Ceritasilat Novel Online

Badai Laut Selatan 10

Eps 10 Badai Laut Selatan - Kho Ping Hoo

Baca online Badai Laut Selatan - Kho Ping Hoo

Cersil Badai Laut Selatan - Kho Ping Hoo.

Hal ini selain mengejutkan, juga menggiriskan hati tiga orang kakek sakti itu, maka mereka cepat-cepat melarikan diri dengan maksud menggabungkan diri dengan Adipati Jagalmanik di Nusabarung.

Mereka menunggang tiga ekor kuda yang kuat dan meninggalkan Jenggala di malam hari yang gelap.

Pada keesokan harinya, di waktu pagi, mereka telah keluar dari wilayah Jenggala dan menjalankan kuda mereka yang sudah lelah itu perlahan-lahan.

Ketika mereka lewat di pinggir sebuah hutan, tiba-tiba tampak sinar hijau berkelebat dan kuda mereka meringkik keras lalu roboh!

Sebagai orang-orang sakti, tentu saja tiga orang kakek ini tidak ikut roboh, melainkan dapat cepat melompat turun.

Mereka kaget sekali melihat betapa tiga ekor kuda mereka berkelojotan lalu mati!

Kiranya tiga batang panah tangan menancap di leher kuda.

Marah sekali tiga orang ini.

Mereka adalah orang-orang sakti, tokoh-tokoh besar.

Siapa berani begitu kurang ajar menyerang mereka dan membunuh kuda tunggangan mereka?

Serentak mereka mencabut senjata masing-masing.

"Babo-babo, si keparat pengecut dari mana berani mati menyerang kami?"

Cekel Aksomolo berseru dengan suaranya yang tinggi sambil memutar-mutar tasbehnya yang ampuh.

Juga Ki Krendoyakso telah memegang penggadanya Wojo Ireng yang besar dan berat.

Adapun Ki Warok Gendroyono sudah mengudar kolor jimatnya Ki Bandot!

Tiga orang sakti ini sudah siap menghajar orang yang berani menewaskan kuda tunggangan mereka.

"Hemm, tiga orang tua bangka tak tahu malu! Siapakah yang pengecut? Aku atau kalian yang melarikan diri seperti tiga orang maling kesiangan?"

Suara ini halus merdu, keluar dari bibir merah Endang Patibroto.

Namun amat mengejutkan tiga orang itu yang cepat-cepat membalikkan tubuh karena gadis ini muncul dari belakang mereka.

Melihat betapa gadis itu hanya seorang diri, bertangan kosong pula, tiga orang tokoh itu dapat menenangkan hati.

Mereka maklum bahwa gadis ini adalah murid Dibyo Mamangkoro yang sakti, dan gadis ini pula yang telah menewaskan sekutu mereka, Ni Durgogini dan Ni Nogogini.

Maka di samping rasa kaget meiihat gadis ini, juga timbul kemarahan mereka.

Ki Warok Gendroyono yang berdiri paling dekat, tanpa mengeluarkan kata-kata pula sudah menggerakkan senjata kolor mautnya ke atas, memutarnya beberapa kali lalu menghantamkannya ke arah kepala Endang Patibroto.

"Blarrrr...!"

Hebat bukan main sambaran senjata kolor maut ini. Namun dengan gerak tubuh amat ringan cekatan, Endang Patibroto sudah memutar tubuh mengelak. Gadis ini tersenyum-senyum mengejek lalu berkata.

"Bagus, akan terbalaslah sakit hati eyang Resi Bhargowo...!"

Ucapan ini mengejutkan mereka bertiga dan serentak mereka menahan gerakan senjata masing-masing.

"Uuh-huh, bocah denok yang sombong! Apa kau katakan tadi? Mengapa engkau memusuhi kami dan Apa hubunganmu dengan Bhargowo?"

Cekel Aksomolo yang sudah ompong itu bertanya. Endang Patibroto berdiri tegak, kedua tangan bertolak pinggang.

"Masih ingatkah kalian belasan tahun yang lalu ketika kalian mengeroyok secara curang eyang Resi Bhargowo? Ketika itu aku sudah bersumpah akan membalas kalian berenam. Durgogini dan Nogogini sudah mampus di tanganku, sekarang kalian bertiga mendapat giliran. Hanya masih kurang seorang lagi. Jokowanengpati, dia sudah lebih dahulu mampus di tangan ibuku. Sayang sekali! Ketahuilah, aku adalah cucu eyang Resi Bhargowo yang dahulu kalian keroyok di Pulau Sempu."

Tiga orang itu benar-benar terkejut, juga terheran-heran.

"Kalau begitu, mengapa engkau membantu Jenggala? Eyangmu selalu memusuhi Jenggala."

"Bukan urusanmu!"

Bentak Endang Patibroto dan tiba-tiba tubuh gadis ini sudah menyambar ke depan, mengirim pukulan Pethit Nogo ke arah leher orang terdekat, yaitu Ki Krendoyakso.

Tentu saja kepala rampok Bagelen ini maklum akan dahsyatnya serangan lawan, maka ia menghindar sambil menyabetkan Wojo Ireng ke arah kepala lawan.

Pada saat itu, sambil berteriak keras Ki Warok Gendroyono juga sudah menerjang maju dengan kolor mautnya, sedangkan Cekel Aksomolo sudah pula memutar tasbehnya dan menyerbu ke depan.

Endang Patibroto adalah seorang gadis yang memiliki keberanian luar biasa dan sedikit banyak ia ketularan watak gurunya yang terlalu yakin akan kepandaian sendiri serta memandang rendah orang lain.

Inilah sebabnya mengapa ia hanya bertangan kosong saja menghadapi tiga orang tokoh besar yang terkenal sakti ini.

Kini ia bagaikan seekor burung pipit yang dijadikan rebutan tiga ekor kucing besar.

Ditubruk sana melejit ke sini, diterkam sini terbang ke sana.

Ia hanya mengandaikan Kelincahannya yang memang amat mengagumkan itu untuk berkelebat menyelamatkan diri.

Gerakannya amat cepat, tidak kalah cepatnya oleh gerakan senjata tiga orang lawannya sehingga tubuhnya lenyap berubah menjadi bayangan hitam yang berkelebat menyelinap di antara gulungan sinar senjata tiga orang lawannya.

Senjata di tangan Ki Krendoyakso amat mengerikan.

Penggada Wojo Ireng yang amat besar dan berat itu bersiutan menyambar-nyambar laksana seekor burung garuda mencari korban.

Rambut kepala Endang Patibroto sampai berkibaran setiap kali kena sambar hawa pukulan yang mendahului penggada raksasa itu.

Namun, keganasan penggada Ki Krendoyakso ini masih kalah oleh ketangkasan kolor maut di tangan Ki Warok Gendroyono.

Biarpun kolor itu terbuat daripada bahan lemas dan ringan, namun jangan dikira kalah ampuh oleh penggada yang besar dan berat.

Kolor ini seolah-olah hidup di tangan Ki Warok Gendroyono, menyambar-nyambar seperti seekor ular terbang, meledak-ledak di udara ketika melecut dan mengandung hawa yang amat panas.

Kalau Endang masih berani menyampok penggada dengan telapak tangannya, ia sama sekali tidak berani sembrono untuk menangkis kolor maut ini.

Namun, harus diakui bahwa yang paling ampuh dan berbahaya adalah tasbeh di tangan Cekel Aksomolo.

Kakek ini sudah tua sekali, kalau berdiri biasa sudah"Buyuten" (gemetar), akan tetapi ternyata ketika bertanding, sepak terjangnya masih hebat menggiriskan hati.

Tasbehnya menyambar-nyambar dan berputar-putar, mengeluarkan suara menggelitik aneh yang amat menyakitkan telinga lawan, sedangkan hawa pukulan yang keluar dari gerakan tasbeh ini melingkar-lingkar dan berpusing membingungkan lawan.

Endang Patibroto memang seorang gadis sakti mandraguna dan sudah mewarisi sebagian besar ilmu kesaktian Dibyo Mamangkoro.

Namun, menghadapi pengeroyokan tiga orang kakek sakti ini, akhirnya ia terdesak dan kewalahan juga.

Ia hanya mampu mengelak ke sana ke mari mengandalkan kegesitannya, sama sekali tidak mendapat kesempatan untuk balas menyerang.

Ia mulai penasaran dan marah, namun kemarahannya ini malah melemahkan pertahanannya sehingga ketika ia meloncat ke atas menghindarkan diri dari serampangan penggada ke arah pinggangnya, kemudian di atas ia berjungkir balik untuk mengelak sambaran kolor maut sambil memaki-maki, ia berlaku agak lengah dan pundaknya tercium tasbeh.

"Treekkk...!"

Tasbeh itu hanya mencium pundak, tidak mengenai secara jitu.

Namun tubuh gadis itu berputar-putar seperti gasing lalu roboh dan bergulingan di atas tanah.

Pundaknya serasa hancur, kemudian rasa panas yang amat menyakitkan merangsang dari pundak menyerbu ke dalam dada.

Endang Patibroto terkejut bukan main, cepat ia mengerahkan hawa sakti di dalam tubuhnya, disalurkan ke arah pundak untuk memulihkan tenaganya.

Ia masih dalam keadaan setengah berbaring setengah duduk ketika kolor maut melecut dari atas dan menghantam ke arah kepalanya dengan bunyi ledakan dahsyat, disusul dalam detik berikutnya oleh hantaman penggada Wojo Ireng yang menggebug ke arah dadanya.

Keadaan itu amat berbahaya bagi Endang Patibroto.

Betapapun saktinya, kalau sampai kolor maut itu mengenai kepalanya, tentu akan hancur kepalanya.

Juga penggada yang berat itu kalau sampai mengenai dadanya, tentu akan remuk tulang iganya.

Biarpun pundaknya masih terasa sakit dan kepalanya pening, Endang Patibroto tidak kehilangan kewaspadaan dan kegesitannya.

Cepat ia membanting tubuhnya ke atas tanah sehingga kolor maut itu menyambar lewat hanya sejengkal di atas kepalanya.

Akan tetapi pada detik itu, penggada Wojo Ireng sudah datang menyambar hendak melumatkan tubuhnya yang denok!

Angin sambaran penggada sudah mengibarkan ujung kain dan kemben.

Tidak ada kesempatan lagi untuk menghindar kini dan agaknya tubuh gadis itu akan hancur ditumbuk penggada baja!

Pada detik yang amat berbahaya itu, Endang Patibroto yang masih rebah telentang, cepat sekali menggerakkan kedua kakinya ke atas dan pada detik terakhir, kedua telapak kakinya yang halus dan kemerahan itu sudah menangkis penggada, diayunkan ke bawah sedikit lalu dilanjutkan dengan tendangan ke atas sambil mengerahkan tenaganya.

"Hehhhh...!!"

Ki Krendoyakso terkejut bukan main.

Tadinya ia sudah menyeringai kegirangan karena sudah memperhitungkan bahwa kali ini gadis perkasa ini akan remuk oleh senjatanya.

Siapa kira, ketika senjatanya sudah hampir mengenai sasaran, yaitu dada yang membusung itu, tiba-tiba diterima oleh dua telapak kaki yang terasa lunak.

Tenaga pukulannya seperti tenggelam, kemudian disedot dan selanjutnya malah terdorong ke atas oleh tendangan gadis itu sehingga hampir saja penggadanya terlepas dari tangannya kalau saja ia tidak cepat-cepat meloncat mundur sambil mengeluarkan seruan kaget.

"Trekk-trekkk...!!"

Tasbeh di tangan Cekel Aksomolo sudah menyambar lagi ketika kakek ini melihat betapa kedua orang kawannya tidak becus menghabiskan gadis yang sudah ia robohkan itu.

Akan tetapi tubuh Endang Patibroto sudah melesat bangun sambil mengelak menjauhi tasbeh yang berbahaya itu.

Keringat dingin membasahi dahi dan leher Endang Patibroto.

Bermacam perasaan mengaduk hatinya.

Ia merasa menyesal mengapa ia memandang rendah tiga lawan ini yang ternyata memiliki kesaktian yang melebihi kepandaian Ni Durgogini dan Ni Nogogini.

Karena memandang rendah tadi hampir saja ia mengorbankan nyawanya.

Di samping perasaan ini, juga kemarahannya bangkit.

Kini sepasang matanya mengeluarkan cahaya berapi-api, senyum mulutnya manis sekali dan lesung pipit di kedua pipinya tampak bersama lekuk-lekuk di dagunya.

Inilah tanda bahwa Endang Patibroto sudah memuncak kemarahannya!

"Tua bangka-tua bangka jahanam!

Sekarang bersiaplah untuk mampus!!"

Bentaknya dengan suara tetap halus merdu namun mengandung ancaman yang menyeramkan.

Tiga orang kakek itu yang merasa menang kuat, tertawa berkakakan melihat sikap dan mendengar omongan gadis yang mengancam mereka ini.

"Uuuh-huh-huh-huh, denok montok ayu kuning, galak dan sombongnya bukan kepalang. Uuuhhh-huh, eman-eman (sayang) kalau mati muda. yang mau kau buat menang saja Apa, cah ayu? Lebih baik kau takluk dan ikut dengan Cekel Aksomolo, uuh-huh, kutanggung kau akan senang, kutanggung kau akan menikmati surga dunia, dan tentang memperdalam ilmu, uuh-huh, kau jadilah muridku, cah manis. Cekel Aksomolo adalah gudang segala ilmu. Menyerahlah, jangan sampai tubuhmu yang denok itu hancur luluh terkena senjataku yang ampuh!"

"Ha-ha-ha, cucu Resi Bhargowo tentu saja sombong dan angkuh! Sudah hampir mampus masih banyak lagak. Heh, bocah, Apa kau tidak tahu betapa kami tadi sudah banyak mengalah? Kalau kami kehendaki, tadipun kau sudah mampus!"

Ki Warok Gendroyono juga tertawa mengejek.

"Hua-ha-ha! Kalau dia bosan hidup, biarlah dia mampus! Akan tetapi jangan lumatkan dagingnya, jangan habiskan darahnya! Daging dan darah perawan ini tentu banyak khasiatnya untukku, hua-ha-ha!"

Ki Krendoyakso juga mengejek sambii menggerak-gerakkan penggadanya.

Ejekan tiga orang kakek itu bagaikan minyak disiramkan pada api yang sudah bergolak.

Kemarahan Endang Patibroto hampir membuat gadis ini menangis.

Tiba-tiba mulutnya mengeluarkan suara melengking tinggi menyeramkan, membuat tiga orang kakek itu terkejut sekali dan memasang kuda-kuda bersikap waspada.

Itulah pekik dahsyat Sardulo Bairowo yang menggetarkan pohon-pohon di sekeliling tempat itu, lebih hebat daripada pekik harimau betina yang sedang marah.

Kemudian, menyusul pekik ini, tangan Endang Patibroto menggerayang (meraba) pinggang dan di lain saat ia sudah menerjang maju dengan keris pusaka Brojol Luwuk di tangan kanan!

Tiga orang kakek ini sama sekali tidak mengenal keris pusaka Brojol Luwuk.

Melihat betapa keris itu hanya sebuah senjata kecil keris lekuk tujuh, mereka memandang rendah dan menyambut terjangan Endang Patibroto sambil tertawa mengejek.

Akan tetapi mendadak suara ketawa mereka terhenti dan mereka kaget setengah mati ketika hawa yang panas luar biasa menerjang mereka dan membuat tubuh mereka gemetar dan setengah lumpuh.

Barulah mereka sadar bahwa keris itu adalah sebuah senjata pusaka yang ampuhnya menggila, akan tetapi kesadaran ini sudah terlambat karena Endang Patibroto sudah menerjang dengan dahsyat!

Ki Krendoyakso yang paling hebat terpengaruh keampuhan Brojol Luwuk sudah habis tenaganya, namun ia masih berusaha menangkis dengan penggada Wojo Ireng sambil berseru.

"Celaka...!"

Ki Warok Gendroyono berusaha membaca mantera dengan suara menggigil, juga kolor mautnya ia ayun untuk menangkis keris pusaka yang kelihatannya seperti halilintar menyambar itu.

Adapun Cekel Aksomolo yang paling tinggi ilmunya, sudah memutar-mutar tasbehnya sehingga terdengar suara nyaring sedangkan ia mengerahkan tenaga menjejak tanah melompat ke belakang sampai lima meter, menjauhi pusaka yang panasnya menggila itu.

"Tringggg syeeetttt... aauuuggghhh...!!"

Hebat bukan main akibatnya.

Dalam detik-detik mengerikan itu, penggada Wojo Ireng pecah dan terlempar jauh dari tangan Ki Krendoyakso, juga kolor maut putus-putus dan hangus, kemudian disusul robohnya tubuh Ki Krendoyakso yang tinggi besar seperti raksasa ketika dadanya tersentuh ujung keris pusaka Brojol Luwuk.

Ia terjengkang roboh dan tewas seketika dengan dada hangus seperti disambar petir!

Ki Warok Gendroyono yang merasa tangannya terbakar ketika kolor mautnya bertemu keris pusaka, kini mundur-mundur dengan muka pucat.

Namun Endang Patibroto tidak memberi ampun lagi.

Gadis ini dengan muka beringas sudah menyerbu lagi ke depan, didahului keris pusakanya yang mengerikan.

Ki Warok Gendroyono bukanlah seorang penakut, juga ia terkenal sakti mandraguna.

Namun selama hidupnya baru kali ini ia berhadapan dengan pusaka yang sedemikian ampuhnya.

Menghadapi gadis ini saja kalau ia seorang diri, ia takkan menang.

Apalagi sekarang gadis itu membawa sebuah keris pusaka yang luar biasa.

Namun ia maklum bahwa jalan keluar tidak ada iagi, maka ia lalu menggereng seperti harimau dan dengan nekat ia menubruk maju.

Akan tetapi perbuatannya ini sama dengan mengantar nyawa karena sebelum ia dapat mencengkeram gadis itu, hawa yang keluar dari keris pusaka sudah membuat tubuhnya seakan-akan lumpuh dan di lain saat iapun mengeluarkan pekik dahsyat, terjengkang dan ia roboh tewas di dekat mayat Ki Krendoyakso!.

"Cekel busuk! kau hendak lari ke mana...??"

Cekel Aksomolo cukup cerdik.

Melihat betapa dua orang kawannya roboh sedemikian mudahnya, ia maklum bahwa menghadapi gadis dengan pusakanya yang ampuhnya menggila itu, jalan paling baik adalah lari menyelamatkan diri!

Maka ia sudah mengambil langkah seribu melarikan diri ke selatan.

Siapa kira, gadis itu memiliki gerakan yang jauh lebih gesit dan tangkas daripada kedua kakinya yang sudah tua dan buyuten, maka dalam belasan kali loncatan saja Endang Patibroto sudah dapat mengejarnya!

Terpaksa kakek ini membalikkan tubuhnya, kedua kakinya menggigil ketakutan dan wajahnya pucat!

"Huuuh-huh-huh...

tobat-tobat...

Endang Patibroto, engkau mau apakah awakku yang sudah tua renta ini?

Auhhh, bocah ayu, bocah denok, kau jangan terlalu kejam, ya?

Aku sudah tua, umurku tak berapa lama lagi, tidak diapa-apakan juga akan mati sendiri!

Masa kau tega membunuhku, anak rnanis...!"

Muak rasa perut Endang Patibroto menyaksikan sikap pengecut Cekel Aksomolo ini.

Ia sudah banyak mendengar tentang sepak terjang cekel tua ini yang amat menjijikkan.

Betapa si tua bangka ini banyak disuguhi wanita-wanita muda yang cantik-cantik, yang menjadi kegemarannya.

Dia bagaikan seekor bandot tua yang makin tua makin gila, makin suka makan daun-daun muda, bagaikan seekor kumbang tua yang suka mengisap madu kembang-kembang yang baru mekar.

Juga ia banyak mendengar betapa kakek ini dapat bersikap galak dan kejam tak mengenal ampun.

Masih terbayang olehnya betapa dahulu, di Pulau Sempu, mereka yang mengeroyok eyangnya juga dipimpin oleh kakek ini.

"Cekel Aksomolo, tak perlu banyak cerewet lagi. Hadapilah kematianmu seperti seorang yang berilmu!"

Setelah berkata demikian, Endang Patibroto siap menerjang.

Namun ia didahului oleh Cekel Aksomolo.

Karena merasa bahwa bujuk dan minta ampun akan percuma belaka, kakek ini sudah mendahului dengan serangan jarak jauh yang hebat.

Tasbehnya diputar dan dihantamkan ke arah Endang Patibroto, disusul tangan kirinya yang menggunakan gerak dorong disertai hawa sakti sehingga serangkum angin pukulan yang dahsyat menyambar ke arah Endang Patibroto.

Gadis perkasa ini terkejut.

Hebat juga pukulan jarak jauh lawan ini.

Iapun cepat mengerahkan tenaga di tangan kiri dan mendorong ke depan untuk rnelawan pukulan jarak jauh kakek itu, kemudian keris pusaka Brojol Luwuk ia gerakkan dari samping yang menimbulkan serangkaian hawa panas membara"memotong"

Dari samping. Berkat hawa panas dan keampuhan keris sakti ini, bobollah tenaga pukulan jarak jauh Cekel Aksomolo sehingga memungkinkan gadis itu terus menerjang maju.

"Aauuuuh, kau benar-benar kejam membunuhku...?"

Teriak Cekel Aksomolo, namun teriakannya ini hanya untuk membuyarkan perhatian lawan karena tasbehnya sudah berputar cepat membentuk lingkaran-lingkaran berbahaya yang mengirim serangan-serangan maut secara bertubi-tubi ke arah tubuh Endang Patibroto.

Gadis ini setelah tadi mengalami kekalahan pahit karena kurang waspada, kini tidak berani memandang rendah lagi dan cepat-cepat keris pusakanya digerakkan menangkis.

Begitu keris itu bergerak, serangkum hawa panas menyambar dan tasbeh itu terpental sebelum bertemu dengan keris.

Cekel Aksomolo terkejut bukan main.

Tasbehnya adalah senjata yang ampuh, merupakan barang pusaka yang dua kali sepekan ia beri sesajen.

Akan tetapi kini berhadapan dengan pusaka di tangan gadis itu, tasbehnya menjadi melempem seperti kerupuk bertemu air, lenyap wibawa dan dayanya.

Mendadak kakek tua renta itu membunyikan tasbehnya dengan nyaring sekali.

Betapapun perkasanya, Endang Patibroto merasa telinganya sakit dan cepat ia mengerahkan hawa murni di tubuhnya.

Hal ini membuat kakek itu mendapat kesempatan untuk meloncat ke belakang dan ketika Endang menerjang maju, tangan kiri kakek itu bergerak dan meluncurlah belasan sinar hitam yang menyambar ke arah bagian-bagian berbahaya dari tubuh Endang Patibroto.

Itulah senjata rahasia ganitri (biji tasbeh) yang amat hebat dan berbahaya!

"Haaaiiittt...!!"

Endang Patibroto berseru keras sambii cepat-cepat memutar senjata kerisnya di depan tubuhnya.

la maklum betapa hebat dan berbahayanya sinar-sinar hitam itu, maka ia mengandalkan keampuhan pusakanya.

Benar saja, hawa panas pusakanya yang diputar di depan tubuh merupakan benteng yang amat kuat sehingga semua ganitri runtuh di atas tanah sebelum menyentuh kerisnya.

Dengan marah Endang Patibroto mengeluarkan panah tangan dan sekaligus ia melepas tujuh batang panah tangan yang diluncurkan menjadi tiga rombongan mengarah tubuh bawah, tengah dan atas!

"Uuhhhh...!"

Cekel Aksomolo kaget sekali.

Ia meiihat betapa tiga rombongan panah tangan itu meluncur cepat dan kiranya akan sukar kalau ia mengelak serombongan demi serombongan, Apa pula menangkis, maka ia lalu berteriak keras dan tubuhnya mencelatt inggi keudara sehingga tiga rombongan panah itu meluncur cepat jauh di bawah kakinya.

Akan tetapi, Endang Patibroto yang sudah menduga bahwa lawannya tentu akan menghindarkan serangan panahnya itu dengan meloncat tinggi ke atas, segera memekik nyaring dan tubuhnya juga mencelat tinggi ke depan, menerjang tubuh kakek yang masih melayang itu.

Betapa kagetnya Cekel Aksomolo ketika melihat sinar abu-abu yang mengerikan meluncur ke arah dadanya.

Cepat ia menggerakkan tasbehnya dengan nekat menangkis keris pusaka Brojol Luwuk.

"Cringgg... bretttt...!!"

Tasbeh itu putus dan biji tasbehnya runtuh semua ke atas tanah.

Kakek itu menjerit, akan tetapi jeritnya terhenti di tengah-tengah ketika ujung keris pusaka Brojol Luwuk sudah mencium ulu hatinya dan sekaligus menyedot darah serta menghanguskan dadanya.

Cekel Aksomolo telah tewas sebelum tubuhnya terbanting di atas tanah!

Dengan hati puas dan sikap tenang Endang Patibroto memandang mayat tiga orang bekas lawan itu sambil menyimpan keris pusaka Brojol Luwuk setelah mencium gagang keris dan menempelkan mata keris di atas kepalanya.

Pada saa itu terdengar sorak-sorai dan kiranya barisan dari Jenggala sudah tiba di situ.

Sorak-sorai makin menggegap gempita ketika para pasukan Jenggala melihat betapa tiga orang sakti yang dari kawan menjadi lawan itu telah menggeletak mati di pinggir jalan, tewas di tangan senopati mereka, puteri Endang Patibroto yang sakti mandraguna.

Makin besar hati mereka dengan adanya bukti kesaktian pemimpin mereka.

Endang Patibroto lalu meloncat naik ke atas kuda, kemudian ia memimpin pasukan Jenggala menuju ke selatan, ke Nusabarung.

Pulau Nusabarung terletak di sebelah timur, di Laut Selatan.

Endang Patibroto sengaja mengambil jalan ke selatan karena ia teringat akan Pulau Sempu dan ada keinginan di hatinya untuk singgah di pulau itu.

Ia ingin melihat pulau bekas tempat tinggal eyangnya, Resi Bhargowo di mana ia bersama Joko Wandiro digembleng selama hampir dua tahun.

Juga diam-diam ia mengharapkan akan dapat menemukan patung kencana yang disimpan di pulau itu oleh Joko Wandiro!

Dari pantai selatan di mana tampak Pulau Sempu yang tak berapa jauh dari pantai, ia akan memimpin pasukan ke timur sampai di Nusabarung.

Karena pasukan yang banyak itu tak dapat melakukan perjalanan cepat, maka Endang Patibroto menyerahkan pimpinan pasukan kepada perwira-perwira pembantunya.

Ia memberi perintah agar pasukan terus ke selatan sampai di pantai laut, di mana ia akan menanti pasukan di pantai, tepat berhadapan dengan Pulau Sempu.

Kemudian ia membalapkan kudanya mendahului ke selatan.

Maksud hatinya, ia hendak singgah sebentar di Sempu dan pada waktu pasukan tiba di pantai, tentu ia sudah kembali dari pulau itu.

Ia akan menyeberang ke Sempu seperti yang dilakukan oleh gurunya dahulu, yaitu dengan bantuan mancung kelapa!

Ketika ia tiba di pegunungan selatan, sudah tak jauh lagi dari pantai selatan dan melalui sebuah hutan kecil, dari jauh ia meiihat seorang wanita berjalan seorang diri.

Ia menjadi heran karena di pegunungan seperti itu mengapa seorang gadis berkeliaran seorang diri?

Dan dari jauhpun sudah tampak bahwa gadis itu bukan seorang gadis dusun atau gunung.

Pakaiannya indah, dan dari jauh sudah dapat terlihat bahwa gadis itu seorang yang cantik.

Ia menjadi tertarik dan mengeprak kudanya menghampiri.

Setelah dekat, gadis itu membalikkan tubuh menghadap kepadanya dan dua-duanya tercengang ketika saling mengenal.

Gadis itu bukan lain adalah Ayu Candra!

Endang Patibroto mengenal gadis cantik jelita ini.

Inilah gadis yang dahulu ia serang dengan panah tangan di Telaga Sarangan.

Inilah gadis yang runtang-runtung dengan Joko Wandiro.

Inilah gadis kekasih Joko Wandiro.

Ia terbayang ketika Joko Wandiro memeluknya di hutan itu, membelai dan menciumi rambutnya dari belakang.

Dia disangka kekasihnya.

Tentu disangka gadis inilah!

Endang Patibroto sebetulnya tidak mengenal Ayu Candra, tidak pula ada hubungan sesuatu antara dia dan Ayu Candra.

Akan tetapi, entah bagaimana, kenyataan bahwa gadis itu kekasih Joko Wandiro, menimbulkan benci di dalam hatinya.

Ia tersenyum mengejek dan memandang dengan sinar mata tajam.

Di lain fihak, Ayu Candra menahan kebencian hatinya yang meluap-luap ketika ia melihat bahwa yang datang berkuda adalah Endang Patibroto.

Inilah wanita yang telah membunuh ibunya!

Ketika Joko Wandiro muncul dan bertanding dengan Ki Jatoko, Ayu Candra telah menyembunyikan diri.

Kemudian ia lari dan di dalam hutan secara kebetulan sekali ia menyaksikan pertempuran antara Joko Wandiro dan Endang Patibroto, melihat betapa Joko Wandiro kakak kandungnya itu memeluk Endang Patibroto yang disangka dirinya.

Kemudian mendengar percakapan mereka.

Betapa hancur hatinya ketika Joko Wandiro secara terang-terangan menyatakan kepada Endang Patibroto bahwa biarpun pemuda yang menjadi kakaknya itu tahu bahwa puteri perkasa ini yang membunuh ibu kandung mereka, kakaknya itu tidak akan membalas dendam!

Jadi gadis inilah yang membunuh ayah-bundanya.

Gadis ini yang pernah melukainya pula dengan panah tangan!

Karena hatinya kecewa meiihat kakak kandungnya, ia tidak kuat mendengarkan percakapan mereka lebih lanjut sehingga tidak sempat menyaksikan pertandingan antara Joko Wandiro dan Endang Patibroto, tidak tahu pula bahwa Joko Wandiro hampir tewas dalam pertandingan itu oleh kecurangan Ki Jatoko.

Ia sudah mendengar cukup jelas.

Ia tahu bahwa ia tidak akan dapat melawan Endang Patibroto, maka ia mengambil keputusan untuk mencari ke Pulau Sempu, untuk membalas dan membunuh ibu gadis itu yang menurut percakapan itu telah pindah dan bersembunyi ke Sempu.

Dapat dibayangkan betapa kagetnya ketika ia melihat munculnya Endang Patibroto yang ia sangka tentu mengejar dan kini menyusulnya.

Biarpun ia tahu bahwa ia tidak menang menghadapi Endang Patibroto, namun Ayu Candra sudah bulat tekatnya untuk membalas dendam atas kematian ayah-bundanya.

la telah melakukan perjalanan yang penuh kesukaran dan amat lambat.

Ia tidak berani melakukan perjalanan di siang hari, takut kalau-kalau tersusul oleh Ki Jatoko atau Endang Patibroto atau Joko Wandiro yang mengejarnya.

Di waktu siang ia bersembunyi, di waktu malam saja ia melanjutkan perjalanan ke Sempu.

Setelah dekat dengan pantai selatan, barulah beberapa hari ini ia melakukan perjalanan di siang hari.

Siapa kira, di sini ia tersusul musuh.

"Perempuan keji!"

Tiba-tiba Ayu Candra mendamprat, ia tidak tahan melihat senyum mengejek dan menghina itu."Turunlah dari kudamu dan mari kita bertanding mengadu nyawa.

Aku untuk membalas kematian ayah-bundaku di tanganmu, dan engkau untuk memperbesar dosa-dosamu sebagai seorang iblis betina!"

Endang Patibroto hanya mengenal Ayu.

Candra sebagai kekasih Joko Wandiro, ia malah tidak tahu siapa nama gadis ini dan dari mana.

Maka tentu saja ia menjadi terheran-heran mendengar ucapan itu.

Dengan gerakan ringan ia melompat turun dari atas kudanya, lalu membiarkan kudanya makan rumput.

Ia sendiri menghampiri Ayu Candra yang sudah menghunus keris, lalu bertanya, lebih heran dan ingin tahu daripada marah.

"Eh, eh, kau ini bocah lancang mulut! Dahulu engkau kupanah karena lancang mulut, sekarang mungkin akan kubunuh karena lancang mulut pula. Siapakah engkau ini dan mengapa kau bilang hendak membalas kematian ayah-bundamu di tanganku? Siapa mereka?"

"Perempuan iblis! Dengarlah baik-baik. Namaku Ayu Candra dan ayahku adalah Ki Adibroto, ibuku Listyokumolo. Karena mereka itu sudah kau bunuh, sekarang aku minta ganti jiwamu atau kau bunuh sekalian aku!"

Setelah berkata demikian, Ayu Candra sudah menerjang maju dengan tusukan kerisnya. (Lanjut ke

Jilid 35) Badai Laut Selatan (Seri ke 03 Serial Serial Keris Pusaka Sang Megatantra) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo

Jilid 35 Endang Patibroto hanya miringkan tubuh mengelak lalu menangkis lengan Ayu Candra.

Perlahan gerakan ini namun cukup membuat Ayu Candra terhuyung ke depan.

Endang Patibroto menjadi terheran-heran kemudian mendongkol sekali.

Jadi gadis inikah yang disebut-sebut oleh Ki Jatoko?

Gadis inikah yang oleh Ki Jatoko dikatakan adik kandung juga kekasih Joko Wancfiro?

Tak salah lagi.

Gadis ini mengaku sebagai puteri Listyokumolo, sedangkan Joko Wandiro juga putera listyokumolo.

Mereka ini seibu lain ayah, akan tetapi saling mencinta!

"Aha, jadi engkaukah yang bernama Ayu Candra?

Hendak membalas kematian ayah-bundamu?

Hemm, boleh sekali.

Majulah!"

Ayu Candra sudah menerjang lagi, mengerahkan seluruh tenaganya menusukkan kerisnya ke arah perut Endang Patibroto.

Tentu saja ilmu kepandaian Ayu Candra bukan apa-apa bagi Endang Patibroto.

Tanpa mengelak, ia menggunakan tangan kirinya menangkap pergelangan tangan lawan yang memegang keris dan sekali tangan kanannya menyambar dengan dua buah jarinya mengetuk leher, Ayu Candra mengeluh perlahan dan roboh terguling, pingsan!

Ketika sadar dari pingsannya, Ayu Candra mendapatkan dirinya diseret-seret di atas tanah.

Untung ia tidak lama pingsan sehingga kulit punggungnya tidak terluka parah, hanya lecet sedikit.

Cepat ia mengerahkan tenaga dalam untuk melindungi punggungnya yang tersangkut-sangkut tanah kasar dan rumput serta duri.

Kedua tangannya ternyata terbelenggu pada pergelangannya.

Kemudian ia meloncat bangun dan terpaksa melangkah ke depan.

Endang Patibroto memegangi ujung tali yang mengikat kedua tangan Ayu Candra.

Ia menunggang kudanya yang dijalankan perlahan.

Dari gerakan pada tali yang dipegangnya ia maklum bahwa orang yang menjadi tawanannya itu telah siuman, akan tetapi Endang Patibroto diam saja, pura-pura tidak tahu.

"Endang Patibroto perempuan keji! Kalau kau seorang wanita gagah dan bukan pengecut rendah, hayo kau lepaskan aku dan mari kita bertanding sampai seorang di antara kita menggeletak tak bernyawa lagi!"

Akan tetapi Ending Patibroto tidak menjawab, menengokpun tidak, hanya mempercepat jalannya kuda sehingga terpaksa Ayu Candra berlari-lari kecil mengikuti kuda karena kalau tidak demikian ia tentu akan jatuh dan diseret-seret seperti tadi!

Ayu Candra memaki-maki dan menantang-nantang namun sia-sia belaka.

Endang Patibroto tidak menjawabnya.

"Iblis betina, kalau begitu kau bunuh saja aku! Perlu apa kau tawan aku? Hayo, bunuhlah aku. Ayu Candra tidak takut mati!"

Teriak Ayu Candra yang sudah tak kuat menahan kemarahannya lagi sehingga suaranya mengandung isak. Kini Endang Patibroto menoleh, tersenyum mengejek.

"Membunuhmu? Hah, mudah sekali kalau aku mau membunuhmu. Akan tetapi tidak begitu enak saja, Ayu Candra! Engkau tidak akan kubunuh, melainkan akan kujadikan mangsa orang buntung yang menjijikkan itu!"

Ayu Candra tercengang.

Orang buntung?

Bukankah Ki Jatoko yang dimaksudkan wanita iblis itu?

Agaknya Endang Patibroto juga dapat menduga apa yang dipikirkan Ayu Candra.

Ia menahan kudanya dan berkata, suaranya nyaring penuh ejekan.

"Benar dugaan pikiranmu, Ayu Candra. Orang yang kau anggap manusia baik-baik, Ki Jatoko itu, hi-hi-hik dia tergila-gila kepadamu dan ingin menjadikan engkau isterinya! Ah, aku seribu kali lebih suka melihat engkau menjadi isteri si buntung yang mukanya seperti serigala itu daripada melihat kau mati!"

Setelah berkata demikian, kembali Endang Patibroto menjalankan kudanya agak cepat.

Ayu Candra terguling roboh dan terseret sampai beberapa meter, akan tetapi ia segera meloncat dengan sigapnya dan kembali ia harus berlarian untuk mencegah jangan sampai terseret-seret.

Tadi ia terlongong sehingga terseret jatuh.

Ia terlalu heran.

Ki Jatoko menghendaki aku menjadi isterinya?

Ia masih amat heran dan merasa ngeri juga.

Akan tetapi berbareng timbul harapannya.

Ia masih belum percaya penuh bahwa Ki Jatoko mempunyai niat seperti itu.

Siapa tahu kalau orang buntung itu akan menolongnya apabila melihat dia menjadi tawanan Endang Patibroto.

Namun, betapapun juga, hatinya merasa tidak enak karena ia teringat akan sikap si buntung itu yang terlalu manis kepadanya, bahkan kini terngiang di telinganya ucapan Ki Jatoko pada waktu mereka berada di bukit Anjasmoro.

Ucapan yang dikeluarkan dengan suara menggetar penuh perasaan.

"...Sisa hidupku ini kuperuntukkan dirimu seorang. Asal kelak engkau dapat mengasihi seorang buntung seperti aku, ahhh... rela aku berkorban apa saja untukmu, manis."

Teringat ini semua bulu tengkuk Ayu Candra meremang.

Jangan-jangan benar ancaman Endang Patibroto itu!

Jangan-jangan si buntung tua bangka itu benar-benar mengandung niat keji terhadap dirinya!

Mulailah Ayu Candra menyesal.

Bayangan Joko Wandiro memenuhi pandang matanya dan beberapa titik air mata menimpa kedua pipinya.

Mengapa ia meninggalkan Joko Wandiro?

Mengapa ia tidak menggantungkan nasib dirinya dalam perlindungan kakak kandung, bekas kekasihnya itu?

Mengapa ia terlalu percaya kepada Ki Jatoko?

Kalau saja ia bersama Joko Wandiro, tiada seorangpun akan berani mengganggunya.

Sambil berlari-lari cepat mengikuti larinya kuda, Ayu Candra menangis penuh sesal di hatinya.

Ia tidak takut mati, namun ia merasa ngeri mendengar ancaman tadi, ngeri dan takut.

Sebagai puteri Ki Adibroto yang menggemblengnya sejak kecil dengan watak satria dan pendekar, ia sanggup menghadapi maut dengan mata terbuka.

Akan tetapi sebagai seorang wanita, ia merasa ngeri sekali menghadapi ancaman yang lebih hebat daripada maut itu.

Diperisteri si buntung yang buruk rupa Ki Jatoko!

Dan dalam keadaan bagaimanapun juga, ia maklum bahwa ia bukan lawan Endang Patibroto maupun Ki Jatoko sehingga melawanpun akan sia-sia.

Lebih baik ia bunuh diri!

Akan tetapi, bahkan bunuh diripun takkan mungkin kalau ia berada di dekat dua orang yang sakti ini!

Di kaki Gunung Bromo sebelah timur, dalam sebuah hutan yang amat angker di mana terdapat sumber mata air Sungai Bondoyudo, di situlah tempat pertapaan Bhagawan Kundilomuko, yang sekaligus menjadi pusat atau markas para pengikutnya yang jumlahnya mendekati seratus orang!

Di dalam hutan itu dibangun pondok-pondok bambu yang banyak jumlahnya, mengelilingi sebuah bangunan kayu yang besar dan megah, yang berdiri di dekat mata air Sungai Bondoyudo di mana tumbuh sebatang pohon waringin yang besar sekali.

Bangunan kayu inilah tempat sang bhagawan bertapa dan bersenang-senang, dan di situ pula terdapat sebuah ruangan yang luas sekali, tempat para pengikutnya berkumpul dan tempat diadakannya upacara-upacara keagamaan.

Hutan ini disebut hutan Durgaloka.

Selain hutan Durgaloka yang menjadi pusat, sang bhagawan mempunyai pula sebuah tempat bertapa di mana ia sering kali pergi mengasingkan diri, hanya diikuti beberapa orang muridnya tersayang, yaitu di hutan Gumukmas yang berada di tepi pantai Laut Selatan.

Sang Bhagawan Kundilomuko adalah seorang kakek yang sudah berusia tinggi.

Tidak ada seorangpun tahu berapa usia kakek ini.

Banyak di antara para muridnya menduga bahwa sedikitnya kakek itu tentu sudah berusia seratus tahun!

Tubuhnya tinggi kurus, akan tetapi masih tegak dan nampak kuat.

Rambutnya panjang terurai, sudah putih semua, halus seperti benang sutera.

Kumis dan jenggotnya juga panjang dan putih semua.

Namun rambut, kumis dan jenggot itu selalu terpelihara baik-baik, biarpun terurai, namun halus dan bersih, tidak kumal berkat pemeliharaan para murid-muridnya terkasih yang setiap waktu menyisiri rambut itu.

Wajahnya yang kurus masih membayangkan garis-garis wajah laki-laki tampan, tidak tampak kisut, masih segar seperti wajah seorang muda.

Bahkan sepasang matanya sama sekali belum lamur, masih tajam dan penuh semangat.

Hanya gerak-geriknya yang halus, suaranya yang lemah lembut itu saja yang menyatakan bahwa dia seonang kakek pertapa yang berilmu tinggi.

Inilah dia pendeta yang menjadi ayah Ni Durgogini dan Ni Nogogini!

Dan agaknya dua buah anting-anting yang tergantung di kedua telinganya itulah yang membuat ia mempunyai sebutan Kundilomuko (kundilo .

Anting-anting).

Apabila orang bertemu dengan Bhagawan Kundilomuko, apalagi bertemu di tempat sunyi, tentu akan mengganggap tanpa keraguan lagi bahwa dia adalah seorang pendeta yang hidup bersih dan suci seorang yang berilmu dan sakti.

Memang tak dapat disangkal lagi bahwa Bhagawan Kundilomuko adalah seorang pendeta yang berilmu dan sakti.

Akan tetapi hidup bersih dan suci?

Hal ini masih disangsikan, melihat keadaan di pertapaan Durgaloka itu.

Sebagian besar murid-muridnya adalah wanita-wanita muda yang cantik-cantik dan yang memenuhi tempat itu.

Pakaian para murid itu hanyalah kain putih yang tipis dan halus seperti sutera sehingga terbayanglah bentuk tubuh mereka.

Murid-murid prianya ada tiga puluh orang dan semua murid pria bertugas di luar rumah sang pendeta.

Memang kalau siang hari tempat itu tampak sunyi dan bersih mirip tempat-tempat pertapaan yang keramat.

Akan tetapi apabila matahari telah menghilang, tempat itu berubah menjadi tempat pengumbar nafsu sang pendeta dan murid-muridnya.

Lebih-lebih lagi kalau malam bulan purnama!

Sebulan sekali di waktu bulan purnama, Bhagawan Kundilomuko mengadakan upacara keagamaan, memuja Bathari Durgo dengan tari-tarian yang luar biasa!

Murid-muridnya yang tercantik akan melakukan tari-tarian yang hebat menggairahkan, penuh nafsu, dan pada puncak tari-tarian, gadis-gadis yang bergerak bukan atas kehendak pribadi melainkan sudah dikuasai kekuasaan-kekuasaan hitam itu menanggalkan pakaian mereka sampai telanjang bulat sambil menari-nari!

Bhagawan Kundilomuko adalah seorang penyembah Bathari Durgo.

Tempat pertapaannya penuh dengan arca-arca Bathari Durgo, bahkan di ruangan yang luas, tepat di atas sumber mata air Sungai Bondoyudo, terdapat sebuah patung Bathari Durgo yang indah sekali buatannya, sebuah patung kayu sebesar manusia yang seakan-akan hidup, dihias dengan emas intan dan sutera beraneka warna.

Di sinilah pusat keramaian upacara di malam bulan purnama memuja Sang Bathari Durgo ratu sekalian iblis!

Namun pada pagi hari itu, pada wajah para murid sang bhagawan, terbayang kecemasan.

Mereka tidak banyak bicara, namun pandang mata yang saling ditukar cukup menyatakan kegelisahan hati mereka.

Apakah yang telah terjadi?

Pagi tadi, pagi-pagi sekali, seorang tamu yang buruk rupa dan buntung kedua kakinya datang mengunjungi sang bhagawan.

Ki Jatoko atau Jokowanengpati telah datang di tempat itu.

seperti diketahui, di waktu belum cacad dahulu, Jokowanengpati adalah kekasih Ni Durgogini dan sudah mengenal pula Bhagawan Kundilomuko, bahkan sudah beberapa kali datang mengunjungi tempat ini.

Semenjak kakinya buntung, belum pernah ia datang.

Mengapa kini ia datang berkunjung?

Ki Jatoko memang seorang yang cerdik bukan main.

seperti telah diceritakan di bagian depan, dia mencari-cari Ayu Candra, akan tetapi bertemu dengan Endang Patibroto yang dapat pula dibujuknya.

Ketika ia tiba di Kerajaan Jenggala dan mendengar akan persekutuan yang hendak merobohkan Jenggala, tentu saja ia lalu menanti angin baik dan mencari siasat.

Ia maklum bahwa tak mungkin ia seterusnya bersekutu dengan Endang Patibroto yang memandang rendah kepadanya.

Apalagi kalau kelak puteri Kartikosari ini tahu bahwa dia adalah Jokowanengpati musuh besar ibunya, tentu gadis yang sakti dan ganas melebihi setan itu akan membunuhnya.

Maka segera memihak para pemberontak dan diam-diam menanti saat baik untuk masuk persekutuan itu.

Diam-diam ia memasang mata dan telinga, mencari kesempatan.

Dapat dibayangkan betapa kaget dan takutnya ketika ia mendengar tentang matinya Ni Durgogini dan Ni Nogogini di tangan Endang Patibroto!

Tadinya ia sudah kegirangan karena dua orang wanita itu telah dapat menguasai sang prabu.

Maka Ki Jatoko yang cerdik itu lalu cepat-cepat mengunjungi Bhagawan Kundilomuko untuk mengabarkan tentang kematian dua orang puterinya itu, sekalian untuk menawarkan tenaganya untuk bersekutu.

Setelah Bhagawan Kundilomuko mengadakan persekutuan rahasia dengan Adipati Jagalmanik di Nusabarung, pertapaan Durgaloka dijaga keras oleh anak buah atau murid-muridnya.

Oleh karena ini, ketika Ki Jatoko yang buntung dan buruk rupa itu muncul, para murid yang menjaga menjadi curiga dan hampir saja menyerangnya.

Biarpun Ki Jatoko telah memperkenalkan diri sebagai Jokowanengpati, namun mereka tidak percaya dan tidak memperkenankan dia memasuki wilayah pertapaan Durgaloka.

Untung bagi Ki Jatoko bahwa pada saat itu kebetulan sekali sang bhagawan keluar dari pondok dan melihat ribut-ribut ini lalu menghampiri.

Sang bhagawan adalah seorang yang waspada dan ia mengenal Jokowanengpati yang kini telah menjadi seorang tapadaksa, buntung dan buruk rupa.

Maka cepat ia mempersilahkan si buntung itu masuk dan mengikutinya ke dalam pondok.

"Raden Jokowanengpati, bagaimanakah keadaan andika sampai seperti ini?"

Setelah mereka duduk berhadapan di dalam pondok, pendeta tua itu bertanya, memandang tajam penuh iba hati.

Ki Jatoko mengerutkan alisnya dan menggeleng-geleng kepala sambil menarik napas panjang."Aaahhh, memang sudah dikehendaki Dewata, paman bhagawan.

Nasib buruk terpedaya musuh sampai menjadi begini.

Akan tetapi, biarpun tubuh sudah menjadi begini dan nama saya sudah berubah menjadi Ki Jatoko, setidaknya saya masih hidup!.

yang lebih menyedihkan adalah nasib kedua puteri paman, Ni Durgogini dan Ni Nogogini, mereka telah dibunuh orang"

"Aaauuuurrrrgggghh!"

Tiba-tiba pendeta tua itu meloncat dari bangkunya sampai tinggi dan suara yang bukan menyerupai suara manusia keluar dari kerongkongannya.

Ketika tubuhnya turun, ia berdiri tegak, kedua tangan terkepal, mata menyinarkan cahaya berapi-api, mulut yang tersembunyi di balik Jengger lebat itu mengeluarkan busa!

"Siapa pembunuhnya bagaimana...??"

Suaranya tersendat-sendat, sukar keluarnya.

"Ah, ketiwasan (celaka), paman bhagawan. Rencana gusti adipati di Nusabarung dan paman sekalian untuk menyerbu Jenggala telah diketahui. Tadinya kedua puteri paman memang sudah hampir berhasil menguasai sang prabu di Jenggala. Akan tetapi, celaka sekali, para pangeran sudah dapat menduga akan rencana pemberontakan sehingga mereka mengutus kepala pengawal, puteri sakti Endang Patibroto menyerbu ke taman sari istana dan membunuh mereka! Bahkan Endang Patibroto telah diberi tugas untuk memimpin pasukan menyerbu ke Nusabarung, paman!"

"Babo-babo, si keparat Endang Patibroto! seperti apa macamnya wanita itu... hemmm... akan kuhancur lumatkan tubuhnya...!!"

Kakek tua renta itu berkerot gigi dan mengepal kedua tangannya.

"Ah, paman bhagawan, dia sungguh seorang wanita muda yang sakti mandraguna, sama sekali tak boleh dibuat main-main. Dia adalah murid tunggal terkasih dari Sang Dibyo Mamangkoro."

Terkejutlah Bhagawan Kundilomuko mendengar ini dan sejenak ia termenung.

Ia pernah bertemu dengan Dibyo Mamangkoro dan harus ia akui bahwa ilmu kesaktian Dibyo Mamangkoro adalah luar biasa sekali, jauh di atas tingkat ilmunya sendiri.

Untuk menghadapi murid raksasa itu, agaknya sukar untuk mencari kemenangan.

Ia mengangguk-angguk dan diam-diam ia mengambil keputusan untuk mempergunakan ilmu hitamnya.

Hanya dengan ilmu hitamnya, ia akan dapat mengatasi lawan setangguh itu.

Hatinya agak cemas ketika ia mendengarkan Ki Jatoko yang mulai menuturkan tentang kesaktian Endang Patibroto yang kini diangkat senopati oleh Sang Prabu Jenggala untuk memimpin barisan menyerbu Nusabarung.

"Kalau begitu kita harus cepat-cepat memberi laporan ke Nusabarung. Harus bersiap sedia menyambut datangnya barisan Jenggala!"

Kakek itu dengan gugup lalu mengumpulkan anak muridnya dengan isyarat tepukan tangan.

Berserabutanlah wanita muda dan cantik datang ke ruangan itu sehingga Ki Jatoko yang terkenal mata keranjang sibuk menggunakan matanya berpesta-pora memandangi wajah yang cantik-cantik dan tubuh yang muda dan montok menarik.

Kakek pendeta itu membagi-bagi tugas.

Ada yang disuruh mengabarkan ke Nusabarung, ada yang disuruh mengatur penjagaan ketat di sekitar daerah pertapaan Durgaloka, dan lain-lain persiapan.

Bahkan ada yang disuruh mencari keterangan tentang pasukan musuh yang sedang mendatangi.

Seketika keadaan di pertapaan Durgaloka menjadi gelisah dan semua anak murid bersiap-siap.

Melihat kegugupan kakek pendeta, Ki Jatoko diam saja, kemudian setelah sang pendeta selesai membagi-bagi tugas, ia lalu berkata.

"Harap paman tenang. Saya sudah mempunyai rencana bagus dan jika paman bhagawan menyetujui rencana dan siasat saya, tanggung sekali pukul kita akan dapat memetik dua keuntungan."

Bhagawan Kundilomuko yang merasa berduka atas kematian kedua orang anaknya dan juga gelisah mendengar akan kegagalan siasat pemberontakan mereka, cepat menaruh perhatian dan segera menarik tangan Ki Jatoko diajak berunding di kamar dalam.

Ia memberi isyarat kepada lima orang wanita cantik yang menjadi murid-murid terkasih untuk meninggalkan kamar itu, kemudian menghadapi Ki Jatoko.

"Sekarang jelaskanlah apa rencanamu itu, Raden Joko"

"Harap paman selanjutnya menyebut saya Jatoko saja, karena nama lama itu sudah saya kubur bersama... dua buah kaki saya."

"Hemm, baiklah, anakmas Jatoko. Katakanlah bagaimana rencanamu itu dan percayalah, kelak aku yang akan menyampaikan jasa-jasamu kepada adipati di Nusabarung apabila rencanamu berhasil."

"Begini, paman bhagawan. Siasat saya ini untuk menghadapi tiga persoalan. Pertama untuk menanggulangi tentara Jenggala yang dipimpin Endang Patibroto menyerbu ke Nusabarung. Ke dua untuk melanjutkan rencana penyerangan kita ke Jenggala dan ke tiga untuk menghadapi Endang Patibroto yang sakti mandraguna."

Girang hati kakek pendeta Bhagawan Kundilomuko mendengar ini.

Ia segera mendesak si buntung itu menjelaskan siasatnya.

Dengan suara berbisik-bisik Ki Jatoko yang sudah kehilangan kedua kaki namun tidak kehilangan muslihat dan kecerdikannya, menjelaskan siasatnya.

Kakek pendeta itu mengangguk-angguk dan dengan wajah girang sekali ia menepuk-nepuk pundak Ki Jatoko.

"Bagus...! Bagus sekali, anakmas Jatoko... Ha-ha-haha, bagus sekali! Ah, sayang mengapa baru sekarang kau muncul. Kalau dulu-dulu kau datang membantu, kita tidak akan mengalami malapetaka seperti sekarang ini"!"

Bhagawan Kundilomuko lalu memanggil Pusponila, seorang di antara muridnya yang terkasih dan terpercaya.

Gadis berusia dua puluh tahun lebih ini cantik manis dan cekatan, berkulit hitam manis dan bermata tajam.

Ia datang berlutut dan menyembah guru dan junjungannya.

Pusponila ini yang mendapat tugas untuk secepat mungkin pergi menghadap Sang Adipati Jagalmanik di Nusabarung untuk menyampaikan siasat yang diajukan Ki Jatoko, mempersiapkan dua pasukan.

Pasukan kecil untuk membantu pertapaan Durgaloka menyambut pasukan Jenggala, adapun pasukan besar untuk menyerang Jenggala.

Belum lama Pusponila berangkat, datanglah tiga orang murid laki-laki berlari-lari dengan muka pucat.

Mereka datang menunggang kuda dan tak pernah berhenti siang malam sehingga kuda mereka roboh mati di jalan, lalu mereka terus melanjutkan perjalanan dengan berlari-lari cepat.

Mereka adalah sebagian dari anak murid yang bertugas di luar dan sudah lama mereka bertugas memata-matai gerak-gerik Kerajaan Jenggala.

Dengan napas tersengal-sengal mereka menyampaikan berita tentang kematian Cekel Aksomolo, Ki Warok Gendroyono dan Ki Krendoyakso di tengah jalan, tewas di tangan Endang Patibroto!

Seketika pucat wajah Bhagawan Kundilomuko dan Ki Jatoko.

Sejenak mereka saling pandang dan merasa ngeri.

Betapa saktinya gadis itu yang sekaligus seorang diri telah berhasil menewaskan tiga orang tokoh jagoan seperti orang-orang sakti itu.

Dan sekaligus rusaklah siasat dan rencana ke tiga yang dikemukakan Ki Jatoko tadi, yaitu siasat hendak mencegat dan mengeroyok Endang Patibroto mengandalkan bantuan tiga orang yang sekarang sudah mati itu!

"Lalu bagaimana?

Di mana sekarang gadis iblis itu??"

Bhagawan Kundilomuko bertanya kepada tiga orang muridnya yang masih terengah-engah.

"Ataukah barangkali kalian sudah begitu ketakutan sehingga tidak berani menyelidiki pula?"

Kalimat terakhir terdengar bengis.

"Ampunkah hamba, bapa bhagawan yang mulia. Tidak sekali-kali hamba bertiga melalaikan kewajiban. Hamba bertiga dengan susah payah mencari jejak senopati wanita itu yang meninggalkan pasukannya. Ia menuju ke selatan dan di tengah jalan ketika hamba bertiga dapat menyusulnya, dia telah menyeret-nyeret seorang puteri cantik. Hamba bertiga lalu cepat-cepat pulang untuk melaporkan semua itu kepada bapa guru."

Dengan alis putih berkerut pendeta itu lalu memberi isyarat menyuruh murid-muridnya pergi, kemudian ia berpaling kepada Ki Jatoko.

Ia melihat si buntung itu termenung-menung dengan mata terbelalak dan mulut ternganga.

"Bagaimana baiknya sekarang, anakmas Jatoko?"

Ki Jatoko tampak terkejut.

Ketika mendengar penuturan murid-murid pendeta itu tentang diseret-seretnya seorang gadis cantik oleh Endang Patibroto, seketika ia teringat kepada Ayu Candra.

Siapa lagi kalau bukan Ayu Candra yang tertawan oleh Endang Patibroto?

Tentu Ayu Candra sudah mendengar pula percakapan di dalam hutan antara Joko Wandiro dan Endang Patibroto, dan mengetahui bahwa musuh yang membunuh ayah-bundanya adalah Endang Patibroto.

Mendengar pula bahwa Kartikosari tinggal di Pulau Sempu dan mungkin dia ingin membalas dendamnya ke pulau itu!

Maka terkejutlah ia ketika ditegur oleh Sang Bhagawan Kundilomuko.

"Ehh...l Jangan khawatir, paman bhagawan. Bahkan kebetulan sekali kalau Endang Patibroto masih mendahului pasukannya. Kalau pasukan dari Nusabarung tiba, ditambah murid-murid paman yang perkasa, supaya mengadakan pencegatan seperti yang telah saya gambarkan. Adapun tentang Endang Patibroto, karena sekarang tak mungkin kita menggunakan kekerasan menghadapinya setelah tiga orang paman yang kita harapkan bantuannya itu tewas semua, biarlah saya seorang diri menghadapinya. Percayalah, paman bhagawan, jelek-jelek Ki Jatoko sanggup memancingnya masuk ke pertapaan Durgaloka dan dengan akal dan kesaktian paman bhagawan, saya harap gadis perkasa itu dapat ditundukkan."

"Ah-ah, bagus sekali, anakmas Jatoko! Asal kau dapat memancingnya seorang diri memasuki tempat ini, aku punya akal untuk menaklukkan iblis itu! Hemm... pasti dapat kuhancur leburkan si keparat yang telah membunuh dua orang anakku!"

"Eh, paman bhagawan. Saya kira paman akan berpendapat lain kalau dia sudah masuk ke sini dan dapat ditundukkan."

"Mengapa? Bagaimana...??"

Ki Jatoko tersenyum menyeringai.

"Paman saksikan sendiri sajalah nanti! Sekarang saya memohon doa restu paman agar saya berhasil memancingnya masuk ke sini."

Segera disediakan seekor kuda yang amat baik untuk Ki Jatoko dan biarpun ia sudah buntung kedua kakinya, tubuhnya masih cekatan sekali ketika meloncat naik ke punggung kuda.

Ia sudah mendengarkan lagi penjelasan-penjelasan tiga orang anak murid Bhagawan Kundilomuko tadi dan mendengar gambaran mereka tentang puteri jelita yang ditawan Endang Patibroto, ia tidak ragu-ragu lagi bahwa tentulah Ayu Candra puteri itu.

Ia menanyakan di mana mereka melihat wanita perkasa itu, kemudian membalapkan kudanya meninggalkan pertapaan Durgaloka untuk memapaki perjalanan Endang Patibroto dan Ayu Candra yang menjadi tawanannya.

Adapun Bhagawan Kundilomuko juga sudah bersiap-siap mengatur semua siasat yang dijalankan Ki Jatoko.

Ketika pasukan Nusabarung tiba, ia mengerahkan anak buah atau anak muridnya, sesuai dengan siasat dan petunjuk Ki Jatoko, untuk ikut bersama pasukan ini menghadang barisan Jenggala yang hendak melakukan penyerbuan ke Nusabarung.

"Endang Patibroto...! Bagus, ternyata engkau memenuhi janjimu, sungguh gagah perkasa!"

Teriak Ki Jatoko ketika bertemu dengan gadis sakti itu di tengah jalan.

Ia menyembunyikan ketegangan hatinya ketika melihat Ayu Candra yang wajahnya pucat, rambutnya awut-awutan dan pakaiannya robek-robek, kedua tangannya terbelenggu dan terhuyung-huyung di belakang kuda."Endang Patibroto, kau lepaskan Ayu Candra dan jangan menyiksanya seperti itu.

Ingat, aku menghendaki dia hidup-hidup."

Endang Patibroto menahan kudanya, memandang tajam dengan wajah tersenyum mengejek.

"Ki Jatoko, perempuan ini musuhku. Mau kubunuh atau tidak adalah urusanku sendiri. Karena teringat akan janjimu maka aku masih belum membunuhnya. Tentu saja aku memenuhi janji asal engkau juga membuktikan janjimu dahulu. Hayo lekas katakan, apa rahasia itu agar aku dapat menimbang-nimbang apakah patut manusia macam engkau kuberi hadiah perempuan ini!"

"Ihh, sabar dulu, Endang Patibroto..."

Ki Jatoko mengerling ke arah Ayu Candra dengan kening berkerut.

Ucapan Endang Patibroto tadi menyulitkan kedudukannya.

Ia tidak ingin rahasia hatinya diketahui Ayu Candra yang ia harapkan kasih sayangnya.

Tentu saja ia ingin agar gadis yang dicintanya itu menganggapnya seorang penolong yang baik hati.

"Kau dengarlah baik-baik, urusan pribadi kita itu amat penting dan tentu saja rahasia ini akan kuberitahukan kepadamu. Akan tetapi, adahal yang jauh lebih hebat dan penting lagi yang perlu kita bicarakan. kau tahu mengapa kau bertemu aku di sini? Akupun sedang dalam perjalanan menuju ke Jenggala untuk menghadap sang prabu. Ada berita penting sekali mengenai Nusabarung."

Mau tak mau perhatian Endang Patibroto dapat dibelokkan. Berita tentang Nusabarung tentu saja amat penting baginya, jauh lebih penting daripada urusan Ayu Candra dan Ki Jatoko yang ia pandang rendah.

"Hemm, berita apakah?"

"Perbuatan hebat luar biasa yang kau lakukan dengan seorang diri membunuh lima orang sakti yang bersekutu dengan Adipati Jagalmanik telah diketahui oleh semua orang di Nusabarung! Aku memang secara diam-diam memata-matai keadaan di Nusabarung setelah kuketahui akan komplotan yang hendak menggulingkan sang prabu di Jenggala. Dan kini Adipati Jagalmanik telah mengumpulkan seluruh kekuatan dengan bantuan banyak pasukan dari timur untuk menghadapi Jenggala!"

Endang Patibroto tertawa.

"Huh, yang begitu saja kau ributkan? Sebelum Nusabarung dapat menyentuh pintu gerbang Jenggala, lebih dulu pasukanku akan menghancurkannya. Aku memang membawa pasukan untuk menggempur dan memberi hukuman pengkhianat-pengkhianat itu!"

Ki Jatoko menggeleng-geleng kepalanya dan diam-diam ia melirik ke arah Ayu Candra yang berdiri sambil menundukkan muka dan agaknya gadis itu kini mengatur napas mengumpulkan tenaga.

"Kau tidak tahu dan karenanya kau memandang rendah, Endang Patibroto. Aku percaya akan kesaktianmu yang luar biasa, akan tetapi apakah kau tahu bahwa fihak Nusabarung sudah tahu pula bahwa engkau datang dengan membawa pasukan? Mata-mata mereka tersebar luas dan dapat mengirim berita dengan cepat sekali. Bahkan mereka tahu bahwa pasukanmu hanya terdiri dari beberapa ribu orang! Apakah artinya jumlah pasukanmu itu, dan apa yang dapat kau lakukan dengan kesaktianmu kalau fihak musuh mengerahkan pasukan sampai berlaksa orang untuk menghancurkan pasukanmu?"

Kaget juga hati Endang Patibroto ketika mendengar berita ini.

Kalau benar demikian, sungguh berbahaya.

Dia sendiri dengan kesaktiannya mungkin masih dapat menyelamatkan diri, akan tetapi bagaimana kalau sampai pasukannya itu hancur oleh musuh yang berlipat ganda jumlahnya itu?

Betapapun ia akan mengamuk dengan keris pusakanya, kiranya ia bukan seorang dewa yang dapat merobohkan berlaksa orang musuh!

Mulailah ia berpikir dan alisnya yang berbentuk indah itu bergerak-gerak.

"Endang Patibroto, kiranya takkan percuma kau berkenalan dengan aku! kau telah menemukan Ayu Candra dan tak membunuhnya, hal ini membuat aku amat berterima kasih sehingga selain rahasia yang telah kujanjikan akan kuceritakan nanti kepadamu, juga aku mempunyai akal untuk membantumu. Percayalah, dengan akalku, biarpun para pemberontak Nusabarung mempunyai pasukan yang sepuluh kali jumlahnya, kita akan dapat menghancurkan mereka!"

Endang Patitroto boleh jadi seorang yang sakti mandraguna dan tak kenal takut, juga bukan seorang bodoh.

Namun tentu saja ia masih kurang pengalaman sehingga menghadapi seorang tokoh kawakan yang penuh tipu muslihat seperti Ki Jatoko ini, ia menjadi bimbang dan ragu.

Pengalamannya yang masih dangkal belum memungkinkan ia mengenal manusia dari gerak-gerik dan wajah mereka.

"Hemmm, kalau kau ada akal, bagaimanakah? Katakan, akan kudengar dan pertimbangkan."

Diam-diam Ki Jatoko menjadi kagum...

Gadis ini benar-benar selain gagah perkasa, juga cukup cerdik sehingga tidak mau menelan usulnya mentah-mentah begitu saja.

Ia pura-pura memandang ke kanan kiri lalu berkata.

"Dikabarkan orang bahwa kau memimpin pasukan ke Nusabarung. Endang Patibroto, mana itu pasukanmu?"

"Masih di belakang. Aku sengaja mendahului mereka."

Ki Jatoko mengangguk-angguk.

"Kalau begitu marilah kau singgah di tempatku. Kita bicara sambil menanti datangnya pasukanmu. Setelah pasukanmu tiba, baru kita atur untuk menjebak barisan musuh, dan menghancurkan mereka."

Melihat Endang Patibroto meragu, Ki Jatoko cepat berkata.

"Dan di sana pula akan kuceritakan rahasia itu, Endang Patibroto. Rahasia besar yang akan membuat kau terheran-heran tentang diri pribadimu. Selain itu aku tidak ingin melihat Ayu Candra tersiksa seperti itu. Dia harus beristirahat dan memulihkan kesehatannya. Aku sudah bersikap sejujurnya kepadamu. Terserah kepadamu, apakah kau percaya kepadaku atau tidak! Betapapun, aku tidak percaya bahwa kau takut kalau-kalau aku menipumu!"

Kalimat terakhir ini benar-benar mengenai sasaran. Memang cerdik Ki Jatoko. Ia dapat meraba kelemahan gadis perkasa yang sukar pula dibujuk itu. Maka ia melepas"panah"

Terakhir, yaitu dengan cara memanaskan hati dan menantang. Seorang gadis perkasa yang memang pantang mundur, paling tak senang kalau disangka takut.

"Hemm, andaikata kau menipuku, mengapa aku mesti takut?"

Endang Patibroto mengeprak kudanya.

"Baik, marilah jalan. Hendak kulihat, pertunjukan apa yang hendak kau perlihatkan kepadaku!"

Girang hati Ki Jatoko.

Akan tetapi kegirangan yang bercampur kecemasan dan ketegangan.

Ia maklum bahwa kalau Bhagawan Kundilomuko gagal menundukkan gadis ini, ia tentu akan mampus di tangan Endang Patibroto!

Cepat ia menghampiri Ayu Candra yang sudah dilepaskan talinya oleh Endang Patibroto, kemudian melepaskan belenggu tangan gadis itu dan berkata halus.

"Ayu, mari kau ikut aku naik kuda ini...!"

Ayu Candra memandang kepada Ki Jatoko dengan mata terbelalak penuh curiga dan kemarahan, kemudian ia menggelengkan kepalanya tanpa mengeluarkan jawaban.

"Ayu, kau tahu bahwa aku menolongmu, aku saying kepadamu, manis, aku kasihan kepadamu.."

Sinar mata gadis Itu mengeluarkan cahaya kemarahan dan kalau tidak selemah itu tubuhnya akibat lelah dan kelaparan, tentu ia sudah meronta dan memukul Ki Jatoko.

Ucapan kakek buntung ini sekarang baginya mempunyai arti lain setelah ia mendengar dari Endang Patibroto bahwa kakek buntung ini tergila-gila kepadanya dan hendak memperisterinya.

Karena melihat Endang Patibroto sudah tak sabar menanti, Ki Jatoko lalu menyambar pinggang Ayu Candra dan meloncat naik ke punggung kuda.

Ia mendudukkan gadis itu di depannya lalu membalapkan kuda.

Biarpun buntung kedua kakinya, namun Ki Jatoko di waktu mudanya adalah Jokowanengpati yang ahli dalam hal menunggang kuda.

Ayu Candra merasa muak dan marah sekali, akan tetapi ia maklum bahwa meronta pada saat itu takkan ada artinya.

Ia akan menanti sampai kekuatannya pulih kembali, barulah ia akan memberontak dan mengamuk sampai berhasil membunuh mereka atau terbunuh!

Hari telah malam ketika Ki Jatoko yang diikuti oleh Endang Patibroto tiba di pertapaan Durgaloka.

Keadaan di situ gelap dan Ki Jatoko lalu mengajak Endang Patibroto berhenti di depan sebuah di antara pondok-pondok yang memang sebelumnya sudah dipersiapkan.

Pondok lainnya gelap, hanya pondok yang satu inilah yang di dalamnya dipasangi lampu penerangan.

Melihat Endang Patibroto memandangi ke sekelilingnya, ke arah pondok-pondok yang gelap itu, Ki Jatoko segera berkata.

"Perkampungan ini sudah kosong penghuninya pergi menyingkir ketika mendengar bahwa akan terjadi perang. Hanya pondok tempat tinggalku ini yang masih ditinggali orang, yaitu murid-murid, juga pelayan-pelayanku."

Pintu pondok terbuka dari dalam dan di bawah sinar lampu yang menyorot dari dalam, Endang Patibroto melihat lima orang gadis cantik bergegas keluar menyambut.

Hati Endang Patibroto terheran-heran ketika ia melompat turun dari kudanya.

Lima orang gadis cantik inikah murid-murid Ki Jatoko?

Gerakan mereka memang tangkas ketika mereka menyambut kuda dan sikap mereka amat hormat kepada si buntung.

Ah, kiranya si buntung ini bukan sembarang orang, pikirnya.

"Ada terjadi apakah sepergiku dari sini murid-muridku?"

Ki Jatoko bertanya. Gadis yang paling cantik, yang kedua lengannya memakai gelang hitam berbentuk ular melilit, segera menjawab dengan suara merdu.

"Tidak ada apa-apa yang luar biasa, bapa guru. Kami yang merasa heran mengapa bapa sudah kembali? Apakah secepat itu bapa sudah tiba di Jenggala?"

Ki Jatoko tertawa.

"Kau tahu apa? Lekas sediakan makan minum untuk dua orang nona yang menjadi tamu agung kita!"

Gadis-gadis itu tersenyum dan menyelinap pergi keluar dari dalam pondok.

Sambil menggandeng tangan Ayu Candra, Ki Jatoko mempersilahkan Endang Patibroto memasuki pondok.

Endang Patibroto menaruh curiga.

Betapapun juga, ia tidak dapat mempercaya begitu saja seorang macam Ki Jatoko ini.

Akan tetapi, karena ia memandang rendah kepandaian Ki Jatoko, ia tidak menjadi gentar, bahkan tersenyum mengejek.

Hendak kulihat, apa yang dapat ia lakukan terhadap diriku, demikian pikirnya.

Pondok itu ternyata cukup lebar dan bersih dan di situ terdapat dua buah bilik besar dan di ruangan tengah terdapat meja kursi.

"Hari sudah jauh malam, kulihat engkau dan terutama Ayu Candra ini perlu beristirahat. Harap kau tidak menolak hidangan kami yang sederhana,"

Kata Ki Jatoko.

Endang Patibroto hendak membantah.

Ia ingin menuntut agar rahasia yang dijanjikan itu diberitahukan kepadanya sekarang juga.

Akan tetapi terpaksa ia menahan niatnya membuka mulut ketika lima orang gadis itu sambil terseyum-senyum manis sudah berserabutan masuk ke pondok sambil membawa bermacam-macam tempat lauk-pauk, nasi dan sebuah kendi besar.

Dengan cekatan mereka lalu sibuk mengatur makanan itu di atas meja.

Heran juga hati Endang Patibroto bagaimana mereka itu dapat mempersiapkan hidangan secepat itu.

Gadis-gadis ini cekatan sekali.

Dan hidangan berupa sayur-mayur dan daging itu dimasak, masih mengepulkan uap yang sedap sehingga perutnya yang memang lapar karena hampir dua hari tidak diisi itu kini mulai terasa lapar.

Juga Ayu Candra yang kehabisan tenaga karena lelah dan lapar, diam-diam merasa berterima kasih.

Ia harus memperkuat tubuhnya, kemudian baru ia akan menyerang Endang Patibroto, pikirnya.

Tentang Ki Jatoko, ia masih ragu-ragu.

Benarkah kakek buntung ini jahat dan mempunyai niat busuk seperti yang dikatakan oleh Endang Patibroto?

Ah, belum tentu demikian.

Bagaimana ia dapat mempercayai seorang seperti Endang Patibroto yang demikian jahat?

Akan tetapi, kalau memang Ki Jatoko seorang baik-baik yang hendak menolongnya, mengapa pula si buntung ini begitu baik hubungannya dengan Endang Patibroto?

Dan rahasia besar apakah gerangan yang akan mereka bicarakan?

Semua teka-teki ini membuat Ayu Candra bingung, akan.

tetapi ia lalu menganggap saja bahwa Ki Jatoko juga bukan seorang baik-baik, apalagi setelah melihat murid-muridnya yang terdiri dari gadis-gadis muda dan cantik.

Makin curigalah ia terhadap si buntung.

Betapapun lapar perutnya, Endang Patibroto bukan seorang yang ceroboh.

Biarpun Ki Jatoko sudah mempersilakankannya, namun ia hanya duduk diam dan memandang semua makanan di atas meja, tanpa menyentuhnya.

Melihat ini, Ki Jatoko tertawa.

"Ha-ha-ha, Endang Patibroto. Agaknya engkau menaruh curiga kepada hidangan yang kusuguhkan kepadamu? kau khawatir kalau-kalau kucampuri racun?"

Endang Patibroto mencibirkan bibirnya yang merah.

"Ki Jatoko, aku tidak tahu siapa sebenarnya engkau ini dan orang macam apa sesungguhnya engkau ini, maka bagaimana mungkin aku dapat percaya begitu saja bersihnya hidangan yang kau suguhkan kepadaku?"

Mendengar ini, Ayu Candra terkejut dan kagum.

Biarpun Endang Patibroto seorang iblis betina yang kejam dan ganas, harus diakui bahwa semuda itu sudah memiliki kecerdikan dan kewaspadaan.

Ia teringat akan kakak kandungnya, Joko Wandiro.

Alangkah sepadan dua orang muda itu, Endang Patibroto dan Joko Wandiro!

Keduanya sama muda, sama elok, sama sakti dan dalam banyak hal, mereka mempunyai banyak persamaan yang mengagumkan.

Tentu saja terdapat perbedaan yang membuat mereka seperti bumi dan langit, yaitu bahwa kalau Joko Wandiro merupakan seorang pemuda yang berbudi mulia, adalah Endang Patibroto merupakan seorang gadis yang jahat, ganas dan keji seperti iblis!

"Ha-ha-ha-ha!

Tak salah dugaanku, dan memang sudah sepatutnya kau menaruh curiga.

Heh, murid-muridku yang manis.

Kalian yang meracik (membuat) semua hidangan ini, hayo lekas kalian cicipi semua hidangan di depan nona tamu kita yang terhormat!"

Sambil tertawa-tawa kecil dengan sikap genit lima orang gadis itu lalu menciduk setiap hidangan, ditaruh di telapak tangan dan makan semua itu tanpa ragu-ragu lagi.

"Ha-ha-ha, biarlah air minumnya aku sendiri yang mencicipi"

Kata Ki Jatoko sambil menuangkan air kendi ke dalam tempat minumnya, lalu meminum air ini dengan enak.

Wajah Endang Patibroto menjadi agak merah, akan tetapi ia menggangguk-angguk puas.

Lima orang gadis itu mengundurkan diri akan tetapi tidak meninggalkan pondok, Siap menanti perintah untuk melayani guru mereka.

"Baiklah, aku terima hidanganmu, Ki Jatoko,"

Kata Endang Patibroto.

"Silahkan. memang seorang yang gagah perkasa seperti engkau ini sudah sepatutnya selalu waspada untuk menjaga keselamatan diri, Endang Patibroto. Eh, Ayu Candra, marilah. Makan seadanya, engkau kelihatan amat lelah."

Mereka mulai makan.

Ayu Candra yang diam-diam bermaksud memulihkan tenaga dan kesehatannya, tanpa ragu-ragu lagi makan sebanyak yang dibutuhkan tubuhnya yang terasa lemas dan lemah.

Juga Endang Patibroto bukan seorang pemalu.

Gadis perkasa ini makan secukupnya dan ternyata semua hidangan itu dimasak oleh seorang ahli sehingga terasa sedap dan enak.

"Maklumlah di dusun, yang ada hanya daun-daun dan jamur, tidak ada hidangan yang pantas seperti Ki kota."

Ki Jatoko berkata sambil menawarkan setiap masakan.

"Cukup sedap. Murid-muridmu pandai masak, Ki Jatoko. Belum pernah aku menikmati masakan jamur seperti ini. Tiada ubahnya daging ayam yang gemuk."

Endang Patibroto memuji.

Setelah makan kenyang dan minum air kendi, Ayu Candra kelihatan lemas sekali dan akhirnya gadis ini menumpangkan kepalanya di atas lengan dan ternyata sudah tertidur di atas meja.

Endang Patibroto memandang tajam, kecurigaannya timbul kembali.

"Ha-ha-ha, kau lihat, Endang Patibroto. Kasihan sekali Ayu Candra. Ia terlalu lelah dan mengantuk sampai-sampai tertidur di sini. Untung aku segera dapat bertemu denganmu, kalau tidak... ah, mungkin ia akan kau seret-seret sampai mati!"

Endang Patibroto menjawab dan memandang tak acuh.

"Dia sendiri yang mencari mampus"

Ki Jatoko lalu menyuruh murid-muridnya membawa Ayu Candra ke dalam bilik di sebelah kiri, juga memerintahkan mereka mengangkat semua bekas hidangan dan membersihkan meja.

Setelah Ayu Candra digotong masuk ke dalam bilik dan meja sudah bersih kembali, ia berkata.

"Nah, sekarang silahkan kau mengaso, Endang Patibroto. Besuk masih banyak waktu bagi kita untuk bicara. kau mengasolah di bilik sebelah kanan itu."

Endang Patibroto mengerutkan keningnya.

"Aku ingin mendengar dulu rahasia yang kau janjikan. Ingat, aku sudah membiarkan gadis itu hidup dan menyerahkannya kepadamu."

Ki Jatoko tersenyum.

"Rahasia besar itu perlu memakan waktu banyak untuk menceritakannya, dan kulihat kau sudah lelah dan mengantuk."

Barulah terasa oleh Endang Patibroto betapa kedua matanya terasa sepet dan mengantuk.

Memang, dia sudah lelah dan alangkah akan nikmatnya kalau dapat merebahkan diri di pembaringan melepas lelah.

Akan tetapi ia mengeraskan hatinya dan berkata.

"Tidak! Biarpun mengantuk, aku ingin mendengar rahasia itu, kalau-kalau ada rahasia dan kau tidak membohongiku!"

Dalam ucapan terakhir ini terdengar suara mengancam sehingga Ki Jatoko diam-diam bergidik.

Gadis ini hebat sekali dan seandainya ia tidak tahu bahwa Bhagawan Kundilomuko dan murid-muridnya berada di sekitar tempat itu melindunginya, tentu ia akan menjadi gemetar ketakutan.

Ki Jatoko menarik napas panjang.

"Baiklah, Endang Patibroto. Akan tetapi kuharap engkau tidak akan menjadi kaget dan marah kalau mendengar aku membuka rahasia besar yang meliputi dirimu. Berjanjilah dulu bahwa kau tidak akan marah dan bahwa aku sama sekali tidak menceritakan fitnah dan penghinaan."

"Hemm, kita lihat saja. Kalau memang ceritamu berdasar kenyataan, tentu saja aku tidak begitu gila untuk marah-marah kepadamu."

"Nah, kau bersiaplah untuk mendengarkan, Endang Patibroto."

Ki Jatoko menoleh ke arah pintu depan pondok.

Murid-muridnya sudah keluar dari pondok dan keadaan sunyi sekali.

Bahkan bunyi pernapasan yang amat halus dari dalam bilik sebelah kiri, terdengar oleh telinga mereka yang terlatih.

Ayu Candra sudah tidur pulas.

"Endang Patibroto, sesungguhnya engkau bukan puteri dari Pujo. Dia itu sama sekali bukan ayah kandungmu!"

Endang Patibroto menegakkan tubuhnya di atas bangku yang ia duduki.

Sepasang mata yang tadinya sudah mengantuk itu tiba-tiba menjadi terang sinarnya, memandang kepada wajah Ki Jatoko yang buruk penuh selidik, amat tajam menusuk.

Wajah yang cantik sekali itu menegang dan menjadi agak pucat.

"Apa alasannya engkau berani mengatakan begitu?"

Pertanyaan ini terdengar jelas satu-satu, dan diucapkan tenang sekali, terlalu tenang sehingga menegangkan.

Ki Jatoko merasa bahwa kalau dia tidak hati-hati, sekali gadis perkasa itu turun tangan, ia takkan dapat bercerita lagi selamanya!

"Alasannya jelas, yaitu karena aku tahu siapa ayahmu yang sebenarnya!"

"Ki Jatoko, kalau kau membohong aku akan..."

Endang Patibroto marah sekali sehingga cepat-cepat Ki Jatoko mengangkat tangannya memotong.

"Tidak, Endang Patibroto, aku sama sekali tidak membohong."

"Sudah jelas bahwa suami ibuku Kartikosari adalah Pujo! Bagaimana kau berani bilang bahwa PUJO bukan ayahku?"

"Inilah yang disebut rahasia besar itu. Dengarlah baik-baik, aku akan menceritakan peristiwa dua puluh tahun yang lalu. Pernahkah ibumu menyebut nama Jokowanengpati?"

Endang Patibroto terkejut dan mengangguk.

"Dia musuh besar ibuku yang sudah dibunuh oleh ibu sendiri?"

Ki Jatoko tersenyum dan mengangguk-angguk.

"Tentu ibumu tidak pernah menceritakan kepadamu apa sebab permusuhan itu, bukan?"

Suara Ki Jatoko makin perlahan dan sudah beberapa kali si buntung ini menutupkan telapak tangan di depan mulut untuk menguap.

Endang Patibroto menggeleng kepala.

Ia sudah tertarik sekali.

Memang benar, ibunya belum pernah mengatakan mengapa ibunya demikian membenci Jokowanengpati.

Melihat Ki Jatoko beberapa kali menguap, gadis inipun tiba-tiba sadar bahwa rasa kantuk yang berat juga menyarangnya.

Namun dengan pengerahan tenaga, ia dapat mempertahankannya.

"Hemm, tentu saja ia tidak dapat menceritakan rahasia besar itu. Terjadinya di dalam sebuah guha, Endang Patibroto. Guha besar menyeramkan... Huuaaahh! Aduh, kenapa mengantuk benar aku? Terlalu lelah terlalu kenyang, menimbulkan kantuk!"

Kembali ia menguap.

"Teruskan ceritamu!"

Desak Endang Patibroto tak sabar sambil menahan rasa kantuk yang makin hebat menekan mata.

Ki Jatoko mengucek-ngucek mata, diam-diam ia merasa amat kaget dan kagum melihat gadis itu.

Benar-benar seorang gadis yang sakti mandraguna dan luar biasa, bahkan mengerikan!

Semua hidangan tadi, sampaipun air kendinya, terutama sekali jamurnya, mengandung daya yang memabukkan.

Ayu Candra jelas terpengaruh sehingga tertidur di atas meja.

Dia sendiri bersama lima orang anak murid Bhagawan Kundilomuko telah makan obat penawarnya sebelum makan minum sehingga tentu saja tidak terpengaruh.

Akan tetapi Endang Patibroto enak-enak saja, kelihatannya sama sekali tidak terpengaruh.

Dan sekarang, ia tahu dari tempat yang tidak jauh, diam-diam Sang Bhagawan Kundilomuko telah memasang aji penyirepan yang luar biasa kuatnya.

Dia sendiri walaupun tahu akan usaha sang bhagawan ini, masih tak dapat menolak pengaruhnya dan mulai mengantuk sekali sampai berkali-kali menguap.

Akan tetapi, Endang Patibroto kelihatannya tenang saja sama sekali tidak kelihatan mengantuk!

Apakah semua ilmu yang dikerahkan Bhagawan Kundilomuko tidak akan mempan terhadap gadis sakti ini?

Ki Jatoko bergidik.

Kalau demikian halnya, berbahayalah!

"Hayo teruskan ceritamu!"

Kembali Endang Patibroto membentak. Ki Jatoko tersentak kaget.

"Uaaahhh mengantuk sekali aku... ah, ya, aku sedang bercerita. Begini, Endang Patibroto. Ketika itu pengantin baru Pujo dan Kartikosari memasuki Guha Siluman tadi untuk melakukan tapa brata. Mereka bertapa dalam keadaan telanjang bulat, mungkin bertapa untuk mengekalkan kasih sayang antara mereka. Mereka tidak tahu bahwa di situ sudah ada Jokowanengpati yang juga bertapa. Guha Siluman itu amat gelap. Di antara Jokowanengpati yang tampan dan gagah dan Kartikosari ibumu, memang sebelum ibumu kawin telah ada hubungan cinta kasih. Mereka itu masih saudara seperguruan dan pernah saling berjumpa beberapa kali. Melihat ibumu bersamadhi dalam keadaan telanjang bulat itu, Jokowanengpati tak dapat menahan diri. Cinta kasihnya menggelora dan diam-diam ia mendekati ibumu. Kartikosari memang cinta kepadanya, maka biarpun kaget, menyambutnya dengan mesra. Guha itu gelap sekali sehingga perbuatan dua orang kekasih itu tidak tampak oleh Pujo. Akan tetapi, sepasang kekasih itu dalam mencurahkan kasih sayang terlampau melewati batas sehingga mereka kelelahan dan tertidur saling berpelukan sampai malam telah lewat. Sinar matahari membuat guha itu agak remang-remang dan tentu saja Pujo melihat keadaan mereka. Hebat kesudahannya. Terjadi pertandingan. Pujo dirobohkan oleh Jokowanengpati yang cepat menyingkir pergi... auuhhhh.."

Kembali Ki Jatoko menguap.

Dalam bercerita tadi, belasan kali ia menguap dan suaranya makin lemah.

Endang Patibroto mendengarkan dengan alis berdiri, mata berkilat-kilat dan mukanya sebentar merah sebentar pucat.

Kini melihat Ki Jatoko menghentikan ceritanya sambil menundukkan muka dan bernapas berat seperti orang tidur, Endang Patibroto meloncat dan mencengkeram pundak si buntung itu, mengguncangnya keras sekali.

"Hayo lanjutkan! Bedebah... kuhancurkan kepalamu kalau tidak kau lanjutkan! Awas kau kalau berbohong...!"

Suara Endang Patibroto menggigil saking menggeloranya isi dadanya.

Ki Jatoko yang sudah hampir tidak kuat karena pengaruh aji penyirepan yang kuat itu, mengangkat muka.

Kesadarannya masih memperingatkan bahwa ia harus bicara terus.

"Dia... Kartikosari lalu pergi... dan dari perhubungannya dengan Jokowanengpati itu... terlahirlah engkau..."

Terdengar jerit melengking keras sekali ketika Endang Patibroto melompat bangun dari duduknya.

Demikian hebat jerit ini sehingga Ki Jatoko yang sudah hampir tak kuat menahan kantuknya itu seketika menjadi sadar kembali dan memandang dengan mata terbuka lebar penuh ketakutan.

"Kau bohong...! Kuhancur leburkan kepalamu...!!"

Endang Patibroto berteriak dan tangan kanannya menghantam ke arah kepala Ki Jatoko.

"Prakkkk...!!"

Hancurlah meja dibelakang Ki Jatoko ketika si buntung ini mengelak dengan cepat sekali.

Ia menjadi pucat dan cepat berkata "Sabarlah, Endang Patibroto.

Mengapa engkau menyerangku?

Sudah kukatakan bahwa ini rahasia besar...

jangan marah dulu dan dengarlah kata-kataku!"

Endang Patibroto menjadi agak tenang kembali. Dadanya yang membusung itu turun naik seperti bergelombang. Ia berdiri seperti arca memandang Ki Jatoko yang cepat-cepat menyambung ceritanya.

"Endang Patibroto, ceritaku itu berdasarkan kebenaran. Ingat saja, ketika kau masih kecil, bukankah ibumu terpisah dari Pujo? Kalau ceritaku tidak betul, mengapa Kartikosari berpisah dari Pujo di waktu melahirkan engkau? Dan kalau tidak ada peristiwa yang hebat sehingga memisahkan mereka itu, mengapa pula Pujo menikah kembali dengan Roro Luhito, bibi dari Joko Wandiro? Endang Patibroto, pikirlah baik-baik. Untuk apa aku berbohong? Aku... aku dapat... membuktikan... aauuuuhhh..."

Ki Jatoko sudah tak dapat menahan lagi kantuknya dan ia roboh terguling, terus saja mendengkur di atas lantai.

Sejenak Endang Patibroto berdiri tertegun.

Cerita itu masih mengukir jantung dan benaknya.

Terlampau hebat cerita itu.

Terlampau parah batinnya terpukul.

Kemudian ia memandang Ki Jatoko.

Dengan kakinya ia mengguncang-guncang tubuh itu.

"Teruskan! Teruskan ceritamu...!!"

Ia membentak, akan tetapi makin lama makin lirih dan akhirnya ia terisak menangis! Baru sekali ini selama hidupnya Endang Patibroto mengucurkan air mata.

"Kubunuh kau kalau tidak betul... kubunuh kau. ."

Berkali-kali ia berkata, suaranya makin lemah dan ia merasa kepalanya pening, tubuhnya lemas, matanya mengantuk sekali.

Kesedihan mempunyai daya melemahkan tubuh dan mendatangkan kantuk, sehingga daya itu menambah pengaruh aji penyirepan yang ampuh.

Melihat betapa Ki Jatoko tak mungkin dibangunkan dari tidurnya yang nyenyak.

Endang Patibroto merasa bahwa dia harus pula beristirahat.

Biarlah, besuk akan kupaksa ia bercerita terus demikian pikirannya yang sudah mulai tertutup oleh kantuk.

Ia terhuyung-huyung memasuki kamar sebelah, sebuah kamar yang bersih dan di situ terdapat sebuah pembaringan kayu bertilam yang empuk.

Endang Patibroto menghela napas panjang, menggulingkan tubuhnya di atas pembaringan dan matanya dipejamkan.

Enak dan sedap sekali rasanya rebah di situ.

Pada saat itu, Endang Patibroto membuka matanya tiba-tiba dan meloncat bangun.

Gadis sakti ini dalam keadaan seperti itu masih sadar bahwa hal yang ia alami bukan sewajarnya!

Belum pernah selama hidupnya ia diserang kantuk dan lemas seperti ini!

Akan tetapi begitu meloncat turun, ia terhuyung-huyung dan terpaksa duduk di atas pembaringan, memegangi dahinya dengan tangan kiri, sedangkan tangan kanannya menghunus keris pusaka Brojol Luwuk.

"Keparat, siapa berani main-main denganku..?"

Bentaknya.

Ia menggoyang-goyangkan kepalanya yang sudah amat berat, lalu memandang ke arah pintu.

Pada saat itu, segumpal asap putih, melayang masuk melalui pintu dan celah-celah bilik, asap yang berbau harum sekali, akan tetapi yang memiliki daya yang luar biasa, sehingga Endang Patibroto yang mencium keharuman asap ini terkejut dan maklum bahwa itulah semacam racun pemabuk yang amat berbahaya!

Ia mengerahkan hawa sakti di tubuhnya, bangkit berdiri hendak lari keluar dari kamar.

Namun, kedua kakinya terasa lemas, kepalanya pening dan kamar serasa berputaran, kemudian ia tak dapat mempertahankan diri lagi, roboh di atas lantai.

Endang Patibroto maklum bahwa ia terkena racun, bahwa ia terperosok kedalam perangkap yang dipasang lawan.

Mungkin Ki Jatoko bersekutu dengan orang lain.

Ah, kubunuh dia...

kubunuh...

dia!

Akan tetapi ia hanya dapat merangkak, tak dapat bangun lagi.

Celaka, aku akan tertawan.

Kalau pusaka ini terampas musuh, habis harapan!

Berpikir demikian, gadis yang sakti dan berani ini lalu menggunakan keris pusakanya untuk menggali tanah, kemudian ia menanam keris pusaka Brojol Luwuk di dalam tanah, di lantai kamar itu.

Ditutupinya kembali lantai itu dengan jerami kering sehingga tidak tampak bekasnya.

Namun ia telah terlampau lama bertahan, terlampau banyak mengerahkan tenaga sakti sehingga setelah ia selesai menanam keris pusaka, begitu ia bernapas panjang dengan lapang, tubuhnya roboh miring di atas lantai dan tertidurlah Endang Patibroto, tidur yang tidak sewajarnya, tidur seperti orang pingsan!

Pasukan Jenggala yang dipimpin oleh Endang Patibroto yang jumlahnya tiga ribu orang, berhenti di dalam hutan di mana mengalir sungai yang jernih itu.

Para perwira yang tahu akan kelelahan pasukan, segera memberi komando supaya beristirahat, apalagi ketika melihat bagian depan pasukan menjadi kacau dengan teriakan-teriakan dan tertawaan, seakan-akan ada sesuatu yang menggembirakan mereka.

Ketika lima orang perwira itu menghampiri dengan menunggang kuda, mereka tersenyum lebar dan juga terheran-heran.

Kiranya yang membuat anak buah mereka tadi bersorak-sorak adalah sekumpulan gadis cantik-cantik yang sedang mandi di sungai itu.

Mereka terheran karena gadis-gadis itu benar-benar cantik jelita, tidak seperti kebanyakan gadis di dusun.

Selain cantik, juga tubuh yang telanjang bulat itu berkulit kuning dan berbentuk indah.

Lebih hebat lagi, ketika melihat pasukan yang besar jumlahnya ini, gadis-gadis itu tertawa-tawa genit, kemudian bangkit berdiri dan berlari-lari kecil dalam keadaan telanjang.

Jumlah mereka banyak, tidak kurang dari tiga puluh orang!

Tentu saja para perajurit Jenggala yang sebagian besar adalah orang-orang yang sudah biasa mengganggu wanita-wanita cantik, setelah diberi waktu beristirahat, kini segera melakukan pengejaran sambil bersorak-sorak.

"Tangkap yang paling cantik untuk perwira-perwira!"

Terdengar teriakan disana-sini dan ributlah keadaan di dalam hutan itu. Gadis-gadis itu berpencaran ke sana-sini sehingga ramai pula mereka yang melakukan pengejaran. (Lanjut ke

Jilid 36) Badai Laut Selatan (Seri ke 03 Serial Serial Keris Pusaka Sang Megatantra) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo

Jilid 36 Anehnya, gadis-gadis itu amat cepat gerakannya.

Gesit seperti kijang betina muda.

Melihat betapa gadis-gadis itu berpencaran dan menyusup-nyusup ke dalam semak dikejar oleh banyak perajurit ini, keadaan di hutan itu tiada ubahnya dengan sekumpulan pemburu mengejar kijang-kijang muda.

Tak lama kemudian, kegembiraan para perajurit yang mengejar gadis-gadis itu berubah menjadi jerit maut.

Kiranya hutan itu penuh dengan perajurit-perajurit Nusabarung yang bersembunyi dan begitu pasukan Jenggala tercerai-berai dan kacau-balau karena mengejar gadis-gadis cantik, mereka ini muncul dari tempat persembunyiannya dan secara tiba-tiba melakukan serangan!

Bahkan gadis-gadis itu sendiri membalik dan dengan senjata tombak yang digerakkan secara cekatan sekali mereka ini merobohkan banyak perajurit yang mengejar mereka.

Memang anak murid Bhagawan Kundilomuko adalah wanita-wanita cantik yang terlatih, memiliki ilmu kepandaian tinggi sehingga terjangan mereka yang mengejutkan ini merobohkan banyak lawan.

Sisa perajurit yang tadinya tertawa-tawa di pinggir sungai, kaget mendengar teriakan-teriakan maut teman mereka yang mengejar.

Akan tetapi sebelum mereka sempat bersiap, hujan anak panah menyerang mereka dari empat penjuru!

Makin panik dan kacau keadaan di situ.

Banyak sekali perajurit Jenggala yang terjungkal dan mati seketika tanpa mereka itu tahu siapa yang memanah mereka.

Tiba-tiba terdengar sorak-sorai menggegap-gempita dan dari tempat-tempat tersembunyi itu menerjang keluar ribuan orang perajurit Nusabarung.

Perang campuh terjadi secara hebat di dalam hutan itu.

Akan tetapi karena fihak Jenggala sudah panik dan kacau-balau, tidak ada yang memimpin lagi karena lima orang perwira itu sudah roboh binasa, mereka tertekan hebat dan banyak korban roboh di antara mereka.

Akhirnya, hanya beberapa ratus orang perajurit Jenggala yang berhasil melarikan diri, meninggalkan kawan-kawan yang tewas atau terluka berat.

Mereka lari pulang ke Jenggala untuk melaporkan malapetaka yang menimpa pasukan mereka itu.

Akan tetapi, apakah yang didapatkan perajurit-perajurit pelarian itu ketika mereka mundur dan kembali ke Jenggala?

Ternyata pasukan besar dari Nusabarung telah menyerang Jenggala, menimbulkan malapetaka besar di sepanjang jalan.

Perampokan, pembunuhan, perkosaan dan pembakaran dusun-dusun dilakukan oleh pasukan Nusabarung yang kejam, bahkan kini pasukan itu sudah mulai menerjang Kotaraja sehingga terjadi perang hebat.

Sisa perajurit-perajurit yang mengundurkan diri ini cepat membantu pasukan teman ketika melihat Kotaraja terancam.

Betapapun juga, pasukan-pasukan Jenggala masih cukup kuat dan di sana masih terdapat banyak senopati yang pandai sehingga setelah berperang sampai sepekan lamanya, barisan musuh dapat dipukul mundur.

Namun, mundurnya pasukan Nusabarung sambil membawa banyak sekali barang rampasan, selain harta benda, juga banyak para wanita mereka tawan.

Sambil kembali ke Nusabarung untuk menyusun kekuatan baru, mereka membakari rumah-rumah di setiap dusun yang mereka lalui, menyebar maut sehingga keadaan Jenggala menjadi kacau-balau!

Adipati Jagalmanik menjadi girang sekali dengan hasil penyerbuan pertama ini.

Sang adipati memuji-muji Bhagawan Kundilomuko dan Ki Jatoko serta mengirim banyak hadiah ke Durgaloka.

Mereka berdua ini segera berjanji kepada adipati di Nusabarung untuk membantu penyerbuan-penyerbuan mendatang sampai Jenggala takluk di bawah kekuasaan Nusabarung.

Di lain fihak, adipati itupun menjanjikan pangkat dan kemuliaan.

Biarpun pasukan Nusabarung dipukul mundur dan dalam penyerbuan pertama belum berhasil menundukkan Jenggala, namun penyerbuan itu boleh dibilang berhasil baik.

Apalagi di samping kemenangan dan banyaknya barang rampasan itu, pasukan Nusabarung juga berhasil menumpas sebagian besar barisan yang dipimpin oleh Endang Patibroto.

Tentu saja hal ini membesarkan hati mereka, bahkan para adipati-adipati kecil yang mendengar akan kemenangan Nusabarung, secara suka rela lalu menawarkan bantuan untuk bersekutu dengan harapan kelak akan mendapat bagian hasilnya.

Bhagawan Kundilomuko girang setengah mati.

Semua siasat Ki Jatoko yang dijalankan ternyata berhasil dengan baiknya.

Kakek pendeta ini selain kegirangan mendapat pujian dan hadiah dari Adipati Jagalmanik di Nusabarung, juga ia girang tekali ketika siasat Ki Jatoko untuk memancing dan menawan Endang Patibroto ternyata berhasil baik.

Dan gadis itu...

ah, seketika lenyaplah kemarahan dari hati kakek ini ketika ia melihat Endang Patibroto!

Gadis yang cantik jelita seperti bidadari!

Gadis yang sakti mandraguna!

Gadis seperti inilah yang patut menjadi isterinya.

Patut dipuja-puja di Durgaloka, disembah-sembah oleh para murid yang juga menjadi selir-selirnya.

Juga Ki Jatoko menjadi girang sekali.

Ia telah dipuji-puji adipati di Nusabarung.

Biarpun kini ia menjadi orang buntung, namun derajatnya sudah terangkat lagi dan masa depannya amat luas dan baik.

Kini ia menjadi sekutu dan pembantu Adipati Nusabarung di samping seorang sakti seperti Bhagawan Kundilomuko!

Endang Patibroto, gadis yang amat berbahaya itu, sudah dapat ditawan, dan ia sudah mendapatkan kembali Ayu Candra!

Alangkah baik nasibnya!

Dan kini maklumlah ia bahwa amat tidak mungkin kalau ia mengharapkan balas cinta kasih seorang gadis muda belia dan cantik jelita seperti Ayu Candra.

Hanya dengan cara yang tidak wajar saja ia boleh mengharapkan cinta kasih Ayu Candra!

Dengan guna-guna, yaitu Aji Guno-asmoro, akan tetapi tidak cukup kuat untuk mempengaruhi seorang gadis yang berwatak bersih seperti Ayu Candra.

Hanya seorang saja di dunia ini yang dapat membantunya.

Bhagawan Kundilomuko!

Kakek ini seorang ahli ilmu hitam, ahli sihir, dan ahli ramu-ramuan beracun yang memabokkan!

Ketika Ki Jatoko mengajukan permohonannya kepada kakek itu untuk menolongnya "Menundukkan"

Ayu Candra, kakek itu tertawa bergelak sambil mengelus-elus jenggotnya yang putih.

"Ha-ha-ha-ha! Anakmas Jatoko, tentu saja aku akan menolongmu. Kita sudah menjadi sahabat-sahabat baik, harus bantu-membantu dan tolong-menolong. Memang sudah semestinya orang-orang macam kita ini menggunakan kekuatan ilmu untuk menundukkan gadis-gadis cantik jelita yang muda belia. Untuk mendapatkan Endang Patibroto, aku harus menggunakan jampi-jampi. Ha-ha-ha! Kalau tidak, mana mungkin orang seperti Ayu Candra suka melayani seorang seperti kau dan si cantik jelita Endang Patibroto mau melayani seorang kakek macam aku? Ha-ha-ha!"

Sungguh mengerikan dan berbahaya sekali nasib Ayu Candra dan Endang Patibroto terjatuh ke tangan dua orang yang berwatak rendah dan keji ini.

Sebelum Endang Patibroto dan Ayu Candra sadar daripada pengaruh aji penyirepan dan jampi, mereka berdua dicekoki (diberi minum dengan paksa) jamu yang terdiri dari ramuan akar-akar dan daun-daun yang mempunyai khasiat penghapus ingatan!

Karena Bhagawan Kundilomuko maklum akan kesaktian Endang Patibroto, maka ia bersabar diri dan setiap hari menyuruh anak muridnya memberi minum jamu yang beracun itu sehingga keadaan Endang Patibroto dan juga Ayu Candra seperti patung hidup.

Mereka berdua sudah sadar dari tidur, akan tetapi ingatan mereka tertutup awan tebal.

Endang Patibroto duduk seperti arca matanya melamun memandang jauh sekali.

Ia selalu menurut saja setiap kali seorang pelayan menyuruhnya minum, makan atau tidur.

Kalau mulutnya mengeluarkan bunyi, yang keluar hanya.

"Kubunuh engkau, buntung...! Kubunuh engkau..."

Keadaan Ayu Candra juga sama dengan keadaan Endang Patibroto. Hanya bedanya, bisikan-bisikan yang keluar dari mulutnya hanyalah.

"Kakang Joko Wandiro... kakang Joko Wandiro...!"

Hal ini adalah karena sebelum jatuh pulas, ingatannya yang terakhir tertuju kepada Joko Wandiro.

Adapun Endang Patibroto sebelum roboh oleh pengaruh penyirepan, teringat kepada Ki Jatoko, maklum bahwa ia dijebak dan karenanya ia ingin membunuh orang buntung itu.

Ki Jatoko kecewa melihat keadaan Ayu Candra yang seperti patung hidup itu.

Ia bukan menghendaki gadis itu tak berdaya, karena kalau hanya demikian yang ia kehendaki, tanpa bantuan Bhagawan Kundilomuko sekalipun ia sanggup menggunakan kepandaiannya menggagahi Ayu Candra.

Dengan kepandaiannya ia sanggup membuat gadis itu tidak berdaya.

Maka ia menyampaikan kekecewaannya kepada Bhagawan Kundilomuko.

"Ha-ha-ha-ha, anakmas Jatoko, mengapa begitu tak sabar dan tergesa-gesa? Tentu saja tidak hanya sampai di sini. anakmas. Aku sendiripun tentu saja tak suka dilayani Endang Patibroto yang seperti mayat hidup. Heh-heh-heh, apakah anak tidak melihat bagaimana murid-muridku yang denok ayu itu melayani aku dengan penyerahan diri sebulatnya dan disertai kasih sayang mesra?"

"Saya percaya, paman, dan itulah yang saya harapkan dari Ayu Candra.."

"Tentu, tentu! Akupun menghendaki demikian dari Endang Patibroto. Akan tetapi tidak sekarang. Aku membuat mereka kehilangan ingatan agar mereka itu menjadi penurut dan tidak membantah semua apa yang kita perintahkan. Nanti, bersabarlah. Sepekan lagi bulan purnama akan muncul, di sini akan diadakan perayaan pesta pemujaan Sang Hyang Bathari, Pada malam itulah, dengan berkah dan cahaya Sang Hyang Bathari, kita akan memberi minum anggur darah kepada mempelai kita masing-masing, heh-heh-heh!"

Sepasang mata Ki Jatoko bersinar-sinar penuh nafsu.

"Apakah anggur darah itu, paman? Dan mengapa ada mempelai? Siapa yang akan kawin?"

"Ha-ha-ha, heh-heh, siapa lagi kalau bukan kita? Pengantin kembar, ha-ha-ha! Engkau dengan Ayu Candra, aku dengan Endang Patibroto si cantik manis, si denok montok, si ayu kuning, ha-ha-ha"

"Cocok dengan dugaanku dahulu, paman. Bukankah Endang Patibroto benar-benar cantik seperti dewi kahyangan? Apakah sekarang paman masih berniat membunuhnya?"

"Wah-wah, eman-eman (sayang) kalau dibunuh! Memang kau benar, anakmas. Tentang anggur darah itu, ha-ha-ha, kau lihat sendiri nanti. kau akan payah menghadapi tantangan dan kemesraan Ayu Candra, ha-ha-heh heh-heh!"

Keduanya makan minum dengan gembira, dilayani anak-anak murid sang bhagawan yang cantik-cantik dan genit-genit.

Ki Jatoko merasa tak sabar lagi menanti datangnya malam bulan purnama.

Bhagawan Kundilomuko maklum akan hal ini, maka sebagai pengobat rindu, ia memerintahkan seorang di antara anak muridnya yang cantik untuk menjadi kawan Ki Jatoko dan melayani si buntung itu!

Memang, semenjak jaman dahulu kala sampai sekarang inipun, manusia merupakan mahluk yang paling lemah menghadapi keliaran nafsu-nafsu mereka sendiri.

Setelah menjadi hamba nafsu, lenyaplah keagungan seorang manusia dan ia tidak akan segan-segan untuk melakukan segala macam perbuatan rendah.

Gila akan kedudukan, akan harta benda, kemuliaan, nama besar, pemuasan panca indra, pemuasan nafsu berahi, semua itu timbul sebagai akibat daripada kelemahan menghadapi nafsu pribadi.

Sekali menjadi hamba nafsu, manusia tidak segan-segan melakukan segala macam daya upaya tanpa memperhitungkan lagi baik jahatnya, demi pemuasan nafsunya sendiri yang dipertuan.

Dan inilah jalan menuju ke segala macam kesengsaraan.

Tuhan pencipta sekalian alam semesta, telah memberi petunjuk dan peringatan melalui kekuasaan alamNya kepada manusia.

Namun, sekali manusia diperhamba nafsu, ia seakan-akan buta dan tuli.

Seorang pendeta ahli tapa seperti Bhagawan Kundilomuko, setelah menjadi hamba nafsu, menjadi seperti buta pula.

Rambutnya sudah putih semua, hal sepele (sederhana) ini saja sudah merupakan nasehat dan peringatan, bahwa usia tua mendatangkan rambut putih berarti si manusia supaya memikirkan hal yang bersih-bersih saja seperti warna rambut yang menyelimuti kepalanya!

Namun sayang, setua itu masih saja ia picik dan lemah.

Nafsu, terutama nafsu berahi, memang seperti anggur yang keras memabukkan.

Sekali orang mencucupnya, ia akan menghendaki lebih dan lebih dan lebih, tak kunjung puas.

Karena itu, semenjak dahulu kala sampai sekarang inipun, bahagialah dia yang selalu eling (ingat) dan waspada.

Ingat kepada Hyang Maha Wisesa dan waspada terhadap dirinya sendiifl Waspada dalam arti kata awas dan hati-hati meneliti budi pekerti dan tindak-tanduknya sendiri.

Kokoh dan teguh dalam menghadapi godaan nafsu pribadi sehingga akhirnya bukan dia yang diperhamba nafsu, melainkan nafsu yang diperhambanya.

Nafsu hanya sekedar alat hidup yang dipergunakan seperlunya, pada waktu, tempat, dan keadaan yang tepat sebagai pelengkap hidup.

Malam bulan purnama yang dinanti nanti itu akhirnya tiba juga.

Semenjak sore hari, pertapaan Durgaloka telah dihias megah.

Daun-daun, kembang-kembang dan janur (pupus daun kelapa) yang dianyam dan dibentuk beraneka macam menghias pertapaan, terutama sekali bangsal besar tempat yang khusus dibuat sebagai tempat pemujaan Bathari Durgo, yaitu di bawah pohon waringin, dekat sumber mata air Sungai Bondoyudo.

Tempat pemujaan itu terbuka dan agak tinggi semacam panggung, lebih dari dua puluh lima meter lebarnya.

Tempat ini dihias dengan bunga-bunga.

Semua anak murid Bhagawan Kundilomuko sudah siap berkumpul.

Lima belas murid pria menabuh gamelan, yang lima belas orang lagi membawa obor dan berdiri mengelilingi tempat pemujaan itu.

Murid perempuan berjumlah semua seratus dua puluh orang!

Kini sebagian menjaga sekitar pertapaan secara bergilir, sebagian pula sibuk di dapur, sebagian sibuk mempersiapkan kebutuhan upacara pemujaan, dan sebagian pula yang bertugas sebagai penyanyi dan penari sibuk bersolek.

Semua orang bergembira ria.

Tentu saja dua orang tidak tampak gembira.

Mereka ini adalah Ayu Candra dan Endang Patibroto.

Dua orang gadis tawanan ini duduk di atas bangku dalam biliknya, duduk melamun seperti patung, dijaga masing-masing oleh lima orang wanita.

Di tengah-tengah pemujaan itu terdapat sebuah patung Bathari Durgo yang amat indah dan seolah-olah hidup.

Patung itu sebesar manusia, mengenakan pakaian sutera serba indah dan mahal, bahkan tubuhnya memakai perhiasan-perhiasan emas permata yang gilang-gemilang.

Ketika bulan purnama mulai muncul, gamelan ditabuh keras dan meriah.

Suara gamelan ini aneh dan tidak sama dengan gamelan biasa, juga lagu dan iramanya liar merangsang.

Gadis-gadis yang duduk bersimpuh di pinggir tempat upacara berlutut menyembah ketika Sang Bhagawan Kundilomuko muncul bersama Ki Jatoko.

Mereka inipun sudah berpakaian serba indah sehingga Ki Jatoko yang buntung dan berwajah buruK itu kini kelihatan tidak begitu buruk dan agak gagah.

Dengan lagak yang berwibawa, Bhagawan Kundilomuko mengangkat tangan kanan ke atas sebagai balasan salam kepada murid-muridnya, kemudian ia duduk di atas kursi yang sudah dihias, di sebelah kanan patung Bathari Durgo.

Ki Jatoko juga dipersilahkan duduk di atas sebuah kursi yang lebih kecil, agak jauh menghadap pendeta itu dan patung dewinya.

Dilihat dari jauh, seolah-olah Bhagawan Kundilomuko duduk berdua dengan isterinya, seorang dewi yang berwajah cantik namun menyeramkan.

Di bawah permainan api obor yang bergerak-gerak, sepasang mata patung itu seperti melirik-lirik, bibirnya seperti tersenyum-senyum!

Di sebelah kanan Sang Bhagawan Kundilomuko terdapat sebuah kursi kosong, demikian pula di sebelah kanan Ki Jatoko terdapat sebuah kursi kosong.

Tak lama kemudian, gamelan ditabuh lebih lambat dan perlahan, kemudian dari dalam pondok keluarlah menuju ke tempat itu dua orang gadis yang cantik jelita dan berpakaian sutera putih indah sekali.

Mereka itu bukan lain adalah Ayu Candra dan Endang Patibroto!

Mereka masing-masing dituntun oleh dua orang anak murid sang bhagawan dan kini menaiki anak tangga ke tempat pemujaan.

Pakaian sutera putih yang membungkus tubuh mereka itu amat tipis dan halus sehingga di bawah sinar bulan purnama dibantu sinar-sinar api obor, tampaklah tubuh mereka membayang, elok menggairahkan.

Mereka itu berjalan seperti mayat hidup, menurut saja ketika pelayan-pelayan itu menggandeng mereka dan menyuruh mereka bersama berlutut dan menyembah patung Bathari Durgo.

Setelah itu, pelayan-pelayan atau anak murid sang bhagawan mengundurkan diri.

Ki Jatoko yang sudah diberi tahu jalannya upacara, sebagai "Mempelai pria"

Bangkit dari kursinya, menghampari Ayu Candra yang masih berlutut di depan patung itu, menariknya bangun dan menggandengnya dengan senyum dan pandang mata mesra, membawanya ke tempat duduknya dan menyuruhnya duduk di atas kursi sebelah kanannya.

Juga Bhagawan Kundilomuko sudah menggandeng tangan Endang Patibroto dan mendudukkan gadis jelita itu sampingnya.

Gamelan kini berbunyi gencar dan ramai serta meriah sekali?

Beberapa orang gadis yang cantik dan lincah datang berlari-lari membawa buah-buah dan minuman untuk "Dua pasang mempelai."

Karena ingatan mereka kosong akibat cekokan jampi setiap hari selama dua pekan lebih, Ayu Candra dan Endang Patibroto tidak dapat mengingat maupun berpikir apa-apa.

Ketika ditawari buah oleh "Mempelai laki-laki,"

Mereka mengambil dan makan buah itu secara otomatis.

Mulailah kini dihidangkan tari-tarian oleh belasan orang gadis yang berpakaian indah beraneka warna.

Sebelum menari, mereka ini berjongkok menyembah patung Bathary Durgo, lalu menyebarkan kembang yang sejak tadi dibawa dengan selendang mereka.

Tubuh patung itu penuh bunga, demikian pula di sekitarnya, di atas lantai penuh bunga.

Patung itu seakan-akan memperlebar senyumnya.

Kemudian gadis-gadis itu menari indah, seperti kupu-kupu beterbangan.

Pakaian mereka dari sutera tipis, berkibar-kibar ketika mereka bergerak setengah berlari.

Setelah tari permulaan sebagai pemuja Sang Bathari ini selesai dan para penari turun kembali dari tempat itu, mendadak semua obor yang dipegang oleh lima belas orang anak murid pria dipadamkan.

Kini tempat Itu hanya diterangi oleh sinar bulan purnama.

Langit terang-benderang.

Keadaan amat romantis dan indah.

Bunyi gamelan juga berbeda daripada tadi, kini amat luar biasa iramanya.

Kemudian terdengar nyanyian koor belasan orang gadis, makin lama rnakin nyaring mengiringi munculnya serombongan penari baru yang keluar dari dalam pondok dekat tempat pemujaan.

Begitu tiba di tempat pemujaan, gadis-gadis penari yang jumlahnya tiga puluh orang ini, murid-murid yang tercantik dari Bhagawan Kundilomuko, dipimpin oleh lima orang muridnya tersayang, sudah berjalan jongkok lalu berlutut di depan patung Bathari Durgo.

Mulailah mereka mengikuti para penyanyi, menyanyikan lagu puja-puji kepada Sang Bathari.

Upacara pemujaan dimulailah.

Bhagawan Kundilomuko bangkit dari kursinya, lalu menghampiri seorang anak murid yang membawa bokor emas berisi air kembang.

Diambilnya setangkai bunga, dicelup ke dalam "Air suci"

Ini dan dipercik-percikkan ke arah patung.

Kemudian ia menuangkan secawan anggur, membawa cawan itu ke dekat mulut patung sampai menempel bibirnya, kemudian ia menaruh cawan di depan patung.

Demikian pula dengan beberapa macam buah.

Inilah upacara "Menghidangkan makan minum"

Bagi Bathari Durgo yang hanya boleh dilakukan oleh sang bhagawan yang oleh para murid didesas-desuskan sebagai "Kekasih"

Sang Bathari Durgo!

Upacara ini amat lama.

Setelah Bhagawan Kundilomuko kembali duduk ke kursinya, seorang anak murid perempuan datang membawa sebuah bokor besar sekali.

Melihat betapa gadis itu kuat membawa bokor besar yang terisi penuh, dapat dibayangkan bahwa ia tentulah anak murid sang bhagawan yang memiliki ilmu kepandaian tinggi dan bertenaga besar.

Bokor itu ditaruh di depan kaki sang bhagawan, kemudian setelah menyembah, murid itu mengundurkan diri.

Sang bhagawan menoleh ke arah Ki Jatoko dan tersenyum sambil berbisik.

"Inilah anggur darah,"

Katanya, menuding ke arah bokor besar tertutup yang terletak di depan kakinya.

Sementara itu, upacara dilakukan terus sampai lama oleh para penari yang tiga puluh orang jumlahnya itu.

Mereka bernyanyinyanyi puja-puji dan wajah mereka tampak berseri-seri.

Sementara itu, bulan naik makin tinggi dan sinarnyapun makin terang.

Tiba-tiba Bhagawan Kundilomuko bangkit berdiri dan memberi isyarat dengan tangan.

Para penari itu berhenti menyanyi, kemudian mulai bangkit dan mengatur tempat masing-masing untuk mulai menari.

Gamelanpun merobah iramanya, kini bernada gembira dan lebih merangsang daripada tadi.

Tarianpun dimulailah.

Indah sekali tarian ini, tidak seperti tadi, jauh lebih indah.

Lima orang anak murid tersayang itu menjadi penari inti, menari di tengah-tengah, dikelilingi dua puluh lima orang kawannya.

Mereka berputar-putar, melenggang-lenggok, berlari-larian, menggoyang-goyang pundak, perut, dan kibul, menggeleng-geleng kepala, makin lama gamelan dibunyikan makin meriah, suara penyanyi makin keras dan gerakan para penari makin penuh gairah.

Melihat gerak tubuh para penari yanh penuh gairah dan merangsang nafsu itu Ki Jatoko sudah tak enak duduknya.

Ia melirik ke arah Ayu Candra dan kecewalah hatinya.

Ayu Candra tetap saja duduk seperti patung.

Lebih mati daripada patung Bathari Durgo itu.

Agaknya Bhagawan Kundilomuko melihat keadaan Ki Jatoko yang kecewa ini.

Ia bangkit berdiri sambil tertawa, memberi isyarat dengan kedua tangan diacungkan ke atas.

Seketika para penairi itu berhenti menari dan menjatuhkan diri berlutut di atas lantai, terengah-engah dan napas mereka mendengus-dengus, muka mereka penuh keringat.

Gamelan masih berbunyi, perlahan dan lambat iramanya.

Sambil menoleh ke arah patung Bathari Durgo, Bhagawan Kundilomuko berkata, suaranya nyaring.

"Kini tiba saatnya memuja Sang Hyang Bathari dengan pengorbanan darah dan daging!"

Terdengarlah sorak-sorai dan tertawa cekikikan di antara anak-anak murid bhagawan Kundilomuko.

Kakek pendeta itu sendiri lalu membuka bokor besar, mengambil cawan emas dan menciduk ke dalam bokor.

Tercium bau yang harum bercampur amis, dan cawan emas itu penuh dengan benda cair yang merah seperti darah.

Cawan yang penuh"anggur darah"

Itu oleh sang pendeta dibawa ke depan patung Bathari Durgo seperti tadi, iapun menempelkan cawan ke bibir patung itu sampai lama, kemudian mulutnya berkemak-kemik membaca mantera dan akhirnya menaruh cawan emas itu di depan kaki patung.

Setelah itu, tertawalah Bhagawan Kundilomuko.

Ia menengadah memandang bulan purnama, tertawa-tawa menyeramkan.

Kedua anting-anting di telinganya bergerak-gerak.

"Marilah, anak-anak manis, majulah ke sini. Dengan berkah Sang Hyang Bathari, mari kalian minum anggur darah, cicipilah kesenangan yang menjadi hakmu sepuas hati. Ha-haha-ha!"

Tiga puluh orang penari tadi dengan pandang mata penuh gairah lalu menghampiri sang bhagawan, seorang demi seorang diberi minum anggur merah itu dari sebuah cawan.

Gerak mereka ketika menghampiri, ketika minum anggur, ketika mengembalikan cawan kosong, semua adalah gerak tari indah yang diiringi gamelan.

Tak lama kemudian semua murid yang tiga puluh orang jumlahnya itu sudah minum dan kini gamelan dibunyikan keras-keras dan liar sekali.

Aneh bukan main, para penari itupun menari dengan gerakan liar, penuh dengus-dengus nafsu.

Tiga puluh orang gadis cantik itu seperti mabuk, seperti bukan kehendak sendiri dan agaknya roh-roh jahat telah menyusupi diri mereka.

Wajah mereka yang diangkat menengadah membayangkan nafsu, hidung kembang-kempis mendengus-dengus, mulut menyeringai dalam berahi yang memuncak, gerak tari mereka makin menggila.

Tak lama kemudian, beterbanganlah sutera-sutera halus yang tadinya membungkus tubuh mereka.

Dengan gerak tari merangsang, mereka menanggalkan sutera-sutera halus itu sambil terus menari.

Ki Jatoko memandang dengan mata melotot, seakan-akan kedua biji matanya hampir terloncat keluar dari pelupuknya.

Selama hidupnya, belum pernah ia menyaksikan pertunjukan yang begini hebat merangsang.

Bhagawan Kundilomuko hanya tersenyum-senyum dan tertawa-tawa, mengelus-elus jenggotnya dan melirik ke arah Endang Patibroto yang seperti keadaan Ayu Candra, duduk tak bergerak seperti arca mati.

Kemudian bhagawan ini bangkit berdiri, menyembah ke arah patung Bathari Durgo, kemudian iapun menanggalkan pakaian yang membungkus patung itu satu demi satu sehingga tak lama kemudian patung itupun telanjang bulat seperti para penari itu!

Terkena bayangan para penari yang bergerak-gerak di bawah sinar bulan purnama, patung dewi yang telanjang itu kini agaknya juga ikut bergerak-gerak, ikut berlenggang-lenggok genit.

Ki Jatoko menjadi makin tak sabar.

Alangkah akan bahagia hatinya kalau Ayu Candra bersikap seperti para penari itu, penuh gairah, penuh semangat, penuh nafsu berahi!

Ia menoleh ke arah Bhagawan Kundilomuko dan berkata, suaranya menggigil.

"Paman, mengapa mempelai kita tidak diberi minum anggur darah?"

"Ha-ha-ha, engkau sudah tak sabar sekali, anakmas Jatoko! Mempelai kita ini harus dipisahkan dari mereka. Tunggulah sebentar lagi!"

Kini para penari itu agaknya sudah tak dapat menahan gelora nafsu mereka.

Mereka menari makin liar dan makin mendekati sang bhagawan, bahkan ada yang mendekati Ki Jatoko.

Dengan gerakan-gerakan memikat mereka seakan-akan menggoda dan menarik perhatian dua orang laki-laki yang duduk di atas kursi itu.

Makin lama makin mendekati dan akhirnya di antara mereka ada yang mulai menyentuh dan mengusap.

Agaknya sebentar lagi mereka itu akan nekat menubruk sang bhagawan dan Ki Jatoko.

Si buntung itu sudah memandang bingung ke arah sang bhagawan.

Bhagawan Kundilomuko bangkit berdiri dan tertawa lebar lalu menggerak-gerakkan kedua tangannya mendorong halus murid-muridnya yang merubung dan hendak mengeroyoknya dengan belaian-belaian mesra itu.

"Ha-ha-ha, anak-anak manis. Tidak ada waktu bagi aku untuk menyambut pelayanan kalian. Malam ini malam baik, berkat restu Sang Hyang Bathari, aku mengizinkan kalian melayani tiga puluh orang murid-murid pria sebagai wakilku!"

Ucapan ini disambut sorak-sorai dan suara gamelan terhenti ketika lima belas orang murid pria bersama lima belas lagi yang tadi memegang obor sudah berlompatan naik ke atas tempat pemujaan.

Terjadilah adegan-adegan yang mendirikan bulu roma ketika tiga puluh orang penari cantik itu memilih pasangan masing-masing, tertawa-tawa, menari-nari dan menyanyinyanyi, bercumbu-rayu tanpa malu-malu lagi, berpeluk cium dan bersendau-gurau, kemudian pasangan demi pasangan turun dari tempat pemujaan, menyelinap di balik pohon-pohon.

Hanya suara ketawa genit cekikikan terdengar dari tempat-tempat tersembunyi.

Tempat pemujaan menjadi sunyi.

Kini tinggal dua pasang "Mempelai"

Itu. Bhagawan Kundilomuko lalu mengisi sebuah cawan dengan "Anggur darah,"

Memberikannya kepada Ki Jatoko sambil berkata.

"Anakmas Jatoko, berilah minum mempelaimu dan kau akan mendapatkan seorang isteri yang panas dan mencinta, tiada keduanya di dunia ini, ha-ha-ha!"

Ki Jatoko menerima cawan itu sedangkan Bhagawan Kundilomuko juga mengisi sebuah cawan kosong dengan anggur itu.

Kedua orang itu kini mengangkat cawan, mendekatkan cawan ke mulut Endang Patibroto dan Ayu Candra yang sama sekali tidak melawan.

Bibir cawan sudah menyentuh bibir dua orang gadis yang cantik jelita itu, dan inilah detik yang menentukan karena sekali dua orang gadis itu minum anggur kotor ini, tentu mereka akan mabuk dan lupa diri pula seperti tiga puluh orang penari itu!

"Takkk!

Takkk!"

Dua sinar hitam itu bagaikan kilat menyambar telah mengenai cawan-cawan berisi anggur darah.

Benturan ini hebat dan keras sekali sehingga baik Ki Jatoko maupun Bhagawan Kundilomuko tak dapat mempertahankan dan cawan itu terpental, terlepas dari tangan sehingga isinya menyiram muka mereka sendiri!

Sambil berseru keras mereka meloncat mundur dan pada saat itu terdengar teriakan menyayat hati dan di sekitar tempat itu telah terjadi pertandingan yang hebat antara murid-murid Durgaloka laki-laki dan wanita yang sebagian besar bertelanjang bulat melawan puluhan perajurit wanita perkasa yang dipimpin oleh lima orang gadis jelita.

Mereka ini bukan lain adalah Dewi, Lasmi, Mini, Sari dan Sundari yang memimpin kawan-kawannya menyerbu Durgaloka!

"Sabbe satta ayera hontu, sadhu-sadhu-sadhu (Semoga semua mahluk hidup damai)"

Tiba-tiba terdengar pujian ini dan muncullah seorang pendeta yang kepalanya gundul bersama seorang pemuda yang bukan lain adalah Joko Wandiro.

Sedangkan pendeta Buddha itu bukan lain adalah Sang Wiku Jaladara!

Sang wiku ini adalah seorang pendeta Buddha yang dahulu pernah mengobati Jokowanengpati di lereng Gunung Lawu akan tetapi kemudian malah hendak dibunuh oleh Jokowanengpati karena sang wiku telah melihat bahwa dia yang mencuri patung kencana pusaka Mataram.

Bagaimanakah Joko Wandiro bersama anak buahnya yang dipimpin oleh Dewi dapat datang pada saat yang begitu kebetulan dan tepat?

Hal ini adalah jasa para anak buahnya.

Seperti telah diceritakan di bagian depan, Joko Wandiro ditolong oleh Dewi dan adik-adiknya ketika ia terluka oleh jarum beracun Ki Jatoko, kemudian bahkan diangkat menjadi kepala dan junjungan oleh sekalian wanita cantiK itu.

Di Gunung Anjasmoro ini pula dia akhirnya berhasil menewaskan musuh besar gurunya, Dibyo Mamangkoro yang sakti mandraguna.

biarpun dia sendiri menderita luka-luka dan kembali ia dirawat penuh kasih sayang oleh Dewi dan adik-adiknya.

Kemudian datanglah berita dari anak buah Dewi tentang perang antara Jenggala dan Nusabarung.

Betapapun juga, Joko Wandiro tak dapat melupakan Endang Patibroto, dan Juga Puteri Mayagaluh.

Apalagi ketika ia mendengar penuturan Dewi bahwa Adipati Nusabarung adalah seorang yang sakti dan kejam, Ia lalu mengajak anak buahnya, sebanyak tiga puluh orang itu, untuk menyelidiki ke Jenggala dan untuk mencegah hal-hal yang kurang baik, ia mengajari anak buahnya, kecuali Dewi berlima, untuk menyamar sebagai pria.

Setibanya di Jenggala, dengan kaget Joko Wandiro mendengar bahwa pasukan yang dipimpin oleh Endang Patibroto menyerbu ke Nusabarung mengalami kehancuran sedang Endang Patibroto sendiri tidak ada kabar ceritanya!

Ia menjadi khawatir sekali, apalagi ketika Dewi mengemukakan pendapatnya bahwa menurut penuturan para perajurit Jenggala yang tidak tewas, jelas di fihak Nusabarung dibantu oleh orang-orang pandai yang menggunakan wanita-wanita cantik untuk memancing sehingga mengakibatkan hancurnya pasukan itu.

"Aku pernah mendengar penuturan eyang Dibyo Mamangkoro bahwa di kaki Gunung Bromo, di sumbar mata air Sungai Bondoyudo, terdapat sebuah pengikut-pengikut seorang pendeta tua yang memuja Bathari Durgo. Tempat itu disebut pertapaan Durgaloka. Kata eyang Dibyo Mamangkoro, pendeta itu sakti dan pandai ilmu hitam, kalau tidak salah, namanya Bhagawan Kundilomuko. Siapa tahu, dia ini yang menggerakkan anak buahnya membantu Nusabarung sehingga Endang Patibroto yang kau khawatirkan itu terpedaya olehnya."

Tanpa ragu-ragu lagi Joko Wandiro lalu memimpin anak buahnya untuk melakukan pengejaran ke tempat itu.

Sehari sebelum tiba di Durgaloka, ia bertemu dengan Wiku Jaladara!

Sang wiku yang bermata tajam dapat mengenal Joko Wandiro dan pengikutnya sebagai orang-orang yang memiliki kepandaian.

Akan tetapi hatinya juga khawatir melihat sekian banyaknya gadis-gadis cantik yang sebagian besar tidak terlalu tinggi ilmunya itu melakukan perjalanan yang menuju ke Durgaloka.

Maka ia menyalami dan berkata sungguh-sungguh.

"Andika sekalian kalau melakukan perjalanan, hendaknya berhati-hati dan kalau andika suka mendengarkan nasehat orang tua, sebaiknya andika mengambil jalan lain dan jangan melanjutkan perjalanan ini."

Joko Wandiro juga dapat menduga bahwa kakek yang sudah tua akan tetapi berwajah sehat dan bermata lembut ini tentulah seorang berilmu tinggi, maka cepat ia memberi hormat dan berkata.

"Banyak terima kasih atas petunjuk dan nasehat paman. Akan tetapi maafkan kami orang-orang muda yang kurang terima dan ingin tahu lebih jelas lagi, yaitu apa sebabnya paman menganjurkan agar kami mengambil jalan lain. Adakah bahaya menghadang di depan?"

Wiku Jaladara menarik napas panjang lalu menjawab.

"Di depan sana terdapat bahaya mengancam,"

Ia menuding ke depan."Di sana terdapat orang-orang yang sedang diliputi kegelapan yang mengeruhkan budi pekerti mereka sehingga menyelewengkan mereka daripada kebenaran.

Menjauhi kekotoran dan mencegah kekerasan, pergi dengan tenang dan damai adalah pekerti orang-orang bijaksana.

Orang muda, harap kau ajak rombonganmu ini mengambil jalan lain."

Joko Wandiro bertukar pandang dengan Dewi. Gadis ini tersenyum lalu melangkah maju dan berkata lantang.

"Eyang, bukankah yang kau maksudkan itu adalah pertapaan Durgaloka di mana Bhagawan Kundilomuko tinggal bersama murid-muridnya?"

Sejenak pendeta tua itu tertegun, memandang tajam kepada Dewi dan adik-adiknya, lalu mengelus jenggotnya dan menghela napas pula.

"Sadhu-sadhu-sadhu. semoga damai dan bahagialah diantara semua manusia di permukaan bumi! Ah, nini, terutama sekali engkau dan teman-temanmu ini, seyogyanya jangan melanjutkan perjalanan melalui pertapaan Durgaloka. Sungguh baik kalau kalian sudah tahu, dan orang yang secara sadar menjauhkan diri daripada bencana, adalah seorang bijaksana."

Joko Wandiro cepat bertanya.

"Paman, kalau tidak keliru penglihatan saya, paman adalah seorang wiku. Sebagai seorang wiku yang sudah lanjut usia, paman menasehatkan kami orang-orang muda supaya menjauhi bahaya. Akan tetapi mengapa paman sendiri yang sudah tua malah hendak menempuh bahaya itu? Apakah kalau terhadap paman, orang-orang Durgaloka tidak akan mengganggu?"

Kakek itu kembali mengelus-elus jenggotnya dan memandang tajam kepada Joko Wandiro, kemudian berkata.

"Orang muda, aku yang tua dan bodoh memang sengaja hendak menemui Bhagawan Kundilomuko. Mendengar akan penyelewengannya, sudah menjadi kewajibanku untuk berusaha mengingatkannya agar jangan makin berlarut-larut dan banyak menimbulkan banyak korban."

"Maaf, paman wiku. Kalau begitu, tugas kita ada persamaannya, yaitu membersihkan dunia daripada yang kotor dan jahat. Hanya bedanya, kalau paman mengusahakan dengan jalan halus dan menyadarkan mereka dengan petuah, kami akan melenyapkan segala kekotoran itu dengan membasmi mereka kalau perlu!"

"Ahhh... manusia dapat berusaha, hanya Hyang Maha Agung yang menentukan. HambaMu sudah berusaha dan segalanya terserah... terserah...!"

Pendeta itu tidak bicara lagi, hanya berjalan dengan kedua tangan dirangkap dan ditaruh di depan dada, mulutnya berkemak-kemik membaca mantera dan doa.

Demikianlah maka Joko Wandiro bersama anak buahnya datang ke Durgaloka bersama dengan Wiku Jaladara ini.

Dan atas desakan dan anjuran sang wiku pula maka perjalanan itu diteruskan biarpun malam sudah tiba.

Sang Wiku Jaladara yang sudah awas paningal (berpemandangan waspada) ini tahu bahwa pada malam bulan purnama itu tentulah terjadi hal-hal mengerikan dan hebat di Durgaloka.

Dan untunglah bahwa Sang Wiku Jaladara mendesak Joko Wandiro melanjutkan perjalanan di malam itu, karena terlambat sebentar saja, keadaan Ayu Candra dan Endang Patibroto tak mungkin dapat tertolong lagi!

Dapat dibayangkan betapa kagetnya hati Joko Wandiro ketika dalam penyusupannya ke Durgaloka itu ia melihat Ayu Candra dan Endang Patibroto yang duduk seperti arca hidup itu sedang dirangkul oleh Ki Jatoko dan Bhagawan Kundilomuko untuk diberi minum dari sebuah cawan.

Karena dapat menduga bahwa isi cawan itu tentulah benda yang amat berbahaya, maka ia cepat bertindak.

Kemarahan yang membakar hatinya jauh melampauhi kekagetannya, maka begitu kedua tangannya bergerak, dua buah batu kerikil terbang dan berhasil memukul jatuh cawan berisi anggur darah yang mengerikan itu.

Sementara itu, Dewi dan adik-adiknya serta anak buahnya sudah pula menyerbu dan mereka ini mendapat sambutan dari para anak murid Bhagawan Kundilomuko sehingga terjadilah perang tanding yang amat seru di sekitar tempat pemujaan dan taman belukar sekeliling sumber mata air Sungai Bondoyudo.

Pertandingan mati-matian yang hanya diterangi sinar bulan purnama.

Bhagawan Kundilomuko dan Ki Jatoko sudah menerjang dengan berbareng, menyerang Joko Wandiro.

Ki Jatoko maklum bahwa pemuda ini sakti luar biasa, akan tetapi karena di situ terdapat Bhagawan Kundilomuko, maka ia tidak takut.

Dengan keris di tangan ia menerjang Joko Wandiro, sedangkan Bhagawan Kundilomuko juga sudah menubruk maju sambil menggerakkan sebatang tongkat yang bentuknya seperti seekor ular.

Melihat gerakan mereka berdua itu, Joko Wandiro yang sudah siap lalu memapaki mereka dengan gerak tangan yang melancarkan pukulan Bojro Dahono.

"Werrrrr... desssss...!!"

Ki Jatoko terjungkir-balik oleh hawa pukulan yang dahsyat itu, bahkan Bhagawan Kundilomuko juga terkejut karena tubuhnya terhuyung ke belakang sampai dua langkah.

Maklumlah sang bhagawan bahwa pemuda ganteng yang datang ini memiliki kesaktian yang hebat, maka ia cepat berteriak minta bantuan murid-muridnya, Memang jumlah anak murid Bhagawan Kundilomuko jauh lebih banyak, ada kurang lebih seratus onang sedangkan Joko Wandiro hanya diikuti oleh Dewi dan adik-adiknya dan anak buahnya yang jumlahnya hanya tiga puluh orang.

Maka kini belasan orang anak murid Bhagawan Kundilomuko sudah menerjang naik ke atas tempat pemujaan untuk mengurung dan mengeroyok Joko Wandiro.

Yang naik adalah murid-murid wanita sehingga dalam sekejap mata saja Joko Wandiro menjadi merah padam mukanya karena harus menghadapi pengeroyokan hampir dua puluh orang gadis yang sebagian besar bertelanjang bulat tidak berpakaian sama sekali!

Ia menjadi muak dan marah, akan tetapi juga bingung karena wataknya yang baik membuat ia tidak tega menjatuhkan tangan maut kepada wanita-wanita muda itu.

Sang Wiku Jaladara juga sudah naik ke tempat pemujaan.

Ia menghela napas panjang menyaksikan pertempuran yang tak mungkin dapat dicegah lagi itu, kemudian ia lari menghampiri Endang Patibroto dan Ayu Candra.

Dipegangnya kedua tangan gadis ini dan ditariknya mereka itu ke pinggir.

Kemudian ia cepat-cepat mengambil secepuk obat dari dalam sakunya dan ditekankan cepuk yang sudah dibukanya itu di bawah hidung Ayu Candra, kemudian di bawah hidung Endang Patibroto.

Dua orang gadis yang menurut saja seperti arca hidup itu kini terbangkis-bangkis sampai beberapa kali.

Mereka berbangkis terus ketika Wiku Jaladara menaruh kedua tangan di atas kepala mereka sambil membaca mantera dan mengerahkan kekuatan batinnya untuk mengusir hawa beracun dan awan hitam yang menyelimuti kesadaran dan ingatan kedua orang gadis itu.

Kakek ini begitu tekun dalam usahanya menyadarkan mereka berdua sehingga ia sama sekali tidak memperdulikan pertempuran yang makin menghebat di sekelilingnya.

Sang Wiku Jaladara sama sekali tidak tahu betapa Bhagawan Kundilomuko dan Ki Jatoko menghampirinya dengan mata mendelik saking marahnya.

Dua orang ini dapat menduga apa yang sedang dikerjakan oleh pendeta Buddha itu, maka tanpa diberi komando lagi keduanya meloncat maju dengan keris dan tongkat di tangan.

"Cepp! Trakkkk!!"

Keris di tangan Ki Jatoko menancap lambung, sedangkan tongkat ular di tangan Bhagawan Kundilomuko menghantam pelipis kepala sampai pecah!

Tanpa mengeluh tubuh Wiku Jaladara menjadi lemas dan terguling.

Dari mulutnya terdengar ucapan lemah.

"Semoga Sang Buddha memberi penerangan kepada kalian...!"

Ayu Candra ikut pula terguling dan roboh pingsan.

Akan tetapi tidak demikian dengan Endang Patibroto.

Tentu saja Endang Patibroto memiliki daya tahan dan kekuatan sakti yang jauh lebih unggul daripada Ayu Candra, maka usaha sang wiku tadi sudah berhasil.

Begitu ia terlepas daripada penyelimutan hawa hitam dari ilmu sihir dan racun, ia meloncat dan membuka mata lebar-lebar.

Seketika ingatlah ia akan semua pengalamannya, maka sambil mengeluarkan pekik Sardulo Bairowo, tubuhnya menerjang ke depan.

Kaki kanannya menendang dada Ki Jatoko membuat si buntung ini terguling-guling jauh sedangkan tangan kirinya mencengkeram ke arah muka Bhagawan Kundilomuko.

Bhagawan itu kaget sekali, cepat membanting tubuh ke belakang, lalu melarikan diri secepatnya.

Juga Ki Jatoko sudah melarikan diri.

Sejenak Endang Patibroto tertegun, lalu ia menggoyang-goyang kepalanya mengusir sisa kepeningan dan kehampaan.

Ketika ia memandang sekeliling, ia menjadi terheran-heran melihat sekian banyaknya orang bertanding, sebagian besar wanita.

Ia tidak tahu siapa kawan siapa lawan, dan makin heranlah ia ketika melihat Joko Wandiro dikeroyok oleh dua puluh lebih gadis-gadis cantik yang telanjang.

Mereka itu mengeroyok sambil cekikikan dan merayu-rayu!

Muak rasa perutnya, dan ia segera meloncat dari situ.

Satu-satunya yang ia ketahui benar adalah bahwa Ki Jatoko harus ia bunuh, karena Ki Jatoko inilah yang menyebabkannya.

Dan juga kakek tua bangka yang datang bersama Ki Jatoko itu agaknya Bhagawan Kundilomuko, maka kakek itupun harus ia bunuh.

Ia dapat menduga!

bahwa ia tentu terpedaya oleh kakek itu dengan ilmu mujijat.

Cepat-cepat ia lari mencari pondok di mana ia dikeram untuk mengambil kembali pusakanya yang ia sembunyikan.

Dengan hati lega dan gembira Endang Patibroto mendapatkan kembali keris pusakanya, Brojol Luwuk.

Ia merasa bersyukur bahwa sebelum ia pingsan, ia masih ingat untuk menyembunyikan pusakanya.

Kalau tidak, tentu pusaka itu terjatuh ke tangan musuh dan hal ini amat berbahaya.

Kini dengan Brojol Luwuk di tangannya, pulih kembali semua kekuatan dan kegagahannya, maka ia lalu berlari keluar.

Begitu ia meloncat keluar, tiga orang laki-laki anak murid Bhagawan Kundilomuko mencegat dan serta-merta menubruk hendak menangkapnya.

"Mampuslah kalian anjing-anjing keparat!"

Bentak Endang Patibroto, tangan kirinya menampar.

Terdengar suara keras dan tiga orang laki-laki itu roboh dengan kepala pecah terkena pukulan halilintar tangan kiri Endang Patibroto!

Gadis perkasa ini segera mulai mencari dua ocang yang amat dibencinya di saat itu.

Bhagawan Kundilomuko dan Ki Jatoko!

Dengan sikap beringas penuh amarah bagaikan seekor singa betina, Endang Patibroto mencari Bhagawan Kundilomuko dan Ki Jatoko.

Ia melihat betapa Joko Wandiro dikeroyok puluhan orang wanita telanjang dan anak murid Bhagawan Kundilomuko, melihat pula sepasukan wanita berperang tanding mati-matian melawan para anak murid sang bhagawan, namun ia tidak memperdulikan itu semua.

Setiap kali ada anak buah Durgaloka menghadap di depannya, tangan kirinya menampar dan robohlah si penghadang itu dengan kepala pecah atau dada remuk!

Gadis ini sudah marah sekali sehingga setiap gerakannya mengandung hawa pukulan yang amat ganas dan keji.

Semua rumah dimasukinya, diobrak-abrik dalam usahanya mencari Bhagawan Kundilomuko dan Ki Jatoko.

Bahkan setiap kali keluar dari pondok kosong, gadis ini mendorong dan menendang roboh pondoK itu, kemudian memasuki pondok lain untuk mencari dua orang yang disangkanya bersembunyi di sebuah di antara pondok-pondoK itu.

Ketika ia memasuki pondok di mana selama ini ia ditahan dan di mana ia tadi mendapatkan kembali pusakanya, ia melihat pakaiannya bertumpuk di atas pembaringan.

Teringatlah ia bahwa ia masih mengenakan pakaian sutera putih halus yang amat memalukan itu.

Cepat-cepat ia berganti pakaian, memakai pakaiannya sendiri.

Kemudian ia melanjutkan usahnya mencari dua orang yang amat dibencinya itu.

Setelah semua pondoK ia robohkan dan belum juga ia menemukan dua orang yang dicarinya, Endang Patibroto menjadi marah sekali.

Ia meloncat keluar dan menyambar seorang anak murid pertapaan yang terdekat.

Anak murid itu wanita dan melihat bahwa ia tidak telanjang, tentu bukan seorang di antara tiga puluh orang penari tadi.

Wanita itu berusaha melawan dan menusukkan kerisnya ke arah Endang Patibroto.

"Takk!"

Wanita itu menjerit dan memandang dengan muka pucat.

Bukan perut gadis itu yang pecah, melainkan keris di tangannya yang patah dan tinggal gagangnya saja!

Sebelum hilang kagetnya, tangan kiri Endang Patibroto sudah mencengkeran pundaknya.

Wanita itu menjerit-jerit.

Rasa nyeri yang amat luar biasa menembus jantung meresap ke seluruh tulang sumsum seakan-akan ribuan ekor semut memasuki tubuhnya dan menggigitnya dari dalam.

"Aduh, mati aku aduhh ampun... bunuh saja aku"

Wanita itu bersambat, menggeliat-geliat seperti cacing terkena abu panas. Namun Endang Patibroto tidak melepaskan cengkeraman pada pundaknya.

"Hayo katakan di mana tempat sembunyi gurumu dan Ki Jatoko!"

Endang Patibroto membentak sambil memandang penuh kebencian.

"Aduhh... ah, kau... kau mencari pengantin pria...? Auggghh!!"

Wanita itu tak sempat melanjutkan kata-katanya karena sebuah tamparan tangan kiri Endang yang amat keras membuat rahang bawah mukanya remuk.

Ia berkelojotan sekarat, tak dapat bicara lagi.

Endang Patibroto kini melompat ke depan dan menyambar seorang anak murid pria, tidak perduli bahwa anak murid ini masih telanjang dan sedang sibuk mengeroyok Joko Wandiro di barisan terbelakang.

Sekali banting, laki-laki itu roboh dan Endang Patibroto menggerakkan tangan kirinya, menangkap lengan kiri laki-laki itu dan memilinnya.

"Krekk"

Lengan itu patah tulangnya dan laki-Iaki itu melolong kesakitan "Hayo katakan, ke mana larinya gurumu dan Ki Jatoko?"

"Aku... aku tidak tahu... mungkin... ke mana lagi kalau tidak ke hutan Gumuk-mas dekat pantai?"

"Gumuk-mas. Tempat apa itu dan di mana? Jawab cepat!"

Endang Patibroto sudah mencengkeram lengan kanan orang itu, membuat gerakan ancaman untuk mematahkan lagi lengan ini.

"Am...ampun... Gumuk-mas tempat pertapaan juga dari sini terus ke selatan... mungkin dia belum jauh..."

Hanya sampai di situ, anak murid ini dapat bicara karena tiba-tiba jari tangan kiri Endang Patibroto sudah menyambar ke lehernya dan terdengar suara tulang patah.

Laki-laki itu tewas di saat itu juga!

Endang Patibroto melempar pandang ke sekelilingnya.

Pertandingan masih berlangsung hebat.

Joko Wandiro boleh jadi sakti mandraguna, akan tetapi ia melihat bahwa pemuda itu terlalu lemah hatinya.

Dikeroyok banyak wanita telanjang itu kelihatan gugup dan agaknya pemuda itu tidak cukup tega untuk menjatuhkan tangan maut, hanya merobohkan mereka tanpa melukai berat.

Tentu saja hal ini membuat para pengeroyoknya makin ganas dan berani sehingga pertempuran menjadi makin lama.

Sementara itu, para wanita yang merupakan pasukan yang datang bersama Joko Wandiro juga bertanding ramai sekali melawan anak murid Durgaloka.

Harus diakui bahwa anak murid Durgaloka rata-rata memiliki kepandaian yang lumayan dan karena jumlah mereka jauh lebih besar, maka para penyerbu menghadapi perlawanan berat dan banyak di antara para penyerbu roboh pula.

Endang Patibroto tersenyum mengejek ke arah Joko Wandiro, kemudian seperti seekor burung srikatan saja gesitnya, ia sudah melompat dari situ, lenyap di antara pohon-pohon kemudian lari bagaikan seekor kijang menuju ke arah selatan, melakukan pengejaran terhadap dua orang yang melarikan diri itu.

Pemberitahuan anak murid Durgaloka yang bernasib sial itu tadi memang tidak bohong.

Ketika Dhagawan Kundilomuko dan Ki Jatoko tahu bahwa gadis sakti itu sudah sadar kembali dari pengaruh jampi dan guna-guna, mereka menjadi terkejut dan ketakutan, menggunakan kesempatan selagi gadis itu belum sadar benar, cepat mereka berdua melarikan diri.

Setelah di situ muncul seorang pemuda sakti seperti Joko Wandiro, ditambah lagi Endang Patibroto yang sudah sadar, tentu saja mereka berdua tidak berani membahayakan keselamatan diri untuk melawan pendekar-pendekar muda itu.

Dan satu-satunya tempat yang dianggap paling aman oleh Dhagawan Kundilomuko adalah hutan Gumuk-mas, tempat pertapaannya yang kedua karena tempat ini berada di dekat pantai dan dekat pula dengan Pulau Darung (Nusabarung).

Semalam suntuk mereka lari dengan kecepatan mereka.

Pada keesokan harinya, setelah matahari terbit, barulah kedua orang ini tiba di hutan Gumuk-mas.

Biarpun Bhagawan Kundilomuko seorang tua yang sakti, namun oleh karena ia terlalu suka mengumbar nafsu keadaan tubuhnya kekurangan daya sakti sehingga dipakai lari semalam suntuk itu ia merasa lelah dan kehabisan tenaga.

Terengah-engah ia lari menubruk dan memeluk kaki sebuah arca Sang Bathari Durgo yang menjadi dewi pujaannya, kemudian mengeluh.

"Duh Sang Bathari pujaan hamba! Hamba mohon perlindungan, Sang Dewi..."

Ki Jatoko yang sepagi itu sudah berpeluh seluruh muka dan lehernya, mengusap peluh sambil memandang dengan hati kecut.

Kecewa ia melihat keadaan pendeta itu.

Ternyata biarpun sakti mandraguna, pendeta ini seorang pengecut dan penakut.

Pertapaan dan anak muridnya diserbu musuh, malah lari seperti seekor anjing digebuk!

Diam-diam ia merasa kecewa telah bersekutu dengan seorang yang sama sekali tak dapat diandalkan itu.

"Paman, kenapa kita berhenti di sini? Bukankah lebih baik kita terus saja berlindung di Nusabarung?"

Bhagawan Kundilomuko menggeleng kepala, menarik napas panjang.

Wajahnya muram dan ia berduka juga mengingat anak-anak muridnya yang terkasih itu yang tentu akan terbasmi oleh dua orang muda sakti bersama pasukannya.

"Tidak, anakmas, aku tidak akan pergi ke Nusabarung! Setelah kawan-kawan seperti Cekel Aksomolo dan yang lain-lain tewas, siapa lagi boleh diandalkan? Tentu Jenggala akan mengerahkan pasukan besar menyerang Nusabarung dan kalau kita berada di sana, sama dengan mencari mampus. Tidak, anakmas, biarpun sudah tua, aku belum kepingin mati. Aku hendak pergi kepada keponakanku, Adipati Blambangan."

"Kenapa, paman bhagawan? Kalau kita membantunya dan mengerahkan pasukan mempertahankan Nusabarung, belum tentu kalah oleh barisan Jenggala."

"Tidak, kau pergilah ke Nusabarung kalau kau kehendaki, anakmas. Aku tetap akan pergi ke Blambangan."

Tiba-tiba wajah Ki Jatoko menjadi pucat, matanya terbelalak.

Tanpa mereka ketahui datangnya, tahu-tahu ia melihat bayangan...

Endang Patibroto di balik sebatang pohon, di belakang Bhagawan Kundilomuko!

Rasa takut yang hebat menggetarkan jantung Ki Jatoko.

Namun tidak menghilangkan kecerdikannya yang luar biasa.

Ia maklum dalam sedetik itu bahwa jalan satu-satunya untuk menyelamatkan diri haruslah mengambil sikap tepat dan cepat.

Ia pura-pura tidak melihat bayangan Endang Patibroto dan meloncat ke depan Bhagawan Kundilomuko, menudingkan telunjuknya ke hidung pendeta itu sambil membentak.

"Huh, kau pendeta bajul buntung! Sudah kusangka bahwa engkau adalah seorang pendeta yang tak patut, siapa kira kenyataannya lebih buruk lagi. Engkau tidak setia, pengecut dan pengkhianat! Sungguh aku menyesal sekali telah mendengar bujukanmu. Dengan baik-baik aku mengajak Endang Patibroto untuk merundingkan perihal perang antara Jenggala dan Nusabarung, tahu-tahu engkau gunakan akal keji untuk merobohkannya! Karena aku tidak ingin melihat dua orang gadis itu kau bunuh, terpaksa aku menurut dan..."

"Jatoko! Tutup mulutku yang busuk...! kau... kau...!"

Pendeta itu marah sekali sehingga tak dapat melanjutkan kata-katanya dan langsung saja ia menerjang ke depan dan menghantamkan kepalan tangan kanan ke arah dada Ki Jatoko.

Melihat pukulan yang mendatangkan angin dingin itu, Ki Jatoko cepat mengangkat lengan kanan pula dan menangkis dari samping.

Inilah kesalahannya.

Ia tidak tahu bahwa Biarpun dalam ilmu silat ia belum tentu kalah oleh sang pendeta, namun dalam hal tenaga mujijat ia kalah ampuh, kalah kuat.

Pendeta ini seorang ahli ilmu hitam, tenaga sakti di tubuhnya memang melemah karena ia hamburkan untuk mengumbar nafsu, akan tetapi tenaga yang timbul dari ilmu hitam amat kuat dan hebat.

"Dukkk!!"

Hebat pertemuan kedua lengan ini dan Ki Jatoko terkejut sekali, berseru keras ketika tubuhnya terlempar ke belakang sampai beberapa meter jauhnya, kemudian ia terbanting roboh di depan arca Bathari Durgo yang sebesar manusia itu.

Untuk mencegah tubuhnya terhuyung-huyung, Ki Jatoko memeluk arca itu sehingga kelihatannya ia memeluk dan mencium tubuh arca yang telanjang!

Cepat sekali Ki Jatoko menjatuhkan diri untuk mengelak kalau-kalau lawannya melanjutkan serangannya dari belakang.

Akan tetapi pada saat itu terdengar bentakan nyaring.

"Kundilomuko, bersiaplah kau menerima hukumanku!!"

Ki Jatoko cepat menengok dan melihat betapa Endang Patibroto telah menyerang Bhagawan Kundilomuko dengan garang, ia menonton dengan hati risau dan gelisah sekali.

Memang ia telah dapat menyelamatkan diri dari tangan Endang Patibroto untuk sementara waktu dengan jalan "Mengadu"

Gadis sakti itu melawan Bhagawan Kundilomuko.

Akan tetapi sampai di manakah hasil daripada akalnya tadi itu?

Keadaannya sekarang masih tidak lebih baik daripada tadi.

Sebelum ia menjalankan siasat "Membalikkan kepala"

Menentang Bhagawan Kundilomuko, ancaman mutlak datang dari Endang Patibroto, akan tetapi ia masih bersahabat dengan pendeta itu.

Kini ia telah merobah keadaannya sendiri.

Ia menjadikan pendeta itu sebagai musuhnya, akan tetapi mungkin sekali gadis itu dapat ia bujuk kembali dan sikapnya tadi mungkin akan berhasil mengurangi kebencian Endang Patibroto kepadanya.

Kini ia gelisah sendiri.

Gadis itu sakti mandraguna, andaikata ia membantu Bhagawan Kundilomuko, belum tentu dapat menangkan gadis itu.

Kalau kini ia membantu Endang Patibroto seperti pernah ia lakukan ketika gadis itu bertanding melawan Joko Wandiro, tentu sang bhagawan akan dapat dirobohkan lebih cepat dan ia akan menggunakan kecerdikannya untuk membujuk gadis yang masih hijau ini.

Diam-diam Ki Jatoko sudah mempersiapkan jarum racun ular di tangannya.

Pertandingan antara Endang Patibroto dan Bhagawan Kundilomuko berlangsung seru dan mati-matian.

Sang bhagawan mula-mula menerjang hebat mengerahkan semua kepandaian dan mengerahkan tenaga dalamnya, menghujankan pukulan-pukulan tangan miring ke arah tubuh Endang Patibroto.

Namun dengan mudah Endang Patibroto mengelak dan menangkis.

Melihat rangkaian serangannya gagal sama sekali, sang bhagawan meloncat mundur dan berkata.

"Endang Patibroto, aku masih merasa sayang kepadamu. Mengapa kau berkeras hendak bertanding melawanku? Sayang kalau sampai kau roboh binasa. Sebelum terlambat, kuperingatkan kau bahwa lebih baik kita bersahabat. Aku sayang kepadamu, manis. Engkau akan bahagia hidup menjadi isteri Bhagawan Kundilomuko, minta apapun akan terlaksana."

"Tua bangka jahanam! Sudah mendekati mampus masih banyak cakap?"

Bentak Endang Patibroto gemas.

Bhagawan Kundilomuko tiba-tiba tertawa, tertawa bergelak sampai suaranya menggetarkan seluruh hutan.

Ki Jatoko yang menonton, tiba-tiba merasa perutnya kegelian dan tak dapat tertahan lagi iapun tertawa-tawa mengikuti suara ketawa sang bhagawan.

Makin lama makin hebat sampai Ki Jatoko terpingkal-pingkal dan bergulingan di atas tanah, di depan kaki arca Bathari Durgo.

Endang Patibroto juga merasa geli dan ingin sekali tertawa, sukar untuk mempertahankannya.

Mulutnya sudah bergerak-gerak, bibirnya tersenyum-senyum, akan tetapi sebagai murid tunggal Dibyo Mamangkoro yang sakti mandraguna, ia teringat bahwa-ini adalah pengaruh ilmu hitam yang hebat.

Maka ia segera mengerahkan Aji Sardulo Birowo (Pekik Harimau) lalu menjerit atau mengaum dengan keras dan nyaring sekali.

Hebat sekali pengaruh pekik mujijat yang disalurkan dengan dorongan tenaga sakti ini.

Seketika Bhagawan Kundilomuko menghentikan tawanya, mukanya pucat dan dahinya penuh keringat.

Begitu sang bhagawan berhenti tertawa, Ki Jatoko juga otomatis berhenti tertawa.

Ki jatoko terkejut dan melompat bangun, mukanya pucat napasnya terengah-engah.

Celaka pikirnya, hampir ia menjadi korban.

Ia kurang berhati-hati tadi sehingga terseret hawa mujijat dari suara ketawa kakek itu.

(Lanjut ke

Jilid 37) Badai Laut Selatan (Seri ke 03 Serial Serial Keris Pusaka Sang Megatantra) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo

Jilid 37 Bhagawan Kundilomuko kini berdiri dengan kedua lengannya bergoyang-goyang ke atas dan jari-jari tangannya bergerak-gerak mencengkeram membuka seperti kuku harimau.

jari-jari tangan ini tergetar dan terdengarlah suara "Kletak-kletuk"

Seakan-akan semua kuku-kuku jarinya meledak-ledak.

Bibirnya berkemak kemik dan kulit tubuhnya seakan-akan mengeluarkan minyak, menjadi mengkilat.

Sang Bhagawan Kundilomuko sedang mengerahkan kesaktiannya dan dalam keadaan seperti itu ia seakan-akan berotot kawat bertulang besi!

"Bocah perawan sombong!

Tak boleh diberi hati!

Tidak bias menjadi isteriku, kau akan menjadi mangsaku.

Kuminum darahmu, kuganyang dagingmu, kuhisap sumsummu!"

Setelah mengeluarkan ancaman yang menyeramkan ini, sang bhagawan meloncat ke depan.

Ki Jatoko hampir berteriak kaget ketika dalam pandangan matanya, kakek itu berubah menjadi seekor ular naga yang bertubuh manusia, atau manusia berkepala ular naga!

Endang Patibroto juga melihat perubahan ini, namun sekali lagi ia memekik dengan Aji Sardulo Bairowo dan lenyap pula perubahan itu dalam pandang matanya, kemudian ia mempergunakan kegesitan tubuhnya untuk menyelinap ke samping, menghindarkan diri dari tubrukan yang disertai cengkeraman ganas itu.

Kemudian, dari samping ia mengirim pukulan dengan jari-jari tangan dikembangkan dan ia telah menggunakan aji pukulan Gelap Musti yang ia pelajari dari kakeknya dahulu.

Sang bhagawan menangkis dan ketika dua lengan bertemu, terdengar suara keras seperti logam beradu.

Endang Patibroto terkejut karena ia merasa betapa lengan tangannya dingin sekali, rasa dingin yang meresap ke dalam tulang dan membuatnya bergidik kedinginan.

Pada saat itu, sang bhagawan sudah menerjang lagi dan kini hawa pukulannya mengandung hawa dingin yang mengejutkan.

Endang Patibroto harus mempergunakan gerak kecepatan Bayu Tantra untuk menyelamatkan diri, bahkan ia lalu memakai ilmu ibunya, yaitu gerakan burung walet dan camar.

Dengan gesit sekali tubuhnya berkelebatan, kadang-kadang melompat tinggi seperti burung terbang dan menyelinap dari bawah amat capetnya.

Kakek ini menjadi geram dan penasaran.

Ia maklum bahwa kali ini ia menghadapi lawan tangguh dan harus mengerahkan seluruh aji dan kepandaiannya, karena pertandingan ini adalah pertandingan mengadu nyawa!

Sambil memekik dahsyat, ia meloncat ke depan, mencegat tubuh gadis itu yang baru melayang turun ketika menghindar dari tendangan kakinya.

Sebelum tubuh Endang Patibroto tiba kembali di atas tanah, Bhagawan Kundilomuko sudah menyambutnya dengan pukulan kedua tangannya yang dilakukan berbareng, yang kanan menghantam perut, yang kiri menampar ke arah muka.

Pukulan yang amat berbahaya ini menyambar cepat sekali, mengeluarkan hawa yang amat dingin.

Endang Patibroto terkejut, tidak menyangka lawannya dapat bergerak secepat itu.

Pukulan ke arah muka mudah saja dielakkan, akan tetapi pukulan tangan terbuka dan miring ke arah perutnya tak mungkin dielakkan lagi.

Terpaksa ia menangkis ke bawah.

"Dukkk...!!"

Tubuh Endang Patibroto yang masih di atas itu terlempar ke belakang dan gadis ini merasa pundaknya kaku dan amat dingin.

Ia kaget dan marah sekali, apalagi melihat pendeta tua itu terkekeh mentertawakannya.

Dengan muka beringas Endang Patibroto menggosok-gosok kedua telapak tangannya dan mengebutlah asap dari kedua tangannya itu sedang telapak tangannya menjadi makin merah.

Itulah aji Wisangnolo, aji pukulan jarak jauh Api Beracun yang ia warisi dari gurunya, Dibyo Mamangkoro!

Menyaksikan kehebatan ini, seketika terhenti suara ketawa Bhagawan Kundilomuko, akan tetapi kekagetannya ini masih kalah oleh rasa kagetnya ketika pada saat itu terdengar suara mendesir dari sebelah kiri.

Cepat ia mengebutkan tangan kirinya dan runtuhlah tiga batang jarum hitam.

Ia memandang Ki Jatoko dengan mata mendelik, saking marahnya tak dapat mengeluarkan kata-kata, seperti hendak menelan hidup-hidup orang buntung itu.

Ki Jatoko menjadi pucat wajahnya.

Tak disangkanya bahwa sang bhagawan itu benar-benar sakti dan tinggi kepandaiannya.

Sementara itu, ketika Endang Patibroto melihat bantuan ini, ia bukan menjadi girang, sebaliknya ia memaki.

"Iblis buntung! Siapa sudi akan bantuanmu? Berdiamlah kau di situ menanti giliran!"

Setelah berkata demikian, tanpa memperdulkan si bunting yang berdiri di dekat arca dengan muka pucat dan dahi penuh keringat, Endang Patibroto sudah menerjang maju, menggunakan tangan kanan yang penuh dengan saluran tenaga Wisangnala untuk menyerang lawan.

Bhagawan Kundilomuko melangkah mundur menghindar, kemudian balas memukul dengan tangan kiri.

Endang Patibroto yang sudah mengerahkan Aji Wisangnala, tidak takut bahkan sengaja menangkis dengan tangan kanannya.

"Plakkkk"

Lengan kiri Bhagawan Kundilomuko dan tangan kanan Endang Patibroto bertemu seakan-akan lengket.

Mereka berdua tak bergerak seperti patung, namun kedua lengan yang bertemu itu menggigil karena di situ terjadi adu kekuatan yang dahsyat.

Hawa dingin yang keluar dari tangan kiri pendeta itu bertemu dengan hawa panas yang keluar dari tangan Endang Patibroto!

Beberapa menit mereka dalam keadaan seperti ini, muka Endang Patibroto menjadi kemerahan dan muka pendeta itu makin lama makin pucat.

Sebagai seorang yang memiliki ilmu tinggi, Ki Jatoko maklum apa yang sedang terjadi.

Ia bukan seorang bodoh.

Kalau Sang Bhagawan Kundilomuko menang, dia tentu akan diserang kakek itu dan melihat kesaktian kakek ini dalam pertandingan melawan Endang Patibroto, ia merasa tidak kuat untuk menandinginya.

Sebaliknya, kalau Endang Patibroto yang menang, biarpun mungkin ia dapat membujuknya namun masih tetap ada bahayanya, mengingat akan watak gadis itu yang liar dan ganas.

Mengapa kesempatan sebaiK ini tidaK ia pergunakan?

Mereka sedang mengadu tenaga sakti, siapa yang mengalihkan perhatian akan kalah.

Oleh karena itu, diam-diam kakinya yang buntung bergerak dan ia menyelinap pergi dari tempat itu.

Ia harus melarikan diri, lebih cepat lebih baik.

Tak lama setelah bayangan Ki Jatoko menyelinap pergi, terdengar Endang Patibroto mengeluarkan pekik Sardulo Bairowo sedangkan Bhagawan Kundilomuko juga mengeluarkan lengking panjang.

Keduanya terhuyung ke belakang, akan tetapi keadaan Bhagawan Kundilomuko lebih payah karena tangan kirinya menjadi lumpuh dan tergantung lemas di samping pinggangnya.

Endang Patibroto hanya merasa betapa lengan kanannya kaku dan kesemutan saja.

Sang Bhagawan Kundilomuko menjadi makin marah.

Sambil berteriak keras ia melolos ikat pinggangnya yang terbuat daripada logam kuning seperti emas.

Senjata itu ia pegang dengan tangan kanan, diputar di atas kepala dan menerjanglah ia dengan dahsyat.

"Trang-trang...!!"

Alangkah kaget hati pendeta ini ketika melihat ikat pinggangnya patah-patah menjadi beberapa potong ketika bertemu dengan sebatang keris yang mengeluarkan cahaya menyeramkan.

Kiranya Endang Patibroto yang marah sudah pula mencabut keris pusaka Brojol Luwuk dan dengan mudah keris pusaka ini membabat putus senjata lawan.

"Celaka...!"

Teriakan Bhagawan Kundilomuko ini disusul dengan jerit mengerikan ketika ujung keris pusaka Brojol Luwuk menyentuh lambungnya.

Kembali keris yang ganas ini telah mendapat mangsa.

Seketika tubuh pendeta tua itu roboh dan kering menghitam, tewas di saat itu juga!

Endang Patlbroto menyimpan kerisnya, sepasang matanya mencari-cari dengan pandang mata liar, kemudian tubuhnya berkelebat cepat menyelinap di antara pohon-pohon.

Ia tadi juga melihat betapa Ki Jatoko pergi namun karena pertandingan melawan Bhagawan Kundilomuko tadi membutuhkan pencurahan tenaga dan perhatian, terpaksa ia mendiamkannya saja.

Belum lama si buntung pergi, maka iapun cepat mengejar dan mencari.

Setelah beberapa kali melayang naik ke atas pohon yang tinggi, akhirnya ia melihat betapa si buntung berlari-lari cepat menuju ke arah barat.

Senyum mengejek mengembang di bibirnya ketika Endang Patibroto melayang turun kembali lalu mengerahkan aji berlari cepat melakukan pengejaran ke barat.

Agak lega rasa hati Ki Jatoko setelah ia meninggalkan hutan Gumuk-mas dan memasuki hutan lain di sebelah barat.

Bhagawan Kundilomuko berniat pergi ke Blambangan yang letaknya di sebelah timur.

Nusabarung letaknya di seberang pantai selatan dan Jenggala berada di sebelah utara.

Agaknya, siapapun yang menang di antara dua orang itu, tidak akan ada yang mengejar ke arah barat.

Hatinya lega, dadanya terlalu lapang.

Akan tetapi ia cukup hati-hati dan terus mempergunakan ilmu lari cepat.

Ia akan berlari-lari terus sehari penuh itu dan takkan mau berhenti sebelum dunia menjadi gelap yang berarti bahwa ia sudah bebas dan aman betul daripada ancaman dua orang sakti itu.

"Ha-ha-ha! Siapa yang kalah okol (kuat) harus mencari kemenangan mengandalkan akal"

Katanya dalam hati, akan tetapi saking girangnya, suara hati ini terucapkan keluar melalui mulutnya.

Akan tetapi, bibirnya yang belum tertutup rapat sehabis mengeluarkan kata-kata itu, kini terbuka lebar, bersaing lebar dengan kedua matanya.

Kedua kakinya yang bunting otomatis berhenti bergerak, tubuhnya menggigil dan merasa betapa rambut di tengkuknya bergerak-gerak meremang dan leher terasa kering, jantung di dada berdetak-detak seperti genderang.

Tak jauh di depannya, hanya empat meter jauhnya, berdiri Endang Patibroto dengan senyum di bibir, senyum yang dingin mengerikan!

Beberapa kali Ki Jatoko berusaha mengeluarkan suara.

Kecerdikannya membuat otaknya bekerja cepat dan ia hendak menyelamatkan diri menggunakan kata-kata, akan tetapi celaka, lidahnya serasa menempel dengan telak, mulutnya tak dapat digerakkan!

Dan senyum itu makin melebar, makin manis makin mengerikan, sepasang mata yang bening itu bersinar-sinar seperti hendak menembus jantungnya.

"E...eh.... Endang.... eh, syukurlah.... syukur kau menang! Pendeta kementhus (sombong) itu memang patut mampus! Aku.... hemm, aku tadi berusaha membunuhnya dengan jarum, tapi... tapi ia terlampau sakti... sehingga tak.... berhasil.... hehheh, Endang, kau sungguh hebat, sakti mandraguna. Sungguh bagaikan dewi kahyangan saja.... heh-heh"

Ki Jatoko yang sudah pulih kembali perasaannya makin lancar bicaranya, mulutnya menyeringai, sikapnya menjilat-jilat.

"Cukup! kau manusia jahanam, jangan mengira aku akan terbujuk oleh omonganmu yang manis lagi! kau sengaja menjebakku di Durgaloka, kau bersekongkol dengan Bhagawan Kundilomuko untuk menangkap aku! Manusia macam engkau ini sudah selayaknya mampus!"

Endang Patibroto maju perlahan, senyumnya makin dingin, matanya seperti mata harimau marah. Serasa lolos melayang semangat Ki Jatoko dari raganya. Ia mundur-mundur dan wajahnya pucat.

"Jangan"! Endang Patibroto, jangan.... aku.... aku tertipu oleh Kundilomuko, aku terbujuk.... apakah kau tadi tidak melihat betapa aku marah dan menyerangnya? Aku.... aku.... tidak berniat busuk terhadapmu, mana aku berani? Selain tidak berani, akupun tidak sudi berlaku jahat kepadamu, Endang, karena kau sudah baik kepadaku.... kau tidak membunuh Ayu Candra..."

"Tutup mulut"

Endang Patibroto menerjang maju dan sebuah tamparan tangannya tak dapat dielakkan Ki Jatoko, tepat mengenai pipinya.

"Plakkk!"

Serasa kiamat dunia ini bagi Ki Jatoko.

Matanya berkunang-kunang, tubuhnya terhuyung ke belakang.

Untung ia seorang yang memiliki kesaktian, kalau tidak tentu sudah pecah kepalanya terkena tamparan itu.

"Endang, jangan bunuh aku.... ingat.... aku bukan musuhmu.... aku sudah membuka rahasia..."

"Wuuuutt.... dessss!!"

"Aduh mati aku...!"

Tubuh Ki Jatoko bergulingan.

Untung pukulan pertama yang mengarah pelipisnya dapat ia elakkan dan hanya sebuah tendangan saja yang membuat ia terjungkal dan bergulingan.

Kalau pukulan tadi yang mengenainya, belum tentu ia dapat menahannya.

"Memang kau akan mati di tanganku! Hayo bangkit lah. kau bukan seorang lemah. kau memiliki kesaktian. Bangkitlah dan mari kita bertanding, jijik aku melihat lawan yang tidak mau bertanding. Jijik aku membunuh orang yang tidak mau melawan. Hayo bangkit!"

"Endang.... betul-betulkah kau berniat membunuh aku...??"

Suara Ki Jatoko gemetar dan nadanya menimbulkan iba.

"Betul! Mengapa tidak"

Bentak Endang Patibroto, kedua tangannya sudah menegang, siap mengirim pukulan maut.

"Tidak.... tidak! Jangan bunuh aku, aku tidak mau melawanmu. Jangan kau bunuh aku, anakku.... jangan!"

"Wuuuuttt"!!"

Pukulan ini merupakan tamparan yang hebat sekali, akan tetapi untung bagi Ki Jatoko bahwa ia sudah siap dan cepat-cepat ia menggulingkan tubuh di atas tanah terus menggelinding menjauhkan diri.

Endang Patibroto dengan langkah ringan mengejar.

"Hayo bangun! Pengecut menjijikkan! Hayo bangun dan pergunakan kepandaianmu. Bukankah kau laki-laki? Hayo kau lawan aku!" 'Tidak! Tidak bisa kau membunuh aku, Endang Patibroto!"

"Mengapa tidak?"

"Lupakah kau akan ceritaku, akan pembukaan rahasia besar dalam kehidupanmu? Ceritaku belum habis, kau ingatkah?"

Berubah wajah Endang Patibroto, keningnya yang bagus bentuknya itu berkerut-kerut, matanya menyinarkan kebimbangan hatinya dan mata itu menjadi basah.

Cerita itu mengguncangkan hatinya.

Dia bukan puteri Pujo?

Ayah kandungnya Jokowanengpati yang telah dibunuh ibunya dan isteri muda Pujo?

"Andaikata benar dongengmu itu, tetap tidak ada hubungannya dengan kau.

Justeru karena kau menceritakan dongeng busuk kepadaku, kemudian menjebakku bersama Bhagawan Kundilomuko, maka sekarang kau akan kubunuh?"

Kembali Endang Patibroto menerjang dengan tamparan tangannya yang ampuh.

Dua kali ia menampar, sekali kena dielakkan oleh Ki Jatoko, yang kedua kali ditangkis, membuat tubuh si buntung kembali jungkir balik dan roboh.

Sebelum Endang Patibroto mengirim pukulan terakhir, Ki Jatoko berteriak.

"Jangan bunuh aku! Aku... aku ayahmu! Aku ayah kandungmu, karena akulah Jokowanengpati!"

Tangan yang sudah diangkat ke atas dan sudah menegang penuh tenaga sakti itu, tertahan, menggigil kemudian menjadi lemas dan turun kembali.

Sepasang mata itu memandang wajah Ki Jatoko, terbelalak dan kosong, bergerak-gerak bingung, hidungnya kembang-kempis, bibir yang tersenyum dingin kini tertarik seperti orang menderita nyeri yang hebat.

"Kau bohong.... kau.... kau bohong.... kuhancurkan kepalamu..."

"Boleh. kau pukullah, kau bunuhlah, akan tetapi ingat, aku benar-benar ayah kandungmu. Aku Jokowanengpati dan kau ini anakku, karena dahulu akulah kekasih ibumu, Kartikosari!"

Kini suara Ki Jatoko tenang, hilang rasa takutnya karena ia sudah mempunyai pegangan.

Pegangan yang menguatkan hatinya, yang menimbulkan keyakinannya bahwa hanya inilah jalan keluar dari bahaya maut di tangan gadis sakti ini.

"Bohong! Tak mungkin ibu sudi dengan manusia buruk macam engkau! kau bukan Jokowanengpati karena orang itu sudah tewas di tangan ibuku"

"Ha-ha-ha! Memang mereka mengira aku telah tewas. Memang, ibumu bersama Roro Luhito mengeroyokku di pantai Laut Selatan. Aku terpelanting dan terjatuh ke dalam lautan. Ibumu dan Roro Luhito tak dapat mengejarku. Akan tetapi malang bagiku, seekor ikan hiu besar menyergap dan menyeretku. Biarpun aku berhasil membunuh ikan itu, akan tetapi kedua Kakiku menjadi buntung, tubuhku menjadi cacat dan mukaku rusak. Mereka tentu mengira aku mati karena melihat aku diseret ikan. kau tanyalah ibumu. Biarpun aku sudah menjadi begini, ibumu tentu akan mengenal aku. Ha ha-ha, karena aku kekasihnya dahulu, aku ayahmu. Ha-haha!"

Ki Jatoko tertawa bergelak ketika melihat betapa Endang Patibroto terhuyung ke belakang seperti disambar petir. Dialah yang kini melangkah maju dan menantang.

"Endang Patibroto, kau anakku, karena itu mana mungkin aku berniat buruk dan jahat terhadap dirimu? Tidak, anakku, sama sekali tidak. Kalau kau tidak percaya dan membunuhku, silahkan. Ini kepalaku, pukullah. Ini dadaku, tusuklah, aku takkan melawan anak kandungku sendiri!"

"Diam! Cukup!!"

Endang Patibroto menyumbat kedua telinga dengan jari telunjuknya, matanya dipejamkan. Ki Jatoko tertawa bergelak dan baru berhenti ketika gadis itu membuka matanya.

"Dahulu aku tampan sekali, anakku. Tak usah kau malu, karena dahulu aku jadi seorang laki-laki yang dijadikan rebutan kau m wanita! kau tanyakan saja kepada ibumu. Wajahmu mirip dengan wajahku ketika itu dan..."

"Cukup! Diam kau dan mari kau ikut bersamaku!"

"Ikut? Ke mana...?"

Akan tetapi Ki Jatoko tak dapat melanjutkan kata-katanya karena tiba-tiba Endang Patibroto sudah menyambar tangannya dan menyeretnya dengan berlari cepat sekali.

Ki Jatoko tak berdaya meronta, terpaksa iapun mengerahkan kepandaiannya untuk berlari cepat kalau tidak mau terseret-seret oleh gadis yang hebat ini.

Hatinya mulai berdebar, akan tetapi ia mengandalkan kecerdikannya.

Dengan akalnya, kali inipun ia terbebas daripada maut yang mengerikan di tangan Endang Patibroto.

Karena itu, ia tidak mau bicara lagi hanya ikut lari, menyerahkan diri kepada nasib dan kecerdikannya.

Perang kecil yang terjadi di pertapaan Durgaloka berlangsung semalam suntuk dan amat serunya.

Biarpun Dewi dan teman-temannya merupakan wanita-wanita terlatih dan rata-rata memilih ketangkasan, namun karena jumlah mereka kalah banyak sehingga setiap orang harus melayani pengeroyokan dua orang, bahkan Dewi dan adik-adiknya berlima dikeroyok oleh belasan orang, maka mereka menemui tanding yang berat dan banyaklah korban yang jatuh di antara kedua fihak.

Joko Wandiro maklum akan hal ini.

Akan tetapi ia hanya tega merobohkan para pengeroyok laki-laki saja karena ia merasa ragu-ragu kalau harus membunuh gadis-gadis yang mengeroyoknya.

Baru setelah ia mendengar jerit Dewi menyebut namanya, la terkejut dan cepat kaki tangannya bekerja merobohkan para pengeroyoknya.

Hanya dengan membuka jalan darah, merobohkan belasan orang di sebelah kiri, ia dapat lolos dari kepungan.

Sambil menyerang kanan kiri dan depan, ia maju terus menuju ke arah suara panggilan Dewi.

Betapa sedih hatinya ketika melihat bahwa anak buah Dewi banyak yang roboh tewas.

Pertempuran tinggal beberapa kelompok dan yang terbanyak adalah mereka yang mengeroyoknya.

Kini Joko Wandiro menjadi marah.

Apalagi ketika ia menemukan Dewi rebah telentang dengan tombak menancap di lambungnya, Joko Wandiro mengeluarkan pekik dahsyat dan mengamuk seperti seekor banteng terluka.

Anak buah pertapaan Durgaloka terkejut dan gentar, lalu mereka yang masih belum terluka melarikan diri tersebar ke segala penjuru.

Sinar matahari mulai menerangi bumi.

Hati Joko Wandiro makin hancur setelah ia dapat melihat keadaan Dewi dan teman-temannya.

Dewi masft merintih-rintih ketika ia pangku kepalanya.

"Dewi"! kau.... terluka..."

Tanya Joko Wandiro lirih sambil memangku kepala gadis itu.

Sekali pandang saja ia tahu bahwa gadis ini tak mungkin dapat ditolong lagi.

Tombak yang menusuk lambung amat dalam, hampir tembus!

Dewi membuka matanya.

Mulut yang tadinya menyeringai kesakitan itu kini tersenyum, bibirnya bergerak-gerak lemah.

"Joko.... kita.... kita menang..."

Joko Wandiro terharu, mengangguk dan mendekap kepala yang tersenyum-senyum itu ke dadanya.

Ketika ia menengok ke kanan kiri, ia melihat bahwa Lasmi, Mini, Sari, dan Sundari juga sudah roboh tak bernyawa lagi.

Ia terisak dan memejamkan matanya.

"Joko..."

Ia membuka mata, memangku kepala dan memandang wajah Dewi.

"Joko.... tak perlu kau bersedih. Kami berkorban dengan segala kerelaan...hati.... kami.... kami puas.... kami.... telah menemukan kau.... seorang yang.... patut kami bela.... kami mencintamu, Joko...!"

Kedua mata Joko Wandiro menjadi basah.

Teringatlah ia betapa lima orang gadis ini selalu mengharapkan balasan cumbu rayu mereka.

Akan tetapi ia selalu berteguh hati tidak melayani mereka.

Kini ia merasa menyesal, ia selalu mengecewakan hati mereka, padahal mereka itu benar-benar mencintanya, bersetia sampai mati!

Tanpa ia sadari, ia menundukkan mukanya dan mencium mulut yang menyatakctn cinta kasih di ambang maut itu.

Kini ia mencium penuh perasaan, penuh cinta kasih, penuh berahi.

Ia merasa dengan bibirnya betapa mulut itu terbuka, mengeluh dan keluar sedu-sedan dari dada Dewi yang terengah-engah.

Ketika ia melepaskan ciumannya dan memandang, ternyata Dewi sudah tak bernafas lagi, sudah mati dalam keadaan masih tersenyum bahagia!

Memang bahagialah siapa saja yang mati dengan keyakinan bahwa dirinya mencinta dan dicinta!

Tiga puluh orang anak buah Dewi kini tinggal dua belas orang saja.

yang lain sudah tewas.

Joko Wandiro berulang kali menghela napas panjang penuh penyesalan dan kengerian.

Mayat-mayat bergelimpangan.

Mayat anak buah Dewi yang telah bertempur mati-matian, mati dengan senjata di tangan, dan mayat anak buah Bhagawan Kundilomuko, banyak yang telanjang bulat, menyeramkan.

Ia juga menyesal sekali melihat mayat Sang Wiku Jaladara.

Banyak sekali yang tewas dalam pertempuran semalam.

Tidak kurang dari enam puluh orang anak buah Durgaloka tewas.

Dua belas orang anak buah Dewi yang masih hidup semua menangisi teman-teman yang tewas, Joko Wandiro menjadi makin berduka.

Tiba-tiba terdengar suara memanggil.

"Kakang...!"

Joko Wandiro menoleh dan sejenak terusirlah kedukaannya, wajahnya berseri ketika ia menghampiri dan berseru.

"Ayu Candra...!"

Mereka saling tubruk, dan saling peluk.

Ayu Candra menangis sesenggukan di dada kakaknya.

Tadi ketika ia siuman dan sadar akan keadaan dirinya, melihat pertempuran hebat, Ja menyelinap mencari pakaiannya yang lalu dipakainya untuk mengganti pakaian sutera tipis yang menjijikan itu.

Ia masih pening, masih belum sadar benar dan ntasih bingung.

Maka ia menjauhkan diri lalu duduk bersila, bersamadhi untuk memulihkan tenaga dan mengusir sisa-sisa pengaruh buruk yang menguasai dirinya.

Ketika ia sadar dari samadhinya, perang sudah berhenti, keadaan sunyi, hanya terdengar suara beberapa orang wanita menangis.

Ia keluar dari tempat sembunyinya, melihat bahwa malam telah berganti pagi dan alangkah bahagia hatinya ketika ia melihat Joko Wandiro.

"Terima kasih kepada Hyang Maha Agung yang telah melindungimu sehingga kita dapat bertemu dalam keadaan selamat adikku,"

Kata Joko Wandiro sambil mengelus rambut yang harum dan halus itu, membiarkan adiknya sesenggukan melepas perasaan hati.

"Aduh, kakang, alangkah banyak derita yang kualami.... semua karena aku tidak menurut nasehatmu kakang. Aku menyesal.... maafkan aku..."

"Husshhh, sudahlah, adikku sayang. kau perlu mengaso dulu. Kelak kita bicara karena sekarang aku harus mengurus semua jenazah yang begini banyak ini."

Joko Wandiro melepaskan Ayu Candra yang ia suruh mengaso, kemudian ia minta bantuan dua belas orang anak buah Dewi untuk menggali lubang-lubang dan mengubur semua jenazah baik kawan maupun lawan, secara sederhana.

Khusus untuk jenazah Wiku Jaladara, Dewi, Lasmi, Mini, Sari, dan Sundari mereka buatkan tempat kubur terpisah.

Sehari penuh mereka bekerja dan baru selesai setelah matahari tenggelam.

Joko Wandiro lalu mengumpulkan dua belas orang wanita itu dan berkata.

"Kalian semua dengarlah nasehatku baik-baik. Setelah Dewi dan adik-adiknya tewas dalam pertempuran semalam, kiranya tidak ada perlunya lagi kehidupan dalam hutan di Anjasmoro yang kalian tempuh selama ini dilarutkan. Seperti telah menjadi peraturanku, kalian masing-masing berhak untuk hidup wajar dalam masyarakat umum, mencari jodoh dan hidup berumah tangga membentuk keluarga. Kalian telah berjasa besar. Tempat ini, di dalam pondok Bhagawan Kundilomuko itu, banyak terdapat barang-barang berharga. Nah, kalian ambil dan bawa, bagi rata di antara kalian dan pergilah kalian, kembali ke masyarakat ramai. Kuanjurkan untuk kembali ke keluarga masing-masing."

Sambil menangis dua belas orang wanita itu mentaati perintah Joko Wandiro, mengumpulkan emas intan dan benda berharga yang banyak terdapat di Durgaloka, kemudian setelah berpamit mereka pergi berbondong meninggalkan tempat itu, menuju penghidupan baru.

Setelah semua wanita Gunung Anjasmoro itu pergi, Ayu Candra yang sudah pulih kembali kesehatannya lalu menghampiri Joko Wandiro yang masih termenung karena belum lenyap kedukaannya oleh jatuhnya demikian banyak korban dalam pertempuran semalam.

"Kakang Joko Wandiro, kau berduka karena akibat perbuatanku, ya?"

Suara gadis itu penuh haru dan penyesalan, tangannya merangkul lengan Joko Wandiro. Joko Wandiro menoleh, lalu merangkul pundak gadis itu.

"Tidak karena perbuatanmu, Ayu. Jatuhnya banyak korban ini adalah sewajarnya. Untuk memberantas kejahatan harus pula berani berkorban. Dewi dan saudara-saudaranya tewas sebagai wanita-wanita perkasa yang patut dipuji, demikian pula Wiku Jaladara sudah memenuhi kewajibannya sebagai seorang suci. Aku tidak marah kepadamu, adikku, bahkan aku bahagia sekali dapat bertemu denganmu dalam keadaan selamat. Mengapa engkau meninggalkan aku, adikku? Bencikah engkau kepadaku?"

Ayu Candra memundurkan mukanya dan dua butir air mata menetes turun. Ia menarik napas panjang berkali-kali kemudian berkata lirih.

"Aku seperti menjadi buta karena bujukan dan hasutan Ki Jatoko, manusia buntung yang amat keji dan jahat itu. kau maafkan aku, kakang. Terus terang saja semenjak berpisah denganmu di Sarangan... semenjak.... semenjak kau menjadi.... eh, kakak.... kandungku.... aku kecewa dan.... seperti membencimu. Kemudian ditambah oleh hasutan Ki Jatoko, aku makin curiga kepadamu.... ah, aku menyesal, kakang Joko..."

Joko Wandiro memegang kedua tangan gadis itu.

Sejenak mereka saling pandang dan rasa haru menyelinap ke dalam jantung masing-masing.

Betapapun, keduanya harus mengaku di dalam hati bahwa mereka tak dapat melenyapkan cinta kasih diantara merekal Hanya oleh kenyataan bahwa mereka bersaudara sekandung, mereka memaksa diri, memaksa menyelimuti rasa cinta kasih dengan rasa persaudaraan yang dipaksakan.

Hal ini menimbulkan rasa nyeri seperti ditusuk-tusuk jarum dalam hati.

"Ki Jatoko memang seorang jahat yang amat berbahaya dan curang. Engkau yang masih belum berpengalaman sampai terkena hasutan dan terbujuk, hal ini tidak dapat aku menyalahkan engkau, Ayu. Bahkan seorang gadis sakti mandraguna dan ganas seperti Endang Patibroto pun jatuh ke dalam bujukannya sehingga sampai menjadi tawanan di sini. Apalagi engkau yang jujur dan polos. Ah, tentu engkau banyak menderita kesengsaraan, adikku. Kalau saja dahulu kau lebih percaya kepadaku, takkan terjadi semua itu."

Ayu Candra memberengut.

Setelah berkumpul dengan Joko Wandiro, timbul pula gaya manjanya.

Entah mengapa, di dekat, pemuda ini.

selalu ia mempunyai hasrat ingin bermanja, baik dahulu sebagai kekasih maupun kini sebagai adik!

"Kalau dipikir, engkau pula yang menjadi biang keladinya, kakang!

Mengapa pula engkau tidak mau menuruti keinginan hatiku membalas dendam kepada mereka yang memusuhi ayahku dan ibunda kita?

Mengapa engkau tidak membolehkan aku menuntut balas kepada orang yang membunuh ayah-bundaku?"

"Panjang sekali ceritanya, adikku. Kalau kau sudah mendengar semua penuturanku, tentu kau akan mengerti dan akan sependapat dengan aku bahwa permusuhan itu tidak semestinya dilanjutkan sampai berlarut-larut. Terputus atau tersambungnya rantai karena tergantung daripada kita sendiri. Kalau balas-membalas dan permusuhan dilanjutkan, takkan ada habisnya. Kita tidak boleh hanya dipengaruhi oleh akibat dan bertindak tanpa menyelidiki sebabnya terlebih dahulu. Adikku, kematian kedua orang tuamu adalah akibat daripada sebab-sebab yang amat panjang dan nanti akan kuceritakan kepadamu. Sekarang lebih baik kita meninggalkan tempat ini."

"Ke mana, kakang?"

"Kau ikutlah saja, aku akan pergi ke Pulau Sempu."

Ayu Candra kelihatan kaget dan ia melepaskan tangannya dari pegangan Joko Wandiro.

"Ke Pulau Sempu? Di sana tinggal Kartikosari dan Roro Luhito, musuh besarku!"

Joko Wandiro segera merangkul adiknya.

"Ssttt, kau masih belum dapat melenyapkan pengaruh bujukan beracun dari mulut Ki Jatoko. kau percayalah kepadaku dan sebelum kau kuajak bertemu dengan mereka, kau akan mendengarkan cerita yang menjadi sebab kematian ayah-bundamu, Ayu."

Sejenak Ayu Candra diam, bingung dan ragu.

Kemudian ia menubruk Joko Wandiro dan menangis di dada pemuda itu.

Joko Wandiro mengerti akan perasaan adiknya, maka ia hanya mengelus-elus rambut yang halus itu sambil meramkan mata menahan hati yang seperti akan mencair oleh rasa cinta kasih.

Akhirnya Ayu Candra dapat menekan perasaannya dan berkata.

"Aku menurut, kakang. Mulai sekarang aku akan mentaati segala perintahmu, kau.... kau pengganti orang tuaku dan apapun yang kau katakan, akan kutaati."

Joko Wandiro mencium rambut di ubun-ubun kepala gadis itu.

"Aku tahu, kau seorang gadis yang mulia, Ayu. Mari kita pergi, tidak enak lama-lama berada di tempat yang sudah berubah menjadi kuburan ini."

Mereka bergandeng tangan meninggalkan tempat itu. Ketika hendak keluar dari hutan, mereka melihat seekor kuda yang sedang makan rumput. Kuda itu cukup baik, lengkap dengan pelananya.

"Ah, tentu ini kuda Durgaloka, yang lain-lain tentu telah melarikan diri dalam keributan tadi. Lumayan kuda ini, lebih baik kau naiki, adikku. Malam hampir tiba, mari kita cepat-cepat pergi dari sini."

"Dan kau, kakang?"

"Aku lari di sebelahmu, apa kau kira kalah oleh kuda?"

"Hi-hik, kau memang seperti kuda!"

Ayu Candra sudah mulai timbul kejenakaannya.

"Hushh, masa kakakmu seperti kuda? Kalau kakaknya kuda, adiknya apa?"

Joko Wandiro mengimbangi kelakar adiknya.

Ayu Candra tersenyum dan melompat ke atas pelana kuda, lalu membalapkan kuda di sebelah Joko Wandiro yang mengerahkan ilmu lari cepat menuju ke barat.

Setelah gelap baru mereka berhenti di bawah pohon besar untuk melewatkan malam, Joko Wandiro menangkap seekor ayam hutan.

Malam itu setelah makan bakar ubi dan daging ayam hutan, mereka bercakap-cakap dan Joko Wandiro mulai menceritakan kepada Ayu Candra akan peristiwa belasan tahun yang lalu.

Ia menceritakan hal yang ia dengar dari penuturan bibinya, Roro Luhito dan dari Kartikosari.

"Terus terang saja, Ayu, bahwa pokok pangkal segala peristiwa ini adalah karena kesalahan dua orang, yaitu yang pertama ayah kandungku sendiri, mendiang Raden Wisangjiwo, dan ke dua adalah seorang bernama Jokowanengpati. Paman Pujo dan isterinya, bibi Kartikosari yang mula-mula menjadi korban kejahatan."

Mulailah ia menuturkan betapa Kartikosari dan Pujo yang sedang bertapa itu diganggu oleh kedatangan Raden Wisangjiwo sehingga terjadi pertempuran dan yang membuat Pujo dan Kartikosari roboh pingsan.

Ketika sadar Pujo tahu bahwa Kartikosari telah diperkosa orang yang tentu saja oleh mereka berdua dianggap bukan lain orang kecuali Raden Wisangjiwo.

Perbuatan keji ini menimbulkan dendam sehingga Pujo yang hendak membalas dendam menyerbu ke Selopenangkep, kemudian karena Pujo tidak menemukan Wisangjiwo, dalam sakit hati dan kebencian membuta ia menculik Listyakumolo bersama anaknya.

"Akulah anak itu, Ayu. Aku baru berusia dua tahun ketika ibu diculik Pujo. Akan tetapi sebagai seorang ksatria utama, paman Pujo tidak tega untuk membalas dendam dengan memperkosa ibuku. Dia hanya pergi membawaku dan kemudian aku dianggapnya sebagai puteranya sendiri dan dididiknya seperti murid terkasih. Sampai menjadi dewasa, aku masih beranggapan bahwa aku adalah putera kandung paman Pujo."

Ayu Candra mendengarkan dengan muka pucat.

Rasa kasihan yang besar terhadap Pujo dan Kartikosari sudah menghapus sebagian besar dendam hatinya.

Tanpa mengganggu sedikitpun ia mendengarkan terus, pandang matanya bergantung pada bibir Joko Wandiro.

"Peristiwa itu membuat paman Pujo dan bibi Kartikosari berpisahan, mereka menderita lahir batin sampai belasan tahun dan bibi Kartikosari yang sudah mengandung kemudian melahirkan anak dalam keadaan yang mengerikan dan menderita sekali"

"Endang Patibroto!!"

Ayu Candra memotong cepat.

"Benar,"

Joko Wandiro mengangguk.

"Kemudian ibumu, juga ibuku, Listyakumolo yang bernasib malang, karena kehilangan aku, menerima pukulan batin hebat sehingga terganggu pikirannya. Ayahku yang ketika itu masih menyeleweng dari kebenaran malah mengirimnya.... pulang kerumah orang tua ibu kita, di lereng Lawu. Kalau nasib sedang dirundung kemalangan, belum lama setelah ibu dipulangkan, daerah itu diserbu perampok, semua keluarga kakek kita di sana habis dibunuh, kecuali ibu kita yang diculik oleh kepala perampok."

"Ah, kasihan ibu...!"

Ayu Candra terisak, teringat kepada ibunya yang tercinta.

"Tentang nasib ibu kita selanjutnya, aku tidak pernah mendengar ceritanya, dan tahu-tahu ibu kita telah tinggal bersama ayahmu di Sarangan. Sangat boleh jadi ibu kita tertolong oleh ayahmu, kemudian mereka menjadi suami-isteri dan lahirlah engkau."

Ayu Candra mengangguk-angguk, air mata bertetesan di atas kedua pipi.

Sejenak mereka diam, masing-masing tenggelam dalam lamunan.

Ayu Candra mengenangkan ibunya yang tercinta.

Adapun Joko Wandiro menekan perasaannya yang terasa perih dan sakit karena selama hidupnya, belum pernah ia berjumpa dengan ibu kandungnya, belum pernah ia melihat bagaimana wajah ibunya.

Untuk mencegah agar kenangan pahit ini tidak meracuni hatinya, ia melanjutkan ceritanya.

Ia menceritakan betapa ayahnya, Raden Wisangjiwo, akhirnya sadar namun sudah terlambat karena ketika ayahnya mencari ibunya di lereng Lawu, ibunya sudah tidak ada.

Diceritakan pula betapa ayahnya tewas dalam perang ketika membantu Pangeran Sepuh yang kini menjadi sang prabu di Panjalu.

"Akhirnya, paman Pujo dan bibi Kartikosari bertemu dengan ayahku dan barulah mereka itu tahu bahwa yang melakukan perbuatan keji terhadap diri bibi Kartikosari di dalam Guha Siluman itu bukanlah ayahku, melainkan Jokowanengpati. Paman Pujo menyesali perbuatannya, telah menculik aku dan menyengsarakan kehidupan ibuku. Karena itulah, ketika ibu kita bersama ayahmu datang ke Sungapan dan bertemu dengan paman Pujo, maka paman Pujo menyerahkan nyawanya di tangan ibu kita. Tanpa melawan paman Pujo rela ditusuk keris oleh ibu kita, untuk membalas dan menebus dosanya dahulu. Bahkan sebelum meninggal dunia, paman Pujo melarang bibi Kartikosari dan bibi Roro Luhito, yaitu adik kandung ayahku yang juga menjadi isteri paman Pujo, untuk membalas dendam. Paman Pujo rela menebus permusuhan itu dengan nyawa dan menghabiskan sampai di situ saja."

Ayu Candra memandang wajah kakaknya yang membayangkan keharuan, kekaguman dan kedukaan.

Tahulah Ayu Candra bahwa guru kakaknya ini, Pujo, tentulah seorang ksatria yang amat gagah perkasa dan mulia sehingga rela menebus kesalahan dengan menyerahkan nyawa.

Iapun menjadi terharu.

"Sayang sekali,"

Joko Wandiro menghela napas,"manusia berdaya upaya, namun Sang Hyang Wisesa yang menentukan kesudahannya.

Maksud mulia paman Pujo itu ternyata gagal karena pada saat itu sebelum ia mati, datang secara tiba-tiba Endang Patibroto yang telah menjadi murid Dibyo Mamangkoro dan memiliki ilmu kesaktian yang luar biasa.

Bibi Kartikosari dan bibi Roro Luhito mentaati pesan paman Pujo, akan tetapi tidak demikian dengan Endang Patibroto.

Begitu mendengar bahwa paman Pujo adalah ayah kandungnya yang baru saja ia jumpai selama hidupnya, dan melihat betapa ayahnya yang baru dijumpainya itu tewas tanpa melawan oleh ibu kita yang masih berada di situ, ia lalu menerjang dan berhasil menewaskan ibu kita, bahkan melukai ayahmu sehingga ayahmu meninggal dunia."

Ayu Candra terisak menangis. Joko Wandiro mendiamkannya sampai tangis adiknya mereda. Barulah ia bicara lagi dengan suara halus.

"Demikianlah, adikku. Kita tidak boleh dihanyutkan oleh dendam. Kalau kita renungkan, bukankah perbuatan Endang Patibroto itupun wajar, seperti engkau pula yang melihat orang tua terbunuh lalu timbul kemarahan dan dendam? Memang, dia terlalu ganas sehingga tidak memperdulikan pesan ayahnya, tidak memperdulikan cegahan ibunya. Akan tetapi, apakah kita perlu meniru dia? Bukankah lebih sempurna kalau kita taati pesan paman Pujo yang hendak menghabiskan urusan permusuhan dengan penebusan nyawanya? Dan terutama sekali, bukankah ayahmu sendiri meninggalkan pesan terakhir sebelum meninggal dunia, bahwa kau dilarang membalas dendam, dilarang untuk melanjutkan permusuhan? Inilah sebabnya, adikku sayang, mengapa aku melarang engkau mencari bibi Kartikosari dan bibi Roro Luhito untuk membalas dendam."

Ayu Candra tidak menjawab, hanya menubruk kakaknya dan menangis dengan muka di atas pangkuan Joko Wandiro.

Sampai lama sekali Ayu Candra menangis dan Joko Wandiro mendiamkannya saja, membiarkan gadis itu menghanyutkan semua rasa dendam dan sakit hati keluar bersama air matanya.

Setelah Ayu Candra kini mingsek-mingsek sebagai sisa tangisnya, Joko Wandiro lalu memegang kedua pundaknya dan mendorongnya duduk kembali.

"Sekarang, aku sengaja akan mengajakmu ke Pulau Sempu menemui mereka berdua, Ayu, dan aku yakin bahwa kalau kau telah bicara dengan mereka berdua, kaupun pasti akan membenarkan pendapatku ahwa mereka berdua itu bukanlah orang-orang jahat yang patut dijadikan musuh. Kita pergi mengunjungi Pulau Sempu yang tak jauh lagi, kemudian dari sana aku akan mengajakmu ke Panjalu untuk mencari Joko Seto"

"Siapa?"

Suara Ayu Candra masih gemetar.

"Joko Seto, putera paman Darmobroto. Lupakah kau akan pesan ayahmu? Engkau dijodohkan dengan Joko Seto, dan sudah menjadi kewajibanku untuk mengurus perjodohanmu, karena sekarang akulah yang menjadi pengganti orang tuamu, akulah yang menjadi walimu karena aku adalah kakak kandungmu!"

Ayu Candra mengerutkan keningnya yang bagus, lalu menggeleng kepalanya.

"Ku.... aku tidak mau menikah!"

"Eh, jangan begitu, adikku. Tak mungkin pesan terakhir ayahmu akan engkau abaikan begitu saja dan"

"Sudahlah, aku tidak suka bicara tentang itu. Terserah saja kepadamu kelak. Tentang Pulau Sempu.... kakang, perlu benarkah kita ke sana? Rasanya tidak nyaman hatiku kalau harus bertemu dengan mereka, sungguhpun penuturanmu tadi cukup menekan dan menghilangkan tekadku untuk membalas dendam."

Joko Wandiro memegang jari-jari tangan adiknya yang kecil-kecil dan halus.

"Ayu Candra, sesungguhnya bukan hanya untuk menghadap kedua orang bibi itu, melainkan aku mempunyai kepentingan yang besar di Pulau Sempu. Aku hendak mengambil pusaka yang kusimpan di sana. Urusan ini amat pentingnya, karena itu adalah urusan Kerajaan Panjalu dan aku harus mentaati pesan eyang guru Resi Bhargowo dan bapa guru Narotama."

Ayu Candra mengangguk-angguk. Sebagai puteri seorang pendekar sakti, ia tahu akan kepentingan ini.

"Akan tetapi setelah itu, mengapa harus ke Panjalu? Aku lebih senang kalau kau ajak kembali ke Sarangan, aku.... aku kepingin nyekar (menabur bunga) di telaga untuk arwah ayahku..."

Joko Wandiro menarik napas panjang.

Ia maklum bahwa sebetulnya gadis ini menyatakan keberatannya pergi ke Panjalu untuk mencari Joko Seto.

Diam-diam ia menjadi bingung.

Ada rasa syukur dan senang di sudut hatinya melihat betapa gadis ini agaknya tidak suka berjodoh dengan lain orang, berarti tak dapat menghapus cinta kasih di antara mereka, akan tetapi kesadarannya membisukan bahwa ia harus berusaha merangkap perjodohan yang sudah dipesankan oleh ayah gadis ini.

"Begini, adikku. Setelah aku mengambil pusaka, aku harus menghaturkan pusaka itu kepada sang prabu di Panjalu, maka terpaksa aku harus ke sana. Setelah hal itu beres, barulah aku akan mengantarmu ke Sarangan."

Ayu Candra tidak membantah lagi dan malam itu ia tertidur dengan kepala berbantal paha Joko Wandiro yang duduk bersila.

Kuda tunggangan mereka juga mengaso di bawah pohon, kadang-kadang menyabetkan ekornya, kadang-kadang mendengus mengusir nyamuk.

Ketika Joko Wandiro dan Ayu Candra sudah sampai di hutan terakhir di Pegunungan Kidul, dekat pantai selatan, tiba-tiba pemuda itu berhenti berlari dan Ayu Candra juga menahan kendali kuda.

Dua orang muda ini berdiri memandang ke depan dengan mata terbelalak, karena di depan mereka telah menghadang dua orang yang sama sekali tak pernah mereka sangka-sangka akan mereka jumpai di situ.

Mereka berdua itu adalah Endang Patibroto dari Ki Jatoko!!

Endang Patibroto tersenyum mengejek ketika Ayu Candra meloncat turun dari kuda dan menggandeng tangan kiri Joko Wandiro karena gadis ini merasa gelisah dan ngeri.

Ia mengenal dua orang itu dan tahu bahwa mereka adalah iblis-iblis yang ganas dan keji lagi berbahaya.

Ayu Candra sama sekali t idak tahu bahwa sikapnya yang tampak mesra ini bagi Endang Patibroto merupakan minyak yang menyiram api didada, membuat Endang Patibroto tersenyum dingin untuk menyembunyikan hati yang panas.

"Hernm, bagus sekali! Kebetulan di sini kita bertemu, Joko Wandiro. Di sinilah kita lanjutkan pertandingan kita dahulu. Terimalah seranganku!!"

Endang Patibroto sama sekali tidak mau memberi kesempatan kepada Joko Wandiro dan langsung menerjang dengan gerakan kilat, memukulkan tapak tangannya ke arah dada pemuda itu.

Joko Wandiro kaget dan cepat ia mendorong tubuh Ayu Candra ke kiri, kemudian mengelak ke kanan sambil menggerakkan tangan menangkis pukulan Endang Patibroto.

"Dukk...!!"

Dua orang itu terdorong mundur.

"Endang Patibroto! Gilakah engkau? Begitu tak berbudikah engkau sehingga kau lupa bahwa kakang Joko yang menyelamatkan engkau dari tangan Bhagawan Kundilomuko?"

Ayu Candra berteriak-teriak untuk mencegah pertandingan yang seru.

Akan tetapi sia-sia belaka.

Endang Patibroto mana mau mendengarkan cegahannya?

Gadis ini dengan ganas menerjang terus, seperti dahulu ia mengerahkan seluruh tenaga dan mengeluarkan semua kepandaiannya.

"Hemm, Endang Patibroto. Engkau benar keterlaluan sekali! Juga kau sombong bukan main. Apa kau kira aku tak dapat menanggulangimu?"

Bentak Joko Wandiro yang mulai marah dan pemuda inipun balas menyerang dengan antep dan cepat.

Ketika Ayu Candra yang gelisah hendak mencegah, tiba-tiba lengannya dipegang orang dari belakang.

Ia menjerit dan menampar ke belakang, akan tetapi kembali tangannya itu tertangkap.

Melihat bahwa yang menangkapnya adalah Ki Jatoko, ia meronta-ronta sekuatnya.

"Heh-heh, cah ayu, biarkan mereka berdua saling hantam. Mari menyelamatkan diri bersamaku. Mari kita cari musuh-musuh kita, kita hancurkan mereka. Lekas, kau ikut denganku!!"

"Tidak.... kau lepaskan aku! Lepaskan...! Manusia iblis kau, jahanam busuk, aku tidak mau dibujuk lagi!"

Ayu Candra merenggutkan tangannya dan memutar tubuh sambil memukulkan tangan itu ke arah leher Ki Jatoko. Karena marah dan benci, Ayu Candra menjadi nekat dan serangannya cukup keras dan kuat.

"Wuuuttt...!!"

Dengan mudah Ki Jatoko yang memang memiliki ilmu kepandaian dan pengalaman jauh lebih tinggi daripada gadis jelita itu, miringkan tubuh mengelak dan secepat kilat lenganj kirinya melingkar dan memeluk pinggang Ayu Candra yang kecil ramping.

"Hemm, bocah bodoh!"

Sambil berkata begini, dua buah jari tangan kanan Ki Jatoko menusuk tengkuk Ayu Candra, menotok jalah darah dengan kuat dan cepat sekali.

Seketika tubuh Ayu Candral menjadi lemas karena ia telah pingsan.

Ki Jatoko menangkap dan memondongnya.

Dalam pertandingan menghadapi Endang Patibroto kali ini, Joko Wandiro tidak bersikap mengalah seperti yang lalu.

Ia merasa marah, apalagi iapun amat khawatir akan keselamatan Ayu Candra.

Ia maklum bahwa kalau ia tidak cepat-cepat mengalahkan Endang Patibroto, Ayu Candra akan terancam keselamatannya, terutama oleh Ki Jatoko.

Dan untuk mengalahkan Endang Patibroto, bukanlah hal yang mudah dan membutuhkan pengerahan tenaga dan kepandaian sepenuhnya.

Karena inilah maka begitu bertanding, ia mengirim pukulan-pukulan yang hebat dan dahsyat, mengisi kedua lengannya dengan Aji Bojro Dahono dan menggerakkan tubuhnya amat cepat dengan Ilmu Bramoro Seto.

Endang Patibroto terkejut bukan main.

Terasa olehnya bahwa gerakan pemuda ini Jauh bedanya dengan dahulu.

Kalau dahulu selalu terdesak olehnya dan hanya menggunakan siasat bertahan, kini dialah yang terdesak.

Hawa pukulan yang amat panas membuyarkan Aji Wisangnala yang ia gunakan, dan kecepatan Joko Wandiro membingungkannya.

Pada saat Joko Wanchro berkesempatan mengeriingkan matanya ke arah Ayu Candra dan melihat betapa gadis itu telah pingsan dan dipondong oleh Ki Jatoko yang siap hendak melarikannya, kemarahannya memuncak.

Pekik dahsyat keluar dari mulutnya dan terjangannya kali ini biarpun dapat ditangkis oleh Endang Patibroto, namun demikian dahsyatnya sehingga membuat gadis sakti ini terlempar ke belakang sampai lima meter jauhnya dan terbanting ke atas tanah sehingga bergulingan!

Ia tidak terluka hebat, namun hal ini membuat ia kaget setengah mati dan terutama malu yang berubah menjadi kemarahan yang meluap-luap!

Baru sekali ini selama hidupnya ia menerima hinaan, dipukul sampai terlempar dan terbanting terguling-guling!

"Joko Wandiro, sekali ini kau mampus di tanganku!"

Teriaknya sambil mencabut keris pusaka Brojol Luwuk dari pinggangnya!

Akan tetapi begitu ia berhasil merobohkan Endang Patibroto, sekali melompat Joko Wandiro sudah menerjang Ki Jatoko.

Si buntung ini tadi sudah meloncat hendak lari, akan tetapi pekik dahsyat Dirodo Meto demikian hebat pengaruhnya sehingga ia terkejut dan kedua kaki buntungnya seakan-akan lumpuh.

Pada saat itu, tangan kiri Joko Wandiro memukul punggungnya dengan Aji Pethit Nogo, sedangkan tangan kanan pemuda perkasa ini merenggut dan merampas tubuh Ayu Candra.

Ki Jatoko sudah mengerahkan tenaga dalam untuk melawan, namun tetap saja ia terguling, tidak kuat menerima pukulan ini, dan ia roboh pingsan.

Ketika Joko Wandiro yang kini memondong tubuh adiknya itu memutar tubuh dan melihat Endang Patibroto sudah menghunus keris, ia terkejut sekali.

Keris di tangan gadis itu mengeluarkan hawa yang membuat bulu tengkuknya meremang dan jantungnya berdenyut keras.

Itulah merupakan tanda bahwa keris pusaka di tangan gadis itu sebuah senjata pusaka yang ampuhnya menggila.

Dan ia teringat akan peristiwa belasan tahun yang lalu.

Tak salah lagi, keris itu adalah keris pusaka Brojol Luwuk, keris pusaka Mataram yang dulu dipilih oleh gadis itu di depan eyang guru mereka.

Keris pusaka Mataram yamg tersimpan di dalam patung kencana Sri Bathara Wisnd!

Akan tetapi mengapa berada di tangan gadis ini.

Bukankah dahulu eyang guru mereka, Sang Bhagawan Rukmoseto atau Sang Bhargowo menyuruh mereka menyembunyikan pusaka masing-masing di Pulau Sempu?

"Berhenti kau Joko Wandiro dan mari lanjutkan sampai seorang di antara kita menggeletak tak bernyawa di sini!"

Bentak Endang Patibroto sambil menerjang maju.

Joko Wandiro tahu akan bahayanya.

Dengan keris pusaka sehebat itu, yang hawanya saja hampir melumpuhkan semangatnya, apalagi dengan memondong tubuh Ayu Candra, andaikata tidak demikianpun, belum tentu ia cukup kuat untuk menandingi Endang Patibroto dengan keris pusakanya itu.

Maka ia lalu cepat melompat jauh ke kiri?

Sengaja memperlambat larinya.

Endang Patibroto berseru nyaring.

"Berhenti kau! Jangan lari, pengecut!!"

Gadis perkasa itu mengejar dengan keris di tangan.

Entah bagaimana, melihat kembali Joko Wandiro membela dan melindungi Ayu Candra, timbul kemarahan dan kebencian yang amat hebat di hatinya dan niat hatinya pada saat itu tiada lain, membunuh mereka berdua barulah ia akan merasa puas!

Ketika melewati segerombolan pohon dan hampir dapat menyusul Joko Wandiro, tiba-tiba pemuda itu membelok ke kanan, memutari pohon dan kini menggunakan Aji Bayu Sakti melompat bagaikan terbang cepatnya, kembali ke tempat tadi atau lebih tepat berlari menuju ke tempat kudanya.

"Berhenti kau, keparat Joko Wandiro! Berhenti!!"

Endang Patibroto mengejar dengan marah.

Akan tetapi Joko Wandiro sambil memondong tubuh Ayu Candra yang masih pingsan sudah melompat bagaikan seekor kijang, hinggap di atas pelana kuda.

dan pada detik selanjutnya kuda itu sudah dibalapkan cepat meninggalkan tempat itu.

Endang Patibroto berhenti mengejar, memandang debu yang mengepul tinggi di belakang kuda.

Ia membanting-banting kaki, memaki-maki dan akhirnya ia menjatuhkan diri di atas tanah, menangis terisak-isak dengan perasaan yang tidak karuan.

Marah, malu, benci, duka, dan entah perasaan pahit apa lagi yang saat itu mengamuk di dalam hatinya.

Setelah akhirnya gelora hatinya dapat ditekan, Endang Patibroto bangkit, menyimpan keris pusakanya lalu menghampiri tubuh Ki Jatoko yang masih belum bangun.

Dengan ujung kakinya ia membalikkan tubuh yang tertelungkup itu, mengguncang-guncangkannya.

Ki Jatoko mengeluh dan merangkak bangun.

Ketika bagaikan orang bangun dari mimpi buruk ia mengangkat muka dan melihat Endang Patibroto, teringatlah ia akan semua peristiwa dan matanya mencari-cari ke kanan kiri.

"Bangunlah dan hayo kita melanjutkan perjalanan."

"Mana... mana... Ayu Candra..."

"Cerewet! Hayo jalan!"

Encang Patibroto menarik lengan Ki Jatoko dan menyeretnya bangun dengan sentakan kasar sekali.

"Aduh"! Aku... punggungku terpukul, sakit bukan main...!"

Ki Jatoko mengeluh lagi.

"Kita mengaso dulu, Endang..."

"Tidak! Hayo jalan terus!"

"Kasihanilah, Endang. Aku letih dan lapar, haus dan sakit-sakit tubuhku kau kasihanilah, aku ayah..."

"Diam! Sebelum tiba di Sempu, jangan sebut-sebut lagi hal itu atau kuhancurkan kepalamu!"

Melihat pandang mata yang dingin itu, Ki Jatoko bergidik, kemudian karena maklum bahwa di tangan gadis ini ia tidak akan dapat berbuat sesuatu, iapun lalu mengikutinya melanjutkan perjalanan.

Sementara itu, Joko Wandiro sudah membawa lari Ayu Candra.

Setelah tiba di tepi pantai dari mana tampak Pulau Sempu, barulah ia turun dari kuda.

Ayu Candra sudah siuman.

Di tengah jalan tadi dengan mengurut punggungnya, Joko Wandiro telah membebaskan pengaruh totokan Ki Jatoko.

"Kakang, kenapa kau tidak lawan dan bunuh saja Endang Patibroto itu? Biarpun kita tidak akan mendendam kepadanya, akan tetapi dia itu seorang gadis jahat dan ganas seperti iblis. Dia yang selalu memusuhi dan menyerangmu terlebih dulu. Mengapa kau selalu mengalah kepadanya?"

"Ah, kau tidak tahu adikku. Dia itu bagaimanapun juga adalah puteri paman Pujo dan bibi Kartikosari, bagaimana aku tega untuk membunuhnya? Selain itu, dengan keris pusaka Mataram di tangannya, tak mungkin aku dapat menang melawan dia. Sudahlah, mari kita mencari perahu. Kuda ini cukup ditukar dengan sebuah perahu kecil."

Dan memang betul dugaannya.

Seorang nelayan dengan senang hati menukarkan perahu kecilnya yang butut dengan kuda itu, karena memang kuda ini jauh lebih mahal harganya.

Penukaran ini mendatangkan untung besar baginya.

Demikianlah, tanpa membuang waktu lagi Joko Wandiro lalu mengajak Ayu Candra untuk berlayar, menyeberang ke Pulau Sempu yang sudah tampak dari pantai Laut Selatan.

Kartikosari dari Roro Luhito hidup dengan aman dan tenang di Pulau Sempu.

Pulau ini kosong dan tanahnya cukup subur sehingga dua orang wanita perkasa itu tidak mendapat kesukaran untuk hidup mengasingkan diri di situ.

Mereka bercocok tanam dan mendirikan sebuah pondok baru karena pondok bekas tempat tinggal Resi Bhargowo telah rusak.

Kandungan mereka sudah makin tua.

Kartikosari mengandung tujuh bulan sedangkan Roro Luhito mengandung lima bulan.

Sebagai puteri-puteri yang memiliki kepandaian tinggi, hidup menyendiri di pulau itu bukanlah hal yang sukar bagi mereka, bahkan menenangkan pikiran setelah mereka mengalami hal-hal yang menegangkan di masa yang lalu.

Juga merupakan hiburan atas kedukaan hati mereka kehilangan suami.

Yang terutama sekali, tempat yang sunyi dan jauh dari dunia ramai ini merupakan tempat sembunyi yang paling aman sehingga tak mungkin ada musuh yang dapat mengganggu mereka.

Hanya Joko Wandiro seorang yang tahu akan tempat sembunyi mereka ini.

Orang lain siapakah dapat menduga bahwa dua orang puteri itu bersembunyi di pulau kosong?

Mereka mempunyai sebuah perahu dan dengan perahu inilah kadang-kadang Roro Luhito menyeberang untuk mencari kebutuhan mereka yang tak dapat ditemukan di atas pulau.

Dan pada siang hari itu, Roro Luhito baru saja datang dari darat, di mana ia mencari dan membeli bumbu-bumbu masak karena persediaan di pulau sudah habis.

Mereka berdua duduk meneduh di bawah pohon sambil menikmati angin semilir dan memandang ombak-ombak Laut Selatan yang menggelora ke pantai.

"Kak Sari, ada orang datang berperahu"!"

Tiba-tiba Roro Luhito berbisik sambil menudingkan telunjuknya ke arah pantai.

Kartikosari cepat memandang dan bangkit berdiri.

Betul saja.

Sebuah perahu makin mendekati pulau.

Keduanya menduga-duga dengan hati berdebar dan tanpa disadari mereka sudah berpindah tempat, menyelinap di balik segerombolan tanaman untuk menyembunyikan diri.

Mereka tidak ingin dilihat orang luar.

Sambil bersembunyi dua orang wanita perkasa itu mengintai.

"Mereka Joko Wandiro dan Endang Patibroto...!"

Kartikosari berseru setelah perahu itu makin dekat pulau.

Suaranya terdengar penuh kegembiraan dan kini mereka berdua melompat keluar dari tempat sembunyi.

Setengah berlari mereka menuju ke tepi laut dan melambai-lambaikan tangan.

"Joko.... Endang...! Ke sini...!"

Kartikosari berseru keras. Suaranya nyaring terbawa angin melalui atas ombak samudera. Agaknya terdengar oleh Joko Wandiro karena pemuda itu sambil mendayung, sejenak melambaikan tangan ke atas.

"Kak Sari, gadis itu bukan Endang...!!"

Roro Luhito berkata, suaranya mulai tegang.

"Bu... bukan Endang", benar, dia bukan anakku"!"

Suara Kartikosari tidak hanya tegang, bahkan gemetar. Roro Luhito dengan halus memegang tangan madunya, menepuk-nepuk perlahan untuk menenangkan hati dan menghiburnya.

"Siapapun dia, kalau datang bersama Joko Wandiro, tentu seorang baik-baik." (Lanjut ke

Jilid 38) Badai Laut Selatan (Seri ke 03 Serial Serial Keris Pusaka Sang Megatantra) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo

Jilid 38 Mereka berdua berdiri sambil bergandeng tangan, menanti datangnya perahu itu.

Setelah perahu tiba di pantai, mereka melihat bahwa gadis itu benar bukan Endang Patibroto, melainkan seorang gadis cantik jelita yang juga memandang mereka penuh perhatian.

Joko Wandiro meloncat ke atas pantai dan menyeret perahunya naik.

Ayu Candra juga meloncat turun, membantu kakaknya menyeret perahu.

Kemudian keduanya berjalan menghampiri dua orang wanita yang telah menunggu.

"Joko Wandiro, di mana Endang Patibroto? Tak berhasilkah engkau membujuknya ikut ke sini?"

Kartikosari menegur setelah Joko Wandiro menghaturkan sembah.

"Maafkan saya, bibi Kartikosari. Sudah dua kali saya membujuk dengan kata-kata halus sampai dengan kekerasan, namun sia-sia hasilnya. Hatinya terlalu keras dan kesaktiannya terlalu hebat sehingga saya tidak berhasil. Akan tetapi, saya rasa tak lama lagi ia akan ke sini, bibi. Tak jauh dari pantai saya telah bertemu dengan dia."

"Betulkah?"

Kartikosari menjadi gembira"Coba ceritakan apa yang telah terjadi dan gadis ini siapakah?"

"Bibi, inilah Ayu Candra, adik kandung saya..."

Seketika wajah Kartikosari berubah pucat. Ia berseru perlahan dan melangkah mundur.

"Kau"? kau... membawa puteri Listyakumolo ke sini? Joko Wandiro! Kalau kau memang berniat membalas dendam atas kematian ibu kandungmu, mengapa tidak kau lakukan sendiri ketika kita saling bertemu di Bayuwismo? Mengapa baru sekarang"

Juga Roro Luhito terkejut dan menegur keponakannya.

"Joko, kau berjanji takkan melanjutkan permusuhan dan dendam, mengapa sekarang kau ajak puteri mbok-ayu Listyakumolo ke sini?"

Mendengar kata-kata dan melihat sikap dua orang wanita cantik itu, Ayu Candra cepat maju dan berkata, suaranya halus namun tegas.

"Harap bibi berdua jangan khawatir. Memang benar aku pernah menurutkan dendam sakit hati karena duka kehilangan ayah-bunda, tanpa mengingat pesan terakhir ayah yang melarangku membalas dendam, tadinya saya berniat untuk mencari bibi dan melakukan pembalasan. Akan tetapi, setelah kakang Joko Wandiro menceritakan semua sebab-sebab permusuhan, saya sudah sadar dan takkan melanjutkan permusuhan ini."

Sejenak Kartikosari dan gadis itu saling pandang, seperti hendak mengukur isi hati masing-masing.

Kemudian Kartikosari terisak dan melangkah maju, dan di lain saat Ayu Candra sudah jatuh ke dalam pelukannya.

Ayu Candra menangis, Kartikosari juga bercucuran air mata.

"Aduh, anak baik...! Sungguh besar hatiku mendengar kata-katamu. kau patut menjadi puteri seorang perkasa seperti Ki Adibroto! Akupun selalu rela untuk menebus dosa puteriku, Ayu Candra. Aku siap untuk menerima pembalasan atas kematian ayah-bundamu, hanya aku ingin agar supaya anak yang kukandung ini terlahir lebih dahulu, baru aku bersedia menerima kematian. Akan tetapi, kini engkau telah sadar, menghabiskan permusuhan, alangkah bahagia hatiku!"

Setelah reda keharuan hati mereka, Ayu Candra berkata.

"Sayangnya, bibi, puterimu Endang Patibroto itu entah mengapa, setiap kali bertemu dengan aku atau kakang Joko Wandiro, tentu menyerang dan hendak membunuh kami! Dia amat benci kepadaku."

"Hemm, kau tinggallah di sini. Biarlah dia datang! Hendak kulihat apakah dia masih melanjutkan sikap gila itu kepadamu. Aku akan membela dan melindungimu dengan taruhan nyawaku, Ayu Candra!"

Kata Kartikosari dan pada saat seperti itu, wanita cantik ini sikapnya sama benar dengan Endang Patibroto, dadanya dibusungkan, matanya berapi-api, kedua tangan dikepal, sepasang pipinya merah!

"Sudahlah, kiranya tak perlu dibicarakan lagi hal-hal yang tidak menyenangkan hati ini.

Marilah kalian ikut kami ke pondok di mana kita dapat bicara dengan leluasa,"

Kata Roro Luhito.

Kartikosari mengangguk dan berangkatlah mereka berempat ke pondok sederhana yang berada di tengah Pulau Sempu.

Di dalam pondok, Joko Wandiro lalu menceritakan semua pengalaman dan semua peristiwa yang terjadi selama ini.

Ia juga menceritakan sepak terjang Endang Patibroto yang telah menewaskan Ni Durgogini, Ni Nogogini, Cekel Aksomolo, Ki Warok Gendroyono, Ki Krendoyakso, dan betapa gadis itu bersama Ayu Candra hampir mengalami malapetaka hebat di tangan Bhagawan Kundilomuko.

Juga tentang pertemuan-pertemuannya dengan Endang Patibroto, tentang pertandingan di antara mereka.

Setelah mendengar semua penuturan Joko Wandiro, Kartikosari termenung, menarik napas panjang lalu berkata lirih.

"Betapapun juga, dia telah dapat membalaskan sakit hati eyangnya dan membasmi orang-orang jahat itu. Ahhh... Endang,... kalau engkau tidak menjadi murid Dibyo Mamangkoro, agaknya kau tidak akan menyeleweng sedemikian jauh."

"Semua sudah dikehendaki Dewata, ayunda Kartikosari,"

Kata Roro Luhito menghibur.

"Kalau Endang tidak menjadi murid Dibyo Mamangkoro, kurasa juga bukan hal mudah baginya untuk dapat membasmi orang-orang sakti seperti Cekel Aksomolo dan kawan-kawannya!"

Setelah bertemu dengan dua orang wanita perkasa ini, Ayu Candra kembali harus membenarkan sikap kakaknya.

Memang dua orang wanita ini jelas adalah orang-orang yang berpribudi tinggi sehingga sebentar saja ia sudah tidak ragu-ragu dan tidak sungkan-sungkan lagi untuk bercakap-cakap dan menuturkan semua riwayatnya.

Kartikosari dan Roro Luhito merasa terharu dan menaruh rasa sayang kepada gadis yang kehilangan ayah-bunda ini.

Sekali lagi Kartikosari menghibur hati Ayu Candra dan mengatakan bahwa kalau benar Endang Patibroto datang ke pulau itu, ia akan mencuci habis permusuhan yang mengotori hati dan pikiran anaknya.

Joko Wandiro lalu minta diri kepada Kartikosari.

"Saya hendak mencari pusaka Mataram yang dulu oleh eyang guru diberikan kepada saya untuk disimpan. Pusaka itu masih saya simpan di pulau ini, bibi, dan sekarang saya hendak mencarinya, untuk dikembalikan kepada yang berhak, yaitu sang prabu di Panjalu."

Kartikosari dan Roro Luhito tercengang. Baru sekarang mereka mendengar akan hal itu.

"Pusaka Mataram?"

Kartikosari bertanya heran."Ramanda resi tak pernah menceritakan hal itu kepadaku. Joko Wandiro, bagaimanakah pusaka Mataram dapat berada di tangan eyang gurumu?"

"Tadinya saya pun tidak tahu, bibi. Akan tetapi ketika saya mengikuti guru saya di Jalatunda, dan mendapat kesempatan bertemu dengan eyang guru yang mengabdi kepada Sang Prabu Airlangga yang bertapa, eyang pernah menceritakannya kepada saya bahwa pusaka Mataram yang lenyap itu sebenarnya dicuri oleh Jokowanengpati. Secara kebetulan pusaka itu dapat dirampas oleh eyang resi dari tangan bedebah itu. Ketika eyang berada di pulau ini dan tahu bahwa musuh-musuh utusan Pangeran Anom datang untuk merampas pusaka, eyang guru lalu membagi pusaka menjadi dua, selubungnya yang berbentuk patung kencana diserahkan kepada saya untuk disimpan dan disembunyikan. Adapun isinya berupa keris pusaka berada di tangan Endang Patibroto, juga untuk disembunyikan. Akan tetapi ketika saya bertemu dengan Endang, dia mempergunakan pusaka itu yang ampuhnya menggila"

Kartikosari mengangguk-angguk.

"Biar lah, kalau dia datang, akan kuminta pusaka itu. Pusaka Mataram harus kembali kepada sang prabu di Panjalu, karena tanpa adanya pusaka itu, Kerajaan akan selalu menjadi kacau, demikian dahulu rama resi pernah bercerita. kau pergilah dan cari kembali pusaka yang kau sembunyikan dahulu, anakku."

Joko Wandiro lalu keluar dari pondok itu.

Masih teringat olehnya betapa selama dua tahun ia bermain-main di pulau ini, bermain-main bersama Endang Patibroto, kadang-kadang sama-sama berlatih ilmu.

Kemudian ia teringat betapa ia membawa patung kencana menyusup-nyusup ke tengah pulau menuju ke sebelah barat karena ia memang hendak menyembunyikan pusaka itu di bagian barat pulau.

Dari jauh sudah tampak olehnya sebatang pohon randu alas yang besar, menjulang tinggi seperti raksasa.

Hatinya berdebar keras.

Pohon itulah tempat rahasianya.

Di sanalah ia menyimpan patung kencana dan di sana pula dahulu ia digigit ular berbisa.

Semua itu terbayang jelas dan ketika ia sudah tiba di bawah pohon randu alas, ia berdiri termenung.

Pohon itu kini sudah menjadi pohon raksasa.

Biarpun ia kinipun sudah menjadi seorang dewasa, namun dibandingkan dengan pohon ini, ia kalah jauh pesatnya dalam pertumbuhan.

Di manakah kira-kira pusaka itu?

Ia masih ingat betul.

Dahulu patung kencana itu ia masukkan dalam sebatang cabang yang berlubang, cabang besar yang letaknya paling tinggi.

Akan tetapi pohon itu kini sudah amat banyak cabangnya sehingga sukar baginya untuk menentukan cabang yang mana yang menyimpan patung kencana.

Dengan jantung berdebar Joko Wandiro lalu melompat naik dan memanjat pohon.

Karena ingat bahwa dulu ia pernah digigit ular berbisa di sini, kini ia memandang teliti kalau-kalau ada ular lagi.

Akan tetapi tidak ada ular di situ.

Mulailah ia mencari-cari, meneliti setiap cabang besar.

Pada saat Joko Wandiro mencari kembali pusaka yang belasan tahun yang lalu ia sembunyikan di dalam cabang pohon randu alas, di pantai sebelah selatan mendaratlah Endang Patibroto bersama Jokowanengpati atau Ki Jatoko!

Ki Jatoko merasa gelisah dan kecut-kecut hatinya, namun ia tidak dapat mundur lagi.

Ia telah menjalankan siasat, membujuk gadis itu dan ia maklum bahwa gadis ini tentu hendak membuktikan kebenaran pengakuannya dengan menanyakan hal itu kepada Kartikosari Apa boleh buat, pikir Ki Jatoko.

Pengakuannya ini bukan ngawur belaka.

Semenjak ia memperkosa Kartikosari, wanita itu berpisah dari suaminya.

Kemudian melahirkan Endang Patibroto.

Bukankah amat mungkin sekali bahwa gadis ini adalah anaknya?

Keturunannya?

Ia tak dapat mundur lagi, sekali melangkah harus terus nekat maju.

"Ibu...!!"

Suara Endang Patibroto tercampur isak ketika ia memanggil ibunya.

Kartikosari yang sedang duduk di luar bersama Roro Luhito dan Ayu Candra, cepat menoleh dan ia melompat bangun.

Wajahnya tegang, matanya bersinar.

"Endang Patibroto! Engkau datang...!!"

Kemudian matanya menyapu ke arah orang buntung itu, keningnya berkerut, pandangnya tajam penuh selidik.

"Ahhhh...!!!"

Roro Luhito menjerit dan mencengkeram tangan Kartikosari.

Wanita ini sekali pandang saja sudah mengenal Ki Jatoko.

Sebaliknya, Kartikosari hanya merasa seperti pernah bertemu dengan orang buntung ini, akan tetapi lupa lagi di mana dan kapan.

"Yunda... dia... dia..."

Roro Luhito tak dapat melanjutkan kata-katanya, mukanya pucat.

"Bibi, dia itu adalah Ki Jatoko yang jahat!"

Kata Ayu Candra. Sementara itu, Endang Patibroto juga mengerutkan keningnya ketika melihat Ayu Candra di situ bersama ibunya.

"Ibu, dia anak musuh kital"

Bentaknya marah.

"Yunda Sari, yunda dia... dia Jokowanengpati...!"

Roro Luhito kembali berbisik dengan mata terbelalak dan muka pucat.

Kartikosari kini mengenal pula si buntung itu dan mukanya menjadi pucat, matanya mengeluarkan cahaya berkilat dan ia membentak puterinya.

"Endang Patibroto! Tahukah engkau, dengan siapa kau datang ini?"

Karena memang maksud kunjungannya ini untuk mempertemukan ibu kandungnya dengan orang yang mengaku ayahnya; maka seketika Endang Patibroto melupakan urusan Ayu Candra.

Ia lalu berkata, suaranya lantang menantang.

"Ibu, justeru aku yang ingin bertanya apakah ibu mengenal orang ini?"

"Dia... dia... Iblis telah melindunginya, dia inilah Jokowanengpati si keparat jahanam!!"

"Ahh, sampai bagaimanapun, mana bisa kau lupakan aku, Kartikosari?"

Ki Jatoko berkata lirih, cukup jelas terdengar oleh Endang Patibroto.

"Ibu, baik sekali bahwa ibu seketika mengenal dia. Ada hubungan apakah dia dengan ibu? Jokowanengpati ini mengaku bahwa dia adalah ayah kandungku! Benarkah ibu dahulu menjadi kekasihnya sebelum menikah dengan Pujo, dan benarkah bahwa aku ini... anaknya?"

Hebat bukan main kata-kata ini bagi Kartikosari.

Bagaikan sebatang pedang beracun karatan menusuk tembus jantungnya.

Matanya terbelalak, mukanya tak berdarah lagi, ingin ia menjerit, memaki, berteriak, namun tenggorokannya penuh sesak oleh hawa amarah yang menyesak ke atas sehingga akhirnya ia terguling dan roboh pingsan!

Tentu ia akan terbanting roboh kalau tidak cepat-cepat Ayu Candra memeluknya.

Gadis ini lalu duduk dan memangku kepala Kartikosari yang pingsan.

Roro Luhito meloncat bangun, menudingkan telunjuknya dengan marah kepada Endang Patibroto sambil berseru.

"Endang Patibroto! Engkau sungguh terlalu! Sampai hati engkau menghina ibumu sendiri sampai begitu? Engkau telah terkena bujukan iblis ini! Huh, Jokowanengpati, semua keteranganmu tentang Kartikosari dan engkau bohong semua!"

"Hemm, bagaimana bibi Roro Luhito bisa tahu?"

Endang Patiproto bertanya, mengejek.

Baca Juga: Kisah Sepasang Rajawali 4

Baca Juga: Suling Emas Dan Naga Siluman 2

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert