Eps 9 Badai Laut Selatan - Kho Ping Hoo
Baca online Badai Laut Selatan - Kho Ping Hoo
Cersil Badai Laut Selatan - Kho Ping Hoo.
Saking hebatnya pertemuan tenaga sakti itu, tubuh Endang Patibroto yang terapung di udara itu, terlempar sampai empat meter jauhnya dan terbanting di atas tanah di mana gadis itu cepat menggunakan Aji Trenggiling Wesi, bergulingan untuk mematahkan luncuran tubuhnya.
la selamat tidak terbanting, namun pakaian dan rambutnya kotor terkena debu.
Di lain fihak, Joko Wandiro kaget sekali karena pertemuan tenaga itu membuat ia terpelanting dari atas kudanya dan biarpun ia dapat berjungkir-balik sampai tiga kali sehingga dapat turun ke atas tanah dengan kedua kaki lebih dulu, namun ia terhuyung-huyung ke belakang sampai empat meter jauhnya!
Kini keduanya sudah bangkit berdiri, dalam jarak tujuh delapan meter, saling pandang dengan heran dan penasaran.
Endang Patibroto marah sekali.
Marah sampai hampir tak tertahankannya Lagi.
Mukanya mangar-mangar (merah padam), sepasang matanya bercahaya menyilaukan seperti sepasang mata harimau tersorot lampu, bagaikan bernyalanyala menciptakan api unggun yang akan membakar lawannya, memandang kepada Joko Wandiro seakan-akan hendak menelannya bulat-bulat!
Hidung yang kecil mancung itu bergerak-gerak karena cuping hidungnya yang tipis kembang-kempis, napas halus yang keluar masuk agak berdesis.
Bibirnya tersenyum!
Ya, bibir yang manis, merah basah itu tersenyum, akan tetapi senyum yang bagaimana!
senyum maut!
Senyum yang sama sekali bukan menyejukkan hati pemandangnya, melainkan senyum yang membayangkan ancaman maut, yang dingin seperti air wayu, Dagunya agak berlekuk karena ditarik keras dalam kemarahannya, kedua tangannya mengepal tinju.
Endang Patibroto marah sekali.
Apalagi ketika ia mengenal laki-laki yang pernah ia jumpai di dekat Telaga Sarangan, yang pernah ia serang dengan panah tangan namun gagal, laki-laki yang mengawani seorang gadis jelita, agaknya kekasih si gadis jelita yang menjadi korban anak panahnya.
Sekarang, dalam adu tenaga ia sampai dibikin jatuh terguling-guling oleh bocah ini!
Joko Wandiro tadinya terheran-heran, juga kagum dan penasaran ketika mendapat kenyataan bahwa yang penyerangnya demikian dahsyat dan ganas adalah seorang wanita muda yang cantik jelita seperti bidadari.
Akan tetapi kekagumannya segera berubah menjadi kemarahan yang meluap-luap ketika ia mengenal wanita itu.
Inilah dia wanita iblis yang pernah merobohkan Ayu Candra dengan serangan anak panah tangan!
Inilah dia wanita iblis yang selain memanah mati harimau dan melukai Ayu Candra, juga pernah menyerangnya dengan panah tangan, dan kini tiada hujan tiada angin menyerangnya dengan pukulan maut yang demikian dahsyatnya!
"Kau!
Perempuan keji...!"
"Kau! Bocah keparat!"
Keduanya memaki hampir berbareng, disusul gerakan tubuh mereka menerjang maju.
Hebat sekali terjangan kedua orang muda ini dan berbareng mereka berseru kaget karena loncatan mereka itu serupa benar gayanya.
Gaya dari aji meringankan tubuh Bayu Tantra dan ketika mereka berdua menampar ke depan, keduanya secara kebetulan sekali juga menggunakan aji yang sama, yaitu tamparan dengan jari-jari tangan, Aji Pethit Nogo!
Kembali mereka mengadu tenaga dan keduanya terpental ke belakang oleh getaran jari tangan mereka yang mengandung tenaga sakti yang sama kuatnya!.
Karena terkejut dan terheran betapa lawan masing masing memiiiki aji yang sama, sejenak keduanya hanya saling pandang dan saling melotot, seakan-akan hendak melanjutkan pertandingan itu bukan dengan kepalan dan kesaktian lagi, melainkan dengan saling menusuk dan menelan melalui pandang mata!.
Saat ini dipergunakan oleh Pangeran Panjirawit dan adiknya, Puteri Mayagaluh.
Pangeran Panjirawit melompat maju dan rnemegang kedua lengan Endang Patibroto dari belakang, sedangkan Puteri Mayagaluh juga menghampiri Joko Wandiro dan memegang lengannya.
"Joko Wandiro, sabar dulu, dia itu adalah kepala pengawalku, Endang Patibroto!"
Kata Puteri Mayagaluh dengan suara halus dan menarik-narik lengan Joko Wandiro yang ia rasakan amat keras macam baja saja pada saat itu.
"Endang, sabarlah. Dia bukan musuh, dia malah penolong diajeng Mayagaluh. tenangkan hatimu, padamkan kemarahanmu"
Kata Pangeran Panjirawit sambil menarik tangan Endang Patibroto.
"Kau... Endang Patibroto...?"
Joko Wandiro membelalakkan matanya, berseru dengan suara gagap.
Endang Patibroto tersenyum mengejek, dan tiba-tiba dara perkasa ini tertawa.
Suara ketawanya bebas lepas, tak ditutup-tutupinya lagi dan inilah kebiasaan dara murid Dibyo Mamangkoro.
Akan tetapi dasar dara cantik manis, biarpun tertawa secara terlepas seperti itu, tetap saja masih menarik dan menggairahkan.
"Hi-hi-hi-hik! Jadi engkau ini Joko Wandiro bocah bengkring (berpenyakitan) seperti cacing dahulu itu? Hi hi-hik! Kiraku masih berada di Sempu sambil menimang-nimang golek kencanamu!"
Wajah Joko Wandiro menjadi merah sekali.
Pantas saja ketika dahulu di telaga Sarangan menyerangnya dan Ayu Candra, ia merasa kenal baik dengan wanita ini.
Kiranya Endang Patibroto si bocah nakal!
Dan kini tidaklah aneh baginya kalau Endang Patibroto menjadi kepala pengawal Kerajaan Jenggala.
Kiranya gadis ini sekarang telah menjadi seorang yang sakti mandraguna, yang memiliki kedigdayaan yang hebat, yang dahsyat dan yang amat ganas.
Kalau tadi ketika diserang pertama kali ia tidak mempergunakan Bojro Dahono untuk menangkis, tentu sekarang ia telah menjadi mayat!
la diam-diam bergidik.
Mengapa puteri ayah angkatnya kini menjadi seperti ini?
Mengapa sifatnya menjadi ganas dan keji, mudah menurunkan tangan maut kepada orang yang baru saja dijumpainya?
Memang harus ia akui, Endang Patibroto sekarang amat cantik jelita, di dalam keganasannya itu bersembunyi kecantikan dan keluwesan yang aseli, tidak dibuat-buat, kecantikan seekor harimau betina yang kuat dan indah, kegagahan seekor kuda betina liar, dengan tubuh yang lemas tapi kuat, bergoyang-goyang lemas seperti ular sawah kembang.
"Endang, tak kusangka bertemu denganmu di sini. Dan sungguh tak pernah kusangka bahwa engkaulah yang begitu keji menyerangku dengan panah tangan di Telaga Sarangan dahulu"
"Hemm, kau mau apa? Gadis cantik itu tentu telah mampus! Dan kau sakit hati? Hendak membalas? Boleh!"
Endang Patibroto terus saja menantang dan melangkah maju hendak menyerang!
Teringat ia betapa ibu kandung Joko Wandiro telah membunuh ayah kandungnya, dan biarpun ia telah membalas, telah membunuh Listyokumolo untuk membalas kematian ayahnya, namun pemuda ini tentu saja menjadi musuh besarnya Ayahnya sebelum mati berpesan menjodohkan dia dengan bocah ini?
Ah, begitu bertemu untuk pertama kalinya telah bermusuhan, mana bisa menjadi jodoh?
"Ah, Endang Patibroto, bersabarlah engkau.
Orang muda ini sudah menolong dan menyelamatkan diajeng Mayagaluh, bukan musuh kita."
Pangeran Panjirawit menarik lengan Endang Patibroto dan gadis ini betapapun juga tidak berani untuk membantah.
Ia hanya berdiri memandang dengan mata melotot dan menantang.
Mayagaluh lalu menceritakan dengan singkat semua pengalamannya dan betapa Joko Wandiro menolongnya.
Ketika bercerita tentang Pangeran Darmokusumo, Pangeran Panjirawit kelihatan terkejut.
"Wah, kalau begitu kita harus segera pergi dan sini. Sungguh tidak baik kalau sampai aku bertemu dengan kakangmas Pangeran Darmokusumo. Joko Wandiro, aku mengucapkan banyak terima kasih atas semua budi pertolonganmu kepada adikku Puteri Mayagaluh. Kalau kau suka, Joko Wandiro, marilah kau lkut bersama kami ke Jenggala. Kanjeng rama prabu tentu akan suka sekali mendengar tentang jasamu dan kau tentu akan diberi kedudukan tinggi di Jenggala."
Puteri Mayagaluh juga melangkah maju dan berkata sambil tersenyum.
"Betul Apa yang dikatakan kakangmas Panjirawit, Joko. Marilah kau ikut bersama kami ke Jenggala."
Ia menoleh kepada Endang Patibroto yang masih cemberut sambil tersenyum dan berkata.
"Kebetulan sekali agaknya kau sudah mengenal Endang sejak kecil. Pertengkaran sedikit antara kalian lebih baik dilupakan saja dan aku percaya, kalian berdua akan dapat menjadi eh, sahabat-sahabat baik yang baik sekali...!"
Joko Wandiro menundukkan mukanya yang menjadi makin merah, sedangkan Endang Patibroto memandang dengan makin marah. Pemuda itu menggeleng kepala dan berkata dengan hormat.
"Beribu terima kasih hamba haturkan kepada gusti pangeran dan gusti puteri berdua. Akan tetapi hamba mempunyai banyak urusan lain. Kelak masih banyak waktunya hamba menghadap paduka, apabila keadaan mengijinkan."
Melihat keadaan Joko Wandiro, pangeran itu maklum bahwa ia tidak akan mungkin dapat membujuk seorang satria seperti ini, maka ia lalu berkata.
"Kalau begitu, biarlah lain kali kami menanti kunjunganmu ke Jenggala. Mayagaluh, Endang, mari kita berangkat, jangan sampai bertemu dengan orang-orang Panjalu!"
Ketiga orang muda itu meloncat naik ke atas kuda dan tiga ekor kuda itu lari ke arah timur.
Puteri Mayagaluh untuk penghabisan kali melempar kerling dan senyum manis kepada Joko Wandiro, akan tetapi Joko Wandiro yang tadinya tersenyum mesra pula memandang puteri yang pernah dicium pipinya itu, tiba-tiba membuang muka karena melihat Endang Patibroto juga menoleh dan memandang kepadanya dengan pandang mata penuh ejekan!
Setelah bayangan ketiga orang itu lenyap dan derap kaki kuda mereka tak terdengar lagi, barulah Joko Wandiro menaiki kudanya dan menjalankan kudanya ke barat.
Tiada habis heran hatinya mengenangkan Endang Patibroto.
Gadis itu benar-benar hebat sekali kepandaiannya.
Kalau ia ingat akan benturan tangan dua kali tadi, ia yakin bahwa ilmu kesaktian gadis itu jauh tinggi daripada ilmu orang-orang yang pernah menjadi lawannya.
Jauh lebin tinggi dari kepandaian Wirokolo atau Ni Durgogini serta Ni Nogogini digabung menjadi satu!
Kalau mengingat bahwa gadis itu adalah puteri ayah angkatnya, ia girang dengan kehebatan itu.
Akan tetapi kalau teringat akan sifat-sifat ganas dan keji itu, ia mengerutkan kening dan menarik napas panjang berulang-ulang.
Kemudian pemuda ini lalu mempercepat perjalanannya menuju ke Bayuwismo di pantai Laut Selatan, dengan perasaan bercampur aduk.
la merasa girang kalau membayangkan betapa ia akan bertemu dengan ayah angkatnya.
Betapapun juga, ia harus mengakui bahwa sampai sekarangpun ia masih menganggap Pujo sebagai ayah sendiri yang amat dicintainya.
Di antara orang-orang tua di dunia ini, Pujolah orang pertama yang ia cinta dan hormati, baru kemudian gurunya, Ki Patih Narotama, dan kakek gurunya, Resi Bhargowo.
Ayah-bunda kandungnya sendiri tidak begitu dekat dengan hatinya karena semenjak kecil ia tak pernah melihat mereka Lagi.
Akan tetapi kalau teringat bahwa ibu kandungnya tewas dalam usaha mencari Pujo, kegirangan hatinya akan bertemu dengan ayah angkatnya itu menipis terganti rasa khawatir dan tegang.
Atas petunjuk para penduduk yang berdekatan, akhirnya ia sampai juga di Bayuwismo dan melihat sebuah pondok yang menyendiri di tepi pantai itu.
Hatinya berdebar keras ketika ia meloncat turun dari kuda dan penuh selidik ia memandang kepada dua orang wanita yang keluar dari dalam pondok.
Ia segera mengenal dua orang wanita itu, yang seorang adalah Kartikosari ibu kandung Endang Patibroto dan yang kedua adalah bibinya, Roro Luhito adik kandung mendiang ayahnya.
Segera ia menghampiri mereka dan memben hormat dengan wajah berseri.
"Bibi kartikosari dan bibi Roro Luhito, saya Joko Wandiro, kiranya bibi berdua belum lupa kepada saya,"
Kata Joko Wandiro ketika melihat dua orang wanita itu rnemandang kepadanya dengan muka pucat dan mata terbelalak seperti melihat setan, dan disangkanya bahwa dua orang bibinya itu pangling (lupa) kepadanya.
Tiba-tiba Kartikosari membalikkan tubuhnya dan masuk lagi ke dalam pondok tanpa berkata sesuatu, sedangkan Roro Luhito lalu menubruk dan merangkul Joko Wandiro sambil menangis sesenggukan!
Tentu saja hal ini membuat Joko Wandiro terkejut sekali.
Memang hatinya sudah merasa tidak enak dalam perjalanan ke tempat ini dan telah menduga hal-hal yang tidak baik.
Melihat sikap kedua orang wanita ini ia berdebar dan merasa cemas sekali.
"Bibi Roro Luhito... apakah yang terjadi, bibi? Ada apakah? Harap bibi memberi tahu kepada saya..." (Lanjut ke
Jilid 31) Badai Laut Selatan (Seri ke 03 Serial Serial Keris Pusaka Sang Megatantra) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo
Jilid 31
"Aduh, angger Joko Wandiro, anakku...! Semoga Hyang Wisesa mengampuni kita semua, kulup...! Telah terjadi peristiwa yang amat hebat, malapetaka yang mengerikan..."
Tidak syak lagi sekarang hati Joko Wandiro. Sudah tentu perkara kematian ibu kandungnya.
"Bibi, ceritakanlah. Saya dapat menahan segala berita yang bagaimanapun. Ceritakanlah, bibi!"
"Mari, anakku. Mari masuk ke pondok dan kau... kau maafkanlah sikap bibimu Kartikosari. Engkau akan mengerti mengapa dia bersikap seperti itu ketika tiba-tiba melihat kedatanganmu, Joko Wandiro."
"Tidak mengapa, bibi. Saya percaya, bibi Kartikosari adalah seorang yang bijaksana dan tentu sikap beliau tadi ada sebabnya yang hebat. Marilah, bibi."
Mereka memasuki pondok kecii sederhana itu.
Berdegup jantung Joko Wandiro karena ia mengharapkan untuk bertemu dengan Pujo di dalam pondok.
Ia menyapu semua penjuru dengan pandang matanya, namun tidak melihat Pujo di situ.
yang ada hanyalah perabot rumah sederhana dan Kartikosari duduk di atas sebuah balai-balai bambu dengan muka berduka dan kedua pipi basah air mata.
Melihat keadaan Kartikosari ini, Roro Luhito yang tadi rnenggandeng tangan Joko Wandiro segera rnelepaskan tangan itu dan lari mengharnpiri Kartikosari dan merangkulnya.
"Apakah engkau datang untuk membalas dendam kematian ibumu? Kalau begitu, hunus kerismu dan tusuklah dadaku, agar himpas dan lunas hutang-pihutang nyawa ini!"
Kata Kartikosari kepada Joko Wandiro, suaranya gemetar akan tetapi sikapnya tenang.
Joko Wandiro terkejut sekali.
Tidak disangkanya akan disambut dengan ucapan seperti itu oleh Kartikosari.
Apakah ibu kandungnya tewas di tangan bibinya ini?
Ah, tidak mungkin!
Ia cukup mengenal ayah angkatnya, dan ia mendengar dari ayah angkatnya bahwa bibi Kartikosari ini dahulu adalah adik seperguruan ayah angkatnya.
Ayah angkatnya adalah seorang satria sejati, memiliki iimu-ilmu kesaktian yang bersih, warisan Sang Resi Bhargowo.
Sedangkan yang membunuh ibu kandungnya tentulah yang melukai Ki Adibroto pula, dan melihat luka itu, jelas membayangkan bahwa pemukulnya adalah seorang yang amat ganas dan memiliki ilmu yang jahat dan keji.
"Bibi Kartikosari, mengapa bibi berkata seperti itu? Sesungguhnyalah bahwa secara kebetulan sekali saya bertemu dengan paman Adibroto dan mendengar bahwa ibu kandung saya yang tak pernah saya jumpai itu telah meninggal dunia, tewas di tangan musuh yang juga melukai paman Adibroto sampai tewas Akan tetapi saya tidak tahu siapa pembunuhnya dan kedatangan saya ke Bayuwismo ini sekali-kali bukan untuk urusan itu, melainkan karena sudah rindu kepada bibi berdua, terutama sekali kepada... ayahanda Pujo. Di manakah beliau? Dan Apa yang sudah terjadi di sini, bibi?"
Tiba-tiba Kartikosari bangkit berdiri, wajahnya pucat sekali.
"Kau tanyakan kakangmas Pujo..? Ayahmu itu kakangmas Pujo... dia... dia telah tewas... dan anak... anakku keparat dia... oohhhh..."
Kartikosari tak dapat melanjutkan kata-katanya dan ia menjatuhkan diri di atas balai bambu sambil menangis tersedu-sedu.
Roro Luhito memeluknya dan juga menangis sesenggukan.
Joko Wandiro memandang dengan muka pucat.
Ayahnya, Pujo, telah tewas?
Oleh siapa?
Mengapa?
Oleh ibunya dan Ki Adibroto?
Kemudian mereka berdua itupun tewas dalam pertandingan ini?
Melihat betapa dua orang wanita itu menangis penuh kesedihan, dia tidak berani mengganggu dan segera ia menjatuhkan diri duduk di atas bangku sambil menunjang dagu dan mengatur napas menenteramkan hatinya.
Melihat betapa Kartikosari tenggelam ke dalam kedukaan yang hebat, Roro Luhito lalu bangun dan duduk menyusuti air matanya.
Dia maklum betapa hancur hati Kartikosari, tidak hanya karena kehilangan suami tercinta, melainkan juga kehilangan puteri yang amat diharap-harapkan.
Memang betul Endang Patibroto masih hidup, akan tetapi bahkan lebih hebat daripada mati bagi seorang ibu kandung yang melihat puterinya menyeleweng jauh sekali daripada kebenaran!
Di samping ini, Roro Luhito kasihan melihat Joko Wandiro yang tentu saja menjadi bimbang dan bingung serta amat mengharapkan penjelasan.
"Anakku Joko Wandiro, kau dengarlah baik-baik Apa yang akan kuceritakan kepadamu dan bersiaplah engkau menerima pukulan batin ini. Aku percaya, sebagai seorang satria murid Ki Patih Narotama yang sakti mandraguna dan arif bijaksana, dan sebagai seorang yang telah dewasa, engkau tentu akan dapat menerima semua peristiwa yang terjadi ini sebagai sesuatu yang sudah dikehendaki Hyang Maha Wisesa dan bahwa semuanya itu memang sudah semestinya terjadi maka tak seorangpun manusia mampu merubahnya,"
Kata Roro Luhito yang mulai dapat menekan perasaannya sehingga suaranya makin jelas dan tenang.
"Bicaralah, bibi, Biarpun belum tahu jelas, kiranya saya sudah dapat banyak menduganya."
"Aku akan mulai dari permulaan, anakku. Terjadinya kira-kira dua puluh tahun yang lalu, karena sesungguhnya mulai saat itulah terjadinya awal segala peristiwa ini yang kuharapkan sudah berakhir sampai sekian saja. Ketika itu, ayahmu atau gurumu Pujo bersama bibimu Kartikosari masih pengantin baru. Mereka berdua pergi bertapa ke dalam Guha Siluman. Tidak lama kemudian datanglah kakakku, mendiang ayah kandungmu sendiri Raden Wisangjiwo. Aku berterus terang saja, anakku, biar dia kakak kandungku, biar dia itu ayah kandungmu, dia pada masa itu adalah seorang bangsawan muda yang menjadi hamba nafsunya. Dia bersikap kurang baik terhadap bibimu Kartikosari sehingga terjadi pertempuran. Kakangmas Pujo pingsan dan ketika ia sadar, ia melihat betapa bibimu Kartikosari dalam keadaan terluka dan tak berdaya telah diperkosa orang, Keadaan dalam guha itu gelap-gulita dan karena tadinya yang menyerang mereka adalah Raden Wisangjiwo, tidak aneh kalau kakangmas Pujo dan bibimu Kartikosari merasa yakin bahwa Raden Wisangjiwolah orang yang melakukan perbuatan keji itu."
Joko Wandiro menggigit bibirnya.
Dahulu pernah ia mendengar tentang permusuhan itu dan ia amat menyesal sekali.
Akan tetapi ia tidak mau mengganggu cerita bibinya karena ia maklum bahwa kalau ia membuka mulut tentu suaranya akan gemetar.
"Memang menyesalkan sekali, anakku, akan tetapi itu kenyataan. Nah, semenjak saat itulah kakangmas Pujo berpisah dari bibimu Kartikosari. Kakangmas Pujo yang merasa dihancurkan kebahagiaannya oleh ayah kandungmu, menyerbu ke Kadipaten Selopenangkep. Di sana dia tidak menemukan Raden Wisangjiwo, maka untuk membalas sakit hatinya, ia... menculik ibu kandungmu, mbok ayu Listyokumolo dan engkau sendiri yang pada waktu itu baru berusia satu tahun."
Joko Wandiro menundukkan mukanya untuk menyembunyikan mukanya yang menjadi merah dan terasa panas.
Ia juga amat menyesalkan perbuatan ayah angkatnya yang terburu nafsu dan sembrono ini, Akan tetapi tepat seperti dikatakan bibinya tadi, segala sudah terjadi dan ia juga mempunyai keyakinan bahwa segala hal yang sudah, sedang, atau akan terjadi kesemuanya sudah diatur oleh Hyang Maha Wisesa, sedangkan manusia hanyalah menjadi pelaku-pelakunya belaka.
"Kemudian engkau tahu betapa engkau diaku anak oleh kakangmas Pujo dan engkaupun sudah mendengar betapa setelah kakangmas Pujo dan mbok ayu Kartikosari tahu bahwa musuh besar mereka sesungguhnya bukan Raden Wisangjiwo melainkan Jokowanengpati si manusia biadab, dari musuh mereka menjadi sahabat. Dan engkaupun tahu betapa ayah kandungmu, biarpun dahulunya pernah melakukan penyelewengan, namun di saat terakhir telah menjadi seorang pahlawan dan tewas dalam medan yuda sebagai seorang pahlawan pula. Akan tetapi ibu kandungmu..."
Sampai di sini Roro Luhito berhenti dan menarik napas panjang dan dua titik air mata meloncat ke atas kedua pipinya yang pucat.
"Teruskanlah, bibi. Saya siap mendengar hal yang seburuk-buruknya,"
Kata Joko Wandiro tenang.
"Ibumu, mbok ayu Listyokumolo setelah kehilangan kau yang dilarikan oleh kakangmas Pujo, dia... dia menjadi berubah ingatan, kulup. Kasihan sekali. Ayahmu yang pada waktu itu belum sadar daripada penyelewengannya, melihat ibumu seperti orang gila, lalu mengantarnya kembali ke dusun Selogiri di lereng Lawu. Akan tetapi, agaknya memang ibu kandungmu harus banyak menderita di waktu hidupnya. Belum lama tinggal di rumah kakekmu yang menjadi lurah di dusun itu, desa Selogiri menjadi korban serbuan perampok-perampok. Eyangmu dan seluruh keluarganya tewas, ibu kandungmu menjadi tawanan perampok! Dan semenjak itulah kami tidak pernah mendengar apa-apa lagi dari ibumu. Ayahmu setelah insyaf akan kesalahannya, telah bersusah payah, dibantu oleh kami semua dan pasukan-pasukan, berusaha mencari ibumu, akan tetapi sia-sia."
Hemm, setelah itu tentu telah ditolong oleh paman Adibroto, pikir Joko Wandiro, Kemudian setelah ditolong lalu menjadi isteri paman Adibroto dan melahirkan seorang anak, Ayu Candra!
Berpikir sampai di sini, jantung Joko Wandiro serasa ditusuk-tusuk, akan tetapi mulutnya tidak mengucapkan sepatahpun kata.
"Siapa dapat menduga, beberapa hari yang lalu..."
"Ibu datang ke sini bersama paman Adibroto?"
Tidak tertahankan lagi Joko Wandiro menyambung karena bibinya agak meragu.
"Benar, anakku. Ibumu tidak melupakan dendamnya kepada kakangmas Pujo yang sama sekali tidak menyangkanyangka dan hidup aman tenteram bersama kami berdua di sini. Ibumu dapat bertemu berdua saja dengan kakangmas Pujo dan kakangmas Pujo... yang selalu merasa berduka dan malu atas semua perbuatannya terhadap ibumu dahulu, mengakui dosanya dan rela menebus dosa, rela dijatuhi hukuman oleh ibumu. Kakangmas Pujo tidak melawan ketika ditusuk keris, sengaja menerima kematian di tangan ibumu agar dosanya tercuci oleh darahnya sendiri..."
Roro Luhito terisak dan Kartikosari yang tadinya sudah agak reda tangisnya, kini tersedu kembali.
Joko Wandiro mengepal tinjunya.
Ingin ia menjerit-jerit.
Ingin ia menangis, menangisi keduanya, menangisi Pujo dan Listyokumolo.
Bangga ia mendengar akan sikap Pujo yang ternyata seorang satria utama, seorang jantan sejati.
Sedih ia mengingat akan nasib ibu kandungnya, dan dia tidak dapat menyalahkan ibu kandungnya yang tentu saja merasa dirusak kebahagiaan hidupnya oleh Pujo.
Ingin sekali ia mendesak bibinya agar bercerita terus, akan tetapi kerongkongannya serasa tercekik.
"Kakangmas Pujo... dia melarang kami menuntut balas... dia menyatakan rela dan senang mati di tangan ibumu untuk menebus dosa..."
"Aduh ayahku...! Ayah dan guruku...!"
Joko Wandiro bangga sekali dan hampir ia tidak kuat menahan air matanya yang sudah membuat pandang matanya berkaca-kaca.
"Kemudian, secara tak terduga-duga muncullah Endang Patibroto!"
Joko Wandiro terkejut dan mendongakkan muka, memandang bibinya dengan mata terbelalak penuh pertanyaan.
"Sungguh berbahagia sekali kakangmas Pujo ketika melihat puterinya. Baru sekali itu ia memandang wajah anak kandungnya, baru sekali itu, di ambang kematiannya, ia bertemu muka dengan puterinya. Hatinya puas sekali dan merasa betapa mendapat anugerah Dewata. Pertama, sudah dapat menebus dosa di tangan ibumu sendiri, ke dua, sebelum mati dapat bertemu anaknya. Sekali lagi kakangmas Pujo meninggalkan pesan agar jangan membalas kepada ibu kandungmu, bahkan berpesan bahwa untuk menghapus permusuhan itu, Endang Patibroto dijodohkan dengan... engkau, anakku Joko Wandiro!"
Pemuda itu merasa seakan-akan dadanya hendak meledak, jantungnya berdebar-debar keras sekali.
Ia merasa makin bangga kepada Pujo!
Bukan main ayahnya, juga gurunya itu, seorang manusia bijaksana, seorang satria sejati.
"Jadi ayah... Pujo tidak membalas kepada... ibuku?"
"Tidak. Dia meninggal dunia sambil tersenyum bahagia."
"Dan bibi berdua, juga tidak membalas kepada ibuku...?"
Roro Luhito menggelengkan kepala.
"Betapapun sakit dan sedih hati bibimu Kartikosari, namun dia juga seorang berdarah satria utama, dan mematuhi pesan suaminya."
"Kalau begitu, mengapa ibuku...?"
Tiba-tiba Kartikosari melompat turun dan dengan muka pucat, rambut awut-awutan ia menjerit.
"Anakku yang membunuhnya! Anakku Endang Patibroto, yang kukandung sembilan bulan, yang kubela dengan taruhan nyawa... dia yang membunuh ibumu! Dan dia pula yang membunuh Ki Adibroto. Ya, anakku! Anak kandungku! Dia yang membunuh ibu kandungmu, Joko Wandiro. Maka itu, kalau kau hendak menuntut balas, jangan ragu-ragu, ini ibunya yang bertanggung jawab. kau cabutlah senjatamu dan kau bunuhlah aku... aku... takkan melawan... kau sempurnakan aku... biar aku...aku ikut suamiku..."
Terdengar jerit melengking mengerikan dan tubuh Joko Wandiro sudah mencelat keluar dari pondok itu.
"Joko...!"
Roro Luhito menjerit dan mengejar keluar, juga Kartikosari berlari keluar.
Di depan pintu pondok mereka berhenti dan memandang ke depan dengan muka pucat.
Mereka melihat betapa Joko Wandiro sambil mengeluarkan suara menggereng-gereng seperti seekor harimau, mengamuk dan kalang kabut menghantami batu-batu karang di pinggir laut!
Batu karang pecah berhamburan dan terdengar pemuda itu menggereng-gereng di antara isak-tangisnya, terus menghantami batu karang seperti orang gila.
"Joko Wandiro... anakku...! kau ingatlah, nak... ingatlah...!"
Roro Luhito lalu berlari-lari dan menubruk kaki keponakannya, juga Kartikosari rnenghampiri dengan bercucuran air mata.
Kini Joko Wandiro telah dapat menguasai iblis yang mengamuk di dalam kepala dan dadanya.
Ia berdiri dengan kedua kaki tepentang, kedua tangan berlepotan darah karena dalam kemarahannya tadi ia tidak mengerahkan aji kesaktiannya sehingga kulit tangannya tidak kebal dan kini hancur oleh batu karang.
Kedua lengan yang tangannya berdarah itu kini tergantung di kanan kiri tubuhnya, darahnya menetes-netes seperti air mata yang juga menetes-netes dari kedua matanya.
"Anakku... ah, anakku Joko Wandiro... jangan salah mengerti, nak. Bibimu... Kartikosari mengeluarkan kata-kata itu saking remuk perasaan hatinya oleh kelakuan anaknya. kau tidak tahu, setelah Endang Patibroto membunuh Listyokumolo dan melukai Ki Adibroto tanpa dapat kami cegah karena gerakannya yang amat dahsyat, kemudian bibimu Kartikosari mendengar bahwa Endang menjadi kepala pengawal Jenggala. Bibimu marah dan berusaha menginsyafkan puterinya, akan tetapi sia-sia. Bahkan bibimu sudah menyerang hendak membunuhnya, akan tetapi juga tidak berdaya rnenghadapi kesaktian Endang Patibroto yang amat hebat."
Kini Joko Wandiro sudah dapat menekan perasaannya dan ketenangannya pulih kembali.
"Saya tidak menaruh dendam kepada bibi Kartikosari, bahkan saya merasa amat terharu dan kasihan., Bibi Kartikosari, maafkan saya, percayalah, saya tidak mempunyai permusuhari apa-apa dengan bibi..."
"Joko Wandiro... kau dianggap putera sendiri oleh kakangmas Pujo dan memang... memang kau patut menjadi puteranya. Ahh, anakku...!"
Kartikosari merangkul dan mereka berpelukan.
"Saya juga tahu akan kesaktian Endang Patibroto, karena sudah dua kali dia menyerang saya, bahkan dia hampir saja membunuh Ayu Candra."
"Ayu Candra? Siapakah dia?"
Tanya Kartikosari makin sedih mendengar akan penyelewengan puterinya.
"Dia itu... adik tiriku, puteri ibuku dengan paman Adibroto."
Joko Wandiro lalu menceritakan tentang pertemuannya dengan Ki Adibroto dan Ayu Candra di dekat Telaga Sarangan, tentang pesan terakhir Ki Adibroto yang melarang anaknya mencari pembunuh ayah-bundanya, kemudian tentang lenyapnya Ayu Candra.
"Ah... kakangmas Pujo... agaknya akan sia-sia semua kehendakmu agar permusuhan itu disudahi dengan pengorbanan darah dan nyawamu... bukan saja anak kandung kita sendiri sudah melanggarnya, juga... juga masih ada ekornya lagi, anak Adibroto dan Listyokumolo..."
Kartikosari mengeluh dan menjadi berduka sekali.
Suaminya telah mengorbankan nyawa, rela ditusuk sampai tewas oleh Listyokumolo untuk menebus dosa, bahkan melarangnya membalas malah menjodohkan Endang Patibroto dengan Joko Wandiro putera Listyokumolo dalam usaha terakhir menyudahi permusuhan itu.
Akan tetapi usaha yang amat mulia dari suaminya itu hancur berantakan, tidak saja oleh anak mereka sendiri, juga kini tentu saja Ayu Candra hendak menuntut balas pula.
Dendam permusuhan yang tiada akan habisnya.
"Bibi harap suka tenangkan hati. Saya yang tanggung bahwa Ayu Candra adik saya itu tidak akan melanjutkan permusuhan, tidak akan mencari balas dendam.."
Kartikosari terharu dan memegang lengan Joko Wandiro.
"Anakku... Joko Wandiro, engkau patut menjadi putera dan murid kakangmas Pujo. Engkau... engkau seperti dia, anakku! Terima kasih, Joko Wandiro. Engkau sebagai putera kandung Listyokumolo yang terbunuh oleh Endang Patibroto... engkau tidak menaruh dendam juga engkau hendak... mencegah adikmu Ayu Candra menuntut balas."
"Sudah semestinya begitu, bibi. Tidak mungkin saya dapat membiarkan adik saya menjadi korban nafsu dendam dan permusuhan yang tiada berkeputusan ini."
"Aku percaya engkau akan bisa membujuk adikmu. Sebagai puteri Ki Adibroto aku percaya Ayu Candra dapat mengerti, akan tetapi... ah, kalau aku ingat akan anakku Endang Patibroto? Dia sukar dikendalikan, memiliki kepandaian seperti iblis betina. Dia telah menjadi murid Dibyo Mamangkoro, dan tidak hanya mewarisi kedigdayaan raksasa yang mengerikan itu, malah juga celaka sekali, agaknya mewarisi wataknya yang seperti iblis."
Joko Wandiro menggigit bibir Ia masih gemas kalau teringat akan Endang Patibroto.
Gadis itu telah banyak melakukan perbuatan keji.
Hampir saja membunuh Ayu Candra tanpa sebab, juga menyerangnya dengan keji tanpa sebab.
Kemudian, gadis itu malah telah membunuh ibu kandungnya dan Ki Adibroto, sungguhpun telah mendengar pesan terakhir ayahnya.
Lebih hebat lagi, Endang Patibroto malah menyakiti hati ibunya, membantah dan melawan!
"Bibi, mengingat akan budi ayah Pujo yang berlimpah-limpah kepada diri saya, saya berjanji akan pergi mencari Endang Patibroto dan akan membujuknya agar supaya ia insyaf kembali daripada kesesatannya dan suka kembali kepada bibi di sini."
"Aduh, anakku! Engkau menumpuk-numpuk budi sehingga membuat aku merasa malu sekali. Kakangmas Pujo... kiranya membekas juga semua jasa dalam hidupmu...! Joko Wandiro, kau tadi mengatakan bahwa sudah dua kali kau bentrok dengan Endang, sudah kau ketahui sendiri kedigdayaannya yang seperti iblis. Bagaimana kalau ia tidak mendengar bujukanmu, bahkan menggunakan kekerasan? Aduh... alangkah akan baiknya kalau Endang tidak berubah seperti itu dan... dan dapat terlaksana pesan kakangmas Pujo tentang perjodohannya dengan kau...!!"
"Saya berjanji akan mengajak Endang kembali kepadamu, bibi. Tidak perduli dia mau atau tidak, kalau perlu saya akan memaksanya dengan kekerasan!"
"Ah, Joko. Mudah-mudahan saja kau akan berhasil. Aku khawatir sekali, terutama jika aku ingat akan adikmu itu. Usahakanlah agar dia jangan memperhebat lagi permusuhan yang sudah diusahakan pemadamannya oleh ayahmu Pujo."
"Kalau saya pikir-pikir, sungguh menggemaskan orang biadab yang mempergunakan nama Raden Wisangjiwo sehingga tertanam bibit permusuhan sehebat itu. Bibi Kartikosari, siapakah sesungguhnya orang itu?"
Kartikosari tersenyum di antara air matanya.
"Iblis itu sudah mampus, Joko! Mampus di tangan bibimu berdua ini. Jokowanengpati telah mati dan mayatnya dikubur dalam perut ikan!"
Kemudian dengan penuh nafsu amarah Kartikosari menceritakan betapa dia dan Roro Luhito memaksa Jokowanengpati terjun ke laut sehingga musuh besar itu disambar ikan dan diseretnya ke dalam lautan.
Joko Wandiro menarik napas panjang.
Ngeri juga hatinya mendengar nasib orang jahat itu, akan tetapi ia maklum bahwa segala perbuatan jahat biarpun lambat akan tetapi sudah pasti akan menyeret pembuatnya ke dalam lembah kesengsaraan dan malapetaka.
"Kiranya cukuplah, bibi berdua. Saya pamit mundur, karena saya sendiripun berkhawatir akan keselamatan adik saya, Ayu Candra yang belum saya ketahui ke mana perginya. Harap bibi berdua menanti di sini, saya pasti akan datang lagi dan mudah-mudahan dapat bersama Endang."
"Tidak di sini, Joko Kami akan pergi dar i tempat ini."
Ucapan Kartikosari ini tidak hanya mengagetkan Joko Wandiro, juga Roro Luhito terkejut dan terheran.
"Kita hendak pergi ke manakah?"
Tanyanya sambil memegang tangan Kartikosari.
"Adikku Roro Luhito. Setelah kini kita ketahui bahwa di sana masih ada Ayu Candra yang mungkin akan menuntut balas, lebih baik kita pergi menyembunyikan diri. Siapa tahu sebelum dapat ditemukan Joko Wandiro, dia akan lebih dulu datang ke sini mencari kita. Sesungguhnya aku tidak akan mundur dan rela menyerahkan nyawaku kepada anak Listyokumolo yang terbunuh oleh anakku, akan tetapi kita harus mengingat akan nasib... anak-anak kita dalam kandungan ini. Setelah jabang bayi terlahir, barulah aku siap menerima pembalasan. Karena ini, aku mengambil keputusan untuk bersembunyi ke Pulau Sempu di mana dahulu ayahku bertapa."
Roro Luhito menundukkan muka dengan terharu. Ucapan ini mengingatkan kepadanya bahwa anak yang ia kandungpun telah yatim, tiada berayah lagi.
"Aku menurut segala keputusanmu."
Joko Wandiro mengangguk-angguk. Diam-diam ia terharu juga ketika mendengar bahwa kedua wanita yang di tinggal mati ayah angkatnya ini dalam keadaan mengandung.
"Baiklah, bibi berdua. Saya kelak akan menyusul ke Pulau Sempu."
Setelah bermohon diri, Joko Wandiro lalu meninggalkan Bayuwismo, menunggang kudanya, pemberian Pangeran Darmokusumo, Pangeran Panjalu yang haik hati itu.
Sementara itu, beberapa hari kemudian setelah menaburkan bunga di laut sebagai pernyataan selamat tinggal kepada suami mereka, Kartikosari dan Roro Luhito juga meninggalkan Bayuwismo yang menjadi sunyi dan menyedihkan.
Berpekan-pekan Joko Wandiro menjelajah gunung-gunung dan pantai Laut Selatan untuk mencari jejak adiknya, Ayu Candra.
Namun hasilnya sia-sia belaka sehingga hatinya menjadi gelisah sekali.
Kemudian ia berpikir bahwa mungkin sekali adiknya itu oleh Ki Jatoko yang mencurigakan itu dibawa ke Bayuwismo.
Siapa tahu kalau-kaiau Ayu Candra berusaha membalas dendam sendiri dan minta diantar Ki Jatoko.
Maka ia lalu kembali ke Bayuwismo dan alangkah terkejut hatinya ketika ia mendengar dari penduduk dusun yang berdekatan bahwa memang beberapa hari setelah Kartikosari dan Roro Luhito pergi meninggalkan pantai itu, ada seorang dara cantik bersama pamannya yang kedua kakinya bunting bertanya-tanya kepada penduduk di situ ke mana perginya penghuni Bayuwismo!
Tentu saja tidak ada seorangpun penduduk yang dapat memberi tahu dan kedua orang itu lalu pergi lagi dari situ.
Kejadian ini sudah terjadi tiga pekan yang lalu.
Aduh, untung bahwa bibi Kartikosari dan bibi Roro Luhito telah pergi.
Kalau masih berada di sana, tentu akan terjadi hal yang amat mengerikan.
Ia maklum bahwa Ayu Candra sama sekali bukanlah lawan Kartikosari dan Roro Luhito yang sakti, akan tetapi karena ayah-bundanya terbunuh, tentu saja gadis itu menjadi nekat, sedangkan Kartikosari yang berwatak gagah itu tentu akan rela memberikan nyawanya seperti yang diperbuat oleh Pujo!
Alangkah akan mengerikan kalau gadis itu, adiknya, bekas kekasihnya, melakukan pembunuhan seperti itu.
Karena Ayu Candra dan Ki Jatoko pernah datang ke dusun itu, biarpun telah lewat tiga pekan, namun setidaknya Joko Wandiro mulai mendapatkan jejak mereka.
Menurut para penduduk yang melihatnya, dua orang itu pergi menuju ke utara.
Dia mengikuti jejak mereka dan tibalah Joko Wandiro di Selopenangkep yang kini telah mempunyai seorang adipati baru, seorang ponggawa Kerajaan Panjalu.
Di tempat ini ia mendapat keterangan pula bahwa memang dua orang itu pernah berada di Selopenangkep, akan tetapi kemudian pergi lagi menuju ke utara.
Joko Wandiro mengikuti terus jejak ini dan selanjutnya dengan hati girang ia mendapat kenyataan bahwa tidaklah sukar mengikuti jejak kedua orang itu walaupun sudah lewat belasan hari.
Hal ini tidaklah aneh karena memang kedua orang itu menarik perhatian serta mudah diingat.
yang seorang adalah gadis cantik jelita yang sukar dicari bandingannya.
yang ke dua adalah seorang laki-laki bermuka buruk menjijikkan dan buntung kedua kakinya.
Tentu saja"pasangan"
Seperti ini tidak mudah terlupa orang.
Akhirnya, Joko Wandiro mengikuti jejak kedua orang itu menuju ke timur.
Hatinya berdebar dan tidak enak.
Pulau Sempu letaknya di pantai Laut Selatan sebelah timur dan kini jejak kedua orang itu terus saja ke timur.
Apakah dua orang itu telah dapat menduga ke mana perginya Kartikosari dan Roro Luhito?
Ah, tidak mungkin!
yang tahu akan hal ini hanyalah mereka bertiga.
Kalau begitu, ke manakah tujuan Ayu Candra?
Mengapa terus ke timur bahkan sama sekali tidak kembali ke Sarangan?
Makin cepat ia mengejar, jarak di antara mereka makin dekat akan tetapi jejak itu juga makin dekat dengan Pulau Sempu!
Ia hampir dapat menyusul mereka ketika tiba di kaki Pegunungan Anjasmoro.
Dari seorang petani ia mendapat keterangan bahwa baru beberapa jam yang lalu petani itu melihat seorang buntung yang mengiringkan seorang gadis jelita lewat di dekat sawahnya.
"Bagaimana keadaan gadis itu, paman?"
Tanya Joko Wandiro setelah minum dari air kendi yang ditawarkan si petani dengan ramah.
Petani itu memandang dengan mata penuh selidik.
Ia melihat wajah, kemudian melihat pakaian Joko Wandiro, dan bertanya.
"Apakah andika ini seorang perajurit? Kalau seorang perajurit dari Jenggala ataukah dari Panjalu?"
Joko Wandiro cepat menggeleng kepala menyangkal.
"Bukan perajurit bukan bangsawan, aku seorang pengelana biasa saja, paman."
"Syukur kalau begitu. Biasanya kalau perajurit, apalagi dari Jenggala, tentu akan terjadi hal yang tidak sedap dipandang kalau bertemu dengan gadis jelita seperti yang lewat tadi. Hemm, engkau bertanya tentang gadis itu, apakah keperluannya, orang muda?"
"paman jangan menaruh curiga. Gadis itu adalah adik saya, dan orang buntung itu adalah paman saya. Saya memang mencari mereka, paman."
"Oooo, begitukah? Gadis itu tampak sehat-sehat saja, agaknya tidak lelah biarpun melakukan perjalanan jauh. Sungguh cantik jelita dan trengginas (tangkas), juga pemberani, buktinya berani melakukan perjalanan hanya dikawal seorang paman yang lumpuh."
Lega hati Joko Wandiro mendengar ini.
Ia lalu berpamit dan cepat-cepat ia melakukan pengejaran ke arah lereng Gunung Anjasmoro.
Karena Joko Wandiro melakukan pengejaran sambil mengerahkan Aji Bayu Sakti, maka menjelang senja, ia dapat menyusul.
Alangkah girang hatinya ketika mendapat kenyataan bahwa dua orang yang bercakap-cakap di dalam hutan sambil mengaso di bawah pohon itu adalah Ayu Candra dan Ki Jatoko si buntung!
Sambil bersembunyi Joko Wandiro mengintai.
Hatinya berdebar-debar girang ketika melihat betapa keterangan paman tani tadi betul.
Ayu Candra kelihatan sehat, hanya pada wajahnya terbayang sinar kedukaan yang membuat sinar mata yang biasanya bening berseri-seri itu kini suram, senyumnya yang biasa selalu menghias bibir menambah cerah sinar matahari kini lenyap.
Namun dalam kedukaan, bekas kekasihnya itu masih cantik jelita, masih menarik dan masih membuat jantung Joko Wandiro berdegupan keras.
Dia adik saya, ia menekan jantungnya, dia adik saya, adik sekandung, adik seibu!
Sambil menekankan kenyataan ini di hatinya, Joko Wandiro memandang Ki Jatoko dan ia merasa heran melihat betapa Ki Jatoko kini tidak kelihatan sebagai orang buntung yang lemah.
Bahkan hebatnya, kakek buntung itu yang duduk di atas tanah kini menghadapi beberapa ekor ular yang berkelojotan di depannya sambil tertawa-tawa!
"Paman Jatoko, di sepanjang jalan kau membunuhi ular-ular berbisa dan mengambil racunnya untuk meracuni jarum-jarum itu, apakah masih kurang cukup?"
Ayu Candra bertanya sambil duduk menjauh, agaknya jijik melihat banyak ular menggehat-geliat dan berkelojotan itu.
"Heh-heh-heh-heh, Ayu Candra cah ayu, cah denok! kau lihat saja, kalau jarum-jarum ini sudah jadi betul, kemudian kau kuberi pelajaran mempergunakan jarum ini, kau akan memiliki kepandaian seratus kali sambit seratus kali kena! Nah, dengan jarum-jarum inilah kau kiranya. baru akan dapat menghadapi Pujo dan kedua orang isterinya yang sakti. Heh-heh-heh!"
"Paman, bukankah kabarnya menurut penduduk pantai dekat Bayuwismo, Pujo sudah meninggal dunia?"
"Ah-hah, omongan orang desa sebodoh itu tak perlu kau percaya, cah manis! Mereka tahu Apa? Pujo orangnya belum tua benar dan sakti. Agaknya ia sudah tahu bahwa kau hendak mencarinya dan membalas dendam, maka ia lalu lari menyembunyikan diri bersama kedua isterinya, dan berpura-pura mati. Akan tetapi jangan kau khawatir, sekali kita bertemu dengannya, kau pasti akan mampu membalas dendam. Aku tanggung! Kalau tidak, jangan panggil aku Ki Jatoko lagi, heh-heh!"
Tiba-tiba tubuh orang buntung itu berkelebat ke kiri, cepat sekali gerakannya, tahu-tahu tubuh yang buntung itu telah menubruk dan menyusup ke dalam semak-semak, lalu muncul dan mencelat lagi ke tempat tadi, tangan kirinya telah menjepit seekor ular bandot yang amat berbisa!
Leher ular itu terjepit di antara ibu jari dan telunjuknya, kemudian sekali jari-jari tangan kanan mengurut tubuh ular itu dari leher ke ekornya, ular itu sudah berkelojotan tak mampu lari lagi, lalu dilemparkan ke bawah, ke sekumpulan ular-ular tadi.
"Heh-heh, bandot hijau, amat berbisa. Bisanya banyak dan amat ampuh!"
Kata Ki Jatoko.
Ayu Candra agaknya sudah sering melihat cara kakek buntung itu menangkap ular, maka ia tidak merasa heran lagi.
Gadis ini sudah cukup maklum bahwa orang buntung itu sesungguhnya memiliki kesaktian yang hebat sekali.
Akan tetapi Joko Wandiro yang tidak menduga sama sekali, menjadi kaget setengah mati, Dapat bergerak secepat itu, si buntung ini memiliki kepandaian yang tidak kalah oleh pendekar-pendekar kebanyakan yang masih lengkap anggauta badannya!
Caranya bergerak melompat tadi amat cepat, juga cara menangkap ular benar-benar mengagumkan.
Seorang lawan berat!
"Sudah yakin benarkah kau bahwa musuh kita adalah Pujo dan dua orang isterinya, paman?"
"Kau masih ragu-ragu kepadaku, Ayu? Ah, masih tidak percaya setelah aku membelamu, bersusah-payah mengajakmu mencari musuh besarmu? Ayu, aku bersumpah bahwa aku tidak akan membohongimu. Aku orang Selopenangkep, kau sudah kuceritakan tentang ini. Aku tahu ketika Pujo menculik ibumu Listyokumolo dan anaknya yang masih kecil. Aku tahu betapa ibumu lalu menjadi gila karena perbuatan biadab si Pujo! Kemudian untung tertolong oleh Ki Adibroto, menjadi suami-isteri dan mempunyai anak engkau."
Sambil bicara, Ki Jatoko menangkap seekor ular, mengurut tubuh ular itu sehingga racunnya keluar dari mulut yang dijungkirkan.
Racun kehijauan yang menetes-netes itu jatuh ke dalam sebuah batok kelapa di mana terdapat puluhan batang jarum yang sudah hijau menghitam warnanya.
Setelah racunnya habis, ia membuang tubuh ular itu ke samping dan ternyata binatang itu telah mati.
Ia menangkap ular ke dua dan memperlakukannya seperti tadi, kemudian ke tiga dan ke empat, demikian seterusnya.
"Kenapa kau mengajakku ke Kerajaan Jenggala, paman? Bukankah lebih baik kita berdua saja terus mencari si penjahat Pujo?"
Perih hati Joko Wandiro mendengar adiknya menyebut Pujo "Penjahat"
Itu.
Ah, adikku yang terkasih, engkau tidak tahu keadaan sebenarnya.
Engkau terlalu mabok oleh racun hasutan si buntung yang mencurigakan sekali ini!
Demikian dia mengeluh dan merasa marah sekali kepada Ki Jatoko.
Akan tetapi mendengar pertanyaan yang diajukan Ayu Candra, ia terkejut dan mendengarkan terus.
"Ayu Candra, cah manis. Engkau percaya sajalah kepadaku. Sudah kukatakan berkali-kali kepadamu, aku seorang yang hidup sebatangkara, setelah bertemu denganmu, aku tahu bahwa sisa hidupku ini kuperuntukkan dirimu seorang. Asal kelak engkau dapat mengasihi seorang buntung seperti aku, ahhh... rela aku berkurban Apa saja untukmu, manis. Ketahuilah, untuk mencari Pujo tidak mudah setelah kini kita tidak tahu ke mana ia menyembunyikan diri. Akan tetapi di Jenggala aku mempunyai banyak sekali kawan-kawan yang sakti. Bahkan sang prabu di Jenggala tentu akan suka membantuku. Dengan bantuan orang-orang sakti dan pasukan, Apa susahnya mencari Pujo? Nah, kalau sudah bertemu, bukankah kita mendapat bantuan orang-orang pandai dan engkau akan dapat melampiaskan dendammu, manis?"
Pucat wajah Joko Wandiro mendengar ini.
pucat saking marahnya.
Tidak hanya karena kenyataan bahwa manusia buntung ini bersekutu dengan orang-orang sakti yang membantu Jenggala seperti Dibyo Mamangkoro dan yang lain-lain, juga karena sikap dan kata-kata si buntung ini jelas sekali mengandung niat yang tidak wajar.
Agaknya si buntung itu diam-diam gandrung dan tergila-gila kepada Ayu Candra, memperlihatkan sikap seperti terhadap kekasihnya.
Hanya karena Ayu Candra seorang gadis jujur dan polos, berwatak bersih dan masih bodoh, maka sikap mesra itu dianggapnya sikap ramah dan baik dari seorang paman terhadap keponakan!
Tiba-tiba tubuh si buntung berkelebat lagi menubruk dan menyusup ke dalam semak-semak seperti tadi dan ketika melompat keluar lagi tangannya sudah menjepit seekor ular yang kulitnya hijau keputihan.
Akan tetapi pada saat itu, Joko Wandiro juga sudah melompat keluar menghampiri Ayu Candra.
"Ayu Candra...!"
"Joko... eh, kakang... engkau...??"
Ayu Candra melompat bangun.
Sejenak wajahnya berseri, matanya yang sayu dan wajahnya yang muram itu berseri, bibirnya terbuka mengarah senyum, kedua tangannya diulur ke depan.
Joko Wandiro terharu dan melangkah maju hendak memeluk, akan tetapi tiba-tiba dari belakangnya terdengar Ki Jatoko menghardik.
"Mundur engkau! Engkau bernama Joko Wandiro, bukan? Engkau murid terkasih si keparat Pujo, bukan? Engkau ini anak durhaka, anak tidak berbakti! Ibu kandungmu dahulu diculik Pujo, diperkosa, dirusak kehormatannya sampai menjadi gila! Engkau sendiri diculik, akan tetapi karena diperlakukan sebagai murid, engkau lalu lupa akan ibu kandungmu sendiri! Engkau tahu ibumu dibunuh Pujo, akan tetapi engkau melarang Ayu Candra hendak menuntut balas. Cih, laki-laki macam engkau ini mana pantas menjadi kakak Ayu Candra?"
Hebat sekali ucapan ini.
Joko Wandiro merasa seakan-akan mukanya ditampar.
Ia mengurungkan niatnya memeluk Ayu Candra, lalu perlahan-lahan membalikkan tubuhnya menghadapi si buntung yang duduk di atas tanah memegangi ularnya yang baru saja ditangkapnya tadi.
Muka Joko Wandiro sebentar merah sebentar pucat karena perasaannya yang menggelora.
Ucapan itu selain kasar dan keras, juga beracun sekali, lebih beracun daripada bisa yang terkumpul di dalam batok.
Sekiranya Joko Wandiro belum bertemu dengan Kartikosari dan Roro Luhito, mungkin ia akan terpengaruh oleh kata-kata ini dan akan menjadi ragu-ragu dan malu kepada diri sendiri yang dikatakan tidak berbakti kepada ibu kandungnya!
Akan tetapi, ia telah tahu akan duduknya perkara, maka ia menjadi marah bukan main kepada orang buntung ini.
"Paman, engkau seorang tua lagi buntung kedua kakimu. Jagalah mulutmu agar jangan sampai aku seorang muda berlaku kurang ajar kepadamu!"
Bentak Joko Wandiro menahan kemarahannya.
"Heh-heh-heh, coba sangkal kata-kataku kalau mampu. Ayu Candra, jangan engkau terlalu percaya kepada kakak tirimu ini. Dia sudah diracuni si keparat Pujo, seperti juga bibinya. Ya, aku belum menceritakan kepadamu, Ayu, bahwa adik ayah bocah ini, yang bernama Roro Luhito, ketika di Selopenangkep dahulu juga menjadi korban kebiadaban Pujo, dicemarkan kehormatannya. Kemudian Roro Luhito yang hendak membalas dendam, dikalahkan oleh Pujo, malah dipaksa menjadi bini mudanya sekali! Nah, karena kini Pujo selain menjadi guru dan menjadi pemeliharanya sejak kecil juga menjadi suami bibinya, tentu saja ia tidak akan membiarkan engkau membalas dendam..."
"Tutup mulutmu yang busuk...!"
Joko Wandiro kini tak dapat lagi menahan kemarahannya.
Ia tidak sudi bertengkar mulut dengan orang buntung yang ternyata amat pandai bicara dan pandai membakar hati ini.
Paling baik memberinya hajaran lalu mengajak Ayu Candra cepat-cepat pergi dari situ, pikirnya.
Dengan sebuah loncatan kilat Joko Wandiro menerkam maju.
Akan tetapi pemuda ini terkejut dan cepat mengelak ke belakang ketika tiba-tiba ada suara mendesis dan kepala ular hijau telah menyambar ke arah lehernya.
Kiranya ular itu kini telah dipegang perutnya oleh Ki Jatoko yang mempergunakan ular itu sebagai senjata hidup, diobat-abitkan sehingga kepala ular itu merupakan ujung senjata yang mendesis-desis marah dan siap menggigit!
Ular hijau ini baru saja ditangkap oleh Ki Jatoko, masih liar dan belum diambil racunnya, maka amat berbahaya.
Kini Ki Jatoko sudah meloncat berdiri dan menerjang dengan senjata ular itu dengan serangan-serangan dahsyat.
Diam-diam Joko Wandiro terkejut.
Benar-benar hebat gerakan orang buntung ini sehingga ia menjadi heran sekali.
Apalagi semua serangan si buntung itu didasari ilmu meringankan tubuh yang mirip dengan Aji Bayu Sakti!
Agaknya memang Aji Bayu Sakti, hanya menjadi agak berbeda karena dilakukan dengan kedua kaki buntung!
Dan ular yang hidup itu digerakkan seperti orang menggerakkan sebatang tongkat atau sebatang tombak saja, bukan main cepatnya dan kepala ular itu saking cepatnya digerakkan, seakan-akan berubah menjadi belasan buah banyaknya.
Di lain fihak Ki Jatoko juga terkejut dan kagum.
Orang muda ini ternyata memiliki gerakan yang amat gesit, tidak kalah oleh gerak cepatnya sendiri.
Hampir ia tidak percaya kalau tidak menyaksikan sendiri.
Ia kini menambah serangan dengan pukulan-pukulan tangan kirinya yang disertai Aji Siyung Warak, yang keampuhannya tidak kalah oleh gigitan ular berbisa di tangan kanannya.
Namun Joko Wandiro yang maklum bahwa tangan kiri yang mengeluarkan angin dingin itu tentu ampuh, dapat menghindar dengan amat mudah.
Ketika untuk kesekian kalinya tangan kiri Ki Jatoko menampar, Joko Wandiro mengangkat tangan kanan menangkis dan mengerahkan hawa sakti dari dalam pusar disalurkan ke tangan, mencipta gerakan "Menempel"
Sehingga ketika lengan kiri Ki Jatoko bertemu lengan kanannya, si buntung itu merasa lengannya tergetar dan tak dapat terlepas dari lengan lawan!
Ia terkejut, memukulkan ular ke arah leher Joko Wandiro.
Pemuda ini mengeluarkan seruan keras, jari tangan kirinya mempergunakan Aji Pethit Nogo menyampok ke arah kepala ular dan "Krakkk!"
Kepala ular itu hancur berantakan!.
Ki Jatoko terkejut dan melompat ke belakang.
Tangan kirinya terasa linu dan kejang-kejang.
Ia makin terheran-heran.
Pemuda ini sama sekali belum membalas dengan serangan, baru mengelak, menangkis dan membunuh ular, namun sudah jelas bahwa dia terdesak dan terjepit.
Dalam beberapa gebrakan saja telah terbukti bahwa dia kalah!.
Ki Jatoko dahulu adalah Jokowanengpati yang gemblengan.
Dahulu, biarpun kedua kakinya belum buntung, kepandaiannya tidak sematang sekarang.
Dahulupun sudah jarang sekali ada orang pandai yang dapat mengalahkannya, apalagi hanya seorang pemuda hijau macam ini!
Betapa mungkin pemuda itu dapat mengalahkannya hanya dengan tangan kosong dan tanpa balas menyerang?
Ia menjadi penasaran dan marah sekali.
Sepasang matanya menjadi merah, mulutnya menyeringai lebar dan ia sudah mencabut sebatang keris yang selama ini selalu tersembunyi di balik bajunya!
Melihat kemarahan orang, Joko Wandiro menjadi sabar dan tenang kembali.
"Paman Jatoko, mengingat bahwa selama ini, tak perduli apakah maksud keji yang tersembunyi di dalam pikiranmu, ternyata engkau tidak mengganggu adikku Ayu Candra dan dia dalam keadaan sehat selamat, biarlah kita sudahi pertandingan ini dan kita mengambil jalan masing-masing. Aku akan mengajak adikku pergi dan di antara kita tidak perlu ada urusan dan sangkut-paut lagi."
Andaikata Joko Wandiro mengajukan alasan lain, tentu saja Ki Jatoko juga akan menerima karena dia bukanlah seorang bodoh.
Tidak, jauh daripada itu.
Ki Jatoko adalah seorang yang cerdik luar biasa, penuh akal bulus dan tipu muslihat.
Ia bukan seorang yang nekat yang merasa malu untuk mundur jika keadaan tidak menguntungkan.
Ia tahu bahwa pemuda ini benar-benar amat sakti, bahwa belum tentu ia dapat menandinginya.
Akan tetapi, alasan yang diajukan Joko Wandiro untuk mengakhiri pertandingan adalah untuk membawa pergi Ayu Candra!
Hal ini sama artinya dengan membawa pergi semangat atau nyawanya!
Sampai mati ia tidak akan mau berpisah lagi dari Ayu Candra, perawan jelita yang dicintanya sepenuh jiwa raga!
Tidak, lebih baik mati daripada harus berpisah dari Ayu Candra.
"Kau bocah kemarin sore tak perlu membujuk seorang seperti aku! Joko Wandiro, aku kasihan melihat Ayu Candra. Ayah-bundanya terbunuh orang dan aku tahu siapa pembunuhnya. Kalau engkau seorang laki-laki yang tidak mau menjadi orang durhaka, lebih baik kau mengikuti aku pula dan mari kita bertiga mencari musuh kita. Kalau tidak, kau pergilah, tapi jangan kau ajak pergi Ayu Candra. Aku telah bersumpah akan mengantarkannya sampai bertemu dengan musuh besarnya dan biarpun engkau ini putera kandung Listyokumolo, namun belum tentu kau suka memusuhi Pujo yang menjadi guru dan pamanmu."
Joko Wandiro tidak memperdulikannya lagi, membalikkan tubuhnya menghadapi Ayu Candra.
Gadis ini sudah berdiri di balik batang pohon dan wajahnya pucat.
Agaknya ia merasa ngeri menyaksikan pertempuran tadi, sungguhpun ia sendiri bukan seorang wanita lemah.
"Ayu, adikku, tidak perlu kita melayani orang buntung ini. Marilah ikut aku, Ayu, dan nanti kau kuberi penjelasan, akan kuceritakan semua kepadamu..."
"Awas... Joko...!!"
Ayu Candra menjerit.
Biarpun andaikata tidak diperingatkan Ayu Candra, Joko Wandiro juga tidak akan mudah diserang dari belakang secara menggelap begitu saja.
Selain panca indranya yang sudah tajam melebihi manusia biasa, juga ada semacam indra ke enam yang membuat ia seakan-akan mempunyai mata pada belakang kepala nya!
"Wuuuttt...!!"
Sinar hitam keris di tangan Ki Jatoko menusuk angin ketika tubuh Joko Wandiro yang diserangnya tiba-tiba berkelebat dan meloncat melewati kepalanya!
Ki Jatoko membalikkan tubuh dan kembali menubruk sambil menusukkan kerisnya disusul hantaman tangan kiri.
Cepat dan bertubi datangnya serangan ini, dan pada saat itu tubuh Joko Wandiro baru saja melayang turun.
Namun Joko Wandiro dapat sekaligus menangkis tusukan dan pukulan.
Kembali empat lengan bertemu dan Ki Jatoko terhuyung-huyung ke belakang sampai lima langkah.
Diam-diam Joko Wandiro merasa kasihan dan malu.
Lawannya seorang buntung sehingga melangkahpun terhuyung-huyung!.
Akan tetapi tiba-tiba ia terkejut karena tubuh itu sudah melayang dan menyerangnya seperti seekor burung garuda menyambar.
Hemm, ia mencela kebodohannya sendiri.
Biarpun buntung, orang ini sama sekali tidak perlu dikasihani karena ketangkasan dan kedigdayaannya melebihi jagoan-jagoan yang sudah pilih tanding.
Ki Jatoko ini seorang yang sakti mandraguna, sama sekali tidak boleh dipandang rendah.
seperti juga tadi, Joko Wandiro melayani lawannya dengan kedua tangan kosong saja, mengandalkan kegesitan tubuhnya dan kekuatan hawa sakti tubuhnya untuk mengelak atau menangkis.
seperti tadi pula, ia belum mau membalas dan diam-diam memperhatikan gerakan-gerakan lawan.
Diam-diam harus ia akui bahwa gerakan Ki Jatoko ini merupakan ilmu-ilmu yang tinggi dan bersih, bahkan hampir sama sumbernya dengan ilmu-ilmu milik Resi Bhargowo.
Biarpun dahsyat dan dilakukan dengan beringas saking penasaran dan marah, namun ilmu tata kelahi orang buntung ini merupakan ilmu yang indah dan amat kuat.
Kecepatan gerakannya tak dapat disangkal lagi tentulah Bayu Tantra atau Bayu Sakti, atau setidaknya tentu bersumber dari ilmu gerak cepat keduanya itu.
Makin ragu-ragulah ia untuk merobohkan Orang ini.
Apakah orang buntung ini pernah belajar ilmu kepada Resi Bhargowo?
Ataukah pernah menerima gemblengan Empu Barodo?
Mereka berdua itu adalah pendeta-pendeta sakti yang bijaksana dan berbudi, tentu menaruh kasihan kepada seorang buntung dan tidaklah aneh kalau memberi sebuah dua buah ilmu.
"Tahan...!"
Tiba-tiba Joko Wandiro berseru seraya melompat mundur dari gelanggang pertempuran.
"Paman Jatoko, aku seperti mengenal gerakan-gerakanmu...! Bukankah engkau pernah belajar ilmu kepada eyang Empu Bharodo atau eyang Resi Bhargowo...?"
Ki Jatoko terkejut.
Semenjak ia menjadi buntung dan rusak mukanya dan berganti nama Ki Jatoko, ia sudah mengubur nama Jokowanengpati dan agar jangan sampai ada orang mengenalnya, ia pun memperdalam ilmunya dan sedapat mungkin merubah gerakan ilmu silatnya agar berubah daripada aselinya dan tidak akan dikenal orang.
Namun, betapa pandainya, tentu saja tidak mungkin ia melenyapkan sama sekali gerakan dasar yang menjadi inti aji kesaktian yang telah ia pelajari.
Kini setelah bertanding, pemuda ini dapat mengenal ilmu-ilmunya.
Hal ini menandakan bahwa pemuda ini sudah mahir betul akan ilmu-ilmu itu.
Akan tetapi karena maklum bahwa sekali orang tahu akan rahasianya maka keselamatan hidupnya akan selalu terancam, ia menghardik.
"Bocah dusun, engkau melantur tentang Apa? Kalau takut, pergilah, kalau berani, terima ini!"
Ia melompat maju, menerkam dengan ganas sambil mengayun kerisnya.
"Manusia tak tahu diri!"
Joko Wandiro berkata perlahan, tidak mengelak dari tempatnya, melainkan menyambut serangan itu keras sama keras Kedua tangannya bergerak merampas keris sambil mendorong.
"Desss... weerrrr...!"
Ki Jatoko berteriak kaget, kerisnya terlempar dan tubuhnya juga melayang ke belakang lalu terbanting ke atas tanah.
Sejenak orang buntung ini bengong terlongong.
Ia mengenal gerakan Pethit Nogo yang membuat kerisnya terlempar tadi karena tenaga yang terkandung di jari-jari tangan itu hebatnya luar biasa sekali, akan tetapi ia tidak tahu dorongan macam Apa tadi yang membuat tubuhnya terlempar seperti daun kering tertiup angin!
Joko Wandiro yang tidak mempunyai niat mencelakai.
Ki Jatoko, tidak menyerang lebih lanjut.
Ia membalikkan tubuhnya hendak menghampiri Ayu Candra.
Alangkah kagetnya ketika melihat bahwa Ayu Candra tidak berada di tempat yang tadi pula, tidak tampak bayangannya lagi.
"Ayu! Ke mana engkau pergi...?"
Joko Wandiro berteriak memanggil lalu mencari di sekeliling tempat itu.
Namun sia-sia.
Ayu Candra seperti hilang ditelan bumi, tak meninggalkan bekas.
Joko Wandiro menjadi gelisah.
Senja telah mulai menggelapkan cuaca.
Ia melompat naik ke atas pohon yang tinggi, seperti seekor kera di atas pohon ia memandang ke sekeliling.
Akhirnya ia berseru girang ketika melihat sesosok tubuh seorang wanita di sebelah utara, tubuh seorang wanita muda.
Siapa lagi kalau bukan adiknya?
Ia melompat turun dan bagaikan seekor kijang cepatnya ia sudah lari mengejar ke arah utara.
Sebentar saja ia sudah dapat menyusul.
Bocah nakal, pikirnya.
Dari Sarangan pergi tanpa pamit.
Susah payah ia mencari kini sudah bertemu, kembali hendak pergi tanpa pamit.
Mungkinkah karena kehancuran dan kepatahan hati oleh perubahan hubungan antara mereka dari kekasih menjadi kakak beradik?
Joko Wandiro hendak menggodanya, hendak menimbulkan suasana gembira di hati adiknya dan mengusir kekesalan hatinya.
Maka ia menghampiri dengan pengerahan tenaga dalam, sehingga tubuhnya menjadi ringan sekali tak menerbitkan suara sama sekali Setelah dekat, ia melompat dan menubruk dari belakang, langsung ia memeluk tubuh adiknya dari belakang.
Sambil menciumi rambut adiknya, ia berbisik.
"Ayu... engkau nakal sekali. Hendak lari ke mana lagi engkau sekarang? Akhirnya aku dapat juga menangkapmu, anak nakal!"
Joko Wandiro merasa heran sekali ketika tubuh yang dipeluknya itu menggigil kemudian menjadi lemas dan kepala yang rambutnya lemas halus dan harum itu rebah di atas dadanya, jari-jari tangan yang halus pula mencengkeram kedua lengannya.
Akan tetapi hanya sebentar saja karena tiba-tiba gadis itu merenggutkan tubuhnya dengan kekuatan yang luar biasa sekali sehingga dapat terlepas, lalu membalikkan tubuh menghadapinya.
Hampir saja Joko Wandiro berteriak kaget ketika ia melihat bahwa dara itu sama sekali bukan Ayu Candra, melainkan...
Endang Patibroto!
Endang Patibroto yang berdiri di hadapannya dengan muka menunduk, kemerahan, dan kemalu-maluan!
Rasa kaget ini seperti terganti rasa sesal dan kecewa karena kembali ia kehilangan Ayu Candra.
Akan tetapi kembali segera berubah menjadi rasa girang karena memang ia sedang mencari-cari gadis ini pula untuk memenuhi janjinya kepada Kartikosari.
"Endang Patibroto! Kebetulan sekali kita berjumpa di sini. Memang aku sedang mencari-carimu. kau maafkan aku tadi..., kau tadi kusangka orang lain..."
Seketika berubahlah wajah wanita cantik itu, Kini Endang Patibroto mengangkat mukanya memandang, tidak malu-malu lagi, tidak berseri lagi, melainkan dengan bayangan perasaan dingin, bibirnya agak tersenyum, wajahnya membayangkan kalau dia sedang kesal hati atau marah.
"Hemmmm...! Ada Apa kau mencariku? Hendak melanjutkan pertandingan?"
"Endang, aku telah bertemu dengan ibumu di Bayuwismo dan..."
"Hemm, engkau sudah mendengar tentang kematian ibumu di tanganku? Nah, kalau engkau mencariku untuk membalas dendam kematian ibumu, hayolah. Aku sudah siap!"
Joko Wandiro menarik napas panjang.
Hatinya penuh penyesalan.
Gadis yang berdiri gagah di depannya ini adalah seorang dara yang amat cantik jelita, hampir sama dengan bibi Kartikosari, bertubuh ramping padat dan segar bagaikan sekuntum bunga sedang mekar, seorang dara yang sukar dicari bandingnya.
Akan tetapi pandang mata gadis ini amat dingin, juga sikapnya, suaranya, mengandung sesuatu yang mendirikan bulu roma.
"Tidak, Endang. Aku tidak bermaksud membalas dendam. Ayahmu karena salah sangka telah menyakiti hati ibuku. Ibu kandungku yang merasa dirusak kebahagiaan hidupnya telah menuntut balas dan sebagai seorang satria utama, ayahmu rela memberikan nyawa menebus dosa. Ayahmu mati di tangan ibuku. Kemudian engkau membalas kematian ayahmu dan membunuh ibuku. Kalau aku sekarang mengambil pembalasan kepadamu, dendam-mendendam ini tiada ada habisnya. Tidak, Endang. Aku murid ayahmu, dan sebagai murid harus mencontoh langkah-langkah nidup gurunya. Aku mencontoh ayahmu, tidak akan menumpuk permusuhan yang tiada habisnya. yang tewas sudah sempurna, sudah dikehendaki Hyang Maha Wisesa, bukan urusan manusia."
"Kalau begitu, Apa perlunya engkau mencariku? Kalau hanya untuk berkhotbah saja, aku tiada waktu untuk mendengarkan!"
Mau tak mau Joko Wandiro tersenyum.
Gadis ini tiada bedanya dengan dahulu ketika masih kecil.
Nakal, galak dan jenaka.
Sifat ini masih mendasari wataknya, hanya sayang kini tertutup oleh bayangan-bayangan keganasan dan keanehan yang mengerikan, seakan-akan ada hawa iblis yang hitam menyelubungi dirinya.
"Endang telah kukatakan tadi bahwa aku telah bertemu dengan ibumu. Aku telah berjanji kepada ibumu untuk membujukmu agar kau suka insyaf dan kembali kepada ibumu. Endang, ingatlah bahwa ayahmu, ibumu, dan juga eyangmu adalah patriot-patriot perkasa yang selalu membela kebenaran dan membela Pangeran Sepuh yang kini menjadi sang prabu di Panjalu. Endang, lupa lagikah engkau kepada eyang Resi Bhargowo? Beliau dahulu di Pulau Sempu begitu sayang kepadamu. Dan ibumu! Dia telah mengorbankan segalanya untukmu, kemudian selama belasan tahun menderita siksa batin karena kau lenyap. Engkau insyaflah, Endang Patibroto, bahwa kedudukanmu sekarang sebagai pengawal Kerajaan Jenggala merupakan penyelewengan besar daripada kebenaran yang selama ini dipegang keluargamu. kau tinggalkan Jenggala dan temani ibumu yang kini sudah pindah ke Pulau Sempu."
"Ibu ke Pulau Sempu?"
"Ya, dan engkau dinanti-nanti ke sana. Marilah kita pergi bersama menghadap ibumu di sana."
"Pergi bersama menghadap ibu? Apakah... apakah ada hubungannya dengan... pesan ayahku...?"
Joko Wandiro memandang. Biarpun cuaca sudah remang-remang, masih jelas tampak olehnya betapa gadis itu menjadi merah mukanya dan sejenak menurunkan pandang mata.
"Pesan ayahmu?"
"Hemm... tentang... perjodohan...!"
"Ahh...!"
Kini wajah Joko Wandiro jadi merah sekali.
"Tidak, Eh-ltu... eh, tidak penting benar... eh, perlu dipikirkan masak-masak lebih dulu. yang terpenting, engkau harus meninggalkan Jenggala dan kembali menemani ibumu."
"Harus? Siapa yang mengharuskan?"
"Aku."
"Huh! Kalau aku tidak mau, kau mau Apa?"
Endang Patibroto membusungkan dadanya yang sudah busung, matanya bersinar-sinar dan sikapnya begitu menantang.
"Biarpun harus menyeretmu, aku akan membawamu kembali kepada ibumu, bocah berkepala batu!"
Joko Wandiro menjadi gemas.
"Babo-babo... sumbarmu seperti dapat meloncati puncak Mahameru saja, Joko Wandiro! kau kira aku takut kepada orang seperti engkau ini? Huh, boleh kau coba!"
Setelah berkata demikian, tanpa menanti jawaban, Endang Patibroto sudah menerjang maju dan mengirim pukulan dengan tangan kanan yang jarinya terbuka dan dimiringkan.
Joko Wandiro yang sudah marah mengangkat tangan menangkis.
"Desss...!!"
Hebat pertemuan tenaga yang keluar dari dua tangan itu.
Akibatnya., keduanya terhuyung-huyung ke belakang seperti layang-layang putus talinya!
Keduanya terkejut sekali dan cepat meloncat untuk mematahkan tenaga dorongan yang hebat.
Lalu keduanya saling pandang, terheran-heran.
Joko Wandiro yang sudah menduga akan kesaktian Endang Patibroto, terheran karena tenaga sehebat itu benar-benar tak pernah disangkanya.
Sebaliknya, Endang Patibroto yang masih memandang rendah lawannya, kini merasa kecelik dan diam-diam ia kagum juga.
Baru pertama kali ini semenjak keluar dari perguruan, ia bertemu seorang tanding yang dapat menahan pukulan Aji Wisangnolo yang dilancarkan dari jarak dekat.
Bukan saja Joko Wandiro telah dapat menahannya, bahkan tangkisannya membuat ia terhuyung sampai jauh!
Hal ini menimbulkan rasa penasaran dan kemarahan di hatinya.
Tiba-tiba Endang Patibroto mengeluarkan pekik melengking dahsyat dan tubuhnya sudah mencelat ke depan, melayang dan menyerang dengan pukulan-pukulan maut bertubi-tubi.
Joko Wandiro yang maklum akan kesaktian gadis ini, tidak berani berlaku lengah atau lambat.
Ia segera mengerahkan Aji Bayu Sakti, mengelak sambil balas menyerang.
Namun serangannya dapat pula dielakkan secara mudah oleh Endang.
Serang menyerang terjadi, keduanya mengandalkan tenaga dan hawa sakti, namun ternyata tenaga mereka berimbang.
(Lanjut ke
Jilid 32) Badai Laut Selatan (Seri ke 03 Serial Serial Keris Pusaka Sang Megatantra) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo
Jilid 32 Karena kedua lengan mereka yang bertemu dengan getaran-getaran dahsyat itu membuat kulit lengan terasa pedas dan mulai menjadi matang biru tanpa ada hasilnya, Endang Patibroto kembali memekik dan tubuhnya lenyap berubah rnenjadi bayang-bayang yang amat cepat gerakannya, seakan-akan seekor burung walet menyarnbarnyambar dan ganas seperti burung camar menyambar ikan di permukaan air laut.
Inilah ilmu yang diciptakan oleh Kartikosari selama bertapa di Laut Selatan, ditambah oleh gemblengan Dibyo Mamangkoro dan dilakukan dengan pengerahan tenaga Wisangnolo yang panas beracun!
Menghadapi dahsyatnya serangan ini, Joko Wandiro segera rnengeluarkan pekik yang tidak kalah dahsyatnya.
Kalau pekik Endang Patibroto adalah Aji Sardulo Bairowo (Pekik Harimau) yang suaranya menggetarkan jantung lawan seperti seekor harimau betina mengaum, adalah pekik Joko Wandiro ini Aji Diroto Meto (Gajah Mengamuk) yang lebih dahsyat lagi.
Untuk dapat mengimbangi kecepatan gerak lawan, joko Wandiro juga menggunakan Aji Bramoro Seto (Lebah Putih) yang ia pelajari dan Ki Patih Narotama.
Mereka berdua sama-sama maklum bahwa akan percuma saja apabila mereka menggunakan aji-aji yang mereka dapat dari eyang Resi Bhargowo seperti Pethit Nogo atau Gelap Musti, karena keduanya mengenal ilmu ini.
Maka kini Endang Patibroto mengerahkan seluruh kepandaiannya yang ia dapat dari ibunya sendiri ditambah gemblengan dari Dibyo Mamangkoro.
Di lain fihak, Joko Wandiro juga rnengeluarkan aji-aji yang ia dapat dari Ki Patih Narotama.
Hebat bukan main pertandingan ini.
Tubuh kedua orang muda itu sukar dilihat lagi oleh mata biasa.
Sudah lenyap bentuknya, berubah sebagai dua baying-bayang yang seperti dua iblis bertanding yuda, kadang-kadang malah lenyap berubah menjadi gundukan sinar bergulung-gulung menjadi satu, sukar dibedakan mana Joko Wandiro mana Endang Patibroto.
Ratusan jurus telah lewat dengan tiada keputusan siapa kalah siapa menang.
Bahkan tidak ada yang mendesak atau terdesak.
Jurus ditukar jurus, pukulan dibalas tamparan, tendang-menendang, tusuk-menusuk dengan jari yang melebihi keris ampuhnya.
Namun semua itu tidak mengenai sasaran, dapat dielakkan atau ditangkis lawan.
Mereka setanding, seimbang, baik kegesitan maupun kekuatannya.
Joko Wandiro makin kagum.
Baru pertama kali ini ia menemui tanding yang sehebat ini!
Semua kepandaiannya telah ia kerahkan, namun tak pernah memperoleh hasil yang baik.
Hanya saja bedanya, kalau Endang Patibroto melancarkan serangan-serangan maut yang amat ganas dan dahsyat, dia hanya melakukan serangan-serangan yang kalau mengenai sasaran tidak akan membahayakan keselamatan gadis itu.
Betapapun juga, harus ia akui bahwa baginya, tidaklah mudah mengalahkan Endang Patibroto.
Di lain fihak, Endang Patibroto menjadi penasaran sekali.Makin lama ia menjadi makin marah, lalu berseru.
"Hayo keluarkan senjatamu!"
Teriakan ini ia lakukan berkali-kali, namun selalu Joko Wandiro menjawab.
"Aku tidak hendak mengadu nyawa denganmu, Endang. Kalau kau masih penasaran, boleh kau gunakan senjata, aku takkan mau melayani keganasanmu!"
Endang Patibroto marah sekali.
Ia maklum, kalau mereka menggunakan senjata, dia dapat memakai keris pusaka Brojol Luwuk yang ampuhnya menggiriskan itu dan dengan bantuan keris pusaka ini ia tentu akan menang.
Akan tetapi Joko Wandiro tidak mau memakai senjata dan untuk menghadapi seorang lawan yang bertangan kosong, tentu saja iapun enggan menggunakan senjata.
Hatinya makin gemas sampai-sampai kalau mungkin, ingin ia menangkap lawannya ini dan menggunakan kuku dan gigi untuk mencakar menggigit!
Namun Joko Wandiro terlalu lincah, dan pertahanannya terlampau kokoh kuat, bagaikan batu karang di tengah samudra.
Dan memang demikianlah.
Semenjak kecil oleh Pujo, Joko Wandiro digembleng melawan gempuran ombak membadai sehingga ia memiliki daya tahan seperti batu karang di laut.
Karena ingin segera memperoleh kemenangan, Endang Patibroto lalu menempuh jalan keras.
Mulutnya berkemak-kemik, kedua tangannya saling digosokkan.
Kedua telapak tangan itu digosok-gosokkan sampai mengeluarkan asap!
Inilah Aji Wisangnolo yang dikerahkan sampai ke puncaknya!
Saking hebatnya getaran hawa panas beracun itu, kedua telapak tangan sampai mengeluarkan asap seakan-akan kedua telapak tangan itu sudah membara.
Joko Wandiro terkejut bukan main ketika gadis itu melancarkan serangan dengan mendorong kedua tangan ke arah dadanya.
Hawa panas sekali keluar dari dorongan itu dan kedua tangan gadis itu berasap hitam!
Ia maklum akan bahayanya serangan ini dan untuk mengelak sudah tidak ada kesempatan lagi.
Untuk menangkis lengan, banyak bahayanya karena daya serang yang terpancar keluar dari dua telapak tangan itu dapat melukainya.
Terpaksa iapun lalu mengembangkan kedua lengan ke depan dengan telapak tangan terbuka, lalu menerima pukulan itu dengan kedua telapak tangan pula sambil mengerahkan hawa saktinya.
Ia tidak mau menggunakan aji pukulan yang keras karena khawatir kalau-kalau ia akan melukai lawannya, maka ia hanya mengumpulkan tenaga, menyimpannya di dada dan menyalurkan ke arah kedua lengannya sambil mempergunakan hawa itu tebagai tenaga lembek atau lunak.
"Desss,...!!"
Tenaga dahsyat dari kedua telapak tangan Endang Patibroto seakan tersedot ke dalam telapak tangan Joko Wandiro dan gadis itu merasa betapa kedua telapak tangannya bertemu sesuatu yang lunak dan dingin seperti es.
Ia terkejut dan menarik kembali tangannya sambil berjungkir balik ke belakang sampai lima kali.
Tubuhnya menggigil kedinginan dan mukanya menjadi pucat, namun ia terbebas dari luka berat.
Ia mendengar Joko Wandiro mengaduh dan cepat-cepat ia memandang.
Kiranya lawannya itu terhuyung-huyung lalu roboh terlentang dalam keadaan pingsan.
Dua batang jarum hitam menancap di leher sebelah kiri!
"Heh-heh-heh!
Kepandaianmu hebat sekali, nona muda.
Akan tetapi lawanmu ini terlalu berbahaya maka aku membantumu merobohkannya.
Sekarang lebih baik kau lekas membunuhnya selagi ia pingsan.
Heh-heh-heh!"
Berkerut kening Endang Patibroto. Sepasang matanya bersinar-sinar memandang orang buntung yang muncul secara aneh itu.
"Engkau siapakah? Siapa suruh engkau membantuku? Aku tidak butuh bantuanmu!"
Memang yang merobohkan Joko Warndiro adalah Ki Jatoko.
Setelah tadi Ki Jatoko dikalahkan Joko Wandiro dan melihat pemuda itu berlari-lari mencari Ayu Candra yang lenyap, Ki Jatoko segera menjumput kerisnya dan iapun menjadi bingung dan gelisah karena tidak melihat gadis yang dicintanya itu.
Karena khawatir kalau gadis itu akan diajak pergi Joko Wandiro, maka iapun lalu mengejar.
Ia tidak dapat menemukan Ayu Candra, sebaliknya malah melihat Joko Wandiro bertengkar dengan Endang Patibroto.
Hatinya tertarik dan segera ia mengintai dan mendengarkan.
Kagetlah ia ketika dari pertengkaran itu ia mendengar bahwa gadis itu adalah kepala pengawal Jenggala yang sudah ia dengar dalam perantauannya.
Ia sudah mendengar bahwa kini Jenggala memiliki seorang jago wanita yang amat sakti, yaitu murid dari Sang Dibyo Mamangkoro yang sakti mandraguna.
Sama senali tidak pernah disangkanya bahwa gadis jagoan itu ternyata adalah puteri Pujo dan Kartikosari, seperti yang dapat ia tarik kesimpulan dari pertengkaran kedua orang muda itu.
Diam-diam ia menjadi girang sekali melihat gadis itu bertengkar dengan Joko Wandiro.
Sebagai seorang yang cerdik, dia dapat menduga bahwa setelah menjadi.murid Dibyo Mamangkoro, gadis itu telah menyimpang daripada jejak hidup orang tua dan kakeknya seperti...
seperti dia sendiri yang telah menyimpang dari jejak hidup gurunya, Empu Bharodo!
Ketika terjadi pertempuran, ia menonton dengan jantung berdebar-debar.
Baru sekali ini ia menyaksikan pertandingan yang serba hebat.
Dia sendiri sampai melongo dan harus mengakui bahwa kepandaiannya sendiri sama sekali tidak akan mampu menandingi seorang di antara dua orang muda itu.
Hebat bukan main, sampai kabur pandang matanya, sampai pening kepalanya.
Namun kecerdikannya tidak membiarkan ia tinggal diam saja.
Diam-diam Ki Jatoko telah menyiapkan jarum-jarumnya, jarum hitam yang telah menghisap banyak racun ular.
Pada gebrakan terakhir ketika dua orang muda itu tadi mengadu tenaga sakti yang mengakibatkan tubuh Endang Patibroto berjungkir-balik ke belakang sampai jauh, pada hakekatnya kerugian ada di fihak Joko Wandiro.
Karena pemuda ini tidak ingin melukai lawannya, maka ia menggunakan tenaga lunak dan karena inilah maka ia berada di fihak bertahan.
Karena tenaga mereka berimbang, biarpun ia berhasil mengembalikan daya pukulan lawan, namun ia sendiri tergetar jantungnya dan seketika kepalanya pening, pandang matanya berputar-putar.
Tampaknya ia tidak bergerak dari tempat ia berpijak, akan tetapi tubuhnya bergoyang-goyang dan kedua matanya meram.
Dalam keadaan setengah pingsan ini dan selagi ia mengumpulkan tenaga mengatur napas, Ki Jatoko yang cerdik dapat melihat keadaan dan tidak menyia-nyiakan kesempatan.
Dua batang jarum hitam ia sambitkan dan tepat mengenai leher kiri pemuda itu yang berseru "Aaduhh...!"
Dan roboh terguling, pingsan!
Menghadapi teguran Endang Patibroto yang bersikap dingin dan tak senang, Ki Jatoko yang cerdik tidak menjadi bingung.
Ia segera melangkah maju menghadapi gadis itu dan dengan hormat dan ramah berkata.
"Nona, bukankah namamu Endang Patibroto dan engkau adalah pengawal sang prabu di Jenggala? Bukankah orang tuamu adalah Pujo dan Kartikosari yang dahulu tinggal di Bayuwismo? Aku mengenal orang tuamu baik-baik, Endang Patibroto. Aku orang dari Selopenangkep, dahulu kukenal baik Pujo, Kartikosari, bahkan Sang Resi Bhargowo. Namaku Ki Jatoko. Karena tadi kulihat pemuda lawanmu ini amat tangkas dan berbahaya, maka mengingat akan... eh, ibumu, maka aku turun tangan membantumu. Harap kau jangan marah."
Diam-diam Endang Patibroto terkejut. Orang ini agaknya benar-benar mengenal orang tuanya baik-baik.
"Kalau kau tidak mau membunuhnya, biarlah aku yang membunuhnya agar di hari kemudian tidak akan ada gangguan lagi dari orang muda ini."
Ki Jatoko menghunus kerisnya dan menghampiri tubuh Joko Wandiro yang masih menggeletak di atas tanah.
"Jangan bunuh!"
Bentak Endang Patibroto dan dengan heran Ki Jatoko menahan langkahnya. Ia tidak berani membantah, maklum betapa saktinya gadis itu.
"Tanpa bantuanmu, aku tidak akan kalah olehnya. Kelak dia akan kutewaskan sendiri dengan kedua tanganku. Eh, paman buntung. kau bilang mengenal baik ayah-bundaku ada hubungan apakah antara engkau dengan ayah-bundaku?"
Ki Jatoko tersenyum, lalu menarik napas panjang.
"Kuceritakan juga takkan ada yang percaya. Hubunganku amatlah erat, terutama dengan ibumu. Ada rahasia besar antara ibumu dan aku."
"Rahasia? Rahasia Apa...?"
Endang Patibroto penasaran dan marah. Ki Jatoko orangnya memang cerdik. Ia menggeleng kepala dan menghela napas panjang.
"Belum tiba saatnya kututurkan kepadamu. Ada hal yang lebih penting lagi. Tahukah engkau bahwa tadi pemuda itu menyangka kau orang lain?"
Merah wajah Endang Patibroto. Bedebah, sumpahnya dalam hati. Si buntung ini agaknya melihat ketika ia dipeluk Joko Wandiro tadi. Ia tidak menjawab, hartya mendengus perlahan.
"Dia tadi sedang mencari Ayu Candra, kekasihnya, juga adik tirinya. Memang pemuda ini seorang yang tidak tahu malu, mencinta adik tiri seibu sendiri! Kekasihnya itu bernama Ayu Candra dan gadis itu adalah puteri Listyokumolo dan Adibroto...!"
"Ahh! Dia mencari aku untuk membalas dendam karena ayah-bundanya telah kubunuh!,"
Endang Patibroto memotong marah.
Diam-diam girang hati Ki Jatoko.
Dari pertengkaran antara Joko Wandiro dan gadis ini tadi ia hanya dapat menduga-duga dan sekarang ternyata ia mendapat keterangan yang jelas.
Tahulah ia kini Apa yang terjadi.
Jelas bahwa Pujo telah dibunuh oleh Listyokumolo, kemudian Listyokumolo bersama Ki Adibroto dibunuh oleh gadis ini!
Pantas saja bekas pukulannya pada tubuh Ki Adibroto demikian keji dan mengerikan!
"Memang begitulah, akan tetapi aku telah berhasil membujuknya sehingga ia telah ikut bersamaku, tadinya hendak kuajak dia ke Jenggala.
Aku mengenal baik sang prabu di Jenggala, juga para pernbantunya yang sakti banyak yang kukenal.
Aku sudah berpikir untuk mengajaknya ke sana bertemu denganmu."
"Hemm, akan kubunuh dia!"
"Tidak begitu, anak yang baik. Ada hukuman yang lebih baik lagi yang tentu akan menyenangkan hatimu."
"Bagaimana?"
"Yaitu... eh..., dia akan kupaksa menjadi... isteriku!"
Terbelalak sepasang mata Endang Patibroto.
Ia memandang si buntung itu biarpun cuaca sudah mulai gelap, masih dapat ia melihat bentuk tubuh yang buntung kedua kakinya itu dan ia bergidik.
Menjadi isteri orang ini benar-benar lebih mengerikan daripada mati!
"Mengapa aku harus menyerahkan dia kepadamu untuk kau peristeri?"
"Karena... karena... eh, rahasia itulah, Endang Patibroto. Kalau engkau sudah tahu akan rahasia antara ibumu dan aku, tentu kau akan dengan segala senang hati menyerahkan dia untuk menyenangkan hatiku. kau berjanjilah, anak baik, bahwa kalau kau berhasil menangkap Ayu Candra, kau akan menyerahkannya kepadaku, tidak akan membunuhnya, untuk ditukar dengan... rahasia itu yang tentu akan kuterangkan kepadamu. Sebelum Ayu Candra diserahkan kepadaku, biar dibunuh sekalipun, aku takkan membuka rahasia besar antara ibumu dan aku yang... eh, ada hubungannya rapat dengan dirimu pula."
Endang Patibroto adalah seorang gadis yang masih muda dan hijau.
Penuturan si buntung ini amat menarik hatinya.
Apa lagi ia kini merasa seperti pernah melihat orang buntung ini, akan tetapi ia sudah lupa lagi kapan dan di mana.
Tanpa terasa, saking tertarik, ia menganggukkan kepalanya.
"Sudahlah, kau boleh pergi sekarang."
"Akupun hendak menghadap sang prabu di Jenggala. Lebih baik kita pergi bersama."
"Ihh, siapa sudi pergi dengan seorang buntung seperti kau?"
Endang Patibroto menghardik.
"Pergilah kau lebih dulu!"
Mendongkol juga hati Ki Jatoko.
Gadis ini terlalu sombong, akan tetapi harus ia akui bahwa kesaktian gadis itu juga menggiriskan hati.
Ia tersenyum dan pergi dari situ, ia tidak berani menyelinap untuk mengintai karena maklum bahwa perbuatan itu amat berbahaya dan kalau sampai diketahui, mungkin gadis yang keji dan ganas itu sekali serang akan merampas nyawanya!
Ia sudah merasa girang sekali karena kini ia sudah tahu akan semua kejadiannya, bahkan ia tahu pula bahwa Kartikosari dan Roro Luhito, dua orang wanita musuh besarnya itu, kini bersembunyi di Pulau Sempu!
Dengan bantuan kawan-kawannya di Jenggala, Apa sukarnya menyerbu ke Sempu?
Ia akan membalas dendam, ia akan membunuh mereka...
ah, tidak!
Tidak akan begitu mudah.
Ia akan mempermainkan mereka, memperhina mereka sampai kedua orang wanita cantik itu merindukan kematian.
Ia akan membalas dendam sepuasnya.
Akan tetapi, ia harus mencari Ayu Candra.
Kalau lebih dulu gadis yang dicintanya itu terjatuh ke tangan Endang Patibroto, biarpun Endang sudah berjanji kepadanya untuk menukar Ayu dengan rahasia besar, namun janji seorang gadis liar seperti Endang Patibroto sukar untuk dipercaya.
Wataknya yang begitu liar dan ganas sungguh mengerikan.
Siapa tahu kalau Ayu Candra akan dibunuhnya lebih dulu!
Sementara itu, setelah si buntung pergi jauh, Endang Patibroto menghampiri tubuh Joko Wandiro.
Dipandangnya sosok tubuh yang rebah miring itu, kemudian ia membungkuk dan meraba dadanya.
Gadis itu menarik napas lega ketika merasa betapa jantung pemuda itu masih berdegup normal dan pernapasannya masih biasa.
"Hemmm, engkau manusia keji...! Sudah tahu ayah menjodohkan kita, engkau masih berani menyebut-nyebut nama gadis lain di depanku! Sungguh tak menghargai orang, apakah kau merasa terlalu berharga bagiku? Huh, laki-laki sombong!"
Dengan gemas Endang Patibroto lalu meloncat dan menghilang di dalam gelap, meninggalkan Joko Wandiro yang masih menggeletak pingsan di tengah hutan.
Endang Patibroto uring-uringan.
Hatinya kecut dan kesal sekali.
Bertubi-tubi banyak hal yang tak menyenangkan hatinya telah terjadi, membuat kepalanya serasa pening dan dadanya panas hampir meledak.
Dengan selamat ia telah mengantarkan Pangeran Panjirawit dan Puteri Mayagaluh pulang ke istana Jenggala.
Hal pertama yang menggemaskan hatinya terjadilah.
Ia disambut dengan teguran-teguran pahit oleh para senopati dan penjabat-penjabat tinggi, karena dianggapnya telah membawa pangeran dan puteri itu sehingga menggelisahkan semua keluarga Raja.
Karena merasa bahwa memang terlalu lama ia mengajak pergi dua orang muda bangsawan itu dan memang tentu saja telah menggelisahkan mereka, apalagi kalau mereka mendengar akan pengalaman sang puteri yang amat berbahaya, maka Endang Patibroto tidak membantah dan diam saja, biarpun hatinya menjadi panas.
Hal ke dua yang lebih menjengkelkan hatinya menyusul.
Ternyata sang prabu tidak menyambut kedatangannya, bahkan tidak berkenan menerimanya menghadap.
Menurut desas-desus, sang prabu "Sedang sibuk"
Dengan dua orang wanita sakti yang sejak lama membantu Jenggala, yaitu Ni Durgogini dan Ni Nogogini yang sudah beberapa hari "Dikeram"
Di dalam istana, bahkan selama itu sang prabu tak pernah menampilkan diri.
"Ni Durgogini dan Ni Nogogini tiba-tiba muncul dan aneh sekali. Kalau tadinya mereka itu merupakan dua orang wanita cantik genit dan masih muda, sekarang, biarpun pakaian mereka masih mewah dan sikap mereka masih genit, namun mereka telah menjadi tua, menjadi nenek-nenek!"
"Agaknya sang prabu amat percaya kepada mereka. Hemm, tidak akan mengherankan kalau mereka menjadi calon pengawal-pengawal pribadi sang prabu!"
"Memang mereka itu sakti mandraguna!"
"Bukan itu saja, juga ada berita angin yang mengabarkan bahwa mereka itu..., hemm... amat pandai merayu hati pria!"
Demikianlah ucapan-ucapan dari para pengawal yang memasuki telinga Endang Patibroto.
Sungguhpun tidak ada seorang juga yang berani menyatakan bahwa kedudukannya digeser atau direbut dua orang wanita itu, namun di dalam hatinya ia merasa dikesampingkan oleh sang prabu.
Kejengkelan hati Endang Patibroto membuat ia pergi tanpa pamit!
Ia pergi seorang diri tanpa menunggang kuda dan akhirnya tiba di Bukit Anjasmoro di mana ia secara kebetulan bertemu dengan Joko Wandiro!
Mula-mula ketika ia dipeluk dari belakang dan diciumi rambutnya, semacam perasaan aneh yang tak pernah dirasakannya, yang membuat jantungnya berdebar, melemaskan seluruh tubuhnya dan ia merasa nikmat luar biasa ketika ia menyandarkan kepalanya di atas dada yang bidang itu.
Dada Joko Wandiro.
Dada pria yang oleh ayahnya telah dicalonkan menjadi suaminya!
Akan tetapi, perkembangan selanjutnya makin menjengkelkan hatinya.
Pertandingannya dengan Joko Wandiro, kenyataan bahwa ia tak mampu mengalahkan pemuda itu, menambah kejengkelan dan penasaran hatinya.
Kemudian melihat betapa Ki Jatoko si buntung itu merobohkan Joko Wandiro secara curang, semua ini membuat Endang Patibroto uring-uringan dan marah-marah.
Ingin ia menumpahkan kemarahannya itu, akan tetapi kepada siapa?
Tiba-tiba terdengar derap kaki kuda mendatangi dan tampaklah belasan orang penunggang kuda.
Endang Patibroto hendak pergi, akan tetapi terdengar teriakan yang sudah dikenalnya.
"Endang...! Endang Patibroto...!"
Itulah suara Pangeran Panjirawit!
Endang Patibroto ragu-ragu, kemudian mengambil keputusan untuk menanti dan mendengarkan Apa yang hendak dikatakan pangeran yang menjadi sahabat baiknya itu.
Kalau ia sudah tak terpakai lagi di Jenggala, mau Apa Pangeran Panjirawit menyusulnya?
Ia tidak akan mudah dibujuk dengan kata-kata halus, biar oleh Pangeran Panjirawit sekalipun!
Benar dugaannya.
yang datang adalah Pangeran Panjirawit bersama empat orang pangeran lain dan para pengawal.
Begitu melompat turun dari atas kuda, Pangeran Panjirawit lari menghampiri Endang Patibroto dan memegang tangannya.
"Endang, kenapa engkau pergi? Engkau harus menolong kami, harus menolong kanjeng rama!"
Kata Pangeran Panjirawit dengan napas terengah-engah. Juga empat orang pangeran yang lain maju pula membujuk. Endang Patibroto tersenyum mengejek dan pandang matanya dingin menyapu para pangeran itu.
"Hemm,"
Katanya kemudian dengan suara dingin.
"Aku sudah tidak diperlukan lagi, mengapa paduka sekalian menyusul? Kalau ada urusan penting, bukankah di sana sudah ada dua orang wanita sakti yaitu Ni Durgogini dan Ni Nogogini? Sang prabu sama sekali tidak lagi membutuhkan bantuanku!"
"Ah, Endang, engkau sama sekali tidak tahu! Jangan kau menduga yang tidak-tidak terhadap kanjeng rama. Beliau sama sekali bukan tidak menghargai atau membutuhkan bantuanmu lagi. Bahkan sebaliknya, saat ini beliau dan kami semua amat membutuhkan bantuanmu."
"Hemm, ada perkara apakah, Gusti Pangeran Panjirawit?"
"Endang, menurut hasil para ponggawa setia yang melakukan penyelidikan, ternyata orang-orang sakti yang katanya membantu kanjeng rama, termasuk Ni Durgogini, Ni Nogogini, Cekel Aksomolo, Warok Gendroyono, Ki Krendroyakso, dan sekarang ditambah lagi dengan seorang brahmana tua yang amat sakti bernama Bhagawan Kundolomuko yang katanya adalah ayah dari Ni Durgogini dan Ni Nogogini, mengadakan persekutuan busuk untuk merampas Kerajaan Jenggala!"
Seketika perhatian Endang Patibroto tertarik dan lenyaplah kekeruhan wajahnya.
"Apa maksud paduka? Harap ceritakan yang jelas."
"Mereka itu bersekutu dengan Adipati Jagalmanik yang menjadi Raja muda di Nusabarung, sebuah pulau di Laut Selatan. Sekarang Ni Durgogini dan Ni Nogogini telah berhasil mempengaruhi kanjeng rama, hal ini termasuk siasat yang mereka rencanakan. Karena kami tidak berani mengganggu kanjeng rama sedangkan tidak ada senopati atau pengawal yang kiranya dapat menanggulangi kesaktian dua orang wanita iblis itu, maka harap kau suka membantu kami. Masuklah ke taman sari dan tangkaplah Ni Durgogini dan Ni Nogogini, Endang."
"Bagaimana nanti kalau sang prabu marah kepada hamba?"
Endang Patibroto meragu.
"Kami yang bertanggung jawab kalau rama prabu marah,"
Kata Pangeran Panjirawit.
"Kanjeng rama sudah lupa segala, tidak pernah bersidang dan tidak pernah mau bertemu dengan siapapun juga. Kami semua khawatir sekali,"
Kata seorang pangeran lain.
"Baiklah. Hamba akan menghadapi dua orang nenek-nenek iblis itu. Para pengawal lain dan juga paduka sekalian harap jangan turut campur."
Setelah berkata demikian, sekali tubuhnya berkelebat Endang Patibroto sudah lenyap dari depan mereka, membuat para pangeran dan pengawal, kecuali Pangeran Panjirawit yang merasa bangga, menjadi terlongong keheranan dan hati penuh kagum.
Mereka lalu beramai-ramai pulang ke Jenggala.
Sebelum rombongan Pangeran Panjirawit ini tiba di istana Jenggala, pada senja hari itu terjadi peristiwa hebat di dalam taman sari keraton Jenggala.
Pada senja hari itu, di taman sari yang indah itu sunyi sekali, sesunyi tanah kuburan.
Semenjak Ni Durgogini dan Ni Nogogini berada di dalam keraton, semua pengawal yang menjaga taman sari, juga para emban pelayan, ditiadakan.
Taman sari itu sunyi dan penuh dengan getaran hawa yang aneh, akan tetapi bagi sang prabu, agaknya merupakan sebuah taman Indraloka, surga yang penuh keindahan.
Ditemani dua orang wanita itu, sang prabu merasa seakan-akan hidup di taman surga dikawani dua orang bidadari kahyangan yang cantik jelita!
Ketika Endang Patibroto menyusup memasuki taman sari mempergunakan aji kesaktiannya sehingga tidak menimbulkan suara dan tidak diketahui oleh tiga orang yang berada di taman sari, gadis ini segera dapat melihat bahwa di dalam taman sari telah terjadi hal-hal yang bukan sewajarnya.
Hawa dingin penuh getaran kuat dirasainya dan ia maklum bahwa dua orang wanita iblis itu mempergunakan aji yang dahsyat dan memiliki pengaruh yang amat kuat.
Ketika ia mengintai, makin jelaslah dan makin yakinlah hatinya bahwa sang prabu berada di dalam cengkeraman kedua orang iblis betina itu yang mempergunakan aji guna-guna yang memabokkan dan mempesona sang prabu.
Ia melihat betapa sang prabu sedang duduk setengah berbaring di sebuah bangku panjang.
Ni Durgogini berlutut dan memijiti kedua kaki sang prabu, sedangkan Ni Nogogini menuangkan minuman keras dan memberi minum sang prabu dengan sikap genit sekali.
Dengan gaya memikat ketika memberi minum, ia sengaja merapatkan dadanya pada pipi sang prabu.
Juga Ni Durgogini memijat sambil mengusap-usap dan membelai mesra.
Sang prabu kelihatan senang dan wajahnya amat pucat, pipinya cekung, sekitar matanya menghitam, dan mata itu sendiri setengah dipejamkan.
"Sayang tidak sejak dahulu kalian melayani aku semanis ini, manis!"
Kata sang prabu sambil membuang napas lega setelah minum, kemudian merebahkan kepala di atas pangkuan Ni Nogogini!
Endang Patibroto memandang dengan kedua pipi berubah merah.
Belum pernah ia menyaksikan orang bermesra-mesraan dan bermain cinta, maka kini jantungnya berdebar dan mukanya merah.
Akan tetapi saking herannya ia sejenak tak bergerak seperti arca.
Jelas tampak olehnya betapa perubahan besar terjadi pada wajah kedua orang wanita itu.
Dahulu mereka cantik molek dan kelihatan masih muda, takkan lebih dari tiga puluh tahun usia mereka.
Akan tetapi sekarang telah menjadi nenek-nenek yang peyot dan keriputan, nenek-nenek yang pantasnya berusia enam puluh tahun!
Ia tidak tahu bahwa kedua orang wanita ini kehilangan daya ampuh obat Suket Sungsang setelah terkena pukulan tangan Joko Wandiro.
Yang membuat Endang Patibroto terheran-heran adalah sikap sang prabu.
Agaknya sang prabu tidak menganggap mereka itu buruk dan tua!
Hemm, pasti terkena ilmu guna-guna yang amat kuat, pikir Endang Patibroto.
Dugaan gadis sakti ini memang benar.
Kedua orang wanita itu boleh jadi kehilangan daya obat muda Suket Sungsang, namun mereka sama sekali tidak pernah kehilangan aji kesaktian mereka.
Setelah mereka dikalahkan Joko Wandiro dan dibikin badar sehingga menjadi tua, mereka lari mencari ayah mereka yang bertapa di hutan Gumuk-mas dekat pantai selatan dari mana Pulau Nusabarung sudah tampak.
Ternyata kemudian bahwa ayah mereka, Bhagawan Kundolomuko, telah bersekutu dengan sahabatnya, Sang Adipati Jagalmanik dari Nusabarung untuk menguasai Kerajaan Jenggala yang mereka anggap lemah.
Demikianlah, setelah mengadakan persekutuan dengan para pembantu sakti dari Jenggala dengan perantaraan Ni Durgogini dan Ni Nogogini, kedua orang wanita ini lalu mendekati sang prabu dan menjalankan siasat komplotan mereka, yaitu mempengaruhi sang prabu di Jenggala sehingga jatuh di bawah kekuatan mereka.
Secara kebetulan sekali kepala pengawal yang mereka segani, Endang Patibroto, sedang pergi bersama Pangeran Panjirawit dan Puteri Mayagaluh, maka usaha kedua nenek ini dapat dilaksanakan dengan lancar.
Dengan aji pengasihan Guno Asmoro, dengan mudah sang prabu dibuat tak berdaya dan tergila-gila kepada dua orang nenek yang dalam pandangan sang prabu seakan-akan dua orang bidadari cantik jelita itu.
Biarpun keturunan langsung Sang Prabu Airlangga yang sakti mandraguna, namun Raja Jenggala ini sejak mudanya sudah menjadi hamba nafsunya dan bergaul dengan orang-orang yang tidak suci, maka mudah saja terkena pengaruh aji pengasihan yang amat ampuh itu.
Ketika melihat betapa Ni Durgogini memeluk pinggang sang prabu sedangkan Ni Nogogini mencium pipinya, Endang Patibroto tak dapat menahan kemarahannya lagi.
Ia melompat keluar sambii menepuk kedua tangannya dengan pengerahan Aji Wisangnoio dibarengi pekik sakti Sardulo Bairowo yang amat dahsyat.
Kedua tangannya mengeluarkan suara seperti halilintar menyambar disambung pekiknya yang memekakkan telinga.
Hebat bukan main aji kesaktian gadis ini.
Mendengar suara yang amat dahsyat itu, seketika sirna pengaruh aji pengasihan Guno Asmoro yang mencengkeram ingatan dan hati sang prabu.
Seketika sang prabu menjadi sadar dan memandang dengan mata terbelalak kepada dua orang nenek itu, kemudian ia menjerit dan roboh pingsan di atas bangku!
Ni Durgogini dan Ni Nogogini terkejut setengah mati ketika melihat munculnya Endang Patibroto.
Mereka tadinya sudah merasa berhasil dan aman.
Setelah sang prabu dikuasai, siapa lagi berani mengganggu?
Sama sekali tidak mereka sangka bahwa gadis ini sedemikian beraninya memasuki taman sari tanpa ijin sri baginda!
Mereka berdua marah sekali, akan tetapi karena mereka maklum bahwa murid Dibyo Mamangkoro ini sama sekali tidak boleh dibuat main-main, mereka yang cerdik menahan kemarahannya dan mengambil sikap lunak.
"Ah, kiranya adinda kepala pengawal yang datang. Apakah sebabnya adinda mengganggu kami berdua yang sedang menghibur sang prabu?"
Bertanya Ni Durgogini dengan suara merdu dan halus.
"Ah, adinda sungguh main-main sehingga membuat sang prabu jatuh pingsan,"
Ni Nogogini juga menegur dengan suara halus.
Endang Patibroto membanting kakinya.
Cih, perempuan-perempuan tua bangka tak tahu malu, menyebutnya adinda segala!
Mereka itu patut menjadi neneknya!
Ia tersenyum mengejek ketika berkata.
"Kalian tak usah bersandiwara lagi, karena aku sudah tahu betapa kalian menjadi kaki tangan Adipati Jagalmanik di Nusabarung dan bertugas menguasai sang prabu."
Seketika pucat wajah Ni Durgogini dan Ni Nogogini dan secara tak sadar tangan mereka sudah meraba gagang senjata masing-masing.
Namun Ni Durgogini masih bersiasat dan berkata dengan suara penuh bujukan.
"Endang Patibroto, terhadap seorang gadis sakti mandraguna dan cerdik pandai seperti engkau, memang tak perlu lagi kami bersandiwara. Memang Apa yang kau katakan tadi benar. Akan tetapi, siapa pula orangnya yang sudi menghambakan diri kepada Raja yang lemah ini? Kerajaan Jenggala amat lemah dan sudah pasti akan dicaplok Kerajaan Panjalu yang jauh lebih kuat. Kecuali kalau Jenggala berada di bawah pimpinan seorang yang kuat dan pandai seperti Adipati Jagalmanik, barulah dapat menghadapi Panjalu. Endang Patibroto, berpikirlah cerdik dan kiranya gurumu, paman Dibyo Mamangkoro juga akan sependapat dengan kami. Kalau kau membantu Adipati di Nusabarung, kelak engkau tentu akan mendapatkan kemuliaan dan..."
"Cukup! Tutup mulutmu yang beracun! Siapa sudi bersekutu dengan manusia-manusia rendah macam kalian? Saat ini kematian telah menanti kalian, kematian kalian sudah sejak dahulu kuidam-idamkan harus jatuh di tanganku!"
Dua orang wanita itu melompat bangun dan senjata mereka sudah berada di tangan.
Ni Durgogini sudah mencabut senjatanya yang dahsyat, yaitu cambuk yang bernama pecut sakti Sarpokenoko.
Sedangkan Ni Nogogini juga sudah mencabut keluar cundriknya yang ampuh dan mengeluarkan cahaya berkilat, yaitu cundrik Embun-sumilir!
"Babo-babo, keparat Endang Patibroto!
Sumbarmu seperti di dunia ini hanya engkau seorang wanita sakti!
jangan dikira bahwa kami takut menghadapimu.
Hanya karena melihat engkau masih muda dan murid paman Dibyo Mamangkoro maka kami masih bersikap sabar dan mengajakmu bekerja sama.
Akan tetapi kalau engkau nekat menantang yuda, jangan mengira kami akan undur setapakpun.
Hanya sebelumnya, katakanlah mengapa engkau menghendaki kematian kami di tanganmu."
Senyum yang menghias mulut yang indah bentuknya itu melebar sehingga tampak deretan gigi putih berkilauan.
"Ni Durgogini dan Ni Nogogini, coba kalian ingat baik-baik, Apa yang kalian lakukan belasan tahun yang lalu di Pulau Sempu?"
Dua orang nenek itu saling pandang, kemudian Ni Durgogini memandang gadis itu dengan heran.
"Di Pulau Sempu? Kami hanya satu kali mengunjungi Pulau Sempu, sebagai utusan sang prabu yang dahulu masih Pangeran Anom. Kami dan rombongan mencari pusaka Mataram yang hilang."
"Bagus kalau kalian masih ingat, kalian takkan mati penasaran. Tentu masih ingat akan perbuatan kalian mengeroyok Bhagawan Rukmoseto atau Resi Bhargowo? Dengarlah, aku adalah cucunya"
"Aiiihhhh...!"
Ni Durgogini berteriak.
"Tapi kenapa kau di Jenggala...?"
Ni Nogogini berseru pula, akan tetapi karena kedua orang wanita itu kini maklum bahwa pertandingan mati-matian tak dapat dicegah lagi, mereka berdua sudah menerjang maju sambil menggerakkan senjata masing-masing.
Pecut Sarpokenoko di tangan Ni Durgogini menyambar-nyambar dan meledak-ledak di atas kepala Endang Patibroto seperti petir dan mengeluarkan hawa panas sekali, sedangkan cundrik Embun-sumilir di tangan Ni Nogogini berubah menjadi gulungan sinar kemilau yang mengeluarkan hawa dingin.
"Tar-tar-tar-tar...!!"
Cambuk itu meledak-ledak.
"Wuuut... siuuuutttt...!"
Cundrik Embun-sumilir menyambar-nyambar.
Endang Patibroto maklum bahwa kedua orang lawannya ini bukan orang sembarangan sedangkan senjata-senjata merekapun merupakan pusaka-pusaka ampuh.
Namun ia tak mau mencabut Ki Brojol Luwuk.
Gurunya yang merasa ngeri melihat keris pusaka Mataram itu berpesan agar dia tak menggunakan pusaka itu kalau tidak terlalu terpaksa dan Endang Patibroto adalah seorang gadis perkasa yang amat percaya kepada diri sendiri.
Ia merasa sanggup menghadapi dua orang wanita ini, maka ia menghadapi mereka dengan kedua tangan kosong.
Tubuhnya berkelebat cepat sekali sehingga kadang-kadang ia lenyap dari pandangan kedua orang lawannya.
Gadis ini telah mainkan ilmu gerak walet dan camar.
Tubuhnya demikian ringan dan gesit sehingga ketika mengelak dan meloncat ke sana ke mari tiada ubahnya seekor burung beterbangan saja.
Sesungguhnya Ni Durgogini dan Ni Nogogini bukanlah wanita biasa saja.
Di waktu mereka masih remaja puteri, mereka telah menerima gemblengan ilmu dari ayah mereka yang sakti, yaitu Bhagawan Kundolomuko yang dahulu tinggal di pantai Selat Bali.
Biarpun waktu itu mereka hanya mewarisi sebagian kecil ilmu ayahnya, namun mereka sudah termasuk wanita-wanita digdaya.
Kemudian, ketika Sang Prabu Airlangga yang ketika itu masih seorang pangeran yang melakukan perantauan dari Bali ke Pulau Jawa, dikawani sahabatnya yang setia Narotama, Dua orang pria muda ini bertemulah dengan Ni Durgogini dan Ni Nogogini yang ketika itu masih bernama Ni Lasmini dan Ni Mandari.
Terjalinlah cinta kasih antara mereka yang menciptakan janji.
Setelah Sang Prabu Airlangga menjadi Raja di Kahuripan dan Narotama menjadi Patihnya, kedua orang wanita cantik dari Selat Bali itu dijemput.
Ni Mandari menjadi selir Sang Prabu Airlangga, sedangkan Ni Lasmini menjadi selir Ki Patih Narotama.
Mereka berdua begitu cantik jelita, begitu pandai memikat hati pria sehingga baik Sang Prabu Airlangga maupun Ki Patih Narotama amat sayang kepada selir dari Selat Bali ini dan berkenan menurunkan beberapa ilmu kesaktian dan petunjuk.
Namun sebagai orang-orang waspada, mereka melihat dasar-dasar watak yang kurang bersih pada diri selir-selir ini maka yang diturunkan hanya sekedarnya saja.
Betapapun juga, tambahan ilmu dari dua orang ini telah membuat Ni Lasmini dan Ni Mandari menjadi wanita-wanita sakti.
Setelah dua orang selir itu kemudian diusir karena keduanya tidak setia dan bermain gila dengan pangeran-pangeran muda, Ni Lasmini berganti nama menjadi Ni Durgogini dan bertapa di puncak Girilimut sedangkan Ni Mandari, adiknya, pergi ke pantai selatan dan berganti nama Ni Nogogini.
Tentu saja setelah bertapa, ilmu kepandaian mereka makin menjadi hebat.
Akan tetapi, selama puluhan tahun ini baru dua kali Ni Durgogini dan Ni Nogogini benar-benar kecelik dan terpukul.
Pertama ketika mereka menghadapi Joko Wandiro yang sudah mewarisi ilmu kesaktian Ki Patih Narotama.
Ke dua adalah sekarang ini ketika mereka mengeroyok Endang Patibroto yang telah mewarisi ilmu kesaktian Dibyo Mamangkoro.
Biarpun mereka berdua menyerang dengan senjata pusaka di tangan, sedangkan Endang Patibroto menghadapi mereka dengan tangan kosong, namun setelah lewat tiga puluh jurus, kedua orang nenek itu mulai terdesak hebat!
Hal ini adalah karena selain menggunakan keringanan tubuhnya yang hebat, yang membuat ia mampu"Berjalan"
Di atas permukaan air mempergunakan mancung kelapa, juga Endang Patibroto mulai membalas dengan pukulan-pukulan jarak jauh, yaitu Aji Wisangnolo.
Hawa pukulan Aji Wisangnolo ini demikian ampuhnya sehingga kedua orang wanita tua yang mengeroyoknya beberapa kali terdorong mundur kepanasan, bahkan ujung cambuk Sarpokenoko setiap kali bertemu dengan hawa pukulan Wisangnolo membalik dan melecut pemegangnya sendiri!
Dua orang wanita itu selain kaget juga makin marah dan penasaran.
Biarpun menjadi murid Dibyo Mamangkoro, gadis ini masih amat muda, patut menjadi cucu mereka!
Masa mereka yang telah matang dalam pengalaman ini tidak mampu mengalahkannya.
Tiba-tiba Ni Durgogini mengeluarkan pekik melengking nyaring, juga Ni Nogogini menjerit keras, keduanya lalu menerjang dengan nekat sambil mengerahkan tenaga.
Ujung cambuk Sarpokenoko berhasil menjerat pangkal lengan kanan Endang Patibroto dengan kuat.
Selagi Endang Patibroto membetot lengannya berusaha melepaskan diri, Ni Nogogini sudah menusukkan cundrik Embun-sumilir ke arah dada yang membusung itu.
Endang Patibroto tentu saja melihat datangnya cundrik, namun gadis itu hanya tersenyum saja sambil menyalurkan hawa sakti ke arah dada yang tertusuk sedangkan tangan kanannya bergerak ke pinggang kiri.
Tangan kanan ini berkelebat dan sinar hitam menyambar ke depan, kemudian secepat kilat ia membiarkan dirinya terbetot cambuk, mendekat Ni Durgogini sambil mengerahkan tenaga melakukan pukulan Wisangnolo ke arah lambung dan lengan kanan Ni Durgogini.
Cepat bagaikan kilat menyambar semua gerakan ini, sukar diikuti pandangan mata dan tahu-tahu terdengar jerit dua orang nenek itu, disusul darah menyemprot keluar, tubuh Ni Nogogini terguling dan Ni Durgogini terhuyung ke belakang sedangkan cambuk Sarpokenoko sudah berpindah ke tangan Endang Patibroto.
Apa yang teiah terjadi?
Kiranya ketika cundrik Embun sumilir menusuk dada, terdengar suara.
"Desss!"
Dan yang robek hanya baju Endang Patibroto karena cundrik itu meleset ketika bertemu dengan buah dadanya seolah-olah anggauta badan gadis itu terbuat daripada baja murni!
Kemudian tangan Endang yang bergerak tadi telah melepaskan panah tangan yang tak dapat dihindarkan lagi menancap tepat di ulu hati Ni Nogogini.
Nenek ini menjerit, cundriknya terlempar dan ia mendekap ulu hatinya yang tidak kelihatan terluka karena panah tangan itu menancap terus sampai lenyap!
Hanya semprotan darah dari ulu hati yang menyatakan bahwa nenek itu terpanah secara hebat.
Matanya mendelik dan tubuhnya berkelojotan dalam sekarat!
Gerakan selanjutnya dari gadis perkasa yang pangkal lengannya masih terlibat ujung cambuk Sarpokenoko adalah melangkah maju mendekati Ni Durgogini, kemudian langsung mengirim hantaman Wisangnolo.
Diserang dari jarak begitu dekat, Ni Durgogini merasa seakan-akan ada gunung api menimpanya, ia tidak kuat menjerit dan melepaskan cambuknya, terhuyung-huyung ke belakang sampai punggungnya menabrak batang pohon.
Dengan mata terbelalak penuh ngeri, Ni Durgogini melihat adiknya berkelojotan, kemudian menjadi ketakutan ketika melihat Endang Patibroto melangkah maju menghampirinya perlahan-lahan dengan mata dingin seperti es sedangkan cambuk Sarpokenoko tergoyang-goyang dan bergantung di tangannya.
"Tidak... tidak jangan..."
Kata Ni Durgogini dengan suara serak. Agaknya melihat nenek itu ketakutan, Endang Patibroto menjadi senang. Bibirnya tersenyum lebar dan tiba-tiba...
"Tarrrr...!"
Cambuk itu melejit di udara dan di lain saat ujung cambuk telah membelit leher NI Durgogini seperti lilitan buntut seekor ular.
"Aaaah... aaauuughhh. auukkkk!"
Ni Durgogini mengerahkan tenaga, membetot-betot cambuk itu untuk melepaskan lilitan pada lehernya yang makin mencekik, membuat ia tak dapat bernapas.
Namun sia-sia usahanya, lilitan makin erat dan makin erat sehingga mata nenek itu mendelik, lidahnya terulur keluar, kemudian ia roboh bergulingan, tangan kakinya berkelojotan seperti Ni Nogogini yang juga berkelojotan!
Endang Patibroto kini menjadi beringas dan buas pandang matanya.
Menyaksikan kedua orang musuhnya berkelojotan, senyum puas menghias bibirnya dan matanya mengeluarkan sinar seperti mata iblis.
Kemudian ia mengerahkan tenaga, menarik gagang cambuk Sarpokenoko sekuat tenaga dan...
"Rrrrtttt!!,"
Leher Ni Durgogini putus, membuat kepalanya terpisah dari tubuhnya!
Sambil tertawa-tawa Endang Patibroto lalu mengangkat gagang cambuk, sekali cambuknya digerakkan ke udara, terdengar suara meledak dan ujung cambuk kini melecut ke bawah, menyambar leher Ni Nogogini yang tubuhnya masih berkelojotan dan sekali sabet saja leher Ni Nogogini juga putus!
Bukan main hebatnya tenaga dan kepandaian Endang Patibroto, dan juga bukan main kejamnya jika menghadapi orang-orang yang dibencinya!.
Para pangeran dan pengawal yang mengintai dari jauh kini datang berlarian ke dalam taman sari.
Mereka menjadi ngeri menyaksikan mayat kedua orang nenek itu.
Pangeran Panjirawit yang bijaksana cepat-cepat memberi perintah kepada para pengawal untuk membawa pergi kedua mayat nenek itu dan dia sendiri bersama para pangeran lain lalu beramai-ramai menggotong tubuh sang prabu yang masih pingsan ke dalam keraton.
Ketika sang prabu sadar dari pingsannya, ia seperti orang yang baru bangun dari mimpi buruk.
Dengan sabar dan hati-hati Pangeran Panjirawit lalu menceritakan tentang persekutuan itu, kemudian tentang usaha Ni Durgogini dan Ni Nogogini untuk mempengaruhi dan menguasai sang prabu.
"Sungguh mujur bahwa Endang Patibroto datang menolong kanjeng rama dan membunuh dua orang siluman betina itu."
Pangeran Panjirawit menutup ceritanya. Mendengar penuturan ini, sang prabu menjadi marah sekali. Ia segera memerintahkan para senopatinya untuk memimpin pasukan dan menggempur Nusabarung!.
"Sebelum mereka turun tangan menyerbu, kita mendahului mereka menerjang ke sana dan membasmi Nusabarung!"
Teriak sang prabu yang selain marah juga merasa malu akan kelemahannya sendiri sehingga hampir saja mencelakakan Kerajaannya.
Kemudian sang prabu memanggil Endang Patibroto datang menghadap, dan setelah memberi kata-kata pujian dan memberi hadiah emas permata, sang prabu minta agar gadis perkasa ini menyertai pasukan yang menyerbu ke Nusabarung untuk menghadapi pimpinan musuh yang memiliki kesaktian.
* * * Jarum hitam yang menjadi senjata rahasia Ki Jatoko ampuh dan amat berbahaya.
Jarum-jarum ini sengaja dibuat oleh Ki Jatoko dengan batang berlubang sehingga ketika ia merendamnya dengan racun ular racun itu memasuki lubang dan mengering di situ.
Begitu jarum itu menancap di tubuh lawan, racun yang mengering ini terkena darah lalu ikut keluar dan meracuni darah dalam tubuh.
Karena racun di setiap jarum itu banyak sekali, maka sebatang jarum kalau mengenai tubuh orang sama bahayanya dengan gigitan tiga ekor ular berbisa!
Gigitan seekor ular berbisa saja sudah cukup untuk merenggut nyawa orang, apalagi tiga ekor!
Joko Wandiro telah terluka oleh sebatang jarum Ki Jatoko.
Tepat di lehernya!
Kalau bukan Joko Wandiro, tentu seketika akan tewas karena darahnya telah keracunan dan letaknya dekat kepala.
Akan tetapi aneh sekali, mengapa ketika Endang Patibroto memeriksanya, pemuda ini tidak tewas, hanya pingsan?
Betapapun saktinya pemuda itu, dalam keadaan pingsan tentu ia tidak dapat mengeluarkan kesaktiannya untuk melindungi tubuh dari serangan racun.
Bukan, bukan kesaktiannya yang membuat pemuda ini belum tewas.
Melainkan darahnya sendiri.
Pemuda ini ketika dahulu berada di Pulau Sempu, setelah menyimpan patung kencana di atas pohon randu alas, telah digigit seekor ular yang sangat beracun.
Dalam takut dan nyeri, ia berlari dan balas menggigit leher ular sambil menghisap darah ular sampai habis.
Inilah yang membuat darah pemuda itu mengandung racun ular itu dan memberinya daya untuk menahan racun-racun ular sehingga biarpun kini ia terluka dan terkena racun, namun keadaannya tidak separah orang biasa.
Racun itu tidak dapat bergerak cepat, tertahan di sekitar luka oleh racun darahnya sendiri yang kini bahkan menjadi semacam obat penawar atau penolak.
Betapapun juga, keadaannya bukan tidak berbahaya karena daya tolak itu hanya memperlambat saja menjalarnya racun dari jarum Ki Jatoko.
Joko Wandiro menggeletak pingsan di lereng Bukit Anjasmoro sampai malam tiba dan untung baginya bahwa pada saat ia pingsan itu tidak ada binatang buas yang mengetahui atau kebetulan lewat.
Dalam keadaan seperti itu kalau ada seekor harimau menerkamnya, tentu ia akan mati konyol.
Memang ada saja sebab atau jalan penyelamatan nyawa seseorang apabila Hyang Maha Wiscsa belum menghendaki kematian orang itu.
Menjelang malam, secara tiba-tiba muncul enam bayangan orang.
Bayangan-bayangan ini amat cepat gerak-geriknya.
Ada yang meloncat keluar dari balik rumpun alang-alang, ada yang melayang turun dari atas pohon.
Mereka itu bertubuh langsing dan berambut panjang.
Mereka semua adalah wanita-wanita muda yang amat cekatan.
Akan tetapi anehnya, gadis-gadis yang berusia antara lima belas sampai dua puluh tahun ini hampir bertelanjang bulat.
Hanya daun-daun dari kembang-kembang menutupi sebagian tubuh mereka.
Sebagai wanita-wanita muda belia, tentu saja wajah mereka cantik-cantik, akan tetapi kecantikan yang liar, buas, dan tidak terkekang sama sekali.
Agaknya mereka ini tidak mengenal peraturan dan tata susila umum.
Sampai lama mereka mengelilingi Joko Wandiro.
Ada yang meraba-raba, dan ada yang menjambak rambutnya, bahkan ada yang...
mencium pipinya.
Persis perangai serombongan monyet betina!
Akan tetapi mereka dapat bicara seperti manusia biasa, sungguhpun bahasa mereka itu kaku.
"Matikah...?"
"Dia tampan...!"
"Dia terluka..."
"Bawa ke kak Dewi!"
"Ya, bawa ke kak Dewi."
Setelah ramai mengutarakan perasaan dengan kata-kata singkat dan kaku, mereka lalu menggotong tubuh Joko Wandiro sambil tertawa cekikikan, lalu berlari-lari membawa pemuda itu ke dalam hutan yang lebat di lereng Gunung Anjasmoro.
Ketika Joko Wandiro membuka matanya, ia menjadi terheran-heran dan mengira bahwa ia sedang bermimpi.
Ia telah berbaring di atas sebuah pembaringan bambu bertilam anyaman daun pandan, di dalam sebuah pondok bambu yang sederhana namun bersih.
Tubuhnya terasa sehat dan segar, akan tetapi perutnya amat lapar.
yang membuat ia merasa terheran-heran dan mengira dalam mimpi adalah ketika pandang matanya melihat tubuh dua orang gadis cantik duduk bersimpuh di atas lantai.
Dua orang gadis bertubuh montok dan setengah telanjang!
Dan di luar pondok itu, masih terdapat bayangan beberapa orang gadis yang cantik-cantik dan juga setengah telanjang, menjaga di pintu.
Berdebar jantung Joko Wandiro.
Ia menahan diri untuk tidak bergerak, pura pura masih tidur atau pingsan, dan mulailah ia mengingat-ingat.
Terbayang dalam ingatannya betapa ia bertanding melawan Endang Patibroto, bertanding dalam sebuah pertempuran dahsyat dan seru.
Pertempuran paling hebat yang pernah ia alami.
Alangkah digdaya Endang Patibroto.
Sukar mengalahkan gadis perkasa itu.
Teringat ia betapa mereka berdua mengadu tenaga sakti yang membuat mereka terpental.
Pada saat itulah datangnya sinar hitam yang mengenai lehernya.
Hemm, aku terkena senjata rahasia, pikirnya dan perlahan-lahan ia meraba lehernya sebelah kiri.
Masih ada bekas luka di situ akan tetapi sudah tidak terasa sakit lagi, dan obat bubuk yang menempel pada luka sudah mengering.
Ah, tentu aku roboh oleh senjata rahasia yang kecil.
Pantasnya jarum.
Hampir saja Joko Wandiro meloncat namun ditahannya.
Teringat ia sekarang.
Jarum itu menyerangnya dari sebelah kiri, sedangkan Endang Patibroto jelas berada di depan.
Jarum itu bukan dilepas oleh Endang Patibroto.
Tentu oleh Ki Jatoko!
Si buntung keparat itu!
Dengan jarum-jarum yang direndam racun ular.
Tidak salah lagi.
Dan dia roboh pingsan.
Akan tetapi kenapa ia masih hidup?
Kenapa Ki Jatoko dan Endang Patibroto tidak membunuhnya?
Ataukah mereka mengira dia sudah pasti mati karena jarum itu?
Dengan hati-hati Joko Wandiro meraba-raba lehernya.
Kenapa ia tidak mati?
Ia tahu bahwa jarum yang direndam racun ular itu luar biasa ampuhnya.
Kalau ia tidak pingsan, mungkin ia dapat menggunakan hawa sakti untuk memaksa racun keluar.
Akan tetapi ia roboh pingsan, entah berapa lamanya.
Kenapa ia masih belum mati dan lebih aneh lagi, kenapa ia berada dalam pondok dan di situ banyak terdapat gadis cantik setengah telanjang tak tahu malu?
Diam-diam ia membuka mata dan mengeriing ke arah dua orang gadis yang bersimpuh di atas lantai itu.
Usia mereka paling banyak delapan belas tahun.
Melihat kulit yang putih bersih itu, rambut yang hitam panjang mengkilap, gadis-gadis ini merawat baik-baik tubuh mereka.
Akan tetapi mereka hampir telanjang, hanya menutupi bagian tubuh terpenting dengan daun-daun dan rumput hijau saja, namun tidak cukup untuk menutupi tubuh yang berkulit kuning langsat Itu.
Joko Wandiro tak berani memandang terlalu lama.
Gadis-gadis ini, juga yang tampak berdiri di luar itu, jelas adalah orang-orang liar dan tentu bukan orang baik-baik.
Mungkin sekali mereka ini anak buah Ki Jatoko.
Endang Patibroto sudah jelas adalah kepala Pengawal Kerajaan Jenggala, akan tetapi keadaan Ki Jatoko amat mencurigakan.
Orang itu penuh rahasia dan tidak mustahil gadis-gadis ini menjadi anak buahnya, dan dia dijadikan tawanan di tempat ini!
Berpikir demikian, seketika Joko Wandiro melompat turun.
Akan tetapi sebelum ia dapat keluar, tiba-tiba dua orang gadis itu dengan gerakan cepat sekali telah menubruknya dari kanan kiri dan merangkulnya sambil tertawa-tawa, memaksanya rebah kembali di atas pembaringan.
"Hi-hik, si tampan sudah bangun...!"
"Kau tak boleh bergerak, tunggu kak Dewi...!"
Melihat betapa mereka itu merangkul dan memeluknya begitu saja tanpa malu-malu dan tanpa memperhatikan batas kesusilaan, Joko Wandiro menjadi makin geli hatinya dan tak terasa lagi bulu tengkuknya meremang.
Gadis-gadis macam apakah mereka ini?
Cepat ia menggunakan tenaganya, menggoyang tubuh dan dua orang gadis itu terlepas dan terpelanting ke kanan kiri, akan tetapi tidaklah terlalu keras karena memang Joko Wandiro tidak tega untuk menyakiti wanita-wanita ini yang belum ia ketahui siapa adanya.
Begitu tubuhnya terlepas, ia lalu melompat keluar?
kemudian lari menerobos pintu depan.
"Si tampan lari...!"
"Tangkap dia...!"
Jeritan-jeritan ini membuat gadis-gadis yang berada di luar menjadi kaget.
Akan tetapi begitu mereka membalikkan tubuh, sesosok bayangan berkelebat dan tahu-tahu Joko Wandiro telah berkelebat keluar dari dalam pondok.
Segera terdengar jeritan-jeritan nyaring di sana-sini, disusul suitan-suitan merdu seperti orang bernyanyi.
Ke mana pun Joko Wandiro lari, di depannya terdengar suitan-suitan dan jeritan sehingga ia membalik dan akhirnya ia kebingungan sendiri dan tanpa ia sadari, di bawah pohon-pohon cempaka yang bunganya berwarna-warni, ada yang putih, merah, ungu, kebiruan, berdiri empat orang gadis yang sudah menantinya dengan tersenyum-senyum.
Mereka ini lebih cantik daripada para penjaga tadi, usia mereka sekitar dua puluh tahun.
Daun-daun yang menutupi tubuh merekapun lebih teratur, menutupi sekitar dada dan sekeliling pangkal paha.
Agaknya mereka sudah tahu bahwa pemuda ini tentu akan lari kembali ke tempat ini, maka tadi mereka tidak ikut mengejar seperti wanita-waita lain.
Joko Wandiro memandang ke sekelilingnya.
Dari tempat-tempat persembunyian di antara pohon dan kembang, kini bermunculan gadis-gadis dari empat penjuru yang segera mengurungnya dari tempat jauh dan masing-masing kini telah memegang sebatang bambu runcing!
Jadi dia bersama empat orang gadis cantik yang menghadapinya kini telah terkurung, dipagar betis!
Terpaksa Joko Wandiro kini mencurahkan perhatiannya kepada empat orang gadis di depannya dengan hati terheran-heran karena ia menaksir bahwa gadis-gadis yang mengurungnya dari jauh itu jumlahnya tidak kurang dari dua puluh orang!
Ia melihat betapa gadis-gadis ini berwajah manis-manis, namun pandang mata mereka liar dan galak, sungguhpun bibir mereka.
tersenyum manis.
Teringat ia akan wajah Endang Patibroto.
Kalau Endang Patibroto menjadi kepala barisan wanita ini, amat tepatlah!
"Kalian ini siapakah dan mengapa menahanku dalam pondok itu?"
Akhirnya ia bertanya.
Ia kini dapat menduga bahwa empat orang gadis ini tentulah merupakan pimpinan mereka karena hanya mereka berempat yang kini menghadapinya, sedangkan yang lain berdiri mengurung dari tempat jauh.
Empat orang gadis itu saling pandang kemudian tertawa terkekeh sehingga tampak barisan gigi putih bersih di balik bibir merah.
Mereka itu tertawa bebas, tidak ditutup-tutupi lagi.
Mulut yang kecil itu terbuka memperlihatkan rongga mulut yang gelap dan kemerahan.
Joko Wandiro hanya memandang mereka berganti-ganti, hatinya makin tidak enak.
"Namaku Lasmi!"
Kata gadis yang rambutnya paling panjang dan bulu matanya lentik melengkung.
"Aku Mini...!"
Gadis yang matanya lebar terkekeh lucu "Namaku Sari...!"
Kata yang punya lesung pipit di kedua ujung mulutnya.
"Aku Sundari!"
Kata yang bertahi lalat di pipi kiri.
"Engkau tidak boleh pergi dari sini, demikian pesan kak Dewi,"
Kata Lasmi. Joko Wandiro mengerutkan keningnya.
"Apa salahku maka aku ditahan di sini? Kuharap kalian tidak menggangguku, karena aku mempunyai urusan penting sekali dan harus pergi sekarang juga."
Ia teringat akan Ayu Candra dan ingin cepat-cepat pergi mencari adiknya itu.
"Tanpa perkenan kak Dewi, kau tidak boleh pergi dari sini,"
Kata Mini sambil mendekat dengan lenggang-lenggok genit.
"Hemrn, kalau aku memaksa pergi?"
"Hi-hikl Memaksa pergi? Boleh kau coba, bocah bagus!"
Kata Sari sambil mengembangkan kedua lengannya sehingga tampak di balik daun-daun itu betapa tubuhnya yang memiliki lekuk lengkung sempurna itu bergerak-gerak.
Joko Wandiro meramkan matanya.
Ia tidak percaya kepada pertahanan hatinya sendiri kalau harus terlalu lama menghadapi gadis-gadis cantik ini.
"Aku tidak mempunyai permusuhan dengan kalian, tidak mengenal kalian. Aku berterima kasih atas pengobatan pada luka di leherku, siapapun dia yang telah mengobatiku. Akan tetapi aku harus pergi, sekarang juga. Harap maafkan!"
Setelah berkata demikian, ia menggunakan ilmunya dan tubuhnya hendak meloncat secepatnya meninggalkan mereka.
Akan tetapi tiba-tiba berkesiur angin dan tampak bayangan-bayangan yang langsing berkelebat dan empat orang gadis itu kini telah mengurungnya dengan gerakan yang amat cepat!
Joko Wandiro terkejut juga.
Kiranya empat orang ini memiliki ilmu gerak cepat yang tak boleh dipandang ringan.
"Aku tidak ingin bertempur dengan kalian empat orang gadis!"
Ia berseru kehabisan kesabaran dan juga bingung karena mereka berempat itu kesemuanya tersenyum dan sukar ditentukan siapa di antara mereka yang paling manis.
"Harap jangan menghalangi!" (Lanjut ke
Jilid 33) Badai Laut Selatan (Seri ke 03 Serial Serial Keris Pusaka Sang Megatantra) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo
Jilid 33 Ia melangkah maju, akan tetapi tiba-tiba Lasmi telah menyerangnya dengan cengkeraman ke arah perut.
Jari-jari tangan yang halus kecil dengan kuku meruncing itu ketika mencengkeram mendatangkan angin sehingga Joko Wandiro cepat mengelak dan diam-diam mengeluh.
Akan tetapi kini empat orang gadis itu telah maju mengeroyoknya dengan serangan-serangan cukup dahsyat.
Mereka itu memukul, menendang, mencengkeram dan ada yang berusaha merangkul dan memeluknya!
Tentu saja Joko Wandiro menjadi repot sekah.
la maklum bahwa kepandaian mereka ini masih jauh kalau dibandingkan dengan tingkat kepandaiannya, akan tetapi untuk mengalahkan mereka, agaknya ia harus merobohkan mereka, dan hal ini ia tidak menghendaki.
Andaikata ia sanggup merobohkan mereka tanpa melukai berat, ia masih harus menghadapi pengeroyokan dua puluh lebih gadis-gadis penjaga yang mengurungnya dengan bambu runcing di tangan!
Karena ia menghadapi pengeroyokan mereka dengan elakan dan tangkisan saja, sedangkan pikirannya masih bingung, tiba-tiba ia tidak dapat mengelak lagi ketika dua lengan yang halus dari Sundari telah memeluk pinggangnya dengan kekuatan yang tak tersangka-sangka.
Kedua lengan itu kecil dan halus kulitnya, namun di balik kulit halus itu ternyata bersembunyi tenaga dalam yang hebat!
"Bocah bagus, engkau hendak lari ke mana?
Hi-hik!"
Sundari mempererat rangkulannya pada pinggang sambil terkekeh genit.
Sementara itu, sepasang lengan tangan Lasmi yang tidak kalah halusnya sudah meluncur seperti dua ekor ular hendak merangkul leher Joko Wandiro!
"Celaka...!"
Joko Wandiro bergidik ketika merasa betapa kedua Iengan yang halus itu menyentuh kulit perutnya dan betapa muka yang hangat menempel ketat di punggungnya.
Kalau sampai kedua Iengan Lasmi berhasil merangkul lehernya, ia takkan dapat melepaskan diri tanpa menggunakan kekerasan lagi!
Cepat ia menyalurkan tenaga pada pinggangnya dan sekali ia menggerakkan pinggul, Sundari menjerit dan pelukannya terlepas.
Pada saat itu, Joko Wandiro sudah berhasil menangkis lengan halus Lasmi yang hendak merangkul lehernya.
Melihat temannya terpelanting, Lasmi marah sekali dan dengan jerit seperti seekor kijang betina, ia sudah menyerangkan jari-jari tangan kanan yang berkuku runcing ke arah muka Joko Wandiro, sedangkan Sundari yang tadi terpelanting sudah melompat bangun lagi, menerjang dari belakang.
Mini dan Sari juga maju merangsang dari belakang.
"Kalian sungguh terlalu Jangan salahkan aku kalau terpaksa aku berlaku kasar"
Joko Wandiro berseru dan kini mengembangkan jari tangannya dan siap membalas mereka dengan tamparan yang kiranya cukup membuat mereka terpelanting dan tak berani menyerangnya lagi.
Akan tetapi pada saat itu terdengar suara wanita yang halus merdu namun nyaring berwibawa.
"Adik-adikku yang manis, mundurlah kalian berempat!"
Mendengar suara memerintah ini, Lasmi, Mini, Sari dan Sundari cepat melompat keluar dari gelanggang pertempuran, lalu berlari menghampiri wanita yang baru datang ini, berdiri di belakangnya dengan sinar mata berkilat-kilat menatap Joko Wandiro.
Pemuda inipun sudah menghentikan gerakannya dan kini berdiri memandang wanita yang baru datang.
Joko Wandiro kagum.
Wanita ini sukar ditaksir berapa usianya, namun pasti tidak akan lebih dari dua puluh lima tahun.
Wajahnya bundar seperti bulan purnama, sepasang matanya lebar jernih dan bersinar-sinar penuh gairah hidup, dilindungi bulu mata yang panjang melengkung dan alis yang hitam panjang.
Entah mana yang lebih menarik antara mata dan mulutnya.
Mulut itu sungguh manis, dengan bibir merah basah yang selalu tersenyum, tampak membayang di balik bibir merah itu kilatan gigi putih.
Tubuhnya padat montok, dengan dada membusung dan menantang, kulitnya putih bersih sukar dicari cacadnya.
Biarpun gadis ini juga hanya menutup tubuh dengan daun-daun dan bunga-bunga, namun dandanannya lebih indah dan lebih teratur daripada empat orang gadis yang mengeroyoknya tadi.
Daun-daun itu diatur rapi sekeliling dada dan pinggulnya, bagian atas dihias bunga-bunga mawar yang segar.
Teringatlah Joko Wandiro akan nama Dewi yang disebut berkali-kali oleh gadis-gadis tadi.
Inikah dia yang mereka sebut kak Dewi?
Kalau benar demikian, memang tidak berlebihan nama itu.
Gadis ini mirip seorang dewi kahyangan, sungguhpun pakaiannya adalah pakaian orang liar.
Karena dapat menduga bahwa tentu gadis ini yang menjadi pemimpin barisan wanita itu, Joko Wandiro lalu membungkuk dan menundukkan kepala kepadanya, kemudian berkata.
"Harap dimaafkan kalau saya telah menimbulkan kekacauan di sini."
Gadis itu memperlebar senyumnya dan ketika Joko Wandiro memandangnya, dua pasang mata bertemu dan bertaut sejenak. Kemudian gadis itu menggelengkan kepala berkata.
"Sungguh tak kusangka, muda remaja yang tampan, halus, dan sakti seperti ini kiranya hanya seorang yang tak kenal budi. Hemmmm!"
Joko Wandiro terkejut.
Memang tadi ia terburu nafsu menyangka yang tidak baik kepada para gadis itu, lalu memaksa hendak pergi.
Kini ia menduga lain.
Agaknya mereka itu yang menolongnya sehingga tidak sampai tewas di tangan Endang Patibroto dan Ki Jatoko, lalu menolongnya dan membawanya ke sini, merawat dan mengobatinya.
Kalau demikian halnya, memang benar lakunya tadi tidak betul dan kelihatan seperti seorang kurang penerima!
Cepat-cepat ia berkata.
"Aku tidak tahu Apa yang telah terjadi. Tahu-tahu aku berada di sini dan ketika hendak pergi, mereka ini... eh... mencegah... sehingga timbul salah faham. Harap kau suka memberi penjelasan, siapakah kalian dan bagaimana aku bias berada di sini?"
"Namaku Dewi. Bersama adik-adikku seperguruan Lasmi, Mini, Sari dan Sundari ini, kami yang memimpin kawan-kawan kami dan hidup aman tenteram di Gunung Anjasmoro sini. Ketika aku melihat betapa engkau terkena jarurn beracun, kusuruh anak buahku untuk membawamu ke sini dan rnengobatimu. Siapakah namamu?"
Joko Wandiro makin kaget.
Benar dugaannya.
Ia telah dirobohkan lawan secara menggelap dan agaknya tentu akan binasa kalau tidak ditoiong oleh gadis-gadis ini.
Dan tadi ia sudah hendak menggunakan kekerasan untuk melawan mereka dan melarikan diri!
Sungguh tidak mengenal budi!
Ia menundukkan mukanya dan memperkenalkan diri.
"Namaku Joko Wandiro. Aku berhutang budi dan nyawa kepada kalian, tak tahu bagaimana akan dapat membalas budi ini."
Dewi tersenyum manis sekali dan mengulur tangan memegang Iengan pemuda itu, menariknya sambil berkata halus.
"Joko Wandiro, mari kita ke pondok dan di sana kita dapat bicara dengan leluasa. Aku akan menceritakan kepadamu tentang keadaan kami."
Jantung pemuda itu berdebat kencang.
Biarpun gerak-geriknya lebih halus, namun Dewi yang menjadi kepala sekalian wanita ini memiliki kebebasan yang luar biasa dan tangan yang menggandengnya itu halus dan lemas, hangat dan mesra.
Bagaimanakah seorang gadis yang baru bertemu satu kali sudah berani menggandeng tangan seorang pria dan bersikap semesra ini?
Namun, mengingat bahwa ia telah berhutang budi, ia mengikuti gadis itu tanpa membantah.
Ketika ia mengeriing, ia melihat bahwa hanya empat orang gadis yang tadi mengeroyoknya itu yang mengikuti mereka sambil tersenyum-senyum manis, adapun wanita-wanita yang merupakan barisan mengepung tadi tampak bubar sambil bercakap-cakap dan tertawa-tawa.
Setelah Joko Wandiro dipersilahkan duduk di atas amben bambu yang menjadi tempat tidurnya tadi dan lima orang gadis itu duduk pula mengelilinginya, Dewi mulai bercerita.
"Joko Wandiro, biarpun engkau bertemu dengan aku sebagai seorang gadis gunung, akan tetapi sesungguhnya di dalam tubuhku masih mengalir darah keluarga Kerajaan Wengker. Permaisuri paman Prabu Boko di Kerajaan Wengker adalah bibiku, adik dari ayahku."
Mendengar ini, Joko Wandiro tercengang dan menatap lebih tajam kepada gadis yang duduk di depannya itu.
Melihat pandang mata pemuda ini, Dewi tersenyum dan menangkap jari-jari tangan kanan Joko Wandiro, terus digenggamnya, tak dilepaskannya lagi.
Joko Wandiro tidak berusaha menarik tangannya, khawatir kalau menyinggung perasaan orang.
Untuk menguasai jantungnya yang berdebar tidak keruan itu ia bertanya.
"Aku hanya mendengar cerita bahwa Kerajaan Wengker dihancurkan oleh pasukan Mataram di bawah pimpinan mendiang Sang Prabu Airlangga. Bagaimana engkau bias berada di gunung ini?"
Dewi mengerutkan alisnya yang hitam kecil dan panjang.
Mulut yang bentuknya manis dengan bibir merah basah itu agak merengut, seakan-akan pertanyaan ini mengingatkan ia akan hal-hal yang mengesalkan hatinya.
Kemudian ia mengangkat muka memandang Joko Wandiro kembali dan wajahnya berseri, kemurungannya lenyap.
Sambil mengelus-elus tangan Joko Wandiro, ia lalu berkata.
"Ayahku bernama Pangeran Mamangkurdo, kakak dari bibi Mamangsari yang menjadi permaisuri paman Prabu Boko. Ketika barisan dari Mataram menghancurkan Kerajaan Wengker, ayah berhasil menyelamatkan diri sambil mendukung aku yang masih kecil, baru berusia dua bulan."
Ia menghela napas panjang.
Joko Wandiro memandang penuh perhatian.
Kerajaan Wengker merupakan Kerajaan yang paling sukar ditundukkan oleh Sang Prabu Airlangga dan setelah Wengker ditaklukkan, barulah perang berhenti.
Kalau gadis ini berusia dua bulan ketika Wengker jatuh, agaknya gadis ini satu dua tahun lebih tua daripadanya.
"Ayah harus berpindah-pindah tempat untuk menyembunyikan diri. Bertahun-tahun aku diajak menjadi orang buronan dan setelah aku berusia lima belas tahun, ayah meninggal dunia di Anjasmoro ini. Empat orang adik-adikku ini adalah murid ayah yang juga menjadi adik-adik angkatku. Karena selama ini ayah selalu mencurigai orang lain, maka ayah tidak mau mempergunakan pria untuk menjadi pelayan atau anak buahnya. Dipilihnya wanita-wanita yang hidup sendiri, dilatih dan dibentuknya barisan wanita. Kebiasaan itu kulanjutkan sampai sekarang. Bahkan setiap kali ada laki-laki berani memasuki wilayah kami, tentu dia kami bunuh seketika!"
Joko Wandiro terkejut.
"Mengapa begitu?"
Wajah yang manis itu mengeras.
"Kami tidak memperbolehkan laki-laki mendekat, karena mereka itu hanya akan mendatangkan malapetaka! Kalau sampai seorang di antara anak buahku terpikat dan pergi bersama seorang pria, bukankah keadaan kami bukan rahasia lagi dan persembunyian kami akan ketahuan sehingga fihak musuh akan dapat mengirim pasukan untuk membasmi kami?"
"Ah, engkau dikejar-kejar kekhawatiranmu sendiri, Dewi. Agaknya karena semenjak bayi engkau dibawa sebagai buronan oleh mendiang ayahmu, jiwamu sudah tercekam rasa takut ketahuan tempat sembunyimu. Apakah engkau tidak tahu bahwa keadaan sudah berubah sama sekali? Tidak seorangpun kini teringat akan keturunan Kerajaan Wengker. Tidak ada yang akan mengejar-ngejarmu. Karena itu, tidak baik kalau kau membunuhi orang yang memasuki wilayah ini."
"Hemm, betapapun juga, ayah dahulu berpesan supaya kami berhati-hati menghadapi setiap orang pria, karena laki-laki adalah mahluk yang paling jahat dan berbahaya. Karena itu, entah sudah berapa puluh orang laki-laki yang kami bunuh ketika mereka lewat daerah ini."
Joko Wandiro menjadi tak senang hatinya mendengar kekejaman ini. Alisnya yang tebal berkerut dan ia bertanya sengat ketus.
"Kalau begitu, mengapa engkau malah menolong aku dan tidak membunuhku? Bukankah aku juga laki-laki?"
Dewi tersenyum, empat orang adiknya ikut pula tertawa.
"Pertanyaan inilah yang membuat kami terlambat menolongmu, Joko Wandiro. Ketika engkau bertanding melawan wanita sakti itu, kami diam-diam menonton dan kagum. Menurut kebiasaan, tentu kami sudah turun tangan membantu wanita itu membunuhmu. Akan tetapi... eh... kami ragu-ragu, berdebat, berunding, bersitegang antara kami berlima, kemudian mengambil keputusan. Akan tetapi sayang terlambat, engkau sudah dirobohkan laki-laki buntung yang curang."
"Ki Jatoko...! Sudah kuduga!"
Tanpa disadarinya Joko Wandiro berseru, kemudian ia teringat akan penuturan tadi lalu cepat bertanya,"Keputusan Apa yang kau ambil sehingga kalian tidak membunuhku?"
Tiba-tiba wajah yang ayu itu menjadi merah sekali, sedangkan yang empat lain terkekeh-kekeh genit.
"Joko Wandiro, ketika ayah hendak mangkat, ayah berpesan agar aku berhati-hati menghadapi pria dan bila berjumpa, lebih baik membunuhnya. Kecuali... begitu pesan ayah, kecuali... jika aku bertemu dengan pria yang mencocoki hati, yang dapat kujadikan sandaran hidup, yang patut kuserahi badan dan nyawa, dan melihat engkau... aku... aku dan adik-adikku. eh..."
Dewi menjadi gagap, kemudian tanpa peringatan terlebih dahulu ia sudah maju merangkul dan mengambung pipi Joko Wandiro!.
Joko Wandiro terkejut bukan main, mukanya terasa panas dan jantungnya seperti hendak melompat keluar dari rongga dada.
Selagi ia hendak memprotes, tiba-tiba tubuhnya menggigil dan bulu kuduknya meremang semua karena empat orang gadis yang merubungnya ltupun merangkul dan menciuminya, di kepala, di leher, di bahu dan Iengan!.
"Eiit... eiittt... eiiittt... nanti dulu...!"
Ia meronta dan melompat turun dari atas pembaringan.
Keringatnya membasahi leher dan dahi, keringat dingin yang keluar karena kaget dan bingungnya.
Akan tetapi, Dewi dan empat orang adiknya juga melompat turun dengan gerakan sigap sekali, serta-merta mereka berlima menjatuhkan diri di depan kaki Joko Wandiro, berlutut dan menyembah-nyembah!
"Kami berlima menghambakan diri kepadamu dan bersumpah setia sampai mati.
Bukan hanya kami berlima, juga tiga puluh orang anak buah kami bersetia kepadamu, Joko Wandiro, siap untuk membela dengan pengorbanan apapun juga."
Setelah berkata demikian, tiba-tiba Dewi mengeluarkan jeritan tiga kali, dan membuka pintu pondok, kemudian mereka berlima beramai-ramai menarik kedua tangan Joko Wandiro keluar pondok.
Pemuda ini terpaksa melangkah keluar dan ia tertegun memandang ke depan.
Tiga puluh orang wanita yang pakaiannya hanya daun-daunan akan tetapi yang kesemuanya membawa bamboo runcing, telah berada di situ dan kini serentak mereka itu menjatuhkan diri berlutut di depannya, menundukkan kepala dan menyembah!
Ia maklum bahwa jeritan Dewi tadi merupakan komando untuk berkumpul.
Akan tetapi ia masih beium mengerti Apa kehendak Dewi dengan mengumpulkan anak buahnya ini.
Selagi ia berdiri bingung, Dewi dan empat orang adiknya kembali sudah menjatuhkan diri berlutut di depannya dan terdengar suara merdu namun lantang.
"Kami telah bersepakat untuk mengabdi kepadamu, Joko Wandiro, dan kami berikut anak buah kami bersumpah untuk bersetia sampai mati kepadamu. Engkaulah pria pilihan kami seperti yang dipesankan oleh mendiang ayahku."
Joko Wandiro berdiri bengong.
Tertegun ia memandang tiga puluh lima buah kepala yang berambut hitam halus itu menunduk di depannya dan diam-diam ia menyesali nasibnya yang serba aneh dan ruwet.
Cinta kasihnya telah tercurahkan seluruhnya kepada Ayu Candra yang ternyata adalah adik kandungnya sendiri yang tak mungkin menjadi kekasihnya, tak mungkin menjadi jodohnya.
Kemudian oleh ayah angkat atau gurunya, ia dijodohkan dengan Endang Patibroto, gadis ganas liar dan pembunuh ibu kandungnya, sehingga jelas tak mungkin pula ia mengawini pembunuh ibu kandungnya sendiri.
Dapat ia mengekang diri dan tidak menaruh dendam, akan tetapi akan terlalu durhakalah ia kalau ia menikah dengan gadis yang menjadi pembunuh ibu kandungnya!
Kemudian ia bertemu dengan Mayagaluh.
Gadis seperti puteri yang baik budi itu kiranya akan mudah menjatuhkan hatinya, akan tetapi kemudian ternyata olehnya betapa sang puteri telah mempunyai seorang kekasih, yaitu Pangeran Darmokusumo.
Dan sekarang, dengan tak tersangka-sangka sama sekali, Dewi menyatakan pasrah jiwa raga kepadanya, hendak mengabdi dan menjadi isterinya, bukan sendirian, melainkan bersama empat orang adik seperguruannya, lima orang dara yang perkasa dan muda belia cantik jelita, masih ditambah lampiran tiga puluh orang wanita cantik-cantik lagi!.
Kembali matanya menyapu ke arah tiga puluh lima orang wanita itu.
Ia bergidik.
Sekaligus dihadiahi tiga puluh lima orang wanita cantik, benar-benar amat terlalu banyak!.
"Ti... tidak... tak mungkin ini...! Dewi, aku sendiri seorang sebatangkara, seorang jaka lola yang hidup sengsara dan miskin. Mana mungkin kalian menghambakan diri kepada orang seperti aku ini? Tidak, bangkitlah dan jangan bertindak yang bukan-bukan. Sudah terlalu banyak budi yang kau lepaskan untukku."
Dewi melompat bangun diturut oleh empat orang adiknya.
Ketika Joko Wandiro memandang, ia tercengang karena lima orang gadis cantik itu mengalirkan air mata di sepanjang kedua pipi mereka!
"Mengapa kau menolak?
Apakah kami...
tidak cukup berharga bagimu?"
"Bukan! Bukan begitu, bahkan sebaliknya. Kalian terlampau merendahkan diri. Akulah yang sama sekali tidak berharga, jangankan menerima penghambaan kalian semua, menerima penghambaan seorang di antara kalianpun sudah tidak pantas. Aku seorang miskin dan..."
"Joko Wandiro, kami tidak membutuhkan apa-apa, bahkan kalau kau menghendaki sesuatu, kau katakan saja. Kami pasti akan dapat menyediakan untukmu. Kami mengangkatmu menjadi kepala yang memimpin kami semua di tempat ini, dan perintahlah saja, kami akan melakukan segala perintahmu. Biar harus menyerbu lautan api, kami takkan undur setapakpun."
Wajah Joko Wandiro menjadi muram. Ia terharu dan karenanya menjadi sedih. Dengan suara sungguh-sungguh ia berkata.
"Dewi, tenangkanlah perasaanmu dan pikirlah masak-masak. Aku ini seorang yang tak berharga dan sama sekali aku tak pernah melakukan sesuatu untuk kalian. Mengapa kini kalian hendak membalas dengan melimpahkan budi yang membuat aku menjadi tidak enak saja? Bahkan sebaliknya kau lah, Dewi, yang sudah menyelamatkan nyawaku sehingga sebenarnya akulah yang harus membalas budi. Kalau saja lain hal yang kau minta untuk membalas budimu, tentu akan kulaksanakan. Akan tetapi permintaanmu itu sungguh hal yang tak mungkin kulakukan dan..."
"Joko Wandiro! Dengar, kami sudah berjanji kepada mendiang ayah untuk membunuh setiap orang pria yang memasuki wilayah ini, tentu saja ada kecualinya, yaitu pria yang dapat kami angkat sebagai kepala. kau menjadi pilihan kami dan kalau engkau menolak, tidak ada lain jalan lagi bagi kami kecuali membunuhmu atau terbasmi habis oleh tanganmu!"
Dewi mengeluarkan kata-kata ini dengan mata berapi-api dan kedua pipinya merah sekali menambah kecantikannya yang aseli.
Joko Wandiro dapat menerima alasan ini, sungguhpun hal itu merupakan suatu keganjilan bagi manusia biasa.
Karena itu ia menjadi makin bingung, kemudian ia berkata tenang.
"Boleh kalian coba Dewi. Kalau memang sudah menjadi kehendak Dewata bahwa aku mesti mati di tangan kalian, aku akan rela. Akan tetapi kalau belum mestinya mati, kurasa aku akan berhasil melarikan diri tanpa melukai seorangpun di antara kalian!"
Dewi mengeluarkan jerit melengking dan serentak dia mengurung Joko Wandiro dengan empat orang adiknya, sedangkan tiga puluh orang perajurit wanita itupun bergerak dan berlari-lari membuat pagar mengelilingi pemuda itu dengan bambu runcing siap di tangan!
Aneh pagar manusia ini karena terus bergerak, berlari-larian mengelilingi Joko Wandiro dari jarak jauh.
"Boleh kau coba, Joko Wandiro! kau takkan dapat pergi dari sini tanpa lebih dulu membunuh kami semua dan andaikata dapat juga, kau takkan pernah terlepas daripada pengejaran kami! kau membunuh kami semua atau kau mati, kalau kau tak mau menerima permintaan kami!"
Joko Wandiro terkejut juga.
Kalau sedemikian hebat tekad gadis-gadis ini, memang serba sukarlah baginya.
Ia tahu bahwa gadis-gadis ini tidak mempunyai niat buruk, dan setulusnya hati hendak menghambakan diri kepadanya, karenanya ia dapat menduga bahwa andaikata ia dapat lolos, tentu ia akan selalu dicari-cari dan dikejar-kejar kemanapun juga ia pergi.
Namun, tugasnya masih belum selesai.
Ia harus mencari Ayu Candra, dan iapun harus mencari Endang Patibroto, membujuknya dan kalau perlu menggunakan kekerasan mengalahkannya untuk membawanya ke depan ibu gadis itu di Sempu.
Kemudian, setelah ia berhasil mendapatkan kembali adik kandungnya, ia harus mengatur perjodohan Ayu Candra dengan Joko Seto seperti yang dipesankan oleh ayah Ayu Candra.
Setelah itu, ia masih periu menyelesaikan tugas yang dipesankan gurunya, yaitu menghadapi orang-orang jahat yang membikin keadaan makin keruh antara Kerajaan Panjalu dan Jenggala.
Kalau orang-orang jahat yang sakti itu dapat dihalau, agaknya masih ada jalan perdamaian antara dua Kerajaan yang masih bersaudara itu.
Hal itu bukan tak mungkin dilakukan, mengingat akan perhubungan dua di antara anak-anak mereka yaitu Pangeran Darmokusumo dan Puteri Mayagaluh.
yang bermusuhan adalah si orang-orang tua yang kukuh, sedangkan melihat keadaan orang-orang mudanya, amatlah baik.
Ia tidak percaya bahwa orang-orang muda seperti Pangeran Panjirawit dan Pangeran Darmokusumo tidak dapat diajak saling berdamai.
"Joko Wandiro, mengapa kau bengong saja? Apakah kau sudah insyaf dan dapat berlaku bijaksana, menerima permintaan kami?"
Tiba-tiba Dewi menegur dengan suara penuh harap. Joko Wandiro kaget. Ia menggeleng kepala dan menjawab.
"Menyesal sekali, Dewi. Tugasku masih banyak, bagaimana aku dapat tinggal di sini? Aku akan pergi!"
Setelah berkata demikian, tubuh Joko Wandiro tiba-tiba melesat ke atas dalam lompatan yang tinggi.
Ia sudah menggunakan Ilmu Bayu Sakti untuk melompat dan lolos melalui atas kepala lima orang gadis yang mengurungnya.
Akan tetapi, alangkah herannya ketika ia menurunkan kedua kakinya ke atas tanah, lima orang gadis itu kembali sudah berdiri mengurungnya, dan mereka berlima mengurung sambil menangis!
Dewi yang tepat berada di depannya lalu berkata nyaring.
"Kalau begitu, engkau atau kami yang binasa!"
Kata-kata ini disusul terjangan yang hebat juga, dengan kedua lengan diulur ke depan, jari tangan terbuka membentuk cakar elang menyerang ke arah leher dan dada.
Sambaran angin serangan ini cukup dapat ditaksir oleh Joko Wandiro sampai di mana tingkat kepandaian gadis ini.
Biarpun ia tahu bahwa tingkat kepandaian Dewi dua kali lebih tinggi daripada empat orang adiknya, namun baginya Dewi bukanlah lawan yang sukar untuk dikalahkan.
Akan tetapi yang membuat ia kagum adalah cara mereka menyerang dengan teratur.
Tadipun ia sudah kaget ketika melompat melalui atas kepala mereka dan turun, tahu-tahu sudah terkurung lagi sedangkan barisan di luar juga tetap berlari-lari membentuk lingkaran.
Ia dapat menduga bahwa biarpun mengenai ilmu silat, ia tidak perlu khawatir terhadap pengeroyokan mereka, namun ia harus berhati-hati terhadap ilmu mereka mengatur dan membentuk barisan.
Ayah gadis itu adalah bekas senopati Wengker, seorang ahli perang yang tentu saja pandai mengatur barisan dan agaknya kepandaian ini menurun kepada Dewi.
Serangan Dewi tidak ia tangkis, melainkan dengan miringkan tubuh dan menggeser kaki, ia sudah terbebas puia dari kurungan.
Akan tetapi pengurung di sebelah kiri, Mini dan Sari, juga ikut melompat mundur dan kembali ke posisi semula sedangkan tiga orang saudaranya mengejar dan daiam sekejap saja Joko Wandiro sudah terkurung kembali.
Kini mereka melancarkan serangan susul-menyusul dan bertubi-tubi.
Mereka masih menangis, dan Joko Wandiro melihat betapa serangan mereka itu bersungguh-sungguh, bukan serangan untuk menawan, melainkan serangan untuk membunuh!
Ia merasa serba repot.
Meloloskan diri dari kepungan lima orang gadis bertangan kosong ini saja bukan hal mudah, apalagi kalau barisan bambu runcing di luar itu turut mengepung!
Memang tidak akan sukar kalau ia membuka jalan darah untuk meioloskan diri, akan tetapi justeru ia tidak menghendaki hal ini terjadi.
Agaknya Dewi dan kawan-kawannya memang sudah bertekad bulat untuk memenuhi kata-kata Dewi tadi, yaitu, membunuh atau terbunuh!
Sambil memutar otak untuk mencari akal, Joko Wandiro melayani lima orang gadis itu.
Ia kini mulai menangkis dengan menggunakan sedikit tenaga karena ia tidak tega untuk melukai atau menyakiti mereka.
Dengan gerakan yang amat ringan dan cepat, sekali bergerak ia sudah dapat menangkis dua tiga serangan, karena hawa sakti yang menyambar keluar dari kedua lengannya saja sudah cukup membuat lawan-lawan itu terdorong ke belakang.
Segera terdengar jerit-jerit susul-menyusul karena kaget.
Akan tetapi begitu terdorong dan hampir roboh, gadis-gadis itu sudah meloncat lagi dan tak pernah merubah posisi pengurungan yang teratur itu.
Barisan luar juga terus bergerak menyesuaikan kedudukan mereka dengan kedudukan lima orang pemimpin mereka.
"Dewi, mengapa kau dan adik-adikmu begini keras kepala?"
Joko Wandiro berseru jengkel ketika melihat Dewi sendiri terhuyung dan roboh miring, kini sudah meloncat bangun lagi dan menerjangnya dengan hantaman nekad tanpa memperdulikan penjagaan diri lagi.
Kembali hantaman itu mengenai ternpat kosong dan Dewi menjawab dengan suara terisak.
"Boleh jadi kami keras kepala, akan tetapi engkau sama sekali tidak mempunyai hati, Joko Wandiro!"
"Hayo bunuh kami, Joko Wandiro!"
Jerit pula Mini sambil menubruk dengan terkaman seperti seekor harimau kelaparan menubruk kelinci.
Serangan ini disusul oleh Lasmi, Sari, Sundari dan Dewi yang memperhebat serangan tanpa perdulikan penjagaan diri.
Joko Wandiro mengeluh.
Terpaksa ia mengeraskan hatinya dan kedua lengannya bergerak cepat sekali.
Dengan tenaga sedikit ia telah menggunakan Pethit Nogo menampar bahu mereka.
Lima orang gadis itu menjerit dan berturut-turut terbanting bergulingan di atas tanah.
Sejenak mereka tak dapat bangun seperti orang disambar petir saking hebatnya Aji Pethit Nogo yang dipergunakan Joko Wandiro.
Dengan hati penuh kasihan dan penyesalan, Joko Wandiro yang berhasil merobohkan lima orang pengurungnya itu hendak lari, akan tetapi tiga puluh batang bambu runcing mengurungnya dengan gerakan cepat dan juga teratur sekali.
Bambu-bambu runcing itu tidak hanya menodongnya, akan tetapi juga menjaga jalan keluar dari atas, bahkan menerobos di antara kaki-kaki merekapun tak mungkin karena di situ telah terjaga ujung-ujung bambu pula.
Tiga puluh orang gadis itu mengurungnya dengan tiga lapis dari sepuluh orang.
Begitu rapatnya penjagaan itu sehingga kalau ia mau meloloskan diri, sedikitnya ia harus membuka jalan darah merobohkan sepuluh orang!
Celakanya, selagi ia meragu, lima orang gadis yang ia robohkan tadi kini sudah bangkit kembali dan sambii terisak menangis telah menerjangnya dengan hebat, seakan-akan pukulan Pethit Nogo yang hebat tadi sama sekali tidak mereka takuti.
Mereka menyebutku tidak berhati!
Betulkah ini?
Joko Wandiro berpikir-pikir dan mempertimbangkan keadaannya.
Kemudian ia berhenti bergerak dan mengangkat tangan kanan ke atas.
"Dewi, berhenti dulu, aku mau bicara!"
Dewi mengeluarkan perintah dan semua anak buahnya berhenti bergerak.
Ketika Joko memandang lima orang gadis itu, terpaksa ia meramkan matanya karena pertempuran mati-matian tadi, Apalagi pukulannya Pethit Nogo yang merobohkan mereka, membuat "pakaian"
Mereka dari daun-daun dan bunga-bunga itu rontok berhamburan dan hanya tinggal sedikit yang masih menutupi tubuh sehingga tampaklah bagian-bagian tubuh yang semestinya ditutupi.
Setelah sejenak meramkan mata menekan perasaannya yang berdebar, ia membuka mata kembali lalu berkata, suaranya tenang.
"Dewi, engkau dan anak buahmu agaknya sudah bertekad bulat dan mati-matian untuk mempertahankan permintaanmu. Kenekatan kalian ini membuat aku ragu-ragu dan aku mau mempertimbangkan permintaanmu, Dewi."
Wajah lima orang gadis yang tadinya suram dan menangis itu seketika menjadi berseri.
Dewi mengeluarkan aba-aba dan mereka semua serentak menjatuhkan diri berlutut di depan Joko Wandiro!
"Joko Wandiro, percayalah bahwa kami sudah bersumpah memilihmu sebagai pemimpin yang kami idam-idamkan semenjak bertahun-tahun.
Tidak terhitung banyaknya pria yang hendak merebut kedudukan pimpinan dan menjajah kami, namun semua dapat kami basmi dan kami bunuh.
Kami bertahun-tahun menanti saat ini, menanti datangnya seorang yang tepat menjadi pemimpin kami, yang boleh kami jadikan sandaran hidup selamanya, yang akan kami layani dengan seluruh jiwa raga kami.
Engkaulah orangnya, Joko Wandiro.
Kami sudah bertekad menghambakan diri kepadamu atau...
di antara kita harus mati."
Joko Wandiro menarik napas panjang.
"Akan menjadi orang jahatlah aku kalau membalas budi pertolongan kalian kepadaku dengan permusuhan, apalagi harus membunuh seorang di antara kalian. Akan tetapi, permintaan kalian sungguh merupakan hal baru dan janggal bagiku. Dewi, aku suka menerima permintaan kalian untuk menjadi pemimpin kalian. Akan tetapi hanya dengan syarat, dan kalau kalian tidak mau memenuhi syarat ini, biarlah kalian bunuh saja aku untuk menebus budi pertolongan kalian, aku takkan melawan lagi."
Dengan teriakan girang Dewi meloncat berdiri, merangkul leher Joko Wandiro dan... menciumnya! Joko Wandiro gelagapan, mendorong halus tubuh hampir telanjang itu ke belakang lalu berkata.
"Nah, yang beginilah yang tak boleh kau lakukan, Dewi. Bagaimana, maukah kau mendengar syaratku?"
Dewi terdorong ke belakang, mukanya merah dan matanya berkilat-kilat, wajahnya berseri-seri. Ia berlutut kembali dan berkata.
"Katakanlah Apa syaratnya? Andaikata kau minta nyawaku sekarang juga, akan kuserahkan!"
Joko Wandiro merasa lehernya tercekik.
Keharuan mencekam hatinya.
Biarpun tingkah gadis-gadis ini liar dan ganas, namun harus ia akui bahwa mereka itu benar-benar jujur dan setia, tidak pandai bermanis bibir seperti gadis-gadis kota.
"Tidak, Dewi. Syaratku tidaklah seganas itu. Aku mau menjadi pimpinan kalian, akan tetapi mulai sekarang, kalian tiga puluh lima orang harus tunduk dan taat kepada semua perintahku. Kalau aku merubah peraturan-peraturan yang selama ini berlaku di sini, kalian tidak boleh membantah. Misalnya, peraturan untuk membunuh setiap orang pria yang memasuki wilayah Anjasmoro, inipun akan kurubah. Bagaimana?"
"Hanya itukah?"
Tanya Dewi.
"Itu syarat pertama. Syarat ke dua, sebagai seorang pemimpin, aku tidak mau harus selalu tinggal di sini karena aku masih mempunyai banyak sekali tugas di luar yang harus kuselesaikan. Bahkan aku membutuhkan bantuan kalian untuk tugas-tugasku itu, di antaranya, membantu aku mencari adik kandungku yang bernama Ayu Candra dan yang lenyap di daerah Anjasmoro ini ketika aku bertanding kemarin dulu itu. Ke tiga... eh, ke tiga..."
Sampai di sini Joko Wandiro tak dapat melanjutkan kata-katanya dan mukanya menjadi merah sekali karena malu dan jengah.
"Apakah syarat ke tiga? Harap beritahukan agar dapat kami pertimbangkan."
"Syarat ke tiga... eh, aku... aku hanya menjadi pemimpin kalian... bukan... bukan suami kalian..."
Setelah menggagap Joko Wandiro dapat menentramkan perasaannya lalu berkata tegas.
"Bukan sekali-kali aku tidak menghargai perasaan kalian, hanya... dalam hal ini tak boleh ada paksaan dan aku... aku masih belum ingin beristeri..."
Lima orang gadis itu saling pandang sambil tersenyum. Kemudian Dewi berkata.
"Syarat pertama kami dapat menerima dan boleh kau merubah semua peraturan di sini, semua akan kami taati. Syarat ke dua, asal kau suka bersumpah lebih dahulu bahwa kau takkan menipu dan membohongi kami, tidak akan meninggalkan kami untuk selamanya dan tidak menggunakan syarat itu untuk membebaskan diri dari kami, juga kami terima. Tentu saja kalau kau melanggar, kami semua akan mencarimu sampai jumpa ke manapun juga kau pergi. Adapun tentang syarat ke tiga bagaimanakah kau dapat mengajukan syarat seperti itu? Joko Wandiro, kami sudah bersumpah menyerahkan jiwa raga kami kepadamu, bersetia sampai mati, hal ini berarti bahwa kami semua adalah milikmu, bagaimana engkau akan mengingkari dan menolak kami? Kepada engkau seoranglah kami menyerahkan perasaan cinta kasih kami, kesetiaan, ketaatan, sehingga engkau merupakan junjungan kami, pemimpin kami, juga suami kami!"
Empat orang gadis lain mengangguk-angguk dan lima pasang mata yang bening itu memandang wajah Joko Wandiro penuh sinar mesra dan kasih sayang.
Melihat ini, serasa berputar kepala Joko Wandiro dan ia cepat-cepat menggerakkan kedua tangan yang digoyang-goyangkan ke depan.
Ia sendiri merasa heran mengapa jantungnya berdebar tidak karuan.
Mengapa hatinya merasa senang dan bangga, mengapa penyerahan diri gadis-gadis cantik itu mendatangkan perasaan yang luar biasa anehnya dan yang membuat ia merasa tegang sehingga pikirannya menjadi keruh.
Teringat ia akan penuturan bibinya, Roro Luhito, tentang kelakuan ayahnya di waktu muda.
Ayahnya, menurut penuturan bibinya, adalah seorang yang pernah menyeleweng, mengejar-ngejar wanita, seorang pemuda bangsawan yang mata keranjang, gila perempuan, menjadi hamba daripada nafsu berahi!
Teringat akan ini, seketika panas rasanya wajah Joko Wandiro.
Cepat-cepat ia membentak.
"Tidak! Aku bukan laki-laki mata keranjang!!"
Bentakannya yang dilakukan dalam keadaan tak sadar itu keras sekali, mengejutkan Dewi dan adik-adiknya. Mereka meloncat berdiri dan memandang. Joko Wandiro sadar dan mukanya makin merah.
"Dewi, ketahuiah bahwa pernyataanmu itu, sungguhpun kau keluarkan dengan hati jujur, iklas, dan terbuka, namun di dalam dunia ramai merupakan sebuah penyelewengan yang tidak semestinya dilakukan orang yang hendak berjalan di atas jalan kebenaran. Aku suka menerima permintaan kalian menjadi pemimpin kalian hanya dengan tujuan menuntun kalian ke jalan benar dan mencegah terjadinya permusuhan di antara kita, sama sekali tidak ada pamrih untuk memetik buah yang berupa kenikmatan dan kesenangan. Jalan untuk bersetia dan taat kepada pimpinan bukan hanya dengan cara menyerahkan diri seperti yang kau maksudkan. Tidak, Dewi. Bukan hanya aku seorang laki-laki di dunia ini dan untuk kalian semua, masih ada jodoh masing-masing yang kelak tentu akan kalian temukan setelah aku merubah peraturan di sini. Aku menghendaki agar kalian masing-masing menemukan jodoh kalian, menemukan pria pilihan hati masing-masing untuk memasuki jenjang perjodohan dan hidup bahagia, tidak lagi menjadi orang-orang buronan dan hidup dengan liar seperti sekarang ini!.!"
Tiba-tiba Dewi menangis dan empat orang adiknya ikut pula menangis. Dewi memegang tangan kanan Joko Wandiro dan empat orang yang lain juga ada yang memegang tangan, ada yang berlutut merangkul kaki.
"Tapi aku... aku sudah menyerahkan hati dan cinta kasihku kepadamu..."
Kata Dewi.
"Aku juga..."
Kata Lasmi.
"Aku juga..."
Sambung Mini, Sari dan Sundari berturut-turut. Joko Wandiro tersenyum dan melepaskan diri dengan halus.
"Kelak akan berubah setelah kalian bertemu dengan pria-pria lain. Sudahlah, hal ini tak perlu kita perbincangkan sekarang. Pendeknya, bukan waktunya sekarang bagiku untuk bersenang dan bicara tentang perjodohan. Aku masih mempunyai banyak tugas dan perlu mendapat bantuan kalian. Mari kita bicara di dalam pondok."
Joko Wandiro dan lima orang gadis itu memasuki pondok di mana pemuda ini duduk di atas bangku bambu dikelilingi lima orang gadis cantik itu yang selalu bersikap mesra kepadanya.
Mulailah Joko Wandiro mengeluarkan peraturan-peraturan baru untuk menuntun mereka ke dalam dunia sopan.
Melihat betapa mereka ini menyimpan banyak sekali gumpalan emas yang amat berharga, Joko Wandiro lalu memerintahkan agar dengan emas itu Dewi dan adik-adiknya pergi menemui penduduk di kaki Gunung Anjasmoro, membeli pakaian-pakaian untuk mereka semua sehingga mereka tidak akan menjadi sekumpulan wanita liar setengah telanjang lagi.
Kemudian ia mendapat kenyataan bahwa ilmu kepandaian Dewi dan adik-adiknya cukup baik, terutama sekali ilmu mengatur barisan yang mereka warisi dari mendiang Mamangkurdo ayah Dewi.
Karena tingkat kepandaian Joko Wandiro jauh melampaui mereka, maka pemuda ini lalu memberi petunjuk dan menurunkan beberapa ilmu pukulan kepada mereka berlima sehingga mereka menjadi barisan yang makin hebat dan kuat lagi setelah mereka kelak berlatih matang.
Tiga puluh lima orang wanita itu menjadi girang sekali dan merasa bahagia mendapat seorang pemimpin seperti Joko Wandiro.
Setiap hari mereka sibuk bersolek dengan pakaian baru mereka, atau berlatih ilmu baru yang mereka dapat, dan waktu selebihnya mereka pergunakan untuk berusaha menyenangkan hati Joko Wandiro.
Pemuda ini mengambil keputusan untuk tinggal beberapa hari di sini, memimpin mereka membuat pondok-pondok baru dari kayu dam bambu, menuntun mereka menjadi wanita-wanita yang hidup normal tidak liar lagi.
Akan tetapi sikap Dewi dan empat orang adiknya yang mesra, amat dan terlalu mesra terhadapnya, benar-benar menggelisahkan hatinya, bahkan kadang-kadang, entah terdorong oleh Apa, menciumnya begitu saja!
Ia sampai tergidik ngeri, bukan karena merasa jijik.
Ah, mana bisa jijik kalau mereka itu merupakan dara-dara yang cantik sekali, yang setiap di antara mereka mampu menjatuhkan hati seorang pendeta alim sekalipun?
Ia bergidik karena merasa ngeri, karena merasa takut akan hatinya sendiri.
Jantungnya sering kali terguncang, perasaannya terbuai dan ada kalanya ia hampir tak dapat menguasai hatinya untuk tidak membalas belaian mereka.
Ia khawatir kalau-kalau pertahanan hatinya runtuh dan ia akan terseret ke dalam kesesatan dan penyelewengan seperti yang pernah dialami ayahnya di waktu muda dahulu.
Tidak!
Ia tidak akan mencontoh kelemahan ayahnya.
Ia tidak akan mengulang kesesatan ayahnya.
Akan tetapi berkeras dan menolak penumpahan perasaan mereka itupun sukar sekali.
Mereka melakukan hal itu karena wajar, karena dorongan rasa hati mereka.
Jalan satu-satunya hanya harus cepat-cepat pergi dari tempat ini.
Ia maklum bahwa betapapun kuat pertahanan hatinya, sekali waktu pasti akan hancur dan bobol.
Bayangkan saja.
Pada malam ke dua ia tinggal di situ, menjelang pagi ia bangun dari tidur dan alangkah kagetnya meiihat betapa lima orang gadis itu sudah tidur pula di atas pembaringannya sambil bertumpang tindih memeluknya.
Kepala-kepala dengan rambut halus hitam panjang dan harum semerbak karena bunga itu terletak di atas dadanya, perutnya, pahanya, bahkan Dewi memeluk lehernya dengan muka yang dekat sekali dengan mukanya sehingga napas halus Dewi meniupi telinganya!
Hal seperti inilah yang amat berbahaya.
Untung ia masih tak kehilangan akalnya dan masih kuat mempertahankan hatinya.
Kalau kelak sudah selesai tugas-tugasnya, dan kalau kelak ia ingin memilih seorang calon jodoh, mungkin saja ia memilih seorang di antara mereka berlima ini.
Mereka ini cantik-cantik, manis-manis, dan sudah pula ia bayangkan betapa akan manis hidup ini kalau ia beristerikan Dewi dengan empat orang selir seperti Lasmi, Mini, Sari dan Sundari itu!
Ia sudah menceritakan segala keinginan hati dan tugasnya kepada Dewi.
Pertama-tama ia akan mencari Ayu Candra dan hari itu, lima hari setelah ia berada di situ, Dewi dan anak buahnya mulai pergi mencari Ayu Candra disekitar daerah Anjasmoro.
Joko Wandiro melihat mereka pergi berpencar dan menyusup-nyusup di antara pohon hutan dengan gerakan ringan dan cepat.
Hatinya lega.
Dengan pembantu-pembantu seperti itu, agaknya Ayu Candra akan dapat ditemukan.
Tentu saja kalau adiknya itu masih berada di sekitar daerah pegunungan ini.
Ia menjadi sedih kalau teringat akan adiknya itu.
Dan ia menjadi marah sekali kalau ingat kepada Ki Jatoko.
Ia akan memberi hajaran kepada si buntung itu kalau dapat bertemu kembali.
Si buntung itulah yang menjadi biang keladinya, menjadi pembujuk Ayu Candra dengan kata-kata berbisa sehingga gadis itu lupa akan pesanan ayahnya.
Joko Wandiro berdiri di puncak Anjasmoro, memandang ke sekeiiling untuk melihat kalau-kalau dari tempat itu ia dapat melihat Ayu Candra.
Kesunyian.
tempat itu dan kekhawatirannya akan nasib adik kandungnya itu membuat pemuda ini melamun dan untuk sejenak kehilangan kewaspadaannya.
Karena melamun dan pikirannya melayang-layang, ia sampai tidak tahu bahwa ada sepasang mata memperhatikannya semenjak tadi.
Mata seorang laki-laki tinggi besar seperti raksasa.
Mata yang mengenalnya sebagai murid Ki Patih Narotama, sebagai pembunuh Wirokolo, sebagai musuh besarnya.
Mata Dibyo Mamangkoro yang makin lama menjadi makin merah saking marah melihat pemuda itu berdiri seorang diri di tempat sunyi.
Biarpun tubuhnya sebesar tubuh raksasa, namun Dibyo Mamangkoro yang sakti mandraguna itu dapat bergerak laksana angin cepatnya dan seringan kapas sehingga Joko Wandiro yang sedang dibuai lamunan itu sama sekali tidak tahu.
Barulah Joko Wandiro sadar dan terkejut bukan main setelah terlambat.
Dua buah Iengan yang besar dan selain berotot juga mengandung hawa sakti yang menggiriskan telah memeluk dan mengempitnya, lengan kiri melingkari pinggang, lengan kanan memiting leher dari belakang.
Seketika Joko Wandiro merasa dadanya sesak dan lehernya tercekik, tak dapat bernapas!
"Uhhh...!
Siapakah engkau yang securang ini?
Lepaskan...!"
Joko Wandiro mengerahkan tenaga meronta-ronta.
Namun kempitan itu amatlah kuatnya sehingga usahanya melepaskan diri sia-sia belaka.
Dibyo Mamangkoro tertawa bergelak-gelak sehingga air ludahnya memercik ke atas kepala dan tengkuk Joko Wandiro.
"Huah-hah-ha-ha-hah! Murid Narotama, hayo kau kerahkan semua kedigdayaanmu. Kalau engkau dapat melepaskan diri, benar-benar engkau seorang jagoan. Kalau tidak dapat, bersiaplah untuk mampus sebagai pengganti gurumu. Huahha-ha-ha!"
"Dibyo Mamangkoro!!"
Joko Wandiro berseru kaget ketika ia mengenal suara ini.
Tahulah ia bahwa ia berada dalam bahaya maut karena raksasa ini adalah musuh gurunya yang pasti takkan ragu-ragu lagi untuk membunuhnya.
Apalagi karena dahulu ia telah membunuh Wirokolo, adik seperguruan dan sekutu raksasa ini.
Ia terkejut dan gelisah, namun dengan cepat Joko Wandiro dapat menekan perasaannya dan bersikap tenang.
Dengan suara mengejek ia lalu berkata.
"Dibyo Mamangkoro terkenal sebagai bekas senopati besar, siapa tahu hari ini memperlihatkan sikap seorang pengecut yang curang. Kalau engkau memang seorang jantan, hayo lepaskan dan mari kita mengadu tebalnya kulit kerasnya tulang dan ampuhnya kesaktian!"
"Huah-ha-ha-ha! Melawan bocah macam engkau perlu Apa banyak repot? kau lepaskan dirimu, kalau tidak becus, mampuslah!"
Dibyo Mamangkoro memperkuat kempitannya sehingga pemuda itu merasa tubuhnya seakan-akan dihimpit besi-besi baja yang keras dan amat berat.
Joko Wandiro menahan napas lalu mengumpulkan hawa sakti di tubuhnya.
Hawa sakti itu berputar-putar di sekitar pusarnya, makin lama makin cepat dan terasa panas, lalu ia dorong hawa itu naik, membentuk tenaga dahsyat dan panas yang mendasari usahanya meronta.
Ia memekik dahsyat dan meronta.
Bukan main hebatnya tenaga pemuda ini.
Pekik tadi adalah pekik Dirodo Meto, dibarengi pengerahan tenaga Bojro Dahono, benar-benar luar biasa dahsyatnya.
Andaikata pemuda itu dibelenggu dengan rantai baja sekalipun dengan pekik dan tenaga sakti macam itu, agaknya semua belenggu akan patah-patah dan ia akan terlepas.
Dibyo Mamangkoro terkejut bukan main.
Tidak disangkanya bocah ini memiliki kesaktian sehebat itu.
Untung dia yang mengempitnya, kalau orang lain tentu akan terjengkang dan roboh, mungkin tewas.
Cepat iapun mengerahkan tenaga sambil tertawa berkakakan.
Bukan sembarang tertawa, melainkan tertawa berisi aji kesaktian untuk melawan pengaruh pekik Dirodo Meto tadi, kemudian iapun menggunakan hawa sakti di tubuhnya untuk disalurkan ke arah kedua lengan yang mengempit.
Keras lawan keras dam keadaan mereka seimbang.
Kempitan itu tidak terlepas, hanya akibatnya, Joko Wandiro terengah-engah dan makin sukar bernapas sedangkan wajah Dibyo Mamangkoro menjadi pucat, penuh keringat sebesar kacang tanah.
Dada dan lengannya berkilat-kilat licin oleh peluh.
Kalau Dibyo Mamangkoro kagum sekali menyaksikan kesaktian pemuda ini, adalah Joko Wandiro yang terkejut bukan main.
Ia telah mengerahkan tenaga, namun kempitan itu tidak terlepas, bahkan melonggarpun tidak, malah makin erat.
Ia maklum bahwa kalau ia tidak lekas-lekas dapat melepaskan diri, ia akan mati tercekik, mati kehabisan napas dan dengan tulang-tulang iga remuk!
Lengan kanan lawan seperti akan mematahkan batang lehernya, sedangkan tangan kiri lawan yang besar seperti hendak mencengkeram dan merobek kulit perutnya.
Joko Wandiro kembali berusaha dengan pengerahan tenaga.
Kini hawa murni di tubuhnya bergerak semua, membentuk hawa sakti yang membuat tubuhnya licin bakai belut.
Kini pemuda itu menggunakan tenaga lemas, tidak mau menggunakan kekerasan seperti tadi.
Tubuhnya menjadi lemas dan licin, tulang-tulangnya seperti lenyap dan tubuhnya seperti berubah menjadi tubuh belut saja!
Inilah hasil hawa sakti yang luar biasa.
Andaikata pemuda ini dibelit-belit rantai yang kuat sekalipun, dengan aji ini ia tentu mampu meloloskan diri tanpa mematahkan rantainya.
Ketika ia mengerahkar tenaga dan tubuhnya bergerak-gerak hampir berhasil melepaskan diri dari kempitan kedua lengan Dibyo Mamangkoro.
"Aiiihhhh...!!!"
Dibyo Mamangkoro berseru keras dan ia kagum sekali, lalu ia cepat-cepat menambah tenaga dalamnya untuk memperhebat kempitan.
Ia kagum bukan main.
Sebagai seorang tokoh besar yang sakti, ia maklum pula bahwa lawannya yang masih amat muda ini benar-benar memiliki kedigdayaan dan boleh disebut seorang sakti mardraguna yang jarang bandingnya.
Maka ia lalu memperhebat tenaganya dan berusaha meremukkan dada mematahkan batang leher pemuda itu.
Otot-otot kedua tangannya sampai timbul, mukanya menjadi beringas, mulutnya membusa.
Joko Wandiro diam-diam mengeluh dalam batinnya.
Lawannya ini terlalu cerdik, juga terlalu sakti.
Dikempit seperti itu, ia benar-benar tidak dapat mempergunakan aji kepandaiannya.
Ia dapat mengimbangi tenaga dalam lawan, namun ia kalah kuat dalam tenaga kasar raksasa itu yang memang hebat.
Andaikata ia harus menghadapi kakek itu dalam pertandingan, tentu saja ia dapat mempergunakan semua ajinya, dan belum tentu ia akan kalah.
Siapa kira, kakek musuhnya ini demikian licik dan curang, menyerangnya secara menggelap dari belakang.
Betapapun juga, Joko Wandiro tidak mau menyerah mentah-mentah begitu saja.
Ia tidak mau mati konyoi tanpa perlawanan, maka kembali ia meronta-ronta.
Karena pemuda ini memang amat kuat, biarpun ia tidak berhasil membebaskan diri, namun setidaknya ia membuat kedudukan kaki lawannya menjadi terhuyung dan membuat lawannya itu mandi peluh dan lelah sekali.
Joko Wandiro merasa penasaran sekali bahwa ia akan mengakhiri hidupnya secara demikian mengecewakan.
Ia maklum bahwa takkan lama ia dapat bertahan.
Napasnya sudah sesak sekali dan setiap kali ia terpaksa menyedot napas, pertahanan tenaga dalamnya menjadi lemah sehingga kempitan itu makin erat menyesakkan dada yang serasa seperti akan remuk tulang-tulangnya.
Terlalu lama ia menahan napas dan telinganya sudah terngiang-ngiang, pandang matanya mulai berkunang kemudian hidungnya sudah mencium bau hangus, di depan matanya membentang lautan merah darah.
Akan tetapi ia masih tenang.
Memang pemuda ini tidak gentar menghadapi maut.
Hal itu menguntungkannya karena ketenangannya serta ketabahannya membuat ia tidak kehabisan akal.
Dalam keadaan kritis dan maut sudah mengintai nyawanya itu, Joko Wandiro masih memutar otak mencari akal.
Dalam saat terakhir itu bagaikan nyala sebuah obor, Joko Wandiro dapat melihat dengan jelas jalan keluar untuk menolong dirinya.
Ah, mengapa ia sebodoh itu?
Mengapa waktu dan tenaganya ia habiskan untuk meronta-ronta secara sia-sia?
Mengapa ia mencari jalan sukar, jalan kekerasan, sedangkan di depannya jelas terdapat jalan yang amat mudah tanpa menggunakan kekerasan untuk meloloskan diri?
Ia melihat betapa Iengan kanan lawannya itu memiting lehernya, dengan siku ditekuk tepat di depan mukanya, dan betapa tangan kiri lawannya mencengkeram ke depan perutnya.
Dan kedua tangannya sendiri bebas!
Teringatlah ia akan semua pelajaran yang ia terima dari Ki Tejoranu yang selain menurunkan ilmu golok, juga memberitahu akan rahasia bagian-bagian tubuh yang lemah.
Siku lawan berada di depannya, mudah dicapai tangan kanannya, demikian pula tangan kiri lawan di depan perut itu mudah dicapai tangan kirinya.
Karena kini pandang matanya sudah sama sekali menjadi merah dan ia merasa dirinya seperti tenggelam dalam lautan darah, ia meramkan matanya, akan tetapi kedua tangannya mulai bergerak!
Sambil mengerahkan tenaga terakhir, pemuda ini menggunakan tangannya mencengkeram sambungan siku kanan lawan, sedangkan tangan kirinya mencengkeram pusat kekuatan tangan kiri lawan, yaitu di belakang ibu jari, antara telunjuk dan ibu jari.
Sekuat tenaga ia mencengkeram dan menggencet, dan ia lapat-lapat pada saat itu terdengar suara nyaring.
"Eyang, lepaskan! Tidak boleh kau membunuh pemimpin kami..."
Joko Wandiro mendengar suara menggereng hebat dan tahu-tahu tubuhnya terlempar ke depan.
Untung ia masih belum pingsan sehingga ia dapat cepat mematahkan tenaga lontaran itu dengan berjungkir balik beberapa kali.
Namun tetap saja ia terbanting, sungguhpun tidak terlalu keras.
Ketika ia meloncat bangun, mengatur pernapasan memulihkan tenaga dan memandang ke depan, Ia melihat Dibyo Mamangkoro berdiri dengan mata terbelalak marah sambil memaki-maki Dewi dan ke empat orang adiknya.
Ia merasa bersyukur sekali dan mau rasanya ia memberi hadiah ciuman seorang tiga kali kepada lima orang dara yang telah menyelamatkan nyawanya itu!
Memang sesungguhnyalah bahwa mati hidup seorang manusia seluruhnya berada di tangan Hyang Maha Wisesa.
Jika belum dikehendakiNya, banyak jalan untuk menolong seseorang daripada marabahaya.
Secara kebetulan sekali, ketika Joko Wandiro menggunakan usaha terakhir membebaskan diri tadi, muncul Dewi dan empat orang adiknya yang datang berlari-lari setelah mendapat pelaporan seorang anak buah mereka yang menyaksikan betapa Joko Wandiro terancam maut di tangan Dibyo Mamangkoro.
Anak buah itu tentu saja tak berani bergerak karena Dibyo Mamangkoro adalah terhitung kakek Dewi.
Dibyo Mamangkoro adalah paman dari ayah Dewi dan biarpun amat jarang, pernah beberapa kali mengunjungi cucunya di Anjasmoro maka dikenal pula oleh anak buah Dewi.
Melihat betapa Joko Wandiro terancam bahaya maut, serentak Dewi dan empat orang adiknya datang menolong.
Dewilah yang tadi berteriak menegur eyangnya, dan mereka berlima tadi sudah maju dan memukul ke arah punggung Dibyo Mamangkoro!
Tentu saja pukulan-pukulan lima orang gadis itu tidak terlalu hebat bagi Dibyo Mamangkoro.
Akan tetapi pada saat itu Joko Wandro telah mencengkeram siku kanan dan pusat kekuatan tangan kirinya.
Karena kedua serangan yang secara kebetulan datang berbareng inilah yang membuat Dibyo Mamangkoro terpaksa melemparkan tubuh Joko Wandiro ke depan, Andaikata lima orang gadis itu tidak menyerang di saat itu, jangan harap cengkeraman Joko Wandiro akan dapat membebaskan dirinya karena selain tenaga pemuda ini sudah mulai lemah, juga lawannya tentu akan dapat mengubah posisi.
Juga, andaikata Joko Wandiro tidak sedang mencengkeramnya di saat lima orang gadis itu menyerang, tentu serangan dari belakang itu tidak akan dirasanya, bahkan dengan mudah, menggunakan kedua kakinya kakek raksasa ini akan dapat menghalau lima gadis itu.
Memang segalanya tiba secara kebetulan dan seperti sudah diatur sebelumnya sehingga hasilnya menyelamatkan Joko Wandiro!
"Setan cilik!
Kucing betina!
Berani engkau menyerang eyangmu dan menolong musuh?"
"Eyang, dia junjungan kami! Tidak boleh kau bunuh dia!"
Dewi membantah sambil mengangkat dadanya yang membusung, penuh tantangan.
"Bocah goblok! Tidak tahukah kau siapa dia itu? Dia itu murid Ki Patih Narotama, musuh gerotan kita!"
"Tidak, eyang. Dia sudah menjadi pemimpin kami, sudah kami serahkan jiwa raga kami kepadanya."
Kata pula Dewi.
"Bedebah! kau berani berkhianat? Kalau begitu lebih dulu kalian akan kubunuh!"
Dengan kemarahan meluap-luap Dibyo Mamangkoro mengangkat tangan kanan ke atas dan menghantam ke arah Dewi dan empat orang adiknya dengan pukulan jarak jauh yang ampuh.
Ia terlalu memandang rendah kepada cucunya maka ia hanya menggunakan sebagian kecil tenaga dalamnya.
Terdengar suara angin bersiutan menyambar ke arah Dewi dan empat orang adiknya.
Namun lima orang gadis itu sudah terlatih baik dan keistimewaan mereka adalah gerakan yang amat cekatan.
Mereka menjerit nyaring saking ngeri dan kaget, namun loncatan mereka berhasil menyelamatkan diri mereka daripada sambaran angin pukulan dahsyat itu.
"Krakkkk... brruuukkkk...!"
Sebatang pohon sebesar manusia yang mewakili mereka, terkena pukulan itu seperti disambar petir, tumbang seketika?
Lima orang gadis itu menjadi pucat mukanya.
Di lain fihak, muka Dibyo Mamangkoro menjadi merah sekali saking penasaran dan marah melihat pukulannya hanya menumbangkan pohon.
Ia melangkah tiga tindak ke depan hendak memukul lagi dengan tenaga penuh akan tetapi pada saat itu berkelebat bayangan dan tahu-tahu Joko Wandiro sudah berada di depannya!
"Dibyo Mamangkoro.
Lawanmu adalah aku, Joko Wandiro.
Bukan segala bocah perawan yang lemah!
Dewi, kau dan adik-adikmu menyingkirlah jauh-jauh dan kalian tonton saja betapa pemimpin kalian merobohkan manusia iblis yang kejam ini!"
Karena amat taat kepada Joko Wandiro, biarpun di dalam hati merasa amat gelisah karena maklum betapa sakti mandraguna eyangnya itu, Dewi mengajak empat orang adiknya menjauhkan diri dan menonton dari jauh dengan jantung berdebar.
Mereka diam-diam memberi isyarat kepada semua anak buah mereka, yaitu apabila Joko Wandiro roboh binasa, mereka semua, tiga puluh lima orang wanita banyaknya, akan nekat mengeroyok Dibyo Mamangkoro dan kalau perlu ikut mati bersama pemimpin mereka yang tercinta!
Dibyo Mamangkoro merasa betapa dadanya seperti akan meledak saking marahnya.
Ia harus mengakui bahwa setelah berkali-kali mencoba, belum pernah ia dapat mengatasi kesaktian Ki Patih Narotama.
Akan tetapi kini ia hanya berhadapan dengan muridnya, seorang bocah yang baru berusia dua puluhan tahun!
Dan bocah ini sudah berani menentangnya dengan kata-kata yang diang gapnya sombong.
"Babo-babo...! Joko Wandiro, sumbarmu menunjukkan bahwa engkau tentulah murid terkasih Narotama yang sudah mewarisi semua aji kesaktiannya. Bagus! Dengan membunuhmu, sama halnya dengan membunuh Narotama sendiri. Akan puaslah hatiku, tertebus sebagian daripada dendamku kepadanya. Huah-ha-ha-ha!"
Tubuh yang tinggi besar itu bergoyang-goyang, kepalanya menengadah dan dalam keadaan begini, siapa mengira bahwa raksasa tua ini siap menyerang?
Di sinilah terletak kelicikan dan kecerdikannya.
Joko Wandiro juga tidak mengira bahwa lawannya ini sudah siap bertempur maka iapun belum berjaga-jaga.
Namun tahu-tahu, dengan suara ketawanya masih menderu, kakek raksasa itu sudah mencelat ke depan dan mengirim pukulan yang hebat bukan main ke arah dada Joko Wandiro!
"Werrr...
dessss...!!!"
Bukan main hebatnya pertemuan kedua lengan ini.
Pukulan yang mengandung tenaga dalam yang amat tinggi, datangnya tidak tersangka-sangka, sungguhpun dapat ditangkis oleh Joko Wandiro, namun tangkisan itu kurang tenaga.
Akibatnya...
tubuh Joko Wandiro mencelat sampai lima meter lebih dan baru berhenti ketika menabrak pohon waru yang menjadi patah seketika!
(Lanjut ke
Jilid 34) Badai Laut Selatan (Seri ke 03 Serial Serial Keris Pusaka Sang Megatantra) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo
Jilid 34
"Huah-Ha-Ha-Ha! Hanya sebegitu saja kedigdayaanmu bocah sombong? Ha-ha-ha-ha! Bersiaplah untuk mampus!"
Dibyo Mamangkoro tertawa bergelak sambil melangkah lebar menghampiri Joko Wandiro yang biarpun tidak terluka namun agak pening dan kini merangkak bangun sambil menggoyang-goyang kepala mengusir kepeningannya.
"Iblis curang, majulah!"
La menantang, kini waspada dan hati-hati.
la tenang saja karena pertemuan tenaga tadi melegakan hatinya.
Biarpun hebat tenaga kakek raksasa ini, namun kiranya ia akan dapat menandinginya.
Dari gurunya ia maklum bahwa tenaga sakti timbul dari hawa yang murni di dalam tubuh.
Hawa murni hanya dapat dihimpun oleh mereka yang hati dan pikirannya bersih, yang tidak menjadi abdi nafsu.
Orang yang menyeleweng hidupnya seperti Dibyo Mamangkoro, hanya dapat memperkuat tenaga saktinya dengan ilrnu hitam, namun hawa murni di tubuh makin mengurang dan lemah.
Karena inilah, benturan tenaga tadi membuat Joko Wandiro tenang.
Akan tetapi, seujung rambutpun ia tidak berani memandang rendang lawannya dan tetap bersikap waspada dan hati-hati.
"Hua-ha-ha, terimalah ini!"
Dibyo Mamangkoro menyeruduk lagi seperti lagak seekor gajah mengamuk.
Kedua lengannya yang besar dikembangkan dan kedua kepalan tangannya yang hampir menyamai kepala Joko Wandiro besarnya, menyambar dari kanan kiri, yang kanan menghantam pelipis pemuda itu, yang kiri mencengkeram ke arah lambung.
Dua serangan sekaligus yang amat keji dan berbahaya.
Satu saja di antara dua tangan itu mengenai sasaran, akan celakalah Joko Wandiro!
Namun kini Joko Wandiro sudah siap siaga.
Ia sudah mengisi tubuhnya dengan Aji Bayu Sakti sehingga kedua kakinya seakan-akan dipasangi per yang kuat.
Melihat datangnya pukulan, ia mengelak dengan lincah dan mudah sehingga dua tangan raksasa itu hanya mengenai angin kosong.
Namun harus diakui bahwa kakek raksasa yang tinggi besar itu tidak selamban gajah gerakannya, melainkan setangkas harimau kelaparan.
Begitu serangannya gagal oleh elakan lawan yang melompat ke kiri, ia sudah menubruk lagi ke kiri dengan kedua tangan terbuka jari-jarinya seperti cakar burung elang menyambar anak ayam.
Sampai bersuitan menyakitkan telinga bunyi angin serangan kedua tangan ini sehingga dapat dibayangkan betapa dahsyatnya kalau mengenai sasaran.
Serangan susulan ini harus diakui amat cepat.
Joko Wandiro sendiri menjadi kagum karena memang di luar persangkaan orang betapa tubuh yang tinggi besar ini dapat bergerak secepat dan selincah itu.
Karena baru saja kedua kaki Joko Wandiro hinggap di atas tanah ketika melompat menghindarkan diri dari serangan pertama tadi, kini menghadapi serangan ke dua, Joko Wandiro sudah roenggulingkan tubuh ke kanan dan dengan jalan ini, kembali terkaman Dibyo Mamangkoro hanya membuat tanah beterbangan.
Joko Wandiro sengaja tersenyum-senyum mengejek.
"Hanya sebegitu sajakah hebatnya seranganmu, Dibyo Mamangkoro?"
Sikap ini merupakan siasat pertempuran yang ia pelajari dahulu dari Ki Tejoranu.
Menghadapi lawan tangguh, paling penting harus mencari titik kelemahannya, demikian Ki Tejoranu memberi nasehat.
Dan sebagian besar orang sakti, tentu memiliki kelemahan masing-masing.
Kelemahan umum adalah tak pandai mengendalikan perasaan.
Buatlah lawan kacau perhatiannya dan untuk mengacau perhatiannya paling baik membangkitkan amarah di hatinya.
Makin marah dia, makin kacau perhatiannya dan makin mudah dicari gerakan-gerakan yang dibuatnya karena terlampau marah dan terburu nafsu hendak menang.
Akal Joko Wandiro itu berhasil.
Tentu saja pemuda ini tidaklah sedemikian sombongnya sehingga ia berani memandang rendah kepada Dibyo Mamangkoro.
Ia tahu bahwa kakek raksasa ini sakti mandraguna dan digdaya sekali.
Mana ia berani memandang rendah?
Dibyo Mamangkorolah yang memandang rendah kepada Joko Wandiro.
Hal ini tidak aneh.
Kakek raksasa ini memang seorang yang sakti pilih tanding.
Jarang ia mengalami kekalahan dan hanya oleh Ki Patih Narotama saja ia berkali-kali dikalahkan.
Kini menghadapi seorang pemuda seperti Joko Wandiro tentu saja ia memandang rendah.
Betapa takkan memandang rendah kalau diingat bahwa sebelum pemuda itu terlahir di dunia ia sudah menjadi seorang jagoan yang sukar dikalahkan!
Inilah kesalahan Dibyo Mamangkoro, juga kesalahan banyak orang-orang pandai.
Setelah pandai, mereka mengira bahwa merekalah yang terpandai di jagad raya ini, menjadikan mereka somborg.
Dibyo Mamangkoro tidak insyaf bahwa dia kini telah menjadi tua dan menghadapi Joko Wandiro, dalam banyak hal ia kalah oleh pemuda ini.
Pertama-tama kalah muda, ke dua kalah tenang, dan ke tiga kalah bersih hatinya.
"Heh, si keparat! Berani engkau memandang rendah kepadaku? Setan alas, rasakan ini!"
Tiba-tiba tubuh Dibyo Mamangkoro berputar-putar dan bagaikan angin puyuh ia menerjang maju.
Hebat bukan main gelombang serangan ini.
Tubuhnya berputar-putar sehingga kaki tangannya seakan-akan berubah menjadi banyak sekali yang menyerang tubuh Joko Wandiro dari delapan penjuru!
Bertubi-tubi datangnya pukulan, tamparan, cengkeraman, dan tendangan yang dilakukan oleh banyak tangan dan kaki itu.
Setiap pukulan pasti mengandung tenaga yang dahsyat!
Daun-daun kering yang berada di atas tanah terbawa oleh pusingan angin yang diakibatkan tubuh kakek ra ksasa.
yang berputar-putar itu sehingga tubuh keduanya terselimut oleh daun-daun kering dan debu yang membubung ke atas berpusingan!
Hebat bukan main serangan Dibyo Mamangkoro.
Namun lebih hebat kegesitan tubuh Joko Wandiro.
Tubuh pemuda ini seketika lenyap bagi pandangan Dewi dan adik-adik serta anak buahnya yang menonton dari jauh dengan mata terbelalak dan muka pucat.
Tubuh pemuda itu lenyap berubah menjadi bayangan hitam yang berkelebat menyelinap di antara tangan dan kaki yang banyak itu.
Sungguh merupakan pemandangan yang bagus, aneh, dan menyeramkan.
Pertandingan ini jauh lebih hebat daripada pertandingan antara Joko Wandiro dan Endang Patibroto.
Kalau dalam pertandingan antara Joko Wandiro dan Endang Patibroto, pemuda ini banyak mengalah, selalu mengelak dan tak pernah membalas dengan sungguh-sungguh, adalah pertandingan sekarang ini dilakukan dengan mati-matian.
Keduanya menyerang dengan serangan maut.
Juga Joko Wandiro selalu membalas sedapat mungkin dengan pukulan-pukulan ampuh.
Namun karena lawannya menggunakan ilmu silat yang liar dan ganas seperti tanpa diatur lagi, ia terdesak dan hanya dapat membalas satu kali untuk penyerangan lima kali.
Makin lama Dibyo Mamangkoro makin penasaran.
Sungguh di luar perkiraannya bahwa pemuda ini demikian hebat.
Memang ia tahu bahwa murid Narotama ini seorang yang berbakat baik ketika dahulu anak ini mengalahkan Wirokolo, dan ia sudah mengkhawatirkan bahwa muridnya, Endang Patibroto, tentu akan bertemu tanding yang kuat dalam diri anak ini.
Akan tetapi siapa kira bahwa dia sendiri setelah mengerahkan tenaga dan kepandaian, setelah lewat seratus jurus lebih, belum juga berhasil merobohkannya.
Dengan gerakan marah ia kembali menubruk, kemudian mengirim pukulan disertai pekik dahsyat.
Itulah pekik Sardulo Bairowo (Pekik Harimau) yang disertai pukulan mematikan!
Joko Wandiro terkejut.
Berbahaya kalau mengelak pukulan ini, karena pukulan ini mengandung hawa yang menghadang semua jalan keluar.
Di samping itu, ia harus pula menghadapi getaran hebat dari pekik Sardulo Bairowo.
Maka iapun memekik dengan pengerahan Aji Dirodo Meto, kemudian mengangkat tangannya menangkis pukulan itu.
Dua buah tangan yang amat kuat, mendorong ke depan dan dua telapak tangan bertemu di udara!
"Bressss...!!"
Kalau tubuh Joko Wandiro yang tampak kecil apabila dibandingkan dengan tubuh lawannya itu terlempar seperti daun kering tertiup angin, hal ini masih tidak mengherankan setelah pertemuan dua tenaga dahsyat itu.
Akan tetapi adalah amat aneh melihat tubuh kakek raksasa itupun terlempar seperti layang-layang putus talinya, tidak kalah jauhnya oleh tubuh Joko Wandiro.
Benturan tenaga mujijat itu membuat mereka terlempar ke belakang sampai sepuiuh meter lebih!
Bukan main marahnya Dibyo Mamangkoro.
Ia merangkak bangun, dadanya turun naik, napasnya menggos-menggos seperti kuda habis membalap, matanya jelilatan merah, mulutnya menyeringai dan ada busa put ih di kedua ujungnya.
Joko Wandiro juga sudah melompat lagi.
seperti juga lawannya, iapun tidak terluka, namun terkejut oleh kehebatan hawa pukulan lawan.
Kini dengan tenang ia berdiri menentang pandang mata lawannya.
"Bocah keparat, boleh juga kepandaianmu. Akan tetapi kau berhati-hatilah terhadap seranganku kali ini!"
Sambil berkata demikian, Dibyo Mamangkoro menggosok-gosok kedua tangannya dan tampaklah asap tebal mengepul dari gosokan kedua telapak tangan itu.
Mula-mula kedua tangan yang besar itu tampak kemerahan sampai ke kuku-kukunya seperti membara, makin lama menjadi makin menghitam dan terasalah hawa panas di sekitar kakek ini.
Itulah Aji Wisangnolo yang hebatnya menggila!
Untung bagi Joko Wandiro bahwa dia pernah bertanding melawan Endang Patibroto yang seakan-akan merupakan Dibyo Mamangkoro ke dua.
Karena itu maka ia mengenal gerakan-gerakan kakek itu, mengenal pula kehebatan Wisangnolo yang berhawa panas.
Ia makin berhati-hati dan diam-diam ia membaca mantera dan mengerahkan aji kesaktian Bojro Dahono ke dalam kedua lengan tangannya.
Kemudian, untuk memperlihatkan pada lawan bahwa ia sama sekali tidak takut menghadapi kedua tangan yang mengeluarkan asap tebal itu, Joko Wandiro mendahului lawannya melangkah maju!
Setelah jarak di antara mereka tinggal tiga meter lagi, tiba-tiba Dibyo Mamangkoro mengeluarkan pekik dahsyat Sardulo Bairowo dan tubuhnya mencelat ke atas.
Bagaikan terbang saja kakek raksasa ini meloncat tinggi dan dari udara ia menyambar turun sambil menghantamkan kedua tangannya berturut-turut ke arah Joko Wandiro.
Pemuda ini merasa betapa hawa panas menyambar ke arahnya.
Cepat ia meloncat sambil menangkis.
Walau tangan mereka tidak bersentuhan dan tubuh mereka mencelat di udara, namun dalam gerakan ini mereka telah saling tangkis dengan ilmu-ilmu pukulan jarak jauh yang amat berbahaya.
Keduanya kini terpelanting dan berjungkir balik sehingga dapat berdiri kembali di atas tanah.
Tanpa membuang waktu lagi, keduanya berlomba untuk membalikkan tubuh dan kembali mereka saling serang mati-matian.
Gerakan mereka kini tidak secepat tadi, bahkan amat lambat seperti orang sedang latihan atau sedang menari saja.
Tidak pernah kedua tangan itu bersentuhan, namun mereka itu ternyata sedang mengadu kesaktian dengan cara mati-matian.
Tentu saja kedua pasang tangan itu tak sempat bersentuhan karena didahului oleh hawa pukulan jarak jauh yang amat kuat.
Dibyo Mamangkoro adalah tokoh besar Kerajaan Wengker, sebuah Kerajaan yang dirajai oleh manusia siluman, yaitu Prabu Boko yang makanannyapun daging bayi!
Tentu saja ilmu kepandaiannya hebat, tergolong seorang datuk kalangan hitam yang memiliki bermacam-macam ilmu kesaktian yang aneh-aneh.
Ilmu silatnyapun banyak ragamnya dan kini setelah mendapat kenyataan bahwa lawannya yang muda belia ini ternyata benar-benar sakti mandraguna, Dibyo Mamangkoro menjadi penasaran dan keluarlah semua ajiannya.
Berkali-kali kakek raksasa ini menukar gerakannya dengan bermacam ilmu silat yang aneh-aneh.
Ia menang latihan dan menang pengalaman sehingga dengan cara ini ia berhasil membuat Joko Wandiro kebingungan.
Selain itu, pengalamannya yang luas itu membuat ia mudah mengenal ilmu orang.
Setelah lewat puluhan jurus, kakek itu sudah mengenal inti daripada Ilmu Silat Bramoro Seto yang dimainkan pemuda itu, maka pada jurus berikutnya setelah ia tahu bagaimana perubahan selanjutnya dari gerakan lawan, kakek ini mendahului dengan sebuah dupakan yang tepat mengenai pundak kiri Joko Wandiro.
"Blekkk...!!"
Tubuh Joko Wandiro seperti disambar petir, terputar-putar sampai lima kali baru roboh bergulingan di atas tanah.
Dari jauh terdengar jerit-jerit mengerikan dari Dewi dan empat orang adiknya.
Mereka ngeri menyaksikan orang yang mereka kasihi itu tertendang sampai berputaran dan bergulingan seperti itu.
Akan tetapi mereka tidak jadi lari menghampiri ketika melihat betapa pemuda itu sudah melompat bangun lagi dengan sigapnya.
Pada saat itu, kaki kiri Dibyo Mamangkoro sudah menyusulkan sebuah tendangan lagi ke arah kepala Joko Wandiro yang dimaksudkan sebagai tendangan maut.
Joko Wandiro miringkan kepaia dan jari tangannya yang terbuka dikipatkan ke arah betis lawan.
"Plakkk...! Auuggghhh...!!!"
Kakek raksasa itu berjingkrak-jingkrak dengan kaki kanan sambil mengangkat-angkat kaki kiri yang terasa amat nyeri dan panas karena dicium jari-jari tangan yang mengandung Aji Pethit Nogo.
Terdengar sorak-sorai Dewi dan empat orang adiknya, diikuti oleh tiga puluh orang wanita anak buahnya.
Dibyo Mamangkoro marah bukan main lalu menubruk maju dan kembali ia mengganti gerakan ilmu siiatnya.
Kini ilmu siiatnya itu amat aneh karena ia menyerang sambil menggulingkan tubuh ke atas tanah.
Sambil bergulingan ia menerjang, mendekati lawan lalu tiba-tiba dari bawah mengirim pukulan, tendangan, atau cengkeraman.
Joko Wandiro kembali dibuat bingung oleh gerakan-gerakan ini.
Terpaksa pemuda ini meloncat ke sana ke mari untuk menyelamatkan diri tanpa mendapat kesempatan untuk membalas serangan lawan.
Ia menanti kesempatan untuk balas menyerang dan ketika ia melihat pada suatu saat kakek itu agak lambat menggulingkan diri, ia segera melangkah maju dan menendang punggung kakek itu.
Akan tetapi, siapa duga, gerakan melambat itu adalah sebuah pancingan.
Begitu Joko Wandiro menendang, kakek itu tiba-tiba mengulur kedua tangan ke depan dan...
kaki kanan pemuda yang menendang itu telah tertangkap oleh tangan kiri Dibyo Mamangkoro dan sebelum pemuda itu lenyap kagetnya, kaki kirinya sudah ditangkap pula oleh tangan kanan!
"Hua-ha-ha-ha, kubeset kau menjadi dua potong"
Kakek itu yang masih rebah di atas tanah tertawa sambil mengerahkan tenaga pada kedua lengannya.
Tentu saja Joko Wandiro tidak sudi tubuhnya dirobek menjadi dua seperti orang merobek kedua paha ayam saja.
Iapun mengerahkan seluruh tenaga dan mempertahankan kedua kakinya.
Celaka baginya, kakek yang amat licik itu tiba-tiba menyentakkan kakinya.
Tidak dapat ditahan iagi, tergulinglah Joko Wandiro dengan kedua kaki masih dipegangi lawan!
Saat itulah yang amat berbahaya karena kalau tidak kuat-kuat ia mempertahankan tubuhnya tentu akan benar-benar robek menjadi dua!
Ia sudah merasa sakit pada selangkangannya, maka cepat-cepat tangannya meraih ke pinggang dan ia sudah mencabut keris pusaka Megantoro, keris lekuk tujuh yang ia dapat dari gurunya, Ki Patih Narotama.
Ia menekuk pinggangnya dan keris itu ia ayun ke arah kedua tangan lawan yang masih memegangi kaki.
"Heehhhhh...!"
Dibyo Mamangkoro menggereng dan cepat melepaskan pegangannya sambil melompat bangun.
Kembali mereka sudah saling berhadapan.
Dibyo Mamangkoro penuh peluh leher dan mukanya.
Joko Wandiro agak pucat, dan basah dahinya.
Kedua kakinya terasa nyeri dan perih.
Biarpun ia sudah berhasil menyelamatkan diri, namun pergelangan kedua kakinya yang tadi kena dicengkeram oleh dua tangan yang mengandung Aji Wisangnolo, kini menjadi merah seperti terbakar!
"Huah-ha-ha!
Engkau kewalahan dan memegang pusaka?"
Raksasa itu mengejek.
"Engkau memang digdaya, Mamangkoro. Akan tetapi aku masih belum kalah. Keluarkanlah senjatamu dan mari kita lanjutkan!"
Jawab Joko Wandiro dengan sikap tenang dan pandang mata penuh keberanian. Dibyo Mamangkoro menarik napas panjang, menggeleng-geleng kepalanya.
"Hebat! Baru ini seumur hidupku bertemu tanding seorang muda begini hebat. Kalau aku kalah oleh seorang muda seperti engkau, Joko Wandiro, agaknya memang sudah sepatutnya aku lenyap dari permukaan bumi ini."
Setelah berkata demikian, kedua tangannya meraba pinggang dan di lain saat kedua tangannya sudah memegang sepasang tombak pendek yang dipegang pada tengah-tengahnya.
Tombak pendek yang mempunyai dua mata di depan dan belakang itu kini diputar-putar di kedua tangannya dan ia menerjang maju sambil mengeluarkan pekik dahsyat.
Joko Wandiro cepat mengelak dan keris pusaka di tangannya meluncur maju mencari sasaran melalui bawah tangan lawan yang menyambar.
Setelah digembleng oleh Ki Tejoranu, tangan pemuda itu amat gapah mainkan senjata.
Senjata keris Megantoro adalah senjata pusaka pemberian Ki Patih Narotama, tentu saja ampuh sekali.
Namun menghadapi sepasang tombak pendek yang dimainkan secara hebat luar biasa itu, sebentar saja Joko Wandiro sudah terdesak hebat!
Ia kini hanya dapat menangkis dan mengelak saja, dicecer terus secara bertubi-tubi oleh lawannya.
Di dalam hati ia sudah khawatir karena maklum bahwa dalam hal ilmu silat maupun tenaga, ia masih kalah seusap oleh jagoan tua ini.
Ia hanya mengharapkan menang napas dan menang daya tahan.
Akan tetapi kalau ia teringat akan cerita bahwa dahulu Dibyo Mamangkoro sanggup melayani gurunya, Ki Patih Narotama sampai dua hari dua malam dalam pertandingan mati-matian, ia menjadi bimbang ragu.
Mungkinkah ia dapat menang dalam hal keuletan?
Mereka sudah bertanding selama tiga jam lebih.
Kini Dibyo Mamangkoro yang makin bernafsu mengakhiri pertandingan dengan kemenangan di fihaknya, terus-menerus menyerang dengan pengerahan seluruh tenaga.
Napasnya mendengus-dengus, peluhnya memercik ke sana ke mari dan mulailah Joko Wandiro melihat hal yang melegakan hatinya.
Gerakan kakek itu mulai gemetar dan angin pukulannya tidaklah sehebat tadi.
Jelas bahwa kakek itu mulai berkurang tenaganya, mulai lelah dan kehabisan napas!
Akan tetapi, dasar ia masih muda, dalam kegirangannya Joko Wandiro lupa bahwa perasaan ini juga merupakan pantangan dalam ilmu bertanding.
Tidak hanya kemarahan yang membikin kacau perhatian, juga rasa girang akan mendapatkan kemenangan ini membuat ia kurang waspada.
Maka kagetlah ia ketika kerisnya menangkis tombak kiri lawan yang menusuk perutnya, tombak kanan lawan tahu-tahu sudah menyambar dada!
Ia tahu bahwa ia telah membuat kesalahan.
Tidak seharusnya ia menangkis tombak kiri yang merupakan serangan pembuka.
Serangan pembuka harus dielakkan dan barulah serangan penutup kalau perlu boleh ditangkis.
Ia telah lupa dan menangkis serangan pembuka sehingga ketika serangan penutup menyusul ke arah dada, ia menjadi bingung.
Cepat ia miringkan tubuhnya, namun kurang cepat!
"Desss...!!"
Pundak kirinya dihajar mata tombak lawan.
Biarpun ia sudah menyalurkan tenaga dalam ke arah pundak, tetap saja baju berikut kulit dan dagingnya robek, tulang pundaknya retak!
Tubuhnya terguling dan terdengar ia mengeluh.
"Huah-ha-ha-ha! Hanya sekian saja kepandaianmu? Ha-haha, bersiaplah untuk mati di tangan Dibyo Mamangkoro, hehheh-heh. Joko Wandiro, engkau tidak malu mati dan kalah oleh Dibyo Mamangkoro karena telah melakukan perlawanan yang mengagumkan!"
Setelah berkata demikian, Dibyo Mamangkoro memutar-mutar kedua tombak pendeknya dan melangkah lebar ke depan.
Akan tetapi Joko Wandiro sudah bangun kembali.
Pundak kirinya sakit bukan main, lengan kirinya lumpuh tak dapat digerakkan, akan tetapi tangan kanannya masih menggenggam gagang Megantoro erat-erat.
Tiba-tiba pemuda ini membelalakkan mata, memandang lawan penuh wibawa.
Kaki kanannya menggedrug (menjejak) tanah tiga kali dan terdengar suaranya berpengaruh.
"Apa engkau bilang, Dibyo Mamangkoro? Engkau dapat mengalahkan AKU?? Engkau akan dapat membunuh AKU?? Hemm, engkau kira siapakah kau ini, Mamangkoro, maka akan dapat membunuh AKU? Buka matamu, pandanglah AKU baik-baik, Mamangkoro. Lihat siapa AKU ini, dan kalau engkau berani, cobalah engkau melawan AKU!!"
Luar biasa sekali akibatnya.
Dibyo Mamangkoro tiba-tiba terbelalak, matanya melotot dan mulutnya ternganga, mukanya pucat sekali, tubuhnya menggigil.
Dalam pandang matanya, ia melihat Joko Wandiro telah berubah menjadi raksasa yang besar sekali, mengerikan dengan muka yang tak terhitung banyaknya, dengan mulut dan mata yang menyemburkan api, dengan tangan yang tak terhitung banyaknya memegang segala macam senjata yang ada di mayapada ini!
Joko Wandiro melangkah maju, keris di tangannya bergerak dua kali ke depan.
Dibyo Mamangkoro berusaha menangkis, namun dengan putaran pergelangan yang amat cepat, keris itu menyelinap dan menusuk lengan kakek raksasa itu.
Dua kali tusukan tepat mengenai kedua lengan dan terlepaslah tombak-tombak pendek itu dari kedua tangan Dibyo Mamangkoro.
Pada saat itu, kakek raksasa yang sakti mandraguna ini sudah dapat menguasai dirinya kembali.
Ia tadi telah terpengaruh oleh aji kesaktian yang mujijat, yang terpaksa dipergunakan oleh Joko Wandiro untuk menolong dirinya.
Itulah aji kesaktian Triwikrama dari mendiang Sang Prabu Airlangga atau Sang Resi Gentayu!
Akan tetapi karena kurang latihan dan kurang pengalaman, pengaruhnya hanya sebentar saja terhadap seorang sakti seperti Dibyo Mamangkoro.
Dengan lengking panjang macam lengking iblis, Dibyo Mamangkoro yang bertangan kosong itu sudah melompat ke depan, menubruk Joko Wandiro dengan kemarahan meluap-luap.
Kedua lengannya terluka oleh keris pusaka, namun tidak mengurangi tenaganya.
Hebat bukan main terkaman ini sehingga Joko Wandiro tak sempat mengelak sama sekali.
Tahu-tahu kedua tangan raksasa itu, dengan jari-jari tangan yang besar-besar lagi kuat, sudah mencekik lehernya!
Joko Wandiro terguling roboh, tertindih oleh tubuh kakek raksasa itu yang terus mencekik sekuat tenaga...
Joko Wandiro mengerahkan tenaga menjaga leher, kemudian tangan kanannya bergerak menusuk dalam keadaan setengah sadar karena cekikan itu benar-benar telah menghentikan jalan darahnya ke kepala.
Tiga kali ia menusuk dalam-dalam, dan tusukan yang ketiga kalinya tak dapat diulangi lagi karena kerisnya tertinggal di dalam rongga dada Dibyo Mamangkoro, tinggal gagangnya saja sedangkan Joko Wandiro sendiri juga sudah pingsan!
Ketika sadar dari pingsannya, yang teringat oleh Joko Wandiro adalah bahwa ia bertanding mati-matian dengan Dibyo Mamangkoro dan bahwa kerisnya patah tertinggal di dalam dada lawan yang tubuhnya menindih tubuhnya, sedangkan lehernya tercekik hampir patah dan pundak kirinya sakit sekali membuat lengan kirinya lumpuh.
Ketika ia sadar, ia merasa betapa pundaknya masih sakit, lengan kirinya masih tak dapat digerakkan, lehernya juga masih kaku dan nyeri-nyeri, akan tetapi dadanya tidak tertindih lagi.
Masih hidupkah ia?
Ataukah sudah mati?
la tidak akan merasa heran kalau mendapatkan dirinya sudah mati.
Dibyo Mamangkoro luar biasa saktinya.
Terlalu sakti baginya.
Pertandingan tadi hebat dan belum pernah selama hidupnya ia mengalami pertandingan sebehat itu.
"Dia bergerak...!"
"Dia sadar kembali...!"
"Dia hebat sekali, dapat mengalahkan kakek sakti itu."
"Pertandingan yang mengerikan dan seru bukan main."
"Dia benar-benar perkasa, patut menjadi junjungan kita."
Suara percakapan ini merdu dan halus, suara wanita.
Kemudian jari-jari tangan yang halus lunak meraba-rabanya, membelainya.
Tercium harum rambut wanita ketika bibir yang hanyat menyentuh dahinya.
Joko Wandiro tersenyum.
Ia teringat, ini tentu Dewi, Lasmi, Mini, Sari dan Sundari!
Lima orang gadis jelita yang hebat.
Ia tidak marah lagi mereka belai dengan mesra.
Lima orang gadis ini telah membuktikan cinta kasih dan kesetiaan mereka.
Bahkan mereka telah menyelamatkan nyawanya pada saat terakhir ketika tadi ia dikempit dari belakang oleh Dibyo Mamangkoro.
Mereka menolongnya dengan taruhan nyawa, karena menolongnya berarti melawan Dibyo Mamangkoro yang masih kakek paman Dewi sendiri!
Ia membuka matanya.
Kiranya Dewi yang menciumnya.
Tanpa disadarinya, Joko Wandiro membalas rangkulannya dan mencium pipi Dewi sambil berbisik.
"Sudahlah, Dewi, jangan menangis. Aku tidak apa-apa lagi..."
Dewi mengangkat mukanya, memandang dengan air mata berlinang, lalu tersenyum manis sekali.
"Kalau tadi kau yang kalah dan mati, kami sudah siap untuk mengadu nyawa dengan eyang Dibyo Mamangkoro!"
"Dibyo Mamangkoro? Ah, di mana dia sekarang...?"
"Dia sudah tewas, sudah kami kubur di lereng wetan."
Joko Wandiro menarik napas lega.
Kiranya luka-lukanya telah dirawat dengan baik-baik oleh Dewi dan adik-adiknya, bahkan ketika ia masih pingsan, tulang pundaknya telah diberi obat penyambung tulang.
Untuk menunggu pulihnya tulang pundaknya, ia harus rebah untuk beberapa hari lamanya.
Setiap hari, tak pernah lima orang gadis itu membiarkan ia seorang diri.
Mereka itu secara bergilir menjaganya, siang malam, dengan penuh perhatian, penuh kesetiaan dan penuh cinta kasih yang mesra.
Kini Joko Wandiro tak pernah menolak sikap mereka yang mencinta.
Dia mulai mengenal keadaan hati lima orang gadis ini.
Mereka itu adalah orang-orang yang haus akan cinta kasih, semenjak kecil tak pernah mengenal cinta kasih maka sekarang, Begitu bertemu dengan dia yang mereka kagumi, mereka menumpahkan seluruh perasaan itu kepadanya dengan harapan untuk mendapatkan cinta kasih.
Karena ia tahu betapa mereka itu amat setia kepadanya, bahkan ia telah berhutang budi, ia tidak tega mengecewakan hati mereka.
Bahkan seringkali, darah muda di tubuhnya mendesak dan mendorong agar dia mengambil Apa yang disodorkan kepadanya, agar dia mempergunakan kesempatan itu untuk menyenangkan diri sendiri dan menikmatinya.
Namun, Joko Wandiro sebagai murid Ki Patih Narotama selalu menekan dan menentang perasaan ini, selalu teringat bahwa sekali ia dikalahkan nafsunya sendiri, ia akan melakukan penyelewengan-penyelewengan daripada jalan kebenaran.
Oleh karena inilah, Joko Wandiro selalu kuat bertahan.
Dia mengimbangi pernyataan kasih sayang Dewi dan adik-adiknya, namun dalam batas-batas tertentu dan tidak terpeleset ke dalam bujukan iblis nafsu berahi yang akan menyeretnya melalui batas-batas kesusilaan.
Endang Patibroto yang mendapat tugas dari sang prabu di Jenggala untuk memimpin pasukan menyerbu Nusabarung dan menawan Adipati Jagalmanik yang hendak memberontak, hanya menyuruh para senopati menyiapkan seribu orang perajurit pilihan.
Dia sendiri lalu bergegas melakukan pengejaran setelah menerima laporan penyelidik bahwa tiga orang sakti lain yang menjadi sekutu Durgogini dan Nogogini, yang tadinya juga membantu Kerajaan Jenggala, telah melarikan diri setelah mendengar akan tewasnya Ni Durgogini dan Ni Nogogini.
Mereka bertiga ini bukan lain adalah Cekel Aksomolo, Ki Krendoyakso dan Ki Gendroyono.
Menurut rencana persekutuan itu semula, setelah Ni Durgogini dan Ni Nogogini berhasil melemahkan Kerajaan Jenggala dengan menggoda Rajanya, maka pada saat yang baik dan telah ditentukan, Adipati Jagalmanik akan melakukan penyerbuan dengan bala tentaranya, sedangkan tiga orang kakek sakti ini sebagai pembantu-pembantu Jenggala akan melakukan gerakan membantu dari dalam.
Siapa kira, usaha Ni Durgogini dan Ni Nogogini yang sudah hampir berhasil itu tiba-tiba hancur dan gagal, bahkan menewaskan mereka.
Baca Juga: Suling Emas 27
Baca Juga: Pendekar Super Sakti 24