Eps 2 Badai Laut Selatan - Kho Ping Hoo
Baca online Badai Laut Selatan - Kho Ping Hoo
Cersil Badai Laut Selatan - Kho Ping Hoo.
"Ha-ha-ha-ha, Joyowiseso! Siapakah sekarang yang menjadi pengecut besar? Apakah kau lupa bahwa sang prabu di Mataram sendiri pernah membebaskan Ki Warok Gendroyono karena Ki Warok Gendroyono tidak terluka ketika dijatuhi hukum penggal lehernya? Sekali hukuman dilaksanakan, si terhukum telah menjalani hukumannya. Sekarang akupun sudah menjalani hukuman. Salahkah aku kalau empat ekor kudamu itu lemah kurang makan? Ha-ha-ha, sekarang kau hendak mengerahkan anjing-anjingmu mengeroyokku? Boleh, boleh, aku tidak takut mati, akan tetapi kau akan tetap hidup sebagai seorang pengecut besar, ha-ha!"
Para penonton kembali menjadj gaduh, sebagian besar terpengaruh ole ucapan ini. Jokowanengpati bangkit berdiri mendekati Adipati Joyowiseso dan berbisik.
"Paman adipati, tidak baik agaknya kalau dia dikeroyok dan dibunuh."
"Maksud anakmas...??"
Joyowiseso memandang tajam.
"Jangan salah sangka, paman. Saya bukan membelanya, akan tetapi ucapan Pujo tadi patut direnungkan. Amat tidak baik bagi nama paman kalau pengeroyokan dilaksanakan. Percayalah kepada saya dan saya akan membereskan persoalan ini. Saya akan membujuknya agar dia suka menerangkan sebab permusuhannya dengan kangmas Wisangjiwo, kemudian, saya akan membunuhnya. Berilah saya waktu sampai malam nanti, paman adipati."
Adipati Joyowiseso mengangguk-angguk dan memberi tanda dengan tangan agar para pengawal dan algojonya mundur.
Mereka merasa lega sekali dan mundur teratur.
Jokowanengpati dengan gerakan indah dan ringan seperti burung terbang, telah melompat turun dari atas panggung dan berlari-lari menghampiri Pujo.
Semua penonton menjadi makin tegang.
Wah, tentu akan terjadi pertandingan puncak yang hebat sekarang, pikir mereka.
Tentu akan lebih hebat menarik, lebih ramai daripada keroyokan para pengawal yang tidak seimbang jumlahnya.
Agaknya Pujopun berpendapat bahwa turunnya Jokowanengpati tentu akan berusaha menangkapnya.
Maka ia mengerutkan kening, bersiap siaga dan menegur dengan kata-kata dingin.
"Kakang Jokowanengpati, malam tadi karena kecuranganmu aku tertawan! Apakah sekarang engkau hendak mengadu nyawa denganku?"
Jokowanengpati mengedipkan matanya lalu mendekat.
"Adimas Pujo, kau benar-benar bodoh. Aku sedang menyelidiki adipati, kalau tidak membantunya tentu ia curiga. Mengapa engkau bersikeras hendak melawan? Betapapun juga, menghadapi begini banyak orang kau tentu akan tewas. kau mendendam kepada Wisangjiwo, bukan? Nah, mengapa nekat mencari mati sebelum berhasil membalas dendam? Percayalah, aku akan mencari akal. Aku sudah menipu adipati, mari kau pura-pura taat dan takluk kepadaku, kuantar kembali ke tempat tahanan tanpa belenggu. Nanti kuceritakan kepadamu bagaimana kau harus bertindak. Aku bersumpah kepada para dewata, malam ini kau pasti akan bebas dan balas dendammu berhasil!"
Sejenak Pujo tertegun, akan tetapi mendengar sumpah Jokowanengpati ia mengangguk.
"Baik, kakang. Sekali ini aku hendak melihat bagaimana setia kawan adanya kakang Jokowanengpati."
Jokowanengpati lalu merenggut tambang panjang yang masih bergantungan pada kedua tangan dan kaki Pujo.
Empat kali ia merenggut dan...
empat helai tambang yang besar dan kuat itu putus semua!
Para penonton menjadi riuh karena memuji penuh kekaguman.
Namun mereka kecewa ketika melihat betapa Jokowanengpati menggandeng tangan Pujo, diajak masuk ke halaman kadipaten!
Juga Adipati Joyowiseso dan para pengiringnya tanpa bicara apa-apa lagi kembali ke dalam kadipaten.
Penonton bubar dan alun-alun itu menjadi sunyi kembali menjelang datangnya malam.
Mereka duduk bersila di dalam kamar tahanan, berhadapan.
Dengan suara berbisik-bisik dan singkat, Jokowanengpati menceritakan kepada Pujo bahwa ia hanya berpura-pura bertamu di Kadipaten Selopenangkep.
Maksud sebenarnya adalah melakukan tugas rahasia dari Mataram untuk menyelidik, karena didengar berita rahasia bahwa Adipati Joyowiseso mempunyai niat untuk memberontak terhadap Mataram.
Pujo hanya mendengarkan acuh tak acuh.
"Karena itulah maka malam tadi aku terpaksa turun tangan menangkapmu, dimas. Urusan tugas yang begini penting tidak boleh dirusak oleh urusan pribadimu. Sekarang ceritakanlah, mengapa kau begini nekat hendak membasmi keluarga Adipati Joyowiseso? Permusuhan apa yang terjadi antara kau dan Wisangjiwo?"
Pujo menunduk, menarik napas panjang. Biar kepada Jokowanengpati sekalipun tak mungkin ia menceritakan aib dan hina yang diderita oleh isterinya.
"Wisangjiwo telah... membunuh isteriku..."
"Apa...?? Diajeng Kartikosari dibunuh oleh Wisangjiwo? Akan tetapi... diajeng Kartikosari bukan seorang wanita lemah, bagaimana dia bisa..."
"Memang tidak begitu, akan tetapi... yah, pendeknya isteriku mati karena perbuatan Wisangjiwo. Aku datang ke sini hendak mencarinya, karena dia tidak ada, maka aku hendak bunuh ayahnya."
"Aaahh, mengapa begitu, dimas? Mengapa kau kurang sabar menanti? Carilah kesempatan yang lebih baik sampai kau dapat bertemu dengan Wisangjiwo. Atau... andaikata kau hendak membalas kepada keluarganya, seharusnya isteri dan anaknya yang kau cari, bukan ayahnya. Harap kau mengerti bahwa sekali Adipati Joyowiseso terbunuh, maka gagallah usahaku membongkar rahasia pemberontakan ini. Maka kuminta kepadamu sekarang, jangan kau ganggu Adipati Joyowiseso, dan aku akan membantu kau bebas dari sini, bukan itu saja... bahkan kubantu kau menculik isteri dan putera Wisangjiwo!"
Sepasang mata Pujo bersinar-sinar.
Mengapa ia tidak ingat akan isteri dan anak Wisangjiwo.
Isterinya harus ia culik?
Inilah pembalasan yang paling tepat.
Dan anaknya sekali.
Hah, akan lebih hebat pukulan ini bagi Wisangjiwo, lebih hebat daripada maut!.
"Baiklah, kakang, dan terima kasih atas budimu."
"Mari, dimas, jangan terlambat."
Karena tempat tahanan itu atas permintaan Jokowanengpati dan atas perintah adipati tidak terjaga, maka mudah saja bagi dua orang muda yang berkepandaian tinggi ini untuk melesat keluar.
Jokowanengpati yang sudah hafal akan keadaan di dalam kadipaten, membawa Pujo ke kamar Listyokumolo, isteri Wisangjiwo yang tidur bersama Joko Wandiro, puteranya yang baru berusia satu tahun.
Sore-sore Listyokumolo sudah tidur mengeloni puteranya, karena semua peristiwa yang terjadi di kadipaten benar-benar membuat hatinya merasa tidak enak.
Sebagai seorang anak lurah yang biasa hidup tenteram di dalam dusun dan dianggap sebagai puteri Raja kecil oleh penghuni dusun, Listyokumolo memang tidak begitu kerasan semenjak ia diperisteri Wisangjiwo, tidak kerasan tinggal di kadipaten.
Apalagi ia dikawin putera adipati itu atas paksaan orang tuanya, dan watak Wisangjiwo yang suka berfoya-foya dan tidak menghargainya, sering memakinya sebagai perawan dusun, membuat Listyokumolo makin jauh daripada kebahagiaan rumah tangga.
Hanya puteranya, Joko Wandiro yang merupakan hiburan satu-satunya.
Tiba-tiba berkelebat bayangan orang di dalam kamarnya.
Listyokumolo terkejut dan mengira bahwa ia bermimpi.
Akan tetapi begitu ia bangkit duduk, lehernya serasa ditekan keras-keras dari belakang.
Ia hendak berteriak, akan tetapi aneh, seakan-akan ia menjadi gagu karena tidak ada suara keluar dari kerongkongannya.
Tubuhnya seketika menjadi lemas dan ia pingsan ketika melihat bahwa ia berada dalam pelukan seorang pemuda ganteng yang bukan lain adalah Pujo, orang yang dihukum perapat sore tadi!
Bayangan lain menyambar dari dalam kamar, memondong Joko Wandiro, lalu Pujo bersama Jokowanengpati bayangan ke dua itu, melompat keluar jendela, terus keluar dari dalam kadipaten melalui tembok belakang mempergunakan ilmu kepandaian mereka, pergi tanpa diketahui seorangpun penjaga.
"Nah, di sini saja kita berpisah, dimas. Untung dia pingsan sehingga tidak sempat mengenaliku. Nah, kau bawa dia dan puteranya ini. Setelah mereka ini menjadi tawananmu, tak mungkin Wisangjiwo tidak akan pergi mencarimu."
"Terima kasih, kakang Jokowanengpati. kau benar-benar seorang yang berhati mulia. Aku tidak akan melupakan kebaikan hatimu,"
Jawab Pujo sambil menerima anak kecil yang masih tidur pulas karena aji sirep yang dikenakan Jokowanengpati kepadanya.
Sambil memondong Joko Wandiro dan memanggul tubuh Listyokumolo, Pujo berlari cepat di tengah malam buta, meninggalkan Selopenangkep.
Adapun Jokowanengpati setelah berpisah dengan Pujo, menggunakan ilmunya Bayusakti, tubuhnya berkelebat cepat sekali seperti terbang, kembali ke kadipaten.
Wajahnya yang tampan itu tersenyum-senyum, kadang-kadang, ia tertawa sendiri dengan hati girang.
Ia merasa yakin sekarang bahwa Pujo tetap menyangka Wisangjiwo yang memperkosa isterinya di dalam guha, tepat seperti rencananya.
Biarkanlah mereka bermusuhan, pikirnya.
Memang mudah kalau ia membantu adipati dan membunuh Pujo, akan tetapi di sudut hati kecilnya, pemuda ini merasa jerih terhadap paman gurunya, Resi Bhargowo.
Ia tidak mau menempatkan dirinya menjadi musuh Resi Bhargowo, dan memang lebih aman baginya begini.
Dia yang makan nangkanya, Wisangjiwo yang berlepotan getahnya!
Ha-ha-ha, dengan penculikan anak dan isteri Wisangjiwo, permusuhan mereka akan makin mendalam dan dia akan berada makin jauh dari lingkaran permusuhan, aman dan selamat.
Sayang, Kartikosari yang cantik jelita itu telah meninggal dunia.
Wanita yang sukar dicari bandingnya di dunia ini, cantik bagai dewi kahyangan, harum bagai bunga mawar yang sedang mekar.
"Sayang kau telah mati..."
Bisiknya!"Tapi sudah meninggalkan kenang-kenangan manis, hemmm..."
Ia meraba tangan kirinya yang telah kehilangan sebuah jari kelingking, tangan kiri yang hanya berjari empat buah saja, lalu tersenyum dan mempercepat larinya, melompati tembok belakang kadipaten dan menyelinap di dalam gelap bagaikan setan.
Senyum iblis yang menghias mukanya yang tampan itu masih membayang, matanya berkilat-kilat ketika ia mengintai dari jendela sebuah kamar.
Kamar Roro Luhito!
Pelita kecil di kamar dara itu masih menyala dan Roro Luhito duduk melamun di atas pembaringannya, rambutnya kusut wajahnya lesu, diam tak bergerak seperti sebuah patung.
Pintu kamarnya terketuk dari luar, perlahan, namun cukup membuat dara yang sedang melamun itu terkejut.
"Luhito anakku sayang, sudah tidurkah engkau?"
Roro Luhito menarik napas lega, turun dari pembaringan dan dengan langkah malas menghampiri pintu dan membukanya. Ibunya masuk, memandang puterinya sejenak lalu merangkulnya penuh kasih sayang.
"Luhito sayang, mengapa kau belum berganti pakaian, kelihatan lesu dan tidak makan malam. Sakitkah kau, angger?"
"Tidak apa-apa, bunda. Aku hanya merasa aras-arasen (malas) dan ingin mengaso, lain tidak."
"Ah, kalau begitu bunda takkan lama mengganggu, nak."
Ia menarik tangan Roro Luhito, diajak duduk di atas pembaringan.
"Aku hanya ingin bertanya kepadamu. Bagaimana kau lihat Raden Jokowanengpati? Dia tampan dan gagah, sakti mandraguna pula, bukan?"
Tak seujung rambutpun dara itu mengenang Jokowanengpati, akan tetapi untuk menghindarkan percakapan lebih panjang, ia hanya mengangguk tanpa menjawab.
Ibunya salah sangka, mengira puterinya malu-malu, maka sambil memegang tangannya ia berkata.
"Kami, ayahmu dan aku, sudah setuju sekali kalau dia bisa menjadi mantu kami, sayang."
"Apa...??"
Roro Luhito benar-benar terkejut dan memandang ibunya dengan mata terbelalak."Apa... apakah dia datang untuk meminang...?"
Ibunya menggeleng kepala, tersenyum dan bangkit berdiri.
"Belum lagi, nak. Akan tetapi tak lama lagi tentu dia akan meminangmu. Nah, kau legakanlah hatimu dan mengasolah. Akan tetapi, biarpun tidak berani mandi, kau harus tukar pakaian."
Setelah mencium ubun-ubun anaknya, ibu yang bergembira itu keluar dari kamar, menutupkan daun pintu lambat-lambat.
Roro Luhito masih termenung, kemudian cepat-cepat ia mengunci daun pintu, lari lagi ke atas pembaringan dan duduk termenung seperti tadi.
Berkali-kali ia menarik napas panjang, kemudian dengan gerakan malas ia menanggalkan pakaian untuk ditukar dengan yang baru.
Tentu saja ia sama sekali tidak tahu bahwa sejak tadi, semua gerakannya diintai oleh sepasang mata yang bersinar-sinar penuh nafsu!
Mata Jokowanengpati!.
Baru saja Roro Luhito meniup padam pelita menjelang tengah malam dan naik ke pembaringan, jendela itu terbuka dari luar dan sesosok bayangan dengan sigap melompat masuk, menutup daun jendela lagi dan menghampiri pembaringan.
Roro Luhito terkejut, bergerak hendak loncat turun dari pembaringan, akan tetap sebuah lengan yang kuat merangkul lehernya, dan lain tangan menutup mulutnya dengan gerakan halus, kemudian terdengar bisikan perlahan sekali.
"Luhito, aku Pujo... aku tahu... kau suka kepadaku seperti aku mencintamu..."
Gemetar seluruh tubuh Roro Luhito.
Memang tak dapat ia sangkal lagi, ia telah jatuh hati kepada Pujo, orang muda yang amat perkasa dan gagah, yang sekaligus telah menarik rasa iba dan cintanya.
Akan tetapi ia tadi masih menyedihkan nasib pemuda itu, mengapa kini tahu-tahu muncul dalam kamarnya?
Betapapun ia tertarik kepada pemuda itu, sama sekali ia tidak mengharapkan akan terjadi hal yang begini memalukan.
Maka ia meronta, hendak melawan tanpa berteriak karena tak mau ia mencelakai orang muda itu.
Namun, orang muda itu luar biasa kuatnya, terlampau kuat untuknya.
Ketika orang muda yang menggagahinya itu kemudian melompat keluar dari jendela dengan kesebatan yang luar biasa, Roro Luhito menangis di atas pembaringan.
Mendadak ia terkejut mendengar suara di atas genteng, suara teriakan yang amat nyaring.
"Tangkap penjahat! Siap semua...! Kepung... tangkap Pujo yang melarikan diri...!!"
Itulah suara Jokowanengpati.
Menggigil tubuh Roro Luhito.
Tak kuasa ia turun dari atas pembaringan.
Ketika ia menangis tadi, cinta kasihnya terhadap Pujo bercampur rasa benci dan marah.
Akan tetapi kini mendengar teriakan Jokowanengpati, tanpa ia sadari timbul rasa cemas dalam hatinya, cemas dan kuatir akan keselamatan Pujo yang selain telah merampas kasihnya, juga merampasi kehormatannya dan sekaligus menimbulkan benci dan marah dalam hatinya.
Ributlah kini di luar kamar.
Suara banyak kaki berlari-lari, bahkan terdengar pula suara ayahnya bertanya-tanya.
Kembali terdengar Jokowanengpati berseru.
"Tadi kulihat dia melompat keluar dari jendela kamar diajeng Roro Luhito. Entah apa yang diperbuatnya! Aku kuatir..."
"Apa? Bagaimana dia bisa lari? Anakmas, bukankah kau yang berjanji akan..."
"Nanti saja kuceritakan semua, paman. Lebih baik sekarang paman memeriksa kamar diajeng Roro Luhito, saya kuatir sekali..."
Daun pintu itu terpentang ketika Adipati Joyowiseso melompat masuk.
Jokowanengpati dan para pengawal tidak ada yang berani memasuki kamar puteri adipati itu.
Adipati Joyowiseso menyalakan pelita, memandang ke arah pembaringan dan...
matanya terbelalak lebar, kumisnya bergerak-gerak, giginya berkerot saking marahnya.
Sekali pandang saja kepada puterinya yang menangis terisak-isak di atas pembaringan, rambutnya yang terurai lepas dan kusut, pakaiannya yang tidak karuan lagi, ia dapat memaklumi persoalannya.
"Luhito! Dia... dia ke sini tadi...?"
Ia masih bertanya ragu. (Lanjut ke
Jilid 05) Badai Laut Selatan (Seri ke 03 Serial Serial Keris Pusaka Sang Megatantra) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo
Jilid 05 Roro Luhito masih gemetar semua tubuhnya.
Tak dapat pula ia menyangkal, maka sambil menutupi mukanya ia hanya dapat mengangguk.
Serasa ditusuk keris dada Adipati Joyowiseso.
Ia melompat keluar lagi dari kamar anaknya dan berteriak-teriak.
"Kejar!! Kejar dan tangkap si jahanam Pujo. Siapa yang dapat menangkapnya akan kuberi hadiah besar. Kejar!!"
Ributlah keadaan di kadipaten, seribut malam kemarin.
Semua pengawal mencari-cari ke seluruh tempat dalam kadipaten.
Kamar-kamar dimasuki, kamar mandi dan kakus tak terkecuali, bahkan ada yang sudah mengejar keluar kadipaten, seperti mengejar bayangan setan karena mereka tidak tahu ke mana perginya orang yang dikejar.
Sementara itu, Jokowanengpati mendekati Adipati Joyowiseso.
"Paman adipati, kulihat Pujo sudah lari keluar kadipaten. Sukar menangkapnya..."
"Anakmas Jokowanengpati! Apa yang kau ucapkan ini? kau sendiri yang menjaga dia, bagaimana dia bisa lari dan mengapa pula setelah kau melihat dia keluar dari kamar Luhito, tidak kau tangkap dia?"
"Tenanglah, paman, marilah kita masuk dan bicara di dalam."
Mereka masuk dan setelah tidak ada orang lain mendengar, Jokowanengpati berkata.
"Saya merasa menyesal sekali, akan tetapi apa dayaku menghadapi paman Resi Bhargowo?"
"Resi Bhargowo? kau maksudkan...?"
"Paman Resi Bhargowo sendiri yang datang menolong Pujo, paman. Saya sudah mencegah dan terjadi pertandingan mati-matian antara saya dan paman resi, akan tetapi saya kalah dan terpukul pingsan. Ketika saya siuman kembali, saya melihat bayangan Pujo keluar dari kamar diajeng Luhito, akan tetapi tenaga saya belum pulih dan pula, dengan adanya paman Resi Bhargowo, saya merasa tidak berdaya sama sekali. Baik kita laporkan saja ke Mataran dengan tuduhan paman Resi Bhargowo dan Pujo telah memberontak..."
"Tapi... tapi... aduh, anakku Luhi-"
"Paman adipati, saya dapat menduga apa yang telah dilakukan bocah keparat itu. Akan tetapi saya..."
Sampai di sini suara Jokowanengpati tergetar penuh keharuan.
"Saya bersedia menutupi aib yang menimpa keluarga paman. Saya bersedia menanggung dan berkorban demi kebahagiaan diajeng Roro Luhito dan demi kehormatan paman adipati."
Adipati Joyowiseso mengangkat muka, lalu menangkap lengan pemuda itu.
"Kau... kau maksudkan..."
"Saya bersedia menikah dengan diajeng Roro Luhito, itulah maksud saya, tentu saja kalau paman menyetujui."
"Menyetujui? Tentu saja! Aduh, anakmas... ah, anak mantuku yang bagus, yang budiman dan arif bijaksana, alangkah besar budi yang kau limpahkan kepada kami..."
Adipati Joyowiseso merangkul leher pemuda itu.
Dengan muka tunduk Jokowanengpati menyembunyikan senyumnya, senyum kemenangan!
Pada saat itu terdengar jerit-jerit tangis mengagetkan.
Adipati Joyowiseso dan Jokowanengpati melompat keluar dan berlari-larian ke arah suara jeritan.
Ternyata yang menangis dan menjerit-jerit itu adalah isteri adipati dan para selir, bahkan para pelayan wanita juga menangis.
Dengan suara terputus-putus isteri adipati menyampaikan kepada suaminya bahwa Listyokumolo anak mantu mereka, dan juga Joko Wandiro, telah lenyap dari kamarnya tanpa meninggalkan bekas!.
"Jahanam Pujo! Akan tiba saatnya aku membekuk batang lehermu!"
Jokowanengpati berkata dengan nada marah.
Adipati Joyowiseso menjadi lemas dan orang tua itu menjatuhkan dirinya di atas kursi dengan napas terengah-engah.
Tak lama kemudian, selirnya yang tersayang, yaitu ibu Roro Luhito, datang berlari-lari sambil menangis, tanpa bicara sesuatu karena di situ terdapat banyak orang, selir itu menarik tangan suaminya, diseret diajak ke kamar Roro Luhito.
Adipati yang sudah maklum akan aib yang menimpa diri puterinya, hanya mengikuti dengan air mata membasahi pipi, sedangkan kumisnya yang biasanya berdiri garang itu kini menggantung terkulai seperti keadaan hatinya.
Sejak saat itu sampai keesokan harinya, yang bergema dari rumah gedung kadipaten itu hanyalah ratap tangis dan tarikan napas panjang, disusul bentakan-bentakan dan maki-makian marah sang adipati ketika menerima laporan bahwa para pengawal tidak berhasil mendapatkan jejak Pujo.
* * * Betapapun besar gelora dendam mengamuk di hati Pujo, namun ia masih tidak tega untuk mengganggu anak kecil berusia setahun dalam pondongannya dan masih tidur nyenyak itu.
Anak kecil itu masih tidur ketika ia meletakkannya di sudut guha, di atas rumput kering.
Akan tetapi tidak sehalus itu ia memperlakukan ibunya.
Karena wanita ini adalah isteri Wisangjiwo, maka sebagian dendamnya tertumpah kepada Listyokumolo yang ia dorong sehingga wanita itu jatuh terpelanting di atas lantai guha.
Dengan muka ketakutan Listyokumolo bangkit dan duduk menahan tubuh dengan tangannya.
Ia sudah dapat mengeluarkan suara lagi sekarang.
Matanya memandang penuh rasa takut dan tubuhnya gemetar, dadanya turun naik, rambutnya sejak tadi terurai lepas.
Pujo berdiri memandang perempuan itu dengan hati puas.
Seorang wanita muda yang cantik, berkulit kuning bersih yang tampak makin menarik oleh sinar matahari pagi yang menerobos ke dalam guha.
Kembennya yang halus berkembang itu seakan-akan tidak kuasa menahan dan menyembunyikan dada yang menonjol dan yang bergerak seperti gelombang itu.
"Mengapa... mengapa kau membawa aku dan anakku kesini? Kalau hendak kau bunuh kami, mengapa kau bawa kami sejauh ini?"
Akhirnya Listyokumolo dapat mengeluarkan kata-kata dengan bibir gemetar. Pujo tertawa bergelak, menimbulkan rasa ngeri. Wajahnya yang tampan itu membayangkan kekejaman yang mengerikan.
"Ha-ha-ha-ha! kau mau tahu? Dengarlah, isteri Wisangjiwo. Aku membawamu ke sini untuk menyiksamu, untuk memperkosamu, menghinamu sehingga kau tidak akan mempunyai muka lagi untuk melihat sinar sang suryal Aku akan membiarkanmu hidup dalam genangan aib, dan aku akan menyiksa lalu membunuh anakmu, anak Wisangjiwo!"
Terbelalak mata yang bening itu, lalu merintih dan menoleh kepada anaknya yang masih tidur pulas di atas rumput kering di sudut guha.
Ia mengeluarkan jerit tertahan, bangkit dan hendak menubruk anaknya, akan tetapi sekali menggerakkan kakinya, Pujo menendangnya roboh kembali ke atas tanah, di mana ia menangis terisak-isak.
"Mengapa kau lakukan ini kepada kami? Mengapa? Apa dosaku? Apa dosa anakku?"
"Dosamu karena kau adalah isteri Wisangjiwo, dan dia adalah anaknya. Kalian harus menebus dosa yang dilakukan Wisangjiwo!"
"Dosa?.Dosa apakah?"
Wajah yang cantik itu menjadi pucat sekali.
"Hah! Si bedebah Wisangjiwo telah memperkosa isteriku dI sini! Ya, di tempat kau sekarang rebah! Di situ! Di depan mataku! Aku harus membalas, memperlakukan engkau seperti yang telah ia lakukan terhadap isteriku!"
Naik sedu-sedan di kerongkongan wanita itu ketika ia bangkit dan duduk. Di antara isaknya ia berkata.
"Aku tahu, suamiku memang seorang yang tidak baik. Tak kusangka ia sampai hati melakukan perbuatan laknat dan terkutuk itu. Keji! Keji sekali! kau hendak membalas perbuatannya atas diriku? Baik, lakukanlah sesuka hatimu, asal engkau suka mengampunkan anakku yang tidak berdosa. Lakukanlah, aku telah siap dan takkan mengeluh. Akan tetapi... kau. ..ampunkanlah anakku, jangan kau ganggu Joko Wandiro anakku...!"
"Ha-ha-ha-ha! Akan kuperhina engkau, seperti suamimu menghina isteriku. Beginilah yang ia lakukan kepada isteriku!"
Tangan Pujo meraih dan"Reeetttt!"
Robeklah pakaian penutup tubuh yang padat.
"Tidak perlu engkau menggunakan kekerasan. Tanpa kekerasan akupun akan menurut, takkan melawanmu. Mungkin engkau tidak sejahat Wisangjiwo. Sudah terlalu lama aku menderita batin karena menjadi isterinya, isteri paksaan. kau bernama Pujo, bukan? Nah, aku siap menanti pernyataan kasihmu, tanpa perlawanan, dengan rela, untuk penebus nyawa anakku dan untuk penebus dosa suamiku."
Sambil berkata demikian, Listyokumolo mengembangkan kedua tangannya yang bulat, siap menanti pelukan.
Mendadak wajah Pujo menjadi pucat sekali.
Ia mengeluarkan suara gerengan seperti harimau terluka dan tangannya melayang, menampar pipi Listyokumolo sehingga wanita ini kembali terpelanting dan menangis terisak-isak.
"Perempuan rendah! Perempuan tak tahu malu! Engkau menghadapi ancaman perkosaan dengan senyum di bibir dan gairah di mata? Engkau rela dan senang?"
"Hu-huk... apa lagi yang dapat kulakukan? Aku tidak berdaya..."
"Keparat! Di mana kesetiaanmu terhadap suami? Sekeji engkau inikah semua wanita di jagad ini? Begitu mendapat kesempatan, tanpa malu-malu akan menghianati suaminya, menerima perjinaan dengan hati senang? Beginikah...?"
Suara Pujo menjadi parau dan hampir menangis.
Pujo bukanlah seorang yang mempunyai watak kejam dan mata keranjang.
Wanita yang cantik di depannya ini, yang memiliki tubuh menggairahkan, yang hampir telanjang, sama sekali tidak dapat menggerakkan nafsu berahinya, tidak mendatangkan gairah di hatinya, ia melalukan kekejaman itu terdorong nafsu dendam semata.
Andaikata Listyokumolo melakukan perlawanan, belum tentu ia akan melanjutkan niatnya menggagahi wanita ini.
Akan tetapi sikap Listyokumolo yang menyerah, bahkan ada sinar mata gairah penuh pengharapan itu, membuat ia menjadi muak dan seakan-akan jantungnya ditembus keris.
Ia teringat akan isterinya.
Agaknya begini pula sikap isterinya ketika digagahi Wisangjiwo.
Menyerah!
Dengan alasan tidak berdaya, namun di sudut hatinya mengalami kesenangan, kepuasan dan kegembiraan seperti perempuan ini!
Ia muak!
Muak dan marah sekali, makin sakit hati terhadap peristiwa nista di dalam guha ini di malam gelap itu.
"Pujo, terserah hendak kau apakan diriku, aku menurut. Asal jangan engkau ganggu anakku. Malah aku siap sedia ikut denganmu, ke manapun kau bawa. Aku bersedia melayanimu selamanya, biar aku tidak kembali ke kadipaten. kau kehilangan isterimu karena Wisangjiwo? Nah, ambillah aku sebagai gantinya dan peliharalah anakku..."
"Tutup mulut!"
Pujo membentak dan kini matanya beralih kepada anak itu.
Joko Wandiro yang sudah berusia setahun itu agaknya kaget oleh suara ribut-ribut dan bangun, lalu duduk.
Ia menggosok-gosok kedua matanya dengan punggung tangan.
"Ibu...!"
Ia berseru girang ketika melihat ibunya berada di situ.
"Joko... anakku...!"
Listyokumolo hendak menghampiri anaknya, akan tetapi Pujo menghardik.
"Mundur! Jangan sentuh dia!"
"Pujo... ampuni dia... ah, jangan kau ganggu dia, Pujo...!"
"Perempuan rendah! Akan kuapakan dia tak perlu kau ribut-ribut!"
"Jangan...! Pujo, kau lihatlah aku. Lihat, aku siap melakukan semua perintahmu. kau ambillah aku, aku akan melayanimu dengan senang hati, aku akan mentaati semua perintahmu, memenuhi semua keinginanmu. Pujo, lihatlah, aku cukup cantik, aku dapat membahagiakan hidupmu!"
Seperti seorang gila Listyokumolo merenggut sisa pakaiannya, lalu menghampiri Pujo dan hendak memeluknya.
Lenyap semua gairah pada sinar mata Listyokumolo.
Kini apa yang ia lakukan adalah dorongan hasrat ingin menyelamatkan anaknya semata.
Pengorbanan seorang ibu untuk anaknya, apapun juga akan ia lakukan untuk keselamatan anaknya.
Berbeda dengan tadi karena perasaan suci itu dikotori hasrat hati melayani Pujo yang memang tampan dan sebagian pula untuk membalas suaminya yang sudah terlalu banyak menyakiti hatinya.
Sekarang semua tindakannya bebas daripada segala macam nafsu, semata-mata untuk memindahkan perhatian dan keinginan Pujo dari anaknya, agar anaknya terbebas daripada maut yang sudah mengancam.
Pujo sengaja diam saja.
Bibirnya tersenyum mengejek ketika menyaksikan betapa wanita cantik itu mendekapnya, membelainya dan berusaha menarik perhatiannya.
Makin muak perutnya.
Bukan muak terhadap wanita ini, melainkan terhadap isterinya!.
Pandang matanya seakan-akan sudah kabur.
Wajah Listyokumolo sudah berubah menjadi wajah isterinya!
Dengan perasaan gemas ia menjambak rambut yang hitam halus dan panjang itu, lalu mendorong tubuh wanita itu sampai terguling.
Ia meludah ke arah Listyokumolo, kemudian kembali melirik Joko Wandiro yang mulai menangis.
Tak dapat ia membalas dengan cara begini, pikirnya.
Tak mungkin ia melakukan perbuatan keji dan rendah itu terhadap wanita ini, sungguhpun semata hanya untuk menyakitkan hati Wisangjiwo.
Ada jalan lain!
Anak itu!
Tentu akan hancur sekali hati Wisangjiwo kalau puteranya hilang.
Lebih hebat lagi, ia akan mendidik bocah ini menjadi seorang gemblengan, kemudian ia akan menggoreskan dalam batin anak itu bahwasanya Wisangjiwo adalah musuh besar yang harus dilawannya dan dibunuhnya!
Ha-ha, alangkah manis pembalasan dendam itu!
Tiba-tiba Pujo melompat menyambar tubuh Joko Wandiro, memondongnya dan membawanya lari keluar guha.
"Jangan...! Anakku... aahhh...!"
Listyokumolo terguling roboh lagi oleh tendangan Pujo ketika ibu ini berusaha menghadang.
Ketika ia bangkit kembali dan lari keluar guha, Pujo dan puteranya sudah lenyap tak tampak lagi bayangannya.
Hanya masih terdengar tangis anaknya dari jauh, dari balik batu karang akan tetapi hanya sebentar, lalu sunyi.
Hanya debur ombak menghantam karang yang terdengar, menelan suara jerit tangis Listyokumolo yang kemudian menggeletak pingsan di dalam Guha Siluman.
Angin laut bertiup keras, ombakpun makin mengganas, seakan-akan ombak dan angin ikut pula murka dan berduka menyaksikan polah-tingkah manusia yang ditakdirkan menjadi mahkluk termulia di antara segala mahkluk di dalam dunia ini.
Di bawah ombak yang mengganas, ikan besar menelan ikan kecil, dan yang kecil menelan yang lebih kecil lagi.
Menelan bulat-bulat.
Ikan menelan ikan lain karena desakan kebutuhan hidup, karena lapar dan karena sudah semestinya.
Manusia melakukan kejahatan terhadap sesamanya untuk menuruti nafsu!.
Lewat tengah hari, sepasukan pengawal yang dipimpin Jokowanengpati menuruni gunung karang yang amat curam itu menuju ke Guha Siluman.
Memang disengaja oleh Jokowanengpati yang dapat menduga ke mana perginya Pujo dengan ibu dan anak yang diculiknya.
Sengaja ia memperlambat pengejaran sehingga baru setelah lewat tengah hari mereka tiba di pantai karang depan Guha Siluman.
Dan di antara batu karang itulah mereka mendapatkan Listyokumolo, dengan pakaian setengah telanjang, menjerit-jerit dan menangis memanggil-manggil nama Joko Wandiro.
Tidak tampak adanya Pujo dan Joko Wandiro.
Ketika wanita itu ditegur, Listyokumolo menjadi ketakutan dan hendak melarikan diri sambil menjerit-jerit.
Terpaksa para pengawal menggunakan kekerasan menangkapnya dan dengan paksa membawanya naik untuk pulang kembali ke Selopenangkep.
Listyokumolo terguncang batinnya dan ia menjadi setengah gila!.
Ketika pasukan pengawal yang dipimpin Jokowanengpati tiba di Kadipaten Selopenangkep membawa Listyokumolo yang kadang-kadang menjerit-jerit dan meronta-ronta, kadang-kadang tertawa dan berlagak dengan genitnya itu, suasana kadipaten sedang diliputi kabut kedukaan.
Ternyata kemudian oleh Jokowanengpati bahwa Roro Luhito telah loncat (minggat) dari kadipaten tanpa meninggalkan jejak!.
Dapat dibayangkan betapa hebat penderitaan batin yang diderita Adipati Joyowiseso dan keluarganya ketika mereka menyaksikan keadaan Listyokumolo yang terganggu otaknya itu.
Dan semua ini gara-gara perbuatan Pujo, nama yang dikutuk oleh keluarga kadipaten, dibenci dan diancam.
Adipati Joyowiseso sendiri sampai hampir gila oleh amarah.
Setelah Listyokumolo dipaksa masuk ke dalam kamar oleh ibu mertuanya, Adipati Joyowiseso menghunus kerisnya, mencak-mencak dan berteriak-teriak ke arah pintu kadipaten yang kosong.
"Iblis laknat Pujo! Ke sinilah kamu, mari hadapi aku, Adipati Joyowiseso! Kita bertanding sampai seorang di antara kita mati! Jangan mengganggu wanita, keparat!"
Matanya melotot lebar hampir terlompat keluar dari pelupuknya, sepasang kumis tebal bergerak-gerak, giginya berkerot, tangan yang memegang keris gemetar.
Sikap sang adipati benar-benar menyeramkan dan andaikata Pujo ada di depannya, pasti akan diterjangnya mati-matian.
Para pengawal hanya menundukkan muka, tidak ada yang berani menentang pandang mata sang adipati.
Hanya Jokowanengpati seorang yang berani mendekati Adipati Joyowiseso.
Pemuda inipun merasa terpukul dan agak kecewa mendengar betapa Roro Luhito telah lolos dari kadipaten, padahal sudah pasti dara jelita itu akan terjatuh ke dalam pelukannya.
Banyak sudah ia memperoleh wanita, baik gadis maupun janda, baik suka rela maupun paksa, akan tetapi belum pernah hatinya terguncang seperti terhadap puteri adipati ini.
Belum pernah Jokowanengpati merindukan seorang wanita untuk kedua kalinya, akan tetapi kali ini, entah mengapa ia ingin selalu mendampingi Roro Luhito, tak ingin berpisah lagi.
Hatinya sama sekali tidak peduli melihat kenyataan betapa seluruh keluarga kadipaten terbenam dalam kedukaan akibat perbuatannya, akan tetapi mendengar akan perginya Roro Luhito dari kadipaten, hatinya yang sekeras baja menjadi lunak oleh kekecewaan dan kekhawatiran.
"Paman adipati, harap suka tenang dan bersabar,"
Jokowanengpati membujuk.
"Mana aku bisa tenang sebelum mencacah isi perut Pujo si jahanam?!?"
Adipati Joyowiseso membentak.
"Tenanglah, paman, dan harap suka sarungkan keris paman. Saya berjanji untuk mencari dan mendapatkan kembali diajeng Roro Luhito."
"Bukan hanya Luhito yang menjadikan hatiku berduka."
Adipati Joyowiseso menarik napas panjang dan kembali duduk di atas kursi, Jokowanengpati duduk menghadapinya.
Dengan gerak tangannya adipati itu menyuruh semua orang mundur agar ia dapat bicara berdua dengan pemuda yang menjadi harapannya.
Setelah semua orang pergi ia berkata.
"Anakmas Jokowanengpati, engkaulah satu-satunya orang yang kupercaya dan kepadamulah kutumpahkan harapanku. Anakmas tahu, Joko Wandiro adalah cucuku satu-satunya, cucu laki-laki. Dia terculik oleh si keparat Pujo. Ah, ke mana perginya anak kurang ajar Wisangjiwo? Dia ngelayap (keluyuran) tak tentu rimbanyal Kalau dia berada di rumah, dengan bantuanmu tentu akan cukup kuat mencegah terjadinya malapetaka ini."
"Kurasa percuma, paman. Kalau hanya Pujo seorang, sayapun cukup kuat untuk menghadapinya. Akan tetapi karena paman Resi Bhargowo ikut campur tangan, saya kira biarpun ada kangmas Wisangjiwo di sini, kita takkan kuat melawannya."
"Hehhh... kalau begitu, bagaimana baiknya?"
"Harap paman tenang. Saya kira si laknat Pujo tidak akan membunuh Joko Wandiro. Tentu niatnya menculik kakang mbok Listyokumolo hanya untuk... hemm, si keparat jahanam! Tentu hanya untuk menggagahinya seperti yang telah ia lakukan, setan!"
Jokowanengpati sengaja mengucapkan kata-kata fitnah ini sungguhpun sebagai seorang laki-laki yang sudah berpengalaman ia dapat menduga bahwa Pujo tidak melakukan perkosaan terhadap isteri Wisangjiwo.
Ia sengaja mengemukakan hal ini untuk menambah api sakit hati pada Adipati Joyowiseso.
Dan memang usahanya ini berhasil baik karena muka si adipati menjadi merah sekali, tangan kanannya mengepal dan meninju meja.
"Kalau kudapatkan dia, akan kuhancurkan kepalanya dengan tanganku sendiri!"
Desis adipati itu.
"Kakangmbok Listyokumolo sudah pulang dengan selamat biarpun tercemar dan terganggu batinnya. Adapun Joko Wandiro yang terculik, saya rasa Pujo tidak akan membunuhnya. Andaikata ada niat jahat itu di hatinya, mengapa tidak ia bunuh di sini atau di dalam guha? Tentu ada maksud tersembunyi dan Joko Wandiro masih selamat. Akan tetapi untuk menghadapi Pujo, terutama sekali Resi Bhargowo yang sakti mandraguna itu, tidak ada jalan lain kecuali melaporkan mereka sebagai pemberontak-pemberontak ke Mataram. Hanya para Empu di Mataram yang agaknya akan sanggup menghadapi dan menangkap Resi Bhargowo."
Adipati Joyowiseso mengangguk-angguk akan tetapi keningnya berkerut.
Minta bantuan ke Mataram?
Sungguh berlawanan dengan rencananya, rencana rahasia di dalam hati yang selama ini ia pendam, yang sudah hampir ia matangkan dengan beberapa orang tokoh di utara dan barat, yang sudah mulai dipersiapkan, yaitu rencana memberontak terhadap Mataram!
Akan tetapi, Jokowanengpati adalah murid Empu Bharodo seorang tokoh Mataram, tentu seorang yang berpihak Mataram.
Bagaimana ia dapat mengutarakan rahasia hatinya?.
"Urusan ini biarpun amat besar bagi kami sekeluarga, namun tetap merupakan urusan pribadi yang tentu tidak ada artinya bagi Mataram. Agaknya belum tentu mendapat perhatian sang prabu di Mataram,"
Katanya.
"Kalau kita laporkan bahwa Pujo dan Resi Bhargowo mempunyai niat memberontak, tentu akan mendapat perhatian besar,"
Bantah Jokowanengpati.
"Akan tetapi, lebih baik aku minta bantuan beberapa orang sahabat yang kiranya cukup tangguh untuk menghadapi Resi Bhargowo. Guru Wisangjiwo, Ni Durgogini amat sakti, sungguhpun dia merupakan seorang pertapa aneh yang tidak mau mencampuri urusan dunia, namun apabila Wisangjiwo yang minta, kiraku Ni Durgogini akan mau turun tangan. Di sampingnya masih ada Ni Nogogini yang terkenal sebagai wanita sakti di Laut Selatan. Juga, apabila aku mengundang warok Gendroyono, tentu ia akan suka membantu."
Jokowanengpati tersenyum lebar.
"Kiranya paman adipati mempunyai sahabat-sahabat yang demikian sakti. Nama besar ketiga orang tokoh itu tentu saja pernah saya dengar. Agaknya paman ragu-ragu untuk minta bantuan Mataram. Apakah hal ini ada hubungannya dengan ucapan Pujo ketika hendak dihukum perapat?"
Berubah wajah Adipati Joyowiseso. Ia menatap wajah tamunya dengan pandang mata tajam penuh selidik.
"Apa maksud anakmas? Ucapan yang mana?"
"Ucapan bahwa penaklukan paman adipati terhadap Mataram hanya pada lahirnya saja, sedangkan pada batinnya menentang."
Serentak Adipati Joyowiseso bangkit berdiri, tangan kanannya meraba gagang kerisnya dan mulutnya sudah siap meneriaki pengawal.
"Itu bohong! Apakah anakmas lebih percaya pada mulut seorang jahat seperti Pujo?!"
Sepasang mata adipati itu seakan-akan hendak menembus dan menjenguk isi hati Jokowanengpati. Pemuda itu tenang-tenang saja bahkan tersenyum melihat sikap sang adipati. Kini ia mengangguk dan berkata.
"Aku percaya akan apa yang diucapkan Pujo itu dan aku amat girang karenanya."
Adipati Joyowiseso terkejut bukan main, akan tetapi ekor kalimat itu membuatnya terheran.
"Apa... apa maksud anakmas...??"
"Harap paman adipati suka menyarungkan kembali keris itu dan marilah duduk dengan tenang. Saya bukanlah musuh paman, dan terutama sekali dalam hal menghadapi Mataram kita berada di satu pihak. Saya sendiripun ingin sekali melihat jatuhnya Mataram, paman adipati"
Namun, Adipati Joyowiseso bukanlah seorang yang bodoh dan sembrono.
Ia cukup maklum akan bahayanya percakapan seperti ini, apalagi mengingat bahwa pemuda di depannya adalah murid Empu Bharodo yang menjadi tokoh di Mataram, ia tidak mau mempercaya keterangan aneh ini begitu saja.
Setelah duduk ia lalu berkata.
"Harap anakmas jangan berkelakar. Saya adalah seorang adipati di Selopenangkep yang menerima anugerah gusti prabu di Mataram menjadi penguasa di sini, sedangkan anakmas adalah seorang senopati (panglima) muda yang telah berjasa dalam perang. Bagaimana anakmas dapat bercakap-cakap dengan saya tentang hal-hal yang tidak semestinya itu?"
Senyum di bibir Jokowanengpati melebar.
"Paman adipati, harap paman jangan khawatir, karena kita sehaluan. Terus terang saja saya mengaku di depan paman, bahwa saya sendiri merasa sakit hati kepada Mataram dan mencari kesempatan untuk membalas dendam. Saya benci kepada Sang Prabu Airlangga dan Sang Patih Narotama yang pilih kasih dan tidak pandai menghargai jasa orang!"
Adipati Joyowiseso makin kaget dan heran.
"Anakmas, mengapa bisa berkata demikian? Gusti prabu terkenal bijaksana, mulia, dan waspada. Sedangkan Gusti Rakyana Patih Kanuruhan (Narotama) adalah seorang yang sakti mandraguna, setia dan adil!"
"Saya harap pamanda adipati tidak berpura-pura lagi. Sayapun sudah berterus terang. seperti paman ketahui, dalam perang yang terakhir, saya ikut berjuang membela Mataram, apalagi dalam usaha menundukkan Raja-raja muda di pantai utara. Akan tetatpi, setelah perang berakhir dan semua pejuang menerima pahala, saya seorang dilupakan oleh sang prabu. Bahkan ketika saya mengadukan hal ini kepada guru saya, Empu Bharodo malah memarahi dan mengusir saya. Saya tahu, hal itu adalah gara-gara sang Patih yang memang menaruh iri hati kepada saya. Oleh karena itu, sebelum berhasil meruntuhkan Mataram dan melihat Patih Kanuruhan serta sang prabu terjungkal dari tahta, belum puas hati saya!"
Mendengar ini, Adipati Selopenangkep itu tidak merasa ragu-ragu lagi. Ia memegang lengan tangan. Jokowanengpati dan berkata girang.
"Ah, siapa kira, kita bersatu haluan, anakmas! Akan tetapi, agaknya sakit hati dan cita-cita kita ini hanya akan tetap tinggal menjadi penyakit di dalam hati. Satu-satunya harapanku tadinya adalah Kerajaan Sriwijaya yang menjadi musuh lama Mataram Akan tetapi setelah Sang Prabu Airlangga memperisteri puteri dari Kerajaan Sriwijaya, lenyaplah harapanku. Di antara kedua Kerajaan itu telah ada ikatan keluarga, maka tidak mungkin kita mengharapkan. Kerajaan Sriwijaya lagi."
"Memang wawasan pamanda adipati benar. Akan tetapi, masih banyak jalan menuju ke terlaksananya cita-cita kita. Bukan hanya Kerajaan Sriwijaya yang menjadi musuh Mataram. Para Raja muda di pantai utara, para adipati yang ditundukkan dengan kekerasan oleh Mataram, tidak semua di antara mereka takluk dengan tulus ikhlas, tepat seperti kata-kata orang cerdik pandai, bahwa orang ditundukkan oleh perang, hanya tunduk karena kalah, tunduk pura-pura yang tidak dapat dipercaya. Nah, kalau kita mengadakan sekutu dengan mereka, keadaan kita akan cukup kuat, paman adipati."
Adipati Joyowiseso tertawa gembira dan menepuk-nepuk bahu pemuda itu.
"Ah, alangkah senang hatiku menemukan seorang sekutu seperti anakmas yang luas pengetahuan lebar pandangan dan tinggi ilmu kesaktian. Ternyata cocok sekali pendapat kita. Akupun sudah mengadakan hubungan dengan banyak tokoh penting, anakmas, di antaranya seperti telah kusebutkan tadi adalah Warok Gendroyono dari Ponorogo yang pernah menerima hukuman dari Mataram sehingga mengandung dendam, dan selain guru puteraku sendiri Ni Durgogini dan Ni Nogogini adiknya, masih ada lagi seorang tokoh yang siap menjadi tulang punggung, yaitu Ki Krendroyakso di Bagelen!"
"Wah, hebat! Ki Krendoyakso Raja sekalian bajak begal dan maling dengan anak buahnya yang ribuan orang banyaknya! Bagus sekali, paman. Semua pembantu itu dapat ditambah dengan banyak senopati dan Raja muda taklukan Mataram yang ingin memberontak, dan untuk memperlengkap deretan orang sakti yang membantu, saya dapat mengajukan seorang sakti mandraguna yang tak seorangpun mengenal nama aselinya, hanya dikenal dengan nama julukan Cekel Aksomolo (Cantrik Bertasbih) yang bertapa di hutan Wredo di lereng Gunung Wilis."
Adipati Joyowiseso merasa girang bukan main.
Diperintahkannya para pelayan untuk mengeluarkan minuman keras dan makanan, dijamunya pemuda itu dengan keakraban baru karena pemuda ini selain penolong dan calon mantu, juga merupakan seorang sekutu yang boleh diandalkan.
Agak terhiburlah hatinya yang tadi penuh amarah dan duka oleh malapetaka yang menimpa keluarganya.
"Nah, kau mengerti sekarang mengapa aku merasa ragu untuk minta bantuan Mataram dalam menghadapi Pujo, anakmas."
"Paman adipati, saya rasa paman keliru dalam hal ini. Kita harus mengerti bahwa Pujo dan Resi Bhargowo adalah orang-orang yang setia kepada Mataram. Buktinya dahulu ketika paman melawan barisan Mataram, orang-orang Sungapan itu tidak mau membantu, kan? Dan memang tidak aneh karena Resi Bhargowo adalah adik seperguruan guru saya, Empu Bharodo. Jadi terang bahwa mereka guru dan murid adalah orang Mataram. Kita bercita-cita membalas dan memukul Mataram, juga mempunyai dendam terhadap Pujo dan gurunya. Adakah jalan yang lebih sempurna daripada mengadu domba mereka satu kepada yang lain? Biarlah mereka saling hantam, karena kalau mereka saling hantam, berarti akan melemahkan kedudukan mereka sehingga mudah bagi kita mencari kesempatan baik. Sebaliknya kalau mereka tidak diadu domba, kita akan harus menghadapi mereka bersama, tentu amat berat. Mengertikah paman adipati akan maksud saya?"
Wajah Adipati Joyowiseso berseri-seri dan ia memandang kagum kepada wajah yang tampan itu.
"Aku mengerti, anakmas. Memang tepat dan betul sekali rencanamu itu."
Dua orang sekutu ini bercakap-cakap dan mengatur siasat untuk melaksanakan niat pemberontakan mereka.
Karena maklum betapa besar dan kuatnya bala tentara Mataram, maka dengan cerdik Jokowanengpati mengajukan siasat untuk melemahkan Mataram lebih dahulu dengan cara mengadu domba dan memecah-belah, kalau perlu menundukkan atau membunuh para tokohnya yang berkepandaian tinggi dengan dalih urusan pribadi.
Karena hanya dengan cara mengalahkan, menundukkan, atau membunuh tokoh-tokoh sakti pembela Mataram sajalah Kerajaan itu dapat dilemahkan dan mudah dipukul kelak kalau saatnya yang baik tiba.
Makin lama mereka bercakap-cakap, makin tertarik dan kagumlah hati Adipati Joyowiseso akan kecakapan pemuda ini yang bukan hanya memiliki kesaktian hebat, juga ternyata memiliki kecerdikan dan siasat serta tipu muslihat yang amat berguna bagi pemberontakannya.
Setiap hari mereka bercakap-cakap dan berunding sambil menantikan pulangnya Raden Wisanghjiwo.
Setengah bulan kemudian datanglah Raden Wisangjiwo.
Wajahnya berseri-seri ketika ia memasuki pendopo kadipaten dan melompat turun dari kudanya yang besar, yang segera disambut oleh para penjaga dan pelayan.
Akan tetapi kegembiraannya segera lenyap seperti kabut disapu panas ketika ia bertemu ayahnya di ruang dalam.
Ayahnya tengah duduk semeja dengan Jokowanengpati, dan melihat kedatangannya, ayahnya itu bangkit berdiri dengan mata melotot dan mulut melontarkan teguran keras.
"Bocah durhaka! kau telah keluyuran ke mana saja? Mengapa masih ingat akan pulang? Kalau kau sudah tidak membutuhkan orang serumah ini, mengapa kau masih mau pulang?"
Merah wajah Wisangjiwo. Dimarahi ayahnya yang galak bukan apa-apa baginya, akan tetapi kali ini ia dimarahi di depan Jokowanengpati yang hanya seorang kenalan, berarti seorang tamu atau orang luar.
"Kanjeng rama (ayah), saya baru pulang dari Kotaraja..."
"Hemm, kau keluyuran ke sana mau apa? Enak ya bersenang-senang di Kotaraja sedangkan di rumah tertimpa malapetaka hebat!"
"Malapetaka? Apakah yang terjadi?"
"Pujo si pengecut datang mengamuk, ayahmu ini hamper terbunuh olehnya, kemudian anak isterimu diculiknya, isterimu sudah didapatkan kembali akan tetapi anakmu sampai sekarang lenyap. Adikmu Roro Luhito minggat. Semua itu terjadi dan kau berfoya-foya di Kotaraja!"
Muka yang tadinya berseri itu kini menjadi pucat.
Tanpa menjawab lagi Wisangjiwo melompat lari menuju ke kamarnya untuk mendapatkan isterinya.
Di situ ia disambut tangis ibunya dan para selir ayahnya.
Listyokumolo, istrinya, rebah telentang dengan mata tak bergerak-gerak, bahkan ketika mata melirik ke arahnya, seakan-akan tidak mengenalnya lagi.
Bagi Wisangjiwo, Listyokumolo adalah seorang wanita cantik, seorang di antara wanita-wanita cantik yang lain yang menjadi kekasihnya.
Bagi dia, isteri, selir maupun kekasih diluar, semua wanita bagaikan barang permainan yang menyenangkan, dan yang bertugas semata-mata sebagai pemuas nafsu, pelipur hati, pelepas dahaga.
Lain tidak!
Oleh karena wataknya inilah maka Listyokumolo merasai penderitaan batin setelah menjadi isteri putera adipati ini, dan oleh karena watak ini pula maka Wisangjiwo tidak menaruh perhatian akan nasib yang menimpa diri isterinya.
yang membuat ia gelisah adalah tentang puteranya.
"Nimas Listyokumolo!"
Ia cepat-cepat menegur sambil memegang tangan isterinya, tidak mempedulikan para ibunya yang berada di situ,"Di mana adanya Joko Wandiro anakku??"
Karena tangannya dipegang erat-erat dan diguncang-guncang, Listyokumolo menjadi terkejut. Ia menoleh, memandang aneh lalu menangis sambil berteriak-teriak.
"Kembalikan anakku...! Kembalikan dan jangan ganggu anakku..., kau boleh perbuat sesukamu atas diriku, aku menyerahkan seluruh ragaku kepadamu... tapi jangan ganggu Wandiro...!!"
Lalu menangis menggerung-gerung di atas pembaringan.
"Listyokumolo, di mana Joko Wandiro? Di mana dia?"
Wisangjiwo mengguncang-guncang tubuh isterirya, namun jawaban Listyokumolo selalu sama. Akhirnya ibunya datang memegang pundaknya dan berkata lembut.
"Tiada gunanya kau membentak-bentak anakku. Isterimu mengalami pukulan batin dan yang selalu diucapkan hanya itu-itu juga. Lebih baik kau lekas berunding dengan ayahmu dan cepat-cepat mencari sampai dapat puteramu Joko Wandiro."
Isteri adipati itu mengakhiri kata-katanya, dengan isak ditahan.
Wisangjiwo menjadi lemas dan keluar dari kamar itu tanpa menoleh kepada isterinya lagi.
Ia menuju ke ruangan tengah dan menjatuhkan tubuhnya di atas kursi di depan ayahnya, lalu menarik napas panjang.
"Kanjeng rama, apakah yang telah terjadi selama saya pergi? Dan saya lihat adimas Jokowanengpati hadir di sini, sudah lamakah, dimas?"
Jokowanengpati memandang tajam dan bibirnya sudah berkomat-kamit hendak menjawab, akan tetapi didahului Adipati Joyowiseso.
"Jika tidak ada anakmas Jokowanengpati, ramamu sudah menjadi jenazah sekarang!"
Adipati Joyowiseso lalu menceritakan semua peristiwa yang menimpa keluarga kadipaten.
Kemudian ia memandang puteranya dengan tajam sambil bertanya,"Wisangjiwo, sebetulnya apakah yang terjadi antara engkau dan Pujo?
Mengapa ia memusuhimu seperti itu?"
Sampai lama Wisangjiwo tidak dapat menjawab.
Ia menjadi marah sekali.
Mendengar betapa adik perempuannya diperkosa sehingga mungkin saking malu adiknya itu sampai lolos minggat dari kadipaten, mendengar betapa isterinya diculik dan menurut dugaan ayahnya juga diperkosa, hatinya menjadi panas.
Tentang isterinya dirusak kehormatannya, ia dapat mencari lain wanita.
Akan tetapi penghinaan itu sendiri yang membuat hatinya panas, apalagi penghinaan yang ditimpakan atas diri adiknya.
Semua ini masih ditambah lagi dengan diculiknya Joko Wandiro, puteranya, benar-benar membuat dadanya bergolak dan sukar bagi orang muda ini untuk mengeluarkan suara menjawab pertanyaan ayahnya.
"Si keparat Pujo!"
Desisnya di antara dua baris gigi yang dirapatkan, kedua tangannya mengepal"Akan kuhancurkan engkau!"
Adipati Joyowiseso tak sabar lagi.
"Wisangjiwo, simpan dulu kemarahanmu, tiada gunanya sekarang, sudah terlambat. Permusuhan apakah yang timbul antara engkau dan Pujo?"
Wisangjiwo menarik napas panjang.
"Sayang sekali, kanjeng rama, tidak kupadamkan saja api hidupnya pada waktu itu, padahal dia sudah berada di tangan saya, kalau saya mau membunuhnya tinggal mengayun tangan saja. Ah, mengapa saya bertindak kepalang tanggung waktu itu?"
"Hayo tuturkan, jangan putar-putar macam itu!"
Ayahnya menegur kesal.
"Secara kebetulan sekali saya pergi ke Guha Siluman pada senja hari itu dan bertemu dengan Pujo dan isterinya yang bertapa di dalam guha dalam keadaan aneh sekali, yaitu mereka bertapa berhadapan bertelanjang bulat! Saya menegurnya dan kami bertanding. Isterinya, Kartikosari puteri Resi Bhargowo membantu suaminya. Untung sekali saya dapat mendahului mereka sehingga saya dapat memukul mereka pingsan!"
Adipati Joyowiseso mengerutkan keningnya.
Tentu saja ia dapat mengenal watak dan kesukaan puteranya yang tidak jauh bedanya dengan kesukaannya sendiri!
"Hemm, aku mendengar bahwa puteri Resi Bhargowo itu cantik.
kau lalu mengganggu isteri Pujo, bukan?"
Akan tetapi Wisangjiwo menarik napas panjang dan menggeleng kepala.
"Kalau saya tahu bahwa si laknat itu akan melakukan perbuatan keji di sini, tidak saja isterinya akan saya perhina, bahkan mereka tentu akan kubunuh lebih dulu! Tidak, kanjeng rama, sungguhpun saya amat terpesona oleh kecantikan Kartikosari dalam keadaan menggairahkan seperti itu, namun saya... saya tidak mengganggunya. Saya masih ingat akan Resi Bhargowo yang sakti dan tidak ingin bermusuh dengannya. Maka setelah mereka roboh, saya lalu pergi dari guha itu meninggalkan mereka."
Jokowanengpati mendengarkan penuh perhatian. Terbayang olehnya semua peristiwa itu.
"Kangmas Wisangjiwo. Maafkan pertanyaanku ini. Benar-benarkan kau tidak menggagahi Kartikosari yang cantik jelita? Melihat sepak terjang Pujo, agaknya ia amat sakit hati kepadamu dan agaknya masuk akal dendamnya itu kalau kau telah memperkosa isterinya."
"Tidak, dimas Jokowanengpati, demi para dewata yang menjadi saksi, aku tidak... eh, dimas, kelingking kirimu itu mengapa...??"
Bukan main kagetnya hati Jokowanengpati.
Pikirannya sedang berpusat pada peristiwa itu dan kelingkingnya justru buntung setengahnya dalam peristiwa itu, maka pertanyaan yang tak tersangka-sangka itu bagaikan serangan kilat yang membuat wajahnya menjadi pucat.
Kalau saja bukan dia yang ditanya serentak seperti itu, tentu akan menjadi panik dan gugup.
Namun Jokowanengpati adalah seorang yang amat cerdik.
Dalam keadaan terpepet itu ia masih sempat mengerjakan otaknya dan jawabannya tenang cepat tanpa ragu.
"Ooohhh, inikah? Sebelum aku datang berkunjung ke sini, aku bertemu dengan gerombolan pengacau di tepi Kali Solo. Aku berhasil membasmi mereka dan membunuh kepalanya, akan tetapi kepala gerombolan itu lumayan kepandaiannya sehingga dalam pengeroyokan itu jari kelingkingku ini terkena bacokan golok dan putus. Akan tetapi tidak apa-apa, kangmas."
"Untung hanya jari kelingking, anakmas,"
Joyowiseso ikut bicara,"Kalau ibu jari yang terkena bisa celaka karena ibu jari merupakan bagian paling penting dari tangan."
Kemudian sambungnya sambil memandang puteranya,"Lanjutkan ceritamu, mengapa selama ini kau pergi!"
"Karena pertempuran itu, saya khawatir akan menghadapi kemarahan Resi Bhargowo, maka saya langsung pergi menghadap guru saya Ni Durgogini di Girilimut. Akan tetapi di sana saya bertemu dengan paman Patih Kanuruhan..."
"Rakyana Patih Kanuruhan di sana??"
Jokowanengpati berseru kaget."Ada apakah beliau berada di sana?"
Mendengar nama Patih yang sakti itu, diam-diam Jokowanengpati merasa gentar.
"Agaknya beliau dahulu sahabat baik guruku, dimas, dan sengaja datang berkunjung sungguhpun beliau berkata secara kebetulan saja. Entah, aku tidak tahu sebabnya. Akan tetapi pertemuan itu membawa keuntungan bagiku karena aku sekarang mendapatkan kedudukan baik di Kotaraja berkat perantaraan beliau."
Wisangjiwo lalu menceritakan semua pengalamannya, bahkan ia menceritakan bagaimana ia dicoba kepandaiannya oleh Patih sakti itu, kemudian ia berangkat ke Kotaraja, diterima baik dan ditetapkan menjadi perajurit pilihan calon pengawal istana!.
Mendengar ini Adipati Joyowiseso menggebrak meja dengan alis berdiri.
"Bodoh! Bodoh sekali! Bagaimana kau malah menjadi calon pengawal Raja Mataram??"
Wisangjiwo membelalakkan mata, melirik ke arah Jokowanengpati dan berseru kepada ayahnya, nadanya mencela.
"Kangjeng rama...!!!"
Adipati Joyowiseso maklum akan teguran puteranya, maka ia lalu menepuk bahu Jokowanengpati yang tersenyum-senyum saja itu sambil berkata.
"Anakmas Jokowanengpati juga memusuhi Raja Bali, mendukung cita-citaku. Apakah engkau puteraku sendiri malah ingin menjadi gedibal (hamba rendah) orang Bali?"
Orang-orang yang pada waktu itu membenci Raja Airlangga, memakinya sebagai Raja atau orang Bali, dan memang sesungguhnya Airlangga adalah seorang putera Bali, sungguhpun darah yang mengalir di tubuhnya adalah darah Raja Bali yang masih ada pertalian darah pula dengan Raja Mataram.
Wajah Wisangjiwo menjadi terang mendengar keterangan ayannya bahwa Jokowanengpati telah menjadi sekutu ayahnya.
"Bagus!"
Ia memegang lengan Jokowanengpati."Aku senang sekali mendengar hal ini, dimasl Ayah, memang saya sengaja mengusahakan agar dapat menjadi pengawal istana, karena kalau hal itu terjadi, bahkan akan banyak menolong usaha terlaksananya cita-cita kita."
"Eh, apa maksudmu?"
"Paman adipati, saya mendukung rencana kakangmas Wisangjiwo. Kalau dia bekerja di dalam istana, berarti kita selalu akan dapat mengetahui gerak-gerik mereka, pula kalau sudah tiba masanya, bantuan dari dalam merupakan hal yang amat berguna, bahkan tidak dilebih-lebihkan kalau dikatakan merupakan syarat mutlak ke arah tercapainya gerakan kita."
Mata sang adipati melebar, kemudian ia tertawa bergelak-gelak, lalu merangkul pundak puteranya.
"Ah, kau pintar, puteraku! Maafkan ayahmu yang salah sangka! Benar sekali, kau bertugas di sana mengawasi gerak-gerik mereka tentang usaha kita, kalau-kalau mereka menaruh curiga. Kemudian kita atur rencana dari sini untuk mengacaukan pertahanan mereka. Akan tetapi sebelum kau kembali ke sana, kau harus menghubungi dulu gurumu Ni Durgogini, menyampaikan permintaanku agar mereka suka membantu gerakan kita ini."
"Baik, kanjeng rama, akan tetapi... bagaimana dengan anakku Joko Wandiro? Dan bagaimana pula dengan adikku Roro Luhito...?"
"Jangan kau khawatir, kakangmas. Aku siap untuk mencari Pujo, membawa kembali puteramu dan sedapat mungkin akan kucari diajeng Roro Luhito."
"Wisangjiwo, kita berhutang budi banyak sekali kepada anakmas Jokowaneng-pati, calon adik iparmu ini."
"Adik... ipar...?"
Wisangjiwo menoleh kepada Jokowanengpati.
"Dia,... dia telah begitu baik untuk bersedia mengawini adikmu Roro Luhito, agar tertutup noda dan aib..."
"Tidak hanya demikian, paman adipati, melainkan karena saya merasa kasihan kepada diajeng Roro Luhito, dan juga... suka kepadanya..."
"Aduh, kau benar-benar sahabat sejati!,"
Wisangjiwo memeluk Jokowanengpati, kemudian berkata khawatir,"Akan tetapi, dimas.
kau bilang sendiri bahwa si laknat Pujo dibantu gurunya.
Bagaimana kau dapat menandingi Resi Bhargowo yang sakti mandraguna?"
Yang ditanya tersenyum tenang.
"Aku sendiri tentu belum kuat melawan sang resi, akan tetapi sebelum mencari mereka, aku akan pergi menemui eyang Cekel Aksomolo di hutan Wredo yang terletak di lereng Gunung Wilis. Bersama dia, aku tidak takut lagi menghadapi Resi Bhargowo."
Secara singkat ia lalu menceritakan kehebatan dan kesaktian Cekel Aksomolo yang dipujinya setinggi langit dan dikatakannya tiada keduanya di dunia ini!
Giranglah hati Wisangjiwo dan ayahnya, dan agak terhiburlah hati mereka oleh malapetaka yang menimpa keluarga Kadipaten Selopenangkep.
Semalam suntuk hari itu mereka tiada hentinya bercakap-cakap mengatur rencana, karena pada keesokan harinya Jokowanengpati akan berangkat ke Gunung Wilis sedangkan Wisangjiwo akan pergi mencari guru dan bibi gurunya.
* * * "Engkau anak hina!
Engkau buah daripada perbuatan jahanam!
Hidupmu hanya akan mencemarkan dunia.
Tak layak engkau hidup!!"
Sikap dan kata-kata yang terlontar dari mulut wanita itu mengerikan.
Suaranya nyaring mengatasi debur ombak memecah di batu karang.
Wajahnya yang cantik jelita itu tidak terurus, tampak bengis.
Matanya yang bening dan indah bentuknya itu menatap liar penuh benci kepada seorang anak bayi perempuan yang telanjang bulat dan tidur nyenyak dalam pondongannya.
Rambut wanita itu terurai, panjang sampai ke pangkal pahanya.
Pakaian yang menutup tubuhnya yang muda padat dan berkulit kuning halus bersih itu tak dapat menyembunyikan lengkung lekuk tubuh seorang wanita yang sudah masak karena hanya sehelai tapih pinjung (kain yang bagian atasnya dibelitkan menutup dada), membuka telanjang memperlihatkan bagian atas dada yang bulat membusung, dada seorang wanita yang baru melahirkan, pundak dan lengan.
Juga memperlihatkan kaki dari lutut ke bawah, kaki yang betisnya gemuk memadi bunting dan mata kaki yang kecil berlekuk dalam.
Sepasang kaki yang kecil itu berdiri di atas batu karang yang tercapai percikan ombak memecah di pantai.
Wanita itu adalah Kartikosari!
Isteri Pujo yang bernasib malang ini telah melahirkan seorang anak perempuan, dua pekan yang lalu!
Setelah ia berpisah dari Pujo di Guha Siluman akibat peristiwa di malam jahanam itu, dalam keadaan berkeliaran di sepanjang pantai Laut Selatan di daerah Baron dan Karangracuk setiap hari siang dan malam menangisi nasibnya, mengeluh meratapi nama suaminya, kadang-kadang memaki dan menyumpahi nama Wisangjiwo, atau ada kalanya tertawa-tawa dan bermain-main dengan ombak yang datang bergulung-gulung, beberapa bulan kemudian barulah ia sadar akan keadaan dirinya.
Sadar bahwa ia telah mengandung!.
Setengah hari Kartikosari menggeletak pingsan di dalam sebuah guha kecil di pantai Karangracuk yang ia jadikan tempat tinggalnya, setelah ia ketahui bahwa ia telah mengandung.
Di waktu sadar dari pingsannya,ia menangis menggerung-gerung, menjambaki rambutnya sendiri sampai rambut yang hitam halus dan panjang itu awut-awutan, mencakari mukanya yang cantik jelita sampai kulit yang halus dan kuning kemerahan itu menjadi merah oleh darah dari pipi yang terluka kuku, lalu menangis lagi bergulingan di lantai guha seperti anak kecil.
Setelah reda, ia terisak-isak menyembunyikan muka di balik kedua tangan, berlutut di dalam guha.
Ingin ia membunuh diri.
Tak kuat rasanya harus menghadapi penderitaan yang susul-menyusul, tindih-menindih ini.
Namun, ia masih ingin hidup untuk melampiaskan dendamnya!.
Demikianlah, beberapa bulan lamanya Kartikosari mengalami penderitaaan lahir batin yang amat hebat.
Ia makan seadanya, makan apa saja yang bisa ia dapatkan.
Kadang-kadang ia mendaki bukit batu karang di utara, mencari ketela atau buah-buahan, ada kalanya ia hanya makan ikan laut dibakar.
Namun, penderitaan lahir ini tidak ada artinya kalau dibandingkan dengan penderitaan batinnya dengan peristiwa malam jahanam di Guha Siluman, kadang-kadang ia seperti kalap dan gila, ingin ia merobek perutnya sendiri untuk membuang jauh-jauh bayi yang mulai bergerak-gerak dalam kandungannya!.
Akan tetapi ada kalanya hati kecilnya membisikkan harapan bahwa kandungannya itu adalah darah daging Pujo, suaminya.
Kalau menduga begini, ia akan mengelus-elus perutnya sambil meramkan mata, lalu merintih-rintih membisikkan nama suaminya.
Setelah merasa bahwa kandungannya sudah mendekati kelahiran, Kartikosari berjalan meninggalkan pantai, mencari orang.
Setengah hari ia berjalan dan barulah ia melihat sebuah dusun kecil di lereng bukit, dusun yang penghuninya hanya petani-petani miskin di tanah kapur Gunung Kidul, tinggal dalam gubuk-gubuk kecil kotor dan miskin tak lebih dari tujuh buah gubuk.
Namun hal ini cukup menggirangkan hati Kartikosari.
Tubuhnya sudah lelah, hampir ia tak kuat berjalan tadi kalau saja ia tak melihat gubuk-gubuk itu dari puncak bukit.
Ia tadi telah mengerahkan segenap sisa tenaganya untuk berjalan kearah dusun, dan setibanya di depan pintu gubuk pertama, matanya berkunang-kunang, perutnya sakit sekali dan ia terguling roboh pingsan di atas tanah.
Betapa ia ditolong beramai-ramai oleh penghuni dusun yang setengah telanjang karena miskin itu, ia tidak tahu.
Betapa ia meronta-ronta, merintih-rintih dan bergulat dengan maut, iapun tidak tahu.
Sejak roboh pingsan sampai melahirkan, Kartikosari dalam keadaan tidak sadar.
Ketika ia sadar dengan tubuh lemas, ia telah berada di atas balai-balai bambu yang ditilami tikar anyaman dari daun kelapa, dan di dekatnya rebah seorang bayi yang masih merah, bayi perempuan telanjang bulat, gemuk dan berkulit putih bersih berambut hitam tebal, hanya tertutup sehelai popok (kain) kumal dan kotor!.
Ia tidak pernah menjawab hujan pertanyaan para penghuni dusun itu yang bicara penuh hormat kepadanya, yang menganggapnya seorang puteri bangsawan yang sesat jalan atau diculik perampok, Bahkan ada beberapa orang yang berbisik mengira ia bukan manusia, melainkan seorang peri (setan perempuan) atau penghuni Laut Selatan!
Ia tidak mau menjawab, akan tetapi bukan tidak berterima kasih.
Dengan taat ia minum jamu-jamu pahit yang disediakan seorang nenek kurus, makan daging kelapa hijau atau bubur jagung yang disuguhkan orang, dan menerima pelayanan dan rawatan mereka selama dua pekan dengan senyum bersyukur.
Dan pada keesokan harinya setelah lewat dua pekan, penghuni dusun itu dengan heran dan kaget hanya mendapatkan sepasang gelang emas di atas balai-balai, sedangkan wanita cantik tapi agaknya gagu karena tak pernah bicara itu lenyap tak meninggalkan jejak, lenyap bersama bayinya yang cantik dan mungil bertubuh montok!
Tentu saja kini mereka makin percaya kepada dia yang pernah membisikkan bahwa wanita ayu itu tentulah seorang peri atau seorang puteri dari istana Ratu Roro Kidul di dasar Laut Selatan!
Kalau manusia biasa, tak mungkin dapat pergi bersama bayinya tanpa ada yang tahu sama sekali, tidak meninggalkan jejak!.
Kartikosari tentu saja dapat pergi tanpa diketahui dengan mudah, mengandalkan ilmunya.
Ia kembali ke Karangracuk dan berdiri di atas batu karang memaki-maki anak dalam pondongannya, kemudian matanya menjadi beringas ketika ia memandang ke arah gelombang Laut Selatan yang makin menggelora.
"Anak hina-dina! kau tak patut hidup!"
Jeritnya dengan suara terpecah dalam tangis, lalu ia...
melemparkan anak itu jauh-jauh ke tengah laut yang bergelombang!
Tanpa melihat lagi ia membalikkan tubuh, meloncat turun dari atas batu karang lalu berlarian sambil menutupi mukanya dengan kedua tangan, kemudian menjatuhkan diri bergulingan di atas pasir sambil menangis.
Jantungnya terasa ditusuk-tusuk dan timbul rasa ngeri di hatinya untuk menoleh ke arah laut yang telah menelan bocah yang dilahirkannya dua pekan yang lalu.
Suara ombak yang menderu itu masuk memenuhi telinganya, dan kini berubah menjadi suara tangis anak bayinya!
Tangis yang amat nyaring sehingga ia tak kuasa menahan lagi, lalu menutupkan kedua tangannya kepada telinga.
Namun, betapa keras ia menutupi telinganya, suara tangis itu masih terdengar terus, bahkan makin lama makin nyaring..
"Diam...!! Jahanan! Diamlah...!!"
Ia menjerit-jerit bergulingan di pantai seperti disiksa, akhirnya suara jeritannya menjadi keluh dan rintih mengerang-erang perlahan."...Diamlah..., diamlah, nak... diamlah..."
Dan ia menangis tersedu-sedu.
Setelah mereda gelora hatinya, ia memberanikan diri menoleh ke arah laut.
Laut masih mengganas, ombaknya besar-besar seakan-akan menjadi marah kepadanya.
Ombak laut seperti terbakar, merah tersinar matahari yang hamper tenggelam di langit barat.
Ombak merah menggelora, bergulung-gulung panjang seperti naga raksasa mengamuk.
Tiba-tiba ia tersentak kaget dan meloncat berdiri.
Matanya dilebar-lebarkan memandang kepada sebuah benda yang tergolek di tepi pantai, diatas pasir.
Ikankah?
Ikan mati?
Agaknya ikan mati, terdampar oleh ombak ke pantai.
Putih berkilat seperti perut ikan, tak bergerak-gerak.
Kartikosari bergidik, meremang bulu tengkuknya.
Bentuk ikan itu!
Aneh sekali!
Hitam-hitam di ujungnya.
Ekor?
Terlalu besar.
Dan mulutnya!
Mengapa terpecah menjadi dua?
Mulut?
Mirip kaki.
Kaki bayinya!.
Benda itu bergerak-gerak, lalu terpecah suara tangis yang melengking.
Meremang seluruh tubuh Kartikosari, bulu di tubuhnya berdiri satu-satu.
Tangis bayi!
Tangis anaknya!.
"Anakku...!!!"
Kartikosari menjerit dan berlari cepat sekali seperti terbang ke arah benda putih itu.
Ditubruknya bayi yang menangis terkekal-kekal itu, sambil berlutut di atas pasir ia mendekap bayi telanjang bulat itu ke dadanya, ditangisinya sambil terengah-engah, diciuminya, didekap lagi ke dada dan air matanya membanjir, mencuci pasir yang lekat-lekat pada tubuh bayi.
"Aduh, anakku..., anakku...! kau kembali...? kau... kau anak Pujo...? Anakku...! Ampuni ibumu, nak... ampun...!"
Ia tidak perdulikan lidah ombak menjilat-jilat kaki dan lututnya, seperti lidah anjing jinak menjilat-jilat kaki majikannya, rnohon perhatian dan belas kasihan.
Direnggutnya kain penutup dadanya sehingga tampak kedua buah dadanya yang montok dan penuh air susu, yang seakan-akan hendak pecah karena kulit yang tipis halus itu tak dapat menampung air susu yang terlalu penuh, dimasukkannya ujung buah dada yang merah itu ke mulut bayinya yang menangis keras.
Seketika terhentilah tangis bayi.
Tanpa diajari oleh siapapun, manusia kecil itu lantas menghisap air susu dari dada ibunya, menghisap keras-keras dan terpancarlah air kehidupan itu menerjang tenggorokan yang kecil.
Bayi itu tersedak dan terbatuk-batuk.
Kartikosari melepas buah dadanya dari mulut bayinya, mulutnya berkata halus.
"Pissss...! Pissss...!"
Sambil menebak-nebak dada sendiri perlahan. Setelah anaknya tidak terbatuk-batuk lagi, kembali ia menyusui anaknya, sambil tertawa gembira dan air matanya menitik turun ketika ia berkata.
"Cah ayu..., perlahan-lahan saja menyusu, nak..., ibumu tidak marah lagi... oh, tidak akan marah lagi..."
Dengan air mata mengalir di kedua pipinya, Kartikosari membelai-belai kepala anaknya dengan pipi, merasai betapa halus rambut anaknya tergeser di pipi.
Ombak agak besar kini mencapai lutut dan pinggangnya.
Kartikosari cepat berdiri agar anaknya tidak terkena air.
Ia menoleh ke arah laut dan berkata.
"Terima kasih, ayahku Laut Selatan! Terima kasih! kau telah mengembalikan cucumu kepadaku! Baik, akan kurawat dia, akan kujadikan dia seorang gadis yang patut menjadi cucu Laut Selatan!"
Kartikosari lalu berlari-lari mendukung anaknya yang masih menyusu lahap itu menuju ke dalam guha yang menjadi tempat tinggalnya.
Semenjak saat itu, hidupnya mempunyai arah dan tujuan.
Tidak hanya untuk membalas dendam kepada Wisangjiwo, akan tetapi juga untuk merawat dan mendidik puterinya.
Endang Patibroto!
Ya, demikianlah ia memberi nama kepada puterinya.
Endang Patibroto.
Patibroto berarti setia kepada suami.
Ya, memang ia selalu setia kepada suaminya, bahkan terjadinya peristiwa hina di malam jahanam dalam Guha Siluman sehingga menimbulkan akibat seperti yang dideritanya sekarang, semata-mata karena kesetiaannya kepada suaminya.
Tak peduli anak siapa bayi itu, ia tetap setia kepada suaminya, setia lahir batin.
Biarlah dunia mengutuknya, biarlah suaminya mengumpat caci dan tidak mempercaya akan kesetiaannya, namun Laut dan Badai tahu!
Dia sendiri tahu!
Puterinya tahu!
Karena itu, puterinya harus bernama Endang Patibroto sebagai bukti dan penguat kesetiaannya.
Mulailah Kartikosari memperhatikan kesehatannya, demi puterinya, demi Endang Patibroto.
Mulai ia membawa sisa perhiasan emasnya ke dusun dan minta kepada penghuni dusun yang keheranan itu untuk membawa perhiasannya ke kota, menjual dan menukarkan dengan pakaian dan kebutuhan lain.
Mulailah ia kini setiap hari mencari sarang burung di tempat-tempat yang sukar, lalu menyuruh penghuni dusun menjualnya ke kota.
Di kota banyak terdapat pedagang yang suka berdagang ke kota-kota besar dan kabarnya sarang burung itu dijualnya kepada Bangsa Cina dengan harga tinggi.
(Lanjut ke
Jilid 06) Badai Laut Selatan (Seri ke 03 Serial Serial Keris Pusaka Sang Megatantra) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo
Jilid 06 Ia merawat puterinya penuh kasih sayang, penuh perhatian.
Di samping ini ia tekun pula bertapa, tekun menggembleng diri dengan ilmu-ilmu yang diperdalamnya, bahkan ia mulai merangkai ilmu-ilmu pukulan sambil meneliti gerakan burung-burung walet dan burung camar (elang laut), merangkai ilmu merayap sambil meneliti gerakan bermacam kepiting dan ilmu meloncat berdasarkan gerakan monyet yang banyak berkeliaran di pantai.
Ia menghimpun tenaga, memperdalam ilmu, bukan hanya untuk kelak membalas dendam kepada musuh besarnya, melainkan juga untuk diturunkan kelak kepada Endang Patibroto!.
Mulailah ia melihat matahari bersinar, mulailah sinar gembira bernyala dalam dadanya, karena hidupnya kini ada artinya.
Ia berpesan dan disertai ancaman kepada penghuni dusun yang pernah menolongnya agar mereka itu tidak menceritakan keadaan dirinya kepada orang lain.
Karena penduduk dusun kini yakin, bahwa puteri cantik ini benar-benar bukan manusia, kalau datang dan perginya bukan berjalan melainkan terbang, tentu saja mereka ketakutan dan mentaati pesan ini.
Kartikosari sengaja memperlihatkan kepandaiannya dan bergerak secepat terbang untuk memaksa mereka takut dan percaya kepadanya.
* * * Kita tinggalkan dulu Kartikosari yang hidup bersunyi dengan puterinya, dan mari kita menjenguk sejenak keadaan Roro Luhito, wanita lain yang juga mengalami nasib buruk akibat perbuatan terkutuk Jokowanengpati.
Hanya saja, dibandingkan Kartikosari, Roro Luhito tidaklah menanggung kesengsaraan batin yang terlalu parah.
Hal ini adalah karena di lubuk hatinya, gadis puteri Adipati Joyowiseso ini menaruh cinta kepada Pujo!
Oleh karena rasa cinta inilah maka peristiwa di malam hari dalam kamarnya itu tidaklah amat disesalkannya, sungguhpun tentu saja ia tidak menghendaki demikian.
Namun hal itu telah terjadi, dan kini gadis yang lincah ini melarikan diri dari orang tuanya.
Mengapa?
Untuk mencari Pujo!
Ia telah menjadi milik Pujo, dan ia rela menyerahkan jiwa raganya kepada Pujo.
Rela pula andaikata ia hanya menjadi isteri ke dua.
Akan tetapi, ke manakah ia harus mencari Pujo?
Inilah yang menyusahkan hatinya.
Memang semestinya ia tidak secara membabi buta pergi sendiri mencari Pujo, akan tetapi ia telah mendengar bahwa ia hendak dijodohkan dengan Jokowanengpati dan ia sama sekali tidak menghendaki hal ini terjadi!
Andaikata tidak terjadi peristiwa dengan Pujo, agaknya ia tidaklah akan berkukuh benar.
Namun, setelah tubuhnya menjadi milik Pujo, bagaimana ia bisa menjadi isteri orang lain?
Apalagi isteri Jokowanengpati yang mengetahui akan terjadinya peristiwa itu?
Tidak!
Ia tentu kelak hanya akan menjadi bahan hinaan dan cemoohan Jokowanengpati belaka.
Ia harus mencari Pujo, sekarang juga.
Tadinya Roro Luhito hendak mencari ke daerah pantai.
Akan tetapi gadis ini membatalkan niatnya ketika ia berpikir bahwa setelah melakukan perbuatan di Kadipaten Selopenangkep, agaknya tak mungkin Pujo akan kembali ke pesisir.
Tentu Pujo juga maklum bahwa adipati akan mengerahkan pasukannya mencarinya di daerah pantai di sekitar Sungapan atau di Guha Siluman.
Masa Pujo begitu bodoh akan menanti datangnya serbuan di sana?
Pasti orang muda itu sudah berlari ke jurusan lain!
Karena pendapat inilah maka Roro Luhito bukannya lari ke selatan melainkan sebaliknya, ia lari ke utara!
Selain menduga bahwa Pujo tidak berada di selatan, juga gadis ini ingin menghindari pengejaran ayahnya.
Roro Luhito biarpun seorang wanita, namun ia pernah mempelajari olah keprajuritan.
Tubuhnya yang ramping padat itu kuat sekali, gerak-geriknya tangkas cekatan.
Oleh karena inilah maka perjalanan naik turun gunung itu tidak amat menyukarkan benar padanya.
Beberapa hari kemudian ia telah menyeberangi Gunung Merbabu yang besar dan pada hari Selasa Kliwon menjelang senja, ia telah berada di lereng Gunung Telomoyo yang terletak di sebelah utara Gunung Merbabu.
Di dalam hatinya Roro Luhito mulai mengeluh.
Sudah banyak bukit kecil ia lalui, bahkan kini gunung yang amat besar berada di belakangnya, menghadapi puncak gunung lain yang kelihatan menyeramkan.
Akan tetapi belum kelihatan sedikitpun jejak Pujo!
Sering sudah ia bertanya-tanya orang di jalan, setiap dusun ia singgahi, namun tak seorangpun tahu akan Pujo.
Dan pada senja hari ini ia kemalaman di dalam hutan di lereng sebuah sebuah gunung yang puncaknya kelihatan serem menakutkan.
Ia harus terpaksa bermalam di dalam hutan yang sunyi dan besar, sedangkan malam nanti gelap tiada bulan.
"Sebelum gelap benar, aku harus mencari tempat mengaso yang enak,"
Pikirnya dan mulailah ia mencari-cari.
Hutan itu luas, penuh pohon-pohon besar yang sudah ribuan tahun umurnya.
Dari dalam hutan itu terdengar suara bermacam binatang buas.
Mendengar aum harimau, Roro Luhito bergidik.
Ia sebenarnya tidak takut berhadapan dengan harimau buas, dan ia berani melawannya dengan keris di tangan.
Pernah ketika di Kadipaten Selopenangkep diadakan keramaian mengurung harimau, ia tidak ketinggalan ikut pula menghadapi kebuasan harimau.
Akan tetapi di dalam hutan sebesar ini, apalagi di waktu malam gelap kalau ia sedang tertidur lalu muncul banyak harimau!
Siapa orangnya tidak gentar?
Ia menoleh ke atas.
Lebih baik aku mengaso di dalam pohon besar, pikirnya.
Sebuas-buasnya harimau, tidak mungkin dapat mencapaiku di atas pohon.
Akan tetapi pada saat itu, daun-daun besar bergoyang-goyang, terdengar suara cecowetan dan muncullah banyak lutung (monyet hitam) yang besar-besar!
Roro Luhito bergidik.
Lutung-lutung itu tidaklah sebuas harimau, akan tetapi kalau orang sedang berada di pohon lalu dikeroyok lutung, alangkah ngerinya.
Hendak melawanpun bagaimana caranya kalau sedang berada di pohon?
Roro Luhito segera mengambil batu-batu kecil dan menyambiti lutung-lutung itu, maksud hatinya hendak mengusir binatang-binatang itu agar pohon besar itu kosong.
Sambil menyambit ia membentak.
"Lutung-lutung busuk, pergi dari pohon! Pohon ini tempatku untuk malam ini, kalian tidak boleh mendekat!"
Belasan ekor lutung itu melarikan diri berloncatan sambil mengeluarkan bunyi ramai cecowetan seakan-akan mengumpat caci kepada gadis nakal yang mengganggu mereka.
Roro Luhito tertawa geli, kemudian dengan cepat ia mengenjot tubuhnya ke atas, menyambar cabang pohon terendah, lalu mengayun tubuhnya ke atas dan mulailah ia memanjat pohon besar itu.
Dipilihnya cabang yang berdempetan, membabati daun-daun dengan kerisnya, kemudian ia membuat tempat duduk yang cukup enak.
Lumayan, pikirnya sambil duduk di atas anyaman ranting di atas cabang.
Namun, setelah matahari terbenam dan ia tenggelam pula dalam lautan hitam yang gelap, datanglah gangguan-gangguan yang membuat Roro Luhito semalam suntuk tak dapat tidur dan mengalami kecemasan.
Hanya sinar bintang-bintang di angkasa yang menerangi kegelapan.
Sinar remang-remang namun cukup bagi Roro Luhito untuk melihat betapa tiga ekor harimau yang besar-besar berkeliaran di bawah pohon.
Tiga ekor macan loreng itu berhenti di bawah pohon, mendengus-dengus lalu mengaum seakan-akan kegirangan mencium bau manusia akan tetapi kecewa karena bau itu datangnya dari atas pohon.
Dari atas pohon, Roro Luhito melihat tiga pasang mata macan seperti lampu menyala bergerak-gerak, kuning kehijauan warnanya.
Kemudian ia melihat binatang-binatang buas itu berdiri dengan kedua kaki depan menggaruk-garuk batang pohon, agaknya hendak merobohkan pohon agar calon mangsa yang baunya membuat mereka mengilar itu ikut pula jatuh ke bawah.
Beberapa jam lamanya tiga ekor harimau itu mendekam di bawah pohon, seakan-akan hendak menanti turunnya orang yang berada di atasnya.
Kemudian mereka pergi dengan langkah malas dan legalah hati Roro Luhito.
Akan tetapi, kekhawatirannya membuat gadis itu tak dapat tidur, takut kalau-kalau ia akan terjatuh dari atas pohon, atau kalau-kalau dalam keadaan pulas ia diserang binatang buas.
Terutama sekali banyak lutung di sekitar pohon itu mendatangkan gaduh, membuat bising.
Beberapa kali ia membentak-bentak mengusir binatang itu, menyuruh mereka diam.
Namun sia-sia.
Sebentar mereka diam ketakutan, di lain saat mereka sudah cecowetan lagi.
Ketika sinar matahari mulai mengusir embun pagi, saking lelahnya Roro Luhito tertidur.
Entah berapa lama ia pulas, ia sendiri tidak tahu.
Akan tetapi mendadak ia kaget sekali dan tersentak bangun.
Lima ekor lutung jantan besar telah berada di sekelilingnya dan memperlihatkan taring.
Rofo Luhito terpekik dan meraba kerisnya.
Kerisnya tidak ada lagi.
Di tempat agak jauh ia melihat seekor lutung betina memegang-megang kerisnya!
Celaka, kerisnya telah dicuri lutung-lutung ini di waktu ia pulas.
Sambil berpegang kepada dahan pohon, Roro Luhito mengayun kakinya.
"Bukkk!"
Lutung jantan yang berada paling dekat dengannya terpental dan memekik kesakitan, namun tidak sampai terjatuh ke bawah karena tangannya sudah berhasil menyambar ranting pohon.
Lima ekor lutung itu kini meringis-ringis, menggeram-geram dengan sikap mengancam.
Melihat gelagat amat tidak baik dan berbahaya bagi dirinya yang sudah tidak memegang senjata, Roro Luhito bertindak cepat.
Ia meloncat ke bawah menangkap dahan pohon, lalu meloncat lagi, akhirnya ia tiba di atas tanah.
Gerakannya cepat dan tangkas sekali, dan andaikata ia tidak sedang dalam bahaya, belum tentu ia berani menuruni pohon secara itu.
Akan tetapi, begitu ia tiba di atas tanah, lima ekor lutung jantan itu telah berada di sekelilingnya dan mulailah binatang-binatang itu memekik-mekik dan menyerangnya.
Menyerang secara liar, ganas dan membabi-buta!
Roro Luhito meloncat mundur, tidak mau sampai terpegang oleh binatang-binatang liar itu, maka kaki tangannya lalu bergerak, memukul dan menendang.
Namun, betapa pun tangkasnya, Roro Luhito tidak dapat menandingi ketangkasan lima ekor lutung jantan yang besar.
Pukulan dan tendangannya semua meleset, tidak mengenai sasaran sedangkan lima ekor lutung itu kini serentak melompat dan menyerbu.
Ada yang hinggap di pundak dan menjambaki rambutnya, ada yang memegangi kaki, ada yang menarik dan merobek pakaian.
Roro Luhito hampir pingsan karena geli dan jijik, apalagi ketika jari-jari tangan yang panjang berbulu itu mengcengkerami tubuhnya di tengkuk, di dada, di pinggang, mulailah Roro Luhito, puteri adipati yang biasanya merasa gagah perkasa itu, berteriak-teriak minta tolong.
Rambutnya awut-awutan, pakaiannya robek-robek dan darah mulai mengucur dari luka-luka gigitan lutung-lutung jantan!
"Toloooonggggg...
tolongggg...!
Ah...
ini...
tolonggg...!"
Teriaknya,geli, jijik dan takut.
Mendadak terdengar suara gerengan hebat, disusul berkelebatnya bayangan putih menyambar-nyambar dan dalam sekejap mata saja lima ekor lutung itu sudah tidak mengeroyok Roro Luhito lagi, akan tetapi sudah menggeletak di atas tanah dan mati dengan leher berdarah!
Roro Luhito berdiri tertegun, terbelalak matanya memandang kepada seekor monyet putih sebesar anak-anak belasan tahun, monyet berbulu putih bermata merah taringnya tampak merah oleh darah lima ekor lutung yang tadi disambar dan digigit lehernya.
Melihat monyet putih itu datang mendekat, Roro Luhito sudah lemas dan menjerit lirih dan pingsan.
Tubuhnya tentu akan terbanting ke tanah kalau monyet putih itu tidak cepat menyambarnya, memanggulnya dan membawanya lari berloncatan dari pohon ke pohon.
Hebat tenaga monyet putih ini.
Memanggul tubuh Roro Luhito yang lebih besar dari padanya, ia kelihatan enak saja dan masih dapat berloncatan dengan tangkas dan ringan, kadang-kadang turun ke tanah dan berlari-lari mendekati puncak Gunung Telomoyo.
Di tengah jalan Roro Luhito siuman dari pingsannya.
Akan tetapi begitu membuka mata dan mendapat kenyataan bahwa ia dibawa berlari-lari meloncat-loncat dari batu ke batu di atas jurang yang curam sekali, tubuhnya dipanggul di atas pundak kera berbulu putih, ia mengeluh perlahan dan pingsan lagi!.
Matahari sudah naik tinggi ketika monyet putih itu tiba di puncak bukit yang tertutup halimun.
Di tempat sunyi sejuk itu terdapat sebuah pondok sederhana.
Ke dalam pondok inilah monyet putih masuk, terus menuju ke ruang dalam.
Ruangan ini cukup luas, kosong tidak ada perabot rumahnya.
Di sudut kiri terdapat Sebuah arca sebesar satu setengah manusia, arca Sang Kapiworo Hanoman, tokoh besar berujud monyet berbulu putih yang menjadi senopati jaman Ramayana.
Di depan arca Hanoman itu duduklah seorang kakek di atas batu yang bentuknya bundar dan halus.
Kakek ini mukanya buruk bentuknya, seperti muka monyet.
Hanya bedanya mukanya tidak berbulu seperti muka monyet.
Rambutnya sudah putih semua, pakaian yang membungkus tubuhnya yang kurus juga serba putih.
Kakek ini adalah seorang pertapa, berjuluk Resi Telomoyo, seorang yang menjadi pemuja Sang Hanoman!
Dia seorang pertapa yang sakti mandraguna, akan tetapi mungkin sekali karena ia pemuja monyet sakti Hanoman, gerak-geriknya juga mirip monyet!.
Biarpun sedang bersamadhi, suara "Nguk-nguk"
Si monyet putih menyadarkan Resi Telomoyo.
Ia membuka matanya, alisnya yang putih bergerak-gerak dan begitu pandang matanya bertemu dengan tubuh Roro Luhito yang menggeletak terlentang di atas lantai, ia berseru keras dan tubuhnya mencelat ke atas, berjungkir balik dan kini ia duduk berjongkok di atas batu yang tadi ia duduki!
"Heh, Wanoroseto (kera putih)!
Apa yang kau perbuat ini??"
Kakek itu marah sekali, tubuhnya meloncat-loncat di atas batu, kadang-kadang ia mere-mere (meringkik-ringkik) seperti monyet marah bibirnya bergerak-gerak memperlihatkan gigi yang ompong!.
Si monyet putih menjadi ketakutan, lalu mengeluarkan suara ngak-nguk-ngak-nguk dan membuat gerakan seperti menari-nari meniru gerakan lutung-lutung yang mengeroyok Roro Luhito dan menceritakan dengan suara nguk-nguk disertai gerak-gerik lucu.
Kakek itu menggaruk-garuk kepalanya dengan gerakan monyet.
"Ah, lutung-lutung hitam kurang ajar! Akan tetapi kau lebih kurang ajar lagi, Wanoroseto, berani membawa tubuh seorang wanita muda yang begini ayu ke dalam pondokku. Hayo bawa dia keluar! Tak bisa aku menemuinya di dalam pondok!"
Wanoroseto si monyet putih itu sudah hafal akan perintah Resi Telomoyo, cepat ia membungkuk dan mengangkat tubuh Roro Luhito dibawa keluar pondok, lalu meletakkannya di atas tanah, di bawah sebatang pohon jeruk.
Kakek itupun mengikuti dari belakang, memandang tubuh Roro Luhito seperti orang takut-takut, kemudian sekali tubuhnya bergerak, tubuh itu sudah melompat ke atas pohon, berjongkok di atas cabang pohon terendah.
Si kera putih juga memanjat pohon dan duduk pula di belakang sang pertapa.
Tanpa bergerak dan tanpa mengeluarkan suara kakek dan kera ini menanti, pandang mata mereka menatap tubuh gadis yang rebah miring di atas tanah.
Tak lama kemudian Roro Luhito sadar dari pingsannya.
Ia membuka matanya dan mengeluh perlahan karena tubuhnya terasa sakit-sakit dan perih bekas gigitan lutung-lutung hitam.
Dengan tubuh lemah ia bangun duduk, memandang ke sekeliling dengan terheran-heran.
Tak jauh dari situ ia melihat sebuah pondok kayu sederhana.
Kemudian ia teringat.
Ia dibawa lari seekor kera putih besar.
Matanya menjadi terbelalak ketakutan dan kembali ia memandang ke kanan kiri, mencari-cari dan siap melawan bahaya.
"Nguk, nguk, kerrr...!"
Roro Luhito terkejut, cepat ia berdongak memandang ke atas pohon.
Hampir ia menjerit kaget ketika melihat kera putih yang tadi memanggulnya ternyata berada di atas cabang pohon, tepat di atasnya dan seorang kakek aneh, lebih mirip seekor kera putih besar memakai pakaian seperti pendeta, tengah sibuk menaruh telunjuk di depan mulut menyuruh diam si kera putih.
Ketika kakek itu menoleh ke arahnya, baru Roro Luhito tidak ragu lagi bahwa kakek yang me-thangkrong (jongkok di dahan) itu adalah seorang manusia, tentu seorang pertapa, pikirnya.
Serta-merta ia menjatuhkan diri berlutut dan menyembah sambil berkata.
"Eyang wiku (pertapa) yang budiman, mohon eyang sudi menolong saya!"
Teringat akan penderitaannya, Roro Luhito menangis.
Melihat Roro Luhito menangis sedih, monyet putih itu tiba-tiba ikut menangis, sedangkan kakek itu melompat turun dengan gerakan ringan sekali.
Dua kali tangannya mendekati pundak Roro Luhito, akan tetapi ditariknya kembali seakan-akan takut tangannya terbakar atau menjadi kotor.
"Anak baik, kau bangkitlah. Tentu aku suka menolongmu."
Suara itu parau akan tetapi diucapkan dengan halus sehingga Roro Luhito hilang takutnya, lalu bangkit dengan hormat.
"Eyang wiku, nasibku amat buruk, hampir aku mati. Agaknya Dewata menolongku dengan kehadiran, eyang..."
"Sudah, jangan menangis. Maafkan aku yang sudah terlalu lama tidak bertemu manusia, apalagi seorang puteri cantik jelita seperti engkau, maka aku menjadi bingung, gugup dan curiga. Bocah manis, siapakah yang mengganggumu? Ceritakan kepada Resi Telomoyo! Ahhh, si jahat itu tentu akan kucekik lehernya!"
Diam-diam Roro Luhito terkejut dan terheran.
Sikap dan gerak-gerik kakek ini seperti seorang pertapa, akan tetapi ucapannya mengapa begini ganas?
Namun ia dapat menduga bahwa kakek ini tentulah seorang sakti, maka ia segera bercerita.
"Eyang resi, ketika saya sedang berjalan di hutan, saya diserang lima ekor lutung hitam. Kemudian muncul kera putih itu..."
Ia menuding ke arah kera putih yang masih duduk di atas cabang pohon,"dia...dia itu memanggulku dan membawaku lari! Harap eyang suka menghukum dia!"
"Si Wanoroseto? Ha-ha-ha-ha, lucunya! kau dengar ini, Wanoroseto? kau dituduh jahat, disangka menculiknya. Haha-ha!"
Kakek itu tiba-tiba meloncat ke atas, berjungkir balik kembali dan tahu-tahu sudah berdiri lagi di depan Roro Luhito, masih tertawa terpingkal-pingkal.
Celaka dua belas!
Roro Luhito menjadi pucat wajahnya.
Dasar nasibnya sialan!
Bebas dari lutung-lutung hitam terjatuh ke tangan kera putih, kini bebas dari kera putih terjatuh ke tangan seorang kakek yang miring otaknya!
Akan tetapi dasar Roro Luhito seorang gadis yang lincah dan pemberani.
Memang ia jijik dan geli menghadapi kera-kera liar, akan tetapi menghadapi seorang manusia, ia tidak takut.
Tegurnya marah.
"Eyang resi, mengapa eyang malah mentertawakan aku?"
"Ha-ha-ha, ini namanya air susu dibalas air tuba, yang menolong dibalas pentung! Cah ayu (anak cantik), kalau tidak ada Wanoroseto ini, agaknya kau sudah mati di tangan lima ekor lutung hitam! Dia menolongmu dan membawamu ke sini menghadapku, bagaimana kau minta aku menghukum Wanoroseto?"
Roro Luhito terkejut dan memandang ke arah kera putih yang msih duduk di atas cabang pohon.
"Ahhhh..., kalau begitu aku telah salah sangka...!"
Seru Roro Luhito penuh penyesalan."Tadinya kusangka dia seekor kera liar yang ganas."
"Ha-ha, Wanoroseto adalah seekor kera putih, cerdas tidak kalah oleh manusia, bahkan hatinya jauh lebih baik daripada manusia. Dia peliharaanku yang amat setia. Bocah ayu, kau siapakah dan mengapa kau seorang gadis muda sampai berada di dalam hutan liar seorang diri?"
Roro Luhito menangis lagi, menyusuti air matanya dengan ujung kemben.
Kemudian ia menuturkan riwayatnya dengan terus terang karena ia yakin berhadapan dengan seorang pertapa sakti yang dapat menolongnya.
"Demikianlah, eyang..."
Ia menutup penuturannya,"Karena saya merasa bahwa diri saya adalah milik Pujo, maka saya bermaksud mencarinya dan akan bersuwito (menghamba) kepada Pujo.
Saya rela menjadi isteri ke dua, daripada hidup di kadipaten ayah dan menjadi bahan percakapan orang."
Berkerut-kerut dahi Resi Telomoyo, keningnya bergerak-gerak. Ia membanting-banting kakinya dan tiba-tiba bertanya dengan suara membentak marah.
"Dia sudah beristeri??"
Roro Luhito terkejut.
"Siapa...eyang...?"
Tanyanya gagap.
"Si Pujo itu! Dia sudah beristeri dan masih berani mengganggumu?"
"Sudah, eyang. Kakangmas Pujo adalah murid yang diambil mantu oleh Resi Bhargowo..."
"Resi Bhargowo? Di Sungapan Kali Progo??"
"Betul, eyang resi."
"Jagad Dewa Batara! Tua bangka itu membiarkan saja anak mantunya melakukan perbuatan sewenang-wenang? Jangan kau khawatir, Luhito, biarlah kelak aku yang akan menegur Resi Bhargowo atas perbuatan anak mantunya. Dia harus bertanggung jawab!"
"Terima kasih atas pembelaan eyang resi, akan tetapi eyang, yang saya butuhkan adalah kakangmas Pujo. Saya tidak ingin mencari Resi Bhargowo, melainkan hendak bertemu dengan kakangmas Pujo. Eyang resi, tolonglah saya agar saya dapat bertemu dan bersatu dengan kakangmas Pujo..."
Kini Resi Telomoyo menggaruk-garuk kepalanya dengan kedua tangan dan melihat ini, Wanoro seto si kera putih juga sibuk sekali menggaruki kepalanya.
"Roro Luhito, cah ayu, urusan orang muda aku tidak berani mencampuri. Kalau berurusan dengan si tua bangka Resi Bhargowo, biarlah aku yang akan menegurnya dan kalau dia tidak mau mengurus kejahatan anak mantunya, aku akan menantangnya bertanding selama seratus hari! Akan tetapi untuk mencari Pujo, hal itu adalah urusan dan kewajibanmu. Jadi kau sendirilah yang harus pergi mencarinya. Cuma saja dalam keadaanmu selemah sekarang ini, aku tidak membiarkan kau pergi mencari Pujo karena kau tentu akan mengalami hal-hal yang akan mencelakaimu. kau harus tinggal dulu disini mempelajari ilmu, setelah cukup kuat, baru kau boleh turun gunung mencari Pujo."
Hati Roro Luhito girang mendengar ia akan diajar ilmu, akan tetapi juga kecewa karena ia ingin segera bertemu dengan pria pujaan hatinya.
"Eyang resi, berapa lamakah saya harus belajar ilmu?"
Resi Telomoyo menjelajahi tubuh gadis itu penuh perhatian, lalu berkata.
"Hemm, tergantung kepada bakat dan ketekunanmu. Mungkin sampai lima tahun, mungkin juga kurang..."
"Lima tahun?"
Roro Luhito bertanya kaget. Sang pertapa mengelus jenggotnya yang putih.
"Begini saja. Asal engkau sudah mampu mengalahkan Wanoroseto dalam latihan, kau boleh turun gunung."
Lega hati Roro Luhito.
Kera putih itu, betapapun juga hanya seekor binatang, pikirnya.
Betapapun besarnya masih jauh lebih kecil daripada manusia.
Berapa hebat sih tenaga dan kepandaian seekor kera?
Paling-paling hanya cekatan dan gesit, akan tetapi ia sudah pernah belajar ilmu silat, kalau kini digembleng lagi oleh Resi Telomoyo yang sakti, kiranya dalam beberapa bulan saja ia akan mampu menandingi Wanoroseto!.
Hal ini hanya sangkaan dan harapan Roro Luhito saja maka ia cepat-cepat menyatakan setuju dan mengangkat resi itu menjadi gurunya.
Akan tetapi alangkah kagetnya ketika dalam latihan pertama setelah ia tiga bulan mempelajari ilmu, belum juga lima jurus ia sudah dibikin roboh oleh si kera putih yang kemudian mentertawakannya sambil bertepuk-tepuk tangan!
Roro Luhito mendongkol bukan main.
Timbul panas hatinya dan ia belajar makin tekun.
Bahkan kera putih itu menjadi sahabat baiknya, yang merupakah hiburan dalam kehidupan sunyi itu.
Selain sahabat yang pandai menghibur, ternyata Wanoroseto juga merupakan teman berlatih yang hebat.
Biarpun ia maklum bahwa akan makan waktu lama sebelum ia dapat menandingi Wanoroseto, namun diam-diam ia girang sekali karena kini ia merasa makin yakin akan kepandaian gurunya.
Melatih seekor kera saja dapat menjadi kera sakti yang kepandaiannya tinggi, apalagi melatih manusia!
Gurunya menurunkan dua macam ilmu silat tangan kosong yang disebut Sosro Satwo (Seribu Binatang) dan Kapi Dibyo (Kera Sakti) yang juga meliputi ilmu gerak dan loncat seperti seekor kera, tangkas, cepat dan ringan.
Ilmu silat tangan kosong ini dapat dimainkan dengan keris karena setiap pukulan dapat diubah menjadi tikaman keris.
Adapun ilmu silat senjata ia diajar menggunakan sebatang tongkat yang dapat diganti dengan ranting pohon, pedang, tombak atau apa saja yang agak panjang.
Kalau perlu, gagang sapu dari bambu juga dapat menggantikan kedudukan tongkat yang dapat dimainkan dengan ampuh!
Akan tetapi, untuk mempelajari ini semua dan dapat melatih dengan sempurna, membutuhkan waktu cukup lama dan Roro Luhito harus berlatih dengan tekun dan sabar.
Demikianlah, mulai hari itu gadis puteri adipati ini belajar ilmu dari Resi Telomoyo yang sudah bertahun-tahun menyembunyikan diri dan puncak Gunung Telomoyo seakan-akan menjadi terang dan gembira sejak hadirnya Roro Luhito di situ.
Dasar gadis ini wataknya Jenaka lincah, maka Wanoroseto si kera putih sering kali memekik-mekik gembira di kala bermain-main dengan Roro Luhito.
Bahkan kini pertapa itu seringkali terdengar suaranya terkekeh-kekeh dan wataknya menjadi periang.
"Heh-heh-heh-heh, huh-huh-huh, seorang tua Bangka macam aku ini, mengapa masih dibutuhkan oleh Adipati Joyowiseso, raden? Untuk menghadapi Kerajaan Medang, sepantasnya dibutuhkan orang-orang muda seperti angger, raden. Tua bangka seperti aku ini untuk apa? Huh-huh-huh!"
Yang bicara dengan lagak lagu seperti Bhagawan Durno di zaman Mahabharata itu adalah seorang pertapa tua renta, tubuhnya tinggi kurus agak bongkok, tangannya membawa seuntai tasbih panjang berwarna hitam, pakaiannya seperti seorang cantrik (murid pendeta).
Inilah Cekel Aksomolo, seorang pertapa di lereng Gunung Wilis, seorang sakti mandraguna yang puluhan tahun lamanya tidak pernah meninggalkan hutan Werdo di lereng itu.
Dia bicara dengan Jokowanengpati, dan ketika ia menyebut Kerajaan Medang, ia maksudkan Kerajaan Mataram.
Memang sesungguhnya, sejak permulaan abad ke sepuluh (kurang lebih tahun 928), Kerajaan Mataram dikenal pula dengan nama baru, yaitu Kerajaan Medangkamulan,atau Medang yang dimulai dengan Rajanya yang bernama Empu Sindok (929-947).
"Eyang Cekel terlalu merendahkan diri,"
Kata Jokowanengpati memuji."Siapakah yang tidak tahu bahwa sang pertapa Cekel Aksomolo amat sakti mandraguna, manusia setengah dewa yang sukar dicari tandingnya di seluruh jagat raya ini?
Kita bersama telah mengalami penghinaan dari Raja Airiangga, anak Bali itu.
Akan tetapi, karena Raja Mataram itu didukung oleh banyak orang pandai, bagaimana kita akan mampu menghadapinya untuk membalas dendam kalau kita tidak bersatu-padu?
Oleh karena cita-cita yang murni inilah, eyang!.
Maka paman Adipati Joyowiseso mengutus saya menghadap eyang Cekel Aksomolo, mohon bantuan eyang dalam menghadapi orang-orang sakti yang diperhamba oleh Mataram."
"Huh-huh-huh, lucu... lucu...! Bukankah engkau ini murid Bharodo, Raden Jokowanengpati? Dan Empu Bharodo adalah penasehat si putera Bali Raja Mataram! Heh-heh, orang muda, harap kau jangan mempermainkan aku si tua bangka!"
"Ah, tidak... tidak sama sekali tidak, eyang! Bukan baru sekarang eyang mengenal saya, apakah pernah saya membohongi eyang? Mana saya berani? Memang betul bahwa guru saya Empu Bharodo mendukung Mataram, dan karena perbedaan faham inilah maka saya diusir pergi oleh bapa empu. Bapa Empu Bharodo terlalu lemah semangatnya, karena itu pula maka saya bersekutu dengan Adipati Joyowiseso dan mengumpulkan sahabat-sahabat sakti dari empat penjuru untuk menghadapi Mataram! Banyak tokoh sakti sudah menyiapkan diri membantu, di antaranya Ki Warok Gendroyono dari Ponorogo, Ki Krendoyakso dari Begelen. Ni Durgogini dewi sakti dari Girilimut, dan Ni Nogogini dewi Laut Selatan!"
"Wah-wah, begitu banyak tokoh sakti sudah membantu, mengapa kau masih mencari aku, raden?"
"Bukan begitu, eyang. Betapapun sakti mereka, tanpa bantuan eyang saya rasa akan sukar mengalahkan para senopati dan tokoh Mataram. Apalagi dalam menghadapi Resi Bhargowo, saya benar-benar mengharapkan bantuan eyang. Bahkan kedatangan saya menghadap eyang hari ini adalah untuk mohon bantuan eyang menghadapi Resi Bhargowo untuk merampas kembali cucu paman Adipati Joyowiseso dan seorang puterinya yang telah diculik Resi Bhargowo dan mantunya."
"Uh-uh-uh! Resi Bhargowo sampai berani menculik cucu dan puteri Adipati Selopenangkep?"
"Betul, eyang. Mantunya datang mengamuk di kadipaten, membunuh banyak pengawal dan hampir saja paman adipati juga terbunuh. Untung saya kebetulan berada di kadipaten dan saya berhasil menolong paman adipati, akan tetapi karena Resi Bhargowo membantu mantunya, maka mereka berhasil menculik cucu dan puteri paman adipati."
Akhirnya setelah diberi janji-janji muluk oleh Jokowanengpati, bahwa kelak apabila mereka berhasil menjatuhkan Sang Prabu Airlangga, tentu kakek ini akan diberi hadiah kedudukan tinggi di Kotaraja, Cekel Aksomolo menjadi tertarik dan berangkatlah mereka keluar dari hutan Werdo di lereng Gunung Wilis, melakukan perjalanan ke barat untuk mencari Resi Bhargowo dan Pujo!.
Mereka berdua mampir di Kadipaten Selopenangkep dan tentu saja Adipati Joyowiseso menyambut kedatangan Cekel Aksomolo dengan penuh penghormatan, menjamunya dengan hidangan-hidangan istimewa, bahkan pada malam harinya tamu kakek yang bungkuk dan aneh ini disuguhi tari-tarian yang ditarikan wanita-wanita cantik jelita dan muda genit!.
Sambil minum tuwak (minuman keras) Cekel Aksomolo tertawa-tawa dilayani Jokowanengpati dan Adipati Joyowiseso sendiri.
Untuk menyenangkan tamu dan tuan rumah Jokowanengpati menceritakan tentang kehetatan ilmu kesaktian pertapa Gunung Wilis itu.
"Paman adipati, biarpun kelihatannya eyang Cekel Aksomolo sudah beryuswa (berusia) lanjut, namun kekuatannya masih luar biasa dan gerakannya cepat sekali. Kalau tidak menyaksikan sendiri tentu tidak percaya. Saya sendiri ketika mengajak beliau ini ke sini dan melakukan perjalanan bersama, harus mengerahkan seluruh ilmu berlari cepat agar tidak ketinggalan, padahal Ilmu Bayu Sakti yang saya pergunakan itu biasanya tidak pernah kalah oleh ilmu lain golongan!"
"Heh-heh-uh-uh-uh, bisa saja Raden Jokowanengpati memuji!"
Si kakek berkata sambil tertawa sedangkan di dalam hatinya terasa bangga sekali.
"Mana aku yang tua mampu menandingi Bayu Sakti? Harap kanjeng adipati jangan percaya akan obrolan seorang muda!"
Adipati Joyowiseso tertawa.
"Biarpun anakmas Jokowanengpati tidak menceritakannya, sayapun sudah mendengar tentang kehebatan ilmu bapa cekel yang sakti mandraguna. Bukannya saya kurang percaya, akan tetapi saya mohon sudilah bapa memberi sedikit petunjuk untuk lebih menggembirakan pesta kecil ini."
"Uh-huh-huh, saya tua bangka ini bisa apa sih? Hanya kulihat tiga orang penari yang denok ayu itu terlalu lambat tariannya. Bagaimana pendapat paduka kalau saya membuat mereka menari lebih cepat lagi?"
Adipati Joyowiseso merasa heran, akan tetapi ia mengangguk tanda menyetujui.
Sambil tertawa-tawa kakek pertapa Gunung Wilis itu kemudian menggerak-gerakkan tasbih hitam yang tak pernah terlepas dari tangannya.
Terdengarlah bunyi tak-tik-tak-tik yang aneh, tidak keras namun nyatanya dapat menyusup di antara suara gamelan, bahkan makin lama makin menguasai suara dan menelan semua suara gamelan.
Anehnya, para penabuh gamelan itu tidak merasa betapa irama lagu kini makin lama makin cepat, terseret oleh arus yang keluar dari suara berketiknya biji-biji tasbih, dan beberapa menit kemudian suara gamelan menjadi cepat menggila, dan hebatnya, para penari kinipun menari cepat sekali seperti kesetanan!
Tentu saja pertunjukan ini menjadi aneh sekali karena para penari itu menari seperti orang kesurupan, membuat gerakan-gerakan yang menggairahkan, membusung-busung dada, memutar-mutar pinggul, menggeleng-geleng kepala, matanya mengeriing ke kanan kiri dan mulut yang tersenyum-senyum itu kini mulai tertawa-tawa!.
Mula-mula para tamu, termasuk Adipati Joyowiseso bergelak dan terpingkal-pingkal, tetapi akhirnya mereka memandang dengan khawatir karena di antara para penabuh gamelan ada yang roboh pingsan, sedangkan para penari juga sudah mulai pucat, keringat mereka membuat wajah dan leher sampai ke pundak berkilau, langkah kaki mereka mulai terhuyung-huyung!.
"Bapa Cekel, saya rasa cukuplah, harap bapa menaruh kasihan kepada mereka."
Mendengar permintaan adipati ini, Cekel Aksomolo menghentikan gerakan tasbihnya dan otomatis suara gamelan terhenti karena sudah tidak karuan lagi iramanya.
Tiga orang penari itupun dengan tubuh lemas menjatuhkan diri di atas lantai, duduk dan menghapus keringat dengan selendang mereka.
Seorang di antara mereka, yang paling muda dan paling cantik, menoleh ke arah Cekel Aksomolo, merengut dan melerok, agaknya tahu bahwa yang main-main tadi adalah kakek tua yang aneh ini.
Cekel Aksomolo tertawa.
"Huh-huh, penari-penarimu denok-denok dan ayu, kanjeng adipati, terutama sekali yang berselendang hijau itu. Harap paduka suka menyuruh dia berdiri, saya ingin sekali melihat bentuk tubuhnya... heh-heh-heh."
Adipati Joyowiseso tersenyum. Ia sudah mendengar dari Jokowanengpati bahwa kakek sakti ini mempunyai semacam penyakit, yaitu suka menggodai wanita-wanita muda! Maka ia lalu berkata perlahan.
"Dia memang paling muda dan pandai, bapa, dan selain menari dan bertembang, iapun pandai sekali memijati urat mengusir pegal lelah."
Dengan tangannya sang adipati memberi isyarat.
Penari muda berselendang hijau itu segera bangkit berdiri, tunduk akan perintah junjungannya.
Adipati Joyowiseso lalu memberi isyarat supaya gamelan ditabuh kembali dan mengisyaratkan si selendang hijau untuk menari seorang diri.
Agaknya penari muda ini dapat menduga pula bahwa kakek itulah agaknya yang minta kepada sang adipati untuk memerintahnya menari lagi, maka sekali lagi ia melempar kerling ke arah Cekel Aksomolo.
Dua orang penari lain mengundurkan diri duduk dekat para penabuh gamelan.
Agaknya memang penari muda yang banyak disuka ini biasanya dimanjakan orang, maka kali ini ia menumpahkan kemarahan hatinya kepada Cekel Aksomolo.
Ketika ia mulai menembang sambil menari mengikuti irama gamelan, ia sengaja memasukkan kata-kata sindiran kepada Cekel Aksomolo yang menimbulkan kemendongkolan hatinya.
"Kakek tuwek untune entek clelak-clelek tur elek, ora melek kok isih arep golek-golek! (Kakek tua giginya habis, menjemukan dan buruk, tak membuka mata masih ingin mencari-cari!)"
"Uuuh-huh-huh, sialan awakku!"
Cekel Aksomolo mengeluh sambil terkekeh."Di cuci habis-habisan oleh si denok ayu!"
"Akan kuhukum dia, bapa...!"
Kata Adipati Joyowiseso, mukanya menjadi merah karena iapun dapat menangkap sindiran yang ditujukan si penari berselendang hijau kepada Cekel Aksomolo.
"Aahhh, jangan, kanjeng adipati. Dia benar! Biarlah nanti saja sehabis menari dia memijat punggungku yang lelah. Uhhuh-huh, sekarang ingin kulihat bentuk tubuhnya..."
Setelah berkata demikian,Cekel Aksomolo menggerakkan tangan kirinya seperti mendorong, kemudian memutarkan tangan itu ke depan.
Terjadilah keanehan.
Dari tangan itu menyambar hawa berciutan ke arah si penari dan tiba-tiba pakaian si penari berselendang hijau itu terlepas semua!.
Sejenak ia berdiri bengong dalam keadaan telanjang bulat, kemudian ia menjerit-jerit dan dengan gugup menyambar pakaiannya yang sudah terlepas di bawahnya, menarik pakaian itu sedapatnya menutupi tubuhnya lalu ia lari sambil menangis kesamping pendopo yang gelap!.
Sejenak orang terkesima, akan tetapi lalu terdengar suara ketawa meledak terkekeh-kekeh.
Adipati Joyowiseso memberi perintah agar gamelan dilanjutkan, kini dua orang penari itu yang menari dan menembang bergantian.
Jokowanengpati memberi keterangan kepada Adipati Joyowiseso yang mendengarkan penuh kagum.
"Paman, alanglah hebatnya kepandaian eyang Cekel."
"Bukankah itu ilmu sihir?"
Tanya sang adipati.
"Sama sekali bukan, paman. Eyang Cekel Aksomolo terkenal karena senjatanya yang ampuh dan yang juga menjadi nama julukannya, yaitu Aksomolo Ireng (Tasbih Hitam). Baru suaranya ketika digerakkan saja mampu menimbulkan suasana mujijat, apalagi kalau dipergunakan untuk bertanding! Pula, yang menelanjangi penari kewek (genit) tadi bukanlah ilmu sihir, melainkan ilmu pukulan jarak jauh yang sudah mencapai puncak kesempurnaan!"
Makin kagum dan hormatlah Adipati Joyowiseso terhadap tamu agungnya.
Malam itu si penari remaja yang denok ayu, penari berselendang hijau itu harus menebus kelancangannya sore tadi dengan penyerahan dirinya kepada si tua bangka!
Tebusan yang amat hebat mengerikan baginya, yang membuat ia pada keesokan harinya seperti orang kehilangan semangat, dan membuat ia pada malam-malam berikutnya sering girap-girap (menjerit-jerit dalam tidur)!.
Setelah bermalam selama sepekan di Kadipaten Selopenangkep, berangkatlah Jokowanengpati bersama Cekel Aksomolo menuju Sungapan.
Untuk memperkuat tugas mereka sebagai utusan kadipaten, sepasukan perajurit kadipaten terdiri dari dua losin orang mengawal mereka.
Kali ini Cekel Aksomolo dan Jokowanengpati menunggang kuda, juga pasukan perajurit itu semua berkuda.
Ketika pondok Bayuwismo yang terletak di depat pantai dan Sungapan Kali Progo sudah tampak dari jauh, Cekel Aksomolo menyuruh dua losin orang pengawal itu berhenti.
"Kalian tak boleh masuk rumah itu, bahkan jangan terlalu dekat. Berhentilah di sini, berjaga-jaga saja menanti perintah."
Kemudian la mengeluarkan dua bungkusan kain kecil dan memberikannya kepada Jokowanengpati.
"Raden, kalau sewaktu-waktu aku terpaksa menggunakan suara tasbih, akan kuberi tanda dan kau harus memasukkan benda-benda ini menutupi kedua lubang telingamu."
Jokowanengpati menerima dan mengangguk, maklum akan keampuhan tasbih itu.
Mereka berdua lalu melangkah mendekati pondok yang bersunyi sendiri tanpa tetangga di tepi pantai.
Berdebar juga hati Jokowanengpati.
yang sedang ia datangi ini adalah pondok Resi Bhargowo, paman gurunya yang ia ketahui memiliki kesaktian yang sukar dicari tandingnya.
Untuk menghadapi Pujo ia tidak takut.
Dan untuk menghadapi Resi Bhargowo, kiranya Cekel Aksomolo merupakan lawan setingkat.
Akan tetapi ia gentar kalau teringat kepada Kartikosari.
Benar bahwa Pujo dahulu menyatakan bahwa Kartikosari seakan-akan sudah mati, akan tetapi betulkah itu?
Menghadapi Pujo ia tidak takut, juga tentang ilmu kepandaian Kartikosari, iapun tidak takut.
yang membuat ia gelisah adalah jika Kartikosari berada di situ, terdapat bahaya akan terbongkar rahasia perbuatannya di malam badai dalam Guha Siluman itu.
Memang, Kartikosari tidak akan menduganya, namun apabila wanita itu melihat buntungnya kelingking kiri tangannya, tentu akan menimbulkan dugaan dan curiga.
Betapapun juga, hati Jokowanengpati menjadi besar lagi kalau ia teringat akan kedigdayaan Cekel Aksomolo dan mereka melangkah terus mendekati pondok sunyi.
Selain itu, Pujo sendiri tampak jelas sikapnya bahwa ia tidak tahu akan rahasia itu.
Andaikata Kartikosari berada dengan suaminya, tentu wanita itu akan menceritakan tentang buntungnya kelingking tangan dan tentu Pujo sudah akan menyangka dia, atau setidaknya akan bercuriga.
Peristiwa itu sudah lewat setahun lebih, dan ia tidak perlu takut-takut lagi, karena andaikata diketahui sekalipun, tetap ia akan menjadi lawan mereka.
Sekutunya memiliki banyak orang sakti, takut apa?
Telah kita ketahui bahwa setahun kurang semenjak terjadinya badai Laut Selatan yang mengamuk hebat dan menghancurkan pondok, Resi Bhargowo meninggalkan Bayuwismo di Sungapan, meninggalkan pondok yang sudah dibangun lagi itu kepada para cantriknya, bahkan lalu meninggalkan nama lama, mengganti julukan dengan Bhagawan Rukmoseto dan melakukan perjalanan lelana brata untuk menghibur batinnya yang terguncang hebat setelah menduga bahwa puteri dan mantunya tentu tewas ditelan badai.
Pertapa ini meninggalkan pondoknya Bayuwismo di Sungapan dan menyerahkan pondok itu di bawah pengawasan dan dalam pemeliharaan enam orang cantriknya yang dipimpin oleh cantrik Wisudo.
Karena pondok itu berdiri si tepi pantai terbuka, maka kedatangan Cekel Aksomolo yang langkahnya terseok-seok dan terbongkok-bongkok bersama Jokowanengpati, segera terlihat oleh enam orang cantrik.
Para cantrik itu sedang sibuk, ada yang memperbaiki perahu bocor, ada yang menambal jala, karena di daerah yang tanahnya tidak subur seperti pantai selatan itu, mereka bekerja sebagai nelayan, mencari ikan di sepanjang pantai dan muara Sungai Progo.
Kini mereka meninggalkan pekerjaan masing-masing, berkumpul dan menyambut kedatangan dua orang itu dengan sikap tenang juga heran.
Apalagi setelah kedua pendatang itu dekat, cantrik paling tua yang pernah bertemu dengan Empu Bharodo, segera mengenal Jokowanengpati.
Akan tetapi tak seorangpun di antara mereka mengenal kakek tua tinggi kurus dan bongkok yang membawa seuntai tasbih hitam itu.
Cantrik Wisudo memimpin lima orang saudaranya menyambut di luar pondok, cepat memberi hormat dan berkata.
"Selamat datang di Bayuwismo, Raden Jokowanengpati! Selamat datang saudara tua cantrik, apakah saudara ini seorang cantrik dari Lembah Konta?"
Wisudo menyangka bahwa cantrik tua yang datang bersama Jokowanengpati itu seorang cantrik pengikut Empu Bharodo yang bertapa di lembah Sungai Konta di lereng Gunung Anjasmoro.
"Hoh-hoh-hoh, bukan... bukan!"
Jawab Cekel Aksomolo terkekeh-kekeh."Aku adalah cantrik yang sudah berdikari!
Bukan cantrik yang menghamba kepada seorang pendeta, melainkan bekas cantrik yang kini menjadi pertapa.
Aku Cekel Aksomolo, pertapa di hutan Werdo.
akulah yang mbaurekso (dewa penjaga) Gunung Wilis, huh-huh-huh!"
Cantrik Wisudo dan saudara-saudaranya merasa tak senang mendengar dan melihat sikap pembicaraan Cekel Aksomolo yang jelas membayangkan kesombongan.
Akan tetapi mereka juga merasa geli dalam hati melihat persamaan kakek itu dengan tokoh cerita Maha Bharata, yaitu tokoh Begawan Durno!
Karena maklum bahwa dia menghadapi seorang kakek yang sombong, Wisudo lalu tidak mau mengacuhkan lagi dan berpaling kepada Jokowanengpati yang sedang mencari-cari dengan pandang matanya ke arah pondok dan sekitarnya.
"Raden Jokowanengpati, ada keperluan apakah raden datang ke tempat sunyi ini? Apakah diutus oleh paman Empu Bharodo?"
"Eh, kakang cantrik Wisudo!"
Pemuda ini berkata tak senang.
"Kami sudah datang ke sini, mengapa engkau tidak lekas-lekas melaporkan kedatangan kami kepada paman Resi Bhargowo? Mengapa engkau lancang mengadakan penyambutan sendiri?"
"Huh-huh-huh, benar... benar..., segala macam cantrik cilik mau tahu saja, heh-heh!"
Panas hati Wisudo dan saudara-saudaranya mendengar ucapan Cekel Aksomolo itu, akan tetapi karena kakek itu datang bersama Jokowanengpati, mereka menahan sabar. Wisudo menjawab.
"Ketahuilah, raden. Baru beberapa hari ini sang resi telah pergi meninggalkan pondok, karena sang resi tidak ada maka saya berani mewakilinya menyambut tamu yang datang."
Jokowanengpati kecewa.
"Paman Resi Bhargowo bepergian? Ke mana...??"
"Raden, sebagai murid terkasih paman Empu Bharodo, bagaimana raden masih mengajukan pertanyaan ini? Kemanakah perginya seorang pertapa? Kemana lagi kalau tidak melakukan lelana brata, melaksanakan tugas suci memberi penerangan bagi yang gelap, mencarikan tongkat bagi yang pincang dan mengulurkan tangan menolong mereka yang memerlukan pertolongan."
"Cukup! Tak perlu kau memberi wejangan! Lalu..., di mana adanya Pujo dan Kartikosari?"
Kembali pandang mata Jokowanengpati liar mencari-cari. Mulai tak enaklah hati para cantrik Bayuwismo, dan makin panas hati Wisudo.
"Merekapun tidak berada di sini, dan harap jangan tanyakan kepada kami ke mana mereka pergi, karena kami sendiri tidak tahu."
Jokowanengpati tampak kecewa sekali. Ia menoleh kepada Cekel Aksomolo dengan keping berkerut.
"Bagaimana ini, eyang? Kedatangan kita sia-sia..."
"Ooohh-hoh, jangan percaya segala cantrik cilik yang omongannya molak-malik. Tentu mereka ini tahu di mana Sembunyinya Resi Bhargowo dan Pujo! Resi pengecut itu bersama mantunya tentu telah melihat kita datang, lalu mereka pergi menyembunyikan diri, dan cantrlk-cantrik penguk ini sengaja membohong."
Jokowanengpati dalam hatinya tidak percaya bahwa orang seperti paman gurunya itu akan lari menyembunyikan diri, akan tetapi dia diam saja, lalu ia berkata.
"Kakang cantrik Wisudo, aku akan melihat apakah benar-benar paman resi tidak berada di dalam pondok!"
Setelah berkata demikian, cepat sekali tubuhnya berkelebat memasuki pondok.
Enam orang cantrik Bayuwismo marah melihat kelancangan Jokowanengpati, akan tetapi tak mungkin mereka dapat menghalangi karena pemuda itu mempergunakan Aji Bayu Sakti sehingga gerakannya seperti terbang saja.
Oleh karena tidak berdaya menghadapi murid Empu Bharodo yang sakti itu, cantrik Wisudo dan lima orang saudaranya menumpahkan kemarahan hati kepada Cekel Aksomolo!.
Cantrik Wisudo melotot memandang kepada kakek itu dan membentak.
"Heh, Cekel Aksomolo! kau ini seorang tua bangka yang tak patut dihormati orang muda. Pekertimu seperti ini sungguh tidak patut, apalagi mengingat pengakuanmu bahwa engkau sudah menjadi pertapa. Kata-katamu berbisa seperti Durno, tingkahmu sombong dan tak tahu malu. Ingatkah kau bahwa kami ini tuan rumah sedangkan engkau hanyalah seorang tamu tak diundang?"
"Wuah-wah, huh-huh, kurang ajar! Bocah cilik kurang ajar! Cantrik okrak-akrik bocah kemarin sore, berani kurang ajar terhadap Cekel Aksomolo? Apakah sudah bosan hidup?"
"Mengapa tidak berani? Bukan usia tua yang kulawan, bukan pula orangnya yang kucela, melainkan pekertinya! Biarpun engkau tua, pekertimu seperti bocah nylelek. Apalagi engkaupun hanya seorang cekel, seorang cantrik, sama dengan kami! Hayo pergi dari sini, tak sudi kami melihat tingkahmu lebih lama lagi!"
Kini Wisudo sudah maju dengan sikap menantang.
"Waduhhh, kalau aku tidak mau pergi bagaimana?"
"Akan kami usir dengan kekerasan!"
Bentak cantrik Wisudo yang sudah marah.
"Uuhhh, uuhh, tidak kajen (terhormat) awakku...! Cantrik cilik kalian minta dihajar, biar kalian rasakan kesaktian Cekel Aksomolo!"
Tiba-tiba kakek ini menggerakkan tasbih hitamnya, diputar-putar di udara dan terdengarlah suara nyaring dan aneh.
Tadinya cantrik Wisudo dan lima orang saudaranya menyangka bahwa kakek yang seperti orang gila itu hendak menyerang mereka dengan hantaman tasbih, akan tetapi ternyata tasbih itu hanya diputar-putar di atas kepala dan sama sekali kakek itu tidak menyerang mereka.
Tentu saja mereka merasa heran dan geli, mengira bahwa kakek ini benar-benar miring otaknya.
Akan tetapi mendadak cantrik Wisudo merasa betapa suara yang berkeritikan dan aneh itu kini mengaung-ngaung dan menyerang telinga dan menimbulkan rasa nyeri seakan-akan telinganya ditusuk-tusuk lidi!
Kagetlah Wisudo, dan lebih lagi kagetnya melihat seorang di antara saudaranya sudah roboh terguling, mengaduh-aduh karena telinga kirinya mengeluarkan darah!
Cepat cantrik Wisudo menjatuhkan diri duduk bersila mengerahkan kekuatan batinnya.
Saudara-saudaranya juga cepat mencontoh perbuatan Wisudo, hanya seorang cantrik yang masih berdiri, bahkan kini bingung menolong cantrik yang telinga kirinya berdarah.
Cantrik ini adalah cantrik Wistoro.
Cantrik Wistoro bingung sekali melihat akibat yang amat hebat, karena biarpun sudah bersila mengerahkan tenaga batin, tetap saja cantrik-cantrik Bayuwismo itu tidak tahan terhadap suara mujijat dari tasbih itu.
Memang hebat bukan main akibat suara ini.
Para cantrik, kecuali Wistoro, sudah duduk bersila meramkan mata.
Namun, seorang demi seorang tak kuat bertahan, mulailah darah menetes-netes keluar dari dalam telinga mereka dan yang paling akhir, cantrik Wisudo sendiri yang ilmunya paling tinggi di.antara saudara-saudaranya, juga tidak tahan lagi dan kedua telinganya mengeluarkan darah dari luka di dalam karena kendangan telinga mereka telah pecah oleh suara mujijat.
Cekel Aksomolo tertawa terkekeh-kekeh.
Akan tetapi tiba-tiba matanya terbelalak heran ketika ia melihat seorang diantara para cantrik itu tidak apa-apa, tidak terpengaruh oleh suara tasbihnya.
Cantrik Wistoro ini sama sekali tidak mengeluarkan darah dari kedua telinganya, bahkan kini ia sibuk merawat saudara-saudaranya, mengusap dan membersihkan darah yang keluar dari telinganya, sambil matanya kadang-kadang melotot ke arah Cekel Aksomolo!
Tentu saja Cekel Aksomolo terkejut sekali!
Ia tidak percaya ada seorang cantrik yang mampu menahan suara tasbihnya, maka ia melangkah mendekati dan kini ia menggoyangkan tasbihnya lebih keras lagi, dekat telinga cantrik Wistoro!
Para cantrik lainnya hanya memandang, mereka sudah tidak lagi terpengaruh suara tasbih karena sudah tak dapat mendengar, hanya merasakan nyerinya bekas kendangan telinga yang pecah.
Biarpun diserang suara sedemikian hebatnya, cantrik Wistoro enak-enak saja, sama sekali tidak mengerahkan tenaga batin untuk menahan, akan tetapi sedikitpun ia tidak terpengaruh!
Bimbanglah hati Cekel Aksomolo!
Betapapun saktinya seorang lawan, kalau diserang suara tasbihnya dari jarak sedekat itu dengan telinga, pula tanpa pengerahan tenaga sakti untuk melawan, tak mungkin akan kuat bertahan.
Akan tetapi cantrik muda ini enak-enak saja.
Dapat dibayangkan betapa saktinya cantrik ini!
Ataukah tasbihnya yang kehilangan keampuhan?.
Pada saat itu Jokowanengpati sudah melompat keluar dari pondok setelah sia-sia melakukan penggeledahan.
Begitu keluar ia terkejut mendengar suara berkeritikan yang amat kecil dan tinggi nadanya, menyerang telinganya serasa jarum menusuk.
Cepat ia mengeluarkan benda pemberian Cekel Aksomolo dan menyumpal kedua telinganya.
Dengan alat penahan ini, tanpa pengerahan tenaga sakti ia dapat mendekat.
Iapun ikut terheran-heran melihat seorang cantrik muda yang tak dikenalnya sedang merawat lima orang cantrik lain yang rebah tidak karuan dengan telinga berdarah, dan melihat Cekel Aksomolo membunyikan tasbih di dekat telinga cantrik muda itu, ia makin heran lalu mendekat.
Cekel Aksomolo menghentikan bunyi tasbihnya dan menghapus keringat dengan ujung lengan baju.
Menggerakkan tasbih mengeluarkan suara mujijat membutuhkan pengerahan tenaga sakti yang besar dan dia tadi sudah bersusah payah dalam penasarannya untuk merobohkan Wistoro, namun sia-sia.
Kini ia mengulur tangan membuka penutup telinga yang ia pakai sendiri sambil menjenguk ke arah lubang telinga Wistoro untuk melihat kalau-kalau cantrik itu menggunakan alat penutup lubang telinga.
Akan tetapi sama sekali tidak.
Ketika ia mengincar ke arah lubang kedua telinga cantrik itu, ia hanya melihat tai telinga dan bulu-bulu telinga!
Makin penasaranlah dia.
Kalau begini, tentu tasbihku yang kehilangan keampuhannya.
Maka ia mendekatkan tasbih di depan telinga kanannya, lalu mengguncang tasbih itu.
"Ttrrrriiiikk!"
Dan akhirnya...
Cekel Aksomolo roboh terguling!
Cepat-cepat ia melompat bangun dan matanya berair.
Sakit sekali rasa telinga kanannya sampai air matanya keluar.
Ternyata tasbihnya masih ampuh, tenaga saktinya masih hebat!
Akan tetapi mengapa cantrik muda itu tidak terpengaruh?
Ia menutupi lagi telinganya dan mendekati cantrik Wistoro, menggerakkan tasbih di dekat telinganya.
"Ttriiiik!"
Wistoro tidak terguncang sama sekali, hanya menoleh dan memandang dengan mata melotot.
"Uuuhhh-huh-huh, kiranya engkau memiliki ilmu juga!"
Akhirnya Cekel Aksomolo berkata sambil menghentikan bunyi tasbihnya dan melepas penutup telinga.
Jokowanengpati juga membuka penutup telinganya.
Wistoro diam saja, hanya mulai memapah saudara-saudaranya memasuki pondok, seorang demi seorang.
Kemudian ia pergi keluar lagi dan duduk bersila di depan pintu pondok, sama sekali tidak memperdulikan Cekel Aksomolo yang menantang-nantangnya.
"Hayo berdiri, cantrik bungkik! Hayo kita bertanding untuk menentukan keunggulan!"
Cekel Aksomolo mencak-mencak dan memutar-mutar tasbihnya di atas kepala sampai mengeluarkan suara seperti lebah mengamuk.
Namun Wistoro yang ditantang itu hanya duduk bersila tanpa bergerak.
Melihat lagak Cekel Aksomolo, diam-diam Jokowanengpati mendongkol.
Ia sudah merasa kecewa sekali melihat kenyataan bahwa Resi Bhargowo, Pujo dan Kartikosari tidak berada di tempat itu.
Perjalanannya sia-sia belaka, bahaya yang mengancam dirinya belum dapat dilenyapkan.
Kekecewaan itu menjadi rasa mendongkol ketika melihat betapa Cekel Aksomolo"jagoannya"
Itu kini mencak-mencak dan marah-marah terhadap seorang cantrik yang tiada artinya!
"Sudahlah, eyang Cekel.
Untuk apa melayani cantrik?
Marilah kita pergi dari sini, kita cari Resi Bhargowo dan Pujo sampai dapat."
Ia membujuk.
"Dia menghinaku benar-benar! Dia tidak memandang mata kepadaku! Suara sakti tasbihku dianggap kentut saja! Tantanganku dianggap angin lalu! Biar dia sakti mandraguna putera dewata sekalipun, akan mampus dia bertanding melawan Cekel Aksomolo yang mbaurekso Wilis!"
Jokowanengpati memegang lengan kanan kakek yang mencak-mencak itu sambil berbisik dekat telinganya.
"Eyang Cekel, percuma eyang melayani dia! Dia itu adalah seorang yang tuli dan gagu!"
"Hahh...??! Demi iblis puncak Wilis! Huuh-huh-huh, dasar pikun! Pantas saja suara sakti tasbihku tidak mempengaruhinya! Kiranya kedua telinganya sudah bobrok! yang sudah bobrok, mana bisa rusak lagi?"
Cekel Aksomolo menggaruk-garuk belakang telinganya, mukanya merah karena malu.
"Sudahlah, eyang. Lebih baik kita pergi mencari Resi Bhargowo dan Pujo. Kurasa mereka tidak pergi jauh dari sini."
Karena takut kakek itu melakukan perbuatan edan-edanan lagi, Jokowanengpati menuntunnya pergi dari situ, kembali ke tempat pasukan yang menanti.
Diam-diam ia menyesal juga mengapa kakek ini melukai para cantrik yang sama sekali tiada sangkut-pautnya dengan urusan mereka, para cantrik yang seperti juga cantrik-cantrik gurunya, merupakan orang-orang yang tekun mempelajari ilmu kebatinan sambil melayani sang pertapa.
Dengan tangan hampa Jokowanengpati bersama Cekel Aksomolo meninggalkan Sungapan, diikuti oleh pasukan yang mengawal.
Di sepanjang jalan mereka bertanya-tanya kepada para penduduk di dusun pasisir, namun tak seorangpun di antara mereka tahu ke mana perginya Resi Bhargowo.
Ada yang melihat kakek pertapa itu berjalan kaki seorang diri, akan tetapi tidak ada yang tahu hendak kemana.
Juga tentang Pujo dan Kartikosari, tidak ada orang yang mengetahuinya.
Namun Jokowanengpati tidak putus harapan.
Pemuda ini maklum bahwa sebelum Resi Bhargowo dan Pujo ditumpas, hidupnya selalu akan terancam bahaya.
Atau lebih aman lagi kalau la bisa mendapatkan Kartikosari!
Mengingat dan membayangkannya saja membuat Jokowanengpati menggigil.
Wanita hebat!
Belum pernah selama hidupnya ia mendapatkan seorang wanita seperti Kartikosari.
Akan tetapi juga wanita berbahaya, karena hanya Kartikosari seoranglah yang akan dapat membuka rahasianya, akan dapat mengenalnya sekali melihat jari tangan kirinya.
Karena itu, wanita ini perlu dipaksa menjadi miliknya selamanya, atau dibunuh!.
Karena ada Cekel Aksomolo di sampingnya, tanpa ragu-ragu Jokowanengpati menuruni tebing dan mendatangi guha.
Guha Siluman di mana pada malam hari itu, setahun yang lalu, ia menggagahi Kartikosari.
Akan tetapi guha itu kosong, kosong dan sunyi.
Sejenak hatinya ikut kosong dan sunyi ketika ia berdiri di mulut guha.
Terbayanglah semua peristiwa di malam gelap itu, terngiang di telinganya jerit dan rintih Kartikosari, dan pada saat itu rindu dendam menenggelamkan hatinya.
Kartikosari, di manakah engkau sekarang, manis?
Pertanyaan hatinya ini dijawab oleh gulungan ombak yang memecah batu karang, menggelepar seperti halilintar.
Jokowanengpati bergidik, merasa serem.
Seakan-akan suara itu merupakan geraman marah yang mengancamnya.
Tergesa-gesa ia mengajak Cekel Aksomolo untuk mendaki naik kembali meninggalkan guha yang menimbulkan kenangan nikmat, juga menimbulkan rasa ngeri dan serem itu.
(Lanjut ke
Jilid 07) Badai Laut Selatan (Seri ke 03 Serial Serial Keris Pusaka Sang Megatantra) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo
Jilid 07 Setelah sebulan lamanya mencari-cari tanpa hasil, akhirnya Jokowanengpati mengajak rombongan kembali ke Selopenangkep.
Sebetulnya ia masih ingin mencari sampai dapat, akan tetapi Cekel Aksomolo mengomel saja menyatakan kesal dan bosan berkeliaran di tepi laut, kedua karena waktu untuk mengadakan pertemuan besar antara para tokoh sakti yang akan bersekutu dengan Adipati Joyowiseso sudah dekat, maka terpaksa mereka beramai kembali ke Selopenangkep.
Pada suatu hari tibalah rombongan ini dalam sebuah hutan penuh pohon randu alas dan jati.
Untuk menghibur hati yang kesal, Jokowanengpati mengajak rombongannya menggunakan kesempatan terluang untuk sekalian berburu binatang.
Oleh karena itu mereka sengaja mencari jalan melalui gunung yang banyak hutannya.
Semua pendapatan berburu dimakan dagingnya di tempat dan dalam perburuan ini, Cekel Aksomolo memperlihatkan kepandaiannya.
Kalau para pengawal berburu binatang dengan anak panah, sedangkan Jokowanengpati yang memiliki Aji Bayu Sakti dapat mengejar dan membunuh kijang dengan pukulan tangannya, adalah kakek sakti ini hanya dengan segenggam isi mlanding sekali lempar berhasil menjatuhkan belasan ekor burung derkuku atau kepodang yang sedang terbang lewat di atas!.
Akan tetapi hutan-hutan di Pegunungan Kidul tidaklah kaya dengan binatang.
Apalagi hutan randu alas yang mereka masuki pagi hari itu, amat sunyi.
Tidak ada kijang, tidak ada babi hutan, yang ada hanya monyet dan harimau.
Memburu harimau sangat sukar karena begitu rombongan itu memasuki hutan, semua harimau sudah lari bersembunyi jauh.
Adapun monyet-monyet merupakan binatang yang tak mereka sukai dagingnya.
"Sayang sekali perjalananku jauh-jauh dari Wilis sia-sia belaka."
Untuk ke sekian kalinya Cekel Aksomolo mengomel.
Tak enak hati Jokowanengpati.
Memang sudah jauh-jauh ia mengundang orang tua sakti ini, kiranya sekarang hanya diajak berputar-putar mencari orang tanpa hasil sampai sebulan lebih.
"Agaknya benar dugaan eyang bahwa Resi Bhargowo dan Pujo sudah mendengar akan kedatangan kita. Resi Bhargowo tentu takut mendengar bahwa eyang ikut datang, maka lebih dulu menyingkir dan bersembunyi. Kalau tidak demikian, tentu ada penduduk yang mengetahui di mana dia pergi. Agaknya mereka semua pergi dengan diam-diam."
Cekel Aksomolo menggeleng-geleng kepalanya.
"Aku pernah bertemu dengan gurumu, Ki Empu Bharodo, akan tetapi Resi Bhargowo hanya baru kudengar suaranya saja. Akan tetapi mengingat dia itu adik seperguruan Empu Bharodo kurasa tak mungkin ia takut menghadap lawan yang belum pernah dicobanya."
"Betapapun saktinya, dia pasti akan mati konyol bertanding melawan eyang"
Jokowanengpati memuji.
"Guru saya sendiri takkan menang melawan eyang."
Kakek tua renta itu memang seorang yang haus akan puji dan umpak. Ia terkekeh senang.
"Jelek-jelek, kalau hanya menghadapi Resi Bhargowo saja, tasbih ini pasti masih sanggup menghancurkan kepalanya!"
Pada saat itu terdengar bunyi tertawa meringkik.
Kiranya seekor kera jantan sedang mengenjot-enjot batang pohon di atas mereka sambil terkekeh-kekeh entah apa yang ditertawakan dan entah binatang Itu sedang tertawa ataukah menangis, akan tetapi lagaknya seperti seorang anak kecil bermain-main sambil tertawa.
Agaknya kelakuan kera itu menggemaskan hati Cekel Aksomolo.
Dari atas kuda ia menggerakkan tangannya, dikebutkan ke atas dan...
kera itu memekik lalu terguling jatuh terbanting ke bawah.
Dari hidung, mulut dan telinganya mengalir darah dan ia mati seketika!.
"Huh, sayang dia bukan Resi Bhargowo! Resi Bhargowo, di mana engkau? Muncullah di sini, aku siap menghadapimu, Resi Bhargowo...!!"
Cekel Aksomolo dengan tingkah sombong menantang-nantang memanggil Resi Bhargowo, Tiba-tiba dari atas pohon melayang turun bayangan orang.
Jokowanengpati dan Cekel Aksomolo terkejut memandang gerakan orang itu gesit sekali dan ternyata dia adalah seorang kakek yang sudah tua sekali, rambut dan jenggotnya putih semua, pakaiannya juga putih, kakinya telanjang.
Tanpa menghiraukan mereka yang duduk di atas kuda, kakek ini mengeluarkan suara ngak-ngak nguk-nguk seperti kera, langsung menghampiri kera yang terbanting mati, lalu menangis!
Masih terisak-isak kakek tua itu membongkar dan menggali tanah, kemudian mengubur bangkai kera dan menangis lagi!.
"Heh-heh, kau ini orang gila ataukah kera mabok kecubung?"
Cekel Aksomolo menegur karena merasa mendongkol melihat si kakek itu sama sekali tidak memperdulikannya, sedangkan cara mengubur bangkai kera itu merupakan perbuatan yang terang-terangan berlawanan dan mencela perbuatannya membunuh kera tadi.
Kini kakek itu membalikkan tubuh dan memandang penuh perhatian.
Hanya sejenak saja ia memandang Cekel Aksomolo, akan tetapi ketika pandang matanya bertemu dengan Jokowanengpati, ia segera bertanya, suaranya parau.
"Apakah engkau yang bernama Pujo anak mantu Resi Bhargowo?"
Jokowanengpati terkejut dan diam-diam timbul harapan hatinya untuk mendengar dari kakek aneh ini di mana adanya Resi Bhargowo. Maka ia lalu menjawab.
"Kalau aku betul Pujo bagaimana dan kalau bukan bagaimana?"
"Krrrr! Krrrrr! Betul sombong... sombong sekali...!"
Kakek putih itu berjingkrak-jingkrak lalu bertanya kepada Cekel Aksomolo,"Dan engkau ini tua bangka buruk apakah seorang cantrik pengikut Resi Bhargowo?"
"Uuhh-huh-huh, sialan awakku! Eh, kera monyet ketek kunyuk lutung!"
La memaki.
"Kalau benar bagaimana kalau bukan bagaimana?"
Ia meniru jawaban Jokowanengpati.
Kakek tua aneh itu bukan lain adalah Resi Telomoyo, pertapa di puncak Gunung Telomoyo.
Dia memang beewatak aneh dan edan-edanan, kadang-kadang seperti seekor kera.
Akan tetapi ia amat marah kalau melihat seekor kera diganggu, maka sekarang ia marah bukan main melihat seekor kera dibunuh secara keji Agaknya karena ia pemuja Hanoman, tokoh kera sakti, ia lalu menganggap binatang kera sebagai segolongannya dan amat menyayang binatang ini.
Mendengar jawaban-jawaban itu ia makin marah dan berjingkrak, mengeluarkan gerangan-gerengan seperti seekor kera jantan marah.
"Cantrik tua mau mampus! Tanpa sebab kau membunuh seekor kera yang tidak berdosa. Biarlah kubunuh juga engkau dan kau lihat siapakah di antara kau dan kera tadi yang akan mendapat tempat lebih nikmat di alam halus!"
Baru saja ucapannya habis, tubuhnya sudah meloncat dan ia menerkam Cekel Aksomolo yang masih duduk di atas kuda!
Menyaksikan gerakan orang yang amat cekatan ini dan sambaran angin pukulan amat dahsyat keluar dari tangan yang hendak mencengkeram, Cekel Aksomolo terkejut sekali dan cepat ia menangkis dengan tangan kanannya sambil mengerahkan tenaga saktinya.
"Bressss!!"
Hebat sekali tenaga sakti kedua orang tokoh tua ini, sama dahsyat dan kuatnya berjumpa di tengah udara dan akibatnya, keduanya terpental seperti disambar halilintar!
Resi Telomoyo terpental dan berjungkir balik sampai lima kali di udara, baru tubuhnya turun ke arah tanah sejauh lima meter.
Adapun Cekel Aksomolo juga terpental dari atas kudanya, melayang seperti sebuah layang-layang putus talinya, dan turun ke atas tanah seperti sehelai daun kering sambil menyumpah-nyumpah!
Sejenak keduanya saling pandang dari jarak sepuluh meter, Saling pandang dengan terheran-heran dan kedua mulut mereka tiada hentinya mengeluarkan bunyi aneh.
Resi Telomoyo mengeluarkan suara meringkik-ringkik sedangkan Cekel Aksomolo menyumpah-nyumpah.
Dua puluh empat orang pengawel yang melihat pertandingan dimulai, cepat melompat turun dari kuda masing-masing dan lari mendekati, mencabut pedang dan golok lalu mengurung tempat pertandingan, siap untuk mengeroyok kakek seperti kera itu.
Adapun Jokowanengpati diam-diam merasa gembira sekali karena agaknya kini Cekel Aksomolo bertemu tanding.
Betapapun juga, ia ingin mendengar dari kakek aneh ini apa sebabnya mencari Pujo dan apakah kakek ini mengetahui tempat sembunyi Resi Bhargowo Di samping itu, iapun bersiap-siap untuk mengeroyok jika Cekel Aksomolo tidak mampu mengalahkan lawannya.
Untuk menguji kepandaian kakek aneh ini, ia lalu memberi tanda kepada kepala pasukan untuk maju menangkap Resi Telomoyo.
Kepala pasukan memberi aba-aba dan dua belas orang pengawal serentak maju dengan senjata di tangan mengurung kakek yang sudah mulai menggaruk-garuk punggung seperti seekor kera.
"Orang tua, menyerahlah kami belenggu!"
Bentak kepala pengawal, diam-diam merasa sungkan juga harus mengerahkan dua belas orang anak buahnya hanya untuk menangkap seorang kakek kurus tua renta yang bertangan kosong.
"Ha-ha-ha-ha, apakah kalau kaki tanganku sudah dibelenggu, kalian merasa akan menang? Majulah, aku melawanmu dengan tangan dan kaki terangkap seperti dibelenggu!"
Resi Telomoyo berkata sambil tertawa dan benar saja, ia merangkapkan kedua tangan dan juga kedua kakinya, berdiri agak membongkok dan matanya yang kecil itu melirik-lirik nakal seperti mata seekor kera.
Tentu saja sikap ini membuat para pengawal menjadi marah dan juga geli, mengira bahwa kakek ini tentulah seorang yang sudah miring otaknya atau sudah pikun dan linglung saking tuanya.
Karena itu,kepala pasukan memberi aba-aba.
"Serbu dan tangkap dia, boleh pukul tapi jangan bunuh!"
Bagaikan berlomba mencari jasa, dua belas orang pasukan pengawal itu menubruk maju, pedang dan golok dibalikkan karena mereka hanya ingin menggunakan punggung senjata yang tidak tajam saja.
Sambil tertawa mengejek dan berteriak-teriak, mereka menyerbu ke depan.
Tiba-tiba tubuh kakek itu mencelat ke atas dengan keadaan tegak dan dari atas ia membalik turun.
Benar saja seperti janjinya, ia tidak pernah melepas kedua tangan dan kakinya yang tetap menjadi satu, akan tetapi begitu tubuhnya bergerak menyambar-nyambar ke bawah, terdengar teriakan-teriakan ngeri dan robohlah dua belas orang itu satu demi satu, roboh karena dihantam siku atau lutut, bahkan ada yang roboh karena gempuran kepala si kakek yang berambut putih!
Mereka roboh tumpang-tindih, mengerang-erang dan merintih-rintih tanpa dapat bangun kembali sedangkan Resi Telomoyo sudah berdiri kembali di tempat tadi,"Pertempuran"
Ini tidak lebih satu menit lamanya!.
"Rrriiiiikkkk... ttrrriiikkk...!!"
Tiada hentinya bunyi berkeritik yang amat nyaring ini dan kiranya Cekel Aksomolo sudah melangkah maju dan memutar tasbihnya yang mengeluarkan suara sakti untuk merobohkan kakek lawan tangguh itu.
Jokowanengpati terkejut sekali karena tidak mempergunakan alat penutup telinga, maka ia cepat-cepat mengerahkan ilmu dan ajiannya, mengerahkan tenaga sakti dalam tubuh, menyalurkan hawa panas tenaga sakti itu kearah sepanjang telinganya untuk menolak pengaruh suara mujijat.
Sejenak Resi Tolomoyo yang diserang langsung oleh suara itu, bergoyang-goyang tubuhnya, kemudian ia meringkik-ringkik dan menggereng-gereng sambil berloncatan, Makin lama suaranya makin cepat dan nyaring, mengimbangi suara tasbih sehingga terjadilah "adu suara"
Yang sama sekali tidak merdu di antara keduanya, didorong oleh tenaga sakti tingkat tinggi.
Kasihan adalah nasib sisa dua belas orang yang belum roboh.
Begitu mendengar suara berkeritik dari tasbih Cekel Aksomolo, mereka menggigil.
Kali ini Cekel Aksomolo tidak menggunakan nada suara tinggi halus untuk memecahkan kendangan telinga, melainkan mempergunakan nada suara keras untuk mengguncang jantung.
Dua belas orang itu menjambak-jambak dada yang terasa sakit dan tak lama kemudian mereka sudah terjungkal roboh dan berkelojotan seperti cacing yang terkena abu, dan betapapun mereka menutupi telinga, suara itu tetap menerobos masuk dan seakan-akan menusuk-nusuk jantung.
Apalagi setelah kakek rambut putih itu mengeluarkan suara pula yang amat tidak enak didengar, keadaan mereka makin tersiksa.
Adapun dua belas orang pengawal yang lain tidaklah begitu menderita.
Mereka telah terluka parah dan kelemahan tubuh mereka membuat mereka segera roboh pingsan begitu mendengar suara sakti, Cekel Aksomolo makin penasaran dan juga marah, apalagi setelah melihat betapa selain kakek putih itu tidak terpengaruh oleh suara tasbihnya, juga semua pengawal sudah roboh, bahkan Jokowanengpati dalam keadaan setengah samadhi sehingga takkan dapat membantunya.
Dalam gebrakan pertama ini dia sudah rugi.
Karena itu, dengan gemas ia menghentikan suara tasbihnya dan membentak.
"Kunyuk tua manusia monyet liar! Siapakah engkau berani main-main di depanku? Apakah kehendakmu? Apakah kau sudah bosan hidup?"
"Ha-ha-ha, aku memang bosan hidup, akan tetapi bukan engkau yang menentukan! Apa engkaupun belum bosan, cantrik tua bangka? Tubuhmu sudah bongkok, pipimu sudah peyot, kulitmu sudah keriput, akan tetapi matamu masih memancarkan nafsu! Ha-ha-ha, aku tidak ada waktu untuk melayanimu, yang kuperlukan si Pujo ini!"
Begitu berhenti ucapannya, secepat kilat menyambar, Resi Telomoyo sudah menggerakkan tubuhnya berkelebat ke arah Jokowanengpati yang sudah sejak tadi bersiap-siap.
"Aiihhh...??"
Terkejut sekali Resi Telomoyo ketika melihat sambarannya tidak berhasil, dapat dielakkan oleh pemuda itu dengan gerakan yang tangkas sekali.
Tidak aneh, karena Jokowanengpati bukanlah pemuda sembarangan, ia adalah bekas murid terkasih Empu Bharodo yang sudah menurunkan ilmu meringankan tubuh Bayu Sakti!.
Jokowanengpati memang seorang pemuda yang memiliki watak tinggi hati, tidak mau kalah dan memandang rendah orang lain.
Terhadap Resi Telomoyo tentu saja ia tidak mau memandang rendah dan sudah dapat menduga bahwa kakek seperti kera ini memiliki ilmu kesaktian tinggi, akan tetapi ia belum puas kalau belum mencobanya sendiri.
Pula, dia adalah seorang pemuda cerdik.
Andaikata di sampingnya tidak ada Cekel Aksomolo yang dapat diandalkan untuk membantu dan menolongnya apabila ia terancam bahaya, agaknya sikapnya terhadap lawan sakti ini akan lain lagi.
Kini, melihat betapa ia mampu mengelak terhadap terkaman si kakek putih, hatinya menjadi besar dan sambil membalikkan tubuhnya ia bersiap dengan kuda-kuda yang kokoh kuat.
Begitu kakek rambut putih itu menubruk lagi.
ia mengelak ke kiri sambil balas menghantam dengan tangan kanan ke arah dada, disusul dupakan kaki kiri ke arah lutut kanan lawan.
Pukulan tangan Jokowanengpati amatlah ampuhnya karena ia mempergunakan aji pukulan Siyung Warak yang mengandung penuh tenaga sakti dan sanggup menghancurkan batu gunung!
Juga pukulan kakinya amat dahsyat, apalagi yang dijadikan sasaran adalah lutut.
Betapapun saktinya seseorang, apabila, sambungan lututnya terlepas, tentu akan menjadi pincang dan berkurang kegesitannya.
Namun, betapa kagetnya hati Jokowanengpati ketika pukulan tangan kanannya itu bertemu dengan daging dada yang lunak dan membuat tenaga pukulannya seakan-akan tenggelam ke dalam air yang tak berdasar, adapun tendangannya yang menyusul itu sama sekali tidak mengenai sasaran.
Cepat ia menarik pukulannya dan melompat ke belakang dengan muka pucat.
Tahulah ia bahwa lawan yang tua ini benar-benar merupakan tandingan berat yang memiliki tenaga dalam yang sukar diukur tingkatnya!
"Ha-ha-ha, sebegitu saja kepandaianmu?
Lebih baik kau menurut saja kubawa!"
Kembali Resi Telomoyo menubruk hendak menangkap lawannya yang muda dan gesit, namun kembali Jokowanengpati dapat mengelak mempergunakan Ilmu Bayu Saktinya.
Sambil mengelak ia tidak mau tinggal diam.
Ia maklum akan kekuatan kakek ini, akan tetapi juga dapat menduga bahwa kakek ini memiliki bagian-bagian tubuh yang tidak kebal, buktinya tadi tendangan yang diarahkan kepada sambungan lutut, tidak berani kakek itu menerimanya.
Kini Jokowanengpati menyerbu dan mainkan Ilmu Silat Jonggring Saloko yang ia warisi dari gurunya.
Empu Bharodo memang seorang sakti yang terkenal dengan dua macam ilmunya, yaitu Bayu Sakti sebagai ilmu meringankan tubuh yang membuat pertapa itu dianggap dapat terbang saking tingginya ilmunya ini, dan kedua adalah Ilmu Tombak Jonggring Saloko.
Ilmu tombak ini kabarnya belum pernah menemui tanding dan juga ilmu tombak ini merupakan rahasia yang tidak diturunkan kepada muridnya oleh Empu Bharodo.
Akan tetapi sebagai pecahan ilmu tombak ini diciptakanlah ilmu pukulan tangan Jonggring Saloko dan ilmu inilah yang ia turunkan kepada muridnya.
Karena Jokowanengpati mempergunakan ilmu pukulan Jonggring Saloko, sebuah ilmu yang diciptakan oleh Empu Bharodo sendiri, tentu saja amatlah ampuhnya.
Apalagi karena ilmu ini dimainkan dengan dasar Aji Bayu Sakti yang membuat geraknya menjadi cepat seperti kilat sedangkan ke dalam kedua tangannya ia isi dengan aji pukulan Siyung Warak, maka pada saat itu pemuda ini benar-benar tak boleh dipandang ringan!
"Bagus!
Hebat juga!"
Berkali-kali Resi Telomoyo memuji.
Dia benar-benar kagum sekali, dan harus mengaku dalam hati bahwa belum pernah ia bertemu lawan sekuat ini, apalagi lawan seorang rnuda.
Kalau saja ia tidak menang kuat ilmu dalamnya dan tidak lebih matang ajiannya, agaknya sukar untuk menanggulangi sepak terjang setangkas ini.
Ah, pantas saja muridnya, Roro Luhito yang manis, yang mungil dan denok, tergila-gila kepada pemuda ini.
Tidak aneh.
Memang pemuda pilihan, pemuda gemblengan yang patut sekali menjadi suami Roro Luhito muridnya!
Aku harus dapat menangkapnya dan membawanya ke depan Roro Luhito, pikir sang resi.
Oleh karena itu ia tidak mau main-main lebih lama lagi biarpun ingin ia menguji sampai di mana hebatnya kepandaian pemuda ini.
Segera ia mengeluarkan seruan meringkik, tubuhnya bergoyang-goyang kedua lengannya dikembangkan dan jari-jari tangannya terbuka, matanya mendelik mulutnya terbuka menyeringai.
Inilah Ilmu Sosro Satwo (Seribu Binatang) yang sudah mencapai tingkat tinggi sekali!
Seketika Jokowanengpati meremang tengkuknya karena Aji Sosro Satwo yang dipergunakan Resi Telomoyo itu memang memancarkan wibawa yang mujijat.
Sebelum pemuda ini dapat menenteramkan hatinya, ia sudah diserbu hebat.
Kedua lengan tangan resi itu seakan-akan telah menjadi puluhan banyaknya dan Jokowanengpati mendengar suara bermacam binatang liar di sekelilingnya!
Ia hanya dapat mengerahkan Bayu Sakti, mundur-mundur sambil mengelak dan menangkis sedapatnya.
"Werrrr..., ssyyuuuut...!"
Sinar hitam meluncur ke depan menyambar kepala Resi Telomoyo yang cepat melompat mundur karena hawa sambaran benda bersinar hitam itu luar biasa sekali pengaruhnya.
Ternyata Cekel Aksomolo yang sudah maju.
Kakek pertapa Gunung Wilis ini berkata.
"Mundurlah, raden. Biarlah aku yang maju. Hayo, kunyuk tua manusia kera., majulah. Akulah lawanmu, tua sama tua! Huh-huh!"
Resi Telomoyo sudah menjadi marah sekali, akan tetapi iapun merasa heran.
Mengapa ada seorang cantrik yang agaknya lebih sakti daripada Pujo?
Ia merasa direndahkan kalau hanya dilawan oleh seorang cantrik saja.
Maka sambil menggeram keras ia menerjang maju dengan pukulan Kapi Dibyo.
Kedua tangannya menghantam dengan hawa pukulan jarak jauh yang cukup merobohkan lawan dari jarah jauh tanpa menyentuh orangnya.
Akan tetapi Cekel Aksomolo tertawa dan menyambut lawan dengan hantaman tasbihnya yang ampuh.
Resi Telomoyo tidak berani menerima hantaman tasbih ini, tasbih yang mengarah lehernya dari kiri, cepat tubuhnya miring ke arah kiri, menyelinap di antara sinar hitam tasbih, akan tetapi melanjutkan pukulan tangan kirinya menebak (memukul dengan telapak tangan) dada lawan.
Cekel Aksomolo tentu saja tidak mau mengambil resiko pukulan yang ampuhnya bukan main ini, yang mendatangkan hawa panas, maka ia juga mendorong dengan telapak tangan kanannya memapaki tangan lawan.
"Dukkk!!"
Untuk kedua kalinya dua tenaga sakti yang dahsyat bertemu di udara dan akibatnya hebat.
Tubuh Resi Telomoyo terlempar ke belakang, terjengkang dan berjungkir balik beberapa kali dengan amat tangkasnya.
Akan tetapi Cekel Aksomolo juga terdorong ke belakang, terhuyung-huyung hampir roboh.
Keduanya terpental sampai lima meter ke belakang dan kini berhadapan dengan mata terbelalak kagum dan kaget.
"Uuh-huh-huh, kiranya bukan sembarang orang! Eh, kunyuk tua, sebelum mampus di tangan Cekel Aksomolo, mengakulah, siapa gerangan engkau ini dan apakah engkau tadi terlalu banyak minum arak maka tiada hujan tiada angin mengamuk seperti kera mabok?"
Tercengang Resi Telomoyo mendengar nama ini. Ia menggaruk-garuk belakang telinganya lalu terkekeh.
"Wah-wah, kiranya bukan cekel sembarang cekel, bukan cantrik sembarang cantrik! Kusangka cantrik bujang Resi Bhargowo, siapa tahu ternyata Cekel Aksomolo si cantrik iblis! Heh, cekel bongkok, aku adalah Resi Telomoyo! Mengapa engkau melindungi si Pujo ini yang hendak kubawa untuk mempertanggung-jawabkan perbuatannya? Hayo, benar-benarkah kau hendak mengadu kesaktian, menguji ampuhnya mantera tebalnya aji?"
Kini giliran Cekel Aksomolo yang kaget.
Belum pernah ia bertemu memang, baru kali ini, namun nama Resi Telomoyo sudah pernah ia dengar, dan menyaksikan akibat benturan tenaga sakti tadi, ia maklum bahwa manusia seperti monyet ini sama sekali tak boleh dipandang ringan.
Sementara itu, Jokowanengpati ketika mendengar bahwa kakek itu adalah Resi Telomoyo yang kabarnya sakti mandraguna seperti Sang Hanoman di jaman Ramayana, juga menjadi terkejut.
Pemuda cerdik ini memang sedang berusaha mengumpulkan sekutu yang pandai-pandai, maka cepat ia berkata.
"Mohon paman Resi Telomoyo sudi mengampunkan saya. Saya sama sekali bukanlah Pujo yang paman cari. Saya bernama Jokowanengpati, murid Empu Bharodo."
Resi Telomoyo tertegun, kecewa dan mendongkol.
"Mengapa tidak dari tadi mengaku? Empu Bharodo saudara seperguruan Resi Bhargowo? Kalau begitu engkau sama busuknya dengan Pujo! Tampak pada kilatan matamu. Huh, walaupun pakaianmu pakaian satria, ilmu kepandaianmu ilmu satria, namun matamu mata jalang, kau tentu satria tukmisi satria batuk kelimis (dahi halus, dimaksudkan mata keranjang)!"
"Huh-huh-huh, celaka, tiada hujan tiada angin memaki-maki. Monyet mendem (mabok)! Terima sajalah, raden, hitung-hitung buang sebel (sial)! Dia kakek mabok, kalau dilayani bukankah sama maboknya?"
Cekel Aksomolo berkata.
"Wah lagaknya si cekel bongkok! kau inipun tua-tua tuanya keladi, makin tua? makin menjadi-jadi! Tua-tua kelapa, makin tua makin keras tempurungnya, makin banyak santannya! Kakek tuwek (tua) kurus kering bongkok juling seperti kau ini tentu masih suka mengejar-ngejar wanita ayu!"
Cekel Aksomolo mencak-mencak saking marahnya.
"Heh keparat Resi Telomoyo, mulutmu bobrok asal njeplak (terbuka) saya memaki orang seenak seenak perutnya. Rasakan tasbih keramat ini!"
Dengan amarah meluap-luap Cekel Aksomolo menerjang dengan tasbihnya, juga Jokowanengpati setelah mendapat kenyataan bahwa kakek putih itu tidak dapat diajak berteman, mencabut kerisnya dan ikut pula menerjang maju.
Resi Telomoyo kaget sekali.
Kalau dikeroyok dua, ia bias celaka, maka ia lalu mengeluarkan teriak keras seperti seekor kera dan tubuhnya mencelat ke atas, tahu-tahu ia sudah menyambar ranting pohon dan sambil terkekeh-kekeh ia melarikan, diri dengan cara meloncat-loncat di atas pohon.
Akan tetapi sebelum meloncat jauh, ia membuka jubbah bagian bawah dan menyambarlah "Air hujan"
Dari atas menimpa Cekel Aksomolo dan Jokowanengpati!.
Kedua orang itu cepat meloncat ke pinggir, akan tetapi tetap saja sebagian lengan mereka terkena air.
Ketika itu tercium bau pesing dan tahulah mereka bahwa si kakek gila-gilaan itu sambil melarikan diri telah menyiram mereka dengan air kencing!
Benar-benar persis Watak nakal seekor monyet.
Jokowaneng-pati merasa geli dan juga mendongkol sekali akan hinaan ini.
Akan tetapi alangkah herannya ketika ia melihat Cekel Aksomolo menggerak-gerakkan hidung mencium-cium, mukanya menjadi pucat sekali dan bibirnya berkata perlahan.
"Untung tidak kena kepala...!"
"Kena kepalapun mengapa, eyang? Dapat dicuci!"
"Uuuh-huh-huh, sial dangkalan bertemu monyet tua bangka! Biarpun dapat dicuci, penghinaan ini sekali waktu harus kubalas! Awas dia, kelak kutangkap dan kupaksa ia minum air kencingnya sendiri!!"
Akan tetapi diam-diam Jokowanengpati merasa bersangsi apakah kakek ini akan sanggup melaksanakan ancamannya, mengingat betapa si manusia kera itu benar-benar sakti, dan belum tentu kalah oleh Cekel Aksomolo.
Pemuda ini sama sekali tidak mengira bahwa tadi hampir saja pertapa lereng Wilis itu membuka rahasianya sendiri.
seperti banyak ahli-ahli ilmu hitam yang selalu mempunyai pantangan, juga Cekel Aksomolo mempunyai semacam sirikan atau pantangan yang aneh, yaitu kepalanya tidak boleh tersiram air kencing.
Ini merupakan pengapesan atau kenaasannya.
Makin bersih air kencing itu, makin celakalah dia.
Air kencing anak-anak tentu akan membuatnya lumpuh seketika kalau mengenai kepalanya.
Biarpun air kencing Resi Telomoyo tidak sebersih air kencing anak-anak, dan hanya mengenal lengannya bukan kepalanya, namun sudah cukup lumayan, membuat kepalanya pening sebentar dan mau muntah!.
Dengan hati penuh kegemasan, Jokowanengpati terpaksa menolong anak buahnya, kemudian rombongan ini melanjutkan perjalanan pulang ke Kadipaten Selopenangkep dengan tubuh lemas.
Usaha mencari Pujo tidak berhasil, malah mereka mendapat hinaan dari Resi Telomoyo!
Bersungut-sungut Jokowanengpati dan Cekel Aksomolo memasuki Kadipaten Selopenangkep.
Orang-orang sama terheran melihat betapa pasukan yang ketika berangkat dahulu gagah-gagah itu kini pulang dengan pakaian kumal, wajah kesal dan pakaian kusut, bahkan ada yang masih mengerang-erang dan ada pula yang tertelungkup di atas punggung kudanya, terlukai seperti pasukan kalah perang.
Akan tetapi, ada hiburan bagi Jokowangpati dan Cekel Aksomolo dalam kegemasan mereka, yaitu bahwa Kadipaten Selopenangkep sudah kedatangan tamu-tamu agung.
Selain Wisangjiwo yang datang bersama dua orang wanita sakti yang bukan lain adalah Ni Durgogini, dan Ni Nogogini, juga kedatangan beberapa orang sakti lain yang akan memperkuat persekutuan mereka diharapkan datang dalam beberapa hari, yaitu di antaranya Ki Warok Gendroyono dari Ponorogo dan Ki Krendoyakso dari Bagelen!.
Secara singkat Jokowanengpati menceritakan usaha mereka mencari Pujo dan Resi Bhargowo tidak berhasil, sebaliknya di tengah jalan bertemu dengan Resi Telomoyo dan terjadilah perselisihan yang mengakibatkan terlukanya para pengawal.
"Manusia kera yang tua itu benar-benar menjemukan sekali,"
Jokowanengpati mengakhiri ceritanya."Tanpa alasan dia mencari keributan dengan kami.
Tentu saja para perajurit bukan lawannya.
Kami berdua sudah turun tangan dan tentu dia akan mampus kalau saja tidak lekas-lekas lari mempergunakan kegesitannya seperti monyet, meloncat-loncat ke atas pohon sukar dikejar."
"Uuh-huh-huh, lain kali tidak kuberi ampun si monyet tua dari Telomoyo!"
Cekel Aksomolo ikut bicara.
"Aku pernah mendengar tentang Resi Telomoyo manusia monyet, kukira hanya dongeng belaka, kiranya benar-benar ada,"
Ni Nogogini ikut bicara dan matanya mengeriing ke arah Wisangjiwo.
Akan tetapi Ni Durgogini agaknya tidak memperhatikan cerita itu.
Ia sedang kesima memandangi wajah Jokowanengpati yang ganteng dan matanya menyinarkan api gairah.
Kemudian Adipati Joyowiseso memperkenalkan kedua wanita sakti itu kepada Cekel Aksomolo dan Jokowanengpati.
"Waduh-waduh..., sudah terlalu lama mendengar nama andika berdua yang hebat menjulang ke angkasa! Siapa sangk kedua nini yang sakti mandraguna jug amat cantik jelita seperti bidadari-bidadari kahyangan! Uh-huh-huh!"
CekelAksomolo memuji.
Diam-diam Wisangjiwo merasa khawatir sekali kalau-kalau gurunya dan bibi gurunya akan menjadi marah.
Akan tetapi ternyata tidak.
Malah gurunya tersenyum manis sekali sambil mengeriing ke arah Jokowanengpati dan berkata.
"Paman Cekel Aksomolo terlalu memuji. Dan orang muda ini yang bernam Jckowanengpati? Pernah aku mendengar dari muridku Wisangjiwo bahwa kau adalah murid Empu Bharodo, betulkah, raden?"
Suaranya manis sekali, seperti orang bertembang, sehingga Jokowanengpati yang ditanya sejenak tertegun ia ta dapat menjawab, terpesona.
Bukan main kakangmas Wisangjiwo, pikirnya, punya guru begini ayu, begini denok, menggiurkan!
"Dimas Joko, kau ditanya guruku!"
Wisangjiwo menegur geli, maklum betapa tamunya itu terpesona dan ada rasa bangga di hatinya.
"Oh... ah..., betul, bibi! Tetapi hanya bekas murid... sekarang bukan muridnya lagi. Kami berselisih faham. Bapa Empu terlalu membela sri baginda sedangkan saya menentang kekuasaan orang Bali..."
Ni Durgogini dan Ni Nogogini saling pandang tanpa mengeluarkan kata-kata mendengar ucapan ini, hanya cuping hidung mereka bergerak sedikit.
Tidak ada orang lain yang lebih dekat dengan sepasang orang Bali yang kini menjadi Raja dan Patih Mataram, daripada mereka.
Ni Durgogini dahulu adalah selir kinasih Ki Patih sedangkan Ni Nogogini selir kinasih (terkasih) sang prabu!
Akan tetapi merekapun mengandung dendam terhadap Raja dan Patih karena mereka telah diusir!.
Adipati Joyowiseso lalu cepat-cepat mempersilahkan mereka duduk di ruangan dalam dan memerintahkan para abdi (pelayan) untuk mengeluarkan hidangan yang memang telah disediakan.
Suasana di kadipaten dalam pesta-pora untuk menghormat tamu-tamu agung dan didatangkanlah penari-penari dan penyanyi-penyanyi pilihan untuk menghibur mereka.
Kamar-kamar terbaik dibersihkan dan dipersiapkan untuk para tamu.
Melihat betapa Ni Durgogini tertarik kepada Jokowanengpati, diam-diam Ni Nogogini girang hatinya.
Terbukalah kesempatan baginya untuk mendekati Wisangjiwo yang amat lama ia rindukan itu.
Di lain fihak, Wisangjiwo juga bisa menangkap arti kerling mata bibi gurunya yang semenjak setahun yang lalu di pantai Laut Selatan, tak pernah ia jumpai pula.
Isteri Wisangjiwo, Listyokumolo yang bernasib malang, oleh putera adipati itu sudah lama dipulangkan kembali kepada ayahnya, seorang lurah dusun di sebelah timur Gunung Lawu.
Semenjak itu, Wisangjiwo merasa lebih bebas, sekarangpun karena di situ tidak ada isterinya, kedatangan Ni Durgogini dan Ni Nogogini benar-benar merupakan anugerah bagi kehausan nafsunya.
Lirik dan senyum manis Ni Nogogini penuh arti dan memberi janji-janji banyak yang muluk-muluk.
Karena di situ ada gurunya, tentu saja Wisangjiwo tidak berani banyak tingkah, dan ia hanya dapat menanti.
Kalau tidak ada gerakan dari bibi gurunya sendiri, mana berani ia main-main?
Ia hanya dapat menanti dan akan menanti sampai malam nanti.
Harapan dan dugaan Wisangjiwo memang tidak meleset.
Menjelang tengah malam, pesta dibubarkan dan para tamu dipersilahkan beristirahat di kamar masing-masing.
Suasana menjadi sunyi sekali dan dalam kesunyian itulah Wisangjiwo menanti.
Menanti untuk waktu sebentar saja karena tak lama kemudian jendela kamarnya terbuka dari luar dan bagaikan sehelai selendang sutera halus dan ringannya, melayanglah tubuh Ni Nogogini memasuki kamarnya!
Rindu dendam mereka sudah ditahan-tahan selama setahun, maka tanpa bicara lagi Wisangjiwo bangkit dan mengembangkan kedua lengannya menyambut dengan penuh kegembiraan dan berdekap ciumlah kedua insan budak hawa nafsu itu.
"Bibi,"
Wisangjiwo berbisik perlahan ketika mendapat kesempatan.
"Ni guru berada di sini, aku... takut..."
Ni Nogogini tertawa lirih.
"Takut? Hi-hi-hik! kau mau tahu apakah yang saat ini sedang dilakukan oleh orang yang kau takuti itu? Mari... kau ikut aku sebentar dan kau akan melihat apakah kau perlu takut atau tidak kepada mbok ayu Durgogini!"
Tak sempat Wisangjiwo membantah karena ia sudah dipeluk dan dibawa keluar kamarnya seperti seorang anak kecil saja.
Ternyata Ni Nogogini membawanya ke kamar JokoWanengpati dan wanita sakti itu tanpa mengeluarkan suara membawanya mendekat jendela.
Pada saat itu terdengarlah bisik-bisik di dalam kamar diseling suara ketawa lirih, suara gurunya!
"Cah bagus (anak tampan)..., kenapa tanganmu ini kehilangan kelingkingnya...?"
Suara Ni Durgogini lirih, merdu, dan manja. Hafal benar Wisangjiwo akan suara ini, suara gurunya kalau sedang bercinta! "...Eh, ini...? Digigit... ular..."
Jawab Jokowanengpati dengan suara tersendat-sendat.
"Ihhh, ular apa?"
"...Anu ular kuning berlidah merah"
"Hemmm, dengan ular saja kau kalah sampai kehilangan kelingking? Aku tukang mempermainkan ular. Ular apa saja! Segala macam racun ular tidak akan mempan terhadapku!"
"Ah, tentu saja. Bibi seorang sakti mandraguna, ratu gunung dan hutan, tentu segala binatang di hutan takluk kepadamu..."
"Kau ingin belajar aji menaklukkan ular?"
"Tentu saja, kalau bibi sudi mengajarku..."
"Hi-hik, kita lihat saja. Kalau kau cukup manis dan pandai menyenangkan hatiku, mungkin..."
Wisangjiwo mengirik tangan Ni Nogogini yang tersenyum lebar dan sekali melompat Ni Nogogini sudah meninggalkan jendela sambil mengempit pinggang orang muda itu dalam gulungan lengan kirinya.
Beberapa detik kemudian mereka sudah kembali ke dalam kamar Wisangjiwo dilemparkannya pemuda itu di atas pembaringan dan ditubruknya.
Mereka bergumul di situ sambil tertawa-tawa.
Setelah mendapat kenyataan bahwa gurunya sendiri bermain gila dengan Jokowanengpati Wisangjiwo dapat melayani kehendak bibi gurunya dengan gembira dan tidak ragu-ragu lagi.
Ia tidak marah kepada Jokowanengpati karena maklum bahwa tidak ada laki-laki yang dapat menolak kehendak gurunya itu.
Hanya ia merasai heran mengapa Jokowanengpati membohong tentang kelingkingnya yang putus, Bukankah dahulu bercerita bahwa jari kelingking kirinya putus karena bacokan senjata ketika ia dikeroyok gerombolan!
perampok?
Mengapa pula sekarang mengatakan digigit ular?
yang mana yang benar?.
Akan tetapi sepak terjang Ni Nogogini yang ganas dan liar membuat ia segera lupa akan Jokowanengpati, lupa akan segala, tenggelam dalam lautan nafsu.
Memuakkan memang bagi mereka yang bersusila!
Mengerikan bagi mereka yang tahu membedakan perbuatan baik dan buruk, bagi mereka yang belum bejat ahlaknya.
Di Kadipaten Selopenangkep, di malam hari itu, terjadilah perbuatan mesum dan hina oleh dua pasang manusia yang tenggelam dalam perjinaan, menikmati perbuatan maksiat, tak sadar bahwa mereka menjadi hamba hawa nafsu dan berenang di tempat kotor.
Tiada ubahnya binatang-binatang kerbau yang bergelimang dalam lumpur, menikmati air lumpur kotor yang menempel di tubuh.
Setiap ada kesempatan, siang maupun malam, kedua orang wanita sakti itu tentu akan menyeret kedua orang muda untuk memuaskan kehausan mereka yang tak kunjung padam.
Bagaimana dengan Cekel Aksomolo?
Tiada bedanya!
Maklum akan selera kakek itu, Adipati Joyowiseso sengaja memanggil beberapa orang abdi wanita yang cantik-cantik untuk melayani si kakek bandot tua.
Karena pelayanan inilah maka tiga orang sakti yang sama "Mutunya"
Ini merasa betah tinggal di kadipaten, menanti datangnya orang-orang sakti lain yang ditunggu-tunggu oleh Adipati Joyosiseso.
Adipati inipun maklum akan perbuatan Ni Durgogini dan Ni Nogogini, akan tetapi karena sepaham sekwalitas, adipati ini dapal memaklumi dan bahkan diam-diam merasa girang bahwa puteranya dan calon mantunya dapat melayani dua orang wanita sakti itu dengan baiknya.
Dengan pelayanan-pelayanan memuaskan ini sudah boleh dipastikan bahwa tiga orang sakti itu takkan terlepas dari tangannya, akan merupakan pembantu-pembantu setia dan berguna bagi cita-citanya.
Beberapa hari kemudian berturut-turut datanglah tamu-tamu agung yang diundang dan lama dinanti-nanti itu.
Pertama-tama yang datang adalah Ki Warok Gendroyono, seorang kakek berusia enam puluh tahunan yang rambutnya sudah banyak ubannya, namun tubuhnya masih kekar penuh otot-otot, kaki tangannya seperti empat kaki singa, mukanya berkulit hitam terbakar sinar matahari, matanya bersembunyi di balik alis yang panjang, kalau memandang orang melotot seperti orang marah, bicaranya kasar dan apa adanya tanpa tedeng aling-aling, jujur mbejujur.
Pakaiannya serba hitam dengan celana sebatas lutut, kolornya (ikat pinggangnya) besar sebesai ibu jari kaki, Dua kali melilit pinggang tapi ujungnya masih panjang bergantungan di depan, pada ujungnya sekali disimpul besar.
Kelihatan lucu kolor itu, akan tetapi jangan main-main dengan benda ini.
Semua warok memusatkan ilmunya pada benda yang dapat dipergunakan sebagai senjata atau jimat inilah, dan kolor yang dipakai Ki Warok Gendroyono berwarna kuning dengan belang-belang hitam merah bukanlah kolor sembarang kolor, melainkan kolor sakti yang ampuh dan disebut Ki Bandot.
Kabarnya, demikian ampuhnya Ki Bandot ini sehingga sekali saja simpul di ujungnya menghantam lawan, sama hebatnya dengan gigitan seekor ular Bandot yang berbisa!.
Ki Warok Gendroyono tidak datang seorang diri, melainkan dengan seorang sahabatnya yang dikenal sebagai yang baurekso (penjaga) Danau Sarangan di lereng Lawu.
Karena dari Ponorogo ke Selopenangkep melalui jalan ini, maka Ki Warok Gendroyono singgah di tempa tinggal sabahatnya, bicara tentang undangan Adipati Joyowiseso yang memusuhi Raja Mataram, dan Ki Tejoran demikian nama sahabatnya itu, menjadi tertarik lalu ikut bersamanya.
Ki Tejoranu berusia hampir lima puluh tahun tubuhnya tinggi kurus dan mukanya pucat seperti penderita penyakit kuning, matanya sipit dan bicaranya sukar sekali dan pelo (tak dapat menyebut R).
Memang dia seorang perantau dari Tiongkok yang sejak mudanya bertapa di Danau Sarangan.
Dia ahli silat tangan kosong dan yang amat terkenal adalah permainannya dengan sepasang golok.
Kemudian datang pula tamu dari barat, yaitu Ki Krendayakso.
Hebat sekali tubuh kakek ini.
Usianya kurang lebih empat puluh tahun, akan tetapi tubuhnya tinggi besar melampaui ukuran manusia biasa, pantasnya seorang raksasa di jaman pewayangan!
Matanya melotot lebar dan bundar, hidungnya besar pesek, mulutnya tak tampak tertutup cambang bauk yang hitam tebal dan kaku seperti kawat bajanya yang besar itu seakan-akan tidak kuat menahan tubuhnya seperti hampir pecah di sana-sini jika tubuhnya bergerak.
Di pinggangnya sebelah kanan tergantung sebuah senjata yang mengerikan, yaitu sebuah penggada yang terbuat daripada baja, ujungnya berduri dua di kanan kiri seperti taring singa Inilah dia Ki Krendayakso kepala rampok di Bagelen yang sudah terkenal namanya di mana-mana karena banyak sudah orang dari empat penjuru mengalami gangguan apabila lewat di daerahnya, yaitu hutan Mundingseto.
Kedatangan Ki Krendayakso ini diikuti oleh selusin anak buahnya yang kesemuanya tinggi besar, kasar-kasar dan kuat, karena memang mereka semua adalah "orang-orang hutan"
Yang tidak mengenal tata susila atau sopan santun.
Namun Adipati Joyowiseso yang cerdik dan pandai bersiasat itu menerima mereka dengan ramah di taman, bahkan lalu memerintahkan para abdinya menyediakan tempat tersendiri untuk selosin orang anak buah Ki Krendayakso, memberi mereka hidangan-hidangan enak agar mereka tidak merasa bosan menanti kepala mereka yang menjadi tamu agung di kadipaten.
Dengan gembira Adipati Joyowiseso dibantu oleh Wisangjiwo dan Jokowaneng-pati, mengajak para tamunya ke ruang tamu di mana telah tersedia hidangan hidangan lezat.
Maka duduklah mereka mengitari meja yang penuh makanan dan minuman.
Adipati Joyowiseso diapit-apit Wisangjiwo dan Jokowanengpati kemudian berturut-turut duduk Ni Durgogini, Ni Nogogini, Cekel Aksomolo, Ki Warok Gendroyono, Ki Tejoranu, dan paling ujung Ki Krendayakso.
Adipati Joyowiseso menghaturkan terima kasih atas kedatangan para tamu agungnya, kemudian ia menyinggung nyinggung tentang keadaan Mataram yang kini dikuasai oleh seorang Raja keturunan Bali yang kini telah menaklukkan seluruh daerah Mataram lama.
Disinggungnya pula bahwa selain Rajanya keturunan Bali, juga Raja ini tidak menghargai orang jawa sehingga Patihnyapun sahabatnya sendiri, seorang dari Bali pula.
"Terus terang saja,"
Adipati Joyowiseso melanjutkan kata-katanya.
"Saya sendiri seorang taklukan dan kini masih menjadi adipati adalah berkat kemurahan Sang Prabu Airlangga. Akan tetapi, hati siapa akan puas menyaksikan keadaan di istana? Biarlah kita terima kenyataan bahwa Raja dan Patihnya orang-orang Bali, akan tetapi siapa dapat menahan perih hati melihat kenyataan yang pahit tentang nasib sang prameswari puteri mendiang Prabu Teguh Dharmawangsa? Betapa pedih hati ini memikirkan puteri keturunan Raja kita dahulu, yang kini rela mengundurkan diri menjadi pertapa karena mengalah sehingga kedudukannya tergeser dan dirampas oleh seorang puteri bekas musuh lama, puteri dari Sriwijaya!"
Semua orang terdiam, tak ada yang bicara setelah kata-kata Adipati Joyowieso ini berakhir.
Hanya Ni Nogogini bekas selir Raja Airlangga, menjebikan bibirnya yang merah, akan tetapi kepalanya diangguk-anggukkan.
Masing-masing terlelap dalam lamunan dan kenangan sendiri.
Memang semua juga tahu akan keadaan di Kerajaan.
Tahu bahwa sang prameswari (permaisuri), puteri mendiang Prabu Teguh Dharmawangsa yang menjadi isteri pertama Prabu Airlangga, kini mengundurkan diri dan menjadi pertapa bertapa dengan julukan Sang Panembaha Kilisuci.
Sunyi setelah Adipati Joyowiseso menghentikan kata-katanya.
Kemudian terdengar suara Ki Warok Gendroyono yang keras dan nyaring, dibarengi tangannya yang besar dan berat menggebrak meja.
"Aku tidak tahu tentang urusan dalam istana Raja dan aku tidak peduli dia hendak menceraikan semua isterinya atau kawin lagi! Bukan urusanku! Akan tetapi dua tahun yang lalu, karena membunuh tiga puluh orang musuh-musuhku, aku di tangkap oleh Ki Patih, kemudian dijatuhi hukuman penggal kepala. Ha-ha-ha! Segala macam pedang dan golok kanak-kanak di Mataram mana yang mampu memenggal leherku? Agaknya sang prabu gentar menyaksikan betapa golok dan pedang tidak berhasil menabas atau melukai batang leherku, maka aku dibebaskan. Akan tetapi aku selalu diawasi, dan semua ini merupakan penghinaan yang takkan dapat kulupakan, terutama sekali Ki Patih Kanuruhan!"
"Hi-hi-hik!"
Ni Durgogini tertawa sambil memandang Ki Warok Gendroyono.
"Ki Warok Gendroyono, aku pernah mendengar bahwa Rakyana Patih Kanuruhan adalah seorang yang digdaya sekali. Engkau sendiri tadi mengakui telah ditangkap olehnya. Bagaimanakah caramu hendak membalas dendam?"
Mata itu melotot ke arah Ni Nogogini ketika ia menjawab.
"Betul bahwa dahulu aku kalah olehnya, akan tetapi apakah kau kira selama ini aku tinggal diam saja? Tidak, aku sudah memperdalam ilmu, mencari aji yang akan dapat kupakai untuk menandinginya. Lihat saja nanti, apakah ia akan kuat menadahi ke ampuhan Ki Bandot!"
Sambil berkata demikian, tangannya mengelus-elus ujung kolor yang berada di bawah perut di antara kedua pahanya, sehingga gerakan ini tentu saja nampak lucu dan tidak patut! "Ki Warok benar...!"
Kata Ki Tejoranu mengangguk-angguk.
"Biarpun Ki Patih lihai sekali, tentu ada yang lebih tinggi. Ilmu tidak ada batasnya, makin dikenal makin tinggi. Saya dengal banyak olang lihai di Matalam, kalau tidak sekalang ikut sobat-sobat mencoba kepandaian meleka, untuk apa kita belajal ilmu?"
Biarpun kata-katanya pelo, namun semua yang hadir dapat menangkap artinya dan tahulah mereka bahwa pertapa Danau Sarangan ini adalah seorang petualang yang hanya tertarik akan mengadu ilmu.
Akan tetapi Ki Warok Gendroyono yang jujur berkata sambil tertawa.
"Wah, sahabatku Ki Tejoranu! Selain mencari korban kehebatan sepasang golokmu, apakah kelak kau tidak akan menerimanya apabila memperoleh pahala dan disodori kedudukan pangkat? Kalau begitu, biarlah kelak aku yang mewakilimu menerima semua pahala."
"Hayaaaa... bukan begitu, Ki Walok sobat baik! Kalau kalah saya mati kalau menang sudah patut telima hadiah."
Ia tertawa meringis dan sepasang matanya menjadi makin sipit sehingga tinggal merupakan dua garis melintang saja.
Kini Adipati Joyowiseso menoleh ke arah kepala rampok dari Bagelen yang duduk di ujung meja dan tiada hentinya menggerogoti paha ayam sambil mendorong dari tenggorokan ke perut dengan arak ketan.
"Semua saudara sudah menyatakan pendapatnya, bolehkah kami mendengarkan pendapatmu tentang Mataram, kisanak?"
Menghadapi seorang perampok besar yang kasar dan liar ini, tidak ada sebutan lain yang lebih tepat.
Ki Krendroyakso sendiri menyebut Ki sanak (saudara) kepada siapapun yang ia jumpai!.
Ki Krendroyakso mencuci mulut dan tenggorokannya dengan arak lebih dulu sebelum menjawab, matanya melotot lebar dan cambang bauknya bergerak gerak.
"Heemmmmm, kalau kalian mau menggempur Mataram, aku dan anak buahku siap setiap saat! Kami pernah digempur oleh pasukan Mataram, banyak anak buahku tewas. Raja Mataram yang sekarang adalah musuhku!"
Setelah berkata demikian, kembali ia menyambar daging kambing dan melahapnya tanpa mempedulikan orang lain.
"Uuh-huh-huh, demi segala jin dan setan iblis peri gadungan, siluman banaspati tetekan! Bagus, bagus... semua telah menyatakan kebencian dan permusuhan terhadap si Raja Bali. Huh-huh tapi bagaimana pelaksanaannya? Mataram memiliki panglima-panglima dan senopati senopati yang sakti mandraguna! Apakah tenaga kita mencukupi? Uh-huh-huh kalau sampai gagal, kita semua tidak urung akan binasa...!"
"Bruuuukkkk!"
Ki Warok Gendroyono menggebrak meja sampai tergetar dan piring-piring berloncatan."Paman Cekel Aksomolo apakah takut?"
"Uh-huh-huh, sialan awakku, disangka takut. Bukan takut, Ki Warok, akan tetapi kita harus mengatur siasat, harus mengukur tenaga sendiri dan membandingkannya dengan tenaga calon lawan..."
"Paman Cekel Aksomolo berkata benar!"
Tiba-tiba terdengar suara halus suara Ni Nogogini.
"Memang harus berhati-hati dan sekali bertindak ceroboh selain usaha gagal juga kita akan binasa Benar apa yang dikatakan mbok ayu Ni Durgogini tadi. Baru Narotama Patih Kanuruhan itu saja kedigdayaannya sudah menggiriskan, apalagi kalau kita ingat akan Sang Prabu Airlangga sendiri yang sakti mandraguna! Seakan-akan Sang Batara Wisnu sendiri yang menjelma. Dalam kedigdayaannya, biarpun sang prabu ini saudara seperguruan Ki Patih, namun ilmunya jauh melampauinya! Karena itulah, selain kita harus berhati-hati, juga harus dapat melihat keadaan dan pandai memilih waktu."
"Sekaranglah waktunya!"
Tiba-tiba Ni Durgogini berkata.
"Kalau mau memilih yang paling tepat, sekarang inilah!"
"Mbok-ayu, apa maksudmu?"
Ni Nogogini bertanya, sedangkan yang lain-lain juga menengok memandang wajah ayu kemayu dan mata yang kocak bening itu.
Bibir yang merah basah tanpa dubang (air kapur sirih) itu merekah membayangkan kilatan gigi yang putih.
"Kalian semua belum tahu bahwa pada saat ini Kerajaan Mataram kehilangan sebuah pusaka yang selama ratusan tahun menjadi lambang kejayaan Mataram, Patung kencana Sri Batara Wishnu telah lenyap dari keraton!"
Semua orang menyambut berita ini dengan kaget.
Terdengar suara ah-ah-oh-oh dan semua mata memandang wajah ayu Ni Durgogini, bukan karena kagum oleh kecantikan melainkan oleh rasa ingin tahu yang besar.
Wanita itu mengangguk-angguk.
"Pusaka keramat itu lenyap tak meninggalkan bekas. Sang prabu gelisah, bahkan mengutus Ki Patih sendiri untuk turun tangan keluar dari istana pergi mencari patung kencana yang hilang. Nah, pada saat pusaka keramat lenyap dan Kerajaan Mataram menyuram, apalagi Ki Patih tidak berada di keraton, bukankah saat ini adalah saat terbaik?"
"Uh-huh-huh, Jagat Dewa Batara! Semoga selalu jaya wijaya bagianku dan apes sial dangkal bagian musuh-musuhku! Uh-huh, aku pernah mendengar bahwa patung kencana itu amat bertuah, siapa mendapatkannya akan menerima wahyu (anugerah dewata) mahkota, berhak menjadi Raja tanah Jawa! Aku mendengar pula bahwa di dalam patung kencana itu tersimpan pusaka Brojol Luwuk (keris tanpa ganja berwarna abu-abu), satu-satunya pusaka yang mampu menembus jantung Raja yang sudah kehilangan wahyunya! Uh-huh-huh, yang paling perlu sekarang adalah mendapatkan patung kencana itu lebih dulu, baru menggulingkan Raja Bali di Kahuripan. Pusaka keris Brojol Luwuk dalam patung kencana menjadi ajimat sejak Prabu Sanjaya mendirikan Mataram, selalu menjadi patung bertuah selama Kerajaan Mataram berdiri. Ketika dahulu lenyap dari keraton, Mataram runtuh dan hampir terbasmi habis, ditaklukkan oleh Kerajaa Syailendra, Setelah pusaka itu didapatka kembali oleh Sang Rakai Pikatan, Mataram bangkit dan jaya kembali. Pernah hilang pada waktu Kerajaan Medang, baru didapatkan kembali oleh Raja Airlangga dari Bali yang kini disebut Raja Kahuripan. Uh-huh-huh, sekarang lenyap, bukankah itu berarti akan runtuhnya Kahuripan dan bangkitnya kembali Mataram yang dahulu?"
Mendengar ini semua orang termenung Mereka semua memiliki hati dendam penasaran terhadap Sang Prabu Airlangga, merasa dirugikan ditambah lagi mengingat bahwa Sang Prabu Airlangga dan Narotama Patihnya adalah orang-orang Bali.
Kenyataan bahwa sesungguhnya Airlangga juga masih seorang keturunan Raja-raja Mataram tidak meredakan kebencian mereka.
Sebetulnya, Airlangga yang menjadi mantu Raja Medang terakhir, yaitu Teguh Dharmawangsa adalah anak kemenakan dari permaisuri Raja Medang ini.
Ibu Airlangga adalah Puteri Mataram yang bernama Mahendradata yang menikah dengan Pangeran Udayana dari Bali.
"Akan tetapi kalau harus mencari pusaka yang hilang, sampai kapankah kita dapat bergerak menghancurkan Kahuripan?"
Ni Nogogini berkata tidak puas.
"Mencari pusaka bukanlah hal yang mudah, apalagi Ki Patih sendiri juga sedang mencari-carinya."
Kembali semua orang meragu, dan akhirnya terdengar suara Jokowanengpati. Pemuda ini memang cerdik, kata-katanya jelas, buah pikirannya masuk akal dan begitu ia bicara, perhatian mereka semua tertarik.
"Saya rasa pendapat Ni Durgogini bahwa kini sudah tiba saatnya adalah benar, juga pendapat eyang Cekel Aksomolo agar kita mencari pusaka yang hilang lebih dulu juga benar pula. Kita harus dapat menyatukan pendapat-pendapat benar dan mencari manfaat dari padanya. Menurut pendapat saya yang muda dan bodoh, marilah kita mencari pusaka yang hilang itu dengan terpencar. Sementara kita mencari pusaka yang hilang, kita kerahkan tenaga, kita didik orang-orang di pedusunan menjadi perajurit untuk memperbesar bala tentara kita, karena betapapun juga, tanpa pasukan yang besar dan kuat, usaha kita takkan berhasil. Tentang keadaan di Mataram, tak perlu dikhawatirkan karena kakangmas Wisangjiwo bertugas di sana sehingga dialah yang wajib mengawasi gerak-gerik di istana Kahuripan sehingga kita mengetahui semua perubahan dan rahasianya. Kalau pasukan yang kita tempa sudah cukup kuat dan siap, baru kita bergerak. Syukur kalau pada waktu itu kita sudah dapat menemukan pusaka yang hilang."
Semua yang hadir di situ mengangguk-angguk setuju.
Memang, mengadakan perlawanan terhadap Raja Airlangga dan Patihnya Narotama bukanlah hal yang ringan dan mudah, karenanya perlu siasat yang matang.
Tiba-tiba Jokowanengpati berkata lagi.
"Karena pusaka patung kencana itu merupakan lambing kejayaan Mataram dan siapa memilikinya mendapat wahyu mahkota Mataram, sebaiknya kita putuskan bahwa siapa di antara kita yang mampu mendapatkannya, akan kita angkat sebagai pimpinan persekutuan ini dan andaikata kelak berhasil, dialah yang akan diangkat menjadi Raja Mataram!"
Semua orang kaget, akan tetapi setelah dipikir secara mendalam, membenarkan juga pendapat ini.
"Uuh-huh-huh, itu sudah tepat sekali!"
Kata Cekel Aksomolo.
"Benar dan adil!"
Seru Ki Krendayakso."Sekarang juga aku akan mengerahkan anak buahku mencari pusaka!"
Ia sudah bangkit berdiri, kelihatannya tergesa-gesa.
Adipati Joyowiseso tersenyum dan cepat menahan raksasa ini.
Di dalam hatinya ia sudah khawatir juga akan usul Jokowanengpati yang disetujui semua orang.
Bagaimana kelak akan jadinya andaikata Ki Krendrayakso kepala rampok ini yang mendapatkan pusakanya?
"Harap kisanak bersabar dan tidak tergesa-gesa.
Semua usul anakmas Jokowanengpati memang tepat dan semua telah menyetujuinya.
Akan tetapi setelah para bijak dan pandai sudi melangkahkan kaki datang ke Kadipaten Selopenangkep, harap jangan tergesa-gesa pergi lagi.
Selain itu, sudah amat lama saya mendengar akan kesaktian anda sekalian.
Setelah kini ada kesempatan berjumpa, saya mohon sedikit petunjuk untuk membuka mata saya, dan untuk membesarkan hati menghadapi usaha kita yang amat besar dan berbahaya ini.
Setelah menyaksikan kesaktian anda semua, agaknya barulah hati saya akan tenteram dan dengan penuh kepercayaan akan dapat saya kumpulkan tenaga serta saya hubungi para adipati di empat penjuru."
"Hayaaaa..."
Ki Tejoranu berkata sambil bangkit berdiri."Laden Joko dan sang adipati, semua pintal bicala sekali,. Saya tidak bisa bicala, cuma bisa mainkan golok..."
Setelah berkata demikian, tiba-tiba tangannya bergerak dan tampaklah sinar menyilaukan mata ketika sepasang goloknya sudah dicabut.
Sepasang golok itu ia putar-putar di sekeliling tubuhnya merupakan gulungan dua gulungan sinar putih, yang satu menyambar ke arah bangku kosong di sebelah kiri, yang satu menyambar pula ke arah seekor anjing yang sedang sibuk menggigiti tulang di atas lantai.
Tidak terdengar suara apa-apa, dan kedua sinar itu lenyap, Ki Tejoranu menyeringai sambil memasukkan sepasang senjatanya ke sarung, lalu duduk kembali setelah mengangkat kedua tangan ke depan dada sambil berkata.
"Maaf, siang-to (sepasang golok) yang buluk, tidak baik."
Adipati Joyowiseso tidak dapat menahan geli hatinya. Ia melihat bangku itu masih berdiri di tempatnya, anjing itu masih duduk mendeprok, hanya tidak menggigit tulang lagi, kini menyalak lirih.
"Ha-ha-ha, Ki Warok Gendroyono, pertunjukan apakah yang diperlihatkan sahabatmu dari Sarangan tadi? Cukup menyilaukan mata, akan tetapi terlalu singkat waktunya dan apa gunanya?"
Ki Warok Gendroyono tertawa terbahak-bahak, lalu berkata.
"Harap kanjeng adipati periksa yang baik-baik!"
Setelah berkata demikian, Ki Warok Gendroyono menyentuh bangku di sebelah kiri, mendorongnya sedikit dan...
bangku itu ternyata telah terbelah menjadi tiga, agaknya saking tajam dan cepatnya gerakan golok, biarpun sudah terbelah bangku itu masih kelihatan utuh dan tidak roboh!
Kemudian Ki Warok Gendroyono membentak dan mengusir anjing hitam yang masih duduk mendeprok.
Anjing yang mengeluarkan bunyi lirih itu meloncat dan...
kepalanya menggelinding, lehernya yang telah sapat (terbabat putus) itu mengucurkan darah!
Kagetlah Adipati Joyowiseso dan para tamu.
Hebat sekali Ki Tejoranu yang kurus pucat itu.
Melihat orangnya yang kurus pucat, mendengar suaranya yang pelo dan tidak karuan, benar-benar orang akan memandang rendah.
Akan tetapi melihat kenyataannya sekarang, benar-benar sepasang goloknya itu mengerikan sekali.
Lawan akan dapat tewas terbabat golok tanpa terasa!
Melihat semua orang terdiam dan memandang Ki Tejoranu dengan pandang mata yang berbeda daripada tadi, penuh kagum dan heran, Ki Warok Gendroyono tertawa lagi keras-keras.
Kemudian ia berkata.
"Kanjeng Adipati Joyowiseso menghendaki kita memperlihatkan kepandaian. Setelah kita menjadi sahabat, pula setelah kita disambut dengan manis, kenyang makan minum, sudah sepantasnya kita memenuhi kehendaknya itu."
Sambil tertawa-tawa Ki Warok Gendroyono menanggalkan bajunya sehingga tampak bahunya yang bidang, dadanya yang menonjol dengan bulu tebal di tengah, kemudian ia berkata kepada para penjaga yang menjaga pintu ruangan itu setelah memanggil mereka.
"Hayo kalian gunakan tombak dan golok kalian untuk membacoki tubuhku ini, boleh pilih bagian yang paling lunak!"
Tiga orang penjaga itu memandang bingung.Tentu saja mereka tidak berani melakukan hal ini, maklum bahwa kakek ini adalah seorang di antara tamu agung yang dijamu oleh adipati.
Akan tetapi tiba-tiba Sang Adipati Joyowiseso sendiri berkata.
"Lakukan apa yang diperintahkan Ki Warok!"
Kini mengertilah tiga orang penjaga itu bahwa tamu itu hendak mendemonstrasikan kepandaiannya.
Gembiralah hati mereka dan ketiganya lalu menggunakan tombak mereka menusuk, ada yang memilih perut, ada yang menusuk ulu hati dan orang ketiga malah menusuk tenggorokan!
Akan tetapi Ki Warok adalah seorang yang kebal, tan tedas tapak paluning pande (tidak mempan senjata buatan pandai besi)!
Begitu mata tombak menyentuh kulit, terdengar suara"Krek-krekkrek"
Dan tiga orang itu terbanting jatuh karena leher tombak mereka patah-patah! (Lanjut ke
Jilid 08) Badai Laut Selatan (Seri ke 03 Serial Serial Keris Pusaka Sang Megatantra) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo
Jilid 08
"Ha-Ha-Ha! Hayo pergunakan keris dan golok kalian!"
Ki Warok tertawa sambil mengelus-elus jenggot dengan tangan kiri sedangkan tangan kanannya bertolak pinggang.
Tiga orang penjaga itu merayap bangun dengan muka merah.
Kemudian mereka bertiga lalu mencabut keris dan golok, menyerang lagi, menusuk dan membacok sekenanya.
Bahkan ada yang menusuk muka, membacok kepala, pendeknya mereka menghujani tubuh Ki Warok dengan senjata mereka.
Namun sia-sia, serangan itu semua tidak ada artinya bagi orang sakti ini dan begitu ia mengerahkan tenaga, keris-keris menjadi patah dan golok-golok rompal semua!
Tiga orang penjaga itu mengundurkan diri dengan muka pucat.
"Wah, hebat sekali! Ki Warok Gendroyono benar-benar seorang sakti mandraguna!"
Kata Adipati Joyowiseso girang dan kagum.
Ki Warok hanya tersenyum dan mengenakan kembali bajunya.
Kepandaian seperti itu saja apa sih anehnya, ia pikir.
Belum lagi ia memperlihatkan keampuhan Ki Bandot!
Akan tetapi kolor pusaka ini hanya boleh dipergunakan di waktu menghadapi lawan tangguh, sama sekali tidak boleh dibuat main-main.
Melihat orang-orang sudah mulai memperlihatkan kepandaian, Ki Krendoyakso yang baru berusia empat puluh tahun itu menjadi panas perutnya.
Dia adalah seorang kepala rampok yang terperosok ke dalam peryakinan ilmu hitam, seorang ahli racun, akan tetapi selain kepandaian yang menyeramkan ini iapun terkenal seorang yang amat kuat.
Kini ia celingukan memandang ke kanan kiri, kemudian keluar jendela.
Ruangan tamu di belakang ini menembus sebuah taman yang tampak dari jendela yang terbuka lebar.
Segera ia bangkit dan berkata.
"Aku yang bodoh dan kasar hanya dapat bermain-main dengan pohon di luar itu."
Tanpa menanti jawaban ia melangkah lebar, keluar dari pintu dekat jendela lalu menghampiri pohon dalam taman.
Semua orang menoleh dan menonton melalui jendela.
Begitu dekat dengan pohon, Ki Krendayakso memasang kuda-kuda, berseru keras dan lengan kanannya yang panjang besar itu meluncur ke depan, dengan jari-jari terbuka ia menusukkan jari-jari tangannya kepada batang pohon.
Bagaikan lima batang pisau runcing, kelima jari tangan kanan itu menancap ke dalam pohon, lalu dicabutnya kembali.
Semua orang termasuk Adipati Joyowiseso memandang rendah pertunjukan ini.
Apa sih sukarnya ini?
Asal orang mempelajari sedikit ilmu saja, tentu mampu menusukkan tangannya ke dalam batang pohon!
Mengapa raksasa yang terkenal ini hanya mampu melakukan hal yang serendah ini?
Akan tetapi baru saja Adipati Joyowiseso berpikir demikian, tiba-tiba Jokowanengpati berseru.
"Lihat daun-daun itu, bukan main!"
Adipati Joyowiseso memandang dan mukanya menjadi pucat membayangkan kengerian.
Daun-daun di atas pohon itu menjadi layu secara mendadak dan kini mulai rontok berhamburan dengan warna berubah kuning!
Ternyata tangan yang menusuk batang pohon tadi telah menyalurkan hawa beracun yang sedemikian hebatnya sehingga mampu meracuni semua daun di atas pohon yang besar.
Bukan main!
Pohon saja tidak mampu menahan, apalagi kalau tubuh orang yang terkena tusukan jari-jari tangan itu!
Ki Krendayakso tidak hanya berhenti sampai di situ.
Tiba-tiba ia berseru keras, tubuhnya menyerbu ke depan dan dengan keras sekali bahu dan kepalanya menabrak batang pohon.
Terdengar suara hiruk-pikuk dan...
batang pohon yang sudah tak berdaun lagi itu tumbang!
Ki Krendayakso tersenyum lalu berjalan kembali ke ruangan tamu dengan lenggang seenaknya dan langkah lebar-lebar, disambut pujian-pujian Adipati Joyowiseso dan tamu-tamu lainnya.
"Tiga orang saudara yang sakti telah memberi pertunjukan,"
Kata Adipati Joyowiseso.
"Biarpun saya sudah menyaksikan kesaktian paman Cekel Aksomolo, akan tetapi untuk mempererat perkenalan dengan yang lain, ada baiknya apabila paman sudi memberi sedikit pertunjukan untuk meramaikan pertemuan ini."
Cekel Aksomolo tertawa terkekeh.
"Ahh, aku seorang yang tidak punya nama. Karena aku hanya mengandalkan kepada aksomolo (tasbih), maka tanpa aksomolo aku bukan apa-apa. Biarlah tasbihku memberi sedikit pertunjukan, kalau kurang memuaskan harap jangan ditertawakan."
Setelah berkata demikian kakek itu mengeluarkan penutup-penutup telinga sambil berkata lagi.
"Aku tidak mau membikin susah saudara-saudara yang hadir di sini, juga tidak bermaksud memandang rendah. Karena itu aku sediakan penutup telinga ini dan bagi siapa yang hendak menutupi telinganya, kupersilakan mengambil sendiri dan memakainya. Akan tetapi kepada kanjeng adipati kunasehatkan untuk memakainya."
Adipati Joyowiseso sudah maklum akan keampuhan tasbih kakek ini, maka segera ia menjumput dua buah benda seperti kapas, lalu tertawa sambil berkata.
"Suara tasbih paman Cekel benar-benar hebat, saya tidak berani menghadapinya tanpa memakai penolak ini."
Juga Jokowanengpati segera mengambil sepasang benda itu.
Melihat ini Wisangjiwo juga mengambil dua buah.
Akan tetapi lima orang sakti yang lain, Ni Nogogini, Ni Durgogini, Ki Warok Gendroyono, Ki Krendayakso, dan Ki Tejoranu, hanya memandang sambil tersenyum saja, tidak mengambil alat penutup telinga.
Cekel Aksomolo lalu memanggil dua orang penjaga.
Mereka ini menjadi pucat, menggeleng-geleng kepala dan hendak mengundurkan diri.
Mereka maklum akan kesaktian kakek ini yang sudah mereka saksikan sendiri ketika suara tasbih mempermainkan para penabuh gamelan dan para waranggana.
Akan tetapi bentakan Adipati joyowiseso membuat mereka datang munduk-munduk (terbongkok-bongkok) dengan tubuh menggigil.
"Uahh-huh-huh, jangan takut kalian berdua. Aku tidak akan mencelakai kalian, hanya akan mempermainkan kalian untuk sekedar pertunjukan dan menggembirakan suasana,"
Kata Cekel Aksomolo sambil menggerakkan tasbihnya.
Adipati Joyowiseso, Jokowanengpati dan Wisangjiwo cepat menyumbat telinga mereka.
Tasbih di tangan Cekel Aksomolo berkeritik perlahan akan tetapi makin lama makin cepat.
Terciptalah suara aneh seperti tikus mengerikiti kayu dan terkejutlah lima orang sakti yang hadir di situ.
Suara ini seperti mengorek kendangan telinga mereka, menimbulkan rasa keri (geli) yang tak tertahankan.
Cepat mereka mengerahkan tenaga batin, mengumpulkan hawa sakti dan menyalurkannya ke telinga untuk melawan pengaruh aneh ini.
Akan tetapi kedua orang penjaga itu sudah gulung-kuming (bergulingan) dan tertawa-tawa terpingkal-pingkal.
Keadaan menjadi lucu sekali.
seperti dua orang badut, mereka ini tertawa-tawa, Keadaan menjadi lucu sekali.
Terkena pengaruh suara tasbih Cekel Aksomolo, kedua penjaga itu tertawa terbahak-bahak tanpa berhenti.
Ada kalanya terkekeh lalu terbahak-bahak dan di lain saat terpingkal-pingkal tanpa mengeluarkan suara.
Kalau dilanjutkan, tentu mereka berdua akan kejang bias mati tertawa!
Akan tetapi tiba-tiba suara tasbih berhenti dan dua orang itu mendadak berhenti pula tertawa, terengah-engah lalu bangkit berdiri.
Akan tetapi kembali Cekel Aksomolo menggerakkan tasbihnya dan kali ini yang terdengar suara mbrengengeng (mengaung) seperti ratusan ekor nyamuk terbang di depan telinga.
Dua orang penjaga itu tiba-tiba menangis, tak tertahankan lagi, menangis terisak-isak, jatuh berlutut, kmudian bergulingan dan masih menangis menggerung-gerung!
Hanya sebentar saja Cekel Aksomolo menyiksa mereka.
Tasbihnya segera berhenti bergerak dan dua orang penjaga itu sadar kembali.
Mereka masih terisak-isak ketika Cekel Aksomolo memberi tanda supaya mereka pergi.
Adipati Joyowiseso mengeluarkan penyumbat telinga, demikian pula Jokowanengpati dan Wisangjiwo.
"Hebat sekali kepandaian paman Cekel,"
Kata sang adipati.
Juga lima orang sakti itu diam-diam terkejut dan kagum.
Pantas saja nama Cekel Aksomolo amat terkenal, kiranya kakek itu memiliki tenaga dalam dan hawa sakti yang amat kuat sehingga mampu menggerakkan tasbih sedemikian rupa sehingga dapat menciptakan suara-suara mujijat yang amat berbahaya bagi musuh.
Akan tetapi, dalam pertunjukan tadi, kelima orang itupun masing-masing secara tidak langsung telah memperlihatkan kekuatan tenaga dalam mereka dengan kesanggupan mereka melawan pengaruh suara tasbih itu.
"Uuh-huh-huh, apa sih artinya kepandaian seperti itu? Aku seorang tua yang tiada gunanya. Mana bisa dibandingkan dengan Ni Durgogini dan Ni Nogogini? Nama mereka menjulang tinggi di angkasa, tentu kepandaian mereka berdua ini juga setinggi langit!"
"Saya tidak berani menyusahkan kedua Nini Dewi, akan tetapi karena semua sudah memberi pertunjukan kiranya anda berdua takkan berkeberatan pula menambah kegembiraan pertemuan ini,"
Kata Adipati Joyowiseso yang merasa sungkan karena mereka berdua adalah wanita-wanita dan seorang di antara mereka malah guru puteranya"
Ni Durgogini tersenyum. Bibirnya yang bawah bergerak-gerak aneh menimbulkan kemanisan luar biasa dan memperlihatkan bibir sebelah dalam yang halus kemerahan dan basah.
"Kami adalah wanita, lebih mengutamakan kehalusan, biarlah aku main-main dengan segelas arak ini!"
Dengan gerakan lemah gemulai dan cekatan ia mengisi gelas araknya yang terbuat daripada perak, lalu mengangkat dan menggenggam dalam tangan kanannya.
Ia bangkit berdiri dengan gelas arak di tangan sambil mengerahkan tenaga sakti Bromosari yang ia ciptakan dan latih selama tinggal di Girilimut.
Hebat bukan main kesudahannya.
Arak dalam gelas itu bergerak-gerak dan tak lama kemudian mengeluarkan uap terus mendidih!
Semerbak bau arak ketika arak mendidih itu mengeluarkan uap makin banyak lagi.
Ni Durgogini tersenyum, lalu meletakkan gelas arak itu di atas meja.
Masih mendidih araknya dan begitu gelas diletakkan di atas meja kayu, papan di bawahnya menjadi hitam karena panas!
"Hi-hik, aku mau meniru pertunjukan mbok ayu Durgogini!"
Tiba-tiba Ni Nogogini berkata, mengisi cawan araknya sendiri lalu bangkit berdiri sambil memegangi cawan atau gelas araknya seperti yang dilakukan Ni Durgogini tadi.
Akan tetapi kini terjadi sebaliknya.
Mula-mula tampak butiran-butiran air di sekitar gelas perak dan arak itupun mengeluarkan uap, dingin dan tak lama kemudian araknya membeku dalam gelas!
Ni Nogogini membalikkan cawan, akan tetapi arak tidak tertumpah seperti benda cair, melainkan jatuh ke atas meja seperti sepotong es!
"Hebat...!"
Seru Adipati Joyowiseso yang merasa terheran-heran.
Semua pertunjukan yang diperlihatkan enam orang sakti itu baginya seperti sihir dan sulap saja, dan hatinya benar-benar menjadi besar.
Mendapat bantuan enam orang ini, ia yakin kelak cita-citanya akan terlaksana.
Bukan hanya Adipati Joyowi-seso yang memuji, juga empat orang sakti yang hadir diam-diam terkejut dan kagum menyaksikan kehebatan tenaga dalam dan hawa sakti yang dimiliki dua orang wanita itu.
Itulah tenaga sakti yang luar biasa, yang membuat tangan mereka ampuh melebihi senjata tajam, ampuh, kuat dan beracun pula.
Hebat memang!
Pesta dilanjutkan dalam suasana meriah.
Mereka telah mengambil keputusan untuk bersekutu dan melakukan kegiatan-kegiatan seperti berikut.
Pertama, masing-masing berlomba mencari pusaka patung kencana yang hilang dari istana Kahuripan (Mataram).
Ke dua, masing-masing dengan caranya sendiri menghimpun tenaga membentuk pasukan-pasukan yang kuat dan menghubungi adipati-adipati dan golongan-golongan di empat penjuru yang anti Kahuripan.
Ke tiga, mereka akan berusaha melemahkan Kahuripan dengan jalan memusuhi para senopati dan tokoh-tokohnya, kalau mungkin membunuh mereka seorang demi seorang dengan dalih permusuhan pribadi.
Langit di atas istana Kahuripan telah mendung.
Kerajaan Mataram telah terancam bahaya yang datangnya dari Selopenangkep, dan semua itu didahului dengan peristiwa yang merupakan ramalan, yaitu dengan lenyapnya pusaka patung kencana.
Lenyapnya pusaka keramat ini menjadi tanda kesuraman Kerajaan.
* * * Beberapa bulan kemudian, Jokowanengpati melakukan perjalanan seorang diri mendaki Gunung Lawu.
Dengan ilmu kepandaiannya, ia dapat mendaki dengan tangkas, melompat-lompat melalui jurang yang curam.
Pemandangan alam di lereng Lawu amatlah indahnya, namun pada saat itu Jokowanengpati seperti buta terhadap keindahan pemandangan alam.
Ia tergesa-gesa sekali dan kadang-kadang ia berhenti hanya untuk memandang ke sekelilingnya.
Bukan sama sekali menikmati pemandangan alam, melainkan untuk melihat kalau-kalau ada orang lain yang melihat pendakiannya.
Ia sedang menuju ke tempat rahasia, tidak ingin ada orang lain melihatnya.
Jokowanengpati adalah seorang pemuda yang selain tangkas dan berilmu, juga amat cerdik dan hati-hati.
Lega hatinya melihat keadaan sekeliling lereng itu sunyi senyap.
Bahkan kini ia telah jauh meninggalkan kelompok dusun terakhir di lereng sebelah bawah.
Makin ke atas makin sunyilah keadaan dan tidak tampak adanya dusun lagi.
Orang-orang pencari kayupun tidak akan sampai ke tempat setinggi ini, tempat yang berbahaya dan sukar didatangi.
Kemudian dengan cekatan ia melompat dan merayap ke arah batu gunung yang merupakan karang tinggi.
Dari tempat tinggi itulah ia mengintai dan tiba-tiba ia tersenyum puas.
Di sebelah kiri sana, sebelah barat dekat dengan sungai gunung, tampak sekelompok cemara yang pendek dan agak kekuningan daunnya.
"Ah, tentu itulah tempatnya. Bekas pertapaan Taru Jenar (Pohon Kuning) yang sudah kosong! Tentu di sana, tak salah lagi!"
Kata hatinya dan cepat ia turun dan segera berlompatan lagi menuju ke barat.
Tak lama kemudian tibalah ia di tempat yang dituju dan dari jauh ia sudah melihat sebuah pondok kecil.
Di samping pondok tampak seorang wanita tengah menghadapi tungku dan asap mengepul dari kwali di atasnya.
"Mirah...!"
Tegur Jokowanengpati dengan suara gembira sambil lari menghampiri.
Wanita itu kaget dan menoleh.
Ternyata ia seorang wanita muda yang cukup cantik, berkulit kuning bersih dan kembennya yang berkembang itu menandakan bahwa ia bukanlah seorang dusun.
Memang sesungguhnyalah.
Mirah bukar seorang wanita dusun.
Dia bekas abdi dalam istana Prabu Airlangga.
"Kakangmas Joko...!?!"
Sukar diduga perasaan apa yang membayang pada wajah ayu itu, akan tetapi ia tidak menolak dan mandah saja ketika Jokowanengpati memeluk, mendekap dan menciuminya sambil membelai leher yang indah bentuknya.
"Manis, di mana kakang Wiratmo? Dan paman Sunggono?"
"Di... di dalam... eh, mencari kayu..."
Wanita muda itu menggeliat kegelian oleh jari-jari tangan Jokowanengpati yang nakal. Pada saat itu terdengar suara seorang laki-laki penuh kegembiraan.
"Adikku Mirah pujaan hatiku, sudah matangkah masakanmu? Perutku lapar se..."
Ucapannya itu berhenti seakan-akan lehernya dicekik dan mukanya yang berseri berubah pucat ketika laki-laki muda itu melihat Jokowanengpati di situ.
"Ah... Raden Jokowanengpati... sudah... sudah lamakah...? Maafkan saya tidak tahu akan kedatangan raden sehingga tidak menyambut..."
Jokowanengpati sudah melepaskan tanganya yang tadi membelai wanita itu, tersenyum dan berkata manis.
"Kakang Wiratmo, baru saja aku tiba. Di mana paman Sunggono? Dan bagaimana dengan... anu itu? Tentu selamat sampai kalian bawa ke sini, bukan?"
Tergopoh-gopoh Wiratmo menjawab.
"Jangan khawatir, raden. Semua beres. Paman Sunggono tadi baru mencari kayu di hutan sana. Biar saya panggil dia!"
Tanpa menanti jawaban Wiratmo segera menaruh kedua tangan di kanan kiri mulutnya kemudian berteriak keras sambil menghadap ke kanan.
"Paman Sunggonooooo...!! Raden Joko sudah datangggg...!!!"
Suaranya keras bergema di dalam hutan itu. Orang muda berusia tiga puluhan dan berwajah cukup ganteng itu segera berpaling kepada Jokowanengpati sambil berkata.
"Marilah, raden, kita bercakap-cakap di dalam, sebentar lagi paman Sunggono tentu datang. Mirah, segera selesaikan masakanmu untuk menjamu Raden Jokowanengpati."
Jokowanengpati mengangguk dan keduanya memasuki pondok. Setelah mereka duduk di atas bangku bamboo menghadapi meja jati, Jokowanengpati segera bertanya.
"Bagaimana perjalanan kalian bertiga ke sini? Tidak terjadi sesuatu dan tidak ada yang tahu, kan?"
"Semua beres, raden, tepat seperti yang kita rencanakan. Setelah mendapatkan pusaka itu dari tangan raden, Mirah memohon kepada kanjeng ratu untuk pulang ke dusun dengan alasan rindu orang tua dan ingin menikah. Untung tidak ada kecurigaan apa-apa dan Mirah dapat keluar istana bersama pusaka itu dengan mudah. Sebagai seorang abdi dalam, emban kanjeng ratu, siapakah yang mencurigai dan berani mengganggunya? Saya menjemputnya di luar istana, mengaku kakak misannya dan kami berdua keluar dari Kotaraja. Di luar Kotaraja, paman Sunggono sudah menjemput dengan kuda maka kami bertiga dapat melarikan diri dengan cepat."
"Bagus! Aku tidak akan melupakan jasa kalian bertiga, Wiratmo. Dengan adanya pusaka itu di tanganku, hemmmm... siapa tahu kelak kau dan paman Sunggono akan dapat terangkat menjadi pembesar-pembesar tinggi! Eh, Wiratmo, di mana pusaka itu? Lekas kau keluarkan,aku sudah ingin sekali melihat."
"Ah, raden, mana berani kami menyimpannya di pondok ini? Pusaka itu kami simpan di tempat lain, tempat tersembunyi. Kami orang-orang pelarian siapa tahu sewaktu-waktu datang pengejaran dari istana! Kalau benda itu tidak terdapat bersama kami, tentu kami akan bebas daripada tuduhan-tuduhan."
Jokowanengpati mengangguk-angguk.
"Bagus, bagus! Memang seharusnya demikian, kakang Wiratmo. Mari kita ambil pusaka itu."
"Raden, harap raden bersabar, menanti sampai datangnya paman Sunggono. Kita harus berhati-hati benar dan raden cukup maklum bahwa hanya paman Sunggono yang sudah hafal akan keadaan daerah ini. Dialah yang mengusulkan supaya pusaka itu disimpan di sebuah guha angker di lereng atas. Kita tunggu dia pulang, raden, kemudian setelah dana (makan) baru kita bersama pergi mengambilnya."
"Baiklah kalau begitu."
Tak lama kemudian masuklah kedalam pondok seorang laki-laki setengah tua berusia kurang lebih empat puluh lima tahun, matanya bersinar tajam dan wajahnya membayangkan darah kebangsa-wanan.
Inilah Sunggono yang sebenarnya memang masih keturunan seorang senopati.
Ayahnya adalah seorang senopati yang dahulu menjadi kaki tangan Ki Patih Sepuh Hardogutomo, yaitu Patih dari Sang Prabu Teguh Dharmawangsa.
Patih ini bersama kaki tanganyya pernah memberontak, bahkan bersekutu dengan kau m pemberontak dan tentara Sriwijaya sehingga Sang Prabu Teguh Dharmawangsa (ayah mertua Airlangga) tewas dan Kerajaan Medang (Mataram) terampas.
Akan tetapi kemudian Airlangga berhasil merebut kembali Kerajaan itu, membasmi musuh di antaranya Ki Patih Sepuh Hardogutomo dan kaki tangannya.
Senopati itu, ayah Sunggono, yang menjadi kaki tangan Patih Sepuh Hardogutomo juga tewas dalam perang ini, akan tetapi Sunggono yang ketika itu masih muda, sempat melarikan diri.
"Wah, anakmas Jokowanengpati baru tiba? Sungguh anakmas telah membuat kami setengah mati menanti-nanti dengan hati gelisah."
Begitu memasuki pondok, Sunggono menegur dengan kata-kata halus. Jokowanengpati tersenyum dan menjawab.
"Maaf, paman. Banyak sekali soal penting yang menghalang sehingga saya tidak mendapat kesempatan untuk menyusul ke sini. Paman harus maklum bahwa kita harus menghilangkan jejak dan harus berhati-hati sekali agar jangan sampai menimbulkan kecurigaan. Selama setahun lebih ini, saya bertemu dengan tokoh-tokoh sakti sehaluan, dan selalu bersama mereka di Selopenangkep. Biarpun mereka adalah sahabat-sahabat sehaluan, tetap saja saya harus merahasiakan tempat ini. Baru sekarang saya mendapat kesempatan menyusul ke sini, harap paman maafkan atas kelambatan ini sehingga paman menjadi tak enak di hati."
"Sudahlah, tidak apa karena sekarang anakmas sudah datang. Akan tetapi selama berbulan-bulan itu hati saya selalu gelisah dan ketakutan. Pusaka itu bertuah dan kita sama tahu betapa orang setanah Jawa ini ingin sekali memilikinya. Apalagi orang-orang sakti yang mendengar lenyapnya pusaka itu tentu berlomba untuk mendapatkannya. Pusaka itu lambang kejayaan Kerajaan dan mendatangkan wahyu mahkota, pasti menarik semua orang gagah dari empat penjuru untuk mendapatkannya. Bagaimana hati saya bias enak kalau ditempati pusaka seampuh itu? Tidur tak nyenyak makan tak enak... eh, Mirah! Mana jamuan? Lekas hidangkan kepada anakmas Joko-wanengpati. Perutku sendiripun sudah amat lapar!"
Sunggono berteriak-teriak, tidak tahu betapa beberapa detik lamanya Jokowanengpati memandangnya dengan sinar mata tajam.
Memang pemuda ini kaget sekali.
Kiranya orang tua inipun sudah tahu keampuhan pusaka yang mereka larikan dari istana Kahuripan!.
"Paman Sunggono, di manakah pusaka itu disimpannya? Aku ingin sekali menerimanya sekarang juga."
"Sabar..., sabar anakmas. Setelah bersabar selama setahun lebih, hampir satu setengah tahun sehingga kami bertiga hidup seperti orang alasan (hutan), mengapa sekarang anakmas begitu tergesa-gesa? Kita makan lebih dulu, baru nanti bersama mengambilnya. Benda itu kami simpan di tempat rahasia yang aman."
Mirah memasuki pondok membawa satu kwali penuh sayur santen yang gurih baunya.
"Di gunung tidak ada daging, kangmas Jo ko. Kelapa inipun harus mencari ke bawah gunung. Sayur-sayuran sih banyak!"
Kata Mirah dengan senyum manis dan mata mengeriing tajam ketika ia meletakkan kwali di atas meja, kemudian dengan lenggang dan gerak pinggul menggairahkan wanita ini pergi mengambil nasi dan piring tanah, sebuah kendi terisi air dingin dan batok (tempurung kelapa) untuk minum.
"Wah, sayur bobor...! Seger dimakan panas-panas begini! Silakan, anakmas!"
Sunggono berkata ramah.
Terpaksa Jokowanengpati menekan hasrat hatinya yang ingin cepat-cepat mengambil pusaka keraton Kahuripan, lalu ikut makan bersama.
Sayur itu memang enak dan gurih, dan agak pahit karena dicampur dengan daun pepaya.
"Pahitkah daun pepayanya, kakangmas?"
Tanya Mirah. Emban Mirah ini memang dahulu menjadi seorang di antara kekasih Jokowanengpati ketika mereka berdua masih bertugas di Kahuripan.
"Memang daun pepaya biasanya pahit, akan tetapi kalau engkau yang memasaknya, eh... menjadi sedap, Mirah."
Sunggono tertawa bergelak, Wiratmo tersenyum sambil menundukkan kepala dan Mirah tersipu-sipu malu akan tetapi juga senang.
Wanita mana di dunia ini yang tidak senang kalau dipuji?
Dipuji apa saja, wajahnya, pandainya memasak, suaranya atau apa saja, asal yang memuji itu pria tentu menyenangkan hatinya.
Apalagi kalau pria itu seorang pemuda seganteng Jokowanengpati!
Setelah kenyang makan nasi dan sayur sederhana diikuti air jernih yang amat dingin, bangkitlah Sunggono.
Wajah orang tua itu berseri-seri ketika ia berkata.
"Marilah, anakmas Jokowanengpati. Mari kita pergi mengambil pusaka yang kusimpan dalam guha Margoleno. Hayo Wiratmo dan Mirah, kalian ikut pula. Urusan ini diawali kita berempat, harus diakhiri kita berempat pula."
Berangkatlah mereka mendaki lereng yang terjal menuju ke puncak yang penuh batu kapur.
"Mengapa guha itu bernama Margoleno (jalan maut), paman Sunggono?"
Tanya Jokowanengpati.
"Entahlah, anakmas. Mungkin karena pertapa Taru Jenar dahulu kabarnya mati di dalam guha ini selagi bertapa,"
Jawab Sunggono.
Perjalanan dilanjutkan dan tak lama kemudian berhentilah mereka di depan sebuah guha yang besar dan gelap.
Di atas guha yang merupakan puncak karang kapur, tumbuh rumpun yang lebat, juga di kanan kiri guha.
Kelelawar terbang keluar masuk guha itu sehingga menambah serem.
"Mari kita masuk, anakmas,"
Kata Sunggono agak takut-takut.
Baca Juga: Istana Pulau Es 11
Baca Juga: Cinta Bernoda Darah 8