Eps 5 Badai Laut Selatan - Kho Ping Hoo
Baca online Badai Laut Selatan - Kho Ping Hoo
Cersil Badai Laut Selatan - Kho Ping Hoo.
Pujo merangkul leher isterinya dan mencium bibirnya, lalu berbisik.
"Akupun tidak takut mati, karena ada engkau di sampingku, Nimas. Akan tetapi, kita tidak boleh mati sekarang. Bangsat itu belum terbalas, dan aku belum melihat anak kita, bagaimana kita bisa mati? Tidak, kita hatus berusaha. Kerisku masih ada padaku, dengan senjata aku bisa membongkar tembok, sedikit demi sedikit, sebata demi sebata."
"Kau benar, Kakangmas. Akupun dapat membantumu dengan cundrikku!"
Penuh semangat suami-isteri itu mulai bekerja.
Biarpun senjata di tangan mereka hanya keris dan cundrik kecil saja, namun karena mereka memiliki tenaga dalam yang amat kuat, agaknya tidak akan sukar bagi mereka untuk membongkar tembok tebal itu.
Akan tetapi, belum juga sebata terbongkar, tiba-tiba terdengar suara mendesis-desis keras disusul ketawa bergelak.
Pujo dan Kartikosari kaget sekali, melompat berdiri dan tampaklah asap putih membanjir masuk dari lubang-lubang di bawah dekat pintu.
Pujo tersedak dan Kartikosari terbatuk-batuk ketika asap belerang mulai menyerang hidung dan memenuhi ruangan itu!
Mereka berusaha menutup pernapasan, namun betapa saktipun seseorang, tak mungkin is dapat menghentikan napas terlalu lama.
Mereka terbatuk-batuk, terengah-engah, terhuyung-huyung.
Pujo masih ingat akan isterinya, memeluk isterinya, seakan-akan hendak melindungi isterinya dengan tubuh sendiri menjadi perisai.
Namun, menghadapi musuh berupa asap belerang, tak mungkin dia dapat melindungi isterinya atau dirinya sendiri.
Hampir berbareng mereka roboh pingsan, menggeletak di atas lantai, masih berpelukan.
"Cukup! Buka pintunya, tangkap dan ikat mereka pada tiang!"
Terdengar suara Jokowanengpati berseru, akan tetapi suami-isteri itu tidak dapat mendengar perintah ini, juga masih belum sadar ketika tubuh mereka yang lemas itu diseret ke tiang, kemudian dipaksa berdiri dan diikat lengan dan kaki mereka pada tiang, beradu punggung pada tiang di tengah ruangan.
Jokowanengpati memasuki ruangan setelah asap mulai menipis dan karena sekarang pintu terbuka, maka ruangan itu tidaklah segelap tadi.
"Ha-ha-hal Pujo, keparat. kau mau bilang apa sekarang?"
Jokowanengpati tertawa mengejek setelah member isyarat kepada Para pengawal yang jumlahnya enam orang Itu untuk keluar dari ruangan.
la melangkah maju dan menampar muka Pujo dengan kedua telapak.
tangan, berkali-kali.
Karena Pujo masih belum sadar betul dan tubuhnya lemas, maka kepalanya terguncang-guncang ke kanan kiri ketika menerima tamparan.
Akan tetapi, pukulan-pukulan keras itu malah membuatnya cepat siuman dari pingsannya.
Begitu sadar dan melihat bahwa ia ditampari Jokowanengpati, seketika Pujo menegangkan tubuhnya dan urat-urat di lehernya mengeras, kepalanya tidak terguncang-guncang lagi.
"Jokowanengpati manusia pengecut!"
Ia memaki, suaranya penuh nada ejekan.
"Ha-ha-ha-ha! Tak usah kau memancing-mancing kemarahanku agar kau kubebaskan dan kutantang bertanding, Pujo. Sebentar lagi kau mampus. Nah, rasakan ini!"
Kakinya melayang dan"
"Ngekkk!"
Kaki itu bersarang di perut Pujo! Betapapun Pujo mengerahkan tenaga, namun karena tenaga lawannya juga amat kuat, maka is meringis kesakitan.
"Desss! Plakk! Bukk!!"
Jokowanengpati terus menghantam dan memukuli seluruh tubuh Pujo.
"Jahanam pengecut, keparat!"
Kartikosari yang baru saja siuman itu menjerit-jerit ketika menoleh dan melihat suaminya dipukul tanpa dapat membalas sedikitpun karena tangan dan kakinya terikat.
Makian Kartikosari menolong Pujo.
Jokowanengpati menghentikan siksaannya, lalu melangkah mendekati Kartikosari.
Mukanya yang tampan itu menyeringai, matanya memandangi tubuh yang montok, melahapnya penuh nafsu.
"He-he-he, kau makin cantik jelita saja, Kartikosari. kau makin ayu denok. Ah, ingatkah kau malam hari itu di dalam guha? Alangkah senangnya!"
"Jokowanengpati manusia rendah! Binatang! Tutup mulutmu yang kotor dan bunuhlah aku kalau kau tidak berani menghadapi aku bertanding secara jantan!"
Pujo berteriak-teriak marah.
"Ha-ha-ha-ha! Pujo, sepuluh tahun yang lalu kau hanya menduga-duga, sekarang akan kau saksikan dengan mata kepalamu sendiri bahwa akulah yang akhirnya mendapatkan Kartikosari, bukan engkau!... Ha-ha-ha!"
Jokowanengpati mendekat dan dengan lagak kurang ajar mencium bibir Kartikosari. Wanita itu membuang muka sehingga hanya pipinya yang kena cium.
"Bedebah! Binatang...!!"
Kartikosari memaki.
"Joko, iblis laknat engkau!"
Pujo hanya dapat memaki dengan amarah meluap-luap. Jokowanengpati kembali menghadapi Pujo, lalu memperlihatkan tangan kirinya. Kelingkingnya buntung mengerikan.
"Kau lihat ini? kau tadi menanyakan mengapa Kelingking kiriku buntung? Ha-ha-ha, Kartikosari. Bukankah kelingking ini ketika dengan liar kau menyatakan sayang dan kasihmu kepadaku, Manis?"
"Jahanam...! Kubunuh... engkau...!!!"
Kartikosari hampir pingsan saking marahnya. (Lanjut ke
Jilid 16) Badai Laut Selatan (Seri ke 03 Serial Serial Keris Pusaka Sang Megatantra) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo
Jilid 16
"Bunuh? kau membunuh aku? Heh-heh-heh! Suamimu inilah yang akan kubunuh. Lihat!"
Jokowanengpati kembali menghantam, kali ini ke arah dada Pujo. Kartikosari menjerit, Pujo mengerahkan tenaga dan...
"Bukkk!"
Pukulan jatuh dengan hebatnya, rnembuat Pujo sesak bernapas dan mukanya pucat. Akan tetapi ia tidak mati, pingsanpun tidak, hanya menderita nyeri bukan main.
"Ha-ha-ha, akan kubunuh dia perlahan-lahan, kusiksa dia perlahan-lahan, di depan matamu, Kartikosari. Ya, di sini, di depanmu! Akan tetapi, dia harus melihat dulu betapa kau adalah milikkul Heh, Pujo. Katakanlah, ada yang akan kau lakukan kalau aku menggagahi Kartikosari di sini, di depan matamu?"
"Jokowanengpati, kau bunuhlah aku! Bunuhlah Aku dan kalau perlu, kau bunuh pula Isteriku, jangan kau lakukan penghihaan biadab ini!"
Pujo akhirnya mengeluh.
Sementara itu, Kartikosari menangis karena wanita inipun maklum betapa kehormatannya terancam penghinaan yang lebih hebat daripada kematian.
Betapa ia dan suaminya sama sekaii tidak berdaya, tak mampu berbuat apa-apa.
"Heh-heh-heh, salah siapa? Kenapa Isterimu begini cantik, begini molek, begini menggairahkan! Dan mengapa kau kebetulan berdiri di tengah jalan menghalangi kesenangan hidupku? Ha-ha, kau akan menyaksikan betapa senangnya aku memiliki tubuh isterimu, kemudian dia akan melihat kau mampus. Aduh, alangkah manis dan nikmatnya pembalasan!"
Jokowanengpati tertawa-tawa berkakakan, suami-isteri itu memandang penuh kengerian dan diam-diam mereka menganggap betapa musuh besar ini telah menjadi gila.
Mereka berdua memendam sakit hati bertahun-tahun, mengharapkan pembalasan.
Sekarang setelah bertemu dengan musuh besar, mereka tertahan dan si musuh besar ini malah bicara tentang nikmatnya membalas dendam!
Siapa sebetulnya yang mendendam?.
Kartikosari diam-diam mengambil keputusan untuk tidak melawan, membiarkan dirinya diperhina, bahkan akan diusahakan agar Jokowanengpati mengira dia membalas cumbu rayu dan cintanya, agar orang ini menjadi lengah, kemudian ia akan mencari kesempatan baik untuk mengirim serangan maut!
Pujo sendiri sudah putus harapan, tidak tahu bagaimana ia akan dapat menolong isterinya.
Kematiannya sendiri yang sudah diambang mata tidak dihiraukan, hanya keadaan isterinya yang membuat ia putus harapan dan risau.
Sepasang suami-isteri ini benar-benar sudah merasa putus asa, tidak melihat jalan keluar, hanya dapat menyerahkan nasib di tangan Hyang Widi.
Hanya penyerahan bulat inllah yang membuat mereka masih bertahan, dengan hiburan batin bahwa akhirnya toh kematian akan menamatkan segala derita.
Jokowanengpati sudah kelihatan buas.
Sambii menyeringai seperti iblis ia sudah menanggalkan bajunya, menanggalkan destarnya.
Dibentangnya kainnya di atas lantai, di depan Pujo yang memandang dengan mata terbelalak tanpa cahaya.
Semua ini dilakukan oleh Jokowanengpati lambat-lambat, sengaja untuk menyiksa perasaan hati Pujo.
Kemudian ia bangkit berdiri, melangkah mendekati Kartikosari sambil berkata, manis-manis buatan.
"Marilah, wong ayu..."
Akan tetapi pada saat itu, terdengar orang batuk-batuk dan di depan pintu ruangan itu muncul dua orang pengawal yang memandang ke arah Jokowanengpati dengan wajah serius.
"Setan! Mau apa kalian?"
Bentak Jokowanengpati, menarik kembali kedua tangannya yang tadi sudah hampir menyentuh tubuh Kartikosari. Wanita itu meramkan kedua matanya dengan tubuh lemas dan isak tertahan.
"Maafkanlah hamba, radenmas, hamba tidak berani mengganggu... akan tetapi... perlu melaporkan bahwa menurut penjaga, dua orang tawanan ini tadi datang bersama seorang wanita lagi yang kini entah menghilang kemana."
Seperti disengat kelabang Jokowanengpati memutar tubuhnya serentak memandang Pujo dan Kartikosari.
Pujo masih membelalakkan kedua mata penuh kebencian, sedangkan Kartikosari membuang muka ke samping, matanya masih dipejamkan, dadanya yang membusung padat itu bergerak naik turun.
Dengan langkah lebar Jokowanengpati mengbadapi Pujo dan membentak.
"Hayo katakan, siapa wanita itu? Dan di mana dia sekarang?"
Pujo tersenyum mengejek.
"Hemm, manusia yang diperhamba nafsu macam engkau ini, jokowanengpati, selalu dibayangi rasa cemas akan datangnya hukuman atas perbuatan-perbuatanmu yang terkutuk. Memang takkan meleset lagi, manusia rendah dan hina, hukuman itu akan datang, bagaikan pedang yang selalu tergantung di atas tengkukmu. Tentang wanita itu, kau carilah sendiri!"
"Plak-plak-plak!"
Dalam amarahnya Jokowanengpati menampar dan menghantam muka Pujo sehingga mengucurlah darah dari hidung dan mulut Pujo.
Namun sedikitpun Pujo tidak mengeluh, masih tersenyum mengejek dan baru dia mengusap darah itu dari pundak kanan kiri ketika dengan muka keruh, Jokowanengpati melompat keluar ruangan itu.
"Kalian jaga baik-baik mereka, awas, jangan sampai terlepas!"
Demikian Jokowanengpati berpesan kepada empat orang penjaga di depan kamar tahanan, kemudian pergi bersama dua orang pelapor tadi untuk mencari wanita yang dikabarkan datang bersama Pujo dan Kartikosari, dan yang katanya hilang tak meninggalkan jejak.
Perlu diperiksa seluruh isi kadipaten, pikirnya.
Belum lama Jokowanengpat pergi, sesosok bayangan yang luar biasa gesitnya menyelinap di tempat gelap mendekati pintu ruangan, kemudian bagaikan halilintar menyambar, tubuhnya bergerak menerjang empat orang penjaga itu, tangannya bergerak dan mata pisau berkilat.
Empat orang pengawal yang sama sekali tidak menyangka akan datangnya serangan hebat ini, terkena tusukan di bagian tubuh yang mematikan.
Mereka roboh dan berkelojotan, hanya mampu mengeluarkan sedikit suara.
Bayangan itu lalu melompat ke dalam kamar dan ternyata dia adalah Roro Luhito yang membawa sebuah pisau belati!
"Oh...
diajeng, syukur kau datang...!"
Kartikosari berseru girang sekali.
Memang tadi dia dan suaminya juga mengharapkan pertolongan Roro Luhito, akan tetapi mengingat akan saktinya Jokowanengpati ditambah bantuan para pengawal, rnereka sudah putus harapan karena mereka bersangsi apakah Roro Luhito akan mampu menghadapi Jokowanengpati dan kaki tangannya.
Kini puteri ayu itu muncul setelah Jokowanengpati keluar, sungguh amat membesarkan hati.
Pujo juga rnemandang girang, akan tetapi tidak kuasa mengeluarkan kata-kata.
Ia hanya terheran-heran melihat bekas air mata di kedua pipi wanita itu, dan tampak betapa kedua tangan Roro Luhito gemetar ketika ia menggunakan pisau belati untuk mengiris putus belenggu yang mengikat kedua lengan dan kaki Pujo dengan isterinya.
Bagaimanakah Roro Luhito tahu-tahu muncul di tempat tahanan rahasia itu?
seperti kita ketahui, puteri adipati ini memasuki kadipaten melalui pintu rahasia yang berada di taman sari.
Agaknya Jokowanengpati dan kaki tangannya belum menemukan pintu rahasia ini sehingga ia dapat masuk dengan leluasa tanpa ada gangguan.
Biarpun rumah besar itu adalah rumahnya dan sejak lahir sampai enam belas tahun lamanya ia tidak pernah meninggalkan rumah ini, namun Roro Luhito merasa asing.
Sudah sepuluh tahun ia meninggalkan rumah ini.
Kini usianya sudah dua puluh enam tahun.
Betapa besar rindunya kepada ayah-bundanya.
Akan tetapi sekarang ia merasa asing, seakan-akan memasuki rumah orang lain.
Hal ini adalah karena ia tidak melihat seorangpun manusia yang dikenalnya dalam rumah itu.
Dengan amat hati-hati ia memasuki rumah dan bersembunyi, melihat wajah-wajah pengawal yang asing, melihat wajah pelayan-pelayan wanita muda cantik-cantik yang asing pula.
Celaka, pikirnya.
Benar-benar Kadipaten Selopenangkep telah diambil alih dan ke manakah perginya keluarganya?
Ke manakah ibunya, ayahnya, isteri-isteri lain dari ayahnya?
Ke mana perginya kakaknya, Wisangjiwo dan mbakyu iparnya, Listyokumolo?.
Dengan hati penuh kegelisahan Roro Luhito lalu menyelinap ke belakang.
Ia melihat empat orang wanita muda, dandanannya seperti pelayan, akan tetapi pakaiannya itu baru dan rapi, orangnya masih muda-muda dan cantik, sedang bercakap-cakap sambil terkekeh genit.
Roro Luhito mengenal seorang di antara mereka, seorang penari yang seringkali dahulu bermain di pendopo kadipaten.
Ia tidak tahu siapa namanya, akan tetapi wajah itu masih diingatnya.
Ia menyelinap, mendekat akan tetapi tetap bersembunyi.
"Wah, Lasmini tentu menerima Hadiah hebat dari Raden Mas Joko!"
Kata seorang di antara mereka yang berkutang kuning.
"Dengan menyuguhkan keponakanmu yang remaja dan cantik itu, tentu hadiahnya besar, kalau tidak engkau sendiri menerima kehormatan melayani radenmas... hi-hi-hik!"
"Hisshh!"
Desis yang berkutang biru, yaitu wanita yang dikenal Roro Luhito."Jangan bicara sembarangan, kau!
Keponakanku itu bocah tak tahu diuntung Tidak menurut, menyepak-nyepak meronta-ronta ketika dibawa masuk, sungguh memalukan hatiku dan juga menguatirkan.
Jangan-jangan Raden Mas Joko akan marah..."
"Mana bisa marah?"
Sambung orang ke tiga."Dik Lasmini agaknya tidak tahu akan kesukaan Raden Mas Joko. Menurut kakangmas Banu..."
"Hi-hik! Pacarmu yang baru itu, pengawal yang bertugas di luar pintu gerbang, yang kumisnya tebal hidungnya panjang?"
Orang ke empat memotong.
"Hushh, jangan buka rahasia orang, dong!"
Seru yang digoda.
"Bagaimana kesukaan Raden Mas Joko?"
Desak Lasmini.
"Menurut... eh, kakangmas Banu, justeru bocah yang seperti keponakanmu itulah yang disukai Raden Mas Jokowanengpati, lebih suka yang demikian daripada yang jinak dan penurut. Katanya... eh, katanya beliau lebih menyukai kuda liar daripada kuda jinak. Entah apa maksudnya, hi-hihik!"
Empat orang itu tertawa cekikikan.
Muak rasa hati Roro Luhito mendengar percakapan ini, dan kebenciannya terhadap Jokowanengpati makin mendalam.
Cepat ia mengambil empat buah batu kerikil, tangannya lalu diayun dan empat orang wanita itu roboh pingsan karena pelipis mereka disambar batu kerikil yang meluncur cepat dan kuat.
Di Iain saat, tubuh Roro Luhito sudah berkelebat masuk dan melompat keluar lagi sambil memanggul Lasmini yang masih pingsan.
Dengan gerakan laksana burung srikatan, cepat dan trampil, Roro Luhito berlompatan ke dalam taman sari, lalu keluar lagi dari taman sari melalui pintu rahasia, membawa tawanannya ketempat gelap di luar tembok kadipaten.
Dapat dibayangkan betapa kaget dan bingungnya hati Lasmini ketika ia siuman kembali, tahu-tahu ia telah berada di bawah pohon, di udara terbuka, hanya diterangi bintang dan bulan sepotong.
Serasa mimpi ia bangun duduk, dan memandang bengong kepada wanita cantik yang berdiri di depannya.
Kini Roro Luhito tahu nama wanita ini, maka segera ia menegur.
"Lasmini, masih kenalkah engkau kepadaku?"
Lasmini bangkit berdiri. Rasa nyeri dan takutnya lenyap ketika ia mendapat kenyataan bahwa yang berdiri di situ adalah seorang wanita pula, seorang manusia, bukan setan.
"Bagaimanakah saya bisa berada di sini? Kepalaku pening tadi dan..."
Ia meraba pelipisnya dan kagetlah ia karena di pelipis kanannya kini tumbuh bisul!.
"Aduhhh... kenapa pelipisku ini...?"
"Jangan banyak cerewet! Akulah yang merobohkan kau dan tiga orang temanmu tadi. Lihat baik-baik, siapa aku?"
Lasmini kaget, mulai gelisah hati, lalu memandang dan mengingat-ingat.
"Serasa kenal... eh, bukankah andika ini... Raden Ajeng Roro Luhito...?"
"Hemm, ternyata engkau masih mengenalku. ."
Kata Roro Luhito, agak terharu.
"Aduh, den ajeng...!"
Lasmini lalu menjatuhkan diri, memeluk lutut wanita perkasa itu sambil menangis.
"Diam, tak usah menangis. Mari duduk yang baik dan ceritakan semuanya. Apa yang terjadi di kadipaten? Dan kemana ayah-bunda dan keluargaku semua?"
Lasmini masih menangis terisak-isak, kemudian setelah agak reda ia bercerita.
Cerita yang membuat Roro Luhito terkejut bukan main, membuat wajahnya sebentar pucat sebentar merah dan giginya yang putih berkerot saking marahnya.
Untung bagi Roro Luhito bahwa ia menculik Lasmini sehingga ia dapat mendengar semua urusan yang terjadi di situ.
Lasmini adalah penari muda cantik yang dulu pernah diganggu oleh Cekel Aksomolo, bahkan dikorbankan kepada cekel tua yang mata keranjang itu.
Karena sejak peristiwa itu wataknya lalu berubah genit dan jalang, mudah saja bagi Lasmini untuk menarik perhatian dan ia berhasil menarik hati seorang perwira pasukan Kotaraja sehingga mendapat kepercayaan dari Jokowanengpati dan dijadikan pelayan.
Dari perwira yang menjadi pacarnya itulah Lasmini mendengar akan semua peristiwa yang kini ia ceritakan sambil menangis di depan Roro Luhito.
Betapapun juga, karena semenjak kecilnya ia "Ngenger" (mengabdi) Adipati Joyowiseso, ada juga kesetiaan dan keharuan menyelinap di hatinya ketika bersua dengan puteri bekas gustinya itu.
Memang terjadi perubahan besar dalam persekutuan antara Adipati Joyowiseso dan tokoh-tokoh sakti termasuk Jokowanengpati, setelah terjadi perpecahan di Kotaraja antara Pangeran Sepuh (Tua) dan Pangeran Anom (Muda).
Jokowanengpati dan tokoh-tokoh sakti yang tadinya membantu niat berontak adipati ini, melihat kesempatan yang lebih besar untuk kemuliaan di kemudian hari.
Mereka seakan-akan tidak menghiraukan lagi Adipati Joyowiseso setelah mereka diberi kesempatan oleh Pangeran Anom yang pandai mengumpulkan tenaga orang-orang sakti untuk mencapai cita-citanya, yaitu menguasai Kerajaan yang diperebutkan dengan kakak tirinya, Pangeran Sepuh.
Melihat ini, Adipati Joyowiseso tentu saja juga menyerahkan diri menghamba kepada Pangeran Anom, akan tetapi dalam perebutan kekuasaan secara diam-diam itu, tenaga sang adipati belum sangat dibutuhkan sehingga adipati ini terdesak oleh Jokowanengpati, Cekel Aksomolo, dan yang lain.
Perubahan besar terjadi ketika secara tiba-tiba Wisangjiwo yang tadinya juga menjadi kepercayaan Pangeran Anom membalik dan menghamba kepada Pangeran Sepuh!
Hal ini benar-benar mengejutkan dan tidak dimengerti oleh orang lain, juga tidak dimengerti pula oleh Adipati Joyowiseso sendiri.
Kejadian aneh ini ada sebabnya, yaitu sejak Wisangjiwo ditangkap oleh Pujo di pantai selatan!
Ketika mendapat kesempatan melarikan diri setelah ikatannya dilepaskan oleh Kartikosari, Wisangjiwo diam-diam bersembunyi dan mendengarkan percakapan suami-isteri itu.
Alangkah kaget hatinya mendengar akan perbuatan Jokowanengpati yang luar biasa kejinya.
Dia sendiripun seorang laki-laki rnata keranjang, akan tetapi tak pernah ia melakukan perbuatan keji seperti yang dilakukan Jokowanengpati.
Tahulah ia bahwa Jokowanengpati orang yang telah memperkosa Kartikosari di dalam guha, mempergunakan namanya!
Sungguhpun Kartikosari ketika bercerita kepada Pujo tidak menyebut-nyebut nama karena suami-isteri itu sendiri masih menduga-duga, ia yakin bahwa Jokowanengpatilah orangnya.
Kelingking kiri Jokowanengpati juga buntung!
Pantas saja pengakuan Jokowanengpati tentang kelingking itu berubah-ubah Dan perbuatan Jokowanengpati itulah yang mendatangkan dendam di hati Pujo dan Kartikosari, sehingga terjadi penyerbuan ke Kadipaten Selopenangkep dan puteranya terculik!
Semua gara-gara Jokowanengpati.
Mulai menyesallah hati Wisangjiwo.
Mulai terbuka matanya betapa Pujo dan Kartikosari adalah korban-korban keganasan orang jahat.
Mulai insyaf ia betapa semua itu juga merupakan akibat daripada kesesatannya sendiri.
Ia menyesal dan insyaf bahwa dengan menghamba kepada Pangeran Anom, ia bersekongkol dengan orang-orang jahat macam Jokowanengpati, Cekel Aksomolo, dan lain-lain.
Inilah yang menyebabkan Wisangjiwo mengambil keputusan bulat.
"Menyeberang"
Kepada Pangeran Sepuh.
Karena ia dahulu masuk dan mengabdi Kerajaan atas perantaraan Ki Patih Narotama, tentu saja Pangeran Sepuh suka menerimanya dengan girang.
Wisangjiwo yang kebingungan, kehilangan pegangan dan merasakan pahitnya bibit yang ia tanam sendiri dahulu itu, sama sekali tidak menyangka bahwa Pangeran Anom menjadi marah sekali kepadanya.
Tentu saja Pangeran Anom tidak berani berterang menyuruh orang menyerangnya di depan mata Pangeran Sepuh, akan tetapi atas hasutan Jokowanengpati, Pangeran Anom lalu mengutus pasukan pengawalnya, dikepalai Jokowanengpati dan kedua wanita iblis Ni Durgogini dan Ni Nogogini, mendatangi Selopenangkep dan memberi hukuman kepada keluarga Wisangjiwo, yaitu semua penghuni kadipaten dengan tuduhan memberontak yang diperkuat oleh Jokowanengpati!.
Pasukan Kotaraja amat terlatih dan kuat, apalagi dikepalai oleh seorang sakti seperti Jokowanengpati dibantu Ni Durgogini dan Ni Nogogini.
Tanpa perlawanan berarti, Kadipaten Selopenangkep dapat diserbu, banyak di antara keluarga kadipaten dibunuh, dan kadipaten diambil alih.
Peristiwa itu sudah terjadi beberapa pekan lamanya.
Kemudian, Lasmini menceritakan pula betapa Jokowanengpati dibantu oleh Ni Durgogini dan Ni Nogogini, pergi ke Sungapan, katanya hendak mencari pusaka Mataram, demikian cerita pacarnya.
"Baru tadi mereka bertiga kembali dari Sungapan, den ajeng. Malah dua orang wanita yang menakutkan itu siang tadi terus pergi, kabarnya hendak pergi ke Kotaraja. Ah, banyak kejadian mengerikan, den ajeng. Malah belum lama tadi, menurut pengawal dalam, ada dua orang musuh tertawan, kini dikurung dalam kamar tahanan bawah tanah yang menyeramkan itu..."
"Begitukah...??"
Roro Luhito terkejut karena dapat menduga bahwa dua orang musuh yang dimaksudkan itu tentulah Pujo dan Kartikosari.
"Dan ayah di mana sekarang...? Masih... masih hidupkah...?"
Lasmini menangis tersedu-sedu. Roro Luhito berdebar hatinya dan ia mengguncang-guncang pundak wanita itu, kehilangan sabar.
"Hayo cepat jawab, di mana ayah dan ibu?"
"Hamba... hamba tidak tahu jelas... kabarnya... gusti adipati ditahan dalam kamar tahanan di belakang..dijaga keras..."
Roro Luhito meloncat berdiri tegak.
"Keparat kau Jokowanengpati!"
Serunya marah. Kemudian sekali renggut, ia melepaskan kemben yang melibat pinggang ramping Lasmini. Wanita itu kaget sekali, tubuhnya gemetar wajahnya pucat.
"Raden ajeng... hamba... hamba.."
"Diam! kau juga bukan manusia baik-baik, Lasmini. kau mengorbankan keponakanmu yang masih kecil untuk memuaskan nafsu jahat Jokowanengpati, agar kau disuka dan mendapat kedudukan baik. kau perempuan rendah dan keji, sudah sepatutnya kalau kubunuh engkau. Akan tetapi karena kau telah menceritakan semua dengan jujur, kuampunkan nyawamu!"
Sambil bicara, Roro Luhito menelikung (mengikat kaki tangan) Lasmini seperti kambing akan disembelih.
"Katakan, selain Jokowanengpati dan para pengawal, ada siapa lagi di sana? Para pinisepuh (orang tua) sakti maksudku."
Dengan tubuh menggigil ketakutan Lasmini pienjawab.
"Ti... tidak ada lagi, setelah dua orang wanita iblis itu pergi..."
Roro Luhito menggunakan tangannya merenggut putus ujung kemben, menyumpal mulut Lasmini, tubuh Lasmini terguling ke dalam gerombola alang-alang.
Cepat Roro Luhito kembali memasuki pintu rahasia di taman sari, masuk dengan hati-hati, langsung ia menuruni jalan rahasia dari kamar belakang yang kosong, yang membawanya ke bagian bawah tanah di mana terdapat beberapa ruangan untuk menahan tawanan-tawanan penting.
Tentu saja ia hafal akan keadaan di kadipaten ini.
Menurutkan kata hatinya memang ia ingin segera pergi menjenguk ke belakang gedung, ke tempat tahanan di mana mungkin ia dapat bertemu dengan ayah-bundanya, akan tetapi pikirannya mengingatkan bahwa untuk bergerak selanjutnya, tak mungkin dapat ia lakukan tanpa bantuan Pujo dan Kartikosari.
Ia tahu bahwa Jokowanengpati adalah seorang sakti.
Biarpun sekarang ia tidak takut, dan belum tentu kalah setelah ia menerima gemblengan gurunya, Resi Telomoyo, namun ia harus berlaku hati-hati, apalagi kalau diingat bahwa Jokowanengpati dibantu oleh banyak pengawal.
Baru saja menuruni ruangan di bawah tanah, yang agak gelap, tiba-tiba seorang penjaga.
sudah menegurnya.
"Hordah! Siapa ini...??"
Dan sebelum ia sempat menjawab, penjaga itu sudah mencabut pisau belatinya dengan tangan kanan, lalu tangan kirinya mencengkeram ke arah pundak sambil berbisik.
"Ah, kau dayang dalam jangan berteriak!"
Penjaga itu dengan dengus penuh nafsu menyeringai dan hendak menciumnya, pisau belati dipakai mengancam, tangan kiri hendak berkurang ajar.
Bagaikan kilat cepatnya, sekali menggerakkan tangan, Roro Luhito sudah membuat dua gerakan.
Pertama merampas pisau dan kedua membenamkan mata pisau ke dalam dada penjaga sambil rnelompat mundur sehingga ketika tubuh penjaga yang jantungnya sudah ditembus pisau itu roboh, darah yang muncrat tidak mengenai bajunya.
Kemudian, setelah membersihkan pisau pada baju korbannya, Roro Luhito melanjutkan perjalanan, berindap-indap di ruangan bawah, pisau tajam di tangannya.
Demikianlah, secara kebetulan sekali Jokowanengpati pergi meninggalkan ruangan tahanan, menyerahkan penjagaan kepada empat orang penjaga itu, menunda niatnya yang amat keji, niat yang kiranya hanya dapat dilakukan oleh iblis.
Karena empat orang penjaga tidak menyangkanyangka, secara mudah sekali mereka menjadi korban pisau belati di tangan Roro Luhito.
Dengan menahan kemarahan dan tergesa-gesa, Roro Luhito membebaskan suami-isteri itu, lalu berbisik.
"Lekas, mari keluar dari sini! Kalian bantu aku menyelidiki orang tuaku... ini"
Suaranya gemetar dan tangannya menarik lengan Kartikosari diajak keluar tahanan.
Pujo mengikuti dari belakang setelah mengambil kerisnya Banuwilis dan cundrik isterinya yang tadi terlepas di lantai ketika mereka berjuang melawan asap belerang.
Tanpa bicara ia menyerahkan cundrik isterinya dan mereka bertiga kini keluar dari kamar, senjata masing-masing di tangan.
Roro Luhito sudah membuang pisau rampasannya, kini juga menghunus kerisnya dan memegang di tangan kanan.
Berkat ketrampilan Roro Luhito yang hafal benar akan keadaan di dalam kadipaten, mereka bertiga dapat keluar dari ruangan di bawah tanah, lalu langsung ke bagian belakang gedung kadipaten yang luas itu.
Sunyi saja keadaannya.
Tidak tampak seorangpun penjaga maupun pelayan, seakan-akan semua orang telah meninggalkan gedung.
Di depan pintu kamar tahanan yang letaknya di belakang gedung, Roro Luhito berhenti, ragu-ragu.
"Tidak baik ini..."
Bisiknya.
"Ada apakah, diajeng?"
Pujo berbisik pula.
"Begini sunyi, tiada rintangan..."
Kartikosari melangkah maju.
"Terjang saja ke dalam. Takut apa?"
Penuh semangat tiga orang itu mendorong daun pintu kamar tahanan, Daun pintu terbuka dan... Roro Luhito menahan pekik, lalu menerjang masuk diikuti Pujo dan Kartikosari.
"Ha-ha-ha-ha! Sudah kuduga tentu engkau yang datang, adinda yang manis Roro Luhito! Berhenti! Maju setindak lagi, keris ini akan memasuki tubuh ayahmu!"
Dengan muka pucat Roro Luhito terpaksa tidak berani bergerak, juga Pujo dan Kartikosari karena pada saat itu, Jokowanengpati sedang mengancamkan kerisnya pada dada Adipati Joyowiseso yang kelihatan lemah dan lemas.
Jelas bahwa orang tua itu banyak menanggung penderitaan, bajunya compang-camping, membayangkan kulit tubuh yamg luka-luka, wajahnya pucat sekali dan ia tampak lemas kehabisan tenaga.
"Ayahh...!"
Roro Luhito terisak, akan tetapi tidak berani mendekati.
Adipati Joyowiseso menggerakkan kepalanya dengan lemah, menoleh dan memandang puterinya.
Kedua matanya menjadi basah dan dua butir air mata membasahi pipinya yang cekung.
"Jahanam Jokowanengpati!"
Puteri adipati itu kini mendamprat dengan mata mendelik, berapi-api sinarnya ditujukan ke arah Jokowanengpati, musuh besarnya yang tidak saja telah menodai dirinya, akan tetapi yang kini malah mendatangkan malapetaka kepada keluarga ayahnya.
"Lepaskan ayahku!!"
"Jokowanengpati iblis keparat, binatang terkutuk...!"
Kartikosari juga memaki saking bencinya.
"Dosamu bertumpuk-tumpuk, Jokowanengpati. Kini tiba saatnya engkau membayar, tiba saatnya engkau menerima hukumanmu!"
Pujo berkata, kerisnya digenggam erat-erat. Menghadapi ancaman tiga orang lawan tangguh ini, Jokowanengpati tertawa.
"Ha-ha-ha-ha! Kalian sudah masuk perangkap, masih banyak berlagak? Lihat, kalian sudah terkurung!"
Ketiga orang itu melirik ke belakang dan benar saja.
Kalau tadinya tak tampak seorangpun penjaga, kini pintu kamar itu penuh dengan pasukan yang berjejal di luar.
Jalan keluar sudah tertutup!
Namun mereka tidak takut sama sekali.
Satu-satunya hasrat hati yang ada hanyalah menerjang dan merobohkan Jokowanengpati, melampiaskan dendam kesumat.
Akan tetapi tak seorangpun di antara mereka yang berani bergerak maju karena lawan yang licik itu telah menodong Adipati Joyowiseso.
"Lepaskan ayahku! Pengecut, tak tahu malu!"
Kembali Roro Luhito membentak.
"Kalian bertiga yang harus melepaskan senjata. Hayo buang senjata! Lihat! Haruskah aku menyiksa lebih dulu kakek ini?"
Jokowanengpati menekan ujung keris di dada Joyowiseso, tepat di ulu hatinya. Jelas tampak betapa ujung keris yang runcing itu merobek kulit dan beberapa titik darah menetes keluar.
"Uuhhhggghh!"
Joyowiseso mengeluh, menahan rasa perih.
"Tidak lekas membuang senjata?"
Jokowanengpati inengancam.
"Uuuuuhhhggh...!"
Kembali Joyowiseso mengeluh.
Anak mana yang tidak akan hancur luluh hatinya menyaksikan ayahnya diancam maut?
Roro Luhito tak dapat lagi menahan hatinya.
Dilemparkannya keris di tangan itu ke lantai, lalu ia lari menubruk ayahnya.
"Ayahhhh...!"
"Luhito... uhphh, Luhito anakku..."
Ayah dan anak itu bertangis-tangisan.
Pujo dan Kartikosari tidak dapat menyalahkan Roro Luhito.
Dengan kemarahan meluap mereka hendak menerjang maju, akan tetapi tiba-tiba dari belakang mereka menyambar angin yang aneh.
Mereka cepat membalikkan tubuh dan...
selembar jala telah melayang dan mengembang, langsung menubruk mereka.
suami-isteri ini tak mungkin dapat mengelak lagi karena jala itu amat lebar...
Namun mereka tidak gentar karena apakah hebatnya selembar jala?
Tentu mudah diputuskan!
Dapat dibayangkan betapa kaget hati mereka ketika jala itu menyelimuti tubuh dan mereka berusaha meronta dan membabat dengan keris, jala itu tidak dapat dibabat putus!
Kiranya itu bukanlah jala ikan biasa, melainkan jala yang terbuat daripada bahan yang tidak dapat diputus senjata tajam Mereka hanya dapat meronta-ronta dan bergerak-gerak seperti dua ekor ikan terkena jaring!
"Ha-ha-ha, Pujo manusia goblok!
Sekarang kau hendak lari ke mana?
Ha-ha-ha!
Hayo rampok (keroyok) keparat ini sampai hancur tubuhnya, akan tetapi awas, jangan bunuh yang betina.
Ha-ha-ha!"
Para penjaga itu berlomba maju untuk mengeroyok Pujo yang sudah berselimut jala.
Pedang, golok dan tombak menghujam ke arah tubuh Pujo.
Akan tetapi, tiba-tiba terdengar jeritan yang merupakan lengking tinggi dan tahu-tahu dua orang penjaga yang terdepan, terpelanting seperti disambar petir.
"Hayo siapa berani maju mengantar nyawa! Majulah, keparat kalian semua! Siapa berani menyentuh kakangmas Pujo, hendak kulihat orangnya!"
Roro Luhito berdiri dengan sikap seperti Srikandi, kedua tangannya terkepal kedua kakinya terpentang, tubuhnya agak merendah, matanya mengeluarkan sinar berapi-api, berdiri membelakangi Pujo dan Kartikosari, bagaikan seekor singa betina melindungi anak-anaknya!.
Melihat dua orang penjaga tadi roboh terpelanting dan tak dapat bangun lagi karena tulang dada dan tengkorak kepalanya remuk oleh terjangan gadis ini, para penjaga yang lain menjadi kesima dan jerih.
Jokowanengpati juga terperanjat sekali.
Sepak terjang Roro Luhito tadi benar-benar hebat luar biasa.
Tidak disangka-sangkanya kalau gadis itu memiliki kepandaian sedemikian hebatnya, Iapun terheran-heran mengapa gadis ini menolong Pujo dan Kartikosari dari dalam kamar tahanan di bawah tanah, dan sekarang begitu nekat membela Pujo.
Bukankah gadis itu seharusnya membenci dan sakit hati kepada Pujo?
"Diajeng Luhito...
dia...
Pujo itu musuh kita, dialah jahanam yang dahulu memperkosa..."
"Tutup mulutmu yang busuk!!"
Roro Luhito membentak, kemarahannya meluap-luap.
"Jahanam terkutuk, siapa tidak ketahui perbuatanmu yang keji dan hina?"
Makin kagetlah Jokowanengpati.
Celaka, pikirnya.
Semua rahasianya agaknya telah terbuka.
Tidak saja Pujo dan Kartikosari yang tahu bahwa dialah yang dahulu menggagahi Kartikosari mempergunakan nama Wisangjiwo, bahkan kini agaknya Roro Luhito juga sudah tahu bahwa dialah yang dahulu memperkosa puteri adipati itu mempergunakan nama Pujo!
Akan tetapi dasar seorang cerdik, ia segera dapat menekan kegelisahannya dan sekali lagi ujung kerisnya ditekankan di dada Joyowiseso membuat adipati ini yang sudah lemah itu mengeluh kesakitan.
"Diajeng Luhito, lekas tinggalkan mereka, kalau tidak, ayahmu tentu akan kubunuh lebih dulu!"
Roro Luhito bimbang hatinya.
Tidak ingin ia melihat Pujo Laki-laki yang dipujanya di dalam hati itu, mati dikeroyok.
Akan tetapi bagaimana pula ia dapat melihat ayahnya dibunuh begitu saja?
Cinta kasih dan bakti, sama berat!
Selagi ia bimbang, ia mendengar suara bisikan Pujo di belakangnya, bisikan yang menggetar penuh perasaan haru.
"Diajeng, minggirlah. Belum tentu mereka dapat membunuh kami"
Ketika melirik dan melihat betapa suami-isteri itu masih berdiri dengan keris di tangan, ia dapat mengerti bahwa biarpun sudah berselimut jala, agaknya tidak akan mudah membunuh mereka.
Terpaksa ia lari menubruk ayahnya yang kelihatan amat pucat itu.
"Roro... anakku... Pujo tidak berdosa...??"
Dengan air mata membasahi pipi, Roro Luhito menggeleng kepala.
Ia tidak ada waktu untuk melayani percakapan ayahnya, untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan ayahnya yang membanjir keluar dari bibir yang pucat itu, karena pada saat itu seluruh perhatiannya ia curahkan ke depan, ke arah Pujo dan Kartikosari yang berada di dalam jala.
Kembali para penjaga menyerbu dengan senjata-senjata mereka.
Akan tetapi, tepat seperti yang diduga dan diharapkan Roro Luhito, begitu suami-isteri itu bergerak, keris mereka menyambar di antara lubang-lubang jala dan empat orang penjaga yang mengeroyok itu roboh dengan darah muncrat-muncrat dari perut mereka!
Jokowanengpati memaki-maki anak buahnya sehingga mereka terpaksa maju terus.
Tombak-tombak panjang datang bagaikan hujan.
Karena Kartikosari dengan gigih membantu suaminya, kini para penjaga yang panik dan agak gentar itu menjadi ngawur dan asal menyerang saja, tidak perduli Pujo ataupun Kartikosari mereka tusuk dengan tombak.
Ribut keadaan di situ dan suami-isteri yan gagah perkasa itu dengan gerakan teratur meloncat ke sana ke mari di dalam jala, merobohkan belasan orang perajurit anak buah Jokowanengpati, Para perajurit mengeroyok terus, korban-korban yang roboh diseret keluar.
Tidak mudah bagi para pengeroyok yang hanya memiliki kepandaian biasa itu untuk merobohkan dua orang suami-isteri yang sakti.
Hujan tombak dan golok itu hanya mampu membuat pakaian suami-isteri itu compang-camping dan memang Pujo dan isterinya menderita luka-luka, namun hanyalah luka pada kulit belaka, Bekas goresan-goresan senjata tajam dan tusukan-tusukan tombak runcing yang mengakibatkan darah membasahi baju dan jala.
Melihat betapa anak buahnya masih juga belum berhasil merobohkan Pujo malah sebaliknya banyak anak buahnya menjadi korban, Jokowanengpati marah sekali.
Ia tahu bahwa Pujo sudah mulai letih, karena Pujo belum pulih dari akibat penyiksaan di dalam kamar tahanan di bawah tanah.
Begitu melihat kesempatan baik, Jokowanengpati melompat ke depan dan sekali kaki tangannya bergerak, ia berhasil merampas keris di tangan Kartikosari dan menendang terlepas keris dari tangan Pujo.
suami-isteri itu memang mengeluarkan tangan yang memegang keris dari dalam jala.
"Ha-ha-ha-ha, kalian masih hendak memperlihatkan kegagahan?"
Jokowanengpati membentak anak buahnya yang sudah hendak menerjang lagi.
Ia ingin melampiaskan kemarahannya dengan menyiksa Pujo.
Di tangannya telah tampak sebatang cambuk besar dan panjang.
Begitu ia menggerakkan tangannya, terdengar suara berdetak-detak dan cambuk itu melecut ke depan, menghantam tubuh Pujo di dalam jala.
Bertubi-tubi cambuk itu bergerak dan melecut dan selalu tepat mengenai tubuh Pujo.
Kartikosari memaki-maki dan berusaha menangkis ujung cambuk yang begitu keji menghujani tubuh suaminya yang makin lemah.
Sementara itu, dengan pertanyaan-pertanyaan mendesak, Adipati Joyowiseso sudah mendengar hal-hal yang terpenting dari mulut puterinya.
Mendadak ia memegang tangan puterinya, berbisik.
"Bagaimana kau bisa mendiamkannya saja? Lawan dia! Bantu mereka. Jangan hiraukan aku lagi!"
Memang di dalam hatinya, Roro Luhito yang menonton dengan muka pucat itu sudah ingin sekali turun tangan, hanya ia mengingat akan keselamatan ayahnya maka ia tidak berani meninggalkan ayahnya.
Kini mendengar bisikan ayahnya, timbul semangatnya dan tiba-tiba ia mengeluarkan suara melengking tinggi dan tubuhnya mencelat ke depan.
Gerakannya ini hebat sekali, pekiknya seperti bukan suara manusia dan ia menerjang Jokowanengpati benar-benar amat aneh sehingga Jokowanengpati terkejut bukan main, cepat membuang diri ke belakang.
Sungguhpun ia berhasil mengelak, namun secara aneh dan tiba-tiba pecutnya sudah terampas oleh Roro Luhito.
Jokowanengpati yang cerdik maklum bahwa gadis itu sudah nekat dan agaknya percuma mengancamnya melalui ayahnya, maka ia segera memberi aba-aba kepada anak buahnya untuk maju mengeroyok.
Ia sendiri juga menerjang maju hendak meringkus Roro Luhito yang cantik manis akan tetapi kini memiliki ilmu kepandaian hebat itu.
Kembali ramai di dalam ruangan tahanan yang luas itu.
Roro Luhito yang telah kehilangan kerisnya, kini mengamuk dengan cambuk rampasannya, Ia tidak pandai bermain cambuk, akan tetapi karena ilmunya tinggi, hantaman cambuknya amat hebat dan sekali terpukul cambuk, seorang pengeroyok tentu akan roboh dan tak dapat bangun kembali, Betapapun juga, karena di situ ada Jokowanengpati yang menerjangnya dengan pukulan-pukulan ampuh, Roro Luhito mulai terdesak mundur dan untuk mencari ruangan yang luas, gadis perkasa ini membuka jalan darah, keluar dari ruangan itu dikejar Jokowanengpati yang merasa penasaran.
Adapun suami-isteri yang berada di dalam jala, masih dikeroyok banyak perajurit.
Baiknya Kartikosari tadi berhasil menyambar sebuah golok yang terletak di lantai sehingga kini dengan golok ini ia dapat melindungi diri dan suaminya yang sudah lemas.
Pujo tak dapat melawan lagi, sudah rebah di lantai.
Biarpun Kartikosari juga memiliki kesaktian, namun wanita ini sudah luka-luka pula sehingga hanya untuk sementara saja ia mampu melindungi hujan tombak dan golok dari luar jala.
Ia mulai lelah, pandang matanya berkunang, namun ia bertekat bulat untuk mempertahankan diri dan suaminya sampai saat terakhir.
Roro Luhito setelah tiba di luar kamar dikeroyok oleh banyak sekali perajurit.
Ia dikepung dan Jokowanengpati yang merasa tidak leluasa gerakannya, meloncat mundur membiarkan orang-orangnya melakukan pengeroyokan sambil menanti saat dan kesempatan terbaik untuk turun tangan menangkap gadis yang seperti Srikandi itu.
Dari luar kepungan ia berseru.
"Diajeng Luhito, menyerahlah! Ayahmu telah memberikan engkau menjadi calon isteriku. Menyerahlah!"
"Jokowanengpati manusia hina-dina! Hari ini kalau bukan kau yang mampus biarlah aku yang mati mencuci penghinaan!"
Tiba-tiba terdengar suara lengkingan menyeramkan dari luar.
Kemudian tampak oleh Jokowanengpati betapa pasukan yang berada di luar menjadi geger.
Tampak pula para pepjaga bergelimpangan diterjang oleh sesosok bayangan putih yang mengeluarkan suara seperti seekor monyet.
"Roro Luhito Di mana kau. ..??"
Bayangan yang mengamuk itu berseru.
"Bapa guru..,...! Bapa resi...! Ke sinilah...!!"
Roro Luhito berseru girang sekali.
Kembali bayangan yang kini tampak jelas adalah seorang kakek yang bermuka seperti kera itu bergerak dan para penjaga berpelantingan ke kanan kiri.
Jokowanengpati terkejut ketika mengenal kakek itu yang bukan lain adalah Resi Telomoyo yang sakti mandraguna.
Tanpa menanti lebih lama lagi atau memperdulikan nasib anak buahnya, Jokowanengpati yang cerdik dan curang itu sudah menyelinap dalam gelap, terus menyusup-nyusup ke belakang kadipaten, meloncat ke atas punggung kudanya dan selagi pertempuran keroyokan di dalam kadipaten masih ramai dan ribut, ia sudah membalapkan kudanya keluar dari Kadipaten Selopenangkep menuju ke timur!.
Amukan Roro Luhito dan Resi Telomoyo membuat pasukan Kotaraja yang menguasai Kadipaten Selopenangkep itu kocar-kacir.
Sebelum lewat tengah malam, sisa pasukan yang belum menjadi korban amukan guru dan murid ini sudah lari cerai-berai.
Para penduduk kota Kadipaten Selopenangkep yang mendengar bahwa puteri adipati yang dahulu lenyap itu kini pulang dan membasmi pasukan musuh yang menguasai kadipaten, berbondong-bondong keluar.
Mereka inilah, dan para pelayan lama, yang membantu Roro Luhito membersihkan kadipaten dari mayat-mayat fihak musuh yang tak sempat dilarikan kawan-kawan yang melarikan diri malam itu.
Pada keesokan harinya, kadipaten sudah bersih dari mayat-mayat dan darah.
Jari-jari kecil panjang dengan kulit halus dan telapak tangan jambon (kemerahan) itu seperti mengeluarkan getaran yang menyentuh jantung ketika meraba-raba punggungnya, membersihkan luka-luka dan membasahinya dengan air obat.
Enak rasanya air obat menyentuh punggung, dingin dan mengusir rasa panas dan perih.
Namun yang paling terasa sampai menembus jantung adalah getaran hangat jari-jari tangan itu.
Pujo seperti dalam mimpi.
Ketika ia membalikkan tubuh, ia melihat secara samar bayangan wanita.
Siapa lagi kalau bukan isterinya, Kartikosari.
Rindu dendam yang sejak lama ditahan-tahannya, dibendungnya dengan kekuatan hati penuh pengertian bahwa isterinya belum mau berbaik kembali kepadanya, belum mau memenuhi kewajiban sebagai isteri yang melayani kasih sayang suami, sebelum musuh besar mereka terbalas, kini seakan-akan bergolak, membadai dan hendak menggempur dan menjebol bendungan!.
"Nimas Sari...!"
Bisiknya dengan suara gemetar ketika kedua lengan Pujo bergerak memeluk pinggang yang ramping, membenamkan muka di dada yang berdebar-debar, penuh rasa kasih sayang.
Sampai lama mereka berada dalam keadaan seperti ini.
Pujo merasa bahagia, tenang tenteram penuh aman dan damai seperti seorang anak kecil mendekap susu ibunya.
Ia merasa puas bahagia karena isterinya tidak menolak bukti kasihnya, pinggang ramping yang dirangkulnya tidak menjauh, dan jantung di dalam dada yang penuh itu terguncang.
"Kakangmas Pujo... jangan khawatir mbok ayu Kartikosari selamat kau... berbaringlah yang baik agar aku dapat mengobati punggungmu, kakangmas."
Pujo mengejap-ngejapkan matanya, menengadah dan bagaikan disambar petir kagetnya ketika ia melihat bahwa yang dipeluknya adalah pinggang Roro Luhito.
Gadis itu meramkan kedua mata dan dua butir air mata membasahi pipinya yang menjadi merah sekali.
Cepat Pujo melepaskan rangkulannya pada pinggang, menatap wajah itu dari atas pembaringan sambil berkata gagap.
"Diajeng Roro... ah, maafkan aku... maafkan..."
Bibir yang merah membasah itu merekah dalam senyum, membayangkan kilauan gigi putih di baliknya.
"Tidak mengapa, kakangmas. kau ngelindur agaknya. Bertelungkuplah, punggungmu perlu diobati. Jangan khawatir, itu mbok ayu Sari di situ, tidak apa-apa, agaknya tidur pulas saking lelahnya."
Karena malu dan jengah, Pujo segera bertelungkup.
Akan tetapi kepalanya dimiringkan untuk memandang ke arah kiri yang ditunjuk Roro Luhito.
Berdegup jantungnya melihat bahwa isterinya, Kartikosari, benar saja berbaring di atas sebuah dipan kayu lain dalam kamar itu.
Isterinya rebah terlentang, kedua matanya meram, dadanya turun naik perlahan tanda bahwa isterinya sedang tidur.
Benar sedang tidur pulaskah isterinya itu?
Bulu matanya bergerak-gerak!
Pujo merasa gelisah.
Bagaimana kalau isterinya melihat perbuatannya terhadap Roro Luhito tadi?
"Sudah, cukuplah, diajeng.
Luka-lukaku hanya luka di kulit, tidak apa-apa.
Bagaimana dengan ayahmu, paman adipati?"
Pujo berkata dan ia bangkit duduk.
"Ayah amat lemah usianya yang sudah tua membuat ia tidak dapat menahan pukulan batin dan siksaan, sekarang sedang dirawat bapa resi."
Sejenak wajah yang manis itu muram, kemudian tangannya menyerahkan sepasang pakaian baru kepada Pujo sambil berkata.
"Kau pakailah ini, kakangmas. Ini pakaian kangmas Wisangjiwo. Pakaianmu sudah hancur."
Pujo melihat ke tubuhnya. Bajunya sudah tidak merupakan baju lagi, compang-camping, demikian pula celana dan kainnya. Ia menerima sepasang pakaian itu dan pada saat itu Kartikosari bangun.
"Diajeng, bagaimana dengan keluarga ayahmu? Mana ibumu?"
Ditanya demikian, Roro Luhito terisak, lalu menubruk Kartikosari dan menangis di atas pangkuan nya, Dengan suara tersendat-sendat Roro Luhito menceritakan betapa sebagian besar keluarganya terbasmi ketika terjadi penyerbuan pasukan Kotaraja yang dipimpin Jokowanengpati dan kedua orang wanita iblis Ni Durgogini dan Ni Nogogini.
Juga ibu kandungnya telah tewas dalam penyerbuan itu.
"Jokowanengpati manusia iblis! Dosamu bertumpuk-tumpuk...!"
Kata Pujo dengan marah sambil mengepal tinjunya.
"Sayang sekali iblis itu dapat meloloskan diri ketika paman resi Telomoyo datang membantu,"
Kata Kartikosari penuh penyesalan.
"Kali ini ia lolos, akan tetapi lain kali pasti tidak. Kejahatan takkan dilindungi oleh Hyang Widi!"
Kata pula Pujo penuh harapan. Roro Luhito sudah dapat menguasai kesedihannya. Ia bangkit dengan muka basah air mata dan mata agak merah.
"Harap kalian maafkan, aku harus pergi menengok ayah."
"Tidak apa, pergilah, diajeng. Kami tidak apa-apa, yang perlu mendapat perawatan adalah ayahmu,"
Kata Kartikosari. Puteri adipati itu melangkah keluar dari dalam kamar sambil menundukkan mukanya.
"Sudah sepatutnya dikasihani..."
Terdengar Kartikosari menyambung lirih.
"Dan dia begitu baik, telah menolong kita."
"Ya, dua kali dia telah menolong kita. Di dalam kamar bawah tanah dan ketika kita terkurung jala..."
Pujo lalu membaringkan tubuhnya lagi sambii menghela napas panjang. Hening Sejenak di dalam kamar itu. Kemudian terdengar lagi suara Kartikosari.
"Kita berhutang budi kepada diajeng Roro Luhito, kakangmas."
"Engkau benar, nimas. Kita berhutang nyawa."
Hening lagi sejenak. Kini Kartikosari yang menghela napas panjang, jelas terdengar hembusan nafas halus panjang di kamar sunyi.
"Sesungguhnya, kita, terutama engkau, berhutang nyawa kepadanya. Dia malam itu bukan hanya menolong, kakangmas, dia malah rela hendak mengorbankan diri, berkorban nyawa, untukmu..."
Sesuatu dalam suara Kartikosari membuat Pujo menengok dan memandangnya.
Ia melihat Kartikosari sudah duduk dipembaringan, makin cantik dengan kain dan kutang yang serba baru, agaknya diberi pinjam Roro Luhito karena pakaiannya sendiri compang-camping, dengan muka agak pucat sehingga alis yang indah bentuknya itu makin hitam seperti dicat.
"Dan dia cinta kepadamu, kakangmas, cinta yang tulus ikhlas, suci murni, cinta yang membutuhkan balasan dan sudah sepatutnya pula mendapat balasan cinta kasih darimu..."
Pujo kini melompat bangun, berlutut di depan pembaringan isterinya, memeluk pinggang isterinya dan menelungkupkan muka di atas pangkuannya, seperti yang dilakukan pada Roro Luhito tadi.
"Nimas... nimas Sari... apa... yang kau ucapkan itu? kau... kau... cemburu?"
Ia menengadah, memandang wajah ayu penuh selidik, mencari-cari dengan pandang matanya.
Kartikosari menunduk dan jari-jari kedua tangannya membelai rambut kepala suaminya yang kusut, bibirnya bergerak-gerak mengeluarkan suara lirih.
"Wanita mana di dunia ini yang bebas akan cemburu, kakangmas? Di mana ada cinta, di situ ada cemburu, Wanita mana di dunia ini suka melihat cinta kasih suaminya dibagi dengan wanita lain? Dan akupun hanya wanita biasa, kakangmas. Akan tetapi, aku ingin diajeng Roro Luhito menjadi maduku, aku ingin melihat dia bahagia di sampingku, berkumpul dengan kita selamanya."
"Hishhh! Apakah kau mengigau, nimas Sari? Sadarlah dan buang jauh-jauh rasa cemburu dari hatimu!,"
Pujo mempererat pelukannya pada pinggang yang ramping itu.
"Dia cinta padamu, kakangmas. Aku percaya dan yakin bahwa cinta kasihmu hanya untukku seorang dan karena ini aku merasa amat bahagia, suamiku. Akan tetapi..., dia amat cinta kepadamu, dia menderita karenamu, bahkan dia rela menderita karena cintanya kepadamu..."
"Bagaimapa... bagaimana kau tahu...?"
"Setiap orang yang tidak buta hati dan matanya akan dapat melihat, akan dapat mengetahuinya. Dahulu dia mencarimu, ingin menghambakan diri kepadamu, sungguhpun dahulu ia mengira bahwa engkaulah yang memperkosanya. Dan setelah tahu bahwa Jokowanengpati yang melakukannya, ia amat membenci Jokowanengpati, akan tetapi masih tetap cinta kepadamu, bahkan menolongmu, dan malam tadi rela hendak mengorbankan nyawa untukmu. Aku tahu bahwa engkau akan bahagia jika membalas cinta kasihnya, kakangmas, dan aku... aku hanya ingin membuktikan bahwa cinta kasihku kepadamu sedalam Laut Selatan. Aku rela dan bahagia melihat kau bahagia, Bahwa... aku tetap mencintamu, tetap bersetia kepadamu apapun yang akan terjadi"
"Nimas Sari... kau dewiku...!"
Pujo bangkit berdiri, merangkul leher dan hendak mencium bibir Isterinya yang sudah amat lama ia rindukan itu, Akan tetapi Kartikosari merenggutkan dirinya, mengelak sambil berkata, tersenyum.
"Stop, kakangmas! Ingat, belum tiba saatnya. Lupakah engkau akan syaratku?"
Tubuh Pujo yang tadinya mengejang penuh semangat dan kegembiraan itu, seketika menjadi lemah dan lesu. Ia kembali menjatuhkan diri berlutut dan mengeluh.
"Nimas Sari, isteriku, tidak kasihankah engkau kepadaku? Aku rindu padamu, nimas."
Bibir itu tetap tersenyum manis, akan tetapi matanya berkejap-kejap menahan air mata, memancarkan pandang penuh kasih mesra, kedua tangannya diulur menyentuh tangan suaminya.
Jari-jari tangan mereka saling genggam, penuh getaran yang memancar keluar dari hati masingmasing.
"Kakangmas Pujo, suamiku. jiwa dan raga ini milikmu, sudah kuberikan kepadamu dengan rela sejak dahulu. Akan tetapi ksatria harus menepati janji. Satria harus tahan tapa tahan derita, dan pandai menguasai nafsu diri. Kakangmas, biarlah mulai saat ini kuajukan syarat baru kepadamu Setelah segala yang kita alami aku hanya mau melayanimu dengan segala kerendahan hati, dengan cinta kasih, apabila diajeng Roro Luhito menjadi maduku!"
"Nimas! Apakah engkau sudah gila...??"
Pujo bangkit berdiri, memandang wajah isterinya dengan mata terbelalak. Kartikosari tersenyum.
"Sudahlah, bukan waktunya kita berbantahan kau pakai pakaianmu pemberian diajeng Luhito dan mari kita menengok keadaan paman adipati. Tidak baik rasanya kalau kita berdua hanya mengeram diri di dalam kamar saja, padahal luka-luka kita hanyalah luka pada kulit."
Pujo hendak membantah, akan tetapi didiamkan oleh senyum Kartikosari yang dengan cekatan menanggalkan baju Pujo yang compang-camping itu.
Terharu hatinya melihat betapa isterinya ini membantunya bertukar pakaian, membantunya seolah-olah dia seorang anak kecil yang belum pandai bertukar pakaian sendiri.
Sementara itu, diam-diarn Kartikosari terharu dan hampir ia tak dapat menahan isak haru dan gelora hatinya ketika ia menyaksikan kembali bentuk tubuh suaminya yang kokoh kuat dan padat.
Baru saja suami-isteri ini keluar dari kamar, datang Roro Luhito berlari-lari.
Mereka terkejut dan cemas, akan tetapi lega hati mereka ketika melihat wajah manis itu berseri gembira.
"Kakangmas Pujo, mbok ayu Sari! Lekas, mari ke ruangan dalam. Kakangmas Wisangjiwo datang!"
Teriaknya girang.
Pujo dan Kartikosari tersenyum dan saling pandang.
Betapapun juga, ada rasa kikuk dan tidak enak untuk bertemu muka dengan Wisangjiwo, orang yang tadinya mereka benci dan mereka jadikan musuh besar yang didendam di dalam hati.
Tanpa mengeluarkan kata-kata mereka berdua menyertai Roro Luhito yang berjalan sambil menceritakan kedatangan kakaknya.
"Kakangmas Wisangjiwo telah menentang sekutunya yang jahat dan kini menghamba kepada Pangeran Tua. Itulah sebabnya maka Jokowanengpati dan sekutunya yang jahat, atas perintah Pangeran Anom (Muda) menyerbu dan mengambil alih Selopenangkep. Ketika kakangmas Wisangjiwo mendengar akan serbuan ini, segera ia mohon perkenan Gusti Pangeran Sepuh (Tua) membawa pasukan yang kuat dan baru saja tiba di sini. Marilah, dia sedang bicara dengan ayah. Bapa resi juga berada di sana."
Dari ruangan pinggir, tampak kini melalui pintu yang terbuka, banyak pasukan di depan pendopo.
Terdengar pula ringkik dan derap kaki kuda.
Agaknya pasukan yang dibawa Wisangjiwo dari Kotaraja mulai melakukan tugasnya memulihkan Kadipaten Selopenangkep, Roro Luhito mengajak dua orang itu menyeberang dan memasuki ruangan dalam dari pintu samping.
Ruangan yang cukup luas dimana sang adipati duduk setengah rebah di atas dipan terukir, dengan punggung diganjal bantal.
Tidak jauh dari situ, di atas sebuah bangku, dengan tangan sibuk menggaruki tubuh seperti biasanya, duduk Resi Telomoyo.
Di pinggir dipan tampak Raden Wisangjiwo yang berpakaian indah dan gagah, duduk dan bicara serius dengan ayahnya.
Ketika mendengar masuknya tiga orang Raden Wisangjiwo menoleh dan mendadak mukanya menjadi merah sekali ketika ia melihat Pujo dan Kartikosari.
Ia cepat bangkit berdiri dan menyambut suami-isteri itu dengan kata-kata terharu.
"Adimas Pujo, aku merasa amat berterima kasih atas pertolonganmu sehingga ayah terbebas dari pada ancaman maut di tangan si keparat Jokowanengpati. lebih besar pula rasa sesalku apabila kuingat betapa kalian berdua telah banyak menderita akibat perbuatanku yang sesat di masa lalu..."
Suaranya tersendat oleh keharuan. Kartikosari hanya menundukkan mukanya, akan tetapi Pujo mengangkat tangan memprotes.
"Bukan hanya engkau yang keliru, raden. Akupun telah melakukan perbuatan sesat dan jahat, menyerbu kadipaten ini, bersikap kurang patut terhadap gusti adipati, bahkan telah melakukan penculikan terhadap isteri dan puteramu Biarlah kesempatan ini kupergunakan untuk mohon maaf sebesarnya, baik kepadamu terutama sekali kepada gusti adipati!"
"Aahhh... jangan menyebut gusti, anakmas Pujo. Sebut saja paman kepadaku, dan jangan minta maaf. Uggh-huhhuh...!"
Orang tua itu terbatuk-batuk, terengah-engah sehingga Roro Luhito cepat menghampiri ayahnya dan mengurut-urut punggungnya.
"Uuh-uh... anakmas Pujo, sesungguhnya semua peristiwa ini adalah akibat daripada kesalahanku sendiri! Aku telah mendengar semua, mendengar penuturan Wisangjiwo yang telah insyaf dan sadar, telah melempangkan jalan hidup yang bengkok yang kutempuh. Aku telah mendengar semua penuturan Roro Luhito dan penjelasan Sang Resi Telomoyo. maka jelaslah bahwa semua adalah akibat penyelewenganku dahulu... ugghh-uh. Aku... terlalu mabok akan kesenangan dunia seperti terbalik pandang mataku, seperti buta mata hatiku, gila kedudukan mabok kemuliaan sehingga aku bersekutu dengan manusia-manusia lblis..., percaya mulut manis si keparat jokowanengpati..."
Tiba-tiba Resi Telomoyo tertawa dan terdengarlah suaranya yang parau dan dalam.
"Ha-ha-ha-ha, semua yang bersalah mengakui kesalahannya! Alangkah baiknya hal ini Adalah lebih baik bersalah tapi mengakui kesalahannya dan bertobat penuh penyesalan, daripada tidak bersalah merasa bangga dan mengagungkan serta menyombongkan kebersihannya."
Mendengar ucapan ini, Wisangjiwo menoleh ke arah adik tirinya, berkata sambil menarik napas panjang.
"Roro, adikku yang baik, engkau sungguh bahagia mendapatkan seorang guru sebijak paman resi ini, tidak seperti aku..."
Kemudian ia menghampiri Pujo dan berkata.
"Adimas Pujo, setelah segala yang terjadi, dapatkah engkau benar-benar mengampuni aku? Bolehkah aku kini bertemu dengan puteraku?"
Suaranya tersendat oleh keharuan. Pujo mengerutkan keningnya.
"Tidak ada yang harus minta dan memberi ampun, raden..."
"Ah, adimas, mengapa. menyebut raden? Bukankah ayahku minta kau menyebut paman kepadanya? Kita bukan orang lain, ah, bagaimana dengan puteraku, Joko Wandiro yang menjadi, muridmu? Mana dia?"
"Maaf... kangmas Wisangjiwo Tanpa kusengaja aku mengecewakan semua keluargamu. Kami sendiri sebetulnya sedang mencari-cari Joko Wandiro dan Endang Patibroto, puteriku..."
Kemudian secara singkat Pujo menceritakan kehilangan dua orang anak itu Wisangjiwo merasa gelisah sekali dan ketika ia memanggil kepala pasukan, memberinya perintah untuk mengerahkan pasukan dari Kotaraja mencari dua orang anak yang hilang itu.
Keadaan Adipati Joyowiseso amat payah.
Bangsawan ini sudah tua dan lemah.
Serbuan yang menghancurkan keluarganya, kemudian siksaan yang dideritanya, terlalu berat baginya.
Biarpun Resi Telomoyo sudah berusaha sedapatnya untuk memberikan jamu-jamu yang berkhasiat, namun hasilnya sia-sia.
Tiga hari kemudian, dalam keadaan payah, berbaring di atas pembaringan dalam kamarnya, Adipati Joyowiseso memanggil kedua anaknya mendekat, dan minta supaya dipanggilkan Pujo, Kartikosari, dan juga Resi Telomoyo.
Ketika Pujo dan isterinya memasuki kamar, mereka melihat Resi Telomoyo sudah berada di situ, duduk di bangku menggaruk-garuk tubuhnya.
Wisangjiwo juga duduk di dekat pembaringan dengan wajah yang pucat dan muram, sedangkan Roro Luhito berlutut di dekat pembaringan sambil menangisi ayahnya.
Adipati itu tampak kurus dan pucat sekali, akan tetapi matanya bersinar ketika ia melihat Pujo dan Kartikosari memasuki kamar.
Pujo dan Kartikosari segera duduk menghadapi si sakit.
"Nakmas Pujo... ahhh..."
Si sakit berkata dengan napas terengah-engah dan agaknya ia harus mengerahkan seluruh tenaganya untuk dapat bicara.
Telunjuknya menuding ke arah Wisangjiwo ketika.
Ia menyambung,"...Aku...
aku tidak khawatirkan dia ini...
dia menghamba Pangeran Tua...
akan tetapi..."
Ia terengah-engah, menoleh dan menyentuh kepala Roro Luhito yang berlutut di dekatnya.
"Akan tetapi dia ini, dia akan terlantar... aku... aku... menyerahkan dia kepadamu... anakmas... kau terimalah anakku... ini..."
Sang adipati tidak kuat melanjutkan lagi, merebahkan lagi kepalanya di atas bantal, napasnya terengah-engah, matanya dipejamkan setealah ia memandang ke arah Pujo dengan pandang mata penuh permohonan.
Sunyi sejenak di kamar itu, kecuali isak tertahan Roro Luhito.
Pujo bangkit dari bangku, bingung memandang ke sekeliling, memandang kepada wajah semua orang.
Kartikosari hanya menundukkan muka.
"Ini... ini... bagaimana ini...?"
Ia menggagap, mukanya menjadi merah sekali. Ia memandang Wisangjiwo untuk minta bantuan. Wisangjiwo menggigit bibir dan mengangguk.
"Aku telah menyetujui, dan aku hanya mengharap kau akan suka memenuhi permintaan terakhir ayahku, adimas Pujo." (Lanjut ke
Jilid 17) Badai Laut Selatan (Seri ke 03 Serial Serial Keris Pusaka Sang Megatantra) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo
Jilid 17
"Akan tetapi... tetapi..."
Pujo sukar sekali mengeluarkan isi hatinya yang penuh keraguan.
Ia memandang ke arah Roro Luhito, kemudian menoleh ke arah isterinya.
Keadaan menjadi hening dan tegang.
Adipati Joyowiseso masih memandang ke arah Pujo, menanti jawaban penuh pandang memohon.
Wisangjiwo juga menoleh ke arah Pujo.
Kini Roro Luhito juga menggerakkan kepala, menoleh dan menatap wajah Pujo melalui tirai air mata.
Namun Pujo tidak bergerak, tetap memandang kepada isterinya yang masih menundukkan muka.
Agaknya pandang mata suaminya dan keadaan hening yang mencekam itu memaksa Kartikosari mengangkat muka memandang.
Bertemulah pandang mata Kartikosari dengan sinar mata suaminya yang penuh dengan pertanyaan dan keraguan.
Bibir yang merah itu merekah dalam senyum, pandang matanya penuh kasih dan rela, kemudian Kartikosari mengangguk memberi persetujuan kepada suaminya.
Dalam detik-detik itu pandang mata suami-isteri itu telah melakukan tanya jawab yang hanya dimengerti oleh mereka berdua.
Pujo bernapas lega dan gerak-gerik mereka ini diikuti oleh pandang mata semua orang, termasuk pandang mata Roro Luhito.
Kalau semua orang masih belum tahu apa makna semua itu, Roro Luhito sudah mengerti.
Dengan isak tertahan ia meloncat, menubruk dan merangkul leher Kartikosari, kemudian melepas rangkulannya dan lari keluar dari kamar itu!
Kartikosari tersenyum dan mengusap air mata Roro Luhito yang membasahi pipinya ketika puteri adipati itu tadi mengambungnya.
Dengan anggukan kepala Kartikosari memberi isyarat kepada suaminya dan mereka berdua keluar dari kamar itu mengejar Roro Luhito.
Roro Luhito duduk di atas sebuah bangku dalam taman sari, menyembunyikan mukanya dalam kedua tangan, menangis terisak-isak, sepasang pundaknya bergerak-gerak dan ia sama sekali tidak tahu betapa Pujo dan Kartikosari menghampirinya dari belakang dengan langkah perlahan, bergandengan tangan.
Kartikosari berhenti, melepaskan tangan suaminya, lalu mendorong-dorong pundak suaminya ke depan.
Pujo meragu, berat rasa hatinya harus menyapa Roro Luhito dalam keadaan seperti itu, di depan isterinya yang tercinta.
Akan tetapi dengan isyarat pandang mata, gerak bibir dan dorongan-dorongan, Kartikosari membujuknya.
Pujo melangkah ke depan sampai dekat.
Roro Luhito.
Dadanya berdebar, kerongkongannya serasa kering sehingga sukar sekali baginya mengeluarkan suara.
"...Diajeng..."
Akhirnya dapat juga ia bersuara.
Roro Luhito seketika berhenti terisak, tubuhnya tak bergerak, seakan-akan suara itu telah mencabut sukmanya.
Kedua tangan masih menutupi muka, akan tetapi ia tidak menangis lagi, bahkan seakan tidak bernapas, agaknya tidak percaya akan mendengar suara Pujo.
Pujo tadi sudah diajari isterinya bagaimana harus bicara kepada Roro Luhito, Kalimat itu sudah hafal olehnya, namun mulutnya sukar digerakkan, lehernya seperti tercekik.
Tentu saja ia bukan seorang laki-laki yang lemah, bukan pula pemalu.
Hanya karena Kartikosari berada di situ, hal inilah yang membuat ia merasa sungkan, malu, dan tak enak hati.
Betapa ia dapat berkasih sayang dengan wanita lain di depan isterinya, wanita satu-satunya di dunia ini yang dicintanya?
Ia memaksa diri ketika melirik ke kiri dan melihat Kartikosari kembali mendorong-dorongnya dengan isyarat pandang mata dan gerak mulut.
"...Diajeng Roro Luhito, mengapa kau menangis? Kalau... kalau sekiranya diajeng tidak setuju dengan usul paman adipati... jangan khawatir, diajeng, aku... aku dapat membatalkan..."
Belum habis Pujo mengucapkan kalimat hafalan yang didekte oleh Kartikosari itu tiba-tiba Roro Luhito menangis lagi dan wanita ini menjatuhkan diri berlutut dan merangkul kedua kaki Pujo yang berdiri terlongong seperti patung penjaga alun-alun keraton!.
"Eh... nimas Sari... kalau sudah begini bagaimana ini...?"
Pujo tergagap bingung memandang isterinya dan menjaga keseimbangan tubuhnya agar jangan terguling karena kedua kakinya yang dirangkul itu mendadak menggigil!.
"Aduh, bodohnya laki-laki! Itu tandanya ia setuju!"
Kata Kartikosari menahan tawa.
Mendengar suara ini, Roro Luhito terkejut.
Tak disangkanya bahwa Kartikosari berada di situ pula.
Ia mengangkat muka, lalu ia melepaskan kaki Pujo, serta-merta ia berlutut di depan Kartikosari, sambil menangis tersedu-sedu.
"Duhai Dewata yang mulia... betapa mungkin Roro Luhito berlaku serendah ini...?"
Roro Luhito menjerit lirih sambil menangis.
"Diajeng...!!"
Pujo dan Kartikosari berseru hamper berbareng karena kaget. Roro Luhito mengangkat muka memandang mereka. Muka yang merawankan hati, agak pucat, matanya merah, air matanya berderai-derai.
"Kakangmas... mbok ayu... kalian tentu tahu betapa cinta hatiku hanya tertuju kepada kakangmas Pujo. Aku rela mati demi cinta kasihku kepada kakangmas Pujo. Akan tetapi... kakangmas Pujo adalah suami mbok ayu Kartikosari yang begitu baik kepadaku... yang melepas budi kepadaku... betapa mungkin aku berlaku serendah ini, menyakiti hati mbok ayu Kartikosari...?"
Kartikosari terharu dan segera berlutut pula, merangkul Roro Luhito.
"Diajeng, kau keliru. Aku tahu betapa suci murni cinta kasihmu terhadap kakangmas Pujo, dan aku tahu pula betapa baik dan bersih hatimu terhadap aku. Tahukan engkau, diajeng, bahwa aku telah mengajukan syarat kepada kakangmas Pujo? Syaratku kepadanya, aku hanya mau bertugas sebagai isterinya kembali, melakukan kewajiban sebagai isteri yang melayani suami, hanya dengan syarat bahwa engkau harus menjadi maduku!"
Roro Luhito tersentak kaget, menjauhkan mukanya untuk dapat memandang wajah Kartikosari dengan jelas melalui air matanya, matanya dilebarkan.
Kedua orang wanita itu saling pandang, keduanya mengeluarkan air mata dan akhirnya mereka berpelukan sambil menangis dan saling berciuman.
Pujo yang masih berdiri itu hanya dapat memandang.
Keningnya berkerut matanya termenung, mulutnya tersenyum-senyum bingung, dan melihat dua orang wanita itu berpelukan dan bertangisan, ia mengangkat pundaknya berkali-kali sambil meraba-raba kumisnya yang tipis.
Tiba-tiba ia terperanjat ketika mendengar suara Kartikosari menegur.
"Kenapa kau berdiri seperti patung di situ, kakangmas?"
"Eh... habis... bagaimana ini... selanjutnya?"
Jawabnya gagap. Kartikosari menarik Roro Luhito bangkit berdiri. Dengan pipi masih basah Kartikosari tersenyum kepada suaminya.
"Apa kau tidak mau menerima diajeng Roro Luhito menjadi isterimu, kakangmas Pujo?"
Roro Luhito mengangkat muka pula, sepasang matanya memandang tajam kepada Pujo.
Sepasang mata bintang, tajam jernih, indah!
Pujo menelan ludah, sukar sekali menjawab pertanyaan yang diajukan isterinya seperti todongan ujung keris ini.
"Bagaimana? Kakangmas, seorang laki-laki harus berani mengambil keputusan tegas!"
Kartikosari menegur.
"Betul ucapan mbok ayu Kartikosari,"
Roro Luhito menyambung, suaranya juga tegas seperti suara Kartikosari.
"Kalau kakangmas merasa keberatan dan tidak tidak suka menerimaku, hendaknya berterus terang saja dan aku akan ikut dengan bapa resi guruku untuk menjadi seorang pertapa."
Ia menutup kata-katanya dengan isak ditahan. Kembali Pujo menelan ludah, kemudian ia menentang pandang mata kedua wanita itu, mengangkat dada dan menjawab lantang.
"Aku mau!!"
Jawaban ini dikeluarkan dengan suara yang amat lantang, terlalu lantang sehingga jelas tidak sewajarnya dan dibuat-buat untuk memberanikan hati.
Keadaan ini amat lucu sehingga Kartikosari tidak dapat menahan ketawanya.
Apalagi Roro Luhito, wanita yang pada dasarnya memang lincah dan gembira.
Karena kini hatinya penuh dengan kebahagiaan, menyaksikan sikap calon suaminya yang memang sejak sepuluh tahun yang lalu telah menjadi pujaan hatinya ini, tak dapat menahan kegelian hatinya.
Ia memeluk Kartikosari, menyembunyikan mukanya dan tertawa sampai terpingkal-pingkal dengan air mata membanjir keluar!.
Pujo berbesar hati.
Tadi ia bingung menyaksikan dua orang wanita itu bertangis-tangisan.
Akan tetapi sekarang menyaksikan wajah istennya penuh senyum yang manis dan cerah, melihat pula betapa Roro Luhitc tertawa-tawa sambil menyembunyikan muka karena malu-malu, ia menjadi bangga.
Dengan langkah lebar ia mendekat.
Hanya tiga langkah dan ia sudah berada di depan mereka, kedua lengannya dikembangkan dan dua orang wanita itu sudah berada dalam rangkulan dan pelukannya.
Dengan kedua lengannya yang kuat, ia memeluk dan mendekap mereka di atas dadanya.
Kartikosari di dada kanan, Roro Luhito di dada kiri.
Kedua wanita itupun meramkan mata sambil balas memeluk, menyembunyikan muka di atas dada yang bidang, merasa aman sentausa dan bahagia.
Sampai lama mereka berada dalam keadaan seperti ini, tanpa bicara karena dalam saat seperti itu, kata-kata yang keluar dari mulut terlampau miskin untuk menyampaikan getaran rasa nikmat yang menggelora dan menggetar-getar dari dalam hati.
Sebagai seorang wanita yang halus perasaannya, Kartikosari yang lebih dulu tergugah.
Maklum betapa suaminya terbuai getaran cinta kasih yang menggelora, ia cepat berkata, suaranya halus tapi menekan.
"Kakangmas, kiranya cukuplah. Seorang satria harus teguh memegang janji. Belum tiba saatnya kita saling menumpahkan perasaan cinta kasih."
Pujo menarik napas panjang untuk menekan gelora hatinya yang benar-benar hamper terseret gelombang asmara yang amat hebat.
Dengan kedua tangan di atas pundak kedua isterinya, ia mendorong mereka, menatap wajah mereka, lalu berkata.
"Sekali lagi aku berjanji bahwa sebelum musuh besar kita bertiga terbalas, aku akan menahan diri dan tidak akan menuntut hakku sebagai suami terhadap kalian, kedua isteriku yang terkasih."
"Wah, enak saja dia ini menyebutmu sebagai isterinya, diajeng!"
Kartikosari menggoda suaminya.
"Kakangmas Pujo, kau belum menjawab permintaan paman adipati. Beliau tentu menanti-nanti, hayo kau lekas ke sana memberikan jawabanmu."
Pujo meragu, memandang kepada Roro Luhito, seakan minta pertimbangan. Roro Luhito yang kini berseri-seri wajahnya sehingga menjadi makin cantik manis, mengangguk dan berkata.
"Betul pendapat mbok ayu Sari, kakangmas. kau harus memberi jawaban kepada ayah."
Kartikosari makin lebar senyumnya, matanya menggoda, tangan kirinya memeluk pinggang Roro Luhito.
Pujo hendak membantah, namun menghadapi dua orang wanita yang sependapat ini, akhirnya ia menghela napas, mengangkat kedua pundak, membalikkan tubuh dan melangkah pergi sambil mengembangkan kedua lengan ke depan.
Wah, berat kalau begini, pikirnya di antara kebahagiaan hatinya.
Kalau mereka berdua sudah bersatu padu, dia seakan-akan dihadapkan lawan yang luar biasa kuatnya.
Ia tahu bahwa sejak saat itu, ia takkan dapat lagi merasa lebih tinggi dan lebih kuat daripada Kartikosari ataupun Roro Luhito yang agaknya telah membentuk persekutuan yang amat erat dan kuat.
Berpikir demikian, Pujo meringis dan mempercepat langkahnya menuju ke dalam kadipaten, ke dalam kamar di mana Adipati Joyowiseso sudah menanti-nanti kembalinya.
Tak tahu ia betapa Kartikosari dan Roro Luhito menutup mulut menahan ketawa melihat ia berjalan sambil mengembangkan lengan dan kepalanya bergeleng-geleng seperti itu!.
Dapat dibayangkan betapa lega dan girang Adipati Joyowiseso ketika Pujo menghadap dan menyatakan persetujuannya akan usul adipati itu tentang perjodohannya dengan Roro Luhito.
Adipati Joyowiseso yang sudah tua dan keluarganya telah hancur berantakan itu merasa lega, karena sesungguhnya hanyalah keadaan puterinya ini yang menyusahkan hatinya.
Seorang gadis yang sudah berusia dua puluh enam tahun, dinodai peristiwa aib karena perbuatan Jokowaneng pati yang terkutuk.
Akan bagaimanakah jadinya kelak kalau tidak cepat-cepat dijodohkan dengan seorang yang patut menjadi suaminya?
Dan menurut pendapatnya, tidak ada yang lebih tepat menjadi suami Roro Luhito kecuali Pujo, laki-laki gagah perkasa yang juga menjadi idaman hati anaknya itu.
Atas desakan sang adipati, pernikahan dilakukan serentak tiga hari kemudian!
Upacara pernikahan yang amat sederhana, terlalu sederhana bagi puteri seorang adipati.
Adipati Joyowiseso tidak mengundang bangsawan-bangsawan lain, bahkan tidak pula mengundang kenalan-kenalan lain dari luar Selopenangkep.
Upacara pernikahan itu hanya disaksikan oleh hamba-hamba setia kadipaten, dan dihadiri pula oleh penduduk Selopenangkep yang tua dan yang penting saja.
Karena tidak mempunyai keluarga yang tua, Pujo dan Kartikosari mohon pertolongan Resi Telomoyo untuk menjadi wali pengantin pria.
Dengan senang hati resi tua itu meluluskan permintaan Pujo, sedangkan yang menjadi wali pengantin wanita adalah ayahnya sendiri.
Adipati Joyowiseso mendadak tampak sehat kembali pada hari itu, mengenakan pakaian kebesaran dan wajahnya berseri gembira.
Akan tetapi pengantin wanita menangis penuh keharuan karena teringat akan ibunya yang tewas dalam penyerbuan kadipaten.
Tertawa dan menangis!
Dua macam keadaan yang berlawanan inilah yang berselang-seling memenuhi kehidupan manusia.
Di saat ini tertawa gembira bersuka ria, di saat lain menangis sedih berduka cita.
Dunia bagaikan panggung sandiwara dan manusia menjadi pelaku-pelaku, bahkan banyak muncul badut-ba dut setelah diperhamba nafsu dan perasaan.
Ataukah.
lebih tepat disebut bahwa dunia bagaikan rumah gila?
Bahwa manusia adalah mahluk-mahluk gila yang saling menonjolkan kegilaannya agar kelihatan bahwa dialah yang paling gila daripada segala yang gila??
Manusia mudah tertawa, mudah menangis.
Mudah bersuka, mudah berduka.
Pada umumnya apabila keinginannya terlaksana, muncul senyum suka Sebaliknya, apabila keinginannya tidak terlaksana, muncul tangis duka.
Sedangkan semua keinginan itu berputar kepada keuntungan untuk dirinya sendiri, berlandaskan nafsu menyenangkan diri pribadi.
Mengharap, dapat, tertawa.
Mengharap, luput, menangis.
Tawa tangis,menjadi kebiasaan manusia yang sudah tidak mampu menguasai d irinya sendiri, yang sudah menjadi hamba daripada nafsu sendiri.
Tawa dan tangis adalah sepasang tangan dari badan yang satu.
Tawa dan tangis adalah sepasang saudara kembar yang silih ganti bermunculan, saling berlomba untuk memperebutkan dan menguasai hati manusia.
Manusia yang sadar dapat menguasai mereka, di waktu suka berkunjung, dapat menjenguk dan melihat duka berdiri di ambang pintu, siap menanti gilirannya, dan demikian pula sebaliknya.
Karenanya, seorang manusia yang sadar selalu akan tenang dan menerima segala kejadian di dunia yang menimpa dirinya sebagai kejadian yang wajar, yang semestinya dan yang tak dapat ia robah atau halangi seperti munculnya sang matahari Matahari muncul dan terjadilah panas terik.
Ini sudah wajar.
Sudah semestinya.
Tidak ada suka, tidak ada duka, tidak ada tawa tidak ada tangis.
Manusia sadar dapat menerima kewajaran ini sebagai kenyataan yang mengandung anugerah,dapat memetik manfaat daripadanya.
Mata seorang sadar dapat melihat bahwa di balik panas terik yang menyengat dan menghangus kan, terciptalah keteduhan nikmat di bawah pohon yang rindang!
Melihat nikmat dalam nyeri, mengenal nyeri dalam nikmat.
Mengenyam manis dalam pahit, merasai pahit dalam manis.
Mencium ganda busuk dalam harum, mengenal harum dalam ganda busuk!
Bahagialah selalu manusia yang sadar!.
Hanya tiga hari kemudian semenjak upacara pernikahan, Adipati Joyowiseso menghembuskan napas terakhir, diiringi tangis Roro Luhito dan Wisangjiwo.
seperti juga pada upacara pernikahan antara Roro Luhito dan Pujo, upacara pemakaman sang adipati dilakukan dengan sederhana, dilayat oleh mereka yang tiga hari yang lalu menjadi tamu dalam upacara pernikahan!.
Kalau dalam pertemuan pertama, Roro Luhito merupakan penghibur bagi Pujo dan Kartikosari sehingga dalam perjalanan mereka itu terdapat kegembiraan, adalah kini kedua orang inilah yang selalu menghibur Roro Luhito.
Setiap hari tampak Roro Luhito dihibur oleh Pujo dan Kartikosari di dalam taman sari.
Sebagai pengantin baru, sudah sepantasnya Pujo berlangen asmoro dengan kedua isterinya di dalam taman indah.
Melihat mereka bertiga bermesra-mesraan di dalam taman, tentu semua orang akan menyangka demikian.
Mengira Pujo berbulan madu dengan Roro Luhito, ditemani Kartikosari sebagai isteri pertama yang penuh toleransi!
Perkiraan ini membuat para pelayan tersenyum-senyum, membuat para dayang saling cubit menahan tawa, mengeriing penuh arti.
Padahal sesungguhnya, Pujo dan Kartikosari hanyalah menghibur hati Roro Luhito agar jangan terlalu dikuasai kedukaan.
Mereka bertiga adalah orang-orang gemblengan yang tahan uji, tidak akan mudah dikuasai nafsu.
Sekali dalam hati berjanji, sampai matipun akan dipegang teguh janji ini.
Sebagai seorang laki-laki yang sehat, tentu saja sumpah atau janji mereka itu terasa amat berat.
Kedua isterinya demikian ayu, demikian denok, dan bersikap mesra penuh kasih kepadanya.
Ia harus mempergunakan seluruh kekuatan batinnya untuk membendung hasrat hendak mencurahkan seluruh kasih saying dan rindu dendamnya kepada kedua isterinya, terutama sekali kepada Kartikosari.
Namun, Pujo memaksa diri mempertahankan, karena ia kini maklum akan keadaan hati kedua isterinya.
Sebagai wanita-wanita utama, tentu saja mereka akan merasa rendah diri melayani suami sebagai isteri-isteri tercinta, apabila Jokowanengpati yang mendatangkan aib dan noda itu belum tewas di depan kaki mereka!.
Sementara itu, Raden Wisangjiwo dibantu oleh Resi Telomoyo keluar dari kadipaten dan memimpin sendiri anak buahnya dalam usahanya mencari Raden Joko Wandiro, puteranya, dan Endang Patibroto, puteri Pujo.
Namun hasilnya sia-sia belaka.
Setiap kali kembali ke kadipaten, wajah Wisangjiwo makin keruh dan pucat.
Namun segera ia berangkat lagi mencari ke lain jurusan.
Sebulan kemudian, utusan yang disuruh berangkat ke Kotaraja memberi laporan kepada Pangeran Sepuh tentang keadaan Kadipaten Selopenangkep, telah tiba kembali di kadipaten.
Mereka membawa berita yang mengejutkan, yaitu bahwa perang telah terjadi secara terbuka antara pasukan Pangeran Sepuh dan pasukan-pasukan pengikut Pangeran Anom!
Wisangjiwo juga dipanggil ke Kotaraja oleh Pangeran Sepuh karena perang saudara itu membutuhkan bantuan sebanyaknya.
Juga utusan itu membawa berita bahwa di antara panglima yang membantu Pangeran Anom, terdapat senopati Jokowanengpati yang terkenal pandai mengatur pasukan dan sakti.
Panas sekali hati Wisangjiwo mendengar ini.
Hatinya sedang risau karena usahanya mencari Joko Wandiro belum juga berhasil.
Kini mendengar tentang Jokowanengpati, ia marah sekali dalam hati.
Puteranya hilang adalah karena kebiadaban Jokowanengpati, demikian kata hatinya.
Ia lalu menemui Pujo, Kartikosari, Roro Luhito, dan Resi Telomoyo.
"Aku harus berangkat segera ke Kotaraja,"
Katanya.
"Kalau perang antara kedua pangeran telah pecah, berarti perang saudara yang hebat. Pangeran Anom dibantu oleh banyak orang sakti seperti Cekel Aksomolo, Ni Durgogini, Ni Nogogini, Ki Warok Gendroyono, Ki Warok Krendoyakso dan anak buahnya yang buas. Juga Jokowanengpati si keparat merupakan tangan kanan Pangeran Anom. Oleh karena itu, kalau saja kalian bertiga, juga paman Resi Telomoyo suka, saya minta dengan hormat agar supaya ikut pula ke Kotaraja. Membantu Pangeran Sepuh berarti membantu keturunan Mataram. Pangeran Sepuh adalah putera Sang Dewi Sekarkedaton, cucu mendiang Sang Prabu Teguh Dharmawangsa, berdarah Mataram aseli. Akan tetapi Pangeran Anom adalah pangeran yang berdarah keturunan Sriwijaya! Bukan tidak mungkin kalau Pangeran Anom yang menguasai Kahuripan, kelak kita semua akan menjadi orang jajahan Sriwijaya. Andaikata andika sekalian tidak tertarik akan hal ini, juga dengan membantu Pangeran Tua berarti menentang Pangeran Muda yang mempergunakan tenaga orang-orang jahat, berarti kita telah melakukan dharma satria membasmi kejahatan."
"Kakangmas Wisangjiwo. Hal-hal lain tidak menarik hati kami bertiga, akan tetapi dengan adanya si keparat Jokowanengpati di sana, kami bertiga tentu saja akan berangkat pula ke sana. Kalau dia membantu Pangeran ,Anom, dengan sendirinya kami akan membantu lawannya, yaitu Gusti Pangeran Sepuh,"
Kata Pujo dan kedua orang isterinya mengangguk-angguk tanda setuju.
"Bagaimana dengan paman Resi Telomoyo?"
Wisangjiwo bertanya penuh harapan, matanya menyinarkan kegirangan karena Pujo bertiga ikut pula membantu Pangeran Sepuh.
Tenaga tiga orang ini amat hebat dan berguna dalam perlawanan menghadapi orang-orang sakti yang membantu Pangeran Anom.
"Hemmm, aku sudah tua, raden. Aku tidak suka akan perang bunuh membunuh antara manusia memperebutkan kemenangan. aku tidak butuh kemewahan, tidak pula butuh pahala. Akan tetapi, kalau pertapa-pertapa seperti Cekel Aksomolo dan yang lain-lain itu meninggalkan pertapaan mengejar keduniaan mengandalkan kesaktian, tentu keadaan akan menjadi miring dan berat sebelah. Terpaksa akupun harus turun tangan menghalangi mereka. Mari kita berangkat!."
Girang hati Wisangjiwo mendengar ini dan ia tertawa melihat kakek itu menjadi bersemangat dan tergesa-gesa.
"Harap paman resi bersabar karena saya masih menanti kembalinya pasukan yang saya utus pergi menjemput isteri saya di dusun Selogiri."
"Hahh? Selogiri di lereng timur Gunung Lawu?"
Resi Telomoyo bertanya.
"Betul, paman."
Wisangjiwo menarik napas panjang penuh penyesalan."Semua gara-gara Jokowanengpati..."
Ia melirik ke arah Pujo.
"Saya tertipu muslihatnya, mempercaya mulutnya. Karena kehilangan Joko Wandiro isteri saya Listyokumolo seperti berubah ingatannya. Saya... saya tadinya menyangka buruk terhadap adimas Pujo sehingga saya pulangkan isteri saya itu kepada ayahnya, lurah Selogiri. Saya menyesal, paman, dan sekarang saya menyuruh pasukan menjemputnya, akan saya ajak bersama ke Kotaraja. Kasihan isteri saya..."
Wisangjiwo termenung.
"Ahh, saya mengaku salah alamat, saya telah menjadi seekor binatang buas, merampas puteramu sehingga membuat isterimu menjadi berduka"
"Sudahlah, dimas. Semua telah terjadi dan semua mempunyai kesalahan. Tinggal sekarang kita merobah segala kesalahan yang lalu. Mudah-mudahan saja nimas Listyokumolo sudah sembuh dan suka mengampunkan aku."
Dua hari kemudian datanglah pasukan yang ditunggu-tunggu.
Wajah Wisangjiwo menjadi muram karena tidak melihat isterinya bersama mereka.
Apalagi setelah ia mendengar laporan kepala pasukan, ia menjadi berduka sekali.
Kiranya, menurut hasil penyelidikan pasukan itu, tidak lama semenjak Listyokumolo pulang ke dusun Selogiri, dusun itu dilanda malapetaka.
Sekelompok perampok menyerbu Selogiri.
Biarpun lurah Selogiri, ayah Listyokumolo, bersama para penduduk melakukan perlawanan, namun tidak kuat mereka menghadapi para perampok.
Lurah Selogiri tewas, banyak penduduk laki-laki yang tidak sempat melarikan diri dibunuh, dusun dibakar dan banyak wanita terculik.
Di antaranya, Listyokumolo dibawa lari oleh kepala rampok!
Melihat kakaknya berwajah pucat dan menjambak-jambak rambut penuh penyesalan, Roro Luhito memegang pundak kakaknya sambil menangis.
"Kasihan nasib kangmbok Listyokumolo..."
Wisangjiwo menghela napas dan menengadahkan kepalanya.
"Duh Dewata yang Agung, inikah hukumanku? Biarlah, Luhito, biar impas semua dosaku, karena tiada kejahatan tanpa hukuman dan kalau kuingat akan kelakuanku yang lalu, sungguh belum seberapa hebatnya hukuman ini. Mari, adikku, mari kita berangkat, mari kita mencari si jahanam Jokowanengpati, biang keladi segala peristiwa pahit ini!"
Setelah meninggalkan sepasukan penjaga untuk menjaga Kadipaten Selopenangkep, berangkatlah mereka, Wisangjiwo, Pujo, Kartikosari, Roro Luhito, dan Resi Telomoyo berkuda, diiringkan pasukan yang kesemuanya berkuda.
Biarpun wajahnya membayangkan kebesaran semangat dan kegembiraan seorang perajurit yang siap bertempur namun di dalam hatinya, Wisangjiwo menangisi isterinya.
Teringat ia sekarang akan segala derita yang dialami Listyokumolo.
Betapa dahulu, Listyokumolo gadis dusun yang cantik jelita dan bahagia itu terpaksa menyerah kepadanya dan hidup di dalam Kadipaten Selopenangkep.
Betapa Listyokumolo dengan sepenuh jiwanya berusaha menyesuaikan diri, berusaha mencinta suaminya dan betapa Listyokumolo selalu bersabar digoda tingkah laku suaminya yang selalu mengejar-ngejar wanita cantik.
Teringat ia betapa kejam hatinya, tidak kasihan melihat isterinya seperti gila kehilangan putera, tidak menghiburnya malah mengusirnya pulang ke Selogiri!
Kalau sekarang ia teringat betapa akan celaka nasib isterinya itu diculik kepala perampok, hatinya terasa ditusuk-tusuk ujung keris berbisa.
Ia berjanji di dalam hati bahwa setelah selesai perang dan masih hidup, ia akan menggunakan sisa usianya untuk mencari isterinya, mencari Listyokumolo sampai dapat dan kalau isterinya itu sudah mati, ia akan membalas mereka yang menyakiti isterinya, terutama kepala perampok itu!.
Pujo dan Kartikosari sama sekali tidak tahu bahwa pada saat mereka berangkat mengikuti Wisangjiwo bersama Roro Luhito dan Resi Telomoyo menuju ke Kotaraja, terjadi penyerbuan di Pulau Sempu terhadap Bhagawan Rukmoseto atau Resi Bhargowo.
Sama sekali tidak tahu betapa hamper saja Resi Bhargowo tewas oleh pengeroyokan jago-jago utusan Pangeran Anom yang ingin merampas pusaka Mataram.
Juga tidak tahu betapa dua orang anak yang mereka cari-cari selama ini berada pula di Pulau Sempu dan dengan adanya penyerbuan menjadi cerai-berai.
Seperti kita ketahui, Endang Patibroto bertemu dengan seorang manusia yang luar biasa saktinya, ialah Dibyo Mamangkoro bekas senopati Kerajaan Wengker.
Endang Patibroto kemudian ikut pergi dengan Dibyo Mamangkoro sebagai muridnya, pergi ke sebuah pulau yang pada waktu itu merupakan pulau gawat, Penuh dengan iblis bekasakan sehingga terkenal sebagai tempat yang disirik (pantang) orang karena kabarnya orang yang masuk ke pulau itu tentu akan tewas dan tidak dapat keluar kembali.
Bahkan para nelayan tidak ada yang berani mendekatkan perahu ke pulau itu di waktu mereka mencari ikan.
Pulau itu bukan lain adalah Pulau Nusakambangan!.
Dibyo Mamangkoro manusia yang wataknya seperti bukan manusia lagi itu, seorang sakti mandraguna yang sukar dicari tandingannya, tidak mempunyai putera maupun keluarga lain.
Semua keluarga terbasmi habis ketika Kerajaan Wengker di mana ia mengabdi hancur dalam perang melawan Kahuripan sehingga ia sendiri melarikan diri dan bersembunyi di Nusakamba ngan.
Kini melihat Endang Patibroto, ia merasa amat suka.
Anak perempuan ini memiliki dasar watak yang liar, ganas dan tidak pernah mau kalah, sebuah watak yang cocok dengan watak Dibyo Mamangkoro.
Selain itu, anak ini memiliki tubuh yang amat baik, tulang seorang calon pendekar sakti.
Di samping ini semua, Endang Patibroto pandai mengambil hati dan anak ini sendiripun suka berlatih ilmu serta rajin.
Inilah sebabnya mengapa Dibyo Mamangkoro melakukan hal yang selama hidupnya belum pernah ia lakukan, yaitu, mengambil murid dan setiap hari tekun melatihnya dengan rasa kasih saying yang makin mendalam sehingga Endang Patibroto dianggapnya sebagai anak atau cucunya sendiri.
Kakek yang sakti mandraguna ini mengambil keputusan untuk menurunkan dan mewariskan seluruh kepandaiannya kepada Endang Patibroto!.
Kita tinggalkan dulu Endang Patibroto yang bertahun-tahun digembleng oleh Dibyo Mamangkoro, seakan-akan mereka berdua itu sudah terputus hubungannya dengan dunia ramai, hanya berteman binatang-binatang buas dan hutan lebat.
* * * Mari kita ikuti perjalanan Joko Wandiro yang meninggalkan Pulau Sempu dalam keadaan pingsan.
Joko Wandiro menjadi korban gigitan ular kecil berwarna hijau ketika ia menyembunyikan patung kencana ke atas pohon randu alas.
Mula-mula, kakinya yang digigit, kemudian pergelangan lengan kanannya.
Biarpun ia sendiri dapat membunuh ular itu dengan menggigit lehernya dan mengisap darahnya, namun racun ular membuat Joko Wandiro menggeletak pingsan ketika ia ditemukan Ki Tejoranu yang kebetulan datang pula ke Pulau Sempu karena kakek pertapa dari Danau Sarangan ini diam-diam mengikuti gerak-gerik Jokowanengpati dan teman-temannya.
Melihat betapa bocah yang pernah menolongnya dan yang dianggap sebagai tuan penolongnya itu menggeletak pingsan dan setelah memeriksa ia maklum bahwa Joko Wandiro menjadi korban gigitan ular berbisa, Ki Tejoranu cepat mengangkat tubuh Joko Wandiro dan membawanya pergi dari Pulau Sempu.
Ketika menyeberangi laut menuju ke darat, Ki Tejoranu cepat menotok jalan darah di lutut dan siku untuk mencegah racun ular menjalar makin jauh ke tubuh Joko Wandiro.
Kemudian, setibanya di darat, ia memondong tubuh anak itu dan segera membawanya ke dalam hutan.
Tubuh Joko Wandiro amat panas!
Ki Tejoranu segera mencari daun-daun obat.
Untung bahwa bumi Pulau Jawa amatlah lohjinawi, tidak saja subur menumbuhkan bahan makan yang berlimpah-ruah, juga menjadi tempat hidup segala macam daun-daun berkhasiat obat mujarab.
Dengan tergesa-gesa Ki Tejoranu mengumpulkan daun Sambiloto daun Jintan, daun Ketumbel, dan daun Ngokilo, memasaknya dan menuangkan jamu ini ke dalam tenggorokan Joko Wandiro yang masih pingsan.
Ia merasa heran mendapat kenyataan ketika ia minumkan jamu itu bahwa tubuh Joko Wandiro tidaklah panas lagi dan napasnya tidak terengah-engah seperti tadi.
Kakek ini tidak tahu bahwa secara kebetulan Joko Wandiro telah minum obat yang cukup manjur, yaitu darah ular itu sendiri!.
Kemudian Ki Tejoranu masuk ke dalam hutan lagi dengan gerakan amat cepat.
Tak lama ia mencari-cari dan ketika kembali, ia sudah membawa obat-obat yang ia perlukan, yaitu bawang putih, jeruk pecel, dan madu tawon.
Ramuan obat ini ia pakai untuk mengompres luka di kaki dan pergelangan lengan bekas gigitan ular.
Penuh ketekunan kakek ini merawat Joko Wandiro sehingga dalam waktu tiga hari saja anak itu telah sembuh sama sekali.
Pada hari ke empat, pagi-pagi sekali Joko Wandiro siuman.
Ia membuka mata dan terheran-heran mendapatkan dirinya berada dalam sebuah gubuk kecil terbuat daripada bambu dan daun kelapa, rebah di atas tanah bertilam anyaman daun kelapa.
Joko Wandiro terheran-heran, apalagi ketika ia bangkit dan berdiri, ia merasa betapa perutnya hangat dan di dalam dadanya terasa getaran-getaran tarik-menarik yang aneh.
Sebagai murid dari orang-orang sakti, ia maklum betapa di dalam tubuhnya terdapat tenaga mukjijat yang dihimpun dari hawa sakti.
Setiap orang manusia memiliki hawa sakti ini, hanya tidak setiap orang tahu bagaimana untuk menghimpun dan mempergunakannya.
Justeru kepandaian menghimpun hawa sakti inilah yang amat sukar dipelajari, membutuhkan ketekunan dan latihan serta gemblengan guru-guru yang sakti, membutuhkan cara bersamadhi dan latihan pernapasan yang matang.
Biarpun Joko Wandiro sudah maklum akan cara-caranya, namun ia belum matang berlatih dan karenanya ia merasa amat heran mengapa kini hawa sakti di dalam tubuhnya menimbulkan getaran-getaran sedemikian hebatnya!.
Kemudian ia teringat betapa ia tergigit ular dan betapa dengan ketakutan ia berlari-lari sambil memanggil kakek gurunya.
Teringat akan ini, ia terkejut dan cepat memandang pergelangan tangan kanannya.
Sudah sembuh sama sekali!
Juga kakinya yang tergigit ular tidak ada bekasnya lagi.
Ia merasa heran dan bingung.
Sambil melompat keluar dari dalam gubuk kecil itu ia berseru memanggil.
"Eyang guru...!!"
"Eh, kau sudah bangun? Sudah sembuh...??"
Seruan girang ini membuat Joko Wandiro cepat membalikkan tubuh. Ki Tejoranu telah berdiri di depannya. Wajah kakek ini berseri, matanya memancarkan kegembiraan.
"Bukankah paman ini Ki Tejoranu? Di mana kita dan bagaimana aku bisa sampai di sini?"
Dengan singkat Ki Tejoranu menceritakan apa yang telah terjadi, betapa ia melihat rombongan Jokowanengpati mendarat di Sempu, kemudian bagaimana ia menemukan Joko Wandiro dalam keadaan pingsan digigit ular hijau.
"Untung sekali tubuhmu amat kuat dan darahmu bersih sehingga racun ular tidak merenggut nyawamu,"
Sebagai penutup cerita Ki Tejoranu berkata.
Biarpun dalam bercerita itu ia bicara dengan suara pelo, namun cukup jelas bagi Joko Wandiro yang menjadi terharu dan berterima kasih sekali.
Bocah yang tahu akan sopan santun dan kenal akan budi ini segera menjatuhkan diri berlutut di depan Ki Tejoranu, menyembah sambil menghaturkan banyak berterima kasih.
Tergesa-gesa Ki Tejoranu membangunkan Joko Wandiro.
"Wah, tidak usah begitu, anakku yang baik. Perbuatanku mengobatimu itu sama sekali tidak ada altinya dengan pelbuatanmu membelaku di hadapan lawan-lawan tangguh. kau menolongku dengan taluhan keselamatan dilimu sendili, sebaliknya aku menolongmu tanpa taluhan apa-apa. Tak usah kau belterima kasih, kalena hutangku kepadamu belum juga lunas."
"Paman, bagaimana jadinya dengan eyang guru?"
"Eyang gulu? Siapa yang kau maksudkan?"
"Eyang guru adalah Bhagawan Rukmoseto atau Resi Bhargowo. Beliau berada di atas Pulau Sempu ketika aku digigit ular dan... dan... Endang Patibroto juga berada di sana."
"Endang Patibroto??"
"Ya, anak kecil, cucu eyang guru. Apakah mereka masih berada di sana?"
Ki Tejoranu termenung Ia terkejut juga mendengar bahwa yang berada di Pulau Sempu adalah Resi Bhargowo.
Kini mengertilah ia bahwa Jokowanengpati dan rombongannya itu tentu hendak membunuh Resi Bhargowo dan kabarnya hendak merampas pula pusaka Mataram!
Tak disangkanya bahwa bocah ini, penolongnya yang amat disayangnya, adalah cucu murid Resi Bhargowo!
Kemudian ia teringat akan tokoh luar biasa yang melayang di permukaan laut, bersama seorang anak perempuan.
"Apakah anak perempuan itu sebaya denganmu, bajunya hijau, rambutnya panjang dikucir, mukanya tajam seperti bintang?"
"Ya,ya... dialah Endang Patibroto."
"Hemmm, dan Resi Bhargowo itu, apakah seorang kakek tinggi besar seperti raksasa, kumisnya sekepal sebelah, tanpa baju, kepandaiannya seperti dewa, pandai terbang dan berlari di permukaan laut?"
Joko Wandiro menggeleng kepala.
"Eyang guru Resi Bhargowo adalah seorang kakek yang halus dan sama sekali bukan seperti raksasa. Beliau memang sakti mandraguna, akan tetapi... terbang dan berlari di permukaan laut... kurasa... entah bisa atau tidak..."
"Anak yang baik, kau bilang masih cucu murid Resi Bhargowo. Siapakah gurumu?"
"Guruku adalah ayahku sendiri, paman."
"Dan ayahmu, siapa dia?"
"Ayah bernama Pujo."
"Hayaaaaa...!"
Ki Tejoranu meloncat kaget."Ayahmu... Pujo??"
"Betul, kenapa, paman?"
"Ah, betapa kebetulan sekali! Bukankah ayahmu itu orang gagah yang pernah membantu Ki Patih Narotama ketika dikeroyok oleh Cekel Aksomolo dari teman-temannya dalam hutan di muara Sungai Lorog?"
"Betul. Ayahkulah yang dahulu di sana melawan paman sendiri. Aku juga melihat betapa paman tidak mau berkelahi dengan keroyokan kemudian ketika ayah datang, paman menghadapi ayah."
"Oohh-oh-ahh...! kau melihat pula hal itu? Ayahmu hebat, seorang manusia sakti mandraguna. Pukulanpu-kulannya ampuh melebihi golokku! Kalau ayahmu murid Resi Bhargowo sudah sedemikian hebat kepandaiannya, tentulah ilmu kepandaian eyangmu itu amat tinggi. Dengan demikian,belum tentu beliau akan celaka di tangan Jokowanengpati dan teman-temannya. Akan tetapi kakek raksasa itu... ihh, ngeri dan serem hatiku kalau mengingatnya. Entah siapa dia, akan tetapi aku melihat dia masuk pulau bersama anak kecil temanmu itu, Endang Patibroto."
Joko Wandiro terheran.
"Aku sendiri belum pernah melihat kakek yang paman maksudkan tadi."
"Anak baik, siapakah namamu?"
"Aku Joko Wandiro, paman."
Tiba-tiba Ki Tejoranu terpekik dan sekali tubuhnya berkelebat ia lenyap dari depan Joko Wandiro.
Anak ini kaget sekali, cepat menengok dan kiranya kakek itu sudah berada jauh di belakangnya sehingga diam-diam ia amat kagum akan kecepatan gerak kakek ini.
"Ada apakah, paman?"
Ki Tejoranu menudingkan telunjuknya ke arah Joko Wandiro, suaranya gemetar ketika ia bertanya.
"Kau... kau. ..benarkah namamu Joko Wandiro...??"
"Benar sekali, paman. Apakah anehnya dengan namaku?"
"Aneh sekali benar aneh sekali..."
Ki Tejoranu melangkah maju menghampiri Joko Wandiro, lalu duduk di atas akar pohon di depan anak itu, memegang kedua pundak Joko Wandiro sambil menatap wajah tampan itu dengan pandang mata penuh selidik.
"Mereka bilang cucu adipati di Selopenangkep, putera Raden Wisangjiwo, diculik Pujo dan anak itu bernama Joko Wandiro..."
"Bohong itu...!"
Joko Wandiro berteriak merenggutkan diri terlepas dari pegangan Ki Tejoranu sambil melangkah mundur, matanya terbelalak dan wajahnya yang tampan kelihatan marah.
"Paman, mengapa paman seperti kakek tua jahat Cekel Aksomolo? Percaya akan segala kebohongan? Aku memang bernama Joko Wandiro, akan tetapi tidak diculik ayahku. Bagaimana seorang ayah menculik anaknya Sendiri? Kalau mau bicara tentang penculikan, agaknya Cekel Aksomolo yang dahulu hendak menculikku, ia memaksaku pergi ke Selopenangkep. Syukur paman dahulu datang menolong. Pujo yang paman sebut-sebut itu adalah ayahku, juga guruku. Sedangkan Wisangjiwo yang paman maksudkan itu, putera Kadipaten Selopenangkep, adalah musuh besarku, musuh besar ayahku yang akan kubunuh kalau aku berjumpa dengannya!"
Ki Tejoranu makin bingung.
"Kenapa? Apa sebabnya ayahmu memusuhinya?"
"Si keparat Wisangjiwo telah membunuh ibuku!"
Kata Joko Wandiro sambil menekan perasaannya. Tak mungkin ia sudi menceritakan pada orang lain bahwa ibunya tidak hanya dibunuh, akan tetapi juga diperhina oleh Wisangjiwo!.
"Aahhh...!"
Ki Tejoranu mengerutkan kening dan makin terheran-heran. Kemudian ia berkata.
"Sungguh membingungkan keterangan-keterangan yang saling bertentangan ini. Akan tetapi, Joko anak baik. yang sudah jelas bagiku adalah bahwa Pujo seorang laki-laki jantan dan sakti, sebaliknya Cekel Aksomolo dan teman-temannya adalah orang-orang yang memiliki watak pengecut dan curang. Mereka itu amat kuat dan memiliki banyak kaki tangan, maka amat berbahayalah kalau sampai mereka dapat melihatmu. Oleh karena itu, kau sementara tinggal dulu bersamaku dan agar tidak kesal hatimu,berlatihlah ilmu silat dan juga ilmu golok yang kelak tentu amat berguna bagimu, sementara aku akan pergi menyelidiki keadaan kakek gurumu di Pulau Sempu dan menyelidiki di mana adanya ayahmu. Akan kujumpai ayahmu di Muara Lorog dan memberi tahu kepadanya tentang keadaanmu. Kalau kau ikut bersamaku, aku khawatir akan bertemu dengan mereka di tengah jalan dan kalau terjadi hal itu, terus terang saja aku tidak akan kuat melindungimu."
Joko Wandiro adalah seorang anak yang cerdik.
Ia tahu bahwa dirinya diselubungi rahasia yang aneh dan tahu pula bahwa Cekel Aksomolo dan teman-temannya adalah orang-orang sakti yang takkan terlawan oleh Ki Tejoranu sendiri.
Maka ia mengangguk dan membenarkan kakek itu.
Apalagi ia memang kagum menyaksikan gerak-gerik kakek ini yang pernah ia lihat ketika bertanding.
Ilmu golok kakek ini amat hebat maka Joko Wandiro menjadi girang untuk mempelajarinya.
Demikianlah, mulai hari itu, Joko Wandiro menerima gemblengan Ki Tejoranu dalam ilmu silat yang gerakannya amat cepat.
Mula-mula ia diberi pelajaran ilmu silat tangan kosong.
Karena sejak kecil anak ini sudah mendapat gemblengan keras dari Pujo, kemudian malah mendapat bimbingan Resi Bhargowo sendiri, boleh dibilang Joko Wandiro telah memiliki dasar gerakan silat tinggi, maka dengan girang dan kagum Ki Tejoranu mendapat kenyataan betapa mudahnya anak ini mewarisi ilmunya.
Segera ia menurunkan ilmu goloknya.
Pada pagi hari yang cerah itu, sebulan setelah Joko Wandiro mati-matian dan siang malam melatih ilmu silat, mereka duduk di bawah pohon cempaka, berada di atas rumpun dan berhadapan.
"joko Wandiro, anakku yang baik. Ilmu pukulan yang kau pelajari dalam sebulan ini adalah dasar ilmu golok, yang mulai hari ini akan kuajarkan kepadamu. Joko, bergiranglah engkau bahwa ilmu golok ini akan kau miliki, karena di negaraku sana, ilmu golokku ini sudah terkenal. Bahkan karena ilmu golokku inilah aku di sana dijuluki orang Si Golok Sakti. Julukan yang membuat aku sombong dan menyeleweng daripada kebenaran, lupa bahwa segala ilmu adalah anugerah Tuhan yang harus dipergunakan untuk kebaikan sesuai dengan sifat Tuhan, dan bahwa di dunia ini tidak ada yang paling pandai kecuali Tuhan pula. Karena kesombongan dan penyelewenganku, maka aku terjatuh dan terpaksa melarikan diri meninggalkan negaraku, merantau sampai di sini. Tidak hanya di negaraku, juga di sini berlaku hukum bahwa siapa yang mengandalkan ilmu, kedudukan, atau harta untuk bertindak sewenang-wenang melakukan kejahatan, dia akan runtuh! Juga di sini aku melihat kenyataan bahwa yang paling sakti adalah orang yang benar, karena yang benar dilindungi Tuhan yang Maha Sakti."
Filsafat seperti ini sudah seringkali didengar Joko Wandiro, maka ia mengangguk-angguk membenarkan Ayahnya, juga eyang gurunya, sudah seringkali memberinya nasehat-nasehat dan petuah kebajikan hidup.
Mulailah Ki Tejoranu menurunkan ilmu goloknya yang luar biasa itu kepada Joko Wandiro.
Hebat memang ilmu golok ini.
Ketika Ki Tejoranu memberi petunjuk sambil mainkan sepasang goloknya, tampak gulungan dua sinar putih menyilaukan mata disertai suara mbrengengeng (mengaung seperti lebah).
Joko Wandiro memandang penuh perhatian dan kekaguman.
Ki Tejoranu berhenti dan mulai memberi petunjuk secara mendetail dan perlahan.
"Anakku, di negaraku, aku dijuluki Si Golok Sakti karena ilmu golok ini. Ilmu golok ini dicipta oleh guruku berdasarkan gerakan ribuan ekor lebah putih yang mengeroyok seekor ular besar. Karena itu diberi nama Ilmu Golok Lebah Putih. Dasar keampuhannya terletak pada gerak-gerak menggunting seperti banyak lebah menyerang dari jurusan-jurusan berlawanan sehingga membingungkan lawan. Semua terdiri dari tiga puluh enam jurus yang dasar gerakannya telah kau pelajari dengan tangan kosong selama ini. Nah, sekarang perhatikan jurus pertama. Lihat baik-baik dan tirukan."
Demikianlah, mulai hari itu, Joko Wandiro menerima ilmu golok yang dipelajarinya penuh perhatian dan ketekunan.
Ki Tejoranu terheran-heran dan amat kagum melihat anak ini.
Benar-benar memiliki dasar dan bakat yang luar biasa.
Dalam waktu sehari saja, Joko Wandiro dapat menguasai empat jurus dengan dasar gerakan yang cukup baik sehingga dalam waktu sembilan hari, Ia telah menguasai Ilmu Golok Lebah Sakti.
Pada hari ke sepuluh, Ki Tejoranu ketika bangun pagi sekali, telah mendengar suara anak itu berlatih seorang diri.
Ia menghampiri, memandang penuh perhatian sambil mengelus-elus jenggotnya.
Senang hatinya.
Biarpun gerakannya belum trampil dan cepat benar, namun dasarnya sudah benar, tinggal mematangkannya dalam latihan saja.
Benar luar biasa anak ini, pikirnya senang.
Tidak hanya gerakan kaki tangan yang sudah tepat, bahkan cara mengatur napas dalam gerakan silat ini, hal yang paling sulit diingat dan dipraktekkan dalam bersilat, sudah dikuasai Joko Wandiro!
Setelah anak itu menghabiskan tiga puluh enam jurus dan hendak mengulang lagi dari pertama, Ki Tejoranu berkata.
"Berhentilah dahulu, Joko. Kulihat kau telah menguasai Lebah Putih, dan dasar-dasar gerakanmu sudah benar, hanya tinggal mematangkan saja. Kalau kau setiap hari berlatih, ilmu ini tentu akan mendarah daging kepadamu dan akan amat berguna kelak. Hari ini aku akan berangkat menyelidiki keadaan kakek gurumu di Pulau Sempu, dan juga akan kucari ayahmu. Engkau tinggallah saja dalam hutan ini sambil berlatih ilmu golok. Jangan keluar dari dalam hutan ini sebelum aku pulang. Di hutan ini cukup banyak buah-buahan dan binatang, juga ada sumber airnya. Dalam waktu satu bulan aku akan kembali, anakku. Sepasang golok tipis ini, pusakaku selama puluhan tahun, kuberikan kepadamu, pakailah untuk berlatih."
Joko Wandiro menerima pusaka itu sambil mengucapkan terima kasih kepada kakek yang amat baik terhadap dirinya itu.
Ia maklum akan bahayanya kalau sampai bertemu dengan musuh-musuh ayahnya, maka ia berjanji akan mentaati pesan Ki Tejoranu.
Orang tua itu lalu berangkat meninggalkan Joko Wandiro, setelah meninggalkan pesan-pesan agar anak itu berhati-hati.
Mentaati pesan Ki Tejoranu, semenjak kakek itu pergi, Joko Wandiro selalu berlatih ilmu golok dengan amat tekun dan rajin.
Boleh dibilang setiap saat ia berlatih ilmu golok, dan hanya berhenti untuk mengaso, makan atau tidur.
Kadang-kadang ia seling dengan latihan ilmu yang ia pelajari dari ayahnya dan yang disempurnakan oleh eyang gurunya, yaitu ilmu pukulan Pethit Nogo dengan gerakan Bayu Tantra.
Berbeda dengan Ilmu Golok Lebah Putih ajaran Ki Tejoranu yang mengandalkan kegesitan tubuh dan kerja sama yang baik antara perasaan dan urat syaraf didasari peraturan gerakan dan langkah, adalah ilmu-ilmu yang ia pelajari dari ayah dan eyang gurunya lebih didasari aji kesaktian yang diperkuat oleh keteguhan batin berkat latihan samadhi dan bertapa.
Joko Wandiro memang memiliki bakat luar biasa untuk menjadi seorang ksatria utama.
Tidak saja semua ilmu olah keprajuritan dapat ia kuasai dengan amat mudah, juga dalam hal tapa brata, ia amat tekun dan kuat.
Semenjak masih kecil ia sudah dilatih dan digembleng ayahnya sehingga dahulu dalam usia delapan sembilan tahun saja ia sudah seringkali ikut ayahnya bertapa di dalam guha-guha di tepi pantai Laut Selatan.
Bertapa dan bersamadhi sampai tiga hari tiga malam, tanpa makan tanpa minum!
Bagi seorang dewasa, tentu saja hal ini tidak mengherankan.
Akan tetapi bagi seorang anak berusia delapan tahun, benar-benar merupakan hal yang mentakjubkan.
Kini ia sudah berusia dua belas tahun lebih.
Bertapa tanpa makan minum selama satu minggu saja merupakan hal biasa bagi Joko Wandiro!
Tidaklah mengherankan apabila dalam usia semuda itu, ia telah memiliki beberapa macam ilmu kesaktian yang mengagumkan.
Dan sifat tahan tapa inilah agaknya yang membuat ia secara mudah sekali dapat menguasai Ilmu Golok Lebah Putih dalam waktu beberapa bulan saja.
Padahal, Ilmu Golok Lebah Putih termasuk ilmu silat tinggi yang hanya mampu dikuasai seorang ahli silat yang sudah matang dasar-dasarnya, inipun untuk menguasainya secara sempurna membutuhkan waktu bertahun-tahun!
* * * Sebulan lewat cepat.
Ki Tejoranu belum juga pulang.
Joko Wandiro yang mengharapkan kedatangan Ki Tejoranu dalam satu dua hari ini, berlatih giat sekali.
Ingin ia menyenangkan hati kakek yang baik hati itu betapa selama ini ia telah memperoleh kemajuan pesat dalam Ilmu Golok Lebah Putih.
Juga hatinya girang karena pulangnya Ki Tejoranu akan membawa berita tentang eyang gurunya dan ayahnya.
Pagi hari itu Joko Wandiro berlatih dengan tekun, mengerahkan seluruh tenaganya dan mencurahkan seluruh perhatian dalam gerakan-gerakannya.
Sepasang golok tipis ringan di tangannya itu lenyap bentuknya, berubah menjadi dua gulungan sinar putih yang menyilaukan mata.
Anak ini belum mampu bergerak terlalu cepat sehingga tubuhnya lenyap terselimut gulungan sinar putih, akan tetapi berlatih kurang dari setengah tahun sudah dapat menggerakkan sepasang golok sehingga lenyap bentuknya, benar-benar sudah amat mengagumkan.
Tiba-tiba terdengar seruan suara aneh dan sesosok bayangan putih berkelebat dekat sekali dengan Joko Wandiro yang tengah bersilat.
Mendadak sekali, tanpa dapat dicegah lagi sepasang golok terbang lenyap dari kedua tangan Joko Wandiro yang sama sekali tidak menyangka-nyangka.
Anak ini cepat menengok dan mencari-cari dengan pandang matanya, namun tidak tampak siapapun juga di situ.
Sepasang goloknya lenyap dan tadi ia hanya melihat berkelebatnya bayangan orang disusul perampasan goloknya secara tiba-tiba.
Kalau saja ia tahu bahwa bayangan itu merampas goloknya tentu ia akan melakukan perlawanan.
Dengan marah dan penasaran sekali, Joko Wandiro meloncat dan mengejar, mencari ke sana-sini di sekitar hutan, namun hasilnya sia-sia belaka.
Kemudian ia duduk di bawah pohon sambil menunjang dagu, terheran, penasaran, dan juga agak gelisah.
Ia mengingat-ingat.
Bayangan itu tinggi kurus seperti bayangan seorang kakek tua, akan tetapi gerakannya begitu cepat dan ia sendiri tadi tengah bersilat dan tidak memperhatikan lain hal sehingga tidak dapat melihat jelas.
Yang terang sepasang goloknya dirampas seorang kakek yang tentu saja memiliki ilmu kesaktian yang hebat.
Ia termenung penuh penyesalan dan kekecewaan.
Ia harus berlatih makin giat.
Ia harus dapat mematangkan ilmunya karena sudah berkali-kali ia alami betapa banyaknya orang-orang sakti di dunia ini yang harus ia hadapi.
Orang-orang sakti yang menyalahgunakan kesaktiannya.
seperti Cekel Aksomolo dan teman-temannya.
seperti kakek tak terkenal yang kini mencuri sepasang goloknya mengandalkan kesaktiannya.
Kalau ia tidak kalah pandai, tak mungkin orang akan dapat merampas sepasang goloknya dengan semaunya dan seenaknya saja!.
Hatinya makin penasaran dan juga bingung Karena ia merasa malu bagaimana harus memberi keterangan kepada Ki Tejoranu tentang hilangnya sepasang golok pemberian kakek itu.
Tiga hari kemudian, menjelang senja hari, datanglah Ki Tejoranu.
Kakek ini kelihatan lelah sekali, dan tekukan wajahnya membayangkan berita yang tidak menggembirakan.
Joko Wandiro menahan diri, dan tidak akan menceritakan pengalamannya sebelum kakek itu mengaso.
Ia tidak mau menambah berita yang tidak menyenangkan pada kakek Ini.
Cepat-cepat anak yang tahu akan kewajiban ini menyediakan dawegang (kelapa muda) untuk Ki Tejorartu minum, dan buah-buahan untuk makan.
Setelah menghilangkan haus dan lelah, Ki Tejoranu berkata kepada anak yang duduk bersila di depannya.
"Aku agak terlambat, Joko. Akan tetapi perjalanan yang jauh itu sungguh melelahkan karena hasilnya kosong belaka. Baik eyang gurumu maupun ayahmu tak dapat kuketemukan. Tempat mereka kosong belaka, tidak ada seorangpun di Muara Lorog maupun di Pulau Sempu."
Tentu saja Joko Wandiro merasa amat kecewa.
"Ke manakah mereka pergi, paman?."
"Tak seorangpun tahu ke mana perginya ayahmu, Pujo. Tidak ada orang mengenalnya. Juga di Pulau Sempu kosong, eyang gurumu tidak berada di sana lagi. Akan tetapi, aku banyak mendengar tentang perang saudara yang mulai mengamuk di Kotaraja dan kurasa ayahmu sebagai seorang satria tentu pergi ke sana. Adapun tentang eyang gurumu Bhagawan Rukmoseto, aku mendengar berita bahwa beliau itu pergi menuju ke pertapaan Resi Gentayu...?"
"Resi Gentayu...?"
"Ya, Resi Gentayu atau Resi Jatmendra, atau juga Sang Prabu Airlangga yang mengundurkan diri dan bertapa di pertapaan Jalatunda."
Setelah berhenti sebentar Ki Tejoranu berkata pula"
"Besok atau lusa akan kuhantar engkau ke Jalatunda menyusul kakek gurumu itu, Joko. Akan tetapi aku ingin melihat engkau berhasil lebih dahulu dalam latihan ilmu go lok Bagaimana, sudah ada kemajuankah?"
Ditanya begitu Joko Wandiro teringat akan sepasang goleknya yang dirampas orang, maka ia berlutut sambil mengeluh.
"Aduh, celaka paman. Tiga hari yang lalu, selagi aku berlatih, sepasang golok itu dirampas orang..."
Ki Tejarani meloncat tinggi dan berdiri dengan muka merah, mata terpentang lebar "Siapa...? Siapa berani merampas? Bagaimana pula ia dapat merampas golok? Di mana dia merampasnya?"
Sebelum Joko Wandiro sempat-menjawab, tiba-tiba berkelebat bayangan putih dan tahu-tahu di situ telah berdiri seorang kakek bermata sipit berkulit kuning yang tinggi kurus.
Sepasang golok Lebah Putih berada di kedua tangannya!
Joko Wandiro memandang dengan penuh keheranan.
Kakek ini rambutnya sudah putih semua, usianya tentu amat tinggi.
Pakaiannya seperti pertapa, berwarna putih.
Rambutnya digelung ke atas dan diikat sehelai pita sutera putih pula.
Mata yang sipit itu kini memandang tajam ke arah Ki Tejoranu, kemudian mulutnya mengeluarkan kata-kata asing yang sama sekali tidak dimengerti Joko Wandiro.
Ki Tejoranu sejenak melongo memandang kakek itu, kemudian tiba-tiba Ki Tejoranu menjatuhkan diri berlutut di depan kakek rambut putih itu dan mereka berdua lalu bercakap-cakap dalam bahasa asing.
Joko Wandiro tidak mengerti apa yang mereka percakapkan.
Akan tetapi melihat sikap kakek tua yang baru saja datang, agaknya kakek ini marah-marah kepada Ki Tejoranu, menunjuk-nunjuk ke arah dia dengan golok kiri sambil mengamang-amangkan golok kanan ke arah Ki Tejoranu.
Sebaliknya, Ki Tejoranu hanya menjawab dengan ucapan pendek-pendek, mengangguk-anggukkan kepala seperti orang minta ampun.
Kemudian kakek itu membentak keras dan melangkah ke arah Joko Wandiro, sikapnya mengancam.
Akan tetapi Ki Tejoranu meloncat menghadang lalu berlutut lagi dan bicara sambil menggerak-gerakkan kedua tangan.
Kakek tua itu termenung, agaknya meragu, tangan kiri yang memegang golok kini mengelus-elus jenggot panjang, kemudian mengangguk-angguk.
Tiba-tiba tampak sinar golok berkelebat ke depan.
Bukan main cepatnya gerakan ini sehingga Joko Wandiro tidak tahu apa yang terjadi.
Tahu-tahu sepasang golok itu sudah meluncur dan menancap di atas tanah di depan Ki Tejoranu, dan kakek itu seperti berkelebat lenyap dari tempat itu!.
Lega rasa hati Joko Wandiro.
Ia segera melompat menghampiri Ki Tejoranu.
"Ah, dia mengembalikan goloknya! Paman, siapakah kakek aneh itu dan apa kehendaknya?"
Ki Tejoranu tidak menjawab, hanya mengeluh.
Joko Wandiro melihat betapa wajah Ki Tejoranu pucat sekali dan alangkah kagetnya ia ketika ia memandang ke bawah, ia melihat dua buah jari tangan menggeletak di dekat sepasang golok.
Dua buah ibu jari!
Dan ketika ia memandang lagi, kiranya kedua tangan Ki Tejoranu telah kehilangan ibu jarinya!
(Lanjut ke
Jilid 18) Badai Laut Selatan (Seri ke 03 Serial Serial Keris Pusaka Sang Megatantra) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo
Jilid 18
"Paman...! Mengapa tanganmu..."
Ki Tejoranu menggeleng kepala, tersenyum pahit.
"Kau carilah dulu getah pohon Gondang atau pohon Gebang untuk obat..."
Joko Wandiro cepat lari dari situ,mencari obat yang dikehendaki kakek itu.
Ia tahu bahwa getah kedua pohon ini amat baik untuk mengobati luka.
Setelah dapat, ia cepat kembali ke situ, membantu kakek itu mengobati kedua tangan itu dan membalutnya erat-erat dengan robekan kain bersih.
Sejenak Ki Tejoranu meramkan kedua mata, mengatur napas.
Kemudian ia membuka matanya dan berkata.
"Dia itu paman guruku, Joko..."
"Ahh! Seorang paman guru mengapa begitu kejam? Mengapa kedua ibu jari tanganmu dipotong? Dan mengapa pula engkau membiarkannya saja, paman?"
"Kau tidak tahu, anakku. Dengarlah baik-baik ceritaku agar menjadi contoh bagimu betapa tidak baiknya orang mengagulkan kepandaian sendiri dan menjadi sombong lalu tersesat seperti aku ini..."
Kakek itu bersila di bawah pohon dan mulailah ia bercerita.
Ki Tejoranu dahulu di Negeri Cina terkenal sebagai seorang pendekar ahli Ilmu Golok Lebah Putih yang ditakuti lawan dan disegani kawan.
Karena bakatnya yang baik, biarpun ia seorang murid termuda, namun ia paling pandai mainkan ilmu golok itu sehingga ia mengatasi saudara-saudara seperguruannya.
Setelah keluar dari perguruan dan banyak sekali mengalahkan lawan, mulailah kesombongan mencengkeramnya dan ia menjadi seorang muda yang congkak dan sewenang-wenang, mengandalkan sepasang golok yang tak terkalahkan!
Akhirnya sepak terjangnya yang menodai nama baik perguruan ini terdengar oleh guru dan paman-paman gurunya.
Ia dicari untuk dimintai pertanggungan jawabnya.
Karena maklum betapa keras peraturan perguruannya, Ki Tejoranu lalu melarikan diri.
Namun ia dikejar-kejar terus dan akhirnya ia ikut dengan perahu jong yang berlayar ke selatan sehingga akhirnya tibalah ia di Pulau Jawa dan menetap di sini.
Tertarik oleh orang-orang sakti yang banyak terdapat di sini, akhirnya ia menjadi seorang pertapa dan bertahun-tahun Ki Tejoranu bertapa di tepi Danau Sarangan sehingga ia bertemu dengan Ki Warok Gendroyono dari Ponorogo, menjadi sahabat dan terbawa-bawa pula dalam rombongan sekutu Adipati Joyowiseso.
"Demikianlah riwayatku, anakku Joko Wandiro. Kakek itu adalah paman guruku. Dia merantau sampai di sini dan mendengar bahwa aku berada di sini pula, dia sekalian mencariku dan mencari keterangan kalau-kalau aku masih melakukan perbuatan-perbuatan yang menodai nama perguruan kami. Secara kebetulan sekali dia melihat engkau berlatih Ilmu Golok Lebah Putih, Joko. Dan ini merupakan pantangan yang paling berat bagi perguruan kami. Seorang murid tidak sekali-kali boleh menurunkan Ilmu Golok Lebah Putih tanpa seijin para ketua dan aku telah melakukan pelanggaran itu dengan mengajarkannya kepadamu! Untung peristiwa ini tidak terjadi di negaraku, karena kalau terjadi di sana, ketika ia melihat kau melatih ilmu golok itu, tentu dia sudah turun tangan dan merampas kembali ilmu itu darimu."
"Merampas ilmu golok? Bagaimana ia dapat merampas ilmu yang telah dipelajari orang?"
Ki Tejoranu tersenyum pahit dan mengangkat kedua tangannya yang sudah dibalut.
"Dia telah merampas ilmu itu dariku."
Joko Wandiro tertegun, sejenak tidak mengerti.
Kemudian ia teringat dan bergidik ngeri.
Benar juga!
Kalau dua buah ibu jari tangan dipotong, tidak mungkin lagi orang dapat bermain golok!
Membuntungi kedua ibu jari tangan, sama saja artinya dengan merampas ilmu, karena ilmu golok itu tidak dapat dipergunakan lagi.
"Karena engkau orang asing, Joko, maka paman guruku tidak mau turun tangan sebelum mendengar keteranganku Maka ia menanti di sini sampai aku pulang. Tadi ia hamper menjatuhkan hukuman itu kepadamu, akan tetapi aku mencegahnya, menceritakan keadaanmu lalu mewakilimu menerima hukuman"
"Paman...!!"
Joko Wandiro memegang lengan orang itu penuh keharuan.
"Memang aku yang bersalah, bukan engkau. Sudah sepatutnya aku pula yang menerima hukuman."
"Paman. Engkau sudah insyaf daripada kesalahan, bahkan sudah melarikan diri jauh dari negaramu. Mengapa kakek yang menjadi paman gurumu itu terus mendesak dan tidak mau memberi ampun? Mengapa engkau tadi tidak melawannya saja? Kalau melawan, tentu tadi aku akan membantu, paman."
"Ah, kau tidak mengerti, Joko. Mana bisa aku melawannya? Kalau hanya ibu jariku yang dipotong, hal itu masih amat ringan, Joko. Bararti paman guruku masih menaruh hati sayang kepadaku. Dosaku bertumpuk. Aku harus berani menghadapi hukumannya. Joko Wandiro, anakku. kau boleh menerima sepasang golok ini dan boleh menggunakan Ilmu Golok Lebah Putih untuk membela kebenaran dan keadilan, untuk memberantas kejahatan. Akan tetapi berjanjilah bahwa kau takkan mengajarkannya kepada orang lain. Berjanjilah, anakku, agar tidak bertambah-tambah berat dosaku kelak."
"Aku berjanji, paman."
"Bagus! Sekarang, kau berangkatlah menyusul dan mencari eyang gurumu. Aku tidak mungkin dapat menyertaimu, anakku."
"Mengapa, paman?"
"Karena aku harus segera menyusul rombongan paman guruku ke pantai laut utara. Aku harus kembali ke negaraku..."
"Ahhh...!"
Joko Wandiro benar-benar kaget mendengar perubahan keadaan yang tak tersangka-sangka ini.
"Memang sebaiknya begitu, Joko. Sudah terlalu lama aku meninggalkan negeriku, meninggalkan keluargaku. Dan untunglah aku bertemu denganmu pada saat-saat terakhir, anakku. Kalau tidak... hemmm, tak dapat kubayangkan apa jadinya. Kalau paman guruku mendapatkan aku bersama orang-orang... macam Cekel Aksomolo belum tentu hukumanku seringan ini."
Ia memandang ke arah kedua tangannya.
"Sudahlah, tidak ada waktu lagi untuk banyak bicara, anakku. kau pergilah sendiri menyusul eyang gurumu ke Jalatunda."
"Di manakah Jalatunda, paman?"
"Kau pergilah ke Gunung Bekel. Di lereng gunung itu terdapat guha-guha pertapaan yang bernama Guha Tirta dan di sanalah terdapat pertapaan Jalatunda. Andaikata eyang gurumu tidak berada di sana, tidak mengapa. kau langsung saja menghadap Sang Resi Jatinendra atau Sang Resi Gentayu, mohon petunjuk. Beliau seorang pertapa yang sakti mandraguna, nak, karena beliau itu bukan lain adalah Sang Prabu Airlangga sendiri. Dalam keadaan perang saudara seperti sekarang, lebih baik kau tidak terburu nafsu dan lancang melibatkan diri sebelum mendapat petunjuk Sang Prabu Airlangga sendiri, karena hanya beliaulah yang akan dapat mengatasi semua keributan itu. Nah, berangkatlah, anakku, semoga Tuhan yang Maha Tinggi selalu memayungimu."
Ki Tejoranu merangkul pundak anak itu dan mencium ubun-ubunnya dengan kedua mata basah.
Ternyata Ki Tejoranu jatuh sayang kepada anak ini, anak yang menjadi penolongnya dan sekaligus menjadi muridnya, akan tetapi yang lebih daripada itu semua, menjadi titik tolak keinsyafannya!.
Setelah Joko Wandiro menyimpan sepasang golok, memberi hormat lalu pergi sampai tidak tampak lagi, barulah Ki Tejoranu meloncat dan berlari cepat meninggalkan tempat itu untuk pergi ke pantai laut utara, di mana teman-temannya senegara, termasuk paman gurunya yang keras hati, menanti saat perahu jong kembali ke negeri mereka.
* * * Gunung Bekel (sekarang Gunung Penanggungan) adalah sebuah gunung yang tidak begitu tinggi (1653 meter), namun merupakan sebuah gunung yang subur tanahnya, indah pemandangannya, dan bersih udaranya.
Gunung Bekel inilah yang dianggap sebagai bayangan atau duplikat Gunung Mahameru dan karenanya dianggap suci!
Apalagi karena Gunung Bekel ini dijadikan tempat bertapa Sang Prabu Airlangga, maka keadaannya menjadi lebih agung lagi.
Banyak terdapat guha-guha yang dianggap sebagai tempat pertapaan yang suci dan disebut Guha Tirta.
Di antara guha-guha ini terdapat sebuah guha yang besar, mempunyai "pekarangan"
Yang bersih dan amat teduh karena terlindung pohon-pohon besar di lereng sebelah atas guha.
Inilah pertapaan Jalatunda, di mana terdapat sumber air yang jernih.
Pagi hari itu, pertapaan Jalatunda tampak lebih indah daripada biasanya.
Sinar rnatahari pagi menerobos masuk dari celah-celah daun pohon di atas guha, menerangi sebagian tanah pekarangan yang bersih karena disapu setiap hari dua kali.
Mutiara embun yang menghias ujung-ujung daun berkilauan tertimpa sinar matahari pagi.
Suara burung ramai berkicau di pohon-pohon, seakan-akan mahluk-mahluk kecil ini bergembira ria menyambut datangnya matahari.
Kegembiraan yang tulus dan murni, didasari kewajaran merupakan doa dan puja-puji yang paling suci dipanjatkan ke bawah kaki Tuhan Seru Sekalian Alam.
Di kanan kiri mulut guha besar tampak duduk bersila dua orang kakek.
Mereka berdua, seperti juga guha pertapaan besar itu, menghadap ke timur.
Jika tidak memperhatikan bagian dada mereka yang turun naik, tentu orang akan menyangka dua orang kakek itu arca-arca penjaga guha!
Mereka duduk bersila tak bergerak sama sekali, kedua mata dipejamkan dan hening dalam samadhi.
yang duduk di sebelah kiri adalah seorang kakek yang rambutnya sudah putih semua, digelung di atas kepala, jenggot dan kumishya juga bercampur uban, tubuhnya tegap membayangkan tenaga.
Kakek ini hukan lain adalah Bhagawan Rukmoseto atau Sang Resi Bhargowo!
Seperti telah diketahui, Bhagawan Rukmoseto terluka hebat ketika ia dikeroyok di Pulau Sempu.
Akan tetapi berkat kesaktiannya, luka hebat oleh pukulan penggada Wesi Ireng yang dilakukan Jokowanengpati itu tidak merenggut nyawanya.
Setelah beristirahat dan mengumpulkan kekuatannya Sang Bhagawan Rukmoseto pergi meninggalkan Pulau Sempu, kemudian menuju ke Jalatunda menghadap Sang Resi Gentayu atau Sang Resi Jatinendra.
Di depan junjungannya ini, Raja Kahuripan yang telah menjadi pertapa, Bhagawan Rukmoseto dengan terus terang menceritakan semua pengalamannya semenjak ia merampas pusaka Mataram dari tangan Jokowanengpati.
Cerita ini didengarkan juga oleh kakak seperguruannya, yaitu Sang Empu Bharodo yang dengan setia mengikuti Rajanya bertapa.
Kemudian Bhagawan Rukmoseto menceritakan pula tekadnya untuk tidak mengembalikan pusaka karena ia kecewa melihat Ki Patih Narotama hendak menangkapnya dengan tuduhan memberontak.
Menceritakan pula betapa ia khawatir kalau-kalau pusaka itu bahkan akan menjadi sebab perpecahan yang lebih hebat lagi antara Pangeran Sepuh dan Pangeran Anom, seperti yang ia ketahui ketika ia menyelidik ke Kotaraja.
Juga di depan kakak seperguruannya ia membuka rahasia kejahatan Jokowanengpati yang kini menjadi orang kepercayaan Pangeran Anom.
Sang Resi Jatinendra menghela napas panjang mendengar semua penuturan itu, kemudian bersabda.
"Kakang Resi Bhargowo, sudah bertahun-tahun menjadi pertapa, mengapa masih belum pandai menguasai nafsu pribadi? Engkau masih diombang-ambingkan cinta dan benci, menimbulkan puji dan cela, mengakibatkan kawan dan lawan. Kasihan engkau, kakang Bhargowo. Kenapa tidak t inggal saja di sini bersama aku dan kakangmu Empu Bharodo mencari ketepangan dan keseimbangan? yang sudah lalu biarkanlah. Aku hanya ingin mendengar apa selanjutnya yang terjadi dengan pusaka Mataram yang terjatuh ke dalam tanganmu, kakang Resi Bhargowo."
"Karena melihat perang saudara mengancam di Kotaraja, hamba mengambil keputusan untuk menyembunyikan pusaka itu. Hamba mempunyai dua orang cucu, gusti."
"Eh, kakang Resi Bhargowo. Jangan engkau bergusti lagi kepadaku. Sekarang ini aku bukanlah Raja gustimu, melainkan seorang rekan pertapa yang sama dengan engkau belajar menemukan kembali kesempurnaan sejati, kakang resi."
"Ampun eh, baiklah, adi resi."
"Nah, begitu lebih tepat. Selanjutnya, bagaimana, kakang?"
"Pusaka itu hamba berikan kepada kedua orang cucu hamba, dan hamba jadikan dua, yaitu keris pusaka dan patung kencana yang menjadi warangkanya. Oleh kedua cucu hamba itu lalu disembunyikan."
"Jagad Dewa Batara segala puji kepada Sang Hyang Wishnu, pemelihara segenap alam dan isinya...!"
Sang Resi Jatinendra mengeluh dan menyampaikan puja-puji kepada Sang Hyang Wishnu yang menjadi pusat pujaannya.
"Segala kehendakMu terjadilah!"
Hening sejenak setelah pertapa bekas Raja itu mencetuskan isi hati dan perasaannya.
Resi Bhargowo sendiri terkejut sekali.
Apakah salahnya kalau pusaka itu disembunyikan agar tidak terjatuh ke tangan orang yang tidak berhak?
"Untung sekali Dewata masih memayungi, adi resi.
Hanya beberapa saat setelah hamba menyuruh kedua cucu hamba pergi menyembunyikan pusaka Mataram, muncul orang-orang yang katanya adalah utusan Gusti Pangeran Anom untuk merampas pusaka.
Hamba dikeroyok dan roboh di tangan mereka, bahkan nyaris tewas kalau saja Dewata tidak melindungi hamba."
"Yang penting adalah pusaka itu sendiri, kakang Resi Bhargowo. Jika keris dan warangka terpisah, hal itu menjadi tanda akan terpisahnya kawula dan gusti, menjadi tanda bahwa persatuan akan terpecah-belah dan hal ini hanya berarti perang di antara saudara. Kakang Resi Bhargowo, di manakah sekarang kedua cucumu yang memegang keris dan patung kencana?"
"Inilah yang menyusahkan hati hamba. Mereka itu lenyap. Lenyap tak meninggalkan jejak, seakan-akan ditelan bumi!"
"Hemmm, sudahlah. Segala hal sudah ditentukan oleh Hyang Wisesa. Kita tunggu saja perkembangannya."
Demikianlah, semenjak saat itu, Resi Bhargowo ikut bertapa di Jalatunda.
Bersama kakak seperguruannya ia bertapa menemani dan melayani Raja gustinya yang kini menjadi Sang Resi Jatinendra.
Adapun kakek yang duduk bersila di sebelah kanan mulut Guha Tirta itu tubuhnya tidak setegap dan sekuat Resi Bhargowo, akan tetapi wajahnya membayangkan ketenangan yang mendalam.
Dia inilah Empu Bharodo, pendeta linuwih yang sakti mandraguna dan setia kepada Rajanya.
Di waktu mudanya, Empu Bharodo ini terkenal sekali karena kesaktiannya, terkenal sebagai ahli Ilmu Bayu Sakti sehingga gerakannya seperti kilat menyambar cepatnya, pandai lari seperti angin, melompat seperti terbang.
Juga ilmu tombaknya yang disebut Jonggring Saloko menggemparkan seluruh Nusantara.
Akan tetapi setelah tua, Empu Bharodo lebih tekun melakukan tapa brata, meninggalkan keramaian duniawi, lebih memperdalam ilmu kebatinan.
Dan inilah sebabnya maka muridnya yang tadinya merupakan murid terkasih, Jokowanengpati, sampai dapat menyeleweng berlarut-larut karena gurunya seperti tidak memperdulikan urusan dunia lagi, juga tidak memperdulikan sepak terjang muridnya.
Ketika adik seperguruannya, Resi Bhargowo bercerita tentang kejahatan muridnya, kakek ini hanya tersenyum lemah.
Kini kakak beradik seperguruan yang telah menjadi pertapa-pertapa sakti itu duduk di kanan kiri mulut Guha Tirta, tekun bersamadhi menghadap ke timur sehingga wajah mereka tersinar matahari pagi yang kemerahan.
Tak lama kemudian, seorang kakek lain melangkah keluar guha.
Kakek ini langkahnya perlahan, tubuhnya tegak, sikapnya agung dan penuh wibawa.
Biarpun sudah tua, namun dadanya bidang dan penuh membayangkan kekuatan lahir batin yang hebat.
Jenggotnya yang panjang sudah penuh uban, sebagian menutupi dada bagian atas yang tidak seluruhnya tertutup jubah pertapaannya.
Pakaiannya yang mengkilap dan indah, terbuat daripada kain yang amat halus itu menandakan bahwa dia seorang pertapa yang bukan sembarangan.
Dan memang inilah dia Sang Resi Jatinendra atau Sang Resi Gentayu, Sang Prabu Airlangga Raja Kahuripan yang telah mengundurkan diri dan bertapa.
Setelah tiba di mulut guha, Sang Resi Jatinendra menoleh ke kanan kiri, wajahnya kini tersinar matahari pagi, gilang-gemilang seperti dilapis kencana.
Sinar matanya penuh damai, mulutnya terhias senyum maklum, kemudian ia melangkah terus ke depan, lalu duduk di atas batu halus berbentuk bulat yang berada tepat di depan guha di tengah pekarangan.
Memang batu itu adalah batu tempat sang pertapa duduk setiap pagi, bersamadhi menghadap ke timur di waktu matahari muncul.
Begitu duduk bersila, seluruh tubuh dan wajahnya tepat tertimpa sinar keemasan Sang Bhatara Surya, ia sudah tekun bersamadhi, tangan kiri di atas pangkuan, tangan kanan di atas lutut kanan.
Sudah menjadi kebiasaan sang pertapa dan dua orang pengikutnya, setiap pagi duduk bersamadhi di depan Guha Tirta menghadap ke arah matahari.
Bukan sekali-kali Sang Resi Jatinendra menjadi pemuja Sang Bhatara Surya.
Tidak.
Sungguhpun mereka bertiga menghormati Sang Bhatara Surya yang bertugas menyinarkan kehidupan di permukaan bumi, namun sebenarnya Sang Resi Jatinendra adalah seorang pemuja Sri Bhatara Wishnu atau Sang Hyang Wishnu.
Bersamadhi di waktu pagi hari di depan guha ini hanyalah kebiasaan belaka, dan memang hal ini merupakan kebiasaan yang amat baik.
Selain meperima inti sari sinar Sang Surya, juga cahaya di waktu pagi amat bermanfaat bagi kesehatan jasmani.
Bagaikan tiga buah arca kencana, tiga orang pertapa itu tekun bersamadhi dan sebentar saja mereka dalam keadaan hening, menikmati kebahagiaan dari kekosongan yang hanya dapat dirasakan oleh mereka yang biasa bersamadhi.
Mereka ini sama sekali tidak tahu bahwa seorang pemuda tanggung datang berindap-indap, membungkuk-bungkuk penuh hormat sambil memandang kepada tiga orang kakek yang duduk bersila di depan guha itu.
Pemuda tanggung itu adalah Joko Wandiro yang mentaati pesan Ki Tejoranu, datang mencari eyang gurunya di pertapaan Jalatunda.
Ketika melihat kakek yang duduk terdepan, datang rasa takut dan hormat di hati Joko Wandiro.
Kemudian betapa girang rasa hatinya ketika ia mengenal eyang gurunya yang duduk bersila di sebelah kiri mulut guha, di belakang kakek di depan itu.
Serta-merta ia menjatuhkan diri berlutut dan memanggil-manggil perlahan.
"Eyang... saya datang menghadap, eyang...!"
Tidak ada jawaban.
Tiga orang kakek itu tetap duduk bersila tak bergerak.
Sampai tiga kali Joko Wandiro mengulang ucapannya.
Tiba-tiba Joko Wandiro merasa betapa tubuhnya terangkat dan melayang ke depan.
Ia terkejut dan terheran.
Tahu-tahu ia sudah pindah tempat, di belakang Resi Jatinendra!
Entah bagaimana, tubuhnya tadi terangkat dan terlempar ke tempat itu, di tengah-tengah antara eyang gurunya dan kakek tua yang duduk diam meramkan mata.
Selagi ia kebingungan, mendadak terdengar suara eyang gurunya di sebelah kiri.
"Diamlah, Joko. Diam jangan bergerak. Lihat saja apa yang akan terjadi!"
Suara eyangnya itu perlahan, akan tetapi mengandung wibawa dan juga Joko Wandiro dapat menangkap getaran tegang dalam suara itu, seakan-akan mereka bertiga yang tampak enak-enak duduk bersamadhi itu sedang menghadapi hal yang amat gawat dan menegangkan.
Sebagai seorang anak yang berperasaan halus, Joko Wandiro segera dapat mengerti atau setidaknya menduga akan keadaan itu, maka iapun lalu duduk diam di antara Resi Bhargowo dan Empu Bharodo, di belakang Resi Jatinendra, menanti apa yang akan terjadi dan memasang mata penuh perhatian ke depan, kanan, dan kiri.
Akan tetapi keadaan di sekeliling tempat itu sunyi saja.
Sunyi dan mengamankan hati.
Joko Wandiro tidak melihat bahaya apapun yang mengancam ketentraman tempat suci ini.
Sinar matahari sudah mulai bening.
Halimun tebal sudah mulai lari ketakutan.
Burung-burung makin gencar berkicau gembira menyambut sang Raja siang yang mulai memperlihatkan kekuasaannya.
Pagi yang cerah dan indah mengawali hari itu.
Keadaan demikian indah dan tenang tenteram, mengapa eyang gurunya kelihatan seperti seorang yang menanti datangnya sesuatu penuh kekhawatiran?
Joko Wandiro mengeriing ke kanan, menyapu wajah kakek di sebelah kanannya.
Namun kakek itu masih tenang bersamadhi, kedua matanya dipejamkan, kedua tangan menyilang di atas pangkuannya, muka menunduk.
Juga kakek di sebelah depan itu, yang hanya dapat ia lihat punggungnya, tidak bergerak-gerak.
Tiba-tiba perhatian Joko Wandiro tertarik oleh sesuatu dan jantungnya berdebar keras, belakang kepalanya terasa dingin dan bulu tengkuknya meremang.
Rasa serem dan ngeri memenuhi hatinya.
Apakah yang membuat Joko Wandiro merasa serem?
Telinganya menangkap sesuatu yang amat aneh, perubahan yang luar biasa.
Secara mendadak, semua suara yang serba merdu dan indah tadi, suara kicau burung yang berloncatan dari cabang ke cabang, pasangan-pasangan burung yang sedang bercumbu, pasangan burung yang tengah terbang melayang sambil memekik-mekik girang, semua itu secara mendadak telah berhenti sama sekali!
Tidak terdengar apa-apa lagi.
Bahkan kelepak sayap burung tidak kedengaran lagi.
Keadaan tiba-tiba menjadi sunyi, sesunyi kuburan!
Joko Wandiro dengan bingung menoleh ke sana kemari untuk mencari tahu apa yang menyebabkan semua burung berhenti berkicau dan apa atau siapa gerangan yang menimbulkan suasana lengang dan serem itu.
Namun tidak tampak sesuatu.
Beberapa detik kemudian, terdengar bunyi parau yang menusuk telinga, bunyi tidak sedap.
Burung gagak!.
"Gaaok... kraaaaakk... kraaaakk... gaaaaokkk...!!"
Joko Wandiro tentu saja sudah sering kali mendengar bunyi burung pemakan bangkai ini.
Bahkan seringkali melihat burungnya, burung besar yang hitam mulus, jelek warna dan bentuknya.
Akan tetapi selama hidupnya belum pernah ia merasa begini serem dan ngeri mendengar suara burung gagak seperti yang didengarnya saat itu.
Mungkinkah munculnya burung gagak membuat semua burung ketakutan, terbang pergi atau bersembunyi, tidak berani bersuara lagi?
Tidak mungkin!.
Burung gagak bukanlah burung elang Rajawali yang suka menerkam burung lain.
Burung gagak adalah burung yang bersifat pengecut, hanya menyerang lawan yang sudah menjadi bangkai.
Akan tetapi mengapa keadaan menjadi begitu lengang bersamaan dengan munculnya suara burung gagak itu?
Ataukah hanya kebetulan?.
Ketika ia melirik ke kanan kiri, tampak perubahan pada eyang gurunya dan kakek di sebelah kanannya.
Mereka masih duduk bersila dan meramkan mata, akan tetapi tubuh mereka lebih tegak daripada tadi dan kulit tubuh yang tak tertutup baju, jelas nampak getaran-getaran penuh ketegangan sehingga kening merekapun berkerut!
Hanya kakek di depan agaknya tidak bergerak dan masih seperti tadi.
Tiba-tiba terdengar bunyi bercicit dari dalam guha dan tak lama kemudian muncullah burung-burung hitam kecil beterbangan dari dalam guha.
Akan tetapi burung-burung sriti itu tidak keluar dari dalam guha, hanya beterbangan di sekitar mulut guha, seakan-akan silau melihat sinar matahari.
Mendadak kakek di sebelah kanan Joko Wandiro, yaitu Empu Bharodo, mengangkat tangan kiri digerakkan ke arah dalam guha.
Seketika burung-burung itu lenyap beterbangan masuk lagi ke dalam, seakan-akan gerak tangan Empu Bharodo tadi merupakan perintah kepada burung-burung itu agar jangan keluar dan kembali ke sarang mereka di bagian paling dalam di guha itu.
Tak lama kemudian terdengar suara riuh dari sebelah depan.
Cahaya matahari yang tadinya menerangi pekarangan depan guha mendadak menjadi suram seakan-akan tertutup awan mendung.
Dari dalam kesuraman ini terdengar kelepak sayap dan suara mencicit-cicit yang nyaring tinggi menusuk telinga.
Joko Wandiro membelalakkan matanya, memandang ke atas.
Kini bukan hanya bulu tengkuknya yang meremang, bahkan setiap lembar bulu di tubuhnya berdiri semua!.
Tengkuknya terasa dingin, kepalanya seakan melar membesar.
Matanya terbelalak memandang ke atas, mulutnya ternganga.
Siapa orangnya takkan merasa heran, kaget, takut dan ngeri melihat ratusan, bahkan ribuan kelelawar hitam beterbangan menyerbu tempat itu?
Melihat kelelawar di malam gelap tidaklah mengherankan, akan tetapi menyaksikan ribuan ekor kelelawar di pagi hari menyerbu ganas semacam itu benar-benar mendatangkan rasa ngeri, karena hal itu sudah pasti bukanlah hal yang sewajarnya!.
Ribuan ekor kelelawar itu dengan suara mencicit yang memekakkan telinga, dari atas menyambar ke bawah dan kini tempat itu penuh dengan binatang-binatang kecil yang menjijikkan ini.
Bau apak menyengat hidung dan menyesakkan pernapasan.
Joko Wandiro cepat-cepat mengatur pernapasannya dan setelah mengerahkan hawa sakti di dalam dada, barulah ia dapat bernapas lega.
Akan tetapi hatinya ngeri melihat betapa kelelawar-kelelawar itu kini beterbangan rendah.
Anehnya, tak seekorpun di antara mereka terus menyambar turun, seakan-akan ada sesuatu yang melindungi empat orang itu, atau ada sesuatu yang mendatangkan rasa takut pada binatang-binatang itu.
Setiap kali menyambar, serendah kira-kira semeter dari kepala empat orang itu, binatang-binatang ini terbang ke atas kembali sambil mengeluarkan pekik-pekik ketakutan.
Maka makin penuh sesaklah bagian atas pekarangan itu dengan kelelawar yang beterbangan.
Kini banyak di antara binatang-binatang itu yang hinggap di pohon-pohon, bergantungan dan menjerit-jerit.
Penuh semua pohon di tempat itu dengan kelelawar.
Bau apak makin tak tertahankan.
"Wirokolo benar-benar tak tahu diri, berani mengganggu Sang Agung Resi Jatinendra!"
Terdengar Empu Bharodo berkata perlahan.
Kakek ini lalu mengangkat kedua tangannya ke atas, melambai ke depan guha.
Terdengar suara melengking nyaring dari dalam guha dan makin lama suara ini makin bergemuruh, mengatasi suara kelelawar-kelelawar yang menggila.
Kiranya suara ini adalah suara ribuan ekor burung sriti yang menerobos keluar dari dalam guha sambil berbunyi marah.
Bagaikan segulung asap hitam, rombongan burung sriti ini berserabutan keluar dari dalam guha dan terjadilah perang yang amat dahsyat dan mengherankan.
Ribuan ekor burung sriti itu serta-merta menyerbu dan menyerang kelelawar-kelelawar tadi!.
Joko Wandiro melongong keheranan.
Bukan main!
Hebat perang tanding di udara itu.
Patuk-mematuk, sambar-menyambar, cakar-mencangkar dan saling memukul dengan sayap.
Fihak kelelawar juga melakukan perlawanan gigih.
Namun mereka kalah gesit, juga kalah awas.
Pandai sekali burung-burung sriti itu.
mengelak, kemudian dengan kecepatan kilat menyambar dan mematuk lawan dari samping.
Payah kelelawar-kelelawar itu mempertahankan diri.
Banyak sudah jatuh korban.
Tidak mati dipatuk burung-burung sriti yang kecil itu, akan tetapi burung-burung itu mematuk ke arah mata sehingga kelelawar-kelelawar itu kini benar-benar menjadi buta, bukan hanya silau oleh sinar matahari.
Mulailah mereka beterbangan kacau-balau dalam ketakutan dan hendak melarikan diri.
Terbang sejadinya dan tanpa arah tertentu sehingga banyak di antara mereka yang menabrak pohon dan jatuh ke dalam jurang.
Burung-burung sriti yang gagah dan gesit itu terbang pula mengejar dan mengusir kelelawar-kelelawar dari depan guha.
Peperangan yang dahsyat dan aneh, yang berlangsung tidak begitu lama, namun cukup mendebarkan hati Joko Wandiro.
Sebentar saja burung-burung itu telah mengusir semua kelelawar sehingga tidak seekorpun tinggal.
Mereka terus mengejar sampai tak terdengar lagi suara kelelawar yang kebingungan.
Tak lama kemudian tempat itu menjadi sunyi senyap dan bersih kembali seperti tadi.
Bahkan bau apak kelelawar sudah lenya pula tersapu angin gunung.
Tiga orang kakek itu masih duduk seperti tadi.
"Gaaaaookk, kraaaaak-kraaak, gaaookkk!!..."
Suara burung gagak yang memecah kesunyian itu benar-benar amat menyeramkan bagi Joko Wandiro.
Apalagi karena sekarang suara burung gagak ini terdengar jelas sekali.
Agaknya burung itu berada di atas kepala mereka.
Namun tak tampak sesuatu oleh Joko Wandiro.
"...Hiyeeehhh!! Keteprok-keteprok... hiyeeeeehhhhh"
Joko Wandiro sampai tersentak kaget.
Suara kuda menegar-negar, derap kakinya yang rnenginjak-injak tanah, ringkiknya yang nyaring, benar-benar seperti kuda itu berada di depannya.
Namun tidak tampak sesatu!.
"Ha-ha-ha-ha-ha...!!"
Suara ketawa inipun terdengar jelas, suara ketawa tanpa kelihatan orangnya.
Joko Wandiro menoleh ke kanan kiri memandang eyang gurunya dan Empu Bharodo.
Rasa takut membuat ia menggeser mendekati eyang gurunya.
Namun ia teringat akan pesan eyang gurunya tadi, maka ia tidak berani membuka suara, hanya membuka mata lebar-lebar memandang ke depan dengan jantung berdebar dan leher serasa dicekik.
"Ha-ha-ha! Kahuripan akan menjadi karang abang (lautan api)! Sang Prabu Airlangga yang tadinya hidup mulia dan megah, kini menjadi pertapa jembel! Ha-ha-ha!"
Suara itu bergema seperti suara iblis dari dalam kuburan, mengaung dan terdengar dari jauh, namun amat jelas.
Dan suara ini diiringi bau dupa yang aneh, harum sekali.
Begitu wangi sehingga memabokkan, di dalam hidung sampai terasa sakit penuh dengan ganda wangi yang mendatangkan rasa manis.
Seketika Joko Wandiro merasa kepalanya pening, matanya berkunang.
Alangkah kagetnya ketika ia berusaha menggerakkan kaki tangannya, ternyata seluruh tubuhnya kaku!
Persis seperti keadaan orang yang tindihen (mimpi buruk), pikiran masih terang, panca indera masih sadar, namun seluruh tubuh kaku-kaku tak dapat bergerak!
Dan ganda wangi itu makin menyengat, memenuhi hidung dan tenggorokan, mulai menyerang paru-paru.
Joko Wandiro terengah-engah, dadanya terasa sakit!.
"Joko Wandiro, tenanglah... tidak apa-apa...!"
Terdengar Bisikan dari sebelah kiri, suara eyang gurunya.
Joko Wandiro sejak kecil memang digembleng oleh ayahnya, kemudian oleh eyang gurunya, bahkan akhir-akhir ini oleh Ki Tejoranu.
Namun semua gemblengan itu hanya merupakan latihan ilmu-ilmu kesaktian dan dalam hal ilmu kebatinan ia hanya mendapat latihan untuk memperkuat batin dan menghimpun hawa sakti dalam tubuh.
Berhadapan dengan ilmu hitam yang tidak sewajarnya seperti ini, ia sama sekali belum pernah mengalaminya.
Tidak mengherankan apabila ia sudah menjadi korban.
Ucapan eyang gurunya seakan-akan menjadi akar pohon di tepi sungai di mana ia tenggelam dan hanyut Merupakan penolong dalam keadaan darurat.
Cepat ia mengerahkan tenaga sakti, menahan napas, dan membuka matanya.
Gelap dan kabur pandang matanya, tampak ribuan bintang menari-nari.
Ganda wangi memabokkan masih keras terasa.
Tiba-tiba ia merasa ada titik-titik air berjatuhan ke atas kepala dan mukanya.
Terasa dingin sekali sampai menembus kulit daging dan mendinginkan pikiran dan hati.
Ia dapat melihat jelas sekarang.
Rasa dingin air itu mengusir kepeningannya.
Kiranya kakek di sebelah kanannya, Empu Bharodo, sudah memercik-mecikkan air kepadanya, sambil berkemak-kemik membaca mantera.
"Pegang dan cium puspa (bunga) ini, Joko..."
Kembali terdengar suara eyang gurunya dan setangkai bunga berada di tangannya.
Bunga cempaka putih.
Joko Wandiro segera membawa bunga itu ke hidungnya.
Berkuranglah ganda wangi menusuk hidung yang tadi memabokkannya.
Makin terang pandang matanya dan ia kini tenang kembali.
Ketika ia memandang ke depan, jantungnya tergetar, akan tetapi ia dapat menenangkan kembali setelah teringat bahwa ia berada di antara orang-orang sakti.
Sambil menekan kembang itu di depan hidung, Joko Wandiro memandang ke depan dengan mata terbelalak.
Apa yang dilihatnya benar-benar membuat orang mati ketakutan.
Amat menyeramkan dan tak masuk akal, seperti dalam mimpi buruk.
Di sebelah depan Sang Resi Jatinendra berdiri sebuah mahluk yang luar biasa sekali.
Disebut manusia, jauh bedanya dengan manusia biasa.
Kalau binatang, bentuknya menyerupai manusia.
Mahluk itu tinggi besar, satu setengah kali tinggi besar seorang manusia biasa.
Merupakankan seorang manusia betina, seorang nenek-nenek yang sukar ditaksir usianya.
Pendeknya seorang nenek yang sudah sangat tua.
Rambutnya gimbal riap-riapan, sebagian menutup mukanya.
Mukanya yang buruk penuh keriput dengan kulit kering mengelinting seperti tengkorak terbungkus kulit yang terlalu besar.
Matanya cekung, seperti berlubang tak berbiji mata, akan tetapi dari dalam dua lubang mata yang hitam itu keluar sinar bagaikan sepasang mata harimau.
Hidungnya pesek mulutnya lebar dengan bibir bawah menggantung sehingga tampak mulut yang tak bergigi lagi.
Tubuhnya kurus akan tetapi besar, dengan sepasang lengan kurus yang berujung jari-jari tangan meruncing karena kuku-kukunya dibiarkan memanjang tak terpelihara.
Berbeda dengan kedua lengan yang kurus, di dadanya bergantungan sepasang buah dada yang besar dan panjang, begitu panjangnya sampai ujung tetek mendekati pusarnya!.
Tubuh atas yang bertetek besar panjang ini dibiarkan telanjang saja, akan tetapi perhiasan emas permata memenuhi leher, pergelangan tangan dan jari-jari tangannya!
Tubuh bawah tertutup kain beraneka warna.
"Hi-hi-hi-hikk...!!"
Nenek mengerikan itu tertawa-tawa, terkekeh-kekeh dan bergerak-gerak di depan Resi Jatinendra yang semenjak tadi tak bergerak-gerak.
Semenjak terjadi bermacam keanehan, sampai perang dahsyat antara barisan kelelawar melawan barisan sriti, sampai kini nenek yang sepatutnya disebut wewegombel ini bergerak-gerak di depannya, pendeta itu sama sekali tak bergerak maupun membuka mata.
"Hi-hi-hikk... Airlanggaaaaa... Airlangga...!! Tiada guna kau bertapa... hi-hi-hikk! Kahuripan akan menjadi karang abang... anak cucumu akan saling bunuh hi-hik, dan aku akan kenyang minum darah segar mengganyang daging hangat. Hi-hi-hikk...!!"
Joko Wandiro bergidik.
Ketika sinar mata yang memancar keluar dari sepasang lubang hitam itu bertemu dengan pandang matanya, hampir ia pingsan.
Untung ia cepat-cepat menggigit tangkai bunga dan mengerahkan seluruh tenaga mempertahankan diri sehingga ia sadar kembali dan menentang sinar mata itu penuh keberanian.
"Iiih-hi-hih, bocah ini makanan lezat... iihh-hih-hih...!"
Nenek itu memutar ke belakang Sang Resi Jatinendra dan melangkah menghampiri Joko Wandiro!.
Joko Wandiro adalah seorang anak berdarah satria bertulang pendekar.
Tadi ia memang merasa ngeri dan ketakutan menyaksikan pemandangan yang gaib dan tidak wajar ini.
Akan tetapi begitu melihat dirinya terancam bahaya, bangkit semangat perlawanan dalam dirinya.
Ia telah digembleng sejak kecil bagaimana harus membela diri daripada ancaman bahaya.
Melihat nenek itu menghampirinya dengan sikap mengancam dan menjijikkan, ia mengerahkan seluruh tenaga batin untuk menekan semua perasaan takut dan ngeri, kemudian sekali ia mengeluarkan seruan nyaring, tubuhnya sudah meloncat ke depan dan menyambut nenek itu dengan sebuah pukulan Aji Pethit Nogo!.
"Werir... werrr... werrr...!!"
Hebat bukan main pukulan ini, biarpun hanya dilakukan oleh seorang pemuda tanggung.
Pukulan dengan jari-jari terbuka itu mendatangkan angin pukulan keras sehingga mengeluarkan Suara.
Akan tetapi dapat dibayangkan betapa kaget hati Joko Wandlro ketika tiga kali pukulannya secara bertubi-tubi itu, yang mengenai sasaran tepat ternyata menembus tubuh si nenek seakan-akan menembus bayangan saja.
Nenek itu tidak berbadan seperti manusia agaknya Akan tetapi ketika sambil terkekeh nenek itu menggerakkan tangan kirinya yang berlengan panjang, Joko Wandiro terkena hantaman pundaknya, terasa nyeri seperti dihantam palu godam dan ia terjungkal ke kiri!.
Bagaikan bola, begitu roboh Joko Wandiro sudah meloncat kembali dan kini kedua tangannya sudah memegang sepasang golok tipis yang tadinya ia sisipkan di pinggang tertutup baju.
Karena marah dan penasaran, Joko Wandiro segera memutar sepasang goloknya, mainkan Ilmu Golok Lebah Putih yang belum lama ini ia pelajari dari Ki Tejoranu.
Lenyaplah bentuk sepasang goloknya, berubah menjadi dua gulungan sinar putih yang mengeluarkan suara seperti banyak lebah beterbangan Gulungan sinar itu menyambar dan mengurung diri si nenek tinggi besar yang masih terkekeh-kekeh.
"Hihh-hih-hihh...!"
Nenek itu terkekeh dan sepasang susunya yang besar panjang itu bergoyang-goyang mengerikan ketika ia tertawa sambil bertolak pinggang.
Joko Wandiro membelalakkan kedua matanya melihat sepasang goloknya yang menyambar itu kembali tembus tanpa melukai tubuh si nenek iblis!.
"Hih-hih-hih, bocah bagus. Darahmu tentu manis, dagingmu gurih! Tapi kau berani melawan aku, hah? Hih-hih-hih-hikk! Lihat kekuasaanku bocah! Lihat baik-baik! kau akan dimakan senjatamu sendiri, hih-hih-hik!"
Nenek buruk rupa itu menudingkan telunjuk kanannya ke arah Joko Wandiro.
Dari tangan yang menunjuk ini seakan-akan keluar getaran aneh yang berputar-putar amat kuatnya sehingga Joko Wandiro tak dapat mempertahankan diri lagi.
Pemuda tanggung ini merasa betapa dirinya seakan-akan dibawa angin puyuh yang kuat, serasa tubuhnya berpusing dan kepalanya menjadi pening, matanya berkunang.
ILa meramkan matanya, yang masih terdengar suara eyang gurunya memanggil, akan tetapi suara itu datangnya dari jauh sekali, hanya terdengar gemanya saja.
"Joko...! Joko Wandiro...!"
Akan tetapi Joko Wandro tidak mengandalkan pertolongan dari luar lagi karena ia sudah terseret oleh perputaran getaran yang luar biasa itu.
Ia melihat, sungguhpun kedua matanya dipejamkan, betapa di sekeliling tubuhnya tampak wajah nenek yang mengerikan itu, dengan bau mulutnya yang amis busuk, bercampur bau wangi yang memuakkan Maka ia lalu mengerahkan tenaganya, menggerakkan kedua goloknya untuk membacok dan menusuk!
"Hi-hi-hi-hik!
Hayo bacok dan tusuk, biar kuhisap darahmu yang keluar, biar kuhisap darahmu yang keluar, biar kuganyang dagingmu, kukremus tulangmu!"
Dalam pandangan Joko Wandiro, ia membacok dan menusuk ke arah tubuh nenek iblis itu, padahal sebetulnya ia telah terjatuh di bawah pengaruh sihir dan dalam pandangan orang lain, sepasang goloknya itu ia bacok dan tusukkan ke arah...
tubuhnya sendiri!
Untung baginya bahwa pada saat itu ia berada bersama tiga orang kakek sakti mandraguna.
Ketika tadi ia menerjang nenek iblis, Empu Bharodo sudah berdiri, tangan kirinya membawa tempat air dan tanah, tangan kanan memegang setangkai bunga cempaka.
Kini kakek itu memercik-mercikkan air dengan bunga yang dicelupkan ke dalam tempat air, bibirnya membaca mantera.
Terjadilah pemandangan yang tak masuk akal bagi orang-orang biasa.
Namun sungguh merupakan kenyataan yang tak dapat dibantah lagi.
seperti orang mabok, Joko Wandiro menggunakan kedua goloknya untuk membacok dan menusuk tubuhnya sendiri.
Bajunya menjadi robek compang-camping akibat bacokan dan tusukan golok tajam pemberian Ki Tejoranu.
Akan tetapi anehnya, kulit tubuhnya sedikitpun tidak lecet, apalagi terluka.
Sihir yang dilakukan nenek iblis itu membuat ia seperti mabok dan membacoki tubuh sendiri yang disangka tubuh si nenek, sebaliknya, percikan air Empu Bharodo membuat tubuhnya seakan-akan menjadi kebal.
Sihir dibalas sihir.
Kasihan Joko Wandiro yang menjadi korban, melakukan hal-hal yang sama sekali di luar kehendaknya.
Empu Bharodo menghampiri Joko Wandiro, menaruh tangan kiri di atas kepalanya, meraba ubun-ubunnya.
Seketika Joko Wandiro sadar dan alangkah kagetnya ketika ia melihat betapa sepasang goloknya itu ia gerakkan sendiri membacok paha dan menusuk perut.
Cepat ia menahan kedua tangannya, bengong terlongong melihat bajunya compang-camping, melihat nenek iblis terkekeh-kekeh dan di depan nenek itu kini berdiri Empu Bharodo dengan sikap tenang.
Nenek itu mengeluarkan suara menggereng seperti seekor harimau dan mukanya menjadi menakutkan sekali.
Joko Wandiro yang masih berdiri terbelalak itu makin kaget ketika melihat api keluar dari mulut si nenek iblis.
Apikah itu yang tersembur keluar dari mulut dan menerjang ke arah Empu Bharodo?
Ataukah lidah si nenek yang panjang dan menyalanyala?
Empu Bharodo membaca mantera, lalu memercikkan air dari bunga cempaka yang dicelup dalam tempayan air.
Percikan air itu berkilau putih menyambar ke arah lidah api.
"Cesssssss...!"
Asap mengepul tebal dan tercium bau sangit.
Si nenek iblis menjerit-jerit, tangan kiri menggaruk-garuk mulutnya yang kini tidak mengeluarkan lidah api lagi, sedangkan tangan kanan dengan jari-jari berkuku panjang itu diulur ke depan ketika ia menerjang maju dan untuk menubruk dan mencekik leher Empu Bharodo.
"Pergilah...!!"
Bentak Empu Bharodo sambil menyambitkan kembang ke arah nenek iblis. Nenek itu terhuyung ke belakang, mulutnya mengeluarkan jerit melengking panjang dan lenyaplah tubuhnya.
"Heh, Wirokolo!"
Terdengar Empu Bharodo berkata lantang.
"Kalau engkau hendak menghadap Sang Resi Jatinendra, datanglah saja. Apa perlunya engkau pamer dengan ilmu hitam Calon Arang yang hanya patut untuk menakut-nakuti anak kecil?"
Setelah berkata demikian, Empu Bharodo dengan langkah tenang kembali ke tempatnya di depan mulut guha lalu duduk bersila seperti tadi, tenang dan seakan-akan tidak pernah terjadi sesuatu.
"Joko, kau kembalilah ke sini..."
Terdengar Resi Bhargowo berkata.
Akan tetapi sebelum Joko Wandiro sempat bergerak, tiba-tiba muncullah lima orang tinggi besar berloncatan ke depan Sang Resi Jatinendra.
Lima orang tinggi besar itu muncul sambil tertawa bergelak, di tangan masing-masing memegang sebatang golok besar yang berkilauan tertimpa sinar matahari membayangkan ketajamannya.
Tanpa bicara sesuatu, lima orang itu serentak lalu menerjang pertapa yang masih duduk bersamadhi itu.
Melihat hal ini, tentu saja Joko Wandiro tidak mau tinggal diam.
Sepasang golok tipis pemberian Ki Tejoranu masih berada di kedua tangannya dan kini ia melihat bahwa lima orang itu walaupun tinggi besar, namun jelas adalah manusia-manusia biasa bukan iblis macam nenek tadi.
Pula, menilik gerakan mereka, kelima orang ini hanya memiliki tenaga kasar yang besar saja.
Maka cepat sekali tubuhnya mencelat ke depan dan kedua goloknya berkelebat membentuk gulungan sinar putih.
"Trang-trang-cringgg...!!"
Golok tiga orang musuh yang berada paling depan berhasil ditangkisnya dan tiga batang golok itu mental kembali.
Lima orang pengeroyok yang tinggi besar itu berseru kaget dan membelalakkan mata.
Tak seorangpun di antara mereka yang kini tertawa lagi.
Sebaliknya, mereka mengeluarkan suara gerengan marah ketika mendapat kenyataan bahwa yang menangkis golok-golok mereka tadi hanyalah seorang pemuda tanggung.
"Bocah keparat! kau kepingin mampus??"
Lima orang itu serentak menerjang dengan golok besar mereka ke arah Joko Wandiro.
Melihat datangnya lima batang golok dengan kekuatan yang besar, Joko Wandiro maklum bahwa tenaganya tak mungkin menandingi lima orang ini sekaligus.
Tadipun ketika menangkis tiga batang golok, ia merasa betapa kedua lengannya menjadi linu, tanda bahwa tenaga tiga orang itu benar-benar amat kuat.
Maka, anak yang cerdik ini tidak lagi mau mengadu tenaga melawan lima orang sekaligus, melainkan cepat ia mempergunakan kegesitan tubuhnya, menggunakan Aji Bayu Tantra sehingga tubuhnya dengan ringan dan gesit sekali menyelinap ke samping sebelum lima batang golok datang membacok.
Kemudian kedua kakinya bergerak menurut pelajaran ilmu silat yang ia pelajari dari Ki Tejoranu, golok-golok di kedua tangannya melakukan gerakan menggunting ke arah lawan yang paling depan.
Si tinggi besar itu kaget ketika tadi melihat bocah yang menjadi lawannya berkelebat ke samping dan kini melihat dua gulungan sinar putih menerjangnya.
Ia berusaha untuk membabitkan golok besarnya sambil memutar tubuh menghadapi Joko Wandiro, namun ia kalah gesit.
Tiba-tiba ia menjerit keras, lengan kanannya termakan golok Joko Wandiro yang menggunting sehingga terpaksa ia melepaskan golok besarnya sambil melompat mundur memegangi lengan kanan yang mengucurkan darah.
Joko Wandiro tidak berhenti sampai di situ saja.
Melihat hasil serangannya, ia melanjutkan gerakan kakinya, dengan gerakan mantap mengatur langkah-langkah maju dalam gerak ilmu silat Ilmu Golok Lebah Putih, sepasang goloknya mendesing-desing ketika diputar ke depan.
Empat orang lawannya juga sudah menghadapinya, marah sekali melihat seorang kawan mereka dikalahkan.
"Ommm... damai-damai-damai jangan kotorkan tempat ini dengan darah...!"
Terdengar suara halus dan tiba-tiba saja Joko Wandiro dan keempat orang lawannya merasa kedua lengan mereka lemas sehingga semua senjata yang dipegang terlepas dan runtuh ke atas tanah!.
Joko Wandiro seorang yang cerdik.
Ia tadi melirik dan melihat bahwa ucapan itu keluar dari mulut pendeta yang sejak tadi duduk diam di depan, kemudian melihat pula betapa tangan kiri pendeta itu digerakkan ke depan, maka tahulah ia bahwa yang menjatuhkan semua senjata itu adalah hawa pukulan jarak jauh yang hebat luar biasa!
Ia tahu pula bahwa pendeta yang sakti itu tidak menghendaki pertumpahan darah.
Adapun keempat orang tinggi besar itu menjadi makin marah, tidak mengerti mengapa semua senjata mereka terlepas begitu saja dari pegangan.
Mereka mengira bahwa bocah itulah yang main gila, maka dengan gerakan ganas mereka lalu maju menubruk, kedua lengan dikembangkan, jari-jari tangan terbuka siap mencekik leher, mulut terbuka lebar tiada ubahnya harimau-harimau lapar menubruk mangsa!
Namun Joko Wandiro sudah bergerak lebih cepat daripada mereka yang lamban dan hanya mengandalkan kekuatan tubuh.
Dengan menyelinap ke kiri, ia membuat tubrukan empat orang itu gagal, kemudian sebelum empat orang itu mampu menerjangnya lagi, selagi mereka terhuyung ke depan, dari samping Joko Wandiro menghantam seorang diantara mereka yang terdekat dengan menggunakan pukulan Pethit Nogo.
"Trakk!!"
Jari-jari tangan yang kecil itu dilecutkan ke arah iga dan biarpun jari tangan itu tidak berapa besar, namun mengandung Aji Pethit Nogo yang ampuhnya menggila.
Seketika si tinggi besar itu menjerit kesakitan, roboh bergulingan dan mengaduh-aduh, tak dapat bangkit kembali karena dua buah tulang Iganya patah!.
Mendapatkan kemenangan ini, besar hati Joko Wandiro.
Ia tidak menanti sisa lawannya yang tiga orang lagi itu bergerak.
Selagi mereka bengong saking heran melihat bocah itu mampu merobohkan seorang kawan lagi hanya dalam segebrakan, ia telah meloncat maju, gerakannya cepat, kaki tangannya bergerak laksana halilintar menyambar dan terdengarlah pekik susul-menyusul ketika tiga orang itu dihajar tendangan dan pukulan ampuh sehingga tubuh mereka bergelimpangan.
Hebat sepak terjang Joko Wandiro, seperti Raden Gatotkaca mengamuk di antara keroyokan buto-buto (raksasa) galak!.
Mendapat kesempatan ini, selagi para lawannya jatuh bangun, Joko Wandiro sudah menyambar sepasang goloknya lagi karena ia khawatir kalau-kalau sepasang goloknya itu dirampas lawan.
Pada saat ia membungkuk dan mengambil sepasang goloknya, tiba-tiba ada angin keras menyambar dari depan.
Joko Wandiro terkejut, maklum bahwa ada serangan yang hebat.
Cepat ia mengelak sambil membabat dengan golok kanannya, akan tetapi tubuhnya terlempar dan golok kanannya terlepas ketika sebuah kaki menyambar dengan kekuatan yang dahsyat!
Joko Wandiro terbanting roboh, matanya berkunang-kunang akan tetapi ia tidak mengalami cedera.
Cepat ia menggulingkan tubuhnya ke arah golok yang terlepas tadi dan begitu ia meloncat bangun, ia sudah siap dengan sepasang golok di tangan, menghadapi segala kemungkinan dengan sikap gagah dan memasang kuda-kuda amat kokohnya.
Kiranya di sebelah depan telah berdiri dua orang laki-laki tinggi besar berkulit hitam, rambutnya panjang terurai dan sepatutnya dua orang ini menjadi raksasa-raksana dalam cerita jaman dahulu!
Tidak hanya segala-galanya pada kedua orang itu jauh lebih besar daripada orang biasa, juga mata mereka yang besar menonjol keluar itu kemerahan, wajah mereka buas dan mengerikan.
Agaknya mereka itu saudara kembar, karena segala-galanya, dari rambut, wajah, bentuk tubuh sampai pakaian mereka, serupa.
Sukar sekali membedakan satu dari yang lain kalau saja senjata mereka tidak berbeda.
yang seorang memegang sebatang tombak yang dihias rambut di leher tombak, sedangkan orang ke dua memegang sebatang ruyung yang bergigi, amat menyeramkan.
Namun Joko Wandiro tidak menjadi gentar.
Sekali sudah terjun ke dalam gelanggang yuda, ia tidak mengenal takut lagi.
Dengan hati-hati ia bersiap sedia menghadapi dua lawan yang nggegirisi (menggiriskan) ini.
Akan tetapi pada saat itu terdengar bentakan eyang gurunya.
"Joko, mundur kau!"
Joko Wandiro tidak berani membantah, dan ia lalu mengundurkan diri, kembali duduk bersila seperti tadi, di mulut guha di belakang Resi Jatinendra.
Adapun Resi Bhargowo kini sudah berdiri dan dengan langkah tenang ia maju ke depan menyambut dua orang raksasa itu.
"Anak baik, kau patut menjadi cucu murid adi resi"
Demikian bisikan Empu Bharodo di sebelah kanan Joko Wandiro.
Anak ini menengok dan melihat betapa kakek itu tersenyum ramah, lalu membungkuk dengan sikap merendah.
Kemudian mereka lalu memandang ke depan untuk menonton bagaimana Resi Bhargowo akan menghadapi dua orang lawan yang buas itu.
Resi Bhargowo bersikap tenang saja.
Sejenak ia beradu pandang dengan kedua lawannya, kemudian ia berkata.
"Kisanak, siapakah gerangan andika berdua? Dan mempunyai keperluan apa mendatangi pertapaan Jalatunda?"
"Heh-heh-heh, aku adalah Gagak Kunto!"
Jawab raksasa yang memegang lembing atau tobak berhias rambut.
"Dan akulah Gagak Rudro!"
Jawab orang ke dua sambil mengamang-amangkan senjata ruyungnya yang mengerikan.
Resi Bhargowo sudah menduga akan hal ini.
Tentu saja dia sudah mendengar nama kedua orang ini yang merupakan jagoan-jagoan dari Kerajaan Wengker yang sudah hancur.
Tadi ketika mendengar suara burung gagak yang diikuti oleh semua burung lain, dia sudah dapat menduga bahwa suara itu bukan keluar dari mulut burung gagak sewajarnya.
Kiranya kedua orang"Gagak"
Inilah yang datang!
Dia sudah mendengar bahwa Gagak Kunto dan Gagak Rudro (Gagak Bertombak dan Gagak Buas) adalah bekas perwira-perwira Kerajaan Wengker, orang-orang kepercayaan mendiang Sang Prabu Baka dan memiliki kesaktian-kesaktian tinggi, yang merupakan ahli-ahli ilmu hitam seperti biasa dimikili para jagoan Wengker.
Maka ia bersikap hati-hati dan menanti keterangan selengkapnya.
Melihat betapa pertapa yang kelihatan kecil itu tidak kaget mendengar nama mereka, Gagak Kunto berkata lagi, suaranya membentak marah.
"Tua bangka kecil kurus kering, kau minggirlah! Kami datang mewakili kakang Wirokolo!"
"Hemmm, kalau Wirokolo ada niat menghadap Sang Agung Resi Jatinendra, mengapa ia tidak langsung menghadap sendiri? Mengapa ia menyuruh pula kalian? Mundurlah, dan sampaikan kepada Wirokolo bahwa lebih baik dia sendiri yang maju."
Dua orang raksasa itu makin marah.
"Heh, keparat sombong, siapakah engkau berani menentang sepasang Gagak Sakti? Apakah kau sudah bosan hidup?"
"Gagak Kunto dan Gagak Rudro, aku bicara baik-baik kepada kalian, sebaliknya kalian begitu jumawa. Ketahuilah, aku adalah Bhagawan Rukmoseto."
"Bhagawan Rukmoseto??"
Gagak Kunto mengulang, mengingat-ingat nama yang tak dikenalnya ini.
"Ya, dahulu disebut Resi Bhargowo."
"Ha-ha-ha! Resi Bhargowokah kiranya engkau, tua Bangka kerdil? Minggirlah, apa kau belum mendengar nama Gagak Kunto? Minggir dan biarkan kami bicara dengan Sang Prabu Airlangga!"
"Hemm! Wirokolo hanya seorang senopati taklukan, namun masih mewakilkan orang-orang kasar macam kalian. Tentu saja kalian tidak cukup berharga untuk menghadap Sang Agung Resi Jatinendra, dan akulah wakil beliau untuk menandingi segala tingkahmu!"
"Aauugggh, bojleng iblis laknat! Bhargowo, berani engkau melawan senjata pusakaku ini?"
Gagak Kunto mengamangkan tombaknya.
"Majulah, siapa takut kepadamu?"
"Keparat sombong! Hayo keluarkan senjatamu!"
"Senjataku adalah kebenaran. Majulah kalian berdua, aku takkan mundur setapakpun!"
"Babo-babo...!!"
Gagak Rudro tak dapat menahan kemarahannya lagi dan ia mendahului saudaranya, menerjang dengan ruyungnya yang mengerikan.
"Wuuuuuttt...!!"
Angin besar menyambar ketika ruyung ini bergerak.
Namun dengan gerakan ringan dan sikap tenang sekali Resi Bhargowo menggeser kaki miringkap tubuh.
Ruyung itu lewat di samping tubuhnya bagaikan waringin tumbang, menghantam tanah membuat batu-batu kerikil pecah dan terbang berhamburan disusul debu mengepul tebal.
Serangan gagal ini dalam detik selanjutnya sudah disusul tombak meluncur bagaikan kilat menyambar, menusuk ke arah dada Resi Bhargowo.
Demikian cepatnya serangan maut ini sehingga Joko Wandiro yang menonton merasa ngeri dan khawatir.
Baginya, eyang gurunya terlalu tenang, sehingga tampaknya seperti lambat.
Kalau dia yang diserang tombak seperti itu, tentu sudah cepat-cepat meloncat ke samping.
Akan tetapi eyang gurunya seakan-akan menanti datangnya ujung mata tombak, dan setelah kurang sejengkal dari kulit dadanya, barulah eyang gurunya itu miringkan tubuh tanpa menggeser kaki!
Sebuah kelitan yang amat berbahaya dan pula amat berani, namun juga merupakan awal jurus yang ampuhnya menggiriskan!
Hanya beberapa detik saja terjadinya, tahu-tahu tombak yang meluncur lewat itu telah tertangkap di bawah ketiak lengan kiri sang resi, dikempit dengan pengerahan tenaga dalam, kemudian dalam detik berikutnya disusul dengan tamparan yang menggunakan jari tangan kanan.
"Werr... plakkk!!"
Itulah tamparan Pethit Nogo yang tepat mengenai pundak kiri Gagak Kunto!
Joko Wandiro hampir saja bersorak menyaksikan hasil mentakjubkan eyang gurunya dalam jurus pertama ini.
Tubuh Gagak Kunto seperti kemasukan aliran halilintar, matanya terbelalak rambutnya bangkit berdiri kemudian tubuhnya mencelat ke belakang sampai lima meter jauhnya, lalu terbanting roboh dan di situ ia terengah-engah sambil memegangi pundaknya.
Biarpun ia memiliki kekebalan, namun pukulan Pethit Nogo tadi berhasil meremukkan tulang pundaknya!
"Si keparat Bhargowo...!
Berani kau...
menjatuhkan saudaraku??"
Dengan muka merah dan mata terbelalak mulut berliur sakiing marahnya, Gagak Rudro menubruk dan menggerakkan ruyungnya yang besar dan berat itu, mengancam kepala dan tubuh lawan.
Gerakannya cepat dan amat kuat, serangannya susul-menyusul sehingga terpaksa Resi Bhargowo menggunakan ilmu kesaktiannya, dengan Aji Bayu Tantra ia berkelit ke sana ke mari dengan amat gesitnya.
Mengagumkan sekali kalau dilihat betapa seorang kakek yang sudah tua, rambutnya sudah putih semua seperti Resi Bhargowo ini, masih dapat bergerak sedemikian gesitnya, tiada ubahnya seekor burung sriti yang bergerak melesat ke sana-sini menghindarkan diri dar ipada ancaman ruyung maut.
(Lanjut ke
Jilid 19) Badai Laut Selatan (Seri ke 03 Serial Serial Keris Pusaka Sang Megatantra) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo
Jilid 19 Saking cepatnya gerakan ruyung, terdengar suara"werrwerr-werr!"
Tiada hentinya dan daun-daun di dahan pohon bergoyang-goyang seperti tertiup angin keras.
Kelihatannya Sang Resi Bhargowo terdesak dan tak mampu membalas, padahal sesungguhnya, pertapa sakti yang tenang ini sedang menanti kesempatan baik untuk sekali pukul meruntuhkan lawan.
Ketika ruyung itu lewat dari atas hendak menghantam kepalanya, ia menanti dan sengaja memperlambat gerakan.
"Remuk kepalamu!"
Gagak Rudro sudah berseru girang sekali, yakin bahwa kali ini ruyungnya tentu akan mendapat"makanan"
Otak dan darah kepala yang remuk.
"Werr... wuuutttt!!"
Ruyung meluncur cepat karena Resi Bhargowo baru dekat, maka ruyung itu tidak dapat ditahan oleh Gagak Rudro, terus meluncur ke bawah dan menghantam tanah.
Akan tetapi kali ini Resi Bhargowo sudah melihat kesempatan baik.
Jari-jari tangan kirinya menyambar ke depan dan"Krakk!!!"
Pangkal lengan kanan Gagak Rudro dekat pundak patah tulangnya dan ruyungnya terlepas dari pegangan.
"Aduhh..., tobat...!"
Gagak Rudro berteriak kesakitan dan menggulingkan tubuh menjauhi lawan, takut menerima hantaman ke dua. Akan tetapi Resi Bhargowo tidak menyerang lagi, melainkan berdiri tegak dan tersenyum pahit.
"Orang-orang macam kalian ini masih berani membikin ribut? Hayo, kalau masih belum bertobat, majulah lagi, keluarkan semua kedigdayaan kalian, sepasang Gagak yang jahat! Kalau sudah mengaku kalah, pergilah dan ajak kelima orang anak buahmu!"
Tiba-tiba terdengar suara mendeis-desis ketika Gagak Kunto dan Gagak Rudro pergi diikuti lima orang anak buah mereka yang tadi roboh oleh Joko Wandiro.
Suara mendesis-desis ini makin tajam dan nyaring setelah tujuh orang itu tak tampak bayangannya lagi.
Kemudian terdengar bentakan dengan suara parau.
"Babo-babo, Resi Bhargowo! Sumbarmu seperti dapat menumbangkan puncak Mahameru! Jangan tekebur hanya karena dapat mengalahkan segala perajurit rendahan. Akulah lawanmu!!"
Mendadak terdengar suara keras seperti pohon beringin tumbang dan sesosok tubuh inggi besar menyambar turun, kini berdiri tegak di depan Resi Bhargowo.
Joko Wandiro yang memandang penuh perhatian, terkejut melihat raksasa yang baru muncul ini.
Tubuhnya sama tinggi besar dengan sepasang gagak tadi, akan tetapi wajahnya lebih menyeramkan karena berwarna merah.
Bibirnya yang pucat tak dapat rapat menutup giginya yang besar-besar dan di kedua ujungnya bertaring!
Matanya melotot dan tak pernah kelihatan berkedip.
Tubuhnya bagian atas tidak berbaju sehingga tampak otototot sebesar dadung membelit-belit tubuh yang kulitnya berbulu itu.
Akan tetapi yang paling menyeramkan adalah lima ekor ular belang yang menghias tubuhnya.
Seekor yang paling panjang membelit leher seperti kalung,dua ekor di kedua pergelangan tangan dan dua ekor pula membelit pergelangan kaki yang telanjang.
Lima ekor ular berbisa inilah yang mengeluarkan suara mendesis-desis itu.
"Wirokolo! Akhirnya engkau muncul juga! Engkau mau apa? Jangan kira Resi Bhargowo takut kepadamu!"
"Haaaahhh! Sombong sekali engkau, keparat! Rasakanlah ampuhnya Anolo Hasto (Tangan Api)!"
Berkata demikian, Wirokolo menggosok-gosok kedua telapak tangannya dan dari kedua telapak tangan yang saling digosokkan itu mengepul asap hitam dan tercium bau sangit seperti kulit atau rambut terbakar.
Kedua telapak tangan itu kini tampak merah seperti besi dibakar.
Kemudian Wirokolo bertepuk tangan.
Terdengar ledakan seperti geledek dan tampak bunga api berpijar!
Benar-benar ilmu yang mujijat dan dahsyat.
Tiba-tiba Wirokolo membentak keras tubuhnya yang tinggi besar itu menerjang maju, kedua tangannya menampar bertubi-tubi.
Resi Bhargowo dengan sikapnya yang tenang itu mengelak sambil menangkis, karena gerakan lawan yang sedemikian cepatnya, mengimbangi gerakannya sendiri Aji Bayu Tantra, tak mungkin dihadapi dengan kelitan-kelitan saja, harus dihadapi dengan tangkisan,keras lawan keras.
"Desss...!!"
Benturan kedua tangan orang-orang sakti ini merupakan pertemuan dua tenaga dahsyat.
Dari tangan Wirokolo memercik bunga api menyilaukan mata dan terjangannya tertahan, Akan tetapi Resi Bhargowo terhuyung-huyung ke belakang, terdorong oleh tenaga lawan yang bukan main dahsyatnya!
"Huah-hah-hah-hah!
Sebegitu saja kekuatanmu, Resi Bhargowo?"
Wirokolo mengejek sambil menerjang terus menggunakan kedua tangannya yang seakan-akan telah berubah menjadi dua tangan baja membara.
Memang hebat kepandaian Wirokolo ini.
Hal ini tidaklah amat mengherankan kalau diingat bahwa ia bekas senopati Kerajaan Wengker dan merupakan senopati yang sakti nomor dua sesudah Dibyo Mamangkoro.
Wirokolo adalah adik seperguruan Dibyo Mamangkoro, dan dalam perang antara Wengker melawan pasukan Kahuripan dahulu, dia merupakan lawan tangguh yang hanya dapat dipukul mundur setelah banyak perwira tewas dan akhirnya Ki Patih Narotama sendiri yang turun tangan di medan yuda.
Semenjak kekalahannya dalam perang itu yang mengakibatkan tewasnya Sang Prabu Boko di tangan Sang Prabu Airlangga sendiri dan hancurnya Kerajaan Wengker, seperti juga Dibyo Mamangkoro, senopat Wirokolo ini lari menyembunyikan diri dan bertapa sambil menggembleng diri sehingga ilmu kepandaiannya meningkat tinggi.
Resi Bhargowo bukanlah tokoh sembarangan.
Dengan Aji Bayu Tantra dan ilmu pukulan Phetit Nogo dia sudah merupakan seorang sakti yang jarang tandingannya, apalagi dia telah memiliki tenaga sakti yang bertingkat tinggi.
Dalam pertandingan di Pulau Sempu, menghadapi serbuan para utusan Pangeran Anom, Resi Bhargowo telah membuktikan kesaktiannya.
Akan tetapi sekarang, berhadapan dengan Wirokolo, dia benar-benar terdesak dan jelas bahwa tingkat kesaktiannya kalah tinggi Dengan ajinya Bayu Tantra, Resi Bhargowo hanya dapat mengelak untuk menyelamatkan diri dari serbuan kedua tangan membara itu.
Ada kalanya ia mampu membalas sekali dua dengan pukulan Pethit Nogo yang ampuh, namun pukulan inipun membalik ketika bertemu dengan hawa Anolo Hasto yang panas seperti Kawah Condrodimuka.
Juga pukulan Pethit Nogo yang tidak terlalu tepat kenanya, tidak mempan terhadap tubuh Wirokolo yang keras dan kebal.
Hanya dalam kecepatan saja Resi Bhargowo dapat mengimbangi lawan sehingga ia masih dapat bertahan, namun jelas bahwa pukulan-pukulannya kalah ampuh dan tenaga dalamnya kalah kuat.
"Huah-hah-hah! Resi Bhargowo, begini saja kekuatanmu? Hah-hah-hah!"
Wirokolo terkekeh-kekeh dan ia benar-benar menguasai pertandingan itu sehingga kini Resi Bhargowo sama sekali tidak diberi kesempatan untuk membalas, melainkan meloncat ke sana ke mari, mengelak dan sedapat mungkin menangkis.
Namun setiap kali menangkis, ia terpental dan terhuyung-huyung.
"Wirokolo manusia iblis! Masih belum bertobat engkau sejak dahulu?"
Suara ini keluar dari mulut Empu Bharodo yang ternyata sudah maju dan membantu adik seperguruannya.
Begitu suaranya terdengar, orangnya sudah datang dan tangannya sudah menampar.
Bukan main cepatnya gerakan Empu Bharodo.
Memang, dalam hal ilmu meringankan tubuh dan gerak cepat, agaknya sukar dicari bandingnya karena Empu Bharodo memiliki Aji Bayu Sakti!
Gerakannya ringan dan cepat sekali sehingga tahu-tahu tangannya menampar seperti kilat, tak sempat ditangkis maupun dielakkan lagi oleh Wirokolo.
"Plakk!"
Tamparan itu tepat mengenai dada Wirokolo, sebuah tamparan dahsyat yang didasari ilmu pukulan Jonggring Saloko.
"Huah-hah-hah! Tanganmu empuk seperti tangan perempuan, Empu Bharodo pendeta cacingen!"
Wirokolo yang hanya tergeser selangkah oleh tamparan itu tertawa mengejek lalu balas memukul dengan tangannya yang merah membara.
Namun dengan amat cepatnya Empu Bharodo mengelak sehingga pukulan ini mengenai tempat kosong.
Juga desakan yang bertubi-tubi merupakan pukulan berantai sampai tujuh kali, sama sekali tidak dapat menyentuh ujung baju si pertapa yang amat cepat gerakannya ini.
Setelah Empu Bharoflo turun tangan membantu Resi Bhargowo, pertandingan menjadi lebih ramai, tidak berat sebelah seperti tadi.
Kalau tadi Resi Bhargowo terdesak hebat dan hanya mampu mengelak ke sana ke mar i, sekarang dengan bantuan Empu Bharodo keadaan berubah.
Biarpun tubuh Wirokolo kebal dan amat sakti sehingga tidak roboh oleh pukulan Pethit Nogo maupun pukulan Jonggring Saloko, namun karena kini kedua orang pertapa itu menujukan pukulan-pukulan mereka ke bagian-bagian tubuh yang lemah, raksasa yang sakti itu menjadi repot juga.
Ia sudah mengamuk dan balas memukul atau mencengkeram dengan kedua tangan yang membara, namun gerakan kedua orang lawannya itu terlalu gesit sehingga semua balasan serangannya gagal.
"Plakk!! Dess...!!"
Tamparan Pethit Nogo oleh jari tangan Resi Bhargowo mengenai pundaknya dan selagi terhuyung, ia dihantam oleh tangan kiri Empu Bharodo yang mengenai lambungnya.
Biarpun dua pukulan ampuh ini tidak merobohkannya, namun cukup membuat tulang pundak ngilu dan perut mulas.
Bangkit lah kemarahan Wirokolo.
Untuk mempergunakan ilmu hitam seperti tadi, ia maklum tidak akan ada gunanya karena Empu Bharodo adalah seorang ahli dalam hal ilmu sihir, sehingga ilmu hitam seperti yang telah ia keluarkan tadi, yaitu Calon Arang, juga dapat dipukul buyar.
Maka kini Wirokolo mengeluarkan teriakan keras sekali sehingga bumi seakan goncang, pohon-pohon bergoyang dan banyak daun pohon berguguran.
Di saat lain Wirokolo telah menerjang maju dengan hebat sekali.
Kini ular-ular yang tadinya melingkar di pergelangan tangannya, ikut bergerak dan setiap kali ia menghantam, maka ular di pergelangan tangan ikut pula menyambar dan menggigit.
Demikian pula ular-ular di kedua kakinya.
Bahkan ular di lehernya mengulur leher dan menyemburkan uap berbisa!
Semua ini masih ditambah lagi dengan sepasang tombak pendek yang entah kapan telah dicabut oleh Wirokolo dari belakang pinggangnya.
Hebat bukan main raksasa ini sehingga Resi Bhargowo dan Empu Bharodo terkejut juga dan melompat mundur.
Empu Bharodo cepat mengeluarkan tombaknya, tombak pusaka yang tadi ia letakkan di depan guha, sedangkan Resi Bhargowo juga menyambar tombak milik Gagak Kunto yang tadi ia rampas.
Mereka kini sudah siap dengan senjata di tangan, siap untuk bertanding mati-matian menghadapi lawan yang amat sakti itu.
"Kakang berdua Bharodo dan Bhargowo, harap kalian mundur dan biarkan Wirokolo menjumpai aku."
Suara ini halus, namun mengandung getaran penuh wibawa.
Mendengar suara ini, seketika kedua orang pertapa itu melangkah mundur dan kembali duduk bersila di tempat semula.
Napas mereka agak terengah, tanda bahwa pertandingan melawan Wirokolo tadi benar-benar amat berat bagi mereka yang sudah berusia lanjut.
Diam-diam Joko Wandiro merasa khawatir sekali.
Kalau kedua orang kakek sakti ini tidak mampu mengalahkan lawan, bagaimanakah kakek di depan itu akan menghadapinya seorang diri?
Sementara itu, Wirokolo dengan kedua tombak pendek di tangan, tertawa bergelak sampai perutnya yang besar bergerak-gerak dan mukanya yang beringas menengadah.
Kemudian ia menghentikan tawanya dan melangkah maju menghampiri Resi Jatinendra yang masih duduk bersila, akan tetapi kini tidak bersamadhi lagi, sepasang matanya terbuka, memandang penuh kelembutan dan bibirnya tersenyum ramah.
"Kisanak, apakah kau yang bernama Wirokolo?"
Pertanyaan ini terdengar halus dan sedikitpun tidak membayangkan kemarahan atau permusuhan.
"Huah-hah-hah! Sang Prabu Airlangga, betul aku Wirokolo!"
"Wirokolo, aku sekarang bukan lagi sang prabu, melainkan Resi Gentayu atau Resi Jatinendra. Andika bertekad datang ke Jalatunda, ada keperluan apakah? Katakan jangan meragu karena apapun permintaanmu, jika aku kuasa memberi, akan kuberikan kepadamu."
"Huah-hah, Raja Airlangga! Jangan coba bersembunyi di balik kedok pertapa! Setelah kedua orang jagoanmu tak dapat mengalahkan aku, engkau lalu menggunakan kata-kata manis untuk menyenangkan hatiku? Engkau menjadi ketakutan? Takut kepadaku? Hah-hah, Sang Prabu Airlangga yang dahulu disohorkan gagah perkasa itu kini menjadi seperti harimau kehilangan kukunya, garuda kehilangan sayapnya!"
Di dalam hatinya Joko Wandiro terkejut ketika mendengar bahwa kakek pertapa yang tenang dan ramah itu ternyata adalah sang prabu sendiri!
Hatinya berdebar penuh kekhawatiran, akan tetapi melihat sikap yang kurang ajar dan sombong dari Wirokolo, jiwa satrianya memberontak, semua urat syaraf di tubuhnya menegang dan hampir tak dapat ia menahan dirinya yang hendak meloncat dan menandingi raksasa sakti itu.
Akan tetapi Sang Prabu Airlangga atau Resi Jatinendra sendiri sama sekali tidak kelihatan marah mendengar ejekan dan cemoohan itu, melainkan tersenyum dan suaranya tetap halus dan ramah.
"Satu-satunya hal yang kutakuti di dunia ini hanyalah kalau-kalau aku menyeleweng daripada kebenaran tanpa kusadari, Wirokolo. Selain itu, tidak ada yang kutakuti, juga engkau tidak. Aku telah sadar, Wirokolo, bahwa penggunaan kekerasan adalah penyelewengan manusia yang paling parah. Dari kekerasan inilah timbulnya segala perkosaan dan kerusakan, wahai kisanak, demi kebaikanmu sendiri, hentikanlah segala kekerasanmu dan katakanlah apa yang kau kehendaki dan aku akan memberikannya kepadamu."
Sejenak sunyi menyambut ucapan yang amat sedap didengar ini.
Suasana sunyi yang mengamankan hati, sunyi yang amat indah di mana tidak ada sesuatu yang mengganggu perasaan.
Akan tetapi hanya sebentar karena segera terganggulah getaran damai yang timbul dari sabda sang resi itu oleh suara Wirokolo.
"Heh, Airlangga! Siapa percaya obrolanmu? kau tanya apa kehendakku? Aku menghendaki nyawamu! Lihat, aku akan membunuhmu!!"
Wirokolo mengamang-amangkan kedua tombaknya dengan sikap mengancam sambil melangkah makin dekat.
Akan tetapi sang resi tersenyum, kemudian terdengar kata-katanya penuh wibawa sehingga ucapan yang keluar dari mulut sang resi mengandung getaran dan gema.
"Hai Wirokolo, dengarlah baik-baik selagi engkau mendapat kesempatan mendengar kebenaran ini. Siapakah engkau ini yang akan dapat membunuh Aku? Siapakah engkau ini yang akan dapat menentukan mati hidup seseorang? yang tidak berawal takkan berakhir, dan Aku tidak berawal, maka tidak berakhir pula. yang tidak terlahir, takkan mati, dan Aku tidak terlahir. yang berawal dan terlahir hanyalah tubuhku, maka yang berakhir atau mati kelak hanya tubuhku. Jangan kira engkau akan dapat membunuhku, oh, Wirokolo, engkau tersesat amat jauh kalau berpikir demikian! Sebaliknya tubuhku ini takkan terluput daripada kematian, namun jangan pula mengira bahwa engkau yang akan menentukan mati hidup tubuhku, karena hal itu tidak berada dalam kekuasaanmu atau kekuasaan siapapun juga.Di samping bahwa engkau tidak berdaya untuk menguasai mati hidup seseorang, juga Aku telah diwajibkan menjaga wadah di mana Aku tinggal berupa tubuh ini, Wirokolo! Karena kalau tidak kulakukan hal itu, maka berarti meninggalkan wajib dan hal ini menyalahi keadaan!"
Kembali sunyi yang mendalam menyambut ucapan Sang Resi Jatinendra ini.
Lebih lama daripada tadi.
Tiada suara terdengar, bahkan angin sekalipun seperti berhenti bertiup untuk menghormati kata-kata yang merupakan untaian mutiara keluar dari mulut sang resi.
Mutiara filsafat yang menjadi ajaran Sang Bhatara Wishnu, dituangkan dalam Bagawad Gita, yaitu ketika Sri Kresna (titisan Wishnu) memberi wejangan kepada Sang Arjuna dalam perang Bharatayuda.
Akan tetapi, semua ajaran dan filsafat yang baik hanya dapat memasuki sanubari orang yang hatinya terbuka untuk kebajikan.
Hati Wirokolo sama sekali tertutup oleh nafsu-nafsu duniawi yang menggelora sehingga kesadarannya terselimut oleh uap hitam yang timbul dari hawa nafsu, membuat mata sadarnya sementara menjadi buta akan kebenaran.
Ia tertawa bergelak penuh ejekan, lalu berkata.
"Apapun yang kau katakan, Airlangga, takkan dapat menahan kehendakku membunuhmu. Hendak kulihat apakah engkau mampu mengelakkan diri daripada mati di tanganku, huah-hah-hah!"
"Sesukamulah, Wirokolo. Aku sudah memperingatkanmu!"
Wirokolo kemudian menggunakan sepasang tombaknya.
Karena ia maklum bahwa pertapa tua yang duduk bersila itu adalah Sang Prabu Airlangga yang amat sakti.
Dahulupun Rajanya yang terkenal sakti, Sang Prabu Boko, tak sanggup melawan, maka kini ia mengerahkan seluruh tenaga dan mengeluarkan semua ajinya.
Sebelum menerjang maju, ia berkemak-kemik membaca mantera dan muncullah bayangan nenek tinggi besar yang tadi muncul dan kemudian mundur karena dikalahkan Empu Bharodo.
Nenek Calon Arang itu tampak bayangannya di belakang Wirokolo!
Ketika Wirokolo menggereng, tidak hanya kedua telapak tangannya yang membara, bahkan mulutnya seakan-akan mengeluarkan api bernyala dahsyat, matanya mencorong seperti ada api di dalamnya.
Tiba-tiba terdengar bentakan nyaring.
"Iblis jahat! Biar aku mengadu nyawa denganmu!"
Bentakan ini keluar dari mulut Joko Wandiro yang sudah meloncat maju sambil menggerakkan sepasang goloknya.
Hati anak ini tidak dapat menahan lagi menyaksikan sikap Wirokolo yang dahsyat itu.
Ia merasa ngeri membayangkan betapa pertapa bekas Raja itu sama sekali tidak melawan menghadapi ancaman yang begitu buasnya.
Maka tanpa berpikir panjang lagi, mengikuti getar hatinya, ia sudah meloncat dan menerjang Wirokolo dengan sepasang goloknya.
"Joko...!"
Resi Bhargowo berteriak, namun terlambat karena anak itu sudah menggerakkan tubuh dan goloknya, bagaikan seekor harimau muda menerjang Wirokolo dengan kecepatan mengagumkan.
Wirokolo sama sekali tidak menduga bahwa dirinya akan diserang seorang anak-anak, menjadi terheran-heran dan hanya memandang dengan mata terbelalak.
"Werr... werr...! Trangg... trangg...!!"
"Heh-heh-heh!"
Wirokolo tertawa dan sekali lengannya bergerak, tubuh Joko Wandiro terlempar dan roboh bergulingan, pingsan!
Tadi sepasang golok anak ini dengan tepat mengenai sasaran, yaitu di dada dan pundak.
Akan tetapi, sepasang golok itu membalik seperti menghantam baja saja ketika bertemu dengan tubuh Wirokolo yang kebal, dan sekali raksasa itu menampar, Joko Wandiro terlempar dan pingsan.
"Huah-hah, Airlangga, setelah kehabisan jago tidak malukah engkau mengajukan seorang bocah? Nah, terimalah kematianmu!"
Tubuh yang tinggi besar itu kini menerjang maju, sepasang tombaknya diputar-putar.
Akan tetapi Sang Resi Jatinendra sama sekali tidak bergerak, hanya memandang dengan senyum menghias bibir dan masih duduk bersila di atas batu.
"WuuuutttH Desssss!!"
Bunga api berhamburan ketika batu yang diduduki Resi Jatinendra pecah ujungnya, dihantam tombak pendek di tangan kanan Wirokolo.
Akan tetapi anehnya, Resi Jatinendra masih duduk bersila di situ sambil tersenyum, seujung rambutpun tidak bergeming, apalagi terluka, tombak itu tadi kelihatan tepat mengenai dada pertapa bekas Raja ini!.
Sejenak Wirokolo terbelalak kaget, akan tetapi ia menjadi makin marah dan penasaran.
Ia sama sekali tidak merasa betapa bayangan nenek mengerikan Calon Arang di belakangnya mundur-mundur ketakutan satelah dekat dengan sang pertapa.
Selagi Wirokolo melangkah mundur lalu mengambil ancang-ancang untuk menerjang lebih hebat lagi, tiba-tiba menyambar angin keras dari samping, dibarengi bentakan nyaring.
"Bedebah Wirokolo, pergilah!!"
Angin itu menyambar datang, lalu tampak kaki tangan orang bergerak menerjang Wirokolo!
Raksasa itu berusaha menangkis dan melawan, namun sia-sia belaka.
Tahu-tahu tubuhnya sudah mencelat seperti daun kering ditiup angin, terlempar sampai sepuluh meter jauhnya dan jatuh berdebuk seperti batang pohon pisang tumbang!
Ketika raksasa yang sejenak merasa nanar kepalanya itu merangkak bangun sambil menyumpah-nyumpah marah lalu memandang, kiranya yang menyambar dan menghantamnya seperti terjangan Sang Haryo Werkudoro itu bukan lain adalah Ki Patih Narotama!.
"Si keparat Wirokolo! Berani engkau mengganggu junjunganku? Hayo majulah dan kerahkan semua kedigdayaanmu. Inilah musuh lamamu, akulah tandingmu!"
Wirokolo merasa ngeri.
Bertahun-tahun yang lalu, ia sudah merasai betapa keras pukulan tangan Ki Patih Narotama!, betapa cepat tendangan kakinya.
Bahkan kakak seperguruannya sendiri, Dibyo Mamangkoro yang lebih sakti, setelah mengerahkan semua kedigdayaannya dan bertanding yuda melawan Patih ini, akhirnya harus mengakui keunggulan Ki Patih.
Dan melihat akibat terjangan Ki Patih tadi, yang mampu melemparkan ia sampai jauh, membuktikan bahwa selama ini ilmu kesaktian Ki Patih juga maju pesat.
"Cukuplah, kakang Narotama! Jika engkau membalas kekerasan dengan kekerasan pula, akan berlarut-larut jadinya."
Suara ini diucapkan oleh Resi Jatinendra, dan Ki Patih Narotama merasa seakan-akan kepalanya disiram air wayu yang dingin.
Ia segera sadar betapa ia berdiri tegak dengan kedua kaki terpentang seperti Sang Werkudoro di depan junjungannya yang masih duduk bersila, maka cepat-cepat ia mengebutkan ujung kakinya, lalu duduk bersimpuh penuh hormat.
"Mohon maaf, yayi (adinda) prabu tidak kuat hati hamba menyaksikan kesombongan Wirokolo."
Pada saat itu, Joko Wandiro sudah siuman dari pingsannya-Ia lalu meraih sepasang goloknya yang terlepas dekat disitu lalu bersila lagi, terheran-heran betapa kakek yang dikenalnya sebagai Ki Patih Narotama yang sakti, kini sudah bersimpuh menghadap Sang Prabu Jatinendra.
Sementara itu Wirokolo yang gentar menghadapi Ki Patih Narotama, lalu bangkit dan mengamang-amangkan sepasang tombaknya, lalu berkata dengan penuh geram.
"Airlangga dan Narotama! Sekarang kalian boleh tertawa-tawa atas kemenangan kalian. Akan tetapi awas, kelak akan datang saatnya kami membalas dendam! Kami akan selalu berusaha agar Kahuripan menjadi ajang perang saudara, sehingga terkutuklah semua keturunanmu sampai terbasmi habis. Huah-hah-hah!"
Suara ketawa manusia iblis ini masih terdengar dari jauh biarpun orangnya sudah lenyap tak tampak lagi.
"Kakang Narotama, apakah yang menyebabkan kakang datang menemui aku? Bukankah engkau amat dibutuhkan di Kotaraja, kakang?"
"Duhai gusti junjungan hamba! Yayi prabu... hamba datang membawa berita buruk. Kalau paduka tidak lekas datang ke istana dan melerai, agaknya akan terjadilah apa yang dikatakan Wirokolo tadi. Pertentangan antara Gusti Pangeran Sepuh dan Gusti Pangeran Anom tak dapat hamba cegah lagi, perang saudara sudah meletus secara terbuka. Duh yayi prabu, tegakah hati paduka membiarkan perang dan bunuh-membunuh antar keluarga?"
Resi Jatinendra mengerutkan kening memejamkan mata, lalu meraba dadanya sambil menarik napas panjang.
"Duhai Dewata yang berwenang menguasai jagad raya! Sudah mulaikah malapetaka yang didahului lenyapnya pusaka Mataram dan terpisahnya keris dari warangkanya?"
Sejenak pertapa ini menundukkan mukanya, kemudian berkata kepada Ki Patih Narotama.
"Wahai kakang Narotama, sampai sedemikian rupakah mereka berlomba memperebutkan kekuasaan, memperebutkan kedudukan selagi aku masih hidup?"
Di dalam ucapan ini terkandung rasa duka.
"Gusti junjungan hamba. Sekali-kali bukan hamba berat sebelah atau memihak. Akan tetapi menurut pendapat hamba, Gusti Pangeran Anom yang berusaha mempergunakan kekerasan untuk merampas kekuasaan dari rakandanya. Banyak tokoh-tokoh sakti yang menyeleweng daripada kebenaran dipergunakan tenaganya oleh Gusti Pangeran Anom. Betapapun juga, andaikata perang berlarut-larut, hamba terpaksa memihak kepada Gusti Pangeran Sepuh, hanya karena mereka itu menjadi kaki tangan Gusti Pangeran Anom."
"Hemm, sampai sedemikian hebat? Kakang Narotama, tentu saja aku takkan membiarkan darah mengalir di antara mereka. Akan tetapi, kakang. Sungguh kecewa hatiku mendengar pelaporanmu dan mendapat kenyataan bahwa engkau masih memihak seorang di antara mereka. Kalau engkau tidak berada di atas keduanya dan memihak, tentu akan lebih hebat kesudahannya, kakang. Apakah kau menghendaki aku turun tangan pula membantu Pangeran Anom?"
"Duhai, yayi prabu... bukan begitu maksud hamba..."
Sang resi tersenyum pahit.
"Kalau kau yang maju dalam medan yuda, kakang Narotama, siapa lagi yang akan menjadi lawanmu? Tentu keadaan menjadi berat sebelah dan agaknya baru akan seimbang kalau aku maju pula menjadi lawanmu agar seimbang dan adil."
"Ampun, yayi prabu...!"
"Kakang, ingatlah bahwa apapun yang terjadi, mereka itu keduanya adalah puteraku, keduanya adalah darah keturunanku. Oleh karena itu, berjanjilah bahwa sejak detik ini, engkau tidak akan turun tangan mencampuri pertikaian mereka, tidak akan turun tangan memusuhi seorang di antara putera-puteraku, ialah keponakan-keponakanmu sendiri."
"Hamba berjanji!"
Jawab Ki Patih Narotama, suaranya gemetar.
"Dan berjanji bahwa setelah aku tidak berada lagi di sini, kau tetap tidak akan turun tangan memusuhi seorang di antara putera-puteraku, kakang Narotama?"
"Hamba berjanji!"
"Nah, puaslah hatiku, kakang. Sekarang aku hendak datang sendiri ke istana untuk menghentikan keributan yang tiada guna itu. kau tidak perlu ikut, kakang, karena aku tidak akan memerlukan bantuan kekerasan. Biarlah kedua kakang Empu Bharodo dan Resi Bhargowo menyertaiku."
Setelah berkata demikian, Resi Jatinendra atau Resi Gentayu itu memberi isyarat kepada dua orang pertapa yang segera bangkit berdiri, siap mengikuti perjalanan junjungan itu ke Kotaraja.
Joko Wandiro cepat bangkit pula hendak mengikuti eyang gurunya, akan tetapi Resi Bhargowo segera melarangnya sambil berkata.
"Joko Wandiro, engkau tinggallah di sini bersama gusti Patih yang tentu akan sudi memberi petunjuk-petunjuk kepadamu. Perjalanan eyangmu mengantar sang agung Resi Jatinendra ke medan yuda takkan makan waktu terlalu lama."
Joko Wandiro menjadi kecewa sekali.
Bukankah menurut Ki Tejoranu, sangat boleh jadi ayahnya berada pula di Kotaraja, ikut dalam perang?
Akan tetapi, ia tidak berani membantah, apalagi ia amat takut kepada Resi Jatinendra yang bersikap agung dan penuh wibawa itu.
Maka ia lalu bersimpuh kembali, menundukkan mukanya.
Tiba-tiba Resi Jatinendra menahan langkahnya, menoleh ke arah Joko Wandiro, memandang sejenak, lalu berkatalah sang resi kepada Resi Bhargowo.
"Inikah cucumu, kakang Resi Bhargowo?"
"Betul, Joko Wandiro ini adalah cucu murid hamba, adi resi."
"Bagian apakah yang diterimanya? Keris ataukah warangka?"
"Dia mendapatkan warangkanya, patung kencana."
Resi Jatinendra mengangguk-angguk dan mengelus jenggotnya.
"Heh, orang muda! Sudah kau sembunyikan patung kencana itu?"
Tiba-tiba sang resi bertanya. Joko Wandiro mengangkat muka lalu menyembah.
"Sudah, eyang."
"Bagus!, Kakang Narotama, anak ini tadi sudah membuktikan kebulatan hatinya untuk menentang kejahatan. Hanya dia inilah yang kelak boleh kita harapkan. Engkau sudah sepatutnya mendidiknya, kakang."
Setelah berkata demikian, tanpa menanti jawaban Sang Resi Jatinendra meninggalkan tempat itu, diikuti dari belakang oleh Empu Bharodo dan Resi Bhargowo.
Setelah tiga orang kakek itu pergi, Narotama Patih sakti itu memandang penuh perhatian kepada Joko Wandiro, wajahnya berseri ketika ia mengingat kembali ucapan Sang Resi Jatinendra junjungannya yang ia cinta seperti saudara kandung sendiri.
"Anak muda, apakah namamu Joko Wandiro?"
Kemudian ia bertanya sambil menatap wajah yang menunduk itu.
"Betul sekali, gusti Patih,"
Jawab Joko Wandiro penuh hormat. Ki Patih Narotama tercengang.
"Heh? Engkau sudah tahu siapa aku?"
Joko Wandiro menyembah.
"Hamba sudah tahu bahwa paduka adalah Gusti Patih Kanuruhan, juga disebut Gusti Patih Narotama."
"Joko Wandiro, pernahkan kita saling berjumpa?"
"Penah, gusti. Akan tetapi paduka tidak melihat hamba, yaitu ketika paduka bertanding dikeroyok oleh Cekel Aksomolo dan teman-temannya, karena hamba bersembunyi di atas pohon."
"Hemm... hemmm..."
Narotama mengelus-elus jenggotnya "Mereka mengeroyokku dekat muara Sungai Lorog. Joko Wandiro, katanya engkau cucu murid Resi Bhargowo. Siapakah gurumu?"
"Guru hamba adalah ayah hamba sendiri yang bernama Pujo, yang dahulu datang membantu paduka dalam pertandingan."
"Aaaaahh...?"
Narotama makin tertarik dan mengelus-elus jenggotnya, keningnya berkerut.
Tepat sekali, pikirnya.
Anak ini berdarah satria.
Dipandang sekelebatan saja sudah nampak bakatnya menjadi satria perkasa.
Dan terutama sekali, Sang Resi Jatinendra sendiri yang tentu saja awas paningal itu telah memujinya.
Lebih-lebih lagi, anak ini agaknya menyimpan pusaka Mataram, patung kencana Sri Bathara Wishnu!
Dia tadi telah berjanji takkan turun tangan mencampuri urusan antara para pangeran.
Hemm..., betapapun juga, junjungannya tak dapat melupakan kasih sayang terhadap putera, maklum bahwa kalau dia turun tangan, tentu ada puteranya yang menjadi korban.
Akan tetapi, bagaimana kalau Pangeran Anom yang ia tahu benar mengadakan hubungan dan dibujuk-bujuk kakeknya, Maha Raja Sriwijaya untuk merebut kedudukan di Kahuripan?
Dan Pangeran Anom yang ibunya seorang puteri Sriwijaya itu mempergunakan tokoh-tokoh bekas musuh Sang Prabu Airlangga!
Bagaimana ia dapat mendiamkan saja kalau kelak Pangeran Anom membuat gara-gara?
Akan tetapi ia telah berjanji kepada junjungannya dan ia maklum bahwa lebih baik ia mati daripada melanggar janjinya itu.
"Engkau sudah sepatutnya mendidiknya, kakang."
Demikian ucapan Sang Resi Jatinendra tadi ketika hendak pergi.
Narotama tersenyum.
Betapapun juga ia hampir lupa akan kebijaksanaan junjungannya itu.
Kini mengertilah dia.
Sang Resi Jatinendra tidak menghendaki ia kelak turun tangan ikut berperang saudara, karena sang resi menganggap ia kakak sendiri, berarti paman putera-puteranya!
Tentu saja tidak rela hati Sang Resi Jatinendra kalau Narotama ikut berperang antar saudara.
Dan tadi junjungannya telah memberi"jalan keluar,"
Yaitu dengan jalan menurunkan kepandaian kepada seorang murid yang tepat!
Seorang murid yang kelak dapat menggantikannya menggunakan kepandaian untuk menjamin ketentraman Kerajaan, membela yang benar menghancurkan yang salah, siapapun adanya yang benar atau yang salah itu.
Menjadi penggantinya membela kebenaran dan keadilan, karena dia sendiri tidak mungkin dapat turun tangan, terbelenggu oleh janjinya tadi!
"Joko Wandiro, maukah engkau menjadi muridku?"
Saking heran, kaget dan juga girang Joko Wandiro mengangkat muka dan memandang dengan sepasang matanya yang bersinar-sinar.
Ia tadi sudah menyaksikan betapa hebat sepak terjang Ki Patih yang sakti, bahkan dahulu pernah pula menikmati kesaktian kakek ini dikeroyok oleh tokoh-tokoh pandai.
Tentu saja ia suka sekali menjadi murid Ki Patih Narotama yang menurut kabar adalah seorang yang paling sakti di Kahuripan, kecuali Sang Prabu Airlangga sendiri tentunya.
Maka cepat-cepat ia menyembah.
"Hamba suka sekali, gusti Patih..."
"Bagus, dan mulai sekarang jangan menyebut gusti Patih kepadaku, melainkan bapa guru. Sekarang jawablah, apakah engkau tadi menyaksikan segala peristiwa yang terjadi di sini?"
Joko Wandiro mengangguk.
Ki Patih Narotama bermaksud mengambil murid Joko Wandiro hanya dengan satu tujuan, yaitu agar kelak ia mempunyai wakil penjaga keselamatan Kerajaan Kahuripan yang ia cinta, agar ia dapat mewakilkan muridnya untuk mempertahankan kebenaran dan keadilan di Kahuripan tanpa dia sendiri turun tangan.
Maka ia ingin agar anak yang menjadi muridnya ini mengerti benar akan keadaan di Kerajaan Kahuripan, mengenal pula musuh-musuh Sang Prabu Airlangga yang amat banyak dan amat sakti, di antaranya Wirokolo tadi.
"Mengertikah engkau akan segala peristiwa yang terjadi tadi, muridku? Kalau ada yang belum kau mengerti, sekarang juga kau boleh bertanya dan aku akan memberi penjelasan."
Berkata demikian, Narotama lalu duduk di atas batu di depan Joko Wandiro.
Girang hati anak ini.
Tidak saja ia diterima menjadi murid kakek sakti mandraguna ini, juga ia mendapat kenyataan bahwa gurunya ini amat peramah dan sabar.
Maka ia lalu segera mengajukan pertanyaan tentang peristiwa yang amat mengesankan hatinya tadi.
"Bapa guru, sebelum manusia iblis Wirokolo tadi muncul, terjadi peristiwa aneh sekali. Serombongan kelelawar yang jumlahnya beribu-ribu datang menyerang ke sini, disambut ribuan burung sriti yang mengalahkan dan mengusir mereka. Bagaimana hal itu bisa terjadi, bapa guru?"
"Hal itu terjadi karena aji yang disebut Panji Satwo. Aji ini adalah aji penakluk segala macam binatang. Akan tetapi seperti juga semua ilmu di dunia ini, bisa dihitamkan atau diputihkan oleh pelakunya. Segala aji di dunia ini bisa menjadi ilmu yang baik, bisa juga buruk, tergantung dari si manusia sendiri. Wirokolo menggunakan Aji Panji Satwo untuk melakukan hal-hal keji, maka ia memilih rombongan kelelawar untuk menyesuaikan diri. Di lain fihak, kakang Empu Bharodo juga menggunakan aji itu dan barisannya adalah burung-burung sriti yang memang bersarang di dalam guha. Pilihan tepat untuk mengusir kelelawar itu."
Joko Wandiro merasa kagum, juga bangga.
"Bapa guru, sesudah kelelawar-kelelawar itu dikalahkan dan pergi, lalu muncul nenek mengerikan yang mengeluarkan lidah api. Hamba pukul dan serang dia dengan golok, namun pukulan dan bacokan hamba tembus saja, seakan-akan tubuhnya hanya bayangan. Siapakah dia itu, bapa guru, dan mengapa setelah disambit puspa (bunga) oleh eyang Empu Bharodo, dia lenyap?"
"Aahhh, sungguh keji si Wirokolo."
Kakek sakti itu menghela napas."Untung ada kakang Empu Bharodo yang ahli dalam hal ilmu sihir.
Kalau tidak kedigdayaan saja akan sukar mengalahkan Wirokolo.
Ketahuilah, muridku.
Nenek itu adalah iblis ciptaan ilmu hitam Calon Arang yang amat keji, juga amat dahsyat sukar dikalahkan.
Kalau si Wirokolo sudah memiliki ilmu macam itu, sungguh ia merupakan manusia iblis yang berbahaya dan sudah selayaknya dibasmi.
Sayang bahwa junjungan kita tadi melarang, kalau tidak, tentu sudah kubinasakan si jahat Wirokolo."
"Siapakah dia itu, bapa guru? Dan mengapa dia memusuhi Sang Prabu Airlangga?"
"Dia seorang bekas senopati Kerajaan Wengker yang dahulu dikalahkan oleh tentara Kahuripan. Agaknya ia masih mendendam dan hendak menuntut balas."
Kemudian Ki Patih Narotama menyuruh muridnya memperlihatkan semua ilmu yang pernah dipelajarinya, dan mulailah ia memberi petunjuk-petunjuk yang didengarkan oleh Joko Wandiro penuh perhatian.
Mulailah Joko Wandiro menerima gemblengan dari kakek sakti ini dan dari permulaannya, anak ini sudah dapat melihat bahwa gemblengan dari kakek sakti ini, dan dari permulaannya, anak ini sudah dapat melihat bahwa gemblengan ini jauh bedanya dengan gemblengan-gemblengan yang pernah ia terima, dapat mengerti bahwa gurunya ini memiliki ilmu kesaktian yang amat hebat.
Maka iapun amat tekun mengikuti pelajaran yang diberikan Ki Patih Narotama.
"Serbuuuuuu...! Hantam...!!"
"Gempurr...! Bunuh...!! Hidup Pangeran Anom...!!"
"Hayo maju...! Habiskan antek antek Sriwijaya! Hidup Pangeran Sepuh...!!"
Teriak pekik menggegap-gempita.
Debu mengebul tinggi menggelapkan udara.
Kilatan keris, tombak, kelewang dan senjata-senjata lain menyilaukan mata.
Derap kaki dan ringkik kuda menambah gaduh.
Perang campuh terjadilah.
Perang saudara antara pasukan-pasukan Pangeran Sepuh dan pasukan-pasukan Pangeran Anom!
Kalau di waktu-waktu yang lalu hanya terjadi bentrokan-bentrokan kecil, pelototan mata dan saling melontarkan sindir ejek, kini meledaklah perang yang sekian lama ditekan-tekan.
Perang terbuka antar pasukan.
Bertempat di alun-alun, dimana biasanya hanya dipergunakan untuk latihan-latihan perang.
Darah mulai muncrat, mayat mulai berserakan, pekik kemarahan bercampur dengan jerit kesakitan, diseling sorak-sorai dan tangis.
Udara makin gelap.
Perang campuh yang liar, buas, dan kacau-balau.
Amat sukar membedakan mana kawan mana lawan dalam perang campuh seperti itu.
Apalagi banyak diantara mereka yang serupa pakaiannya, bahkan banyak yang dahulunya menjadi kawan kini menjadi lawan karena yang seorang berfihak Pangeran Sepuh, yang lain berfihak Pangeran Anom.
Riuh rendah suara mereka yang beryuda.
Keris-keris pusaka yang biasanya hanya diberi "Makan"
Kembang menyan pada hari-hari baik, kini dihunus dari warangka dan diberi kesempatan sebanyaknya untuk berpuas-puasan minum darah manusia yang masih segar dan panas!
Banyak golok dan kelewang menyambar-nyambar, bacok-membacok, tusuk-menusuk.
Tombak-tombak berluncuran mencari sasaran perut yang lunak.
Ada pula yang sudah kehilangan pedang dan tameng (perisai), bergulat mengandalkan kaki tangan, saling hantam, saling tendang, bahkan ada yang dalam keadaan darurat tidak segan-segan menggunakan gigi menggigit.
Hebat dan dahsyat perang itu.
Keris mencari jantung, tombak mencari usus, golok menyambar leher, ruyung mencari otak!
Baca Juga: Dewi Maut 9
Baca Juga: Kisah Para Pendekar Pulau Es 2