Ceritasilat Novel Online

Badai Laut Selatan 3

Eps 3 Badai Laut Selatan - Kho Ping Hoo

Baca online Badai Laut Selatan - Kho Ping Hoo

Cersil Badai Laut Selatan - Kho Ping Hoo.

Namun Jokowanengpati sama sekali tidak takut.

Dengan langkah lebar dan gagah ia memasuki guha itu dan sebentar saja mereka ditelan kegelapan, tak tampak dari luar.

Terdengar suara Mirah menahan napas dan sedu, disusul suara Wiratmo mendesis mencegahnya bicara.

Jokowanengpati menengok.

"Paman, kau di mana...?"

Tiada jawaban! Jokowanengpati mendengar suara di sebelah kiri dan melihat dalam remang-remang itu tubuh Sunggono berjongkok lalu berdiri lagi.

"Majulah terus, anakmas..."

Suara Sunggono gemetar dan tiba-tiba Jokowanengpati menerima pukulan yang cukup dahsyat dari belakang, mengenai punggungnya.

"Celaka...!"

Seru pemuda ini, akan tetapi karena ia memang memiliki kepandaian tinggi dan tubuhnya sudah amat kuat, secepat kilat kakinya terayun dan sebelum ia terjerumus ke depan, kakinya yang diayun miring itu berhasil mendupak dada Sunggono yang terhuyung ke belakang.

Betapapun juga, tubuh Jokowanengpati yang sudah terjerumus itu tak dapat ditahannya dan begitu ia melangkahkan kaki, tubuhnya terjeblos ke dalam sumur.

Kiranya guha itu di dalamnya merupakan sumur yang entah sampai di mana dasar nya.

Jokowanengpati tentu saja kaget sekali.

Tahulah ia sekarang mengapa guha ini disebut jalan maut, kiranya merupakan jebakan yang amat berbahaya.

Untung ia memiliki Aji Bayu Sakti, sebuah aji meringankan tubuh yang tiada keduanya.

Begitu tubuhnya terguling masuk sumur, Jokowanengpati mementang kedua lengannya, sekali menyentuh pinggiran sumur ia dapat menahan tubuhnya dan tidak terjerumus ke bawah.

Ia berdongak dan mendapat kenyataan bahwa ia telah jatuh sedalam dua tiga tombak.

Ia menahan napas, mengerahkan Aji Bayu Sakti.

Tenaganya terkumpul pada kedua lengan dan tubuhnya menjadi ringan sehingga ketika ia menggerakkan kedua lengan mendorong, perlahan-lahan ia dapat merayap ke atas seperti seekor kadal saja!.

Dapat dibayangkan betapa marahnya hati Jokowanengpati.

Begitu ia melompat keluar dari sumur, ia menyerbu keluar.

Akan tetapi sebuah batu besar bergerak menutup lubang guha, dan terdengar suara Sunggono tertawa.

"Ha-ha-ha, Jokowanengpati! kau tahu sekarang mengapa kunamakan guha itu Margoleno? Mengasolah dengan tenang, orang muda!"

Kaget juga Jokowanengpati melihat batu sebesar itu bergerak menutup guha.

Mungkinkah Sunggono, dibantu oleh Wiratmo dan Mirah, mampu menggerakkan batu sebesar itu yang tentu amat-berat?

Akan tetapi ia tidak mau terheran lebih lama, cepat ia melompat maju dan sekali dorong sambil membentak marah, batu itu tertolak keluar dan tubuhnya sudah melompat keluar guha!

Kiranya di situ sudah berdiri lima orang laki-laki tinggi besar yang mengepungnya dengan golok di tangan.

Adapun Sunggono sudah berdiri agak jauh, mendekap sebuah bungkusan kuning di dadanya.

Wiratmo dan Mirah juga berdiri di dekat Sunggono.

Mereka bertiga memandangnya, Wiratmo dan Mirah agak pucat, akan tetapi Sunggono masih tertawa.

"Paman Sunggono, apa artinya ini semua?"

Jokowanengpati masih bertanya saking herannya, suaranya dingin sekali membuat tengkuk Wiratmo dan Mirah meremang. Akan tetapi Sunggono berkata dengan suara mengejek.

"Artinya, Jokowanengpati, saat ini adalah saat kematianmu, karena akulah yang berhak memiliki wahyu mahkota Mataram! Engkau ini ular kepala dua, mau enaknya saja. Bunuh dia!"

Suara Sunggono penuh wibawa ketika ia memberi aba-aba kepada lima orang anak buahnya itu.

Lima orang ini adalah jagoan-jagoan yang dulu juga merupakan panglima-panglima perang dari Sang Prabu Digdyamenggala, Raja Kerajaan Wurawari di daerah Ponorogo.

Mendengar aba-aba ini, lima orang jago tua yang tubuhnya tinggi besar itu mengeluarkan suara bentakan keras dan menyerbulah mereka dengan golok besar yang datang sebagai hujan membacoki tubuh Jokowanengpati.

Namun Jokowanengpati mengeluarkan suara ketawa mengejek, tubuhnya tiba-tiba lenyap berubah menjadi bayangan hitam yang berkelebat ke sana ke mari, menyelinap di antara sinar golok yang gemerlapan.

Bukan main hebatnya gerakan Jokowanengpati ini, bagaikan seekor burung kepinis gesitnya sehingga tak pernah ada sebatangpun golok mampu menyentuhnya.

Lima orang jagoan Wurawari itu kaget dan penasaran.

Ketika mereka menghentikan serangan, Jokowanengpati juga berhenti bergerak dan berdiri dengan kedua tangan bertolak pinggang sambil tersenyum mengejek.

"Sudah lelahkah kalian?"

Ejeknya, akan tetapi matanya selalu melirik ke arah Sunggono.

Ia tak menghendaki orang tua yang curang itu melarikan diri membawa pusaka itu selagi ia dikeroyok.

Seorang pengeroyok di depannya mendengus, goloknya menusuk ke arah perut pemuda itu, agaknya saking marah dan penasarannya ia hendak merobek perut dan mengeluarkan usus lawannya.

Akan tetapi kini Jokowanengpati tidak lagi mempergunakan Bayu Sakti karena yang menyerangnya hanya seorang saja.

la miringkan tubuh membiarkan golok menyambar lewat, kemudian secepat kilat tangan kirinya mengetuk pergelangan tangan kanan lawan dan tangan kanannya mengepal dan menghantam dahi.

Hampir berbareng golok itu terlepas dan dahi itu pecah sehingga otaknya berhamburan!

Empat orang jagoan Wurawari terkejut sekali.

Hampir mereka tak dapat percaya.

Bagaimana seorang kawan mereka dapat binasa sedemikian mudahnya?

Keherangan dan kekejutan ini berubah menjadi kemarahan meluap-luap, dan kembali mereka menerjang dengan sabetan dan bacokan membabi-buta.

Jokowanengpati tidak mau bersabar atau main-main lagi.

Kembali tubuhnya berkelebat menggunakan Bayu Sakti, namun ia tidak hanya mengelak melainkan balas menyerang dengan hebat karena ia telah mainkan Ilmu Jonggring Saloko!

Ilmu ini adalah ciptaan Empu Bharodo, seorang sakti mandraguna Biarpun hanya merupakan pecahan dari ilmu aselinya permainan tombak, namun sudah amat hebat dan ampuh.

Mana mungkin empat orang jagoan Wurawari itu mampu menghadapinya?

Segera terdengar suara berkerontangan dan golok beterbangan, disusul pekik mengaduh dan robohlah empat orang itu satu demi satu, roboh untuk tidak bangkit kembali karena pukulan Jokowanengpati yang mempergunakan Aji Siyung Warak adalah pukulan mematikan yang menghancurkan kepala atau memecahkan dada.

"Kau hendak lari ke mana??"

Jokowanengpati melompat dan mengejar Sunggono yang sudah lari kencang meninggalkan tempat itu sambil mendekap bungkusan sutera kuning di depan dadanya.

Sunggono juga bukan seorang lemah.

Sebagai putera seorang senopati, ia memiliki ilmu juga.

Akan tetapi ia tidak dapat menandingi kecepatan Jokowanengpati yang mempergunakan Bayu Sakti dalam pengejaran ini.

Beberapa kali lompatan saja cukup bagi Jokowanengpati untuk menyusulnya.

Tiba-tiba Sunggono yang tahu bahwa lari tiada gunanya, berhenti dan membalikkan tubuh.

Tangannya sudah memegang sebatang keris, sikapnya mengancam.

"Hua-ha-ha-ha, lucu pertanyaanmu, Sunggono pengecut curang. Memang sejak semula, aku sudah bermaksud membunuh kalian bertiga agar jangan membocorkan rahasia. Kini kau mendahuluiku, ha-ha-ha, bagus sekali, berarti mengurangi dosaku. Berikan pusaka itu!"

"Tidak! kau terima pusakaku ini!"

Sunggono mendekap bungkusan sutera kuning dengan tangan kiri depan dada, lalu tangan kanannya menusukkan kerisnya.

Hebat juga serangannya, cepat sekali dan kuat.

Kalau hanya lawan yang kepalang tanggung saja ilmunya, belum tentu akan mampu menghadapi serangan Sunggono.

Akan tetapi Jokowanengpati menggerakkan tangan, menangkap pergelangan tangan yang memegang keris dan sekali putar keris itu sudah berpindah tangan!

"Berikan pusaka itu!"

Jokowanengpati membentak dan memandang bengis.

"Tidak..., tidak...!"

Sunggono melompat mundur, kedua tangannya mendekap bungkusan sutera kuning.

"Setan!"

Jokowanengpati menggerakkan tangannya dan keris rampasan itu meluncur ke depan dan..."cepp!"

Keris itu menghunjam di bawah tenggorokkan Sunggono. Darah mengucur keluar melalui gagang keris, bercucuran menimpa bungkusan sutera kuning, akan tetapi hebatnya, Sunggono tidak roboh.

"Berikan...!"

Jokowanengpati membentak lagi sambil melangkah maju. Akan tetapi Sunggono mengguncang-guncang kepalanya.

"Tidak...ti...kkk!"

Suaranya terhenti seperti lehernya dicekik, mukanya pucat dan matanya melotot.

Keris itu menancap sampai ke gagang, namun ia masih belum roboh.

Jokowanengpati menyerbu ke depan dan sekali renggut ia berhasil merampas bungkusan sutera kuning yang sudah berlumur darah.

Sambil tersenyum-senyum Jokowanengpati membuka sutera kuning dan...

matanya silau oleh cahaya yang bersinar ketika bungkusan dibuka.

Di tangannya adalah pusaka yang lenyap dari keratin Kahuripan, pusaka bertuan, patung kencana Sri Bathara Wisnu yang kini berlepotan darah, darah Sunggono.

"Kembalikan...!"

Sunggono menerjang maju, tangan kirinya mencengkeram baju Jokowanengpati, tangan kanan meraih hendak merampas patung.

Jokowanengpati menggerakkan tangannya menghantam lengan kanan Sunggono yang terulur ke depan.

"Krekkkk!"

Lengan itu terkulai karena tulangnya telah terpukul patah. Namun Sunggono seperti orang gila masih meraih lagi, kini dengan lengan kirinya.

"Kembalikan...!"

Sekali lagi Jokowanengpati memukul dengan Aji Siyung Warak.

"Krekkkk!"

Patahlah tulang lengan kiri Sunggono sehingga kedua lengannya lumpuh tak dapat digerakkan lagi.

Namun dasar orang sudah nekat dan tidak normal lagi pikirannya, ia masih saja berusaha mendekati Jokowanengpati.

"Bedebah, mampuslah!"

Jokowanengpati menggunakan tangannya mencengkeram dada lawan, mengerahkan tenaga dan "Kkraaaaakkkk!"

Robeklah dada itu karena iganya sempal (patah-patah).

Jokowanengpati cepat melompat ke belakang agar jangan terkena percikan darah yang menyemprot.

Tubuh Sunggono berkelojotan, matanya masih mendelik-delik dan akhirnya diam tak bergerak lagi.

Jokowanengpati menengok, melihat bayangan dua orang berlari-lari.

Ia mengeluarkan dengus mengejek dan tubuhnya berkelebat mengejar.

Wiratmo dan Mirah lari bergandengan tangan, terengah-engah, melalui jalan setapak di pinggir jurang.

Tiba-tiba terdengar bentakan.

"Berhenti!"

Bagaikan disambar petir keduanya berhenti, seperti berubah menjadi batu, kemudian perlahan membalikkan tubuh.

Ternyata Jokowanengpati telah berdiri di hadapan mereka sambil tersenyum-senyum, akan tetapi senyum yang bagi mereka berdua amat menyeramkan.

Ketika Wiratmo melihat betapa pandang mata itu melekat kepadanya, kakinya menggigil dan ia segera menjatuhkan dirinya berlutut sembah di depan Jokowanengpati sambil meratap-ratap.

"Ampunkan saya, raden... saya tidk ikut-ikut... saya... saya tidak tahu-menahu tentang kecurangan dan pengkhianatan paman Sunggono."

Senyum mulut Jokowanengpati melebar, pandang matanya bersembunyi di balik bulu mata yang merapat.

"Hemm, engkau memang seorang yang baik bukan, kakang Wiratmo?"

Seakan berhenti jalan darah di tubuh Wiratmo, Ucapan itu biarpun terdengar manis, namun sikap dan cara mengucapkannya mengandung ejekan dan ancaman yang mengerikan. Ia menyembah.

"Raden jokowanengpati..., biarpun saya bukan seorang baik... namun... saya setia terhadap raden... dan..."

"Dan engkau main gila dengan Mirah, bukan? Engkau tahu bahwa Mirah adalah milikku, akan tetapi kau lahap, kau rakus, engkau berani mencuri dan mencicipi dari piringku selama aku tidak ada! Engkau berjina dengan Mirah, dan masih kau bikng bahwa engkau setia kepadaku? Heh? Hayo bicaralah!"

Tubuh Wiratmo menggigil, mukanya pucat dan ia tidak mampu bicara, hanya menyembah-nyembah minta ampun.

"Desss!!"

Sebuah tendangan mengenai dagunya.

Tubuh Wiratmo seperti disambar petir, terlempar dan terbanting pada karang di belakangnya.

Mulutnya berdarah ketika ia merangkak-rangkak bangun akan tetapi kembali kaki Jokowanengpati bergerak menendang.

"Blukkk!"

Dadanya menjadi sasaran.

Tendangan kilat itu amat kuat dan kini tubuh Wiratmo terbanting hebat, kepalanya bercucuran darah dari luka di bagian belakang, napasnya terengah-engah karena tendangan itu seakan-akan telah merampas semua napasnya.

"Am...ampun...!"

Akan tetapi Jokowanengpati sudah maju lagi dan setiap kali tubuh Wiratmo hendak bangkit, sebuah tendangan merobohkannya kembali.

Mirah menutupi muka dengan kedua tangan, tubuhnya menggigil dan ia tak dapat menahan kengerian hatinya menyaksikan Wiratmo disiksa seperti itu.

"Kakangmas Joko..., sudahlah, kangmas... ahhh, kasihanilah...!!!"

"Dessss!"

Kali ini tangan kiri Jokowanengpati menghantam, tepat mengenai puingan (pelipis) kepala Wiratmo.

"Aduuhh mati aku...!"

Tubuh Wiratmo bergulingan, berkelojotan di atas tanah dan rintihan yang keluar dari mulutnya bukan seperti suara manusia lagi.

Darah keluar dari mulut, hidung, telinga dan matanya!

Pukulan tadi menggunakan Aji Siyung Warak, ampuhnya nggegirisi (mengerikan).

"Kakangmas Joko...!"

Mirah menangis terisak-isak menutupi muka, akan tetapi telinganya mendengar rintihan itu seakan-akan meremas-remas jantungnya, maka ia tersedu dan membalikkan tubuhnya agar tidak melihat Wiratmo sambil menggunakan kedua tangan menutupi telinga agar tidak mendengar lagi rintihan itu.

"Kau... hendak membelanya? kau mencintanya?"

Jokowanengpati bertanya, suaranya dingin menyeramkan.

"Tidak...! Oh, tidak...! Kakangmas, setahun lebih kakangmas tidak datang... saya kesepian, kangmas... dan dia... dia baik sekali kepadaku"

"Cuhh!"

Jokowanengpati meludah ke arah Mirah.

"Perempuan hina!"

Tubuh Wiratmo masih dapat merangkak lagi, akan tetapi sekali lagi tangan kiri Jokowanengpati menampar kepala dan...

pecahlah kepala Wiratmo.

Dari kepala yang pecah keluar otak bercampur darah, tubuhnya terkulai tak bergerak lagi.

"Hemm, giliranmu sekarang...!"

Pemuda yang kini memperlihatkan watak aselinya yang sering disembunyikan di belakang sikap halus karena cerdiknya itu menghampiri Mirah.

Mirah terkejut, lupa akan kengeriannya tadi dan cepat ia melangkah mundur, wajahnya pucat matanya terbelalak.

"Jangan, kakangmas...! Sungguh mati saya tidak mencinta dia... cinta saya hanya kepadamu, kangmas. Lupakah kakangmas betapa saya telah berkorban untukmu? Siapakah yang membantu kakangmas membawa lari pusaka itu dari keraton? Kakangmas Joko, kasihanilah saya..."

Jokowanengpati melihat mata yang bening terbelalak, mulut yang merah itu setengah terbuka, agak berkurang marahnya.

Apalagi ia teringat bahwa wanita ini memang amat mencinta dan setia kepadanya.

Tentang permainannya dengan Wiratmo, hal itu sudah biasa karena Mirah memang ia tinggalkan sampai setahun lebih.

"Hemmm, baiklah. Mengingat perhubungan kita dan jasamu, biarlah kuampunkan kau, Mirah."

"Kakangmas Jo ko..., terima kasih...!"

Mirah girang sekali dan maju menubruk kaki Jokowanengpati sambil berlutut.

Akan tetapi sekali pemuda itu menggerakkan tangan, ia telah menyambak Mirah, menariknya berdiri, mendekapnya dan mencium bibirnya penuh nafsu.

Mirah menjerit lirih dan ketika Jokowanengpati melepaskan ciumannya, bibir wanita itu bercucuran darah!

"Ini untuk hukumanmu, lain kali kalau aku mendapatkan engkau bermain gila dengan laki-laki lain, lehermu kupatahkan!"

Mirah hanya menunduk sambil mengusap darah yang terus mengucur dari bibirnya yang tergigit pecah.

Mendadak Jokowanengpati berteriak keras dan muka pemuda itu seketika menjadi pucat sekali, tangan kiri mendekap patung kencana tangan kanan menekan perutnya.

"Aduh..., celaka...! Aduhhhh...!"

Ia terhuyung-huyung, meramkan mata dan mulutnya menggeget (menggigit keras-keras) gigi sampai mengeluarkan bunyi.

Dahinya penuh peluh dan tubuhnya menggigil.

Ketika ia membelalakkan matanya yang tiba-tiba menjadi merah itu, ia melihat Mirah sudah lari menjauhkan diri, sejauh sepuluh meter lebih.

Wanita itu berdiri dan memandang kepadanya dengan sinar mata tajam dan mulut yang bibir bawahnya berdarah itu membayangkan senyum.

"Kau...! kau...!"

Jokowanengpati melompat, akan tetapi begitu bergerak, ia roboh terguling di atas tanah, mengerang kesakitan sambil memegangi perutnya.

Hebat sekali rasa nyeri yang menyiksanya.

Perutnya terasa terbakar dan ditusuk-tusuk sebelah dalam.

Sebagai seorang berilmu tinggi ia maklum bahwa ia telah menjadi korban racun.

Tidak mungkin ia terkena racun kecuali melalui masakan Mirah tadi Ia mengerahkan tenaga untuk bangkit kembali, akan tetapi rasa nyeri membuat ia terguling lagi dan kini patung kencana dalam bungkusan sutera kuning yang berlumur darah itu terlepas dari pegangannya.

Ia seperti lupa kepada patung itu karena kedua tangannya meremas-remas perutnya yang sakit bukan main.

Mirah melangkah maju, wajahnya berseri, matanya liar dan mulut yang masih ada darahnya di bibir bawah itu tertawa.

"Hi-hi-hik! Jokowanengpati rasakan kau sekarang! Manusia keji, manusia tak kenal budi. Rasakan kau sekarang!"

Sedetik Jokowanengpati melupakan rasa nyeri di perutnya. Ia terbelalak dan memandang Mirah dengan mata mendelik.

"Perempuan hina! kau meracuni aku! Daun... daun kates (pepaya) itu... rasa pahit itu untuk menyembunyikan rasa racun..., kau... kau... siluman betina... kubunuh engkau...!"

Ia melompat lagi, akan tetapi untuk ketiga kalinya ia terguling.

Tubuhnya bergulingan dan berkelonjotan menjauhi patung kencana.

Mirah tertawa lagi, lari maju dan mengambil patung kencana, didekapnya di dadanya.

"Heh-heh-hi-hik! Enakkan rasanya, Jokowanengpati? Rasakanlah pembalasan tangan Mirah."

Setelah berkata demikian, Mirah lalu lari membawa patung kencana.

"Mirah...!!"

Bagaikan ada kekuatan gaib yang mendorongnya, Jokowanengpati melompat dan lari mengejar.

Ia berhasil mencengkeram dari belakang, akan tetapi karena kegesitannya berkurang banyak, ia hanya berhasil mencengkeram kemben berkembang.

Namun tangannya masih hebat karena sekali merenggut, kemben itu terlepas dan Mirah jatuh terguling.

Patung kencana terlepas dari pegangannya.

Bukan main kagetnya wanita ini, apalagi setelah melihat tubuh Jokowanengpati merangkak menghampirinya.

"Heh-heh-heh., aduhhh..., heh-heh, hendak lari ke mana kau Mirah? Heh-heh... aduhhh..."

Sambil tertawa dan meringis-ringis kesakitan Jokowanengpati merangkak maju, kedua tangannya seperti cakar setan hendak meraih Mirah.

Mukanya penuh peluh, matanya merah, napasnya terengah-engah dan mulutnya mengeluarkan busa.

Wajah yang biasanya ganteng tampan itu kini seperti muka iblis mengerikan.

"Aaiiiihhhh!"

Mirah menjerit ketakutan, merangkak bangun dan hendak lari. Akan tetapi tangan Jokowanengpati yang menjangkau berhasil mencengkeram ujung kainnya. Mirah lari dan meronta, Jokowanengpati bertahan.

"Reeeeetttt!!"

Kain itu koyak-koyak dan terlepas dari tubuh Mirah.

Wanita itu memekik ngeri dan tubuhnya yang kini bertelanjang bulat itu terguling lagi.

Jokowanengpati dengan napas terengah-engah menubruk, namun Mirah saking takutnya mendapatkan kegesitan luar biasa, sudah berhasil melompat berdiri lagi dan hendak lari.

Jokowanengpati juga melompat berdiri, tangannya meraih namun meleset dan Mirah lari ke depan.

Jokowanengpati mengejar dengan sebuah lompatan jauh, tangannya mencengkeram dan kini berhasil memegang rambut hitam panjang yang terurai di belakang.

Sekali menggentarkan tangan, Mirah kembali terguling Namun ia meronta-ronta, mereka bergumul, Jokowanengpati yang sudah lemas tenaganya itu tidak dapat mempergunakan tenaga sakti, hanya berusaha mencekik leher yang berkulit halus kuning.

Mirah meronta, mereka bergulingan.Wanita itu menggunakan giginya menggigit lengan sehingga cekikan Jokowanengpati terlepas.

Mirah bangkit dan lari, namun rambutnya masih dalam cengkeraman.

"Aduhhh... lepaskan...! Lepaskan... toloooonggg...!"

Mirah meronta-rontah sekuat tenaga.

Saking takut dan ngerinya, wanita itu menjadi kuat sekali, sebaliknya pengaruh racun membuat Jokowanengpati menjadi lemah.

Oleh karena itu Mirah berhasil lari menyeret Jokowanengpati yang tidak juga mau melepaskan rambut panjang itu.

"Aduh...! Lepaskan... lepaskan...!"

Mirah berteriak-teriak kalap, meronta-ronta ke kanan kiri, tidak tahu bahwa mereka berdua bergumul di dekat jurang.

Jokowanengpati yang cerdik biarpun sudah hampir pingsan oleh pengaruh racun, dapat melihat ini, maka ia tertawa menyeramkan.

"Heh-heh-heh-heh... ahhh, aduhhh... he-he-heh!"

"Lepaskan, Joko..., aduh, lepaskan... tolooonggg...!"

Tiba-tiba Jokowanengpati menendang kaki Mirah.

Mirah terhuyung ke belakang dan...

tubuhnya menginjak tempat kosong.

Jokowanengpati cepat bertiarap mencengkeram batu karang, namun masih juga belum melepaskan rambut.

"Aaiiiiihhhhh...!!"

Mirah menjerit dan tahu-tahu tubuhnya sudah tergantung di bibir jurang yang amat curam, hanya tertahan oleh rambutnya yang masih dicengkeram Jokowanengpati.

"Kakangmas Joko... tolonglah aku... tolonglah aku, naikkan... lekas... aduhhh. tolong..."

"Ha-ha-ha-ha-ha... aduhh kau meracuni aku, ya? Ha-haha!"

Sambil tertawa-tawa dan kadang-kadang meringis kesakitan, Jokowanengpati melepaskan rambut yang dicengkeramnya.

"Yyaaaaaaaaaahhhh...!"

Lengking mengerikan bergema di lereng Lawu menjelang senja itu, mengiringkan tubuh telanjang bulat yang tentu akan hancur dan mawut terbanting di dasar jurang yang curam.

Jokowanengpati terengah-engah, merangkak bangun, terhuyung-huyung menghampiri patung kencana yang terbungkus sutera kuning berlumur darah.

Diambilnya patung itu, didekapnya erat-erat kemudian ia memaksa diri berjalan menuruni lereng.

Kedua kakinya gemetar, tubuhnya menggigil dan kadang-kadang ia menekan perutnya sambil menyumpah-nyumpah.

"Jahanam...! Perempuan laknat...! Aduuuuhhh..., aku harus bertahan... harus bisa mencapai dusun... harus..., harus...!"

Kekuatan badannya memang luar biasa.

Berkat gemblengan Empu Bharodo sejak kecil, racun yang bagi orang lain tentu akan menewaskan seketika itu, masih belum merobohkannya, ia berjalan terhuyung, kadang-kadang merangkak menuruni lereng Gunung Lawu.

Hari telah gelap ketika ia roboh pingsan di depan pintu pondok kecil di lereng paling bawah, pondok kecil petani yang terpencil.

Ia hanya mampu mengeluh ketika melihat sinar lampu menerobos celah-celah bilik.

"...Tolong...!"

Kemudian tak sadarkan diri.

Pemilik pondok itu seorang petani berusia tiga puluh tahun yang tinggal di situ bertani bersama isterinya yang hanya dua tiga tahun lebih muda daripadanya.

Mereka tinggal bersunyi di lereng ini, hidup bertani sederhana, karena mereka memang tidak mempunyai banyak butuh.

Mereka tidak punya anak, dan untuk mencukupi kebutuhan mereka berdua, tanah di lereng Lawu sudah lebih dari cukup, berlimpah-limpah.

Nama petani ini Kismoro dan isterinya Wiyanti.

"Kakang, ada suara orang minta tolong..."

Wiyanti bangkit dari atas tikar anyaman daun kelapa. Suaminya juga bangkit, mendengarkan.

"Aku juga mendengar, akan tetapi kurasa bukan orang. Mana ada orang minta tolong?"

"Kakang, lebih baik kita lihat dulu,siapa tahu..."

Mereka berdiri dan menuju ke pintu pondok, membuka pintu pondok yang sengaja agak diperkuat, bukan takut akan maling atau rampok, melainkan menjaga jangan sampai harimau atau monyet mengganggu selagi mereka tidur.

"Ah, benar! Ada orang di situ...!"

Kismoro segera menghampiri tubuh laki-laki yang rebah miring.

"Wah, jangan-jangan dia mati... ah, tidak, masih hidup, agaknya pingsan..."

Dibantu isterinya, Kismoro mengangkat tubuh Jokowanengpati yang masih tetap mendekap bungkusan sutera kuning itu, masuk ke dalam rumah.

Ketika berada di dalam dan tersinar cahaya lampu, mereka melihat pakaian serba hitam yang halus serta raut wajah yang tampan, sehingga Kismoro berseru.

"Ah, agaknya ia seorang bangsawan"

"Dia tentu sakit, kakang..."

"Kita tidurkan dia di bilik, biar kita di luar saja. Kita rawat dia seperlunya."

Sibuklah dua orang suami-isteri ini.

Mereka membaringkan tubuh Jokowanengpati di atas balai-balai bambu, satu-satunya perabot pondok mereka.

Dengan hati-hati Kismoro lalu mengambil bungkusan sutera kuning itu agar Jokowanengpati dapat berbaring lebih enak, kemudian ia meletakkan bungkusan itu di sudut balai-balai.

"Lekas kau masak air panas, biar kucuci muka dan dadanya, wah, dia benar-benar sakit, lihat dia mengerang-erang dan tubuhnya penuh peluh. Setelah masak air, kau menganyam janur untuk tikar, kita tidur di luar bilik saja."

Tanpa membantah isteri setia ini cepat melakukan perintah suaminya, hatinya agak tenang karena mengira bahwa yang mereka tolong tentulah seorang bangsawan tinggi.

Mungkin seorang pangeran, pikirnya, atau setidaknya tentu putera tumenggung!

Orang muda yang begini tampan dan pakaiannya begitu halus, membawa bungkusan sutera kuning pula, tentulah seorang keluarga keraton!

Ketika Kismoro mencuci muka dan dada, Jokowanengpati siuman dari pingsannya.

Pikirannya yang cerdik segera membuat ia sadar bahwa ia telah ditolong oleh penduduk dusun, penghuni pondok itu mungkin.

Hatinya agak lega, dan dia berbisik lemah.

"Kisanak, tolonglah... aku terkena racun..."

Setelah berkata demikian, ia bangkit duduk bersila dan mengerahkan segala kekuatan batin dan tenaga saktinya untuk melawan hawa beracun yang mengeram dalam perutnya.

Ia maklum bahwa dengan jalan ini ia akan dapat bertahan, akan dapat mencegah hawa beracun itu merusak isi perutnya sampai datang obat penolong.

Kalau ia banyak bicara, hal itu akan membuat keadaannya makin berbahaya.

Kalau saja ia tadi tidak mempergunakan terlalu banyak tenaga berkejaran dengan Mirah, tentu keadaannya tidak separah ini.

Kismoro terbelalak kaget, melihat laki-laki tampan itu duduk seperti samadhi, ia tidak berani mengganggu dan cepat-cepat ia menyelinap.keluar bilik menemui isterinya.

"Wah, celaka, Wiyanti, dia... dia bilang terkena racun..."

"Hee? Terkena racun? Apanya?"

"Dia tidak terluka, tentu ada racun termakan olehnya. Ah, aku harus cepat mencari obat pemunah racun."

"Daun dan akar Widoro Upas...?"

"Apa saja yang dapat melawan racun. Ada dua tiga macam daun yang kutahu dapat melawan racun. Eh, kalau nanti dia minta minum, kau beri minum air dawegan (kelapa muda), pilih yang hijau"

"Ihh, kau sendiri mau ke mana?"

Tanya isterinya, agak ngeri karena ingat bahwa tamu mereka itu sakit berat, terkena racun. Siapa tahu akan mati selagi suaminya pergi? "Aku harus mencari obat pemunah."

"Jangan sekarang. Malam-malam begini mau ke hutan? Bagaimana kalau muncul macan atau kau dikeroyok lutung?"

"Tapi dia perlu ditolong..."

"Kakang, memang sudah semestinya dia ditolong. Akan tetapi kalau membahayakan keselamatanmu sendiri, aku tidak rela. Bagaimana kalau kau tertimpa bencana di hutan, dimakan harimau atau dikeroyok lutung? kau celaka, diapun tidak tertolong, tinggal aku sendiri yang kebingungan setengah mati. Tidak, tidak boleh kau pergi, besok pagi-pagi saja."

"Tapi dia..."

Wiyanti merangkul suaminya.

"Kakang, kalau kau memaksa pergi, boleh, akan tetapi aku ikut. Biar mati kalau bersamamu tidak mengapa."

Akhirnya si suami mengalah, apalagi ketika ia melihat betapa tamunya itu masih duduk bersamadhi dan agaknya tenang, tidak terdengar mengeluh lagi, ia merasa lega dan menunda niatnya mencari daun obat.

Semalam ini suami-isteri ini tidak dapat tidur pulas.

Bukan karena tidur di atas tanah bertilam tikar daun kelapa, hal ini sudah biasa bagi mereka, akan tetapi mereka hanya rebah-rebahan saja dan tak dapat tidur karena mereka memikirkan tamu mereka.

Sebentar-sebentar Kismoro bangkit dan menjenguk ke dalam bilik.

Heran ia melihat tamunya yang muda dan tampan itu masih saja duduk bersila.

"Ah, dia tentu seorang satria,"

Bisiknya dekat telinga isterinya,"agaknya semalam suntuk ia akan bersamadhi. Alangkah kuatnya ia bertapa."

"Tidak seperti engkau, setiap malam tidur melingkar seperti ular kekenyangan!"

Bisik isterinya.

"Wah, wah! kau ingin mempunyai suami satria, begitukah?"

Suaminya mencela.

"Satria mana sudi dengan aku? Pula, aku lebih senang punya suami engkau daripada segala macam satria. Menjemukan benar, kerjanya hanya duduk bersila!"

Percakapan itu dilakukan sambil berbisik-bisik agar jangan mengganggu tamu mereka.

Siapa kira, biarpun dalam samadi mengerahkan tenaga dalam melawan racun, percakapan bisik-bisik ini tidak pernah terlepas dari telinga Jokowanengpati!.

Kismoro lega hatinya lalu merangkul isterinya.

Mereka dapat tidur pulas sejenak dan telah bangun lagi ketika menjelang pagi ramai terdengar suara kokok ayam hutan dan kicau burung diseling cecowetnya kera dan lutung.

Sambil membawa arit, berangkatlah Kismoro ke hutan mencari daun-daun penawar racun.

Tak lama kemudian ia sudah kembali bersama seorang kakek setengah tua berjubah kuning.

Kepalanya yang dicukur gundul tertutup kain berwarna kuning pula.

Melihat kepalanya yang tak berambut, mudah diduga bahwa dia adalah seorang penganut Agama Budha, seorang wiku yang bertapa di gunung-gunung, wajahnya tenang dan sinar matanya lembut.

Memang dia adalah seorang pertapa, seorang pendeta Agama Budha yang berasal dari barat, dari daerah Sriwijaya.

Dia sampai di lereng Lawu dalam usahanya mencari dan mengumpulkan daun-daun dan akar-akar obat karena Wiku Jaladara ini adalah seorang ahli pengobatan.

Secara tidak disengaja ia bertemu dengan Kismoro yang sedang mencari daun penawar racun.

Terjadilah tanya jawab dan mendengar bahwa Kismoro sedang berusaha mencarikan obat bagi seorang yang menjadi korban racun.

Wiku Jaladara segera menawarkan bantuannya.

Tentu saja penawaran ini diterima dengan girang oleh Kismoro dan segera ia mengajak sang pertapa pulang ke pondoknya setelah mereka mengumpulkan daun-daun obat menurut petunjuk sang wiku.

Atas pandang mata penuh pertanyaan dari isterinya, Kismoro segera berkata.

"Isteriku, inilah bapa Wiku Jaladara yang berkenan hendak menolong tamu kita."

"Wah, syukurlah... syukurlah... aku sudah khawatir sekali, kang. Tamu kita sejak pagi tadi merintih saja..."

Sang pertapa lalu diantar masuk ke dalam bilik.

Benar saja laporan Wiyanti, setibanya di dalam bilik, mereka melihat Jokowanengpati rebah telentang dan merintih perlahan.

Wiku Jaladara menghampiri dan memandang penuh perhatian, kemudian meraba lengan dan dahinya lalu mengangguk-angguk.

"Dia teracun perutnya. Aneh dia masih dapat bertahan. Eh, nini, lekas kau godok daun-daun ini sampai mendidih, biarkan airnya menguap tinggal setengahnya. Airnya beri tiga batok."

Wiyanti cepat melaksanakan permintaan pertapa ini.

Sehari itu sang wiku berdiam di dalam pondok dan Jokowanengpati diberi minum jamu sampai enam kali, dilayani penuh perhatian oleh Wiyanti dan Kismoro.

Menjelang senja, Jokowanengpati muntahkan darah hitam dan setelah itu ia dapat tidur nyenyak, napasnya teratur dan tenang, tubuhnya tidak panas lagi.

Dalam keadaan masih belum sadar ia disuapi nasi encer dan sayur asam oleh Wiyanti atas petunjuk Wiku Jaladara.

Banyak sekali makannya pemuda itu sehingga Wiyanti dan suaminya tersenyum geli, juga girang karena ini merupakan tanda bahwa si tamu telah sembuh.

Menjelang senja hari itu, untuk terakhir kalinya Wiku Jaladara datang ke bilik memeriksa keadaan Jokowanengpati yang masih tidur nyenyak.

Ia meraba dahi dan dada, lalu menarik napas lega dan berkata kepada suami-isteri yang berada di dalam bilik pula.

"Ia sudah sembuh, hanya tinggal istirahat dan dalam beberapa hari tentu sehat kembali. Saya akan pergi sekarang."

"Ah, bapa wiku yang mulia. Kami harap bapa sudi bermalam di sini,"

Kata Kismoro menahan. (Lanjut ke

Jilid 09) Badai Laut Selatan (Seri ke 03 Serial Serial Keris Pusaka Sang Megatantra) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo

Jilid 09

"Betul, bapa, kami khawatir kalau-kalau akan kambuh pula penyakit tamu kami,"

Wiyanti menyambung. Wiku Jaladara tersenyum dan menggeleng kepala.

"Malam ini terang bulan purnama, saya harus memetik beberapa macam kembang obat yang hanya mekar di waktu bulan purnama. Tentang orang ini, jangan khawatir, andaikata ada perubahan sesuatu kepadanya, boleh saja kau menyusulku ke hutan sebelah barat itu. Sampai besok aku masih akan berada di sana. Nah, selamat tinggal."

Wiku Jaladara berjalan keluar dari pondok diantar suami-isteri itu yang tiada hentinya menghaturkan terima kasih.

Percakapan itu didengar baik-baik oleh Jokowanengpati yang sudah setengah sadar.

Akan tetapi ia perlu mengaso, perlu mengumpulkan tenaganya kembali, maka ia segera tidur lagi sampai semalam suntuk.

Ia hanya tahu bahwa dirinya ditolong oleh sepasang suami-isteri penghuni pondok ini, dan oleh seorang wiku tua tukang mencari obat di hutan barat.

Ia hanya ingat samar-samar bahwa pertapa itu setengah tua berkepala gundul yang dibungkus kain kuning dengan pakaian kuning pula, petani itu masih muda dan isterinya berkulit kuning bersih dan manis!

Pada keesokan harinya, pagi-pagi sekali Jokowanengpati sudah bangun dari tidurnya.

Ia merasa betapa tubuhnya segar dan sehat, tenaganya sudah pulih kembali.

Bukan main girang dan lega hatinya.

Tiba-tiba ia teringat akan patung kencana.

Ia cepat menengok dan melihat benda itu masih berada di atas balai-balai dekat kepalanya.

Akan tetapi bungkusnya, sutera kuning itu sudah terbuka sehingga tampaklah patungnya yang terbuat daripada emas murni amat indahnya.

Berguncang jantung Jokowanengpati.

Sutera itu terbuka, berarti tiga orang itu pasti telah melihatnya.

Cepat ia meraih patung itu dan memeriksanya, lalu membungkusnya kembali.

Celaka, pikirnya, tiga orang itu telah melihatnya!

Ini berbahaya sekali.

Tak seorangpun di dunia ini boleh tahu bahwa patung kencana Mataram itu berada di tangannya!

Tiba-tiba terdengar suara gerakan di luar bilik.

Jokowanengpati terkejut dan cepat-cepat ia lalu meletakkan patungnya kembali dan merebahkan diri telentang di atas balai-balai sambil meramkan kedua matanya, akan tetapi diam-diam ia mengintai dari balik bulu matanya yang hitam panjang.

Terdengar langkah kaki halus dan ternyata yang memasuki biliknya adalah seorang wanita yang manis, Wiyanti!

Wiyanti mendekati balai-balai, memandang penuh perhatian dan agak khawatir karena melihat dada tamunya itu bergelombang, mengira tamunya kumat lagi.

Ia membungkuk dan hati-hati meraba dahi Jokowanengpati dengan tangan kanannya, sedangkan di tangan kirinya terdapat sepiring nasi encer untuk tamunya yang sakit.

Dari jarak dekat Jokowanengpati melihat wajah manis yang asli sederhana seperti setangkai mawar gunung segar bermandi halimun itu, melihat belahan dada lembut ketika Wiyanti membungkuk.

Biarpun Jokowanengpati seorang muda yang memiliki dasar watak mata keranjang dan cabul, tak pernah dapat membiarkan wanita cantik lewat begitu saja, akan tetapi dalam keadaan biasa, agaknya ia masih enggan mengganggu wanita yang telah menolong nyawanya itu.

Akan tetapi, keyakinan hatinya bahwa wanitai itu telah melihat patung kencana, menggelapkan semua pikiran sehat dan pada saat itu juga lengan kirinya sudah merangkul leher yang membungkuk!

"Aaahhhhppp!!"

Jokowanengpati menghentikan pekik yang keluar dari bibir Wiyanti itu dengan mulutnya.

Piring nasi encer terlepas dan jatuh ke atas tanah Wiyanti meronta-ronta namun sia-sia belaka.

Tak mungkin ia dapat terlepas dari pagutan yang erat itu.

Ia teringat akan tusuk sanggulnya, tangannya meraih ke rambut, dicabutnya penusuk sanggul, digerakkan tangannya untuk menusukkan senjata darurat ini, namun sambil tertawa dan tetap menutup mulut dengan mulut itu Jokowanengpati merenggutkan tangan Wiyanti yang memegang penusuk sanggul.

Benda runcing kecil itu terlepas jatuh di atas balai-balai, sanggulnya terlepas mengurai, menyelimuti mereka berdua.

Kismoro memasuki pondoknya dengan muka dan kepala masih basah.

Baru saja ia kembali dari anak sungai, tangan kirinya membawa tiga ekor ikan lele hasil mengail di pagi tadi.

Tiba-tiba ia mendengar suara aneh di bilik, seperti orang dicekik dan napas terengah-engah.

Ia kaget sekali, melempar ikannya di sudut lalu lari memasuki bilik.

Tiba-tiba ia berdiri terpaku, mukanya menjadi merah, matanya melotot dan hampir ia tidak percaya apa yang dilihatnya, Wiyanti, isterinya yang tercinta, meronta-ronta dan bergumul dengan tamu mereka yang hendak memperkosanya.

Rambut isterinya terurai, kainnya sudah robek semua, namun isterinya meronta dan melawan sekuat tenaga.

"Keparat...!!"

Kismoro memaki dan melompat maju hendak menolong isterinya.

"Werrr... ceppp!!"

Tubuh Kismoro yang baru melompat itu tiba-tiba roboh terguling dan tepat di ulu hatinya menancap sebuah benda yang bukan lain adalah tusuk sanggul isterinya sendiri!

Kiranya Jokowanengpati yang melihat masuknya Kismoro, telah menggunakan tusuk sanggul itu untuk mendahului menyerang.

Karena kini tenaganya sudah pulih semua, sekali sambit saja ia mengirim tusuk sanggul itu memasuki ulu hati Kismoro yang roboh dan berkelojotan merintih-rintih tanpa dapat bangkit kembali.

"Aaiiihhhh...! Kakang... Kang Kismoro...! Aduuuhhh...!"

Wiyanti meronta-ronta sambil menoleh ke arah suaminya, memanggil-manggil dan menangis menjerit-jerit.

Namun dia dan suaminya tinggal di tempat terpencil jauh tetangga.

Jerit tangisnya itu mungkin hanya didengar oleh lutung-lutung dan monyet.

Tak lama kemudian jerit tangisnya tak terdengar lagi dan ketika Jokowanengpati melangkah keluar dari pondok membawa bungkusan patung kencana, lalu berlari cepat seperti angin meninggalkan tempat itu, di dalam bilik pondok itu tubuh Wiyanti telah menjadi mayat!

Wanita inipun menjadi korban kebiadaban Jokowanengpati yang tidak merasa puas kalau hanya menodainya karena wanita inipun sudah melihat patung kencana, maka sehabis melakukan pemerkosaan, dengan jari tangannya ia menusuk pelipis wanita ini sehingga pecah dan tewas seketika.

Kismoro masih mampu merangkak menghampiri balai-balai di mana isterinya menggeletak tak bernyawa.

Dengan susah payah ia berhasil bangkit, memeluki tubuh isterinya dengan penuh kasih sayang dan iba.

Dalam keadaan hampir mati Kismoro tadi melihat betapa isterinya mati-matian mempertahankan kehormatannya.

Ia tidak menyesal, ia kasihan pada isterinya dan karena terlalu banyak darah membanjir keluar, akhirnya Kismoro menghembuskan napas terakhir sambil rebah menelungkup memeluk isterinya, badan atas di balai-balai, badan bawah di atas tanah.

Jokowanengpati lari cepat menuju ke barat.

Diapun seorang manusia, maka diapun masih diperingatkan hati nurani sendiri yang mencelanya atas pembunuhan yang ia lakukan terhadap suami-isteri yang telah menolong nyawanya.

Ia harus mengakui bahwa hanya berkat pertolongan kedua suami-isteri itulah maka ia masih dapat bernapas hari ini.

Kalau malam kemarin tidak ada Kismoro dan Wiyanti yang menolongnya, tentu ia sudah mati konyol!.

"Mereka harus mati!"

Bantahnya sambil lari terus."Juga wiku itu harus mati. Siapa suruh mereka bertiga melihat patung kencana? Kalau mereka bertiga tidak kubunuh, aku sendiri akan terancam hidupku!"

Demikianlah bantahan hati Jokowa-nengpati terhadap teguran hati nuraninya.

Ia menganggap bahwa perbuatannya itu benar.

Benar karena ia anggap bahwa tiga orang itu kalau dibiarkan hidup, dapat merupakan bahaya baginya!

Dan demikian pula pandangan orang-orang sesat tentang kebenaran sehingga di dunia ini bermunculan KEBENARAN seperti jamur di musim hujan.

Kebenaran yang timbul karena sifat egoism (mement ingkan diri pribadi).

Asal menguntungkan diri pribadi maka benarlah, yang merugikan diri pribadi tentu saja tidak benar!

Maka timbullah macam-macam kebenaran.

Memukuli dan menyiksa orang lain?

Benar, karena orang lain itu jahat, katanya.

Mencuri milik orang lain?

Benar pula, karena untuk memberi makan anak isteri, katanya.

Bermacam-macamlah alasan untuk membenarkan diri.

Kebenaran setan dan iblis.

Kebenaran palsu.

Inilah sebabnya manusia harus tetap eling (ingat) dan waspodo (waspada).

Ingat akan kekuasaan dan kebesaran Tuhan sehingga kita benar-benar tunduk dan taat, kemudian waspada terhadap tindakan sendiri, agar jangan sampai kita terjebak oleh iblis dan setan yang pandai menyulap kepalsuan-kepalsuan menjadi semacam kebenaran!

Jokowanengpati yang merasa diri benar itu mempergunakan ilmunya berlari cepat sekali menuju ke hutan sebelah barat.

Begitu memasuki hutan ini, hidungnya mencium sedapnya daun dan bunga.

Matahari pagi mulai menyinari taman alam ini, menciptakan pemandangan yang indah.

Hutan ini penuh dengan tetumbuhan beraneka warna.

Pantas saja tempat ini menjadi gudang tanaman berkhasiat.

Terdengar suara orang bersenandung.

Ketika Jokowanengpati berjalan mendekat ke arah suara, tampaklah olehnya seorang laki-laki setengah tua berjubah kuning sedang memilih daun dengan hati-hati sambil membaca doa yang suaranya seperti orang bersenandung.

Daun-daun itu dikumpulkan dalam sebuah keranjang bambu dan agaknya wiku itu tidak tahu bahwa Jokowanengpati telah datang mendekat.

Setelah Jokowanengpati mendehem (batuk kecil) barulah ia menengok, memandang penuh perhatian dan tampak tercengang.

"Pamankah yang mengobati saya dari keracunan?"

Jokowanengpati bertanya untuk mencari kepastian. Wiku Jaladara memandang ke arah bungkusan kain kuning, lalu mengangguk dan tersenyum.

"Daun-daun inilah yang mengobatimu, orang muda, dan kekuasaan yang Maha Mulia jualah yang menentukan, saya hanya alat dan perantara belaka..."

Tiba-tiba Wiku Jaladara terkejut bukan main karena pada saat itu, orang muda yang disangkanya mencarinya hanya untuk menghaturkan terima kasih itu telah menerjangnya dengan pukulan hebat dan gerakan cepat laksana kilat menyambar.

Memang Jokowanengpati telah menyerangnya dengan gerakan Bayu Sakti dan pukulan Jonggring Saloko.

Ia hendak berhasil dengan sekali pukul, karena betapapun juga tidak enak hatinya harus membunuh pertapa ini.

"Aaahhh..., bagaimanakah ini...?"

Wiku Jaladara cepat mengelak ke samping, akan tetapi biarpun pukulan itu sendiri tidak mengenainya, namun hawa pukulan yang maha dahsyat membuat tubuh sang wiku terguling Ketika Wiku Jaladara terhuyung hendak bangun, Jokowanengpati telah menerjangnya lagi tanpa memberinya kesempatan, kini menggunakan pukulan Siyung Warak dan mengarah kepala agar sekali pukul beres.

"Wuuuuuttt... dukkkk!"

Bukan Wiku Jaladara yang pecah kepalanya, bahkan tubuhnya masih tidak apa-apa, robohpun tidak, sebaliknya Jokowanengpati yang terpelanting dan cepat pemuda ini melompat bangun lagi sambil memandang dengan mata terbelalak.

Pukulannya tadi ada yang menangkis dan kini orang yang menangkisnya, yang telah menolong Wiku Jaladara, telah berdiri di depannya.

Seorang laki-laki yang berwajah aneh sekali!

Kulit mukanya kuning berkeriput, brocal-brocel (tidak rata) seakan-akan kulit itu bekas digerogoti semut, hidungnya hampir lenyap hanya tampak lubangnya, matanya tidak berbulu akan tetapi sinarnya tajam menembus jantung, mukanya yang buruk itu tidak berambut, akan tetapi rambut kepalanya yang putih menunjukkan bahwa laki-laki ini adalah seorang kakek tua.

Jokowanengpati memandang tajam dan tahulah ia bahwa orang berwajah mengerikan ini sebenarnya memakai topeng yang terbuat daripada getah pohon karet, maka ia menjadi penasaran dan membentak marah.

"Heh keparat, siapakah engkau berani mencampuri urusan kami?"

Akan tetapi si buruk rupa itu tidak menjawab bahkan tidak memperdulikannya, melainkan menghadapi Wiku Jaladara dan bertanya.

"Sang wiku yang baik, apakah sebabnya orang muda ini menyerang anda?"

Wiku Jaladara merangkap kedua tangan di depan dada, menjawab dengan tenang.

"Saya sendiri tidak tahu mengapa, kisanak, kemarin saya membawakan daun obat dan berhasil mengusir racun dari dalam perutnya, pagi ini dia datang mencari saya dan tahu-tahu telah menyerang saya tanpa sebab. Semoga dia diterangi cahaya kebenaran Sang Hyang Adhi Buddha, Sadhu!"

Wiku Jaladara mengucapkan puja-puji.

Jokowanengpati menjadi panas sekali hatinya.

Ia tidak tahu siapa si buruk rupa ini, akan tetapi melihat betapa tadi dapat menangkis pukulannya dengan tenaga sedemikian kuatnya, ia dapat menduga bahwa orang ini merupakan lawan yang cukup tangguh.

Oleh karena itu, tanpa menanti orang itu menyerangnya dengan pukulan maupun kata-kata, ia telah mendahului membentak.

"Orang lancang dan usil! Terimalah pukulanku ini!"

Ia menerjang dengan ganas, menggunakan kegesitan tubuhnya, mengerahkan Bayu Sakti dan menyerang sambil mainkan Aji Jonggring Saloko.

"Hemmm, bocah tersesat!"

Orang bertopeng itu berkata perlahan, tubuhnya bergerak cepat pula dan dengan mudah menghindarkan pukulan Jokowanengpati yang bertubi-tubi.

Lebih sepuluh kali Jokowanengpati memukul dengan tangan kanannya, menggunakan ilmu pukulan Jonggring Saloko, akan tetapi orang itu selalu mengelak dengan gesitnya.

Mulai kaget dan heranlah hati Jokowanengpati.

"Engkau siapa?"

Bentaknya sambil melompat mundur.

Akan tetapi orang itu tidak menjawab, hanya mengeluarkan suara ketawa lirih.

Jokowanengpati marah sekali.

Ia tidak dapat menggunakan kedua tangannya karena tangan kirinya ia pakai mendekap patung kencana di dada.

Namun biar hanya tangan kanannya yang bergerak, sebetulnya serangan-serangannya tadi hebat bukan main.

Mengapa orang aneh ini dapat mengelakkannya demikian mudah?

"Mampuslah!"

Kembali Jokowanengpati menerjangnya, kini ia menambah tenaga pukulannya, bahkan menggunakan aji tendangannya yang hebat.

Bagaikan kitiran angin tangan kanannya dan kedua kakinya menerjang ganti-berganti, tidak memberi kesempatan kepada lawan.

Namun aneh sekali, orang itu menghadapi semua serangannya dengan tenang dan dapat mengelak pada saat yang tepat.

"Keparat, balaslah! kau kira aku takut terhadap balasan seranganmu?"

Jokowanengpati berteriak ketika melihat betapa lawannya itu hanya mengelak terus sambil kadang-kadang mengeluarkan suara ketawa lirih.

Kalau orang ini tidak menyerangnya, mana ia mampu mengenalnya?

Dari gerak serangannya, mungkin ia akan dapat menduga siapa gerangan orang di balik topeng ini!

"Hemm, benar-benar tersesat engkau.

Sambutlah ini!"

Tiba-tiba orang itu balas menyerang dan alangkah kaget hati Jokowanengpati bahwa orang inipun menyerangnya dengan ilmu yang sama!

Orang itu menggunakan serangan dengan ilmu pukulan Jonggring Saloko pula!.

Gurunyakah?

Empu Bharodokah?

Menggigil tubuh Jokowanengpati ketika hatinya menduga demikian, akan tetapi ia cepat menggunakan Bayu Sakti untuk mengelak.

Ia memandang lebih teliti.

Bukan, bukan gurunya.

Biarpun gurunya dapat bersembunyi di balik topeng sehingga ia takkan mengenali mukanya, namun gurunya tidak mungkin dapat merubah bentuk tubuhnya.

Dan orang ini bentuknya tidak sama dengan gurunya.

Gurunya lebih pendek dan leher gurunya tidak sepanjang itu.

Bukan, orang ini bukan gurunya.

Akan tetapi ia tidak dapat berpikir lama-lama karena orang bertopeng itu sudah menerjangnya lagi dengan gerakan yang hebat..

Jokowanengpati mengeluh.

Orang ini gerakannya tidak kalah cepat olehnya, sedangkan ia sendiri merasa canggung karena tangan kirinya harus memeluk patung kencana.

Ketika ia merasa angin pukulan menghantam leher, cepat ia menangkis karena untuk mengelak amat berbahaya.

"Dukkkk!"

Kembali ia terpelanting dan pada saat itu lawan sudah mencengkeram ke arah dadanya.

Jokowanengpati membuang diri ke belakang dan gerakan ini membuat sutera kuning pembungkus patung berkibar dan tanpa disengaja terkena cengkeraman orang itu.

"Bretttl"

Sutera kuning itu terlepas dari patung kencana dan tampaklah kini pusaka keramat itu, sebuah patung Sri Batara Wishnu, terbuat daripada emas, diukir amat indahnya seakan-akan patung itu hidup!

"Aahhhhhhh...!

Pusaka Mataram...?"

Orang bertopeng itu berseru lirih, sejenak terpesona, kemudian ia menggereng dan menerjang makin hebat.

Jokowanengpti kewalahan.

Ia hanya menggunakan tangan kanan saja untuk melawan, sedangkan dalam hal tenaga dan kecepatan, orang itu tidak kalah olehnya, maka ia terdesak dan pada saat ia menangkis sebuah pukulan, tangan orang itu telah berhasil menampar pundaknya.

"Aduhhh...!"

Hebat sekali tamparan itu.

Panas rasanya dan diam-diam Jokowanengpati terheran.

Terang bukan gurunya, karena tenaga yang dipergunakan dalam pukulan tadi bukanlah Siyung Warak, melainkan tenaga lain yang ampuhnya tidak kalah oleh Siyung Warak, yang membuat dadanya serasa dibakar.

Celaka, pikirnya.

Musuh ini amat tangguh dan kalau dilanjutkan sampai ia kalah, tentu patung ini akan terampas.

Patung pusaka keramat!

Pusaka Brojol Luwuk yang berada di dalam patung Teringat akan ini, Jokowanengpati lalu melompat jauh ke belakang, memutar-mutar bagian bawah patung yang segera terbuka dan ketika tangan kanannya merogoh ke dalam patung, ia mendapatkan sebatang keris yang warnanya abu-abu.

Keris ini ujudnya biasa saja, malah tanpa ganja (dasaran keris) atau ganjanya bersambung dan rata dengan tubuh kerisnya, eluknya tujuh model Sempana, warnanya abu-abu namun memancarkan cahaya kehijauan yang luar biasa.

Inilah pusaka Brojol Luwuk, pusaka Mataram yang semenjak jaman dahulu menjadi pusaka dan pujaan Raja-rRaja Mataram!

Orang bertopeng itu terbelalak memandang pusaka, mundur-mundur seperti orang ketakutan.

"Brojol Luwuk...!"

Serunya kaget.

Melihat ini, besar hati Jokowanengpati.

Kiranya keris inilah pusaka sebenarnya, adapun patung kencana itu hanyalah wadah (tempat) belaka.

Maka agar gerakannya jangan terhalang, ia melemparkan patung yang sudah kosong itu ke atas rumput, kemudian dengan keris pusaka Brojol Luwuk di tangan kanan ia menyerbu sambil lari ke depan.

Keris menyambar ke depan.

Orang bertopeng itu melompat ke pinggir untuk mengelak, akan tetapi tiba-tiba ia terpelanting.

Hebat memang wibawa keris pusaka itu yang seakan-akan mengeluarkan hawa sakti yang amat panas.

Menghadapi wibawa dan hawa sakti ini saja lawan sudah seakan-akan lumpuh dan hilang kedigdayaannya.

Jokowanengpati girang sekali.

Ia menubruk maju dengan kerisnya sambil berseru.

"Mampus kau!"

Orang itu kembali mengelak, akan tetapi sekali lagi ia terguling seperti terkena dorongan yang amat kuat.

Jokowanengpati menubruk ke bawah, kerisnya meluncur ke arah dada lawan.

Orang itu mengeluh panjang dan menggulingkan tubuhnya cepat-cepat menghindar sehingga keris menancap tanah.

Seketika tanah itu mengeluarkan suara mendesis dan mengebulkan asap!

Bukan main!

Tanah saja seperti tidak kuat menahan tusukan keris bertuah ini, apalagi kulit daging manusia.

Pantas saja orang bertopeng itu ketakutan dan selalu menghindar.

Jokowanengpati makin besar hatinya.

Setelah mencabut keris itu ia mengejar, sumbarnya.

"Hayoh keluarkan kesaktianmu, keparat! Jangan lari kau!"

Bagaikan sebuah ndaru (bintang berekor) keris itu meluncur lagi menuju ulu hati orang bertopeng.

Orang itu mengeluarkan keluhan panjang dan berusaha meloncat tinggi untuk melarikan diri.

Namun hawa sakti keris pusaka Brojol Luwuk agaknya dapat mengejarnya sehingga dari atas ia terbanting jatuh lagi lalu bergulingan menjauhkan diri.

Jokowanengpati girang sekali, tertawa-tawa mengejek dan mengejar terus.

"Sadhu-sadhu-sadhu... Kisanak, terimalah ini...!"

Wiku Jaladara telah mengambil patung kencana dan kini ia melemparkan patung itu ke arah orang bertopeng.

Patung kencana itu meluncur dan mengeluarkan sinar cemerlang, lalu diterima oleh orang bertopeng dengan wajah berseri.

"Terima kasih, sang wiku!"

Pada saat itu Jokowanengpati sudah datang lagi menerjang, keris pusakanya meluncur cepat sekali ke arah perut lawan.

Orang bertopeng itu telah membuka bagian bawah patung.

Dengan patung kencana di tangan, hawa sakti keris pusaka ampuh itu sama sekali tidak mempengaruhinya seakan-akan menjadi tawar oleh wibawa yang keluar dari patung kencana.

Begitu keris pusaka itu menghunjam, orang bertopeng cepat menyambutnya dengan patung kencana yang dipegang dengan kaki di depan.

"Cepppp!"

Tepat sekali keris itu memasuki patung kencana yang memang menjadi wadahnya, tepat dan persis seperti curiga manjing warangka (keris memasuki sarungnya)!

Dan pada saat itu, orang bertopeng sudah menggerakkan tangan kirinya menghantam lengan kanan Jokowanengpati.

Hebat bukan main hantaman jari-jari tangan kiri ini.

Jokowanengpati merasa seakan-akan lengannya hancur, padahal ia telah mengerahkan Aji Siyung Warak.

Ia menjerit kesakitan, tangan kanannya merasa lumpuh ketika ia melompat ke belakang.

Maklumlah pemuda ini bahwa tak mungkin ia akan menang kalau melanjutkan pertandingan, maka dengan mulut memekik penuh kecewa dan sesal ia lalu meloncat dan lari sambil mengerahkan Aji Bayu Saktinya.

Sebentar saja ia lenyap dari dalam hutan itu.

"Jagad Dewa Batara...!"

Orang bertopeng itu mengeluh sambil memandang patung kencana.

"Berbahaya sekali...!"

Kemudian ia menoleh ke arah Wiku Jaladara yang masih berdiri di bawah pohon, menghampiri dan menjura penuh hormat.

"Terima kasih atas bantuan sang wiku."

Wiku Jaladara balas menghormat sambil menyembah depan dada, lalu berkata dengan halus.

"Sabhe satta ayera hontu, sadhu-sadhu-sadhu (Semoga semua mahluk hidup damai)!"

Orang bertopeng itu tersenyum, menghela napas panjang dan berkata sebagai jawaban.

"Kalau semua orang di dunia ini seperti anda, sang wiku yang bijaksana, kiranya perdamaian akan menyelimuti jagad. Akan tetapi selama orang-orang macam orang muda tadi masih berkeliaran di dunia, bagaimana kita dapat mengharapkan perdamaian?"

Selanjutnya orang bertopeng itu menjura lagi lalu pergi dari situ sambil mulutnya berkemak-kemik membaca mentera dan doa, meninggalkan Wiku Jaladara yang juga tiada hentinya berdoa sambil melanjutkan memetik daun dan bunga obat.

Setelah keluar dari dalam hutan, orang bertopeng itu lalu melucuti topengnya yang merupakan selembar getah kering pohon karet.

Maka tampaklah kini wajah yang berwibawa dari seorang pertapa yang rambutnya sudah putih semua, yang bukan lain adalah Bhagawan Rukmoseto atau Resi Bhargowo!.

Sang waktu melewat dengan pesatnya atau merayap dengan lambatnya tanpa dipengaruhi oleh apapun yang terjadi di dunia ini.

Semua tunduk kepada waktu.

Semua melapuk dan rusak digerogoti waktu.

Tiada kekuasaan di dunia dapat mempercepat atau memperlambat jalannya waktu.

Manusia hanya dapat menyumpahi kelambatannya kalau sedang tergesa-gesa, atau menyesali kecepatannya kalau sudah tua.

Sepuluh tahun lebih telah lewat sejak Pujo membawa lari Joko Wandiro dari tangan ibunya, ketika Pujo menculik isteri dan putera Wisangjiwo ke Guha Siluman.

Kini Joko Wandiro sudah berusia dua belas tahun, seorang anak laki-laki yang berwajah tampan bertubuh kuat dan pada wajahnya terbayang kekerasan hati, sungguhpun kekerasan pada tarikan dagunya ini dilembutkan sinar matanya yang tajam dan bibirnya yang sering tersenyum ramah.

Joko Wandiro adalah seorang anak yang periang, nakal Jenaka.

Seringkah ia bermain-main dengan anak-anak nelayan yang kadang-kadang datang ke pantai tempat ia dan ayahnya tinggal, pantai yang sunyi sekali jauh dari perkampungan nelayan.

Apabila anak-anak nelayan itu bermain-main di daerah sunyi ini, terdengar suara Joko Wandiro ikut bersorak-sorak gembira.

Akan tetapi apabila ia sedang berlatih dengan ayahnya, tampaklah kesungguhan hatinya.

Pada suatu pagi, Joko Wandiro telah berlatih dengan Pujo yang selama ini telah menjadi"Ayahnya."

Dan memang sesungguhnyalah Pujo menyayangi anak ini seperti anaknya sendiri, makin besar anak itu, makin besar pula rasa sayangnya sehingga ia seakan-akan telah lupa bahwa anak itu adalah keturunan musuh besarnya.

Lupa bahwa ia membesarkan dan mendidik anak ini dengan tujuan menyiksa hati Wisangjiwo, dan sengaja hendak mengadu anak ini dengan Wisangjiwo kelak.

Kini ia menganggap Joko Wandiro sebagai putera atau murid sendiri yang dididik dengan tekun.

Di dekat muara Kali Lorog, di sepanjang pantai Laut Selatan yang banyak teluknya, di sanalah mereka berdua ini tinggal.

Pada pagi hari itu, seperti biasa, Joko Wandiro telah berdiri di atas batu karang yang menonjol di permukaan laut.

Di depannya, Pujo juga berdiri di atas batu karang lain yang jaraknya antara dua meter dari batu karang pertama.

Kemudian Pujo bergerak perlahan, menggerakkan kaki tangan seperti orang menari, yang diikuti pula oleh Joko Wandiro.

Kadang-kadang terdengar teriakan Pujo yang mengiringi pukulan-pukulan tertentu, diturut pula oleh Joko wandiro dengan teriakan nyaring dan tinggi.

Terus menerus mereka berlatih sampai keringat membasahi seluruh tubuh Joko Wandiro, sampai matahari naik tinggi dan sampai ombak air laut yang tadinya tenang itu mulai mengganas dan menyerbu batu karang yang mereka jadikan tempat berlatih!

Makin ganas ombak, makin cepat pula gerakan Pujo dan Joko Wandiro.

Ternyata hantaman ombak ke lambung batu karang yang membuat air muncrat ke atas menyerang kedua orang itu, dipergunakan oleh Pujo untuk latihan kegesitan karena mereka itu menganggap seolah-olah percikan air itu merupakan pukulan dan serangan lawan!

Kalau lidah ombak yang memukul itu tak dapat dielakkan lagi, mereka menggunakan kekuatan tubuh untuk melawannya, dan tubuh mereka seolah-olah batu karang, kokoh kuat tidak bergeming oleh hantaman ombak memecah.

Namun makin lama Joko Wandiro makin menderita karena tubuhnya belumlah sekuat Pujo.

Pujo melihat ini, melihat betapa Joko Wandiro mulai terhuyung setiap kali lidah ombak datang melecut.

Ia tersenyum dan berkata nyaring mengatasi debur, suara Ombak.

"Cukup anakku!"

Tubuh Pujo melompat ke atas batu karang puteranya, lalu sekali sambar ia telah mengempit pinggang Joko Wandiro, kemudian dibawanya tubuh anak itu meloncat ke batu karang di pinggir.

Mereka kini berjalan kaki sambil menghapus air laut dan peluh dari muka dan leher, menuju ke pondok yang menjadi tempat tinggal mereka, di bawah sekelompok pohon nyiur.

Baik Pujo maupun Joko Wandiro sama sekali tidak tahu bahwa gerakan mereka sejak pagi tadi diawasi terus oleh sepasang mata yang bersinar tajam, sepasang mata milik seorang kakek yang menyembunyikan diri di balik batu karang sambil mengintai.

Kakek ini berambut putih, bukan lain adalah Bhagawan Rukmoseto atau Resi Bhargowo!.

Setelah Pujo dan Joko Wandiro lenyap memasuki pondok yang tampak dari jauh, kakek ini duduk termenung di atas batu karang.

Sejak kemarin ia mengintai dan jelas bahwa puterinya, Kartikosari tidak berada di situ, tiada bersama Pujo.

Bocah yang tangkas dan memiliki bakat luar biasa itu, siapakah?

Putera Pujo dan Kartikosarikah?

Ataukah bocah ini adalah cucu Adipati Joyowiseso yang kabarnya diculik Pujo?

Banyak hal-hal aneh didengarnya selama ini.

Mula-mula hal aneh didapatinya di pondoknya sendiri, ketika ia pulang ke Sungapan.

Pondoknya, Bayuwismo, masih seperti biasa, akan tetapi enam orang cantriknya sudah tidak seperti biasa lagi, Mereka kini telah menjadi tuli semua!

Memang seorang di antara mereka, Wistoro adalah seorang yang tuli dan gagu sejak dahulu, akan tetapi lima orang cantriknya kini menjadi tuli semua.

Dan betapa heran dan penasaran hatinya ketika ia mendengar bahwa Jokowanengpati dan Cekel Aksomolo sebagai utusan Adipati Selopenangkep, Joyowiseso, membawa pasukan dan mencari-cari dia dan Pujo, juga Kartikosari Bagaimanakah ini?

Apakah yang telah terjadi?

Setelah mendengar laporan cantrik-cantriknya yang menangis, Resi Bhargowo menarik napas panjang untuk menekan kemarahan hatinya.

Ia menghibur mereka, lalu langsung ia mengajarkan Aji Panca Kartika kepada lima orang cantriknya yang telah menjadi tuli, dan menurunkan Aji Gelap Musti kepada cantrik Wistoro.

Ilmu Panca Kartika adalah semacam ilmu silat yang dimainkan oleh lima orang, merupakan barisan yang kokoh kuat sehingga ketulian mereka dapat diganti dengan kerja sama dalam barisan sakti ini.

Adapun cantrik Wistoro yang sejak kecilnya tuli gagu, tidaklah merasa rugi seperti kelima orang saudaranya, maka diberi Ilmu Gelap Musti.

Setelah memesan mereka berenam agar berlatih dengan tekun sehingga kelak menjadi orang-orang yang tidak mudah menerima penghinaan orang lain.

Resi Bhargowo lalu berangkat menyelidiki ke Kadipaten Selopenangkep.

Mulailah kakek sakti ini tenggelam ke dalam lautan rahasia yang aneh-aneh, teka-teki yang membuat hatinya menjadi terganggu, penuh penasaran dan pertanyaan, dan selanjutnya membuat ia selalu melakukan perbuatan secara diam-diam dan bersembunyi.

Di Kadipaten Selopenangkep yang ia selidiki secara diam-diam itu, ia mendapat dengar tentang penyerbuan Pujo ke kadipaten, tentang usaha Pujo membunuh sang adipati, kemudian Betapa Pujo tertangkap dan dihukum perapat, namun malamnya dapat melarikan diri, bahkan membawa lari atau menculik Listyokumolo isteri Wisangjiwo serta puteranya yang baru berusia satu tahun!

Hebat berita ini, membuat Resi Bhargowo makin gelisah hatinya, makin tak berani memperlihatkan diri kepada orang lain.

Mulailah kakek ini mencari-cari puteri dan mantunya yang lenyap seperti ditelan bumi itu.

Inilah pula sebabnya mengapa ketika dalam usahanya mencari mereka itu ia berjumpa dengan Jokowanengpati di hutan lereng Gunung Lawu, kakek ini segera menyembunyikan mukanya di balik topeng getah karet!

Makin terheran pula ketika tanpa disengaja ia berhasil merampas patung kencana berisi pusaka Brojol Luwuk yang menjadi pusaka keramat Mataram semenjak jaman dahulu!

Pusaka Mataram lenyap dari keraton!

Alamat tidak baik!

Keanehan demi keanehan dihadapi oleh kakek ini.

Ia mendengar betapa banyak adipati, di antaranya dan terutama sekali Adipati Joyowiseso di Kadipaten Selopenangkep, mulai mengumpulkan orang-orang muda dan melatih mereka sebagai perajurit-perajurit!

Bahkan Adipati Joyowiseso mendatangkan orang-orang pandai seperti Cekel Aksomolo dan sepanjang pendengarannya, pernah datang pula orang-orang yang dianggap musuh Mataram seperti Ki Warok Gendroyono, Krendoyakso kepala rampok Begelen dan banyak tokoh-tokoh hitam lagi.

Malah kabarnya Ni Durgogini dan Ni Nogogini juga sering datang ke kadipaten!

Inilah hebat.

Tak salah lagi, tentu ada maksud-maksud jahat di Selopenangkep.

Maksud memberontak!

Mendapat kenyataan yang mengejutkan ini, Resi Bhargowo seketika melupakan urusannya sendiri, dan menunda usahanya mencari puterinya.

Ia lalu berangkat ke Kahuripan (Mataram) untuk melaporkan tentang usaha pemberontakan ini, juga sekalian bermaksud mengembalikan pusaka Mataram yang secara kebetulan terjatuh ke dalam tangannya.

Akan tetapi, sesampainya di Kotaraja, kembali ia terpukul oleh kenyataan-kenyataan yang mengherankan dan mengejutkan.

Ia mendengar bahwa Sang Prabu Airlangga telah mengundurkan diri dari tahta Kerajaan dan hidup sebagai seorang pendeta, berjuluk Sang Resi Gentayu (hal ini terjadi pada tahun 1.041).

Semenjak pengunduran diri Sang Prabu Airlangga inilah keadaan keraton Kahuripan menjadi medan persaingan dan perebutan kekuasaan antara para pangeran, keturunan permaisuri pertama yang kini menjadi pertapa pula berjuluk Sang Kili Suci, dan keturunan permaisuri ke dua Puteri Sriwijaya.

Biarpun Ki Patih Kanuruhan (Narotama) masih menjadi pembimbing dan penasehat, namun pengaruhnya kurang kuat untuk memadamkan api persaingan kekuasaan ini.

Bukan hanya itu saja yang mengejutkan dan mengherankan hati Resi Bhargowo.

Juga ia mendapat kenyataan bahwa putera Adipati Joyowiseso, yaitu Wisangjiwo, oleh Ki Patih malah diangkat menjadi seorang senopati muda!

Benar-benar ia menjadi penasaran sekali dan mencurigai Ki Patih yang dianggapnya kurang bijaksana atau mungkin ada hubungan dengan mereka yang bermaksud memberontak!

Dengan itikad baik Resi Bhargowo langsung mengunjungi istana Kepatihan untuk menegur Ki Patih dan melaporkan semua yang diketahuinya.

Akan tetapi apa yang terjadi?

Begitu memasuki Kepatihan, ia lalu ditangkap dengan tuduhan pemberontak dan pengacau Kadipaten Selopenangkep, hendak membunuh seorang adipati.

Adipati adalah ponggawa Raja, oleh karena itu menyerangnya berarti pemberontakan!

Tanpa diberi kesempatan membela diri Resi Bhargowo terus saja ditangkap.

Timbulkan kemarahan dan penasaran di hati pertapa yang biasanya tenang dan damai itu.

Ia segera mempergunakan kesaktiannya, melepaskan diri dari sergapan, mengamuk lalu meninggalkan Kotaraja dengan hati murung.

Pusaka Mataram tidak dikembalikan, dan mulai saat itulah Resi Bhargowo menjadi pemurung dan pemarah.

Hatinya yang tadinya tenang tenteram itu diombang-ambingkan kekecewaan dan penasaran.

Ia bertekad untuk menyimpan pusaka ampuh itu, tidak hendak mengembalikannya kepada Mataram!

Dan karena maklum bahwa semua orang pandai tentu berlomba untuk mendapatkan pusaka itu, maka ia tidak mau mempergunakan nama Resi Bhargowo lagi, namanya ia ubah menjadi Bhagawan Rukmoseto dan ia menjelajahi hutan-hutan dan gunung, pasisir-pasisir dan teluk, melanjutkan usahanya dahulu, mencari puteri dan mantunya.

Demikianlah, setelah sepuluh tahun lebih tak pernah mendengar tentang puteri dan mantunya, pada hari itu ia dapat menemukan Pujo di muara Sungai Lorog di pantai Laut Selatan.

Akan tetapi oleh karena tidak tampak Kartikosari di tempat itu, ia tidak mau menemui Pujo, bahkan lalu meninggalkan tempat itu untuk mencari puterinya, Kartikosari!

Ia dapat menduga bahwa tentu Kartikosari belum mati, seperti Pujo, karena kalau hal ini terjadi, sudah tentu Pujo akan memberi laporan kepadanya di Sungapan.

Tentu telah terjadi sesuatu yang hebat, yang memisahkan Pujo dari Kartikosari, dan bahwa kedua orang itu sengaja hendak menyembunyikan kejadian itu daripadanya, sengaja tidak memberi tahu dan bahkan masing-masing pergi mengasingkan diri!

Bahwasanya Pujo menyerbu Selopenangkep, tentu ada sangkut-pautnya dengan perpisahan mereka itu.

Sementara itu Pujo yang sama sekali tidak pernah mimpi bahwa tadi ia diintai oleh guru atau ayah mertuanya, di dalam pondok makan ubi bakar bersama Joko Wandiro.

Sejenak ia memandang anak yang makan dengan lahap itu.

Anak yang ganteng, berbakat, dan menyenangkan, pikirnya.

Sayang, dia putera Wisangjiwo!

Teringat ini, tiba-tiba Pujo tersedak.

Ubi bakar memang makanan yang seret.

Cepat-cepat ia menyambar kendi dan menuangkan air kendi ke dalam mulut untuk mendorong ubi yang mencekik tenggorokan.

"Ada apakah, ayah?"

Tanya Joko Wandiro, memandang heran kepada wajah ayahnya yang menjadi merah dan pandang matanya berbeda dari biasanya.

Pula, ayahnya yang biasanya tenang sekali itu, mengapa pagi ini sampai tersedak ketika makan ubi?

Pujo menatap wajah muridnya yang diaku sebagai puteranya, lalu menghela napas panjang dan berkata.

"Wandiro, masih ingatkah engkau akan nama musuh besar ayahmu?"

Joko Wandiro mengangguk.

"Sampai mati takkan kulupakan nama itu, ayah. Dia Raden Wisangjiwo yang telah membunuh ibuku."

"Betul sekali, anakku. Dia seorang raden, putera Adipati Selopenangkep."

"Apakah dia sakti, ayah?"

Joko Wandiro bertanya penuh perhatian.

"Dia cukup sakti karena dia murid Ni Durgogini seorang manusia siluman yang menguasai pegunungan sepanjang pantai Laut Selatan. Selain sakti lapun sangat curang dan licik, maka engkau harus selalu berhati-hati apabila kelak bertemu dengannya, Wandiro. Dia pandai menggunakan segala macam akal dan tenung (ilmu hitam)."

Keterangan ini diberikan oleh Pujo dengan sejujurnya.

Masih menyesal hatinya kalau teringat peristiwa di dalam guha itu.

Dalam pertandingan melawan Wisangjiwo, ia sudah memperoleh kemenangan, akan tetapi ia kurang hati-hati dan tidak mengira bahwa lawan yang sudah kalah itu amat curang sehingga ia lengah dan terkena pukulan dahsyat dari belakang.

"Ayah begini kuat dan sakti. Apakah ayah kalah olehnya?"

"Tidak, Wandiro. Ayahmu tidak kalah oleh Wisangjiwo. Biar ada lima orang Wisangjiwo, agaknya aku takkan undur selangkah!"

Jawab Pujo dengan suara gemas dan penasaran.

"Kalau begitu, mengapa ayah tidak lekas-lekas mencarinya dan membalaskan kematian ibu?"

Sejenak Pujo memandang wajah anak itu penuh selidik, kemudian ia merangkul dan mengusap-usap kepalanya.

"Tidak begitu mudah, anakku. Sudah kukatakan tadi selain sakti, Wisangjiwo amatlah cerdik dan curang. Dia telah berhasil memperoleh kedudukan tinggi di Kerajaan, menjadi seorang senopati dan di Kerajaan terdapat banyak sekali orang sakti. Akan tetapi aku tidak takut. Aku terlambat sampai sekarang untuk membalasnya adalah karena engkau, anakku."

"Karena aku?"

"Ya, benar. Dahulu engkau masih kecil, bagaimana aku tega meninggalkanmu untuk mencari dan membalas musuh besar? Aku perlu memelihara dan mendidikmu. Nah, sekaranglah tiba saatnya bagiku untuk pergi mencari musuh besar kita itu. Engkau sudah besar, sudah boleh kutinggalkan sendiri..."

"Tidak, ayah! Aku akan ikut! Mari kita pergi berdua mencari musuh, aku sama sekali tidak takut."

Pujo tersenyum. Tidak sia-sia ia mendidik anak ini sejak kecil. Selain tubuhnya kuat bakatnya baik, juga nyalinya besar.

"Tidak boleh, Wandiro. Pekerjaan ini amatlah berbahaya. Sudah kukatakan tadi, Wisangjiwo tidak berbahaya ilmunya, melainkan berbahaya sekali kelicikannya. Sekali ini ayahmu pergi mencarinya untuk mengadu nyawa. Dia atau aku yang mati. Kalau dia yang mati dan aku selamat, aku akan kembali ke sini dalam waktu seratus hari. Akan tetapi kalau dalam waktu seratus hari aku tidak pulang, berarti akulah yang tewas..."

"Ayah! Aku akan turut dan membantu ayah membunuh si laknat Wisangjiwo itu!"

Pujo menggeleng kepala.

"Kepandaianmu belum cukup, usiamu belum cukup, Kalau kau ikut kemudian kaupun tewas bersamaku..."

"Tidak apa, ayah. Aku tidak takut, biar mati asal bersama ayah dan untuk membela ibu..."

"Ah, anak baik, sikapmu ini baik sekali. Akan tetapi tidak tepat. Kalau aku gagal membalas dan kita mati berdua, lalu siapa kelak yang akan membalaskan kematian ibumu? Akulah yang berangkat sendiri, syukur kalau berhasil. Andaikata gagal dan aku tewas, masih ada engkau yang kelak akan melanjutkah perjuangan kita ini. Dengarlah baik-baik, Wandiro. Tiga hari lagi adalah hari Respati dan aku akan berangkat pada hari itu mencari Wisangjiwo. kau tinggal di sini atau kalau kesepian boleh kau tinggal bersama para nelayan di sana, dan tunggu aku sampai seratus hari. Kalau sampai seratus hari aku tidak pulang..."

"Kau akan pulang kau takkan kalah, ayah!"

Potong Joko Wandiro penuh semangat, matanya yang hitam itu berkilat-kilat.

"Kuharapkan demikian. Akan tetapi kalau sampai seratus hari aku tidak pulang, kau carilah kakek gurumu."

"Kakek guru...? Dia guru ayah...?"

"Benar, Wandiro. Kakek gurumu itu adalah Resi Bhargowo, seorang pertapa sakti mandraguna yang bertempat tinggal di Bayuwismo, di Sungapan pantai-Laut Selatan. Kalau dari sini kau melakukan perjalanan terus menyusuri sepanjang pantai menuju ke barat, akhirnya kau akan tiba di Sungapan itu. Nah, setelah bertemu eyangmu Resi Bhargowo, kau katakan bahwa kau anak dan muridku, selanjutnya mohon petunjuknya dan ceritakan bahwa kau bercita-cita membalas dendam kepada Wisangjiwo yang telah membunuh ibumu dan membunuh ayahmu pula."

"Ayah..."

Joko Wandiro kaget. Pujo tersenyum.

"Anak bodoh. Kalau dalam seratus hari aku tidak pulang, bukankah itu berarti aku telah kalah dan tewas?"

Joko Wandiro termenung. Tiba-tiba ia mengangkat mukanya dan bertanya dengan suara tegas.

"Ayah, aku hanya mendengar dari ayah bahwa ibu telah dibunuh oleh si laknat Wisangjiwo. Akan tetapi belum pernah ayah menceritakan kepadaku bagaimana terjadinya pembunuhan itu dan di mana pula adanya makam ibuku."

Pujo tercengang. Inilah sama sekali tak pernah disangkanya dan diperhitungkannya. Akan tetapi ia dapat menguasai hatinya, lalu menjawab.

"Ketika itu ibumu dan aku sedang berlatih samadhi dalam sebuah guha,, engkau baru berusia setahun dan engkau tidur di sudut guha. Tiba-tiba muncul Wisangjiwo yang tergila-gila kepada ibumu sehingga terjadi pertempuran. Aku berhasil merobohkan dia, akan tetapi karena ibumu terluka, aku melupakan dia dan menolong ibumu. Nah, dalam keadaan lengah itulah ia berlaku curang, menyerangku dari belakang sehingga aku roboh pingsan. Kemudian ia... ia... memperkosa ibumu lalu melarikan diri. Ibumu yang merasa dihina menjadi seperti gila lalu lari keluar guha dan... selanjutnya sampai kini aku tidak mendengar beritanya lagi. Agaknya ibumu telah tewas, dan kalau ia tewas, bukankah sama artinya dengan dibunuh oleh Wisangjiwo?"

Sejak mendengar cerita dari semula, wajah Joko Wandiro menjadi merah sekali, hidungnya berkembang-kempis dan dua butir air mata meloncat keluar dari pelupuk matanya, kemudian ia bangkit berdiri, mengepal kedua tinju tangannya dan berbisik.

"Jahanam Wisangjiwo...!"

Kemudian anak ini berdiri termenung seperti sebuah arca.

Pujo melirik dan tersenyum senang.

Berhasil ia memupuk kebencian dalam diri anak ini terhadap Wisangjiwo.

Inilah harapannya, untuk membalas dendam yang tak kunjung padam dalam hatinya terhadap Wisangjiwo.

"Ayah, apakah ibu juga seorang wanita sakti?"

"Ibumu adalah puteri eyang gurumu, tentu saja iapun sakti, hanya kalah setingkat oleh ayahmu ini."

"Kalau begitu, tentu ibu belum tewas!"

Joko Wandiro bersorak."Ayah, aku akan mencari ibu!"

"Ahh, andaikata belum tewas juga, ke mana engkau akan mencarinya? Sudahlah, kita membuat persiapan. Hari Respati esok lusa ayah berangkat dan kau sekarang boleh pergi ke dusun untuk mencarikan seekor kuda. Katakan saja kepada mereka bahwa aku hendak pergi ke Kotaraja, memerlukan seekor kuda tunggangan dan katakan pula bahwa kau hendak tinggal di sana selama aku pergi."

"Tidak, ayah. Aku akan tinggal saja di sini, biar seorang diri. Aku tidak takut."

Pujo tersenyum.

"Begitupun lebih baik. Nah, tentang kuda itu, kalau ada cari yang pancai panggung, putih ujung keempat kakinya. Biar agak mahal harganya, tidak mengapa."

Joko Wandiro mentaati perintah ayahnya lalu berlari keluar pondok dan seperti seekor kijang muda, anak ini berlari-larian menuju ke dusun yang cukup jauh dari tempat itu, melalui sebuah hutan kecil di sebuah di antara puncak-puncak Pegunungan Kidul.

Hari sudah siang ketika Joko Wandiro memasuki hutan itu.

Tiba-tiba ia mendengar suara hiruk-pikuk, diseling suara lengking tinggi yang memekakkan telinga dan suara-suara aneh lain.

Suara-suara itu makin lama makin keras dan demikian hebatnya sehingga menimbulkan gema yang luar biasa.

Joko Wandiro merasa tubuhnya menggigil, bukan karena takut melainkan karena pengaruh suara-suara yang aneh itu.

Dia seorang anak gemblengan sejak kecil, tentu saja ia tidak merasa takut.

Suara gaduh yang luar biasa itu datangnya dari tengah hutan.

Memang ada rasa ngeri di hatinya karena ia teringat akan dongeng-dongeng yang didengarnya dari anak-anak nelayan tentang setan dan iblis yang berkeliaran didalam hutan, setan dan iblis yang muncul dari dalam lautan di waktu malam bulan pernama.

Malam tadi bulan purnama, apakah kini setan dan iblis itu kesiangan di dalam hutan dan beramai-ramai hendak kembali ke laut?

Namun, kengerian ini kalah oleh keinginan hatinya untuk menyaksikan apa gerangan yang menyebabkan suara-suara itu.

Maka Joko Wan-diro lalu berindap-indap menuju ke arah datangnya suara.

Makin dekat, makin tergetarlah isi dadanya, maka cepat-cepat Joko Wandir mengerahkan tenaga sakti seperti yang ia latih bersama ayahnya.

Kemudian ia maju lagi.

Setelah tiba di tengah hutan, di tempat terbuka yang dikelilingi pohon-pohon tinggi, tampaklah olehnya apa yang menyebabkan suara gaduh itu.

Sama sekali bukan iblis atau setan yang bentuknya menakutkan.

Andaikata benar iblis dan setan, akan tetapi iblis dan Setan ini berbentuk manusia biasa, manusia-manusia yang sedang bertanding mati-matian!

Demikian cepat gerakan mereka sehingga mata Joko Wandiro menjadi kabur dan ia segera dapat memaklumi bahwa yang tengah bertanding itu adalah orang-orang sakti yang berilmu tinggi.

Ia khawatir kalau-kalau ia terlihat oleh mereka dan selain kekhawatiran ini, iapun ingin sekali menonton pertandingan.

Bagaimana akalnya?

Ia memandang ke atas lalu cepat-cepat seperti seekor kera Joko Wandiro memanjat pohon, berloncatan dari dahan ke dahan sampai akhirnya ia berada di atas mereka yang sedang bertanding mati-matian.

Enak menonton di tempat itu dan jelas kelihatan mereka yang sedang beryuda.

Ia memandang penuh perhatian, tetap mengerahkan tenaga dan hawa sakti karena suara berkeritik aneh membuat jantungnya berdebar tidak karuan.

Pertandingan itu tidak seimbang jumlahnya.

Seorang laki-laki tua yang gagah perkasa, bertangan kosong, dikeroyok oleh delapan orang!

Dan di sekeliling tempat itu terdapat belasan orang lain yang mengepung dan menonton sambil bersorak memberi semangat kepada delapan orang yang mengeroyok itu!.

"Tak pantas! Tak tahu malu!"

Joko Wandiro memaki-maki di dalam hatinya, akan tetapi ia kagum bukan main menyaksikan sepak terjang orang tua yang dikeroyok itu.

Gerakannya tangkas, matanya berkilat, tangannya ampuh dan kuat, dapat menangkis senjata-senjata tajam lawan yang menyambarnya bagaikan hujan.

Siapakah gerangan orang tua yang gagah perkasa itu?

Dia bukan lain adalah Rakyana Patih Kanuruhan atau Sang Narotama Patih Kahuripan yang gagah perkasa dan sakti mandraguna.

Karena segala usaha yang dikerahkan untuk mendapatkan kembali pusaka keraton yang hilang, sang Patih tiada bosannya ikut pula berusaha sendiri mencari dan pada hari itu iapun tengah berkelana mencari pusaka itu.

Akan tetapi setibanya di hutan ini ia telah dikurung oleh banyak orang.

ia tentu saja tidak tahu bahwa memang sejak kepergiannya dari Kerajaan, ia telah dibayangi dan di tempat ini dia sengaja dihadang oleh musuh-musuh ini.

Dapat dibayangkan betapa heran hati sang Patih ketika melihat di antara para penghadang yang bersikap mengancam dan bermusuhan ini, ia mengenal Ki Warok Gendroyono, yang pernah dihukum kemudian dibebaskan oleh Sang Prabu Airlangga, kemudian mengenal pula Ki Krendoyakso kepala perampok dari daerah Bagelen yang pernah dihancurkan gerombolannya oleh bala tentara Mataram.

Di samping dua orang sakti ini, ia melihat pula seorang berpakaian cantrik yang sudah tua sekali usianya, bertubuh tinggi kurus dan bongkok akan tetapi sikapnya membayangkan kesaktian yang tak boleh dipandang ringan, dan di sebelahnya berdiri pula seorang tua yang pucat wajahnya, bermata sipit dan berkulit kekuningan, di pinggangnya tergantung sepasang golok.

Dua orang yang tidak dikenalnya ini jelas bukan orang sembarangan.

Adapun mereka yang berdiri di belakang, belasan orang banyaknya, adalah orang-orang tinggi besar dan kasar, dipimpin oleh lima orang yang bercambang bauk, dan sikapnya seperti kepala perampok.

"Narotama, saat kematianmu tibalah sekarang!"

Demikianlah bentakan Ki Warok Gendroyono begitu mereka berjumpa.

Narotama tersenyum.

Sebutan namanya itu saja sudah membuktikan bahwa orang-orang ini menghendaki permusuhan, sama sekali tidak menganggapnya sebagai Patih dalam yang terhormat dari Kahuripan.

"Wah, kiranya Ki Warok Gendroyono ini!"

Ujarnya sambil tersenyum tenang,"Juga Ki Krendoyakso dari Bagelen! Siapa gerangan paman cantrik dan kisanak yang lain ini?"

"Uuh-huh-huh, aku cantrik bukan sembarang cantrik, biar cekel juga cekel pilihan, gegeduk, benggolan dan pentolan di antara segala cekel! Akulah Cekel Aksomolo dari lereng Wilis!"

"Saya orang Salangan, nama saya Ki Tejolanu, sudah lama mendengar kesaktian Ki Patih, ingin coba-coba. Hayo lawan saya!"

Begitu habis kata-katanya, Ki Tejoranu menggerakkan tangannya dan"Syuuuttt!"

Dua sinar tampak dan tahu-tahu sepasang golok telah berada di tangannya.

Langsung saja ia memasang kuda-kuda menghadapi Ki Patih Narotama!.

Diam-diam Narotama terkejut juga mendengar nama Cekel Aksomolo yang sudah tersohor sakti, juga orang yang berbicara pelo ini, biarpun namanya belum pernah ia dengar, akan tetapi melihat gerakannya tadi benar-benar membuktikan keahlian bermain sepasang golok yang hebat.

Ia maklum bahwa ia berhadapan dengan empat orang tokoh sakti.

Belum lagi lima orang pimpinan gerombolan itu yang kelihatan kuat!

Namun ia bukanlah Sang Narotama manusia sakti mandraguna dari Bali-dwipa kalau ia gentar menghadapi ancaman ini.

Sambil tersenyum tenang Narotama bertanya.

"Kalian berempat ini orang-orang berilmu, ada keperluan apakah agaknya sengaja mencegat perjalananku di tempat ini?"

Mudah dimengerti bahwa mereka ini adalah sekutu Adipati Joyowiseso, dan memang menjadi sebuah di antara usaha mereka untuk melemahkan Kahuripan dengan jalan membunuhi tokoh-tokoh penting dan sakti, tentu saja terutama sekali Ki Patih Narotama yang semenjak Sang Prabu Airlangga mengundurkan diri menjadi pertapa, merupakan orang pertama yang paling disegani di seluruh Mataram Akan tetapi karena mereka bekerja dengan hati-hati, mereka tidak mau mengakui hal ini.

Ki Warok Gendroyono yang menjawab dengan bentakan.

"Lupakah engkau bahwa engkaulah orangnya yang menangkapku dahulu sehingga aku menerima penghinaan dengan hukum penggal?"

Narotama tersenyum lagi.

"Ki Warok, sudah jamak orang salah dihukum. Mungkin ia dapat membebaskan diri daripada hukum negara, namun hukum karma akan terus mengejarnya dan takkan melepaskannya sebelum ia menerima buah daripada perbuatan sendiri. Engkau dahulu dijatuhi hukuman sudahlah tepat dengan hukum NGUNDHUH WOHING PAKARTI (memetik buah perbuatan pribadi). Akan tetapi sang prabu yang bijaksana membebaskanmu karena engkau ternyata dapat membebaskan diri daripada hukuman itu. Mengapa engkau sekarang masih penasaran dan mendendam kepadaku, Ki Warok?"

"Hukuman bisa bebas, namun penghinaan tak pernah bebas dari hatiku sebelum aku mampu membalasmu, Narotama!"

"Wah, wah, nyata engkau orang nekat yang mendasari kebenaran sendiri dengan pengumbaran hawa nafsu. Dan engkau, Ki Krendoyakso? Juga mendendam kepadaku karena gerombolan perampok yang kau pimpin dahulu diobrak-abrik?"

"Masih bertanya lagi, Ki Patih? Hutang sakit bayar sakit, hutang nyawa bayar nyawa!"

"Waduh, waduh! seperti lupa saja bahwa gerombolanmu telah membunuh rakyat tak berdosa entah berapa banyaknya, merampok harta benda dan mengganggu anak bini orang. Hemm, paman Cekel Aksomolo yang sudah begini sepuh, apakah juga ada petunjuk untuk saya? Seingat saya, belum pernah saya mendapat kehormatan bertemu dengan paman Cekel, apa pula yang menyebabkan dan mendorong paman saat ini ikut mencegat saya?"

"Luh-luh-luh! Pakai tanya-tanya segala seperti hakim Aku hanya membantu sahabat-sahabatku dan pula... hemm, aku mendengar bahwa kau adalah seorang Patih gemblengan, Patih jagoan, Patih yang kemlinti (sombong), mengandalkan kepandaian yang kau bawa dari Bali-dwipa. Huh-huh-huh, aku paling tidak suka melihat orang yang angkuh dan sombong!"

Narotama menggoyang-goyang kepalanya.

Benar-benar orang aneh kakek tua renta ini, pikirnya.

Aneh seperti anak kecil saja, mudah mendengar hasutan dan omongan orang yang tentu saja ada yang suka ada pula yang membencinya.

Apakah benar anggapan bahwa orang yang sudah terlalu tua itu kembali menjadi seperti kanak-kanak lagi?

Kalau benar demikian, contoh dan buktinya adalah cekel tua ini!

Ia menoleh kepada orang bermata sipit pelo yang masih memasang kuda-kuda dan memegang kedua goloknya.

"Dan engkau bagaimana, kisanak? Siapa namamu tadi? Ki Tejolanu? Tejolanu ataukah Tejoranu?"

"Tejolanu!"

"Hmmm, agaknya kau pelo dan melihat kulit serta mripatmu (matamu), agaknya engkau ini seorang dari Negeri Cina. Apa pula sebabnya engkau ikut mencegatku padahal di antara kita tidak pernah ada hubungan sesuatu?"

"Saya... saya ingin menantang pibu (mengadu ilmu) dengan Ki Patih! Saya paling senang pibu dengan olang-olang pandai. Mati dalam pibu adalah matinya olang gagah!"

Narotama makin terheran.

Ini lebih aneh lagi, pikirnya.

Apakah orang mempelajari ilmu hanya untuk saling uji?

Ilmu lain boleh saja diuji dan diperlombakan, akan tetapi ilmu berkelahi?

Bisa mati konyol.

Akan tetapi orang ini menganggap mati konyol dalam adu ilmu adalah matinya seorang gagah!

"Hemm, paman Cekel Aksomolo, Ki Warok Gendroyono, Ki Krendoyakso, dan kau Ki Tejoranu, kalau suka mendengarkan kata-kataku, harap kalian ini menarik kembali tantangan kalian dan menghabiskan segala urusan.

Untuk apa melanjutkan niat yang tiada gunanya ini?

Aku sama sekali tidak ingin berkelahi dengan kalian, sungguhpun hal ini bukan berarti aku takut.

Kita sudah sama-sama tua, apakah hendak bersikap seperti kanak-kanak?"

"Ha-ha-ha!! Narotama, kalau kau takut, mungkin kami akan dapat membebaskanmu!"

Ki Warok Gendroyono mengejek.

"Takut atau tidak, dia harus mampus!"

Kata Ki Krendoyakso yang suaranya besar. Kepala perampok Bagelen ini sudah meraba senjatanya, penggada yang hitam dan besar itu.

"Jagad Dewa Batara! Agaknya kalian tak dapat lagi mengekang nafsu. Sudah kukatakan tadi, aku tidak takut. Kalau kalian memaksa, apa boleh buat. Nah, siapa hendak maju?"

Dengan tangkas Narotama melompat ke belakang dan siap menghadapi lawan, sikapnya tenang, matanya tajam berkilat dan seluruh urat syaraf dalam tubuhnya menegang siap.

"Hayo pibu melawan aku lebih dulu!"

Ki Tejoranu membentak, disusul seruannya keras,"Awas golok!"

Lalu tubuhnya menerjang maju bagaikan seekor jengkerik menerjang lawan, dua sinar berkelebat dan"Syuuut-sing-singsing!"

Sepasang goloknya berciutan dan berdesing menyambar-nyambar ganas mengirim serangan bertubi-tubi ke arah tubuh Narotama! "Bagus sekali!"

Narotama mau tak mau memuji karena memang gerakan sepasang golok itu luar biasa dahsyatnya. Cepat ia mengerahkan ajinya, yaitu ilmu silat tangan kosong Kukilo Sakti. (Lanjut ke

Jilid 10) Badai Laut Selatan (Seri ke 03 Serial Serial Keris Pusaka Sang Megatantra) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo

Jilid 10 Tubuhnya menjadi ringan dan gerakannya laksana seekor burung garuda.

Sabetan dan bacokan sepasang golok yang berubah menjadi dua gulung sinar itu dapat dielakkannya dengan lompatan ke atas, lalu menyelinap di antara sinar-sinar itu sambil membalas dengan pukulan yang disertai Aji Bojro Dahono.

Hawa panas keluar dari sepasang tangannya sehingga Ki Tejoranu berseru kaget dan meloncat jauh setiap kali hawa panas menyambar.

"Serbu! Bunuh orang sudra ini!"

Teriak Ki Krendoyakso dengan suara garang.

Serentak mereka maju.

Ki Krendoyakso dengan penggada Wojo Irengnya, Ki Warok Gendroyono yang sudah melepas kolor saktinya, dan Cekel Aksomolo yang mengayun tasbihnya.

Juga lima orang kepala rampok, anak buah Ki Krendoyakso, ikut pula menyerbu dengan senjata golok dan ruyung mereka yang besar-besar mengerikan.

"Wah-wah-wah, tidak bagus! Mana ada pibu pakai keloyokan segala? Aku tidak mau kalau begini, tidak usah keloyokanpun belum tentu kalah!"

Ki Tejoranu meloncat ke belakang dan menyimpan sepasang goloknya, mulutnya cemberut dan ia berdiri bertolak pinggang menjadi penonton.

Memang aneh watak orang ini.

Dia terbawa-bawa temannya, Ki Warok Gendroyono untuk ikut-ikut membantu Adipati Joyowiseso, akan tetapi dalam hal pertempuran, ia selalu masih menjaga tata cara pertandingan yang merupakan "etika"

Bagi pendekar-pendekar di negerinya.

Narotama yang dikeroyok delapan orang itu terkejut sekali.

Tak disangkanya orang-orang yang mendendam kepadanya ini, yang terkenal sebagai orang-orang sakti ini akan maju bersama mengeroyoknya!

Tadi ia bersikap tenang karena mengira bahwa mereka itu akan maju satu-satu, siapa kira mereka mempergunakan cara curang ini untuk mengeroyoknya.

Di samping terkejut, iapun marah.

Timbul kemarahan dalam hati Patih yang tenang ini ketika ia dimaki "orang sudra"

Oleh Ki Krendoyakso.

Memang tidak dapat disangkal lagi, Narotama bukanlah keturunan Raja seperti Airlangga, akan tetapi kalau Sang Prabu Airlangga sendiri tak pernah memandang rendah darah keturunannya, masa seorang kepala rampoK seperti Ki Krendoyakso saja berani memakinya?

"Babo-babo!

Kalian menggunakan keroyokan?

Boleh, boleh, majulah!

Jangan kira Narotama akan undur selangkahpun!"

Seru Narotama dan ia segera mengerahkan tenaga dan mengeluarkan kepandaiannya.

Untuk menghadapi pengeroyokan orang-orang yang menggunakan pelbagai senjata, apalagi senjata tasbih yang ampuhnya menggila dari Cekel Aksomolo, kolor ajimat yang dimainkan Ki Warok Gendroyono yang mendatangkan hawa panas, Kemudian penggada Wojo Ireng yang dimainkan sepasang lengan raksasa Ki Krendroyakso sehingga hebatnya seperti penggada Rujakpolo dimainkan oleh Sang Werkudoro, ia harus berlaku hati-hati dan bergerak cepat.

Maka Narotama lalu mainkan Aji Bramoro Seto (Lebah Putih).

Bagaikan seekor lebah saja tubuhnya melayang-layang di antara sambaran senjata, kadang-kadang ia menggunakan sepasang lengannya yang kebal dan terisi hawa sakti untuk menangkis senjata lawan.

Pada saat itulah suara hiruk-pikuk pertandingan terdengar oleh Joko Wandiro dan anak ini datang lalu menonton pertandingan dari atas pohon.

Mula-mula hati anak ini mengkal menyaksikan pertandingan yang tidak adil itu.

Ia sebagai anak gemblengan maklum yang bertanding adalah orang-orang sakti sehingga tak mungkin sama sekali baginya untuk membantu kakek yang terkeroyok.

Namun hatinya condong kepada yang dikeroyok dan mengharapkan kemenangannya.

Anak yang berpemandangan tajam inipun segera mendapat kenyataan bahwa di antara delapan orang pengeroyok itu, yang lima hanyalah orang-orang kuat yang hanya pandai mainkan golok dan ruyung belaka, akan tetapi yang tiga, terutama sekali kakek tua renta bongkok, adalah orang-orang sakti yang memiliki ilmu kepandaian tinggi.

Inilah agaknya yang menjadi sebab mengapa kakek sakti yang dikeroyok itu tidak pernah berani menangkis dengan tangannya serangan kolor, penggada hitam, dan tasbih, akan tetapi tanpa ragu-ragu tangan kosongnya berani menyampok polok dan ruyung lima orang kepala rampok.

"Tidak adil! Curang...!"

Kembali Joko Wandiro mengeluh di dalam hatinya melihat betapa kakek yang dikeroyok itu tampak sibuk benar, tubuhnya tak pernah berhenti sedetikpun, berkelebat bagaikan seekor lebah dikejar-kejar dalam ruangan tertutup.

Namun hampir saja ia bersorak ketika tiba-tiba kakek sakti itu mengeluarkan seruan aneh dibarengi tubuhnya menyambar ke arah lima orang yang memegang golok dan ruyung.

Dua orang di antara mereka menjerit dan roboh terjungkal!

Anak buah rampok cepat maju menolong kepala rampok yang remuk tulang pundak dan lengannya itu, dan segera dua orang perampok lain menggantikan kedudukan dua orang yang roboh ini.

Bahkan yang lain-lain mulai maju mengurung dan menanti kesempatan untuk mengeroyok pula.

Joko Wandiro marah sekali.

"Pengecut, tak tahu malu!"

Makinya dalam hati.

Ia memandang marah, terutama kepada kakek tua renta yang memegang tasbih karena sesungguhnya kakek inilah yang membikin repot jagonya yang terkeroyok.

Tasbih kakek itu luar biasa sekali, menyambar-nyambar seperti ular hidup dan selain suara angin bersiutan ketika menyambar, juga tasbih itu mengeluarkan bunyi berkeritikan yang nyaring halus menusuk-nusuk anak telinga.

Selain hebat dan dahsyat tasbihnya, juga mulutnya tak pernah berhenti bicara mengejek.

Inilah yang membuat Joko Wandiro gemas hatinya terhadap si kakek bongkok.

"Oh-huh-huh, Narotama. Mengapa tidak menyerah saja? Mana mungkin engkau bisa menangkan kami? Heh-heh-heh!"

"Aku benar dan karenanya aku berani. Mati dalam kebenaran jauh lebih mulia daripada hidup bergelimang kejahatan!"

Jawab Narotama sambil cepat mengelak sambaran tasbih.

Akan tetapi dari samping terdengar bunyi ledakan keras sekali dan kolor berwarna kuning belang menyambar dahsyat.

Agaknya Ki Warok Gendroyono merasa penasaran sekali karena semenjak tadi senjatanya yang ampuh tak pernah berhasil menyentuh tubuh lawannya.

Narotama kaget, apalagi karena bayangannya terkurung oleh sambaran penggada Wojo Ireng di tangan Ki Krendoyakso.

Terpaksa ia miringkan tubuh sambil mengebutkan tangan kirinya menghalau sinar kuning kolor Ki Warok.

"Desss...!"

Narotama terkejut sekali dan terhuyung ke belakang.

Hebat memang kolor sakti itu, mengandung tenaga yang luar biasa kuatnya dan hawa pukulannyapun panas.

Dalam keadaan terhuyung ini Narotama didesak oleh para pengeroyoknya terutama sekali tiga orang lawan sakti itu.

Ia meloncat ke belakang, mengguncang-guncang kepala dan pundaknya seperti seekor ayam jago aduan yang baru saja kena pukul jalu kaki lawannya, kemudian tangan kanannya bergerak dan sebatang keris telah berada di tangannya.

Inilah keris Megantoro, sebatang keris berlekuk tujuh.

Terpaksa Narotama mengeluarkan keris pusakanya, oleh karena menghadapi senjata-senjata ampuh tiga orang pengeroyoknya itu membuat ia kurang leluasa bergerak maka harus dihadapi dengan senjata ampuh pula untuk menolak pengaruh senjata-senjata pusaka lawan.

Delapan orang pengeroyok itu, terutama sekali belasan orang anak buah perampok yang kurang kuat batinnya, menggigil ketika melihat cahaya putih cemerlang bersinar dari keris pusaka Megantoro itu.

Cekel Aksomolo segera membunyikan tasbihnya sehingga bunyinya gemercik seperti hujan deras turun.

Ki Warok Gendroyono melecut-lecutkan kolornya sehingga terdengar bunyi ledakan-ledakan seperti suara geluduk bersambung-sambung, Sementara itu Ki Krendoyakso juga memutar penggadanya yang mendatangkan suara angin mengaung-ngaung seperti datangnya taufan.

Joko Wandiro terpaksa harus memeluk cabang pohon agar tidak jatuh ke bawah.

Suara-suara itu amat mengganggunya, terutama sekali suara tasbih.

Kalau saja ia bukan anak gemblengan yang setiap hari dilatih samadhi, tentu ia takkan kuat bertahan.

Baiknya ia sudah pandai menyatukan panca indera, pandai pula mengerahkan tenaga batin ke telinga untuk menolak pengaruh suara-suara itu, maka sebegitu lama ia masih dapat bertahan.

Akan tetapi suara tasbih itu seperti menggelitik telinganya, menimbulkan rasa geli sehingga beberapa kali ia mengkirik dan bulu-bulu tubuhnya berdiri, tubuh terasa dingin sehingga ia menggigil.

Menghadapi pengerahan tenaga sakti lawan yang mengeroyoknya, Narotama kembali mengeluarkan suara aneh yang mirip suara seekor gajah.

Inilah Aji Dirodo Meto (Gajah Marah), dan pekik ini mengandung pengaruh dahsyat yang biasanya dapat melumpuhkan lawan yang dihadapinya.

Akan tetapi karena kini yang dihadapi adalah orang-orang sakti, maka suara ini dikeluarkan untuk menahan pengaruh keampuhan senjata-senjata lawan yang mengeluarkan bunyi sakti pula itu.

Pertandingan berlangsung pula dengan hebatnya.

Mula-mula Ki Krendoyakso yang agaknya sudah kehabisan sabar, memutar penggada Wojo Ireng menyerbu ke depan, penggadanya menyambar ke arah kepala Narotama dengan cepat dan kuat sambil mengeluarkan bunyi mengaung.

Narotama cepat miringkan tubuhnya, membiarkan penggada itu lewat.

Selagi tubuhnya miring, ia mengirim tendangan ke arah lambung Ki Krendayakso.

Tendangan yang hebat dan cepat dan agaknya tentu akan bersarang tepat pada sasarannya kalau saja pada saat itu Ki Warok Gendroyono tidak mengganggu.

Ki Warok ini sudah menerjang pula dengan kolornya yang diputar-putar menyambar lawan.

Terpaksa Narotama menarik kembali kakinya yang menendang, dan hanya berhasil mencium lambung Ki Krendoyakso dengan ujung jari kaki saja dan hanya membuat raksasa Bagelen ini mengeluarkah suara "hukkk!"

Dan meringis karena perutnya tiba-tiba menjadi mulas.

Sambaran kolor sakti Ki Warok ditangkis pusaka Megantoro menimbulkan bunyi ledakan keras dan Ki Warok Gendroyono meloncat ke belakang dengan kaget.

Kolor saktinya tentu saja sanggup beradu dengan pusaka apapun juga, akan tetapi ketika bertemu dengan keris Megantoro, keris itu terus menyelinap ke bawah dan kalau ia tidak cepat meloncat ke belakang tadi, tentu dada menthoknya berkenalan dengan keris pusaka Megantoro yang ampuhnya menggila itu.

Yang Hebat adalah serangan Cekel Aksomolo.

Kakek yang seperti Begawan Durno dalam cerita Mahabharata itu ternyata masih pandai bersilat cepat.

Melihat kegagalan kawan-kawannya, ia bersungut-sungut maju dan mendesak sambil memutar tasbihnya, jalannya agak terbongkok-bongkok dan lambat, akan tetapi tasbih di tangannya berputar cepat sekali membentuk lingkaran hitam yang melindungi seluruh tubuhnya namun yang merupakan gulungan sinar maut menerjang lawan.

Narotama cepat menggerakkan keris pusaka menangkis.

Terdengar suara "crang-cring-crang-cring"

Bertubi-tubi dan tampaklah bunga api berpijar berhamburan ketika kedua senjata ampuh itu bertemu.

Ternyata kedua senjata itu sama ampuhnya dan diam-diam Narotama juga kaget dan kagum mendapat kenyataan betapa kakek tua renta yang bongkok ini benar-benar merupakan lawan yang paling tangguh di antara semua pengeroyoknya!

Ki Warok Gendroyono dan Ki Krendoyakso segera menyerbu ke depan ketika melihat Narotama terlibat dalam pertarungan seru dengan Cekel Aksomolo, sedangkan lima orang perampok juga ikut mengganggu, menusuk-nusukkan golok dan memukul-mukulkan ruyung dari arah belakang Narotama.

Ki Patih yang kosen itu.

kali ini benar-benar terdesak, namun permainan kerisnya memang mengagumkan sehingga selama itu ia masih berhasil mempertahankan diri, bahkan kaki kirinya telah berhasil pula mendapat mangsa, yaitu perut dua orang perampok yang segera terlempar dan roboh tak dapat bangun pula karena agaknya usus buntu mereka berkenalan dengan ibu jari kaki Narotama sehingga kini mereka menggeliat-geliat sambil memegangi perut!.

Akan tetapi hasil sepakan kaki Narotama ini malah merugikan Ki Patih sendiri.

Oleh karena ketika pencurahan perhatiannya terbagi dalam penyerangan, pertahanannya agak kurang dan karenanya ia tidak dapat menghindarkan lagi hantaman ujung kolor Ki Warok Gendroyono ke arah lehernya.

Untung ia masih sempat miringkan tubuh sehingga bukan lehernya yang terpukul melainkan pundaknya.

Kalau lehernya yang terpukul, betapapun saktinya Ki Patih, agaknya akan berbahayalah akibatnya.

Hanya pundaknya saja sudah membuat Ki Patih terlempar ke belakang bagaikan tertiup angin badai dan hanya berkat ketangkasan dan ilmunya yang tinggi saja yang mencegahnya terbanting jatuh.

Ki Patih berjungkir-balik mematahkan daya luncur tubuhnya dan turun ke tanah dalam keadaan berdiri.

Pucat sedikit wajahnya, dan tulang pundaknya terasa ngilu, akan tetapi ia masih tidak kehilangan tenaga dan ketangkasannya.

Rangsekan para pengeroyok yang masih banyak jumlahnya karena para anggota perampok semua ikut-maju, dapat ia sambut dengan baik, walaupun ia benar-benar terdesak sekarang.

Makin gaduh suasana pertandingan, penuh teriakan dan gerengan, ribut oleh tiga senjata ampuh para pengeroyok.

Juga Ki Patih yang sudah marah itu kini memekik-mekik ganas dan bertambah ganas pula kerisnya.

Sudah dua orang perampok roboh tertusuk keris Megantoro.

Kalau keris pusaka sudah minum darah, ia akan menjadi makin haus.

Kini Narotama tak mungkin lagi menjaga serangannya agar jangan membunuh orang, karena dalam keadaan terdesak itu ia harus mempertahankan diri dengan membuka jalan darah.

Pada saat Ki Patih amat terdesak itu, tiba-tiba berkelebat bayangan putih dan terdengar bentakan.

"Orang-orang tak tahu malu, begini banyak mengeroyok seorang tua!"

Hampir saja Joko Wandiro berteriak kegirangan ketika mengenal ayahnya yang maju dengan gerakan cepat.

Akan tetapi tiba-tiba Pujo yang maju hendak membantu Narotama itu dihadang oleh Ki Tejoranu!

"Olang muda, gelakanmu tangkas.

Aku juga tidak suka keloyokan, hayo kau layani aku main-main sebental!"

Golok sepasang itu sudah dicabut lagi dan diputar-putar di atas dan depan tubuhnya.

"Keparat jangan sombong. Majulah!"

Seru Pujo yang sudah marah karena mengenal Ki Patih Kanuruhan yang dikeroyok itu.

Ki Tejoranu sudah menerjang maju, sinar goloknya berkelebat menyambar.

Pujo maklum bahwa lawannya bukan orang lemah, maka ia cepat menggunakan gerak Bayu Tantra mengelak.

Tubuhnya bagaikan seekor burung saja gesitnya sehingga serangan Ki Tejoranu selalu gagal.

Namun pertapa Danau Sarangan inipun amatlah sigapnya sehingga balasan terjangan Pujo yang cepat dan kuat itu dapat pula ia hindarkan.

Joko Wandiro menggigil makin keras.

Suara tasbih kakek bongkok benar-benar membuat ia kedinginan dan hal ini membuat ia tersiksa karena ia terdorong keinginan membuang air kecil!

Tak dapat ditahannya pula keinginan itu.

Untuk turun ia khawatir ketahuan mereka.

Maka anak itu lalu kencing dari atas pohon dan untuk melampiaskan kegemasan dan kebenciannya terhadap kakek bongkok, ia sengaja memilih saat si kakek bongkok bergerak tepat di bawahnya, lalu ia mengarahkan air kencingnya kepada kakek bongkok itu.

"Huh-huh-huh, Narotama orang Balidwipa! kau mengundang bala bantuan? Heh-heh-heh tak beranikah mati seorang diri? Ingin mengajak teman mati bersama? Uh-huhhuh, katanya pemberani! Dasar..."

Tiba-tiba suaranya berhenti, tasbih yang diputar-putar di atas kepalanya dan mengeluarkan suara dahsyat itupun terhenti gerakannya, matanya mendelik, hidungnya kembang kempis menyedot-nyedot ketika kepala dan tubuhnya tersiram air panas dari atas pohon!

Cekel Aksomolo mengangkat muka ke atas dan malang baginya, karena gerakan ini air kencing itu tepat mengenai muka, memasuki hidung dan mulutnya!

Ia terbangkis-bangkis, terbatuk-batuk dan seketika tubuhnya menjadi lemas seakan-akan semua urat syarafnya menjadi lumpuh.

"Aihhh... aihh... celaka awak... sial dangkalan... bocah edan kau...!"

Ia melihat seorang anak laki-laki tertawa di atas pohon.

Ingin ia meloncat, ingin ia menghajar dan membunuh anak itu, akan tetapi tubuhnya sudah lemas, kekuatannya hilang.

Inilah sirikannya, inilah pantangannya.

Terkena air kencing anak-anak, ia seperti balon kehabisan angin, kempis dan peyot, seperti api tersiram air, ngebos dan padam!

Saking lemasnya ia lalu mendeprok, kakinya dengkelen (tak dapat berjalan) dan ia hanya dapat merangkak keluar dari medan pertandingan.

Cekel Aksomolo merupakan tenaga yang paling kuat di antara mereka yang mengeroyok Narotama, maka setelah ia tidak aktip lagi, pengeroyokan itu mengendur dan empat orang perampok kembali roboh oleh tusukan pusaka dan tendangan Ki Patih yang sakti mandraguna.

Pertandingan antara Ki Tejoranu dan Pujo berlangsung amat hebatnya.

Karena pertandingan itu satu lawan satu, maka jauh lebih seru daripada pengeroyokan yang kacau-balau itu.

Ki Tejoranu benar-benar hebat permainan sepasang goloknya, berdasarkan ilmu silat yang tinggi mutunya dan latihan yang sudah matang.

Sekiranya Pujo hanya mengandalkan ilmu silat, ia takkan dapat menang melawan Ki Tejoranu.

Akan tetapi semenjak kecil Pujo telah digembleng oleh Resi Bhargowo dalam hal ilmu kesaktian yang tidak hanya diperoleh dengan latihan, melainkan terutama sekali dengan ketekunan bertapa sehingga ia berhasil memupuk hawa kesaktian yang di dalam tubuh dan panca indera.

Oleh karena itu, dalam hal kesaktian ilmu alam dan mantera ini ia lebih tinggi tingkatnya.

Melihat betapa hebat permainan golok lawannya, Pujo segera mengerahkan aji kesaktiannya, menyalurkan hawa sakti ke dalam kedua lengan sampai terasa getarannya ke ujung-ujung jari tangan, kemudian ia memekik dan mainkan Aji Pethit Nogo!

Bukan main hebatnya aji ini.

Sepuluh jari tangannya menjadi kuat melebihi baja dan sekali ia mencengkeram, golok kiri lawan sudah berada dalam genggamannya.

Ki Tejoranu terkejut sekali dan juga heran.

Manusia aneh ini memang paling senang berkelahi, paling senang menguji kepandaian orang lain dan agaknya memang itulah "hobbynya."

Agaknya itu pula yang membuat ia pergi merantau meninggalkan negaranya yang begitu jauh, menempuh pelayaran yang memakan waktu berpekan-pekan.

Di manapun ia tiba, ia selalu mencari-cari orang pandai untuk diadu ilmunya!

Ia maklum bahwa Jawa-dwipa merupakan pulau aneh yang mempunyai banyak orang-orang sakti, tempat orang-orang bertapa.

Ia maklum pula bahwa rakyat pulau ini adalah orang-orang tahan tapa, orang-orang yang memiliki kekuatan batin hebat sekali, dan untuk menghadapai orang sakti yang memiliki daya getaran aneh dalam gerakannya, kadang-kadang ilmu silat tidak dapat menahan.

Kini menyaksikan betapa orang muda ini dengan tangan kosong berani mencengkeram goloknya, ia menjadi kaget.

Goloknya adalah golok terbuat daripada baja murni dan amat kuat dan tajam.

Kalau sekali ia menarik golok dibarengi tenaga dalam, bukankah jari-jari orang muda itu akan putus semua?

"Wah, kau hebat, olang muda!

Lepaskan golokku, bial kita mencoba dengan tangan kosong!"

Pujo menjadi gemas hatinya.

Ia datang untuk membantu Rakyana Patih Kanuruhan dikeroyok, siapa tahu kini ia dihalangi seorang yang agaknya haus akan perkelahian!

Ia melepaskan goloknya lalu mengirim serangan dengan Pethit Nogo yang ampuh.

"Hayaaa...! Tunggu dulu...!"

Hebat gerakan Ki Tejoranu karena tubuhnya sudah mencelat ke udara, jungkir balik beberapa kali dan ketika tubuhnya turun ke atas tanah, ia telah menyarungkan sepasang goloknya dan kini memasang kuda-kuda dengan tangan kosong!

Kuda-kudanya kokoh kuat seperti batu gunung, tubuhnya agak merendah, tangan kanan dikepal mepet di lambung kanan sedangkan tangan kiri dengan ibu jari ditekuk ke tengah dan jari-jari lainnya lurus tegak, berdiri di depan dada!

Pujo yang tergesa-gesa ingin lekas dapat membantu Ki Patih, segera menerjang maju.

Gerakannya adalah gerakan Bayu Tantra, ilmu pukulannya adalah Pethit Nogo, hebatnya bukan main, dahsyat bagaikan badai mengamuk, panas bagaikan kawah meletus!

"Haaiiiitt...!"

Ki Tejoranu kagum dan kaget menghadapi serbuan dahsyat ini, cepat kakinya bergerak miringkan tubuh dan tangannya menangkis dengan gerakan menekuk, lalu pada detik berikutnya tangan kanannya yang menempel lambung tadi sudah mencuat ke depan dengan dua jari tangan, telunjuk dan jari tengah, mengarah pada mata lawan.

"Yaaaaattt!"

Hebat kesudahannya!

Gempuran lengan tadi membuat tubuh Ki Tejoranu terdorong ke belakang, namun serangan jarinya ke arah mata membuat Pujo kaget sekali dan cepat-cepat mencelat mundur.

Pujo melompat ke belakang dengan kaget sedang Ki Tejoranu terhuyung-huyung ke belakang, kuda-kuda kakinya tergempur oleh kekuatan mujijat Aji Pethit Nogo!

Pada saat itu, Narotama sudah mengamuk makin hebat karena Cekel Aksomolo tak dapat aktip lagi dalam pertempuran karena tubuhnya masih lemas dan mlempem seperti kerupuk dingin.

Sudah ada sembilan orang perampok roboh olehnya.

Melihat ini, Ki Warok Gendroyono dan Ki Krendoyakso menjadi gentar juga.

Ki Krendoyakso lalu membaca mantera, tangannya bertepuk tiga kali dan sekali ia berteriak seperti lolong serigala, keadaan di situ seketika menjadi gelap seperti diliputi halimun!

Juga kolor sakti Ki Warok Gendroyono meledak-ledak hebat ditambah penggada Wojo Ireng diputar-putar.

Terpaksa Narotama yang maklum bahwa kepala rampok Bagelen itu mempergunakan ilmu hitam, meloncat ke belakang untuk menjaga diri dan memusatkan panca indera.

Karena keadaan gelap, otomatis pertandingan antara Pujo dan Ki Tejoranu berhenti dengan sendirinya.

Pujo juga cepat melompat mundur dan berdiri tegak, bersedakep dan memusatkan panca indera untuk melawan pengaruh ilmu hitam.

Pujo berdiri di sebelah barat dan Narotama berdiri di sebelah timur!

Yang merasa heran sekali adalah Joko Wandiro.

Karena ia berada di atas pohon, agaknya dia seoranglah yang terbebas daripada pengaruh ilmu hitam!

Ia memang melihat betapa medan pertempuran itu menjadi gelap seperti tertutup awan hitam, akan tetapi ia dapat melihat betapa sibuknya para pengeroyok itu berkemas, menolong teman-teman yang luka, kemudian meninggalkan tempat itu tergesa-gesa.

Sedangkan kakek yang dikeroyok tadi dan ayahnya hanya berdiri saja bersedakap seperti arca, sama sekali tidak bergerak, juga tidak mencegah lawan mereka itu melarikan diri!

Narotama membuka matanya, menggerakkan kedua lengannya mendorong ke depan beberapa kali dan ambyarlah halimun gelap itu.

Keadaan sebentar saja menjadi terang kembali dan di situ ternyata telah sunyi.

Gerombolan musuh tadi sudah lenyap, seorangpun tak tampak.

yang tampak hanya seorang pemuda tampan yang tadi dilihatnya membantunya dan bertanding melawan Ki Tejoranu yang ampuh sepasang goloknya.

Pujo juga menghentikan samadhinya dan kini dia maju bertekuk lutut, bersembah sujut di depan Narotama.

"Hamba menghaturkan sembah ke hadapan Gusti Rakyana Patih!"

Kata Pujo dengan hormat. Narotama sejenak memandang tajam, lalu bertanya, nada suaranya lembut.

"Orang muda, terima kasih atas bantuanmu. Musuh terlampau banyak dan amat kuat. Siapakah engkau, wahai orang muda yang perkasa?"

"Ampunkan hamba yang bodoh sehingga tidak berhasil membasmi orang-orang jahat yang menyerang paduka. Hamba bernama Pujo..."

"Pujo?"

Narotama mengerutkan kening, pandang matanya tajam sekali penuh selidik ke arah orang muda yang masih berlutut itu.

"Engkau dan Resi Bhargowo...?"

Pujo terheran.

"Resi Bhargowo adalah guru dan ayah mertua hamba..."

"Jagad Dewa Batara! Engkaukah yang bernama Pujo? Heh, Pujo apakah engkau kira dosa-dosamu dapat kau tebus hanya dengan membantuku tadi?"

Pujo makin terheran, mengangkat mukanya memandang wajah Ki Patih. Namun ia segera menundukkan mukanya lagi, tak kuasa lama-lama menentang pandang mata yang tajam berwibawa itu.

"Ampun, gusti Patih. Sesungguhnya hamba tidak mengerti apa gerangan maksud kata-kata paduka tadi."

"Heh, Pujo! Masih berpura-pura lagi-kah engkau? Engkau dan Resi Bhargowo telah berusaha memberontak kepada Kahuripan! Masih engkau hendak menyangkal?"

Andaikata ada petir menyambar kepalanya di saat itu, belum tentu Pujo akan sekaget ketika mendengar ucapan ini. Kembali ia menengadah dan memandang kali ini lebih berani terdorong kebersihan hatinya.

"Sama sekali tidak, gusti Patih! Mana hamba berani memberontak?"

Narotama tersenyum.

"Hemm, orang muda. Kulihat engkau seorang yang cukup perkasa. Orang yang melakukan sesuatu, baik atau keliru, akan tetapi berani mempertanggung jawabkan perbuatannya, dialah baru disebut gagah. kau yang semuda dan segagah ini apakah hendak menyangkal hal-hal yang telah kau lakukan? Bukankah engkau telah menyerbu Kadipaten Selopenangkep, membuat kekacauan di sana, berusaha membunuh Adipati Joyowiseso dan melakukan perbuatan-perbuatan terkutuk?"

Lega kini hati Pujo.

Kiranya itukah yang dijadikan alasan dia memberontak?

Ternyata orang telah memutar balikkan fakta, menyampaikan kepada Ki Patih secara terbalik sehingga dia yang terkena fitnah memberontak!

"Sesungguhnya tidak salah berita itu, gusti.

Hamba telah menyerbu Kadipaten Selopenangkep dan mengamuk untuk membalas dendam kepada Raden Wisangjiwo yang telah menghancurkan kebahagiaan hidup hamba.

Semata-mata karena permusuhan pribadi hamba dengan Wisangjiwo sajalah yang mendorong hamba membikin huru-hara di Kadipaten Selopenangkep.

Bukan sekali-kali dengan maksud memberontak kepada Mataram!"

"Hemm... hemm..., aneh. Hal ini masih memerlukan bukti dan penyelidikan yang lebih mendalam. Apakah paman Resi Bhargowo berniat memberontak atau tidak, sukar dikatakan pada saat ini. Akan tetapi agar lebih mudah aku melakukan penyelidikan, permusuhan pribadi apakah yang terjadi antara engkau dan Wisangjiwo sehingga engkau menyerbu Kadipaten Selopenangkep?"

Pujo menarik napas panjang.

Peristiwa itu telah lama berlalu telah terpendam sebagai rahasia hidupnya.

Akan tetapi kini menyangkut urusan yang lebih gawat, disangka dia memberontak.

Pula, Ki Patih ini terkenal sebagai seorang bijaksana dan sakti mandraguna, apa salahnya menceritakan peristiwa itu agar mendapat pengadilan?

Sekali lagi ia menarik napas menguatkan batinnya lalu berkata.

"Sudah lama terjadinya, gusti Patih. Sepuluh tahun lebih yang lalu, hamba bersama isteri hamba sedang bertapa dalam Guha Siluman. Malam hari itu muncullah Wisangjiwo di guha dan agaknya ia tertarik kepada isteri hamba, lalu bersikap kurang ajar. Kami lalu berkelahi, akan tetapi Wisangjiwo mempergunakan kecurangan dan hamba terpukul pingsan. Dalam keadaan seperti itu, Wisangjiwo lalu... lalu..."

Pujo tak kuasa melanjutkan ceritanya.

"Hemmm..."

Narotama meraba jenggotnya dan mengangguk-angguk, keningnya berkerut, ia dapat menduga apa yang terjadi selanjutnya."Dia lalu menggagahi isterimu, bukan?"

Pujo mengangguk.

"Bukankah isterimu itu puteri Resi Bhargowo?"

"Betul, gusti Patih."

"Lalu ke mana sekarang isterimu?"

"Itulah, gusti. Isteriku lari dan sampai kini hamba tak pernah bertemu dengannya. Kebahagiaan hidup hamba hancur dan karena itulah maka hamba menyerbu ke Selopenangkep untuk membalas dendam kepada Wisangjiwo."

"Hemm, Pujo! Engkau mendendam kepada Wisangjiwo, itu sudahlah pantas. Akan tetapi keluarganya tidak berdosa, tidak tahu-menahu, mengapa engkau mengganggu keluarganya?"

"Karena Wisangjiwo tidak berada di Selopenangkep, hamba menjadi mata gelap..."

Jawab Pujo menyesal.

"Dan engkau perkosa pula isterinya dan bunuh anaknya?"

"Tidak! Demi para dewata, tidak, gusti! Biarlah Sang Hyang Batara Syiwa mendatangkan hukum seberatnya kepada hamba kalau hamba melakukan kedua hal itu!"

Pujo berkata dengan lantang, dan sejenak dua pasang sinar mata bertemu, yang satu penuh selidik, yang kedua menentang berani. Narotama mengangguk-angguk.

"Di mana engkau tinggal sekarang?"

"Di muara Sungai Lorog, gusti."

"Engkau tahu tentang pusaka Mataram yang hilang?"

"Pusaka? Hilang? Hamba tidak tahu, gusti. Selama peristiwa jahanam yang menimpa diri hamba itu, hamba tidak pernah lagi memasuki dunia ramai."

Kembali Narotama mengangguk-angguk.

"Mari kulihat tempatmu. Betapapun juga sudah menjadi tugasku untuk memeriksa dan membuktikan bahwa engkau benar-benar tidak berniat memberontak dan pula tidak tahu akan pusaka yang hilang."

Kedua orang itu lalu meninggalkan hutan, jalan berdampingan sambil bercakap-cakap.

Setelah mereka pergi jauh, barulah Joko Wandiro berani turun dari atas pohon.

Tubuhnya masih gemetar.

Ia tadi telah mendengarkan semua percakapan itu dan jantungnya serasa ditusuk-tusuk.

Ibunya telah digagahi!

Ibunya telah diperkosa Wisangjiwo!

Keparat!

Teringat akan nasib ibunya, Joko Wandiro menjatuhkan diri di bawah pohon dan sejenak ia duduk termenung.

Tidak menangis akan tetapi kedua matanya mengalirkan air mata yang menetes-netes sepanjang kedua pipinya.

Ayahnya melarangnya menangis.

Seorang laki-laki tidak layak meruntuhkan air mata, kata ayahnya.

Diapun tidak sudi menangis.

Dalam tiga hari ini ayahnya hendak pergi mencari Wisangjiwo, dan dia ditinggal, disuruh tinggal bersama penduduk pedukuhan.

Tidak puas hati Joko Wandiro, akan tetapi ia tidak berani membantah kehendak ayahnya.

Lalu ia teringat akan tugasnya, disuruh mencari kuda tunggangan yang baik.

Teringat akan ini, ia lalu melanjutkan perjalanan, berlari meninggalkan hutan itu menuju ke pedukuhan.

Di hutan terakhir di luar dukuh itu terdapat sebuah belik (danau kecil) yang airnya jernih sekali.

Timbul keinginan hatinya untuk mandi karena tubuhnya terasa panas setelah berlari-larian tadi.

Ditanggalkannya semua pakaiannya dan segera ia meloncat ke dalam air yang jernih dan dingin dan berenang ke sana ke mari.

Lenyaplah semua kesedihannya karena teringat ibunya tadi.

Segar rasa tubuhnya, dan ia cepat-cepat naik ke darat mengenakan pakaiannya lagi.

Pada saat itulah ia mendengar suara berkeritik yang menyakitkan telinga.

Teringat ia akan cantrik tua renta bertasbih yang dibencinya.

Agaknya terjadi pertempuran lagi, pikirnya.

Dengan hati berdebar tegang ia berindap-indap menuju ke arah suara dan mengintai dari balik pohon.

Benar saja dugaannya.

Cekel Aksomolo bertanding, disaksikan oleh lima orang perampok tinggi besar.

Siapakah yang menjadi lawannya?

Bukan lain adalah Ki Tejoranu, si ahli sepasang golok!

"Uuh-huh-huh, kau orang tidak setia kawan!

kau percuma saja menjadi sekutu!

Pura-pura suci dan gagah, tidak mau menyerang Narotama.

Orang macam kau ini kalau tidak dibasmi, kelak tentu akan mencelakakan belaka, huh-huhhuh!"

Cekel Aksomolo mengobat-abitkan tasbihnya yang mengeluarkan bunyi berkeritik aneh.

Ki Tejoranu tidak menjawab karena orang ini benar-benar terdesak oleh tasbih yang mengeluarkan hawa mujijat itu.

Biarpun sepasang goloknya bergerak cepat, namun semangatnya seakan-akan terbetot dan dipengaruhi suara tasbih dan suara Cekel Aksomolo.

Makin kacaulah permainan goloknya dan tiba-tiba terdengar suara "Rrrrrkkkkk!"

Nyaring sekali dan...

tubuh Ki Tejoranu terguling, seluruh tubuhnya lemah seakan-akan semua ototnya dilolosi dari tubuh.

Inilah pengaruh tasbih sakti yang ampuhnya mengerikan itu!

Cekel Aksomolo terkekeh dan menghampiri dengan sikap mengancam.

"Hua-hah-hah, mampus kau sekarang!"

Tasbihnya menghantam ke arah kepala. Biarpun Ki Tejoranu sudah lemas tubuhnya, namun ia memiliki ilmu kepandaian tinggi. Di saat sinar tasbih menyambar, ia masih mampu menggulingkan tubuhnya mengelak.

"Bresss!"

Batu dan tanah muncrat berhamburan karena hantaman tasbih menggantikan kepala Ki Tejoranu yang sudah berhasil bergulingan menjauhkan diri.

"Uuh-huh-huh, punya aji trenggiling agaknya! Hayo, ajar dia! Bacok dia, cacah-cacah jadikan abon (daging halus)!"

Cekel Aksomolo memerintah lima orang perampok yang berada di situ.

Dia sendiri ogah kalau harus mengejar-ngejar lawan yang biarpun sudah tak dapat melawan namun masih mampu bergulingan cepat itu.

Dia malas untuk bermain kucing-kucingan.

Lima orang perampok tinggi besar itu mencabut golok dan ramailah mereka mengejar dan membacok.

Namun Ki Tejoranu memang hebat.

Tubuhnya bergulingan dan mencelat-celat seperti seekor kucing kepanasan.

Namun, karena tenaganya sudah hampir habis akibat pengaruh tasbih mujijat, beberapa bacokan mengenai paha dan pangkal lengannya.

Ia tidak mengeluh, hanya tertawa mengejek dan tidak menyerah, bahkan kini pengaruh tasbih makin menipis dan ia dapat berusaha membalas dengan tendangan-tendangan dari bawah.

Wandiro adalah seorang anak yang memiliki dasar pemberani dan juga gagah.

Menyaksikan betapa seorang yang sudah kalah kini dikeroyok dan disiksa, membayangkan betapa ia akan menyaksikan penyembelihan yang kejam sekali, ia tidak dapat menahan gejolak hatinya dan ia melompat keluar sambil memaki-maki.

"Orang-orang tidak tahu malu! Mengeroyok seorang yang sudah terluka dan tidak pandai melawan, sungguh tak tahu malu!"

Ia berdiri dengan tubuh tegak, kedua tangannya bertolak pinggang, matanya berkilat-kilat marah.

Lima orang perampok itu terkejut dan marah, apalagi ketika menengok dan melihat bahwa yang memaki mereka hanyalah seorang laki-laki berusia satu dua belas tahun, kemarahan mereka memuncak.

Serentak mereka menerjang untuk membunuh Joko Wandiro.

Namun anak itu bukanlah sembarang anak yang mudah dibunuh begitu saja.

Melihat datangnya golok yang bersinar-sinar membacok ke arahnya, sigap ia meloncat ke belakang, lalu memasang kuda-kuda dan matanya tajam memandang ke depan, siap untuk melawan mati-matian seperti yang diajarkan ayahnya.

"Uuuh-huh-huh..., jangan bunuh dia"

Tangkap hidup-hidup anak kadal ini!"

Cekel Aksomolo berkata ketika mengenal anak yang telah mengencinginya dalam pertandingan mengeroyok Rakyana Patih Kanuruhan.

"Tangkap hidup-hidup, serahkan padaku, akan kuminum darahnya setetes demi setetes! Uh-huh-huh!"

Para perampok merasa heran mengapa kakek itu demikian membenci anak ini, akan tetapi mereka tidak berani membantah.

"Wah, celaka, si keparat menghilang!"

Tiba-tiba seorang di antara mereka berteriak ketika teringat kepada Ki Tejoranu dan menengok, ternyata orang itu telah lenyap.

"Uuuuuh, biarkan saja, dia tidak ada artinya. Anak ini lebih penting, tangkap dia, jangan sampai hamburkan darahnya, akan kuhisap semua sampai habis!"

Cekel Aksomolo berseru lagi.

Dia amat benci kepada anak ini, yang telah melakukan sirikan atau pantangannya, dan dia baru akan puas kalau dapat menghisap habis darah anak ini, selain untuk membalas dendam kemarahannya, juga ia tahu bahwa anak ini bukan anak biasa dan darahnya tentu akan menguatkan tubuhnya.

Lima orang perampok segera menyimpan goloknya dan seorang di antara mereka yang memandang rendah seorang anak kecil, segera maju menubruk.

Kedua tangannya dikembangkan, jari-jari tangannya terbuka seperti seekor harimau menubruk kelinci.

"Bruuuukkk! Uuhghh...!"

Perampok ini merangkak bangun kembali dengan napas terengah-engah sesak karena tadi ia menubruk angin, bahkan menubruk tanah yang keras sehingga dadanya terasa ampeg.

Kiranya ketika ia menubruk, Joko Wandiro sudah bergerak cepat sekali menyelinap ke bawah ketiak kanan, tidak lupa ia mengaitkan kakinya ke kaki lawan yang sedang condong menubruk ke depan sehingga tanpa dapat dicegah lagi perampok itu jatuh tertelungkup menubruk tanah!

Perampok itu marah dan bangkit lagi, kini bersama empat orang kawannya mereka mengurung Joko Wandiro.

Anak ini maklum bahwa ia dalam bahaya, namun sedikitpun ia tidak gentar.

Ia menggerakkan kedua kakinya perlahan, mengatur sikap dan kuda-kuda, matanya mengeriing-ngeriing tajam ke arah lima orang pengurungnya, menanti gerakan mereka.

Ia sudah sering berlatih dengan ayahnya menghindarkan serangan ombak yang memercik pecah, maka ia dapat bergerak gesit.

Hanya diam-diam ia mengharapkan lima orang ini tidak akan menerjang dalam detik yang bersamaan, maka untuk itu ia sengaja memancing dan mendekatkan diri dengan orang yang tadi mencium tanah.

Anak ini memang cerdik sekali.

Ia tahu bahwa perampok yang telah terbanting tadi tentu lebih bernafsu untuk menerkamnya daripada empat yang lain.

Oleh karena inilah ia sengaja mendekat kepada perampok yang matanya agak juling ini, bahkan ia berkata mengejek.

"Bagaimana? Ampeg (sesak) tidak pulung hatimu, pak de?"

Tentu saja perampok juling ini menjadi luar biasa marahnya, darahnya bergolak naik ke muka sehingga sukar baginya untuk mengeluarkan kata-kata makian yang terlontar dari dalam hati yang panas.

Hanya ludah-ludah yang menyemprot dan mulutnya membuih, hidungnya yang pesek itu bergerak-gerak, cuping hidungnya kembang kempis seperti hidung kuda ketakutan.

Akhirnya keluar juga suaranya bersama air ludah.

"Bocah kumentus (sombong), bocah nyelelek, gembedig urakan! Ooohhh, kalau tidak dilarang Ki Cekel, ingin kujuwing juwing (robek) mulutmu!"

Sambil berkata demikian ia menubruk dan tangan kirinya menempiling (menampar) kepala, tangan kanannya mencengkeram ke arah pundak untuk menangkap anak ini seperti yang diperintahkan Cekel Aksomolo.

Girang hati Joko Wandiro.

Pancingannya berhasil dan dengan pendahuluan oleh si juling ini berarti ia tidak akan menghadapi serangan serentak dari lima orang itu.

Kalau mereka menyerang bertubi-tubi saja ia sama sekali tidak khawatir.

Cepat ia mengerahkan Aji Bayu Tantra yang biarpun belum ia kuasai sepenuhnya, namun cukup membuat tubuhnya dapat bergerak jauh lebih cepat daripada gerakan lawan.

Dengan gerakan yang amat cepat ini mudah saja baginya untuk menggeser kaki mengatur langkah mengelak daripada terjangan si juling.

Aji Pethit Nogo adalah aji pukulan yang luar biasa ampuhnya, pukulan yang mempergunakan jari-jari tangan, sepuluh buah banyaknya dan semuanya dipergunakan.

Tidaklah mudah untuk menguasai aji yang mujijat ini, maka Joko Wandiro yang baru berusia dua belas tahun belum pula mewarisi aji ini.

Namun ayahnya yang menggemblengnya sejak kecil telah melatih jari-jari tangan anak ini sehingga jari-jari tangannya sudah dapat ia pergunakan dan ia isi dengan pengerahan tenaga.

Biarpun belum mempelajari Aji Pe-thit Nogo, Joko Wandiro sejak beberapa tahun telah diberi pelajaran tentang letak-letak jalan darah dan otot dalam tubuh sehingga ia tahu bagian mana yang lemah.

Begitu tubuhnya miring dan kedua lengan tangan si juling hanya beberapa senti meter menyambar di samping kepala dan pundak, cepat tangan anak ini bergerak pula.

Mula-mula jari telunjuk tangan kanannya meluncur dan menusuk jalan darah di pergelangan tangan kiri si juling yang menyambar lewat di atas kepalanya.

"Athooooww!"

Si juling berteriak kesakitan karena merasa betapa lengan kirinya itu seakan-akan lumpuh dan sakit sekali.

Akan tetapi ia tetap saja melanjutkan cengkeraman tangan kanannya ke arah pundak Joko Wandiro.

Akan tetapi kembali tangan kiri Joko Wandiro berkelebat, telunjuk dan jari tengah tangan kirinya sudah menusuk ke arah belakang siku lawan.

"Assshhhh...!"

Si juling mendesis karena merasa seakan-akan otot lengan kanannya putus!

Ia melangkah mundur, menggerak-gerakkan kedua lengannya untuk mengusir pegal linu seperti tingkah Dursosono dalam panggung wayang orang!

Empat orang perampok lain segera maju dan menyerang bertubi-tubi.

Namun hal ini sudah diperhitungkan Joko Wandiro sehingga ia cepat menyelinap di antara hujan kepalan dan tamparan itu, menyelinap di antara tangan-tangan yang kotor dan besar, sebesar kepalanya.

Begitu cepat gerakan anak ini sehingga serangan-serangan itu sama sekali tidak pernah dapat mengenainya, paling hebat hanya menyerempet saja.

Iapun berusaha membalas dan beberapa kali kepalan tangannya yang kecil bertemu lambung dan perut yang gendut lunak.

Namun para perampok itu adalah orang-orang yang tebal kulitnya.

Apakah artinya pukulan dan tendangan kaki Joko Wandiro yang kecil?

Mereka mendesak lagi sambil memaki-maki seperti tingkah laku lima ekor kucing kaku mengejarngejar seekor tikus yang gesit.

Akhirnya Joko Wandiro tertangkap juga ketika dari belakangnya sebuah lengan yang kurus kering menyambar.

Tahu-tahu tengkuknya telah ditampar jari-jari kecil kering, akan tetapi mengandung tenaga mujijat sehingga anak ini merasa nanar dan roboh terguling.

Si juling segera menubruk dan memeluknya kuat-kuat.

Demikian kuatnya si juling ini menyikap sehingga Joko Wandiro merasa napasnya sesak.

"Eh... eh..., mengapa tidak kau bunuh saja aku? Aha, kau takut kepada kakek tua renta itu, bukan? Ha-ha-ha, lucunya. Orang-orang tinggi besar dan kuat seperti kalian berlima ini masa takut kepada seorang kakek yang sudah mau mampus?"

Si juling marah sekali dan ingin ia sekali gencet membunuh anak ini, juga empat orang perampok lain mendongkol sekali.

Hanya karena ada Cekel Aksomolo maka mereka tidak berani membunuh anak ini, sekarang diejek oleh Joko Wandiro tentu saja mereka diam-diam mendongkol pula kepada kakek itu, akan tetapi mereka hanya berani memandang dengan mata mereka yang besar-besar dan melotot.

"Huhh-huh-huh, bocah setan, bocah kurang ajar, kau tidak tahu siapa eyangmu ini. Siapakah yang berani main-main dengan aku? Huuh-huh-huh! Hayo mundur kalian! Dan cari tua bangkai pelo yang melarikan diri tadi, tangkap dia dan seret ke sini!"

Lima orang tinggi besar itu mengundurkan diri dan lenyap di antara pohon dan gerumbul dalam usaha mereka mencari jejak Ki Tejoranu.

Sementara itu, melihat lima orang tinggi besar pergi dan ia hanya berhadapan dengan kakek tua renta, Joko Wandiro lalu berkata.

"Akupun mau pergil"

Maka larilah ia.

"Eeittt... eittt... nanti dulu, cah bagus. kau menggelinding ke sinilah!"

Tangan Cekel Aksomolo digerakkan dan...

tubuh Joko Wandiro terguling roboh lalu bergulingan mendekatnya kembali!

Anak itu hanya merasa seakan-akan tubuhnya dirobohkan dan ditiup angin yang kuat sekali.

Ketika ia meloncat berdiri, ia telah berada di depan kakek itu kembali yang telah memegang lengannya dengan jari-jari tangan kurus bengkok-bengkok tinggal kulit membungkus tulang.

Diam-diam anak ini bergidik ngeri dan maklumlah ia bahwa kakek ini amat sakti, bahkan yang menjatuhkannya dalam pengeroyokan tadipun kakek inilah.

Akan tetapi ia tidak memperlihatkan muka takut, berdiri tegak dan memandang kakek itu dengan sepasang matanya yang hitam tajam bersinar-sinar.

Biarpun hatinya benci sekali kepada anak ini yang pernah membikin malu kepadanya, namun diam-diam Cekel Aksomolo menjadi kagum, bocah pilihan, pikirnya dan hatinya girang sekali.

Darah anak ini tentu hebat, dan merupakan obat yang amat kuat bagi seorang kakek seperti dia.

Ia tahu bahwa sekutunya, Ki Krendoyakso, meyakinkan ilmu yang amat hebat dan untuk itu Ki Krendoyakso memilih bayi-bayi yang baik dan...

memakan daging minum darahnya!

Anak laki-laki yang ditawannya ini amat baik dan sebagai seorang ahli Cekel Aksomolo dapat melihat bahwa kalau anak ini mendapat didikan ilmu, kelak tentu akan menjadi seorang gemblengan yang luar biasa dan sakti.

Oleh karena itu, tulang sumsum dan darah anak ini tentu merupakan penguat yang amat berguna bagi tubuhnya yang sudah mulai lapuk karena usia tua.

"Bocah bagus, siapa namamu?"

Cekel Aksomolo mengelus-elus dagu dan pipi Joko Wandiro, kelihatannya menyayang padahal ia menahan air liurnya.

"Namaku Joko Wandiro!"

Jawab anak itu dengan suara tenang dan berani.

Seketika Cekel Aksomolo melongo, matanya terbelalak dan biji matanya bergerak-gerak ke kanan kiri membayangkan ketololan, mulutnya ternganga memperlihatkan gusi kebiruan yang ompong.

Sampai lama ia ketap-ketip (terkesima berkedip-kedip), baru ia dapat berseru.

"Aduh-duh-duh-duhhhh... siapa sangka...?? kau kiranya Joko Wandiro? Uhuh-huh-huh, bertahun-tahun dicari datang-datang mengencingi orang yang ikut mencari-carimu. Aduh, raden, kau adalah putera Kadipeten Selopenangkep. kau cucu Adipati Joyowiseso...huh-huh-huh!"

"Tidak...! kau melantur! Aku bukan anak adipati! Lepaskan aku..."

"Uuuh-huh-huh, kau memang diculik orang sejak kecil, raden. kau putera Raden Wisangjiwo... kau..."

"Bohong! Kakek tua bangka suka bohong!"

Tiba-tiba Joko Wandiro merengngutkan lengannya terlepas dari pegangan kakek itu dan tangan itu bergerak cepat.

"Plakkkk"

Tepat sekali pipi kiri Cekel Aksomolo kena ditampar oleh Joko Wandiro, kemudian anak itu membalikkan tubuh dan melarikan diri.

Namun sekali lagi ia terguling roboh oleh gerak tangan Cekel Aksomolo yang meniupkan angin pukulan hebat.

"Wuh-huh-huh, sial dangkalan aku! Tak jadi minum darah bersih dan menghisap sumsum murni, malah mendapat tamparan. Uuuh, anak baik, mau tidak-mau kau harus ikut dengan eyangmu, menghadap kakekmu sang adipati! Huuhhuh, setidaknya aku berjasa besar mendapatkan kembali Joko Wandiro...!"

Kakek itu menyambar tubuh Joko Wandiro yang masih rebah, lalu berjalan amat cepat seperti terbang meninggalkan tempat itu sambil mengempit tubuh Joko Wandiro yang tak dapat meronta sama sekali.

Berhari-hari Cekel Aksomolo melakukan perjalanan menuju ke Kadipaten Selopenangkep, hanya berhenti untuk mengaso di waktu malam dan makan.

Joko Wandiro mulai merasa gelisah, sungguhpun ia tidak mau memperlihatkannya sama sekali di depan kakek yang bernama Cekel Aksomolo itu.

Beberapa kali di waktu kakek itu tidur mendengkur, ia berusaha melarikan diri.

Namun, belum jauh ia lari, ia terjungkal dan bergulingan kembali ke dekat kakek itu yang tertawa-tawa dan selalu bersombong.

"Tak mungkin kau dapat melarikan diri kalau Cekel Aksomolo yang sakti mandraguna tidak menghendakinya, raden. kau menurut sajalah kuhaturkan ke hadapan eyangmu adipati dan kelak aku akan suka sekali menjadi gurumu, hehheh-heh!"

Semenjak kecil Joko Wandiro belajar ilmu dari ayahnya, oleh karena itu ia amat suka akan ilmu kesaktian.

Ia tahu bahwa kakek tua yang buruk rupa ini amat sakti dan ia tentu akan senang sekali menjadi muridnya kalau saja si kakek tidak begini jahat.

Kakek ini jahat, dan tukang pembohong, atau mungkin juga gila mengatakan bahwa dia putera Wisangjiwo!

Mana ada yang lebih gila dari ini?

Justeru Wisangjiwo musuh besarnya, telah menghina ibunya, Wisangjiwo yang membuat dia tidak beribu dan tidak pernah melihat bagaimana wajah ibunya.

Wisangjiwo musuh yang sekali waktu harus ia bunuh.

Akan tetapi kakek ini mengatakan dia putera Wisangjiwo dan cucu adipati Selopenangkep?

Gila!

Betapapun saktinya, ia tidak sudi menjadi murid Cekel Aksomolo dan selalu berusaha untuk melarikan diri.

Tiga hari kemudian Cekel Aksomolo mengajaknya beristirahat di dalam sebuah hutan jati.

Kadipaten Selopenangkep tidak jauh lagi.

Dengan ilmu lari cepatnya yang hebat, besok pagi akan sampai.

Saking lelahnya Cekel Aksomolo melepaskan Joko Wandiro, lalu bersandar pohon dan sebentar kemudian bunyi dengkurnya keluar masuk bibirnya yang kering.

Joko Wandiro juga merasa amat lelah, dan lapar.

Sejak kemarin ia tidak mau makan karena makanan kakek itu jorok (kotor) sekali, kadang-kadang kalau membunuh binatang lalu dimakan mentah-mentah begitu saja!

Kini melihat kakek itu tidur mendengkur, ia mencari akal untuk dapat melepaskan diri.

Tak pernah ia menyia-nyiakan kesempatan untuk lari.

Akan tetapi sudah beberapa kali, biarpun kakek itu kelihatannya tidur nyenyak, apabila ia lari, selalu ia tertangkap kembali oleh kakek yang kelihatan pulas itu.

Maka kali ini ia tidak mau lari lagi, dan memutar otak mencari akal.

"Kalau aku lari, dia tentu tahu seperti biasa,"

Pikirnya.

"Kalau bisa kubunuh dia... tapi dia sakti, mana mungkin kubunuh dia...?"

Joko Wandiro duduk bertopang dagu, matanya kadang-kadang melirik kakek yang tidur itu penuh perhatian, mencari akal.

Kemudian ia mengenangkan betapa kakek sakti ini dalam pertandingan melawan kakek sakti yang disembah ayahnya dan disebut Rakyana Patih oleh ayahnya.

Hebat pula senjata tasbih yang mengeluarkan bunyi mujijat.

Joko Wandiro melirik tasbih itu yang selalu tergantung pada lengan kiri Cekel Aksomolo.

Apakah di tasbih itu terletak kesaktiannya?

Teringat ia betapa bunyi tasbih itu membuatnya pening, menggigil kedinginan sehingga ia terkencing-kencing.

Teringat pula ia betapa karena tak tertahankan lagi, ia kencing dari atas pohon dan sengaja ia mengencingi kakek ini.

Joko Wandiro tersenyum geli, akan tetapi segera ia teringat betapa setelah tersiram kencingnya, kakek ini terhuyung-huyung, terbatuk-batuk, kemudian merangkak keluar dari medan pertandingan seperti orang yang kehabisan tenaga.

Joko Wandiro kini berdiri, matanya menatap tajam kepada kakek yang masih mengorok itu.

Itukah agaknya pengapesannya?

Air kencing?.

Joko Wandiro seorang anak yang cerdik dan berani.

Ia toh sudah berada dalam tawanan kakek ini.

Apapun akan jadinya terserah di tangan kakek ini.

Mengapa tidak berusaha untuk keselamatannya sendiri?

Menggantungkan nasib, menyerah kepada kakek atau kepada lawan, bukanlah laku seorang gagah.

Dengan hati-hati Joko Wandiro mengingsut-ingsut perlahan, menggerakkan pantatnya memutari kakek itu sampai akhirnya ia tiba di belakang batang pohon yang disandari Cekel Aksomolo.

Kemudian ia bangkit berdiri dengan hati-hati tanpa menimbulkan suara, memaksa diri mendorong keinginan kencing, lalu membuka celananya membuang air kecil, mengarahkan air kencingnya menyiram kepala Cekel Aksomolo yang masih mendengkur!

"Wajoowwww!

Bocah setan!

Cindil anak tikus!"

Cekel Aksomolo melompat cepat sehingga tidak terkena air kencing.

Saking kagetnya Joko Wandiro seketika berhenti kencingnya dan menutup kembali celananya, berdiri memandang kakek.

itu dengan mata terbelalak kaget.

Cekel Aksomolo menangkap pergelangan tangannya, menguncang-guncang tubuh anak itu dan bertanya.

"Siapa memberitahumu akan rahasiaku? Siapa? Hayo bilang, siapa yang membocorkan rahasiaku!"

"Rahasia pengapesanmu? Semua orangpun tahu! yang membocorkan adalah ayahku, kau mau apa?"

Joko Wandiro yang sudah nekat karena tidak melihat jalan lain untuk membebaskan diri, kini sengaja menggunakan nama ayannya untuk menakut-nakuti kakek menyebabalkan ini.

Cekel Aksomolo berjingkrak-jingkrak marah.

"Apa? Ayahmu? Raden Wisangjiwo mana tahu akan rahasiaku?"

"Raden Wisangjiwo boleh mampus di neraka jahanaml"

Joko Wandiro menyumpah marah."Ayahku bernama Pujo, seorang gagah perkasa, jagoan, sakti mandraguna yang bertapa di muara Sungai Lorog!"

Kini Cekel Aksomolo yang melengak heran sampai mulutnya terbuka lebar-lebar. Saking kaget dan herannya mendengar ini, ia sampai lupa akan kemarahannya. Baru sesaat ia berkata.

"Uuuhh-huh, demi setan wewe tetekan! kau anak Pujo? Laeeee, laeee, bagaimana ini? kau putera Wisangjiwo dan Pujo... si keparat itu, dialah orangnya yang menculikmu dari Kadipaten Selopenangkep!"

"Bohong! Bohong...! kau kakek busuk, kakek jahat! Pujo adalah ayahku! Wisangjiwo boleh mampus, Kadipaten Selopenangkep boleh hancur-lebur, siapa peduli? Ayahku bernama Pujo, seorang ksatria sejati!"

Pada saat itu terdengar lengking tinggi mengerikan, seakan-akan menyambut atau menjawab ucapan Joko Wandiro yang diucapkan keras-keras itu.

Cekel Aksomolo sendiri sampai tersentak kaget mendengar suara ini.

Tidak ada binatang hutan seperti itu suaranya, juga tak mungkin manusia.

Hanya peri dan iblis saja agaknya yang dapat mengeluarkan suara seperti itu, lengking tinggi menusuk jantung.

Hati kakek itu tidak enak, segera ia menangkap pergelangan tangan Joko Wandiro.

"Hayo kita pergi dari sini! Biar di Selopenangkep nanti kau membantah kakekmu sendiri..."

"Tidak mau! Tidak sudi! Kakek jahat, lepaskan aku!"

Joko Wandiro meronta-ronta.

Namun Cekel Aksomolo tidak memperdulikannya dan menyeretnya untuk cepat-cepat pergi dari hutan itu.

Tiba-tiba tampak bayangan orang berkelebat dan tahu-tahu seorang kakek sudah berdiri menghadangnya dengan sepasang golok di kedua tangan.

Dia ini bukan lain adalah Ki Tejoranu yang segera berkata mengejek.

"Cekel Aksomolo! Seolang tua bangka macam kau memaksa dan menghina anak kecil, akulah lawanmu, tua sama tua!"

Cekel Aksomolo marah bukan main. Tentu saja ia sama sekali tidak takut kalau hanya pertapa Sarangan ini yang muncul.

"Uuhhh-huh, kau pecundang, kau sudah keok (kalah) sekarang berani muncul lagi? Minta mampus? Uuhh, dasar bosan hidup!"

Tiba-tiba kakek ini menggerakkan jari tangannya memencet kedua pundak Joko Wandiro.

Anak ini mengeluh perlahan dan roboh terguling, tak dapat bangun lagi karena ia merasa seluruh tubuhnya lumpuh.

Ia hanya dapat memandang kearah dua orang kakek itu yang sudah bertanding.

Betapapun hebat permainan sepasang golok di tangan Ki Tejoranu dan betapa mahirnya akan ilmu meringankan tubuh, namun menghadapi Cekel Aksomolo, ia masih kalah tinggi ilmunya.

Cekel Aksomolo mengandalkan kesaktiannya kepada ilmu hitam yang mujijat, tidak seperti Ki Tejoranu yang semata-mata mengandalkan Ilmu silatnya.

Biarpun tasbih yang digerakkan itu tidak amat cepat, namun dari tasbih itu keluar segulung sinar hitam yang luar biasa ampuhnya, yang seakan-akan merupakan tangan-tangan iblis menghalau gulungan sinar golok.

Sambil memutar tasbih ini Cekel Aksomolo bersumbar.

"Heh Ki Tejoranu manusia berlidah pendek! kau bertapa dan belajarlah dua windu lagi, baru boleh mencoba kesaktian Cekel Aksomolo,huh-huh-huh! Akan tetapi sekarang sudah terlambat, karena aku tidak akan memberi kesempatan kepadamu untuk belajar lagi... Terimalah kematianmu!"

Tiba-tiba tangan kiri pertapa di lereng Wilis ini bergerak dan sesosok sinar hitam menyambar ke depan, menyambar sambil mengeluarkan suara mendesing.

Inilah senjata rahasia yang amat ampuh dari Cekel Aksomolo, yaitu senjata rahasia ganitri yang sebenarnya biji-biji tasbih.

Bukan main ampuhnya senjata rahasia ini, karena biarpun hanya sebutir benda kecil terbuat daripada kayu hitam, namun jika sekali melesat dari tangan sakti dapat mengejar lawan seperti seekor lebah yang berbisa.

Ki Tejoranu terkejut sekali, cepat golok kanannya menyampok benda kecil itu sedangkan golok kirinya masih sibuk melayani untaian tasbih yang menyambar-nyambar dikepalanya.

"Tringgg...!"

Ganitri yang kecil itu tersampok, akan tetapi tidak runtuh atau terlempar jauh, bahkan berputaran dan menghantam kearah mukanya!

Ki Tejoranu makin kaget, cepat ia meloncat ke belakang, akan tetapi terlambat!

Ganitri telah menyambar dan mengenai pundaknya!

Begitu mencium darah, senjata rahasia ganitri yang luar biasa ini terbang kembali ke tangan kiri Cekel Aksomolo yang tertawa terkekeh-kekeh melihat Ki Tejoranu roboh terjengkang lalu bergulingan dengan sepasang goloknya masih menyambar-nyambar melindungi tubuh.

Diam-diam kakek bongkok ini kagum bukan main.

Betapa orang yang sudah terluka dan roboh masih dapat menggunakan sepasang golok melindungi tubuh seperti itu benar-benar membuktikan kemahiran permainan golok yang hebat.

Maklum bahwa luka akibat ganitri yang berbisa akan mendatangkan maut kepada lawannya, Cekel Aksomolo tidak memperdulikan Ki Tejoranu lagi, melainkan membalikkan tubuh hendak membawa pergi Joko Wandiro.

Akan tetapi alangkah kaget hatinya, sampai dia berdiri terlongong.

Joko Wandiro telah bangun dan berdiri di tempat itu, dan di sebelahnya berdiri seorang wanita muda yang cantiknya bukan kepalang!

Seorang wanita muda yang memiliki wajah, kulit, dan bentuk tubuh yang hanya pantas dimiliki seorang bidadari kahyangan!

Mata Cekel Aksomolo yang berminyak kalau melihat wanita ayu ini seperti hendak terloncat keluar dari tempatnya.

Jantungnya mencak-mencak dalam dada, pandang matanya seperti hendak menelan bulat-bulat dan hatinya berbisik.

"...Wadouhhh, denok montok kinyis-kinyis..."

Dan seperti seorang mengidam yang melihat mangga, air liurnya menitik turun dari kedua ujung bibirnya! (Lanjut ke

Jilid 11) Badai Laut Selatan (Seri ke 03 Serial Serial Keris Pusaka Sang Megatantra) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo

Jilid 11 Wanita itu masih muda dan memang hebat.

Wajahnya cantik jelita, dihias rambutnya yang panjang terurai ke belakang hitam berombak.

Pakaiannya bagian atas hamper tidak dapat menahan lekuk lengkung tubuh yang seperti hendak memberontak dan memecahkan kain penutup karena kepadatannya.

Namun, kecantikan dan keindahan bentuk tubuh ini dilindungi sikap yang agung, pandang mata yang tajam angker, tarikan mulut yang membayangkan kekerasan hati, kerut di kening yang menggoreskan derita hidup yang kesemuanya itu membuat ia tampak bercuriga kepada setiap orang yang dihadapinya.

"Pergilah engkau, paman tua dan jangan ganggu anak ini!"

Demikian ucapannya yang ditujukan kepada Cekel Aksomolo.

Suaranya merdu akan tetapi nadanya dingin menyeramkan, seakan-akan di balik ucapan itu bersembunyi ancaman maut yang mengerikan.

Cekel Aksomolo dapat merasakan ini, akan tetapi tentu saja ia tidak takut.

Masa seorang sakti mandraguna seperti dia takut terhadap seorang wanita yang begitu denok ayu?

"Aduuhh, ayu kinyis-kinyis, denok montrok-montrok, di dunia tiada keduanya!

Engkau siapa, genduk bocah ayu manis?

Waduhhh, mati aku ada wanita kok begini cantik!"

Wanita itu mengerutkan kening, pandang matanya mengeluarkan sinar berapi, lalu terdengar lagi ia bertanya, suaranya masih merdu namun lebih dingin daripada tadi.

"Kakek tua, sekali lagi pergilah! Aku tak akan menangani (menghajar) seorang kakek yang sudah tua renta seperti kau, kecuali kalau terpaksa."

"Heh-heh-huh-huh-huh! Biar tua tuanya kelapa, tuanya kemiri, biar tua lebih berguna daripada yang muda! Bocah denok montrok, aku mau pergi dari sini kalau menggendongmu!"

Tiba-tiba wanita itu mengeluarkan suara melengking tinggi dan hampir saja Cekel Aksomolo terjengkang saking kagetnya.

Kiranya yang mengeluarkan suara lengking mengerikan tadi adalah wanita ayu ini!

Akan tetapi kakek ini tidak diberi kesempatan untuk terheran lebih lama karena pada detik itu wanita tadi telah menerjangnya dengan gerakan kilat dan sebuah tamparan keras menyambar mukanya!

Tamparan yang menggunakan telapak tangan, dan hawa pukulannya saja sudah seperti api membara!

Kagetlah kakek ini, sama sekali tidak disangkanya wanita seelok ini dapat melakukan pukulan sedahsyat itu.

Cepat ia mengelak, kini tangan dengan jari-jari terbuka menusuk ke arah lambung, hebatnya bukan main.

"Aduhhh, celaka...!"

Cekel Aksomolo adalah seorang sakti tentu saja dalam keadaan bahaya ini ia tidak kehilangan akal.

Tahu bahwa tusukan itu biarpun hanya dilakukan dengan jari-jari tangan yang halus meruncing lunak, namun dapat menembus kulit lambungnya, dan bahwa tusukan itu tak dapat lagi ia elakkan, si kakek cepat menggerakkan tasbihnya, menghantam ke arah kepala wanita itu untuk mengajak sampyuh (mati bersama)!

"Kakek jahat!"

Wanita itu berseru, tangan kirinya menangkis lengan kanan lawan yang membawa tasbih dan karena itu maka tusukannya tadi melambat sehingga Cekel Aksomolo mendapat kesempatan untuk menangkis pula dengan tangan kiri sambil miringkan tubuh.

Dua pasang tangan saling bertemu dan akibatnya, wanita itu terhuyung ke belakang, akan tetapi juga Cekel Aksomolo hampir terguling.

Wanita itu agaknya penasaran dan marah, tanpa mengeluarkan kata-kata ia sudah menerjang maju lagi, gerakannya cepat bukan main, kedua tangannya mengeluarkan angin panas!

Cekel Aksomolo yang kecelik mengira dia itu wanita ayu yang lemah dan mudah dijadikan korban, terpaksa menggunakan tasbih melawan.

yang lebih mengherankan hatinya adalah betapa suara tasbihnya seakan-akan tidak mempan terhadap wanita ini.

Ia sama sekali tidak pernah mimpi bahwa wanita cantik yang ia hadapi ini adalah Kartikosari, isteri Pujo.

Kartikosari kini bukanlah Kartikosari sepuluh tahun yang lalu.

Ia sudah melatih diri di tepi laut, jika sedang melatih tenaga sakti, deru badai mengamuk sekalipun tidak menggoyahkan pertahanan batinnya.

Apalagi kini suara tasbih yang biarpun mengandung suara mujijat, namun bukan apa-apa jika dibandingkan dengan suara mujijat yang dibawa oleh ombak dan badai!

Pada saat Kartikosari menerjang dan terlibat dalam pertandingan seru dengan Cekel Aksomolo, Joko Wandiro berdiri terbelalak kagum.

Sudah banyak ia melihat laki-laki sakti, jagoan-jagoan yang pandai.

Akan tetapi baru kali ini ia menyaksikan seorang wanita berkelahi dengan cara yang demikian mengagumkan.

Apalagi ketika ia mengenal gerakan-gerakan ayahnya, ia makin terpesona.

Tadi ketika Cekel Aksomolo bertanding melawan Ki Tejoranu, tahu-tahu wanita ini muncul dan sekali mengurut pundaknya, ia dapat bangun.

Akan tetapi sebelum Joko Wandiro sempat bertanya, Cekel Aksomolo yang telah merobohkan Ki Tejoranu telah menghadapi penolongnya.

Kini mereka berdua bertanding hebat, Joko Wandiro memandang kagum akan tetapi juga khawatir karena ia maklum betapa kakek bongkok itu benar-benar berbahaya dan sakti.

Pada saat itu, ia merasa ada angin bertiup di belakangnya dan disusul napas terengah seorang manusia.

Joko Wandiro cepat membalikkan tubuhnya, siap menghadapi serangan lawan.

Akan tetapi alangkah kaget dan herannya ketika ia melihat seorang anak perempuan sebaya dengannya, hanya satu dua tahun lebih muda, anak yang berwajah seperti bulan dan bermata seperti bintang, berdiri dengan napas terengah-engah memandang pertempuran.

Agaknya anak ini telah berlari jauh dan cepat maka sampai terengah-engah napasnya.

Melihat anak ini memandang pertempuran dengan mata terbelalak, Joko Wandiro menyangka dia ketakutan dan ngeri, maka katanya.

"Kau siapa? Anak kecil tidak boleh di sini, berbahaya. Tidak kau lihat ada orang bertempur? Pergilah!"

Tangannya bergerak mendorong ke arah pundak untuk menakut-nakuti dan menyuruh anak itu pergi, akan tetapi hanya dengan gerakan miringkan tubuh, dorongannya tidak mengenai sasaran dan anak perempuan itu kini memandangnya dengan mata marah dan mulut cemberut.

"Lagaknya seperti orang tua saja! Apakah kau juga bukan anak kecil? Tentu kau anak monyet itu!"

Dan tiba-tiba sekali, benar-benar di luar dugaan Joko Wandiro, anak perempuan itu telah menerjang dan menghantam dadanya dengan kepalan tangannya yang kecil.

Serangan ini amat cepat dan juga sama sekali tidak disangka-sangka, maka Joko Wandiro tidak sempat mengelak lagi.

"Bukk!"

Joko Wandiro roboh terjengkang, mengelus dadanya yang terpukul karena merasa sakit.

Benar-benar ia heran luar biasa bagaimana ada seorang anak perempuan memiliki pukulan yang begini ampuh, cukup kuat sehingga ia sesak bernapas.

Gerakannya cepat sekali dan melihat cara anak ini memukul, jelas bahwa anak ini memiliki ilmu berkelahi yang sama sekali tidak rendah!

Melihat Joko Wandiro hanya jatuh terduduk saja oleh pukulannya tadi, anak perempuan itu marah-marah.

"Kau masih belum rebah mampus?"

Teriaknya dan kini dengan gerakan yang benar-benar dahsyat dan cepat dia telah menendang ke arah muka Joko Wandiro yang masih terheran-heran.

Akan tetapi kali ini Joko Wandiro tidak berani berlaku lengah.

Cepat ia mengelak dan meloncat bangun.

"Wah, kau ini bocah setan begini galak dan keji!"

Joko Wandiro berseru karena anak itu sudah menerjangnya lagi kalang-kabut.

Sebuah pukulan secara aneh sekali telah bersarang di perutnya membuat ia terhuyung ke belakang.

Hebat dan cepat gerakan anak perempuan itu.

Kalau ia tadi menangkis lalu membalas tentu ia akan dapat mendahului, akan tetapi karena Joko Wandiro tidak mau menyerang anak perempuan, maka ia lagi-lagi terkena pukulan.

Perutnya menjadi mulas dan ia mulai marah.

"Kau ini bukan bocah perempuan, kau seperti kucing mabok!"

Katanya dan menangkis kuat-kuat, bahkan balas menampar ke arah pipi anak itu. Anak itu mengelak sambil meloncat mundur, kedua pipinya yang tadi terkena tamparan itu menjadi merah sekali.

"Apa kau bilang?"

Telunjuknya yang kecil menuding ke arah hidung Joko Wandiro, seperti hendak menusuk lubang hidungnya."Aku kucing? Kalau begitu kau monyet! kau celeng goteng! kau kirik (anak anjing) bungkik!"

"Wah-wah, galak dan tukang maki. kau ini bocah manakah sih begini kurang ajar? Hayo pergi, kalau tidak tentu kutempiling kau!"

Joko Wandiro marah, melangkah maju dan mengancam dengan kedua tangan terkepal.

"Kau berani menempiling aku? Coba! Hayo coba! Dua kali sudah kuhantam engkau, yang ketiga kalinya tentu kau takkan dapat bangun lagi!"

Anak perempuan itu memekik dan menyerang lagi lebih dahsyat daripada tadi.

Joko Wandiro yang sudah marah dan penasaran, menangkis dan balas menyerang.

Alangkah kaget dan herannya ketika ia mendapat kenyataan bahwa gerakan anak perempuan ini sama dengan gerakan-gerakannya!

Sementara itu Kartikosari merupakan lawan yang kuat bagi Cekel Aksomolo.

Biarpun kakek itu memiliki tasbih mujijat, namun Kartikosari dapat menghadapinya dengan baik.

Kedua tangan wanita ini ampuh sekali, apalagi dibantu dengan tendangan-tendangan kaki yang tak terduga-duga.

Setelah serangan-serangannya gagal dan ia mendapat kenyataan bahwa kakek bongkok itu tidaklah selemah yang ia kira semula, Kartikosari mencabut sebatang keris kecil dari pinggangnya dan kini dengan keris di tangan kanan untuk menyerang, tangan kirinya berusaha mencengkeram dan merampas tasbih.

Kagetlah Cekel Aksomolo.

Tak disangkanya wanita muda yang cantik jelita ini demikian perkasa.

Dan ketika ada dua sinar golok menyambar sebagai tanda bahwa Ki Tejoranu sudah maju pula mengeroyoknya, diam-diam Cekel Aksomolo mengeluh.

Menghadapi wanita cantik ini saja ia sudah repot dan andaikata dapat menang juga akan makan waktu lama, apalagi sekarang ditambah sepasang golok Ki Tejoranu yang cukup ampuh, bisa-bisa ia mati konyol!

Maka ia tiba-tiba membunyikan tasbihnya dan menyerang hebat.

Ki Tejoranu yang sudah terluka hebat itu cepat meloncat mundur dan Kartikosari juga kaget dan cepat mundur memasang kuda-kuda.

Saat itu dipergunakan oleh Cekel Aksomolo untuk mencelat ke belakang dan melarikan diri.

Ki Tejoranu cepat maju dan memberi hormat kepada Kartikosari, berkata kagum.

"Nona yang gagah perkasa telah menolong saya olang tua yang tiada guna, sungguh melupakan budi besar."

Akan tetapi Kartikosari tidak menjawab karena perhatiannya tertarik oleh gerakan-gerakan di belakangnya.

Ketika ia menoleh, ia melihat dua orang anak itu masih saling serang dengan gerakan cepat.

Ia tertegun sejenak, kagum menyaksikan gerakan mereka yang jelas sealiran.

Akan tetapi iapun dapat melihat bahwa anak perempuan itu yang lebih banyak menyerang, sedangkan anak laki-laki itu lebih banyak mengalah, menangkis dan mengelak.

"Endang! Berhenti, jangan pukul orang!"

Suaranya merdu akan tetapi berpengaruh karena anak perempuan itu meloncat mundur, mencibirkan bibir bawah yang merah kepada Joko Wandiro sambil berkata perlahan.

"Untung kau, ibu melarang, kalau tidak... hemmm...!"

Joko Wandiro mendongkol, akan tetapi lega hatinya karena tidak harus melayani anak perempuan liar dan galak ini.

Ia menengok dan memandang wanita itu penuh kagum.

Kartikosari sudah menghadapi Ki Tejoranu lagi sambil mengeluarkan pertanyaan halus.

"Kau terluka, paman?"

Ki Tejoranu menoleh ke arah pundak kirinya. Ia tadi sudah merobek baju di sebelah kiri dan tahu bahwa pundaknya terluka biji tasbih yang berbisa sehingga pundaknya memperlihatkan luka menghitam.

"Ah, telkena senjata ganitli yang belbisa. Kakek itu benal jahat."

Kartikosari agak geli hatinya mendengar omongan yang pelo itu, dan ia dapat menduga bahwa kakek ini tentulah seorang asing.

"Syukur kalau kau dapat mengobatinya sendiri, kalau tidak, saya mempunyai obat widosari (semacam boreh) yang baik untuk memunahkan bisa."

"Terima kasih. Tidak usah, bisanya tidak amat jahat, tidak sejahat Cekel Aksomolo."

"Ah, dia Cekel Aksomolo? Pantas begitu sakti. Nah, paman, harap kau tinggalkan kami dan kuharap kau tidak usah sebut-sebut kehadiranku di sini."

Ki Tejoranu memandang penuh perhatian, lalu mengangguk-angguk.

"Nona telah menolong, saya tidak akan lupa."

Kemudian ia melangkah menghampiri Joko Wandiro dan mengangguk-angguk pula memberi hormat.

"Saudala kecil amat gagah calon ksatlia, kelak kita beltemu lagi. Selamat... selamat...!"

Pergilah kakek itu dengan gerakan cepat sekali. Kartikosari membalikkan tubuh memandang Joko Wandiro yang juga memandangnya dengan matanya yang tajam.

"Eh, bocah, siapa namamu dan mengapa kau bertanding melawan anakku? kau tadi tahu betapa aku telah menolongmu, mengapa kau membalas pertolongan orang dengan cara demikian?"

Joko Wandiro menundukkan mukanya, tak kuasa menentang kilatan sinar mata wanita itu, lalu menguatkan hati karena merasa tidak bersalah, memandang lagi dan menjawab.

"Bibi yang baik, nama saya Joko Wandiro. Saya sama sekali tidak mengajak berkelahi boc..eh, adik ini, melainkan saya hanya membela diri karena diserang kalang-kabut. Selain itu, tadi saya tidak tahu bahwa dia... dia anak bibi. Maafkan, bibi."

Senang hati Kartikosari melihat anak tampan dan bertubuh tegap ini bicara secara jujur dan pandai membawa diri pula. Ia mengangguk-angguk dan berkata.

"Gerakanmu bertanding tadi, dari siapa kau belajar?"

Kartikosari setengah menduga bahwa anak ini kalau bukan murid Pujo tentulah murid ayahnya, Resi Bhargowo. Akan tetapi alangkah herannya ketika ia mendengar jawaban yang tegas.

"Dari ayah saya."

"Ayahmu...? Siapakah nama ayahmu?"

"Namanya Pujo."

Berdegup jantung dalam dada Kartikosari. Lalu ia melirik ke arah puterinya, membanding-bandingkan. Anak laki-laki ini jelas lebih tua daripada anaknya. Akan tetapi ia masih belum puas.

"Berapa usiamu sekarang?"

"Kata ayah usia saya dua belas tahun, bibi."

"Hemm, kalau begitu tak mungkin Pujo beristeri lagi dan mempunyai anak ini,"

Pikir Kartikosari agak lega. Akan tetapi mengapa Pujo bisa memiliki putera yang lebih tua daripada anaknya? "Siapakah ibumu?"

Joko Wandiro menggigit bibir, menekan perasaannya yang sakit, lalu menggeleng kepala.

"Saya saya tidak tahu, bibi, mungkin sudah tidak ada di dunia ini..."

"Oohhhh... di mana dia sekarang?"

"Siapa, bibi?"

"Pujo itu, di mana dia?"

"Ayah?"

"Hemm, ya. Di mana dia?"

"Bibi mengenal ayah?"

Joko Wandiro girang.

"Mengenal Pujo?"

Kartikosari mengulang pertanyaan ini. Bibirnya tersenyum akan tetapi hatinya serasa diremas-remas. Dia mengenal Pujo? Sungguh pertanyaan yang menggelikan, tapi juga menyedihkan.

"Tentu saja. Di mana dia sekarang?"

"Ayah sejak dahulu tinggal di muara Sungai Lorog, bibi."

Mendengar ini Kartikosari serentak timbul niat di hatinya untuk menjumpai suaminya.

Sudah lama sekali ia merindukan suaminya yang tercinta.

Sekarangpun ia baru saja meninggalkan Karangracuk di pantai selatan untuk melakukan balas dendam, untuk mencari Wisangjiwo dan mencari suaminya.

Ia menyimpan dendamnya sampai sepuluh tahun adalah karena ia ingin memperdalam ilmunya dan di samping itu, iapun tidak dapat meninggalkan Endang Patibroto yang masih kecil.

Kini anaknya sudah berusia sepuluh tahun, sudah cukup besar dan kuat diajak melakukan perjalanan jauh.

Siapa kira, suaminya itu berada di muara Sungai Lorog, di pantai Laut Selatan pula yang tidak berapa jauhnya dari tempat tinggalnya sendiri.

Apalagi kalau melakukan perjalanan dari Karangracuk terus menyusuri sepanjang pantai Laut Selatan menuju ke timur, dengan ilmu lari cepat agaknya dalam waktu dua hari saja paling lama tentu akan sampai!.

"Endang, kau kembalilah ke pantai bersama anak ini. Ibumu akan pergi selama sepekan. Kalian berdua tunggu kembaliku di pantai dan jangan berkelahi lagi!"

Setelah berkata demikian, sekali berkelebat lenyaplah Kartikosari dari depan kedua anak itu.

Joko Wandiro masih termenung karena kagum melihat gerakan yang luar biasa cepatnya itu dan ia kaget ketika tiba-tiba punggungnya disodok siku dari belakang Ia menoleh dan ternyata yang menyikunya adalah anak perempuan tadi!

Anak itu memandangnya, penuh tantangan.

"Mau apa kau?"

Ia menegur marah. Anak perempuan itu menjelajahi tubuhnya dari kaki ke kepala dengan pandang mata menilai, lalu berkata.

"Sekarang ibuku telah pergi. Hayo kita lanjutkan adu tebalnya kulit kerasnya tulang!"

Mau tak mau Joko Wandiro tersenyum.

Anak perempuan ini memang luar biasa sekali dan ia tidak bisa mengharapkan lain dari anak seorang wanita sakti seperti tadi.

Anak ini agaknya dimanja dan tak pernah mau kalah, pikirnya.

Ia maklum bahwa kalau ia bersungguh-sungguh, biarpun tidak mudah namun ia pasti akan dapat menangkan anak perempuan ini.

Akan tetapi anak ini adalah anak wanita cantik tadi yang telah menolong nyawanya, bagaimana ia dapat menjadi lawan?

Kalau sampai kesalahan pukul, bukankah ibunya akan marah kalau pulang nanti?

Dan pula, ia tidak tega untuk memukul kulit yang kelihatannya halus tipis itu.

"Eh, ditantang berkelahi kok malah mesam-mesem (senyum-senyum)! Hayo, kalau kau memang laki-laki gagah. Kalau bisa kalahkan Endang Patibroto barulah kau benar-benar perkasa!"

Anak perempuan itu berdiri memasang kuda-kuda, menggerak-gerakkan kedua tangannya yang jari-jarinya dibuka seperti kuku burung elang.

Terdengar bunyi angin perlahan bercuitan dari jari-jari ini dan diam-diam Joko Wandiro terkejut.

Itulah ilmu pukulan yang luar biasa ampuhnya!

Mengapa tadi anak itu tidak mengeluarkan ilmu pukulan ini?

Dia merasa ragu-ragu apakah akan mampu menghadapi tangan yang telah memiliki tenaga sakti seperti itu.

Tentu saja ia tidak tahu bahwa karena tidak mau kalah, Endang Patibroto ini sengaja memperlihatkan ilmu simpanan yang ia pelajari dari ibunya.

Ilmu ini adalah ciptaan ibunya sendiri yang mengambil inti gerakan burung-burung walet dan elang laut.

Ibunya telah mengancamnya agar jangan menggunakan ilmu ini karena selain belum sempurna dipelajari, juga ilmu ini hanya boleh digunakan kalau keadaan betul-betul mendesak.

Kini ibunya tidak ada maka timbul keberaniannya untuk memamerkan di depan Joko Wandiro!

"Sudahlah, aku terima kalah.

Ibumu begitu baik menolongku, mengapa engkau begini galak?"

Setelah berkata demikian, Joko Wandiro membalikkan tubuhnya lalu duduk di atas sebuah batu hitam besar di bawah pohon asem.

Di dekat kakinya banyak terdapat buah-buah asem yang rontok, buahnya sudah matang.

Dipilihnya beberapa biji dan dikupasnya perlahan, lalu dimakannya daging asem yang matang berwarna merah kehitaman itu.

Rasanya masam-masam manis.

Rasa masam membuat kedua pelupuk matanya bergetar dan melihat ini, Endang Patibroto tak dapat menahan lagi air liurnya.

Menyaksikan orang makan yang asam-masam memang bisa membikin mulut kemecer (mengeluarkan liur)!

Joko Wandiro melihat betapa anak perempuan itu beberapa kali menelan ludah, tersenyum dan memilih beberapa buah asem matang, mengangsurkannya kepada Endang Patibroto.

"Enak yang kemampo (setengah matang) begini!"

Endang Patibroto masih memasang kuda-kuda.

Melihat betapa orang yang ditantangnya tidak menyambut tantangannya malah menawarkan buah asem kemampo ia tertegun.

Selama ini tidak banyak ia bergaul dengan orang lain.

Ibunya melarangnya.

Buah asempun belum pernah ia memakannya, kecuali buah asem yang dipergunakan ibunya membumbui ikan, itupun dimakan sebagai bumbu.

Sikap dan senyum Joko Wandiro membuat ia kehilangan semangat bertempur, dan akhirnya ia menerima pemberian itu, duduk agak menjauhi dan mulai makan buah asem.

Memang enak masam-masam manis.

Akan tetapi rasa masam membuat kedua matanya kiyer-kiyer (tergetar setengah terpejam).

"lihhh, kecut sekali!"

Katanya. Joko Wandiro tertawa karena lucu sekali melihat anak itu terkiyer-kiyer seperti itu. Endang Patibroto juga tertawa dan lenyaplah semua sisa rasa permusuhan dari dalam dada Endang.

"Namamu siapa?"

Tanya Endang sambil mengelamuti buah asem, matanya ketap-ketip menatap wajah Joko, mata yang seperti bintang.

"Namaku Joko Wandiro, dan kau?"

"Endang Patibroto"

"Wah, namamu bagus, terutama Patibroto itu..."

"Dan namamu buruk, lebih-lebih Wandiro itu!"

Keduanya terdiam, hanya saling pandang.

Karena keduanya sejak kecil jarang bergaul dengan anak-anak berbeda kelamin, pernah melihatpun dalam kelompok banyak, maka kini mereka saling berhadapan merupakan pengalaman pertama dan keduanya merasa seakan-akan menghadapi sesuatu yang aneh dan membutuhkan perhatian.

Setelah kini Endang Patibroto tidak marah lagi, wajahnya tampak manis dan menyenangkan sekali bagi Joko Wandiro.

Terutama sepasang mata yang lebar seperti bintang itu.

Melihat gadis cilik itu duduknya mendeprok di atas rumput, Joko Wandiro menepuk-nepuk batu hitam di sebelahnya dan berkata.

"Endang, marilah duduk di sini, enak duduk di sini."

Endang Patibroto menggeleng-geleng kepala.

"Di sini lebih enak!"

Wandiro menahan senyum.

Anak ini benar-benar keras kepala.

Rumput itu agak basah dan kotor, bagaimana enak diduduki?

"Mungkin lebih enak, akan tetapi hati-hati, kalau ada ulat berbulu dan semut api menggigit kakimu!"

Seketika Endang melompat bangun dan menggerak-gerakkan kedua pundaknya karena ngeri dan jijik, lalu berjalan perlahan menghampiri Wandiro, duduk di atas batu.

"Kau bilang tadi ibumu sudah tiada...?"

Joko Wandiro mengangguk sunyi, matanya redup dan keningnya agak berkerut. Melihat ini, Endang Patibroto cepatcepat menyambung.

"Ibuku masih ada, akan tetapi ayahku-pun sudah tiada. Engkau tak beribu, aku tak berbapa, jadi sama nilainya. Kita sama-sama anak yatim."

Joko Wandiro mengangguk-angguk, wajahnya masih muram.

Dalam hatinya ia membantah.

kau mana tahu, pikirnya.

Kehilangan ibu bukanlah suatu hal yang amat menyakitkan hati, akan tetapi mendengar ibu diperkosa orang!

"Joko, kenapa kau diam saja?

seperti arca!"

Teguran disertai sentuhan pada lengannya ini menyadarkan Joko Wandiro.

Ia menoleh dan melihat anak perempuan itu tersenyum.

Akibatnya luar biasa sekali.

Seketika lenyap semua renungan buruk dan bagaikan terkena aliran aneh wajah Joko Wandiro juga murah cerah, tersenyum dan kemudian keduanya tertawa girang!

"Hayo kita berangkat!"

"Berangkat? Ke mana?"

"Ihh, bagaimana sih engkau ini? Bukankah tadi ibu berpesan agar kita kembali ke pantai, ke pondok kami dan menanti ibu di sana selama sepekan? Marilah!"

Joko Wandiro menggeleng kepala.

"Tidak, aku harus lekas pulang. Ayah akan mencari-cari dan menanti-nantiku."

"Eh, mengapa begitu? kau dengar tadi. Ibuku sedang pergi mencari ayahmu, tentu ibuku akan memberi tahu bahwa engkau berada di sini bersamaku."

"Mengapa ibumu mencari ayahku?"

"Siapa tahu?"

Tiba-tiba gadis cilik itu tertawa geli, matanya yang lebar memancarkan sinar berseri dan ia berkata.

"Siapa tahu, ayahmu dan ibuku itu sahabat-sahabat baik dan... eh, kalau saja mereka bersatu"

"Hah...??"

Joko Wandiro terbelalak heran dan kaget, tidak segera dapat menangkap maksud kata-kata yang tersendat-sendat itu.

"Ibuku menjadi ibumu, ayahmu menjadi ayahku. Bukankah itu baik sekali? kau mendapatkan ibu baru, aku mendapatkan ayah baru, dan kita menjadi kakak-beradik!"

Serentak gadis cilik itu menari-nari kegirangan, berjingkrak-jingkrak dan berputaran amatlah lincahnya.

Joko Wandiro tertegun dan termenung.

Ia menggeleng-gelengkan kepalanya, dalam hati ia tidak setuju, akan tetapi menyaksikan kegembiraan gadis cilik ini, ia tidak tega untuk membantahnya.

"Hayo kita berangkat ke pantai!"

Akhirnya Endang mengajaknya. Dia menggeleng kepala. Kurasa lebih baik aku pulang sekarang."

Endang Patibroto cemberut dan membanting-banting kaki kirinya, merajuk.

"Apakah kau tidak mau menemaniku? kau membiarkan aku sendirian pulang ke pantai yang sunyi dan jauh? Apakah kau tidak suka menjadi kakakku?"

Di dalam suara anak perempuan ini terkandung isak tertahan, terkandung rindu akan kasih sayang saudara yang tak pernah dirasainya, terkandung rasa rindu akan teman bermain yang tak pernah pula dirasainya.

Joko Wandiro terharu, apalagi kalau mengingat betapa ibu gadis cilik ini telah menyelamatkannya daripada bahaya maut.

Ia mengeraskan hati.

Biarlah aku dimarahi ayah kalau perlu.

Kasihan dia ini.

Ia mengangguk dan berkata tegas.

"Baiklah. Kutemani kau sampai ibumu pulang."

Endang Patibroto bersorak, lalu menyambar tangan Joko Wandiro, ditariknya dan diajaknya lari menuju ke selatan, keluar dari dalam hutan itu.

Joko Wandiro hanya tersenyum-senyum dan ia makin tertarik kepada gadis cilik yang amat lincah, galak, mudah marah dan mudah gembira, berwatak aneh ini.

Akan tetapi tidak lama kedua orang anak ini berlari-lari sambil tertawa-tawa gembira.

Belum juga habis hutan itu mereka tembusi, tiba-tiba mereka berhenti lari dan berdiri terbelalak kaget.

Di depan mereka menghadang lima orang laki-laki tinggi besar yang semua membawa golok di tangan, dengan sikap mengancam memandang mereka berdua.

Mereka itu adalah lima orang perampok yang tiga hari yang lalu bersama Cekel Aksomolo.

Mereka mengejar dan mencari jejak Ki Tejoranu yang menuju ke hutan ini, maka sampailah mereka ke dalam hutan ini.

Sungguh tak mereka sangka bahwa yang mereka temukan bukanlah Ki Tejoranu yang mereka cari-cari, melainkan Joko Wandiro bocah yang pernah membuat mereka kalang-kabut.

Tentu saja dapat dibayangkan kemarahan mereka melihat anak ini.

Terutama sekali perampok bermata juling yang pernah jatuh bangun oleh Joko Wandiro.

Kemarahannya memuncak dan hatinya girang bukan main melihat bocah ini sekarang berada di depannya.

"Hoh-hoh-hoh, keketulan sekali! Kelinci muda mendekati mulut harimau kelaparan! Hayo, anak setan, kau akan lari ke mana sekarang?"

Bentaknya, goloknya siap membacok."Uwah, Ki roko, cincang saja tubuhnya si bocah iblis!"

Seru perampok baju hitam di belakangnya.

"Hayo, kita bunuh dia, akan tetapi bocah ayu itu jangan dibunuh! Kuncup bunga yang belum mekar itu sayang kalau dibunun, ha-ha-hah!"

Kata perampok ke tiga yang wajahnya pucat.

Melihat lagak para perampok yang tertawa-tawa dan air ludah mereka menyemprot-nyemprot itu, Endang Patibroto ketakutan.

Benar ia seorang anak yang sejak kecil menerima gemblengan ibunya di pantai Laut Selatan, akan tetapi belum pernah ia bertemu dengan orang-orang yang begini buas dan berwajah menyeramkan.

Para petani yang pernah ia temui berwajah sabar dan manis budi, tidak seperti binatang buas sikapnya.

Rasa takut membuat ia cepat bersembunyi di belakang Joko Wandiro dan telapak tangannya dingin ketika ia memegang lengan temannya.

Juga Joko Wandiro merasa terkejut, gelisah.

Ia sendiri tidak takut menghadapi lima orang buas itu, akan tetapi sekarang ia bersama Endang Patibroto yang harus ia lindungi.

Keringat dingin menitik turun dari dahinya ketika bocah pemberani ini mendorong temannya supaya mundur sambil membentak.

"Kalian berlima mau apakah? Di antara kalian dan aku tidak ada urusan apa-apa, apa kesalahanku sehingga kalian mengancam hendak membunuhku?"

"Ho-ho-ho-ha-ha-ha! kau ketakutan sekarang, anak setan?"

Si juling tertawa mengejek dan mengangkat goloknya menakut-nakuti. Joko Wandiro siap waspada, memasang kuda-kuda dan menjawab.

"Aku tidak takut karena aku tidak bersalah apa-apa. Orang yang berbuat salah, dialah yang akan ketakutan selama hidupnya!"

Ia meniru wejangan ayahnya.

"Huah-ha-ha, bocah sombong, bocah setan. Kematian sudah di depan mata, lekas kau berlutut minta ampun di depan kakiku!"

Si juling mengancam lagi.

"Kalau aku bersalah, tanpa kau paksa aku suka minta ampun. Akan tetapi apakah kesalahanku?"

"Kau berani membantah? Minta kucincang kepalamu?"

Golok itu diangkat tinggi-tinggi, mulutnya menyeringai lebar memperlihatkan gigi yang besar-besar dan kuning, matanya makin menjuling lagi sehingga seakan menjadi satu di pinggir hidung.

Tiba-tiba terdengar teriakan keras dan sesosok bayangan berkelebat dari belakang tubuh Joko Wandiro.

Bayangan itu menubruk ke depan dan...

"Cesssss. !."

Sebuah cundrik (keris kecil) menancap di perut perampok mata juling itu.

Cepat gerakan Endang Patibroto ini dan sama sekali tidak pernah tersangka oleh perampok mata juling, bahkan tidak tersangka oleh Joko Wandiro yang menjadi kaget sekali.

Cepat pula Endang Patibroto mencelat ke belakang mencabut cundriknya dan"currrrr!!"

Darah merah muncrat-muncrat dari perut yang gendut.

"...Apa...? Aduhh... wah...!"

Si mata juling mendekap perutnya dengan tangan kiri, matanya sejenak terbelalak mengawasi darahnya yang mengucur melalui celah-celah jari tangannya, kemudian ia terbelalak memandang gadis cilik yang berdiri di samping Joko Wandiro dengan cundrik di tangan, cundrik yang merah ujungnya karena darah!

Kini Endang Patibroto sama sekali tidak kelihatan takut, bahkan sepasang matanya yang lebar itu nampak beringas dan liar.

"Endang... kau... kenapa kau lakukan itu...?"

Joko Wandiro bertanya gagap.

Dia sendiri juga seorang anak gemblengan, akan tetapi selama hidupnya belum pernah ia melukai orang sampai darah bercucuran dari perutnya seperti itu, maka iapun merasa ngeri.

Akan tetapi Endang Patibroto menjawab tegas.

"Dia mau membunuhmu, si keparat! Biar kubunuh mereka semua!"

Jawaban ini selain mengagetkan Joko Wandiro, juga membuat para perampok itu marah sekali.

Bahkan perampok muka pucat yang tadi tertarik oleh kecantikan wajah gadis cilik ini, sekarang menjadi marah sekali.

"Bunuh mereka! Bunuh kedua setan cilik ini!"

Si mata juling yang lebih dulu mengamuk.

Goloknya menyambar dan kini yang ia terjang bukannya Joko Wandiro, melainkan Endang Patibroto yang telah melukai perutnya.

Namun gadis cilik yang masih kanak-kanak, baru berusia sepuluh tahun itu memiliki gerakan yang amat gesit sehingga bacokan golok si juling meluncur mengenai tanah.

Ia terengah-engeh, mendengus-dengus dan mencari-cari.

Ternyata anak perempuan itu sudah meloncat dua meter jauhnya di sebelah kiri.

Ia menggereng dan menerjang lagi, kini goloknya ia obat-abitkan sekuat tenaga sehingga merupakan gulungan sinar yang menghalang anak itu meloncat.

Endang Patibroto sejak kecil belajar ilmu silat, akan tetapi ia masih belum ada pengalaman sama sekali, maka melihat golok itu berkelebat ke kanan kiri, ia menjadi bingung.

Sambil melangkah maju ia nekat menangkis dengan cundriknya.

"Cringgg...!"

Cundrik itu terlepas dari tangannya, meluncur dan menancap ke atas tanah, tiga meter jauhnya.

"Heh-heh-heh, kucincang kepalamu, bocah keparat!"

Si mata juling marah sekali, akan tetapi tiba-tiba tubuh Endang Patibroto sudah berkelebat ke depan, kemudian menggerakkan kedua tangannya seperti cakar burung.

Dua tangannya dengan jari-jari mencengkeram persis kaki burung elang itu membuat gerakan ke arah lengan besar si mata juling yang memegang golok, kemudian mencengkeram, yang kiri bergerak mundur yang kanan maju.

"Kreeeeekkkkk!"

Si mata juling berteriak keras sekali, goloknya terlepas dan lengan kanannya itu robek berikut kulit dan dagingnya!

Demikian hebatnya ilmu simpanan yang diajarkan oleh Kartikosari kepada puterinya itu.

Baru anak kecil berusia sepuluh tahun saja dengan ilmu ini sudah dapat merobek kulit, daging, dan baju lengan seorang yang kuat seperti perampok mata juling!

Sejenak perampok itu terbelalak, meringis kesakitan, lalu terhuyung-huyung mundur dengan muka ketakutan.

Siapa yang takkan ngeri menghadapi bocah perempuan demikian kecilnya akan tetapi yang telah merobek perut dan lengannya?

Apalagi darah yang terlalu banyak keluar membuat kepalanya pening dan pandang matanya berkunang.

Akhirnya roboh terjerembab di bawah pohon.

Adapun empat orang perampok lain kini sudah menghujani Joko Wandiro dengan bacokan-bacokan golok.

Mereka penasaran sekali karena sebegitu lama belum juga mereka mampu menyentuh anak itu dengan golok mereka.

Memang mengagumkan sekali gerakan Joko Wandiro.

Anak ini cerdik sekali dan maklum bahwa empat orang lawannya kuat-kuat pula memegang senjata tajam, ia tidak mau melawan dengan kekerasan, melainkan cepat menggunakan Aji Bayu Tantra, yaitu ilmu meringankan tubuh sambil berloncatan ke sana ke mari, mengelak ke kanan kiri, menyelinap di antara kilatan dan sambaran golok.

"Jangan takut, Joko, kubantu!"

Tiba-tiba terdengar teriakan Endang Patibroto yang sudah tidak punya lawan lagi.

Gadis cilik ini berlari hendak mengambil cundriknya, akan tetapi melihat itu, dua orang perampok meninggalkan Joko Wandiro dan menerjang si gadis cilik.

Sabetan pertama pada kepalanya dapat dielakkan oleh Endang Patibroto yang cepat membungkuk untuk mengambil cundriknya.

Dalam keadaan membungkuk inilah perampok ke dua sudah menggerakkan golok hendak membacoknya!

"Endang, awas...!"

Saking khawatirnya melihat bahaya mengancam Endang, Joko Wandiro melesat meninggalkan kedua orang pengeroyoknya dan karena lompatannya ini dilakukan sambil mengerahkan Bayu Tantra, tubuhnya melayang dan tahu-tahu telah berada di atas tengkuk si muka pucat yang hendak membacok Endang.

Dalam keadaan seperti itu, Joko Wandiro tidak ingat untuk menggunakan ilmu silat lagi, ia segera mencengkeram ke depan sambil berjongkok di atas tengkuk dan pundak dan begitu jari tangannya bertemu benda lunak di depan, terus ia mencengkeram dan menarik.

"Auggghhhh!"

Si muka pucat berteriak kesakitan karena cengkeraman itu tepat mengenai mukanya.

Celakanya jari tangan yang kecil itu ada yang memasuki lubang hidungnya sehingga ketika Joko Wandiro mencengkeram dan menarik, sebagian hidung si muka pucat menjadi semplok (pecah) dan darah mengucur keluar.

Lebih sialan lagi baginya, kawannya yang melihat Joko Wandiro jongkok di atas pundak si muka pucat, cepat mengayun goloknya membacok.

Joko Wandiro secepat burung terbang telah melompat turun dari pundak si muka pucat itulah yang menjadi makanan golok.

Si muka pucat mengeluh lirih dan roboh terkulai seperti kain basah.

Tiga orang perampok yang lain menjadi makin marah dan mengamuk dengan golok mereka diobat-abitkan.

Terpaksa Joko Wandiro dan Endang Patibroto hanya menggunakan kegesitan tubuh mengelak ke sana sini.

Pada saat itu tampak bayangan orang berkelebat seperti kilat menyambar-nyambar cepatnya dan berturut-turut tiga orang perampok itu berjatuhan, golok mereka terlempar.

Sebelum kedua orang anak itu tahu apa yang terjadi, tahu-tahu mereka telah dikempit seorang kakek tua yang membawa mereka lari secepat terbang!

Betapapun mereka berdua berusaha meronta dan melepaskan diri, sia-sia belaka dan saking cepatnya si kakek ini"Terbang,"

Joko Wandiro dan Endang Patilbroto merasa ngeri dan akhirnya mereka hanya meramkan mata dan menerima nasib! * * * "Hamba merasa heran sekali mengapa paduka dikeroyok oleh tokoh-tokoh itu,"

Pujo berkata ketika Ki Patih Narotama sudah tiba di pondoknya, di muara Sungai Lorog. Narotama menarik naipas panjang.

"Pujo, engkau adalah muridl Resi Bhargowo yang memiliki kesaktian. Sungguh mengecewakan sekali engkau sebagai seorang satria terlalu tenggelam dalam dendam dan urusan pribadi sehingga sama sekali tidak tahu akan keadaan di Kerajaan. Ahhh, bukan baru tadi saja orang-orang itu berusaha membunuhku, sudah sering sekali. Bahkan beberapa orang tumenggung dan senopati yang setia kepada sri baginda, telah dibunuh orang. Sungguh menyedihkan sekali, semenjak Gusti Prabu Airlangga mengundurkan diri, terjadi perebutan pengaruh dan kekuasaan di Kerajaan. Aku hanya seorang Patih bagaimana dapat mengurusi nafsu para pangeran?"

Narotama menarik napas panjang dan kelihatan berduka sekali.

"Perebutan kekuasaan?"

Pujo yang selama bertahun-tahun mengasingkan diri, sama sekali tidak tahu akan hal ini. Ki Patih Narotama mengangguk-angguk.

"Engkau tentu sudah tahu bahwa sri baginda mempunyai dua orang permaisuri, yang pertama adalah Puteri Mataram, sedangkan yang ke dua adalah Puteri Sriwijaya. Nah, kini terjadilah perebutan pengaruh antara kedua pangeran dari dua permaisuri itu. Atau lebih tepat lagi, pangeran muda, putera permaisuri ke dua berdarah Sriwijaya itu berusaha secara sembunyi-sembunyi untuk meruntuhkan kekuasaan dan pengaruh kakak tirinya, pangeran tua putera permaisuri pertama. Pangeran muda ini banyak sekali pengikutnya, di antaranya para senopati yang membenci Sang Prabu Airlangga karena telah ditaklukkan. kau tahu, orang-orang seperti Cekel Aksomolo, Warok Gendroyono dan kepala rampok Ki Krendoyakso yang mengeroyokku tadipun adalah kaki tangan pangeran muda."

"Kalau memang mereka itu jahat dan bermaksud merebut kekuasaan, mengapa tidak dilaporkan saja kepada gusti prabu?"

Narotama menggeleng-geleng kepala.

"Gusti prabu sudah lima tahun ini mengundurkan diri dan bertapa. Bagaima mungkin diganggu dengan hal-hal seperti itu? Beliau sudah menyerahkan kepadaku akan tetapi... persaingan antara pangeran-pangeran putera sang prabu sendiri, bagaimana mengatasinya? Sayang... pusaka keraton yang hilang belum juga dapat diketemukan kembali. Inilah agaknya yang menjadi sebab malapetaka ini. Kalau pusaka itu tak dapat diketemukan kembali, berarti Kerajaan kehilangan cahaya dan wahyunya, dan tentu akan terjadi malapetaka yang akan menghancurkan Kerajaan!"

Narotama menarik napas panjang lagi, wajahnya muram."Apalagi kalau para satrianya, seperti engkau ini, hanya tenggelam ke dalam dendam pribadi, tidak peduli lagi akan kewajiban sebagai seorang satria!"

"Ampunkan hamba, gusti Patih. Hamba berjanji bahwa jika saya sudah dapat melakukan pembalasan atas diri Wisangjiwo, hamba akan menyerahkan jiwa raga untuk membela Kerajaan."

"Hemm, begitukah? Kalau begitu kau boleh segera mulai. Tentang Wisangjiwo, mudah saja. Dia terhitung orang kepercayaan pangeran muda, akan tetapi karena aku yang memasukkannya menjadi pengawal sehingga kini ia menjadi senopati muda, maka aku dapat mengatur agar ia datang ke tempat ini dan kau dapat berhadapan empat mata dengannya. Akan tetapi, jangan engkau menjadi buta oleh dendam pribadi engkau harus dapat membantuku melakukan penyelidikan. Kalau tidak salah, para pembantu pangeran muda itu sebagian besar dikumpulkan oleh Adipati Joyowiseso ayah Wisangjiwo. Nah, kau cobalah untuk memaksanya mengaku, peran apakah yang dilakukan ayahnya dan oleh dia sendiri."

"Sendika dawuh paduka, gusti!"

Jawab Pujo dengan hati girang.

Memang ia dahulu sudah menduga di dalam hatinya, Adipati Joyowiseso dan puteranya itu tidak tunduk benar-benar kepada Mataram, maka dalam keadaan Kerajaan sedang kacau di mana dua orang pangeran saling berebut kekuasaan, tentu memberi kesempatan kepada orang-orang yang tidak setia untuk mainkan perannya.

Ki Patih Narotama lalu pergi meninggalkan muara Sungai Lorog, dan beberapa hari kemudian, benar saja Pujo dari tempat sembunyinya melihat seorang laki-laki gagah perkasa naik kuda besar hilir mudik di sekitar muara.

Siapa lagi orang itu kalau bukan Wisangjiwo!

Senopati muda ini menerima perintah dari Ki Patih sendiri untuk menyelidiki muara Sungai Lorog yang menurut Ki Patih, mungkin menjadi tempat disembunyikannya pusaka Kerajaan yang hilang dan masih dicari-cari oleh semua tokoh di empat penjuru.

Seperti para tokoh lainnya, Wisangjiwo tentu saja ingin sekali bisa menemukan dan merampas pusaka itu karena kedua pangeran diam-diam saling memperebutkan pusaka dan mengutus orang-orang kepercayaan untuk mencarinya.

Hal ini tidaklah aneh kalau terdapat kepercayaan bahwa siapa yang memiliki patung pusaka, dialah yang mendapat wahyu untuk menjadi Raja!.

seperti telah sedikit disinggung Ki Patih Narotama ketika berceritera kepada Pujo, memang terjadi perebutan pengaruh dan kekuasaan di istana.

Semestinya, putera yang pertama atau pangeran tua yang sepatutnya menjadi pangeran mahkota.

Hal ini sudah lajim karena sebagai putera tertua, tentu saja pangeran tua yang menjadi calon Raja.

Sang Prabu Airlangga juga tidak melanggar kelajiman ini dan sebelum beliau mengundurkan diri untuk menjadi pertapa, kekuasaan sementara ia serahkan kepada pangeran tua, diembani oleh Ki Patih Narotama yang oleh Sang Prabu Airlang-ga dianggap sebagai wakil beliau pribadi.

Hal ini menimbulkan iri dalam hati pangeran muda dan ibunya, maka mulailah mereka berusaha untuk mengenyahkan setidaknya mengurangi pengaruh dan kekuasaan pangeran tua.

Dengan menggunakan barang-barang berharga seperti emas dan permata, pangeran muda ini mengumpulkan orang-orang pandai dan menjanjikan kedudukan-kedudukan mulia, mengadakan persekutuan dengan mereka yang memang memusuhi Prabu Airlangga dan menanti kesempatan untuk memberontak.

Di antara cara-cara yang digunakan pangeran muda untuk mengurangi kekuasaan kakak tirinya adalah mempergunakan orang-orang pandai membunuhi tumenggung-tumenggung dan senopati-senopati yang setia kepada Prabu Airlangga dan karenanya mereka taat akan perintah dan bersetia-pula kepada pangeran tua.

Banyaklah sudah para tumenggung yang tewas tentu saja dengan dalih permusuhan pribadi.

Bahkan Ki Patih Narotama sendiri sudah sering dihadang di tengah jaian dan dikeroyok.

Hanya berkat kesaktiannya, selama itu Ki Patih masih dapat menyelamatkan diri.

Dan karena adanya Ki Patih Narotama inilah pangeran muda masih belum berani terang-terangan berusaha merebut kekuasaan, apalagi Sang Prabu Airlangga sendiri masih hidup, biarpun sudah menjadi pertapa dan tidak mau mencampuri urusan duniawi.

Wisangjiwo adalah seorang pemuda yang cerdik.

Ia tahu ke mana angin bertiup, sebentar saja bertugas di dalam keraton, tahulah ia akan persaingan ini dan tahulah ia fihak mana yang harus ia bantu.

Karena ia dan ayahnya memang bermaksud memberontak, maka segera ia mendekati pangeran muda dan mengambil hati pangeran ini.

Maka dalam waktu singkat saja Wisangjiwo ditarik oleh pangeran muda dan menjadi senopatinya, bahkan menjadi orang kepercayaannya.

Melalui Wisangjiwo inilah pangeran muda dapat berkenalan dan menarik bantuan tokoh-tokoh yang memang sudah lama dihimpun oleh ayah Wisangjiwo, yaitu Adipati Joyowiseso.

Tentu saja begitu mendengar dari Ki Patih bahwa ada kemungkinan patung pusaka disembunyikan di muara Sungai Lorog, Wisangjiwo menjadi girang sekali dan tergesa-tega berangkat naik kuda ke daerah itu.

la tidak heran mengapa Ki Patih justru menyuruh dia, karena hal ini baginya tidak aneh.

Bukankah ia selalu bersikap hormat dan baik terhadap Ki Patih?

Bukankah Ki Patih ini bekas kekasih gurunya, Ni Durgogini?

Hal ini baru ia ketahui setelah ia bekerja di istana.

Dan bukankah Ki Patih Narotama yang membantunya mendapatkan kedudukan di istana?

Tanpa curiga sedikitpun, Wisangjiwo berangkat naik kuda.

Kalau benar-benar ia dapat menemukan patung pusaka, hemmm...

ia masih ragu-ragu apakah akan diserahkannya pusaka itu kepada pangeran muda.

Bagaimana nanti sajalah, pikirnya dan dengan hati gembira ia mempercepat larinya kuda.

Di balik batang pohon, Pujo yang mengintai kedatangan Wisangjiwo, menjadi tegang seluruh tubuhnya.

Melihat musuh besarnya ini, terbayanglah semua peristiwa sepuluh tahun yang lalu, peristiwa malam jahanam di dalam Guha Siluman.

Kedua tangan Pujo dikepalkan erat-erat, matanya menjadi merah beringas, gigi atas dan bawah bertemu ketat menimbulkan bunyi berkerotan, jantungnya berdegup seakan hendak pecah, napasnya mendesis keluar di antara gigi yang merapat.

Ketika kuda yang ditunggangi Wisangjiwo lewat, Pujo cepat-cepat lari membayangi sambil bersembunyi dari pohon ke pohon.

Akhirnya, di dekat muara di mana air Sungai Lorog yang kemerahan memasuki laut yang airnya kebiruan, Wisangjiwo melompat turun dari atas kudanya.

Ia tidak mengikat kuda ini pada pohon, tanda bahwa kuda itu jinak dan baik.

Kemudian Wisangjiwo melangkah ke kanan menyusuri pinggir muara, matanya memandang ke empat penjuru.

Bagaimana di tempat yang sunyi ini disembunyikan patung pusaka?

Apakah Ki Patih Narotama sengaja berbohong dan mempermainkannya?

Akan tetapi hatinya berdebar ketika ia melihat sebuah pondok kecil di sudut sana, dekat hutan.

Hemm, agaknya pondok itu ada penghuninya dan penghuni pondok itu agaknya yang tahu akan pusaka yang disembunyikan.

Dengan langkah lebar Wisangjiwo berjalan menuju ke pondok.

Akan tetapi tiba-tiba dari balik sebatang pohon meloncat keluar seorang laki-laki yang menghadapinya dengan muka beringas dan mata merah.

"Pujo...??!?"

Wisangjiwo berseru kaget sekali.

Kaget dan heran, karena sungguh ia sama sekali tidak pernah menyangka akan bertemu dengan Pujo di tempat ini.

Akan tetapi ia sama sekali tidak takut.

Dahulu ia pernah kalah oleh Pujo di dalam guha itu, akan tetapi lain dulu lain sekarang.

Ia telah memperdalam ilmunya.

Pula, ia malah girang bertemu dengan musuh besarnya, yang telah mem-perkosa isterinya dan adiknya, dan telah menculik puteranya.

Pujo tertawa menyeramkan, tawa mengandung dendam, benci, dan juga girang.

Bertahun-tahun ia menanti datangnya saat ini dengan penuh ketekunan.

Belum pernah sedetikpun api dendam yang menyala di dalam hatinya itu padam.

Bahkan mengecilpun tidak kalau tak dapat dikatakan makin membesar.

"Wisangjiwo jahanam pengecut! Akhirnya kita berhadapan empat mata di tempat sunyi ini. Agaknya Dewa Keadilan sengaja mempertemukan kita agar semua perhitungan yang lalu dapat dibereskan sekarang juga. Wisangjiwo, sepuluh tahun lebih yang telah lalu, engkau melakukan perbuatan keji dan biadab. kau merobohkan aku dengan serangan pengecut dan curang, kemudian engkau melakukan perbuatan biadab terhadap isteriku. Nah, sekarang bersiaplah untuk menebus dosamu dengan nyawa!"

Wisangjiwo bertolak pinggang dan tertawa mengejek.

"Ha-ha-ha-ha! Benar-benar engkau pria yang sama sekali tidak jantan! Engkau memutar-balikkan fakta dan pandai melontarkan fitnah hanya untuk mencarikan dalih penutup perbuatan-perbuatanmu yang biadab. Ha-ha-ha!"

Pujo mengerutkan keningnya.

"Apa maksud kata-katamu yang busuk ini? kau berani menyangkal bahwa malam itu kau tidak datang ke Guha Siluman, memukul roboh aku secara curang kemudian engkau memperkosa isteriku yang telah terluka dan tak berdaya?"

Wisangjiwo menggeleng kepala cepat-cepat.

"Datang ke guha dan bertanding denganmu sampai isterimu dan engkau roboh, itu memang betul. Akan tetapi setelah itu aku pergi ke luar guha, sama sekali tidak memperkosa"

"Bohong...!!"

Saking marahnya Pujo sudah menerjang maju, memukul dahsyat sekali karena ia telah mempergunakan Aji Gelap Musti dalam keadaan dendam dan penuh kebencian.

Wisangjiwo selama sepuluh tahun inipun tidak tinggal diam, melainkan melatih diri dengan tekun.

Betapa dahsyatnya pukulan Pujo, sekali miringkan tubuh pukulan itu menyambar lewat dan cepat Wisangjiwo membalas dengan ilmu pukulan Tirto Rudiro karena sejak turun dari kuda tadi, untuk menjaga bahaya ia sudah menggenggam ajimatnya kerang merah sehingga sewaktu-waktu dapat ia pergunakan.

Hawa dingin menyambar ke arah lambung Pujo ketika pukulan Tirto Rudiro itu dilakukan lawan dari sebelah kanannya.

Pujo yang tadi tak berhasil pukulannya, kini malah terus memutar tubuh ke kiri amat cepatnya sambil melakukan gerakan mendorong dengan lengan tangan kirinya yang mendahului tubuhnya membalik.

Tentu saja ia mengerahkan tenaga saktinya dalam tangkisan ini karena maklum bahwa lawannya bukan orang lemah.

"Dukkk!"

Tepat sekali gerakan Pujo tadi karena tangan kirinya dengan jari-jari terbuka itu menangkis hantaman kepalan kanan Wisangjiwo.

Kesudahannya, Pujo tergetar mundur tiga langkah, akan tetapi Wisangjiwo terhuyung ke belakang hampir roboh kalau ia tidak cepat-cepat meloncat untuk mematahkan tenaga benturan yang mendorongnya!

Ketika Pujo hendak mendesak lagi, Wisangjiwo menyetopnya dengan tangan kanan diangkat dan membentak marah.

"Heh keparat Pujo. Jangan kira aku takut kepadamu. Kita sama-sama laki-laki gemblengan. Kalah dan maut dalam pertandingan bukan apa-apa! Akan tetapi kau bicaralah yang genah (masuk akal)! Jangan membuang fitnah ke kanan kiri seperti orang mabok saja. Hayo katakan, di mana kau sembunyikan puteraku yang kau culik?"

Senyum paksaan, senyum masam membayang di wajah yang muram itu.

"Apa yang kau kehendaki akan terjadi Wisangjiwo. kau ingin dia mati? Mudah. Ingin melihat dia menjadi penderita cacat, menjadi anggauta para jembel gelandangan atau menjadi anggauta maling dan rampok?"

"Setan iblis! kau apakan puteraku? kau bunuh dia? Jahanam keji, kau telah merusak kehormatan adikku, isteriku, dan kiranya kau malah telah membunuh puteraku. Di samping kekejianmu ini kau masih mendakwa aku yang bukan-bukan. Cuh, tak tahu malu! Laki-laki macam apa kau ini? Hayo, sekarang tidak perlu beradu suara lagi, biarlah senjata yang menentukan!"

Setelah berkata demikian Wisangjiwo menggerakkan tangannya dan tampaklah sinar hitam bergulung-gulung sambil memperdengarkan suara.

"Tar-tar-tar!"

Itulah cambuk sakti Sarpokenoko milik Ni Durgogini yang telah dihadiahkan kepada murid dan kekasih rupawan ini!

Memang bukan cambuk sembarang cambuk.

Cambuk pusaka ampuh yang dimainkan dalam ilmu yang hebat sehingga cambuk itu berubah menjadi sinar hitam yang bergulung-gulung yang mengeluarkan suara meledak-ledak dan mengeluarkan asap hitam tipis!

"Wuuut-tar-tar-tar!"

Gulungan sinar hitam cambuk Sarpokenoko menyambar ganas.

Pujo mengenal senjata ampuh.

Cepat ia menggedruk (menendang dengan tumit) tanah sehingga tubuhnya mencelat ke atas dengan kecepatan luar biasa.

Cambuk Sarpokenoko menyambar-nyambar dan meledak-ledak di bawah kakinya.

Akan tetapi sambaran ke tiga menyentuh ujung tumit kirinya dan Pujo terpaksa membuang diri ke kiri lalu tubuhnya jatuh ke tanah, terus bergulingan dan meloncat bangun dengan wajah agak pucat.

Tumit kirinya terasa panas sekali.

"Ha-ha-ha, Pujo. Kepandaian hanya sebegitu akan tetapi berani mati engkau menuduh yang bukan-bukan kepadaku hanya untuk menutupi perbuatan-perbuatan yang rendah dan keji. Lebih baik lekas kau beritahu di mana puteraku, mungkin aku masih akan mempertimbangkan dosamu. Sebagai laki-laki sejati, aku tidak akan meributkan benar perkara wanita. Kalau kau berkeras hemmmmm, Sarpokenoko akan merobek-robek tubuhmu!"

Pujo tadi memang terkejut sekali.

Ia tadi meloncat dengan Aji Bayu Tantra, ilmu meringankan tubuh ajaran Resi Bhargowo yang selama ini telah ia sempurnakan.

Dan menilik gerakannya, Wisangjiwo tidak secepat itu sehingga dapat mengenai tumitnya dengan cambuk.

Maka ia menduga bahwa tentu cambuk hitam itulah yang hebat, cambuk sakti yang amat ampuh dan ia kini berlaku hati-hati sekali.

"Wisangjiwo keparat sombong! Baru dapat menjilat tungkakku saja engkau sudah menyombong. kau kira aku kalah olehmu? Nah, majulah!"

Pujo menggerakkan tangan kanan dan sudah mencabut sebatang keris yang mengeluarkan sinar kehijauan.

Inilah keris pusaka yang ia namakan Banuwilis karena sinarnya yang kehijauan.

Keris eluk sembilan yang pamornya seperti ombak Laut Selatan dengan airnya yang hijau saking dalamnya.

Wisangjiwo tertawa mengejek, cambuknya melecut keras dan menyambar kepala Pujo.

Pujo sudah siap sedia, sengaja ia tidak mengelak melainkan menangkis dengan kerisnya ke atas dengan pengerahan tenaga agar cambuk lawannya terbabat putus.

Ketika ujung cambuk bertemu dengan mata keris, dari kedua senjata itu keluar hawa mujijat yang ampuh dan saling bertentangan.

Keris Banuwilis tidak cukup kuat untuk dapat membabat putus Sarpokenoko, akan tetapi tenaga sakti yang tersalur melalui keris itu masih lebih kuat daripada tenaga Wisangjiwo sehingga cambuk itu terpental ke atas dan telapak tangan Wisangjiwo terasa panas dan sakit.

Marahlah senopati muda ini.

Ia mengeluarkan gerengan keras dan cepat cambuknya bergerak menyambar-nyambar, dan diam-diam tangan kirinya sudah melolos keluar sehelai kain merah dari saku baju.

Selama sepuluh tahun ini, selain memperoleh kemajuan dalam semua ilmu yang telah dimilikinya, juga Wisangjiwo menerima"hadiah"

Lain dari Ni Nogogini bibi guru yang menjadi juga kekasihnya, yaitu kain ini yang mengandung hawa beracun amat berbahaya.

Sekali mengebutkan kain ini, bau yang harum akan tercium lawan dan betapapun tangguhnya lawan, tentu akan roboh pingsan mencium bau ini.

Senjata yang amat curang dan hanya digunakan oleh laki-laki yang suka mengganggu wanita baik-baik, atau setidaknya oleh orang yang suka merebut kemenangan dengan jalan apapun juga.

Melihat betapa gulungan sinar cambuk hitam itu kini menyambar-nyambar membentuk lingkaran-lingkaran ruwet seperti banyak ular bermain-main, sukar diduga mana ujungnya yang akan menerjangnya, Pujo berlaku hati-hati sekali.

Ia berdiri tegak memasang kuda-kuda, membiarkan sinar hitam itu bergulung-gulung mengitari atas kepalanya.

Ketika sampai lama gulungan sinar hitam itu tidak menerjangnya, maklumlah ia bahwa Wisangjiwo memang hendak memancingnya agar ia mempergunakan kecepatan gerakan mengimbangi gerakan cambuk.

Pujo tahu akan hal ini dan tahu pula bahwa biarpun ia memiliki Bayu Tantra yang membuat ia mampu bergerak secepat gerakan cambuk, namun mana mungkin ia dapat bertanding kecepatan melawan sebatang cambuk yang digerakkan tangan?

Lama-lama ia tentu akan lelah dan kalah.

Oleh karena itulah, ia diam saja tidak melayani permainan cambuk lawan.

Iapun maklum bahwa biarpun cambuk itu kini bergulung-gulung sinarnya di atas kepala, namun Wisangjiwo sedang menanti saat baik.

Kalau ia terpancing dan melakukan serangan lebih dulu, tentu Wisangjiwo akan menjatuhkan serangannya secara tak tersangka-sangka.

Di lain fihak, Wisangjiwo mendongkol dan kecewa sekali, juga kagum.

Siasat pertempuran ini ia dapat dari gurunya belum lama ini.

"Menghadapi lawan tangguh yang sedang marah, biarkanlah ia bingung dengan bayangan cambuk berputar-putar di atas kepalanya, pancing dia supaya menggunakan kecepatan gerakan tubuhnya mengimbangi kecepatan gerak cambukmu. Nah,kalau sudah demikian, mudah saja merobohkannya. Baik dia menyerang dulu atau tidak, kau boleh gerakkan samputangan merah mengebut mukanya atau menangkis serangannya dan pada saat itu ujung cambukmu menghantam dari atas memilih Sasaran yang tepat."

Demikian itu ajaran dari gurunya.

Akan tetapi sekarang Pujo diam saja, hanya berdiri memasang kuda-kuda dan menatap kepadanya penuh kewaspadaan, benar-benar membuat ia sendiri yang bingung!

Akhirnya Wisangjiwo menjadi tidak sabar.

Secara tiba-tiba ia menggerakkan saputangan merahnya dengan tangan kiri, dikebutkan ke arah muka Pujo lalu menyusul dengan gerakan cambuknya yang siap menghantam bagian berbahaya sesuai dengan gerakan Pujo apabila mengelak serangan saputangan merah.

(Lanjut ke

Jilid 12) Badai Laut Selatan (Seri ke 03 Serial Serial Keris Pusaka Sang Megatantra) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo

Jilid 12 Pujo melihat bayangan merah saputangan ini, cepat menahan napas, lalu mengerahkan hawa bakti meniup dari mulutnya, dibarengi tangan kirinya menyampok dari depan.

Lima jari tangannya berkembang menyambut saputangan merah dan...

"Breeittt...!!!"

Pecahlah kain merah itu, pecah dan hangus lalu hancur, tidak kuat senjata mujijat yang beracun itu bertemu dengan hawa pukulan Pethit Nogo yang dilancarkan tangan kiri Pujo.

Dalam kaget dan marahnya, Wisangjiwo menggerakkan Sarpokenoko yang melecut dan ujungnya bagaikan paruh elang mematuk ubun-ubun kepala Pujo.

Celakalah Pujo jika serangan ini mengenai sasaran.

Tentu ubun-ubun kepalanya akan pecah.

Akan tetapi ketika tadi menghancurkan senjata kain merah lawan, Pujo sudah siap sedia, sudah dapat menduga bahwa tentu Wisangjiwo akan menyusul dengan serangan susulan yang menggunakan cambuknya.

Maka giranglah hatinya melihat lawannya marah dan tidak sabar, karena makin marah dan tidak sabar keadaan seorang lawan, makin mudah diatasi.

Melihat datangnya lecutan cambuk, ia tidak menangkis dengan kerisnya karena maklum bahwa tangkisan tidak dapat mengalahkan lawan.

Secepat kilat tangan kirinya bergerak ke atas dan di lain detik, ujung cambuk itu sudah terjepit jari-jari tangan kirinya yang masih mengerahkan Aji Pethit Nogo.

"Cappp!"

Sekali terjepit, ujung cambuk itu tak mungkin dapat terlepas lagi.

Wisangjiwo makin kaget, akan tetapi selagi ia berusaha menarik cambuknya, ujung keris Banuwilis dengan tak tersangka-sangka telah meluncur ke depan dan telah menusuk pergelangan tangan kanannya.

Wisangjiwo berseru kaget, terpaksa mengelak, namun masih ada ujung keris melukai pangkal ibu jari tangan kanannya.

Rasa nyeri membuat ia terpaksa melepaskan gagang cambuk dan saking marah melihat cambuknya terampas ia mengirim tendangan kilat sekenanya.

Tendangan memang berhasil mengenai paha kiri Pujo, akan tetapi pada saat itu, lehernya terpukul oleh tangan kanan Pujo yang sudah membalikkan kerisnya sehingga bukan mata keris yang menusuk leher, melainkan gagang keris yang keras.

Wisangjiwo mengeluh dan roboh terguling, matanya berkunang-kunang.

"Aduhhh, mati aku...!"

Ia mengeluh dan sebuah tendangan keras yang mengenai pangkal telinganya membuat ia tak dapat mengeluh lagi dan tidak ingat apa-apa.

Akan tetapi Wisangjiwo tidak mati, atau setidaknya belum mati ketika ia siuman kembali.

Ia sadar dan mendapatkan dirinya berdiri bersandarkan batang pohon dalam keadaan terikat erat-erat pada batang pohon dengan kedua lengannya ditelikung ke belakang.

Bahkan bagian lehernyapun dikalungi tambang yang ternyata adalah cambuknya sendiri, cambuk Sarpokenoko!

Ketika berusaha meronta, ia merasa sakit-sakit pada lengannya dan lehernya makin tercekik, maka ia tidak lagi meronta dan memandang kepada musuhnya yang berdiri di depannya, memandangnya sambil tersenyum-senyurn, senyum iblis!

"Pujo, aku sudah kalah.

Kenapa engkau tidak membunuhku saja?

Untuk apa mesti mengikatku di sini?"

"Untuk apa? Terlalu enak kalau kau dibunuh begitu saja!"

"Hemm, Pujo, begitu bencikah engkau kepadaku? Memang aku pernah mengganggumu ketika kau dan isterimu bertapa di Guha Siluman, akan tetapi pembalasanmu sungguh keterlaluan. Aku hanya merobohkan kau dan isterimu, karena hatiku panas disebabkan engkau dahulu tidak ikut mempertahankan Selopenangkep dari serbuan balatentara Mataram. Akan tetapi, hanya sampai di situ saja perbuatanku. Setelah engkau dan isterimu roboh karena... hemm, terus terang saja,karena akalku, aku lalu pergi meninggalkan guha. Akan tetapi pembalasanmu sungguh berlebihan. kau menyebu Selopenangkep, membunuh banyak pengawal bahkan hamper membunuh ayahku, kemudian kau memperkosa Roro Luhito adikku, menculik kemudian memperkosa isteriku, dan membawa pergi puteraku! Dan kau masih belum puas dengan perbuatan-perbuatan keji itu! Pujo, apakah kau sudah menjadi gila, ataukah kau berubah menjadi iblis?"

Tentu saja makin panas dan marah hati Pujo mendengar ini. Ia tertawa bergelak.

"Ha-ha-ha! Tiada manusia di dunia ini yang suka mengakui akan kesalahannya! Apalagi manusia macam engkau, Wisangjiwo! Karena banyaknya manusia macam engkau inilah maka dunia ini menjadi makin kotor dan makin keruh, karena itu sebaiknya orang macam engkau ini dibasmi habis! Memang semula aku hendak memperkosa isterimu di guha, hendak kulakukan persis seperti yang kau lakukan terhadap isteriku. Sayang aku bukan manusia macam engkau sehingga aku tak sanggup melakukan hal itu. Ocehanmu tentang memperkosa isterimu dan adikmu boleh saja kau keluarkan, akan tetapi aku sama sekali tidak melakukan hal itu. Andaikata ada orang lain melakukan hal itu, sudah menjadi bagianmu, karena hokum karma takkan melepaskan korbannya. Tentang anakmu, haha-ha! kau tunggu saja, aku sengaja mendidik dia untuk membunuhmu, Wisangjiwo!"

Wisangjiwo terpekik ngeri, mukanya pucat.

Maklum ia apa yang akan dilakukan Pujo.

Agaknya puteranya itu dipelihara dan dididik Pujo dan ditanamkan dalam jiwa anaknya itu bahwa dia adalah musuh anaknya sendiri, dan setelah sekarang ia menjadi tawanan, agaknya Pujo menanti datangnya anak itu untuk turun tangan membunuhnya!

Inilah sebabnya mengapa ia diikat erat-erat pada pohon agar supaya tidak dapat melawan jika anak itu turun tangan.

Tadinya ia merasa heran mengapa dia yang sudah kalah masih harus diikat, padahal kalau Pujo hendak membunuhnya, adalah amat mudah.

"Pujo...! Kuminta kepadamu demi dewata yang agung lekas bunuh saja padaku agar punah sudah perhitungan kita. Akan tetapi, kau kembalikan puteraku ke kadipaten..."

Ia memohon, mukanya masih pucat sekali. Pujo tersenyum, tangan kirinya mencengkeram baju dekat pundak, tangan kanannya mencengkeram keris Banuwilis.

"Keparat! Sekarang kau ada muka untuk minta-minta? kau tidak ingat betapa aku hampir gila mengingat akan kebiadabanmu terhadap isteriku dahulu? Hemmm, seluruh urat syaraf di tubuhku mendesak agar kucincang tubuhmu sekarang juga dengan keris ini! Akan tetapi terlampau enak bagimu, Wisangjiwo, terlampau enak dan terlalu lekas mampus. kau tunggulah...! Engkau laki-laki perusak wanita, mengandalkan kedudukan, harta benda dan wajah tampan. Bagaimana kalau kubuntungkan saja hidungmu? Dan kedua telingamu? Bagaimana kalau kurajang mukamu sehingga kelak setiap orang wanita yang memandang mukamu, biar nenek-nenek sekalipun, akan muntah karena jijik dan muak?"

Gelora dendam membuat Pujo bicara seperti orang tidak waras lagi pikirannya, matanya merah dan mukanya menjadi buas sehingga Wisangjiwo makin pucat dan ngeri.

Biarpun Wisangjiwo merasa tidak pernah memperkosa isteri Pujo, namun mulailah ia menyesali perbuatan-perbuatannya yang lalu.

Memang banyak sudah ia merusak anak isteri orang dan inilah agaknya buah daripada perbuatannya, atau hokum karma daripada semua perbuatannya itu.

Ia merasa ngeri karena tahu bahwa dalam keadaan murka seperti itu bukan tidak mungkin Pujo melaksanakan ancamannya yang menyeramkan.

Ketika keris di tangan Pujo menggigil dan sudah terangkat, Wisangjiwo meramkan matanya dan...

"Kakangmas Pujo...!!"

Keris itu tertahan dan Pujo mencengkeram baju Wisangjiwo makin erat saking kagetnya.

Wisangjiwo juga membuka matanya dan melihat seorang wanita cantik jelita datang berlari seperti terbang cepatnya.

Baca Juga: Sepasang Pedang Iblis 27

Baca Juga: Suling Emas 20

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert