Keris Pusaka Sang Megatantra 1

Eps 1 Keris Pusaka Sang Megatantra - Kho Ping Hoo

Baca online Keris Pusaka Sang Megatantra - Kho Ping Hoo

Cersil Keris Pusaka Sang Megatantra - Kho Ping Hoo.

Keris Pusaka Sang Megatantra (seri ke 01 -Serial Keris Pusaka Sang Megatantra) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo

Jilid 01 Bulan Purnama memancarkan cahayanya yang gilang-gemilang.

Bulan purnama kalangan (ada garis bundarmengelilinginya).

Kata para pinisepuh, bulan purnama kalangan seperti itu merupakan pertanda bahwa akan terjadi sesuatu yang amat penting.

Pantai segara laut kidul itu putih berkilauan tertimpa sinar bulan.

Pasir putih yang bersih halus terhampar luas.

Laut tampak tenang.

Ombak kecil yang menipis hanya sempat menjilat tepi pantai.

Suara air laut yang biasanya menggelora itu kini hanya terdengar berbisik-bisik lembut.

Tebing-tebing terjal disebelah barat itu seolah merupakan bendungan untuk mencegah lautan membanjir ke darat.

Perbukitan batu karang dan kapur itu tampak bagaikan raksasa-raksasa yang berdiri dengan kokoh kuat melakukan penjagaan.

Sunyi senyap, yang terdengar hanya desah air laut dan yang tampak hanya buih-buih air diatas ombak-ombak kecil yang beriringan menuju ke pantai.

Akan tetapi semua itu menjadi bagian tak terpisahkan dari keheningan yang khidmat itu.

Tiada awan di langit.

Kenyataan itu suci dan agung.

Tidak ada indah atau buruk.

Yang ada hanya kenyataan.

Indah atau buruk baru muncul setelah ada penilaian dan penilaian inilah yang mendatangkan pertentangan.

Bau keharuman dupa dan kemenyan yang datang dari dusun Karang Tirta yang berada tidak jauh dari pantai Pasir Putih iru mengingatkan bahwa malam itu adalah malam Jumat Kliwon, malam yang bagi para penduduk dusun itu dianggap sebagai malam keramat yang menakutkan karena menurut kepercayaan mereka pada malam itu semua lelembut, siluman, setan dan segala macam iblis keluar dan keluyuran, gentayangan di permukaan bumi mencari korban!.

Segala macam wewe gombel, brekasakan, kuntilanak, banaspati, tetakan dan tuyul keluar untuk mencari mangsa.

Karena itu orang-orang membakar dupa dan kemenyan untuk dihidangkan kepada mereka agar setelah menghirup keharuman itu mereka menjadi puas dan tidak mengganggu si penyuguh asap yang harum itu.

Di jajaran tebing terjal yang berada di sebelah barat pantai pasir putih itu terdapat sebuah guha yang luasnya sekitar tiga meter persegi dan luarnya sekitar dua meter lebih.

Di tengah guha itu nampak seorang pria duduk bagaikan sebuah arca.

Dia duduk dengan kedua kaki bersilang diatas paha, kedua lengan juga bersilang dan kedua matanya terpejam.

Duduknya tegak lurus.

Agaknya pria ini sedang bersamadhi.

Usianya sekitar enam puluh tahun.

Rambutnya sudah berwarna dua disanggul keatas dan tusuk sanggulnya sederhana sekali terbuat dari bambu.

Tubuhnya yang tinggi kurus itu hanya dilindungi sehelai kain hitam yang dilibat-libatkan dari leher ke lutut.

Kakinya telanjang.

Seorang kakek yang sederhana sekali.

Dari keadaan pakaiannya dan cara dia duduk bersamadhi dapat diduga dia tentu seorang pendeta atau pertapa.

Wajahnya yang kurus itu seolah bercahaya.

Alis, kumis dan janggutnya yang menutupi lehernya juga sudah penuh uban.

Wajahnya masih membayangkan bekas ketampanan dan mulutnya mengembangkan senyum pengertian.

Kakek itu adalah Empu Dewamurti.

Dia terkenal sebagai empu ahli pembuat keris pusaka.

Juga dia terkenal sebagai seorang sakti mandraguna dan ahli tapabrata yang tekun dan sering kali dia menghabiskan waktu untuk bertapa mendekatkan diri dengan Sang Hyang Widhi untuk memohon petunjuk dan bimbingannya.

Malam itu adalah malam ketiga dia bertapa dalam guha di tepi segara kidul.

Empu Dewamurti adalah empu yang terkenal dijaman Kerajaan Kahuripan yang diperintah oleh Sri Maharaja Rakai Halu Sri Lokeswara Dharmawangsa Erlangga Anantawikrama Utunggadewa atau yang lebih mudah diingat dengan sebutan Raja Erlangga.

Tiba-tiba Empu Dewamurti seperti tergugah dari samadhinya.

Pendengarannya menangkap jerit suara wanita dan teriakan pria yang datangnya dari hamparan pasir putih.

Kalau saja suara lain yang mengganggunya, dia tentu tidak mau mengacuhkan.

Akan tetapi dalam jeritan dan teriakan tadi dia menanggkap suara yang ketakutan dan mengharapkan pertolongan.

Empu Dewamurti adalah seorang yang sejak muda berwatak kesatria, tidak pernah menolak untuk mengulurkan tangan kepada siapa saja yang membutuhkan pertolongannya.

Maka dia jadi sadar sepenuhnya dan dia segera bangkit dan keluar dari dalam guha.

Dibawah sinar bulan purnama dia dapat melihat adanya dua bayangan orang, masing-masing memanggul tubuh seorang yang meronta-ronta muncul di pantai pasir putih itu.

Empu Dewamurti lalu melompat dan berlari cepat menuju kesana.

Larinya cepat sekali walaupun kedua kaki yang telanjang itu nampaknya seperti melangkah seenaknya.

Kecepatannya terbukti dari berkibarnya kain yang melibat-libat tubuhnya dari leher sampai ke lutut.

Sebentar saja dia sudah berhadapan dengan dua orang itu.

Ternyata mereka adalah seorang wanita dan seorang lakilaki.

Laki-laki itu berusia kurang lebih lima puluh tahun, bertubuh tinggi kekar, berkulit hitam dan mukanya penuh brewok, rambutnya hitam panjang dibiarkan berjuntai di belakang kepalanya, hanya diikat kain merah.

Pakaiannya serba mewah, seperti pakaian seorang bangsawan.

Di pinggangnya terselip sebatang pecut (cambuk) bergagang gading dan ujung pecut yang panjang itu digulung dan digantung di pinggang.

Wajahnya kasar dan bengis.

Adapun orang kedua adalah seorang seorang wanita yang sukar ditaksir usianya karena ia masih nampak cantik jelita dan genit seperti seorang gadis berusia dua puluh lima tahun saja.

Mukanya yang sudah cantik itu dirias dengan bedak dan pemerah pipi dan bibir seperti riasan muka waranggana yang hendak bertembang dan berjoged.

Pakaiannya mewah sekali, dengan gelang emas pada pegelangan tangan dan kaki.

Di pinggang yang ramping itu tergantung sebatang pedang dengan sarungnya yang terukir indah.

Wanita itu sungguh cantik menarik, terutama sekali matanya yang bersinar tajam dan senyumnya yang semanis madu.

Melihat dua orang ini, Empu Dewamurti diam-diam terkejut dan dia memperhatikan orang-orang yang berada dalam pondongan mereka itu.

Laki-laki tinggi besar itu memanggul tubuh seorang gadis remaja yang usianya tiga belas tahun.

Sanggul rambut gadis itu terlepas dan rambutnya yang panjang itu terurai kebawah.

Ia kini tidak mampu bergerak atau menjerit lagi, agaknya sudah dibuat pingsan oleh laki-laki yang memanggulnya.

Wanita cantik itu juga memanggul seseorang dan ketika Empu Dewamurti mengamati, ternyata yang dipanggulnya itu seorang pemuda remaja berusia sekitar lima belas tahun.

Pemuda remaja ini sama eloknya dengan gadis remaja itu, dan dia juga kini diam saja dan lemas seperti orang pingsan atau tidur.

"Jagat Dewa Bhatara!, kiranya andika Resi Bajrasakti dari Kerajaan Wengker dan Nyi Dewi Durgakumala dari kerjaan Wurawari!, Apa kehendak andika berdua muncul di pantai Segara Kidul wilayah Kahuripan ini dan siapa pula anak-anak remaja yang andika tawan itu?"

Tegur Empu Dewamurti sambil mengamati mereka berdua dengan sinar mata tajam menyelidik.

"Ha-ha-ha-ha!"

Laki-laki tinggi besar yang bernama Resi Bajrasakti itu tertawa bergelak-gelak sehingga seluruh tubuhnya berguncang.

"Tak kusangka di sini aku bertemu dengan Empu Dewamurti, pandai besi tukang membuat pacul, arit dan pisau dapur!"

Dia tertawa lagi, merasa geli dengan gurauannya sendiri yang memperolok-olok Empu Dewamurti sebagai ahli pembuat keris pusaka.

"Hik-hik, Empu Dewamurti. Senang hatiku bertemu denganmu. Aku hendak memesan sepasang gelang kaki perak, dapatkah engkau membuatkan untukku?"

Wanita cantik pesolek yang bernama Nyi Durgakumala itupun tertawa dan ucapannya tadipun bermaksud menghina Empu Dewamurti.

Kalau Resi Bajrasakti merupakan Datuk Kerajaan Wengker yang sakti mandraguna, Nyi Dewi Durgakumala yang sesungguhnya telah berusia empat puluh lima tahun itu adalah seorang tokoh besar Kerajaan Wurawari dan menjadi kepercayaan Raja.

Pada saat itu, tiba-tiba nampak sesosok bayangan orang berlari menuju ke pantai itu.

Dari jauh dia melihat Empu Dewamurti dan dia berteriak.

"Eyang Empu Dewamurti ......!"

Tiga orang sakti itu memandang dan Empu Dewamurti segera mengenal pemuda remaja berusia sekitar enam belas tahun yang berpakaian sederhana seperti seorang petani biasa.

Dia memandang wajah yang cerah itu dengan alis berkerut.

Pemuda itupun kini baru tahu bahwa di situ terdapat dua orang asing yang masing-masing memanggul seorang gadis remaja dan seorang pemuda.

Maka dia lalu berkata gugup.

"Maafkan saya, eyang, saya tidak tahu bahwa eyang sedang sibuk. Saya hanya menyerahkan ini. Saya temukan keris ini ketika sore tadi saya menggali kebun......"

Pemuda itu membuka sebuah buntalan kuning dan terkejutlah tiga orang sakti itu ketika melihat sebatang keris yang mengeluarkan sinar kilat ketika tertimpa sinar bulan.

Tiba-tiba Nyi Dewi Durgakumala berseru dengan melengking nyaring.

"Serahkan keris itu kepadaku!"

Dalam suaranya terkandung pengaruh yang demikian kuat sehingga mau tidak mau pemuda petani itu mengulurkan kedua tangan yang membawa keris itu kepada wanita itu.

"Tidak! Berikan kepadaku!"

Terdengar bentakan lantang yang keluar dari mulut Resi Bajrasakti.

Teriakan inipun mengandung pengaruh yang kuat bukan main, sehingga pemuda itu membalikkan tubuhnya hendak menyerahkan kerisnya kepada Resi Bajrasakti.

Akan tetapi ketika datuk dari kerjaan wengker yang tinggi besar itu menjulurkan tangannya hendak mengambil keris, tiba-tiba sesosok bayangan berkelebat dan tangan Nyi Dewi Durgakumala sudah menangkisnya.

Ketika kedua orang ini sedang bersitegang, tubuh Empu Dewamurti melayang ke arah pemuda itu.

Dia berdiri membelakangi pemuda itu dan berkata.

"Nurseta, cepat engkau duduk bersandar batu dibelakangku!"

Pemuda yang bernama Nurseta itu terbebas dari pengaruh suara dua orang yang hendak memaksa dia menyerahkan keris.

Dia lalu duduk bersila di dekat batukarang yang berada di belakang Empu Dewamurti dengan hati yang berdebar tegang karena dia dapat merasakan bahwa dua orang asing itu tentu bukan orang baik-baik.

Buktinya mereka agaknya menguasai gadis dan pemuda yang mereka panggul.

"Resi Bajrasakti dan Nyi Dewi Durgakumala! Kalian berdua adalah orang-orang asing yang menjadi tamu di sini. Harap kalian tidak membuat gara-gara!"

"Empu Dewamurti, keris itu harus menjadi milikku!"

Teriak Nyi Dewi Durgakumala sambil menuding telunjuk kanannya ke arah Nurseta.

"Tidak, harus diberikan kepadaku!"

Bentak Resi Bajrasakti.

"kalau tidak, akan kurampas dengan kekerasan!"

"Babo-babo, Resi Bajrasakti, Apa kau kira aku ini patung hidup? Engkau tidak akan dapat merampasnya selama aku masih berada di sini!"

Teriak Nyi Dewi Durgakumala. Melihat dua orang itu agaknya saling berebut sendiri, Empu Dewamurti tersenyum.

"Sadhu...Sadhu...Sadhu...! Resi Bajrasakti dan Nyi Dewi Durgakumala, ketahuilah bahwa keris itu ditemukan di tanah yang menjadi wilayah kahuripan, oleh karena itu menjadi hak milik Kerajaan Kahuripan. Selain daripada itu, agaknya andika berdua tidak mengenal pusaka itu. Sekali pandang saja aku mengenalnya. Keris pusaka itu adalah Sang Megatantra dan pusaka dibuat oleh mendiang Empu Bramakendali di jaman Kerajaan Medang Kamulan yang menjadi nenek moyang Kerajaan Kahuripan. Oleh karena itu, kalian berdua dari Kerajaan Wengker dan Wurawari sama sekali tidak berhak memilikinya. Selain itu, muda-mudi yang kalian culik itu tentu kawula Kahuripan, maka bebaskan mereka dan pulanglah kalian ke tempat kalian masing-masing dengan damai".

"Babo-babo, empu keparat! Mari kita bertanding untuk menentukan siapa yang lebih kuat, dia yang berhak memiliki Keris Pusaka Sang Megatantra!"

Bentak Resi Bajrasakti.

"Sang Resi, keris pusaka merupakan hak milik Kerajaan Kahuripan, tidak mungkin diperebutkan. Kalau andika memperebutkannya, berarti andika hendak merampok."

"Heh, Empu konyol! Apakah engkau tidak tahu akan hokum alam bahwa siapa yang menang, dia berkuasa? Engkau hendak menentang hukum alam?"

"Resi Bajrasakti, wawasanmu itu salah sama sekali. Hukum alam adalah hukum sebab akibat yang seadil-adilnya. Hukummu tadi bukan hukum alam, melainkan hukum yang dibuat manusia sesat yang diperbudak nafsu. Nafsu selalu ingin menang dan kalau menang dia harus berkuasa dan yang berkuasa selalu harus benar! Yang berkuasa menindas yang lemahpun dibenarkan oleh nafsu angkara murka."

Kata Empu Dewamurti dengan sikap tenang.

"Jangan banyak cerewet, Empu Dewamurti! Serahkan Keris Megatantra itu kepadaku atau aku akan menggunakan kekerasan!"

Bentak Nyi Dewi Durgakumala.

"Jagat Dewa Bhatara! Manusia diciptakan hidup di permukaan ini memang diberi wewenang untuk memilih, apakah dia ingin menjadi alat iblis ataukah ingin menjadi alat Sang Hyang Widhi, membela kebenaran dan menentang kejahatan. Terserah kepada kalian berdua."

Resi Bajrasakti lalu melangkah belasan tindak dan menurunkan gadis remaja yang dipanggulnya.

"Bocah ayu, engkau berdiamlah di sini dulu sebentar ya? Nanti setelah kubereskan Empu konyol itu, kupondong lagi dan kita bersenang-senang."

Gadis remaja itu ketika diturunkan rebah terlentang, agaknya untuk bangkit dudukpun ia tidak kuat.

Nyi Dewi Durgakumala tidak mau kalah.

Iapun menurunkan pemuda remaja yang tadi dipanggulnya itu agak jauh dari situ.

Pemuda itupun rebah terlentang dan tanpa malu-malu Nyi Dewi Durgakumala menciumnya.

"Cah bagus, engkau kutinggalkan sebentar!"

Kini Empu Dewamurti berhadapan dengan dua orang datuk itu.

Nyi Dewi Durgakumala bersikap cerdik.

Ia maklum untuk memperebutkan Keris Pusaka Megatantra, ia harus dapat mengalahkan dua orang lawan yang tangguh.

Sebetulnya kedatangan ke wilayah Kahuripan itu, seperti juga Resi Bajrasakti adalah untuk melaksanakan tugas masing-masing yang diperintahkan raja mereka, yaitu untuk melakukan penyelidikan terhadap kerajaan Kahuripan dan kalau ada kesempatan menimbulkan kekacauan di kerajaan musuh itu.

Karena keduanya memang saling mengenal sejak dahulu, maka ketika saling berjumpa, segera terjalin hubungan akrab dan mesra antara mereka.

Akan tetapi dua orang manusia cabul yang menjadi hamba nafsu mereka sendiri itu sebentar saja sudah merasa bosan dan malam itu mereka masing-masing menculik seorang gadis dan pemuda remaja untuk menyalurkan gairah nafsu mereka yang kotor.

Kebetulan sekali mereka menculik dua orang muda remaja dari dusun Karang Tirta pula dan ketika mereka membawa korban calon mangsa mereka ke pantai pasir putih untuk bersenang-senang melampiaskan nafsu disana, Empu Dewamurti memergoki mereka.

Kebetulan pula Nurseta, pemuda petani dari Dusun Karang Tirta pula, datang untuk menyerahkan penemuannya kepada Empu Dewamurti yang dikenalnya sehingga kini yang menjadi persoalan bukan hanya orang-orang muda yang diculik, melainkan perebutan Keris Megatantra.

Nyi Dewi Durgakumala sengaja diam saja dan membiarkan Resi Bajrasakti untuk lebih dulu bertanding melawan Empu Dewamurti agar ia memperoleh kesempatan yang dapat menguntungkannya.

Resi Bajrasakti juga ingin secepatnya merobohkan Empu Dewamurti yang merupakan penghalang pertama.

Setelah empu ini roboh, baru dia akan menghadapi Nyi Dewi Durgakumala yang mungkin akan diajaknya berdamai demi keuntungan mereka berdua.

Hal ini akan dipikirkan nanti saja setelah dia berhasil mengalahkan Empu Dewamurti.

Kini dia berkemak-kemik membaca mantera, mengerahkan tenaga sihirnya, kemudian cepat dia membungkuk dan mengambil segenggam pasir lalu melontarkannya ke atas sambil berseru lantang.

"Bramara Sewu (Seribu Lebah)!!"

Pasir yang dilontarkan itu tiba-tiba menjadi asap dan asap itu berubah pula menjadi lebah banyak sekali.

Lebah-lebah itu beterbangan menyerbu Empu Dewamurti sambil mengeluarkan bunyi mendengung.

Akan tetapi Empu Dewamurti tadi meniru perbuatan lawan mengambil segenggam pasir putih dan melihat banyak lebah yang menyerangnya, dia lalu menyabitkan segenggam pasir putih itu sambil membentak.

"Asal pasir kembali menjadi pasir!!"

"Wuuuttt ..... blar .....!!"

Ketika rombongan lebah itu dihantam pasir yang disambitkan Empu Dewamurti, terdengar ledakan, asap mengepul dan pasir berhamburan ke bawah. Lebah=lebah itupin lenyap.

"Jahanam!"

Resi Bajrasakti berteriak memaki, lalu dia menggosok-gosokkan kedua telapak tangannya.

Empu Dewamurti maklum bahwa lawan akan menyerangnya dengan ilmu lain.

Dia sudah tahu bahwa Resi Bajrasakti terkenal sakti mandraguna, ahli sihir dan memiliki banyak aji yang berbahaya.

Ketika Datuk dari Wengker itu merasa betapa tenaga saktinya telah terpusat di kedua tangannya, dia lalu melakukan pukulan mendorong ke arah Empu Dewamurti sambil membentak nyaring.

"Aji Sihung Naga .....!!!"

Pukalan sakti ini dahsyat bukan main.

Terdengar suara bercuitan dan getaran amat kuat menerjang ke arah Empu Dewamurti.

Kakek ini sudah siap.

Kedua tangannya merangkap menjadi sembah sujud di atas dahinya, kemudian kedua tangan itu dari situ dikembangkan dan dengan telapak tangan terbuka menyambut dorongan lawan.

"Syuuuuttt ..... desss ...!!"

Tubuh Empu Dewamurt i bergoyang-goyang, akan tetapi Resi Bajrasakti terdorong ke belakang sampai terhuyung dan hampir roboh.

Resi Bajrasakti menjadi semakin marah dan penasaran.

Dia segera melompat ke depan dan mencabut cemeti (cambuk) yang tergulung dan terselip di p inggangnya.

Inilah Pecut Tatit Geni (Halilintar Api) yang sudah amat terkenal dan ditakuti lawan karena Resi Bajrasakti sudah marah sekali dan bahwa dia menganggap lawannya terlalu tangguh sehingga terpaksa dia menggunakan senjata pamungkas itu.

"Tar-tar-tarrr .....!"

Begitu cambuk itu digerakkan, ujungnya yang panjang meluncur ke atas dan mengeluarkan bunyi ledakan-ledakan nyaring dan mengeluarkan asap dari bunga api yang berpijar di ujung cambuk.

Hebat bukan main cambuk ini!

Empu Dewamurti memutar tubuh menghadap tebing dimana terdapat guha yang untuk sementara waktu menjadi tempat tinggalnya.

Dia lalu bertepuk tangan tiga kali dan tampak sinar meluncur dari dalam guha ke arah tangannya dan ketika Empu Dewamurti menggunakan tangan kanannya menangkap, ternyata sebatang tongkat Pring Gading (Bambu Kuning) telah berada di tangannya!

Ini merupakan satu diantara kesaktian sang Empu, yaitu menguasai senjatanya yang hanya sebatang tongkat bambu kuning namun ampuhnya mengiriskan dia mampu "memanggil"

Dari jauh.

"Resi Bajrasakti, sekali lagi aku peringatkan andika. Bebaskan gadis remaja itu dan pulanglah ke tempat asalmu. Aku tidak ingin bermusuhan secara pribadi denganmu!". Melihat cara Empu Dewamutri menguasai senjatanya tadi, hati Resi Bajrasakti menjadi gentar juga, akan tetapi dasar orang yang terbiasa diagungkan dan disanjung sehingga dia merasa diri sendiri paling hebat, mana dia mau mengalah begitu saja!. Dia lalu mengerahkan kekuatan sihirnya dan seketika tempat itu diselimuti semacam halimun yang membuat malam terang bulan purnama menjadi berkabut. Diapun menerjang setelah aji panglimunan berhasil baik.

"Tar-tar-tarrr .....!"

Pecut Tatit Geni meledak-ledak, mengeluarkan pijaran api dan menyambar-nyambar ke arah kepala Empu Dewamurti.

Namun dengan tenang sang Empu menangkis dengan tongkat bambu kuningnya dan kedua orang sakti itu segera bertanding dengan serunya.

Nyi Dewi Durgakumala juga menonton dengan penuh perhatian.

Harus dia akui bahwa empu itu memang sakti mandraguna dan ia merasa sangsi apakah ia akan mampu mengalahkan Empu Dewamurti.

Karena tidak ada yang memperhatikan, dan menggunakan selagi cuaca diliputi kabut, diam-diam Nurseta menghampiri gadis remaja yang berada paling dekat dengan dirinya.

Dia tentu saja mengenal anak perempuan itu yang memang tinggal sedusun dengannya, yaitu di Dusun Karang Tirta.

Sambil memegangi Keris Pusaka Megatantra dengan tangan kanan, Nurseta mengguncang pundak anak perempuan itu yang bernama Puspa Dewi.

"Dewi ....., Dewi ....., bangunlah .....!"

Katanya sambil mengguncang pundak anak perempuan itu.

Puspa Dewi membuka mata dan seolah baru terbangun dari tidurnya.

Padahal ia tadi dalam keadaan tak berdaya oleh pengaruh sihir.

Di luar pengetahuan dua orang anak itu Puspa Dewi dapat terbebas dari pengaruh sihir karena keampuhan Keris Pusaka Megatantra yang dibawa Nurseta!.

"Apa ..... apa yang terjadi? Ah, engkau Kakang Nurseta .....! Apa yang terjadi? Tadi ..... kakek yang jahat itu ....."

"Stttt, lihat dia sedang bertanding melawan Eyang Empu Dewamurti. Diam saja di sini, aku hendak melihat pemuda di sana itu."

Nurseta meninggalkan Puspa Dewi dan berlari dalam kabut dan menghampiri pemuda remaja yang dipanggul Nyi Dewi Durgakumala.

Setelah dekat dia berjongkok dan kini tahulah dia bahwa pemuda remaja itu adalah Linggajaya, putera kepala dusun Karang Tirta yang terkenal sombong karena merasa dia putera kepala dusun Karang Tirta yang berkuasa, kaya raya dan juga memiliki wajah tampan.

Sebetulnya Nurseta tidak begitu suka kepada pemuda sombong ini, bahkan dia seringkali sebagai seorang pemuda yatim piatu mendapat ejekan dan olok-olok dari Linggajaya.

Akan tetapi kini melihat keadaan pemuda itu, dia merasa iba dan seperti tadi ketika menggugah Puspa Dewi, kini diapun mengguncang pundak Linggajaya dengan tangan kirinya.

"Jaya ....., Linggajaya ..... bangunlah .....!"

Kembali keampuhan keris pusaka Megatantra bekerja dan seketika pemuda putera lurah itu terbebas dari pengaruh sihir Nyi Dewi Durgakumala atas dirinya.

Dia terbangun menggosok-gosok kedua mata dengan tangan karena keremangan kabut membuat penglihatannya tidak begitu terang.

Akhirnya dia melihat wajah Nurseta dan dia bangkit duduk.

"Eh, engkau ini Nurseta? Mau apa engkau di sini? Ah ya, apa yang terjadi? Dimana wanita cantik yang membawa lari aku tadi ? "

"Ssttt ".. jangan berisik Jaya. Mereka sedang bertempur. Sebaiknya mari cepat ajak Puspa Dewi lari dari sini."

Bisik Nurseta. Linggajaya bangkit berdiri.

"Puspa Dewi? Di mana dia? Mengapa pula ia ada di sini?"

"Iapun diculik orang. Mari kita ajak ia lari."

Kata Nurseta dan mereka pergi menghampiri Puspa Dewi.

Puspa Dewi adalah Gadis remaja yang amat cantik dan hampir semua pemuda remaja di Karang Tirta gandrung kepadanya, termasuk Linggajaya.

Setelah bertemu dengan Puspa Dewi, Linggajaya lalu memegang tangan anak perempuan itu dan ditariknya, diajak lari dari tempat itu.

"Puspa Dewi, hayo cepat kita lari pulang!"

Katanya sambil menarik tangan anak perempuan itu.

Karena ketakutan terhadap kakek yang menculiknya tadi, Puspa Dewi menurut saja dan keduanya lari meninggalkan tempat itu tanpa mempedulikan Nurseta lagi.

Pemuda ini hanya berdiri memandang.

Dia tidak perlu berlari, bahkan dia harus berlindung kepada Empu Dewamurti yang sedang bertanding melawan kakek tinggi besar itu.

Akan tetapi sekarang dia melihat Empu Dewamurti bahkan dikeroyok olek dua orang penculik itu.

Teringat akan pesan Empu Dewamurti, Nurseta lalu menyelinap dan duduk lagi di dekat batu karang.

Kini dengan penuh perhatian dia menonton pertarungan itu.

Anehnya, kabut yang tadi menyelimuti temmpat itu sudah menipis dan cahaya bulan purnama tampak berseri lagi.

Tadi pertandingan antara Resi Bajrasakti dan Empu Dewamurti berlangsung tak seimbang.

Betapapun saktinya Resi Bajrasakti namun ternyata tingkatannya masih berada dibawah tingkat Empu Dewamurti yang memiliki aji-aji yang kuat sekali karena semua ajinya selalu dipergunakan untuk membela kebenaran.

Juga hidupnya selalu penuh dengan keprihatinan, berserah diri dan selalu dekat dengan Sang Hyang Widhi, tidak seperti Resi Bajrasakti yang selalu melakukan kejahatan terdorong oleh nafsu-nafsunya sendiri yang memperbudaknya.

Beberapa kali cambuknya terpental membentur tongkat bambu kuning, bahkan sempat terdorong dan terhuyung sehingga dalam waktu singkat saja dia hampir kehabisan tenaga.

Melihat ini, timbul kekhawatiran dalam hati Nyi Dewi Durgakumala.

Tingkat kepandaiannya sendiri seimbang dengan tingkat yang dikuasai Resi Bajrasakti.

Berarti dia sendiri juga tidak akan mampu menandingi ketangguhan Empu Dewamurti.

Lebih baik kalau Empu Dewamurti disingkirkan terlebih dahulu, pikirnya.

Ia lalu mencabut Candrasa Langking (Pedang Hitam) yang merupakan senjata pusakanya dan melompat ke depan mengeroyok sang empu.Pedangnya menjadi gulungan sinar hitam yang menerjang kearah Empu Dewamurti.

Setelah dikeroyok dua, Empu Dewamurti merasa kewalahan juga.

Bertanding satu lawan satu, dia pasti dapat mengalahkan mereka, akan tetapi menghadapi pengeroyokan dua orang digjaya itu, dia harus mengeluarkan aji kesaktian yang lebih tinggi.

Tiba-tiba Empu Dewamurti memutar tongkat bambu kuning dengan tangan kanannya.

Tongkat itu membentuk gulungan sinar kuning yang melingkar-lingkar, bagai sebuah perisai yang kokoh kuat melindungi dirinya.

Kemudian ia mengerahkan tenaga saktinya ke tangan kiri dan dua kali mendorongkan telapak tangan kirinya itu ke arah sua orang pengeroyoknya.

"Hyaaahhh ..... yaaaahhh ...!!"

Angin dahsyat menggempur datuk Wengker dan datuk Wurawari itu.

Biarpun mereka berdua mencoba bertahan, namun tetap saja mereka terdorong ke belakang dan terhuyung sampai jatuh!

Mereka terkejut bukan main dan maklum bahwa lawannya benar-benar sakti mandraguna dan kalau lawannya mempergunakan tangan kejam mungkin mereka berdua takkan mampu bertahan.

Apalagi melihat Nurseta yang menemukan keris pusaka Megatantra berlindung di belakang sang empu.

Mereka menjadi putus harapan dan melihat betapa dua orang anak remaja yang mereka culik tadi lenyap, mereka semakin marah dan penasaran lalu mereka melakukan pengejaran, meninggalkan Empu Dewamurti yang berdiri sambil mengatur pernafasan untuk memulihkan tenaganya yang tadi banyak dihamburkan untuk melawan dua orang tangguh itu.

"Hei, ke mana dua orang bocah yang mereka culik tadi?"

Empu Dewamurti baru melihat bahwa dua orang anak itu sudah tidak ada dan dia melihat betul bahwa dua orang datuk tadi melarikan diri tanpa membawa dua orang bocah yang tadi diculiknya.

"Maaf, eyang. Tadi saya menggugah dan menyuruh mereka melarikan diri karena saya merasa kasihan dan khawatir akan keselamatan mereka."

"Engkau? Menggugah meraka?"

Empu Dewamurti merasa heran.

Dia dapat menduga bahwa dua orang bocah remaja tadi tentu tidak mampu bergerak atau berteriak karena pengaruh sihir!

Bagaimana mungkin anak ini dapat menyadarkan mereka?

Akan tetapi dia tiba-tiba teringat akan keris pusaka Megatantra yang berada dalam buntalan kain kuning yang dibawa nurseta dan dia mengangguk-angguk.

Mengertilah empu ini bahwa tentu daya kekuatan keris ampuh itu yang memunahkan pengarus sihir atas diri dua orang bocah remaja itu.

"Kenalkah engkau kepada dua orang anak itu?"

Nurseta mengangguk.

"Saya mengenal mereka, eyang. Mereka asalah Puspa Dewi dan Linggajaya dari dusun Karang Tirta. Kami sedusun eyang."

"Dari dusun Karang Tirta? Ah jangan-jangan dua orang sesat itu melakukan pengejaran ke sana. Hayo nurseta, kita menyusul mereka ke Karang Tirta! Pegang erat-erat tanganku!."

Nurseta menurut.

Tangan kirinya masih mendekap buntalan kuning dan tangan kanannya memegang tangan kiri kakek itu erat-erat.

Tiba-tiba Nurseta merasa betapa tubuhnya meluncur seperti terbang dengan cepatnya!

Kedua kaki agak terangkat sehingga tidak menginjak tanah lagi.

Kiranya kakek itu mengangkat tangannya keatas sehingga tubuhnya agak terangkat dan kakek itu membawanya lari secepat terbang!

Nurseta terbelalak, kagum dan heran.

Sudah kurang lebih sebulan dia mengenal Empu Dewamurti, yaitu ketika secara kebetulan dia melewaati guha itu.

Dia merasa kasihan kepada kakek yang bertapa itu dan melihat tubuh yang tinggi kurus itu, Nurseta mencari buah-buahan dan menghidangkan kepada Empu Dewamurti.

Mereka berkenalan dan sang empu juga kagum melihat pemuda yang budiman itu.

Mereka tiba di dusun Karang Tirta dan Nurseta mengajak sang empu lebih dulu mengunjungi rumah Nyi Lasmi, seorang janda berusia tiga puluh satu tahun yang hanya hidup berdua dengan anaknya yaitu Puspa Dewi.

Alangkah terkejut dan herannya hati Nurseta ketika dia dan sang empu mendapatkan janda muda itu menangis terisak-isak, dirubung beberapa orang wanita yang menjadi tetangganya.

Ketika Nurseta dan Empu Dewamurti datang, semua orang menatapnya dengan heran.

Akan tetapi Nurseta tidak mengacuhkan mereka, langsung dia menghampiri Nyi Randa (Janda) Lasmi dan bertanya.

"Bibi Lasmi, apakah Puspa Dewi sudah pulang?"

Mendengar pertanyaan ini Nyi Lasmi menyusut air matanya yang sudah hampir habis dan ia memandang Nurseta dengan mata merah.

"Bagaimana engkau ini, Nurseta? Semua orang geger meributkan anakku yang diculik penjahat, engkau malah bertanya apakah dia sudah pulang!"

"Saya sudah tahu, Bibi Lasmi. Malah tadi saya yang menggugah dan menyuruhnya cepat melarikan diri ketika penculiknya sedang bertanding dengan eyang empu ini. Apakah ia belum tiba di sini?"

Semua orang terheran mendengar ini dan Nyi Lasmi menjadi semakin gelisah.

"Tidak, ia belum pulang sejak diculik. Ah, anakku Puspa Dewi .....!"

Lalu janda muda itu menjatuhkan diri berlutut dan menyembah-nyembah Empu Dewamurti yang tidak dikenalnya.

Mendengar bahwa kakek itu bertanding melawan penculik anaknya, maka timbul harapan di hatinya bahwa kakek itu akan dapat menyelamatkan puterinya.

"Aduh paman ..... saya mohon, tolonglah anak saya Puspa Dewi .....!"

"Tadi Dewi melarikan diri bersama Linggajaya, mungkin mereka lari ke rumah Bapak Lurah Suramenggala. Mari eyang, kita mencari kesana!"

Kata Nurseta.

Empu Dewamurti mengangguk dan mereka berdua segera keluar dari rumah itu dan mereka menuju ke rumah ki lurah.

Akan tetapi sekali ini semua orang termasuk Nyi Lasmi juga mengikuti mereka karena Nyi Lasmi dan para tetangganya ingin sekali melihat apakah benar Puspa Dewi selamat dan kini berada di rumah Ki Lurah Suramenggala!.

Akan tetapi ketika mereka tiba di sana, keluarga Ki Lurah Suramengggala juga sedang kebingungan dan kesedihan.

Banyak penduduk berkumpul di situ.

Ketika Ki Lurah Suramenggala mendengar bahwa Nurseta mengetahui tentang puteranya yang diculik wanita cantik, dia segera melangkah ke luar menemui Nurseta.

Empu Dewamurti memandang penuh perhatian.

Ki Lurah Suramenggala adalah seorang laki-laki tinggi besar berwajah bengis, berusia kurang lebih empat puluh lima tahun.

Dibelakangnya berjalan seorang wanita berusia sekitar tiga puluh lima tahun yang berwajah cantik dan matanya merah karena kebanyakan menangis.

"Nurseta, benarkah engkau melihat Linggajaya? Di mana dia? Bagaimana keadaannya?"

Tanya wanita yang menjadi isteri ketiga dan ibu Linggajaya itu dengan suara serak.

"Nurseta, hayo ceritakan semuanya dan jangan bohong engkau!"

Ki Lurah Suramenggala membentak galak.

Nyi Lasmi, janda ibu Puspa Dewi juga mendekat dan mendengarkan.

Semua orang tidak ada yang bersuara, ingin mendengarkan cerita Nurseta.

Nurseta menelan ludah, tampak gugup, siapa diantara para penduduk Karang Tirta yang tidak akan gugup menghadapi Ki Lurah yang bengis galak itu?

Apalagi nurseta adalah seorang pemuda remaja yatim piatu yang pekerjaannya hanya menjadi buruh tani.

Karena tidak memiliki apa-apa, tidak memiliki secuilpun tanah maka dia hanya membantu bertani di sawah ladang mereka yang memiliki tanah dan menerima upah sekadarnya untuk dapat makan setiap harinya.

"Malam tadi saya pergi ke pantai pasir putih untuk menemui eyang ini ..."

"Siapa dia?"

Ki Lurah Suramenggala bertanya sambil memandang ke arah Empu Dewamurti, seolah seorang jaksa sedang memeriksa seorang terdakwa.

"Eyang ini adalah Empu Dewamurti yang sedang bertapa di dalam gua di bawah tebing dekat pantai pasir putih."

Nurseta menjelaskan.

"Hemm, lanjutkan ceritamu!"

"ketika saya tiba si pantai pasir putih, saya melihat eyang empu sedang berhadapan dengan dua orang. Seorang kakek tinggi besar yang memanggul tubuh Puspa Dewi dan seorang wanita cantik yang memanggul tubuh Linggajaya."

"Anakku Dewi ....!"

Nyi Lasmi menangis.

"Diam kau, Nyi Lasmi!"

Ki Lurah membentak.

"Hayo lanjutkan, Nurseta, akan tetapi awas, jangan bohong kau!"

"Kemudian eyang minta agar mereka melepaskan Puspa Dewi dan Linggajaya yang mereka tawan, akan tetapi mereka menolak dan setelah menurunkan tubuh kedua orang anak itu, mereka lalu bertanding melawan Eyang Dewamurti. Saya menggunakan kesempatan itu untuk menggugah Puspa Dewi dan Linggajaya yang keliatannya seperti tertidur, lalu menganjurkan mereka untuk cepat melarikan diri dan pulang. Setelah eyang empu berhasil mengalahkan dua orang penculik itu dan mereka melarikan diri dan kuceritakan kepada eyang empu tentang Puspa Dewi dan Linggajaya, kami berdua datang ke sini untuk melihat apakah kedua orang anak itu sudah pulang. Akan tetapi ternyata belum ".."

"Nurseta, jangan bohong kau! Kalau memang benar engkau membujuk kedua orang anak itu untuk lari dan pulang, kenapa engkau sendiri tidak mengantar mereka? Lalu engkau Pergi kemana?"

Hardik Ki Lurah dengan suara galak dan matanya melotot menatap wajah Nurseta.

"Saya kembali berlindung di belakang eyang empu seperti yang diperintahkannya."

"Semua itu bohong! siapa percaya omongan seorang yatim piatu terlantar seperti engkau? Ceritamu itu bohong! Engkau tentu menjadi antek penculik anakku! Hayo katakan, berapa engkau dibayar untuk membantunya?"

Nurseta memandang lurah itu dengan mata terbelalak.

"Saya tidak membantu para penculik iru. Saya malah mencoba untuk menolong Linggajaya dan Puspa Dewi!"

"Bohong! mana mungkin kakek kurus kering ini mampu menandingi dua orang penculik itu? Baru penculik wanita itu saja memiliki kesaktian luar biasa. Lima orang jagabaya ia robohkan seketika dan ia memondong tubuh Linggajaya dan berlari seperti terbang. Engkau pasti berbohong dan kakek ini tentu temanmu yang bersekongkol dengan penculik itu!"

"Tidak, sungguh saya tidak membohongi siapa-siapa "!"

Kata Nurseta.

"Diam! Engkau pasti bersekongkol dengan para penculik. Engkau dan kakek ini. Kalian akan kami tahan sampai anakku kembali dengan selamat. Tangkap bocah dan kakek ini!"

Ki lurah Suramenggala dengan mata melotot menudingkan telunjuknya kepada Nurseta, memerintah kepada para jagabaya (penjaga keamanan) untuk menangkap Nurseta dan Empu Dewamurti.

Akan tetapi terjadi hal yang amat aneh sehingga mengherankan semua orang yang berada di situ.

Baik Ki Lurah Suramenggala, lima orang jagabaya belasan orang anak buahnya dan siapa saja yang berniat menangkap nurseta dan Empu Dewamurti sama sekali tidak mampu menggerakkan kaki tangannya.

Bahkan Ki Lurah Suramenggala masih berdiri melotot dan menudingkan telunjuknya ke arah Nurseta, tidak mampu bergerak lagi, seolah berubah menjadi arca.

Tentu saja dia merasa kaget dan heran sekali.

Dia berusaha meronta dan mengggerakkan tubuhnya namun tetap saja tidak berhasil, bahkan bibirnya tak mampu bergerak untuk mengeluarkan suara!

Mereka yang tidak berniat buruk terhadap Empu Dewamurti dan Nurseta dapat bergerak seperti biasa dan melihat betapa kakek itu berkata kepada Nurseta dengan suara tenang.

"Mari Nurseta, mari kita tinggalkan lurah yang bodoh dan suka mengandalkan kedudukan bersikap sewenang-wenang ini". Lalu kakek itu melangkah pergi meninggalkan pekarangan rumah besar itu,diikuti Nurseta. Lama setelah dua orang itu pergi, barulah KiLurah Suramenggala mampu bergerak kembali. Demikian pula mereka yang tadi berniat menangkap Nurseta dan kakek itu. Begitu sapat bergerak, Ki Lurah Suramenggala berseru.

"Tangkap bocah dan kakek itu! Tangkap mereka!"

Seorang carik yang sudah tua segera berkata.

"Kilurah, saya harap andika menyadari bahwa kakek tadi bukan orang sembarangan. Tentu dia membuat kami tidak mampu bergerak maupun bersuara. Kalau dia berniat jahat, mungkin selamanya kami tidak dapat bergerak lagi."

Mendengar ini, belasan orang yang tadi berniat menangkap dan tidak mampu bergerak atau bersuara menjadi ketakutan.

Juga Ki Lurah menjadi takut membayangkan betapa dia tidak mampu bergerak atau bersuara lagi dengan tubuh kaku seperti berubah menjadi arca batu!

"Tapi.....

tapi .....

bagaimana dengan anakku si Linggajaya?"

Katanya dengan cemas.

"Ki lurah, kalau apa yang diceritakan Nurseta tadi benar-benar terjadi, tentu kedua orang anak yang diculik itu terjatuh kembali ketangan penculiknya atau mungki juga masih berkeliaran karena takut, bersembunyi di sekitar pantai. Lebih baik kita berpencar dan mencari."

Kata carik tua itu.

Semua orang setuju dan berhamburanlah mereka keluar dari dusun karang tirta untuk mencari kedua anak yang hilang itu.

Akan tetapi sampai keesokan harinya, usaha para penduduk Karang Tirta itu tidak berhasil.

Akhirnya, terpaksa mereka kembali ke dusun dan dua keluarga yang kehilangan anak itu hanya dapat menangis.

Nurseta mengikuti Empu Dewamurti meninggalkan daerah pantai laut kidul menuju utara.

Mereka berjalan terus melalui bukit-bukit kapur.

Pada keesokan harinya, pagi-pagi mereka berhenti mengaso di puncak sebuah bukit kecil.

Empu Dewamurti yang minta anak itu berhenti mengaso, melihat nurseta tampak kelelahan.

Diam-diam dia mengagumi pemuda remaja yang tahan uji itu, berjalan sepanjang malam tanpa henti dan sama sekali tidak mengeluh walaupun kelelahan.

Mereka duduk di atas batu.

Nurseta masih tetap memegang buntalan kain kuning berisi keris pusaka itu.

"Nurseta, berikan keris itu padaku."

Kata Empu Dewamurti sambil menyodorkan tangannya.

Pemuda itu menyerahkannya dan Empu Dewamurti membuka buntalan kain kuning.

Tampak sinar kilat ketika sinar matahari pagi menimpa keris itu.

Empu Dewamurti memegang gagang keris, mengangkat dan mengamatinya.

Lalu dia mengangguk-angguk.

"Tidak salah lagi. Inilah Sang Megatantra, buatan empu Bramakendali yang hidup ratusan tahun yang lalu di jaman Medang Kamulan. Pusaka ini dikabarkan hilang tanpa bekas puluhan tahun yang lalu setelah dijadikan rebutan para raja muda yang mengirim orang-orang sakti. Sungguh luar biasa sekali bahwa akhirnya pusaka ini ditemukan olehmu, Nurseta. Ini hanya berarti bahwa engkau berjodoh dengan pusaka ini, dan mulai saat ini, Keris Pusaka Megatantra menjadi milikmu."

Kakek itu mengembalikan keris. Nurseta menerimanya dan membungkusnya kembali dengan kain kuning.

"Akan tetapi eyang, saya justeru hendak menyerahkan keris ini kepada eyang."

"Tidak, Nurseta. Engkau yang menemukan. Hal itu sudah merupakan kehendak Sang Hyang Widhi dan engkau pula yang berhak memilikinya."

"Eyang, saya tidak tahu apakah yang harus saya lakukan dengan keris ini. Bagi saya keris ini tidak ada gunanya. Sebatang arit atau pacul jauh lebih berguna karena dengan alat-alat itu saya dapat bekerja di sawah ladang. Akan tetapi sebatang keris? Untuk apa? Saya tidak dapat mempergunakannya."

Kakek itu tersenyum, mengelus jenggotnya dan mengamati wajah pemuda itu, lalu mengangguk-angguk.

"Bagus!, kewajaran dan kejujuranmu itu merupakan modal utama bagimu untuk melangkah sepanjang jalan kebenaran dan mencegahmu agar tidak tersesat jalan. Jangan khawatir, Nurseta. Aku merasa bertanggung jawab untuk mengajarkan ilmu kanuragan dan aji kesaktian agar engkau dapat memanfaatkan kegunaan keris pusaka ini demi membela kebenaran dan keadilan, juga agar engkau dapat berbakti kepada Nusa dan Bangsa."

Mendengar ini, Nurseta tertegun.

Teringat dia bahwa kakek ini adalah seorang yang sakti mandraguna seperti Dewa saja.

Teringat ketika kakek ini bertanding melawan dua orang penculik yang sakti itu dan ketika kakek ini membawanya "terbang"

Dalam berlari. Dia menjadi muridnya? "Maksud paduka ..... hendak mengambil saya menjadi murid? Mengajari saya aji kesaktian, juga cara berlari seperti terbang?"

Melihat kegembiraan membayang pada wajah pemuda yang tegang itu Empu dewamurti tersenyum dan mengangguk-angguk.

Diam-diam dia merasa kagum.

Bocah ini biarpun menjadi anak desa dan yatim piatu, pekerjaannya hanya sebagai seorang buruh tani namun memiliki wajah yang cerah, bersih, sepasang mata yang sinarnya tajam cerdik namun penuh kejujuran dan kebaikan budinya tercermin pada pandang matanya.

Wajah seorang pemuda remaja yang mempunyai daya tarik amat kuat, walaupun tak dapat disebut tampan sekali.

Wajah biasa saja namun menyembunyikan sesuatu yang pasti menarik hati orang untuk mengenalnya lebih dekat.

Dia teringat betapa bocah ini mula-mula lewat di depan guha dan melihatnya.

Tak lama kemudian bocah ini membawa sesisir pisang raja yang kuning masak dan memberikan pisang itu kepadanya!.

Dan sejak hari itu Nurseta sering datang membawa bermacam makanan seperti .

buah-buahan, jagung bakar, ketela bakar, bahkan kelapa muda untuk dihidangkan kepadanya.

Mereka seperti menjadi sahabat.

Namun hanya sebatas begitu saja.

Belum pernah dia mendengar tentang keadaan pemuda itu.

Dan tadi dia mendengar kemarahan Ki Lurah yang mengatakan bahwa Nurseta adalah seorang anak yatim piatu.

Setelah teringat bahwa dia kini menjadi murid kakek itu, Nurseta segera meletakkan buntalan keris di atas batu dan dia sendiri lalu turun dari atas batu.

"Eyang guru .....!"

Katanya sambil berlutut dan menyembah, sungkem dengan penuh hormat didepan kaki kakek itu.

"Bagus, Nurseta muridku. Sekarang duduk dan bersila di atas batu itu agar lebih leluasa kita bicara."

Biarpun Nurseta ingin menghormati gurunya dengan duduk bersila di atas tanah, di sebelah bawah, namun mendengar ucapan itu, dia menyembah lagi lalu kembali duduk bersila di atas batu.

"Nah, sekarang aku ingin mendengar riwayatmu. Ceritakan keadaanmu sejak kecil dan tentang orang tuamu!. Aku harus mengenal benar siapa sesungguhnya anak yang menjadi muridku."

Nurseta menarik nafas panjang, menenangkan hatinya lalu mulai bercerita tentang dirinya.

"Seingat saya, ayah bernama Darmaguna dan ibu bernama Sawitri. Menurut ibu, mereka mulai tinggal di Karang Tirta ketika saya berusia tiga tahun, akan tetapi ayah dan ibu tidak pernah bercerita dari mana mereka berasal. Di Dusun ini ayah terkenal sebagai seorang sastrawan. Banyak orang yang datang kepada ayah untuk mempelajari sastra, tembang maupun untuk minta pengobatan karena ayah seorang ahli pengobatan. Sejak saya berusia lima tahun, ayah mengajarkan sastra kepada saya."

"Jagat Dewa Bhatara! Kalau begitu engkau pandai membaca dan menulis"

Tanya Empu Dewamurti heran bukan main.

Pada masa itu, jangankan seorang bocah desa, bahkan para remaja kota rajapun banyak yang tidak bisa baca tulis.

Nurseta mengangguk dan mukanya kemerahan.

Dia merasa malu karena merasa tidak pantas dikagumi orang seperti gurunya.

"Ketika saya berusia sepuluh tahun pada suatu pagi sehabis bangun tidur, saya tidak menemukan ayah dan ibu di rumah. Juga mereka tidak berada di ladang, tidak dapat saya temukan di luar rumah. Mereka telah pergi ... mereka pergi meninggalkan saya tanpa pamit."

Nurseta menekan perasaan yang tiba-tiba bersedih agar tidak terdengar dalam suaranya.

"Pergi begitu saja? Pergi kemana dan kenapa?"

Nurseta menggeleng kepalanya.

"Saya tidak tahu eyang. Mereka tidak meninggalkan pesan dan pakaian merekapun tidak ada. Sampai sekarang mereka tidak pernah pulang dan tidak pernah memberi kabar."

"Hemm, lalu engkau yang dulu berusia sepuluh tahun hidup seorang diri? Apakah engkau tidak memiliki sanak keluarga?"

"Tidak eyang, ayah dan ibu merupakan pendatang baru dan orang asing di Karang Tirta. Saya hidup seorang diri. Ki Lurah Suramenggala mengurus semua peninggalan orang tuaku. Tidak banyak hanya pondok kecil dan sedikit ladang. Ki Lurah membelinya sendiri dan memberikan uangnya sedikit demi sedikit kepada saya. Saya diperbolehkan tinggal membantu pengembala mengurus hewan ternaknya. Kurang lebih tiga tahun kemudian, uang hasil penjualan rumah dan ladang itu kata Ki Lurah sudah habis untuk biaya hidup saya. Mulailah dalam usia tiga belas tahun saya hidup sebagai buruh tani. Sampai sekarang, selalu berpindah-pindah ke rumah pemilik sawah yang saya bantu."

Empu Dewamurti mengangguk-angguk. Anak ini memiliki latar belakang yang penuh rahasia. Entah darimana datangnya orang tuanya dan rahasia apa yang tersembunyi di balik kehilangan mereka yang aneh.

"Jadi kalau begitu engkau hidup sebatang kara, tiada sanak keluarga dan tiada rumah atau tempat tinggal sama sekali".

"Benar eyang, akan tetapi mulai sekarang saya tidak sebatang kara lagi. Saya hidup bersama eyang guru, saya mempunyai eyang dan saya dapat melayani eyang!"

Kata Nurseta dan dalam suaranya terkandung kegembiraan.

"Baik Nurseta, engkau akan hidup bersamaku sampai engkau dapat menguasai ilmu-ilmu yang akan kuajarkan kepadamu. Kulihat engkau masih membawa arit di ikat pinggangmu. Nah, sekarang carilah sebatang kayu batang pohon nangka untuk membuat sarung untuk Keris Pusaka Megatantra itu."

"Baik eyang."

Nurseta lalu mencari kayu untuk membuat warangka (sarung keris).

Setelah mendapat kayu yang cukup baik dia kembali dan duduk di atas batu di depan gurunya, lalu mulai membentuk sebuah sarung keris.

Sambil membuat sarung keris, Nurseta bertanya kepada gurunya.

"Eyang, mengapa dua orang penculik itu begitu ngotot untuk merebut keris megatantra ini?"

"Keris pusaka ini adalah sebuah keris yang ampuh dan bertuah, Seta. Engkau telah membuktikannya sendiri. Ketika engkau menggugah dua orang bocah yang terculik itu, karena engkau memegang keris ini, maka engkau membebaskan mereka dari pengaruh sihir. Mereka ingin memiliki keris pusaka ini yang akam membuat mereka menjadi semakin kuat dan sakti.

"Dan kalau boleh saya bertanya, eyang. Mengapa pula eyang mempertahankan keris ini mati-matian?"

Empu Dewamurti tersenyum lebar.

"memang aku melawan mereka, akan tetapi bukan semata-mata untuk mempertahankan keris, melainkan terutama sekali agar mereka membebaskan dua bocah yang mereka culik itu."

"Eyang, apakah gunanya sebatang keris diperebutkan sampai mengadu nyawa? Saya masih ingat akan satu diantara nasehat ayah dahulu. Ketika saya membaca sebuah kitab Weda, ayah menerangkan bahwa setiap alat apapun juga tidak mempunyai sifat baik maupun buruk. Kata ayah, baik dan buruknya suatu alat tergantung sepenuhnya kepada cara kita yang mempegunakan alat itu. Contohnya arit ini, eyang. Kalau dipergunakan untuk bekerja, menyabit rumput, menebang pohon, termasuk membuat warangka keris ini, maka ini menjadi alat yang baik. Sebaliknya kalau dipakai untuk membacok, melukai atau membunuh orang, maka jelas arit ini menjadi alat yang tidak baik. Lalu untuk apa keris diperebutkan mati-matian?"

"Bagus kalau engkau masih ingat akan wejangan ayahmu itu, Nurseta. Ayahmu benar. Memang baik atau buruk itu tidak ada, baik atau buruk baru muncul setelah ada pandangan dan perbuatan. Agar mudah kau ingat, segala yang sifatnya membangun, menjaga keindahan, mendatangkan manfaat bagi orang-orang lain adalah baik dan segala sesuatu yang sifatnya merusak, menyebabkan keburukan, mendatangkan manfaat hanya kepada diri sendiri, adalah buruk dan jahat. Mengapa aku mencegah keris ini jatuh ke tangan mereka?, karena aku mengenal siapa mereka dan aku yakin bahwa kalau keris ini jatuh ke tangan mereka, maka keris ini akan menjadi alat yang jahat dan mendatangkan malapetaka kepada orang banyak." (Lanjut ke

Jilid 02) Keris Pusaka Sang Megatantra (seri ke 01 -Serial Keris Pusaka Sang Megatantra) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo

Jilid 02

"Siapakah sebenarnya orang sakti itu eyang?"

"Yang laki-laki adalah Resi Bajrasakti, dia itu seorang penasehat kerajaan Wengker. Karena kerajaan itu memusuhi Sang Prabu Erlangga, maka tentu kedatangannya di wilayah Kahuripan ini hanya akan melakukan perbuatan yang mendatangkan kekacauan. Mungkin dia melakukan penyelidikan di wilayah Kahuripan ini. Adapun yang perempuan itu bernama Nyi Dewi Durgakumala. Ia seorang tokoh kerajaan Wurawari yang juga memusuhi Sang Prabu Erlangga. Tentu kedatangannya juga tidak bermaksud baik, tiada bedanya dengan Rsi Bajrasakti. Mereka berdua itu sakti mandraguna, selain dahsyat ilmu silatnya, juga mereka itu ahli-ahli sihir dan segala macam ilmu hitam. Lihat saja Nyi Dewi Durgakumala itu. Usianya seingatku sudah mendekati lima puluh tahun, akan tetapi ia masih nampak muda belia dan cantik. Ah orang-orang sesat itu hanya mementingkan keindahan dan kesenangan jasmani saja, sama sekali melupakan keadaan rohani."

"Akan tetapi apa perlunya mereka itu menculik linggajaya dan Puspadewi, eyang?"

Kakek itu menarik nafas panjang.

"Hal itu ada hubungannya dengan syarat ilmu sesat mereka. Ilmu sesat itu selalu ada hubungannya dengan nafsu. Nafsu apa saja. Akan tetapi dalam hal mereka berdua, yang menjadi syarat adalah pemuasan nafsu daya rendah birahi. Resi Bajrasakti suka menculik dan memperkosa perawan-perawan cantik demi memperkuat ilmu sesatnya, Nyi Dewi Durgakumala sebaliknya menculik para perjaka yang tampan."

"Aduh, kasihan sekali kalau begitu Lingggajaya dan Puspa dewi"

Seru Nurseta.

Empu Dewamurti menghela nafas panjang."Kita sudah berusaha menolong mereka, akan tetapi gagal.

Segala upaya itu dapat berhasil atau gagal sesuai dengan kehendak Sang Hyang Widhi.

Yang penting, upaya kita itu berlandaskan kebenaran.

Berhasil atau gagal berada dalam kekuasaan Sang Hyang Widhi.

Kita semua masing-masing terikat oleh karmanya sendiri-sendiri.

Tidak ada yang perlu disesalkan!"

Setelah Nurseta selesai membuat warangka keris, Empu Dewamurti lalu memasukkan keris pusaka itu kedalam sarung keris yang sederhana itu lalu menyuruh Nurseta menyelipkan keris dan warangkanya itu di pinggangnya.

Kemudian dia mengajak muridnya melanjutkan perjalanan.

"Kita akan tinggal di sebuah guha diantara puncak-puncak pegunungan Arjuna."

Kata kakek itu.

Dan pergilah mereka ke gunung Arjuna yang terkenal wingit (angker/menakutkan) itu.

Kemanakah perginya Linggajaya dan Puspa Dewi?

Mereka sudah dapat melarikan diri, kenapa tidak tiba di rumah masing-masing di dusun Karang Tirta dan ketika dicari oleh para penduduk dusun itu tidak dapat ditemukan?

Tidak salah apa yang dikatakan Empu Dewamutri kepada Nurseta tadi bahwa segala sesuatu yang terjadi dalam kehidupan seorang manusia sudah diatur dan ditentukan oleh kekuasaan Sang Hyang Widhi sesuai dengan karma masing-masing.

Manusia memang wajib berusaha, wajib berdaya upaya sekuat tenaga, namun semua itu tidak akan mengubah apa yang telah ditentukan oleh Sang Hyang Widhi.

Adapun baik buruknya karma itu tergantung sepenuhnya kepada keadaan hati dan perbuatan manusia itu sendiri.

Sang Hyang Widhi Maha Adil, manusia bijak pasti menerima kebaikan dan manusia jahat pasti menerima keburukan.

Siapa menanam benihnya, dia akan memetik buahnya.

Ketika Linggajaya dan Puspa Dewi melariak diri di malam bulan purnama itu, memang mereka bermaksud untuk pulang ke Karang Tirta.

Akan tetapi, sebelum tiba di dusun yang sudah dekat itu, mereka mendengar teriakan lembut namun jelas terdengar oleh telinga mereka.

"Bocah bagus, kemana engkau hendak lari?"

Jelas itu adalah suara Nyi Dewi durgakumala.

Suara itu memang tidak nyaring karena wanita itu takut kalau-kalau terdengar oleh Empu Dewamurti, akan tetapi suara itu didorong oleh tenaga sakti dan melengking ke arah depan sehingga terdengar oleh Linggajaya dan Puspa Dewi.

"Cah Ayu manis, denok moblong-moblong, berhentilah!"

Terdengar pula suara Resi Bajrasakti.

Mendengar dua suara ini, tentu saja dua orang itu menjadi takut dan panik.

Tadinya memang mereka lari berbareng, akan tetapi ketika mendengar suara itu, saking bingungnya mereka berpencar.

Linggajaya berlari ke arah kanan meninggalkan Puspa Dewi dan bocah perempuan itu dengan ketakutan berlari ke kiri.

Sementara itu Resi Bajrasakti dan Nyi Dewi Durgakumala yang kecewa sekali karena tidak berhasil merampas keris Megatantra dan dikalahkan oleh Empu dewamurti kini mencurahkan perhatian mereka kepada dua orang anak yang mereka culik dan kini entah bagaimana telah melarikan diri.

Mereka melakukan pengejaran, akan tetapi mereka mengejar dengan hati gentar pula kalau-kalau Empu Dewamurti juga mengejar mereka.

Dalam kegugupan mereka itu, kini merekapun berpencar dan melakukan pengejaran.

Dan terjadilah hal yang sama sekali diluar kehendak dan perhitungan dua orang datuk itu.

Resi Bajrasakti lari mengejar ke kanan dan Nyi Dewi Durgakumala lari mengejar ke kiri.

Dengan sendirinya Resi Bajrasakti dapat menyusul Linggajaya dan sebaliknya Nyi Dewi Durgakumala dapat menyusul Puspa Dewi.

Dalam keremangan malam karena bulan purnama sudah condong ke barat dan tertutup awan tipis, Resi Bajrasakti hanya melihat bayangan Linggajaya yang berlari di depannya.

Dia mengira bahwa itu adalah Puspa Dewi.

Setelah dia menyambar tubuh anak itu, dibuatnya tidak mampu bergerak dan bersuara lalu dipanggulnya, barulah dia menyadari bahwa telah salah tangkap.

Akan tetapi sudah kepalang, dia tidak peduli dan mempercepat larinya meninggalkan tempat itu karena merasa takut terhadap Empu Dewamurti, apalagi setelah kini ia berpisah dengan Nyi Dewi Durgakumala.

Resi Bajrasakti berlari mempergunakan ilmu lari cepat, melarikan diri seperti terbang saja sambil memanggul tubuh Linggajaya.

Pemuda remaja berusia lima belas tahun ini kembali merasa tidak berdaya, tidak mampu menggerakkan tubuh dan tidak mampu mengeluarkan suara.

Akan tetapi diapun tahu bahwa kini yang melarikan bukanlah wanita cantik tadi, melainkan kakek tinggi besar yang menyeramkan.

Diam-diam dia merasa menyesal.

Bagaimanapun juga dia lebih senang kalau diculik wanita cantik itu.

Baru baunya saja, ketika dia dipanggul wanita itu, harum semerbak.

Tidak seperti kakek ini yang baunya apek!.

Linggajaya adalah putera Ki Lurah Suramenggala yang dimanja.

Ibunya adalah istri ketiga lurah itu.

Wajahnya tampan, kulitnya halus seperti ibunya, akan tetapi wataknya bengis dan angkuh seperti ayahnya.

Setelah lari sepanjang malam dengan cepat sekali menuju ke arah barat, pada keesokan harinya setelah matahari mulai terbit, Resi Bajrasakti tiba di sebuah hutan dan dia berhenti, lalu menurunkan tubuh Linggajaya ke atas tanah.

Dilemparkannya begitu saja sehingga tubuh pemuda remaja itu terjatuh dan rebah terlentang di atas tanah.

Linggajaya yang rebah di atas tanah itu tetap tak mampu bergerak atau bersuara.

Akan tetapi dia memandang kepada kakek itu dengan mata melotot penuh kemarahan.

Melihat ini Resi Bajrasakti menjadi heran dan mengerutkan alisnya.

Betapa berani dan tabahnya bocah ini, pikirnya penasaran akan tetapi juga kagum.

Dia sama sekali tidak tahu bahwa kemarahan pemuda remaja yang diperlihatkan dari pandang matanya itu sama sekali bukan karena Linggajaya seorang yang tabah dan pemberani.

Kemarahannya itu terbawa oleh wataknya yang angkuh dan sombong.

Biasanya orang sedusun bersikap hormat dan mengalah kepadanya, takut akan kedudukan ayahnya sebagai kepala dusun.

Sekarang melihat ada orang berani bersikap sewenang-wenang kepadanya, tidak takut sama sekali, dia menjadi marah!

"Heh-heh, bocah keparat!

Berani engkau melotot kepadaku?.

Huh, untuk apa anak iblis seperti engkau ini bagiku?

Tunggu, aku akan menyiksamu sampai mati, engkau akan mati perlahan-lahan dan aku ingin dulu mendengar engkau bernyanyi-nyanyi kesakitan dalam sekarat!".

Setelah berkata demikian, Resi Bajrasakti lalu mengebutkan tangannya tiga kali ke arah muka, perut dan kaki pemuda itu dan seketika Linggajaya dapat bergerak dan bersuara kembali.

Begitu dapat hergerak dan mengeluarkan suara, Linggajaya yang merasa tersinggung kehormatannya dan sudah marah sekali itu lalu melompat dan bangkit berdiri.

Dia bertolak pinggang dengan tangan kanannya, lalu telunjuk kirinya menunjuk ke arah muka datuk itu dan dia memaki.

"Jahanam tua bangka kurang ajar! Apa engkau sudah bosan hidup? Engkau tidak tahu siapa aku!"

Resi Bajrasakti terbelalak, heran dan kagum. Sikap pemuda remaja itu dianggapnya luar biasa berani dan kurang ajarnya, satu diantara sikap-sikap yang disukai dan dikagumi.

"Ha-ha-ha, memangnya engkau siapa?"

Tanyanya.

"Aku adalah putera tunggal Ki Suramenggala yang menjadi orang nomor satu di Karang Tirta, paling kaya, paling kuat dan paling berkuasa! Engkau mencari mati kalau berani mengganggu aku!"

Mendengar kesombongan ini, Resi Bajrasakti menjadi semakin kagum dan dia mulai tertawa bergelak.

Watak anak ini cocok sekali dengan wataknya sendiri!

"Ha-ha-ha-ha!

Kalau aku tidak takut mati dan sekarang aku mengganggumu, engkau mau apa cah bagus?"

"Akan kupukuli engkau! Akan kubunuh engkau!"

Teriak Linggajaya.

"Heh-heh, engkau berani?"

Kakek itu mengejek. Linggajaya semakin marah.

"Kenapa t idak berani? Apamu yang kutakuti? Nah, mampuslah kau"

Anak itu lalu menerjang maju dan memukul ke arah dada dan perut kakek itu.

Sambil tertawa kakek itu menangkis dan begitu tangannya bertemu dengan kedua tangan Linggajaya, anak itu terlempar dan terbanting tiga meter jauhnya!

Akan tetapi Linggajaya menjadi semakin marah.

Dia bangkit berdiri dan lari menyerang lagi, mengerahkan seluruh tenaganya.

Kembali Resi Bajrasakti menyambutnya dengan tendangan sehingga tubuh linggajaya terpental.

Sambil tertawa-tawa kakek itu menghadapi serangan Linggajaya yang tidak juga jera.

Anak itu sudah babak belur dan benjol-benjol, akan tetapi dia selalu bangkit lagi dengan nekat, seakan merasa yakin bahwa ayah dan para jagabaya tentu akan datang dan membelanya seperti selalu terjadi jika dia berkelahi.

Memang Linggajaya termasuk anak yang bandel dan bengal, suka berkelahi dan ditakuti semua pemuda di Karang Tirta.

Resi Bajrasakti menjadi semakin suka dan kagum.

Apalagi ketika beberapa kali menangkis, dia mendapat kenyataan betapa anak itu memiliki tulang yang kuat, semangat baja, keberanian yang nekat dan memiliki bakat untuk menjadi seorang yang sakti mandraguna yang mengandalkan kekuatannya untuk bertindak menuruti keinginan sendiri.

Anak seperti inilah yang cocok menjadi muridnya!

Ketika untuk kesekian kalinya Linggajaya menyerang lagi, Resi Bajrasakti mengebutkan tangannya dan anak itu terpelanting roboh dan diam saja karena dia kembali tidak mampu bergerak atau bersuara.

Resi Bajrasakti lalu mencengkram baju anak itu dan merenggutnya.

"Brettt "..!"

Baju itu robek dan terlepas dari tubuh Linggajaya sehingga anak itu kini telanjang dari pinggang keatas.

Jari-jari tangan Resi Bajrasakti lalu menggerayangi tubuh anak itu, memeriksa bagian leher, punggung, tengkuk dan pinggang.

Berkali-kali dia mengeluarkan pujian dan akhirnya dia tertawa begelak.

"Ha-ha-ha-ha-ha, cocok! cocok!"

Dia lalu mengebutkan tangannya lagi dan anak itu dapat bergerak dan bersuara kembali.

"Linggajaya, mulai sekarang engkau menjadi muridku!"

"Menjadi muridmua? Huh, siapa sudi menjadi muridmu? Kalau ingin menjadi guruku, harus minta ijin kepada ayahku dulu agar ayah dapat mengujimu apakah engkau pantas menjadi guruku. Aku tidak mau menjadi muridmu!"

Teriak Linggajaya sambil bangkit berdiri.

Mukanya benjol-benjol, tubuhnya babak belur, bahkan ujung bibirnya berdarah, akan tetapi sorot matanya masih bersinar penuh keberanian dan kemarahan, kedua tangannya dikepal.

Melihat sikap ini Resi Bajrasakti tertawa senang.

Anak ini bebar-benar cocok menjadi muridnya.

Dia sudah lupa kepada gadis remaja yang diculiknya tadi, dan sekarang dia malah merasa senang dan beruntung bahwa dia memperoleh ganti seorang pemuda remaja yang kiranya tepat untuk menjadi muridnya, cocok untuk dapat meneruskan ketenarannya dan yang akan mengangkat itnggi nama besarnya.

"Linggajaya, engkau ingin melihat dulu kesaktian gurumu? Nah, lihatlah baik-baik!"

Resi Bajrasakti lalu menghampiri sebongkah batu sebesar perut kerbau. Dia lau menampar ke arah batu itu sambil berteriak.

"Hiaatttttt!"

"Pyarrr .....!"

Batu besar itu hancur berhamburan.

Biarpun Linggajaya merasa terkejut dan kagum sekali, dia tetap tersenyum, bahkan dengan cerdiknya untuk melihat lebih banyak lagi kehebatan kakek itu sengaja ia tersenyum mengejek.

"Hanya sebegitu sajakah?"

Suaranya seolah menyatakan bahwa yang dipertontonkan kakek itu belum apa-apa baginya!

Padahal tentu saja dia merasa terkejut dan kagum bukan main.

Belum pernah dia melihat orang sedemikian saktinya sehingga batu sebesar itu dipukul hancur dengan tangan kosong.

"Hmm, memang aku hanya main-main tadi. Akan tetapi lihatlah ini! "

Resi Bajrasakti mengusap dahinya, menggosok kedua telapak tangannya, lalu mendorongkan kedua tangan itu ke arah sebatang pohon yang berdiri dalam jarak empat meter darinya.

"Wuuutttt ..... kraakkkk!!"

Pohon itu tumbang dan roboh mengeluarkan suara gaduh. Linggajaya tak dapat menyembunyikan kekagumannya. Dia terbelalak memandang dan wajahnya tampak gembira bukan main.

"Linggajaya, sekarang lihat dimana aku!?"

Pemuda remaja itu memandang dan dia melihat tubuh kakek itu berkelebat lenyap!

Dia celingukan mencari-cari dengan pandang matanya, namun tak dapat menemukan kakek itu yang agaknya telah menghilang begitu saja!

Tiba-tiba terdengar suara dari atas, arah belakangnya.

"Linggajaya, lihatlah ke sini!"

Linggajaya memutar tubuh dan memandang keatas dan ternyata kakek itu telah berada di puncak sebuah pohon yang tinggi.

Resi Bajrasakti tertawa bergelak dan tubuhnya melayang turun, seperti seekor burung raksasa dia hinggap di depan Linggajaya.

"Nah, engkau tentu mau menjadi muridku mempelajari semua aji kesaktian itu, bukan?"

Hati Linggajaya kagum bukan main, akan tetapi keangkuhannya sudah menjadi wataknya dan dia bersikap "jual mahal".

Dia tahu bahwa kakek itu ingin sekali mengambil dia sebagai murid, maka dia sengaja bersikap tak acuh dan menggeleng kepalanya.

Resi Bajrasakti adalah seorang yang aneh.

Wataknya kadang berlawanan dengan orang-orang lumrah pada umumnya.

Melihat sikap Linggajaya ini dia tidak marah, bahkan senang karena sikap yang angkuh itu cocok dengannya.

Akan tetapi diapun amat cerdik dan ingin memaksa anak itu agar mau menjadi muridnya, kalau perlu dengan kekerasan.

"Kalau begitu engkau harus dihajar!"

Bentaknya dan dia menangkap pinggang Linggajaya lalu melontarkan tubuh anak itu ke atas.

Tubuh anak itu melayang naik, tinggi sekali.

Linggajaya terkejut dan ketakutan ketika tubuhnya meluncur turun.

Tentu dia akan hancur terbanting di atas tanah yang berbatu-batu.

Dia tak berdaya untuk menghindarkan ancaman maut.

Namun dia menggigit bibirnya, tidak berteriak, hanya memejamkan kedua matanya.

Akan tetapi sebelum tubuhnya terbanting, tangan Resi Bajrasakti menangkapnya lalu melontarkannya kembali ke atas!

Setelah hal itu terjadi beberapa kali, Linggajaya tertawa ketika dilontarkan ke atas.

Dia maklum bahwa kakek itu hanya menggertak saja dan tidak menghendaki dia terbanting mati!.

Mendengar suara tawa anak itu, Resi Bajrasakti menjadi semakin senang.

Disangka anak itu mempunyai keberanian menentang maut yang luar biasa, dalam keadaan terancam maut masih bisa tertawa-tawa.

Dia tidak tahu bahwa anak itu lebih cerdik daripada yang ia duga.

Tawa Linggajaya itu timbul karena anak itu sama sekali tidak terancam maut.

"Nah, sekarang hancur kepalamu!"

Tiba-tiba Resi Bajrasakti melontarkan tubuh anak itu tinggi sekali dan meluncur turun, anak itu terbelalak karena kepalanya berada di bawah dan kakek itu tidak lagi ada di sana untuk menyambutnya!

Betapapun tabahnya, melihat bahaya maut tak terhindarkan lagi, Linggajaya berteriak.

"Toloooonggg .....!"

Akan tetapi kepalanya sudah meluncur dekat sekali dengan batu yang menonjol di atas tanah.

Linggajaya menjerit, akan tetapi pada detik terakhir, tangan Resi Bajrasakti sudah menyambut kepada anak itu sehingga tidak terbanting pada batu.

Kakek itu lalu mengangkat tubuh Linggajaya dan membalikkannya.

Setelah berdiri, Linggajaya masih merasa pening dan wajahnya pucat sekali.

"Ha-ha-haha... katakan sekarang, apakah engkau masih menolak menjadi muridku?"

Linggajaya yang cerdik maklum bahwa dia tidak boleh mengggoda kakek ini terlalu lama.

Kakek ini memiliki watak aneh dan bukan mustahil kalau kakek ini akan membunuhnya kalau dia terus menolak.

Maka dia lalu menjatuhkan diri berlutut dan menyembah.

"Bapaa guru .....!"

Mulutnya menyebut demikian, akan tetapi hati Linggajaya berkata.

"Awas kau! Kelak aku akan membunuhmu!"

Resi Bajrasakti tertawa bergelak saking senangnya.

"Ha-haha-ha, muridku yang baik, engkau akan kuberi semua ilmuku agar kelak engkau menjadi wakil Kerajaan Wengker yang akan menghancurkan Sang Prabu Erlangga keturunan kerajaan Mataram! Ha-ha-ha-ha!"

Setelah berkata demikian, kembali dia tertawa dan tiba-tiba dia menangkap pergelangan tangan Linggajaya dan membawa anak itu berlari secepat terbang menuju ke barat, pulang ke wilayah kerajaan Wengker (sekarang sekitar Ponorogo).

Di dalam hatinya, dia merasa menyesal mengapa dia harus jatuh ke tangan kakek raksasa yang kasar ini.

Dia akan merasa lebih senang kalau menjadi tawanan Nyi Dewi Durgakumala yang cantik pesolek itu.

Sama sekali dia tidak pernah membayangkan bahwa dia beruntung sekali terjatuh ke tangan kakek itu.

Kalau dia tetap menjadi tawanan wanita cantik yang seperti iblis betina itu, tentu dia akan dibuat permainan, dihisap sampai habis sari manisnya seperti sebatang tebu untuk kemudian ampasnya dibuang begitu saja atau disiksa lalu dibunuh.

Bagaimana pula dengan nasib Puspa Dewi?

Keadaan bocah berusia tigabelas tahun ini mirip Linggajaya.

Kalau saja ia jatuh ke tangan penculiknya, Resi Bajrasakti, iapun akan mengalami nasib mengerikan, ia akan dipermainkan sampai mati.

Akan tetapi ia jatuh ke tangan Nyi Dewi Durgakumala yang membawa lari ke timur dengan cepat karena iblis betina inipun jerih kepada Empu Dewamurti yang disangka akan mengejarnya.

Pada keesokan harinya, pagi-pagi sekali Nyi Dewi Durgakumala yang memanggul tubuh Puspa Dewi tiba di sebuah bukit yang berada di Pegunungan Tengger.

Di puncak bukit itu ia berhenti menurunkan anak perempuan itu dan membebaskannya sehingga Puspa Dewi dapat bergerak dan bersuara lagi.

Anak ini adalah seorang yang cerdik.

Melihat betapa ia ditangkap dan dibawa lari secepat angin oleh seorang wanita yang cantik jelita, ia tidak begitu takut seperti ketika ia ditangkap Resi Bajrasakti.

Bahkan dianggapnya wanita ini tentu seorang dewi yang baik hati, yang telah menolongnya dari kakek jahat itu.

Ia sudah banyak mendengar tentang para dewi yang didongengkan ibunya.

Dewi yang cantik jelita akan tetapi juga sakti mandraguna.

Malam tadi ia membuktikan sendiri.

Ia dipanggul dan dibawa terbang.

Ia hendak menghaturkan terima kasih., akan tetapi dilihatnya wanita cantik itu sedang duduk bersila di atas sebuah batu sambil memejamkan kedua matanya.

Ia tahu bahwa dewi itu sedang bersamadhi, maka ia tidak berani mengganggu dan menanti sambil duduk pula di atas batu yang rendah.

Dilihatnya pemandangan di bawah puncak.

Puspa Dewi terkagum-kagum.

Baru kali ini dia melihat matahari pagi seindah itu.

Kebetulan ia menghadap ke timur dan ia melihat sebuah bola merah tersembul dari balik gungung yang tinggi.

Ia tidak tahu bahwa gunung itu adalah Gunung Bromo.

Matahari pagi mulai menyinarkan cahayanya yang lembut dan hangat, menggugah segala sesuatu di permukaan bumi yang tadinya tidur diselimuti kegelapan malam.

Malam terang bulan berubah menjadi gelap setelah larut tadi, setelah bulan purnama menghilang di ufuk barat.

Dan kini kegelapan malam terusir perlahan-lahan oleh sinar matahari pagi, meninggalkan kabut yang bermalas-malasan meninggalkan bumi.

Hutan-hutan diselingi sawah ladang dan pondok-pondok pedusunan terhampar di bawah puncak, tampak makin jelas setelah embun terusir sinar matahari.

Burung-burung berkicau menyambut datangnya sang surya.

Kehidupan mulai tampak dan terdengar.

Suara-suara segala macam mahluk hidup itu seakan-akan merupakan doa dan puja-piji kepada Sang Hyang Widhi yang melimpahkan berkah kehidupan melalui sinar matahari, melalui desir angin, melalui awan yang berarak melayang-layang.

"Heh-heh, gila betul! Untuk apa aku membawa lari?"

Suara itu menyadarkan Puspa Dewi dari lamunannya dan cepat ia memutar tubuh memandang kepada Nyi Dewi Durgakumala.

Melihat wanita itu kini telah membuka matanya, Puspa Dewi cepat menghampiri dan bersembah sujud di depan kaki wanita itu.

Ia sudah diajari ibunya sejak kecil bagaimana harus menghaturkan sembah sujud dan sesaji kepada para dewa dewi.

"Hamba menghaturkan banyak terima kasih atas pertolongan paduka kepada hamba, pakulun."

Ia menyembah.

Nyi Dewi Durgakumala tadi memang bersamadhi untuk memulihkan tenaganya yang banyak terbuang membuat ia kelelahan.

Kini setelah tenaganya pulih dan ia melihat Puspa Dewi duduk tek jauh darinya, baru ia teringat bahwa semalam, dalam keadaan panik dan gugup, pengejarannya tidak membawa ia kepada calon korbannya, pemuda remaja yang tampan itu, melainkan bertemu dengan anak perempuan yang tadinya ia tahu merupakan tawanan Resi Bajrasakti itu.

Maka ia tertawa dan mencela diri sendiri.

Sekarang anak perempuan itu bersembah sujud kepadanya menghaturkan terima kasih, bahkan menyebutnya pakulun seolah-olah ia seorang dewi yang turun dari Kahyangan.

"Hik-hik-hik! Kau kira siapa aku ini"

Tanyanya sambil tertawa cekikikan seperti seorang perawan genit. Puspa Dewi kembali menyembah. Ampun pakulun, paduka tentu seorang dewi dari kahyangan yang sakti dan baik budi."

"Hemm, bagaimana engkau dapat mengetahui bahwa aku seorang dewi kahyangan?"

Hatinya mulai merasa senang. Wanita mana yang tidak merasa bangga dan senang disebut Dewi Kahyangan? Walaupun yang menyebutnya itu hanya seorang gadis remaja.

"Hamba mengetahui karena paduka sangat cantik jelita, sangat sakti mandraguna dan berbudi baik, suka menolong pula."

Jawab Puspa Dewi penuh keyakinan, bukan untuk menyenangkan hati melainkan karena ia memang yakin bahwa penolongnya itu adalah seorang dewi kahyangan.

"Heh-heh-heh-hik-hik! Aku memang seorang dewi. Namaku Dewi Durgakumala."

"Hamba menghaturkan sembah dan hormat, pakulun."

Kembali Puspa Dewi menyembah.

Akan tetapi tiba-tiba wanita cantik yang tadinya tersenyum dan tertawa-tawa senang itu, menghentikan tawanya dan mukanya berubah dingin.

Watak iblis betina ini memang aneh atau juga tidak normal.

Begitu ia teringat bahwa ia telah kehilangan pemuda remaja tampan dan sebagai gantinya mendapatkan seorang anak perempuan, kecewanya timbul, membuatnya menjadi marah dan ia memandang kepada Puspa Dewi dengan penuh kebencian.

Tangan kirinya sudah terasa gatal untuk melayangkan pukulan maut membunuh anak perampuan itu.

Untuk apa ia membawa anak perempuan?

Ia menjadi gemas kepada Resi Bajrasakti dan lebih benci lagi kepada Empu Dewamurti yang telah menggagalkan segalanya.

Akan tetapi ketika tangannya hendak melayang membunuh Puspa Dewi, tiba-tiba akan itu yang merasa heran betapa wanita yang disangkanya dewi kahyangan itu mendadak diam saja, lalu mendongak dan memandang wajah Nyi Dewi Durgakumala.

Dua pasang mata bertemu pandang dan hati iblis betina itu tertegun.

Sepasang mata itu mengingatkan ia akan mata seorang anak perempuan lain yang kini telah tiada.

Mata anaknya, mata puterinya yang kini telah tewas menjadi mangsa harimau.

Beberapa tahun yang lalu wanita ini menculik seorang anak yang ketika itu berusia empat tahun.

Seperti biasa, ia menculik anak-anak untuk menyempurnakan ilmu sesatnya.

Darah anak kecil dihisapnya sampai habis dan darah ini memperkuat tenaga ilmu hitamnya.

Akan tetapi entah mengapa sepasang mata anak yang diculiknya itu mendatangkan rasa suka di hatinya dan ia tidak membunuh anak itu, bahkan memelihara anak itu dan dianggapnya sebagai anak sendiri.

Setelah anak itu berusia lima tahun, pada suatu hari di puncak Gunung Anjasmara, ia bertemu dengan Rekryan Kanuruhan Empu Dharmamurti Narotama Danasura yang lebih dikenal dengan sebutan Ki Patih Narotama, yaitu mahapatih dan sahabat setia dari Sang Prabu Erlangga!

Bertemu dengan Ki Patih Narotama, ksatria sakti mandraguna, orang kepercayaan utama dari Sang Prabu Erlangga, berwajah tampan dan gagah, Nyi Dewi Durgakumala tergila-gila dan ia berusaha keras menggunakan segala ajinya, mengerahkan aji guna-guna dan pemeletan, namun semua pernyataan cintanya ditolak mentah-mentah oleh Ki Patih Narotama.

Nyi Dewi Durgakumala menjadi marah.

Ia meninggalkan anak angkatnya yang berusia lima tahun itu di bawah pohon dan lalu ia menyerang Ki Patih Narotama.

Kalau laki-laki yang digandrunginya itu tidak mau menerima cintanya, dia harus mati di tangan.

Namun Ki Patih Narotama bukan seorang yang lemah.

Terjadilah perkelahian yang hebat di puncak Gunung Anjasmara.

Akhirnya Nyi Dewi Durgakumala baru mengakui kedigjayaan Ki Patih.

Ia lari kembali ke anak angkatnya dan dapat dibayangkan betapa hancur hatinya melihat bahwa anak angkatnya telah menjadi korban, dicabik-cabik dan dimakan harimau!

Ia menjasi sakit hati sekali kepada Ki Patih Narotama dan kepada harimau.

Ia mengamuk dan hampir seluruh harimau yang berada di hutan sekitar pegunungan Anjasmara dibunuhnya.

Akan tetapi tidak mudah baginya untuk melampiaskan dendamnya kepada Ki Patih Narotama.

Dan dendam kepada Ki Patih ini ia alihkan kepada kerajaan Kahuripan.

Ia lalu membantu kerajaan Wurawari untuk memusuhi Kahuripan, keturunan Mataram itu.

Bahkan ketika kerajaan Wurawari menyerang Kahuripan pada tahun 1007 sehingga menyebabkan kerajaan Kahuripan jatuh dan rajanya yaitu Sri Dharmawangsa Teguh Anantawikramatunggadewa tewas dalam perang itu, Nyi Dewi Durgakumala juga ikit dalam perang itu membantu raja Wurawari.

Demikianlah ketika Nyi Dewi Durgakumala sudah menggerakkan tangannya hendak membunuh Puspa Dewi dan bertemu pandang dengan anak itu, ia seolah melihat sepasang mata anak angkatnya yang dimakan harimau.

Naik sedu sedan dari dadanya, menyesakkan kerongkongannya dan ia menubruk dan merangkul, mendekapnya dan menciuminya.

"Anakku ....., anakku .....!"

Nyi Dewi Durgakumala mengeluh sambil menahan isaknya.

Beberapa butir air mata membasahi pipinya.

Menghadapi perlakuan ini, Puspa Dewi yang pada dasarnya mempunyai perasaan yang halus dan peka menjadi terharu dan balas merangkul.

Anak ini merasa terkejut dan heran melihat Dewi Kahyangan itu menangis!

"Pakulun, kenapa paduka menangis?"

Tanyanya lirih karena segan dan takut. Nyi Dewi Durgakumala memeluk makin erat.

"Anak yang baik, siapakah namamu?"

"Pakulun "."

"Jangan menyebut pakulun. Aku ini ibumu, nak. Sebut aku ibu ""

Berdebar jantung dalam dada Puspa Dewi, ia merasa gembira dan bahagia sekali. Seorang Dewi Kahyangan menjadi ibunya? Dengan suara bergetar saking terharu dan bahagia, ia berkata.

"Ibu, nama saya Puspa Dewi ...!"

"Dewi? Engkau bernama Dewi? Ah cocok sekali! Anakku Dewi, mulai sekarang engkau menjadi anakku dan aku akan menurunkan semua aji kesaktianku kepadamu. Maukah engkau ikut denganku dan menjadi anakku?"

Tentu saja Puspa Dewi mau sekali anak seorang Dewi Kahyangan! "Saya mau, ibu ....."

"Bagus, dan sekarang berjanjilah bahwa kelak engkau akam memusuhi Empu Dewamurti, memusuhi Kerajaan keluarga Istana yaitu Kahuripan, dan yang terpenting sekali, engkau harus mewakili aku merebut keris pusaka Megatantra yang berada di tangan anak laki-laki yang dilindungi oleh Empu Dewamurti. Nah maukah engkau berjanji, cah ayu?"

"Saya berjanji, ibu. Saya akan mentaati semua perintah ibu."

Kata Puspa Dewi yang sama sekali tidak tahu bahwa ia telah berada dibawah pengaruh aji pemeletan iblis betina itu sehingga ia merasa amat tertarik dan suka kepada Nyi Dewi Durgakumala, dan menganggap wanita itu teramat baik kepadanya.

Ia seperti terbuai, bahkan tidak ada keinginan untuk kembali kepada ibunya sendiri.

Nyi Dewi Durgakulama juga merasa senang sekali.

Ia menemukan lagi anaknya!

Ia lalu memondong tubuh Puspa Dewi dan mengajaknya lari lagi dengan cepat seperti terbang sehingga makin yakinlah hati anak itu bahwa ibunya adalah seorang Dewi dari kahyangan yang sakti mandraguna!

Mulai saat itu, Puspa Dewi menjadi anak angkat dan juga murid terkasih dari Nyi Dewi Durgakumala.

Ia dibawa lari ke arah timur, mendaki perbukitan dan melompati jurang-jurang.

Setelah Sri Dharmawangsa Teguh Anantawikramatunggadewa tewas dalam perang melawan kerajaan Wurawari, Erlangga yang menjadi mantunya yang merebut kembali Kerajaan Kahuripan dibantu sahabatnya Narotama dan para Brahmana (pendeta) yang bertapa di wanagiri (hutan, gunung) lalu dinobatkan menjadi Raja Kahuripan.

Pada mulanya di jaman pemerintahan Raja Sindok, ibukota kerajaan bernama Watu Galuh (letaknya di sekitar Jombang).

Pada jaman pemerintahan Raja Teguh Dharmawangsa ibukota kerajaan dipindahkan ke arah timur di kaki gunung Penanggungan (sebelah selatan Sidoarjo).

Setelah Erlangga yang dibantu Narotama mengalahkan Raja Wurawari dan merebut kembali kerajaan, ibukota Watan ditinggalkan dan oleh Raja Erlangga dibangun ibukota baru yang diberi nama Watan Mas.

Kemudian Watan Mas juga ditinggalkan dan ibu kota kerajaan sekarang pindah lagi ke Kahuripan.

Riwayat singkat Erlangga sampai menjadi raja amat menarik.

Diantara kerajaan Mataram yang menurunkan Raja Sindok, kemudian Raja Dharmawangsa dan kerajaan Bali memang terdapat hubungan yang erat.

Erlangga sendiri adalah keturunan seorang pangeran dari wangsa Ishana (keturunan Mataram).

Karena itu, tidak mengherankan kalau Erlangga kemudian dijodohkan dengan seorang puteri dari Raja Teguh Dharmawangsa.

Pada saaat pernikahan dilangsungkan, ketika itu Erlangga berusia enam belas tahun, terjadilah penyerbuan pasukan kerajaan Wurawari sehingga Raja Dharmawangsa gugur dan kerajaan direbut raja Wurawari.

Erlangga sendiri, dibantu Narotama, dapat menyelamatkan diri ke Wanagiri.

Kemudian dia menyusun kekuatan dan dibantu oleh Narotama yang setia dan sakti mandraguna, Erlangga berhasil merebut kembali dari tangan Raja Wurawari.

Kemudian dia diangkat menjadi raja.

Mula-mula kerajan yang dipimpin oleh Raja Erlangga ini tidak begitu besar.

Masih banyak raja-raja lain yang selalu menentang dan memusuhinya, diantara mereka adalah Raja Adhamapanuda dari kerajaan Wengker dan Raja Wijaya dari kerajaan Wurawari.

Juga ada kerajaan kecil dari pantai Laut Kidul yang dipimpin oleh seorang Ratu (Raja Wanita) berjuluk Ratu Durgamala yang terkenal sakti selalu menentangnya.

Tiga kerajaan inilah yang selalu merupakan ancaman bagi Kerajaan Kahuripan yang dipimpin Sang Prabu Erlangga.

Sang Prabu Erlangga mempunyai dua orang permaisuri.

Yang pertama adalah puteri mendiang Sang Prabu Dharmawangsa yang kelak kemudian terkenal dengan sebutan Sang Kili suci dan setelah berusia lanjut hidup sebagai seorang pertapa.

Adapun yang ke dua adalah puteri dari Kerajaan Sriwijaya yang bernama Sri Sanggramawijaya Dharmaprastunggawarman.

Tentu saja seperti umumnya raja-raja di jaman itu, Prabu Erlangga juga mempunyai banyak selir yang tidak tercatat dalam sejarah.

Dalam pergolakan yang ditimbulkan karena permusuhan Sang Prabu Erlangga dengan Kerajaan Wengker, Kerajaan Wurawari dan Kerajaan Ratu Durgamala atau terkenal dengan sebutan Kerajaan Parang Siluman itulah cerita ini terjadi.

Biarpun permusuhan itu belum tercetus menjadi perang terbuka, namun seringkali terjadi bentrokan diantara para tokoh pendukung masing-masing kerajaan, seperti bentrokan yang terjadi antara Empu Dewamurti dengan dua orang datuk dari Wengker dan Wurawari itu.

Disamping persoalan yang terjadi yang membuat mereka saling berlawanan, pada dasarnya memang terdapat pertentangan diantara mereka, karena Empu Dewamurti adalah seorang Empu terkenal di Kahuripan dan tentu saja dia membela Raja Erlangga.

Sebaliknya dua orang lawannya itu, yang seorang datuk Wengker dan seorang lagi tokoh pendukung kerajaan Wurawari.

Raja Erlangga adalah seorang raja yang sakti mandraguna, seorang panglima besar yang pandai mengatur bala tentara.

Sebagai seorang raja dia amat adil dan bijaksana, tidak sewenang-wenang, tidak memikirkan kepentingan dan kesenangan sendiri.

Kebanyakan para raja di dunia ini setelah menduduki tingkat tertinggi dalam kerajaan, menjadi orang nomor satu, lalu menguruk dirinya dan seluruh sanak keluarganya dengan kemewahan yang berlebihan.

Kebanyakan para raja itu lalu menumpuk harta benda sebanyak-banyaknya, tidak peduli lagi darimana harta itu datang, bahkan rela membiarkan rakyat hidup menderita, sengsara karena kemiskinan.

Raja Erlangga tidaklah demikian.

Dia seorang raja bijaksana yang memikirkan kepantingan dan kemakmuran rakyat jelata.

Dia memperhatikan kebutuhan para petani.

Dibangunnya pematang dekat Wringin Sapta (sekarang Wringin Pitu) untuk mengalirkan air Kali Berantas agar sungai itu tidak lagi membanjiri sawah petani.

Setelah pematang itu didirikan, pelabuhan Huyuh Galuh di muara sungai itu menjadi semakin ramai.

Bukan hanya kemakmuran rakyat yang dia perhatikan.

Juga Raja Erlangga memperhatikan kemajuan kebudayaan.

Dia mendukung majunya kesusastraan dan kesenian.

Dalam jamannyalah karya sastra yang indah, yaitu kekawin "Arjuna Wiwaha"

Ditulis Empu Kanwa.

Karena kebijaksanaannya, maka keadaan rakyat cukup makmur.

Hal ini menarik perhatian banyak raja muda di daerah-daerah pinggiran dan banyak diantara mereka yang dengan sukarela menyatakan tunduk dan takluk, mengakui kebesaran dan kedaulatan dari Raja Erlangga, ingin membonceng wibawa raja erlangga agar daerah kekuasaan merekapun menjadi makmur dengan meniru apa yang telah dilakukan raja bijaksana itu.

Tentu saja tidak semua daerah mau tunduk, terutama sekali Kerajaan Wengker yang letaknya paling dekat dengan Kahuripan.

Demikianlah sedikit tentang pemerintahaan Raja Erlangga yang selalu dibantu oleh patihnya yang setia, yaitu Patih Narotama.

Raja Erlangga seringkali cukup dengan mengutus Patih Narotama untuk mewakilinya membereskan persoalan-persoalan berat dan selalu Narotama dapat menyelesaikan persoalan-persoalan itu dengan baik.

Waktu berjalan dengan amat cepatnya.

Kalau tidak diperhatikan sang waktu berkelebat secepat kilat, sebaliknya kalau kita memperhatikan, waktu merayap seperti siput.

Karena tidak diikuti dan diperhatikan, waktu meluncur cepat dan tahu-tahu lima tahun telah lewat sejak terjadinya peristiwa di pantai pasir putih di tepi laut selatan itu.

Pagi yang tenang tenteram penuh damai, di sebuah tempat diantara puncak-puncak pegunungan Arjuna.

Kokok ayam hutan jantan terdengar bersahut-sahutan, suara mereka nyaring pendek.

Agaknya gaung suara mereka terdengar sampai ke dusun pegunungan di lereng dekat puncak karena tak lama kemudian terdengar lapat-lapat, sayup sampai, kokok ayam jantan peliharaan yang suaranya lebih panjang namun tidak begitu menyentak nyaring seperti kokok ayam hutan.

Kokok ayam hutan itu seakan menggugah burung-burung yang tidur di pohon-pohon besar yang lebat daunnya.

Mulailah mereka berkicau bersahut-sahutan dalam bahasa mereka yang riang gembira sambil berloncat-loncatan di atas ranting dan dahan, mengguncang daun-daun, meruntuhkan embun yang bergelantungan di ujung daun.

Ada yang menggeliat menjulurkan sayap atau kaki, ada yang menyisiri bulu dengan paruh, kemudian berciap-ciap lagi dengan riuhnya.

Akan tetapi suara yang menyambut pagi itu membungkam suara lain, yaitu suara kutu-kutu walang ataga, segala serangga malam seperti jengkrik, belalang, orong-orong dan sebagainya yang sepanjang malam telah mengeluarkan suara sambung menyambung tiada hentinya.

Siang malam alam ini dipenuhi suara-suara, seolah semua ciptaan itu memanjatkan doa dan puji tan kendat (tanpa henti) kepada Sang Hyang Widhi, Sang Maha Pencipta!

Terdengar pula sayup sampai suara bocah berteriak riang, diselingi suara wanita yang menegur anak-anak itu, lalu suara kerbau menguak dan kambing mengembik.

Semua suara itu jelas menutupi suara lain yang tadi malan juga terdengar jelas, yaitu bunyi percik air terjun yang berada di lereng dekat puncak.

Ada pula selingan anjing menggonggong.

Suasana kehidupan warga dusun mulailah pada pagi itu.

Sinar matahari pagi mulai mengusik halimun yang bermalas-malasan meninggalkan bumi yang mereka dekap semalam suntuk.

Sinar matahari yang mulai mencipta pemandangan yang indah menarik dengan adanya perpaduan sinar dan bayang-bayang.

Dari hutan itu tampak hutan-hutan menghijau, berkelompok-kelompok, disana-sini diselingi adnya sawah ladang menguning.

Atap-atap pondok dusun dari klaras, ada juga beberapa buah dari genteng, tersembul diantara pedusunan.

Sebatang anak sungai nampak putih berkelak kelok, kadang lenyap tertutup tebing.

Dua orang anak dengan tubuh bagian atas telanjang mengiring tujuh ekor kerbau yang gemuk-gemuk menyusuri sepanjang anak sungai.

Burung mulai beterbangan meninggalkan sarang untuk mulai dengan pekerjaan mereka hari itu, ialah mencari makan.

Pemuda itu duduk bersila di atas batu, menghadap ke timur.

Sejak tadi dia menikmati kesemuanya itu.

Menikmati pendengaran yang begitu nyaman dan merdu di perasaan dan menikmati penglihatan yang begitu indah sejak matahari mulai terbit dia menghirup nafas dalam-dalam.

Udara yang sejuk, bersih alami itu memasuki hidungnya, memenuhi paru-parunya sampai dada dan perutnya mengembang.

Dia bernafas sampai dada dan perutnya tidak tersisa ruangan yang tidak terisi hawa udara yang menghidupkan dan menyegarkan.

Lalu dikeluarkan nafas perlahan-lahan.

Terasa kehangatan yang makin memanas berputar disekitar bawah pusarnya dan membumbung keatas dan keseluruh tubuhnya.

Diulangi pernafasan itu sampai beberapa kali dan terasa betapa nikmatnya bernafas seperti itu.

Akhirnya dia bernafas biasa dan mencurahkan pandangan dan pendengarannya ke sekelilingnya.

"Segala puji bagi Sang Hyang Widhi yang mencipta segala yang terlihat dan terdengar. Puji syukur kepada Sang Maha Pencipta atas segala karunia yang diberikan kepad hamba, termasuk alat jasmani seperti mata dan telinga."

Bisiknya dengan tangan dirangkap dalam bentuk sembah di depan dada, lalu diangkat kedepan dahi dan turun lagi di depan dada.

Dia menyadari sepenuhnya bahwa karunia yang perpenting baginya adalah semua anggota jasmaninya, karena betapapun indah dan mersunya semua yang tampak dan terdengar, semua itu tidak akan ada gunanya kalau mata dan telinganya tidak dapat melihat atau mendengar.

Pemuda itu berusia kurang lenih dua puluh satu tahun, hertubuh sedang saja.

Wajahnya juga sederhana, tidak buruk akan tetapi juga tidak terlalu tampan, wajah pemuda biasa saja.

Kulitnya agak gelap kecoklatan.

Akan tetapi dalam kesederhanaan wajahnya terdapat sesuatu yang menarik yaitu matanya yang tajam lembut dan penuh pengertian dan mulutnya yang selalu mengembang kearah senyum penuh kesbaran.

Pakaiannya juga amat sederhana seperti pakaian seorang petani.

Dia tadi sejak pagi sekali sebelum matahari menyingsing, telah duduk di atas batu dan duduk bersila menghadap ke timur seperti sebuah arca.

Tak lama kemudian pemuda itu turun dari atas batu dan memutar tubuhnya.

Walaupun tidak ada suara, langkah tak terdengar, namun dia tahu bahwa ada orang berjalan menghampirinya.

Benar saja seorang kakek berusia enam puluh lima tahun, melangkah tenang, bertumpu pada sebatang tongkat bambu kuning menghampirinya.

Kakek itu tinggi kurus.

Rambut, kumis dan jenggotnya yang panjang sudah bercampur banyak uban, memandang kepada pemuda yang telah menyambutnya dengan berdiri membungkuk hormat itu dengan senyum.

"Eyang guru, silakan duduk!"

Kata pemuda itu mempersilakan kakek itu duduk di atas batu datar yang tadi dipakai duduk bersila.

Kakek itu mengangguk-angguk dan tersenyum melebar lalu matanya memandang ke arah pemandangan yang permai di bawah puncak sambil duduk di atas batu itu.

'Hemm, Nurseta, sejak kapan engkau berada di sini menikmati segala keindahan ini?"

Tanya kakek itu yang bukan lain adalah Empu Dewamurti.

Pemuda itu adalah Nurseta.

Seperti telah diceritakan dibagian depan kisah ini, lima tahun yang lalu, Nurseta diajak Empu Dewamurti ke pegunungan Arjuna dan di atas puncak ini sang empu mengajarkan aji-aji kanuragan kepada Nurseta.

Selama lima tahun Nurseta belajar dan telah menjadi seorang pemuda dewasa berusia dua puluh satu tahun yang sakti mandraguna.

"Saya telah berada di sini sejak fajar tadi, eyang, sebelum matahari muncul di balik puncak di timur itu."

"Duduklah, Seta."

Kata kakek itu melihat muridnya hanya berdiri saja dengan sikap hormat.

"Terima kasih eyang."

Nurseta lalu duduk di atas akar pohon yang menonjol di permukaan tanah di bawan dan depan batu yang menjadi tempat duduk gurunya.

"Seta, selama lima tahun engkau berada disini mempelajari ilmu dan kalaupun kadang turun, paling jauh hanya ke dusun di bawah itu. Dari puncak ini engkau dapat melihat daerah yang amat luas. Tentu engkau merasa rindu untuk menjelajahi tempat-tempat yang jauh itu, bergaul dengan manusia-manusia lain, menghadapi pengalaman-pengalaman baru, meningkatkan pengetahuanmu dan terutama sekali memanfaatkan ilmu yang telah kau pelajari selama lima tahun disini."

Diam-diam Nurseta merasa kagum. Gurunya ini selain sakti mandraguna juga bijaksana sekali dan seolah dapat membaca apa yang terkandung dalam hatinya.

"Mengapa eyang berkata begitu?"

Pancingnya. Empu Dewamurti tersenyum dan mengelus jenggotnya.

"Nurseta, selama ini aku memperhatikan dan melihat kenyataan bahwa sudah lima hari berturut-turut ditiap pagi sebelum fajar menyingsing engkau berada di sini dan melamun. Karena itu aku dapat mengetahui bahwa engkau rindu untuk menjelajahi tempat-tempat di luar daerah ini. Aku menyetujui keinginanmu itu, Seta. Kukira sudah cukup engkau menimba ilmu di sini, sudah cukup sebagai bekal perjalananmu menjelajahi dunia ramai."

Nurseta menyembah.

"Sesungguhnya benar sekali apa yang paduka katakan itu, eyang. Akan tetapi ada dua hal yang membuat saya merasa ragu dan berat hati untuk memenuhi keinginan hati merantau. Pertama, saya mendapat kasih sayang dan bimbingan dari paduka selama lima tahun di sini. Kedua, saya mendapatkan ketentraman batin di sini dan saya khawatir kehilangan ketentraman itu kalau saya berada di tempat ramai".

"Heh-heh-heh-heh!"

Kakek itu tertawa.

"Kita masing-masing harus berani meninggalkan dan ditinggalkan, harus berani seorang diri. Bukankah ketika lahir kitapun sendirian dan nanti juga meninggalkan kehidupan dunia ini sendirian pula? Tidak ada pertemuan yang tidak diakhiri dengan perpisahan, kulup. Akupun akan segera pergi dari sini dan tidak akan kembali lagi. Karena itu jangan pikirkan tentang diriku. Adapun tentang ketenteraman batin, bukan tempat dan keadaan yang menentukan, melainkan keadaan batinmu sendiri. Kalau batinmu tenteram, dimanapun engkau akan merasa tenteram. Sebaliknya kalau batinmu kacau, biar tinggal dimanapun engkau akan merasa kacau."

"Eyang selalu mengatakan bahwa bahaya terbesar dalam kehidupan ini datang dari dalam, dari diri sendiri. Terkadang saya masih bingung memikirkan hal ini, eyang. Sudikah kiranya eyang memberi penjelasan?"

"Musuh terbesar adalah peserta atau pembantu kita sendiri yang berada dalam hati akal pikiran, yaitu nafsu-nafsu kita. Hidup kita menjadi berbahagia lahir dan batin kalau kalau kita dapat menjaga agar nafsu-nafsu kita tetap menjadi pelayan kita, untuk memenuhi kebutuhan hidup kita secara lahiriah. Akan tetapi sekali kita melangkah dan nafsu-nafsu itu menguasai kita, memperbudak kita maka kehidupan kita lahir batin akan hancur. Nafsu menimbulkan keinginan-keinginan. Keinginan adalah angan-angan, bukan kenyataan. Nafsu mendorong kita untuk menginginkan segala sesuatu yang tidak ada pada kita, menginginkan segala sesuatu yang kita anggap lebih menyenangkan dari pada apa yang ada pada kita. Dengan demikian keinginan justeru meniadakan hidup yang sudah ada. Mengejar keinginan berarti mengejar bayangan hampa, bagaikan orang mengejar bayangan bulan yang indah di dalam air. Salah-salah kita dapat tenggelam dan hanyut. Mengejar kesenangan berarti membuka pintu menuju duka. Kalau tidak tercapai kita kecewa dan berduka, kalau tercapai apa yang kita kejar kita akan kecewa pula karena disana sudah ada bayangan lain lagi yang kita kejar karena kita anggap lebih menyenangkan dari pada apa yang kita dapat."

"Akan tetapi eyang guru, kalau manusia hidup tanpa keinginan, bukankan itu berarti sama dengan mati?"

Empu Dewamurti tersenyum.

"Sudah kukatakan bahwa kita tidak dapat hidup tanpa nafsu. Kita mempergunakan nafsu sebagai pelayan, sebagai abdi yang membantu kita untuk mendapatkan segala sesuatu yang kita butuhkan dalam kehidupan di dunia ini. Kita bahkan wajib berusaha untuk hidup sejahtera, mencukupi semua kebutuhan. Akan tetapi kalau kesadaran jiwa yang mengendalikan nafsu, maka usaha untuk dapat hidup itu selalu berpijak di atas jalan kebenaran. Sebaliknya kalau nafsu yang menguasai kita, maka keinginan mendapatkan segala sesuatu yang dianggap lebih menyenangkan itu akan mendorong kita melakukan perbuatan yang menyimpang dari kebenaran, dapat membuat kita berbuat jahat demi memperoleh kesenangan yang kita kejar dan inginkan."

"Mohon ampun kalau saya bertanya terus, bukan hendak membantah, melainkan hendak menyampaikan uneg-uneg agar hati saya tidak merasa penasaran, eyang. Kalau segala keinginan datang dari nafsu, bagaimana dengan keinginan untuk berbuat kebaikan? Keinginan untuk menolong orang lain?"

Kakek itu mengelus jenggotnya.

"Maksudmu, keinginan orang untuk menjadi seorang yang baik?"

"Benar Eyang."

"Angger Nurseta, memang julig (cerdik) dan licik sekali nafsu daya rendah yang kadang kita menyebutnya sebagai setan itu. Terkadang dia bisa mengubah dirinya menjadi dewa atau dewi dengan suara lemah lembut dan bijaksana, namun semua itu merupakan umpan untuk memancing manusia sehingga dapat dikelabui dan dikuasainya. Sebetulnya tidak ada yang disebut keinginan baik itu, semua keinginan dating dari nafsu daya rendah dan nafsu selalu menginginkan sesuatu yang menyenangkan diri sendiri. Kalau seorang ingin melakukan kebaikan, pada hakekatnya tersembunyi keinginan untuk menguntungkan dan menyenangkan diri pribadi. Di situ tersembunyi pamrih untuk mendapatkan sesuatu."

"Maaf eyang. Bukankah pamrih itu ada pula yang baik? Misalnya orang berbuat kebaikan dengan pamrih agar mendapat berkah dari Sang Hyang Widhi, agar menanam karma baik, agar kelak mendapat tempat yang baik di sorgaloka setelah meninggalkan dunia ini."

"Nah, camkanlah itu. Buka mata hatimu dengan waspada dan lihatlah kenyataan yang terkandung dalam pertanyaanmu sendiri tadi. Perbuatan itu, betapapun baik sifatnya, kalau didorong keinginan sendiri, menimbulkan pamrih agar begini agar begitu, yang pada hakekatnya agar mendatangkan keuntungan bagi diri sendiri, perbuatan seperti itu bukanlah kebaikan yang sejati, melainkan kebaikan semu yang munafik. Selidiki pamrihnya seperti kau kemukakan tadi. Agar mendapat berkah dari Sang Hyang Widhi. Siapa yang mendapat berkah? Aku. Siapa yang untung dan senang akibat perbuatan baik tersebut? Aku. Tadi perbuatan yang katanya baik itu dilakukan dengan satu tujuan, yaitu menguntungkan dan menyenangkan si Aku. Agar menanam karma baik, juga Aku yang akhirnya senang dan untung. Lalu, agar masuk sorgaloka. Berarti juga agar Aku yang senang karena sorgaloka dianggap sebagai tempat yang menyenangkan, bukan? Perbuatan baik yang didorong keinginan itu bukan lain hanya merupakan penyogokan atau penyuapan saja, seperti modal dalam perdagangan agar kelak mendapat keuntungan bagi diri sendiri. Dapatkah engkau melihat kenyataan itu, Nurseta?"

Pemuda itu tertegun.

Betapa anehnya,akan tetapi betapa jelasnya menelanjangi kenyataan yang terselubung.

Semua Weda (Kitab Suci), semua guru agama dan kebatinan mengajarkan agar manusia berbuat baik.

Ajaran-ajaran ini tentu saja menimbulkan keinginan manusia untuk berbuat baik, apalagi di samping ajaran untuk berbuat baik itu selalu disertai janji-janji muluk terutama janji akan "keadaan yang lebih baik"

Setelah manusia meninggalkan dunia ini.

Apakah setan yang licik menyusup dan justeru menggunakan ajaran dan janji pahala ini untuk menyeret manusia ke dalam kemunafikan?

Berbuat baik hanya karena menginginkan keuntungan dan kesenangan bagi diri sendiri?

"Aduh eyang!

Kalau begitu, apakah manusia di dunia ini tidak dapat berbuat baik?"

Kakek itu merenung sejenak sambil memejamkan kedua matanya. Kemudian dia berbicara dengan lembut sekali, hampir tidak terdengar, seperti berbisik.

"Yang benar dan baik secara mutlak dan sejati hanyalah Sang Hyang Widhi. Yang dilakukan manusia barulah dikatakan benar dan baik kalau itu merupakan kehendak Sang Hyang Widhi. Manusia hanya menjadi pelaksana, menjadi alatnya. Kalau sinar Sang Hyang Maha Asih menerangi jiwa nurani maka hati, akal, pikiran akan terbimbing dan lahirlah perbuatan tanpa pamrih, tanpa dinilai baik atau buruk, melainkan dituntun sebagai alat Sang Hyang Widhi. Batin akan dipenuhi cinta kasih dan perbuatan apapun juga macamnya, kalau didasari cinta kasih yang merupakan sinar Sang Hyang Maha Asih, pasti benar dan bik, karena bukan timbul dari dorongan nafsu yang membonceng dari akal pikiran. Murni dan bersih dari keinginan nafsu. Berbahagialah manusia yang menjadi alatnya selama hidupnya."

Nurseta menyembah.

"Sebuah pertanyaan lagi, eyang guru. Bagaimana caranya agar seorang dapat disinari kasih murni dari Sang Hyang Maha Asih? Agar dapat dijadikan alatnya?"

"Heh-heh-heh, kembali pertanyaan itu timbul dari bujukan nafsu, angger Nurseta. Kembali timbul keinginan agar begini agar begitu! Cara itu menunjukkan adanya keinginan, bukan? Tidak ada caranya. Hanya berserah diri, membuka jiwa kita dari kungkungan nafsu, mendekatkan diri dari Sang Hyang Widhi dengan berdoa setiap saat tanpa henti. Kalau nafsu yang mengaku-aku sudah tidak bekerja, maka kekuasaan Sanghyang Widhi yang akan bekerja dalam diri kita. Ingat, hanya Dia yang jkuasa, hanya Dia yang memiliki . kita tidak berkuasa, kita hanya mempunyai secara lahiriah akan tetapi tidak memiliki. Kita hanya berupaya dengan dasar penyerahan diri terhadap keputusanNya. Nah cukuplah, angger. Tidak perlu bertanya lagi. Engkau akan mengerti sendiri kelak. Dengan kepasrahanmu, penyerahanmu, Dia akan membimbing, akan memberi petunjuk, karena dialah gurumu yang sejati, Dialah pemimpinmu yang sejati. Nah sekarang berkemaslah karena hari ini juga engkau harus turun gunung melaksanakan tugasmu sebagai seorang kesatria."

"Duh eyang ".." (Lanjut ke

Jilid 03) Keris Pusaka Sang Megatantra (seri ke 01 -Serial Keris Pusaka Sang Megatantra) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo

Jilid 03

"Heh-heh-heh-heh, jangan cengeng, Nurseta!"

Kata kakek itu sambil menatap wajah muridnya yang tampak bersedih.

"Eyang tidak mempunyai siapa-siapa lagi di dunia ini, hidup sebatang kara, demikian pula saya. Apakah kita berdua yang hidup sebatang kara ini tidak dapat hidup bersama?"

"Siapa bilang kita hidup sebnatang kara? Tengoklah, seluruh manusia di dunia ini, bukanlah mereka semua itu juga senasib sependeritaan denganmu? Bukankah mereka-mereka itupun saudara-saudaramu? Hayo cepat berkemas, tidak pantas muridku cengeng seperti perempuan."

"Baik eyang."

Nurseta lalu bangkit dan pergi ke pondok yang berada tidak jauh dari situ.

Setelah Nurseta pergi, Empu Dewamurti tersenyum seorang diri, lalu menggelengkan kepalanya perlahan-lahan dan menghela nafas panjang.

Dia memejamkan kedua matanya, merangkap kedua tangan menjadi sembah di depan dadanya dan mulutnya berbisik.

"Duh gusti, Sang Hyang Widhi Wasa, segala kehendak paduka terjadilah. Apapun yang menimpa diri hamba akan hamba terima dengan rela karena hamba tahu bahwa semua itu paduka kehendaki dan kehendak paduka adalah benar dan baik bagi hamba."

Tak lama kemudian Nurseta telah datang lagi di tempat itu, membawa pakaiannya dalam buntalan kain hijau. Dia berlutut dan menyembah kepada gurunya.

"Eyang guru, saya sudah siap."

Empu Dewamurti membuka matanya dan memandang kepada Nurseta yang menggendong buntalan pakaian dan berlutut menyembah kepadanya itu.

"Engkau tidak lupa membawa Keris Pusaka Megatantra?"

Tanyanya lembut. Nurseta meraba gagang keris itu yang terselip di pinggangnya.

"Tidak eyang."

"Sekarang dengarkan pesanku terakhir, Nurseta. Keris Pusaka Megatantra itu dahulu merupakan pusaka Kerajaan Ishana, kelanjutan mataram yang didirikan oleh Empu Sindok dan keris pusaka itu berada di tangan keturunan raja-raja Mataram. Akan tetapi keris pusaka itu pada suatu hari lenyap dan sejak ratusan tahun lalu tidak pernah dapat ditemukan, juga tidak pernah diketahui siapa pencurinya. Akhirnya secara tidak terduga-duga, keris itu engkau temukan. Ditemukannya keris pusaka itu dekat pantai laut selatan menunjukkan bahwa dulu pencurinya tentu seorang diantara para siluman, yaitu tokoh-tokoh sesat yang dikenal dengan Siluman Laut Kidul. Nah, sekarang tugas pertamamu adalah mengembalikan keris pusaka itu kepada keturunan para raja Mataram yaitu Sang Prabu Erlangga."

"Baik eyang. Akan saya lakukan perintah eyang."

"Pesanku yang kedua. Aku masih ingat akan ceritamu dulu bahwa ayah ibumu pergi meninggalkanmu tanpa pamit. Hal itu pasti ada rahasianya. Sudah menjadi kewajibanmu untuk menyelidiki perginya kedua orang tuamu, mencari mereka dan menemukan mereka kalau masih hidup dan menemukan mereka kalau sudah mati."

"Baik eyang. Saya tidak akan melupakan perintah eyang ini dan akan saya cari mereka sampai dapat saya temukan."

"Pesanku ketiga. Melihat keadaanya sekarang, walaupun banyak raja muda yang menakluk kepada Sang Prabu Erlangga tanpa perang, namun masih banyak kerajaan yang memusuhi Kahuripan. Sang prabu Erlangga adalah seorang raja bijaksana, karena itu engkau sebagai kawulannya harus membelanya. Jadilah kesatria yang bukan saja membela kebenaran dan keadilan, namun juga menjadi pahlawan yang membela nusa dan bangsa."

"Saya mengerti Eyang. Saya akan selalu mentaati semua petunjuk dan nasehat eyang yang pernah saya terima."

"Bagus kalau begitu,"

Kakek itu mengambil sebuah kantung kain kuning dari balik jubahnya.

"Sudah lama aku menyimpan harta ini. Karena aku sendiri tidak membutuhkannya, maka kuberikan kepadamu untuk bekal dalam perantauanmu. Nah, sekarang berangkatlah."

Nurseta menerima kantung kain yang berisi potongan emas itu.

Dia merasa terharu akan tetapi sekali ini dia menguatkan perasaannya dan tidak memperlihatkan keharuannya agar tidak disebut cengeng oleh eyang gurunya.

"Terimakasi eyang. Saya mohon pamit."

Nurseta berlutut menyembah. Kakek itu mengibaskan tangannya.

"Pergilah dan selalu waspadalah!"

"Selamat tinggal eyang. Harap eyang menjaga diri baik-baik. Saya "

Saya pergi eyang."

"Pergilah!"

Kata kakek itu dan dia sudah memejamkan matanya kembali, bersikap seolah tidak mengacuhkan pemuda itu lagi.

Nurseta menyembah lagi lalu dia bangkit dan berjalan pergi menuruni puncak gunung Arjuna itu.

Setelah pemuda itu pergi barulah Empu Dewamurti membuka matanya dan memandang ke arah bayangan muridnya yang menuruni lereng bawah puncak.

Dia menghela nafas panjang dan berbisik.

"Semoga Sang Hyang Widhi selalu membimbingmu, Nurseta!"

Setelah bayangan muridnya itu lenyap, Empu Dewamurti masih termenung duduk diatas batu besar itu.

Dia sedang mengamati diri sendiri, mengamati perasaan hatinya, mengamati ulah pikirannya dan dengan waspada ia melihat bagaimana nafsu daya rendah bekerja.

Mula-mula hati akal pikiran diusiknya, sehingga pikirannya membayangkan betapa dia ditinggal sendiri oleh murid yang dikasihinya, betapa dia kini seorang diri di tempat sunyi itu, betapa dia kehilangan, kesepian.

Muncullah dari pemikiran ini rasa iba diri, meremas-remas hati merasakan betapa dia merupakan seorang tua yang terlantar, tiada yang memperhatikan, tiada yang melayani lagi, tiada yang menghibur.

Dari rasa iba muncullah kesedihan.

Kakek itu tersenyum.

Yang merasa iba diri lalu menjadi sedih itu bukan aku, melainkan nafsu dalam hati akal pikiran yang mengaku-aku.

Tiba-tiba kakek yang sudah waspada selalu itu tubuhnya bergerak ke atas dalam keadaan duduk bersila dan Nampak berkelebat menghantam batu yang didudukinya tadi.

"Darrr "!!"

Api pijar d isusul asap mengepul dan batu besar yang tadi diduduki Empu Dewamurti pecah berkeping-keping!

Tubuh Empu Dewamurti kini melayang turun dan hinggap di atas tanah dalam keadaan berdiri.

Lima bayangan orang berkelebat.

Dan didepannya telah berdiri seorang wanita bertubuh tinggi besar dan gendut seperti seorang raksesi (raksasa wanita).

Pakaiannya mewah sekali, serba gemerlapan.

Dan ia memakai perhiasan terbuat dari emas dan batu permata.

Usianya sekitar lima puluh tahun namun ia amat pesolek, bedaknya tebal seperti kapur, pipi, bibir dan kuku jari tangan serta kakinya memakai pacar (daun pemerah), rambutnya berkilau oleh minyak, disisir dan digelung rapi.

Wajahnya serba bulat, matanya, hidungnya, mulutnya, pipinya, dagunya semuanya serba bulat dan bundar.

Akan tetapi kalau ia tersenyum, tampak gigi taringnya panjang.

Disampingnya, di kanan kiri, berdiri empat orang laki-laki yang berusia sekitar enam puluh tahun atau kurang sedikit.

Seorang diantara mereka adalah laki-laki tinggi besar brewok berkulit hitam, berpakaian mewah dan sikapnya angkuh.

Sekali pandang saja Empu Dewamurti mengenal dua orang ini.

Si wanita raseksi adalah Mayang Gupita, seorang yang dianggap ratu oleh segolongan orang liar yang tinggal di pantai laut kidul.

Mayang Gupita ini adalah keturunan terakhir dari mereka yang disebut raja-raja siluman dari pantai laut kidul.

Wanita ini terkenal bukan saja karena kesaktiannya, melainkan juga karena kekejamannya dan kabarnya sebulan sekali dia makan daging bayi!.

Adapun laki-laki tinggi besar itu bukan lain adalah Resi Bajrasakti, datuk kerajaan Wengker yang lima tahun lalu pernah bertanding dengan Empu Dewmurti di pantai pasir putih dekat Dusun Karang Tirta.

Tiga orang yang lain adalah laki-laki berusia lima puluh sampai enam puluh tahun.

Mereka bertiga ini mengenakan pakaian yang lain potongannya, dengan kain ikat kepala yang meruncing ke atas.

Melihat pakaian mereka, Empu Dewamurti mengenal mereka sebagai orang-orang Wurawari yang agaknya merupakan bangsawan-bangsawan karena pakaian mereka juga serba mewah.

Seorang bertubuh tinggi kurus, orang kedua bertubuh pendek gendut, dan orang ketiga berkepala gundul seperti seorang Bhiksu (Pendeta Agama Budha).

Diam-diam mengertilah Empu dewamurti bahwa dia berhadapan dengan orang-orang yang sakti mandraguna, orang-orang yang berbahaya sekali.

Mereka adalah orang-orang dari tiga kerajaan kecil yang selalu memusuhi keturunan Mataram sejak dulu.

"Jagat Dewa Bhatara! Kiranya Sang Ratu Mayang Gupita dari kerajaan siluman pantai kidul dan Resi dari Kerajaan Wengker yang datang. Dan andika bertiga tentu dari Kerajaan Wurawari, siapakah gerangan andika?"

"Aku Kalamuka!"

Kata yang tinggi kurus bermuka tikus, berusia enampuluh tahun.

"Aku Kalamanik!"

Kata yang pendek gendut berusia sekitar lima puluh lima tahun.

"Dan aku Kalateja!"

Kata yang berkepala gundul berusia lima puluh tahun.

"kami bertiga adalah para senopati Kerajaan Wurawari". Empu Dewamurti tahu benar bahwa mereka inilah yang mendatangkan perasaan dalam hatinya bahwa saat akhir hidupnya telah tiba. Karena itu dia menyuruh muridnya turun gunung. Namun sikap sang empu ini masih tenang saja dan dia berkata dengan suara mengandung teguran.

"Andika berlima dari tiga kerajaan datang menyerang secara pengecut, sebetulnya apakah maksud kedatangan kalian ke sini?"

"Bojleng-bojleng iblis laknat! Empu Dewamurti, tidak perlu berpura-pura bertanya lagi. Diantara andika masih ada perhitungan yang belum lunas."

"Dan Andika Ratu Mayang Gupita, ada keperluan apakah andika dengan aku sehingga jauh-jauh andika meninggalkan kerajaanmu dan datang ke puncak Arjuna ini?"

"Babo-babo, Empu Dewamurti!"

Kata raseksi itu dengan suara yang besar dan parau seperti suara seorang pria.

"Andika akan kubiarkan hidup asalkan engkau suka menyerahkan Keris Pusaka Megatantra kepadaku, heh-hehheh-heh!"

"Ah, begitukah? Resi Bajrasakti datang untuk menebus kekalahannya lima tahun yang lalu dan Ratu Mayang Gupita datang untuk merampas Keris Pusaka Megatantra. Lalu andika bertiga dari Wurawari datang kesini dengan maksud apakah?"

"Kami bertiga mewakili Nyi Durgakumala untuk minta Keris Megatantra darimu, Empu Dewamurti!"

Kata Kalamuka yang agaknya sebagai saudara tertua memimpin tiga sekawan itu.

"Hemmm, begitukah? Jadi kalian berlima datang untuk mengeroyok aku seorang diri? Benar-benar kalian berlima adalah orang-orang gagah perkasa!"

Empu Dewamurti mengejek sambil tersenyum tenang walaupun dia tahu bahwa dirinya terancam bahaya maut.

"Hik-hik-hik, Empu Dewamurti, manusia sombong! Apakah kau kira aku takut kepadamu? Lihat serangan mautku yang akan menghancurkan tubuhmu. Haaaahhhh!!"

Raseksi wanita yang tubuhnya satu setengah tinggi dari besar tubuh Resi Bajrasakti itu mendorong kedua tangannya ke arah Empu Dewamurti.

Sebongkah bola api meluncur keluar dari kedua telapak tangannya, menyambar ke arah Empu Dewamurti.

Melihat ini Sang Empu maklum bahwa penyerang pertama tadi yang menghancurkan batu yang didudukinya, tentu dilakukan oleh ratu kerajaan siluman ini.

Dia maklum betapa dahsyatnya serangan itu, maka dia tidak berani menyambutnya.

Dia menggunakan kecepatan gerakannya mengelak sehingga bola api itu luput dan menghantam sebatang pohon cemara.

"Darrr ... krakkk!"

Pohon itu tumbang lalu roboh dan asap mengepul tebal.

Maklum bahwa lawannya amat sakti, Empu Dewamurti tentu saja tidak membiarkan dirinya diserang tanpa melawan.

Dia lalu berseru nyaring dan tubuhnya melompat dan menerjang ke arah raksasa perempuan itu.

Dia mengerahkan aji bayusakti yang membuat tubuhnya amat ringan dan dapat bergerak seperti angin dan kaki tangannya bergerak memainkan ilmu silat Baka Denta (Bangau Putih).Tubuh kakek itu berkelebat dan berubah menjadi baying-bayang putih seperti seekor burung bangau menyambar-nyambar.

Kedua tangannya dalam menyerang membentuk patuk burung dengan lengan menjadi leher burung bangau yang panjang.

Gerakannya cepat dan aneh sehingga Ratu Mayang Gupita menjadi terkejut sekali.

Akan tetapi Ratu Kerajaan Siluman Laut Kidul ini memang sakti mandraguna.

Terutama ia memiliki kekuatan sihir yang kuat karena gurunya bukan manusia melainkan siluman atau sebangsa lelembut.

Ia mengeluarkan pekik panjang melengking yang menggetarkan seluruh puncak itu dan tiba-tiba tubuh yang hampir dua kali besar tubuh Empu Dewamurti itu berpusing cepat seperti gasing!

MENGHADAPI ilmu aneh dari ratu kerajaan siluman ini Empu Dewamurti menjadi terkejut.

Biarpun gerakannya amat cepat, Namun dia tidak mampu menyerang tubuh yang berpusing seperti gasing itu.

Setiap kali dia mengirim tamparan, pukulan atau tendangan, selalu tertangkis tubuh yang berpusing itu.

Dan pusingan itu kadang mencuat tangan yang mencengkeram atau menampar, terkadang kaki yang panjang besar mencuat dengan tendangan kilat yang amat dahsyat.

Setelah kedua orang sakti itu bertanding beberapa lamanya, di tonton oleh empat orang datuk yang lain, akhirnya perlahan-lahan Empu Dewamurti mulai terdesak.

Tubuh raseksi yang berpusing itu gerakannya semakin cepat sehingga tubuhnya lenyap berubah menjadi gulungan baying-bayang yang selain mengeluarkan suara menderu, juga diselingi suara tawa melengking yang menggetarkan jantung penuh dengan pengaruh dan tenaga sihir dahsyat.

Empu Dewamurti maklum bahwa kalau dilanjutkan dia tentu akan roboh.

Tiba-tiba dia mengeluarkan suara gerengan dahsyat dan terdengar suaranya mengelegar seperti Guntur sehingga bumi di mana mereka berpijak tergetar dan pohon-pohon terguncang seperti di landa angin ribut.

"Aji Triwikrama!"

Kakinya dibanting ke tanah sambil melangkah tiga kali dan.....

Ratu Mayang Gupita mengeluarkan seruan kaget melihat betapa kini tubuh Empu Dewamurti berubah menjadi besar sekali, jauh lebih besar daripada tubuhnya sendiri, seperti sebatang pohon beringin yang besar dan lebat!

Akan tetapi raseksi itu adalah seorang yang selain sakti mandraguna juga sudah memiliki banyak sekali pengalaman bertanding, maka ia tidak menjadi gentar.

Maka pada saat Empu Dewamurti yang telah menjadi raksasa sebesar pohon beringin itu mendorongkan telapak tangan kearahnya, ia berani mengerahkan tenaga dan menyambut dengan dorongan tangannya yang mengeluarkan bola api.

"Blarrr .....!"

Hebat sekali pertemuan dua tenaga sakti itu.

Bola api itu meleedak dan mengeluarkan asap, dan tubuh ratu kerajaan siluman itu terdorong mundur empat langkah' Pada saat itu, Empu Dewamurti kembali menyerangnya dengan dorongan kedua telapak tangannya yang bertenaga dahsyat.

Ratu Mayang Gupita juga sudah siap menyambut, la merasa girang sekali ketika melihat betapa Resi Bajrasakti dan tiga orang datuk dari kerajaan Wurawari itu serentak maju pula menyambut serangan Empu Dewamurti dengan dorongan tangan mereka yang disertai pengerahan tenaga sakti.

"Syuuuuttt ..... darrrrr .....!!"

Dapat dibayangkan betapa dahsyatnya tenaga lima orang itu yang dipersatukan menyambut serangan Empu Dewamurti.

Tubuh setinggi pohon beringin itu terlempar jauh ke belakang dan berubah menjadi seperti biasa kembali.

Ketika terbanting ke atas tanah, darah mengalir dari mata, telinga, hidung dan mulut Empu Dewamurti.

Akan tetapi dalam keadaan separah itu, sang empu masih sanggup mengeluarkan Aji Sirnasarira dan tiba-tiba saja tubuhnya menghilang!

Lima orang lawannya yang tadinya merasa girang melihat mereka dapat merobohkan sang empu yang amat sakti itu, menjadi terkejut dan bingung karena tiba-tiba tubuh lawan yang mereka robohkan itu lenyap.

Mereka menjadi gentar, takut kalau-kalau dalam keadaan tidak tampak Empu Dewamurti menyerang mereka dengan pukulan mematikan.

Maka, tanpa dikomando lagi lima orang itu lalu melompat pergi meninggalkan tempat itu.

Karena tidak dapat melihat lawan, lima orang itu menjadi ketakutan seolah merasa diri mereka dikejar, maka mereka mengerahkan tenaga berlari secepat mungkin menuruni Gunung Arjuna.

Ketika mereka tiba di lereng bawah dekat kaki gunung, mereka yang berlari cepat dengan ketakutan itu tidak melihat Nurseta yang bersembunyi di balik sebatang pohon jati yang besar.

Pemuda itu secara kebetulan tadi menengok memandang ke belakang, ke arah puncak di mana dia meninggalkan gurunya.

Pada saat itulah dia melihat lima bayangan orang yang berlari secepat terbang, menuruni puncak.

Dari cara mereka berlari seperti terbang, tahulah Nurseta bahwa mereka tentu orang-orang yang memiliki aji kanuragan yang tinggi tingkatnya.

Timbul keheranan dan kecurigaan dalam hatinya, maka dia lalu menyelinap dibalik batang pohon agar mereka tidak dapat melihatnya.

Ketika lima orang itu lewat dekat, dia mengenal seorang di antara mereka sebagai Resi Bajrasakti yang pada lima tahun yang lalu bersama Nyi Dewi Durgakumala pernah bertanding melawan gurunya.

Hati Nurseta merasa tidak enak.

Melihat adanya Resi Bajrasakti di antara lima orang itu, timbul kecurigaannya.

Apa lagi empat orang yang lain itu juga memiliki kesaktian, hal ini tampak dari cara mereka berlari.

Walaupun Nyi Dewi Durgakumala tidak tampak di antara mereka, akan tetapi seorang di antara mereka adalah seorang wanita bertubuh tinggi besar seperti raksasa yang menyeramkan.

Hampir dapat dipastikan bahwa tentu lima orang itu tidak bermaksud baik mendaki puncak itu.

Jangan-jangan mereka menyerbu pondok gurunya.

Membayangkan hal ini, Nurseta lalu cepat berlari mendaki gunung itu lagi menuju ke puncak di mana tadi dia meninggalkan gurunya.

Dengan mempergunakan Aji Bayu Sakti, tubuhnya meluncur seperti angin cepatnya dan sebentar saja dia sudah tiba di depan pondok.

"Eyang guru .....!'"' serunya lirih dan cepat dia membuka pintu pondok dan masuk. Akan tetapi, dia tidak dapat menemukan gurunya dalam pondok. Nurseta melompat keluar dan berlari cepat menuju ke tempat di mana tadi dia meninggalkan gurunya yang duduk di atas batu besar. Tak lama kemudian pemuda itu berdiri terbelalak dengan muka pucat memandang ke arah batu yang biasa menjadi tempat dia termenung dan bersamadhi itu sudah hancur berkeping-keping dan tidak tampak gurunya berada di situ. Tiba-tiba dia mendengar gerakan orang. Cepat dia memutar tubuhnya dan dia melihat Empu Dewamurti berdiri dan terhuyung-huyung agaknya hendak melangkah namun sukar kakek itu mempertahankan dirinya yang hendak roboh.

"Eyang guru .....!"

Nurseta melompat dan cepat merangkul dan alangkah kagetnya melihat darah mengalir dari mata, hidung, mulut dan telinga gurunya. Ketika dia merangkul, Empu Dewamurti terkulai pingsan dalam pelukannya.

"Eyang .....!"

Nurseta lalu memondong tubuh gurunya dan dibawanya tubuh yang kurus itu berlari cepat ke pondok.

Setelah merebahkan tubuh gurunya ke atas amben (dipan), Nurseta memeriksa keadaan Empu Dewamurti dan alangkah kagetnya mendapat kenyataan betapa kakek itu menderita luka dalam yang amat parah dan hebat.

Dia hanya dapat mengurut jalan darah di tubuh gurunya untuk memperlancar jalan darahnya yang kacau.

Akhirnya, kakek itu menghela napas dan membuka matanya.

Dia tersenyum ketika melihat muridnya.

"Nurseta ....., kau ..... kau belum pergi .....?"

Katanya lemah.

"Saya sudah tiba di kaki gunung ketika saya melihat lima orang itu melarikan diri. Di antara mereka terdapat Rasi Bajrasakti. Mereka yang melukai paduka eyang?"

Kakek itu tersenyum.

"Syukur engkau..... sudah pergi ketika..... mereka datang..... mereka itu..... dari Kerajaan Wengker Kerajaan Wurawiri..... Kerajaan Siluman Laut Kidul.... musuh-musuh Kahuripan..... maka mereka..... hendak merampas..... Megatantra..... berhati-hatilah..... men..... menjaganya....."

Kakek itu memejamkan kedua matanya, terkulai dan menghembuskan napas terakhir dalam keadaan tersenyum penuh kepasrahan.

"Eyang .....!"

Nurseta menyembah lalu berbisik sambil mendekatkan mulutnya di telinga kakek itu.

"Selamat jalan eyang, semoga Sang Hyang Widhi selalu membimbing paduka."

Nurseta duduk diam, bersila di atas lantai untuk berdoa, memujikan agar sang empu dapat memasuki kedamaian abadi.

Beberapa kali nafsu daya rendah mengganggu hati dan pikirannya untuk membayangkan kematian eyang gurunya sehingga perasaan dendam sakit hati dapat membakar dan menguasai hatinya.

Nurseta maklum akan bahayanya pengaruh nafsu daya rendah ini.

Eyang gurunya selalu memperingatkan agar dia jangan sampai dikuasai nafsu-nafsunya sendiri.

Terutama sekali nafsu amarah yang menimbulkan dendam akan mendorongnya kepada kekejaman dan pelampiasan nafsu dendam.

Dia memang harus menentang orang-orang jahat, akan tetapi bukan didasari dendam kebencian.

Menghadapi dorongan nafsu daya rendah ini, dia tidak melawan, tidak menekan, melainkan membiarkan dirinya lentur dan kuat sehingga serangan nafsu itu hanya lewat dan lalu begitu saja, hilang dengan sendirinya.

Inilah Aji Sirnasarira (Lenyap Diri) yang ditujukan ke dalam.

Aji ini membuat perasaan yang bersumber dari si aku menghilang.

Kalau tidak ada lagi si-aku, dengan sendirinya tidak ada rasa benci, dendam dan sebagainya lagi.

Semua itu hanya ulah nafsu.

Aji Sirnasarira ini kalau ditujukan keluar, dapat berpengaruh seperti aji palimutan yang membuat dia dapat menghilang atau tidak tampak oleh mata orang lain.

Setelah matahari naik tinggi, Nurseta lalu menumpuk kayu-kayu kering di sekeliling tempat tidur gurunya, kemudian dia membakar kayu yang ditumpuk-tumpuk itu.

Setelah kayu terbakar dan berkobar besar, dia keluar dari dalam pondok.

Pondok mulai terbakar.

Perbuatan ini dia lakukan sesuai dengan pesan eyang gurunya yang pernah mengatakan bahwa kalau dia mati, dia ingin agar jenazahnya diperabukan.

"Setelah badan ini menjadi abu, taburkan dari puncak agar tersebar di seluruh permukaan gunung dan menjadi pupuk bagi kesuburan sawah ladang."

Demikian pesan eyang gurunya.

Kini dia teringat akan sikap dan kata-kata gurunya pagi tadi.

Gurunya secara mendadak menyuruhnya pergi meninggalkan puncak, membawa pergi Keris Megatantra, menyerahkan seluruh emas yang dimilikinya kepadanya!

Seolah orang tua itu sudah tahu atau dapat merasakan bahwa saat akhir hidupnya akan tiba pada hari itu.

Setelah pondok kayu sederhana itu terbakar habis, Nurseta lalu mencari di antara puing dan menemukan abu jenazah Empu Dewamurti di antara abu kayu pondok.

Abu jenazah itu keputih-putihan, berbeda dengan abu dan arang kayu.

Dia mengumpulkan abu jenazah itu, membungkusnya dalam sehelai kain ikat kepala yang lebar, kemudian membawanya ke puncak, ke tempat di mana dia dapat memandang seluruh permukaan lereng vang di bawah puncak itu.

Sawah ladang terbentang luas.

Ada rasa haru dalam hatinya.

Gurunya adalah seorang manusia yang bijaksana dan budiman.

Bahkan setelah mati pun dia ingin agar jasmaninya bermanfaat bagi manusia, agar abu jenazahnya dapat menjadi pupuk dan menyuburkan sawah ladang!

Nurseta lalu mulai menaburkan abu itu sedikit demi sedikit keatas ketika angin bertiup.

Abu itu terbawa angin melayang-layang ke bawah puncak, seolah menghujani sawah ladang yang berada di sana.

Setelah abu jenazah itu disebarkan semua, Nurseta lalu menuruni puncak itu dan dia mempergunakan ilmunya Bayu Sakti sehingga tubuhnya seolah melayang layang turun dari puncak Arjuna dengan cepat sekali.

Pada suatu sore Nurseta berjalan melalui sebuah hutan cemara dan dia sedang mencari kalau-kalau terdapat sebuah dusun di sekitar daerah itu agar dia dapat melewatkan malam dengan menumpang di rumah sebuah keluarga petani, atau setidaknya dia dapat menemukan sebuah gubuk di tengah sawah ladang.

Setelah keluar dari hutan cemara yang tidak berapa besar itu, dari jauh dia sudah mendengar suara gemercik air, tanda bahwa tak jauh dari situ terdapat sebatang anak sungai yang airnya bening mengalir di antara batu-batu atau sebuah grojogan (air terjun) yang airnya menimpa batu-batu mendatangkan suasana sejuk dan nyaman.

Nurseta merasa gembira karena dia memang merasa gerah dan dapat membayangkan betapa akan sejuk dan segarnya mandi di air yang jernih.

Dia mempercepat langkahnya menuju ke arah suara air gemercik.

Tiba-tiba dia menahan langkahnya.

Terdengar suara beberapa orang wanita bercakap-cakap, bersenda gurau dan tertawa cekikikan di antara gemercik suara air itu.

Kalau ada wanita-wanita di situ, berarti tempat itu pasti dekat dengan sebuah dusun!

Hatinya merasa lega dan girang.

Dia akan menghampiri para wanita itu dan menyapa mereka.

Akan tetapi ketika dia'sudah berada dekat dengan dari mana datangnya suara itu, dia tertegun dan mengintai dari balik batu besar.

Gemercik air itu memang berasal dari sebuah grojogan kecil dan dibawahnya terdapat sebatang anak sungai yang airnya jernih sekali, mengalir di antara batu-batu bersih.

Yang membuat dia tersipu adalah ketika dia melihat tiga orang gadis bertapih pinjung (kain penutup tubuh dari dada ke bawah) yang basah kuyup sehingga mencetak bentuk tubuh mereka yang indah dan tampak kulit pundak, leher dan lengan yang putih kuning mulus.

Usia mereka antara tujuh belas sampai dua puluh tahun.

Wajah mereka tampak ayu dan manis, dengan rambut basah terurai dan wajah berseri seri penuh senyum dan tawa senda gurau.

Kalau tertawa, mulut mereka agak terbuka dan tampak deretan gigi yang putih mengkilat di balik bibir merah segar.

Bukan seperti gadis-gadis dusun pada umumnya, pikir Nurseta.

Lebih pantas kalau mereka itu datang dari kota, gadis gadis bangsawan, seperti yang pernah dilihatnya beberapa kali dahulu ketika dia masih tinggal di Karang Tirta, yaitu kalau Ki Lurah Suramenggala kedatangan tamu Bangsawan.

Akan tetapi kalau mereka itu puteri bangsawan, mengapa mereka berada di dusun dan mandi di kali?

Nurseta merasa tidak enak untuk mengintai terus, dapat menimbulkan prasangka buruk, pikirnya.

Maka diapun keluar dari balik batu besar itu dan menghampiri mereka.

Tiga orang gadis itu agaknya habis mencuci pakaian yang mereka taruh di dalam keranjang, dan kini mereka sedang mandi.

Seorang dari mereka yang usianya sekitar dua puluh tahun, sedang berkeramas (mencuci rambut).

Rambutnya yang hitam panjang itu digosok gosoknya dengan biji lerak dan daun kenanga dan ketika melakukan pekerjaan ini, kepalanya ditundukkan, rambutnya terurai ke bawah, kedua tangannya menggosok-gosok sehingga tubuh bagian atas itu bergerak gerak seperti sedang menari.

Orang kedua, gadis manis berusia sekitar delapan belas tahun, sedang menggosok-gosok kulit dada bagian atas dekat leher dengan sebuah batu hitam yang halus.

Adapun gadis ke tiga yang usianya sekitar tujuh belas tahun sedang menggosok-gosok betis kaki kanannya yang ia angkat ke atas sebuah batu.

Betis berkulit kuning mulus itu juga digosok-gosok dengan batu hitam yang halus.

Melihat tiga tubuh gadis muda yang padat, berkulit putih mulus, dengan lekuk lengkung yang sempurna, bagaikan tiga tangkai bunga yang sedang mekarnya, Nurseta terpesona.

Belum pernah selamanya dia merasa sedang melihat suatu pemandangan yang luar biasa indahnya.

Nurseta tiba di tepi anak sungai, hanya dalam jarak tiga meter dari mereka.

Karena sedang asyik dengan pekerjaan masing-masing dan tersamar oleh suara gemercik air, mereka agaknya tidak melihat atau mendengar kedatangan pemuda itu.

"Maafkan aku, nimas bertiga1"

Kata Nurseta dengan suara agak nyaring untuk mengatasi suara gemercik air.

Tiga orang gadis itu menengok dan mereka terkejut sekali melihat ada seorang pemuda telah berdiri di tepi sungai.

Bahkan gadis yang termuda, yang tadi mengangkat kakinya ke atas batu dan menggosok-gosok betisnya, kini berdiri tegak dan gerakannya yang tiba tiba ini membuat ikatan tapih pinjungnya terlepas dan kain itu merosot.

Ia menjerit kecil dan kedua tangannya cepat menangkap kain itu dan menariknya kembali ke atas, namun kain itu tadi telah sempat membuka dan memperlihatkan sekilas sepasang payudara yang padat dan indah bentuknya.

Pada jaman itu, payudara wanita bukan merupakan bagian tubuh yang teramat dirahasiakan.

Namun gadis itu tersenyum malu-malu, tersipu dan menundukkan mukanya.

Dua orang gadis lainnya juga memandang kepada Nurseta.

Mereka bertiga terkejut karena tidak menyangka akan ada seorang laki-laki muda mendekati dan menyapa mereka.

Gadis tertua, yang mempunyai titik tahi lalat hitam di pipi kirinya, membuatnya tampak manis sekali, mewakili teman-temannya.

Agaknya ia yang paling berani menghadapi pemuda asing itu dan suaranya terdengar merdu dan tutur sapanya halus, jelas menunjukkan bahwa ia bukan seorang gadis dusun yang lugu dan kasar.

"Ki sanak, andika ini seorang pria, apa maksud andika mendekati dan menyapa kami tiga orang wanita yang sedang mandi?"

Pertanyaan ini merupakan teguran, namun dilakukan dengan halus menjadi sebuah pertanyaan.

Nurseta maklum akan hal ini dan semakin kuat dugaannya bahwa wanita-wanita muda ini jelas bukan gadis-gadis dusun biasa yang sederhana dan bodoh.

"Sekali lagi aku mohon maaf kalau mengganggu andika bertiga. Aku bernama Nurseta, seorang kelana yang ingin minta keterangan kepada andika di manakah kiranya aku dapat menemukan tempat untuk melewatkan malam ini."

Kata Nurseta dan diapun bersikap sopan.

Dia duduk di atas sebongkah batu di tepi anak sungai itu dan mengamati mereka bertiga dengan sikap sopan, tidak secara langsung mengamati wajah dan tubuh mereka, melainkan sambil lalu seolah di depannya itu tidak terdapat pemandangan yang amat menarik hatinya.

Dia mendapat kenyataan betapa gadis tertua yang bicara dengannya bertubuh agak tinggi semampai lehernya panjang kepalanya tegak membuat ia tampak anggun.

Wajahnya manis, pandang matanya penuh pengertian dan cerdik.

Akan tetapi keseriusan yang membayang di wajahnya yang ayu itu mendatangkan kesan bahwa ia seorang wanita yang tidak mudah diajak bergurau, mungkin agak keras hatinya.

Tahi lalat di pipi kirinya itu menambah kemanisan wajahnya.

Gadis ke dua yang usianya sekitar delapan belas tahun berwajah bulat dan kulitnya putih sekali.

Wajahnya cantik jelita, sepasang matanya bersinar-sinar penuh gairah hidup dan mulutnya yang tersenyum-senyum nakal itu membuat Nurseta menduga bahwa gadis ini tentu seorang yang berwatak riang jenaka.

Mulutnya yang bentuknya indah dengan sepasang bibir tipis merah membasah yang agaknya selalu berjebi, selalu senyum dan kadang tampaklah kilatan gigi yang berderet rapi dan putih.

Ada pun gadis ke tiga yang tadi merosot tapih pinjungnya, berusia sekitar tujuh belas tahun, bagaikan kuncup bunga mawar mulai mekar, wajahnya berbentuk bulat telur, dahinya agak nonong (menonjol) akan tetapi ia juga manis sekali, kalau tersenyum muncul lesung pipit kanan kiri mulutnya.

Ia lebih banyak menundukkan pandang matanya, seperti malu-malu, namun sikap seperti ini bahkan menambah daya tariknya sebagai seorang dara yang baru tumbuh dewasa.

Tiga orang gadis yang amat menarik hati, pikir Nurseta.

Dia merasa heran bagaimana di luar sebuah hutan, di tempat yang sunyi ini, dia dapat bertemu dengan tiga orang gadis cantik seperti mereka.

Mendengar ucapan Nurseta yang penuh hormat itu dan melihat sikapnya yang sopan santun, tiga orang gadis itu menjadi agak berani.

Bahkan gadis kedua tertawa dan menutupi mulut dengan tangan kirinya gerakannya begitu luwes dan indah, penuh kelembutan seorang wanita.

"Hi-hik, andika telah memperkenalkan nama kepada kami, tentu andika juga ingin sekali mengetahui nama kami Bukankah begitu, Kakangmas Nurseta?"

"Ih, malu, Mbakayu Kenangasari!"

Kata dara yang paling muda sambil menahan senyum dan mengerling sopan ke arah Nurseta.

"Mengapa mesti malu, Widarti? Orang saling memperkenalkan nama sewaktu bertemu, bukankah itu wajar-wajar saja? bukankah begitu, Mbakayu Sukarti?"

Kata gadis ke dua sambil tersenyum cerah. Gadis pertama mengerutkan alisnya.

"Diamlah kalian berdua dan jangan bergurau selalu. Kisanak ini tentu akan menganggap kita kurang sopan."

Tegur dara pertama yang tertua. Nurseta tertawa. Sikap tiga dara ini membuat suasana menjadi semakin cerah dan indah, membuat gemercik air semakin nyaring menggembirakan.

"Ha-ha-ha, nimas bertiga yang baik. Tidak perlu bersusah payah memperkenalkan nama karena aku sudah tahu siapa nama andika bertiga."

"Andika sudah tahu, Kakangmas Nurseta?"

Tanya Kenangasari sambil tersenyum.

"Tentu saja! Andika bernama Kenangasari, nimas ini bernama Sukarti dan yaing itu bernama Widarti."

Kata Nurseta yang kini dihinggapi perasaan gembira menghadapi tiga orang gadis jelita itu.

"Hemrn, apa anehnya itu? Kenangasari, jangan bodoh. Tentu saja dia tau, karena tadi kita saling memanggil nama masing-masing!"

Kata Sukarti.

"Benar sekali. Tadi andika bertiga tanpa kuminta telah memperkenalkan nama masing-masing. Sekarang, setelah kita saling berkenalan, maukah andika bertiga suka menjawab pertanyaanku tadi?"

"Pertanyaan yang mana? Andika tadi bertanya apa sih?"

Tanya Kenangasari dengan senyum manis.

"Tadi aku bertanya apakah andika bertiga dapat menunjukkan di mana aku bisa mendapatkan tempat untuk melewatkan malam ini."

Tiga orang gadis itu saling pandang, kemudian Kenangasari yang menjawab. Agaknya ia merupakan orang yang paling pandai dan berani bicara sehingga ia mewakili kedua orang temannya untuk menjawab.

"Kenapa andika tidak bermalam saja di rumah kami, Kangmas Nurseta?"

"Ih, Mbakayu Kenangasari, engkau lancang!"

Tegur Widarti.

"Kenapa lancang? Bukankah kita sudah berkenalan dengan Kangmas Nurseta dan agaknya dia bukan penjahat? Apa salahnya dia bermalam di rumah kita semalam? Kita mempunyai sebuah kamar kosong."

"Tapi ....."

Kini Sukarti yang mencela. Ucapannya dipotong cepat oleh Kenangasari.

"Kau maksudkan..... ayah kita, Mbak yu Sukarti? Kalau kita yang minta agar Kangmas Nurseta dibolehkan menginap di rumah kita malam ini, pasti dia akan menyetujui."

Nurseta merasa girang, akan tetapi juga rikuh (sungkan).

"Ah, nimas, terima kasih atas kebaikan hati andika bertiga, akan tetapi aku sama sekali tidak ingin merepotkan andika!"

"Kalau kita sudah saling berkenalan dan menjadi sahabat, mengapa masih bersikap sungkan?"

Sukarti yang kini menyetujui usul Kenangasari.

"Kakangmas, boleh aku bertanya?"

Kata Widarti. Gadis manis yang tadi tampak pemalu itu kini berani menatap wajah Nurseta dan sepasang lesung pipitnya muncul di kedua pipinya.

"Tentu saja boleh, nimas. Bertanyalah."

Jawab Nurseta. Bercakap-cakap dengan tiga orang gadis yang ayu manis dan ramah ini sungguh menyenangkan hatinya.

"Begini, Kangmas Nurseta. Andaikan andika berada dalam rumah andika dan kami bertiga datang berkunjung, apakah kiranya andika akan menolak kedatangan kami karena merasa repot?"

Nurseta tertegun.

Dia tadi salah sangka!

Gadis yang tampak pemalu ini sesungguhnya pandai bicara dan cerdas sekali.

Kalau dua orang gadis yang lain membujuknya untuk bermalam dengan kata-kata biasa yang dapat ditolaknya, gadis termuda ini mengajukan pertanyaan yang sekaligus membuat dia tidak mungkin lagi menolak!

"Tentu saja tidak, nimas."

Jawabnya dan dia sudah merasa kalah.

"Nah, kalau andika akan mau menerima kami dan tidak merasa repot, kamipun demikian pula. Kami tidak akan repot, bahkan merasa gembira sekali kalau andika mau bermalam di gubuk kami, tentu saja kalau andika tidak merasa jijik tinggal semalam di gubuk kami yang reyot dan kotor!"

Nurseta taluk.

Ucapan gadis itu menambah kuatnya desakan itu dan dia sama sekali tidak berdaya untuk menolaknya.

Tidak ada alasan lagi baginya untuk menolak karena tadi dia sudah menyatakan bahwa dia membutuhkan tempat untuk menginap malam ini.

Dia mengembangkan kedua lengan dan menggerakkan kedua pundak tanda tak berdaya sambil tersenyum.

"Baiklah, aku terima undangan andika dan sebelumnya aku mengucapkan banyak terima kasih "

"Horeee .....!"

Kenangasari bersorak seperti anak kecil.

"Kalau begitu mari kita pulang! Mari, Kakangmas Nurseta!"

Tiga orang gadis itu mengambil keranjang pakaian dan keluar dari anak sungai itu.

"Di mana rumah andika bertiga?"

Tanya Nurseta.

"Di depan sana, tidak jauh dari sini!"

Jawab Sukarti sambil menunjuk ke arah utara.

"Silakan andika berangkat lebih dulu, Nanti aku menyusul ke sana."

Kata Nurseta "Eh, kenapa, kakangmas? Bukankah andika sudah setuju untuk bermalam dirumah kami?"

Tanya Kenangasari.

"Benar, nimas. Akan tetapi aku ingin mandi dulu di sini. Airnya begitu jernih dan segar."

"Andika tidak akan melanggar janji dan berbohong kepada kami, Kang Nurseta?"

Tanya Widarti.

"Kalau begitu, biar kami menanti disini sampai andika selesai mandi!"

Kata Sukarti.

"Wah, jangan andika bertiga menunggu di sini. Aku akan merasa malu! Percayalah, seorang laki-laki tidak akan sudi melanggar janjinya! Pulanglah kalian lebih dulu. Setelah selesai mandi aku akan segera datang berkunjung. Tentu kalian ingin bersiap-siap sebelum aku datang, bukan? Jangan repot-repot, hidangkan saja seadanya, semuanya!"

Nurseta berkelakar. Tiga orang gadis itu tertawa renyah, gigi mereka yang putih tampak sebentar.

"Jangan terlalu lama, kami tunggu!"

Kata Sukarti dan mereka bertiga lalu pergi dari situ sambil tertawa-tawa.

Dari belakang mereka, Nurseta melihat betis-betis yang memadi bunting dan putih mulus bergerak-gerak, pinggul-pinggul yang indah di balik kain basah itu menari-nari.

Setelah tiga orang gadis itu menghilang di balik pohon-pohon, Nurseta tersenyum dan menghela napas panjang.

baik sekali nasibnya, bertemu dengan bidadari-bidadari yang selain ayu merak ati (cantik menggiurkan) juga baik hati dan ramah sekali.

Dia lalu menanggalkan seluruh pakaiannya dan masuk ke dalam air yang sejuk segar.

Dia meniru apa yang dilakukan para gadis tadi.

Diambilnya sepotong batu hitam yang licin dan dia menggosok-gosok seluruh kulitnya dengan batu hitam itu sehingga bersih.

Kemudian dia mencuci pakaian yang tadi dipakainya dan setelah selesai memeras pakaian itu dan menaruhnya di atas batu, dia lalu mengenakan pakaian bersih.

Setelah naik ke tepi anak sungai.

Nurseta mengembangkan dan mengebut ngebutkan pakaian yang tadi dicucinya.

Karena dia mengerahkan tenaganya, maka pakaian itu berkibar kuat dan sebentar saja sudah menjadi kering kembali!

Setelah menyimpan pakaian itu ke dalam buntalan pakaiannya dan menggendong buntalan itu, berangkatlah Nurseta menuju ke arah yang ditunjuk Sukarti tadi.

Hari telah menjelang senja ketika akhirnya Nurseta tiba di pekarangan depan sebuah rumah pondok besar yang tidak berapa jauh letaknya dari anak sungai tadi.

Begitu dia memasuki pekarangan, muncul empat orang dari pintu depan pondok itu.

Lampu gantung sudah di pasang di beranda itu dan Nurseta lihat tiga orang gadis tadi yang kini sudah mengenakan pakaian baru, rambut gelung dengan rapi dan dihias bunga melati.

Mereka tersenyum-senyum, manis sekali.

Akan tetapi pandang mata Nurseta ditujukan kepada laki-laki yang berada di antara mereka.

Laki-laki itu berusia kurang lebih lima puluh tahun.

Pakaiannya mewah seperti priyayi.

Rambutnya digelung keatas dan diikat rantai kecil dari emas!

Sebatang keris dengan sarungnya yang indah terselip di depan pinggangnya.

Laki-laki ini bertubuh tegap dengan dada bidang dan wajahnya masih tampak muda, tampan dan gagah.

Melihat empat orang itu agaknya sedang menanti untuk menyambutnya, Nurseta segera menghampiri mereka dan memberi hormat dengan sembah di depan dada.

"Kakangmas Nurseta, inilah ayah kami, Raden Hendratama."

Sukarti memperkenalkan laki-laki gagah itu.

Nurseta memberi hormat.

Diam-diam ia terkejut mendengar laki-laki itu seorang priyayi, seorang bangsawan.

Kalau begitu tiga orang gadis itu adalah puteri puteri bangsawan seperti yang tadi pernah diduganya.

Akan tetapi yang amat aneh, mengapa keluarga ini tinggal di pondok yang terpencil?

Tidak tampak rumah lain di situ.

"Raden, maafkanlah kalau kelancangan saya berkunjung ini mengganggu ketenangan keluarga paduka."

Kata Nurseta hormat.

Agaknya sikap sopan pemuda itu menyenangkan hati laki-laki yang bernama raden Hendratama itu.

Dia tersenyum.

'Wah, anakmas Nurseta, anak-anakku telah menceritakan tentang dirimu, anggaplah kami sebagai keluargamu atau sahabat baik, karena itu jangan sebut aku raden.

Sebut saja paman.

Biarpun aku seorang pangeran, namun sudah lama aku meninggalkan keluarga istana dan hidup sebagai rakyat biasa."

Nurseta merasa gembira sekali.

Kiranya ayah dari tiga orang dara Inipun rendah hati dan ramah sekali.

Diapun tidak merasa ragu lagi dan menganggap mereka itu sebuah keluarga bekas ningrat yang baik hati sekali.

"Terima kasih, Paman Hendratama."

"Mari, mari masuk, Kangmas Nurseta. Kita duduk dan bicara di ruangan dalam."

Kata Kenangasari ramah.

"Benar, anakmas. Silakan masuk dan kita bercakap-cakap di dalam."

Kata pula Hendratama.

Nurseta tidak merasa sungkan lagi dan dia ikut memasuki ruangan yang luas.

Ternyata ruangan itu cukup indah, dengan meja kursi terukir dan terutama sekali di dinding ruangan itu tergantung banyak sekali senjata yang tampak serba indah.

Tentu pusaka-pusaka ampuh, pikir Nurseta.

Terdapat banyak tombak, klewang (golok), pedang, dan bermacam-macam keris, dari yang kecil sampai yang besar.

Dia merasa heran sekali, akan tetapi diam saja takut kalau disebut lancang kalau banyak bertanya.

Setelah dipersilakan duduk, Nurseta duduk berhadapan dengan Hendratama dan tiga orang gadis yang masih berdiri memandang kepadanya.

Kenangasari yang centil lalu berkata kepada Nurseta sambil tersenyum.

"Kakangmas, sekarang kami bertiga pamit dulu untuk mempersiapkan hidangan makan malam."

"Ah, harap andika jangan repot-repot, nimas ....."

Kata Nurseta sambil menggerakkan tangan seolah mencegah.

"Tidak usah repot, keluarkan saja seadanya, semuanya! Begitu katamu tadi, bukan?"

Kata Windarti sambil tersenyum dan mengerling nakal.

Tentu saja wajah Nurseta menjadi merah.

Tadi dia hanya bergurau akan tetapi gadis-gadis itu malah mengulanginya di depan ayah mereka!

Tiga orang dara jelita itu tertawa-tawa sambil meninggalkan ruangan itu menuju ke belakang.

"Ah, anakmas Nurseta. Jangan Sungkan Anak-anak itu memang nakal dan suka menggoda orang."

"Hemm, tidak sama sekali, paman. Mereka..... mereka adalah gadis-gadis yang baik budi, berhati mulia dan manis sekali."

"Ha-ha-ha!"

Laki-laki gagah itu tertawa.

"Andika suka kepada mereka?"

Nurseta tertegun, akan tetapi dia menyadari bahwa yang dimaksudkan tuan rumah ini tentulah rasa suka akan sesuatu yang indah dan baik, bukan rasa cinta seorang pria terhadap wanita.

Setelah berpikir demikian, diapun menjawab dengan sikap biasa.

"Tentu saja, paman saya suka sekali kepada mereka."

"Bagus! Kalau begitu, andika mau menjadi suami mereka, atau seorang di antara mereka?"

Mau tidak mau Nurseta terbelalak saking herannya.

Ini sudah gila!

Mana ada seorang ayah menawarkan tiga orang anak gadisnya untuk menjadi isteri seorang pemuda asing yang sama sekali tidak dikenalnya?

Ditawarkan ketiga tiganya lagi!

Kekhawatirannya sesaat terjadi.

Rasa suka itu diartikan rasa cinta oleh Raden Hendratama!

"Ahh!

Ini......

ini.....

saya maksudkan.

saya suka sekali kepada mereka karena mereka baik budi, saya suka menjadi sahabat mereka........"

"Hemm, andika tidak suka memperisteri mereka atau seorang di antara mereka?"

"Maafkan saya, paman. Bukan saya tidak suka, akan tetapi saya sama sekali belum mempunyai niat untuk mengikatkan diri dengan perjodohan."

"Kenapa, anakmas?"

Hendratama mendesak sambil mengamati wajah pemuda itu. Merasa terdesak, dan juga karena dia percaya kepada keluarga bangsawan yang rendah hati dan baik budi bahasanya ini, Nurseta berterus terang.

"Saya tidak mau mengikatkan diri dengan perjodohan dulu,paman, karena saya masih mempunyai banyak tugas dari mendiang eyang guru saya yang harus saya selesaikan."

Raden Hendratama mengangguk angguk.

"Itu bagus sekali, anakmas. Seorang murid haruslah berbakti dan taat kepada gurunya, dan sikapmu itu menunjukkan bahwa andika seorang murid yang baik sekali. Siapakah mendiang guru andika itu?"

"Mendiang eyang guru adalah Empu Dewamurti, paman."

Raden Hendratama terkejut.

"Jagat Dewa Bathara Kiranya guru andika adalah Sang Empu Dewamurti yang sakti mandraguna! Dan katamu tadi dia sudah meninggal dunia?"

"Benar, paman. Beberapa bulan yang lalu eyang guru telah wafat."

"Wah, kalau begitu andika tentu seorang ksatria yang sakti mandraguna, Anakmas Nurseta!"

"Apakah paman mengenal mendiang eyang guru?"

Nurseta bertanya untuk mengalihkan perhatian karena dia tidak ingin bicara tentang kesaktian.

"Siapa tidak mengenal Empu Dewamurti? Ada beberapa batang keris buatannya kusimpan! Semua keturunan Wangsa ishana mengenalnya dengan baik!"

Diam-diam Nurseta terkejut. Dia menatap wajah laki-laki itu dan bertanya.

"Maafkan saya, paman. Kalau begitu... paman adalah seorang keturunan keluarga istana kerajaan Mataram?"

Raden Hendratama menghela napas panjang, lalu berkata dengan nada suara letih.

"Sebenarnyalah, anakmas Nurseta aku dahulu adalah Pangeran Hendratama, putera mendiang Rama Teguh Dharmawangsa. Akan tetapi karena ibuku hanya seorang selir dari kasta rendahan, maka ku tidak masuk hitungan dan ketika Erlangga menduduki tahta, aku lalu menyingkir dan lebih baik hidup tentram sebagai rakyat biasa."

Mendengar ini, Nurseta yang sejak kecil sudah belajar tata krama (tata susila) oleh ayahnya kemudian oleh eyang gurunya, cepat bangkit berdiri dan berjongkok menyembah.

"Gusti Pangeran, ampunkan hamba yang tidak mengenal paduka ....."

Raden Hendratama tertawa, lalu bangkit dan memegang pundak pemuda itu, menariknya bangkit dan berdiri kembali.

"Ha-ha-ha, jangan bersikap seperti itu, anakmas. Andika membuat aku menjadi rikuh dan malu saja. Aku sendiri sudah melupakan bahwa aku adalah seorang bekas pangeran. Bekas kataku, sekarang bukan lagi pangeran. Nah, duduklah dan jangan mengubah sikapmu yang baik tadi. Tetap sebut aku paman atau aku malah menjadi tidak senang menerimamu sebagai seorang sahabat."

Nurseta terpaksa duduk kembali "Aduh, paman. Paman sungguh bijaksana dan rendah hati. Bagaimana seorang pangeran dapat hidup menjadi seorang anggauta rakyat biasa?"

"Ha-ha-ha, apa bedanya? Apakah kehebatan atau kebesaran seorang raja melebihi rakyat? Raja juga manusia biasa seperti rakyat jelata! Dapatkah andika membayangkan seorang raja tanpa rakyat (Lanjut ke

Jilid 04) Keris Pusaka Sang Megatantra (seri ke 01 -Serial Keris Pusaka Sang Megatantra) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo

Jilid 04 seorangpun?

Dia hanya seperti seorang badut yang tidak lucu, atau bahkan menjadi seorang gila.

Sebaliknya, kalau rakyat kehilangan raja, hal itu masih dapat berlangsung.

Menjadi rakyat biasa bukan berarti hina atau rendah, juga bukan berarti tidak dapat hidup tentram dan bahagia."

"Paman sungguh bijaksana!"

Nurseta memuji.

"Oya, eyang gurumu itu, Empu Dewamurti, bagaimana dia wafat? Seingatku dia belum begitu tua."

Tentu saja kini Nurseta merasa lebih percaya kepada pangeran ini.

Orang ini adalah putera mendiang Sang Prabu Teguh Dharmawangsa, berarti kakak ipar sang Prabu Erlangga!

Kiranya tidak perlu ia merahasiakan segala mengenai dirinya dan eyang gurunya yang juga merupakan kawula Mataram yang selalu akan membela Mataram atau keturunan Mataram yang sekarang menjadi Kerajaan Kahuripan.

"Eyang guru tewas dikeroyok lima orang yang dating dari Kerajaan Wengger, Wirawari, dan Kerajaan Siluman pantai Laut Kidul. Ketika itu saya tidak ada di sana dan ketika saya datang, sang guru sudah berada dalam keadaan gawat dan beliau meninggal karena luka lukanya."

Raden Hendratama, bekas pangeran itu mengerutkan alisnya dan mengepal tangan kanannya.

"Hemm, mereka memang orang-orang jahat! Kanjeng Rama juga wafat ketika kerajaan diserang oleh raja Wurawari! Akan tetapi, Anakmas Nurseta, mengapa Sang Empu Dewamurti mereka musuhi dan mereka bunuh'"

Kembali Nurseta tak dapat merahasiakan hal itu.

"Mereka agaknya menyerang eyang guru karena mereka ingin merebut keris pusaka ini dari tangan eyang guru, paman. Akan tetapi keris pusaka ini telah diserahkan kepada saya karena memang saya yang dulu menemukannya, sehingga eyang guru sampai tewas."

"Hemmm, keris pusaka apakah itu anakmas?"

Tanya Raden Hendratama sambil memandang keris yang terselip dipinggang pemuda itu.

"Menurut keterangan eyang guru. keris ini adalah Keris Pusaka Megatantra. Menurut eyang, keris pusaka ini adalah keris pusaka Kerajaan Mataram yang dahulu lenyap dan kebetulan saya temukan ketika saya menggali tanah di dusun Karang Tirta dekat pantai Laut Kidul."

"Hemm, begitukah?"

Sikap bekas pangeran itu agaknya tidak begitu acuh atau tertarik.

Mungkin karena dia melihat gagang dan sarung keris yang buruk itu.

Dia sendiri yang mengganti gagang keris yang sudah lapuk karena lama terpendam, juga dia yang menbuatkan warangkanya.

Atau mungkin karena Raden Hendratama sudah memiliki pusaka yang demikian banyaknya, pikir Nurseta.

Pada saat itu, terdengar suara tawa lembut dan tiga orang gadis cantik yang kini diketahui oleh Nurseta sebagai puteri-puteri bangsawan tinggi, puteri-puteri seorang pangeran!

"Hidangan makan malam telah siap!"

Kata Kenangasari dengan senyum manis dan sinar matanya berseri.

"Tidak repot-repot akan tetapi semua telah dikeluarkan!"

Kata Widarti yang kini tampak lebih berani dan centil.

"Mari silakan, hidangan telah kami siapkan di ruangan makan!"

Kata pula Sukarti.

"Ha-ha-ha, hayo anakmas, kita makan didalam. Nanti kita lanjutkan pembicaraan kita!"

Kata Raden Hendratama sambil bangkit berdiri.

Nurseta bangkit pula dan dia lalu mengikuti tuan rumah menuju keruangan sebelah dalam.

Ketika Widarti melangkah dekat ayahnya, Raden Hendrarama merangkul gadis itu dan Widarti tampak manja sekali ketika sambil melangkah ayahnya merangkulnya.

Tadinya tiga orang gadis itu berdiri dan melayani dua orang laki-laki yang mulai makan itu, akan tetapi Nurseta merasa tidak enak dilayani puteri-puteri bangsawan itu.

"Harap andika bertiga makan bersama agar aku tidak merasa sungkan."

Katanya. Raden Hendratama tertawa.

"Duduklah kalian bertiga dan mari makan bersama. Memang akan lebih lezat rasanya kalau kembul bnojana (makan bersama).!"

Tiga orang gadis itupun duduk dan Nurseta melihat bahwa meja besar ini penuh dengan hidangan yang serba lezat.

Heran dia melihat adanya hidangan dari bermacam daging.

Ada daging ayam yang tentu saja mudah menyembelih ayam piaraan sendiri.

Akan tetapi yang membuat dia terheran-heran adalah melihat adanya daging ikan seperti lele, baber dan lain-lain.

Juga tersedia masakan daging kambing dan kerbau!

"Bukan main!"

Dia berseru.

"Bagaimana andika sekalian bisa mendapatkan segala macam daging ini?"

"Hi-hik! Bukan sulap bukan sihir Kangmas Nurseta. Ayam dan ikan-ikan itu dipeliharaan kami sendiri, dan daging kerbau dan kambing itu kami dapatkan dari sebuah dusun tak jauh dari sini. Katanya semua dan seadanya harus dikeluarkan!"

Kata Kenangasari yang centil.

"Aduh, kalau begitu aku benar-benar membuat andika semua repot sekali!"

"Ayolah, anakmas. Jangan sungkan lagi. Makan saja seadanya, cicipi satu demi satu. Kalau ada hidangan yang tidak andika makan, pembuatnya tentu akan kecewa."

Kata Raden Hendratama sambil tertawa.

"Kalau masakanku tidak dicicipi, aku akan menangis!"

Kata Kenangasari.

"Aku juga!"

Kata Widarti.

"Dan aku akan marah!"

Kata Sukarti.

Nurseta tersenyum dan karena dia tidak tahu mereka bertiga itu masing-masing masak yang mana, terpaksa dia mencicipi semua hidangan yang tersedia.

Hal ini mudah saja dia lakukan karena memang perutnya sudah amat lapar.

Sejak pagi tadi, sehari penuh, dia tidak makan.

Kini dengan tubuh sehat perut lapar dan suasana menggembirakan, tentu saja dia dapat makan dengan lahapnya, membuat tiga orang gadis itu tampak gembira sekali.

Setelah selesai makan minum, Raden Hendratama mengajak Nurseta duduk kembali ke ruangan depan.

Kepada tiga orang gadis itu dia berkata.

"Bersihkan dan persiapkan kamar tamu itu untuk Anakmas Nurseta dan aku minta agar kalian bertiga beristirahat di dalam. Jangan mengganggu kami yang akan bercakap-cakap."

Tiga orang gadis itu terang-terangan memperlihatkan muka cemberut.

Bibir-bibir yang manis itu diruncingkan, mata yang indah jeli itu mengerling manja dan marah, akan tetapi tidak ada yang berani membantah.

Diam-diam Nurseta sendiri juga merasa kecewa karena akan lebih menggembirakan baginya kalau bercakap-cakap dengan dihadiri mereka bertiga yang lincah itu.

Akan tetapi tentu saja dia tidak berani menanggapi perintah Raden Hendratama kepada para puterinya itu dan mengikuti tuan rumah menuju ke ruangan depan.

Setelah duduk di atas kursi, Raden Hendratama melihat betapa Nurseta memandang ke arah keris dan tombak yang tergantung di dinding, agaknya mengagumi warangka dan gagang yang terukir indah itu.

"Aku sejak dulu memang suka mengumpulkan keris dan tombak pusaka, anakmas. Biarpun aku bukan seorang empu pembuat keris, namun aku pandai mengukir gagang warangka. Lihat ini, keris ini kuberi gagang dan warangka yang terbuat dari kayu cendana."

Dia mengambil sebatang keris dalam sarung keris yang mengkilap dan terukir indah, memperlihatkannya kepada pemuda Itu.

Nurseta menerima dan mengamati gagang dan warangka keris itu.

Memang indah sekali dan mengeluarkan ganda harum cendana.

Setelah Nurseta mengemballkannya, Raden Hendratama menyelipkan keris itu di ikat pinggangnya.

Kemudian bekas pangeran itu memandang kearah keris yang terselip di pinggang Nurseta.

"Oya, apa namanya keris yang andika temukan itu, anakmas?"

Pertanyaan ini terdengar sambil lalu saja, seperti tak acuh. Nurseta meraba gagang kerisnya.

"Namanya menurut mendiang eyang guru adalah Megatantra, paman."

"Hemm, rasanya belum pernah aku mendengar nama itu. Bolehkah aku melihatnya sebentar, Anakmas Nurseta?"

"Ah, tentu saja boleh, paman!"

Kata Nurseta dan cepat dia mengambil keris itu berikut warangkanya yang amat sederhana dan menyerahkannya kepada Raden Hendratama.

Raden Hendratama lalu mencabut keris itu dari warangkanya yang sederhana, lalu mengamatinya.

Agaknya dia sudah terbiasa melihat keris-keris pusaka ampuh karena melihat keris Megatantra dia tidak kelihatan kagum atau heran.

Dia meneliti keris itu dan berkata lirih.

"Keris ini mempunyai ganja wuyung berbentuk Kalap Lintah, kudupnya (pucuknya) Kembang Gambir, berdapur Sagara Winotan luk (lekuk) tiga, racikannya Kembang Kacang, Jenggot, dengan Sogokan dua yang satu sampai ujung. Hemm, bukan keris pusaka sembarangan saja, anakmas! Lho, ehh ....."

Tiba-tiba tangan kanan bekas pangeran yang memegang gagang keris itu gemetar lalu menggigil.

Cepat dia menggunakan tangan kirinya untuk mencabut keris bergagang dan berwarangka kayu cendana yang diselipkan di ikat pinggangnya tadi dan melemparkan keris itu ke atas meja.

Seketika tangan kanannya yang memegang Keris Megatantra tidak menggigil lagi!

"Nah, andika melihat sendiri, anakmas!

Kerismu ini memiliki daya yang ampuh sekali.

Karena tadi aku memakai keris pusaka kayu cendana itu daya mereka bertanding dan kerisku kalah ampuh maka tanganku menggigil.

Setelah kulcpaskan kerisku, keadaanku pulih kembali.

Keris pusakamu ini ampuh, sayang sekali diberi gagang dan warangka seburuk ini.

Namanya itu kurang menghargai.

Aku akan memberi hadiah kepada andika anak mas.

Aku masih mempunyai cadangan warangka dan gagang ukiran yang indah.

Biar kuhadiahkan kepadamu dan malam ini akan kupasangkan gagang dan warangka itu kepada kerismu.

Besok pagi-pagi sudah selesai dan andika dapat menerimanya kembali dengan gagang dan warangka baru yang sepadan dengan kehebatan keris pusaka ini."

"Wah, saya hanya merepotkan paman saja!"

Kata Nurseta dengan sungkan sekali.

Masa seorang pangeran harus memasangkan gagang kerisnya, bersusah payah untuknya?

"Sama sekali tidak.

Aku memang suka sekali mendandani sebuah keris pusaka.

Tentu saja kalau andika boleh dan percaya kepadaku, Anakmas Nurseta!"

"Tentu saja saya percaya dan juga merasa senang sekali kalau keris saya mendapatkan gagang dan warangka yang indah. Sebelumnya saya mengucapkan banyak terima kasih atas kebaikan hati paman."

"Tidak perlu berterima kasih, anak mas. Aku malah merasa senang melakukannya. Nah, sekarang anakmas boleh beristirahat, dan aku akan segera mengerjakan pemasangan gagang keris ini."

Dia menengok ke arah dalam dan berseru memanggil.

"Sukarti! Kenangasari! Widarti! Di mana kalian?"

Tiba-tiba saja tiga orang gadis itu muncul dari ruangan dalam sambil tersenyum.

"Kami berada di sini sejak tadi!"

Kata Kenangasari.

"Eh! Kalian sudah sejak tadi di balik pintu, ya? Bukankah tadi kusuruh kalian membereskan kamar tamu untuk tempat tamu kita menginap?"

"Sudah kami persiapkan dengan rapi untuk tamu agung kita."

Kata Sukarti.

"Nah, kamar andika sudah siap, anakmas. Silakan beristirahat."

Kata Raden Hendratama. Nurseta bangkit berdiri.

"Terima kasih, paman."

"Mari, kakangmas, kami antar andika ke kamar tamu."

Kata Widarti.

Nurseta keluar dari ruangan itu dan mengikuti tiga orang gadis yang mengajaknya ke bagian belakang pondok itu.

kamar tamu itu sederhana, namun bersih.

Hanya terdapat sebuah pembaringan, sebuah meja dan empat kursi dalam kamar itu.

Sebuah lampu duduk berada di atas meja.

Nurseta memasuki kamar itu dan dia merasa rikuh sekali melihat betapa tiga orang dara itu ikut pula memasuki kamar!

"Nimas, kalian bertiga dan ayah kalian sungguh telah melimpahkan kebaikan kepadaku.

Tiada habisnya aku merasa berterima kasih.

Sekarang harap andika bertiga meninggalkan aku karena aku hendak mengaso.

Perjalanan sehari tadi amat melelahkan."

"Aeh, kakangmas. Apakah kami tidak boleh duduk-duduk sebentar dalam kamarmu ini?"

Tanya Kenangasari sambil mengerling manis.

Ia dan dua orang saudaranya lalu duduk di atas kursi-kursi itu, ketiganya memandang kepada Nurseta sambil tersenyum manis.

Tentu saja Nurseta merasa sungkan dan tidak enak sekali.

Tiga orang gadis puteri pangeran yang cantik jelita duduk di dalam kamarnya!

Mana dia berani merebahkan diri atas pembaringan kalau mereka bertiga duduk di situ?

Maka diapun lalu duduk dikursi ke empat, menghadapi mereka.

"Katanya mau istirahat, kakangmas. Kalau hendak tidur, tidur sajalah. Kami akan menjagamu."

Kata Sukarti. Nurseta tertawa.

"Wah, kenapa harus dijaga? Seperti anak kecil saja, tidur pakai dijaga!"

"Habis, andika kan tamu agung kami, harus dijaga baik-baik, tentu saja!"

Kata Kenangasari.

"Akan tetapi ..... aku takut dan malu kepada ayah kalian! Beliau tentu akan marah sekali kalau melihat tiga orang puterinya berada di dalam kamar ini bersamaku."

Nurseta membantah.

"Ayah? Dia tidak akan marah. Bukankah dia senang sekali kalau saja kakangmas mau menjadi..... eh..... suami kami?"

Kata Windarti dengan sikap malu-malu kucing.

Dua orang kakaknya tertawa cekikikan.

Nurseta terkejut dan merasa heran bukan main.

Bagaimana sikap tiga orang puteri pangeran itu seperti ini Genit centil dan agaknya kurang bersusila.

Mulailah rasa kagum dalam hatinya terhadap mereka bertiga agak berkurang.

Rasa bimbang dan curiga mulai menyelinap dalam hatinya.

Dia bangkit berdiri.

"Kalau andika bertiga tidak mau keluar dari kamar ini, lebih baik aku yang keluar. Aku akan menanti lewatnya malam ini di ruangan depan saja!"

Setelah berkata demikian Nurseta melangkah dan hendak keluar dari kamar itu.

Tiba-tiba ada tangan lembut memegang lengannya dari belakang.

Ketika dia menengok, yang memegang lengannya itu adalah Sukarti.

Dia merasa heran bagaimana gadis lembut itu begitu cepat dan tiba-tiba memegang lengannya.

Baca Juga: Petualang Asmara 4

Baca Juga: Kisah Sepasang Rajawali 9

Related Posts:

Disqus Comments

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert

© 2017 cerita silat online - Template Created by goomsite - Proudly powered by Blogger