Eps 6 Keris Pusaka Sang Megatantra - Kho Ping Hoo
Baca online Keris Pusaka Sang Megatantra - Kho Ping Hoo
Cersil Keris Pusaka Sang Megatantra - Kho Ping Hoo.
"Sekarang baru engkau ingat padaku, Biarlah kesalahanmu yang sudah berlalu itu kubikin habis sampai di s ini saja karena kesalahan itu telah kau tebus hari ini dengan menolongku terlepas dari ancaman bahaya."
Puspa Dewi menegakkan kepalanya dan membusungkan dadanya sambil memandang wajah Nurseta dengan mata bersinar.
"Bagus sekali kita dapat bertemu di sini, Nurseta. Memang aku sedang mencarimu!"
"Hemm, engkau mencari aku, Puspa Dewi? Apakah untuk minta maaf bahwa engkau dahulu itu sudah mengeroyokku bersama Linggajaya?"
"Aku? Minta maaf padamu? Huh, tak tahu diri! Engkaulah yang harus minta maaf padaku karena engkau telah berani mengganggu dan mengancam hendak membunuh ayahku?"
"Siapa hendak membunuh ayahmu?"
"Engkau mengamuk di rumah ayahku dan engkau masih berani pura-pura bertanya lagi?"
"Hemm, aku mempunyai urusan dengan Ki Lurah Suramenggala, bagaimana mungkin engkau menuduh aku mengganggu ayahmu? Apakah Ki Lurah Suramenggala itu....."
"Dia ayahku dan jangan katakan dia jahat!"
"Tapi..... setahuku engkau adalah anak Bibi Lasmi yang telah janda ....."
"Ibuku telah menjadi isteri Ki Lurah Suramenggala, maka dia adalah ayahku."
Nurseta mengangguk-angguk.
Sebagai orang yang pernah bekerja pada lurah itu, tentu saja dia tahu bahwa Ki Lurah Suramenggala sudah mempunyai isteri bahkan setahu dia lurah itu sudah mempunyai dua orang selir.
Hemm, tentu Bibi Lasmi menjadi selirnya yang ke tiga, pikirnya.
"Oo, begitukah?"
Kata Nurseta sambil memandang wajah yang cantik jelita itu.
Memang Puspa Dewi kini telah menjadi seorang dara yang dewasa dan cantik jelita.
Dulu, ia seorang gadis remaja yang sederhana seperti gadis desa pada umumnya, pakaiannya sederhana dan sikapnya lembut dan pemalu.
Akan tetapi kini, sungguh perubahan besar telah terjadi pada diri dara itu.
Dalam usianya yang sekitar Sembilan belas tahun itu, ia bagaikan setangkai bunga yang sedang mekar mengharum.
Kulitnya putih kuning mulus, tubuhnya sedang dan padat dengan lekuk lengkung sempurna dan menggairahkan.
Rambutnya hitam panjang dan di dahinya serta pelipisnya, sinom (anak rambut) melingkar-lingkar indah.
Alisnya melengkung melindungi sepasang mata yang bersinar-sinar seperti bintang, hidungnya kecil mancung dan bibirnya segar merah membasah.
Tahi lalat hitam kecil di dagu itu menambah kemanisannya.
Dan yang mencolok sekali, sikapnya yang dulu pendiam dan pemalu itu, kini sama sekali berubah.
Kini ia menjadi seorang dara sakti mandraguna yang lincah dan tampak liar dan ganas!
Juga pakaiannya serba mewah dan indah, seperti seorang puteri saja!
Tentu saja ia sama sekali tidak menyangka bahwa memang Puspa Dewi telah menjadi seorang puteri, menjadi Puteri Sekar Kedaton (Puteri Bunga Istana) Kadipaten Wura wuri.
"Tadi engkau mengatakan bahwa engkau memang sedang mencari aku Nah, kita sekarang telah saling bertemu di tempat ini. Lalu apa yang kau inginkan dariku, Puspa Dewi?"
"Pertama, aku ingin membalaskan penghinaanmu terhadap ayahku ....."
"Ayah tirimu Ki Lurah Suramenggala itu?"
"Ya, ayah tiriku. Engkau telah bertindak sewenang-wenang dan menghinanya."
"Tenang dulu, Puspa Dewi. Sangat tidak adil kalau engkau hanya mendengarkan keterangan sepihak. Kau tahu apa yang telah dilakukan Ki Suramenggala padaku? Pertama, dia yang menyebabkan orang tuaku terpaksa melarikan diri dari Karang Tirta. Kedua, dia telah menipuku, membeli rumah dan pekarangan serta ladang orang tuaku hanya dengan memberi aku makan selama tiga tahun, itupun aku harus bekerja sebagai bujang untuknya. Ketiga, ketika aku datang untuk menanyakan tentang orang tuaku padanya, dia menyuruh para jagoannya untuk mengeroyok dan memukuli aku. Keempat, ternyata dia bersahabat dengan kepala gerombolan yang merampok di dusun Karang Sari. Nah, itulah sebabnya, aku menghajarnya, Puspa Dewi. Kalau engkau hendak membelanya, maka jelas bahwa engkau membela orang yang bersalah, engkau ikut salah juga. Kalau dia menjadi ayah tirimu, kewajibanmu adalah untuk menyadarkan dia agar kembali ke jalan benar, tidak memeras rakyatnya dan tidak bertindak sewenang-wenang."
Wajah gadis itu berubah merah, la memang sudah menduga bahwa ayah tirinya bukan orang baik-baik dan sebetulnya ia sendiri juga menyesal dan kecewa mengapa ibunya mau dijadikan selir lurah itu.
"Hemm, akan kuselidiki dan kalau benar semua keteranganmu, aku pasti akan menyadarkannya. Akan tetapi ada sebuah hal lagi yang lebih penting, yaitu aku memenuhi pesan guruku agar mencarimu."
"Hemm, siapa gurumu itu? Kalau menyuruhmu mencariku berarti dia sudah mengenal aku. Dan mengapa dia menyuruh engkau mencariku, Puspa Dewi?"
"Guruku adalah ibu angkatku dan juga bernama Nyi Dewi Durgakumala dan kini menjadi Permaisuri Adipati Wura-wuri"
Kata Puspa Dewi dengan nada bangga.
Nurseta memandang ke arah pakaian dan perhiasan yang dipakai Puspa Dewi dan mengertilah dia kini.
Keterangan ini sudah menjelaskan segalanya.
Nyi Dewi Durgakumala adalah wanita cantik sakti yang dulu menculik Linggajaya.
Kenapa malah sekarang Puspa Dewi yang dulu diculik oleh Resi Bajrasakti yang menjadi murid wanita itu?
Dia teringat akan Linggajaya yang kini juga sakti mandraguna.
Kalau begitu, tentu Linggajaya menjadi murid Resi Bajrasakti.
Agaknya mereka berdua itu saling bertukar anak yang mereka culik.
Dan diapun tidak heran melihat Puspa Dewi begitu berubah.
Murid Nyi Dewi Durgakumala, datuk wanita sesat itu tentu saja menurunkan wataknya kepada muridnya, dan tidak aneh pula kalau Puspa Dewi memakai pakaian mewah dan perhiasan serba gemerlapan karena dara itu telah menjadi puteri Adipati Wura-wuri!
"Hemm, kiranya engkau sekarang telah menjadi anak lurah juga puteri adipati!
Hebat!
Lalu apa maksud Nyi Dewi Durgakumala; atau Gusti Permaisuri Adipati Wura-wuri itu mengutusmu mencari aku?
..."
"Serahkan keris pusaka Sang Megatantra kepadaku, Nurseta!"
Kata Puspa Dewi.
"Oh-jadi itukah yang dikehendakinya? Apa hak gurumu dan engkau minta Sang Megatantra itu, Puspa Dewi? Pusaka Itu bukan milikmu atau milik gurumu'"
"Jangan banyak cerewet. Serahkan Megatantra atau aku akan merampas dengan kekerasan!"
"Pusaka Megatantra adalah hak milik Sang Prabu Ertangga di Kahuripan."
"Tidak perduli, serahkan Megatantra padaku!"
Kata Puspa Dewi dengan alis berkerut.
"Bagaimana aku dapat menyerahkan Megatantra kepadamu kalau pusaka itu tidak berada di tanganku?"
"Bohong! Guruku mengatakan bahwa engkaulah yang menemukan pusaka itu daerah pantai Laut Kidul!"
"Benar, akan tetapi sekarang pusaka itu tidak berada padaku."
"Sudah kauserahkan kepada Sang Prabu Erlangga?"
"Belum, akan tetapi ....."
"Kalau begitu, berarti masih ada padamu?"
"Juga tidak, pusaka itu tidak ada padaku."
"Lalu di mana?"
Nurseta mepggeleng kepalanya.
Sungguh aneh, pikirnya.
Dara ini bersikap begini galak dan liar, akan tetapi dia sama sekali tidak menjadi tak senang atau marah.
Agaknya tidak mungkin dia dapat marah kepada wajah yang manis dan yang amat menarik hatinya itu.
"Sayang, aku tidak dapat memberitahukan hal itu kepadamu."
"Nurseta! Kalau begitu engkau menantang aku?"
Bentak Puspa Dewi marah. Nurseta tersenyum.
"Puspa Dewi, aku tidak pernah menantangmu. Di antara kita berdua tidak ada urusan apapun yang patut dipertentangkan. Kalau gurumu menghendaki Megatantra dariku, katakan saja bahwa Megatantra tidak ada padaku. Aku tidak berbohong dan selebihnya aku tidak dapat memberi tahu apa-apa lagi. Puspa Dewi, aku tahu bahwa engkau seorang dara perkasa yang baik hati, buktinya tadi engkau tidak suka melihat orang dikeroyok secara tidak adil dan membantu. Sadarilah bahwa Megatantra itu hak milik Kerajaan Kahuripan. Amat tidak baik menginginkan hak milik lain orang."
"Tidak perlu memberi wejangan! Cepat katakan di mana sekarang Sang Megatantra!"
Bentak Puspa Dewi jengkel "Maaf, aku tidak dapat mengatakannya, Puspa Dewi."
"Keparat, kalau begitu aku harus menggunakan kekerasan memaksamu"
Kata dara itu dan ia lalu memasang kuda-kuda.
Kedua kaki agak ditekuk yang kanan di depan dan yang kiri ke belakang, kedua lengan dipentang seperti burung terbang.
Itulah pembukaan dari Aji Guntur Geni.
Melihat sikap dan gerakan gadis itu diam-diam Nurseta kagum.
Sungguh dara itu tampak gagah bukan main.
"Terserah kepadamu, Puspa Dewi. Akan tetapi yang menghendaki perkelahian bukan aku, melainkan engkau."
Kata Nurseta dengan sikap tenang dan dia berdiri santai saja, menanti gadis itu menyerang lebih dulu.
"Sambut seranganku Hyaaaaattt .....!"
Dara itu sudah membuka serangan.
Cepat seperti kilat menyambar tubuhnya sudah menerjang ke depan, kedua lengan yang tadinya dipentang itu meluncur dengan cepat sekali, yang kanan memukul kearah leher Nurseta dengan tangan miring, di susul tangan kiri yang mencengkeram kearah perut pemuda itu!
Bukan cengkraman biasa karena ia sudah menggunakan Aji Wisakenaka dalam cengkeraman itu sehingga kuku-kuku jarinya mengandung racun dan sekali menggores kulit lawan, kalau sampai terluka, dapat mendatangkan bahaya maut seperti gigitan ular berbisa!
"Hemm .....!"
Nurseta melihat datangnya serangan yang berbahaya dan juga ganas itu.
Dia telah menggunakan Aji Bayu Sakti dan tubuhnya sudah berkelebat, menghindar dari serangan kedua tangan gadis itu.
Akan tetapi setelah serangan pertamanya luput dan gagal, Puspa Dewi sudah menyusulkan serangan beruntun dengan cepat dan kuat.
Setelah beberapa kali mengelak, Nurseta lalu melayani dara itu dengan gerakan silat Baka Denta.
Tubuhnya berkelebatan dan terkadang melompat tinggi seperti seekor bangau terbang.
Perkelahian berlangsung seru, saling serang dengan hebat.
Namun sesungguhnya, Nurseta tentu saja tidak benar-benar dalam serangannya, tidak mengerahkan tenaga sepenuhnya dan sama sekali tidak bermaksud melukai gadis itu.
Dia hanya ingin mengalahkan tanpa melukai, akan tetapi hal ini sungguh amat sukar karena sepak terjang Puspa Dewi hebat dan ganas.
Setelah menahan semua serangan gadis itu dan terkadang membalas yang dapat pula dihindarkan Puspa Dewi, gadis itu menyerang dengan pukulan Guntur Geni yang mendatangkan hawa panas.
Pukulan tangan kanan terbuka itu mengarah dada Nurseta.
Melihat serangan ini, Nurseta mendapatkan kesempatan untuk mencapai maksudnya, yaitu mengalahkan tanpa melukai.
Dia lalu mengerahkan tenaganya dan menyambut pukulan itu dengan tangkisan dari samping.
"Wuuuttt ..... dessss .....!!"
Tubuh Puspa Dewi terdorong dari samping dengan kuatnya sehingga hampir saja ia terpelanting.
Akan tetapi ia dapat berlompatan dan berjungkir balik tiga kali sehingga tidak sampai jatuh, hanya terhuyung saja.
Namun hal itu sudah jelas menunjukkan bahwa ia kalah dalam pertandingan silat tangan kosong itu.
Bukannya menerima dan mengakui kekalahannya, Puspa Dewi yang keras kepala dan keras hati itu malah menjadi semakin penasaran dan marah.
"Hemm, Nurseta! Aku belum kalah! cabut senjatamu keris pusaka Megatantra dan coba lawan pedangku ini!"
Gadis itu menggerakkan tangan kanannya dan tampak sinar hitam berkilauan dan tahu tahu Pedang Hitam Candrasa Langking sudah berada di tangannya.
"Sudah kukatakan bahwa Sang Megatantra tidak ada padaku dan aku tidak biasa menggunakan senjata, Puspa Dewi. Sudahlah, untuk apa kita bertanding? Biar aku mengaku kalah dan anggap saja engkau menang. Aku tidak ingin bermusuhan denganmu, Puspa Dewi. Ingat, kita adalah orang-orang sedusun, sama sama berasal dari Karang Tirta."
Nurseta membujuk.
"Kau pilih saja salah satu. Memberi tahu kepadaku di mana sekarang keris pusaka Sang Megatantra atau kalau engkau tidak mau mengatakannya, terpaksa aku akan menggunakan kekerasan memaksamu dengan pedangku ini!"
"Wah, engkau ini nekat benar, Puspa Dewi. Sudah kukatakan bahwa keris pusaka itu tidak ada padaku dan keris pusaka itu adalah milik Sang Prabu Erlangga di Kahuripan karena itu merupakan pusaka Mataram yang harus diserahkan kepada keturunan raja Mataram. Untuk apa engkau nekat ingin memilikinya?"
"Tak perlu banyak cakap lagi. Aku hanya mentaati perintah guru atau ibu angkatku. Nah, katakan dimana Sang Megatantra!"
"Nurseta menggeleng kepalanya.
"Tidak akan kukatakan kepada siapa juga."
"Kalau begitu sambutlah Candrasa Langking ini!"
Puspa Dewi yang sudah merasa penasaran sekali karena tadi dalam pertandingan tangan kosong ia dikalahkan Nurseta, kini sudah maju dan menyerang dengan pedang hitamnya, tidak perduli bahwa Nurseta tidak membawa senjata.
Pedangnya menyambar nyambar seperti kilat.
Nurseta cepat menggerakkan tubuhnya dengan Aji Bayu Sakti untuk mengatasi kecepatan sambaran pedang dan tubuhnya berkelebatan diantara gulungan sinar pedang hitam.
Permainan pedang dara itu memang hebat sekali dan akhirnya Nurseta terdesak juga karena dia tidak mau membalas dengan pukulan yang ampuh, takut kalau melukai gadis itu.
Akan tetapi kalau terus mempertahankan diri dengan mengelak, akhirnya dia akan terancam bahaya juga karena pedang hitam itu mengandung hawa beracun yang amat berbahaya.
Terpaksa Nurseta lalu mengerahkan ajinya yang jarang dipergunakan, yaitu Aji Sirnasarira.
Tiba-tiba saja Puspa Dewi mengeluarkan jeritan tertahan karena tiba-tiba ia kehilangan lawannya, tubuh Nurseta lenyap dan selagi ia meragu dan bingung mencari-cari bayangan Nurseta, siku kanannya ditepuk jari-jari tangan yang kuat sekali namun tidak tampak dan seketika lengan kanannya menjadi lumpuh dan tak dapat ditahannya lagi pedang hitam yang dipegangnya itupun terlepas dari tangannya.
Ia terkejut sekali dan pada saat itu ia dapat melihat Nurseta lagi yang sudah berdiri sambil tersenyum kepadanya.
Sejenak Puspa Dewi memandang nanar, tidak percaya akan apa yang dialaminya tadi.
Tidak mungkin Nurseta menghilang lalu menyerangnya dengan tubuh yang tidak tampak!
Akan tetapi kenyataannya, lengannya masih kesemutan dan pedangnya sudah menggeletak di atas tanah, terlepas dari pegangannya.
Biarpun begitu, gadis yang berhati keras ini masih penasaran dan belum yakin bahwa dapat dikalahkan sedemikian mudahnya.
Maka sambil menggigit bibir sendiri cepat menyambar pedangnya lagi dan kini mulutnya mengeluarkan jerit yang menggetarkan sekeliling tempat itu.
Itulah Aji Jerit Guruh Bairawa!
Dengan jerit ini saja, Puspa Dewi sudah mampu membuat lawannya tergetar hebat dan roboh.
Dengan jeritnya yang dahsyat ini masih menyayat udara, ia sudah menggerakkan pedangnya lagi, menyerang dengan sekuat tenaga, pedangnya menyambar ke arah leher Nurseta!
"Singgg .....!"
Pedang itu menyambar lebih dahsyat daripada tadi karena didukung dan didorong oleh Jerit Guruh Bairawa yang melengking nyaring!
Namun dengan gerakan yang lebih cepat lagi, Nurseta sudah menghindar dengan loncatan ringan ke belakang sehingga pedang itu hanya menyambar angin.
Namun, Puspa Dewi yang sudah marah sekali dan hatinya dipenuhi rasa penasaran, sudah meloncat mengejar dan pedangnya berputar-putar sehingga berubah menjadi gulungan sinar yang berkelebatan mengirim serangan bertubi-tubi.
Tubuh Nurseta melompat ke atas dan "lessss .....!"
Tubuh itu sudah lenyap lagi dari pandangan Puspa Dewi!
Dara itu kembali menjadi bingung akan tetapi kemarahannya makin berkobar, la mengamuk dan mengobat-abitkan pedangnya, membacok ke sana-sini dengan ngawur.
"Keparat kau, Nurseta! Hayo perlihatkan dirimu, jangan pergunakan ilmu setan!"
Akan tetapi tiba-tiba pergelangan tangannya ditangkap tangan yang tak tampak dan tahu-tahu pedangnya telah dirampas.
Pedang itu kini melayang dan tampaklah tubuh Nurseta dan pemuda itu berdiri di depannya sambil memegang pedang hitam yang sudah dirampasnya!
"Puspa Dewi, untuk apa kita lanjutkan pertandingan ini?
Ilmu pedangmu hebat sekali, aku tidak kuat melawannya.
sudahlah, aku mengaku kalah!"
Setelah berkata demikian, Nurseta melemparkan pedang itu ke arah Puspa Dewi.
Dara itu terkejut melihat pedangnya meluncur dan mengancam dirinya, akan tetapi setelah dekat, tiba-tiba pedang itu membalik meluncur ke arahnya dengan gagang depan.
Hatinya menjadi lega dan cepat ia menyambut pedang itu dan menyimpannya kembali ke sarung pedang.
Percuma saja menyerang lagi.
Kalau Nurseta dapat menghilang seperti itu, bagaimana mungkin ia akan mampu mengalahkannya?
"Huh, kau .....
curang!"
Dara Itu menggerutu dengan bibir meruncing cemberut dan matanya dilebarkan. Dalam keadaan begitu dara itu malah tampak semakin manis dalam pandangan Nurseta.
"Jangan kau menggunakan ilmu setan yang membuat engkau bisa menghilang seperti setan!"
Nurseta tersenyum.
"Puspa Dewi, ilmu Ilmu disebut ilmu setan kalau penggunanya untuk mencelakai orang. Engkau sendiri mempergunakan ilmu-ilmu yang mengandung hawa beracun, bahkan pedangmu itupun beracun sehingga kalau seranganmu mengenai lawan, lawan akan tewas atau setidaknya terluka parah. Akan tetapi aku sama sekali tidak mencelakaimu. Sekarang kuingatkan engkau sekali lagi, Puspa Dewi. Engkau seorang dara muda namun telah menguasai banyak aji yang dahsyat, sayang kalau engkau menjadi orang sesat yang mempergunakan ilmumu untuk membunuh atau melukai orang yang tidak bersalah. Ketahuilah bahwa keris pusaka Megatantra memang aku yang menemukan, dan aku hendak mengembalikan kepada yang berhak, yaitu Sang Prabu Erlangga dari Kerajaan Kahuripan. Akan tetapi sungguh celaka, dalam perjalananku, keris pusaka itu dicuri orang karena kelengahanku. Aku tertipu dan Pusaka itu dilarikan orang. Akan tetapi aku harus merampasnya kembali dari tangan si pencuri."
Mendengar semua ucapan Nurseta, di lubuk hatinya Puspa Dewi membenarkan kata-kata pemuda itu.
Kebenaran yang tak dapat dibantah, Pikir gadis yang pada dasarnya memiliki hati yang condong membela kebenaran itu.
Hanya karena pengaruh sifat gurunya dan pengaruh lingkungan, maka menjadi liar dan ganas.
Namun tetap saja ia selalu mempertahankan keadilan maka mendengar ucapan Nurseta itu ia diam-diam menbenarkan.
"Akan tetapi aku hanya menaati perintah guruku yang juga ibu angkatku, Permaisuri Kadipaten Wura-wuri .....!"
Katanya, seolah membantah suara hatinya yang membenarkan Nurseta.
"Bukankah seorang murid harus berbakti dan setia pada gurunya yang telah melepas banyak budi?"
"Benar sekali kata-katamu itu, Puspa Dewi. Seorang murid harus berbakti kepada gurunya, itu merupakan suatu kewajiban seorang murid yang baik dan tahu membalas budi. Akan tetapi ada kewajiban lain yang lebih penting lagi, Puspa, yaitu kewajiban sebagai seorang manusia. Karena itu, setiap tugas harus diperhitungkan dengan prikemanusiaan. Kalau tugas yang diberikan guru itu menyimpang dari kemanusiaan, maka kita tidak perlu melaksanakannya. Menyimpang dari prikemanusiaan berarti kejahatan dan haruskah seseorang membantu orang lain melakukan kejahatan, biarpun orang lain itu gurunya sendiri? Tidak, Puspa, engkau bukan seorang gadis yang jahat. Karena itu, tugas yang bersifat jahat amat tidak cocok dan tidak pantas kaulakukan!"
Puspa Dewi menjadi semakin bimbang, ia lalu mengangguk-angguk.
"Baiklah, aku akan mengatakan kepada guruku bahwa perintahnya untuk merampas Megatantra yang menjadi hak milik orang lain itu adalah tidak benar dan jahat sehingga aku berani melanggar perintahnya. Masih ada tugas lain yang tidak kalah pentingnya dan dapat kulakukan dengan berhasil baik."
Senang hati Nurseta mendengar ucapan ini.
Kata-kata dara itu menunjukkan bahwa Puspa Dewi belum rusak betul masih mampu menyadari kesalahannya dan dapat mempertimbangkan mana yang benar dan mana yang salah.
"Bagus! Aku girang mendengar bahwa engkau tidak akan membantu guru memperebutkan Sang Megatantra lagi Puspa Dewi."
Kini Puspa Dewi menatap wajah Nurseta dan sinar matanya bersinar-sinar "Nurseta, engkau ..... engkau percaya padaku?"
"Tentu saja aku percaya padamu Puspa Dewi. Engkau tadi sudah begitu baik menolongku dari pengeroyokan tiga orang itu. Ratu Mayang Gupita tadi sungguh berbahaya, sakti dan kejam sekali. Juga dua orang yang membantunya, Dibyo Mamangkoro dan Cekel Aksomolo,memiliki ilmu kepandaian yang hebat."
"Hemm, jadi raksasa wanita tadi adalah Ratu Mayang Gupita?"
"Ya, ia ratu dari Kerajaan Siluman laut Kidul."
Puspa Dewi mengerutkan alisnya, dipati Bhismaprabhawa yang menjadi ayah angkatnya itu berpesan kepadanya agar bekerja sama dengan para kadipaten, termasuk Kadipaten Siluman Laut Kidul untuk menentang Kahuripan.
Hemm, tak senang hatinya diharuskan bekerja sama dengan orang seperti raksasa wanita tadi!
"Dan kenapa mereka bertiga itu menyerang dan mengeroyokmu?"
"Mula-mula Ratu Mayang Gupita itu yang menyerangku karena seperti juga gurumu, ia ingin minta Sang Megatantra dariku. Lalu kedua orang yang merupakan tokoh-tokoh sesat itu membantunya."
"Nurseta, sekali lagi aku bertanya, apakah engkau benar percaya kepadaku bahwa aku tidak akan memperebutkan keris pusaka Megatantra lagi?"
Nurseta mengangguk.
"Aku percaya padamu, Puspa."
"Kalau begitu, buktikan kepercayaanmu padaku itu dengan mengatakan siapa orangnya yang sudah mencuri pusaka itu dari tanganmu."
Ia berhenti sebentar memandang tajam lalu melanjutkan "Kalau engkau tidak mau berterus terang, itu menandakan bahwa engkau berbohong dan sebetulnya engkau masih tidak percaya kepadaku."
Nurseta mengerutkan alisnya.
Gadis ini sungguh cerdik, pikirnya.
Ucapan itu menyudutkannya dan membuat dia tidak berdaya.
Akan tetapi diapun bukan seorang bodoh, maka dia cepat berbalik mengajukan pertanyaan.
"Hemm, jawablah dulu pertanyaaanku ini, Puspa Dewi. Kalau engkau mengetahui siapa pencurinya, kemudian pada suatu saat engkau bertemu dengannya lalu apa yang akan kaulakukan? kaurampas Sang Megatantra itu lalu kau serahkan kepada gurumu?"
"Hemm, bukankah aku sudah berjanji tidak akan merampas keris pusaka untuk guruku? Andaikata aku merampasnya dari pencuri itu, tentu bukan kepada guruku pusaka itu kuserahkan, melainkan kepadamu!"
"Benarkah itu, Puspa Dewi? Ah, aku girang sekali! Akan tetapi kenapa tidak langsung saja kauhaturkan kepada Sang Prabu Erlangga, andaikata keris pusaka Itu dapat kaurampas dari si pencuri?"
"Hemm, tidak mungkin. Aku bukan punggawa Kahuripan, dan ingat, aku adalah Sekar Kedaton Kerajaan Wura-wuri!"
"Ah, benar juga. Nah, dengarkan baik-baik. Dalam perjalanan aku bertemu dengan Raden Hendratama yang ternyata adalah seorang pangeran, masih keluarga sang Prabu Erlangga sendiri. Dialah yang menipuku dan mencuri keris pusaka Sang megatantra itu."
"Hemm, Pangeran Hendratama? Belum pernah aku mendengar nama itu. Betapa pun juga, terima kasih, Nurseta. Ternyata engkau benar-benar percaya kepadaku."
"Ada satu hal yang ingin kuketahui, Puspa Dewi. Kalau aku tidak keliru, dulu engkau diculik oleh Resi Bajrasakti, sedangkan Linggajaya diculik oleh Nyi Dewi Durgakumala. Akan tetapi mengapa tahu-tahu engkau dan Linggajaya yang ketika itu sudah kusuruh melarikan diri dapat tertangkap lagi dan engkau menjadi murid Nyi Dewi Durgakumala?"
Puspa Dewi menghela napas panjang "Aku dan Linggajaya melarikan diri dan saking takutnya kami berpencar.
Tiba-tiba aku ditawan oleh Nyi Durgakumala dan diambil sebagai murid.
Aku bersyukur sekali.
Aku masih merasa ngeri membayangkan tertawan oleh raksasa Resi Bajrasakti itu.
Setelah aku bertemu Linggajaya, aku mendengar dari dia bahwa ternyata diapun tertawan Resi Bajrasakti dan menjadi muridnya.
Kemudian aku diambil anak angkat oleh Nyi Durgakumala dan ketika ia menjadi permaisuri Raja Bhismaprabhawa dari Kerajaan Wura-wuri, aku menjadi Sekar Kedaton"
"Wah, hebat sekali engkau, Puspa Dewi. Sudah menjadi murid seorang sakti mandraguna, masih diangkat menjadi puteri istana lagi! Dan sekarang, engkau hendak pergi kemanakah?"
Puspa Dewi tersenyum.
"Tidak perlu aku menceritakan semua urusanku, Nurseta. Aku masih mempunyai tugas-tugas lain yang harus kulaksanakan dengan baik setelah tugas merampas keris pusaka Megatantra kubatalkan. Nah, selamat berpisah, Nurseta."
"Selamat berpisah, Puspa Dewi. Mudah-mudahan kelak kita akan dapat saling berjumpa dalam keadaan yang lebih baik, tidak perlu kita harus saling bermusuhan."
Kedua orang muda itu lalu berpisah.
Puspa Dewi melompat ke atas punggung Bajradenta, kuda putih pemberian Adipati wura-wuri yang tadi ia tambatkan tak jauh dari situ.
Nurseta mengikuti bayangan dara perkasa yang membalapkan kuda putihnya itu dan dia menghela napas panjang.
Biarpun baru sebentar dia mengenal Puspa Dewi, namun dia telah dapat meraba watak gadis yang menarik hatinya itu.
Seorang gadis yang memiliki dasar watak yang baik dan gagah, pembela keadilan, namun sifatnya dipengaruhi gurunya sehingga menjadi binal, ganas dan galak.
Sayang kalau gadis seperti itu tidak mendapatkan bimbingan yang baik, bisa saja menjadi sesat.
Dan dia.....
dia akan senang sekali kalau mendapat kesempatan memberi bimbingan kepada Puspa Dewi!
(Lanjut ke
Jilid 18) Keris Pusaka Sang Megatantra (seri ke 01 -Serial Keris Pusaka Sang Megatantra) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo
Jilid 18 Perasaan cintakah ini?
Dia sendiri tidak tahu.
Yang jelas, belum pernah dia merasakan seperti ini.
Tiga orang selir Pangeran Hendratama dengan genit berusaha merayunya, namun dia sama sekali tidak tertarik, tidak bergairah, bahkan dia merasa muak dengan sikap mereka yang genit.
Kepada Widarti, selir termuda Pangeran Hendratama yang bersikap baikpun dia tidak tertarik, hanya merasa iba kepada gadis yang terpaksa menjadi selir pangeran itu.
Kemudian Ki Lurah Warsita, lurah dusun Karang Sari, ingin menjodohkan dia dengan Kartiyah, puterinya, akan tetapi diapun sama sekali tidak tertarik.
Baru sekarang dia merasa tertarik sekali kepada seorang gadis, yaitu kepada Puspa Dewi.
Nurseta mengusir semua lamunan Itu dari hati dan pikirannya dan melanjutkan perjalanannya.
Masih ada dua buah tugas yang harus dia selesaikan sebelum tugas terakhir, yaitu membantu Kerajaan Kahuripan.
Kedua buah tugas itu ialah, pertama mencari Senopati Sindukerta yang pernah dilapori tentang orang tuanya sehingga orang tuanya ketakutan dan melarikan diri.
Dari senopati ini agaknya dia akan bisa mendapatkan keterangan tentang orang tuanya.
Kedua, dia harus mencari Pangeran Hendratama untuk merampas kembali keris pusaka Megatantra untuk dihaturkan kepada Sang Prabu Erlangga seperti yang dipesan oleh mendiang Empu Dewamurti.
Teringat akan tugas-tugasnya ini, Nurseta mempercepat jalannya.
Dua orang itu berdiri saling berhadapan di sebuah puncak sebuah bukit kapur gersang di daerah pegunungan kidul yang memiliki ratusan, bahkan ribuan bukit itu.
Bukit itu tandus karena tanahnya mengandung banyak kapur dan jauh dari pedusunan.
Siapa mau tinggal di daerah yang gersang dan tidak dapat ditanami apa-apa itu?
Dua orang itu berdiri di situ, sejak tadi tak bergerak seperti arca.
Suasananya sepi karena selain mereka berdua, di bukit itu dan sekitarnya, di pegunungan kapur itu memang jarang dikunjungi manusia.
Yang seorang adalah seorang wanita yang usianya sudah lima puluh tahun, namun wajahnya masih tampak cantik, belum tampak dihias keriput.
Juga tubuhnya masih padat dan sehat sehingga bagi yang tidak mengenalnya, tentu mengira ia berusia sekitar tiga puluh tahun.
Pakaiannya terbuat dari sutera halus dan serba hitam, meskipun terhias coretan kembang di sana-sini.
Rambutnya di gelung seperti kebiasaan wanita Bali, digelung dan ditekuk dengan ciri khas, masih dihias ronce-ronce kembang melati, sepasang matanya mencorong sehingga melihat sinar matanya saja mudah diduga bahwa wanita ini bukanlah orang sembarangan.
Memang ia bukan wanita sembarangan, melainkan seorang wanita yang sakti mandraguna, seorang yang menguasai banyak aji kanuragan dan sihir, yang selama puluhan tahun ia latih dari para pendeta dan pertapa di Nusa Bali.
Adapun yang berdiri dengan sikap tenang di depannya adalah seorang laki-laki berusia kurang lebih lima puluh dua tahun.
Kalau wanita itu berpakaian serba hitam, maka pria itu berpakaian serba putih bersih dan sederhana sekali.
Hanya merupakan kain putih yang dilibat-libatkan di tubuhnya.
Rambutnya yang panjang dibiarkan terurai lepas di pundak dan punggungnya.
Kumis dan jenggotnya juga panjang namun terawat bersih dan rapi.
Wajah laki-laki inipun masih memperlihatkan bekas ketampanan, pandangan matanya lembut namun penuh wibawa, mulutnya terhias senyuman penuh kesabaran dan gerak geriknya lembut.
Sungguh merupakan kebalikan dari wajah wanita itu yang tampak muram dan murung, seperti wajah orang yang sakit hati atau sedang susah dan muram.
"Yayi Gayatri ....."
Terdengar suara laki-laki itu lembut. Akan tetapi segera dipotong oleh suara wanita itu yang terdengar ketus.
"Kakang Ekadenta, namaku sekarang bukan lagi Gayatri. Gayatri sudah mati dan yang ada ialah Nini Bumigarbo!"
Pria itu tersenyum sabar.
"Baik sekali, Nini Bumigarbo dan ketahuilah, aku sendiri sekarang juga memakai nama Bhagawan Jitendriya. Nini Bumigarbo, mengapa engkau tiada henti-hentinya berusaha untuk menentang bahkan membunuh Sang Prabu Erlangga dan Ki Patih Narotama dari Kahuripan?"
"Hemm, Bhagawan Jitendriya, engkau masih berpura-pura tanya sebabnya kalau engkau sendiri terlibat di dalamnya? Sang Prabu Erlangga dan Ki Patih Narotama adalah murid-murid Sang Resi Satyadharma di Gunung Agung Nusa Bali. Karena tidak mungkin aku dapat membunuh Resi Satyadharma yang sakti mandraguna seperti dewa, maka satu satunya jalan untuk membalas dendam dan menghilangkan rasa penasaran di hatiku hanyalah membunuh kedua orang muridnya itu."
"Aduh, yayi (dinda) Gayatri .....! Eh, maksudku Nini Bumigarbo, kenapa engkau yang dulu amat membanggakan hatiku memiliki adik seperguruan yang cantik lahir batin, sakti mandraguna, kini dapat tersesat dan membiarkan racun kebencian mengeram di dalam hatimu? Sudah berulang kali kujelaskan kepadamu bahwa Sang Resi Satyadharma sama sekali tidak berdosa, sama sekali tidak mempunyai kesalahan terhadap dirimu. Mengapa engkau menanam dendam kebencian sedemikian mendalam terhadap dia? Engkau akan kesiku (bersalah) kepada para dewata, yayi!"
"Tidak berdosa, tidak bersalah kepadaku? Itu adalah pendapat mu, karena engkau tidak merasakan, Kakang Ekadenta! Sejak muda remaja kita telah saling mencinta. Sejak dulu aku mendambakan engkau sebagai calon jodohku dan aku menolak semua pinangan pria, para pendekar, bahkan pangeran dan adipati kutolak semua karena hanya engkaulah satu-satunya pria di dunia ini yang kuinginkan menjadi suamiku. Engkaupun telah menyatakan cintamu kepadaku dan kita sudah sama berjanji untuk menjadi suami isteri. Akan tetapi engkau bertemu dan berguru kepada Resi Satyadharma dan dia yang membujuk dan mengajarmu agar engkau tidak menikah selama hidup, sejak itu engkau memutuskan hubungan cinta kita. Dan engkau kini mengatakan bahwa dia tidak bersalah padaku?"
"Benar, yayi, beliau sama sekali tidak bersalah. Sang Resi Satyadharma hanya menasihatkan agar aku tidak menikah dan mengikat diriku dengan keluarga, sama sekali beliau tidak menyinggung tentang dirimu karena beliau tidak mengenalmu dan tidak tahu bahwa dulu kita saling mencinta. Jadi yang memutuskan hubungan itu adalah aku sendiri. Akan tetapi ini bukan berarti bahwa aku tidak cinta padamu, yayi. Cinta tidak harus dihubungkan dengan pernikahan, dengan berahi. Cintaku padamu lebih murni, lebih mendalam dan lebih tinggi."
"Omong kosong! Engkau tentu tahu bahwa karena penolakanmu itu, karena engkau menjauhi aku, engkau telah membuat aku patah hati, engkau telah membuat hidupku merana, kecewa, dan penasaran. Karena itu, bagaimanapun juga aku sekarang akan pergi membunuh Erlangga dan Narotama "
"Itu tidak adil, yayi. Kalau engkau menganggap Resi Satyadharma yang bersalah, kenapa tidak kau kunjungi beliau di Gunung Agung dan berhitungan dengan beliau?"
"Huh, aku bukan seorang tolol, kakang! Aku tahu, biar aku menambah ilmu-ilmu sampai seratus tahun lagi, aku tidak akan mampu mengalahkan Resi Satyadharma. Karena itu, aku akan membunuh dua orang muridnya itu!"
"Yayi, kalau engkau merasa hidupmu merana karena aku, mengapa engkau tidak membunuh aku saja?"
"Tidak, aku harus membunuh dua orang murid resi itu agar dia merasai betapa pedihnya kehilangan orang yang dicintanya!"
Kata Gayatri atau Nini Bumigarbo dengan kukuh.
"Hemm, karena aku tahu benar bahwa tindakanmu itu menyimpang dari kebenaran dan keadilan, maka terpaksa aku menentangmu, Yayi Gayatri. Aku yang akan menghalangi kalau engkau hendak membunuh Sang Prabu Erlangga dan Ki Patih Narotama."
Sepasang mata itu berkilat dan sepasang alis yang masih hitam melengkung Itu bergerak-gerak.
"Babo-babo, Kakang Ekodento, engkau menantangku? Engkau, yang dulu menjadi kekasihku yang amat mencintaku dan menjadi kakak seperguruanku, kini hendak memusuhi aku? Kau kira aku takut padamu, kakang? Ingat, aku bukan Gayatri yang dulu. Aku telah memperdalam ilmu-ilmuku. Sekarang begini saja, kakang, daripada kita bermusuhan, mari kita putuskan begini saja. 'sekarang kita mengadu kesaktian. Kalau kau kalah, maka engkau harus lepas tangan dan tidak mencampuri urusanku dengan Erlangga dan Narotama. Sebaliknya kalau aku yang kalah, aku akan mundur dan berjanji tidak akan membunuh mereka dengan tanganku sendiri. Bagaimana, kakang?"
Bhagawan Ekadenta atau Bhagawan Jitendriya menghela napas dan menggeleng-geleng kepalanya.
"Yayi Gayatri, engkau adalah adik seperguruanku. Sudah berapa kali selama tiga puluhan tahun ini engkau dalam kemarahanmu menyerangku? Engkau selalu kalah. Sekarangpun engkau tidak akan menang melawan aku yayi. Untuk apa kita bertanding lagi? Sudahlah, lebih baik buang semua dendam kebencian itu dan mari ikut aku bertapabrata. Aku akan menuntunmu ke jalan kebenaran yang akan menerangi kehidupanmu."
"Babo-babo, kakang! Jangan memandang rendah Gayatri! Sekarang engkau tidak akan menang dan aku pasti akan dapat membunuh Erlangga dan Narotama..heh-heh-hi-hi-hik!"
Wanita itu tertawa terus, cekikikan dan diam-diam Bhagawan Ekadenta terkejut dan cepat dia mengerahkan tenaga saktinya untuk melindungi telinga dan jantungnya.
Suara tawa Nini Bumigarbo demikian dahsyat makin lama semakin kuat menimbulkan getaran amat kuat, seperti gelombang lautan yang makin lama makin mengganas.
Bahkan beberapa ekor burung derkuku yang sedang berada dibalik batu-batu kapur, terkejut mendengar suara yang menggetarkan udara itu.
Mereka terbang ke atas akan tetapi getaran suara tawa itu menyerang mereka dan burung-burung itu berjatuhan dan mati seketika!
Hebat bukan main serangan Nini Bumigarbo melalui getaran suara tawanya itu.
Bhagawan Ekadenta sudah melindungi dirinya dengan tenaga saktinya.
Dia berdiri tegak dan memejamkan dua matanya.
Namun, betapapun juga, tubuhnya bergoyang-goyang saking hebatnya serangan melalui suara tawa itu.
Nini Bumigarbo yang memandang dengan sinar mata tajam ke arah Bhagawan Ekadenta, menjadi penasaran sekali melihat tubuh bekas kakak seperguruan dan kekasihnya itu hanya bergoyang-goyang tubuhnya akan tetapi tidak roboh.
Banyak tokoh sakti yang roboh hanya oleh serangan suara tawanya itu.
Akan tetapi Bhagawan Ekadenta hanya bergoyang goyang tubuhnya.
Ia mengerahkan seluruh tenaganya, tawanya semakin melengking dan getarannya semakin dahsyat, namun tetap saja Bhagawan Ekadenta tidak roboh.
Akhirnya Nini Bumigarbo menjadi kelelahan sendiri dan menghentikan tawanya.
Getaran yang timbul dari suara tawa yang amat dahsyat itu, begitu dihentikan secara tiba-tiba juga mendatangkan pengaruh kuat.
Telinga yang tadinya digetarkan oleh suara melengking-lengking itu, tiba-tiba menjadi kosong dan perubahan mendadak ini menimbulkan suara berdenging dalam telinga.
BHAGAWAN EKADENTA menarik napas panjang tiga kali dan dengingan itu lenyap dari pendengarannya.
Dia membuka matanya dan memandang kepada Nini Bumigarbo sambil tersenyum.
Akan tetapi hatinya disentuh rasa iba melihat wanita itu menggunakan sehelai saputangan untuk menyeka keringat yang membasahi dahinya.
"Yayi Gayatri, cukuplah main-main ini, untuk apa dilanjutkan?"
Kata Bhagawan Ekadenta lembut.
"Hemm, aku belum kalah, kakang! Kita sudah sepakat, siapa kalah harus mematuhi janjinya! Nah, sambutlah ini! Hyaaaaahhh"
Nini Bumigarbo membaca mantera, lalu kedua tangannya diangkat ke atas kemudian dilambaikan dan tiba tiba dari kedua telapak tangannya keluar asap hitam membubung ke atas.
Asap itu makin tebal dan besar, kemudian dari dalam asap itu beterbangan keluar puluhan ekor kelelawar hitam sebesar kucing.
Puluhan ekor kelelawar itu dengan suara bercicitan, dengan matanya yang merah, bergigi bertaring terbang meluncur ke arah Bhagawan Ekadenta, siap mencakar dan menggigit!
"Sadhu-sadhu-sadhu .....
Mahluk jadi-jadian, kembalilah kedalam kegelapan.
Sinar terang mengalahkan kegelapan!"
Kata Bhagawan Ekadenta dan begitu dia menggerakkan tangannya menadah ke atas lalu sinar matahari seolah menimpa telapak tangannya lalu membias dengan terang sekali ke arah segerombolan kelelawar itu.
Diterjang sinar matahari yang membias dari telapak tangan Bhagawan Ekadenta, mahluk-mahluk mengerikan itu tersentak dan tertolak ke belakang, mencicit-cicit ketakutan, saling bertabrakan ketika terbang kembali ke dalam asap hitam.
Kini sinar terang itu menerjang asap hitam dan asap itu perlahan-lahan mengecil dan meluncur turun kembali ke telapak kedua tangan Nini Bumigarbo.
Wajah wanita itu menjadi agak pucat dan napasnya memburu, la merasa penasaran dan marah bukan main.
Hampir tiap tahun sekali sejak ia merasa dibuat patah hati oleh kakak seperguruannya yang memutuskan tali percintaan mereka, ia mencoba untuk mengalahkan Bhagawan Ekadenta, namun ia selalu gagal.
Setelah gagal, ia cepat memperdalam ilmu-ilmunya dengan mempelajari segala macam aji kesaktian dan ilmu sihir, ilmu hitam, santet dan tenung.
Namun setiap kali ia mencoba kepandaiannya, Bhagawan Ekadenta selalu dapat mengalahkannya.
Agaknya kakak seperguruannya yang mengasingkan diri dari dunia ramai itupun makin memperdalam ilmu-ilmunya sehingga menjadi semakin sakti mandraguna!
Dua macam ilmu baru tadipun ternyata dapat dibuyarkan oleh Bhagawan Ekadenta.
Ia masih memiliki aji pamungkas yang baru saja dipelajarinya di Nusa Bali, akan tetapi masih merasa ragu untuk mengeluarkannya karena ajinya itu berbahaya sekali dan bagaimanapun juga ia tidak ingin membunuh pria yang sampai sekarang masih dicintanya itu.
la hanya ingin mengalahkannya.
"Sudah cukup main-majn ini, yayi"
"Aku belum kalah! Sambut serangan ini!"
Nini Bumigarbo menggerakkan tangan kanannya dan tahu-tahu ia sudah memegang sebatang ranting sedepa panjangnya, sebatang ranting hitam.
"Haamtt!"
Ranting itu seperti hidup di tangannya, meluncur dengan kecepatan kilat menyerang kearah leher Bhagawan Ekadenta.
Pria yang usianya sekitar lima puluh dua tahun ini melompat ke belakang untuk mengelak, tangannya merogoh dibalik jubahnya dan mengeluarkan sehelai kain p utih yang biasa dia pergunakan untuk mengikat rambutnya.
Sehelai kain yang panjangnya selengan, tampak sederhana lemas.
Akan tetapi ketika ranting itu menyambar lagi, dia menangkis dengan kain putih itu yang tiba-tiba menjadi kaku seperti sebatang kayu.
"Takkk!"
Ranting hitam bertemu kain putih dan sungguh luar biasa, pertemuan dua benda sederhana itu menimbulkan bunga api dan asap.
Lalu keduanya saling serang dengan kecepatan kilat sehingga ranting itu beruban menjadi gulungan sinar hitam sedangkan kain itu berubah menjadi gulungan sinar putih.
Kedua sinar itu berkelebatan saling mendesak dan saling mengurung.
Kalau kebetulan ada orang menyaksikan pertandingan ini, dia tentu akan takjub melihat dua orang itu hanya tampak sebagai bayang-bayang saja yang terkurung dua gulungan sinar hitam dan putih.
Bukan main hebatnya pertandingan ini.
Gerakan keduanya mendatangkan angin bersiutan yang membuat tanah dan debu berhamburan lalu membubung naik seolah di situ ada dua mahluk raksasa yang amat kuat sedang berlaga.
Kadang-kadang terdengar suara keras dan batu pecah berhamburan terkena pukulan ujung ranting atau kain.
Bahkan orang-orang yang memiliki kesaktianpun akan tercengang menyaksikan pertandingan dahsyat ini.
Keadaan sekeliling tempat pertandingan, dalam jarak belasan tombak terlanda gelombang tenaga mereka yang akan dapat merobohkan orang dari jarak jauh.
Memang tingkat kepandaian dua orang ini sudah amat tinggi, maka pertandingan itupun hebat bukan main.
Ilmu silat yang mereka pelajari dan latih selama puluhan tahun telah mendarah daging di tubuh mereka.
Gerakan mereka sudah otomatis seolah tanpa dikendalikan pikiran lagi, tangan kaki sudah bergerak sendiri dan seolah olah mempunyai mata sendiri.
Dan setiap gerakan mengandung tenaga dalam yang dahsyat dan sakti.
Kedua orang sakti mandraguna itu dahulunya adalah kakak dan adik seperguruan.
Bersama mendiang Empu Dewamurti, mereka bertiga merupakan murid murid terkasih dari Sang Mahatma Budhi Dharma, pendeta perantau yang tak diketahui asal-usulnya dan tidak diketahui pula ke mana perginya.
Sebagian besar ilmu-ilmunya diserap oleh tiga orang muridnya itu, ialah Empu Dewamurti, Bhagawan Ekadenta dan Nini Bumigarbo Hanya kalau Empu Dewamurti lalu mengasingkan diri dan bertapa, kedua orang ini, terutama Nini Bumigarbo, memperdalam ilmu-ilmu mereka dengan belajar kepada para pendeta sakti mandraguna dan mereka yang mengasingkan diri dari dunia ramai.
Maka dapat dibayangkan betapa saktinya dua orang kakak beradik ini.
Dua orang yang tadinya saling mencinta dan sudah berjanji untuk menjadi suami isteri itu mulai pecah ketika Bhagawan Ekadenta menyatakan bahwa dia ingin memperdalam kerohanian dan metutuskan untuk tidak menikah.
Nini Bumigarbo yang dulu bernama Gayatri menjadi kecewa dan patah hati.
Apalagi dalam mencari tambahan ilmu, ia bertemu dengan datuk-datuk sesat sehingga ia masuk ke dalam lingkungan dunia hitam, wataknya menjadi keras dan pendendam.
Karena untuk memaksa kakak seperguruannya jelas tidak mungkin, maka ia melampiaskan kemarahan dan dendamnya dengan cara mengajak Bhagawan Ekadenta bertanding hampir setiap tahun.
Akan tetapi selalu ia kalah sehingga hatinya menjadi semakin kecewa dan penasaran.
Kemudian timbul bencinya kepada Resi Satyadharma yang dianggapnya sebagai biang keladi sehingga kakak seperguruan atau kekasihnya itu berubah pikiran dan tidak mau menikah!
Maka, tidak mengherankan kalau kali ini Nini Bumigarbo mengeluarkan seluruh kepandaiannya dan mengerahkan seluruh tenaganya untuk mengalahkan Bhagawan Ekadenta.
Namun, sampai seratus jurus lebih mereka bertanding belum juga ia mampu mendesak bekas kekasihnya itu.
Semua tenaga sakti, tenaga hitam dan sihir, telah ia kerahkan namun semua mental, tidak mampu menembus pertahanan Bhagawan Ekadenta yang senantiasa sabar dan lembut terhadapnya itu.
Bhagawan Ekadenta yang banyak mengalah dalam pertandingan itu merasa sudah cukup lama memberi kelonggaran kepada Nini Bumigarbo.
Sebetulnya dia merasa kasihan kepada kekasihnya itu bahkan sampai kini masih ada rasa kasih itu dalam hatinya, namun bukan seperti cinta kasih yang diharapkan Nini Bumigarbo.
Dia lalu membuat gerakan kuat dengan kain putih pengikat rambutnya dan tiba-tiba ujung kain itu seperti seekor ular dapat membelit ranting di tangan Nini Bumigarbo dan dengan sentakan kuat, kain itu telah berhasil membetot ranting terlepas dari tangan Nini Bumigarbo.
Bhagawan Ekadenta melompat kebelakang, lalu melemparkan ranting yang dirampasnya itu ke arah Nini Bumigarbo yang menyambut dan menangkap rantingnya.
"Cukup sekian saja kita main-main, Yayi Gayatri!"
Kata Bhagawan Ekadenta.
"Tidak, memang rantingku dapat kau rampas, akan tetapi itu belum berarti bahwa aku sudah kalah! Coba Jawan aji pamungkasku ini! "
Nini Bumigarbo lalu bersedakap (melipat lengan di depan dada) dan memejamkan matanya, mulutnya berkemak-kemik membaca mantra.
Tiba-tiba tubuhnya bergetar hebat dan perlahan-lahan tubuhnya berubah!
Wajahnya, rambutnya, tubuhnya, semua berubah menjadi leyak, menjadi wujud setan betina dan gimbal (lekat) wajahnya menakutkan dengan mata besar mencorong seperti mengeluarkan sinar berapi, hidungnya besar pesek dan mulutnya lebar dengan gigi bercaling dan lidahnya panjang terjulur keluar.
Buah dadanya besar dan panjang, keluar dari bajunya, tergantung sampai perut.
Jari-jari tangannya berkuku panjang.
"jagad Dewa Bathara! Sadhu, sadhu..sadhu .....!"
Bhagawan Ekadenta mengerahkan tenaga saktinya untuk menggetarkan iblis jadi-jadian itu.
Akan tetapi ternyata iblis jadi-jadian yang ini amat kuat dan sakti, juga kebal sehingga serangan tenaga sakti yang dikerahkan Bhagawan Ekadenta tidak dapat mengenyahkannya, bahkan iblis betina itu mengangkat kedua tangan berkuku panjang itu ke atas.
Dari kedua telapak tangan leyak itu menyambar keluar sinar kilat ke arah tubuh Bhagawan Ekadenta Sang bhagawan mengerahkan tenaga sakti menyambut.
"Blarrr .....!"
Tubuh sang bhagawan sempoyongan ke belakang.
Leyak yang menyeramkan itu terkekeh, suara tawanya mendirikan bulu roma.
Bhagawan Ekadenta mengerutkan alisnya.
Sungguh ilmu hitam yang amat tangguh dan berbahaya, pikirnya.
Kalau Nini Bumigarbo mempergunakan ilmu sesat macam itu, mau tidak mau dia harus mengeluarkan aji simpanannya.
Leyak itu terlalu kuat untuk dilawan dengan kekuatan biasa.
Bhagawan Ekadenta lalu bersedakap dan memejamkan kedua matanya, mengheningkan cipta.
Nini Bumigarbo yang merasa di atas angin sambil terkekeh sudah hendak menyerang lagi dengan sinar kilat dari kedua telapak tangannya.
Akan tetapi tiba tiba la menahan serangannya dan mengeluarkan teriakan menyayat hati dan menjadi marah sekali karena ia melihat betapa tubuh sang bhagawan itu kini telah tumbuh menjadi besar sekali!
Itulah Aji Triwikrama!
Begitu melangkah tiga kali, tubuh sang bhagawan tampak oleh Nini Bumigarbo berubah menjadi sebesar bukit!
Sinar kilat yang meluncur dari kedua telapak tangan Nini Bumigarbo membalik ketika menghantam tubuh sang bhagawan, bahkan menghantam dirinya sendiri sehingga ia terjengkang dan jatuh terlentang.
Melihat lawannya jatuh, Bhagawan Ekadenta kembali merasa kasihan karena begitu membentur tanah, tubuh leyak itu kembali menjadi tubuh Nini Bumigarbo.
iaapun menyimpan ajiannya dan kembali menjadi Bhagawan Ekadenta.
Nini Bumigarbo melompat bangun lagi sambil mengeluarkan jerit melengking kini ia menggoyang tubuhnya dan ketika tubuhnya diselimuti uap hitam sehingga tak tampak.
Yang tampak hanyalah uap hitam itu yang kini bergerak cepat ke arah Bhagawan Ekadenta.
Sang bhagawan juga menggoyang tubuhnya dan uap putih menyelubungi tubuhnya.
Kalau ada orang kebetulan menyaksikan pertandingan itu, tentu dia akan merasa heran dan bingung karena kini tidak tampak ada orang bertanding, melainkan ada uap hitam dan uap putih yang saling terjang dan saling dorong!
Tampaknya saja uap hitam dan uap putih yang saling dorong akan tetapi sebetulnya Nini Bumigarbo dan Bhagawan Ekadenta sedang bertarung sambil mengeluarkan ilmu masing-masing dan mengerahkan seluruh tenaga.
Seperti juga tadi, Bhagawan Ekaderta banyak mengalah dan memberi kesempatan kepada Nini Bumigarbo untuk melancarkan serangan-serangannya, mengeluarkan semua ilmunya dan dia hanya mempertahankan.
Setelah seratus jurus lebih, barulah dia menambah pengerahan tenaganya dan tampaklah awan atau uap hitam itu mulai terdesak mundur, bahkan semakin menyuram.
Akhirnya, terdengar pekik melengking penuh kekecewaan dan kemarahan, dan uap hitam itu melayang pergi meninggalkan tempat itu.
Awan putih juga lenyap dan tampak Bhagawan Ekadenta berdiri sambil menggeleng kepala dan menghela napas panjang.
"Yayi Gayatri, jangan melanggar janjimu!"
Dia berseru.
"Bhagawan Ekadenta, aku tidak akan membunuh Erlangga dan Narotama, akan tetapi aku akan menurunkan ilmuku kepada seorang murid dan dialah yang akan Mewakili aku memusuhi Kahuripan!"
Terdengar suara melengking dari jauh, suara Nini Bumigarbo. Bhagawan Ekadenta menghela napas panjang, lalu berkata kepada diri sendiri.
"Sadhu-sadhu-sadhu, kehendak Sang Hyang Widhi pasti terjadi, tak dapat diubah oleh siapapun juga! Sudah sesuai dengan garisnya bahwa keturunan Mataram akan menghadapi banyak gangguan!"
Setelah berkata demikian, dengan langkah tenang sang bhagawan meninggalkan bukit itu.
Sementara itu, dengan hati yang mengkal, sakit dan penasaran, Nini Bumigarbo yang terpaksa tidak berani melanggar janjinya dan tidak melanjutkan niatnya untuk membunuh Sang Prabu Erlangga dan Ki Patih Narotama, lalu mencari murid.
Akhirnya ia menemukan seorang murid yang dianggapnya baik sekali untuk dapat melaksanakan niatnya yaitu membunuh atau setidaknya mencelakai sang Prabu Erlangga dan Ki Patih Narotama sebagai murid-murid Sang Resi Satyadharma untuk membalaskan dendamnya terhadap sang resi yang dianggap sebagai penyebab kekasihnya, Ekadenta meninggalkannya.
Murid itu adalah permaisuri dari Adipati Adhamapanuda, Raja Kerajaan Wengker, bernama Dewi Mayangsari.
Permaisuri Wengker ini seorang wanita yang cantik jelita, genit dan cerdik, berusia dua puluh lima tahun.
Sudah enam tahun ia menjadi permaisuri Adipati Adhamapanuda, akan tetapi belum mempunyai anak dan ia amat disayang oleh sang adipati karena selain cantik jelita dan pandai menyenangkan hati, juga Dewi Mayangsari ini sejak kecil telah mempelajari ilmu kanuragan sehingga ia memiliki kesaktian.
Wanita ini dipilih oleh Nini Bumigarbo karena ia tahu bahwa Kerajaan Wengker merupakan musuh bebuyutan Mataram.
Ia mengharap agar muridnya ini yang akan dapat mewakilinya, membunuh Sang Prabu Erlangga dan Ki Patih Narotama.
Permaisuri Dewi Mayangsari menyambut Nini Bumigarbo dengan girang dan selama tiga tahun ia digembleng oleh guru barunya itu sehingga Dewi Mayangsari menjadi semakin sakti.
Dengan senang hati pula ia berjanji kepada Nini Bumigarbo untuk menentang Kahuripan dan berusaha untuk membunuh Sang Prabu Erlangga dan Ki Patih Narotama.
Demikianlah, Dewi Mayangsari mendorong suaminya untuk selalu memusuhi Kahuripan dan permaisuri ini yang menganjurkan Adipati Adhamapanuda untuk mengangkat Linggajaya menjadi senopati muda dan mengutus pemuda murid Resi Bajrasakti untuk membantu usaha para puteri Kerajaan Parang Siluman mengadakan kekacauan di Kahuripan.
Kini usia Dewi Mayangsari sudah dua puluh delapan tahun dan ia membantu suaminya untuk menyusun pasukan yang kuat, bersiap-siap dan melatih pasukan itu agar siap siaga kalau sewaktu-waktu pecah perang terbuka antara Kerajaan Wengker dan Kerajaan Kahuripan.
Ki Patih Narotama sering melakukan perjalanan seorang diri dengan menyamar sebagai penduduk biasa.
Dengan cara seperti ini dia dapat melakukan pemeriksaan terhadap keadaan rakyat jelata dan juga dapat mengawasi cara kerja para punggawa kerajaan.
Pada suatu hari dia melakukan perjalanan seperti itu, berpakaian seperti seorang petani biasa dan keluar masuk pedusunan, mendengarkan keterangan dari rakyat tentang keadaan mereka dan tentang sikap para lurah atau demang yang menjadi penguasa di dusun mereka.
Kalau terdapat laporan tentang seorang kepala dusun yang bersikap tidak baik dalam melakukan tugasnya, sewenang-wenang dan menindas rakyat, maka Ki Patih Narotama cepat mendatangi kepala dusun itu dan mengambil tindakan.
Kalau masih dapat diperbaiki ahlak punggawa itu, maka hanya akan diberi peringatan keras.
Kalau sekiranya tidak dapat diperbaiki lagi, langsung dipecat dan diganti orang lain.
Kalau ada laporan tentang kepala dusun yang baik, Ki Patih Narotama juga tidak tinggal diam.
Dikunjunginya kepala dusun itu dan beri pujian, serta dicatat jasa-jasanya untuk kemungkinan kenaikan pangkat.
akan tetapi pelaporan apapun yang didengarnya dari rakyat, Ki Patih tidak tergesa-gesa menerima kebenaran laporan begitu saja.
Dia akan melakukan penyelidikan dengan teliti sebelum mengambil keputusan apakah penguasa itu benar-benar seperti yang dilaporkan rakyat ataukah tidak.
Hari itu hati K i Patih Narotama merasa gembira.
Di dusun Pakis itu dia dapat laporan dari rakyat bahwa kepala dusun itu amat baik.
Bijaksana dan murah terhadap rakyat, suka membimbing dan menolong rakyat sehingga kehidupan rakyat di dusun itu dapat dikatakan cukup makmur dan sejahtera, cukup sandang pangan dan kepala dusun juga memperhatikan pembangunan perumahan bagi rakyat sehingga rumah-rumah di dusun Pakis itu rata-rata tampak rapi dan bersih, walaupun tidak mewah.
Karena itu, dia mengunjungi ki lurah dengan berterang walaupun masih berpakaian sebagai petani.
Ki Lurah dan para pamong dusun menyambut Ki Patih Narotama dengan penuh penghormatan dan sebentar saja penduduk dusun Pakis mendengar bahwa dusun mereka dikunjungi Ki Patih Narotama.
Sebentar saja berita itu sudah terdengar semua orang dan cukup menggemparkan karena nama besar Ki Patih Narotama sudah amat terkenal.
Para pamong dusun lalu mengadakan pesta makan seadanya untuk menyambut dan menghormati.
Ki Patih Narotama yang menerima sambutan mereka dengan gembira.
Dia memuji ki lurah dan para pamong.
"Aku sudah mendengar laporan penduduk dusun Pakis ini tentang pekerjaan andika sekalian dan aku merasa senang dan lega. Begitulah seharusnya, seorang pamong haruslah seperti bapak yang momong (mengasuh) penduduk sebagai anak anaknya. Membantu mereka yang patut dibantu, menghukum mereka yang pantas dihukum, bertindak dan bersikap adil sehingga pantas dijadikan panutan (tauladan). Ingatlah selalu bahwa rakyat Itu yang terpenting dan semua kebutuhannya harus dipentingkan. Tanpa rakyat, apa artinya penguasa? Rajapun tidak akan ada tanpa rakyat. Sebaliknya rakyat akan tetap ada walaupun tidak ada raja! Namun penguasa memang diperlukan untuk mengatur tata tertib dalam kehidupan rakyat. Karena itu sudah sepatutnya ada timbal-balik, jangan kalian sebsgai penguasa hanya minta dilayani, akan tetapi juga harus melayani, jangan hanya minta disenangkan akan tetapi harus juga menyenangkan. Usahakanlah sedemikian rupa agar rakyat menaruh hormat, merasa segan kepada kalian dan menncinta kalian karena kebaikan kalian, jangan sekali-kali sampai rakyat merasa takut kepada kalian dan membenci kalian karena kesewenang-wenangan kalian."
Demikian antara lain nasihat yang diberikan oleh Ki Patih Narotama kepada para pamong yang berkumpul di rumah kepala dusun dan semua orang menerima nasihat itu dengan hati terbuka.
Setelah puas berbincang-bincang dengan para pamong, K i Patih Narotama siang hari itu juga meninggalkan dusun Pakis.
Ketika di tiba di jalan yang sepi agak jauh di luar dusun Pakis, tiba-tiba berkelebat sesosok bayangan dan tahu tahu di depannya telah berdiri seorang gadis cantik jelita.
Gadis itu berdiri di tengah jalan, bertolak pinggang dengan kedua kaki dibentangkan, dan sikapnya jelas menunjukkan bahwa ia memang sengaja menghadang perjalanan Ki Patih Narotama.
Narotama memandang dengan penuh perhatian sambil menahan langkahnya.
Seorang dara yang masih muda, paling banyak sembilan belas tahun usianya, wajahnya cantik jelita, kulitnya putih kuning, terutama mata dan mulutnya amat indah menggairahkan.
Akan tetapi pandang matanya mencorong dan mengandung kegalakan dan dari sikapnya yang berdiri dengan kedua tangan bertolak pinggang, kedua kaki agak dibentangkan, kepala ditegakkan dan dada dibusungkan, pandang matanya penuh tantangan dan keberanian maka Ki Patih Narotama menarik kesimpulan bahwa dara ini berwatak liar dan bebas.
Dan pakaiannya yang mewah itu diapun maklum bahwa dara itu bukanlah gadis dusun biasa.
Pakaiannya menunjukkan bahwa ia tentu seorang dara bangsawan, maka tentu saja hatinya merasa heran sekali.
"Nimas, andika siapakah dan mengapa andika menghadang perjalananku?"
Narotama bertanya dengan ramah dan lembut. Dara itu memandang penuh selidik lalu berkata.
"Aku mendengar desas-desus penduduk dusun Pakis bahwa engkau adalah Ki Patih Narotama dari Kerajaan Kahuripan. Benarkah itu? Engkau Ki Patih Narotama?"
Narotama melakukan perjalanan menyamar hanya agar dia dapat melakukan pemeriksaan ke dusun-dusun dengan leluasa.
Akan tetapi dia tidak merasa perlu untuk berbohong kepada dara yang tidak dikenalnya ini.
Dia tersenyum dan mengangguk.
Wajah tampan dan gagah Narotama tampak semakin menarik ketika tersenyum.
"Benar sekali, aku memang Ki Patih Narotama dari Kerajaan Kahuripan. Lalu siapakah andika dan apa maksud andika menghadang perjalananku?"
"Engkau tidak perlu tahu siapa aku akan tetapi aku mencarimu untuk membunuhmu, Ki Patih Narotama!"
Kata dara itu yang bukan lain adalah Puspa Dewi.
Seperti kita ketahui, dara ini gagal memenuhi perintah Nyi Dewi Durgakumala untuk merampas keris pusaka Sang Megatantra dari tangan Nurseta, bahkan ia mendengar bahwa pusaka itu telah dicuri oleh Pangeran Hendratama dan ia menyadari bahwa perintah merampas pusaka itu adalah tidak benar sehingga ia sudah berjanji kepada Nurseta untuk membatalkan niatnya memenuhi perintah gurunya untuk merampas Sang Mega tantra.
Akan tetapi untuk membalas budi baik gurunya yang juga menjadi ibu angkatnya itu masih ada tugas yang kiranya akan dapat ia penuhi dengan hasil baik, yaitu membunuh Ki Patih Narotama untuk membalas dendam sakit hati gurunya.
Mendengar ucapan itu, hampir saja Ki Patih Narotama tertawa terbahak.
Memang bagi dia terdengar lucu sekali kalau dara yang masih muda remaja ini mengatakan hendak membunuhnya!
Akan tetapi dia menahan diri dan tidak tertawa, hanya tersenyum dan berkata dengan sikap tenang.
"Nimas, engkau berhak untuk tidak memperkenalkan nama padaku, juga engkau boleh saja mengatakan hendak membunuh aku. Akan tetapi sungguh tidak adil kalau engkau tidak memberitahu kepadaku mengapa engkau hendak membunuhku. Bagaimana kalau sampai engkau membunuhku dan aku mati tanpa mengetahui apa sebabnya aku dibunuh orang? Nyawaku tentu akan menjadi setan penasaran dan akan selalu mengejarmu! Karena itu, jelaskan dulu mengapa engkau hendak membunuhku sehingga aku mengetahui apakah memang sudah adil dan benar kalau engkau membunuhku."
Mendengar ucapan ini, Puspa Dewi mengerutkan alisnya.
Benar juga, pikirnya, tidak adil kalau Ki Patih Narotama tidak tahu mengapa ia akan membunuhnya.
Juga ia merasa ngeri mendengar ancaman bahwa kalau tidak diberitahu sebabnya, kalau mati Ki Patih Narotama akan menjadi setan penasaran dan akan selalu mengejar-ngejarnya!
Ih, ngeri juga membayangkan dikejar-kejar hantu penasaran!
"Aku harus membunuhmu untuk mentaati perintah guruku kepadamu!"
"Hemm, siapa gurumu itu? Dan mengapa dia mendendam kepadaku?"
"Guruku adalah Nyi Dewi Durgakumala."
"Ah, datuk wanita dari Wura-wuri itu? Akan tetapi kenapa ia mendendam kepadaku?"
"Ki Patih Narotama, tidak perlu engkau pura-pura tanya dan hendak menyembunyikan perbuatanmu yang jahat kepadanya!"
Puspa Dewi membentak.
"Lho! Perbuatan jahat kepada Nyi Dewi Durgakumala? Apa maksudmu, nimas?"
"Dulu, engkau pernah membunuh anak yang berada dalam gendongannya! Apa itu bukan perbuatan yang amat jahat dan karenanya engkau pantas dihukum mati?"
Narotama menggeleng kepalanya "Ah, nimas, agaknya engkau belum mengenal betul siapa itu Nyi Dewi Durgakumala."
"Aku belum mengenal siapa ia? hemm, selama lima tahun lebih aku menjadi muridnya, menerima pendidikannya dan menerima budinya. Ia seorang yang bagiku amat baik dan aku harus membalas budinya, la menceritakan kepadaku tentang kejahatanmu, dan mengutus aku untuk membunuhmu! Bersiaplah engkau, Ki Patih Narotama!"
Setelah berkata demikian, Puspa Dewi mengerahkan tenaga saktinya lalu ia mengeluarkan Pekik Guruh Bairawa.
Jerit melengking keluar dari mulutnya, mengandung getaran yang dahsyat.
Orang yang hanya memiliki kesaktian tanggung tanggung saja dapat roboh dan mungkin tewas menghadapi gelombang suara yang mengandung getaran yang dapat mengguncang isi dada dan kepala ini.
Namun Ki Patih Narotama tetap berdiri tenang sambil tersenyum, sama sekali tidak terpengaruh oleh jerit itu laksana angin keras menyerang batu karang dan lewat begitu saja tanpa dapat menggoyang batu karang itu sedikitpun.
Melihat betapa ajinya yang biasanya dapat diandalkan itu sama sekali tidak mempengaruhi Ki Patih Narotama, seolah-olah jeritan itu tidak pernah ada Puspa Dewi menjadi terkejut akan tetapi juga penasaran dan marah.
Dalam anggapannya, Ki Patih Narotama adalah seorang yang amat jahat dan sudah sepatutnya dihukum mati.
la lalu mulai menyerang dengan kedua tangannya sambil membentak nyaring.
"Aji Guntur Geni!"
Kedua lengannya dipentang seperti burung terbang dara tiba-tiba kedua tangan itu bersatu kedepan dan mendorong ke arah dada Narotama.
Ki Patih Narotama mengenal aji pukulan dahsyat, maka dia cepat menghindar dengan loncatan ke samping sehingga pukulan yang mengandung hawa panas seperti api itu lewat di sampingi tubuhnya.
Gadis itu menyerang lagi, lebih ganas daripada tadi, bahkan kini Puspa Dewi menggunakan kuku-kuku jarinya yang mengandung racun untuk menyerang sehingga serangannya menjadi semakin ganas.
Wisakenaka (Kuku Beracun) merupakan ilmu sesat yang amat berbahaya, sedikit saja kulit lawan tergurat kuku dan terluka, sudah cukup untuk membunuh lawan.
Ki Patih Narotama adalah seorang sakti mandraguna yang sudah banyak pengalaman.
Diam-diam dia merasa iba kepada dara yang masih amat muda ini.
semuda itu sudah memiliki ilmu-ilmu yang dahsyat, hanya sayang ilmu-ilmu itu sifatnya sesat dan keji.
Padahal, kalau melihat sikap gadis itu, walaupun liar dan ganas, namun gadis ini merasa bahwa tindakannya benar karena ia menganggap dia seorang yang amat jahat, yang telah membunuh anak dalam gendongan Nyi Dewi Durgakumala!
Gadis ini tidak memiliki dasar yang jahat, hanya karena menjadi murid seorang datuk wanita yang sesat maka selain mewarasi Ilmu-ilmu sesat, juga mewarisi watak yang ganas, la tidak sadar bahwa ia telah diperalat oleh Nyi Dewi Durgakumala.
Menghadapi serangan yang nekat dan ganas itu, dia hanya mempertahankan diri dengan elakan-elakan dan terkadang dia menangkis dari samping yang membuat tubuh Puspa Dewi terhuyung.
Puspa Dewi juga bukan seorang bodoh.
Setelah menyerang bertubi-tubi dan terkadang ia sampai terhuyung ketika ditangkis oleh Ki Patih Narotama, iapun maklum bahwa lawannya adalah seorang yang amal sakti.
Pantas saja gurunya tidak pernah dapat mengalahkannya.
Akan tetapi ia seorang yang keras hati dan keras kepala, tidak menyadari bahwa sejak tadi Ki Patih Narotama telah banyak mengalah kepadanya.
Karena semua serangannya gagal dan kedua lengannya terasa nyeri setelah beberapa kali bertemu dengan tangkisan tangan Ki Patih Narotama, Puspa Dewi menjadi semakin marah.
"Sambut pusakaku ini!"
Bentaknya dan di tangannya sudah tampak pedang hitam yang amat ampuh itu.
la sudah menerjang Ki Patih Narotama dengan pedangnya yang ia gerakkan amat cepat sehingga pedangnya berubah menjadi gulungan sinar hitam yang menyambar nyambar.
Ki Patih Narotama merasa sudah cukup dia bersabar dan mengalah.
Gadis ini perlu diingatkan.
Kalau sampai ia dipengaruhi Nyi Dewi Durgakumala, ia dapat melakukan banyak kejahatan yang amat berbahaya tanpa disadari bahwa ia berbuat jahat.
Ketika pedang itu menusuk dengan luncuran cepat seperti anak panah ke arah dadanya, dia miringkan tubuh dan ketika sinar pedang hitam itu meluncur lewat samping tubuhnya, dia cepat menggerakkan tangannya dan menangkap pedang itu!
Puspa Dewi terkejut dan hampir tidak percaya ada orang mampu menangkap pusaka Candrasa Langking yang beracun dan amat ampuh itu dengan tangan telanjang.
Ia, berusaha menarik pedangnya, akan tetapi sia-sia.
Pedang itu seolah telah melekat dengan tangan Ki Patih Narotama.
Ia membetot lagi sambil mengerahkan tenaganya dan tiba-tiba Ki Patih Narotama melepaskan pegangannya pada pedang itu.
Tak dapat dihindarkan lagi tubuh Puspa Dewi terjengkang dan terbanting roboh telentang di atas tanah!
Sebelum gadis itu bangkit, Ki Patih Narotama cepat berkata dengan suara yang mengandung wibawa kuat sekali karena dia mengerahkan tenaga batinnya.
"Nimas, aku tidak mengenal siapa andika, akan tetapi sekarang aku mengerti bahwa engkau telah dihasut oleh Nyi Dewi Durgakumala yang telah mendidikmu sebagai murid sehingga engkau tidak menyadari bahwa engkau telah terjatuh ke dalam tangan seorang iblis betina yang amat jahat dan kejam. Ketahuilah bahwa Nyi Dewi Durgakumala adalah seorang datuk wanita sesat dan sesuai dengan namanya, ia adalah seorang penyembah Bathari Durga, ratu para iblis itu. Ia memang memusuhi aku, akan tetapi bukan karena aku membunuh anaknya. Sama sekali bohong ceritanya itu. Ia tidak pernah mempunyai anak akan tetapi entah sudah berapa banyak anak laki-laki yang menjadi korban kekejiannya. Ia pernah bertemu denganku dan membujuk agar aku mau menerimanya sebagai isteri. Sungguh tidak tahu malu. Sungguhpun ia masih tampak cantik, akan tetapi sesungguhnya ia jauh lebih tua dariku. Aku menolak dan ia marah lalu ingin membunuhku. Akan tetapi beberapa kali usahanya itu gagal dan ia selalu kalah olehku. Ini yang membuat ia mendendam sakit hati dan sekarang membujukmu untuk membunuh aku. Mustahil engkau sebagai muridnya tidak tahu akan watak dan perbuatannya yang jahat dan keji tidak tahu malu itu!"
Puspa Dewi sudah bangkit dan berdiri mematung dengan pedang masih di tangan.
Ia mendengarkan semua ucapan Narotama dan hatinya mulai meragu dan bimbang.
Memang ia tahu bahwa gurunya memiliki watak yang memalukan, suka menculik dan mempermainkan pemuda pemuda remaja.
Beberapa kali perbuatan itu ia gagalkan dan ia sudah menegur sifat gurunya yang memalukan itu.
Juga ketika mau diambil permaisuri oleh Adipati Bhismaprabhawa dari Kerajaan Wura wuri, gurunya itu menuntut agar Gendari selir sang adipati, dibunuh.
Untung Ia masih dapat mencegahnya sehingga Gendari tidak jadi dihukum mati, melainkan dipulangkan kekampung halamannya.
Melihat betapa tampan dan gagah Ki Patih Narotama, maka cerita Ki Patih ini lebih patut dipercaya daripada cerita gurunya.
Akan tetapi ia sudah berhutang banyak budi kepada Nyi Dewi Durgakumala dan ia harus membalas budi itu Gurunya hanya memberi dua tugas, yang pertama merampas keris pusaka Sang Megatantra dari tangan Nurseta dan yang kedua membunuh Ki Patih Narotama.
Tugas pertama terpaksa ia batalkan apakah tugas kedua inipun harus gagal.
Ia menjadi ragu dan serba bingung "Akan tetapi, bukankah seorang murid harus tahu membalas budi gurunya?
Bukankah seorang murid harus setia dan berbakti kepada gurunya?"
Pertanyaan ini sebetulnya ia lontarkan untuk dirinya sendiri, akan tetapi terucapkan sehingga seolah-olah ia bertanya kepada Ki Patih Narotama.
"Di atas guru, bahkan di atas orang tua, masih ada yang lebih patut kita taati, yaitu Sang Hyang Widhi Wasa. Yang Maha Kuasa itu juga Maha Besar dan Maha Suci, dan menaatinya merupakan kewajiban utama di atas segala macam kewajiban bagi manusia. Menaati Yang Maha Benar berarti harus menjunjung tinggi dan melaksanakan kebenaran dan keadilan, yang berarti melaksanakan kebaikan. Karena itu, hanya tugas yang baik dan benar saja yang harus kita laksanakan, karena itu berarti menaati perintah Yang Maha Kuasa. Biarpun yang memberi tugas kepada kita itu guru atau orang tua sekalipun, kalau tugas itu berlawanan dengan kebenaran dan kebaikan, berarti melawan perintah Yang Maha Benar. Dan pelaksanaan perintah yang tidak benar adalah kejahatan! Nah, kalau engkau sudah memahami ini semua akan tetapi hendak melaksanakan perintah Nyi Dewi Durgakumala yang tidak baik dan jahat itu, lakukanlah. Ini dadaku dan aku tidak akan mengelak atau menangkis!' Ki Patih Narotama membusungkan dadanya, kedua tangannya tergantung di kanan kiri tubuhnya, seolah dia sudah menyerah untuk dibunuh! Puspa Dewi terbelalak memandang kearah wajah Narotama. Pandang mata mereka bertemu. Pandang mata Narotama tenang penuh pengertian, sebaliknya pandang mata Puspa Dewi gelisah dan bingung. Ia melihat betapa mudahnya melaksanakan perintah kedua gurunya. sekali tusuk ia akan dapat membunuh Ki Patih Narotama seperti yang dikehendaki gurunya. Tangan kanannya bergerak, pedang itu sudah diangkat, siap ditusukkan ke dada ki patih. Seluruh urat syarafnya menegang, dan tangan yang memegang pedang hitam itu gemetar. Kemudian, ia melangkah maju sehingga tiba dekat dan getaran di tangannya makin menjadi-jadi. Getaran itu menjalar ke seluruh tubuhnya dan tak lama kemudian seluruh tubuhnya gemetar. Ia memaksa tangannya hendak menusuk, akan tetapi tidak jadi. Ia menggeleng kepala keras-keras dan tubuhnya terguncang, lalu kedua kakinya lemas dan ia terkulai dan jatuh berlutut melepaskan pedang hitam ke atas tanah dan Puspa Dewi menangis! Ki Patih Narotama tersenyum. Dia telah memperoleh kemenangan besar, menang tanpa menalukkan dengan kekerasan. Tentu saja dia tidak ingin membunuh diri dengan nekat ketika mengucapkan kalimat terakhir untuk menerima serangan pedang hitam di tangan gadis itu tanpa menangkis atau mengelak. Memang, dia tidak akan menangkis atau mengelak, dan merasa yakin bahwa kekebalannya akan mampu menahan bacokan atau tusukan pedang, dan seandainya dia terkena hawa beracun pedang itu, iapun tidak khawatir karena dia membawa tongkat pusakanya, Tunggul Manik, yang dapat menyembuhkan segala keracunan badan. Dia terlindung oleh kekebalan kulitnya dan keampuhan pusaka Tunggul Manik. Kini melihat gadis itu duduk mendeprok di atas tanah sambil menangis, dia merasa semakin kasihan. Anak ini membutuhkan bimbingan, pikirnya. Pada dasarnya, anak ini berjiwa bersih dan dengan mudah dapat melihat kebenaran.
"Nimas, sudahlah jangan menangis. Engkau sudah mampu mengalahkan nafsu daya rendah di dalam dirimu sendiri, hal itu semestinya disambut tawa gembira dan bersyukur kepada Sang Hyang Widhi, bukan dengan menangis."
"Tapi..... tapi..... aku tak dapat melaksanakan perintah guru, aku..... aku menjadi murid yang tidak berbakti.... huhu-huuu!"
Puspa Dewi masih menangis "Nimas yang baik, dengarlah.
Berbakti kepada guru atau orang tua ada dua macam.
Pertama, melaksanakan segala perintah guru yang berlandaskan kebenaran dan kebaikan, dengan taat dan dengan taruhan nyawa sekalipun.
Ke dua, mencegah guru melakukan perbuatan yang menyimpang dari kebenaran dan keadilan, membujuknya agar ia menyadari kesalahannya dan kembali ke jalan benar.
Itulah yang dimaksudkan dengan kebaktian bukan menaati segala perintahnya dengan membuta sehingga dapat menyeret kita ke dalam kejahatan."
Puspa Dewi menghentikan tangisnya, mengusap air matanya dan timbul kagum dan hormat dalam hatinya yang keras terhadap pria itu.
la sudah dapat melihat kenyataan bahwa laki-laki yang dianggap jahat oleh gurunya itu sesungguhnya merupakan seorang yang gagah perkasa, sakti mandraguna dan bijaksana.
Kalau tidak bijaksana, tentu ia yang tadinya ingin membunuh orang itu, kini sudah menggeletak mati atau setidaknya terluka.
Akan tetapi Ki Patih Narotama sama sekali tidak melakukan itu, dia mengalahkannya tanpa melukainya sama sekali!
Dan semua ucapannya itu membuka hati dan pikirannya dan membuat ia dapat melihat dengan jelas siapa yang benar dan siapa yang salah.
Akan tetapi ia menjadi bingung sekali.
Apakah mungkin ia harus menentang gurunya, berarti menentang pula Adipati Wura-wuri yang menugaskannya untuk menentang Kahuripan?
"Aduh, gusti patih....."
Keluhnya.
"lalu apa yang harus saya lakukan? Hidup ini begini membingungkan, semuanya serba berlawanan. Berilah petunjuk, gusti patih, dan saya..... Puspa Dewi akan berterima kasih sekali."
Senyum di bibir Narotama semakin berseri.
"Baiklah, Nimas Puspa Dewi. Betapapun sukar pelaksanaannya, akan tetapi ada baiknya kalau pelajaran ini dapat tertanam dalam batinmu untuk mengemudikan jalan hidupmu. Segala macam kebajikan itu tidak ada gunanya kalau hanya menjadi hapalan, hanya dipikir dan diucapkan. Yang penting itu prilakunya karena prilaku merupakan bukti, merupakan persembahan, merupakan ibadah. Usahakanlah untuk melangkah dalam kehidupan melalui jalan kebenaran dengan pedoman seperti berikut . Pertama . Dharma atau prilaku kebajikan, semua pikiran, kata dan perbuatan yang didasari kasih sayang kepada sesama manusia, bahkan sesama mahluk hidup di dunia ini. Ke dua . Satya, yaitu kesetiaan yang didasari keadilan dan kebenaran, siap membela kebenaran dan keadilan dengan setia. Ke tiga . Tapa, berarti dapat mengekang dan mengalahkan nafsu daya rendah yang berada dalam diri sendiri, mengembalikan kedudukan segala macam nafsu itu menjadi hamba kita, bukan sebagai majikan kita. Ke empat. Dama, yaitu sikap menghormat, sopan santun lahir batin terhadap sesama manusia, rendah hati. Ke lima . Wimatsari-twa atau tidak menaruh iri hati terhadap keberhasilan orang lain, ikut merasa bahagia melihat orang lain berbahagia dan ikut prihatin melihat orang lain prihatin. Ke enam . Rih atau mengenal rasa malu, malu terhadap Yang Maha Kuasa, malu terhadap orang lain dan terhadap diri sendiri atas kesesatannya. Ke tujuh . Titiksa, yaitu dapat menguasai nafsu amarah. Ke delapan . Hanasuya, yaitu tidak membalas dendam kepada orang lain dengan cara menyakitinya. Ke sembilan . Yadnya, artinya tekun memuja dan mengagungkan Yang Maha Agung. Ke sepuluh . Dana, yaitu suka mengalah, berkorban dan beramal. Ke sebelas . Drati, berarti selalu tenang, membersihkan isi hati dan pikiran. Ke dua belas . Ksama, yaitu memaafkan kesalahan orang lain, teguh dan tidak berputus asa. Demikianlah, Nimas Puspa Dewi, sifat manusia yang berbudi luhur."
"Aduh, betapa sukarnya! Apakah ada manusia yang mampu melaksanakan semua itu, gusti patih?"
Puspa Dewi tertegun karena baru sekarang ia mendengarkan pelajaran seperti itu.
"Ha-ha-ha, pertanyaanmu itu tepat sekali. Memang tidak mudah menemukan seorang manusia yang dapat melaksanakan itu semua. Manusia itu tidak sempurna, bahkan dewa sekalipun tidak sempurna. Yang Maha Sempurna hanya Sang Hyang Widhi Wasa! Akan tetapi setidaknya pengertian itu dapat kita jadikan obor, andaikata kita tidak dapat melaksanakan sepenuhnya, ya sebagian kecil saja sudah cukup baik dan dapat mengurangi dosa kita."
Hati Puspa Dewi menjadi lega.
"Terima kasih, gusti patih. Saya akan berusaha untuk mengikuti jalan kebenaran itu. Terima kasih dan maafkan sikap dan perbuatan saya tadi."
"Sebaiknya semua rasa terima kasih dan maaf itu kita panjatkan kehadiran sang Hyang Widhi, bukan kepada sesame manusia, Puspa Dewi."
"Selamat tinggal, gusti patih dan sekali lagi terima kasih."
Entah apa yang mendorongnya, baru pertama kali dalam hidupnya, Puspa Dewi memberi hormat dengan sembah kepada Ki Patih Narotama.
Bahkan kepada dipati Wura-wuri saja ia tidak pernah memberi hormat dengan sembah.
"Selamat berpisah, Puspa Dewi, mudah mudahan kita dapat bertemu kembali dalam keadaan yang lebih baik."
Kata Ki Patih Narotama.
Puspa Dewi lalu melompat dan mempergunakan kesaktiannya, berlari cepat bagaikan seekor kijang muda meninggalkan tempat itu.
Ki Patih Narotama mengikuti bayangan itu sampai lenyap, lalu menghela napas panjang, tersenyum dan menggeleng kepalanya.
Dia sama sekali tidak mengira bahwa Puspa Dewi adalah Sekar Kedaton atau puteri Adipati Wura-wuri satu di antara kerajaan-kerajaan yang memusuhi Kahuripan.
Puspa Dewi memasuki kota raja Kahuripan.
Selama beberapa hari dalam perjalanan ini, hati dan pikirannya mengalami guncangan hebat.
Peristiwa berturut-turut yang dialaminya, pertama kali bertemu dengan Nurseta dan tugas pertamanya merampas keris pusaka Sang Megatantra dari tangan Nurseta gagal lalu disusul gagalnya melaksanakan tugas kedua, yaitu membunuh Ki Patih Narotama, mengguncang hatinya dan membuatnya menjadi bingung.
Namun perlahan-lahan ia dapat mencerna nasihat Patih Narotama dan ia dapat menghibur hati sendiri.
Gurunya atau ibu angkatnya Nyi Dewi Durgakumala memang bersalah.
Kedua macam tugas yang diperintahkannya itu memang mengandung maksud yang tidak sehat dan tidak benar.
Pertama, ia disuruh merampas keris pusaka Megatantra yang sama sekali bukan hak milik gurunya, melainkan hak milik Sang Prabu Erlangga dan ini berarti bahwa tugas itu menyuruh ia menjadi perampok atau pencuri!
Kemudian tugas kedua, ia disuruh membunuh Ki Patih Narotama yang sama sekali tidak berdosa dan sifat tugas itu adalah pembalasan dendam yang angkara murka.
Gurunya itu memang seorang wanita sesat, hal ini ia sendiri sudah mengetahuinya.
Apakah ia harus pula menjadi seorang sesat, menjadi seorang penjahat?
Tidak, ia bukan keturunan penjahat!
Akan tetapi sebagai seorang yang sudah diangkat menjadi Sekar Kedaton Wura-wuri, ia harus melaksanakan perintah Adipati Wura-wuri dan ia harus membela Kerajaan Wura-wuri.
Ia ditugaskan membantu dua orang puteri Parang siluman Laut Kidul yang kini menjadi selir Sang Prabu Erlangga dan selir Ki Patih Narotama, membantu untuk menentang Kerajaan Kahuripan.
Ia memilih menghubungi Puteri Mandari saja yang menjadi selir Sang Prabu Erlangga.
la tidak berani menghubungi Puteri Lasmini yang menjadi selir Ki Patih Narotama karena ia tidak berani bertemu lagi dengan ki patih yang tentu akan mencurigainya.
Pula, biarpun ia membantu usaha Kerajaan Wura-wuri untuk menentang Kerajaan Kahuripan, iapun tidak akan melakukannya dengan membuta.
Ia tidak mau melakukan perbuatan yang sifatnya jahat.
Para perajurit penjaga di pintu gerbang kompleks istana Kahuripan mula mula memandang dengan heran, kagum dan juga penuh curiga ketika menghadapi Puspa Dewi yang mengatakan bahwa ia ingin menghadap Sang Puteri Mandari.
Heran melihat seorang gadis muda begitu berani seorang diri hendak memasuki kompleks istana, kagum melihat kecantikan dara itu, dan curiga melihat Puspa Dewi membawa sebatang pedang tergantung di punggungnya.
Akan tetapi ketika mendengar bahwa gadis itu hendak menghadap Sang Puteri Mandari, mereka tidak berani menolak.
Puteri Mandari memang telah mereka kenal sebagai selir terkasih sang prabu dan selir itu adalah seorang yang sakti (Lanjut ke
Jilid 19) Keris Pusaka Sang Megatantra (seri ke 01 -Serial Keris Pusaka Sang Megatantra) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo
Jilid 19 mandraguna, juga seorang yang galak dan tentu akan menghukum berat mereka kalau mereka menghalangi gadis ini.
Siapa tahu gadis ini masih ada hubungan dekat dengan sang puteri.
Maka sikap mereka segera berubah setelah Puspa Dewi menyebut nama Puteri Mandari.
Tadinya, di antara mereka ada yang cengar cengir seperti biasa sekumpulan orang lelaki kalau melihat gadis cantik jelita, apalagi gadis itu datang seorang diri.
Kini mereka bersikap hormat, tidak berani main-main.
"Silakan andika ikut petunjuk jalan menemui pengawal istana keputren,"
Kata komandan jaga.
Puspa Dewi lalu diantar dua orang perajurit menuju ke istana bagian keputren yang terletak di sebelah kiri bangunan induk istana.
Setelah tiba dipintu bagian keputren, dua orang penjaga dari depan itu menyerahkan Puspa Dewi kepada empat orang perajurit pengawal yang berjaga di situ.
Kembali di sini Puspa Dewi harus memperkenalkan diri dan menjelaskan keperluan kunjungannya.
Seperti juga para penjaga di depan tadi, ketika para perajurit pengawal mendengar bahwa Puspa Dewi ingin menghadap Puteri Mandari, merekapun bersikap hormat dan tidak berani melarang.
Akan tetapi ternyata tidak terjadi seperti tadi.
Puspa Dewi tidak diantar oleh perajurit yang berjaga di pintu gapura itu ke dalam.
Seorang perajurit memberi isyarat ke dalam dengan memukul perlahan kentungan kecil.
Tak lama kemudian muncullah dua orang pengawal wanita, berlarian dari sebelah dalam.
Mereka berdua adalah wanita wanita berusia kurang lebih tiga puluh tahun, bertubuh tegap dan berpakaian ringkas, di pinggang mereka tergantung sebatang pedang.
Keduanya mendapat laporan dari perajurit pria yang berjaga di pintu gapura keputren tentang Puspa Dewi mereka mengamati Puspa Dewi penuh perhatian.
Seperti juga yang lain, disebutnya nama Puteri Mandari yang hendak dikunjungi Puspa Dewi membuat dua orang pengawal wanita ini bersikap hormat.
Mereka semua takut belaka kepada sang puteri dan hal ini mulai diketahui Puspa Dewi melalui sikap mereka itu.
La menduga bahwa keputren itu tentu memiliki pasukan pengawal wanita, sedangkan pasukan pengawal pria hanya menjaga di luar gedung, dibagi menjadi dua, yaitu pengawal luar dan pengawal dalam.
Ketika seorang di antara pengawal wanita yang berkulit hitam manis melihat pedang yang menempel di punggung Puspa Dewi, ia lalu berkata dengan nada hormat.
"Maafkan kami, mas ayu. Di sini terdapat peraturan bahwa tamu yang datang berkunjung tidak diperkenankan membawa senjata. Oleh karena itu, harap andika menitipkan dulu pedang andika itu kepada kami. Nanti kalau andika hendak meninggalkan istana, tentu akan kami serahkan kembali."
Kalau pengawal wanita itu bicaranya kasar, tentu Puspa Dewi marah mendengar pedangnya diminta.
Akan tetapi karena bicaranya sopan, maka ia tidak marah, hanya mengerutkan alisnya dan berkata sambil tersenyum mengejek.
"Aku mau menitipkan pedangku kepada kalian, akan tetapi apa hendak dikata, pusakaku Candrasa Langking ini tidak mau berpisah dariku."
"Apa maksud andika, mas ayu?"
Tanya pengawal wanita hitam manis itu dan kawannya juga memandang heran.
Puspa Dewi tersenyum dan ia mengambil pedang hitamnya, melepaskan talinya yang tergantung di punggung lalu menyerahkan pedang bersama sarungnya itu kepada pengawal wanita hitam manis itu.
"Kalau mau tahu, nah, buktikan sendiri dan terimalah pusakaku ini."
Dengan ragu pengawal itu menerima pedang.
Akan tetapi begitu pedang dipegangnya, tiba-tiba saja pedang itu meluncur lepas dari tangannya seperti ada yang merenggutkan dan pedang ini melayang ke arah Puspa Dewi yang menyambutnya dengan tangan kiri.
"Nah, andika telah membuktikan sendiri!"
Kata Puspa Dewi yang tadi mempergunakan kekuatan sihirnya untuk menerbangkan pedangnya kembali kepadanya.
Tentu saja ia tidak akan melakukannya kalau berhadapan dengan seorang yang sakti.
Pengawal wanita hitam manis itu terkejut sekali dan menjadi bingung, juga kawannya terbelalak heran dan kaget.
Empat orang perajurit pengawal pria yang berjaga di luar gapura juga menyaksikan peristiwa itu dan merekapun terheran-heran!
"Ah, bagaimana baiknya ini?"
Kata pengawal wanita ke dua kepada kawannya. Si hitam manis berkata.
"Cepat panggil Mbakayu Kanthi ke sini, biar ia yang menangani urusan ini."
Kawannya mengangguk lalu berlari masuk dan si hitam manis berkata kepada Puspa Dewi.
"Harap mas ayu suka menanti sebentar, kami panggilkan pelayan pribadi Gusti Puteri Mandari untuk mengantar andika menghadap Gusti Puteri."
Puspa Dewi mengangguk dan menanti dengan sikap santai, diam-diam merasa geli melihat pengawal wanita dan pengawal pria itu melirik kepadanya dengan pandang mata jerih.
Tak lama kemudian pengawal wanita itu datang bersama seorang wanita dan Puspa Dewi segera memandang wanita itu dengan penuh perhatian.
Seorang wanita berusia kurang lebih tiga puluh lima tahun, berpakaian sebagai emban pelayan, tubuhnya tinggi kurus dan mukanya burik sehingga tampak jelek.
Wanita ini adalah Kanthi dan ia bukanlah wanita lemah.
Kanthi dan Sarti yang tinggi besar sengaja didatangkan oleh Mandari dan Lasmini.
Sarti menjadi pengawal pribadi Lasmini dan Kanthi menjadi pengawal pribadi Mandari.
Karena kedua orang wanita itu datang dari Kerajaan Parang Siluman, maka tentu saja mereka menjadi orang-orang kepercayaan kedua orang puteri itu.
Dan mereka berdua juga merupakan orang-orang yang memiliki kesaktian, walaupun tidak setinggi kesaktian kedua orang puteri itu.
Setelah berhadapan dengan Puspa Dewi, mata Kanthi yang tajam dapat melihat bahwa gadis muda belia itu, memang seorang yang sakti.
Hal ini dapat ia lihat pada sinar mata Puspa Dewi yang mencorong penuh kekuatan batin.
Ia tadi sudah mendengar cerita pengawal wanita yang memanggilnya tentang pedang milik tamu wanita itu.
Ia lalu berkata dengan hormat kepada Puspa Dewi.
"Mas ayu, saya Kanthi, pelayan Gusti Puteri Mandari. Saya mengerti bahwa seseorang memang tidak dapat berpisah dari senjata pusakanya. Akan tetapi kalau andika menghadap Gusti Puteri dengan membawa pedang, tentu menimbulkan prasangka yang tidak baik. Oleh karena itu, marilah andika saya antar menghadap Gusti Puteri dan biarlah saya membawakan pedang andika itu sampai menghadap Gusti Puteri. Kalau nanti Gusti Puteri berkenan, tentu akan saya kembalikan pedang itu kepada andika disana juga."
Mendengar ucapan itu, Puspa Dewi tersenyum dan mengangguk. Ia tidak mau menggunakan sihir lagi karena kalau wanita pelayan ini ternyata mampu menolak sihirnya, maka ia akan mendapat malu.
"Baiklah, engkau boleh membawakan pusakaku ini dan mari kita menghadap Gusti Puteri."
Katanya sambil menyerahkan pedang hitamnya.
Kanthi menerima pedang itu sambil mengerahkan kekuatan batinnya, kalau kalau pedang itu akan "terbang", akan tetapi tidak terjadi sesuatu sehingga hatinya lega.
Dua orang pengawal wanita dan empat pengawal pria itupun memandang dengan hati tegang, akan tetapi ternyata tidak terjadi sesuatu dan mereka hanya dapat mengikuti dengan pandang mata mereka ketika Kanthi, sambil membawa pedang, mengantar Puspa Dewi masuk ke dalam.
Mandari yang dikabari bahwa ada seorang gadis bernama Puspa Dewi mohon menghadap padanya, menerima gadis itu di dalam ruangan pribadinya.
Dari seorang mata-matanya yang berada di Wura-wuri Puteri Mandari telah mendengar bahwa Adipati Bhismaprabhawa dari Wura-wuri telah mengutus puterinya Sekar Kedaton yang bernama Puspa Dewi untuk membantunya di Kahuripan.
Oleh karena itu, mendengar laporan bahwa Puspa Dewi kini telah dating menghadap, ia merasa girang sekali dan cepat menyambutnya sendiri di ruangan pribadinya.
Ketika Kanthi mengiringkan Puspa Dewi memasuki ruangan itu dan menutupkan kembali daun pintunya, Mandari telah duduk menanti diatas kursi, la memandang kagum, la sudah mendengar bahwa Sekar Kedaton Wura-wuri ini adalah murid dan puteri angkat Nyi Dewi Durgakumala yang sakti mandraguna, yang kini menjadi permaisuri Wura-wuri.
Ternyata Puspa Dewi seorang gadis remaja yang cantik jelita.
Kanthi berlutut dan menyembah dengan hormat kepada majikannya.
Puspa Dewi tetap berdiri dan memandang kepada Puteri Mandari dengan kagum.
Tak disangkanya sang puteri itu sedemikian cantiknya dan tampaknya masih muda sekali.
Ia mendengar bahwa puteri ini berusia sekitar dua puluh dua tahun lebih, akan tetapi tampaknya bahkan lebih muda dari pada ia yang baru berusia sembilan belas tahun!
Melihat pedang di tangan pelayannya, Mandari tersenyum dan berkata.
"Kanthi, serahkan pedang itu kepada Gusti Puteri Puspa Dewi."
Kanthi terkejut dan menoleh kepada Puspa Dewi yang masih berdiri.
"Gusti ..... Gusti Puteri .....?"
Katanya bingung.
"Benar, Kanthi. Ia adalah Gusti Puteri Sekar Kedaton dari Kerajaan Wura-wuri."
Kata Mandari.
"Sekarang haturkan kembali pedang itu lalu keluarlah. Jaga agar jangan ada yang mendengarkan kami bicara di dalam."
"Sendika, gusti."
Kata Kanthi lalu dengan hormat sekali ia menyerahkan kembali Candrasa Langking kepada Puspa Dewi, menyembah lalu keluar dari ruangan itu lalu menutupkan kembali daun pintunya.
Setelah Kanthi keluar, Mandari lalu menunjuk ke arah sebuah kursi di depannya dan berkata.
"Puspa Dewi, duduklah. Di sini kita dapat bicara dengan leluasa."
Puspa Dewi memasang kembali pedangnya di punggung lalu duduk dan berkata.
"Gusti Puteri...."
"Ah, Puspa Dewi, kita sama-sama puteri istana. Aku puteri Kerajaan Parang Siluman dan engkau puteri Kerajaan Wurawuri. Jangan bersikap merendah dan jangan menyebut aku Gusti Puteri!"
"Hamba mergerti. Akan tetapi karena hamba datang bukan sebagai Puteri Wura-wuri dan hendak membantu paduka dengan diam-diam dan rahasia, maka sebaiknya kalau mulai saat ini hamba membiasakan diri bersikap sebagai seorang pembantu paduka agar rahasia hamba tidak sampai bocor"
"Baiklah kalau begitu, Puspa Dewi. Tidak kusangka engkau yang semuda ini sudah dapat bersikap cerdik. Aku sudah banyak mendengar tentang dirimu dari pembantuku. Sebagai murid dan juga anak angkat Nyi Dewi Durgakumala yang kini menjadi Permaisuri Wura-wuri, aku yakin engkau memiliki kesaktian yang boleh diandalkan Aku girang sekali engkau bersedia untuk membantuku. Dengan adanya engkau di sini dan Linggajaya di kepatihan membantu Mbakayu Lasmini, kedudukan kita menjadi lebih kuat. Kukira engkau sudah tahu tentang Linggajaya."
Puspa Dewi mengangguk.
"Hamba telah mengenalnya dengan baik."
Katanya tanpa menjelaskan bahwa Linggajaya adalah kakak tirinya.
"Sekarang harap paduka jelaskan, bantuan apakah yang dapat hamba lakukan di sini dan tugas apa yang dapat hamba kerjakan?"
"Aku sedang memikirkan hal itu. Aku sudah mendengar bahwa engkau diutus oleh Adipati Wura-wuri untuk membantu kami, akan tetapi tidak kusangka bahwa engkau hari ini akan datang menemui aku. Kedatanganmu yang tiba-tiba ini membuat aku harus berpikir-pikir dulu, tugas apa yang dapat kuserahkan kepadamu. Sementara ini, sebaiknya engkau menyamar sebagai seorang dayang pelayan pribadiku membantu Kanthi yang menjadi pelayan bawaan dan kepercayaanku. Dengan menjadi pelayan pribadiku, kita dapat mudah berhubungan dan tidak seorang pun berani menentangmu. Nanti perlahan-lahan kita atur apa yang akan kita lakukan selanjutnya. Akan tetapi sebagai pelayan pribadi, tidak baik dan akan mencurigakan sekali kalau engkau membawa pedangmu. Maka, sebaiknya engkau sembunyikan pedangmu itu dalam kamar yang akan disediakan untukmu."
"Baik, akan hamba laksanakan."
Kata Puspa Dewi.
"Puspa Dewi, engkau harus berhati-hati. Ingat bahwa didalam istana ini banyak orang yang diam-diam menentangku. Terutama sekali terhadap Sang Prabu Erlangga, engkau harus berhati-hati sekali. Beliau adalah seorang yang amat sakti mandraguna, sebaiknya kalau engkau tidak muncul di depannya, kecuali kalau terpaksa dan jangan memperlihatkan sikap mencolok agar beliau tidak menaruh curiga kepadamu."
Demikianlah, mulai hari itu Puspa Dewi tinggal di dalam istana bagian keputren dan menyamar sebagai seorang dayang pelayan pribadi Puteri Mandari.
Ia memakai pakaian seperti yang dipakai para dayang istana dan menyimpan pusaka Candrasa Langking dalam kamarnya.
Kehadirannya tidak mencolok, tidak mencurigakan karena di istana memang terdapat banyak dayang, gadis-gadis muda yang rata-rata memiliki wajah yang ayu dan manis.
Dan seperti yang dikatakan Puteri Mandari, para dayang dan pelayan yang lain bersikap segan dan hormat kepada Puspa Dewi setelah mereka mendengar bahwa dara itu adalah pelayan pribadi Puteri Mandari.
Senopati Sindukerta adalah seorang senopati sepuh (tua) yang sudah menjadi senopati sejak muda, di bawah pimpinan mendiang Sang Prabu Teguh Dharmawangsa.
Ketika Erlangga menjadi raja menggantikan kedudukan mendiang Teguh Dharmawangsa, dia mengikut-sertakan bekas punggawa ayah mertuanya itu dan di antaranya dia memberi kedudukan yang sama kepada Senopati Sindukerta.
Senopati Sindukerta tinggal dalam sebuah gedung di kota raja bersama keluarganya.
Usianya sudah enam puluh tahun lebih, namun dia masih tampak sehat dan gagah.
Biarpun sudah tergolong tua, namun Senopati Sindukerta masih disegani karena dia pandai mengatur barisan, pandai memimpin pasukan dalam perang dan sudah banyak jasanya menghadapi musuh-musuh Kerajaan Mataram sejak dia masih muda dulu.
Tidak mengherankan kalau Sang Prabu Erlangga menaruh kepercayaan kepadanya sungguhpun kini tugasnya lebih banyak sebagai penasihat yang memberi petunjuk dan pelajaran kepada para senopati muda.
MALAM itu terang bulan.
Bulan purnama amat indahnya bertahta di angkasa raya.
Bintang-bintang menjadi suram bahkan banyak yang tidak tampak terhalang sinar bulan yang terang keemasan.
Bulan purnama bulat penuh dan di langit yang cerah itu tampak lingkaran putih di sekeliling bulan.
Bulan ndadari, bulan kalangan, begitu indahnya sehingga menciptakan suasana sejuk gembira di muka bumi.
Banyak orang betah berada di luar rumah karena sinar bulan memandikan segala sesuatu yang berada di permukaan bumi dengan sinarnya yang menenteramkan hati, membuat semua tampak gemilang dan indah, juga aneh penuh rahasia.
Segala sesuatu seperti diselimuti cahaya keemasan.
Kanak-kanak memenuhi pelataran rumah dan bermain-main dengan bertembang riuh rendah.
Orang-orang tua bercengkerama di luar rumah.
Banyak pula yang menggelar tikar di pelataran dan bercakap-cakap membicarakan masa lalu.
Bulan purnama mendatangkan kenangan lama yang indah-indah.
Para muda juga bergembira ria.
Sinar bulan agaknya mengobarkan gairah dan semangat hidup mereka.
Terutama sekali mereka yang sedang dimabuk asmara dan mengadakan pertemuan dengan kekasih mereka dibawah sinar bulan purnama.
Pada saat seperti itu, kekasih mereka tampak lebih cantik, lebih tampan, lebih menarik dan menggairahkan.
Senopati Sindukerta duduk seorang diri di dalam taman bunganya yang cukup luas.
Harum bunga melati yang tumbuh di sekeliling kolam ikan memperindah suasana.
Akan tetapi Senopati Sindukerta yang duduk tak jauh dari kolam ikan, di atas bangku panjang, sama sekali tidak tampak gembira.
Bahkan berulang kali dia menghela napas panjang dan wajahnya tampak muram, seolah dia menanggung derita kesedihan yang mendalam.
Di atas sebuah meja kecil didepannya terdapat sebuah poci dan sebuah cangkir.
Tadi pelayan datang menghidangkan air teh panas manis itu dan dia suruh pelayan itu pergi meninggalkannya dan berpesan agar jangan ada yang datang mengganggunya di dalam taman karena dia ingin bersendirian di situ.
Wajahnya yang masih memperlihatkan bekas ketampanan itu berkerut.
Tidak ada kumis dan jenggot di wajahnya.
Rambutnya sudah banyak yang putih.
Tubuhnya sedang, akan tetapi tampak kurus.
Dari keadaan jasmaninya dapat diduga bahwa Senopati Sindukerta banyak mengalami penderitaan batin.
Tentu saja hal ini tidak disangka orang.
Dia adalah seorang senopati tua yang berkedudukan tinggi, cukup kaya, terhormat dan tidak kekurangan sesuatu.
Bagaimana mungkin seorang punggawa tinggi seperti dia hidup mengalami penderitaan batin?
Senopati Sindukerta duduk di situ sejak tadi, sudah lebih dari dua jam dia duduk melamun seorang diri.
Sementara itu bulan purnama naik semakin tinggi.
Keadaan di luar gedung senopati itu sudah mulai berkurang keramaiannya.
Anak-anak sudah disuruh masuk dan tidur.
Hanya tinggal beberapa orang tua saja yang masih tinggal di luar.
Malam mulai larut.
Senopati Sindukerta mulai merasa kedinginan.
Makin tinggi bulan purnama naik, makin larut malam, makin dinginlah hawa udara.
Pada saat dia merasakan kedinginan dan minum air teh dari poci dituangkan ke cangkir dan air teh itu masih hangat, tiba-tiba berkelebat sesosok bayangan dan tahu-tahu di depannya, dalam jarak tiga meter, telah berdiri seorang pemuda.
Senopati Sindukerta terkejut dan meletakkan kembali cangkirnya di atas cawan, lalu menatap wajah pemuda itu dengan alis berkerut.
Dia terkejut, akan tetapi sama sekali tidak takut, hanya merasa heran bagaimana ada seorang pemuda yang begitu berani datang mengganggunya, dan kemunculannya begitu tiba-tiba.
"Siapa engkau? Mau apa engkau menggangguku, dating tanpa diundang?"
Bentak Senopati Sindukerta sambil menatap tajam wajah tampan pemuda yang pakaian dan sikapnya sederhana itu. Pemuda itu memberi hormat dengan membungkuk, lalu bertanya dengan suara lembut dan hormat.
"Maafkan saya, apakah saya berhadapan dengan Senopati Sindukerta?"
"Hemm, benar aku Senopati Sindukerta. Siapa engkau?"
"Maafkan saya. Nama saya Nurseta dan saya sengaja menghadap paduka untuk menanyakan sesuatu yang teramat penting dan hanya paduka saja yang dapat menjawab pertanyaan saya Itu, Kerut alis Senopati Sindukerta semakin mendalam.
"Sungguh engkau seorang pemuda yang tidak tahu aturan. bagaimana engkau berani kurang ajar menemui aku malam-malam begini dan memasuki tamanku seperti seorang pencuri?"
"Sudah dua kali saya minta maaf kalau saya mengganggu. Akan tetapi, pertanyaan saya ini penting sekali dan saya harap paduka tidak menolak untuk menjawabnya."
"Sudahlah, coba katakan, apa yang ingin kauketahui dariku?"
"Saya ingin bertanya, apa yang paduka ketahui tentang orang yang bernama Dharmaguna?"
Senopati Sindukerta terbelalak dan dia bangkit berdiri dengan cepat.
"Keparat"
Telunjuknya menuding ke arah Nurseta.
"Kiranya engkau ini suruhan si jahanam Dharmaguna? Mampuslah!"
Tiba-tiba Senopati Sindukerta menendang meja kecil di depannya dan meja itu meluncur ke arah Nurseta.
Poci dan cangkir tadi terlempar jauh.
Nurseta menggerakkan tangannya, menangkap kaki meja yang menyambar ke arahnya dan menaruh meja itu di atas tanah, di sampingnya.
Akan tetapi Senopati Sindukerta sudah mencabut kerisnya dan melompat maju, menyerang Nurseta dengan tusukan kerisnya.
Agaknya dia marah sekali mendengar disebutnya nama Dharmaguna tadi.
"Wuutt ..... tukk!"
Senopati Sindukerta terkejut setengah mati ketika keris yang dia tusukan itu mengenai dada pemuda itu, dia merasa betapa kerisnya itu bertemu dengan benda yang lunak namun kenyal dan kuat sekali sehingga kerisnya membalik dan tidak dapat menembus.
Sebelum hilang rasa kagetnya tahu-tahu keris itu telah direnggut lepas dari pegangannya dan pemuda itu melangkah mundur sambil berkata ejekan lembut "Harap paduka bersabar dan tenang Saya sama sekali tidak datang untuk memusuhi paduka, melainkan hanya untuk minta keterangan.
terimlah kembali pusaka paduka ini."
Nurseta menjulurkan tangan dan menyerahkan keris itu kepada pemiliknya.
Senopati Sindukerta terkejut bukan main.
keris pusakanya itu bukan keris biasa, melainkan pusaka ampuh sekali.
Akan tetapi pemuda itu memiliki kekebalan yang luar biasa, membuktikan bahwa dia seorang yang sakti mandraguna.
Maka mendengar ucapan Nurseta, dia menerima keris, mundur lalu duduk kembali ke atas bangku, mengawasi pemuda itu penuh perhatian.
"Orang muda. sebetulnya apakah yang kaukehendaki? Siapa namamu tadi?"
"Nama saya Nurseta dan saya hanya ingin mengetahui mengapa paduka memusuhi Dharmaguna, mengapa paduka membencinya dan di mana adanya dia sekarang?"
Senopati Sindukerta memandang heran.
"jadi engkau bukan suruhan dia? Engkau juga menanyakan di mana dia? Ah, kalau saja aku tahu di mana dia, si keparat itu!"
"Harap paduka suka menceritakan kepada saya mengapa paduka begitu membencinya."
"Engkau mau tahu mengapa aku membencinya? Huh, dia sudah merampas kebahagiaan kami sudah dua puluh dua tahun ini dia membuat aku selalu merasa berduka. Bawalah meja itu dekat sini dan duduklah di atas meja kalau engkau ingin mendengarkan persoalannya."
Nurseta menurut.
Dia mengambil meja, membawanya ke depan Senopati Sindukerta lalu duduk di atas meja kecil yang rendah itu.
Senopati Sindukerta lalu bercerita dan Nurseta mendengarkan dengan penuh perhatian.
Senopati Sindukerta menghela napas panjang lalu berkata.
"Peristiwa itu telah lama terjadi, kurang lebih dua puluh tahun yang lalu, akan tetapi rasanya baru kemarin saja terjadinya."
Kemudian senopati tua itu lalu bercerita.
Senopati Sindukerta telah menjadi senopati pada waktu Teguh Dharmawangsa menjadi raja.
Senopati yang setia ini hanya mempunyai seorang anak perempuan yang bernama Endang Sawitri.
Pada waktu itu Endang Sawitri berusia delapan belas tahun, la terkenal sebagai seorang dara yang selain cantik jelita, juga baik budi bahasanya dan berbakti kepada ayah ibunya.
Tidak mengherankan kalau Senopati Sindukerta dan isterinya merasa amat sayang kepada Endang Sawitri.
Tentu saja, seperti para orang tua lainnya Senopati Sindukerta dan isterinya mengharapkan agar puteri mereka itu mendapatkan suami yang tinggi kedudukannya, kaya raya, dan baik budi serta bijaksana.
Dengan demikian maka selain puteri mereka itu akan hidup bahagia juga mereka sebagai orang tuanya akan merasa senang dan terangkat derajat dan martabatnya.
Akan tetapi, dalam kehidupan ini, lebih sering harapan manusia tidak terpenuhi, kenyataan yang terjadi sering berlawanan dengan apa yang diinginkan, apa yang diharapkan, sehingga banyak kekecewaan dan duka melanda kehidupan manusia.
Pada suatu pagi, seorang tamu yang di hormati dating berkunjung ke rumah Senopati Sindukerta.
Sang senopati dan isterinya menyambut kedatangan tamu ini dengan ramah dan hormat karena tamu itu adalah seorang pangeran yang terkenal gagah perkasa.
Dia adalah Pangeran Hendratama yang pada waktu itu berusia sekitar tiga puluh tahun.
Seorang pria yang tampan dan gagah, apalagi karena pakaiannya amat indah, mewah dan mentereng.
Sebagai seorang pangeran, putera Sang Prabu Teguh Dharmawangsa yang beribu seorang wanita berkasta rendah, Pangeran Hendratama tentu saja mempunyai hubungan baik dengan para pamong-praja dan juga mengenal baik Senopati Sindukerta.
"Selamat datang, Pangeran."
Sambut Senopati Sindukerta ramah. Isterinya juga menyambut dengan senyum ramah.
"Silakan masuk, kita duduk di ruangan dalam agar lebih leluasa bercakap-cakap."
"Terima kasih, paman senopati dan bibi."
Kata Pangeran Hendratama dengan sikap halus.
Mereka memasuki ruangan dalam dan dua orang selir sang senopati juga menyambut dan memberi hormat kepada pangeran itu, akan tetapi mereka segera mengundurkan diri, tidak berani mengganggu.
Pangeran Hendratama hanya duduk berhadapan dengan Ki Sindukerta dan garwa padminya.
"Paman dan bibi, di mana diajeng Endang Sawitri ? Tanpa kehadirannya, rumah paman ini tampak sepi."
"Endang sedang sibuk di dapur, membantu para abdi mempersiapkan makan, Pangeran."
Kata Nyi Sindukerta.
"Begitukah? Sayang, saya ingin sekali melihatnya, walaupun sebentar saja, bibi."
Nyi Sindukerta lalu memanggil pelayan dan memberi perintah agar pelayan Itu memberitahu kepada puterinya bahwa Pangeran Hendratama datang berkunjung.
"Minta kepada Den Ajeng Endang agar keluar dan menemui Gusti Pangeran Hendratama sebentar!"
Perintahnya.
Pelayan itu menyembah lalu pergi.
Tak lama kemudian, selagi Pangeran Hendratama bercakap-cakap dengan Ki Sindukerta dan isterinya, muncullah seorang gadis cantik jelita mengiringkan seorang pelayan wanita yang membawa baki terisi makanan dan minuman yang dihidangkan di atas meja.
Gadis itu berusia sekitar delapan belas tahun, cantik jelita dan manis merak ati, dengan sikap dan gerak-gerik lembut menawan.
Itulah Endang Sawitri, puteri tunggal Senopati Sindukerta yang terkenal sebagai seorang di antara para puteri yang cantik di kota raja.
Bagaikan setangkai bunga yang sedang mekar mengharum memancing datangnya banyak kumbang, Endang Sawitri juga membuat banyak pemuda bangsawan maupun bukan bangsawan tergila gila.
Akan tetapi Endang Sawitri tidak menyambut rayuan mereka, bahkan menolak pinangan beberapa orang pemuda bangsawan.
Semua ini karena dara jelita itu sudah mempunyai pilihan hati sendiri, yaitu seorang pemuda bernama Dharmaguna.
Akan tetapi Senopati Sindukerta marah-marah dan melarang puterinya melanjutkan pergaulannya dengan pemuda itu.
Bukan karena pemuda pilihan puteri mereka itu kurang tampan.
Sebaliknya, Dharmaguna adalah seorang pemuda yang tampan dan lemah lembut, baik budi pekertinya.
Akan tetapi dia hanya putera seorang pendeta yang miskin, sudah tidak beribu lagi karena ibunya sudah meninggal dunia.
Dharmaguna hanya tinggal di padepokan ayahnya, sebuah bangunan yang reyot.
Bagaimana mungkin sang senopati dan isterinya mau menyerahkan puteri mereka yang merupakan anak tunggal kepada seorang pemuda miskin, tidak memiliki kedudukan apapun?
Mereka mengidamkan seorang mantu yang berpangkat tinggi dan kaya raya!
Ketika Endang Sawitri muncul.
Pangeran Hendratama segera bangkit dari tempat duduknya dan tersenyum memandang kepada dara yang telah mengobarkan gairah berahinya itu.
"Diajeng Endang Sawitri .....!"
Sapanya, tanpa menyembunyikan kekagumannya walaupun ayah ibu gadis itu berada di situ.
"Selamat datang, Gusti Pangeran. Hamba menghaturkan hormat."
Kata gadis itu dengan sikap hormat.
"Ah, diajeng Endang! Jangan menyebut gusti padaku, sebut saja Kakangmas Pangeran!"
"Hamba..... tidak berani....."
Kata gadis itu sambil menundukkan mukanya, ngeri melihat pandang mata pangeran itu yang seolah-olah hendak menelannya bulat-bulat.
"Kenapa tidak berani? Takut? Aku bukan harimau yang perlu ditakuti, diajeng. Mari, duduklah. Aku ingin meyampaikan suatu berita kepada orang tuamu dan engkaupun perlu mendengarkan dan menyaksikan berita yang amat menggembirakan ini."
Endang Sawitri meragu.
Ia sudah lama merasa tidak senang dan tidak aman kalau pangeran itu datang berkunjung Biarpun pangeran itu tidak pernah mengeluarkan kata-kata yang tidak sopan bahkan sangat ramah kepadanya, namun pandang mata pangeran itu seiaiu seolah menggerayangi seluruh bagian tubuhnya.
la menoleh kepada orang tuanya dan Senopati Sindukerta mengangguk kepadanya.
"Duduklah, Endang."
Kata ayahnya. Terpaksa gadis itu mengambil tempat duduk di dekat ibunya. Ibu yang menyayang puterinya ini lalu merangkulnya.
"Sebetulnya, kepentingan apakah yang hendak paduka sampaikan kepada kami sekeluarga, pangeran?"
Tanya senopati itu dengan hati merasa tidak enak karena sungguh aneh kalau untuk kepentingan kerajaan misalnya, puterinya diharuskan menjadi saksi.
"Apakah paduka membawa perintah dari Gusti Prabu?"
"Sesungguhnya memang saya membawa surat dari Ramanda Prabu, paman."
"Tugas apakah yang diperintahkan Sribaginda kepada hamba?"
Pangeran Hendratama tersenyum.
"Sebetulnya tidak ada hubungannya sama sekali dengan tugas pemerintahan, paman. Ini adalah urusan pribadi saya. Sesungguhnya, sudah lama sekali saya menaruh hati, jatuh cinta kepada puteri paman, yaitu Diajeng Endang Sawitri. Akan tetapi saya menunggu sampai ia menjadi dewasa. Setelah sekarang Diajeng Endang Sawitri dewasa, maka saya datang untuk mengajukan pinangan kepada paman dan bibi atas diri Diajeng Sawitri."
"Ahh .....!"
Seruan tertahan ini keluar dari mulut Endang Sawitri yang menjadi pucat wajahnya dan gadis itu merangkul dan menyembunyikan mukanya di pundak ibunya.
Di dalam hatinya, tentu saja Senopati Sindukerta tidak rela kalau puterinya dikawin pangeran ini, bukan karena pangeran ini kurang tinggi kedudukannya atau kurang kaya.
Sama sekali tidak!
Pangeran Hendratama adalah putera Sang Prabu Teguh Dharmawangsa, biarpun bukan putera mahkota namun tentu saja kedudukannya cukup tinggi dan diapun kaya raya.
Andaikata sang pangeran itu masih perjaka, atau setidaknya belum mempunyai garwa padmi (isteri sah) tentu dia dan isterinya akan merasa girang mempunyai mantu seorang pangeran!
Akan tetapi kenyataannya, Pangeran Hendratama itu telah mempunyai garwa padmi, bahkan mempunyai banyak garwa ampil (selir), maka tentu saja mereka merasa keberatan.
Endang Sawitri tentu hanya dijadikan garwa ampil, itupun entah yang ke berapa!
Melihat suami isteri itu saling pandang dengan alis berkerut, tampak tidak gembira menyambut pinangannya, Pangeran Hendratama lalu mengeluarkan segulung surat.
"Paman Senopati Sindukerta, ini saya dititipi surat dari Kanjeng Rama untuk paman!"
Melihat surat dari Sang Prabu Teguh Dharmawangsa, tergopoh-gopoh dengan sembah sang senopati menerimanya lalu membacanya.
Isinya merupakan pernyataan mendukung pinangan itu dan sang prabu mengharapkan agar Senopati Sindukerta menerima pinangan itu sehingga menjadi besan sang prabu!
Setelah membaca surat itu, Ki Sindukerta menghela napas.
Kalau Sribaginda sendiri turun tangan, tentu tidak mungkin baginya untuk menolak!
Kemudian, dia memandang kepada Pangeran Hendratama dan berkata dengan suara sungguh-sungguh.
"Pangeran, kami merasa berbahagia dan mendapat kehormatan besar sekali bahwa paduka bermaksud meminang puteri kami yang bodoh. Akan tetapi ....."
Senopati itu tidak berani atau meragu untuk melanjutkan kata-katanya.
"Akan tetapi, apa, paman?"
Tanya Pangeran Hendratama sambil mengerutkan alisnya yang tebal.
"Akan tetapi, maafkan sebelumnya, pangeran. Kami sebagai ayah ibu Endang Sawitri, terus terang saja merasa kurang marem (puas) kalau puteri kami hanya dijadikan garwa ampil. Kami sejak dahulu berkeinginan agar puteri kami menjadi garwa padmi yang dihormati..... maafkan kami, pangeran. Bukan sekali-kali kami menolak pinangan paduka, hanya..... bukankah paduka telah mempunyai garwa padmi?"
Pangeran Hendratama yang sudah tergila-gila kepada Endang Sawitri tidak menjadi marah, malah tertawa.
"Ha-ha..hal itu jangan dirisaukan, paman. Kala paman dan bibi sudah menerima pinangan saya, hari ini juga saya akan pulangkan garwa padmi saya itu kepada orang tuanya dan Diajeng Endang Sawitri saya angkat menjadi garwa padmi!"
Tentu saja hati Senopati Sindukerta menjadi lega.
Bagaimanapun juga, tidak mungkin dia berani menolak pinangan sang pangeran yang sudah diperkuat oleh surat Sang Prabu Teguh Dharmawangsa.
Surat itu saja berarti sebuah perintah yang tidak mungkin dapat ia tolak.
Kalau puterinya diangkat menjadi garwa padmi pangeran, biarpun di dalam hatinya dia tidak begitu suka kepada pangeran ini ia boleh merasa puas karena dia akan menjadi besan Sang Prabu Teguh Dharmawangsa!
Derajatnya akan naik tinggi sekali Dia menoleh kepada isterinya dan ternyata isterinya juga tersenyum dengan wajah berseri.
Sang senopati mengerutkan alisnya ketika dia melihat puterinya menangis tanpa suara di pundak isterinya.
"Bagaimana jawaban andika, paman senopati?"
Tiba-tiba senopati itu terkejut mendengar pertanyaan pangeran itu. Dia cepat menoleh dan memandang wajah Pangeran Hendratama.
"Oh, baik, Pangeran. Hamba sekeluarga menerima pinangan paduka dengan gembira!"
Tiba-tiba terdengar isak dan Endang Sawitri lalu melepaskan rangkulannya dari pundak ibunya dan ia berlari masuk ke ruangan dalam meninggalkan ruangan itu.
Terdengar isaknya ketika ia melarikan diri itu.
Pangeran Hendratama mengerutkan alisnya.
"Mengapa diajeng Endang Sawitri menangis, paman?"
"Oh, maaf, Pangeran. Maklum puteri kami itu masih amat muda, tentu ia merasa malu-malu. Biarlah nanti hamba berdua yang akan membujuknya agar ia tidak takut-takut dan malu-malu lagi."
Pangeran Hendratama tersenyum lega mendengar ucapan senopati itu.
"Baiklah, paman dan bibi. Saya mohon pamit dulu, akan saya urus perceraian saya dengan isteri saya. Besok saya akan mengirim utusan untuk membicarakan tentang perayaan pesta pernikahan saya dengan Diajeng Endang Sawitri."
"Terima kasih, pangeran, dan selamat jalan."
Kata sang senopati yang mengantar pangeran itu sampai ke pelataran rumahnya.
Sementara itu, Nyi Sindukerta memasuki kamar puterinya dan ia mendapatkan puterinya rebah menelungkup di atas pembaringan dan membenamkan mukanya pada bantal.
Nyi Sindukerta lalu duduk di tepi pembaringan dan menyentuh pundak puterinya.
"Nini, sudahlah jangan menangis. Engkau akan dijadikan garwa padmi Pangeran Hendratama, mengapa engkau menangis? Dia itu putera Sang Prabu, kedudukannya tinggi, kaya raya dan diapun berwajah tampan dan gagah. Juga belum tua benar, paling banyak tiga puluh tahun usianya. Engkau beruntung sekali menjadi mantu Sang Prabu, Endang Sawitri. Kenapa menangis?"
"Ibu, aku tidak mau menjadi isterinya, ibu ....."
Endang Sawitri bangkit duduk dan merangkul ibunya sambil menangis. Bantal di mana ia membenamkan mukanya tadi sudah basah air mata.
"Akan tetapi kenapa, nini? Engkau hanya anak senopati dan dia itu putera junjungan kita. Siapa tahu kelak dia akan menjadi raja dan engkau menjadi permaisurinya!"
"Ibu, kenapa ibu tidak berpikir secara mendalam dan berpemandangan jauh? Pangeran itu bukan suami yang baik, bukan laki-laki yang bertanggung jawab! Aku akan celaka kelak kalau menjadi isterinya!"
"Hemm, bagaimana engkau dapat berpikir demikian?"
"Ibu, sekarang dia menginginkan aku dan untuk terlaksananya keinginan itu, dia tega untuk menceraikan garwa padminya yang tidak bersalah apa-apa! Apakah ibu berani memastikan bahwa kelak aku tidak akan mengalami nasib yang sama Kalau dia melihat gadis lain yang lebih muda dan lebih cantik lalu meminangnya, apakah diapun tidak akan menceraikan aku dan mengirim aku pulang kepada ayah dan ibu?"
Diserang ucapan seperti itu, Nyi Sindukerta tidak dapat menjawab!
Bahkan iapun mulai merasa khawatir kalau-kalau apa yang ditakutkan puterinya itu kelak akan terjadi.
Membayangkan betapa puterinya terkasih itu kelak diceraikan begitu saja oleh Pangeran Hendratama yang menjadi suaminya karena pangeran itu tergila gila kepada wanita lain, ibu ini tak dapat menahan kesedihan hatinya dan iapun lalu merangkul puterinya sambil menangis.
Ibu dan anak itu bertangisan.
Senopati Sindukerta memasuki kamar itu dan dia marah sekali melihat isteri dan puterinya menangis.
"Heh, apa-apaan ini kalian .berdua bertangisan? Semestinya kalian berdua bergembira! Apa yang perlu disedihkan? Endang Sawitri akan menjadi garwa padmi Pangeran Hendratama, menjadi mantu Gusti Prabu! Adakah keberuntungan yang lebih besar daripada Itu? Kenapa kalian malah menangis?"
Nyi Sindukerta dapat menguasai perasaannya yang hanya merasa khawatir akan terjadinya apa yang tadi dibayangkan puterinya. Ia menghapus air matanya dan membujuk puterinya.
"Sudahlah, nini, hentikan tangismu. Ramamu benar, sebetulnya tidak ada yang perlu dikhawatirkan dan disedihkan."
"Dikhawatirkan? Apa yang perlu dikhawatirkan?"
Ki Sindukerta bertanya dengan suara membentak karena penasaran.
"Begini, kakangmas. Endang Sawitri merasa khawatir kalau-kalau kelak setelah menjadi isteri sang pangeran, dia akan dicerai pula karena sang pangeran hendak menikah dengan gadis lain, seperti yang dilakukannya pada garwanya yang sekarang."
"Omong kosong! Tidak mungkin dia berani mempermainkan puteriku. Apalagi sang prabu sendiri yang ikut mengajukan dukungan. Sang prabu sendiri yang meminang. Senopati Sindukerta bukanlah orang yang boleh dipermainkan begitu saja. Tidak, aku berani tanggung bahwa kelak engkau tidak akan diceraikan begitu saja, nini. Akan tetapi tahukah kalian bagaimana akibatnya kalau aku menolak pinangan Pangeran Hendratama yang didukung oleh Sang Prabu sendiri? Aku tentu akan dianggap menghina Sang Prabu dan akan dicopot dari kedudukanku, bahkan mungkin sekali kita sekeluarga akan mendapatkan hukuman berat! Nah, sekarang bergembiralah dan tidak perlu bertangis-tangisan lagi!"
Setelah berkata demikian, Senopati Sindukerta meninggalkan kamar puterinya.
Nyi Sindukerta juga segera meninggalkan puterinya untuk menyusul suaminya dan mencairkan kemarahan suaminya setelah ia menasihati puterinya agar tidak membantah lagi dan menerima dengan senang hati perjodohan yang sudah ditentukan ayahnya itu.
Setelah ditinggalkan seorang diri, Endang Sawitri tidak menangis lagi.
la harus cepat mengambil keputusan dan bertindak.
Urusan ini menyangkut nasib hidupnya di masa depan.
Sekali ia keliru mengambil keputusan, ia akan menderita selama hidupnya, la merasa yakin bahwa menjadi isteri laki-laki yang pandang matanya penuh nafsu itu akan membuat hidup sengsara selamanya, la hanya akan menjadi permainan nafsu pangeran itu yang kalau sudah bosan tentu akan menyepaknya.
Kalau ia setuju dan ayahnya menikahkannya dengan Pangeran Hendratama, ia akan sengsara selama hidupnya.
Akan tetapi sebaliknya kalau ia berkukuh menolak, ayahnya tentu akan memaksanya karena kalau ayahnya menolak pinangan itu, ayahnya sekeluarga akan celaka menerima kemarahan Sang Prabu.
Tidak ada jalan lain, pikirnya.
Menerima atau menolak juga salah.
Satu-satunya jalan keluar hanyalah minggat!
Kalau ia minggat dan pernikahan tidak jadi dilaksanakan, bukan berarti bahwa ayahnya menolak pinangan!
Ayahnya tidak dapat disalahkan.
Ialah yang bersalah.
Setelah mengambil keputusan tetap, dengan nekat malam itu Endang Sawitri minggat dari dalam kamarnya.
Kamar itu pintunya masih terkunci dari dalam, Ia menanti sampai rumah itu sepi dan semua orang sudah tidur, lalu ia keluar dari kamar melalui jendela yang menghadap taman, kemudian berjingkat-jingkat ia menyeberangi taman menuju ke belakang dan keluar melalui pintu belakang taman.
Tentu saja keluarga Senopati Sindukerta menjadi geger dengan hilangnya Endang Sawitri.
Sang senopati mengerahkan anak buahnya untuk mencari.
Dan tentu saja dia merasa curiga kepada Dharmaguna, pemuda yang dulu bergaul akrab dengan putennya.
Ketika mendapat kenyataan bahwa pemuda itupun menghilang dari rumahnya tanpa ada orang mengetahui kemana dia pergi, tahulah Ki Sindukerta bahwa puterinya tentu minggat dengan Dharmaguna.
Dia marah sekali dan menyuruh banyak perajurit mencari, namun tidak ada hasilnya.
Endang Sawitri dan Dharmaguna lenyap seperti ditelan bumi, tanpa meninggalkan jejak.
Sampai di situ ceritanya, Senopati Sindukerta menghela napas panjang dan menatap wajah Nurseta yang sejak tadi mendengarkan dengan tertarik sekali, senopati tua itu melihat betapa sepasang mata pemuda itu memandangnya dengan sayu, seolah terharu sekali.
"Nah, begitulah ceritanya, Nurseta. kau dapat membayangkan apa akibat perbuatan Dharmaguna yang membawa minggat puteriku itu. Pangeran Hendratama amat marah kepadaku, menuduh aku sengaja menyembunyikan Endang Sawitri. Sang Prabu Teguh Dharmawangsa juga marah sehingga pangkatku sebagai senopati dicopot dan aku diusir keluar dari kota raja. Masih untung bagiku bahwa aku membantu perjuangan Pangeran Erlangga mengusir musuh-musuh kerajaan dan membangun kembali Kahuripan sehingga beliau kini menjadi raja. Aku diangkatnya kembali menjadi senopati. Nah, engkau tahu mengapa aku membenci Dharmaguna. Dia sudah menyebabkan kami kehilangan anak kami dan juga kedudukan kami pada waktu itu."
Nurseta merasa terharu sekali, akan tetapi dia mampu menahan perasaannya itu. Kini dia berhadapan dengan kakeknya Ibunya adalah Endang Sawitri, puteri kakek ini.
"Akan tetapi, eyang senopati, saya kira Dharmaguna itu tidak bersalah. Adalah puteri paduka sendiri yang melarikan diri dari rumah. Juga puteri paduka tidak bersalah, bahkan ia telah memberi jalan keluar yang baik sekali."
"Eh? Apa maksudmu?"
Tanya Senopati Sindukerta yang tidak merasa heran atau aneh mendengar pemuda itu menyebutnya eyang senopati karena melihat usianya memang sudah sepatutnya kalau pemuda itu sebaya dengan cucunya, andaikata dia mempunyai cucu.
"Begini maksud saya. Puteri paduka tidak suka diperisteri Pangeran Hendratama yang saya juga tahu merupakan orang yang buruk wataknya itu sehingga kalau ia menerima pinangan itu, ia akan hidup sengsara. Sebaliknya kalau ia menolak, atau kalau paduka menolak pinangan, tentu akan berakibat buruk bagi keluarga paduka. Oleh karena itu puteri paduka memilih minggat karena kalau ia minggat, paduka tidak dipersalahkan sebagai orang yang menolak pinangan dan kesalahan akan terjatuh kepada puteri paduka sendiri."
"Hemm, mungkin engkau benar, dia puteriku tidak dapat disalahkan. Akan tetapi si Dharmaguna itu tetap bersalah. Kalau saja Endang Sawitri tidak saling mencinta dengan dia, tentu puteriku itu tidak akan dapat melarikan diri sampai sekarang."
"Maaf, eyang senopati. Salahkah itu kalau ada dua orang muda saling jatuh cinta? Mereka berdua saling jatuh cinta, hidup bersama sebagai suami isteri yang berbahagia walaupun bukan kaya raya, dan mereka telah mempunyai seorang anak. Kenapa paduka masih terus mencari dan membenci mereka. Kalau paduka berhasil menemukan mereka, apakah paduka akan membunuh puteri, mantu, dan cucu paduka, darah daging paduka sendiri?"
Senopati Sindukerta itu terbelalak memandang kepada Nurseta.
"Anakku Endang Sawitri mempunyai seorang anak Dhuh Jagad Dewa Bathara .....! Di mana mereka sekarang berada? Nurseta, apa engkau kira aku telah gila? Aku mencinta puteriku. Kalau saja si Dharmaguna itu datang bersama Endang Sawitri dan mohon ampun kepada kami, tentu saja kami akan mengampuni semua kesalahannya. Engkau tahu mengapa aku mencari mereka? Karena aku sudah rindu sekali kepada puteri kami. Akan tetapi si jahanam Dharmaguna itu tidak pernah datang, bahkan dia selalu membawa pergi anakku, selalu menghindar sehingga sampai saat ini, kami belum juga dapat bertemu kembali dengan Endang. Apalagi sekarang ia telah mempunyai seorang anak, tentu saja kami mau menerima Dharmaguna sebagai mantu kami, sebagai ayah dari cucu kami. Akan tetapi di mana mereka kini berada? Di mana? Katakan, dimana mereka?"
"Saya juga tidak tahu, Eyang Senopati. Mereka itu selalu melarikan diri dan bersembunyi bukan sekali-kali karena tidak lagi mau mengakui paduka sebagai ayah melainkan karena ketakutan kalau-kalau mereka akan dihukum berat dan dipaksa saling berpisah kalau paduka menemukan mereka. Saya sendiri juga tidak tahu dimana adanya mereka, bahkan kedatangan saya ini juga dalam usaha saya mencari mereka."
Senopati Sindukerta menatap wajah pemuda itu dengan penuh perhatian.
"orang muda, bagaimana engkau bisa mengetahui bahwa mereka takut bertemu dengan kami? Dan apa pula maksudmu mencari mereka? Ada urusan apakah kau dengan puteriku Endang Sawitri?"
Nurseta tidak dapat menyembunyikan kenyataan tentang dirinya lagi dan dia menganggap bahwa sudah tiba saatnya dia harus memperkenalkan diri kepada orang yang sesungguhnya menjadi kakeknya ini.
"Saya mencari mereka karena Endang Sawitri adalah ibu kandung saya dan Darmaguna adalah ayah saya, eyang."
Sepasang mata tua itu terbelalak, wajah tua itu menjadi pucat, lalu berubah merah.
"Kau ..... kau .....?"
"Saya Nurseta, cucu eyang ....."
"Cucuku .....!"
Senopati Sindukerta lalu melompat berdiri, menubruk ke depan dan merangkul Nurseta.
Lalu digandengnya lengan pemuda itu dan ditariknya "Mari, mari cucuku, mari kita bicara didalam dan mari engkau menghadap nenekmu!
Ah, betapa akan bahagianya nenekmu melihat cucunya!"
Nurseta dengan kedua mata basah karena terharu membiarkan dirinya ditarik memasuki gedung itu dari pintu belakang.
Para pelayan tentu saja merasa terkejut dan heran melihat sang senopati masuk rumah dari pintu belakang sambil menggandeng dan menarik tangan seorang pemuda yang tidak mereka kenal.
Akan tetapi melihat wajah senopati itu berseri gembira, mereka tidak menyangka buruk dan tidak berani bertanya.
Ki Sindukerta tidak memperdulikan para pelayan yang keheranan itu dan terus menarik tangan Nurseta, dibawa masuk keruangan paling dalam.
Nyi Sindukerta yang sedang duduk melamun di ruangan itu, tentu saja terkejut dan heran pula melihat suaminya memasuki ruangan menggandeng seorang pemuda.
Akan tetapi sebelum ia sempat bertanya, Senopati Sindukerta sudah berseru dengan gembira.
"Diajeng, lihat siapa yang kuajak masuk ini! Dia ini anak Endang!"
Wanita yang usianya mendekati enam puluh tahun dan yang tampaknya lesu digerogoti kesedihan itu terbelalak, bangkit berdiri dan wajahnya seketika menjadi pucat.
"Anak..... anak..... Endang? Cucuku.....?"
Nurseta merasa terharu sekali. Dia cepat maju berlutut dan menyembah didepan wanita tua itu.
"Saya Nurseta, menghaturkan sembah hormat saya kepada eyang puteri."
"Cucuku .....!"
Nenek itu merangkul pemuda yang masih berlutut dan ia menangis tersedu-sedu. Setelah beberapa saat ia menangis, suaminya lalu menepuk-nepuk pundaknya dan membantunya bangkit berdiri.
"Sudahlah, diajeng. Tenangkan hatimu dan mari kita dengarkan cucu kita bercerita tentang anak kita."
Nenek itu menurut dan mereka lalu duduk di atas kursi dan mempersilakan Nurseta duduk diatas kursi di depan mereka.
"Cucuku, di mana ibumu? Di mana anakku Endang Sawitri?"
Tanya Nyi Sindukerta dengan suara serak.
"Kenapa engkau kini mencari ayah Ibumu, Nurseta Apakah engkau berpisah dari mereka? Lalu kenapa berpisah? Dan bagaimana pula engkau mengetahui bahwa dahulu aku membenci Dharmaguna dan mencari mereka?"
Tanya Ki Sindukerta.
"Apakah engkau mempunyai kakak atau adik? Berapa anak Endang Sawitri? Bagaimana kehidupannya? Apa anakku itu sehat-sehat saja? Gemuk atau kurus ia sekarang?"
Tanya Nyi Sindukerta.
Dihujani pertanyaan bertubi oleh kakek dan neneknya itu, Nurseta merasa terharu.
Dia tahu betapa suami isteri yang sudah tua ini amat menderita selama ini.
Dia menghela napas panjang lalu berkata dengan lembut.
"Semua pertanyaan kanjeng eyang kakung dan eyang puteri itu akan terjawab dalam riwayat yang akan saya ceritakan kepada paduka berdua."
"Ceritakan, ceritakanlah, Nurseta!"
Kata sang senopati tidak sabar lagi "Nanti dulu, Nurseta. Engkau harus minum dulu!"
Sela Nyi Sindukerta yang lalu memanggil pelayan dan meuyuruh pelayan mengambilkan minuman.
Setelah pelayan datang menghidangkan minuman air teh dan karena desakan neneknya Nurseta sudah minum, mulailah pemuda itu bercerita, didengarkan dengan penuh perhatian oleh kakek dan neneknya "Seingat saya, ketika saya masih kecil, ayah dan ibu se lalu berpindah pindah tempat.
Saya adalah anak tunggal dan mereka tidak pernah bercerita tentang riwayat mereka kepada saya.
Paling akhir, kami pindah ke dusun Karang Tirta di tepi Laut Kidul, dan tinggal sana.
Ketika saya berusia kurang lebih sepuluh tahun, tiba-tiba saja ayah dan ibu saya pergi meninggalkan saya di rumah.
Mereka pergi tanpa pamit dan saya sama sekali tidak tahu mengapa dan ke mana mereka pergi.
Saya menjadi sebatang kara dan hidup seorang diri." (Lanjut ke
Jilid 20) Keris Pusaka Sang Megatantra (seri ke 01 -Serial Keris Pusaka Sang Megatantra) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo
Jilid 20
"Aduh kasihan sekali engkau cucuku!"
Kata Nyi Sindukerta sambil mengusap dua titik air mata yang membasahi pipinya.
"Kemudian di pantai Laut Kidul saya bertemu dengan Eyang Empu Dewamurti dan saya diambil sebagai murid. Saya mengikuti beliau, mempelajari ilmu kanuragan selama lima tahun. Ketika saya bertemu Eyang Empu, saya berusia enam belas tahun dan saya turun gunung setelah Eyang Empu wafat. Setelah saya memiliki aji kanuragan dan merasa kuat, mulailah saya menyelidiki tentang perginya kedua orang tua saya. Saya mendatangi kepala dusun Karang Tirta, yang bernama Ki Suramenggala."
"Hemm, Ki Suramenggala? rasanya pernah aku mendengar nama itu....., oya, dia pernah menjadi perajurit dalam pasukan yang kupimpin, malah menjadi perwira rendahan. Dia melakukan penyelewengan, mengganggu penduduk maka dikeluarkan dari pasukan."
Nurseta mengangguk.
"Agaknya benar dia, eyang. Ki Suramenggala memang bukan manusia baik-baik. Setelah saya melakukan penyelidikan, saya mendengar bahwa Ki Suramenggala mengirim utusan untuk melapor kepada paduka tentang ayah dan ibu yang tinggal di dusun itu "Ah, benar! Aku ingat sekarang. Lima tahun lebih yang lalu memang ada berita darinya bahwa puteriku tinggal di Karang Tirta. Akan tetapi ketika aku mengirim pasukan ke sana, ternyata mereka telah pergi dan tidak ada seorangpun mengetahui ke mana mereka pergi. Gilanya, Suramenggala itu tidak mau memberitahukan komandan pasukan bahwa anakku meninggalkan seorang cucuku di sana."
Kata Ki Sindukerta dengan marah.
"Lalu bagaimana, Nurseta?"
"Saya lalu memaksa Ki Suramenggala untuk mengaku dan dari dialah saya mengetahui bahwa dia melaporkan tentang ayah dan ibu saya kepada paduka. Karena itulah maka saya sengaja datang berkunjung menemui kanjeng eyang untuk bertanya tentang ayah ibu saya itu"
"Akan tetapi, mengapa Endang sawitri dan suaminya itu melarikan diri dan meinggalkan engkau yang baru berusia sepuluh tahun seorang diri di Karang Tirta?"
Tanya Nyi Sindukerta.
"Kanjeng Eyang Puteri, sekarang saya dapat mengerti mengapa ayah dan ibu melarikan diri begitu mendengar berita bahwa Ki Lurah Suramenggala melaporkan kehadiran mereka di dusun itu kepada kanjeng eyang di sini. Mereka itu agaknya masih merasa takut kalau-kalau mereka akan dihukum dan diharuskan pisah. Mereka sama sekali tidak menduga bahwa paduka berdua mencari mereka karena rindu dan ingin mereka kembali, bukan untuk menghukum."
"Akan tetapi kenapa mereka meninggalkan engkau seorang diri?"
Tanya Ki Sindukerta, mengulang pertanyaan isterinya tadi.
"Hal itupun tadinya membuat saya merasa penasaran, eyang. Akan tetapi sekarang saya mengerti. Mereka sengaja meninggalkan saya karena mereka tidak ingin membawa saya ikut-ikutan menjadi pelarian. Mereka tidak ingin saya juga terancam bahaya seperti yang mereka kira."
Dua orang tua itu mengangguk-angguk.
"Kasihan Endang....."
Kata Nyi Sindukerta dengan suara gemetar karena begitu teringat kepada puterinya, tangisnya sudah mendesak lagi.
"Ini semua gara-gara si Dharmaguna itu! Dia yang menyeret anak kita kedalam jurang kesengsaraan!"
Kata Ki Sindukerta dan kemarahannya muncul lagi.
Dia memang selalu marah kalau teringat kepada Dharmaguna karena dialah yang menjadi gara-gara anaknya menghilang sampai dua puluh tahun lamanya!
Melihat kemarahan kakeknya, Nurseta dapat mengerti.
Dia maklum kalau kakeknya mempunyai rasa benci kepada Dharmaguna karena ayahnya itu dianggap sebagai biang keladi terpisahnya kakek dan neneknya dari anak tunggal mereka.
"Kanjeng eyang berdua, sayalah yang mohonkan ampun untuk ayah saya karena saya yakin bahwa ayah saya itu sama sekali tidak bermaksud untuk melarikan dan memisahkan ibu saya dari paduka berdua. Ayah dan ibu saya selalu bersembunyi dan tidak mau kembali kepada paduka berdua hanyalah karena merasa takut. Biarlah saya yang akan mencari mereka sampai dapat dan kalau sudah dapat saya temukan, pasti saya akan menceritakan kepada mereka bahwa paduka berdua sesungguhnya amat rindu kepada ibu saya dan mengharapkan agar mereka berdua segera kembali ke sini." 'Benar, cucuku Nurseta. Cepat temui ibumu, aku sudah rindu sekali kepada anakku Endang Sawitri ....."
Kala Nyi sindukerta dengan suara gemetar. Ki Sindukerta mengangguk dan berkata kepada cucunya.
"Carilah mereka sampai dapat, Nurseta."
"Akan tetapi kanjeng eyang berdua sudi mengampuni ayah saya, bukan?"
Nurseta memohon.
"Sudah lama kami mengampuninya, apalagi sekarang mereka berdua mempunyai putera. Dharmaguna adalah mantu kami. Dahulu kami hanya marah karena mereka berdua lari dan tidak pulang."
"Baik, saya akan mencari sampai dapat menemukan ayah dan ibu."
Nurseta berpikir sejenak lalu bertanya.
"Apakah paduka sudah mencoba untuk minta petunjuk orang tua dari ayah Dharmaguna"
"Tentu saja sudah. Resi Jatimurti, ayah Dharmaguna juga tidak tahu kemana puteranya pergi dan keterangannya itu dapat dipercaya sepenuhnya karena Resi Jatimurti adalah seorang pertapa yang alim dan hidup sederhana. Setelah ditinggal pergi puteranya, dia hidup seorang diri dan lima tahun setelah Dharmaguna menghilang, Resi Jatimurti meninggal dunia."
Malam itu, Nurseta bercakap-cakap berdua saja dengan Senopati Sindukerta.
"Nurseta, kedatanganmu sungguh membahagiakan hatiku dan hati eyang puterimu, apalagi kalau engkau nanti berhasil mengajak ayah ibu pulang kesini."
"Sayapun merasa amat berbahagia eyang. Tadinya saya sama sekali tidak mengira bahwa paduka adalah eyang saya, malah saya kira bahwa paduka adalah musuh ayah ibu saya."
Senopati itu menghela napas.
"Yah, agaknya Sang Hyang Widhi merasa kasihan kepada kami yang sudah menderita selama lebih dari dua puluh tahun ini, Aku sudah mendengar riwayatmu tadi, akan tetapi ceritakanlah tentang orang sakti mandraguna yang menjadi gurumu itu. Aku ingin sekali mendengarnya."
"Eyang Empu Dewamurti adalah seorang pertapa yang berbudi luhur, bijaksana dan sakti mandraguna. Akan tetapi sayang, beliau tewas karena luka-lukanya setelah dikeroyok para datuk besar dari Kerajaan Wura-wuri, Wengker, dan Kerajaan Siluman Laut Kidul."
"Ahh! Orang-orang dari tiga kerajaan itu memang terkenal jahat dan sejak dulu memusuhi Mataram dan keturunannya sampai sekarang. Akan tetapi Empu Dewamurti tidak langsung mengabdi kepada Kahuripan, mengapa dikeroyok para datuk tiga kerajaan itu?"
"Eyang Empu Dewamurti dikeroyok bukan karena urusan kerajaan, eyang. Mereka itu mengeroyok guru saya untuk memaksa guru saya menyerahkan keris pusaka Sang Megatantra kepada mereka! "
"Ahli!"
Senopati Sindukerta terbelalak terkejut dan heran.
"Sang Megatantra!.....? Kaumaksudkan, keris pusaka Mataram yang hilang puluhan tahun yang lalu itu? Jadi pusaka itu berada di tangan mendiang Empu Dewamurti?"
"Sesungguhnya bukan di tangan Empu Dewamurti, melainkan di tangan saya eyang. Sayalah yang menemukan pusaka itu ketika saya mencangkul dan menggali tanah, sebelum saya menjadi murid Eyang Empu Dewamurti. Setelah lima tahun lebih saya belajar kanuragan dari Eyang Empu Dewamurti, saya diperintahkan turun gunung dan pada waktu saya pergi itu, Eyang Empu Dewamurti didatangi para datuk yang mengeroyoknya. Para pengeroyok itu dapat dikalahkan dan melarikan diri, akan tetapi akibat pengeroyokan lima orang datuk dari tiga kerajaan itu, eyang guru yang sudah tua terluka parah dan akhirnya meninggal dunia."
Senopati Sindukerta mengangguk-Angguk.
"Dan bagaimana dengan keris pusaka Sang Megatantra itu?"
"Eyang Empu Dewamurti sebelum wafat menyerahkan Sang Megatantra kepada saya dan beliau mengutus saya untuk pertama menyerahkan Sang Megatantra yang dulu saya temukan itu kepada yang berhak memilikinya, yaitu Sang Prabu Erlangga."
"Wah, bijaksana dan tepat sekali itu!"
Seru Senopati Sindukerta girang.
"Kedua, saya harus mencari kedua orang tua saya dan ke tiga, saya diharuskan membantu Kahuripan yang menurut mendiang eyang guru akan menghadapi banyak cobaan dari Sang Hyang Widhi."
Senopati Sindukerta kembali mengangguk-angguk.
"Tugas yang harus engkau lakukan itu memang sudah tepat sekali. Dan bagaimana dengan pelaksanaannya. Sudahkah engkau menghaturkan sang Megatantra kepada Sang Prabu Erlangga""
Kini Nurseta menghela napas.
"Itulah yang memusingkan kepala saya, eyang. Di tengah perjalanan, saya bertemu dengan Pangeran Hendratama. Tentu saja saya tidak tahu akan ulahnya yang membuat ibu saya melarikan diri. Saya mengira dia orang baik-baik karena sikapnya amat ramah dan baik. Tidak tahunya dia seorang jahat yang menipuku. Dia menawarkan untuk membuatkan gagang dan warangka yang indah untuk keris pusaka Megatantra. Tidak tahunya dia menukar Megatantra dengan sebuah keris palsu dan dia melarikan diri, membawa Sang Megatantra."
"Ahh .....! jadi sekarang pusaka itu berada di tangan Pangeran Hendratama?"
"Benar, eyang. Akan tetapi saya akan mencarinya dan akan merampasnya kembali pusaka itu dari tangannya, kecuali kalau dia sudah menyerahkan Megatantra kepada Sang Prabu Erlangga, saya tidak akan memperpanjang urusannya. Siapa saja yang menghaturkan pusaka itu kepada Sang Prabu Erlangga, bukan masalah bagi saya. Yang terpenting pusaka itu kembali kepada yang berhak."
"Akan tetapi engkau yang menemukannya kembali .pusaka yang hilang selama puluhan tahun itu, Nurseta. Engkau yang berhak mengembalikannya kepada Sang Prabu Erlangga dan menerima hadiah besar dari Sang Prabu !"
Nurseta menggeleng kepala sambil tersenyum.
"Eyang, guru saya mengajarkan bahwa setiap saya melakukan sesatu, saya harus menganggap bahwa apa yang saya lakukan itu sebagai suatu kewajiban. Melakukan kewajiban itu berarti tanpa pamrih untuk mendapatkan Imbalan dalam bentuk apapun juga. Melakukan segala sesuatu yang baik dan benar merupakan kewajiban dan untuk itulah kita dilahirkan di dunia ini. Akan tetapi, eyang tentu akan mengetahui kalau pusaka itu sudah diserahkan kepada Sang Prabu Erlangga. Sudahkah hal itu terjadi, eyang?"
Senopati Sindukerta mengerutkan alisnya dan menggelengkan kepalanya.
"Berita yang kaubawa mengenai Sang Megatantra Ini teramat penting sekali, Nurseta! Ini menguatkan dugaanku semula bahwa Pangeran Hendratama tentu mempunyai niat yang amat buruk sekali! Tidak salah lagi dugaanku sekarang bahwa dia pasti akan berkhianat dan memberontak kepada Sang Prabu Erlangga! Ini gawat sekali Nurseta!"
"Eh, apakah yang terjadi, eyang? Apakah Pangeran Hendratama berada di kota raja? Apakah eyang mengetahui dimana dia?"
"Tentu saja aku tahu, Nurseta. Sudah jelas dia berniat buruk. Baru beberapa bulan dia menghadap Sang Prabu Erlangga yang masih adik iparnya dan mohon diperkenankan tinggal di kota raja, diluar istana. Tentu saja Sang Prabu Erlangga memberi ijin dan kini dia tinggal di sebuah gedung mewah. Aku sudah merasa curiga karena dia menghubungi para pejabat, para perwira dan pamong yang berkedudukan tinggi, menjalin persahabatan dengan mereka. Juga dia pernah mengunjungi aku dan sikapnya memang ramah sekali. Agaknya dia hendak menanam pengaruh di kota raja dan mungkin dia akan melakukan pemberontakan kalau sudah menghimpun kekuatan dan..... tentu saja, dia dapat mempergunakan pengaruh Sang Megatantra yang dipercaya mengandung wahyu kraton yang memberi hak kepada seseorang untuk menjadi raja!"
"Hal ini harus dicegah, eyang! Kalau dia tinggal di kota raja, sungguh kebetulan sekali. Saya akan pergi ke sana sekarang juga untuk merampas kembali pusaka Sang Megatantra!"
"Tenang dulu, Nurseta. Engkau tidak boleh bertindak sembarangan tanpa perhitungan. Gedung Pangeran Hendratama merupakan bangunan yang kokoh dan dijaga ketat, begitu yang kudengar dari para perwira yang dekat dengannya. Dia mengumpulkan jagoan-jagoan untuk menjadi pengawal pribadinya, dan dia sendiri juga seorang yang tangguh. Kalau engkau ke sana malam ini juga, selain engkau mungkin menghadapi bahaya....."
"Kanjeng eyang, saya tidak gentar menghadapi semua itu."
Potong Nurseta. karena dia tidak ingin kakeknya mengkhawatirkan dirinya.
"Mungkin engkau memiliki kesaktian, hai ini sudah kubuktikan sendiri tadi. Akan tetapi bukan penjagaan ketat itu yang terpenting. Bagaimana kalau engkau datang ke sana akan tetapi kebetulan Pangeran Hendratama tidak berada di gedungnya? Nah, semua jerih payahmu yang mengandung resiko bahaya besar itu tidak ada gunanya, bukan?"
Nurseta tertegun.
Apa yang diucapkan kakeknya itu memang bukan tak mungkin.
Memang, kalau pangeran itu tidak berada di rumahnya, usahanya akan gagal karena pangeran itu tentu akan mengetahuinya dan dapat menyembunyikan diri atau pergi dari kota raja sehingga sulit baginya untuk menemukannya.
"Lalu, menurut paduka, bagaimana baiknya, kanjeng eyang?"
"Begini, Nurseta. Besok pagi, aku akan menyelidiki dan mencari keterangan apakah Pangeran Hendratama besok malam berada di gedungnya atau tidak. Kalau sudah pasti berada di rumahnya, nah, engkau boleh mendatanginya dan merampas kembali pusaka Sang Megatantra. Kalau ternyata besok dia bepergian dan malamnya tidak berada di rumahnya, tentu engkau harus menunda lagi usahamu. Bagaimana bukankah usulku ini baik?"
Nurseta memandang wajah kakeknya dengan mata bersinar dan wajah berseri.
"Wah, terima kasih banyak, kanjeng eyang. usul paduka itu memang baik sekali dan tepat. Memang segala tindakan harus diperhitungkan dengan matang lebih dulu agar tidak mengalami kegagalan. Pantas saja sejak dulu paduka menjadi senopati yang tentu saja harus mahir menggunakan siasat!"
Kakek itu tersenyum, senang mendapat pujian dari cucunya.
"Selain itu, besok pagi-pagi engkau akan kuperkenalkan kepada semua abdi (pelayan) di rumah ini agar mereka mengenal bahwa engkau adalah cucuku dan tidak menimbuikan keheranan dan pertanyaan karena tahu-tahu engkau tinggal di sini."
"Baiklah, eyang, dan terima kasih."
Pada saat itu, Nyi Sindukerta muncul di pintu.
"Aeh, malam sudah begini larut dan kalian belum tidur? Kakangmas senopati, biarkan Nurseta beristirahat dan tidur. Dia tentu lelah. Nurseta, aku sudah mempersiapkan kamar untukmu. Hayo, istirahatlah dan tidur. Besok kan masih ada waktu untuk bercakap-cakap lebih lanjut!"
Senopati Sindukerta tertawa.
"Ha ha, aku sampai lupa. Benar nenekmu Nurseta. Sana, pergilah ke kamarmu dan tidur!"
Nurseta tidak membantah dan dia lalu mengikuti neneknya yang menunjukkan kamar yang dipersiapkan untuknya.
Karena memang lelah, malam itu Nurseta tidur dengan nyenyak.
Apalagi karena hatinya merasa senang.
Pertama, secara tidak terduga-duga dia bertemu dengan kakek dan neneknya, orang tua ibunya.
Kedua, dia mendapatkan bahwa Pangeran Hendratama tinggal di kota raja sehingga dia tidak perlu susah-susah mencari pangeran yang licik itu.
Pada keesokan harinya, setelah mandi dan sarapan bersama kakek dan neneknya, Nurseta lalu diperkenalkan kepada semua pelayan dan juga perajurit-perajurit pengawal.
Mereka semua tampak gembiar ketika diberi tahu bahwa pemuda yang sikapnya lembut dan sederhana itu adalah cucu sang senopati dan yang mulai hari itu akan tinggal di gedung senopati itu.
Baik Senopati Sindukerta maupun Nurseta sama sekali tidak menyadari bahwa Pangeran Hendratama pada pagi hari itu juga sudah mendengar dan mengetahui bahwa cucu Ki Sindukerta telah datang dan tinggal di rumah sang senopati.
Pangeran Hendratama yang sudah bertekad bulat untuk merebut kekuasaan dan menjadi raja di Kahuripan, selain menjalin hubungan erat dengan para pembesar yang ambisius dan sekiranya dapat diajak bersekongkol, juga menyeludupkan seorang yang dapat dijadikan kaki tangannya ke dalam rumah setiap orang pembesar tinggi yang setia kepada Sang Prabu Erlangga.
Tugas mata-mata ini, yang merupakan karyawan di rumah sang pembesar itu sendiri dan telah disuapnya dengan uang, adalah untuk memata-matai gerak gerik pembesar itu.
Senopati Sindukerta adalah seorang di antara para pejabat tinggi yang selalu diamati gerak geriknya dan di dalam rumahnya terdapat seorang kaki tangan Pangeran Hendratama.
Mata-mata itu adalah seorang yang sudah lama bekerja di gedung sang senopati, yaitu tukang kebun yang sudah dipercaya.
Begitu Nurseta diperkenalkan kepada semua pembantu di senopaten itu, kaki tangan Pangeran Hendratama ini segera memberi kabar kepada sang pangeran tentang kedatangan Nurseta sebagai cucu Senopati Sindukerta.
Pangeran Hendratama terkejut sekali mendengar berita ini.
Timbul rasa khawatir bercampur benci.
Khawatir mengingat bahwa dia telah mencuri keris pusaka Sang Megatantra dari tangan Nurseta dan timbul rasa benci di dalam hatinya mendengar bahwa Nurseta adalah cucu Senopati Sindukerta.
Cucu sang senopati, berarti putera Endang Sawitri.
Ini dia merasa yakin, mengingat bahwa Senopati Sindukerta tidak mempunyai anak lain kecuali Endang Sawitri yang dulu membuat dia tergila-gila, dan yang melarikan diri, tidak mau menjadi isterinya.
Dia merasa khawatir membayangkan betapa saktinya pemuda itu.
Tidak dapat diragukan lagi bahwa Nurseta pasti akan berusaha untuk merampas Sang Megatantra dari tangannya!
Maka, begitu mendengar berita tentang Nurseta, Pangeran Hendratama cepat mempersiapkan penjagaan ketat di gedungnya.
Bahkan diam-diam dia menghubungi selir Sang Prabu Erlangga, yaitu Mandari yang diam-diam sudah mengadakan persekutuan dengannya, dan mohon bantuan Mandari untuk melindunginya.
Mandari cepat menanggapi permohonan ini dan ia lalu menugaskan Puspa Dewi untuk membantu sang pangeran.
Puspa Dewi tidak dapat membantah dan ia lalu ikut utusan Pangeran Hendratama pergi ke gedung sang pangeran yang besar dan kokoh seperti istana berbenteng itu.
Kehadiran Puspa Dewi di tempat kediaman Pangeran Hendratama menarik banyak perhatian.
Bahkan Pangeran Hendratama sendiri yang memang berwatak mata keranjang, terpesona dan tertarik sekali oleh kecantikan Puspa Dewi.
Apa lagi para jagoan yang sudah diundang untuk menjadi pengawal-pengawalnya mereka terkagum-kagum melihat gadis yang masih amat muda, paling banyak sembilan belas tahun usianya, amat cantik jelita akan tetapi sudah menjadi kepercayaan Puteri Mandari sehingga dikirim untuk diperbantukan menjaga keselamatan Pangeran Hendratama?
Akan tetapi, bagaimanapun juga, baik Pangeran Hendratama sendiri maupun para jagoan itu, merasa sangat sangsi dan memandang rendah kepada gadis ini.
Sampai dimana sih kesaktian gadis muda seperti itu, demikian pikir mereka.
Biarpun demikian, para jagoan itu merasa segan mengingat bahwa Puspa Dewi dikirim ke istana Pangeran Hendratama sebagai utusan Gusti Puteri Mandari, selir terkasih Sang Prabu Erlangga dan mereka semua mengetahui betapa saktinya selir yang merupakan puteri Kerajaan Parang Siluman itu.
Maka, para jagoan itu bersikap hormat kepada Puspa Dewi dan menyimpan rasa kagum mereka di dalam hati, tidak berani bersikap kurang ajar.
Akan tetapi, di antara mereka ada seorang jagoan yang merasa berani.
Usianya lebih muda dibandingkan yang lain, sekitar tiga puluh tahun.
Tubuhnya tinggi besar dan kokoh kuat.
Dia adalah seorang jagoan dari pesisir utara dan belum banyak mengenal para datuk di daerah selatan.
Maka, tidak seperti yang lain, diapun belum mengenal betul ketenaran nama besar Puteri Mandari dan memandang rendah para jagoan yang lain.
Maka, diapun memandang rendah Puspa Dewi yang dianggapnya seorang gadis remaja yang masih ingusan.
Karena tertarik sekali oleh kecantikan Puspa Dewi, diapun tidak seperti yang lain, memandang dengan mata kurang ajar dan mulutnya menyeringai.
Bahkan ketika Puspa Dewi baru datang dan diperkenalkan oleh Pangeran Hendratama kepada para jagoan itu sebagai utusan Gusti Puteri Mandari untuk memperkuat penjagaan di istananya, dia berani mengedipkan sebelah matanya kepada Puspa Dewi cara kurang ajar sekali.
Akan tetapi Puspa Dewi pura-pura tidak melihatnya karena ia sebagal utusan Puteri Mandari tentu saja tidak ingin membikin ribut hanya karena urusan sekecil itu.
Banyak sudah dara perkasa ini bertemu dengan laki-laki seperti itu, yang suka berlagak melihat gadis cantik dan mengedipkan sebelah mata.
Akan tetapi ketika la berada di taman seorang diri, datanglah Ki Lembara, jagoan pesisir utara itu, bersama tiga orang jagoan lain yang usianya sedikit lebih tua, menghampirinya di dalam taman.
Tiga orang jagoan lain ini diajak oleh Lembara untuk menggoda Puspa Dewi dan keberanian Lembara yang membuat mereka juga berani, walaupun hanya sekedar ingin menonton bagaimana jagoan pesisir itu menggoda dara cantik jelita utusan dari istana raja itu.
Puspa Dewi yang sedang duduk seorang diri sambil termenung itu melihat empat orang yang memasuki taman dari sebelah kanannya, akan tetapi ia diam saja.
la sedang memikirkan keadaannya.
Ia memenuhi perintah gurunya atau ibu angkatnya untuk membantu dua orang Puteri Kerajaan Parang Siluman yang berusaha untuk menghancurkan Kahuripan dan menjatuhkan Sang Prabu Erlangga dan Ki Patih Narotama.
Ia berhasil masuk ke istana dan diterima sebagai dayang istana, akan tetapi ia belum tahu apa yang harus ia lakukan di sana.
Kini, tiba-tiba ia diutus oleh Puteri Mandari untuk membantu menjadi pengawal Pangeran Hendratama yang belum dikenalnya, akan tetapi yang sudah diketahui bahwa pangeran inilah yang telah mencuri Keris Pusaka Sang Megatantra dari tangan Nurseta!
Pangeran Hendratama inilah yang kini memegang Sang Megatantra, akan tetapi kenapa dia tidak menyerahkan kepada Sang Prabu Erlangga?
Ketika ia disuruh oleh Gusti Puteri Mandari, selir Sang Prabu Erlangga untuk ikut menjadi pengawal pangeran itu, sudah menduga bahwa Pangeran Hendratama tentu merupakan sekutu dari Puteri Mandari.
Berarti Pangeran Hendratama adalah orang yang juga memusuhi Sang Prabu Erlangga.
Padahal, bukankah pangeran itu merupakan kakak dari Permaisuri atau kakak ipar sang prabu sendiri Puspa Dewi diam-diam dapat mengambil kesimpulan bahwa tentu Pangeran Hendratama merencanakan pemberontakan dan untuk itu dia bergabung dengan kedua orang puteri Kerajaan Parang Siluman itu untuk menjatuhkan Sang Prabu Erlangga!
PUSPA DEWI menjadi bimbang ragu.
Di satu pihak, ia harus melaksanakan perintah ibu angkatnya dan juga sebagai puteri Sekar Kedaton, puteri Raja Wura wuri, ia harus membantu mereka yang memusuhi Kahuripan.
Akan tetapi di lain pihak ia teringat akan pembicaraannya dengan Nurseta.
Orang-orang yang memusuhi Sang Prabu Erlangga ini bukanlah orang baik-baik.
Dua orang puteri Kerajaan Parang Siluman itu telah mengorbankan diri, menjadi selir Sang Prabu Erlangga dan Ki Patih Narotama, hanya agar mereka dapat berdekatan dengan musuh-musuh mereka sehingga memudahkan mereka untuk menyerang, kalau saatnya tiba.
Sungguh merupakan perbuatan yang hina, menyerahkan dirinya menjadi selir untuk kemudian mencelakakan orang yang telah menjadi suaminya.
Dan sekutu mereka, Pangeran Hendratama itu, juga bukan orang baik-baik melihat cara dia mencuri pusaka Sang Megatantra dari tangan Nurseta.
Sekumpulan orang-orang yang licik bersekutu untuk menjatuhkan Sang Prabu Erlangga dan Ki Patih Narotama yang demikian bijaksana!
Dan kini ia harus membantu orang-orang licik itu "Puspa Dewi yang cantik manis, kenapa andika melamun seorang diri dalam taman ini?
Mari, kami temani agar engkau bergembira dan tidak kesepian!"
Kata Ki Lembara sambil cengar-cengir berdiri di depan Puspa Dewi.
Tiga orang temannya hanya berdiri di belakangnya dan mereka hanya menyeringai.
Puspa Dewi tetap duduk di atas bangku, mengangkat muka memandang wajah yang dihias kumis tebal melintang dan mata yang lebar itu, lalu berkata dingin.
"Aku tidak mengenal kamu. Pergilah dan jangan ganggu aku!"
"Ha ha-ha Tadi kita sudah saling diperkenalkan oleh Gusti Pangeran, apakah andika lupa lagi, Dewi? Aku boleh memanggilmu Dewi saja, bukan? Andika memang cantik seperti Dewi Kahyangan Namaku Lembara, pendekar jagoan dari Pesisir Utara!"
Puspa Dewi mengerutkan alisnya.
"Aku tidak perduli kamu jagoan atau bukan, dari pesisir atau dari gunung, aku tidak ingin berteman dengan kamu dan pergilah sebelum aku hilang sabar dan akan menghajarmu!"
Gertakan ini membuat tiga orang teman Lembara merasa tidak enak.
Mereka teringat bahwa gadis ini adalah utusan Puteri Mandari, maka mereka mundur tiga langkah dan seorang di antara mereka memegang lengan Lembara dari belakang untuk menariknya mundur.
Akan tetapi Lembara mengibaskan lengannya dan dia malah melangkah maju mendekati Puspa Dewi sambil tersenyum lebar.
"He-heh, andika hendak menghajarku? Bagaimana caranya, manis? Pukulan tanganmu yang halus itu seperti pijatan yang nyaman bagiku. Mari, nimas ayu, pijatilah tubuhku dengan pukulanmu. Kau boleh pilih, bagian mana yang hendak kaupijit, ha-ha!"
Puspa Dewi bangkit berdiri, alisnya berkerut matanya bersinar mencorong akan tetapi mulutnya tersenyum manis.
Bagi orang yang sudah mengenalnya dengan baik, akan merasa tegang melihat gadis itu tersenyum seperti ini.
Senyum manis hanya bibirnya saja akan tetapi bagian muka yang lain sama sekali tidak tersenyum, terutama matanya yang mencorong menyeramkan itu.
Hal ini menandakan bahwa gadis itu mulai terbakar kemarahan dan kalau sudah begitu ia dapat berbahaya sekali!
Akan tetapi dasar sombong, Lembara bahkan menganggap gadis itu mulai mau melayaninya, maka dia berkata lagi dengan berlagak, bibirnya dicibirkan dengan mengira bahwa kalau sudah begitu dia tampak gagah dan tampan!
"Marilah, manis, kita menjadi sahabat yang akrab dan mesra.
Menyenangkan sekali, bukan?
Aku akan mengajarkan padamu bagaimana caranya menikmati kesenangan dalam hidup ini."
"Anjing busuk! Kamu ingin dipijit? Nah, rasakanlah ini!"
Tangan kiri Puspa Dewi bergerak cepat menepuk ke arah dada Lembara.
Melihat betapa dara itu hanya menepuk seperti benar-benar hendak memijit atau membelai dadanya, Lembara menyeringai senang, bahkan membusungkan dadanya yang kokoh.
"Tukk .....!"
Jari telunjuk tangan kiri Puspa Dewi hanya menyentuh dada itu, akan tetapi itu bukan sembarangan sentuhan karena sesungguhnya jari tangan kiri dara itu menotok jalan darah di dada.
Tiga orang teman Lembara terbelalak heran ketika melihat betapa Lembara yang tadinya menyeringai itu tiba-tiba berteriak mengaduh, wajahnya pucat, kedua tangan mendekap dada dan dia terkulai roboh!
Puspa Dewi menggerakkan kaki kanannya yang mencuat sebagai tendangan.
"Bukk!"
Tubuh Lembara terlempar dan jatuh ke dalam kolam ikan yang berada tak jauh dari situ.
"Byuurrrr .....!"
Lembara merangkak naik dan keluar dari kolam ikan.
Pakaian dan rambutnya basah kuyup akan tetapi rasa nyeri di dadanya lenyap, hanya masih terasa agak sesak kalau bernapas.
Dia marah bukan main.
Tiga orang temannya tak dapat menahan tawa mereka melihat kejadian yang mereka anggap lucu itu, walaupun mereka masih terheran-heran bagaimana dapat terjadi.
Mereka tahu bahwa Lembara adalah seorang jagoan yang benar benar tangguh.
Pangeran Hendratama muncul keluar dari pintu belakang.
Dia tadi mendengar teriakan Lembara dan karena suasana sudah amat mencekam baginya, dalam kekhawatirannya kalau kalau Nurseta datang menyerbu, dia cepat keluar untuk melihat apa yang terjadi.
Ketika dia keluar, dia melihat Lembara keluar dari kolam ikan dengan badan basah kuyup dan tiga orang jagoan lainnya menertawakan.
Di depan Lembara berdiri Puspa Dewi.
Gadis itu bertolak pinggang dan sikapnya tenang dan anggun.
Sejak kedatangannya, Pangeran Hendratama memang sudah tergila-gila kepada Puspa Dewi.
Hanya karena mengingat bahwa dara jelita itu adalah utusan Puteri Mandari, maka dia menahan diri dan belum berani main-main dengan Puspa Dewi.
Kini melihat agaknya terjadi sesuatu antara Puspa Dewi dan Lembara bersama tiga orang jagoan lainnya, Pangeran Hendratama menyelinap di balik sebatang pohon dalam taman itu dan mengintai.
Dia tidak mau memperlihatkan diri lebih dulu karena kalau dia lakukan itu, tentu mereka semua tidak berani melanjutkan pertikaian mereka.
Lembara semakin marah mendengar tiga orang temannya tertawa-tawa.
"Sialan! Kenapa kalian malah tertawa? Lihat aku akan menghajar wanita tak tahu diri ini!"
Setelah berkata demikian, dengan muka merah dan mata yang lebar itu terbelalak, Lembara yang agaknya nafsu berahinya telah didinginkan oleh air kolam, melompat ke depan Puspa Dewi "Puspa Dewi, aku mengajakmu bersahabat, sebaliknya engkau malah secara curang menyerang dan menghinaku.
Akan tetapi mengingat bahwa aku adalah seorang pendekar yang jantan sedangkan engkau seorang perempuan, aku akan melupakan semua ini dan memaafkanmu kalau engkau suka minta maaf dan bersedia menjadi sahabat baikku!"
Lembara yang tidak mengenal tingginya langit dalamnya lautan, yang menganggap kepandaiannya sendiri paling tinggi dan pengetahuannya sendiri paling dalam, masih bersikap seperti seorang jagoan yang gagah perkasa.
Akan tetapi, kemarahan Puspa Dewi belum reda.
"Anjing buduk! Kamu yang harus minta maaf kepadaku atas kekurang-ajaranmu. Kalau tidak, aku akan memberi hajaran yang lebih keras lagi!"
Lembara tak dapat menahan lagi kemarahannya yang berkobar.
"Keparat, engkau memang tidak tahu disayang orang!"
"Habis, kamu mau apa?"
Tantang Puspa Dewi.
"Lihat pukulanku!"
Lembara lalu menyerang dengan tamparan bertubi-tubi, menggunakan kedua tangannya yang menyambar dari kanan kiri.
Gerakan jagoan ini memang cepat dan juga tamparannya mengandung tenaga yang kuat.
Lembara memang seorang jagoan yang cukup tangguh.
Bahkan di antara para jagoan muda yang menghambakan diri kepada Pangeran Hendratama, dia adalah yang terkuat.
Setelah kini Lembara menyerang dengan sungguh-sungguh, Puspa Dewi juga menyadari bahwa lawannya ini bukan orang lemah dan kalau tadi ia dapat merobohkannya dengan mudah adalah karena Lembara tadi memandang rendah kepadanya dan sama sekali tidak siap mengerahkan tenaga saktinya sehingga dengan mudah ia dapat menotok jalan darah dan merobohkannya.
Memang, kelemahan yang paling berbahaya bagi seorang jagoan adalah kalau dia meremehkan kepandaian lawan dan karenanya menjadi lengah.
Setelah kini Lembara menyerangnya dengan bertubi dan dengan pengerahan tenaga sakti, karena agaknya pria itu hendak membalas dendam karena dirobohkan dan ditendang masuk ke dalam kolam sehingga hal itu tentu saja dianggapnya sebagai penghinaan, Puspa Dewi juga melayaninya dengan gerakan tubuhnya yang lincah dan ringan.
Pada waktu itu, Puspa Dewi sudah mewarisi semua ilmu yang dikuasai Nyi Dewi Durgakumala.
Tentu saja gurunya yang menjadi ibu angkatnya itu menang pengalaman, akan tetapi di lain pihak Puspa Dewi menang muda dan lebih kuat daya tahan dan pernapasannya sehingga kalau dibuat perbandingan, tingkat yang dimiliki Puspa Dewi seimbang dengan kepandaian Nyi Dewi Durgakumala sendiri.
Maka dapat dibayangkan betapa saktinya dara perkasa ini.
Setelah bertanding saling serang selama lima puluh jurus lebih, Puspa Dewi tahu bahwa lawannya memang tangguh dan kokoh kuat pula pertahanannya.
Kalau ia mau mengeluarkan aji pamungkasnya untuk membunuh, seperti pukulan beracun Wisa kenaka, tentu ia akan dapat merobohkan lawannya.
Akan tetapi, ia tidak ingin membunuh jagoan anak buah Pangeran Hendratama karena hal itu tentu akan menimbulkan urusan besar yang menimbulkan geger dan tidak enak.
Maka setelah mendapatkan saat lawannya mengerahkan semua tenaga dalamnya menyerang dengan pukulan lurus ke arah dadanya, Puspa Dewi cepat melompat kekiri, kemudian ia balas menyerang dengan pekik melengking yang menggetarkan seluruh taman.
Itulah Pekik Guruh Bairawa yang amat kuat getarannya, mengguncang jantung lawan.
Diserang dengan pekik yang sama sekali tidak disangka-sangka itu, Lembara terkejut dan dia terhuyung.
Kesempatan ini dipergunakan oleh Puspa Dewi untuk mengirim tendangan berantai dengan kedua kakinya bergantian.
Lembara yang terhuyung masih dapat mengelakkan dua kali tendangan dan menangkis sekali tendangan, akan tetapi tendangan ke empat kalinya mengenai pahanya.
"Bukk .....!"
Tak dapat dihindarkan lagi, Lembara jatuh terjengkang!
Pangeran Hendratama yang menyaksikan pertandingan itu kagum bukan main Hampir sukar dipercaya bahwa gadis muda remaja itu mampu mengalahkan Lembara, jagoannya yang paling tangguh.
Bahkan dia sendiri akan sukar mengalahkan Lembara!
Kini dia melihat Lembara mencabut goloknya yang besar.
Pangeran Itu merasa tegang, akan tetapi dia membiarkan saja, ingin sekali melihat apakah Puspa Dewi akan mampu menandingi Lembara.
Ketika Puspa Dewi melihat lawannya yang sudah dua kali ia jatuhkan itu masih nekat, bahkan kini mencabut sebatang olok besar, ia membentak marah.
"Anjing tolol, apakah engkau masih belum mengaku kalah dan nekat?"
Lembara yang merasa malu sekali memang sudah nekat.
Dia dipermalukan di depan tiga orang temannya.
Maka tanpa menjawab dia sudah memutar mutar golok besarnya sehingga terdengar suara mengaung dan golok itu berubah menjadi sinar bergulung-gulung.
Akan tetapi Puspa Dewi sudah menekuk kedua lututnya yang berada di depan dan belakang, kedua lengan dipentang seperti burung hendak terbang.
Itulah jurus pembukaan atau kuda-kuda dari Aji Guntur Geni.
Begitu Lembara menerjang ke depan dengan goloknya, dara itu mendorongkan kedua tangannya ke depan.
Akan tetapi karena tidak ingin membunuh, ia membatasi tenaganya.
"Wuuuuttt ..... desss .....!"
Tubuh Lembara yang menerjang ke depan itu tiba tiba terpental ke belakang dan terbanting keras.
Goloknya terpental jauh dan dia jatuh pingsan oleh gempuran tenaga pukulan jarak jauh yang dahsyat itu.
Tiga orang temannya segera berjongkok dan menolongnya.
Pangeran Hendratama muncul dan berlari mendekat.
Melihat munculnya Pangeran Hendratama, Puspa Dewi lalu memberi hormat dengan membungkuk.
"Maaf, pangeran. Orang itu kurang ajar dan hendak mengganggu saya, terpaksa saya memberi hajaran kepadanya."
Pangeran Hendratama mendekati Lembara yang pada saat itu baru siuman dari pingsannya dan bangkit dipapah tiga orang temannya.
Baju di bagian dadanya hangus dan hancur, akan tetapi dia tidak terluka parah.
Hanya guncangan akibat hawa pukulan dahsyat tadi saja yang membuatnya pingsan.
"Lembara, masih untung andika tidak tewas. Berani benar andika mengganggu puteri Nyi Dewi Durgakumala yang sekarang menjadi permaisuri Kerajaan Wira-wuri. Hayo cepat mohon ampun kepada Ni Puspa Dewi."
Kata Pangeran Hendratama kepada Lembara.
Mendengar ini, Lembara terkejut bukan main.
Baru mendengar nama Nyi Dewi Durgakumala saja, dia sudah merasa ngeri.
Kiranya gadis itu puteri datuk wanita yang sakti mandraguna itu.
Dan tadi dia telah mencoba untuk merayu gadis yang ternyata puteri sekar kedaton Kerajaan wura-wuri itu!
Maka, biarpun dadanya masih terasa sesak dan kepalanya masih pening, dia segera merangkap kedua tangan ke depan hidungnya sambil membungkukkan badan, menyembah kepada Puspa Dewi.
"Ampunkan hamba yang tidak mengenal paduka dan berani bersikap tidak patut, gusti puteri....."
Puspa Dewi memang tidak ingin mencari keributan, maka ia hanya menjawab singkat.
"Sudah, pergilah!"
Sambil membungkuk-bungkuk Lembara dipapah tiga orang temannya, pergi dari taman itu. Setelah kini tinggal mereka berdua dalam taman, Pangeran Hendratama berkata kepada Puspa Dewi.
"Puspa Dewi maafkanlah mereka. Mereka hanya orang orang kasar yang tidak tahu sopan santun."
Puspa Dewi mengerutkan alisnya dan menjawab dengan suara halus namun kata-katanya cukup menggigit.
Baca Juga: Pedang Kayu Harum 12
Baca Juga: Bu Kek Siansu 1