Ceritasilat Novel Online

Badai Laut Selatan 6

Eps 6 Badai Laut Selatan - Kho Ping Hoo

Baca online Badai Laut Selatan - Kho Ping Hoo

Cersil Badai Laut Selatan - Kho Ping Hoo.

"Kawan-kawan, maju terus...!!

Habiskan lawan, hancur-leburkan anak buah Pangeran Sepuh yang khianat...!!!"

Teriakan nyaring ini mengatasi semua kegaduhan dan jelas bukan keluar dari mulut orang sembarangan.

Orang yang dapat mengeluarkan teriakan sehebat itu tentulah memiliki ilmu kesaktian tinggi.

Dan memang benar.

Teriakan ini keluar dari mulut seorang laki-laki gagah perkasa, menunggang seekor kuda putih, bersenjatakan sebatang tombak yang bergagang panjang.

Mata tombak yang berkilauan dan mengeluarkan cahaya kehijauan itu menandakan bahwa tombak itu adalah sebuah pusaka ampuh yang mengandung bisa maut.

Melihat dia menunggang seekor kuda besar dan garang, pula melihat pakaiannya yang mentereng, mudah dimengerti bahwa laki-laki gagah itu tentulah seorang panglima Pangeran Anom, apalagi teriakannya jelas menyatakan fihak mana yang ia bela.

Siapakah panglima ini?

Bukan lain dia adalah Joko Wanengpati!

Setelah mengalami kekalahan di Kadipaten Selopenangkep, takut menghadapi Pujo dan Kartikosari yang dibantu oleh Roro Luhito dan bahkan kemudian oleh Resi Telomoyo, Jokowanengpati cepat melarikan diri kembali ke Kotaraja.

Ia langsung menghadap junjungannya, yaitu Pangeran Anom, menceritakan bahwa Kadipaten Selopenangkep yang telah dikuasainya itu direbut kembali oleh Pujo dan kawan-kawannya.

"Tidak salah lagi, gusti pangeran! Pujo dan kawan-kawannya tentulah menjadi kaki tangan Pangeran Sepuh. Hamba tidak dapat menahan mereka oleh karena pasukan mereka jauh lebih kuat, pula hamba tidak mempunyai pembantu. Apabila paduka mengijinkan, biarlah hamba kembali ke sana membawa pasukan besar dan hamba akan mohon bantuan bibi Nogogini dan bibi Durgogini. Akan hamba seret semua pengkhianat itu ke bawah kaki paduka!"

Akan tetapi Pangeran Anom mempunyai rencana lain.

Urusan perebutan Kadipaten Selopenangkep tidaklah begitu penting, karena hal itu dilakukan hanya untuk memberi hukuman kepada keluarga Wisangjiwo yang"menyeberang"

Kepada Pangeran Sepuh!.

"Jokowanengpati, urusan di Selopenangkep itu cukuplah, karena aku sudah puas mendengar kau berhasil membasmi keluarga Adipati Joyowiseso. Kiranya hukuman itu sudah cukup untuk membuka mata Wisangjiwo si pengkhianat. Sekarang kita harus memusatkan tenaga di sini karena saatnya sudah cukup masak untuk memperlihatkan kekuatan kita disini. kau pergilah menemui kedua bibimu itu, juga paman Cekel Aksomolo dan yang lain-lain, suruh mereka menghadap malam ini untuk berunding."

Persiapan yang diadakan Pangeran Anom untuk meledakkan perang saudara itu diatur sampai berbulan-bulan.

Makin lama suasana makin tegang.

Kedua fihak saling mengirim mata-mata untuk menyelidiki keadaan masing-masing.

Hanya karena mengingat bahwa Sang Prabu Airlangga masih hidup saja yang membuat perang terbuka masih selalu tertekan dan tertunda.

Di samping itu, selalu ada Ki Patih Narotama yang berusaha sekuat tenaga mempergunakan pengaruh dan kekuasaannya untuk mencegah segala macam pertentangan yang terjadi di Kotaraja.

Baik fihak pasukan Pangeran Sepuh maupun Pangeran Anom, tidak berani berkutik kalau Ki Patih muncul melerai pertikaian yang timbul di antara mereka.

Tentu saja persiapan-persiapan kedua fihak yang makin menghebat dan makin menegangkan hati ini tak terlepas dari pandang mata Ki Patih Narotama yang amat waspada.

Ia merasa prihatin sekali dan diam-diam di luar tahu para senopati dan punggawa keraton lainnya, ia menemui kedua pangeran itu.

Pertama-tama ia menemui Pangeran Sepuh dan dengan cara halus menyatakan ke khawatirannya dan tidak persetujuannya akan persiapan-persiapan perang itu.

Pangeran Sepuh mengerutkan keningnya dan menjawab.

"Paman Patih, apakah paman mengira bahwa saya suka akan perang saudara? Akan tetapi sebagai saudara tua, tentu saja saya tidak sudi diperhina oleh saudara muda. Ramanda prabu mengundurkan diri pergi bertapa. Tugas pemerintahan memang diwakilkan kepada paman, akan tetapi untuk urusan dalam istana, sudah sepatutnya kalau saya sebagai putera tertua mewakili ramanda prabu. Kalau saudara muda saya hendak memberontak merampas kekuasaan, sayalah yang wajib memberi hajaran kepadanya!"

Ki Patih Narotama hanya menghela napas panjang.

Ia maklum bahwa kesalahan memang diperbuat oleh Pangeran Anom, maka ia tidak membantah atau menyalahkan Pangeran Tua.

Dengan pengharapan akan dapat memberi nasehat dan peringatan kepada Pangeran Anom Ki Patih Narotama pergi menghadap Pangeran Anom.

Akan tetapi di sini ia malah penerima jawaban yang menyakitkan hati.

"Engkau hanya seorang Patih, paman! Perlu apa mencampuri pertikaian antar saudara? Sudah jelas bahwa setelah rama prabu pergi bertapa, Pangeran Sepuh menjadi sombong dan mengagulkan diri sebagai putera sulung, seakan-akan rama prabu sudah seda (mati) dan dia yang menggantikan menjadi Raja! Huh, kalau memang dia hendak menjadi Raja mendasarkan kekerasan, akupun bisa berbuat serupa! Tinggal engkau pilih, paman Patih, engkau membela Pangeran Sepuh, ataukah membantu aku!"

Hati Ki Patih Narotama menjadi panas karena marah, namun ia menekan perasaannya dan berkata sabar.

"Hamba adalah pePatih dalam rama paduka, oleh karena itu pula hanya sabda rama paduka yang akan hamba taati. Kalau paduka dan Gusti Pangeran Sepuh tidak suka mendengar nasehat orang tua, biarlah hamba pergi menghadap rama paduka dan mohon keputusan."

Demikianlah Ki Patih Narotama lalu pergi meninggalkan keraton menuju ke pertapaan Jalatunda seperti yang telah diceritakan di depan.

Sepergi Ki Patih permusuhan semakin menghebat karena diantara para pasukan tidak ada lagi yang ditakuti.

Pada saat tegang ituiah datangnya Wisangjiwo, Pujo, Kartikosari, Roro Luhito dan Resi Telomoyo, menghadap Pangeran Sepuh yang diterima dengan hati girang.

Akhirnya perang saudara pecah dan perang tanding mati-matian itu terjadi di alun-alun!

Kedua fihak sama kuat, karena mereka itupun mendapatkan latihan perang yang sama pula.

Makin lama perang campuh makin menghebat karena kedua fihak selalu mendapat tambahan bantuan.

Ketika Jokowanengpati yang menunggang kuda putih muncul di medan yuda memberi semangat kepada para pasukan, sepak terjangnya bukan main hebatnya.

Tombaknya menyambar-nyambar dan kemana saja kudanya melompat, tentu beberapa orang perajurit pasukan Pangeran Sepuh roboh bergelimpangan.

Ada yang tertombak perutnya sampai ususnya terurai keluar, atau kepalanya pecah karena hantaman gagang tombak, ada pula yang terinjak-injak kuda putih!

Pendeknya, di mana kuda putih yang ditunggangi Jokowanengpati tiba, tentu terjadi geger.

Tak seorangpun perajurit atau perwira sanggup menanggulangi sepak terjang Jokowanengpati.

Berita yang menggemparkan para perajurit Pangeran Sepuh ini terdengar oleh Wisangjiwo yang menyertai para senopati Pangeran Sepuh.

Mendengar akan majunya Jokowanengpati ke medan yuda, Wisangjiwo menjadi marah sekali.

Itulah musuh besarnya dan mendengar namanya saja sudah membuat dada serasa meledak.

Sambil berkerot gigi, Wisangjiwo menyambar tombak dan melompat ke atas kudanya, langsung menyerbu ke medan yuda, mencari-cari di mana adanya musuh besar itu.

Akhirnya ia melihat Jokowanengpati di ujung selatan.

Dikepraknya kuda tunggangannya dan dengan kemarahan meluap-luap ia membalapkan kuda menghampiri musuhnya.

Dua ekor kuda berhadapan muka.

Dua orang musuh beradu pandang penuh kebencian.

Sejenak mereka hanya saling pandang seakan-akan dua ekor jago mengukur keadaan lawan.

Para perajurit cepat-cepat mundur untuk memberi kesempatan kepada dua jagoan mereka bertanding.

Demikian tegang keadaannya sehingga beberapa orang perajurit kedua fihak sampai sejenak lupa berperang dan menjadi penonton!

"Si bedebah Jokowanengpati!"

Akhirnya dengan dada terengah-engah saking marahnya Wisangjiwo menudingkan telunjuk kirinya sambil mengempit tombak di ketiak kanan."Engkau manusia berhati iblis, mencemarkan namaku dengan perbuatan terkutuk!

Engkau telah menodai keluarga kami, dan akhirnya engkau telah menyerbu Selopenangkep melukai ayah, membunuh ibu dan sekeluarga!

Aku bersumpah akan mengadu nyawa denganmu, keparat!"

"Babo-babo!! Wisangjiwo, kau manusia khianat! Urusan yang lain bukanlah urusanmu! Tentang keluargamu di Selopenangkep, mereka itu menjadi korban pengkhianatanmu sendiri sehingga menerima hukuman dari Gusti Pangeran Anom. Manusia tak tahu malu, tentang urusan wanita, engkau melebihi aku, mengapa banyak cerewet? Engkau bersumpah ingin mampus di tanganku? Mudah, sobat. Majulah, ha-haha!"

Wisangjiwo tak dapat mengeluarkan kata-kata lagi.

Dadanya terlalu panas sampai-sampai lehernya serasa tercekik.

Dengan penuh kegeraman ia lalu menendang perut kudanya yang melonjak ke depan sambil memutar tombak dan menyerang dengan tusukan kilat.

Jokowanengpati sudah siap dan menangkis.

"Traaangggg...!!"

Bunga api berpijar ketika dua senjata itu bertemu.

Segera keduanya terlibat dalam perang tanding mati-matian.

Keduanya sama cekatan, sama kuat dan sama pandai dalam seni tempur di atas kuda menggunakan lembing.

Para perajurit yang menjadi penonton bersorak-sorak memberi semangat kepada jago masing-masing.

Di bagian lain dalam perang campuh itu, tampak orang-orang sakti yang membantu Pangeran Anom ikut pula memperlihatkan jasa mereka.

Cekel Aksomolo sebetulnya merasa sungkan untuk berperang melawan perajurit-perajurit biasa yang sama sekali bukanlah lawannya.

Demikian pula Ki Warok Gendroyono dan Ki Krendoyakso.

Akan tetapi anak buah Ki Krendoyakso yang jumlahnya seratus orang lebih itu tanpa menanti komando lagi sudah berpesta-pora dalam perang.

Mereka adalah perampok-perampok yang liar dan ganas, tentu saja berperang dan membunuh orang merupakan kegemaran mereka!

Ni Nogogini dan Ni Durgogini juga berada di situ, akan tetapi dua orang wanita sakti itu kini bertugas menjaga keselamatan Pangeran Anom yang menunggang seekor kuda kemerahan dan berdiri dari tempat tinggi menonton perang.

Keselamatan sang pangeran ini tentu saja penting, maka tugas menjamin keselamatannya diserahkan kepada dua orang wanita sakti itu.

Hal ini menggembirakan hati Ni Durgogini dan Ni Nogogini, karena seperti juga yang lain-lain, mereka merasa tak senang harus bertanding melawan orang-orang yang tidak berarti!

Ketika dari dalam barisan Pangeran Sepuh muncul Pujo, Kartikosari, Roro Luhito, dan Resi Telomoyo yang mengamuk seperti badai mengganas, barulah timbul kegembiraan di hati Cekel Aksomolo dan teman-temannya.

Mereka adalah orang-orang yang memiliki kepandaian silat dan kesaktian, belum pernah belajar seni yuda di atas kuda, maka mereka ini maju bertanding dengan berloncatan ke sana ke mari seperti burung-burung menyambar.

"Heh-heh-hu-huhh! Munyuk monyet mendem (mabok)! Sungguh menggembirakan sekali dapat bertemu denganmu di sini. Resi Telomoyo munyuk monyet lutung keparat, sekarang kau takkan dapat melarikan diri lagi!"

Cekel Aksomolo segera menyambut amukan Resi Telomoyo ini dengan ayunan tasbihnya.

Resi Telomoyo sudah mengenal keampuhan tasbih Cekel Aksomolo, maka ia cepat mengelak lalu meloncat ke samping dan kakinya tahu-tahu sudah menyepak dari samping ke arah lambung kiri, cepat sekali.

Untung Cekel Aksomolo juga sudah mengenal gerakan cepat manusia seperti Raja kera ini, maka ia dapat cepat mengelak, akan tetapi hampir saja lambungnya tercium tungkan (tumit) ngapal sehingga ia kaget sekali dan meloncat mundur.

"Ha-ha-ha! Lagi-lagi cekel bongkok, tua bangka kurus kering matanya juling sumbarnya seperti gonggongan anjing tapi tukmis (gila perempuan)! Ke mana-mana bertemu si cekel bongkok, betul-betul sial dangkalan!"

Cekel Aksomolo merasa kalah kalau harus berdebat atau saling ejek dengan kakek Resi Telomoyo, maka sambil menggereng marah ia lalu menerjang lagi sambil memutar senjatanya yang luar biasa.

Di lain fihak, Resi Telomoyo juga tidak berani main-main lagi dan ia harus memusatkan perhatiannya dalam pertandingan ini kalau tidak mau mati konyol, karena memang lawannya itu biarpun tua renta dan bongkok, sesungguhnya memiliki kesaktian yang menggiriskan.

Sementara itu, Pujo dan kedua orang isterinya juga mulai terjun ke medan yuda.

Melihat betapa Resi Telomoyo sudah mulai berhantam menghadapi Cekel Aksomolo, Pujo sambil menghantam ke depan dan menendang ke kanan kiri, berkata kepada Kartikosari dan Roro Luhito.

"Kalian bantu paman resi! Aku akan mencari Jokowanengpati"

Setelah berseru demikian, ia membuka jalan darah, merobohkan beberapa orang perajuril musuh lalu menerjang terus ke tengah untuk mencari musuh besarnya.

Kartikosari dan Roro Luhito tadi memang bersama Pujo terjun ke dalam medan perang dengan maksud hendak mencari musuh besar itu.

Kini melihat Pujo menerjang maju seorang diri, diam-diam mereka ingin menyertainya.

Akan tetapi, mereka berduapun maklum bahwa Cekel Aksomolo adalah seorang yang sakti mandraguna, maka meninggalkan Resi Telomoyo menghadapinya seorang diri, juga tidak baik.

"Kita terjang dia, habiskan sekarang, kemudian menyusul kangmas Pujo!"

Kata Kartikosari.

Roro Luhito mengangguk lalu mereka lari mendekati tempat di mana Resi Telomoyo dan Cekel Aksomolo sedang bertanding.

Beberapa orang perajurit lawan yang menghalang jalan roboh oleh mereka sehingga para perajurit lain makin gentar dan cepat menjauhi dua orang puteri yang tandangnya (sepak terjangnya) seperti dua ekor singa betina itu.

Melihat datangnya dua orang wanita ini, Resi Telomoyo girang dan berkata.

"Ha! Bagus kalian datang. Mari bantu aku, kita rencak (sikat bersama) cekel kal-kel yang berbau busuk ini!!"

"Wuuut... singgg...!!"

Hampir saja kepala Resi Telomoyo kena disambar tasbih.

"Jebol polomu!!"

Cekel Aksomolo berseru penuh kemarahan.

Namun Resi Telomoyo memiliki gerakan yang amat gesit.

Dengan jalan membanting tubuh ke belakang lalu berjumpalitan sampai tiga kali ia dapat terhindar dari ancaman maut dan ketika ia berdiri kembali, kedua tangannya sudah menggenggam tanah.

Melihat lawannya menerjang datang, ia memekik dan kedua tangannya bergerak ke depan.

Kagetlah Cekel Aksomoio ketika tanah dan debu menyambar ke arah mukanya.

"Uuuuh, setan keparat, curang kau...!"

Teriaknya dan terpaksa ia melompat mundur kebelakang sambil meramkan mata.

Saat itu dipergunakan oleh Resi Telomoyo untuk membalas dengan serangan kilat.

Kaki tangannya bergerak seperti mesin cepatnya mengirim serangan bertubi-tubi dan berganti-ganti.

Namun semua serangannya dapat digagalkan lawan yang cepat memutar tasbih membentuk payung melindungi dirinya.

Ketika Kartikosari dan Roro Luhito hendak meloncat maju membantu Resi Telomoyo, dari dalam barisan musuh meloncat keluar pula dua orang laki-laki tinggi besar seperti raksasa.

Mereka ini bukan lain adalah Ki Warok Cendroyono dan Ki Krendoyakso yang semenjak tadi menanti-nanti datangnya lawan tangguh!.

Mereka juga enggan bertempur dengan perajurit-perajurit yang sama sekali bukan tandingan mereka.

Ketika melihat Cekel Aksomolo menemukan tanding Resi Telomoyo yang sakti, mereka sudah gatal-gatal tangan hendak ikut bertanding.

Kemudian mereka melihat sepak terjang dua orang wanita cantik yang luar biasa itu, yang gerakannya merobohkan perajurit-perajurit seperti orang membabat rumput saja.

Ketika melihat bahwa dua orang wanita cantik itu teman Resi Telomoyo, maka keduanya tanpa diperintah lagi lalu melompat maju dan menyambut dengan teriakan garang.

"Hemmm, biasanya aku pantang melawan wanita! Akan tetapi kulihat engkau bukan wanita biasa, melainkan seorang perajurit gemblengan. kau siapakah? Kalau mempunyai kepandaian, hayo maju dan lawanlah Warok Gendroyono! Kalau kau takut, lebih baik lekas-lekas mundur, di sini bukan tempat wanita berlagak!"

Mendengar kata-kata kasar itu, Kartikosari menudingkan kerisnya ke arah hidung Warok Gendroyono sambil membentak.

"Warok celaka tak perlu menyombong! Sebentar lagi kau tentu mampus di tangan Kartikosari!"

Baru saja terhenti kata-kata itu, tubuh Kartikosari sudah mencelat ke depan dengan gerakan cepat laksana burung terbang dan ujung kerisnya sudah mengancam ulu hati lawan! "Haaaiiitttl"

Warok Gendroyono terkejut sekali.

Tak disangkanya sama sekali bahwa wanita ini sedemikian cepat gerakannya.

Untung baginya, ketika terjun ke gelanggang pertempuran tadi ia sudah melolos kolor mautnya sehingga kini menghadapi serangan kilat yang sukar dielakkan itu ia dapat memutar kolornya untuk menangkis.

"Desssss...!!"

Kartikosari merasa betapa tangannya yang memegang keris tergetar oleh tangkisan kolor.

Diam-diam ia kaget dan cepat melompat mundur.

Kini keduanya saling pandang dan diam-diam mereka mengerti bahwa lawan di depan adalah orang yang tak boleh dipandang ringan, merupakan lawan yang kuat.

Dari getaran ujung kolornya Warok Gendroyono juga maklum bahwa wanita ini tidak hanya memiliki kecepatan laksana burung srikatan, akan tetapi juga memiliki tenaga dahsyat yang digerakkan hawa sakti yang kuat.

(Lanjut ke

Jilid 20) Badai Laut Selatan (Seri ke 03 Serial Serial Keris Pusaka Sang Megatantra) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo

Jilid 20 Dari getaran ujung kolornya.

Warok Gendroyono juga maklum bahwa wanita ini tidak hanya memiliki kecepatan laksana burung srikatan, akan tetapi juga memiliki tenaga dahsyat yang digerakkan hawa sakti yang kuat.

Maka ia tidak berani memandang ringan dan setelah mengeluarkan gerengan seperti seekor harimau terluka, Warok Gendroyono lalu balas menyerang dengan terjangan dahsyat sambil menggerakkan kolor mautnya yang ampuh.

Kolor Ki Bandot lenyap bentuknya menjadi segulung sinar berhawa panas yang melingkar-lingkar dan menyambar-nyambar.

Namun Kartikosari tidak menjadi gentar.

Ia mengimbangi kedahsyatan senjata lawan dengan gerakan lincah, berkelebat ke sana ke mari sambil mencari lowongan untuk balas menyerang, kadang-kadang dengan tusukan kerisnya, ada kalanya dengan pukulan jarak jauh yang tidak kalah dahsyatnya.

Ki Krendoyakso sudah menghadapi Roro Luhito.

Kepala rampok dari Bagelen ini, selain sakti dan suka mempelajari ilmu hitam, juga ahli racun dan mempunyai kesukaan seperti Sang Prabu Boko, yaitu makan daging dan minum darah bayi, juga agak mata keranjang.

Kini berhadapan dengan Roro Luhito, ia memandang dengan sepasang matanya yang lebar seperti mata kerbau.

Dengan lahap pandang matanya menjelajahi wajah yang ayu manis, tubuh yang denok montok, lalu ia tertawa dan berkata.

"Duhai, Dewata Agung! Bagaimana seorang bidadari yang begini denok ayu terjun ke dalam kancah perang yang seperti neraka? Aduh sayang, wong manis..."

Tiba-tiba kaki tangan Roro Luhito bergerak sedikit dan dengan ibu jari kakinya ia telah menendang segumpal tanah berikut kerikil yang menyambar cepat ke arah muka Ki Krendoyakso!

Hebat serangan ini dan tentu saja kepala rampok itu tidak sudi membiarkan mukanya, apalagi matanya, dihantam tanah dan kerikil.

Cepat ia menyampok dengan tangannya di depan muka sambil mengejap-ngejapkan mata dan melangkah mundur.

Akan tetapi tubuh Roro Luhito secepat kilat sudah keloncat ke depan, kaki kanannya menggunakan tungkak (tumit) menggedruk (menginjak keras) ke arah kaki kiri Ki Krendoyakso, diikuti dengan kaki kiri yang menendang ke arah pusar!.

Ki Krendoyakso kelabakan!

Tak disangkanya lawan yang begini denok ayu ternyata dapat melakukan serangan yang aneh dan hebat, cepat dan tak disangka-sangka.

Ia mengelak dengan langkah ke belakang lalu menggunakan tangan menangkis tendangan.

Siapa kira, tendangan itu hanyalah pancingan belaka.

Begitu Ki Krendoyakso menangkis dan perhatiannya terpusat ke bawah, tangan Roro Luhito sudah melayang ke depan, dengan jari-jari dilonjorkan menusuk kearah lambung.

Melihat betapa tusukan jari tangan itu mendatangkan angin bersiut, Ki Krendoyakso tak berani memandang rendah.

Tentu saja ia seorang yang kebal dan sering menyombongkan kekebalannya.

Tubuhnya kuat dan dapat menahan bacokan atau tusukan senjata tajam.

Akan tetapi ia cukup maklum bahwa jari-jari tangan yang diisi hawa sakti mendatangkan tenaga dahsyat yang jauh melebihi segala macam senjata tajam kuatnya!

Maka ia tidak berani main-main dan kembali kedua tangannya menangkis dan berusaha mencengkeram tangan kanan wanita Itu.

Akan tetapi, lagi-lagi ia kecelik, karena tusukan dahsyat inipun hanya gerak palsu belaka dan tahu-tahu tangan kiri Roro Luhito sudah menyambar dan menampar mukanya tanpa dapat dicegah lagi.

"Plakkk...!!"

Kalau bukan Ki Krendoyakso yang menerima tamparan ini, tentu sudah roboh dengan tengkorak pecah!

Biarpun Ki Krendoyakso tidak roboh binasa oleh tamparan yang begitu dahsyatnya, namun tetap saja ia menjadi bileng (pening), matanya berkunang-kunang dan pipinya yang kena tampar berdenyut-denyut seperti hendak pecah!.

Dengan kemarahan meluap ia lalu menyambar ruyungnya yang mengerikan, yaitu penggada Wojo Ireng yang berat dan besar, lalu dengan membabi buta ia menerjang ke depan, satu-satunya niat di hati hendak menghancur lumatkan tubuh yang denok itu.

Pipi kanannya mulai membengkak biru dan untung bahwa kulit mukainya memang hitam sekali sehingga warna biru itu tidaklah tampak nyata, hanya kelihatan pipinya menggembung saja.

Roro Luhito sudah siap sedia.

Dengan gerakan cepat sekali ia mengelak, lalu mainkan Ilmu Silat Sosro Satwo yang memiliki gerakan aneh dan cepat.

Sebentar saja mereka berdua sudah terlibat dalam pertandingan mati-matian.

yang seorang mengandalkan kekuatan, yang lain lebih mengandalkan kecepatan gerak.

Sementara itu Pujo sudah menerjang ke tengah.

Sepak terjangnya menggiriskan fihak musuh.

Keris di tangan kanannya dan kepalan tangan kirinya benar-benar hebat sekali, tidak pernah harus mendua kali.

Sekali pukul atau sekali tusuk, pasti seorang perajurit musuh roboh tak kuasa bangun kembali, paling ringan pingsan!

Tiba-tiba terdengar bentakan.

"Itu dia si jahanam Pujo! Kepung dia! Bunuh! Jangan sampai lolos."

Ketika Pujo melirik ke kanan, ia melihat Jokowanengpati berdiri dan menudingkan telunjuk kiri ke arahnya sambil mengacung-acungkan sebatang keris.

Kemarahan Pujo memuncak, juga ia merasa khawatir.

Tadi ketika ia menerjang ke tengah, ia sudah dapat melihat betapa Wisangjiwo sedang bertanding melawan Jokowanengpeti mempergunakan lembing dan menunggang kuda.

Ia ingin cepat-cepat dapat mendekat dan membantu Wisangjiwo mengeroyok musuh besar itu.

Akan tetapi terlalu banyak perajurit musuh menghalangnya sehingga ia harus mengamuk hebat membuka jalan darah.

Kini tahu-tahu Jokowanengpati muncul tanpa kuda.

Hal ini berarti bahwa Wisangjiwo tentu telah roboh oleh musuh besar itu!

Maka ia menjadi marah sekali, tangan kirinya sekali bergerai berturut-turut memukul kepala dua orang lawan menyusul kerisnya yang merobohkan lawan ke tiga.

Ia segera dapat bertanding melawan musuh besarnya, Jokowanengpati.

Pengecut, pikirnya gemas.

Setelah bertemu di medan perang, tidak segera menyambutnya melainkan mengerahkan pasukan untuk mengeroyoknya!

Pujo sama sekali tidak tahu bahwa pada saat itu, Jokowanengpati sendiri telah terluka!

Luka yang tidak ringan, yang ia derita dalam pertandingannya tadi melawan Wisangjiwo.

Akan tetapi ia menyembunyikan hal ini ketika melihat munculnya Pujo, dan cepat mengerahkan pasukan untuk mengeroyok dan membunuh orang yang amat dibencinya itu, karena Pujo merupakan ancaman bagi hidupnya.

Ia tadi telah merasakan betapa Wisangjiwo merupakan lawan yang tangguh dan berat.

Sebagai seorang yang menghambakan diri kepada pangeran dan diangkat menjadi senopati muda, tentu saja Wisangjiwo telah mempelajari ilmu bermain lembing di atas punggung kuda.

Kalau dibuat bandingan secara umum, memang kesaktian Jokowanengpati setingkat lebih tinggi daripada Wisangjiwo.

Akan tetapi Wisangjiwo bertempur dengan semangat berkobar-kobar, dengan dada penuh dendam, dengan kemarahan meluap-luap sehingga sukarlah bagi Jokowanengpati untuk mengalahkannya.

Di antara perajurit-perajurit kedua fihak yang berperang campuh kacau-balau, dua orang musuh besar ini saling terjang, Saling tusuk dan tangkis.

Sedemikian keras dan sering tombak mereka beradu sehingga kedua telapak tangan Wisangjiwo lecet-lecet karena sesungguhnya dalam hal tenaga sakti, ia kalah kuat.

Kuda tunggangan mereka sudah terengah-engah mandi peluh karena sejam lebih mereka bergerak-gerak, meronta ke kanan kiri tiada hentinya.

Debu mengebul dari bawah kaki kuda.

Bahkan ada kalanya pertandingan mati-matian itu menyeret mereka sehingga kaki kuda mereka menginjak-injak mayat dan tubuh mereka yang terluka.

Jokowanengpati merasa gemas dan marah sekali mengapa sampai sekian lamanya ia masih belum mampu merobohkan Wisangjiwo yang ulet.

Kalau saja pertandingan itu tidak dilakukan di atas kuda dan merupakan pertandingan ketangkasan biasa, ia yakir takkan begini sukar baginya untuk mengalahkan lawan.

Akan tetapi, dengan bertanding di atas kuda mempergunakan senjata tombak panjang, ia kurang leluasa untuk mempergunakan ilmu-ilmunya.

Selain itu, ia kalah gagah mainkan tombak dan kalah latihan menunggang kudu Untung ia menang cepat sehingga kekalahan itu dapat ditebus.

Betapapun juga, agaknya pertandingan ini kalau dilanjutkan akan makan waktu terlalu lama sampai ia dapat merebut kemenangan.

Otak yang cerdik penuh tipu muslihat dan siasat itu berputar-putar mencari akal.

Ketika ujung tombak Wisangjiwo meluncur ke arah lehernya, Jokowanengpati menangkis, kemudian ia membalas dengan serangan bertubi-tubi sambil membentak.

"Wisangjiwo pengkhianat! Terimalah kematianmu!"

Sepenuh tenaga dan mengandalkan kecepatannya ia menyerang secara bersambung.

Tadi sudah sering ia menggunakan siasat ini tanpa hasil, malah kalau diteruskan, dialah yang menderita rugi.

Dalam hal permainan tombak panjang, fihak penangkis berada di fihak yang kuat, karena tangkisan dilakukan dari samping dengan ujung lebih pendek ini tenaganya lebih besar, apalagi diperkuat dengan luncuran tombak yang menyerang.

Dalam hal permainan tombak, si penangkis sama artinya menjadi si penyerang sungguhpun yang diserang bukan tubuh lawan melainkan tombak lawannya.

Kalau diteruskan, fihak si penyerang yang dihantam tombaknya dari samping ini lama-lama akan kehabisan tenaga dan ada bahayanya tombak yang dipegangnya akan patah atau terlepas dari pegangan.

Wisangjiwo yang amat gagah mainkan tombak, diam-diam menjadi girang sekali.

Ia tidak gentar akan serangan yang bertubi-tubi itu dan ia maklum bahwa kalau Jokowanengpati melanjutkan serangan bertubi-tubi itu, Terbukalah kesempatan baginya untuk mengalahkan lawan yang amat tangguh ini.

Akan tetapi, sungguh Wisangjiwo belum tahu betul akan kelicikan siasat lawannya.

Jokowanengpati amat licik dan curang.

Ia sengaja melakukan serangan berantai itu untuk membuat lawan lengah, bahkan ia pura-pura seperti orang kehabisan tenaga.

seri muka Wisangjiwo yang merasa gembira menyaksikan Jokowanengpati seperti orang kehabisan tenaga, tidak terlepas dari pandang matanya yang tajam.

Ketika ia menusuk untuk kesekian kalinya ke arah lambung dan Wisangjiwo menangkis dengan gerakan keras, Jokowanengpati sengaja membiarkan dirinya terhuyung ke depan dari atas kuda.

Akan tetapi diam-diam ia menggerakkan ujung tombaknya ke depan dan...

"Crattt"

Ujung tombak yang runcing itu telah menembus dada kuda tunggangan Wisangjiwo! Kuda itu meringkik kesakitan lalu mengangkat tubuh depan keatas, meronta-ronta.

"Keparat!! Curang engkau...!!!"

Wisangjiwo memaki marah, akan tetapi mukanya menjadi pucat karena ia maklum bahwa keadaannya amat berbahaya.

Sungguh tidak disangkanya bahwa lawannya akan melakukan hal yang amat curang itu.

Melukai kuda lawan merupakan hal yang dipantang semua satria dalam medan yuda, karena hal ini membayangkan kerendahan watak dan kecurangan yang memalukan!

Wisangjiwo berusaha untuk menguatkan kedua kakinya menenangkan kudanya, akan tetapi kudanya telah mengalami luka parah.

Ujung tombak tadi sudah menembus dada menyentuh jantung sehingga kuda itu kini terhuyung-huyung ke depan sambil berputaran.

Wisangjiwo ikut terputar dan tiba-tiba tombak jokowanengpati meluncur cepat menusuk dadanya dari kanan.

Wisangjiwo menggunakan tombak, berusaha menangkis.

Tangkisannya berhasil, akan tetapi karena kedudukan tubuhnya miring dan hamper jatuh, tombak Jokowanengpati tidak dapat dihalau pergi dan meleset, terus menancap pada dekat pundak kanannya!

"Aduhhh...!!"

Wisangjiwo merintih.

"Ha-ha-ha-ha!"

Jokowanengpati tertawa bergelak sambil mencabut tombaknya.

Akan tetapi suara ketawanya terhenti seketika terganti seruan kaget dan matanya terbelalak ketika ia melihat betapa Wisangjiwo ikut terbawa oleh tombak yang akan dicabutnya dan kini dengan wajah mengerikan Wisangjiwo menubruknya!

Ternyata Wisangjiwo yang sudah terluka parah itu menjadi nekat.

Meminjam tenaga betotan lawan, ia membiarkan dirinya terbawa, bahkan lalu meloncat dari punggung kudanya dan sambil menubruk ia mengirim pukulan dahsyat ke arah dada Jokowanengpati.

"Desss...!!"

Biarpun Jokowanengpati berusaha mengelak, namun dada kirinya masih terkena hantaman sehingga ia roboh terguling dari atas kudanya sambil menyeret tubuh Wisangjiwo bersamanya.

Sayang bahwa Wisangjiwo sudah menderita luka hebat sehingga tenaganya tinggal sepertiga bagian saja.

Kalau tidak, agaknya belum tentu Jokowanengpati dapat menahan pukulan yang tak tersangka-sangga tadi, karena diam-diam Wisangjiwo telah menggenggam kerang merah dan pukulannya tadi mengandung Aji Tirto Rudiro.

Namun karena tenaganya tinggal sepertiga, Jokowanengpati hanya merasa seluruh isi dadanya menjadi dingin dan beku untuk sejenak saja.

Sebagai seorang muda yang menjadi kekasih Ni Durgogini dan Ni Nogogini, tentu saja ia mengenal pukulan ini dan cepat-cepat ia mengerahkan tenaga dalam untuk melawannya.

Namun Wisangjiwo benar-benar sudah menjadi nekat.

Ketika tubuh mereka terguling bersama dari atas punggung kuda, Wisangjiwo sudah mencengkeram leher lawannya dan kini ia mengerahkan sisa tenaga yang ada untuk mencekik leher lawan.

Jokowanengpati meronta-ronta sekuat tenaga, bahkan menggunakan kedua tangannya untuk merenggut lepas kedua tangan lawan dari lehernya, namun sia-sia belaka.

Dalam keadaan terluka parah dan dalam kemarahan yang mendidih, Wisangjiwo mencekik dengan tekad bulat untuk mengadu nyawa.

Jokowanengpati mulai panik.

Ia tak dapat bernapas dan cekikan yang amat kuat itu membuat lehernya serasa hendak patah tulangnya, telinganya mengiang-ngiang dan pandang matanya menjadi merah dan gelap.

Celaka, pikirnya.

Orang ini sudah nekat dan kalau ia tidak cepat-cepat dapat membebaskan diri dari cekikan, tentu ia akan mati konyol!

Tombaknya masih menancap di dada atas Wisangjiwo dan kini darah menetes-netes dari gagang tombak itu.

"Keparat... mampus kau...! Rasakan pembalasanku atas penghinaanmu kepada Roro Luhito... isteriku... kepada ibu dan ayah...!"

Suara Wisangjiwo mendesis-desis, matanya merah, wajahnya amat menyeramkan.

Jokowanengpati menahan diri agar tidak pingsan, tangannya meraba gagang keris di pinggang belakang, berkutetan dan berhasil menghunus keris.

"Creppp!!"

Kerisnya memasuki lambung Wisangjiwo sampai ke gagangnya.

Tubuh Wisangjiwo menegang.

Kedua tangan yang mencekik leher mendadak menjadi makin kuat sehingga hampir patah tulang leher Jokowanengpati!

Cepat-cepat ia mencabut kerisnya dan menghunjamkannya lagi ke dalam perut lawan.

"Creppp!!"

Kali ini Wisangjiwo mengeluh, lalu tubuhnya lemas.

Jokowanengpati meronta, melepaskan diri dan meloncat bangun.

Sejenak ia memejamkan mata karena pandang matanya berkunang, kepalanya berdenyut-denyut, lehernya sakit dan juga dada kirinya masih ngilu.

Ketika ia membuka matanya kembali, tubuh Wisangjiwo sudah telentang di depan kakinya, darah bercucuran dari dua lubang bekas tusukan kerisnya, tombaknyapun masih menancap di dada.

Wisangjiwo sudah tak bergerak-gerak lagi.

Dengan marah Jokowanengpati menyepak bekas lawannya dan pada saat itu ia melihat Pujo mengamuk tak jauh dari tempat itu.

Melihat musuh besar yang berbahaya ini, ia terkejut.

Ia maklum bahwa Pujo merupakan lawan yang lebih berat dan lebih berbahaya daripada Wisangjiwo, sedangkan dia sendiri sudah terluka cukup parah.

Tak sanggup rasanya kalau ia harus menghadapi Pujo seorang diri.

Maka ia lalu mengerahkan pasukan untuk mengeroyok Pujo.

Pujo tidak gentar.

Melihat Jokowanengpati, makin menggelora semangatnya karena ia ingin cepat-cepat dapat berhadapan dengan musuh besarnya itu.

Akan tetapi kepungan makin diperketat.

Biarpun ia telah banyak merobohkan para perajurit, namun belum juga ia terbebas dari kepungan.

Bahkan kini Jokowanengpati mengerahkan pasukan bertombak.

Menghadapi kurungan lawan yang memegang senjata panjang ini, Pujo menjadi repot juga.

ia tidak takut menghadapi hujan tombak, akan tetapi sukar baginya untuk merobohkan para pengeroyoknya seperti tadi.

Dengan marah ia menyimpan kerisnya, merampas sebatang tombak dan dengan senjata panjang inilah ia menghajar para pengeroyoknya.

Sampai remuk-remuk dan patah-patah tombaknya setelah ia merobohkan belasan orang.

Ia merampas lain tombak dan mengamuk terus sambil berteriak keras.

"Jokowanengpati manusia pengecut! Hayo layani aku sampai seorang di antara kita mandi darah!"

Akan tetapi Jokowanengpati tidak memperdulikan maki-makiannya melainkan dari luar memberi petunjuk-petunjuk kepada para perajurit.

Betapapun saktiny Pujo, menghadapi keroyokan yang tak kunjung habis itu, ia menjadi lelah dan repot juga.

Kemarahannya meluap dan ia mengamuk seperti banteng ketaton (terluka)!

Sementara itu pertandingan antara Cekel Aksomolo melawan Resi Telomoyo juga amat ramai dan menarik.

Seperi biasa, dalam menghadapi lawan tangguh Cekel Aksomolo mengandalkan tasbihnya dan ia lalu menggerakkan tasbih itu tidak hanya untuk menyerang dengan pukulan-pukulan dan sambaran-sambaran yang dapat merenggut nyawa, Akan tetapi d samping ini ia juga mengerahkan hawa sakti di dalam tubuhnya untuk disalurkar melalui lengannya dan "Mengisi"

Bunyi tasbihnya yang demikian nyaring dan aneh sehingga bagi lawan yang kurang kuat batinnya, mendengar suara biji-biji tasbih yang saling beradu ini saja sudah cukup untuk merobohkannya!

Karena kehebatan suara tasbihnya inilah maka pertandingan antara kedua orang kakek sakti ini menjadi terpisah daripada lainnya.

Tidak ada perajurit, baik dari pasukan Pangeran Anom maupun pasukan Pangeran Sepuh, berani mendekati pertandingan ini setelah beberapa orang perajurit kedua belah fihak roboh setelah mendengar suara berkeritik yang memecahkan kendangan telinga dan melumpuhkan otot dan bayu itu!

Pertandingan antara mereka terjadi seru tanpa saksi dekat.

Namun sekali ini, Cekel Aksomolo benar-benar bertemu tanding!

Kakek pertapa pemuja Sang Kapi Hanoman itu bukanlah orang sembarangan.

Biarpun tandangnya (sepak terjangnya) kadang-kadang aneh dan lucu menggelikan, suka garuk-garuk bokong, suka melawak dengan sikap nyelelek (ugal-ugalan), namun sesungguhnya ia memiliki hawa sakti yang amat kuat, batinnya sudah matang dan ia termasuk seorang yang sakti mandraguna.

Suara berkeritikan mujijat yang merobohkan banyak perajurit itu, sama sekali tidak mempengaruhinya, bahkan kakek in lalu membalas dengan aji yang serupa hanya beda macamnya saja.

Ia mere-mere seperti seekor kera tulen, bahka mengeluarkan suara seperti kera.

Suara ini amat tidak sedap memasuki telinga seakan-akan mengorek-ngorek telinga dengan benda tajam yang keras.

Kalau orang biasa saja yang menjadi lawan mendengar suara ini tentu akan merasa telinganya pecah-pecah dan menyerah tanpa berkelahi lagi!.

Karena keduanya maklum bahwa aji penaluk melalui suara ini tidak ada gunanya kalau digunakan terhadap lawan maka kini mereka lalu mengandalkan ilmu silat mereka.

Cekel Aksomolo biarpun seorang kakek bongkok dan tua renta tangannya seperti lumpuh, namun sesungguhnya ia seorang yang memiliki ilmu kepandaian tinggi, tidak hanya ilmu kebatinan dan ilmu hitam, juga ilmi silatnya hebat.

Tasbih yang merupakai senjata pusaka ampuh itu berada di tangannya seakan-akan berubah menjadi halilintar.

Tasbih itu lenyap bentuknya ketika ia gerakkan berubah menjadi sinar yang melingkar-lingkar aneh mengeluarkan bunyi aneh dan angin gerakannya mengandung hawa panas.

Jangankan terkena sambaran tasbihnya sendiri, baru.

tersambar oleh angin gerakannya saja sudah membuat kulit manusia biasa terkupas seperti terkena air mendidih.

Namun Resi Telomoyo juga hebat.

Biarpun ia hanya mempergunakan sebatang cabang pohon untuk dipakai sebagai senjata, namun ternyata cabang pohon biasa itu di tangannya berubah menjadi senjata ampuh.

Suara nyaring terdengar tiap kali cabang pohon bertemu tasbih, seolah-olah tanah tergetar dan asap mengebul dari cabang pohon itu!

Mereka serang-menyerang, desak-mendesak, sukar sekali menentukan siapa yang akan menang.

Juga pertandingan antara Ki Warok Gendroyono melawan Kartikosari amat ramai dan setanding.

Sesungguhnya, dalam gerakan ilmu silat, Kartikosari menang seusap, akan tetapi Ki Warok Gendroyono dapat menutup kekalahannya itu dengan tubuhnya yang kebal sehingga tusukan keris yang tidak mengenai tepat, kalau hanya meleset saja, tidak akan melukainya, paling-paling membuat kulitnya lecet sedikit.

Sudah beberapa kali keris Kartikosari mengenai tubuhnya, meleset sehingga mengejutkan wanita sakti itu.

Adapun senjata Ki Bandot, kolor maut itu, juga amat berbahaya dan Kartikosari cukup maklum bahwa sekali saja kepala atau dadanya kena hantaman kolor, tentu maut tebusannya.

Oleh karena inilah ia berkelahi dengan hati-hati sekali, mengandalkan kecepatan gerak tubuhnya.

Sayang sekali keadaan Roro Luhito tidak seramai teman-temannya.

Menghadapi Ki Krendoyakso yang sepak terjangnya buas dan liar, wanita ini menjadi panik.

Belum banyak pengalamannya bertempur dan Ki Krendroyakso benar-benar seorang liar yang menyeramkan.

Ruyungnya yang besar dan berat itu mendatangkan angin lesus, dan selain ruyungnya, juga lengan kirinya yang besar selalu menjangkau hendak mencengkeram, dari mulutnya keluar gerengan-gerengan seperti binatang buas dan keringatnya berbau sengit menyengat hidung.

Ketika ramai-ramainya bertanding, Ki Krendoyakso yang kaya keringat ini menggerakkan tubuh, keringatnya memercik ke depan, tanpa disengaja mengenai muka Roro Luhito, dekat hidung dan mulut.

Hampir dia muntah-muntah!

"Iblis laknat menjijikkan!!"

Ia memaki-maki untuk mencegah agar jangan sampai muntah-muntah, lalu ia menggunakan Aji Sosro Satwo dan tubuhnya berkelebat amat cepatnya.

Hanya dengan kecepatan tubuhnya ia mampu menjaga diri, akan tetapi karena ia selalu mengelak dan merasa jijik untuk berkelahi mendekat, iapun tidak mempunyai kesempatan untuk balas menyerang.

Lucu pertandingan ini.

Biarpun Roro Luhito tampak diserang terus, namun dengan kelincahannya inipun ia telah membuat Ki Krendoyakso pening dan lelah.

seperti seekor celeng besar menghadapi gangguan seekor lebah, atau seekor anjing digoda seekor lalat.

Perang campuh antara pasukan Pangeran Muda dan pasukan Pangeran Sepuh berlangsung makin hebat, makin buas dan kejam.

Alun-alun yang biasanya bersih itu kini penuh mayat bergelimpangan, darah bergelimangan, bau darah amis menyesakkan dada mengotorkan udara.

Teriakan-teriakan yang keluar dari kerongkongan parau makin liar dan jerit tangis yang terluka melengking tinggi.

Debu mengebul tebal dan tinggi, menggelapkan alun-alun dan sekitarnya.

Perang campuh besar-besaran ini berlangsung hamper sehari penuh, agaknya hanya akan berhenti kalau mata sudah tak dapat membedakan kawan atau lawan karena malam tiba, untuk dilanjutkan esok hari dan seterusnya.

Tiba-tiba bertiup angin keras yang menerbangkan debu yang menggelapkan medan yuda, dan suara yang lembut namun berpengaruh terbawa oleh angin ini sehingga terdengar oleh semua yang sedang berperang.

"Haaiii... para kawula di Kahuripan! Hentikanlah segera pertumpahan darah ini!"

Suara ini amat jelas dan penuh wibawa, membuat mereka yang mendengar tersentak kaget dan menghentikan gerakan senjata masing-masing lalu menengok dan mencari-cari dengan pandang mata untuk melihat apakah pendengaran mereka tidak keliru.

Semua orang yang sedang berperang itu mengenal belaka suara ini.

Dan tampaklah oleh mereka bahwa pendengaran mereka benar.

Di atas pegunungan kecil yang berada di sebelah selatan alun-alun, Berdiri tiga orang kakek.

Kakek yang berdiri di depan itulah yang berseru menghentikan perang.

Tampak betapa kakek itu mengangkat tangan kanan ke atas, menggerak-gerakkan tangan itu, dari mulutnya keluar seruan itu berkali-kali.

Tak salah lagi, demikian para perajurit dan perwira berpikir dengan hati berdebar, itulah Sang Prabu Airlangga yang telah mengundurkan diri menjadi pendeta!

Tak seorangpun di antara mereka yang tidak gentar hatinya melihat Sang Prabu Airlangga, lemas lutut mereka dan para perajurit yang berada di depan, baik mereka itu anak buah pasukan Pangeran Anom maupun anak buah pasukan Pangeran Sepuh segera menjatuhkan diri berlutut didahului oleh para perwira.

Perbuatan ini diikuti oleh perajurit-perajurit yang berada di sebelah belakang.

Menyaksikan ini, dua orang kakek yang mengapit Sang Prabu Airlangga atau Sang Resi Jatinendra, mengangguk-anggukkan kepala dengan penuh kagum.

Mereka ini adalah Empu Bharodo dan Resi Bhargowo.

Dua orang pertapa sakti ini makin kagum dan tunduk kepada junjungan ini yang ternyata masih memiliki wibawa yang bukan main besarnya.

Dua orang pangeran juga melihat munculnya ayah mereka.

Pucat wajah mereka dan serta-merta mereka berdua meninggalkan barisan masing-masing, lari menghampiri Resi Jatinendra.

Akan tetapi karena pangeran Anom menghampiri dengan berkuda sedangkan Pangeran Sepuh sudah turun dari kuda, maka Pangeran Anom yang lebih dahulu tiba di situ.

Pangeran ini segera meloncat turun dari kuda berlari menubruk kaki ayahnya sambil menangis!

Pendeta itu mengelus-elus jenggotnya dengan tangan kiri dan menyentuh kepala puteranya dengan tangan kanan.

Dia amat sayang kepada putera-puteranya, terutama putera bungsu ini.

Kemudian ia melirik kepada Pangeran Sepuh yang juga telah tiba di situ dan kini berlutut pula di depannya, di belakang Pangeran Anom sambil menundukkan muka.

Sejak putera-puteranya masih kecil, selalu Sang Prabu Airlangga menekankan kerukunan kepada mereka, mendidik mereka agar hidup rukun, yang muda tunduk kepada yang tua, sebaliknya yang tua mengalah kepada yang muda.

Maka kini ia merasa prihatin sekali menyaksikan perang saudara antara kedua puteranya itu.

"Hemm, anak-anakku. Mengapa kalian mengadakan perang saudara dan membiarkan bunuh-membunuh macam ini?"

Dalam pertanyaan ini, sungguhpun suaranya halus dan wajahnya masih tetap bersinar, namun terkandung hati trenyuh.

"Duh rama...!"

Pangeran Anom mendahului kakaknya dan menangis makin keras."Semenjak rama pergi bertapa, Pangeran Sepuh selalu menindas hamba, selalu menghina hamba, mengandalkan kedudukannya sebagai putera sepuh (tua), sebagai putera permaisuri pertama!

Rama hamba diperhina, tak dipandang sebelah mata, dianggap adik tiri yang terbenci kalau hamba tidak mempertahankan diri, agaknya hamba sudah disuruhnya bunuh!"

Sang Prabu Airlangga yang sudah menjadi pertapa itu adalah seorang bijaksana, seorang waspada, tentu saja tidak mudah dibujuk dan dibakar oleh omongan-omongan seperti itu.

Namun, betapapun juga dia seorang manusia yang tak terlepas daripada ikatan kasih, maka keningnya berkerut ketika ia menegur Pangeran Sepuh.

"Bukankah sejak dahulu aku selalu memperingatkan agar yang tua pandai mengalah? Lebih tua berarti lebih matang jiwanya, lebih luas pandangannya, dan lebih bijaksana. Mengapa membiarkan keadaan menjadi berlarut-larut sehingga timbul perang saudara yang begini menyedihkan?"

Pangeran Sepuh orangnya pendiam, seperti ibunya. Dengan sepenuh hati ia bersujut dan menjawab.

"Mohon beribu ampun, rama. Mengenai semua peristiwa yang terjadi, hamba yakin bahwa rama tentu telah dapat menyelami dan mengetahui akan keadaannya."

Makin dalam kerut merut di wajah yang tadinya berseri itu.

Jawaban ini cukup bagi Sang Resi Jatinendra, cukup membuat ia maklum akan perbedaan antara kedua orang puteranya, juga cukup membuat ia menduga bahwa kalau diselidiki, tentu kesalahan berada di fihak Pangeran Anom.

Menyelidiki urusan ini, menekankan kesalahan-kesalahan, berarti malah memperhebat permusuhan di antara mereka.

Maka ia berkata, suaranya penuh wibawa.

"Yang tua mengalah, yang muda menunduk, inilah kewajiban di antara saudara, berlandaskan cinta kasih. Segala macam persoalan yang timbul, hanya dapat diselesaikan baik-baik secara damai dengan perundingan. Mengapa suka menghamba nafsu dan melakukan perang saudara yang mengakibatkan pertumpahan darah antara saudara? Wilayah Kahuripan amat luas, dibagi duapun kalian masih akan mendapatkan bagian masing-masing yang cukup luas. Untuk apa diperebutkan?"

Perang saudara itu serentak berhenti.

Melihat munculnya Sang Prabu Airlangga sendiri yang menghentikan perang, gentarlah rasa hati para pembantu Pangeran Anom yang pada saat itu masih bertanding.

Cekel Aksomolo maklum bahwa, menghadapi bekas Raja Kahuripan yang amat sakti mandraguna itu, ia dan kawan-kawannya takkan dapat berbuat sesuatu, bahkan melihat perang terhenti secara mendadak, iapun lalu menghentikan serangannya terhadap Resi Telomoyo, lalu terbungkuk-bungkuk menyelinap pergi di antara banyak perajurit yang bersimpang-siur.

Demikian pula pertandingan Roro Luhito, terhenti dengan sendirinya.

Seperti juga Cekel Aksomolo, dua orang raksasa ini mengundurkan diri dan menanti keputusan Pangeran Anom yang masih menghadap ayahnya bersama Pangeran Sepuh.

Kartikosari dan Roro Luhito yang pada hakekatnya datang ke Kotaraja terutama sekali untuk mencari musuh besar mereka, kinipun kehilangan nafsu bertempur melihat perang dihentikan.

Secara pribadi, mereka tidak mempunyai permusuhan apa-apa dengan dua orang raksasa tadi.

Maka mereka lalu cepat menyelinap maju, memasuki bagian yang tadi menjadi wilayah musuh, untuk mencari Jokowanengpati.

Sementara itu, Resi Telomoyo yang tadi ketika bertanding melawan Cekel Aksomolo sempat melihat Pujo menerjang ke tengah barisan, juga sudah menyelinap pergi untuk mencari Pujo karena ia merasa khawatir kalau-kalau Pujo yang terpisah dari mereka bertiga tadi mengalami celaka.

"Kakang Wisangjiwo...! Aduh, kakang... kenapa kau sampai begini...!"

Roro Luhito menubruk tubuh yang rebah miring mandi darah itu, memeluk dan menangis.

Kartikosari berdiri dan memandang.

Kasihan, pikirnya.

Biarpun Wisangjiwo ini dahulu bukan manusia baik-baik dan telah menyeleweng jauh daripada kebenaran, akan tetapi akhir-akhir ini telah insyaf dan berusaha kembali ke jalan benar.

Siapa mengira, putera Adipati Selopenangkep akan mengakhiri hidupnya di medan perang dalam keadaan mengerikan.

Tubuh yang disangka sudah mati itu bergerak perlahan, telentang sehingga kini tampak luka-luka di sebelah depan tubuhnya, di dada dan perut.

Darah sudah tak mengucur lagi, akan tetapi di atas tanah tergenang darah dan pakaiannya juga penuh darah.

Wisangjiwo membuka matanya.

Melihat bahwa wanita yang memeluknya adalah Roro Luhito, matanya terbelalak dan dengan sukar sekali agaknya dengan pengerahan tenaga penghabisan, ia berkata, menudingkan telunjuknya.

"Jok... Jokowanengpati... dia lari ke sana...!"

Tiba-tiba tubuhnya berkelojotan lalu lemas.

Nyawanya melayang pergi.

Roro Luhito maklum kakak tirinya sudah mati, akan tetapi pada saat itu kemarahan dan dendam lebih daripada kedukaan.

Ia meletakkan tubuh kakaknya yang tadi ia sangga itu ke atas tanah, lalu meloncat berdiri.

Bagaikan mendapat komando, keduanya serentak lari ke arah yang ditunjuk oleh Wisangjiwo tadi, berlari cepat seperti berlomba.

Beberapa perajurit yang mereka terjang terguling dan banyak orang memaki-maki Namun Kartikosari dan Roro Luhito tak perduli, terus lari sampai mereka keluar dari alun-alun yang penuh perajurit.

Suara derap kaki kuda mengejutk mereka, membuat mereka menoleh.

"Itu dia!"

Seru Roro Luhito. Memang benar Jokowanengpati telah menunggang kuda dan membalapkan kudanya itu, menuju selatan.

"Kejar...!"

Kartikosari berseru.

Mereka lari ke arah kiri di mana terdapat beberapa ekor kuda yang dituntun perajurit Pangeran Anom.

Agaknya binatang-binatang itu kuda tunggangan para perwira yang kini turun dari kuda dan entah ke mana perginya.

Tak berkata sesuatu, Kartikosari dan Roro Luhito menggerakkan tangan dan kaki dan sekejap saja mereka berdua telah menunggangi kuda rampasan, membiarkan dua orang perajurit yang tiba-tiba didorong roboh terlentang itu bengong terlongong kemudian menyumpah-nyumpah!.

Kartikosari mendapatkan kuda berbulu dawuk, sedangkan Roro Luhito menunggang kuda berbulu merah.

Sekali lagi terdengar derap kaki kuda membalap ke selatan ketika dua orang wanita ini mengejar Jokowanengpati yang sudah tidak tampak lagi bayangannya.

Resi Telomoyo menemukan Pujo dalam keadaan payah.

Pujo bermandi peluh dan ia lelah sekali bahkan ada beberapa luka ringan di tubuhnya.

Untung tadi bahwa perang terhenti tiba-tiba, kalau tidak, tentu ia terancam bahaya maut.

Jokowanengpati yang curang itu tidak pernah maju sendiri, melainkan terus-menerus menambah bala bantuan sehingga Pujo dikeroyok oleh puluhan orang perajurit.

Biarpun Pujo tidak gentar dan mengamuk serta merobohkan banyak sekali lawan, namun kalau pertandingan keroyokan seperti itu dilanjutkan, tentu ia akan kehabisan napas dan tenaga sehingga akhirnya ia akan mati di ujung puluhan senjata!.

Maka begitu perang terhenti, ia berdiri dengan keris di tangan, mengatur napas dan memulihkan tenaganya.

Biarpun semua orang berhenti bertempur, namun mengingat akan kelicikan Jokowanengpati, Pujo tidak berani bersikap lengah.

Ia beristirahat, namun dengan keris di tangan, siap membela diri mati-matian.

Ia tidak tahu betapa Jokowanengpati sudah menjadi ketakutan begitu melihat bahwa perang dihentikan oleh Sang Prabu Airlangga sendiri.

Sebagai seorang yang telah menumpuk dosa, melihat Pujo, Kartikosari dan Roro Luhito berada pula di Kotaraja, setelah kini ia tidak dapat berlindung lagi di belakang Pangeran Anom karena perang dihentikan, tentu saja Jokowanengpati menjadi ketakutan.

Ia pikir lebih baik lolos lebih dahulu dan setelah ia merasa yakin takkan dapat dijangkau tangan orang-orang yang mendendam, baru ia akan kembali menghambakan diri kepada Pangeran Anom.

Untung, pikirnya, Pujo sudah amat lelah sehingga tidak dapat mengejarnya.

Ia sendiri menderita luka yang cukup hebat akibat pukulan Wisangjiwo tadi, sehingga kalau dalam keadaan seperti ini ia harus menghadapi Pujo, ia merasa berat dan khawatir.

Girang hati Pujo mendengar bahwa kedua orang isterinya tidak mengalami luka dalam perang itu sungguhpun hatinya kaget ketika Resi Telomoyo menceritakan bahwa kedua orang isterinya itu mendapatkan lawan yang amat berbahaya, yaitu Ki Warok Gendroyono dan Ki Krendoyokso!

Mereka berdua lalu kembali untuk mencari Kartikosari dan Roro Luhito, namun kedua orang wanita itu tidak tampak bayangannya.

Pujo yang merasa tidak enak hatinya, minta agar Resi Telomoyo kembali lebih dahulu ke pasanggrahan yang disediakan untuk mereka oleh Wisangjiwo di kompleks Istana Pangeran Sepuh.

"Paman resi, saya tidak dapat beristirahat dengan tenang sebelum melihat mereka kembali dengan selamat. Kemana gerangan mereka pergi? Bukankah perang sudah dihentikan? Saya hendak mencari mereka."

Demikian kata Pujo yang kembali ke alun-alun dan menyelinap ke tengah dimana tadi terjadi perang hebat.

Perajurit-perajurit kedua fihak kini sedang mengangkuti mereka yang tewas dan terluka.

Namun tidak tampak bayangan kedua isterinya.

Kalau Kartikosari dan Roro Luhito berada di antara mereka, tentu mudah terlihat olehnya karena perajurit-perajurit itu adalah laki-laki semua.

Akhirnya setelah bertanya-tanya, Pujo mendengar bahwa kedua orang isterinya itu merampas kuda dan membalapkan kuda ke arah selatan.

Tak seorangpun di antara para perajurit kedua fihak dapat menerangkan ke mana perginya kedua orang wanita itu dan mengapa pula merampas kuda dan tergesa-gesa pergi ke selatan.

Agaknya mereka mengejar Jokowanengpati, pikir Pujo.

Tidak ada lain hal yang akan dapat membuat kedua isterinya itu pergi begitu saja tanpa memberi tahu kepadanya, kecuali kalau mereka melihat Jokowanengpati dan mengejarnya.

Kekhawatiran akan keselamatan kedua isterinya membuat Pujo lupa akan kelelahannya.

lapun lalu mencari seekor kuda.

Sebagai seorang pembantu Pangeran Sepuh, tentu saja para perajurit mengenalnya dan mudah saja ia memperoleh seekor kuda yang baik.

Tak lama kemudian, kembali seekor kuda membalap di atas jalan menuju ke selatan itu.

Setelah memberi nasehat banyak kepada kedua orang puteranya, akhirnya Sang Resi Jatinendra atau Resi Gentayu, mengambil keputusan untuk membagi Kerajaan Kahuripan menjadi dua bagian.

Raja sakti yang telah menjadi pertapa yang bijaksana dan waspada ini dengan hati prihatin dapat melihat bahwa betapapun ia memberi wejangan-wejangan, takkan dapat melenyapkan rasa dendam dan iri di dalam hati kedua orang puteranya, terutama di dalam hati Pangeran Anom.

Sang Resi Jatinendra yang sudah awas pandangan batinnya dan dapat meraba dengan rasa ke arah masa depan menjadi trenyuh dan nelangsa.

"Manusia berusaha, namun Hyang Wisesa yang menentukan,"

Keluhnya di dalam hati,"namun aku akan kesiku (terkutuk) kalau sebagai manusia aku tidak melakukan usaha sedapat mungkin yang sudah menjadi kewajiban manusia."

Pertapa ini maklum bahwa usaha satu-satunya yang dapat ia lakukan untuk mencegah perebutan, hanyalah dengan jalan membagi Kerajaan menjadi dua bagian dan diberikan kepada kedua orang puteranya.

Tentu saja hal ini berlawanan dengan politiknya sebagai Raja dahulu.

Dahulu Sang Prabu Airlangga berpendirian bahwa tanpa penyatuan seluruh Nusantara, kemakmuran takkan dapat tercapai karena selalu akan terjadi perebutan wilayah dan kekuasaan di antara para adipati dan Raja-raja kecil.

Karena pendirian inilah maka ketika Resi Jatinendra masih menjadi Raja, tiada hentinya ia melakukan usaha perluasan wilayah, menaklukkan Kerajaan-Kerajaan kecil sehingga akhirnya Kerasan Kahuripan terkenal sebagai Kerajaan yang menegakkan kembali pemerintahan yang wilayahnya seluas Kerajaan Mataram yang lalu.

Akan tetapi kini demi untuk mencegah meluasnya perang saudara, Sang Resi Jatinendra terpaksa membagi wilayah Kerajaan Kahuripan menjadi dua bagian untuk dibagi rata di antara kedua puteranya berlainan ibu yang sudah bersiap untuk saling menghancurkan dalam perebutan kekuasaan!

Di dalam hatinya bekas Raja besar ini maklum bahwa kebenaran ada pada puteranya yang tua, namun kasih sayang sebagai ayah membuat ia condong kepada putera yang muda.

Sebetulnya, keputusan Sang Prabu Airlangga untuk membagi kerajaen menjadi dua ini, amat tidak disetujui oleh Narotama, Patih yang menjadi sahabat sejak kecil, bahkan diakui sebagai kakak sendiri.

Sang Patih Narotama yang dalam hal kebijaksanaan dan kewaspadaan hanya sedikit selisihnya dengan Sang Prabu Airlangga yang juga menjadi saudara seperguruannya, Maklum bahwa usaha Sang Prabu Airlangga ini bukan merupakan jalan keluar yang baik!

Hanya merupakan penyanggah perang untuk sementara waktu saja.

Bukankah dengan pembagian Kerajaan menjadi dua maka sang prabu telah menciptakan dua buah Kerajaan yang sama besar dan sama kuat, yang berdiri berhadapan bagaikan dua ekor harimau saling berlaga mengadu kekuatan?

Bukankah perang saudara yang terjadi di alun-alun itu hanya merupakan pertikaian di antara dua saudara sehingga merupakan perang kecil terbatas antara dua pasukan pengawal, sedangkan perang antara dua buah Kerajaan besar merupakan perang besar-besaran yang mengerikan dan jauh lebih celaka akibatnya daripada perang antara kakak dan adik?.

Terjadi perbantahan antara Sang Prabu Airlangga dan Ki Patih Narotama dan akibatnya, Ki Patih Narotama tidak diperkenankan mencampuri urusan yang oleh Sang Prabu Airlangga disebut urusan dalam antara seorang ayah dan para puteranya!.

Bahkan tak diperkenankan hadir dalam upacara pembagian Kerajaan!

Sesungguhnya bukan sekali-kali Sang Prabu Airlangga marah kepada Ki Patih Narotama, melainkan ia maklum bahwa kalau ia membiarkannya saja, Narotama tentu akan turun tangan membela Pangeran Sepuh dan kalau hal ini terjadi, sebagai seorang ayah tentu ia merasa tidak enak kalau harus berat sebelah.

Di lain fihak, Narotama yang sudah berjanji takkan mencampuri urusan antara kedua putera sang prabu, lalu menyembah dan berkata.

"Kalau begitu, perkenankanlah hamba mengundurkan diri selaku Patih. Selama hamba masih menjadi punggawa Kahuripan, betapa mungkin hanya akan mendiamkan saja kalau melihat Kahuripan terancam perpecahan? Lain halnya kalau hamba sudah bukan punggawa lagi, melainkan menjadi seorang pertapa."

"Kakang Narotama! kau hendak menjadi pertapa??"

Melihat wajah junjungannya yang kaget itu, Narotama tersenyum.

"Paduka sendiri meninggalkan singgasana, meninggalkan kebesaran dan kemuliaan seorang Raja dan mengundurkan diri menjadi pertapa, mengapa hamba tidak menauladan contoh paduka yang amat baik ini? Kerajaan akan dipecah menjadi dua, sebaiknya Gusti Pangeran Sepuh dan Gusti Pangeran Anom memilih pembantu masing-masing dan hamba lepas tangan, melepaskan diri dari dunia ramai, menikmati keadaan kosong sunyi, bersih daripada angkara murkanya nafsu. Hamba pamit, mohon diri, gusti."

Resi Jatinendra turun dari tempat duduknya lalu menghampiri Ki Patih yang bersimpuh di depannya. Dirangkulnya Narotama dan suaranya terharu ketika bersabda.

"Duh kakang Narotama. Betapa girang hatiku mendengar aturmu. Agaknya engkaupun dapat menginsyafi betapa beginilah sebaiknya. Kita sudah tua, kakang. Kita harus melepas tangan setelah melakukan ikhtiar sekuasa kita. Biarkanlah apa yang akan terjadi, terjadi seperti yang dikehendaki Sang Hyang Wisesa, kakang Narotama!"

"Betul, yayi. Betul sekali. Ampunkan kekhilafan hamba yang sudah-sudah."

"Engkau akan bertapa di mana, kakang?"

"Paduka maklum, hamba takkan pernah dapat meninggalkan paduka. Oleh karena itupun, hamba takkan jauh dari Jalatunda, yayi."

"Bagus, kakang. Berangkatlah, dan jangan lupa, kau didiklah baik-baik si Joko Wandiro."

Demikianlah, Narotama berpisah dari junjungannya dan tidak menyaksikan pembagian Kerajaan Kahuripan, karena hal ini serupa dengan memecah jantungnya menjadi dua.

Dahulu, bertahun-tahun dialah yang berjuang menyatukan wilayah-wilayah itu, dengan pengorbanan darah dan peluh.

Bagaimana kini ia tega menyaksikan segala jerih payahnya itu dihancurkan, bukan oleh orang lain, melainkan oleh keturunan junjungannya sendiri?

Dengan hati berat Narotama lalu mengajak Joko Wandiro meninggalkan Jalatunda, memilih tempat bertapa yang cocok di antara guha-guha yang banyak terdapat di pegunungan sekitar Gunung Bekel.

Biarpun maklum sedalamnya bahwa usaha manusia itu tak mungkin merobah jalannya jangka yang ditentukan Hyang Wisesa, namun Sang Prabu Airlangga berusaha keras untuk bertindak sebaik-baiknya.

Pembagian wilayah Kerajaan yang dilakukan dalam usaha mencegah perang saudara ini dilakukan dengan upacara besar-besaran, Sengaja oleh Sang Prabu Airlangga didatangkan semua pembesar, punggawa, pendeta dan orang-orang terkemuka di seluruh Kerajaan agar mereka Ini menjadi saksi.

Semua ini dilakukan dalam rangka usahanya agar kewajibannya sebagai ayah yang adil terpenuhi.

Pimpinan upacara pembagian wilayah Kerajaan Rahuripan ini diserahkan kepada Empu Bharodo yang terkenal sebagai seorang kakek sakti yang amat setia kepada Kahuripan, terkenal pula akan kejujuran dan kebersihan hatinya, juga akan kesaktiannya.

Berkat kebijaksanaan Empu Bharodo yang dibantu oleh adik seperguruannya, Resi Bhargowo, pembagian wilayah Kerajaan Kahuripan ini dilakukan dengan sempurna dan seadil-adilnya.

Akan tetapi, manusia takkan terlepas daripada sifat angkara murka dan dengki iri.

Betapapun adil pembagian itu menurut ukuran Empu Bharodo maupun Resi Jatinendra sendiri, tetap saja kedua orang pangeran itu diam-diam merasa tidak puas, karena pembagian itu tidak selaras dengan keinginan hati mereka dan karenanya keduanya menganggapnya kurang adil!.

Namun oleh karena yang membaginya adalah Sang Prabu Airlangga sendiri, maka kedua orang pangeran tidak berani membantah dan menerima pembagian masing-masing.

Pangeran Sepuh mendapat bagian barat dan menjadi Raja dari bagian ini yang kemudian dinamakan Kerajaan Panjalu.

Adapun bagian timur menjadi bagian Pangeran Anom dan dinamakan Kerajaan Jenggala.

Mereka menjadi Raja dari Kerajaan masing-masing dan untuk sementara kelihatan puas dan berlomba untuk memperindah dan memperbesar Kerajaan masing-masing.

Setelah pembagian Kerajaan selesai, Sang Prabu Airlangga kembali ke pertapaan, bertapa makin tekun lagi sambil memohon kepada dewata agar Kerajaan yang kini dipimpin oleh kedua orang puteranya dapat makmur dan tidak timbul pula pertengkaran di antara mereka.

Empu Bharodo dengan setia mengikuti junjungannya ini di pertapaan Jalatunda di lereng Gunung Bekel.

Biarpun Ki Patih Narotama tidak diperkenankan mencampuri urusan pembagian Kerajaan, bahkan tidak hadir pula dalam upacara, namun Ki Patih Narotama tidak merasa kecil hati terhadap junjungan, juga saudara seperguruan dan sahabat yang dikasihinya itu.

Ia merasa girang bahwa jalan tengah yang diambil sri baginda itu agaknya memperlihatkan hasil baik.

Apapun yang terjadi, Ki Patih Narotama yang amat mencinta negara ini sudah merasa puas apabila menyaksikan negara aman makmur.

Oleh karena itu, biarpun ia sudah menjadi pertapa, seringkali ia menghadap Resi Jatinendra, bahkan sering pula ia datang mengajak muridnya, Joko Wandiro yang tentu saja merasa girang mendapat kesempatan bertemu dengan eyang gurunya, yaitu Resi Bhargowo.

Karena adanya hubungan ini, terutama sekali juga karena para kakek sakti yang waspada itu dapat melihat bahwa Joko Wandiro merupakan harapan mereka untuk mewakili mereka kelak menanggulangi segala keruwetan dan kekacauan negara, maka tiada bosannya mereka, juga Sang Resi Jatinendra sendiri, memberi nasehat dan petunjuk kepada Joko Wandiro.

Anak ini dengan sikapnya yang sopan, dengan otaknya yang pintar, telah menarik perhatian mereka sehingga tidak hanya eyang gurunya saja yang menurunkan ilmunya, bahkan Empu Bharodo juga mengajarkan ilmu kesaktiannya Bayu Sakti kepada Joko Wandiro.

Resi Jatinendra yang masih tunggal guru dengan Ki Patih Narotama, maklum bahwa anak itu tentu akan menerima kepandaian dari Narotama, maka iapun hanya memberi petunjuk tentang cara bersamadhi untuk menghimpun kekuatan sakti, dan kemudian memberi petunjuk pula tentang aji kesaktian yang luar biasa dan hanya dimiliki oleh bekas Raja ini, yaitu aji Triwikrama.

Aji Triwikrama ini sesungguhnya adalah aji yang mengandalkan kekuatan batin yang mengungkap keaslian ujud seorang manusia dan yang biasanya hanya dapat dilihat dengan pandang mata batin yang kuat.

Aji ini apabila dipergunakan, pengaruhnya amat hebat, menundukkan segala macam lawan tanpa menggunakan kekerasan.

Joko Wandiro adalah seorang anak yang rajin, seorang anak yang pandai nyimpan perasaan dan rahasia hatinya, ia belajar dengan amat tekun, penuh perhatian.

Ia tidak pernah bertanya tentang ayahnya, namun didalam hatinya tak pernah ia melupakan ayahnya, tak pernah ia kehilangan rasa rindunya yang ditekan-tekan, dan tak pernah ia lupa akan pesan ayahnya dahulu tentang seorang musuh besar ayahnya yang bernama Wisangjiwo!

Tentu saja ia tidak pernah mendengar bahwa Wisangjiwo telah gugur dalam perang saudara.

Juga sama sekali tidak tahu bahwa sebetulnya orang yang selama ini dianggap musuh besar, yang kelak harus ia balas, Sesungguhnya adalah ayah kandungnya sendiri!.

* * * Sementara itu, Endang Patibroto dibawa oleh gurunya ke Pulau Nusakambangan.

Pada masa itu, pulau ini merupakan sebuah pulau yang terkenal sebagai sarang Iblis dan Siluman.

Jangankan mendarat di pulau ini kalau ada yang berani bahkan mendekati pulau saja tidak ada seorangpun nelayan yang berani.

Sebuah pulau angker, menyeramkan, dan penuh rahasia mengerikan.

Kalau sekali waktu ada perahu-perahu nelayan yang diserang badai Laut Selatan di daerah itu, tentu mereka ini menghubungkannya dengan Pulau Nusakambangan atau yang mereka juluki Pulau Iblis.

Mereka menganggap bahwa iblis-iblis di pulau itu mengamuk dan tidak senang karena ada perahu yang"melanggar"

Wilayah Pulau Iblis, yang berlayar terlalu dekat dengan pulau.

Dibyo Mamangkoro menggandeng tangan Endang Patibroto mendekati pantai Laut Selatan.

Pulau Nusakambangan Nampak dari pantai itu seperti seorang raksasa sedang tidur.

Cuaca sudah mulai gelap ketika mereka tiba di pantai.

"Bapa guru, bagaimana kita akan menyeberang ke sana?"

Tanya Endang Patibroto ketika gurunya memberi tahu bahwa pulau yang jauh itulah tempat tinggalnya.

Ia bertanya demikian karena kini gurunya tidak membawa mancung (selapu bunga kelapa) seperti ketika menyeberang ke Pulau Sempu.

"Apakah kita harus mencari mancung lebih dulu? Itu di sana banyak pohon kelapa!"

Ia menuding ke arah barat di mana terdapat beberapa batang pohon nyiur melambai-lambai tertiup angin laut.

"Huah-hah-hah, tidak usah, muridku. Setelah kau ikut bersamaku, kita perlu mempunyai sebuah perahu. Nah, bukankah di sana itu ada perahu. Mari!"

Dibyo Mamangkoro menarik tangan muridnya, diajak pergi mendekati pantai sebelah timur di mana terdapat beberapa buah perahu.-Dari jauh kelihatan beberapa orang nelayan sedang berkemas untuk mulai berlayar mencari ikan.

Ada yang membereskan layar, ada pula yang menyiapkan jala, pancing, dan lain-lain.

Tanpa berkata sesuatu, Dibyo Mamangkoro yang menggandeng tangan Endang Patibroto itu menghampiri para nelayan, lalu seenaknya ia memilih perahu terbaik, lalu melangkah naik bersama muridnya.

"Haiii...! Orang tua, kau mau apa dengan perahuku...?"

Seorang nelayan muda yang bertubuh tegap dan Nampak kuat datang berlari-lari sambil membawa sebuah tombak berkail alat menangkap ikan besar.

Sikapnya mengancam.

Akan tetapi Dibyo Mamangkoro tidak memperdulikan teguran orang itu.

Enak saja ia mengambil dayung dan hendak melepaskan dadung yang mengikat perahu dengan perahu lain di pantai.

"Heeeel! Lepaskan perahuku. Turun!!"

Si nelayan muda membentak sambil menerjang maju.

Dengan tangan kanannya ia menangkap lengan Dibyo Mamangkoro dan menyeretnya turun dari perahu.

Akan tetapi alangkah kaget dan herannya ketika lengan dan tubuh yang diseretnya itu sama sekali tidak bergoyang!

Ia mengerahkan tenaga, membetot lagi.

Sia-sia belaka, sama halnya kalau ia mencoba untuk menarik roboh sebuah batu karang yang kokoh kuat.

Namun si nelayan yang muda dan kuat itu makin penasaran.

Ia menancapkan tombaknya di atas tanah, kemudian menggunakan kedua tangan untuk menyeret.

"Huah-ha-ha! Endang, kau lihat tingkah monyet pantai ini!"

Sambil berkata demikian, Dibyo Mamangkoro menggerakkan tangan yang dibetot dari tubuh nelayan muda itu terlempar sampai lima meter jauhnya ke laut.

Sambil menyumpah-nyumpah nelayan itu berenang ke pinggir, sedangkan para nelayan lain yang belasan orang banyaknya datang mendekat dengan wajah terheran.

Nelayan muda itu terkenal sebagai nelayan yang paling kuat di antara mereka.

Pernah seordng diri saja melawan dan menaklukkan ikan hiu sebesar manusia ketika ia mengail dan tertarik jatuh dari perahunya ke dalam laut oleh seekor ikan hiu yang terkail.

Bagaimana sekarang melawan seorang kakek tua itu, biarpun kakek tinggi besar seperti raksasa, begitu mudah saja dilempar ke laut?

Dengan penuh ketegangan mereka melihat betapa nelayan muda itu sudah berhasil berenang ke pantai.

Kini dengan kemarahan meluap melihat kakek tinggi besar itu terbahak-bahak ketawa dan anak perempuan itu tersenyum-senyum geli, si nelayan muda menyambar tombaknya.

"Suro... sabarlah, jangan main-main dengan tombak...!"

Beberapa orang nelayan tua memperingatkan.

Para nelayan itu adalah orang-orang sederhana dan menghadapi buruan mereka, yaitu ikan laut, mungkin mereka dapat bersikap ganas dan kejam.

Akan tetapi menghadapi peristiwa yang mengancam keselamatan nyawa manusia, mereka merasa ngeri juga.

Namun, nelayan muda bernama Suro itu terlalu marah sehingga menjadi mata gelap.

Jelas bahwa kakek raksasa itu hendak merampas perahunya, bahkan kini kakek itu sudah hendak mengembangkan layar, bagaimana ia tidak akan merah?

Perahu lebih berharga daripada nyawa bagi seorang nelayan miskin seperti dia.

Kini perahunya hendak dirampas orang, harus ia pertahankan dengan nyawa, kalau perlu ia tidak akan segan untuk membunuh!

Kakek itu terlalu kuat, tidak dapat ia lawan dengan kedua tangan kosong.

Apa salahnya kini menggunakan senjata untuk mencapai kemenangan mempertahankan perahunya?

Ia tidak tahu bahwa seruan peringatan teman-temannya yang tua tadi bukan hanya karena khawatir melihat ia hendak membunuh orang, melainkan lebih khawatir lagi terhadap keselamatannya.

Para nelayan yang tua itu melihat sesuatu pada diri Dibyo Mamangkoro yang menyeramkan hati mereka.

Sesuatu yang memancar dari sepasang mata yang liar dan besar itu, sesuatu yang membayang pada sikap kakek yang tidak sewajarnya, tidak seperti manusia umumnya.

Terlambatlah seruan peringatan itu.

Suro sudah menerjang dengan tombaknya sambil melompat ke atas perahunya sendiri.

Ia bermaksud menyerang kakek raksasa yang tadi telah melemparkannya ke laut, akan tetapi karena Endang Patibroto berdiri di pinggir menjadi penghalang, Tentu saja otomatis anak perempuan inilah yang lebih dulu terancam bahaya serangan tombak.

Anehnya, melihat datangnya marabahaya terhadap muridnya itu, Dibyo Mamangkoro hanya tertawa bergelak, sama sekali tidak menjadi gugup atau khawatir!

Memang tidak berlebihan sikap ini.

Biarpun anak perempuan itu baru beberapa hari saja ikut kepadanya dan menjadi muridnya, namun pandang mata Dibyo Mamangkoro amat tajam sehingga ia mengenal anak macam apa muridnya ini.

Kalau hanya menghadapi serangan tombak yang dilakukan oleh tangan-tangan yang curna kuat dan cepat itu saja, tanpa didasari ilmu bermain tombak, bukanlah apa-apa bagi Endang Patibroto.

Dengan jelas matanya yang jeli dapat mengikuti gerakan ujung tombak yang runcing berkail, yang menerjang gurunya akan tetapi lewat tubuhnya.

Tombak itu meluncur ke tirah lambung kirinya.

Endang Patibroto tidak meloncat pergi, melainkan dengan gerakan yang ringan dan tenang sekali kaki tangannya merobah kedudukan sehingga tubuhnya menjadi miring dan tentu Saja tombak itu tidak mengenai lambungnya.

Secepat kilat gadis cilik ini melanjutkan gerakan kaki melangkah ke depan sambil memutar tangan menangkap batang tombak yang masih meluncur dekat lambung.

Sambil mengerahkan tenaga membetot ke belakang, ia menambahi tenaga nelayan itu, atau "Meminjam"

Tenaga dorongan tombak.

Si nelayan berseru kaget dan tubuhnya terjerumus ke depan, disambut tungkak (tumit) kaki kiri Endang Patibroto.

Tungkak yang kulitnya kemerahan, halus dan kecil.

Akan tetapi karena tungkak ini dengan cepat "Memasuki"

Perut terdengar suara.

"Ngekk!"

Dan tubuh nelayan itu terlempar ke belakang, terbanting ke atas pasir dan ia meringis-ringis sambil menekan perut yang mendadak menjadi mulas!

Kemarahan Suro makin menjadi-jadi.

Akan tetapi dia dan juga para nelayan memandang ke atas perahu dengah muka tiba-tiba menjadi pucat sekali, dengan mata terbelalak dan mulut ternganga.

Apakah yang mereka lihat?

Sungguh tidak masuk akal dan takkan mereka percaya kalau mereka tidak menyaksikan sendiri.

Kakek raksasa itu telah mengambil tombak rampasan tadi, kini sambil tertawa-tawa kedua tangannya mematahkan tombak itu sedemikian mudahnya, dipatah-patahkan menjadi beberapa potong seperti orang mematahkan lidi saja!

Kemudian, sambil melemparkan potongan tombak itu ke arah batu karang di pantai, ia berkata, suaranya parau menakutkan.

(Lanjut ke

Jilid 21) Badai Laut Selatan (Seri ke 03 Serial Serial Keris Pusaka Sang Megatantra) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo

Jilid 21

"Siapa yang hendak mengambil kembali perahu ini, boleh datang ke Pulau Iblis. Huah-ha-hah!"

Perahu itu didayung ke tengah oleh Dibyo Mamangkoro, setelah melewati kepala ombak, angin menangkap layar dan berkembanglah layar itu.

Perahu meluncur cepat ke arah pulau yang tampak hitam menyeramkan.

Suro dan para nelayan masih berdiri pucat di pantai.

Potongan-potongan tombak yang dilemparkan secara perlahan oleh kakek raksasa tadi telah menancap dan amblas terus memasuki batu karang!.

"Celaka...! Dia agaknya penghuni Pulau Iblis...!!"

Akhirnya seorang kakek mengemukakan terkaannya dengan suara gemetar.

"Ah, engkau masih untung, Suro. Untung tidak sampai dibunuh...!"

"Tidak salah lagi. Mereka tentulah... bukan manusia biasa, mereka penghuni Pulai Iblis. Bayangkan anak perempuan tadi. Begitu cantik, seperti anak peri... akan tetapi begitu kuat, sekali gerak telah merampas tombak dan merobohkan Suro. Eh, Suro, bukankah tenaga anak tadi luar biasa sekali, bukan tenaga manusia?"

Suro masih ketakutan, mukanya pucat matanya sayu. Ia tidak kuasa membuka suara dan setelah menelan ludah, baru ia dapat menjawab dengan anggukan kepala.

"Suro, kau tentu akan mendapat untung besar. Perahumu diminta penghuni Pulau Iblis, tentu anugerahnya berlipat ganda! Jangan murung, Suro, relakanlah, tentu engkau akan dilindungi!"

Bermacam-macam pendapat mereka.

Tidak seorangpun berani mengomel atau menyumpahi kakek raksasa itu.

Dan tentang untung yang mereka ramalkan untuk Suro, sungguhpun belum nampak untungnya, namun sedikitnya Suro sudah agak terhibur daripada dukanya karena para temannya secara gotong royong bergilir meminjamkan perahu mereka kepada Suro untuk mencari ikan.

Dan secara kebetulan sekali, atau mungkin juga karena Suro sesudah kehilangan itu bekerja keras dan rajin, setiap kali pergi mencari ikan semenjak peristiwa itu, Suro selalu memperoleh penghasilan yang besar!

Memang, di dunia ini tidak ada yang lebih kuat daripada kepercayaan yang mendalam.

Endang Patibroto merasa suka sekali kepada gurunya.

Ia merasa cocok dengan watak gurunya yang kasar, berandalan, dan mencari enaknya sendiri saja.

Perampasan perahu itu bagi Endang Patibroto bukan hal yang dianggap tidak semestinya.

Malah dianggap benar, karena, bukankah mereka membutuhkan perahu untuk menyeberang?

Dan bukankah sudah semestinya mereka memakai perahu siapa saja yang tak mampu mempertahankan miliknya?

Semenjak kecil, anak ini hidup dalam asuhan seorang ibu yang mabok dendam.

Bahkan semenjak dalam kandungan, ibunya seringkali membayangkan pembalasan dendam yang hebat-hebat dan kejam-kejam.

Oleh karena itu, tidak mengherankan pula apabila Endang Patibroto memiliki watak yang aneh, berandalan, keras hati dan tidak mengenal kasihan!

Hebatnya, anak ini secara kebetulan sekali telah rnewarisi keris pusaka Brojol Luwuk, pusaka Mataram yang semenjak dahulu kalau lenyap dari keraton pasti menimbulkan geger dan peristiwa-peristiwa hebat!

Untuk melengkapinya lagi, secara kebetulan pula Endang Patibroto menjadi murid seorang sakti mandraguna yang liar dan ganas seperti Dibyo Mamangkoro!.

Begitu perahu menempel pulau, Dibyo Mamangkoro menggandeng tangan muridnya dan melompat ke darat.

Kemudian sekali ia rnembetot dan melontarkan, perahu rampasan itu terlempar ke pantai pulau dan rebah miring.

Ia tidak pedulikan lagi perahu itu melainkan menarik tangan muridnya, mengajaknya berlari-lari memasuki pulau sambil tertawa-tawa dan berkata.

"Huah-hah-hah! Inilah negara kita, inilah tempat tinggal kita, Endang! Inilah sorga dunia. Aku Raja di sini, dan kini engkau menjadi puterinya, ha-ha-ha!"

Akan tetapi tiba-tiba Endang Patibroto terkejut dan berhenti berlari sambil melepaskan tangan gurunya, siap untuk menghadapi bahaya.

Di depan mereka muncul seekor harimau tutul yang besar, sebesar anak lembu!

Harimau itu meringis memperlihatkan taring yang besar meruncing, matanya bersinar-sinar galak, air liurnya menetes-netes seakan tak dapat ia menahan seleranya melihat manusia cilik yang berdaging lunak berdarah manis ini.

"Huah-ha-hah! Jangan takut, kalau dia berani mengganggu, bunuh saja! He, tutul, kalau kau berani membikin takut tuan puterimu, akan kubuntungi ekormu dan kedua telingamu. Pergi!"

Kaki kiri Dibyo Mamangkoro terayun.

"Bukkk!!"

Tubuh harimau tutul yang besar dan berat itu terlempar sampai beberapa meter jauhnya, jatuh terbanting, lalu binatang itu mengaum kesakitan dan berlari pcrgi terpincang-pincang, diikuti suara ketawa Dibyo Mamangkoro dan Endang Patibroto.

Mulailah isi pulau itu mengenal suara ketawa yang lain daripada biasanya.

Suara ketawa yang merdu dan nyaring, kadang-kadang melengking tinggi, namun mengandung kekerasan yang menyeramkan!

Itulah suara ketawa Endang Patibroto yang mulai saat itu menjadi penghuni Pulau Iblis atau Pulau Nusakambangan, hidup berdua dengan gurunya, Dibyo Mamangkoro dan binatang-binatang buas yang menjadi penghuni asli pulau itu.

"Hati-hatilah engkau terhadap manusia di dunia ini Endang,"

Demikian sebuah di antara nasehat-nasehat Dibyo Mamangkoro kepada muridnya."Jauh lebih baik berhadapan dengan ancaman binatang buas daripada manusia.

Binatang hutan, betapa buaspun, selalu menyerang orang berdepan, bahkan mcmberi peringatan lebih dulu dengan suaranya.

Menang atau kalah dalam pertandingan, binatang mengandalkan kekuatan dan kecepatan nya, secara jujur.

Akan tetapi tidak demikian dengan lawan manusia.

Manusia lebih sering menang mcngandalkan tipu muslihat yang licik.

Karena itu, sekali-kali jangan engkau pereaya manusia.

Apalagi manusia yang pandai bermain mulut, wah, berbahaya sekali dia itu, karena biasanya apa yang keluar dari mulutnya berlawanan dengan yang terkandung dalam hati.

Kalau berhadapan dengan manusia yang mencurigakan, pukul saja lebih dahulu sebelum engkau dipukul!"

Ajaran-ajaran seperti inilah yang membuat Endang Patibroto menyerang kalang-kabut ketika beberapa bulan kemudian ia melihat tiga orang laki-laki tinggi besar mendarat di Pulau Iblis.

Tiga orang laki-laki seperti gurunya, tinggi besar dan menyeramkan.

Mereka itu mendarat dan menyeret sebuah perahu kecil ke pantai.

Mereka itu adalah Wirokolo dan dua orang anak buahnya, Gagak Kunto dan Cagak Rudro yang telah gagal membunuh Sang Resi Jatinendra di Jalatunda.

Seperti kita ketahui, tiga orang ini mundur setelah Wirokolo dirobohkan Ki Patih Narotama.

Setelah gagal, Wirokolo mengajak dua orang kawannya itu pergi ke Nusakambangan menghadap kakak seperguruannya.

Melihat laki-laki tinggi besar yang berkalung dan bergelang ular pada leher dan kedua pasang kaki tangannya, tentu saja sekaiigus Endang Patibroto menjadi curiga.

Apalagi sikap Gagak Kunto dan Cagak Rudro juga amat kasar dan tidak menyenangkan hatinya.

Dari tempat persembunyiannya, di balik scrumpun pandan, Endang Patibroto mcngintai.

Setelah ia merasa yakin akan dugaannya bahwa tiga orang itu tentu datang ke pulau dengan maksud buruk, Endang Patibroto menggerakkan tangan, mengambil beberapa buah pecahan batu karang.

"Pukul lebih dahulu sebelum engkau dipukul!"

Bukankah demikian pesan dan ajaran gurunya?

Tiga orang ini mencurigakan, kalau tidak didahului tentu hanya akan mendatangkan bencana.

Dari tempat persembunyiannya Endang lalu mengayun kedua tangan dan secara berturut-turut, tiga buah batu karang yang keras telah menyambar ke arah kepala tiga orang itu dengan kecepatan mengagumkan.

Biarpun orang memiliki tubuh kuat, kalau kepalanya dihantam batu karang yang keras itu, tentu akan celaka, sedikitnya akan moncrot dan bileng!.

Namun, tiga orang itu adalah jagoan-jagoan Kerajaan Wengker dahulu, ilmu ke pandaian mereka tinggi.

Biarpun sambitan itu dilakukan dari jarak dekat dan dilakukan dengan tenaga yang dahsyat melebihi tenaga orang biasa, namun mereka sudah dapat menangkap sambaran anginnya lebih dahulu sehihgga dengan miringkan tubuh, mereka dapat mengelak sehingga tiga buah batu itu menyambar lewat.

Wirokolo mengerutkan kening dan bertukar pandang dengan kedua orang temannya.

Ia terheran dan meragu.

Ia maklum benar bahwa pulau ini adalah pulau yang hanya ditinggali oleh kakak scperguruannya, Dibyo Mamangkoro, tidak ada manusia lain.

Ia maklum pula bahwa pulau ini oleh semua nelayan dianggap sebagai pulau iblis yang gawat dan angker bahwa tidak ada manusia lain berani mendatangi pulau ini, bahkan mendekatipun tidak ada yang berani.

Bagaimana sekarang begitu mendarat di pulau ini mereka bertiga diserang orang secara menggelap?

Apakah Dibyo Mamangkoro membawa anak buah ke pulau ini?

Andaikata demikian, tidak mungkin pula anak buahnya menyerang mereka!.

Semua anak buah Dibyo Mamangkoro tentu sudah mengenal siapa dia Wirokolo, Gagak Kunto dan Gagak Rudro!

Ini pasti perbuatan musuh yang diam-diam menyelundup masuk ke Pulau Nusakambangan!.

Berpikir demikian, tiba-tiba Wirokolo tertawa berkakakan, kemudian kedua lengannya bergerak dan ia sudah melakukan gerakan memukul ke arah rumpun pandan di mana Endang Patibroto bersembunyi.

"Werrrr... braaaakkkk...!!"

Hebat bukan main kesaktian Wirokolo.

Ilmu pukulan jarak jauh ini mendatangkan akibat yang mengerikan.

Hawa pukulannya yang dahsyat tadi menyambar bagaikan angin puyuh.

Debu mengebul dan daun-daun bergoyang, kemudian rumpun pandan itu bobol, tereabut berikut akar-akarnya dan terlempar sampai lima meter lebihl Akan tetapi di belakang rumpun pandan itu tidak ada apa-apa!

Wirokolo sampai melongo keheranan.

Juga Gagak Kunto dan Gagak Rudro yang tadi tertawa-tawa melihat Wirokolo melakukan pukulan dahsyat ke arah rumpun pandan.

Merekapun, seperti Wirokolo, sudah dapat mengetahui bahwa yang melakukan penyerangan gelap dengan sambitan batu tadi bersembunyi di belakang rumpun pandan.

Akan tetapi setelah rumpun itu terlempar, mengapa di situ tidak tampak ada orangnya?

Salahkah dugaan dan perhitungan mereka?

Tidak, sebetulnya dugaan mereka tepat sekali.

Akan tetapi mereka tidak pernah menyangka bahwa yang melakukan penyerangan gelap hanyalah seorang gadis cilik.

Lebih-lebih lagi mereka tidak tahu bahwa gadis cilik itu adalah seorang yang amat cerdik, dan sekecil itu telah memiliki gerakan gesit dan tangkas seperti burung srikatan.

Begitu serangannya tadi gagal, Endang Patibroto sudah maklum bahwa tiga orang itu bukanlah orang sembarangan, maka ia berlaku hati-hati sekali.

Kalau mereka mampu mengelak dari sambitannya, tentu mereka itu akan dapat menemukan tempat persembunyiannya, demikian pikirnya.

Maka cepat sekali Endang Patibroto lalu menggunakan ajinya Bayu Tantra, melompat dari belakang rumpun pandan ke atas anak pohon nyiur dan dari situ meloncat pula ke atas scbuah batu karang besar lalu bersejnbunyi di situ sambil mengintai!

Ia menjulurkan lidah saking ngeri dan kagum mcnyaksikan betapa rumpun pandan di mana tadi ia bersembunyi, jebol dan terlempar karena pukulan jarak jauh yang demikian dahsyat!

Ia bersyukur bahwa tadi telah berlaku cerdik dan cepat.

Kalau ia masih mendekam di belakang rumpun pandan, tentu tubuhnya menjadi korban pukulan dahsyat yang hebat akibatnya!.

Betapapun cepat gerakan Endang Patibroto, ia tidak dapat terlepas dari pandang mata yang tajam dari ketiga orang kakek itu.

Mereka tadi melihat berkelebatnya bayangan dari rumpun pandan ke nyiur, hanya mereka tadi sama sekali tidak menduga bahwa itu adalah bayangan seorang manusia.

Setelah kini melihat di balik pandan itu tidak ada apa-apa, barulah mereka maklum bahwa orang yang tadi menyambit mereka itu telah lari bersembunyi dan memiliki gerakan yang cepat.

"Babo-babo! Keparat dari mana berani memasuki Nusakambangan dan menyerang kami? Heh, pengecut di belakang karang. Keluarlah!"

Bentak Wirokolo. Akan tetapi Endang Patibroto tidak mau keluar dari tempat sembunyinya. Ia tetap mendekam dan siap melakukan perlawanan apa bila diserang.

"Gagak Kembar, pergi kalian tangkap dia!"

Wirokolo memerintah.

Dua orang raksasa kembar Itu tertawa lalu melangkah lebar ke arah batu karang.

Mereka berdua adalah orang-orang yang memiliki kepandaian tinggi dan pereaya kepada diri sendiri, menjadi sombong, maka tanpa gentar mereka menghampiri tempat persembunyian lawan sarnbil tertawa-tawa.

Dari tempat persembunyiannya Endang Patibroto melihat datangnya dua orang raksasa yang sikapnya mengancam itu, diam-diam membuat perhitungan.

Ia harus menyerang lebih dulu, pikirnya.

Laripun tiada gunanya, tentu mereka akan mengejarnya dan kalau ketahuan gurunya, alangkah akan malunya.

Melarikan diri dari lawan?

Tidak sudi!

Ia menanti dengan tubuh setengah membongkok, siap menerjang.

Ketika dua orang raksasa itu sudah tiba di dekat batu karang, seperti seekor kijang muda Endang Patibroto melornpat keluar, tangan kakinya bergerak menyerang.

"Plak-bukk!!"

Cepat bukan main serangan Endang Patibroto, cepat laksana kilat dan sama sekali tidak terduga-duga oleh sepasang Gagak itu yang sejenak tertegun melihat bahwa yang keluar dari balik batu karang adalah seorang anak perempuan!

Karena inilah mereka terlambat untuk mengelak atau menangkis sehingga perut mereka kena digebuk sekali oleh tangan Endang Patibroto.

Akan tetapi tubuh mereka kebal dan pukulan Endang Patibrpto, sungguhpun jauh lebih keras daripada pukulan orang dewasa pada umumnya, masih kurang kuat untuk dapat merobohkan dua orang jagoan Wengker ini.

Di lain saat berikutnya, dua orang yang tadinya tertegun dan terkejut itu sudah menubruk hendak menangkapnya.

Akan tetapi, biarpun kalah jauh dalam hal tenaga, namun mengenai kecepatan gerak, Endang menang jauh.

Dua orang itu menubruk dan dua-duanya mendapatkan angin kosong karena secara indah sekali tubuh kecil itu telah rnenyelinap pergi di antara empat buah tangan mereka yang menubruk.

"Ha-ha-ha, bocah ayu. Mari kugendong, ha-ha!"

Gagak Kunto tertawa sambil melangkah maju.

"Kiranya hanya seorang bocah perempuan. Ha-ha, marilah, manis!"

Gagak Rudro juga tertawa-tawa untuk menutupi rasa malu bahwa selain tadi kena dihantam, juga sekarang sekali tubruk tak berhasil menangkapnya.

Terjadilah kejar-kejaran yang menggelikan.

Dua orang laki-laki tinggi besar seperti raksasa itu menubruk sana-sini, namun selalu luput.

Gerakan Endang yang menggunakan Aji Bayu Tantra amatlah cepatnya, secepat burung terbang, sedangkan dua orang raksasa itu terlalu besar tubuhnya sehingga agak lamban.

Sampai tubuh mereka mandi peluh, belum juga mereka dapat menangkap Endang Patibroto!.

"Ha-ha-ha!"

Wirokolo terbahak tertawa menyaksikan hal yang dianggapnya lucu itu.

Dengan berindap ia melangkah maju dan pada saat Endang meloncat ke samping menghindarkan tubrukan dua orang lawannya dari depan dan belakang, tiba-tiba ia merasa rambutnya dijambak orang dan tubuhnya sudah menggantung di tangan Wirokolo yang menyambaknya!.

"Ha-ha-ha! Bocah ayu manis, galaknya seperti kucing, haha!"

Wirokolo tertawa bergelak, membiarkan anak itu menendang dan memukul.

Endang marah sekali.

Biarpun tubuhnya tergantung dan kepalanya terasa pedas karena rambutnya dijambak, namun ia tidak tinggal diam, kaki tangannya bergerak menyerang.

Celakanya, raksasa mengerikan ini tubuhnya jauh lebih kebal daripada yang dua tadi.

"Lepaskan aku, kau orang tua tak tahu malu!"

Ia berteriak-teriak.

"Ha-ha-ha-ha! Kalau tidak kulepaskan, kau mau apa, cah ayu? Hayo kau mengaku lebih dulu, siapa kau ini dan dengan siapa kau datang ke pulau ini."

Endang Patibroto yang cerdik segera mengerti bahwa menghadapi kakek ini tidak bisa menggunakan kekasaran. Maka ia lalu tersenyum amat manis dan berkata, suaranya lembut dan merdu.

"Kakek yang baik, kau benar-benar sakti mandraguna. Aku takluk dan kagum melihat kesaktianmu. Aku sering mendengar bahwa seorang kakek sakti mandraguna pantang menghina seorang anak-anak."

"Ha-ha-ha, kau benar. Ha-ha-ha!"

Senang hati Wirokolo. Anak ini terang bukan bocah biasa, suaranya merdu dan pujiannya enak di hati dan telinga.

"Kaulepaskanlah aku, kakek yang sakti, nanti aku ceritakan siapa aku ini."

Dengan senyum di bibir, dengan pandang mata bersinar-sinar, dan dengan suara merdu Endang dapat mengalahkan Wirokolo.

Sambil tertawa-tawa, diikuti pula oleh sepasang Gagak yang kini juga tertawa-tawa, ia melepaskan rambut Endang.

Endang Patibroto membereskan rambutnya yang mawut oleh jambakan tadi.

Di dalam hatinya ia merasa marah dan panas sekali, akan tetapi hal ini tidak ia perlihatkan pada wajahnya yang berseri.

Biarpun usianya baru dua belas tahun, namun sudah jelas terbayang kecantikan wajah Endang, dan tubuhnya juga mulai membentuk keindahan seperti bunga mekar.

Manis sekali ketika ia membereskan rambutnya dengan kedua tangan.

"Ha-ha-ha, rambutmu hitam dan halus sekali...!"

Wirokolo mengusap kepalanya sambil memuji.

"Genduk, pipimu segar kemerahan!"

Gagak Kunto juga memuji sambil mengusap pipi.

"Beberapa tahun lagi engkau tentu menjadi seorang gadis jelita, denok ayu, ha-ha-ha!"

Gagak Rudro juga memuji dan mencubit dagu Endang.

Menghadapi tangan-tangan nakal ini, kemarahan Endang meluap.

Tadinya ia hanya hendak menggunakan siasat bersikap lunak agar mereka lalai untuk kemudian mencari jalan dan kesempatan untuk melarikan diri melapor kepada gurunya.

la maklum bahwa ia tidak akan menang menghadapi mereka ini.

Akan tetapi setelah mereka ini memuji-muji dan tangan mereka mulai nakal, mengelus dan mendatangkan rasa jijik, ia marah sekali dan lupa bahwa mereka itu sama sekali bukan lawannya.

Kalah atau menang ia tidak perduli lagi, yang penting kelakuan mereka yang ia anggap kurang ajar ini harus dihukum!.

"Lepas tangan! Ada apa kalian meraba-raba??"

Bentaknya, mukanya tidak berseri lagi, mulutnya kehilangan senyum dan matanya memancarkan sinar marah.

Endang makin menarik kalau sedang marah-marah begini.

Mulut yang manis itu cemberut, matanya seperti bintang dan kulit muka yang halus itu menjadi kemerahan.

Tiga orang kakek itu makin senang hatinya untuk menggoda.

Sambil tertawa-tawa mereka sengaja mengusap, meraba dan mencubit untuk membuat anak itu makin marah.

Endang Patibroto tak kuasa menahan kemarahannya.

Kini ia menyerang dengan pukulan-pukulan tangannya.

Ia mengerahkan Aji Pethit Nogo, meloncat dengan Aji Bayu Tantra.

Kedua ilmunya ini sudah disempurnakan di bawah gemblengan Resi bhargowo, dan gurunya yang baru, Dibyo Mamangkoro yang melihat bahwa muridnya telah mempelajari ilmu-ilmu yang hebat, tidak melenyapkannya malah memperkuatnya dengan aji-aji yang lain.

Karena kini Endang menyerang untuk membunuh, maka ia memilih bagian yang berbahaya, bahkan tidak ragu-ragu untuk menyerang pusar dan bawah perut!

Tiga orang kakek itu diam-diam terkejut juga.

Akan tetapi mereka tidak kehilangan kegembiraan mereka.

Dengan mengelak atau menangkis, mereka membuat Endang jatuh bangun.

Siapa saja di antara mereka bertiga yang diserangnya, tentu dapat mengelak lalu mendorongnya jatuh, atau menangkis lalu nembetotnya roboh tertelungkup.

sungguh mereka bertiga mengalami saat yang gembira sekali sebagai hiburan atas kekalahan mereka di Jalatunda.

Makin hebat Endang mengamuk, makin gembiralah mereka yang mengelak dan menangkis sambil tertawa-tawa.

Kasihan Endang yang jatuh bangun sampai lututnya lecet-lecet.

Pada saat itu, Wirokolo menangkap pundaknya.

Muka yang besar dan penuh rambut dengan mata lebar mulut nenyeringai menjijikkan itu dekat sekali dengan muka Endang.

"Ha-ha-ha, cah ayu, aku minta ambung, ya? Ha-ha-ha!"

"Ha-ha-ha! Bagus, beri kami cium manis!"

Gagak Kunto dan Gagak Rudro juga tertawa-tawa.

Endang tak tahan lagi.

Tangan kanannya merogoh ke balik baju, menggenggam gagang keris pusaka Brojol Luwuk, menghunusnya lalu menerjang sambil membentak nyaring.

"Mampuslah orang-orang kurang ajar!"

Suara ketawa mereka seketika terhenti. Wajah tiga orang itu menjadi pucat sekali dan serentak mereka membanting tubuh ke belakang lalu bergulingan menjauh dengan penuh ketakutan.

"Eh, jangan... jangan...!!"

Teriak Gagak Kunto.

"Aduh, celaka...!"

Gagak Rudro berseru ketika ia jatuh bangun dan tubuhnya menggigil, matanya seakan-akan silau oleh cahaya yang bersinar keluar dari keris pusaka Brojol Luwuk.

Wirokolo sendiri sungguhpun seorang sakti mandraguna, selama hidupnya belum pernah ia menghadapi sebuah keris pusaka yang mempunyai wibawa sedahsyat ini.

Ketika keris itu tadi ditodongkan, ia merasa seakan-akan diserang lahar panas yang dimuntahkan kawah gunung berapi.

Ketika ia bergulingan ke belakang menjauhkan diri kemudian meloncat kembali, ia mendapat kenyataan bahwa lima ekor ular berbisa yang tadinya melingkar di leher, kedua tangan dan kakinya, telah terlepas dan menjadi bangkai hangus di atas tanah!.

Baru hawanya saja sudah sedemikian ampuhnya, apa lagi kalau tubuh terkena pusaka mujijat itu.

Ia bergidik.

Maklum bahwa gadis cilik ini memegang keris yang amat ampuh dan sama sekali tidak boleh dipandang ringan, lenyap semua sikap main-main pada Wirokolo dan dua orang pembantunya.

Sepasang Gagak itu kini sudah mengeluarkan suara bergaok menyeramkan seperti suara burung gagak, Sedangkan Wirokolo sudah menggosok-gosok kedua tangannya sampai mengepulkan asap karena ia telah mengerahkan ajinya Anolo Hasto (Tangan Berapi) untuk menghadapi keris pusaka di tangan Endang!.

Endang Patibroto sendiri tertegun menyaksikan kehebatan tiga orang lawannya itu.

Betapa kedua tangan Wirokolo keluar asap dan bara apinya.

Betapa kedua orang yang bersuara seperti gagak itu tampak mengerikan sikapnya, yang seorang memegang tombak yang ke dua memegang ruyung besar!

Akan tetapi ia tidak gentar.

Jelas bahwa tiga orang iti tadi ngeri dan ketakutan menghadapi keris pusakanya!

Hal ini membesarkar hatinya dan dengan keris siap di tangan, ia berlaku awas.

Pada saat yang sangat tegang itu, tiba-tiba terdengar suara bekakakan dari Jauh.

"Huah-hah-hah! Aku sudah mendengar suara Si Gagak Kembar dan Wirokolo! Kalian tidak lekas-lekas menghadapi aku, mengapa berlambat-lambatan?"

Belum habis suara itu bergema, tahu-tahu orangnya sudah muncul, yaitu Dibyo Mamangkoro sendiri.

Betapa kagetnya melihat muridnya menghunus sebuah keris yang bersinar-sinar berhadapan dengan Wirokolo dan Gagak Kembar yang juga sudah siap bertanding mati-matian!.

Seketika lenyap seri dan tawa pada wajah kakek raksasa ini.

Cepat ia melompat maju dan berkata.

"Heeee! Endang muridku sayang! Apa yang kau lakukan ini?. Aduh... wah... bukan main pusakamu itu. eh,... simpan, Endang. Simpan dulu keris pusaka itu. Hebat...!!"

Dibyo Mamangkoro sendiri terkejut bukan main ketika ia merasa betapa dahsyatnya wibawa keris pusaka itu yang membuat jantungnya berdebar keras, dan barulah la menarik napas lega ketika keris itu disimpan oleh Endang di balik bajunya.

Dibyo Mamangkoro merangkulnya, mengelus rambutnya dan berkata lirih.

"Muridku... sayangku... mengapa kau tidak bilang bahwa kau memiliki Brojol Luwuk...?!!"

"Pusaka sakti Brojol Luwuk...???"

Wirokolo dan kedua orang Gagak Kembar berseru dan mata mereka terbelalak memandang ke arah Endang.

Jelas tampak betapa mereka terheran, dan mcngilar ketika mendengar bahwa pusaka ampuh tadi adalah Ki Brojol Luwuk, pusaka Mataram yang hanya mereka dengar dalam dongeng sebagai pusaka yang tiada taranya di dunia ini.

Melihat hasrat memancar jelas sekali dari muka tiga orang itu, Dibyo Mamangkoro yang masih merangkul muridnya segera membentak.

"Kalian bertiga apakah mendadak sudah menjadi gila? Ki Brojol Luwuk adalah pusaka milik muridku. Kenapa kalian tiga orang tua bangka mau mampus tadi hendak bertanding melawan muridku, Endang Patibroto? Sungguh bagus sekali, ya? Tiga orang kakek tua bangka hendak mengeroyok seorang bocah. Di mana kegagahan kalian?"

Tiga orang itu menjadi makin kaget sekali.

Tidak mereka sangka seujung rambutpun bahwa anak perempuan itu adalah murid Dibyo Mamangkoro!

"Aduh...

maafkan kami, kakang Dibyo Mamangkoro!

Sungguh mati kami tidak tahu bahwa anak ini adalah murid keponakanku sendiri.

Siapa yang mengira begitu?

Selamanya kakang tidak mempunyai murid.

Bagaimana sekarang secara mendadak mempunyai murid begini elok?"

"Ini urusanku sendiri, tak perlu kau mencampuri! lngat, inilah Endang Patibroto, muridku yang kelak akan menggantikan aku. Muridku inilah yang kelak akan memimpin kalian semua, menghancurkan musuh-musuhku, menggegerken Kahuripan. Apalagi... Ki Brojol Luwuk berada di tangannya. Huah-ha-hah!"

Kemudian ia berhenti tertawa secara mendadak, menudingkan telunjuknya yang besar ke arah Gagak Kembar dan membentak.

"Kalian berani tadi melawan dan kurang ajar kepada gusti puterimu??"

Tiba-tiba Gagak Kunto dan Gagak Rudro menjadi pucat dan mereka menjatuhkan diri berlutut di depan Dibyo Mamangkoro.

"Karena hamba berdua tidak tahu, telah bersikap kurang ajar terhadap... gusti puteri, mohon paduka suka memberi ampun..."

"Huah-ha-hah! Enak saja minta ampun. Kalian patut dihajar!"

Tiba-tiba tangan yang menuding itu membuat gerakan mendorong dan...

dua orang raksasa yang berlutut itu lalu terjengkang ke belakang.

Dibyo Mamangkoro menggerak-gerakkan kedua tangannya ke arah mereka.

Sungguh aneh dan rnengagumkan sekali dan jelas membuktikan betapa hebatnya tenaga sakti Dibyo Mamangkoro.

Pukulan jarak jauh kedua tangannya itu mampu menjatuh bangunkan dua orang yang terhitung orang-orang berkepandaian tinggi.

Gagak Kunto dan Gagak Rudro berkali-kali terbanting sehingga babak belur.

Mereka mengaduh-aduh dan sama sekali tidak berdaya, seperti dua helai daun kering dipermainkan angin.

Ketika Dibyo Mamangkoro menghentikan gerakan tangannya, mereka rebah miring dengan napas terengah-engah.

"Kau puas, muridku?"

Dibyo Mamangkoro bertanya kepada Endang yang hanya menonton saja. Endang mengangguk.

"Mereka itu tidak dibunuh, sungguh masih amat baik nasibnya!"

Wirokolo adalah seorang yang buas dan ganas.

Namun mendengar ucapan seenaknya keluar dari mulut yang mungil itu, tengkuknya terasa dingin juga.

Tidak salah lagi, pikirnya, kakak seperguruannya telah menemukan seorang murid yang hebat!

Setelah Gagak Kembar dapat bangun dan berlutut lagi, Dibyo Mamangkoro bertanya.

"Nah, sekarang ceritakan bagaimana hasilmu menyerbu Jalatunda, adiku Wirokolo?"

Dengan suara bernada penyesalan, Wirokolo menceritakan pengalamannya di Jalatunda.

Menceritakan betapa lima orang anak buah Gagak Kembar semua kalah oleh seorang anak laki-laki yang agaknya cucu murid Resi Bhargowo, kemudian betapa Gagak Kembar sendiri kalah melawan Resi Bhargowo.

"Terpaksa aku turun tangan sendiri, kakang Dibyo. Biarpun dalam ilmu sihir, aku tidak mampu menghadapi Empu Bharodo, namun dalam pertandingan, Empu Bharodo dan Resi Bhargowo masih belum mampu mengalahkan aku. Airlangga yang sudah menjadi pertapa itu telah menjadi seorang yang lemah dan tidak mau berkelahi. Sebetulnya aku sudah mendapat kesempatan baik sekali untuk membunuhnya. Siapa kira si jahanam Narotama muncul..."

"Narotama...?? Keparat!!"

Dibyo Mamangkoro berjingkrak marah.

"Lalu bagaimana? Apakah dia masih sekuat dahulu?"

Wirokolo menarik napas panjang.

"Dia hebat, kakang. Agaknya malah lebih kuat daripada dahulu. Aku tahu bahwa aku bukan tandingannya, maka terpaksa kami mundur."

Dibyo Mamangkoro menggendong kedua tangan di punggung, lalu berjalan kian kemari dengan kening berkerut.

Dari mulutnya keluar suara menggereng seperti harimau kelaparan.

Tiba-tiba ia berhenti dan kembali merangkul pundak Endang.

"Kita tunggu waktu dan kesempatan! Kita tunggu muridku dewasa. Dengan kepandaiannya dan dengan keris pusaka Brojol Luwuk di tangannya aku yakin Kahuripan akan hancur lebur kelak. Huah-ha-ha!"

Wirokolo dan Gagak Kembar hanya sehari tinggal di pulau itu.

Mereka segera pergi dari pulau, kembali ke tempat mereka sendiri, yaitu di lembah Citandui.

Mereka sebagai anak buah Dibyo Mamangkoro dipesan untuk mempersiapkan diri, mengumpulkan tenaga bantuan yang bersakit hati terhadap Kahuripan, dan menyelidiki keadaan Kahuripan.

Jika ada perubahan di Kahuripan, mereka dipesan agar mengabarkan ke Nusakambangan.

Sementara itu semenjak mengalami peristiwa pertempuran melawan paman gurunya sendiri, Endang Patibrpto maklum bahwa di dunia ini banyak sekali orang pandai dan kalau ia tidak tekun belajar, menguras semua ilmu yang dimiliki gurunya, kelak tentu ia akan menemui banyak kesulitan dari orang pandai.

Di lain fihak, setelah mendapat kenyataan bahwa muridnya secara aneh telah memiliki keris pusaka Ki Brojol Luwuk, Dibyo Mamangkoro menjadi makin sayang kepada muridnya!

Makin besar hatinya, dan makin tebal keyakinannya bahwa muridnya ini kelak akan lebih berhasil daripadanya dalam usaha meruntuhkan Kahuripan.

Kita tinggalkan dulu Endang Patibroto yang tekun menerima gemblengan ilmu kesaktian dari Dibyo Mamangkoro.

Mari kita mengikuti perjalanan Jokowanengpati yang melarikan diri menunggang kuda menuju ke selatan.

Melihat perang dihentikan oleh Sang Prabu Airlangga sendiri, Jokowanengpati maklum bahwa perdamaian antara kedua pangeran tentu akan terjadi.

Dan ia telah melihat musuh besarnya, orang-orang yang tentu tidak akan berhenti sebelum berhadapan muka dan mengadu nyawa dengannya.

la melihat Pujo, Kartikosari, dan Roro Luhito, tiga orang yang menaruh dendam sedalam lautan kepadanya.

Lebih dari semua itu, ia melihat Resi Bhargowo!

Kaget seperti disambar petir ketika ia tadi melihat Resi Bhargowo di sebelah Sang Prabu Airlangga.

Jelas bahwa Resi Bhargowo sudah ia hantam roboh dengan penggada milik Ki Krendoyakso.

Ia ingat betul betapa ia mengerahkan tenaga sekuatnya ketika melakukan pemukulan curang itu dan ia tahu pula bahwa ruyung Wesi Ireng adalah senjata pusaka yang ampuh.

Terasa oleh tangannya betapa kepala resi itu terkena pukulan yang telak sehingga resi itu roboh seketika.

Bagaimana sekarang Resi Bhargowo bisa muncul dalam keadaan segar sehat di samping Sang Prabu Airlangga?

Tentu saja ia tidak berani bertemu muka dengan bekas paman gurunya itu.

Selain itu, juga ia melihat munculnya Empu Bharodo, gurunya!.

Setelah mereka itu muncul, bagaimana ia berani tinggal lebih lama lagi di Kotaraja?

Dalam keadaan perang saudara, tentu saja ia dapat berlindung di belakang punggung Pangeran Anom.

Akan tetapi setelah damai, tidak mungkin lagi.

Lebih cepat pergi, lebih aman baginya.

Lebih-lebih lagi kini setelah ia membunuh Wisangjiwo.

Akan bertambah mereka yang benci dan mendendam kepadanya.

"Ha-ha-ha! TIdak seorangpun melihat aku pergi Mereka kini tentu sedang mencari-cari!"

Jokowanengpati terkekeh senang sambil membalapkan kudanya terus ke selatan.

Setelah membalapkan kuda tiada hentinya selama dua hari dua malam, kudanya itu akhirnya roboh lemas dan mati di luar sebuah kampung.

Jokowanengpati melompat turun dan menendang bangkai kuda yang telah membawanya lari selama itu.

"Huh, kuda sialan!"

Akan tetapi lega hatinya setelah mendapat kenyataan bahwa ia telah melarikan diri jauh sekali dari Kotaraja.

Ia sudah sampai di wilayah pantai selatan.

Dari kampung itu ke Laut Selatan hanya tinggal perjalanan selama satu dua jam saja.

Hatinya mulal gembira.

la telah berada di tempat aman, jauh dari Kotaraja, dan tak seorangpun mengcnalnya di sini.

Hari telah mendekati malam dan dengan senyum menghias bibirnya yang tampan, ia memasuki kampung itu meninggalkan bangkai kudanya tanpa menengok satu kalipun.

Manusia dengan watak seperti Jokowanengpati ini tidak mungkin dapat mengingat budi dan jasa seekor kuda.

Jokowanengpati meraba-raba dadanya.

Masih terasa sakit bekas pukulan Wisangjiwo.

Ia tahu bahwa pukulan itu mengakibatkan luka dalam di dadanya.

Akan tetapi, asal ia dapat beristirahat dan tidak mengeluarkan tenaga berat, ia akan sembuh kembali.

Pikiran ini menenangkan hatinya.

Ia boleh beristirahat di kampung ini, atau besok ia akan mencari tempat yang lebih aman.

Di pinggir laut.

Kemudian, dari pinggir laut ini ia akan terus mencari tempat kediaman Ni Nogogini yang katanya di pinggir laut sebelah timur.

Asal ia menyusuri sepanjang pantai ke timur, akhirnya tentu akan ketemu.

Akan tetapi, malam ini ia akan bermalam di dalam kampung.

Perutnya lapar sekali.

Ia harus mencari makanan.

Tiba-tiba ia tersenyum lebar.

Suara gamelan menyambut kedatangannya.

Suara gamelan yang terdengar amat merdu dan indah.

Kalau ada gamelan, berarti ada pesta dan kalau ada pesta, berarti ada makanan enak berlebihan!

Jokowanengpati tertawa terkekeh senang dan ia mempercepat langkahnya menuju ke arah suara gamelan.

Dari jauh sudah tampak sinar lampu yang menerangi tempat pesta, juga suara banyak anak-anak di depan rumah yang berpesta.

Memang tepat dugaannya.

Ada orang mengadakan perayaan pesta perkawinan.

Bukan lain adalah lurah kampong itu sendiri yang mengadakan pesta, untuk merayakan perkawinan puterinya!

Tamu-tamu mulai berdatangan dan beberapa penari mulai mcnari sambil bersinden, diiringi suara gamelan meriah.

Minuman dan hidangan dikeluarkan oleh pelayan-pelayan yang sibuk.

Jokowanengpati melangkah gagah memasuki ruangan.

Biarpun ia tidak berganti pakaian, namun pakaian yang menempel di tubuhnya adalah pakaian perwira Kerajaan, pakaian yang jauh lebih indah dan lebih gagah daripada pakaian semua orang yang hadir di situ, termasuk pengantin prianya sendiri!

Semua orang cingak (memandang kagum) ketika ia masuk, dan pak lurah sendiri tergopoh-gopoh menyambutnya.

Tentu saja pak lurah agak bingung karena tidak mengenal tamunya ini, tamu yang tidak diundang, namun ia harus menghormat, melihat pakaian tamunya yang jelas membayangkan seorang"priyayi"

Dari Kotaraja. Sambil membongkok-bongkok tuan rumah ini menyambut Joko wanengpati. Tanpa malu atau sungkan sedikitpun, Jokowanengpati bekata.

"Maaf, paman. Aku adalah seorang pelancong dari Kotaraja. Kudaku sakit dan mati di luar kampung. Terpaksa aku mengganggu dan datang ke sini."

"Wah, malah kebetulan sekali, raden. Kami sedang mengadakan pesta perkawinan anak kami. Silahkan..., raden."

"Aku hanya mengganggu saja."

"Tidak, sama sekali tidak. Malah kami merasa terhormat sekali dapat rnenyambut andika sebagai tamu kehormatan! Silahkan..."

Sambil mengangkat dada Jokowanengpati mendapat tempat kehormatan, dekat pengantin!

Dan tentu saja ia mendapat hidangan yang istimewa sehingga sebentar saja kenyanglah perutnya.

Mulai terasa olehnya keletihan tubuh akibat pertempuran dan perjalanan jauh.

Tanpa segan-segan lagi ia beberapa kali menguap sambil menutup mulut dengan kepalan tangan.

Telinganya yang tajam menangkap suara ketawa wanita, ketawa ditahan, akan tetapi sangat merdu dalam pendengaran Jokowanengpati.

Ia melirik dan tahu bahwa yang menahan tawa itu tadi adalah si pengantin wanita!

Puteri bapak lurah.

Hemm, baru sekarang ia menaruh perhatian.

Bentuk tubuh yang padat ramping.

Kulit yang agak hitam, akan tetapi bersih dan halus.

la melirik ke bawah.

Dari bawah kain itu tampak tumit yang halus dan indah bentuknya, mata kaki dan ujung betis yang merit dengan lengkung sempurna.

Kembali ia melirik ke atas.

Sayang, pengantin wanita itu mukanya tertutup, tak dapat dilihat.

Akan tetapi seorang wanita dengan perawakan seperti Itu tak mungkin buruk rupa.

Apalagi puteri pak lurah yang wajahnya tampan.

Suara ketawa pengantin wanita itu menambah lamunan Jokowanengpati yang sudah mulai terpengaruh minuman tuwak (arak).

Setelah sepasang pengantin diiring masuk kekamar, Jokowanengpati juga minta kcpada tuan rumah agar supaya malam itu ia diberi tempat untuk mengaso.

Bapak lurah menyambut permintaan ini dengan penuh hormat dan gembira.

Maka diantarnyalah Jokowanengpati ke dalam sebuah kamar di ruang belakang kelurahan.

Pesta berlangsung terus karena menjelang tengah malam dimulai pesta tayuban, di mana para tamu yang sudah agak mabok itu ikut pula menari bersama para penari yang cantik-cantik.

Gamelan dipukul makin keras, suasana makin meriah.

Suasana yang riuh dan meriah di ruangan depan di mana pesta berlangsung inilah yang membuat semua orang tidak tahu betapa lewat tengah malam itu terdengar suara gaduh di dalam kamar pengantin.

Tidak ada yang mendengar jerit tangis pengantin wanita, dan tidak ada yang tahu pula betapa sesaat kemudian pengantin pria terlempar dari pintu kamar, jatuh di atas lantai depan pintu tak bergerak lagi.

Baik fihak tuan rumah maupun fihak tamu semua telah minum tuwak terlalu banyak.

Di ruangan depan, orang-orang bersenang dan bergembira melewati batas, tertawa, bersorak, menggoda penari yang kadang-kadang menjerit manja menyeling suara gamelan yang tak kunjung henti.

Sedangkan di ruangan dalam, di kamar pengantin yang menyendiri dan sunyi, maut merajalela!

Dapat dibayangkan betapa kaget tuan rumah sekeluarga ketika pada pagi harinya mereka mendapatkan pengantin pria menggeletak di luar kamar pengantin dalam keadaan mengerikan, kepala pecah dan tak bernyawa lagi!

Bapak lurah dan keluarganya menyerbu ke dalam kamar pengantin dan terbelalak memandang puterinya yang malam tadi menjadi pengantin, kini dalam keadaan teianjang bulat mati pula menggantung diri di dalam kamar pengantin!

Jerit tangis melengking dan Ibu lurah serta beberapa orang lain roboh pingsan.

Gegerlah keadaan dalam kalurahan, kacau-balau dan panik.

Bapak lurah dengan mata jelalatan melompat keluar dari kamar pengantin lalu lari ke belakang, menuju kamar tamu di mana malam tadi ia mengantar tamunya, priyayi dari Kotaraja.

Pintu kamar itu masih tertutup, akan tetapi bapak lurah segera menyerbu masuk dan mendorong pintu kamar.

Daun pintu terbuka dan...

tidak ada seorangpun dalam kamar itu!.

"Si keparat...! Manusia iblis...!!"

Bapak lurah makin beringas, lari menyambar tombaknya dari kamar dan ia jelilatan mencari-cari keluar masuk kelurahan.

Namun bayangan tamunya itu tidak kelihatan lagi.

Akhirnya ia menangisi jenasah puterinya yang sudah diturunkan orang.

Jokowanengpati berjalan secnaknya menuju ke selatan.

Mulutnya tersenyum-scnyum, hatinya gembira.

Ia bebas dari musuh-musuh besarnya yang berkumpul di Kotaraja...

Tiada satupun yang ia takuti di daerah pantai selatan ini.

Puteri pak lurah itu benar manis tepat seperti dugaannya.

Sungguh baik nasibnya.

Kudanya mati di luar kampung, kebetulan kepala kampung mengadakan pesta sehingga ia mendapat hidangan sampai kenyang, mendapat tempat penginapan tanpa bayar, bahkan mendapat kawan puteri pak lurah yang manis!.

Teringat akan ini, ia tertawa menyeringai.

Terpaksa ia membunuh pengantin pria yang hendak melawan.

Dan tadi ia meninggalkan pengantin wanita, pengantinnya yang manis, dalam keadaan banjir air mata.

Jokowanengpati berjalan tidak tergesa-gesa.

Perduli apa orang-orang kampung itu.

Kalau ada yang mengejarnyapun ia tidak takut.

Masa depannya cerah.

Ia akan bersembunyi di daerah pantai ini, mengunjungi dusun-dusun yang kaya akan gadis-gadis dusun yang manis-manis.

Ia akan bersembunyi sambil menanti sampai keadaan di Kotaraja beres, sampai tiba saatnya dan terbuka kesempatan baginya untuk mengabdi kepada Pangeran Anom sehingga keselamatannya terlindung.

Kalau sudah bosan di daerah sunyi, kalau sudah tidak ada perawan dusun yang menarik perhatiannya, ia akan menyusuri pantai ke timur, mencari Ni Nogogini.

Tuhan Maha Adil.

Maha Kuasa.

Kuasa memberkahi, kuasa pula menghukum.

Perbuatan terkutuk yang dilakukan Jokowanengpati di dusun, berarti penundaan pelariannya sejak senja sampai pagi.

Hal ini berarti pula bahwa pelariannya terlambat sehingga memberi kesempatan kepada para pengejarnya untuk menebus kekalahan waktu.

Andaikata Jokowanengpati tidak berhenti di dusun dan terus melanjutkan larinya dengan aji lari cepat, terus menyusuri pantai ke timur, tentu para pengejarnya akan kehilangan jejak dan takkan dapat menyusulnya.

Akan tetapi, iblis telah menyelewengkannya ke dalam dusun itu, di mana ia melakukan perbuatan keji dan terkutuk terhadap pengantin wanita sehingga mengakibatkan tewasnya pengantin pria dan matinya pengantin wanita karena bunuh diri.

Tidak seperti Jokowanengpati yang terus menekan dan memaksa kudanya sehingga mati kelelahan di luar dusun, Kartikosari dan Roro Luhito yang melakukan pengejaran, selalu berhenti memberi kesempatan kepada kuda mereka untuk mengaso, makan rumput atau minum air.

Karena inilah maka mereka ketinggalan jauh oleh Jokowanengpati.

Akan tetapi dua orang wanita ini hanya berhenti untuk memberi kesempatan kuda mereka mengaso saja, dan mereka menggunakan kesempatan ini pula untuk melepas lelah sebentar.

Setelah itu mereka berangkat lagi, tidak perduli panas terik siang hari dan dingin gelap malam hari.

Inilah sebabnya maka ketika Jokowanengpati membuang waktu semalam untuk melakukan perbuatan terkutuk di kelurahan dusun itu, dua orang wanita pengejar ini telah dapat menebus kekalahan waktu ketinggalan.

Pada pagi itu, ketika kelurahan geger karena peristiwa terkutuk akibat perbuatan Jokowanengpati, Kartikosari dan Roro Luhito memasuki dusun itu.

Mereka berdua memasuki dusun dan berdebar hati mereka melihat bangkai kuda di luar dusun.

Besar dugaan mereka bahwa itulah kuda tunggangan Jokowanengpati, yang mati karena kelelahan di luar dusun.

Kalau begitu, agaknya si keparat itu berada dalam dusun ini!

Akan tetapi mereka melihat keadaan yang geger dan kacau.

Orang-orang dusun itu lari ke sana ke mari seperti orang mencari-cari, dengan mata jelilatan dan semua orang yang berada di jalan membawa senjata.

Dua orang wanita ini terus menjalankan kuda ke arah pusat keributan, yaitu di depan rumah yang besar dan yang terhias seperti ada perayaan di situ, dihias janur-janur kuning dan daun-daun waringin.

Kartikosari dan Roro Luhito ialu melompat turun dari atas kuda masing-masing, siap hendak bertanya apa gerangan yang nerjadi, dan terutama sekali bertanya kalau-kalau penduduk di situ ada yang melihat seorang laki-laki asing, yaitu Jokowanengpati.

Akan tetapi beium juga mereka membuka suara, tiba-tiba seorang laki-laki setengah tua berlari keluar dari dalam rumah, tangannya memegang sebatang tombak.

Begitu melihat dua orang wanita ini, laki-laki setengah tua itu segera membentak.

"Ini dia! Ini tentu teman-teman si keparat dari Kotaraja! Mereka tentu bukan orang baik-baik!"

Setelah membentak demikian, serta-merta ia menerjang dengan tombaknya. Karena Kartikosari berada di depan, maka wanita inilah yang langsung mendapat serangan bapak lurah, laki-laki setengah tua itu.

"Eh-eh, saber dulu, paman. Apakah yang terjadi?"

Seru Kartikosari sambil mengelak. Akan tetapi, melihat betapa wanita itu dengan mudah mengelak serangan tombaknya, bapak lurah makin curiga dan segera berseru.

"Saudara-saudara, kepung mereka berdua inil Tentu mereka ini teman-teman si keparat itul"

Mendapat komando ini, orang-orang kampung segera mengepung dengan sikap mengancam.

Melihat keadaan yang tidak baik ini, Roro Luhito yang cerdik berlaku sigap.

Ia sudah meloncat maju ke arah bapak lurah yang kembali sudah menusukkan tombaknya.

Roro Luhito tidak mengelak seperti Kartikosari tadi, melainkan ia miringkan tubuh sambil menyambar gagang tombak dan sekali betot ia sudah merampas tombak, mematahkannya menjadi dua kemudian sekali tangannya menjambak, ia sudah mencengkeram pundak bapak lurah.

Pak lurah meringis kesakitan.

Pundaknya seperti dicengkeram kaitan baja Serasa akan remuk tulang pundaknya.

"Jangan main gila!"

Bentak Roro Luhito.

"Hayo semua mundur, kalau tidak, aku akan menggunakan orang tua ini sebagai senjata melawan kalian!"

Berkata demikian, begitu kedua tangannya bergerak, benar saja, tubuh pak lurah sudah ia putar-putar di atas kepala seperti kitiran angin!

Tentu saja pak lurah menjadi ketakutan dan berkaok-kaok, dan semua penduduk kampung melangkah mundur dengan muka jerih.

Roro Luhito menurunkan lagi pak lurah yang ketakutan itu, lalu menghardik.

"Hayo katakan! Apa artinya semua ini? Kami berdua adalah orang baik-baik, mengapa baru saja datang hendak kalian keroyok dan bunuh?"

Saking takutnya, pak lurah sampai sukar mengeluarkan kata-kata.

Ia tetap menduga bahwa dua orang wanita yang sakti ini tentulah sahabat laki-laki keji yang telah menyebar maut di rumahnya.

Bagaimana ia dapat menuturkan peristiwa itu dan memburukkan nama laki-laki keparat itu?.

Namun Kartikosari sudah tertarik akan perintah-perintah pak lurah tadi.

la melangkah maju dan bertanya, suaranya tidak segalak Roro Luhito.

"Paman, kau tadi bilang bahwa kami tentu teman-teman si keparat. Siapakah si keparat itu? Apakah ia seorang laki-laki berusia tiga puluh enam tahun, pakaiannya seperti perwira Kerajaan, wajahnya tampan dan sikapnya gagah, datangnya ke kampung ini menunggang kuda?"

Makin jerih muka pak lurah.

"Beb... betul sekali...!"

Kartikosari dan Roro Luhito terkejut dan girang sekali.

"Bagus! Kami datang untuk mencarinya, memang. Akan tetapi sama sekali bukan teman, bahkan musuh. Kami mengejar dan hendak membunuhnya. Apa yang terjadi di slni? Di mana dia sekarang?"

Mendengar ini, pak lurah tiba-tiba menjatuhkan diri berlutut, menyembah dan menangis!

Juga para penduduk lenyap sikapnya bermusuhan, kini mendengar dan duduk di atas tanah mengelilingi mereka.

Roro Luhito dan Kartikosari saling pandang, mengerutkan kening.

Perbuatan laknat apa lagi yang dilakukan Jokowanengpati di sini?

"Sudahlah, jangan menangis seperti anak kecil!"

Roro Luhito membentak, habis kesabarannya."Lebih baik lekas ceritakan!"

Dengan suara terputus-putus pak lurah bereerita tentang peristiwa semalam sambil menangis.

Tentu saja dua orang wanita itu menjadi marah bukan main, dan makin besar nafsu untuk dapat segera bectemu muka dan membalas dendam kepada laki-laki jahat dan keji itu.

"Di mana dia sekarang, paman? Mana keparat itu?"

Bentak Roro Luhito, suaranya nyaring, sikapnya mengancam, giginya berkerot.

"Dia sudah lari... pagi tadi, entah ke mana...!!"

Begitu mendengar jawaban ini, seperti diberi komando saja, Kartikosari dan Roro Luhito lari dan melompat ke atas kuda mereka, lalu membalapkan kuda keluar dari dusun itu, melakukan pengejaran.

Mereka tadi memasuki kampung dari utara, maka agaknya si keparat Jokowanengpati itu tentu lari terus ke selatan, melanjutkan pelariannya, pikir mereka.

Membalapkan kuda mereka keluar dari dusun ke jurusan selatan.

Jokowanengpati yang berjalan seenaknya, telah tiba di pantai Laut Selatan.

Ia merasa aman dan gembira.

Merasa tubuhnya lelah dan alangkah nikmatnya melepas lelah di pantai yang berpasir, menghadap ke selatan melihat ombak mengganas memecah di pantai.

Angin laut sejuk bersih.

Dadanya masih terasa sakit, bekas pukulan Wisangjiwo.

Namun ia pereaya akan segera sembuh setelah ia beristirahat satu dua bulan.

apalagi kalau kelak ia bertemu dengan Ni Nogogini, guru ilmu pukulan yang dipakai Wisangjiwo melukainya, tentu wanita sakti itu akan mampu menyembuhkannya dengan segera.

Dan penyembuhan dengan cara bagaimana!

Jokowanengpati tertawa sendiri, tertawa bergelak mengingat akan hal itu.

Betapapun juga, Ni Nogogini hanya umurnya saja yang tua, tubuh dan wajahnya sama sekali tidak tua!

Bagaikan iblis, atau seorang yang miring otaknya, ia tertawa bergelak di antara suara ombak menderu.

"Iblis laknat! Tertawalah. sepuasmu selagi masih ada kesempatan terakhir!"

"Si keparat Jokowanengpati! Bersiaplah mampus di tanganku!"

Hampir Jokowanengpati tidak percaya akan pendengarannya sendiri.

Suara setankah itu yang terbawa angin bersama suara ombak menderu?

Perlahan ia bangkit berdiri dan memutar tubuh.

Ia menahan rasa terkejut dan cemas yang mencengkeram jantungnya ketika melihat dua orang wanita itu!

Deru ombak yang tiada berkeputusan telah memenuhi telinganya sehingga ia tadi tidak mendengar kedatangan mereka.

Kini Kartikosari, cantik jelita, dengan sikap tenang dan mata penuh benci, memandang kepadanya.

Di sampingnya berdiri Roro Luhito, denok ayu, sikap"nya mengancam, matanya yang jeli seperti memancarkan api yang hendak membakarnya.

Angin laut membuat ujung kain dan rambut mereka berkibar-kibar, membuat mereka kelihatan seperti dua orang dewi laut yang cantik menarik rnenggirahkan.

Akan tetapi pada saat itu, sama sekali tidak timbui gairah dalam hati Jokowanengpati.

Ia maklum sedalamnya betapa kedua orang wanita ini membencinya, membenci sampai ke tulang sumsum, dan bahwa kedua wanita ini datang dengan hanya satu hasrat, yaitu membalas dendam dan membunuhnya!

Namun, Jokowanengpati bukah seorang penakut, bukan pula bodoh.

Biarpun ia tahu bahwa dua orang ini adalah wanita-wanita yang memiliki ilmu kepandaian tinggi, bahkan ia telah tahu pula bahwa setelah menjadi murid si Raja kera Resi Telomoyo kini ilmu kepandaian Roro Luhito sama sekali tidak boleh dipandang ringan, namun ia tidak memperlihatkan sikap takut.

Malah ia segera tersenyum manis sambil memandang mereka.

"Duhai! Dewata Agung! Baru saja aku melamun, betapa akan senangnya di tempat seindah ini bertemu dengan orang-orang terkasih. Dan tanpa kusang-kusangka, kalian muncul di sini. Diajeng Kartikosari, engkau makin cantik jelita. Roro Luhito, kau makin manis merak ati!"

"Jananam keji, tutup mulutmu yang busuk!!"

Bentak Roro Luhito marah.

"Jokowanengpati, dosamu sudah bertumpuk. Kini tiba waktunya engkau menebus dosamu dengan nyawa!"

Kartikosari mengancam sambil menghunus keris, demikian pula Roro Luhito.

Kedua orang wanita ini sudah siap menerjang, setiap urat dalam tubuh sudah menegang, nafsu membunuh membayang di mata.

Namun Jokowanengpati masih tertawa.

Setidaknya, aku harus membuat mereka ini gila oleh kemarahan lebih dulu, pikirnya.

Dalam kemarahan meluap, gerakan akan menjadi kurang sempurna dan tenaga sakti akan banyak terbuang sia-sia.

"Ha-ha-ha, kedua adik yang manis. Mengapa mengancam? Mengapa kita harus bertempur? Kalian tidak akan menang. Sayang kalau sampai aku melukai kulit yang halus lunak itu, apalagi sampai membikin cacad wajah yang cantik. Aku amat sayang kepada kalian. Bukankah sudah kubuktikan kasih sayangku di dalam Guha Silurnan dahulu, diajeng Kartikosari? Dan engkau, Roro Luhito, lupakah akan kasih sayangku di dalam kamarmu dahulu? Marilah kita berdamai saja, mari kalian ikut bersamaku, hidup mulia di dalam keraton Pangeran Anom, menjadi isteriku yang tercinta dan..."

"Keparat busuk!"

"Iblis laknat!"

Dua orang wanita itu sudah tak dapat menahan kemarahannya lagi dan mereka sudah menerjang maju.

Jokowanengpati sudah memperhitungkan hal ini.

Cepat ia mengelak dan membalas dengan pukulan dan tendangan, kemudian iapun mencabut kerisnya ketika melihat betapa sepak terjang kedua orang lawannya itu amat hebat.

Ketika melihat keris Kartikosari meluncur cepat menuju lambung, ia menggeser tubuh ke kanan lalu membalas dari samping dengan luncuran kerisnya mengarah leher kiri Kartikosari.

Wanita perkasa ini menggunakan tangan kirinya menyabet dengan cengkeraman ke arah siku kanan lawan sambil mengelak dan sambaran kaki Jokowanengpati yang menendang sebagai lanjutan serangannya ia elakkan dengan loncatan menyamping.

Pada saat itu, Roro Luhito dengan gerakan secepat kilat sudah pula datang menyerang dengan tusukan keris diarahkan ke dada lawan.

Ketika Jokowanengpati menangkis dengan kerisnya pula, dilakukan dengan pengerahan tenaga sepenuhnya, Roro Luhito menarik kembaii kerisnya dengan gerakan yang sedemikian cepat dan tak tersangka-sangka, kini dengan tangan kirinya menarnpar dari samping dan kaki kanannya menendang ke arah pusar.

Benar-benar serangan yang hebat dan cepat tak tersangkasangka!

Apalagi pada saat itu Kartikosari sudah menerjang lagi dengan tusukan keris dari belakang disusul dengan hantaman tangan kiri dengan pukulan Gelap Musti yang ampuh.

Jokowanengpati benar-benar terdesak.

Ia sudah menangkis Kartikosari dan mengelak dari terjangan lain, namun dia kurang cepat dan sambaran tangan kiri Roro Luhito masih berhasil menyerempet pundak kanannya, membuat ia terhuyung-huyung ke belakang.

Tamparan Roro Luhito memang tidaklah begitu hebat bagi tubuhnya yang kebal, akan tetapi karena dadanya masih menderita luka dalam, tamparan itu terasa juga.

Baiknya ia cepat menggerakkan kerisnya dengan Ilmu Jonggring Saloko sehingga ujung keris di tangannya berubah menjadi belasan banyaknya, membuat dua orang lawannya tidak berani sembrono menerjang terlalu dekat.

Pertandingan itu makin lama makin seru dan mati-matian.

Namun makin lama makin berat terasa oleh Jokowanengpati.

Kartikosari hebat bukan main.

Tiap kali keris mereka beradu, biarpun ia telah mengerahkan segenap tenaganya, tetap saja ia merasa betapa tangannya tergetar saking hebatnya pertemuan itu, tanda bahwa Kartikosari kini memiliki tenaga dalam yang hebat!

Roro Luhito tidaklah memiliki tenaga dalam yang terlalu besar, akan tetapi wanita ini cerdik bukan main dan memiliki gerakan yang tangkas dan aneh.

Tak pernah Roro Luhito mau mengadu senjata dan selalu menarik kerisnya tiap kali ditangkis, untuk disusul dengan terjangan-terjangan yang aneh dan cepat.

Ketika merasa bahwa dadanya makin lama makin sakit karena ia harus mengerahkan tenaga dalam, Jokowanengpati maklum bahwa kalau pertandingan dilanjutkan, akhirnya ia tentu roboh.

Maka mulailah ia mencari kesempatan untuk lari.

Ia mulai melakukan perlawanan sambil menjauhkan diri.

Setiap kali ada kesempatan, ia meloncat jauh, akan tetapi celaka baginya, kedua wanita itu dalam hal kecepatan, tidak kalah olehnya.

Andaikata ia tidak terluka di dalam dadanya, tentu ia dapat menggunakan Aji Bayu Sakti yang sampai saat itu merupakan aji keringanan tubuh yang tak terkalahkan, untuk melarikan diri.

Akan tetapi, dengan luka dalam di dadanya, ia tidak mampu menggunakan Aji Bayu Sakti sepenuhnya, dan karena kedua wanita itupun memiliki aji meringankan tubuh yang hebat, terutama sekali Roro Luhito, sukar baginya untuk dapat melarikan diri daripada kepungan mereka.

"a"a yang dipergunakan Jokowanengpati untuk bertanding sambil berlompatan menjauh ini membuat tempat pertandingan berpindah-pindah. Makin lama karena loncatan-loncatan untuk berusaha lari ini, mereka bertempur tidak di atas pasir di pantai lagi melainkan berloncatan ke atas batu karang, makin lama makin tinggi sehingga akhirnya mereka bertanding di tebing karang yang curam! (Lanjut ke

Jilid 22) Badai Laut Selatan (Seri ke 03 Serial Serial Keris Pusaka Sang Megatantra) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo

Jilid 22 Jokowanengpati yang makin terdesak itu tiba-tiba menjadi nekat.

la menggunakan kesempatan ketika Kartikosari terhuyung ke belakang oleh tangkisan kerisnya yang kuat, menggunakan kecepatan menerjang Roro Luhito yang lebih lemah kalau dibandingkan Kartikosari.

"Heeeiiit! Mampuslah!"

La membentak, kerisnya menusuk dada, tangan kiri menggempur kepala!

Roro Luhito tidak menjadi gentar.

Setelah ia menguasai ilmu Kapi Dibyo, ia memiliki gerakan otomatis yang amat gesit.

Menghadapi terjangan ini, ia dapat membuang tubuh kebelakang, berjungkir balik cepat sekali dan di lain saat ia malah menyerang lawan dari kiri dengan tusukan cepat.

Girang hati Roro Luhito melihat bahwa dalam keadaan posisi tubuh miring, Jokowanengpati kurang cepat bergerak sehingga keris yang ditusukkannya itu agaknya akan berhasil kali ini!.

Akan tetapi, siapa kira, kelambatan Jokowanengpati itu adalah pancingan belaka.

Memang harus diakui bahwa dalam hal pertandingan, Jokowanengpati jauh lebih berpengalaman dan merripunyai banyak siasat licik.

Bcgitu keris sudah dekat perutnya, tiba-tiba Jokowanengpati menggerakkan kerisnya dari atas ke bawah, menangkis disertai tenaga dalam sekuatnya.

"Cringgg...!!"

"Aiiihhh!"

Roro Luhito menjerit kaget ketika merasa tangannya sakit dan lumpuh sehingga keris yang dipegangnya terlepas, terlempar ke bawah tebing, masuk laut!

Cepat ia menjatuhkan diri dan bergulingan menjauhi lawan.

Pada saat itu, melihat keadaan Roro Luhito, Kartikosari marah sekali.

la menerjang dengan cepat dan dahsyat.

Padahal saat itu, Jokowanengpati baru saja menangkis keris Roro Luhito dan tubuhnya masih setengah berputar.

Tidak ada jalan lain baginya kecuali menangkis tusukan hebat itu dengan pengerahan tenaga dalam tanpa memperdulikan dadanya yang terasa sakit sekali.

"Trakkkl!"

Dua batang keris yang bertemu dengan tenaga dalam yang dahsyat itu menjadi patah!

Dua batang keris itu adalah keris pusaka yang terbuat dari wesi aji (besi mulia) pilihan; Namun karena digetarkan oleh tenaga sakti, tidak dapat menahan dan patah-patah.

Jokowanengpati menyumpah dan melempar gagang kerisnya.

Juga Kartikosari membuang gagang kerisnya.

Pertandingan dilanjutkan dengan tangan kosong.

"Kucekik lehermui"

Jokowanengpati mendesis marah, matanya sudah merah dan mukanya penuh keringat, bukan hanya keringat lelah, melainkan lebih banyak keringat menahan sakit pada dadanya.

"Maut sudah di depan mata masih banyak lagak!"

Roro Luhito berseru dan tiba-tiba wanita ini menerjang maju dengan kedua kaki tangan bergerak sekaligus!

Serangan ini adalah bagian dari Aji Sosro Satwo, mirip dengan serangan seekor garuda yang menggunakan sepasang kaki.

Kartikosari juga tidak mau ketinggalan, menyerbu dengan dahsyat didorong kebencian yang mendalam.

Jokowanengpati berusaha mengelak, namun tetap saja pundaknya terkena hantaman tungkak kaki Roro Luhito.

Tungkak yang berkulit halus berwarna kemerahan, lunak dan hangat.

Akan tetapi karena dipergunakan untuk mendugang dan disertai tenaga keras, membuat tulang pundak serasa remuk!

Jokowanengpati menggulingkan tubuhnya, akan tetapi begitu ia meloncat bangun, ia sudah menghadapi serbuan yang lebih hebat lagi!.

Diam-diam ia mengeluh.

Dua orang wanita ini tanpa senjata malah lebih hebat!

la sudah berusaha membalas dengan pukulan yang tidak kepalang tanggung, yaitu dengan Aji Siyung Warak yang apabila mengenai sasaran tentu akan meremukkan kepala memecahkan rongga dada.

Namun kedua lawannya amat gesit dan saling bantu, sama sekali tidak memberi kesempatan kepadanya.

Ia dapat membayangkan betapa sangat ngeri nasibnya apabila roboh di tangan kedua wanita ini.

Masih lebih ringan jatuh ke tangan dua ekor harimau betina daripada terjatuh ke tangan dua orang wanita yang mabok dendam sakit hati!

Apalagi ketika ia mendengar seruan-seruan mereka yang agaknya sudah membayangkan kemenangan, jantungnya serasa beku.

"Tangkap hidup-hidup, jeng! Akan kubeset kulitnya, kuminum darahnya!"

Teriak Kartikosari.

"Baik, mbok ayu! Akupun hendak melihat bagaimana macam jantungnya!"

Teriak pula Roro Luhito. Jokowanengpati merasa serem dan hal ini membuat. gerakannya agak lamban sehingga sebuah pukulan Kartikosari berhasil"masuk"

Dan menghantam perutnya.

"Ngekkk!"

Pukulan yang keras sekali dan biarpun Jokowanengpati sudah mengerahkan tenaga dalam untuk melawan, tetap saja ia merasa seakan-akan isi perutnya berantakan di dalam dan dadanya terasa nyeri dan napasnya sesak.

"Aduh, mati aku...!"

Teriaknya.

Untung ia masih sempat menghindarkan tendangan kaki Roro Luhito yang menyambar ke arah pusarnya, lalu menangkis pukulan ke dua Kartikosari yang melayang ke arah dadanya.

Kalau tendangan atau pukulan ini mengenai sasaran, tentu ia akan roboh.

Sepasang mata Jokowanengpati jelilatan.

Ia sudah putus harapan untuk melawan lebih lama lagi.

Sudah tidak kuat.

Matanya mencari-cari, akan tetapi sudah tidak ada batu atau senjata lain di atas karang itu.

Ia melirik ke belakang.

Tebing tinggi dan laut bergelombang.

Laut!

Jalan keluar satu-satunya dari ancaman maut mengerikan di tangan dua orang musuhnya.

Tiba-tiba, sebelum dua orang lawannya sempat mencegah, ia sudah meloncat ke belakang dan dengan tiga kali berjungkir balik terus ke belakang, akhirnya tubuhnya melayang ke bawah tebing batu karang besar dan...

"Byuuurrr...!"

Tidak berapa tinggi air muncrat ketika tubuhnya terbanting ke air, karena ombak Laut Selatan yang mulai membesar itu telah mulai menelannya.

Kartikosari dan Roro Luhito cepat lari ke pinggir tebing batu karang dan mencari-cari dengan pandang mata mereka.

Hati mereka kecewa sekali.

"Ahh, celaka, dia berhasil lolos..."

Kartikosari membanting-banting kakinya dengan penuh sesal.

"Tidak mungkin! Biar kita ikuti dia, kemanapun dia mendarat, kita akan siap memberi hajaran. Binatang itu kali ini harus mampus di tangan kita!"

Kata Roro Luhito.

Mereka mencari terus dengan pandang mata mereka.

Ombak yang memecah di batu karang, berbeda dengan ombak yang menepis di pantai pasir.

Air laut dipukul-pukulkan pada batu karang menciptakan busa membuih putih sehingga menyilaukan mata dan agak sukar mencari tubuh Jokowanengpati di antara buih putih menyilaukan.

Sinar matahari yang terik membuat air laut berkilauan seperti kaca.

"Itu dia...!!"

Tiba-tiba Roro Luhito bersorak dan menudingkan telunjuknya ke laut.

Kartikosari cepat memandang dan benar saja, ia melihat Jokowanengpati menggerak-gerakkan tangannya, berenang agak tengah, sudah lewat ombak.

Jelas tampak Jokowanengpati melambai-larnbaikan tangannya dengan sikap mengejek, bahkan terdengar suara ketawanya menggema terbawa angin!.

"Binatang! la dapat berenang ke tengah. Celaka sekali, kalau ia menyelam, sukar mencegat dia mendarat!"

Kartikosari berkata dengan suara menyesal sekali.

"Tempat ini tinggi, tentu akan kelihatan ke mana dia mendarat. Kurasa ia takkan kuat bertahan sampai malam nanti di tengah laut."

"Belum tentu! Dia tentu saja tidaklah begitu bodoh, diajeng. Bagaimana kalau dia tidak mau mendarat sebelum hari menjadi gelap? Aku akan mengejarnyal Di lautpun aku tidak takut, dia harus mati di tanganku!"

Berkata demikian, Kartikosari melangkah ke bagian yang paling rendah untuk melompat ke laut dan mengejar musuh besarnya.

"Mbok ayu..., jangan...!"

Roro Luhito memegang lengan Kartikosari, wajahnya tampak ketakutan. Kartikosari menoleh kepadanya dan mengerutkan kening.

"Kau kenapakah, jeng? Takutkah engkau??"

Suaranya penuh ketidak percayaan. Akan tetapi Roro Luhito mengangguk! "Aku... aku takut, aku... aku selamanya tidak pernah berenang, apalagi di laut...!"

Kartikosari mengangguk-angguk.

Tentu saja, ia sampai lupa.

Dia sendiri adalah seorang wanita yang tidak asing dengan laut, bahkan semenjak kecil ia tinggal di tepi laut, pandai berenang dan selama bersembunyi di Karang Racuk ia telah memperdalam ilmunya, termasuk ilmu bermain dalam air laut.

Akan tetapi bagi Roro Luhito yang berenangpun tidak pandai, tentu saja tak mungkin dapat mengejar Jokowanengpati.

"Engkau lihatlah saja dari sini, diajeng. Biar aku sendiri yang mengejarnya dan menyeretnya ke darat. Dia agaknya sudah terluka."

"Jangan..., berbahaya sekali. Andaikata kali ini tidak berhasil kita menewaskannya, masih banyak waktu dan kita selalu akan mencari dan mengejarnya, mbok ayu. Lihat, dia masih segar-bugar dan nampaknya ia pandai sekali bermain di air. Kalau engkau mengejar kemudian kalah dan bahkan tewas olehnya di air, lalu bagaimana?"

Roro Luhito memegang lengan Kartikosari erat-erat, tidak mau melepaskan lagi.

Memang betul kata-kata Roro Luhito dan diam-diam Kartikosari mulai merasa sangsi apakah ia benar-benar akan dapat menangkan Jokowanengpati di air.

Orang itu kini berenang mendekat, berenang dengan gerakan mahir, ketika akan dekat lalu melambaikan tangannya ke arah mereka.

"Mari, kekasihku berdua...! Marilah ikut kakangmas Jokowanengpati bermain di air! Ha-ha-ha-ha! Apakah kalian takut, manis? Biar lah kugendong, seorang sebelah, ha-ha-ha!!"

Kartikosari menggigit bibirnya menahan marah.

Si bedebah itu benar saja amat pandai berenang.

Dan agaknya betul dugaannya, Jokowanengpati sengaja mengejek dan mempermainkan mereka, tentu menanti sampai matahari terbenam.

Kalau hari sudah menjadi gelap, tentu saja ia akan dapat mendarat dengan aman Dan untuk bertahan di atas air sampai malam nanti, bukan merupakan hal yang sukar, bahkan sama sekali tidak melelahkan bagi seorang perenang mahir seperti Jokowanengpati.

Ia tentu takkan membiarkan kesempatan amat baik itu lalu begitu saja.

Jelas tadi bahwa Jokowanengpati telah mengalami tendangan yang jitu.

Tentu orang itu sudah terluka di sebelah dalam tubuhnya.

Kalau tidak terluka, tentu dia tidak selemah tadi dan tidak akan lari meloncat ke laut.

Kalau aku kejar dia sekarang, mungkin belum terlambat.

"Diajeng, biarkan aku mengejarnya! Dia harus mati di tanganku!!"

"Tidak! Jangan, mbok ayu!"

Kartikosari memberontak, Roro Luhito mempertahankan.

Keduanya bersitegang dan untuk sementara tidak memperhatikan Jokowanengpati.

Tiba-tiba terdengar pekik melengking mengerikan.

Otomatis keduanya berhenti meronta dan keduanya menoleh ke laut, mencari-cari dengan pandang matanya.

Tiba-tiba keduanya terbelalak memandang ke bawah, ke arah air, dengan mata dibuka lebar dan mulut celangap, terlampau kaget, terlampau kesima sehingga tidak kuasa mengeluarkan kata-kata, bahkan seakan-akan berhenti bernapas untuk menyaksikan pemandangan di air itu.

Sepasang mata Roro Luhito bersinar-sinar, sedangkan ujung bibir Kartikosari membayangkan senyum.

Mereka tadi tidak berdaya menghadapi Jokowanengpati yang agaknya sudah akan lolos, akan tetapi kiranya Dewata Agung sendiri yang berkenan menghukumnya!

"Toloooooooongggg...!"

Untuk ketiga kalinya tubuh Jokowanengpati tersembul ke permukaan air, kedua tangannya meronta-ronta, memukul-mukul ke arah kakinya.

Untuk ketiga kalinya ia memekik minta toiong, matanya terbelalak lebar sekali, mukanya yang sebagian tertutup rambut yang awut-awutan itu menyerupai muka setan.

Dan di sebelah bawahnya, seekor ikan hiu menggigit kakinya, seekor ikan hiu yang ganas dan liar!.

Kiranya selagi berenang kian ke mari sambil mengejek Kartikosari dan Roro Luhito, seekor ikan hiu besar telah menyerangnya, menggigit kakinya.

Terjadi pergulatan hebat antara Jokowanengpati yang mempertahankan nyawanya dan ikan hiu yang mempertahankan mangsanya.

Kalau saja tadi tidak mencurahkan perhatiannya untuk mengejek kedua orang bekas lawannya, tentu Jokowanengpati dapat menjaga diri, dapat menggunakan kepandaiannya untuk menendang atau memukul ikan hiu.

Akan tetapi karena perhatiannya ke atas, ia tidak melihat ikan itu yang tahu-tahu sudah menyambar dan menggigit kakinya.

Ikan hiu itu berusaha menyeret korbannya ke bawah dan berkali-kali ia berhasil.

Namun dalam keadaan penuh ketakutan seperti itu, timbul semua tenaga Jokowanengpati dan berkali-kali pula ia berhasil meronta dan timbul di permukaan air, menyerang ikan itu, meronta memukul menendang.

Namun ikan itu tak pernah mau melepaskan gigitannya.

Sekilas pandang Jokowanengpati melihat dua orang wanita di atas batu karang.

Saking takutnya ia berteriak, menjerit parau.

"Tolooooooongggg...! Tooil... auupp...!"

Tubuhnya sudah diseret masuk ke dalam air lagi.

Sejenak tampak kedua tangannya menjangkau ke atas permukaan air, kedua tangan yang jari-jarinya kaku seperti cakar setan, lalu kedua tangan inipun lenyap ditelan air.

Bagaikan dua buah arca batu, Kartikosari dan Roro Luhito berdiri terbelalak memandang peristiwa mengerikan di depan mata itu.

Setelah beberapa lama Jokowanengpati tidak timbul kembali dan air di mana untuk terakhir kali tubuhnya terseret dan tenggelam tadi berwarna agak kemerahan, keduanya melepas isak dan menutupi muka dengan kedua tangan.

Pundak mereka menggigil.

Betapapun juga, mereka bukanlah wanita yang berhati kejam.

Hukuman yang dialami Jokowanengpati merupakan siksaan yang terlalu mengerikan bagi mereka.

"Duh Jagad Dewa Batara... tiada kejahatan tanpa hukuman! Habislah riwayat Jokowanengpati manusia berhati iblis...!!"

Kartikosari dan Roro Luhito terkejut sekali.

Tersentak kagetlah mereka, akan tetapi ketika keduanya membalikkan tubuh, kiranya yang mengeluarkan kata-kata itu bukan lain adalah Pujo, suami mereka!

Kartikosari dan Roro Luhito kembali melepas isak, lalu keduanya lari ke depan, menjatuhkan diri berlutut dan menubruk kaki suami mereka.

Pujo berlutut pula, merangkul kedua isterinya penuh kasih sayang.

"Nimas berdua... sudahlah. Memang pemandangan yang mengerikan hati. Akan tetapi, kiranya sudah sepatutnya manusia keji dan jahat itu menemui siksa seperti itu. Marilah kita lupakan itu semua. Kita telah bebas, bebas dari dendam yang menyiksa batin. Marilah kita pergi, nimas. Jangan lupa, kita masih ada kewajiban mencari Joko Wandiro dan Endang Patibroto."

Kedua orang wanita itu mengangkat muka dan mereka bertiga saling pandang dengan mesra.

Biarpun mulut tidak mengatakan sesuatu, namun pandang mata mereka kini lebih mesra, penuh kasih sayang, tidak dibayangi lagi oleh dendam dan aib.

Bebaslah mereka kini, dapat melakukan tugas sebagai suami-isteri sebagaimana mestinya, dapat menyatakan cinta kasih sepenuhnya tanpa diganggu keraguan dan sakit hati.

Dengan hati bunga penuh bahagia, mereka bertiga bergandeng tangan meninggalkan pantai Laut Selatan.

Karena merekapun melihat betapa Resi Bhargowo muncul di medan perang di samping Sang Prabu Airlangga, maka tentu saja mereka segera langsung menuju ke pertapaan bekas Raja itu, di Jalatunda.

Tepat seperti perhitungan mereka, mereka dapat bertemu dengan Resi Bhargowo di tempat itu.

Perlu diketahui bahwa ketika Pujo dan kedua isterinya berada di keraton Pangeran Sepuh sebelum terjadi perang campuh di alun-alun, Resi Bhargowo yang ketika itu tengah melakukan penyelidikan ke Kotaraja, bertemu dengan mereka, Pertemuan yang mengharukan dan menggirangkan, akan tetapi bagi Resi Bhargowo tidaklah mengherankan karna kakek ini sudah seringkali melihat Pujo dan puterinya ketika mereka berdua masih berpisah dan bertapa masing-masing di muara Sungai Lorog dan di Karang Racuk.

Dalam pertemuan singkat itulah, Pujo dan isterinya menceritakan segala pengalaman mereka tanpa menyembunyikan sesuatu.

Di lain fihak, Resi Bhargowo menceritakan bahwa dialah yang membawa pergi Endang Patibroto dan Joko Wandiro ke Pulau Sempu dan menganjurkan agar kedua orang anak itu dibiarkan belajar disana untuk sementara waktu.

Setelah ketiga orang itu menghaturkan sembah sujud kepada Sang Resi Jatinendra dan Empu Bharodo, mereka lalu menceritakan betapa mereka mengejar Jokowanengpati yang akhirnya menemui kematian mengerikan di Laut Selatan, menjadi mangsa ikan hiu.

Ketika bercerita perihal kematian Jokowanengpati inilah, mau tak mau Pujo melirik kepada uwak gurunya.

Ia melihat Empu Bharodo menarik napas panjang dan berkata sambil mengangguk-anggukkan kepalanya yang rambutnya sudah putih.

"Alangkah akan baik dan untungnya andaikata ia benar telah berhenti menjadi hamba nafsu-nafsunya."

Pujo dan kedua isterinya heran mendengar kata-kata ini.

Pujo dan Kartikosari tahu betul betapa dahulu Empu Bharodo amat mencinta muridnya itu.

Akan tetapi ketika mereka memandang, mereka melihat Empu Bharodo, seperti juga Resi Jatinendra, duduk tepekur dan meramkan mata, tampaknya pulas dalam samadhi.

Resi Bhargowo lalu memberi isyarat kepada mereka untuk keluar dari guha, agar mereka dapat melakukan percakapan tanpa mengganggu kedua orang pertapa itu.

"Rama, di manakah Endang Patibroto anakku? Apakah rama tinggalkan di Pulau Sempu?"

Serta-merta Kartikosari bertanya ketika mereka sudah duduk di bawah pohon beringin yang terdapat di tempat agak jauh dari guha pertapaan.

Kini Resi Bhargowo menarik napas panjang dengan wajah agak muram.

"Segala perbuatan di dunia ini tentu ada akibatnya, seperti juga pohon ada buahnya. Mereka berdua itu tadinya lenyap dari pulau ketika aku diserbu oleh kaki tangan Pangeran Anom."

Resi Bhargowo lalu menceritakan peristiwa yang terjadi di Sempu.

"Joko Wandiro sudah berada di sini, sekarang menjadi murid Ki Patih Narotama. Akan tetapi... tentang Endang Patibroto, sampai sekarang aku sendiripun tidak tahu ke mana perginya."

Roro Luhito girang sekali mendengar bahwa keponakannya telah berada di situ, akan tetapi melihat Pujo dan Kartikosari menjadi muram wajahnya mendengar akan hilangnya Endang Patibroto, ia menekan kegirangannya di dalam hati dan ikut berprihatin.

Melihat kemuraman wajah puteri dan mantunya, Resi Bhargowo berkata.

"Sudah kukatakan tadi, Sari dan engkau, Pujo. Tiada perbuatan yang tak berakibat, tiada pohon yang tak berbuah. Akibat selalu mengikuti perbuatan seperti bayangan mengikuti dirimu. Kadang-kadang tidak tampak namun pasti ada dan tidak pernah jauh. Engkau merasa bagaimana prihatin dan khawatir kehilangan anak. Pikir dan kenanglah, apakah ini bukan merupakan akibat daripada perbuatanmu sendiri?"

Mendengar ucapan ini, Pujo dan Kartikosari seketika sadar.

Lenyap kemuraman dari wajah mereka, akan tetapi kini berganti penyesalan.

Pujo lebih-lebih lagi merasa betapa perbuatannya yang lalu merupakan dosa besar.

Karena salah duga, ia telah menghancurkan rumah tangga Wisangjiwo, bahkan telah menculik Joko Wandiro, memisahkan anak itu dari ayah-bundanya sehingga sampai pada kematiannya, Wisangjiwo tidak pernah bertemu dengan puteranya!.

Alangkah hebatnya penderltaan itu, sedangkan mereka sendiri, baru beberapa bulan saja kehilangan Endang Patibroto, sudah merasa gelisah dan duka!.

"Saya mengaku dosa saya, rama, semoga Dewata mengampuni saya..."

Kata Pujo sambil menundukkan muka, penuh penyesalan. Resi Bhargowo mengelus jenggotnya.

"Perbuatanmu terdorong oleh rangsangan dendam dan nafsu membalas dan karena salah pengertian. Kurasa tidak ada malapetaka menimpa diri Endang, akan tetapi segala hal Dewatalah yang mengaturnya. Sekarang masih belum terlambat untuk memperbaiki kesalahan lama dengan membuat pengakuan kepada Joko Wandiro. Baiknya bahwa biarpun engkau bukan ayahnya, akan tetapi sekarang telah menjadi suami bibinya. Itu dia datang! Sering ia berkunjung ke sini."

Semua orang menengok dan benar saja, dari jauh tampak pernuda tanggung itu berjalan dengan langkah tenang.

Agaknya diapun melihat bahwa kakek gurunya bercakap-cakap dengan tiga orang yang dari jauh tidak dikenalnya.

Akan tetapi setelah agak dekat ia mengenal Pujo, maka berlarilah ia.

Gerakannya tangkas, larinya cepat sekali sehingga mengagumkan dan menggirangkan hati Pujo dan kedua isterinya.

"Sayang iapun tidak tahu ke mana perginya Endang,"

Resi Bhargowo berkata."Di Pulau Sempu mereka memang berpisah jalan..."

"Ayaaaaahhh...!!"

Joko Wandiro berseru girang lalu merangkul ayahnya.

Pujo memeluknya dan sepasang matanya menjadi basah air mata ketika ia teringat bahwa anak yang dikasihi ini harus mendengar bahwa ia bukan ayahnya!

Joko Wandiro amat rindu kepada Pujo dan tentu ia akan bersikap lebih mesra lagi kalau saja ia tidak ingat bahwa di situ terdapat orang lain.

Ia lalu melepaskan rangkulannya, menoleh kepada Roro Luhito yang memandangnya dengan air mata bercucuran!

Wanita ini masih mengenal keponakannya, yang dahulu sering ia gendong-gendong dan sekarang sudah menjadi seorang pemuda tanggung.

Saking terharu hatirya, ia tidak dapat mengeluarkan katakata.

Joko Wandiro hanya merasa heran mengapa wanita itu menangis dan menduga-duga siapa gerangan wanita cantik ini.

Ketika ia memandang kepada Kartikosari, ia segera mengenalnya dan menegur.

"Ah... bibi! Bukankah bibi ini ibu Endang Patibroto? Dimanakah dia sekarang, bibi?"

Melihat Roro Luhito menangis dan teringat akan Wisangjiwo, Kartikosari juga meruntuhkan air mata. La memegang pundak anak itu, merangkulnya dan berkata.

"Anak yang baik, kami sendiri tidak tahu dia sekarang berada di mana."

Joko Wandiro makin terheran melihat semua orang meruntuhkan air mata. Ia menoleh lagi kepada ayahnya dan Pujo lalu menarik tangannya, diajak duduk di atas batu.

"Anakku, Joko Wandiro, kau dengarlah baik-baik dan dengan hati tenang ada yang akan kuceritakan kepadamu. Rama resi ini memang benar adalah kakek gurumu karena aku... aku hanyalah gurumu, sama sekali bukan ayahmu..."

"Aaahh...!!!"

Joko Wandiro meloncat bangun dari tempat duduknya.

Benar-benar ia terkejut seperti disambar petir mendengar keterangan yang sama sekali di luar dugaannya ini.

Wajahnya menjadi pucat dan ia memandang Pujo dengan mata terbelalak.

"Tenanglah, nak...!!"

Pujo menegur, terharu akan tetapi juga mendesak.

Merah sekali wajah Joko Wandiro.

Sudah bertahun-tahun ia digembleng oleh ayahnya ini, digembleng lahir batin sehingga sebetulnya ia dapat menguasai perasaannya.

Akan tetapi tadi ia hampir tak dapat menguasai perasaannya oleh karena memang berita itu amat mengejutkan.

Ia duduk lagi dan berbisik.

"Maaf, ayah!"

Pujo tersenyum pahit.

Sungguh tidak enak tugasnya bercerita dan membuat pengakuan ini.

Akan tetapi memang betul ayah mertuanya.

Ia harus berterus terang membuka rahasia ini, demi kebaikan mereka semua.

"Ayah kandungmu yang sejati sebetulnya adalah Raden Wisangjiwo..."

Kembali Joko Wandiro memotong.

"Tapi. ayah bilang Wisangjiwo adaiah musuh besar yang harus kubunuh kelakl!"

Mendengar ini, serasa ditampar muka Pujo. Mukanya menjadi merah sekali, lalu berubah pucat dan ia menundukkan mukanya.

"Besar sekali dosaku, anakku...! Dan semua ini terjadi hanya karena salah duga yang timbul dari sifat terburu nafsu!"

Berceritalah Pujo tentang peristiwa dua belas tahun yang lalu.

Mendengar tentang gurunya yang tadinya ia anggap ayah kandungnya, kemudian mendengar pula betapa ia di waktu kecil bersama ibu kandungnya yang ia lupa lagi bagaimana wajahnya itu, diculik oleh gurunya, makin lama makin pucatlah wajah Joko Wandiro.

Dadanya terangsang sesuatu yang menggelora, yang membuat tubuhnya menggigil.

Teringat ia akan penuturan Cekel Aksomolo yang pernah menangkapnya, pernah mengatakan bahwa dia adalah putera kadipaten, putera Raden Wisangjiwo, bahwa Pujo adalah penculiknya.

Dan ia malah memaki-maki dan memukul Cekel Aksomolo yang disangkanya membohong!

Kini mendengar betapa satu-satunya orang di dunia ini yang dicintanya, dipujanya dan disangka ayah kandungnya itu telah sedemikian kejamnya terhadap ayah-bundanya, terhadap dia sendiri, hatinya seperti disayat-sayat.

Apalagi kalau ia teringat betapa Pujo semenjak ia kecil selalu menekankan bahwa musuh besar di dunia ini adalah Wisangjiwo yang harus dibunuhnya kelak!

Ayah kandungnya sendiri!

Harus dibunuhnya!

Alangkah kejinya dan hal ini sungguh-sungguh mengecewakan dan menghancurkan hatinya.

Saking kerasnya desakan gelora hati yang ditekan-tekannya, ketika mendengar cerita bahwa ayah kandungnya, Wisangjiwo gugur dalam perang, sedangkan ibunya yang pulang ke Selogiri dibawa lari perampok, Joko Wandiro terbelalak memandang ke angkasa, lalu tiba-tiba menjerit dan tubuhnya terjungkal roboh pingsan.

Ketika siuman dari pingsannya, Joko Wandiro berada dalam pelukan Roro Luhito.

Tentu saja ia terheran-heran, apalagi melihat wanita itu menangis sambil menyebut-nyebut namanya.

Sejenak timbul harapannya.

Inikah ibu kandungnya?

Ah, tak mungkin.

Bukankah tadi diceritakan bahwa ibu kandungnya diculik perampok di Selogiri?

"Joko, aku adalah bibimu sendiri, aku adik kandung ayahmu."

Dengan suara terputus-putus Roro Luhito memperkenalkan diri.

Kemudian ia membuat pengakuan bahwa iapun telah menjadi isteri Pujo.

Makin tertusuk hati Joko Wandiro, makin bingung dan kecewa.

Pujo ternyata bukan ayahnya, hanya gurunya.

Ayah kandungnya sudah tewas, ibunya diculik perampok, bibinya menikah dengan Pujo yang seakan-akan membikin celaka rumah tangga ayah-bundanya.

Tidak tertahankan lagi, melihat gurunya menundukkan mukanya yang pucat, melihat eyang gurunya mengelus-elus jenggotnya dengan senyum pahit, melihat isteri gurunya, ibu Endang Patibroto juga tertunduk, kemudian melihat bibinya menangis terisak-isak, Joko Wandiro juga menangis!

Tangis penuh penyesalan, penuh kekecewaan.

"Duh, anakku, angger Joko! Gurumu tadi belum menceritakan semuanya. Ayahmu telah meninggal dunia dan bukan maksud bibimu ini memburukkan nama ayahmu, sama sekali bukan. Akan tetapi agaknya engkau harus mendengar segalanya dengan jelas agar jangan engkau timbul kebencian kepada kami."

Setelah berkata demikian, Roro Luhito lalu menceritakan segala yang telah terjadi, betapa Wisangjiwo bersama ayahnya, mendiang Adipati Joyowiseso tadinya menyeleweng dan hendak memberontak, bersekutu dengan tokoh-tokoh sakti yang jahat seperti Cekel Aksomolo dan lain-lain.

Betapa Wisangjiwo menyerang Pujo dan Kartikosari di dalam guha gelap sehingga ketika muncul Jokowanengpati mempergunakan narnanya, maka Pujo dan Kartikosari tertipu.

Semua ia ceritakan dengan jelas, tanpa tedeng aling-aling lagi, bahkan ia ceritakan kekejian dan kejahatan Jokowanengpati terhadap keluarga Kadipaten Se lopenangkep, terhadap dirinya sendiri!.

Mendengar cerita ini, berubahlah wajah Joko Wandiro.

Lenyap semua bayangan penyesalan.

Betapapun juga, orang yang selama ini ia kasihi, ia anggap ayah kandung sendiri, ternyata adaiah seorang satria utama, yang telah salah tindak karena tertipu.

Seluruh penyesalan dan bencinya kini ia timpakan kepada orang yang bernama Jokowanengpati.

"Si bedebah Jokowanengpati! Di mana si jahat itu sekarang??"

Ia melompat berdiri dengan kedua tangan terkepal.

Pujo meraihnya.

Girang dan bangga hatinya bahwa murid yang ia kasihi seperti puteranya sendiri ini sekarang telah melihat kenyataan, dan tidak membencinya.

Ia merangkul dan berkata.

"Joko anakku, musuh besar itu telah tewas di tangan kedua bibimu, baru-baru ini."

Joko Wandiro balas memeluk gurunya, lalu berkata.

"Harap sebuah permohonanku dikabulkan." 'Tentu saja, Joko. Jangankan hanya sebuah, biarpun seribu permohonanmu tentu akan kupenuhi,"

Jawab Pujo terharu.

"Hanya satu saja, yaitu... karena ayah kandungku telah tewas... supaya... supaya aku tetap boleh menyebut... ayah kepadamu."

Pujo merangkul dan memeluk kepala Joko Wandiro. Dari kedua pelupuk matanya mengalir beberapa butir air mata. Sambil mencium kepala anak Itu, ia berkata.

"Engkau memang anakku! Biarpun bukan anak kandung, akan tetapi engkau anakku, Joko! Terima kasih bahwa engkau masih mau menyebut ayah kepadaku. Akan tetapi, karena engkau telah mendapatkan seorang guru yang maha sakti, engkau harus melanjutkan pelajaranmu kepada gurumu yang sakti mandraguna dan bijaksana, Ki Patih Narotama. Kami bertiga akan kembali ke Bayuwilis di pantai Laut Selatan, dan kelak, kalau ada perkenan gurumu, kita akan bertemu lagi, Joko."

Anak yang semuda itu telah mengalami kecewa, sesal, dan duka yang amat hebat itu hanya mengangguk-angguk sambil memandang dengan air mata berlinang.

Pujo, Roro Luhito dan Kartikosari memandang anak itu dengan hati penuh keharuan sehingga suasana menjadi sedih.

Tiba-tiba Resi Bhargowo tertawa.

Suara ketawanya tenang dan sewajarnya, sekaligus mengusir suasana yang iengang sedih itu.

"Ha-ha-ha, alangkah lemahnya kita diseret kedukaan berlarut-larut! Joko, cucuku yang baik. Gurumu adalah kawula yang paling gagah perkasa dan sakti di seluruh Kahuripan, sungguh mengecewakan kalau engkau sebagai muridnya tak mampu melawan nafsu perasaan sendiri!"

Sadarlah mereka semua. Joko Wandiro lalu menjatuhkan diri berlutut, menyembah kepada empat orang itu sambil berkata.

"Hamba pamit mundur...!"

Tanpa menanti jawaban, tubuhnya sudah melesat dan bagaikan terbang ia lari meninggalkan tempat itu untuk kembali ke tempat pertapaan gurunya yang berada di lereng gunung.

Segala sesuatu di permukaan bumi ini, mau atau tidak, semua harus tunduk kepada kekuatan Sang Waktu.

Betapapun kerasnya besi baja, betapapun besarnya gunung dan luasnya lautan, semua itu akan lenyap atau berubah setelah tiba saatnya.

Namun, demikian halus Sang Waktu bekerja sehingga sedikit demi sedikit kesemuanya itu digerogoti sampai habis tanpa ada yang merasakannya!

Manusia sendiri, setiap hari digerogoti waktu dalam bentuk usia, kanak-kanak menjadi dewasa, dewasa menjadi tua dan kakek-kakek, tanpa si manusia merasainya, sehingga tahu-tahu Sang Waktu menyeretnya ke lubang kubur!.

Sang Waktu merayap selambat kura-kura apabila diperhatikan, akan tetapi terbang secepat kilat apabila tidak diperhatikan.

Tahun-tahun lalu serasa hari kemarin!

Karena inilah, sebelum terlambat, seyogianya manusia mengisi hidupnya yang tak berapa lama ini dengan perbuatan-perbuatan bermanfaat bagi dunia, bangsa, negara, masyarakat atau sedikitnya bagi orang lain.

Bahagialah mereka yang tidak menyia-nyiakan waktu hidup sebentar ini hanya dengan perbuatan yang bermanfaat bagi dirinya sendiri saja.

Karena sudah pasti bahwa pada akhir hidup, hati nurani sendiri menuntut jasa apakah yang telah diperbuat semasa hidupnya bagi dunia dan manusia?.

Sang Waktu melesat cepat sehingga tanpa disadari, Endang Patibroto telah enam tahun tinggal di Pulau Iblis.

Selama enam tahun ini, setiap hari ia menerima gemblengan dari gurunya.

Dibyo Mamangkoro yang amat mencinta muridnya, bahkan menganggap muridnya itu seperti anak atau cucu sendiri.

Tidak ada ilmu yang ia sembunyikan, semua kedigdayaannya ia turunkan kepada Endang Patibroto.

Bahkan pada kesempatan menurunkan ilmu terakhir, Dibyo Mamangkoro berkata.

"Muridku yang pintar, anakku yang denok! Sudah habislah sekarang semua aji kau pelajari. Tidak ada apa-apa lagi yang dapat kuajarkan kepadamu, kecuali hanya hawa sakti di dalam tubuhku yang dapat kuberikan kepadamu. Akan tetapi tidak Sekarang, muridku, karena penyerahan hawa sakti itu akan mendatangkan kematian padaku. Aku tidak sayang mengorbankan nyawa untukmu, Endang, akan tetapi jangan sekarang."

Endang Patibroto, kini seorang gadis berusia tujuh delapan belas tahun, cantik manis dengan tubuh padat berisi dan ramping, dengan sepasang mata yang tajam akan tetapi bersinar dingin, Bibirnya yang selalu merah basah itupun tak pernah ketinggalan senyum, senyum dingin mengejek, kini berdiri memandang gurunya.

Sukar untuk menduga apa yang terkandung di hati gadis muda ini, karena wajahnya menyerupai topeng puteri jelita yang tidak pernah berubah.

Bahkan Dibyo Mamangkoro sendiri, seorang sakti mandraguna, seorang yang berwatak aneh, liar dan ganas, kadang-kadang mengakui di dalam hati bahwa dalam diri muridnya ini terdapat kekuatan luar biasa, dan memancarkan keanehan dan kesereman.

Bahwa di balik sinar mata yang tajam bersinar itu tersembunyi kedinginan yang membeku, dan di balik senyum yang manis menggairahkan hati tiap pria itu tersembunyi maut yang selalu mengintai korban!.

"Bapa guru,"

Jawab Endang Patibroto terhadap ucapan gurunya tadi.

"Kalau bapa tidak hendak memberikan hawa sakti kepadaku karena takut mati, perlu apa bapa menceritakannya kepadaku? Tenagaku sendiri cukup, dan sesungguhnya aku tidak membutuhkan penambahan tenaga dari luar lagi."

Setelah berkata demikian, perlahan Endang Patibroto membalikkan tubuhnya, lengan kirinya bergerak lambat ke depan, seperti main-main mendorong sebatang pohon sebesar tubuh manusia dan...

"Kraaakkk!"

Pohon waru itu roboh!.

"Huah-hah-hah-hahl Kiranya tidak akan mudah mencari orang yang mampu melawan Endang Patibroto, murid terkasih Dibyo Mamangkoro!"

Kakek raksasa itu tertawa bergelak, akan tetapi akhirnya suara ketawanya lenyap dalam keraguan. Keningnya yang tebal berkerut ketika ia berkata.

"Betapapun juga, menghadapi manusia-manusia luar biasa seperti Airlangga dan Narotama, Empu Bharodo, Resi Bhargowo dan lain-lain tokoh di Kahuripan, tak boleh sekali-kali kau memandang rendah, muridku. Kalau teringat akan mereka itulah timbul kegelisahanku, dan agaknya hanya kalau engkau mendapatkan tambahan hawa sakti dari tubuhku, kau akan dapat menghadapi mereka. Sudah enam tahun engkau berada di sini, Endang. Biarlah sekarang aku pergi dulu menyelidik ke Kahuripan, melihat bagaimana perkembangan keadaannya sekarang. Wirokolo hanya mengabarkan bahwa Sang Prabu Airlangga telah meninggal dunia dalam pertapaannya, bahwa Narotama masih menjadi pertapa dan tidak mencampuri urusan Kerajaan. Selain itu, ada berita baik bahwa mulailah kini Kerajaan Jenggala bergerak untuk menumpas Kerajaan Panjalu! Sekaranglah saatnya engkau muncul dan memperkenalkan diri pada dunia, muridku. Biarlah dunia membuka mata terhadap munculnya Endang Patibroto, sang puteri perkasa. kau tinggallah menanti di sini, muridku. Aku pergi ke Kahuripan, menyelidiki keadaan."

Pada hari-hari pertama kepergian Dibyo Mamangkoro, tidak dirasakan oleh Endang Patibroto.

Akan tetapi, setelah lewat tiga pekan, mulailah ia merasa betapa sunyi pulau itu.

Selama enam tahun tak pernah ia berpisah dari gurunya.

Kini mulailah ia kehilangan suara gurunya yang bergema di seluruh pojok pulau.

Endang Patibroto mulai merasa tidak senang dan tidak kerasan di pulau ini, di mana selama enam tahun belum pernah ia tinggalkan.

Diam-diam timbul rasa marah di dalam hatinya terhadap gurunya yang begitu lama meninggalkannya.

Kenapa gurunya tidak mengajaknya pergi?

Makin lama kemarahannya makin membesar, rasa jemu tinggal seorang diri di pulau tak tertahankan lagi dan akhirnya iapun meninggalkan Pulau Ibiis!.

Biarpun enam tahun ia tinggal di pulau, namun gurunya selalu mencukupi semua keperluannya.

Bahkan pakaianpun Endang Patibroto tidak pernah kekurangan.

Ia selalu menerima pakaian-pakaian yang halus dan indah.

Bahkan keris pusakanya, Brojol Luwuk, kini memakai gagang yang amat indah, bertabur mutiara pilihan dan sarungnya terbuat daripada emas berukir!.

Pagi hari itu, karena tidak tahan lagi, Endang Patibroto meninggalkan Pulau Iblis.

Ia mengenakan pakaiannya yang paling baru.

Ia mempunyai banyak kain, akan tetapi sayang, sungguhpun bajunya banyak, namun oleh gurunya disuruh orang luar pulau membuatnya setahun yang lalu.

Kini pakaiannya yang terbaik sekalipun terlalu ketat mencetak tubuhnya, agak kurang longgar karena tubuhnya makin berisi selama setahun ini.

Keris pusaka tidak ia sembunyikan seperti dahulu lagi, melainkan kini terselip di pinggangnya yang dihias sabuk emas pula.

Perahu rampasan dahulu itu masih ada.

Gurunya tidak menggunakan perahu ketika pergi.

Mungkin menggunakan mancung kelapa seperti biasa.

Ia sendiripun kini sanggup menyeberang dengan bantuan mancung kelapa, bahkan ia sanggup melakukan yang lebih hebat daripada itu.

Akan tetapi ia tidak suka meniru gurunya karena selain melelahkan, juga ombak akan membasahi kainnya.

Dengan perahu lebih enak.

Sudah sering kali ia bermain-main dengan perahu di sepanjang pantai pulau.

Ia bukan seorang ahli berlayar, namun cukup dapat menguasai perahu dengan dayungnya.

Oleh karena belum pernah Endang Patibroto menyeberang, perahunya hanyut oleh ombak ke timur sehingga ketika perahu itu tiba di pantai, ia berada jauh daripada tempat penyeberangan biasa.

Betapapun juga, hatinya lega ketika ia meloncat ke darat.

Tidak disangkanya sedemikian sukar mengendalikan perahu yang hanyut oleh aliran air yang sangat kuatnya.

Ia membiarkan perahu itu dihanyutkan ombak ke tengah, dan dengan pandang mata gembira ia melihat ke depan.

Hutan yang lebat dan gelap, dunia baru baginya setelah enam tahun dikeram dalam pulau kosong.

Bagaikan seekor kijang muda yang baru terlepas dari kurungan, Endang Patibroto memasuki hutan, terus berlari menuju ke timur.

Tujuannya hanya satu.

Ke Kahuripan dan menurut gurunya, Kahuripan terletak di sebelah timur.

Ia hendak ke Kahuripan yang kini terpecah menjadi dua Kerajaan, yaitu Panjalu dan Jenggala, menyusul gurunya.

Hanya menyusul guruhya?

Tidak!

lapun ingin mencari ibunya.

Ingin mencari eyangnya, Resi Bhargowo.

Hatinya rindu kepada ibu, Hatinya bertanya-tanya, apakah eyangnya, Resi Bhargowo yang dahulu dikeroyok orang di Pulau Sempu, masih hidup.

Dan, teringat akan Joko Wandiro, tak dapat ia menahan senyum yang dibayangi tarikan bibir mencibir, mengejek!

Hi-hik, hatinya mentertawakan.

Apakah Joko Wandiro masih terus menggendong dan bermain-main dengan patung kencana?

Endang Patibroto tertawa lagi sambil meraba gagang kerisnya.

Bangga dan senang hatinya bahwa ia dahulu memilih keris pusaka ini.

Pusaka ampuh.

Bahkan gurunya sendiri merasa jerih terhadap pusaka ini!

Secara berterang Dibyo Mamangkoro pernah berkata.

"Jangan engkau main-main dengan pusakamu itu, Endang. Dengan pusaka Ki Brojol Luwuk di tanganmu, semua aji kepandaianmu menjadi berlipat-lipat ampuhnya. Dengan pusaka itu, engkau akan mampu menggegerkan dunia, akan dapat menghancurkan Kerajaan, seakan-akan dapat menggugurkan gunung menguras lautan! Kalau tidak terpaksa sekali, jangan mencabutnya dari sarungnya. Pusaka keramat tidak boleh dipergunakan sembarangan saja!"

Samar-samar ia masih ingat ketika enam tahun yang lalu Dibyo Mamangkoro mengajaknya sampai ke Pulau Iblis.

Sedapat mungkin ia mencari jalan itu agar tidak sampai tersesat.

Beberapa hari kemudian, setelah keluar dari sebuah hutan yang luas, tibalah ia di lembah Sungai Bogowanto.

Ia merasa agak lelah karena perutnya lapar sekali.

Melihat sungai dari jauh, begitu keluar dari hutan, ia sudah mengambil keputusan untuk beristirahat di tepi sungai, mencari kijang atau binatang hutan lain untuk dipanggang dagingnya, dan buah-buahan yang banyak terdapat di lembah sungai.

Akan tetapi baru saja ia muncul dari daerah hutan, tiba-tiba dari balik pohon-pohon berlompatan keluar orang-orang tinggi besar yang segera mengepung Endang.

Sebentar saja lima belas orang telah berdiri mengepung dengan sikap garang.

Mereka semua adalah laki-laki yang bertubuh tegap, bersikap kasar dan beroman galak.

Paling depan berdiri seorang laki-laki setengah tua yang kelihatan paling buas di antara mereka, jelas memperlihatkan sikap pimpinan.

Baju orang Itu berkembang totol-totol besar seperti kulit harimau.

Mukanya juga mengerikan seperti muka harimau, dengan sepasang mata lebar berkilauan dan agak hijau, tidak seperti mata manusia.

Hidungnya gemuk tebal, mulutnya terkurung kumis dan jenggot yang kasar menjijikkan.

Sambil meraba gagang golok, laki-laki tinggi besar ini membentak.

"Berhenti! Siluman, peri ataukah manusia yang berani mati lewat di sini? Eh, bocah denok ayu, langsing kuning seperti kijang kencana, denok montrok seperti bidadari kahyangan! Kedua kaki-mu menginjak tanah, berarti engkau adalah anak manusia. Siapa engkau, dari mana hendak ke mana dan mengapa seorang gadis jelita seperti engkau berani menjelajah hutan rimba seorang diri tanpa pengawal?."

"Kakang Suro, alangkah jelita gadis ini! Aduh, disambar kerling matanya saja seperti dicabut rasa jantungku!"

Seorang di antara mereka, yang masih muda, berkata.

"Kakang Suro, berikan dia padaku sebagai hadiah! Wah, mau aku dikurangi umurku sepuluh tahun kalau dia menjadi punyaku!"

Kata orang ke dua.

"Uuuh, bodoh amat! Kalau aku yang beruntung mendapat dia, akan kuusahakan supaya aku jangan menjadi tua, jangan mati-mati,. lebih lama lebih baik menikmati hidup di sampingnya,"

Seru orang ke tiga.

Mereka semua tertawa-tawa, atau setidaknya menyeringai lebar.

Semua mata memandang penuh selidik, menjelajahi seluruh tubuh Endang Patibroto dengan lahap seperti mata harimau kelaparan menjilat kelinci muda.

Gigi yang besar-besar menguning atau menghitam karena kinang, tampak di balik kumis yang tak terpelihara.

Belasan orang laki-laki buas dan liar, yang terlalu lama berkeliaran di dalam hutan, berbulan-bulan tidak bertemu wanita.

Sikap mereka akan membuat seorang laki-laki pun akan menjadi gentar, karena jelas dari sikap mereka bahwa belasan orang Ini adalah orang-orang yang sudah biasa mempergunakan kekerasan, sudah biasa memaksakan kehendak mereka mengandalkan golok yang tergantung di pinggang.

Akan tetapi Endang Patibroto sama sekali tidak merasa gentar.

Seujung rambut pun ia tidak takut menghadapi kepungan belasan laki-laki tinggi besar dan bersikap kasar itu.

Dengan tangan kanan meraba gagang keris di pinggang, ia berdiri menentang pandang mereka, lalu perlahan-lahan ia memutar tubuh agar dapat memandang wajah mereka seorang demi seorang.

Pandang matanya dingin, tak pernah berkejap, sikapnya tenang dan pada wajahnya yang jelita tidak terbayang perasaan apa-apa, tenang dingin seperti permukaan air telaga yang dalam.

Ia harus mengukur keadaan belasan orang itu dengan sapuan pandang mata tadi dan mendapat kenyataan, menurut ajaran gurunya, bahwa mereka ini orang-orang yang memiliki keberanian dan tenaga besar saja, akan tetapi pada hakekatnya kosong.

Mungkin hanya orang bermuka singa itu saja, pemimpin mereka, yang agaknya sedikit berisi!

Orang-orang macam begini berani menghadangnya dan bersikap kurang ajar Endang Patibroto tersenyum, senyum yang membuat wajahnya menjadi manis sekali, akan tetapi senyum yang dingin, yang akan membuat beku dan ngeri orang yang berperasaan.

Akan tetapi lima belas orang itu adalah orang-orang kasar sehingga seperti buta terhadap kenyataan yang tersembunyi.

Melihat gadis jelita ini tersenyum, mereka makin berani dan tertawa-tawa gembira, bahkan mulai bergerak mendekat dengan sikap kurang ajar.

Melihat mereka itu maju dekat sehingga muka-muka menyeringai itu amat menjijikkan, ditambah bau keringat yang apek, Endang Patibroto menjadi marah.

Namun wajahnya tidak membayangkan sesuatu, hanya senyum yang masih membayang di bibirnya menjadi masih dingin.

Tiba-tiba ia menggerakkan kedua tangannya, diputar sambil berseru.

"Mundur...!!"

Hebat kesudahannya!

Tujuh orang tinggi besar yang berdiri paling depan, seperti daun-daun kering ditcrbangkar lesus (angin puyuh), terpelanting dan menabrak kawan sendiri yang berdiri di belakang!

Tentu saja mereka menjadi terkejut dan mundur.

Endang Patibroto yang masih berdiri di tengah kepungan, kini dengan sikap tenang berkata.

"Pergi kalian! Ataukah ada yang sudah bosan hidup? Mereka yang sudah bosan hidup boleh maju!"

Surosardulo, demikian nama kepala gerombolan yang bermuka singa itu, tadi juga merasa betapa ada angin mendorongnya, namun ia hanya terhuyung ke belakang. Kini ia berkata marah.

"Heh-heh, kiranya gadis cilik yang punya kepandaian juga! Berani kau menyentuh kumis harimau! Hayo konco, siapa yang berani menangkapnya untukku?"

Mereka yang tadi berdiri di belakang, tidak merasai kehebatan sambaran hawa dari tangan Endang Patibroto.

Mendengar seruan kepala mereka ini, tiga orang laki-laki yang bertubuh tinggi besar meloncat hampir berbareng ke depan menghadapi Endang Patibroto.

yang Iain-lain agaknya merasa malu untuk maju setelah melihat bahwa sudah ada tiga orang kawannya yang maju.

Tentu saja mereka merasa malu kalau menghadapi seorang gadis cilik saja mereka harus maju bersama mengeroyok.

Tiga orang itu yang amat kepingin menangkap dan rnendekap tubuh muda yang padat itu, seperti hendak berlomba.

Endang Patibroto memandang tiga orang ini dengan sinar mata mengukur dan bibir mengejek.

"Kalian benar sudah bosan hidup? Ingin mampus secara bagaimana?"

Ucapan ini bernada dingin penuh ancaman maut, akan tetapi oleh karena keluar dari mulut mungil, terdengar lucu bagi tiga orang raksasa itu. Mereka bergelak tertawa.

"Ha-ha, cah-ayu manis! Apa engkau bisa membikin aku mati tanpa kepala?"

Ejek orang pertama yang mukanya pucat.

"Aduh rnati aku! Kerlingmu dan senyummu sudah cukup membikin remuk dadaku, denok."

Orang ke dua yang matanya juling berkata.

"Dan aku rela mati dengan tubuh hancur di depan kakimu, asal... hemm, engkau suka menjadi punyaku, sayangl"

Kata orang ke tiga yang kumisnya jarang. Endang Patibroto dengan sikap tenang menghitung-hitung dengan jari tangannya.

"Seorang ingin mampus tanpa kepala, yang ke dua ingin mampus dengan dada remuk, yang ke tiga dengan tubuh hancur. Hemmm, kehendak kalian akan terpenuhi. Majulah!"

Si mata juling agaknya sudah tidak dapat menahan lagi hasrat hatinya, ingin segera dapat memeluk gadis itu, maka sambil tertawa ia sudah menubruk maju dengan gerakan laksana seekor harimau menubruk kelinci.

Dua orang tcmannya tidak mau kalah dulu, juga segera menerjang maju dengan kedua tangan menjangkau ke depan.

Sukar diikuti pandangan mata apa yang selanjutnya terjadi.

Dalam sekelebatan mereka yang tidak bertanding melihat betapa gadis jelita itu menggerakkan tangan kakinya menyambut tiga orang pengeroyoknya.

Mula-mula terdengar suara.

"Krakkkk!"

Disusul jeritan si mata juling yang terpelantlng roboh, Disusul berkelebatnya golok menyambar leher si muka pucat yang roboh dengan leher putus dan darah menyembur-nyembur, kemudian tampak gadis itu sudah memegang lengan kanan si kumis jarang dan tubuh laki-laki ini terayun ke atas lalu terbanting pada batu besar yang terletak tak jauh dari tempat pertempuran.

Kemudian keadaan menjadi sunyi.

Gadis itu berdiri di tempat tadi, tegak dan tenang, matanya tajam dan bersinar-sinar, mulutnya tersenyum mengejek.

Semua mata terbelalak memandang penuh kengerian.

Tiga orang penyerbu tadi tak dapat bangun kembali, mata dalam keadaan amat mengerikan.

Si muka pucat telah terbabat putus lehernya, oleh goloknya sendiri, dan kini kcpalanya menggelinding agak jauh dari tubuhnya, mati tanpa kepala!

Si mata juling rebah telentang mandi darah, dadanya pecah terkena hantaman tangan Endang Patibroto.

Adapun si kumis jarang lebih mengerikan lagi.

Tubuhnya yang dibanting di atas batu tadi remuk dan pecah-pecah!

Sejenak gerombolan itu tercengang dan dengan muka pucat memandang mayat tiga orang teman mereka.

Akan tetapi segera timbul kemarahan di hati mereka.

Tanpa diperintah lagi, mereka semua menghunus golok dan dua belas orang itu sudah bergerak maju mengurung dengan sikap mengancam.

Endang Patibroto masih tenang saja.

Baru setelah jarak antara dia dan mereka sudah dekat, tubuhnya bergerak, kedua tangannya mendorong ke sana ke mari dan terdengarlah teriakan-teriakan kesakitan disusul terlemparnya tubuh para pengeroyok.

Berturut-turut lima belas orang itu termasuk Surosardulo sendiri, roboh tumpang-tindih dan babak-bundas.

Untung bagi mereka bahwa Endang Patibroto hanya mempergunakan hawa sakti yang disalurkan dalam kedua lengannya, merobohkan mereka dengan angin pukulan saja.

Kalau sampai mereka tersentuh tangan gadis perkasa ini, tentu mereka akan mengalami nasib seperti tiga orang kawan mereka tadi.

Sambil meraba gagang keris pusakanya dengan tangan kanan dan bertolak pinggang dengan tangan kiri, Endang Patibroto memandang mereka yang roboh, membuang senyum mengejek lalu tanpa sepatah katapun ia melangkah pergi dari tempat itu untuk melanjutkan perjalanannya.

Belum sejauh luncuran anak panah ia berjalan, Endang berhenti tiba-tiba dan memutar tubuhnya, membentak.

"Apakah di antara kalian ada yang sudah bosan hidup juga?"

Dua belas orang gerombolan yang dipimpin Surosardulo itu terkejut, dan tiba-tiba Surosardulo menjatuhkan diri berlutut, diturut anak buahnya.

Mereka tadi sejenak terlongong keheranan, kemudian diam-diam mengikuti gadis itu yang berjalan menuju ke Sungai Bogowonto.

Siapa kira, gadis itu dari jarak yang cukup jauh dapat mengetahui bahwa ia dibayangi orang!.

"Ampun..."

Kata Surosardulo,"hamba hanya ingin mengetahui siapa gerangan nama besar paduka.

Hamba Surosardulo dan para anak buah hamba selama hidup belum pernah mendengar, apalagi melihat, seorang puteri sedemikian sakti mandraguna seperti paduka..."

Endang Patibroto mengangkat dagu ke depan.

"Namaku Endang Patibroto. Apakah kalian masih tidak terima kalah? Mengapa mengikuti perjalananku?"

Setelah berkata demikian, dengan gerakan seenaknya saja Endang mengipatkan tangan kirinya ke arah pohon jati di dekatnya.

Terdengar suara keras dan batang pohon sebesar paha itu patah, pohonnya tumbang!

Pucat wajah Surosardulo dan anak buahnya.

"Tidak...karni tidak bermaksud apa-apa...hanya ingin tahu nama paduka..."

Kata Surosardulo.

Endang mencibirkan bibirnya lalu membalikkan tubuh, melanjutkan perjalanan.

Diam-diam Surosardulo yang jantungnya masih berdebar dan wajahnya pucat itu memberi perintah kepada dua orang anak buahnya untuk mengambil jalan terdekat, mendahului gadis sakti itu menyeberang sungai dan memberi tahu kepada pimpinannya.

Mereka ini, Surosardulo dan anak buahnya, sebetulnya adalah anggauta gerombolan perampok dan bajak sungai yang berada di bawah kekuasaan Ki Krendoyakso.

Hampir semua penjahat yang beroperasi di daerah Bagelen, adalah anak buah Ki Krendoyakso.

Mengandalkan nama besar dan kesaktian Ki Krendoyakso inilah maka para penjahat itu tidak pernah ada yang berani melawan.

Akan tetapi pada hari itu mereka mengalami kesialan, bertemu dengan Endang Patibroto.

Karena Surosardulo maklum bahwa gadis jelita itu adaiah seorang yang sakti mandraguna, maka ia tidak begitu bodoh untuk bunuh diri melawan.

Diam-diam ia mengirim berita ke depan agar pimpinannya dapat mencegat perjalanan gadis yang telah membunuh tiga orang anak buahnya itu.

Biarpun ia tahu bahwa pada waktu itu Ki Krendoyakso sendiri tidak berada disitu, namun di sebelah timur Sungai Bogowonto banyak terdapat anggauta-anggauta pimpinan yang sakti, yang tentu akan sanggup menghadapi gadis itu.

Endang Patibroto tentu saja tidak tahu dan tidak menduga akan hal ini.

Dia tidak perduli.

Andaikata tahu sekalipun, ia juga tidak perduii.

Tidak perduli akan orang lain, asal jangan mengganggunya.

yang berani mengganggunya, akan ia binasakan!

Dengan tenang ia melanjutkan perjalanan.

Dari jauh sudah tampak Sungai Bogowonto yang lebar dan penuh airnya.

Perutnya makin lapar.

Tidak tampak seekorpun binatang hutan di daerah itu.

Tentu habis oleh manusia-manusia kasar tadi, pikirnya jengkel.

Juga tidak tampak ada dusun di sekitar situ.

Mungkin di seberang ada.

Tampak olehnya atap rumah pedusunan.

Tentu di sana ada makanan.

Ketika ia mendekat pantai sungai, ia melihat ada sebuah perahu kecil di pinggir.

Entah perahu siapa.

la tidak perduli dan segera melangkah masuk duduk dan mengambil sebatang dayung panjang yang berada di perahu.

Perahu siapa ia tidak perduli, ia perlu menyeberang.

Andaikata tidak ada perahu di situ sekalipun, ia tetap akan menyeberang.

Banyak cara untuk menyeberangi sungai yang amat kecil jika dibandingkan dengan selat Pulau Iblis, akan tetapi cara yang paling mudah dan enak adalah bcrperahu.

Ia juga tidak menaruh curiga mcngapa di tempat sesunyi itu terdapat sebuah perahu tanpa pemiliknya.

Iapun tidak tahu betapa dari dua seberang sungai, banyak pasang mata mengintainya penuh perhatian.

Iapun tidak tahu betapa dari seberang lain, seorang laki-laki yang tubuhnya ramping panjang telah bergerak memasuki air ketika perahunya bergerak ke tengah.

Baru saja perahu itu ia dayung sampai di tengah sungai, tiba-tiba perahunya terguncang keras lalu terguling!.

Tentu saja Endang kaget sekali.

Akan tetapi ia tidak pernah ketinggalan ketenangan dan ketabahannya.

Guncangan perahu yang tidak sewajarnya sudah mencurigakan hatinya, maka sebelum perahu terguling, ia telah meloncat tinggi ke atas sambil membawa dayungnya dan di tengah udara ia mematahkan dayung menjadi dua potong.

Ketika tubuhnya turun ke air, ia melempar dua batang potongan dayung itu dan bagaikan seekor burung, kedua kakinya hinggap di atas dua potong kayu yang mengambang di air.

Dengan demikian, kini ia berdiri di atas air, menggunakan dua potong kayu itu sebagai landasan kakinya!

Perahunya telah terbalik dan hanyut, akan tetapi Endang tidak perduii.

Dengan pengerahan tenaga dalam disalurkan kearah kedua kaki, ia dapat menggerakkan kakinya mendorong kayu yang diinjak itu ke depan dan bergeraklah ia seolah-olah"Berjalan"

Di atas air!

Ia tidak tahu betapa banyak pasang mata yang mengintainya dari kedua tepi sungai, melotot lebar dan seakan-akan biji-biji mata itu akan meloncat keluar dari pelupuknya saking heran dan kaget mereka yang menyaksikan gadis jelita ini berjalan di atas air!.

Tiba-tiba sebuah lengan yang berbulu dan kuat muncul dari permukaan air dan menyambar mata kaki kiri Endang yang kecil merit.

Tangan dengan jari-jari besar kuat itu mencengkeram lalu menarik dengan tujuan menenggelamkan gadis jelita itu.

Akan tetapi Endang yang tadi melihat sambaran tangan ke arah kakinya, hanya tersenyum dan sama sekali tidak mengelak.

Tentu saja kalau ia mau mengelak, amatlah mudahnya.

Akan tetapi ia tidak mau melakukan hal ini, bahkan kini ia berhenti bergerak, menundukkan muka melihat apa yang hendak dilakukan oleh orang yang memegang kaki kirinya itu.

Ketika orang itu dengan tenaga kuat menarik-nariknya ke bawah, Endang mengerahkan tenaga dan mempertahankan.

Sedikitpun kaki kecil yang dibetot oleh tangan kuat itu sama sekali tidak bergoyang!

Betapa pun lengan kuat itu mengerahkan tenaga, menarik-narik dan menyeret, namun sia-sia belaka.

Si gadis jelita tetap berdiri di atas air!.

Bahkan saking penasaran, orang yang punya tangan itu kini muncul kepalanya di permukaan air, selain untuk menghirup hawa, juga untuk menyaksikan dengan mata sendiri bahwa tangannya sudah betul-betul mencengkeram kaki gadis itu.

Ia hampir tidak percaya bahwa ia tidak mampu menyeret gadis itu masuk ke dalam air.

Dikerahkannya kembali tenaganya menarik-narik.

Endang yang meiihat munculnya kepala seorang laki-laki tua yang wajahnya menyeramkan, bergidik jijik.

la menambah tenaga pada kaki kirinya dan mendadak la melakukan gerakan menendang ke atas dan tubuh laki-laki itu ikut terbawa ke atas dan terlempar setinggi lima enam meter dari permukaan air!

Sebelum tubuhnya terbanting lagi ke air, Endang sudah meluncur maju dan sekali ia menggerakkan tangan, ia telah menjambak rambut orang itu, kemudian ia terus menggerakkan kedua kakinya menyeberang, tangan kirinya menyeret laki-laki yang dijambak rambutnya.

Dapat dibayangkan betapa kaget dan takutnya laki-laki itu.

Ia merintih-rintih dan mengaduh-aduh.

"Aduhh... ampun... ampunkan hamba... hamba Bajulbiru sudah tobat...!"

Setelah dekat dengan pantai sungai, Endang lalu melemparkan tubuh Bajulbiru ke darat. Laki-laki itu terbanting dan mengaduh-aduh. (Lanjut ke

Jilid 23) Badai Laut Selatan (Seri ke 03 Serial Serial Keris Pusaka Sang Megatantra) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo

Jilid 23 Masih untung baginya bahwa Endang yang diam-diam kagum terhadap kepandaiannya dalam air tidak hendak membunuhnya sehingga tubuhnya hanya terbanting dan terluka saja, tidak sampai tewas.

Kalau Endang menghendaki, tentu saja sekali pukul dapat membunuhnya.

Selagi Endang hendak melompat ke darat, tiba-tiba muncul belasan orang yang rnenyambutnya sambil berlari dan membawa jala yang lebar.

Dengan gerakan serentak dan berbareng, belasan orang itu melempar jala yang jatuh bagaikan air hujan menyelimuti tubuhnya!

Endang menggigit bibir, kemarahannya memuncak.

Ia membiarkan jala itu menangkap dirinya.

Ketika belasan orang itu menarik, ia meloncat ke darat dan sekali kedua tangannya bergerak, jala itu jebol dan ia melompat keluar.

Kaki tangannya menyambar-nyambar dan terdengar suara mengaduh susul-menyusul ketika belasan orang itu roboh satu-satu tak dapat bangun pula!

Mendadak dari depan terdengar suara berciutan dan kiranya puluhan batang anak panah sudah menyambar dari depan, kanan dan kiri ke arah tubuh Endang.

Gadis ini benar-benar menjadi marah sekali.

Ia hanya menggunakan tangan menyampok anak panah yang rnengarah kepala.

Anak-anak panah yang rnengarah bagian tubuh lainnya ia biarkan saja dan ternyata anak-anak panah itu runtuh semua seperti bertemu dengan tubuh baja saja!

Sambil menyampok anak panah, Endang memperhatikan ke depan dan tiba-tiba tubuhnya mencelat ke depan dan sekali ia mengulurkan lengan, ia telah menangkap dua orag tukang panah terdekat dan dengan gemas ia mengadu kumba kepala mereka satu kepada yang lain.

"Prakkk!"

Keduanya roboh tak bernyawa lagi dengan kepala pecah!

Dari tempat itu, Endang kembali meloncat ke belakang pohon, menyambar tubuh tukang panah lain, membantingnya mati seketika pada akar pohon.

Tentu saja perbuatannya Ini menggegerkan mereka yang bersembunyi.

Serentak mereka mundur dan lari ketakutan dan berkelompok dari jauh memandang ke arah gadis yang kesaktiannya mengerikan itu.

Jumlah para perampok dan bajak yang menjadi kaki tangan Ki Krendoyakso ini berjumlah empat puluh orang lebih.

Mereka telah menerima kabar dari Surosardulo, maka telah mengatur penyambutan di seberang sungai.

Bahkan seorang di antara mereka yang memimpin gerombolan bajak sungai, yang terkenal memiliki ilmu kepandaian di air, yaitu Bajulbiru, telah menyambut lebih dulu dan berusaha menangkap gadis Itu di tengah sungai.

Endang Patibroto menjadi marah sekali.

Jelas orang-orang itu tidak mau berhenti memusuhinya.

Ia dapat menduga bahwa mereka itu tentulah segolongan dengan Surosardulo, buktinya menyerangnya tanpa bertanya dulu.

Melihat puluhan orang laki-laki berkumpul di depan, ia tidak menjadi gentar, bahkan dengan gerakan cepat ia berlari ke depan.

Mukanya merah, matanya bersinar tajam, mulutnya masih tcrsenyum manis!

Biarpun tadi menyaksikan sepak terjang yang amat dahsyat dari gadis ini, namun karena jumlah mereka puluhan orang, tentu saja para penjahat itu menjadi besar dan timbul pula keberanian mereka.

Apalagi di situ terdapat Wirodurjono yang mengepalai perampok ini, orang yang menjadi pembantu Ki Krendoyakso dan memiliki ilmu kesaktian yang lebih tinggi daripada kepandaian Surosardulo maupun Bajulbiru.

"Serbu! Tangkap!!"

Wirodurjono berseru dengan suaranya yang garang.

Pasukan terdepan terdiri dari dua puluh empat orang segera bersorak dan menyerbu maju dengan golok terhunus.

Tingkah laku mereka seolah-olah barisan hendak maju perang campuh.

Sungguh kelihatan lucu sekali kalau dipikir bahwa yang mereka serbu ini hanya seorang gadis remaja yang bertangan kosong!

Namun, mereka itu kini tidak berani memandang rendah, maka serentak mereka maju dengan senjata terhunus disertai teriakan-teriakan untuk menindas rasa nyeri dan takut.

Endang Patibroto tidak menghentikan larinya.

ia terus berlari maju, tidak perduli akan ancaman golok yang menyilaukan mata itu, tidak perduIi pula betapa dua puluh empat orang itu bergerak mengepungnya.

Begitu Endang dekat dengan orang pertama, kaki tangannya bergerak.

Tangannya dengan jari-jari terbuka bergetar seperti menggigil, akan tetapi setiap kali digerakkan, terdengar jerit mengerikan dan tentu orang yang disentuh tangannya roboh terjengkang atau terpelanting tak mampu bangun lagi Endang mengamuk.

Tubuhnya berputaran karena kini ia dikeroyok dari empat penjuru.

Tidak perduli gotok yang bagaimana berat dan tajampun, kalau menyambar kearahnya, ia papaki dengan tangannya yang terbuka jari-jarinya, dan...

golok itu tentu terpukul patah atau terlepas dari tangan si pemegang nya.

Kemudian, setiap kali kaki atau tangannya menyentuh lawan, tentu lawan itu terjungkal dan tewas!

Dalam waktu beberapa menit saja, mayat para perompak roboh malang-melintang.

Hebatnya, tidak setetespun darah keluar dari tubuh mayat-mayat itu, yang mati dalam keadaan mengerikan, kalau tidak mukanya hangus menghitam, tentu tulang-tulang dadanya remuk-remuk atau isi perutnya hancur oleh pukulan sakti!

Setelah lima belas orang roboh tewas, barulah sisanya ketakutan dan tanpa dikomando lagi mereka lari tunggang-langgang kembali ke dalam pasukan kedua yang menonton dari jarak belasan tombak.

Kini mereka, termasuk Wirodurjono, memandang dengan mata terbelalak dan muka pucat.

Sukar dapat mereka percaya.

Seorang wanita, gadis remaja pula, dengan tangan kosong, demikian mudahnya membunuh belasan orang kawan mereka yang terkenal sebagai jagoan-jagoan tukang berkelahi!

Mana mungkin hal ini terjadi?

Akan tetapi mereka telah menyaksikan dengan mata sendiri!

"Hayoooohh...!

Mengapa kalian berhenti, pengecut-pengecut tak bermalu?

Majulah semua, keroyoklah aku!

Hayo, kalau kalian ingin mampus di tanganku.

Inilah puteri dari Nusakambangan!"

Endang Patibroto yang sudah marah sekali menantang.

Mendengar tantangan ini, Wirodurjono kaget sekali.

Tentu saja, sebagai seorang tokoh dari Bagelen, ia sudah mendengar tentang Pulau Iblis, bahkan dia sendiri menerima peringatan langsung dari Ki Krendoyakso agar jangan membolehkan anak buahnya mendekati atau mengganggu Pulau Nusakambangan karena manusia raksasa Dibyo Mamangkoro yang amat mereka takuti tinggal di pulau itu.

Dan kini, seorang gadis sakti muncul dan mengaku penghuni pulau itu, mengaku Puteri Nusakambangan!

Dengan heran ia sekali loncat telah berada di depan Endang Patibroto, sikapnya agak hormat ketika bertanya.

"Wah, kiranya nona datang dari Pulau Nusakambangan? Bolehkah kami mengetahui, ada hubungan apakah antara kau dengan Dibyo Mamangkoro?"

Melihat laki-laki setengah tua yang bermuka merah dan bengis ini, hati Endang sudah tak senang.

"Kau yang mengepalai gerombolan pengecut ini? Siapa namamu?"

Diam-diam hati Witodurjono panas sekali.

Dia adalah seorang pembantu Ki Krendoyakso yang terkenal, seorang yang biasa memberi perintah, biasa ditakuti oleh anak buahnya yang terdiri dari laki-laki kasar.

Sekarang, gadis ini sama sekali tidak memandang sebelah mata kepadanya, ditanya secara hormat belum menjawab balas bertanya dengan sikap demikian kurang ajar!

Akan tetapi, nama Nusakambangan ternyata amat besar pengaruhnya sehingga seorang seperti Witodurjono masih mampu menahan kesabarannya terhadap seorang gadis remaja seperti Endang.

Dengan muka menjadi makin merah, ia menjawab.

"Namaku Wirodurjono dan ketahuilah, kami semua adalah anak buah Ki Krendoyakso. Seingat kami, belum pernah kami bersilang jalan dengan Ki Dibyo Mamangkoro yang kami hormati...!"

"Orang macam engkau tak perlu menyebut-nyebut namanya. Pergilah!"

Endang Patibroto dengan melangkah maju dan tangan kirinya bergerak, mendorong ke arah dada Wirodurjono, Kepala rampok itu adalah seorang yang kuat dan sakti.

Tentu saja ia merasa makin mendongkol.

Gadis ini benar-benar sombong, pikirnya.

Biarpun datang dari Nusakambangan, perlu diberi hajaran sedikit biar tahu rasa bahwa anak buah Ki Krendoyakso tak boleh dipandang ringan.

Ia berseru keras dan lengan kanannya yang berkulit hitam dan amat kuat itu sudah menyambar untuk menangkis dan menangkap tangan kiri Endang yang mendorong.

Akan tetapi entah bagaimana ia sendiri tidak tahu sebabnya, tubuhnya sudah terlempar ke atas bagaikan disambar angin lesus.

Ia berteriak kaget dan tubuhnya yang terbang itu menimpa daun-daun dan dahan-dahan.

Cepat ia meraih dan untung ia dapat menangkap cabang dan dahan.

Ketika ia memandang ke bawah, kiranya ia telah dilemparkan ke atas pohon oleh gadis remaja tadi!

"Huah-hah-hah-hah!

Bagus gerakanmu melempar orang itu, Endang!

Akan tetapi, tikus-tikus ini sama sekali bukan musuhmu."

"Bapa guru...!"

Endang mengenal suara gurunya.

Dibyo Mamangkoro muncul dan dengan langkah lebar ia mengharnpiri pohon di mana Wirodurjono tersangkut, kemudian sekali mendorong, pohon itu jebol akarnya dan tumbang.

Wirodurjono cepat melompat ke bawah dan langsung ia menjatuhkan diri berlutut di depan Dibyo Mamangkoro yang belum pernah dilihatnya akan tetapi sudah amat dikenal namanya.

"Hamba Wirodurjono, anak buah Ki Krendoyakso, mohon ampun telah bersikap kurang ajar karena tidak mengenal murid paduka."

"Huah-hah-hah! Mana bisa kalian berkurang ajar kepada Puteri Nusakambangan? Kalian ini tikus-tikus goblog! Biarpun Ki Krendoyakso sendiri harus merangkak dan menyembah puteri ini, mentaati segala perintahnya. Mengerti??"

"Am...ampunkan hamba sekalian..."

Wirodurjono menggigil teringat akan cerita Ki Krendoyakso betapa dahsyat kesaktian kakek raksasa ini dan betapa besar bahayanya membikin marah kepadanya.

Untung bahwa sisa anak buahnya juga tahu diri dan kini mereka semua sudah berlutut di belakangnya.

"Sudahlah! Kalian sudah cukup diberi hajaran. Sekarang lekas sediakan sebuah kereta lengkap dengan kudanya, untuk kendaraan sang puteri dari Nusakambangan yang hendak mengunjungi Jenggala. Cepat!"

Wirodurjono menyembah dan menyanggupi. Tidak lama kemudian pergilah ia bersama semua anak buahnya. Dibyo Mamangkoro mengajak muridnya duduk di tepi sungai sambil menanti.

"Eh, Endang, kenapa kau bisa sampai di tempat ini?"

"Aku hendak menyusulmu. Kenapa engkau terlalu lama meninggalkan pulau, bapa guru?"

Dibyo Mamangkoro tertawa, lalu memegang tangan muridnya penuh kasih sayang.

"Aku pergi bukan untuk keperluanku, muridku. Melainkan untuk keperluanmu juga. Tibalah waktunya sekarang engkau bersuwita (menghambakan diri) kepada Raja di Jenggala. Aku baru puas kalau melihat semua orang di Jenggala menyembahmu, dan melihat Panjalu hancur di bawah telapak kakimu. Dan dengan wajahmu yang cantik jelita, dengan kesaktianmu yang hebat, ditambah keris pusaka Brojol Luwuk di tanganmu, huah-hah-hah, aku yakin takkan kecewa hatiku!"

Endang Patibroto masih meragukan apakah para gerombolan kasar tadi akan mentaati perintah gurunya.

Tidak seorangpun di antara mereka kini tampak, bahkan mayat-mayat yang tadi berserakan kini telah diangkut pergi.

Kemudian di tepi sungai itu amat sunyi.

Akan tetapi, Dibyo Mamangkoro sikapnya tenang dan yakin bahwa perintahnya tentu akan ditaati.

Dan ia benar.

Tidak lama kemudian muncullah Wirodurjono dengan tujuh orang lain yang merupakan pimpinan perampok dan bajak sungai, anak buah Ki Krendoyakso.

Mereka bersikap hormat ketika menyerahkan sebuah kereta yang cukup kuat indah, ditarik dua ekor kuda yang besar kuat.

Dibyo Mamangkoro tertawa ketika mendengar mereka akan mengawal dan mengantar sampai ke Jenggaia.

"Tidak usah! Biar kami kendarai sendiri."

La lalu mengajak Endang naik kereta, mengayunkan cambuk dan.

membalapkan dua ekor kuda itu menarik kereta.

Dibyo Mamangkoro tertawa bergelak.

Satu kalipun ia tidak pernah mengucap terima kasih, bahkan melirikpun tidak kepada para pembantu Ki Krendoyakso yang berdiri di pinggir jalan dengan sikap menghormat.

Tentu saja semua ini diperhatikan oleh Endang karena ia ingin tahu bagaimana kelak harus bersikap kalau berhadapan dengan orang-orang seperti itu.

"Tidak boleh! Tidak bisa!! Harus kami laporkan lebih dahulu."

"Mana bisa kalian masuk begitu saja ke dalam istana?"

Akan tetapi Dibyo Mamangkoro tidak perdulikan cegahan dan halangan para pengawal istana.

Ia menggandeng lengan Endang Patibroto dan melangkah lebar memasuki pendopo keraton yang berlantai mengkilap itu.

Ketika enam orang pengawal depan istana itu mengepungnya, tangan kiri Dibyo Mamangkoro bergerak ke depan dan...

enam orang pengawal itu kini berdiri terbelalak, dengan tubuh kaku-kaku tak bergerak seperti berubah menjadi arca-arca batu!

Setelah sambil tertawa Dibyo Mamangkoro menggandeng tangan muridnya masuk ke ruangan dalam, barulah enam orang itu seakan-akan hidup kembali.

Tadi mereka merasa betapa kaki tangan mereka kaku tak dapat bergerak!

Tentu saja mereka menjadi bingung dan sibuk sekali, karena tentu mereka akan mendapat hukuman berat, membiarkan kakek raksasa dan gadis jelita itu memasuki keraton.

Di ruangan dalam, segera dari kanan kiri dan depan berdatangan para penjaga dan pengawal istana, denga tombak panjang di tangan.

"Hai, berhenti! Siapa berani masuk tanpa ijin?"

Melihat mereka itu, muka Dibyo Mamangkoro menjadi merah.

"Butakah mata kalian? Siapa berani menghalangi aku, Dibyo Mamangkoro, datang menghadap Raja??"

Dengan mata mendelik dan sikap mengancam Dibyo Mamangkoro menantang.

Seketika berubah pucat wajah para pengawal itu.

Baru sekarang ia mengenal kakek itu, seorang kakek raksasa yang amat terkenal.

Tentu saja mereka maklum akan kesaktian kakek ini dan tidak berani melawan.

Namun, sebagai petugas-petugas dan penjaga, merekapun tidak berani membiarkan kakek itu masuk ke dalam ruangan persidangan, di mana sang prabu sedang bercengkerama dengan para ponggawanya.

"Tapi... tapi... harap paduka menunggu, biar kami laporkan lebih dulu kepada gusti prabu..."

Dan beberapa orang sudah berlari ke dalam untuk menyampaikan laporan. Namun Dibyo Mamangkoro tidak perduli, terus menggandeng tangan muridnya melangkah masuk.

"Maafkan, kami tidak berani membiarkan paduka masuk sebelum ada perintah dari sang prabu."

Dibyo Mamangkoro tertawa bergelak.

"Hendak kulilhat bagaimana kalian tikus-tikus ini bias mencegah aku masuk!"

Ia melangkah terus dan keadaan menjadi tegang.

Para pengawal tidak berani turun tangan, akan tetapi merekapun tidak mau memberi jalan, sehingga mereka itu membentuk lingkaran yang menghadang di depan Dibyo Mamangkoro dan muridnya, sambil mundur-mundur ketakutan.

Dalam keadaan ketegangan mengancam keributan ini, tiba-tiba terdengar suara dari sebelah dalam.

"Ki Dibyo Mamangkoro dan temannya diperkenankan menghadap."

Suara itu adalah suara pengawal dalam yang merupakan hasil pelaporan dua orang pengawal tengah tadi.

Begitu mendengar bahwa orang yang mendatangkan ribut di luar adalah Dibyo Mamangkoro, sang prabu tersenyum dan memberi tanda agar raksasa itu diperbolehkan masuk dan menghadapnya.

Dibyo Mamangkoro tertawa bergelak, lalu bersama muridnya memasuki ruangan yang amat indah itu.

Endang Patibroto celingukan memandang ke kenan kiri, mengagumi segala yang indah-indah dan yang baru pertama kali ini dilihatnya.

Melihat sikap muridnya ini, Dibyo Mamangkoro tertawa.

"Semua ini, dan banyak yang jauh lebih hebat dan indah lagi, kelak menjadi punyamu, Endang!"

Mereka memasuki pintu tebal terakhir dan tampaklah ruangan yang indah.

Di sebelah paling dalam, yang terhias sutera-sutera berkembang beraneka wama, tampak Raja Jenggaia duduk di atas singgasana, sebuah kursi kencana.

Endang Patibroto menahan napas.

Raja itu tampan, seperti dewa kahyangan.

Tubuh atas yang tak berbaju itu berkulit kuning dan seperti emas mengeluarkan cahaya.

Kepalanya memakai mahkota bertabur emas permata Wajahnya tampan sekali.

Heran sekali hati Endang.

Gurunya pernah bilang bahwa Raja Jenggala berusia empat puluh tahun lebih, mengapa mukanya begitu halus dan kelihatannya tampan seperti seorang pemuda?

Juga perhiasan leher dan lengannya gemerlapan, pakaian yang menutup tubuh bagian bawah mewah dan indah pula.

Beberapa orang ponggawa duduk bersila menghadap sang prabu.

Akan tetapi pada saat itu, para hulubalang hanya mendengarkan saja dan sang prabu agaknya sedang merundingkan sesuatu yang amat penting dengan tiga orang yang duduk menghadap dekat di depan singgasana.

Mereka ini adalah Ki Patih dan dua orang senopati.

Ketika Dibyo Mamangkoro dan Endang Patibroto muncul, sang prabu menghentikan percakapan, mengangkat muka dan memandang kepada kakek raksasa itu dengan senyum gembira.

Akan tetapi sepasang alisnya terangkat, agaknya heran ketika melihat kakek itu datang bersama seorang gadis yang berwajah jelita.

Kalau saja yang datang itu bukan murid Dibyo Mamangkoro, tentu sang prabu akan marah sekali.

Seorang wanita muda datang menghadap dengan langkah tenang begitu saja, tidak berjalan jongkok, memakai baju lagi!.

Dengan lagak kasar tidak dibuat-buat, Dibyo Mamangkoro menarik muridnya maju, lalu mengajak muridnya itu berlutut memberi hormat.

Ia duduk bersila sedangkan Endang Patibroto duduk bersimpuh.

Berbeda dengan semua wanita yang mendapat kehormatan hadir di depan sang prabu dan selalu menundukkan muka, gadis remaja ini mengangkat muka, matanya berkeliaran memandang ke mana-mana, bahkan secara terang-terangan menatap wajah sri baginda tanpa takut sedikit pun juga!

Sikapnya sama benar dengan sikap Dibyo Mamangkoro yang tidak mengherankan hati sang prabu, karena sang prabu sudah mengenal watak kakek raksasa yang kasar dan liar ini.

"Kiranya paman Dibyo Mamangkoro yang membikin geger para pengawal keraton!"

Demiklan tegur sang prabu sambil melirik ke arah Endang Patibroto.

"Hamba, Dibyo Mamagkoro dan murid terkasih hamba, Endang Patibroto menghaturkan sembah sujut!"

Suara raksasa tua ini menggema di seluruh ruang persidangan. Sang prabu tersenyum lagi.

"Bagus, paman Dibyo. Kedatanganmu memang aangat tepat karena sesungguhnya kami amat membutuhkan bantuanmu."

"Untuk menggempur Panjalu, gusti?"

Dibyo Mamangkoro memotong.

"Eh, bagaimana engkau bisa tahu, paman?"

"Huah-hah-hahi Justeru karena itulah hamba datang menghadap dan membawa murid hamba ke sini. Hamba menawarkan tenaga bantuan murid hamba ini dan percayalah, gusti, kalau Endang Patibroto mengepalai semua senopati Jenggala, dalam waktu singkat saja Panjalu akan dapat dihancurkanl Huah-hah-hah!"

Ucapan ini terlalu mengejutkan sehingga sri baginda dan semua hulubalang yang hadir tidak memperdulikan sikap dan kata-kata yang kasar itu.

Mereka semua kini menengok dan memandang ke arah Endang Patibroto, yang bersikap tenang-tenang saja, bahkan membalas pandang mata mereka dengan senyum setengah mengejek.

Sri baginda salah tampa, mengira bahwa Dibyo Mamangkoro sanggup membantu Kerajaannya dengan syarat agar wanita yang menjadi muridnya itu diterima menjadi dayang di keraton.

Karena gadis itupun cantik jelita, hanya sayang belum tahu tata susila keraton, pula karena memang amat membutuhkan tenaga bantuan orang-orang sakti seperti Dibyo Mamangkoro, tanpa ragu-ragu lagi sang prabu berkata.

"Baiklah, paman Dibyo. Muridmu ini kuangkat menjadi pelayan dalam, sedangkan engkau boleh memimpin para senopati di sini..."

"Bukan demikian maksud hamba, gusti! Murid hamba ini, Endang Patibroto, Puteri Nusakambangan, hamba tawarkan menjadi senopati, memimpin perang terhadap Panjalu, bukan hamba!"

"Apa katamu?? Paman Dibyo Mamangkoro, harap jangan main-main begitu. Kami benar-benar sedang menghadapi perang saudara, dan Panjalu mempunyai banyak orang sakti. Bagaimana kami dapat memakai tenaga seorang gadis remaja untuk menghadapi mereka?"

"Huah-ha-ha-hal Hendaknya gusti tidak salah menduga. Murid hamba ini tidak boleh disamakan dengan segala wanita di jagad ini! Dia puteri di antara segala puteri! Sakti mandraguna tidak kalah oleh laki-laki yang manapun juga. Hamba sendiri sekarang belum tentu akan mampu mengalahkan murid hamba ini!"

Ucapan Dibyo Mamangkoro mengandung kebanggaan luar biasa dan memang ia tidak terlalu melebih-lebihkan karena pada saat itu tingkat kepandaian Endang Patibroto memang sudah luar biasa sekali.

Mungkin belum dapat menandingi kedigdayaan gurunya, akan tetapi kalau ia mempergunakan pusaka Ki Brojol Luwuk, belum tentu Dibyo Mamangkoro sanggup mengalahkannya!

Tentu saja sang prabu dan para senopati memandang dengan kening berkerut dan tidak percaya.

Namun, karena para senopati itu mengenai baik-baik siapa dia Dibyo Mamangkoro, sungguhpun mereka merasa tersinggung dan terhina dengan usul yang diajukan raksasa itu, mereka tidak berani mengeluarkan bantahan.

Hanya sang prabu yang berani berseru.

"Paman Dibyol Hentikan kelakarmu ini! Gadis muridmu ini paling banyak berusia sembilan belas tahun"

"Baru tujuh belas tahun usia hamba!"

Tiba-tiba Endang Patibroto memotong sabda sri baginda dengan suara melengking nyaring, mengagetkan semua orang. Sejenak sang prabu sendiri tercengang, kemudian tertawalah beliau dengan geli hati.

Baca Juga: Si Tangan Sakti 3

Baca Juga: Cinta Bernoda Darah 4

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert