Eps 5 Keris Pusaka Sang Megatantra - Kho Ping Hoo
Baca online Keris Pusaka Sang Megatantra - Kho Ping Hoo
Cersil Keris Pusaka Sang Megatantra - Kho Ping Hoo.
Wanita ini dengan nekat telah mengangkat ceret terisi air mendidih dan begitu Nismara muncul di dapur, ia segera menyiramkan air dari ceret itu ke arah muka Nismara!
Nismara cepat menggunakan kedua lengannya untuk melindungi mukanya, akan tetapi masih ada air mendidih yang muncrat mengenai pipinya dan tentu saja lengan dan sebagian pundaknya terguyur air mendidih itu.
"Aduhhh .....!"
Dia berteriak mengaduh.
Bukan main panasnya air mendidih itu sehingga bagian yang terkena air mendidih itu melepuh.
Hal ini membuat dia marah bukan main dan sekali sambar dia telah menangkap lengan kanan Listyarini lalu diseretnya wanita itu keluar dari dapur dan terus keluar dari pintu depan pondok itu.
Listyarini menjerit dan minta tolong, akan tetapi Nismara tidak perduli dan menyeretnya terus.
Listyarini terjatuh berlutut, akan tetapi dengan sentakan kuat ia dibuat bangun kembali dan diseret sehingga terpaksa harus berlari terhuyung-huyung.
Kedua lututnya berdarah karena terluka ketika jatuh berlutut dan diseret tadi.
"Tolooonggg .....!"
Listyarini menjerit lagi.
Ki Tejoranu mendengar jeritan ini dan dia cepat menggerakkan sepasang goloknya sambil tiba-tiba mendekam ke atas tanah.
Dua orang pengeroyoknya, Wirobento dan Wirobandrek terkejut sekali mendapat serangan golok yang membabat ke arah kaki mereka itu.
Ini merupakan serangan berbahaya sekali.
Mereka melompat ke belakang dan membalas dengan sambaran pecut dan kolor mereka.
"Wuuuttt ..... prat-pratt!!"
Dua orang warok itu terkejut sekali melihat betapa dua gulungan sinar golok itu membuat gerakan menggunting dari kanan kiri dan ujung senjata mereka, pecut dan kolor itu, putus!
Mereka kembali melangkah mundur, takut menerima serangan mendadak.
Kesempatan ini dipergunakan Ki Tejoranu untuk mengejar Nismara yang masih menyeret Listyarini.
Dia berlompatan mengejar dan setelah berada dalam jarak kurang lebih lima meter, dia menyambitkan golok kanannya ke arah punggung Nismara.
"Wirrr .....!"
Golok meluncur seperti anak panah cepatnya dan tepat sekali menancap di punggung Nismara.
Orang ini terkejut, mengaduh, pegangan tangannya pada lengan Listyarini terlepas dan dia roboh menelengkup, tewas seketika karena golok itu menancap dalam sekali sampai menembus ke dadanya!
Listyarini yang sudah bebas itu berdiri memandang dengan mata terbelalak dan muka pucat ke arah tubuh yang berlumuran darah itu.
Hatinya merasa ngeri sekali, juga baru saja ia terlepas dari rasa takut yang amat sangat, maka ketika melihat Ki Tejoranu menghampirinya, Listyarini terkulai dan tentu akan terbanting jatuh kalau saja Ki Tejoranu tidak cepat meloncat dan merangkulnya.
Ki Tejoranu cepat menoleh, memandangi ke arah dua orang lawannya tadi.
Kalau dia melindungi Listyarini seperti ini lalu diserang oleh dua orang lawan yang cukup tangguh itu, tentu akan membahayakan dia dan juga Listyarini.
Kalau mereka menyerang, terpaksa dia akan meninggalkan Listyarini lebih dulu.
Akan tetapi hatinya lega.
Agaknya, melihat orang yang menyuruh mereka membantu itu telah menggeletak mati dengan punggung ditembus golok, dua orang itu lalu melarikan diri.
Mereka merasa jerih melihat senjata mereka putus, apalagi melihat Nismara tewas.
Ki Tejoranu lalu memondong tubuh Listyarini dan membawanya masuk ke dalam pondok.
Direbahkannya tubuh itu di atas pembaringan dalam kamar Listyarini.
Setelah memeriksa sejenak dan mengetahui bahwa wanita itu hanya pingsan dan sama sekali tidak terluka parah kecuali hanya lecet berdarah pada kedua lututnya, hatinya merasa lega bukan main.
Ia pingsan karena takut dan ngeri melihat Nismara mati di depannya, pikirnya.
Sebaiknya aku singkirkan dulu mayat di depan pondok itu agar Listyarini tidak akan merasa ngeri kalau siuman nanti.
Setelah berpikir demikian, Ki Tejoranu lalu keluar dengan cepat.
Dia menghampiri mayat Nismara yang menelungkup, mencabut goloknya dari punggung orang itu, membersihkan golok dan menyarungkannya kembali di punggungnya.
Kemudian dengan hati-hati agar pakaian dan tubuhnya tidak terkena darah, dia lalu membawa mayat itu menuruni lereng agak jauh dan dia lalu melemparkan mayat itu ke dalam sebuah jurang yang amat curam.
Mayat itu meluncur ke dalam jurang yang tak tampak dasarnya itu dan dia bergumam lirih dalam bahasanya sendiri, 'Maafkan aku.
Karena harus segera menolong Listyarini, maka aku tidak mempunyai waktu untuk menguburkan jenazahmu baik-baik.
Harap engkau tenang di alam baka dan semoga Thian (Tuhan) mengampunimu."
Kemudian Ki Tejoranu cepat kembali ke dalam pondok.
Khawatir kalau sudah siuman Listyarini akan merasa malu mendapat pengobatan di lututnya dan dia dianggap tidak sopan, maka Ki Tejoranu sengaja membiarkan wanita itu dalam keadaan pingsan seperti tidur itu.
Dia cepat mengambil air masak, lalu dicucinya luka lecet pada kedua lutut Listyarini.
Kemudian dia mengambil daun Widoro-upas dan daun Pegagan, diremasnya lalu dibalurkan pada lutut yang luka itu.
Sesudah itu baru ia memijat pusat otot di antara ibu jari dan telunjuk kedua tangan sampai akhirnya Listyarini mengeluh lirih dan membuka kedua matanya.
Dengan cepat Ki Tejoranu yang tadi ketika mengobati duduk di tepi pembaringan, pindah ke atas kursi yang agak jauh dari pembaringan.
Listyarini membuka matanya dan ketika pandang matanya menemukan Ki Tejoranu duduk di atas kursi kayu, ia segera bangkit duduk.
Akan tetapi ia mengeluh dan sambil duduk ia memegangi kedua lututnya dan menyingkap sedikit kain yang menutupi kedua lututnya.
"Kedua lututku ..... agak perih ..... mengapa?"
"Ah, tidak apa-apa, Mas ayu Lini. Hanya lecet sedikit."
"Dan ....., engkau mengobatinya?"
Tanya Listyarini sambil memandang wajah laki-laki itu.
Wajah itu memerah.
Tadi ketika mengobati, sama sekali tidak ada perhatiannya kepada lutut telanjang itu.
Akan tetapi kini, seolah membayang lutut itu, bentuknya indah sekali dan kulitnya putih mulus kemerahan, halus lembut dengan betis indah memadi bunting.
Begitu bayangan ini tergambar dalam benaknya, Ki Teroranu cepat mengerahkan kekuatan kemauannya untuk mengusirnya sehingga dia dapat menentang pandang mata Listyarini dengan tenang dan biasa kembali.
"Ya, aku mencuci lalu mengobatinya agal luka itu tidak menjadi palah dari kelacunan. Maafkan aku, Mas ayu."
"Kenapa aku harus memaafkanmu? Kenapa engkau minta maaf, Ki Tejoranu?"
"Aku takut..... engkau akan menganggap aku..... eh, kulang ajal dan tidak sopan, Mas ayu Lini."
Listyarini tersenyum dan dalam hatinya ia semakin kagum kepada penolongnya itu.
"Ucapanmu itu menunjukkan bahwa engkau seorang yang sopan dan baik budi, Ki Tejoranu. Lalu....."
Wanita itu bergidik.
"bagaimana..... dengan Nismara yang jahat tadi? Dia..... dia tadi sudah mati, bukan? Dan bagaimana dengan dua orang temannya yang buas tadi?"
"Jangan takut, jenazahnya sudah kukubul, jauh dali sini, dan dua olang tadi sudah melalikan dili. Engkau sekalang sudah aman, Mas ayu Lini."
"Ohhh..... terima kasih, Gusti. Rupanya Sang Hyang Widhi masih melindungi kita."
Kata Listyarini.
Tiba-tiba wanita itu mengernyitkan hidungnya, mencium cium.
Ki Tejoranu juga menyedot-nyedot dengan hidungnya melihat tingkah Listyarini itu dan penciumannya juga menangkap bau tak wajar itu.
"Eh, bau apa ini?"
Tanyanya.
"Aduh celaka!"
Listyarini berseru lalu meloncat turun dari pembaringan.
"Masakanku..... masakanku hangus.....!"
La lalu berlari kedapur, agaknya kedua lututnya tidak terasa perih lagi ia sudah melupakan itu.
Ki Tejoranu juga berlari dan mereka berdua berlari sambil tertawa-tawa seperti dua orang anak kecil!
Kini mereka berdua duduk menghadapi makanan nasi dan dua macam lauk setengah hangus.
Untung tidak hangus semua karena apinya keburu mati kekurangan kayu bakar.
Listyarini kecewa sekali.
Tadinya ia ingin membuatkan masakan yang lezat untuk penolongnya, tidak tahunya sekarang hanya dapat menghidangkan masakan hangus!
Akan tetapi ia melihat Ki Tejoranu makan dengan lahap sekali.
Nasinya banyak dan dia tampak menikmati masakan lauk daging bader dan daging ayam setengah hangus itu.
Ketika Ki Tejoranu mengangkat muka dan melihat wanita itu memandangnya, dia tersenyum dan mengangguk-angguk sambil berkata.
"Wah, enak, enak, enak". Listyarini menghela napas.
"Akan tetapi gosong!"
Katanya penuh sesal.
"Agak gosong akan tetapi enak, enak. kata pula Ki Tejoranu dengan suara pasti dan untuk membuktikan kata-katanya dia makan lagi dengan lahapnya. Setelah selesai makan dan Listyarini membersihkan meja dan mencuci tempat hidangan, dibantu dengan paksa oleh Ki Tejoranu, mereka lalu duduk di serambi depan. Matahari telah condong ke arah barat. Pemandangan alamnya indah sekali, hawa udaranya tidak sangat dingin lagi, melainkan hangat-hangat sejuk. Melihat suasana begitu indah dan pemandangan di telaga yang tak begitu jauh dari pondok itu demikian gemilang, Listyarini mengajak Ki Tejoranu untuk mendekati telaga. Mereka berdua berjalan ke arah telaga lalu duduk di tepi telaga, di atas batu-batu gunung yang berada di sekitar telaga besar itu. Keduanya menikmati keindahan telaga, melihat baying-bayang awan di dalam telaga dan terkadang tampak ikan dengan kulitnya yang mengkilap meluncur di air. Telinga mereka menangkap gemercik air gerojokan (air terjun) yang berada agak jauh dari situ, mendengar pula ocehan burung-burung di hutan sekeliling telaga. Suasana amat tenteram, damai, membuat mereka terpesona dan tenggelam ke dalam lamunan sehingga tidak saling bicara. Dengan berdiam diri, orang dapat menikmati keindahan dan kebesaran alam, bahkan merasa dirinya bersatu dengan keindahan itu, menjadi bagian dari alam semesta. Kalau pikiran sudah berjalan dan dikeluarkan melalui kata-kata, orang merasa terpisah dari semua itu, dari alam menjadi sesuatu yang asing dan di luar dirinya. Sampai lama mereka tenggelam dalam kesunyian. Listyarini tidak tahu betapa pada saat itu, diam-diam Ki Tejoranu menatap wajahnya penuh perhatian, bahkan penuh pesona. Ki Tejoranu menemukan sesuatu yang amat mengejutka nya. Dalam matanya, wajah Listyarini pada saat itu presis wajah tunangannya ketika di Negeri Cina dahulu, presis wajah Mei Hwa! Memang tidak sama benar. Mungkin mata Mei Hwa lebih sipit, kulit Mei Hwa lebih kuning. Akan tetapi kesemuanya itu dipadu menjadi satu, memiliki daya tarik yang sama, bahkan dalam keadaan termenung mulut Listyarini agak terbuka dan sepasang bibir itu serupa benar dengan bibir Mei Hwa! Timbul rasa rindunya yang amat kuat. Bangkit rasa cintanya yang mendalam. Teringat dia saat itu, ketika dia duduk berdua menyatakan kasih sayang dengan Mei Hwa, saling berpegangan tangan, mengutarakan cinta kasih melalui pertemuan jari-jari tangan. Tanpa disadari, Ki Tejoranu menggerakkan tangannya dan dengan lembut dia menyentuh tangan Listyarini. Merasa dipegang tangannya, Listyarini terkejut dan cepat ia menarik lepas tangannya sambil mengangkat muka memandang wajah Ki Tejoranu. Melihat betapa sepasang mata sipit itu memandangnya dengan sinar aneh, ia cepat menegur.
"Eh, Ki Tejoranu, ada apakah engkau ini? Kenapa..... kenapa engkau memandangku seperti itu .....?"
Dalam teguran itu terkandung keraguan.
Ki Tejoranu merasa seolah baru bangun dari tidurnya, atau seperti diseret turun kembali ke bumi.
Dia membelalakkan matanya dan baru tampak jelas olehnya bahwa wanita di depannya itu sama sekali bukan Mei Hwa, melainkan Listyarini, isteri Ki Patih Narotama dari Kerajaan Kahuripan!
Wajahnya berubah merah sekali dan sambil menundukkan kepalanya dia berkata gagap.
"Maaf..... maafkan aku, Mas ayu Lini..... engkau tadi..... sama benal dengan ia..... dan aku amat lindu kepadanya "
"Sama dengan siapa Maksudmu, sama dengan Mei Hwa tunanganmu itu?"
Hati Ki Tejoranu mengangguk, akan tetapi dia memaksa diri menggeleng kepala kuat-kuat. Hatinya bilang ya akan tetapi mulutnya cepat berkata.
"Tidak, tidak! Aku tadi melihat engkau seperti..... adikku, The Kim Lan. Aku..... aku sudan lindu sekali padanya..... maafkan aku, Mas ayu ....."
Pandang mata Listyarini melembut, mulutnya tersenyum dan ia memandang penuh iba kepada laki-laki itu.
"Kalau begitu, anggap saja aku ini pengganti adikmu dan jangan sebut Mas ayu lagi kepadaku. Sebut saja namaku, Listyarini dan aku akan menyebutmu, Tejo!"
Ucapan ini keluar dari hati yang tulus, hati yang penuh belas kasihan kepada laki-laki penolongnya itu.
"Betulkah itu? Benal-benal aku boleh menganggap engkau seperti adik dan menyebutmu..... eh, Lini saja?"
"Tentu saja boleh, Tejo. Aku senang dan bangga mempunyai seorang saudara seperti engkau."
"Telima kasih, Lini. Telima kasih. Aku tadi..... eh, memegang tanganmu..... sebenalnya aku hendak memeliksa denyut nadi pelgelangan tanganmu, untuk memeliksa kesehatanmu. Bolehkah sekalang kulakukan?"
"Tentu saja, Tejo."
Listyarini lalu menjulurkan lengan kirinya yang berkulit putih mulus itu kepada Ki Tejoranu.
Tanpa ragu dan bebas sama sekali dari gairah nafsu, Ki Tejoranu lalu memegang pergelangan tangan kiri itu dan menyentuh urat nadinya sambil memperhntikan denyutnya.
Tak lama kemudian dia berseru lirih dengan suara menyatakan kekagetannya.
"Hayaaa ....., Lini! Engkau ..... engkau ..... hamil ......!"
Kini Listyarini yang merasa heran. Sambil tersenyum ia bertanya.
"Bagaimana engkau bisa tahu akan hal itu, Tejo?"
"Tentu saja aku tahu. Aku sudah biasa mengetahui keadaan kesehatan olang melalui pemeliksaan denyut nadi. Akan tetapi..... engkau malah telsenyum. Engkau hamil, Lini!"
Listyarini tertawa.
"Heh-heh, aku sudah tahu Tejo. Dan kenapa aku tidak boleh tersenyum? Aku merasa bahagia bahwa kini aku telah hamil dua bulan Suamiku juga sudah mengetahuinya dan kami berbahagia sekali."
"Oohh, begitukah? Aku..... aku... ikut melasa belbahagia, Lini."
Kata Ki Tejoranu dengan suara yang tidak terdengar begitu gembira karena sebetulnya pada saat itu hatinya merasa suatu kenyataan yang amat pahit baginya.
Listyarini, wanita ini, yang dia merasa setelah menggantikan Mei Hwa dalam hati yang bukan saja sudah menjadi isteri Ki Patih Narotama, bahkan lebih lagi, la sudah menjadi seorang calon ibu!
Demikianlah, hubungan antara dua orang ini semakin akrab dan terdapat ikatan batin antara mereka seperti dua orang saudara sendiri.
Listyarini benar benar merasakan kebaikan sikap dan budi Ki Tejoranu dan menganggapnya seperti seorang kakak yang selalu melindunginya.
Sebaliknya, biarpun pada lahirnya Ki Tejoranu bersikap seperti saudara, namun di dalam batinnya dia menganggap Listyarini sebagai pengganti Mei Hwa, sebagai wanita ke dua yang pernah dia cintai sepenuh jiwanya.
Akan tetapi kebijaksanaannya menyadarkannya bahwa dia tidak boleh mengharap terlalu banyak karena Listyarini adalah milik orang lain dan diapun tahu betapa besar cinta kasih wanita itu terhadap pria yang menjadi suaminya dan ayah dari anak yang di kandungnya.
Betapapun juga, keakraban antara mereka bagaikan secercah cahaya yang membahagiakan keduanya.
Bagi Listyarini, Ki Tejoranu merupakan jaminan atas keselamatannya, dan merupakan hiburan besar baginya, memperbesar harapannya untuk segera dapat berkumpul kembali dengan suaminya tercinta.
Dan bagi Ki Tejaranu, kehadiran Listyarini bagaikan sinar cemerlang yang menerangi hidupnya yang selama ini terasa gelap dan hampa.
Dengan adanya keakraban ini, walaupun Listyarini senantiasa mengharap-harapkan munculnya suaminya untuk menjemputnya, namun waktu tidak terasa terlalu lama dan kosong.
Setiap hari mereka berdua memancing ikan dan ini merupakan kegemaran baru yang amat menghibur bagi Listyarini.
Apalagi kalau ada ikan yang menyambar umpan pada mata kailnya.
Ia bersorak, menjerit dan berteriak kegirangan sehingga Ki Tejoranu ikut pula terbahak-bahak.
Belasan hari, tepatnya delapan belas hari lewat tanpa terasa.
Pada pagi hari itu, kembali mereka memancing ikan di telaga.
Mereka duduk di atas batu-batu dan memegang tangkai pancing dengan tenang dan sabar menunggu ikan yang akan menyambar umpan mereka.
Listyarini mengenakan kain dan baju sederhana, pakaian wanita dusun biasa, yang didapatkan Ki Tejoranu di dusun-dusun kaki Gunung Lawu.
Di daerah sepi sekitar pegunungan itu tentu saja sukar untuk membeli pakaian mewah seperti yang dipakai Listyarini ketika ia diculik Nismara.
Akan tetapi, dengan pakaian sederhana serba hitam, rambutnya digelung biasa tanpa perhiasan, ia tampak semakin cantik jelita, bahkan kemulusan kulitnya semakin tampak dan keayuannya tampak aseli.
Wajahnya, seperti biasa wajah seorang calon ibu, bercahaya segar.
Adapun Ki Tejoranu, walaupun memakai pakaian biasa seperti yang dipakai para petani sekitar pegunungan itu, namun tetap saja masih tampak jelas keasingan sebagai seorang Cina karena bentuk matanya, bentuk ikatan rambutnya dan terutama sekali ucapannya yang pelo, tidak dapat mengeluarkan suara "r"
Dan selalu diubah menjadi suara "l".
Demikian asyiknya mereka menunggu korban umpan mereka sehingga agaknya untuk bernapaspun mereka berhati-hati agar tangkai pancingnya tidak banyak bergerak dan dalam keasyikan itu mereka tidak melihat adanya tiga bayangan orang berkelebat dan kini mereka bertiga sudah berdiri dalam jarak sepuluh meter dari mereka!
Mereka itu adalah tiga orang laki-laki berusia kurang lebih lima puluh tahun dan dari wajah dan pakaian mereka jelas sekali dapat diketahui bahwa mereka adalah orang-orang asing, yaitu orang-orang Cina!
Seorang dari mereka, yang paling tua, sekitar lima puluh lima tahun usianya, berpakaian serba putih dan rambutnya yang digelung ke atas dan memakai pita putih juga sudah penuh uban.
Tubuhnya tinggi kurus dan di punggungnya tampak sebatang pedang.
Adapun dua orang yang lain bertubuh sedang, yang seorang wajahnya penuh brewok dan yang seorang lagi wajahnya bersih bahkan agak pucat.
Juga mereka berdua itu membawa pedang di punggung mereka.
Usia mereka sekitar lima puluh tahun.
Tiga orang itu memandang dengan sinar mata mencorong ke arah Ki Tejoranu!
Karena asyik memperhatikan tangkai pancingnya, Ki Tejoranu belum juga melihat munculnya tiga orang itu.
Hal ini bukan hanya karena Ki Tejoranu sedang asyik memancing, akan tetapi terutama sekali karena gerakan tiga orang itu memang ringan dan cepat bukan main.
Melihat KI Tejoranu seperti tidak memperdulikan mereka, seorang di antara mereka lalu berteriak dengan suara lantang karena dia berseru dengan pengerahan tenaga sin-kang (tenaga sakti).
"The Jiauw Lan .....!!"
Ki Tejoranu dan Listyarini terkejut bukan main.
Suara itu menggeledek dan bahkan membuat jantung Listyarini terguncang seolah mendengar halilintar menyambar dekat telinganya sehingga tangkai pancing yang dipegangnya terlepas.
Keduanya cepat menoleh dan kini Ki Tejoranu yang terkejut sekali karena dia segera mengenal siapa adanya tiga orang itu!
Kakek berpakaian serba putih itu adalah gurunya sendiri, sedangkan dua orang yang lain adalah paman guru pertama dan ke dua!
"Suhu (guru), toa-susiok (paman guru pertama) dan jisusiok (paman guru ke dua)!"
Katanya dan dia cepat turun dari atas batu, lalu menghampiri mereka dan menjatuhkan diri berlutut di depan mereka.
Gurunya, kakek berpakaian putih itu berjuluk Pek I Kiamsian (Dewa Pedang Baju Putih) bernama Souw Kiat.
Adapun dua orang yang lain adalah adik-adik seperguruan Pek I Kiamsian Souw Kiat.
Yang pertama bernama Gan Hok berusia lima puluh dua tahun, bertubuh sedang, mukanya brewok.
Adapun yang ke dua bernama Giam Lun, berusia lima puluh tahun, bermuka bersih agak kepucatan.
Biarpun ilmu mereka tidak setinggi tingkat kepandaian Pek I Kiam-sian, namun dua orang itupun terkenal di Cina sebagai pakar-pakar ilmu pedang yang lihai bukan main.
Listyarini yang juga terkejut melihat datangnya tiga orang asing itu, menjadi terheran-heran melihat Ki Tejoranu kini berlutut di depan kaki tiga orang itu.
la lalu turun dari atas batu pula dan menonton dengan hati tegang.
Ki Tejoranu bercakap-cakap dengan tiga orang Itu dalam bahasa yang sama sekali tidak ia mengerti.
Akan tetapi melihat sikap Ki Tejoranu yang begitu hormat dan tampak takut-takut, hati Listyarini menjadi tidak enak dan gelisah, dan ia setengah menduga dengan khawatir bahwa mereka bertiga itu adalah orang-orang dari Negeri Cina yang datang mencari Ki Tejoranu yang menjadi buronan!
"Jiauw Lan, engkau tentu tahu mengapa kami hari ini muncul di sini!"
Kata Pek I Kiam-sian dengan wajah dan suara dingin.
"Suhu, sudah lebih dari lima tahun teecu (murid) merantau dan tinggal di negeri ini, sama sekali tidak pernah menduga bahwa suhu dan ji-wi susiok (paman guru berdua) hari ini muncul dengan tiba-tiba mengunjungi teecu. Harap suhu memberi penjelasan kepada teecu."
"Hemm, engkau masih berpura-pura tidak tahu? Apakah engkau tidak merasa telah berbuat dosa yang amat besar di Cina sana?"
"Teecu tidak merasa berbuat dosa, tidak merasa melakukan kejahatan melainkan menegakkan kebenaran dan keadilan seperti yang suhu pernah ajarkan kepada teecu."
Kata Ki Tejoranu atau The Jiauw Lan dengan suara mantap dan tegas karena di dasar hatinya dia memang tidak merasa bersalah.
"Hah! Engkau telah membunuh Bhong Kongcu (Tuan muda Bhong), putera Bhong Tai-jin (Pembesar Bhong) di Nan-king, dan engkau masih berpura-pura tidak merasa berdosa?"
Dengan masih berlutut Ki Tejoranu menjawab, suaranya tetap mantap dan tegas.
"Sama sekali tidak, suhu, teecu tidak merasa berdosa! Barangkali suhu belum mengetahui apa yang telah dilakukan Bhong Kongcu itu kepada keluarga teecu? Dia dengan anak buahnya telah mengamuk di rumah kami, membunuh ayah dan ibu sehingga adik teecu juga tidak ketahuan hilang ke mana. Tidakkah pantas kalau teecu lalu mencari dan membunuhnya untuk membalaskan kematian ayah ibu dan hilangnya adik teecu?"
"Akan tetapi engkau yang mencari gara-gara lebih dulu!"
Bentak Gan Hok yang brewok, suaranya mengandung kemarahan karena dia sudah merasa kesal dan jengkel sekali membuang waktu sampai hampir dua tahun mencari-cari The Jiauw Lan di semua pelosok pulau ini.
"Ya, engkau berani menghajar Bhong Kongcu dan anak buahnya."
Kata pula Giam Lun yang bermuka pucat, yang juga merasa gemas kepada murid keponakan ini.
"Akan tetapi, ji-wi susiok (paman guru berdua), teecu terpaksa menghajar mereka karena mereka mengganggu seorang gadis dan bertindak kurang ajar dan tidak sopan, bahkan agaknya mereka hendak memaksa gadis itu ikut dengan mereka untuk diganggu."
K i Tejoranu memrotes.
"Jiauw Lan, itu bukan urusanmu, kenapa engkau mencampuri urusan orang lain? Kalau engkau tidak lancing mencampuri urusan Bhong Kongcu kemudian malah menghajarnya, tentu saja tidak terjadi perkara yang berlarut-larut seperti Ini. Engkau membuat kami, guru dan paman-paman gurumu yang sudah bersahabat baik dengan Bhong Tai-jin, merasa tidak enak sekali dan terpaksa kami jauh-jauh datang dari negeri kita untuk mencarimu."
Ki Tejoranu mengerutkan alisnya.
Dalam pelariannya, pernah dia mendengar dari seorang yang baru datang dari Cina bahwa gurunya telah terbujuk oleh Pembesar Bhong untuk mencarinya!
Gurunya, yang terkenal sebagai seorang datuk pendekar berjuluk Kiam-sian (Dewa Pedang), kini berpihak kepada pihak yang sewenang-wenang dan jahat.
Hal ini membuktikan betapa kuatnya pengaruh uang terhadap diri manusia, atau betapa lemahnya manusia kalau dihadapkan kepada kesenangan duniawi melalui harta!"
Hatinya menjadi penasaran sekali, dan juga kecewa melihat guru dan kedua orang paman gurunya.
"Dan setelah sekarang suhu menemukan teecu, lalu apa yang harus teecu lakukan?"
"Bukan apa yang harus kaulakukan, melainkan apa yang akan kulakukan terhadap dirimu, Jiauw Lan! Semestinya aku menghukum mati padamu, akan tetapi mengingat bahwa engkau pernah menjadi muridku selama bertahun-tahun, biarlah aku akan membuat engkau kehilangan kekuatanmu agar kelak engkau tidak akan dapat membunuh orang lagi!"
Mendengar ini, Ki Tejoranu bangkit berdiri.
"Suhu, dahulu suhu mengajarkan kepada teecu agar selama masih mampu, teecu harus membela diri sekuat tenaga. Maka, sekarangpun teecu harus membela diri semampu teecu!"
Setelah berkata demikian Ki Tejoranu mencabut goloknya dan berdiri dalam posisi siap menghadapi serangan.
Kuda-kudanya tampak kokoh dan kuat karena ilmu silatnya dimatangkan oleh pengalaman selama bertahun-tahun merantau dan menghadapi kekerasan dan kesukaran.
"Hemm, Jiauw Lan! Engkau berani hendak melawan gurumu sendiri?"
Tanya Pek I Kiam-sian.
"Suhu pernah mengatakan, lebih baik tewas sebagai harimau dalam perlawanan daripada mati konyol seperti babi di tangan penjagal!"
"Suheng!"
Gan Hok berseru.
"Jangan merendahkan diri melawan orang yang pernah menjadi murid sendiri. Biarlah aku yang memberi hajaran kepada bocah ini!"
"Aku juga ingin mewakilimu, suheng (kakak seperguruan)!"
Kata Giam Lun. Kedua orang itu sudah siap dan mencabut pedang siap menyerang Ki Tejoranu. Pek I Kiam-sian mengangguk-angguk.
"Kalian boleh maju mewakili aku, akan tetapi jangan membunuhnya. Aku sudah berjanji tidak membunuhnya, hanya membuat dia kehilangan kekuatan untuk selamanya."
Dua orang itu mengangguk tanda bahwa mereka mengerti, kemudian keduanya maju menghampiri Ki Tejoranu.
Ki Tejoranu tersenyum mengejek.
Kini dia mulai memandang guru dan para paman gurunya dengan penilaian lain.
Dia dulu bukan hanya berguru kepada Pek I Kiam sian, melainkan mempelajari ilmu-ilmu silat aliran lain.
Dengan mengkombinasikan semua ilmu itu, dia akhirnya dapat merangkai ilmu sepasang golok yang selama ini menjadi senjata-senjata andalannya sehingga dia dijuluki "Sha-liong Siang-to (Sepasang Golok Pembunuh Naga) ketika masih di Cina sana.
Sambil melintangkan sepasang goloknya di depan dada, Ki Tejoranu berkata.
"Hemm, dua orang pendekar hendak mengeroyok seorang keponakan murid, sungguh lucu!"
Dua orang itu merasa disindir dan mereka menjadi marah.
Tanpa banyak cakap lagi mereka lalu menyerang dengan pedang mereka.
Keduanya adalah ahli-ahli pedang yang mahir, maka serangan mereka itupun dahsyat, cepat dan kuat sekali datangnya.
Ki Tejoranu menggerakkan sepasang goloknya.
Segera terjadi perkelahian yang amat seru.
Bayangan tubuh ketiga orang itu berkelebatan di antara dua gulungan sinar golok dan dua gulungan sinar pedang.
Terdengar suara berdentang berkali-kali dan tampak bunga api berpijar menyilaukan mata.
Listyarini yang menonton perkelahian itu, terbelalak dengan hati penuh ketegangan.
Karena mereka bicara dalam bahasa asing, ia tidak mengerti persoalannya akan tetapi dapat menduga bahwa ini tentu ada hubungannya dengan peristiwa yang terjadi di Negeri Cina seperti pernah diceritakan Ki Tejoranu kepadanya.
Ia menjadi khawatir sekali, la tidak tahu bagaimana keadaan perkelahian itu, apakah K i Tejoranu terdesak ataukah sebaliknya karena mengikuti bayangan mereka saja sudah amat sukar.
Yang tampak hanya bayangan berkelebatan, sinar bergulung-gulung, percikan bunga api dan bentakan-bentakan mereka.
Tentu saja di dalam hatinya, Listyarini berdoa agar K i Tejoranu yang sudah diakuinya sebagai kakaknya itu, akan dapat menang dalam pertandingan itu.
Ia sama sekali tidak tahu bahwa dua orang yang bertanding melawan Ki Tejoranu adalah paman guru Ki Tejoranu sendiri, sedangkan kakek berpakaian serba putih itu, yang kini berdiri menonton dengan sikap tenang dan wajah dingin, malah guru Ki Tejoranu.
Kalau ia mengetahui hal ini, tentu saja hati Listyarini akan merasa gelisah sekali.
Namun, kenyataannya ternyata jauh berbeda dengan harapannya, walaupun ini terjadi di luar pengetahuannya.
Kalau dibuat perbandingan, tingkat kepandaian Ki Tejoranu sekarang sudah banyak maju sehingga dia mampu menyamai dan menandingi tingkat kepandaian seorang paman gurunya.
Akan tetapi menghadapi pengeroyokan dua orang paman gurunya, sungguh terlalu berat baginya.
Dia berusaha keras melawan mati-matian, namun karena memang berat sebelah, perlahan lahan dia mulai terdesak dan terkurung ketat oleh sinar dua pedang yang menyambar-nyambar dan bergulung-gulung itu.
Setelah Ki Tejoranu berada dalam titik yang paling lemah terdesak, dua orang itu membentak nyaring dan tahu-tahu ujung pedang mereka telah mengenai kedua lengan Ki Tejoranu.
Dia mengeluh lirih dan kedua goloknya terlepas dari pegangan, terpental dan pada saat itu, kedua batang pedang sudah menempel di lehernya!
"TAHAN....!"
Seru Pek Kiam-sian kepada dua orang sutenya (adik seperguruannya). Dua orang itu mundur dan Peki Kiam-sian maju menghampiri Ki Tejoranu.
"Sekarang terimalah hukumanmu! Ciaaaattt .....!"
Kakek berpakaian putih itu memukul dengan telapak tangannya ke arah dada Ki Tejoranu yang tidak dapat menghindar lagi.
"Wuuuttt ..... desss .....I"
Tubuh Ki Tejoranu terjengkang roboh.
Akan tetapi dia teringat akan Listyarini yang sudah berdiri tak jauh di belakangnya.
Dia cepat bangkit dan mundur, mengembangkan kedua lengannya seperti melindungi Listyarini yang kini berada di belakangnya.
Dengan wajah berubah pucat sekali dan napasnya terengah-engah, kedua lengannya berdarah karena terluka dua pedang kedua orang paman gurunya tadi, dia berkata.
"Harap kalian jangan mengganggu wanita ini! la tidak tahu apa-apa, ia tidak bersalah apa-apa. Jangan ganggu ia!!"
Melihat sikap Ki Tejoranu seperti menantang itu, Gan Hok dan Giam Lun menjadi penasaran dan mereka berdua menghampiri dengan sikap mengancam.
"Cukup, sute, mundurlah kalian. Dia sudah terkena Hwetok-ciang (Tangan Racun Api), dalam waktu satu dua hari semua kekuatannya akan musnah dan itu merupakan hukuman yang tepat baginya."
Kata Peki Kiam-sian.
"Akan tetapi, suheng. Wanita itu, ia tentu sekutunya....."
Kata Gan Hok.
"Jangan, toa-susiok (paman guru tertua), jangan ganggu Lini! Ia tidak bersalah apa-apa. Kalau diganggu, aku akan melawan sampai mati!"
Kata Ki Tejoranu sambil mengembangkan kedua tangan menahan rasa nyeri di dadanya yang membuat dadanya sesak, siap untuk membela Listyarini.
Wanita itu tidak mengerti ucapan mereka, akan tetapi dari sikap Ki Tejoranu ia tahu laki-laki yang diaku sebagai kakaknya itu agaknya mati-matian hendak membelanya.
"Sudah cukup, sute. Mari kita pergi."
Kata Peki Kiam-sian dan dua orang adik seperguruannya tidak berani membantah.
Ketiganya lalu berlompatan seperti terbang cepatnya, meninggalkan tempat itu.
Setelah tiga orang itu tak tampak lagi bayangan mereka, Ki Tejoranu juga tidak kuat lagi menahan rasa nyeri yang menusuk-nusuk jantungnya dan diapun mengeluh panjang lalu tubuhnya terkulai dan jatuh pingsan di depan kaki Listyarini yang tadi berdiri di belakangnya, dan dilindunginya.
Melihat para musuhnya sudah pergi dan penolongnya roboh dan tidak bergerak lagi, telentang dengan muka pucat sekali dan mata terpejam, Listyarini lalu berlutut dan menggoyang-goyangkan pundak Ki Tejoranu.
"Tejo! Tejo .....I Ahh, Tejo, sadarlah .....!"
Listyarini merasa bingung dan takut.
Ia melihat wajah itu pucat seperti mayat dan kedua lengan itupun terluka bacokan mengeluarkan darah.
Ia merasa takut sekali kalau-kalau Ki Tejoranu mati!
Padahal di situ hanya ada ia dan Ki Tejoranu.
la menoleh ke kanan kiri.
Sunyi dan menakutkan sekali pada saat seperti itu.
la seolah melihat bayangan Nismara yang kembali dari kematian untuk membalas dendam!
Ia ingin menjerit, ingin menangis, dan kembali diguncangnya kedua pundak Ki Tejoranu.
Kemudian ia teringat.
Luka di kedua lengan itu!
Harus dicuci bersih.
Ia teringat betapa suaminya, Ki Patih Narotama pernah memberitahu bahwa kalau ada yang terluka, yang lebih dulu harus dilakukan adalah mencuci luka itu sampai bersih, lalu membalutnya dengan kain bersih untuk menghentikan keluarnya darah.
Seperti mendapat tenaga baru, Listyarini lalu mencari daun lompong yang lebar untuk mengambil air di telaga, lalu dengan hati-hati kembali kepada Ki Tejoranu agar air di daun lompong tidak tumpah dan dengan air itu ia mulai mencuci kedua lengan yang terluka.
Kemudian, ia mengambil sehelai kain yang ia pergunakan sebagai saputangan, mencoba untuk merobek kain itu menjadi dua.
Akan tetapi ia tidak kuat melakukannya, maka ia lalu mempergunakan giginya yang rapi dan kuat.
Digigitnya kain itu lalu dirobeknya menjadi dua dan dibalutnya luka di lengan itu.
Ki Tejoranu mengeluh lirih.
Timbul harapan dalam hati Listyarini.
Dia tidak mati, pikirnya dan diguncangnya perlahan kedua pundak Ki Tejaranu.
"Tejo....., Tejo..... sadarlah, Tejo.....!"
Ia memanggil.
Ki Tejoranu membuka kedua matanya yang sipit itu dan memandang wajah Listyarini.
Dengan perlahan dia mengangkat kedua tangannya, diusapnya kedua pipi Listyarini dengan kedua tangannya, lembut sekali dan dia berkata dalam bahasa Cina.
"Mei Hwa..... Mei Hwa..... aku cinta padamu, jangan tinggalkan aku, Mei Hwa". Tentu saja Listyarini tidak mengerti maksud ucapan itu, akan tetapi mendengar disebutnya nama Mei Hwa berkali kali, ia dapat menduga bahwa agaknya Ki Tejoranu menduga ia Mei Hwa, tunangan laki-laki itu yang direbut orang, la menjadi terharu sekati, dapat membayangkan betapa duka nestapa membuat pria ini hidup sengsara lahir batin. Tak tertahankan lagi iapun mencucurkan air mata, menangis karena merasa kasihan.
"Tejo, kakang Tejo ..... ini aku, Listyarini ..... aku, Lini ....."
Mendengar ucapan bahasa daerah ini, agaknya pikiran Ki Tejoranu yang belum sadar betul masih terbawa hanyut oleh kenangannya tentang kekasih atau tunangannya dulu, maka diapun berkata lirih.
"Jangan tinggalkan aku ..... jangan...."
Listyarini memegang kedua tangan laki-laki yang dianggapnya seperti kakaknya itu, menggenggamnya dan dengan air mata menetes-netes ia berkata.
"Tidak, kakang Tejo, aku tidak akan neninggalkanmu sebelum ada bantuan datang ....."
Listyarini yang masih menggenggam kedua tangan Ki Tejoranu yang baru setengah sadar itu sama sekali tidak tahu bahwa saat itu ada dua pasang mata mengamatinya dari jarak yang tidak berapa jauh.
Kedua orang itu bukan lain adalah.....
Ki Patih Narotama dan Lasmini!
Seperti kita ketahui, Ki Tejoranu telah menyuruh seorang penduduk di sebuah dusun kaki Gunung Lawu sebelah timur yang bernama Sukardi untuk pergi menghadap Ki Patih Narotama dari Kerajaan Kahuripan dan memberitahukan bahwa Sang Puteri Listyarini berada di Telaga Sarangan.
Sukardi menunggang kuda dan agar dipercaya oleh Ki Patih Narotama, Sukardi membawa sebuah cincin yang biasa dipakai oleh Listyarini.
Setelah Sukardi berhasil menghadap Ki Patih Narotama dan menyampaikan kabar itu, dapat dibayangkan betapa girang rasa hati Ki Patih Narotama.
Akan tetapi sebaliknya Lasmini yang ikut mendengarkan ketika Sukardi membawa berita itu, diam-diam merasa terkejut, kecewa dan juga gelisah sekali, la mencoba untuk memompa keterangan dari Sukardi, akan tetapi Sukardi yang memang tidak tahu menahu akan halnya Puteri Listyarini dan hanya membawa perintah itu, tidak dapat menceritakan apa-apa.
Hal ini membuat Lasmini menjadi semakin gelisah dan menduga-duga apa yang telah dilakukan Nismara dan apa yang telah terjadi.
Bagaimana mungin Listyarini yang telah dilarikan Nismara dengan tujuan ke selatan, ke daerah Kerajaan Parang Siluman, tiba-tiba kini bisa berada di Telaga Sarangan di Gunung Lawu?
Ki Patih Narotama, ditemani Lasmini, segera menunggang kuda dan bersama Sukardi mereka berangkat ke Gunung Lawu.
Karena kuda tunggangan kedua orang bangsawan ini jauh lebih baik daripada yang ditunggangi Sukardi, apalagi karena keduanya juga lebih tangkas menunggang kuda, maka ketika tiba di jalan tanjakan yang berat, Lasmini dan Narotama dapat lebih dulu tiba di telaga dan mereka dapat melihat ketika Listyarini menangisi Ki Tejaranu.
Melihat pemandangan ini, sejenak Narotama tercengang dan hatinya mengandung penuh pertanyaan.
Akan tetapi Lasmini sudah menjebikan bibirnya yang mungil dan merah, berkata lirih.
"Sungguh memalukan sekali..... tidak pantas..... melanggar kesusilaan..... tak pernah kubayangkan ia dapat melakukan perbuatan kotor dan hina ini....."
Ki Patih Narotama yang sedang bimbang ragu melihat pemandangan itu, tidak tahan mendengar bisikan Lasmini yang seolah api yang menyulut dan membakar hatinya.
Maka dia lalu memanggil isterinya dengan nada suara mengandung teguran.
"Diajeng Listyarini....."
Listyarini yang masih memegang kedua tangan Ki Tejoranu itu terkejut dan menoleh, akan tetapi ia tidak melepaskan pegangannya karena memang tidak ada perasaan-bersalah sedikitpun di hatinya.
Akan tetapi melihat Lasmini dating bersama suaminya, ia berseru, suaranya mengandung tangis, sisa yang tadi dan juga karena girang dan terharu melihat suaminya sudah datang menjemputnya, bercampur kemarahan melihat Lasmini.
"Kakangmas Narotama! Berhati-hatilah dengan wanita itu! Yang menculikku adalah Nismara dan yang menyuruhnya adalah Lasmini itu!"
Listyarini menudingkan telunjuknya kearah muka Lasmini. Lasmini membentak marah.
"Listyarini, jangan asal membuka mulut kau! Mana buktinya, mana saksinya kalau betul Nismara yang menculikmu atas suruhanku. Mana, suruh Nismara menghadap di sini dan mengaku! Huh, engkau melempar fitnah setelah tertangkap basah, ya? Jelas bahwa engkau telah melarikan diri dengan laki-laki itu, engkau melarikan diri bersama kekasihmu itu dan kami melihat sendiri betapa engkau berkasih-kasihan dengannya. Laki-laki jahanam itu harus mampus, mencemarkan nama baik Ki Patih Narotama yang terhormat dan mulia! Dan engkau juga isteri tidak setia dan nyeleweng, tidak pantas dibiarkan hidup. Haiiiiitttt.....!!"
Lasmini sudah melangkah maju dan mendorongkan kedua tangannya ke arah listyarini dan Ki Tejoranu!
Ia tidak mau tanggung-tanggung dalam penyerangannya karena ia mengambil keputusan untuk sekali pukul membunuh Listyarini dan laki-laki itu.
Mumpung ada kesempatan dan ada alasan, pikirnya.
Ki Patih Narotama pasti tidak dapat mengampuni isterinya yang menyeleweng, berjina dengan laki-laki lain!
"Siuuuuttt .....
tappp .....!"
Tubuh Lasmini tergetar, pukulannya membalik sehingga ia agak menggigil sedikit.
Aji pukulannya tadi memang dahsyat sekali, berhawa dingin karena itu adalah Aji Ampak-ampak yang dapat membuat darah dalam tubuh lawan membeku kalau terlanda pukulan ini.
Akan tetapi sebelum pukulan itu mengenai sasaran, dari samping Narotama menangkis dengan dorongan tangan dan tiupan angin dahsyat menangkis pukulan itu tadi.
"Kakangmas Narotama! Mengapa paduka menangkis pukulanku dan melindungi perempuan yang menyeleweng itu? Jelas bahwa ia menjatuhkan fitnah atas diriku dan ia telah melakukan penyelewengan. Apakah semua yang tampak ini bukan merupakan bukti? Dan paduka masih melindunginya! Mustahil paduka lebih percaya ia daripada aku!"
"Tenang dan bersabarlah, diajeng. Kalau ada persoalan sebaiknya dibicarakan dulu."
Kata Narotama yang menahan kesabarannya walaupun hatinya juga terbakar oleh pemandangan yang menimbulkan cemburu itu.
"Paduka memang selalu melindungi Listyarini dan menyudutkan saya! Lebih haik aku pulang saja!"
Setelah berkata demikian, Lasmini cepat memutar tubuhnya dan lari menuruni lereng, lalu melompat ke atas punggung kudanya dan dilarikan cepat meninggalkan tempat itu.
Narotama menghela napas panjang lalu sekali melompat dia sudah tiba di dekat Listyarini yang masih berlutut dekat tubuh Ki Tejoranu yang belum sadar betul.
"Kakangmas, agaknya paduka juga meragukan kesetiaan saya....."
Listyarini menangis lirih.
"Lini..... kenapa engkau menangis.....?"
Tanya Ki Tejoranu dengan suara lirih, lalu ia melihat Ki Patih Narotama, maka dengan pandangan mata heran dia bertanya.
".....dan siapakah kisanak ini, Lini .....?"
"Kakang Tejo, ini adalah junjunganku, suamiku, Gusti Patih Narotama dari Kerajaan Kahuripan."
Kata Listyarini sambil melepaskan tangan Ki Tejoranu, akan tetapi tetap saja berlutut. Mendengar ini, Ki Tejoranu bangkit duduk dan hendak berdiri, akan tetapi dia jatuh terduduk lagi lalu bersila.
"Gusti Patih....., hamba Teiolanu menghaturkan sembah."
Ki Patih Narotama dapat melihat dengan jelas bahwa orang yang bicaranya pelo ini bukan orang pribumi dan sedang dalam keadaan luka dalam yang parah dan keracunan.
"Duduk sajalah, andika terluka. Diajeng Listyarini, aku tidak akan membiarkan hatiku terseret oleh prasangka buruk dan cemburu, asal engkau cepat menceritakan apa artinya semua ini?"
"Aduh, kakangmas, biarlah para dewata mengutuk hamba sekiranya saya berdusta kepada paduka. Ketika itu, saya sedang duduk seorang diri di pondok dalam taman seperti biasa, setelah saya memotongi bunga yang sudah layu dengan tang pisau dapur. Tiba-tiba muncul Nismara dan entah mengapa dia berubah seperti iblis. Dia hendak membawa saya pergi. Saya menyerangnya dengan pisau dapur, akan tetapi dia dapat meringkus saya dan memanggul saya lalu membawa saya lari."
"Hemm, keparat Nismara. Mengapa dia berani berbuat seperti itu?"
Kata Narotama karena diapun merasa heran karena biarpun Nismara pernah dihukum karena perbuatannya yang kurang baik, namun selama ini tampaknya sudah berubah baik dan setia. (Lanjut ke
Jilid 15) Keris Pusaka Sang Megatantra (seri ke 01 -Serial Keris Pusaka Sang Megatantra) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo
Jilid 15
"Dia membawa saya berlari terus sampai beberapa hari lamanya. Saya hanya dapat berdoa, memohon perlindungan Sang Hyang Widhi dan agaknya doa saya terkabul karena selama beberapa hari itu dia sama sekali tidak pernah mengganggu saya. Kemudian dia membawa saya sampai ke pegunungan ini. Baru setelah tiba di sini dia berusaha untuk menggangguku. Dia mengaku bahwa dia melakukan ini atas perintah Lasmini, kakangmas ....."
Narotama mengerutkan alisnya.
Akan tetapi dia adalah seorang yang bijaksana, tidak mudah begitu saja terpengaruh keterangan sepihak.
Dia percaya bahwa Listyarini tidak mungkin berbohong, akan tetapi jahanam yang bernama Nismara itu mungkin sekali berbohong dan menjatuhkan fitnah untuk mengadu domba.
"Hemm, lalu bagaimana?"
Tanyanya.
"Pada saat yang amat gawat itu, muncullah Kakang Tejoranu ini..... eh, nama aselinya adalah Te.... Te....."
Listyarini merasa sukar sekali mengingat nama aseli Ki Tejoranu. Melihat ini Ki Tejoranu menyambung.
"Nama aseli hamba adalah The Jiauw Lan, Gusti Patih."
Narotama mengangguk-angguk. Tahulah dia kini bahwa laki-laki itu adalah seorang bangsa Cina dari sebuah negeri yang jauh di seberang lautan.
"Teruskan ceritamu, diajeng."
"Saya mengubah nama yang sukar disebut itu menjadi Tejoranu, kakangmas. Dia muncul pada saat yang gawat itu dan dia membebaskan saya dari kekejian Nismara. Jahanam itu melarikan diri, akan tetapi dia datang lagi bersama dua orang kawannya dan mereka hendak merampas saya lalu mengeroyok Kakang Tejo. Saya menyebutnya kakang karena dia menganggap saya sebagai adik sendiri, kakangmas. Kakang Tejo berhasil membunuh Nismara dan dua orang penjahat yang lain melarikan diri."
"Hemm, sayang si keparat Nismara itu telah tewas sehingga dia tidak dapat menjadi saksi apakah benar yang menyuruhnya berbuat jahat itu adalah diajeng Lasmini."
"Begitulah menurut pengakuan Nismara, kakangmas. Kakang Tejo ini adalah penolong saya. Kalau tidak ada dia, tentu saya sudah..... mati, tak sudi saya hidup lebih lama lagi kalau saya dijamah pria lain!"
Teringat akan dakwaan Lasmini yang kotor dan menghina tadi, Listyarini tak dapat menahan keluarnya air matanya lagi, namun ia menahan tangisnya.
"Akan tetapi, kenapa dia sekarang terluka separah ini?"
Tanya Narotama, menahan kerinduannya kepada isterinya.
Sebetulnya sudah sejak tadi dia ingin merangkul dan menghibur isterinya, menyatakan kegembiraan hatinya mendapatkan isterinya dalam keadaan selamat.
Namun keadaan dan dakwaan Lasmini tadi membuat dia terpaksa menahan perasaannya.
"Saya sendiri tidak mengerti urusannya, kakangmas. Ada muncul tiga orang asing, Kakang Tejo dan mereka bicara dalam bahasa yang tidak kumengerti, lalu kakang Tejo dikeroyok dua di antara mereka, kemudian yang seorang lagi memukulnya dan kakang Tejo masih tetap melindungi saya dari tiga orang itu. Setelah mereka pergi, kakang Tejo lalu roboh pingsan. Dia sendiri yang dapat menceritakan apa yang sebenarnya terjadi."
"Ki Tejoranu, coba ceritakan apa yang telah terjadi dengan dirimu. Aku tahu bahwa engkau adalah seorang Cina dan bagaimana engkau dapat berada disini dan apa pula urusanmu dengan tiga orang yang membuatmu terluka ini."
Dengan suaranya yang lemah lirih karena menahan rasa nyeri di dadanya, dan ucapannya yang pelo, Ki Tejoranu lalu bercerita tentang dirinya yang tersiksa melarikan diri dari Negeri Cina karena membunuh putera seorang bangsawan yang membunuh kedua orang tuanya.
Betapa kemudian bangsawan itu menyuruh gurunya sendiri dan dua orang paman gurunya untuk mengejarnya.
"Gulu dan paman-gulu menemukan saya di sini. Saya melawan akan tetapi kalah dan gulu memukul saya..... pukulan ini akan melenyapkan semua kekuatan saya..... aughhh ....."
Ki Tejoranu yang memaksa dirinya bercerita banyak itu terkulai dan roboh pingsan lagi. Melihat ini, Listyarini bangkit berdiri dan menubruk kedua kaki suaminya.
"Duh, kakangmas. Ampunkan saya..... saya bersumpah tidak ada hubungan kotor antara saya dan kakang Tejo. Dia..... dia seorang yang baik budi dan sopan, kakangmas. Saya berhutang budi, berhutang nyawa padanya. Percayalah, kakangmas dan mohon paduka suka menolongnya untuk membalas budi kebaikannya kepada saya ....."
Narotama tidak dapat menahan rasa cinta kasihnya yang sudah menggelora sejak tadi. Dia mengangkat tubuh isterinya itu, mendekap dan menciuminya.
"Diajeng ..... diajeng Listyarini. Dijauhkan Sang Hyang Widhi kiranya aku dari perasaan cemburu dan tidak percaya kepadamu. Kasihan engkau telah menderita sengsara selama beberapa hari ini karena kealpaanku. Akan tetapi Hyang Widhi agaknya telah memunculkan orang ini untuk menolongmu. Sekarang aku mengerti mengapa engkau begitu menyayangnya seperti seorang kakak sendiri. Dia memang patut mendapatkan kasih sayangmu, diajeng."
"Kakang Tejo seorang yang sengsara hidupnya, kakangmas. Kehilangan orang tua yang terbunuh, kehilangan tunangan yang dirampas orang, kehilangan adik kandung yang hilang tak diketahui di mana. Setelah dia tahu bahwa saya adalah isteri paduka dan telah mengandung, dia lalu menganggap saya sebagai pengganti adiknya yang hilang itu....."
Listyarini membela Ki Tejoranu sambil menangis dalam rangkulan suaminya, hatinya penuh kebahagiaan karena suaminya tidak termakan oleh hasutan Lasmini tadi.
"Minggirlah dulu, diajeng. Biar akan kucoba untuk menyembuhkan dia."
Mendengar ucapan ini, Listyarini demikian gembiranya sehingga ia mencium pipi suaminya dengan mesra sebelum melepaskan rangkulannya dan ia lalu duduk di atas sebuah batu tidak jauh dari situ untuk menonton suaminya mengobati Ki Tejoranu.
Narotama berjongkok dan memeriksa tubuh Ki Tejoranu.
Luka kedua lengannya itu tidak berarti, akan tetapi ketika dia membuka baju memeriksa dada, dia terkejut bukan main.
Ada bekas tapak lima jari tangan di dada itu yang kulitnya seperti terbakar dan dada itu terasa panas bukan main.
Setelah memeriksa sejenak, tahulah Narotama bahwa Ki Tejooranu telah terkena aji pukulan yang amat ampuh, pukulan yang mengandung hawa panas seperti api.
Narotama mengambil tongkat pusaka Tunggul Manik yang tergantung di pinggangnya.
Dia memang sengaja membawa tongkat pusaka ini untuk berjaga-jaga kalau kalau Listyarini ditemukan dalam keadaan keracunan seperti tempo hari.
Dan ternyata kini tongkat itu memang dibutuhkan, walaupun bukan untuk mengobati Listyarini.
Khasiat tongkat Tunggul Manik adalah terutama untuk menyedot keluar segala macam racun dari tubuh manusia.
Narotama menggunakan tongkat itu, menggosok-gosokkan ke dada Ki Tejoranu.
Perlahan-lahan, tanda tapak lima jari menghitam di dada yang kulitnya kekuning-kuningan itu perlahan-lahan hilang, tinggal hawa panas itu saja yang masih terasa.
Ki Patih Narotama yang sakti mandraguna lalu menempelkan telapak tangan kirinya ke dada Ki Tejoranu, menggunakan kekuatan saktinya untuk mendorong dan mengusir hawa panas itu dari dalam tubuh Ki Tejoranu.
Beberapa saat kemudian, hawa panas itupun terusir keluar dari dalam dada Ki Tejoranu dan dia mengeluh perlahan lalu membuka kedua matanya.
Ketika dia melihat betapa Ki Patih Narotama berada di dekatnya dan menempelkan tangan yang terasa dingin sejuk di dadanya, dan mendapat kenyataan betapa luka di dalam dadanya sembuh sama sekali, dia menjadi kagum bukan main.
"Thian ..... (Ya Tuhan), paduka telah ..... menyembuhkan hamba ....."
Ki Tejoranu segera bangkit duduk dan berlutut sambil menyembah ke arah ki patih.
"Paduka sungguh seolang yang sakti mandlaguna dapat menyembuhkan akibat pukulan Tangan Lacun Api! Paduka telah menyelamatkan nyawa hamba"
Narotama tersenyum, bangkit berdiri dan mengangkat kedua lengan Ki Tejoranu agar bangkit berdiri pula. Listyarini merasa girang sekali, la menghampiri dan memegang tangan Ki Tejoranu.
"Ah, syukur engkau telah dapat disembuhkan, kakang Tejo .....!"
Ki Tejoranu dengan halus merenggutkan tangannya dan melangkah ke belakang, lalu membungkuk dengan hormat kepada Listyarini.
"Gusti Puteli, seolang sepelti hamba tidak pantas beldekatan dengan paduka. Maafkan hamba yang selama ini kulang holmat kepada paduka ....."
Kata-kata pelo itu diucapkan dengan nada hormat, namun dalam suaranya terkandung kepedihan hati.
"Ah Kakang Tejo, jangan begitu. Engkau bagiku tetap Kakang Tejoranu yang baik hati dan aku tetap Lini bagimu!"
Kata Listyarini, kini mendekati suaminya dan memegang tangan suaminya, seolah minta dukungan pendapat suaminya. Ki Patih Narotama tersenyum.
"Garwaku (isteriku) benar, Ki Tejoranu, manusia hanya dibagi menjadi dua golongan, yaitu manusia yang berbudi baik penyembah Sang Hyang Widhi dan manusia yang berwatak jahat penyembah setan. Harta, kedudukan, kekuatan dan kepandaian tidak masuk hitungan. Engkau adalah seorang manusia berbudi baik, sudah sepatutnya kalau garwaku menganggap engkau seorang kakak."
"Hayaaa, Gusti Patih, paduka telah menyelamatkan nyawa hamba, hamba menghatulkan telima kasih ....."
"Ki Tejoranu, engkaupun telah menyelamatkan nyawa garwaku, semua pertolongan itu datang dari kekuasaan Sang Hyang Tunggal (Yang Maha Esa) melalui engkau dan aku, maka marilah kita menghaturkan terima kasih kepada Sang Hyang Widhi saja."
Ki Tejoranu membungkuk dan menyembah.
"Paduka amat bijaksana, gusti."
"Hanya sayang sekali engkau telah terlanjur membunuh Nismara, Ki Tejoranu. Andaikata tidak, tentu dia dapat menceritakan yang sebenarnya mengapa dia melakukan perbuatan terkutuk menculik diajeng Listyarini dan membawanya sampai di sini."
"Kakangmas, penjahat itu sudah mengaku bahwa dia melakukan itu atas perintah Lasmini."
Kata Listyarini. Ki Patih Narotama tersenyum.
"Itu hanya pengakuannya, diajeng, dan kini dia tidak ada sehingga aku tidak dapat memaksa dia mengaku terus terang. Tidak ada bukti dan saksinya bahwa diajeng Lasmini yang menyuruhnya. Tidak adil kalau kita mengambil kesimpulan bahwa pengakuan penjahat itu benar. Bisa saja dia sengaja melempar fitnah untuk mengadu domba. Ketahuilah bahwa sejak engkau hilang, diajeng Lasmini berusaha mati-matian untuk mencarimu."
Mendengar ucapan suaminya, Listyarini menghela napas panjang. Ia sendiri sudah yakin bahwa keterangan atau pengakuan Nismara itu benar.
"Hamba serahkan kepada kebijaksanaan paduka, kakangmas."
Mendengar nada kecewa dalam suara isterinya, Narotama merangkulnya. Ki Tejoranu juga melihat suasana itu dan dia berkata.
"Gusti Puteli, apa yang dikatakan Gusti Patih itu bijaksana dan benal sekali. Menuduh olang tanpa bukti dan saksi itu namanya fitnah."
"Ki Tejoranu, kalau engkau mau, mari ikut dengan kami ke Kahuripan dan aku akan mintakan pangkat bagimu kepada Sang Prabu. Orang seperti engkau ini dibutuhkan kerajaan kami."
Kata Narotama sambil menatap wajah yang kuning sekali itu.
Wajah itu kini menjadi kuning dan tidak wajar, semua itu merupakan akibat dari luka oleh pukulan Hwe-tokcia (Tangan Racun Api) tadi.
Ki Tejoranu memberi hormat.
"Telima kasih, gusti. Akan tetapi hamba lebih suka melantau dan bebas dali semua ikatan."
Ki Patih Narotama tentu saja tidak dapat memaksa dan dia memaklumi pendirian orang itu.
Dia tahu Ki Tejoranu adalah seorang yang berjiwa petualang.
Dia sudah tidak mempunyai siapa-siapa lagi, bahkan untuk kembali ke kampong halamannya di tanah airnya sana dia tidak berani.
Dia sudah kehilangan segala-galanya dan hal ini membuatnya putus asa dan tidak tertarik lagi akan segala urusan duniawi.
Dia hanya ingin menyendiri di tempat-tempat yang sunyi seperti di Telaga Sarangan itu.
Diam diam Narotama merasa iba kepada Ki Tejoranu.
Kepada orang yang tertekan jiwanya seperti ini, dia tidak dapat menawarkan apa-apa.
Maka, diapun berpamit dan ketika berpamit, Listyarini memandang Ki Tejoranu dengan kedua mata basah.
"Engkau tidak mau ikut ke Kahuripan, Kakang Tejo? Kalau begitu, selamat tinggal dan jaga dirimu baik-baik, kakang. Sebaiknya, engkau pindah saja ke tempat lain, jangan tetap tinggal di sini karena kalau orang-orang jahat itu datang lagi....."
Ki Tejoranu tersenyum mengangguk.
"jangan khawatil, Gusti Puteli, saya akan pelgi melantau. Selamat jalan dan semoga paduka hidup belbahagia."
Suami isteri itu pergi meninggalkan telaga, kemudian berboncengan kuda dan perlahan-lahan menuruni lereng Gunung Lawu.
Semua punggawa kepatihan menyambut kembalinya Listyarini dengan gembira karena lenyapnya sang puteri itu sungguh membuat semua punggawa menjadi gelisah.
Memang sebelum Sukardi datang membawa cincin Sang Puteri dan mengabarkan bahwa Listyarini dalam keadaan selamat di Telaga Sarangan, Narotama sudah menduga bahwa Nismara tentu tersangkut dengan peristiwa hilangnya isterinya itu.
Hal ini dapat diketahui karena Nismara juga tidak dapat ditemukan jejaknya dan tak seorangpun mengetahui ke mana perginya.
Namun, Ki Patih Narotama tidak menghukum keluarga Nismara yang terdiri dari ibunya dan dua orang adiknya karena mereka dianggap sama sekali tidak tahu menahu akan perbuatan Nirmara yang kini telah tewas itu.
Kembalinya Listyarini membuat semua orang gembira, kecuali Narotama sendiri yang terkejut melihat bahwa Lasmini tidak berada di kepatihan!
Beberapa orang dayangnya hanya mengatakan bahwa Lasmini yang pergi bersama Ki Patih Narotama itu kembali seorang diri beberapa hari kemudian akan tetapi pada hari itu juga lalu pergi lagi.
Narotama memanggil Sarti, wanita berwajah buruk bertubuh tinggi besar yang menjadi pelayan pribadi Lasmini.
"Sarti, ceritakan ke mana gusti puterimu pergi dan kenapa pergi. Engkau pasti tahu karena engkau adalah pelayan pribadinya."
Kata Ki Patih Narotama. Sarti menyembah lalu menjawab.
"KAMnggihan (benar), gusti, hamba adalah pelayan pribadi gusti puteri. Akan tetapi gusti puteri hanya bicara sedikit paada hamba. Sekembalinya seorang diri gusti puteri hanya muwun (menangis) dan berkata bahwa tidak ada gunanya beliau tinggal di sini karena sudah tidak dipercaya lagi."
Patih Narotama mengerutkan alisnya yang hitam tebal berhentak golok itu.
"Hemm, lalu ke mana perginya?"
Dia bertanya dan maklum bahwa Lasmini agaknya merasa sakit hati dengan peristiwa di Telaga Sarangan itu.
Ia merasa tidak dipercaya, bahkan dituduh menyuruh Nismara membunuh Listyarini!
"beliau hanya mengatakan bahwa beliau hendak pulang.
Entah yang dimaksudkan pulang ke Bukit Junggringslaka tempat tinggal Gusti Nagakumala, ataukah ke istana Parang Siluman."
"Apa yang kauketahui selanjutnya?"
"Hanya itulah yang hmba ketahui, gusti."
Setelah mendapat keterangan dari Sarti, Ki Patih Narotama sering melamun memikirkan Lasmini.
Harus diakuinya, bahwa dia tidak dapat melupakan selir tercinta itu, kecantikan dan kelembutannya, kemanjaannya, semua kemesraan yang diberikan wanita itu dengan kejelitaan wajahnya, dengan keindahan tubuhnya, kepadanya dengan cinta yang menggebu gebu.
Akan tetapi, Narotama tidak segera mengambil keputusan begitu saja.
Dia ingat akan perasaan Listyarini, maka malam itu diajaknya Listyarini bicara tentang Lasmini.
"Diajeng, ketika Sang Prabu mengutus aku meminang kedua orang puteri Kerajaan Parang Siluman itu, dasar utamanya adalah untuk menghapus permusuhan antara kerajaan di pantai laut selatan itu terhadap Kerajaan Kahuripan. Kemudian setelah berhasil, Lasmini oleh Sang Prabu dihadiahkan kepadaku. Kini timbul persolan ini sehingga Lasmini agaknya pulung ke Parang Siluman. Kalau kudiamkan saja dan hal ini terdengar oleh Sang Prabu, sungguh amat tidak enak bagiku, diajeng. Seolah aku tidak mendukung keinginan Sang Prabu untuk berbaik dengan Parang Siluman. Diajeng, apakah engkau tetap menuduh Lasmini yang mengutus Nismara untuk menculikmu?"
Listyarini bukan seorang wanita yang pemarah, melainkan seorang yang berhati lembut. la memaklumi kedudukan suaminya, maka ia berkata dengan halus.
"Kakangmas, setelah mendengar semua keterangan paduka betapa Lasmini ikut sibuk mencari saya, dan tidak ada tanda tanda, tidak ada bukti atau saksi bahwa Ia yang benar-benar menyuruh Nismara menculik saya, maka sayapun tidak yakin bahwa ia bersalah. Saya menyesal telah membuat ia marah dan meninggalkan kepatihan, kakangmas."
"Kalau begitu, engkau mau minta maaf kepadanya bahwa engkau pernah menuduhnya bersalah?"
Listyarini menghela napas panjang "Demi kebahagiaan paduka dan demi kepentingan Kerajaan Kahuripan, saya mau melakukan apa saja, kakangmas.
Baiklah, saya bersedia minta maaf kepadanya, akan tetapi saya harap paduka bersikap adil, yaitu iapun patut minta maaf kepada saya karena ia telah menuduh saya berbuat jina dengan Kakang Tejoranu."
Ki Patih Narotama mengangguk-angguk.
"Itu cukup adil, diajeng. Kalian berdua agaknya hanya salah duga dan salah paham saja. Baiklah, kalau begitu, aku akan menyusul diajeng Lasmini dan mengajaknya pulang ke kepatihan."
Demikianlah, pada keesokan harinya, berangkatlah Ki Patih Narotama ke Kerajaan Parang Siluman karena dia telah mengirim penyelidik dan mendapatkan keterangan bahwa Puteri Lasmini berada di kerajaan pantai Laut Selatan itu.
Ki Patih Narotama naik sebuah kereta untuk menjemput selirnya itu.
Kedatangannya disambut dengan ramah dan hormat oleh Ratu Durgamala, yaitu ibu Lasmini dan Mandari.
Setelah upacara penyambutan dan menyatakan maksud kunjungannya, sambil diam-diam kl patih ini merasa heran dan juga kagum melihat betapa ibu dari Lasmini yang sudah berusia empat puluh tahun lebih itu masih tampak seperti puteri puterinya, seperti sebaya dengan Lasmini, Ki Patih Narotama lalu dipersilakan masuk keputren untuk menjumpai Lasmini yang sudah menanti dalam kamarnya.
Narotama dipersilakan masuk oleh para dayang ke dalam sebuah kamar yang luas dan indah, bersih dan berbau harum melati, bunga kesukaan Lasmini.
Ketika dia masuk, dia melihat selirnya itu rebah menelungkup di atas pembaringan dan menangis perlahan.
Mukanya ditanamkan dalam bantal dan pundaknya hergoyang-goyang.
Tubuh yang indah padat itu bergoyang perlahan, membuat hati sang patih dipenuhi kerinduan kepada selir terkasih ini.
Dia menghampiri lalu duduk di tepi pembaringan, disentuhnya pundak Lasmini dengan lembut.
"Diajeng ....."
Lasmini tetap menelungkup dan tangisnya kini tersedu-sedu.
Beberapa saat lamanya Narotama membiarkan Lasmini menangis, dan setelah tangis itu agak mereda, ia memegang pundak selirnya dan berkata lagi dengan lembut.
"Diajeng, jauh-jauh aku datang menjemputmu, mengapa engkau tidak keluar menyambut kedatanganku, malah berdiam dalam kamar dan menangis?"
Dielusnya tengkuk indah dengan anak rambut melingkar lingkar itu karena rambut yang hitam panjang itu digelung ke atas.
Biasanya, belaian seperti ini amat disukai selir itu.
Akan tetapi sekali ini, Lasmini menggerakkan tubuh menjauh tanpa mengubah posisi tubuhnya yang menelungkup, akan tetapi terdengar ia berkata agak ketus namun lirih karena mukanya terbenam ke bantal.
"Mau apa paduka datang ke sini? Mau apa mengunjungi hamba yang rendah dan jahat ini?"
Narotama tersenyum.
"Diajeng, tentu saja aku dating untuk menjemputmu. Mari kita pulang ke kadipaten, diajeng."
"Apa perlunya hamba kembali ke sana? Hamba sudah tidak dipercaya lagi. Bukankah hamba orang jahat yang menyuruh Nismara menculik garwa paduka?"
"Diajeng Lasmini, aku tidak pernah menganggap engkau seperti itu."
Tiba-tiba Lasmini bangkit duduk.
Gerakannya menggeliat dari tidur menelungkup menjadi duduk ini tampak begitu Indah karena memperlihatkan gerakan tubuh yang meliuk dan lemah gemulai, juga padat dengan lekuk lengkung yang sempurna.
Wajannya tampak membayangkan kesedihan, matanya sayu, rambutnya sebagian terjuntai, akan tetapi dalam keadaan seperti itu, kecantikannya bahkan semakin menonjol.
Hal ini tentu saja lebih diperkuat oleh perasaan rindu dalam hati Narotama.
"Mungkin paduka tidak, akan tetapi kakang-mbok Listyarini menuduh hamba begitu. la melempar fitnah kepada hamba,...'"
Bibir yang mungil merah segar itu meruncing dan tampak menantang.
"Itu adalah kesalah pahaman belaka diajeng. Yang menjatuhkan fitnah adalah jahanam Nismara yang telah mati itu. Sayang dia telah mati, kalau tidak tentu akan kuhukum seberat-beratnya."
Mendengar bahwa Nismara telah mati, hati Lasmini menjadi lega dan girang sekali, namun perasaan itu sama sekali tidak tampak pada wajahnya yang tetap sedih.
Dengan matinya Nismara, maka tuduhan itu tidak ada artinya, tidak ada saksinya dan rahasianya tetap tertutup Bagaimanapun juga, berita tentang kematian Nismara ini membuat ia sedemikian girangnya sehingga ia tidak dapat bicara untuk sejenak lamanya.
"Sudahlah, diajeng. Kita lupakan saja hal-hal yang terjadi diTelaga Sarang itu dan marilah kembali dengan aku ke kepatihan. Engkau masih cinta kepadaku seperti aku mencintaimu, bukan?"
Narotama kini merangkul dan Lasmini balas merangkul sambil membenamkan mukanya di dada sang patih. Tanpa mengangkat muka dari atas dada suaminya, Lasmini berkata lirih, seperti merajuk.
"Hamba hanya mau kembali dengan satu syarat, kakangmas."
Narotama mengelus dan membelai punggung selirnya.
"Katakanlah, apa syaratmu itu?"
"Kalau hamba sudah sampai di kepatihan, kakang-mbok Listyarini harus minta maaf kepada hamba. Dengan begitu kesalah pahaman ini baru dapat hamba lupakan."
Narotama tersenyum. Hal itu sudah dia duga sebelumnya, maka sebelum berangkat menjemput Lasmini dia sudah minta janji isterinya untuk minta maaf kepada Lasmini.
"Tentu saja. Akan kusuruh ia minta maf kepadamu, Lasmini."
"Betul, kakangmas? Ah, baru senang hatiku!"
Dan Lasmini menerima dengan penuh kepasrahan bahkan menyambut hangat ketika Narotama menciumnya.
"Akan tetapi, diajeng. Untuk membuat ketegangan antara kalian berdua benar benar mencair, engkaupun sudah sepantasnya minta maaf pula kepada dia|eng Listyarini, dengan demikian hubungan kalian akan menjadi akrab."
"Hamba? Minta maaf kepada kakang mbok Listyarini? Untuk apa?"
Narotama tersenyum.
"Diajeng, engkau juga mempunyai hutang kepadanya, Engkau menuduh ia melakukan penyelewengan dan berbuat jina dengan KI Tejoranu."
"Akan tetapi kita melihat sendiri"
"Hemm, tampaknya saja begitu, akan tetapi sesungguhnya, KI Tejoranu itulah yang telah menyelamatkan nyawa diajeng Listyarini dari tangan si jahanam Nismara."
Narotama lalu menceritakan apa yang diketahuinya tentang Ki Tejoranu dan apa yang dialami Listyarini.
Dapat dibayangkan betapa jengkelnya hati Lasmini terhadap Nismara.
Baru sekarang ia tahu bahwa Nismara telah mengkhianatinya, tidak melaksanakan perintahnya, tidak membawa Listyarini ke selatan, ke daerah Kerajaan Parang Siluman.
Melainkan membawanya jauh ke barat, la menjadi lebih gemas lagi mendengar bahwa Listyarini urung diperkosa Nismara karena tertolong oleh Ki Tejoranu keparat itu!
Akan tetapi tentu saja la tidak emperlihatkan apa yang bergolak dalam hatinya.
"Aah, begitukah, kakangmas? Kasihan kakang-mbok Listyarini yang mengalami nanyak penderitaan, masih kusangka yang bukan-bukan lagi. Baiklah, setelah tiba disana, hamba akan minta maaf kepadanya."
Demikianlah, Lasmini kembali ke kadipaten Kahuripan.
Dengan sikapnya yang amat pandai membawa diri ia berbaik dengan Listyarini sehingga garwa padmi patih inipun terkecoh dan sejak itu menganggap Lasmini seorang yang ramah dan baik hati!
Namun, di lubuk hatinya, Lasmini merasa penasaran sekali, la harus membalas dendam karena semua usahanya yang gagal itu ia anggap sebagai kekalahannya yang memalukan.
Apalagi ketika ia mendengar bahwa adiknya, Mandari yang menjadi selir Sang Prabu Erlangga, juga sebegitu lama belum berhasil sama sekali.
Seperti juga Lasmini, Ni Mandari juga berhasil membuat Sang Prabu Erlangga terlena dan terbuai oleh rayuan dan sikapnya yang serba menyenangkan.
Mandari juga pandai sekali mempergunakan segala kecantikan dan keindahan bentuk tubuhnya untuk membuat Sang Prabu Erlangga jatuh dengan cinta berahi yang menggebu-gebu.
Namun, Sang Prabu Erlangga juga merupakan seorang yang arif dan bijaksana.
Walaupun dia tidak mampu mengekang nafsu berahinya yang berkobar dibangkitkan oleh kecantikan Mandari, namun dia tetap waspada dan tahu benar bahwa cinta di antara dia dan selirnya itu hanyalah merupakan cinta nafsu berahi semata.
Jiwa mereka tidak pernah saling bersentuhan.
Oleh karena itu, dengan kesaktiannya, Sang Prabu Erlangga juga selalu menjaga agar hubungannya dengan selir terkasih ini jangan sampai menghasilkan seorang keturunan.
Dia sama sekali tidak menginginkan keturunan dari Mandari.
Sang Prabu Erlangga telah memiliki seorang permaisuri, yaitu Puteri Sekar kedaton, puteri dari mendiang Sang Prabu Teguh Dharmawangsa, dan seorang selir terkasih dan setia bernama Dyah Untari.
Dari kedua orang isterinya itu, Sang Prabu Erlangga telah mendapatkan dua orang putera.
Ketika dia meminang dua orang puteri Ratu Kerajaan Parang siluman, bukan semata karena dia mendengar akan kecantikan dua orang puteri itu, melainkan terutama sekali demi menjaga agar permusuhan antara kerajaan kecil itu dan Kahuripan dapat dipadamkan dan terdapat perdamaian.
Akan tetapi setelah dia memilih Mandari menjadi selir dan menyerahkan Lasmini kepada Narotama, dia segera tenggelam kedalam pengaruh yang teramat kuat dari kecantikan dan kepandaian Mandari mengambil hatinya.
Dalam waktu singkat Mandari menjadi selir yang tersayang.
Hal Ini sebetulnya dianggap wajar saja oleh Sang Permaisuri dan juga oleh selir Dyah Untari yang setia.
Pada jaman itu, raja manakah yang tidak memiliki banyak isteri?
Dan wajar kalau Sang Prabu Erlangga amat menyayang Mandari, selir baru itu karena selain dara itu seorang puteri, yaitu puteri Ratu Kerajaan Parang Siluman, juga memang puteri itu cantik jelita dan amat menggairahkan Baik Sang Permaisuri maupun Dyah Untari sama sekali tidak merasa cemburu atau khawatir, apalagi mereka berdua masing-masing telah mempunyai seorang putera!
Memiliki putera ini berarti merupakan pengukuhan dan penguatan kedudukan mereka.
Juga penguatan hubungan mereka dengan Sang Prabu Erlangga.
Putera Sang Permaisuri diberi nama Pangeran Samarawijaya yang pada waktu itu sudah berusia dua tahun.
Adapun putera Dyah Untari diberi nama Pangeran Budidharma dan berusia satu tahun.
Ni Mandari memang berhasil membuat Sang Prabu Erlangga mabuk kepayang dan tenggelam dalam lautan asmara, terpesona oleh kecantikan dan daya tariknya yang amat kuat.
Akan tetapi ia kecewa sekali karena semua usahanya untuk mengacau keluarga Sang Prabu Erlangga selalu menemui kegagalan.
Usaha pertama mengadu domba Sang Prabu Erlangga dengan Ki Patih Narotama sudah menemui kegagalan.
Maka hatinya selalu merasa tidak senang.
Apalagi melihat betapa para madunya, Sang Permaisuri dan Dyah Untari masing-masing telah mempunyai seorang putera sedangkan ia sendiri belum ada tanda-tanda hamil, hatinya menjadi semakin kesal.
Kalau ia hendak membunuh Sang Prabu Erlangga, memang kesempatannya banyak sekali karena Sang Prabu Erlangga seringkali terlena dan tertidur pulas dalam pelukannya.
Dalam keadaan seperti itu ia akan mudah dapat membunuh raja itu.
Akan tetapi ada dua hal yang membuat ia tidak mau melakukan atau mencobanya.
Pertama, ia tahu betapa sakti mandraguna Sang Prabu Erlangga sehingga ada kemungkinan usahanya untuk membunuh gagal, dan ke dua, diam-diam ia sendiri mabuk kepayang dan jatuh cinta kepada pria yang menjadi suaminya itu.
Sang Prabu bukan saja sakti mandraguna, akan tetapi juga tampan, gagah, dan pandai dalam olah asmara, pendeknya seorang pria yang sukar dicari bandingnya.
Karena itu, ia memutar otak untuk mencari cara lain untuk menghancurkan dan melemahkan Kerajaan Kahuripan.
Akan tetapi sebelum ia rnendapatkan cara terbaik untuk memenuhi keinginannya, datang persoalan lain yang membuat hati Mandari menjadi semakin penasaran dan marah sekali.
Berita itu adalah berita tentang peminangan yang diajukan Sang Prabu Erlangga terhadap puteri Sribaginda Raja Sriwijaya, telah diterima dan sang puteri dari Sriwijaya itu akan segera datang, dijemput oleh pasukan yang dipimpin sendiri oleh Ki Patih Narotama!
Juga pernikahan ini merupakan suatu tindakan untuk menjalin perdamaian dengan Kerajaan besar Sriwijaya itu, seperti halnya pernikahannya dengan Mandari.
Hanya bedanya, karena Mandari hanya puteri Ratu Kerajaan Parang Siluman yang merupakan kerajaan kecil saja, maka Mandari hanya menjadi seorang selir.
Adapun puteri Kerajaan Sriwijaya yang merupakan saingan Mataram sejak dulu dan merupakan kerajaan besar, dinikahi secara besar-besaran dan diangkat menjadi permaisuri ke dua setelah Sang permaisuri yang dahulunya Puteri Sekar Kedaton, puteri mendiang Raja Teguh Dharmawangsa.
Hal inilah yang membuat hati Mandari menjadi semakin panas.
Biarpun ia amat disayang Sang Prabu Erlangga dan Sang prabu lebih sering mengajak ia menemaninya tidur, namun tetap saja ia hanya seorang selir.
Di atas ia masih ada Sang Permaisuri yang kedudukannya tentu saja lebih mulia dan lebih dihormati semua punggawa dan rakyat Kahuripan.
Bahkan la masih kalah dalam hal kedudukannya dibandingkan selir Dyah Untari karena Dyah Untari telah mempunyai seorang putera dan merupakan selir terdahulu atau tertua.
Juga Dyah Untari adalah puteri dari mendiang Pangeran Sepuh Hardagutama yang masih kakak tiri berlainan ibu dengan mendiang Sang Prabu Teguh Dharmawangsa dan telah diangkat menjadi patih oleh raja yang masih saudara tirinya itu.
Baru menghadapi dua orang "saingan"
Ini saja dia sudah merasa berat untuk berebutan pengaruh, dan sekarang malah ditambah datangnya seorang permaisuri ke dua.
Sang Prabu Erlangga menyambut kedatangan sang puteri dari Sriwijaya yang nama lengkapnya adalah Sri Sanggrama wijaya Dharmaprasadatunggadewi.
Untuk menghormati sang puteri, tentu saja terutama sekali untuk menyenangkan Sri baginda Raja di Sriwijaya, Sang Prabu Erlangga mengadakan pesta besar-besar untuk merayakan pernikahannya dengan Puteri Sriwijaya itu.
Bahkan perkawinan agung yang mempersatukan dua kerajaan besar itu kemudian ditulis oleh Pujangga Empu Kanwa sebagai kitab kekawin junawiwaha yang mengisahkan pernikahan Sang Arjuna dengan seorang bidadari bernama Dewi Supraba, setelah Sang Arjuna lulus dari segala macam cobaan ujian berupa godaan berat dalam pondok pengasingannya melakukan tapabrata.
Pesta besar diadakan selama tujuh hari tujuh malam dan bukan hanya istana Kahuripan yang merayakan pesta pernikahan besar-besaran ini, bahkan seluruh rakyat juga ikut merayakannya.
Akan tetapi kalau semua orang bergembira dan berpesta pora, dua orang merasa ngelangsa.
Mereka memang ikut juga berpesta dan tampak gembira, namun semua itu hanya sandiwara.
Di dalam hati mereka, Lasmini yang datang sebagai tamu bersama keluarga Ki Patih Narotama dan Mandari yang bertindak sebagai keluarga tuan rumah yang empunya kerja, kedua orang kakak beradik ini merasa penasaran dan marah sekali.
Setelah perayaan berjalan tiga hari, Mandari berpamit kepada Sang Prabu Erlangga untuk beristirahat karena merasa lelah dan ia ingin menggunakan kesempatan Itu untuk melepas rindu dengan kakaknya, yaitu Ni Lasmini yang datang sebagai tamu.
Kedua orang puteri jelita ini lalu mengundurkan diri dan tak lama kemudian mereka sudah berada dalam sebuah kamar.
Mereka berdua bercakap-cakap.
kini kamar itu dan menutup pintu dan jendela-jendela.
Biarpun semua jendela dan pintu sudah tertutup rapat, dua orang kakak beradik itu masih bicara lirih agar jangan sampai pembicaraan mereka terdengar orang lain.
"Aduh, bagaimana ini, mbakayu Lasmini? Apakah keadaan kita terus begini saja? Sampai sekarang kita belum juga dapat melakukan sesuatu yang berarti. Ah, tentu kita akan menjadi buah tertawaan di Parang Siluman, semua orang akan mengira kita karena keenakan disini lalu melupakan tugas dan tidak berbuat apa-apa!"
Kata Mandari gemas. Lasmini mengepal kedua tangannya dengan gemas.
"Akupun merasa gemas sekali, Mandari. Usahaku berulang kali tak pernah berhasil. Bahkan paling akhir ini aku telah berhasil menyuruh orang menculik Listyarini, akan tetapi sial, ada saja orang yang menyelamatkannya sehingga ia dapat bertemu kembali dengan Ki Patih Narotama. Malah nyaris rahasiaku terbuka. Sekarang ini, apa rencanamu Mandari?"
"Begini, mbakayu Lasmini. Kita tahu bahwa dengan pernikahan Sang Prabu Erlangga dengan puteri Sriwijaya ini, maka kedudukan Kahuripan menjadi semakin kuat karena dia dapat menarik Kerajaan Sriwijaya menjadi keluarga. Maka, hal ini harus kita cegah dengan jalan membunuh puteri Sriwijaya itu sehingga Raja Sriwijaya tentu akan marah dan timbul permusuhan antara Kahuripan dan Sriwijaya."
"Hemm, kurasa rencana itu baik sekali, akan tetapi pelaksanaan ....."
"Ssttt .....!"
Mandari memberi isyarat dengan telunjuk di depan bibir sehingga Lasmini tidak melanjutkan ucapannya yang berbisik itu.
Mereka berdua mendengar langkah kaki lewat di depan kamar dan setelah langkah itu tidak terdengar lagi Mandari berkata.
"Itu tadi tentu langkah pengawal yang meronda. Bicara disini tidak aman, mbakayu. Sebaiknya kita masuk ke taman saja dan bicara di sana dapat dilakukan dengan leluasa karena tidak ada orang lain yang mungkin dapat mendengar kita. Mari!"
Mandari lalu mengajak Lasmini memasuki tamansari, taman istana yang indah dan luas.
Taman ini lebih indah daripada taman kepatihan dan di sana-sini diterangi lampu warna-warni.
Agaknya taman itupun dihias dalam rangka pesta pernikahan yang meriah itu.
Dua orang puteri itu memasuki taman dan Mandari mengajak kakaknya untuk duduk di sebuah tempat peristirahatan terbuka.
Tempat itu berpayon namun tanpa dinding dan di situ terdapat meja kursi ukiran indah, prabot-prabot hiasan dan juga digantungi sebuah lampu.
Di sekitar bangunan peristirahatan itupun diterangi lampu sehingga kalau ada orang mendekati tempat itu, mereka akan dapat melihatnya.
Setelah kedua orang puteri itu duduk berhadapan di bangunan mungil itu dan memandang ke sekeliling, yakin bahwa di sekitar tempat itu sunyi tidak ada orang lain, mereka lalu melanjutkan percakapan yang tadi terpotong.
"Mandari, bagaimana cara melaksanakan rencanamu itu? Kurasa pelaksanaannya tidak mudah, bahkan berbahaya sekali."
"Memang tidak mudah, mbakayu Lasmini, akan tetapi mari kau bantu aku mencari jalan yang baik. Selain itu, masih ada rencana lain yang sudah lama ingin kulaksanakan akan tetapi belum juga menemukan cara terbaik."
"Rencana apa itu?"
"Begini, Puteri Sriwijaya itu akan diangkat menjadi permaisuri ke dua. Akan tetapi sekarang, permaisuri pertama telah mempunyai seorang putera berusia dua tahun, yaitu Pangeran Samarawijaya yang tentu saja sebagai putera pertama permaisuri akan menjadi putera mahkota. Nah, kalau saja putera ini dapat dibunuh ....."
"Mandari, hati-hati kau! Rencanamu Itu lebih berbahaya lagi dan amat sukar dilaksanakan'"
Bisik Lasmini.
Tiba-tiba terdengar suara pria yang lirih namun terdengar jelas di telinga dua orang puteri itu.
Sebagai orang-orang sakti, dua orang puteri itu segera mengetahui bahwa suara itu diucapkan lirih, namun didorong tenaga sakti sehingga dapat mencapai telinga mereka dengan cukup jelas.
"Duhai sepasang puteri juita yang cantik jelita dan sakti mandraguna mengapa risau kalau di sini ada hamba yang akan membikin terang semua perkara yang menggelapkan hati paduka"
Lasmini dan Mandari sudah melompat berdiri dengan sigapnya dan siap siaga menghadapi segala kemungkinan.
Mereka terkejut sekali ketika tiba-tiba saja muncul seorang pria muda yang keluar dari balik batang pohon sawo yang tumbuh tak jauh dari tempat peristirahatan itu!
Tempat orang itu bersembunyi begitu dekat dan tentu dia tadi telah mendengar semua percakapan mereka!
Akan tetapi dari mana datangnya laki-laki ini?
Bagaimana dia dapat tiba dan bersembunyi di balik batang pohon itu?
Padahal kalau dia datang, tentu sebelum tiba di situ mereka berdua sudah melihatnya!
Lasmini dan Mandari mempunyai pikiran yang sama pada saat itu.
Laki laki ini harus dibunuh karena dialah satu satunya orang yang tadi mendengarkan percakapan mereka sehingga mengetahui rahasia mereka.
Ini berbahaya sekali "Haiiiiittt .....!"
Dua orang puteri yang ketika duduk bercakap-cakap tadi tampak cantik jelita dan lemah gemulai, kini tiba-tiba berubah tangkas sekali.
Keduanya sudah melompat keluar, bagaikan melayang dan keduanya sudah menyerang laki-laki itu dengan pengerahan tenaga sakti mereka karena mereka memang menyerang untuk membunuh!
Dari tangan-tangan mungil halus itu menyambar hawa pukulan yang amat dahsyat, menyerang ke arah tubuh laki-laki yang tiba-tiba muncul itu.
Akan tetapi laki-laki muda itu tidak menjadi gentar.
Diapun menggerakkan dua tangannya menyambut dan menangkis serangan dua orang puteri itu.
"Wuuuttt ..... desss .....!"
Dua orang puteri itu terkejut bukan main karena tubuh mereka terpental ketika serangan mereka bertemu dengan tolakan pemuda itu.
Ternyata laki-laki muda itu memiliki tenaga sakti vang amat kuat!
Kini pemuda itu berdiri tepat di bawah sinar lampu sehingga kedua orang puteri itu dapat melihat wajahnya dengan jelas dan keduanya tertegun.
Pemuda itu masih muda, paling banyak dua puluh satu tahun usianya, tubuhnya tinggi tegap, matanya lebar dan tajam mencorong, hidungnya mancung, mulutnya mengandung senyum ejekan dan penampilannya gagah.
Akan tetapi mereka sama sekali tidak mengenalnya, maka Lasmini dan Mandari sudah siap untuk menyerang lagi karena orang itu merupakan bahaya besar bagi mereka.
Akan tetapi pemuda itu sudah melangkah maju dan mengangkat kedua buah tangannya ke atas seperti hendak mencegah mereka melakukan serangan.
"Perlahan dulu, harap paduka ketahui bahwa hamba bukanlah musuh, melainkan seorang sahabat yang dating hendak membantu agar apa yang paduka berdua rencanakan itu dapat terlaksana dengan baik."
Mendengar ini, dua orang puteri itu saling pandang dan Lasmini yang tertarik oleh ucapan pemuda itu cepat bertanya.
"Siapakah andika dan apa maksud ucapanmu tadi?"
"Hamba bernama Linggajaya, murid bapa guru Sang Resi Bajrasakti."
"Sang Resi Bajrasakti, penasihat Kerajaan Wengker? Lalu apa maksudmu datang memasuki taman ini?"
Tanya Mandari sambil menatap wajah tampan pesolek itu dengan kagum.
Baik Lasmini maupun Mandari memiliki dasar watak mata keranjang, akan tetapi selama ini mereka berdua belum melihat adanya kesempatan untuk menuruti gairah nafsu yang memperbudak mereka.
Apalagi, suami mereka merupakan pria-pria yang tampan gagah, yang cukup memenuhi kehausan mereka yang selalu bergelora.
"Hamba menerima perintah Sang Adipati Adhamapanuda, raja kerajaan Wengker untuk membantu paduka berdua dalam usaha mengacau dan melemahkan kerajaan Kahuripan."
"Ah, baik sekali kalau begitu. Akan tetapi, Linggajaya, kita tidak ada kesempatan untuk berunding karena andika tidak boleh terlalu lama di sini. Kalau sampai terlihat seorang perajurit pengawal yang meronda, bisa celaka!"
Kata Mandari. Linggajaya tersenyum.
"Harap paduka jangan khawatir, gusti puteri. Tadi hamba memasuki taman juga tidak ada yang dapat melihat hamba. Kalau ada orang datang, hamba dapat mempergunakan Aji Panglirnutan dan tidak ada yang dapat melihat kehadiran hamba di sini."
"Hemm, bagaimana kami bisa yakin bahwa andika tidak hanya membual kalau kami tidak melihatnya sendiri?"
Tiba-tiba Lasmini berkata. Linggajaya kembali tersenyum, kemudian dia berkata.
"Kalau begitu, harap paduka berdua buktikan sendiri sekarang!"
Dia telah mengerahkan ajiannya, yaitu Aji Panglirnutan.
Tiba-tiba tampak halimun tebal menyelubungi tubuh pemuda itu dan kedua orang puteri itupun tidak dapat melihatnya lagi!
Mereka berdua merasa kagum sekali dan biarpun mereka memperhatikan dengan pandang mata mereka, tetap saja pemuda itu tidak tampak.
Tiba-tiba Lasmini merasa ada tangan mengusap lengannya dengan sentuhan mesra dan ada napas hangat terasa pekat sekali dengan tengkuknya!
Tahulah dia bahwa pemuda itu dengan ajiannya yang hebat telah melakukan hal ini kepadanya dan ini hanya mempunyai satu arti, yaitu bahwa pemuda itu tertarik sekali kepadanya seperti juga ia yang tertarik kepada Linggajaya!
Dua orang puteri itu lalu memperlihatkan pula kesaktian mereka.
Keduanya bersedakap dan mengerahkan kekuatan batin mereka untuk membuyarkan Aji panglimutan itu dan perlahan-lahan halimun itupun makin menipis dan tampaklah Linggajaya sudah berdiri di dekat mereka sambil tersenyum manis.
"Hebat paduka berdua memang sakti dan dapat membuyarkan ajian hamba, akan tetapi para perajurit pengawal biasa itu tidak akan mampu melakukan itu karenanya harap paduka jangan khawatir dan harap suka memberi petunjuk, apa yang harus hamba lakukan agar rencana gusti Puteri Mandari tadi dapat dilaksanakan dengan baik."
"Hemm, andika juga sudah mengenal nama kami?"
Tanya Lasmini. Linggajaya memandang kepada Lasmini, tersenyum dan pandang matanya jelas memperlihatkan perasaan hatinya terhadap selir patih ini.
"Tentu saja hamba sudah diberitahu dan mengenal paduka berdua, Gusti Puteri Lasmini yang menjadi garwa Ki Patih Narotama dan Gusti Puteri Mandari yang menjadi garwa Sang Prabu Erlangga. Paduka berdua adalah kakak beradik puteri-puteri Gusti Ratu Kerajaan Parang Siluman yang bertugas untuk menyingkirkan raja dan patih Kahuripan, atau mengadu domba di antara mereka, atau mengusahakan apa saja agar Kerajaan Kahuripan menjadi lemah. Bukankah demikian seperti yang hamba dengar?"
"Benar sekali, Linggajaya. Nah, kalau begitu, dengarlah baik-baik. Aku mempunyai rencana ....."
"Hamba tadi sudah mendengar akan kedua rencana paduka itu, gusti puteri. Kalau menurut hamba, hamba dapat bertindak sebagai pedang bermata dua, sekali bergerak mendapatkan dua hasil yang baik."
"Apa maksudmu Linggajaya?"
Tanya Lasmini dengan tertarik.
"Begini, maksud hamba. Kalau hamba sudah diberitahu tentang tempat, waktu atau saat yang tepat untuk bertindak, hamba dapat membunuh pangeran kecil itu dan sekaligus diusahakan agar yang disangka melakukan perbuatan itu adalah sang puteri dari Sriwijaya! Masuk diakal kalau puteri Sriwijaya itu ingin melenyapkan putera pertama yang akan menjadi putera mahkota itu, bukan? Tentu saja dengan keinginan agar kelak, kalau ia melahirkan seorang putera, puteranya itu yang akan menjadi pangeran mahkota. Dengan demikian, sekali bertindak, mendapatkan dua hasil. Pertama, kematian Pangeran pertama itu tentu akan merupakan pukulan hebat bagi keluarga Sang Prabu Erlangga dan ke dua, kalau Puteri Sriwijaya dituduh melakukan pembunuhan dan ditindak, maka kerukunan antara Kahuripan dan Sriwijaya menjadi rusak."
"Ah, bagus sekali!"
Lasmini berseru girang dan ia memandang kepada pemuda itu dengan sinar mata yang mengandung kegairahan.
Pemuda seperti inilah yang dapat dijadikan sekutu, juga patut untuk menjadi teman untuk memuaskan gairahnya yang berkobar.
Linggajaya tersenyum dan menyambut pujian Lasmini itu dengan pandang mata yang penuh arti.
pandang mata yang merayu dan seolah dengan pandang matanya itu dia membelai tubuh selir Kepatihan itu!
"Sekarang tinggal Gusti Puteri Mandari yang dapat memberi petunjuk kepada hamba tentang cara, tempat dan saat hamba harus bertindak karena tentu saja paduka yang lebih mengetahui keadaan dalam istana ini,"
Kata Linggajaya.
"AKU sudah pikirkan hal itu,"
Kata Mandari dengan suara yang bernada gembira.
"Sebaiknya diatur begini."
Ia lalu berbisik-bisik lirih sekali sehingga terpaksa Lasmini dan Linggajaya mendekatkan telinga mereka untuk menangkap apa yang dikatakan selir Sang Prabu Erlangga Itu.
Dan tanpa disengaja, ketika mendekatkan telinga, muka Linggajaya berlekatan sekali dengan muka Lasmini sehingga keduanya dapat merasakan tiupan napas masing-masing di pipi mereka.
Kembali mereka bertukar pandang yang penuh arti, penuh daya tarik dan sekaligus penuh tantangan!
"Nah, sudah mengerti benarkah andika, Linggajaya?"
Tanya Mandari setelah selesai berkasak-kusuk. Linggajaya mengangguk.
"Hamba sudah mengerti, gusti puteri."
Akan tetapi mata pemuda itu mengerling ke arah Lasmini.
"Kalau begitu, aku akan mempersiapkan perlengkapan yang kaubutuhkan. Besok malam, datanglah ke sini untuk menerima barang-barang itu."
"Sendiko, gusti puteri. Kalau begitu hamba mohon diri. Sudah terlalu lama hamba di sini."
Kedua orang puteri itu mengangguk dan ketika Linggajaya hendak melangkah pergi, Lasmini memanggilnya lirih.
"Linggajaya .....!"
Pemuda itu berhenti dan menghadapi puteri itu.
"Kalau semua sudah dapat terlaksana dengan baik, andika harus meninggalkan istana, akan tetapi jangan pergi jauh. Datanglah ke kepatihan, kami membutuhkan seorang juru taman yang pandai dan kalau engkau berada dekat sana, siapa tahu engkau dapat pula membantuku."
"Sendika, gusti puteri, dan terima kasih."
Jawab Linggajaya dengan wajah berseri dan dia lalu menyelinap lenyap ditelan kegelapan malam di balik pohon-pohon dalam taman itu.
Dua orang puteri itu merasa gembira sekali dan mereka lalu melangkah perlahan-lahan kembali ke istana.
Ketika memasuki bangunan yang megah itu, karena tidak melihat ada orang dan suara perayaan pesta itu masih ramai terdengar di bagian depan dan luar istana, Lasmini berkata kepada adiknya.
"Wah, Mandari, kalau anak itu dapat dibunuh, akan berhasillah jerih payah kita selama ini."
"Ssttt ..... kita sudah di sini, jangan bicarakan itu lagi,"
Bisik Mandari memperingatkan kakaknya.
Mereka tertawa tawa dan tampak gembira sekali ketika memasuki ruangan itu.
Sama sekali mereka tidak tahu bahwa ketika mereka bicara tadi, ada sepasang telinga yang menangkap ucapan Lasmini tadi.
Pemilik sepasang telinga ini adalah Dyah Untari, selir pertama Sang Prabu Erlangga.
Tadinya, melihat dua orang puteri itu datang dari taman, Dyah Untari hendak menyambut dan menyapa dengan ramah seperti biasanya, akan tetapi melihat keduanya berbisik-bisik, ia merasa heran dan cepat menyelinap di balik tiang besar.
Ketika mendengar bisikan yang diucapkan Lasmini, ia makin terkejut pula dan tidak memperlihatkan diri.
Kecurigaan menyelinap dalam hatinya.
Biarpun Dyah Untari tidak cemburu kepada Mandari, namun dalam hatinya ia kurang suka kepada selir termuda dan terkasih dari Sang Prabu Erlangga ini.
Bukan karena cemburu, melainkan karena sikap Mandari terkadang angkuh dan sering kali selir ini memperlihatkan sikap kasar kepada para dayang, ringan tangan menampar dayang hanya karena kesalahan kecil saja dan terutama sekali, di luar tahu sang prabu, Mandari suka memaki dengan kata-kata yang tidak bersusila dan tidak pantas dikeluarkan dari mulut seorang selir raja besar!
Akan tetapi di depan Sang Prabu Erlangga, Mandari selalu tampak lemah lembut, halus menyenangkan, seperti seekor domba yang berbulu indah bersih dan jinak lembut.
Seringkah Dyah Untari melamun bahwa domba jinak itu tidak mustahil sewaktu waktu akan berubah menjadi seekor serigala!
Malam terakhir pesta perayaan pernikahan itu diliputi cuaca yang gelap.
sejak sore tadi langit tertutup mendung dan hujan gerimis mendatangkan hawa yang dingin.
Akan tetapi perayaan malam terakhir itu tetap meriah.
Suara gamelan dipukul bertalu-talu mengiringi suara tembang para waranggana.
Sesosok bayangan berkelebat membayangi seorang perwira berpakaian seperti perwira Sriwijaya.
Perwira ini adalah Swandaru, kepala pasukan pengawal sang Puteri Sri Sanggramawijaya dari sriwijaya.
Tadinya perwira inipun duduk di pendopo bersama para tamu lain, nonton para penari (Lanjut ke
Jilid 16) Keris Pusaka Sang Megatantra (seri ke 01 -Serial Keris Pusaka Sang Megatantra) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo
Jilid 16 srimpi.
Akan tetapi tiba-tiba muncul seorang dayang menghampirinya dan mengatakan dengan suara bisik bisik bahwa perwira dari Sriwijaya di dipanggil oleh sang puteri Sri Sanggramawijaya agar masuk ke dalam keputren.
Mendengar panggilan ini, tentu saja Swandaru cepat meninggalkan tempat pesta dan pergi ke arah keputren, sama sekali tidak tahu bahwa ada bayangan berkelebat cepat dalam kegelapan dan membayanginya.
Ketika dia tiba di lorong yang menuju ke keputren, tempat yang sepi karena semua orang sibuk luar, ada yang nonton, ada yang sibuk melayani tamu, tiba-tiba ada bayangan berkelebat di dekatnya.
Sebuah tangan halus meluncur dan sebuah tamparan mengenai tengkuknya.
Tanpa mengeluarkan suara Swandaru terkulai pingsan dan diseret ke dalam bagian taman yang gelap.
Sungguh luar biasa betapa perwira Sriwijaya yang bukan seorang lemah ini dapat dirobohkan demikian mudahnya oleh sebuah tangan yang mungil dan halus.
Sementara itu, di ruangan samping yang masih menjadi bagian keputren menjadi tempat para biyung emban (inang pengasuh) biasa mengasuh anak-anak keluarga istana.
Karena pada waktu itu Sang Prabu Erlangga baru mempunyai dua orang putera, maka biasanya hanya dua orang putera ini yang diasuh oleh para biyung emban.
Akan tetapi pada malam itu, agaknya para biyung emban tidak ada pekerjaan dan ikut nonton di tempat pesta.
Yang berada di ruangan itu hanya seorang biyung emban bernama Darmi yang dipercaya untuk mengasuh Pangeran Samarawijaya.
Biasanya, seorang pengasuh lain, Ginah, berada pula di situ dan mengasuh Pangeran Budidharma yang lebih kecil.
Akan tetapi malam itu yang berada di situ hanya biyung emban Darmi yang bertubuh gemuk.
la menggendong seorang anak laki -laki dengan sehelai selendang.
Agaknya anak itu sedang tidur karena Darmi membawanya berjalan hilir mudik sambil bersenandung.
"Ah, semua menonton, bersenang senang dan malas!"
Gerutunya di tengah senandungnya.
Memang, semua orang nonton dan ia ditinggal seorang diri menggendong anak laki-laki itu.
Agaknya selama perayaan pesta itu berlangsung, di istana makanan berlimpah-limpah.
Sambil menidur-nidurkan anak itu, Darmi kadang berhenti di dekat sebuah meja dan mengambil makanan dari piring lalu memakannya.
Senandungnya menjadi sumbang karena diseling makan.
Pantas tubuhnya gemuk karena agaknya ia suka ngemil (sering makan makanan kecil), Demikian asyiknya Darmi sehingga ia tidak melihat betapa sesosok bayangan berkelebat memasuki ruangan itu.
Pada saat dia mendengar gerakan di belakangnya, ia menengok dan.....
matanya terbelalak melihat seorang laki-laki mengenakan topeng hitam sudah berdiri di depannya!
Laki-laki itu menggerakkan sebatang keris dan.....
secepat kilat keris itu ditusukkan ke tubuh anak yang digendong Darmi.
Anak yang malang itu hanya menjerit satu kali, lalu diam tak bergerak karena keris itu telah menembus dadanya.
Orang yang menusuk anak itu lalu melompat dan keluar dari ruangan.
Darmi masih terbelalak.
Ketika ia memandang ke arah anak dalam gendongannya, ia melihat darah berlumuran dari tubuh anak itu!
la menjerit sekuatnya dan.....
terkulai jatuh pingsan dengan anak yang telah mati itu masih dalam gendongannya.
Akan tetapi jeritnya yang melengking nyaring itu mengejutkan orang-orarg yang berada di keputren.
Para dayang berlarian memasuki ruangan itu dan sebentar saja keadaan menjadi gempar.
Tak lama kemudian, Sang Prabu Erlangga sendiri memasuki ruangan, diikuti permaisuri yang baru, sang pengantin baru Puteri Sri Sanggramawijaya.
Sepasang pengantin ini terpaksa keluar dari kamar pengantin mereka ketika mendengar ada pembunuhan di tempat pengasuh anak anak.
Tidak ketinggalan Mandari juga mengikuti Sang Prabu Erlangga, dan Dyah Untari.
Ketika Sang Prabu Erlangga memasuki ruangan itu dengan tiga orang isterinya yang paling terkemuka, semua dayang dan abdi daiem (pelayan) berjongkok dipinggir dan menyembah.
Sang Prabu Erlangga menghampiri Darmi yang masih menangis meraung-raung setelah sadar dari pingsannya dan rnemeluki anak yang berlumuran darah dan sudah mati itu.
"Biyung Emban, berhentilah menangis dan ceritakan apa yang terjadi di sini."
Kata Sang Prabu Erlangga dengan tenang setelah dia mengamati sebentar anak yang masih digendong Darmi itu.
Mendengar suara sang prabu, agaknya Darmi baru menyadari bahwa junjungannya telah berada di situ.
la segera menyembah nyembah dan menahan tangisnya.
"Aduh, gusti..... ketiwasan (celaka), gusti..... ada..... ada orang masuk lalu menggunakan kerisnya membunuh "
Katanya gagap.
"Hemm, seperti apa orangnya?"
"Hamba tidak tahu, gusti ..... dia ..... dia memakai topeng hitam ....."
"Bagaimana pakaiannya?"
"Pakaiannya..... pakaiannya..... seperti perwira pasukan pengawal Gusti Puteri Pengantin.....dari Sriwijaya ....."
"Tidak mungkin.....!"
Puteri Sri Sanggramawi berseru.
"Kenapa tidak mungkin? Ini buktinya!"
Terdengar jawaban dari luar dan masuklah Lasmini mengiringkan dua orang perajurit pengawal istana yang menggotong tubuh seorang tinggi besar yang memakai pakaian perwira pasukan Sriwijaya dan orang itu sudah mati!
"Paman Swandaru.....!"
Sang Puteri Sri Sanggramawijaya berjongkok dekat mayat perwira pengawalnya itu, matanya terbelalak dan mukanya pucat.
"Paman Swandaru..... andika kenapakah..... siapa yang berani membunuh perwira pengawalku?"
La bangkit berdiri dan memandang penasaran kepada Sang Prabu Erlangga.
Ki Patih Narotama juga sudah datang ke tempat itu setelah dia yang tadi duduk di luar mendengar bahwa ada pembunuhan di bagian keputren.
Dia memandang dengan alis berkerut kepada Lasmini karena sekali pandang ke arah muka mayat perwira Sriwijaya yang agak kebiruan itu diapun dapat menduga bahwa perwira itu tentu tewas oleh pukulan Aji Ampak-ampak yang ampuh dan dikuasai oleh selirnya itu.
"Tenanglah, adinda,"
Kata Sang Prabu Erlangga kepada permaisurinya yang baru. Kemudian dia memandang kepada Lasmini yang membawa sebatang keris yang berlumuran darah lalu bertanya dengan suara penuh wibawa.
"Lasmini, ceritakanlah apa yang terjadi."
"Diajeng, berceritalah sejujurnya, terus terang dan jangan ada yang disembunyikan!"
Terdengar Narotama berkata kepada Lasmini dengan suara memerintah. Dengan hormat Lasmini menyembah kepada Sang Prabu Erlangga lalu menceritakan dengan suara lembut dan sungguh-sungguh .
"Hamba sedang mencari angin di taman dan hamba mendengar jeritan dari bangunan bagian keputren, maka hamba segera hendak lari menghampiri. Akan tetapi setibanya di pintu taman, hampir hamba bertabrakan dengan orang ini! Melihat dia lari keluar dari bagian keputren, hamba menegurnya akan tetapi dia malah menyerang hamba dengan keris ini."
Ia menyerahkan keris itu kepada Sang Prabu Erlangga yang menerima keris itu dan mengamatinya. Kemudian dia berkata.
"Seterusnya bagaimana?"
"Hamba melawannya dan karena dia juga cukup digdaya dan agaknya mati matian hendak menyerang hamba, terpaksa hamba lalu mengeluarkan aji pukulan untuk merobohkannya. Sayang, agaknya hamba memukul terlalu kuat sehingga dia tewas, padahal sesungguhnya hamba ingin menangkap dia hidup-hidup agar dia dapat mengaku mengapa dia membunuh Pangeran Samarawijaya dan siapa yang menyuruhnya."
"Siapa lagi yang menyuruhnya?"
Tiba tiba Puteri Mandari berkata lantang "Semua buktinya sudah lengkap dan saksinya juga ada. Biyung-emban Darmi, coba lihat, bukankah ini laki-laki yang melakukan pembunuhan tadi?"
Puteri Mandari menuding ke arah mayat Perwira Swandaru.
Biyung-emban Darmi sudah Menjadi gugup sekali karena menghadapi pemeriksaan oleh Sang Prabu Erlangga, bahkan Ki Patih Narotama dan semua keluarga Istana.
la memandang mayat itu dan berkata gagap.
".....kasinggihan..... pakaiannya..... begitu itulah..... tapi mukanya..... ditutupi topeng ....."
"Nah, itu sudah cukup, kakanda prabu. Buktinya lengkap, saksinya ada. Jelas perwira Sriwijaya ini pembunuhnya dan siapa lagi yang menyuruh dia melakukan pembunuhan itu kalau bukan Sang Puteri Sri Sanggramawijaya"
Kata Mandari.
"Ampun, gusti. Kalau boleh hamba ikut bicara, pembunuhan ini tentu dilakukan sebuah komplotan yang mempunyai niat jahat tertentu, lalu menjatuhkan fitnah atas diri Sang Puteri Sri Sanggrawijaya....."
"Kakangmbok Untari! Urusannya sudah jelas dan andika bicara soal komplotan segala. Apakah sekarang masih ada komplotan seperti yang dulu dilakukan mendiang Ki Patih Hardogutam ketika berkelomplot untuk membunuh mendiang kanjeng rama prabu Teguh Dharmawangsa?"
Bentak Mandari dengan suara mengandung penuh ejekan. Pucat wajah Dyah Untari dan ia merasa terkejut, marah dan malu sehingga tubuhnya gemetar dan kedua matanya basah.
"Sudah cukup! Apa perlunya ribut ribut ini?"
Bentak Sang Prabu Erlangga sambil mengerutkan alis dan memandang Mandari dengan sinar mata mengandung teguran.
Akan tetapi Mandari membalas pandang mata Sang Prabu Erlangga dengan berani dan lapun membantah.
"Akan tetapi, kakanda prabu! Putera paduka Pangeran Samarawijaya dibunuh orang dan hamba sekalian tidak boleh ribut-ribut?"
"Hemm, siapa bilang puteraku Pangeran Samarawijaya dibunuh orang? Anak yang terbunuh inipun aku tidak tahu siapa! Heh, biyung-emban, siapakah anak dalam gendongan mu itu?"
"....ampun, gusti.... ini adalah Kadrya, keponakan hamba. Karena hamba mengganggur dan ibu anak ini sakit, maka malam ini dia dititipkan kepada hamba.... tidak tahunya..... dia mati terbunuh..... hu-hu-huuhh..... bagaimana hamba harus memberitahu adik hamba.....?"
Banyak orang menghela napas lega mendengar bahwa yang terbunuh bukan Pangeran Samarawijaya, akan tetapi Lasmini dan Mandari terkejut setengah mati!
Sungguh tadinya mereka sudah merasa lega karena sekali ini usaha mereka berhasil baik.
Linggajaya yang menyamar dengan pakaian perwira Sriwijaya telah melaksanakan tugasnya dengan baik, membunuh anak itu lalu menyerahkan keris yang dipakai membunuh kepada Lasmini yang menanti di taman untuk dijadikan bukti.
Siapa kira, yang diasuh biyung-emban Darmi bukan sang pangeran, melainkan keponakan biyung-emban itu sendiri!
Yang tidak merasa heran adalah Dyah Untari karena ialah yang telah menggagalkan usaha pembunuhan atas diri sang pangeran itu.
Ketika ia mendengarkan bisikan Lasmini dan Mandari yang mengatakan bahwa kalau anak itu dapat dibunuh maka berhasillah usaha mereka.
hatinya menjadi curiga dan juga ngeri.
Siapa tahu yang dimaksudkan anak oleh dua orang wanita kakak beradik puteri puteri Parang Siluman itu adalah kedua orang pangeran, puteranya sendiri, Pangeran Budidharma dan Pangeran Samarawijaya.
Oleh karena itu, semenjak malam itu, ia minta kepada kedua orang biyung emban pengasuh agar membawa kedua orang anak itu!
Maka terjadilah salah bunuh itu.
Akan tetapi, Dyah Untari tidak berani mengemukakan hal ini.
Kecurigaannya bahwa dua orang puteri Parang Siluman itu yang mengatur pembunuhan, tidak mempunyai bukti yang kuat dan ia tidak mau kalau nanti Mandari kembali menghinanya dengan menceritakan tentang komplotan mendiang ayahnya di depan orang banyak.
Ia dapat menderita malu.
Apalagi, biyung-emban Darmi sendiri sudah bersaksi bahwa pembunuhnya memang perwira Sriwijaya itu.
Mungkinkah perwira Sriwijaya itu berkomplot dengan kakak beradik dari Parang Siluman itu?
Rasanya tidak mungkin dan urusannya menjadi bertambah ruwet.
Memang, keadaannya di Kahuripan, menjadi selir pertama dan tercinta dari Sang Prabu Erlangga merupakan hal yang aneh.
Mendiang ayahnya adalah Pangeran Tua Hardogutama yang kemudian diangkat sebagai patih oleh mendiang Sang Prabu Teguh Dharmawangsa, mertua Sang Prabu Erlangga.
Mendiang ayahnya itu dan mendiang kakaknya memang melakukan pemberontakan, hendak menguasai kerajaan dan hendak membunuh Sang Prabu Erlangga ketika belum menjadi raja.
Namun usaha mereka itu gagal, bahkan mereka sendiri tewas dalam perang, la sendiri lama sekali tidak membantu ayahnya, bahkan membantu Erlangga dengan setia sehingga setelah Erlangga menjadi raja, dia diambil sebagai selir.
"Sudahlah, biyung emban, ceritakan saja apa yang terjadi dan kami akan beri hadiah untuk menghibur hati keluarga adikmu. Urusan ini kita habiskan di sini saja. Pembunuhan telah dilakukan dan pembunuhnya juga sudah terbunuh, tidak perlu adanya curiga mencurigai dan tuduh menuduh. Marilah, adinda Sri Sanggramawijaya, peristiwa ini jangan sampai menjadi penghalang kebahagiaan kita."
Semua bubar.
Para abdi dan perajurit pengawal mengurus mayat perwira Sriwijaya dan mayat anak kecil itu oleh biyung emban Darmi dibawa pulang ke rumah adiknya, disambut ratap tangis Ibu anak itu.
Akan tetapi peristiwa yang terakhir ini seolah mulai menyadarkan Lasmini dan Mandari bahwa mereka kini harus berhati-hati.
Apalagi agaknya peristiwa itu juga mendatangkan keraguan dalam hati Sang Prabu Erlangga dan Ki Patih Narotama.
Pandang mata Sang Prabu Erlangga terhadap Mandari, biarpun masih mesra seperti dulu, namun mengandung sinar mata tajam menyelidik, seolah raja itu ingin menjenguk isi hati yang paling dalam dari selirnya ini.
Demikian pula dengan Ki Patih Narotama.
Memang masih dapat dibakar gairahnya oleh Lasmini yang pandai merayu, namun di saat saat tertentu tampak betapa sinar mata ki patih ini mencorong dan memandang tajam kepada Lasmini, seperti hendak menyelidiki!
Bahkan Lasmini berhasil membujuk Ki patih Narotama untuk mengajarkan satu di antara ilmu-ilmunya kepada selir itu.
Narotama mengajarkan semacam ilmu silat Kukila Sakti (Burung Sakti) pada Lasmini sehingga wanita ini menjadi semakin tangkas saja.
Ilmu silat ini membuat ia dapat bergerak laksana seekor burung srikatan, lincah dan cepat bukan main.
"Kakangmas, setelah dua orang juru taman kita dulu itu terbunuh orang, sampai sekarang belum ada penggantinya yang tepat."
Kata Lasmini kepada Ki Patih Narotama dengan suara manja sambil merapatkan duduknya di bangku taman mendekati suaminya.
Narotama tersenyum.
Selirnya ini kalau sudah bersikap manja seperti itu biasanya ada maunya.
Akan tetapi sebelum memenuhi kehendaknya itu, biasanya Lasmini bersikap amat mesra dan amat menyenangkan hatinya.
Dia lalu merangkul dan menarik tubuh yang bahenol itu.
Mendapat kesempatan ini Lasmini lalu mengangkat pinggulnya dan duduklah ia di atas pangkuan Narotama.
K i patih tertawa dan merangkul pinggang yang ramping itu.
Bau melati semerbak dari rambut dan leher Lasmini dan dia menghirup keharuman itu sambil mencium leher yang berkulit putih mulus itu.
Lasmini menggelijang dan tertawa lirih tertahan sehingga suara itu menimbulkan gairah dalam hati Narotama.
"Kalau engkau ada usul mengenai juru taman, katakana saja, sayang."
Kata Ki patih sambil mengamati wajah yang berkulit putih halus kemerahan itu.
"Begini, kakangmas tentu mengenal Sarti, pelayan pribadi hamba itu bukan"
"Tentu saja, abdimu yang ayu manis merak ati itu?"
Narotama menggoda sambil tertawa.
"Ih, ngenyek (mengejek) ini, ya? Sarti memang berwajah buruk dan bentuk tubuhnya tinggi besar, akan tetapi ia mempunyai seorang adik misan laki-laki yang menurut keterangannya trampil dan pandai mengurus taman. Nah, Sarti yang minta kepada hamba agar adik misannya itu diterima bekerja sebagai juru taman di sini dan hamba menyanggupi. Akan tetapi tanpa perkenan dari paduka, mana hamba berani mengambil keputusan menerimanya?"
Narotama tersenyum.
"Ah, urusan sekecil itu kenapa harus minta perkenan dariku, diajeng? Urusan taman dan juru tamannya, putuskan saja sendiri. Terserah kepadamu. Kalau engkau sudah menerima adik misan Sarti itu sebagai juru taman, aku sih setuju saja. Asal dia dapat bekerja dengan baik, menjaga agar taman kita selain bersih, terawat sehingga tampak indah dan bunga-bunganya berkembang subur."
"Tentu saja, kakangmas, dan terima kasih atas persetujuan paduka."
"O ya, siapa nama juru taman baru Itu, diajeng?"
"Namanya Linggajaya, kakangmas."
"Hemm, nama yang indah, tentu orangnya elok pula."
"Ih, kakangmas. Apakah itu penting? yang penting adalah hasil pekerjaannya. Akan tetapi bagaimanapun juga, tentu lebih menyenangkan kalau pembantu pembantu kita berwajah elok daripada berwajah buruk."
"Dan abdimu itu .....?"
Narotama kembali menggoda.
"Sarti? Ia lain, kakangmas. la telah menjadi abdi di istana kanjeng ibu di istana Parang Siluman sejak hamba masih bayi. Ia yang mengasuh hamba sejak kecil. Karena itu, biar ia buruk rupa, ia merupakan pembantu setia yang sangat hamba sayangi."
Narotama tersenyum.
"Hemm, ingin akuu melihat bagaimana rupanya ketika engkau masih bayi. Ingin aku memondongmu, menimang dan memandikanmu!"
"Memandikan hamba?"
Lasmini tertawa. Tawanya renyah dan merdu.
"Paduka ini aneh-aneh saja, membuat hamba malu..."
Mereka bergurau dan sambil bergandengan tangan mereka lalu masuk gedung kepatihan untuk melanjutkan senda gurau mereka yang mesra.
Lingga jaya memang datang ke kepatihan seperti yang pernah diminta Lasmini ketika mereka bertemu di taman istana Sang Prabu Erlangga.
Seperti ketika memasuki taman istana kerajaan, ketika memasuki taman kepatihan, Linggajaya juga mempergunakan aji kesaktian untuk memasuki taman tanpa diketahui para penjaga dan para perajurit pengawal kepatihan.
Dengan mudah Linggajaya dapat bertemu dengan Lasmlni yang memang sudah menanti di taman malam itu karena ia telah memperoleh kabar rahasia dari Mandari bahwa Lmggajaya akan mengunjunginya di taman kepatihan.
Ketika Linggajaya muncul, Lasmini memerintahkan abdinya yang setia, Sarti untuk berjaga di luar pondok demi keamanan pertemuan itu.
"Duduklah, Linggajaya,"
Kata Lasmini dengan sikap anggun dan angkuh karena ia tidak mau merendah dan masih "tahan harga"
Walaupun jantungnya berdebar tegang menerima kunjungan seorang pemuda tampan dan amat digdaya itu.
Ia menjadi selir Narotama ketika masih seorang gadis dan belum pernah sebelumnya ia bergaul dengan pria.
Setelah menjadi isteri Ki Patih Narotama iapun belum pernah bercengkerama dengan pria lain, apalagi mengadakan hubungan cinta.
Maka kini berduaan saja dengan Linggajaya, ia menjadi tegang sehingga jantungnya berdebar-debar.
"Terima kasih, gusti puteri."
Kata Linggajaya dengan sopan dan hormat, lalu dia hendak duduk bersila di atas lantai.
"Ah, jangan di lantai. Duduk di kursi saja, agar lebih enak kita bicara."
Kata Lasmini.
"Akan tetapi ..... hamba ..... ah, takut, gusti puteri."
"Takut apa? Aku yang memerintahmu duduk, kenapa takut? Duduklah, ingin aku bertanya kepadamu."
"Baiklah dan terima kasih, gusti puteri. Maaf kalau hamba berani duduk di kursi ini."
Setelah pemuda itu duduk berhadapaan dengannya, terpisah sebuah meja, Lasmini dapat memandang wajah pemuda yang disinari lampu gantung itu dengan jelas.
Memang tampan dan menawan, pikirnya.
Masih muda dan mata itu!
Mulut dengan senyumnya yang mengejek itu!
Menggemaskan!
Ki Patih Narotama juga tampan ganteng, akan tetapi karena telah bergaul sebagai isterinya selama hampir tiga tahun, ia merasa bosan juga.
Lasmini tidak mengerti bahwa kebosanan tentu datang dalam hati orang yang selalu dipengaruhi nafsu.
Kalau ia tadinya merasa jatuh cinta kepada Narotama yang tampan dan ganteng, ia tidak tahu bahwa cintanya itu adalah cinta nafsu cinta karena ketampanan, kegantengan dan kekagumannya akan kesaktian Ki Patih Narotama.
Dan segala yang terdorong nafsu hanya merupakan kesenangan lahiriah saja, hanya sebatas kulit dan kesenangan seperti ini sudah pasti mendatangkan kebosanan!
Kebosanan mendorong orang untuk mengejar yang baru, yang dianggap lebih menarik dan lebih menyenangkan dan kalau yang baru itu sudah terdapat, maka lambat laun dia Akan bosan pula dan ingin mengejar yang lebih baru lagi!
"Linggajaya, engkau tentu tahu bahwa bantuanmu kepada kami, kepada adikku Mandari dan aku, sama sekali telah gagal dan hal ini amat mengecewakan kami.
Bagaimana bisa sampai gagal begitu, Linggajaya?
Apakah engkau hanya pandai berjanji saja akan tetapi kenyataannya sama sekali tidak menguntungkan kami?"
"Maaf, gusti puteri. Akan tetapi kekeliruan telah terjadi sehingga hamba membunuh anak yang salah. Kekeliruan Itu sama sekali bukan salah hamba karena hamba hanya mendapat tugas untuk membunuh anak yang diasuh oleh biyung emban Darmi itu dan perintah itu telah hamba laksanakan dengan baik. Tentu saja hamba tidak tahu kalau anak itu bukan sang pangeran, karena hamba belum pernah melihat pangeran yang dimaksudkan."
"Hemm, kalau begitu Mandari yang kurang teliti sehingga terjadi kekeliruan itu yang hampir saja malah membuka rahasia kita! Akan tetapi sudahlah, karena kekeliruan itu kita harus lebih berhati-hati. Sekarang maukah engkau membantuku di sini?"
"Memang tugas hamba untuk membantu gusti puteri Lasmini dan gusti puteri Mandari. Katakan saja apa yang harus hamba lakukan, gusti puteri."
"Pertama-tama, engkau harus selalu dekat denganku agar mudah bagiku mengatur rencana dan menghubungimu kalau saatnya yang baik tiba untuk bertindak. Dan untuk itu, engkau harus tinggal di kepatihan ini dan menyamar menjadi juru taman."
"Juru taman?"
Tanya Linggajaya heran.
Masa dia, putera lurah, murid Resi Bjrasaktl, bahkan dia telah diangkat oleh Adipati Adhamapanuda raja Wengker sebagai senopati dan diberi keris Candalamanik.
Dia, senopati Wengker, kini harus menjadi seorang juru taman kepatihan Kahuripan?
"Ya, menjadi juru taman kepatihan, Linggajaya.
Kenapa engkau tampak heran?" 'Menjadi juru taman, mencangkul tanah dan menanam bunga?"
"Ya, menyirami dan menyapu, membersihkan taman dan menjaga agar taman tetap tampak bersih dan rapi. Bagaimana, engkau keberatan, Linggajaya?"
"Gusti puteri, hamba jelek-jelek seorang senopati! Hamba belum pernah memegang tangkai pacul dan sapu!"
Lasmini tersenyum dan giginya yang putih mengkilap itu mengintai dari balik sepasang bibir yang merah basah ketika senyuman yang bergelimang madu dan merekah dan terdengar suara tawa kecil tertahan.
Linggajaya sampai melongo, terpesona oleh keindahan wajah wanita yang demikian menggairahkan.
sepasang mata yang redup dan mulut yang indah itu, demikian menantang!
"Aih, Linggajaya.
Engkau memang hanya sebagai juru taman, bukan menjadi tukang kebun benar-benar.
Maksudnya agar engkau selalu dekat denganku dan ....."
"Ah, jadi paduka juga ingin selalu berdekatan dengan hamba? Kalau begitu sama benar keinginan perasaan kita."
Kata Linggajaya sambil tersenyum dan pandang matanya mencorong tajam Seperti hendak menembus dada yang membusung itu dan menjenguk isi hati yang terkandung di dalamnya.
"Hush! Maksudku agar selalu dekat dan mudah bagiku untuk mengajak berunding kalau aku telah menemukan sebuah rencana yang baik."
"Akan tetapi pekerjaan ini berat sekali bagi hamba, gusti. Berat dan sekaligus juga merendahkan martabat hamba. Jauh lebih ringan bagi hamba kalau paduka memberi perintah membunuh seseorang atau berapa orangpun!"
"Hemm, kalau engkau benar-benar ingin membantuku seperti yang ditugaskan kepadamu oleh Paman Adipati Wengker, tentu engkau tidak akan keberatan untuk menyamar sebagai juru taman Linggajaya."
"Bagaimanapun juga, penyamaran itu berat dan merendahkan martabat bagi hamba, akan tetapi..... kalau imbalannya sepadan, agaknya hamba siap melakukannya!"
Linggajaya kembali memandang dengan sinar mata mengandung penuh arti.
Tentu saja Lasmini dapat memahami apa yang tersirat di dalam ucapan pemuda yang telah berhasil menarik dan menggetarkan gairah dalam hatinya itu.
Jantungnya kembali berdebar tegang karena selain dengan Ki Patih Narotama, belum pernah timbul berahinya ketika berhadapan dengan pria lain.
Mungkinkah Ini timbul karena kebosanannya kepada suaminya?
Ataukah karena Linggajaya merupakan seorang pemuda sakti mandraguna yang dapat diharapkan bantuannya agar tugasnya di Kahuripan dapat berhasil?
Ataukan karena Linggajaya memang seorang pemuda tampan, gagah dan juga sakti mandraguna dan merupakan wajah baru yang tentu saja memiliki daya tarik yang amat kuat?
Mungkin kesemuanya itulah yang mendorong bangkitnya gairah dalam hatinya terhadap pemuda itu.
Lasmini tersenyum.
"Imbalan apakah yang kau inginkan dariku agar engkau mau melaksanakan pekerjaan sebagai juru taman ini, Linggajaya?"
Melihat senyum dan pandang mata yang menantang itu, Linggajaya menjadi semakin berani.
"Gusti Puteri Lasmini paduka laksana setangkai kembang indah sekali yang sedang mekar semerbak harum, adapun hamba bagaikan seekor kumbang yang hina. Betapa akan bahagianya sang kumbang ini kalau sang bunga sudi membuka kelopaknya dan memberikan kesempatan kepada sang kumbang untuk hinggap, menghisap dan menikmati sedikit sari madunya."
Sepasang pipi yang halus itu menjadi kemerahan seperti buah tomat matang dan sepasang bibir itu tersenyum malu malu.
Tentu saja Lasmini maklum betul apa yang dimaksudkan pemuda itu.
Setelah agak lama merasa canggung dan salah tingkah, akhirnya Lasmini berkata.
"Kita lihat saja nanti hasil pekerjaanmu. Kalau engkau berhasil membuat rencanaku terlaksana dengan baik..... heemm, aku tidak menjanjikan apa-apa, akan tetapi mungkin sekali keinginan kumbang itu akan terlaksana."
Bukan main girangnya hati Linggajaya mendengar ini.
Berarti Lasmini sudah setengah menyambut dan menjanjikan pemenuhan keinginannya itu.
Dan pemuda yang sudah berpengalaman dengan wanita itu hampir yakin bahwa selir Ki Patih Narotama ini juga "ada rasa"
Kepadanya. Hal ini dapat dia lihat dari senyum dan sinar matanya.
"Sendika nglampahi (siap melaksanakan ) perintah paduka, gusti puteri!"
Katanya dengan girang.
"Nah, sekarang pergilah. Jangan terlalu lama di sini sebelum engkau diterima sebagai juru taman."
Kata Lasmini.
Linggaya lalu mempergunakan Aji Panglimutan sehingga tubuhnya diselimuti semacam halimun atau kabut.
Dalam keadaan tidak tampak itu, tiba-tiba Lasmini merasa ada hidung yang hangat menyentuh pipi kanannya.
Hanya sentuhan lembut dan hangat dan pemuda itu lalu pergi dari situ.
Lasmini merasakan jantungnya berdebar tegang dan tak terasa lagi, ia mengangkat tangan kirinya dan mengusap pipi kanannya.
Ia tahu bahwa pemuda itu telah mengambung (mencium dengan hidung) pipinya, suatu hal yang belum pernah ia alami sebelum atau selama ia menjadi selir Narotama, kecuali tentu saja oleh suaminya sendiri.
Ia tersenyum-senyum dan membayangkan kemesraan dengan pemuda itu sehingga debar jantungnya menjadi semakin berdegup kencang.
Demikianlah, setelah mendapatkan perkenan dari Narotama, Linggajaya diterima sebagai seorang juru taman baru di taman kepatihan.
Tentu saja Linggajaya mengenakan pakaian penduduk biasa dan dia menyembunyikan keris yang diberikan oleh Adipati Wengker.
Tepat seperti yang diramalkan oleh Empu Bharada, memang pada waktu itu Kerajaan Kahuripan secara rahasia diancam malapetaka dari segala jurusan, bagaikan awan-awan mendung yang datang dari segala penjuru, berkumpul di atas Kahuripan dan mengancam kerajaan ini dengan hujan malapetaka!
Diambilnya Mandari sebagai selir Sang Prabu Erlangga, dan Lasmini menjadi selir Ki Patih Narotama, kemudian munculnya Linggajaya yang membantu kedua orang puteri Kerajaan Parang Siluman ini, sudah merupakan ancaman malapetaka yang mengancam raja dan patih Kahuripan itu.
Dan ternyata bukan itu saja ancaman datang.
Pada suatu hari, ada seorang tamu mohon diperkenankan menghadap Sang Prabu Erlangga.
Dia mengaku sebagai misan dari Pangeran Hendratama yang masih berada di luar kota raja.
Ketikaa perwira pengawal melapor kepada Sang Prabu Erlangga bahwa seorang utusan dari Pangeran Hendratama, kakak iparnya itu, mohon menghadap, tentu saja dengan girang dia memperkenankan utusan itu masuk dan menghadap padanya.
Pangeran Hendratama adalah kakak tiri Permaisuri, putera mendiang Sang Prabu Teguh Dharmawangsa dari seorang selir yang berkasta rendah.
Ketika Erlangga terpilih menjadi raja, agaknya Pangeran Hendratama merasa kurang senang karena dia merasa sebagai keturunan langsung para raja Mataram dan merasa lebih berhak.
Untuk menyatakan ketidak senangan hatinya, Pangeran Hendratama lolos dari istana dan pergi entah kemana.
Sekarang dia mengirim seorang utusan dan Sang Prabu Erlangga yang bijaksana menyambut utusan itu dengan hati girang.
Bagaimanapun juga, Pangeran Hendratama tidak pernah menyatakan ketidak-senangan hatinya itu dengan sikap atau tindakan, maka Sang Prabu Erlangga juga tidak menaruh dendam kepadanya, hanya rasa kasihan.
Sang Prabu Erlangga bahkan memanggil Permaisuri untuk hadir dan ikut menerima laporan utusan Pangeran Hendratama yang kakak tiri dari Permaisuri.
Sang permaisuri juga merasa gembira akan Mendengar berita dari kakak tirinya yang Sudah lama tidak diketahui ke mana perginya itu.
Ketika utusan itu datang menghadap, berlutut dan duduk bersimpuh di depan sang Prabu Erlangga dan empat orang Isterinya yang paling dekat, yaitu Sang Permaisuri pertama, Permaisuri ke dua, Dyah Untari, dan Mandari.
Sang Prabu Erlangga dan empat orang isterinya itu tercengang.
Kiranya utusan itu seorang wanita!
Seorang gadis manis dengan tahi lalat di pipi kiri, kulitnya kuning, tubuhnya tinggi semampai, lehernya panjang dan sikapnya anggun.
Usianya sekitar dua puluh dua tahun.
Dengan penuh hormat ia menyembah kepada Sang Prabu dan empat orang isterinya.
"Hamba mohon beribu ampun bahwa hamba telah berani datang menghadap dan mengganggu waktu paduka tanpa dipanggil, gusti."
Katanya sambil menyembah.
Jelas bahwa gadis ini bukan orang biasa.
Ia tahu betul akan tata cara dan kesusilaan menghadap raja dan agaknya ia sudah terlatih untuk itu.
Hal ini tidak mengherankan gadis manis itu bukan lain adalah Sukarti yang merupakan garwa ampilan (isteri selir), juga pembantu setia, yang pertama dari Pangeran Hendratama.
"Siapakah andika dan laporkan dengan jelas apa maksud kedatanganmu menghadap kami."
Kata Sang Prabu Erlangga yang diam-diam girang menyaksikan sikap yang anggun dari utusan kakak iparnya itu. Sukarti menyembah.
"Hamba bernama Sukarti, pembantu dan utusan Gusti Pangeran Hendratama. Hamba diutus menghadap paduka dan menghaturkan sepucuk surat dari beliau, kanjeng gusti"
"Hemm, bagus. Kalau begitu cepat serahkan surat itu kepada kami. Terimalah suratnya, diajeng."
Kata Sang Prabu Erlangga kepada Mandari.
Selir ini bangkit dari kursinya, menghampiri Sukarti dan menerima gulungan surat yang dihaturkan oleh gadis utusan itu.
Ketika jari tangan Mandari menyentuh tangannya, Sukarti merasa betapa ada hawa getaran yang amat kuat dari tangan puteri jelita dan ia terkejut bukan main, maklum bahwa sang puteri itu memiliki kesaktian tinggi.
Akan tetapi ia tidak membuat reaksi, hanya menundukkan mukanya dan diam-diam Sukarti dapat menduga bahwa puteri ini tentulah Puteri Mandari dari Kerajaan Parang Siluman yang kini menjadi selir Sang Prabu Erlangga.
la memang sudah mendapat keterangan jelas tentang keadaan keluarga di istana Kahuripan itu.
Bahkan kalau Pangeran Hendratama kini menghubungi Sang Prabu Erlangga dan hendak mendekatinya, hal itu juga terdorong oleh kehadiran dua orang puteri Parang Siluman yang kini menjadi selir sang prabu dan selir ki patih itu.
Mereka ini akan dapat menjadi sekutu yang baik sekali!
Sang Prabu Erlangga membaca surat kakak iparnya itu dan dia mengangguk angguk, lalu menyerahkan surat itu kepada Permaisuri pertama yang adik tiri Pangeran Hendratama.
Permaisuri Sekar Kedaton membaca surat kakaknya Itu dan iapun ikut gembira, mengangguk-angguk, lalu menyerahkan surat itu kepada Permaisuri ke dua, yaitu Puteri Sri Sanggramawijaya dari Sriwijaya.
Puteri inipun membaca surat itu lalu dioperkan kepada Dyah Untari.
Kemudian yang terakhir kali Mandari juga membacanya.
Mereka semua merasa ikut bergembira karena di dalam suratnya itu, Pangeran Hendratama mengirim hadiah berupa beberapa batang tombak dan keris pusaka ampuh untuk sang prabu, dan menyatakan keinginannya untuk kembali ke Kahuripan.
Pangeran Hendratama tidak mohon untuk tinggal di istana, melainkan mohon perkenan sang prabu untuk tinggal di luar istana.
Sang Prabu Erlangga lalu mengutus kepala pengawal untuk mengangkut sebuah peti berisi pusaka-pusaka itu, kemudian melalui Sukarti dia mengundang kakak iparnya itu agar dating berkunjung dan berbincang-bincang di istana.
Setelah menghaturkan terima kasih dan hormat Sukarti mengundurkan diri keluar dari istana, hatinya senang karena ia tahu bahwa majikannya, juga suami dan junjungannya, tentu akan merasa gembira sekali mendengar sambutan keluarga Sang Prabu Erlangga yang demikian ramah.
Demikianlah, perpindahan Pangeran Hendratama ke kota raja setelah oleh Sang Prabu Erlangga dihadiahi sebuah gedung yang cukup besar dan megah di luar istana, diam-diam merupakan ancaman baru yang berbahaya.
Pangeran Hendratama tidak pernah berhenti menaruh dendam dan keinginan hatinya untuk sewaktu-waktu dapat merebut kekuasaan dan menjadi raja Kahuripan sebagai penerus mendiang ramanya, yaitu Sang Prabu Teguh Dharmawangsa.
Pangeran Hendratama tinggal bersama tiga orang selirnya yang setia di dalam sebuah gedung besar hadiah Sang Prabu Erlangga.
Mulailah pangeran itu mengadakan kontak dengan para bangsawan yang diam-diam mendukungnya.
Dia sengaja mendekati para bangsawan yang dalam pemerintahan Raja Erlangga tidak mendapatkan tempat yang tinggi.
Mereka adalah orang-orang yang kecewa dan iri hati karena tidak kebagian kedudukan yang "basah", yang merasa berjasa akan tetapi tidak mendapatkan penghargan sebagaimana yang mereka inginkan.
Para bangsawan ini memang oleh Sang Prabu Erlangga tidak diberi kedudukan penting karena raja yang arif ini mengenal watak mereka yang hanya mengejar kesenangan untuk diri sendiri.
Orang-orang seperti ini kalau diberi kedudukan tinggi hanya akan mempergunakan kedudukan yang memberi kuasa kepada mereka itu untuk bertindak sewenang-wenang kepada bawahan dan rakyat, orang-orang yaitu biasa menjilat ke atas dan meludah kebawah.
Mereka condong melakukan korupsi dan menggunakan segala cara untuk menyenangkan diri sendiri, kalau perlu berpijak kepada kesengsaraan orang-orang di bawah mereka.
Pangeran Hendratama memang cerdik sekali.
Dia tahu bahwa seperti juga dia sendiri yang tidak kebagian kedudukan orang-orang itu merasa iri dan membenci Sang Prabu Erlangga secara diam diam.
Dia menghubungi mereka, mengobarkan semangat kebencian mereka dengan mengatakan bahwa Sang Prabu Erlangga yang mereka anggap sebagai seorang raja yang mata keranjang dan merendahkan kehormatan Kerajaan Kahuripan keturunan Mataram dengan mengawini dua orang puteri dari pihak musuh, yaitu puteri Mandari dari Parang siluman dan Puteri Sri Sanggramawijaya dari Sriwijaya!
Demikianlah, diam-diam Pangeran Hendratama telah menyusun kekuatan, sekongkol dengan banyak bangsawan yang secara rahasia menghimpun sebuah pasukan yang siap dipergunakan untuk tujuan terakhir mereka, yaitu memberontak dan menggulingkan Sang Prabu Erlangga dibawah pimpinan Pangeran Hendratama!
Bagaikan seekor laba-laba, dengan sabar dan tekun Pangeran Hendratama mulai membentang jaring di sekitar diri Sang Prabu Erlangga.
Tentu saja diapun sudah tahu akan Isi hati puteri Mandari dari Parang Siluman, maka diam diam diapun mulai mendekati puteri ini untuk diajak bersekutu.
Puteri Mandari membiasakan diri untuk pergi berburu binatang buas di hutan yang terdapat di luar kota raja.
Ia tadinya melakukan perburuan itu bersama Sang Prabu Erlangga dan dengan dalih bahwa ia suka sekali berburu yang merupakan hiburan mengasyikan baginya maka Sang Prabu Erlangga memperkenankan selir ini terkadang melakukan perburuan seorang diri.
Raja sama sekali tidak khawatir akan keselamatan selir itu, karena ia maklum Mandari memiliki kesaktian yang cukup tinggi untuk menjaga dirinya sendiri.
Tentu saja kesukaan berburu sendiri itu hanya merupakan alasan Mandari agar ia mendapat kebebasan dan dengan demikian, ia dapat leluasa berhubungan dengan orang-orang di luar istana.
Pangeran Hendratama yang mengetahui akan kebiasaan ini, segera mempergunakan kesempatan itu untuk diam-diam menjumpai Mandari dan mereka berduapun segera bersepakat untuk bersekutu dalam niat mereka menjatuhkan Sang Prabu Erlangga.
Akan tetapi, tentu saja keduanya tidak mau berterus terang akan alasan mereka memusuhi Sang Prabu Erlangga.
Pangeran Hendratama tentu saja tidak mengatakan bahwa dia ingin merebut kekuasaan Sang Prabu Erlangga dan menjadi raja di Kahuripan dan Mandari juga tidak mengatakan tentang keinginan ratu Parang Siluman untuk menguasai kahuripan.
Bahkan Pangeran Hendratama kecelik dan menabrak batu ketika dia mencoba untuk menguasai Puteri Mandari yang cantik molek itu.
Pangeran yang mata keranjang ini ingin sekali menarik sang puteri bukan saja sebagai sekutunya, melainkan juga sebagai kekasih gelapnya!
Akan tetapi hamper saja dia tewas ketika dia mencoba untuk merayu Mandari.
Puteri itu marah sekali dan menyerangnya dengan hebat ketika sang pangeran dalam pertemuan mereka berdua dalam hutan menyatakan cintanya dan merayunya.
Pangeran Hendratama yang juga digdaya, membela diri bahkan ingin menundukkan sang puteri dengan aji kanuragaan yang dia kuasai.
Akan tetapi dalam pertandingan singkat tanpa disaksikan siapapun juga itu, akhirnya Pangeran Hendratama terjungkal roboh oleh tamparan Mandari.
"Pangeran, mengingat andika bukan musuhku, maka aku masih mengampunimu dan tidak membunuhmu. Kita dapat bekerja sama menghadapi Sang Prabu Erlangga dan Ki Patih Narotama. Akan tetapi sekali lagi andika kurang ajar dan tidak bersusila terhadapku, aku akan membunuhmu!"
Sejak itu, Pangeran Hendratama bersikap hormat sekali kepada Puteri Mandari.
Dia menganggap puteri itu amat berbahaya kalau dijadikan musuh, akan tetapi amat berguna untuk dijadikan sekutu.
Apalagi mengingat betapa dekat sekali dengan Sang Prabu Erlangga.
Melihat perubahan sikap Pangeran Hendratama terhadap dirinya, Mandari juga melupakan peristiwa itu dan iapun bersikap baik karena iapun maklum bahwa sang pangeran itu dapat menjadi sekutu yang berguna sekali.
Pangeran itu mempunyai pengaruh yang cukup luas dan besar kemungkinan dengan kerja sama mereka, akhirnya akan tercapai rencananya, yaitu menjatuhkan Sang Prabu Erlangga dan menghancurkan Kerajaan Kahuripan.
Kita tinggalkan dulu mereka yang bersiap-siap menyusun kekuatan untuk mennjatuhkan Sang Prabu Erlangga dan Ki Patih Narotama, pendeknya untuk merebut kekuasaan di Kerajaan Kahuripan dan kita ikuti Nurseta.
Seperti telah diceritakan di bagian depan, Nurseta datang ke dusun Karang Tirta dan berhasil memaksa Ki Suramenggala, lurah Karang Tirta, untuk menceritakan tentang ayah ibunya yang meninggalkannya sejak dia berusia sepuluh tahun.
Setelah dihajar keras, Ki Suramenggala mengaku bahwa orang tua Nurseta yang bernama Ki Darmaguna dan Nyi Sawitri, melarikan diri entah ke mana setelah tahu bahwa mereka dilaporkan oleh Suramenggala ke kota raja, yaitu kepada Senopati Sindukerta.
Kemudian muncul Linggajaya dan Puspa Dewi yang membela Lurah Suramenggala sehingga Nurseta terpaksa melarikan diri karena tidak ingin permusuhan menjadi berlarut-larut.
Kini dia tahu ke mana harus melacak untuk mengetahui tentang orang tuanya.
Tiada lain ke kota raja, mencari Senopati Sindukerta yang agaknya ditakuti ayah ibunya itu dan menanyakan mengapa orang tuanya menjadi orang-orang buruan.
Pada suatu pagi, Nurseta menuju ke kota raja Kahuripan.
Ketika dia menuruni sebuah lereng bukit kapur, dari tempat tinggi itu dia melihat serombongan orang mengawal sebuah kereta yang tampak mengkilap tertimpa cahaya matahari.
Dilihat dari pakaian seragam dan tombak atau golok yang berada di tangan orang orang itu, mudah diduga bahwa mereka itu adalah sepasukan perajurit yang mengawal sebuah kereta yang pintunya tertutup tirai sehingga penumpangnya tidak tampak dari luar.
Jumlah pasukan itu ada dua losin orang.
Karena ingin sekali mendengar tentang kota raja Kahuripan dan menyangka bahwa penumpang kereta yang dikawal pasukan itu tentu seorang pembesar Kerajaan Kahuripan, maka Nurseta cepat menuruni bukit itu.
Siapa tahu dari rombongan itu dia akan mendapatkan keterangan tentang Senopati Sindukerta yang dicarinya karena tentu Senopati yang ditakuti orang tuanya itu akan dapat memberi penjelasan tentang orang tuanya yang melarikan diri meninggalkan dia seorang diri.
Akan tetapi ketika Nurseta yang mengerahkan Aji Bayu Sakti sehingga dia dapat berlari menuruni bukit itu seperti terbang sudah tiba di dekat jalan di bawah bukit yang dilalui rombongan itu, Dia melihat betapa ada dua orang laki-laki berdiri di tengah jalan menghadang rombongan itu.
Kereta itu sudah berhenti dan seorang berpakaian perwira, komandan rombongan pengawal itu, sudah maju ke depan kereta menghadapi dua orang yang menghadang perjalanan mereka.
Nurseta ingin tahu apa yang terjadi, Dia cepat mendekati dan bersembunyi dibalik sebatang pohon, menonton dan medengarkan apa yang sedang terjadi.
Dia memperhatikan dua orang yang menghadang rombongan itu.
Mereka itu merupakan dua orang yang penampilannya tidak seperti orang biasa.
Yang seorang adalah seorang laki laki berusia sekitar tiga puluh tahun, bentuk tubuhnya yang tinggi kurus dan punggungnya agak bongkok itu membuat dia tampak ringkih.
Pakaiannya berbentuk jubah panjang dan di tangan kirinya tergantung seuntai tasbih yang biji tasbihnya terbuat dari kayu hitam.
Wajah orang itu membuat Nurseta tertegun heran.
Dia pernah mendengar dongeng tentang seorang pendeta dalam dongeng Mahabarata yang disebut Bagawan Durna!
Wajah orang tinggi kurus bongkok itu persis wajah Bagawan Durna seperti yang digambarkan dalam dongeng!
Nurseta memperhatikan orang ke dua dan dia merasa kagum.
Orang ini sungguh gagah menyeramkan.
Usianya sekitar dua puluh lima tahun.
Tubuhnya tinggi besar dengan otot melingkar-lingkar di kedua lengan dan dadanya yang bajunya terbuka bagian depan.
Bulu lebat tumbuh di dadanya, kulitnya hitam legam.
Baik bentuk tubuh yang tinggi besar dan kokoh kuat itu maupun wajahnya yang gagah, dengan mata, hidung, mulut serba besar, mengingatkan Nurseta akan tokoh lain dalam Mahabarata, yaitu Raden Bratasena atau yang kemudian bernama Werkudara.
Begitu gagah dan jantan!
Nurseta mendengarkan percakapan antara perwira pasukan pengawal dan dua orang itu.
Perwira itu juga bertubuh tinggi besar walaupun tidak sebesar orang yang seperti Bratasena itu.
Bahkan semua perajurit yang dua puluh empat orang banyaknya itupun rata-rata memiliki bentuk tubuh yang kokoh kuat dan wajah merekapun membayangkan kebengisan dan kekerasan.
"Heh, siapa kalian berdua dan apa mau kalian menghadang di tengah jalan. Hayo minggir!"
Demikian bentak sang Perwira dengan suara menggeledek.
Orang yang mirip Bagawan Durna itu tertawa dan mau tak mau Nurseta tersenyum sendiri.
Bahkan suaranyapun seperti suara Bagawan Durna Tawanya terkekeh dan kecil seperti suara wanita "Heh-heh-hi-hi-hi .....!
Andika tidak mengenal kami berdua?
Heh-heh-kalau begitu jelas andika ini seorang yang tolol!"
"Keparat, jangan main-main!"
Bentak sang perwira.
"Kami adalah pasukan pengawal Kerajaan Siluman Laut Kidul yang sedang mengawal gusti ratu kami. Hayo cepat kalian menepi dan berlutut, Gusti ratu kami hendak lewat!"
Kini orang ke dua yang hitam tinggi besar itu yang menjawab dan ketika mengeluarkan suara, seperti yang diduga oleh Nurseta, terdengar suaranya besar parau menggelegar.
"Perwira coromeo (kecoa) jangan banyak tingkah. Kami sudah lelah berjalan kaki. Serahkan kereta itu kepada kami berdua, baru kalian boleh lewat dengan aman!"
Perwira yang memimpin dua losin perajurit itu menjadi marah sekali, tangan kanannya bergerak dan dia sudah mencabut sebatang pedang dan inipun merupakan isyarat karena dua losin anak buahnya segera mencabut senjata mereka mengepung dua orang penghadang itu.
Dengan garang perwira itu menudingkan telunjuk kirinya ke arah dua orang itu dan membentak.
"Heh, dua orang biadab! Apakah mata kalian buta dan telinga kalian tuli? Berani kalian menghadang pasukan yang sedang mengawal gusti kami, Kanjeng Ratu Mayang Gupita, ratu dari Kerajaan Siluman Laut Kidul? Siapakah kalian yang nekat dan bosan hidup ini? Hayo akuilah siapa kalian, jangan mampus tanpa meninggalkan nama!"
"Heh-heh-heh-hi-hi!"
Duplikat Durna itu terkekeh genit seperti wanita, atau lebih tepat, seperti seorang banci.
"Benar-benar kamu tidak mengenal kami? Heh, menyebalkan. Buka matamu dan pandang baik-baik, buka telingamu dan dengar baik-baik. Aku adalah Sang Cekel Aksomolo, yang mbaureksa (menguasai) Hutan Werdo dilereng Gunung Wilis, gegedug tanpa tanding yang namanya membuat bumi langit gonjang ganjing, dan engkau, perwira coromeo, perajurit ceremende tidak mengenal aku? Wah, payah, engkau tak pantas menjadi perwira, harus turun pangkat menjadi pengurus kandang kuda"
"Aku adalah Dibyo Mamangkoro!"
Kata orang ke dua yang suaranya besar lantang, sesuai dengan tubuhnya yang hitam tinggi besar.
Akan tetapi, perwira itu memang belum pernah mendengar nama dua orang yang mengaku sebagai orang-orang terkenal itu.
Mereka itu masih muda, Cekel Aksomolo berusia kurang lebih tiga puluh tahun dan Dibyo Mamangkoro baru sekitar dua puluh lima tahun.
Tentu saja perwira yang hidup didaerah Kerajaan Siluman Laut Kidul itu belum pernah mendengar nama-nama itu.
"Kalian berdua yang bermata buta bertelinga tuli, berani mengganggu perjalanan ratu kami!"
Kata perwira itu dan diapun memberi isyarat kepada anak buahnya.
Para perajurit pengawal segera bergerak menyerang kedua orang yang hendak merampok kereta itu.
Akan tetapi Dibyo Mamangkoro menggerakkan kedua lengannya yang panjang dan begitu kedua lengan itu menyambar, ada angin pukulan bersiutan dan angin itu melanda para Pengepungnya.
Beberapa orang perajurit pengawal berteriak kaget karena mereka dilanda angin dan berpelantingan!
Cekel Aksomolo tertawa terkekehkekeh, tasbih di tangannya digerakkan, terdengar suara berkerotokan dan empat orang yang terdeekat dengannya roboh sambil menutupi telinga mereka dengan kedua tangan!
Suara berkerotokan dari biji-biji tasbih itu menimbulkan getaran hebat pada telinga mereka!
Tiba-tiba terdengar bentakan nyaring.
"Kalian mundur semua!"
Dan tirai yang menutupi pintu kereta terbuka dan dari dalam kereta meluncur sesosok tubuh dan tahu-tahu seorang wanita telah berdiri di hadapan dengan Cekel Aksomolo dan Dibya Mamangkoro!
Dua orang sakti itu memandang dan mereka terkejut.
Wanita itu berusia kurang lebih lima puluh tahun, pakaiannya serba mewah indah gemerlapan, tubuhnya tinggi besar, bahkan tidak kalah tinggi dibandingkan Dibyo Mamangkoro.
Perutnya gendut, wajahnya dibedaki tebal dan memakai pemerah bibir dan pipi, tubuhnya penuh perhiasan emas permata.
Wajahnya serba bulat gemuk dan ada dua ujung taring muncul dari celah-celah bibirnya.
Inilah Ratu Kerajaan Siluman Laut Kidul yang bernama Ratu Mayang Gupita, bekas isteri Ki Nagakumala.
Wanita raseksi (raksasa wanita) ini selain menjadi ratu, juga terkenal sebagai seorang tokoh yang sakti mandraguna.
Ialah seorang di antara mereka yang dulu mengeroyok Sang Empu Dewamurti di Gunung Arjuna.
Bersama Resi Bajrasakti dari Kerajaan Wengker, dan Tri Kala, yaitu Kalamuka Kalamanik, dan Kalateja dari Kerajaaan Wura-wuri, mereka berlima mengeroyok Sang Empu Dewamurti.
Biarpun mereka berlima menjadi ketakutan dan melarikan diri, namun mereka juga berhasil membuat sang empu maha sakti itu terluka berat sehingga meninggal dunia.
Cekel Aksomolo dan Dibyo Mamangkoro adalah dua orang tokoh yang mengambil jalan sesat.
Dibyo Mamangkoro yang baru saja pulang dari pengembaraannya di daerah Blambangan di mana dia mencari guru-guru untuk memperdalam ilmu-ilmunya setelah selama beberapa tahun dia mencari ilmu dan aji kesaktian di Banten, ingin mendapatkan sebuah tempat untuk bertapa dan memperkuat diri.
Dia mendengar tentang Pulau Nusakambangan, maka pergilah dia ke sana.
ketika tiba di sana, dia disambut oleh bekas anak buah bajak laut yang sebagian masih tinggal di situ dan sebagian pula ikut pimpinan mereka pindah di laut jawa bagian utara.
Dua puluh lebih anak buah bajak laut itu mengeroyoknya akan tetapi mereka semua dikalahkan sehingga tunduk dan menerima Dibyo Mamangkoro sebagai pimpinan mereka.
Sejak saat itu, Dibyo Mamangkoro menjadi orang yang menguasai Nusakambangan.
Pada suatu hari Cekel Aksomolo yang pernah dikenalnya di daerah Banten datang berkunjung dan Dibyo Mamangkoro dapat terbujuk oleh Cekel Aksomolo untuk mencari kedudukan dan kemuliaan di dalam kemelut yang sedang dihadapi Kerajaan Kahuripan.
Pada hari itu, kebetulan mereka bertemu dengan kereta indah yang dikawal perajurit-perajurit itu.
Melihat kereta yang indah itu, keduanya mengambil keputusan untuk merampasnya karena mereka merasa lelah melakukan perjalanan jauh dengan jalan kaki saja.
Melihat munculnya wanita yang menyeramkin itu dua orang sakti yaitu biasanya melakukan kekerasan dan kejahatan itu merasa terkejut.
Mereka pernah mendengar bahwa ratu Kerajaan Siluman Laut Kidul adalah seorang yang memiliki kesaktian.
Akan tetapi mereka tidak pernah membayangkan bahwa ratu itu demikian menyeramkan.
Bagaimanapun juga, Cekel Aksomolo apalagi Dibyo Mamangkoro, adalah dua orang yang sakti mandraguna, bahkan menganggap diri sendiri terlalu tinggi sehingga mereka itu biasanya memandang rendah orang lain.
Biarpun penampilan Ratu Mayang Cupita tampak menyeramkan, namun mereka tidak gentar, bahkan ingin sekali menguji sampai di mana kehebatan ratu yang namanya terkenal sekali itu.
(Lanjut ke
Jilid 17) Keris Pusaka Sang Megatantra (seri ke 01 -Serial Keris Pusaka Sang Megatantra) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo
Jilid 17
"Hemm, bocah-bocah bagus kemarin sore besar kepala lebar mulut! Berani kalian menyombongkan diri di depan kami. Sambutlah ini!"
Kata Ratu Mayang Gupita dan dia sudah memutar-mutar kedua lengannya di depan dada lalu mendorongkan kedua telapak tangan itu ke arah Cekel Aksomolo dan Dibyo Mamangkoro.
Tiba-tiba dari kedua telapak tangannya itu keluar bola-bola api menyambar ke arah dua orang itu.
Cekel Aksomolo dan Dibyo Mamangkoro terkejut, maklum akan dahsyatnya serangan yang tenaga saktinya dapat mengeluarkan bola api itu.
Maka mereka pun menyambut dengan cepat.
Cekel Aksomolo memutar tasbihnya dan membaca mantera, sedangkan Dibyo Mamangkoro sudah mengerahkan tenaga saktinya, dadanya membusung penuh hawa, kemudian kedua tangannya didorongkan kedepan dengan telapak tangan terbuka.
Angin yang amat kuat menyambar dari telapak tangannya itu, menyambut bola api yang meluncur ke arah dirinya.
"Dar-dar-dar-dar .....!"
Beberapa bola api itu meledak ketika bertemu dorongan kedua tangan Dibyo Mamangkoro dan bertemu dengan sambaran sinar hitam dari tasbih Cekel Aksomolo.
Benturan tenaga sakti yang dahsyat ini menggetarkan bumi di sekitarnya dan akibatnya Ratu Kerajaan Siluman Laut Kidul itu mundur dua langkah, akan tetapi Dibyo Mamangkoro undur empat langkah dan Cekel Aksomolo malah terhuyung ke belakang.
Ini membuktikan bahwa tenaga sakti wanita raksasa itu masih lebih kuat dan tenaga Cekel Aksomolo yang paling lemah di antara mereka bertiga.
TADI ketika mendengar dari perwira pasukan pengawal bahwa kereta itu ditumpangi Ratu Kerajaan Siluman Laut Kidul, dua orang sakti itu diam-diam sudah terkejut.
Akan tetapi karena watak mereka sombong, mereka masih belum percaya bahwa seorang ratu, seorang wanita akan memiliki kedigdayaan yang patut diperhitungkan.
Akan tetapi setelah kini mereka membuktikan sendiri akan kehebatan wanita raksasa itu, mereka terkejut dan juga kagum.
Bagaimanapun juga, raja wanita ini merupakan seorang di antara musuh-musuh Sang Prabu Erlangga, berarti masih satu golongan dengan mereka.
Apalagi Cekel Aksomolo telah mendengar bahwa ratu ini merupakan seorang di antara mereka yang telah menyerang Sang Empu Dewamurti yang mengakibatkan tewasnya empu sakti mandraguna itu.
'Bojleng iblis laknat"
Dibyo Manaingkoro mencaci dengan suaranya yang besar.
"Kiranya bukan omong kosong yang kudengar bahwa Ratu Kerajaan Siluman Laut Kidul adalah seorang wanita yang sakti mandraguna!"
Raksasa ini memuji dengan jujur karena dia harus mengaku bahwa saat itu tenaganya sendiri yang sudah jarang dapat ditemukan tandingannya itu ternyata masih kalah setingkat dibandingkan wanita itu.
"Heh-heh-heh-hi-hi-hik, apa anehnya. Ki Dibyo Mamangkoro? Apa andika belum mendengar bahwa Kanjeng Ratu Mayang Gupita inilah yang telah menewaskan Sang Empu Dewamurti yang terkenal itu!"
Kata Cekel Aksomolo dengan suaranya yang tinggi seperti suara wanita. Mendengar ini, Dibyo Mamangkoro terkejut.
"Ah, benarkah? Kanjeng Ratu, benarkah bahwa paduka yang telah menewaskan Sang Empu Dewamurti?"
Ratu yang bertubuh raksasa wanita itu kini berdongak dan tertawa. Suaranya lantang dan ketika tertawa, mulutnya terbuka sehingga tampak jelas buah taringnya yang runcing mengkilap.
"Heh-he-he-he-heh! Siapa lagi yang mampu membunuh Empu Dewamurti kecuali kami?"
Wanita itu terbahak dan tampak bangga sekali.
"Akan tetapi, Kanjeng Ratu. Saya mendengar bahwa paduka masih dibantu oleh wakil dari Kerajaan Wengker dan kerajaan Wura-wuri. Benarkah itu?"
Cela Aksomolo bertanya. Wajah wanita yang tadinya terbahak itu kini mengkerut dan cemberut.
"Huh, mereka itu hanya untuk menambah semangat saja. Memang benar Resi Bajrasakti dari Wengker membantu, dan Tri Kala dari Wura-wuri, akan tetapi andai kata tidak ada aku, mereka mana mampu menandingi Empu Dewamurti?"
Kata Ratu Mayang Gupita menyombong.
Nurseta yang bersembunyi, mengintai peristiwa itu mula-mula merasa kagum karena dia tidak mengira sama sekali akan bertemu orang-orang yang sungguh sakti mandraguna.
Dia semakin kagum ketika melihat wanita raksasa yang ternyata Ratu Kerajaan Siluman Laut Kidul itu mampu menandingi dua orang laki-laki digdaya itu, bahkan dalam adu tenaga sakti tadi wanita raksasa itu membuktikan dirinya lebih kuat daripada mereka berdua.
Akan tetapi ketika mendengar pengakuan Ratu Mayang Gupita, dia terkejut bukan main.
Kini tahulah dia siapa yang telah menyebabkan gurunya terluka dan tewas.
Ternyata ada lima orang yaitu Resi Bajrasakti, Ratu Mayang Gupita dan Tri Kala dari Kerajaan Wura wuri.
Hal ini berarti bahwa gurunya telah dimusuhi oleh para jagoan dari tiga kerajaan, yaitu Kerajaan Siluman Laut Kidul, Kerajaan Wengker, dan Kerajaan Wura-wuri!
Kini mengertilah dia.
Tiga kerajaan itu, di samping kerajaan kecil lainnya seperti Kerajaan Parang Siluman dan lain-lainnya, adalah musuh-musuh yang tidak mau tunduk kepada Mataram dan sampai sekarang tidak mau tunduk kepada Sang Prabu Erlangga, raja Kerajaan Kahuripan yang menjadi keturunan Mataram.
Adapun gurunya, Sang Empu Dewamurti adalah seorang yang amat setia kepada Mataram.
Maka dia dapat mengambil kesimpulan bahwa mereka itu membunuh Empu Dewamurti untuk melenyapkan orang sakti mandraguna yang setia kepada Mataram, tentu dengan maksud untuk melemahkan Mataram, gurunya sudah berpesan kepadanya agar ia tidak bertindak menurutkan dendam sakit hati karena dendam merupakan nafsu yang dapat mendorong manusia untuk melakukan perbuatan-perbuatan kejam dan hal itu bertentangan dengan jiwa ksatria!
Seorang ksatria akan selalu menegakkan kebenaran dan keadilan, namun dengan cara yang benar pula, dan mengumbar kekejaman karena dendam sama sekali bukan sikap dan tindakan benar.
Namun, Nurseta bagaimanapun juga adalah seorang manusia biasa.
Biarpun dia sudah berlatih di bawah gemblengan seorang arif bijaksana seperti mendiang Empu Dewamurti, dan dia telah dapat menanamkan kesabaran dalam hatinya, selalu ingat dan waspada, yaitu ingat kepada Sang Hyang Widhi yang sudah menggariskan jalan kebenaran yang harus diikutinya, namun terkadang nafsu dalam dirinya masih sempat mengusik kesadarannya sehingga dia yang selalu waspada untuk mengikuti setiap gerak gerik hati pikirannya sendiri, terkadang hanyut dalam gelombang nafsu keakuannya.
Mendengar dan melihat bahwa orang yang telah melukai dan membunuh gurunya terkasih itu kini berada di depannya, dia tidak mampu menahan gejolak hatinya.
Biarpun belum tersentuh dendam yang akan menghancurkan semua pertimbangannya, namun sempat menggugah rasa penasaran di dalam hatinya.
Dia harus mencari keterangan dari pembunuh itu mengapa ia membunuh Empu Dewamurti yang tidak mempunyai kesalahan apapun!
Maka, tanpa dapat menahan gejolak hatinya, Nurseta melompat dan bagaikan kilat menyambar, tubuhnya sudah brerkelebat dan tahu-tahu tiba di depan Ratu Mayang Gupita!
Wanita raksasa ini terkejut bukan main ketika tiba-tiba saja ada seorang pemuda muncul di depannya tanpa dapat diketahui dari mana datangnya.
Juga Cekel Aksonolo dan Dibyo Mamangkoro tertegun melihat bayangan berkelebat dan tahu-tahu seorang pemuda sederhana berdiri di situ.
"Kanjeng Ratu, seperti yang saya dengar tadi, paduka adalah seorang ratu kerajaan Siluman Laut Kidul. Akan tetapi mengapa paduka bertindak curang dan kejam, mengeroyok Eyang Empu Dewamurti yang tidak bersalah apa-apa? Apakah perbuatan paduka itu dapat dikatakan adil dan gagah? Eyang Empu Dewamurti sudah tua dan selalu mengasingkan diri tidak pernah mengganggu yang lain, akan tetapi paduka dan teman-teman paduka mengeroyoknya! Saya menuntut penjelasan dari paduka!"
Ratu Mayang Cupita mengamati pemuda itu dan diam-diam ia merasa heran sekali.
Pemuda yang usianya paling banyak dua puluh dua tahun itu hanya seorang yang sederhana, pakaian maupun sikap dan bicaranya, namun pandangan matanya mencorong penuh wibawa.
Dari gerakan pemunculannya tadi, sang ratu dapat menduga bahwa ia berhadapan dengan seorang pemuda yang memiliki kepandaian tinggi.
Maka ia bersikap hati hati dan menekan kesombongannya.
"Hemm, orang muda. Sebelum kami menjawab pertanyaanmu, katakan dulu siapa kamu dan mengapa engkau hendak mengurus tentang kematian Empu Dewamurti! Hayo jawab."
"Kanjeng Ratu, nama saya Nurseta dan sudah menjadi kewajiban saya untuk mengetahui sebab kematian Eyang Empu Dewamurti karena beliau adalah guru saya."
"Bagus! Jadi andika ini muridnya! Hemm, kalau begitu kami yakin bahwa engkau pasti tahu di mana adanya Sang Megatantra, keris pusaka itu Hayo katakan, di mana keris itu atau aku akan mengirim engkau pergi menyusul gurumu!"
Ratu Mayang Gupita girang sekali karena timbul pula harapannya akan dapat menemukan dan memiliki keris pusaka Sang Megatantra yang diperebutkan semua kerajaan itu.
Semua raja yakin bahwa sekali mereka dapat menguasai sang Megatantra, berarti wahyu mahkota berada di tangan mereka dan menjatuhkan Kahuripan merupakan hal yang mudah dan pasti!
Nurseta mengangguk-angguk.
"O, begitukan? Jadi paduka dan wakil-wakil dari Wengker dan Wura wuri itu menyerang mendiang eyang guru karena hendak mendapatkan Sang Megatantra?" 'Benar, karena dia tidak mau menyerahkan Sang Megatantra, maka kami menyerangnya! Dan sekarang, kebetulan andika muridnya berada di sini. Hayo, cepat katakana di mana adanya Sang Megatantra. Kalau andika menyerahkan pusaka itu kepada kami, kami akan memberi imbalan hadiah besar. Akan tetapi sebaliknya kalau tidak andika berikan, andika akan disiksa sampai mati!" 'Hemm, terus terang saja, Sang Megatantra tidak berada di tangan saya saat ini Akan tetapi, andaikata keris pusaka itu berada di tangan saya, pusaka itu tidak akan saya berikan kepada siapapun juga. Sang Megatantra adalah pusaka kerajaan Mataram atau yang sekarang bernama Kerajaan Kahuripan. Maka,sudah seharusnya pusaka itu dikembalikan kepada yang berhak, yaitu pada saat ini adalah Sang Prabu Erlangga, raja Kahuripan. Jadi kalau paduka menghendaki Sang Megatantra, berarti paduka hendak merampas hak milik orang lain!"
"Nurseta, jangan banyak cakap! Katakan sekarang juga di mana adanya Sang Megatantra!"
Bentak Ratu Mayang Gupita marah. Nurseta tersenyum dan menggeleng kepala.
"Terpaksa aku tidak dapat mengatakan di mana!"
Katanya tegas.
"Jahanam keparat! Hyaaaattt...."
Mayang Gupita sudah menyerangnya dengan pukulan yang mengeluarkan bola api kearah Nurseta.
Akan tetapi pemuda ini sudah siap.
Tadi dia sudah menyaksikan kedahsyatan pukulan itu ketika ratu itu melawan kedua orang laki-laki yang saat itu masih berdiri sambil memandang dan mendengarkan penuh perhatian.
Menghadapi serangan itu Nurseta tidak mau melawan dengan kekerasan.
Dia lalu bergerak dengan ilmu silat Baka Dewa dan tubuhnya berkelebat ke samping sehingga serangan tenaga sakti yang membentuk bola api itu luput, tidak mengenai dirinya.
Kemudian dari samping dia menerjang ke depan dan menampar kearah pundak Ratu Mayang Gupita.
serangan ini saja membuktikan bahwa Nurseta tidak dikuasai nafsu dendam.
Tangannya bukan merupakan serangan maut, dan sasarannya hanya pundak, berarti dia masih menguasai perasaannya dan tidak digelapkan oleh nafsu amarah.
Namun, karena dia menggunakan tenaga sakti yang amat kuat, maka tamparan itu mendatangkan hawa pukulan yang rasa panas oleh pundak Ratu Mayang Gupita sebelum jari tangan Nurseta mengenai sasaran.
"Haiiiihhh .....!"
Wanita raksasa itu menggerakkan tangannya menangkis tamparan itu dengan pengerahan tenaga sekuatnya.
"Wuuuttt ..... plakkk!"
Ratu Mayang Gupita terkejut bukan main.
Lengannya bertemu dengan tangan yang mengandung getaran dahsyat dan terasa panas olehnya.
Terpaksa ia melompat jauh kebelakang untuk menghentikan getaran yang membuat tubuhnya terguncang.
Diam-diam ia terkejut akan tetapi tidak heran mengingat bahwa pemuda ini adalah murid mendiang Empu Dewamurti.
Tentu saja pemuda inipun memiliki kesaktian yang tak boleh dipandang ringan.
Betapapun juga, ia merasa penasaran dan juga malu.
Di situ terdapat Dibyo Mamangkoro dan Cekel Aksomolo yang menyaksikan pertandingan itu.
Tentu saja amat memalukan dan merendahkan kalau ia sampai kalah oleh seorang pemuda remaja!
Maka, sambil mengeluarkan bentakan nyaring yang mengandung kekuatan sihir, ia menerjang lagi ke depan, kini membentuk cakar dengan kedua tangannya.
Jari-jarinya menjadi cakar harimau dan kuku-kukunya berubah menghitam.
Setiap ujung kuku jari itu mengandung hawa beracun dan ini merupakan aji yang amat keji dan berbahaya.
Baru bentakan melengking yang keluar dari mulutnya itu saja sudah mampu mengguncangkan jantung lawan dan yang kurang kuat sudah dapat dilumpuhkan oleh bentakan itu.
Apalagi disusul terkaman dengan kuku-kuku jari yang berbisa seperti itu.
Sungguh merupakan serangan maut yang amat berbahaya.
Namun Nurseta bersikap tenang.
Dia sudah mengerahkan ilmu meringankan tubuh Aji Bayu Sakti sehingga tubuhnya dapat berkelebatan cepat sekali bagaikan angin sehingga semua serangan berupa cengkeraman dan tamparan kedua tangan yang kukunya berubah hitam itu tak pernah menyentuh kulit tubuhnya.
Dan menghadapi serangan maut bertubi-tubi itu tahulah Nurseta bahwa dia tidak mungkin hanya menghindarkan diri saja karena hal ini membahayakan dirinya endiri.
Bela diri yang baik bukan sekadar mempertahankan dan melindungi diri, melainkan balas menyerang karenanya dengan demikian maka daya serangan lawan dapat dilumpuhkan atau setidaknya dikurangi kehebatannya.
"Yaaaahhh!"
Dia berseru dan ketika tangan kanan Ratu Mayang Gupita mencengkeram ke arah kepalanya, dia menggerakkan diri ke kiri, kemudian tangan kanannya bergerak memukul lengan lawan itu dari samping dengan tangan dimiringkan.
"Wuuultt ..... desss!!"
Pukulan tangan Nurseta itu tepat mengenai lengan lawan di bawah siku.
Seketika tubuh Ratu Mayang Gupita terjengkang ke belakang dan tubuhnya terhuyung-huyung.
Lengannya terasa nyeri bukan main, seolah tulangnya patah.
Akan tetapi setelah meneliti ternyata tulang lengannya tidak patah hanya terasa nyeri, la terkejut sekali Dibyo Mamangkoro dan Cekel Aksomolo tadinya hanya menonton saja karena merasa hampir yakin bahwa ratu yang sakti mandraguna, yang tadi mampu menandingi mereka, pasti akan dapat merobohkan pemuda itu dalam waktu singkat.
Akan tetapi alangkah heran dan kaget hati mereka melihat betapa semua serangan Ratu Mayang Gupita tak pernah mengenai sasaran, lebih lagi ketika kini melihat ratu itu terhuyung-huyung dan agaknya kesakitan.
Mereka berdua memang sudah condong memihak Ratu Mayang Gupita yang menjadi musuh Kerajaan Kahuripan.
Maka melihat wanita itu terdesak, sekali saling pandang mereka sudah bersepakat untuk membantu Ratu Mayang Gupita.
Keduanya lalu tanpa mengeluarkan kata-kata lagi menerjang maju mengeroyok Nurseta.
"Trik-rik-rik-tik .....!!"
Dengan mengeluarkan bunyi berkeritikan yang mengandung getaran kuat, tasbih di tangan Cekel Aksomolo berubah menjadi sinar hitam bergulung-gulung menyambar kearah kepala Nurseta.
"Wuuussss .....!"
Hawa pukulan yang mengandung hawa panas seperti api dan juga mengandung racun mematikan menyambar dari tangan Dibyo Mamangkoro ketika raksasa ini menyerang dengan aji pukulan Wisangnolo, meluncur ke arah dada pemuda itu.
Nurseta yang waspada sejak semula, melihat datangnya dua serangan ini dan cepat dia melompat dan menghindar dengan ilmu meringankan tubuhnya, yaitu Aji Bayu Sakti.
Melihat dua orang itu membantunya, besarlah hati Ratu Mayang Gupita yang tadinya sudah merasa gentar, lapun berteriak dan menerjang lagi, mengeroyok pemuda itu.
Dikeroyok oleh tiga orang yang memiliki kesaktian tinggi itu, tentu saja Nurseta menjadi kewalahan dan dia hanya dapat menghindarkan diri mengandalkan Aji Bayu Sakti.
Tubuhnya seolah menjadi bayangan yang berkelebatan antara tiga orang pengeroyoknya.
Selagi dia hendak mempergunakan aji pamungkasnya yang amat hebat, yaitu Aji Tiwikrama yang dapat membuat tubuhnya tampak besar sekali oleh lawan, atau Aji Sirnasarira yang membuat tubuhnya tidak dapat tampak oleh lawan, tiba-tiba terdengar teriakan melengking.
"Curang! Curang! Tiga orang mengeroyok satu orang!"
Orang yang mencela ini bukan lain adalah Puspa Dewi.
Seperti kita ketahui, setelah tamat mempelajari aji-aji kesaktian dari Nyi Dewi Durgakumala, kemudian menjadi puteri Raja Wura-wuri karena Nyi Dewi Durgakumala diambil isteri dan menjadi permaisuri Raja atau Adipati Bhismaprabhawa dari Wura-wuri.
la diangkat menjadi anak oleh Nyi Dewi Durgakumala sehingga dengan sendirinya ia menjadi Puteri Sekar Keraton di Wura-wuri!
Kemudian ia mendapat tugas dari Adipati Bhismaprabhawa dan Nyi Dewi Durgakumala untuk mewakili Wura-wuri dan membantu gerakan yang dilakukan kerajaan-kerajaan kecil lainnya untuk menjatuhkan Sang Prabu Erlangga dan Ki Patih Narotama.
Ia ditugaskan untuk bergabung dengan Puteri Lassmini dan Puteri Mandari, dua orang Puteri dari Kerajaan Parang Siluman yang kini menjadi isteri Ki Patih Narotama dan Sang Prabu Erlangga dalam usaha mereka untuk meruntuhkan kekuasaan raja dan patihnya yang dimusuhi itu.
Juga ia ditugaskan untuk merampas keris pusaka Sang Megatantra dari tangan Nurseta.
Selain itu, ia juga ditugaskan Nyi Dewi Durgakumala untuk membunuh Ki Patih Narotama yang pernah membikin guru atau ibu angkatnya itu patah hati.
Dalam perjalanannya itu, ditengah jalan ia melihat seorang pemuda dikeroyok tiga orang dan mereka semua mempergunakan aji kesaktian, maka ia merasa penasaran lalu terjun ke dalam pertempuran tanpa bertanya lagi, membantu pemuda yang dikeroyok sesuai dengan naluri jiwanya yang tidak senang melihat ketidak-adilan.
Terjangan Puspa Dewi dahsyat dan ganas sekali.
Melihat kehebatan tiga orang yang mengeroyok pemuda itu, sudah mencabut pedangnya.
Begitu menerjang dengan pedang pusaka Candrasa Langking, pedang itu berubah menjadi segulungan sinar hitam yang menyambar nyambar!
"Tranggg .....!"
Tasbih di tangan Cekel Aksomolo terpental ketika bertemu dengan pedang di tangan Puspa Dewi sehingga tokoh sesat duplikat Durna itu terkejut dan melompat ke belakang.
Puspa Dewi tidak perduli dan ia sudah menyerang Ratu Mayang Gupita dengan pedang hitamnya.
Wanita raksasa itupun terkejut karena sambaran pedang itu dahsyat sekali, mengeluarkan suara berdesing dan terasa hawanya yang panas karena mengandung racun yang amat kuat.
Lapun melompat ke belakang dan siap melontarkan pukulan tangan yang mengeluarkan bola api.
Namun, begitu ia mendorongkan tangannya, Puspa Dewi sudah menyambut dengan dorongan tangan kiri dengan Aji Guntur Geni.
"Bresss .....!"
Dua aji pukulan dahsyat itu bertemu di udara dan akibatnya tubuh Puspa Dewi terpental ke belakang.
Akan tetapi gadis ini dengan keras kepala sudah menerjang lagi dengan nekat.
Pedangnya diputar di depan tubuhnya seperti kitiran, membentuk sinar bergulung-gulung dan menyerang kearah tubuh Ratu Mayang Gupita.
Diserang seperti itu, wanita raksasa itu lalu cepat mencabut sebatang keris panjang dari pinggangnya dan menangkis, lalu balas menyerang.
Kedua orang wanita itu sudah saling serang.
Sementara itu, Dibyo Mamangkoro yang menyerang Nurseta dengan pukulan Aji Wisangnolo, disambut oleh Nurseta dengan dorongan tangan.
Ketika dua pukulan itu bertemu, Dibyo Manmangkoro terhuyung ke belakang.
Bantuan Puspa Dewi mengejutkan tiga orang itu danmereka merasa jerih.
Baru melawan Nurseta seorang diri saja mereka bertiga tadi belum mampu mengalahkannya.
Kini muncul gadis liar itu yang memiliki ilmu yang liar pula.
Maka Ratu Mayang Gupita lalu melompat dan memasuki keretanya yang lalu dilarikan cepat.
Ketika Puspa Dewi hendak mengejarnya, ia disambut oleh belasan orang perajurit pengawal.
Dibyo Mamangkoro dan Cekel Aksomolo lalu maju membantu para pengawal karena baru beberapa gebrakan saja, pedang hitam di tangan Puspa Dewi telah merobohkan dua orang perajurit.
begitu dua orang sakti ini maju dan menyerang, Dibyo Mamangkoro dengan pukulan jarak jauhnya dan Cekel Aksomolo dengan tasbihnya, Puspa Dewi terkejut dan mau tidak mau harus berlompatan ke belakang.
Terlalu berbahaya serangan dua orang itu.
Begitu ia melompat kebelakang, dua orang tokoh sesat itu lalu melarikan diri bersama para pengawal, mengejar kereta yang ditumpangi Ratu Mayang Gupita yanag lari terlebih dulu.
Puspa Dewi yang nekat itu hendak melakukan pengejaran sambil memaki maki.
"Heh, orang-orang pengecut hina, Hendak lari ke mana kalian?"
Akan tetapi terdengar suara di belakangnya.
"Puspa Dewi, kukira tidak perlu mengejar mereka."
Dara itu menahan langkahnya dan berbalik dengan cepat, mengamati wajah Nurseta dan bertanya dengan ketus.
"Heh!! Dari mana engkau mengetahui namaku, hah?"
Nurseta tersenyum. Kegalakan dara itu baginya tampak lucu sekali, seperti melihat seorang anak kecil yang bandel.
"Puspa Dewi, tentu saja aku mengenalmu karena engkau adalah seorang gadis tukang keroyok. Tanpa tahu masalahnya engkau langsung saja mengeroyok dan menyerang!"
"He? Engkau..... tak tahu diuntung, tak mengenal budi! Aku tadi bukan mengeroyokmu, malah membantu kamu yang dikeroyok! Bagaimana engkau berani mengatakan bahwa aku tukang keroyok?"
"Sekarang memang engkau membantu aku dan untuk itu, biarlah kuucapkan terima kasih. Akan tetapi tempo hari, didusun kita Karang Tirta, tiada hujan tiada angina engkau datang-datang mengeroyok aku!"
"Di..... Karang Tirta.....? Eh, oh, ingat aku sekarang. Engkau adalah Nurseta, kan?"
Baca Juga: Pendekar Super Sakti 23
Baca Juga: Mutiara Hitam 25