Ceritasilat Novel Online

Keris Pusaka Sang Megatantra 3

Eps 3 Keris Pusaka Sang Megatantra - Kho Ping Hoo

Baca online Keris Pusaka Sang Megatantra - Kho Ping Hoo

Cersil Keris Pusaka Sang Megatantra - Kho Ping Hoo.

Seorang abdi yang ditanyanya memberitahukan bahwa sang puteri juwita sejak tadi berada di dalam kamarnya.

Sang Prabu Erlangga cepat membuka daun pintu kamar yang luas dan indah itu dan pertama kali yang menyambutnya adalah keharuman lembut yang amat menyenangkan hidung dan menyejukkan hati.

Dia melihat selir terkasih itu rebah melungkup di atas pembaringan dengan posisi yang amat indah menawan.

Pakaiannya dari sutera halus itu menempel ketat di tubuhnya, memperlihatkan lekak lengkung tubuh yang menggairahkan, agaknya tersingkap di bagian kaki sehingga tampak betis yang kuning memadi bunting paha yang putih dan halus mulus.

Akan tetapi wanita cantik itu membenamkan mukanya pada bantal dan pundaknya bergoyang-goyang sedikit seperti orang sedang menahan isak tangis.

"Adinda Mandari, engkau kenapa!......?"

Sang Prabu Erlangga menegur lembut.

Mendengar teguran ini, Mandari mengangkat mukanya memandang dan jelas tampak bahwa ia tengah menangis.

Begitu melihat raja yang menjadi suaminya itu, bergegas ia turun dari atas pembaringan, lari menghampiri dan menjatuhkan diri berlutut, merangkul kedua kaki sang prabu sambil menangis.

"Duh gusti sinuwun pujaan hamba mengapa paduka begitu tega kepada hamba .....?"

Sang Prabu Erlangga tertegun, heran lalu tersenyum geli karena menganggap sikap selirnya itu terlalu manja, sikap manja yang bahkan menambah daya tariknya.

Dia merangkul dan membangunkan wanita itu, lalu diajaknya duduk berjajar di tepi pembaringan.

Dengan sentuhan mesra penuh kasih sayang dihapusnya kedua pipi yang agak basah air mata itu lalu diciuminya kedua pipi yang kemerahan, licin halus dan sedap harum mawar itu .

"Apa maksudmu, yayi? Aku tega kepadamu? Aneh-aneh saja engkau ini. Aku selalu cinta dan sayang padamu, mana mungkin aku tega?"

"Buktinya, sinuwun, paduka tega meninggalkan hamba sejak tadi, meninggalkan hamba kesepian dan menanggung rindu ....."

Sang Prabu Erlangga tertawa dan merangkul kekasihnya.

"Ha-ha-ha, diajeng Mandari. Hanya sebentar aku meninggalkanmu karena aku harus menyambut datangnya tamu yang kuhormati, dan engkau mengatakan sudah kesepian dan rindu?"

"Duh sinuwun, kalau paduka tidak berada dekat hamba, hamba merasa seolah kehilangan matahari, gelap gulita kehidupan hamba dan ..... dan ..... hamba khawatir sekali ....."

"Eh? Khawatir? Apa yang kaukhawatirkan, sayangku, Engkau hidup di sini aman, tidak akan ada yang berani mengganggumu, kecuali orang takut kepadaku juga engkau bukan sembarang wanita yang mudah diganggu orang! Apa lagi yang kautakutkan?"

"Ampunkan hamba, sinuwun....., pertapa itu..... baru satu kali hamba bertemu dengannya akan tetapi..... pandang matanya sungguh membuat hamba meriding (meremang), hamba takut padanya gusti. Karena itu, ketika paduka menerima kunjungan Empu Bharada itu..hamba takut.....!"

"Ah, rasa takutmu tidak beralasan diajeng. Paman Empu Bharada adalah seorang yang bijaksana dan sejak dulu beliau menjadi penasehatku yang setia. Sama sekali tidak ada alasannya untuk ditakuti."

"Ampun, sinuwun. Mungkin paduka benar, hamba hanya takut bayang-bayang sendiri. Akan tetapi agar hati hamba dapat menjadi tenang, sudilah kiranya paduka memberitahu kepada hamba, berita apakah gerangan yang dibawa sang Empu itu kepada paduka."

Sang Prabu Erlangga menghela napas panjang.

"Wahai, adinda sayang, agaknya perasaanmu sudah sedemikian pekanya sehingga kerisauan hatiku menembusmu dan membuat engkau menjadi gelisah juga. Akan tetapi apa perlunya aku menceritakan hal yang buruk kepadamu dan yang hanya akan membuat engkau merasa khawatir sehingga akan mengurangi sinar kejelitaan mu?"

"Duh sinuwun pujaan hamba, mengapa paduka berkata demikian? Bukankah hamba ini garwa (isteri) paduka, dan bukankah garwo itu berarti sigaraning nyowo (belahan nyawa) suami dan isteri Itu selalu sehidup semati dengan suaminya, suka sama dinikmati dan duka sama ditanggung, swargo nunut neroko katut(Ke surga ikut ke neraka terbawa)?"

Mendengar ini, Sang Prabu Erlangga melupakan kerisauan hatinya.

"Heh-heh..heh, yayi Mandari! Ucapanmu itu hanya merupakan pendapat umum yang salah kaprah! Memang benar bahwa garwa adalah sigaraning nyowo, selagi hidup suami isteri sudah selayaknya membagi rasa, suka sama dinikmati dan duka sama ditanggung. Akan tetapi kalau sudah memasuki alam baka, masing-masing mempunyai tangung jawab dan tempat sendiri-sendiri yang sepadan dengan keadaan masing-masing selama hidup didunia. Seorang isteri tidak hanya swarga nunut neroko katut! Betapapun bijaksana sang suami, kalau sang isteri jahat, tidak mungkin ia akan nunut ke surga dengan suaminya. Sebaliknya, betapapun jahatnya sang suami, kalau isterinya baik budi dan bijak, iapun tidak akan ikut ke neraka bersama sang suami."

Dengan manja Mandari lalu menjatuhkan diri menelungkup dan meletakkan mukanya di atas pangkuan Sang Prabu Erlangga yang menggunakan kedua tangan mengelus-elus rambut kepala selir terkasih itu.

Satu di antara daya tarik yang sangat kuat dari wanita ini adalah rambutnya.

Rambut itu halus lemas hitam berikal dan panjangnya sampai ke lutut!

Ketika itu, gelungan rambutnya yang sejak tadi memang longgar itu terlepas dan rambutnya terurai seperti selendang dari benang sutera hitam melibat tubuhnya.

Indah sekali.

"Kalau paduka tidak berkenan dan tidak percaya kepada hamba, paduka tidak menceritakan kepada hamba juga tidak mengapa, sinuwun. Hamba dapat menerimanya, hamba juga rumangsa (tahu diri) bahwa hamba hanyalah seorang selir....."

Kata Mandari manja. Sang Prabu Erlangga merangkulnya.

"Tentu saja aku percaya sepenuhnya kepadamu, yayi. Nah, dengarlah berita yang tidak menyenangkan itu. Paman Empu bharada dating memberi peringatan kepadaku bahwa dia merasakan adanya ancaman malapetaka yang akan melanda Mataram, yaitu akan datangnya perang besar, banjir darah dan bunuh membunuh antara manusia."

"Aduh, sinuwun. Bagaimana mungkin pertapa itu dapat menggambarkan keadaan yang akan datang?"

Tanya Mandari dengan hati terkejut dan cemas.

"Engkau tidak tahu, diajeng. Paman Empu Bharada adalah seorang yang bijaksana dan sidda paningal (sempurna penglihatan batinnya) sehingga dia seolah dapat mengetahui atau merasakan hal-hal yang belum terjadi."

"Sinuwun, kalau begitu, paduka harap tenang dan jangan khawatir. Hambamu ini yang siap untuk membantu, kalau perlu berkorban nyawa, untuk menjaga keselamatan paduka."

"Hemm, aku senang mendengar ucapanmu yang menunjukkan kesetiaanmu Mandari. Akan tetapi aku tidak menkhawatirkan keselamatan sendiri, yang kuprihatinkan adalah kemelut yang mengorbankan nyawa banyak kawulak itu. Yah, kalau Sang Hyang Widhi sudah menghendaki demikian, apa yang dapat kita lakukan? Menurut Paman Empu Bharada, semua itu merupakan akibat dari pada sebab, akan tetapi aku belum dapat menemukan apa yang menjadi sebab datangnya ancaman marabahaya ini."

"Ah, paduka pujaan hamba, harap jangan berduka. Hamba sanggup untuk membantu paduka mencari apa yang menjadi penyebabnya."

Dengan gaya yang amat menarik dan memikat, Mandari mempergunakan semua kecantikan dan kepandaiannya untuk menghibur hati Sang Prabu Erlangga.

Harus diakui bahwa Mandari, seperti juga kakaknya, Lasmini yang menjadi selir Ki Patih Narotama, biarpun ketika diboyong ke Kahuripan masih gadis dan belum pernah berhubungan dengan pria, namun dalam hal memikat hati pria memiliki bakat dan kepandaian istimewa.

Semua ini mereka dapatkan dari lingkungan pergaulan di istana Kerajaan Parang siluman.

Sang Prabu Erlangga yang memang sedang terpesona oleh kecantikan Mandari, segera dapat terhibur dan tenggelam dalam lautan madu asmara dengan buih-buih nafsu berahinya yang memabokkan, lupa akan segala.

Betapapun pandai dan kuatnya seorang manusia, tetap saja dia merupakan mahluk lemah yang terkadang menjadi bodoh dan lemah tak berdaya, ringkih dan menjadi permainan dari nafsunya sendiri Nafsu yang telah diikut sertakan kepada manusia sejak dia lahir, yang semestinya menjadi peserta dan pelayan manusia agar manusia dapat bertahan hidup dan dapat menikmati kehidupan di dunia ini seringkali berubah menjadi majikan yang menyesatkan.

Kita ditungganginya, dipermainkannya, hati akal pikiran kita dikuasainya sehingga kita menuruti segala kehendaknya, kehendak iblis yang bersenjatakan nafsu, kita ditundukkan dengan pancinganpancingan kesenangan dan kenikmatan duniawi, dengan umpan pancingan yang serba enak-kepenak.

Oleh karena itulah, seorang yang bijaksana akan selalu eling (ingat) dan waspada, ingat setiap saat kepada Sang Hyang Widhi, mohon kekuatan dan bimbinganNya dan waspada terhadap gejolaknya nafsu daya rendah yang selalu siap menerkam dan menguasai kita.

Pemuda itu duduk diam bagaikan arca di atas batu karang besar itu.

Batu karang yang cukup tinggi sehingga pecahan air laut bergelombang yang membentur karang itu tidak sampai mencapai pemuda itu.

Dia memegang sebatang walesan (tangkai pancing), duduk diam tak bergerak sedikitpun, sepasang matanya menatap tali pancing yang sebagian tenggelam dalam air, yang bergoyang-goyang terbawa air berombak, hampir tak pernah berkedip.

Perasaannya berpusat pada jari tangan yang memegang tangkai pancing karena dari situlah dia akan dapat mengetahui apabila umpannya disambar ikan.

Pemuda itu berusia kurang lebih dua puluh tahun.

Tubuhnya tinggi tegap, bentuknya gagah dan kokoh seperti Sang gatotkaca.

Kedua lengannya tampak berisi kekuatan dahsyat.

Wajahnya yang tertutup sebuah caping lebar itu tampan dan gagah.

Matanya lebar dan mencorong, hidungnya mancung dan mulutnya terhias senyum mengejek yang membayangkan keangkuhan.

Pakaiannya terbuat dari kain halus, potongannya seperti bangsawan!

kain pengikat kepalanya juga baru, dilibatkan di kepalanya dengan bentuk yang khas, ujungnya berdiri meruncing di bagian belakang.

Kain pengikat kepala ini tersembunyi di bawah caping lebar yang dipakainya untuk melindungi wajahnya yang tampan halus dari sengatan panas matahari siang itu.

Sudah berjam-jam dia duduk memancing di atas batu karang itu, namun belum sekalipun juga umpan pancingnya disentuh ikan.

Alisnya yang tebal berkerut, pandang matanya mulai tak sabar.

Tangan kirinya meraih ujung batu karang dan sekali dia mengerahkan tenaga, ujung batu karang itu sempal (terpotong patah) Kemudian pandang matanya mencari cari ke atas permukaan air yang bergerak-gerak di bawah batu karang.

Pandang mata yang tajam itu dapat menangkap berkelebatnya bayang-bayang dalam air dan tiba-tiba tangan kiri yang memegang potongan batu karang sebesar kepalan itu bergerak cepat.

Batu karang itu meluncur ke arah air.

"Syuuuuutt ..... cupp .....!!"

Batu karang itu masuk ke air dan tampak air bergerak keras, memercik-mercik ke atas dan seekor ikan meloncat ke atas permukaan air, lalu mengambang dengan perutnya yang putih di atas.

Ikan sebesar paha manusia itu mati dengan kepala pecah!

Bukan main hebatnya sambitan batu karang itu, dapat mengenai kepala ikan yang berenang di bawah permukaan air dengan tepat dan sekaligus membuat kepala yang keras itu pecah!

Wajah tampan itu tersenyum dan tangan kirinya menepuk caping di kepalanya.

'Tolol kau!

Datang ke sini bukan untuk mencari ikan, melainkan untuk berlatih kesabaran!"

Siapakah pemuda yang tangkas ini?

Dia adalah Lingga jaya, pemuda putera kepala dusun Suramenggala dusun Karang Tirta yang lima tahun lalu diculik kemudian menjadi murid Resi Bajrasakti dan dibawa ke Kerajaan Wengker.

Selama lima tahun, dia telah digembleng oleh gurunya, kini dia telah menguasai berbagai aji kesaktian yang dahsyat.

Resi Bajrasakti senang dan puas hatinya melihat muridnya ini karena pemuda ini benar-benar berbakat baik sehingga dalam waktu lima tahun saja telah mampu menerima semua ajiannya.

Hanya sedikit yang dianggapnya masih kurang pada diri Linggajaya, yaitu kesabaran.

Karena itu selama beberapa hari dia menyuruh muridnya itu melatih kesabaran dengan memancing ikan di Laut Kidul.

Sejak pagi tadi Linggajaya melatih kesabaran dan memancing, akan tetapi karena sampai siang belum juga ada ikan menyentuh umpan pada pancingnya, ia menjadi kesal dan membunuh seekor ikan besar dengan sambitan batu karang.

Akan tetapi dia mencela diri sendiri dan teringat bahwa pekerjaannya memancing ikan hanya merupakan latihan kesabaran dan ketenangan dan dia merasa bahwa latihannya gagal karena dia merasa kesal dan tidak sabar.

Linggajaya lalu membuang tangkai pancingnya ke laut dan dia segera bangkit dan melompat dari batu karang itu ke batu karang yang lain.

Dengan tubuh ringan dia berloncatan sampai akhirnya ia tiba di tepi pantai.

Kemudian dia berlari cepat menuju ke utara, ke Kerajaan Wengker.

Larinya cepat bukan main sehingga yang tampak hanya bayangannya berkelebat.

Inilah merupakan satu di antara aji kesaktian yang sudah dikuasai Linggajaya.

Tubuhnya menjadi ringan dan tenaga yang mendorongnya meluncur ke depan amat kuatnya.

Di samping aji kanuragan yang membuat pemuda ini menjadi seorang yang digdaya, dia juga mewarisi ilmu-ilmu sihir yang diajarkan gurunya.

Bukan hanya kesaktian yang diperolehnya, namun lingkungan hidup di Kerajaan Wengker yang penuh kemaksiatan itupun mempengaruhi watak Linggajaya.

Pada dasarnya, ketika masih menjadi pemuda putera lurah di Karang Tirta, dia sudah merupakan seorang pemuda yang tinggi hati, manja, mengandalkan kedudukan ayahnya sebagai orang "nomor satu"

Di dusun Karang Tirta dan suka bertindak sewenang-wenang melindas siapa saja yang berani menentangnya.

Setelah menjadi murid Resi Bajrasakti dan hidup di Kerajaan Wengker selama lima tahun, tabiatnya tidak berubah bahkan dipengaruhi lingkungan yang lebih bejat lagi!

Akan tetapi, dia kini berubah menjadi seorang pemuda yang ganteng, pesolek, pandai membawa menutupi watak buruknya dengan penampilan yang menyenangkan.

Wataknya yang mata keranjang sejak remaja menjadi lebih matang dan dia terkenal sekali di antara para gadis di kota raja Wengker, baik para puteri di lingkungan istana maupun para gadis yang tinggal di luar istana.

Dia terkenal sebagai seorang pemuda perayu yang membuat banyak gadis tergila-gila.

Resi Bajrasakti sendiri adalah seorang yang suka memperdalam ilmu sesatnya dengan cara yang cabul dan kotor, lihat ulah muridnya, dia tidak menegur, tidak marah, bahkan merasa bangga dan sering memuji Linggajaya sebagai seorang pria yang "jantan"

Seperti Sang Arjuna.

Tentu saja pujian gurunya ini membuat Linggajaya menjadi semakin berkepala besar dan semakin nekat.

Bukan saja para gadis yang cantik menarik dirayunya, bahkan dia berani merayu isteri orang yang menarik hatinya.

Tidak ada wanita yang tidak jatuh oleh rayuannya karena dia menggunakan aji pameletan yang ampuh!

Hanya sayang, Linggajaya menganggap para wanita di Kerajaan Wengker kurang menarik, gerak geriknya kasar sehingga jarang ada wanita yang benar-benar menarik perhatiannya.

Di kerajaan tetangga, yaitu Kerajaan parang Siluman yang berada di pantai Laut Kidul, di sanalah tempatnya para Wanita yang cantik jelita dan menarik.

Menurut dongeng, daerah itu dahulu menjadi tempat para pangeran dan bangsawan tinggi Mataram bertamasya dan para bangsawan itu banyak yang memadu kasih dengan para wanita daerah itu sehingga keturunan mereka berwajah elok.

Prianya ganteng-ganteng, wanitanya cantik-cantik dan berkulit kuning mulus.

Akan tetapi Linggajaya tidak berani bermain gila di daerah Kerajaan Parang siluman yang diperintah oleh Ratu Durgakala yang terkenal cantik jelita.

Daerah ini merupakan daerah larangan.

Gurunya, Resi Bajrasakti berulang kali memperingatkan agar dia tidak mengganggu para wanita daerah kerajaan kecil itu karena Kerajaan Parang Siluman itu biarpun kecil memiliki banyak orang sakti dan kerajaan itupun menjadi sahabat Kerajaan Wengker dalam menghadapi Mataram atau yang kini disebut Kerajaan Kahuripan.

Pernah pasukan Mataram dahulu menyerang Kerajaan Wengker, namun berkat perlawanan Raja Wengker, yaitu Raja Adhamapanuda, dibantu oleh pasukan Kerajaan Parang Siluman, maka serangan Mataram yang berkali-kali itu gagal.

Sampai sekarang masih berlangsung semacam "perang dingin"

Antara Kahuripan dengan Wengker dan Parang Siluman.

KETIKA LINGGAJAYA tiba di perbatasan antara daerah Parang Siluman dan daerah Wengker, di sebuah dusun, matahari telah condong ke barat, bunyi gamelan menarik perhatiannya dan ia pun memasuki dusun itu, selain untuk melihat ada perayaan apa di dusun Sumber itu, juga karena perutnya terasa lapar dan dia ingin mendapatkan makanan.

Setelah tiba di tempat keramaian, ternyata ada pesta perayaan pernikahan di rumah kepala dusun Sumber itu.

Putera kepala dusun itu sedang melangsungkan pernikahan dengan seorang gadis dari daerah Parang Siluman.

Linggajaya tersenyum girang.

Kebetulan sekali, pikirnya tersedia hidangan yang enak untuknya.

Maka tanpa ragu-ragu lagi diapun memasuki tempat perayaan itu.

Karena seorang pemuda ganteng yang berpakaian seperti seorang bangsawan, maka lurah Sumber yang bernama Kartodikun itu menyambutnya dengan hormat dan Linggajaya malah mendapat tempat terhormat, di jajaran para tamu yang dihormati, dekat tempat duduk kedua mempelai!

Ketika hidangan disuguhkan, Linggajaya makan sampai kenyang dan setelah makan barulah dia memperhatikan sekitarnya.

Baru dia melihat dengan hati terguncang betapa ayu manisnya mempelai wanita itu!

Kulitnya yang kuning mulus, wajahnya yang manis, segera menarik hatinya.

Di daerah Wengker jarang dia melihat gadis secantik itu!

Dia mengerling ke arah mempelai pria.

Seorang pemuda yang bertubuh tinggi besar dan bersikap kasar, ciri khas orang-orang Kerajaan Wengker.

Sayang sekali, pikirnya, gadis yang begitu ayu manis, bertubuh mulus menggairahkan, akan menjadi isteri seorang laki-laki yang buruk rupa dan kasar!

Dari tempat duduknya, Linggajaya lalu mengerahkan tenaga batinnya melalui pandang mata yang tertuju kepada mempelai wanita yang sejak tadi menundukkan mukanya itu.

Sebentar saja mempelai wanita itu terpaksa mengangkat muka karena ada Suatu dorongan yang amat kuat memaksanya untuk mengangkat muka dan menoleh ke kanan.

Pandang mata gadis itu bertemu dengan wajah Linggajaya dan seketika gadis itu terpesona.

Di antara para tamu, apa lagi dibandingkan pria yang duduk di sampingnya sebagai calon suaminya, maka Linggajaya tampak seperti Arjuna di antara para raksasa!

Linggajaya juga memandang.

Dua pasang mata bertemu pandang, bertaut sejenak.

Linggajaya tersenyum kepada mempelai wanita itu.

Gadis itupun tersipu, menundukkan mukanya lagi dengan senyum tersungging di bibirnya yang manis.

Kenyataan ini merupakan tanda yang cukup jelas bagi Linggajaya dan dia pun sudah mengambil keputusan untuk menggunakan kesempatan itu dan bersenang-senang malam ini di rumah Ki Lurah Kartodikun!

Ketika para tamu dibubaran, diapun ikut keluar.

Malam itu, rumah ki lurah masih meriah dengan bunyi gamelan.

Tamunya tidak banyak karena yang datang hanya yang siang tadi tak sempat datang dari perayaannya siang tadi.

Akan tetapi gamelan masih terus dimainkan, mengiringi suara tiga orang pesinden.

Banyak orang yang menonton di luar pagar pekarangan.

Akan tetapi, sepasang mempelai tidak tampak di luar.

Mereka sudah lelah mengikuti upacara dan pesta sehari tadi dan kini mereka berdua sudah berada di kamar pengantin yang dijaga beberapa orang di luar pintu kamar untuk melindungi mereka dari gangguan.

Tampaknya semua aman saja dan semua orang, sambil tersenyum penuh pengertian, saling berbisik dan mengira bahwa sepasang mempelai tentu sedang berasyik masyuk sendiri.

Akan tetapi, tidak ada seorangpun menduga apa lagi mengetahui, bahwa begitu sepasang mempelai tadi memasuk kamar dan memasang palang pada daun pintu dari dalam, terjadilah sesuatu yang luar biasa.

Ketika putera Lurah dusun Sumber itu selesai memasang palang pintu dan hendak menggandeng tangan isterinya menuju ke pembaringan, tiba-tiba dia melihat halimun atau asap putih turun dari atap memasuki kamar itu.

Sarju, mempelai pria yang berusia sekitar tiga puluh tahun itu adalah seorang pemuda Wengker yang rata-rata memiliki kegagahan dan keberanian.

Dia pun tidak asing dengan keanehan yang terjadi sebagai hasil Ilmu sihir, maka tahulah dia bahwa ada sesuatu yang tidak beres memasuki kamarnya.

Mungkin sebangsa siluman atau orang yang mempergunakan ilmu setan.

Sementara itu, Sarikem, mempelai wanita yang berusia delapan belas tahun, juga melihat halimun atau asap putih yang turun dari atas itu.

Ia menjadi ketakutan dan cepat berlari dan naik ke atas pembaringan, mepet di dinding sambil memandang kearah Sarju yang sudah mencabut kerisnya.

"Setan! Kalau berani, perlihatkan mukamu!"

Bentak Sarju.

Halimun atau asap putih itu membuyar dan tampaklah seorang pemuda tampan berdiri sambil bertolak pinggang menghadapi Sarju, lalu pemuda itu menoleh ke arah Sarikem dan tersenyum.

Sarikem melihat dengan mata terbelalak bahwa pemuda itu bukan lain adalah pemuda ganteng yang dilihatnya menjadi tamu dalam pesta siang tadi.

Pemuda itu adalah Linggajaya yang mempergunakan Aji Panglimutan.

Melihat pemuda ini, Sarju terkejut dan heran karena dia belum pernah melihatnya.

Siang tadi dia tidak memperhatikan para tamunya dan tidak melihat Linggajaya.

"Heh! Siapa kamu? Berani mati memasuki kamar tanpa ijin!"

Bentak Sarji Suaranya cukup lantang dan hal ini memang dia sengaja untuk menarik perhatian para penjaga di luar kamarnya.

Akan tetapi tanpa dia sadari, Linggajaya telah mengerahkan kekuatan sihirnya sehingga pada saat itu suara Sarju yang dirasakannya lantang itu hanya terdengar lirih saja sehingga tidak mungkin terdengar dari luar kamar.

(Lanjut ke

Jilid 08) Keris Pusaka Sang Megatantra (seri ke 01 -Serial Keris Pusaka Sang Megatantra) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo

Jilid 08

"Aku adalah Dewa Asmara. Aku lebih berhak atas diri gadis ini daripada engkau!"

Sarju marah sekali dan sambil mengeluarkan suara gerengan seperti harimau terluka dia sudah menerjang dengan kerisnya.

Dengan pengerahan tenaganya dia menusukkan keris itu ke arah perut Linggajaya.

Linggajaya sudah dapat menduga bahwa laki-laki tinggi besar itu hanya mengandalkan tenaga kasar saja dan kerisnyapun bukan pusaka ampuh, maka sambil tersenyum saja membiarkan perutnya ditusuk.

"Singg ....."

Keris itu berdesing dan dengan kuatnya menghujam ke arah perut LinggaJaya. Melihat ini, Sarikem memejamkan matanya karena ngeri membayangkan perut pemuda tampan itu akan mengucurkan darah.

"Tuk-tuk.....!"

Dua kali keris itu menusuk perut, akan tetapi alangkah kagetnya hati Sarju ketika merasa seolah kerisnya bertemu dengan baja!

Dia menjadi penasaran sekali melihat bahwa yang tertusuk robek hanya baju pemuda itu.

Maka dia mengerahkan seluruh tenaganya, kini menusuk ke arah dada.

"Wuuuttt ..... krekkk .....!"

Kerisnya patah menjadi dua dan sebelum dia dapat berbuat sesuatu, tangan kiri Linggajaya menampar ke arah leher Sarju.

"Wuutt ..... plak ......'"

Sarju terkulai roboh dan tak dapat bergerak lagi karena tamparan itu membuat dia pingsan Dengan kakinya Linggajaya mendorong tubuh Sarju yang pingsan itu ke kolong pembaringan sehingga tidak tampak.

Sarikem yang tadi memejamkan mata setelah tidak mendengar adanya gerakan lagi, lalu memberanikan diri membuka matanya dengan hati merasa ngeri.

Akan tetapi ia terbelalak heran melihat pemuda ganteng itu berdiri di dekat pembaringan sambil tersenyum kepadanya sedangkan calon suaminya tidak tampak lagi.

Biarpun Sarikem amat kagum dan tertarik kepada pemuda yang ganteng itu, berbeda jauh dari calon suaminya yang hilang, namun karena pemuda itu asing baginya, ia merasa khawatir juga, Kalau saja ia menjadi hamba manusia.

Akan tetapi, kalau sampai nafsu berahi memperhamba manusia, maka seperti nafsu-nafsu lainnya, ia akan menyeret manusia ke dalam perbuatan-perbuatan jahat dan tidak bersusila.

Kalau nafsu berahi memperhambakan manusia maka muncullah perjinaan, pelacuran, bahkan perkosaan!

Linggajaya juga menjadi hamba nafsu berahi sehingga dia melakukan perbuatan yang hina dan keji.

Gamelan di ruangan depan rumah Ki Lurah Kartodikun yang semalam suntuk dibunyikan itu akhirnya berhenti setelah fajar menyingsing dan terdengar ayam jantan berkokok menyambut munculnya cahaya lembut yang menandakan bahwa matahari akan segera tersembul di balik bukit.

Sarju yang tadinya rebah pingsan di kalong pembaringan, kini membuka mata dan siuman dari pingsannya, seperti orang baru bangun tidur.

Dia merasa bingung karena mendapatkan dirinya rebah di kolong pembaringan.

Ketika pandang matanya bertemu dengan keris patah yang menggeletak di sudut kamar, teringatlah dia akan perkelahiannya semalam melawan pemuda asing itu.

Dia segera menggulingkan dirinya keluar dari bawah pembaringan lalu bangkit berdiri.

Matanya terbelalak dan mukanya merah sekali ketika dia melihat Sarikem tidur pulas berangkulan dengan pemuda yang semalam memasuki kamar itu.

"Jahanam busuk!"

Bentaknya dan dia melupakan pengalaman semalam betapa dia sama sekali bukan tandingan pemuda yang sakti mandraguna itu.

Setelah membentak dengan suara lantang, dia lalu menangkap lengan Linggajaya dan menyeretnya turun dari atas pembaringan!

Sarikem terbangun dari pulasnya oleh gerakan dan suara ini, dan ia membuka matanya, terkejut melihat Sarju menyeret Linggajaya turun dari pembaringan.

Ia bangkit duduk dan menjerit karena kaget dan takut.

Linggajaya segera sadar dan dia melihat Sarju sudah mengayun kepalan tangannya untuk memukul mukanya.

Linggajaya menggerakkan tangan kanan, miringkan tubuh dan menangkap lengan yang bergerak memukulnya.

Sekali mengerahkan tenaga dan jari-jari tangannya mencengkeram, tulang lengan Sarju menjadi patah-patah.

Sarju berteriak mengaduh, akan tetapi kaki Linggajaya menendangnya dan tubuhnya terlempar menabrak pintu kamar.

Begitu kuatnya tubuhnya menabrak daun pintu sehingga daun pintu itu jebol dan tubuh Sarju menggelinding keluar.

Empat orang yang bertugas jaga di luar kamar pengantin adalah jagoan-jagoan yang menjadi jagabaya (penjaga keamanan) di dusun Sumber.

Tadipun mereka sudah merasa heran mendengar suara Sarju memaki di dalam kamar itu.

Kini terdengar suara gedubrakan dan tiba-tiba daun pintu jebol dan tubuh Sarju menggelinding keluar.

Tentu saja mereka terkejut sekali.

Mereka cepat melonggokan dalam kamar dan melihat seorang pemuda tampan sedang membereskan pakaian yang tadinya awut-awutan, sedang mempelai wanita mendekam di atas pembaringan sambil menangis ketakutan.

Tanpa dikomando lagi empat orang jagoan itu segera berlompatan masuk dalam kamar, mengepung Linggajaya yang membereskan pakaiannya sambil tersenyum dengan sikap tenang sekali.

"Hei, siapakah engkau? Menyerahlah untuk kami tangkap!"

Bentak seorang diantara mereka yang kumisnya tebal dan panjang melintang.

Linggajaya membereskan kain pengikat kepala sambil tersenyum dan tidak tergesa-gesa, setelah semua pakaiannya beres dan rapi kembali, baru dia berkata "Kalian hendak menangkap aku?

Nah tangkaplah kalau kalian bisa!"

Si kumis tebal memerintahkan temannya yang bertubuh gempal pendek.

"Suro, tangkap dan belenggu kedua tangannya Kita hadapkan kepada Ki Lurah!"

Suro yang bertubuh pendek gempal dan tampaknya kokoh kuat itu segera maju dan dia sudah membawa segulung tali.

Dengan cepat dia menangkap lengan kiri Linggajaya, menelikungnya ke belakang, disatukan dengan lengan kanan lalu mengikat kedua pergelangan tangan pemuda itu dengan kuat.

Linggajaya tersenyum geli seolah melihat pertunjukan yang lucu.

Setelah kedua lengan itu diikat kuat kuat, si kumis tebal membentak pemuda tampan itu.

"Hayo ikut kami menghadap Ki Lurah!"

Akan tetapi Linggajaya menggerakkan dua tangannya dan tali yang membelenggunya itu putus, kedua lengannya sudah bebas lagi.

"Hemm, kalian anjing-anjing buduk pergilah dan jangan mengganggu aku!"

Kata Linggajaya.

Empat orang itu terkejut dan marah sekali.

Mereka mencabut klewang (golok) yang terselip di pinggang lalu menyerang pemuda itu dari depan, belakang, kanan dan kiri.

Akan tetapi Linggajaya dengan gerakan cepat memutar tubuhnya seperti gasing, kedua tangannya bergerak cepat empat kali dan empat orang itu berpelantingan dan tidak mampu bangkit kembali!

Linggajaya lalu menghampiri pembaringan, mengelus rambut yang terurai itu dan mencubit dagu Sarikem, lalu berkata.

"Manis, aku pergi sekarang."

Sarikem yang kebingungan dan ketakutan, menjerit.

"Kakangmas, bawalah aku pergi! Aku ikut.....!"

Akan tetapi Linggajaya sudah melompat ke atas dan menjebol atap yang semalam dia tutup kembali ketika memasuki kamar itu.

Mana dia mau perduli kepada Sarikem.

Setelah apa yang terjadi semalam nafsunya telah terlampiaskan dan dia tidak mau mengacuhkan lagi gadis itu, tidak mau tahu nasib apa yang akan menimpa dirinya.

Tentu saja dia tidak sudi membawa pergi Sarikem yang hanya akan menjadi beban saja baginya Setelah keinginannya tercapai, diapun tidak menginginkan lagi wanita itu!

Dengan mempergunakan kesaktiannya Linggajaya berlari seperti angin cepat dan menjelang tengah hari dia sudah sampai di rumah tinggal Resi Bajrasakti yang berupa sebuah gedung yang cukup mewah Resi Bajrasakti merupakan datuk Kerajaan Wengker, menjadi penasihat utama dari Raja Adhamapanuda, yaitu raja Wengker yang berusia empat puluh lima tahun.

Linggajaya disambut oleh empat orang wanita muda yang rata-rata berwajah cantik.

Mereka adalah selir-selir Resi Brajasakti dan mereka juga diam-diam mengadakan hubungan gelap dengan Linggajaya, bahkan mereka berempat ini yang menjadi "guru-guru"

Pemuda itu dalam olah asmara.

Tentu saja Resi Bajrasakti tidak mudah dikelabui dan tahu bahwa empat orang selirnya itu bermain gila dengan muridnya.

Akan tetapi dasar perangainya sendiri sudah bobrok dia tidak menjadi marah bahkan merasa bangga karena muridnya itu tidak saja mewarisi ilmu-ilmunya, bahkan juga mewarisi wataknya yang mata keranjang dan tidak mau melewatkan wanita cantik begitu saja!

Ketika Linggajaya memasuki ruangan dalam, gurunya sedang duduk di situ.

Linggajaya cepat memberi hormat kepada gurunya.

"Bapa guru,"

Katanya sebagai salam.

"Hemm, Linggajaya, bagaimana dengan latihanmu? Sudahkah engkau dapat memupuk kesabaranmu? Kesabaran itu penting sekali agar engkau dapat mengendalikan diri, tidak menjadi mata gelap dan lengah karena dipengaruhi perasaan."

"Sudah, bapa. Baru pagi tadi saya berhenti memancing."

"Bagus, sekarang bergantilah pakaian yang pantas. Kita harus menghadap Gusti Adipati."

"Menghadap Gusti Adipati? Ada kepentingan apakah, bapa resi?"

"Ada tugas penting untukmu. Engkau sudah cukup mempelajari semua aji kanuragan dariku. Kepandaian itu harus kaupergunakan untuk mencari kedudukaan dan kemuliaan. Gusti Adipati hendak menyerahkan tugas penting kepadamu. Engkau harus menyanggupinya, dan kalau engkau berhasil dengan tugasmu itu, ha ha, tentu engkau akan memperoleh kedudukan yang tinggi."

Linggajaya lalu pergi mandi dan berganti pakaian baru.

Kemudian bersama gurunya mereka pergi menghadap Adipati Adhamapanuda yang menjadi raja Kerajaan Wengker.

Sebagai penasihat raja atau adipati, Resi Bajrasakti dapat masuk sewaktu-waktu ke istana tanpa ada perajurit pengawal yang berani menghalanginya.

Setelah tiba di ruangan depan istana, Resi Bajrasakti memanggil kepala pengawal dan menyuruhnya menghadap dan melaporkan kepada Adipati Adhamapanuda bahwa dia bersama muridnya mohon menghadap.

Setelah kepala pengawal pergi ke dalam istana, guru dan murid itu duduk menanti di pendopo itu.

Biarpun sudah beberapa kali Linggajaya memasuki istana diajak gurunya, tetap saja kini dia masih mengagumi ruangan istana yang indah dengan prabot ruangan yang serba bagus dan mewah.

Gedung tempat tinggal gurunya yang besar itupun bukan apa-apa dibandingkan dengan istana adipati.

Apa lagi rumah orang tuanya di Karang Tirta, walaupun merupakan rumah terbesar dan terindah di dusun itu, namun seolah sebuah gubuk miskin saja dibandingkan istana ini!

Diam-diam timbul keinginan dalam hatinya.

Kalau saja dia yang menjadi raja dan memiliki istana ini!

Alangkah akan senangnya dan bangganya!

Lamunan Linggajaya membuyar ketika kepala pengawal itu muncul dan mengatakan kepada Resi Bajrasakti bahwa sang adipati telah menanti di ruangan samping, di mana sang adipati biasa menerima para pamong praja dan pembantunya.

Ruangan itu luas sekali dan Raja Adhamapanuda sudah duduk di atas kursi kebesarannya dan di depannya telah disediakan kursi untuk Resi Bajrasaki yang menjadi penasihatnya.

Setelah memberi hormat, sang resi duduk atas di kursi itu dan Linggajaya duduk bersila menghadap sang adipati atau Raja Wengker itu.

"Ah, kakang resi telah datang sama muridmu. Siapa nama muridmu ini kakang resi? Aku lupa lagi namanya."

Kata raja yang bertubuh tinggi besar bermuka brewok dan kedua lengannya berbulu lebat seperti seekor lutung.

Suaranya besar parau dan matanya yang lebar itu memandang penuh selidik kepada Linggajaya yang duduk bersila di depannya.

Karena gurunya memandang kepadanya, Linggajaya lalu menyembah dan menjawab.

"Nama hamba Linggajaya, Gusti."

"Oh ya, sekarang aku ingat. Kakang resi, apakah muridmu ini sudah menguasai semua aji kesaktian yang andika ajarkan kepadanya selama ini?"

"Sudah, Adi Adipati."

"Bagus! Boleh kami mengujinya?"

"Tentu saja, silakan!"

"Heh, Linggajaya, kami ingin menguji kemampuanmu. Beranikah engkau melawan Limantoko, pengawal pribadi kami?"

Tanya sang adipati kepada Linggajaya.

Pemuda itu sudah tahu bahwa Limantoko adalah seorang raksasa yang kokoh kuat dan merupakan jagoan istana Wengker.

Akan tetapi menurut keterangan gurunya, Limantoko hanyalah seorang kasar yang mengandalkan tenaga kasar saja, jadi bukan merupakan lawan yang terlalu berat baginya.

Maka tanpa ragu dia menjawab.

"Hamba sanggup dan berani, gusti adipati."

"Bagus!"

Kata Adipati Adhamapanuda yang lalu bertepuk tangan tiga kali dan muncullah seorang laki-laki berusia kurang lebih empat puluh tahun.

Laki-laki ini memang menyeramkan.

Tubuhnya tinggi besar, dua kali tubuh Linggajaya, bahkan lebih tinggi besar dibandingkan tubuh sang adipati dan tubuh Resi Bajrasakti sendiri.

Seperti seekor gajah dia menghampiri sang adipati dan memberi hormat dengan sembah.

"Limantoko, kami ingin menguji ketangguhan Linggajaya ini. Lawanlah dia agar kami dapat mengetahui sampai di mana kemampuannya."

"Sendika melaksanakan perintah paduka!"

Kata Limantoko yang segera bang kit dan menuju ke tengah ruangan yang luas itu, berdiri dengan kedua kaki terpentang dan tampak kokoh kuat seperi batu karang.

Dia menoleh ke arah Linggajaya dan berkata dengan suara lantang.

"Marilah, orang muda, kita main-main sebentar."

Linggajaya menyembah kepada sang adipati, lalu bangkit berdiri dan menghampiri raksasa itu.

"Aku telah siap, andika mulailah!"

Limantoko adalah seorang yang benar benar tangguh karena tenaganya yang besar dan selama ini belum ada orang yang mampu mengimbangi tenaganya.

Tentu saja dia gentar menghadapi Resi Bajrasakti karena dia tahu benar bahwa resi itu adalah seorang yang sakti mandraguna dan tidak dapat dilawan oleh kekuatan tenaganya saja.

Tetapi menghadapi orang lain, dia memandang rendah.

Maka, tidak mengherankan kalau diapun memandang rendah kepada Linggajaya, walaupun dia sudah mendengar bahwa pemuda ini murid Resi Bajrasakti selama lima tahun.

Dia sendiri melatih diri dengan aji kanuragan sejak muda sampai kini berusia empat puluh tahun.

Mana mungkin seorang pemuda yang baru belajar lima tahun saja akan mampu menandinginya?

"Linggajaya jangan membunuhnya,"

Kata Resi Bajrasakti kepada muridnya. Linggajaya menoleh kepada gurunnya sambil tersenyum.

"Baik, bapa."

Pesan Resi Bajrasakti itu membuat Limantoko menjadi merah mukanya dan hatinya merasa panas dan marah.

Dia merasa dipandang rendah sekali dengan pesan resi itu kepada muridnya, seolah sudah yakin bahwa pemuda itu pasti akan mengalahkannya!

Dengan penuh geram dia mulai menyerang.

"Sambut seranganku!"

Bentaknya dan tiba-tiba dia membuat gerakan menerkam seperti seekor biruang menangkap kelinci.

Kedua lengan yang panjang besar itu bergerak dari kanan kiri dan kedua tangan itu mencengkeram ke arah tubuh Linggajaya, agaknya hendak ditangkapnya tubuh yang baginya kecil itu.

Namun kedua tangannya saling bertemu, mengeluarkan bunyi keras karena tubuh yang hendak ditangkapnya itu tibatiba saja lenyap.

Dengan ketangkasannya Linggajaya sudah melompat menghindar kekiri.

Demikian cepat gerakannya sehingga raksasa itu tidak melihat dan tahu-tahu kehilangan lawannya.

Akan tetapi sebagai seorang jagoan, Limantoko mendengar gerakan Linggajaya dan cepat dia sudah memutar tubuh ke kanan.

Begitu melihat Linggajaya, dia sudah menyerang lagi, kini menggunakan lengannya yang panjang, mengayun tangan kanan untuk menampar ke arah kepala lawan dan tangan kirinya menyusul dengan cengkeraman ke arah pinggang pemuda itu.

Serangan ini cepat dan kuat sekali, tamparan itu seperti palu godam raksasa dan kepala Linggajaya dapat remuk kalau terkena dan cengkeraman itupun tidak kalah dahsyatnya.

Namun kembali Linggajaya memperlihatkan kesigapannya.

Dia mengelak ke belakang lalu melompat ke kanan.

Setelah serangannya kembali luput, Limantoko menjadi semakin penasaran.

Dia menyerang bertubi-tubi, dengan tamparan, pukulan, cengkeraman, bahkan tendangan sehingga angin menderu-deru di ruangan itu.

Namun semua serangan itu hanya mengenai tempat kosong belaka.

Linggajaya memang hendak memamerkan kelincahan tubuhnya di depan sang adipati.

Kalau dia mau, hanya dengan elakan-elakannya saja dia akan dapat membuat raksasa itu kehabisan tenaga dan napas karena baginya gerakan manusia gajah itu terlampau lamban.

Limantoko menjadi marah, merasa dipermainkan, maka dia berkata.

"Orang muda, engkau balaslah kalau mampu!"

Akan tetapi agaknya Linggajaya memang hendak memamerkan kemampuannya kepada Raja Adhamapanuda.

Ketika tangan kanan raksasa itu kembali menyambar, mencengkeram ke arah lehernya dia sengaja menangkis dengan tangan kirinya.

"Wuutt ..... tappp .....!"

Lengan kiri Linggajaya dapat dicengkeram, ditangkap oleh tangan raksasa yang besar itu.

Linggajaya menggunakan tangan kanan untuk memukul, juga perlahan saja sehingga Limantoko dapat menangkap pula pergelangan tangan kanannya.

Limantoko girang bukan main telah dapat menangkap kedua pergelangan tangan Linggajaya, sama sekali tidak menduga bahwa pemuda itu memang sengaja membiarkan dirinya ditangkap!

Kini Limantoko sambil menyeringai gembira mengerahkan seluruh tenaganya untuk mengangkat tubuh Linggajaya ke atas, untuk kemudian dibanting walaupun dia tidak akan menggunakan sepenuh tenaganya agar pemuda itu tidak sampai mati.

Akan tetapi alangkah terkejutnya ketika dia mendapat kenyataan betapa kedua tangannya tidak kuat mengangkat pemuda itu ke atas!

Dia berkali-kali mengerahkan seluruh tenaganya sampai mengeluarkan suara ah-ah-uh-uh menahan napas, namun tubuh Linggajaya sama sekali tidak dapat diangkatnya.

Kedua kaki pemuda itu seolah-olah telah berakar di lantai, bagaikan sebatang pohon yang kuat sekali dan tidak dapat dicabut.

Linggajaya sengaja membiarkan dirinya ditangkap hanya untuk memamerkan Aji Selogiri (Batu Gunung) yang membuat tubuhnya seberat batu gunung.

Setelah membiarkan Limantoko berbekah-bekuh beberapa saat lamanya dan raksasa itu mulai menjadi bingung karena, merasa benar-benar tidak kuat mengangkat tubuh yang baginya kecil saja itu.

tiba-tiba Linggajaya melepaskan ajiannya dan tubuhnya kini terangkat ke atas Limantoko kembali merasa girang sekali sehingga dia menjadi lengah.

Tiba-tiba Linggajaya menggerakkan kedua kakinya menendang ke arah dagu raksasa itu.

"Bresss .....!"

Tubuh Limantoko terjengkang dan pegangannya terlepas.Linggajaya berjungkir balik dan memandang ke arah Limantoko yang jatuh terjengkang sampai terguling-guling! "Cukup!"

Kata Adipati Adhamapanudi "Limantoko, bagaimana pendapatmu Apakah Linggajaya ini cukup tangguh?"

Limantoko sudah bangkit dan menyembah.

"Sesungguhnya, gusti, pemuda ini tangguh sekali."

Adipati Adhamapanuda tertawa senang "Ha-ha-ha, bagus! Engkau boleh mundur Limanto ko."

Limantoko menyembah lalu mengundurkan diri meninggalkan ruangan itu. Resi Bajrasakti tertawa.

"Ha-ha-ha, Adi Adipati, sudah hamba katakan berkali-kali bahwa paduka boleh percaya kepada murid hamba ini. Akan tetapi, tugas apakah yang hendak paduka berikan kepada Linggajaya?"

Adipati Adhamapanuda mengangguk angguk lalu berkata dengan suara bernada serius.

"Begini, Kakang Resi, dan engkau juga Linggajaya, dengarkan baik baik. Aku mendapat kabar dari Ratu Durgamala dari Kerajaan Parang Siluman bahwa kedua orang puterinya yang cantik jelita itu dipinang oleh Sang Prabu Erlangga dan sekarang bahkan sudah diboyong ke Kahuripan. Lasmini, puterinya yang pertama kini menjadi selir Ki Patih Narotama, sedangkan puterinya yang ke dua Mandari, menjadi selir Sang Prabu Erlangga."

Resi Bajrasakti mengerutkan alisnya yang tebal dan dia menggeleng-geleng kepalanya.

"Bukankah dua orang puterinya itu, seperti yang hamba dengar, ikut dan menjadi murid Ki Nagakumala, (kakak ibu) dua orang gadis itu sendiri yang bertapa di Pegunungan Kidul?"

"Benar sekali, kakang resi."

Resi Bajrasakti menepuk pahanya sendiri.

"Tak tahu malu! Kenapa orang orang tua itu menyerahkan puteri-puteri mereka kepada Erlangga dan Narotama yang menjadi musuh-musuh besar kita? Apakah kini Parang Siluman sudah hendak bertekuk lutut dan menyerah kepada Kahuripan tanpa berperang?"

"Bukan begitu, kakang resi. Penyerahan dua orang gadis itu malah merupakan siasat yang bagus sekali. Lasmini dan Mandari adalah dua orang gadis cantik jelita yang juga pandai dan telah menguasai ilmu-ilmu yang tinggi dari uwa dan ibu mereka. Mereka sengaja diberikan karena mereka berdua itu dapat memperoleh kesempatan baik untuk membunuh Erlangga dan Narotama."

"Waahh, itu gagasan yang terlalu muluk! Kita semua mengetahui bahwa Erlangga dan Narotama adalah dua orang yang sakti mandraguna. Hamba kira Ki Nagakumala sendiri tidak akan mampu mengalahkan mereka. Apa lagi hanya dua orang gadis muridnya!"

"Akan tetapi dua orang gadis itu memiliki kelebihan yang tidak kita milik yaitu kecantikan mereka yang luar biasa. Dengan kecantikan mereka inilah mereka hendak menundukkan Erlangga dan Narotama sehingga mereka mendapatkan kesempatan untuk membunuh raja dan patihnya itu. Menurut surat Ratu Durgamala yang diberikan kepadaku, Mandari telah berkunjung dan puterinya itu menceritakan bahwa ia mulai dapat memikat hati Erlangga sehingga ia menjadi selir terkasih. Dan mereka telah mengatur siasat, kalau membunuh raja dan patihnya yang sakti mandraguna itu tidak berhasil, mereka akan berusaha untuk mengadu domba antara raja dan patihnya itu atau setidaknya akan menimbulkan kekacauan sehingga Kahuripan menjadi lemah. Kalau sudah begitu, Ratu Durgamala minta kepadaku untuk bersama sama mengerahkan pasukan dan memukul Kahuripan yang sedang kacau dan lemah itu. Bagaimana pendapatmu, kakang resi?"

Kini Resi Bajrasakti mengangguk angguk dan wajahnya berseri.

"Bagus, bagus sekali Tidak hamba kira bahwa Ratu Durgamala yang cantik jelita itu dapat membuat siasat yang demikian hebatnya!"

"Siasat itu diatur oleh Ratu Durgamala, Ki Nagakumala, dan juga Lasmini dan Mandari. Dua orang gadis jelita itu memang hebat, sudah sakti cantik jelita pula sehingga senjata mereka berdua itu lengkap!"

Kata Adipati Adhamapanuda.

"Hamba kira kita sudah semestinya membantu mereka. Lalu tugas apakah yang akan paduka berikan kepada Linggajaya?"

"Begini, kakang resi dan engkau, Lingajaya. Aku hendak mengirimmu ke kahuripan dan engkau menjadi mata-mata kami. Kalau kami mengirim seorang tokoh Wengker, mungkin akan mudah ketahuan. Akan tetapi engkau adalah orang dari daerah Kahuripan, maka tidak akan ada yang mencurigaimu. Kau hubungilah Lasmini dan Mandari itu dan kau bantu mereka sampai berhasil membunuh raja dan patihnya, atau setidaknya mengadu domba dan membikin kacau. Tugasmu penting sekali, juga berat karena kalau engkau ketahuan, tentu nyawamu terancam. Nah, sanggupkah engkau melaksanakan tugas ini Linggajaya?"

Linggajaya adalah seorang pemuda yang amat cerdik.

Ayahnya adalah seorang lurah, seorang pamong praja kerajaan Kahuripan.

Biarpun dia tidak memiliki watak setia kepada Kahuripan, namun dia adalah kawula Kahuripan.

Kalau dia harus berkorban mengkhianati Kahuripan, dia harus mendapatkan imbalan yang sepadan dan yang amat besar.

Maka dia menyembah lalu berkata kepada Adipati Adhamapanuda.

"Ampun, gusti adipati. Tentu saja hamba sanggup melaksanakan tugas berat itu, akan tetapi ada suatu kenyataan yang menjadi penghalang bagi hamba untuk menyanggupinya."

"Hemm, kenyataan yang bagaimana! Linggajaya?"

Tanya sang adipati sambil mengerutkan alisnya.

"Kenyataannya bahwa hamba ini bukanlah seorang punggawa Kerajaan Wengker, bagaimana hamba dapat melaksanakan tugas yang amat penting dan rahasia ini? Bukankah seyogianya tugas sepenting ini dilakukan oleh seorang punggawa yang berkedudukan tinggi, setidaknya seorang senopati?"

Mendengar ucapan ini, Adipati Adhamapanuda menoleh kepada Resi Bajrasakti dan bertanya.

"Bagaimana pendapat andika tentang hal ini, kakang resi?"

Resi Bajrasakti tersenyum.

"Hamba sekali-kali bukan membela murid hamba, akan tetapi hamba kira ucapannya itu mengandung kebenaran. Kalau Linggajaya tidak menjadi punggawa berkedudukan dan terpercaya di Kerajaan Wengker, bagaimana kita dapat mengharapkan kesetiaan darinya?"

Adipati Adhamapanuda mengangguk-angguk.

"Baiklah kalau begitu. Linggajaya, mulai saat ini kami mengangkat andika menjadi senopati muda dengan julukan Senopati Lingga Wijaya!"

Bukan main girang hati pemuda itu. Akan tetapi dasar dia murka dan juga cerdik, maka dia memberi sembah hormat dan berkata.

"Hamba menghaturkan banyak terima kasih atas kebijaksanaan paduka. Akan tetapi karena hamba hendak melaksanakan tugas yang amat penting dan berat, dan mungkin hamba akan menghadapi lawan-lawan yang tanggu, sedangkan hamba tidak memiliki pusaka ampuh, maka hamba akan bersyukur apa bila paduka berkenan memberi hamba sebuah pusaka untuk pelindung diri hamba, gusti."

Mendengar ini, Resi Bajrasakti tertawa gembira.

"Ha-ha-ha, murid hamba ini orangnya jujur, Adi Adipati. Memang hamba belum memberi pusaka kepadanya, karena kalau hamba berikan pusaka hamba Cambuk Gading, tentu banyak tokoh Kahuripan mengenalnya dan dapat menduga bahwa Linggajaya mempunyai hubungan dengan hamba. Karena itu untuk membesarkan hatinya dan demi tercapainya cita-cita kita, hamba mohon paduka merelakan untuk memberikan Ki Candalamanik kepadanya."

Adipati Adhamapanuda menghela napas panjang.

Keris pusaka Ki Candalamanik adalah pusaka keturunan raja-raja Wengker.

Akan tetapi untuk menolaknya, dia merasa tidak enak karena pemuda itu memiliki tugas berat.

"Baiklah,"

Katanya sambil mencabut keris bersama warangkanya yang terselip di pinggangnya.

"Terimalah Ki Candalamanik ini, kami pinjamkan kepadamu untuk kaupergunakan dalam tugas ini, Senopati Lingga Wijaya."

Linggajaya menerima keris itu dan menyembah sambil menghaturkan terima kasih, lalu menyelipkan keris pusaka itu di ikat pinggangnya.

Setelah kembali ke gedung Resi Bajrasakti, Linggajaya berkemas dan pada keesokan harinya, pagi-pagi sekali pemuda itu meninggalkan kota kerajaan Wengker dan menuju ke dusun Karang Tirta, kembali ke rumah orang tuanya, yaitu Ki Lurah Suramenggala kepala dusun Karang Tirta.

Apa yang diceritakan oleh Adipati Adhamapanuda, raja Wengker itu kepada Linggajaya memang benar.

Dia mendapat surat dari Ratu Durgamala dari Kerajaan Parang Siluman tentang siasat yang melakukan kerajaan yang sejak dulu menjadi musuh Mataram dan sekarang memusuhi Kahuripan itu, siasat keji yang dilakukan melalui dua orang puterinya, yaitu Lasmini dan Mandari.

Seperti telah kita ketahui, dengan bujuk rayunya yang amat memikat hati Mandari berhasil membuat Sang Prabu Erlangga menceritakan tentang peringatan Sang Empu Bharada tentang banjir darah yang akan terjadi di Kahuripan dan Sang Prabu Erlangga masih bingung karena tidak tahu apa yang menjadi sebab datangnya ancaman malapetaka itu.

Mandari sendiri kehilangan akal, maka pada suatu hari ia berpamit kepada Sang Prabu Erlangga untuk mengunjungi mbak ayunya, yaitu Lasmini yang menjadi selir Ki Patih Narotama karena ia merasa rindu.

Tentu saja Sang Prabu Erlangga mengijinkannya.

Setelah dua orang kakak beradik itu bertemu, mereka lalu bicara bisik-bisik dalam sebuah kamar tertutup.

Ki Patih Narotama juga tentu saja mengijinkan selirnya yang terkasih itu bercengkerama dan melepas kerinduan dengan adiknya sang kini menjadi selir Sang Prabu Erlangga.

"Aduh Mbakayu Lasmini, ketiwasan (celaka) ....."

Bisik Mandari setelah mereka duduk berdua di atas pembaringan.

"Ehh? Ada apakah, Mandari?"

Tanya Lasmini khawatir. Kalau adiknya bersikap demikian khawatir, pasti terjadi sesuatu yang amat penting dan hebat.

"Si keparat Empu Bharada itu! Sejak semula, dalam pertemuan pertama matanya sudah memandangku seperti mata kucing, tajam menusuk dan menyelidik. Dan sekarang dia menghadap Sang Prabu Erlangga, memperingatkan sang prabu bahwa akan ada malapetaka menimpa kahuripan, akan ada pertempuran, bunuh membunuh dan banjir darah! Dan Sang Prabu Erlangga menjadi gelisah, mencari apa yang menjadi sebab, kesalahan apa yang dia lakukan sehingga akan timbul malapetaka itu. Bukankah ini gawat sekali?"

"Hemm ....., dan Sang Prabu Erlangga menceritakan semua itu kepadamu Apakah dia amat percaya kepadamu! Mandari?"

"Tentu saja dia amat percaya kepadaku! Engkau tahu, mbakayu Lasmini, Sang Prabu Erlangga amat mengasihiku. Apa pun permintaanku tentu dituruti. Karena itu, mendengar tentang empu keparat itu, aku menjadi bingung dan gelisah. Aku sengaja minta ijin berkunjung ke sini untuk minta pendapatmu. Kita harus segera bertindak, mbakayu, sebelum empu keparat itu merusak rencana kita."

Lasmini mengangguk.

"Memang gawat, Ki Patih Narotama juga sudah terjerat olehku. Dia amat mencintaku. Akan tapi untuk melangkah selanjutnya dan mencoba membunuhnya, aku tidak berani. Dia sakti mandraguna dan kalau aku gagal membunuhnya, tentu aku akan celaka."

"Akupun tidak berani melakukan pembunuhan terhadap Sang Prabu Erlangga. Dia amat sakti mandraguna. Aku yakin kalau menggunakan jalan kekerasan kita tidak akan berhasil."

"Lalu bagaimana rencanamu?"

Tanya Lasmini.

"Aku memang mempunyai rencana baik sekali. Akan tetapi aku masih ragu, maka aku datang menemuimu karena siasat ini hanya dapat dilakukan oleh kita berdua."

Kata Mandari.

"Bagaimana rencana siasatmu itu?"

"Begini, mbakayu. Kita adu domba antara Sang Prabu Erlangga dan Ki Patih Narotama. Sekarang ada kesempatan baik sekali bagiku. Sang Prabu Erlangga sedang mencari sebab mengapa Kahuripan akan dilanda malapetaka. Nah, aku akan mengatakan bahwa hal ini disebabkan ulah Ki Patih Narotama!"

"Eh? Disebabkan Ki Patih Narotama? Bagaimana ini? Apa maksudmu?"

Tanya Lasmini heran.

"Aku akan mengatakan kepada Sang Prabu Erlangga bahwa sebetulnya dahulu ketika Sang Prabu Erlangga meminang kita, engkau sudah setuju dan bahwa sebetulnya engkau diam-diam mencintai dan mengagumi Sang Prabu Erlangga. Akan tetapi di tengah perjalanan, Ki Patih Narotama yang berpura-pura mengobatimu, telah menelanjangimu, melihati dan meraba-raba perut dan pusarmu. Akan kukatakan bahwa sampai sekarangpun sebetulnya engkau masih mencinta Sang Prabu Erlangga dan hanya mau menjadi selir Ki Patih Narotama karena terpaksa."

"Hemm, apakah Sang Prabu Erlangga akan percaya?"

Tanya Lasmini ragu.

"Kalau aku yang bilang, tanggung dia percaya. Aku akan membujuknya agar dia minta kepada Ki Patih Narotama agar menyerahkan engkau kepadanya. Nah, dia tentu akan tergerak hatinya dan menuruti permintaanku agar engkau diboyong ke istana untuk menjadi selirnya dan berdekatan denganku."

"Akan tetapi, bagaimana kalau Ki Patih Narotama yang setia itu menyerahkan aku kepada Sang Prabu Erlangga dengan suka rela? Bukankah itu berarti bahwa siasatmu itu sia-sia belaka? Apa untungnya? Kau tahu, Ki Patih Narotama adalah seorang laki-laki yang amat menyenangkan dan membahagiakan hatiku. Dia jantan, lembut, pendeknya aku jatuh cinta kepadanya!"

Lasmini tersenyum nanis dan melanjutkan.

"Kalau hasil siasatmu itu hanya memindahkan aku dari tangan Ki Patih Narotama ke tangan Sang Prabu Erlangga, aku tidak mau. Aku sudah terlanjur cinta kepada Ki Patih Narotama!"

"Mbakayu Lasmini! Apa engkau sudah lupa akan tugas kita? Aku sendiripun sudah menikmati hidup bahagia dengan Sang Prabu Erlangga! Akan tetapi kita tidak boleh melupakan dendam turun-temurun kita terhadap keturunan Mataram, terutama kepada Sang Prabu Erlangga dan Ki Patih Narotama!"

"Aku tidak pernah melupakan hal itu, Adi Mandari. Akan tetapi kalau hanya memindahkan aku dari kepatihan ke istana, apa untungnya?"

"Aku belum selesai menceritakan siasatku. Engkau harus membantu. Engkau katakan kepada Ki Patih Narotama bahwa engkau mendengar dariku kalau Sang Prabu Erlangga itu sebetulnya menaksirmu, dan sampai sekarang masih ingin mengambilmu dari tangan Ki Patih Narotama. Pendeknya, bakarlah hatinya agar dia menjadi cemburu. Nah, dengan kecemburuan itu, mungkin dia akan menolak permintaan Sang Prabu Erlangga. Andaikata dia tetap menyerahkanmu maka giliranmu untuk melaporkan kepada Sang Prabu Erlangga bahwa sesungguhnya Ki Patih Narotama membenci rajanya bahwa kebaikan sikapnya itu hanya pada lahirnya saja, namun di dalam hatinya Ki Patih Narotama penuh iri dan dia aakn mengadakan pemberontakan terhadap Sang Prabu Erlangga. Nah, dengan usaha kita berdua ini, mustahil tidak timbul kemarahan dan kebencian dalam hati mereka, saling curiga, saling marah dan membenci sehingga akhirnya terpecah belah."

Lasmini mengangguk-angguk.

"Wah, siasatmu ini hebat sekali, adikku. Baiklah, aku akan berusaha agar Ki Patih Narotama marah kepada Sang Prabu Erlangga."

Mandari menghela napas panjang.

"Terus terang saja, usaha kita ini penuh resiko, penuh bahaya. Kita sudah terlanjur mencinta pria yang menjadi suami kita, akan tetapi di samping itu kita berkewajiban untuk mencelakakan mereka atau bahkan membunuh mereka. Akan tetapi, kita tak boleh melupakan bahwa mereka itu sesungguhnya adalah musuh bebuyutan kita!"

"Engkau benar, adikku. Akan tetapi, untuk mencari kesenangan bagi diri kita sendiri, masih ada banyak waktu dan dimana-mana terdapat laki-laki yang tampan dan gagah, yang akan dapat memberi kenikmatan dan kesenangan kepada kita."

"Akan tetapi biarpun kita sudah sepakat untuk mengatur siasat mengadu domba antara raja dan patihnya itu, hatiku masih gelisah memikirkan tentang mpu brengsek itu, mbakayu. Dia tetap merupakan ancaman besar bagi kita. Agaknya, entah bagaimana, dia itu sudah dapat mengetahui bahwa kehadiran kita berdua di Kahuripan menvembunyikan niat-niat yang akan merugikan Kahuripan."

"Memang, kita harus bertindak sekarang juga, Mandari. Karena itu, selagi engkau berada di sini, mari kita mengunjungi Ibu Ratu di Parang Siluman. Kita rundingkan tentang Empu Bharada ini dengan Ibu Ratu. Biarlah ia dan Uwa Nagakumala yang mengatur untuk menyingkirkan empu keparat itu. Aku akan minta ijin Ki Patih, dan kita pergi bersama."

Demikianlah, setelah minta ijin kepada Ki Patih Narotama bahwa ia dan adiknya akan pergi berkunjung kepada ibu mereka di Parang Siluman dan Patih Narotama mengijinkannya, Lasmini dan Mandari naik kereta dan berangkat ke Kerajaan Parang Siluman di pantai Laut Kidul.

Mereka bertemu dengan Ratu Durgamala yang biarpun usianya sudah empatpuluh tahun akan tetapi masih tampak muda dan cantik jelita, tak ubahnya seperti saudara saja dari kedua orang puterinya itu.

Di sini siasat mereka diatur lebih matang lagi dan karena kebetulan Ki Nagakumala juga berada di situ, maka ibu dan uwa mereka menyanggupi untuk "membereskan"

Empu Bharada.

Setelah semua siasat diatur rapi, Lasmini dan Mandari kembali ke Kahuripan.

Mandari menuju ke istana Raja Erlangga sedangkan Lasmini kembali ke kepatihan.

Ketika Lasmini memasuki gedung kepatihan dan tiba di ruangan dalam, ia melihat suaminya duduk seorang diri sambil membaca Kitab Weda.

Lasmini pura-pura tidak melihat dan terus menlangkah sambil menundukkan mukanya kearah kamarnya.

Ki Patih Narotama melihat sikap selirnya terkasih ini dan dia menjadi heran.

Biasanya Lasmini bersikap penuh hormat, manja dan ramah kepadanya, akan tetapi sekali ini Lasmini seolah olah tidak melihatnya dan memasuki kamar dengan kepala menunduk dan wajahnya yang muram.

Maka dia cepat menyimpan kitabnya dan bergegas mengejar ke dalam kamar selirnya, sebuah kamar yang mewah, bersih dan berharum bunga mawar dan melati, bunga kesayangan selirnya.

Dia melihat Lasmini duduk di tepi pembaringan dan menundukkan mukanya dengan lesu.

Narotama cepat menghampiri selirnya duduk di sisinya dan merangkul leher yang berkulit putih mulus itu.

Dicium pelipis Lasmini.

"Yayi, apakah yang terjadi? Mengapa engkau bermuram durja setelah engkau kembali dari Parang Siluman bersama adikmu yayi Mandari?"

"Duh kakangmas..... bagaimana harus saya katakan? Saya..... saya tidak berani..... saya khawatir akan membuat kakangmas..... bingung dan susah....ahh, sungguh tidak sangka, hidup saya akan menghadapi penderitaan seperti ini....."

Lasmini sesenggukan dan ketika Narotama merangkul, ia menyembunyikan mukanya di dada suaminya itu dan air matanya membasahi kulit dada Narotama.

"Tenanglah, yayi Lasmini. Tenangkan hatimu dan katakana saja, apa yang mengganggu pikiranmu itu? Percayalah, aku tidak akan marah, juga tidak akan bingung atau susah. Masih ragukah engkau bahwa aku sungguh mencintamu?"

"Aduh kakangmas..... justru karena itulah, justeru karena saya tahu betapa kakangmas amat mencintaku dan saya juga mencinta kakangmas dengan seluruh jiwa raga, maka hal ini menjadi semakin merisaukan hati saya ....."

Ki Patih Narotama mengangkat muka Lasmini dari dadanya, menciumi muka yang cantik jelita itu dengan penuh kasih sayang lalu berkata lembut.

"Hayo ceritakanlah dan jangan membuat hatiku menjadi penasaran, Lasmini." .

"Baiklah, kakangmas, akan tetapi sebelumnya saya mohon beribu maaf. saya mendengar laporan adik saya Mandari..... akan tetapi ia pesan wanti wanti kepada saya agar saya tidak menceritakannya kepada siapapun juga terutama tidak kepada kakangmas ....."

"Sudahlah, ceritakan saja padaku, kekasihku tersayang!"

"Begini, kakangrnas. Menurut cerita adik saya bahwa..... bahwa Sang Prabu Erlangga sejak dulu..... menaksir diriku dan bahkan sampai sekarangpun masih sering membicarakannya dengan Mandari bahwa beliau..... hendak mengambil saya dari tanganmu, kakangmas..... Ahh, saya..... saya khawatir sekali, kakangmas."

Narotama terkejut dan merasa terpukul hatinya. Dia menatap wajah yang menunduk lesu itu dan bertanya.

"Hemmmn benarkah itu, Lasmini?"

"Kakangrnas, Mandari adalah adik saya yang sayang dan setia kepada saya, ia tidak akan berani berbohong. Saya percaya sepenuhnya kepadanya. Bagaimana, kakangrnas? Saya..... takut"

Lasmini merangkul Narotama dan menangis lagi.

Narotama juga merangkul kekasihnya dan mengelus rambut kepalanya.

Dia diam saja dan pikirannya menjadi kacau.

Dia memang amat terpikat oleh selirnya ini, terpikat oleh kecantikannya dan terutama oleh sikapnya yang tampaknya begitu mesra dan penuh cinta kepadanya.

Mungkinkah dia dapat memisahkan ikatan cintanya dengan Lasmini dan menyerahkannya kepada Sang Prabu Erlangga?

Akan tetapi, dia juga terikat kesetiaannya kepada sang raja.

Jangankan baru menyerahkan selir, biarpun menyerahkan nyawanya dia akan rela untuk memenuhi permintaan junjungannya itu.

Perasaan hatinya terpecah dua dan berulang-ulang dia menghela napas panjang.

Melihat ini, Lasmini lalu merangkul lagi dan menciumi muka suaminya.

"Duh kakangmas, ampunilah saya..... saya telah membuat paduka menjadi gelisah dan berduka ....."

Dengan pengerahan seluruh daya tariknya untuk memikat hati Narotama, Lasmini lalu menghibur dan untuk sementara memang hati Narotama terhibur dan larut dalam kemesraan.

Sementara itu, di istana Sang Prabu Erlangga, Mandari juga segera menjalankan siasatnya.

Setelah ia berada berdua dalam kamarnya bersama Sang Prabu Erlangga, dengan muka cemberut ia berkata kepada raja itu.

"Sinuwun, hamba kira sekarang hamba telah menemukan apa yang menjadi sebab sehingga Kahuripan terancam bahaya seperti yang digambarkan oleh Paman Empu Bharada."

Sang Prabu Erlangga tercengang..

"Jagad Dewa Bathara! Benarkah itu, yayi? Engkau baru saja pulang dari kepatihan dan dan Parang Siluman, bagaimana bisa mendapatkan sebab yang sedang kucari itu?"

"Justeru di kepatihan hamba menemukan penyebab itu, sinuwun sesembahan hamba."

"Aneh sekali engkau ini, Mandari. Penyebab malapetaka yang diramalkan itu berada di kepatihan? Bagaimana itu? Apa yang kaumaksudkan?"

"Begini sesungguhnya, sinuwun. Akan tetapi sebelum hamba menceritakan! hamba mohon beribu ampun apabila cerita hamba ini mendatangkan perasaan tidak senang dalam hati paduka."

Sang Prabu Erlangga tersenyum.

"Ceritakanlah dan jangan khawatir, aku tidak akan marah kepadamu kalau engkau menceritakan keadaan yang sebenarnya."

"Begini, sinuwun. Hal ini mengenai diri Mbakayu Lasmini dan Ki Patih Narotama."

Mandari berhenti lagi seolah merasa ragu dan takut untuk melanjutkan.

"Eh? Ada apa dengan Lasmini dan Kakang Narotama?"

"Terus terang saja, ketika dahulu paduka meminang Mbakayu Lasmini dan hamba melalui Ki Patih, Mbakayu Lasmini menyambut dengan penuh suka cita dan serta merta menerima pinangan paduka karena memang sejak remaja Mbakayu Lasmini sudah mengagumi dan memuja-muja nama paduka. Mbakayu Lasmini ingin sekali mengabdi dan menghambakan diri kepada paduka. Hal ini ia ceritakan kepada hamba ketika hamba berdua berangkat dengan kereta menuju Kahuripan. Akan tetapi di tengah perjalanan, ketika Mbakayu Lasmini menderita sakit perut, Ki Patih Narotama menggunakan alasan mengobati telah menelanjangi dan meraba perut dan pusar Mbakayu Lasmini ....."

Mandari berhenti lagi.

"Hemm, kalau ia memang mengharapkan menjadi selirku, kenapa ia menolakku dan memilih menjadi selir Kakang Patih Narotama?"

"Itulah, sinuwun. Mbakayu Lasmini merasa bahwa ia akan menanggung aib kalau tidak bersuamikan Ki Patih, karena pria itu telah melihat dan meraba perut dan pusarnya. Ketika hamba bertemu dengannya, ia mengaku bahwa sampai sekarang ia masih mencinta, mengagumi dan memuja paduka dan bahwa hidupnya sebagai selir Ki Patih Narotama tidak membahagiakan hatinya. Agaknya dahulu itu Ki Patih Narotama sengaja menelanjanginya dengan pamrih agar kakak hamba itu tidak mau diperisteri paduka karena malu. Ah, sinuwun, hamba mohon tolonglah Mbakayu Lasmini. Biarkanlah menjadi selir paduka dan hidup berbahagia di sini bersama hamba. Hamba yakin bahwa Mbakayu Lasmini akan menambah kebahagiaan paduka, sinuwun."

Sang Prabu Erlangga adalah seorang yang sakti mandraguna dan juga bijaksana, akan tetapi sesuai dengan kenyataan bahwa tidak ada manusia yang sempurna tanpa cacat, diapun hanyalah seorang manusia.

Tiada yang sempurna di alam maya pada ini kecuali Sang Hyang Widhi Wasa, Yang Maha Kuasa dan Maha Sempurna.

Manusia, betapapun kecilnya, pasti memiliki kelemahan.

Dan Sang Prabu Erlangga, seperti juga Sang Arjuna, tokoh yang dikaguminya, juga memiliki satu kelemahan, yaitu terhadap wanita.

Mendengar keterangan Mandari bahwa Lasmini sejak dulu sampai sekarang memuja dan mencintanya, dan hanya karena ulah Narotama yang licik maka gadis yang cantik jelita itu kini menjadi selir Narotama, hati Sang Prabu Erlangga tergerak.

Kalau begitu, dialah yang berhak mempersunting gadis itu.

Pikiran ini menyambar bagaikan kilat di dalam benaknya.

Walaupun memiliki kelemahan terhadap wanita cantik, namun seorang yang bijaksana seperti Sang Prabu Erlangga tidaklah diperbudak oleh nafsunya.

Bujukan nafsu itu hanya sekilas.

Dia sudah pula dapat cepat menekan gejolak nafsu yang ingin mendapatkan Lasmini yang cantik jelita menggairahkan itu.

Dia teringat siapa Narotama, seorang yang amat dekat dengan hatinya, kawan seperjuangan, pembantunya sejak dahulu yang amat setia.

Ditolaknya bujukan nafsu berahi itu dan dia sudah dapat menguasai dirinya.

Dia tersenyum dan mengelus rambut kepala Mandari.

"Tidak, Mandari wong ayu. Lasmini telah menjadi milik Kakang Narotama. Aku tidak berhak merampasnya, bahkan tidak berhak membayangkan wajahnya dan kecantikannya. Hubunganku dengan Kakang Narotama tidak dapat dinilai harganya, tidak mungkin menjadi retak dan terganggu hanya karena seorang wanita. Pula, aku sudah memiliki engkau dan aku tidak menginginkan wanita lain. Biarlah Lasmini tetap menjadi selir Kakang Narotama."

Dapat dibayangkan betapa kecewa dan sebal hati Mandari mendengar ucapan Sang Prabu Erlangga ini. Pria ini ternyata memiliki keteguhan hati seperti gunung karang! la menangis dan mengeluh.

"Duhai sinuwun pujaan hamba..... kalau begitu paduka tidak cinta lagi kepada hamba....."

Ia terisak-isak dan menangis di atas pangkuan Sang Prabu Erlangga. Sang Prabu Erlangga tersenyum dan mengangkat bangun selirnya sehingga Mandari dipaksa duduk di sampingnya, ditepi pembaringan.

"Kenapa engkau berkata demikian, yayi? Justeru penolakanku ini sebagian adalah karena sayang dan cintaku kepadamu. Aku tidak ingin ada wanita lain lagi yang berada di sampingku selain engkau dan permaisuri serta selir yang sudah ada. Aku tidak ingin mengambil selir lain lagi."

"Akan tetapi hamba merasa kasihan kepada Mbakayu Lasmini, hamba ingin menolongnya dan membahagiakannya. Kalau paduka memenuhi permintaan hamba dan mengambilnya sebagai garwo ampil (selir), hamba akan merasa bahagia, sebaliknya kalau paduka menolak, hamba akan merasa berduka. Apakah paduka tidak kasihan kepada hamba?"

"Mandari, selirku terkasih. Ketahuilah, cinta tidak berarti harus memenuhi semua permintaan orang yang dicintai Sama sekali tidak. Cinta bahkan harus menolak permintaan orang yang dicintai kalau permintaan itu tidak benar, berarti menyadarkan orang yang dicinta dan kekeliruan. Kalau menuruti saja permintaan yang keliru dari orang yang dicintai hal itu berarti malah mendorongnya ke dalam jurang. Dan ketahuilah bahwa permintaanmu sekali ini adalah keliru tidak benar sama sekali. Kakang Narotama adalah tulang punggung Kerajaan Kahuripan. Apakah aku harus mematahkan tulang punggung itu hanya demi merampas seorang wanita cantik dari tangan pria yang berhak memilikinya?? Tidak, wong ayu, sekali lagi tidak!"

Dalam ucapan Sang Prabu itu terdengar suara yang mengandung keyakinan dan kepastian yang tidak mungkin dapat diubah pula dan Mandari tahu akan hal ini, maka iapun tidak berani membujuk lagi, takut kalau-kalau Sang Prabu Erlangga menjadi curiga kepadanya.

Beberapa hari kemudian, Sang Prabu Erlangga terkejut ketika Ki Patih Narotama datang berkunjung dan mohon menghadap tidak pada hari paseban (menghadap raja).

Dan kedatangan Ki Patih Narotama ini bersama Lasmini yang berdandan rapi sehingga tampak cantik jelita seperti bidadari!

Maklum bahwa Narotama tentu mempunyai urusan penting untuk dibicarakan, maka Sang Prabu Erlangga menerima patihnya bersama Lasmini dalam sebuah ruangan tertutup tanpa dihadiri orang lain, bahkan Mandari sendiripun tidak diperkenankan ikut menyambut.

Setelah dipersilakan duduk, Sang Prabu Erlangga berkata sambil tersenyum.

"Wahai, Kakang Narotama, andika dating berkunjung bukan pada hari paseban, tentu ada urusan yang teramat penting. Dan andika mengajak pula selir andika Lassmini, ada urusan apakah gerangan, Kakang Narotama?"

Sang Prabu mengerling ke arah Lasmini yang menundukkan mukanya dan harus dia akui bahwa wanita itu memang cantik luar biasa. Hanya Mandari saja yang dapat menandingi kecantikan itu.

"Ampun beribu ampun, gusti sinuwun Kedatangan hamba menghadap paduka tanpa dipanggil ini adalah untuk menghaturkan Lasmini kepada paduka."

Sang Prabu Erlangga memandang patihnya dengan mata terbelalak penuh keheranan.

"Menghaturkan Lasmini kepadaku? Apa maksudmu, Kakang Narotama?"

"Apabila paduka berkenan menghendaki untuk mengambil Lasmini sebagai garwo ampil, silakan, gusti. Hamba menyerahkannya dengan kedua tangan terbuka dan hati serela-relanya." (Lanjut ke

Jilid 09) Keris Pusaka Sang Megatantra (seri ke 01 -Serial Keris Pusaka Sang Megatantra) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo

Jilid 09

"Duh Jagad Dewa Bathara! Serendah itukah penilaianmu terhadap diriku? Aku bukan perusak pagar ayu, aku tidak akan merampas isteri orang lain, apa lagi isterimu, kakang, Bawalah garwamu pulang dan jangan berpikir yang bukan bukan! Heh, Lasmini, andika bersuamikan seorang ksatria yang arif bijaksana. Pulanglah bersama dia dan hiduplah bahagia disampingnya sebagai seorang isteri yang setia. Nah, pulanglah kalian!"

Dalam kalimat terakhir ini terkandung perintah tegas sehingga Ki Patih Narotama tidak berani membantah lagi.

Setelah berpamit dan mohon diri dia lalu mengajak Lasmini pulang dengan hati yang lega dan tenang.

Kalau benar Sang Prabu Erlangga tertarik dan mencintai Lasmini, hal itu tidaklah aneh.

Selirnya itu memang memiliki kecantikan luar biasa sehingga kalau ada dewa sekalipun yang jatuh cinta padanya, dia tidak akan merasa heran.

Sang Prabu Erlangga sebagai seorang pria boleh jadi terpikat dan jatuh cinta kepada Lasmini, namun dia percaya sepenuhnya bahwa Sang Prabu Erlangga tidak akan sedemikian sesat untuk mengganggu isteri orang lain.

Dari semula dia sudah menduga begitu, maka diapun sengaja mengajak Lasmini menghadap dan menyerahkan Lasmini kepada Sang Prabu Erlangga.

Dan, seperti memang sudah diduganya, Sang Prabu Erlangga menolak keras!

Maka timbul perasaan terima kasih dan bangga kepada rajanya yang membuat dia semakin kagum, memuja dan setia kepada junjungannya yang juga merupakan sahabat dan saudara seperguruannya itu.

SEBALIKNYA, Lasmini dan Mandiri yang diam-diam menyumpah-serapah, kecewa dan marah bukan main melihat betapa siasat mereka berdua itu gagal sama sekali.

Hasilnya bukan mengadu domba dan memecah belah, bahkan membuat hubungan antara raja dan patihnya itu menjadi semakin kuat.

Akan tetapi dua orang kakak beradik yang cantik jelita dan cerdik sekali ini tidak memperlihatkan perasaan mereka di depan suami masing-masing, bahkan berusaha sekuat tenaga untuk semakin memikat suami mereka sehingga mereka berdua semakin disayang.

Mereka bagaikan dua ekor harimau yang tampak jinak menyenangkan, akan tetapi yang diam-diam menanti saat dan kesempatan baik untuk menerkam dan membinasakan!

Tanah perdikan Lemah Citra merupakan sebidang tanah yang subur di daerah perbukitan.

Tanah perdikan ini cukup luas, dihuni oleh sekitar seratus buah keluarga yang menjadi petani.

Lemah Citra ini adalah milik Empu Bharada, pemberian Prabu Erlangga kepadanya.

Setelah banyak keluarga menghuni Lemah Citra dengan persetujuan Empu Bharada sebagai pemiliknya, maka Lemah Citra menjadi sebuah pedusunan yang cukup aman, makmur dan penuh kedamaian.

Dengan adanya Empu Bharada yang menjadi pemilik tanah sekaligus pimpinan, tidak ada orang berani berbuat jahat.

Bahkan mereka yang tadinya mudah dipengaruhi dan dipermainkan nafsu sendiri, setelah tinggal di Lemah Citra dan sering mendengarkan sang empu memberi wejangan-wejangan, berubah menjadi seorang manusia yang bertaubat dan mengubah jalan hidupnya.

Mereka bertani, bekerja keras dan bergotong royong dengan akrab sehingga mereka bagaikan keluarga besar, kalau ada hasil panen besar sama dinikmati, kalau ada kesulitan sama ditanggulangi, ada kesukaran sama dipikul.

Empu Bharada tinggal di tengah dusun, di bagian tanah yang paling tinggi di puncak sebuah bukit kecil.

Rumahnya terbuat dari kayu jati, cukup besar dan kokoh.

Empu Bharada hidup membujang sejak muda, tinggal di dalam rumah itu, ditemani lima cantrik yang berusia antara dua puluh sampai tiga puluh tahun.

Mereka tidak berkeluarga.

Kalau ada cantrik yang mau menikah, dia harus pindah ke rumah lain, tidak diperkenankan tinggal di rumah itu.

Lima orang cantrik ini selain menjadi murid juga melayani segala kebutuhan sang empu, membersihkan rumah dan pekarangan, mencuci, kerja di dapur.

Selain mengajarkan masalah kerohanian kepada para cantrik, sang empu juga sering memberi wejangan kepada penduduk sehingga rata-rata para penduduk merupakan orang-orang yang memiliki pandangan hidup yang luas dan bersikap bijaksana.

Sebagai seorang pemimpin, Empu Bharada dengan teguh menegakkan kebenaran dan keadilan, didasari kasih sayang antara manusia.

Tidak ragu untuk menghukum yang bersalah, selalu siap menolong yang lemah dan mengekang yang kuat agar tidak bertindak sewenang-wenang.

Karena itu, sang empu disegani, dihormati dan juga dicinta oleh penduduk Lemah Citra.

Pada suatu pagi yang cerah.

Matahari pagi tersenyum memancarkan cahayanya yang keemasan dan hangat, membawa daya hidup bagi semua yang berada di permukaan bumi.

Orang-orang dusun Lemah Citra sedang bekerja dengan tekun dan gembira.

Kaum prianya tua muda bekerja di sawah ladang sambil bertembang tanda bahwa mereka bekerja dengan hati senang.

Empu Bharada selalu menasihati mereka bahwa hidup itu bergerak dan gerakan yang paling baik dan bermanfaat adalah bekerja.

"Apapun yang kalian lakukan dalam kehidupan ini, lakukanlah dengan hati penuh cinta terhadap apa yang kalian lakukan. Dengan demikian kalian dapat menikmati hidup kalian dan akan ternyata bahwa hidup ini sesungguhnya indah."

Demikian antara lain sang empu memberi wejangan.

Karena itu, mereka yang bekerja di sawah ladang pagi itu bekerja dengan wajah ceria dan bertembang karena bekerja merupakan kesenangan bagi mereka.

Sebagian wanita membantu di ladang.

Sebagian lagi bekerja di dapur, membuat masakan untuk mereka yang bekerja di sawah ladang, mencuci pakaian, memelihara anak-anak yang masih kecil.

Anak-anak bermain main di pelataran.

Pekik dan tawa mereka menyaingi kicau burung-burung.

Mereka diawasi kakek atau nenek mereka yang sudah terlalu tua dan terlalu lemah untuk bekerja di sawah ladang.

Mereka semua mendapat kenyataan akan kebenaran wejangan sang empu.

Mereka mencintai pekerjaan mereka dan menganggap bahwa setiap pekerjaan merupakan ibadah kepada Sang Hyang Widhi seperti yang dikatakan Empu Bharada.

Pagi itu, setelah melakukan samadhi sejak fajar tadi, Empu Bharada duduk di pendopo rumahnya, menikmati keindahan pagi yang cerah itu sambil mendengarkan kicau beberapa ekor burung kutilang yang beterbangan dari dahan ke dahan pohon sawo yang tumbuh subur di pelataran rumahnya.

Empu Bharada yang berusia kurang lebih empat puluh lima tahun ini bertubuh tinggi kurus, wajahnya dihiasi jenggot panjang, sepasang matanya yang cekung itu lembut berwibawa, mulutnya selalu tersenyum penuh pengertian.

Tubuhnya tinggi kurus, memakai jubah yang panjang dan lebar.

Empu Bharada ini adalah seorang sakti mandraguna, masih terhitung adik seperguruan dari mendiang Empu Dewamurti yang tewas dikeroyok Resi Bajrasakti datuk Wengker, Ratu Mayang Gupita dari kerajaan Siluman Laut Kidul, dan tiga bersaudara Tri Kala para jagoan kerajaan Wura-wari.

Tiba-tiba Empu Bharada mendengar kicau burung prenjak di atas pohon jambu yang tumbuh di sebelah kanan dalam pekarangan depan itu.

Dia mendengarkan, termenung sejenak dan tersenyum.

Kebetulan seorang cantriknya bernama Dwipo datang mengantarkan minuman untuk sang empu.

Setelah cantrik itu menaruh cangkir minuman air teh ke atas meja kecil di depan sang empu dan dia hendak mengundurkan diri, Empu Bharada berkata.

"Eh, Dwipo, cepat kau persiapkan minuman air teh yang cukup untuk disuguhkan tamu, dan godok ubi-ubi merah yang manis itu."

"Baik, bapa empu."

Jawab Dwipo yang memberi hormat lalu cepat masuk kedalam untuk melaksanakan perintah gurunya.

Dia tidak merasa heran melihat betapa gurunya dapat mengetahui lebih dulu bahwa akan ada tamu dating berkunjung.

Tepat pada saat pesan sang empu kepada Dwipo itu terlaksana dan ubi ubi merah itu telah matang, muncullah seorang laki-laki di pekarangan rumah Empu Bharada.

Laki-laki itu berusia sekitar lima puluh tahun, tubuhnya sedang saja dan pakaiannya sederhana bahkan sembarangan, agak kedodoran namun cukup bersih.

Kuku jari tangannya panjang, rambutnya juga panjang.

Ada kesan sembarangan dan tidak perduitan akan keadaan dirinya.

Namun sinar matanya terang dan jernih, sedangkan senyum di bibirnya penuh pengertian.

Biarpun tampaknya seperti orang biasa saja yang sederhana tanpa arti, namun sesungguhnya orang ini bukan orang sembarangan.

Dia adalah Empu Kanwa, seorang ahli sastra, seorang sastrawan besar yang dihormati oleh Sang Prabu Erlangga sendiri karena keahliannya itu dan karena kebijaksanaannya.

Sudah lama Empu Kanwa menjadi sahabat baik Empu Bharada walaupun keadaan diri mereka jauh berbeda.

Empu Kanwa adalah seorang sastrawan yang tidak menyukai kekerasan, seorang yang tubuhnya lemah seperti orang biasa, sebaliknya Empu Bharada adalah seorang yang sakti mandraguna.

Mereka saling mengagumi.

Empu Kanwa mengagumi kesaktian Empu Bharada, sebaliknya Empu Bharada mengagumi Empu Kanwa karena kecemertangannya dalam perbincangan tentang kehidupan.

Ketika Empu Kanwa tiba di pendopo Empu Bharada menyambut dengan wajah girang.

Mereka saling berpelukan dengan senyum yang penuh kegembiraan.

"Pantas pagi tadi burung prenjak berkicau riang mengisaratkan datangnya seorang tamu penting! Kiranya andika yang datang berkunjung! Selamat datang, Kakang Kanwa!"

Kata Empu Bharada. Empu Kanwa menepuk-nepuk pundak tuan rumah sambil tertawa.

"Ha-ha-ha, bagi seorang bijaksana seperti andika, alam ini bagaikan sebuah kitab terbuka lebar, membuka semua rahasia peristiwa yang akan terjadi. Bagaimana, Adi Bharada, selama ini andika baik-baik saja, bukan?"

"Baik-baik, terima kasih atas doa restumu, Kakang Kanwa. Mari, mari .silakan duduk!"

Empu Bharada menggandeng lengan Empu Kanwa dan diajaknya duduk di ruangan dalam, duduk di atas lantai beralaskan tikar halus menghadapi sebuah meja pendek.

Pada saat itu, Dwipo keluar menyuguhkan ubi yang masih megepulkan uap dan sepoci air teh dengan cangkirnya.

Mereka bercakap-cakap, saling menanyakan keadaan masing-masing selama mereka tak jumpa.

Sudah setengah tahun lebih mereka tidak pernah berjumpa karena Empu Kanwa adalah seorang yang suka berkelana seorang diri, tidak terikat keluarga, harta benda, atau apapun juga.

Dari ruangan itu, mereka dapat melihat keadaan di taman sebelah rumah itu melalui jendela yang terbuka lebar.

Sinar matahari pagi tampak menerobos antara celah-celah daun pohon dan beberapa ekor burung yang masih bermalas-malasan meninggalkan pohon, mandi sinar matahari sambil menyisiri bulu dengan paruh mereka sambil bercowetan saling menegur.

Beberapa ekor kupu-kupu dengan sayapnya yang indah beterbangan di antara bunga-bunga mawar yang beraneka warna.

"Lihat, Kakang Kanwa, alangkah indahnya pagi ini. Kedatangan andika menambah keindahan hari ini!"

Kata Empu Bharada, sengaja memancing tanggapan Empu Kanwa atas pendapatnya itu.

Dia selalu kagum akan gagasan-gagasan yang cemerlang dan baru dari sahabatnya itu dan dapat banyak memetik buahnya yang dapat memperluas pengertiannya tentang kehidupan ini.Empu Kanwa memandang ke luar jendela, mulutnya tersenyum dan matanya bersinar-sinar.

"Adi Bharada, segala macam keindahan yang menjadi hasil pendapat dan penilaian hanyalah bayangan dari suasana hati. Kalau hati sedang senang maka segalapun tampak indah,'sebaliknya kalau hati sedang susah, maka segalapun tampak buruk!"

Empu Bharada tersenyum dan mengangguk-angguk maklum karena memang tidak mungkin ucapan Empu Kanwa itu dibantah lagi. Yang diucapkan itu memang suatu kenyataan.

"Aku dapat merasakan kebenaran itu, Kakang Kanwa Lalu apakah keindahan yang sejati itu?"

"Adi Bharada, aku tidak berwenang menentukan apa itu keindahan yang sejati. Aku hanya mengenal keindahan yang kurasakan setiap saat, keindahan dari kenyataan yang ada tanpa adanya penilaian dan pendapat. Tanpa adanya si aku yang merasakan keindahan itu karena diri ini menjadi sebagian dari keindahan itu, tidak terpisah. Di manapun, bilamanapun, dalam keadaan apapun, keindahan itu menjadi bagian hidup ini sehingga diri ini hanya dapat memuji sukur yang tiada hentinya kepada Sang Hyang Widhi Sang Pencipta keindahan itu sendiri."

"Hemm, ucapan andika mengandung makna yang amat dalam dan menambah pengertian yang amat berarti bagiku, Kakang Kanwa. Ada hal yang selalu mengherankan hatiku kalau mengingat akan keadaan andika. Gusti Sinuwun sudah memberi banyak hadiah kepada andika berupa tanah, rumah dan harta benda. Akan tetapi semua itu andika bagi-bagikan kepada orang-orang sehingga andika tidak mempunyai apa-apa lagi. Mengapa andika lebih suka hidup miskin, kakang?"

Empu Kanwa tertawa.

"Ha-ha-ha, siapa bilang aku miskin, adi? Aku sama sekali bukan orang miskin!"

"Wah, kalau begitu, andika seorang kaya?"

Kembali Empu Kanwa tertawa.

"Tidak, aku bukan orang kaya. Miskin tidak, kayapun tidak. Aku ini orang cukup, tidak kurang tidak lebih melainkan cukup dan karena aku merasa cukup, berkecukupan segala kebutuhan hidupku, maka setiap saat aku selalu berterima kasih dan bersukur memuji nama Sang Hyang Widhi."

Empu Bharada mengangguk-angguk.

"Bukan main! Seperti andika inilah yang patut disebut manusia yang berbahagia kakang. Orang miskin selalu merasa tidak cukup, bahkan orang kayapun tidak ada yang merasa cukup! Nafsu angkara murka membuat orang tidak pernah merasa cukup, biar seluruh dunia diberikan kepadanya dia masih menginginkan dunia yang ke dua, ke tiga dan seterusnya. Ada satu hal lagi yang ingin kuperbincangkan dengan andika, Kakang Kanwa. Dia antara kita berdua terdapat perbedaan yang amat besar. Aku mempelajari aji kanuragan dan kesaktian sejak kecil dan andika mempelajari kesusastraan sehingga keadaan kita berdua sekarang berbeda jauh. Lalu apa bedanya tugas di antara kita yang berbeda jauh keadaannya ini?"

"Apanya yang berbeda, Adi Bharada Tidak ada bedanya sama sekali! Tugas kita, juga tugas seluruh manusia di dunia, adalah sama. Tugas kita, adalah 'mamayu hayuning bawana' (mengusahakan kesejahteraan dunia/manusia), tentu saja dengan cara dan keahlian masing-masing! Segala apapun yang tampak maupun yang tidak tampak adalah milik Sang Hyang Widhi. Kalau milikNya itu diberikan kepada kita secara berlimpahan maka sudah menjadi kehendakNya agar kita melimpahkan karunia itu kepada orang-orang lain sehingga kita menjadi alat bagi Sang Hyang Widhi untuk menyalurkan berkahNya."

"Nanti dulu Kakang Kanwa. Apa yang andika ucapkan ini penting sekali dan aku mohon penjelasan."

"Kekayaan, kepandaian, kekuatan, kekuasaan, semua itu adalah milik Sang Hyang Widhi, hanya dipinjamkan kepada manusia tertentu selagi manusia itu hidup dengan tugas kewajiban untuk melimpahkan semua kelebihan itu kepada mereka yang membutuhkan. Karena itu, orang kaya harus memberikan sebagian kekayaannya kepada orang miskin yang membutuhkannya, orang pandai harus memberikan sebagian kepandaiannya kepada orang bodoh yang membutuhkannya, orang kuat harus memberikan sebagian kekuatannya kepada orang lemah yang membutuhkan, orang berkuasa harus menggunakan kekuasaannya untuk menyejahterakan rakyat kecil yang membutuhkan pertolongannya dan sebagainya. Pemberian itu harus tanpa pamrih untuk kepentingan diri sendiri, melainkan semata-mata sebagai pelaksana tugas kewajiban sebagai penyalur berkah Sang Hyang Widhi kepada manusia."

"Jagad Dewa Bathara! Wejanganmu ini teramat penting, kakang. Aku akan membantu menyebar luaskan pengertian ini. Akan tetapi berapa gelintir manusia yang sanggup melaksanakan tugas suci itu? Mereka pasti tidak rela kehilangan ....."

"Kehilangan apa, Adi Bharada? Yang diberikan kepada orang lain itu bukan miliknya! Itu milik Sang Hyang Widhi Kalau Yang Maha Kuasa mengambil kembali miliknya berupa harta, kepandaian, kekuatan, kekuasaan itu dari orang yang dititipiNya, orang itu dapat berbuat apakah? Bahkan nyawa itupun milikNya dan kalau Dia mengambilnya kembali, orang itupun tidak akan dapat berbuat apa-apa untuk menolaknya. Memang, kuasa kegelapan akan selalu menghalangi manusia yang ingin menjadi alat Sang Hyang Widhi, ingin menarik semua manusia untuk menjadi alatnya, alat setan. Karena itu, kita harus mohon kepada Sang Hyang Widhi setiap saat agar Dia bertahta dalam hati sanubari kita sehingga tumbuh Kasih dengan suburnya. Kalau ada Kasih tumbuh dalam hati sanubari kita, maka tugas itu akan kita laksanakan dengan baik, bersih dari pada pamrih karena digerakkan oleh kekuasaan-Nya!"

Percakapan antara kedua orang empu sambil makan ubi rebus dan minum air teh ini tiba-tiba terhenti ketika terdengar gerengan dahsyat yang membuat ruangan di mana kedua empu itu duduk bercakap-cakap, tergetar dan disusul bunyi ledakan tiga kali yang amat nyaring.

Kemudian terdengar suara besar parau menggelegar.

"Haiii! Empu Bharada, keluarlah kamu! Kami ingin bicara!"

Empu Bharada memandang kepada Empu Kanwa sambil menghela napas.

"Ah, agaknya andika lebih bijaksana memilih tugas, kakang. Tugasku ini lebih banyak bertemu dengan kekerasan dan pertentangan."

Empu Kanwa tersenyum.

"Sama saja tantangan selalu ada, Adi Bharada. Yang penting kita membela kebenaran dan keadilan dan selalu berusaha menjadi alat Sang Hyang Widhi."

"Andika duduklah saja di sini, kakang Aku akan menemui mereka di luar"

Setelah berkata demikian, Empu Bharada lalu keluar dari rumahnya.

Sementara itu, lima orang cantri murid Empu Bharada telah berada di pekarangan, menghadapi dua orang kakek yang berdiri di situ dan yang tadi berteriak memanggil Empu Bharada.

Kakek pertama berusia lima puluh lima tahun bertubuh tinggi besar bermuka penuh brewok, berpakaian mewah seperti orang bangsawan tinggi.

Dia adalah Resi Bajrasakti, datuk penasihat kerajaan Wengker itu.

Adapun orang ke dua berusia lima puluh tahun, bertubuh sedang dengan wajah tampan gagah dengan kumis melintang seperti Raden Gatotkaca.

Dia adalah Ki Nagakumala, paman dan juga guru Lasmini dan Mandari.

Seperti telah kita ketahui, Ki Nagakumala dan adiknya, Ratu Durgamala, telah mendengar pelaporan kedua orang puteri ratu kerajaan Parang Siluman itu tentang Empu Bharada yang memperingatkan Sang Prabu Erlangga dan merupakan ancaman bagi kedua orang puteri.

Mereka lalu mengatur rencana.

Ratu Durgamala lalu menghubungi Kerajaan Wengker yang menjadi sekutunya, minta bantuan untuk membinasakan Empu Bharada yang merupakan ancaman dan dapat menggagalkan rencana untuk mengadu domba antara Sang Prabu Erlangga dan Ki Patih Narotama.

Adipati Adhamapanuda, raja Wengker, lalu mengutus Resi Bajrasakti untuk membantu.

Demikianlah, Resi Bajrasakti sebagai utusan Kerajaan Wengker dan Ki Nagakumala yang mewakili Kerajaan Parang Siluman lalu berangkat ke Lemah Citra mencari Empu Bharada.

Dwipo mewakili rekan-rekannya berkata kepada dua orang tamu itu.

"Harap andika berdua tidak berteriak-teriak seperti itu. Kalau andika hendak bertamu, beritahukanlah nama andika dan akan kami laporkan kepada Bapa Empu."

Ucapan itu walaupun nadanya halus namun mengandung teguran, seolah mengingatkan bahwa sikap yang diperlihatkan dua orang itu sebagai tamu adalah kurang pantas.

Resi Bajrasakti yang berwatak brangasan (pemarah) mengerutkan alisnya yang tebal.

Dia menggulung ujung cambuknya dengan tangan kiri dan dengan sikap angkuh dia bertanya kepada lima orang cantrik itu.

"Heh, kalian berlima ini siapa berani menyambut kami dengan lancang? Hayo suruh Empu Bharada keluar menemui kami!"

Dwipo menjawab dengan alis berkerut "Kami adalah para cantrik yang melayani Bapa Empu. Katakan siapa andika agar dapat kami laporkan ke dalam."

Mendengar ini, Resi Bajrasakti tertawa bergelak.

"Hua-ha-ha-ha! Hanya cantrik? Cantrik-cantrik kurus kelaparan jangan banyak tingkah. Hayo menari!"

Setelah berkata demikian, cambuknya menyambar-nyambar ke depan, ke arah kaki lima orang cantrik itu, suaranya meledak-ledak nyaring.

Para cantrik terkejut, ujung cambuk yang mengenai kaki mendatangkan rasa panas dan nyeri sehingga mereka terpaksa berloncat-loncatan untuk menghindarkan cambukan.

Karena mereka berloncat-loncatan, maka mereka seolah menari-nari dan hal ini dianggap lucu sekali oleh Resi Bajrasakti dan Ki Nagakumala sehingga mereka tertawa-tawa.

"Tar-tar-tar-tar-tar ..... plakk!"

Tiba tiba ujung cambuk itu mental karena bertemu dengan ujung lengan baju yang menangkisnya.

Resi Bajrasakti terkejut dan menghentikan gerakan cambuknya, memandang kepada Empu Bharada yang tadinya menangkis cambuk itu dengan ujung lengan bajunya yang longgar dan panjang.

"Kalian masuklah dan obati kaki kalian."

Kata Empu Bharada kepada lima orang cantrik yang kakinya lecet-lecet terkena sengatan ujung cambuk.

Setelah lima orang cantrik itu memasuki rumah, Empu Bharada menghadapi dua orang itu, mengamati mereka penuh selidik.

Dia mengangguk-angguk setelah mengenal siapa dua orang yang datang membikin kacau itu.

'Teja-teja sulaksana!

Kalau aku tidak salah duga, andika tentu Resi Bajrasakti, datuk besar dari Kadipaten Wengker yang tersohor itu."

Empu Bharada kini memandang kepada orang ke dua.

"Dan bukankah andika ini Ki Nagakumala, pertapa di Junggringslaka itu?"

Resi Bajrasakti mendengus dengan sikap mengejek lalu berkata dengan lantang dan angkuh.

"Ha, inikah Empu Bharada yang terkenal itu? Ternyata matamu masih tajam, dapat mengenal kami berdua!"

"Resi Bajrasakti, karena andika tadi berteriak memanggilku keluar, maka kini aku keluar menyambut kalian dan katakanlah, apa maksud kedatangan andika berdua ini?"

Kini Ki Nagakumala yang menjawab.

Sikap kakek ini tidaklah sekasar sikap Resi Bajrasakti, bahkan sikapnya halus dan gagah, namun suaranya mengandung kebencian melihat orang yang menjadi penghalang bagi dua orang keponakannya itu.

"Empu Bharada, namamu tersohor sampai ke sepanjang pantai Laut Kidul, bergelora menyaingi Laut Kidul. Karena itu, kami sengaja datang untuk membuktikan sendiri sampai dimana kedigdayaan Empu Bharada yang terkenal sakti mandraguna itu!"

"Hemm, Ki Nagakumala, apakah gerangan yang tersembunyi di balik kata kata andika itu? Apa yang andika maksudkan?"

Resi Bajrasakti tertawa.

"Ha-ha-ha! Masih kurang jelaskah, Empu Bharada? tentu saja maksud kami adalah untuk bertanding aji kesaktian denganmu, untuk menguji apakah benar-benar andika sakti mandraguna ataukah ketenaranmu itu hanya kosong belaka!"

"Jagad Dewa Bathara! jadi kalian berdua ini jauh-jauh datang berkunjung ke sini hanya untuk menantang aku bertanding? Sungguh tidak masuk akal kalau andika berdua menantang aku tanpa alasan apapun. Secara pribadi, di antara kita tidak ada permusuhan apapun. Terus terang saja, Resi Bajrasakti dan Ki Nagakumala, katakan mengapa kalian menantangku bertanding?"

"Ha-ha, apa anehnya itu, Empu Bharada? Di antara kerajaan Kahuripan dan kerajan kami berdua, Wengker dan Parang Siluman, sejak dulu memang sudah bermusuhan. Andika setia kepada Kahuripan dan kamipun setia kepada kerajaan kami masing-masing. Selain itu, kami sudah mendengar akan kesombongan yang selalu menganggap diri paling sakti Karena itulah kami sengaja datang untuk menantangmu dan menghentikan kesombonganmu!"

Kata Resi Bajrasakti.

"Hemm, andika berdua bukalah telinga kalian baik-baik dan dengar kata-kataku ini! Kalau kalian datang menantangku bertanding hanya karena perasaan pribadi untuk mengujiku, aku tidak bersedia melayani ulah nafsu kalian. Akan tetapi kalau kalian datang sebagai utusan Wengker dan Parang Siluman untuk mengacau Kahuripan, akulah yang akan menentang kalian!"

"Babo-babo, manusia sombong! Sambut ini! "

Resi Bajrasakti mengeluarkan segenggam pasir yang sejak tadi sudah dia persiapkan dan setelah berkemak-kemik membaca mantra dia melempar segenggam pasir itu ke atas dan berseru dengan suara nyaring berwibawa.

"Aji Bramara Sewu (Lebah Seribu)....."

Sungguh aneh!

Segenggam pasir itu setelah dilontarkan keatas segera berubah menjadi serombongan lebah yang beterbangan sambil mengeluarkan suara berdengung.

Rombongan lebah ini meluncur dan menyerang ke arah Empu Bharada.

Empu Bharada memandang serangan yang mengandung ilmu sihir ini sebagai permainan kanak-kanak.

Dengan tenang dia menggerakkan lengan kirinya dan jubahnya yang panjang dan lebar itu mengebut ke atas.

Angin yang amat kuat bertiup ke arah serombongan lebah yang datang menyerang.

"Kembalilah ke asalmu!"

Bentaknya dengan suara lembut namun amat berwibawa.

Angin dari kebutan jubah itu menyambar serombongan lebah jadi-jadian dan runtuhlah semua lebah itu, jatuh ke atas tanah dan kembali menjadi pasir yang berserakan!

Resi Bajrasakti terkejut dan menjadi marah sekali.

Dia membaca mantra dan mengerahkan Aji Panglimutan agar dirinya tidak tampak oleh Empu Bharada sehingga dia akan dapat menyerang dan membunuh sang empu.

Muncullah halimun tebal yang menutup tubuhnya sehingga lenyap dari pandang mata.

Akan tetap kembali Empu Bharada mengebutkan jubahnya beberapa kali dan.....

halimun tebal itupun membuyar dan lenyap sehingga tubuh Resi Bajrasakti tampak lagi.

Merah wajah sang resi datuk Wengker ini.

"Aji Sihung Naga ...... haaiiiikk!"

Resi Bajrasakti kini menggerakkan tubuh dan menerjang maju, kedua tangannya yang besar panjang itu melakukan serangan pukulan bertubi.

Pukulan itu dahsyat sekali, ketika tangannya menyambar, terdengar suara angin bersiutan, tanda betapa kuatnya pukulan itu.

Dengan tenang namun gesit dan ringan, tubuh Empu Bharada menghindarkan diri dengan elakan-elakan.

Sampai belasan kali Resi Bajrasakti menyerang dengan pukulan bertubi-tubi, namun selalu pukulan dahsyat itu hanya mengenai angin karena tubuh sang empu berkelebat bagaikan bayangan yang tidak dapat terkena pukulan.

"Hyaaahhh!"

Kembali pukulan tangan kanan Resi Bajrasakti menyambar kearah perut sang empu.

Empu Bharada miringkan tubuh dan tangan kanannya menyambar ke depan, menangkap pergelangan tangan lawan dan dengan sentakan kuat menarik lengan tangan lawan sehingga ketika dilepaskan, tubuh Resi Bajrasakti geloyoran (terhuyung) ke depan dan hampir terjungkal.

Namun dia berhasil mematahkan daya dorongan yang kuat itu dengan cara melompat ke atas dan ketika turun lagi, tangannya sudah memegang gagang cambuk yang terbuat dari gading gajah itu.

Kini dia marah sekali dan tanpa banyak cakap lagi dia sudah menyerang dengan senjata cambuk pusaka itu.

'Tar-tar-tarrr .....!"

Cambuk itu meledak-ledak di atas lalu turun menyambar ke arah tubuh Empu Bharada.

Namun, kini tubuh Empu Bharada bergerak lebih cepat lagi sehingga tubuhnya berkelebatan, sukar sekali diserang karena tubuh itu berpindah-pindah sehingga membingungkan lawan.

Sang empu yang sakti ini telah mempergunakan Aji Bayu Sakti yang membuat tubuhnya ringan sekali dan dapat bergerak cepat sekali.

Kini, melihat ancaman cambuk yang ampuh itu, Empu Bharada mulai membalas dengan tamparan-tamparan kedua tangannya.

Tamparan itu tampaknya perlahan saja, namun tamparan tangan yang dibarengi dengan menyambarnya ujung lengan baju yang longgar itu membawa tenaga sakti yang amat kuat.

Bahkan kedua tangan yang sudah dipenuhi tenaga sakti itu berani menyambut dan menangkis sambaran cambuk dan beberapa kali tangan empu berusaha untuk menangkap ujung cambuk!

Tentu saja Resi Bajrasakti tidak membiarkan ujung cambuknya ditangkap karena kalau hal itu terjadi cambuknya dapat rusak, putus atau bahkan terampas lawan!

Perkelahian menjadi seimbang, bahkan Resi Bajrasakti tampak terdesak karena dia mulai merasa gentar melawan empu yang sakti mandraguna ini.

Melihat betapa temannya tidak mampu mengalahkan Empu Bharada, Ki Nagakumala yang tadinya hanya menonton, tidak dapat tinggal diam.

Rencana mereka berdua datang ke Lemah Citra adalah untuk membunuh Empu Bharada.

Kalau tadi dia diam saja adalah karena dia percaya bahwa Resi Bajrasakti yang angkuh itu akan mampu merobohkan sang empu.

Dia tidak ingin menyinggung perasaan datuk Wengker itu dengan membantunya.

Akan tetapi kini melihat kenyataan bahwa sang resi malah terdesak, terpaksa dia lalu melompat maju dan menyerang Empu Bharada dengan pukulan tangan kanannya.

"Sambut Aji Ampak-ampak!"

Bentaknya dan ketika tangan kanan itu menyambar dengan telapak tangan terbuka ada hawa yang amat dingin terasa oleh Empu Bharada.

Sang empu terkejut karena dia mengenal ilmu pukulan yang ampuh, pukulan yang mengandung tenaga sakti berhawa dingin.

Pukulan seperti ini kalau mengenai sasaran amat berbahaya.

Darah dalam tubuh dapat membeku terpengaruh hawa dingin itu!

Menghadapi pengeroyokan dua orang lawan yang sakti itu, Empu Bharada mulai terdesak hebat.

Dia masih mampu menghindarkan semua serangan kedua orang lawannya dengan pengerahan Aji Bayu Sakti, akan tetapi dia tidak mendapat kesempatan untuk membalas dengan dua aji pukulannya yang ampuh, yaitu Aji Sihung Warak dan Aji Tapak Saloko.

Dia terdesak terus, hanya mampu mengelak dan kadang menangkis, tidak sempat membalas serangan.

Tiba-tiba tampak bayangan berkelebat dan seorang pria berusia sekitar empat puluh tahun muncul.

Pria ini bertubuh sedang, penampilannya sederhana, pakaiannya juga pakaian longgar seperti yang biasa dipakai seorang petani dusun.

Akan tetapi sepasang matanya mencorong pertanda bahwa dia adalah seorang yang "berisi".

"Hcmm, sungguh licik dan curang! Dua orang mengeroyok seorang lawan! Kakang Empu, maafkan kalau aku membantu andika tanpa diperintah!"

Setelah berkata demikian, pria itu cepat menerjang ke arah Ki Nagakumala dengan tamparan tangan kiri yang mendatangkan angin dahsyat.

"Sambut Aji Gelap Musti!"

Bentaknya ketika tangannya menyambar dan menampar ke arah dada Ki Nagakumala.

Pertapa Jonggringslaka ini terkejut bukan main dan maklum bahwa lawan barunya ini memiliki aji pukulan yang dahsyat.

Maka diapun cepat mengangkat tangan untuk menangkis sambil mengerahkan seluruh tenaga saktinya.

"Desss .....!!"

Dua lengan bertemu dan akibatnya Ki Nagakumalaka terdorong kebelakang sampai terhuyung sedangkan lawannya hanya mundur dua langkah.

Ini menunjukkan bahwa Ki Nagakumala masih kalah kuat dalam adu tenaga sakti.

Hatinya menjadi gentar.

Demikian pula Resi Bajrasakti, melihat Ki Nagakumala tidak lagi dapat membantunya karena diserang pendatang baru itu, menjadi gentar karena merasa bahwa seorang diri saja dia tidak akan mampu menandingi kedigdayaan Empu Bharada.

Tiba-tiba Resi Bajrasakti mengerahkan Aji Panglimutan lagi.

Halimun putih tebal menyelubungi tempat itu.

"Kita pergi!"

Katanya kepada Ki Nagakumala yang maklum akan isarat ini.

Maka kedua orang itu lalu melompat jauh dan menggunakan ilmu mereka untuk melarikan diri secepatnya.

Setelah Empu Bharada mengusir halimun dengan kebutan jubahnya, ternyata kedua orang penyerbu itu telah lenyap.

Dia menghela napas dan memandang kepada orang yang membantunya tadi.

"Adi Bargowo, Sang Hyang Widhi telah mengirim andika datang membantuku sehingga aku terbebas dari ancaman dua orang sakti tadi. Selamat datang, adi!"

Pria itu melangkah maju menghampiri Empu Bharada dan mereka saling rangkul. Pria itu adalah Ki Bargowo yang merupakan adik seperguruan yang kemudian menjadi adik angkat Empu Bharada.

"Kakang Bharada, aku sungguh merasa terkejut dan heran. Sudah tiga tahun kita tidak saling berjumpa, dan aku tahu bahwa andika telah menjadi pembantu yang amat dikasihi Gusti Sinuwun, mendapat anugerah dan hidup dengan tentram di tanah perdikan Lemah Citra ini. Akan tetapi apa yang kulihat tadi? Andika bertanding melawan dua orang sakti yang berbahaya! Bagaimana andika dapat hidup terancam bahaya seperti itu, kakang?"

Empu Bharada tersenyum dan menarik tangan Ki Bargowo diajak masuk ke ruangan dalam.

"Kita bicara di dalam saja, Adi Bargowo, dan di dalam masih ada seorang sahabat baikku, yaitu Empu Kanwa, seorang sastrawan yang bijaksana. Mari kuperkenalkan dan nanti kujelaskan semua."

Sambil bergandengan tangan mereka berdua memasuki ruangan di mana Empu Kanwa masih duduk sambil makan ubi rebus dengan enaknya.

Empu Bharada tidak merasa heran melihat sikap sahabatnya ini, yang masih duduk enak-enak dan tenang-tenang saja walaupun maklum bahwa dia berhadapan dengan orang orang yang memaksanya bertanding.

Padahal Empu Kanwa adalah seorang yang lemah jasmaninya.

Namun dia adalah seorang yang sudah sepenuhnya percaya dan pasrah kepada kekuasaan Sang Hyang Widhi, maklum bahwa kalau Hyang Widhi menghendaki seseorang selamat, biarpun dikeroyok selaksa bahayapun akan dapat lolos, namun sebaliknya kalau Hyang Widhi menghendaki seseorang mati, biarpun seribu orang dewa tidak akan mampu menghindarkannya dari kematian!

Karena kepasrahannya itu, juga karena merasa tidak berdaya, dia tenang tenang saja.

Kalau sahabatnya itu masuk lagi dengan selamat, hal itu tidak aneh baginya, juga kalau sahabatnya itu digotong masuk menjadi jenazah, diapun tidak akan merasa aneh!

Betapapun juga, ketika dia melihat Empu Bharada memasuki ruangan itu,bergandengan tangan dengan seorang pria sederhana yang tidak dia kenal, senyumnya semakin cerah dan pandang matanya bersinar-sinar, lalu memandang kepada Ki Bargowo dengan sinar mata penuh selidik.

"Kakang Kanwa, perkenalkan. Ini adalah adik seperguruan, juga adik angkatku bernama Ki Bargowo yang tinggal di Sungapan, muara Kali Progo. Dialah yang tadi datang secara kebetulan dan dapat membantuku sehingga kami dapat mengusir Resi Bajrasakti dan Ki Nagakumala yang dating dengan niat menantang yang berarti mereka hendak membunuhku."

Kemudian Empu Bharada menoleh kepada adiknya.

"Adi Bargowo, sahabat baikku ini adalah Kakang Kanwa, sastrawan paling terkenal di Kahuripan."

"Kakang Empu Kanwa, saya Bargowo menghaturkan salam hormat."

Kata Ki Bargowo. Empu Kanwa mengangkat tangan sebagai tanda salam dan berkata.

"Adi Bargowo, karena andika ini adik Adi Bharada, maka seperti adikku juga. Mari kita duduk dan bicara dengan enak."

Setelah mereka duduk bersila mengelilingi meja pendek, Ki Bargowo yang tidak sabar lagi lalu bertanya kepada Empu Bharada.

"Kakang Bharada, apakah yang andika maksudkan tadi Resi Bajrasakti datuk dari Kadipaten Wengker, dan Ki Nagakumala itu kakak dari Sang Ratu Durgamala dari Kerajaan Parang Siluman?"

"Benar, adi. Serbuan mereka ke sini itu memperkuat dugaanku bahwa Wengker dan Parang Siluman telah bersekutu dan mulai melakukan aksi pengacauan keKahuripan. Tidak mungkin aku yang menjadi sasaran, karena aku tidak mempunyai permusuhan atau permasalahan pribadi dengan mereka. Mereka tentu menyerang dan hendak membunuhku sebagai penasihat Gusti Sinuwun Erlangga."

"Perang, perang, perang .....! Selama manusia masih dikuasai dan diperbudak nafsu daya rendah yang berada dalam dirinya sendiri, maka permusuhan, perang dan bunuh membunuh antara manusia masih akan terus terjadi. Bumi akan menjadi neraka dan manusia hanya akan menderita kesengsaraan."

Kata Empu Kanwa seperti orang bertembang. Mendengar ini, Empu Bharada tersenyum saja, akan tetapi Ki Bargowo mendengarkan dengan hati tertarik.

"Maaf, Kakang Empu Kanwa, apa yang kakang ucapkan itu sungguh tepat dan kenyataannya memang demikian. Apakah dengan demikian kakang hendak mengemukakan pendapat bahwa orang yang mempelajari aji kanuragan dan olah gegaman (senjata) itu tidak benar?"

Empu Kanwa juga tersenyum dan setelah mengamati wajah Ki Bargowo sejenak, dia lalu menembang dengan tembang Sekar Pangkur.

"Kawaca raras kawuryan Miwah mundi saradibya umingis Ing mangka punika tuhu Aling-aJinging anggo Ananangi hardaning kang hawa napsu Manawi sampun angrcdha Dadya rubeda ngribedi." ( Suka akan baju perang dan membawa senjata terhunus padahal semua itu sesungguhnya menutupi kebersihan hati membangkitkan gelora hawa nafsu kalau sudah merajalela menjadi halangan yang mengganggu. ) Empu Bharada dan Ki Bargowo saling pandang dan merasa penasaran karena dalam tembang itu Empu Kanwa jelas mencela orang yang. mempelajari kedigdayaan dan olah senjata. Empu Bharada yang sudah tanggap akan pandangan Empu Kanwa hanya tersenyum, akan tetapi Ki Bargowo yang merasa penasaran bertanya lagi, dan nada suaranya membantah.

"Akan tetapi. Kakang Empu Kanwa, terkadang, bahkan sering terjadi, perbuatan baik yang membela kebenaran dan keadilan, harus dilengkapi dengan aji kanuragan, baru dapat terlaksana dengan baik. Bagi perorangan, kepandaian itu penting untuk membela diri dan bagi negara, kekuatan balatentara amat penting untuk menegakkan kedaulatan negara. Apakah setiap orang yang mempelajari kanuragan lalu menjadi hamba nafsu dan jahat?"

Kembali Empu Kanwa bertembang, masih dengan tembang Sekar Pangkur.

"Datan pisah mg gegaman karsanira kinarya ngreksa mnng raharjaning bawana gung sarana anumpesa sagung ingkang dadya memala satuhu pra manungsa ingkang sasar marang anggering durnadi." (Tidak pisah dari senjata agar dapat menjaga ketentraman dunia dengan membinasakan segala yang menjadi penyakit para manusia yang menyimpang dari kebenaran hidup.) "Ha-ha-ha!"

Empu Bharada tertawa.

"Kakang Kanwa semula mencela, kemudian membela orang yang mempelajari kanuragan."

Empu Kanwa juga tersenyum.

"Sesungguhnya, aji kanuragan dan senjata hanyalah alat dan seperti segala macam alat di dunia ini, tidak mempunyai sifat baik maupun buruk. Baik dan buruknya suatu alat tergantung dari manusianya sendiri yang mempergunakannya. Para satria mempergunakan aji kanuragan dan senjata untuk membela kebenaran dan keadilan, menentang penindasan dan kejahatan, membela mereka yang tertindas, dengan demikian maka kanuragan dan senjata itu menjadi alat yang baik. Akan tetapi banyak orang tersesat yang mempergunakan kanuragan dan senjata untuk memaksakan keinginan mereka, sewenangwenang, melakukan hukum rimba sehingga dengan demikian maka kanuragan dan senjata itu menjadi alat yang amat buruk. Akan tetapi, Adi Bargowo, kanuragan dan senjata itu mendatangkan kekuatan yang memberi kekuasaan kepada manusia. Kekuasaan inilah yang condong untuk mendorong manusia melakukan tindakan sewenang-wenang, mengandalkan kekuatannya dan kekuasaannya. Bukan berarti bahwa orang seperti aku, yang lemah dan bisanya hanya termenung mengkhayal, menerawang dan menulis tidak akan dapat melakukan kejahatan mencelakai orang lain. Tentu saja dapat, walau tidak dengan mengandalkan kekuatan dan kekerasan. Akan tetapi kecondongannya tidak sekuat orang yang menjadi ahli kanuragan. Karena itu, yang terpenting adalah jangan sampai nafsu daya rendah yang semestinya menjadi pembantu itu berubah menjadi majikan."

Kembali terdengar Empu Bharada tertawa.

"Wah, wah! Andika beruntung sekali, Adi Bargowo. Begitu datang bertemu dengan seorang guru yang memberi wejangan yang amat berharga. Akan tetapi, setelah lama tidak berjumpa denganmu, aku ingin sekali mendengar keterangan tentang keadaanmu sekarang, adi. Yang terakhir kita bertemu adalah ketika andika melaksanakan pernikahanmu tiga tahun yang lalu. Bagaimana kabarnya dengan isterimu?"

"Keadaan kami baik saja, kakang. Kami telah mempunyai seorang anak perempuan yang kini berusia satu tahun."

"Ah, aku ikut berbahagia mendengarnya, Adi Bargowo. Mudah-mudahan anakmu kelak menjadi seorang manusia yang berbakti kepada Sang Hyang Widhi, kepada orang tuanya, dan kepada bangsa dan negara."

"Terima kasih, Kakang Bharada. Semoga doa restu kakang menyertai kami dan harapan kakang itu akan terjadi."

"Sekarang katakan, kepentingan apakah yang membawamu datang ke sini?"

"Sesungguhnya tidak ada persoalan apapun, kakang. Aku hanya merasa kangen dan ingin bertemu dan bercakap-cakap denganmu. Kebetulan sekali kedatanganku tepat pada saat andika dikeroyok dua orang datuk itu. Sebetulnya, apakah yang menyebabkan mereka berdua itu menyerangmu?"

"Sudah kukatakan tadi, Adi Bargowo. Mereka dating mencari gara-gara, memusuhi aku hanya karena aku menjadi penasihat Sang Prabu Erlangga. Jelas mereka itu bermaksud mendatangkan kekacauan di Kahuripan. Aku harus melaporkan hal ini kepada Gusti Sinuwun agar beliau berhati-hati dan kalau perlu mengirim para petugas untuk melakukan pemantauan gerak-gerik dan kegiatan di Kadipaten Wengker dan Parang Siluman."

"Kakang Bharada orang-orang dari daerah-daerah yang dikuasai orang-orang sesat itu memang kejam sekali. Dalam perjalananku menuju ke sini, akupun mendengar berita yang amat mengejutkan, yaitu bahwa Empu Dewamurti yang bertapa di tepi Laut Kidul dekat dengan dusun Karang Tirta, juga menjadi korban keganasan mereka. Kabar yang kudengar mengatakan bahwa Empu Dewamurti tewas. Memang tidak ada penduduk sekitar Karang Tirta melihat kejadian itu, akan tetapi mereka melihat munculnya lima orang di dusun itu sebelum Empu Dewamurti tewas. Dan menurut penggambaran penduduk mengenai lima orang itu, aku menduga bahwa mereka itu adalah Resi Bajrasakti yang tadi, Ratu Mayang Gupita, ratu kerajaan kecil liar Siluman Laut Kidul, dan tiga orang yang terkenal dengan sebutan Tri Kala, para jagoan dari Wura-wuri."

"Jagad Dewa Bathara.....! Mulai berjatuhan korban keganasan mereka.....! Empu Dewamurti adalah seorang ahli membuat keris pusaka yang pandai dan dia juga seorang yang sakti mandraguna. Kahuripan kehilangan seorang empu pembuat pusaka yang pandai."

Kata Empu Bharada.

"Ketika aku berada di Karang Tirta, aku mendengar pula kabar dari penduduk di sana bahwa mendiang Empu Dewamurti meninggalkan seorang murid bernama Nurseta dan kabarnya pemuda itu telah menemukan sebatang keris pusaka bernama Kyai Megatantra. Pemuda itu telah pergi dan tak seorangpun mengetahui ke mana dia pergi."

"Sang Megatantra .....?"

Empu Bharada dan Empu Kanwa berseru hampir berbareng.

"Wah, Megatantra adalah sebuah keris pusaka di jaman Kerajaan Medang Kamulan yang terkenal ampuh sekali dan kabarnya pusaka itu hilang puluhan tahun yang lalu!"

Kata Empu Kanwa. Empu Bharada mengangguk-angguk.

"Benar, Kakang Kanwa. Megatantra merupakan satu di antara pusaka-pusaka istana Mataram, bahkan dianggap sebagai satu di antara wahyu mahkota kerajaan Mataram. Pusaka itu lenyap sekitar tujuh puluh tahun yang lalu. Kalau benar Sang Megatantra kini telah muncul kembali, Gusti Sinuwun harus mengetahuinya. Harus diusahakan agar pusaka itu kembali ke istana Kahuripan sebagai keturunan Mataram. Kalau sampai pusaka itu terjatuh ke tangan orang jahat, hal itu berbahaya sekali dan dapat menimbulkan bencana."

Tiga orang itu bercakap-cakap sampai malam.

Pada keesokan harinya, baik Empu Kanwa maupun Ki Bargowo berpamit dan meninggalkan Lemah Citra, pulang ke tempat tinggal masing-masing.

Lembah hijau subur yang terletak di antara Gunung Arjuna dan Gunung Bromo itu termasuk dalam wilayah Kerajaan Wura-wuri yang pusat kerajaannya berada di Lwarang (Loarang/Lawang).

Di sana terdapat beberapa buah dusun yang penduduknya menjadi petani yang cukup makmur karena tanah di daerah itu amat loh jinawi (subur).

Di atas sebuah bukit kecil yang agak terpencil terdapat sebuah rumah mungil, tidak mempunyai tetangga, seolah bukit itu seluruhnya dikuasai oleh si pemilik rumah.

Sebatang sungai kecil yang airnya jernih sekali mengalir gemercik di belakang rumah.Sungai kecil itu terbentuk oleh sumber air yang memancar dari sebuah sumber air di puncak bukit dan menjadi sebatang sungai kecil yang mengalir turun melalui belakang rumah.

Suatu pagi yang indah.

Sinar matahari yang keemasan dan gemilang baru saja menyelesaikan tugasnya sejak fajar mengusir halimun pagi, menggugah ayam dan burung-burung dari tidur lelap dan memberi kehangatan yang menyehatkan dan menyegarkan.

Lembah itu memiliki hawa udara yang amat nyaman, tidak terlalu dingin seperti di kedua gunung yang terletak di barat dan timur itu?

Ayam dan burung menyambut pagi dengan kokok dan kicau mereka sebagai tanda bersukur dan terima kasih kepada Sang Hyang Widhi yang telah menganugerahkan segala keindahan dan kenikmatan hidup itu.

Di belakang rumah itu terdapat sebuah kebun yang dipenuhi tanaman bunga beraneka macam, terutama yang terbanyak bunga melati dan bunga mawar, berbagai warna, pohon-pohon buah mangga, jeruk, jambu, rambutan dan, sawo.

Di tengah-tengah kebun itulah anak sungai berair jernih itu mengalir, bermain-main dengan batu-batu hitam sambil bercanda, gemerciknya seperti tawa ria yang tiada hentinya.

Angin pagi itu sepoi-sepoi, berbisik-bisik di antara daun-daun pohon seolah ikut berdendang tentang keindahan alam pagi hari, diseling kicau burung kutilang, eniprit dan gereja.

Seorang gadis duduk di atas batu hitam sebesar perut kerbau yang terletak di tepi anak sungai itu.

Batu itu licin bersih mengkilap dan gadis itu duduk dengan kedua kaki berjuntai ke bawah, termenung melamun sambil memandang ke arah air yang tiada hentinya bergerak menari dan berdendang.

Semangatnya seolah hanyut bersama air sungai itu menuju ke hilir, ke bawah bukit.

Gadis itu berusia kurang lebih delapan belas tahun, bertubuh sedang dan bagaikan setangkai bunga yang sedang mekar, tubuh itu padat dengan lekuk lengkung yang indah sempurna.

Kulit yang tampak pada muka, leher, lengan dan sebagian kakinya itu putih mulus kekuningan.

Rambutnya panjang dan saat itu terurai sampai ke bawah pinggul yang membusung, agak berombak.

Sinom (anak rambut) melingkar-lingkar di pelipis dan dahinya.

Agaknya ia hendak mandi maka rambutnya diurai dan ada sebuah keranjang terisi pakaian yang hendak dicuci terletak di tepi anak sungai.

Wajahnya ayu manis merak ati dengan sepasang alis hitam kecil melengkung seperti dilukis.

Sepasang matanya mencorong seperti bintang, jeli dan tajam walau sinarnya mengandung kekerasan hati.

Hidungnya kecil mancung dan yang amat menarik adalah mulutnya!

Bibir itu tipis, basah kemerahan, dengan lekuk yang menantang dan menggairahkan, manis sekali.

Tahi lalat kecil hitam di dagu menambah kemanisan wajahnya.

Agaknya kini ia sadar dari lamunannya, lalu kedua tangannya mengatur rambutnya untuk disanggul.

Gerakan menyanggul rambut dengan kedua lengan ditekuk ke belakang kepala ini merupakan gerakan khas wanita yang selalu amat indah, manis dan menarik hati kaum pria.

Seperti gerakan tarian yang manis.

Setelah rambutnya disanggul, tiba-tiba gadis itu membuat gerakan melompat dari atas batu.

Gerakan ini mengejutkan karena berlawanan dengan gerakan tadi ketika menyanggul rambutnya, tadi gerakannya begitu luwes dan lembut.

Kini ia melompat dengan gerakan tangkas, kemudian mulailah ia bersilat dan orang yang dapat melihatnya tentu akan ternganga keheranan.

Gerakannya selain amat cepat juga mengandung tenaga kuat sehingga setiap tangannya bergerak, terdengar desir angin bersiutan dan tanaman-tanaman yang tumbuh di arah ia melakukan pukulan, seperti tertiup angin yang kuat!

Kemudian ia melompat ke atas, ke arah pohon jambu yang tumbuh di tepi anak sungai.

"Krekk!"

Ia sudah menyambar dan mematahkan sebatang ranting pohon jambu.

Kemudian ia menggunakan ranting itu untuk bersilat, memainkan ranting itu seolah benda itu merupakan sebatang pedang.

Dan tampaklah daun-daun jambu yang terendah jatuh berhamburan seperti dibabat senjata tajam!

Ranting itu berubah menjadi gulungan sinar dan tubuhnya sendiri lenyap terbungkus gulungan sinar, hanya tampak sebagai bayangan yang berkelebat ke sana-sini dengan amat cepatnya.

Lama juga ia berlatih silat.

Setelah, puas ia berhenti, membuang ranting dan mengusap leher jenjang itu yang berkeringat, lalu melepaskan lagi gelungan rambutnya sehingga rambut itu terurai, kembali.

Kini ia tidak melamun lagi melainkan mengambil keranjang pakaiannya dan mulai mencuci pakaian di atas batu-batu hitam yang menonjol dari permukaan air sungai yang dalamnya hanya sampai ke pinggangnya.

Karena sudah terbiasa dan merasa yakin bahwa tempat itu tidak mungkin didatangi orang lain, ia lalu menanggalkan seluruh pakaiannya untuk sekalian dicuci.

Sungguh merupakan pemandangan dialam bebas yang amat indah dan gadis yang bertelanjang bulat itu merupakan bagian yang tak terpisahkan dari seluruh alam yang mempesona.

Dongeng tentang bidadari yang mandi di telaga, seperti gadis itulah agaknya!

Setelah selesai mencuci pakaian yang diperasnya kering dan dimasukkan ke keranjang pakaian, ia lalu mandi.

Berkali-kali ia membenamkan kepalanya ke dalam air, menggosok-gosok kulit tubuhnya dengan sebuah batu yang halus licin.

Tubuhnya terasa segar dan gosokan batu itu membuat kulitnya tampak putih kemerahan, seperti kulit buah tomat yang sedang menguning.

Akhirnya ia selesai mandi, mengeringkan tubuhnya dengan sehelai kain dan mengenakan pakaian bersih yang memang sudah dipersiapkannya dan diletakkan di atas batu yang kering, la menggulung dan memeras rambutnya yang hitam panjang, lalu membiarkannya terurai agar cepat kering.

Baru saja ia keluar dari anak sungai dan hendak membawa keranjang pakaian pergi dari situ, tiba-tiba berkelebat sesosok bayangan dan tahu tahu seorang wanita berdiri tak jauh di depan gadis itu.

Wanita ini tampaknya seperti berusia paling banyak dua puluh lima tahun.

padahal sesungguhnya usianya sudah dua kali itu, sudah lima puluh tahun.

Cantik jelita, pesolek dan pakaiannya mewah.

Di punggungnya tergantung sebatang pedang dengan sarung yang indah.

Wanita itu menggandeng tangan seorang pemuda remaja berusia kurang lebih enam belas tahun, pemuda remaja yang tampan.

Sejenak gadis dan wanita itu saling tatap dan sinar mata gadis itU mencorong penuh kemarahan.

"Nini Puspa Dewi, aku baru pulang,"

Kata wanita cantik itu, suaranya terdengar sungkan-sungkan.

Gadis itu adalah Puspa Dewi, gadis dari Karang Tirta yang lima tahun lalu d iculik Nyi Dewi Durgakumala kemudian dijadikan murid bahkan diangkat menjadi anaknya.

Wanita itu adalah Nyi Durgakumala sendiri.

Puspa Dewi memandang kepada pemuda remaja itu, kemudian ia membanting kaki kirinya tiga kali dengan jengkel lalu berkata dengan ketus.

"Ibu ini bagaimana sih? Apa belum juga mau bertaubat? Berapa kali sudah kukatakan bahwa kalau ibu melanjutkan kebiasaan yang amat hina dan memalukan ini, aku tidak sudi tinggal lebih lama bersamamu dan akan minggat!"

Sungguh amat mengherankan.

Nyi Dewi Durgakumala yang dahulu terkenal sebagai iblis betina yang berhati baja dan tidak pernah mau tunduk kepada siapapun juga, kini berdiri di depan muridnya yang telah menjadi anak angkatnya dengan kepala ditundukkan dan sikapnya seperti seorang anak kecil yang merasa bersalah di depan ibunya!

Ternyata semenjak ia mempunyai Puspa Dewi sebagai murid dan anak angkat, bergaul setiap hari, ia mencinta gadis itu sedemikian rupa sehingga ia amat (Lanjut ke

Jilid 10) Keris Pusaka Sang Megatantra (seri ke 01 -Serial Keris Pusaka Sang Megatantra) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo

Jilid 10 memanjakan gadis itu.

Cintanya yang luar biasa inilah yang membuat ia selalu menuruti kehendak Puspa Dewi, apa lagi kalau gadis itu mengancam hendak minggat dan meninggalkannya.

Hatinya akan hancur dan hidup ini rasanya sengsara bagi Nyi Dewi Durgakumala kalau sampai Puspa Dewi membencinya.

Ia juga telah menurunkan semua aji kesaktiannya kepada gadis yang amat disayangnya itu dan mendapatkan kenyataan yang amat menggirangkan hatinya bahwa gadis itu ternyata memiliki bakat yang amat besar dalam olah kanuragan.

Bahkan gadis itupun mewarisi wataknya yang keras dan ganas.

Akan tetapi, gadis itu selalu menentangnya kalau ia melakukan hal-hal yang tidak disetujuinya, termasuk kesukaannya membawa laki-laki muda untuk bersenang senang.

"Aduh Dewi.....!"

Nyi Dewi Durgakumala mengeluh dengan suara seperti meratap.

"Engkau selalu melarang aku bersenang-senang dan akupun selama ini selalu menurut. Akan tetapi sekali ini saja, biarkan aku bersenang-senang dengan pemuda ini, Dewi. Sekali ini saja! Engkau tahu, aku kesepian sekali ....."

"Kesepian? Ibu kesepian? Bukankah di sini ada aku yang selalu menemani dan melayani ibu?"

Puspa Dewi membantah.

"Tentu saja keberadaanmu amat membahagiakan hatiku, anakku. Akan tetapi aku ..... sewaktu-waktu ..... aku butuh laki-laki ....."

"Hemm, kalau ibu membutuhkan laki-laki, bukan begini caranya! Kenapa ibu tidak menikah saja? Bukankah sebulan yang lalu Sang Adipati Bhismaprabhawa melamar ibu untuk menjadi permaisurinya? Kenapa ibu tidak menerima lamarannya itu?"

"Tapi ..... tapi ....."

"Tidak ada tapi, ibu. Sekarang ibu pilih saja, berat aku atau berat kadal ini. Kalau ibu berat dia, biar sekarang juga aku pergi dari sini dan selamanya tidak akan bertemu lagi dengan ibu."

"Jangan, Dewi! Jangan tinggalkan aku.."

"Kalau ibu tidak ingin aku pergi, cepat suruh kadal ini turun bukit dan jangan ibu ulangi perbuatan yang hina ini!"

Nyi Dewi Durgakumala menghela napas panjang, memandang wajah pemuda remaja yang tampan itu. Kemudian ia menepuk punggung pemuda itu dan berkata.

"Pergilah engkau menuruni bukit ini! "

Pemuda itu tampak kecewa dan menatap wajah Puspa Dewi dengan alis berkerut seperti orang marah, kemudian dia memutar tubuhnya dan pergi menuruni bukit itu melalui jalan setapak.

Puspa Dewi mengikuti bayangan pemuda itu dengan pandang matanya, kemudian ia menoleh kepada ibu angkatnya dan mencela.

"Ibu menyerangnya dengan Aji Wisakenaka (Kuku Beracun) dan dia akan mati setelah tiba di bawah bukit. Kenapa ibu membunuhnya?"

"Tentu saja! Habis, apakah engkau ingin dia mengoceh di bawah bukit dan menceritakan kepada semua orang tentang percakapan kita berdua tadi? Mari kita masuk rumah dan usulmu tentang lamaran Adipati Bhismaprabhawa tadi akan kupertimbangkan. Setelah kupikir-pikir pendapatmu itu memang benar. Kalau tidak sekarang aku mencari kedudukan, kapan lagi? Aku akan menjadi permaisuri Raja Wura-wuri, kemuliaan dan kekuasaan akan berada di tanganku. Ah, engkau memang pintar dan ayu! Aku bangga mempunyai anak seperti engkau, Puspa Dewi!"

Nyi Dewi Durgakumala lalu merangkul dan menciumi gadis itu.

Mereka bergandengan tangan memasuki rumah mungil mereka.

Memang aneh hubungan antara Nyi Dewi Durgakumala dan Puspa Dewi itu.

Ketika lima tahun yang lalu Puspa Dewi dibawa pergi Nyi Dewi Durgakumala, wanita yang menjadi tokoh sakti yang membantu kerajaan Wura-wuri ini berhati keras dan berwatak kejam sekali, la tinggal di Lembah Tengkorak, di sebuah bukit kecil yang terletak di antara Gunung Arjuna dan Gunung Bromo itu.

Semua penduduk di sekitar bukit itu maklum bahwa rumah mungil di atas bukit itu dihuni oleh Nyi Dewi Durgakumala bersama puterinya yang bernama Puspa Dewi.

Tak seorangpun berani memasuki daerah Lembah Tengkorak apa lagi mendaki bukit kecil itu.

Mereka semua mengenal nama Nyi Dewi Durgakumala sebagai tokoh besar Wura-wuri, berkuasa dan sakti mandraguna, juga kejam terhadap siapa saja yang melakukan pelanggaran.

Ia menggembleng Puspa Dewi selama lima tahun sehingga gadis itu kini menjadi seorang yang memiliki ilmu kepandaian tinggi.

Bukan itu saja, bahkan Puspa Dewi dapat menundukkan hati guru atau ibu angkatnya itu yang amat mengasihinya.

Dan harus diakui bahwa Puspa Dewi sesungguhnya juga amat sayang kepada ibu angkatnya itu, yang telah mendidiknya dengan penuh kasih sayang.

Setelah menerima pendidikan iblis betina itu, otomatis Puspa Dewi juga mewarisi keganasannya.

Ia menjadi seorang gadis yang keras hati dan tidak mau kalah, lincah dan terbuka.

Akan tetapi karena pada dasarnya ia bukan keturunan orang jahat, biarpun wataknya keras dan sikapnya ugal-ugalan, pada dasarnya Puspa Dewi tidak suka akan perbuatan jahat seperti yang diperlihatkan ketika ia menentang ibu angkatnya yang menculik pemuda remaja untuk melampiaskan nafsu berahinya.

Di dasar hatinya Puspa Dewi memiliki rasa keadilan yang kokoh.

Beberapa hari kemudian Nyi Dewi Durgakumala mengajak Puspa Dewi pergi menghadap Raja atau Adipati Bhismaprabhawa, yaitu raja Wura-wuri yang berusia lima puluh tahun.

Raja yang bertubuh tinggi kurus ini telah melamar Nyi Dewi Durgakumala untuk dijadikan isterinya.

Sang adipati ingin mengangkat datuk wanita itu menjadi isterinya bukan hanya karena wanita itu masih tampak cantik dan muda, melainkan terutama sekali karena wanita itu sakti mandraguna.

Kalau sudah menjadi isterinya, maka hal ini akan memperkuat kedudukannya sebagai raja Wura-wuri!

Kini sebulan telah berlalu dan hari itu adalah hari yang dijanjikan Nyi Dewi Durgakumala untuk memberi jawaban keputusan tentang lamaran itu.

Setelah diterima oleh Adipati Shismaprabhawa di ruangan tertutup, Nyi Dewi Durgakumala dipersilakan duduk di atas sebuah kursi dan Puspa Dewi duduk di atas lantai bertilamkan permadani.

Kedua orang wanita itu menghadap Adipati Bhismaprabhawa yang menyambut mereka dengan senyum kagum dan penuh harapan.

Alangkah cantik jelita guru dan murid ini, pikirnya.

Dan dia tahu pula bahwa mereka berdua juga memiliki kesaktian yang boleh diandalkan.

Betapa akan bahagia dan aman hidupnya kalau dia dapat memiliki mereka itu sebagai isteri dan anaknya.

"Aha, Nyi Dewi Durgakumala, ternyata andika dapat memegang janji karena hari ini tepat sudah waktu sebulan yang andika minta untuk memberi jawaban atas pinanganku. Nah, bagaimana jawabanmu itu, Kuharap tidak akan mengecewakan."

Kata Adipati Bhismaprabhawa sambil mengelus jenggotnya yang jarang.

Dia memang selalu menghormati wanita ini karena sejak Nyi Dewi Durgakumala membantu Wura-wuri, wanita ini sudah membuat banyak jasa.

Pada hal wanita ini bukan kawula Wura-wuri, melainkan berasal dari daerah Blambangan.

Nyi Dewi Durgakumala tersenyum lalu menjawab.

"Sesungguhnya hamba telah siap dengan jawaban hamba....."

"Ah, andika dapat menerima pinanganku, bukan? Andika bersedia menjadi isteriku?"

Adipati itu mendesak dengan penuh harapan. Kembali Nyi Dewi Durgakumala tersenyum manis.

"Hamba dapat menerimanya dengan senang hati akan tetapi hanya dengan dua syarat."

"Dua syarat saja? Biar ada dua puluh tentu akan kupenuhi! Nah, katakan, apa syaratmu itu, Nyi Dewi?"

"Pertama, hamba minta agar paduka menganggap Puspa Dewi, murid dan anak angkat hamba ini, sebagai puteri paduka sendiri."

"Bagus!"

Adipati Bhistaprabhawa itu bersorak karena hal itu memang merupakan keinginannya.

"Kuterima dengan senang hati syarat itu. Heh, Nini Puspa Dewi, mulai saat ini, andika adalah puteriku, kuangkat menjadi Puteri Keraton Wura-wuri!"

Puspa Dewi menyembah dan berkata.

"Terima kasih, gusti."

Adipati itu membelalakkan matanya yang kecil.

"Apa gusti? Mulai saat ini aku adalah ayahmu, maka andika harus menyebut kanjeng rama!"

"Baik, kanjeng rama."

Puspa Dewi menyembah lagi.

"Ha-ha-ha-ha! Senang hatiku, mempunyai seorang puteri yang sudah dewasa dan dalam hal kecantikan dan kesaktian, tidak ada puteri lain yang dapat menandingimu, Nini Puspa Dewi. Nah, Nyi Dewi, syarat apa lagi yang andika inginkan?"

Adipati itu menantang, siap untuk memenuhi permintaan selanjutnya dari wanita yang masih tampak cantik, menarik dan genit itu.

"Hanya sebuah syarat lagi saja, gusti."

"Heiiit! Engkaupun tidak boleh menyebut gusti padaku. Mulai sekarang harus menyebut Kakangmas Adipati dan aku menyebutmu diajeng. Lebih mesra begitu. Nah, katakan apa syaratmu yang sebuah lagi itu, diajeng Dewi?"

Nyi Dewi Durgakumala tersenyum dan mengerling dengan genit dan menarik sehingga sang adipati memandang dengar gemas dan menjilat bibirnya sendiri seperti seekor srigala melihat seekor kelinci yang muda dan gemuk!

"Begini kakangmas, syarat hamba yang kedua ini adalah agar paduka menjatuhkan hukuman mati kepada Gendari."

Wajah yang kurus itu berubah agak pucat dan mata yang kecil itu terbelalak.

"Apa.....? Menghukum..... mati..... diajeng Gendari? Tapi kenapa .....?"

Sang adipati bertanya gagap.

Gendari merupakan selirnya yang paling dikasihi karena selir yang usianya tiga puluh tahun itu memang paling cantik di antara isteri isterinya dan pandai memikat hatinya.

Nyi Dewi Durgakumala tersenyum-mengejek.

"Paduka tidak setuju dan tidak dapat memenuhi syarat hamba yang kedua ini, bukan? Nah, kalau begitu, terpaksa hamba tidak dapat menerima pinangan paduka dan hamba bersama puteri hamba akan pergi meninggalkan Wura-wuri. Masih banyak kerajaan yang akan mau menerima pengabdian kami. Bahkan Sang Prabu Erlangga tentu akan menerima kami dengan tangan terbuka."

"Eh, jangan! Jangan marah dulu, diajeng. Bukan aku menolak syaratmu itu. Akan tetapi aku ingin tahu, kenapa andika minta agar Gendari dihukum mati?"

"Hemm, wanita itu sejak hamba mengabdikan diri di Wura-wuri telah bersikap memusuhi hamba, hal itu dapat hamba rasakan dari cara matanya memandang hamba dan bibirnya selalu mengejek kalau bertemu hamba. Tak mungkin hamba dapat hidup bersama wanita itu sebagai madu hamba. Pendeknya, ia harus mati atau hamba menolak pinangan paduka!"

Adipati Bhismaprabhawa mengerutkan alisnya dan menghela napas.

Dia harus mengalah.

Gendari hanya seorang wanita lemah, hanya memiliki kecantikan dan dapat menghibur hatinya.

Selain itu, tidak ada gunanya.

Sebaliknya, Nyi Dewi Durgakumala ini selain dapat menjadi seorang isteri yang cantik jelita dan memikat, juga dapat menjadi seorang yang akan memperkuat kedudukannya karena ia seorang wanita yang sakti mandraguna.

"Hemm, kalau begitu ....."

Melihat sang adipati itu jelas hendak menuruti kehendak ibunya, Puspa Dewi yang sejak tadi mendengarkan dengan alis berkerut karena tidak setuju dengan syarat yang diajukan ibunya mengenai wanita bernama Gendari itu, segera berkata.

"Ampunkan hamba, gusti..... eh maaf, kanjeng rama Kanjeng ibu tidak suka tinggal serumah dengan wanita bernama Gendari itu. Hal itu mudah saja diatasi, Kalau paduka menyingkirkannya, mengirimnya pulang ke tempat asalnya, tentu ia tidak akan tinggal di sini lagi dan tidak akan mengganggu kanjeng ibu. bukankah jalan ini baik sekali, ibu?"

Puspa Dewi menatap wajah ibunya.

Mereka saling pandang dan Nyi Dewi Durgakumala menghela napas panjang.

Dalam sinar mata anak angkatnya itu kembali ia melihat ancaman gadis itu untuk meninggalkannya kalau ia tidak setuju!

la mengangguk dan berkata lirih.

"Begitu juga baik ....."

Adipati Bhismaprabhawa menghela napas lega.

Dia tidak berkeberatan kehilangan Gendari karena sebagai penggantinya dia mendapatkan Nyi Dewi Durgakumala.

Akan tetapi untuk membunuh Gendari, dia tidak tega.

Sudah sepuluh tahun Gendari menjadi selirnya yang terkasih dan dia masih sayang kepada wanita itu.

Kini ada jalan keluar yang amat baik.

Dia dapat mengirim Gendari kembali ke orang tuanya dan membekali banyak harta kepada selir terkasih ini.

Masih baik bahwa Gendari tidak mempunyai anak sehingga ikatan di antara mereka tidak terlalu kuat.

"Baiklah, hari ini juga aku akan menyuruh Gendari pergi dan pulang ke kampung halamannya, dan mulai hari ini juga, andika diajeng Dewi dan andika, Nini Puspa Dewi, kalian tinggal di istana kadipaten. Kita akan mengadakan sebuah pesta perayaan besar untuk pernikahan kita, diajeng Dewi."

Demikianlah, dengan derai air mata, akan tetapi dengan membawa banyak harta benda, Nyi Gendari diantar pengawal dengan sebuah kereta, pulang ke kampung halamannya.

Sementara itu, di kadipaten diadakan pesta perayaan untuk menyambut Nyi Dewi Durgakumala sebagai isteri sang adipati.

Dengan sendirinya Puspa Dewi mulai hari itu menjadi puteri adipati dan gadis itu merasa bangga juga mendengar orang-orang menyebutnya gusti puteri sekar kedaton!

Kurang lebih sebulan setelah peristiwa itu terjadi, pada suatu pagi Adipati Bhismaprabhawa dan Nyi Dewi Durgakumala memanggil Puspa Dewi untuk menghadap.

Setelah tiga orang ini duduk di ruangan dalam, Nyi Dewi Durgakumala berkata kepada gadis itu.

"Anakku bocah ayu Puspa Dewi, sekarang semua aji kesaktian telah kuajarkan kepadamu. Tibalah saatnya bagimu untuk memanfaatkan semua yang telah kaupelajari itu untuk berbakti kepada kanjeng ramamu dan Kadipaten Wura wuri."

Puspa Dewi mengangkat muka menatap wajah ibu angkatnya dengan penuh selidik.

"Kanjeng ibu, apakah yang ibu maksudkan? Apa yang harus kulakukan?"

"Begini, Puspa Dewi. Engkau tentu sudah sering mendengar dari ibumu bahwa Wura-wuri mempunyai musuh besar, yaitu Kerajaan Kahuripan yang dipimpin oleh Sang Prabu Erlangga dan patihnya yang bernama Ki Patih Narotama. Kerajaan Kahuripan dengan rajanya yang angkara murka itu selalu ingin menguasai kadipaten-kadipaten seperti Wura-wuri, Wengker, Parang Siluman dan lain-lain. Sejak dahulu, Mataram memang menjadi musuh kita sampai keturunannya yang sekarang. Nah, sekarang terbuka kesempatan bagi kita untuk bersama kadipaten lain menghancurkan keturunan Mataram itu dan kami mengandalkan bantuanmu dalam usaha ini, Nini Puspa Dewi."

Gadis itu menatap wajah sang adipati dengan pandang mata penuh selidik.

"Lalu apa yang dapat saya lakukan, kanjeng rama?"

"Begini, Puspa Dewi. Pada saat ini, kerajaan kecil Parang Siluman sedang berusaha untuk menghancurkan Mataram, bukan dengan jalan perang karena hal itu tidak akan menguntungkan, mengingat bahwa Kahuripan, kelanjutan Mataram itu, memiliki bala tentara yang kuat. Kini Parang Siluman mempergunakan cara halus dan tampaknya akan berhasil baik. Kerajaan Wengker sudah membantu Parang Siluman, bahkan kerajaan kecil Siluman Laut Kidul juga siap membantu. Kita tidak mau ketinggalan dan kalau kita semua bersatu dalam usaha ini, tentu akan membawa hasil lebih baik."

"Cara apakah yang dipergunakan itu, kanjeng rama?"

"Kahuripan mempunyai raja yang sakti mandraguna, yaitu Sang Prabu Erlangga, dibantu patihnya yang menjadi tulang punggung kerajaan bernama Ki Patih Narotama. Nah, untuk menghancurkan Kahuripan, kini diusahakan untuk membinasakan kedua orang pemimpin itu, dengan cara mengadu domba di antara keduanya, atau membunuh keduanya.

"Akan tetapi, paduka tadi mengatakan bahwa kedua orang itu sakti mandraguna dan sebagai raja dan patihnya tentu mereka itu mempunyai pasukan pengawal yang amat kuat. Bagaimana mungkin membunuh mereka?"

Tanya Puspa Dewi.

"Ratu Durgamala dari Kerajaan Parang Siluman telah menggunakan siasat yang baik sekali. Ia mempunyai dua orang puteri yang cantik bernama Lasmini dan Mandari dan sekarang dua orang puteri cantik itu telah berhasil menyusup ke Kahuripan. Puteri Mandari kini menjadi selir terkasih Sang Prabu Erlangga, sedangkan Puteri Lasmini menjadi selir Ki Patih Narotama."

Puspa Dewi mengerutkan alisnya.

"Memusuhi mereka, mengapa malah menjadi selir mereka?"

"Jangan salah mengerti, anakku."

Kata Nyi Dewi Durgakumala.

"mereka menjadi selir hanya untuk mencari kesempatan melaksanakan siasat mereka, yaitu mengadu domba antara raja dan patihnya itu, atau kalau mungkin membunuh mereka."

"Hemm, begitukah?"

Kata Puspa Dewi, diam-diam merasa heran sekali bagaimana dua orang gadis cantik itu mau melakukan hal seperti itu. Kalau ia yang disuruh mengorbankan diri seperti itu, tentu saja ia tidak sudi.

"Lalu, apa yang dapat saya lakukan, kanjeng rama?"

"Nini, seperti kukatakan tadi, kita harus membantu gerakan mereka yang berusaha menghancurkan Kahuripan. Engkau wakililah Wura-wuri untuk bersekutu dengan kedua orang puteri Parang Siluman itu, dan bekerja sama dengan kadipaten Wengker, kerajaan Siluman Laut Kidul dan kerajaan Parang Siluman. Kalau sampai usaha membinasakan Sang Prabu Erlangga dan Patih Narotama berhasil, Kahuripan tentu akan mudah kita taklukkan!"

"Kenapa harus saya yang mewakili Wura-wuri, kanjeng rama?"

"Anakku, kenapa masih kautanyakan hal itu? Ada tiga alasan kuat mengapa engkau yang dipilih kanjeng ramamu mewakili Wura-wuri. Pertama, engkau adalah puteri sekar kedaton Wura-wuri, sudah sepatutnya engkau berdarma bakti kepada Wura-wuri. Ke dua, kalau menyuruh para tokoh Wurawuri, tentu akan dikenal oleh orang-orang Kahuripan sedangkan engkau tidak akan dikenal dan tidak dicurigai karena engkau berasal dari dusun Karang Tirta yang termasuk daerah Kahuripan sendiri. Dan ke tiga, sekarang terbuka kesempatan bagimu untuk mempergunakan semua aji kesaktian yang selama ini kaupelajari."

Puspa Dewi tiba-tiba teringat akan ibunya yang tinggal di Karang Tirta dan timbul rasa rindunya.

Selama kurang lebih setengah tahun akhir-akhir ini ia memang ingin sekali pergi ke Karang Tirta, akan tetapi ibu angkatnya selalu melarangnya dan bagaimanapun juga, ia memang memiliki rasa saying kepada Nyi Dewi Durgakumala yang amat menyayangnya dan yang telah mendidiknya dengan tekun selama lima tahun lebih.

Kini ia mendapat kesempatan untuk meninggalkan Wura-wuri dan kembali ke tempat tinggal ibu kandungnya.

"Kanjeng rama, kalau saya menerima tugas itu, lalu apa saja yang harus saya kerjakan? Saya sama sekali tidak mempunyai pengalaman tentang pekerjaan ini."

Tanyanya kepada sang adipati.

"Ha-ha-ha!"

Adipati Bhismaprabhawa tertawa.

"Andika memang belum berpengalaman, nini. Akan tetapi andika memiliki aji kesaktian yang memungkinkan andika melakukan apa saja. Kalau andika sudah memasuki Kahuripan dan bertemu dengan kedua orang puteri Parang Siluman itu, atau bertemu dengan wakil-wakil dari kerajaan Wengker, Parang Siluman, dan Siluman Laut Kidul, andika tentu akan tahu apa yang harus dilakukan. Singkatnya, andika harus bekerja sama dengan mereka dan andika harus memusuhi Sang Prabu Erlangga dan Ki Patih Narotama, juga siapa saja yang setia dan mendukung kedua orang pimpinan Kahuripan itu."

Puspa Dewi mengangguk.

"Baiklah, kanjeng rama, saya akan melaksanakan tugas itu. Kapan saya diharuskan berangkat?"

Sebelum sang adipati menjawab, Nyi Dewi Durgakumala mendahului.

"Besok pagi saja, anakku. Malam ini engkau harus tidur sekamar denganku. Aku ingin bicara banyak denganmu, untuk bekal perjalananmu."

Malam itu Puspa Dewi mendengar banyak hal dari guru atau ibu angkatnya.

Nyi Dewi Durgakumala memperkenalkan nama tokoh-tokoh besar yang menjadi kawan atau yang menjadi lawan, juga keadaan kerajaan Kahuripan dan para kadipaten yang memusuhi kerajaan itu pada umumnya.

Antara lain ia menekankan dua buah hal yang harus diperhatikan dara itu.

"Ingatlah selalu akan dua hal penting ini, anakku. Pertama, aku mempunyai seorang musuh besar yang amat kubenci, dia adalah Ki Patih Narotama, patih Kerajaaan Kahuripan. Balaslah dendam sakit hatiku kepadanya, Puspa Dewi. Usahakanlah agar engkau dapat membunuh musuh besarku itu!"

"Ibu Dewi, mengapa ibu mendendam dan memusuhinya? Kalau aku harus membunuhnya, aku ingin tahu mengapa ibu mendendam kepadanya."

Tanya Puspa Dewi. Pertanyaan ini saja sudah menunjukkan bahwa pada dasarnya gadis itu tidak memiliki watak jahat dan kejam. Setiap perbuatannya ia perhitungkan lebih dulu sebab dan alasannya.

"Dia telah menghinaku, mempermalukan aku, dan lebih dari itu, dia telah membunuh anakku yang baru berusia empat tahun!"

Kata Nyi Dewi Durgakumala dengan geram dan tiba-tiba kedua matanya menjadi basah. Ia menangis! Puspa Dewi terkejut. Belum pernah ia melihat gurunya atau ibu angkatnya itu menangis.

"Ah, apakah yang telah dia lakukan, ibu?"

"Terus terang saja, aku pernah tergila-gila kepada Narotama akan tetapi ketika kunyatakan cintaku kepadanya, dia malah mengejek dan menghinaku. Bukan itu saja, dia menyerangku dan serangannya itu mengenai anak yang berada di gendonganku sehingga anak itu tewas..."

Puspa Dewi mengerutkan alisnya dan mengepal tangan kanannya.

"Si keparat Narotama. Jangan khawatir, ibu. Aku pasti akan membalaskan sakit hati itu!"

"Bagus, nini. Sekarang urusan ke dua yang juga tidak kalah pentingnya. Kurang lebih lima tahun yang lalu, terjadi perebutan keris pusaka Megatantra antara aku, Resi Bajrasakti dari Wengker, dan Empu Dewamurti. Akhirnya yang menang adalah Empu Dewamurti dan keris itu ada padanya. Akan tetapi, belum lama ini aku mendengar bahwa Empu Dewamurti telah tewas dan keris pusaka itu entah berada di mana, tidak ada yang mengetahuinya. Akan tetapi aku dapat menduga di mana adanya keris pusaka Megatantra itu. Ketika itu, ada seorang pemuda yang datang membawa keris pusaka Megatantra itu dan dia dilindungi oleh Empu Dewamurti. Keris pusaka itu sekarang tentu berada di tangan pemuda itu."

Puspa Dewi mengenang peristiwa lima tahun lalu itu.

"Aku ingat, ibu ....., yang ibu maksudkan itu tentulah Nurseta."

Nyi Dewi Durgakumala tertarik.

"Nurseta?"

"Ya, Nurseta. Dia adalah pemuda remaja dari Karang Tirta dan dia yang menyuruh aku dan Linggajaya melarikan diri ketika terjadi perkelahian antara ibu, Resi Bajrasakti, dan Empu Dewamurti itu."

"Ah, sungguh beruntung engkau mengenalnya, Puspa Dewi. Nah, engkau carilah Nurseta itu. Engkau harus dapat merampas keris pusaka Megatantra itu dari tangannya atau dari tangan siapapun juga."

"Hemm, untuk apa memperebutkan keris pusaka, ibu?"

"Wah, engkau tidak tahu, nini Seluruh tokoh sakti di dunia memperebutkannya. Kautahu, keris pusaka Sang Megatantra itu merupakan keris pusaka yang amat ampuh. Bukan itu saja, malah keris pusaka itu merupakan wahyu mahkota, siapa yang memilikinya, berhak menjadi raja besar yang menguasai seluruh nusantara. Engkau harus dapat merampas keris pusaka itu, nini. Kita berdua akan hidup mulia kalau dapat menguasai keris pusaka itu!"

Puspa Dewi menyambut dengan dingin saja. la sendiri tidak begitu tertarik, akan tetapi ia harus melakukan dua tugas itu untuk gurunya, sebagai balas budi.

"Baiklah, ibu. Akan kulaksanakan apa yang ibu pesan itu."

Pada keesokan harinya, pagi-pagi Puspa Dewi berpamit kepada Nyi Dewi Durgakumala dan Adipati Bhismaprabhawa.

Sang adipati memberinya seekor kuda putih dan bekal sekantung emas.

Nyi Dewi Durgakumala memberikan senjatanya yang ampuh, yaitu Candrasa Langking (Pedang Hitam) kepada anak angkatnya.

Puspa Dewi menggantung pedang di pinggang, menggendong buntalan pakaian, lalu menunggang kuda putih dan melarikan kuda itu keluar dari kota kadipaten Wura-wuri menuju ke barat, ke wilayah Kahuripan.

Akan tetapi ia tidak langsung pergi ke kota raja itu, melainkan hendak menuju ke dusun Karang Tirta di sebelah selatan wilayah Kahuripan untuk pulang ke rumah ibu kandungnya.

Ketika Puspa Dewi keluar dari kota kadipaten Wura-wuri, di atas jalan yang diapit hutan, tiba-tiba tampak tiga orang muncul dan menghadang di tengah jalan.

Mereka adalah tiga orang laki-laki yang berusia antara lima puluh sampai enam puluh tahun, berpakaian bangsawan dan sikap mereka gagah.

Melihat tiga orang itu, Puspa Dewi segera mengenal mereka dan iapun menahan kendali kudanya sehingga kuda putih itu berhenti, meringkik dan mengangkat kedua kaki depannya keatas.

Namun dengan cekatan Puspa Dewi mampu menenangkan kudanya, lalu ia melompat turun dari atas punggung kuda dan memegang kendali kuda, menghadapi tiga orang itu.

Mereka itu bukan lain adalah tiga orang yang selama ini menjadi jagoan dan orang orang kepercayaan sang adipati dan terkenal dengan sebutan Tri Kala (Tiga Kala).

Yang pertama bernama Kalamuka, berusia enam puluh tahun, tinggi kurus mukanya meruncing seperti muka tikus.

Orang ke dua bernama Kalamanik, bertubuh pendek gendut dan mukanya selalu menyeringai tersenyum lebar, berbeda dengan muka Kalamuka yang selalu cemberut.

Orang ke dua ini berusia lima puluh lima tahun.

Adapun orang ke tiga bernama Kalateja, berusia lima puluh tahun kepalanya gundul plontos, mukanya juga licin tanpa kumis dan jenggot.

"Hei, paman Tri Kala. Kalian bertiga mau apa menghadang perjalananku?"

Tanya Puspa Dewi sambil mengerutkan alisnya karena merasa terganggu perjalanannya. Kalamuka memberi hormat dan membungkuk.

"Maafkan kami, Gusti Puteri Puspa Dewi. Kami hanya melaksanakan perintah Gusti Adipati untuk menghadang paduka di sini."

"Hemm, lalu apa maksudnya?"

"Gusti Adipati memerintahkan agar kami menguji kedigdayaan paduka, kalau paduka menang, paduka boleh melanjutkan perjalanan paduka, akan tetapi kalau paduka kalah, paduka diminta untuk kembali ke kadipaten."

Puspa Dewi mengerutkan alisnya.

"Akan tetapi kenapa begitu? Kenapa kalau hendak mengujiku, tidak tadi-tadi ketika aku masih berada di kadipaten? Kenapa di tempat sunyi ini?"

Kalamuka berkata dengan sikap hormat.

"Paduka mengemban tugas yang teramat penting, karena itu Gusti Adipati hendak meyakini bahwa paduka telah memiliki aji kesaktian yang mumpuni. Adapun ujian itu dilakukan di tempat sunyi ini agar tidak ada yang mengetahuinya karena apabila paduka kalah, hal itu akan merugikan nama paduka."

Puspa Dewi kini tersenyum.

Ia maklum apa yang dimaksudkan dengan ujian ini dan iapun tahu bahwa gurunya atau ibu angkatnya tentu telah mengetahui dan menyetujui ujian ini.

Dan iapun seorang yang cerdik.

Gurunya, ketika memperkenalkan para tokoh yang sakti, juga menerangkan tentang Tri Kala ini dan sampai di mana tingkat kepandaian mereka.

"Baiklah, lalu bagaimana kalian akan menguji aku?"

"Dengan bertanding melawan kami satu demi satu."

Kata Kalamuka.

"Tidak, terlalu lama kalau satu lawan satu. Majulah kalian bertiga mengeroyokku dan kita lihat siapa yang akan keluar sebagai pemenang!"

"Tapi ..... kami tidak berani, Gusti Puteri. Itu tidak adil namanya dan tentu paduka akan kalah."

Puspa Dewi tersenyum manis.

"Hemm, kita lihat saja. Kalau kalian bertiga tidak mau maju bersama, akupun tidak mau melayani kalian dan kalian tentu akan mendapat marah dari kanjeng rama adipati."

Tiga orang itu saling pandang dengan ragu. Akhirnya Kalamuka mengangguk kepada dua orang adiknya dan dia berkata kepada Puspa Dewi.

"Baiklah, gusti puteri. Kami akan maju bersama melawan paduka, akan tetapi maafkan kami kalau kami mendesak paduka dan kalau nanti gusti adipati menyalahkan kami karena mengeroyok, harap paduka membela kami yang hanya memenuhi permintaan paduka."

"Baik, dan jangan khawatir. Kalian tidak akan mampu mengalahkan aku"

Kata Puspa Dewi yang segera membuat gerakan jurus pembukaan dari ilmu silat Guntur Geni.

Kedua kakinya ditekuk sedikit, yang kanan di depan yang kiri di belakang, kedua tangan dikembangkan, yang kanan menuding ke atas, yang kiri ditekuk di pinggang, lalu dikembangkan seperti burung hendak terbang.

Melihat gadis itu telah bersiap, Kalamuka memberi isarat kepada dua orang adiknya lalu berseru.

"Gusti Puteri, harap siap menyambut serangan kami!"

"Aku sudah siap! Majulah!"

Tiga orang itu serentak menyerang, Kalamuka menampar ke arah pundak kiri, Kalamanik mencengkeram ke arah pundak kanan dan Kalateja bergerak hendak menangkap lengan gadis itu.

Jelas bahwa mere ka menyerang dengan gerakan sungkan, juga t idak mengerahkan tenaga sakti karena takut kalau kalau akan melukai gadis itu.

Melihat ini, Puspa Dewi mendongkol sekali.

Ia merasa dipandang rendah.

Maka, ia mengeluarkan seruan nyaring, tubuhnya bergerak cepat dan secara beruntun mengirim serangan kilat!

Kalamuka kena ditampar dadanya, Kalamanik ditampar pundaknya dan Kalateja ditendang perutnya.

Puspa Dewi tidak mempergunakan tenaga sepenuhnya, akan tetapi tiga orang itu sudah terpental dan roboh!

Tentu saja mereka terkejut bukan main dan cepat merangkak bangkit lagi.

"Salah kalian sendiri! Kalian terlalu memandang rendah kepadaku. Hayo sekarang serang dengan betul-betul, pergunakan semua tenaga kalian. Kalian diperintah untuk menguji kedigdayaanku, bukan? Kenapa kalian menyerang seperti main-main saja? Kalian memandang rendah kepadaku, ya?"

"Oh, tidak ..... tidak, gusti puteri. Hayo, kita serang dengan sungguh sungguh, jangan sungkan!"

Kata Kalamuka kepada dua orang adiknya.

"Haiiittt .....!"

Kalamuka menampar dengan tangan kanannya, mengarah muka kiri Puspa Dewi.

"Hyeeehhh!"

Kalamanik juga menonjok ke arah lambung gadis itu.

"Hyaatt .....!"

Kalateja tidak mau kalah, cepat dia menggerakkan kakinya membabat ke arah kaki gadis itu untuk merobohkannya.

"Wuutt .....!"

Tiga orang itu terkejut bukan main karena tiba-tiba saja gadis itu berkelebat lenyap.

Hanya tampak bayangan berkelebat di atas kepala mereka dan gadis itu lenyap.

Mereka bertiga adalah orang-orang digdaya yang sudah banyak pengalaman, maka cepat mereka dapat menduga bahwa gadis itu mempergunakan ilmu mer ingankan tubuh dan melompat melalui atas kepala mereka.

Cepat mereka membalik dan benar saja.

Puspa Dewi telah berada di belakang mereka.

Tiga orang itu sudah menerjang lagi dengan cepat dan kuat.

Akan tetapi Puspa Dewi telah siap siaga.

Ia menghindarkan diri dengan elakan atau tangkisan.

Karena ia lebih unggul dalam kecepatan, maka tiga orang itu merasa bingung ketika tubuh gadis itu seolah berubah menjadi bayang-bayang yang berkelebatan.

Serangan mereka hanya mengenai tempat kosong atau tertangkis oleh lengan yang berkulit lembut namun mengandung tenaga sakti yang amat kuat.

Setelah lewat belasan jurus, terdengar Puspa Dewi berseru nyaring.

Seruan ini merupakan pekik melengking yang seolah menggetarkan bumi.

Itulah Aji Guruh Bairawa dan lengkingan suara itu membuat tiga orang itu tergetar jantungnya, membuat mereka tercengang dan terhuyung.

Kesempatan ini dipergunakan Puspa Dewi untuk menyerang dengan tamparan-tamparan sambil berseru nyaring....

"Robohlah .....!"

Tiga orang itu tidak mampu mengelak dan mereka terpelanting roboh.

Mereka merangkak bangkit dengan kepala terasa pening dan ketika mereka sudah berdiri, mereka melihat gadis itu berdiri di depan mereka sambil bertolak pinggang dan tersenyum manis "Kalau kalian bertiga belum puas, boleh cabut senjata kalian dan mengeroyokku!"

Katanya sambil tersenyum. Kalamuka memberi hormat dengar membungkuk dan menyeringai karena dada kanannya yang terkena tamparan tangan mungil halus itu terasa nyeri dan panas bukan main.

"Kami mengaku kalah, gusti puteri. Kalau kami berani menyerang dengan senjata, tentu kami bertiga akan roboh terluka oleh senjata pula. Ujian ini sudah cukup, paduka menang dan tentu saja dapat melanjutkan pelaksanaan tugas paduka. Kami akan memberi laporan kepada gusti adipati bahwa kami kalah dan kesaktian paduka sungguh dapat diandalkan."

"Sukurlah kalau begitu, aku tidak perlu merobohkan kalian dengan luka parah. Nah, aku pergi!"

Puspa Dewi melompat keatas, berjungkir balik tiga kali dan turun di atas punggung kuda putih, menarik kendali, menendang perut kuda dan berseru.

"Bajradenta (kilat putih), hayo lari!"

Kuda putih yang oleh gadis itu diberi nana Bajradenta itu meringkik nyaring, mengangkat kedua kaki depan ke atas, lalu melompat ke depan dan lari secepat terbang!

Tiga orang Tri Kala itu memandang dengan penuh kagum.

Kalamanik yang pendek gendut dan selalu tersenyum itu menggeleng-geleng kepalanya yang besar dan berkata.

"Bukan main! Sang puteri Puspa Dewi itu agaknya tidak kalah saktinya dibandingkan gurunya, bahkan mungkin lebih tangkas!"

Dua orang kakaknya juga mengikuti bayangan Puspa Dewi dan kudanya yang telah jauh sekali dan merckapun menggeleng-gelengkan kepala dan merasa kagum.

"Sungguh memalukan sekali kita bertiga sudah roboh hanya dalam waktu belasan jurus saja. Belum pernah kita menghadapi lawan yang sedemikian tangguhnya."

Kata Kalateja yang berkepala gundul.

"Sudahlah, hal itu tidaklah aneh. Kita semua sudah tahu bahwa gurunya adalah seorang datuk yang sakti mandraguna, untung watak Gusti puteri Puspa Dewi tidak sekeras ibunya yang juga menjadi gurunya sehingga kita tidak terluka parah. Kalau ibunya yang turun tangan mungkin sekarang kita sudah mampus. Mari kita laporan kepada Gusti Adipati."

Mereka lalu kembali ke kota kadipaten Wura-wuri untuk melaporkan hasil ujian yang mereka lakukan atas diri Puspa Dewi.

Nurseta berjalan menuruni lereng bukit itu sambil melamun.

Dia merasa, kecewa sekali kepada dirinya sendiri.

Baru saja turun gunung, dia telah kehilangan keris pusaka Sang Megatantra!

Dan hal itu terjadi karena kebodohan dan kelengahannya.

Dia terlalu percaya kepada pria yang bernama Raden Hendratama dan tiga orang wanita cantik yang tadinya mengaku sebagai puteri bangsawan itu.

Tidak tahunya, Raden Hendratama adalah seorang pangeran dan tiga orang wanita muda yang cantik itu adalah selir-selirnya.

Dia telah terjebak, keris pusakanya dilarikan orang.

Dengan demikian, dia telah menggagalkan pesan mendiang Empu Dewamurti yang minta kepadanya agar keris pusaka itu diserahkan kepada Sang Prabu Erlangga.

Kini malah hilang.

Dan dia tidak tahu kemana harus mencari pangeran yang mencuri keris itu.

Ke mana dia harus mencari Pangeran Hendratama?

Bagaimanapun dia harus mencari pangeran itu dan merampas kembali keris pusaka Megatantra karena keris pusaka itu sebetulnya merupakan pusaka istana Kahuripan sebagai keturunan kerajaan Mataram dan harus dia kembalikan kepada Sang Prabu Erlangga.

Akan tetapi karena dia tidak tahu ke mana harus mencari Raden Hendratarna yang pangeran itu, dia mengambil keputusan untuk lebih dulu menyelidiki tentang orang tuanya dan mencari di mana ayah ibunya kini berada.

Hal inipun merupakan pesan terakhir gurunya.

Pesan itu ada tiga, yaitu mengembalikan keris pusaka Megatantra kepada Sang Prabu Erlangga, mencari orang tuanya yang meninggalkannya ketika dia berusia sepuluh tahun, dan ketiga, mempergunakan semua ilmu yang telah dipelajari dan dikuasainya untuk membantu kerajaaan Kahuripan menghadapi musuh-musuhnya.

Setelah mengambil keputusan dia lalu berjalan cepat kearah selatan.

Untuk menyelidiki tentang orang tuanya, dia harus pergi ke Karang Tirta, karena disanalah ayah ibunya pergi meninggalkannya sebelas tahun yang lalu.

Mungkin ada orang-orang tua yang mengenal orang tuanya dan dapat menceritakan tentang mereka.

Di antara mereka yang mengenal orang tuanya tentulah Ki Suramenggala, lurah Karang Tirta.

Mungkin dari Karang Tirta dia akan mendapatkan keterangan tentang orang tuanya dan dapat melacak jejak mereka dari sana.

Pada suatu sore tibalah dia di dusun Karang Sari, sebuah dusun yang letaknya dekat perbatasan antara wilayah Kahuripan dan Wengker, akan tetapi Karang Sari masih termasuk wilayah Kahuripan.

Dusun Karang Sari merupakan dusun yang makmur karena tanahnya di bagian selatan itu subur.

Nurseta tidak asing dengan dusun Karang Sari yang letaknya tidak amat jauh dari Karang Tirta.

Dari Karang Sari menuju ke Karang Tirta dapat ditempuh oleh pejalan kaki biasa selama setengah hari saja.

Kalau Nurseta menggunakan aji kesaktiannya berlari cepat, tentu hanya memakan waktu tidak terlalu lama.

Akan tetapi karena hari sudah mulai gelap, Nurseta mengambil keputusan untuk melewatkan malam di Karang Sari.

Akan tetapi ketika dia memasuki dusun itu, dia melihat keadaan yang luar biasa.

Dusun itu sepi sekali.

Rumah rumah sudah menutup daun jendela dan pintunya, padahal waktu itu baru selewat senja, belum malam benar.

Dan ketika Nurseta berjalan di sepanjang jalan, pendengarannya yang tajam dapat menangkap bisik-bisik orang di dalam rumah-rumah di sepanjang jalan itu.

Para penghuni rumah itu agaknya berada dalam rumah mereka semua mengintai keluar!

Sungguh merupakan keadaan yang penuh rahasia.

Dusun itu seolah menjadi dusun yang mati, padahal para penduduk masih berada di situ, hanya seperti ketakutan dan tidak berani keluar rumah masing-masing.

Nurseta teringat bahwa dulu, lima tahun lebih yang lalu, ketika dia masih tinggal di Karang Tirta, pernah dia berkenalan dengan seorang penjual grabah (alat-alat dapur dari tanah) bernama Ki Karja yang tinggal di Karang Sari.

Bahkan dia pernah berkunjung dan bermalam satu malam di rumah Ki Karja.

Teringat akan hal ini, Nurseta lalu mencari rumah dimana dia pernah bermalam itu.

Tak lama kemudian dia menemukan rumah tu, masih sama dengan lima tahun yang lalu, rumah sederhana dengan sebatang pohon sawo kecik tumbuh di depannya.

Dia menghampiri rumah itu.

Seperti rumah-rumah lain, rumah ini juga tampak sunyi dan gelap.

Tidak ada penerangan dinyalakan di luar maupun di dalam rumah dan semua daun pintu dan jendela tertutup, seolah rumah kosong tanpa penghuni.

Akan tetapi Nurseta dapat mendengar suara gerakan orang di dalam maka dia yakin bahwa di dalam rumah itupun terdapat orang.

"Tok-tok-to k!"

Nurseta mengetuk pintu.

Tidak ada jawaban, tidak ada gerakan.

Dia mengulang ketukannya sampai tiga kali, akan tetapi tetap saja tidak ada jawaban.

Dia menduga bahwa orang orang di dusun ini tentu benar-benar sedang dilanda ketakutan, entah terhadap apa atau siapa, maka ketika diketuk daun pintunya, tidak ada yang berani membukanya.

"Paman Karja, bukalah pintunya. Ini aku, jangan takut. Aku Nurseta, dari Karang Tirta. Bukalah pintunya, paman Karja!"

Ada gerakan di dalam rumah, akan tetapi tetap saja daun pintunya tidak terbuka dan tidak ada jawaban.

Nurseta menduga bahwa kalau Ki Karja berada di dalam rumah itu, tentu orang itu meragukan pengakuannya tadi.

Mungkin Ki Karja sudah lupa kepadanya.

Dengan sabar dan suara tenang Nurseta bicara lagi.

"Paman Karja, lupakah paman kepadaku? Aku yang dulu, lima tahun yang lalu, ketika paman berjualan grabah di Karang Tirta lalu terpeleset jatuh, menolong paman. Bahkan aku pernah berkunjung dan bermalam di rumah ini. Aku Nurseta, pemuda miskin dari Karang Tirta itu, paman."

"Nurseta? Benarkah itu engkau?"

Terdengar suara dari dalam.

"Benar, Paman Karja. Habis, kalau bukan Nurseta, siapa lagi? Aku tidak berbohong, paman. Bukalah pintunya paman lihat sendiri siapa aku."

Daun pintu itu terbuka sedikit dan sebuah mata mengintai keluar.

Cuaca belum begitu gelap sehingga mata itu dapat melihat wajah Nurseta dengan jelas.

Agaknya pemilik mata itu mengenalnya dan merasa yakin.

Daun pintu terbuka lebih lebar dan tampaklah seorang laki-laki berusia kurang lebih lima puluh tahun, masih di balik ambang pintu, agaknya tidak berani keluar.

"Nurseta, ternyata benar engkau, cepat, masuklah, pintu ini harus segera ditutup kembali!"

"Eh, kenapakah, paman? Kenapa semua pintu dan jendela rumah-rumah di dusun ini ditutup dan tidak ada penerangan sama sekali?"

"Sstt ....., jangan ribut. Masuklah, kita bicara di dalam saja!"

Kata Ki Karja dan dia lalu memegang lengan Nurseta ketika pemuda itu mendekat lalu menariknya masuk ke dalam rumah.

Kemudian dengan cepat pula daun pintu ditutup kembali dan diganjal palang dari dalam.

Mereka berada dalam kegelapan yang remang-remang.

Nurseta dapat melihat bahwa selain Ki Karja, di dalam rumah itu terdapat pula Nyi Karja dan dua orang pemuda remaja, yaitu anak-anak mereka.

"Paman, ceritakanlah apa yang sedang terjadi di dusun Karang Sari ini? Kenapa semua orang seperti ketakutan, tidak berani menyalakan penerangan dan tidak berani membuka pintu?"

"Ssttt .....jangan keras-keras, Nurseta Sudah seminggu ini kami penduduk dusun ini setiap malam ketakutan. Ada segerombolan orang jahat seperti iblis mengacau dusun ini. Mereka merampok, memukuli bahkan membunuh orang, menculik dan memperkosa wanita. Kabarnya malam ini mereka kembali akan merampok rumah Ki Lurah. Kami semua ketakutan maka ketika engkau mengetuk pintu, kami tidak berani membukanya."

Nurseta mengerutkan alisnya.

Bagaimana mungkin ada kejadian seperti ini?

Karang Sari adalah sebuah dusun yang termasuk wilayah Kahuripan dan menurut keterangan mendiang gurunya, setelah Sang Prabu Erlangga dibantu Ki Patih Narotama berkuasa di Kahuripan, kerajaan itu aman tentram.

Hampir tidak ada penjahat berani muncul karena pemimpin kerajaan Kahuripan terkenal sebagai orang-orang yang sakti mandraguna.

Bagaimana sekarang ada gerombolan yang demikian jahat dan ganas berani mengacau sebuah dusun yang masih termasuk wilayah Kahuripan?

"Akan tetapi, bukankah di setiap kelurahan ada beberapa orang jagabayanya?"

Tanya Nurseta penasaran.

"Hemm, pada malam pertama ketika mereka dating menyerbu, belasan orang jagabaya telah serentak keluar menyambut Akan tetapi gerombolan itu amat tangguh, terutama pemimpin mereka. Belasan orang jagabaya itu roboh dan luka-luka bahkan tiga orang di antara mereka tewas. Sejak itu, siapa yang berani melawan?"

"Paman Karja, berapakah jumlahnya gerombolan yang mengacau itu?"

"Hanya enam orang, tujuh bersama pemimpin mereka yang tinggi besar seperti raksasa dan yang amat digdaya, tubuhnya kebal tidak terluka oleh senjata tajam."

"Bagaimana andika tahu bahwa malam ini mereka hendak merampok rumah Ki Lurah?"

"Kemarin malam, ketika mereka menjarah rayah (merampok) rumah Ki Jabur, seorang dari mereka berkata bahwa malam ini giliran rumah Ki Lurah. Padahal, pada malam pertama dulu mereka sudah mengacau di rumah Ki Lurah, bahkan menculik puterinya. Dan pada malam itu pula para jagabaya itu roboh dan tiga orang di antara mereka tewas, yang lain luka-luka."

Nurseta menghela napas panjang.

Baca Juga: Cinta Bernoda Darah 15

Baca Juga: Cinta Bernoda Darah 20

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert