panah itu mengandung bisa yang amat jahat!.

"Keji...!"

Joko Wandiro berkata, masih tertegun.

Juga Ayu Candra marah sekali jelas bahwa harimau itu dikalahkan, bahkan ditaklukkan oleh Joko, diampuni dan dibiarkan lari.

Akan tetapi ada orang lain yang mernpergunakan kesempatan itu untuk membunuh binatang ini secara curang dan kejam sekali.

la mencari-cari ke arah dari mana datangnya anak panah dan ketika ia menengadahkan mukanya, ia melihat seorang wanita berdiri di atas cabang pohon yang tinggi.

Wanita yang berpakaian indah dan mewah, dengan hiasan terbuat daripada emas permata pada pergelangan tangan, lengan, leher dan rambut.

Wanita itu masih muda, sebaya dengan dirinya, amat cantik dan tersenyum-senyum penuh ejekan memandang ke bawah.

Sejenak Ayu Candra tertegun dan kagum, akan tetapi ketika melihat betapa kedua tangan wanita itu memegang beberapa batang anak panah kecil yang sebentuk dengan anak panah yang menancap di kepala harimau, timbul kemarahannya.

"lblis betina yang curang!"

Bentaknya sambil menudingkan telunjuk ke arah wanita di atas pohon itu.

"Lihat, Joko! Dialah yang membunuh harimau secara curang!"

Ketika Ayu Candra menoleh ke belakang, ia melihat Joko berdiri dan terbelalak memandang ke arah wanita cantik itu.

Pandang mata penuh kagum, kaget, dan heran.

Ketika ia mengalihkan pandang ke atas, ia melihat wanita cantik itupun memandang ke arah Joko dengan mulut tersenyum!

Rasa panas yang aneh menyelinap dan membakar dada Ayu Candra.

"lblis betina yang curang! kau pengecut sekali, tanpa alasan membunuh harimau secara curang!"

Ia makin marah dan menghardik ke atas. Wanita itu memperlebar senyumnya lalu menjawab, suaranya halus lunak dan merdu.

"Bocah dusun, mengapa kau banyak tingkah? Aku sedang berkuda, mendadak harimau ini menggereng-gereng keras mengagetkan kudaku yang tidak mau berjalan tenang lagi. Aku datang dan menghukum harimau itu, dan kau masih bilang tanpa alasan?"

"Keparat, kau sombong sekali! Harimau ini memang tempatnya di hutan. kau ini wanita sombong mau Apa berkeliaran di sini, mengumbar nafsu mengandalkan kepandaian bermain curang membunuhi binatang hutan?"

Ayu Candra makin marah karena dilihatnya Joko masih diam saja seperti orang terkena pesona, menengadah memandang wanita itu dengan mata terbelalak dan mulut celangap.

"Turunlah kalau kau berani! Atau aku harus menyeretmu turun...?"

Ayu Candra berteriak marah.

"Ayu..., jangan...! Eh, awas senjata...!!"

Joko Wandiro berseru keras ketika melihat berkelebatnya tiga sinar ke arah dirinya dan tiga sinar lagi ke arah Ayu Candra.

Ia cepat menggunakan tenaga saktinya, memutar tangan dengan jari-jari terbuka, memukul runtuh tiga batang anak panah itu dengan hawa pukulannya, dan melanjutkan gerakannya untuk menolong Ayu Candra.

Ia berhasil meruntuhkan sebatang anak panah lagi dan Ayu Candra sendiri berhasil mengelak dari sambaran sebatang anak panah, akan tetapi anak panah yang terakhir menyambar, tak dapat dielakkannya dan karena ia berdiri agak jauh dari Joko Wandiro, pemuda inipun tidak sempat menyelamatkannya.

"Bles!"

Anak panah itu menancap di dada kanan Ayu Candra yang mengeluarkan suara rintihan dan terguling roboh! "Ayu!"

Baca Juga: Kisah Sepasang Rajawali 1

Baca Juga: Kisah Pendekar Bongkok 16

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert