Eps 4 Keris Pusaka Sang Megatantra - Kho Ping Hoo
Baca online Keris Pusaka Sang Megatantra - Kho Ping Hoo
Cersil Keris Pusaka Sang Megatantra - Kho Ping Hoo.
"Sayang sekali. Mengapa para pria penduduk dusun ini, terutama mereka yang muda-muda, diam saja dan tidak bangkit melawan? Kalau semua bersatu dan melawan, tentu kalian yang berjumlah puluhan, bahkan mungkin seratus orang lebih itu akan dengan mudah membasmi tujuh orang penjahat itu."
"Kami ..... kami tidak berani ....., mereka itu sakti ....."
"Sudahlah, Paman Karja. Kalau semua laki-laki di sini pengecut, biarlah aku seorang diri yang akan menghadapi mereka. Katakan saja dari arah mana biasanya para penjahat itu memasuki dusun ini."
"Dari ..... dari barat sana ....."
Ki Karja menuding ke arah barat.
"Nah, aku pergi, paman. Kalau paman takut, tutup saja lagi pintu rumahmu."
Setelah berkata demikian, Nurseta lalu membuka daun pintu dan meninggalkan rumah itu dengan cepat.
Dia berjalan-cepat menuju ke pintu gerbang dusun Karang Sari di sebelah barat karena dia ingin menghadang para penjahat itu agar tidak membikin kacau di dalam dusun.
Untung baginya bahwa bulan sepotong mulai muncul dengan datangnya sang malam sehingga walaupun dusun itu tidak ada sedikitpun penerangan, namun cuaca tidaklah amat gelap, masih remang remang.
Nurseta duduk di atas sebuah batu dekat pintu gerbang yang sepi itu.
Tidak ada penjaga, tidak ada peronda seperti pada malam-malam biasanya sebelum gangguan penjahat itu ada.
Tidak terlalu lama dia menunggu.
Kedatangan gerombolan itu sudah dapat dilihat dari jauh.
Mereka itu membawa obor, agaknya sudah tahu bahwa dusun Karang Sari dalam keadaan gelap tanpa ada penerangan.
Setelah mereka tiba dekat pintu gerbang sebelah barat dusun itu, sudah terdengar suara mereka.
Mereka bercakap-cakap diseling suara tawa mereka yang ngakak (terbahak).
Ketika mereka melewati pintu gerbang, tiba-tiba muncul Nurseta menghadang di depan mereka.
Pemuda ini melihat jelas wajah-wajah mereka di bawah sinar enam buah obor besar.
Wajah-wajah yang seram dan jelek, dengan tubuh yang kekar berotot, membayangkan bahwa mereka adalah orang-orang yang sudah biasa mempergunakan kekerasan dan kekuatan untuk memaksakan kehendak mereka.
Apa lagi yang berdiri paling depan.
Seorang laki-laki yang bertubuh ra ksasa, kepalanya besar, matanya lebar dan sikapnya menyeramkan.
Melihat ada orang menghadang perjalanan mereka, tujuh orang yang usianya sekitar tiga puluh sampai empat puluh tahun Itu merasa heran sekali dan mereka yang membawa obor segera mengangkat obor mereka ke atas agar dapat melihat lebih jelas orang yang berani menghadang mereka itu.
Mereka semakin heran melihat bahwa yang menghadang mereka itu hanyalah seorang yang masih muda sekali.
Kepala gerombolan itupun merasa heran dan dia cepat membentak dengan suaranya yang parau dan berat seperti gerengan binatang buas "Heh, bocah!
Siapakah kamu dan mau apa kamu menghadang perjalanan kami?"
Nurseta tersenyum dan dengan tangan kiri bertolak pinggang, telunjuk tangan kanannya menuding ke arah mereka lalu berkata dengan suara lantang.
"Tidak perlu kalian ketahui siapa aku, akan tetapi aku adalah anak daerah ini yang tidak rela melihat kalian manusia-manusia iblis berbuat jahat dan keji terhadap penduduk dusun Karang Sari ini!"
Mendengar ini, marahlah kepala gerombolan yang bertubuh besar dan tingginya satu setengah kali tinggi tubuh Nurseta itu.
"Bocah keparat, kamu sudah bosan hidup!"
Bentaknya dan kepalan tangannya yang sebesar kepala Nurseta itu menyambar dengan jotosan yang cepat dan kuat sekali, mengiuk suaranya seperti palu godam menyambar pelipis Nurseta.
Akan tetapi biarpun gerakan itu amat kuat dan lengan itu panjang sekali, namun bagi Nurseta gerakan itu tampak terlalu lamban.
Dengan mudah saja dia mengelak.
Akan tetapi kepala gerombolan itu menyusulkan cengkeraman tangan kirinya kearah leher pemuda itu.
Ketika Nurseta Kembali mengelak, kaki kanannya menbuat dan menendang bagaikan sebatang pohon menyambar dahsyat.
Nurseta miringkan tubuhnya dan ketika kaki itu lewat di dekatnya, secepat kilat tangannya menyambar, menangkap tumit kaki itu dan meminjam tenaga tendangan lawan itu dia mengerahkan tenaga mendorong atas!
Tak dapat dihindarkan lagi, kaki kanan kepala gerombolan itu terayun kuat sekali ke atas sehingga tubuhnya terbawa terbang dan d iapun roboh ke atas tanah, pinggulnya lebih dulu menghantam tanah.
"Bukkk .....ngekkk!"
Raksasa itu mengeluh, akan tetapi dia merangkak bangun sambil berseru marah kepada enam orang anak buahnya.
"Bunuh dia! Bunuh .....!!"
Enam orang perampok itu sergera bergerak.
Tiga orang di antara mereka mencabut golok dengan tangan kanan lalu menyerang Nurseta dengan golok di tangan kanan dan obor di tangan kiri.
Tiga orang yang lain merasa cukup menggunakan obor itu untuk menyerang, memegangi dengan kedua tangan.
Nyala api menyambar-nyambar ke arah Nurseta menimbulkan pandangan yang aneh dan juga indah.
Nurseta yang maklum bahwa mereka adalah orang-orang jahat yang sudah sepatutnya diberi hajaran keras, bergerak cepat.
Dengan Aji Bayu Sakti, tubuhnya berkelebatan dan keenam lawannya menjadi pusing karena pemuda itu sukar sekali dijadikan sasaran serangan mereka.
Nurseta lalu menyerang dengan gerakan silat Baka Denta.
Gerakannya cepat dan tidak terduga-duga oleh enam orang pengeroyoknya.
Kedua tangannya menyambar-nyambar dengan tamparan kilat, kedua kakinya bergantian mencuat dengan tendangan halilintar.
Enam orang itu berpelantingan roboh dan obor mereka jatuh dan padam.
Keadaan menjadi gelap, akan tetapi tiba-tiba muncul banyak orang mengepung pintu gerbang Itu dan segera keadaan menjadi terang benderang ketika banyak obor dipasang, Kiranya penduduk dusun Karang Sari berjumlah seratus orang, semuanya laki-laki dari pemuda remaja sampai kakek-kakek Melihat enam orang itu roboh, mereka lalu bersorak dan berteriak-teriak menyerbu, menggunakan segala macam senjata alat pertanian seperti pacul, linggis, arit, kampak dan sebagainya.
(Lanjut ke
Jilid 11) Keris Pusaka Sang Megatantra (seri ke 01 -Serial Keris Pusaka Sang Megatantra) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo
Jilid 11 Nurseta terkejut sekali melihat puluhan orang itu menggunakan senjata mereka untuk menyerang enam orang anggauta gerombolan yang sudah roboh.
Enam orang itu ketakutan, mencoba untuk membela diri.
Akan tetapi apa daya mereka menghadapi amukan puluhan orang yang seperti keranjingan itu?
Apa lagi mereka berenam sudah menderita luka oleh tamparan dan tendangan Nurseta tadi.
Tak dapat dihindarkan lagi tubuh mereka menjadi lumat menjadi onggokan daging cacah berlepotan darah.
Dalam keributan itu, kepala gerombolan yang bertubuh raksasa itu sempat melarikan diri dan Nurseta tidak mengejarnya karena dia sendiri tertegun dan ngeri menyaksikan kekejaman para penduduk itu.
Manusia kalau sudah dikuasai amarah dan dendam dapat menjadi amat kejam!
"Sudah cukup kawan-kawan!
Sudah cukup kita membalas dendam!"
Teriak Nurseta dan semua orang menghentikan amukan mereka.
Seorang di antara mereka, yaitu Ki Karja dan di sebelahnya berdiri seorang laki-laki berusia sekitar lima puluh tahun yang bertubuh tinggi kurus dan berkumis tebal.
"Ki Lurah, inilah Nurseta yang telah membangkitkan semangat kita dan tadi telah merobohkan para perampok."
Ki Karja memperkenalkan Nurseta kepada pria itu yang ternyata adalah lurah dusun Karang Sari. Ki Lurah cepat maju menghampiri dan dengan sikap hormat dia berkata.
"Perkenalkan, anak mas Nurseta. Saya Ki Lurah Warsita yang memimpin desa Karang Sari."
Nurseta membalas penghormatan lurah Itu dan berkata.
"Sekarang, paman, kita harus dapat menemukan sarang mereka untuk menolong para gadis yang terculik."
Diingatkan demikian, Ki Warsita cepat berkata.
"Andika benar, anak mas. Ada empat orang gadis dusun ini, termasuk anakku sendiri Kartiyah, yang diculik gerombolan. Mari kita cari, Anak mas Nurseta."
"Apakah paman telah mengetahui dimana adanya sarang gerombolan itu"
Tanya Nurseta.
"Kami belum melihat sendiri, akan tetapi kami semua dapat menduga bahwa sarang mereka tentu berada di puncak bukit kecil di sebelah barat dusun kami itu."
"Kalau begitu, mari kita menyerbu sarang mereka!"
Kata Nurseta dan ucapan ini disambut oleh sorakan hampir seratus orang itu, kemudian berbondong-bondong barisan obor itu lalu keluar dari dusun menuju ke bukit kecil yang berada jauh di sebelah barat dusun.
Benar saja dugaan Ki Lurah Warsita Setelah mendaki puncak bukit kecil mereka menemukan sebuah rumah darurat dari bambu dan kayu, sederhana namun cukup besar, berdiri di lereng dekat puncak bukit.
Nurseta mendorong pintu rumah itu sehingga terbuka dan diikuti oleh Ki Lurah Warsita dan Ki Karja orang-orang lain yang membawa mengikuti ke dalam akan tetapi tentu saja tidak semua orang yang begitu banyak dapat memasuki rumah itu.
Tidak ada seorangpun anggauta gerombongan di dalam rumah itu dan kepala gerombolan bertubuh raksasa itupun tidak tampak.
Nurseta dan Ki Lurah Warsita menemukan Kartiyah, puteri ki lurah yang berusia delapan belas tahun itu terikat di atas pembaringan bersama tiga orang gadis lain dan mereka itu tadinya tidak berani menangis.
Akan tetapi melihat siapa yang datang, mereka lalu menjerit-jerit dan menangis.
Mereka berempat telah menjadi korban kekejian para penjahat itu.
Ki Lurah Warsita melepaskan ikatan puterinya dan mereka berangkulan.
Juga Nurseta melepaskan ikatan kaki tangan tiga orang gadis lainnya.
Selain berhasil menemukan dan membebaskan empat orang gadis yang diculik gerombolan itu, mereka juga menemukan barang-barang rampokan milik ki lurah dan para penduduk lain.
Semua barang itu diangkut keluar kemudian rumah itu dibakar oleh penduduk yang marah.
Kemudian mereka kembali ke dusun Karang Sari, membawa pulang empat orang gadis korban penculikan dan barang-barang rampokan.
Setelah tiba di dusun, semua orang memuji-muji Nurseta, juga Ki Lurah Warsita mengucapkan terima kasih kepadanya.
Di depan para penduduk Karang Sari, Nurseta berkata dengan suara lantang.
"Saudara-saudara, saya senang sekali melihat andika sekalian kini bangkit, bersatu dan berani menentang para penjahat. Saya yakin, kalau andika sekalian tetap bersatu padu menghadapi kejahatan, tidak ada gerombolan yang akan berani mengganggu dusun kalian. Akan tetapi, harap jangan bertindak kejam seperti yang andika sekalian lakukan tadi. Kalau ada penjahat mengganggu ketentraman, kepung dan tangkap, serahkan kepada Ki lurah untuk diadili. Penjahat boleh dihukum, kalau perlu hukum mati, akan tetapi harus melalui pengadilan dulu, jangan main bunuh seperti tadi. Cara seperti itu tidak adil, kejam, dan dapat menimbulkan bencana karena membunuh orang yang salah, yang tidak berdosa. Nah, dapatkah andika sekalian mengerti dan berjanji tidak akan mengulang kekejaman seperti tadi?"
Penduduk dusun Karang Sari yang amat kagum dan berterima kasih kepada Nurseta menyatakan mengerti dan mau berjanji.
Malam itu Nurseta dipersilakan untuk bermalam di rumah Ki Lurah Warsita, akan tetapi Nurseta mengucapkan terima kasih dan memilih bermalam di rumah Ki Karja yang sudah dikenalnya.
dari orang ini dia mendapat keterangan bahwa setelah malam tadi Nurseta meninggalkannya, Ki Karja lalu nekat keluar dari rumah, menghubungi Ki Lurah Warsita dan para pemuda, menceritakan tentang Nurseta yang hendak membasmi gerombolan.
Semangat mereka bangkit dan bersama ki lurah, Ki Karja lalu mengumpulkan semua laki-laki di dusun itu dan mereka membuat persiapan untuk membantu Nurseta membasmi para penjahat itu.
Pada keesokan harinya, pagi-pagi ketika Nurseta berpamit hendak meninggalkan rumah Ki Karja dan keluarganya, Ki Karja berkata dengan serius.
"Anakmas Nurseta, maafkan saya kalau saya bicara lancang. Akan tetapi saya hanya menyampaikan pesan Ki Lurah Warsita."
"Katakanlah, Paman Karja, apa yang hendak andika sampaikan kepadaku itu?"
"Begini, anakmas. Malam tadi, ketika hendak meninggalkan rumah ki lurah, dia memesan saya untuk menyampaikan keinginannya kepadamu. Dia berpesan kalau sekiranya Anakmas Nurseta masih belum mempunyai isteri dan mau menerimanya, Ki lurah ingin sekali menjodohkan puterinya, yaitu Nini Kartiyah yang malam tadi diambil dari pondok gerombolan, dengan anakmas. Bagaimana pendapatmu, Anakmas Nurseta? Saya harus menyampaikan jawaban anakmas sekarang kepada ki lurah."
Wajah Nurseta berubah kemerahan karena malu.
Dia teringat akan gadis puteri lurah itu.
Usianya sekitar delapan belas tahun gadis yang bernasib malang itu memang cantik, hitam manis dan menarik.
Paling cantik di antara empat orang gadis yang diculik gerombolan.
Akan tetapi dia sama sekali sedikitpun belum mempunyai keinginan untuk menikah.
Tiba-tiba dia teringat.
Kalau dia menolak, tentu dapat menimbulkan kesan bahwa dia menolak karena Kartiyah itu menjadi korban gerombolan jahat, bukan perawan lagi.
Maka dia lalu berkata dengan hati-hati.
"Paman Karja, harap sampaikan terima kasihku kepada Paman Lurah Warsita atas niat baiknya itu. Akan tetapi, saya tidak dapat menerima usulnya itu. Sama sekali bukan karena puterinya itu telah menjadi korban gerombolan, sama sekali tidak. Melainkan hanya karena sama sekali belum mempunyai pikiran untuk mengikat diri dengan sebuah pernikahan. Harap sampaikan maaf saya kepada ki lurah dan kalau boleh saya nasihatkan, sebaiknya segera dicarikan seorang suami untuk Kartiyah agar ia terbebas dari duka dan aib. Nah, selamat tinggal paman dan terima kasih atas kebaikanmu."
Nurseta tidak memberi kesempatan kepada Ki Karja untuk bicara lebih banyak mengenai usul perjodohan itu dan cepat dia meninggalkan dusun Karang Sari, menuju ke dusun Karang Tirta.
Ada rasa haru dalam hati Nurseta ketika dia melangkahkan kakinya di atas jalan setapak yang amat dikenalnya itu Rasanya seperti baru kemarin saja dia meninggalkan tempat ini.
Jalan setapak itu masih belum berubah, juga pohon-pohon disepanjang jalan, semua masih sama seperti lima tahun yang lalu ketika dia meninggalkan tempat ini.
Ketika dia menggembala kerbau, ketika dia menggarap sawah ladang di sana itu!
Melihat semua itu, dia terkenang akan masa lalunya.
Ketika akhirnya dia memasuk pintu gerbang dusun Karang Tirta, perasaan harunya bercampur perasaan gembira.
Dia merasa seolah kembali ke kampung halamannya sendiri, tempat yang membangkitkan semua kenangan lama, ketika dia masih kecil, masa kanak-kanaknya sampai masa remajanya.
Suka dukanya di dusun karang Tirta itu.
Di antara orang Orang yang dijumpainya, ada beberapa wajah yang masih dikenalnya dengan baik.
Akan tetapi mereka itu agaknya pangling (tidak ingat) dia lagi.
Mungkin dia telah berubah.
Ketika pergi bersama gurunya lima tahun lebih yang lalu, dia telah menjadi remaja, baru berusia enam belas tahun.
Sekarang dia telah menjadi seorang pemuda dewasa berusia dua puluh satu tahun lebih.
Karena dia berpakaian seperti seorang pemuda desa biasa, maka kehadirannya tidak menarik perhatian orang.
Kalau perhatian mereka tertarik, tentu diantara mereka akan ada yang mengenal wajahnya.
Nurseta langsung saja menujukan langkahnya ke rumah KI Lurah Suramengala yang berada di tepi jalan raya di tengah-tengah dusun.
Ketika dia melangkah sepanjang jalan dusun yang cukup lebar itu dan memandang ke arah rumah rumah yang amat dikenalnya, yang berjajar di kanan kiri jalan, timbul ketrenyuan hatinya.
Rumah-rumah itu masih seperti dulu dan baru sekarang dia melihat betapa buruk dan sederhananya rumah-rumah itu.
Kemudian dia tiba di depan rumah ki lurah dan baru sekarang tampak jelas olehnya perbedaan yang amat besar antara rumah-rumah para penduduk dan rumah Ki Lurah Suramengala!
Sebuah gedung mewah dengan pekarangan lebar penuh dengan tanaman bunga-bunga dan pohon-pohon buah.
Baru sekarang matanya seperti terbuka, ingat betapa kehidupan rakyat yang sederhana dan miskin itu alangkah jauh bedanya dengan kehidupan sang lurah sekeluarga yang mewah dan kaya raya.
Sawah ladangnya luas sekali, ternaknya banyak, rumah ada beberapa buah dan hidupnya seperti seorang raja kecil di dusun itu.
Dulu, sebelum menjadi murid mendiang Empu Dewamurti, dia menganggap keadaan itu wajar-wajar saja.
Akan tetapi sekarang dia melihat bahwa keadaan seperti itu sungguh tidak adil sama sekali.
Penduduk dusun itu dapat dikatakan semua hidup sederhana, bahkan kekurangan.
Akan tetapi lurahnya, orang yang memimpin dusun itu, hidup berlebihan, Dia kini teringat betapa ketika dia berusia sepuluh tahun dan kedua orang tuanya pergi meninggalkannya begitu saja, Ki Lurah Suramenggala yang mengatur semua harta peninggalan orang tuanya, berupa rumah dan sawah ladang.
Harta milik peninggalan orang tuanya itu dibeli oleh sang lurah, dan uangnya menurut sang lurah, telah habis untuk biaya hidupnya selama tiga tahun!
Sehingga mulai berusia tiga belas tahun dia harus bekerja membantu orang untuk sekedar dapat makan.
Tiga tahun saja peninggalan orang tuanya itu habis, padahal setiap harinya dia hanya diberi makan sederhana oleh ki lurah.
Baru sekarang dia menyadari bahwa dia telah ditipu oleh Ki Suramenggala.
Mungkin sang lurah itu dapat mengumpulkan harta kekayaan yang berlimpahan itu dengan cara menindas dan menipu warganya seperti yang terjadi dengan dirinya.
Mungkin dengan memungut pajak terlalu besar atau mengerahkan seluruh tenaga, pikiran di harta penduduk Karang Tirta demi untuk kesejahteraan dirinya sendiri.
Nurseta memasuki pekarangan kelurahan itu.
Tiga orang jagabaya yang tadinya duduk di dalam gardu penjagaan cepat keluar dari gardu dan seorang dan mereka menegur.
"Hei, berhenti! Siapa engkau dan mau apa memasuki pekarangan ini?"
Nurseta memandang tiga orang itu dan dia masih mengenal penanya tadi sebagai seorang jagabaya yang dulu juga telah menjadi jagabaya di kelurahan itu Yang dua lagi tidak dia kenal.
Mungkin mereka itu merupakan orang-orang baru di Karang Tirta.
"Saya Nurseta, hendak bertemu dengan Ki Lurah Suramenggala."
Kata Nurseta dengan ramah.
"Apakah paman lupa kepada saya?"
Jagabaya itu mengerutkan alisnya dan memandang penuh perhatian.
Akhirnya dia teringat akan peristiwa yang tidak dapat dilupakan lima tahun yang lalu.
Ketika itu pemuda ini, masih remaja, datang bersama seorang kakek.
Ki lurah marah-marah dan memerintahkan dia dan kawan-kawannya untuk menangkap Nurseta dan kakek itu, akan tetapi terjadilah keanehan.
Dia dan kawan-kawannya, juga ki lurah, tidak mampu bergerak sama sekali!
Setelah Nurseta dan kakek Itu pergi, barulah mereka dapat bergerak kembali.
"Ah, engkau..... engkau Nurseta bocah jembel itu? Yang dulu datang bersama.....pendeta siluman itu?"
Tanyanya gagap.
Nurseta tersenyum, tidak marah.
Dia maklum orang macam apa yang bicara kepadanya.
Orang bodoh yang hanya mengandalkan kedudukannya sebagai jagabaya dan kekuatannya untuk bersikap congkak.
Orang macam ini biasanya tentu menjilat ke atas dan menginjak kebawah.
"Saya benar Nurseta anak yang dulu itu. Harap paman suka memberitahukan Ki Lurah Suramenggala bahwa saya dating hendak bertemu dan bicara dengannya."
"Beraninya engkau, bocah lancang."
Jagabaya itu membentak.
"Ki lurah sedang sibuk, sedang ada tamu, tidak sempat menemui bocah seperti engkau!"
Dia masih marah kalau teringat akan peristiwa lima tahun yang lalu, yang membuat dia dan kawan-kawannya menjadi bahan ejekan karena berubah seperti patung ketika berhadapan dengan Nurseta dan pendeta tua itu.
"PAMAN, andika hanya jagabaya, hanya petugas, sudah menjadi kewajibanmu untuk melaporkan kepada ki lurah kalau ada tamu. Maka, sekali lagi, aku minta kepadamu untuk memberitahukan ki lurah akan kedatanganku ini."
Kata Nurseta.
"Kurang ajar engkau!"
Jagabaya itu marah dan mengayun tangan kanannya untuk menampar muka Nurseta. Perlakuan seperti ini terhadap rakyat sudah biasa dia lakukan.
"Wuuuuttt......... plakk!"
Pergelangan tangan yang menampar itu telah dapat ditangkap Nurseta dan dengan sekali sentakan, tubuh jagabaya itu terpelanting dan terbanting ke atas tanah.
Dua orang temannya marah dan tanpa diperintah lagi mereka berdua sudah memukul dari kanan dan kiri ke arah kepala dan dada Nurseta.
Akan tetapi pemuda ini dengan gerakan amat cepat sudah mendahului menampar dengan tangan kiri dan menendang dengan kaki kanan.
Dua orang jagabaya itu mengaduh dan merekapun terpelanting roboh.
"Heii! Ada apakah ini?"
Terdengar suara orang membentak.
Nurseta memandang ke arah dua orang yang baru muncul dari dalam gedung.
Dia segera mengenal Ki Lurah Suramenggala, akan tetapi ketika dia memandang orang kedua yang berdiri di samping lurah itu dia terkejut mengenal orang yang bertubuh raksasa itu bukan lain adalah kepala gerombolan yang mengacau di dusun Karang Sari dan yang berhasil melarikan diri ketika enam orang anak buah gerombolan itu dikeroyok dan dibunuh oleh penduduk.
Kalau Nurseta terkejut, raksasa itu lebih kaget lagi.
Dia menuding dengan telunjuk tangan kirinya yang besar sambil berseru kepada Ki Suramenggal "Dia .....
dia itulah bocah setan itu.....!!"
Ki Suramenggala terkejut mendengar ini.
Tadi dia sudah mendengar dan ketika gerombolan yang menjadi anak buahnya itu bahwa gerombolan itu dibinasakan seorang pemuda dusun Karang Sari.
setelah sekarang melihat pemuda itupun segera mengenalnya sebagai Nurseta.
Maka dia lalu berseru keras.
"Tangkap bocah ini!"
Pada saat itu, dari dalam gedung berlari keluar tiga orang jagabaya lain.
Tiga orang jagabaya yang tadi dirobohkan Nurseta juga sudah bangkit dan mereka semua mencabut klewang mengepung Nurseta.
Kepala gerombolan yang tinggi besar itupun ikut mengepung.
Dia sudah mencabut senjatanya, sebatang pedang berpunggung gergaji yang menyeramkan.
Kini, kepala gerombolan itu merasa yakin bahwa dia akan dapat membalas dendam kepada pemuda itu.
Selain dia sendiri dapat mempergunakan senjatanya yang ampuh, juga di situ ada Ki Lurah Suramenggala yang membantunya dengan para jagabayanya.
"Bunuh saja dia! Bocah ini jahat dan berbahaya sekali!"
Bentak raksasa itu dan dia sudah mendahului para jagabaya menyerang dengan pedangnya.
Gerakannya tangkas dan kuat sekali sehingga pedang gergaji itu mendesing nyaring ketika menyambar ke arah leher Nurseta.
"Singgg .....!"
Pedang itu meluncur lewat di atas kepala Nurseta yang menekuk kedua lututnya merendahkan diri sehingga serangan itu tidak mengenai sasaran.
Pada saat itu, enam orang jagabaya telah menghujankan serangan kepadanya dari belakang, depan, kiri dan kanan.
Melihat gerakan mereka, maklumlah Nurseta bahwa para pengeroyoknya itu tidak merupakan lawan yang berbahaya maka diapun tidak merasa gugup dan dengan Aji Bayu Sakti yang membuat tubuhnya seringan dan secepat angin, dia bersilat dengan ilmu silat Baka Denta.
Tubuhnya berkelebatan di antara sinar tujuh buah senjata tajam itu dan para pengeroyoknya menjadi bingung karena mereka merasa seolah-olah mereka mengeroyok sebuah bayangan saja.
Dengan tamparan tamparan tangannya yang ampuh, tanpa mengerahkan terlalu banyak tenaga, Nurseta membuat enam orang jagabaya itu seorang demi seorang terpelanting dan tidak mampu bangkit kembali karena ada yang merasa kepalanya pening seperti hendak pecah, ada yang tulang pundaknya terkilir, bahkan ada yang tulang lengannya retak.
Melihat ini, kepala gerombolan yang sejak tadi menyerang tanpa hasil menjadi terkejut dan gentar.
Di Karang Sari enam orang anak buahnya roboh oleh pemuda ini dan sekarang enam orang jagabaya juga roboh.
Tahulah dia bahwa pemuda sakti itu bukan tandingannya dan amat berbahaya kalau dia melanjutkan perkelahian itu.
Maka dia lalu memutar tubuhnya hendak melarikan diri dari tempat itu.
Melihat ini, Nurseta yang tahu betapa jahatnya orang itu dan betapa orang itu merupakan ancaman bahaya bagi orang-orang lain, cepat mengambil sebatang klewang milik para jagabaya yang jatuh ke tanah, kemudian dia menyambitkan kelewang itu ke arah kepala gerombolan yang melarikan diri.
"Wuuuttt ..... cappp!!"
Tubuh raksasa itu roboh tertelungkup dengan punggung ditembusi kelewang yang runcing dan tajam.
Dia tewas seketika.
Ki Lurah Suramenggala menjadi pucat melihat betapa semua jagoannya roboh, bahkan kepala gerombolan yang dia andalkan itu agaknya telah tewas.
Dia lalu membalikkan tubuh dan lari hendak memasuki gedungnya.
Akan tetapi tampak bayangan berkelebat melewatinya dan tahu-tahu Nurseta telah berdiri menghadang di depannya!
Ki Suramenggala terkejut dan gentar.
Akan tetapi dia teringat bahwa dahulu Nurseta pernah "berhutang budi"
Kepadanya, maka dia hendak menggunakan gertakan untuk memulihkan wibawanya terhadap pemuda itu.
"Nurseta! Berani engkau membikin Kacau di sini? Lihat baik-baik, siapa aku? Aku adalah lurahmu, aku yang dulu memeliharamu ketika engkau masih kecil dan hidup sebatang kara!"
Nurseta memandang wajah lurah itu dengan alis berkerut.
"Aku tidak lupa, Ki Suramenggala. Engkaulah yang merampas tanah dan sawah ladang peninggalan orang tuaku dan memberi aku makan selama tiga tahun saja!"
"Heh! Berani engkau kurang ajar kepadaku, bocah tak mengenal budi?"
Ki Suramenggala menampar dengan tangan kanannya seperti yang dia lakukan kalau dahulu Nurseta berani membantahnya ketika pemuda itu masih kecil.
Akan tetapi Nurseta menangkis sambaran tangan itu sambil mengerahkan tenaga.
"Wuuutt..... dukkk.....! Aduhhh"
Ki Suramenggala merasa lengannya seperti bertemu linggis dan tulangnya seperti patah. Dia memegangi tangan kanannya dengan tangan kiri, mengeluh kesakitan.
"Ki Suramenggala, kedatanganku ini bukan untuk membuat keributan. Orang orangmu yang tadi mengajak ribut. Aku datang hanya ingin bertanya padamu tentang orang tuaku! Dari mana orang tuaku datang dan di mana sekarang mereka berada? Hayo katakan dan aku tidak akan mengganggumu lagi!"
Ki Suramenggala tidak berani berlagak lagi.
"Ayahmu bernama Ki Darmaguna dan ibumu bernama Nyi Sawitri. Mereka berasal dari kota raja Kahuripan, pindah ke Karang Tirta sini ketika engkau masih kecil, berusia kurang lebih tiga tahun."
"Ketika aku berusia sepuluh tahun, tiba-tiba saja mereka pergi dari sini. Kemanakah mereka pergi dan di mana sekarang mereka berada?"
Ki Suramenggala menggeleng kepala.
"Aku tidak tahu, Nurseta. Mereka juga tidak pamit kepadaku dan sampai sekarang aku tidak tahu ke mana mereka pergi."
"Benarkah andika tidak tahu?"
Desak Nurseta.
"Benar! Sungguh, aku tidak berbohong, Nurseta."
"Sekarang, jawab pertanyaanku ini. Kenapa andika bersahabat dengan jahanam Itu?"
Nurseta menunjuk ke tubuh raksasa kepala gerombolan yang sudah menjadi mayat.
"Siapakah dia dan bagaimana andika bersahabat dengan orang jahat seperti itu?"
Ki Suramenggala melebarkan matanya seolah merasa heran dan kaget.
"Dia bukan orang jahat, Nurseta. Aku mengenal dia sebagai seorang jagoan gagah yang tinggal di barat, di perbatasan Wengker."
"Hemm, jadi dia itu orang Kadipaten Wengker? Andika bilang dia tidak jahat Ki Suramenggala? Dia dan anak buahnya telah mengganas dan melakukan perampokan dan kejahatan di dusun Karng Sari!"
"Ah, begitukah? Aku..... aku sungguh tidak tahu....., kalau aku tahu tentu aku tidak sudi bersahabat dengan dia!"
Kata Ki Suramenggala.
"Hemm, sudahlah. Mudah-mudahan peristiwa hari ini menjadi pelajaran bagi andika harus mengusahakan kesejahteraan penduduk dusun ini, bukan hanya mencari kesejahteraan untuk diri sendiri. Jangan bergaul dengan orang jahat dan jangan sekali-kali menggunakan kekerasan menggunakan tukang pukul untuk menakut nakuti dan menindas rakyat. Nah, aku pergi!"
Setelah berkata demikian, Nurseta cepat meninggalkan pekarangan gedung ki lurah itu.
Tentu saja dia tidak puas dengan keterangan Ki Suramenggala.
Lurah itu hanya memberitahukan nama ayah ibunya yang masih diingatnya, akan tetapi sama sekali tidak dapat menunjukkan di mana adanya ayah bundanya sehingga dia tidak tahu ke mana harus mencari mereka.
Kini dia segera menuju ke bekas rumah orang tuanya.
Agaknya penduduk Karang Tirta sudah mendengar akan peristiwa yang terjadi di pekarangan rumah gedung Ki Lurah Suramenggala karena ketika Nurseta berjalan menuju ke bekas rumah orang tuanya, para penduduk keluar dari rumah dan memandang kepadanya dengan penuh keheranan dan kekaguman.
Ketika dia tiba di dekat rumah bekas tempat tinggal orang tuanya, seorang laki-laki berusia enam puluh tahun berlari menyongsongnya.
Dengan ramah dan gembira laki-laki itu memegang lengan Nurseta.
"Aduh, Nurseta! Sungguh tidak sangka bahwa engkau telah menjadi seorang pemuda yang gagah perkasa, yang berani menghajar Ki Lurah Suramenggala dan para tukang pukulnya! Ah, sungguh kami seluruh penduduk merasa gembira sekali dan aku amat bangga kepadamu Nurseta!"
Nurseta segera mengenal laki-laki itu.
"Paman Tejomoyo, andika baik-baik saja bukan?"
Ki Tejomoyo ini adalah seorang tetangga yang sejak dulu hidup sebatang kara dan dulu sering menolong Nurseta, memberinya makan kalau Nurseta sedang kekurangan.
Mereka berangkulan, lalu Tejomoyo menarik lengan Nurseta, diajak masuk ke rumahnya yang sederhana.
"Mari, Nurseta, kita bicara di dalam. Aku ingin sekali mendengar tentang dirimu, kemana saja selama lima tahun lebih ini engkau pergi dan bagaimana sekarang setelah muncul tahu-tahu engkau menjadi seorang yang sakti mandraguna!"
"Akupun ingin sekali mengajukan pertanyaan-pertanyaan kepada andika, paman dan mengharapkan keterangan dari andika."
Nurseta mengikuti Ki Tejomoyo memasuki rumah itu.
Setelah mereka duduk di atas bale-bale bambu, Nurseta memenuhi permintaan tuan rumah, menceritakan bahwa selama ini dia berguru kepada Empu Dewamurti yang membawanya ke lereng gunung Arjuna.
Setelah menceritakan keadaan dirinya, dia lalu berkata dengan wajah serius.
"Paman Tejomoyo, sekarang aku ingin sekali bertanya kepadamu dan kuharap Andika suka memberi keterangan yang sejelas-jelasnya."
"Apa yang hendak kautanyakan, Nurseta? Tanyalah, tentu aku akan menerangkan apa saja yang kuketahui."
"Begini, paman. Paman adalah tetangga yang baik dari orang tuaku, tentu paman mengenal baik ayah ibuku, bukan?"
Ki Tejomoyo tersenyum.
"Mengenal avah ibumu? Tentu saja aku mengenal mereka dengan baik. Ayahmu adalah orang yang bijaksana dan pandai, seorang sasterawan yang halus budi bahasanya dan ramah terhadap siapa saja."
Dia termenung, mengingat-ingat.
"Biarpun dia tidak pernah mengaku, namun aku yakin bahwa Ki Darmaguna dan Nyi Sawitri ayah ibumu itu, tentulah keluarga bangsawan. Biarpun mereka bukan orang kaya dan hidup sederhana, namun sikap dan tutur sapa mereka demikian halus sehingga mudah diduga bahwa mereka tentulah berdarah bangsawan. Seperti engkau ini, Nurseta, engkau seorang anak desa dibesarkan di Karang Tirta ini, akan tetapi engkau lain dibandingkan anak anak desa pada umumnya."
"Yang ingin kutanyakan, paman. Tahukah paman kemana mereka pergi dan dimana mereka kini berada?"
Sambil bertanya demikian, Nurseta menatap wajah orang dengan penuh selidik.
Ki Tejomoyo menghela napas panjang "Sungguh menyesal sekali bahwa aku tidak dapat menjawab kedua pertanyaanmu itu, Nurseta.
Aku sendiri sampai sekarang masih merasa heran kemana ayah ibumu itu pergi dan di mana mereka kini berada.
Mengapa pula mereka sampai sekarang tiada beritanya seolah lupa kepadamu, padahal aku yakin benar bahwa ayah ibumu itu saying kepadamu.
Sungguh aku tidak mengerti."
Nurseta merasa terpukul sekali hatinya mendengar ucapan ini.
Seakan sudah putuslah harapannya.
Siapa lagi yang dapat ditanyai?
Ki Tejomoyo ini merupakan tetangga yang paling dekat dan paling akrab dengan ayahnya.
Dia hanva dapat termenung dengan kedua alis berkerut dan pandang matanya kosong dan sayu.
Melihat keadaan pemuda itu, Ki Tejomoyo merasa iba sekali dan dia berkata.
"Nurseta, agaknya di dusun ini hanya ada satu orang yang akan mampu menjawab dua pertanyaanmu tadi."
Sepasang mata Nurseta mencorong dan harapannya muncul kembali.
"Begitukah, paman? Siapakah orang itu?"
"Dia itu bukan lain adalah Ki Lurah Suramenggala! Dialah yang tahu, setidaknya tahu mengapa orang tuamu pergi meninggalkan dusun ini!"
Nurseta terkejut.
"Ah, benarkah itu, Paman? Akan tetapi ketika tadi aku bertanya kepadanya, dia mengatakan tidak tahu."
"Bohong! Dia berbohong. Aku yakin dia pasti tahu mengapa ayah ibumu pergi, karena dialah yang menjadi biang keladi perginya orang tuamu."
"Eh? Mengapa begitu, paman? Apakah yang telah terjadi ketika itu? Harap paman suka memberi penjelasan."
Kembali Ki Tejomoyo menghela napas panjang.
"Dahulu aku takut untuk menceritakan hal ini kepada siapapun juga Akan tetapi setelah mendengar betapa tadi engkau telah berani menghajar dia dan para tukang pukulnya, biarlah kuceritakan kepadamu. Di antara Ki Darmaguna dan Ki Lurah Suramenggala memang terdapat semacam perasaan saling membenci atau setidaknya saling tidak suka. Hal itu terjadi karena ulah Ki Suramenggala. Baru beberapa bulan setelah orang tuamu pindah ke dusun ini Ki Suramenggala itu agaknya tergila gila kepada ibumu, Nyi Sawitri yang memang merupakan seorang wanita berusia dua puluh tiga tahun yang cantik jelita ketika itu. Ki lurah itu berusaha untuk merayu Nyi Sawitri pada saat ayahmu tidak berada di rumah. Akan tetapi niat kotor ki lurah itu ditolak mentah-mentah oleh ibumu, bahkan ibumu lalu melaporkan hal itu kepada ayahmu. Maka terjadilah rasa saling tidak suka di antara ayahmu dan ki lurah."
"Hemm, manusia hina!"
Seru Nurseta marah mendengar ibunya dirayu oleh Ki Lurah Suramenggala.
"Ya, memang Ki Suramenggala terkenal sebagai seorang laki-laki yang mata keranjang dan suka mengandalkan kekuasaan dan kekayaannya untuk menggoda wanita, baik gadis, janda, maupun isteri orang. Akan tetapi karena ayahmu seorang yang memiliki wibawa sebagai seorang bangsawan dan terpelajar, Ki Suramenggala tidak berani lagi mencoba-coba untuk mengulangi perbuatannya, tidak berani pula menggunakan kekerasan. Kemudian terjadilah hal itu yang membuat aku yakin bahwa Ki Suramenggala yang menjadi biang keladi perginya orang tuamu dari sini."
"Apa yang telah terjadi, paman?"
Ki Tejomoyo melanjutkan ceritanya tujuh tahun sejak Ki Darmaguna dan anak isterinya tinggal di Karang Tirta pada suatu pagi Ki Tejomoyo memikul dagangannya, yaitu alat-alat dapur dan tanah, hendak dijual ke dusun-dusun lain.
Di tengah perjalanan dia bertemu dengan Tardi, seorang jagabaya anak buah Ki Lurah Suramenggala.
Tardi ini masih terhitung keponakan Ki Tejomoyo dan dia menghentikan kudanya ketika bertemu dengan pamannya yang memikul dagangannya.
"Eh, Tardi, ke mana sepagi ini engkau hendak pergi?"
Tanya Ki Tejomoyo kepada keponakannya itu.
"Paman Tejomoyo, aku hendak pergi ke kota raja, menjadi utusan Ki Lurah Suramenggala!"
Kata Tardi dengan nada suara bangga.
"Ke kota raja? Ada keperluan apakah"
"Wah, penting sekali, paman. Ada kabar yang amat menghebohkan! Dusun kita pasti akan geger!"
"Eh? Ada apakah?"
"Begini, paman. Akan tetapi ..... hemm. Ini rahasia lho, jangan sampai terdengar orang lain. Bisa celaka engkau dan aku kalau sampai terdengar orang lain kemudian ki lurah mengetahui bahwa kita yang membocorkan."
"Tentu saja tidak akan kuceritakan pada orang lain. Ada apa sih?"
"Paman tahu, Ki Darmaguna, tetanggamu itu ....."
"Ya, kenapa dia?"
"Dia itu seorang pelarian yang kabur dari kota raja!"
"Eh? Jangan main-main, Tardi!"
"Sungguh, paman. Ini, aku membawa surat Ki Lurah untuk disampaikan kepada Senopati Sindukerta di kota raja!"
Setelah berkata demikian, Tardi membedal kudanya.
"Selamat tinggal, paman!"
Mendengar berita itu, Ki Tejomoyo yang amat menghormati Ki Darmaguna sekeluarga, membatalkan kepergiannya berjualan grabah (prabot dapur dari tanah) dan kembali ke rumahnya.
Dia lalu langsung saja melaporkan kepada Ki Darmaguna dan isterinya.
"Demikianlah, Nurseta. Setelah menerima lapora ku bahwa Ki Lurah Suramenggala mengutus jagabaya pergi ke kota raja untuk melapor kepada Senopati Sindukerta bahwa Ki Darmaguna sekeluarga tinggal di Karang Tirta, ayah ibumu meninggalkan Karang Tirta pada malam hari itu juga. Jadi, kalau engkau hendak mengetahui sebabnya, kiranya Ki Lurah Suramenggala yang mengetahui dengan pasti."
Sejak tadi Nurseta mendengarkan cerita K i Tejomoyo dengan penuh perhatian sambil membayangkan wajah ayah dan ibunya.
Dia masih ingat wajah mereka.
Ayahnya seorang laki-laki tampan dan ibunya seorang wanita cantik sekali.
Setelah Ki Tejomoyo selesai bercerita dia menanyakan apa yang selama ini selalu menjadi gangguan dalam hatinya yang membuat dia merasa penasaran "Akan tetapi, paman.
Ketika itu, aku masih kecil."
"Ya, usiamu baru kira-kira sepuluh tahun ketika ayah ibumu pergi."
"Itulah yang membuat hatiku selalu merasa penasaran, paman. Mengapa kalau orang tuaku pergi, mereka tidak membawa aku?"
Ki Tejomoyo menghela napas panjang.
"Aku hanya dapat mengira-ngira. Mereka pergi tergesa-gesa, seperti orang yang terancam bahaya. Maka, karena mereka menyayangmu, mereka sengaja meninggalkanmu agar jangan sampai engkau juga ikut terancam bahaya. Akan tetapi, kalau ingin tahu lebih jelas, Ki Lurah Suramenggala tentu akan dapat bercerita banyak."
"Baiklah, paman. Aku akan pergi ke rumah Ki Lurah Suramenggala dan memaksa dia untuk mengaku!"
Setelah berkata demikian, Nurseta meninggalkan tempat itu dan berjalan cepat menuju ke rumah Ki Lurah Suramenggala.
Ketika dia tiba di pekarangan kelurahan, suasana dalam rumah Ki Lurah Suramenggala masih diliputi kekagetan dan kebingungan karena amukan Nurseta tadi.
Maka, ketika melihat pemuda itu datang lagi, para sisa jagabava sudah lari lintang pukang karena takut.
Nurseta memasuki serambi dan berseru.
"K i Lurah Suramenggala, keluarlah, aku mau bicara!"
Ketika berseru dia mengerahkan tenaga saktinya sehingga suaranya terdengar lantang dan bergema memasuki setiap ruangan di rumah besar itu.
Pada saat itu, Ki Lurah Suramenggala sedang diobati lengannya oleh para selirnya, termasuk Nyi Lasmi.
Nyi Lasmi adalah ibu kandung Puspa Dewi yang telah menjadi janda.
Ketika Puspa Dewi diculik lima tahun yang lalu bersama Linggajaya putera Ki Lurah Suramenggala berusia tiga puluh satu tahun dan Nyi Lasmi memang terkenal cantik.
Peristiwa itu membuat ia sering bertemu dengan Ki Lurah Suramenggala karena sama sama kehilangan anak dan Ki Lurah Suramenggala yang mata keranjang itu segera jatuh cinta.
Maka dipinanglah Nyi Lasmi dan semenjak itu, Nyi Lasmi menjadi seorang selirnya yang terkasih.
Lengan Ki Lurah Suramenggala dibebat semacam param karena terasanya ketika pukulannya ditangkis Nurseta tadi.
Pada saat itu, terdengarlah suara Nurseta memanggilnya.
Wajahnya menjadi pucat, akan tetapi dia tidak berani membangkang.
Segera dia membereskan pakaiannya dan keluar untuk menemui pemuda itu.
Begitu melihat lurah itu muncul seorang diri dengan muka pucat, Nurseta cepat menghampirinya dan berkata dengan suara bernada marah dan mengancam.
"Ki Suramenggala, aku tidak ingin mempergunakan kekerasan, maka andika ceritakan sejujurnya apa yang terjadi sebelas tahun yang lalu, mengapa ayah ibuku meninggalkan aku dan rumah mereka."
Wajah yang sudah pucat itu semakin ketakutan.
"Nurseta..... demi Sang Hyang widhi ....."
"Tidak usah engkau menyebut Sang Hyang Widhi. Hatimu terlalu kotor untuk menyebut namaNya. Kalau andika tidak mau mengaku terus terang, terpaksa aku harus menyiksamu sampai andika mengaku. Ingat, aku sudah tahu bahwa sebelum orang tuaku pergi tanpa pamit, andika telah mengutus seorang jagabaya untuk membawa surat laporan kepada Senopati Sindukerta di kota raja!"
K i Lurah Suramenggala membelalakan kedua matanya.
"Dari..... dari mana..... engkau tahu.....?"
"Tidak perduli dari mana aku tahu Hayo ceritakan sejelasnya dan selengkapnya, atau haruskah kupatahkan kedua tangan dan kakimu lebih dulu?"
"Tidak..... tidak, jangan pukul aku Nurseta. Baiklah, akan kuceritakan apa yang kutahu. Mari, silakan duduk,"
Kata Ki Lurah Suramenggala. Mereka lalu duduk di kursi yang terdapat di serambi itu.
"Nah, ceritakanlah!"
Kata Nurseta.
"Ketika ayah ibumu datang dan tinggal di dusun ini, aku hanya tahu bahwa mereka itu pindah dan kota raja. Ayahmu seorang ahli sastra dan orang baik, maka selama tujuh tahun tinggal di sini, tidak terjadi apa-apa. Akan tetapi ketika aku pergi ke kota raja karena suatu urusan aku mendengar bahwa Ki Darmaguna dan isterinya adalah pelarian, orang-orang yang sedang dicari-cari oleh Senopati Sindukerta. Mendengar ini, sebagai seorang lurah tentu saja aku harus membantu pamong praja yang lebih tinggi kedudukannya. Maka aku lalu mengirim utusan ke kota raja, melaporkan bahwa orang-orang buruan itu telah tujuh tahun tinggal di dusun ini. Kalau aku tidak melaporkan, aku bisa dituduh menyembunyikan dan membantu mereka. Nah, ketika utusanku pulang membawa perintah Senopati Sindukerta untuk menangkap Ki Darmaguna dan isterinya, ternyata mereka sudah melarikan diri."
"Ke mana mereka pergi?"
Tanya Nurseta.
"Sungguh, aku tidak tahu, Nurseta. Sebetulnya antara aku dan orang tuamu tidak ada permusuhan apapun, akan tetapi karena mereka itu orang buruan Senopati Sindukerta, dan aku adalah lurah, maka terpaksa ....."
"Hemm, mengapa ayahku dikejar-kejar senopati Sindukerta Mengapa mereka menjadi buruan?"
"Aku tidak tahu, Nurseta, sungguh aku tidak tahu. Ayahmu seorang yang baik, aku tidak tahu mengapa Senopati Sindukerta memusuhinya. Aku sendiri menganggap Ki Darmaguna sebagai seorang sahabat baik."
"Hemmm, andika bohong, Ki Suramenggala! Aku tahu bahwa dulu engkau tergila-gila kepada ibuku dan pernah berusaha untuk merayunya! Hayo menyangkal kalau berani!"
Wajah lurah itu menjadi pucat, akan tetapi dia dapat menenangkan hatinya dan tersenyum dan mengangguk-angguk "Tidak kusangkal, Nurseta.
Ibumu adalah seorang wanita yang paling cantik yang pernah kulihat.
Aku tergila-gila kepadanya, apakah itu salah?
Aku tidak pernah mengganggunya.
Dan percaya atau tidak, kenapa engkau tidak kulaporkan sebagai anak ayahmu yang menjadi buruan?
Karena melihat engkau, aku teringat kepada Sawitri, ibumu.
Aku kasihan kepadamu maka aku sengaja menyelamatkanmu dan memeliharamu."
"Cukup!"
Hardik Nurseta sehingga mengejutkan hati sang lurah yang menjadi ketakutan lagi.
"Tidak perlu andika membohongi aku lagi. Andika hanya hendak merampas tanah dan rumah orang tuaku. Kalau aku teringat akan semua Itu, sudah sepatutnya kalau sekarang kuhancurkan kepalamu!"
"Aduh..... ampun, Nurseta. Jangan lakukan itu.....! Kalau engkau ingin membalas dendam, carilah Senopati Sindukerta. Dialah yang memusuhi orang tuamu, bukan aku!"
Pada saat itu tampak sesosok bayangan berkelebat dan tiba-tiba diserambi itu telah berdiri seorang pemuda tampan.
Pemuda itu berusia sekitar dua puluh tahun, pakaiannya mewah.
Tubuhnya tinggi tegap, mata lebar, hidung mancung dan mulutnya tersenyum mengejek.
Wajah yang tampan memandang kepada Ki lurah Suramenggala yang masih berlutut minta ampun kepada Nurseta, lalu memandang wajah Nurseta dengan mata mencorong marah.
"Keparat!"
Pemuda itu menudingkan telunjuknya ke arah muka Nurseta.
"Siapa engkau yang berani mengancam dan menghina ayahku?!"
Ki Lurah Suramenggala yang tadi merasa terkejut dan pangling, kini melompat dan menghampiri pemuda itu sambil berseru girang.
"Kau..... kau puteraku Lingga jaya .....!"
Dia merangkul pemuda itu dengan girang sekali. Akan tetapi dengan lembut pemuda itu mendorong Ki Lurah Suramenggala dan berkata sambil tetap memandang Nurseta.
"Bapak, nanti saja. Sekarang masuklah dulu, biar aku menghajar bocah kurang ajar ini!"
"Engkau benar, Linggajaya. Hajarlah dia. Dia itu Nurseta bocah tak mengenal budi itu. Dia tadi hendak membunuh aku!"
Setelah berkata demikian, Ki Lurah Suramenggala lalu berlari memasuki rumahnya. Nurseta berdiri berhadapan dengan Linggajaya.
"Hemm, kiranya engkau Nurseta bocah jembel itu? Tak tahu malu dan tidak mengenal budi. Bukankah dulu yang memberi engkau makan adalah keluarga kami?"
Linggajaya menegur marah.
"Sekarang berani engkau mengancam ayahku?"
"Dan engkau Linggajaya, bocah yang sombong dulu itu! Ayahmu memang sudah sepatutnya dihajar karena dia adalah seorang yang jahat dan suka bergaul dengan penjahat dan perampok!"
"Tutup mulutmu yang busuk!"
Bentak Linggajaya dan pemuda yang baru saja meninggalkan gurunya, Resi Bajrasakti di Kerajaan Wengker itu, sudah menggerakkan tangan memukul ke arah muka Nurseta.
Linggajaya yang sejak kecil memang terlalu dimanja, menyadari bahwa ayahnya adalah orang nomor satu seluruh dusun Karang Tirta, memupuk watak yang sombong, tinggi hati dan menganggap diri sendiri dan keluarganya paling hebat.
Apalagi sekarang, setelah dia mewarisi ilmu-ilmu tinggi yang membuat dia menjadi seorang pemuda sakti, kesombongannya bertambah, bagaikan seekor harimau tumbuh sayap dan dia memandang remeh orang lain.
Sekarangpun, ketika menyerang Nurseta, dia memandang rendah pemuda yang pernah menjadi kuli borongan atau pekerja kasar itu dan dia merasa yakin bahwa pukulannya yang dilakukan sembarangan saja itu sudah cukup untuk membikin remuk muka Nurseta.
"Wussss .....!"
Linggajaya kecelik dan menjadi semakin marah karena pukulannya amat kuat dan cepat itu dapat di elakkan dengan mudah oleh Nurseta.
Rasa penasaran membuat kemarahannya memuncak dan diapun menyusulkan serangan dengan tendangan kedua kakinya silih berganti.
Namun, Nurseta yang cepat menyadari bahwa Linggajaya yang menyerangnya ini sama sekali bukan Linggajaya yang dahulu, melainkan seorang pemuda yang memiliki kedigdayaan maklum bahwa kalau dia melayani bertanding di dalam rumah, dia yang akan menderita rugi.
Maka diapun melompat ke belakang menghindari dua tendangan itu, lalu terus berlompatan keluar dari serambi.
"Nurseta, jahanam keparat, jangan lari kau!"
Seru Linggajaya dan pemuda inipun melompat keluar dan mengejar.
Akan tetapi Nurseta tidak melarikan diri, hanya mencari tempat yang lebih luas.
Kini dia sudah berdiri di pekarangan yang luas itu dan siap menanti Linggajaya.
"Linggajaya, ayahmu adalah seorang jahat. Kalau engkau membelanya, berarti engkau juga jahat!"
Nurseta memperingatkan.
"Bocah jembel kurang ajar. Bersiaplah untuk mampus! Terimalah Aji Gelap Sewu! Ciaaattttt......!"
Linggajaya menyerang dengan hebatnya.
Gerakan tangan terbuka yang memukul itu bagaikan petir menyambar dan mengandung hawa yang amat panas.
Diam-diam Nurseta merasa heran.
Kiranya pemuda sombong ini bukan sekadar menyombong, melainkan benar-benar memiliki ilmu pukulan yang ampuh sekali.
Maka diapun waspada, mengerahkan aji meringankan tubuh Bayu Sakti dan kaki tangannya bergerak-gerak memainkan ilmu silat Baka Denta (Bangau Putih).
Hantaman tangan terbuka lawannya itu dia elakkan dengan lincah dan dari samping diapun membalas dengan totokan dua jari tangan kirinya ke arah lambung Linggajaya.
"Syutttt ......plakkk!"
Linggajaya cepat menangkis dan ketika dua lengan itu bertemu, keduanya melompat ke belakang dengan kaget.
Ternyata pertemuan dua lengan itu membuat Linggajaya tergetar dan baru sekarang pemuda ini menyadari bahwa Nurseta juga bukan bocah yang lemah dahulu, melainkan menjadi seorang pemuda yang sakti dan memiliki tenaga yang amat kuat.
Akan tetapi tentu saja dia tidak menjadi gentar dan dia menyerang lagi secara bertubi-tubi, bahkan dia mengerahkan Aji Wisa Langking.
Kedua telapak tangannya berubah hitam dan mengandung racun yang amat ampuh.
Nurseta maklum bahwa kedua tangan lawan itu mengandung racun, maka diapun mempercepat gerakannya sehingga tubuhnya tak pernah tersentuh tangan itu.
Dengan ilmu silat Baka Denta, tubuhnya bergerak cepat dan dia dapat menghindarkan semua serangan lawan dan membalas dengan tamparan-tamparan yang tidak kalah ampuhnya, walaupun tidak ada pukulannya yang mengandung racun Lambat namun pasti, akhirnya Nurseta dapat mulai mendesak Linggajaya.
Tingkat kesaktian kedua orang muda ini memang seimbang, akan tetapi gerakan Nurseta lebih tenang dan keadaan batinnya lebih kuat sehingga dia selalu dapat menguasai perasaan dan gerakan tubuhnya.
Sebaliknya Linggajaya banyak dikuasai perasaan marah, tekebur dan terkadang kaget.
Sementara itu, selagi kedua orang muda perkasa itu saling serang dengan serunya, di bagian belakang rumah Ki Lurah Suramenggala terjadi pula suatu peristiwa yang menarik.
Tanpa diketahui dua orang muda sakti yang sedang mencurahkan perhatian mereka dalam pertandingan itu, sesosok bayangan berkelebat.
Bayangan itu adalah seorang gadis cantik jelita berusia sekitar delapan belas tahun, pakaian yang indah.
Sejenak ia berhenti dan menonton perkelahian itu, kemudian ia tidak memperdulikan lagi dan terus bergerak cepat menuju ke belakang rumah besar itu.
Ketika ia tiba di bagian belakang rumah itu, tiga orang pengawal yang berada di situ segera menghadang di depannya dan seorang di antara mereka membentak.
"Hei, siapa andika dan mengapa memasuki tempat ini tanpa ijin?"
Gadis itu memandang kepada tiga orang jagabaya itu dan mengerutkan alisnya.
"Dan kalian ini siapa dan orang-orang macam apa berani menghadangku dan lancang menegur aku?"
Tiga orang jagabaya itu terpesona oleh kecantikan gadis itu, akan tetapi melihat sikap yang demikian kasar, tentu saja mereka menjadi marah dan curiga.
Tidak ada anggauta keluarga Ki Lurah Suramenggala yang seperti gadis ini.
Jelas ia orang asing yang datang memasuki rumah tanpa ijin dan sikapnya yang kasar itu menunjukkan bahwa gadis itu mempunyai niat yang tidak baik.
"Hayo ikut kami, andika harus kami tangkap dan kami hadapkan kepada Ki Lurah!"
Gadis itu menjadi semakin marah, la berdiri tegak, membusungkan dadanya yang mulai montok, lalu berkata sambil tersenyum mengejek dan memandang rendah.
"Kalian tiga ekor tikus busuk ini hendak menangkap aku? Hah, menggelikan!"
Tentu saja tiga orang jagabaya itu marah sekali.
Mereka memang harus mengakui bahwa mereka takut terhadap Nurseta yang sakti mandraguna.
Akan tetapi bagaimanapun juga mereka adalah jagabaya yang biasanya ditakuti orang sedusun.
Tentu saja mereka tidak takut menghadapi seorang gadis yang belum dewasa benar itu!
Apalagi gadis itu telah menghina mereka dengan kata-kata yang meremehkan, memaki mereka tiga ekor tikus busuk!
"Gadis liar!
Engkau kurang ajar!"
Kata mereka dan tiga orang itu serentak menjulurkan tangan untuk menangkap kedua lengan gadis itu.
Akan tetapi terjadi hal yang sama sekali tidak mereka sangka.
Gadis itu bergerak cepat sekali, kedua tangannya menyambar-nyambar dan tiga orang jagabaya itu terpelanting roboh seperti disambar petir!
Mereka hanya dapat mengaduh-aduh dan tidak dapat bangkit lagi!
Gadis itu tidak memperdulikan mereka dan melangkah masuk melalui pintu belakang.
Ketika bertemu seorang pelayan wanita setengah tua, ia menangkap lengan pelayan itu.
Pelayan itu berteriak kesakitan karena merasa betapa lengannya seperti dijepit besi!
"Hayo cepat bawa aku kepada Nyi Lasmi!
Cepat, atau akan kupatahkan tanganmu!"
Gadis itu mencengkeram lebih kuat dan wanita itu mengaduh.
"Baik, baik ..... marilah saya antar andika, tapi jangan sakiti lenganku ....."
Gadis itu mengendurkan cengkeramannya dan mengikuti pembantu wanita itu masuk ke dalam rumah.
Pembantu wanita itu membawanya memasuki sebuah kamar dimana lima orang isteri Ki Lurah Suramenggala berkumpul.
Mereka itu ketakutan karena maklum bahwa Nurseta datang lagi dan kini sedang berkelahi melawan Linggajaya.
"Ibuuu .....!"
Gadis itu berseru ketika melihat Nyi Lasmi berada di antara wanita-wanita itu.
"Puspa Dewi .....! Kau .....? Ah, Puspa Dewi .....!"
Ibu dan anak itu saling tubruk dan berangkulan.
Nyi Lasmi menangis saking girang hatinya melihat puterinya selamat dan kini telah menjadi seorang gadis yang cantik jelita.
Puspa Dewi juga girang melihat ibunya dalam keadaan selamat.
Tadi ketika ia pulang ke rumah ibunya, ia mendapatkan rumah itu kosong dan seorang tetangga mengatakan bahwa beberapa bulan setelah ia lenyap diculik orang, ibunya menjadi selir Ki Lurah Suramenggala dan kini tinggal di kelurahan.
Maka ia lalu menyusul ke kelurahan dan melihat perkelahian di pekarangan, akan tetapi tidak diperdulikannya karena ia ingin mencari ibunya.
"Kenapa ibu di sini? Kenapa menjadi isteri Ki Lurah Suramenggala? Apa dia memaksa ibu? Kalau dia memaksa, biar kuhajar dan kubunuh dia!"
"Jangan .....! Dengar, Puspa Dewi Dia tidak memaksa. Ibumu hidup seorang diri, sebatang kara setelah engkau diculik orang. Ibumu membutuhkan perlindungan dan ki lurah telah bersikap baik sekali kepadaku. Karena itu aku menerimanya ketika dia meminangku. Puspa Dewi, sekarang dia menjadi ayah tirimu dan dia sedang terancam! Ada orang muda yang datang mengancam dan hendak membunuhnya. Kini pemuda jahat itu ditandingi oleh Linggajaya, putera Ki Lurah yang juga baru saja datang dan membela ayahnya." (Lanjut ke
Jilid 12) Keris Pusaka Sang Megatantra (seri ke 01 -Serial Keris Pusaka Sang Megatantra) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo
Jilid 12
"Ah, begitukah? Kalau begitu, biar akan kuhajar orang kurang ajar itu!"
Setelah berkata demikian, sekali berkelebat gadis itu telah lenyap, cepat sekali ia melompat keluar dari kamar dan langsung saja menuju ke depan!
Pertandingan antara Linggajaya dan Nurseta sudah mencapai puncaknya.
Linggajaya yang terdesak terus itu kini sudah mencabut senjatanya yang ampuh, pemberian gurunya, yaitu sebatang pecut yang disebut Pecut Tatit Geni (Kilat Api ).
Dia memutar-mutar pecut itu keatas kepala.
'Tar-tar-tarrr .....!"
Pecut itu meledak-ledak di atas kepala Nurseta, menyambar-nyambar seperti halilintar.
Namun Nurseta yang menggunakan Aji Bayu Sakti, dapat bergerak cepat sekali, tubuhnya berkelebatan seperti bayangan bayangan di antara gulungan sinar pecut yang menyambar-nyambar.
Sekali waktu dia mengerahkan tenaga saktinya dan dengan telapak tangan miring dia menangkis pecut lalu mencengkeram dan membetot kuat-kuat.
Linggajaya terkejut bukan main dan dia mempertahankan pecutnya agar jangan terampas.
Akan tetapi tiba-tiba Nurseta melepaskan cengkeramannya sehingga ujung pecut itu berbalik menyerang ke arah kepala Linggajaya sendiri!
Linggajaya mengangkat tangan ke atas dan melempar tubuh ke bawah lalu bergulingan sehingga dia terbebas dari serangan pecutnya sendiri!
Pada saat itu, tampak bayangan berkelebat dan Puspa Dewi sudah berdiri di antara mereka.
Gadis ini agaknya pangling dan tidak mengenal dua orang pemuda itu.
Maka, agar jangan salah tangan ia lalu menghardik.
"Yang mana pemuda setan yang hendak membunuh Ki Lurah Suramenggala?!"
Nurseta segera mengenal Puspa Dewi.
Dia terkejut dan merasa heran sekali melihat betapa cepatnya gerakan gadis seperti terbang saja.
Agaknya gadis yang terculik ini, seperti halnya Linggajaya, selama lima tahun ini telah mempelajari ilmu yang tinggi dan yang membuat ia sakti mandraguna!
"Puspa Dewi, andikakah ini?
Aku Nurseta, lupakah andika kepadaku?"
Puspa Dewi mengerutkan alisnya.
"Hemm, engkau Nurseta? Dan dia ini tentu Linggajaya!"
Ia menoleh dan memandang kepada Linggajaya yang sudah bangkit berdiri.
"Nurseta, engkaukah yang mengacau di sini dan katanya hendak membunuh ayah tiriku?"
"Ayah tirimu .....?"
Nurseta bertanya heran sedangkan Linggajaya yang kini juga mengenal gadis cantik jelita itupun memandang heran karena dia sendiri belum tahu bahwa ibu gadis itu, janda Nyi Lasmi, kini telah menjadi isteri selir Ayahnya.
"Aku mendengar bahwa engkau hendak membunuh Ki Lurah Suramenggala, bukan? Huh, Nurseta, jangan harap engkau akan dapat membunuhnya selama aku berada di sini!"
"Tapi ..... tapi Ki Suramenggala itu orang jahat, Puspa Dewi ....."
"Engkau yang jahat!"
Puspa Dewi membentak marah. Linggajaya tadi juga melihat betapa cepat Puspa Dewi bergerak, maka cepat dia berkata.
"Puspa Dewi, mari kita basmi orang yang hendak membunuh ayah kita!"
Setelah berkata demikian, Linggajaya sudah mencabut keris Candulamani, keris luk tiga belas yang ampuh itu dan secepat kilat dia sudah menubruk maju dan menyerang dengan tusukan kerisnya ke arah perut Nurseta.
Nurseta cepatmengelak ke kiri.
"Sambutlah Aji Guntur Geni ...hyaaatt .....!!"
Puspa Dewi sudah memasang kuda-kuda Guntur Geni, kedua kaki terpentang ke depan dan ke belakang, lutut kiri di depan ditekuk, kaki kanan di belakang lurus, kedua lengan dipentang seperti burung terbang.
Kemudian, sambil berteriak nyaring, kedua lengannya dari kanan kiri bergerak kedepan seperti orang mendorong dan dari kedua telapak tangan itu menyambar hawa panas sekali ke arah Nurseta!
Nurseta terkejut dan melompat ke kanan untuk menghindarkan sambaran hawa panas itu.
Melihat pukulannya luput, Puspa Dewi lalu mengadu kedua telapak tangannya beberapa kali seperti bertepuk dan terdengarlah suara nyaring meledak-ledak seperti dua benda keras beradu dan di antara kedua telapak tangannya itu muncrat bunga api.
Kemudian ia memukul lagi bertubi-tubi dengan dorongan kedua telapak tangannya yang mengandung hawa panas.
Itulah Aji Guntur Geni!
Setelah mengelak beberapa kali, Nurseta terpaksa lalu menyambut pukulan ampuh itu dengan dorongan kedua tangannya pula menyambut dengan dorongan sambil mengerahkan tenaga saktinya yang bersifat lembut dan menahan.
"Wuuuttt .....desss .....I"
Puspa Dewi terkejut sekali karena ia merasa betapa tenaganya seperti memukul air saja, tenggelam dan kedua telapak tangannya terasa dingin!
Ia melompat ke belakang dan dari punggungnya ia mencabut batang pedang hitam.
Itulah Candrasa Langking yang ampuh dan mengandung racun amat berbahaya.
Tergores sedikit saja sampai terluka cukup untuk membunuh lawan!
Sementara itu, Linggajaya juga sudah melakukan serangan bertubi-tubi dengan keris Candulanmanik.
Diserang oleh orang yang mempergunakan senjata ampuh itu, Nurseta menjadi kewalahan juga Sungguh tidak pernah disangkanya sama sekali bahwa dua orang anak Karang Tirta yang lima tahun lalu diculik penjahat itu kini telah pulang ke dusun dan menjadi orang-orang yang sakti mandraguna!
Dia menggerakkan tubuhnya dengan Aji Bayu Sakti.
Tubuhnya berubah menjadi bayangan yang berkelebatan di antara gulungan sinar pedang dan keris yang menyerangnya.
Karena maklum betapa berbahayanya dua buah senjata lawan yang mengandung racun itu, Nurseta bergerak cepat dengan hati-hati sekali sehingga dia hanya mampu menghindarkan semua serangan kedua orang pengeroyok yang tangguh itu tanpa dapat membalas.
Dua orang yang mengeroyok itu merasa penasaran sekali karena sampai belasan jurus tetap saja serangan mereka tidak pernah mengenai sasaran.
Terutama sekali Linggajaya yang tadinya amat membanggakan kemampuan sendiri dan mengira bahwa di dunia ini tidak ada orang yang mampu menandinginya, kini menjadi penasaran bukan main.
Tiba tiba dia membungkuk, meraih segenggam tanah berpasir lalu membaca mantera lalu melontarkan pasir yang digenggam kearah Nurseta sambil membentak.
"Aji Bramara Sewu (Seribu Lebah) ..!"
Pasir-pasir itu melayang dan menyambar ke arah Nurseta dan terdengar suara mbrengengeng seperti suara banyak lebah yang terbang dan menyerang!
Nurseta yang memang sudah terdesak oleh serangan dua buah senjata lawan itu terkejut dan cepat dia melempar tubuh ke bawah, lalu bergulingan di atas tanah untuk menghindarkan sambaran pasir sakti itu.
Dan diapun mengerahkan ajinya yang ampuh, yaitu Sirnasarira.
Dua orang pengeroyok itu terkejut bukan main karena tiba-tiba Nurseta menghilang!
Tubuh pemuda itu tidak tampak lagi!
Maklum bahwa Nurseta tentu mempergunakan semacam aji panglimutan yang dapat membuat buat orang seolah terselubung kegelapan dan tidak tampak.
Karena baik Linggajaya maupun Puspa Dewi adalah murid guru yang sakti mandraguna, maka keduanya lalu mengerahkan kekuatan batinnya.
Linggajaya mengeluarkan pekik melengking dan Puspa Dewi bertepuk-tepuk tangan yang mengeluarkan bunyi nyaring seperti canang.
Akan tetapi ketika mata mereka dapat menemukan tubuh Nurseta lagi, ternyata Nurseta tampak oleh mereka telah pergi jauh, hanya tampak bayangan hitam mengecil lalu lenyap.
Linggajaya dan Puspa Dewi kini saling pandang.
Linggajaya terpesona dan seketika dia tertarik dan jatuh cinta.
Puspa Dewi memang memiliki kecantikan yang luar biasa.
Daya tariknya amat kuat.
Apalagi seorang laki-laki yang pada dasarnya memang mata keranjang dan gila perempuan cantik seperti Linggajaya bahkan laki-laki yang alim sekalipun pasti goyah batinnya kalau melihat gadis berusia delapan belas yang bagaikan setangkai bunga sedang mekar-mekarnya dan semerbak harum, bagaikan buah sedang kemampo, menjelang matang dan menggairahkan.
Kulitnya putih kuning mulus, tubuhnya padat dengan lekuk lengkung sempurna, pinggangnya ramping, perawakannya sedang.
Rambutnya hitam panjang berombak dan digelung indah dengan hiasan tusuk sanggul dari emas permata berkilauan, ditancapi bunga melati.
Alisnya hitam melengkung dan sepasang matanya bersinar-sinar seperti bintang kejora penuh daya tarik.
Hidungnya kecil mancung dan bibirnya!
Bibir itu selalu merah membasah dan segar seperti buah masak yang membuat orang menjadi gemas dan ingin menggigit.
Entah mana yang memiliki daya tarik lebih kuat, matanya ataukah bibirnya.
Semua keindahan itu masih ditambah lagi dengan adanya setitik tahi lalat di dagunya sehingga wajah yang cantik jelita berbentuk bulat telur itu menjadi semakin manis.
Linggajaya sudah seringkali bertemu dan melihat wanita cantik, bahkan dia sudah terbiasa bergaul dengan wanita Akan tetapi belum pernah dia tergila gila seperti ini hanya dalam waktu beberapa detik setelah dia memandang wajah dan tubuh Puspa Dewi dengan penuh perhatian.
Dia terpesona dan bengong sehingga lupa diri.
"Eh, engkau Linggajaya, bukan? Kenapa bengong memandangku seperti itu?"
Puspa Dewi menegur dengan alis berkerut.
Linggajaya tersentak kaget, seolah baru tersadar dari lamunannya.
Dia cepat menguasai dirinya, tersenyum semanis mungkin.
Memang pemuda ini berwajah tampan dan gagah, maka senyumnya membuat wajahnya semakin menarik.
"Ah..... maaf, Puspa Dewi. Aku memang merasa heran dan seperti dalam mimpi melihat engkau! Bagaimana mungkin engkau yang dulu itu seorang gadis kecil sederhana, kini telah menjadi seorang gadis dewasa yang begini..... eh, seperti bidadari yang baru turun dari kahyangan dan memiliki kesaktian yang hebat? Aku benar-benar kagum dan juga merasa heran sekali, Puspa Dewi. Dan lebih heran lagi mendengar pengakuanmu tadi bahwa engkau adalah anak tiri ayahku....." , Pada saat itu, Ki Lurah Suramenggala diukuti Nyi Lasmi dan isteri-isterinya yang lain, juga diikuti para jagabaya yang tadi melarikan diri bersembunyi, muncul dari serambi.
"Tidak perlu heran, Linggajaya. Ibu Puspa Dewi sekarang memang telah menjadi isteriku!"
Kata Ki Lurah Suramenggala.
Linggajaya memandang ayahnya dan melihat betapa Nyi Lasmi, ibu Puspa Dewi berdiri di samping ayahnya.
Dia Lalu menghampiri ayah-ibunya, sedangkan Puspa Dewi menghampiri Nyi Lasmi yang merangkulnya.
"Ah, sungguh hari yang penuh malapetaka ini berakhir menjadi hari bahagia dengan kembalinya kalian berdua dalam keadaan sehat, bahkan telah menjadi orang-orang yang sakti mandraguna. Terobatilah pengorbanan berupa malapetaka yang menimpaku hari ini. Mari, mari mari semua masuk. Kita bicara didalam."
Kata Ki Lurah Suramenggala merasa gembira sekali, sedikitpun tidak ingat akan para jagabaya yang tewas karena membelanya.
Orang seperti Ki Lurah Suramenggala ini, mana mau memperduhkan nasib orang lain?
Yang paling penting adalah keuntungan dan kesenangan diri sendiri dan keluarganya!
Setelah semua keluarga K i Lurah Suramenggala berkumpul di ruangan dalam, mereka menghujani Linggajaya dan Puspa Dewi dengan pertanyaan.
Linggajaya adalah seorang pemuda yang cerdik sekali.
Dia belum tahu akan isi hati ayahnya.
Yang diketahuinya hanya bahwa ayahnya adalah seorang lurah, lurah dusun Karang Tirta yang masih termasuk wilayah Kahuripan.
Karena itu, ketika dia menceritakan pengalamannya sejak diculik, dia hanya memberitahu bahwa dia telah diambil murid oleh seorang datuk sakti mandraguna, yaitu Sang Rasi Bajrasakti.
Dia sama sekali tidak menceritakan bahwa gurunya adalah seorang berkedudukan tinggi di Kerajaan Wengker, Menjadi penasihat kerajaan.
Dia hanya mengatakan bahwa gurunya adalah seorang datuk yang sakti mandraguna dan bahwa dia telah mewarisi ilmu-ilmu yang tinggi dari datuk itu.
"Wah, bagus sekali! Kita untung besar! Engkau menjadi murid seorang datuk besar! Aku sudah mendengar akan nama besar Sang Maha Resi Bajrasakti itu, yang kabarnya memiliki kesaktian seperti Dewa. Aku senang sekali, Linggajaya anakku! Dan bagaimana dengan engkau, Puspa Dewi? Engkau juga anakku, nini. semenjak engkau dilarikan penculik, ibumu perlu perlindungan dan ia menjadi isteriku dan tinggal di sini. Ceritakanlah,nini, apa yang kau alami sejak engkau dilarikan penculik?"
Kata Ki Lurah Suramenggala gembira. Puspa Dewi memandang ibunya dan Nyi Lasmi mengangguk kepadanya.
"Ceritakanlah, Puspa. Engkau berada di antara keluarga sendiri. Akupun ingin sekali mendengar tentang pengalamanmu."
Kata Nyi Lasmi.
Semua mata memandang kepada Puspa Dewi, terutama sekali sepasang mata Linggajaya yang seolah ingin menelan bulat-bulat perawan yang membuatnya tergila-gila itu.
Seperti juga Linggajaya, Puspa Dewi juga memiliki kecerdikan.
Ia merasa tidak enak kalau mengaku bahwa gurunya kini telah menjadi permaisuri Raja Bhismaprabhawa, raja Wura-wuri dan ia diangkat menjadi seorang puteri kerajaan Wura-wuri.
Bagaimanapun juga, semua orang tahu belaka bahwa Kerajaan Wura-wuri adalah musuh bebuyutan kerajaan Mataram sejak dulu sampai sekarang menjadi kerajaan Kahuripan sebagai keturunan Mataram.
Tentu saja tidak enak kalau menceritakan bahwa ia telah menjadi puteri kerajaan musuh!
Maka ia lalu menceritakan bahwa ia dulu dilarikan oleh Nyi Dewi Durgakumala, diangkat menjadi murid, bahkan dianggap anak angkat dan Ia telah mewarisi semua ilmu yang tinggi dari Nyi Dewi Durgakumala yang menjadi datuk besar yang sakti mandraguna, la hanya menceritakan bahwa oleh gurunya dibawa ke tempat pertapaan gurunya di Lembah Tengkorak yang terletak di antara Gunung Arjuno dan Gunung Bromo.
"Nyi Dewi Durgakumala?"
Terdengar linggajaya berseru kagum setelah Puspa Dewi menceritakan pengalamannya.
"Wah, pantas engkau sekarang menjadi sakti mandraguna! Kiranya gurumu adalah Nyi Dewi Durgakumala, seorang datuk besar yang terkenal sekali. Guruku pernah bercerita tentang datuk wanita itu, Puspa dewi."
Puspa Dewi tersenyum. Sejak menjadi murid Nyi Dewi Durgakumala, ia memang menjadi seorang gadis yang berhati keras, lincah, dan tidak pemalu.
"Akupun sudah mendengar dari guruku tentang Resi Bajrasakti yang menjadi gurumu, Linggajaya!"
"Hei, Puspa Dewi, engkau tidak boleh menyebut Linggajaya begitu saja! Dia lebih tua darimu dan dia adalah kakakmu, seharusnya engkau menyebut kakang (kakak) kepadanya!"
Nyi Lasmi menegur sambil tersenyum.
Puspa Dewi juga tersenyum.
Ia tadi lupa akan kenyataan yang sama sekali tidak diduga-duganya sebelumnya bahwa kini ia menjadi anak tiri Lurah Suramenggala sehingga sekaligus ia juga menjadi adik dari Linggajaya.
"Baiklah, ibu. Maafkan aku, kakang Lingga."
Linggajaya tertawa.
"Ha-ha, akupun kalau begitu harus menyebutmu adik, akan tetapi aku lebih senang menyebut namamu saja. Namamu begitu indah Puspa Dewi, dan pula, kita ini kakak beradik hanya sebutannya saja, bukan Sebetulnya, tidak ada hubungan darah antara kita!"
Ucapan Linggajaya ini mengandung maksud yang lebih mendalam dan hal ini dirasakan dan diketahui oleh Ki Suramenggala dan semua isterinya.
Dengan ucapan itu Linggajaya seolah hendak menyatakan isi hatinya bahwa dia dan Puspa Dewi tidak ada hubungan darah sehingga tidak ada larangan untuk berjodoh dan menjadi suami isteri!
Ucapan, sikap dan pandang matanya sudah cukup jelas menunjukkan bahwa dia menaruh hati kepada gadis itu!
Akan tetapi Puspa Dewi sendiri, gadis yang masih hijau dan belum ada pengalaman, menganggap ucapan pemuda itu biasa-biasa saja, maka iapun menerimanya dengan senyum wajar.
"Terserah kepadamu, Kakang Lingga. Engkau yang lebih tua, boleh menyebutku apa saja asal jangan menyebut bulik (bibi muda) atau bude (bibi tua)!"
Semua orang tertawa mendengar ucapan Puspa Dewi ini.
Ibunya sendiri, Nyi Lasmi, diam-diam merasa heran.
Dahulu, lima tahun yang lalu Puspa Dewi adalah seorang anak yang pendiam, akan tetapi sekarang gadis itu selain berubah menjadi seorang yang sakti mandraguna, juga sikapnya begitu berani, lincah jenaka dan tidak malu-malu.
Ki Lurah Suramenggala mengadakan pesta besar untuk menyambut pulangnya linggajaya dan Puspa Dewi, pesta yang meriah dan gembira ria.
Dia sama sekali tidak ingat bahwa keluarga para jagabaya yang tewas, sedang tenggelam dalam duka cita yang besar.
Sore hari di taman bunga kepatihan Kahuripan.
Sore itu sepi di situ.
Taman bunga yang indah itu terpelihara baik berkat kesukaan dan ketekunan isteri Patih Narotama akan bunga-bunga yang indah.
Mungkin hanya taman-sari istana Sang Prabu Erlangga saja yang dapat menandingi keindahan taman bunga kepatihan.
Di tengah taman itu terdapat sebuah pondok mungil dan di sebelahnya ada sebuah kolam ikan yang ditumbuhi bunga teratai merah dan putih.
Pada saat itu, seorang wanita cantik berusia kurang lebih dua puluh tiga tahun duduk seorang diri di serambi pondok mungil, atas sebuah bangku panjang.
Wanita itu berkulit putih kuning mulus, wajahnya mendaun sirih, matanya lebar jernih dengan sinar lembut, hidungnya kecil mancung dan bibirnya merah dan segar, bentuknya manis.
Gerak geriknya lembut dan pada wajahnya yang ayu manis itu tampak watak yang lembut dan sabar.
Rambutnya hitam panjang disanggul rapi dan sederhana.
Pakaiannya indah dan rapi, namun baik pakaian maupun perhiasan yang menempel di tubuhnya yang menunjukkan bahwa ia seorang bangsawan, tidak terlalu mewah.
Tubuhnya langsing montok, terbayang kesegaran karena sehat.
Akan tetapi wanita itu duduk seorang diri, berulang kali menghela napas menyelingi lamunannya.
Ia adalah Listyarini, isteri Ki Patih Narotama yang berasal dari Sukadana, sebuah kota di wilayah Bali-dwipa.
Sudah empat tahun lebih ia menjadi isteri Ki Patih Narotama, akan tetapi belum juga dikaruniai seorang anak.
Hal ini sebetulnya tidak dirisaukannya benar karena Ki Patih Narotama amat mencintanya.
Akan tetapi ketika kurang lebih dua tahun yang lalu Ki Patih Narotama mengambil Lasmini sebagai selir, Listyarini seringkali merasa duka.
Sikap Lasmini kepadanya terkadang amat menyakitkan hati.
Lasmini bersikap ramah dan hormat kepadanya di hadapan Ki Patih Narotama, akan tetapi di belakang suami mereka itu, Lasmini sering kali mengejek dan menyindirnya.
Apalagi setelah Lasmini mengenalnya dan tahu bahwa ia berasal dari gadis dusun di Bali!
Memang Listyarini dahulu adalah seorang gadis dusun bernama Nogati.
Setelah Sang Prabu Erlangga menjadi raja dan Narotama diangkat menjadi patih.
Narotama pergi ke Bali untuk menjemput Nogati yang saling mencinta dengannya membawa Nogati ke Kahuripan dan memjadi isterinya.
Setelah menjadi isteri Ki Patih Narotama, oleh suaminya nama Nogati diganti menjadi Listyarini agar menghilangkan kesan desanya.
Setelah Lasmini menjadi selir suaminya, sebenarnya Nogati atau yang sekarang bernama Listyarini tidak merasa cemburu.
Pada jaman itu bukan hal aneh kalau seorang pria memiliki lebih dari seorang isteri, apalagi seorang yang berpangkat begitu tinggi seperti Ki Patih Narotama.
lapun tidak cemburu melihat betapa suaminya tampak amat mencinta Lasmini.
Akan tetapi setelah menjadi selir suaminya selama setahun lebih, mulailah Lasmini memperlihatkan belangnya atau watak aselinya.
Lasmini sering mengejek dan menyindirnya, dan mulailah ia merasa khawatir kalau kalau Lasmini dapat mempunyai anak sebaliknya ia tidak.
Tentu kedudukannya sebagai garwa padmi (isteri pertama) akan diambil alih oleh Lasmini yang ia lihat amat keras berusaha agar menjadi orang nomor satu di samping Ki Patih Narotama!
Makin dikenang dalam lamunannya.
Listyarini menjadi semakin sedih.
Ia adalah seorang anak yatim piatu, tiada sanak tiada kadang.
Satu-satunya orang yang dekat dengannya, yang menjadi gantungan hidupnya, adalah Ki Patih Narotama yang dicinta dengan segenap jiwanya.
Namun, satu-satunya orang inipun agaknya akan direngut lepas darinya oleh Lasmini yang cantik jelita dan pandai merayu, bahkan masih berdarah bangsawan tinggi karena Lasmini adalah puteri dari Ratu Kerajaan Parang Siluman!
Tiba-tiba ada suara orang berdehehem di belakangnya.
Listyarini cepat menengok dan ternyata Lasmini sudah berada di situ.
Selir suaminya itu sudah mandi dan mengenakan pakaian baru yang serba indah dan mewah.
Kalau mereka berdua berjajar, orang yang tidak tahu tentu yakin bahwa Lasmini yang menjadi garwa padmi (isteri pertama ) dan Listyarini hanya seorang garwa ampil (selir)!
"Ah, engkaukah itu, yayi (adik) Lasmini"
Seperti biasa, Listyarini menyapa dengan halus.
"Duduklah!"
Akan tetapi Lasmini tidak duduk melainkan melangkah dan berdiri di depan madunya.
Karena Listyarini duduk dan ia berdiri, maka Listyarini lebih rendah dan harus menengadah memandangnya.
Dengan tangan kiri bertolak pinggang dan tangan kanan meraba kalung barunya yang baru saja ia terima sebagai hadiah dari K i Patih Narotama, Lasmini berkata sambil tersenyum mengejek.
"Kakang-mbok (kakak) Listyarini, mengapa engkau duduk seorang diri dan melamun di sini? Apakah engkau mengenang masa lalumu ketika engkau masih berada di dusun kecil yang berada di Bali-dwipa itu? Ketika engkau masih nama Ni Nogati sebelum diangkat oleh Kakangmas Narotama menjadi isterinya?"
Dalam ucapan itu terkandung ejekan yang amat merendahkan, mengingatkan Listyarini akan masa lalunya sebagai seorang berkasta biasa dan rendah.
Listyarini tentu saja merasakan penghinaan ini, akan tetapi wanita yang halus budi ini sudah terlalu sering mengalami ejekan itu dan ia mengerti bahwa madunya memang sengaja hendak menyakiti hatinya.
Pengertian ini membuat ia tersenyum dan sama sekali tidak merasa sakit hati.
"Dugaanmu benar, Lasmini. Memang aku mengenang akan keadaanku ketika masih tinggal di Sukadana, Bali-Dwipa sebagai seorang gadis dusun. Alangkah bahagianya ketika itu, semua orang begitu ramah, rukun dan damai dan akupun saling mencinta dengan Kakangma Narotama yang ketika itu juga seorang muda biasa, bukan bangsawan, dan belum menjadi patih seperti sekarang ini."
Ucapan yang lembut dan terus terang tanpa bermaksud menyerang itu diterima oleh Lasmini dengan muka berubah merah karena ia merasa disindir Madunya itu seolah hendak mengatakan bahwa Listyarini saling mencinta dengan Narotama sejak patih itu masih pemuda biasa sebaliknya ia menjadi isteri Narotama setelah dia menjadi patih!
Seolah ia mengejar kedudukan!
"HEEMM, sebelum menjadi isteri Kakangmas Narotama, aku adalah puteri Ratu Kerajaan Parang Siluman!
Kedudukanku bahkan lebih tinggi daripada Ki Patih Narotama!"
Ia balas menyerang. Merasa betapa dalam suara Lasmini terkandung kemarahan, Listyarini lalu bangkit dari bangkunya dan berkata dengan suara tetap halus.
"Maafkan, Yayi Lasmini, aku tidak dapat melayanimu bercakap-cakap lebih lama lagi. Aku ingin mandi dan berganti pakaian sebelum malam tiba."
Setelah berkata demikian, Listyarini lalu meninggalkan taman itu dengan cepat, seolah ia merasa risi berada di dekat Lasmini terlampau lama.
"Jahanam .....!"
Desis Lasmini lirih dengan geram sambil mengepal tangan kanannya.
Ia merasa gemas sekali kepada Listyarini dan ingin sekali membunuhnya.
Akan tetapi ia tidak berani melakukan hal itu dengan tangannya sendiri karena kalau hal ini ketahuan Ki Patih Narotama, tentu ia akan celaka.
Lasmini merasa menyesal dan kecewa sekali.
Semua rencana yang diaturnya bersama Mandari, pamannya dan ibunya, ternyata mengalami kegagalan.
Selama hampir dua tahun ia membiarkan dirinya menjadi selir Ki Patih Narotama.
Memang benar suaminya itu seorang pria yang mengagumkan dan diam-diam ia sendiripun jatuh cinta kepadanya.
Akan tetapi suaminya itu adalah musuh besar keluarganya yang harus ia hancurkan dan semua rencana itu tidak berhasil.
Siasat untuk mengadu domba antara Sang Prabu Erlangga dan Ki Patih Narotama belum pernah berhasil.
Untuk membunuh Ki Patih Narotama, selain ia merasa sayang dan tidak tega, juga ia merasa ngeri dan takut.
Ki Patih Narotama itu terlalu sakti untuk dapat dibunuh begitu saja "Awas kau, Listyarini, bersiaplah untuk mampus!"
Desisnya lagi dan Lasmini lalu cepat meninggalkan taman.
Ia memasuki keputren dan memanggil Sarti, pelayan pribadinya.
Sarti ini seorang wanita berusia sekitar empat puluh tahun, seorang kawula Parang Siluman yang sengaja dipanggilnya untuk menjadi pelayan pribadinya.
Tentu saja Sarti yang dahulu menjadi pengasuhnya ketika ia masih kecil, merupakan hamba yang setia kepadanya, apalagi wanita itu juga seorang kawula Parang Siluman.
Setelah Sarti menghadap kepadanya, Lasmini berkata.
"Sarti, cepat kau panggil Nismara ke sini, suruh dia menemui diriku di taman, belakang rumpun bambu gading."
"Baik, gusti puteri."
Sarti menyembah dan wanita berusia empat puluh tahun yang bertubuh tinggi besar dan berwajah buruk kasar seperti laki-laki itu cepat meninggalkan keputren.
Ia menyelinap dan tak lama kemudian sudah berhasil menemui Nismara, seorang perajurit pengawal kepatihan.
Nismara ini berusia sekitar empat puluh tahun, bertubuh pendek gempal (kokoh).
Dia seorang perajurit pengawal kepatihan yang sudah lama mengabdi kepada Narotama.
Akan tetapi diam-diam dia merasa dendam kepada Narotama karena pernah dalam keadaan mabok menggoda dayang (gadis pelayan) kepatihan.
Perbuatan ini diketahui KI Patih Narotama yang menegurnya dengan keras, bahkan menghukumnya dengan cambukan dan menurunkan pangkatnya.
Biarpun pada lahirnya dia menghaturkan terima kasih karena diampuni dan tidak dipecat, namun batinnya menaruh dendam kepada Ki Patih Narotama.
Lasmini yang bermata tajam dan cerdik dapat melihat hal ini dan ia segera mendekati Nismara dan memberinya hadiah-hadiah sehingga sebentar saja perajurit yang berwatak buruk ini tunduk kepada Lasmini dan menjadi anteknya!
Ketika mendengar ucapan Sarti, Nismara segera menyelinap ke dalam taman.
Di sudut taman itu terdapat serumpun bambu kuning (gading) dan ketika dia tiba di belakang rumpun bambu gading yang gelap, dia melihat Lasmini sudah berdiri menantinya di situ.
Nismara yang mata keranjang itu tergila-gila kepada Lasmini.
Akan tetapi sekarang ia selalu gemetar ketakutan kalau berhadapan dengan wanita cantik itu karena pernah Lasmini menghajarnya habis habisan karena dia berani bersikap kurang ajar dan merayu selir Ki Patih ini.
semenjak itu tahulah dia bahwa dia sama sekali bukan lawan wanita yang sakti mandraguna ini.
Karena itu pula dia menjadi semakin tunduk, menghormati dan menaatinya karena Lasmini royal sekali memberi hadiah kepadanya.
"Paduka memanggil saya, gusti putri?"
Tanya Nismara setelah memberi hormat dengan sembah.
"Ada tugas penting sekali untukmu, Nismara."
Kata Lasmini.
"Perintahkan saja, gusti. Pasti akan saya laksanakan dengan sebaiknya!"
Jawab Nismara gagah. Lasmini mengeluarkan sebuah bungkusan kecil dari balik penutup dadanya dan memberikannya kepada Nismara.
"Ini adalah sebungkus bubuk racun yang mematikan. Usahakanlah agar engkau dapat memasukkan bubuk racun ini ke dalam cawan tempat minuman Kakangmbok Listyarini."
Nismara membuka matanya lebar lebar sambil memandang bungkusan kecil yang sudah berada di tangannya.
"Ta..... tapi....., itu berbahaya sekali, gusti Kalau ketahuan ....."
"Bodoh! Tentu saja jangan sampai ketahuan. Kalau engkau berani menolak engkau akan mati tersiksa hebat. Sebaliknya kalau engkau melaksanakan tugas ini sampai berhasil, hemm..... engkau boleh menemani aku bersenang-senang dalam pondok mungil di taman ini! "
Jantung dalam dada Nismara berdebar kencang.
Janji ini jauh lebih mendebarkan dan menggembirakan daripada janji diberi hadiah uang berapapun banyaknya Dia sudah dapat membayangkan betapa dia akan dapat mendekap dan membelai tubuh yang bahenol itu!
Ingin dia seketika menerkam tubuh Lasmini dan menciumi wajahnya, akan tetapi tentu saja dia tidak berani sebelum mendapat ijin dari si empunya tubuh!
"Sendika dawuh paduka, gusti.
Saya akan melaksanakannya dengan baik!"
Lasmini melangkah maju menghampiri, lalu tangan kirinya yang bertelapak halus dan berbau harum itu mengusap pipi Nismara seperti membelai mesra.
"Nah, pergi dan lakukanlah, Nismara. Kalau engkau berhasil, besok kita bersenang-senang."
Nismara hampir terkulai. Sentuhan lembut pada pipinya itu seperti mengusap hatinya. Untuk belaian itu saja rasanya dia mau melakukan apa saja untuk sang puteri ini! "Sendika, gusti!"
Dia lalu melompat dan pergi dengan jantung masih berdebar debar, dan seluruh tubuh terasa panas dingin!
Setelah Nismara pergi, Lasmini tersenyum mengejek.
Tentu saja ia tidak sudi menyerahkan dirinya kepada laki laki macam Nismara!
la hanya memberi janji untuk mendorong laki-laki bodoh itu agar melaksanakan perintahnya sekuat tenaga.
Dan nanti, baik tugasnya itu berhasil atau tidak, Nismara harus mati agar tidak dapat membuka rahasianya!
Sambil tersenyum-senyum membayangkan Listyarini berkelojotan dan mati, Ki Patih Narotama terpukul hatinya dan berdukacita, kemudian ia tentu akan naik kedudukannya menjadi garwa padmi (isteri pertama) sehingga akan lebih banyak mendapat kesempatan untuk melaksanakan siasatnya mengadu domba antara Ki Patih Narotama dan Sang Prabu Erlangga, atau membunuh Ki Patih, atau melakukan apa saja untuk menghancurkan Kahuripan lewat Ki Patih Narotama!
Dengan kepandaiannya yang tinggi, Lasmini lalu diam-diam membayangi Nismara untuk melihat apakah perajurit pengawal itu akan berhasil melaksanakan perintahnya.
Sebagai seorang perajurit pengawal, tentu saja Nismara mempunyai kebebasan untuk meronda di semua bagian bangunan kepatihan.
Bahkan dia dapat pula meronda sampai di keputren.
Ketika dia meronda di keputren, memasuki bagian dapur, hampir saja dia bertabrakan dengnan seorang dayang yang menjadi pelayan pribadi Listyarini.
"Aduh..... eh, kiranya engkau, paman Nismara. Engkau mengejutkan aku, hampir saja aku tertabrak, dan jamu ini tumpah. Aku tentu akan mendapat marah dari Gusti Puteri kalau jamu ini sampai tumpah!"
Kata gadis pelayan itu.
"Maaf, Tarni, aku tidak sengaja Lihat, jamunya tertumpah sedikit ke lantai. Hayo bersihkan, jangan sampai nanti gusti puteri terpeleset kalau lewat di sini. Untuk siapakah jamu ini?"
"Untuk siapa lagi kalau bukan untuk gusti puteri Listyarini?"
"Apakah beliau sakit?"
Tanya Nismara sambil mendekati secawan jamu yang diletakkan di atas meja kecil yang terdapat di depan dapur karena dayang itu harus membersihkan lantai yang terkena sedikit air jamu yang tumpah.
"Hemm, apakah seorang puteri harus sakit dulu untuk minum jamu? Setiap hari sang puteri minum jamu untuk menjaga kesehatan dan kecantikannya!"
Kata Tarni, gadis pelayan yang berusia kurang lebih sembilan belas tahun itu.
Setelah membersihkan lantai, Tarni mengambil cawan berisijamu yang tadi diletakkan di atas meja, lalu membawanya ke kamar Puteri Listyarini, sama sekali tidak tahu bahwa tadi Nismara mempergunakan kesempatan itu untuk memasukkan bubuk racun dari bungkusan itu ke dalam cawan berisi jamu.
Setelah berhasil memasukkan racun itu, Nismara melanjutkan perondaan dengan hati berdebar tegang.
Tarni mengetuk pintu kamar Listyarini dan setelah diperkenankan masuk, ia memasuki kamar itu sambil membawa cawan berisi jamu.
Listyarini sudah mandi dan berganti pakaian.
Melihat jamu dalam cawan yang diletakkan Tarni di atas meja, Listyarini lalu mengambilnya dan seperti biasa tiap malam, ia minum jamu itu dengan tenang.
Jamu itu pahit dan berbau harum sehingga kalau ada rasa lain memasukinya, tidak akan terasa karena kalah oleh rasa pahit jamu itu.
Akan tetapi begitu jamu itu terminum habis, Listyarini melepaskan cawan yang jatuh berkerontangan di atas lantai, kemudian wanita itu mengaduh dan terkulai roboh di atas lantai!
Melihat ini, Tarni terkejut, menubruk dan melihat Listyarini menggeliat kesakitan, ia menjadi ketakutan dan berlari keluar dari kamar itu sambil berteriak-teriak.
"Tolooonggg ..... toloongRgg .....!"
Akan tetapi pada saat itu, sebatang pisau dapur yang runcing melayang dan menancap di dadanya.
Gadis pelayan itu menjerit dan roboh, tewas seketika.
Sesosok bayangan berkelebat.
Itulah Lasmini yang tadi mengambil pisau dapur itu dan diam-diam membayangi Tarni Setelah melihat Listyarini roboh dan Tarni berlari keluar kamar sambil menjerit-jerit, ia cepat melontarkan pisau itu yang membunuh Tarni.
Teriakan Tarni sebelum roboh tadi mengejutkan Ki Patih Narotama yang sedang berjalan menuju ke keputren.
Dia cepat melompat ke arah dari mana datangnya jeritan itu.
Juga para pelayan wanita berhamburan keluar dan melihat Tarni menggeletak mandi darah, Ki Patih Narotama yang mengenalnya sebagai dayang pelayan pribadi Listyarini, cepat memasuki kamar isterinya yang pintunya terbuka itu.
Melihat Listyarini menggeletak di atas lantai, Ki Patih Narotama cepat menubruknya.
Wanita itu pingsan dan wajahnya kebiruan.
Sekali pandang saja tahulah Narotama bahwa sterinya keracunan.
Cepat dia memondong tubuh isterinya, dibawa lari memasuki kamarnya sendiri dan segera dia mengambil Tongkat Tunggulmanik.
Tongkat berwarna hitam ini merupakan sebatang tongkat wasiat yang dapat dipergunakan sebagai obat penawar racun yang ampuh sekali.
Ki Patih Narotama cepat menggunakan tongkat pusaka itu, digosok-gosokkan di seluruh tubuh Listyarini, terutama di bagian perutnya.
Selagi dia melakukan pengobatan itu, Lasmini berlari memasuki kamarnya.
Kalau para abdi tidak berani memasuki kamar itu tanpa dipanggil, tentu saja Lasmini berani.
"Ah, apakah yang terjadi, kakangmas? Kenapa kakangmbok Listyarini?"
Tanya Lasmini sambil duduk di tepi pembaringan melihat betapa dengan penuh perhatian dan kasih saying Narotama menggosok-gosokkan tongkat pusaka hitam itu ke tubuh Listyarini.
Dengan matanya yang cerdik, Lasmini mendapatkan kenyataan yang amat mengecewakan hatinya.
Jelas sekali tampak olehnya yang ahli dalam hal racun bahwa Listyarini tertolong oleh pengobatan menggunakan tongkat pusaka itu.
Warna kebiruan pada tubuh Listyarini sudah mulai menipis dan sebentar lagi saja Listyarini tentu akan terbebas sama sekali dari pengaruh racun.
"la keracunan dan abdinya dibunuh orang! Entah siapa yang melakukan perbuatan jahat dan keji itu. Diajeng Lasmini, cepat pergunakan kepandaianmu untuk menyelidiki siapa pelaku kejahatan ini, mungkin dia masih berada di dalam gedung kepatihan. Cari dan tangkap dia"
Kata Narotama.
"Baik, kakangmas!"
Kata Lasmini dan sekali berkelebat ia telah keluar dari kamar itu.
Beberapa lama kemudian masuk kembali ke kamar itu.
Ia melihat betapa keadaan Listyarini sudah jauh lebih baik, bahkan wanita itu telah sadar dari pingsannya.
"Bagaimana, diajeng?"
Tanya Narotama. Lasmini duduk di tepi pembaringan.
"Sudah kucari, akan tetapi aku tidak menemukan jejaknya. Setelah kuperiksa keadaan gadis pelayan itu, kulihat bahwa pembunuhnya tentu seorang biasa saja. dia menggunakan pisau dapur kepatihan sini untuk membunuh pelayan itu."
Dengan suara masih lemah, Listyarini yang sudah diberi tahu suaminya bahwa Tarni dibunuh orang, bertanya.
"Akan tetapi..... mengapa penjahat itu membunuh Tarni? la tidak mempunyai kesalahan apapun, bahkan tidak pernah berhubungan dengan orang luar, sikapnya juga baik terhadap semua keluarga dan abdi yang berada di kepatihan."
Narotama menghela napas.
"Sama anehnya dengan orang yang hendak meracunimu, diajeng! Engkau juga tidak pernah mempunyai musuh!"
"Hemm, kalau kakangmbok hendak dibunuh, hal itu tidak mengherankan mengingat bahwa paduka tentu mempunyai banyak musuh, kakangmas. Bisa saja dendam kepada paduka ditumpahkan kepada kami, keluarga paduka. Dan tentang Tarni, mungkin saja pelayan itu mengenal orang yang hendak meracuni kakangmbok Listyarini, maka ia bunuh."
Narotama mengangguk-angguk.
"Hemmnn, kurasa pendapatmu itu tepat sekali, diajeng Lasmini."
Akan tetapi Lasmini melihat betapa sinar mata Listyarini memandang penuh kecurigaan, la segera berkata "Kakangmas, keadaan kakangmbok Listyarini masih lemah, agaknya hawa racun belum bersih benar dari tubuhnya, Aku mengetahui cara pengobatan untuk mengusir semua sisa hawa beracun itu.
"Kalau begitu, lakukanlah, diajeng"
Kata Narotama.
"Kakangmbok Listyarini, telentanglah, biar aku mengobatimu sampai sembuh benar."
Kata Lasmini kepada madunya yang rebah miring. Listyarini tampak meragu dan memandang suaminya. Narotama mengangguk.
"Menurut sajalah, diajeng. Diajeng Lasmini tentu dapat menyembuhkanmu secara tuntas."
Listyarini lalu menelentangkan tubuh, Lasmini meletakkan kedua telapak tangannya ke atas perut madunya, mengerahkan tenaga sakti dari Aji Ampak-Ampak.
Listyarini merasa betapa kedua telapak tangan madunya itu dingin sekali.
Hawa dingin memasuki perutnya dan dia merasa nyaman sekali.
Rasa panas yang tadi mengganggunya perlahan-lahan lenyap dan saking nyamannya, Listyarini lalu tertidur!
Lasmini menghentikan pengobatannya.
Narotama memeriksa denyut jantung isteri pertamanya dengan meraba lehernya.
Dia merasa lega.
Denyut itu menunjukkan bahwa isterinya telah benar benar sehat kembali dan kini tertidur pulas.
Narotama tersenyum, lalu merangkul dan mencium bibir Lasmini yang selalu menantang setiap kali selir itu memandangnya.
"Terima kasih, diajeng. la telah sehat kembali."
Lasmini yang amat kecewa itu dapat memperlihatkan wajah .yang gembira, turun dari pembaringan.
"Kakangmas, saya hendak melanjutkan penyelidikan, mudah-mudahan dapat membongkar rahasia ini dan menemukan pembunuh itu."
"Baik, diajeng. Kuhargai sekali bantuanmu."
Kata Narotama.
Peristiwa itu membangkitkan rasa cinta Narotama kepada Listyarini, perasaan cinta yang tadinya agak mengurang, karena semua berahinya dikuasai oleh Lasmini yang pandai menyenangkan dan menggairahkan itu.
Mulai malam itu sampai malam-malam berikutnya, Narotama menahan Listyarini agar tidur dikamarnya untuk menjaga dan melindungnya.
Tiga bulan kemudian setelah peristiwa pembunuhan itu.
Malam terang bulan.
Taman kepatihan sunyi sekali, akan tetapi di belakang rumpun bambu gading itu Lasmini bicara berbisik-bisik dengan Nismara yang bertubuh pendek.
"Sebetulnya sudah sejak dulu seharusnya engkau kubunuh! Masih ingin mengharapkan hadiah dariku? Engkau bodoh, tolol! Kegagalan karena ketololanmu itu bahkan mendatangkan kerugian yang amat besar kepadaku!"
"Ampun, gusti puteri. Sebetulnya hamba sudah berusaha sebaik mungkin."
Kata Nismara merendah.
"Berapa kali engkau mengatakan begitu! Akan tetapi kenyataannya, engkau sembrono, bodoh dan tolol. Semestinya engkau tidak memperlihatkan diri kepada Tarni itu. Kalau Tarni tidak kubunuh, tentu ia akan menceritakan pertemuannya denganmu dan apa kaukira Ki Patih Narotama begitu bodoh? Engkau tentu akan ditangkap dan dihukum mati! Sialan, karena ketololanmu, sekarang kakang-mbok Listyarini malah hamil!"
Lasmini marah sekali sehingga biarpun ia bicara berbisik, suaranya seolah menghujam kehati Nismara.
"Akan tetapi..... gusti puteri apa hubungannya kehamilan itu dengan kegagalan hamba "Dasar tolol, goblok! Kalau engkau tidak terlihat oleh Tarni, kalau Listyarini minum jamu itu seorang diri di kamarnya, tentu ia sudah mampus karena tidak ada yang tahu. Akan tetapi karena kesalahanmu, Tarni melihat Listyarini roboh dan ia menjerit-jerit sehingga Ki Patih Narotama keburu dating menyelamatkannya! Kemudian, karena pengaruh racun dari pengobatannya itu mendatangkan kesuburan dalam guwagarba Listyarini dari semenjak itu, Ki Patih Narotama selalu menemaninya di waktu malam, maka kini Listyarini hamil. Goblok kau!"
"Aduh, gusti puteri. Hamba tidak mengira akan begini jadinya. Hamba kira gusti ayu Listyarini akan tewas seketika setelah minum jamu yang diberi racun itu."
"Sudah! Sekarang engkau harus menebus kesalahanmu!"
"Menebus ..... bagaimana ....., gusti puteri?"
Tanya Nismara dengan muka pucat.
Sungguh sial.
Dahulu ia sampai bermimpi menerima hadiah Lasmini, dapat membelai tubuh menggairahkan itu dan menikmatinya.
Tidak tahunya sekarang ia malah diancam dan mendapat makian setiap kali bertemu dengan sang puteri.
Masih untung bahwa sampai sekarang, hampir tiga bulan semenjak terjadinya peristiwa itu, dia belum dibunuh.
Akan tetapi agaknya sekarang saatnya tiba, maka tubuhnya sudah menggigil ketakutan.
"Engkau harus menebus kesalahan dan kegagalanmu yang dulu dan sekarang aku tidak ingin melihat engkau gagal lagi. Engkau harus membunuh Listyarini!"
Nismara terbelalak.
"Akan tetapi ..... bagaimana caranya, gusti puteri?"
"Begini. Sudah menjadi kebiasaan Listyarini untuk duduk-duduk di bangku dekat pondok di taman ini. Biasanya, ia datang di sini seorang diri saja. Ia ditemani Ki Patih Narotama hanya di waktu malam. Nah, saat sore di waktu ia seorang diri duduk di taman ini merupakan kesempatan yang amat baik. Kau tangkap Listyarini, lalu kaubawa ia pergi, culik ia dan bawa lari keluar dari kota raja. la kuserahkan kepadamu seluruhnya. Kau boleh perkosa ia, boleh mempermainkannya sesuka hatimu. Kalau engkau sudah puas, kaubunuh ia!"
Wajah Nismara menjadi semakin pucat.
"Akan tetapi..... Gusti Patih tentu akan marah sekali. Kalau hamba dikejarnya dan tertangkap, celakalah hamba"
"Jangan khawatir, aku telah mempersiapkan semua. Setelah berhasil membunuh Listyarini, engkau larilah ke selatan. Setelah tiba di perbatasan Kerajaan Parang Siluman, orang-orangku akan menyembunyikan engkau di sana dan Ki Patih Narotama tidak akan pernah dapat menemukanmu. Aku tanggung hal itu!"
"Tapi ..... tapi ....."
Nismara masih ragu dan takut.
"Sekarang pilih saja. Engkau menerima tugas ini dan mendapatkan kesenangan, menikmati Listyarini yang cantik jelita. Apakah engkau tidak melihat betapa cantik wajahnya dan betapa menggairahan tubuhnya? Selain itu, kalau engkau berhasil membunuhnya, engkau akan kuberi hadiah banyak sekali dan mungkin kelak akan kuberi kedudukan tinggi di Kerajaan Parang Siluman. Sebaliknya, kalau engkau tidak mau melaksanakan perintahku itu, sekarang juga engkau akan kusiksa dan kubunuh!"
Tiada lain pilihan bagi Nismara.
Apa lagi, nafsu berahinya sudah bangkit ketika dia membayangkan kejelitaan Listyarini dan ia percaya bahwa Lasmini akan melindunginya seperti yang telah dilakukan Lasmini ketika membunuh Tarni agar ia tidak sampai dicurigai.
"Baiklah, gusti puteri. Akan hamba laksanakan perintah itu."
Lasmini menjadi girang sekali.
"Engkau siap-siap saja. Pekerjaan ini mudah bagimu. Listyarini adalah seorang wanita lemah. Tentu engkau akan dapat menculiknya dengan mudah tanpa ada perlawanan yang berarti. Cegah jangan sampai ia dapat menjerit. Aku akan melakukan pengamatan dan setelah kuanggap saatnya yang tepat tiba, aku akan memberi isarat kepadamu. Mulai hari ini setiap kali Listyarini seorang diri memasuki taman, engkau harus sudah siap di sana. Kalau sampai engkau melalaikan tugas ini, kepalamu akan menjadi seperti ini.' Lasmini menggerakkan tangan kirinya ke arah sebuah batu besar.
"Darr!"
Batu itu pecah berantakan, kepingannya bertebaran.
Nismara memandang dengan muka pucat.
Dia sendiri adalah seorang perajurit pengawal kepatihan yang cukup sakti.
Kalau hanya menghadapi pengeroyokan lima orang lawan saja dia masih sangup menang.
Akan tetapi melihat tamparan tangan mungil itu sedemikian hebatnya, tubuhnya menggigil, hatinya penuh kengerian.
Sambil tersenyum manis Lasmini lalu mengeluarkan sebuah kantung kecil berwarna merah dari balik bajunya, dari belahan sepasang payudaranya.
Kantung itu berisi kepingan-kepingan emas.
"Terimalah ini untuk biaya perjalananmu ke selatan."
Katanya sambil melemparkan kantung merah itu kepada Nismara.
Perwira perajurit itu menangkap kantung kecil, menciumnya dengan penuh gairah mengingat benda itu tadi diambil dari antara payudara yang membusung indah.
Dia mencium keharuman melati yang membuat dia memejamkan matanya.
"Sudah, pergilah!"
Lasmini menghardik akan tetapi sambil tersenyum geli.
"Sendika dawuh! Baik, gusti puteri!"
Kata Nismara lalu dia melompat dan menghilang di antara pohon-pohon.
Demikianlah, mulai hari itu, dua orang yang mempunyai rencana keji itu setiap hari melakukan pengintaian.
Nismara menunggu isarat dan Lasmini menanti datangnya kesempatan baik.
Selama beberapa bulan akhir-akhir ini hati Ki Patih Narotama selalu merasa tidak enak.
Terkadang berdebar-debar tak menentu.
Terkadang dia merasa gelisah tanpa sebab tertentu.
Bahkan sejak terjadinya peristiwa percobaan pembunuhan dengan racun atas diri Listyarini, dia selalu menduga-duga siapa gerangan orang yang ingin membunuh isterinya itu.
Dia tidak percaya bahwa rencana pembunuhan itu diatur oleh mendiang Tarni yang merupakan dayang pribadi kepercayaan isterinya.
Tentu ada seorang musuhnya yang mengatur semua itu.
Sayang dia tidak dapat menemukan orangnya.
Akan tetapi dalam peristiwa yang hampir merengut nyawa istrinya itu Narotama mendapatkan hikmat dan berkah yang amat besar.
Buktinya, kini Listyarini mengandung!
Hal yang sudah lama mereka idam-idamkan.
Dia memang ingin sekali mempunyai keturunan dari Listyarini.
Dia tidak ingin mempunyai keturunan dari Lasmini.
Bukan karena dia kurang mencinta selir jelita itu.
Akan tetapi dia dapat merasakan bahwa cinta antara dia dan Lasmini hanyalah cinta yang sepenuhnya mengandung birahi semata.
Jiwa mereka tidak pernah bersentuhan.
Hanya tubuh mereka yang saling bermesraan, saling membutuhkan saling menikmati dan saling dipuaskan.
Dia merasa bahwa secara batiniah, tidak ada keserasian antara dia dan Lasmini.
Karena itu, dia dengan kebijaksanaan dan kesaktiannya, selalu menjaga agar hubungan badan mereka tidak membuahkan keturunan.
Perasaan hati yang selalu tidak enak ini membuat Narotama bersikap hati hati sekali.
Kepekaannya itu mengisaratkan kepadanya bahwa ada sesuatu yang mengancam dirinya atau diri Listyarini, isterinya.
Oleh karena itu dia selalu waspada, apalagi kalau isterinya berada seorang diri.
Sore itu udara tidak dapat dibilang gerah.
Bahkan agak muram karena mendung tebal bergantung rendah di bagian barat.
Terdengar bunyi guntur bergema di kejauhan, seperti bergulung-gulung marah.
Namun karena jauhnya, maka hanya kadang saja tampak kilatan cahaya halilintar menembus awan mendung yang hitam.
Hampir semua orang yang berada di luar rumah memandang ke arah barat.
Mereka mengharapkan hujan turun karena sudah dua minggu lebih tidak ada hujan sedangkan sawah ladang membutuhkan air.
Akan tetapi seorang kakek yang melihat betapa angin sore hari itu bertiup kuat dan awan mendung itu terbawa angin menuju ke barat, semakin menjauh dari kepatihan, menggeleng kepala dan menghela napas kecewa.
Agaknya, sore dan malam hari itu daerah kepatihan masih belum mendapatkan bagian air hujan yang amat dibutuhkan itu.
Listyarini keluar dari pintu belakang gedung kepatihan.
Ia sudah mandi dan berganti pakaian, la tampak segar dan ayu.
Kehamilannya belum tampak benar, perutnya belum tampak menggendut, hanya pinggangnya tidak begitu ramping dan pinggulnya menjadi montok dan penuh.
Namun, bagi orang yang biasa melihat ciri wanita hamil, cahaya berseri pada wajahnya itu sudah cukup menunjukkan bahwa Listyarini sedang menjadi seorang calon ibu, walaupun kandungannya masih muda, baru sekitar satu bulan lebih.
Dengan langkah perlahan Listyarini memasuki taman kepatihan.
Taman itu terawat baik, dapat dilihat dari tumbuh-tumbuhan yang subur, kembang-kembang hampir semua berbunga.
Ia paling suka menanam bunga mawar beraneka warna dan dengan teliti ia melihat apakah tanah di bawah semua tanaman bunga kesayangan itu basah, tanda mendapatkan siraman setiap hari.
Sama sekali Listyarini tidak pernah menduga bahwa sejak kakinya melangkah memasuki taman, ada dua pasang mata nengikuti setiap langkahnya dari tempat tersembunyi.
Dengan penuh perhatian dan rasa sayang, Listyarini memperhatikan setiap pohon mawar, membuang daun yang mengering dan bunga yang sudah rontok agar kuncup-kuncup muda yang lain mendapat kesempatan dan rangsangan untuk mekar semerbak menggantikan kemegahan bunga-bunga yang sudah rontok dan layu.
Diam-diam Lasmini merasa girang sekali.
Inilah kesempatan terbaik, pikirnya.
Cepat ia lalu memberi isarat kepada Nismara untuk bersiap-siap melaksanakan apa yang telah lama ia rencanakan.
Sekali ini ia dan Nismara pasti berhasil, harus berhasil.
Keberhasilan membunuh Listyarini mendatangkan banyak keuntungan baginya.
Pertama, kebencian dan ke iri hatiannya terhadap wanita isteri ki patih itu terpuaskan, kedua hal itu akan menghancurkan perasaan hati Ki Patih Narotama dan ke tiga setelah Listyarini mati, maka akan mudah baginya untuk menjadi garwa padma sang patih sehingga ia akan lebih leluasa melaksanakan tugas dan kewajibannya yang telah direncanakan.
Kini Listyarini sudah bergerak melangkah semakin mendekati pondok kecil yang terletak di tengah taman, seolah seekor kelinci yang tanpa disadarinya semakin mendekati moncong harimau yang sudah lama menantinya di tempat persembunyiannya.
Harimau dalam ujud seorang laki-laki, Nismara, yang mendekam dan menanti dengan sepasang mata mencorong penuh nafsu bagaikan seekor harimau yang sudah membayangkan betapa akan sedapnya daging lunak dan darah hangat kelinci yang akan dirobek-robeknya.
Melihat wajah ayu manis merak ati, tubuh yang sintal dan denok itu melenggang dengan langkah yang membuat tubuh itu bergoyang-goyang indah seperti menari, berulang kali Nismara menelan air liurnya.
Dalam benaknya sudah dia bayangkan semua kenikmatan yang akan dapat direguknya.
Mendekap tubuh seperti itu!
Tidak, dia tidak akan segera membunuh Listyarini.
Terlalu sayang kalau dibunuh begitu saja.
Dia akan menangkapnya dan melarikannya keluar dari kepatihan dan akan bersenang-senang sepuas hatinya.
Bahkan kalau perlu, perempuan ini tidak akan dibunuhnya, melainkan diambilnya sebagai teman hidup, sebagai penghibur dan pusat kesenangan!
(Lanjut ke
Jilid 13) Keris Pusaka Sang Megatantra (seri ke 01 -Serial Keris Pusaka Sang Megatantra) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo
Jilid 13 Listyarini kini tiba di luar pondok, lalu membuka pintu pondok yang tidak terkunci, membiarkan daun pintu itu terbuka lalu memasuki pondok.
Akan tetapi baru saja ia duduk diatas sebuah dipan untuk beristirahat karena taman itu cukup luas dan perjalanan dari gedung kepatihan sampai pondok di tengah taman itu cukup jauh.
tiba-tiba tampak sesosok bayangan orang berkelebat dan melompat memasuki pondok.
Tahu-tahu Nismara telah berdiri didekat pembaringan, bertolak pinggang sambil menyeringai menyeramkan!
Listyarini yang tadinya terkejut sekali kini memandang heran ketika mengenal siapa orang yang menyelonong masuk seperti itu.
la segera bangkit berdiri dan memandang kepada Nismara dengan alis berkerut.
"Nismara! Apa maksudmu masuk kesini dengan sikap seperti ini?"
Merasa aman dan yakin bahwa di situ tidak ada bahaya baginya, apalagi dia merasa yakin pula bahwa diam-diam Lasmini tentu akan melindunginya, Nismara tertawa bergelak.
"Ha-ha-ha, Listyarini wong denok ayu, Sudah lama aku merindukan dirimu dan sekarang engkau harus pergi bersamaku dan menjadi isteriku. Marilah, manis, mari kupondong!"
Listyarini semakin terkejut. Wajahnya berubah merah karena marah.
"Nismara keparat! Berani engkau bersikap kurang ajar seperti ini? Kalau gustimu patih mengetahui, tentu engkau akan dihukum berat! Pergilah dan jangan mengganggu aku!"
"Ha-ha-ha, aku tidak takut. Tidak ada seorangpun dapat menghalangiku!"
Nismara menghampiri dan siap untuk menubruk wanita itu.
Listyarini memang seorang wanita lemah yang tidak memiliki aji kanuragan.
Akan tetapi ia adalah isteri seorang sakti dan iapun terpengaruh suaminya, memiliki ketabahan dan keberanian.
Ketika tadi memasuki taman, ia membawa sebatang pisau yang tadi ia pergunakan untuk membersihkan tanaman bunga dan untuk memotong tangkai tangkai yang layu.
Kini, ia mencabut pisau yang diselipkannya di ikat pinggang dan dengan pisau itu ia menyambut Nismara yang menubruknya.
Akan tetapi, apa artinya serangan seorang wanita lemah seperti Listyarini.
hanya mempergunakan sebatang pisau dapur, terhadap perwira perajurit pengawal seperti Nismara?
Dengan mudah dia menangkap pergelangan tangan kanan wanita itu dan sekali cengkeram, Listyarini menjerit dan pisaunya terlepas dari genggamannya.
Sambil tertawa-tawa Nismara lalu menangkap kedua lengan wanita itu dan memondongnya.
Listyarini meronta dan menjerit.
"Toloonggg .....!"
Akan tetapi jeritnya terhenti seketika karena Nismara menekan tengkuknya dan wanita itu terkulai pingsan di atas pundak Nismara yang memanggulnya dan membawanya keluar dari pondok itu.
Menurut gelora nafsu berahinya, ingin ia memperkosa wanita itu di tempat itu juga, akan tetapi dia merasa ngeri kalau-kalau akan muncul Ki Patih Narotama.
Maka dia ingin membawa wanita itu cepat-cepat pergi jauh meninggalkan kepatihan menuju ke tempat aman.
Pada saat itu, tak jauh dari pondok itu Lasmini sedang mengintai dan hatinya merasa gembira sekali melihat betapa Nismara telah menyerbu masuk ke dalam pondok.
Akan tetapi ia terkejut juga mendengar jerit suara Listyarini.
"Goblok .....!"
La memaki, marah karena menganggap Nismara bodoh sekali memberi kesempatan kepada Listyarini untuk mengeluarkan jeritan.
Dengan hati khawatir ia melihat ke kanan kiri, kalau-kalau suara jeritan pendek yang cukup melengking itu menarik perhatian orang lain.
Dan benar saja, ia melihat dua orang laki-laki datang berlarian kearah situ.
Mereka adalah dua orang tukang kebun yang biasa mengurus taman.
Diam-diam Lasmini mengutuk.
Sialan pikirnya, padahal menurut perhitungannya, biasanya pada waktu sore seperti itu dua orang tukang kebun itu tidak pernah bekerja di taman.
Kenapa begitu kebetulan mereka sekarang berada di situ dan agaknya mendengar jeritan suara Listyarini?
Yang sial adalah dua orang tukang kebun itu.
Mereka mengadakan pemeriksaan ke dalam taman karena mengira akan turun hujan sehingga mereka hari mempersiapkan segalanya agar taman jangan menjadi rusak oleh membanjirnya air hujan.
Ketika dengan lapat-lapat mereka mendengar jerit wanita, mereka lalu berlari menuju kepondok.
Akan tetapi, dalam perjalanan itu, tiba-tiba saja dua buah batu sebesar kepala mereka meluncur dan menghantam kepala mereka.
Tanpa dapat mengeluarkan teriakan lagi dua orang tukang kebun itu tersungkur roboh dan tewas seketika dengan kepala pecah!
Lasmini memang cerdik sekali.
Ia tidak mau membunuh dua orang itu dengan menggunakan aji pukulannya yang ampuh, karena kalau hal itu ia lakukan, Ki Patih Narotama tentu akan mengenal aji itu dan rahasianya akan terbuka.
Akan tetapi, pada saat itu, kebetulan Lasmini menoleh ke belakang, ke arah gedung kepatihan dan wajahnya mendadak nenjadi pucat sekali.
Dia melihat sesosok bayangan berkelebat seperti terbang dan segera, mengenal bahwa itu adalah bayangan Ki Patih Narotama sendiri "Celaka .....!"
Lasmini berbisik dalam hati. Akan tetapi dasar ia seorang yang amat cerdik, ia sudah dapat membuang kegugupannya, bahkan kini ia berlagak menyambut suaminya itu.
"Kakangmas..... celaka..... sesuatu yang hebat telah terjadi.....!"
Katanya setelah bertemu dengan Ki Patih Narotama yang menghentikan larinya.
Patih Narotama tadi berlari cepat memasuki taman setelah mendengar dari para dayang bahwa Listyarini seorang diri berjalan-jalan dalam taman.
Hatinya merasa khawatir dan dia cepat berlari menyusul.
"Diajeng Lasmini! Apa yang terjadi.....? Di mana Listyarini.....?"
"Saya ..... saya tidak tahu, kakangmas Tadi saya memasuki taman dan melihat dua orang tukang kebun menggeletak dengan kepala pecah dan sudah tewas!"
"Di mana mereka?"
"Di sana, mari!"
Mereka berdua berlompatan dan dengan cepat sudah tiba di tempat di mana dua orang tukang kebun itu menggeletak tak bernyawa lagi.
Ki Patih Narotama memeriksa sebentar.
Darah yang mengalir keluar dari kepala-kepala yang pecah itu masih segar.
"Hemm, baru saja dibunuh. Pembunuhnya tentu masih berada di taman. Tapi ..... Listyarini .....! Di mana ia .....?"
"Saya tidak tahu, kakangmas. Ketika memasuki taman, saya tidak melihatnya dan baru tiba di sini, saya melihat dua orang ini. Ketika melihat kakangmas berlari memasuki taman, saya cepat menyongsong dan memberitahukan. Mari kita mencari Kakangmbok Listyarini!"
Lasmini mendahului suaminya, melompat dan lari menuju pondok.
Tentu saja ia tersenyum dalam hatinya karena tahu benar bahwa Nismara sudah lama membawa lari Listyarini dari dalam pondok itu.
Keduanya memasuki pondok.
Tidak ada siapapun di sana.
Juga tidak tampak adanya bekas-bekas kekerasan.
Akan tetapi Ki Narotama membungkuk dan nengambil sebatang pisau yang menggeletak di atas lantai, dekat dipan.
"Hemm, pisau apakah ini? Milik siapa?"
Dia bertanya sambil mengamati pisau itu. Lasmini mengambil pisau itu dari tangan suaminya dan memeriksanya.
"Ini seperti pisau yang biasa dipergunakan para dayang didalam dapur, kakangmas. Hemm, saya kira pisau ini tadi dibawa Kakangmbok Listyarini ke taman untuk memotong kembang dan ranting yang sudah layu, kemudian tertinggal disini. Mungkin sekali ia sudah kembali ke gedung kepatihan!"
"Hemm, mudah-mudahan begitu. Mari kita cari ia di sana!"
Ki Patih Narotama tidak merasa curiga karena tidak melihat ada tanda-tanda kekerasan terjadi di dalam pondok yang kesemuanya masih rapi.
Mereka kembali keluar dari pondok dan dengan cepat berlari menuju ke gedung kepatihan.
Tentu saja senyum dalam hati Lasmini makin melebar karena ia tahu bahwa kini Nismara tentu sudah dapat lari lebih jauh lagi sehingga takkan mungkin dapat disusul oleh Ki Patih Narotama.
Setelah tiba di gedung kepatihan, dengan selalu diikuti Lasmini, Narotama mencari isterinya.
Akan tetapi sia-sia, Listyarini tidak dapat ditemukan dan tidak ada seorangpun dayang tahu kemana perginya garwa padmi ki patih itu.
Setahu mereka hanyalah bahwa Listyarini seorang diri memasuki taman membawa sebatang pisau dapur.
Narotama berlari lagi memasuki taman, diikuti Lasmini.
Kini mereka mencari sambil berteriak-teriak memanggil, bergantian.
"Diajeng Listyarini .....!"
"Kakangmbok Listyarini ......'"
Akan tetapi yang menjawab hanya suara gaung gema teriakan mereka.
Mereka mencari keluar dan taman, akan tetapi karena tidak menemukan jejak, Narotama menjadi gelisah dan bingung, tidak tahu harus mengejar ke arah mana.
Sementara itu, senja telah mulai gelap, malam mulai datang menguasai bumi.
Setelah tiba jauh di luar daerah Kerajaan Kahuripan, Narotama mengajak Lasmini untuk mengambil jalan yang menuju ke selatan.
Jantung Lasmini berdebar tegang, karena menurut seperti yang telah direncanakan, Nismara yang melarikan Listyarini tentu juga mengambil jalan itu.
Dan betapapun cepat larinya Nismara, kalau Narotama melakukan pengejaran yang arahnya tepat, akhirnya Nismara tentu akan tersusul!
Akan tetapi otaknya yang cerdik sudah membuat ia mengambil sikap yang amat tepat.
Ia berlutut, menyembah dan merangkul kedua kaki Narotama sambil menangis!
Narotama cepat merangkul dan mengangkat bangun selirnya itu.
"Adinda Lasmini, apa yang kaulakukan ini? Apa artinya ini?"
"Aduh kakangmas pujaan hamba .... tidak tahukah paduka betapa remuk redam, betapa hancur luluh hati hamba biarkan paduka untuk mengejar penjahat yang menculik kakangmbok ke selatan? Aduh kakangmas sesembahan hamba, mengapa hati kakangmas begitu tega kepada hamba, menjatuhkan fitnah keji kepada hamba dan keluarga hamba?"
Lasmini berkata di antara tangisnya.
"Diajeng Lasmini!"
Kata Narotama dengan alis berkerut dan memandang wajah selirnya di keremangan malam yang hanya diterangi bulan sepotong.
"Aku mengajak engkau mengejar penculik Listyarini untuk menyelamatkannya dari marabahaya Aku sama sekali tidak pernah menduga atau mengatakan bahwa pelaku penculikan adalah keluargamu. Mungkin saja penjahat itu melarikan diri ke arah selatan sana! Jangan berkesimpulan yang bukan-bukan!"
Lasmini sudah tidak menangis, akan tetapi ia membiarkan dirinya didekap Narotama dan ia menyandarkan kepalanya yang semerbak harum melati itu didada suaminya.
"Akan tetapi, kakangmas. Semua orang tahu belaka bahwa di selatan sana termasuk wilayah Kerajaan Parang Siluman dimana ibu kandung hamba, Sang Ratu Durgakumala menjadi penguasanya. Penculik itu tentu mengetahui pula bahwa hamba, puteri Parang Siluman, telah menjadi garwa paduka. Bagaimana mungkin dia membawa lari Kakangmbok listyarini ke sana? Sama saja dengan ular menghampiri penggebuk. Kalau paduka melakukan pengejaran memasuki wilayah Kerajaan Parang Siluman, bukankah itu berarti bahwa paduka mencurigai kanjeng ibu ratu dan keluarganya? Tidak, kakangmas, paduka tidak boleh mengejar dalam wilayah Parang Siluman. Hamba malu, kakangmas, malu kepada kanjeng ibu, malu kepada kanjeng rama, malu kepada kanjeng paman yang juga guru hamba, malu kepada seluruh keluarga dan kawula Parang Siluman."
Narotama termenung sejenak. Ah..betulnya juga ucapan yang keluar mulut selirnya yang diseling isak tangis itu.
"Hemm, diajeng Lasmini, semua tuturmu itu dapat kuterima dan memang benarnya. Akan tetapi, bagaimana kalau kemudian ternyata bahwa Listyarini diculik orang memasuki daerah Parang Siluman?"
"Kakangmas, kalau sampai terjadi seperti itu, kalau kemudian ternyata bahwa penjahat itu melarikan Kakang mbok Listyarini ke dalam daerah Parang Siluman dan menyembunyikannya di sana, hamba mempertaruhkan nyawa ini. Hamba siap dipenggal leher hamba sebagai pertanggunan jawab. Akan tetapi sebaliknya, kakangmas, kalau sekarang paduka bersikeras untuk mengejar sampai memasuki perbatasan Parang Siluman, hamba akan membunuh diri sekarang juga di depan kaki paduka. Tidak kuat hamba menderita aib dan malu karena tidak paduka percaya."
Narotama menghela napas panjang dan mengusap rambut kepala selirnya yang masin dipeluknya itu.
"Baiklah, diAjeng. Kalau begitu janji dan tanggung jawabmu, aku tidak akan mengejar kedalam daerah Kerajaan Parang Siluman. Akan tetapi, lalu ke mana aku harus mencari Listyarini? Aku khawatir sekali akan keselamatannya."
"Harap kakangmas menenangkan hati dan jangan khawatir. Hamba dapat memastikan bahwa keselamatan nyawa kakangmbok Listyarini tidak akan terancam bahaya. Hamba yakin bahwa penculik itu tidak akan membunuhnya."
"Bagaimana andika dapat yakin begitu diajeng?"
"Menurut penalaran, kakangmas. Kalau penjahat itu memang berniat membunuh Kakangmbok Listyarini, tentu hal itu sudah dia lakukan dalam taman, seperti juga dia telah membunuh dua orang tukang kebun itu. Kenyataannya bahwa dia tidak membunuh melainkan menculik Kakangmbok Listyarini menunjukkan bahwa dia tidak ingin membunuhnya sehingga masih terdapat harapan bahwa kita akan dapat menemukannya. Hamba akan membantu dengan taruhan nyawa hamba agar kita dapat menemukan kembali Kakangmbok Listyarini."
Narotama merasa lega sekali. Kalau ada selirnya ini yang membantu, dia merasa yakin bahwa dia akan dapat menemukan kembali garwa padminya yang hilang diculik orang itu.
"Aduh, diajeng Lasmini, terima kasih. Kalau tidak ada engkau, entah bagaimana jadinya. Hatiku sekarang ini merasa risau dan cemas sehingga aku tidak dapat berpikir dengan baik. Kalau menurut pendapatmu, apa yang harus kulakukan sekarang, yayi?"
"Kalau menurut hamba, kakangmas, sebaiknya kita pulang saja dulu. Bagaimanapun juga, hamba yakin Kakangmbok Listyarini tidak akan dibunuh. Kakangmas pulang dulu untuk mencari jalan terbaik. Hamba kira, dengan mengerahkan pasukan yang kita sebar, akan lebih mudah menemukan penculik itu. Juga kita berdua dapat pula melanjutkan pencarian kita. Sekarang, untuk mengejarpun, kita belum tahu ke arah mana penjahat itu lari. Mungkin ke utara, ke timur, atau ke barat. Karena itu, mari kita pulang dulu, menenangkan hati dan merencanakan siasat terbaik untuk mencari Kakangmbok Listyarini."
Dengan hati agak lega Narotama mencium bibir yang mengucapkan kata-kata yang dianggapnya amat bijaksana itu.
Mereka lalu bergandengan tangan, berlari cepat kembali ke gedung kepatihan di Kahuripan.
Betapa hebatnya sebuah rencana, betapa telitinyapun rencana itu diatur dan betapa canggihnyapun pelaksanaannya, semua itu belum dapat dipastikan berhasil.
Ada Kekuasaan lain yang mutlak menentukan hasil tidaknya sebuah tindakan.
Manusia dengan segala akal budinya boleh merencanakan yang muluk-muluk, namun pada akhirnya manusia harus tunduk kepada Kekuasaan yang menentukan itu.
Kekuasaan Ilahi, Kekuasaan Gusti Yang Maha Kuasa, Kekuasaan Sang Hyang Widhi wasa, Pengatur seluruh alam semesta dengan semua isinya!
Demikian pula dengan rencana pembunuhan atas diri Listyarini yang telah diatur dengan sempurna oleh Lasmini Memang pada mulanya rencana itu tampaknya seperti berhasil baik menurut rencana.
Listyarini telah dapat diculik Nismara seperti direncanakan, bahkan Lasmini telah berhasil membujuk Narotama agar tidak melakukan pengejaran ke selatan.
Akan tetapi, hasil kelanjutannya ternyata lain sama sekali seperti yang telah direncanakan.
Nismara tidak melarikan diri ke selatan, tidak masuk ke wilayah Kerajaan Parang Siluman.
Mengapa demikian?
Ternyata Nismara sudah mengenal baik keadaan di Kerajaan Parang Siluman.
Dia tahu bahwa kerajaan itu menjadi tempatnya orang-orang yang amat keji dan kejam, orang-orang yang licik dan curang.
Kalau dia membawa Listyarini ke sana, jangan-jangan nasibnya menjadi celaka.
Bukan tidak mungkin dia akan dicurangi dan dibunuh, sedangkan Listyarini akan dirampas darinya.
Tidak, dia tidak akan pergi ke Kerajaan Parang Siluman itu.
Dia kini telah memondong puteri ayu, telah mengantungi banyak emas.
Dia telah bebas, boleh pergi ke mana dia suka.
Mengapa harus ke Parang Siluman?
Kalau Narotama mengejar ke sana, mungkin saja untuk menyimpan rahasia, Ratu Parang Siluman yang cantik akan tetapi keji seperti iblis betina itu akan membunuhnya!
Teringat akan kekejaman Lasmini saja dia sudah bergidik.
Lebih baik dia membawa Listyarini pergi jauh sekali dari Kahuripan dan Parang Siluman, di tempat jauh dia akan hidup senang dengan sang puteri juita, tanpa ada yang mengganggu!
Pemikiran inilah yang membuat Nismara tidak jadi lari ke selatan, melainkan lari ke arah barat!
Dia memanggul tubuh Listyarini dan melarikan diri kebarat, melalui hutan-hutan dan gunung gunung.
Dia tidak berani mengganggu Listyarini karena hatinya selalu dikejar rasa takut dan ngeri.
Kini dia tidak hanya melarikan diri dari pengejaran Narotama, akan tetapi juga pengejaran Lasmini yang tentu akan membunuhnya kalau mengetahui bahwa ia lari ke barat,bukan masuk ke wilayah Parang Siluman!
seperti yang diperintahkan Lasmini.
Dan dia malah lebih takut akan pengejaran Lasmini daripada pengejaran Ki Patih Narotama.
Dia tahu, Narotama adalah seorang bijaksana dan tidak kejam.
Mungkin dia akan dibunuhnya begitu saja.
Akan tetapi kalau dia sampai terjatuh ketangan Lasmini, dia tentu akan disiksanya setengah mati!
Karena setiap hari dikejar rasa ngeri dan ketakutan, seolah setiap saat dia mendengar langkah kaki orang-orang yang mengejarnya, Nismara tidak pernah mau mengganggu Listyarini.
Apalagi setelah Listyarini tampaknya tidak meronta lagi.
Ketika itu dia menurunkan Listyarini dari pondongannya untuk sekadar beristirahat melepas lelah dan menenangkan hatinya yang terguncang rasa takut dan gelisah.
Listyarini kini tidak mau menjerit lagi.
la maklum bahwa dirinya tidak berdaya dan ia hanya pasrah kepada Hyang Widhi, setiap saat berdoa semoga Sang Hyang Widhi melindunginya dari pada marabahaya.
Melihat Nismara menyeka keringat dari leher dan mukanya, dan melihat wajah itu seperti orang ketakutan, matanya bergerak liar ke sana sini seolah takut melihat orang datang, Listyarini yang dilepas dari pondongan dan kini duduk di atas tanah itu menyapa dengan suara lembut.
"Nismara, katakan saja terus terang, mengapa engkau membawa aku pergi ke tempat ini? Mengapa engkau yang menjadi perwira pasukan pengawal tega menculik aku?"
Sudah beberapa kali pertanyaan diajukan oleh Listyarini selama beberapa hari ini, akan tetapi Nismara tidak pernah mau menjawab.
Kinipun dia tidak menjawab, hanya memandang sejenak wajah elok itu lalu menggeleng kepala dan mengalihkan pandang matanya.
Entah bagaimana, mungkin karena dihantui rasa takut dan ngeri kalau-kalau dia tertangkap, selama beberapa hari ini seolah semua nafsu berahinya terhadap wanita cantik ini menghilang begitu saja!
"Nismara,"
Kata Listyarini dengan halus.
"Aku tahu bahwa selama beberapa hari ini sejak engkau menculik aku engkau bersikap baik sekali padaku, engkau memondongku, memperhatikan keperluanku dan tidak pernah mengangguku. Sebaliknya aku selalu meronta dan melawan, sehingga engkau tentu lelah sekali. Aku berterima kasih kepadamu untuk itu. Akan tetapi, Nismara, aku melawanmu karena aku takut dan tidak tahu mengapa aku kau culik. Kalau engkau memberitahu, tentu aku akan merasa lega dan tidak akan melawan lagi. Aku akan menyerah sehingga perjalanan ini dapat dilakukan lebih lancar dan menyenangkan. Karena itu, katakanlah, Nismara, mengapa kaulakukan semua ini."
"Benar engkau akan menyerah dan tidak melawan atau meronta lagi kalau kuberitahu?"
Nismara bertanya.
"Aku bukan orang yang suka berbohong. Apa yang kujanjikan pasti akan kutepati."
Kata Listyarini.
"Baiklah, akan kuberitahu. Sudah lama ku mengagumimu, Listyarini, bahkan aku tergila gila kepadamu. Aku cemburu kepada Ki Patih Narotama, yang telah memperisterimu, akan tetapi masih begitu murka untuk mempunyai seorang isteri lain, yaitu Lasmini. Puteri dari Parang Siluman itulah yang merencanakan ini semua, menyuruh aku untuk menculikmu dan membawamu pergi, agar ia dapat menjadi garwa padmi Ki Patih Narotama."
Listyarini terkejut, namun tidak merasa terlalu heran karena ia sudah dapat merasakan betapa selir suaminya itu diam-diam membencinya.
"Hemm, jadi ini biang keladinya? Lalu, kenapa engkau melarikan aku sampai sejauh ini dan tidak membunuhku?"
"Membunuhmu? Tidak, Listyarini, aku tidak tega membunuhmu. Aku..... aku cinta padamu. Aku diperintah untu membawa engkau ke Parang Siluman, akan tetapi aku tidak mau karena setibanya di sana engkau pasti dibunuh mereka! Aku tidak ingin engkau dibunuh, maka engkau kularikan sampai di sini. Aku harus melarikan sejauh mungkin sehingga Ki Patih Narotama dan juga Lasmini dan pihak Parang Siluman tidak akan dapat mencari kita. Nah, kuharap mulai sekarang engkau suka menurut dan melarikan diri tanpa melakukan perlawanan."
Listyarini berpikir.
Selama orang ini tidak menggangguku, sebaiknya aku menurut agar dia tidak bersikap kasar kepadaku.
Akan tetapi, kalau dia hendak berbuat sesuatu yang tidak senonoh, aku akan membunuh diri.
Sementara itu, hanya mengharapkan pertolongan dari Sang Hyang Widhi.Maka, lapun mengangguk.
Dengan girang Nismara mengajak ia melanjutkan perjalanan dan ketika mereka melewati sebuah dusun yang cukup ramai, yaitu dusun Kerta, Nismara lalu membeli dua ekor kuda.
Biarpun tidak pernah mempelajari ilmu kanuragan, namun kalau menunggang kuda, Listyarini cukup mahir.
Perjalanan dilanjutkan dengan berkuda sehingga lebih cepat dan lancar.
Juga bagi Listyarini, tentu lebih leluasa dan enak melakukan perjalanan menunggang kuda daripada dipondong oleh Nismara.
Mereka mendaki Gunung Lawu dari sisi timur.
Pada suatu pagi tibalah mereka di lereng Gunung Lawu.
Pemandangan alamnya amat indah dan tempat itupun sunyi, penuh dengan hutan lebat dan hawanya sejuk, nyaman bukan main.
Dari tempat mereka berhenti mengaso, tampak sebuah telaga yang airnya membiru dan pemandangan di situ teramat indahnya.
Timbul kegembiraan besar di dalam hati Nismara.
Selama beberapa hari ini kekhawatirannya mulai menipis dan perjalanan berkuda yang menyenangkan itu, tanpa harus memondong tubuh Listyarini,membangkitkan kembali gairahnya.
Mereka menambatkan kuda di batang pohon dan keduanya duduk di atas batu gunung.
Di sekeliling mereka tampak padang rumput menghijau.
Nismara mulai memandang kepada Listyarini dengan penuh perhatian dan perlahan-lahan api gairah berahi mulai menyala dalam pandang matanya.
Wanita itu tampak amat cantik menggairahkan.
Rambutnya yang agak kusut itu bahkan menambah keelokannya, dengan sinom berjuntai dan bergantung!
kacau di dahi dan pelipisnya, pakaian yang kusut itu mempertajam lekuk lengkung tubuhnya.
Muncul bayangan-bayangan penuh nafsu berahi dalam benak Nismara.
Ah..
sebetulnya sudah lama wanita ini berada di tangannya akan tetapi dia tidak sempat memilikinya.
Sekaranglah saatnya pikirnya.
Jelas bahwa tidak akan ada yang mampu mengejarnya sampai di tempat sunyi ini.
Dia harus memilikinya sekarang juga dan sekali menjadi miliknya, wanita ini tentu selanjutnya akan tunduk kepadanya dan akan menjadi isterinya.
Nismara turun dari atas batu dan menghampiri Listyarini.
Listyarini menengok.
Mereka bertemu pandang dan Listyarini terbelalak.
Ia melihat kobaran nafsu berahi dalam mata laki-laki itu.
Marabahaya yang hampir setiap hari dikhawatirkannya itu akhirnya muncul.
Nalurinya mengatakan bahwa saat itu Nismara seperti kemasukan iblis dan ia memandang ngeri.
"Nismara, kau mau apa .....?"
Tanyanya dan wajahnya sudah berubah pucat. Nismara tersenyum, menyeringai seperti seekor srigala memperlihatkan taringnya.
"Mari kubantu engkau turun, Listyarini, kita melanjutkan perjalanan."
Katanya sambil menjulurkan tangannya.
Listyarini merasa agak lega dan ia menerima uluran tangan itu.
Akan tetapi ketika ia sudah turun dari atas batu, tiba-tiba saja kedua lengan Nismara mendekapnya dengan kuat dan muka laki laki itu mendekati mukanya, berusaha untuk menciuminya.
"Jangan.....! Tidaaak.....!"
Listyarini menjerit dan mengelak dari ciuman dengan memalingkan mukanya kekanan kiri.
Akan tetapi tentu saja ia kalah kuat dan pada saat hidung Nismara mendarat di pipi kirinya, dalam kenekatannya Listyarini mengangkat lututnya ke atas.
Nismara berteriak mengaduh dan rangkulannya mengendur karena lutut kaki Listyarini tepat menghantam bawah pusarnya.
Listyarini meronta sekuat tenaga sehingga terlepas dari rangkulan lalu membalik dan melarikan diri.
Akan tetapi hanya sebentar Nismara kesakitan.
Dia melompat dan mengejar.
Akhirnya dia dapat menubruk dari belakang dan memeluk Listyarini.
Wanita itu terguling dan Nismara ikut pula terjatuh Mereka bergulingan di atas rumput.
Lityarini mencoba untuk memukul, mencakar bahkan menggigit.
Namun karena kalah kuat, akhirnya Nismara dapat menindihnya dan memegangi kedua pergelangan tangannya.
Pada saat yang teramat gawat bagi kehormatan Listyarini itu, tiba-tiba saja sebuah tangan mencengkeram rambut kepala Nismara, menariknya ke belakang dengan sentakan yang demikian kuatnya sehingga Nismara berteriak kesakitan dan tubuhnya terseret ke belakang.
Sebuah tendangan menyusul dan tubuh Nismara terpental bergulingan.
Akan tetapi yang paling nyeri adalah kepalanya.
Rambutnya seolah tercabut copot semua, rasanya pedih dan panas.
Dia meraba kepalanya dan merasa lega bahwa rambutnya masih ada.
Dia melompat berdiri dan dengan mata merah dia memandang kedepan.
Dia melihat seorang laki-laki membantu Listyarini bangun dan berkata kepada wanita itu.
"Ke sanalah, nona. Biar kuhajar orang jahat ini."
Laki-laki itu bicara dengan suara pelo.
Usianya sekitar dua puluh lima tahun.
Tubuhnya tinggi kurus, mukanya agak pucat kekuningan, matanya sipit dan rambutnya digelung ke atas dan diikat dengan pita biru.
Dari raut wajahnya sampai bentuk baju dan celananya tahulah Nismara bahwa, pemuda itu adalah seorang berbangsa Cina.
Pernah dia melihat beberapa orang Cina berkunjung ke Kahuripan, sebagian sebagai pedagang dan ada pula yang menjadi tukang-tukang yang ahli dalam pembuatan perabot rumah tangga dari kayu dan rotan atau dari bambu.
Sungguh mengherankan sekali di tempat sesunyi itu dia bertemu dengan seorang Cina.
Akan tetapi orang Cina itu telah berani mengganggunya bahkan menyeret dan menendangnya sehingga dia gagal memperkosa Listyarini.
Dia bangkit dan mukanya berubah merah ketika dia memandang kepada pemuda Cina itu dengan mata melotot.
"Setan alas keparat busuk! Siapa enhkau berani mencampuri urusanku?"
Ia menghardik dan tangan kanannya meraba gagang keris yang terselip di pinggangnya.
Dengan bahasa daerah yang cukup jelas dan lancar namun yang diucapkannya dengan pelo, orang itu menjawab "Nama saya The Jiauw Lan ....."
"Siapa?"
Nismara menegaskan karena nama yang diucapkan orang itu tidak dapat ditangkap telinganya dengan baik.
"The Jiauw Lan,"
Orang Cina itu mengulang. Namun tetap saja Nismara tidak dapat menerima jelas.
"Sudahlah, persetan dengan namamu! Kenapa engkau berani mencampuri urusanku dengan wanita itu? Hayo cepat minggat dari sini, atau aku akan membunuhmu!"
Dia mencabut Kerisnya dan mengancam. The Jiauw Lan menggeleng-geleng kepalanya.
"Aku tidak ingin berkelahi, tidak ingin mencari musuh. Akan tetapi kaujangan ganggu pelempuan itu. Itu tidak baik, salah dan jahat sekali! Kau pelgilah, jangan ganggu ia!"
"Babo-babo, keparat. Berani engkau menghalang dan menantangku? Engkau sudah bosan hidup. Mampuslah!"
Nismara lalu menubruk sambil menyerang dengan kerisnya.
Gerakannya cukup cekatan dan mengandung tenaga kuat.
Dia merupakan seorang perwira kepatihan yang cukup tangguh.
Namun, tusukan keris itu hanya mengenai tempat kosong karena The Jiauw Lan dapat cepat mengelak dengan geseran kakinya yang lincah sekali.
Nismara menjadi semakin marah.
Dia cepat menyusulkan serangan kerisnya, lagi, dilanjutkan dengan tamparan tangan kirinya.
Ketika tusukan keris dan tamparan tangan itu kenbuli hanya mengenai tempat kosong, dia menambahkan dengan tendangan bertubi-tubi.
Namun semua serangannya itu tidak mengenai sasaran.
Lawannya ternyata memiliki gerakan yang amat lincah, tubuhnya berkelebatan ke kanan kiri dan semakin cepat dan gencar Nismara rntnyerang, semakin cepat pula dia bergerak menghindar.
"Aku tidak ingin belkelahi. Pelgilah......!"
The Jiauw Lan berseru lagi.
Akan tetapi karena merasa penasaran, Nismara tetap saja menyerang secara bertubi-tubi.
Ketika kerisnya meluncur ke arah perut lawan, tiba-tiba orang Cina itu menepis dengan tangan kiri dari samping.
Tepisan dengan jari-jari tangan ini mengenai pergelangan tangan yang memegang ker is.
"Tukk!"
Keris terlepas dari pegangan dan di lain detik, sebuah tendangan mengenai perut Nismara.
"Bukk .....!"
Tubuh Nismara terjengkang.
Dia merasa lengan kanannya nyeri dan perutnya mendadak mulas.
Terkejutlah dia dan sekarang baru dia menyadari bahwa dia berhadapan dengan orang yang pandai dan tangguh.
Maka cepat dia menyambar kerisnya yang menggeletak di dekatnya, kemudian dia bangkit dan melarikan diri.
"Jahanam, kau tunggu pembalasanku!"
Teriaknya mengancam sambil melanjutkan larinya. Orang Cina itu hanya memandang sambil menggeleng-geleng kepala.
"Helan ..... di sana ..... di sini ..... dunia ini penuh olang jahat ....."
Dia menghela napas panjang lalu memutar tubuhnya untuk memandang wanita yang nyaris diperkosa penjahat tadi.
Listyarini berdiri di bawah pohon.
Sejak tadi ia menonton perkelahian itu.
Dia mengerti bahwa orang yang bicaranya pelo itu sedang membelanya, maka tentu saja diam-diam ia mendoakan kemenangan bagi orang asing itu.
Mula mula ia merasa ngeri melihat Nismara menyerang bertubi-tubi dengan kerisnya dan agaknya orang asing itu terdesak.
Ia sudah mengambil keputusan nekat.
Ada sebuah batu besar di bawah pohon didekatnya.
Kalau ia melihat pembelanya itu kalah, ia akan membunuh diri dengan menghantamkan kepala sendiri kepada batu besar itu.
Akan tetapi ternyata pembelanya itu menang dan Nismara melarikan diri!
Hal yang sama sekali tidak disangkanya ini membuat wajahnya yang tadinya pucat berubah kemerahan berseri, sinar mata yang tadinya layu kini bercahaya dan bibirnya yang mungil berkembang dan muncullah senyumnya yang manis penuh rasa bahagia.
Tadi ketika melihat seorang laki-laki hendak memperkosa seorang wanita, The Jiauw Lan tidak dapat tinggal diam saja dan cepat dia mencegah.
Pada saat itu, dia sama sekali tidak memperhatikan wajah Listyarini.
Baru sekarang dia bertatap muka dengan Listyarini, melihat wajah yang berseri, mata yang indah bercahaya serta senyuman yang manis itu.
Dia terbelalak heran, terpesona, lalu tiba-tiba dia menjatuhkan diri berlutut dan menyembah-nyembah sambil berucap penuh hormat.
"Kwan Im Pouwsat .....!"
Kwan Im Pouwsat atau Dewi Kwan Im adalah sebutan seorang dewi kahyangan yang juga disebut Dewi Kebajikan, Dewi Penolong atau Dewi Welas Asih yang terkenal cantik jelita dan sakti mandraguna.
Dalam dongeng di Negeri Cina, sang dewi ini sering kali muncul di dunia untuk menyelamatkan manusia, dan tidak jarang pula ia menjelma manusia biasa untuk menguji budi pekerti orang.
Jadi, menurut kepercayaan The Jiauw Lan, bukan mustahil kalau tadi Kwan Im Pouwsat sengaja menyamar sebagai wanita yang hendak diperkosa penjahat untuk mengujinya!
The Jiauw Lan percaya sekali sang dewi yang menjadi pujaan seluruh rakyat di Negeri Cina itu, maka melihat Listyarini yang demikian cantik jelita, anggun dan penuh wibawa serta merta dia menganggapnya Dewi Kwan Im dan memberi hormat sambil mohon ampun dan menghaturkan terima kasih.
Listyarini tertegun.
Penolongnya itu tiba-tiba berlutut kepadanya, menyembah-yembah dan berkata-kata dalam bahasa yang tidak dimengertinya sarna sekali!
Ia meenengok ke belakangnya, untuk melihat kalau-kalau di sana ada orang lain yang dihormati penolongnya itu.
Akan tetapi tidak ada siapa-siapa sehingga jelaslah bahwa ia yang disembahsembah itu.
Maka, ia lalu melangkah maju menghampiri penolongnya dan menyentuh pundak orang itu.
"Ki sanak, bangkitlah dan bicaralah dengan bahasa yang kumengerti. Jangan menyembah-nyembah seperti ini."
Sentuhan lembut di pundaknya itu terasa oleh The Jiauw Lan sebagai sentuhan yang mengandung getaran hebat,maka makin gencar dia menyembah karena hatinya makin yakin bahwa yang menyentuhnya itu benar-benar jari tangan Kwan Im Pouwsat yang sakti.
"Paduka Kwan Im Pouwsat ..... Kwan Im Pouwsat ..... saya holmati ....."
"Kwan Im Pouwsat? Siapa itu ....."
Listyarini bertanya heran.
"Dewi pujaan kami, Dewi Solga yan bijaksana, penyelamat manusia. Paduka Dewi Kebajikan, maafkan saya ....."
Kini mengertilah Listyarini. Ia merasa geli dan tertawa. Tawanya lembut tertahan dan sopan.
"Heh-heh, aku sama sekali bukan dewi kahyangan, ki sanak. Aku manusia biasa. Bangkitlah dan mari kita bicara. Engkaulah yang menolongku dan aku berterima kasih sekali kepadamu."
Mendengar ini, The J iauw Lan mengangkat mukanya dan memandang heran.
Kini baru dia melihat bahwa yang berdiri di depannya adalah seorang wanita Jawa yang sudah pasti seorang bangsawan tinggi, cantik jelita dan anggun.
Mungkin saja Kwan Im Pouwsat yang menyamar, akan tetapi wanita itu mengaku bahwa ia seorang manusia biasa.
Maka diapun bangkit berdiri.
"Engkau ..... seolang manusia biasa? Benalkah itu? Akan tetapi, bagaimana bisa belada di tempat ini dan siapa pula olang jahat tadi? Siapakah engkau dan dali mana?"
Pertanyaannya meluncur bagaikan hujan dan Listyarini tersenyum.
Biarpun laki-laki ini asing dan bicaranya lucu dan pelo, namun ia dapat merasakan dan tahu dari pandang matanya bahwa orang ini bukan orang jahat hamba nafsu.
"Ceritanya panjang, ki sanak. Marilah duduk dan akan kuceritakan semua untuk menjawab pertanyaanmu itu."
Listyarini duduk di atas batu dan laki-laki itu duduk di atas batu lain tak jauh darinya.
"Ki sanak, sebelum aku menceritakan keadaan diriku, kuharap engkau suka lebih dulu menceritakan tentang dirimu. Memang aku telah menerima pertolongan darimu dan aku percaya sepenuhnya kepadamu, namun kiranya tidaklah pantas bagi seorang wanita menceritakan keadaan dirinya kepada seorang pria yang tidak dikenalnya sama sekali. Ki sanak, maukah engkau bercerita tentang dirimu kepadaku?"
"Tentu, tentu saja, nona. Namaku adalah The Jiauw Lan."
Kata laki-laki itu dengan nada gembira.
"Tejo ..... siapa?"
"The Jiauw Lan."
"Wah, sulit sekali namamu. Tejoranu begitukah?"
Sepasang mata itu menjadi semakin sipit ketika dia tertawa.
"Tejolanu Begitu juga baiklah."
"Baik, mulai sekarang aku akan menyebutmu Ki Tejoranu. Setujukah engkau?"
"Ki Tejolanu? Ha-ha-ha, Ki Tejolanu! Bagus sekali, aku suka nama itu. Mulai sekalang, aku adalah Ki Tejolanu!"
Kata lakilaki itu sambil tertawa senang. Ketika tertawa, wajahnya yang tadinya tampak asing karena matanya yang sipit itu kelihatan cerah dan menyenangkan, sehingga Listyarini juga ikut tertawa.
"Nah, sekarang ceritakan tentang dirimu, riwayatmu, Ki Tejoranu. Aku tahu bahwa engkau tentu seorang asing. Dari mana engkau datang dan bagaimana engkau dapat berada di sini?"
"Aku belasal dali Tiongkok."
"Tiongkok? Di mana itu?"
"Aku bangsa Cina, dali Negeli Cina, nona."
"Jangan sebut aku nona. Aku sudah bersuami, namaku Listyarini."
"Listyalini?"
"Ya, jangan sebut nona, sebut aku dengan mas ayu Listyarini."
"Mas ayu Lini, begitu lebih mudah dan tidak telalu panjang. Bolehkah?"
"Baiklah, Ki Tejoranu. Nah, teruskan ceritamu. Engkau berasal dari Negeri Cina? Aku pernah mendengar tentang negara dan kerajaan besar di seberang itu, akan tetapi baru sekarang aku bertemu dengan seorang Cina."
Ki Tejoranu lalu menceritakan riwayatnya.
The Jiauw Lan atau yang kini kita kenal sebagai Ki Tejoranu itu tadinya tinggal di sebuah dusun dekat kota Nan-king.
Lima tahun yang lalu, ketika itu dia berusia dua puluh tahun, dia seorang yang dikenal sebagai seorang pendekar yang cukup lihai dan ditakuti golongan sesat karena permainan sepasang goloknya yang hebat sehingga dia dijuluki Sha-Jiong-to (Golok Pembunuh Naga).
Karena dia selalu bersikap menentang kejahatan, pada suatu hari dia menghajar seorang pemuda dari Nan-king yang mencoba mengganggu dan menculik seorang gadis dusun, dibantu beberapa orang jagoannya.
Ki Tejoranu menghajar kongcu (tuan muda) hidung belang itu bersama para jagoannya sehingga mereka kocar kacir melarikan diri pulang ke Nan-king.
Ki Tejoranu sama sekali tidak tahu bahwa yang dihajarnya itu adalah putera seorang pejabat tinggi, bahkan masih keponakan dari seorang pangeran!
Ketika beberapa hari kemudian dia mengetahui akan hal ini, dia terkejut dan khawatir, akan tetapi telah terlambat.
Dia mendengar dari seorang teman ketika dia keluar rumah.
Karena khawatir akan akibat peristiwa itu, dia cepat pulang, akan tetapi apa yang ditemukannya di rumahnya?
Ayah dan ibunya telah tewas terbunuh, adiknya, seorang gadis kecil berusia empat belas tahun, telah hilang entah ke mana dan rumah mereka porak poranda dihancurkan sejumlah perajurit yang dipimpin oleh Bong-kongcu (tuan muda Bong) yang dihajarnya beberapa hari yang lalu.
Dari para tetangganya dia mendengar bahwa pasukan itu mencarinya lalu mengamuk dan merusak rumah, membunuh ayah ibunya.
Adapun tentang adiknya, The Kim Lan, tidak ada yang mengetahuinya.
Menurut para tetangga, tidak ada yang melihat gadis cilik itu dibawa lari para perajurit.
Mungkin anak itu sempat melarikan diri entah ke mana.
The Jiauw Lan atau Ki Tejoranu marah sekali.
Sambil membawa sepasang goloknya, dia segera pergi ke rumah keluarga Pembesar Bong dan di situ dia mengamuk.
Puluhan orang perajurit pengawal dibunuhnya dan akhirnya dia berhasil juga membunuh Bong Kongcu.
Setelah dapat membunuh tuan muda Bong itu barulah kemarahannya mereda dan karena tahu bahwa kalau dia melanjutkan, amukannya, akhirnya dia akan mati dikeroyok banyak perajurit, akhirnya dia melarikan diri.
"Begitulah, Mas ayu Lini. Aku dikejal pasukan, telpaksa melalikan dili ke sini, ikut pelahu jong bekelja menjadi kuli dan melantau, kalena takut pembesal Bong mengilim olang-olang pandai mencali, aku belpindah pindah dan akhilnya aku belsembunyi di daelah ini, dekat telaga sana."
Ki Tejoranu mengakhiri ceritanya.
Sejak tadi Listyarini mendengarkan dengan penuh perhatian.
Biarpun bicaranya pelo, namun ternyata Ki Tejoranu sudah fasih berbahasa daerah sehingga ia dapat menangkap semua ceritanya.
Ia menghela napas panjang, membayangkan betapa besar persamaan kejahatan orang dinegeri Cina dan di sini.
Orang-orang berkuasa condong untuk memiliki watak hadigang hadigung-hadiguna, memegang aji mumpung, menggunakan kekuasaan, harta dan kekuatan untuk berbuat sewenang-wenang.
Ketenangan kehidupan di Kahuripan sendiri hanya terlaksana karena kebijaksanaan Sang Prabu Erlangga dengan bantuan suaminya, Ki Patih Narotama.
Karena raja dan patihnya itu berwatak adil, berbudi bawa laksana, maka para pembesarnya takut untuk melakukan pelanggaran, tidak berani bertindak sewenang wenang mengandalkan kedudukan dan kekuasaan mereka.
Akan tetapi di daerah daerah yang agak jauh dari kota raja, sering terdengar penindasan dan kesewenangan seperti yang menimpa diri Ki Tejoranu itu.
"Ah, kasihan sekali engkau, Ki lejoranu. Jadi, sudah lima tahun engkau meninggalkan negerimu? Lalu bagaimana kaabarnya dengan adikmu, siapa namanya tadi, Kim Lan?"
"Ya, The Kim Lan. Sebelum aku pelgi, aku sudah belusaha mencalinya, namun sia-sia. Dan aku mendengal kabal yang lebih menyedihkan lagi, yaitu .....tunanganku..... yang belnama Mei Hwa, telah dipaksa, diambil menjadi isteli ke tiga dali Pembesal Bong, untuk balas dendam padaku!"
Setelah berkata demikian, Ki Tejoranu mengayun tangannya ke atas batu.
"Brakkk!"
Tepi batu itu pecah berhamburan dan Listyarini melihat pemuda Cina itu mengusap beberapa butir air mata dengan punggung tangannya. Listyarini merasa terharu.
"Ah, Ki Tejoranu, penderitaanmu sungguh berat. Akan tetapi percayalah. Sang Hyang Widhi akhirnya akan melindungi yang benar dan akan menghukum yang jahat. Sekarang aku semakin yakin bahwa engkau adalah seorang yang baik dan aku makin percaya padamu, Ki Tejoranu."
Listyarini bangkit, menghampiri laki-laki itu dan menyentuh pundaknya dengan lembut.
Ki Tejoranu meletakkan tangannya diatas tangan Listyarini yang menyentuh pundaknya.
Hanya sebentar saja dan dia sudah menarik kembali tangannya.
"Telima kasih, Mas ayu Lini, telima kasih. Hatiku sudah tidak sedih lagi sekalang."
Dan untuk membuktikan ini, Ki Tejoranu tersenyum.
"Duduklah, Mas ayu dan sekalang celitakan tentang dilimu."
Listyarini lalu kembali ke tempat luduknya semula. Setelah ia menarik napas panjang beberapa kali, mulailah ia menceritakan tentang dirinya.
"Aku berasal dari Nusa Bali bernama Ni Nogati. Setelah aku menjadi garwa padmi Ki Patih Narotama dari Kerajaan Kahuripan, namaku diganti menjadi Listyarini. Aku hidup bahagia dengan suamiku, hidup saling mencinta dan mulia di Kerajaan Kahuripan. Akan tetapi semenjak suamiku, Ki Patih Narotama mengambil seorang puteri Kerajaan Parang Siluman yang bernama Lasmini menjadi selir, datanglah gangguan dalarn hidupku. Pertama aku diracuni orang sampai hampir mati. Untung suamiku seorang pandai sehingga aku dapat disembuhkan. Kami semua tidak tahu siapa pelakunya karena Tarni, dayang yang membawakan jamu yang diisi racun itu telah dibunuh oleh Lasmini. Diam-diam aku curiga kepadanya, akan tetapi tidak ada bukti, maka aku tak dapat berbuat apa-apa. Kemudian datanglah malapetaka itu ....."
Listyarini menghela napas panjang.
"Apa yang teljadi, Mas ayu Lini?"
"Pada suatu sore, ketika aku seorang diri dalam taman, seorang perwira pasukan pengawal kepatihan bernama Nismara, menculik aku dan melarikan aku keluar dari kepatihan. Dia membawaku lari sampai berhari-hari lamanya. Selama itu dia tidak berani menggangguku karena agaknya dia dicekam ketakutan kalau-kalau sampai dapat dikejar suamiku yang sakti mandraguna. Menurut keterangan dan pengakuannya dalam perjalanan dia menculikku karena disuruh oleh Lasmini dengan tujuan agar Lasmini dapat menggantikan kedudukanku menjadi garwa padmi Ki Patih Narotama. Setelah tiba di sini, dia merasa aman dan bebas dari pengejaran suamiku, maka dia mempunyai niat keji untuk menggangguku. Untung engkau datang dan menolongku, Ki Tejoranu."
Mendengar kisah ini, Ki Tejoranu melompat dari atas batu yang didudukinya, mencabut sepasang goloknya dan mencaci maki dalam bahasa Cina yang sama sekali tidak dimengerti oleh Listyarini sambil memainkan sepasang goloknya.
Dua gulungan sinar menyambar-nyambar dahsyat dan daun-daun pohon di dekatnya rontok berhamburan seperti hujan daun!
Melihat ini, Listyarini merasa kagum akan tetapi juga ngeri.
Orang itu tidak tampak lagi, hanya bayangannya saja yang terbungkus dua sinar yang bergulung-gulung.
"Sudahlah, K i Tejoranu, jangan mengamuk. Aku ngeri melihatnya."
Katanya halus. Ki Tejoranu menghentikan permainan silatnya dan sepasang golok itu sudah kembali ke tempatnya semula, tersilang di belakang punggungnya.
"Maaf, Mas ayu, aku membuat engkau kaget dan ngeli."
Katanya sambil merangkap kedua tangan di depan dada dengan sikap hormat.
"Tadi engkau bicara apa, Ki Tejoranu! Aku sama sekali tidak mengerti apa yang kaukatakan."
Listyarini bertanya sambil tersenyum. Ki Tejoranu tersenyum malu.
"Aku ..... ah, tidak apa-apa, Mas ayu, aku malah dan memaki-maki Nismala itu dan aku melasa menyesal membialkan dia lolos. Kalau aku tahu dia begitu jahat tentu sudah kubunuh dia!"
"Engkau tidak perlu merepotkan hal itu, Ki Tejoranu. Suamiku sendiri tentu akan mengambil tindakan tegas terhadap dua orang yang merencanakan penculikan terhadap diriku itu. Sekarang aku hendak minta bantuanmu, Ki Tejoranu. Engkau tentu mau membantu dan menolongku bukan?"
"Tentu saja, Mas ayu Lini. Bantuan apa yang dapat kubelikan untukmu?"
"Begini, K i Tejoranu. Maukah engkau mengantar aku pulang ke Kepatihan Kerajaan Kahuripan? Ketika penjahat itu melarikan aku sampai ke sini, perjalanan memakan waktu kurang lebih sepuluh hari. Itupun sebagian dilakukan dengan jalan kaki dan dia memondongku. Kalau dilakukan dengan menunggang kuda, tentu lebih cepat lagi. Di sana dua ekor kuda itu masih ada, dapat kita pergunakan."
Mendengar permintaan ini, K i Tejoranu tampak tertegun dan sejenak dia bengong tak mampu menjawab sehingga Listyarini mendesaknya.
"Bagaimana, Ki Tejoranu? Engkau tentu tidak berkeberatan untuk mengantarku, bukan? Suamiku tentu akan memberi imbalan yang memadai, bahkan aku akan minta kepadanya agar engkau diberi kedudukan tinggi dalam pasukannya."
"Hayaa....."
Ki Tejoranu mengeluh, lalu berkata.
"Tentu saja aku selalu mau membantumu, Mas ayu, akan tetapi aku..... aku ..... bukan tidak mau, melainkan tidak belani."
"Tidak berani? Engkau yang memiliki kepandaian begitu tinggi?"
"Sudah kucelitakan padamu, aku selama ini melantau, belpindah-pindah, sekalang sembunyi di sini. Aku memang takut kalena aku tahu bahwa Pembesal Bong mengutus olang-olang pandai mencaliku dan akan membunuhku."
"Tapi engkau dapat melawan mereka! Apalagi kalau engkau sudah berada di Kepatihan, suamiku tentu akan melindungimu!"
K i Tejoranu menggeleng kepala.
"Engkau tidak tahu, Mas ayu, olang-olang yang diutus itu lihai-lihai sekali, bahkan aku dengal bahwa Pembesal Bong sudah dapat membujuk guluku untuk ikut mencali aku. Aku takut pelgi jauh dali sini Mas ayu. Maafkan aku."
Ki Tejoranu mengangkat kedua tangan kedepan dada dan memberi hormat berulang-ulang sehingga Listyarini merasa tidak enak untuk memaksanya, la mengerti bahwa orang ini benar-benar ketakutan, dan hal itu tidak aneh kalau diingat bahwa gurunya sendiri ikut mencari untuk membunuhnya!
"Kalau begitu, menurut pendapatmu bagaimana baiknya?
Apa yang harus ku lakukan sekarang, K i Tejoranu?"
Ia berhenti sebentar.
"Bagaimana kalau aku menunggang kuda dan mencoba untuk kembali sendiri ke Kahuripan?"
"Aihh! Jangan, jangan Mas Lini! Jangan lakukan itu, belbahaya sekali, sebelum sampai di sana, engkau bisa celaka. Banyak sekali olang jahat dalam peljalananmu itu!"
"Lalu bagaimana baiknya? Pulang sendiri tidak boleh dan engkau tidak berani mengantarku!"
"Begini saja, Mas ayu. Aku sudah membangun sebuah pondok yang kokoh di dekat telaga. Tempatnya indan telsembunyi dan aman. Tanahnya subul dan tidak kekulangan makanan, banyak pula ikan di ail telaga. Kau tinggal di sana pasti aman. Aku akan nnelindungimu."
Tiba-tiba Listyarini mendapat pikiran yang dianggapnya amat baik.
"Ah, engkau benar, Ki Tejoranu! Untuk sementara aku tinggal di sana, lalu kita mengutus seseorang yang tinggal di dusun terdekat untuk memberi kabar kepada Ki Patih Narotama bahwa aku berada di sana. Tentu suamiku akan segera datang menjemputku!"
Dalam suara wanita itu terkandung harapan dan kegembiraan besar. Ki Tejoranu tersenyum sehingga matanya yang sipit hampir terpejam.
"Bagus! Bagus dan baik sekali pikilan itu, Mas ayu. Sebaiknya diatul begitu. Nanti aku yang mencali olang untuk diutus membeli kabal ke Kepatihan Kahulipan! Kalau begitu, mali, Mas ayu, mali kita pulang!"
Laki-laki itupun tampak gembira bukan main.
"Pulang .....?"
Listyarini bertanya, sejenak termangu kata-kata itu membuat ia terbayang kepada gedung kepatihan dan keluarganya.
"Ya, pulang ..... maksudku ..... pelgi ke pondokku .....!"
Kata Ki Tejoranu, lalu dia menghampiri dua ekor kuda yang tadi ditambatkan pada batang pohon dan membawa dua ekor kuda itu dengan menuntunnya. (Lanjut ke
Jilid 14) Keris Pusaka Sang Megatantra (seri ke 01 -Serial Keris Pusaka Sang Megatantra) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo
Jilid 14 Listyarini mengikuti dari belakang dan mereka menuruni lembah menuju ke Telaga Sarangan yang tidak begitu jauh dari tempat itu.
Ketika mereka tiba di pondok, Listyarini melihat sebuah pondok yang memang kokoh kuat, terbuat dari balok balok kayu besar.
Namun pondok itu sederhana sekali, walaupun tampak bersih dan terawat baik-baik.
Meja kursinya juga buatan sendiri, kasar namun kokoh.
Akan tetapi di dapur terdapat bahan makanan yang cukup banyak.
Jagung, ketela, bahkan beras, buah-buahan dan segala macam bumbu masak.
Prabotan dapurnya terbuat dari tanah liat, juga serba tebal dan kuat.
Ada beberapa buah guci Cina yang indah, juga tempayan besar berisi air jernih.
Ada dua buah kamar di pondok itu dan begitu sampai di situ, Ki Tejoranu sibuk membersihkan sebuah kamar yang tadinya tidak terpakai, dipersiapkan untuk Listyarini.
Senang juga hati Listyarini tinggal untuk sementara di tempat itu, biarpun serba sederhana namun bersih dan udaranya sejuk, penuh dengan pohon-pohon dan terutama sekali yang menyenangkan hatinya, sikap Ki Tejoranu terhadap dirinya bahkan melebihi apa yang dia bayangkan.
Ramah dan sopan, bahkan penuh pengartian dan lembut sehingga terkadang ia merasa terharu sekali.
Pada keesokan harinya, pagi-pagi sekali Ki Tejoranu sudah menuruni lereng menuju ke sebuah dusun kecil di kaki Gunung Lawu sebelah timur.
Dengan memberikan sedikit perhiasan berupa sebuah cincin bermata mirah milik Listyarini dan seekor kuda, Ki Tejoranu berhasil membujuk seorang laki-laki dusun berusia empat puluh tahun bernama Sukardi untuk pergi ke kepatihan Kerajaan Kahuripan dan melapor kepada Patih Narotama bahwa Gusti Puteri Listyarini berada di Telaga Sarangan dan minta dijemput.
"Selahkan cincin ini kepada Ki Patih dan dia akan pelcaya ketelanganmu, dan kuda ini boleh kau miliki. Setelah selesai tugasmu, aku akan membeli hadiah lain lagi padamu."
Pesan Ki Tejoranu dan Sukardi menyanggupi.
Hari itu juga dia menunggang kuda menuju ke timur, Kerajaan Kahuripan.
Mendengar laporan Ki Tejoranu bahwa dia berhasil menyuruh seseorang pergi melapor ke Ki Patih Narotama, hati Listyarini merasa gembira bukan main.
Saking girangnya ia lalu berjanji kepada Ki Tejoranu bahwa siang hari itu ia akan membuat masakan lezat untuk penolongnya itu.
Ki Tejoranu segera pergi memancing ikan dan sebentar saja dia sudah pulang membawa empat ekor bader yang gemuk dan besar.
Lalu dipotongnya leher seekor ayam gemuk dan besar.
Listyarini lalu sibuk memasak nasi dan masakan daging ayam dan ikan itu.
la sibuk di dapur dan sama sekali menolak bantuan Ki Tejoranu.
Laki-laki itu tersenyum dan duduk di luar, termenung dan merasa betapa indahnya hari itu, betapa bahagianya hatinya.
Belum pernah sejak dia melarikan diri dari Cina dia merasa berbahagia seperti pada hari itu!
Akan tetapi, selagi sibuk memasak tiba-tiba Listyarini mendengar suara gaduh di luar pondok, disusul teriakan-teriakan orang dan beradunya senjata berdentingan.
La terkejut dan cepat berlari ke depan, lalu mengintai dari balik daun pintu depan.
Alangkah terkejutnya ketika ia melihat Ki Tejoranu berkelahi dikeroyok tiga orang.
Seorang di antara para pengeroyok itu bukan lain adalah Nismara!
Adapun yang dua orang lagi, bertubuh tinggi besar dan pakaiannya serba hitam, sikapnya kasar, yang seorang memegang sebatang pecut yang ujungnya dipasangi potongan besi-besi kecil dan yang seorang lagi bersenjatakan sepasang ujung kolor berwarna merah yang panjang.
Mereka adalah dua orang jagoan warok yang dimintai bantuan oleh Nismara dari daerah Ponorogo.
Seperti juga para jagoan di dunia persilatan lainnya, para warok dari Ponorogo pun terpisah menjadi dua bagian, sebagian terkenal sebagai warok yang hidup sesat, mengandalkan kesaktian dan kekuatan mereka untuk melakukan penindasan dan kekerasan memaksakan kehendak mereka sendiri, mengejar kesenangan dan gairah nafsu daya rendah sendiri.
Sedangkan yang sebagian lagi terkenal sebagai para warok pendekar yang selalu menegakkan kebenaran dan keadilan, membela yang lemah tertindas dan menentang yang jahat.
Dua orang warok yang datang membantu Nismara ini adalah dua orang warok golongan sesat yang dimintai bantuan oleh Nismara dengan imbalan emas.
Setelah perbuatannya yang tidak senonoh terhadap Listyarini digagalkan Ki Tejoranu dan dia merasa tidak mampu menandingi kesaktiannya, Nismara lalu melarikan diri.
Tentu saja dia tidak mau kehilangan Listyarini setelah bersusah payah menculiknya dari Kepatihan Kahuripan.
Maka dia yang sudah mengenal beberapa orang warok sesat di daerah Ponorogo, lalu segera mengunjungi mereka dan berhasil mendapatkan bantuan dua orang bersaudara yang terkenal sebagai orang-orang digdaya dan pembunuh pembunuh bayaran.
Mereka bernama Wirobento dan Wirobandrek, yang pertama terkenal sebagai ahli bersilat dengan senjata pecutnya dan yang ke dua seperti kebanyakan para warok, memiliki kolor yang merupakan senjata ampuh.
Pada keesokan harinya, mereka bertiga mendaki Gunung Lawu dan tiba di Telaga Sarangan menjelang siang.
Mereka menemukan pondok tempat bersembunyi Ki Tejoranu dan kebetulan sekali pada saat itu Ki Tejoranu sedang duduk termenung seorang diri di atas lincak (bangku) bambu di depan pondoknya.
Melihat musuh besarnya itu, Nismara memberi isarat kepada dua orang kawannya dan mereka bertiga, tanpa mengeluarkan kata apapun, langsung saja menggunakan senjata mereka untuk menyerang Ki Tejoranu.
"Tarr-tarr ..... syuuuttt .....!"
Ujung cambuk atau pecut di tangan Wirobento menyambar dahsyat ke arah dada Ki Tejoranu yang sedang duduk termenung.
Ki Tejoranu terkejut dan cepat sekali, dengan refleks yang peka sekali, dia melempar tubuh ke bawah dan bergulingan di atas tanah.
"Pyarrr .....!"
Ujung pecut menyambar lincak yang menjadi hancur berkeping-keping.
"Wuutt-wuuttt ..... blarrr .....!"
Sepasang kolor merah dari Wirobento menyambar-nyambar ke arah kepala Ki Tejoranu yang baru saja melompat bangun.
Akan tetapi pertapa muda Telaga Sarangan ini sekarang telah siap siaga dan maklum bahwa dia diserang orang-orang yang berbahaya.
Cepat tubuhnya bergerak bagaikan seekor burung emprit lincah dan ringan sehingga sambaran sepasang kolor merah itu selalu mengenai tempat kosong dan ketika kolor itu mengenai sebatang pohon sebesar tubuh manusia, pohon itupun patah dan tumbang!
Demikian hebatnya dua orang warok itu memainkan senjata sehingga Ki Tejoranu cepat meraih dengan kedua tangannya ke belakang.
Tampak dua sinar berkilau ketika dia sudah mencabut sepasang goloknya.
Wirobento dan Wirobandrek merasa penasaran sekali karena serangan-serangan pertama mereka tadi tidak berhasil.
Mereka sudah maju lagi mengeroyok dan Nismara juga tidak tinggal diam.
Dia sudah mencabut kerisnya dan ikut mengeroyok sehingga Ki Tejoranu dikeroyok oleh tiga orang yang tangguh.
Akan tetapi, kini Ki Tejoranu memegang sepasang goloknya yang merupakan senjata pamungkasnya yang ampuh.
Dengan ilmu golok Sha-liong-siang-to (Sepasang Golok Pembunuh Naga) yang sangat hebat sehingga dia dahulu di Cina dijuluki Sha liong-to dia mempertahankan diri dengan gigih.
Sepasang golok yang dimainkannya itu seolah berubah menjadi dua gulungan sinar yang menyelimuti seluruh tubuhnya sehingga semua serangan tiga orang pengeroyok itu selalu terpental dan tertangkis oleh kekuatan dahsyat yang terkandung dalam gulungan dua sinar golok itu!
Melihat ketangguhan Ki Tejoranu, Nismara menjadi tidak sabar dan khawatir kalau-kalau bantuan dua orang warok itu akan membuat dia gagal lagi merampas kembali Listyarini.
Maka, dia lalu berseru.
"Adi Wirobento dan Wirobandrek, bunuh orang ini!"
Setelah berkata demikian, dia lalu melompat kearah pondok.
Listyarini yang sedang mengintai, menjadi terkejut setengah mati melihat Nismara lari ke arah pondok, la lari ke dapur ketika Nismara sudah menerobos pintu depan.
Nismara melihat ia lari ke dapur lalu mengejar.
"Listyarini, hendak lari ke mana engkau?"
Bentaknya girang.
Ketika dia mengejar sampai ke dapur, Listyarini sudah berada di situ.
Baca Juga: Kisah Si Bangau Putih 12
Baca Juga: Mutiara Hitam 2