Eps 8 Nurseta Satria Karangtirta - Kho Ping Hoo
Baca online Nurseta Satria Karangtirta - Kho Ping Hoo
Cersil Nurseta Satria Karangtirta - Kho Ping Hoo.
"Kanjeng Rama, Kanjeng Ibu, dan Kanjeng Eyang Puteri. Seperti dulu pernah saya jawab, saya serahkan saja urusan perjodohan kepada paduka bertiga. Akan tetapi saya mohon agar pinangan itu jangan diajukan sekarang. Hendaknya paduka bertiga mengetahui bahwa pada saat ini saya dan juga Puspa Dewi masih mengemban tugas penting menaati perintah Gusti Sinuhun, yaitu mencari dan menemukan kembali Sang Cupu Manik Maya yang hilang dicuri orang. Tugas ini penting sekali karena pusaka itu merupakan pusaka keramat sebagai satu di antara Wahyu Kraton, maka tugas membela negara ini harus lebih diutamakan di atas kepentingan pribadi."
Tiga orang tua itu mengangguk-angguk dan tidak dapat membantah.
Mereka menyetujui permintaan Nurseta untuk menunda pinangan sampai dapat ditemukannya kembali pusaka Cupu Manik Maya.
Di rumah Nyai Tumenggung Jayatanu terdapat adegan yang mirip dengan adegan di rumah keluarga Nyai Senopati Sindukerta.
Puspa Dewi juga dihadapi neneknya, ayah dan ibunya yang menyatakan hal yang sama, yaitu tentang disetujuinya oleh para orang tua perjodohan antara Puspa Dewi dengan Nurseta.
"Maafkan, Kanjeng Rama, bukan saya menolak. Nurseta adalah seorang satria yang gagah perkasa dan baik budi, dan tentang perjodohan, saya serahkan kepada paduka bertiga. Akan tetapi, saya ingin melaksanakan tugas-tugas penting saya lebih dulu. Pertama, menaati perintah Gusti Sinuwun untuk menemukan kembali pusaka Cupu Manik Maya yang hilang dicuri orang. Dan kedua, saya harus lebih dulu bertemu dengan Diajeng Niken Harni. Walaupun saya sudah mendengar bahwa ia ikut Nini Bumigarbo dan menjadi muridnya, namun hati saya belum puas kalau belum dapat bertemu sendiri dengannya. Maka, saya mohon agar hal itu ditunda dulu dan beri saya kesempatan untuk menjajagi apakah hati saya setuju menerima dia sebagai suami saya."
Tiga orang tua itu pun tidak dapat membantah dan mereka tahu bahwa Puspa Dewi masih sangsi apakah antara ia dan Nurseta ada perasaan saling mencinta.
Sehabis gelap terbitlah terang.
Setelah perang usai muncullah tenteram dan damai.
Rakyat seluruhnya, termasuk rakyat yang tadinya menjadi kawula Wengker, Siluman Laut Kidul, Wura-wuri, dan Parang Siluman, kini hidup tenteram damai dan sejahtera.
Semua ini berkat kebijaksanaan para penguasa, yaitu Sang Prabu Erlangga, Ki Patih Narotama dan menurun sampai ke pamong yang paling rendah pangkatnya.
Kebijaksanaan Sang Prabu Erlangga yang dibantu oleh para pamong praja yang dengan sendirinya mencontoh junjungan atau atasan mereka itu bagaikan batang pohon yang subur dan sehat sehingga semua cabang ranting daun kembang dan buahnya juga sehat dan subur.
Rakyat seluruh lapisan, dari yang paling atas sampai yang paling bawah, dapat merasakan keadilan dan kemakmuran hidup mereka.
Tenteram, damai dan sejahtera.
Para penguasa sadar bahwa kekuasaan mereka itu mereka dapat dari rakyat.
Rakyat yang memberi kuasa kepada mereka karena tanpa adanya rakyat, tidak akan ada mereka.
Kekuasaan mereka itu bukan untuk sewenang-wenang mengandalkan kekuasaan, melainkan untuk membimbing rakyat melaksanakan segala macam pembangunan demi kesejahteraan.
Para penguasa bukan sekedar memperhamba rakyat dan ingin dilayani, melainkan juga melayani rakyat jelata.
Bukan mabok kekuasaan dan menumpuk harta berenang dalam kemewahan dan kesenangan duniawi, melainkan menujukan semua perjuangan demi mengangkat kehidupan rakyat yang miskin dan papa menjadi sejahtera, murah sandang pangan papan.
Kalau para penguasa tidak berlumba menumpuk harta dengan cara yang curang dan korup, kalau para penguasa tidak sewenang-wenang mengandalkan kekuasaan mencari benar dan menang, kalau para penguasa benar-benar mencintai dan mementingkan perbaikan nasib rakyat, kalau para penguasa merupakan manusia-manusia yang taat berbakti kepada Sang Hyang Widhi Wasa, Tuhan Yang Maha Kuasa sehingga semua tindakan yang mereka ambil tidak menyimpang dari kebenaran, kalau semua penguasa menyadari betul bahwa mereka merupakan alat-alat Yang Maha Adil untuk melaksanakan tugas "memayu hayuning bhuwana", maka dengan sendirinya, seperti cabang ranting daun bunga; dan buah batang pohon yang sehat menjadi sehat pula, rakyat jelata pasti akan tunduk, taat, setia dan mencinta para pemimpinnya yang memegang kendali pemerintahan.
Pemerintah Kerajaan Kahuripan di bawah pimpinan Sang Prabu Erlangga menjadi contoh pemerintahan yang baik.
Sang Prabu Erlangga bijaksana, baik budi, tidak mementingkan diri atau keluarga sendiri, tidak korup, atau singkatnya bertangan bersih.
Maka, dengan sendirinya Ki Patih Narotama juga tidak berani mengotori tangannya karena tentu akan ditegur dan dihukum oleh rajanya.
Demikian pula kalau tangan Ki Patih Narotama bersih, bawahannya, para senopati juga tidak berani mengotorkan tangan melakukan korupsi dan sebagainya karena pasti akan ditegur dan ditekan oleh atasan mereka, yaitu Ki Patih Narotama.
Demikian seterusnya, para senopati yang bertangan bersih akan membuat bawahannya juga tidak berani mengotori tangan.
Kalau ini terus berlanjut sampai pada pamong praja yang paling rendah kedudukannya, maka pemerintahan itu menjadi bersih, dipegang orang-orang yang bertangan bersih.
Para penguasa yang bertangan bersih, didukung oleh rakyat yang taat dan mencinta pemerintahan yang sungguh-sungguh memperhatikan nasib mereka, sudah pasti akan membuat negara menjadi maju dan apa yang disebut sebagai Negara rakyat yang subur makmur, adil sejahtera itu bukan hal yang tidak mungkin lagi!
Pemerintah yang bersih bijaksana pasti mendatangkan wibawa yang ditaati seluruh rakyat.
Pemerintah yang adil bijaksana pasti ditakuti para manusia yang sesat.
Pemerintah yang adil bijaksana pasti didukung oleh para pemuka agama, para cendekiawan yang jujur bijaksana.
Seluruh rakyat, pria wanita, tua muda, pintar bodoh, kaya miskin, tak terkecuali, menghendaki kehidupan yang tenteram, aman, tak kekurangan sandang pangan papan, penuh damai dan kasih sayang antara sesama.
Tata tentrem kerta raharja!
Kisah ini diakhiri sampai di sini dengan harapan pengarang semoga ada manfaatnya bagi para pembaca.
Sampai jumpa di lain cerita!
TAMAT
http.//kerismegatantra.blogspot.com/2012/10/nurseta-satria-karangtirta.html
Baca Juga: Bu Kek Siansu 5
Baca Juga: Kisah Si Bangau Putih 17