Eps 1 Badai Laut Selatan - Kho Ping Hoo
Baca online Badai Laut Selatan - Kho Ping Hoo
Cersil Badai Laut Selatan - Kho Ping Hoo.
Badai Laut Selatan (Seri ke 03 Serial Serial Keris Pusaka Sang Megatantra) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo
Jilid 01
"Aduh Kakangmas Pujo, telapak kakiku sakit, batu karang ini tajam runcing dan nakal, menggigit kakiku!"
Keluhnya lalu mogok jalan, duduk di atas batu, jari-jari tangan kecil mungil halus mengusap sinom yang berjuntai di atas dahi, membasah oleh peluh.
Alis hitam menjelirit mengerut, bibir yang merah membasah merengut.
Pujo berhenti melangkah dan menengok.
Sejenak ia terpesona.
Kartikosari telah sebulan lebih menjadi isterinya namun setiap saat ia masih saja terpesona akan kejelitaan isterinya.
Amboi...
bisik hatinya kagum.
Di dunia ini tak mungkin ada keduanya, wanita seindah ini bentuk tubuhnya sekuning halus ini kulitnya, secantik jelita ini wajahnya.
Dari ujung rambut yang hitam subur mengandan-andan dengan rambut sinom melingkar-lingkar di depan telinga dan atas dahi, sampai ke tumit kaki yang kemerahan, membuktikan kesempurnaan ciptaan yang Maha Wenang sebagai anugerah.
Pujo berjongkok di depan isterinya.
Ia tersenyum lebar dan wajahnya yang tampan berseri-seri, matanya yang tajam bersinar-sinar.
la maklum bahwa telah"Kumat"
Lagi penyakit isterinya, yaitu penyakit manja yang muncul semenjak mereka menikah.
Perjalanan menuju Laut Selatan ini memang tidak mudah, bahkan terlalu sukar bagi manusia biasa, harus mendaki Pegunungan Seribu, naik turun puncak dan jurang, menerjang rumpun duri dan alang-alang.
Akan tetapi, isterinya bukanlah wanita biasa, melainkan seorang wanita gemblengan yang memiliki ilmu kepandaian tinggi, sakti mandraguna, dan telah menerima pelajaran berbagai ilmu olah keperajuritan dan ilmu kesaktian.
Kartikosari adalah puteri tunggal Resi Bargowo yang sakti mandraguna.
Tikaman segala keris biasa masih belum dapat menembus kekebalan kulit yang halus menguning itu.
Masa sekarang berjalan di atas batu karang saja telapak kakinya menjadi sakit-sakit?
Akan tetapi, tentu saja Pujo tidak melahirkan pengertian ini dalam bentuk kata-kata.
Terlalu besar kasih sayangnya kepada isterinya sehingga ia jauhi benar sikap dan kata-kata yang akan menyinggung hati kekasih.
Dengan penuh perhatian dan mesra ia membersihkan tanah lempung dari telapak kaki isterinya yang halus kemerahan itu, kemudian memijit-mijitnya untuk mengusir rasa lelah.
"Nimas Sari, kasihan sekali kakimu yang mungil. Biarlah kugendong engkau, nimas. Tapi upahnya kau berikan dulu, upah cium..."
"lhhh"
Dasar"
Tiada bosan-bosannya ih..."
Pujo merangkul isterinya, dan menciumi kedua pipi yang kemerahan, mengecup keringat yang membasahi kening.
Kartikosari memejamkan kedua matanya.
Sudah sebulan lebih Pujo, menjadi suaminya yang tak kunjung henti mencumbunya mesra, namun masih saja serasa ia terayun di awang-awang (angkasa) tiap kali Pujo mencium dan mencumbunya.
"Kau mustikaku, pujaan hatiku mana bisa bosan, kasih?"
Pujo membelai rambut yang agak kusut, mengusapnya kebelakang dan membereskannya.
Melihat setangkai bunga mawar merah kecil yang tumbuh liar di dekatnya, ia memetiknya dan menyelipkan bunga itu di antara rambut atas telinga kanan, lalu mencium telinga kanan isterinya yang tampak makin cantik.
"Tunggu saia. kalau aku sudah menjadi nenek-nenek dan kau menjadi kakek-kakek, kalau gigi kita sudah ompong dan pipi kita sudah kempot peyot, apakah kau juga masih suka menci..."
Kartikosari malu-malu untuk mengucapkan kata-kata itu, lalu tertawa.
Deretan giginya yang putih bersih berbaris rapi di dalam mulut yang merah, di balik sepasang bibir kemerahan yang bergerak-gerak patut, menciptakan kombinasi yang elok.
Pujo, tak dapat menahan hatinya dan sekali lagi ia mencium isterinya, pada bibimya.
Beberapa saat mereka berdekapan mesra, terbuai kasih sayang yang amat dalam, sampai terasa di tulang sungsum.
Burung laut camar yang terbang di angkasa memekik-mekik nyaring, agaknya menyaksikan sepasang manusia yang berasyik-masyuk berkasih mesra di sebelah bawah, mendatangkan rasa iri dan rindu kepada betinanya.
Angin laut bertiup lirih, silir dan sejuk menggerakkan rambut halus hitam Kartikosari menyapu-nyapu pipi dan leher suaminya.
"Sudahlah kangmas, dengar itu burung mentertawai kita. Dan lihat hidung dan bibirmu basah oleh keringat ku..."
"Keringatmu sedap"
"Iiihhhh! Tunggu kalau aku sudah nenek-nenek kelak"
Kartikosari tertawa. Dengan halus Pujo menarik tangan isterinya bangkit berdiri.
"Sampai kau menjadi nenek-nenek dan aku menjadi kakek-kakek, aku akan tetap mencintamu nimas. kau akan tetap cantik jelita bagiku, seperti Dewi Suprobo"
"lhhh. sudahlah. Takkan pemah sampai di tempat tujuan kita kalau begini. kau gendong aku?"
"Tentu! Agar jangan kotor telapak kakimu yang halus bersih oleh lumpur."
Dengan sikap manja Kartikosari lalu merangkul leher suaminya dari belakang dan ia meloncat duduk di atas punggung Pujo.
Suami yang bahagia ini tertawa, lalu melangkah dengan cepat melanjutkan perjalanan, meloncat-loncat dari batu ke batu menuruni tebing yang curam dengan cekatan sekali.
Kartikosari merangkul leher suaminya dan meletakkan pipi kanannya di atas bahu yang bidang dan kokoh kuat itu.
Pagi tadi suami-isteri muda ini meninggalkan pondok Baymismo, tempat tinggal Resi Bhargowo yang bertapa di Sungapan, yaitu muara Sungai Progo di pantai Laut Selatan.
Kartikosari adalah puteri tunggal Resi Bhargowo, adapun Pujo adalah murid pertapa itu.
Murid tersayang yang kemudian menjadi mantunya.
Dengan demikian, suami-isteri ini adalah juga saudara tunggal guru.
Di atas gendongan suaminya, Kartiko sari merasa aman sentausa dan bangga.
Bulu matanya yang lentik metengkung ke atas itu bergerak-gerak ketika matanya meram-melek nyaman.
Jari-jari tangannya yang kecil meruncing mempermainkan rambut di atas tengkuk yang keluar dari balik destar suaminya.
"Kangmas"
Bisiknya manja di dekat telinga kanan.
"Hemm?"
Jawab Pujo sambil terus meloncat-loncat dengan tangkasnya.
"Apakah kangmas benar-benar mencintaku?"
"Ehh??"
Pujo berhenti meloncat. Mereka berdiri di puncak bukit terakhir. Pemandangan di depan amatlah indahnya, tampak Laut Selatan yang maha luas itu terbentang di depan mata, tanpa batas.
"Mengapa kau bertanya begitu, sayang? Tentu saja aku mencintamu, sepenuh jiwa ragaku"
Ucapan penuh perasaan ini menyejukkan hati dan mendapat upah sebuah ciuman bibir yang mengecup pangkal telinga kanan.
"Seperti apa besamya cintamu, kangmas?"
Pujo menuding ke arah laut.
"Kau lihat laut Selatan itu, nimas. Demikian luas dan besar. seperti Laut Selatan itulah besamya cinta kasihku kepadamu"
Kartikosari memandang ke arah laut bebas, lalu cemberut dan merajuk, kentara dari kedua betisnya yang bergerak-gerak tak puas di pinggang Pujo, kepalanya digeleng-gelengkan.
"Ah, tak senang aku Betapapun besar dan luasnya, laut itu masih selalu berubah, kadang-kadang pasang kadang-kadang surut. Aku tidak suka kalau cintamu kadang-kadang surut pula, kangmas Dan lagi, laut itu terlalu ganas terlalu besar, aku takut akan tenggelam di dalamnya kalau cintamu seganas dan sebesar itul"
"Ha-ha-ha-hal kau lucu!, nimas. Eh, tahu aku sekarang hemmm, cintaku kepadamu sebesar kuku hitam!"
"Ihhhhh!!"
Tiba-tiba Kartikosari melorot turun dari punggung suaminya dan ketika Pujo membalikkan tubuh, ia melihat isterinya berdiri dengan kedua tangan menolak pinggang, dada yang Sudah membusung itu dibusungkan lagi kepala dikedikkan, sepasang mata yang biasanya lembut bening sejuk mesra itu kini seakan-akan memijarkan bunga api kedua pipinya yang biasanya memerah jambu kini menjadi merah darah.
"Apa? Cinta kasihmu hanya sekuku hitam? Terlalu! Lebih baik aku matil"
Wanita cantik yang menjadi isteri manja ini membanting-bantingkan kakinya yang bertelapak halus itu, akan tetapi batu terinjak bantingan kakinya menjadi hancur seperti tepung!
Menyaksikan kemarahan isterinya Pujo hanya tersenyum, akan tetapi cepat-cepat berkata.
"Nimas pujaan hatiku. Aku tidak main-main ketika aku mengatakan bahwa cinta kasihku kepadamu sebesar kuku hitam. Tahukah engkau, nimas, bahwa biarpun kuku hitam itu kecil-kecil, akan tetapi tak pemah dapat musnah? Pagi dipotong sore tumbuh, sore dibuang pagi muncul. Demikianpun cinta kasihku, nimas, selalu akan tumbuh dan ia.."
"Aku tidak suka! Biarpun akan timbul lagi akan tetapi bisa hilang!"
Pujo mengerutkan keningnya, memutar otak. Wajahnya yang tampan itu tiba-tiba berseri dan ia cepat berkata.
"Ah, tahu aku sekarang! Cinta kasihku kepadamu sebesar ujung rambutl"
"Apa?? Malah lebih kecil lagi?? Kakangmas, apakah kau tega menghina Sari?"
Sepasang pelupuk mata itu sudah mulai merah, ibarat langit sudah mulai mendung akan hujan.
"Sama sekali tidak menghina, manis. Apakah yang dapat memusnahkan ujung rambut? Kalau laut akan surut, kuku hitam bisa dipotong, akan tetapi seribu kali orang memangkas rambut, tentu masih selalu akan ada ujungnya. Ujung rambut takkan pemah lenyap, takkan pemah surut selalu ada dan demikianlah cinta kasihku kepadamu!"
"Kalau digunduli?"
"Kepala digundulipun masih akan ada akar rambutnya dan akar itupun ada ujungnya. Pendeknya, ujung rambut takkan dapat lenyap, kecuali kalau kulit kepalanya dikupas Akan tetapl siapa mau mengupas kulit kepalanya? Tentu dia akan mampus!"
Bukan main bahagia rasa hati Pujo melihat wajah isterinya berseri-seri lagi, matanya sejuk dan mesra pandangnya, akan tetapi dua titik air mata seperti mutiara tergenang lalu menggantung di bulu mata.
la memeluk dan berbisik risau.
"Mengapa menangis sayang?"
Kartikosari juga memeluk suaminya.
"Karena bahagia, kakangmas"
Mereka kembali berdekapan dan berciuman.
Mesra!
Mesra memang kasih sayang suami-isteri muda ini.
Kasih sayang pengantin baru.
Dunia milik mereka.
Surga milik mereka.
Lupa akan segala sesuatu.
Lupa bahwa mereka tenggelam dalam buaian asmara.
sehingga tidak ingat bahwa tiada yang kekal di dunia ini.
Cinta kasihpun tidak.
Ada cinta ada benci, ada suka ada duka, seperti halnya ada siang tentu ada malam!
"Jangan gendong aku lagi, kangmas.
Kasihan kau terlalu lelah.
Mari kita lanjutkan perjalanan."
Mereka bergandeng tangan, lalu menuruni puncak bukit menuju ke tebing yang menjulang ke depan, amat curam di atas laut.
Berdiri di pinggir tebing ini saja sudah mendatangkan rasa ngeri bagi yang tidak biasa.
Bisa membuat tengkuk menebal dan bulu tengkuk meremang.
Dari tebing ini memandang ke bawah, tampak ombak taut bercumbu dengan batu-batu karang raksasa, menghantam batu karang menimbulkan suara menggelegar lalu air pecah muncrat ke atas menjadi uap dan mencipta wama pelangi.
Sebentar menghilang, disusul ombak berikutnya, terus-menerus begitu, siang malam tiada hentinya sehingga di sepanjang pantai air laut membuih putih.
Dinding batu karang yang tinggi itu bentuknya aneh-aneh, berlubang-lubang seperti menjadi perkampungan tempat tinggal para jin dan iblis penghuni laut.
Di atas tebing, Pujo dan Kartikosari berdiri mengagumi pemandangan di bawah kaki mereka.
Mereka kagum terpesona oleh keindahan dan kebesaran alam yang maha hebat.
Apalagi bagi Kartlkosari yang belum pemah datang ke tempat ini.
Tempat tinggal ayahnya terletak di Sungapan, di pantai yang datar dan rendah, tertutup pasir, di mana air Sungai Progo terjun ke laut, kembali kepada sumbemya.
yang mereka datangi ini adalah pantai yang berdinding gunung karang, di sebelah timur.
Rambut dan ujung kain Kartikosari berkibar-kibar tertiup angin taut.
"Cancutkan kainmu, nimas. Kita turun ke bawah."
Kartikosari adalah seorang wanita gemblengan, yang tidak gentar menghadapi seekor harimau dengan tangan kosong.
Akan tetapi melihat tebing yang curam itu, yang tingginya melebihi tiga puluh batang pohon kelapa, ia bergidik.
Menuruni tebing securam itu?
Sekali terpeleset dan terbanting ke bawah, tubuh akan melayang-layang dan batu-batu karang runcing tajam akan menyambut tulbuh, lalu ombak dahsyat akan menghancur luluhkan tubuh dengan hempasan keras pada batu karangl "Kau ngeri, nimas?
Biarlah kugendong...
"Tak usah kau gendong, kangmas. Akan tetapi perlukah kita turun?"
Pujo tersenyum.
"Tentu saja. Kalau kita tidak turun ke sana, bagaimana kita mampu mendapatkan tiram kencana dan mutiara hijau?"
Kartikosari menarik napas panjang.
Di dalam hati ia mengeluh.
Mengapa ayahnya merasa begitu yakin bahwasanya kebahaglaan suami-isteri hanya akan dapat kekal kalau mereka dapat memiliki mutiara hijau yang berada dalam tiram kencana?
Bukankah cinta kasih antara dia dan suaminya dapat menjamin kebahagiaan yang kekal?
Namun, ayahnya adalah seorang pertapa yang sidik permana, waspada dan bijaksana.
Tak mungkin mereka dapat membantah kehendak orang tua itu.
"Di manakah kita akan mencari benda langka itu?"
Kartikosari menjenguk ke bawah, tangan kirinya memegang tangan kanan suaminya karena ia merasa ngeri.
"Kau lihat di sana itu, batu yang menonjol itu, yang atasnya terdapat pohon besar, dibawah itulah letaknya Guha Siluman. di depan Guha Siluman itulah kita harus mencari, karena. disana terdapat banyak batu-batu kecil dan segala macam jenis tiram, ketam, dan udang terdampar di sana. Akan tetapi, seperti pesan bapa resi, kita harus bersamadhi minta anugerah dewata, karena tanpa anugerah dan wahyu dewata, takkan mungkin kita dapat menemukan tiram kencana disitu."
Kartikosari tersenyum, pipinya menjadi merah sekali.
"Syaratnya untuk samadhi begitu aneh lagi"
Pujo menarik napas panjang dan menggenggam jari tangan isterinya.
"Tidak saja aneh, nimas Sari, juga amat berat bagiku. Apakah aku akan kuat menahan dalam keadaan begitu bersamamu, hal Ini benar-benar masih kusangsikan. Aku ragu-ragu dan takut kalau-kalau aku akan gagal."
Keduanya saling pandang dan termenung.
Kartikosari bertemu pandang dengan suaminya perlahan menundukkan mukanya.
Ia maklum betapa berat syarat itu bagi suaminya yang amat mencintanya.
Mereka berdua.
adalah pengantin baru yang sedang diamuk badai asmara.
Betapa mungkin mereka melakukan puja samadhi dengan syarat seperti itu.
"Kangmas Pujo, aku yakin kita bersama akan dapat melawan gelora nafsu yang merupakan godaan dan tantangan terberat. Latihan untuk kita sudah kita lakukan sejak kecil."
"Kau benar, sayang. kau lihat, di sebelah timur Guha Siluman itu, yang ada batu karang menonjol seperti ikan, nah di sanalah letak Guha Celeng. Di kanan kiri Guha Siluman masih banyak terdapat guha-guha kecil seperti Guha Walet, Guha Kalong dan Guha Leter, dan di sebelah barat itu adalah Dwarawati."
"Wah, kau hafal benar keadaan di bawah sana, kangmas!"
"Dahulu aku sering kali turun ke sana, nimas. Indah bukan main disana, akan tetapi juga Serem dan gawat. Maklumlah, di bawah sana adalah tempat para laskar Laut Selatan bersenang-senang apabila mereka mendarat."
"Ihhh..."
"Kau takut?"
"Tidak, hanya ngeri. Manusia dapat dilawan, akan tetapi bangsa halus begitu.."
"Tak usah khawatir, kasih. Bukankah ada aku di sampingmu? Di samping itu, kita sudah hafal ajaran bapa resi untuk menyelamatkan diri dari gangguan makhluk halus."
"Widada Mantra?"
"Benar, marilah kita turun, nimas. Biarlah aku di depan dan kau berpegang dengan tangan kiriku. Tidak sukar, banyak akar pohon dan batu karang untuk tempat berpegang tangan atau berinjak kaki."
Turunlah suami-isteri muda ini berbimbingan tangan, melalui jalan yang tak patut disebut jalan karena mereka harus bergantung kepada akar-akar pohon dan meloncat kesana ke marl melalui batu karang yang licin dan ada pula yang tajam runcing.
Kesukaran jalan yang mereka lalui ini ditambah lagi oleh kengerian kalau mereka menjenguk kebawah kaki di mana tampak kekosongan yang mengerikan dan jauh di sebelah bawah sana tampak batu karang runcing seperti barisan tombak yang siap menerima tubuh mereka kalau mereka terjatuh ke bawah.
Kiranya hanya sebangsa kera saja yang akan mampu melalui jalan turun ini dengan aman.
Namun suami-isteri Ini adalah orang-orang muda gemblengan yang tidak saja memiliki tubuh yang kuat, juga memiliki batin yang sentausa dan ketabahan besar.
Sepuluh menit kemudian mereka telah tiba di bawah, berjalan di atas karang di antara tetumbuhan pandan berduri dan rumput laut.
Kini terdengarlah oleh mereka gemuruh bunyi ombak memecah di pantal batu karang susul-menyusul seperti mendidih, diseling bunyi menggelegar di kala ombak besar menghantam karang yang menggetarkan dinding gunung karang di sekelilingnya.
Setelah berada dl bawah, tampaklah oleh mereka betapa ombak yang dari atas tadi hanya kelihatan seperti air berkeriput, kini ternyata bahwa ombak itu amatlah dahsyat, dari tengah-tengah laut berlumba-lumba ke pinggir, makin lama makin besar sampai setinggi pohon kelapa, panjang dengan kepala keputihan seperti seekor naga bergulingan, untuk kemudian terhempas di batu karang dan pecah, porak-poranda menimbulkan uap air mengembun.
Tak tampak manusia lain di situ.
Memang, tempat seperti ini tak patut didatangi oleh manusia, patutnya berpenghuni sebangsa jin dan iblis bekasakan.
Takkan mengherankanlah kiranya apa bila di tempat seperti ini muncul makhluk-makhluk yang mengerikan dari dalam laut, makhluk-makhluk yang hanya akan muncul dalam mimpi buruk seorang yang terserang demam panas.
Ombak yang tiada hentinya mengganas menggelora itu menimbulkan suasana seram, seakan-akan seperti inilah agaknya neraka jahanam yang siap menelan dan menyiksa roh-roh manusia jahanam.
"Mari, nimas, kita ke sebelah sana, ke Guha Siluman."
Kata Pujo menggandeng tangan. Kartikosari yang merasa dingin.
"Kau kenapa, sayang? Tanganmu dingin sekalil"
Pujo membawa telapak tangan isterinya ke depan hidung dan menciuminya, seakan-akan dengan ciumannya itu ia akan dapat menghangatkan tangan isterinya.
Akan tetapi Kartikosari menarik tangannya, wajahnya muram membayangkan kekhawatiran.
"Entah, kangmas, aku merasa ngeri, tidak enak rasa hatiku."
"Ah, tidak apa-apa, nimas. Tempat begini indah. Mari kita ke guha!"
La menarik tangan isterinya dan pergilah mereka kesebuah guha yang besar, guha yang merupakan sebuah mulut temganga lebar, bentuknya seperti mulut raksasa dan kebetulan sekali, di atas guha, pada dinding gunung karang, terdapat dua buah batu hitam sehingga merupakan mata sedangkan di atas tumbuh sebuah pohon merupakan rambut raksasa.
Dan agaknya kebetulan sekali, batu-batu yang dibentuk oleh tetesan air bergantungan dari atas dan menjungat di lantai, membentuk gigi dan caling yang mengerikan.
Guha Siluman inilah agaknya yang pada masa kini disebut Guha Langsey yang letaknya di sebelah timur atau di sebelah kiri Parangtritis dan sampai kini masih terkenal sebagai guha keramat di mana banyak orang datang untuk bertapa, meminta berkah atau membayar kaul.
Apalagi di dalam bulan Suro, teristimewa tanggal satu dan lima belas Suro, banyak orang dengan nekat melalui jalan yang amat sukar dan berbahaya menuruni tebing tinggi untuk datang bersujud atau bertapa di dalam Guha Langsey.
Pujo dan Kartikosari sudah memasuki guha dan waktu itu menjelang senja di dalam guha sudah mulai gelap.
Beberapa ekor burung walet beterbangan ke luar masuk guha mengeluarkan bunyi mencicit ramal.
Guha itu amat dalam, makin ke dalam makin menurun ke bawah, seram dan gelap sekali.
Terdengar bunyi air terjun dari dalam guha, akan tetapi, tidak tampak dari luar.
"Kita bersamadhi di mulut guha seperti pesan bapa resi nimas Sari. Tiga hari tiga malam. Kemudian ke situlah kita mencari tiram kencana."
Kartikosari sudah duduk di mulut guha.
Ia memandang kearah telunjuk suaminya menuding.
Benar, di depan guha itu terdapat banyak sekali batu karang kecil, agak sebelah bawah karena memang guha itu tinggi letaknya, ada lima belas meter dari permukaan laut.
Di antara batu-batu itu tampaklah bermacam-macam benda laut kulit-kulit kerang, tiram dan sebangsanya.
Aimya jernih bukan main sehingga tampak semua benda di dasamya, tidak dalam, akan tetapi selalu bergerak-gerak naik turun mengikuti datangnya ombak yang memecah pada batu karang besar di sebelah depan, seakan-akan batu karang besar ini menjadi penghalang amukan ombak ke tempat itu "Kau sudah siap, nimas?"
Kartikosarl mengangguk.
"Nah kalau begitu kita mulai. Mari kita menanggalkan pakaian, taruh di sudut sini agar jangan sampai terbawa angin."
Sambil berkata demikian Pujo sudah menanggalkan destarnya dan mulai membuka baju. Tiba-tiba Kartikosari menghampirinya, merangkul terus menciumnya sambil terisak.
"Kangmas hatiku tidak enak kau jangan tinggalkan aku, ya?"
Pujo terpaksa tertawa, sungguhpun ia merasa tidak nyaman hatinya menyaksikan tingkah isterinya.
Isterinya biasanya seorang yang tabah, seorang Srikandi tulen, mengapa kini menjadi begini lemah?
"Ah, apakah aku gila?
Sampai matipun tak mungkin aku meninggalkanmu hal ini kau tentu sudah yakin, nimas."
Ia balas mencium dan membelai rambut kekasihnya. Sampai lama mereka berpelukan, kemudian Pujo melepaskan rangkulan Isterinya sambil berkata dengan senyum.
"Ah, belum apa-apa kita sudah tenggelam lagi. Bagimana aku bisa menahan tiga hari tiga malam kalau begini?"
Kartikosari tertawa juga, lalu menjauhkan diri.
"Kita lihat saja, siapa yang tidak tahan, kau atau aku!"
Kemudian Kartikosari memilih tempat di sudut kiri, sedangkan Pujo hanya menurut ke mana isterinya memilih tempat.
Ia menghampiri dan suami-isteri ini lalu menanggalkan seluruh pakaian yang menempel di tubuh.
Inilah syaratnyal Menurut petunjuk Resi Bhargowo hanya dengan cara demikian itulah, yaitu dengan duduk samadhi bersama dalam keadaan bertelanjang bulat, sepasang suami-isteri akan dapat diterima oleh dewata dan mendapatkan wahyu untuk menemukan mutiara hijau dalam tiram kencana.
Suami-isteri yang amat taat kepada orang tua.
Dan ia kini sudah duduk berhadapan, duduk bersila dengan kedua telapak kaki menghadap ke atas.
Mereka memilih sikap masing-masing seenaknya.
Kartikosari seperti biasa.
Merangkap kedua telapak tangan membentuk sembah, menempelkan kedua ibu jari depan hidung dan memejamkan mata, duduk bersila dengan tegak dan lurus.
Hebat bukan main.
seperti sebuah patung kencana yang cantik gemilang, patung dewi kahyangan terbuat daripada kencana sedikitpun tidak ada cacatnya.
Adapuh Pujo yang bertubuh tegap dan bidang, duduk bersila dengan kedua telapak kaki menghadap ke atas pula, akan tetapi sikap kedua tangannya berbeda yaitu lengan kiri memeluk pusar melingkar ke kanan, lengan kanan memeluk pundak kiri, duduknya juga tegak lurus, matanya setengah terpejam dipusatkan ke puncak hidung.
Suami-isteri ini mengheningkan Cipta memusatkan panca inderat mengerahkan daya cipta kearah satu yakni memohon anugerah dewata untuk memperoleh mutiara hijaul.
Baik Kartikosari maupun Pujo adalah dua orang muda yang sejak kecil sudah biasa bersamadhi.
Biasanya sekali duduk bersila mengatur sikap, otomatis pemapasan mereka teratur sesuai dengan latilhan dan dalam waktu sekejap mata saja mereka sudah dapat hening.
Akan tetapi kali ini, apalagi Pujo, mengalami siksaan dan godaan yang bukan main beratnya.
Kesadaran bahwa isterinya yang terkasih, isterinya yang cantik jelita isterinya yang memiliki bentuk tubuh menggairahkan tanpa cacat, duduk bersila berselimut rambut di depannya, membuatnya sukar sekali memusatkan panca indera.
Dengan pengerahan tenaga batinnya ia berusaha sampai berjam-jam, sampai lewat tengah malam, namun hasilnya sia-sia.
Berkali-kall ia terpaksa Membuka mata untuk memandang bayangan isterinya yang duduk bersila di depannya merasakan tiupan halus pemapasan isterinya, menyadari sedalamnya akan kehadiran Kartikosari, tak pemah dapat mengusir bau sedap keringat dan rambut isterinya.
Pujo Menjadi kesal hatinya, hampir putus asa dan diam-diam ia mulai mengerjakan pikirannya, menyelami mengapa ayah mertuanya Resi Bhargowo yang sakti itu menyuruh mereka menjalani tapa seperti ini.
Untuk memperoleh kebahaglaan kekal bersuami-isteri, mengapa harus mendapatkan mutiara hijau dalam cara bersamadhi bersama dalam keadaan telanjang bulat seperti ini?
Menjelang pagi, barulah terdapat titik pertemuan dalam alam pikiran Pujo yang ruwet dan terputar-putar.
Bukankah semua ini hanya merupakan lambang saja?
Merupakan ujian bagi mereka?
Ujian bagi kekuatan batin mereka sehingga mereka terlatih dan mendasari cinta kasih suami-isteri tidak hanya dengan nafsu birahi, tidak hanya oleh tarikan daya dari kecantikan wajah dan keindahan tubuh belaka.
Karena, suami-isteri yang mendasari kasih sayang hanya dengan nafsu berahi, dengan daya tarik badani maka kasih sayang seperti itu akan mudah luntur.
Badan yang sudah tua kelak, mana ada daya penariknya lagi?
Hal itu sudah disinggung isterinya dalam sendau gurau siang tadi.
Isterinya berpendapat bahwa kalau mereka sudah menjadi kakek-nenek, suami ini akan luntur cinta-kasihnya.
Dan hal ini mungkin saja terjadi kalau cinta kasihnya terhadap Kartikosari hanya berdasar pada keindahan jasmanil Inikah kehendak Resi Bhargowo?
Melatih mereka agar dapat mengekang nafsu, agar dapat terbuka alam kesadarannya bahwa yang indah dalam cinta kasih bukan pemuasan nafsu berahi karena keindahan tubuh semata?
Mereka disuruh berlatih menguasai diri, menolak daya tarik masing-masing jangan sampai terseret dan diperbudak hawa nafsu agar mencari dasar kasih sayang yang suci yang lebih mendalam, cinta kasih batin yang tentu saja akan mengekalkan cinta kasih mereka karena apapun yang terjadi pada tubuh mereka, bahkan andaikata mereka menjadi manusia cacat sekalipun, cinta kasih mereka akan tetap kekal!
Agaknya itulah maksud perintah Resi Bhargowo agar mereka mencari mutiara hijau secara aneh ini.
Setelah matahari mulai bersinar, barulah Pujo dapat mengendalikan panca inderanya.
la menekan semua lamunan tentang kecantikan isterinya, mengubah kenangan akan isterinya itu lebih mendalam lagi membayangkan isterinya sebagai wanita.
yang sudah menjadi haknya, yang sudah bersandar kepadanya.
Dan menjadi tanggung jawabnya sebagai wanita yang akan menjadi ibu dari anak-anaknya menjadi kawan hidup selamanyal bersama mendidik anak-anak.
Sebagai teman hidup senasib sependeritaan, susah sama diderita, suka sama dinikmati.
Ringan sama dijinjing, berat sama dipikul.
Akhimya ia terlelap dalam samadhinya, pernapasannya lambat teratur, wajahnya tenang tenteram dan ia berhasil.
Deru ombak yang makin membesar sama sekali tidak mengganggu suami-isteri yang sedang tekun dalam samadhi itu.
Juga cicit burung walet yang beter bangan keluar dari dalam guha untuk mencari makanan bagi anak-anak mereka, sama sekali tak tampak atau terdengar.
Keduanya sudah tenggelam betul-betul dan seakan-akan ada cahaya manter (bersinar) dari ubun-ubun kepala mereka.
Tak tahu mereka bahwa ada anak-anak burung dalam sarang bercicit-cicit merengek-rengek dan menangis kelaparan karena ayah-bunda tak pemah pulang semenjak kemarin, karena ayah-bunda burung-burung itu telah berpindah kedalam perut elang yang menyambar mereka dan menjadikan mereka santapan anak-anak elang.
Mengapa sepasang wallet ini demikian buruk nasibnya?
Dosa apa gerangan yang telah mereka lakukan?
Tak seorangpun akan dapat menjawabnya suami-isteri itupun tidak pemah tahu bahwa beberapa ekor ikan kecil dilempar ombak ke atas batu karang, berkelojotan berkelepekan disiksa terik sinar matahari, megap-megap menanti maut datang menjemput dalam keadaan tersiksa.
Apakah dosa ikan-ikan ini sehingga mereka terhukum sedemikian rupa?
Tak ada yang akan dapat menjawab pula.
Banyak sekali hal-hal yang gaib, hal-hal yang tampaknya ganjil, yang tampaknya menurut alam pikiran dan pendapat manusia, tidak adil.
Yang jahat hidup bahagia, yang baik hidup merana.
Inilah rahasia besar yang hanya mampu diselami oleh kesadaran mereka yang tahu akan Kuasa Tertinggi.
Dan apa yang akan menimpa sepasang suami-isteri yang tekun bersamadhi itupun berada mutlak di tangan yang Maha Wenang, tak seorangpun manusia mampu merubahnya!
Hari sudah menjelang senja lagi, ketika udara mendadak menjadi mendung.
Awan hitam berkumpul dari atas darat menuju ke atas laut.
Geledek menyambar nyambar diseling kilat berkeredepan.
Gemuruh suara halilintar menyaingi gemuruh ombak memecah di batu karang.
Lambat-laun air laut makin tenang dan deburan ombak tidak keras lagi menghantam karang.
Seolah-olah air laut dengan ombaknya menyatakan takluk dan kalah terhadap guruh di angkasa, mengakui kekuasaan angkasa, yang dapat merubah keadaan laut.
Tak jauh dari Guha Siluman, dekat Guha Leter, di bagian pantai yang datar dan tertutup pasir halus, ombak tak tertahan karang dan selalu mengalir sampai ke pasir.
Pada saat itu, tiba-tiba terdengar air bergolak disusul suara wanita tertawa, suaranya merdu.
Lalu tampaklah mahluk bergerak-gerak di permukaan air, seakan-akan menunggang ombak yang menuju ke pasir.
Dari jauh mahluk itu kelihatan berambut panjang dan seperti menerkam sesuatu, akan tetapi setelah makin dekat dengan pantai, tampaklah bahwa ia adalah seorang wanita yang cantik berkulit kuning bersih, rambutnya panjang sampai ke kaki.
Wanita ini usianya tentu sudah tiga puluh tahun lebih, namun benar-benar amat cantik, wajahnya berseri-seri dan giginya amat putih berkilauan di kala sinar kilat menerangi permukaan air laut itu.
Ia memang sedang menerkam sesuatu, akan tetapi menerkam dengan mesra atau memeluk tubuh seorang laki-laki muda tampan yang juga tertawa-tawa.
Wanita Itu membawa si laki-laki berenang ke pantai, bukan berenang seperti manusia biasa, melainkan berenang seperti ikan Tubuhnya yang ramping semampai itu dapat bergerak-gerak menggeliat seperti Ikan berenang, akan tetapi amat cepat tubuhnya maju.
Laki-laki itu sebaliknya.
tidak pandai berenang, buktinya ia selalu berusaha menaikkan kepalanya.
ke permukaan air sambil merangkul leher si wanita.
Seekor ikan hiu besar, sebesar manusia, berenang cepat menghampiri, agaknya tertarik oleh mahluk-mahluk aneh ini Akan tetapi setelah dekat, tiba-tiba hiu itu menghentikan renangnya, mundur-mundur karena takut.
"Bibi... Ikan besar itu""
Tiba-tiba si lelaki berseru ketakutan dan merangkul si wanita makin erat. Wanita itu dengan gerakan luar biasa cepatnya sudah memutar tubuh di dalam air, mukanya yang cantik tiba-tiba menjadi murka.
"Bedebahl Berani kau menggangguku?"
Bentaknya, tubuhnya meluncur di air cepat sekali, tangan kirinya menyeret laki-laki itu dan tangan kanannya mengayun sebuah cundrik (keris) yang tepat menghantam perut ikan hiu itu dan sekali menyontekkan tangan, perut itu pecah dan ususnya keluar.
Ikan itu lari kesakitan dan ketakutan, namun hukum laut yang sama dengan hukum rimba menimpanya.
Tak lama kemudian la menjadi mangsa ikan-ikan lain yang berpesta pora atas daging dan isi perut.
Wanita, itu tertawa bergelak, lalu meluncur lagi ke pantai.
Mereka, bergulingan di atas pasir seperti orang bergumul sehingga tubuh mereka kotor semua oleh pasir.
Sambil bercumbu wanita itu tertawa-tawa.
Akhimya lelaki muda itu melepaskan diri dari pelukan kedua lengan halus dan rambut panjang, lalu bangkit berdiri dan berkata.
"Cukuplah, bibi. Kita sudah bersenang-senang selama tiga hari di sini. Kalau Ni guru Durgogini tahu..."
"Hi-hi-hik, kalau dia, tahu mengapa? kau yang akan dibunuhnya lebih dulu, sedangkan aku...? belum tentu mbakyu Durgogini mampu mengalahkan aku!"
Ia meraih lagi dan hendak mencium muka yang tampan itu. Akan tetapi pemuda itu menolak dengan kedua tangannya, mendorong dada padat yang tertutup tapih pinjung (kain sedada).
"Sudahlah, bibi, lihat udara mendung, hampir hujan. Jangan-jangan badai mengamuk"
"Hi-hik,, cah bagus. Siapa takut badai?"
"Kau tidak takut, akan tetapi aku takut. Bibi guru yang manis, aku sudah mematuhi kehendakmu selama tiga hari. Mana pusaka yang bibi hendak hadiahkan kepadaku? Aku hendak pergi dari sini, berlindung semalam dalam guha dan besok akan kembali ke Selopenangkep."
Wanita itu tertawa, lalu menarik napas panjang.
"Baiklah, raden, kau sudah menyenangkan hatiku selama tiga hari. Pusaka yang hendak kuberikan kepadamu bukanlah sembarang pusaka. Ilmu pukulan yang kuajarkan kepadamu selama tiga hari ini sudah dapat kau lakukan dengan baik, akan tetapi tanpa pusaka ini, ilmu pukulan Tirto Rudiro (Air Darah) itu takkan sempurna. Di samping itu, kaupun harus tekun berlatih selama dua puluh satu hari dengan pantangan, tidak boleh makan daging dan tidak boleh bergaul dengan wanita!"
Setelah berkata demikian wanita itu lalu mengeluarkan sebuah rumah kerang yang berwama merah kepada pemuda itu. Pemuda itu menerimanya dengan girang, lalu berkata.
"Terima kasih atas kebaikan hati bibi guru. Aku akan selalu mentaati perintah dan kehendak bibi."
"Hi-hik, cah bagus. kau tunggu saja sewaktu-waktu aku akan ajak kau bersenang-senang sampai puas. kau tunggu saja panggilanku bagusl"
La membelai dagu pemuda itu yang ditumbuhi rambut halus, kemudian katanya.
"Sekarang pergilah. Malam nanti badai Laut Selatan akan mengamuk. Sampai jumpa!"
Setelah berkata demikian, wanita itu lalu melempar diri ke dalam ombak yang datang ke pantai dan sebentar kemudian ia sudah lenyap, ditelan ombak.
Pemuda tampan itu menggenggam kerang merah lalu melompat-lompat ke atas batu karang.
Ia memandang ke angkasa yang makin gelap.
Tidak baik melakukan perjalanan malam ini, pikirnya.
Lebih baik malam ini mengaso di Guha Siluman dan besok pagi-pagi baru naik ke atas dan pulang ke dusun Selopenangkep.
Dengan gerakan sigap pemuda itu terus berloncatan dari batu ke batu menuJu ke Guha Siluman.
Pemuda ini adalah Raden Wisangjiwo, putera tunggal bekas Adipati Joyowiseso yang tadinya menguasai pantai Laut Selatan.
Setahun yang lalu, yaitu pada, tahun 1031 ketika Kerajaan Mataram di bawah pemerintahan Raja Airlangga (1019-1049) mengirim pasukan untuk menundukkan seluruh wilayah Jawa Timur dan Jawa Tengah, daerah Pantai Selatan inipun dilanda perang.
Adipati Joyowiseso mengadakan perlawanan hebat, namun tak kuasa menghadang penyerbuan bala tentara Mataram yang kuat dan dipimpin panglima-panglima yang sakti mandraguna dan pandai, Sehingga akhirnya terpaksa menyerah.
Betapapun juga, seperti di daerah lain, Adipati Joyowiseso inipun tidak dihukum, bahkan diberi kedudukan kembali sebagai adipati di pantai Laut Selatan.
Akan tetapi ia sekarang merupakan orang taklukan atau sebagai punggawa dari Kerajaan Mataram di timur, siap mentaati segala perintah yang dipertuan Raja Airlangga.
Selain menjadi putera orang tertinggi kedudukannya di pedusunan pantai selatan, juga Raden.
Wisangjiwo menjadi murid terkasih seorang pertapa wanita yang sakti mandraguna, yang oleh manusia biasa dianggap sebagai siluman atau peri penjaga gunung dan hutan-hutan, kadang-kadang saja memperlihatkan diri kepada umum.
Datang dan perginya seperti iblis yang pandai menghilang.
Tak seorangpun di daerah Laut Selatan berani menyebut namanya secara terbuka, sebuah nama yang membuat bulu tengkuk berdiri, membuat orang menggigil ketakutan, sebuah nama yang sekali didengar sukar dilupa, yang juga amat terkenal sampai jauh di luar wilayah pantai selatan.
Para pertapa, para ksatiria, para jagoan mengenal belaka nama ini, Ni Durgogini.
Karena gurunya seorang wanita sakti yang luar biasa, sudah tentu saja Raden Wisangjiwo juga memiliki kesaktian yang sukar dilawan.
Ketika terjadi perang melawan tentara Kerajaan Mataram setahun yang lalu, banyaklah perwira dan tamtama Mataram binasa di ujung keris dan kepalan tangannya.
Biarpun akhimya perlawanan ayahnya patah dan mereka harus mengakui keunggulan bala tentara Mataram, namun Raden Wisangjiwo tidak sampai pernah dirobohkan atau tertawan.
Sayang seribu kali sayang, pemuda rupawan yang sakti ini, agaknya terlalu dimanja oleh orang tuanya, seperti Lajim terjadi pada keluarga bangsawan.
Agaknya karena terialu manja inilah yang membentuk watak tinggi hati, sombong, tak pemah mau kalah, dan lambat-laun watak ini membentuk pula sifat-siiat kejam, curang, dan hendak berkuasa sendiri, tak pemah mau menghiraukan perasaan atau pendapat orang.
Raden Wisangjiwo terkenal sebagai seorang pemuda berandalan yang bengis tidak ada yang berani menentangnya.
Mungkin sekali, biarpun dimanja ia takkan sampai tersesat sedemikian jauhnya kalau saja ia tidak menjadi murid Ni Durgogini, seorang wanita yang berwatak iblis.
Watak gurunya ini tentu saja sedikit banyak menurun pula kepadanya.
Pertama-tama, begitu pemuda ganteng ini menjadi murid Ni Durgoginiq iapun merangkap menjadi kekasih gurunyal Tidaklah terlalu aneh kalau orang tahu bagaimana macamnya manusia iblis Ni Durgogini itu.
Seorang wanita yang cantik dan genit, yang tak pernah dapat diterka berapa usianya akan tetapi kelihatan masih muda, kurang tiga puluh, dan di antara sekian banyak ilmu-ilmunya yang mujijat, ia memiliki pula ilmu guna-guna yang disebut Guno Asmoro.
Tidaklah mengherankan apabila Raden Wisangjiwo yang memang berjiwa lemah ini hanyut dan mentaati kehendak kotor gurunya dengan gembira.
Namun, sikapnya yang pandai melayani gurunya ini menguntungkan Raden Wisangjiwo, karena gurunya makin sayang kepadanya dan menurunkan pelbagai ilmu simpanan yang hebat-hebat.
Ni Durgogini mempunyai seorang adik seperguruan, yang juga amat terkenal, terutama sekali oleh para nelayan dan bajak.
Adapun penduduk pantai dan para nelayan malah menganggap bahwa ia adalah Dewi Roro Kidul yang menguasai Laut Selatan!
Betapa orang takkan menyangka demikian kalau menyaksikan seorang wanita cantik dengan rambut terurai panjang, bermain-main di antara ombak laut bagaikan seekor ikan saja lincahnya.
Akan tetapi, seperti juga halnya Ni Durgogini, wanita cantik jelita yang bemama Ni Nogogini ini, membuat orang menggigil kalau mengingatnya.
Selain sakti, juga Ni Nogogini berwatak iblis, mudah sekali menjatuhkan tangan saktinya membunuh orang tanpa sebab.
Mudah sekali menyerbu golongan-golongan lain untuk mengacau dan membunuh.
Kalau Ni Durgogini dianggap sebarai iblis betina hutan dan gunung, maka Ni Nogogini ini adalah iblis betina sungai dan Laut Selatan!
Sebagaimana dapat kita duga dari adegan di pantai tadi, Ni Nogogini pun mempunyai penyakit yang sama dengan penyakit kakak seperguruannya, yaitu gila laki-laki dan cabul.
Bibi guru ini melihat murid keponakannya dan tidak mau melewatkan kesempatan untuk menggodanya.
Raden Wisangiiwo memang tampan dan gagah, juga amat cerdik.
Tentu saja ia tidak menolak godaan bibi gurunya yang biarpun kulitnya tidak seputih dan sehalus kulit tubuh gurunya, namun memiliki kecantikan khas, Dan pula memiliki bentuk tubuh yang lebih indah dan padat kalau dibandingkan dengan gurunya, karena agaknya kebiasaan bermain di air dan renang itulah yang membuat ia memiliki bentuk tubuh yang amat baik.
Di samping ini, iapun sudah maklum akan keganasan watak bibi gurunya sehingga kalau ia menolak, amatlah berbahaya.
Oleh karena ini maka ia melayani bibi gurunya, bermain asmara sampai tiga hari di pantai, kadang-kadang Raden Wisangjiwo harus mandah dibawa ke tengah laut dipermainkan sesuka hati bibi gurunya.
Namun, ia tidak bodoh dan kesempatan ini ia pergunakan untuk minta upah berupa ilmu kesaktian dan pusaka.
Dan bujukannya berhasil sehingga ia diberi pelajaran ilmu pukulan Tirto Rudiro yang ampuh bersama pusaka Kerang Merah.
Demikianlah, dengan hati gembira karena mendapatkan ilmu dan pusaka, juga karena akhirnya ia dapat terlepas dari pelukan bibi gurunya yang mulai membosankan itu, Raden Wisangjiwo berlompatan menuju ke Gulha Siluman.
Ketika akhimya ia dapat melompat sampai ke mulut guha, ia berdiri bagaikan patung dengan mata terbelalak lebar memandang ke dalam guha.
Matanya terbelalak dan mulutnya terbuka, hampir ia tidak percaya akan pandang matanya sendiri.
Di bawah sinar matahari senja yang keemasan, ia melihat sebuah patung sebesar manusia, patung seorang dewi kahyangan yang mertubuh keemasan, rambut terurai, bertelanjang bulat, cantik jelita tanpa cacad!
Akan tetapi patung itu bemapas.
Dada yang indah bentuknya itu bergerak perlahan.
"Demi Ratu Lelembut"
Tak terasa lagi mulut Raden Wisangjiwo berseru penuh kekaguman dan keheranan.
Seruan penuh nafsu ini cukup untuk membuat Pujo dan Kartikosari tersentak kaget, seakan-akan semangat mereka disendal memasuki alam kesadaran kembali.
Otomatis Kartikosari menggerakkan tangan menyambar kain di sebelahnya dan menutupi tubuhnya dengan kain, mengikat ujungnya erat-erat di atas dada, matanya berkilat marah ketika ia melihat seorang laki-laki muda berdiri di mulut guha, menelannya dengan pandang mata lahap.
Pujo juga cepat melompat berdiri dan berseru keras ketika mengenal orang yang datang itu.
"Raden Wisangjiwo! Benar-benar tidak sopan mengganggu orang bersamadi, apa lagi jika suami-isteri bersamadhi bersama!"
Raden Wisangjiwo juga sadar daripada pesona yang menggairahkan hatinya, membalikkan tubuh memandang penegumya. la tertawa mengejek, lalu bertolak pinggang.
"Aha, kiranya engkau ini, Pujo? Dan dia isterimu? Ha-ha-ha, sungguh kebetulan sekali. Sudah lama aku ingin berhadapan dengan seorang laki-laki pengecut macam engkau, kiranya para dewata mengabulkan pengharapanku"
Pujo mengenal baik siapa Raden Wisangjiwo.
Taat akan kehendak gurunya, ia memang selalu menjauhkan diri dan tidak mencampuri urusan putera adipati ini, maka tak pemah antara dia dan putera bangsawan itu terdapat sesuatu hal.
Mengapa kini ia dimaki pengecut dan sudah lama dicari?
"Raden Wisangjiwo jalan hidupmu clan jalan hidupku seperti jalannya air dan asap, tak pemah dapat bertemu.
Mengapa kau datang-datang memaki aku dan ada keperluan apa kau hendak bertemu denganku?"
Tanya Pujo sambil menyambar pakaiannya dan mengenakan pakalan sebelah bawah. Tubuh atasnya masih bertelanjang.
"Hua-ha-ha-haha...masih pura-pura bertanya? Tidak merasa betapa kau seorang laki-laki pengecut dan penakut? Percuma saja kau mengaku murid Resi Bhargowo malah ehm menjadi mantunya, menikah dengan puteri Resi Bhargowo yang eh, begini denokl"
Matanya mengeriing ke arah Kartikosari.
"Raden Wisangjiwo, harap jangan menggunakan ucapan kasar, tak patut didengar wanita. Katakan saja, mengapa aku kau anggap pengecut?"
Kini pandang mata putera adipati itu melotot marah, kedua tangannya mengepal tinju.
"Benar-benar kau tidak merasa ataukah berpura-pura? Setahun yang lalu, daerah kita dilanda perang, diserbu oleh bala tentara dari Mataram. Semua laki-laki turun tangan membela tanah air, mengapa engkau tidak mau ikut membantu biarpun ramanda adipati memerintah dan mengirim utusan ke Sungapan? Bukankah kau tidak mau ikut berperang karena kau takut, karena kau pengecut?"
"Raden Wisangjiwo, harap kau simpan saja maki-makian kotor itu ke dalam mulutmu, di situ lebih cocok daripada dihambur keluar membusukkan udara! Kami memang tidak berangkat membantu, aku dan para cantrik, juga isteriku yang di kala itu masih menjadi adik seperguruanku, karena dilarang oleh bapa resi. Kami harus tunduk dan mentaati perintah guru, apapun yang terjadi. Bapa resi menyatakan bahwa tak mungkin dilawan kekuasaan dari Mataram karena memang sudah semestinya semua daerah di bawah kekuasaan Mataram. Sama sekali bukan karena takut!"
"Hemmm, alasan kosong! Karena mengingat bahwa Res! Bhargowo sudah lanjut uslanya, maka, aku tidak menyalahkannya. Dan karena memandang wajah Resi Bhargowo maka aku tidak mau mencari kau dan membikin ribut di Sungapan."
Ia melirik kembali ke arah Kartikosari untuk menandaskan bahwa dia tidak mau bermusuh dengan ayah wanita jelita ini."Akan tetapi engkau yang masih muda dan kuat, hemmm, tak mungkin aku memaafkanmu begitu saja"
Biarpun Pujo sudah menerima gemblengan lahir batin dari gurunya, namun darah muda masih mengalir di tubuhnya dan hawa panas yang naik dari dalam hatinya membuat kepalanya panas pula.
"Raden Wisangjiwol Dengan mencela mereka yang tidak ikut berperang, kau seakan-akan hendak mengagungkan dirimu sendiri yang menentang Mataram. Akan tetapi bagaimana. buktinya sekarang? Ayahmu dan kau menakluk kepada Mataram, dan rela menjadi abdi Mataram? Itukah yang kau anggap kegagahanmu?"
"Tutup mulutl Bersiaplah engkau!"
Pujo, juga. mengepal tinju.
"Kau mau apa?"
Raden Wisangjiwo sudah hendak menerjang maju, akan tetapi ia mendengar betapa wanita jelita itu menahan napas, lalu ia mengeriing dan tersenyum.
"Pujo, isterimu cantik bukan main. Keluarlah kau dari guha ini dan biarkan aku bercakap-cakap dengan isterimu. Biarkan dia mengawaniku semalam ini di guha, karena aku hendak bermalam di sini. Dan besok pagi kuampuni kesalahanmu yang dahulu."
"Jahanam"
Teriakan ini bukan keluar dari mulut Pujo melainkan keluar dari mulut Kartikosari yang sudah menerjang dari belakang dengan pukulan yang disebut Gelap Musti (Tinju Petir).
"Nimas jangan bunuh orang!"
Pujo berseru kaget dan melompat ke depan.
Orang muda ini memang sudah mendalami wejangan guru dan ayah mertuanya, maka sifat welas asih selalu menyelubungi lubuk hatinya.
Betapapun marahnya mendengar ucapan kotor dan kurang sopan dari Raden Wisangjiwo terhadap isterinya, namun melihat Isterinya mempergunakan pukulan gledek yang ampuh bukan main itu, ia merasa terkejut dan hendak mencegah.
Terlambatl Pukulan Gelap Musti memang hebat bukan main, batu karang hancur sekali pukul, apa lagi tubuh manusia biasa.
Namun, Raden Wisangjiwo bukanlah manusia biasa.
Dia murid terkasih seorang manusia iblis yang tentu saja tidak dapat dipersamakan manusia biasa.
Ketika pukulan dari arah belakangnya ini menyambar, mendatangkan hawa panas seperti lahar cepat ia membalikkan tubuh dan mendorong dengan kedua tangannya, tangan kanan menyambut pukulan dengan pengerahan tenaga sakti dan dengan gerakan ilmu pukulan Tirto Rudiro yang baru saja ia pelajari dari bibi gurunya, Ni Nogogini.
Memang Kerang Merah berada di tangan kanan, maka otomatis ia menggunakan pukulan ini.
Perlu diketahui bahwa ilmu pukulan Gelap Musti (Tinju Petir) adalah pukulan yang keras dengan penggunaan tenaga yang dikerahkan dari pusar yang membentuk api hidup maka jika dipergunakan mengeluarkan hawa panas yang dapat melebihi panasnya api biasa.
Di lain fihak, sebagai kebalikannya, ilmu pukulan Tirto Rudiro yang dikeluarkan oleh Raden Wisangjiwo adalah pukulan yang berhawa dingin, sedingin air membeku akan tetapi karena ilmu ini hasil penciptaan Ni Nogogini yang hidupnya menjadi hamba nafsu dan menyimpang dari pada kebenaran terjerumus ke jalan sesat maka hasil penciptaan inipun adalah ilmu sesat (ilmu hitam).
Andaikata yang mencipta ilmu ini seorang suci seperti Resi Bhargowo dan yang lain-lain, maka api yang bagaimana panaspun sekali terkena sambaran hawa pukulan ini tentu akan padam dan dingin.
Akan tetapi ilmu ini suah jauh menyimpang, biarpun pada dasamya menggunakan hawa yang timbul dari pusar juga, namun telah dicampur dengan hawa beracun, terutama sekali setelah dicampur dengan khasiat pusaka Kerang Merah.
Pukulan ini selain dapat membekukan darah, juga dapat menyebar hawa beracun yang menyusup ke dalam tubuh lawan yang terpukul!
"Dessss"
Kedua lengan yang disaluri hawa yang bertentangan itu bertemu hebat.
Raden Wisangjiwo terkejut sekali karena merasa betapa hawa panas seperti lahar menyerap ke dalam lengan kanannya.
Hal ini menandakan bahwa hawa saktinya kalah kuat dan kalah latihan dalam penggunaan ilmu pukulan.
Maka cepat-cepat ia menggunakan tangan kirinya yang sudah siap tadi untuk melanjutkan rencananya yang sejak tadi sudah ia persiapkan.
Begitu jari-jari tangannya bergerak dan secepat kilat menyentuh pundak kiri Kartikosari murid Ni Durgogini yang licik dan cerdik ini sudah menggunakan ilmu pemberian gurunya, ilmu sesat yang hanya digunakan oleh manusia-manusia hamba nafsu) yaitu Ilmu Asmoro Kingkin (Rindu Berahi).
Jari-jari tangannya menyentuh jalan darah di pundak, diperkuat oleh penyaluran tenaga tidak sewajamya yang timbul dari mantra yang cepat ia ucapkan dengan gerak bibir yang tanpa suara.
Tentu saja Kartikosari terkejut.
Tadinya wanita ini sudah merasa girang karena maklum bahwa ia menang kuat dalam pertemuan lengan, maka ia menjadi agak lengah, apa lagi karena tangan kiri lawan bergerak terlalu cepat menuju ke pundak, ia tidak sempat mengelak.
Ia Ingin merobohkan lawan dengan tindihan tenaga Gelap Musti siapa kira setelah pundak dekat lehemya tersentuh jari tangan Raden Wisangjiwo, mendadak ia merasa betapa jantungnya berdenyutan, darahnya bergolak dan nafsu berahi mengamuk di benaknya.
Kartikosari terkejut dan berusaha melawan dorongan nafsu yang seperti ditimbulkan oleh iblis Ini, namun dengan usaha ini, ia harus mengerahkan hawa saktinya sehingga saluran hawa panas pada pukulan Gelap Musti di lengan menjadi habis daya.
Inilah yang mencelakakan Kartikosari.
Begitu hawa pukulan Gelap Musti membuyar...
ia terserang oleh hawa pukulan dingin dari dorongan ilmu pukulan Tirto Rudiro hawa dingin yang menyusup dari lengan menyerang isi dadanya.
Kartikosari menjerit dan roboh terguling ke sudut guha.
"Wisangjiwo keparat, kau lukai isteriku?"
Pujo marah sekali dan dengan gerakan kilat ia menerjang putera adipati itu.Namun Raden Wisangjiwo sambil tersenyum mengejek sudah mengelak sehingga pukulan Pujo lewat di atas kepalanya.
Sambil mengelak kaki Raden Wisangjiwo melayang ke arah lambung kiri Pujo, disusul tamparan tangan kiri dengan jari terbuka.
Hebat serangan ini karena yang diserang kaki adalah lambung kiri dan yang diancam tamparan tangan adalah leher, dua tempat yang apabila terkena dapat mendatangkan maut.
Pujo yang merasa gelisah melihat isterinya pingsan, mengeluarkan ajiannya yang ia dapat dari guru dan ayah mertuanya, yaitu ilmu meringankan tubuh cepat Bayu Tantra (Gerak Angin) berkelebat cepat dan berhasil menghindarkan diri dari pada tendangan dan pukulan lawan.
Kemudian kembali Pujo membalas serangan lawannya yang sakti ini dengan pukulan Gelap Musti seperti yang dilakukan isterinya tadi.
Tingkat kepandaian Pujo lebih unggul dari pada Kartikosari, maka penggunaan Gelap Musti ia menang setingkat, maka pukulannya ini tentu saja lebih hebat dari pada yang dilakukan Kartikosari tadi.
Raden Wisangjiwo terkejut.
Tadi ia telah merasai kehebatan ilmu pukulan yang mengandung hawa panas lahar ini dari Kartikosari, maka, tentu saja!a tidak berani berlaku sembrono.
Dengan geseran kaki ke kanan!a miringkan tubuhnya sehingga pukulan lawan tidak langsung menghantamnya, kemudian ia mengerahkan ajiannya untuk menyampok pukulan yang dahsyat itu dari samping, menggunakan ilmu barunya, pukulan Tirto Rudiro.
"Plakkk"
Pukulannya tepat mengenai lengan Pujo dari samping.
Menurut perhitungan, Raden Wisangjiwo menang posisi karena ia memukul dar i samping.
Akan tetapi kenyataannya adalah hebat.
Begitu kepalan tangannya yang menggenggam Kerang Merah itu menghantam lengan Pujo, tubuh Raden Wisangjiwo serasa dibakar api nerakal la menarik tangannya dan oleh hawa pukulan lawan ditambah daya tariknya, tubuhnya mencelat ke belakang, menabrak dinding guha dan terbanting ke bawah.
la mengerang kesakitan, akan tetapi sebagai murid manusia iblis yang sudah memiliki tubuh kebal, tentu saja pertemuan keras dengan batu karang itu tidak membuatnya luka Sambil menggereng marah ia melompat bangun lagi.
Ketika mellhat Pujo menoleh ke arah isterinya yang masih pingsan, Raden Wisangjiwo lalu menyambar sebuah batu karang sebesar perut kerbau bunting di sebelahnya.
Batu karang ini beratnya melebihi seekor kerbau bunting sendirl, namun dengan pengerahan tenaga.
saktinya, ia dapat mengangkatnya dengan mudah ke atas kepala, lalu melontarkan batu besar itu ke arah kepala Pujo yang berdiri dalam jarak empat meter.
Terdengar angin menguik ketika batu besar Itu terbang melayang dengan cepat ke arah Pujo.
"Drrrrr"
Batu karang yang besar Itu hancur luluh dan pecah berhamburan ketika bertemu dengan pukulan ujung-ujung jari tangan Pujo.
Hebat dan dahsyatnya bukan kepalang gerakan orang muda ini ketika menyambut batu karang.
Jauh lebih hebat dari pada ilmu pukulan Gelap Musti, tidak mengandung hawa panas lagi, akan tetapi mengandung kekuatan yang tak terukur besamya.
Itulah aji kesaktian yang disebut ilmu Pethit Nogo (Ekor Maga) yang menjadi ilmu simpanan dari Resi Bhargowo.
Dengan Ilmu Pethit Nogo inilah puluhan tahun yang lalu Resi Bhargowo membuat nama besar.
Dan hanya kepada Pujo seorang ilmu ini diturunkan, bahkan kepada puterinya sendiripun tidak.
Tidak sembarang orang dapat menerima aji ini, karena banyak yang takkan kuat menahan.
Dan ilmu inipun merupakan ilmu simpanan yang takkan dipergunakan kalau tidak terpaksa.
Sebetulnya, serangan batu karang yang dilontarkan itu tidaklah berbahaya bagi seorang pendekar seperti Pujo, dan tanpa penggunaan Pethit Nogo sekalipun ia tentu akan sanggup menghindar.
Akan tetapi Pujo sedang marah dan gelisah melihat isterinya, maka dalam kemarahannya itu ia menghajar batu karang yang menyambamya.
Raden Wisangjiwo sendiri terkejut setengah mati ketika melihat cahaya menyilaukan seperti keluar dari tangan Pujo, menyambar batu karang dan menghancurkannya.
Maklumlah ia bahwa Pujo benar-benar merupakan lawan yang amat berat, maka cepat ia meloloskan senjatanya dari pinggang sambil menyimpan Kerang Merahnya.
Di lain saat tangannya sudah memegang sebatang cambuk berwama hitam dengan lorek-lorek putih seperti ular belang Bandot, kemudian ia menggerakkan cambuk itu ke atas kepalanya.
"Tar-tar-tar!"
Ledakan-ledakan seperti halilintar menyambar dan batu karang di langit-langit guha yang terkena ujung cambuk rontok semua berhamburan.
Inilah ilmu Cambuk Sarpokenoko yang merupakan inti darl pada kesaktian Ni Durgogini, yang sudah menurun kepada murid tunggalnya yang terkasih.
"Hemm, Raden Wisangjiwo, sesungguhnya di antara kita tidak terdapat permusuhan mengapa, engkau begini mendesakku, bahkan telah melukai isteriku? Aku mengenal cambukmu, apakah kau benar-benar hendak mengadu nyawa?"
"Pengecut Pujo, tak usah banyak cerewet. Saat ini kematianmu sudah di depan mata. kau mampus dan isterimu menjadi milikku semalam suntuk."
"Keparat"
Pujo marah sekall dan menerjang ke depan dengan tangan terbuka.
Biasanya dalam ilmu silat pukulan tangan terbuka dilakukan dengan jari-jari tangan saling berapatan dan ibu jari ditekuk ke dalam.
Akan tetapi Ilmu Pethit Nogo lain lagi, mempunyai keistimewaan tersendiri.
Ilmu Pethit Nogo ini bukan mengandalkan keampuhannya pada pukulan tangan miring atau keampuhan epek-epek (telapakan) tangan.
Melainkan mendasarkan keampuhannya pada ujung-ujung jari tangan!
Ujung-ujung jari tangan inilah yang menjadi pethit (ekor) naga.
Oleh karena itu, jari-jari itu tidak merapat satu kepada yang lain, melainkan terpisah seperti kaki burung garuda, namun lurus-lurus tidak melengkung atau mencengkeram.
"Tar-tar! Wesss Ciuuuttt"
Cambuk Sarpokenoko benar-benar ampuh sekali, ketika diputar membentuk bayang-bayang hitam namun dayanya seperti halilintar menyambar, hawa pukulannya saja sudah terasa panas dan kalau mengenal tubuh manusia, konon akibatnya seperti sambaran petir, kulit tubuh bisa mlonyoh seperti tersiram air mendidih!
(Lanjut ke
Jilid 02) Badai Laut Selatan (Seri ke 03 Serial Serial Keris Pusaka Sang Megatantra) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo
Jilid 02 Namun Pujo sudah cukup waspada.
la cepat mempergunakan Aji Bayu Tantra sehingga tubuhnya menjadi ringan seperti sehelai daun dan cepat seperti angin, kemanapun juga ujung cambuk lawan menerjang, tubuhnya sudah mendahului berpindah tempat.
Kadang-kadang kedua tangannya yang mainkan ilmu silat Pethit Nogo menyambar dengan serangan balasan yang dahsyat.
Bahkan jari-jari tangan yang sudah kemasukan Aji Pethit Nogo, kadang-kadang berani menangkap ujung cambuk dan begitu bertemu, ujung cambuk seperti menghantam karet, terpental kembali memukul pemegangnya!.
Raden Wisangjiwo makin penakaran dan marah.
Beberapa kali hampir saja ia termakan jari-jari tangan ampuh itu, karena setiap kali menyerang, gerakan lawannya cepat sekali membuat ia repot dan hampir tidak mendapat kesempatan mengelak.
Maklum bahwa ia tak dapat mengatasi kehebatan lawan hanya dengan Ilmu Cambuk Sarpokenoko, dengan kemarahan meluap-luap Raden Wisangjiwo lalu memindahkan cambuk ke tangan kiri, tangan kanannya mengeluarkan Kerang Merah dan mulailah ia menggunakan ajinya Tirto Rudiro di samping Ilmu Cambuk Sarpokenoko!
Bukan main hebatnya pertandingan antara dua orang muda murid guru-guru yang sakti ini.
Setengah jam lebih mereka bertanding, dan mulut guha sudah mulai gelap.
Raden Wisangjiwo berseru keras ketika tangan kanannya memukulkan Aji Tirto Rudiro.
Ketika Pujo menggunakan tangan kiri menangkis, cambuknya sudah menyambar dengan cara melibat dari belakang, mengarah leher lawan.
Pujo tak sempat mengelak karena lengan kirinya masih"lekat"
Dengan lengan kanan lawan, maka cepat ia menundukkan kepala dan tangan kanannya menangkap ujung cambuk!
Hebat cengkeraman tangan dengan jari-jari yang merupakan Pethit Nogo ini, sekali ia mengerahkan tenaga membetot, terdengar suara keras dan cambuk itu patah ujungnya!.
Raden Wisangjiwo kaget, kembali tangan kanannya memukul, namun tertangkis tangan kiri dan pada saat itu Pujo sudah menggunakan tangan kanannya menampar pundaknya.
"Plakkkk!"
Kelihatannya perlahan saja jari-jari tangan kanan Pujo menyentuh pundak, akan tetapi akibatnya hebat karena inilah pukulan Pethit Nogo! "Aduuhhhh...!"
Raden Wisangjiwo berseru kesakitan, tubuhnya terlempar dan sekali lagi terbanting pada dinding guha.
Pujo tidak memperdulikannya lagi, melainkan cepat-cepat ia menghampiri istcrinya.
Kartikosari sudah siuman, akan tetapi wanita ini merasa betapa isi dadanya panas seperti terbakar, kepalanya pening dan seluruh tubuhnya sakit-sakit.
Maka ia telah duduk bersila, tidak berani membagi perhatian ke luar, melainkan mengeraskannya ke dalam untuk mengumpulkan hawa murni dan menghalau hawa beracun yang mengeram di dalam tubuhnya.
Melihat keadaan isterinya, Pujo kaget sekali.
Begitu memegang pergelangan tangan isterinya dan memandang wajahnya dalam keadaan remang-remang itu, maklumlah ia apa yang terjadi.
Isterinya terserang pukulan berbisa dan perlu segera ditolong.
Keadaan isteri terkasih inilah yang membuat Pujo terlengah.
Ia lalu duduk bersila di depan Kartikosari, menempelkan telapak kedua tangannya kepada telapak tangan isterinya, lalu ia mengumpulkan daya cipta dan mengerahkan ajinya sehingga hawa sakti dari dalam tubuhnya mengalir bagaikan air bah melalui telapak tangan mereka, masuk ke dalam tubuh isterinya dan merupakan tenaga maha kuat membantu isterinya menghalau pergi hawa beracun.
Pujo memang terlalu baik hati.
Kalau saja ia tadi tidak menaruh kasihan kepada Raden Wisangjiwo sehingga dalam pukulannya ia mengerahkan seluruh tenaganya, tentu lawan itu telah tewas.
Kalau saja ia tidak terlalu percaya bahwa lawan tentu malu untuk melakukan penyerangan gelap, tentu ia takkan selengah itu, atau kalau saja ia tidak terlalu khawatir akan keadaan isterinya yang tercinta, tentu ia akan berlaku hati-hati.
Akan tetapi, setiap kejadian di dunia ini memang sudah teratur terlebih dahulu oleh kekuasaan yang melebihi segala kekuasaan di dunia.
Ada saja sebabnya sehingga terjadilah hal yang semestinya terjadi.
Pujo yang sedang tekun mengerahkan tenaga dalam, sama sekali tidak tahu bahwa Raden Wisangjiwo berindap-indap menghampirinya dari belakang, menggenggam Kerang Merah lalu menggerakkan tangan kanan menghantam punggungnya.
"Dessss...!!"
Hebat pukulan ini.
Biarpun Raden Wisangjiwo sudah terluka, namun ilmu pukulan Tirto Rudiro ini memang hebat.
Seketika tubuh Pujo terguling dan menggigil kedinginan, juga Kartikosari terserang pula, namun tidak sehebat suaminya.
Wanita ini terguling dan pingsan kembali.
Pujo berusaha bangun, akan tetapi sebuah tendangan membuatnya terlempar ke sudut guha.
"Huah-ha-ha-hahI Pujo, kau mau bisa apakah sekarang? Aku tidak akan membunuhmu, biarlah kau saksikan betapa isterimu menjadi milikku malam ini. Huah-ha-ha-hah!"
Seperti seorang mabok atau gila, Raden Wisangjiwo menghampiri tubuh Kartikosari yang menggeletak miring dalam keadaan tak sadar.
Memang putera adipati itu mabok, mabok oleh nafsunya sendiri.
Dan memang ia gila, karena orang yang mabok oleh nafsunya sendiri, yang diperhamba nafsu, tiada ubahnya seorang gila yang hilang akan kesadarannya sebagai manusia.
Bahagialah dia yang dapat menguasai nafsunya, sebaliknya celakalah mereka yang menjadi hamba dari pada nafsunya sendiri!.
Biarpun keadaan sudah remang-remang, namun masih tampak jelas tubuh berbentuk indah tergolek di depannya.
Dengan kasar Raden Wisangjiwo menggunakan kakinya menggerakkan tubuh Kartikosari sehingga terlentang.
Sebagian rambutnya yang panjang terurai itu menutupi muka dan leher yang putih menguning.
Dalam pertandingan tadi kainnya mengendur ikatannya sehingga agak melorot dan membayangkan keindahan dadanya.
Raden Wisangjiwo menelan ludah, lalu tertawa dan kedua tangannya menjangkau.
Tiba-tiba ia tersentak kaget dan melangkah mundur, keningnya berkerut.
Ketika tangannya menjangkau hendak menjamah, terasa olehnya Kerang Merah tergenggam ditangan kanannya tadi ia menggunakan Kerang Merah untuk memukul Pujo dengan Aji Tirto Rudiro.
Kerang Merah inilah yang mengingatkan dia.
Bibi gurunya berpesan agar ia memperdalam ilmu sakti Tirto Rudiro, akan tetapi ia harus berpantang, tidak boleh mendekati wanita selama dua puluh satu hari!
Dan baru sehari saja kini ia akan melanggar pantangan.
Jantungnya berdebar dan seluruh tubuhnya terasa dingin.
Untung ia teringat.
Ilmunya harus diperdalam, apalagi setelah ada permusuhan ini.
Resi Bhargowo tak boleh dibuat main-main.
Ia menoleh dan melihat betapa Pujo masih menggeletak tak bergerak.
Siapa tahu Pujo tewas karena pukulannya tadi.
Tentu Resi Bhargowo takkan tinggal diam.
Ia bergidik mengingat hal ini.
Baru muridnya saja, Pujo sudah sedemikian saktinya, apa lagi gurunya!.
Rasa takut menggerogoti hati Raden Wisangjiwo, membuat nafsu berahinya lenyap dan sirna seketika.
Ia menghampiri Pujo yang tak bergerak-gerak, lalu meludah dan tertawa bergelak sambil melompat keluar dari dalam guha.
Ia harus cepat-cepat pergi mendapatkan gurunya, Ni Durgogini untuk menceritakan kejadian ini agar gurunya dapat membelanya apa bila Resi Bhargowo mencarinya dan membalas.
Suara ketawanya masih terdengar bergema, makin lama makin lemah, ketika Raden Wisangjiwo berlompat-lompatan naik meninggalkan pantai selatan yang menyeramkan ini, naik melalui jalan yang sukar itu menuju ke atas tebing.
Pujo membuka matanya.
Guha mulai gelap.
Ia cepat bangkit duduk karena teringat kepada isterinya.
Ketika ia memandang, hampir ia pingsan kembali.
Isterinya sedang meronta-ronta, menggunakan tangan kaki menolak seorang laki-laki yang hendak memeluknya, memperdengarkan sedu sedan dan isak-tangis.
"Raden Wisangjiwo, lepaskan dia...!"
Pujo melompat bangun dan meringis karena rasa nyeri menusuk jantungnya, dan tubuhnya tiba-tiba menggigil kedinginan.
Orang itu kaget dan melepaskan Kartikosari.
Wanita ini sebetulnya adalah seorang wanita sakti yang tidak akan mudah begitu saja dipermainkan orang.
Akan tetapi ia masih setengah lumpuh oleh daya pukulan Tirto Rudiro sehingga tenaga saktinya untuk sementara lenyap dan ia mengadakan perlawanan dengan tenaga seorang wanita biasa.
Sambil memaksakan diri Pujo sudah bangkit dan terhuyung-huyung menerjang orang yang disangkanya Raden Wisangjiwo itu, namun dengan gerakan sigap sekali orang itu mengelak ke samping sambil mengayun kaki.
Tanpa dapat dicegah lagi Pujo kena tertendang dadanya dan tubuhnya terlempar kembali ke sudut guha.
Tendangan orang itu antep sekali dan rasanya dadanya seperti akan melesak, napasnya sesak.
Pujo hendak bergerak bangun, akan tetapi sia-sia.
Tenaganya habis dan seluruh tubuhnya sakit-sakit, matanya berkunang-kunang, kepalanya pening dan ia hampir pingsan.
Hanya jerit isterinya yang menyeretnya ke alam kesadaran, yang membuat ia terpaksa membuka matanya menembus cuaca remang-remang, la melihat betapa isterinya meronta-ronta, kemudian terdengar kain terobek disusul lengking isterinya yang seakan-akan mencabut jantungnya.
Pujo mengerahkan tenaga melompat bangun, akan tetapi hal ini membuat ia menyemburkan darah hidup dan roboh kembali, pingsan.
Suara terakhir yang didengarnya hanyalah lengking mengerikan di tengah-tengah suara ketawa iblis!
Siapakah sesungguhnya manusia iblis yang disangka Raden Wisangjiwo oleh Pujo dan Kartikosari itu?
Bagaimana ia bias tiba secara kebetulan pada saat Pujo dan isterinya terluka dan tak berdaya?.
Dia juga seorang pemuda yang tampan, seorang pemuda perkasa yang biasanya dianggap sebagai seorang pendekar gemblengan.
Sesungguhnya dia bukanlah orang asing, bahkan ada hubungan seperguruan yang dekat dengan Pujo dan Kartikosari, karena dia inilah Jokowanengpati, seorang di antara murid-murid terpandai dari Empu Bharodo di Mataram!
Empu Bharodo adalah seorang pendeta yang amat terkenal di Mataram, bahkan dihormati oleh Raja Airlangga sendiri yang menganggapnya sebagai seorang pertapa sakti mandraguna yang sukar dicari tandingnya.
Sebagai murid seorang pertapa sakti seperti Empu Bharodo, sudah tentu saja Jokowanengpati amatlah tangguh.
Adapun Empu Bharodo adalah terhitung kakak seperguruan atau kakak angkat dari Resi Bhargowo, maka sesungguhnya di antara Jokowanengpati dan suami-isteri di Guha Siluman itu masih terdapat pertalian atau hubungan seperguruan atau sealiran.
Agaknya hubungan dengan Empu Bharodo yang membantu Mataram inilah yang membuat Resi Bhargowo melarang anak dan muridnya membantu perjuangan menentang Mataram setahun yang lalu.
Dua tahun yang lalu, pernah Empu Bharodo mengusulkan perjodohan dengan keponakannya, Kartikosari dengan Jokowanengpati, akan tetapi usul itu ditolak oleh Resi Bhargowo yang sudah waspada akan isi hati anaknya yang jatuh cinta kepada murid tunggalnya sendiri, Pujo.
Penolakan ini bagi Empu Bharodo bukan apa-apa dan sudah sewajarnya, namun tidak demikianlah bagi Jokowanengpati.
Diam-diam ia sudah tergila-gila kepada Kartikosari yang denok ayu, sehingga membuat ia gandrung-gandrung rindu dendam mabok kepayang.
Agaknya sudah menjadi kehendak Dewata bahwa inilah yang menjadi lantaran runtuhnya pertahanan batin Jokowanengpati, ataukah memang pada dasarnya pemuda ini tidak memiliki batin yang kuat.
Kalau tadinya ia merupakan seorang ksatria utama pembela kebenaran dan keadilan, seorang murid yang disayang gurunya karena selalu mengutamakan kebajikan, setelah kegagalan perjodohan itu, Jokowanengpati melampiaskan nafsu dan kekecewaannya kepada dara-dara di luar Kotaraja!
Ia menculik, mempermainkan dan memperkosa gadis-gadis, bahkan isteri orang yang muda dan cantik, asal yang menggerakkan seleranya tentu akan ia culik, mengandalkan kepandaiannya!
Makin la turuti, makin menggelora iblis menguasai dirinya, makin menghebat nafsunya sehingga akhirnya ia dicari oleh Empu Bharodo untuk disuruh mempertanggung jawabkan semua perbuatannya yang keji.
Namun Jokowanengpati melarikan diri, merantau ke barat dan terkenallah ia sebagai seorang tampan, sakti dan cabul.
Betapapun juga, Jokowanengpati tidak melupakan bahwa ia harus selalu menggembleng diri dan memupuk kepandaiannya, karena kalau tidak, tentu ia kelak akan celaka, apalagi kalau sampai bertemu dengan gurunya.
Inilah sebabnya maka Jokowanengpati pergi ke Guha Siluman untuk bertapa, karena daerah pantai Laut Selatan ini memang terkenal sebagai daerah yang baik sekali untuk bertapa dan mencari pusaka bagi para ahli tapa dan pendekar.
Sudah dua hari dua malam Jokowanengpati bertapa di sebelah dalam Guha Siluman, di sudut sebelah dalam yang amat gelap, bertapa sambil duduk bersila di atas batu karang yang menonjol setinggi satu meter berbentuk runcing.
Ia telah mewarisi Ilmu Bayusakti dari gurunya, maka ia sanggup bertapa di atas batu karang yang meruncing itu selama dua hari dua malam.
Pada senja itu ketika Pujo dan Kartikosari memasuki guha, Jokowanengpati sesungguhnya sudah berada di sebelah dalam guha!
Ia kaget sekali, mula-mula mengira bahwa kedatangan dua orang yang dikenalnya itu merupakan utusan gurunya untuk menangkapnya.
Betapa lega hatinya mendengar percakapan suami-isteri itu yang sama sekali tidak ada hubungan dengan dirinya dan ia terbelalak dengan jantung berdebar-debar melihat suami-isteri itu menanggalkan seluruh pakaian.
Karena suami-isteri itu berada di mulut guha dan dia berada di sebelah dalam guha yang amat gelap, tentu saja semua perbuatan mereka itu dapat ia lihat dengan jelas sekali.
Maka ia dapat menyaksikan semua gerak-gerik Kartikosari yang dahulu membuat ia mabok kepayang.
Kini melihat wanita yang pernah dicintainya secara diam-diam itu menanggalkan pakaian dan duduk bersila bertelanjang bulat, Jokowanengpati hampir tak kuat menahan gelora hatinya.
Jantungnya meloncat-loncat serasa hendak copot, matanya melotot dan berkali-kali ia menelan ludah.
Namun ia cukup mengerti bahwa suami-isteri itu adalah murid-murid paman gurunya, Resi Bhargowo yang sakti mandraguna.
Tak berani ia berlaku lancang menurutkan nafsu hatinya.
Maka iapun hanya dapat menubruk, mendekap dan membelai-belai Kartikosari dalam benaknya yang kotor saja.
Kemudian muncullah Raden Wisangjiwo yang mengakibatkan terlupanya Pujo dan isterinya karena kecurangannya.
Tentu saja kalau ia mau, Jokowanengpati dapat membantu mereka.
Akan tetapi Jokowanengpati sekarang bukanlah murid Empu Bharodo yang dahulu.
Melihat perbuatan Wisangjiwo itu, ia malah menyeringai kegirangan.
Ia hanya bersiap memberi hajaran kepada Radlen Wisangjiwo kalau pemuda bangsawan ini mengganggu Kartikosari.
Namun akhirnya Raden Wisangjiwo yang juga sudah terluka, mengurungkan niatnya mengganggu dan pergi meninggalkan guha, meninggalkan Pujo dan Kartikosari yang sudah terluka hebat dan setengah pingsan.
Manusia adalah makhluk yang paling lemah di antara segala makhluk sehingga mudah terombang-ambing di antara kebaikan dan kejahatan.
Sekali hati ini dikuasai nafsu, apa saja akan dilakukannya demi pemuasan nafsu hati.
Hati nurani tertutup tabir dari asap hitam yang timbul dari nafsu, segala pertimbangannya patah dan satu-satunya hasrat hanya pelaksanaan dan pemuasan nafsu yang telah menguasai dirinya.Demikian pula halnya dengan Jokowanengpati.
Sejak kemarin ia memang telah tenggelam dalam nafsu berahi, namun karena tiada kesempatan, ia masih menahan diri karena pertimbangan keselamatannya.
Kini, begitu melihat kesempatan terbuka, gejolak nafsunya tak dapat ia tahan lagi.
Tak mungkin ia dapat menyia-nyiakan kesempatan yang demikian baiknya.
Di dalam guha sudah gelap, mereka takkan dapat mengenalnya lagi dan diapun muda serta tampan seperti Raden Wisangjiwo.
Demikianlah, tanpa membuka mulut mengeluarkan suara, Jokowanengpati menjadi iblis menerkam Kartikosari.
Pujo bermimpi.
Serasa ia hanyut, diseret dan dipermainkan ombak laut yang bergelora, diangkat tinggi, dibanting dan diangkat kembali.
Betapapun ia berusaha untuk berenang ke pantai, ombak selalu menyeretnya kembali ke tengah.
Dinginnya bukan main ketika ia dipermainkan ombak, serasa ditusuk-tusuk tulang sungsum, membeku jantungnya dan kaku-kaku seluruh tubuhnya.
Hampir tak tertahankan lagi rasa sakit-sakit, hampir ia menangis dan menjerit-jerit kesakitan kalau saja ia tidak teringat bahwa hal demikian bukanlah laku seorang gagah.
Lebih baik mati saja.
Ia sudah menyerahkan diri, tidak mau lagi melawan ombak mendahsyat, menyerahkan diri dan pasrah kepada kehendak Dewata, menanti datangnya Sang Batara Kala mencaplok tubuhnya dan Sang Batara Yamadipati menjemput nyawanya.
Tiba-tiba ia mendengar suara memanggil.
"Kakangmas Pujo..."
Seruan memanggil yang terdengar jauh sekali, akan tetapi berulang-ulang dan makin lama makin jelas.
Suara Kartikosari!
Suara isterinya yang tercinta!
Suara yang seakan-akan mengembalikan semangatnya, mendatangkan tenaga mujijat ke dalam tubuhnya yang sudah lemah dan kaku.
Ia mengerahkan tenaganya dan mulai melawan ombak lagi, berenang ke pantai.
Suara itu makin jelas, bahkan kini bercampur dengan isak-tangis.
"Duhai kangmas Pujo... dosa apakah yang kita perbuat... sehingga kita mengalami semua ini...?"
Suara isterinya terputus-putus oleh sedu sedan.
Isterinya!
Kartikosari di dekatnya!
Lenyaplah semua ombak, dan kesadaran kembali memasuki benaknya.
Di dalam guha, diserang Raden Wisangjiwo, bertempur, terluka dan...
dan...
isterinya meronta-ronta dalam pelukan Raden Wisangjiwo...
terdengar kain terobek dan lengking isterinya mengerikan!
Pujo mengerutkan kening, tak berani membuka matanya.
Terlampau buruk mimpi itu.
Mimpi?
Punggungnya masih terasa sakit dan dingin, bekas pukulan berbisa lawan.
Dadanya juga masih terasa sakit, bekas tendangan kaki lawan.
Mimpi?
Bukan mimpi!
Kenyataan!
Dan Kartikosari?.
"...Kakangmas... mengapa kau diam saja...? Apakah kau sudah mati, kangmas...? Kalau kau mati, akupun ikut...,aduhhh, memang lebih baik kita mati..."
Tangis Kartikosari makin menjadi, terisak-isak dan tersedu-sedu, air matanya menjatuhi muka Pujo, rambutnya yang terurai menyapunyapu dada dan leher.
Pujo membuka mata.
Air mata isterinya amat panas menyentuh pipi dan dahinya.
Silau matanya karena ternyata sinar matahari pagi telah menerobos masuk ke dalam guha.
"Kakangmas Pujo..."
Ia bangun duduk.
Mereka berpandangan.
Pujo menjelajahi tubuh isterinya dengan pandang matanya.
Rambut yang hitam panjang terurai itu kusut, amat hitam membuat wajah berbentuk mendaun sirih itu makin pucat tampaknya, wajah cantik pucat yang basah oleh air mata yang masih bertetesan turun tiada hentinya, hidung yang berkembang-kempis oleh tangis, bibir yang bergerak-gerak, merah sekali karena di ujungnya berdarah.
Pandang matanya menurun.
Dada yang bergerak menggelombang, agak terengah-engah oleh tangis pula, dada membusung yang hampir tak tertutup kain.
Kain robek!
Kain itu telah robek lebar sekali dan kini dibalutkan sedapatnya untuk menutupi tubuh.
Teringatlah Pujo.
Terbayang semua olehnya.
Kain robek menutup tubuh yang tidak bersih lagi!.
"Kakangmas Pujo...!"
Kartikosari menjerit cemas.
"Kau... kau kenapa...? Jangan pandang aku seperti itu, kangmas..., jangan...!"
Kartikosari menjerit dan menangis sambil merangkul suaminya.
Akan tetapi Pujo menangkis dan mendorong tubuh isterinya.
Kartikosari terjengkang, lalu merayap bangun dan memandang suaminya dengan sepasang mata terbelalak, dihias air mata yang menetes-netes turun.
Ia menjangkau kembali, hendak menyentuh pundak suaminya.
"Jangan kau sentuh aku!"
Tiba-tiba Pujo membentak, suaranya parau setengah terisak, wajahnya pucat dan matanya terbelalak setengah melotot.
"Kangmas..."
"...Kau..., kau sudah... ternoda olehnya...?"
Ucapan ini setengah menuduh setengah bertanya, mengandung harap-harap cemas.
Kartikosari menatap wajah suaminya beberapa saat, matanya penuh mengandung sesal, ujung hidung yang mancung Itu bergerak-gerak, bibirnya berkomat-kamit tanpa dapat mengeluarkan kata-kata, air matanya bercucuran seperti air hujan.
Tiba-tiba ia menjerit dan menutup muka dengan kedua tangannya, menangis terisak-isak, pundaknya bergerak-gerak, tangis yang amat memilukan hati, akan tetapi bagi Pujo merupakan tanda bahwa dugaannya tepat, bahwa harapannya hancur.
Ia mengepal tinju dan memukuli lantai guha tanpa disadarinya sehingga kedua tangannya sampai lecet-lecet dan berdarah.
Tanpa pengerahan tenaga sakti, tangannya adalah tangan manusia biasa.
"...Kangmas Pujo... ahhh, kangmas... aku... aku tak berdaya... aku... aku terluka... kehilangan tenaga dan dia... dia kuat sekali..."
Akhirnya Kartikosari dapat berkata, menurunkan kedua tangannya. Mukanya makin pucat dan tubuhnya menggigil ketika ia mendekat hendak merangkul suaminya.
"Jangan sentuh aku dengan tubuhmu yang kotor dan hina!"
Pujo membentak.
"Jangan seret aku ke dalam lumpur kehinaan!"
Bentakan dan makian ini seakan-akan merupakan tamparan pada muka Kartikosari, membuatnya tersentak kaget dan mundur. Matanya terbelalak seperti mata kelinci ketakutan bertemu harimau.
"Kangmas... Kenapa kau sesalkan aku...? Kenapa kau mencaci-maki aku...? kau tahu, aku tidak berdaya, aku terpaksa... ahhhh... kangmas... mengapa kau memandangku seperti itu? kau tahu, malapetaka itu bukan salahku... aku tidak berdaya..."
"Kenapa kau tidak bunuh diri? Huh, agaknya kau mengalami kesenangan dengan dia, ya? Perempuan hina...!"
"Kangmas... ohhh... kangmas Pujo... tega benar kau mencaciku seperti itu... aduh, kangmas..."
Sukar sekali Kartikosari bicara karena isak-tangisnya merampas semua kata, membuat napasnya sesak dan ia roboh pingsan!.
Pujo tetap duduk bersila, wajahnya yang pucat itu mengeras, keningnya berkerut, matanya berapi-api, dadanya turun naik.
Matanya menatap tubuh isterinya yang tergolek di depan kakinya, tubuh yang hampir telanjang.
Keindahan bentuk tubuh Isterinya yang tersinar matahari pagi itu kini tidak lagi mendatangkan rasa berahi dan bangga, malah merupakan tusukan yang membuat hatinya terasa perih sekali.
Tubuh yang sudah dijamah orang lain!
Kotor, penuh aib dan noda!
Ia membuang muka ketika tubuh itu bergerak-gerak kembali.
Kartikosari siuman sambil terisak, kemudian merangkak bangun dan muka yang pucat itu menengadah, mencari-cari pandang mata suaminya, mencari-cari sinar mata penuh kasih yang biasa memancar dari mata suaminya.
"Kakangmas Pujo, aku bersembah sujut di depan kakimu, kangmas..., harap kangmas sadar kembali. Benar aku telah ternoda orang, akan tetapi... kau maklum bahwa hal itu terjadi di luar kemauanku. Aku tidak berdaya..."
"Cukup! kau tadi bilang lebih baik mati. Itu benar sekali. Kenapa tidak lekas-lekas mati, mau tunggu apa lagi?"
"Kakangmas Pujo! Benarkah yang bicara ini kakangmas Pujo, suamiku yang amat mencintaiku, yang bijaksana dan luas pandangan? Kangmas..."
"Cukup. Lebih baik kau mampus!"
Pujo membentak. Kartikosari bangkit berdiri. Air matanya berhenti mengucur, namun pandang matanya seperti lampu kehabisan minyak.
"Kangmas Pujo, memang aku lebih senang mati, akan tetapi bersamamu. Percayalah, andaikata kau tewas, aku pasti akan menyusulmu. Kakangmas Pujo suamiku, sekali lagi aku peringatkan bahwa apapun yang terjadi, aku tetap isterimu yang setia dan mencintamu. Sadarlah bahwa apa yang terjadi adalah di luar kemauanku..., ingatlah akan cinta kasihmu, kakangmas. seperti samudera, seperti kuku hitam, seperti ujung rambut? Kangmas, ingatlah..."
Bergerak-gerak bibir Pujo dan hampir saja air matanya runtuh.
Hatinya terharu sekali, lebih-lebih mendengar kini isterinya terisak-isak sedih.
Ia hendak bicara, akan tetapi kerongkongannya tersumbat.
Akhirnya ia membentak.
"Cukup!, Aku tidak mau dekat lagi denganmu! kau kotor, ternoda, penghinaan yang takkan dapat tercuci bersih biar dengan maut sekalipun. Aku... aku benci kepadamu!"
"Aduh, kakangmas..."
Tubuh Kartikosari lemas dan roboh lagi terguling, berlutut di depan kaki Pujo.
"Kau ampunkan aku, kakangmas... jangan putuskan cinta kasih kita..."
"Hemm, perempuan rendah, kau masih berpura-pura lagi? Lebih baik kau lekas pergi menyusul Raden Wisangjiwo dan ikut padanya,kan lebih senang Jadi selirnya, atau jadi pelayannya, dia tampan dan kaya raya, putera bangsawan pula. Pada lahirnya saja kau pura-pura menyesal, sebenarnya dalam batin kau amat senang kepadanya. Huh, hina dina!"
Seakan-akan ditusuk keris berkarat rasa hati Kartikosari.
Betapapun besar cinta kasihnya kepada Pujo, namun ia adalah puteri tunggal Resi Bhargowo.
Tiba-tiba ia meloncat bangun dan berdiri,sikapnya agung, matanya memancarkan sinar berapi.
Dengan tenang ia membereskan pakaiannya, membalut ketat dan erat-erat, lalu ia berkata, suaranya berbeda sekali dengan tadi, kini tenang, berwibawa, dan penuh rasa penasaran.
"Kangmas Pujo! kau melampaui batas, Agaknya iblis yang menguasai hati jahanam Wisangjiwo, tertinggal di sini dan kini menguasai hatimu dalam bentuk lain. kau cemburu dan iri hatil kau tidak mau melihat kenyataan dan sekarang aku berani menyatakan bahwa kau sebenarnya pengecutl kau diperhamba nafsu sendiri sehingga buta melihat kenyataan. kau seorang yang terlalu sayang, terlalu memanjakan diri sendiri sehingga tidak melihat keadaan lain orang. kau buta sehingga tidak melihat betapa malapetaka ini membuat aku jauh lebih menderita lahir batin daripada engkau! Demikian pengecut engkau, demikian mementingkan diri sendiri sehingga kau bukannya menaruh kasihan kepada isterimu, malah kau mencaci-makinya dengan fitnah-fitnah keji. Bukannya kau mencari daya membalas dendam kepada orang yang telah menghina kita, sebaliknya kau malah secara keji menyiksa hatiku. Ini semua membuktikan bahwa cintamu adalah cinta jasmani belaka, cinta yang berdasarkan nafsu berahi semata. Karena cintamu dangkal dan hanya tubuhku yang kau cinta, maka kau kecewa melihat tubuhku dinodai orang lain, padahal kau maklum seyakinnya bahwa batinku sama sekali tidak ternoda, bahwa cintaku sama sekali tidak pernah goyah. Kangmas Pujo, kau picik dan buta. kau menghina dan menyakiti hatiku. Karena aku cinta kepadamu, maka rasanya hatiku lebih sakit lagi, lebih sakit daripada perbuatan si jahanam Wisangjiwo kepadaku. Alangkah inginku membunuhmu di saat ini, lalu membunuh diri sendiri. Akan tetapi aku harus hidup, aku harus membalas semua penghinaan ini. Dan aku... aku tetap mencintaimu sampai akhir hidupku. Kangmas Pujo..., suamiku..., kekasihku..., selamat tinggal...!"
Kartikosari terisak-isak, lalu berjalan keluar dari guha.
Akan tetapi setibanya di sudut guha, di mana semalam ia rebah, ia melihat sesuatu.
Sejenak ia tertegun, lalu dipungutnya sepotong jari kelingking, digenggamnya erat-erat, kemudian ia melompat keluar sambil menangis terisak-isak.
Pujo masih bersila tak bergerak seperti patung.
Semua ucapan Kartikosari menghunjam di jantungnya.
Tepat dan cocok, demikian bisik kesadaran batinnya.
Namun nafsu hati mencibirkan bibirnya.
Mengenang dan membayangkan betapa tubuh isteri yang menjadi miliknya seumur hidup itu dijamah orang, dipermainkan dan dibelai, otak dan hatinya panas sekali dan ia sanggup membenci segala apa di dunia ini, termasuk dirinya sendiri.
Dendam kepada Raden Wisangjiwo!
Ya, benar!
Itulah tujuan hidupnya kini.
Membalas dendam yang hebat ini, sehebat badai Laut Selatan.
Masih terdengar olehnya isak-tangis Kartikosari yang meninggalkan guha dan terdengar suara isterinya.
"Dendam sedalam Laut Selatan! Tunggu saja kau, jahanam, tunggu kau datangnya pembalasanku. Akan kupicis (kerat-kerat) mukamu, akan kuhisap darahmu, kukeluarkan dan ganyang jantungmu, kukeluarkan isi perutmu dan kujadikan umpan burung gagak dan ikan hiu. Tunggu saja kau. ..hi-hi-hi-hik!"
Pujo terlompat kaget dan bulu tengkuknya meremang.
"Kartikosari... mengapa..., mengapa engkau?"
Demikian bisik hatinya.
Belum pernah ia mendengar isterinya tertawa seperti itu.
Sayang, sayang rasa cemburu telah meracuni hati nuraninya.
Kalau saja ia menyusul isterinya dan merangkulnya, menghiburnya, mungkin belum terlambat.
Akan tetapi sayang, Pujo melompat keluar dari Guha Siluman bukan untuk mengejar isterinya, melainkan untuk lari ke jurusan yang berlawanan, isterinya ke kiri dia ke kanan, lalu melompat-lompat menahan rasa nyeri akibat luka-lukanya meninggalkan Guha Siluman.
Ajaib.
Pagi hari yang tadi cerah itu tiba-tiba menjadi gelap.
Badai yang sudah diramalkan oleh sibuknya burung-burung walet meninggalkan guha-guha semalam, tiba-tiba muncul.
Angin bertiup, air bergelombang, makin lama makin menghebat, cuaca di permukaan laut menjadi gelap, suara angin bersiutan disambut suara gelegar ombak menghantam batu-batu karang.
Makin lama makin tinggi, makin lama makin besar.
Mula-mula ujung ombak yang memukul batu karang di bawah Guha Siluman hanya muncrat ke atas, percikan air membasahi mulut guha.
Akan tetapi makin lama badai mengamuk makin hebat, ombak makin tinggi sehingga ombak raksasa melontarkan air masuk ke dalam guha Air menyerbu masuk dan keluar lagi mengalir seperti air bah.
Semua yang berada di dalam guha dihanyutkan keluar, seakan-akan Laut Selatan hendak mencuci Guha Siluman daripada noda-noda semalam"
Sayang!
Bekas-bekas noda dapat dicuci, akan tetapi goresan luka di hati tak mungkin dapat disembuhkan.
Peristiwa semalam di dalam Guha Siluman disusul badai Laut Selatan yang amat hebat, yang menumbangkan banyak pohon, menggetarkan gunung-gunung, menggugurkan banyak batu-batu karang besar menutup guha-guha lama membentuk guha-guha baru.
Agaknya badai Laut Selatan ini telah memberi peringatan bahwa peristiwa malam jahanan itu akan menimbulkan hal-hal hebat seperti badai mengamuk!.
Badai di Laut Selatan ditimpali hujan ribut di atas bukit pantai, yaitu bukit atau Pegunungan Seribu.
Kilat menyambar-nyambar, seakan-akan para dewata marah-marah kepada seorang pemuda yang menyelinap di antara pohon-pohon kemloko yang buahnya jatuh berhamburan.
Pemuda ini menyumpah-nyumpah karena pakaiannya basah kuyup dan lebih sering menyumpah ketika tangan kirinya terasa perih oleh air hujan.
Ia berteduh di bawah sebatang pohon randu alas, menghapus mukanya yang penuh air dan peluh, lalu memandang tangan kirinya.
Jari tangan kirinya tinggal empat buah.
Ketika ia hendak meninggalkan guha menjelang fajar, ketika tangan kirinya membelai muka yang halus cantik, wanita yang tadinya lemas tak berdaya itu pada saat terakhir seakan-akan dapat menghimpun tenaga, menjadi liar dan jari tangannya yang membelai bibir dengan cubitan, telah digigit.
Kelingkingnya putus oleh gigitan itu!.
"Iblis betina...!"
Ia menyumpah-nyumpah sambil melanjutkan perjalanan, berlari-lari menuruni lereng, mulutnya sebentar tersenyum sebentar menyeringai ketakutan.
Ia tersenyum kalau teringat akan wanita bekas kekasihnya itu, akan tetapi Jokowanengpati, pemuda ini menyeringai khawatir kalau ia mengingat betapa ia menghadapi bahaya kalau Kartikosari atau Pujo mengenalnya.
Akan tetapi semalam itu amat gelap di guha, dan tak pernah ia mengeluarkan kata-kata, tak mungkin Pujo atau Kartikosari sekalipun, dapat mengenalnya.
Sementara itu di sepanjang pantai sebelah timur Guha Siluman, yang penuh batu-batu karang, Kartikosari berlari-lari sambil menangis menjerit-jerit, kadang-kadang tertawa bergelak-gelak.
Wanita ini berlari dengan pakaian tidak karuan, rambut riap-riapan sampai ke pinggang.
Angin badai mengamuk ia tidak peduli.
Berkali-kali ombak besar datang sampai di batu karang di mana ia berloncatan, seakan-akan ia ditelan ombak berikut batu karang.
Namun setelah ombak kembali ke tengah, ia masih saja kelihatan berloncatan dengan pakaian, tubuh, dan rambut basah kuyup.
"Kakangmas Pujo... aduh, kangmas..., kau tega benar kepadaku..,...! Awas kau Wisangjiwo, kuhancur lumatkan kepalamu, hi-hi-hi-hik, ha-hah!"
Badai masih mengamuk hebat ketika Kartikosari tiba jauh di timur sampai di daerah yang disebut Karang Racuk.
Ia berhenti di sana karena pantai telah terputus oleh sebuah teluk, yaitu Teluk Baron.
Namun hanya sebentar saja Kartikosari termenung, kemudian dengan nekat ia meloncat ke bawah, ke air laut yang bergolak naik diamuk badai.
Air mengganas, badai membuat laut bergelombang sebesar anak bukit, demikian besar dan dahsyatnya Laut Selatan sehingga tubuh Kartikosari yang mencebur itu kelihatannya hanya seperti sebuah titik hitam yang segera lenyap ditelan ombak!
Namun, beberapa menit kemudian, tubuh Kartikosari terdampar di pantai teluk, di atas pasir yang halus.
Ombak yang terakhir mempermainkannya sedemikian besarnya sehingga tubuhnya dilontarkan jauh ke pantai pasir dan ia tertinggal di situ, tak tercapai oleh ombak lain yang datang bergulung-gulung.
Lidah ombak yang menjulur ke pantai pasir paling jauh hanya mencapai kedua kakinya yang tak tertutup kain lagi, putih kekuningan seperti perut ikan hiu.
Wanita itu tak bergerak-gerak.
Ia pingsan di pantai Teluk Baron yang sunyi senyap.
Dari dalam hutan dekat pantai terdengar auman harimau, disusul bunyi rombongan kera yang bercicitan takut.
Beberapa ekor burung gagak terbang berputar-putar di atas tubuh yang rebah tak bergerak, makin lama makin rendah lalu hinggap di atas batu karang yang menonjol keluar dari pasir, hinggap di situ tak bergerak seperti patung dan mata melirik ke arah tubuh manusia yang tak bergerak gerak itu.
Burung-burung gagak ini maklum bahwa manusia yang rebah tak berkutik itu belum mati, mungkin akan mati dan mereka hanya mau mendekati bangkai.
Mereka sabar menunggu.
Akan tetapi tak lama kemudian rombongan burung gagak itu terbang ke atas sambil mengeluarkan bunyi nyaring.
"Gaaaaok... gaaaok... gaaaokk!"
Dan terbang makin jauh.
Suara burung-burung ini mengandung kecewa, karena manusia yang tadinya disangka akan mati ternyata dapat bergerak dan bangkit, lalu berlutut di atas pasir sambil menangis tersedu-sedu.
Hancur hati Kartikosari ketika ia siuman kembali dan mendapatkan dirinya berada di pantai, di atas pasir halus.
"Duhai Dewata yang agung... mengapa hamba masih hidup? Masih kurangkah hukuman penderitaan yang ditimpakan kepada diri hamba? Aduh, Dewa... dosa apakah gerangan yang hamba lakukan dalam kehidupan yang lalu? Bapa... bapa resi... tak mungkin aku dapat kembali ke Sungapan, aku malu berjumpa dengan bapa... aduh bapa resi, bagaimanakah anakmu ini, bapa...!"
Kartikosari menangis, mengeluh, menyembah-nyembah dan bersambat kepada para dewata, kepada ayahnya Resi Bhargowo, kepada ibunya yang telah tiada.
Namun, hanya deru dan ombak membadai yang menjawabnya, deru ombak yang berpengaruh, yang menelan semua tangis dan keluhnya, yang membungkam auman harimau dan suara margasatwa di dalam hutan, yang membuat binatang yang betapa buaspun lari ketakutan menjauhi pantai.
Lambat-laun, tampak perubahan pada sikap Kartikosari.
Ia meloncat tinggi dan dengan sikap orang menghadapi lawan, dengan muka beringas, mata berapi-api, ia memasang kuda-kuda mengepalkan tinju menghadapi Laut Selatan yang menggelora, kemudian ia memekik, suaranya tinggi nyaring hendak mengatasi gemuruh sang badai.
"Badai Laut Selatan! Saksikanlah sumpahku! Mulai saat ini aku bukanlah puteri Resi Bhargowo lagi, melainkan puterimu! Mulai saat ini akupun bukan isteri Pujo lagi, melainkan isterimu! Ya, aku puteri Laut Selatan, aku isteri Badai Laut Selatan. Ha-ha-ha, aku akan mengamuk seperti badai!"
Ia berteriak-teriak, menyambut datangnya ombak, bermain-main dengan ombak seakan-akan menyambut suaminya yang tercinta, lalu bergulingan ke atas pantai pasir bersama ombak, tertawa-tawa seperti sedang bersendau-gurau dengan suami yang tercinta!
Badai Laut Selatan mengamuk hebat.
Tidak hanya daerah Guha Siluman dan Teluk Baron yang diamuk, juga pasisir Karang Tumaritis dan daerah Sungapan dilanda badai pula.
Malam terjadinya peristiwa jahanam di dalam Guha Siluman itu mengakibatkan getaran hebat dalam batin Resi Bhargowo.
Kakek ini tengah bersamadhi setengah pulas pada malam hari itu.
Tiba-tiba ia tersentak kaget dan sadar, lalu membetulkan letak kedua kakinya yang bersila, tangan kanan meraba dada kiri, tangan kiri meraba dahi, keningnya bergerak-gerak.
"Jagad Dewa Batara... terlaksanalah segala kehendak Hyang Widi! Getar begini hebat mengguncang batin, ujian apa gerangan yang akan kuhadapi"
Sebagai jawaban pertanyaan sang resi terdengarlah deru angin kencang, disusui derap kaki mendekat pintu pondok pemujaan, lalu terdengar suara cantrik Wisudo.
"Sang resi...! Sang resi...!"
Pintu pondok terbuka dan muncullah cantrik Wisudo dengan muka pucat dan gugup.
"Cantrik, kau nyalakan lebih dulu pelita di sudut itu, agar terang,"
Suara Resi Bhargowo terdengar lirih dan halus, penuh ketenangan.
Cantrik Wisudo meraba-raba dalam gelap, bertemu dian dan berusaha menggores batu api membuat api.
Namun sia-sia, karena tangannya gemetar dan gugup sekali.
"Tenang... tenang..., tenang..., Wisudo. Tiada kesukaran yang tak dapat diatasi dengan modal ketenangan."
Mendengar kata-kata ini, lenyaplah kegugupan cantrik Wisudo dan akhirnya ia berhasil menyalakan pelita dan bilik sederhana itu menjadi terang.
"Urusan apakah yang memaksa engkau malam-malam begini datang kepadaku, cantrik?"
"Maafkan saya, sang resi. Akan tetapi... bahaya datang mengancam... badai akan mengamuk...!"
Resi Bhargowo mengangguk-angguk.
"Kau sudah melihat tanda-tandanya?"
"Sudah, sang resi. Juga teman-teman datang melapor. Burung-burung walet berbondong keluar dari dalam guha-guha, bercicit bingung di atas guha menguatirkan sarang yang mereka tinggali. Monyet-monyet menjauhi tebing di pinggir pantai, burung-burung gagak berdatangan ke pantai dari gunung, sebaliknya burung-burung elang laut mengungsi ke gunung. Langit sebelah selatan hitam oleh awan mendung, permukaan laut amat tenang seolah-olah tidak bergerak. Agaknya akan luar biasa besarnya badai yang datang mengamuk, sang resi."
"Kalau begitu, kau cantrik Wisudo bersama dua orang temanmu pergilah ke barat, beri peringatan kepada para nelayan dan penduduk pantai agar meninggalkan pantai dan bantu mereka. Juga cantrik Wistoro bersama dua orang teman lain membantu penduduk di sebelah timur. Berangkatlah kalian sekarang juga."
"Tapi... tapi sang resi... kalau semua cantrik pergi, bagaimana dengan pondok Bayuwismo di Sungapan ini? Tidak ada yang membantu sang resi..."
"Heh, cantrik Wisudo! Lupakah engkau bahwa menolong orang lain adalah hal pertama, menolong diri sendiri hal terakhir?"
"Ohhh... baik sang resi, perkenankan saya dan teman-teman berangkat sekarang juga."
"Berangkatlah, aku segera menyusul."
Sepergi cantrik Wisudo dan teman-temannya mentaati perintah Resi Bhargowo, kakek ini masih duduk termenung.
berulang kali menarik napas panjang menenangkan jantungnya yang berdebar-debar.
Getaran yang mengguncangkan batinnya makin menghebat dan akhirnya ia keluar dari pondok dengan tongkat di tangan.
Ia menengadah memandang ke angkasa, melihat laksaan bintang menghias angkasa di atas pantai, lautpun tenang-tenang saja, akan tetapi angin bertiup keras dan angkasa di selatan gelap pekat.
Dari pengalamannya ber puluh tahun tinggal di pantai, Resi Bhar-gowo dapat menduga bahwa badai akan tiba di pagi hari, dan saat itu sudah jauh lewat tengah malam, jadi tidak lama lagi badai akan mengamuk.
Kembali ia menghela napas karena guncangan batinnya makin menghebat.
"Terserah kehendak Hyang Widi..."
Bisiknya, kemudian tubuhnya melesat dan lenyap ditelan gelap malam.
Pada keesokan harinya, bersama dengan munculnya sang surya (matahari), datanglah badai yang telah dinanti-nanti dengan.
hati gelisah itu.
Badai yang amat hebat, mengamuk di sepanjang pantai Laut Selatan.
Resi Bhargowo tidak tinggal diam.
Bersama enam orang cantriknya, kakek ini menolong para nelayan dan penduduk pantai, menaiki perahu ke tempat aman, mengungsikan anakanak, wanita dan ternak ke atas bukit karang yang kiranya takkan terjangkau lidah ombak badai, mengangkuti barang-barang kebutuhan ke tempat aman dan terpaksa meninggalkan pondok-pondok dan gubuk-gubuk bersunyi sendiri di tepi pantai menghadapi sebuah badai yang mengganas.
Dengan mata terbelalak para penduduk pantai itu melihat dari atas, di tempat persembunyian mereka, betapa gubuk-gubuk dan pondok-pondok mereka beterbangan dilanda badai, sebagian pula dicabut ombak dan dihempaskan ke batu-batu karang sampai hancur berkeping-keping!
Lewat tengah hari setelah badai mereda, enam orang cantrik sibuk mengkumpulkan barang-barang yang masih dapat dipakai, sisa-sisa dari pondok Bayuwismo yang hanyut dan hancur oleh badai.
Namun Resi Bhargowo tidak tampak bersama mereka.
Pada saat itu, Resi Bhargowo telah berdiri di mulut Guha Siluman, berdiri seperti patung, bersandar pada tongkatnya dan sepasang matanya memandang ke dalam guha tanpa berkedip.
Tiada bekas dari sepasang orang muda itu, tidak ada tanda-tanda bahwa puterinya, Kartikosari dan mantunya, Pujo pernah bertapa di tempat ini.
Padahal ia maklum betul bahwa anak dan mantunya itu pasti mematuhi nasehatnya, bertapa di dalam guha ini.
Apakah mereka hanyut oleh ombak dalam badai?
Ataukah mereka berhasil menyelamatkan diri?
Akan tetapi, menurut perhitungannya, ketika badai mulai, anak dan menantunya itu pasti sedang berada dalam keadaan bersamadhi sehingga amat boleh jadi tidak mendengar keributan badai.
Kalau demikian halnya, tidak ada jalan lagi untuk menyelamatkan diri.
Tiba-tiba tubuh kakek itu menggigil, matanya memandang ke sudut guha, terbelalak, keningnya berkerut-kerut.
"Ya Jagad Dewa Batara. ampunilah kiranya hambaMu ini dan berilah kekuatan untuk menerima segala akibat karma dengan tenang dan sadar..."
Ia memuji sambil meramkan mata.
Tenanglah hatinya ketika ia membuka mata kembali memandang ke sudut.
Kemudian perlahan-lahan ia menghampiri sudut guha membungkuk dan mengambil sebuah benda kecil yang menancap pada lantai karang.
Sebuah benda kecil mengkilap, yang ia kenal sebagai tusuk sanggul rambut puterinya, terbuat daripada emas, berbentuk bunga seruni, hiasan rambut buatannya sendiri!
Ia menggenggam tusuk sanggul itu, menggenggam erat-erat, menahan rasa nyeri dari hati yang seperti disayat-sayat.
Suara berkelepekan membuat ia membuka kembali matanya yang tadi dipejamkan, menoleh ke sebelah dalam guha.
Di bagian karang yang rendah masih tertinggal air laut dan di situlah tampak seekor ikan berkelepekan karena kekurangan air.
Agaknya ikan itu terbawa oleh ombak ketika badai mengamuk dilontarkan ke dalam guha bersama ombak dan ketika ombak kembali ke laut, ikan sebesar paha itu tertinggal di situ.
Sejenak Resi Bhargowo hanya memandang, ia masih terlalu tenggelam dalam kekhawatiran dan duka memikirkan keadaan puteri dan mantunya, akan tetapi sejenak kemudian kakek itu melangkah ke arah ikan, dipegangnya ikan itu dengan tangan lalu ia melangkah keluar guha.
"Ikan, kubantu engkau pulang ke asalmu. Sekiranya anak mantuku tersesat ke daerahmu, harap kau suka membantu mereka pulang ke darat!"
Kakek itu menggerakkan tangan dan melesatlah ikan itu ke udara, kemudian jatuh ke dalam laut, menyelam dan tidak muncul lagi.
Resi Bhargowo menghela napas, sekali lagi memeriksa ke dalam guha yang telah bersih dicuci oleh ombak kemudian pergi meninggalkan guha, pulang ke Sungapan.
Setelah bersama enam orang cantriknya membangun kembali pondok Bayuwismo yang runtuh oleh badai, Sang Resi Bhargowo menyuruh para cantriknya untuk pergi mencari anak dan menantunya.
Namun usaha itu sia-sia belaka.
Para cantrik pulang dengan tangan hampa.
Mereka tidak dapat menemukan Kartikosari atau Pujo, bahkan tidak mendengar berita tentang mereka, tidak pula mendengar mayat-mayat mereka terdampar di pinggir laut.
Semenjak itu, terjadi perubahan pada diri Resi Bhargowo.
Rambut dan jenggotnya tiba-tiba menjadi putih seluruhnya, seputih perak.
Setahun kemudian Resi Bhargowo meninggalkan Bayuwismo di Sungapan, meninggalkannya dalam rawatan enam orang cantrik, kemudian mengembara dengan memakai julukan baru, yaitu Bhagawan Rukmoseto (Rambut Putih).
* * * "Tarrr...!
Wessss..., tar-tarrrr...!!"
Sinar menyilaukan mata menyambar dan.
"Krakkkk... bruuuukkk...!"
Pohon sebesar manusia yang tinggi itu tumbang!
Raden Wisangjiwo meramkan matanya penuh kengerian.
Ia maklum bahwa sekali cambuk Sarpokenoko di tangan gurunya itu menyentuhnya, tubuhnya akan hangus dan nyawanya takkan tertolong lagi.
"Berlutut engkau!"
Suaranya nyaring namun merdu.
Ia amatlah cantiknya dengan rambut yang digelung lebar terhias bunga-bunga segar mawar melati, Ujung gelung rambut itu terurai di leher kanan terhias untaian bunga melati sedangkan di atas kepala terhias hiasan rambut dari emas bermata intan berbentuk ular kembar memadu kasih.
Wajahnya yang bulat seperti bulan purnama itu dihalus putihkan oleh bedak cendana sedangkan rambutnya hitam halus oleh minyak sari bunga.
Tubuhnya agak gemuk padat dan dadanya membusung, tertutup kemben sutera berkembang merah dengan dasar ungu, pinggangnya dipaksa agar ramping oleh balutan ikat pinggang berwarna kuning.
Kainnya amat indah buatan tanah Hindu, dan gelang emas menghias kedua pergelangan tangan dan kakinya.
Sebuah keris kecil terselip di ikat pinggangnya dan sebuah cambuk yang mengerikan, cambuk berwarna kuning mengkilap yang seakan-akan hidup dan mendatangkan hawa maut yang serem, berada di tangannya.
Inilah dia Ni Durgogini, seorang manusia yang terkenal sebagai manusia iblis yang sakti, yang tidak diketahui berapa usia sebenarnya namun agaknya belum ada tiga puluh tahun, cantik dan buas, liar dan ganas, guru Raden Wisangjiwo, ya guru ya kekasih!.
Dengan kedua kaki gemetar Raden Wisangjiwo berlutut dan menyembah di depan kaki gurunya.
Wanita di depannya ini kadang-kadang jinak dan merupakan seorang kekasih yang bernafsu jalang, memejamkan mata dan mengeluarkan suara seperti seekor kucing manja dalam belaiannya.
Akan tetapi kalau sudah datang kemarahannya seperti sekarang ini, ia menjadi ganas dan amat berbahaya, karena membunuh siapa saja merupakan hal lumrah!
Karena maklum akan watak gurunya inilah maka Raden Wisangjiwo kini berlutut dengan tubuh gemetar.
"Ampun, Dewi..."
Memang menyimpang daripada aturan biasa. Raden Wisangjiwo menyebut gurunya "Dewi,"
Hal ini untuk memenuhi perintah gurunya yang aneh itu. Agaknya karena sang murid juga menjadi kekasih, maka Ni Durgogini tidak sudi disebut guru dan minta disebut dewi! "Hemmm, kau tahu akan dosamu?"
"Ampun, sungguh mati saya tidak tahu mengapa dating-datang mendapat amarah Sang Dewi..."
Setengah menyanjung Raden Wisangjiwo berkata.
"Kedatangan saya menghadap Dewi adalah untuk mohon pertolongan karena saya telah bertanding dan melukai murid-murid Resi Bhargowo maka tanpa pertolongan Dewi, nyawa saya dalam bahaya..."
"Tarrr..."
Raden Wisangjiwo terkejut sekali ketika ujung cambuk meledak di atas kepalanya. Ia diam-diam merasa heran mengapa gurunya semarah ini dan agaknya tidak main-main.
"Nyawamu berada dalam tanganku, bagaimana bias terancam orang lain? Wisangjiwo, dari mana kau selama tiga hari ini?"
Suaranya tetap merdu dan halus, akan tetapi mengandung nada yang tajam mengiris jantung.
Mampus aku, pikir Raden Wisangjiwo.
Agaknya gurunya maklum akan perbuatannya selama tiga hari bersama Ni Nogogini!
"Saya...
saya bertapa di pantai selatan mencari anugerah dewata, bertemu dengan puteri dan mantu Resi Bhargowo dan bertempur.
Berkat ilmu pemberian Dewi yang sakti, saya mendapat kemenangan dan..."
"Sebelum itu! Dengan siapa kau di pantai? Dan dari mana kau mendapatkan ajian (ilmu) Tirto Rudiro dengan Kerang Merahnya? Jawab!"
Pucat seketika wajah Raden Wisangjiwo mendengar ini. Yakin sudah kini bahwa gurunya telah tahu kesemuanya dan membohong tidak ada artinya lagi, maka dengan penuh hormat ia menyembah dan menjawab.
"Saya tidak akan membohong, Dewi. Mana saya berani menyembunyikan sesuatu dari Sang Dewi yang bijaksana dan waspada? Sesungguhnya, di pantai selatan saya berjumpa dengan yang terhormat bibi guru Ni Nogogini dan beliau berkenan menurunkan Ilmu Tirto Rudiro kepada murid keponakannya."
"Huh! Bibi guru yang terhormat, ya? Siapa tidak mengenal nimas Nogogini? Hayo jawab, mengapa dia menurunkan Tirto Rudiro kepadamu? Jawab!"
"Dewi yang mulia, guru hamba yang sakti, mengapa Dewi bertanya demikian? Bukankah Ni Nogogini adalah bibi guru saya? Apa salahnya seorang bibi guru menurunkan ilmunya kepada seorang murid keponakannya?"
"Cihhh!"
Durgogini meludah melalui lidah dan giginya yang putih dengan Sikap menghina."Tak mungkin dia mengajar ilmu kepadamu tanpa upah!
Hayo katakan apa upahnya?
Tentu dia mengajak engkau bermain gila, bukan?"
"Tidak...! Tidak, Dewi! Masa beliau mau merendahkan diri untuk bermain-main dengan murid keponakannya..."
"Ahhh! Jadi kalau seorang bibi guru atau seorang guru bermain-main dengan muridnya kau anggap rendah, ya?"
"Eh... ohhh, bukan begitu maksud saya... eh, sama sekali tidak, Dewi Andaikata bibi guru mengajak saya bermain-main, sayapun tidak akan sudi. Dia... eh, dia sudah tua, dan gandanya (baunya)... amis!"
"Hi-hi-hi-hikk! Tentu saja amis karena selalu bermain-main dengan ikan-ikan di laut. Menjijikkan! Wisangjiwo, kau benar-benar tidak berjina dengannya?" 'Tidak, Dewi, sungguh mati..."
"Berani bersumpah?"
"Berani!"
Ni Durgogini menggerakkan cambuk Sarpokenoko yang melecut-lecut di udara dan terdengar ledakan-ledakan seperti petir menyambar.
"Bangunlah!"
Lapang sudah dada Raden Wisangjiwo, akan tetapi ia masih cemas menyaksikan cambuk itu melecut-lecut.
Ia bangkit berdiri dan memasang senyum semanis-manisnya agar wajahnya yang tampan itu kelihatan makin bagus.
"Syukur dan terima kasih bahwa Dewi tidak marah lagi. Lemah lunglai seluruh tubuh saya kalau Dewi marah-marah..."
"Keluarkan kerang emasmu dan kau serang aku dengan Tirto Rudiro!"
Kembali Raden Wisangjiwo terkejut.
"Eh... ini... ini... saya tidak berani..."
"Kau berani rnenbantah? Hem kalau tidak lekas-lekas kau lakukar perintahku, pecah kepalamu oleh Sarpo kenoko!"
"Saya... mana berani membantah? Hanya... ah, mengapa Dewi agaknya tidak mau mengampuni saya? Kalau memang Dewi kehendaki, akan saya buang saja kerang emas ini..."
"Uhhh, bocah tolol. Aku hanya hendak melihat bagaimana hebatnya Tirto Rudiro dari nini Nogogini, dan sekalian memperlihatkan kepadamu, membuka matamu bahwa percuma saja kau mempelajari ilmu orang lain sedangkan gurumu sendiri merupakan gudang ilmu, hanya engkau yang kurang berbakat dan malas. Hayo serang!"
Mendengar ucapan ini, lega hati Raden Wisangjiwo. Ia mengambil kerang emas, menggenggam di tangan kanannya, lalu maju menyerang gurunya dengan pukulan Tirto Rudiro sambil berkata.
"Maafkan saya!"
"Wuuuutttt... dessss...!!"
Pukulan ampuh meluncur disambut telapak tangan halus lunak.
Akibatnya, tubuh Raden Wisangjiwo terlempar ke belakang, terjengkang dan bergulingan.
Pemuda ini merangkak bangun, matanya berkunang, kepalanya pening sehingga ia harus menggoyang-goyang kepalanya sejenak, baru peningnya hilang.
"Hemmm, kau memandang rendah gurumu, ya? Mengapa tidak mempergunakan semua tenagamu? Hayo serang lagi, dengan tenaga penuh."
"Saya tidak berani, mana saya akan kuat menerima tangan Ampak-ampak Dewi yang ampuhnya menggila tanpa tanding?"
Kata Raden Wisangjiwo.
Pemuda ini maklum bahwa ilmu pukulan telapak tangan gurunya yang bernama Aji Ampak-ampak amatlah berbahaya, salah-salah ia akan mampus konyol.
Aji Ampak-ampak berhawa dingin, seperti ampak-ampak, yaitu halimun tebal yang dingin sekali, membekukan segala yang basah, sehingga sekali digunakan untuk memukul lawan, lawan itu akan mati seketika dengan darah membeku.
Ilmu ini adalah ilmu keturunan dari perguruan Ni Durgogini dan Ni Nogogini, merupakan ilmu rahasia yang jarang dikeluarkan kalau tidak perlu sekali.
"Heh-heh, kau kira aku tadi mempergunakan Ampak-ampak? Tolol, kalau aku pergunakan ajian itu, kau sudah mampus sekarang. Jangan takut, hayo pukul lagi dua kali, sekali akan kubuktikan bahwa tanpa menangkis aku akan sanggup memecahkan Tirto Rudiro dan membuat kau tak berdaya, kedua kalinya akan kuterima pukulanmu Tirto Rudiro, dengan tubuhku!"
Hati Raden Wisangjiwo tertarik. Memang gurunya amat sakti dan ia hanya baru mewarisi sedikit bagian saja. Dengan kesempatan ini ia mengharapkan petunjuk dan penambahan ilmu.
"Baiklah, Dewi. Harap suka menaruh kasihan kepada saya."
Setelah berkata demikian, ia mengerahkan seluruh tenaga, menggenggam Kerang Merah seeratnya lalu ia menerjang maju mengirim pukulan dengan jurus Tirto Rudiro.
Jurus ini ia pelajari hanya dalam waktu tiga hari karena memang hanya terdiri dari sembilan gerakan yang berubah-ubah, karena keampuhannya bukan terletak kepada gerak ketangkasan, melainkan kepada tenaga mujijat dan perbawanya yang ampuh sehingga sukar dielakkan atau ditangkis oleh lawan yang kurang kuat tenaga dalamnya.
Kepalan tangan kanannya menyambar dahsyat ke arah leher gurunya, mengeluarkan angin pukulan bersiutan.
"Wuuuuuttt!"
Ni Durgogini miringkan tubuhnya, cambuk Sarpokenoko berkelebat tanpa suara dan dari samping mengancam pergelangan tangan kanan dengan ujungnya.
Raden Wisangjiwo terkejut, cepat menarik tangan kanannya menyusul dengan jurus pukulan gertakan dengan tangan kiri mengarah lambung, akan tetapi sesungguhnya yang menyerang adalah kepalan kanannya yang melanjutkan penyerangan gerakan kedua, kini menghantam muka.
Ketika dielakkan gurunya, dengan gerakan siku memutar, pukulan itu menerjang lagi dari atas menghantam dada.
"Ciuuuuutttl"
Cambuk Sarpokenoko menyambar dan tahu-tahu melibat pangkal lengan, terus melibat ke kawah sampai kemata kaki dan sekali membetot, tubuh Wisangjiwo terlempar lagi untuk kedua kalinya, jatuh terbanting dan bergulingan.
Kini ia merangkak bangun sambil mengeluh, duduk dengan kedua mata menjuling karena pandang matanya berkunang-kunang, bumi serasa berputaran dan kepalanya berdenyut-denyut seperti dijadikan tambur, dipukuli dari sebelah dalam.
Ia menggoyang-goyang kepalanya akan tetapi matanya tetap juling, baru setelah ia menumbuk dahinya, kedua biji matanya menjadi betul kembali letaknya, namun telinganya mendengar suara terngiang-ngiang di sela suara ketawa gurunya bercekikikan.
"Waduhhhh..., ampun, Dewi..."
Keluhnya.
"Hayo bangun! Pengecut, kau tak patut menjadi murid Ni Durgogini kalau tidak cepat bangkit kembali. Hayo serang lagi dan kali ini aku tidak akan menangkis, tidak akan mengelak, tidak akan menggunakan cambuk Sarpokenoko!" (Lanjut ke
Jilid 03) Badai Laut Selatan (Seri ke 03 Serial Serial Keris Pusaka Sang Megatantra) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo
Jilid 03 Mendengar tantangan ini.
Raden Wisangjiwo bangkit, kepalanya masih terayun-ayun ke kanan kiri, akan tetapi kepeningannya lenyap karena ia tadi memang hanya terbanting biasa saja dan mengalami babak-bundas (lecet-lecet) dan matang biru, la melihat gurunya berdiri dengan dada dibusungkan, kedua tangan bertolak pinggang, cantik dan menantang.
Menerima pukulan Tirto Rudiro dengan tubuh tanpa menangkis atau mengelak?
Mana mungkin?
Raden Wisangjiwo ragu-ragu.
Bagaimana kalau gurunya terluka atau mati oleh pukulannya ini?
"Hayo pukul!
Pukul sekuat tenaga dengan Tirto Rudiro.
Awas, kalau kau memukul tidak sepenuh tenaga, aku akan membunuhmu karena menganggap kau memandang rendah kepandaian gurumu.
Hayo pukul!"
Raden Wisangjiwo melangkah maju, mengerahkan tenaga, namun ia merasa bimbang ragu.
Bagaimana ia tega memukul wanita yang begini cantik dengan sepenuh tenaga?
Dia ini gurunya, akan tetapi juga kekasihnya.
Wanita inilah yang menggemblengnya menjadi seorang jagoan, jago berkelahi dan jago dalam asmara.
Ia tahu bahwa gurunya ini amat cinta kepadanya, buktinya ia telah menerima pelajaran Ilmu Asmoro Kingkin, Ilmu Cambuk Sarpokenoko, ilmu pukulan tangan kosong yang hebat-hebat.
Akan tetapi, kalau ia tidak memukul sekuat tenaga, tentu gurunya itu akan membunuhnya.
Hal itu mungkin saja karena memang gurunya berwatak aneh sekali.
Setelah mengumpulkan tenaganya, Raden Wisangjiwo berseru keras dan memukul dengan Aji Tirto Rudiro.
Akan tetapi ia tidak mau memukul tempat berbahaya, padahal kalau ia memukul lambung atau pusar, apalagi ia mau memukul dada tempat paling lemah dari wanita, tentu akan lebih hebat akibatnya.
Ia memang menggunakan seluruh tenaganya, akan tetapi ia memilih tempat yang tidak begitu berbahaya, yaitu di pundak, pangkal lengan kiri gurunya.
"Syuuuuutttt... wesssssss...!"
Alangkah kaget hati Raden Wisangjiwo ketika kepalan tangannya melesak ke dalam kulit daging bahu gurunya, seakan-akan tersedot dan tak dapat ditarik kembalil Dan dari kepalan tangannya itu terdengar bunyi"ssssssssss"
Seperti api bertemu air, perlahan kepalan tangannya terasa panas terbakar.
"Aduh... aduhh..., ampun Dewi... ampun...!"
Ia menjerit-jerit kesakitan.
"Hi-hi-hi-hik! Apa sih hebatnya Tirto Rudiro?"
Ni Durgogini memekik keras dan untuk ketiga kalinya tubuh Raden Wisangjiwo terlempar, kini amat keras dan ia roboh menabrak pohon, lalu rebah dengan leher miring dan mata mendelik, lidahnya terjulur keluar, tak dapat berkutik setengah pingsan!
Sambil tertawa cekikikan Ni Durgogini melompat ke depan mendekati Raden Wisangjiwo, dengan jari tangan kirinya ia mengurut pundak dan leher.
Pemuda itu mengeluh dan sadar kembali.
"Hemm, Lasmini, kau makin liar dan masih suka mempermainkan orang!"
Ni Durgogini kaget seperti disambar petir mendengar suara ini dan tubuhnya cepat bergerak membalik, cambuk Sarpokenoko digenggam erat.
Juga Raden Wisangjiwo sudah bangkit berdiri, memandang laki-laki yang entah dari mana datangnya tahu-tahu sudah berdiri di situ.
Laki-laki ini berusia empat puluhan tahun lebih, tubuhnya tinggi tegap, wajahnya tampan berwibawa.
Kepalanya yang berambut nyambel wijen (banyak uban) itu tertutup kain kepala yang ujungnya berdiri meruncing di sebelah belakang.
Biarpun ia bertelanjang kaki, namun pakaiannya dan sikapnya membayangkan keagungan seorang bangsawan.
yang amat menarik adalah pancaran pandang matanya yang penuh tenaga batin, tenang lembut dan dalam seperti permukaan air telaga yang dalam.
Raden Wisangjiwo tidak mengenal orang ini, akan tetapi Ni Durgogini kelihatan makin kaget ketika ia melihat siapa orangnya yang mengeluarkan ucapan tadi.
Sesaat wajahnya yang cantik itu menjadi pucat, matanya terbelalak memandang laki-laki itu tanpa berkedip dan mulutnya bergerak-gerak tanpa dapat mengeluarkan suara.
"Lasmini, kau kaget melihatku?"
Laki-laki itu menegur sambil tersenyum, kumisnya yang tipis bergerak menambah ketampanan wajahnya.
"Kau... rakanda... Narotama...! Mau... mau apakah kau datang ke Girilimut (Bukit Halimun) ini...?"
Narotama tersenyum lebar.
"Tidak ada urusan denganmu, nimas, sama sekali tidak ada, hanya kebetulan saja. Bahkan aku sama sekali tidak mengira bahwa Ni Durgogini yang tersohor adalah engkau! Kalau begitu, Ni Nogogini adalah si Mandari. Ah, siapa sangka...! Kebetulan saja aku datang ke sini, terus terang hendak mencari Ni Durgogini karena ada sesuatu hendak kutanyakan, tidak tahunya Ni Durgogini adalah engkau dan aku melihat engkau mempermainkan orang muda ini. Apa dosanya?"
Agaknya lega hati Ni Durgogini mendengar ucapan itu. Ia tersenyum manja dan genit, lalu berkata.
"Siapa main-main dengan dia? Dia sedang kuberi latihan ilmu, dia ini muridku. Raden Wisangjiwo putera Adipati Joyowiseso."
Narotama mengangguk-angguk.
"Hemm, putera adipati di Selopenangkep? Putera adipati seyogianya menjadi perajurit, dan untuk menjadi seorang ksatria utama bukan di sini tempat perguruannya. Lasmini, apa sih kebisaanmu maka engkau berani menjadi guru putera seorang adipati?"
Raden Wisangjiwo mendongkol sekali mendengar ini dan ia terheran-heran melihat gurunya yang biasanya galak itu kini seakan-akan mati kutunya berhadapan dengan orang asing ini.
Ia tahu dengan pasti bahwa kalau orang lain yang mengucapkan kalimat itu, tentu sekali bergerak gurunya akan membunuh orang itu yang dianggap menghina.
Akan tetapi aneh bin ajaib, terhadap orang ini gurunya hanya tersenyum-senyum malu dan tidak dapat menjawab.
Rasa terheran-heran ini membuat Raden Wisangjiwo menjadi penasaran, maka ia melangkah maju ke depan orang itu dan menghardik.
"Paman! Siapapun adanya engkau ini, tidak sepatutnya kau mengeluarkan kata-kata memandang rendah guruku. Mungkin kau sahabat baik guruku maka guruku bersabar mendengar penghinaan mu, akan tetapi aku sebagai muridnya tidak dapat membiarkan kekurangajaranmu. kau hendak melihat pelajaran apa yang diberikan guruku kepadaku? Nah, apakah kau mau bukti dengan mengadu kerasnya tulang tebalnya kulit melawanku? Kalau tidak berani, kau harus menarik kembali ucapanmu yang menghina tadi!"
"Uwah, boleh juga muridmu, nimas!"
"Apa kau kira aku suka mengambil murid orang yang tiada gunanya?"
"Namamu Raden Wisangjiwo, orang muda? Keberanianmu cukup, semangat dan kesetiaanmu lumayan, sayang kau terlalu menghambur tenaga dan hawa murni yang seharusnya dihimpun. Boleh,boleh... mari kita main-main sebentar. Dan kau boleh menggunakan cambukmu itu. Mari!"
Sedetik wajah Raden Wisangjiwo menjadi merah sekali.
Ucapan ini menusuk jantungnya karena memang tepat.
Iapun maklum bahwa ia telah menyia-nyiakan waktu dan membuang tenaga dan hawa murni yang seharusnya ia himpun dengan perbuatannya yang tak dapat ia cegah, yaitu menjadi barang permainan gurunya sendiri, bahkan akhir-akhir ini bibi gurunyapun mempermainkannya.
Ia telah terombang-ambing dalam permainan nafsu berahi yang merupakan pantangan bagi seorang pengejar ilmu kesaktian.
Hubungan yang wajar dan bersih daripada nafsu kotor dengan isterinya malah jarang terjadi karena ia lebih senang berada di tempat gurunya dan inilah yang merupakan racun yang memabokkan seperti madat.
Karena merasa jengah dan malu, ia menjadi marah.
"Kau sombong, orang tua. Biarlah aku mencobamu dengan pukulan tangan tanpa senjata. Siap dan sambutlah ini!"
Raden Wisangjiwo lalu menerjang maju, gerakannya sigap dan pukulannya mendatangkan angin menderu.
Pemuda ini tidak hanya hendak mendemonstrasikan kehebatan ilmu gurunya, juga hatinya panas dan ia ingin memberi hajaran kepada orang yang berani bersikap kurang ajar terhadap Ni Durgogini.
Sama sekali ia tidak pernah mimpi bahwa yang ia hadapi ini adalah Narotama yang kini telah menjadi pePatih dalam di Mataram berjuluk Rakyana Patih Kanuruhan, sahabat baik Sang Prabu Airlangga dan kesaktiannya dalam olah jurit hanyalah di bawah sang prabu sendiri!
Tentu saja ia tidak tahu karena nama Narotama tidak begitu terkenal, yang terkenal adalah Rakyana Patih Kanuruhan, maka ketika gurunya menyebut nama Narotama, ia sama sekali tidak tahu bahwa yang dilawannya adalah Patih yang sakti mandraguna itu.
Andaikata ia tahu, sebagai putera Adipati Selopenangkep dan berarti orang sebawahan Patih ini, sudah tentu sampai matipun ia tidak akan berani melawan!.
"Bagus!"
Seru Narotama sambil tersenyum.
Ia mengenal gerakan pemuda ini karena ilmu ketangkasan tangan kosong ini adalah pecahan yang dikembangkan dari ilmunya sendiri, yaitu ilmu silat Kukiko Sakti (Burung Sakti) yang pernah dahulu ia ajarkan kepada Lasmini.
Ia menanti sampai pukulan itu datang dekat, lalu menggeser kaki ke kiri dan tangan kanannya ia gerakkan menangkis dengan tiba-tiba.
"Dukkkk!!"
Perlahan saja tangkisan itu, namun akibatnya tubuh Raden Wisangjiwo terhuyung-huyung ke belakang.
Pemuda Ini kaget dan lenyaplah perasaan hatinya yang tadi memandang rendah lawan tua ini.
Ia melompat maju lagi dengan serangan yang lebih hebat, tubuhnya masih dalam lompatan, masih menyambar satu meter di atas tanah, tangan kanannya dibuka mencengkeram mata, tangan kiri disodokkan menghantam ulu hati sedangkan dengan gerakan cepat kaki kanannya menyusul dengan tendangan ke arah bawah pusar!
Hebat sekali serangan ini, serangan maut karena berturut-turut kedua tangan dan sebuah kaki telah menyerang hebat dan satu saja di antaranya mengenai sasaran tentu akan membuat lawan terjungkal dengan luka parah atau mati!
"Ganas...
ganas...!"
Narotama berseru, diam-diam kagum juga karena ternyata pemuda ini memiliki bakat yang baik, sayangnya terbimbing oleh seorang yang berwatak ganas sehingga ilmu silatnya juga menjadi ganas sifatnya.
Kembali ia berdiri diam saja menanti sampai serangan bertubi-tubi itu tiba dekat, tiba-tiba kedua tangannya bergerak Terdengar suara "Plak-plak-plak!"
Tiga kali dan semua serangan itu dapat ia tangkis, akan tetapi kali ini tubuh Raden Wisangjiwo terlempar sampai tiga meter jauhnya dan roboh berdebuk di atas tanah hingga debu mengepul dari bawah pantatnya.
Raden Wisangjiwo meringis kesakitan, akan tetapi ia menjadi amat penasaran.
Darah mudanya bergolak.
Dia, murid terkasih Ni Durgogini yang ditakuti orang, masa sekarang menghadapi seorang lawan tua yang tidak ternama harus menelan kekalahan demikian mudahnya?.
"Jangan tertawa dulu, orang tua. Lihat seranganku!"
Bentaknya dan kini diam-diam ia telah menggenggam Kerang Merahnya di tangan kanan, lalu menerjang maju dengan dahsyat.
Pukulannya mengandung Aji Tirto Rudiro yang ampuhnya menggila.
Namun dengan senyum dikulum Narotama menghadapi pukulan ini dengan dada membusung dan mulut berkata.
"Eh-eh, Lasmini, pukulan iblis apa yang kau ajarkan kepada muridmu ini? Biar kucoba menerimanya!"
Pukulan tiba, ke arah pusar Narotama. Patih yang sakti ini lalu menekuk lututnya, tidak berani sembrono menerima pukulan sedahsyat itu dengan pusar, maka ia memasang dadanya menjadi sasaran.
"Dessss...!!!"
Hebat sekali pukulan itu, tubuh Narotama sampai tergoyang-goyang seperti pohon beringin terlanda angin.
Akan tetapi tubuh Raden Wisangjiwo mencelat seperti daun kering tertiup angin, jatuh terbanting dan bergulingan.
Ia hanya mampu merangkak bangun dan tahu-tahu gurunya sudah berada di sampingnya.
Cekatan sekali Ni Durgogini menekan punggung muridnya dan mengurut lengan kanannya di bawah pangkal dekat ketiak.
Seketika Raden Wisangjiwo segar kembali.
"Pukulan keji!"
Kata Narotama."Orang muda, lebih baik kau mempergunakan cambukmu. Bukankah kau telah menerima pelajaran Ilmu Cambuk Sarpokenoko yang hebat itu?"
Raden Wisangjiwo meragu. Kini yakinlah hatinya bahwa lawannya adalah seorang sakti. Akan tetapi Ni Durgogini tertawa genit.
"Rakanda, kau benar-benar tidak mau mengalah terhadap orang muda. Mana dia mampu menandingi tenagamu? Eh, Wisangjiwo, jangan malu-malu menghadapi orang pandai. Saat ini adalah saat baik bagimu, dapat menambah pengalaman. Hayo serang lagi dia, kau gunakan cambukku ini."
Ni Durgogini menyerahkan cambuknya, Sarpokenoko yang ia pergunakan untuk menciptakan Ilmu Cambuk Sarpokenoko yang sangat dahsyat.
Diam-diam wanita ini merasa penasaran bahwa muridnya dapat dikalahkan secara demikian mudah.
Biarpun ia cukup maklum bahwa Narotama amat sakti, apa lagi muridnya, dia sendiripun takkan mampu menangkan, akan tetapi sebagai seorang guru ia merasa penasaran tak dapat memamerkan kepandaian muridnya.
Ia cukup mengerti bahwa dalam hal ilmu silat tangan kosong tentu saja muridnya tidak akan berhasil seujung rambutpun, karena semua ilmu silat tangan kosong yang ia miliki sebenarnya bersumber dari ajaran Narotama.
Benar bahwa ilmu pukulan Tirto Rudiro yang dimiliki Wisangjiwo tidak dikenal Narotama, akan tetapi muridnya itu belum terlatih betul, tenaganya dalam ilmu itu masih lemah, maka tentu saja tidak akan ada gunanya.
Berbeda dengan ilmu cambuknya.
Ilmu ini adalah ciptaannya sendiri dan biarpun ia percaya bahwa Narotama tentu akan dapat mengatasinya, namun sedikit banyak Narotama akan berhadapan dengan ilmu yang asing dan tentu tidak akan dapat secara mudah saja mengalahkannya.
Dengan hati geram Raden Wisangjiwo menerima cambuk dari tangan gurunya.
Ia cukup percaya akan keampuhan cambuk gurunya.
Pernah ia melihat betapa dalam segebrakan saja cambuk di tangan gurunya ini mencabut nyawa lima orang bajak sungai yang berani mati menentang gurunya, padahal lima orang bajak Sungai Progo itu bukanlah lawan yang empuk, melainkan orang-orang digdaya pula.
Begitu ia mencekal gagang cambuk, rasanya ia bertambah semangat dan dengan langkah gagah ia menghampiri lawan, cambuk Sarpokenoko diayun-ayun.
"Tar-tar-tar-tar-tar!!"
Cambuk itu melecut ke udara dan suara ledakannya nyaring sekali.
"Wah-wah, hebat benar cambuk Sarpokenoko!"
Orang tua itu memuji akan tetapi sikapnya tenang-tenang saja.
Ia tahu akan keampuhan cambuk yang terbuat daripada kulit ular itu, maklum bahwa cambuk ini mengandung racun yang berbahaya, jangankan terkena lecutan, baru terkena hawanya saja cukup dapat merobohkan orang.
Ditambah lagi dengan permainan Ilmu Cambuk Sarpokenoko, benar-benar amat ampuh dan tepat sekali dengan namanya.
Sarpokenoko berarti Kuku Ular, dan adalah nama adik Sang Prabu Dosomuko dalam ceritera pewayangan Ramayana, adik perempuan yang mempunyai aji pada kukunya, yang sakti mandraguna dan ganas liar seperti iblis.
"Paman, lihat serangankul"
Raden Wisangjiwo berseru.
Pemuda ini cukup cerdik.
Ia maklum bahwa orang tua yang tak dikenalnya ini adalah seorang kenalan gurunya, seorang yang sakti dan karenanya ia mulai bersikap lunak dan hormat, menyebutnya paman dan memberitahukan dulu sebelum menyerang.
Hal ini tentu saja ia lakukan karena ia merasa ragu-ragu apakah ia akan dapat menang, biarpun ia bersenjatakan cambuk Sarpokenoko sedangkan lawannya bertangan kosong.
"Siuuuuttt... blarrrrr!"
Batu karang sebesar kepala kerbau hancur menjadi tepung ketika cambuk itu menyambar dan tahu-tahu tubuh Narotama lenyap dan sebagai gantinya, batu itu yang tadi berada di bawahnya menjadi korban hantaman cambuk.
Raden Wisangjiwo cepat membalikkan tubuh.
Entah bagaimana gerakan orang tua itu ia tidak melihat, akan tetapi tadi tahu-tahu lenyap dan kini sudah berada di belakangnya, tenang-tenang saja berdiri menanti datangnya serangan.
Kembali Raden Wisangjiwo menyerang, kini menggunakan gerakan memutar cambuk membentuk lingkaran-lingkaran di sekitar tubuh lawan, menghadang jalan keluar.
Dari dalam lingkaran itu, ujung cambuk baru mematuk seperti paruh burung elang, mengarah bagian berbahaya seperti mata, leher, ulu hati, lambung, pusar dan sebagainya.
"Hebat...!"
Narotama kembali memuji dan ia benar-benar kagum.
Memang tak boleh dibuat permainan ilmu cambuk ini, terpaksa ia lalu mengeluarkan ajiannya, tiba-tiba tubuhnya berkelebat seperti terbang atau seperti bayang-bayang saja yang mengikuti gerakan cambuk, menyelinap di antara sinar cambuk dan anehnya, gerakannya ini mengeluarkan bunyi mengaung perlahan tiada hentinya.
Inilah ilmu silat tangan kosong Bramoro Seto (Lebah Putih) yang merupakan sebuah di antara Raja ilmu silat tangan kosong.
Sampai berkunang kedua mata Raden Wisangjiwo mencari-cari lawannya dan mengikuti gerakan bayangan yang berkelebat itu, bayangan putih yang tak tentu ujudnya, tak tentu ke mana pindahnya.
Tubuhnya sudah lelah sekali karena ia telah mainkan semua jurus Ilmu Cambuk Sarpokenoko untuk menghantam bayangan itu, namun sia-sia, semua serangannya hanya mengenai angin belaka, sedangkan suara mengaung-ngaung seperti lebah besar beterbangan di sekitar kepalanya membuat ia menjadi panik dan pening.
Apalagi karena lawannya itu bergerak-gerak bukan hanya untuk mengelak, melainkan membalas dengan tamparan-tamparan yang mendatangkan hawa panas, membuat Raden Wisangjiwo bingung mengelak ke sana ke mari, menyambarkan cambuknya ke kanan kiri, dan masih untung baginya bahwa lawannya tidak mau memukulnya, melainkan membikin bingung saja.
Kalau memang lawan berniat buruk, sudah tadi-tadi ia kena pukuli "Cukup, Wisangjiwo, lekas memberi hormat kepada gusti Patih!"
Seru Ni Durgogini dan tahu-tahu cambuk di tangan pemuda itu sudah terampas oleh gurunya. Narotama berhenti dan berdiri dengan wajah biasa, tenang dan tertawa ramah.
"Gusti... gusti Patih...?"
Wisangjiwo kebingungan, memandang gurunya dan orang tua itu berganti-ganti. Ni Durgogini tertawa genit cekikikan.
"Anak bodoh, apakah kau tidak tahu bahwa rakanda Narotama adalah Gusti Rakyana Patih Kanuruhan, Patih Dalam Mataram yang terkenal sakti mandraguna?"
Dapat dibayangkan betapa kagetnya hati Raden Wisangjiwo mendengar ini. Matanya terbelalak, mukanya pucat dan cepat sekali ia menjatuhkan diri berlutut sembah di depan Narotama sambil berkata.
"Mohon beribu ampun, gusti Patih. Karena hamba tidak tahu maka hamba telah berani bersikap kurang ajar dan tidak sopan di hadapan paduka."
"Tidak mengapa, orang muda. Andaikata engkau tahu sekalipun, tetap aku ingin menyaksikan kemajuan murid Ni Durgogini. Kepandaianmu lumayan, hanya kurang matang, dan... dan ganas."
"Rakanda Narotama, kebetulan sekali kau datang. Aku minta kepadamu, demi mengingat hubungan antara kita dahulu, berilah bimbingan kepada muridku ini. Dia putera Adipati Selopenangkep, sudah sepatutnya ia menghamba di Kerajaan dan kurasa kepandaiannya cukup memenuhi syarat. Kuharap kau suka menerimanya dan memberinya kedudukan di Kotaraja."
Narotama mengelus-elus jenggotnya.
Di dalam hatinya, ia kurang cocok dengan pemuda ini karena ilmu-ilmunya amat ganas, tak pantas menjadi ilmu pegangan ksatria.
Akan tetapi untuk menolak, iapun merasa tidak enak kepada Nl Durgogini atau Lasmini.
Lasmini yang dahulunya seorang puteri jelita kini telah berubah menjadi wanita iblis yang terkenal dengan nama Ni Durgogini, perubahan ini sebagian adalah dia yang menyebabkannya, maka diam-diam ia menaruh hati iba kepada Lasmini, bekas selirnya ini.
Ya, Lasmini dahulu adalah selirnya, selir yang tercinta, karena di antara para selirnya, Lasmini adalah selir yang paling tangkas dan pandai olah keperajuritan, seperti Srikandi, memiliki bakat yang amat baik sehingga dalam cinta kasihnya, Narotama telah menurunkan banyak ilmu kesaktian kepada selirnya itu.
Akan tetapi, sayang sekali, Lasmini selain memiliki dasar ketangkasan, juga memiliki dasar yang tidak baik dan cabul.
Terpaksa Narotama mengusirnya ketika selir itu terdapat melakukan hubungan gelap, berjina dengan seorang pangeran melalui perantaraan Ki juru taman.
Karena peristiwa memalukan ini menyangkut diri seorang pangeran, dengan bijaksana Narotama tidak menimbulkan heboh, hanya secara diam-diam ia mengusir Lasmini.
Tadinya ia mengira bahwa pangeran itu tentu akan menolong Lasmini dan mengambilnya sebagai selir, siapa tahu, Lasmini tersia-sia agaknya dan ternyata telah berubah menjadi wanita iblis berjuluk Ni Durgogini.
Setelah pertemuan ini barulah Narotama dapat menduga bahwa saudara Ni Durgogini yang sama terkenalnya, yaitu Ni Nogogini, tentulah si cantik Mandan pula, adik Lasmini yang pernah diselir Sang Prabu Airlangga sendiri, akan tetapi sudah lebih dahulu diusir karena sang prabu tidak suka akan perangai Mandari yang liar.
"Wisangjiwo, apakah kau setuju dengan usul gurumu itu? Inginkan kau menjadi ksatria di Kotaraja?"
Sebetulnya tidak pernah gurunya mengajaknya bicara tentang hal ini, akan tetapi siapa orangnya tidak ingin menjadi ksatria?
Dan siapa pula tidak ingin memperoleh kesempatan mencari kemuliaan?
Selain itu, ia merasa terancam keselamatannya setelah pertempurannya di Guha Siluman dan melukai anak dan mantu Resi Bhargowo, maka kiranya hanya di Kotaraja sajalah tempat yang aman baginya.
Juga, di Kotaraja ia tahu banyak terdapat orang-orang sakti sehingga mudah pula untuk memperdalam ilmu-ilmunya sehingga ia kelak tidak takut menghadapi ancaman dari manapun juga datangnya.
Maka sambil berlutut dan menyembah iapun menjawab tegas.
"Hamba setuju dan hanya mengandalkan kemurahan hati dan kebijaksanaan paduka, gusti Patih."
Narotama atau Rakyana Patih Kanuruhan mencabut keluar sebatang keris kecil berbentuk lurus yang disebut keris Kolomisani, memberikan keris itu kepada Wisangjiwo dan berkata.
"Baiklah, kau boleh berangkat sekarang juga, bawa keris ini ke Kepatihan, serahkan kepada kepala pengawal istana yang selanjutnya akan memberi petunjuk kepadamu."
Wisangjiwo menerima keris kecil itu, bersembah menghaturkan terima kasih, kemudian dengan hati girang ia minta diri, berpamit kepada gurunya untuk langsung pergi ke Mataram.
Ia tidak peduli akan pandangan kecewa gurunya karena sesungguhnya Ni Durgogini tidak mengira bahwa muridnya yang terkasih itu akan berangkat sekarang juga!
Ia tentu akan kehilangan dan kesepian, akan tetapi ia tidak tahu bahwa Wisangjiwo memang sengaja ingin lekas-lekas pergi agar jangan sampai terganggu oleh gurunya sendiri, karena ia harus mentaati pesan bibi gurunya untuk berlatih dengan tekun dan dengan pantangan mendekati wanita dan makan barang berjiwa.
Inilah kesempatan amat baik baginya, karena kalau tidak segera ia pergi, ia tak mungkin dapat mengharapkan kesempurnaan dalam melatih Ilmu Tirto Rudiro apabila ia berdekatan dengan Ni Durgogini!.
Setelah pemuda itu pergi jauh, Narotama berkata.
"Ni Lasmini, telah kukatakan tadi bahwa kedatanganku ke sini adalah kebetulan, karena aku sedang mencari Durgogini dan sama sekali tidak mengira akan bertemu denganmu di sini."
Durgogini mencibirkan bibirnya yang masih merah semringah, namun sepasang matanya kehilangan gairah cintanya yang dahulu terhadap Patih ini.
Sepuluh tahun lebih telah lalu dan kini sang Patih bukan lagi seorang pria muda perkasa yang tampan gagah, melainkan seorang pria yang sudah setengah tua dengan rambut berwarna dua dan air muka dingin.
"Rakanda Patih, setelah tahu bahwa Ni Durgogini adalah Lasmini, lalu bagaimana?"
Ia tertawa terkekeh dan terheranlah Narotama betapa setelah lewat hampir tigabelas tahun, bekas selirnya ini masih tetap saja kelihatan muda, mukanya berseri, bibirnya merah membasah, giginya putih berkilau, tidak tampak sedikitpun keriput pada kulitnya yang masih halus.
Patih ini tentu saja tidak tahu bahwa Durgogini dan adiknya, Nogogini telah dapat menemukan Suket Sungsang, yakni semacam rumput laut yang langka, dan yang mengandung khasiat mustajab untuk membuat wanita awet mudai Inilah sebabnya maka Ni Durgogini dan Ni Nogogini, biarpun sudah berusia kurang lebih empat puluh tahun, masih tampak seperti gadis-gadis remaja berusia dua puluh tahun!
"Ni Lasmini, kepadamu aku lebih baik berterus terang, karena sedikit banyak engkau tentu masih memiliki perasaan setia kepada Mataram.
Aku sedang memikul tugas berat, tugas yang kuterima langsung dari sang prabu sendiri.
Ketahuilah bahwa sebulan yang lalu, secara tiba-tiba dan ghaib, patung emas Sang Batara Wisnu telah lenyap dari dalam istana.
Sang prabu merasa prihatin sekali akan kehilangan ini, karena hal itu merupakan perlambang buruk bagi kejayaan Mataram.
Oleh karena itulah maka aku sendiri diutus untuk pergi mencari dan mendapatkan kembali patung emas itu."
"Hemm, hanya sebuah patung kecil, mengapa perlu diributkan? Apa sukarnya bagi sang prabu untuk menitah para empu membuatkan kembali patung emas yang lebih indah dan besar?"
Narotama menarik napas panjang.
"Engkau tidak tahu, Lasmini. Patung kencana itu sebuah benda keramat dan bertuah, dahulu menjadi ajimat dari Empu Lo Hapala yang kemudian bergelar Rakai Kayuwangi, hamper dua abad yang lalu. Pernah dahulu patung inipun lenyap dari istana Rakai Kayuwangi dan akibatnya, Kerajaan Mataram menyuram. Oleh karena itulah maka sang prabu menjadi prihatin dan akan berusaha sekuat tenaga untuk mendapatkan kembali patung itu."
"Hemm!"
Bibir merah itu mencibir;"Kalau begitu, mengapa engkau mencarinya ke sini? Apa kau kira aku yang mencuri patung itu?"
Sepasang mata bening yang bersinar genit cabul itu mengeluarkan cahaya berkilat. Narotama tersenyum lebar.
"Engkau masih galak seperti dahulu, Lasmini! Tentu saja aku tidak berani menuduh siapapun juga tanpa bukti. Akan tetapi menurut getaran yang kurasakan, patung itu pasti berada di sekitar pantai Laut Selatan. Aku sengaja mencari Ni Durgogini bukan untuk menuduh, melainkan untuk minta keterangan, barangkali saja Ni Durgogini mengetahui tentang patung ini."
"Hi-hik! Rakanda Narotama mengapa bicara berputar-putar? Aku bukan Lasmini lagi, akulah Ni Durgogini dan aku tidak tahu-menahu tentang patung itu. Agaknya rakanda salah perhitungan, maka sampai datang ke sini. Di antara sang prabu dan aku tidak ada urusan sesuatu, maka mengapa aku bersusah payah mencuri patung? Kalau rakanda pandai! mengapa tidak mencarinya pada orang yang memang ada urusan dan dendam dengan sang prabu?"
Narotama termenung sejenak, tiba-tiba ia menepuk dahinya sendiri.
"Aha! kau benar, Ni Durgogini! Mengapa aku begini bodoh? Ni Mandari, adikmu! Agaknya ia lebih tahu..."
"Bukan niatku mengkhianati adik kandung! Pula, seperti juga Ni Lasmini, Ni Mandari telah mati, tidak ada lagi,, yang ada adalah Ni Nogogini!"
"Di mana dia? Di mana aku bisa bertemu dengan Ni Nogogini?"
Ni Durgogini terkekeh genit dan matanya tajam mengeriing.
"Sang Patih yang arif bijaksana dan sakti mandraguna, apakah tidak malu bertanya-tanya, kepada seorang wanita yang tidak berdaya? kau carilah sendiri, sepanjang pengetahuanku, Ni Nogogini bertahta di dalam istana yang letaknya di dasar Segoro Kidul (Laut Selatan), hi-hi-hik!"
Narotama tentu tahu bahwa bekas selirnya ini mempermainkannya, karena tidak mungkin seorang manusia biasa bertempat tinggal di dasar laut. Ia mengangguk dan berkata.
"Sudahlah, Ni Durgogini, aku mohon diri. Akan kucari sendiri Ni Nogogini!"
Ia membalikkan tubuhnya.
Tiba-tiba terdengar suara angin menyambar diiringi ketawa cekikikan yang menyeramkan dari arah belakangnya.
Narotama terkejut dan cepat membalikkan tubuhnya lagi dan tangan kanannya bergerak dengan jari-jari terbuka, menghantam benda hitam yang menyambar dahsyat.
"Blarrrr...!"
Batu karang yang besar itu pecah berantakan sampai mengepulkan debu.
"Ni Durgogini, apa maksudmu main-main seperti ini?"
Tegurnya, suaranya penuh wibawa.
"Hi-hi-hi-hik,siapa main-main, sang Patih yang terhormat? Tiga belas tahun aku menderita dengan hati perih, mengingat betapa kejam seorang pria telah mengusir dan menghinaku! Narotama, apakah kau pura-pura lupa bahwa kau lah yang membunuh Ni Lasmini sehingga menjelma menjadi Ni Durgodini yang hidup terasing di Girilimut ini?"
Narotama menarik napas panjang, penuh sesal.
"Nimas, kau salah paham. Semenjak dahulu aku tidak mendendam kepadamu, aku maklum akan kelemahanmu sebagai wanita muda. Aku dahulu sengaja membebaskanmu agar kau dapat melanjutkan langen asmoro (bermain cinta) dengan pangeranmu. Aku mengira bahwa sang pangeran tentu akan mengambilmu sebagai selir dalam, siapa tahu dia menyia-nyiakanmu. Aku selalu bermaksud baik kepadamu, nimas. Buktinya, putera adipati muridmu itupun kuterima dengan segala kerelaan hati."
"Tidak ada sangkut-pautnya denganku! Betapapun juga, setelah kau datang ke sini, tak dapat aku membiarkan kau pergi begitu saja tanpa membuat beres perhitungan lama, Narotama!"
"Hemmmm, kalau begitu wawasanmu, terserah kepadamu, Ni Durgogini."
"Heh-heh-hi-hi-hik, jangan kira Lasmini dahulu sama dengan Durgogini sekarang, Rakyana Patih Kanuruhan. Terimalah pukulanku Aji Ampak-ampak ini!"
Wanita itu memekik dahsyat lalu menerjang maju dengan kedua tangan dipe tang, jari-jari tangannya terbuka dan mengirim pukulan yang mengandung hawa dingin, sedingin ampak-ampak (halimun) yang dapat membekukan darah dalam tubuh!
Melihat cahaya kebiruan keluar dari telapak tangan Durgogini, Narotama terkejut.
Hebat ilmu pukulan ini, dan amatlah kuatnya.
Bukannya ia tidak berani menghadapi keras lawan keras, akan tetapi ia tidak bermaksud melukai wanita yang sudah mendatangkan iba di hatinya ini.
Kalau ia lawan dengan kekuatan hawa sakti pula, tentu seorang di antara mereka akan terluka hebat dan ia tidak menginginkan hal ini terjadi.
Maka Narotama lalu melesat menghindarkan pukulan-pukulan yang datangnya cepat bertubi, mempergunakan Ilmu Silat Dojro Dahono (Api Halilintar) untuk melawan Aji Ampak-ampak.
Aji Bojro Dahono merupakan lawan setimpal Aji Ampak-ampak yang dingin, karena Bojro Dahono menimbulkan hawa panas seperti pusar Kawah Candradimuka.
Dari kedua telapak tangan sang Patih keluar hawa bersinar kuning kemerahan dan setelah tangkis-menangkis puluhan jurus, Ni Durgogini tak kuat menahan pula, seluruh tubuhnya mengeluarkan keringat saking panas hawa yang dideritanya.
"Wuuuttt, tar-tar-tarl"
Kini cambuk Sarpokepoko berada di tangannya dan menyambar-nyambar ganas.
Biarpun Aji Bojro Dahono hebat, namun gerakan ilmu silat ini kurang tangkas kalau harus dipergunakan menghadapi Ilmu Cambuk Sarpokenoko yang amat cepat itu.
Bagaikan seekor ular sakti, cambuk itu melingkar-lingkar, menyambar-nyambar dan ujungnya mematuk-matuk ke arah jalan darah dan bagian tubuh yang penting dan berbahaya, setiap gerak merupakan margapati (jalan maut).
Kembali Narotam menjadi kagum.
Tadi ia sudah menyaksikan dan melawan Ilmu Cambuk Sarpokenoko ini ketika dimainkan Wisangjiwo, dan sudah menjadi kagum.
Kini setelah ilmu cambuk ini dimainkan oleh sang pencipta sendiri, hebatnya berlipat ganda!
Angin yang diakibatkan oleh pemutaran cambuk itu ikut berpusing, membentuk angin lesus yang berpusing-pusing membawa daun kering dan debu ke atas.
Ini semua masih ditambah lecutan-lecutan di udara yang menimbulkan suara ledakan, sehingga ketika Ni Durgogini mainkan ilmu Cambuk Sarpokenoko, keadaan di puncak Girilimut itu tiada ubahnya seperti ada angin lesus (angina puyuh) mengamuk disertai halilintar menyambar-nyambar!
"Nimas, apakah kau menghendaki nyawaku?
Begitu tega...?"
Narotama berkata penuh sesal.
"Hi-hi-hiil kaupun tega lara terhadapku, mengapa aku tidak tega pati terhadapmu?"
Dengan kata-kata ini Ni Durgogini hendak mengatakan bahwa dahulu Narotama tega mengusirnya dan membuatnya bersengsara hati, maka sekarang iapun tega hendak membunuh Patih itu.
"Hebat ilmu cambukmu, nimas. Sayang kau pergunakan untuk membunuh orang secara ganas!"
Narotama masih sibuk mengelak ke kanan kiri, menyelinap di antara bayangan cambuk.
"Babo-babo! Keluarkan semua keahlianmu, Narotama. Hendak kulihat, di samping pandai menghina wanita, apakah kau juga pandai mengalahkan aku Ni Durgogini, hi-hi-hik!"
Cambuk Sarpokenoko makin hebat amukannya dan sekali kain kepala Narotama tercium ujung cambuk.
Robeklah ujung kain kepala itu, hancur berhamburan seperti dimakan api!
"Tingkahmu seperti ular saja, Durgogini!"
Narotama mulai panas hatinya dan cepat ia mengerahkan Aji Kukilo Sakti (Burung Sakti), semacam ilmu silat yang amat cepat gerakannya, seperti seekor burung sakti beterbangan dan semua gerakannya tentu saja menindih gerakan cambuk Sarpokenoko yang berdasarkan gerakan seekor ular.
Memang tidak ada yang lebih ampuh daripada burung untuk menaklukkan ular.
Tubuh Narotama kini berkelebat cepat, seperti melayang-layang, sukar sekali diikuti cambuk, bahkan pada saat Ni Durgogini menggoyang kepala mengusir kepeningannya, kesempatan ini tak disia-siakan Narotama dan secepat kilat jari tangannya menjepit ujung cambuk!
Gerakan ini sekelebatan tepat seperti seekor burung yang mematuk seekor ular.
Ni Durgogini mengeluarkan pekik menyeramkan dan mengerahkan seluruh tenaganya untuk membetot cambuknya, namun sia-sia belaka.
Biarpun yang menjepit cambuk hanya tiga buah jari, yaitu ibu jari, telunjuk dan jari tengah, namun cambuk itu seakan-akan telah berakar pada jari dan tidak mungkin dapat dilepaskan lagi.
Ni Durgogini marah, kakinya melangkah maju dan tangan kirinya dengan jari tangan berkuku panjang, mencakar muka dan mencokel mata.
Melihat ini, Narotama berseru keras dan tiba-tiba ia mengerahkan tenaga sakti yang ia warisi dari eyang gurunya di Gunung Agung Bali Sang Begawan Setiadarma, lalu sekali ia menggereng, Ni Durgogini tak kuat bertahan lagi, tubuhnya berikut cambuknya terlempar ke udara seperti terbang!
Benar mengagumkan Ni Durgogini.
Kalau lain orang yang dilontarkan macam itu, tentu akan terbanting di atas tanah berbatu dan akan hancur luluh tubuhnya.
Karena Narotama tidak berniat membunuh, Patih yang sakti ini sudah bersiap-siap untuk menyambut tubuh Ni Durgogini agar jangan terbanting, akan tetapi ia tercengang menyaksikan betapa di tengah udara dalam keadaan terlempar itu sampai setinggi pohon waru, tubuh Ni Durgogini dapat terjungkir balik sampai tiga kali dan turun ke atas tanah dalam keadaan berdiri seperti gerakan seekor burung walet saja ringannya!
Turunnya agak jauh dari Narotama dan kini mereka berhadapan dalam jarak limabelas meter jauhnya.
Perlahan Ni Durgogini menyimpan cambuknya.
Wajahnya tidak membayangkan kemarahan, bahkan ia tersenyum dan berseri-seri, matanya mengeriing tajam, kemudian ia melangkah lambat-lambat menghampiri Narotama dengan lenggang seperti seorang penari.
Pinggang yang kecil ramping itu meliuk-liuk dan pinggulnya melenggak-lenggok ke kanan-kini, langkahnya kecil-kecil dengan kaki merapat sehingga lututnya bersentuhan, pundaknya bergerak-gerak, juga lehernya, matanya setengah terpejam, ujung hidungnya berkembang-kempis, dadanya yang membusung bergelombang, bibirnya yang merah membasah setengah terbuka.
Narotama berdiri terpesona, jantungnya berdebar-debar aneh, getaran mujijat yang tidak sewajarnya membangkitkan gairah, darahnya berdenyar-denyar dan napasnya menjadi sesak oleh gejolak nafsu berahi.
Hampir saja pendekar sakti ini tenggelam, hampir bertekuk lutut kalau saja ia bukan putera angkat Sang Wiku Darmojati dan murid Eyang Begawan Setiadarma, dua orang tokoh sakti di Bali.
Batinnya yang sudah kuat itu membuat ia sadar bahwa keadaan ini bukan sewajarnya.
Mengapa Ni Durgogini tiba-tiba tampak demikian cantik jelitanya dan bahkan memiliki daya penarik yang jauh lebih ampuh daripada dahulu ketika menjadi selirnya?
Diam-diam Narotama mengerahkan hawa sakti dari dalam pusarnya, dan membaca mantera menolak pengaruh jahat sehingga ia dapat menguasai diri.
Setelah lenyap pengaruh itu, kini tampaklah olehnya betapa lucu gerak-gerik Ni Durgogini.
Akan tetapi dasar seorang bijaksana, ia tidak mau menghina, bahkan merasa iba hati dan terlontarlah pujian dari mulutnya.
"Kau sungguh masih cantik jelita,nimas Lasmini!"
Bukan main girangnya hati Ni Durgogini.
Setelah tadi semua ilmu kesaktiannya tidak berhasil mengalahkan Narotama, ia lalu mengerahkan ajiannya yang paling ampuh, yaitu ilmu Guno Asmoro.
Biasanya, tidak ada seorangpun pria yang kuat menghadapi ajiannya ini, yang luar biasa ampuhnya, kuat merobohkan pertahanan hati seorang pertapa tua sekalipun.
Dengan Ilmu Guno Asmoro inilah ia berusaha mengalahkan Narotama, karena dengan ilmu kesaktian dan ilmu ketangkasan,ia seakan-akan bertemu dengan gurunya.
Hatinya girang mendengar pujian yang keluar dari mulut Narotama, karena ini merupakan pertanda bahwa ajiannya telah berhasil!
Sama sekali ia tidak pernah mimpi bahwa Narotama yang berhati penuh welas asih itu memujinya untuk tidak mengecewakannya.
Ia makin menggeliat-geliatkan tubuhnya, dan berjalan makin mendekat.
Bau yang harum seperti kayu cendana dan kembang keluar dari tubuhnya, dan inilah merupakan sebagian daripada Aji Guno Asmoro.
Biasanya, kalau lawan sudah terkena Aji Guno Asmoro, ia akan kehilangan semangatnya, akan menurut saja semua kehendaknya, bahkan andaikata dipukul matipun tentu takkan melawan karena semangat perlawanannya sudah lenyap, semua kemauannya sudah lenyap dan berada di tangan Ni Durgogini.
Kini, Narotama yang diam saja itu agaknyapun sudah kehilangan semangatnya!
"Narotama...!"
Suara Ni Durgogini berbeda dengan tadi, kini suaranya merdu merayu mengandung daya tarik yang luar biasa,"Kekasihku, kau berlututlah..., dan bersihkan kakiku yang kotor...!"
Dengan mata setengah terpejam, Ni Durgogini siap menikmati hasil kemenangannya yang sudah pasti itu.
"Ni Durgogini, apakah kau sudah edan? Aku tidak ada waktu melayani kau main-main, selamat tinggal!"
Narotama lalu membalikkan tubuhnya dan melangkah pergi dari situ.
Terbelalak kini mata yang tadinya hampir terpejam itu.
Pucat wajah yang tadinya merah berseri, kering bibir yang tadinya membasah, kemudian muka itu menjadi beringas.
"Kubunuh engkau...!!"
Bagaikan seekor singa betina, Ni Durgogini melompat dan menerkam dari belakang. Tanpa menoleh, Narotama menggerakkan lengannya ke belakang.
"PlakkkH"
Tubuh Ni Durgogini tertampar dan terpelanting ke belakang, roboh bergulingan, kepalanya terasa pusing sekali.
"Narotama..., kau... kau kejam...! Aku benci padamu, benci... benci... benci..,...!!!"
Ni Durgogini lalu menangis melolong-lolong sambil bergulingan di atas tanah seperti anak kecil, Menolehpun tidak Narotama.
Ia berjalan terus dengan tenang dan dengan langkah lebar, senyum pahit membayang di bibirnya yang bergerak-gerak perlahan seperti bicara dengan dirinya sendiri.
Biarpun pada lahirnya Narotama seperti tidak mempedulikan Ni Durgogini, namun dalam batinnya ia menaruh hati iba kepada bekas selirnya itu yang ternyata kini telah tersesat ke dunia hitam.
Ia menyesal, dan kasihan karena maklum bahwa kesesatan bekas selirnya itu akan menyeretnya ke lembah kesengsaraan batin.
Bayangan itu tak dapat diusirnya, selalu membayangi benaknya ke mana jugapun ia pergi, dan hatinya menjadi panas dan panas lagi.
Di dalam telinganya selalu bergema suara kain robek disusul jerit tangis.
Kain dan jerit Kartikosari.
Gema suara inilah yang menimbulkan bayangan.
Bayangan yang direka dan dikira-kirakan sendiri oleh hatinya yang penuh cemburu, dendam, duka dan sesal, yang makin menghebat saja apabila ia kenangkan.
Suara kain terobek disusul lengking mengerikan.
Suara itu selalu berkumandang di dalam telinganya, membuatnya hampir gila.
Pujo duduk di tepi batu karang, matanya menatap air laut bergulung-gulung di bawah kaki.
Gelombang buas yang panjang mengerikan seperti seekor naga siluman yang hendak menelannya, namun mata Pujo seperti tidak melihat semua itu.
Suara ombak memecah di batu karang menimbulkan suara menggelegar susul-menyusul, namun telinganya hanya penuh oleh suara kain robek dan lengking mengerikan.
"Cintamu hanya cinta jasmani belaka, cinta yang berdasarkan nafsu berahi semata karena cintamu dangkal dan hanya tubuhku yang kau cinta, maka kau kecewa melihat tubuhku dinodai orang lain, padahal kau maklum seyakinnya bahwa batinku sama sekali tidak ternoda..."
Kata-kata isterinya ini berkumandang dibawa deru ombak dan terbayanglah wajah isterinya yang jelita, yang tercinta, dengan sepasang mata bintang yang tak pernah dapat ia lupakan itu memandangnya penuh sesal dan duka, bibir yang indah bentuknya dan tadinya menjadi sarang madu baginya itu tergetar seperti bibir seekor kijang yang ketakutan.
"Prakkk!! Prakkk!"
Dua kali kedua tangan Pujo dengan jari-jari terbuka menggempur batu karang di depannya sehingga ujung batu karang itu remuk berhamburan.
Mulutnya komat-kamit, mulut yang membayangkan hati sakit bukan main, matanya menatap ombak, mata penuh dendam dan duka.
"Tidak perduli! Aku memang mencinta tubuhmu Kartikosari, kau menjadi milikku tunggal, tak boleh orang lain menjamahmu, apalagi menodaimu! Aku mencintaimu dengan seluruh jiwa dan ragaku, semua bulu di kulitku, setiap tetes darah di badanku, sampai ke tulang sumsumku, aku mencintaimu. Tapi... tapi kau ternoda orang lain... mengapa hal itu bisa terjadi? Mengapa tidak kau lawan sampai mati? Setelah hal terkutuk itu terjadi, mengapa kau masih dapat hidup, masih ada muka untuk hidup dan bicara denganku? Hal itu hanya berarti bahwa kau. .., kau senang dengan pengalamanmu itu, kau girang bahwa selain suamimu, ada pria lain, tampan sakti bangsawan dan kaya raya, juga mencintamu!"
Kembali tangannya menghantam batu karang.
Tiba-tiba Pujo bangkit berdiri, matanya melotot terbelalak, kedua kakinya terpentang lebar, kedua tangannya dikepal menempel pinggang, sikapnya seperti seorang siap bertanding dengan musuh yang dibencinya.
"Wisangjiwo! Dendam ini sedalam Laut Selatan! Takkan dapat tercuci selamanya kecuali dengan darahmu. kau tunggulah, sekali kau terjatuh ke dalam tanganku, aku akan..."
Akan ia apakan?
Dibunuh begitu saja?
Terlampau enak!
Hati yang begini disakiti haus akan pembalasan yang memuaskan.
Tidak, ia tidak akan membunuh Wisangjiwo begitu saja.
Ia akan menyiksanya sepuas hati.
Dendam adalah semacam perasaan yang memabokkan seperti racun yang menggerogoti batin sehingga menyelimuti kesadaran dan mematahkan pertimbangan.
Dendam timbul dari sakit hati yang dapat muncul karena sesungguhnya terpengaruh oleh rasa sayang diri yang berlebihan.
Rasa sayang diri inilah yang menimbulkan sakit hati apabila dirinya dirugikan orang lain, menimbulkan benci dan memupuk dendam untuk membalas!
Rasanya belum akan sudah dan puas hati ini kalau belum membalas dendam dengan perbuatan keji yang setaraf atau bahkan melebihi perbuatan yang dilakukan orang terdendam terhadap dirinya.
Dan orang yang mabok dendam ini di luar kesadarannya telah diperhamba nafsu iblis yang haus dan baru dapat dipuaskan oleh perbuatan-perbuatan membalas yang sama kejinya.
Perbuatan keji kejam untuk membalas dalam pandangan orang yang mendendam bukanlah perbuatan keji lagi, melainkan perbuatan adil!
Mabok semabok-maboknya dan tidak ada yang lebih gila daripada ini.
Dengan batin rapuh digerogoti nafsu iblis ini seperti rapuhnya bilik digerogot rayap, Pujo mereka-reka pembalasan dan siksaan bagaimana yang dianggapnya tepat dan adil bagi musuh besarnya, Raden Wisangjiwo.
Akan kutangkap dia, pikirnya geram.
Akan kubuat dia tidak berdaya dan kuseret dia di dalam hutan!
Teringat akan kebiadabannya terhadap isterinya, ia akan merajang-rajang anggauta kelaminnya, merobek perut dan mengeluarkan usus dan jantungnya!
Ah, tidak!
Kalau demikian tentu ia akan mampus, terlalu enak dan terlalu cepat baginya!
Ia berpikir-pikir dan mereka-reka lagi pembalasan yang lebih menyiksa.
Akan kurobek-robek kulit mukanya yang tampan dengan ujung keris, agar ia menjadi seorang manusia bermuka setan yang sedemikian buruknya sehingga setiap orang wanita yang melihatnya akan meludah dan muntah-muntah.
Tapi sebelumnya akan kuseret dia di muka umum agar semua orang senegara maklum dan mengenal bahwa Wisangjiwo adalah seorang laki-laki binatang yang suka mengganggu bini orang!
Kemudian kubuntungi kedua kakinya agar selamanya tak pandai berjalan, hidup dan bergerak mengesot seperti binatang!
Akan ku...
akan ku...
Pujo tak dapat berpikir lagi saking geram.
Tiba-tiba ia terkejut dan menampar kepalanya sendiri.
"Kau telah gila!"
Serunya keras-keras ketika kesadarannya yang timbul dari dasar pendidikan ksatria mencelanya.
"Kau telah menjadi manusia iblis! Tak mungkin Pujo murid terkasih Resi Bhargowo, bahkan menjadi mantunya, dapat memikirkan kekejaman yang dapat timbul dalam benak iblis itu!"
Suaranya sendiri terdengar seperti suara gurunya dan Pujo lalu menangis. Ditumbuk-tumbuknya kepala. dan dadanya, kemudian ia menjadi beringas.
"Biar! Biarlah aku menjadi iblis penasaran! Dia telah merusak kesucian Kartikosari, telah menghancurkan kebahagiaanku! Aku takkan dapat bertemu muka lagi dengan Kartikosari kekasihku sebelum dendam ini terbalas!"
Bagaikan seorang gila Pujo lalu melompat dan lari dari tepi Laut Selatan, berlari terus mendaki bukit karang dengan tujuan bulat, yaitu, mencari Wisangjiwo dan melampiaskan nafsu dendamnya yang dahsyat menggelora seperti Laut Selatan yang diserang badai.
Sesungguhnya, bukan dendam semata yang membuat Pujo seperti gila.
Terutama karena rasa duka kehilangan isterinya itulah.
Setelah berada seorang diri, terbayang oleh kesadarannya betapa ia telah menyiksa isterinya, telah berlaku tidak adil terhadap kekasihnya.
Betapa ia telah menghina Kartikosari dan membanting hancur mahkota asmara mereka berdua.
Sudah terlanjur, dan ia kini benar-benar kehilangan isterinya.
Dan semua ini gara-gara Wisangjiwo.
Inilah yang meracuni hatinya dan menambah rasa dendam dan sakit hatinya, seperti minyak menambah berkobarnya api.
Beberapa hari kemudian di Kadipaten Selopenangkep, sebuah kadipaten di tepi Sungai Progo.
Kadipaten ini tempat tinggal Joyowiseso, ayah Raden Wisangjiwo.
Di sini, tinggal adipati yang berusia lima puluh tahun ini, bersama isteri dan enam orang selirnya.
Puteranya ada dua orang, yaitu Raden Wisangjiwo yang lahir dari isterinya dan Roro Luhito yang lahir dari seorang selir kinasih (terkasih).
Anak ini dinamai Luhito (merah) karena ketika lahir kelihatan kulitnya kemerahan.
Akan tetapi setelah kini menjadi seorang gadis remaja berusia limabelas tahun, kulitnya menjadi putih kuning kemerahan dan wajahnya cantik, tubuhnya denok, wataknya manja dan kenes (lincah).
Di samping adipati dan keluarganya, di situ tinggal pula isteri Raden Wisangjiwo yang bernama Listyokumolo dan puteranya yang baru berusia satu tahun bernama Joko Wandiro.
Rumah kadipaten itu selalu terjaga oleh para pengawal yang tak pernah terpisah dari tombak dan keris, tiada hentinya bergiliran menjaga di sekitar kadipaten dan setiap saat tertentu, siang malam, jalan meronda untuk menjaga keselamatan dan keamanan sang adipati sekeluarga.
Pada hari itu di dalam kadipaten tampak kesibukan dan kemeriahan.
Sang adipati sendiri bersama isteri, para selir dan puterinya, Roro Luhito yang cantik dan berwatak bebas, menyambut datangnya seorang tamu yang dihormati.
Tamu ini adalah seorang pemuda tampan yang bukan lain adalah Jokowanengpati!
Pemuda yang datang dari Kotaraja ini dikenal baik oleh Adipati Jayowiseso, karena Jokowanengpati dahulu ikut pula menjadi perwira yang tangguh dan terkenal dalam barisan Kerajaan Mataram ketika barisan ini menyerbu ke barat.
Sebagai murid Empu Bharodo, tentu saja pemuda ini menjadi terkenal dan dihormat oleh para taklukan Mataram.
Jokowanengpati bersahabat pula dengan Raden Wisangjiwo dan kedatangannya menggunakan dalih mencari sahabatnya ini, padahal ia dapat menduga bahwa orang yang dicarinya tentu tidak berada di rumah setelah perisitiwa yang ia saksikan di Guna Siluman baru-baru ini.
Memang maksud kedatangannya itu mengandung rahasia untuk menyelidiki keadaan Wisangjiwo setelah ia melakukan perbuatan terkutuk di dalam guha yang akan menimpa diri Wisangjiwo itu.
Ketika dalam penyambutan itu muncul Roro Luhito, jantung pemuda mata keranjang ini berdebar keras.
Matanya menjadi berminyak dan secara sembunyi ia mencuri pandang menikmati wajah yang manis dan tubuh yang denok itu.
Tak disangkanya sama sekali bahwa Wisangjiwo mempunyai seorang adik perempuan yang begini denok!
Ia amat kagum dan tertarik oleh sikap yang wajar, bebas dan kenes.
Berbeda dengan lain puteri yang biasanya hanya menyembunyikan diri di dalam taman sari atau keputren.
Memang Roro Luhito sejak kecil bukan seorang anak pemalu.
Ia kenes dan pemberani, apalagi oleh ayahnya ia diberi pelajaran olah keprajuritan sehingga wataknya yang memang kenes bebas itu membuat ia merasa seakan-akan ia seorang Srikandi!
Hidangan-hidangan mewah dikeluarkan, bahkan pada malam harinya Adipati Joyowiseso memerintahkan rombongan kesenian kadipaten mengadakan klenengan dan tarian untuk menghormat dan menghibur tamu muda yang dihormati ini.
Namun, setelah melihat Roro Luhito, para penari yang berbedak tebal itu dalam pandang mata Jokowanengpati tiada ubahnya seperti boneka-boneka hidup yang sama sekali tidak menarik.
Padahal biasanya, dalam setiap kesempatan perayaan tayuban, pemuda yang pandai menari ini selalu menjadi tokoh untuk menari bersama penari-penari, bergaya, bergurau dan bergepit.
Kini seolah-olah ia menjadi seorang yang pendiam.
Sampai jauh tengah malam baru pesta dihentikan.
Tamu muda ini dipersilakan mengaso dalam kamar khusus yang bersih, lengkap dan mempunyai tempat tidur berbau harum kembang melati.
Betapapun nyamannya tidur di kamar ini, namun Jokowanengpati tak dapat tidur pulas.
Gelisah ia miring ke kanan kiri memeluk guling yang dikhayalkannya sebagai Roro Luhito!
Dipelukciumi guling itu, dibisikkan kata-kata halus merayu, kemudian ia kadang-kadang menarik papas panjang dan memanggil nama Roro Luhito dalam bisikan penuh rindu.
Pemuda mata keranjang ini, untuk entah ke berapa kalinya, tergila-gila dan diserang penyakit wuyung (rindu) kepada seorang gadis ayu.
Ia tiada melihat jalan untuk mengobati penyakit rindu berahinya.
Meminang gadis Puteri adipati itu tidaklah mungkin sekarang, setelah ia diusir gurunya.
Masih baik bahwa Empu Bharodo seorang yang dapat menjaga nama sehingga persoalan murtadnya itu tidak diketahui orang lain sehingga ia masih dapat mengecap kenikmatan sebagai murid Empu Bharodo dengan penyambutan penuh penghormatan seperti sekarang ini.
Cuaca lewat tengah malam itu amat gelap Mendung yang tidak mau turun-turun menjadi hujan membuat hawa udara panas sekali.
Keadaan di kadipaten dan sekitarnya sunyi melengang karena semua penghuninya telah tidur lejap setelah kelelahan dalam kesibukan siang dan malam hari tadi.
Bahkan para penjaga merasai pula kelelahan dan hawa panas ini, membuat mereka agak malas meronda dan hanya berjaga-jaga di sekitar pintu gapura depan.
Sunyi sekali setelah suara gamelan berhenti dan penghuninya sudah tidur, lebih sunyi daripada malam-malam biasa sebelumnya.
Sesosok bayangan hitam dengan gerakan yang gesit menyelinap di antara rumpun bambu yang tumbuh di luar tembok belakang kadipaten.
Sinar kilat yang kadang-kadang memecah di angkasa dalam sekejap mata menyinari bayangan ini yang ternyata adalah seorang laki-laki muda bertubuh tegap bermata liar.
Orang muda ini adalah Pujo, yang dengan nafsu dendam meluap-luap menjelang fajar itu mendatangi kadipaten di Selopenangkep.
Setelah menanti sesaat dan mendapat keyakinan bahwa tidak ada penjaga meronda, dengan tangkas Pujo lari mendekati tembok, mengenjotkan kedua kakinya yang kuat ke atas tanah.
Tubuhnya melayang naik, tangannya meraih dan menangkap ujung tembok di atas, kakinya diayun ke belakang terus ke atas dan berjungkir baliklah tubuhnya, langsung melompat ke sebelah dalam tembok!
Tiada suara ditimbulkan kedua telapak kakinya yang menyentuh tanah Sebelah dalam dengan gerakan seperti kucing melompat, kemudian mengindap-indap ia menghampiri gedung kadipaten yang sunyi.
Sejenak ia berdiri di bawah pohon sawo yang gelap, agak bingung karena ia tidak mengenal gedung ini, tidak dapat mengira-ngirakan di mana kiranya kamar tidur Raden Wisangjiwo.
Ia berpikir sejenak, giginya berkeret-keret gemas ketika ia berbisik.
"Tidak peduli siapa dia, asal keluarga si bedebah Wisangjiwo, akan kubunuh!"
Dengan pikiran ini, dengan gerakan secepat kera, ia memanjat pohon sawo kemudian dari cabang yang berdekatan dengan wuwungan rumah, ia meloncat lalu berjalan di atas wuwungan rumah.
Ilmu kepandaiannya yang sudah amat tinggi membuat wuwungan dan genteng itu dapat dilaluinya dengan mudah tanpa menimbulkan suara gaduh.
Setelah mencari-cari di atas wuwungan, akhirnya ia dapat meloncat ke sebelah dalam gedung, yaitu di ruangan belakang yang terbuka.
Di lain saat ia telah mendekati sebuah jendela dari kamar terbesar yang berada di tengah gedung.
Terdengar suara orang bercakap-cakap perlahan di dalam kamar itu.
Ia menempelkan telinganya dan mendengar suara ketawa seorang laki-laki, suara ketawa yang dalam dan parau.
"Ha-ha-ha, diajeng! Enak saja kau bicara. Mana mungkin kami fihak perempuan mengajukan urusan perjodohan? Hal itu akan terlalu merendahkan diri. Akupun setuju kalau anak kita Roro Luhito dapat menjadi isteri Jokowanengpati, karena biarpun ia bukan keturunan bangsawan, namun ia mempunyai kedudukan baik dan tentu akan mudah mendapatkan pangkat besar di kemudian hari. Biarlah nanti sepulangnya Wisangjiwo, dia yang akan bicara dengan Jokowanengpati. Kalau yang bicara itu di antara sahabat, itu bukan merendahkan diri namanya."
"Terserah, kakangmas adipati. Pokoknya saya menghendaki agar anak kita bisa mendapatkan jodoh yang baik dan saya lihat pemuda itu cukup tampan dan sopan. Banyak para waranggana dan penari cantik-cantik malam tadi, tapi melirikpun dia tidak mau. Padahal biasanya orang-orang muda kalau melihat waranggana cantik lalu menjadi liar dan tidak mau diam seperti cacing terkena abu!"
"Hah-hah-hah-hah, biasa itu, diajeng. Orang kalau sudah menyukai seseorang, segalanya kelihatan baik saja. Mudah-mudahan begitulah dan mudah-mudahan dia akan suka memperisteri anak kita si Luhito."
"Tentu suka! Pemuda mana yang tidak keedanan bertemu dengan Luhito? Perawan mana yang lebih cantik jelita, denok ayu seperti anakku Luhito?"
"Ha-ha-ha, siapa maido (tak percaya)? Ibunya begini denok, begini montok, begini ayu manis, tentu saja anaknya hebat!"
"Ah, kangmas, sudah malam begini hampir fajar, jangan keras-keras, malu terdengar orang!"
Adipati Joyowiseso dan selirnya tertawa-tawa, bersendau gurau.
Kedua orang ini tidak tahu betapa di luar jendela kamar mereka, Pujo menjadi merah mukanya, merah karena marah dan kecewa.
Jadi Wisangjiwo belum pulang, pikirnya geram.
Akan tetapi ia sudah tiba di situ, terlalu menyesal kalau pulang dengan tangan hampa.
Di dalam kamar ini terdapat ayah si bedebah Wisangjiwo dan orang tua ini ikut pula berdosa karena mempunyai putera yang telah menghancurkan kebahagiaan hidupnya.
Kedua tangannya mengepal tinju, matanya beringas memandang jendela, seluruh urat di tubuhnya menegang.
Pujo melangkah mundur tiga tindak, mengerahkan tenaga lalu meloncat menerjang daun jendela yang tertutup!
"Braaaakkkk!!"
Pecahlah daun jendela itu dan tubuh Pujo terhuyung ke dalam kamar yang diterangi sebuah dian (lampu kecil) di sudut kamar.
Selir adipati itu menjerit kaget dan Adipati Joyowiseso melompat dari atas pembaringan, tubuhnya tidak memakai baju hanya berselimut sehelai kain, matanya melotot, kumisnya yang tebal sekepal sebelah itu berdiri, lalu membentak.
(Lanjut ke
Jilid 04) Badai Laut Selatan (Seri ke 03 Serial Serial Keris Pusaka Sang Megatantra) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo
Jilid 04
"Keparat biadab! Siapa ini...?!?"
"Adipati Joyowiseso, terimalah hukuman dosa anakmu si bedebah Wisangjiwo!"
Pujo berseru dan bagaikan angin badai ia menyerbu dengan sebuah keris telanjang di tangan!
Tusukannya ke arah ulu hati adipati itu amat dahsyat, cepat sekali dan disertai tenaga yang kuat, kemudian disusul sebuah tendangan ke arah perut.
Joyowiseso takkan menjadi adipati kalau dia bukan seorang yang pandai beryuda.
Usianya sudah lirna puluh tahun namun tubuhnya yang tinggi besar itu masih tampak kuat.
Dadanya yang terbuka tanpa baju itu memperlihatkan bahu yang bidang dan segumpal rambut yang hitam menghias ulu hati dan buah dada otot-ototnya sebesar tambang bambu.
Melihat serangan dahsyat ini, trengginas (sigap) ia menangkis dengan tangan kanannya, sebuah lengan yang besar berbulu menyampok tangan kanan Pujo.
Namun Pujo adalah seorang pemuda gemblengan, pula ia menjadi makin kuat karena dorongan kenekatan bulat dan kemarahan.
Selain ini, memang ia lebih dulu membuat persiapan, tidak seperti sang adipati yang masih belum lenyap rasa kagetnya.
Maka begitu kedua lengan bertemu, tangan Pujo yang menusuk meleset ke atas dan kerisnya masih menancap pada pangkal lengan kanan Adipati Joyowiseso.
Agaknya tusukan pada pangkal lengan ini tidak akan membuat adipati itu berteriak kalau saja tendangan kaki Pujo tidak mengenai perutnya.
Sebuah tendangan yang keras, tepat mengenai perut yang sudah mulai bekel (menggendut), menimbulkan suara"Blegggl"
Dan tubuh adipati itu terlempar ke belakang, lalu terhuyung-huyung.
"Terimalah kematianmu, Joyowiseso!"
Pujo menerjang lagi dan adipati itu berteriak-teriak.
"Tolong...! Toloooonggg...!! Penjahat!!"
Namun dalam ketakutannya, ia masih cukup tangkas untuk menggulingkan tubuh ke atas lantai dan terus menggelinding mendekati meja di sudut kamar.
Sebelum Pujo sempat menyerang lawan yang bergulingan itu, Adipati Joyowiseso sudah menarik kaki meja.
Pelita di atas meja terlempar ke bawah dan padam.
Gelap gulita di dalam kamar itu.
yang terdengar hanya isak-tangis selir adipati di atas pembaringan yang diusahakannya untuk didekap dengan mulut agar tidak bersuara.
Dendam kesumat mendidih dalam dada Pujo dan kenekatannya sudah bulat, namun dia bukanlah seorang yang sembrono atau bodoh.
Melihat betapa dalam kamar yang asing baginya itu gelap sekali, Pujo maklum bahwa bahaya mengancam dirinya.
Apalagi ia mendengar suara kaki berlari-lari mendatangi ke arah kamar.
Cepat ia lalu mengayun tubuh melompat keluar dari jendela yang sudah berlubang besar karena daun jendelanya roboh oleh terjangannya ketika masuk tadi.
Hanya lubang jendela itulah yang tampak dari dalam gelap, disinari oleh cahaya lampu di luar kamar.
Untung ia berlaku waspada dan begitu mendengar ada angin sambaran dari samping, ia mengelak.
Sebuah pisau belati melayang dan menancap di jendela, belati yang disambitkan dari dalam gelap oleh Adipati Joyowiseso.
"Penjahat! Tangkap!!"
Terdengar adipati itu berteriak-teriak sambil mengejar, sebatang tombak di tangannya dan kain yang tadi menyelimuti tubuhnya sudah ia lilitkan ke belakang, merupakan cawat.
Begitu tubuh Pujo berada di luar kamar, sebuah tombak dan sebilah golok menyambar dari kanan kiri.
Trengginas (sigap) ia melompat terus ke depan, menghindarkan diri lalu membalik cepat.
Kiranya yang menyerangnya adalah dua orang penjaga yang berlari datang karena teriakan adipati.
Pujo tidak menanti sampai mereka menyerang lagi atau menunggu datangnya lawan yang lebih banyak lagi.
Begitu si pemegang tombak memutar senjata hendak menusuk, ia telah mendahuluinya dengan terjangan kilat ke depan.
Sukar diikuti pandang mata lawannya gerakan ini saking cepatnya dan tahu-tahu kerisnya telah menancap di perut lawan dan begitu dicabut, darah muncrat keluar dan si pemegang tombak roboh tertelungkup.
Pada saat itu si pemegang golok sudah mengayun senjatanya mengancam ke arah kepala dari kiri.
Pujo miringkan tubuh, tangan kirinya dengan Aji Pethit Nogo menangkis, jari-jari tangan kirinya yang sudah kemasukan aji yang ampuh ini tepat menghantam pergelangan tangan yang memegang golok, mendahului datangnya sambaran senjata tajam itu.
Terdengar bunyi"Krakk!"
Tanda bahwa lengan itu patah dihajar Ilmu Pethit Nogo.
Si pemegang golok berseru kesakitan, akan tetapi di lain saat iapun terjungkal seperti temannya dengan lambung berlubang oleh keris!
"Penjahat busuk, rasakan tombakku!"
Adipati Joyowiseso yang sudah melompat keluar dari jendela mengayun tombaknya.
Adipati ini memang terkenal sebagai pemain tombak yang jagoan, tombaknya bergerak cepat berputaran dan mata tombak seakan-akan berubah menjadi lima buah banyaknya, menyambar dengan kecepatan kilat bertubi-tubi ke arah bagian tubuh yang berbahaya.
Pujo tentu saja tidak menjadi gentar, akan tetapi melihat banyak penjaga dengan obor di tangan lari mendatang, ia merasa bahwa tempat itu kurang luas untuk bertempur menghadapi banyak lawan.
Kurang leluasalah ia bergerak kalau sampai terkepung.
Maka ia meloncat ke belakang menjauhi ancaman tombak, lalu lari menuju ke pekarangan belakang.
"Keparat, hendak lari ke mana kau?"
Adipati Joyowiseso mengejar, kini diikuti oleh belasan orang pengawal yang sudah memegang senjata masing-masing ditangan.
Bahkan dari dalam gedung keluar pula seorang gadis yang berpakaian ringkas, memegang cundrik kecil panjang yang runcing.
Dia ini adalah Roro Luhito.
Dengan hati cemas gadis ini melihat pundak ayahnya yang berdarah.
"Ayah, ada apakah??"
Tanyanya sambil berlari di samping ayahnya.
"Ada penjahat, hendak membunuhku. Itu dia lari ke sana. Kejar!"
Roro Luhito tidaklah sehebat Wisangjiwo kepandaiannya, akan tetapi dibandingkan dengan para penjaga, agaknya gadis ini masih lebih unggul karena ia mendapat gemblengan sendiri dari ayahnya.
Maka kini ia dapat berlari cepat di samping ayahnya dan para pengejar ini sejenak tertegun ketika melihat bahwa orang yang mereka kejar itu tidak terus lari, bahkan kini dengan muka beringas dan senyum mengejek menanti kedatangan mereka dengan keris yang berlumur darah di tangan!
Seorang pemuda yang amat tampan, akan tetapi yang tampak mengerikan karena pandang matanya menyinarkan kehausan akan darah, sinar mata maut!.
Akan tetapi yang merasa paling kaget dan heran adalah Adipati Joyowiseso sendiri.
Dia merasa seperti pernah melihat pemuda ini, dan setelah ia mengingat-ingat, cambangnya yang tebal tergetar saking marahnya.
Dengan tombak ditudingkan ia membentak marah.
"Babo-babo, keparat jahanaml Kiranya kau! Bukankah kau murid Resi Bhargowo dari Sungapan? Mengapa kau datang dan menyerangku?"
"Adipati Joyowiseso! kau harus menebus dosa yang diperbuat oleh puteramu yang biadab!"
Terbelalak lebar mata adipati itu.
"Jahanam, lancang mulutmu! Perbuatan apa yang dilakukan Wisangjiwo?"
"Tak usah banyak cakap, siaplah kau untuk mampus!"
Setelah berkata demikian, Pujo menubruk maju dan menyerang dengan kerisnya.
Adipati itu juga menggerakkan tombak untuk menangkis karena biarpun keris merupakan senjata pendek, namun gerakan pemuda itu cepat sekali.
"Tranggg!"
Tombak itu terpental dan kedua tangan Adipati Joyowiseso terasa kaku.
Akan tetapi pada saat itu terdengar bentakan nyaring dan Roro Luhito menyerang Pujo dengan cundriknya yang ditusukkan ke arah lambung si orang muda dari samping.
Tadinya Roro Luhito terpesona karena sama sekali tidak menyangka bahwa"penjahat"
Yang dikejar-kejar ayahnya adalah seorang pemuda yang demikian ganteng dan wajahnya menimbulkan rasa iba dan suka di hatinya.
Akan tetapi mengingat bahwa pemuda ini sudah melukai ayahnya dan bahkan hendak membunuh ayahnya, kemarahannya timbul dan ia segera menyerang.
Tangkisan tombak tadi menggagalkan serangan Pujo, Akan tetapi melihat adipati itu terhuyung, ia hendak menambahi dengan serangan ke dua sebelum para penjaga sempat mengurung, akan tetapi mendadak ia mendengar bentakan suara wanita dan disusul sambaran angin serangan.
Ia membalikkan tubuh dengan putaran tumitnya dan melihat seorang gadis remaja menyerangnya, ia terheran-heran.
Ia tidak pernah tahu bahwa adipati itu mempunyai seorang anak perempuan.
Betapapun juga, Pujo adalah seorang ksatria, maka tidaklah tega hatinya untuk membunuh wanita, biarpun ia melihat betapa gerakan wanita ini masih amat lemah dan lambat sehingga sekali saja mendahului serangan, ia pasti akan dapat memukul roboh gadis ini.
Karena pikiran itulah maka ia lalu menyampok dengan tangan kirinya, menggunakan jari telunjuknya menyentil kulit lengan yang putih halus.
"Aaauuuhhh!"
Roro Luhito menjerit, cundriknya terlepas dan ia memegangi lengan kanan yang terasa copot sambungannya itu dengan tangan kiri sambil meloncat mundur.
Pada saat itu, para penjaga sudah maju mengurung dan menggerakkan senjata yang datang bagaikan hujan menyerang tubuh Pujo.
Namun Pujo berseru garang, tubuhnya berkelebat di antara mata tombak dan golok, lalu meloncat ke atas menubruk pengeroyok sebelah kiri.
Begitu tangan kirinya menyampok dan kerisnya berkelebat, empat orang penjaga roboh tak dapat bangun kembali!
Dua orang penjaga terdekat di kanan kirinya mempergunakan kesempatan ini untuk menggerakkan tombak yang ditusukkan dari kanan kiri.
Pujo tidak tergesa-gesa.
Begitu kedua tombak itu mendekat, ia sudah menggigit kerisnya dan kini kedua tangannya menyambar tombak, dan sekali kedua tangannya membuat gerakan menyendal dan menusuk, dua orang penjaga itu roboh dengan perut tertembus tombak kawannya!.
Menyaksikan kehebatan pemuda ini, para penjaga undur tiga langkah dengan gentar, mengharapkan, datangnya kawan-kawan yang kini sudah tampak datang berlarian dari luar gedung.
Pujo tertawa bergelak.
"Ha-ha-ha-ha! Adipati Joyowiseso, hayo inilah dada Pujo anak Sungapan! Kerahkan seluruh anjing-anjing penjaga-mu, jangan maju seorang demi seorang, majulah berbareng! Saat ini adalah saat kematianmu dan sebelum aku meninggalkan Kadipaten Selopenangkep, kadipaten ini akan menjadi telaga darah!"
"Keparat sombong! Hayo maju semua, tangkap keparat ini, hidup atau mati!"
Teriak Adipati Joyowiseso yang sudah menerjang maju lagi dengan tombaknya.
Gerakan adipati ini cukup tangkas, tenaganya besar sehingga Pujo tidak berani memandang rendah, apalagi karena para penjaga yang berkumpul di situ lebih dari dua puluh orang banyaknya.
Ia mengelak dan melesat ke kiri ketika banyak senjata menyambarnya, kemudian ia menggunakan kelincahan gerakan tubuhnya untuk melesat ke kanan kiri sambil kadang-kadang menghantam seorang pengeroyok atau menggunakan kerisnya mencari korban.
Ramai suara para penjaga yang mengepungnya, sama ramainya dengan pemburu-pemburu mengepung harimau.
Pertandingan yang amat tak sebanding ini berlangsung seru.
Pujo mempergunakan kepandaiannya, tangan kirinya yang mempergunakan Ilmu Pethit Nogo dan kerisnya seakan-akan pesta pora dengan tubuh para pengeroyoknya.
Belum sampai setengah jam lamanya, di pekarangan belakang gedung kadipaten itu sudah bergelimpangan tubuh Sembilan orang penjaga, ada yang sudah tewas, ada yang masih berkelojotan dan ada yang merintih-rintih.
Akan tetapi Pujo tidak berhasil mendekati Adipati Joyowiseso yang selain dijaga oleh para pengawalnya, juga dijaga oleh Roro Luhito yang kini mainkan sebatang tombak juga!
Adipati itu sendiri tidak tinggal diam, ia selalu mencari kesempatan selagi pemuda itu sibuk melayani pengeroyokan untuk menggunakan tombaknya menusuk.
Matahari pagi mulai muncul menyinari permukaan bumi dengan cahayanya yang kemerahan, semerah darah yang berceceran membasahi bumi pekarangan belakang Kadipaten Selopenangkep.
Keadaan di situ makin gaduh oleh suara mereka yang mengepung Pujo.
Diam-diam Pujo mulai merasa kuatir.
Kalau semua penduduk sudah bangun dan bala bantuan datang makin banyak, sukarlah baginya untuk melarikan diri.
Akan tetapi, para penjaga itu tak pernah mau melepaskannya lagi dan sebegitu lama belum juga ia berhasil membunuh ayah Wisangjiwo.
Ia kecewa.
Kalau Wisangjiwo sendiri tidak berada di situ dan ia tidak berhasil membunuh Adipati Joyowiseso, bukankah sia-sia belaka usahanya?
Apalagi kalau ia sampai tertawan dan terbunuh!
Apa artinya sekian banyak penjaga yang terbunuh olehnya?
Nyawa ratusan penjagapun tidak ada artinya bagi pembalasan dendamnya terhadap Wisangjiwo!.
Kekecewaan ini membuat kemarahan Pujo meluap dan berteriak menyeramkan, lalu tubuhnya berkelebat seperti burung srikatan mengejar belalang.
Hebat bukan main amukannya, karena ini menggunakan pukulan Gelap Musti sehingga tiap orang yang terkena pukulan geledeknya tentu roboh dengan kepala atau dada pecah!
juga Ilmu Bayutantra membuat gerakannya seperti angin puyuh!.
Akan tetapi kenekatannya ini menimbulkan pula ketidak hati-hatiannya.
Tusukan tombak Adipati Joyowiseso yang tentu saja lebih berbahaya daripada tusukan para pengeroyok, secepat kilat menyambar ke arah ulu hati Pujo yang ketika itu sibuk mempergunakan kedua tangannya.
Pujo terkejut dan cepat tangannya menyampok dari bawah.
Mata tombak tersampok ke atas, meleset malah menyambar ke arah tenggorokannya.
Pujo cepat miringkan kepala, akan tetapi tetap saja mata tombak itu menghunjam ke arah lehernya.
Baiknya ia telah cepat-cepat mengerahkan tenaga sakti ke arah leher sehingga tombak itu meleset, hanya melukai kulit leher.
Saking marahnya Pujo mencengkeram dengan Aji Pethit Nogo, menangkap mata tombak dan sekali tangannya meremas, hancurlah tombak itu!
Adipati Joyowiseso sampai terhuyung ke belakang dan hampir terjengkang.
Pujo berteriak seperti harimau terluka, menubruk ke depan.
Tetapi sebatang tombak menerima kedatangannya dengan tusukan ke arah perut.
Lagi-lagi Roro Luhito yang melindungi ayahnya.
"Setan!!"
Pujo mendamprat, tangannya mencengkeram tombak dan sekali ia menarik ke samping, tubuh Roro Luhito terlempar dan roboh!
Akan tetapi belasan orang penjaga sudah menghadang di depannya, memisahkannya dari Adipati Joyowiseso.
Darah mengucur dari lehernya dan luka di leher terasa panas, tanda bahwa mata tombak itu biasa diberi ramuan yang beracun.
Matanya agak berkunang, akan tetapi begitu ia menerjang maju, kembali dua orang penjaga roboh dan tewas.
Amukan Pujo benar-benar hebat dan nggegirisi (menggiriskan).
Pada saat itu berkelebat sesosok bayangan hitam, gerakannya seperti burung terbang saja dan begitu tiba di dekat Pujo, ia mengirim pukulan dengan telapak tangan ke arah pelipis kanan.
Pujo kaget karena hawa pukulan ini amat panas serta mendatangkan angin keras.
Cepat ia memutar tubuh dan menangkis, akan tetapi tangan yang memukul itu ditarik kembali, diganti tendangan ke arah pusar!
Hebat dan tangkas bukan main penyerang ini.
Tadinya hati Pujo berdebar, mengira bahwa yang datang itu musuh lamanya yang dicari-cari, Wisangjiwo, akan tetapi ketika ia mengangkat muka memandang sambil meloncat mundur menghindarkan tendangan, ia menjadi kaget bukan main.
"Kakang Jokowanengpati...!"
Tentu saja ia mengenal orang muda ganteng berpakaian hitam itu, mengenal murid uwa gurunya. Jokowanengpati adalah murid Empu Bharodo yang sakti.
"Hemm, siapapun yang mengacau harus ditawan!"
Berkata Jokowanengpati sambil menerjang maju lagi. Pujo sudah menjadi pening dan lelah dan ia maklum bahwa murid Empu Bharodo ini adalah seorang yang amat pandai.
"Kakang Joko... harap jangan turut campur!"
"Adipati adalah punggawa gusti prabu, mana bisa aku membiarkan beliau diganggu orang? Pujo, kau menyerahlah!"
"Menyerah? Kepada adipati ayah si laknat Wisangjiwo? Lebih baik mati!"
Sambil berkata demikian, Pujo membalik ke kanan, kerisnya bekerja dan seorang penjaga yang tertusuk keris menjerit dan roboh.
Akan tetapi pada saat itu, Jokowanengpati telah menggunakan aji pukulan Siyung Warak (Taring Badak), tepat mengenai tengkuk Pujo yang mengeluarkan suara keluhan dan roboh terguling, pingsan dengan keris masih digenggam di tangan kanan!.
Tentu tubuh orang muda ini sudah hancur berkeping-keping dihujani senjata oleh para penjaga kalau saja Jokowanengpati tidak cepat-cepat mencegah.
"Tahan semua senjata! Dia harus ditawan dan diperiksa perkaranya!"
Sambil memegang ujung kainnya yang tadi terlepas kaitannya dengan tangan kiri dan menyeret tombak buntung dengan tangan kanan, Adipati Joyowiseso melangkah datang didampingi Roro Luhito yang dahinya lecet sedikit terlempar tadi.
"Benar! Jangan bunuh! Ambil tambang yang besar, ikat kaki tangannya!"
Teriaknya memerintah. Sibuk para penjaga mencari tali besar terbuat daripada ijuk yang amat kuat dan membelenggu kaki tangan Pujo yang masih p ingsan. Jokowanengpati mengambil keris dari tangan Pujo.
"Setan alas! Keparat jahanam!"
Adipati Joyowiseso berjongkok memukuli muka dan kepala Pujo sehingga darah keluar dari hidung dan mulut orang muda itu.
Setelah lelah ia lalu bangkit berdiri dan menggunakan kedua kakinya menendangi muka dan tubuh Pujo berganti-ganti sampai napasnya terengah-engah mau putus saking lelahnya.
"Seret ia ke dalam tahanan! Jaga kuat-kuat jangan sampai ia terlepas. Juga jaga jangan sampai ia membunuh diri atau terbunuh sebelum kuperiksa!"
Setelah berkata demikian, Adipati Joyowiseso menggandeng tangan Jokowaneng-pati, menariknya ke dalam sambil berkata.
"Untung ada anakmas yang hadir di sini. Genduk Luhito, kau lihat betapa hebat dan tangkasnya kangmasmu Raden Jokowanengpati merobohkan penjahat itu tadi!"
Akan tetapi Roro Luhito.
seperti orang termenung.
Di dalam hatinya bukan mengagumi sepak terjang Jokowanengpati, melainkan mengagumi sepak terjang Pujo!
Kagum dan juga menyesal mengapa pemuda yang ganteng seperti Arjuno dan gagah perkasa seperti Gatutkoco itu memusuhi ayahnya sehingga tertangkap dan tentu akan dihukum mati!.
Para penjaga sibuk sekali.
Ada yang menyeret tubuh Pujo yang masih pingsan dan lemas itu ke dalam tahanan sambil mengawalnya ketat sekali.
Ada yang sibuk mengurus para mayat dan menolong yang terluka.
Ada yang membersihkan darah dan membereskan tempat yang menjadi rusak oleh bekas-bekas pertempuran.
Ketika Adipati Joyowiseso bersama Roro Luhito dan Jokowanengpati memasuki ruangan dalam, mereka disambut oleh isteri adipati bersama para selir.
Selir yang semalam menyaksikan serbuan Pujo ke dalam kamar dan mukanya pucat sekali, menubruk puterinya, Luhito sambil menangis.
"Cah ayu (anak manis), kau ajak ibumu ke kamar dan beri hiburan. Dia mengalami kaget semalam,"
Kata Adipati Joyowiseso kepada Roro Luhito.
Gadis itu merangkul ibunya dan mengajaknya masuk, tidak peduli atau agaknya tidak melihat betapa Jokowanengpati melirik ke arahnya dengan mata penuh gairah.
Isteri adipati segera memanggil pelayan untuk minta datang dukun pengobatan.
Tak lama kemudian datanglah kakek berambut putih yang berjari cekatan, mencuci dan mengobati luka di pundak Adipati Joyowiseso.
Setelah berganti pakaian, adipati ini mengajak Jokowanengpati duduk di ruangan dalam, menyuguhkan kopi dan penganan.
"Anakmas, saya mendengar tadi anakmas agaknya kenal dengan penjahat itu. Dia itu bernama Pujo, murid Resi Bhargowo. Apakah benar anakmas mengenalnya?"
Jokowanengpati mengangguk.
"Tentu saja saya mengenalnya, paman adipati. Dia adalah murid dan juga mantu paman Resi Bhargowo, sedangkan paman resi adalah adik seperguruan bapa Empu Bharodo."
"Ohhh...?"
Adipati Joyowiseso benar-benar kaget mendengar ini.
"Harap paman adipati bertenang hati. Biarpun masih ada hubungan perguruan, namun hubungan antara saya dan mereka guru dan murid tidaklah dapat dikatakan baik. Apalagi setelah jelas bahwa Pujo berkhianat dan mempunyai niat buruk terhadap paman adipati, betapapun juga saya tidak akan membelanya."
"Bagus! Tentu saja pribadi anakmas mana dapat disamakan dengan segala macam pengecut seperti Pujo dan gurunya? He, pengawal! Tengok si keparat itu, kalau sudah siuman dari pingsannya, seret dia ke ruangan belakang, hendak kuperiksa!"
Si pengawal menyatakan baik, memberi hormat lalu mundur.
"Maaf, paman adipati. Sungguhpun saya sama sekali tidak akan membela Pujo yang melakukan tindak khianat, akan tetapi sebaiknya saya tidak hadir dalam pemeriksaan atas dirinya, tidak hadir secara terang-terangan melainkan saya akan mengintai dari balik jendela saja. Perkenankan saya mundur."
"Ah, saya maklum, anakmas. Baiklah. Urusan ini tidak ada sangkut-pautnya dengan anakmas, dan sekali lagi saya merasa bersyukur dan berterima kasih kepada anakmas."
Jokowanengpati lalu mengundurkan diri pula.
Sebenarnya, pemuda ini merasa gentar juga kalau harus menyaksikan pemeriksaan itu, bukan gentar terhadap orang lain, melainkan terhadap bayangannya sendiri.
Sukar diduga isi hati seorang murid Resi Bhargowo, pikirnya.
Ia masih belum yakin benar apakah Pujo masih belum tahu akan perbuatannya di Guha Siluman, ataukah pura-pura tidak tahu, kemudian akan membuka rahasia ini di depan adipati?
Orang yang melakukan perbuatan jahat tentu selalu akan merasa tertekan dan tidak tenteram hatinya, selalu diganggu bayangan-bayangan sendiri yang bermunculan.
Oleh karena inilah agaknya Jokowanengpati mengajukan alasan itu.
Tak lama kemudian, setelah disiram beberapa ember air dingin, Pujo sadar daripada pingsannya.
Kepalanya masih terasa pening dan pangkal lengannya kaku sakit.
Akan tetapi begitu ia sadar, ia telah diseret-seret kembali dalam keadaan terikat kaki tangannya, dibawa ke ruangan belakang di mana telah menunggu Adipati Joyowiseso, lengkap dengan para pembantunya, para penyiksa dan algojo yang kesemuanya berpakaian dinas.
"Berlutut kau!!"
Empat orang penjaga yang menggusur Pujo, secara kasar memaksa Pujo berlutut di atas lantai menghadap sang adipati yang duduk dengan muka masam.
Pujo tidak melawan mereka, karena dalam keadaan terbelenggu dan terluka, ia maklum bahwa melawanpun tidak ada gunanya.
Maka ia duduk berlutut akan tetapi mukanya diangkat dan pandang matanya menentang adipati itu dengan penuh keberanian dan kemarahan.
Atas sikapnya ini, seorang penjaga menampar kepalanya dari belakang, namun Pujo tidak bergeming, tetap saja mukanya dihadapkan kepada adipati penuh tantangan.
"Heh keparat Pujo! kau sudah tertangkap dan tidak berdaya, masih saja memperlihatkan sikap kepala batu? Apakah kau tidak merasa betapa besar dosamu? Apakah kau tidak menyesal telah membunuh dan melukai banyak pengawal kadipaten?"
Pujo menggerakkan bibir mengejek.
"Huh! Menyesal? Aku hanya menyesal mengapa aku tidak sempat membunuhmu sebagai gantinya anakmu si bedebah Wisangjiwo!"
"Plak-plak-desss...!!"
Kemplangan dan hantaman dari para penjaga di belakangnya membuat Pujo yang kaki tangannya terbelenggu itu jatuh terjerembab ke depan, akan tetapi gentakan-gentakan keras para penjaga mendudukkannya kembali.
"Ha-ha-ha-ha! Pujo, agaknya kau telah menjadi gila! Sebelum kau kujatuhi hukuman yang setimpal dengan kejahatanmu, lebih dulu kau mengakulah apa sebabnya kau melakukan perbuatan semalam dan apa sebabnya kau mencaci-maki puteraku."
"Joyowiseso! Aku hendak menumpas keluargamu untuk menebus dosa si Wisangjiwo.."
"Dosa apa?"
"Tak perlu kau tahu!"
Marahlah sang adipati.
Ia melompat dari kursinya dan meringis karena pundaknya yang terluka terasa nyeri.
Hal ini mengingatkan dia bahwa pundaknya terluka keris, mengingatkan dia betapa semalam hampir saja ia terbunuh oleh Pujo yang kini terbelenggu tak berdaya di depan kakinya.
"JahanamI kau masih sombong, ya? Hendak kulihat apakah kau masih tidak mau mengaku? Hajar dia! Rangket dengan seratus kali cambukan, telanjangi punggungnya kemudian jemur di tengah alun-alun sampai dia mengaku!"
Teriak adipati penuh kemarahan.
Pujo mendengarkan perintah ini dengan mata melotot dan mulut tersenyum mengejek, sedikit-pun tidak memperlihatkan muka gentar.
Tubuhnya lalu diseret ke sudut, diikat pada tiang, punggungnya ditelanjangi dan tak lama kemudian terdengarlah suara cambuk melecut-lecut menghantam punggung, merobek-robek kulit punggung Pujo sampai lumat, membuat darah segar yang keluar menjadi kental dan kering kembali.
Biarpun tubuh Pujo telah terlatih dan ia memiliki kekebalan, namun karena ia terluka, tak dapat ia mengerahkan terus kekuatannya dan akhirnya ia harus menyerah.
Setelah seratus kali cambukan, ia terkulai.
Namun, sedikitpun keluhan tidak pernah keluar dari mulutnya.
"Jahanam, kau masih tidak hendak mengaku?"
Pujo hanya mengedikkan kepala dan memandang adipati sambil melotot dan berkata.
"Kau tidak perlu tahu. Pendeknya, Wisangjiwo akan mampus di tanganku, bersama keluarganya!"
"Ha-ha-ha-ha, sudah hampir mampus masih banyak tingkah!"
Adipati Joyowiseso makin panas hatinya."Seret dia ke alun-alun, jemur dia. Kalau mau mengaku boleh bawa menghadap, kalau tidak mau, sore nanti jalankan hukum perapat kepadanya!"
Pujo hanya tersenyum mengejek dan ia masih melotot kepada adipati ketika tubuhnya kembali diseret keluar untuk dijemur di tengah alun-alun.
Ia tahu apa artinya hukum perapat.
Hukuman mati yang mengerikan.
Diperapat berarti dibagi menjadi empat.
Tubuhnya akan dirobek menjadi empat potong oleh tarikan empat ekor kuda pada kedua kaki dan kedua tangannya, ditarik ke empat jurusan sampai pecah menjadi empat potong!.
Matahari telah tenggelam jauh di barat, namun cahayanya masih membayang dan membentuk senja yang cerah.
Alun-alun Kadipaten Selopenangkep penuh orang, hampir semua laki-laki, tidak tampak wanita dan anak-anak.
Memang, tontonan yang menarik perhatian hampir seluruh penduduk Selopenangkep, bahkan dari dusun-dusun di sekitarnya, adalah tontonan yang mengerikan sehingga anak-anak dilarang orang tuanya menonton dan wanita-wanita takut menyaksikannya.
Bayangkan saja.
Hukum perapat!.
Siapa dapat menahan kengerian melihat tubuh seorang hidup-hidup dirobek menjadi empat?
Darah akan menyembur-nyembur, isi perut akan berantakan, daging merah akan bertelanjang di depan mata!
Ribuan orang telah memenuhi alun-alun, mengelilingi tengah-tengah alun-alun yang menjadi pusat perhatian, dalam jarak seratus meter.
Di tengah-tengah alun-alun itu terdapat sebuah bangunan panggung, tempat yang disediakan khusus bagi keluarga kadipaten untuk menonton setiap pertunjukan yang diadakan di alun-alun.
Kadang-kadang alun-alun ini bias diubah menjadi tempat latihan kuda, tempat adu banteng, mengurung harimau, atau dipakai ujian ketangkasan para perajurit.
Pada senja hari itu, alun-alun diubah menjadi tempat pelaksanaan hukuman bagi Pujo, hukuman perapat!
Tak seorangpun berani menghalangi perintah Adipati Joyowiseso untuk melaksanakan hukuman terberat ini.
Semua orang maklum bahwa memang sepatutnya pemuda pesisir Laut Selatan itu menerima hukuman berat.
Pemuda itu telah menyerang kadipaten, melukai bahkan hampir membunuh sang adipati sendiri, membunuh dan melukai belasan orang pengawal, dan di samping itu berani mengeluarkan kata-kata kasar dan sikap menantang kurang ajar terhadap Adipati Joyowiseso.
Dosanya terlalu besar dan terlalu banyak.
Sejak pagi tadi Pujo dijemur di bawah terik matahari yang menggerogoti kulit.
Hebat penderitaan ini, apalagi bagian punggungnya yang hancur bekas cambukan, amat perih dan nyeri disengat sinar matahari.
Namun, pemuda ini tetap tak pernah mengeluh dan atas pertanyaan-pertanyaan para petugas yang mendesak, ia sama sekali tidak mau menjawab.
Oleh karena ia sama sekali tidak mau mengaku mengapa ia memusuhi Wisangjiwo, maka akhirnya Adipati Joyowiseso tak dapat menahan amarahnya dan menjatuhkan hukuman perapat kepadanya.
Dalam keadaan terikat kaki tangannya, Pujo diseret ke tengah alun-alun, ditelentangkan dan dijadikan tontonan orang seperti orang menonton seekor harimau yang tertangkap.
Empat ekor kuda yang besar-besar telah dipersiapkan.
Inilah empat ekor kuda yang bertugas merobek tubuh Pujo menjadi empat potong!.
Para penduduk Selopenangkep yang memenuhi alun-alun itu semua mempercakapkan Pujo.
Ada yang menyatakan sayang dan iba hati terhadap pemuda tampan itu, apalagi ketika mereka mendengar bahwa pemuda itu putera mantu Resi Bhargowo di Sungapan.
Akan tetapi banyak pula yang mencaci-maki karena menganggap bahwa pemuda ini seorang penjahat besar yang mencoba melakukan pembunuhan terhadap adipati, maka sudah sepatutnya menerima hukuman paling berat.
Ada semacam hukuman yang juga hebat sekali, yaitu hukum picis.
Penjahat yang dijatuhi hukum picis, dibelenggu di alun-alun atau di depan pasar, kemudian orang-orang yang lewat di depannya, diperbolehkan mengerat kulitnya dengan sebuah pisau tajam runcing yang sudah disediakan di tempat itu!.
Kalau dia memang seorang penjahat besar, tentu sudah banyat ia menyakiti hati orang, banyak orang membencinya, maka itulah saatnya bagi orang-orang yang bersakit hati untuk melampiaskan dendamnya.
Tubuh penjahat itu sebentar saja sudah dikerat-kerat kulitnya, berlumur darah.
Bahkan diperbolehkan menggosokkan garam atau asam pada luka-luka di kulit bekas keratan untuk menambah siksaan.
Tak sampai sehari, orang yang dihukum picis akan mati kehabisan darah yang mengalir di sepanjang tubuhnya yang tercacah itu.
Akan tetapi, dibandingkan dengan hukum perapat, hukum picis tidaklah terlalu mengerikan.
Hukum perapat ini benar-benar amat mengerikan.
Menyaksikan betapa tubuh yang utuh itu dirobek tarikan empat ekor kuda yang kuat, benar-benar dapat membuat orang yang menonton menjadi pingsan!.
Kini Adipati Joyowiseso sudah berada di panggung, bersama para pengawalnya.
Semua penonton menjadi kagum sekali menyaksikan betapa Roro Luhito yang cantik dan denok itu ikut pula hadir di samping ayahnya!
Benar-benar seorang gadis yang luar biasa, pikir mereka.
Tentu saja semua penduduk maklum belaka bahwa puteri adipati ini adalah seorang gadis gemblengan, pandai menunggang kuda, memanah dan mainkan keris atau lembing, tidak kalah oleh perwira-perwira biasa saja.
Akan tetapi, melihat gadis itu hadir pula dalam pelaksanaan hukum perapat, benar-benar membuktikan ketabahan hatinya yang luar biasa.
Biarpun wajah gadis itu agak pucat dan ia kelihatan pendiam tidak lincah kenes seperti biasa, namun dia tampak tenang-tenang saja, matanya memandang ke arah tubuh si terhukum yang terlentang di atas tanah, hanya belasan meter jauhnya dari atas panggung.
Dari tempat sedekat itu, tentu akan terdengar suaranya jika tubuh itu tersayat menjadi empat oleh tarikan kuda.
Tentu akan tampak jelas isi perut yang berhamburan, jantung yang masih hidup bergerak berloncatan di atas tanah!
Puteri ini duduk di samping kiri Adipati Joyowiseso, sedangkan di sebelah kanannya duduk seorang pemuda ganteng berpakaian serba hitam, destarnya kehijauan, bibirnya selalu tersenyum dan sikapnya tenang.
Inilah Jokowanengpati dan para penonton memandang kepadanya dengan kagum.
Berita bahwa pemuda perkasa yang menjadi tamu adipati inilah yang merobohkan si penjahat, telah tersiar luas.
Karena angkasa raya masih terang cemerlang oleh sinar senja, Pujo yang terlentang tidak mau membuka matanya karena silau.
Ia meramkan matanya dan berada dalam keadaan samadhi.
ia tidak menyesal akan nasib yang menimpanya, hanya menyesal mengapa belum berhasil membalas dendam.
Teringat akan pengalamannya semalam, ia sadar bahwa ia telah berlaku kurang hati-hati, terlalu menurutkan nafsu dendamnya.
Akan tetapi semua itu telah terjadi, tak perlu disesalkan lagi.
Sekarang baginya hanyalah menanti datangnya hukuman, akan tetapi di dalam hatinya ia mengambil ketetapan untuk tidak menyerah begitu saja.
Akan ia pertahankan nyawanya dengan segala ilmu yang dimilikinya.
Ketika para algojo yang bertubuh tegap-tegap seperti raksasa mengikat lagi kedua tangan dan kedua kakinya dengan sebuah tambang besar yang panjang, barulah Pujo membuka matanya.
Kaki tangannya yang sudah terbelenggu, kaki menjadi satu dan tangan juga menjadi satu, kini diikat lebih kuat dengan tambang baru yang panjang, setiap tangan dan setiap kaki diikat erat-erat.
Pujo tidak mempedulikan ini semua.
Ia maklum bahwa para algojo itu sudah terlatih dan berlaku amat hati-hati.
Sukar mencari kesempatan untuk memberontak atau meloloskan diri.
Kini biji matanya mulai bergerak-gerak.
Melihat para penonton memenuhi sekeliling alun-alun, kulit di antara kedua matanya berkerut sedikit.
Akan tetapi ketika ia memandang ke arah panggung dan melihat Adipati Joyowiseso duduk didampingi gadis remaja yang ikut mengeroyoknya dan Jokowanengpati, matanya menjadi liar dan dadanya terasa panas oleh amarah.
Ia menentang pandang mata adipati itu dengan sinar mata menyala penuh tantangan.
Pandang mata Jokowanengpati yang tidak langsung memandangnya itu tidak ia peduli, juga pandang mata penuh perasaan haru dan kagum dari gadis remaja itupun tak dihiraukan.
Kini keempat buah kaki tangan Pujo sudah diikat erat dengan ujung tambang panjang; Setiap tambang lalu diurai dan dibawa kepada kuda yang sudah menanti.
Empat ekor kuda itu berada di empat penjuru.
Dua ekor di kanan kiri panggung, yang dua ekor lagi menghadap ke arah berlainan, jadi empat ekor kuda itu berdiri membelakangi tubuh Pujo.
Tambang-tambang yang panjang dan yang mengikat keempat buah kaki tangan Pujo, kini diikatkan pada pundak kuda yang sudah dipasangi alat yang khusus untuk pekerjaan ini.
Kemudian empat orang algojo melompat ke atas punggung kuda, dengan cambuk di tangan.
Seorang algojo lain menghampiri Pujo, lalu menggunakan pedang yang amat tajam untuk membikin putus belenggu pertama yang mengikat kaki dan tangan masing-masing menjadi satu.
Kini kaki dan tangan Pujo terpentang, tangan kanan di selatan, kaki kiri di utara, tangan kiri di barat dan kaki kanan di timur.
Hukum perapat yang mengerikan sudah siap dilaksanakan!
Para penonton yang tadi saling bicara sehingga keadaan di situ menjadi berisik seperti suara ribuan lebah diganggu pada saat persiapan dilakukan, kini semua diam tak ada yang mengeluarkan suara sedikitpun, seperti seekor binatang jengkerik terpijak.
Ketegangan memuncak dan semua orang menahan napas.
Keadaan menjadi sunyi sekali dan kesunyian inilah yang membuat suara Adipati Joyowiseso terdengar jelas.
"Heii, si pembunuh laknat Pujo! Kesempatan terakhir kuberikan kepadamu. Kalau kau bersedia mengaku sebab perbuatanmu yang jahat malam tadi, aku masih belum terlambat untuk mengubah hukumanmu!"
"Hah! Joyowiseso, mengapa masih banyak cerewet lagi? Aku gagal membunuhmu, dan sekarang hendak membunuh mati kepadaku, lakukanlah! Seorang satria sejati tidak gentar menghadapi kematian karena kegagalan perjuangannya!"
Kumis sekepal sebelah di bawah hidung adipati itu bangkit berdiri saking marahnya.
"Kau... pengecut besar masih membuka mulut mengaku satria!"
"Ha-ha-ha! Joyowiseso, kau selalu menyebutku pengecut. Tentu karena dahulu aku tidak ikut melawan barisan Mataram maka kau anggap aku pengecut, bukan? Ha-ha-ha, siapakah yang lebih pengecut di antara kita? kau dahulu melawan mati-matian, setelah kalah bertekuk lutut untuk mempertahankan kedudukan. Dan semua orang dapat kau tipu, akan tetapi aku tahu bahwa kau menakluk kepada Mataram hanyalah lahirnya saja, sedangkan batinnya... ha-ha-ha!"
"Cukup! Hayo laksanakan hukumannya!"
Bentak sang adipati sambil bangkit berdiri dengan muka pucat saking marahnya, tangannya memberi tanda kepada empat orang algojo di atas punggung kuda yang memang sejak tadi sudah siap, hanya tinggal menanti tanda yang diberikan sendiri oleh sang adipati.
Penonton yang tadinya menjadi berisik kembali mendengar perbantahan itu, kini diam lagi dan memandang dengan mata terbelalak, bahkan bernapaspun ditahan agaknya.
Ketegangan memuncak dan tanpa diketahui orang lain kecuali Jokowanengpati yang selalu melirik ke arah Roro Luhito, gadis ini agak menggigil tubuhnya dan duduk bersandar kursi lalu meramkan kedua matanya!
"Tar-tar-tar-tar!"
Empat batang cambuk di tangan empat orang algojo itu berdetak di udara bergantian, kendali kuda disendai dan empat ekor kuda itu bergerak maju sambil mengerahkan tenaga.
Terdengar jerit di sana-sini antara para penonton dan banyak yang kurang kuat syarafnya sudah roboh pingsan dengan tubuh lemas!
Sudah terbayang di dalam otak para penonton betapa dalam detik-detik berikutnya, tubuh pemuda ganteng itu akan robek menjadi empat potong.
Tanpa ia sadari, dua titik air mata meloncat keluar dari pelupuk mata Roro Luhito, dan Jokowanengpati yang melihat ini tersenyum sinis.
Tiba-tiba kesunyian yang mencengkam perasaan itu berubah sama sekali.
Keadaan menjadi berisik sekali, bahkan makin lama makin riuh.
Orang-orang berteriak tak tentu maksudnya, ada yang bersorak bahkan ada yang bertepuk tangan, ada pula terdengar suara para penjaga memaki-maki.
Roro Luhito cepat membuka matanya, memandang.
Ia terbelalak memandang ke depan, bahkan kini ia berdiri tanpa ia sadari, kedua tangannya menekan dadanya yang membusung.
Apakah yang ia lihat?
Apakah yang terjadi?
Hebat memang!
Tubuh Pujo yang terlentang di atas tanah itu meregang, matanya separuh terpejam, otot-otot pada lengannya tampak menonjol, bibirnya berkemak-kemik tanpa suara dan...
tubuhnya sama sekali belum robek seperti orang sangka.
Empat ekor kuda itu menarik sekuatnya, keempat kaki mereka bengkok-bengkok ke belakang dan empat orang algojo membunyikan cambuk, menyendal-nyendal kendali.
Namun tubuh Pujo tidak bergeming!
Empat ekor kuda itu seakan-akan berusaha untuk merobek sepotong batu karang yang kokoh kuat!
Ternyata dalam saat terakhir itu, Pujo telah mengerahkan kesaktiannya, mengerahkan tenaga sakti untuk menahan tarikan empat ekor kuda dari empat penjuru.
Berkali-kali empat orang algojo itu menoleh dan mata mereka terbelalak melihat betapa korban mereka sama sekali belum terobek tubuhnya.
Algojo yang menunggang kuda di sebelah timur menjadi penasaran.
Ia mencambuki leher kudanya, menendang-nendang perut kuda sehingga kudanya yang besar itu lalu meringkik marah, mengerahkan tenaga kakinya untuk berlari maju sehingga tambang yang ditariknya dan yang mengikat kaki kanan Pujo itu meregang, makin meregang dan...
"Takk!"
Tambang itu putus, kudanya terjengkal ke depan dan penunggangnya jatuh tunggang-langgang!
Tepuk tangan riuh menyambut peristiwa hebat ini, bahkan mereka yang tadinya benci kepada Pujo, ikut pula bertepuk tangan dan bersorak-sorak.
Tiga ekor kuda lainnya terkejut dan panik oleh sorakan ini, apalagi penunggang merekapun mencambuki dan menendang kaki, mereka itupun meringkik-ringkik, meloncat ke depan dan...
ketiganya terjungkal karena tambang-tambang itu putus dalam waktu yang sama.
Hal ini terjadi bukan hanya karena kekuatan tiga ekor kuda itu, melainkan juga karena Pujo sudah menggerakkan dua tangan dan kaki kirinya sehingga tambang itu tidak kuat bertahan dan menjadi putus!
Makin hebatlah sorak-sorai menggegap-gempita.
Lucunya, Roro Luhito juga ikut bertepuk tangan tanpa ia sadari lagi!
"Luhito, gilakah kau?"
Adipati Joyowiseso membentak dan gadis itu sadar, lalu menundukkan muka dan berkata perlahan.
"Ayah, ia benar-benar hebat!"
"Apanya yang hebat? Haiii, para pengawal keroyok dia, bunuh di tempat!"
Akan tetapi kini Pujo sudah bangkit berdiri karena tambang-tambang yang mengikat kaki tangannya sudah terlepas dari kuda.
Ia tertawa bergelak melihat para pengawal datang dengan senjata terhunus sehingga para pengawal itu menjadi jerih dan ragu-ragu.
Melihat betapa orang hukuman yang amat perkasa itu hendak dikeroyok, para penonton menjadi tegang kembali dan tidak ada suara terdengar.
Maka suara Pujo terdengar jelas.
Baca Juga: Dewi Maut 15
Baca Juga: Petualang Asmara 6