Ceritasilat Novel Online

Badai Laut Selatan 4

Eps 4 Badai Laut Selatan - Kho Ping Hoo

Baca online Badai Laut Selatan - Kho Ping Hoo

Cersil Badai Laut Selatan - Kho Ping Hoo.

Wisangjiwo terkejut bukan main karena wanita itu bukan lain adalah Kartikosari!

Kartikosari yang lebih cantik menarik daripada dahulu, akan tetapi Kartikosari dengan sepasang mata yang bersinar-sinar penuh dendam memandang kepadanya!

"Kakangmas Pujo, biarlah aku yang membalas jahanam terkutuk ini!"

Seru Kartikosari girang ketika ia sudah tiba di tempat itu.

Pujo masih tak mampu mengeluarkan kata-kata, bahkan kedua kakinya menggigil ketika ia memandang kepada isterinya, hatinya penuh keharuan, penuh penyesalan, penuh rindu.

Munculnya Kartikosari di saat ia berhasil menangkap musuh besar ini sungguh-sungguh tak pernah ia sangka.

Ia hanya memandang wajah isterinya itu tanpa berkedip, mukanya pucat dan ketika mendengar permintaan Kartikosari, ia tidak dapat menjawab, hanya melangkah mundur dan memandang seperti orang mimpi.

Dengan gerakan ringan dan cepat sekali sehingga amat mengherankan hati Pujo yang maklum bahwa isterinya dahulu tidaklah secepat itu gerakannya, Kartikosari meloncat ke depan Wisangjiwo yang memandangnya dengan mata terbelalak.

Sinar mata Kartikosari penuh kebencian menyalanyala dan kedua tangannya bergerak ke depan.

"Plak-plak-plak-plak!"

Empat kali tangannya menampar kedua pipi.

Wisangjiwo merintih biarpun ia telah sekuat tenaga menahan sakit.

Ternyata kulit pipinya hancur oleh tamparan itu dan penuh darah saking hebatnya tamparan telapak tangan Kartikosari!

"Manusia berhati binatang!

Anjing busuk hina-dina!"

Kartikosari memaki dengan mata berapi-api."Aku akan merobek dadamu, akan kukeluarkan jantungmu, kuminum darahmu! Akan tetapi lebih dulu akan kucokel kedua matamu!"

Wisangjiwo merasa ngeri.

Menghadapi wanita ini kiranya lebih mengerikan daripada menghadapi kemarahan Pujo tadi.

Akan tetapi ia membesarkan hatinya dan memaksa senyum biarpun kedua pipinya merasa nyeri kalau digerakkan, lalu berkata lemah.

"Kalian pengecut-pengecut boleh melakukan kepadaku apa saja kepada orang yang terikat tak mampu membalas!"

"Bedebah! kau masih berani bicara begitu? Tak ingat akan perbuatanmu sendiri dahulu? kau kira aku takut kepadamu jika kau terlepas? Cihh, tak tahu malu! Boleh kau kulepaskan, biar lebih enak aku menghajarmu!"

Setelah berkata demikian, Kartikosari merenggut dengan kedua tangannya ke arah tambang yang mengikat tangan dan dada Wisangjiwo.

Hebat sekali kepandaian wanita ini sekarang, sekali renggut saja tali-tali yang kuat itu putus semua!

Setelah kedua tangannya bebas, Wisangjiwo cepat melepaskan cambuk Sarpokenoko yang melilit lehernya.

Ia merasa betapa kedua pergelangan tangannya sakit-sakit setelah terlepas daripada belenggu, dan hampir sukar digerakkan karena darahnya tidak lancar jalannya.

Karena itu, ia lalu memencet-mencet kedua pergelangan tangannya untuk memperlancar jalan darahnya.

Kartikosari berdiri menanti sambil memandang dengan senyum mengejek, sama sekali tidak takut melihat musuhnya bebas dan sudah memegang sebatang cambuk.

Akan tetapi ketika ia melihat ke arah jari-jari tangan yang bergerak-gerak memencet-mencet pergelangan tangan itu, tiba-tiba ia menjadi pucat, menjerit lirih dan tubuhnya terhuyung-huyung hendak roboh!

Pujo kaget sekali dan cepat ia merangkul pundak isterinya agar tidak sampai jatuh.

Mendapatkan kesempatan ini, Wisangjiwo yang tahu bahwa nyawanya di tepi jurang kematian itu lalu melarikan diri.

Pujo menjadi marah dan melepaskan rangkulannya dan pundak Kartikosari sambil membentak.

"Jahanam busuk hendak lari ke mana?"

Akan tetapi sebelum ia sempat meloncat dan mengejar, lengannya dipegang Kartikosari yang mencegahnya. Pujo kaget dan heran, menoleh dan memandang dengan kening berkerut.

"Jangan kejar dia...!"

"Mengapa? Aku harus bunuh dia!"

Kartikosari menggeleng kepala dan wajah yang ayu itu nampak kecewa.

"Bukan dia... ahhhh, bukan dia..."

"Nimas Sari... apa maksudmu?"

Pujo memegang pundak isterinya dan menatap wajah yang sudah bertahun-tahun ia rindukan ini.

"Bukan dia orangnya... ah, selama bertahun-tahun ini aku menjatuhkan dendam kepada orang yang sama sekali tidak berdosa, dan agaknya engkau juga, kakangmas Pujo. Aduh, makin payah penanggungannya kalau begini!"

Kartikosari merenggutkan tangannya yang dipegang suaminya, dan membanting-banting kakinya dengan marah.

Tergetar hati Pujo menyaksikan ini.

Terbayang depan matanya betapa dahulu isterinya juga membanting-banting kakinya kalau sedang marah-marah dalam kemanjaan.

Akan tetapi sekarang lenyaplah sikap manja itu, dan kemarahannya benar-benar tidak dibuat-buat.

"Sari... apa maksudmu? kau bilang bahwa bukan Wisangjiwo orangnya? Bukan dia musuh kita?"

Dalam suara Pujo terkandung kegetiran dan kepahitan, bahkan terbayang keraguan dan kecurigaan.

Selama sepuluh tahun bertapa ini, perasaan Kartikosari peka sekali maka cepat ia membalikkan tubuh menoleh, menatap wajah suaminya dengan pandang mata seakan-akan menembus jantung Pujo.

"Kau kau masih tak berubah! kau laki-laki penuh cemburu! kau menyangka aku sengaja melindungi dia, bukan? Celaka!"

Merah wajah Pujo.

Ingin ia memukul mukanya sendiri.

Memang tak dapat disangkalnya, ada perasaan dan dugaan demikian itu tadi menyelinap dalam benaknya.

Ia menunduk, lalu tiba-tiba ia menjatuhkan diri berlutut di depan isterinya.

"Nimas Sari, isteriku jangan kau memandangku seperti itu... ah, isteriku, kau tidak tahu betapa hebat kesengsaraanku selama sepuluh tahun ini. Kartikosari, kau kembalilah kepadaku, nimas. Jangan kau tinggalkan aku lagi. Aku percaya kepadamu, biarlah dewata menghancur leburkan diriku kalau aku tak percaya kepadamu. Aku cinta padamu, nimas, dan aku tidak sanggup hidup jauh daripadamu. Marilah, nimas, mari kita bangun kembali rumah tangga kita...

"Tidak...! Tidak... kakangmas Pujo. Belum tiba saatnya!"

"Nimas Sari... tega benarkah engkau membiarkan aku hidup merana seperti orang gila tidak kasihankah engkau kepadaku...?"

"Kakangmas Pujo, coba kau ingat-ingat, alangkah serupa keadaan kita sekarang ini dengan sepuluh tahun yang lalu di dalam guha, hanya akulah waktu itu yang memohon-mohon akan tetapi engkau yang membalas dengan penghinaan dan fitnahan keji..."

"Aduh, nimas... ampunkahlah aku. Ketika itu aku gila oleh malapetaka yang menimpa kita, aku gila dan tetap bersikap tidak adil kepadamu, nimas. Namun kegilaanku itu telah kutebus dengan penderitaan hidup bertahun-tahun. kau ampunkanlah aku, nimas... dan marilah kita hidup bersama kembali, membangun cinta kasih kita yang porak-poranda dilanda badai nimas Sari, aku selamanya tak pernah kehilangan cinta kasihku kepadamu dan aku tahu bahwa kaupun selalu mencintaiku, nimas..."

Suara Pujo memelas sekali.

Melihat dia berlutut mengembangkan kedua lengan, dengan suara gemetar dan muka pucat, mata penuh permohonan, mulut seperti orang hendak menangis, hati siapa yang kuat menahan?

Apalagi hati Kartikosari yang memang mencinta suaminya, serasa ditusuk-tusuk jarum rasa jantungnya.

Ingin ia menjatuhkan diri berlutut, membiarkan dirinya di dalam pelukan suaminya yang aman sentausa, membiarkan dirinya dibelai dan dicumbu laki-laki yang setiap malam ia rindukan dan impikan.

Akan tetapi ia mengeraskan hatinya.

Ia membuang muka untuk menyembunyikan air matanya yang bercucuran membasahi pipi, tangan kirinya ia goyang-goyang perlahan, kemudian berkatalah wanita ini dengan suara bercampur isak.

"Belum tiba waktunya, kakangmas. Engkau belum berhasil menghukum orang yang mendatangkan aib dan sengsara kepada kita, bagaimana kau ada muka untuk mengajak aku kembali? Kakangmas Pujo, sebelum kulihat dia yang telah merusak kebahagiaan kita itu menggeletak tak bernyawa di depan kakiku, mana mungkin aku dapat kembali kepadamu? Tadinya kusangka Wisangjiwo orangnya ah, kiranya bukan dia... bukan dia...!"

Suara Kartikosari kecewa sekali dan kini ia menangis betul-betul.

"Kalau begitu, siapakah, nimas? kau sungguh membikin hatiku bingung. Bukan sekali-kali aku menyangka engkau melindunginya, ohhh, sama sekali tidak. Akan tetapi, ketika itu, bukankah Wisangjiwo si keparat yang bertempur dengan kita? Bukankah tidak ada orang lain terdapat di dalam guha di malam jahanam itu? Maka betapa aku takkan heran dan bingung mendengar kau memastikan bahwa bukan dia orangnya yang menjadi musuh besar kita?"

Kartikosari menghapus air matanya. Kini wajahnya menjadi beringas kembali, penuh kemarahan.

"Bukan dia memang! Kakangmas Pujo, kau tidak tahu dan karena pada waktu itu engkau seperti gila karena cemburu, maka aku tidak sempat memberi tahu. Sekarang ketahuilah bahwa biarpun pada waktu itu aku tidak berdaya karena terluka, namun aku masih berhasil mendatangkan cacad kepada si laknat terkutuk. Aku telah berhasil menggigit sampai putus sebagian daripada kelingking tangan kirinya."

Ia meraba-raba ke dalam kembennya, mengeluarkan sebuah benda kecil dan melemparkannya kepada Pujo yang masih berlutut di atas tanah."Inilah dia kelingking itu.

Musuh kita sekarang tidak mempunyai jari kelingking pada tangan kirinya!

Dan kulihat Wisangjiwo tadi masih lengkap jari tangannya, oleh karena itu tanpa ragu kukatakan bahwa bukan dia si jahanam malam itu!

Nah, kakangmas, aku girang melihat engkau masih hidup dan selamat serta sehat.

Biarlah kita berpisah sekarang dan baru kita mungkin berkumpul lagi kalau sudah berhasil aku melihat musuh kita menggeletak tanpa nyawa di depan kakiku.

Selamat tinggal, kangmas...!"

Kartikosari memandang suaminya penuh kasih sayang yang mesra untuk beberapa lamanya, kemudian ia membalikkan diri sambil terisak dan lari dengan cepat sekali meninggalkan Pujo.

Pujo hanya membisikkan nama isterinya, mukanya pucat dan matanya tertuju kepada benda kecil di depannya, sepotong jari kelingking yang sudah kering.

Pikirannya berputar-putar membuatnya nanar dan pening.

Terang bukan Wisangjiwo kalau begitu.

Akan tetapi mengapa?

Bagaimana?

Siapa gerangan?

Dan dia sudah membalas kepada keluarga Wisangjiwo!

Dia sudah menculik Joko Wandiro.

Ah, dia sudah bertindak terlalu jauh.

Jadi Wisangjiwo tidak berdosa?

Siapakah dia yang melakukan perbuatan biadab di malam jahanam itu.

Orang tanpa kelingking kiri?

Tiba-tiba Pujo meloncat berdiri, serasa pernah ia melihat orang yang tak berkelingking kiri.

Akan tetapi lupa lagi ia di mana, dan lupa pula bilamana dan siapa.

Ia membungkuk, mengambil benda mengerikan itu lalu menyimpannya dalam saku.

Ketika ia memandang ke depan, bayangan Kartikosari telah lenyap.

Betapapun juga, agak terhibur hatinya bahwa isterinya masih hidup, isterinya masih cantik jelita dan ia tahu dari pandang mata isterinya bahwa Kartikosari masih mencintanya, bahwa isterinya itu menanti sampai musuh besar mereka itu terbalas, baru suka kembali kepadanya.

Wajah Pujo mulai tampak berseri, tidak seperti biasanya muram-suram.

Kini ada titik api menerangi wajahnya, titik api harapan yang membuat hidupnya berarti.

Dengan girang ia lalu berlutut dan menelungkup di atas tanah di tempat Kartikosari tadi berdiri.

Dibelai-belainya rumput hijau yang masih rebah terinjak kaki isterinya, diciuminya rumput itu penuh rindu sambil berbisik-bisik.

"Sari... Sari"

Pujo sama sekali tidak pernah mimpi bahwa tak jauh dari situ, di tengah hutan, Kartikosari juga menangis sambil memeluk batang pohon.

Kartikosari menciumi tangannya yang tadi terpegang Pujo sambil berbisik.

"Kakangmas Pujo kasihan kau... begitu kurus dan pucat... tapi cinta kasihmu belum bersih daripada cemburu, kangmas... sehingga tak berani aku bercerita tentang Endang... hu-hu-hukk... kangmas, bilakah kita dapat berkumpul kembali..?"

Sampai lama wanita ini menangis, memeluki batang pohon dan bersambat menyebut-nyebut nama suaminya, kemudian baru ia pergi dengan cepat sekali.

Hatinya pepat karena kini musuh besarnya menjadi teka-teki setelah ternyata bahwa Wisangjiwo tidak buntung kelingkingnya.

Ia menduga-duga akan tetapi tetap saja tidak dapat menerka siapa gerangan laki-laki yang telah melakukan perbuatan biadab atas dirinya di malam jahanam dalam guha sepuluh tahun yang lalu itu.

Kenyataan bahwa kakek tua renta yang rambut dan cambangnya sudah putih semua itu memondong mereka dengan sikap hati-hati, yang wajahnya membayangkan keramahan dan larinya secepat terbang, membuat Joko Wandiro dan Endang Patibroto akhirnya tidak meronta-ronta lagi dan mandah saja dibawa lari.

Baik Endang Patibroto maupun Joko Wandiro adalah anak-anak yang cerdik dan mereka dapat menduga bahwa kakek ini tentulah bukan orang yang mempunyai niat buruk terhadap mereka.

Joko Wandiro pernah mendapat pesan ayahnya bahwa kelak kalau ayahnya meninggalkannya, dia akan disuruh tinggal bersama seorang resi yang sakti mandraguna, yaitu kakek gurunya sendiri yang kata ayahnya bernama Resi Bhargowo dan tinggal di tepi Laut Selatan sebelah barat.

Kalau kakek gurunya itu seperti kakek ini saktinya, alangkah senang hatinya.

"Kek, kami akan kau bawa ke mana, kek?"

Akhirnya Joko Wandiro tak dapat menahan lagi hatinya dan bertanya. Kakek itu tertawa tanpa memperlambat larinya.

"Kubawa ke tempat tinggalku."

"Tetapi ayah akan mencari-cariku, kek! Diakan kebingungan tidak tahu ke mana aku kau bawa pergi,"

Kata pula Jo ko Wandiro.

"Heh-heh-heh, biarlah, kelak juga kau akan bertemu kembali dengan ayahmu."

Kakek itu lari makin cepat lagi sehingga suara angin bertiup keras di telinga kedua orang anak itu.

"Kakek, kalau ibuku tahu kau menculikku, tentu kau akan dibunuh!"

Tiba-tiba Endang Patibroto berkata, suaranya nyaring, penuh ancaman.

"Ha-ha-ha, ibumu takkan berani membunuh aku, angger!"

Endang Patibroto mengerutkan keningnya.

Ia seorang anak yang keras hati dan tidak mau kalah.

Ia menganggap ibunya seorang yang paling sakti di dunia ini, masa tidak berani menghadapi kakek ini?

Karena ibunya kalah tua barangkali?

"Kalau ibu tidak berani, aku juga punya kakek yang sakti, kau tentu akan dicekik!"

Katanya mendongkol.

Namun kakek itu malah makin keras tertawa dan tidak menjawab.

Sementara itu, diam-diam Joko Wandiro memperhatikan gerak kaki kakek yang menggendongnya dan ia amatlah kagum.

Kedua kaki kakek itu benar-benar seperti tidak menyentuh bumi, tidak ada suaranya namun amatlah cepat larinya, dan amat tinggi loncatannya.

"Kek, kau hebat sekali. Akan tetapi belum tentu kakek akan dapat menangkan kakekku!"

Kata Joko Wandiro.

"Kakek guruku amat sakti."

"Kakek gurumu? Siapa dia?"

"Kakek guruku adalah guru ayahku bernama Resi Bhargowo!"

"Wah, bohong! kau tidak tahu malu!"

Tiba-tiba Endang Patibroto berteriak marah.

"Eh, eh, mengapa kau marah-marah dan memaki orang?"

Joko Wandiro menegur.

"Kau tak tahu malu! Resi Bhargowo adalah kakekku! Ayah ibuku adalah murid Resi Bhargowo yang tinggal di Bayuwismo. Bagaimana kau berani mengaku-aku sebagai kakek gurumu? Cih, tak bermalu!"

"Kau yang tak tahu malu. Ayahku adalah murid terkasih Resi Bhargowo!"

"Bohong!"

"Kau yang bohong!"

"Kek, turunkan aku. Biar kuhajar mulutnya yang lancang!"

Endang Patibroto marah-marah.

"Boleh kau coba!"

Tantang Joko Wandiro. Kakek itu tertawa, akan tetapi keningnya berkerut dan ia menggeleng-geleng kepalanya.

Ia berhenti berlari, menurunkan Endang Patibroto dan memegang muka yang ayu itu dalam kedua tangannya, memandangi penuh perhatian, kemudian berkata.

"Kau memang anaknya, tak salah lagi. Cah ayu, kau adalah cucuku. Ibumu, Kartikosari, adalah puteri tunggalku."

Endang Patibroto yang sedang marah kepada Joko Wandiro itu kini terbelalak memandang kakek itu. Wajah kakek yang menyeramkan dan menimbulkan rasa takut inikah kakeknya? "Siapakah engkau, kek?"

"Aku Bhagawan Rukmoseto, cucuku."

"Ah, kalau begitu kau tak mungkin kakekku! Kakekku bernama Resi Bhargowo!"

"Ha-ha-ha, memang sepuluh tahun yang lalu namaku Resi Bhargowo, akan tetapi sekarang julukanku Bhagawan Rukmoseto. Lihatlah, rambutku sudah putih semua. Cucuku yang manis, namamu siapakah?"

"Namaku Endang Patibroto."

Diam-diam kakek itu terkejut.

Mengapa Kartikosari menamakan puterinya demikian?

Rahasia apakah yang telah terjadi sehingga puterinya itu berpisah dari suaminya?

Kemudian ia berpaling kepada Joko Wandiro dan memandang tajam.

Bocah inipun sejak tadi mendengarkan dengan mata terbelalak.

Tiada hentinya ia memperhatikan kakek ini dan menjadi ragu-ragu.

Jadi kakek inikah guru ayahnya?

Melihat Joko Wandiro, Bhagawan Rukmoseto juga kagum.

Anak ini bukan anak sembarangan dan sudah sepatutnya kalau menjadi cucu muridnya pula.

Akan tetapi mengapa anak ini mengaku sebagai putera Pujo?

Sering ia melihat dari jauh betapa seperti Endang Patibroto dilatih Kartikosari, anak laki-laki ini digembleng oleh Pujo secara hebat.

"Anak baik, sekarang tiba giliranmu. kau anak siapa?"

"Ayahku Pujo dan menurut ayah guru ayah bernama Resi Bhargowo"

Ia meragu. Bhagawan Rukmoseto tersenyum.

"Memang tidak keliru. Ayahmu itu muridku, angger. Akulah kakek gurumu."

Mendengar ini, serta-merta joko Wandiro menjatuhkan diri berlutut dan menyembah. Makin girang hati kakek itu dan ia mengelus-elus kepala Joko Wandiro.

"Siapakah namamu, nak?"

"Namaku Joko Wandiro, eyang."

"Ayahmu bernama Pujo. Dan ibumu? Siapakah ibumu?"

Joko Wandiro hanya menggeleng kepala.

"Tidak tahu, eyang. Ayah tidak pernah menceritakan tentang ibu,"

Si kakek mengelus-elus jenggotnya lalu berpaling kepada Endang Patibroto.

"Dan kau, angger. Siapakah nama ayahmu?"

Gadis cilik itu menggeleng kepala keras-keras.

"Tidak tahu!"

Berkerut kening yang sudah putih itu.

"Ah, cucu-cucuku, mari kita lanjutkan perjalanan. Kalian ikut bersamaku mempelajari ilmu. Dunia sedang kacau-balau, permusuhan terjadi di mana-mana, perebutan kekuasaan membuat orang saling bunuh, iblis dan setan merajalela, lebih baik kalian belajar ilmu bersama kakek di tempat sunyi. Hayo!"

Tanpa menanti jawaban kedua orang anak itu, Bhagawan Rukmoseto sudah menyambar tubuh mereka lagi dan di lain saat ia sudah berlari secepat terbang meninggalkan tempat itu, menuju ke timur.

Bhagawan Rukmoseto tinggal di Pulau Sempu yang sunyi.

Untuk menyeberang ke pulau kosong itu ia menggunakan sebuah perahu yang disembunyikannya di dalam semak-semak di tepi Laut Selatan.

Baik Joko Wandiro maupun Endang Patibroto tadinya merasa tidak senang karena merasa dipaksa dan diculik oleh orang tua yang mengaku menjadi kakek mereka itu, akan tetapi setelah kakek itu memastikan bahwa ayah Joko Wandiro dan ibu Endang Patibroto kelak pasti akan datang ke situ, mereka berdua merasa terhibur.

Hanya anehnya, di antara kedua orang anak itu seakan-akan terdapat rasa saling iri, seakan-akan mereka bersaing dan tidak mau saling mengalah sehingga diam-diam kakek pertapa itu merasa prihatin sekali, juga terheran-heran.

Apalagi ketika ia mencoba tingkat mereka, ia mendapat kenyataan bahwa tingkat mereka itu tidak banyak selisihnya dan memang tidak salah lagi, ilmu yang mereka pelajari adalah ilmu daripadanya, yaitu Bayu Tantra dan pukulan Gelap Musti.

Maka mulailah ia menggembleng keduanya dengan ilmu-ilmu yang tinggi, karena kakek yang waspada ini maklum bahwa kedua orang cucunya ini akan hidup dalam jaman yang kacau dan penuh dengan perang.

Juga dalam mempelajari ilmu yang diturunkan kakek itu, kedua orang anak ini selalu berlomba dan bersaing.

Namun sifat ini sesungguhnya malah membuat mereka cepat sekali maju.

Sifat tidak mau kalah dan ingin mengatasi yang lain inilah justeru membuat mereka tekun sekali berlatih dan kemajuan yang mereka peroleh luar biasa sekali.

Kurang lebih setahun kemudian semenjak mere katinggal bersama Bhagawan Rukmoseto, pada suatu senja kakek itu tampak datang mendayung perahu ke pulau itu dengan wajah penuh kerut-merut dan sinar mata sayu.

Begitu ia melompat ke atas pulau, ia segera memanggil kedua orang cucunya dan masuklah mereka bertiga ke dalam pondok kecil yang menjadi tempat tinggal mereka.

Dua orang anak itu bersila, bersujut di depan kakek ini dengan hati berdebar.

Melihat wajah yang biasanya berseri dan ramah itu kini kelihatan marah dan gelisah, dua orang anak ini dapat menduga pasti telah terjadi hal yang hebat.

"Cucu-cucuku, aku telah bertemu dengan orang tua kalian dan mereka telah kuberi tahu bahwa kalian berada bersamaku."

Endang Patibroto bersorak girang.

"Eyang, kenapa ibu tidak diajak ke sini?"

"Sstttt...!"

Joko Wandiro mencela. Gadis cilik itu menjebi kepadanya dan mengernyitkan hidung mengejek. Sejenak keduanya saling melotot. Bhagawan Rukmoseto menarik napas panjang.

"Cucu-cucuku, kalian ini biarpun bukan saudara sekandung, akan tetapi terhitung saudara seperguruan. Mengapa tidak bisa akur dan selalu bercekcok saja?"

"Dia yang selalu mulai dulu, eyang,"

Kata Joko Wandiro.

"Ah, tidak, eyang. Dia itu anak laki-laki tidak pernah mau mengalah."

"Aaahhh!"

"Aahhhhh!"

Kembali keduanya saling pandang melotot.

Bhagawan Rukmoseto tersenyum.

Kakek ini memang telah menjumpai Pujo dan juga telah menjumpai puterinya.

Mereka telah mengaku terus terang apa yang terjadi sepuluh tahun yang lalu, maka ia tahu bahwa Joko Wandiro sesungguhnya adalah putera Wisangjiwo, sedangkan Endang Patibroto puteri Pujo dan Kartikosari.

Akan tetapi bukan hal ini yang membuat kakek itu pulang dengan wajah keruh.

Melainkan apa yang ia lihat dan dengar tentang keadaan di Kerajaan Kahuripan.

Permusuhan menjadi-jadi di antara Pangeran Tua dan Pangeran Muda.

Kini permusuhan dan persaingan terjadi secara terang-terangan, tidak sembunyi-sembunyi lagi seperti dulu.

Bentrokan antara jagoan-jagoan mereka setiap hari terjadi.

Para ponggawa terpecah dua, memihak pilihan masing-masing.

Juga para adipati di luar Kerajaan mulai terpecah-pecah bahkan sudah mulai saling serang sendiri.

Perang saudara yang hebat sudah membayang, takkan mungkin dapat dicegah lagi.

Bunuh-membunuh mulai terjadi.

Kedua pihak saling menarik bala bantuan, orang-orang sakti dan para pertapa yang biasanya bersembunyi di gunung-gunung dan pekerjaannya hanya mengejar ilmu kebatinan dan bertapa memujikan selamat dan sejahtera bagi dunia dan isinya, kini mulai turun gunung, keluar dari tempat sembunyi masing-masing untuk ikut berlomba memperebutkan kedudukan Kebajikan menyuram, kekuasaan iblis dan setan menonjol.

Dan kini, di depan matanya sendiri, dua orang anak kecil yang masih bersih pikiran dan hatinya, agaknya tidak terluput pula dari pengaruh hawa jahat yang merajalela menguasai dunia.

Ia lalu menggerakkan tangannya, merangkul kedua orang anak itu di kanan kiri.

"Endang Patibroto, kau adalah cucuku. Ibumu itu puteri tunggalku. Oleh karena itu engkau harus taat kepadaku. Dan kau, Joko Wandiro, biarpun bukan keluarga, namun sama saja. kau cucu muridku dan akupun sayang kepadamu. Kalian ini ada hubungan keluarga seperguruan, oleh karena itu sama sekali tidak boleh bermusuhan. Kelak kalian harus bantu-membantu tidak boleh berselisih dan bermusuhan. Ketahuilah, dunia sedang kacau dan tenaga kalian kelak amatlah dibutuhkan untuk membantu para dewata memulihkan ketentraman. Kini orang-orang jahat yang memiliki kesaktian luar biasa sedang merajalela, oleh karena itu kalian harus tekun belajar di sini. Marilah, cucu-cucuku, mari ikut denganku. Ada semacam rahasia yang harus sekarang juga kuberitahukan kalian sebelum terlambat. Mari kalian ikut denganku."

Keluarlah mereka bertiga dari dalam pondok.

Hari telah senja dan matahari telah bersembunyi di langit barat, hanya tinggal cahaya layung (merah kekuningan) yang masih menerangi sebagian permukaan bumi bagian barat.

Bhagawan Rukmoseto menggandeng tangan Endang Patibroto di kiri sedangkan Joko Wandiro berada di kanannya.

Mereka berjalan perlahan menuju ke barat, menuju ke sinar layung kemerahan, mendekati pantai pulau sebelah barat yang ditumbuhi pandan.

Setelah mereka tiba dekat pandan yang memenuhi tempat itu, terdengar suara keras dan burung-burung camar yang menjadikan tempat itu sebagai sarang, beterbangan sambil mengeluarkan suara hiruk-pikuk, agaknya marah karena tempat mereka terganggu.

Akan tetapi Bhagawan Rukmoseto terus mengajak mereka menyelinap di antara pandan-pandan yang tebal dan akhirnya mereka tiba di depan sebuah guha kecil yang tersembunyi di antara pandan.

"Cucu-cucuku, di tempat ini tersimpan sebuah benda yang pada saat sekarang ini dijadikan perebutan semua manusia di dunia. Kalau ada yang tahu bahwa benda ini berada di sini, hemmm... agaknya nyawa kita akan terancam bahaya maut."

"Ihhh, benda apakah itu, eyang?"

"Benda apakah eyang dan mengapa eyang menyimpannya di sini?"

Tanya pula Joko Wandiro. Kakek itu menarik kedua orang cucunya duduk di atas batu depan guha, lalu bercerita.

"Dengarlah baik-baik, cucuku. Hanya kepada kalianlah aku mempercayakan benda ini, dan hanya kepada kalianlah aku mempertaruhkan kepercayaanku. Ketahuilah, Kerajaan Mataram yang kemudian disebut Kerajaan Medang dan kini disebut Kahuripan, memiliki sebuah pusaka yang menjadi lambang kejayaan Kerajaan. Apabila pusaka itu lenyap dari Kerajaan, hal itu berarti bahwa Kerajaan akan. menyuram, berarti akan terjadi perang dan perebutan kekuasaan. Dahulu beberapa kali pusaka itu lenyap dan akibatnya memang hebat. Belum lama ini, pusaka itu lenyap pula tercuri oleh orang jahat, dan inilah sebabnya mengapa kini Kerajaan Kahuripan mulai menyuram dan mulailah terjadi perebutan kekuasaan antara Pangeran Tua dan Pangeran Muda. Tidak itu saja, malah orang-orang cerdik pandai mulai berlomba untuk mencari dan memperebutkan benda keramat itu, oleh karena sesungguhnya benda itu luar biasa sekali, siapa yang memilikinya menjadi seorang yang paling sakti dan mempunyai wahyu mahkota, berhak menjadi Raja! Secara kebetulan sekali, pusaka itu terjatuh ke dalam tanganku, ketika dibawa lari penjahat dan kusimpan di sini."

"Aiihhhh...!"

"Hebat...!"

"Hemm, mengapa kalian ribut-ribut?"

Kakek itu memandang tajam.

"Oh, tidak, eyang. Hanya... kalau begitu tentu eyang berhak menjadi Raja?"

Kata Endang Patibroto. Kakek itu tertawa.

"Tidak, cucuku. Aku seorang yang masih setia kepada sang prabu di Kahuripan. Sang prabu sendiri mengundurkan diri tidak suka lagi menjadi Raja dan kini menjadi pertapa, masa aku seorang pendeta ingin menjadi Raja? Tidak. Hanya aku merasa prihatin menyaksikan keadaan perebutan kekuasaan itu. Kalau mereka itu tahu bahwa pusaka berada di sini, sudah pasti mereka akan memperebutkannya dan keadaan akan menjadi lebih geger lagi. Aku sudah tua, aku tidak ingin menduduki kemuliaan, bahkan tidak ingin aku terseret ke dalam urusan-urusan Kerajaan. Akan tetapi kalian adalah orang-orang muda yang harus mengisi hidup kalian dengan darma sebagai keturunan satria dan pertapa. Oleh karena itulah, kalian akan kugembleng di pulau ini dan pusaka itu kuserahkan kepada kalian. Kelak harus kalian yang mengembalikan pusaka itu ke Kerajaan, akan tetapi harus kalian kembalikan kepada seorang Raja yang benar-benar bijaksana, karena sekali pusaka itu terjatuh ke dalam tangan Raja lalim, rakyat tentu akan celakalah."

Joko Wandiro adalah seorang yang cerdik.

"Eyang, mengapa eyang mengajak aku dan Endang sekarang ke tempat ini? Kami berdua masih kecil, bagaimana mampu melindungi pusaka itu? Ataukah, eyang mengajak kami hanya agar mengetahui tempatnya saja?"

Bhagawan Rukmoseto mengelus kepala Joko Wandiro.

"Kau benar. Bukan hanya untuk mengetahui tempatnya, melainkan akan kuberikan sekarang juga."

"Sekarang...??"

Endang Patibroto bersorak, girang dan kaget. Bhagawan Rukmoseto mengangguk-angguk dan mengelus jenggotnya.

"Orang-orang di dunia hitam sudah mulai tahu akan tempat persembunyianku ini dan mulai curiga. Tak lama lagi tentu mereka akan mencari ke sini dan akan memaksaku mengaku. Oleh karena itu, biarlah pusaka itu kuberikan kepada kalian berdua karena mereka tentu tidak akan mengira bahwa pusaka yang sepenting itu kuberikan kepada dua orang anak kecil. Aku hanya bertindak menurutkan naluri dan agaknya Dewata yang memberi petunjuk kepadaku, cuku-cucuku."

Kakek itu lalu merangkak memasuki guha kecil itu dan tak lama kemudian ia sudah keluar lagi membawa sebuah bungkusan kain kuning.

Dua orang anak itu duduk bersila dan memandang dengan mata terbelalak.

Apalagi ketika kakek itu membuka bungkusan kain kuning, Endang Patibroto berseru girang.

"Golek kencono (boneka emas)!! Aduhhh bagusnya! Eyang, berikan aku saja!"

Bhagawan Rukmoseto tertawa, akan tetapi tiba-tiba ia memandang ke sekelilingnya seperti orang ketakutan.

"Kalian mendengar sesuatu tadi?"

Dua orang anak itu menggeleng kepala. Adapun Joko Wandiro merasa kecewa karena kiranya pusaka itu hanyalah sebuah boneka emas, mainan seorang anak perempuan! "Pusaka ini macam dua,"

Katanya berbisik,"Karena itu akan kujadikan dua dan seorang menyimpan sebuah. Cucuku Endang, kau boleh memilih. Nah, kau terimalah ini dan kau pilih, yang mana kau suka."

Endang Patibroto menerima patung kencana itu, memutar-mutar dan memeriksa lalu tanpa ia sengaja tangan kanannya kena cabut gagang keris di sebelah bawah.

Sinar yang menggiriskan hati berkelebat ketika keris pusaka Brojol Luwuk tercabut.

"Aku pilih ini, eyang...!"

Endang Patibroto berseru girang dan gadis cilik ini melemparkan patung emas yang menjadi warangka itu kearah Joko Wandiro!

Joko menerima dan bibirnya cemberut.

Untuk apa sebuah patung emas bagi seorang anak laki-laki?

Ia memandang ke arah keris di tangan Endang Patibroto dengan penuh kagum dan ingin.

Juga Bhagawan Rukmoseto memandang anak perempuan itu dengan tercengang.

Dia terheran-heran mengapa anak itu memegang keris sedemikian cocok, seakan-akan memang keris itu sudah sejak dahulu dikenalnya.

Keris itu memang bukan keris besar, hanya keris tanpa ganja seperti sebuah keris biasa, akan tetapi begitu digerakkan sedikit saja keluarlah sinar yang aneh.

Ketika kakek itu menoleh ke arah Joko Wandiro, ia melihat anak laki-laki itu memandangi patung.

Anak ini dapat membawa diri, pikirnya.

Ia tahu bahwa anak ini kecewa mendapat bagian patung, akan tetapi sama sekali tidak diperlihatkan.

"Joko, benda di tanganmu itu bukanlah benda biasa. Itulah benda keramat yang menjadi pujaan sekalian Raja di Mataram dahulu. Sekarang dengarlah kalian baik-baik. Kedua pusaka itu seharusnya menjadi satu. Patung itu merupakan warangka atau tempat pusaka di tangan Endang itu. Dan pusaka itu adalah pusaka Mataram yang menjadi lambang kemakmuran Mataram. Kini Kerajaan sedang kacau balau. Orang-orang jahat memperebutkan kedudukan dan saling berlomba mendapatkan singgasana. Oleh karena itulah belum waktunya pusaka ini kembali ke Mataram. Maka aku sengaja memberikan kepada kalian berdua dengan dipisah, agar tidak mudah kedua-duanya jatuh ke tangan orang jahat. Endang dan kau Joko. Setelah pusaka ini berada di tangan kalian, sekarang juga kalian harus mencari tempat persembunyian, kalian harus sembunyikan pusaka-pusaka itu di tempat yang aman, yang hanya kalian saja yang mengetahui. Dan ingat, biarpun nyawa kalian terancam, jangan sekali-kali kalian beritahukan kepada orang lain tentang pusaka itu. Kalian adalah cucu-cucuku, maka aku mempercayakan pusaka ini kepada kalian. Dapatkah kalian kupercaya?"

"Aku akan melindungi pusaka ini dengan nyawaku, eyang!"

Endang Patibroto berkata sambil mainkan keris itu. Ia cekatan dan lincah sehingga ketika ia menggerakkan kerisnya tampak sinar berkilauan dan terdengar suara seperti halilintar.

"Saya akan mentaati perintah eyang guru,"

Jawab Joko Wandiro.

"Bagus, kalau begitu sekarang juga kalian lekas pergi menyembunyikan pusaka-pusaka itu. Aku menanti di sini."

Tanpa menanti perintah dua kali karena anak-anak itu memang cerdik dan tahu bahwa pusaka-pusaka di tangan mereka itu amat diingini orang-orang jahat di dunia, Joko Wandiro dan Endang Patibroto berlari pergi, seorang ke barat seorang ke timur.

Joko Wandiro tiba di tepi pulau itu yang penuh batu karang dan di situ terdapat banyak guha-guha batu.

Akan tetapi guha itu demikian banyaknya dan bentuknya serupa.

Bagaimana kalau kelak ia lupa lagi?

Pula, tempat seperti ini malah mencurigakan orang.

Ia harus menyembunyikan patung kecil itu di tempat yang tidak disangka-sangka orang, pikirnya.

Akan tetapi di mana?

Tiba-tiba wajahnya yang tampan berseri ketika ia memandang kepada sebatang pohon randu yang besar.

Pulau ini kosong, tidak ditinggali orang.

Andaikata ada orang di pulau itu membutuhkan kayu, tak mungkin susah-susah menebang pohon besar ini, pikirnya.

Banyak terdapat kayu di sekitar tempat itu, tinggal ambil saja.

Pula, kayu randu adalah kayu yang lemah, tidak baik untuk dibuat apapun, kurang kuat.

Joko Wandiro lalu mengambil sebuah batu yang tajam runcing dan dengan senjata ini naiklah ia ke atas pohon randu.

Di ujung batangnya yang paling atas, ia mulai membuat lubang dengan batu itu, dengan perlahan-lahan dan hati-hati.

Karena kayu randu memang tidak keras, akhirnya ia berhasil membuat sebuah lubang cukup besar dan disembunyikannya patung emas itu ke dalam lubang yang segera ia tutup dengan kulit kayu randu yang tadi ia buka.

Tempat yang amat aman dan tak seorangpun manusia akan menyangka bahwa di dalam batang randu itu terdapat sebuah pusaka yang dijadikan rebutan orang sedunia!

Girang sekali hati Joko Wandiro.

Akan tetapi ketika ia membuang batu tajam itu dan mulai merayap turun, tiba-tiba kakinya terasa sakit bukan main dan dapat dibayangkan betapa kagetnya ketika betisnya itu dililit seekor ular hijau sebesar ibu jari kaki yang menggigit tungkaknya.

Ia berteriak dan pegangannya pada pohon terlepas, tubuhnya roboh terguling.

Ia memegang tubuh ular itu dan merenggutkannya dari kaki, akan tetapi ular yang berwarna hijau itu membelit tangannya dan kini malah menggigit pergelangan tangannya.

Seluruh tubuhnya terasa panas dan sakit-sakit.

"Aduh, eyang... celaka"

Ia berlari, dan dalam marahnya karena ular itu tidak dapat ia lepaskan dari lengan, iapun lalu menggigit leher ular hijau itu.

Belum jauh ia berlari, tubuhnya sudah terguling roboh dan ia pingsan.

Ular itu masih menggigit pergelangan lengannya, akan tetapi ia sendiripun masih menggigit leher ular itu sampai hampir putus!

Sambil menggigit Joko Wandiro mengisap dan mengisap terus saking marah dan bencinya sehingga tanpa ia sadari ia telah minum darah ular, darah berikut racun ular yang terasa manis!

Sementara itu, Endang Patibroto juga kebingungan ketika ia tiba di pantai timur.

Pantai sebelah ini amat indah, penuh rumput dan terdapat beberapa belas batang pohon nyiur yang tinggi-tinggi.

Kemana ia harus menyembunyikan sebatang keris itu?

Ditanam dalam tanah?

Hanya itulah cara yang ia ketahui.

Ia memilih sebatang pohon yang paling besar, kemudian mulailah ia menggali tanah, mempergunakan keris pusaka itu!

Agaknya para tokoh sakti di empat penjuru dunia akan meringis kalau melihat betapa pusaka yang mereka impi-impikan itu kini dipakai menggali tanah oleh seorang anak kecil, seakan-akan pusaka itu hanyalah sebatang pisau dapur saja!

Mendadak Endang Patibroto terkejut.

Hampir saja kepalanya tertimpa kelapa yang berjatuhan dari atas.

Ia menengok ke atas dan alangkah kagetnya ketika melihat betapa buah-buah kelapa dari batang itu rontok semua dan daunnya menjadi kering, juga batang kelapa menjadi kering sama sekali.

Ia tidak tahu bahwa pohon kelapa itu tidak kuat menerima hawa mujijat keris pusaka yang menggali tanah di bawahnya!

"He, bocah ayu, kau sedang apa di situ?"

Endang Patibroto kaget seperti disengat kalajengking.

Ia tersentak dan mencelat berdiri, menyembunyikan keris di belakang tubuhnya sambil memandang.

Kiranya, tanpa ia ketahui, ada sebuah perahu mendarat tak jauh dari tempat itu.

Sebuah perahu kecil yang ditumpangi dua orang laki-laki yang memandangnya sambil menyeringai menakutkan.

Seorang di antara mereka masih muda, mukanya pucat matanya juling.

yang ke dua sudah agak tua, akan tetapi mukanya kasar bercambang-bauk dan matanya melotot seperti hendak meloncat keluar dari tempatnya.

Endang Patibroto mundur-mundur, tetap menyembunyikan kerisnya di belakang tubuh sambil memandang mereka yang meloncat ke darat.

"Ha-ha-ha, masih kecil sudah cantik jelita. Eh, cah ayu, apakah kau anak peri penjaga pulau kosong ini?"

Kata si muka pucat dengan sikap ceriwis sekali.

"Mari beri pamanmu cium selamat datang, ya?"

"Jangan main-main, siapa tahu dia itu keluarganya. Eh, genduk (sebutan anak perempuan), tahukah kau di mana rumah bapa Resi Bhargowo?"

Endang Patibroto hanya menggeleng dan sepasang matanya yang lebar dan bening itu memandang tak pernah berkedip.

Dua orang itu masing-masing membawa golok besar yang diselipkan di pinggang dan sikap mereka itu jelas membayangkan watak yang kasar dan kejam.

"Anak manis, kau tinggal bersama siapa di pulau ini? Mana ibumu? Wah,ibumu tentu masih muda dan cantik heh-heh!"

Si juling berkata, lagi sambil mendekati.

"Adi Wirawa, jangan lupakan tugas kita. Kita di sini menyelidik, bukan bersenang-senang!"

Si cambang-bauk menegur.

"Ah, kakang, bekerja saja tanpa senang-senang, membosankan. Anak ini manis sekali, ibunya tentu cantik. Biar kugendong dia dan kita ajak dia pulang, siapa tahu di rumahnya kita bisa bertemu dengan Resi Bhargowo, ha-haha! Hayo, nduk cah ayu, mari kugendong. Diupah cium, ya?"

Ia mendesak maju.

Endang Patibroto masih mundur-mundur dan tangannya disembunyikan di belakang tubuh.

Ketika si juling itu menubruk maju sambil tertawa-tawa, tiba-tiba dengan gerakan gesit Endang Patibroto miringkan tubuh, tangan kanannya menyambar ke depan laksana kilat cepatnya.

"Aduhhhh... mati aku...!!"

Si Juling itu terjengkang, menggelepar seperti seekor ayam dipotong lehernya, berkelojotan menggeliat-geliat kemudian tak bergerak lagi, tubuhnya kering dan hangus, mati seketika!

Temannya berdiri terbelalak, matanya yang lebar itu makin lebar lagi dan kumisnya yang tebal menggetar-getar.

Ia memandang anak perempuan itu dengan heran dan marah.

Anak itu paling banyak berusia sepuluh atau sebelas tahun, dengan sebatang keris di tangan, bagaimana dapat membunuh temannya?

Dan mengapa temannya itu tidak kelihatan terluka, akan tetapi mati sedemikian mengerikan, bajunya hangus semua, kulitnya juga hangus dan kering?

Akan tetapi kemarahannya meluap-luap dan ia sudah mencabut goloknya yang lebar dan besar.

"Bocah keparat! Bocah setan...!"

Ia menerjang dengan goloknya, lupa bahwa yang dihadapinya hanyalah seorang anak perempuan kecil.

Namun Endang Patibroto adalah seorang bocah gemblengan yang sejak kecil sudah melatih diri dengan ilmu silat tinggi.

Melihat golok itu berkelebat menerjangnya, ia cepat trengginas melompat ke samping sambil menggerakkan tangan kanan menyampok dari kanan.

"Trangggg...!!"

Si brewok menjerit kaget karena goloknya telah patah menjadi empat potong begitu bertemu dengan keris di tangan anak itu dan sebelum ia tahu apa yang terjadi, kedua kakinya sudah lumpuh ketika keris itu mengeluarkan cahaya sehingga ia tidak mampu bergerak lagi.

Sepasang mata yang lebar dari si brewok itu terbelalak ketakutan, mulutnya terbuka tanpa dapat mengeluarkan suara, hanya kedua tangannya menolak seolah-olah dengan gerakan itu ia akan dapat melindungi tubuhnya.

Akan tetapi benda bercahaya itu tetap saja datang menyentuh dadanya.

"Aauuughhh!"

Hanya keluhan ini yang keluar dari mulutnya karena iapun mengalami nasib seperti si juling, tubuhnya menjadi kering dan hangus, mati seketika!

Sejenak Endang Patibroto berdiri tercengang.

Keris pusaka Brojol Luwuk masih berada di tangan kanannya.

Sedikitpun tidak ada tanda darah di ujung keris itu.

Anak perempuan yang baru berusia sepuluh tahun lebih ini sedikitpun tidak merasa ngeri bahwa tangannya telah membunuh dua orang lagi.

Setahun yang lalu, ketika ia dan Joko Wandiro dihadang perampok-perampok, iapun dengan berani telah melukai dan membunuh dua orang perampok.

Akan tetapi sekarang lain lagi.

Ia melihat betapa ampuh dan hebatnya keris di tangannya dan ia tercengang.

Keris itu seakan-akan hidup kalau ia berhadapan dengan musuh, seakan-akan dapat bergerak sendiri dan sedikit menyentuh tubuh lawan saja sudah cukup membuat lawan roboh tewas dalam keadaan mengerikan, yaitu hangus dan kering!

Di dalam hatinya, Endang Patibroto merasa girang bukan main, akan tetapi juga khawatir.

Ia girang bahwa setelah setahun menerima gemblengan eyangnya, kini dalam menghadapi dua orang lawan itu gerakannya tidak ragu-ragu dan ia merasa betapa mudah mengalahkan lawan, girang pula bahwa ia telah memiliki keris pusaka yang ampuhnya menggiriskan.

Geli hatinya kalau teringat olehnya betapa Joko Wandiro mendapatkan bagian patung kencana.

Teringat akan ini, Endang Patibroto tersenyum geli.

Biarlah Joko Wandiro mencari setendang dan menggendong golek kencana itu dan bertembang meninabobokkan!

Alangkah lucunya!

Akan tetapi hatinya khawatir melihat dua orang lawan yang sudah hangus tubuhnya itu.

Eyangnya tentu akan marah bukan main.

Kata eyangnya, pusaka itu adalah pusaka keratin Mataram yang ampuh dan terpuja.

Kalau eyangnya melihat ia menggunakan pusaka itu untuk membunuh dua orang, tentu eyangnya akan marah.

Selain itu, kemana ia dapat menyimpan pusaka keris di tangannya?

Pusaka ini luar biasa ampuhnya dan sekarang tahulah ia bahwa saking ampuhnya, pohon nyiur tadi seketika menjadi kering dan mati ketika ia hendak mengubur keris itu di bawah pohon.

Ia memandang keris di tangannya itu penuh perhatian.

Kalau dilihat sepintas lalu, keris pusaka ini tidaklah amat aneh.

Keris biasa saja berlekuk tujuh dan berwarna abu-abu.

Akan tetapi karena tahu akan keampuhannya yang sudah terbukti, maka timbul rasa sayang besar sekali dalam hati anak itu dan ia mendekap keris itu di depan dadanya yang mulai membayangkan bagian menonjol.

"Tidak,"

Kata hatinya.

"Keris ini tidak akan kutinggalkan, akan kusimpan bersamaku, kubawa selalu. Aku harus pergi dari sini, kalau eyang marah melihat dua mayat ini kemudian minta kembali keris pusaka, aku rugi! Lebih baik aku pergi dan mencari ibu. Ibu tentu akan bangga melihat keris ini!"

Pikiran ini datang sekonyong-konyong dalam benaknya ketika Endang Patibroto melihat perahu yang ditumpangi dua orang tadi.

Kesempatan baik baginya untuk pergi.

Tanpa ragu-ragu lagi ia menyembunyikan keris pusaka di balik kembennya, kemudian lari menghampiri perahu dan mendorongnya ke tengah melawan ombak.

Semenjak kecil sudah biasa dia bersama ibunya bermain-main dengan ombak laut yang jauh lebih besar daripada ombak di pantai pulau ini, dan bermain perahu tentu saja merupakan permainan sehari-hari baginya.

Setelah berhasil melalui buih ombak yang memecah di pantai, perahunya mulai melaju ke tengah samudera dalam penyeberangan menuju ke daratan!

"Kakangmas Pujo...!"

Pujo yang sedang duduk termenung di depan pondoknya, terkejut.

Pikirannya sedang sibuk, hatinya gelisah.

Pertemuannya dengan Kartikosari beberapa hari yang lalu mendatangkan bermacam perasaan kepadanya.

Rasa cinta, sesal, duka, dan kecewa, namun ada juga harapan yang membuatnya gembira.

Isterinya masih hidup, masih mencintanya.

Hal ini mudah saja ia duga, karena bukankah cinta kasih itu terpancar jelas dari pandang matanya?

Namun kegembiraan dan harapan untuk kelak dapat bersatu dengan isterinya terganggu bermacam-macam kenyataan.

Musuh besar mereka, si laknat yang melakukan perbuatan terkutuk terhadap isterinya di malam jahanam di Guha Siluman itu, belum terbalas.

Bahkan mengetahuinya siapapun belum!

Bukan Wisangjiwo Inilah yang membikin hatinya risau dan gelisah.

Kalau bukan Wisangjiwo, berarti dosa putera adipati itu tidaklah sebesar yang disangka sebelumnya.

Dan dia sudah membalas dengan hebat!

Sudah menculik puteranya, dan membuat isterinya gila Diam-diam rasa sesal menyusupi perasaan hati Pujo.

Semua ini ditambah lagi dengan kenyataan bahwa sudah sepekan ini Joko Wandiro yang ia suruh mencari kuda di dusun belum juga datang!

Ia merasa gelisah dan mengambil keputusan untuk menyusul dan mencarinya kalau hari ini belum juga pulang anak itu.

Anak Wisaigjiwo yang diculiknya, akan tetapi anak yang ia sayang sebagai murid, bahkan seperti telah menjadi puteranya sendiri.

Suara wanita memanggilnya itu benar-benar mengejutkannya, akan tetapi juga sejenak wajahnya berseri karena timbul harapannya bahwa Kartikosari akhirnya datang kepadanya!

Akan tetapi setelah menengok, ia cepat bangkit berdiri dengan wajah terheran-heran.

Wanita memang yang memanggilnya tadi, seorang wanita yang cantik manis, akan tetapi sama sekali bukanlah isterinya.

Bukan Kartikosari!

Usianya memang sebaya, mungkin hanya dua tiga tahun lebih muda daripada Kartikosari.

Wajahnya manis, pandang matanya tajam, tubuhnya ramping padat, akan tetapi pada saat itu air mata turun mengalir di sepanjang kedua pipinya.

"Anda siapakah...?"

Akhirnya Pujo dapat bertanya sambil melangkah maju.

Wanita itu terisak, mengusap air mata dengan tangan kirinya.

Akan tetapi hanya sebentar karena ia sudah dapat menguasai perasaannya kembali.

Air matanya tidak mengucur lagi ketika ia mengangkat mukanya yang menjadi kemerahan dan menatap wajah Pujo dengan pandang mata tajam.

"Kakangmas Pujo, sepuluh tahun lamanya aku mencari-carimu. Setelah kini bertemu engkau tidak mengenalku lagi! Alangkah pahitnya kenyataan ini! Kakangmas Pujo, kelirukah penilaianku dalam hati tentang dirimu? Bukankah engkau seorang laki-laki jantan yang tidak akan mengingkari semua perbuatanmu, seorang satria yang berani mempertanggung jawabkan perbuatannya? Kakangmas, lupakah kau kepadaku, kepada... Roro Luhito...?"

Ia terisak lagi dan beberapa butir air mata bertitik ke atas pipi.

Pujo teringat.

Pantas saja tadi serasa pernah ia melihat wanita ini!

Akan tetapi mengapa seperti itu sikapnya dan seperti itu pula bicaranya?

Pujo mengerutkan kening dan menduga-duga akan tetapi tetap tidak dapat mengerti.

Ia mengangguk dan berkata.

"Ah, teringat aku sekarang. Engkau Roro Luhito puteri sang adipati di Selopenangkep yang dulu ikut pula mengepungku, bukan? Akan tetapi apa artinya semua ucapanmu tadi?"

Seketika berhenti tangis wanita itu.

Kedua matanya yang masih berkaca-kaca (membasah) itu terbelalak memandang.

Mata yang indah dan bening.

Mulut yang mungil itu bergerak-gerak ketika giginya menggigit-gigit bibir bawah.

Bibir yang berkulit tipis, merah dan penuh.

Kedua tangan diangkat ke pinggang, mengepal dan jarinya meremas remas.

Jari-jari kecil meruncing.

(Lanjut ke

Jilid 13) Badai Laut Selatan (Seri ke 03 Serial Serial Keris Pusaka Sang Megatantra) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo

Jilid 13

"Kau... kau pura-pura tidak tahu...? Pura-pura lupa? Serendah inikah budimu? Benarkah engkau begini... begini... pengecut??"

Pujo menjadi makin heran, akan tetapi lapun merasa tak senang disebut pengecut dan rendah budi.

"Roro Luhito! Hati-hatilah engkau dengan kata-katamu! Aku tidak akan mengingkari semua perbuatanku dan aku sama sekali bukanlah seorang pengecut yang rendah budi. Memang benar, sepuluh tahun yang lalu aku telah menyerbu gedung ayahmu, melukai ayahmu dan membunuh beberapa orang pengawal. Kemudian aku telah menculik isteri dan putera kakakmu! Tidak kusangkal bahwa aku kemudian telah meninggalkan isteri kakakmu di Guha Siluman dan membawa lari putera kakakmu! Nah, aku tidak menyangkal semua perbuatanku. Habis, kau mau apa? Hendak membalas dendam?"

Akan tetapi pengakuan Pujo ini sama sekali tidak memuaskan hati Roro Luhito, bahkan membuat ia makin marah. Hampir berteriak ia ketika berkata.

"Bagus! Hanya itukah yang kau lakukan? Mengapa engkau tidak menyebut-nyebut perbuatan yang kau lakukan terhadap aku?"

"Perbuatan yang kulakukan terhadapmu?"

Pujo mengingat-ingat, lalu tertawa."Ahh, ketika engkau ikut mengeroyokku? Dan kau terguling roboh? Hanya untuk perbuatan itu saja engkau mencari-cariku sampai sepuluh tahun?"

Pujo makin terheran-heran, apalagi ketika teringat betapa sikap wanita ini tadi amat mesra memanggilnya, sama sekali bukan sikap seorang yang hendak menuntut balas atas kekalahannya dahulu.

Kini pandang mata Roro Luhito seperti mengeluarkan api saking marahnya.

"Pujo! Engkau tidak mengaku tentang perbuatanmu dalam... dalam... bilikku...?"

Pujo tertegun.

Wanita ini tidak main-main agaknya.

Akan tetapi, ia tak pernah merasa melakukan sesuatu dalam biliknya!

Ia mengingat-ingat keras akan tetapi tidak menemui jawaban.

Gilakah wanita ini?

Sayang kalau gila, wanita begini manis.

Ia menggeleng kepala.

"Aku tidak... penah memasuki bilikmu"

"Keparat! Kalau kau menyangkal, berarti kau harus mampus di tanganku!"

Roro Luhito mengeluarkan pekik menyeramkan, seperti bukan pekik seorang manusia, lebih mirip pekik seekor monyet betina.

Akan tetapi terjangannya hebat sekali, tubuhnya sudah menyerbu ke depan, kedua tangan mencengkeram, kedua kaki menendang, cepat dan dahsyat seperti topan mengamuk!

"Haaaiiittt!!"

Pujo terkejut sekali dan mengeluarkan teriakan ini sambil cepat mengelak dan menggunakan tangannya menangkis.

Alangkah kagetnya ketika lengannya bertemu dengan tangan Roro Luhito, ia merasa hawa panas menyambar dari tangan itu.

Serangan wanita ini tak boleh dipandang ringan.

Di lain fihak Roro Luhito juga terkejut karena tubuhnya terpental ke belakang ketika lengannya ditangkis.

Memang Roro Luhito yang sekarang berbeda dengan puteri Adipati Selopenangkep sepuluh tahun yang lalu.

Ia telah digembleng oleh gurunya, Resi Telomoyo dan menerima banyak ilmu.

Bukan sembarang ilmu.

Aji Sosro Satwo (Seribu Binatang) dan Kapi Dibyo membuat ia menjadi kuat dan tangkas, memiliki tenaga mujijat yang timbul dari hawa sakti di dalam tubuh yang sudah dapat dihimpunnya.

Namun, menghadapi Pujo ia kalah latihan dan kalah tenaga.

Melihat dengan gerakan yang amat sigap dan cepat wanita itu sudah hendak menerjangnya lagi, Pujo cepat mengangkat tangan dan berkata.

"E-ehh... setop! Setop dulu!"

"Mau bicara apa lagi?"

Roro Luhito membentak marah, akan tetapi sepasang matanya yang bening berair.

"Roro Luhito, sikapmu membuat orang penasaran dan tidak mengerti. Kalau kau marah dan hendak membalasku karena perbuatanku seperti yang telah kuceritakan tadi, yaitu menculik keponakanmu, melukai ayahmu, mengalahkan kau dan membunuh beberapa orang pengawal ketika aku menyerbu Selopenangkep, aku dapat menerimanya dan tidak akan menjadi penasaran. Akan tetapi, kau menuduhku melakukan sesuatu terhadapmu di dalam bilikmu! Nanti dulu!"

Pujo menghindar dari sebuah serangan kilat."Dengarkan dulu! Sungguh mati aku tidak mengerti apa yang kau maksudkan! Perbuatan apakah itu?"

Tentu saja amat sukar bagi seorang gadis seperti Roro Luhito untuk menceritakan peristiwa sepuluh tahun yang lalu, pada malam hari di dalam biliknya yang gelap Ia menganggap bahwa Pujo ini berpura-pura saja, atau agaknya sengaja hendak membikin dia malu dan hendak memaksa dia yang mengadakan pengakuan.

Hal ini membuat kemarahannya meluap-luap dan ia segera menerjang setelah membentak.

"Boleh saja kau pura-pura tidak tahu! Akan tetapi engkau atau aku harus mati untuk menebus peristiwa jahanam itu!"

Kembali tanpa memberi kesempatan kepada lawan untuk banyak bicara, Roro Luhito sudah menerjang lagi dengan gerakan yang amat cepat, secepat monyet melompat, dan bukan hanya tangan kirinya yang mencengkeram ke arah muka lawan mengarah kedua mata, Akan tetapi juga tangan kanannya yang sudah mencabut cundrik itu menghantam ke arah dada dengan tusukan kilat.

Bukan main hebatnya serangan ini, dilakukan selagi tubuhnya masih mencelat di atas udara!

Pujo benar-benar kaget.

Sepuluh tahun yang lalu pernah ia menghadapi gadis ini ketika ia dikeroyok di Kadipaten Selopenangkep, akan tetapi tidaklah sehebat ini gerakan gadis itu.

Gerakannya sekarang selain tangkas dan kuat, juga amat aneh, sepertj gerakan seekor binatang buas.

Dalam keheranannya, Pujo berlaku hati-hati.

Cepat ia menggerakkan tubuh miring ke kanan untuk menghindarkan diri daripada cengkeraman tangan lawan.

Adapun tusukan cundrik itu terpaksa ia tangkis dengan tamparan jari-jari yang menggunakan Aji Pethit Nogo.

"Plakk!"

"Aduh...!"

Cundrik itu terlepas dari tangan Roro Luhito yang merasa betapa tangan kanannya seakan-akan remuk semua tulangnya dan menjadi lumpuh.

Ia terguling roboh ke atas pasir, akan tetapi cepat sekali ia sudah meloncat dan tiba-tiba tangan kirinya menyambar.

Pujo berusaha mengelak akan tetapi karena serangan wanita yang sudah ia robohkan itu benar-benar sama sekali tidak pernah diduganya, sebagian dari pasir yang disebarkan oleh Roro Luhito itu mengenai matanya.

Pujo mengeluh, kedua matanya pedas dipejamkan dan ia terhuyung ke belakang.

Roro Luhito tidak menyia-nyiakan kesempatan ini dan kakinya menendang, tepat mengenai dada Pujo yang terjengkang ke belakang dan jatuh terbanting ke atas pasir.

Roro Luhito yang sudah meluap kemarahannya itu menubruk, dengan maksud menghabiskan nyawa lawannya dengan pukulan-pukulan maut.

Tentu saja Pujo juga maklum akan bahaya ini, biarpun kedua matanya untuk sementara tak dapat ia buka, namun telinganya dapat menangkap sambaran tubuh dan tangan Roro Luhito yang menubruknya.

Ia menggulingkan tubuh ke kiri sehingga tubrukan Roro Luhito mengenai tempat kosong dan Pujo yang tahu bahaya ini dengan mata masih terpejam cepat meringkusnya dan memegang kedua tangannya.

"Lepaskan! Setan keparat... lepaskan...!"

Roro Luhito menjerit-jerit dan bergumullah kedua orang itu di atas pasir yang halus.

Karena kemarahannya Roro Luhito menjadi ganas dan buas dan dalam usahanya membebaskan kedua pergelangan tangannya yang terpegang erat-erat oleh tangan Pujo, ia meronta-ronta, bahkan lalu menggigit!

Karena Pujo masih meram dan mereka bergumul tak teratur dalam ilmu perkelahian lagi, maka pipi kiri Pujo tergigit.

"Aduhhhhh!! Adu-du-duhhh lepaskan! Eh, kok mengigit...!"

Saking sakitnya Pujo mengaduh-aduh dan cepat ia mengerahkan tenaganya melemparkan tubuh Roro Luhito ke depan, lalu cepat meloncat berdiri.

Untung, rasa pedas pada matanya membuat air matanya bercucuran dan air mata inilah yang mencuci dan membawa keluar pasir yang memasuki matanya sehingga pada saat itu Pujo sudah mampu membuka mata kirinya.

"Brukkk!"

Tubuh Roro Luhito terlempar dan terbanting keras.

Untung bahwa tempat itu adalah pesisir laut yang banyak pasirnya sehingga terbanting sekeras itu hanya terasa pedas dan agak njarem bagian pinggulnya.

Roro Luhito menyumpah-nyumpah ketika bangkit sambil mengelus pinggulnya.

Juga Pujo menyumpah-nyumpah ketika meraba pipi kirinya yang berdarah.

Kini ia berhasil pula membuka mata kanannya.

Kedua matanya merah dan masih berair, akan tetapi sudah terbebas dari pasir.

Mereka kini berdiri berhadapan, dalam jarak tiga meter, saling pandang, penuh kemarahan.

"Kau... perempuan liar!"

Pujo memaki, timbul kemarahannya.

"Dan kau... laki-laki pengecut!"

Roro Luhito balas memaki, juga marah sekali karena hatinya telah dikecewakan.

Sama sekali tak disangkanya bahwa Pujo menyangkal perbuatannya sepuluh tahun yang lalu, perbuatan yang disangkanya benar-benar berlandaskan cinta kasih seperti yang dibisikkannya sepuluh tahun yang lalu.

Betapa kecewa hatinya kini.

Sepuluh tahun ia mengharap-harapkan pertemuan ini, mengharapkan penerimaan Pujo dengan hati gembira dan perasaan bahagia, mengharapkan dapat menjadi isteri Pujo, selain untuk menebus aib juga untuk melaksanakan hasrat hatinya yang mencinta.

Siapa kira, Pujo selain menyangkal, juga memakinya dan kini bahkan melawan dan mengalahkannya.

Rasa kecewa membuat ia menjadi nekad dan kini hanya ada satu harapan di hatinya, yaitu membunuh laki-laki yang ia cinta dan yang mengecewakan hatinya ini, kemudian membunuh diri sendiri!.

Roro Luhito yang sudah nekat Itu lalu menerjang maju lagi sambil mengeluarkan pekik yang melengking tinggi seperti pekik tantangan marah seekor monyet betina yang diganggu anaknya.

Ia telah mengeluarkan semua ajinya yang ia peroleh dari gurunya, Resi Telomoyo.

Mendengar pekik yang mengiringi Aji Sosro Satwo ini, semua binatang buas di dalam hutan tentu akan lari tunggang-langgang.

Seekor harimau yang liar sekalipun akan lari bersembunyi mendengar pekik ini!

Tubuh Roro Luhito melompat ke depan, kaki tangannya melakukan serangan bertubi-tubi yang sifatnya liar ganas, namun juga amat berbahaya.

Pujo maklum bahwa wanita ini tak boleh dipandang ringan, maka iapun lalu mengerahkan ajinya, Aji Bayu Tantra yang membuat tubuhnya ringan laksana kapas gesit laksana burung srikatan, juga ia mengerahkan Aji Pethit Npgo ke dalam sepuluh jari tangannya.

Biarpun ia sama sekali tidak mempunyai niat membunuh wanita ini, namun tanpa Aji Pethit Nogo, agaknya tidak akan mudah baginya untuk mengatasi kedahsyatan serangan Roro Luhito.

Bukan main cepatnya gerakan kedua orang itu.

Ketika Roro Luhito menerjang dan menyerang bertubi-tubi dan Pujo mengelak ke sana ke mari mengandalkan ilmunya Bayu Tantra, lenyaplah kedua orang itu, yang tampak hanya bayangan mereka berkelebatan dan kadang-kadang bergumul menjadi satu.

Ketika mendapat kesempatan menangkis, Pujo mempergunakan jari tangannya untuk dikipatkan ke arah lengan Roro Luhito.

Akan tetapi wanita inipun bukanlah seorang wanita biasa.

Ia cukup cerdik dan maklum bahwa lawannya memiliki jari-jari tangan yang kuat dan mengeluarkan hawa panas yang bukan main, maka setiap kali Pujo menangkis, ia selalu menarik kembali tangannya untuk diganti dengan pukulan lain yang lebih berbahaya dan yang kecepatannya tak mungkin dapat ditangkis kecuali hanya dielakkan secara cepat pula.

Gerakan Roro Luhito selain cepat juga aneh dan bertubi-tubi.

Kadang-kadang kelihatan seperti gesitnya seekor Kera, kadang-kadang seperti menyambarnya seekor burung elang, atau seperti ganasnya harimau menerkam.

Memang Ilmu Silat Sosro Satwo ini, sesuai dengan namanya yang berarti Seribu Binatang, mengambil inti sari daripada gerakan bermacam-macam binatang hutan.

Repot juga Pujo menghadapi ilmu silat yang aneh itu.

Untung ia menang kuat dan tubuhnya kebal, kalau tidak, ia bisa kalah oleh lawannya.

Belum pernah ia berhasil menangkis, malah sudah tiga kali ia kena tendangan dan pukulan yang cukup membuat matanya berkunang, akan tetapi tidak cukup kuat untuk membuatnya roboh.

Kembali karena bingung menghadapi serangan Roro Luhito yang gayanya berputaran seperti lagak seekor ayam jago, lambung kirinya kena di"jalu,"

Yaitu ditendang dengan gaya seperti seekor ayam jago meneladung (menendang).

"Ngekkk!"

Terasa juga kali ini.

Lambungnya kena digajul keras sekali.

Sejenak Pujo terengah, akan tetapi gerakan Roro Luhito yang menendang sambil meloncat itu membuat rambutnya yang panjang terurai ke depan.

Pujo tidak mau menyia-nyiakan kesempatan baik ini.

Tangan kirinya meraih dan rambut panjang itu dapat dijambaknya dan ditarik sehingga tubuh Roro Luhito terhuyung.

"Athooooouu!"

Ia menjerit-jerit kesakitan."Lepaskan! Curang kau!."

Akan tetapi Pujo yang masih mulas perutnya karena lambungnya digajul tadi, sudah menampar dengan tangannya, ke arah tengkuk.

"Plakkk!"

Tidak keras tamparan itu, namun karena jari tangannya masih mengandung hawa sakti Aji Pethit Nogo, cukup membuat tubuh Roro Luhito terpelanting dan tak dapat bangun kembali.

Wanita itu merintih-rintih dan memegangi tengkuknya yang rasanya seperti patah-patah!

"Heh si keparat Pujo!

kau tidak menerimanya dengan baik-baik malah berani merobohkannya?

Aku tidak terima!"

Terdengar suara keras, sesosok bayangan melesat dan menyambar ke arah kepala Pujo dari atas.

Pujo terkejut sekali, cepat ia menggerakkan kaki, tubuh ditekuk ke bawah sehingga kakinya lurus dengan tanah.

Cepat sekali gerakannya mengelak ini, karena ia tahu akan kehebatan serangan dari atas maka ia menggunakan jurus kelit Kemul Bantolo (Berselimut Tanah).

Akan tetapi sungguh tak disangkanya dan amat mengejutkan hatinya karena sungguhpun serangan pertama itu dapat ia elakkan, akan tetapi secara aneh sekali kaki penyerang itu dapat menyeleweng dan mendupak (menendang) pundaknya dengan kecepatan yang tak mungkin ia elakkan lagi!

Selain terkejut, juga Pujo merasa nyeri pundaknya.

Tendangan itu tidak mengenai secara tepat, namun cukup membikin nyeri, tanda bahwa ini telah menggunakan tenaga hebat yang keluar dari hawa sakti!.

Pujo membanting diri ke kiri terus bergulingan untuk menghindarkan diri dari serangan susulan, kemudian ia melompat dan membalikkan tubuh dengar sigap dan siap dengan kuda-kuda yanj kuat.

Baru sekarang ia dapat melihal lawannya.

Kiranya lawannya adalah seorang kakek yang sudah putih semua rambutnya, akan tetapi kakek itu mukanya buruk sekali, dahinya nonong, matanya cekung, hidungnya pesek, dagunya menonjol ke depan.

Muka seekor monyet!

Dan sungguhpun kaki dan tangannya tidak berbulu seperti seekor monyet, akan tetapi karena kulitnya agak putih dan rambutnya sudah putih semua, kakek ini benar-benar mirip dengan seekor kera putih berpakaian!

Kakek yang aneh ini dengar gerakan yang aneh sekali telah menghampiri Roro Luhito dan beberapa kali mengurut-urut tengkuk gadis itu dan seketika Roro Luhito dapat bangkit kembali.

"Bapa resi, dia menyangkal, malah menyerangku!"

Kata Roro Luhito dengan sikap dan suara manja."Harap bapa resi suka membunuh dia untuk membalas sakit yang ia datangkan kepada diriku!"

"Jangan khawatir, muridku yang denok. Heh, Pujo, kau laki-laki pengecut, berani berbuat tidak berani bertanggung jawab! kau telah memperkosa muridku, akan tetapi dia bersedia memaafkan perbuatanmu bahkan ingin bersuwita (menghamba) kepadamu, menerima sekalipun menjadi isterimu yang ke dua. Akan tetapi engkau tidak hanya menyangkal perbuatanmu yang rendah, malah telah merobohkannya. Aku Resi Telomoyo tidak suka bermusuhan dengan orang muda, akan tetapi sekali ini apa boleh buat, karena mertuamu Resi Bhargowo tidak ada, aku sendirilah yang akan memberi hajaran kepadamu!"

Kalau saja tidak sedang menghadapi keadaan yang gawat dan berbahaya, juga kalau saja Pujo tidak sedemikian terkejutnya mendengar ia didakwa memperkosa Roro Luhito, tentu Pujo takkan dapat menahan ketawanya menyaksikan sikap kakek itu yang sambil bicara panjang lebar tiada hentinya menggaruk-garuk kepala, punggung atau bebokongnya, persis tingkah laku seekor monyet!

Akan tetapi ia terlampau kaget dan dengan muka merah ia berkata.

"Resi adalah gelar bagi seorang pertapa yang sidik paninggal (tajam pandangan) dan tidak hanya mendengarkan fitnah sepihak! Aku tidak pernah merasa melakukan perbuatan serendah itu, bagaimana aku dapat mempertanggung jawabkannya?"

"Jahanam keparat! Kalau kau tidak melakukan kekejian itu, apa perlunya aku mencarimu sampai sepuluh tahun? Apa perlunya aku minggat dari kadipaten? kau memang manusia rendah, pengecut yang selain mendatangkan aib dengan keji juga telah menculik kakak ipar dan keponakanku!"

Saking marahnya Pujo sampai tak dapat menjawab dan saat itu dipergunakan oleh Resi Telomoyo yang memang wataknya keras itu untuk menerjangnya lagi.

Seperti juga Roro Luhito tadi, dalam penyerangannya ini kakek itu mengeluarkan suara geraman seperti seekor monyet jantan.

Akan tetapi sepak terjangnya jauh berbeda dengan muridnya.

Kakek ini jauh lebih ampuh gerakannya dan kedua tangan kakinya mendatangkan angin bersiutan tanda bahwa tenaga yang ia keluarkan mengandung hawa sakti yang dahsyat.

Pujo juga marah, menganggap kakek ini keterlaluan, menjatuhkan tangan besi tanpa pemeriksaan lebih dulu.

Ia bergerak dengan Aji Bayu Tantra, demikian cepatnya ia bergerak sampai tubuhnya lenyap menjadi bayangan berkelebatan, dan dengan pengerahan tenaga ia menerjang, kadang-kadang dengan Aji Gelap Musti, kadang-kadang dengan Aji Pethit Nogo yang ampuh.

"Wah-wah, kau hebat, orang muda!"

Kakek itu sambil menghindar ke sana ke mari dengan sigapnya memuji.

Dengan kecepatan dan gerakan aneh, kakek itu meloncat-loncat dan membingungkan Pujo.

Tadi menghadapi Roro Luhito saja ia sudah bingung dan beberapa kali kena dipukul.

Apalagi sekarang.

Hanya bedanya, kalau tadi menghadapi Roro Luhito ia segan menurunkan pukulan maut, kini menghadapi kakek yang ia tahu amat sakti itu ia tidak segan-segan mengeluarkan semua ajiannya, bahkan mengerahkan tenaga mujijat yang ia latih selama ini melawan gelombang Laut Selatan.

"Luar biasa!"

Seru Resi Telomoyo sambil menggulingkan diri di atas pasir ketika jari-jari tangan Pujo menyambar dengan Aji Pethit Nogo sehingga mengeluarkan suara nyaring seperti cambuk menyambar.

Sambil bergulingan kakek ini menggunakan tipu seperti yang dipergunakan Roro Luhito.

Pasir berhamburan menyambar ke muka Pujo.

Baiknya Pujo tadi sudah mengalami akibat tipu ini sehingga ia sudah waspada dan melihat bayangan pasir menyambar, ia sudah menutup mata dan mengelak.

Namun pasir yang hanya merupakan butir-butiran kecil itu ketika mengenai kulit muka dan leher, terasa seperti jarum-jarum yang runcing menusuk-nusuk!

Ia kaget sekali dan baiknya Pujo dapat menyalurkan hawa sakti ke bagian yang terserang sehingga kulitnya hanya lecet-lecet saja akan tetapi pasir tidak dapat menembus.

Dari ini saja sudah dapat dibayangkan betapa hebatnya tenaga dalam kakek seperti monyet itu.

Orang biasa saja terkena sambaran pasir ini tentu akan tewas karena pasir itu akan terus menembus kulit daging, bahkan mungkin dapat menembus tulang, tiada ubahnya seperti peluru-peluru baja!

"Wah-wah, tidak kecewa kau menjadi murid Resi Bhargowo!"

Kembali kakek itu bicara sambil menerjang terus."Sayang kau mata keranjang dan pengecut!"

Makin marahlah Pujo.

Ia mencelat ke belakang agak jauh dan tahu-tahu ia sudah mencabut kerisnya, yaitu pusaka Banuwilis yang mengeluarkan cahaya hijau.

Keris berlekuk sembilan ini mencorong dan hawanya seperti seekor ular hijau berbisa.

Namun Resi Telomoyo tidak gentar, hanya tersenyum mengejek.

"Ha-ha! Belum lecet kulitmu, belum patah tulangmu, sudah mengeluarkan pusaka! Ha-ha-ha!"

"Resi Telomoyo! Entah perbuatan kita yang mana dan kapan yang menghasilkan akibat saat ini. Aku tidak pernah memusuhi anda dan murid anda, akan tetapi andika agaknya menghendaki kematianku! Apa boleh buat, kalau memang hendak mengadu nyawa, silakan!"

Pujo memasang kuda-kuda dengan keris pusaka di tangannya, siap untuk membunuh atau dibunuh!

"Ha-ha-ha!

Mengakui dan menyesali perbuatan sendiri memang merupakan perkara yang paling sulit dilakukan di dunia ini!

Betapapun buruk perbuatan sendiri, selalu dipandang dan dicari segi-segi kebaikannya.

Aku tidak ingin membunuhmu, hanya ingin memaksamu mempertanggung-jawabkan perbuatanmu terhadap muridku.

Hayo, kau boleh gunakan pusakamu, orang muda.

Murid sama dengan anak, kalau guru tidak membela muridnya, orang tua tidak membela anaknya, habis apa gunanya menjadi guru atau orang tua?

Kerahkan semua tenagamu, keluarkan semua aji kesaktianmu kalau kau mau mengenal Resi Telomoyo!"

Pujo makin mendongkol hatinya. Agaknya percuma saja bicara dengan dua orang itu. Menyangkalpun tidak akan ada gunanya karena tidak dipercaya Maka ia lalu berseru.

"Baik, hati-hatilah, sang resi. Awas pusakaku!"

Ia menubruk maju dan menerjang dengan hebat.

Bukan main hebatnya serangan Pujo ini.

Kerisnya menyambar-nyambar, lenyap ujudnya berubah menjadi segulung sinar hijau.

Sedangkan tangan kirinya dengan pengerahan tenaga dalam mengimbangi terjangan kerisnya dengan pukulanpukulan jari Pethit Nogo!.

Baiknya Resi Telomoyo adalah seorang pertapa sakti yang sudah tinggi sekali tingkat ilmunya.

Ia seorang pemuja dan penyembah tokoh pewayangan Hanuman (Anoman), kera putih yang terkenal sakti mandraguna di jaman Ramayana, kera putih yang menjadi senopati dan yang seorang diri berani menyerbu Kerajaan Alengka, mempermainkan Raja denawa Prabu Dasamuka beserta semua perajuritnya.

Resi Telomoyo memiliki aji yang membuat tubuhnya dapat bergerak laksana terbang, ringan seperti kapas, cepat seperti halilintar menyambar, dan hawa sakti di tubuhnya sudah mencapai tingkat yang amat tinggi karena ia gentur tapa (tekun bertapa), waspada dan sakti mandraguna.

Hanya sayangnya, yang ia puja adalah seorang tokoh bertubuh monyet, dan agaknya karena memang ia lebih menyayang monyet daripada manusia, maka kekasaran, kenakalan, dan kelucuan seekor monyet menular kepada nya.

Ia suka main-main, kadang-kadang kasar dan nakal.

Pandang matanya yang waspada sebetulnya menyadarkan perasaannya bahwa Pujo adalah seorang laki-laki yang baik dan agaknya tidak melakukan perbuatan hina terhadap muridnya.

Akan tetapi ia juga merasa yakin bahwa muridnya tidak membohong kepadanya.

Kalau disuruh memilih, percaya yang mana, tentu saja tanpa ragu-ragu lagi ia lebih percaya muridnya!

Pula, melihat orang muda itu memiliki kesaktian tinggi juga, timbul keinginan hatinya untuk melawan dan mengalahkannya!.

Pertandingan berlangsung seru.

Baru sekarang Roro Luhito melihat dengan mata sendiri betapa saktinya Pujo!

Tahulah ia kini bahwa tadi Pujo sengaja banyak mengalah terhadapnya.

Kalau tadi Pujo seperti sekarang ini sepak terjangnya, ia harus mengakui bahwa ia takkan kuat menghadapi Pujo lebih dari dua puluh jurus.

Gurunya memang hebat.

Akan tetapi agaknya mengalahkan Pujo yang memegang keris pusaka, bukan merupakan hal yang mudah.

Diam-diam ia merasa kagum kepada Pujo dan mau tidak mau ia harus mengakui bahwa cinta kasih yang terpendam di hatinya bukan lenyap oleh kemarahannya, bahkan makin menjadi.

Ia menghela napas berulang-ulang saking pedih hatinya oleh penolakan dan penyangkalan Pujo.

Bisikan-bisikan Pujo di dalam bilik dahulu!

Pernyataan cintanya!

Masih terngiang di telinganya bisikan pada peristiwa di malam hari itu, sepuluh tahun yang lalu.

Masih terasa kehangatan lengan yang merangkulnya dan masih bergema bisikan halus.

"Luhito, aku Pujo, aku tahu, engkau suka kepadaku seperti aku mencintaimu..."

Dan sekarang Pujo menyangkal perbuatannya itu!

Berpikir begini, panas lagi hatinya, panas dan kecewa, maka menangislah ia terisak-isak sambil mendeprok (terduduk) di atas pasir.

Pandang mata Resi Telomoyo amat tajam.

Biarpun ia sedang bertanding seru dengan Pujo, akan tetapi ia dapat melihat muridnya yang menjatuhkan diri di atas tanah dan menangis terisak-isak dengan sedihnya.

Melihat ini, kemarahannya meluap.

Ia harus merobohkan pemuda ini dan memaksanya menerima muridnya sebagai isteri!

Tiba-tiba ia mengeluarkan pekik yang amat dahsyat.

Pekik yang disertai hawa sakti sedemikian hebatnya sehingga Pujo sendiri hampir tergetar tubuhnya, dan menggigil tangan yang memegang keris.

Saat itu dipergunakan oleh Resi Telomoyo untuk menendang pergelangan tangan yang memegang keris.

Tendangan yang amat keras sehingga terlepaslah sambungan pergelangan tangan Pujo.

Keris pusakanya terlempar dan sebelum ia tahu apa yang terjadi, tubuhnya sudah terangkat dan terbanting di atas pasir.

Matanya berkunang, kepalanya pening dan sejenak Pujo tidak mampu bangun.

"Kakangmas Pujo...!"

Jerit ini disusul berkelebatnya sesosok bayangan yang gerakannya cepat sekali.

Tahu-tahu seorang wanita cantik muncul di depan Resi Telomoyo.

Dia ini bukan lain adalah Kartikosari.

Melihat suaminya menggeletak tak berdaya dan kakek yang wajahnya buruk menyeramkan berdiri di situ sedangkan seorang wanita cantik menangis tak jauh dari situ, Kartikosari langsung menerjang Resi Telomoyo.

Resi ini tadinya terkesima karena tidak mengenal siapa wanita yang luar biasa cantiknya ini sehingga ia memandang rendah.

Pukulan dari Kartikosari adalah pukulan dengan Aji Gelap Musti, dilakukan cepat sekali karena selama waktu sepuluh tahun ini Kartikosari memperdalam ilmunya dan berhasil menciptakan gerakan yang diambil dari gerakan burung camar di tepi laut.

"Plak! Desssssss!!"

Resi Telomoyo yang tidak menyangkanyangka wanita itu sedemikian hebatnya, kena ditampar lehernya dan ditonjok perutnya. Ia gelayaran (sempoyongan), jatuh terduduk dan melongo saking herannya.

"Waduh, galak dan tangkas!"

Ia memuji.

Kartikosari sejenak melongo juga.

Pukulannya tadi adalah pukulan Gelap Musti dan jangankan perut seorang manusia kalau tidak pecah atau remuk isinya, batu karang sekalipun terkena hantamannya tadi akan remuk!

Akan tetapi kakek aneh itu hanya jatuh terduduk, dan matanya kethap-kethip seperti orang terheran saja, sama sekali tidak seperti orang habis dipukul.

Maklumlah ia bahwa kakek ini seorang sakti, maka cepat ia berlutut dekat suaminya yang sudah dapat bangun duduk.

"Bagaimana, kakangmas? kau... kau terluka"?"

Pujo serasa mimpi.

Benar-benar Kartikosari sekarang yang berada di dekatnya, memeluk pundaknya dan dengan wajah yang gelisah bertanya kalau-kalau ia terluka.

Tanda kasih sayang terbayang jelas di wajahnya yang selalu dirindukannya itu.

Tak dapat lagi ia menahan hasrat hatinya.

Dirangkulnya leher isterinya, dibelai dan hendak diciumnya!

Kartikosari membuang muka mengelak.

"Hussshh, orang lain melihat...!"

Barulah Pujo teringat dan sadar cepat ia menarik tubuh Kartikosari bangun dan berdiri. Resi Telomoyo sudah berdiri pula, memandang dan menyeringai.

"Ho-ho-ho! Kebetulan sekali! engkau isterinya? Engkau isteri Pujo? Kalau begitu engkau tentu puteri Resi Bhargowo! Ha-ha, sungguh kebetulan.dengarlah engkau akan kelakuan suamimu yang bagus itu! Dia telah meng..."

"Bapa guru, diam!!!"

Tiba-tiba Roro Luhito menjerit meloncat berdiri dan menubruk gurunya sambil menangis.

"Bapa guru, haruskah aku menderita malu dan terhina di depan banyak orang lain? Biarlah aku yang menghadapi Pujo!"

Roro Luhito adalah seorang wanita yang berwatak keras.

Sebentar saja ia sudah berhasil menekan perasaannya.

Matanya masih merah, akan tetapi tidak ada air mata mengalir turun.

Dengan pandang mata penuh benci dan dendam.

Ia memandang Pujo, dan hanya mengeriing sejenak ke arah Kartikosari yang diam-diam ia puji kecantikannya.

"Pujo, kau tadi bilang bahwa kau tidak mempunyai permusuhan dengan aku. Sekarang, aku minta engkau sebagai seorang ksatria jantan, sebagai laki-laki sejati, di depan isterimu, kau ceritakanlah apa yang terjadi di Kadipaten Selopenangkep sepuluh tahun yang lalu! Kalau kau menceritakan kesemuanya dan memang tepat, biar aku mengalah dan pergi. Akan tetapi kalau sebaliknya aku pasti akan mengadu nyawa denganmu!"

"Kakangmas, siapakah dia ini dan kakek itu? Jangan takut, biarlah kuhadapi mereka!"

Kartikosari hendak melangkah maju, akan tetapi Pujo memegang lengannya dan berkata halus.

"Jangan, nimas. Urusan ini adalah urusan salah faham dan fitnah, memang harus dibikin terang agar jangan menjadi jadi."

Pujo melarang isterinya karena ia tahu bahwa biarpun Kartikosari kini agaknya memperoleh kemajuan pesat dengan ilmunya, namun belum tentu dapat mengatasi Resi Telomoyo yang demikian saktinya.

Selain itu, ia kini percaya bahwa betul-betul aib yang menimpa diri Roro Luhito dan bahwa di balik peristiwa ini tentu terselip rahasia yang harus dipecahkan.

Ia melangkah maju dan berdiri berhadapan dengan Resi Telomoyo dan Roro Luhito, terpisah dua meter saja jauhnya.

Kartikosari masih digandengnya.

Kemudian ia menarik napas panjang dan berkata.

"Roro Luhito dan juga paman Resi Telomoyo, harap suka dengarkan baik-baik penuturanku. Aku bersumpah demi kehormatanku sebagai satria kepada Hyang Maha Pamungkas, bahwa apa yang kuceritakan ini adalah yang sebenar-benarnya, tidak lebih maupun kurang daripada hal-hal yang sebenarnya terjadi."

Ia menarik napas panjang, mengajak isterinya duduk di atas pasir sambil mempersilakan kedua orang guru dan murid itu untuk duduk pula.

Resi Telomoyo yang memang yakin bahwa orang muda di depannya ini bukan orang jahat, segera menjatuhkan diri duduk di pasir seenaknya, sedangkan Roro Luhito melihat tiga orang itu duduk, biarpun dengan ragu-ragu, akhirnya duduk pula bersimpuh, matanya menatap wajah Kartikosari yang cantik dan berwibawa.

Diam-diam ia merasa iri betapa kedua suami-isteri itu bergandeng tangan dengan sikap mesra, penuh cinta kasih.

"Sepuluh tahun yang lalu, aku mempunyai dendam sedalam lautan terhadap Wisangjiwo, dendam yang hanya dapat diselesaikan dengan menyabung nyawa. Oleh karena dendam itu semata maka pada malam hari itu aku menyerbu Kadipaten Selopenangkep. Maksud hatiku hendak mencari Wisangjiwo dan membunuhnya. Akan tetapi sayang sekali, Wisangjiwo tidak berada di kadipaten dan karena mata gelap saking besarnya rasa dendam kesumat, aku mengamuk, membunuh beberapa orang pengawal, melukai Adipati Joyowiseso, akan tetapi akhirnya aku tertangkap. Aku tetap tidak mau mengaku dendam apa yang kurasakan terhadap Wisangjiwo. Aku disiksa dan akhirnya dihukum perapat."

"Ohhh...!"

Kartikosari yang belum mendengar cerita ini berseru kaget dan jari-jari tangannya yang halus mencengkeram tangan suaminya.

Pujo menoleh kepadanya dan mengangguk-angguk, mengeriing kepada Roro Luhito dan Resi Telomoyo lalu berkata.

"Lihat, isteriku sendiripun baru sekarang dapat mendengarkan ceritaku karena akibat perbuatan Wisangjiwo itu telah membuat kami suami-isteri berpisah pula sampai sepuluh tahun!"

"Hemmm...!"

Resi Telomoyo mengangguk-angguk dan menggaruk-garuk punggung serta kepalanya.

Sejak tadi Kartikosari memperhatikan gerak-gerik Resi Telomoyo ini dan di dalam hatinya ia merasa geli dan baru sekarang ia melihat betapa kakek ini mirip benar, baik muka maupun gerak-gerik, dengan seekor kera putih yang besar!

"Hukuman perapat tidak berhasil membunuhku dan akhirnya muncullah Jokowanengpati yang pada malam hari itu turun tangan dan membuat aku tertangkap."

"Jokowanengpati murid uwa guru Empu Bharodo?"

Kartikosari tercengang Pujo mengangguk.

"Dia menjadi tamu kadipaten ketika itu dan membantu kadipaten sehingga aku tertangkap. Akan tetapi ketika hokum perapat dijalankan dan tidak berhasil membunuhku, kakang Jokowanengpati datang dan membawaku kembali ke dalam tahanan. Ternyata dia bermaksud baik terhadap aku, mengingat kita masih saudara seperguruan. Dia membalik terhadap kadipaten, malam itu ia membebaskan aku, malah dia pula yang membantu menculik isteri Wisangjiwo dan puteranya, membantu aku keluar dari kadipaten dan setelah jauh baru dia menyuruhku cepat-cepat pergi membawa isteri Wisangjiwo dan puteranya."

"Ahhh, kau lakukan hal itu??"

Suara Kartikosari benar-benar membayangkan hati kaget dan heran. Pujo menepuk-nepuk lengan isterinya, menyabarkan hatinya.

"Karena tidak berhasil mendapatkan Wisangjiwo, aku seperti kemasukan iblis saking kecewa dan marahku, maka kuculik isteri dan puteranya. Akan tetapi jangan salah sangka, demi Dewata yang Agung, aku tidak melakukan hal-hal yang melanggar susila terhadap wanita itu, nimas."

Kemudian Pujo menoleh kepada dua orang bekas lawannya. Ia melihat betapa sepasang mata Roro Luhito terbelalak, pandang matanya liar dan sepasang alis yang hitam kecil itu berkerut-kerut.

"Lalu bagaimana...? Lalu bagaimana...??"

Desak Roro Luhito, dadanya yang membusung tertutup kemben itu bergelombang turun-naik, napasnya agak terengah tanda bahwa di dalam hatinya timbul perasaan yang tegang.

"Kubawa mereka ke Guha Siluman, kutinggalkan isteri Wisangjiwo di dalam guha akan tetapi kubawa lari puteranya yang selanjutnya kujadikan muridku dan kuanggap anak sendiri..."

"Dia Joko Wandiro...??"

Kini Kartikosari yang memegang lengan suaminya, bertanya, suaranya gugup.

"Benar. Eh, bagaimana kau bisa tahu, nimas?"

Tanya Pujo heran, menoleh kepada isterinya.

Akan tetapi, sebelum Kartikosari menjawab, Roro Luhito sudah melompat berdiri dengan gerakan cepat.

Pujo, Kartikosari, dan juga Resi Telomoyo memandang kaget.

Wajah gadis itu pucat sekali, matanya bergerak-gerak liar, hidungnya kembang-kempis, dadanya terengah-engah.

"Pujo... Pujo... kau bersumpahlah sekali lagi... bahwa apa yang kau ceritakan semua itu tadi adalah yang sebenarnya terjadi?"

"Aku bersumpah demi Dewata Agung!"

"Dan bukannya engkau terlepas karena bantuan gurumu Resi Bhargowo, kemudian gurumu membantumu menculik isteri dan putera kangmas Wisangjiwo dan engkau sendiri memasuki... bilikku?"

"Tidak sama sekali! Dari mana datangnya fitnah itu?!?"

Pujo melompat berdiri, juga Kartikosari dan Resi Telomoyo. Mereka sama-sama menjadi tegang.

"Kata kakangmas Jokowanengpati engkau memasuki bilikku... dan kau dibantu Resi Bhargowo maka dia tidak berdaya dan... aduh Jagad Dewa Batara...! Tahulah aku sekarang! Dialah orangnya! Dia si keparat Jokowanengpati..., ya Dewa... Gusti Maha Agung, cabut sajalah nyawaku... bapa guru...!"

Roro Luhito menubruk gurunya dan rebah pingsan dalam pelukan Resi TeHomoyo. Resi Telomoyo memandang Pujo bingung, bertanya.

"Anakmas, apa sebenarnya yang terjadi?"

Pujo menggeleng kepala.

"Aku sendiri bingung, paman. Bawalah dia ke pondok, dia perlu istirahat dan menenangkan perasaannya yang terguncang hebat."

Kakek itu mengangguk, memondong tubuh muridnya dan membawanya memasuki pondok Pujo. Pujo dan isterinya memandang sampai kakek itu lenyap di balik pintu pondok.

"Kakangmas! Jadi putera Wisangjiwokah yang bernama Joko Wandiro?"

"Betul, nimas. Tadinya hendak kudidik dia agar kelak memusuhi ayahnya sendiri. Bagaimana kau bisa tahu?"

"Ah, kakangmas... celaka! Aku khawatir sekali. Dia dan... anak kita telah lenyap..."

Saking kagetnya Pujo melepaskan tangan Kartikosari yang memegang lengannya sambil melompat mundur sejauh lima meter lebih.

Benar-benar kaget sekali dan tadi ia meloncat seperti menghindarkan diri dari serangan maut!

Kini matanya terbelalak, kakinya bergerak lambat-lambat maju, bibirnya gemetar ketika ia bertanya.

"Anak... anak... kita...??"

Kartikosari tak dapat menahan diri lagi. Ia menjatuhkan dirinya bersimpuh di atas pasir, mengangguk-angguk sambil menangis, lalu keluar kata-katanya tersendat-sendat.

"Ketika... kita berpisah... aku... aku sudah mengandung aku... lari dan bersembunyi ke Karang Racuk... memelihara dan mendidiknya di sana..."

Pujo melompat dan menubruk isterinya, mendekapnya dan air mata membanjir di pipinya.

"Aduh Gusti... terima kasih! Nimas Sari, di mana anak kita...? Laki-laki atau perempuankah? Siapa namanya?"

"Kunamakan dia Endang Patibroto..."

Pujo terharu sekali mendengar nama ini, dipandangnya wajah isterinya, lalu didekapnya kepala itu ke dadanya, diciumnya.

"Ampunkan aku, Sari kau ampunkan aku yang bermata namun tak dapat melihat betapa engkau sesungguhnya seorang wanita sesuci-sucinya, seorang puteri yang patut menjadi tauladan. Aku bodoh bebal dan pengecut. kau ampunkan aku, nimas...,..."

Pujo lalu berlutut dan hendak meraih dan mencium jari kaki Kartikosari. Naik sedu-sedan dari dada wanita itu dan cepat ia merangkul leher suaminya, melarang suaminya melakukan perbuatan itu.

"Jangan, kakangmas! Tak baik seorang suami merendahkan diri macam ini! Aku tetap isterimu, aku selamanya tetap mencinta dan setia kepadamu, kakangmas."

Mereka berdekapan, merasa seakan-akan diterbangkan angin, terapung-apung di angkasa raya, penuh bahagia, menemukan kembali kehilangan yang sepuluh tahun membuat mereka merana.

"Di mana dia, nimas. Di mana Endang Patibroto anakku?"

Kartikosari tersentak kaget, lalu melepaskan diri dari pelukan.

"Inilah sebabnya mengapa aku datang ke sini kakangrnas. Ketika beberapa hari yang lalu aku bertemu Joko Wandiro dan mendengar tentang kau, aku lari ke sini, meninggalkan Joko Wandiro dan Endang Patibroto yang kusuruh kembali kepantai. Akan tetapi ketika aku kembali ke sana, mereka tidak ada. Mereka lenyap dan kulihat ada lima orang penjahat sudah menggeletak menjadi mayat. Aku gelisah sekali, kakangrnas...entah di mana adanya mereka berdua..."

Pujo termenung dan juga cemas, Kiranya Joko Wandiro yang disuruhnya mencari kuda itu bertemu dengan Kartikosari.

Pantas sampai kini belum pulang.

Dan sekarang anak itu, bersama-sama anak kandungnya sendiri, mereka telah lenyap tak meninggalkan bekas!

Ia bertemu isterinya akan tetapi berbareng kehilangan muridnya yang terkasih dan anak kandungnya yang belum pernah ia lihat!

Pada saat itu, Resi Telomoyo keluar dari pondok bersama Roro Luhito.

Wanita itu tidak menangis lagi dan wajahnya amat pucat, rambutnya kusut, matanya sayu.

Ia melangkah mendekati Pujo dan Kartikosari yang sudah bangkit berdiri, lalu berkata kepada Pujo.

"Kakangmas Pujo, harap kau ampunkan kesalahanku yang telah menuduhmu. Aku mengerti sekarang. Jokowanengpati yang telah melakukan hal itu kemudian menjatuhkan fitnah kepadamu. Agar tiada awan gelap lagi mengeruhkan pikiran kita, bolehkah aku mengetahui, apa yang telah dilakukan oleh kakangmas Wisangjiwo maka engkau begitu membencinya?"

Pujo memandang isterinya yang juga menatapnya, kemudian Kartikosari yang menjawab.

"Diajeng Roro Luhito, memang ada permusuhan antara kakakmu dengan kami suami-isteri. Malah beberapa hari yang lalu kami telah berhasil menangkapnya. Akan tetapi ternyata kami telah salah duga. Sungguhpun kakakmu itu pernah memusuhi kami, akan tetapi bukan dialah orang yang sebenarnya kami cari. Kami juga telah salah duga, seperti engkau salah menduga suamiku tadi. Tidak ada urusan apa-apa lagi antara keluargamu dengan kami, diajeng. Bahkan keponakanmu, Joko Wandiro, juga dididik baik-baik oleh suamiku, malah menjadi muridnya. Sekarang dia bersama anak kami yang kusuruh menanti di Karang Racuk, telah lenyap entah ke mana. Kami sedang bingung memikirkannya dan hendak berusaha mencari mereka."

"Kalau begitu, kakakkupun terkena fitnah! Bagaimana kalian baru bisa tahu bahwa bukan kakangmas Wisangjiwo yang kalian cari? Ataukah inipun rahasia?"

Roro Luhito bertanya.

"Yang kami cari adalah seorang laki-laki yang buntung kelingking tangan kirinya, sedangkan Wisangjiwo masih lengkap jari tangannya."

"Buntung kelingking kirinya???"

Roro Luhito bertanya setengah menjerit."Hyang Maha Agung yang menguasai jagad! Si keparat Jokowanengpati buntung kelingking kirinya!"

Tiba-tiba Pujo meloncat dan menampar kepalanya sendiri.

"Ahhhhh...! Alangkah tolol aku! Benar... kelingking tangan kirinya buntung!"

Suami-isteri itu saling pandang, mata mereka bersinar-sinar penuh kemarahan dan hampir berbareng mereka berseru.

"Jokowanengpati iblis keparat!"

"Tahu aku sekarang!"

Roro Luhito ikut bicara.

"Kalau kalian mencari orangnya yang melakukan fitnah terhadap kakangmas Wisangjiwo kepada kalian, tentulah si Jokowanengpati. Pantas saja dia bertindak seperti ular kepala dua di kadipaten! Dia membantu ayah menangkapmu kakangmas Pujo, kemudian dia membantumu membebaskan diri dan menculik isteri dan putera kakakku, kemudian dia membohongi ayah dan menyatakan bahwa kau kabur menculik serta melakukan perbuatan keji di kadipaten atas bantuan gurumu, Resi Bhargowo!"

"Tobat-tobat...! Ada manusia sejahat itu? Dia hendak mengadu domba antara Resi Bhargowo semuridnya dengan Kadipaten Selopenangkep! Dan aku pernah bertemu dengan manusia iblis itu. Sayang yang kucari adalah Pujo dan Resi Bhargowo, kalau aku tahu dia orangnya yang bersalah, tentu sudah kubekuk dia!"

Secara singkat Resi Telomoyo menceritakan pertemuan dan pertandingannya melawan Jokowanengpati dan Cekel Aksomolo beserta pasukannya. Pujo mengangguk-angguk.

"Tahulah aku sekarang! Pantas gusti Patih sendiri menuduh aku dan ayah mertuaku sebagai pemberontak-pemberontak! Kiranya itulah siasat si jahanam Jokowanengpati. Nimas Sari, jelas sekarang siapa musuh kita. Hemm, agaknya dahulu itu dia berada di sebelah dalam guha, dan dia menggunakan kesempatan munculnya Wisangjiwo untuk melakukan perbuatan biadab mempergunakan nama Wisangjiwo!"

Wajah Kartikosari menjadi merah saking malu dan marah, namun matanya memancarkan cahaya berapi-api.

"Agaknya begitulah. Pantas kau roboh olehnya ketika itu, karena kau sudah terluka. Wisangjiwo yang sudah terluka pula agaknya tak mungkin dapat merobohkanmu. bodoh kita, kita berangkat dan mencarinya!."

"Akan tetapi bagaimana dengan anak kita dan muridmu? Kita harus mencarinya."

"Kakangmas Pujo dan kakang mbok, kalau diperkenankan biarlah aku menemani kalian. Musuh kita ternyata sama orangnya!"

Kata Roro Luhito.

"Betul, harap kalian berbaik hati menerima muridku sebagai teman. Aku sendiri akan pulang ke Telomoyo, akan tetapi kelak akupun akan menyusul kalian ke Selopenangkep. Nah, muridku Roro Luhito, baik-baiklah engkau menjaga diri. Dua orang ini boleh kau percaya sepenuhnya, mereka orang-orang baik. Kalau sudah tiba saatnya, aku akan menyusulmu, nak."

Roro Luhito segera berlutut menyembah, memberi hormat dan menghaturkan selamat jalan.

Demikian pula suami-isteri itu yang tahu bahwa kakek itu adalah seorang pertapa yang sakti dan berbudi walaupun wataknya aneh seperti monyet, segera memberi hormat.

Tanpa ragu-ragu lagi mereka menerima Roro Luhito sebagai teman, karena sedikit banyak terutama Pujo, merasa bersalah terhadap keluarga Wisangjiwo, bersalah telah menculik Joko Wandiro.

Jelas bahwa musuh besar mereka sama orangnya bukan lain adalah Jokowanengpati, Siapa lagi kalau bukan dia?

Selain bukti kelingking kiri yang buntung, juga semua sepak terjangnya di Selopenangkep membayangkan pengkhianatan dan penipuan untuk mengadu domba, dan ini saja sudah cukup menjadi bukti.

Betapapun juga, ia tidak mau berlaku gegabah, dan potongan kelingking kering masih ia simpan.

Ia akan mengukurnya dahulu dengan kelingking kiri Jokowanengpati sebelum menjatuhkan pembalasan.

Kalau sekali ini ia keliru lagi, akibatnya tentu hebat, karena Jokowanengpati adalah rnurid uwa gurunya, Empu Bharodo yang sakti mandraguna.

Setelah Resi Telomoyo pergi meninggalkan tempat itu, Kartikosari bertanya kepada Roro Luhito.

"Diajeng, kalau menurut pikiranmu, ke manakah kita akan dapat mencari musuh kita?"

Roro Luhito menundukkan mukanya.

"Terserahlah kepada kalian, aku hanya menurut dan ikut. Kepandaianku tidak seberapa, dan aku tahu betapa saktinya musuh kita."

"Kita harus pergi dulu mencari anak kami dan keponakanmu Joko Wandiro. Aku khawatir kalau-kalau terjadi sesuatu dengan mereka, karena aku melihat lima orang mayat penjahat di sana."

"Begitupun baik, aku hanya menurut saja."

Kata Roro Luhito dan sekilat matanya mengeriing ke arah Pujo lalu menunduk kembali.

Pujo melihat ini dan teringat akan sikap gadis itu ketika mula-mula bertemu dengannya, mukanya menjadi merah sekali.

Ketika gadis itu menyangka dia orang yang menggagahinya, gadis ini malah mencarinya dan hendak bersuwita (menghamba) kepadanya.

Kini setelah tahu bahwa bukan dia orangnya, melainkan Jokowanengpati, mengapa sikapnya berubah dan hendak membalas dendam kepada Jokowanengpati penuh kebencian?

Hanya satu saja jawaban yang mungkin benar, yaitu bahwa Roro Luhito ini mencintanya!!

Berdebar jantung Pujo sehingga mukanya menjadi merah.

Timbul rasa haru dan iba yang besar di hatinya.

Namun, betapa mungkin.

ia mengimbangi perasaan gadis itu?

Ia telah menemukan kembali isterinya, satu-satunya wanita di jagad raya ini yang dicintainya sepenuh jiwa raganya!

Untuk menghilangkan kecanggungan hatinya ia segera berkata.

"Perjalanan kita jauh dan sukar, sebaiknya kita ke dusun mencari tiga ekor kuda. Menunggang kuda akan lebih cepat dan tidak melelahkan."

Dua orang wanita itu setuju dan berangkatlah mereka ke dusun mencari kuda.

Setelah mendapatkan kuda dari penghuni dusun yang mengenal baik Pujo, berangkatlah mereka mulai dengan perjalanan yang mempunyai dua tujuan, pertama mencari Endang Patibroto dan Joko Wandiro, kedua mencari musuh besar mereka, Jokowanengpati.

Di sepanjang perjalanan, terutama di waktu malam ketika mereka mengaso, Roro Luhito selalu bersunyi diri dan sengaja menjauh, tidak ingin mengganggu suami-isteri itu sungguhpun hal ini membuat hatinya makin merana.

Namun Kartikosari secara bijaksana tidak mau memperlihatkan diri bermesra-mesraan dengan suaminya, betapun besar rindu dendam mereka satu sama lain.

Bahkan dengan bisikan, Kartikosari menyatakan bahwa ia tetap dengan pendiriannya, yaitu tidak hendak"Kembali"

Kepada suaminya memenuhi kewajiban sebagai isteri yang melayani suami kalau musuh besar mereka belum terbalas dan tewas di depan kakinya.

Pujo sebagai seorang ksatria utama juga memaklumi perasaan isterinya ini sebagai wanita utama yang dapat menjaga harga diri, dan iapun merasa lega kalau hal ini malah memurnikan cinta kasih mereka, cinta kasih yang bukan hanya berdasarkan nafsu berahi semata, melainkan lebih mendalam.

Dan selain ini, juga pembatasan mereka dalam hubungan ini menolong Roro Luhito dari keadaan tidak enak!

* * * Kita tinggalkan Pujo, Kartikosari, dan Roro Luhito yang melakukan perjalanan menunggang kuda untuk mencari musuh besar mereka dan melampiaskan dendam hati yang sedalam lautan sebesar Gunung Mahameru.

Kita mengikuti perjalanan Endang Patibroto, gadis cilik yang meninggalkan Pulau Sempu setelah membunuh dua orang yang mengunjungi pulau itu.

Telah diceritakan di bagian depan betapa Endang Patibroto berhasil membunuh mereka dengan amat mudahnya karena ia memegang pusaka ampuh Brojol Luwuk.

Kemudian karena takut kepada eyangnya setelah ia membunuh orang, pula karena hatinya tidak rela kalau harus berpisah dari keris pusaka seperti yang diperintahkan eyangnya, yaitu keris ini disuruh menyembunyikan, maka Endang lalu mempergunakan perahu kedua orang yang dibunuhnya itu dengan maksud menyeberang ke darat dan mencari ibunya.

Sudah setahun lebih ia berpisah dari ibunya.

Anak perempuan yang baru berusia sebelas tahun ini tidak tahu sama sekali bahwa di suatu daerah dekat Pulau Sempu merupakan kedung ikan hiu yang buas.

Semua nelayan di daerah itu tentu saja tahu belaka akan hal ini dan mereka itu tidak berani melintasi laut melalui daerah itu, yakni di sebelah timur pulau, kecuali kalau mereka menunggang perahu besar yang cukup tinggi dan kuat sehingga tidak akan dapat diganggu ikan-ikan hiu.

Endang Patibroto secara kebetulan mendayung perahunya melalui daerah itu karena memang ia tadinya berlari ke pantai ujung timur di pulau itu.

Demikianlah, selagi ia enak-enak mendayung dan sudah jauh meninggalkan pulau, tiba-tiba air laut di sebelah depannya bergelombang keras dan nampaklah sirip-sirip ikan hiu yang seperti layar-layar kecil meluncur cepat mengarah perahunya.

Di pantai Karang Racuk seringkali Endang melihat sirip-sirip ikan hiu dan oleh ibunya ia sudah diberi tahu bahwa ikan-ikan hiu merupakan Raja lautan yang amat ganas, seperti harimau di darat.

"Tentu saja lebih berbahaya daripada harimau,"

Kata ibunya."Harimau berada di darat dan dapat kita lawan dengan kecepatan dan kekuatan, akan tetapi ikan hiu dalam air, amat sukar untuk dilawan. Maka hati-hatilah kau kalau mandi di laut."

Dan kini melihat banyak sekali sirip ikan hiu meluncur ke depan perahu menimbulkan air bergelombang, hati Endang berdebar.

Perahunya amat kecil dan melihat sirip-sirip itu, dapat diduga bahwa ikan-ikan itu lebih besar dan lebih panjang daripada perahunya!

Akan tetapi pada saat itu, rasa cemasnya kalah oleh rasa heran dan kaget ketika ia melihat pemandangan yang sukar dipercaya.

Jauh dari arah pantai daratan, ia melihat seorang laki-laki tua meluncur berdiri di atas air dengan jubah dikembangkan seperti layar!

Mana mungkin ada manusia berlari di atas air?

Ia mengucek-ucek matanya, serasa mimpi, akan tetapi ketika membuka kembali matanya, kakek itu masih tampak!

Bahkan kakek itu agaknya tertawa-tawa, karena suara gelak tawanya terbawa angin dan sampai di telinganya.

Suara terkekeh-kekeh seperti seorang anak kecil yang bergembira dan bermain-main di air.

Saking heran dan kagetnya, sejenak Endang lupa akan sirip-sirip ikan hiu dan tiba-tiba dayungnya terlepas dari tangannya seperti ada yang merenggutnya.

Ia kaget dan meloncat berdiri.

Untung ia sudah meloncat berdiri karena pada saat itu perahunya tertumbuk dan terdorong dari bawah dengan kekuatan yang amat luar biasa sehingga perahunya itu terlempar ke atas.

Tubuh Endang ikut pula mencelat ke atas dan untungnya ia berlaku waspada.

Menduga bahwa ikan-ikan hiu yang menjungkirbalikkan perahunya, di atas udara Endang cepat berjungkir balik sehingga turunnya ke bawah agak melambat.

Perahu jatuh ke air dalam keadaan terbalik dan ia segere turun ke atas perahu terbalik itu.

Di kanan kiri perahu, dekat dengan kakinya mulai tampaklah kepala ikan-ikan hiu yang besar, yang seakan-akan berlumba hendak menyambarnya!.

Endang Patibroto merasa ngeri dan takut, akan tetapi ia tidak kehilangan akal.

Di samping rasa ngeri dan takut, juga kemarahannya memuncak dan ia cepat-cepat menghunus keris Brojol Luwuk dari kembennya, lalu memasang kuda-kuda di atas perahu terbalik dengan kedua lutut ditekuk rendah.

Ketika kepala seekor ikan hiu muncul dekat sekali di sebelah kanan, kerisnya menyambar dan tepat menusuk kepala ikan itu.

Ikan itu kelabakan, mendatangkan ombak sehingga perahunya yang terbalik itu terdorong agak jauh.

Terjadilah pergulatan hebat ketika ikan yang terluka itu diserbu kawannya sendiri.

Akan tetapi beberapa ekor ikan tetap saja masih mengelilingi perahu dan kini tiba-tiba sekaligus dua ekor ikan menyerbu, mengangkat kepalanya dan berusaha menyambar kaki Endang Patibroto.

Gadis cilik ini makin marah, keris pusakanya menyambar dengan kecepatan luar biasa dan dua ekor ikan itupun berkelepakan di dalam air dalam keadaan sekarat, lalu diserbu kawan-kawannya sehingga perut mereka pecah dan ususnya berantakan.

Air di sekitar perahu menjacji kemerahan.

Saking banyaknya ikan hiu yang berkeliaran di tempat itu, bangkai tiga ekor ikan korban keris pusaka Brojol Luwuk itu sebentar saja habis dan belum memuaskan kelahapan mereka.

Beberapa ekor ikan masih menyerbu perahu.

Endang Patibroto berbesar hati menyaksikan hasilnya, dan dengan gerakan yang lincah sekali ia berloncatan dari ujung kiri ke ujung kanan perahunya yang terbalik, mengayun keris pusaka Brojol Luwuk ke kanan kiri dan setiap kali ada ikan hiu yang berani memperlihatkan kepalanya, Biarpun sejauh satu dua meter dari perahu, Endang melompat ke arah kepala ikan, kedua kaki hinggap di kepala yang miring dan kerisnya menusuk.

Secepat kilat ia melompat sebelum ikan itu tenggelam, kembali ke atas perahu terbalik atau ke kepala ikan lain sambil menusukkan kerisnya.

Memang gadis cilik ini sudah biasa berlatih melompat-lompat di atas batu-batu karang yang menonjol di permukaan Laut Selatan.

Maka kali ini gerakannya amat lincah dan cekatan dan sebentar saja bangkai ikan hiu memenuhi tempat di sekeliling perahu!.

Dasar masih kanak-kanak, dan pula memang dasarnya Endang memiliki watak keras hati, tidak mau kalah dan suka mengumbar amarah, melihat banyak bangkai ikan, ia menjadi makin gembira.

Kini ia berloncatan, tidak hanya di atas perahu, bahkan ia meloncat dari bangkai ke bangkai sambil mencari-cari.

Kalau ada ikan hiu biarpun hanya tampak siripnya meluncur dekat, ia akan menyerang dengan kerisnya ke sebelah depan sirip.

Kerisnya masuk ke dalam air dan ikan yang tertusuk keris itu pasti berkelojotan dan tewas!

Akan tetapi, perut ikan tidak sama dengan perut perahu, perut ikan ini licin sekali sehingga ketika Endang meloncat ke sebuah bangkai ikan, tiba-tiba ikan yang di injaknya itu bergerak!

Ternyata ikan itu belum mati dan masih berkelojotan.

Tentu saja Endang tak dapat mempertahankan diri di atas perut ikan yang licin itu dan terpelesetlah ia, jatuh ke dalam air!

Belasan sirip ikan meluncur dari sekelilingnya, menuju ke arahnya!

Ngeri juga hati Endang, karena biarpun ia pandai berenang, namun dikeliling ikan-ikan buas itu bagaimana ia mampu melawan?

"Hua-ha-ha-ha, hebat...

hebat...

luar biasa sekali kau!"

Tiba-tiba terdengar suara ini yang keras sekali dan tahu-tahu Endang merasa tubuhnya melayang ke atas.

Ketika ia melihat, ternyata ia sudah berada di pondongan tangan kiri seorang laki-laki tua yang tinggi besar, bermata lebar bundar menciutkan.

Teriingat akan keris pusakanya yang tidak boleh kelihatan orang lain, Endang cepat-cepat menyimpannya ke dalam kemben.

Ia memperhatikan kakek tinggi besar yang menakutkan ini.

Kulit kakek itu hitam mengkilap, rambutnya sudah penuh uban, terbungkus kain berwarna ungu kehitaman.

Jenggotnya sekepal sebelah, menutupi sebagian mulutnya yang lebar.

Ketika Endang memperhatikan, ia dapat menduga bahwa kakek ini adalah orang yang tadi ia lihat berlari di atas air!

Bahkan sekarang juga ia masih berlari di atas air!

Kedua kakinya bergerak ke depan, cepat sekali dan kainnya yang dikembangkan ke kanan kiri tubuhnya, tertiup angin dari belakang merupakan layar kembar sehingga kedua kakinya amat laju bergerak ke depan!

Benar-benar luar biasa sekali dan sebagai puteri seorang sakti, Endang Patibroto dapat menduga bahwa kakek yang aneh dan berwajah menakutkan ini tentulah seorang yang luar biasa saktinya!

Oleh karena ini ia membiarkan saja dirinya dipondong.

Hanya saja, hatinya berdebar ketika ia mendapat kenyataan bahwa kakek itu meluncur kemhali ke arah pulau Sempu!

"Hua-ha-ha!

Genduk bocah ayu, kau siapakah?,"

Sambil meluncur cepat di atas air, menggerak-gerakkan kedua kakinya, kakek itu bertanya, tangan kiri memondong, tangan kanan mengelus-elus kepala memijit-mijit perlahan dan meraba raba bentuk kepala orang.

(Lanjut ke

Jilid 14) Badai Laut Selatan (Seri ke 03 Serial Serial Keris Pusaka Sang Megatantra) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo

Jilid 14 Karena sikapnya halus dan biar suaranya kasar keras akan tetapi menyenangkan, sekaligus timbul rasa percaya dan suka di hati Endang Patibroto terhadap kakek ini.

"Namaku Endang Patibroto, eyang."

"Ha-ha-ha! Memang aku patut menjadi eyangmu. Endang Patibroto, cah ayu (anak cantik), tandangmu (sepak terjangmu) seperti peri lautan saja tadi. Ha-ha-ha! kau anak siapa, cah ayu?"

Melihat kakek ini sikapnya ramah dan lucu, tertawa-tawa dan kasar, timbul keberanian hati Endang untuk main-main pula.

Kakeknya, Bhagawan Rukmoseto sudah berkali-kali memberi nasehat bahwa pada waktu itu Kerajaan sedang kacau-balau, orang-orang sakti saling bermusuhan sehingga lebih baik tidak memperkenalkan nama orang-orang tua kepada orang lain agar tidak menemui bencana.

Siapa tahu kakek yang arnat sakti dan pandai berjalan di atas air ini juga musuh eyangnya, atau musuh ibunya.

Maka ia menjawab sambil main-main.

"Aku anak Ratu Laut Kidul, eyang!"

"Hah?? Hua-ha-ha-ha, pantas, pantas! kau memang pantas menjadi puteri Ratu Laut Kidul dan lebih patut lagi menjadi murid Dibyo Mamangkoro, ha-ha-ha!"

"Siapakah itu Dibyo Mamangkoro, eyang?"

Belum pernah Endang mendengar seorang berjuluk Dibyo yang artinya seperti Dewa!

"Ha-ha, siapa lagi kalau bukan eyangmu ini, cah ayu!

Tulang tulangmu amat baik, bentuk kepalamu pilihan, sukar mencari keduanya di dunia ini.

Mau engkau menjadi muridku, cah ayu?"

Endang Patibroto memang semenjak kecil suka sekali mempelajari ilmu dan ia yakin bahwa kakek yang menggendongnya sambil berlari di atas lautan ini sudah pasti memiliki kesaktian yang melebihi ibunya maupun eyangnya, maka ia senang sekali dan menjawab tanpa ragu-ragu lagi.

"Aku mau, eyang! Aku mau!"

"Ha-ha-ha, bagus! Sepuluh tahun lagi, engkau menjadi orang yang paling sakti di dunia ini!"

Kakek aneh itu terus tertawa berkakakan dan pada saat itu ia telah tiba di tepi pantai Pulau Sempu.

Dengan gerakan seperti seekor burung camar raksasa melayang, tubuhnya melompat ke atas pasir dan ia menurunkan Endang Patibroto.

Sekarang tampaklah oleh anak itu bahwa kaki kakek itu ternyata memakai mancung (kelopak manggar kelapa) yang bentuknya seperti perahu.

Dua buah mancung itu diikatkan di bawah kaki sehingga kedua kaki kakek itu seakan-akan berdiri di atas perahu-perahu kecil dan angin laut menggerak-kan jubahnya yang dikembangkan di kanan kiri tubuhnya seperti layar.

Sungguh pun angin yang mendorong jubahnya dan kedua buah kelopak manggar (bungakelapa) itu yang menahan tubuhnya, namun kalau tidak seorang yang memiliki ilmu kepandaian luar biasa takkan mungkin dapat melakukan penyeberangan seperti itu.

Dapat berdiri tanpa tenggelam hanya dengan bantuan mancung kelapa di atas air ini saja sudah membutuhkan aji meringankan tubuh yang hebat, belum lagi diingat betapa air dilaut bergelombang dan bahayanya ikan-ikan besar yang dapat menyerang kaki!

Setelah membuang dua buah mancung kelapa dari kakinya yang telanjang, kakek itu menggandeng tangan Endang diajak berjalan ke dalam pulau.

"Mari nonton keramaian, cah ayu. Mari nonton pertunjukan bagus!"

Katanya dan Endang hanya menurut saja karena anak ini merasa yakin bahwa di samping kakek ini, ia akan aman.

Sementara itu, di tengah Pulau Sempu terjadi pula hal-hal luar biasa.

Ketika Endang Patibroto dan Joko Wandiro berlari pergi setelah menerima bagian pusaka Mataram untuk melakukan perintahnya menyembunyikan pusaka masing-masing, Bhagawan Rukmoseto atau Resi Bhargowo duduk bersila di depan pondoknya, bersila di atas batu hitam bundar sambil mengheningkan cipta.

Sebagai seorang berilmu dan seorang pertapa, perasaan kakek ini sudah peka dan halus sekali sehingga getaran-getaran aneh yang terasa olehnya di saat itu seperti membisikkan kepadanya bahwa ia menghadapi hal-hal yang hebat.

Namun dengan tenang ia sengaja bersila di depan pondoknya, menanti datangnya hal-hal itu sambil mempertebal penyerahan diri kepada Hyang Murbeng Dumadi.

Tak lama kemudian tubuh Bhagawan Rukmoseto tampak menggigil dan menggetar.

Beberapa lama tubuhnya gemetar keras, akhirnya tenang kembali dan ia menarik napas panjang sambil membuka mata, menengadah ke langit sambil mengeluh.

"Ya Jagad Dewa Batara...! Terserah kehendak Hyang Widdhi, hamba tidak kuasa apa-apa!"

Kakek yang awas paninggal ini seperti telah mendapat sasmito dari alam gaib bahwa yang akan datang menimpanya bukanlah hal yang biasa!

Dan ia menyerah, rnenyerah bulat-bulat kepada kehendak Tuhan.

Bhagawan Rukmoseto turun dari atas batu, lalu memasuki pondoknya, membiarkan pintu pondok terbuka.

Tidak lama kemudian, dari pondok yang sunyi itu keluarlah asap tipis yang harum.

Juga dari dua buah lubang jendela di kanan kiri pondok, asap tipis itu keluar perlahan membawa ganda harum dupa cendana.

Makin sunyi keadaan sekeliling tempat itu.

Tiada suara lain kecuali debur ombak memecah di pantai pasir.

Sebuah perahu layar besar mendekati pantai Sempu dari selatan.

Kemudian berlompatan keluar enam bayangan orang dengan gerakan yang luar biasa.

Perahu itu tidak menempel di darat, masih beberapa meter jauhnya, namun enam orang itu dapat melompat ke darat dengan gerakan ringan.

Hal ini menandakan bahwa mereka bukanlah orang sembarangan.

Ketika enam orang itu melompat ke darat, di atas perahu layar masih terdapat banyak anak buah perahu yang terdiri dari orang-orang tinggi besar, berpakaian seragam dan dipimpin oleh seorang yang berpakaian senopati Kerajaan.

Bendera di tiang layar membuktikan bahwa perahu ini bukanlah perahu pedagang atau nelayan, melainkan perahu milik seorang pembesar tinggi, Hal ini memang benar karena sesungguhnya perahu layar itu milik Pangeran Muda, putera Sang Prabu Airlangga!.

Enam orang itu adalah tokoh-tokoh yang sudah kita kenal baik.

Mereka bukan lain adalah Cekel Aksomolo, Ki Warok Gendroyono, Ki Krendoyakso, Ni Nogogini, Ni Durgogini, dan Jokowanengpati!.

seperti kita ketahui, mereka ini adalah orang-orang yang bersekutu dengan Adipati Joyowiseso di Kadipaten Selopenangkep.

Sudah jelas bahwa adipati ini berniat memberontak terhadap Kahuripan, namun karena maklum akan hebatnya kekuasaan Kerajaan itu maka usaha pembrontakan mereka hanya terbatas pada membuat kekacauan-kekacauan belaka.

Kemudian terjadilah perebutan kekuasaan di Kahuripan setelah Sang Prabu Airlangga mengundurkan diri dari istana untuk bertapa menjadi pendeta.

Kesempatan baik ini dipergunakanlah oleh para pemberontak ini untuk memilih sekutu dan tak lama kemudian mereka ini telah diterima menjadi kaki tangan atau sekutu Pangeran Muda!

Telah kita ketahui bahwa sesungguhnya yang menjadi pencuri pusaka keraton yang hilang, yaitu patung kencana Batara Whisnu, bukan lain adalah Jokowanengpati sendiri.

Akan tetapi kemudian di lereng Gunung Lawu, Jokowanengpati kehilangan pusaka itu yang terampas oleh seorang kakek berkedok.

Jokowanengpati yang amat cerdik itu akhirnya dapat menduga dari gerakan-gerakan kakek berkedok tadi yang tidak banyak bedanya dengan gerakannya sendiri, bahwa kakek berkedok itu tentulah Resi Bhargowo!

Maklum bahwa dia sendiri, seorang diri, takkan mungkin dapat menangkan Resi Bhargowo atau merampas kembali patung pusaka, maka ia lalu memberitahukan semua sekutunya bahwa ia telah melihat paman gurunya itu membawa patung pusaka akan tetapi tidak berani merampasnya.

Berita ini menggemparkan para tokoh yang menjadi sekutunya dan mulailah mereka mencari tempat sembunyi Resi Bhargowo.

Namun sia-sia belaka.

Sampai, tiba saatnya ia menjadi kaki tangan Pangeran Muda, usaha mereka mencari Resi Bhargowo tetap nihil.

Akan tetap setelah mereka menjadi kaki tangan Pangeran Muda, usaha mereka mencari Resi Bhargowo diperhebat, mata-mata disebar luas, bahkan pulau-pulau kosong mereka selidiki.

Akhirnya mata-mata mereka mengirim berita bahwa di Pulau Sempu tinggal seorang kakek yang bertapa seorang diri yang diduga adalah Resi Bhargowo yang mereka cari-cari.

Mendengar berita ini, segera mereka melaporkan kepada Pangeran Muda yang amat ingin mendapatkan pusaka yang hilang karena pusaka itu dapat menjadi lambang pegangan seorang Raja!

Diperintahnya tokoh-tokoh sakti itu untuk menyerbu Pulau Sempu, dan untuk keperluan penyeberangan dipergunakan perahu layar milik Pangeran Muda sendiri!.

Sebelum perahu layar besar itu menyeberang, lebih dulu mereka mengirim dua orang mata-mata menyeberang dengan perahu kecil.

Namun sungguh sial nasib dua orang mata-mata itu karena mereka kebetulan bertemu dengan Endang Patibroto dan tewas oleh anak perempuan itu.

Demikianlah, enam orang sakti yang kini bekerja sebagai anak buah atau kaki tangan Pangeran Muda itu kini berjalan memasuki pulau, menuju ke pondok yang sunyi.

Sementara itu, di sebelah barat Pulau Sempu, sebuah perahu hitam kecil bergerak mendekati pantai.

Seorang laki-laki tua tinggi kurus melompat dengan sigapnya ke pantai, memegangi ujung perahunya dan sekali sendal (tarik tiba-tiba) perahunya terlempar ke pantai.

Kemudian ia berindap-indap memasuki pulau, matanya memandang ke kanan kiri seperti sikap seorang maling.

Tangan kanannya meraba-raba gagang golok yang tergantung di pinggang, agaknya siap menghadapi bahaya setiap saat.

la tidak berani berjalan di tempat terbuka, melainkan lari dari batu ke batu, dari pohon ke pohon sambil bersembunyi.

Siapakah kakek ini?

Melihat gerak-geriknya yang cekatan dan sepasang golok yang tergantung di pinggang, ia mudah dikenal.

Bukan lain adalah Ki Tejoranu, kakek pertapa di Danau Sarangan, ahli bermain golok.

Seperti telah kita ketahui, tadinya Ki Tejoranu juga termasuk anggauta persekutuan pemberontak, karena ia terbawa oleh Ki Warok Gendroyono yang menjadi sahabatnya.

Akan tetapi kakek asing ini lebih terdorong oleh watak petualangannya sebagai seorang ahli silat daripada dorongan ambisi kedudukan.

Oleh karena itu, dalam pertandingan melawan Ki Patih Narotama, ia tidak mau melakukan pengeroyokan sehingga ia dianggap pengkhianat dan semenjak itu ia malah dimusuhi dan terpaksa menjauhkan diri dari persekutuan yang membantu Adipati Joyowiseso.

Telah lama Ki Tejoranu melakukan perantauan setelah ia sembuh dari lukanya karena senjata rahasia ganitri yang dilepas oleh Cekel Aksomolo.

Kakek ini merantau dalam usahanya mencari Joko Wandiro yang dianggap telah melepas budi dan menolong nyawanya ketika ia hampir tewas oleh Cekel Aksomolo.

Usahanya mencari Joko Wandiro inilah yang membuat ia sampai di pantai Laut Selatan dan tanpa disengaja ia melihat rombongan Cekel Aksomolo yang menyeberang ke pulau dengan sebuah perahu layar besar.

La menjadi curiga, lalu diam-diam dari pantai lain ia menggunakan perahu menyeberang pula ke Pulau Sempu.

Ketika Ki Tejoranu mengindap-indap dan matanya memandang ke kanan kiri, tiba-tiba di sebelah kanan, agak jauh dari situ, ia melihat tubuh seorang anak laki-laki menggeletak di atas tanah.

Ki Tejoranu kernbali memandang ke sekeliling.

Sunyi tidak tampak bayangan seorangpun manusia, tidak terdengar suara apa-apa.

Cepat ia melompat dan lari ke arah tubuh yang menggeletak seperti mayat.

"Hayaaaa...!!"

La berseru kaget ketika melihat bahwa tubuh yang menggeletak seperti mayat itu adalah Joko Wandiro yang selama ini ia cari-cari.

Cepat ia menjatuhkan diri berlutut dan memeriksa.

Kagetnya bukan main melihat bangkai ular yang lehernya hampir putus dan masih tergigit oleh mulut anak itu.

Bangkai ular yang sudah kering dan habis darahnya!

Hatinya agak lega ketika memeriksa dan mendapat kenyataan bahwa Joko Wandiro masih bernapas dan jantungnya masih berdetik.

Cepat ia membuang bangkai ular, memondong tubuh itu dan membawanya lari ke pantai.

Tiba-tiba Ki Tejoranu dengan gerakan bagaikan seekor bajing melompat telah lenyap di balik semak-semak sambil membawa tubuh Joko Wandiro.

la bersembunyi di balik semak-semak, matanya yang sipit mengintai dari balik daun dan tiba-tiba mukanya menjadi pucat, matanya yang sipit terbelalak dan mulutnya melongo.

Apa yang dilihatnya benar-benar kaget dan terheran-heran, melongo saking kagumnya.

Biarpun dia sendiri adalah seorang berilmu yang sudah menyeberangi lautan berpekan-pekan jauh dan lamanya, sudah banyak mengalami hal-hal luar biasa, banyak pula menghadapi orang sakti, namun baru sekarang ia melihat orang dapat meluncur seperti terbang di atas lautan!

La melihat seorang kakek tinggi besar bermuka menyeramkan memondong seorang anak perempuan, dan kakek ini mengembangkan kainnya di kanan kiri tubuhnya seperti layar sedangkan kedua kakinya berdiri di atas air dan meluncur ke depan dengan cepatnya!.

"Bukan main...!"

Ki Tejoranu menggeleng-geleng kepala.

Sukar dipercaya apa yang dilihatnya ini.

Betapapun saktinya, bagaimana ada orang dapat meluncur di atas ombak lautan?

ia maklum bahwa kalau sampai tampak oleh orang sakti itu, tentu ia akan celaka dan tidak akan dapat menolong Joko Wandiro yang pingsan.

Maka ia cepat-cepat menyelinap dan melihat kakek itu kini meluncur membelakanginya, ia cepat memondong tubuh Joko Wandiro dan membawanya lari ke pantai di mana perahunya berada.

Cepat ia meluncurkan perahu ke air dan membawa anak yang masih pingsan itu menyeberang ke arah daratan.

Ketika ia menengok, ia melihat kakek sakti tadi sudah berjalan di atas pasir sambil menggandeng si anak perempuan.

Kembali Ki Tejoranu menggeleng-geleng kepalanya penuh kekagurnan.

* * * Pondok itu masih tetap sunyi.

Asap tipis mengepul dari jendela kanan kiri pondok dan dari pintu yang terbuka.

Asap berbau harum dupa cendana Di dalam pondok itu, di atas dipan bambu, Bhagawan Rukmoseto atau Resi Bhargowo tampak duduk bersila dengan kedua lengan di depan dada, duduk diam dalam keadaan bersamadhi.

Tenang dan hening.

Enam orang utusan Pangeran Muda sudah tiba di situ dan mereka kini mengurung pondok dari enam jurusan berdiri dengan sikap siap.

Melihat pondok yang sunyi dan asap tipis harum yang mengepul dari pintu dan jendela, enam orang itu bersikap hati-hati sekali.

Mereka cukup maklum bahwa Bhagawan Rukmoseto atau Resi Bhargowo bukan lawan yang boleh dipandang ringan.

Resi Bhargowo adalah adik seperguruan Empu Bharodo yang terkenal sakti.

Berbeda dengan Empu Bharodo yang sudah memuncak ilmu batinnya sehingga kakek ini tidak suka mencampuri urusan duniawi dan sudah memiliki kesabaran yang tiada batasnya berdasarkan kasih yang tulus ikhlas kepada segala isi dunia, Resi Bhargowo ini masih belum mampu membebaskan diri daripada ikatan duniawi karena resi ini mempunyai puteri.

Pula, sang resi masih suka olah kesaktian, biarpun sudah menjadi pendeta, namun masih berwatak satria, tidak suka membiarkan hal yang dianggapnya tidak adil.

Jokowanengpati sendiri telah memberitahukan kepada lima orang tokoh yang menjadi sekutunya bahwa ilmu kesaktian Resi Bhargowo amatlah hebat dan sekali-kali tidak boleh dipandang rendah.

Inilah sebabnya mengapa kini keenam orang itu tidak berani segera menyerbu masuk ke dalam pondok sunyi, melainkan hanya mengurung dan menanti kesempatan baik.

Ni Durgogini dan Ni Nogogini yang menjaga di belakang pondok, diam-diam merasa tidak sabar menyaksikam teman-temannya yang sikapnya seperti ragu-ragu dan takut-takut ini.

Akan tetapi karema mereka berduapun hanya merupakan pembantu-pembantu, mereka menahan diri.

Mereka juga bukan orang sembarangan, kalau sekali bertindak terburu nafsu dan sembrono sehingga tergelincir, tentu akan memperoteh nama buruk dan rnalu.

Maka merekapun hanya bersikap diam dan siap-siap urtuk turun tangan apabila keadaan menghendaki.

seperti biasa di dalam rombongan ini, Cekel Aksomololah yang dianggap sebagai pelopor atau pimpinan.

Pertama karena Cekel Aksomolo merupakan tokoh yang paling tua di antara mereka.

Kedua karena apabila diadakan perbandingan kiranya kakek tua renta seperti Durna inilah yang paling sakti mandraguna.

Di samping itu, karena pandainya, kakek ini sudah rnemperoleh kepercayaan Sang Pangeran Muda sehingga usaha penggerebegan atas diri Resi Bhargowo inipun oleh sang pangeran ditugaskan kepada Cekel Aksomolo.

"Uuhh-huh-huh! Resi Bhargowo kau yang sudah gentur bertapa, yang katanya sudah sidik paningal, waspada dan mengenal sebelum dan sesudah takdir, apakah kini menjadi buta atau pura-pura tidak tahu akan kedatangan kami?"

Tiba-tiba Cekel Aksomolo yang berdiri di depan pintu berkata, suaranya penuh ejekan.

Jokowanengpati berdiri tak jauh di sebelah kirinya, memandang ke arah pintu penuh perhatian.

Hening saja dari dalam pondok.

Tiada jawaban.

"Resi Bhargowo...! Kami masih mempergunakan sopan santun para tamu, tidak sudi menyerbu seperti perampok! Akan tetapi kalau kau tidak tahu sopan santun seorang tuan rumah, terpaksa..."

Kata lagi Cekel Aksomolo yang tidak melanjutkan kata-katanya karena pada saat itu dari dalam pondok terdengar suara orang.

Suara itu ringan dan lemah, seakan-akan mengambang atau melayang keluar terbawa asap tipis yang harum.

"Tidak ada Resi Bhargowo di sini, yang ada Bhagawan Rukmoseto...!"

Enam orang itu saling pandang.

Memang selama ini, usaha mereka mencari Resi Bhargowo sia-sia belaka.

Tidak pernah terdengar berita tentang resi ini seakan-akan Resi Bhargowo sudah lenyap ditelan bumi.

Dan sebagai gantinya, muncul seorang tokoh pertapa yang memakai julukan Bhagawan Rukmoseto.

Akan tetapi menurut para penyelidik yang sudah memata-matai pulau ini dan sang pertapa, yang bernama Bhagawan Rukmoseto itu bukan lain adalah Resi Bhargowo juga yang kini rambutnya sudah putih semua!

"Uuuh-huh-huh!

Kami yang salah panggil kalau begitu.

Baiklah, Sang Bhagawan Rukmoseto!

Orang yang sudah berjuluk bhagawan tentu tidak buta sehingga dapat tnelihat kedatangan tamu-tamu utusan Sang Pangeran Anom!"

Hening pula sejenak.

Jantung enam orang yang mengurung pondok itu menegang dalam penantian jawaban.

Apalagi ketika tiba-tiba secara aneh sekali, asap tipis yang tadinya mengepul keluar dari kedua jendela dan pintu depan, kini tidak tampak sama sekali.

Mereka makin waspada dan diam-diam mereka telah meraba senjata masing-masing untuk menjaga kalau-kalau orang yang mereka kurung rnenerjang keluar.

"Hong Wilaheng Nirmala Sadya Rahayu Widodo...!"

Terdengar suara dari dalam, itulah mantera yang biasa diucapkan para pendeta untuk menjauhkan bahaya dan menenangkan batin yang hanya mengandung kebaikan, jauh dari pada nafsu buruk.

Kemudian puja-puji itu jawaban yang ramah, akan tetapi mengandung tantangan.

"Cekel Aksomolo dan sahabat-sahabat, pintu pondokku tak pernah tertutup. Masuklah siapa yang mempunyai keperluan berlandaskan itikad baik. yang datang bermaksud buruk, sebaiknya jangan menggangguku dan pergi saja dari Pulau Sempu ini karena aku Bhagawan Rukmoseto bukankah orang yang suka mencari permusuhan!"

Ucapan ini merupakan undangan dan sekaligus juga tantangan.

Tentu saja keenam orang itu tidak seorangpun datang dengan maksud hati baik, karena bukankah mereka datang sebagai utusan Pangeran Anom yang menyuruh mereka merampas kembali Pusaka Mataram, baik secara halus maupun kasar?

Kini mereka saling pandang, karena mereka yang menjaga di pinggir dan belakang rumah kini menempatkan diri sedemikian rupa sehingga mereka dapat saling lihat.

Nampak keraguan di dalam pandang mata masing-masing.

Jokowanengpati melihat keraguan para jagoannya ini, diam-diam menjadi tak senang dan mendongkol.

Orang-orang tua ini kalau di luaran bicaranya seperti guntur menyambar-nyambar, mengangkat diri sendiri sampai setinggi langit, akan tetapi sekali menghadapi urusan penting, menjadi ragu-ragu dan seperti saling dorong agar orang lain yang lebih dulu bergerak rnenempuh bahaya!

Diapun amat cerdik, maka dengan bisik-bisik ia berkata.

"Eyang Cekel, biarlah saya yang akan bicara karena dia masih paman guru saya. Saya akan memasuki pintu itu, akan tetapi saya minta bantuan Ki Warok dan paman Krendoyakso agar masuk dari kedua jendela pada saat itu sehingga keselamatanku terjaga."

Cekel Aksomolo mengangguk-angguk, lalu melambaikan tangan memaanggil Ki Warok Gendroyono dan Ki Krendoyakso.

Dua orang manusia raksasa itu datang mendekat.

Cekel Aksomolo bisik-bisik dan mereka berdua mengangguk-angguk, lalu keduanya melangkah lebar mendekati jendela, Ki Warok Gendroyono di jendela timur, sedangkan Ki Krendroyakso di jendela barat.

Jokowanengpati lalu melangkah maju mendekati pintu yang terbuka itu sambil berseru.

"Paman, parnan resi! Inilah saya, murid keponakan paman, saya Jokowanengpati murid bapa guru Empu Bharodo!"

"Murid murtad! Pencuri hina!"

Suara dari dalam ini terdengar marah dan penuh wibawa sehingga Jokowanengpati mundur dua langkah.

Mukanya berubah menjadi merah sekali.

Akan tetapi dia cerdik.

Melihat betapa Ki Warok Gendroyono sudah memegang jimat kolor pusaka di dekat jendela timur sedangkan Ki Krendoyakso juga sudah memegang senjata pusakanya penggada Wojo Ireng, hatinya menjadi tabah dan ia melangkah maju lagi.

"Paman resi, perkenankan saya masuk bertemu dengan paman. Ada urusan penting hendak saya bicarakan dengan paman, uruan pusaka Mataram...!"

Semua orang rnenanti dengan hati tegang, hendak mendengar bagaimana jawaban orang di dalam.

Mereka datang untuk pusaka itu, dan di dalam hati orang tokoh besar itu, sukar diduga bagaimana sikap mereka dan apa yang akan terjadi kalau pusaka Mataram yang dirindukan semua tokoh itu benar-benar berada di situ dan sudah berhasil mereka dapatkan!

Akan tetapi tidak ada jawaban dan keadaan sunyi sekali.

Selagi Jokowanengpati hendak mengulang kata-katanya atas desakan Cekel Aksomolo yang menggerak-gerakkan mulutnya seperti mencium terasi, terdengarlah suara helaan napas panjang dari dalam disambung kata-kata.

"Pusaka Mataram tidak ada di sini, harap kalian pergi jangan menggangguku"

Berubah wajah enam orang itu, berubah marah. Jokowanengpati marah dan penasaran, maka katanya keras.

"Paman, harap jangan membohong! Saya tahu, pusaka Mataram berada di tangan paman!"

Sambil berkata demikian ia memberi isyarat kepada dua orang kawan yang menjaga di jendela, lalu memasuki lubang pintu yang terbuka itu.

"Pergilah...!"

Terdengar bentakan dari dalam.

Jokowanengpati terkejut sekali karena tidak ada orang yang menyerangnya, melainkan segumpal asap putih yang tahu-tahu mendorongnya dari depan dengan kekuatan yang luar biasa!

la mengerahkan tenaga untuk melawan, namun sia-sia.

Tubuhnya terlempar dan terjengkang, terbanting jatuh di luar pintu, diikuti asap putih yang mengepul keluar pintu.

Ki Warok Gendroyono dan Ki Krendoyakso sudah menyerbu masuk, melompat ke dalam jendela yang terbuka.

Akan tetapi mereka inipun disambut gumpalan asap putih yang amat kuat.

Selagi tubuh mereka masih melompat di udara, gumpalan asap putih menyambut mereka dan mendorong mereka keluar lagi dari jendela, terbanting ke atas tanah sehingga tubuh mereka bergulingan!

Sejenak mereka semua tercengang.

Ki Warok Gendroyono dan Ki Krendoyakso bukanlah orang-orang lemah.

Biarpun mereka tadi terbanting oleh gumpalan asap yang rnengandung kekuatan luar biasa, namun mereka serentak sudah bangkit lagi dan menjadi marah.

Tadi mereka dapat dirobohkan karena tidak menyangkanyangka sehingga mereka menjadi korban serangan dari dalam.

Itulah pukulan jarak jauh yang dilontarkan oleh Bhagawan Rukmoseto dari tempat ia duduk bersila.

Karena di depannya mengepul asap kayu cendana, maka asap itu terbawa oleh pukulannya sehingga merupakan"senjata"

Yang aneh.

"Rukmoseto keparat!"

Bentak Ki Krendoyakso sambil menggosok-gosok kedua telapak tangannya dan tak lama kemudian dari telapak kedua tangannya itu mengepul asap hitam.

Inilah sebuah di antara aji ilmu hitamnya yang disebut Kukus Langking (Asap Hitam)!

"Bhagawan pengecut, menyerang tanpa peringatan!"

Ki Warok Gendroyono juga memaki marah sambil melolos kolor jimat Ki Bandot dan memutar-mutarnya sehingga terdengar suara angin menderu dan tampak sinar bergulung-gulung dahsyat!

"Gendroyono dan Krendoyakso, aku tidak mencari permusuhan dan aku tidak membawa pusaka Mataram yang kalian cari-cari.

Sekali lagi kuperingatkan, pergilah dan jangan menggangguku, Namun kalau kalian memaksa, jangan kira aku takut melayani kalian.

Majulah semua bersama, aku tidak akan mundur setapak!"

Suara Bhagawan Rukmoseto terdengar mengambang di antara asap putih harum.

"Babo-babo si keparat! Sumbarmu seperti akan meruntuhkan puncak Mahameru, Rukmoseto. Akan tetapi kenyataannya engkau bersembunyi di dalam pondok seperti seorang perempuan!"

Setelah berkata demikian, Ki Warok Gendroyono lalu menghantamkan kolor ajimat Ki Bandot ke arah jendela.

Terdengar suara keras dan jendela itu berikut seluruh dinding sebelah timur ambruk ke dalam!

Tampaklah kini dari dinding bambu yang runtuh itu keadaan di dalam pondok di mana seorang kakek berambut putih berkumis tebal dan bersikap tenang berwibawa tengah duduk bersila menghadapi pedupan yang mengeluarkan asap putih.

Pada saat itu Ki Krendoyakso juga sudah menggerakkan Wojo Ireng, senjata penggada yang menyeramkan itu dan kembali terdengar suara keras ketika dinding sebelah barat ambruk pula!

"Huuh-huh-uh, tidak ada artinya kau melawan kami, Rukmoseto!

Lebih baik serahkan pusaka Mataram kepada kami dan kau menurut saja kami belenggu dan jadikan tawanan.

kau sudah tua, apakah tidak rnencari jalan terang, Rukmoseto.

Uhh-huh-huh!"

Cekel Aksomolo berkata mengejek.

Bhagawan Rukmoseto masih duduk bersila dan menundukkan mukanya, menanti sampai dupa cendana itu habis dimakan api.

Asap putih makin menipis dan akhirnya lenyap sehingga wajah kakek pertapa ini sekarang Nampak jelas, tidak tertutup asap tipis seperti tadi.

Ia mengangkat mukanya memandang ke depan, lalu bangkit berdiri dengan tenang melangkah keluar dari pondok.

Sikapnya yang tenang membuat para lawannya berhati-hati dan tidak berani bertindak sembrono.

"Kalian ini orang-orang apa! Punya ilmu dan kedudukan hanya untuk mengumbar nafsu angkara, untuk bersikap adigang-adigung-adiguna, mengandalkan kepandaian untuk menindas, mempergunakan wewenang untuk mencari menang. Sudah kukatakan bahwa pusaka Mataram tiada padaku, masih banyak lagak mau apakah?"

Suara Bhagawan Rukmoseto tegas dan tandas, matanya mengeluarkan sinar berkilat. Ketika sinar matanya menusuk. Jokowanengpati, orang muda itu meremang bulu tengkuknya dan ia cepat berkata.

"Paman Resi Bhargowo"

"Tidak ada lagi Resi Bhargowo, yang ada Bhagawan Rukmoseto!"

Bentak pertapa itu tegas.

"Baiklah...!, paman Bhagawan Rukmoseto. Hendaklah paman ketahui bahwa kami berenam adalah orang-orang kepercayaan..."

"Adipati Joyowiseso di Selopenangkep yang hendak mernberontak kepada Kerajaan Medang, bukan?"

Kembali sang bhagawan memotong sambil tersenyum rnengejek. Jokowanengpati menggeleng kepalanya.

"Paman keliru dan salah duga. Memang benar kami segolongan dengan paman Adipati Joyowiseso, karena beliaupun rnenjadi satu golongan dengan kami dalam membela yang benar. Kami semua adalah orang-orang kepercayaan dan bahkan kini bertugas sebagai utusan Gusti Pangeran Anom. Oleh karena itu, saya harap parnan jangan memperlihatkan sikap permusuhan, karena apakah paman bermaksud rnemberontak kepada kekuasaan Gusti Pangeran Anom?"

Jokowanengpati berhenti sebentar lalu melanjutkan cepat-cepat ketika melihat pendeta itu tersenyum penuh arti.

"Paman, saya tidak membohong. Kalau paman tidak percaya, boleh paman periksa di pantai itu. Kami datang menggunakan perahu gusti pangeran sendiri yang dapat paman lihat dari benderarrya di tiang layar. Kami diutus untuk menemui paman dan minta pusaka Mataram dari paman bhagawan."

"Sudah kukatakan bahwa pusaka Mataram tidak berada dalam tanganku. Kalau kalian tidak percaya dan melakukan penggeledahan, silahkan!"

"Uuhh-huh-huh, kalau orang sudah mempunyai niat buruk, tentu ada saja akalnya, akal bulus-las-lus! Dicari juga mana bisa ditemukan kalau sebelumnya sudah disembunyikan?"Cekel Aksomola berkata, ludahnya nyiprat-nyiprat karena marahnya.

"Paman Bhagawan Rukmoseto Mengingat bahwa paman adalah saudara seperguruan bapa guru Empu Bharodo, maka saya msih menggunakan tata susila dan sopan santun. Akan tetapi harap paman ketahui bahwa kami adalah utusan-utusan Gusti Pangeran Anom dan diberi purbowaseso (hak mengambil keputusan dan bertindak)."

"Iyahhh, benar tuhhh! Kami sudah mendapat mandat penuh dari Gusti Pangeran Anom! Berikan saja pusaka itu baik-baik dan kau menyerah jadi tawanan kami, Bhagawan Rukmoseto. Kalau tidak, tempatmu akan rnenjadi karang abang (lautan api) dan kau akan dijadikan sate gosong (hangus), uh-huh-huh!"

Tiba-tiba berubah sikap Bhagawan Rukmoseto.

Kalau tadi ia tenang sabar dan merendah, kini mukanya diangkat, dadanya dibusungkan, tubuhnya tegak dan tangan kirinya bertolak pinggang.

Tampak kembali sikap seorang ksatria yang tabah dan takkan undur selangkahpun menghadapi lawan.

"Heh keparat Jokowanengpati! Sabda pendeta hanya ada satu tidak ada dua! Kalau kukatakan bahwa pusaka Matararn yang hilang tidak ada padaku, maka hal itu memang sebenarnya demikian. Jangan kira bahwa gertakanmu itu menakutkan aku, orang rnuda berwatak rendah! Bahkan kedatangan kalian, terutama sekali kau dan Cekel Aksornolo, amat melegakan hatiku karena memberi kesempatan kepadaku untuk minta pertanggungan jawab kalian berdua ketika kalian beberapa tahun yang lalu mengganas di Bayuwismo!"

"Pertanggungan jawab apa? Uuhhuh, seperti memarahi cucunya saja, keparat! kau minta pertanggungan jawab apa?"

"Cekel Aksomolo! kau mengaku menjadi seorang cekel gemblengan, seorang pertapa, seorang ahli kebatinan, seorang yang sudah sadar akan hidup, akan tetapi sepak terjangmu seperti iblis. jahanam! Mengandalkan kepandaianmu yang terkutuk, engkau telah menyiksa dan menghina para cantrikku. Jelas bahwa engkau yang hendak mencari kesempurnaan batin, telah tersesat ke lembah kejahatan dan kehinaan, engkau diperalat iblis"

Teringat akan cantrik-cantriknya yang menjadi tuli oleh perbuatan kejam cekel ini, Bhagawan Rukmoseto menerjang maju dengan terkaman dahsyat, menghantam dengan gerakan Bayu Tantra dan pukulan tangan mengandung Aji Pethit Nogo yang dahsyatnya bukan kepalang itu.

"Syuuuuuutt... wuttt...!!"

Kalau saja hantaman ini mengenai kepala sang Cekel, betapapun saktinya, tentu akan mendatangkan akibat yang mengerikan.

Biarpun Cekel Aksomolo seorang gemblengan yang sakti mandraguna, kebal nora tedas tapak paluning pande sisaning gurindo (tak termakan senjata gemblengan pandai besi dan bekas asahan), namun agaknya ia tidak akan kuat menerima pukulan Aji Pethit Nogo yang dilakukan oleh Sang Bhagawran Rukmoseto!

Untung bahwa kakek tua renta ini masih belum kehilangan kewaspadaan mengenal pukulan ampuh dan masih berhasil menyelamatkan dirinya dengan melempar diri terjengkang ke belakang sehingga punggungnya menyentuh tanah, lalu bergulingan jauh sambil memutar tasbih di atas kepalanya.

Malang baginya, ketika bergulingan itu, ia tidak melihat bahwa ia menuju ke arah tanah selokan, yaitu tempat mengalirnya air dari belakang pondok sehingga tubuhnya lenyap masuk ke dalam selokan yang kurang lebih setengah meter dalamnya.

"Adoouuh, sial dangkalan awakku...!"

La menyumpah-nyumpah sambil melompat bangun. Muka dan sebagian pakaiannya kotor terkena lumpur.

"Ki Warok dan Ki Krendoyakso! Kalian ini benggolan-benggolan besar, tadi dipukul di luar jendela sampai terguling-guling, apakah diam saja tidak berani membalas?"

Dasar Cekel Aksomolo orangnya cerdik dan licik.

Persis seperti watak Bhagawan Durna dalam cerita pewayangan Mahabarata.

Begitu ia melihat sambaran pukulan Pethit Nogo yang sedemikian dahsyatnya, ia maklum bahwa Bhagawan Rukmoseto merupakan lawan yang amat tangguh.

Karena itu ia memancing kemarahan dua orang kawannya itu agar maju lebih dulu sehingga ia nanti dapat maju membantu sehingga keadaannya akan lebih menguntungkan, tidak langsung berhadapan dengan lawan tangguh itu!

Ki Warok Gendroyono dan Ki Krendoyakso keduanya adalah orang-orang kasar tidak pandai menggunakan pikiran dan wawasan, hanya menurutkan hati.

Maka mendengar ejekan Cekel Aksomolo, seketika mereka menjadi marah sekali.

Ki Krendoyakso lalu melompat dan mengayun senjata penggadanya Wojo Ireng yang besar dan amat berat sambil membentak.

"Rukmoseto, lihat senjataku! Pegah dadamu kalau lengah sedikit saja!"

Ia mengayun senjatanya yang mengeluarkan angin bersiutan.

Adapun Ki Warok Gendroyono juga sangat marah, tidak mau kalah dengan kawannya ini.

Ia sudah memutar-muthr kolor ajimatnya Ki Bandot sehingga tarepak sinar bergulung-gulung dan memperdengarkan suara seperti kitiran tertiup angin kencang.

la maju dan sesumbar.

"Bersiaplah untuk mampus, Rukmoseto! Sedikit kurang cepat, akan remuk kepalamu!"

Memang dahsyat terjangan kedua orang raksasa ini.

Penggada Wojo Ireng di tangan Ki Krendroyakso adalah sebuah senjata yang berat, terbentur sedikit saja oleh senjata seberat ini pada dada, benar-benar dapat mernbuat dada pecah dan patah-patah tulang iganya.

Juga senjata di tangan Ki Warok Gendroyono, sungguhpun hanya sehelai kolor (Pengikat celana dalam), namun bukan kolor sembarang kolor!

Kolor ajimat yang dinamai Ki Bandot, mempunyai daya ampuh menggiriskan hati karena sabetan kolor ini mampu membikin hancur batu karang yang keras.

Apalagi seorang manusia.

Tidaklah terlalu berlebihan sumbarnya tadi.

Memang kurang cepat sedikit saja mengelak, kepala akan bisa remuk!

Akan tetapi Bhagawan Rukmoseto adalah seorang sakti yang memiliki Aji Bayu Tantra, yang membuat tubuhnya dapat bergerak cepat sekali, berkelebat laksana bayu (angin).

Bahkan ilmunya ini memungkinkan sang bhagawan berkelebat dengan tubuh ringan seperti sehelai daun kering, dapat bergerak menyelinap di antara hantaman penggada raksasa dan kolor maut!

Bahkan kecepatan gerakannya membuat Bhagawan Rukmoseto begitu berkelebat mengelak lalu balas menyerang dengan pukulan Pethit Nogo, Kedua lengannya dikembangkan dan jari-jari tangannya yang ampuh itu menampar ke arah kepala Ki Warok Gendroyono dan dada Ki Krendoyakso.

Jangan dipandang remeh tamparan jari tangan kedua telapak tangan Bhagawan Rukmoseto ini.

Itulah Aji Pethit Nogo (Ekor Naga) yang ampuhnya menggila, agaknya sama ampuhnya dengan ajl pukulan Bajra Musti ditangan Raden Gatutkaca dalam cerita pewayangan.

Untung bahwa Ki Warok dan kepala rampok Bagelen itupun bukan manusia manusia lumrah!

Betapapun cepat dan dahsyatnya datangnya kedua tamparan tangan Bhagawan Rukmoseto, mereka masih dapat melompat ke be lakang sambil menyambut tangan kanan kiri lawan itu dengan senjata mereka.

Luar biasa hebatnya akibat pertemuan kedua tangan dengan kedua senjata itu.

Daun-daun di atas pohon terdekat rontok berhamburan.

Burung-burung terbang bercuitan, kaget dan takut.

Tanah terasa guncang seperti terjadi gempa bumi!

Ki Warok Gendroyono terhuyung-huyung mundur dengan tangan kanan menggigil dan kolor mautnya lemas.

Ki Krendoyakso terpelanting pula ke belakang dan hampir saja penggada Wojo Ireng mencium tengkoraknya sendiri.

Namun Bhagawan Rukmoseto juga terkena akibat benturan dahsyat seperti benturan ombak Segoro Kidul menghantam karang itu.

Kakek inipun terpental dan terhuyung ke belakang, mukanya agak pucat namun kedua lengannya tidak terluka.

Betapa sakti kakek ini dapat diukur dari benturan kedua tangan melawan dua senjata yang ampuh itu.

Kesempatan selagi Bhagawan Rukmoseto terhuyung ini dipergunakan oleh Cekel Aksomolo.

Kakek tua renta yang cerdik ini segera maklum bahwa keadaan lawan itu sedang amat buruk, maka secepat kilat ia mengeluarkan pekik kemenangan sambil melompat dan menerjang dengan tasbihnya diputar di atas kepala lalu ditimpakan ke atas kepala lawan.

Mendengar suara berkeretik aneh dan merasai sambaran angin pukulan dahsyat yang mengandung pengaruh mujijat seakan-akan urat syarafnya tersentuh getaran aneh, Bhagawan Rukmoseto terk"jut.

Ia maklum bahwa kakek tua renta ini benar-benar amat sakti, dan senjata tasbihnya itu ampuhnya menggila.

Maka ia tidak berani menerima dengan tangannya, bahkan lalu rnenggulingkan tubuh ke kiri terus mengayun, kaki berjungkir balik dengan gerakan indah sekali.

"Ho-ho-ho-ho, jangan lari. Belum busik (lecet) kulitmu sudah mau lari? Cih, tak bermalu!"

Cekel Aksomolo mengejek dan menyombong sambi mengejar.

Karena Bhagawan Rukmoseto melompat ke dekat Ki Krendroyakso yang sudah dapat menguasai dirinya lagi, tanpa berkata apa-apa kepala rampok Bagelen ini sudah mengayun penggadanya, sekuat tenaga ia menghantam kepala lawan.

Dari arah lain, Ki Warok Gendroyono juga sudah rnengayun kolor mautnya menghantam ke arah lambung!

Memuncak kemarahan Bhagawan Rukmoseto.

Ia mengeluarkan pekik yang aneh, jari-jari tangannya bergetar-getar mengeluarkan tenaga sakti yang dahsyat sekali ketika ia gerakkan.

Dibarengi benturan keras tangan kirinya menyambut penggada Wesi Ireng.

"Desss!!"

Ki Krendoyakso terpekik kesakitan.

Hampir saja ia melepaskan penggadanya.

Ia dapat bertahan dan penggada itu tidak sampai terlepas, namun ia melompat ke belakang dan tangan kanannya sengkleh (lumpuh) sementara, penggadanya diseret karena tidak kuat lagi mengangkatnya.

Tulang tangan kanannya serasa remuk-remuk karena tadi dihantam oleh hawa sakti Pethit Nogo yang menjalar dari penggada sampai tangan dan lengannya!

Pada saat itu, beberapa detik kemudian, kolor di tangan Ki Warok Gendroyono tiba, mengancam lambung.

Namun Bhagawan Rukmoseto yang sudah marah itu menyambut dengan tangan kanannya, juga sambil memekik keras.

"Desss!"

Ki Warok Gendroyono mendelik matanya, mukanya pucat ketika tubuhnya terpental melayang ke belakang seperti layang-layang putus talinya.

Pertemuan kolor mautnya dengan tangan sakti itu membuat perutnya serasa dihimpit gunung, membuat ia sukar bernapas.

Hawa sakti yang menerobos melalui kolor ke perutnya benar-benar hebat bukan main sehingga untuk melepaskan diri dari bahaya, ia cepat-cepat membuka kolornya dan hampir saja celananya terlepas kalau ia tidak cepat-cepat teringat dan memegangi celananya sambil terengah-engah!

Biarpun ia sudah berhasil mengundurkan dua orang lawan, namun harus diakui diam-diam oleh Bhagawan Rukmoseto bahwa dua kali tangkisan tadi telah membuat dadanya terasa sesak dan kedua tangannya agak nyeri.

Celakanya, sebelum ia sempat bernapas, tasbih Cekel Aksomolo yang mengeluarkan suara tidak sedap itu sudah menyambar lagi, mengarah kepalanya dengan gerak melingkar-lingkar aneh dan sukar dielakkan.

Sudah kepalang, pikir sang bahagawan, biar kucoba tenaga kakek menjemukan ini.

"Mundur...!"

Teriak Bhagawan Rukmoseto sambil menangkis tasbih itu dengan kedua tangannya, mengerahkan seluruh tenaganya sambil menahan napas.

"Plakkk!!"

Tidak begitu keras pertemuan antara tasbih dan dua telapak tangan itu, namun kehebatannya melebihi adu tenaga dengan kolor dan penggada tadi.

Bhagawan Rukmoseto seperti terdorong mundur yang memaksa kakinya melangkah ke belakang, dadanya makin sesak dan pusarnya panas sekali.

Juga Cekel Aksomolo terpelanting ke belakang, jatuh terduduk sambil memegangi tasbih di atas kepala, napasnya ngos-ngosan seperti lokomotip mogok dan matanya merem melek seperti orang terheran-heran!

Baru saja Bhagawan Rukmometo dapat menguasai keseimbangan tubuhnya, dari depan berkelebat dua sosok tubuh yang ramping dan tercium olehnya bau harum sedap yang menusuk hidung, disusul suara tertawa terkekeh dari kiri dan suara mengejek dari kanan, suara merdu wanita.

"Rukmoseto, kau mampus di tangan kami!"

Maklum bahwa bahaya maut mengancamnya dari kanan kiri, Rukmoseto lalu menggerakkan kedua lengannya, didorongkan ke depan untuk menyambut pukulan yang dilakukan oleh Ni Durgogini dan Ni Nogogini.

Biarpun kedua wanita ini hanya orang-orang wanita dengan tangan yang kecil, namun daya pukulannya tidak kalah hebat dan bahayanya dibandingkan dengan teman-temannya.

Bhagawan Rukmoseto merasa betapa kedua telapak tangannya yang terbuka itu bertemu dengan dua kepalan tangan yang kecil, lunak dan halus.

Akan tetapi tubuh Bhagawan Rukmoseto menggigil ketika ia merasa betapa tubuhnya terserang dua tenaga dahsyat yang berlawanan.

Yang kanan mengandung hawa dingin melebih air puncak Gunung Mahameru keluar dari kepalan tangan Ni Nogogini, adapun yang kiri keluar dari tangan Ni Durgogini mengandung hawa panas melebihi kawah Gunung Bromo!

Tergetar tubuh Bhagawan Rukmoseto dan tak tertahan lagi ia terdorong mundur sampai empat meter lalu jatuh terduduk, bersila dengan punggung tegak lurus juga kedua orang wanita sakti itu sejenak merasa seakan-akan tangan mereka lumpuh ketika bertemu dengan tangkisan tangan sang bhagawan yang tadi mengerahkan Aji Pethit Nogo.

Akan tetapi segera mereka dapat menguasai dirinya dan melancarkan pukulan jarak jauh dengan kepalan tangan mereka.

Sang Bhagawan Rukmoseto atau Resi Bhargowo maklum bahwa keadaannya terdesak dan berbahaya karena kelima orang lawannya itu benar-benar merupakan lawan yang tangguh.

Juga ia tahu bahwa Jokowanengpati, biarpun masih muda, namun telah mewarisi ilmu kepandaian kakaknya, Sang Empu Bharodo yang sakti mandraguna.

Maka ia lalu mengerahkan seluruh ajinya, memusatkan panca indra, menyalurkan seluruh hawa sakti dari pusat ke arah kedua lengannya yang menggetar hebat, lalu ia mendorongkan kedua lengan itu dengan telapak tangan terbuka, jari-jari menegang.

Hebat bukan main keadaan Bhagawan Rukmoseto pada saat itu.

Aji Pethit Nogo telah ia keluarkan sepenuhnya.

Jari-jari kedua tangannya seakan-akan mengeluarkan cahaya dan tenaga mujijat terpancar keluar dari sepuluh jari itu, meluncur ke depan.

Ni Nogogini dan Ni Durgogini terpekik kaget ketika mereka merasa betapa tenaga pukulan jarak jauh yang mereka lancarkan itu tertumbuk dan membalik.

Hampir saja mereka celaka, terserang tenaga sendiri yang membalik kalau saja pada saat gawat itu Ki Krendoyakso dan Cekel Aksomolo tidak membantu mereka.

Dua orang sakti inipun mengeluarkan aji pukulan jarak jauh, dengan tangan kiri miring di depan dada, tangan kanan diangkat ke atas kepala dan meluncurlah tenaga pukulan mereka ke depan, menyambut cahaya yang keluar dari kedua tangan Bhagawan Rukmoseto.

Ki Warok Gendroyono yang tadi kedodoran celananya, kini sudah dapat membereskan celananya.

Ia marah sekali, dan melihat kini pendeta itu bersila dan melayani serangan empat orang lawannya dengan pukulan jarak jauh, ia menjadi tidak sabar.

Diputarnya kolor mautnya dan ia meloncat ke depan hendak menghantam kepala kakek yang sedang bersila itu dengan keyakinan sekali pukul akan menghancurkan kepala lawan.

"Ki Warok, hati-hati...!"

Seru Jokowanengpati memperingatkan.

Namun terlambat.

Ki Warok Gendroyono sudah menyerbu ke depan dan mengayun kolornya, akan tetapi sebelum kolor itu dapat menyentuh kepala Bhagawan Rukmoseto, Ki Warok menjerit dan tubuhnya melayang seperti dilontarkan tenaga dahsyat, roboh menimpa batu karang dan pingsanlah gegedug (pentolan) Ponorogo ini!.

Pertandingan adu hawa sakti antara Bhagawan Rukmoseto dan empat orang lawannya berlangsung terus dengan hebatnya.

Tubuh bhagawan itu duduk dengan tegak lurus, wajahnya penuh wibawa, kedua lengannya yang dilonjorkan ke depan dengan kedua tangan terbuka itu membayangkan kekuatan gaib yang meluncur ke depan.

Kedudukannya kokoh kuat seperti batu karang yang berdiri di sebelah kiri ia duduk bersila.

Pada saat itu, segenap hawa sakti di tubuhnya terkumpul ke dalam kedua lengannya, seluruh panca indera dipusatkan, melawan hawa sakti yang keluar dari tangan keempat orang lawannya.

Ki Krendoyakso, Cekel Aksomolo, Ni Durgogini dan Ni Nogogini adalah empat orang sakti yang telah memiliki kepandaian luar biasa.

Dalam hal aji kesaktian dan tenaga murni dalam tubuh, kiranya mereka berempat itu masing-masing telah mencapai tingkat yang tidak banyak selisihnya dengan Bhagawan Rukmoseto.

Namun harus diakui bahwa hawa sakti di tubuh mereka tidaklah murni lagi.

Mereka itu empat orang yang masih jauh dari pada mampu menguasai diri pribadi dan nafsu.

Bahkan seringkali mereka itu dipermainkan dan diperhamba nafsu.

Kedua wanita cantik itu dan Cekel Aksomolo seringkali diperhamba nafsu berahi sehingga untuk memusatkan hasrat nafsu ini, mereka rela menghamburkan hawa yang murni hanya untuk mencapai kepuasan dan kenikmatan badani.

Adapun Ki Krendoyakso, berbeda pula caranya mengumbar nafsu setannya.

la terjerumus ke dalam ilmu hitam, ilmu iblis yang membuat ia mengambil cara yang menjijikkan dan mengerikan dalam usahanya mengejar kesaktian, di antaranya dengan makan daging dan minum darah bayi!

Memang ia berhasil mempertahankan ilmu hitamnya, namun tanpa disadarinya ia kehilangan hawa murni yang timbul dari kemurnian batin, kebersihan pikiran dan perasaan.

Ilmu barulah bersih murni apabila dilandasi kebajikan.

Sebaliknya ilmu menjadi ilmu hitam apabila diperhamba nafsu-nafsu jasmani.

Dalam pertandingan mati-matian itu, barulah terbukti bahwa Bhagawan Rukmoseto yang berbatin bersih kuat itu mampu menahan pengeroyokan empat orang sakti.

Mereka berempat bahkan mulai menggigil lengannya, menjadi pucat wajahnya.

Padahal Bhagawan Rukmoseto masih duduk bersila tegak lurus, kedua lengannya sama sekali tidak bergoyang, dan dari kedua telapak tangannya seakan-akan keluar cahaya putih yang makin bersinar.

Jokowanengpati menyesal ketika melihat betapa Warok Gendroyono roboh oleh kelancangannya sendiri.

Alangkah bodohnya, pikir orang muda ini.

Sebagai murid seorang sakti seperti Empu Bharodo, tentu saja ia maklum betapa berbahaya menyerang seorang yang sedang mengerahkan hawa murni seperti sang bhagawan itu, dengan pukulan langsung.

Dalam keadaan seperti itu, tubuh depan sang bhagawan seakan-akan tertutup oleh aliran tenaga tak tampak yang luar biasa kuatnya.

Jokowanengpati mungkin tak setinggi Ki Warok Gendroyono kepandaiannya, akan tetapi sudah pasti ia lebih cerdik.

Diam-diam ia mengambil penggada Wesi Ireng milik Ki Krendoyakso yang terletak di atas tanah karena oleh pemiliknya memang dilepaskan agar lebih leluasa ia mengadu tenaga dalam membantu teman-temannya.

Kemudian Jokowanengpati menyelinap dan dengan jalan memutar ia mengelilingi tempat itu, muncul keluar dari balik batu karang di sebelah kiri Sang Bhagawan Rukmoseto.

Kemudian, setelah memperhitungkan sejenak, ia melompat dengan pengerahan Aji Bayu Sakti sehingga tubuhnya mencelat ke depan dengan amat cekatan, penggada Wesi Ireng di tangan kanannya diayun ke bawah, menghantam belakang kepala Sang Bhagawan Rukmoseto, di atas tengkuk, di belakang telinga kanan.

"Prakkkk!!"

Sang Bhagawan Rukmoseto sedang memusatkan seluruh panca indera kepada empat orang lawannya di depan.

Perhatiannya tercurah sepenuhnya dan tenaga murninya disalurkan ke depan, tentu saja bagian belakang sama sekali tidak terjaga.

Pukulan itu hebat sekali, disertai tenaga seorang muda sakti dan dilakukan dengan senjata Wesi Ireng yang ampuh dan mujijat, mengenai bagian yang amat lemah dan penting.

Seketika Sang Bhagawan Rukmoseto terguling dan terjungkal ke depan, rebah telentang tak mampu bergerak lagi, kedua matanya terpejam dan dari telinga, hidung dan ujung bibir menetes darah!.

"Ha-ha-ha! Akhirnya penggadaku yang berjasa!"

Kata Ki Krendoyakso sambil menerima kembali penggadanya.

"Kalau mau bicara tentang jasa, kita semua berjasa, akan tetapi yang paling besar jasanya adalah si Joko!"

Kata Durgogini yang memegang tangan kanan Jokowanengpati, tersenyum dan mengeriing penuh cumbu rayu dan mendekap tangan itu ditempelkan ke pipinya.

Memang sudah bukan rahasia lagi bahwa Jokowanengpati menjadi kekasih tetap iblis betina Girilimut ini.

"Uuuh-huh-huh, kacau... kacau... urusan menjadi rusak berantakan dan kalian masih memperebutkan jasa? Loleee... loleee... bagaimana baiknya sekarang? Kita diutus merampas pusaka, sekarang yang kita dapatkan hanya bangkai seorang bhagawan tua bangka yang tak berguna!"

"Si keparat Rukmoseto ini yang keras kepala menggagalkan semua rencana. Belum puas aku kalau belum..."

Ki Warok Gepdroyono yang kini sudah bangkit dan masih belum hilang kemarahannya karena tadi roboh, kini melangkah maju sambil memutar kolor maut, ingin melampiaskan kemarahannya dengan menghancurkan tubuh lawan yang sudah tak berdaya itu.

Teman-temannya hanya memandang dengan acuh tak acuh.

Akan tetapi tiba-tiba Ki Warok Gendroyono mengeluarkan seruan marah, juga lima orang temannya memandang dengan mata terbelalak kaget dan tidak percaya ketika melihat apa yang terjadi.

Ki Warok Gendroyono telah mengayun kolor mautnya menghantam ke arah kepala tubuh yang sudah menggeletak telentang tak berdaya itu.

Akan tetapi sungguh ajaib.

Kolornya tak dapat menyentuh kepala sang bhagawan karena tiba-tiba membalik seperti ada yang menangkisnya!

Ki Warok Gendroyono tentu Raja merasa heran, juga amat penasaran dan marah.

Kalau tadi selagi sang bhagawan masih segar, ia tidak mampu mengalahkannya, hal itu tidaklah terlalu membuat hati penasaran karena memang Sang Bhagawan Rukmoseto amat sakti.

Akan tetapi kini pendeta itu sudah mati tentu sedikitnya sudah sekarat atau pingsan.

Bagaimana kolor mautnya tidak dapat menyentuh orang yang rebah tak bergerak ini?.

Ki Warok mengeluarkan suara gerengan keras, kolornya diputar-putar sampai mengeluarkan suara angin mendesir, kemudian ia hantamkan ke arah dada Bhagawan Rukmoseto.

"Wettt!"

Kembali kolor itu membalik, bahkan kini lebih keras daripada tadi, karena Ki Warok menggunakan tenaga lebih besar.

Saking marah dan penasaran, Ki Warok kembali menghantam, kini mengerahkan seluruh tenaga dan akibatnya ia sendiri terguling roboh.

Untung ia tadi cepat menggulingkan tubuh karena kolor itu membalik dengan tenaga demikian dahsyat sehingga kalau ia tidak cepat merobohkan diri, tentu kepalanya sendiri yang dihantam senjatanya!

la melompat bangun dan mukanya menjadi pucat.

Terdengar gerengan keras ketika Ki Krendoyakso melompat ke depan.

la juga merasa penasaran sungguhpun hatinya agak gentar.

Kalau tadi ketika Bhagawari Rukmoseto masih segar bugar, bhagawan itu tidak mampu mengalahkan mereka, mana mungkin setelah roboh kini malah lebih digdaya lagi?

Ataukah temannya, Ki Warok Gendroyono yang kehilangan kesaktiannya?

Barangkali kolornya itu kini tidak ampuh lagi?

Karena penasaran ia lalu melompat sambil menggerakkan penggadanya, dipukulkan sekerasnya ke arah kepala Sang Bhagawan Rukmoseto.

"Syuuuutttt!"

Akibatnya, raksasa tinggi besar ini terpekik dan penggadanya membalik, bahkan terlepas dari tangannya ia sendiri terhuyung ke betakang dengan wajah pucat.

Jelas ia merasai tadi betapa penggadanya bertemu dengan sesuatu yang mengandung tenaga luar biasa sekali.

Hanya dengan susah payah Ki Krendoyakso mampu menahan kakinya dan berdiri terbelalak.

Benarkah pertapa yang sudah telentang payah itu masih mempunyai kedigdayaan seperti itu?.

Melihat ini, Cekel Aksomolo, Ni Durgogini dan Ni Nogogini bersiap-siap dan sudah melangkah maju mendekati tubuh Bhagawan Rukmoseto yang sudah tak bergerak-gerak itu.

Mereka bersikap waspada dan hati-hati karena siapa tahu, dalam sakratul mautnya, sang bhagawan itu memiliki aji kesaktian mujijat yang dapat mencelakakan lawan.

Pada saat itu terdengar suara orang ketawa.

Suara itu menggeledek dan bergema di seluruh pulau, mengandung getaran yang mengguncangkan isi dada dan, amat berwibawa.

"Ha-ha-ha-haha!! Tiga ekor anjing tua Bangka berpenyakitan, dua ekor anjing betina, yang denok, dan seekor kirik (anak anjing) licik mengeroyok seorang pertapa. Ramai, lucu dan menyebalkan!"

Semua orang menengok dan tampaklah sorang kakek tinggi besar, dari rambut kepala sampai ke kakinya tampak besar dan kokoh kuat, kulitnya hitam mengkilap, rambutnya sudah penuh uban, terbungkus kain berwarna ungu kehitaman, Jenggotnya tebal sekepal sebelah, matanya terbelalak melotot lebar bundar namun mengeluarkan cahaya yang tajam seperti kilat menyambar-nyambar.

Tangan kiri kakek itu menggandeng seorang anak perempuan berusia sebelas tahun.

Mereka ini bukan lain adalah Dibyo Mamangkoro dan Endang Patibroto.

"Uuh-huh-huh, selamat bertemu dan terimalah saya, adinda Dibyo Mamangkoro... tidak nyana tidak kira, dapat bertemu dengan adinda di tempat ini huh-huh! Angin buruk... eh, angin baik apa yang meniup adinda senopati datang ke tempat ini...!"

"Huah-ha-ha-ha! Cekel, kau makin lama makin mirip Bhagawan Durno, ha-ha-ha!"

Ki Warok Gendroyono dan Ki Krendoyakso yang mendengar nama ini, terhenyak kaget di tempat masing-masing, tidak berani berkutik.

Juga Ni Durgogini dan Ni Nogogini terkejut.

Kemudian dengan senyum-senyum memikat kedua orang wanita ini melangkah maju mendekati Dibyo Mamangkoro.

Ni Durgogini berkata, suaranya merdu seperti orang bertembang.

"Aduhh, kiranya andika ini sang sakti Dibyo Mamangkoro?"

Mata Ni Durgogin memandang penuh kekaguman.

"Sudah bertahun-tahun mendengar nama Senopati Dibyo Mamangkoro yang sakti seperti dewa, banteng Kerajaan Wengker...!"

Ni Nogogini jugs berkata, dengan suara yang tidak kalah merdunya.

Akan tetapi ketika mereka berdua sudah tiba dekat, tangan kedua wanita ini menjangkau maju dan hendak meraba kanan kiri lambung yang tak tertutup baju itu.

Bukan sembarang meraba, sama sekali bukan dengan maksud membelai karena tangan kedua orang wanita itu mengandung tenaga mujijat yang akan menghancurkan isi perut!

Dibyo Mamangkoro tertawa bergelak, melepaskan tangan Endang Patibroto, dan entah bagaimana, sekali kedua tangannya bergerak, ia telah menangkis uluran tangan kedua wanita itu dan di lain saat Ni Durgogini dan Ni Nogogini sudah berada dalam pondongan kedua lengannya!

Dibyo Mamangkoro kelihatan gembira sekali, mengangkat kedua wanita itu sampai muka mereka dekat dengan mukanya, kemudian ia berpaling ke kanan kiri menciumi pipi dua wanita sakti yang ayu, ini.

"Sengok! Sengok! Sengok! Sengok!"

Ciuman hidung ke pipi itu menimbulkan suara nyaring, disusul suara tawanya terbahak.

"Ha-ha-ha, aku merasa menjadi Yuyu-kangkang yang mengambungi Kleting Abang dan Kleting Biru. Ha-ha-ha Sengok! Sengok!" (Lanjut ke

Jilid 15) Badai Laut Selatan (Seri ke 03 Serial Serial Keris Pusaka Sang Megatantra) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo

Jilid 15 Wajah kedua orang wanita itu menjadi merah padam.

Kumis sekepal sebelah itu rambutnya kasar-kasar seperti serat kelapa, dan baunya apak.

Akan tetapi mereka berdua tidak berani bergerak lagi.

Mereka sudah lama mendengar akan nama Dibyo Mamangkoro yang dikabarkan sakti mandraguna, senopati dari Kerajaan Wengker, tangan kanan Sang Prabu Bokoraja yang seperti iblis di Kerajaan Wengker itu.

Raja yang disohorkan amat keji dan menakutkan, paling suka makan daging kanak-kanak, akan tetapi yang mempunyai kesaktian menggemparkan jagad mengguncang langit.

Hanya karena kalah oleh puteranya sendiri sajalah Sang Prabu Boko dapat ditewaskan dan tentu saja semua ini terjadi karena kebesaran Sang Prabu Airlangga yang memancarkan sinar kekuasaan ke seluruh daerah Mataram.

Ketika terjadi perang, tidak ada senopati Medang yang dapat menandingi amukan Dibyo Mamangkoro ini.

Hanya setelah Ki Patih Narotama sendiri yang cancut taliwondo turun tangan terjun ke medan laga, baru Dibyo Mamangkoro bertemu tanding yang setingkat.

Dikabarkan betapa kedua senopati ini bertanding sampai dua hari dua malam.

Akhirnya Dibyo Mamangkoro harus mengakui keunggulan Ki Patih Narotama, tidak kuat menandingi kedigdayaannya, lalu melarikan diri, meninggalkan Ki Patih yang juga menderita luka-luka dalam pertandingan paling dahsyat yang pernah ia alami.

Semenjak kehancuran Kerajaan Wengker, orang tidak mendengar lagi tentang Dibyo Mamangkoro.

Namun namanya masih menjadi buah percakapan mereka yang suka akan ilmu kesaktian, karena selain Sang Prabu Airlangga dan Ki Patih Narotama, agaknya sukar mencari tokoh yang sanggup menandingi Dibyo Mamangkoro.

Siapa sangka, secara aneh dan tiba-tiba sekali Dibyo Mamangkoro muncul di Pulau Sempu pada saat yang demikian gawat dan pentingnya, di saat para utusan Pangeran Anom hendak merampas pusaka Mataram yang hilang.

Timbul kekhawatiran di hati Ni Durgogini dan Ni Nogogini tadi bahwa orang yang tersohor ini hendak merampas pusaka pula.

Mereka sudah mendengar nama besar Dibyo Mamangkoro, akan tetapi belum pernah berjumpa dan belum pernah menyaksikan kedigdayaannya.

Oleh karena itulah tadi mereka mencoba-coba dan hasilnya benar-benar amat memalukan mereka.

Dengan mudah akan tetapi aneh sekali mereka ditangkap, dipondong dan diambungi!.

Mereka sebagai orang-orang sakti maklum bahwa tingkat kepandaian kakek aneh ini lebih tinggi daripada tingkat mereka, maklum pula bahwa kalau mereka menyerang lagi, mungkin mereka akan mengalami hal yang lebih hebat.

Maka mereka diam saja, diambungi juga tidak berani berkutik!.

Melihat betapa kakek yang menjadi gurunya itu mengambungi dua orang wanita cantik sehingga terdengar suara ngak-ngok-ngak-ngok, Endang Patibroto merasa muak.

Muak akan perbuatan kakek itu.

Biarpun ia masih kecil, baru berusia sebelas tahun, namun naluri kewanitaannya tersentuh oleh perbuatan yang melanggar susila ini.

la kecewa dan marah, karena betapapun juga, kakek itu sudah menjadi gurunya.

Melihat perbuatan gurunya ini, diam-diam ia ikut merasa malu.

Tanpa disadarinya ia mencela.

"Ihhh, menjijikkan dan memalukan...!"

Sambil tertawa-tawa, Dibyo Mamangkoro menoleh ke arah Endang Patibroto, kemudian ia menggerakkan kedua lengannya dan tubuh Ni Durgogini dan Ni Nogogini terlempar ke depan sampai tujuh delapan meter jauhnya.

"Hua-ha-ha-ha, pergilah, Nini. Keringat kalian mulai tak sedap, dan muridku muak melihat permainan kita. Juga kulihat kirik licik itu melotot matanya, hatinya penuh iri dan cemburu. He, kirik licik, apakah engkau kekasih kedua orang siluman betina itu?"

Ucapan itu ditujukan kepada Jokowanengpati yang sejak tadi memang sudah marah sekali.

Melihat betapa kakek yang baru datang dan amat sombong ini menghina Ni Durgogini, ia tak dapat menahan kemarahannya.

la tidak mengenal dan belum pernah mendengar nama Dibyo Mamangkoro.

la dapat menduga bahwa kakek ini tentu sakti, akan tetapi karena di situ terdapat teman-temannya yang kesemuanya adalah orang-orang berilmu tinggi, hatinya menjadi besar dan sambil mengeluarkan seruan keras tubuh Jokowanengpati melompat ke depan dengan Aji Bayu Sakti, tangannya bergerak melancarkan pukulan Siyung Warak.

"Joko, jangan...!!"

Ni Durgogini menjerit penuh kekhawatiran, namun terlambat karena tubuh Jokowanengpati sudah melayang ke arah Dibyo Mamangkoro.

Hebat serangan itu, dahsyat bukan main Biarpun masih muda, Jokowanengpati adalah murid Empu Bharodo, bahkan bekas murid yang terkasih.

Di samping ini, iapun menerima banyak petunjuk dari Ni Durgogini yang menariknya sebagai kekasih.

Gerakannya cepat laksana burung srikatan dan pukulannya antep seperti terjangan seekor badak.

Dibyo Mamangkoro yang berdiri sambil merangkul pundak muridnya dengan tangan kiri, tidak mengelak melihat serangan ini, hanya tersenyum dan berkata.

"Muridku, kau saksikan baik-baik gerakanku!"

Ketika tubuh Jokowanengpati dan terjangannya tiba, Dibyo Mamangkoro hanya mengangkat lengan kanannya yang besar, tangannya digerakkan secara aneh dan hebat kesudahannya!

Jari-jari tangan kanan itu selain berhasil menangkis pukulan kedua tangan Jokowanengpati, juga sempat menyentil kedua tulang pundak Jokowanengpati sehingga terlepas sambungan Kedua tulang pundaknya, kemudian tangan itu masih dapat menerkam bahu di bagian dada lalu melontarkan tubuh itu ke atas!.

Jokowanengpati mengeluarkan teriakan ngeri dan matanya terbelalak Saking heran dan kaget bercampur takutnya.

Tubuhnya tak tertahankan lagi melayang ke atas berputaran, kadang-kadang kepala di atas kadang-kadang di bawah, terus melayang ke atas dan akhirnya temangsang (tertahan) di puncak pohon randu alas yang tumbuh di dekat tempat itu!

Cepat-cepat ia merangkul cabang-cabang pohon dengan kedua tangan dan kakinya, karena kedua tangannya tidak bertenaga lagi, lumpuh setelah sambungan tulang pundaknya terlepas.

Ni Durgogini cepat-cepat lari ke pohon itu, melompat ke atas dan dengan cekatan ia menolong dan menurunkan tubuh Jokowanengpati.

Lega hatihya ketika orang muda itu duduk di atas tanah dan diperiksanya, ternyata hanya kedua pundak lepas sambungan tulangnya, tidak ada luka lain.

Dengan mudah saja ia dapat menyambungkan kembali tulang pundak dengan ramuan obat yang selalu dibawanya dalam kemben (ikat pinggang), yaitu obat-obat untuk menyembuhkan luka-luka, keracunan, dan patah tulang.

Dengan penuh kasih sayang Ni Durgogini mengurut-urut dan memijat-mijat pundak sambii menaruhkan obat.

"Hua-ha-ha-ha! Aku mendengar Gusti Pangeran Anom mempunyai banyak pembantu yang sakti. Kiranya hanya orang-orang macam ini! Hayo, siapa hendak mencoba lagi? Hayoh! Mumpung Dibyo Mamangkoro sedang gembira!"

"Huh-huh-huh, bagaimana ini...? Sial dangkalan benar, mencari perkara! Mencari penyakit! Ouhh, Adinda Senopati Dibyo Mamangkoro! Sudahlah sudah, siapa yang tidak tahu akan kesaktianmu? Sudahlah, kau ampunkan orang-orang muda yang tidak mengenal tingginya gunung dalamnya lautan! Kami adalah utusan Gusti Pangeran Anom, diutus menghukum si pemberontak Bhagawan Rukmoseto, sama sekali tidak diutus memusuhimu!"

"Pertapa bungkuk gudang penyakit, Kakang Cekel Aksomolo! Mulutmu sejak dahulu tetap bau, tak pernah berubah, tukang bohong tukang fitnah! Siapa tidak tahu kalian datang ke sini mencari pusaka Mataram yang hilang? Siapa tidak tahu engkau merobohkan Bhagawan Rukmoseto dengan keroyokan yang memalukan? Pergilah kalian semua, sebelum aku paksa kalian mengeroyokku!"

Sebetulnya, kalau saja enam orang itu maju bersama mengeroyoknya belum tentu mereka akan kalah oleh Dibyo Mamangkoro.

Betapapun saktinya Dibyo Mamangkoro, namun menghadapi pengeroyokan enam orang yang memang sakti itu, agaknya ia takkan dapat menang secara mudah.

Akan tetapi, sikap Dibyo Mamangkoro yang tabah dan memandang rendah ini, apalagi sepak terjangnya tadi, sudah menyempitkan nyali mereka.

Apalagi, jelas bahwa di dalam pondok tidak terdapat pusaka Mataram dan agaknya kalau dipikir-pikir, orang seperti Bhagawan Rukmoseto atau Resi Bhargowo ini tidak mungkin mau bicara bohong.

Agaknya memang patung pusaka Mataram itu tidak berada di pulau ini.

Untuk apa melibatkan diri dalam permusuhan dengan seorang digdaya seperti Dibyo Mamangkoro ini kalau sekiranya pusaka tidak berada di situ?.

"Uuh-huh, baiklah... baiklah...! kami pergi. Memang tugas kami sudah selesai. Mari kawan-kawan, kita kembali ke perahu. Uuhhh, sialan!"

Pergilah enam orang itu bersungut-sungut meninggalkan tempat itu, kembali ke pantai di mana perahu besar telah menanti mereka.

Setelah enam orang itu pergi, Dibyo Mamangkoro melangkah lebar ke pondok, kakinya menendang-nendang apa saja yang menghalang di depannya.

Bangku, meja, pedupaan dan Iain-lain.

Matanya mencari-cari.

Bahkan ketika kakinya diayun dan tangannya digerakkan, sisa pondok kecil itu terbang jauh ke belakang.

Endang Patibroto mendekati tubuh kakeknya yang terlentang di atas tanah.

Melihat kakek itu tak bergerak-gerak dari hidung, telinga dan ujung bibir keluar darah, matanya terpejam, Endang Patibroto kaget dan berduka sekali.

Ia mengira bahwa kakeknya tentu sudah tewas.

Diam-diam ia menggigit giginya dan dalam hati ia mencatat wajah enam orang tadi.

Akan tetapi ia tidak mau berlutut mendekati tubuh kakeknya, Endang Patibroto seorang anak yang luar biasa cerdiknya.

la maklum bahwa kakek sakti yang menjadi gurunya itu bukanlah sahabat baik kakeknya, karena itu tidak perlu ia menceritakan hubungannya dengan kakek yang menggeletak mati di situ.

Di samping kecerdikannya yang luar biasa, juga anak perempuan ini memiliki dasar hati yang keras, nyali yang tabah dan dengan mudah ia dapat menekan perasaan hatinya.

Sungguhpun hatinya seperti diremas melihat keadaan kakeknya, namun pada wajahnya yang agak pucat itu tidak terdapat tanda sesuatu!.

la menoleh ke arah Dibyo Mamangkoro yang masih mengamuk dan menendang-nendang sisa pondok, jelas mencari-cari.

"Kau mencari apakah, Eyang?"

Tanyanya, padahal di dalam hatinya anak ini dapat menduga bahwa gurunya itu tentu mencari patung kencana, patung pusaka Mataram yang menjadi bagian Joko Wandiro.

Tanpa disadannya, ia meraba gagang keris pusaka Brojol Luwuk yang terselip di pinggangnya, tertutup baju.

"Huh! Mencari apa? Mencari pusaka Mataram yang kabarnya hilang. Aku belum pernah melihatnya, Kabarnya pusaka Mataram itu berbentuk patung kencana berujut Sang Hyang Whisnu. Monyet-monyet tadipun datang untuk mencari benda itu. Agaknya memang tidak berada di tempat ini,"

"Patung kencana saja untuk apa sih, Eyang? Mari kita pergi saja dari sini. Aku tidak senang di sini!"

Endang Patibroto menggandeng tangan gurunya dan menarik-nariknya pergi dari situ.

Dibyo Mamangkoro tertawa-tawa, akan tetapi tidak membantah dan membiarkan dirinya ditarik-tarik.

Dia tidak tahu betapa perbuatan Endang Patibroto ini ada sebabnya, yaitu ketika anak itu tadi melihat tubuh kakeknya bergerak-gerak perlahan.

Setelah tiba di pantai, mereka melihat perahu layar besar itu sudah berlayar jauh, Dibyo Mamangkoro lalu menggendong muridnya, dan menyeberang ke darat dengan cara seperti tadi, yaitu dengan "Menunggang"

Mancung kelapa.

Memang betul apa yang dilihat oleh Endang Patibroto dan yang diduganya tadi.

Tubuh Sang Bhagawan Rukmoseto yang disangka orang telah tewas itu, bergerak-gerak perlahan.

Mula-mula kedua kakinya, lalu kedua tangannya, kemudian terdengar ia mengeluh perlahan, membuka matanya dan dengan gerakan lemah dan lambat ia berusaha bangkit.

Namun ia roboh kembali sehingga dagu dan pipinya menumbuk tanah.

Agaknya ini bahkan membuat ia sadar.

La mengeluh, mengejap-ngejapkan matanya, lalu berhasil bangkit dan duduk.

Ia memandang ke sekitarnya.

Sunyi.

Hanya terdengar suara ombak memberisik di pantai.

Ia menoleh ke belakang, ke arah pondoknya.

Sudah berantakan dan tidak ada pondoknya lagi, hanya tinggal bekas-bekasnya.

la menarik napas panjang.

"Ya Jagad Dewa Batara..., terjadilah kiranya segala kehendak Hyang Widi Wisesa!... Hamba masih diperkenankan hidup... untuk apa dan sampai kapan?"

La lalu bersila, mengheningkan cipta memusatkan pancaindera, setelah hening lalu diarahkan ciptanya mengumpul dan menghimpun semua hawa murni dalam tubuh, menyalurkannya ke arah belakang kepala untuk menyembuhkan luka pukulan yang sepatutnya menghancurkan kepalanya itu.

Sampai terasa panas seperti dibakar api dari dalam, nyeri bukan main!.

* * * Kita tinggalkan dulu Sang Bhagawan Rukmoseto yang secara ajaib atas kehendak yang Maha Kuasa, dapat terlepas dari ancaman maut itu.

Mari kita menengok dan mengikuti perjalanan Pujo bersama Kartikosari dan Roro Luhito.

Tiga orang ini menunggang kuda, pertama-tama mereka mencari kedua orang anak, yaitu Endang Patibroto dan Joko Wandiro di sekitar daerah pantai selatan.

Mereka naik turun gunung yaitu barisan Gunung Kidul yang membujur dari timur ke barat tiada berkeputusan.

Mereka keluar masuk hutan, ada kalanya harus meninggalkan kuda untuk menuruni tebing pantai yang amat curam dan yang tidak mungkin dapat dilakukan seekor kuda.

Namun hasilnya sia-sia belaka.

Kedua orang anak itu lenyap tanpa ada jejaknya, seakan-akan lenyap ditelan bumi.

Mulai gelisah hati Kartikosari yang kehilangan puterinya.

Alga Pujo muiai merasa khawatir kalau-kalau kedua orang anak itu tertimpa malapetaka.

Ia amat sayang kepada Joko Wandiro, apalagi setelah kini diketahui bahwa ayah Joko Wandiro sesungguhnya bukanlah musuh besar yang selama ini didendamnya.

Dan tentu saja ia ingin sekali bertemu dengan Endang Patibroto, anak kandungnya.

Untung bahwa di samping mereka terdapat Roro Luhito yang pandai sekali menghibur mereka.

Bahkan kadang-kadang wanita muda itu bertembang, suaranya merdu sekali, pandai berkelakar, wajahnya selalu riang dan sikapnya bebas sehingga puteri adipati ini kadang-kadang dapat menghibur mereka dan membuat suami-isteri itu tersenyum.

"Nimas Sari, kurasa untuk mencari anak kita dan muridku, kita membutuhkan bantuan banyak orang. Bagaimana kalau kita sekarang pergi ke Bayuwismo? Para cantrik kiranya. Akan dapat membantu kita. Pula, perlu kita menghadap bapa resi yang tentu amat sengsara hatinya oleh kepergian kita."

Kedua mata Kartikosari menjadi basah ketika ia teringat akan ayahnya. la mengangguk dan menjawab.

"Agaknya begitulah sebaiknya, Kakangmas Kita perlu mohon pengampunan dan petunjuk dari ayah."

"Akupun akan pulang ke Selopenangkep. Siapa duga bahwa kita sebenarnya adalah tetangga dekat! Jangan kalian khawatir, mari ikut aku ke Selopenangkep. Dengan pengerahan pasukan kadipaten untuk mencari jejak kedua orang anak itu, tentu akan dapat segera berhasil!"

"Terima kasih, Diajeng. Akan tetapi biarlah kita pergi dulu ke Bayuwismo menjenguk ayah seperti yang diusulkan kakangmas Pujo. Kalau perlu kelak, boleh saja kami menerima bantuanmu itu. Memang lebih banyak yang mencari lebih baik."

"Mari kita berangkat,"

Kata Pujo, memandang ke angkasa,"

Matahari sudah naik tinggi.

"Kalau kita mempercepat kuda, menjelang senja kita akan sampal di Bayuwismo."

Tiga ekor kuda meloncat ke depan lalu terdengar derap kaki mereka mernbalap ke arah barat.

Pujo berada di depan, tegap dan gagah perkasa.

Kartikosari di tengah dan Roro Luhito paling belakang.

Rambut kedua orang wanita cantik jelita ini berkibar tertiup angin.

Tepat seperti telah diperhitungkan oleh Pujo, lewat tengah hari sarnpailah mereka di Sungapan dan dari jauh sudah nampak pondok Bayuwismo.

Tiba-tiba Kartikosari berseru.

"Kakangmas, berhenti di sini!"

Pujo menahan kudanya dan mereka bertiga melompat turun. Tiga ekor kuda yang tubuhnya penuh keringat dan hidungnya berkembang-kempis terengah-engah itu dilepas.

"Mengapa, Nimas?"

Dengan terharu Kartikosari berkata.

"Sudah terlalu lama kita tidak pulang. Akan terlalu mengagetkan ayah kalau kita datang berkuda. Kasihan, ayah sudah tua..."

Wanita itu menahan isak, lalu dengan air mata membasahi pipi ia memandang Pujo, memaksa senyum.

"Hatiku terlalu gembira... melihat pondok itu... mari kita ke sana, Kakangmas. Diajeng Luhito, mari..."

Dengan wajah berseri akan tetapi sinar matanya penuh keharuan Kartikosari menggandeng tangan Pujo dan tangan Roro Luhito.

Berangkatlah mereka berjalan kaki melalui pantai berpasir, membiarkan kuda mereka mencari rumput dan melepaskan lelah.

"Ehhh... apa itu...?"

Tiba-tiba Roro Luhito menudingkan telunjuknya ke depan agak ke atas. Mereka harus melindungi mata dari sinar matahari yang sudah condong ke barat, karena letak pondok itu berada di sebelah barat.

"Seperti... burung-burung gagak..."

Kata Kartikosari.

"Ahhh... apakah yang menggeletak di pasir itu...?"

Pujo berseru dan serentak, seperti mendapat komando, ketiga orang itu lalu lari, tidak bergandeng tangan lagi, melainkan berlari, cepat seperti tiga orang kanak-kanak bermain-main dan berlumba lari di atas pasir pantai!.

"Duh Jagad Dewa Batara...!!"

Pujo berseru ketika melihat bahwa enam orang cantrik Bayuwismo telah menggeletak malang-melintang di atas pasir, tak seorangpun di antara mereka masih bernapas.

"Aduh Gusti...!!"

Kartikosari menjerit dan berlutut di samping suaminya, memeriksa enam orang yang sudah menjadi mayat itu.

Keadaan mereka sungguh mengerikan.

Tidak tampak luka-luka yang mengeluarkan darah di tubuh mereka, namun jelas bahwa mereka tewas penuh penderitaan.

Ada yang dengan mata terbelalak, dan wajah mereka masih membayangkan kengerian dan ketakutan.

Roro Luhito berdiri seperti patung, terbelalak memandang ke arah mayat-mayat itu, tidak tahu harus berkata apa berbuat apa.

"Ramanda resi"!"

Tiba-tiba Kartikosari yang teringat ayahnya menjerit ngeri dan meloncat lalu lari ke arah pondok, diikuti oleh Pujo yang wajahnya pucat dan gelisah sekali.

Roro Luhito juga berlari di belakang mereka.

seperti orang gila, Kartikosari nnemasuki pondok hamper berbareng dengan Pujo dan di belakang mereka, Roro Luhito juga menyusul masuk.

Pondok itu kosong!

Akan tetapi jelas tampak tanda-tanda bahwa orang telah menggeledah pondok itu dengan kasar.

Semua isi pondok jungkir-balik.

Melihat pondok itu kosong, Kartikosari agak lapang dadanya.

Akan tetapi ia masih merasa tidak enak, lalu lari keluar dari pintu belakang, diikuti Pujo dan Roro Luhito.

Setelah rnencari-cari dan yakin bahwa tidak ada mayat lain di sekeliling pondok, mereka kembali ke depan pondok.

Kartikosari terisak dan merangkul lengan kiri Pujo yang berdiri tegak dengan muka pucat dan mata melotot memandang ke arah mayat-mayat yang malang melintang.

Roro Luhito berdebar debar jantungnya, merasa gelisah dan tidak enak hatinya.

Siapakah yang melakukan pembunuhan keji ini?

Jangan-jangan pembunuhnya datang dari Kadipaten Selopenangkep!

la merasa cemas sekali.

"Kakangmas Pujo, siapakah kiranya yang begini keji. membunuhi para cantrik yang tidak berdosa?"

Kartikosari bertanya, suaranya gemetar.

la mengenal semua cantrik ini, apalagi cantrik Wisudo dan cantrik Wistoro yang tua.

Kedua orang cantrik ini dahulu seringkali menggendongnya dan mengajaknya main-main ketika ia masih kecil.

Mereka itu seperti paman-pamannya, atau kakak-kakaknya sendiri.

Dan sekarang, mereka semua menggeletak tak bernyawa di depan kakinya!

Pujo rnenggeleng kepada, lalu mengepal tinju tangannya.

"Aku sendiri tak dapat menduga, Nimas. Akan tetapi siapapun juga orangnya, dia itu tentu memusuhi bapa resi. Mungkin bapa resi tidak berada di pondok, maka kernarahan orang atau orang-orang itu ditimpakan kepada para cantrik. Keji benar mereka!"

"Kakangmas Pujo, bukankah dekat tempat ini terdapat dusun? Tentu di antara penduduk dusun ada yang melihat, siapa yang baru-baru ini datang ke sini. Kulihat para korban ini belum terlalu lama tewasnya..."

"Kau benar!"

Pujo berteriak."Nimas Sari, kau bersama jeng Roro tunggu di sini, biar kucari keterangan sebentar ke dusun!"

Tanpa menanti jawaban Kartikosari yang masih termangu-mangu itu Pujo lalu melesat cepat dan lari secepatnya menuju dusun terdekat, yaitu dusun Karang Tumaritis.

Seorang nelayan tua memandangnya dengan mata terbelalak heran.

Barulah nelayan ini merasa yakin bahwa la tidak bermimpi ketika Pujo berseru kepadanya.

"Paman Kerpu!"

"Eh... benarkah... Gus Pujo ini...?"

"Benar, Paman."

"Wah, sewindu lebih engkau pergi, gus. Juga Nini Kartikosari...! malah setahun kemudian kakang resi pergi pula meninggalkan Sungapan. Aduh, alangkah banyaknya peristiwa terjadi sejak itu... Gus. Perubahan besar terjadi di mana-mana dan..."

"Maaf, Paman Kerpu,"

Pujo memotong.

"Saya sengaja mencari Paman untuk bertanya, apakah Paman melihat ada orang mendatangi Bayuwismo tadi?"

"Tadi...?"

"Dalam hari ini maksud saya, Paman. Adakah Paman melihat orang-orang pergi ke sana?"

Kakek itu mengerutkan keningnya dan menggeleng-geleng kepalanya.

"Aku tidak melihatnya, gus. Kalau dahulu memang. Wah, jahat-jahat benar orang-orang dari Kadipaten Selopenangkep. Pantas saja Sang Hyang Widi sekarang menghukum mereka."

"Apa yang terjadi ketika itu, Paman?"

Pujo tertarik. Mungkin kejadian dahulu ada hubungannya dengan kejadian sekarang.

"Terjadinya sudah lama sekali. Setahun lebih setelah kau dan isterimu pergi, atau tidak lama setelah kakang resi pergi tanpa pamit. Serombongan orang-orang dari Kadipaten Selopenangkep datang dan... ah, benar kejam sekali. Lima orang cantrik di Byuwismo dibikin tuli semua!"

"Dibikin tuli?"

"Ya, entah bagaimana. Tahu-tahu mereka itu tuli semua. Akhir-akhir ini aku jarang mengunjungi pondok Bayuwismo. Habis, enam orang cantrik sana menjadi tuli semua, sukar diajak bicara. Akan tetapi sekarang datang hukuman Kadipaten Selopenangkep. Kabarnya Adipati Joyowiseso ditangkap, dan kadipaten diambil alih serombongan pasukan dari Kotaraja. Entah bagaimana duduknya perkara. Kami orang-orang kecil mana berani banyak bertanya?"

"Terima kasih, Paman. Saya harus pergi sekarang juga. Peristiwa hebat terjadi di Bayuwisrno. Keenam paman cantrik di sana telah terbunuh hari ini."

"Mereka terbunuh...? Siapa... siapa...?"

"Entah siapa pembunuhnya. Justeru saya sedang melakukan penyelidikan."

"Kalau begitu, biar kukerahkan kawan-kawan untuk membantu di sana, mengurus mereka..."

Kakek itu menjadi pucat dan segera ia berteriak-teriak sambil lari memasuki dusun.

Pujo mengangkat pundaknya, lalu ia menggunakan ilmu Iari cepat kembali ke Bayuwismo di mana kedua orang wanita itu menanti dengan penuh harapan.

"Bagaimana, Kakangmas? Berhasilkan? Siapakah yang melakukan ini?"

Kartikosari tidak sabar Iagi, menyarnbut suarninya dengan hujan pertanyaan.

"Tidak ada orang yang melihat orang datang ke sini, Nimas. Akan tetapi..."

Pujo berpaling ke arah Roro Luhito dan menahan kata-katanya.

Selama ini, Pujo tidak pernah terlepas dari perhatian puteri Adipati Selopenangkep ini.

Belum pernah sedetikpun juga Roro Luhito dapat melenyapkan rasa cinta kasihnya terhadap Pujo yang selama bertahun-tahun ia tahan-tahan.

Selama bertahun-tahun ketika ia menjadi murid Resi Telomoyo, ia selalu merindukan Pujo dan seringkali di waktu tidur ia bermimpi tentang laki-laki yang menjadi pujaan hatinya.

Biarpun Ia tahu bahwa ia telah salah duga, dan bersama dengan terbukanya rahasia itu maka harapannya untuk menjadi isteri Pujo tersapu habis seperti asap tipis tersapu angin, namun tak pernah hatinya dapat ia yakinkan bahwasanya rnencinta Pujo merupakan hal yang sia-sia belaka.

Perasaannya tetap saja lekat kepada laki-laki itu dan setiap gerak-gerik Pujo tak pernah terlepas daripada perhatiannya, sungguhpun tentu saja ia tidak berani memperlihatkan secara berterang.

Ia tidak cemburu kepada Kartikosari karena sejak dahulupun ia maklurn bahwa Kartikosari adalah isteri Pujo.

Ia hanya merasa diam-diam iri dan perasaannya seringkali hancur, namun tangisnya hanya ia kubur di dalam lubuk hatinya, tak pernah ia biarkan keluar, bahkan ia tutup-tutupi dengan sikap riang gembira!

Hanya di waktu malamlah, apabila mereka bertiga sudah tertidur, ia berani membiarkan air matanya bercucuran, menangis tanpa suara!.

Karena itulah, maka begitu Pujo berpaling dan memandang, ia sudah dapat menangkap bahwa ada sesuatu terjadi yang menyangkut dirinya.

Jantungnya berdebar dan ia cepat-cepat bertanya.

"Kakangmas Pujo, ada terjadi apakah? Di Selopenangkep...???"

Pujo mengangguk, dan diam lagi.

"Kakangmas, kalau terjadi sesuatu, ceritakanlah. Diajeng Roro Luhito bukanlah anak kecil lagi, tak perlu menyembunyikan sesuatu."

Pujo menarik napas panjang, kemudian is berkata.

"Tadi aku bertemu dengan Paman Kerpu"

"Nelayan tua Karang Turnaritis ahli mengail ikan kerpu itu?"

Potong Kartikosari.

"Benar, dialah orangnya. Dari paman Kerpu aku mendapat keterangan bahwa sehari ini tak tampak orang datang ke tempat ini. Akan tetapi hampir sepuluh tahun yang lalu memang ada pasukan dari Selopenangkep yang datang ke Bayuwismo dan..."

Kembali Pujo mengeriing ke arah Roro Luhito.

Betapapun juga, setelah mendengar kisah Roro Luhito dan setelah meneliti sikap dan watak gadis bangsawan ini selama dalam perjalanan.

Pujo merasa kasihan kepadanya dan tidak ingin menyinggung perasaannya atau membuatnya berduka.

"Teruskanlah, Kakangmas Pujo. Tak perlu ragu dan rikuh kepadaku, karena biarpun aku puteri kadipaten, buktinya aku melarikan diri, minggat dari kadipaten. Berarti aku bukan puteri kadipaten lagi, melainkan seorang gadis gelandangan Kartikosari!"

Gadis itu tersenyum, akan tetapi Kartikosari membuang muka karena hatinya tertusuk, tidak tega melihat wajah ayu yang senyumnya amat pahit membayangkan kehancuran kalbu itu.

"Menurut cerita paman Kerpu, enam orang cantrik itu telah dibikin tuli, lebih tepat lagi, lima orang cantrik karena Paman Cantrik Wistoro memang sudah tuli sejak dahulu."

"Siapa yang melakukan hal sekeji itu?"

Tanya Kartikosari.

"Paman Kerpu tidak tahu, juga tidak ada orang lain yang tahu. Hanya yang jelas diketahui bahwa yang melakukan adalah rombongan pasukan dari Selopenangkep. Kemudian paman Kerpu menceritakan bahwa Kadipaten Selopenangkep telah diambil alih oleh serombongan pasukan dari Kotaraja, dan paman Adipati Joyowiseso kabarnya ditangkap."

Perubahan satu-satunya yang terjadi pada diri Roro Luhito hanyalah cahaya matanya yang mendadak menjadi tajam berkilat-kilat seakan-akan mengeluarkan api.

"Kalau begitu, mungkin yang melakukan pembunuhan adalah orang-orang yang kini berkuasa di Selopenangkep!"

Kata Kartikosari.

"Mungkin sekali dan hal ini baru jelas kalau kita menyelidiki ke sana. Selain itu, agaknya... hemmm, perlu kau membantuku, Nimas. Aku harus melihat keadaan kadipaten itu dan sedapat mungkin menolong ayah diajeng Roro Luhito, hitung-hitung untuk menebus dosaku dahulu..."

Tiba-tiba Roro Luhito tak dapat menahan keharuan hatinya lagi.

la melompat ke depan dan tanpa ragu-ragu ia memegang tangan Pujo dan tangan Kartikosari, bulu matanya yang panjang lentik itu basah ketika ia berkata.

"Kakangmas, Kakangmbok aku amat berterima kasih kepada kalian Aku amat khawatir tentang keadaan ayah...! Marilah kita segera!"

Pada saat itu datanglah berbondong-bondong penduduk Karang Tumaritis dan sekitarnya, dipimpin oleh Kerpu.

Pujo lalu menyerahkan kepada mereka untuk mengurus penguburan enam orang cantrik itu, kemudian ia bersama Kartikosari dan Roro Luhito segera meninggalkan temput itu, mendapatkan kuda mereka dan cepat mereka menuju ke Selopenangkep.

Datang perjalanan membelok ke utara ini mereka tidak banyak cakap, dan malam telah tiba ketika mereka tiba di luar daerah Kadipaten Selopenangkep.

Pujo menghentikan kudanya, memberi isyarat kepada dua orang wanita itu untuk berhenti dan turun.

"Lebih baik kita tinggalkan kuda di sini dan melanjutkan perjalanan dengan jalan kaki. Kita tidak tahu siapa yang berkuasa di sana, tidak tahu pula apakah mereka itu akan memusuhi kita, karena itu, penyelidikan harus dilakukan secara rahasia."

"Malam hari amatlah tepat untuk melakukan penyelidikan rahasia,"

Kata Kartikosari. Setelah mengikatkan kuda di bawah sekelompok pohon, mereka lalu melanjutkan perjalanan dengan hati-hati mendekati tembok rendah yang mengelilingi daerah Kadipaten Selopenangkep.

"Kakangmas berdua setelah nanti tiba di kadipaten, harap melakukan penyelidikan dengan hati-hati. Kurasa paling balk masuk melalui pintu depan dan terang-terangan menyatakan hendak bertemu dengan pengurus yang baru. Mereka tidak mengenal kalian berdua, agaknya keadaan kalian berdua tidak akan berbahaya. Akupun tidak takut untuk masuk berterang, kalau perlu aku akan mengadakan amuk di sana. Akan tetapi, aku harus rnemikirkan keselamatan ayah dan keluargaku. Mungkin mereka masih di tahan di sana, dan sebelum menyelidiki keadaan mereka, lebih baik aku tidak ikut masuk bersama kalian."

"Habis, bagaimana kau hendak mencari keluargamu?"

"Aku mengenal jalan rahasia memasuki kadipaten dari belakang. Aku sudah hapal akan tempat tinggalku sejak aku lahir di sana. Dan akan lebih leluasalah bergerak seorang diri."

Pujo mengangguk-angguk.

"Baiklah, Diajeng. Kami berdua akan masuk dari depan. Biar kami menarik perhatian mereka semua sehingga keadaan di sebelah dalam berkurang penjagaannya dan kau dapat mencari keluargamu dengan leluasa."

Kata-kata Pujo ini disambung oleh Kartikosari.

"Mudah-mudahan saja ayahmu sekeluarga dalam selamat, Adikku."

Sepasang mata Roro Luhito kembali memancarkan sinar berapi seperti tadi. Ia mendengus dan sambil rnenggeget (memperternukan gigi) berkata.

"Semoga begitu. Kalau tidak kubikin karang abang (lautan api) dan banjir darah di Kadipaten Selopenangkep!"

Kartikosari merangkulnya.

"Jangan khawatir, Diajeng. Musuh besar pribadi kita sama orangnya. Agaknya musuh keluarga kita juga sama. Kami akan mendampingimu!"

Roro Luhito meraih dan mengambung pipi Kartikosari.

"Kau seorang yang amat baik."

Ketika mereka tiba di depan istana kadipaten, dari luar keadaannya seperti tidak ada perubahan.

Diam-diam hati Roro Luhito terharu melihat tempat tumpah darahnya ini.

Sepuluh tahun lebih la meninggalkan tempat ini dan betapa rindunya akan tempat ini.

Melihat sepasang pohon beringin di depan halaman, pohon sawo di sebelah kiri dan taman sari di sebelah kanan terus ke belakang, terbayanglah is betapa ketika masih kecil ia bermain-main di ternpat itu.

"Kami akan masuk berbareng, Diajeng,"

Bisik Pujo.

Roro Luhito mengangguk dan menyelinaplah dia ke dalam gelap, menyusuri pagar tembok kadipaten sebelah kanan.

la mengenal jalan rahasia dari balik pagar tembok taman sari.

Sementara itu, Pujo menggandeng tangan isterinya dan melangkah lebar ke arah pintu gerbang depan, di mana terdapat gardu para penjaga.

Makin dekat, terdengarlah suara para penjaga, dan kanan kiri pintu gerbang terdapat lampu yang apinya bergoyang-goyang tertiup angin.

Waktu itu belum malam benar dan para penjaga masih berkumpul di gardu karena belum waktunya meronda.

Pujo yang pernah melakukan penyerbuan ke kadipaten ini sepuluh tahun yang lalu, melihat betapa pakaian para penjaga kini berbeda dengan dahulu.

Pakaian penjaga yang sekarang ini iebih mentereng, juga sebagian besar adalah orang-orang muda.

Ada tujuh orang penjaga di situ, sedang bercakap-cakap dan kadang-kadang tertawa.

Setelah dekat jelas terdengar bahwa mereka itu mempercakapkan wanita.

Karena percakapan mereka itu kotor dan cabul, Pujo mempercepat langkahnya dan batuk-batuk.

Berhentilah percakapan itu seperti yang diharapkan Pujo dan beberapa orang muncul keluar dari gardu penjagaan.

Melihat seorang laki-laki tampan dan seorang wanita cantik jelita berdiri di pintu gerbang, mereka itu tercengang dan segera menegur.

"Siapakah kalian dan ada keperluan apakah?"

Tujuh orang penjaga itu kini sudah keluar semua dan empat belas buah mata yang haus semua melotot lebar tertuju ke arah tubuh yang denok montok dan wajah yang cantik jelita itu.

Kecantikan wajah dan kehalusan kulit tubuh Kartikosari tampak makin mempesonakan tertimpa sinar lampu yang kemerah-merahan.

Mereka itu selain terpesona, juga terheran-heran mengapa selama ini mereka tidak pernah bertemu dengan wanita ayu ini di Kadipaten Selopenangkep.

"Kami hendak menghadap Sang Adipati!"

Jawab Pujo singkat, sedangkan Kartikosari membuang muka karena tidak dapat menahan kemarahan dan malunya melihat betapa tujuh orang penjaga itu memandangnya dengan mata lahap seakan dengan Pandang mata itu mereka hendak menelanjanginya bulat-bulat!

"Menghadap Sang Adipati?"

Si penanya menyeringai dan bermain mata dengan teman-temannya.

"Eh, masih keluarga Adipati Joyowiseso?"

Tanya orang ke dua.

"Dari mana kalian datang?"

Orang ketiga bertanya pula.

"Kami bukan keluarga Adipati Joyowiseso dan kami datang dari Sungapan."

"Dusun Bayuwismo?"

Kata seorang.

"Murid Resi Bhargowo...?"

Seru yang ke dua. Pujo tak dapat mengendalikan kemarahannya lagi.

"Betul, dan lekas beritahukan adipati atau yang menjadi penguasa di Kadipaten Selopenangkep bahwa kami berdua hendak bertemu!"

Tujuh orang itu kelihatan tegang dan tangan mereka otomatis meraba senjata. Ada yang niencabut golok, ada yang meraba gagang pedang dan ada Pula yang menyambar tornbak.

"Tangkap dia!"

"Biar kutangkap yang wanita, ha-ha!"

Bermacam-macarn teriakan mereka.

Akan tetapi suara ejekan dan ketawa mereka segera disusul teriakan kaget dan kesakitan, mencelatnya senjata dan robohnya tubuh dua orang.

Kartikosari sudah menerjang maju dan dua kali tangannya hergerak, dua orang tadi sudah roboh.

Pujo juga sudah bergerak karena melihat para penjaga itu mulai menggerakkan senjatanya.

Iapun merobohkan dua orang dengan sekali bergerak.

Melihat ini, tiga orang lain menjadi gentar, namun mereka masih berteriak-teriak sambil mengayun-ayunkan senjata dari tempat agak jauh, takut mendekati suami-isteri yang sakti itu.

"Ada apa ribut-ribut ini?"

Tiba-tiba terdengar suara keras menegur.

"Raden Mas... mereka itu..."

Akan tetapi penjaga itu terpelanting roboh ketika orang yang muncul itu melihat Pujo dan Kartikosari lalu bergerak maju sambil mendorong penjaga itu dengan tangan kirinya ke samping.

"Adimas Pujo...!"

Orang itu berseru sambil melangkah maju mendekat.

Pujo mengerutkan alisnya sedangkan Kartikosari dengan kaget memegang tangan kiri suaminya.

suami-isteri ini menatap tajam wajah orang yang baru muncul, kemudian otomatis mereka memandang ke arah tangan kiri orang itu.

"Hemmm..., Kakang Jokowanengpati. Sejak dahulu itu engkau masih di sini...?"

Sambil berkata demikian, Pujo menggunakan tangannya menowel lengan isterinya sebagai isyarat dan Kartikosari dapat menduga bahwa Pujo sedang menjalankan siasat halus.

Memang sebelum yakin benar, tak baik bertindak sembrono.

Tak boleh kali ini mereka salah.

lagi seperti ketika suaminya menangkap Wisangjiwo.

Akan tetapi Jokowanengpati tidak menjawab pertanyaan ini karena dia sedang memandang kepada Kartikosari dengan mata terbelalak dan mulut ternganga, seakan-akan ia melihat munculnya setan di siang hari.

"Dia ini Kartikosari, isteriku, apakah kau lupa?"

Pujo memancing.

"...Dia... eh... bukankah kau dulu bilang bahwa Diajeng Kartikosari sudah... mati? dimas Pujo, apa yang terjadi? Dahulu kau bilang bahwa Diajeng Kartikosari sudah mati terbunuh oleh Wisangjiwo...!"

Pujo tersenyum kecil.

"Tadinya memang kami sangka begitu akan tetapi ternyata tidak demikian. Kakang Jokowanengpati, apa yang telah terjadi dengan kelingking kirimu?"

Dapat dibayangkan betapa kagetnya hati Jokowanengpati mendengar pertanyaan yang tiba-tiba ini kemudian melihat betapa sinar mata sepasang suami-isteri itu memandangnya bagaikan ujung dua buah pedang yang tajam runcing menodong ulu hatinya!

Namun Jokowanengpati tetap cerdik sekali bahkan sekarang lebih berpengalaman dan lebih licin.

Betapapun kaget hatinya, wajahnya tidak membayangkan kekagetan ini, bahkan ia dapat memaksa wajahnya itu memperlihatkan keheranan dan kesungguhan.

Padahal di hatinya ia mengerti bahwa agaknya suami-isteri ini sudah mengerti atau setidaknya sudah menduga akan rahasianya, sepuluh tahun yang lalu di dalam Guha Siluman yang gelap.

Tidak mungkin dalam pertemuan dan dalam percakapan itu, secara tiba-tiba.

saja Pujo menyimpangkan percakapan dengan pertanyaan tentang tanga kirinya yang kehilangan jari kelingking, kalau saja mereka berdua itu tidak sudah menduga bahwa kelingking yang dahulu digigit putus oleh Kartikosari dalam gelap itu adalah kelingkingnya!

Agaknya suami-isteri ini sadar bahwa bukan Wisarigjiwo yang memperkosa Kartikosari dalam guha itu, berdasarkan bukti kelingking itulah.

"Adimas Pujo dan Diajeng Kartikosari, silahkan Adinda berdua masuk. Mari kita bercakap-cakap di dalam. Tentang ini..."

Ia menggerakkan tangan kirinya ke depan.

"...Ada riwayatnya. Marilah masuk dan nanti kuceritakan semua kepada kalian."

Pujo dan Kartikosari saling lirik, kemudian mereka mengangguk dan ikut masuk.

Sudah sepatutnya sikap Jokowanengpati itu.

Andaikata bukan Jokowanengpati musuh besar mereka, tentu begini pula sikapnya.

Tak mungkin, seseorang, apalagi seperti Jokowanengpati yang agaknya di kadipaten ini sekarang mempunyai kedudukan tinggi, suka menceritakan tentang buntungnya kelingking di depan para penjaga itu.

Seorang di antara tiga penjaga yang tadi belum dirobohkan, dibentak oleh Jokowanengpati.

"Hayo perketat penjagaan dan jangan bertindak sembrono seperti tadi. Kalian bertujuh patut dihukum mampus. Tak tahukah bahwa yang datang ini adalah adik-adik seperguruanku?"

"Ampun... Raden Mas..."

Mereka berlutut dan menyembah penuh permohonan, wajah mereka ketakutan.

"Keparat, minggir!"

Jokowanengpati membentak lagi, lalu mempersilahkan dua orang tamunya memasuki pendopo, terus melalui pintu menuju ke ruang tamu di sebelah kiri pendopo.

Pujo dan Kartikosari bersikap tenang, namun pandang mata mereka waspada mengerling ke kanan kiri, menjaga kalau-kalau ada serangan gelap.

"Silakan duduk. Di sini sunyi tak terganggu. Kita dapat berbicara leluasa dan tenang. Agaknya banyak hal yang harus mendapat penjelasan, Dimas Pujo. Terutama sekali tentang keterangan dahulu bahwa Diajeng Kartikosari suda meninggal. Aku tidak melihat sebab-sebab yang tepat mengapa dahulu itu engkau berbohong kepadaku. Akan tetapi biarlah engkau sendiri yang nanti memberi keterangan agar hatiku tidak merasa bingung dan penasaran. Sekarang lebih dahulu kau dengarlah tentang Kadipaten Selopenangkep."

Jokowanengpati menarik napas panjang dan memandang kedua orang suami-isteri yang duduk di atas bangku berukir di depannya.

Lampu lampu dipasang pada dinding di belakang dan atas kepala Jokowanengpati sehingga sinar lampu yang menyinari kepalanya membuat wajahnya tersembunyi dalam bayangan gelap.

Sebaliknya, sinar lampu itu langsung menerangi wajah Pujo dan Kartikosari.

Melihat betapa suami-isteri itu kelihatannya gelisah, kadang-kadang saling lirik dan terutama sekali selalu memandang ke arah tangan kirinya Jokowanengpati tidak memberi kesempatan mereka membuka mulut, langsung menyambung kata-katanya.

"Seperti telah kuceritakan kepadamu sepuluh tahun yang lalu, Adimas Pujo, ketika itupun aku sudah menduga bahwa Adipati Joyowiseso merencanakan pemberontakan terhadap Medang. Maka aku sengaja datang ke sini dan melakukan penyelidikan, terpaksa ketika itu aku berpura-pura memusuhimu, bahkan setelah kau berhasil melarikan diri, aku membawa pasukan untuk mengejar dan mencari-carimu."

Melihat betapa pandang mata suami-isteri itu tidak berubah, tetap tegang, penuh selidik dan penuh benci, Jokowanengpati diam-diam menduga-duga.

Perbuatannya dalam beberapa hari ini, bersama Ni Durgogini dan Ni Nogogini, menyerbu ke Bayuwismo dalarn usaha mencari pusaka Mataram kalau-kaIau disernbunyikan di situ, kemudian membunuh enam orang cantrik agar tidak mengenalnya, dilakukan secara sembunyi dan tidak seorangpun tahu.

Tak mungkin Pujo dan isterinya tahu akan hal itu.

Akan tetapi kedatangannya ke Bayuwismo beberapa tahun yang lalu bersama Cekel Aksomolo dan pasukan kadipaten, tentu ada yang tahu.

Berpikir sejauh ini ia lalu berkata pula.

"Karena harus dapat melakukan penyelidikan secara tepat, aku terpaksa membantu usaha pemberontakan Adipati Joyowiseso sehingga terpaksa pula aku ikut menyerbu ke Bayuwismo bersama Cekel Aksomolo dan pasukan kadipaten. Untung aku ikut ke sana, kalau tidak ada aku yang mencegah, tentu parnan-paman cantrik di sana sudah dibunuh Cekel Aksomolo ketika itu."

Dua pasang mata di depannya itu memancarkan sinar penuh kemarahan, akan tetapi mereka diam saja.

Hal ini bahkan menimbulkan ketegangan dan kegelisahan di hati Jokowanengpati yang cepat-cepat menyambung.

"Akan tetapi, akhirnya tibalah saatnya menghancurkan para pemberontak. Dua pekan yang lalu, aku diberi tugas oleh Gusti Pangeran Anom, memimpin pasukan besar dan menyerbu kadipaten ini, menangkap adipati, membasmi kaki tangannya dan mengambil alih kadipaten atas nama Gusti Pangeran Anom, dan..."

"Cukup! Kami datang bukan untuk mendengarkan obrolan!!"

Tiba-tiba Kartikosari bangkit berdiri sambil membentak.

Jokowanengpati terkejut sekali, dan Pujo segera memegang tangan isterinya, disuruhnya duduk dan bersikap tenang.

Kemudian sambil memandang tajam kepada Jokowanengpati, Pujo berkata.

"Kakang Jokowanengpati, maafkan sikap kami. Akan tetapi sesungguhnya kedatangan kami ini mempunyai keperluan penting. Kami tidak mengira akan bertemu denganrnu di sini. Soal-soal lain kami tidak peduli, akan tetapi harap kau suka menjawab dua pertanyaan kami. Pertarna, siapakah yang begitu keji membunuh semua cantrik Bayuwismo siang tadi dan ke dua, ke mana hilangnya kelingking tangan kirimu itu!"

Wajah Jokowanengpati menjadi pucat, akan tetapi karena terlindung oleh bayang-bayang gelap, tidak tampak oleh kedua orang tamunya.

Di dalam hatinya Jokowanengpati agak menyesal mengapa ia membiarkan Ni Durgogini dan Ni Nogogini pergi dari kadipaten, menuju ke Kotaraja memberi laporan kepada Pangeran Anom.

Kalau saja ia yang pergi ke Kotaraja, tentu tidak akan bertemu dengan Pujo dan Kartikosari.

Akan tetapi, bagaimana ia bisa meninggalkan Kadipaten Selopenangkep kalau kadipaten ini sudah dikuasainya dan setiap hari ia dapat bersenang-senang dengan gadis-gadis rampasan yang cantik-cantik?

Sebagai penguasa sementara yang baru, ia memerintahkan agar semua perawan denok di kadipaten itu dikumpulkan di kadipaten untuk melayaninya.

Tentu saja ia membiarkan kedua orang iblis betina yang makin tua makin menggila akan tetapi masih tetap cantik itu untuk mengumpulkan pemuda-pemuda tampan pula dalam kadipaten.

Senyum simpul menghias mulut Jokowanengpati.

Untung ia cerdik.

Terlalu cerdik untuk orang-orang tak berpengalaman macam Pujo dan Kartikosari.

Untung ia telah bersiap-siap menghadapi ancaman musuh dari manapun datangnya.

Dengan pelbagai siasat, ia m"rencanakan penjagaan diri yang cukup kuat, dan di antaranya, ruangan tamu ini merupakan tempat ia menyelamatkan diri daripada musuh-musuh yang terlampau berat.

Sama sekali ia tidak gentar menghadapi Pujo dan Kartikosari, yang keduanya adalah adik-adik seperguruannya.

la sudah banyak menerima gemblengan Ni Durgogini yang sakti.

Akan tetapi sebagai seorang cerdik, ia tidak rnau mengambil resiko berbahaya.

Kalau ada cara lain mengalahkan lawan yang jauh lebih mudah, mengapa menggunakan cara yang sukar dan berbahaya?

Jokowanengpati memasukkan kedua tangannya ke bawah meja yang berdiri di depannya, lalu berkata dengan suara mengejek.

"Mengapa tidak kau cari sendiri siapa yang membunuh para cantrik, dan tentang kelingkingku ini, hemm... digigit kuda betina liar!!"

Pujo dan Kartikosari menjadi marah sekali.

Sungguhpun Jokowanengpati tidak mengakui perbuatannya secara berterang, namun kata-katanya itu merupakan ejekan yang cukup jelas.

Namun, tak sempat suami-isteri itu mengeluarkan kata-kata, karena pada saat itu, lantai di bawah mereka amblas ke bawah sehingga dua buah bangku yang mereka duduki berikut tubuh mereka melayang ke dalam lubang dan tidak dapat dicegah lagi!

"Ha-ha-ha-ha!...

Orang-orang tolol macam kalian mana mampu melawan aku?"

Jokowanengpati tertawa bergelak sambil menepuk-nepuk meja di depannya.

Otomatis lantai yang berlubang itu bergeser dan tertutup kembali.

Tepukan tangannya disambut munculnya empat orang pengawal.

Mereka duduk bersimpuh dan menyembah.

"Seorang dari kalian atur penjagaan yang lebih ketat, jangan biarkan siapapun masuk kadipaten. Seorang lagi bawa pasukan menjaga tawanan di bawah tanah. Kamu dua orang mari ikut bersamaku, bawa regu penyemprot asap belerang!"

Jokowanengpati kelihatan gembira sekali.

Dua orang musuhnya, yang selama ini mendatangkan mimpi buruk kepadanya, telah tertangkap dan sebentar lagi tentu dapat dilenyapkan dari permukaan bumi.

Yang pasti Pujo, adapun Kartikosari...

hemmm!

Wanita itu makin montok dan ayu saja.

Kalau orang biasa yang terbanting jatuh dari tempat hampir sepuluh meter, tentu akan luka-luka, setidaknya patah tulang salah urat, kalau tidak pecah kepalanya dan mati.

Namun Pujo dan Kartikosari adalah orang-orang yang selain kuat juga terlatih, memiliki susunan syaraf yang amat peka, tubuh yang trampil.

Ketika melayang-layang jatuh, cepat mereka dapat mengatur keseimbangan tubuh sehingga ketika terbanting di atas tanah, mereka dapat menahan bantingan itu dengan kedua tumit kaki dan tekukan lutut.

Bangku yang turut melayang jatuh, telah mereka dorong ke pinggir sebelum sampai di dasar "Sumur"

Itu.

"Kau tidak apa-apa, Nimas...?"

Pujo merangkul isterinya di dalam ruangan yang gelap pekat itu.

"Tidak, Kakangmas,"

Bisik Kartikosari.

"Aku, sungguh bodoh kita sampai kena di akali jaharam itu!"

Pujo mengepal tinjunya daiam gelap.

"Keparat itu dengan perbuatannya ini jelas membuktikan dosanya. Mari kita periksa tempat ini dan berusaha keluar."

Mulailah mereka meraba-raba.

Alangkah kaget hati mereka ketika mendapat kenyataan bahwa mereka terkurung dalam sebuah ruangan yang tertutup rapat dan amat kuat, terbuat dari ternbok yang amat tebal.

Di tengah-tengah ruangan itu terdapat sebuah tiang kayu jati.

Pujo memanjat tiang ini ke atas dan ternyata di atas juga tertutup bahkan tertutup jeruji besi yang kuat di bawah atap!

Sebuah pintu di kiri terbuat dari besi pula.

suami-isteri ini sudah mencoba-coba untuk mencari jalan keluar dengan membobol pintu atau dinding, namun sia-sia.

Terlampau kuat dinding dan pintu itu.

Mereka seperti dua ekor harimau masuk perangkap, hanya bisa marah-marah akan tetapi tidak mampu keluar!

"Jahanam busuk Jokowanengpati!"

Kartikosari berteriak marah.

"Kalau kau memang jantan, hayo bertanding sampai titik darah terakhir! Engkau menjebak kami secara pengecut. Tak tahu malu!"

Pujo kembali merangkul isterinya yang berteriak-teriak itu, kemudian berbisik.

"Nimas, percuma marah-marah terhadap seorang yang sudah kehilangan jiwa ksatrianya. Lebih baik kita memikirkan akal untuk dapat keluar dari sini."

Mereka duduk berdampingan di atas lantai ruangan itu.

Keadaan yang gelap pekat mulai remang-remang setelah mata mereka biasa di ruang gelap itu.

Kiranya di sebelah bawah terdapat lubang-lubang kecil, agaknya lubang hawa.

Legalah hati Pujo.

Setidaknya, dengan adanya lubang-lubang kecil itu, mereka tidak akan mati pengap.

Dan dari lubang-lubang kecil ini pula masuknya sinar yang membuat ruangan itu remang-remang.

Mulailah mereka mempelajari keadaan ruangan.

Bentuknya bundar, di tengah-tengah tiang.

Tidak ada sebuahpun perabot rumah yang menghias ruangan kecuali sebuah lampu kecil tergantung di dekat tiang.

Tembok dan pintu besi, juga tiang itu tidaklah baru, berarti tempat ini sudah ada sejak Joyowiseso menjadi adipati di situ.

"Hemm, agaknya tempat ini memang merupakan tempat tahanan, akan tetapi tidak seperti tempat tahanan di mana aku dahulu dikeram,"

Kata Pujo. Kartikosari mengangguk-angguk dan menyentuh lengan suaminya.

"Kakangmas, kita tenang-tenang saja dan mengaso mengumpulkan tenaga. Biarkan mereka itu membuka pintu lalu kita menyerbu keluar!"

Pujo menggeleng kepala.

"Kurasa Jokowanengpati pengecut licik itu tidaklah begitu bodoh, Nimas. Bagaimana kalau dia membiarkan kita kelaparan, kehausan dan lemas tak berdaya sebelum pintu ini dibuka?"

"Ah, Kakangmas, takut apa? Biar kita mati. Mati di sampingmu adalah nikmat, Kakangmas. Takut apa?"

Baca Juga: Bu Kek Siansu 13

Baca Juga: Istana Pulau Es 10

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert