Ceritasilat Novel Online

Keris Pusaka Sang Megatantra 2

Eps 2 Keris Pusaka Sang Megatantra - Kho Ping Hoo

Baca online Keris Pusaka Sang Megatantra - Kho Ping Hoo

Cersil Keris Pusaka Sang Megatantra - Kho Ping Hoo.

"Kakangmas Nurseta, kenapa andika begini pemarah? Kurang baikkah pelayanan kami kepadamu? Kalau andika tidak suka kami temani, biarlah kami keluar dari kamar ini. Tidak perlu andika marah-marah kepada kami."

Mendengar ucapan yang lembut dan penuh teguran itu, Nurseta merasa malu sendiri.

Bagaimanapun juga, sikap tiga orang gadis itu belum membuktikan perbuatan yang melanggar susila.

Mungkin saja mereka bersikap seperti itu karena memang mereka itu terlalu baik hati dan tulus ingin bersahabat.

"Maafkan aku, nimas. Aku tidak marah, melainkan takut kalau kalau aku akan dianggap sebagai seorang tamu, seorang laki-laki kurang ajar. Ayah andika telah begitu baik kepadaku, aku tidak ingin kelihatan tidak sopan atau tidak menghargai andika bertiga. Maafkan aku."

Tiga orang gadis itu bangkit berdiri.

"Sudahlah, mbakayu Sukarti, mari kita tinggalkan kamar ini. Mungkin Kakang mas Nurseta ini menganggap dirinya terlalu baik dan kami tidak pantas untuk menemaninya."

Kata Kenangasari dan mereka bertiga melangkah keluar dari kamar itu.

"Maafkan aku ..... maafkan .....!"

Kata Nurseta dan merasa menyesal bahwa dia telah membuat hati para gadis Itu menjadi tidak senang.

Dia lalu menutupkan daun pintu, kemudian merebahkan diri terlentang di atas pembaringan.

Akan tetapi dia tidak dapat tidur.

Pikirannya masih dipenuhi tiga orang gadis itu dan mempertimbangkan sikap mereka yang dianggapnya aneh dan tidak lajim.

Mereka itu terlalu baik, terlalu ramah, ataukah memang memiliki watak yang genit?

Mereka itu puteri-puteri bangsawan yang bersusila tinggi, ataukah wanita-wanita yang tidak tahu malu?

Tiba-tiba pendengarannya yang tajam mendengar suara gerakan orang di luar kamarnya.

Nurseta cepat turun dengan mengerahkan kepandaiannya sehingga gerakannya tidak menimbulkan suara sedikitpun.

Dia menghampiri pintu dan mengintai dari renggangan di dekat daun pintu.

Dia melihat Sukarti duduk di atas sebuah bangku, di sudut kiri luar kamar itu.

Ketika dia menoleh ke arah kanan dia melihat Kenangasari juga duduk di atas sebuah bangku.

Dua orang gadis itu duduk diam dan Nurseta merasa heran bukan main.

Benarkah mereka sengaja duduk berjaga di luar kamarnya?

Menjaga apakah?

Menjaga keselamatan dirinya?

Rasanya tidak mungkin.

Teringatlah dia akan ucapan Kenangasari tadi.

"Andika kan tamu agung kami, harus dijaga baik-baik, tentu saja!"

Demikian kata gadis itu.

Jadi mereka itu menjaganya?

Dan di mana Widarti, gadis termuda?

Dia menghampiri jendela dan mengintai keluar.

Benar saja, gadis cantik jelita berlesung pipit itu juga duduk di atas sebuah bangku, tak jauh dari jendelanya.

Semua jalan keluar, atau jalan masuk dari dan ke kamarnya telah terjaga!

Apakah yang mereka jaga?

Menjaga agar jangan ada yang masuk kamar atau menjaga agar jangan ada yang keluar kamar?

Kalau benar mereka itu berjaga, sungguh menggelikan.

Apakah yang mampu dilakukan gadis-gadis manis itu kalau ada yang masuk atau keluar kamar?

Tiba-tiba dia teringat betapa tadi, ketika dia hendak keluar kamar, Sukarti tahu-tahu telah memegang lengannya.

Pada hal tadinya gadis itu masih duduk di atas kursi.

Betapa cepatnya dia bergerak!

Apakah tiga orang puteri pangeran yang cantik jelita itu ahli aji kanuragan, gadis-gadis yang digdaya?

Betapapun juga, dari sikap mereka dan sikap ayah mereka, sama sekali tidak ada yang mencurigakan, tidak ada kesan-kesan bahwa mereka memusuhinya.

Mungkin mereka itu agak berlebihan dan terlalu memanjakannya.

Dia menjadi malu sendiri.

Biarlah mereka berbuat sesuka mereka karena dia tidak terganggu.

Dengan pikiran ini Nurseta kembali merebahkan diri dan tak lama kemudian karena dia memang lelah sekali, diapun tertidur.

Karena larut malam baru dapat pulas dan tubuhnya memang amat lelah, Nurseta tidur nyenyak sekali.

Pagi keesokan harinya dia tergugah oleh kicau burung di luar jendela.

Begitu merdu dan indah kicau burung kutilang di luar rumah itu sehingga Nurseta tetap rebah sambil menikmati suara itu.

Kemudian terdengar ringkik kuda.

Suara ini membuat bangkit duduk keheranan.

Ada ringkik kuda!

Kemarin dia tidak melihat adanya kuda di sekitar rumah itu.

Dan dari gerakan kaki kuda di atas tanah itu dia dapat mengetahui bahwa ada lebih dari dua ekor kuda di sana.

Mungkin ada empat ekor.

Karena ingin tahu sekali, Nurseta lalu menghampiri jendela dan membuka daun jendela.

Widarti yang semalam duduk 'berjaga"

Di situ tak tampak lagi.

Dari jendela dia dapat melihat adanya empat ekor kuda tertambat pada batang pohon-pohon di kebun.

Empat ekor' kuda yang tinggi besar, indah dan kuat, lengkap dengan pelana dan kendalinya.

Apakah ada tamu-tamu datang berkunjung?

Mungkin, karena tiga orang gadis itu tidak tampak, tentu sedang menyambut para tamu itu.

Dia merasa tidak enak karena masih belum keluar dari kamarnya.

Dia segera membuka daun pintu.

Tidak tampak ada orang.

Nurseta keluar rumah dan karena tidak melihat keluarga tuan rumah, dia langsung pergi ke anak sungai untuk membersihkan diri.

Air anak sungai yang jernih dan dingin menyegarkan tubuhnya dan dia cepat kembali ke rumah.

Setelah dia tiba di beranda, dia melihat Raden Hendratama dan tiga orang puterinya telah berada di situ.

Nurseta yang berpemandangan tajam segera dapat merasakan bahwa ada terjadi sesuatu.

Hal ini dapat dia lihat dari sikap mereka.

Wajah mereka, terutama sekali tiga orang gadis yang kemarin amat ramah kepadanya penuh senyum dan pandang mata berseri kini tampak dingin sekali, bahkan seolah tiga orang dara itu menghindari pertemuan pandang mata dengan dia.

Apakah mereka kecewa dan marah atas sikapnya semalam?

"Anakmas Nurseta, terimalah kerismu ini.

Sudah kupasangkan gagang baru dan kumasukkan dalam warangka baru".

Raden Hendratama menyerahkan keris itu kepada Nurseta.

Nurseta menerimanya dan dia kagum melihat warangka yang terukir indah dan gagang kerisnya sudah terganti gagang berukir pula.

Dia lalu menyelipkan keris itu pada ikat pinggangnya, tanpa memeriksa isinya karena hal itu akan menimbulkan kesan seolah dia tidak percaya kepada bekas pangeran itu.

"Terima kasih banyak, paman."

Katanya.

"Anakmas Nurseta, terpaksa andika akan kami tinggalkan karena kami ada urusan penting sekali yang harus kami lakukan pagi ini. Maaf, kami tidak sempat mengajak andika makan pagi."

Nurseta tersenyum.

"Ah, tidak mengapa, paman. Saya hanya membutuhkan tempat bermalam dan paman sekalian telah begitu baik untuk menerima saya. Biarlah saya pergi sekarang juga agar tidak mengganggu kesibukan paman sekalian."

Setelah berkata demikian, Nurseta memasuki rumah, terus ke kamarmya, berkemas lalu keluar lagi menggendong buntalan pakaian di punggungnya.

Dia mendengar derap kaki kuda dan setelah tiba di beranda, dia melihat Raden Hendratama telah melarikan kuda dengan cepat meninggalkan tempat itu.

Tentu saja Nurseta merasa heran sekali dan dia bertanya kepada Kenangasari yang biasanya paling ramah kepadanya.

"Nimas Kenangasari, ke manakah perginya Paman Hendratama? Aku ingin berpamit kepadanya."

"Tidak usah berpamit lagi. Dia sudah pergi."

Jawab Kenangasari dengan pendek dan ketus. Nurseta merasa tidak enak sekali. Dia merasa berhutang budi kepada mereka, maka meninggalkan mereka dalam keadaan seperti ini sungguh tidak menyenangkan.

"Nimas bertiga, apakah sebetulnya yang terjadi? Kalian tampak berbeda sekali. Apakah ada kesulitan yang kalian semua hadapi? Kalau memerlukan bantuan, percayalah, aku akan membantu sekuat tenagaku."

"Sudah, pergilah! Kami tidak membutuhkan kamu!"

Kata Sukarti.

"Ya, cerewet benar sih, kamu!"

Kata pula Widarti dan tiga orang gadis itu lalu memasuki ruangan depan yang penuh dengan keris dan tombak itu, mengumpulkan semua senjata itu, agaknya mereka seperti berkemas hendak pindah dari pondok itu.

Menghadapi sikap tiga orang gadis itu, Nurseta mengangkat kedua pundaknya dan diapun melompat keluar dan pergi dari situ dengan cepat.

Hatinya tertekan kekecewaan, perasaannya terpukul.

Tak habis heran dia memikirkan perubahan yang terjadi dalam sikap keluarga pangeran itu terhadap dirinya.

Sambil melangkah pergi, pikirannya terus bekerja.

Dia mencari-cari, kesalahan apa yang telah dilakukannya sehingga membuat marah keluarga itu.

Kalau sikapnya tidak mau menerima tiga orang gadis itu tinggal di kamarnya itu dianggap salah, maka merekalah yang bersalah.

Dia sudah benar, menjaga kesusilaan.

Kalau dianggap salah, maka merekalah gadis-gadis cantik yang sayangnya tidak dapat menjaga kesusilaan.

Apakah dia telah lengah, melakukan atau tidak melakukan sesuatu yang tidak semestinya atau yang seharusnya?

Dia mcngingat-ingat kembali dan tiba-tiba dia menghentikan langkahnya, mengerutkan alisnya.

Raden Hendratama telah mengembalikan keris pusakanya akan tetapi kenapa dia tidak memeriksanya.

Tidak memeriksa isi warangka itu untuk melihat kerisnya.

Hal itu seharusnya dia lakukan mengingat bahwa keris itu adalah sebuah benda pusaka yang amat ampuh, yang diperebutkan banyak orang.

Bahkan eyang gurunya tewas karena mempertahankan keris itu!

CEPAT dia memegang gagang keris itu dan mencabutnya, memeriksanya dengan teliti.

Nurseta mengerutkan alisnya.

Ujud keris itu memang masih sama, baik luk (lekuk) tiga dan semua cirinya.

Akan tetapi dia merasa kehilangan wibawa yang keluar dari keris itu, yang dirasakannya setiap kali keris itu dia cabut.

Sinar aneh yang dimiliki keris itu tak tampak atau terasa lagi.

Dia teringat akan petunjuk mendiang Empu Dewamurti bagaimana untuk mengenal keaslian Keris Megatantra.

Dengan telunjuk kirinya Nurseta lalu menjentik ujung keris itu.

Biasanya, kalau dia menjentik ujung keris pusaka itu dengan pengerahan tenaga sakti, maka akan terdengar bunyi melenting nyaring dan ujung keris Itu tergetar!

"Trikk ....."

Bukan main kaget rasa hati Nurseta ketika telunjuknya menjentik, ujung keris itu patah! "Celaka .....!"

Serunya, maklum sepenuhnya bahwa dia tertipu.

Keris yang sama benar rupa dan bentuknya ini ternyata palsu!

Cepat dia menyarungkan keris yang bunting ujungnya itu ke dalam warangka yang masih terselip diikat pinggangnya, lalu dia berlari cepat sekali ke arah pondok tempat tinggal keluarga bekas pangeran itu.

Akan tetapi ketika dia tiba di pekarangan rumah itu, hanya tinggal seekor kuda saja yang tertambat pada batang pohon dan seorang gadis jelita berdiri di luar beranda.

Gadis yang berdiri tegak sambil bertolak pinggang dan memandang kepadanya dengan senyum mengejek itu bukan lain adalah Kenangasari, gadis paling genit di antara tiga orang puteri bekas pangeran itu.

Nurseta tidak memperdulikannya, melainkan langsung memasuki ruangan tamu di mana tersimpan banyak senjata pusaka.

Akan tetapi ruangan itu kini telah kosong, tidak tampak sepotongpun senjata!

Juga dua orang gadis yang lain, Sukarti dan Widarti, tidak tampak.

Cepat dia melompat keluar lagi dan pada saat itu dia mendengar derap kaki kuda dan melihat Kenangasari sudah menunggang seekor kuda dan membalapkah kuda itu ke arah barat.

Nurseta hendak mengejar dan menghalangi gadis itu kabur, akan tetapi dia lalu teringat.

Gadis itu adalah satu-satunya orang yang akan dapat membawa dia kepada Raden Hendratama yang telah menipu dan mencuri Keris Megatantra!

Gadis itu tentu akan melarikan diri menyusul ayahnya.

Berpikir demikian, Nurseta tidak jadi mengejar untuk menangkap, melainkan membayangi saja.

Biarpun kuda itu seekor kuda besar yang baik dan kuat, larinya cepat dan ternyata penunggangnya mahir sekali, namun dengan menggunakan Aji Bayu Sakti, tubuh Nurseta meluncur seperti angin dan selalu dapat membayangi dan menjaga jarak sehingga tidak sampai tertinggal.

Akan tetapi, yang dibayangi itu membalap terus ke barat.

Setelah matahari naik tinggi dan matahari terik sekali, Kenangasari menghentikan kudanya di tengah hutan lebat, la menjadi bingung dan agaknya tersesat, tidak tahu jalan.

Melihat bahwa tidak ada orang mengejarnya, gadis itu melompat turun dan menanggalkan kendali, membiarkan kudanya minum air anak sungai yang terdapat di situ dan makan rumput, la sendiri lalu merebahkan diri bersandar pada batang pohon, mengusap keringatnya dan beristirahat, la tersenyum-senyurn manis seorang diri, mengira bahwa tidak mungkin pemuda tolol itu dapat mengejarnya.

"Nimas Kenangasari!"

Gadis itu terkejut sekali sampai tersentak dan melompat berdiri sambil memutar tubuhnya. Kiranya Nurseta telah berada di situ! "Kau .....?"

Gadis itu menggagap.

"Nimas, hentikan semua main-main ini. Aku hanya menginginkan keris pusakaku dikembalikan."

Tiba-tiba gadis itu sudah melompat Lompatannya amat ringan dan tahu-tahu ia telah berada di atas punggung kudanya yang berada dalam jarak empat lima meter dari tempat ia berdiri.

Ia sudah menyambar kendali kuda dan hendak membalapkan kudanya.

Akan tetapi Nurseta Tidak membiarkan gadis itu melarikan diri.

Cepat dia melompat ke depan kuda dan menangkap kendali di depan mulut kuda itu.

Kuda meringkik keras dan mengangkat kedua kaki depan tinggi keatas.

Gerakan yang tiba-tiba ini membuat Kenangasari kehilangan keseimbangan dan tubuhnya terlempar ke belakang kuda!

Agaknya gadis itu tentu akan terbanting keras.

Akan tetapi sesosok bayangan berkelebat dan tahu-tahu Nurseta telah menyambut tubuh gadis itu dengan kedua lengannya dan Kenangasari terjatuh lunak ke dalam pondongannya!

Ketika merasa dirinya betapa dirinya berada dalam rangkulan dan pondongan Nurseta, Kenangasari lalu meraih dengan kedua lengannya ke atas, merangkul leher Nurseta dan merapatkan tubuhnya di dada pemuda itu, bahkan mengangkat mukanya mendekati muka Nurseta, Pemuda itu terkejut dan cepat cepat dia Melepaskan pondongannya sehingga tubuh Kenangasari terjatuh ke atas tanah.

Tiba-tiba sikap Kenangasari berubah.

Ia menjadi marah sekali dan dengan trengginas (tangkas) ia melompat dan langsung menyerang Nurseta dengan tamparan yang cepat dan kuat.

"Jahanam....."

Ia memaki dan tamparannya menyambar ke arah muka Nurseta.

Nurseta cepat mengelak.

Akan tetapi gerakan Kenangasari cepat bukan main.

Ia telah menyusulkan serangan bertubi-tubi, menampar, mencengkeram, dan menendang.

Gerakannya jelas menunjukkan bahwa ia seorang gadis yang sama sekali tidak lemah, bahkan amat tangkas dan pandai bersilat!

Nurseta mengalah, berulang kali mengelak dan menangkis.

Ketika tangkisan tangannya bertemu dengan tangan gadis itu, diapun mendapat kenyataan bahwa tenaga gadis itu cukup kuat.

Laki laki yang kedigdayaannya hanya sedang-sedang saja jangan harap akan mampu menandingi gadis yang ayu manis dan lincah jenaka ini!

Karena dia tidak tega untuk membuat seorang gadis cidera, setelah mengalah beberapa jurus lamanya dalam suatu kesempatan tangan kirinya dapat menepuk pusat syaraf di punggung Kenangasari dan gadis itu mengeluh, lalu terkulai dan jatuh duduk bersimpuh diatas tanah, la mencoba untuk bangkit berdiri, akan tetapi tubuhnya yang tiba tiba menjadi lemas itu tidak kuat berdiri lagi!

"Aduh....."

Ia mengeluh.

".... tubuhku lernas tak dapat digerakkan.....pulihkanlah..... aku tidak berani melawan lagi, tobat ....."

Akan tetapi Nurseta sudah tahu sekarang bahwa Kenangasari adalah orang wanita yang digdaya dan amat cerdik. Dia ingin mendapatkan keterangan dari gadis ini, maka dia tidak membebaskannya dulu.

"Nimas Kenangasari, kenapa kalian melakukan hal ini kepadaku? Hayo katakan, di mana ayahmu dan di mana pula keris pusakaku Megatantra? Kalian harus mengembalikan keris itu kepadaku!"

"Siapa ayahku? Aku sudah tidak mempunyai ayah."

Jawab Kenangasari. Ia tidak merasa tubuhnya nyeri, hanya lemas tidak mampu berdiri.

"Tidak mempunyai ayah?"

Nurseta bertanya dengan alis berkerut.

"Katamu Raden Hendratama itu ayah kalian?"

"Itu hanya karena andika bodoh dan percaya saja. Kami bertiga bukan puterinya, melainkan selir Gusti Pangeran Hendratama."

Nurseta tercengang.

Pantas saja tiga orang gadis itu tampaknya begitu manja dan sikap sang pangeran itu juga demikian mesra.

Pada jaman itu memang bukan hal aneh kalau melihat seorang bangsawan tinggi, apa lagi seorang pangeran, mempunyai banyak selir yang cantik-cantik dan muda-muda.

Dan Pangeran Hendratama ini agaknya memiliki juga orang selir yang selain muda-muda dan cantik jelita, juga memiliki kedigdayaan sehingga selain sebagai penghibur juga sebagai pelindungnya.

"Hemm, begitukah? Memang aku bodoh sekali mudah percaya kepada wajah cantik, sikap-sikap ramah dan mulut-mulut manis yang mengucapkan segala macam kata-kata lembut. Kiranya di balik semua keindahan itu tersembunyi kepalsuan dan kejahatan. Nah, sekarang katakan di mana adanya Pangeran Hendratama."

Biarpun tubuhnya lemas sehingga ia hanya duduk bersimpuh, gadis itu mengangkat mukanya dan sinar matanya tajam galak memandang wajah Nurseta.

"Nurseta, tidak sadarkah andika bahwa Keris Pusaka Megatantra itu adalah pusaka sejak Kerajaan Mataram dulu? Tentu saja yang berhak adalah keturunan Mataram. Sekarang keris itu sudah kembali ke dalam tangan Gusti Pangeran Hendratama dan dia yang berhak memilikinya!"

"Hemm, andaikata benar demikian, tidak sepatutnya dia menguasai keris itu dengan cara yang curang dan menipuku! Aku harus menghaturkan pusaka itu kepada Gusti Maha Prabu Erlangga. Hayo katakan di mana Pangeran Hendratama?"! Kenangasari tersenyum. Wanita yang cerdik ini tahu bahwa pemuda perkasa itu membutuhkan keterangannya, maka tentu saja ia akan menggunakan kebutuhan pemuda itu untuk menekan.

"Nurseta, bukan begini sikap orang yang hendak minta keterangan. Bebaskan dulu aku, pulihkan tenagaku kalau andika ingin mendapatkan keterangan dariku."

Melihat gadis cantik itu mengerling genit dan tersenyum mengejek, Nurseta menghela napas panjang.

Mengapa gadis muda secantik ini, begitu manis merak ati, begitu menarik menggemaskan, dapat bersikap ramah dan mesra, dapat berwatak demikian palsu?

Bagaikan sebutir buah tomat yang kulitnya merah halus tanpa cacat, segar menarik menimbulkan selera, tahu-tahu di sebelah dalamnya berulat.

Akan tetapi karena dia perlu mendapatkan keterangan di mana adanya Raden Hendratama agar dia dapat merampas kembali Keris Megatantra, terpaksa dia memenuhi permintaan Kenangasari.

Sekali dia menepuk punggung gadis itu, Kenangasari dapat bergerak kembali dan tiba-tiba dengan tangkasnya ia melompat bangun berdiri, meraba pinggangnya dan sudah mencabut sebatang keris yang mengkilat lalu menerjang, menusukkan kerisnya ke arah perut Nurseta.

"Hyaaaahh!"

Serangan itu cepat sekali datangnya.

Kalau bukan Nurseta yang diserang, serangan itu dapat mendatangkan maut.

Akan tetapi Nurseta yang sama sekali tidak mengira akan diserang secara tiba-tiba dari jarak begitu dekat sehingga dia tidak sempat lagi mengelak, hanya mengangkat tangan kirinya dan menggunakan telapak tangan kirinya untuk menjadi perisai melindungi perutnya.

Tentu saja dengan kesaktiannya, dia dapat membuat perutnya kebal.

Akan tetapi dia tidak mau membiarkan bajunya terobek keris, maka telapak tangan kirinya yang menyambut tusukan keris itu.

"Wuutt ..... takkk!"

Kenangasari terkejut bukan main.

Pemuda itu menyambut tusukan kerisnya dengan telapak tangan dan ia merasa betapa kerisnya seolah bertemu dengan dinding baja yang teramat kuat sehingga senjata itu terpental dan ia merasa tangannya tergetar hebat.

"Auuuww .....!"

Ia menjerit dan melempar tubuh ke belakang lalu berjungkir balik lima kali menjauhkan diri.

Kalau gadis itu merasa terkejut dan kagum sekali melihat kesaktian Nurseta, sebaliknya pemuda itu juga kagum menyaksikan gerakan yang amat lincah dan tangkas dari Kenangasari.

"Syuuuttt ..... syuuuuttt .....!"

Suara berdesir ini membawa luncuran benda benda hitam yang mengarah leher, dada, dan pusar Nurseta.

Ada empat batang anak panah menyambar dengan cepat sekali.

Nurseta bergerak, menggeser kaki sehingga tubuhnya condong ke kiri dan kedua tangannya diputar ke kanan, memukul runtuh empat batang anak panah itu.

Dari arah depan berlompatan dia bayangan orang dan ternyata yang muncul adalah Sukarti dan Widarti Dua orang gadis ini memegang sebuah gendewa dan tanpa banyak cakap lagi keduanya lalu menyerang Nurseta dengan gendewa (busur) mereka.

Gerakan mereka juga lincah dan kuat seperti gerakan Kenangasari.

Melihat kedua orang kawannya telah muncul dan membantunya, Kenangasari merasa girang sekali.

Ia sama sekali tidak menyangka, bahkan bekas pangeran dan juga semua selirnya tidak pernah mengira bahwa Nurseta ternyata seorang yang sakti mandraguna!

"Hati-hati, dia tangguh sekali!"

Kenangasari berseru memperingatkan kedua orang kawannya dan iapun sudah menerjang lagi dengan tusukan kerisnya.

Agaknya gadis ini memang cerdik sekali karena ia selalu berusaha untuk menyerang Nurseta dari belakang karena senjatanya lebih pendek dan membiarkan kedua orang kawannya yang memegang gendewa menyerang dari depan kanan kiri.

Menghadapi serangan tiga orang gadis cantik itu, Nurseta menjadi serba salah.

Dia sama sekali tidak ingin merobohkan atau menciderai mereka, akan tetap kalau tidak dilawan, serangan tiga orang gadis ini cukup berbahaya.

Melihat bahwa dua batang gendewa itu menyambar dari depan kanan kiri dan keris di tangan Kenangasari menusuk dari belakang mengancam lambungnya, Nurseta mengerahkan Aji Bayu Sakti dan tiba-tiba tiga orang gadis itu berseru kaget karena lawan yang mereka kurung telah lenyap.

Mereka hanya melihat bayangan berkelebat ke atas dan tahu-tahu pemuda itu telah lenyap.

Kemudian terdengar suara Nurseta yang telah berada di belakang Sukarti dan Widarti.

"Aku tidak ingin bermusuhan dengan kalian bertiga. Hentikanlah serangan kalian. Aku hanya ingin dikembalikannya Keris Megatantra!"

"Mbakayu Sukarti, Widarti, hati-hati, jahanam ini berbahaya sekali. Dia tadi merobohkan aku dan memaksa aku untuk mengaku di mana adanya Gusti Pangeran. Dia berbahaya sekali bagi Gusti Pangeran!"

Kata Kenangasari.

"Bunuh dia"

Kata Sukarti.

"Nanti dulu!"

Kata Widarti, lalu gadis termuda ini menghadapi Nursrta. Suaranya tidak seketus dua orang kawannya.

"Kakangmas Nurseta, andika tidak ingin bermusuhan dengan kami, kenapa andika... tidak pergi saja dengan damai dan tidak lagi mengganggu kami?"

"Nimas Widarti. Pangeran Hendratama telah menipuku dan mencuri keris pusakaku. Aku tidak ingin bermusuhan dengan kalian akan tetapi aku ingin agar keris pusakaku itu dikembalikan kepadaku."

"Akan tetapi ingat, kakangmas. Keris Megatantra adalah pusaka milik keturunan Mataram, maka Gusti Pangeran Hendratama adalah pemiliknya yang sah. Maka, sekali lagi aku minta kepadamu, kakangmas, demi persahabatan kita, relakan keris itu dan pergilah dengan damai."

Nurseta mencatat dalam hatinya bahwa sikap wanita termuda ini yang paling baik dan dia sendiri juga sejak semula paling tertarik kepada wanita muda yang sikapnya agak malu-malu ini.

Tampaknya masih demikian muda, masih remaja, tidak tahunya ternyata sekarang telah menjadi selir seorang bekas pangeran!

"Nimas, bagaimanapun juga, saya tidak dapat merasa yakin bahwa Raden Hendratama berhak memiliki keris pusaka itu.

Agar keris itu tidak terjatuh ke tangan yang salah, saya memutuskan untuk menghaturkan keris pusaka itu kepada Sang Prabu Erlangga.

Karena itu, kembalikanlah kepadaku atau tunjukkan kepadaku di mana saya dapat bertemu dengannya."

Mengingat bahwa wanita yang diajaknya bicara itu ternyata isteri Pangeran Hendratama, maka dengan sendirinya Nurseta memandang lebih hormat dan sungkan dan dia tidak lagi berlaku kepada Widarti.

Mendengar ucapan Nurseta ini, Sukarti membentak.

"Widarti, tidak perlu banyak cakap dengan orang ini!"

Lapun sudah menerjang lagi dengan gendewanya, dibantu Kenangasari yang juga menggerakkan kerisnya menyerang.

Melihat dua orang wanita itu sudah turun tangan menyerang, Widarti terpaksa juga menggerakkan gendewanya menyerang sehingga kembali Nurseta dikeroyok tiga orang wanita yang cukup tangguh.

Dia cepat mengerahkan Aj i Bayu Sakti dan bersilat dengan ilmu silat Baka Denta.

Gerakannya yang cepat itu membuat dia seolah menjadi seekor burung bangau yang lincah.

Tubuhnya sukar sekali diserang karena dia berkelebatan seperti bayang-bayang dan setiap serangan yang tidak dapat dielakkan, disampok dan ditangkis dengan kedua lengannya yang lentur dan kuat seperti leher burung bangau.

Hanya karena dia masih tidak tega untuk melukai tiga orang gadis itu, maka Nurseta masih belum membalas serangan mereka.

Dia sedang mencari-cari kesempatan untuk mengalahkan mereka tanpa melukai, seperti yang dia lakukan kepada Kenangasari tadi.

Namun untuk melakukan hal itu kepada tiga orang wanita yang mengeroyoknya, bukanlah hal mudah karena mereka bergerak cepat dan mengirim serangan serangan maut yang tidak boleh dipandang rendah.

Kenangasari pandai sekali bersilat keris dan setiap tusukannya mengarah bagian-bagian tubuh yang berbahaya.

Sedangkan Sukarti dan Widarti agaknya memang khusus mempelajari silat menggunakan gendewa yang kedua ujungnya runcing itu.

Ketika mereka berdua itu menggerakkan gendewa mereka untuk menyerang, terdengar bunyi mengaung dan tali gendewa saking kuatnya senjata itu digerakkan.

Dua puluh jurus lebih telah lewat dan selama itu tiga orang wanita yang biasanya amat tangguh kalau maju bertiga sehingga mereka dipercaya sebagai pengawal-pengawal pribadi Pangeran Hendratama itu menjadi penasaran sekali.

Mereka mengerahkan seluruh tenaga sakti mereka dan mengeluarkan semua jurus simpanan yang ampuh.

Namun tetap saja mereka tidak pernah menyentuh ujung baju Nurseta, apa lagi melukainya.

Bahkan karena sejak tadi mereka mengerahkan terlalu banyak tenaga, padahal semalam mereka sama sekali tidak tidur, mereka menjadi kelelahan dan baju mereka telah menjadi basah oleh keringat.

Nurseta melihat betapa tiga orang lawannya mulai lemah dan kurang cepat serangan mereka.

Cepat Nurseta melompat ke belakang dan begitu turun ke atas tanah, cepat dia membalik, kedua kakinya ditekuk dan kedua tangannya dengan telapak tangan terbuka mendorong ke depan, ke arah tiga orang wanita itu.

"Haaaiiittt .....!"

Serangkum angin yang kuat melanda tiga orang wanita itu.

Mereka terkejut dan cepat mengerahkan tenaga menyambut.

Akan tetapi tetap saja mereka merasa tubuh mereka tiba tiba menjadi lemas, seperti lumpuh dan mereka terkulai roboh.

Nurseta mendekati mereka dan merampas dua batang gendewa dan sebatang keris, lalu menggunakan jari-jari tangannya dan dengan mudah dia mematahkan dua batang gendewa dan sebatang keris itu, lalu melemparkannya ke atas tanah.

"Maafkan, terpaksa aku membuat kalian tidak mampu menyerangku lagi. Nah, sekarang, katakanlah di mana aku dapat bertemu dengan Raden Hendratama dan kalian akan kubebaskan."

"Tidak sudi kami mengkhianati suami kami!"

Bentak Kenangasari yang masih galak.

"Nurseta, kami telah kalah. Kalau mau bunuh, bunuhlah kami. Jangan harap kami akan sudi mengatakan sesuatu tentang keris dan Gusti Pangeran!"

Kata pula Sukarti.

Dari sikap dan suara dua orang gadis yang sudah tidak mampu bergerak itu, Nurseta tahu bahwa dia tidak dapat mengharapkan jawaban yang jujur dari mereka.

Melihat Widarti diam saja dan hanya menundukkan mukanya, tiba-tiba dia mendapat akal.

Cepat dia menyambar tubuh Widarti, memondongnya dan membawanya lari seperti terbang cepatnya meninggalkan dua orang gadis yang lain.

"Widarti...... jangan mengkhianati Gusti Pangeran.....!"

Terdengar dua orang gadis itu berteriak-teriak.

Akan tetapi Nurseta telah pergi jauh sehingga tidak tampak oleh mereka.

Nurseta hanya pergi sekitar selepasan anak panah dari mereka dan menurunkan Widarti di atas tanah berumput lalu membebaskan kelemasan tubuhnya dengan menepuk punggungnya.

Widarti dapat bergerak kembali, la masih duduk di atas rumput dan ia memandang kepada Nurseta.

Mereka saling pandang dan diam diam Nurseta harus mengakui dalam hatinya bahwa kalau saja gadis ini seorang gadis baik-baik, bukan selir Raden Hendratama dan tidak membantu pangeran itu melakukan perbuatan tak terpuji, agaknya akan mudah terjadi bahwa dia merasa tertarik dan suka sekali kepada gadis ini sehingga besar kemungkinan jatuh cinta!

Sepasang mata itu!

Mulut mungil itu!

Entah mana yang lebih indah menggairahkan.

Lesung pipit itu, kini tampak karena Widarti tiba-tiba tersenyum!

"Hemm, Kakang Nurseta, tadinya kukira emas murni, tidak tahunya hanya tembaga dilapis emas!"

"Apa maksudmu, nimas?"

"Tadinya kukira engkau seorang ksatria sejati, tidak tahunya sama saja. dengan semua laki-laki yang mata keranjang dan berwatak cabul!"

Wajah Nurseta berubah merah.

"Nimas Widarti, apa maksudmu dengan tuduhan keji terhadap diriku itu?"

Widarti tersenyum dan lesung pipitnya tampak nyata, membuat wajah itu manis bukan main melebihi madu!

"KakangMas Nurseta, engkau telah mengalahkan aku dan kedua orang maduku, akan tetapi engkau memondongku dan membawa aku lari ke tempat ini, apa lagi kehendakmu kalau tidak ingin mengajak aku bermain cinta?"

"Tidak tahu malu!"

Nurseta membentak marah sehingga gadis itu menjadi kaget.

"Engkau menilai terlalu rendah! Nimas Widarti, kaukira aku ini laki-laki macam itukah? Engkau keliru besar! Biarpun harus kuakui bahwa engkau seorang gadis yang ayu manis merak ati, namun jangan dikira bahwa aku mudah tergila-gila oleh kecantikan wanita dan mudah dipermainkan nafsu berahi! Tidak sama sekali, nimas. Aku membawamu kesini karena melihat engkau berbeda dengan dua orang wanita yang lain itu dan kuharap engkau akan dapat bersikap lebih jujur kepadaku, dapat melihat bahwa aku berada di pihak benar dan mau menunjukkan kepadaku di mana aku dapat menemukan Pangeran Hendratama."

Mendengar ucapan pemuda itu, Widarti lalu merangkak maju menyembah kepada Nurseta.

"Aduh, Kakangmas Nurseta, maafkan tuduhanku yang lancang dan tidak patut tadi. Aku telah salah sangka ....."

Mendengar suara gadis itu bercampur isak, Nurseta lalu duduk pula di atas rumput dan berkata.

"Ah, jangan begitu, nimas. Aku tahu mengapa engkau salah sangka terhadap diriku. Aku tahu pula bahwa engkau adalah seorang gadis yang baik, tidak seperti dua orang yang lain itu. Akan tetapi aku merasa heran sekali, mengapa engkau yang masih begini muda dapat..... eh, dapat menjadi..... eh, maksudku..... benarkah seperti apa yang dikatakan Kenangasari bahwa kalian bertiga adalah selir-selir Raden Hendratama, nimas?"

Widarti mengusap beberapa butir air mata yang membasahi pipinya.

Ia duduk dan melihat rumput itu agak basah Nurseta lalu mengajaknya duduk di atas batu.

Setelah duduk berhadapan, Widarti berkata lirih.

"Memang benar, kakangmas Kami adalah selir-selir Pangeran Hendratama. Kenapa kami semua setia kepadanya, bahkan rela membelanya sampai mati? Ketahuilah, kakangmas. Kami bersikap seperti itu karena terpaksa sekali."

"Terpaksa? Apa maksudmu, nimas?"

"Kakangmas Nurseta, terus terang saja. Belum pernah aku bertemu dengan seorang pria sepertimu, yang sakti mandraguna, juga sopan santun, bersusila dan amat menarik hatiku. Aku mau menceritakan segala tentang diriku dan tentang Pangeran Hendratama, akan tetapi terus terang saja, aku tidak dapat menceritakan padamu di mana adanya sang pangeran itu. Aku tidak berani, kakangmas."

Nurseta mengerutkan alisnya. Dia mengerti bahwa tentu ada sesuatu yang mengancam gadis ini sehingga ia takut membuka rahasia di mana adanya Pangeran Hendratama. Dia mengangguk dan berkata.

"Baiklah, nimas. Akupun tidak akan memaksamu. Ceritakan saja apa yang dapat kauceritakan dan aku sudah berterima kasih sekali kepadamu atas kepercayaanmu kepadaku."

"Pangeran Hendratama adalah kakak ipar dari Sang Prabu Erlangga. Ketika Sang Prabu Erlangga yang menikah dengan adiknya, menggantikan kedudukan Sang Prabu Dharmawangsa yang menjadi ayah kandung Pangeran Hendratama, dia merasa sakit hati karena dia merasa bahwa semestinya dia yang berhak melanjutkan kedudukan sebagai raja. Akan tetapi karena ibunya dari kasta yang rendah, maka dia kehilangan kedudukan itu. Dalam keadaan marah dan dendam dia meninggalkan kota raja. Akan tetapi, Pangeran Hendratama masih mempunyai pengaruh yang besar sekali, dan diapun berhasil membawa lari dari kota raja sejumlah besar harta kekayaan. Dia bercita-cita untuk pada suatu hari dapat menjadi raja dan untuk cita-cita itu dia bahkan mengadakan hubungan dengan kerajaan-kerajaan yang pada waktu ini sedang memusuhi Sang Prabu Erlangga.

"Hernm, jadi dia merencana kan pemberontakan?"

"Begitulah, akan tetapi tentu saja untuk bergerak sendiri dia tidak akan berani karena tidak mempunyai cukup pasukan yang kuat."

"Dan engkau tadi mengatakan bahwa kalian bertiga menjadi selirnya dan setia kepadanya karena terpaksa sekali. Apa yang memaksamu, nimas?"

"Ayah ibuku hanya mempunyai aku sebagai anak tunggal. Ayahku dahulu menjadi perwira dalam pasukan mendiang Prabu Teguh Dharmawangsa yang setia kepada Pangeran Hendratama dan sampai sekarang masih menjadi pembantunya.. juga ayah mbakyu Sukarti dan ayah mbakayu Kenangasari, mereka adalah perajurit-perajurit yang setia kepada Pangeran Hendratama. Karena itu, ketika Pangeran Hendratama mengambil kami bertiga sebagai selir-selirnya yang terpercaya, para orang tua kami tidak berani menolaknya. Bahkan mereka berpengharapan apabila kelak sang pangeran menjadi raja, tentu kami dan orang tua kami akan naik derajat dan mendapatkan kemuliaan."

"Hemm,"

Kata Nurseta dengan hati merasa penasaran.

"berarti engkau telah dijual, nimas! Dan engkau merasa berbahagia menjadi selir pangeran itu dan karena itu setia kepadanya sampai mati?"

"Sama sekali tidak begitu, kakangmas. Di dasar hatiku aku merasa sedih dan menyesal sekali, akan (Lanjut ke

Jilid 05) Keris Pusaka Sang Megatantra (seri ke 01 -Serial Keris Pusaka Sang Megatantra) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo

Jilid 05 tetapi kami tidak berdaya, kakangmas.

Kami tahu bahwa kalau kami menolak, bahkan kalau kami sampai tidak setia, misalnya sekarang ini kalau sampai aku menceritakan kepadamu di mana engkau dapat menemukan dia, akibatnya dapat merupakan malapetaka bagi keluargaku.

Orang tuaku tentu akan menerima hukuman, mungkin kematian.

Inilah yang membuat kami bertiga tidak berdaya dan harus setia dan mematuhi segala perintah pangeran."

"Ah, betapa kejamnya pangeran itu!"

Kata Nurseta sambil mengepal tangannya dengan hati geram.

"Bagaimanapun juga, sikapnya terhadap kami bertiga baik sekali, kakangmas. Kami diberi kebebasan, agaknya karena dia percaya bahwa kami tidak mungkin berani mengkhianatinya setelah orang tua kami berada dalam cengkeramannya, Bahkan dia memperlihatkan kasih sayang kepada kami, memanjakan kami, juga dia melatih kami dengan aji kanuragan sehingga kami kini menjadi pengawal-pengawal pribadinya yang dapat diandalkan dan setia."

"Hemm, karena sikapnya yang baik itu, maka kalian bertiga amat mencintanya."

"Bagiku sama sekali tidak, kakangmas. Mungkin mbakayu Sukarti dan mbakayu Kenangasari benar-benar mencintanya sehingga mereka suka bersaing memperebutkan perhatian sang pangeran. Akan tetapi, aku tahu bahwa kebaikan sang pangeran itu hanya sebagai lapisan luar saja, karena itu biarpun pada lahirnya aku terpaksa tunduk dan taat kepadanya, di dalam hati aku merana, bahkan diam diam membencinya! Akan tetapi...... betapapun kagumku kepadamu..... sehingga mau rasanya aku melakukan apa pun juga untukmu..... akan tetapi untuk mengaku di mana dia berada, aku tidak berani, kakangmas..... aku takut kalau-kalau orang tuaku dibunuhnya....."

Gadis itu kini menangis terisak-isak.

Semua kesedihan yang selama ini ditekan dan disembunyikannya, membanjir keluar menjadi tangis mengguguk.

Melihat gadis itu menangis tersedu-sedu demikian sedihnya Nurseta merasa iba sekali dan dia tidak tahan untuk tidak mencoba untuk menghiburnya.

Dia mendekat dan dipegangnya kedua pundak gadis itu yang berguncang-guncang.

"Kasihan sekali engkau, Nimas Widarti .....!"

Katanya halus.

Merasakan kedua pundaknya disentuh lembut dan mendengar kata-kata itu, Widarti mendesah panjang dan menubruk, merangkul dan merapatkan mukanya di dada pemuda itu sambil menangis sesenggukan.

Nurseta merasa kaget dan juga bingung, salah tingkah dan tidak tahu harus berbuat apa, akan tetapi karena dia terbawa kesedihan gadis itu, diapun bermaksud menghibur dengan mengelus rambut yang halus, hitam dan berbau kembang melati itu.

Sejenak ada perasaan haru yang lembut sekali, perasaan mesra dan dekat sekali dengan gadis itu.

Akan tetapi dia segera menyadari bahwa keadaan seperti ini kalau dibiarkan dapat membahayakan karena rasa haru yang mendalam itu dapat saja menyeretnya kepada gairah berahi.

Dia lalu dengan lembut mendorong gadis itu merenggang dan membantunya duduk dengan tegak di atas batu.

Widarti masih menangis dan menutupi muka dengan kedua tangannya.

"Aku merasa iba sekali kepadamu yang bernasib malang, Nimas Widarti. Percayalah, kalau aku dapat bertemu dengan Pangeran Hendratama, aku akan menegurnya dan akan kuminta agar dia suka melepaskan cengkeramannya kepada engkau dan keluargamu!"

"Tidak mungkin! Jangan lakukan itu, kakangmas, bukan dia yang mencengkeram, melainkan ayahku sendiri yang sangat setia kepadanya. Mereka semua setia kepadanya, termasuk kedua orang maduku itu karena mereka mengharapkan agar sang pangeran kelak menjadi raja dan merekapun akan mendapatkan kedudukan tinggi dan kemuliaan."

Nurseta menghela napas panjang. Kalau demikian halnya, keadaan gadis ini sungguh serba salah. Keadaan orang tuanya berlawanan dengan keinginan hatinya.

"Ah, nimas. Kalau begitu, apa yang dapat kulakukan untukmu?"

"Kakangmas Nurseta, kalau engkau dapat membebaskan aku dari sang pangeran, tanpa membahayakan ayah ibuku, aku..... aku mau menjadi apapun juga. Aku mau menjadi hambamu, mencucikan pakaianmu, memasakkan makananmu, apa saja yang kaukehendaki dariku, akan kulakukan dengan senang hati."

Gadis itu kembali menjatuhkan diri berlutut di depan kaki Nurseta. Nurseta menarik napas panjang dan dengan kedua tangannya dia memegang kedua pundak Widarti dan mengangkatnya bangkit berdiri.

"Nimas, kalau keadaanmu ini memang sudah dikehendaki oleh orang tuamu, aku tidak dapat berbuat apa-apa. Engkau sendirilah yang dapat menentukan, apakah engkau akan tetap menjadi selir dan pembantu Raden Hendratama ataukah engkau akan meninggalkannya. Aku tidak ingin mencampuri urusan pribadi kalian, juga aku tidak mengharapkan apa-apa darimu. Apakah engkau tetap tidak ingin menceritakan kepadaku di mana kiranya aku dapat menemukan Raden Hendratama? Aku ingin minta kembalinya kerisku."

Widarti menggelengkan kepalanya dengan sedih.

"Aku tidak berani mengatakannya, Kakangmas Nurseta."

"Kalau begitu, sudahlah. Aku akan mencarinya sendiri. Selamat tinggal, Nimas Widarti. Kembalilah engkau kepada dua orang madumu itu. Mereka akan pulih sendiri beberapa saat kemudian."

Setelah berkata demikian, sekali berkelebat Nurseta sudah lenyap dari depan Widarti.

"Kakangmas Nurseta .....!!"

Gadis itu memanggil dengan suara melengking Akan tetapi Nurseta telah lenyap dan gadis itu mengepal tangan kanannya menggigit bibirnya, merasa kecewa dan menyesal bukan main.

Ia tadi bicara sesungguhnya kepada Nurseta.

Berbeda dengan dua orang madunya, ia tidak menginginkan kedudukan tinggi di samping Raden Hendratama.

Ia tahu bahwa cinta suaminya itu kepadanya hanyalah cinta birahi belaka, karena ia muda dan cantik seperti dua orang madunya.

Pada hakekatnya, mereka bertiga hanya dijadikan pemuas nafsu pangeran itu, di samping menjadi pengawal pribadi.

Pangeran itu memang tampak sayang kepada mereka, namun sayangnya itu seperti menyayangi benda yang indah dan dapat dipergunakan demi kesenangan dan kepentingan pribadi.

Buktinya, dia tidak segan-segan menawarkan mereka bertiga kepada laki-laki lain sebagai umpan demi keuntungan dirinya sendiri.

Hatinya terasa sakit sekali, akan tetapi apa dayanya?

Orang tuanya menghendaki demikian.

Benar juga apa yang dikatakan Kakangmas Nurseta, demikian bisik hatinya.

Kalau orang tuanya menghendaki demikian, iapun tidak dapat berbuat apa apa tanpa membahayakan kehidupan orang tuanya.

Dengan tangan kirinya Widarti mengusap dua butir air mata yang masih tersisa, mengusir bayangan wajah Nurseta yang tadinya diharapkan untuk dapat mengubah keadaan hidupnya.

Kemudian dengan langkah gontai ia kembali ke tempat Nurseta meninggalkan Sukarti dan Kenangasari.

Ternyata benar seperti yang dikatakan Nurseta, ketika Widarti tiba di situ, ia melihat Sukarti dan Kenangasari sudah bangkit duduk dan mereka berdua duduk bersila melatih pernapasan untuk memulihkan tenaga mereka yang tadi terasa meninggalkan tubuh mereka.

Melihat Widarti datang, keduanya bangkit berdiri dan ternyata tenaga mereka telah pulih kembali.

"Widarti, engkau membocorkan rahasia Pangeran? Engkau mengkhianatinya?"

Tanya Sukarti sambil menatap wajah madunya dengan penuh selidik.

"Engkau diapakan olehnya, Widarti?"

Tanya Kenangasari sambil memandang dengan senyum mengejek.

"Aku sama sekali tidak mengkhianati pangeran, Mbakayu Sukarti. Dan akupun tidak diapa-apakan oleh Kakangmas Nurseta, Mbakayu Kenangasari."

Bantah Widarti.

"Ihh, siapa mau percaya? Dia telah memondongmu pergi, mau apa lagi kalau tidak begitu7 Engkau pasti sudah dianu, setidaknya satu kali!"

Ejek Kenangasari yang centil.

Merah wajah Widarti, ia marah bukan karena dirinya sendiri, melainkan marah karena merasa betapa Nurseta yang demikian baik dan bersih, seorang ksatria sejati, disamakan dengan laki-laki kebanyakan yang hidung belang dan mata keranjang!

"Mbakayu Kenangasari!

Kakangmas Nurseta bukanlah seorang laki-laki macam itu!"

Teriaknya penasaran dan marah.

"Nah-nah, engkau membelanya mati-matian. Sudah jatuh cinta rupanya!"

Kenangasari menggoda dengan hati curiga dan juga iri karena ia sendiri harus mengakui bahwa seorang pemuda yang demikian sakti mandraguna sungguh merupakan pria yang menggairahkan hatinya.

"Mbakayu Kenangasari! Engkau menuduh yang bukanbukan!"

Kembali Widarti berteriak untuk menyembunyikan perasaan hatinya yang terguncang karena dugaan Kenangasari itu memang tepat. Ia memang telah jatuh cinta kepada Nurseta.

"Sudahlah, jangan ribut!"

Sukarti melerai dan mencela.

"Sekarang ceritakanlah apa maunya membawamu pergi dari sini tadi."

"Dia memang membujukku agar memberi tahu di mana Pangeran Hendratama berada, akan tetapi tentu saja aku tidak mau memberitahukannya. Akhirnya dia pergi meninggalkan aku dan aku lalu cepat kembali ke sini. Hanya itulah yang terjadi dan jangan menuduh yang bukan bukan! Bagaimanapun juga, aku harus mengakui bahwa Kakangmas Nurseta itu seorang laki-laki yang bijaksana dan sopan, sama sekali tidak menggangguku!"

"Sudahlah, mari kita susul Pangeran dan melapor kepadanya agar dia berhati-hati, jangan sampai dapat ditemukan pemuda yang sakti mandraguna itu."

Kata Sukarti dan tiga orang wanita ayu itu segera meninggalkan tempat itu.

Kita tinggalkan dulu Nurseta yang kehilangan keris pusaka Megatantra, dan mari kita menjenguk keadaan Kerajaan Kahuripan yang dipimpin oleh Sang Prabu Erlangga yang terkenal arif bijaksana.

Pada suatu pagi, bukan hari persidangan menghadap raja, Sang Prabu Erlangga mengutus seorang perajurit pengawal dalam istana untuk pergi memanggil Ki Patih Narotama agar datang menghadap dengan segera.

Ki Patih Narotama yang sedang duduk seorang diri di gedung kepatihan tidak merasa heran menerima panggilan mendadak bukan pada hari paseban (menghadap raja) ini karena antara Sang Prabu Erlangga dan dia memiliki hubungan yang amat dekat.

Bukan sekadar hubungan antara raja dan patihnya, melainkan lebih dari itu.

Sebagai sahabat, juga sebagai saudara seperguruan yang memiliki ikatan batin yang jauh lebih dekat daripada saudara sekandung.

Karena itu, diapun segera membereskan pakaian lalu cepat pergi ke istana raja dan langsung memasuki ruangan pustaka di mana Sang Prabu Erlangga biasanya bicara berdua dengannya.

Tepat seperti diduganya, ketika dia memasuki ruangan tertutup itu, dia melihat Sang Prabu Erlangga sudah duduk menantinya di atas sebuah kursi berukir indah.

Ki Patih Narotama cepat maju berlutut dan memberi hormat dengan sembah.

"Ah, apa andika lupa akan kebiasaan kita, Kakang Narotama? Dalam pertemuan resmi, aku memang gustimu Sang Prabu Erlangga dan engkau pembantuku, Kakang Patih Narotama. Akan tetapi, dalam pertemuan tidak resmi, engkau adalah Kakang Narotama sahabat karibku dan aku bagimu adalah Adi Erlangga. Bangkit dan duduklah. Bicara begini tidak enak dan tidak leluasa."

Kata Sang Prabu Erlangga yang usianya sekitar dua puluh lima tahun dan tampak tampan, berkulit kuning bersih, berwajah cerah dan matanya bersinar tajam mencorong penuh wibawa.

Narotama menyembah lagi, lalu bangkit berdiri dan duduk di atas kursi di depan junjungannya.

"Terima kasih dan ampunkan kelancanganku, gusti....."

"Lha! Andika mulai lagi. Bersikaplah biasa, kakang, agar kita dapat bicara dengan santai dan enak."

"Baiklah, Yayi Prabu. Perintah apakah gerangan yang hendak paduka berikan kepada hamba. Hamba siap melaksanakan semua perintah paduka dengan taruhan nyawa hamba."

Prabu Erlangga tertawa.

Suara tawanya renyah dan sedap didengar.

Dalam persidangan resmi, tentu saja dia tidak akan tertawa sebebas itu.

Akan tetapi, bicara dengan Narotama dia merasa seperti bicara dengan keluarga sendiri.

"Ha-ha-ha, Kakang Narotama! Tidak perlu andika berjanji lagi karena aku sudah yakin sepenuhnya akan kesetiaanmu kepadaku. Untuk itu, aku tiada hentinya berterima kasih dalam hatiku kepadamu. Kakang Narotama, pernahkah andika mendengar akan nama Ki Nagakumala yang bertapa di Bukit Junggringslaka di pantai Laut Kidul?"

Narotama mengangguk-angguk.

"Ki Nagakumala yang mengundurkan diri ke Bukit Junggringslaka itu adalah kakak dari Ratu Durgamala dari Kerajaan Parang Siluman. Dia itukah yang paduka maksudkan?"

"Benar sekali, kakang. Ki Nagakumala adalah kakak Ratu Kerajaan Parang Siluman dan dia juga bekas suami Ratu Mayang Gupita dari Kerajaan Siluman yang berada di sebelah timur Kerajaan Parang Siluman, dekat perbatasan Blambangan."

"Ada apakah dengan Ki Nagakumala, Yayi Prabu? Tampaknya dia kini tidak membuat gerakan apa-apa untuk menentang kita, tidak membantu Parang Siluman, juga tidak membantu Kerajaan Siluman dekat Blambangan."

"Begini, kakang. Kalau saja kita dapat mengulurkan tangan persaudaraan dengan Ki Nagakumala, maka melalui dia kiranya akan mudah membujuk Kerajaan Siluman dan juga Kerajaan Parang Siluman untuk berdamai sehingga berkuranglah daerah yang memusuhi kita."

"Akan tetapi bagaimana caranya, Yayi Prabu? Mohon petunjuk paduka."

"Pernahkah engkau mendengar bahwa Ki Nagakumala mempunyai dua orang keponakan perempuan yang juga menjadi murid-muridnya? Menurut laporan penyelidik, dua orang gadis keponakan Ki Nagakumala itu cantik jelita bagaikan dewi kahyangan! Nah, aku dapat memetik dua keuntungan kalau tugasmu berhasil baik, kakang. Yaitu mendapatkan dua orang selir cantik jelita dan sakti mandraguna, dan di samping itu, Ki Nagakumala dapat menjadi jembatan untuk mengadakan hubungan persahabatan dengan dua orang ratu yang selama ini memusuhi kita."

Narotama mengangguk-angguk.

Biarpun pada wajahnya tidak tampak sesuatu, namun dalam hatinya dia tertawa.

Dia mengenal benar junjungannya ini.

Seorang raja yang masih muda dan tampan, dan berjiwa romantis seperti watak Arjuna Perang dan memboyong puteri cantik, itu merupakan satu di antara kegemarannya.

Walaupun demikian, tidak pernah raja ini menggunakan kekerasan untuk menundukkan wanita.

Biasanya, para wanita yang saling berebutan untuk dapat menjadi kekasih atau selirnya.

Hal ini tidaklah mengherankan.

Perawan mana (pada jaman itu) yang tidak rindu untuk menjadi kekasih Prabu Erlangga, raja yang masih belia, elok dan tampan, gagah perkasa dan sakti mandraguna di samping arif bijaksana pula itu?

"Bagaimana, kakang.

Kenapa andika diam saja?"

Narotama terkejut dan sadar dari lamunannya.

"Sendika dhawuh paduka, Yayi Prabu. Akan tetapi, bagaimana selanjutnya? Apa yang harus hamba lakukan?"

"Ah, apakah andika masih belum dapat menduga apa yang harus kaulakukan, kakang?"

Narotama tersenyum.

"Apakah hamba harus mendatangi Ki Nagakumala dan mengajukan pinangan atas diri dua orang keponakan atau muridnya itu?"

Prabu Erlangga tertawa.

"Ha-ha, aku mengira tadi kecerdikan andika sudah mulai berkurang. Ternyata andika masih cerdik dan tanggap seperti dulu, Kakang Narotama. Memang itulah yang kukehendaki. Kalau pinanganku d iterima, berarti aku mendapatkan dua orang gadis cantik sebagai selir dan pengawal pribadi, juga Ki Nagakumala dapat berjasa mendamaikan kita dengan dua orang ratu kerajaan kecil yang merongrong kita itu."

"Hamba mohon petunjuk, Yayi Prabu, bagaimana kalau pinangan ditolak Ki Nagakumala?"

Prabu Erlangga termenung dan mengerutkan alisnya yang bagus bentuknya dan hitam.

"Ditolak? Mungkinkah itu? Hemm, ya, mungkin saja ditolak. Nah, kalau ditolak, aku menyerahkan purba wasesanya sepenuhnya kepadamu, kakang. Andika boleh melakukan apa saja atas namaku dan sebagai wakilku. Sudah jelaskah, Kakang Narotama?"

"Sudah jelas bagi hamba, Yayi Prabu."

"Nah, kalau begitu berangkatlah sekarang juga. Andika boleh membawa pasukan sesukamu dan kubekali doa restuku semoga tugasmu berhasil baik."

"Terima kasih, Yayi prabu, hamba pamit undur."

Narotama lalu meninggalkan istana dan kembali ke gedung kepatihan, di mana isterinya, Listyarini, yang baru dinikahi setahun yang lalu dan belum mempunyai keturunan, menanti dengan tidak sabar.

Wanita yang berasal dari kaki Gunung Mahameru ini tahu benar bahwa kalau suaminya dipanggil Sang Prabu pada waktu bukan sidang, tentu ada perkara yang gawat sekali, yang biasa dirundingkan berdua saja oleh raja dan patihnya yang masih muda-muda dan sakti mandraguna itu.

"Kakangmas, urusan apakah gerangan yang menyebabkan Gusti Sinuwun memanggil paduka?"

Sambut Listyarini dengan wajah manis. Narotama merangkul isterinya dan mengajaknya duduk di atas balai-balai di ruangan depan kepatihan.

"Urusan penting sekali, diajeng. Aku diminta untuk mewakili gusti sinuwun melakukan pinangan."

"Pinangan? Siapa yang dipinang gusti sinuwun?"

Tanya Listyarini heran.

Biasanya, kalau sang prabu menginginkan seorang selir, dia tinggal mengutus pengawal biasa saja untuk mengurusnya.

Kalau sekarang suaminya, patih dan merupakan orang ke dua di Kerajaan Kahuripan setelah Sang Prabu Erlangga, maka dua orang gadis yang dipinang itu tentulah bukan orang sembarangan!

"Yang dipinang itu keponakan yang juga merupakan murid-murid Ki Nagakumala, pertapa di Bukit Junggringslaka.

Karena pinangan ini ada hubungannya dengan kepentingan kerajaan, maka Gusti Sinuwun mengutus aku sendiri yang melakukan pinangan."

Setelah berpamit kepada isterinya, pada hari itu juga Ki Patih Narotama berangkat melaksanakan tugasnya.

Seperti biasa kalau menerima tugas urusan pribadi dari Sang Prabu Erlangga, Narotama berangkat seorang diri, tidak mau membawa pasukan, apa lagi tugas ini hanya untuk menghadapi seorang pertapa, bukan tugas untuk menggempur atau berperang.

Juga seperti sudah menjadi kebiasaannya, kalau melakukan perjalanan, Ki patih Narotama yang usianya baru dua puluh tujuh tahun ini tidak suka menggunakan kereta kebesaran dan tidak mengenakan pakaian sebagai pejabat dan bangsawan tinggi.

Dia merasa lebih leluasa berpakaian biasa saja, seperti dulu sebelum menjadi patih dan merantau dari Nusa Bali ke Nusa Jawa bersama Sang Prabu Erlangga yang ketika itu masih menjadi seorang pangeran Bali.

Dia hanya menunggang seekor kuda pilihan yang tinggi besar dan kuat, menyusuri Kali Brantas menuju ke selatan.

Jajaran perbukitan yang membujur dari barat ke timur itu berada dekat pantai, seolah menjadi bendungan alam besar yang mencegah meluapnya air Laut Selatan ke darat.

Ada dongeng menceritakan bahwa dahulu kala, terjadi perang antara Penguasa Laut Kidul dan Para Dewa penjaga Nusa Jawa.

Kerajaan Laut Selatan mengancam akan menenggelamkan seluruh pulau dengan air pasang yang akan menelan Pulau Jawa.

Akan tetapi para dewa mempergunakan kesaktian mereka untuk menciptakan bukit-bukit di sepanjang Pulau Jawa bagian selatan, dekat pantai untuk menolak air yang akan membanjiri daratan.

Sebagian besar dari bukit-bukit ini merupakan bukit kapur yang tandus.

Akan tetapi ada pula beberapa buah bukit yang bertanah subur sehingga penuh dengan tanaman menghijau.

Di antara bukit-bukit subur ini terdapat sebuah bukit yang agak menjulang tinggi.

Itulah Bukit Junggringslaka, menghadap ke selatan, ke arah lautan, seolah merupakan satu di antara para dewa yang berdiri dan melakukan penjagaan di situ untuk menentang kemurkaan kerajaan Laut Kidul!

Biarpun memiliki tanah subur, Bukit Junggringslaka ini merupakan tempat yang wingit.

Para petani di sekitar bukit ini tidak berani mendirikan rumah di bukit itu sehingga dari kaki sampai ke puncak bukit, tidak tampak ada dusun.

Dusun-dusun yang ada didirikan agak jauh di sekeliling bukit.

Orang-orang memilih daerah yang kurang subur tanahnya dari pada Bukit Junggringslaka, karena bukit itu dianggap keramat dan menjadi tempat para dewa mengadakan pertemuan.

Sudah terjadi beberapa kali ada petani kedapatan tewas ketika berani mendaki bukit untuk mencari kayu atau tanaman.

Apa lagi setelah para penghuni dusun di sekitarnya tahu bahwa di puncak bukit itu terdapat seorang pertapa yang aneh dan kabarnya sakti mandraguna.

Pertapa itu adalah Ki Nagakumala yang tidak menghendaki seorangpun melanggar bukit yang telah dianggap sebagai milik pribadi dan wilayahnya.

Juga semua orang tahu bahwa kakek pertapa itu tinggal di puncak bukit bersama dua orang gadis yang luar biasa cantik jelitanya sehingga mereka semua sepakat untuk mengakui bahwa dua orang wanita muda itu sudah pasti bukan manusia, melainkan dewi atau peri atau siluman.

Akan tetapi tentu saja mereka tidak berani berterus terang mengatakan hal ini dan kala sewaktu-waktu seorang di antara mereka atau keduanya turun bukit mengunjungi dusun mereka, mereka menyambutnya dengan ramah dan hormat.

Apa lagi karena dua orang gadis cantik jelita bernama Lasmini dan Mandari itu tak pernah mengganggu penduduk, dan bahkan setiap membutuhkan sesuatu mereka membeli dari penduduk dan royal sekali dalam memberi hadiah.

Akan tetapi, keramahan mereka itu tetap saja tidak membuat para pria di seluruh dusun sekitar situ berani bersikap kurang hormat, apa lagi kurang ajar.

Hal ini merupakan akibat dari peristiwa yang terjadi dua tahun yang lalu.

Karena dua orang gadis itu memang cantik jelita luar biasa, maka setiap orang laki-laki yang memandang mereka, langsung tergila-gila.

Pada waktu itu, maklum orang muda, ada dua orang pemuda yang datang dari dusun yang agak jauh dari situ, berani bersikap kurang ajar untuk menarik perhatian Lasmini dan Mandari.

Dan apa akibatnya?

Banyak sekali penduduk dusun melihat betapa dua orang gadis itu menghajar dua orang pemuda itu sampai tewas dengan tubuh remuk-remuk!

Semenjak itu, tahulah semua orang bahwa dua orang gadis itu sakti mandraguna dan semua orang menganggap mereka berdua itu sebangsa peri atau siluman.

Sejak itu tak ada seorangpun berani bersikap kurang ajar, bahkan menatap wajah mereka secara langsung saja mereka tidak berani.

Siapakah K i Nagakumala yang hidup sebagai pertapa di puncak Bukit Junggringslaka itu?

Nama kakek ini sudah terkenal sejak puluhan tahun yang lalu.

Dia adalah kakak dari Ratu Durgamala yang memerintah Kerajaan kecil Parang Siluman di pantai Laut Kidul.

Mestinya dia mewarisi tahta kerajaan kecil itu dari ayah mereka, akan tetapi karena Ki Nagakumala ingin menikah dengan Ratu Mayang Gupita yang memerintah Kerajaan Siluman, juga di pantai Laut Kidul sebelah timur, maka dia mengalah dan menyerahkan kerajaan kecil Parang Siluman itu kepada adiknya.

Setelah menikah dengan Ratu Mayang Gupita yang sakti, Nagakumala memperdalam ilmunya dan saling berlatih dengan isterinya yang sakti mandraguna.

Akan tetapi, setelah belasan tahun menjadi suami isteri dan tidak mempunyai keturunan, Ki Nagakumala menjadi jenuh juga.

Apa lagi ketika adiknya yang menjadi ratu di Kerajaan Parang Siluman menjadi janda karena suaminya telah pergi meninggalkannya dan kini ia hidup dengan dua orang puterinya, Nagakumala lalu meninggalkan Ratu Mayang Gupita dan kembali ke Parang Siluman.

Keluarga ini sejak dahulu memang memusuhi Mataram yang kini berganti nama menjadi kerajaan Kahuripan.

Nagakumala senang melihat dua orang keponakan perempuan yang cantik-cantik itu.

Maka, dia lalu mengambil Lasmini dan Mandari menjadi muridnya.

Biarpun dua orang gadis ini sudah mendapat pelajaran aji kanuragaan dari ibu mereka yang juga sakti, namun mereka gembira sekali mendapat gemblengan dari uwa mereka yang lebih sakti daripada ibu mereka.

Mereka lalu dengan senang hati mengikuti Kl Nagakumala ke puncak Bukit Junggringslaka untuk memperdalam ilmu-ilmu yang amat dahsyat.

Bukan hanya ilmu pencak silat, aji kanuragan, juga ilmu-ilmu sihir!

Pada hari itu, Ki Nagakumala duduk di luar pondoknya di puncak Bukit Junggringslaka.

Sinar matahari pagi yang hangat terasa nyaman sekali di badan yang diselimuti hawa dingin puncak itu.

Kabut pagi mulai terusir perlahan-lahan oleh sinar matahari pagi.

Kakek Nagakumala duduk bersila di atas sebuah dipan bambu yang berada di luar pondok.

Tubuhnya masih tampak gagah walaupun usianya sudah mendekati enam puluh tahun.

Wajahnya juga gagah seperti Gatutkaca dengan kumis sekepal sebelah yang sudah mulai berwarna dua.

Ki Nagakumala memang tampan gagah, pantas menjadi kakak Ratu Durgamala yang terkenal cantik jelita.

Sungguh mengherankan sekali mengapa pria segagah dan setampan ini mau menjadi suami seorang wanita raksasa yang bertubuh tinggi besar, berperut gendut, wajahnya mengerikan karena bertaring, seperti Ratu Mayang Gupita, ratu Kerajaan Siluman itu.

Ini pula menunjukkan betapa besar kebencian dalam hati Ki Nagakumala terhadap Mataram atau keturunan Mataram.

Dia rela mengorbankan diri, memperisteri Ratu Mayang Gupita yang buruk rupa dan mengerikan itu, hanya untuk dapat menambah kesaktiannya agar kelak dia dapat menghancurkan Kahuripan atau keturunan Mataram!

Dan kini, untuk memperkuat diri, dia menurunkan semua aji kesaktiannya kepada dua orang keponakan yang telah menjadi muridnya agar kelak dua orang gadis itu dapat membantunya melawan Erlangga yang menjadi raja Kahuripan sekarang.

Ki Nagakumala duduk seorang diri termenung.

Kemudian seperti teringat akan sesuatu, tiba-tiba dia menoleh ke arah pondok dan berseru, suaranya nyaring seperti suara Sang Gatotkaca.

"Murid-muridku cah ayu thinik-thinik, Nini Lasmini dan Nini Mandari, di manakah kalian? Tinggalkan dulu kesibukan kalian, aku mau bicara dengan kalian'"

Tak lama kemudian, tampak dua bayangan berkelebat dan dari pintu pondok muncullah dua orang gadis.

Gerakan mereka demikian cepat dan ringan seperti melayang saja sehingga yang tampak hanya bayangan merah dan bayangan kuning.

Setelah bayangan itu berhenti di depan Ki Nagakumala, tampaklah bahwa mereka adalah seorang gadis berpakaian serba merah muda dan yang seorang berpakaian serba kuning.

Pakaian mereka dari sutera halus dan begitu serasi di tubuh mereka sehingga mereka tampak seperti dewi-dewi saja.

Pakaian itu bersih, membungkus tubuh yang indah menggairahkan, serba sempurna lekuk lengkungnya, dada dan pinggulnya membusung sehingga pinggang mereka yang memakai sabuk berlapis emas itu tampak ramping bukan main, pinggang yang disebut nawon kemit (pinggangnya seperti lebah kemit)!

Kaki yang tampak dari betis ke bawah itu berkulit kuning putih mulus dan bentuknya memadi bunting, dan bagian atas tumitnya mencekung.

Tanda-tanda kewanitaan pilihan!

Yang berpakaian merah muda adalah Lasmini, berusia dua puluh tiga tahun.

Yang pertama menarik dari gadis ini adalah rambutnya.

Rambut itu panjang sampai ke pinggul, hitam sekali dan bergelombang, indah menggairahkan, dengan sinom (anak rambut) halus lembut bergantungan di atas dahi dan di pelipis.

Wajahnya bulat telur dengan dagu meruncing, manis sekali.

Semua bagian wajahnya amatlah cantiknya, terutama sekali mata dan bibirnya, amat menggairahkan, seperti menantang dan menjanjikan kenikmatan dan kemesraan yang memabokkan, apalagi ditambah pemanis di pipi kiri dengan adanya sebintik tahi lalat hitam.

Sungguh merupakan seorang wanita yang sudah masak, bagaikan setangkai bunga sedang mekar-mekarnya.

Dan hebatnya, wanita yang masih perawan berusia dua puluh tiga tahun ini tiada ubahnya seorang dara berusia delapan belas tahun saja!

Adapun gadis yang berpakaian serba kuning bernama Mandari, berusia dua puluh satu tahun.

Ia adalah adik Lasmini.

Berbeda bentuk wajahnya dengan mbakayunya, Mandari berwajah agak bulat dengan mata yang lebar bersinar-sinar, hidungnya mancung dan mulutnya juga amat indah dengan bibir yang selalu merekah dan merah basah.

Seperti juga mbakayunya, kulit gadis ini kekuningan, putih mulus dan kedua pipinya yang putih halus itu agak kemerahan tanpa gincu, tanda bahwa tubuh yang muda itu sehat segar.

Seperti juga Lasmini, Mandari yang berusia dua puluh satu tahun itu kelihatannya seperti baru berusia tujuh belas tahun saja.

Sukar untuk menilai siapa yang lebih menarik di antara kedua orang gadis kakak beradik ini.

Keduanya memiliki kecantikan yang berbeda, namun sama sama menarik dan menggairahkan.

Pakaian mereka juga indah, dengan perhiasan-perhiasan dari emas dan batu permata.

Kedua orang gadis itu lalu duduk di atas bangku-bangku berhadapan dengan Ki Nagakumala.

"Uwa, ada keperluan apakah gerangan maka uwa memanggil kami dengan teriakan nyaring?"

Tanya Lasmini, senyumnya tak pernah meninggalkan bibirnya yang semringah.

"Kami sedang mempersiapkan sarapan untuk uwa."

Kata pula Mandari.

"Eh, keponakanku yang ayu merak-ati, murid-muridku yang dhenok montrok-montrok, aku tadi duduk termenung di sini dan melihat burung-burung itu terbang berpasang-pasangan dengan gembira. Aku lalu teringat kepada kalian dan merasa berdosa mengapa dua orang keponakanku yang ayu manis kubiarkan hidup merana dan kesepian. Lasmini dan Mandari, ingatkah kalian berapa usia kalian tahun ini?"

"Usiaku dua puluh tiga tahun, uwa Nagakumala."

Kata Lasmini.

"Dan usiaku dua puluh satu tahun, uwa."

Kata Mandari, keduanya tersenyum, seolah merasa geli mengapa uwa mereka menanyakan usia mereka.

"Nah, usia kalian sudah cukup dewasa, bahkan usia sekian itu sudah sepatutnya kalau kalian menjadi ibu! Akan tetapi sampai sekarang kalian masih saja perawan dan belum mempunyai suami. Padahal, sejak beberapa tahun yang lalu, sudah ratusan orang muda, bangsawan dan hartawan, datang meminang. Akan tetapi selalu kalian menolak pinangan mereka. Bagaimana sih kalian ini? Jangan-jangan nanti ibu kalian, Nimas Ratu Durgamala, menyalahkan aku yang disangka menghalangi kalian memilih jodoh!"

"Ah, kami masih belum suka melayani pria, uwa!"

Kata dua orang gadis itu dengan suara hampir berbareng.

"Mustahil! Jangan bohongi aku. Dari gerak gerik kalian, dari senyum dan kerling mata kalian, aku tahu bahwa kalian bagaikan dua tangkai bunga segar yang selalu merindukan datangnya kupu-kupu untuk menghisap sari madumu."

Kata Ki Nagakumala sambil tersenyum dan mengelus sepasang kumisnya yang melintang di bawah hidungnya. Lasmini tersenyum manja.

"Kami berdua telah bersepakat uwa hanya akan suka melayani seorang suami yang sakti mandraguna dan mampu mengalahkan kedigdayaan kami."

"Juga kami tidak sudi menjadi isteri laki-laki biasa, uwa. Haruslah dia seorang raja, pangeran atau setidaknya seorang ponggawa kerajaan yang berkedudukkan tinggi!"

Kata pula Mandari. Ki Nagakumala terkekeh dan mengangguk-angguk.

"Ya-ya, aku mengerti dan memang sudah sepatutnya kalian mendapatkan seorang suami yang pilihan. Akan tetapi betapa akan sulitnya menemukan pria seperti yang kalian kehendaki itu."

"Masih ada lagi syarat kami, uwa."

"Hemm, masih ada lagi? apa itu?"

"Pria yang berkedudukan tinggi dan sakti mandraguna itu juga harus muda dan tampan!"

Kata Lasmini sambil tersenyum.

"Wah-wah-wah, agaknya kalian menghendaki para dewa sengaja menciptakan laki-laki yang kalian kehendaki! Ksatria seperti itu kiranya hanya terdapat di Mataram, keturunan keluarga istana atau setidaknya seorang priyayi agung trah ingkusuma rembesing madu. Pada hal Mataram adalah musuh besar kita!"

Tiba-tiba Ki Nagakumala memandang ke depan. Tampak beberapa ekor burung terbang dari pohon seolah terkejut dan ketakutan.

"Hernm, ada orang datang. Kalian berdua masuklah dan lanjutkan membuat persiapan sarapan. Biar aku yang menyambut tamu itu!"

Kata Ki Nagakumala dan dua orang gadis itu tersenyum lalu masuk ke dalam pondok.

KI NAGAKUMALA masih tetap duduk bersila di atas bangku.

Dia adalah orang yang sakti mandraguna, seorang yang telah mempelajari dan menghayati olah raga, olah batin dan olah rasa.

Dia dapat merasakan bahwa yang datang ini bukan orang biasa, walaupun dia belum dapat melihat orangnya.

Karena itulah dia tadi minta kepada dua orang muridnya agar masuk.

Dia ingin tahu lebih dulu siapa orang yang berani mendaki Bukit Jungringsiaka ini.

Tidak sembarang orang berani mendaki bukit ini, apalagi sampai ke puncak.

Sudah pasti orang yang sakti dan jelas bukan orang daerah sini karena semua penduduk pedusunan di sekitar Bukit Junggringslaka tidak ada yang berani mendaki bukit ini.

Tak lama kemudian orang itu muncul dari balik pohon besar.

Dari jauh Ki Nagakumala sudah-melihat bahwa orang Itu masih muda, seorang laki-laki bertubuh tegap dan wajahnya tampan berwibawa walaupun pakaiannya sederhana saja.

Langkahnya tegap dan tenang bagaikan langkah seekor harimau.

Timbul niat di hati Ki Nagakumala untuk menguji kesaktian pendatang ini sebelum berkenalan.

Mulutnya berkemak-kemik, tangannya dijulurkan ke bawah mengambil segenggam batu kerikil dan setelah ucapan mantranya selesai, dia melempar segenggam batu kerikil itu ke depannya.

"Blarrr .....I"

Tampak asap mengepul dibarengi ledakan dan tahu-tahu sebuah dinding besi menghalangi antara dia dan pemuda pendatang itu.

Pemuda itu bukan lain adalah Ki Patih Narotama.

Tadi ketika dia mulai mendaki Bukit Junggringslaka, sejak tiba di lereng bukit dekat puncak, dia sudah dihadang berbagai rintangan.

Ada ular sebesar batang pohon kelapa menghadang, akan tetapi dia berhasil mengusir ular besar itu tanpa membunuhnya.

Kemudian ada hutan yang menyesatkan, yang jalan setapaknya berputar-putar dan orang biasa pasti akan tersesat dan tidak dapat naik ke puncak, juga tidak dapat turun kembali.

Akan tetapi Narotama dapat melalui rintangan ini karena maklum bahwa semua ini adalah pengaruh rajah ilmu sihir yang kuat.

Kini, setelah tiba di depan pondok, dia melihat seorang laki-laki tua bersila di atas dipan depan pondok.

Dia sudah dapat menduga bahwa laki-laki yang tampak gagah itu tentulah Ki Nagakumala yang sudah didengar namanya namun belum pernah dilihat orangnya.

Ketika laki-laki itu melontarkan batu kerikil dan menciptakan sebuah dinding besi dari hasil sihirnya, Narotama tersenyum.

Dia tahu bahwa kakek itu kembali menggunakan sihir untuk menghalanginya atau mengujinya.

Karena kedatangannya membawa perintah Prabu Erlangga untuk mengajukan pinangan dan menawarkan perdamaian, maka Narotama tidak ingin menggunakan kekerasan.

Dia hanya mengambil segenggam kerikil dan terucap dengan-suara lembut.

"Sampurasun .....!"

Dilontarkan segenggam kerikil itu ke arah dinding besi dengan ucapan lembut namun berwibawa.

"Berasal dari kerikil kembali menjadi kerikill"

"Blarrr .....!"

Asap mengepul dan dinding besi jadi-jadian itu runtuh dan kembali menjadi segenggam kerikil yang berserakan.

"Jagad Dewa Bathara .....! Teja-teja sulaksana tejanya ksatria yang baru datang. Siapakah andika, orang muda, berani lancang mendaki puncak Junggringslaka tanpa ijin?"

Ki Nagakumala bertanya sambil tetap duduk bersila.

Diam diam dia terkejut melihat betapa orang yang masih muda belia ini dapat memunahkan sihirnya dengan cara lembut.

Biarpun memiliki watak liar dan keras, namun karena Ki Nagakumala adalah putera mendiang Raja Parang Siluman, pernah menjadi suami Ratu Mayang Gupita dan dia kakak kandung Ratu Durgamala, maka tentu saja sikap kebangsawanannya masih nyata dan diapun memiliki wibawa yang cukup kuat.

"Maaf beribu maaf, Paman Nagakumala."

"Hemm, orang muda. Andika mengenal aku?"

"Siapa yang tidak mengenal nama paman yang besar sebagai seorang pangeran Kerajaan Parang Siluman dan sebagai suami Ratu Mayang Gupita? Harap paman sudi memaafkan kelancangan saya, menghadap tanpa ijin, karena saya menjadi utusan untuk menyampaikan sesuatu yang amat penting kepada paman."

"Hemm, orang muda, sebelum andika menceritakan apa yang menjadi keperluan andika datang ke sini, lebih dulu perkenalkan dirimu kepadaku agar dapat kupertimbangkan apakah andika seorang yang cukup berharga dan pantas untuk berwawancara dengan aku!"

Ada keangkuhan seorang bangsawan tinggi terkandung dalam ucapan ini.

Narotama tersenyum.

Dia cukup mengenal watak para bangsawan.

Seorang yang benar-benar berdarah bangsawan kilir batin, seperti misalnya Sang Prabu Erlangga, memiliki wibawa yang amat kuat namun lembut dan wajar, wibawa yang bagaikan sinar yang mencorong dari dalam, tanpa dibuat-buat, bahkan seorang bangsawan yang adiluhung biasanya bersikap rendah hati, tidak pernah menyombongkan kebangsawanannya, bagaikan emas yang sudah mencorong tanpa digosok.

Sebaliknya,orang yang hanya bangsawan secara lahiriah, karena memperoleh kedudukan, karena pangkat atau harta, maka wibawanya ditonjolkan karena sikap yang dibuat-buat, karena keangkuhan dan kesombongan.

Orang seperti ini bagaikan gentong kosong yang tampaknya saja gendut dan nyaring suaranya, namun isinya tidak ada apa-apanya.

Ki Nagakumala ini agaknya termasuk model bangsawan gentong kosong ini!

"Paman, nama saya adalah Narotama."

Ki Nagakumala nampak terkejut bukan main. Dia memandang Narotama dengan mata terbelalak lebar, seolah tidak percaya akan apa yang didengarnya tadi.

"Andika Rakyan. Kanuruhan Mpu Dharmamurti Narotama Danasura, patih dari Kahuripan, pembantu utama Sang Prabu Erlangga?"

Narotama tersenyum dan membungkuk dengan hormat sambil merangkap kedua tangannya di depan dada.

"Saya memang pembantu Gusti Sinuwun Prabu Erlangga yang diutus untuk menghadap paman di sini. Sebelumnya perkenankan saya menyampaikan salam hormat dari Gusti Sinuwun untuk paman."

Melihat sikap dan mendengar ucapan Narotama, Ki Nagakumala sejenak termangu, akan tetapi kemudian dia teringat bahwa yang berdiri di depannya adalah seorang musuh besar, tokoh besar Kerajaan Mataram di Kahuripan.

Dia bangkit berdiri dan bertolak pinggang, sepasang matanya melotot dan kumis gatotkaca-nya bergerak-gerak.

"Babo-babo, Narotama! Besar sekali nyalimu, berani mendatangi guha harimau! Tidak tahukah andika bahwa kami adalah musuh-musuh besar Mataram? Rajamu adalah musuh besar kami, maka andika sebagai utusannya berani datang, berarti sama dengan menyerahkan nyawamu!"

"Paman Nagakumala, justeru karena sikap andika yang memusuhi Gusti Sinuwn itulah maka saya diutus untuk menemui andika. Bukan sekali-kali untuk menanggapi sikap permusuhan paman dengan pertentangan, melainkan saya diutus untuk mengulurkan tangan perdamaian."

K i Nagakumala terbelalak heran.

"Mengulurkan tangan perdamaian? Apa maksud andika?"

"Begini, Paman Nagakumala. Saya di utus Kanjeng Gusti Sinuwun untuk meminang dua orang keponakan andika dan murid andika untuk menjadi garwa selir Gusti Sinuwun. Dengan cara ini Gusti Sinuwun hendak mengikat pertalian keluarga dan menyudahi semua pertentangan dan permusuhan."

Ki Nagakumala hampir tak dapat mempercayai ucapan yang baru saja didengarnya itu.

Sang Prabu Erlangga melamar Lasmini dan Mandari untuk menjadi garwa selirnya?

Bukan main!

Raja besar yang masih muda, tampan dan sakti mandraguna itu akan menjadi suami kedua orang muridnya!

Sungguh merupakan anugerah yang luar biasa besarnya bagi kedua orang gadis itu!

Calon suami yang luar biasa!

Merupakan seorang maha raja, masih muda, terkenal gagah perkasa dan tampan, dan dia tahu betapa sakti mandraguna Raja Kahuripan itu!

Akan tetapi sekilas berkelebat dalam benaknya bahwa raja itu adalah musuh besarnya musuh besar keluarganya yang harus dibunuh dan sama sekali tidak dapat diampuni, apalagi dijadikan mantu keponakan!

Hampir saja dia melompat dan menyerang Narotama ketika dia teringat akan hal ini.

Akan tetapi kemarahan itu ditahannya.

Sekilas gagasan bersinar dalam pikirannya.

Inilah kesempatan paling baik untuk membalas dendam!

Dia dapat mempergunakan dua orang muridnya itu untuk membunuh atau setidaknya menghancurkan keturunan kerajaan Mataram itu!

Kilatan gagasan ini membuat dia cepat menekan kemarahannya dan tertawa bergelak.

"Ha-ha-ha, Ki Patih Narotama. Berita yang andika bawa ini sungguh Demikian mengejutkan dan mengherankan hatiku sehingga sejenak aku kehilangan akal."

"Paman Nagakumala, saya harap paman cukup berakal untuk melihat kebijaksanaan Gusti Sinuwun dan dapat menerima pinangan ini dengan baik demi kebahagian bersama."

"Nanti dulu, kipatih! Urusan perjodohan adalah urusan yang amat penting dan hal ini tak dapat diputuskan olehku seorang. Karena itu, aku minta waktu untuk merundingkan hal ini dengan kedua orang murid, eh, kedua orang keponakanku. Besok pagi-pagi datanglah andika ke sini dan aku akan dapat memberi jawaban yang pasti."

Lega rasa hati Narotama mendengar jawaban itu.

Setidaknya, kakek yang dia tahu amat membenci keturunan Mataram itu, tidak langsung menolak mentah-mentah dan kalau dia hendak merundingkan pinangan itu dengan dua orang gadis keponakannya, besar harapan pinangan itu akan diterima.

Gadis-gadis mana yang tidak akan menjadi bahagia mendengar dirinya dipinang Sang Prabu Erlangga untuk menjadi garwa selirnya?

"Baiklah, paman dan sebelumnya atas nama Gusti Sinuwun Prabu Erlangga, saya mengucapkan banyak terima kasih atas perhatian andika.

Selamat tinggal dan sampai jumpa besok pagi."

Setelah berkata demikian, Narotama meninggalkan tempat itu menuruni bukit karena bagaimanapun juga, dia tahu bahwa bermalam di bukit yang berada di bawah kekuasaan Ki Nagakumala itu amatlah berbahaya.

Di waktu siang dia dapat menjaga dan membela diri dengan baik.

Akan tetapi di waktu malam gelap berada di daerah yang asing baginya itu sungguh amat berbahaya.

"Benarkah itu, uwa? Sang Prabu Erlangga meminang kami berdua?"

Tanya Lasmini dengan sepasang matanya yang indah terbelalak dan bersinar gembira.

"Bukan main! Baru saja tadi kita bicara tentang jodoh, kini tiba-tiba kami berdua dilamar orang dan pelamarnya adalah Sang Prabu Erlangga!"

Kata Mandari dengan wajah gembira sekali.

"Dia terkenal sebagai seorang pria yang masih muda dan tampan juga sakti mandraguna seperti Sang Arjuna! Aku mendengar bahwa dia memiliki kesaktian seperti Sang Bathara Wisnu! Wah, kalau dia yang meminangku, aku mau, uwa, aku mau menjadi garwanya!"

Kata Lasmini sambil tersenyum dan mukanya berubah kemerahan karena biarpun ia seorang gadis yang kenes (genit), namun ia sama sekali belum pernah bergaul dekat dengan pria karena merasa dirinya jauh lebih tinggi daripada laki-laki biasa yang suka menaksirnya dengan pandang mata, senyum dan sikap mereka.

"Aku juga mau, uwa!"

Kata pula Mandari, agaknya tidak mau kalah oleh kakaknya.

"Hemm, dia memang meminang kalian berdua!"

Kata Ki Nagakumala.

"Kalau begitu kami mau, uwa. Engkau terima sajalah pinangan itu!"

Kata mereka berdua dengan suara hamper berbareng. Ki Nagakumala mengerutkan alisnya.

"Hemm, Lasmini dan engkau Mandari, lupakah kalian kita ini dari keluarga mana?"

Mendengar suara yang bernada ketus dalam pertanyaan itu Lasmini dan Mandari terkejut.

"Tentu saja kami tidak lupa, uwa. Kita ini keturunan keluarga kerajaan Parang Siluman!"

Kata Lasmini.

"Hemm, kalau begitu kalian tentu tahu bahwa Mataram adalah musuh bebuyutan kita!"

Lasmini dan Mandari saling pandang, lalu Mandari membantah.

"Akan tetapi, uwa. Sang Prabu Erlangga adalah raja yang baru dan muda, tidak pernah ada permusuhan pribadi antara dia dan keluarga Kerajaan Parang Siluman!"

"Siapa bilang tidak ada permusuhan? Kita masih ada ikatan keluarga dengan Kerajaan Wurawari, juga menjadi sekutu kita kerajaan itu sejak dahulu jaman Kanjeng Raja Dirgabaskara masih menjadi Raja Parang Siluman. Akan tetapi Kerajaan Wurawari yang berhasil mengalahkan Mataram dan membunuh Sang Prabu Teguh Dharmawangsa kemudian diserbu Erlangga yang kemudian menjadi raja sampai sekarang. Sang Prabu Erlangga adalah musuh kita, musuh besar keluarga kita!"

"Wah, kalau begitu aku tidak bisa menjadi garwanya!"

Kata Lasmini.

"Aduh, alangkah sayangnya!"

Seru Mandari kecewa sekali.

"Kapan lagi kita bisa mendapatkan seorang calon suami sehebat itu?"

"Kalau begitu, uwa tentu sudah menolak pinangan itu!"

Kata Lasmini, juga merasa kecewa.

"Tidak, aku hanya menangguhkan jawaban sampai besok pagi, karena aku ingin mengajak kalian berunding lebih dulu. Dengar baik-baik, Lasmini dan Mandari. Kalian adalah keturunan keluarga kerajaan Parang Siluman, karena itu sudah menjadi kewajiban kalian untuk membalas dendam kepada Mataram. Sangupkah kalian?"

"Tentu saja kami sanggup, uwa. Bukankah kanjeng ibu menyuruh kami memperdalam aji kanuragan di bawah bimbingan uwa juga agar kelak kami dapat membalas dendam kepada Mataram?"

Kata Lasmini.

"Bagus sekali kalau begitu! Tidak sia sia selama ini aku mewariskan seluruh ilmuku kepada kalian berdua. Ketahuilah, musuh besar yang memperkuat Mataram ada dua orang, yaitu Sang Prabu Erlangga sendiri dan patihnya, yaitu Kipatih Narotama. Nah, sekarang aku menugaskan kalian berdua untuk membagi tugas yang seorang membunuh Sang Prabu Erlangga dan yang lain membunuh Kipatih Narotama."

"Akan tetapi bagaimana caranya, uwa? Aku pernah mendengar bahwa Erlangga dan Narotama itu tunggal guru dan sakti mandraguna. Pula, mereka itu adalah raja dan patih, tentu dilindungi bala tentara. Kami yang hanya berdua ini bagaimana mungkin dapat membunuh dua orang sakti itu?"

Tanya Mandari.

"Caranya mudah dan akan memuaskan dan menyenangkan hati kalian, yaitu dengan menerima pinangan itu."

"Hehh .....? Bagaimana sih uwa ini? Mau membalas dendam kok disuruh menjadi isterinya!"

Seru Lasmini sambil memalalakan kedua matanya yang indah.

"Begitulah! Bukankah kalian tadi mengatakan bahwa kalian akan senang sekali menjadi garwa Sang Prabu Erlangga? Nah, kesempatan baik itu datang. Kalian menjadi garwanya, dapat emenuhi keinginan hati mempersuamikan seorang pria ganteng berpangkat tinggi berdarah bangsawan dan sakti mandraguna, juga kalian mendapat kesempatan baik sekali untuk membalas dendam. Bukankah itu bagus sekali?"

"Akan tetapi uwa tadi mengatakan bahwa kami berdua harus membagi tugas, yang seorang membunuh Sang Prabu Erlangga dan yang lain membunuh Kipatih Narotama. Kalau kami berdua menjadi garwa Prabu Erlangga, lalu bagaimana dapat membunuh Kipatih Narotama?"

Tanya Mandari.

"Oya, aku belum memberitahukan kalian bahwa yang diutus Sang Prabu Erlangga untuk mengajukan pinangan adalah Narotama sendiri! Malam ini dia turun bukit dan besok pagi dia akan datang lagi ke sini. Kalau bukan dia yang diutus, orang lain mana mampu mendaki sampai ke puncak menghindarkan semua rajah yang sudah kupasang di sepanjang lereng menuju puncak ini?"

"Wah, kalau begitu dia tentu datang membawa pasukan?"

Tanya Lasmini.

"Tidak, dia hanya datang seorang diri saja."

"Kalau begitu kebetulan sekali, uwa Kita turun tangan membunuhnya kala besok pagi dia muncul. Dengan demikian berarti kita telah menyingkirkan seorang musuh!"

Kata Mandari.

Ki Nagakumala menggeleng kepalanya!

"Tidak.

Biarpun Narotama merupakan orang penting di Mataram yang harus di bunuh, namun kalau hal itu kita lakukan kita akan gagal membunuh Erlangga, hal yang lebih penting lagi.

Kematian Narotama hanya akan memperlemah Mataram, namun kcmatian Erlangga berarti menghancurkan Mataram.

Justeru kebetulan sekali Narotama yang menjadi utusan sehingga engkau mempunyai alasan yang Kuat untuk menolak menjadi garwa Erlangga dan memilih menjadi isteri Narotama, Lasmini."

Tiba-tiba di tengah malam itu terdengar bunyi burung malam yang terbang melintas di atas pondok.

"Kulik! Kulik! Kulik!"

"Sstt ..... kita harus berhati-hati. Narotama itu sakti mandraguna. Siapa tahu burung tadi merupakan penyelidik yang dikirimnya. Mari dengar bisikanku. Kita harus menggunakan siasat begini ....."

Ki Nagakumala lalu berbisik-bisik, didengarkan dengan penuh perhatian oleh Kedua orang keponakan yang juga menjadi muridnya yang amat disayangnya itu.

Setelah merencanakan siasat yang hendak mereka lakukan terhadap Narotama, dua orang perawan Bukit JungKringslaka yang cantik jelita itu lalu masuk kamar dan tidur.

Ki Nagakumala sendiri duduk bersila di dalam pondok, memusatkan tenaganya agar besok dapat siap menghadapi segala kemungkinan.

Pada keesokan harinya, Narotama mendaki Bukit Junggringslaka.

Seperti biasa, orang muda perkasa ini selalu dalam keadaan waspada.

Sikap "eling lan waspada" (sadar dan waspada) ini merupakan sikap yang tidak pernah meninggalkan dirinya lahir batin setiap saat.

Sadar dan waspada saat demi saat.

Sadar akan keberadaan dirinya, sadar akan Kekuasaan Maha Tinggi yang menguasai dan mengatur segala sesuatu yang tampak dan tidak tampak, termasuk diri pribadinya lahir batin, sadar dan ingat selalu bahwa dirinya merupakan ciptaan dan alat Sang Hyang Widhi Wasa (Gusti Allah), bahwa Kekuasaan Maha Tinggi itu merupakan awal akhir, merupakan sangkan paraning dumadi (awal dan akhir semua keberadaan).

Di samping kesadaran rohani ini, juga selalu ada kewaspadaan dalam dirinya melalui panca-inderanya, pengamatan yang selalu baru akan segala yang berada di dalam dan di luar dirinya.

Dengan demikian, maka segala gerak hati akal pikiran dan kelakuan dibimbing oleh Sang Dewa Ruci (Roh Suci) sehingga yang berada dalam hati sanubari hanyalah upaya untuk "memayu hayuning bawana" (menjaga keindahan alam).

Dalam bimbingan Sang Dewa Ruci, si aku, yang bukan lain hanya nafsu-nafsu daya rendah yang saling berlumba untuk menguasai diri manusia lalu mengaku ku sebagai "aku", menjadi lenyap atau setidaknya melemah sehingga hati menjadi sabar dan tenang, tidak mudah terbakar emosi yang bukan lain hanyalah gejolak nafsu daya rendah.

(Lanjut ke

Jilid 06) Keris Pusaka Sang Megatantra (seri ke 01 -Serial Keris Pusaka Sang Megatantra) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo

Jilid 06 Narotama melangkah perlahan-lahan dan santai mendaki bukit.

Matahari pagi mulai mengusir halimun yang semalam memeluk bumi, meninggalkan butir-butir mutiara embun bergantung di ujung-ujung daun dan merupakan butir-butir air mata kelopak-kelopak bunga.

Air mata tangis bahagia, sama sekali tidak tersentuh duka walau pada bunga yang sudah layu sekalipun.

Semua itu seperti digelar di depan Narotama, tampak semuanya, dan yang ada hanya satu kesan, yaitu indah dan bahagia!

Terasa benar oleh Narotama semua itu merupakan hasil karya Seniman Maha Besar, merupakan ciptaan agung yang tiada taranya.

Namun, biarpun semua itu merupakan berkah 5ang Hyang Widhi Wasa, berkah yang paling besar berada dalam dirinya sendiri.

Apa yang membuat kesemuanya itu tampak indah?

Karena ada penglihatan di matanya!

Kalau Sang Hyang Widhi Wasa tidak memberi berkah penglihatan pada kedua matanya, semua keindahan yang terbentang di jagad raya ini takkan ada arti baginya.

Juga semua keindahan bunyi, kemerduan kicau burung, kokok ayam, dengus kerbau dan embik kambing nun jauh di bawah bukit, takkan ada artinya kalau dia tidak diberkahi dengan pendengaran pada telinganya!

Mata Narotama yang memandang tanpa ditunggangi nafsu daya rendah, dapat melihat dengan hati akal pikiran yang jernih tanpa penilaian, tanpa pendapat, tanpa keinginan sehingga tidak ada pertentangan dengan keadaan seperti apa adanya.

Kalau sudah begitu, tidak ada lagi bagus atau jelek, menyenangkan atau tidak menyenangkan.

Yang ada hanya indah sempurna, wajar dan pas, karena yang ada hanyalah terjadinya Kehendak Sang Hyang Widhi.

Kehendak si aku, yaitu nafsu daya rendah, sama sekali tidak bekerja.

Sedikit gerakan di antara rumput hijau gemuk itu cukup membuat Narotama yang selalu waspada menyadari bahwa ada sesuatu terjadi di situ.

Dia cepat menoleh dan mengamati.

Kiranya seekor ular dumung sedang bergerak perlahan sekali, menyusup di antara rumput menghampiri seekor kelinci putih yang sedang makan daun.

Narotama melihat betapa indahnya kulit ular itu tertimpa matahari pagi yang bersinar lembut.Tidak akan ada tangan seorang seniman lukis dapat membuat coretan garis-garis seperti yang tergambar pada kulit ular itu!

Setelah jarak antara ular dan kelinci itu t inggal kurang lebih dua kaki lagi,ular itu mengangkat kepalanya ke atas, gerakannya perlahan sekali sehingga kelinci itupun tidak mendengar atau melihatnya.

Kemudian, bagaikan kilat menyambar, kepala ular itu meluncur ke depan, moncong yang terbuka lebar itu,menyambar dan tengkuk kelinci putih itu sudah digigitnya.

Darah merah menodai bulu kelinci yang putih.

Kelinci itu menjerit lirih dan meronta, namun suara jeritan dan tubuhnya segera tak terdengar dan tak tampak lagi dibelit tubuh ular.

Belitan kuat yang meremukkan tulang-tulang kelinci itu.

Narotama tersenyum.

Teringat dia ketika baru saja berguru di Pulau Bali dan melihat peristiwa seperti ini, seekor ular yang menggigit lalu mencaplok seekor katak, hatinya dipenuhi perasaan marah dan kengerian.

Timbul keinginan hatinya untuk membela katak dan memusuhi ular yang dianggapnya kejam dari ganas.

Masih terngiang dalam ingatannya apa yang dikatakan gurunya ketika itu.

Gurunya tertawa melihat dia marah dan penasaran.

"Narotama, yang baru saja engkau saksikan itu sama sekali bukan merupakan keganasan dan kekejaman seekor ular, melainkan terjadinya hukum atas segala mahluk seperti yang sudah dikodratkan oleh Sang Hyang Widhi yang menciptakan segala alam maya pada berikut seluruh isinya. Binatang itu hidup menurutkan naluri dan pembawaannya. Ular makan binatang kecil lain, hal itu adalah merupakan hukum yang berlaku atas dirinya, tak mungkin diubah lagi oleh siapapun juga kecuali kalau Sang Hyang Widhi menghendaki. Ular itu sudah menjadi kodratnya tidak bisa makan daun atau akar. Makannya ya binatang kecil itulah. Kalau engkau menghalangi dia makan katak dan sebagainya, yaitu binatang kecil, dia akan mati kelaparan. Demikian pula engkau tidak dapat memaksa seekor kerbau makan ular atau binatang lain. Makannya, menurut kodratnya, adalah daun-daun atau rerumputan. Apakah engkau hendak menentang kodrat yang ditentukan oleh Sang Hyang Widhi Wasa?"

Kini, melihat seekor ular mencaplok seekor kelinci, tidak ada lagi perasaan penasaran dalam hati Narotama, bahkan dia melihat betapa tertib, sempurna, dan indahnya semua hokum alam sesuai dengan Kehendak Hyang Widhi berlangsung dan berjalan tanpa diikat dan dikuasai ruang dan waktu.

Semua Kehendak Hyang Widhi Wasa sudah baik, benar, adil dan suci.

Terjadilah segala kehendakNya.

Salahnya, manusia menilai atas dasar kehendak masing-masing yang bukan lagi adalah ulah nafsu daya rendah.

Oleh karena itu muncullah konflik-konflik dalam diri sendiri yang mencuat menjadi konflik antar manusia, bahkan konflik antara kehendak manusia yang dibandingkan dengan Kehendak Hyang Widhi.

Jadilah kehendakMu, demikian seharusnya seorang bijaksana berserah diri kepadaNya.

Jangan sekali-sekali menambah kalimat suci dari dua kata itu menjadi Jadilah kehendakMu sesuai dengan keinginanku!

karena kalau demikian kita akan bertemu dengan konflik batin yang berkepanjangan.

Ketika Narotama tiba di depan pondok tempat tinggal Ki Nagakumala, dia melihat Ki Nagakumala sudah menanti diatas dipan depan pondok bersama dua orang wanita muda yang dia duga pasti dua orang gadis yang dipinang oleh Sang Prabu Erlangga.

"Selamat pagi, Paman Nagakumala dan ..... nimas berdua!"

Kata Narotama dengan ramahnya.

Di dalam hatinya Narotama terpesona juga melihat dua orang dara itu.

Memang sukarlah mencari dua orang dara yang demikian cantik jelita, ayu manis, luwes kuwes merak ati seperti mereka yang duduk di atas bangku sebelah kiri Ki Nagakumala dengan pandang mata mereka yang demikian indah sambil tersenyum simpul.

Bibir manis merah basah itu merekah seperti bunga mawar sedang mekar di pagi hari bermandi embun pagi yang segar.

Akan tetapi, dasar seorang ksatria yang kokoh kuat batinnya, pada pandang matanya, Narotama tidak menunjukkan kekagumannya dan hanya memandang biasa dengan tenang dan penuh sopan santun.

"Selamat pagi, Kipatih Narotama dan silakan duduk."

Ki Nagakumala menunjuk ke arah sebuah bangku yang sudah disediakan untuk tamunya, berhadapan dengan mereka bertiga.

Narotama memandang ke arah bangku yang ditawarkan.

Sekilas pandang saja tahulah dia bahwa bangku kayu itu sudah dirajah (diisi dengan aji).

Agaknya kembali Ki Nagakumala hendak mengujinya.

Dia pura-pura tidak tahu dan duduk di atas bangku yang ditawarkan.

Tentu saja diam-diam dia mengerahkan aji kesaktiannya untuk melindungi diri terhadap serangan rajah yang sudah dipasang pada bangku itu.

Tiga orang itu, terutama Lasmini dan Mandari, memandang dengan hati tegang.

Mereka tahu bahwa barang siapa menduduki bangku yang sudah dirajah dengan Rajah Banaspati itu tentu akan terbakar Narotama duduk dan.....

"cesssssss ....."

Tampak asap mengepul tebal dari bangku yang diduduki Narotama.

Narotama bangkit berdiri dengan tenang dan bangku itupun hancur menjadi arang setelah baru saja dibakar api yang besar, padahal pakaian Narotama sedikitpun tidak ada yang terbakar, apalagi kulit tubuhnya.

"Maaf, Paman Nagakumala. Bangku ini rusak."

Kata Narotama dan dia mengambil sebuah bangku lain dan duduk berhadapan dengan tiga orang itu.

"Ha-ha-ha-ha! Bagus, Anakmas Narotama! Tidak percuma andika menjadi maha patih di Kahuripan. Kami menerima andika sebagai utusan Sang Prabu Erlangga dengan penuh penghormatan."

"Terima kasih, Paman Nagakumala, atas kebijaksanaan andika."

"Perkenalkan, anakmas. Ini adalah keponakanku, juga murid-muridku. Ini adalah Nini Lasmini dan yang lebih muda Nini Mandari. Mereka adalah kakak beradik, puteri-puteri adikku Ratu Durgamala dari Kerajaan Parang Siluman. Nini berdua, inilah Rakyana Patih Narotama dari Mataram."

Dua orang gadis itu memberi hormat dengan sembah di depan hidung mereka. Narotama membalas dengan sembah di depan dada.

"Paman Nagakumala, bagaimana jawaban paman atas pinangan yang saya ajukan kemarin? Apakah sudah ada keputusan jawabannya?"

"Ha-ha-ha! Sudah kami rundingkan dengan dua orang anak yang bersangkutan, anakmas. Sebaiknya kalau anakmas mendengar sendiri apa yang menjadi jawaban mereka. Nini Lasmini, engkau sudah mendengar sendiri pertanyaan Ki patih Narotama dan aku sudah menceritakan kepada kalian berdua tentang pinangan yang diajukan Kipatih atas nama Sang Prabu Erlangga. Nah, sekarang, engkau jawablah sendiri saja pertanyaan itu dan terserah kepadamu sendiri apakah engkau dapat menerima pinangan itu ataukah tidak."

Lasmini menatap tajam wajah Narotama dan pada sinar matanya terbayang kekaguman kepada pria perkasa itu.

Pria yang masih muda, paling banyak dua puluh tujuh tahun usianya, tubuhnya tinggi tegap dan jelas berisi tenaga yang amat kokoh kuat walaupun sikapnya sederhana.

Wajahnya tampan dan penuh wibawa.

Tidak mengenakan pakaian kebesaran seperti seorang bangsawan tinggi, melainkan seperti seorang muda dari pulau Bali.

Kepalanya terbungkus kain pala yang ujungnya meruncing di bagian belakang.

Mata yang tajam seperti mata elang itu memandang dengan lurus dan wajar, sama sekali tidak membayangkan perasaan hatinya, namun bibir yang tersenyum itu membayangkan kesabaran dan penuh pengertian.

Wajah seorang laki-laki, seorang jantan dan begitu bertemu pandang, Lasmini segera jatuh hati.

la merasa tertarik sekali dan ada kemesraan menyentuh hati sanubarinya.

Kalau laki-laki ini benar memiliki kedigdayaan seperti yang pernah didengarnya, maka inilah calon suami yang di nanti-nantinya dan ia segera merasa cocok dan setuju dengan siasat yang telah direncanakan semalam bersama Mandari dan Ki Nagakumala.

Mendengar ucapan uwanya itu, Lasmini tersenyum, menjaga agar senyum itu keluar dengan wajar tidak dibuat-buat dan tampak semanis-manisnya.

Memang manis bukan main ketika ia tersenyum itu.

Bahkan tahi ialat hitam kecil di sudut mulut bagian kiri itu seolah menari.

"Karena andika ternyata masih amat muda, Kipatih, bolehkah saya menyebut andika Kakangmas Narotama saja?"

Katanya dengan lembut dan sikap sopan, agak malu-malu.

Narotama tersenyum.

Wajah Lasmini begitu menarik dan mempesona hatinya, namun dia ingat bahwa dia dalam tugas dan wanita ini bersama adiknya dipinang oleh Sang Prabu Erlangga, hendak dijadikan selir dan dia hanyalah seorang utusan sehingga sama sekali tidak boleh perasaannya ikut berulah.

"Tentu saja, Nimas Lasmini. Tentu andika boleh menyebutku Kakangmas Narotama saja. Sesungguhnya sayapun tidak ingin membanggakan kedudukanku sebagai patih dan saya sekarang ini hanya bertindak sebagai seorang utusan."

"Baiklah kalau begitu, kakangmas. Sekarang, apakah kakangmas menghendaki jawaban atas pinangan itu langsung dari mulut saya?"

"Sebaiknya begitulah. Saya hanya utusan dan apapun yang menjadi jawaban andika sekalian atas pinangan itu, saya hanya akan melaporkannya kepada Gusti Sinuwun."

"Terus terang saja aku dan adikku mandari sudah saling berembuk dalam hal ini dan sudah mengambil keputusan. Andika tadi sudah mendengar bahwa kami alalah puteri-puteri Kanjeng Ibu Ratu Durgamala dari Kerajaan Parang Siluman, dan ayah kami adalah Sang Bhagawan Kundolomuko yang kini menjadi pertapa di pantai Blambangan. Nah, setelah mengetahui akan hal itu, bahwa ayah ibu kami adalah musuh-musuh Mataram, apakah andika masih hendak melanjutkan pinangan itu, kakangmas?"

"Kanjeng Gusti Sinuwun tahu benar akan hal itu, nimas. justeru karena selama ini Kerajaan Parang Siluman memusuhi Mataram, maka beliau mempunyai keinginan untuk mengulurkan tangan persahabatan, bahkan kekeluargaan dengan Kerajaan Parang Siluman. Maka, mendengar bahwa Kerajaan Parang Siluman mempunyai dua orang puteri yang bijaksana, sakti dan cantik jelita, lalu timbul keinginan Gusti Sinuwun untuk meminang andika berdua."

Lasmini tersenyum lagi dan mengangguk-angguk.

"Hal itupun sudah kami dengar dari keterangan Uwa Nagakumala. Akan tetapi semenjak kami remaja, kami berdua sudah menentukan syarat bagi pria yang hendak mempersunting kami sebagai isteri. Pertama .dia harus seorang ksatria yang berkedudukan t inggi."

"Gusti Sinuwun Erlangga adalah seorang ksatria besar dengan kedudukan sebagai raja!"

Kata Narotama.

"Syarat yang ke dua, dia harus seorang pria muda yang tampan dan bijaksana."

"Itu syarat yang sudah terpenuhi, nimas. Siapa yang tidak mengenal bahwa Sang Prabu Erlangga adalah seorang pria muda yang tampan dan gagah, berbudi bawa laksana, sugih bandha bandhu lagi bijaksana?"

"Dan syarat ke tiga yang penting kali bagi kami, pria itu harus sakti mandraguna dan dapat mengalahkan kami dalam pertandingan adu kesaktian!"

"Sang Prabu Erlangga adalah seorang raja yang sakti mandraguna pilih tanding, lebih lebih digdaya dibandingkan aku. Akan tetapi beliau tidak berada di sini untuk membuktikan kesaktiannya. Aku adalah utusannya yang berkuasa penuh, bertanggung jawab dan berhak mewakili beliau menghadapi segala rintangan dan tantangan. Oleh karena itu, syarat ketiga itu dapat dipenuhi dan aku yang menjadi wakilnya."

"Kalau begitu, andika yang akan mewakili Sang Prabu Erlangga menandingiku, kakangmas?"

Tanya Lasmini dan matanya memandang begitu indahnya, setengah tertutup sehingga bulu mata yang lentik panjang itu hampir saling merapat.

"Kalau memang itu merupakan sayembara bagimu, akan kuhadapi, nimas!"

Lasmini tersenyum menoleh kepada Ki Nagakumala.

"Uwa, aku akan menerimaan di mana lagi kalau tidak di sini? Pelataran pondok kami ini cukup luas untuk dijadikan tempat berdinding kesaktian. Mari, Kakangmas Narotama, mari saling menguji kesaktian masing-masing. Sudah lama aku mendengar akan kehebatan Kipatih Narotama dan ingin sekali aku merasakan sendiri sampai berapa hebat dan ampuh kepandaiannya!"

Setelah berkata demikian, Lasmini melompat ke depan.

Sekali lompat ia sudah melayang ke pelataran yang terbuka, tidak kurang dari lima tombak jauhnya, bagaikan seekor burung srikatan saja gesitnya, la berdiri tegak seperti srikandi, pendekar wanita digdaya dalam cerita Mahabharata itu.

Narotama bangkit berdiri, membungkuk kepada Ki Nagakumala seolah minta perkenan tuan rumah itu.

Kakek itu tersenyum dan mempersilakan dengan gerakan tangannya.

Narotama lalu melangkah menghampiri Lasmini yang telah berdiri menanti sambil bertolak pinggang.

Mereka saling berhadapan, saling mengamati seperti lagak dua ekor ayam yang hendak bertarung.

Lasmini mengamati wajah dan tubuh Narotama penuh perhatian.

Pria itu memang tampan dan gagah sekali walaupun sikapnya lembut bersahaja.

Tubuhnya yang tinggi tegap Itu menunduk seolah memperlihatkan kerendahan hatinya, namun kepalanya tegak penuh wibawa dan keagungan Pancaran pandang matanya penuh pengertian dan penuh kekuatan batin, pandang mata yang begitu dalam dan tenang seperti permukaan air telaga yang dalam Namun di balik semua kekuatan tersembunyi Itu, terbayang kelembutan seorang ksatria yang selalu merasa rendah dan tunduk akan kekuasan Yang Maha Tinggi.

Biarpun pakaiannya juga tidak terlalu mewah, namun dalam kesederhanaan itu terbayang keagungan seorang priyayi yang berkedudukan tinggi.

Sebatang keris berwarangka kayu terukir terselip di ikat pinggangnya.

Itulah keris pusaka Kolomisani, sebatang keris kecil berbentuk lurus.

Di lain pihak, Narotama juga mengamati calon lawannya dan kembali hatinya tergetar dan terguncang oleh daya tarik yang luar biasa dari dara ayu itu.

Tubuh Lasmini ramping dan padat, denok dan kewes.

Dadanya yang membusung itu tampak membayang di balik kemben sutera halus, seolah-olah bukit dadanya hendak memberontak karena ditutup dan ditekan kemben, seperti sepasang gunung berapi siap meletus.

Rambutnya yang hitam panjang berombak itu digelung lebar terhias emas bermata intan yang amat indah.

Gelung rambut itu ujungnya terurai di leher sebelah kanan, terhias untaian bunga melati.

Wajahnya gemilang seperti bulan purnama, dihalus-putihkan dengan bedak tipis-tipis.

Kulitnya yang putih mulus itu demikian halus sehingga ketika tertimpa sinar matahari pagi, seperti berkilau laksana emas.

Sebilah keris kecil terselip di pinggangnya.

Sungguh merupakan seorang dara yang luar biasa cantik jelitanya, bagaikan Dyah Srikandi, cantik dan juga gagah perkasa.

Lasmini melepas lagi senyumnya.

Senyum yang lebih tajam dan lebih berbahaya daripada anak panah yang dilepas dari gendewa di tangan Srikandi.

Senyum itu bagaikan anak panah mujijat yang langsung menyambar ke arah jantung Narotama!

Namun, kipatih ini cepat menangkis dengan tekanan batinnya, mengingat bahwa wanita itu adalah calon garwa selir junjungannya sehingga tidak pantaslah kalau dia jatuh cinta!

"Kakangmas Narotama, sudah siapkah andika?"

Tanya Lasmini, suaranya merdu sekali, bukan seperti orang menantang bertanding, begitu mesra dan bersahabat "Sudah, nimas. Aku sudah siap. Mulailah."

Kata Narotama tenang.

Lasmini sudah merencanakan siasat bersama adik dan uwaknya.

Ia juga tahu bahwa ia tidak akan mungkin dapat menandingi kipatih yang sudah amat terkenal kedigdayaannya itu.

Sudah diatur bahwa ia harus berhasil menjadi garwa atau selir Kipatih Narotama yang nama jabatannya adalah Rakryan Patih Kanuruhan Mpu Dharmamurti Narotama Danasura itu.

Karena itu, setelah kini berhadapan dengan Narotama dan mulai bertanding, iapun memasang gaya yang amat menarik, la membuka gerakan silatnya dengan indah sekali.

Ia berdiri memasang kuda-kuda dengan kaki kanan di belakang dan kaki kiri di depan, kedua lutut ditekuk dan kaki kiri berdiri pada ujung kakinya, sikapnya "ndegeg", yaitu dada dibusungkan kedepan dan pinggul ditonjolkan ke belakang, tangan kiri dengan siku ditekuk dan jari-jari terpentang berada di depan dahi dengan telunnjuk menuding ke atas, tangan kanan berkembang ke belakang dengan jari jari terbuka pula.

Gerakan pembukaan ini indah sekali, seperti seorang penari Bali beraksi, dadanya dan pinggulnya makin tampak membusung dan pinggangnya tampak begitu ramping seperti akan patah, pasangan pembukaan yang indah dan juga mengandung daya tarik yang menggairahkan.

Narotama terpesona akan semua keindahan gerak tubuh wanita ini, akan tetapi dia bersikap tenang, menanti dara itu melakukan penyerangan.

"Sambut seranganku!"

Tiba-tiba Lasmini berseru dan tubuhnya mulai bergerak menyerang.

Tangan kirinya menyabar dari atas mencengkeram ke arah kepala Narotama disusul tangan kanan yang meluncur ke arah dada dengan tusukan dua jari tangan.

"Hyaaaaattt .....!"

Narotama kagum.

Serangan itu sungguh dahsyat.

Namun baginya tidak merupakan ancaman bahaya.

Dia lalu mengelak dan ketika Lasmini menyusulkan serangan bertubi-tubi sambil dibarengi dengan bentakan-bentakan nyaring, Narotama hanya membela diri dengan elakan dan tangkisan.

Kalaupun menangkis, dia membatasi tenaganya, tidak mempergunakan tenaga yang mengandung kekerasan, melainkan menggunakan tenaga lemas sehingga Lasmini merasa seolah lengannya ditangkis sebatang lengan yang hanya terdiri dari kulit dan daging tanpa tulang, begitu empuk walaupun amat kuat sehingga tidak membuat lengannya nyeri.

Diam-diam Lasmini merasa girang sekali.

Kenyataan ini saja menunjukkan bahwa kipatih ini "ada rasa"

Kepadanya, menyayangnya dan tidak ingin menyakitinya.

Bahkan sampai tiga puluh jurus ia menyerang terus secara bertubi-tubi, tidak satu kalipun patih itu membalas!

Bagaimanapun juga, Lasmini merasa penasaran sekali.

Ia memang sudah diberi tahu uwanya bahwa Narotama amat sakti mandraguna dan ia tidak mampu menandingmya, namun kini ia merasa tegitu tidak berdaya seperti seorang anak kecil saja.

la merasa penasaran juga karena selama ini belum pernah ia dikalahkan orang.

Setelah kembali sebuah tangkisan lengan yang lunak seperti karet itu membuatnya terpental ke belakang, Lasmini diam-diam membaca mantra dan mengosok-gosokkan kedua telapak tangannya.

Segera terasa hawa dingin menyelubungi sekitar dara itu, terutama sekali Narotama merasa ada hawa dingin menyergapnya.

Dia maklum bahwa gadis itu mempergunakan aji kesaktian yang mengandung hawa dingin dan tentu merupakan pukulan yang memiliki daya serang berbahaya.

Maka, diapun sudah siap siaga untuk menyambut serangan aji yang mengandung kekuatan sihir itu.

Lasmini mengumpulkan tenaga dan setelah merasa tenaganya mencapai titik puncak, ia lalu mendorongkan kedua telapak tangannya ke arah Narotama sambil berseru melengking.

"Aji Ampak-ampak ..... hyaaaaahh....!!"

Tampak cahaya kebiruan menyambar dari kedua telapak tangan itu meluncur ke arah tubuh Narotama.

Ampak-ampak adalah semacam halimun atau kabut dingin yang biasanya terdapat di puncak puncak gunung yang wingit, yang mengandung hawa dingin menyusup tulang dan juga mengandung bisa yang dapat mematikan manusia maupun tumbuh tumbuhan.

Narotama yang sudah siap siaga, lalu mengerahkan tenaga saktinya, menyambut dengan dorongan kedua tangannya sambil berseru nyaring.

"Aji Bojrodahono (Api Halilintar) .....!"

Tidak ada lawan yang lebih ampuh untuk melawan Aji Ampak-ampak yang dingin seperti salju itu kecuali Aji Bojrodahono yang panas bagaikan api.

"Blarrrrr .....!"

Masih untung bagi Lasmini bahwa Narotama tidak mempergunakan seluruh tenaga saktinya, hanya membatasi dan cukup untuk menolak serangan dara itu saja.

Namun, pertemuan dua tenaga sakti itu tetap saja membuat tubuh denok Lasmini terdorong ke belakang dan nyaris ia jatuh terjengkang kalau saja ia tidak cepat berjungkir balik ke belakang sampai tiga kali.

Perbuatan ini tentu saja membuat kain yang menutupi tubuhnya tersingkap sedikit sehingga tampak oleh Narotama kulit paha yang putih mulus dan betis kaki yang indah memadi bunting.

Kembali darahnya berdesir kencang.

Lasmini merasa kagum sekali.

Akan tetapi dasar ia berwatak liar dan biasaya suka menyombongkan kepandaian sendiri, kekalahan demi kekalahannya itu membuat ia semakin penasaran.

Ia lalu mencabut keris kecil yang terselip di pinggangnya.

Sambil mengacungkan senjata itu, ia berkata, suaranya menantang.

"Kakangmas Narotama, beranikah andika menyambut keris pusakaku ini? Kalau engkau berani dan mampu mengalahkan aku sekali ini, barulah aku menerima kekalahanku!"

Narotama tersenyum.

Dia harus menjaga kebesaran nama junjungannya.

Pertandingan ini memang dilakukan olehnya namun sebagai wakil Sang Prabu Erlangga sehingga kemenangannya atau kekalahannya, juga merupakan kemenangan atau kekalahan Sang Prabu Erlangga.

Dia memandang keris kecil itu dan melihat betapa ujung keris itu mengeluarkan sinar hitam.

Dia dapat menduga bahwa keris itu pasti telah direndam racun yang amat berbahaya dan sedikit tergores saja, kalau sampai kulit terobek dan berdarah, cukup untuk membunuh orang.

Dia maklum bahwa betapapun cantik jelitanya, dara ini adalah keturunan keluarga kerajaan sesat.

Kerajaan Parang Siluman memang terkenal memiliki tokoh-tokoh ahli sihir dan racun.

Akan tetapi dia tidak menjadi gentar, mengingat bahwa tingkat kesaktian Lasmini sudah diukurnya dalam pertandingan tadi dan tenaga dara itu tidak terlalu kuat baginya.

Dia lalu menanggalkan baju atasnya agar jangan sampai terobek, lalu dengan dada terbuka dia melangkah maju.

"Marilah, Nimas Lasmini, akan ku tadahi keris pusakamu dengan dadaku. Hendak kulihat bagaimana ampuhnya keris pusakamu itu!"

Lasmini terbelalak.

Benarkah pemuda ini hendak menerima tusukan kerisnya yang ampuh beracun dengan bertelanjang dada?

Bagaimana kalau Narotama tewas oleh kerisnya?

Jadi berantakan siasat yang telah direncanakan dan diatur sebelumnya.

Akan tetapi, timbul pula keinginan dalam hatinya untuk menguji kesaktian pria ini.

Untuk menyerahkan dirinya yang masih perawan itu kepada seorang laki-laki, ia harus yakin bahwa laki-laki itu memang patut memiliki dirinya, menerima cinta kasihnya, patut untuk dilayaninya sebagai seorang suami.

"Baik, sambutlah ini, kakangmas!"

La melangkah maju dan tangan kanannya yang memegang gagang keris itu bergerak menusukkan kerisnya ke arah ulu hati Narotama.

"Syuuuttt ..... tukk!"

Keris itu membalik, seperti menusuk benda yang kenyal lunak namun kuat seperti karet!

Dan kulit dada yang putih bersih itu sama sekali tidak terluka, lecet sedikitpun tidak!

Lasmini terkejut dan kagum sekali.

Ia sendiri juga memiliki aji kekebalan, akan tetapi kalau harus menerima tusukan keris pusakanya ini, tentu saja ia tidak berani.

Keris pusakanya ini sudah dirajai dan ditapai, dapat menembus kekebalan lawan.

Akan tetapi kekebalan yang dimiliki Narotama ternyata sama sekali tidak dapat ditembus.

Setelah bertubi-tubi menusuk dada dan perut sampai tujuh kali dan selalu kerisnya membalik, Lasmini mengertakan gigi dan mengerahkan seluruh tenaga saktinya, lalu menusuk lagi ke arah lambung Narotama.

"Hyaattt ..... ahhh!"

Tadi Lasmini sudah merasakan betapa semakin kuat ia menusuk, semakin kuat pula kerisnya terpental.

Akan tetapi ia tidak kapok, kini malah menusuk dengan seluruh tenaganya.

Begitu kerisnya mengenai lambung keris itu terpental dan membawa tubuhnya terjengkang.

Ia tentu terbantai roboh kalau saja Narotama tidak cepat menyambar dan merangkul pinggangnya untuk mencegah tubuh gadis itu terbanting.

Dalam rangkulan sejenak ini, Narotama mencium bau kembang melati dan rambut gadis itu dan bau harum seperi cendana keluar dari tubuh Lasmini.

Kedua tangannya juga merasakan tubuh yang kenyal dan lunak lembut hangat Kembali jantungnya berdebar, akan tetapi segera dia teringat akan lugasnya dan dengan lembut dia melepaskan rangkulanya.

"Maaf, nimas ....."

Katanya sambil melangkah mundur.

Lasmini tersenyum dan kedua pipinya menjadi kemerahan, terutama di bagian tulang pipi yang menonjol di bawah kedua matanya.

Ia seperti tersipu malu padahal kemerahan wajahnya bukan hanya karena tersipu, melainkan terutama karena ia tadi telah mengerahkan banyak tenaga sehingga jantungnya berdetak kencang.

"Uwa, aku telah dikalahkan oleh Kangmas Narotama, maka aku menerima pinangan itu."

"Ha-ha-ha, sudah kuduga bahwa engkau tentu tidak akan mampu menandingi Kipatih Narotama. Dan engkau bagaimana Mandari?"

Kata Ki Nagakumala sambil memandang Mandari. Dara ini tersenyum.

"Kalau Mbakayu ini sudah mengaku kalah, tentu saja akupun mengaku kalah, uwa, dan aku juga menerima pinangan Gusti Sinuwun Sang Prabu Erlangga."

"Anakmas Patih Narotama, andika sudah mendengar sendiri kesanggupan kedua orang keponakanku. Nah, sekarang bagaimana? Kapan anakmas akan mengajak mereka ke istana Sang Prabu Erlangga?"

"Karena urusannya telah beres, maka sedapat mungkin saya akan memboyong mereka ke istana Gusti Sinuwun secepatnya, paman."

Kata Narotama sambil memandang kepada dua orang gadis cantik jelita itu. Kini Mandari yang bicara dengan sikap manja.

"Kami masih mempunyai sebuah permintaan sebagai syarat, Kakang Patih Narotama'"

Narotama terkejut dan diam-diam mencatat dalam hatinya bahwa sikap gadis yang lebih muda ini sungguh penuh arti.

Karena merasa telah menjadi calon garwa Sang Prabu Erlangga, maka gadis ini sudah menganggap dirinya sebagai isteri raja dan memanggilnya Kakang Patih, tidak seperti Lasmini yang memanggilnya kakangmas!

"Syarat apakah itu, nimas?"

Tanya Narotama sambil menatap wajah gadis yang memiliki rambut lebih gemuk dan lebih panjang ketimbang rambut mbakayunya.

"Begini, kakang patih. Mba ayu Lasmini dan aku adalah keturunan bangsawan tinggi, ibu kami adalah seorang ratu. Biarpun dalam urusan perjodohan ini telah diputuskan oleh Uwa Nagakumala dan kami sendiri, namun kami merasa sudah sepatutnya kalau Sang Prabu Erlangga menghargai kami sebagai puteri puteri yang diboyong karena pinangan, bukan diboyong karena kalah perang. Oleh karena itu, kami minta agar andika jemput kami dengan menggunakan buah kereta kebesaran dan ditarik oleh empat ekor kuda."

"Ah, permintaanmu itu pantas sekali, adikku. Kakangmas Narotama, aku memperkuat permintaan Mandari. Kalau andika akan memboyong kami, harus menggunakan kereta kebesaran, dengan demikian kami merasa dihormati dan tidak dipandang rendah orang."

Kata Lasmini. Narotama tersenyum dan mengangguk.

"jangan khawatir, nimas berdua. Sesungguhnya, kereta untuk memboyong andika berdua itu sudah siap menanti di kaki bukit ini."

Narotama tidak berbohong.

Memang ketika dia pergi ke Bukit Junggringslaka, dia sudah mempersiapkan sebuah kereta untuk menjemput dua orang puteri itu kalau pinangannya diterima.

Kereta itu dia titipkan pada seorang lurah di dusun yang berada di kaki bukit dan seorang kusirnya yang berpakaian dinas juga menanti di sana.

Mendengar ucapan Narotama itu, Ki Nagakumala lalu tertawa.

"Sekarang berkemaslah, Lasmini dan Mandari. Bawa segala barang kebutuhanmu. Nanti kita bersama-sama turun bukit Kalian ikut Kipatih Narotama ke Kahuripan dan aku akan pergi melaporkan kepada ibu kalian di Parang Siluman."

Kedua orang gadis itu lalu berkemas Narotama menanti di ruangan pendapa.

Setelah selesai berkemas, dua orang gadis itu bersama Ki Nagakumala mengikuti Narotama turun bukit menuju ke dusun di mana dia menitipkan kereta, kuda dan kusirnya di rumah kepala dusun.

Siang hari itu juga berangkatlah Narotama mengawal kereta menuju ke Kahuripan, sedangkan Ki Nagakumala pergi ke selatan, ke arah Kerajaan Parang Siluman di mana adiknya Ratu Durgamala memerintah, untuk melaporkan bahwa kedua orang puterinya pergi ke Kahuripan untuk menjadi garwa selir Sang Prabu Erlangga.

Ketika Ratu Durgamala mendengar pelaporan kakaknya bahwa kedua orang puterinya menerima pinangan untuk menjadii selir Sang Prabu Erlangga, wanita berusia empat puluh tahun yang masih cantik seperti seorang gadis itu menjadi marah sekali.

Ia menggebrak meja dan memandang kakaknya dengan mata melotot.

"Gilakah andika, Kakang Nagakumala? dan sudah gila pulakah Nini Lasmini dan Nini Mandari maka mereka sudi menjadi garwa selir Raja Erlangga? Dia itu musuh bebuyutan kita, kakang! Mataram sejak dulu adalah musuh Parang Siluman! bagaimana sekarang dua orang puteri Parang Siluman, anak-anakku sendiri, menjadi selir Raja Mataram yang menjadi musuh besar kita?"

"Tenang dan bersabarlah, yayi ratu. Penerimaan pinangan Prabu Erlangga ini disetujui oleh Nini Lasmini dan Nini Mandari sendiri. Pertama karena memang keinginan dua orang puterimu itulah yang menghendaki agar mereka yang sudah dewasa mendapatkan suami seorang bangsawan tinggi yang muda tampan, dan sakti mandraguna. Dan siapakah orang muda yang dapat melebih Prabu Erlangga dalam tiga hal itu? Hanya Kipatih Narotama yang dapat mengimbanginya. Karena itu, Nini Lasmini memilih agar diperisteri Kipatih Narotama dan Nini Mandari memilih untuk diperisteri Prabu Erlangga. Dan hal kedua yang tidak kalah pentingnya, justeru perjodohan ini telah kami rencanakan untuk menjadi sarana penghancuran Mataram."

"Ehh?? Penghancuran Mataram melalui perjodohan anak-anakku dengan Erlangga dan Narotama? Apa maksudmu kakang?"

"Begini, yayi ratu. Kedua orang puterimu itu, murid-muridku yang pintar pintar, telah menyetujui rencana kami itu. Dengan penuh keyakinan mereka percaya bahwa mereka akan mampu membuat raja dan patihnya mabok kepayang dan selanjutnya mengadakan bujukan-bujukan agar raja dan patih yang sakti mandraguna itu saling bertikai dan bertentangan sehingga Mataram menjadi lemah. Bahkan kalau usaha itu gagal, mereka akan meningkatkan usaha mereka, yaitu membunuh Erlangga dan Narotama."

"Ahh! Mereka..... para puteriku yang ayu manis, mau melakukan itu?"

Ratu Durgamala membelalakan matanya dan wajahnya menjadi cerah gembira.

"Ya, itulah yang kami rencanakan. Maka mereka tidak merasa ragu lagi untuk menerima pinangan dan mengikuti Kipatih Narotama menuju Kahuripan."

"Dan mereka mengorbankan diri untuk itu! Aih, anak-anakku yang manis, anak anakku yang hebat, kalian tidak mengecewakan, kalian pantas menjadi anak anakku, kalian persis watak ibu kalian! I leh-he-he-hi-hik!"

Ratu Durgamala tertawa senang, agaknya sudah lupa betapa beberapa tahun yang lalu ia selalu merasa bersaing dengan dua orang puterinya yang makin dewasa menjadi semakin cantik sehingga ia merasa terancam.

Ialah yang menjadi ratu.

La yang menjadi wanita nomor satu, paling cantik, di Parang Siluman, la tidak mau disaingi atau dikalahkan dalam hal kecantikannya oleh wanita manapun juga, bahkan kecantikan dua orang puterinya yang menonjol itu membuatnya iri dan khawatir kalau kedudukannya sebagai wanita tercantik akan tergeser oleh dua orang puterinya.

Karena itulah maka ia mengharuskan dua orang puterinya itu ikut kakaknya, Ki Nagakumala di Bukit Junggringslaka untuk memperdalam ilmu mereka.

Di lain pihak, dua orang puterinya juga merasakan ketidak-senangan bahkan mendekati kebencian ibu kandung mereka sendiri terhadap mereka.

Karena itulah mereka lebih senang ikut uwa mereka mempelajari ilmu, dan ketika mereka menerima pinangan Raja Erlangga, mereka sama sekali tidak mempunyai keinginan untuk minta ijin atau pamit kepada ibu kandung mereka!

Memang Ratu Durgamala ini memiliki watak yang seperti iblis, gila akan kecantikannya sendiri Bahkan ia mempelajari segala macam ilmu untuk dapat membuat dirinya awet muda, dan akhirnya ia menemukan Suket sungsang, semacam rumput yang langka dunia ini dan rumput ajaib inilah yang membuat ia awet muda dan tampak seperti berusia dua puluh tahun saja walaupun usianya sudah empat puluh tahun lebih.

la juga memberi jamu Suket Sungsang kepada dua orang puterinya sehingga dua orang gadis itupun menjadi awet muda.

Iapun seorang petualang nafsu berahi dan inilah yang membuat suaminya, ayah dari Lasmini dan Mandari, meninggalkannya dan lebih suka menjadi seorang pertapa di pantai Blambangan.

Tadinya, mendengar dua orang puteri kandungnya hendak menjadi garwa Raja Erlangga dan Patih Narotama tanpa seijinnya, tanpa pamit, kasih saying seorang ibu dalam hatinya tersentuh.

Akan tetapi setelah mendengar bahwa kedua orang puterinya itu sengaja mengorbankan diri untuk kepentingan Parang Siluman, yaitu menghancurkan Mataram, ia menjadi bangga dan gembira sekali.

Demikianlah, kasih sayang manusia antara berhubungan apapun juga, suami isteri, sahabat, bahkan ibu dan anaknya, kalau sudah dikuasai nafsu pementingan diri sendiri, maka kasih sayang itu menjadi kotor.

Kasih sayang seperti itu hanya merupakan sarana untuk menyenangkan diri sendiri.

Kalau kasih sayang murni yang sejati ada, maka si-aku yang mementingkan kesenangan hati dan perasaan sendiri, tidak akan muncul.

Kalau si-aku yang berupa nafsu hati akal pikiran muncul, apa yang dinamakan cinta kasih itu hanyalah ulah nafsu yang pamrihnya tidak lain untuk mencari keenakan dan kesenangan diri sendiri, untuk pemuasan jasmani.

Maklum bahwa kakaknya adalah seorang yang sakti mandraguna, Ratu Durgamala lalu menahan kakaknya dan membujuk agar kakaknya itu suka tinggal di Parang Siluman membantunya.

Ki Nagakumala yang merasa kesepian setelah ditinggalkan dua orang keponakannya, menerima ajakan itu dan sejak hari itu, diapun tinggal di Parang Siluman dan menjadi penasihat dari Ratu Durgamala.

Kereta itu meluncur dengan cepatnya menuju ke kota raja Kahuripan.

Sang kusir yang berpakaian indah itu mengendalikan empat ekor kuda penarik kereta dan dua orang puteri Parang Siluman pun duduk di dalam kereta, berbisik-bisik sehingga suara percakapan mereka Tidak terdengar oleh sang kusir.

Di belakang kereta itu, dalam jarak kurang lebih sepuluh meter, Narotama menunggangi kudanya, mengawal dari belakang.

Hatinya merasa gembira bukan main karena dia dapat melaksanakan tugasnya dengan baik.

Beruntung sekali bahwa pinangan itu dapat diterima oleh Ki Nagakumala dan dua orang puteri itu, tanpa ada syarat yang terlalu berat.

Andaikata Ki Nagakumala sendiri yang menguji kepandaiannya, dia dapat menduga bahwanya tidak akan begitu mudah baginya untuk mengalahkannya.

Dan andaikata mereka menolak, tentu akan terjadi perkelahian.

Akan tetapi semua itu tidak jadi dan dia hanya harus mengalahkan Lasmini.

Dia telah berhasil dan Sang Prabu Erlangga tentu akan merasa senang sekali.

Akan tetapi tiba-tiba wajah Lasmini terbayang di pelupuk matanya.

Sayang sekali Lasmini akan menjadi garwa selir sang prabu!

Ah, mengapa Sang Prabu Erllanga begitu tamak?

Bukankah garwa selirnya sudah ada sedikitnya tujuh orang muda-muda dan cantik-cantik pula.

Kenapa sekarang hendak mengambil Lasmini dan Mandari pula?

Kedua-duanya?

Sedangkan dia sendiri hanya hidup berdua dengan Listyarini, isterinya.

Dia tidak mempunyai selir seorangpun!

Sudah pantasnyalah kalau sang prabu menyerahkan Lasmini kepadanya, untuk menjadi selirnya, sebagai hadiah atas keberhasilannya.

Sudah tepat dan pantas sekali.

Bukankah dia yang bersusah payah mengajukan pinangan sehingga berhasil membawa dua orang puteri itu ke Kahuripan TANPA terdengar oleh kusir dan oleh Narotama, dua orang gadis dalam kereta itu merencanakan sesuatu.

Mereka bicara bisik-bisik.

"Akalmu itu baik sekali, Mbakayu Lasmini. Sebaiknya kita lakukan sekarang juga."

"Lakukanlah, Mandari, akan tetapi hati-hati, batasi dan kendalikan tenaga. Jangan terlalu kuat sehingga nyawaku terancam, juga jangan terlalu lemah hingga akan mencurigakan. Tunggu bentar kalau kereta sudah memasuki hutan di depan."

Kereta meluncur masuk ke dalam hutan di perbatasan kerajaan Kahuripan. Tiba-tiba terdengar suara wanita mengeluh dan disusul teriakan Mandari.

"Ki kusir, hentikan dulu keretanya! Mbakayuku sakit!"

Mendengar teriakan ini, kusir menghentikan empat ekor kudanya.

Melihat kereta berhenti tiba-tiba di dalam hutan itu, Narotama lalu melompat turun dari kudanya dan menghampiri kereta.

Dia juga mendengar keluhan tadi dan mendengar teriakan Mandari.

Ketika dia mendekati kereta, dia masih mendengar keluh kesah itu.

Tirai kereta dibuka dari dalam dan Mandari meloncat keluar Mukanya pucat dan ia cepat berkata ketika melihat Narotama mendekat.

"Cepat, Kipatih Narotama, cepat tolonglah Mbakayu Lasmini. Sakit perutnya kambuh lagi, aku khawatir sekali."

Narotama dengan khawatir lalu menjenguk ke dalam kereta dan dia mengerutkan alisnya, terkejut bukan main.

Di melihat Lasmini duduk setengah rebah di atas bangku kereta, wajahnya pucat sekali, bahkan agak membiru tanda bahwa gadis itu menderita keracunan!

Gadis itu menekan perutnya dan menggigit bibirnya menahan rasa nyeri.

Cepat dia meraba dahi gadis itu dan dia semakin terkejut Dari wajah yang pucat kebiruan dan dahi yang terasa panas seperti terbakar api itu, segera Narotama tahu bahwa Lasmini benar-benar menderita luka dalam yang keracunan dan berbahaya sekali.

Kalau hawa beracun dalam tubuh gadis itu tidak segera dikeluarkan, besar kemungkinan gadis itu akan tewas!

Karena tidak mungkin mengobati gadis itu dalam kereta karena tempat itu sempit dan gadis itu tidak dapat direbahkan telentang, tanpa ragu lagi Narotama lalu memondong tubuh Lasmini yang udah lemas itu keluar dari kereta.

Tiba-tiba terdengar suara Mandari.

"Kipatih, bawalah ia ke sini. Di sini ada tempat bersih!"

Narotama menengok dan melihat Mandari menunjuk ke kiri.

Dia memondong tubuh Lasmini dan menghampiri dan benar saja, Mandari telah menemukan sebuah tempat di mana terdapat rumput tebal dan tempat itu bersih, agak jauh dari kereta.

Narotama lalu merebahkan tubuh Lasmini, telentang di atas rumput tebal.

"Agaknya kambuh kembali penyakit perutnya,"

Kata Mandari sambil berlutut dan memandang kepada Narotama.

"Ki patih, dapatkah andika mengobatinya. Menurut uwa kami kalau ia sedang begini, nyawanya terancam kalau tidak segera diobati dengan pengerahan hawa sakti."

"Dia terluka sebelah dalam, luka yang beracun dan cukup berbahaya. Hanya aku belum tahu di bagian mana ia terpukul dan sampai berapa parahnya akibat pukulan itu. Tahukah andika mengapa ia menderita luka dalam seperti ini?"

"Ini akibat latihan Aji Ampak-ampak yang salah menurut keterangan Uwa Nagakumala. Karena keliru ketika latihan dan terlalu ingin cepat menguasai, Mbakayu Lasmini membuat tenaga pukulan aji itu membalik dan menurut uwa kami, ia terluka di bagian pusarnya. Berbahaya sekali. Tolonglah, kipatih, andika yang berkepandaian tinggi pasti dapat menolongnya."

Kata Mandari khawatir.

"Aduhhh..... ah, mati aku..... Kakangmas Narotama..... tolonglah aku, kakangmas....."

Lasmini merintih-rintih sambil menekan-nekan perutnya.

"Di bagian mana yang nyeri, nimas?"

Tanya Narotama, merasa iba sekali.

"Di sini..... ah, perut..... pusar ini..... dingin sekali, seperti ditusuk-tusuk rasanya....."

Lasmini menggigit bibirnya dengan giginya yang putih dan berderet rapi seperti mutiara.

"Jangan khawatir, nimas. Aku akan mengobatimu dan mudah-mudahan aku akan dapat menyembuhkanmu. Akan tetapi..... maafkan aku, nimas. Terpaksa aku harus memeriksa dan melihat keadaan bagian tubuhmu yang terkena pukulan itu."

"Aih, kipatih. Dalam keadaan seperti ini, nyawa Mbakayu Lasmini terancam bahaya maut, mengapa andika masih bersikap sungkan-sungkan segala? Lakukanlah pemeriksaan dan pengobatan itu, aku hendak memberi tahu ki kusir agar melepaskan kuda-kuda biar mengaso dan makan rumput."

Setelah berkata demikian Mandari lalu cepat meninggalkan mereka berdua.

"Aduhh..... cepat periksalah..... kakangmas..... ah, aku tidak kuat lagi ....."

Lasmini lalu menurunkan kain yang membungkus perutnya sehingga perutnya sampai ke pusar tampak telanjang.

"... ini ..... di sini..... yang nyeri..... aduh....."

Lasmini menekan perutnya di bagian samping pusar.

Narotama terpaksa memejamkan kedua matanya.

Pemandangan itu terlalu indah merangsang sehingga jantungnya berdebar keras sekali.

Kulit itu demikian putih mulus kemerahan, perut itu begitu halus dan rata, bentuk pusar yang kecil mungil itu.

Dia membuka matanya, akan tetapi mata itu kini seperti tidak lagi melihat keindahan tadi karena dia sudah menyatukan hati akal pikirannya, dipusatkan menjadi satu saja perhatian tujuan, yaitu perhatian terhadap penyakit yang diderita Lasmini dan tujuannya hanyalah mengobati penyakit itu Dijulurkan tangan kirinya, meraba sipusar yang tampak kemerahan.

Terasa jari-jarinya menyentuh kulit yang dingin luar biasa dan tahulah dia bahwa di situlah letak luka dalam, di bawah kulit itulah hawa dingin beracun agaknya mengeram di bagian itu, sedangkan bagian tubuh lain, terasa panas membakar.

Narotama mengerutkan alisnya.

Pantasnya gadis ini terkena pukulan yang ampuh, kirnya.

Atau, seperti diceritakan Mandari tadi, mungkin juga terkena hawa pukulan sendiri yang membalik sehingga luka dalam.

Dan dia tahu bagaimana harus mengusir hawa dingin beracun itu.

"Maaf, Nimas Lasmini. Mudah-mudahan aku dapat mengobati penyakitmu ini. Andika terluka di sebelah dalam, di dekat pusar ini, seperti terkena pukulan beracun dingin..... akan tetapi mungkin juga terluka oleh pukulanmu sendiri yang membalik. Pengobatannya sederhana saja, yaitu hawa dingin beracun itu harus diusir keluar dan untuk itu..... sekali lagi maaf, aku harus menempelkan telapak tanganku untuk beberapa lamanya di bagian yang terluka ini."

"Aduh ....., kakangmas ..... kenapa andika masih malu dan sungkan segala? Aku .... aku percaya padamu ..... kuserahkan jiwa ragaku kepadamu. Cepat lakukan pengobatan itu, kakangmas ...aku tidak kuat lagi menahan rasa nyerinya ..... aduhhh ....."

Melihat penderitaan Lasmini, Narotama tidak membuang waktu lagi.

Dia menggosok-gosok kedua telapak tangannya lalu menempelkan kedua telapak tangannya di kedua sisi pusar perut Lasmini.

Tangan kiri menempel tepat pada bagian yang terluka dan berwarna merah lalu dia mengerahkan tenaga saktinya untuk menyedot.

Adapun telapak tangan kanan yang menempel di sisi yang lain menyalurkan hawa panas dari Aji Bojrodahono untuk menyerang dan mendesak hawa dingin beracun yang berasal dari Aji Ampak-ampak itu.

Sementara itu, Mandari menghampiri kereta dan memerintahkan kusir kereta untuk melepaskan empat ekor kuda agar dapat mengaso dan makan rumput, sedangkan ia sendiri duduk di bawah pohon yang rindang sambil tersenyum-senyum, membayangkan hasil akal yang dipergunakan Lasmini.

Tentu saja tadi ia yang sengaja memukul sisi pusar perut mbakayunya dengan Aji Ampakampak, cukup kuat untuk mendatangkan luka sehingga tidak mencurigakan Narotama akan tetapi tidak cukup kuat untuk membahayakan nyawa mbakayunya.

Ternyata siasat yang dipergunakan dua orang puteri itu berhasil baik.

Narotama terkecoh dan mengira bahwa Lasmini benar-benar terluka oleh pukulannya sendiri yang membalik karena salah latihan.

Akan tetapi akibatnya cukup hebat baginya.

Dia telah melihat perut bahkan pusar gadis itu, bukan hanya melihat, bahkan telah meraba dan menempelkan kedua telapak tangannya dalam waktu yang cukup lama!

Aji Bojrodahono (Api Halilintar) yang dikerahkan Narotama memang hebat bukan main.

Panasnya hawa dari aji itu dapat diatur dan perlahan-lahan hawa panas dari Bojrodahono dapat membakar hawa dingin Aji Ampak-ampak sehingga mencair dan hawa beracun itu tersedot oleh telapak tangan kiri Narotama.

Kalau tadi bagian sisi pusar yang terluka itu terasa dingin seperti embun di puncak Mahameru, kini mulai terasa hangat dan kehangatan ini menimbulkan getaran aneh yang mengusik hati akal pikiran Narotama yang tadi dia pusatkan.

Merasakan ini, jantung Narotama berdebar dan dia lalu mengangkat kedua tangannya.

Lasmini tidak mengeluh dan merintih lagi, bahkan kini kedua matanya tengah terpejam memandang kepada Narotama dan bibirnya tersenyum manis melebihi madu.

"Nimas, hawa dingin beracun itu telah pergi, andika telah sembuh."

Narotama melihat tangan kirinya yang berubah agak menghitam karena menyedot hawa beracun itu.

Dia mengerahkan hawa Bojrodahono ke dalam telapak tangan kirinya dan tampak telapak tangannya mengepul dan perlahan-lahan warna hitam telapak tangannya itupun lenyap.

Tiba-tiba Lasmini bangkit dan tanpa membereskan kainnya yang tadi terbuka di bawah ia merangkul leher Narotama dengan kedua lengannya.

Bagaikan dua ekor ular, lengan itu merangkull dan ia merapatkan mukanya di dada Narotama.

"Duh Kakangmas Narotama ..... andika telah menolongku, menyelamatkan nyawaku ..... ahh, bagaimanakah aku dapat membalas budimu yang setinggi gunung sedalam lautan ini, kakangmas..?! Semula Narotama menganggap bahwa perbuatan Lasmini ini hanya dorongan rasa syukur dan terima kasihnya saja yang mendatangkan keharuan. Namun ketika merasa betapa jantungnya tergetar hebat, dia menyadari akan bahaya gejolak berahinya. Cepat dengan lembut mendorong kedua pundak gadis itu dan melepaskan rangkulan sambil berkata dengan suara agak gemetar.

"Jangan begini, nimas. Ini tidak benar. Bersukurlah kepada para dewa yang telah menyembuhkanmu dan mari kita melanjutkan perjalanan kita."

Dia memegang tangan Lasmini, ditariknya bangkit berdiri dan diajaknya kembali ke kereta.

Lasmini tidak membantah, akan tetapi ia tidak mau melepaskan tangan Narotama yang memegangnya sehingga mereka bergandengan tangan sambil berjalan menuju ke kereta.

Mandari menyambut mereka dengan senyum gembira.

"Ah, Mbakayu Lasmini, sungguh beruntung engkau' Dari wajahmu saja aku sudah dapat melihat bahwa Engkau tentu telah sembuh, diobati oleh Kipatih Narotama. Engkau berhutang budi, bahkan berhutang nyawa kepadanya, mbakayu!"

"Aku tahu, Mandari. Mudah-mudahan saja kelak aku dapat membalas budinya itu."

Narotama tidak ingin mendengarkan lagi tentang budi itu dan dia segera memerintahkan kusir untuk memasang kembali empat ekor kuda di depan kereta dan setelah dua orang gadis itu memasuki kereta, kusir lalu menjalankan keretanya kembali dengan laju.

Karena dikawal oleh Narotama yang selain sakti mandraguna juga dikenal semua pejabat-pejabat di daerah, maka perjalanan itu lancar dan tidak ada halangan.

Di sepanjang jalan mereka mendapat sambutan para demang dan lurah dan mendapat bantuan seperlunya.

Akhirnya kereta memasuki kota raja Kahuripan dan Narotama langsung mengajak Lasmini dan Mandari menghadap Sang Prabu Erlangga setelah menyuruh pengawal melaporkan kedatangannya kepada Sang Prabu Erlangga.

Sang Prabu Erlangga sudah menanti duduk di singgasana, tempat duduk terbuat dari gading berlapis emas, hanya seorang diri karena dia ingin menyambut kedatangan Kipatih Narotama bersama dua gadis itu tanpa disaksikan para ponggawa.

Bahkan para pengawal istanapun tidak diperkenankan hadir dalam ruangan itu.

Memang Sang Prabu Erlangga berbeda dengan para raja yang lain, yang selalu ingin dikawal ke manapun dia berada untuk menjaga keselamatannya Sang Prabu Erlangga merasa tidak enak dan tidak leluasa kalau ke manapun pergi dijaga pengawal.

Hal ini adalah karena raja yakin akan kesaktian sendiri yang jauh lebih dapat diandalkan daripada penjagaan ratusan orang pengwal pribadi!

Apalagi di dalam istana.

bahkan kalau Sang Prabu melakukan perjalanan keluar istana, hanya dalam perjalanan resmi saja Sang Prabu Erlangga diiringkan sepasukan pengawal.

Akan tetapi kalau melakukan perjalanan seorang diri, untuk urusan pribadi atau sengaja hendak memeriksa keadaan rakyat jelata, Sang Prabu Erlangga tidak pernah didampingi seorang pengawalpun.

Kipatih Narotama berlutut dan menyembah sebagai penghormatan ketika dia menghadap Sang Prabu Erlangga.

"Sembah hormat hamba haturkan kepada paduka gusti sinuwun junjungan hamba." (Lanjut ke

Jilid 07) Keris Pusaka Sang Megatantra (seri ke 01 -Serial Keris Pusaka Sang Megatantra) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo

Jilid 07

"Aih, Kakang Patih Narotama, andika baru kembali? Bagaimana dengan perjalananmu? Semoga selamat dan berhasil baik."

Kata Sang Prabu Erlangga sambil memandang ke arah dua orang puteri yang sudah duduk bersimpuh dengan sikap hormat.

"Dengan bekal doa restu paduka, hamba telah selesai melaksanakan tugas dan berhasil baik, gusti. Mereka inilah Nini Lasmini dan Nini Mandari, dua orang puteri Kanjeng Ratu Durgamala dari Kerajaan Parang Siluman, keponakan dan murid Ki Nagakumala di Bukit Junggringslaka. Pinangan paduka telah diterima dengan baik dan kini kedua orang puteri sudah menghadap paduka menanti perintah."

Prabu Erlangga tersenyum dan mengangguk-angguk, memandang dua orang gadis yang masih duduk bersimpuh sambil menundukkan muka mereka itu.

Walaupun mereka menunduk dan Sribaginda tidak dapat melihat wajah mereka dengan jelas namun diam-diam Sang Prabu Erlangga kagum dan harus mengakui bahwa dua orang dara itu memiliki bentuk tubuh yang amat indah menggairahkan.

"Siapa di antara andika berdua yang bernama Lasmini?"

Tanya Sang Prabu dengan suara ramah dan lembut. Lasmini menggerakkan kedua tangannya menyembah, gerakannya luwes seperti sedang menari.

"Hamba yang bernama Lasmini, gusti."

"Lasmini, coba angkat mukamu dan pandang kami."

Perintah sang prabu dengan suara ramah dan lembut.

Lasmini mengangkat mukanya.

Sejenak mereka berdua saling pandang.

Sepasang mata Sang Prabu Erlangga mengamati wajah gadis itu penuh selidik.

Cantik jelita nian gadis ini, pikirnya, sungguhpun dia hanya melihat kecantikan kulit saja.

Namun harus diakuinya bahwa jarang dia melihat wanita secantik itu.

Di lain pihak, Lasmini juga mendapat kenyataan bahwa raja itu selain masih muda, juga tampan luar biasa.

Hanya sinar mata Sang Prabu Erlangga membuat ia merasa gentar dan tidak berani ia menatap sepasang mata itu berlama-lama dan menunduk kembali.

Sang Prabu Erlangga mengalihkan pandang matanya kepada gadis ke dua yang lebih muda.

Kalau Lasmini tampak berusia delapan belas tahun, Mandari ini tampak lebih muda seperti dara remaja berusia tujuh belas tahun saja.

"Andika yang bernama Mandari? Angkat mukamu dan pandang kami, Mandari."

Perintahnya.

Mandari mengangkat muka dan gadis ini memandang wajah Sang Prabu Erlangga dengan senyum manis, pandang mata kagum sekali.

Ia merasa berbahagia telah memilih raja ini untuk menjadi suaminya.

Ternyata Sang Prabu Erlangga amat ganteng, melebihi semua harapan dan dugaannya.

Sang Prabu juga kagum.

Dara ini tidak kalah elok dibandingkan Lasmini sehingga sukarlah untuk menilai siapa antara mereka yang lebih menarik.

Bahkan yang lebih muda ini memiliki kelebihan, yaitu pada rambutnya yang panjang dan indah sekali.

Dia menduga kalau rambut itu diurai, tentu akan mencapai kaki!

"Mandari, berapakah usiamu?"

Tanya sang prabu dan Mandari tidak menundukan muka seperti mbakayunya yang tadi menundukkan muka bukan semata karena jerih, melainkan memang sesuai dengan siasat yang direncanakan.

"Usia hamba dua puluh satu tahun gusti."

"Ahh? Andika masih tampak seperti seorang gadis remaja! Dan berapa usia mbakayumu, Lasmini ini?"

"Usianya dua puluh tiga tahun, gusti."

Jawab Mandari lancar.

Mendengar itu, sang Prabu Erlangga menjadi semakin heran dan kagum.

Akan tetapi dia sudah maklum bahwa Kerajaan Parang Siluman merupakan pusat para ahli sihir.

Tentu dua orang gadis ini mempergunakan ilmu atau jamu tertentu yang membuat mereka tampak begitu awet muda!

Kembali sang prabu memandang kepada Lasmini yang masih menundukkan mukanya.

Sungguh berbeda dengan sikap Mandari yang selalu berani memandangnya sambil tersenyum.

"Lasmini,"

Kata sang prabu.

"Benarkah seperti yang dilaporkan Kakang Patih Narotama bahwa engkau menerima pinanganku, suka menjadi garwa selirku?"

Mendengar pertanyaan itu, tiba-tiba Lasmini menangis.

Tidak menangis keras, hanya terisak dan beberapa butir air mata menetes diatas kedua pipinya.

Melihat ini, Sang Prabu Erlangga mengerutkan alisnya.

"Lasmini, kenapa andika menangis?ceritakanlah, apa yang menyusahkan hatimu? Kalau andika tidak suka menjadi garwa selir kami, mengapa tidak andika tolak saja pinangan yang diajukan Kakang Patih Narotama? Setelah tiba di sini kenapa andika menangis!"

Tentu saja sang prabu merasa tidak senang hatinya melihat gadis itu menangis di depannya seolah akan dipaksa menjadi garwa selir di luar kemauannya.

Dia tidak akan pernah sudi melakukan paksaan terhadap wanita manapun!

Lasmini menahan isaknya dan menyembah.

"Mohon beribu ampun, gusti. Hamba sudah lama mendengar akan kebijaksanaan paduka yang berlimpah budi, Mohon pertimbangkan paduka, gusti, Bagaimana seorang gadis seperti hamba dapat berserah diri kepada seorang prabu agung seperti paduka setelah ada pria lain yang tidak saja telah melihat pusar hamba, bahkan telah menyentuh dan merabanya? Hamba tidak mungkin dapat melayani pria lain....."

Bukan main kagetnya Sang Prabu Erlangga mendengar ini. Alisnya berkerut dan kulit wajahnya berubah merah.

"Lasmini, siapa yang telah berani melakukan hal itu kepadamu?"

Lasmini menoleh ke arah Kipatih Narotama.

"Harap paduka tanyakan kepada Kakangmas Narotama, gusti."

Sang Prabu Erlangga terbelalak heran dan terkejut sekali mendengar jawaban gadis itu. Dia segera memandang Narotama dan bertanya.

"Kakang Patih Narotama, apa artinya semua ini? Benarkah andika melakukan hal yang tidak patut itu terhadap diri Lasmini?"

Narotama menyembah dan menjawab dengan sikap tenang.

"Sesungguhnya benarlah apa yang dikatakan Nimas Lasmini itu, gusti. Dalam perjalanan, di tengah hutan mendadak Nimas Lasmini mengeluh kesakitan. Setelah hamba periksa, ternyata ia terkena pukulan yang mengandung hawa dingin beracun. Menurut keterangan Nimas Lasmini, ia terluka dalam karena hawa pukulannya sendiri membalik ketika ia berlatih Aji Ampak-ampak secara keliru. Ia terluka dalam di bagian sisi pusarnya. Melihat keadaannya yang amat berbahaya, maka terpaksa hamba lalu mengobatinya dengan menggunakan Aji Bojrodahono untuk mengusir hawa dingin beracun itu dan menempelkan telapak tangan hamba pada bagian perut yang terluka dalam."

Mendengar keterangan ini, Sang Prabu Erlangga tersenyum lega.

"Lasmini, Kakang Patih Narotama melakukan hal itu adalah dalam rangka pengobatan hendak menyelamatkan nyawamu, bukan karena dia sengaja hendak bertindak melanggar susila!"

"Hamba mengakui akan hal itu, gusti. Akan tetapi, sejak remaja dahulu hamba dan Mandari sudah bersumpah bahwa hamba berdua hanya mau menikah dengan seorang pria yang dapat mengalahkan hamba dalam adu kesaktian. Hamba telah bertanding melawan Kakangmas Narotama dan hamba sudah dia kalahkan. Itu merupakan kenyataan pertama. Kenyataan kedua adalah bahwa Kakangmas Narotama sudah menyelamatkan nyawa hamba dengan mengobati penyakit hamba sehingga hamba berhutang budi, berhutang nyawa kepadanya. Kenyataan ketiga adalah hal itu tadi, gusti, bahwa ialah satu-satunya pria yang pernah melihat dan meraba pusar dan perut hamba. Karena itu, bagaimana mungkin hamba dapat melayani pria lain?"

Mendengar ini, tiba-tiba Sang Prabu Erlangga tertawa geli karena tahulah dia bahwa gadis ini telah jatuh hati kepada Narotama!

"Ha-ha-ha!

Lasmini, jawab saja terus terang.

Andika ingin menjadi garwa selir Kakang Patih Narotama, bukan?"

Bagaimanapun juga, karena ia masih seorang perawan, Lasmini tersipu dan dengan muka berubah merah yang ditunjukkan, ia menjawab lirih.

"Duh gusti sinuwun, keputusannya tentu hanya paduka dan Kakangmas Narotama yang dapat menentukan. Kalau kakangmas Narotama sudi menerima hamba, hamba ..... hamba ..... menurut saja ....."

"Ha-ha-ha, bagus! Aku suka kejujuran itu. Kakang Patih Narotama, bagaimana pendapatmu setelah mendengar ucapan Lasmini? Maukah andika menerimanya sebagai garwa selirmu?"

Narotama menyembah dan mukanya juga berubah kemerahan.

"Hamba hanya sendika dhawuh (menaati perintah) paduka, gusti."

"Kalau begitu, mulai detik ini juga kami menyerahkan Lasmini kepadamu agar ia menjadi garwa selirmu. Kalian mendapatkan restuku dan semoga kalian hidup berbahagia."

Narotama dan Lasmini menyembaah dan hampir berbareng mereka mengucapkan terima kasih.

Sang Prabu Erlangga lalu memandang kepada Mandari yang masih mengangkat muka memandang semua itu dengan wajah berseri.

Dia diam ia merasa gembira sekali karena siasat yang sudah mereka berdua rencanakan bersama Ki Nagakumala ternyata berhasil baik.

Lasmini menjadi selir Narotama seperti yang mereka rencanakan.

"Sekarang, bagaimana dengan andika Mandari? Apakah andika juga berpendapat seperti Lasmini, ingin menjadi selir Kakang Patih Narotama?"

"Mohon beribu ampun, gusti."

Kata Mandari sambil menyembah.

"Hamba sama sekali tidak mempunyai keinginan seperti itu! Hamba memang pernah bersumpah untuk menikah dengan pria yang mampu mengalahkan hamba, akan tetapi hamba tidak pernah bertanding dan tidak pernah dikalahkan Kipatih Narotama. Hamba tidak berhutang budi apapun kepadanya. Selain itu, yang hamba terima adalah pinangan paduka."

Jawaban ini jelas sudah dan hati Sang Pabu Erlangga merasa lega.

Bagaimana pun juga tadinya ada kekhawatiran dalam hatinya bahwa Mandari juga telah jatuh hati kepada patihnya yang ganteng dan gagah seperti halnya Lasmini.

"Akan tetapi andika belum pernah menguji kesaktianku, Mandari! Agar andika tidak melanggar sumpah sendiri, mari andika boleh menguji kedigdayaanku."

Sang Prabu Erlangga berkata sambil tersenyum lebar.

"Wah, hamba ..... hamba tidak berani, gusti ....."

"Mandari, jawablah sejujurnya. Ilmu apakah yang merupakan aji pamungkasmu, yang paling andika andalkan?"

"Ya hanya Aji Ampak-ampak itulah gusti, seperti yang dikuasai oleh Mbakayu Lasmini."

"Nah, sekarang kuperintahkan andika untuk bangkit dan seranglah aku dengan Aji Ampak-ampakmu itu. Akan tetapi kuperintahkan andika, pukullah dengan seluruh kekuatanmu. Bukan andika saja yang ingin menguji kemampuanku, sebaliknya akupun ingin sekali melihat sampai di mana kedigdayaan calon selirku yang dapat kujadikan pengawal pribadi. Lakukanlah dan taati per intah!"

Mandari adalah seorang gadis yang cerdik.

Dari sikap dan ucapan sang prabu itu, mengertilah ia bahwa raja itu tidak main-main dan bahwa ia harus menaatinya karena raja itu agaknya bukan hanya hendak menguji kedigdayaannya, melainkan juga ketaatannya akan perintah raja.

Tanpa ragu-ragu lagi Mandari bangkit berdiri, menyembah dan berkata.

"Mohon beribu ampun, gusti."

Lalu ia menggosok kedua tangannya, memasang kuda-kuda dan sambil mengerahkan seluruh tenaganya, ia menggunakan Aji Ampak-ampak mendorongkan kedua telapak tangannya ke arah Sang Prabu Erlangga yang masih duduk dengan tenang di atas kursi gading.

"Aji Ampak-ampak ..... hyaaaaaahhh....."

Seluruh ruangan itu terasa dingin ketika cahaya kebiruan menyambar keluar dari telapak tangan gadis itu, menyerang ke arah Sang Prabu Erlangga!

Sang Prabu Erlangga tidak beranjak dari kursinya dan tiba-tiba ketika hawa pukulan dingin itu menerpa dengan dahsyat ke arahnya, raja yang sakti mandraguna itu menggerakkan tangan kirinya seperti menepis.

Akan tetapi dari gerakan tangan kiri ini menyambar angin yang dahsyat sekali.

"Wuuuttt ..... blarrrrr .....!"

Tubuh Mandari yang tadinya berdiri itu terpelanting dan gadis itu roboh dengan tubuh terkulai lemas, seolah-olah seluruh urat syarafnya dilolosi dari tubuhnya!

"Aduhhh .....

gusti sinuwun .....

hamba tobat .....

mohon ampun gusti ....."

Gadis itu merintih. Tubuhnya tidak terasa nyeri, akan tetapi ia merasa begitu lemah sehingga untuk bangkit dudukpun sukar sekali! Sang Prabu Erlangga tertawa senang.

"Bagus, tenaga pukulanmu cukup hebat Mandari!"

Lalu Sang Prabu Erlangga turun dari kursinya, menghampiri Mandari dan dua kali dia menepuk pundak dan punggung gadis itu.

Mandari dapat bergerak kembali dan dia dituntun sang prabu dan diajak duduk di sebelahnya.

Demikianlah, mulai hari itu, Lasmini menjadi selir Kipatih Narotama dan Mandari menjadi selir Sang Prabu Erlangga.

Dalam waktu singkat saja dua orang gadis ini mampu memikat hati raja dan patihnya itu sehingga dua orang yang sakti mandraguna itu amat mengasihi dua orang puteri dari Parang Siluman itu.

Tidak ada manusia yang sempurna dunia ini.

Bahkan tidak ada mahluk yang sempurna di dunia ini.

Yang Maha Sempurna hanyalah Sang Hyang Widhi Wasa, Pencipta alam maya pada dengan seluruh isinya.

Sebersih-bersih manusia, pasti ada nodanya walaupun setitik.

Sekuat-kuatnya manusia pasti ada kelemahannya.

Bahkan menurut dongeng, para dewata yang hidup di khayangan sekalipun tidak luput dari pada dosa dan kelemahan.

Biasanya, ada tiga hal yang mampu melemahkan manusia, yaitu harta, kedudukan, dan wanita.

Banyak sekali para ksatria yang batinnya kuat menahan godaan harta maupun kedudukan, namun jarang yang kuat menghadapi keindahan yang terdapat pada diri wanita.

Memang harus diakui bahwa adanya Mandari sebagai selir Sang Prabu Erlangga dan Lasmini sebagai selir Kipatih Narotama tidak mengurangi kebijaksanaan raja dan patihnya ini dalam pemerintahan.

Juga tidak mengurangi kewaspadaan mereka dalam mengatur para menteri dan hulubalang menjaga ketentraman negara.

Akan tetapi kalau dalam pandangan manusia biasa seolah tidak ada perubahan apapun yang merugikan kerajaan dan kawulanya, namun ada seseorang yang terkadang mengerutkan alisnya kalau dia melihat adanya pengaruh buruk seperti mendung meliputi kecerahan matahari di atas Kahuripan.

Dia tidak tahu apa yang menyebabkan itu, namun dia merasa perlu untuk memberi peringatan kepada Sang Prabu Erlangga.

Orang itu adalah Empu Bharada, orang pendeta yang arif bijaksana dan sakti mandraguna.

Empu Bharada merupakan seorang sesepuh di Kerajaan Kahuripan.

Bahkan selain dia menjadi penasihat Sribaginda, diapun dianggap sebagai gurunya.

Empu Bharada hidup menyendiri, tidak menikah, melakukan apa yang disebut bertapa di tempat ramai.

Biarpun dia hidup di dalam sebuah gedung mungil pemberian sang prabu, namun dia hidup menyendiri seperti pertapa.

Lebih banyak dia berada di sanggar pamujaan, melakukan puja-puji dan mengagungkan Sang Hyang Widhi Wasa.

Hanya sekali-kali dia keluar di ruangan pendopo untuk memberi wejangan kepada para cantrik.

Atau terkadang dia muncul pula di dalam masyarakat untuk mengulurkan tangan memberi pertolongan kepada mereka yang pantas dan perlu ditolong, misalnya mengobati orang sakit, memberi penerangan kepada mereka yang sedang menderita kegelapan batin, dan lain sebagainya.

Dasar pelajaran hidupnya adalah bahwa manusia hidup haruslah menjadi alat atau pembantu Sang Hyang Widhi yang selalu menjaga dan "mangayu hayuning bhawana" (mengusahakan ketentraman jagad).

Caranya adalah mencintai sesama manusia dan membagi segala macam kemampuan untuk saling menolong antara manusia.

Gusti Maha Suci atau Sang Hyang Widhi Wasa melimpahkan berkah kepada kita dengan berkelebihan, dengan maksud agar kita membagi kelebihan itu kepada orang yang membutuhkannya.

Kalau kita kelebihan harta, haruslah menolong dan membagi sebagian dari kelebihan harta kita itu untuk mereka yang membutuhkannya.

Kalau kita memiliki kelebihan kepintaran, haruslah menolong dan membagi sebagian dari kepintaran kita untuk mereka yang bodoh dan membutuhkan petunjuk agar dapat keluar dari jurang kebodohan.

Demikian pula, yang kelebihan tenaga menolong mere ka yang lemah dan selanjutnya.

Dengan demikian, kita tidak menyia-nyiakan berkah dari Sang Hyang Widhi yang melimpah ruah itu sehingga Sang Hyang Widhi semakin banyak melimpahkan berkahNya kepada kita sebagai penyalur berkah kepada sesama manusia yang membutuhkannya.

Pada pagi hari itu, Sang Empu Bharada berjalan perlahan-lahan keluar pondoknya yang mungil indah, menuju istana Sang Prabu Erlangga.

Sang Empu Bharada berusia kurang lebih empat puluh lima tahun, bertubuh tinggi kurus dan berjenggot panjang.

Wajah kurus itu memiliki sepasang mata cekung yang bersinar lembut penuh pengertian, berwibawa namun tidak menakutkan, membuat orang tidak takut melainkan segan dan tunduk kepadanya.

Pakaiannya sederhana dengan sehelai jubah yang lebar dan panjang.

Dia dikenal, dihormati dan disegani rakyat karena suka memberi pertolongan.

Mereka yang berwatak pun segan, bahkan takut kepadanya karena mereka tahu betapa saktinya sang empu itu.

Semua orang yang berjumpa dengannya di sepanjang jalan, cepat memberi hormat dengan ramah yang dibalasnya dengan senyumnya yang penuh pengertian.

Seperti lajimnya, tidaklah mudah bagi seseorang untuk dapat diperkenankan menghadap raja tanpa dipanggil.

Namun, ada beberapa kekecualian.

Orang-orang yang dihormati raja, yang dianggap sebagai keluarga sendiri yang dihormati, tentu saja dapat berkunjung sewaktu waktu dan diterima oleh raja sebagai tamu pribadi, misalnya Kipatih Narotama.

Dia dapat saja sewaktu-waktu datang berkunjung, seperti seorang mengunjungi rumah sahabatnya.

Yang mendapatkan perlakuan istimewa ini hanya beberapa orang, di antaranya tentu saja Sang empu Bharada yang dianggap sesepuh dan penasihat Sang Prabu Erlangga.

Kepala pengawal segera menyambut sang empu dan melaporkan kepada Sang Prabu bahwa Empu Bharada dating berkunjung.

Pada saat menerima laporan akan kunjungan Sang Empu Bharada itu, Prabu Erlangga masih berada dalam kamarnya bersama selirnya yang baru, yaitu Mandari.

Maklum, kedua orang ini sedang mesra-mesranya sebagai sepasang pengatin baru dan Sang Prabu Erlangga seperti mabok kepayang karena merasa betapa selama hidupnya baru sekarang dia mendapatkan seorang isteri yang luar biasa hebat dan memikatnya seperti Mandari.

Dia menjadi lengket dan menyayangi Mandari dengan cinta berahi yang berkobar-kobar.

Akan tetapi begitu medengar laporan bahwa Sang Empu Bharada datang berkunjung, cepat-cepat sang prabu membereskan pakaiannya dan siap untuk menyambut kedatangan sang empu.

Melihat ini, dengan suara yang khas manja dan merdu merayu bagaikan seorang waranggana yang ahli bertembang Mandari menegur lembut.

"Duhai Kakanda sinuwun, siapakah gerangan Sang Empu Bharada itu sehingga paduka tampak demikian tergesa-gesa hendak menyambutnya?"

Sang Prabu Erlangga tersenyum.

"Beliau adalah Sang Empu Bharada, yayi Dewi Mandari. Paman Empu Bharada adalah seorang pendeta yang arif bijaksana dan beliau menjadi penasihat kerajaan, seorang pinisepuh."

Mandari merasa jantungnya berdebar tegang dan perasaan tidak enak menyerubungi hatinya.

"Kakanda sinuwun, bolehkah hamba ikut menyambut sang empu agar hamba dapat berkenalan dengannya?"

Sang Prabu Erlangga menggeleng kepala sambil tersenyum menghibur.

"Sayang tidak pada saat ini, yayi. Pada kesempatan lain engkau akan kuperkenalkan. Akan tetapi kalau paman empu datang berkunjung pada saat yang bukan pesewakan (persidangan), berarti beliau mempunyai urusan penting sekali yang hendak dibicarakan empat mata denganku. Karena itu, tunggulah di sini, aku akan menjumpainya sebentar, yayi."

Sang prabu lalu merangkul dan mencium selir barunya itu.

Mandari cukup pandai untuk menyimpan kekecewaannya dan dengan patuh ia mengangguk.

Sang Prabu Erlangga lalu keluar dari kamar dan memasuki ruang tamu di mana Sang Empu Bharada telah duduk menantinya.

Empu Bharada segera bangkit berdiri memberi hormat dengan sembah di dada ketika sang prabu muncul.

"Ah, maafkan saya, paman. Apakah paman sudah lama menanti?"

Tegur sang prabu dengan ramah.

"Baru saja, anak prabu. Hamba yang mohon maaf kalau kunjungan hamba ini mengganggu."

"Ah, sama sekali tidak, paman. Silahkan duduk."

Mereka lalu duduk berhadapan.

"Saya yakin bahwa kedatangan paman ini tentu membawa hal yang amat penting. Hal apakah itu, paman?"

"Terlebih dahulu hamba menghaturkan sembah hormat hamba kepada paduka anak prabu dan mohon maaf sebanyaknya. Sesungguhnya, hamba menghadap karena terdorong oleh perasaan tidak enak dan khawatir akan keselamatan kerajaan paduka."

Seketika Prabu Erlangga menjadi serius dan memandang pendeta itu penuh perhatian.

"Paman Empu Bharada, apakah yang menyebabkan paman merasa tidak enak dan apa kiranya yang mengancam keselamatan kerajaan kita?"

"Maaf, sinuwun. Hamba tidak dapat menjelaskan apa yang mengancam keselamatan kerajaan ini. Akan tetapi hamba mendapat getaran perasaan bahwa saat ini terdapat mendung tebal menutupi kecerahan matahari di Kahuripan. Ada sesuatu yang tidak benar telah terjadi dan kiranya hanya paduka sendiri yang dapat mengetahui apa yang telah terjadi itu. Hamba hanya dapat menunjukkan adanya ancaman keselamatan itu agar paduka dapat berhati-hati."

Raja Erlangga mengerutkan alisnya dan mengangguk-angguk. Dia percaya akan semua ucapan sang empu dan timbul kekhawatiran dalam hatinya.

"Saya tahu bahwa apa yang akan terjadi itu merupakan rahasia bagi manusia dan tak seorangpun boleh membukanya. Akan tetapi, dapatkah paman menceritakan bahaya dalam bentuk apa yang akan menggelapkan suasana di kerajaan kita ini?"

Sang empu memejamkan kedua matanya, tunduk tepekur lalu berkata, suaranya lirih, bergetar, seolah suara itu datang dari jauh.

"..... perang antara manusia.....banjir darah..... api kebencian dan dendam berkobar merajalela..... iblis setan berpesta pora..... para dewa berduka, langit bumi gonjang ganjing..... alampun nangis karena ulah manusia....."

Kakek itu terdiam, lalu menghela napas panjang dan membaca doa puja-puji kepada Sang Hyang Widhi Wasa.

"Ommm ..... swastiastu, oommm ....."

Mendengar ini, Sang Prabu Erlangga ikut memuji Sang Hyang Widhi dan setelah itu menurunkan kedua tangannya yang menyembah kepada Sang Maha Kuasa dengan penuh penyerahan diri dan berkata sambil menghela napas panjang.

"Ouh Jagad Dewa Bathara, ampunilah kiranya dosa-dosa hamba....."

Kemudian dia bertanya kepada Empu Bharada.

"Duh paman empu, apakah tidak ada cara untuk menolak ancaman bencana itu?" 'Oh, sinuwun! Kehendak Hyang Widhi terjadilah! Siapa yang mampu mengubahnya? Apa lagi manusia biasa, bahkan para dewa sekalipun tidak akan mampu mengubahnya dan harus menerima kenyataan bahwa apapun yang dikehendaki Hyang Widhi, pasti akan terjadi. Soal baik atau buruk itu hanya pandangan manusia yang menerima kenyataan itu, akan tetapi yang sudah pasti dan kita harus yakin akan hal itu adalah bahwa kehendak Sang Hyang Widhi sudah pasti baik, benar dan sempurna dan seadil adilnya! Tidak ada akibat terjadi tanpa sebab, tidak ada buah tanpa pohon dan baik buruknya buah tergantung dari baik atau buruknya pohon. Orang bijaksana yakin bahwa akibat datang dari sebab maka dia akan mencari sebab pada dirinya sendiri, bukan di luar dirinya. Tidak menyalahkan yang di atas, tidak menyalahkan yang di bawah, melainkan menyalahkan diri sendiri karena di situlah terletak segala sumber yang menjadi sebab timbulnya persoalan sebagai akibatnya."

"Paman Empu Bharada, saya mengerti benar akan hal itu. Berarti, malapetaka mengerikan yang paman rasakan itu akan terjadi karena sebab yang terletak dalam diri saya sendiri. Paman, sudilah paman mengingatkan saya, kesalahan apakah yang telah saya lakukan? Kejahatan apakah yang menyeret saya ke dalam dosa?"

"Anak prabu, akibat dari sebab memang tidak dapat dihindarkan. Namun Hyang Widhi adalah Maha Pengasih dan Maha Penyayang, Maha Murah dan Maha Pengampun. Satu-satunya sikap, yang terbaik bagi manusia hanyalah bertaubat, taubat yang sejati. Bertaubat sejati bukan berarti penyesalan karena perbuatan itu menimbulkan kesengsaraan. Penyesalan karena memetik buah pahit perbuatan dosa belum tentu membuat orang bertaubat dengan sungguh-sungguh. Itu hanya apa yang disebut' kapok lombok' saja, bertaubatnya orang makan sambal pedas, kalau kepedasan dan kepanasan mengatakan bertaubat, akan tetapi di lain saat dia sudah makan sambal lagi karena enaknya! Bertaubat yang sejati hanya dapat terjadi kalau orang sadar sepenuhnya akan perbuatannya yang menyimpang dari kebenaran sehingga dia tidak akan mengulang lagi kesalahannya".

"Duh kanjeng paman, tunjukkanlah kesalahan apa yang telah saya perbuat?"

"Maafkan hamba, sinuwun. Mencari sampai menemukan kesalahan sendiri haruslah dilakukan oleh dirinya sendiri. Kalau sudah ditemukan, itulah yang dinamakan kesadaran. Kalau ditunjukkan orang lain hanya akan menjadi bahan perbantahan, memperebutkan kebenaran karena nafsu selalu mendorong manusia untuk membenarkan karena diri sendiri. Kebenaran yang diperebutkan bukanlah kebenaran lagi namanya. Karena itu silakan paduka mencari dan menemukan sendiri, gusti."

Sang Prabu Erlangga menghela napas panjang.

"Andika benar dan saya yang keliru telah mengajukan pertanyaan bodoh itu, paman. Baiklah, saya akan menelusuri diri sendiri dan semoga Sang Hyang Widhi Wasa akan memberi petunjuk sehingga saya akan dapat menemukan kesalahan saya sendiri."

"Semoga Hyang Widhi selalu melindungi paduka. Hamba mohon pamit, gusti, karena semua yang hendak hamba sampaikan telah paduka terima."

"Silakan, paman dan banyak terima kasih atas semua petunjuk dan peringatan yang telah paman berikan kepada saya. Selamat jalan."

Empu Bharada memberi hormat lalu mengundurkan diri, keluar dari istana, Setelah pertapa itu pergi, Sang Prabu Erlangga sampai lama tetap duduk termenung.

Kemudian dia memasuki sanggar pamujan, sebuah ruangan yang khusus untuk berdoa dan samadhi.

Di ruangan yang tidak boleh diganggu siapapun juga, Sang Prabu Erlangga bersamadhi, mohon petunjuk dari Sang Hyang Widhi Wasa.

Dalam keadaan yang hening dan kosong itu, perlahan-lahan tampak oleh mata batinnya bayang-bayang yang suram, makin lama semakin jelas dan dia melihat wajah yang cantik jelita, ayu manis merak ati tak ubahnya seorang dewi dari kahyangan, wajah yang tersenyum manis dengan sepasang bibir merah indah merekah, kerlingan sepasang mata yang indah tajam penuh daya pikat.

Wajah Mandari, selirnya yang tersayang.

Sang Prabu Erlangga seperti tersentak kaget dan dia mengerutkan alisnya.

Mandari?

Itukah yang menjadi sebabnya Itukah kesalahannya?

Mengambil Mandari sebagai selir?

"Tidak, bukan .....!"

Dia menggeleng kepalanya, membantah suara hatinya sendiri.

"Bukan itu, mustahil kalau mengambil Mandari sebagai selir merupakan kesalahan. Hal itu kulakukan bahkan untuk mengadakan perdamaian dan menjauhkan permusuhan? Bukankah hal ini mendatangkan perdamaian antara Kahuripan dan Parang Siluman?"

Demikianlah pikiran raja itu membuat renungan penalaran sendjri yang tentu saja anggapannya benar, sama sekali dia tidak ingat bahwa pada hakekatnya bukan untuk perdamaian itu dia mengamnil Mandari sebagai selir, melainkan karena dia tergila-gila dan terpikat oleh kecantikan dan rayuan Mandari.

Dan begitu membayangkan Mandari, yang tampak hanyalah segi yang menyenangkan saja dan gadis yang menjadi selirnya itu tampak baik sekali, terlalu baik, bahkan nyaris sempurna dalam pandangannya.

Makin diingat, hati Sang Prabu Erlangga semakin terpikat dan timbul perasaan rindu kepada selirnya terkasih itu.

Bahkan ada perasaan iba bahwa tadi hati/akal pikirannya pernah meragukan kehadiran wanita jelita itu sebagai sumber malapetaka yang diramalkan Empu Bharada.

Maka keluarlah dia dari sanggar pamujan, lalu bergegas menuju ke bagian istana yang menjadi tempat tinggal Mandari.

Setibanya di situ, dia tidak melihat Mandari di luar kamar.

Baca Juga: Cinta Bernoda Darah 24

Baca Juga: Sepasang Pedang Iblis 1

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert