Ceritasilat Novel Online

Keris Pusaka Sang Megatantra 7

Eps 7 Keris Pusaka Sang Megatantra - Kho Ping Hoo

Baca online Keris Pusaka Sang Megatantra - Kho Ping Hoo

Cersil Keris Pusaka Sang Megatantra - Kho Ping Hoo.

"Tidak apa, paman pangeran, akan tetapi seyogianya paduka memperingatkan mereka Sikap sombong mereka dapat menyeret nama paduka menjadi celaan orang."

Wajah Hendratama menjadi kemerahan.

Ucapan gadis itu sama saja dengan mengatakan bahwa dia tidak pernah mengajarkan sikap baik kepada orang orangnya.

Akan tetapi setelah menyaksikan sendiri kesaktian Puspa Dewi, bukan saja sikapnya menjadi hati-hati dan hormat, juga gairahnya terhadap dara jelita itu dia hilangkan dari dalam hatinya.

"Aku akan memberi peringatan keras kepada mereka. Selain itu, Puspa Dewi, yang terpenting adalah bahwa malam ini kita harus waspada. Aku khawatir akan muncul orang-orang yang hendak mengancam nyawaku. Untuk memperkuat penjagaan menghadapi ancaman itulah maka kami minta bantuan Puteri Mandari yang mengutusmu."

Puspa Dewi mengerutkan alisnya.

Dari cerita yang didengarnya ketika Nurseta menceritakan tentang dicurinya pusaka Sang Megatantra oleh pangeran ini, ia tahu bahwa Pangeran Hendratama adalah seorang yang licik dan curang.

Orang seperti ini tentu saja mempunyai banyak musuh.

"Paman, siapakah orang yang mengancam keselamatan paduka?"

Tanyanya.

"Wah, banyak orang yang memusuhi aku, Puspa Dewi."

"Mengapa banyak orang memusuhi paduka, paman pangeran?"

Tanya gadis itu. Dalam hatinya ia berkata. Hanya orang jahat yang dimusuhi banyak orang! "Mereka itu merasa iri hati kepadaku. Mungkin karena aku kembali ke kota raja, mungkin karena kekayaanku."

"Saya melihat paduka memiliki koleksi pusaka yang amat banyak sehingga memenuhi sebuah gudang pusaka yang dijaga ketat. Apakah mereka itu memusuhi paduka untuk mencuri pusaka?"

Gadis itu memancing. Ditanya tentang pusaka, Pangeran Hendratama menjawab singkat.

"Mungkin sekali. Siapa yang tidak ingin memiliki pusaka-pusaka yang ampuh? Sudahlah, Puspa Dewi, kuharap andika suka waspada malam ini. Aku masih mempunyai banyak urusan yang harus kuselesaikan."

Pangeran Hendratama lalu meninggalkannya, kembali ke dalam gedung.

Setelah Pangeran Hendratama pergi, Puspa Dewi duduk lagi di atas bangku dan ia mengenang kembali apa yang telah terjadi.

Pangeran Hendratama itu tampaknya bersikap ramah, lembut dan sopan.

Akan tetapi hal ini tidak mendatangkan perasaan suka di hatinya karena ia sudah mendengar dari Nurseta tentang pangeran ini.

Kehalusan sikapnya itu justeru berbahaya.

Nurseta sendiri sampai lengah dan dapat tertipu karena percaya melihat sikap baik pangeran itu.

Yang jelas, pangeran itu mempunyai jagoan-jagoan pengawal yang terdiri dari orang-orang yang kasar dan tidak sopan, la mulai merasa ragu akan tugas yang diberikan ibu angkatnya ini.

Tugas pertama, merampas pusaka Megatantra dari tangan Nurseta gagal karena bukan saja keris pusaka itu memang sudah tidak berada pada pemuda itu, juga ia malah menyadari bahwa tugas yang diberikan gurunya itu tidak benar.

PusakaMegatantra itu hak milik Sang Prabu Erlangga, mengapa harus direbut?

Itu sama saja dengan pencuri atau perampok yang hendak mengambil hak milik orang lain.

Maka ia telah memutuskan untuk menghiraukan tugas pertama itu.

Kemudian tugas kedua bahwa ia harus membunuh Ki Patih Narotama.

Tugas kedua inipun gagal ia lakukan karena selain Ki Patih Narotama terlalu sakti baginya dan sama sekali bukan lawannya, juga ia disadarkan oleh patih yang bijaksana itu.

Malah menurut keterangan Ki Patih Narotama, gurunya atau ibu angkatnya itulah yang sesat dan jahat.

Keterangan inipun terpaksa ia percaya karena ia melihat sendiri bahwa gurunya itu memang seorang wanita sesat, suka mempermainkan pemuda pemuda remaja, kejam dan mudah membunuh orang.

Maka, tugas kedua inipun ia hiraukan.

Betapapun juga, ia harus mengakui bahwa gurunya yang sesat itu amat sayang kepadanya, telah mewariskan semua kesaktiannya kepadanya.

Karena inilah maka ia mau melaksanakan perintahnya, sekadar untuk membalas budinya yang berlimpah.

Kini tinggal tugas ketiga, tugas terakhir, yaitu membantu gerakan Puteri Lasmini dan Puteri Mandari, dari Kerajaan Parang Siluman untuk menghancurkan Kahuripan, musuh bebuyutan kerajaan-kerajaan kecil itu.

Akan tetapi iapun mulai merasa ragu akan pelaksanaan tugas terakhir ini.

Memang sebagai seorang puteri istana Kerajaan Wura wuri, sudah sepantasnya kalau ia membela kerajaan itu.

Akan tetapi caranya ini yang ia tidak suka.

Kalau Wura-wuri diserang oleh kerajaan manapun, termasuk Kahuripan, tentu ia akan membela Wura-wuri dengan suka rela, bahkan sebagai puteri angkat raja ia sudah sepatutnya siap untuk membela dengan taruhan nyawa.

Akan tetapi cara licik seperti yang mereka lakukan sekarang ini, sungguh berlawanan dengan watak dan suara hatinya.

Ini sungguh tidak adil, tidak sepantasnya dilakukan orang gagah, hanya patut dilakukan orang-orang pengecut yang suka mempergunakan kecurangan dan kelicikan.

Akan tetapi, dua tugas pertama telah gagal dan bahkan ia hiraukan, apakah untuk tugas terakhir ini ia harus mundur juga' Hal inilah yang membuat Puspa Dewi termenung dalam keraguan.

Apalagi sekarang ia diutus oleh Puteri Mandari untuk membantu Pangeran Hendratama, menjaga keselamatan pangeran itu dari ancaman musuh-musuhnya.

Tugas ini sama sekali tidak ada sangkut pautnya dengan Kerajaan Parang Siluman!

Akan tetapi karena Adipati Bhismaprahhawa sebagai Raja Wura-wuri dan ayah angkatnya, dan Ratu Dewi Durgakumala sebagai guru dan ibu angkatnya menugaskan ia harus membantu Puteri Mandari, maka ia harus mentaati semua perintahnya.

Diam-diam Puspa Dewi menjadi penasaran, dan tidak senang karena pekerjaan ini dilakukan dengan terpaksa, walaupun tidak disukainya.

Akhirnya lapun meninggalkan taman-sari dan kembali kekamarnya dalam istana pangeran itu.

Malam itu udara dingin sekali.

Segala sesuatu yang berada di luar rumah basah kuyup karena sore tadi hujan turun dengan derasnya.

Namun malam ini udara cerah dan bulan yang hampir penuh tersenyum di langit.

Kalau saja malam tidak sedingin itu, tentu semua orang lebih senang berada di luar rumah menikmati malam terang bulan yang mendatangkan suasana menggembirakan itu.

Akan tetapi udara terlalu dingin sehingga di jalan jalan, di luar rumah, tampak sepi.

Nurseta berjalan perlahan di atas jalan besar dalam kesepian itu.

Dia menuju ke istana tempat tinggal Pangeran Hendratama yang siang tadi sudah dia selidiki dimana letaknya.

Siang tadi, Senopati Sindukerta sudah melakukan penyelidikan dan memastikan bahwa Pangeran Hendratama berada di istananya dan menurut penyelidikan itu, sang pangeran tidak ada rencana untuk pergi keluar istana.

"Akan tetapi aku mendengar bahwa Pangeran Hendratama mengumpulkan sedikitnya tujuh orang jagoan yang digdaya untuk menjadi pengawalnya, belum lagi para perajurit anggauta pasukan pengawal yang jumlahnya tidak kurang dari tua losin, menjaga di sekeliling istananya. Karena itu, amat berbahaya kalau engkau mengunjungi istana itu, Nurseta."

"Harap kanjeng eyang tenang. Saya dapat menjaga diri. Bagaimanapun juga, saya harus dapat merampas kembali Sang Megatantra dari tangannya, apalagi mengingat seperti dugaan eyang bahwa dia akan menggunakan Sang Megatantra untuk mencari pengaruh dan dukungan bagi niatnya untuk memberontak."

"Bukti-bukt bahwa dia akan memberontak belum ada, Nurseta. Kalau sudah ada buktinya, tentu aku akan melaporkannya kepada Sang Prabu."

"Kanjeng eyang, buktinya ada, yaitu bahwa dia telah mencuri Sang Megatantra dari saya. Itu saja sudah membuktikan bahwa dia ingin memiliki Sang Megatantra untuk memperkuat kedudukannya sehingga dia kelak dapat menjadi raja setelah berhasil menggulingkan sang prabu. Saya dapat menjadi saksinya, eyang!"

Ki Sindukerta tersenyum.

"Ingatlah, Nurseta. Pangeran Hendratama adalah kakak tiri sang permaisuri, dia adalah kakak ipar Sang Prabu Erlangga. Bukti itu belum cukup dan lemah. Bayangkan, apakah Sang Prabu akan lebih percaya kepada kesaksian seorang pemuda seperti engkau yang tidak dikenalnya daripada kepercayaannya terhadap kakak iparnya sendiri?"

Nurseta mengangguk-angguk, melihat kebenaran ucapan kakeknya.

"Kalau begitu, saya akan mencoba mencari buktinya, eyang, di samping mencari dan merampas kembali Sang Megatantra."

"Baiklah, kalau niatmu sudah teguh. akan tetapi benar-benar engkau harus berhati-hati, Nurseta."

"Baik, kanjeng eyang. Semua nasihat eyang akan saya perhatikan dan saya mohon doa restu kanjeng eyang."

Demikianlah, malam hari itu kebetulan hawa udara yang dingin sekali memaksa orang-orang tinggal di dalam rumah masing-masing sehingga kota raja menjadi sepi.

Hal ini memudahkan Nurseta melaksanakan rencananya berkunjung ke istana Pangeran Hendratama.

Tentu saja hawa udara yang amat dingin itu sama sekali tidak mengganggu tubuhnya yang terlatih.

Dengan tenaga saktinya dia dapat membuat tubuhnya terasa hangat.

Dengan tenang dia berjalan menuju ke istana pangeran dan setelah tiba di luar istana, dia melihat betapa pintu gerbang yang memisahkan jalan raya dengan halaman rumah yang luas itu dijaga oleh tiga orang perajurit.

Dari eyangnya dia sudah mendapat keterangan bahwa pintu gerbang itu dijaga siang malam secara bergiliran.

Juga para perajurit pengawal selalu melakukan perondaan di balik pagar tembok yang mengelilingi Istana itu.

Memasuki pintu gerbang itu tentu akan memancing datangnya .para perajurit dan jagoan pengawal.

Menurut keterangan eyangnya, satu-satunya jalan yang agak aman dan tidak begitu terjaga ketat adalah melalui taman yang berada di belakang istana, akan tetapi untuk memasuki taman itu dia harus dapat melewati pagar tembok yang tingginya dua kali tinggi manusia dewasa dan di atasnya di pasangi ujung tombak-tombak runcing.

Nurseta mengambil jalan memutar mengelilingi setengah lingkaran perumahan istana itu dan tiba di bagian belakang.

Pagar tembok di situ memang tinggi dan di bagian atas, terlihat di bawah sinar bulan tombak-tombak runcing menjulang ke atas, berjejer rapat.

Nurseta memejamkan kedua matanya sejenak, menyatukan perhatiannya, menghimpun tenaga saktinya lalu menyalurkan ke dalam kakinya dan mengerahkan tenaganya.

Begitu dia menggenjot kedua kakinya, tubuhnya meluncur ke atas dan dengan ringannya kedua kakinya hinggap di atas dua batang ujung tombak!

Bagaikan seekor burung raksasa Nurseta berdiri seenak di atas dua batang ujung tombak,mengamati ke dalam dan sudah siap siaga untuk melompat keluar lagi apabila terdapat penjaga-penjaga di sebelah dalam.

Akan tetapi di sebelah dalam pagar tembok itu hanya penuh dengan tumbuh tumbuhan berbagai macam bunga, tidak tampak seorangpun manusia.

Dia merasa lega dan cepat melompat ke dalam taman.

Dengan hati-hati Nurseta menyelinap di antara pohon-pohon dalam taman itu, menghampiri bangunan yang tampak megah, walaupun tampak dari belakang.

Lampu-lampu gantung di bagian belakang gedung itu menambah terang sinar bulan yang kini sudah berada tepat di atas kepala.

Ketika Nurseta tiba dekat bangunan dia berhenti sebentar dan berpikir untuk merencanakan apa yang harus dilakukan selanjutnya.

Dia harus dapat memasuki istana itu dan menangkap Pangeran Hendratama.

Kalau dia sudah dapat menguasai sang pangeran, maka para jago dan pasukan pengawal tidak akan berani menyerangnya.

Dia dapat menggunakan sang pangeran sebagai sandera dan akan memaksa Pangeran Hendratama untuk menyerahkan kembali Sang Megatantra.

Dengan ancaman membunuhnya pangeran itu tentu akan memenuhi permintaannya dan dengan menggunakan pangeran itu sebagai perisai, dia akan dapat keluar lagi dengan aman!

Setelah mengatur rencananya, Nurseta maju lagi.

Kini dia tiba di tempat terbuka antara taman dan bangunan, sebuah lapangan rumput yang cukup luas.

Dia berhenti di tengah-tengah lapangan rumput itu, memandang ke atas untuk memilih bagian mana yang paling rendah dan paling mudah untuk dilompati.

Akan tetapi tiba-tiba terdengar suitan bertubi-tubi dari sekelilingnya dan muncullah banyak sekali perajurit yang membawa tombak, pedang atau golok di tangan.

Mereka muncul dari depan, kanan kiri dan belakang dan dia sudah terkepung!

semua ini terjadi begitu tiba-tiba dan cepat sehingga Nurseta menduga bahwa memang kedatangannya sudah diketahui dan mereka memang sudah siap menjebaknya sehingga kini dia terkepung oleh sedikitnya tiga puluh orang yang semua memegang senjata!

Tujuh orang yang berpakaian biasa, tidak seperti yang lain, yang mengenakan pakaian seragam perajurit, maju menghadapi Nurseta dan seorang di antara mereka yang bertubuh tinggi besar berkumis melintang, berusia sekitar tiga puluh tahun dan memegang sebatang golok besar, menyeringai dengan pandang mata mengejek kepada Nurseta.

Orang itu bukan lain adalah Lembara yang sudah pulih kesehatannya.

Untung baginya bahwa siang tadi Puspa Dewi membatasi tenaganya ketika menyerangnya dengan Aji Guntur Geni sehingga hanya bajunya saja yang hangus dan hancur.

Dadanya tidak terluka hanya terguncang dan membuatnya sesak napas sebentar.

Kini, mengepung pemuda itu bersama enam orang rekannya dan dua losin perajurit, dia merasa bahwa tak mungkin pemuda yang sejak melompat pagar taman memang sudah diketahui itu akan dapat lolos.

"Heh-he-he-heh! Maling busuk, menyerahlah sebelum kami mempergunakan kekerasan!"

Bentak Ki Lembara sambil mengamangkan goloknya. Karena sudah terkepung dan merasa kepalang, Nurseta menjawab dengan tenang.

"Aku bukan maling, aku ingin bertemu dan bicara dengan Pangeran Hendratama. Minta dia keluar menemui aku"

"Kurang ajar! Orang rendah macam kamu berani menyuruh Gusti Pangeran keluar untuk menemuimu? Kamu yang harus menyerah untuk kami belenggu dan kami seret ke hadapan Gusti Pangeran"

"Aku bukan penjahat dan tidak melakukan pencurian, hadapkan aku kepada Pangeran Hendratama, (Lanjut ke

Jilid 21) Keris Pusaka Sang Megatantra (seri ke 01 -Serial Keris Pusaka Sang Megatantra) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo

Jilid 21 akan tetapi aku tidak mau menjadi tangkapan dan dibelenggu!"

"Jahanam, berani kamu, ya? Tangkap dia, serang!"

Perintah Ki Lembara kepada anak buahnya.

Para pengepung itu segera bergerak, seolah hendak berlumba merobohkan Nurseta.

Melihat begitu banyak orang mengepung dan menerjangnya dengan senjata runcing dan tajam, Nurseta cepat mengerahkan Aji Sirna Sarira.

Tubuhnya berkelebat menjadi bayangan lalu tiba-tiba lenyap dari pandang mata para pengeroyoknya.

Kemudian, para pengeroyok itu berteriak mengaduh dan mereka brrpelantingan karena ditampar oleh tangan yang tidak tampak Tentu saja mereka menjadi geger dan panik, juga seram dan merinding (meremang) karena merasa seolah-olah mereka melawan setan!

Ki Lembara dan enam orang rekannya adalah jagoan-jagoan yang tangguh.

Biarpun mereka tidak dapat memunahkan ilmu yang dipergunakan Nurseta dan tidak dapat melihat bayangan pemuda itu, namun mereka dapat mengelak dan menangkis tamparan Nurseta dengan mendengarkan suara sambaran tangan yang tidak tampak itu.

Juga mereka bertujuh memutar pedang atau golok mereka, menyerang sekeliling tubuh mereka sehingga Nurseta tentu saja tidak dapat mendekati mereka dan hanya merobohkan para perajurit.

Dia bermaksud memancing munculnya Pangeran Hendratama dan kalau pangeran itu muncul, akan ditawannya dan dijadikan sandera.

Akan tetapi yang muncul bukannya Pangeran Hendratama, melainkan orang yang sama sekali tidak diduganya akan berada di situ dan ikut menyerangnya.

"Siapa berani mengacau di sini?"

Terdengar Puspa Dewi membentak dan ia lalu mengerahkan tenaga saktinya dan mempergunakan pekik Aji Guruh Bairawa.

"Hyaaaaaaaaaahhhhh!"

Pekik ini memang hebat sekali, dan dilanda getaran lengkingan ini Aji Sirna Sarira yang dipergunakan Nurseta menjadi buyar dan tubuhnya tampak lagi!

Mereka berdua saling pandang dan sama-sama terkejut.

Puspa Dewi tidak mengira bahwa yang datang pada waktu tengah malam itu adalah Nurseta.

Seketika ia tahu bahwa Nurseta tentu datang untuk merampas kembali Sang Megatantra.

Sebaliknya, Nurseta juga terkejut melihat Puspa Dewi.

Bagaimana gadis ini sekarang menjadi pengawal Pangeran Hendratama?

Akan tetapi melihat munculnya gadis itu, Nurseta maklum bahwa usahanya akan gagal, maka dia lalu mempergunakan Aji Bayu Sakti dan tubuhnya berkelebat cepat sekali meninggalkan tempat itu.

Kalau dia menggunakan Aji Sirna Sarira atau Triwikrama, mungkin dia masih akan mampu menangkap Pangeran Hendratama.

Akan tetapi Puspa Dewi berada di situ dan dia tidak mau terlibat permusuhan dengan gadis itu.

Para perajurit yang masih panik tidak berani mengejar.

Bahkan tujuh orang jagoan itupun agaknya jerih.

"Biar aku yang mengejarnya!"

Kata Puspa Dewi dan iapun mempergunakan tenaga saktinya untuk melompat dan mengejar dengan cepat sekali ke dalam taman.

"Nurseta!"

Puspa Dewi berseru ketika melihat bayangan pemuda itu sudah mendekati pagar tembok. Mendengar seruan ini, Nurseta berhenti dan memutar tubuh Dengan cepat Puspa Dewi sudah berada di depannya.

"Puspa Dewi, engkau mengejar hendak menangkap aku?"

Nurseta bertanya "Tidak, Nurseta. Aku tahu bahwa engkau datang pasti hendak merampas kembali Sang Megatantra dari tangan pangeran itu."

"Baik sekali kalau engkau mengetahui hal itu, Puspa Dewi. Akan tetapi kenapa engkau berada di sini, menjadi pengawal pangeran jahat itu?"

"Aku bukan pengawalnya. Aku hanya terpaksa karena diutus oleh Puteri Mandari untuk membantu. Akan tetapi engkau tidak mungkin akan dapat merampas pusaka itu, Nurseta. Penjagaan amat kuatnya, bahkan sebelum engkau masuk ke sini, pangeran itu sudah tahu dan sudah melakukan penjagaan ketat. Pusaka itu tentu disembunyikan, entah dimana. Sekarang pergilah, biar aku membantumu menyelidiki dimana dia menyimpan pusaka itu."

"Terima kasih, Puspa Dewi. Aku tahu dan yakin engkau bukan gadis sesat. Karena itu tadi aku memilih melarikan diri daripada harus bertanding melawanmu. Selamat berpisah!"

Nurseta lalu mengerahkan tenaganya, melompat ke atas pagar tembok dan hinggap di atas dua ujung tombak yang runcing, lalu menoleh, melambaikan tangan dan meloncat keluar.

Puspa Dewi menghela napas, merasa kagum bukan main.

Ia sendiri harus mengakui bahwa ia tidak berani melompat keatas pagar tembok setinggi itu dan hinggap di atas ujung tombak!

Terlalu berbahaya.

Ia mendengar suara orang-orang berlarian di belakangnya.

Ia tahu bahwa itu adalah para jagoan dan perajurit.

la lalu berteriak.

"Maling jahat, hendak lari ke mana kau?"

Ketika para pengejar tiba di bawah pagar tembok, mereka melihat gadis itu memegang pedangnya yang hitam dan mengacung-acungkan ke atas pagar tembok.

"Di mana malingnya?"

Tanya mereka "Ah, sungguh luar biasa. Dia pandai terbang ke atas pagar tembok dan hinggap di atas ujung tombak-tombak itu, Terpaksa aku hanya dapat mengejar sampai di sini."

Kata Puspa Dewi. Para jagoan dan para perajurit sibuk membicarakan "maling"

Yang pandai menghilang dan pandai terbang itu.

Tujuh orang jagoan bersama Puspa Dewi lalu menghadap Pangeran Hendratama yang bersembunyi di dalam kamar rahasia.

Pangeran ini memang merasa jerih pada Nurseta, maka dia merasa lebih aman untuk bersembunyi dan mengharapkan tujuh orang jagoannya ditambah Puspa Dewi dan pasukan pengawalnya akan mampu menangkap atau membunuh pemuda sakti mandraguna itu.

"Bagaimana hasilnya? Apakah dapat ditangkap atau dibunuh?"

Pangeran Hendratama bertanya kepada Lembara ketika mereka semua menghadapnya. Dengan muka kemerahan karena merasa malu Lembara melaporkan.

"Harap paduka memaafkan kami, Gusti Pangeran. Kami telah mengepung maling itu, akan tetapi dia itu sangat sakti mandraguna, pandai menghilang dan terbang ....."

"Omong kosong! Mana ada manusia pandai menghilang dan terbang? Laporkan yang benar!"

Bentak Pangeran Hendratama dengan alis berkerut karena kecewa mendengar laporan itu dan tidak melihat Nurseta tertawan atau terbunuh.

"Hamba tidak berbohong, gusti. Maling itu telah kami kepung dan keroyok, tiga puluh orang mengeroyoknya. Akan tetapi tiba-tiba dia menghilang dan kami dirobohkan oleh tangan yang tidak tampak. baru setelah Puteri Puspa Dewi datang, pekik saktinya dapat membuyarkan ilmu maling itu sehingga dia tampak. Akan tetapi dia melarikan diri dikejar oleh puteri Puspa Dewi. Akan tetapi dia terbang ke atas pagar tembok, hinggap diatas ujung tombak yang berada di atas pagar tembok lalu melarikan diri keluar."

Diam-diam Pangeran Hendratama terkejut.

Memang dia sudah mendengar dari para selirnya bahwa pemuda itu sakti, akan tetapi dia tidak menyangka bahwa Nurseta demikian sakti mandraguna sehingga dikeroyok tiga puluh orang lebih termasuk tujuh orang jagoannya dibantu pula oleh Puspa Dewi, masih dapat meloloskan diri.

Dia menjadi semakin gentar dan merasa sangat terancam keselamatannya selama pemuda itu belum ditangkap atau dibunuh.

"Benarkah apa yang diceritakan Lembara itu, Puspa Dewi?"

Tanyanya kepada Puspa Dewi.

"Benar, Paman Pangeran. Maling ini memang memiliki ilmu kepandaian tinggi sekali sehingga sayapun tidak berhasil menangkapnya."

Kata Puspa Dewi.

"Karena itu, tidak ada gunanya lagi saya berada di sini. Harap paman mencari bantuan orang-orang lain yang lebih pandai agar keselamatan paman terjamin."

Pangeran Hendratama menghela panjang dan tampak gelisah.

"Kalau andika sendiri dibantu semua pengawalku tidak dapat menandingi maling itu, lalu siapa lagi yang dapat kumintai bantuan?"

Puspa Dewi memandang pangeran itu dengan sinar mata tajam menyelidik, lalu bertanya.

"Paman Pangeran, kalau saya boleh bertanya, siapakah gerangan maling sakti itu dan mengapa pula dia datang mencari paman?"

Karena Puspa Dewi adalah utusan dan orang kepercayaan Puteri Mandari, apalagi dara itu adalah puteri angkat Raja Wura-wuri, tentu saja dia percaya kepadanya sebagai sekutu yang memusuhi Sang Prabu Erlangga.

Akan tetapi dia tidak mau menceritakan tentang Sang Megatantra yang berada padanya, hal ini masih dia rahasiakan karena belum waktunya diberitahukan orang lain.

Kelak dia dapat mempergunakan Sang Megatantra sebagai alasan kuat yang mengesahkan dia untuk menjadi Raja Kahuripan kalau saatnya untuk itu tiba.

"Maling itu bernama Nurseta, seorang maling yang licik dan sakti."

"Akan tetapi, kenapa dia malam malam datang dan mencari paman? Apa yang dikehendakinya?"

Puspa Dewi mengejar.

"Dia datang untuk membunuhku."

Kata Pangeran Hendratama singkat.

"Eh? Akan tetapi, kenapa?"

Desak Puspa Dewi yang maklum bahwa Nurseta mencari pangeran itu bukan untuk membunuhnya, melainkan untuk merampas kembali Sang Megatantra.

Mendengar pertanyaan itu, Pangeran Hendratama termenung sejenak lalu menjawab.

"Ceritanya panjang dan biarlah kalian semua mengetahui persoalannya agar tidak bertanya-tanya. Kalian tau bahwa aku adalah penggemar pusaka. Aku mengumpulkan banyak pusaka. Banyak sudah harta kekayaan kuhamburkan untuk membeli pusaka-pusaka itu dengan harga mahal. Beberapa bulan yang lalu, secara kebetulan sekali aku membeli sebuah pusaka yang dibawa seorang kakek pengemis. Aku terkejut dan girang melihat bahwa pusaka itu adalah Sang Megatantra, keris pusaka Mataram yang hilang puluhan tahun yang lalu. Kakek pengemis itu menemukan pusaka itu di dekat pantai Laut Selatan dan dia tidak tahu bahwa itu adalah keris pusaka Sang Megatantra milik Mataram yang tak ternilai harganya. Aku segera membelinya dengan harga yang murah."

"Menarik sekali, paman. Lalu bagaimana?"

Desak Puspa Dewi ketika pangeran itu berhenti bercerita dan seperti orang berpikir. Apalagi yang akan dikarangnya, pikir Puspa Dewi.

"Sialnya, agaknya kakek pengemis itu menceritakan penjualan keris pusaka itu kepada seorang maling, yaitu Nurseta. Pada suatu malam, dia mencuri Sang Megatantra dan sebagai gantinya, dia meninggalkan sebatang keris Megatantra palsu."

"Bagaimana paman tahu bahwa pencuri itu adalah orang yang bernama Nurseta itu?"

Puspa Dewi mengejar.

"Tiga orang selirku sempat memergoki dan dia mengakui namanya. Tiga orang selirku lalu menyerangnya untuk merampas kembali keris pusaka, akan tetapi mereka bertiga kalah dan maling itu membawa lari Sang Megatantra."

"Akan tetapi kenapa sekarang dia yang mencari paman dan hendak membunuh paman? Bukankah itu terbalik Semestinya paman yang mencari dia untuk merampas kembali keris pusaka itu!"

"Mengapa dia ingin membunuhku Mudah saja diduga! Karena aku mengetahui rahasianya bahwa dia memiliki Sang Megatantra yang menjadi hak milik Kerajaan Kahuripan, maka dia ingin membunuhku agar jangan ada orang yang tahu bahwa dia memiliki pusaka itu, Jelas, bukan?"

Kini wajah Pangeran Hendratama berseri.

Hatinya memang merasa girang karena kini dia mendapatkan cara untuk menjatuhkan Nurseta yang ditakutinya itu.

Ceritanya tadi yang mendatangkan akal yang dianggapnya amat baik itu.

Puspa Dewi tentu saja lebih percaya kepada Nurseta.

la tahu bahwa pangeran itu mengarang cerita dan sengaja memutar balikkan kenyataan!

Dia yang mencuri menjadi pemilik yang sah, sedangkan Nurseta yang kehilangan pusaka malah dicap sebagai pencurinya.

Siasat apakah yang akan dilakukan pangeran ini?

Ia tidak dapat menduga apa yang akan dilakukannya.

"Gusti Pangeran, kalau paduka menyetujui dan mengijinkan, hamba dapat mengajukan permohonan bantuan kepada Sri Ratu Kerajaan Siluman Laut Kidul."

Kata Lembara yang selain merasa gentar terhadap Nurseta dan ingin mendapatkan kawan yang dapat diandalkan, juga dia ingin membuat jasa.

"Sri Ratu Kerajaan Siluman Laut Kidul? Kaumaksudkan Ratu Mayang Gupita, Lembara?"

"Kasinggihan (betul), gusti."

"Akan tetapi, Ratu Mayang Gupita adalah seorang tokoh yang aneh dan sukar dihubungi. Selain sukar minta bantuannya, juga salah-salah akan membuat ia marah dan kalau raseksi (raksasa wanita) itu marah, siapa berani tanggung?"

Nama Ratu Mayang Gupita memang terkenal sebagai seorang raksasa wanita yang berwatak keras dan kejam sekali.

"Harap paduka tidak khawatir tentang hal itu, gusti. Pertama, hamba pernah bekerja kepada Sri Ratu Mayang Gupita sebagai seorang perwira pasukan pengawal dan hamba mengundurkah diri dengan baik-baik sehingga hamba berani menghadap beliau dan hamba yakin akan diterima baik. Kedua, bukan rahasia lagi bahwa Ratu Mayang Gupita juga amat membenci dan memusuhi Sang Prabu Erlangga. Oleh karena itu, hamba yakin beliau akan suka membantu, atau setidaknya mengirim orang yang dapat diandalkan untuk memperkuat penjagaan di sini."

Wajah pangeran itu berseri gembira mendengar ini.

"Baik sekali! Kalau begitu, cepat laksanakan usulmu itu dan sampaikan salam hormatku kepada Ratu Mayang Gupita. Nanti dulu, aku akan mengirimkan beberapa buah senjata pusaka untuk dihadiahkan kepada Sri Ratu!"

"Kalau begitu, saya mohon pamit, paman pangeran. Besok pagi-pagi saya akan kembali ke istana, melapor kepada Puteri Mandari."

"Baiklah, Puspa Dewi. Sampaikan terima kasihku kepada Puteri Mandari."

Kemudian Pangeran Hendratama memerintahkan para jagoan lain untuk menambah jumlah perajurit sampai mendekati seratus orang untuk menjaga keamanan di situ karena Puspa Dewi dan Lembara akan meninggalkan gedungnya.

Pagi-pagi sekali Puspa Dewi kembali ke istana, menyelinap melalui taman sari dan langsung ke keputren.

Ia diterima Puteri Mandari di kamar selir itu dan Puspa Dewi menceritakan apa yang telah terjadi di gedung Pangeran Hendratama tanpa mengatakan bahwa ia telah mengenal Nurseta.

Sang Prabu Erlangga adalah seorang raja yang di waktu mudanya banyak bergaul dengan rakyat kecil dan terkenal sebagai seorang ksatria, seorang pendekar yang gagah perkasa dan baik budi.

Setelah menjadi raja, diapun bijaksana, adil dan memperhatikan kehidupan rakyat, bukan seperti kebanyakan penguasa yang hanya mementingkan kesenangan diri pribadi, menumpuk harta benda untuk diri sendiri dan keluarganya, sanak dan handai tautannya, tanpa memperdulikan penderitaan rakyat miskin yang hidup sengsara.

Diapun memiliki kewaspadaan dan kepekaan tinggi.

Namun semua perasaannya tidak pernah diperlihatkan pada sikap dan wajahnya.

Tentu saja sebagai manusia, dia memiliki kelemahan karena tidak ada seorangpun manusia yang sempurna di dunia ini.

Betapapun baiknya seorang manusia, pasti mempunyai cacat.

Adapun kelemahan Sang Prabu Erlangga adalah kelemahan pria, pada umumnya, yaitu lemah terhadap rayuan wanita cantik.

Karena itu, tidaklah mengherankan kalau Sang Prabu Erlangga terlena dalam rayuan Mandari yang memang cantik jelita dan pandai sekali merayu dan menyenangkan hati pria.

Tentu saja kewaspadaannya membuat dia merasa bahwa Mandari bukanlah seorang wanita yang baik budi.

Semua rayuan, kemanjaan, kecantikan wajah dan keindahan tubuhnya itu hanya polesan atau indah diluar saja.

Wanita ini tidak mempunyai perasaan cinta kasih murni terhadap dirinya.

Yang ada hanya cinta nafsu dan di balik semua bagian tubuhnya yang serba menggairahkan itu, tersembunyi pamrih untuk dirinya sendiri.

Namun, dan inilah kelemahan pria pada umumnya, semua itu tertutup oleh gairah dan kenikmatan nafsu kedagingan.

Apa lagi ditambah dengan alasan bahwa ditariknya Mandari sebagai selirnya berarti menanam perdamaian dengan Kerajaan Parang Siluman.

Sang Prabu juga mempunyai perasaan bahwa Pangeran Hendratama adalah seorang yang tidak baik bahkan berbahaya.

Biarpun sikapnya ramah dan merendah, namun dari sinar matanya kadang dia menangkap getaran nafsu kebencian terhadap dirinya.

Namun raja yang bijaksana ini dapat memaafkannya, dalam hatinya dia memaklumi bahwa nafsu kebencian itu timbul dari perasaan iri hati karena pangeran Itu merasa sebagai putera mendiang Sang Prabu Teguh Dharmawangsa lebih berhak menjadi raja Kahuripan daripada dia yang hanya seorang mantu.

Biarpun Sang Prabu Erlangga telah memaafkan, namun dia juga tetap waspada.!

Setelah peristiwa kunjungan Nurseta di tengah malam digedung Pangeran Hendratama, pada keesokan harinya, pagi-pagi Pangeran Hendratama telah naik kereta yang dikawal, menuju keistana raja.

Dia mohon menghadap Sang Prabu Erlangga yang ketika itu sedang hendak makan pagi.

Mendengar laporan bahwa Pangeran Hendratama mohon menghadap dan laporan itu didengar pula oleh Permaisuri Pertama dan Permaisuri Ke Dua yang menemaninya makan pagi, sang Prabu Erlangga segera memerintahkan pengawal untuk mengundang kakak iparnya itu untuk makan pagi bersama dan ditunggu di ruangan makan.

Hal ini dilakukan Sang Prabu Erlangga untuk menyenangkan hati Permaisuri Pertama dan memang benar, Permaisuri Pertama tampak gembira ketika mendengar bahwa kakak tirinya datang berkunjung dan diundang makan pagi bersama.

Akan tetapi Pangeran Hendratama memasuki ruangan makan dengan wajah muram dan lesu dan setelah memberi salam dan dipersilakan duduk menghadapi meja makan, dia hanya makan sedikit sekali dan selama makan tidak banyak bicara dan wajahnya dibayangi kegelisahan.

Sang Prabu Erlangga dapat menduga bahwa tentu ada urusan yang membuat kakak iparnya itu gelisah.

Akan tetapi dia cukup bijaksana untuk tidak membicarakan atau menanyakan urusan itu kepada kakak iparnya di depan kedua orang permaisurinya.

Setelah selesai makan pagi, Sang Prabu Erlangga mengajak Pangeran Hendratama ke ruangan tamu untuk bicara berdua saja.

Para pengawal dan pelayan disuruh meninggalkan ruangan itu sehingga mereka dapat bicara berdua tanpa didengarkan orang lain.

"Nah, Kakang Pangeran, sekarang ceritakanlah urusan apa yang merisaukan hati andika dan yang membuat andika sepagi ini sudah datang berkunjung."

Kata Sang Prabu Erlangga dengan nada suara lembut.

"Ah, ketiwasan (celaka), Yayi (Adinda) Prabu .....!"

Sang pangeran mengeluh dimukanya tampak muram dan gelisah sekali.

"Tadi malam hampir saja saya dibunuh orang ....."

Sang Prabu Erlangga hanya merasa heran, namun tidak terkejut.

"Hemm, siapa yang hendak membunuh andika, dan kenapa?"

"Sesungguhnya, ceritanya panjang Yayi Prabu. Beberapa bulan yang lalu saya yang memang sejak dahulu suka sekali mengumpulkan pusaka kuno, seorang pengemis tua menawarkan sebuah pusaka kuno yang katanya didapatkannya di dekat pantai Laut Kidul. Saya membeli keris pusaka itu dengan murah dan setelah penjual itu pergi dan saya meneliti keris yang kotor itu, saya gosok-gosok bukan main kaget hati saya karena keris pusaka itu ternyata adalah Sang Megatantra."

"Jagad Dewa Bathara .....!"

Sekali ini Sang Prabu Erlangga terkejut.

"Pusaka Mataram yang hilang puluhan tahun yang lalu itu, Kakang Pangeran?"

"Benar, Yayi Prabu. Karena benda keramat itu merupakan pusaka Mataram, maka saya bermaksud menghaturkan Sang Megatantra kepada paduka. Akan tetapi ternyata pengemis tua jahanam itu ....."

"Kakang Pangeran, pengemis tua itu sudah berjasa besar menemukan Sang Megatantra!"

Sang Prabu Erlangga memotong dengan suara mencela mendengar Pangeran Hendratama memaki pengemis tua itu.

"Maaf, Yayi Prabu, hati saya masih mendongkol. Dia ternyata menceritakan tentang Sang Megatantra kepada seorang maling muda yang sakti mandraguna. Maling itu mencuri Sang Megatantra dan meninggalkan keris palsu ini sebagai gantinya."

Pangeran Hendratama mengeluarkan sebatang keris yang mirip Sang Megatantra dan menyerahkannya kepada Sang Prabu Erlangga.

Sang Prabu menerima keris itu dan sekali jari-jari tangannya menekuk, keris itu patah-patah menjadi tiga potong!

"Hemm, ini terbuat dari besi biasa, Kakang Pangeran."

"Memang demikianlah. Setelah Sang Megatantra tercuri, saya mengerahkan segala daya untuk mencari pencuri itu. Akan tetapi selalu gagal dan saya lalu pindah ke kota raja setelah mendapat perkenan paduka."

"Kenapa selama ini andika tidak memberitahukan kepada kami, Kakang Pangeran?"

"Maaf, Yayi Prabu. Saya ingin mendapatkan kembali pusaka itu agar saya dapat menghaturkannya kepada paduka, Dan malam tadi, pencuri Sang Megatantra itu menyerbu rumah saya dan nyaris membunuh saya. Masih beruntung bahwa para pengawal dapat melindungi saya dan jahanam busuk itu dapat melarikan diri."

"Hemm, ceritamu aneh, kakang. Kenapa pencuri itu hendak membunuhmu setelah dia berhasil mencuri Sang Megatantra?"

"Hal itu sudah saya selidiki, Yayi Prabu. Setelah saya mengetahui kemana larinya pencuri itu yang diam-diam diikuti oleh para pembantu saya, dan tahu apa yang berdiri di belakangnya, maka tidak aneh kalau dia hendak membunuh saya. Ada yang hendak mempergunakan Sang Megatantra untuk mengangkat diri sendiri menjadi raja karena dikabarkan bahwa pusaka itu merupakan tanda turunnya wahyu kedaton (istana) sehingga berhak menjadi raja. Berarti, pemilik Sang Megatantra itu, si pencuri dan orang yang berada dibelakangnya, jelas merencanakan pemberontakan terhadap paduka, Yayi Prabu. Karena saya satu-satunya orang yang mengetahui rahasianya, maka dia berusaha untuk membunuh saya."

Sang Prabu Erlangga mengerutkan alisnya.

"Kakang Pangeran, katakan, siapa pencuri itu dan siapa pula yang berdiri di belakangnya, yang merencanakan pemberontakan?"

"Pencuri muda yang sakti mandraguna itu bernama Nurseta, Yayi Prabu, dan paduka tidak akan merasa heran karena pemuda itu adalah cucu dari Senopati Sindukerta! Senopati Sindukerta itu memang sejak mendiang Rama Prabu Teguh Dharmawangsa memimpin kerajaan ini sudah memperlihatkan wataknya yang memberontak. Yayi Prabu tentu sudah mendengar betapa dahulu dia menghina saya dan mendiang Ramanda Prabu dengan menyembunyikan puterinya yang sudah kami pinang dan sudah diterima. Nah, maling muda Nurseta itu adalah anak dan puterinya yang disembunyikan dan diam-diam melarikan diri dengan seorang laki-laki sesat."

Sang Prabu Erlangga mengerutkan alisnya dengan hati panas.

Berani benar senopati tua itu merencanakan pemberontakan, pikirnya.

Dia lalu bertepuk tangan memberi isyarat dan dua orang perajurit pengawal yang berjaga di luar pintu ruangan segera berlari masuk dan berlutut menyembah.

"Cepat undang Kakang Patih Narotama ke sini, sekarang juga!"

Perintahnya.

Dua orang perajurit pengawal itu memberi hormat dan mereka berlari keluar.

Melihat kemarahan Sang Prabu Erlangga, Pangeran Hendratama diam diam merasa girang.

Muslihatnya berhasil.

Mampuslah kau, Nurseta, begitu suara hatinya.

Dia lalu berkata kepada Sang Prabu Erlangga.

"Saya merasa girang dan aman dari ancaman Nurseta dan Senopati Sindukerta setelah paduka hendak mengambil tindakan tegas. Sekarang perkenankan saya pulang untuk beristirahat karena semalam suntuk saya tidak dapat tidur, gelisah memikirkan ancaman terhadap nyawa saya."

"Baik, Kakang Pangeran. Terima kasih atas semua laporanmu, akan tetapi kalau pencuri dan kakeknya itu sudah kami tangkap, harap Kakang Pangeran bersedia untuk menjadi saksi bahwa dia mencuri sang Megatantra dan berusaha membunuh andika."

"Tentu saja, Yayi Prabu. Bahkan saksi-saksi mata yang paling mengetahui karena melihat sendiri maling itu, yaitu tiga orang selir saya yang juga bertugas bagai pengawal-pengawal pribadi, akan saya hadirkan sebagai saksi pula."

"Baik, terima kasih, Kakang Pangeran Hendratama."

"Mohon pamit, Yayi Prabu."

Pangeran Hendratama lalu keluar dari istana dan dengan pengawalan kuat dia kembali naik kereta pulang ke gedungnya.

Di dalam kereta, dia menggosok gosok kedua telapak tangannya dan tersenyum-senyum gembira.

Orang yang dia takuti sebentar lagi akan dihukum!

Kini tinggal memikirkan siasat pemberontakan yang akan dia lakukan dengan bantuan para sekutunya dari Kerajaan Wengker, Wura-wuri, Siluman Laut Kidul, dan Parang Siluman, dibantu pula oleh para pembesar sipil dan militer yang sudah jatuh di bawah pengaruhnya.

Ki Patih Narotama menerima panggilan Sang Prabu Erlangga yang disampaikan oleh perajurit pengawal.

Kalau Sang Prabu memanggilnya di luar waktu persidangan, itu berarti ada terjadi hal-hal yang luar biasa dan penting, maka diapun bergegas menunggang kuda menuju ke istana.

Seperti biasa, Ki Patih Narotama memasuki istana dengan leluasa.

Semua perajurit pengawal mengenalnya dan tahu belaka bahwa Ki Patih Narotama dapat tiap saat memasuki istana menghadap Sang Prabu Erlangga, tidak usah dilaporkan lebih dulu seperti para pembesar lain kalau mohon menghadap sang prabu.

Ki Patih Narotama membiarkan kudanya diurus oleh seorang perajurit dan dia hanya bertanya kepada perajurit pengawal dalam istana di mana adanya Sang Prabu Erlangga.

Setelah mendapat keterangan bahwa sang prabu menantinya di ruangan persidangan, Ki Patih bergegas menuju ke ruangan itu lalu memasuki pintu ruangan yang dibukakan oleh dua orang perajurit pengawal.

Ketika dia memasuki ruangan persidangan, dia melihat Sang Prabu Erlangga telah duduk di atas singasana.

Di sebelah kiri sang prabu duduk selir cantik jelita Mandari.

Hanya puteri inilah yang menemani Sang Prabu Erlangga, tidak ada orang lain, bahkan para pengawal juga hanya menjaga di luar ruangan.

Ini merupakan pertanda bahwa, sang prabu hendak membicarakan urusan yang dirahasiakan sehingga tidak boleh terdengar orang lain.

Akan tetapi mengapa Mandari, puteri Ratu Durgamala Kerajaan Parang Siluman itu berada di situ, berdua saja dengan sang prabu, tanpa dihadiri dua orang permaisuri yang kedudukannya lebih tinggi?

Ki Patih Narotama menduga bahwa urusan ini tentu ada sangkut-pautnya dengan Puteri Mandari.

Lasmini dan Mandari memang selalu membuat ulah setelah menjadi selirnya dan selir sang prabu.

Akan tetapi wajah cantik itu sama sekali tidak kelihatan tegang atau khawatir, bahkan senyumnya yang manis menunjukkan bahwa hatinya bergembira!

Ki Patih Narotama memberi hormat dengan sembah dan hendak duduk bersila di atas lantai.

Akan tetapi Sang Prabu Erlangga mencegahnya.

"Duduklah di kursi yang telah disediakan untukmu, Kakang Patih Narotama."

Narotama menurut.

Memang biasanya kalau menghadap sang prabu secara pribadi, bukan dalam paseban, dia dipersilakan duduk di kursi.

Akan tetapi saat itu, selir Mandari hadir di situ, maka tadinya dia hendak duduk bersila untuk menghormati sang prabu.

Setelah melirik ke arah Mandari, dia menyembah lagi, lalu duduk.

"Terima kasih, gusti. Paduka memanggil hamba, perintah apakah yang harus hamba lakukan?"

"Ada urusan yang gawat sekali, kakang patih. Karena urusan ini amat penting, maka kami sengaja mengundangmu karena hanya andika saja yang akan dapat menyelesaikannya dengan baik. Yayi Mandari kami hadirkan karena mengingat akan kemampuannya, ia dapat membantu pelaksanaan tugas ini, kakang."

Diam-diam Ki Patih Narotama merasa heran.

Mengapa mendadak selir ini diajukan oleh sang prabu untuk membantunya?

Tugas apakah gerangan yang harus dilaksanakan dengan bantuan Puteri Mandari?

Ataukah, urusan ini mengenai diri puteri dari Kerajaan Parang Siluman itu?

"Hamba siap melaksanakan semua perintah paduka, Sinuwun."

Sang Prabu Erlangga memang sengaja membawa Mandari ke dalam persoalan ini karena dia hendak menguji sampai di mana kesetiaan selir tersayangnya yang terkadang menimbulkan rasa curiga dalam hatinya itu.

Bagaimana selir itu akan menanggapi kalau terjadi pemberontakan terhadap kerajaannya?

Maka, dia sengaja menghadirkan Puteri Mandari ketika dia memanggil patihnya.

"Kakang Patih Narotama, kerajaan kita sedang terancam pemberontakan!"

Baik Ki Patih Narotama maupun Mandari terkejut bukan main.

Ki Patih Narotama tentu saja terkejut mendengar ada pemberontakan, sebaliknya Mandari terkejut juga, namun ia terkejut karena sesungguhnya ia dan sekutunya yang memusuhi kerajaan Kahuripan dan tentu saja merencanakan pemberontakan.

"Siapakah yang berani memberontak kepada paduka, gusti? Beritahukan kepada hamba. Hamba yang akan memberantasnya!"

Kata Narotama penuh semangat. Puteri Mandari diam saja, hanya mendengarkan dengan penuh perhatian dan dengan hati tegang.

"AKU mendengar hal itu dari Kakang Pangeran Hendratama. Pemberontakan itu memang belum terjadi, akan tetapi kami dapat menduganya dengan munculnya pusaka Mataram yang hilang puluhan tahun lalu, yaitu Sang Megatantra."

Kini Ki Patih Narotama yang meragu walaupun dia terkejut mendengar bahwa sang Megatantra yang dinyatakan hilang puluhan tahun itu, kini muncul.

Dia meraba gagang kerisnya sendiri yang terselip di pinggangnya.

Keris pusakanya itu adalah keris pusaka Sang Megantoro, yang merupakan pasangan keris pusaka Sang Megatantra.

Dia mendapatkan keris itu dari Sang Resi Satyadharma di Nusa Bali.

Gurunya itu mengatakan bahwa keris Sang Megantoro adalah pasangan keris Sang Megatantra.

Kalau Sang Megatantra mengandung wahyu bagi seorang raja, keris Megantoro mengandung wahyu bagi seorang pamongnya yang paling dekat dengan raja, yaitu patihnya.

Kalau rajanya memegang Sang Megatantra dan patihnya memegang Sang Megantoro, maka kerajaan akan menjadi kuat sekali.

Sayang, keris pusaka Sang Megatantra lenyap puluhan tahun yang lalu hingga Sang Prabu Erlangga tidak memilikinya.

Akan tetapi kini keris itu muncul!

Inilah yang mengejutkan dan juga menggirangkan hati Narotama.

Akan tetapi mendengar bahwa pembawa kabar tentang pemberontakan itu Pangeran Hendratama hatinya menjadi ragu dan bimbang.

Dia merasa tidak senang dan tidak percaya kepada pangeran ini, bahkan dia mulai curiga mendengar betapa pangeran yang baru pindah ke kota raja itu seringkali kasak-kusuk dengan para pembesar dan mengobral banyak hadiah kepada mereka.

Sebaliknya, ketika mendengar bahwa pembawa berita itu adalah Pangeran Hendratama, hati Mandari menjadi girang sekali.

Pangeran itu adalah sekutunya, Maka, ia cepat berkata penuh semangat "Kakanda Prabu, siapakah keparat yang hendak memberontak itu?

Dia harus dihancurkan!"

Sang Prabu Erlangga tersenyum mendengar ucapan selirnya ini.

"Kalian dengarlah dulu apa yang diceritakan Kakang Pangeran Hendratama kepadaku tadi. Beberapa bulan yang lalu dia membeli sebuah keris dari seorang pengemis tua. Setelah keris itu dibersihkan, dia mengenalnya sebagai Sang Megatantra. Pengemis itu mengatakan bahwa dia menemukan keris pusaka itu di dekat pantai Laut Kidul. Akan tetapi agaknya pengemis itu menceritakan tentang keris itu kepada seorang penjahat muda yang sakti mandraguna. Penjahat itu mencuri Sang Megatantra dari Kakang Pangeran Hendratama dan menggantinya dengan sebuah keris palsu. Kakang pangeran lalu berusaha untuk mencari dan merampasnya kembali, namun usahanya sia-sia. Maksudnya untuk mendapatkan kembali pusaka itu dan menghaturkannya kepadaku. Nah, malam tadi, rumahnya didatangi pencuri keris itu dan dia nyaris dibunuh penjahat itu. Agaknya penjahat itu ingin merahasiakan penemuannya dan karena yang mengetahui tentang Sang Megatantra hanya kakang pangeran, maka penjahat itu hendak membunuhnya. Dari kenyataan ini dapat diduga bahwa pencuri itu hendak mempergunakan Sang Megatantra untuk mengangkat diri sendiri sebagai raja. Setelah para pembantu Kakang Pangeran Hendratama membayangi ke mana larinya pencuri yang malam tadi hendak membunuhnya itu, maka jelaslah bahwa memang ada usaha pemberontakan di kerajaan ini."

"Hemm, si keparat!"

Mandari berseru marah.

"Kalau begitu, mohon penjelasan, Kakanda, siapakah pencuri itu? Biar hamba binasakan dia!"

Sang Prabu Erlangga tersenyum. Hatinya merasa lega karena selirnya ini ternyata bersemangat membela kerajaan Kahuripan! "Hamba menanti penjelasan paduka, gusti."

Kata Narotama yang juga ingin sekali mengetahui siapa gerangan mereka yang hendak mengadakan pemberontakan itu.

"Setelah dibayangi orang-orangnya Kakang Pangeran Hendratama, ternyata bahwa pencuri itu melarikan diri kerumah Paman Senopati Sindukerta dan pencuri Sang Megatantra yang sakti mandraguna itu adalah cucunya yang bernama Nurseta."

"Paman Senopati Sindukerta? Bukankah dia itu kabarnya dahulu menjadi calon mertua Pangeran Hendratama?"

Tanya Narotama.

"Benar, Kakang Narotama. Paman Senopati Sindukerta memang pernah kesalahan terhadap mendiang Romo Prabu Teguh Dharmawangsa dan Kakang Pangeran Hendratama karena menyembunyikan puterinya yang akan dijodohkan dengan Kakang Pangeran Hendratama sehingga dia dicopot dari kedudukannya sebagai senopati. Akan tetapi karena dia banyak membantuku mengusir musuh-musuh dari Kahuripan seperti andika sendiri mengetahui, maka aku mengangkatnya kembali menjadi senopati. Sungguh tidak kusangka dia mempunyai niat untuk memberontak. Hal ini mungkin karena cucunya itu telah mendapatkan Sang Megatantra."

Mandari bangkit dari tempat duduknya dan berkata lantang.

"Si keparat tak mengenal budi itu! Kakanda Prabu, biarlah hamba berangkat sekarang juga untuk membasmi keluarga Sindukerta! Hamba akan membawa pasukan pengawal untuk menghancurkan para pemberontak itu!"

"Tenanglah dan duduklah dulu, yayi. Kita rundingkan dulu bagaimana sebaiknya dan tindakan apa yang harus diambil."

Kata Sang Prabu Erlangga. Mandari duduk kembali dan kedua pipinya masih kemerahan karena marah, bibirnya yang mungil itu cemberut.

"Hamba menanti perintah, apa yang harus hamba lakukan terhadap Paman Senopati Sindukerta dan cucunya itu gusti."

Kata Narotama dengan tenang.

Bagaimanapun juga, cerita itu berasal dari Pangeran Hendratama yang tentu saja mendendam kepada Senopati Sindukerta karena niatnya memperisteri puteri senopati itu tidak tercapai dan dia memang meragukan kepribadian pangeran yang pernah ngambek bertahun-tahun meninggalkan kota raja karena Erlangga yang diangkat atau dipilih oleh para bangsawan untuk menjadi raja.

"Sekarang pimpinlah pasukan pilihanmu dan pergilah ketempat tinggal Paman Senopati Sindukerta. Andika telah mengetahui persoalannya dan aku memberi purbawisesa (kekuasaan penuh) kepadamu untuk bertindak bagaimana baiknya terhadap mereka."

"Bunuh saja mereka! Basmi pemberontak itu sampai keakar-akarnya. Binasakan seluruh keluarganya!"

Kata Mandari sambil mengepal tangannya.

"Hamba akan menangkap Paman Senopati Sindukerta dan cucunya yang bernama Nurseta itu dan membawa mereka menghadap paduka, gusti."

Kata Narotama dengan tenang.

"Hamba akan menyertai Ki Patih Narotama dan pasukannya!"

Seru Mandari. 'Kalau pencuri pusaka itu sakti mandraguna, hamba yang akan menandinginya!"

Sang Prabu Erlangga tersenyum.

'Tidak, Yayi Mandari.

Justeru karena kekerasanmu itu, aku tidak mengijinkan engkau ikut pergi.

Kakang Patih Narotama benar.

Paman Senopati Sindukerta dan cucunya itu harus ditangkap dan akan kami periksa di sini."

"Akan tetapi, Kakanda Prabu, mereka itu sudah jelas hendak memberontak! Mereka itu pantas dibinasakan, tunggu apalagi?"

Kata Mandari.

"Bukan begitu sikap seorang penguasa yang bijaksana, yayi. Tidak benar menjatuhkan keputusan kepada seorang terdakwa tanpa memberi kesempatan kepadanya untuk membela diri. Kalau sudah terbukti kesalahannya, barulah dijatuhi hukuman, itupun harus sesuai dengan peraturan, bukan hantam-kromo dibunuh dan dibasmi begitu saja."

"Akan tetapi buktinya sudah jelas kakanda! Buktinya Nurseta itu telah mencuri Sang Megatantra dan semalam berniat membunuh Pangeran Hendratama untuk menutupi rahasianya. Melihat kenyataan bahwa dia cucu Senopati Sindukerta, sudah jelas bahwa senopati itu yang menjadi dalangnya dan merencanakan pemberontakan terhadap paduka!"

Sang Prabu Erlangga menanggapinya dengan senyum.

"Itu belum menjadi bukti, yayi. Baru kesaksian Kakang Pangeran Hendratama, berarti kesaksian satu pihak saja. Karena itu, Paman Senopati Sindukerta dan cucunya perlu ditangkap dan diperiksa di sini untuk didengar keterangan mereka. Sudahlah, yayi, jangan mencampuri urusan ini karena sudah kuserahkan kepada Kakang Narotama untuk menyelesaikannya. Kakang patih, sekarang siapkanlah pasukan dan tangkaplah Paman Senopati Sindukerta dan cucunya."

Mandari hanya cemberut dan diam saja.

Wanita yang cerdik ini tahu kapan ia harus bersikap diam.

Kalau ia berkelanjutan membantah, tentu akan menimbulkan kecurigaan Sang Prabu Erlangga dan terutama Ki Patih Narotama yang ia takuti itu.

"Hamba-akan pergi seorang diri dan mengajak Paman Senopati Sindukerta dan cucunya menghadap paduka, gusti".

"Akan tetapi itu berbahaya sekali!"

Mandari berseru, seolah ia mengkhawatirkan keselamatan Narotama.

Tentu saja semua ini memang disengaja untuk mendatangkan kesan bahwa ia adalah seorang yang setia kepada Sribaginda dan membela patihnya.

"Ah, yayi. Bahaya adalah keadaan yang sudah biasa dihadapi Kakang Narotama. Karena purba-wisesa sudah kuserahkan kepadamu, kakang Narotama, maka terserah bagaimana sekehendakmu saja."

"Terima kasih, gusti. Hamba mohon doa restu."

"Berangkatlah, kakang patih dan laksanakan dengan baik."

Narotama lalu mengundurkan diri keluar dari istana.

Dia tidak ingin membawa pasukan karena hal itu tentu akan menarik perhatian orang dan menghebohkan.

Dia masih tidak percaya sedikitpun bahwa Senopati Sindukerta hendak melakukan pemberontakan.

Dia mengenal baik kepribadian senopati tua itu.

Bahkan kalau diharuskan membuat perbandingan antara Senopati Sindukerta dan Pangeran Hendratama, dia akan lebih mempercayai senopati tua itu.

Tidak ada alasan kuat untuk mendorong Senopati Sindukerta untuk memberontak dan merebut singasana.

Sebaliknya, amat kuat alasannya bagi Pangeran Hendratama untuk merebut kedudukan raja.

Dia adalah putera mendiang Prabu Teguh Dharmawangsa, walaupun terlahir dari seorang selir, bahkan dia putera tertua, kakak dari Puteri Sekar Kedaton yang kini menjadi permaisuri Sang Prabu Erlangga.

Pangeran itu tentu merasa lebih berhak menjadi raja daripada Senopati Sindukerta yang hanya orang biasa, bukan keturunan raja.

Kunjungan Ki Patih Narotama disambut dengan sikap hormat oleh Senopati Sindukerta.

Senopati tua ini amat kagum kepada dua orang yang kini menjadi pucuk pimpinan Kerajaan Kahuripan, yaitu kepada Sang Prabu Erlangga dan Ki Patih Narotama.

Dia merasa kagum dan hormat sekali karena tahu betul betapa sakti mandraguna dan bijaksana kedua orang pemimpin besar ini.

Karena itu, kunjungan Ki Patih yang tidak terduga-duga itu segera disambutnya dengan penuh penghormatan.

Setelah saling memberi salam dan mempersilakan tamu agungnya duduk dalam ruangan tamu, berhadapan dengannya, Senopati Sindukerta lalu berkata dengan ramah.

"Selamat datang, Gusti Patih Narotama. Sungguh merupakan kehormatan besar sekali bagi kami bahwa paduka berkenan mengunjungi kami hari ini. Entah angin baik apakah yang bertiup dan membawa paduka datang kesini?"

Ki Patih Narotama merasa rikuh sekali mendengar ucapan yang demikian ramah dari Ki Sindukerta. Diapun bersikap tenang dan sopan menghadapi senopati tua itu.

"Paman Senopati, kedatangan saya ini mengemban tugas dari istana. Saya diutus Gusti Sinuwun, Sang Prabu Erlangga untuk menemui paman. Pertama-tama saya ingin bertanya kepada paman, apakah paman mempunyai seorang cucu bernama Nurseta yang tinggal di sini bersama paman?"

Diam-Diam Ki Sindukerta terkejut.

Bagaimana Ki Patih atau Sang Prabu dapat mengetahui bahwa cucunya Nurseta berada disitu?

Padahal semalam Nurseta telah gagal merampas Sang Megatantra dari tangan Pangeran Hendratama karena dia ketahuan dan mendapatkan perlawanan, dikeroyok banyak pengawal?

Seperti kilat memasuki pikirannya bahwa tentu Pangeran Hendratama yang melaporkan ke istana tentang penyerangan yang dilakukan Nurseta ke rumah pangeran itu.

"Benar, Gusti Patih. Memang cucu saya Nurseta tinggal dirumah kami."

Jawabnya jujur karena diapun merasa tidak perlu untuk menyembunyikan kenyataan ini, mengingat bahwa Nurseta tidak melakukan kesalahan apapun.

"Kuharap paman suka memanggil dia ke sini karena ada yang hendak kutanyakan padanya."

Kata pula Narotama dengan sikap yang masih sopan dan suaranya lembut.

Senopati Sindukerta masih bersikap tenang pula.

Andaikata telah diketahui bahwa malam tadi Nurseta mendatangi rumah dan membikin ribut di sana, itupun ada alasannya yang kuat dan cucunya itu tidak bermaksud jahat atau buruk.

Dia lalu membuka pintu ruangan dan memanggil seorang pelayan dan disuruhnya pelayan itu mengundang Nurseta ke ruangan itu.

Nurseta mendapat keterangan dari pelayan bahwa dia dipanggil kakeknya yang sedang bercakap-cakap dengan Ki Patih Narotama di ruangan tamu.

Diam diam dia merasa heran, lalu membereskan pakaiannya agar tampak sopan karena di sana ada seorang tamu agung, yaitu Ki Patih Narotama yang nama besarnya sudah dia dengar, bahkan dulu gurunya, Empu Dewamurti pernah menyatakan kekagumannya kepada Ki Patih Narotama dan Sang Prabu Erlangga sebagai dua orang muda yang sakti mandraguna dan sekarang menjadi patih dan raja di Kahuripan yang terkenal bijaksana.

Ketika dia memasuki ruangan tamu itu, Nurseta melihat seorang laki-laki masih muda, sekitar dua puluh delapan tahun usianya, duduk di atas kursi berhadapan dengan kakeknya yang bersikap sopan kepada tamunya itu.

Laki-laki itu bertubuh tinggi, berwajah tampan dan pakaiannya bersih dan bagus, akan tetapi tidak terlalu mewah.

Sepasang matanya mencorong penuh kewibawaan ketika memandang kepadanya.

Kalau orang ini Ki Patih Narotama, alangkah sederhananya bagi seorang patih besar yang terkenal, pikir Nurseta kagum.

Demi menjaga kesopanan, diapun bersikap seolah olah belum mengenal tamu itu dan menghampiri kakeknya, bertanya dengan halus.

"Eyang memanggil saya, apakah gerangan yang dapat saya lakukan untuk eyang?"

"Nurseta cucuku, kita mendapat kehormatan menerima kunjungan seorang tamu dan beliau ini adalah Gusti Patih Narotama."

Nurseta lalu bersembah simpuh di depan Ki Patih Narotama.

"Hampa Nurseta menghaturkan hormat kepada paduka, Gusti Patih."

Sejak tadi Narotama mengamati pemuda yang memasuki ruangan itu dengan sinar mata kagum.

Pemuda itu bertubuh sedang, kulitnya agak gelap, wajah dan sikapnya amat sederhana seperti seorang pemuda petani biasa, juga pakaiannya bersih namun sederhana.

Akan tetapi sepasang mata itu mempunyai sinar yang amat tajam dan dari sinar matanya saja Narotama dapat melihat bahwa pemuda itu memiliki kekuatan batin yang hebat, juga mulutnya terhias senyum ramah dan penuh pengertian.

Baru melihat sepintas saja sudah timbul perasaan suka dalam hati Narotama dan dia semakin ragu akan kebenaran cerita Pangeran Hendratama yang didengarnya dari Sang Prabu Erlangga.

Melihat pemuda itu memberi sembah sungkem, Ki Patih Narotama cepat berkata.

"Cukup, duduklah di kursi, Nurseta. Aku datang sebagai tamu dan andika adalah tuan rumah, tidak perlu menggunakan segala upacara yang membuat percakapan kita tidak leluasa. Duduklah di kursi itu!"

Narotama menunjuk kepada sebuah kursi kosong di dekat tempat duduk Ki Sindukerta.

"Duduklah, Nurseta. Gusti Patih sudah memberi perkenan."

Kata pula kakeknya. Nurseta lalu menyembah.

"Terima kasih, gusti patih."

Dia lalu bangkit dan duduk di atas kursi itu dengan sikap menunggu.

Di dalam hatinya dia merasa bahwa kedatangan Ki Patih Narotama ini tentu membawa urusan penting dan kalau dia tidak keliru sangka, mungkin sekali ada hubungannya dengan peristiwa tadi malam di rumah gedung Pangeran Hendratama.

Semenjak dia datang di kota raja, hanya peristiwa semalam itulah kiranya yang dapat menimbulkan urusan.

"Nurseta, aku mendengar bahwa andika adalah cucu Paman Senopati Sindukerta. Benarkah itu?"

Tanya sang patih.

"Benar, gusti patih. Eyang senopati adalah ayah dari ibu hamba"

"Cocok sekali kalau begitu. Sekarang sebuah pertanyaan lagi dan aku minta agar andika menjawab sejujurnya. Apakah keris pusaka Sang Megatantra ada padamu?"

Setelah mengeluarkan pertanyaan ini sepasang mata Narotama menatap tajam penuh selidik sehingga Nurseta merasa seolah-olah sepasang mata itu menembus dan menjenguk isi hatinya.

Akan tetapi dengan tenang dia menjawab.

"Tidak, gusti patih. Memang hamba pernah menemukan Sang Megatantra dan menaati perintah mendiang eyang guru, hamba hendak menghaturkan pusaka itu kepada Gusti Sinuwun yang berhak atas pusaka itu, akan tetapi dalam perjalanan hamba, Sang Megatantra dicuri orang."

K i Patih Narotama mengerutkan alisnya.

"Hemm, siapa yang mencuri Sang Megatantra?"

"Yang mencurinya adalah Pangeran Hendratama, gusti."

Ki Patih Narotama mengangguk-angguk, dalam hatinya merasa heran.

Pangeran Hendratama melaporkan kepada Sang Prabu Erlangga bahwa dia menemukan Sang Megatantra akan tetapi keris pusaka itu dicuri Nurseta.

Sebaliknya Nurseta mengaku bahwa dialah penemunya dan pusaka itu dicuri Pangeran Hendratama!

"Nurseta, siapa gurumu?"

"Guru hamba mendiang Eyang Empu Dewamurti."

"Eyang Dewamurti? Mendiang? Jadi..... beliau telah wafat?"

Ki Patih Narotama bertanya. Dia mengenal sang empu sebagai seorang tokoh tua yang selain sakti mandraguna, juga setia kepada Mataram dan berbudi luhur.

"Benar, gusti. Eyang guru dikeroyok oleh para datuk dari Wengker, Wura wuri, dan Kerajaan Siluman Laut Kidul. Para pengeroyok dapat dikalahkan dan melarikan diri, akan tetapi eyang guru terluka parah dan meninggal dunia."

Kembali Narotama mengangguk-angguk.

Pemuda sederhana ini murid Sang Empu Dewamurti, menurut perasaan hatinya pemuda ini lebih dapat dipercaya daripada Pangeran Hendratama!

Akan tetapi dia tidak berani mendahului keputusan Sang Prabu Erlangga, maka dia lalu berkata kepada Senopati Sindukerta.

"Paman senopati, seperti saya katakan tadi, kedatangan saya ini diutus Sang Prabu Erlangga. Saya ditugaskan untuk membawa paman dan Nurseta menghadap sang prabu sekarang juga."

Nurseta cepat berkata.

"Maaf, gusti patih! Kalau penangkapan ini ada hubungannya dengan penyerangan ke rumah Pangeran Hendratama, maka hambalah yang bertanggung jawab sepenuhnya. Hamba pelaku tunggalnya dan eyang senopati sama sekali tidak tersangkut. Tangkaplah hamba, hamba tidak akan melawan. Akan tetapi kalau paduka hendak menangkap eyang, maaf, terpaksa hamba mencegah paduka!"

Setelah berkata demikian, Nurseta bangkit berdiri dan menentang pandang mata Ki Patih Narotama dengan sepasang mata yang mencorong.

Bibirnya tersenyum.

Pemuda ini benar-benar memiliki watak ksatrya, berani menentangnya untuk membela eyangnya yang memang tidak berdosa.

Sikap yang mengagumkan dan gagah perkasa sehingga membuat dia ingin sekali mengukur sampai di mana kesaktian pemuda ini yang menjadi murid Sang Empu Dewamurti.

"Nurseta, sambutlah ini!"

Ki Patih Narotama juga bangkit berdiri dan tiba tiba tangan kanannya didorongkan ke arah pemuda itu.

Dia mempergunakan pukulan jarah jauh dengan Aji Hasta Dibya yang mengandung tenaga sakti yang amat kuat.

Nurseta maklum akan hebatnya serangan jarak jauh itu, maka diapun cepat mengerahkan tenaga saktinya, menyalurkan ke arah kedua tangannya yang didorongkan ke depan untuk menyambut serangan ki patih itu.

"Syuuuuttt ..... blaarrr ....."

Hebat bukan main pertemuan dua tenaga sakti itu.

Dahsyat dan menggetarkan seluruh ruangan.

Nurseta terdorong mundur satu depa.

Narotama memandang kagum dan dia mengangguk-angguk.

Dia sendiri merasa dirinya terguncang keras ketika tenaga saktinya bertemu dengan tenaga Nurseta.

Walaupun pemuda itu terdorong mundur satu depa, namun kedua kakinya tidak pernah terangkat dari lantai, hanya tergeser ke belakang dan meninggalkan bekas pijakan kaki yang dalam dan panjang pada lantai?

Hal ini membuktikan betapa kokoh pasangan kuda-kuda Nurseta, dan dalam hal tenaga (Lanjut ke

Jilid 22) Keris Pusaka Sang Megatantra (seri ke 01 -Serial Keris Pusaka Sang Megatantra) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo

Jilid 22 sakti, pemuda itu hanya kalah setingkat dibandingkan tenaganya.

"Nurseta, jangan menentang perintah Gusti Sinuwun! Aku dipanggil dan harus menghadap. Hentikan perlawananmu!"

Bentak Senopati Sindukerta.

"Maafkan hamba, gusti patih!"

Kata Nurseta sambil memberi hormat dengan sembah kepada Narotama. Narotama tersenyum.

"Nurseta, engkau tidak mengecewakan menjadi murid mendiang eyang Dewamurti. Marilah paman senopati dan engkau, Nurseta, kalian ikuti denganku menghadap gusti sinuwun."

Setelah berganti pakaian dan berpamit kepada keluarganya, Senopati Sindukerta dan Nurseta berangkat, ikut Ki Patih Narotama ke istana.

Puterl Mandari tentu saja ikut panik mendengar cerita Pangeran Hendratama yang terancam oleh Nurseta, cucu Senopati Sindukerta.

Ia harus cepat membantu Pangeran Hendratama yang menjadi sekutunya.

Setelah memperhitungkan dan mengatur siasat, selir yang cantik dan cerdik ini segera berkunjung kepada madunya, yaitu Permaisuri Pertama yang masih terhitung adik tiri dari Pangeran Hendratama, sama-sama anak dari mendiang Sang Prabu Teguh Dharmawangsa.

Sang permaisuri yang sebetulnya diam diam merasa tidak suka kepada Mandari, menerimanya dengan sikap dingin.

Di dalam hati permaisuri ini, ada perasaan curiga dan tidak percaya kepada Mandari, walaupun perasaan ini disimpannya saja di dalam hati karena iapun memaklumi bahwa suaminya, Sang Prabu Erlangga, amat sayang kepada selir yang cantik menggairahkan ini.

"Eh, diajeng Mandari, apa yang membawa andika berkunjung sepagi ini?"

Sang permaisuri menyambut dengan senyum sambil memberi isyarat kepada biyung emban (inang pengasuh) untuk membawa Pangeran Samarawijaya yang kini berusia kurang lebih tiga tahun itu masuk ke dalam.

Hati permaisuri ini masih tetap tidak merasa tenang kalau puteranya berdekatan dengan selir suaminya ini.

Mandari tersenyum manis.

"Ayunda permaisuri, saya datang membawa kabar yang amat mengejutkan dan amat penting untuk paduka ketahui."

Karena merasa dirinya juga puteri raja, maka Mandari tidak mau menyebut permaisuri itu dengan sebutan gusti seperti para selir lainnya dan menyebut ayunda atau kakang-mbok.

Sang permaisuri mengerutkah alisnya, bersikap waspada karena memang dalam hatinya sudah mempunyai perasaan curiga dan tidak percaya.

"Kabar apakah itu yang begitu penting dan mengejutkan?"

Tanyanya tenang.

"Apakah paduka sudah mendengar tentang peristiwa kemarin malam yang menimpa Rakanda Pangeran Hendratama dan hampir saja merenggut nyawanya?"

Sekali ini permaisuri itu benar-benar terkejut.

Pangeran Hendratama adalah kakaknya, seayah berlainan ibu.

Kalau ia beribu permaisuri dan menjadi puteri mahkota, Pangeran Hendratama lahir lebih dulu dari selir ayahnya.

Maka, mendengar kakak tirinya terancam bahaya ia terkejut sekali.

"Apa yang terjadi dengan kakanda Pangeran Hendratama?"

"Ah, jadi paduka benar-benar belum mendengarnya? Rakanda Pangeran Hendratama nyaris tewas kemarin malam, gedungnya diserbu seorang yang bernama Nurseta."

"Siapa itu Nurseta?"

"Nurseta itu cucu Senopati Sindukerta yang dulu pernah memberontak dan dicopot kedudukannya oleh mendiang Ramanda Prabu Teguh Dharmawangsa, akan tetapi telah diangkat kembali menjadi senopati oleh Gusti Sinuwun. Agaknya Senopati Sindukerta yang mendalangi usaha pembunuhan itu karena dia rupanya hendak pemberontak lagi, didukung oleh cucunya yang kabarnya sakti mandraguna."

"Akan tetapi mengapa Paman Senopati Sindukerta berusaha membunuh Rakanda Pangeran Hendratama?"

"Begini ceritanya, ayunda. Semula Rakanda pangeran menemukan keris pusaka Megatantra dan dia hendak menyerahkan keris pusaka keturunan Mataram itu kepada Kanjeng Sinuwun. Akan tetapi dalam perjalanan ke sini, pusaka Megatantra itu dicuri oleh Nurseta. Karena keris pusaka itu mengandung wahyu mahkota, agaknya Senopati Sindukerta hendak mempergunakannya untuk mengangkat diri menjadi raja dan memberontak kepada Kanjeng Sinuwun. Dan oleh karena rahasia keris pusaka itu, yang dicuri oleh Nurseta, diketahui oleh Rakanda Pangeran Hendratama, maka Nurseta berusaha untuk membunuhnya! Kalau Nurseta dan Senopati Sindukerta tidak cepat ditangkap dan dihukum, keselamatan Rakanda Pangeran Hendratama terancam, juga Kerajaan Kahuripan terancam pemberontakan."

"Wah, kalau begitu berbahaya sekali!"

Sang permaisuri berseru dengan wajah khawatir.

"Memang amat berbahaya, ayunda. Akan tetapi saya khawatir Sang Prabu tidak akan mengambil tindakan keras karena agaknya beliau percaya kepada senopati tua yang pandai bermuka manis dan menjilat itu. Karena saya khawatir sekali, maka pagi ini saya menghadap agar dapat berusaha supaya Nurseta dan Senopati Sindukerta ditangkap dan dihukum mati!"

Sang permaisuri mengangguk-angguk.

"Aku akan segera mengingatkan Sang Prabu!"

Setelah Mandari pamit dan mundur, Sang Permaisuri segera menemui Sang Prabu Ertangga.

Dengan wajah gelisah Sang Permaisuri lalu mohon kepada suaminya agar melindungi Pangeran Hendratama dan menghukum Nurseta dan Senopati Sindukerta yang mengancam keselamatan Pangeran Hendratama dan mempunyai niat hendak memberontak.

Sang Prabu Erlangga bersikap tenang dan tersenyum mendengar permintaan permaisurinya.

"Jangan khawatir, yayi. Aku sedang memanggil Paman Senopati Sindukerta dan cucunya yang bernama Nurseta itu. Akan kuselidiki dengan seksama dan kalau memang benar tuduhan Itu, pasti mereka akan menerima hukuman berat."

"Karena urusan ini menyangkut diri Rakanda Pangeran Hendratama maka dalam persidangan nanti hamba mohon hadir, Rakanda Prabu."

Permaisuri itu menuntut.

Sang Prabu Erlangga menyanggupi.

Dia menyadari bahwa sesungguhnya, mahkota kerajaan Kahuripan yang menjadi keturunan kerajaan Mataram adalah hak permaisurinya ini sebagai putera pertama dari permaisuri Sang Prabu Teguh Dharmawangsa.

Hanya karena dia menjadi suami sang puteri itu, maka kini dia diangkat menjadi raja Kahuripan.

Karena itu, permintaan yang pantas dari permaisurinya ini tentu saja tak dapat ditolaknya.

Pada keesokan harinya, Ki Patih Narotama menghadapkan Senopati Sindukerta dan Nurseta ke persidangan istana.

Persidangan itu dihadiri oleh para pejabat tinggi dan hal ini memang disengaja oleh Sang Prabu Erlangga.

Dia menghendaki agar persidangan itu dilakukan secara terbuka dan seadil-adilnya, maka dia memberi kesemapatan kepada para senapati dan pamong-praja yang berkedudukan tinggi untuk turut menyaksikan.

Tentu saja Sang Permaisuri juga hadir, ditemani oleh Puteri Mandari.

Permaisuri ke dua, yaitu puteri dari Sriwijaya dan selir pertama Dyah Untari, dan para selir lain, tidak menghadiri karena selain mereka tidak diperintahkan hadir, juga urusan itu tidak ada hubungannya dengan mereka.

Setelah memasuki persidangan, Senopati Sindukerto dan Nurseta duduk bersila di atas lantai dan menghaturkan sembah, ditonton oleh semua pejabat tinggi yang hadir.

Sepasang mata Sang Prabu Erlangga yang tajam mencorong itu ditujukan kepada Nurseta dan seperti juga yang dirasakan Ki Patih Narotama pada pertemuan pertama, hati Sang Prabu Erlangga tertarik dan timbul rasa suka kepada pemuda sederhana yang tampan itu.

Di antara para pejabat tinggi yang hadir di persidangan itu, terdapat Pangeran Hendratama dan tiga orang selirnya yang cantik dan muda belia, yaitu Sukarti, Kenangasari, dan Widarti.

Ketika melihat Nurseta menghadap, wajah Pangeran Hendratama berubah merah sekali dan sinar matanya berapi-api.

Juga Sukarti dan Kenangasari memandang dengan alis berkerut dan sinar mata niembenci.

Hanya Widarti yang menundukkan mukanya setelah memandang kepada Nurseta dan beberapa detik bertemu pandang dengan pemuda itu.

Jantung dalam dada selir termuda dari Pangeran Hendratama ini berdebar dan la merasa bersalah terhadap Nurseta dan malu.

Tidak seperti para ponggawa yang duduk bersila di atas lantai, Pangeran Hendratama duduk di kursi.

Bagaimanapun juga, dia adalah kakak tiri Sang Permaisuri, maka tentu saja mendapat penghargaan sebagai saudara tua.

Setelah menerima penghormatan semua yang hadir, Ki Patih Narotama memberi laporan.

"Gusti Sinuwun, hamba telah memanggil dan menghadapkan Paman Senopati Sindukerta dan cucunya seperti yang paduka perintahkan."

Sang Prabu Erlangga mengangguk sambil tersenyum kepada patihnya.

"Terima kasih, kakang Patih Narotama."

Lalu Sribaginda memandang kepada Senopati Sindukerta.

"Paman Senopati Sindukerta, kami minta andika memperkenalkan cucu andika ini."

Senopati Sindukerta menghaturkan sembah lalu berkata.

"Gusti Sinuwun, pemuda ini adalah cucu hamba bernama Nurseta. Dia baru beberapa hari datang berkunjung. Cucu hamba ini adalah anak dari puteri hamba Endang Sawitri yang pergi meninggalkan rumah hamba sejak dua puluh tahun yang lalu dan sampai sekarang tidak pernah pulang."

Sang Prabu Erlangga kini memandang kepada Nurseta.

"He, orang muda, benarkah namamu Nurseta?"

Nurseta menyembah dan menjawab, suaranya tenang dan tegas, sedikitpun tidak tampak takut atau gugup.

"Betul, kanjeng gusti sinuwun!"

"Nurseta, jawablah dengan sejujurnya. Benarkah pada tiga hari yang lalu, malam-malam engkau berkunjung ke rumah Kakang Pangeran Hendratama secara menggelap?"

Kembali Nurseta menjawab dengan mantap.

"Sesungguhnya benar begitu, gusti!"

Semua orang tertegun mendengar pengakuan yang mantap itu dan suasana mulai tegang. Bukan main beraninya anak ini, pikir para pejabat tinggi yang sudah tua.

"Dan engkau datang dengan niat untuk membunuh Kakang Pangeran Hendratama?"

Sekali ini Nurseta menyembah lagi dan menjawab lantang.

"Itu tidak benar, gusti!"

"Hemm, lalu mau apa engkau datang ke rumah orang malam-malam dengan cara menggelap kalau tidak berniat membunuh Kakang Pangeran Hendratama?"

"Hamba berkunjung malam-malam kesana dengan niat untuk merampas kembali keris pusaka Megatantra yang hamba temukan kemudian dicuri oleh Pangeran Hendratama, gusti."

"Bohong besar!"

Tiba-tiba Pangeran Hendratama berteriak.

"Dia malah yang mencuri keris pusaka Megatantra dari hamba, Yayi Prabu. Tiga orang selir hamba ini yang menjadi saksi. Betul tidak, Sukarti, Kenangasari, dan Widarti?"

Sukarti dan Kenangsari cepat menjawab.

"Betul sekali, hamba menjadi saksinya bahwa pusaka itu dicuri oleh Nurseta!"

Sementara itu Widarti hanya ikut menyembah, akan tetapi tidak berkata apa-apa dan hal ini tidak kentara karena dua orang rekannya sudah menjawab berbareng.

"Nurseta, maling kecil kau! Kembalikan pusakaku itu!"

Teriak Pangeran Hendratama. Sang Prabu Erlangga mengerutkan alisnya dan memandang Pangeran Hendratama lalu berkata, suaranya tegas berwibawa.

"Kakang Pangeran! Ini merupakan persidangan di istana! Tak seorangpun boleh membuka suara sebelum ditanya! Mengertikah andika?"

Pangeran Hendratama membungkuk dan duduk tegak kembali di kursinya.

"Mengerti, Yayi Prabu. Maaf!"

Sang Prabu Erlangga memandang kembali kepada Nurseta yang masih duduk bersila dengan tenang dan menundukkan muka dengan tertib dan sopan.

"Nurseta, ceritakan apa yang terjadi dengan keris pusaka Megatantra."

Nurseta menceritakan dengan suara tenang dan tegas, didengarkan oleh semua orang dengan penuh perhatian.

"Gusti Sinuwun, penemuan keris itu terjadi kurang lebih enam tahun yang lalu. Ketika hamba mencangkul kebun di dusun Karang Tirta, dekat Pantai Laut Kidul, hamba menemukan sebatang keris dalam tanah. Hamba lalu membawa keris itu kepada Eyang Empu Dewamurti, seorang pertapa yang hamba kenal di pantai. Beliau yang menerangkan bahwa keris itu adalah Pusaka Sang Megatantra buatan Sang Empu Bramakendali di jaman Medang Kamulan, pusaka yang kemudian menjadi milik Kerajaan Mataram dan hilang puluhan tahun lalu."

Pada saat itu, dua orang yang pakaiannya paling sederhana di antara para ponggawa dan duduknya di sudut, saling berbisik.

Mereka adalah dua orang ponokawan (hamba) yang dahulu selalu mengikuti Sang Prabu Erlangga dan Ki Patih Narotama sebelum keduanya menjadi raja dan patih, ketika masih berkelana dari Bali-dwipa ke Jawa-dwipa.

Dua orang hamba pengasuh yang amat setia dan amat dipercaya oleh sang prabu walaupun mereka tetap menjadi pamong pribadi sang raja.

Mereka bernama Bancak, berusia kurang lebih lima puluh tahun, bertubuh tinggi kecil, kurus dengan mata sipit, dan yang kedua, bernama Doyok, usianya lebih muda sedikit, bertubuh gendut pendek dengan suara besar parau seperti menangis, berbibir tebal.

Karena dua orang ini amat setia, juga dalam kesederhanaan dan kebodohan mereka seperti orang-orang dusun terkandung kebijaksanaan dan kejujuran, maka Sang Prabu Erlangga amat sayang dan percaya kepada mereka.

Ketika Nurseta bercerita tentang keris pusaka Sang Megatantra, keduanya saling berbisik.

Hal ini tampak oleh Sang Prabu Erlangga.

Dia mengangkat tangan memberi isyarat kepada Nurseta untuk menunda ceritanya lalu berkata kepada dua orang hamba setia itu.

"Paman Bancak dan Doyok, agaknya andika berdua hendak mengatakan sesuatu! Nah, katakanlah sekarang juga!"

Bancak dan Doyok saling sikut seperti saling menyalahkan dan saling minta agar rekannya bicara. Akhirnya Doyok yang lebih muda menjawab, suaranya seperti katak buduk.

"Ampunkan hamba berdua, gusti. Hamba berdua ingin mengatakan bahwa Sang Empu Dewamurti dapat dihadirkan sebagai saksi, maka akan terbukti siapa benar siapa salah karena hamba berdua sudah mendengar bahwa Sang Empu Dewamurti adalah seorang pertapa yang bijaksana dan tidak mungkin berdusta."

Semua orang mengangguk-angguk mendengar usul yang memang tepat sekali itu. Juga Sang Prabu Erlangga mengangguk-angguk, lalu berkata kepada Nurseta.

"Nurseta, dapatkah engkau mengundang Eyang Empu Dewamurti sebagai saksi akan kebenaran keteranganmu tadi?"

"Ampun, gusti. Lebih setahun yang lalu, Eyang Empu Oewamurti didatangi Resi Bajrasakti dari Wengker, Ratu Mayang Gupita dari Kerajaan Siluman Laut Kidul, dan tiga orang Kalamuka dari Wura-wuri yang mendengar tentang Sang Megatantra dan bermaksud merebutnya mengeroyok Eyang Empu sehingga eyang yang sudah sepuh itu terluka dan meninggal dunia."

Sang Prabu Erlangga menghela napas panjang. Di mana-mana, orang dari kerajaan-kerajaan kecil itu memang selalu bertindak sesat dan jahat.

"Kalau begitu, lanjutkan ceritamu Nurseta."

"Hamba diambil murid mendiang Eyang Empu Dewamurti sampai lima tahun lamanya. Pada saat beliau akan wafat, beliau memesan kepada hamba agar hamba membawa pusaka Sang Megatantra keKahuripan dan menyerahkan kepada paduka yang berhak sebagai pemiliknya. Dalam perjalanan menuju ke sini, hamba bertemu dengan Pangeran Hendratama dan tiga orang selirnya yang saat ini hadir di sini. Hamba diterima dengan ramah dan disambut dengan pesta. Karena percaya, hamba menceritakan tentang Sang Megatantra. Pangeran Hendratama melihat keris pusaka itu dan berjanji akan membuatkan gagang dan warangka yang sesuai. Hamba percaya dan menyerahkannya. Akan tetapi ketika keris itu dikembalikan kepada hamba dengan gagang dan warangka baru, dia lalu pergi dengan tergesa-gesa. Setelah dia pergi, baru hamba ketahui bahwa keris pusaka Megatantra yang dikembalikan kepada hamba itu palsu. Yang aseli tentu saja sudah dibawa lari."

"Bohong .....!"

Kata Pangeran Hendratama.

"Kakang Pangeran!"

Sang Prabu Erlangga membentak dan pangeran itu diam, tak berani melanjutkan kata-katanya.

"Belum tiba giliran andika untuk bicara!"

Sang Prabu Erlangga lalu berkata kepada Nurseta.

"Nurseta, lanjutkan ceritamu."

"Sendika (menaati), gusti. Untuk mencari keterangan tentang orang tua hamba, hamba mendapatkan jejak yang membawa hamba mengunjungi Eyang Senopati Sindukerta. Sungguh tidak hamba sangka sebelumnya bahwa beliau ini ternyata adalah eyang hamba sendiril Pertemuan yang membahagiakan hati hamba. Dari eyang hamba mendengar bahwa Pangeran Hendratama telah pindah ke kota raja. Karena itu, kemarin dulu malam hamba mencoba untuk memasuki gedungnya untuk merampas kembali pusaka Sang Megatantra yang akan hamba haturkan kepada paduka sesuai pesan mendiang Eyang Empu Dewamurti. Akan tetapi hamba tidak berhasil karena Pangeran Hendratama mempunyai banyak jagoan yang menjaga rumahnya. Demikianlah, hamba kembali ke rumah Eyang Senopati dan hari ini hamba dipanggil menghadap paduka oleh Gusti Patih Narotama."

Sang Prabu Erlangga mengangguk-angguk.

Tentu saja sebagai seorang raja yang bijaksana dia tidak mau menerima dan percaya begitu saja akan keterangan Nurseta itu.

Dia lalu memandang Senopati Sindukerta.

"Paman senopati, benarkah keterangan yang diberikan cucumu Nurseta tadi?"

"Hamba berani bersumpah bahwa apa yang dia haturkan itu semua benar, gusti."

"Akan tetapi kami mendengar bahwa engkau, didukung cucumu ini, ingin memberontak dan merebut tahta kerajaan kami, mengandalkan wahyu mahkota dari Sang Megatantra. Benarkah itu?"

Sepasang mata Senopati Sindukerta terbelalak dan dia menggeleng kepala kuat-kuat.

"Ampun beribu ampun, gusti! Tidak sekali-kali hamba berani memberontak terhadap paduka! Keris pusaka Sang Megatantra itu tidak ada pada hamba, juga tidak dibawa cucu hamba Nurseta, akan tetapi dicuri orang seperti yang diceritakan cucu hamba tadi. Hamba, berani bersumpah, demi para dewata yang agung, hamba berdua cucu hamba hanya bicara sebenarnya, gusti."

Kini Sang Prabu Erlangga memandang kepada Pangeran Hendratama, lalu berkata.

"Nah, Kakang Pangeran Hendratama, sekarang tiba giliran andika untuk bicara. Keteranganmu tentang Sang Megatantra sungguh bertolak belakang dengan keterangan Nurseta dan Paman Senopati Sindukerta. Andika menceritakan bahwa Nurseta yang mencuri Sang Megatantra dari tanganmu, sebaliknya Nurseta menceritakan bahwa andika yang mencuri Sang Megatantra dari tangannya, Nah, bagaimana tanggapanmu tentang cerita mereka itu?"

Pangeran Hendratama bangkit berdiri dan melotot memandang ke arah Nurseta dan kakeknya, mukanya merah padam dan dia membentak marah.

"Senopati Sindukerta, dan engkau Nurseta Jangan memutar-balikkan kenyataan Mana mungkin aku, seorang pangeran, mencuri? Engkau adalah bocah dusun, tidak heran kalau engkau mencuri pusaka! Dan aku adalah kakang ipar Sang Prabu, mana mungkin aku menyembunyikan pusaka Sang Megatantra? Aku hendak menyerahkan kepada Sang Prabu, akan tetapi kaucuri. Kalau engkau, Ki Sindukerta, tentu mungkin saja hendak memberontak dan ingin menjadi raja, mengandalkan pusaka Sang Megatantra yang berada di tanganmu dan mengandalkan kesaktian cucumu ini! Pantas saja engkau menyuruh cucumu ini malam-malam untuk mencoba membunuhku karena hanya akulah yang mengetahui akan rahasiamu. Betul tidak? Mengaku sajalah, Sindukerta dan Nurseta, daripada kalian disiksa -agar mengaku!"

"Cukup, Kakang Pangeran. Aku yang bertanya kepada andika dan belum andika jawab. Tidak perlu kakang marah-marah. Jawablah pertanyaanku, bagaimana pendapat atau tanggapanmu akan cerita Nurseta dan Paman Sindukerta tadi?"

"Mereka jelas bohong, Yayi Prabu! Mereka sengaja memutar balikkan fakta. Karena itu, keputusannya berada ditangan paduka, ataukah paduka lebih percaya kepada bocah dusun dan kakeknya yang dulu pernah dipecat mendiang Ramanda Prabu Teguh Dharmawangsa!"

Sang permaisuri yang duduk di sebelah kiri Sang Prabu Erlangga berkata lirih kepada suaminya.

"Sungguh aneh kalau Rakanda Prabu tidak percaya kepada kakak hamba Pangeran Hendratama yang mempunyai tiga orang saksi dan lebih percaya kepada dua orang ini."

Sang Prabu Erlangga menjadi serba salah.

Membenarkan Pangeran Hendratama dia meragu karena dalam lubuk hatinya, dia percaya bahwa Nurseta dan Senopati Sindukerta tidak berbohong.

Akan tetapi untuk membenarkan mereka berarti dia menyalahkan Pangeran Hendratama dan hal ini akan membuat permaisurinya tak senang dan marah.

Dengan alis berkerut Sang Prabu Erlangga lalu berkata lantang, didengarkan semua orang dengan penuh perhatian dan hati tegang.

"Oleh karena kedua pihak memberi keterangan yang saling bertentangan, dan kami belum melihat bukti siapa yang benar dan siapa salah, maka kami mengambil keputusan begini. Untuk sementara Paman Senopati Sindukerta dan cucunya, Nurseta, ditahan dalam penjara dan kami menugaskan Kakang Patih Narotama untuk melakukan penyelidikan sehingga mendapatkan bukti siapa yang benar dan siapa yang salah diantara kedua pihak!"

Pangeran Hendratama dan beberapa orang pamong yang menjadi sekutunya, merasa kecewa dengan keputusan yang hanya merupakan penundaan keputusan yang pasti itu.

Juga sang permaisuri mengerutkan alisnya, akan tetapi ia diam saja karena bagaimanapun juga, keputusan Sang Prabu Erlangga itu condong menguntungkan Pangeran Hendratama dan merugikan Senopati Sindukerta dan cucunya yang ditahan dalam penjara.

Akan tetapi para pejabat tinggi lainnya mengangguk-angguk dan menganggap keputusan itu bijaksana dan adil.

Senopati Sindukerta dan Nurseta lalu diiringkan empat orang pengawal, dibawa ke penjara istana yang berada di belakang bangunan istana.

Dengan hati kesal Sang Prabu Erlangga lalu membubarkan persidangan.

Ki Patih Narotama pulang ke kepatihan dengan hati berat.

Dia hampir merasa yakin bahwa Nurseta dan Senopati Sindukerta tidak berbohong.

Pantasnya Pangeran Hendratama yang berbohong.

Akan tetapi menyelidiki dan mencari kesalahan pangeran itu, hatinya merasa tidak enak terhadap Permaisuri Pertama yang tentu saja berpihak kepada pangeran kakaknya itu.

Pangeran Hendratama dan tiga orang selirnya juga pulang.

Hatinya risau karena ternyata kenyataan dalam persidangan itu tidak seperti yang dia harapkan.

Nurseta dan Senopati Sindukerta tidak dijatuhi hukuman berat, melainkan hanya ditahan untuk sementara dan Ki Patih Narotama ditugaskan untuk menyelidiki siapa yang benar dan siap yang salah.

Tentu saja hatinya risau.

Kalau sampai dapat dibuktikan bahwa dia mencuri Sang Megatantra, pasti dia akan mendapatkan hukuman berat dari adik tirinya, Sang Permaisuri tidak akan mampu menyelamatkannya.

Pula, dia tahu benar bahwa sebetulnya tidak ada hubungan dekat antara dia dan Sang Permaisuri, bahkan di antara mereka ada rasa tidak suka yang timbal balik.

Dia merasa iri dan tidak suka kepada adik tirinya itu dan tentu saja di lain pihak, Sang Permaisuri juga tidak suka kepadanya.

Kalau Sang Permaisuri membelanya dalam persidangan, hal itu adalah karena bagaimanapun juga dia adalah kakaknya dan kalau kakaknya dinyatakan bersalah, tentu adiknya akan ikut merasa malu.

Sementara itu, setelah persidangan usai, Sang Prabu Erlangga lalu mengeram diri dalam sanggar pamujan (ruangan berdoa) untuk duduk bersamadhi dan mohon petunjuk kepada Sang Hyang Widhi dan mohon agar kerajaan Kahuripan terbebas dari ancaman bahaya seperti yang pernah diramalkan oleh Empu Bharada.

Narotama memikul tugas yang cukup berat.

Untuk menyelidiki kebenaran keterangan Nurseta, dia harus pergi ke dusun Karang Tirta di mana pemuda itu dahulu tinggal dan menemukan Sang Megatantra, juga dia akan menyelidiki tempat yang dulu dijadikan tempat pertapaan mendiang Empu Dewamurti.

Narotama tahu bahwa Empu Dewamurti adalah kakak seperguruan Empu Bharada yang amat dihormati Sang Prabu Erlangga dan dia sendiri.

Kalau Nurseta merupakan murid Sang Empu Dewamurti, tentu dia telah menerima gemblengan batin dari gurunya yang arif dan bijaksana itu.

Maka dia lalu berpamit kepada kedua isterinya, Listyarini dan Lasmini, bahwa kepergiannya sekali ini akan makan waktu yang agak lama, mungkin sampai sebulan baru dia akan kembali.

Setelah Narotama pergi, Lasmini merasa kesepian.

Puteri Kerajaan Parang Siluman ini adalah seorang yang telah terjatuh ke dalam kekuasaan nafsu-nafsunya.

Cintanya terhadap suaminya, Ki Patih Narotama, hanyalah cinta yang didasari nafsu berahi.

Karena itu, baru ditinggal pergi Narotama selama beberapa hari saja.

ia sudah gelisah dan kesepian sekali, haus akan belaian suaminya.

Pada saat dan keadaan seperti itu, mulailah ia mencurahkan perhatiannya kepada tukang kebunnya, yang bukan lain adalah Linggajaya pemuda tampan, ganteng dan sakti, yang juga diam-diam menjadi sekutunya karena pemuda itu adalah utusan Kerajaan Wengker.

Pada suatu senja yang tidak cerah karena langit mengandung awan hitam biang hujan, terkadang tampak sinar berkilat dalam mendung tebal disusul bunyi Guntur bergemuruh, Lasmini memasuki taman bunga kepatihan yang luas dan penuh tanaman beraneka ragam kembang itu.

Dalam kesepiannya, ia teringat akan Linggajaya dan ingin melihat apa yang dilakukan pemuda yang menyamar sebagai tukang kebun itu.

Ketika ia tiba di padang rumput dekat pondok kecil di tengah taman, ia melihat pemuda itu sedang berlatih silat.

Ia berhenti melangkah dan menonton dari jauh.

Linggajaya bertelanjang dada sehingga tampak tubuhnya yang tegap, dadanya yang bidang dan tampak penuh dengan tenaga.

Kedua tangan yang bergerak-gerak tangkas itu menimbulkan angin yang mengeluarkan bunyi bersiutan.

Alangkah gagahnya, alangkah gantengnya, pikir Lasmini dan timbul kegembiraannya bercampur gairahnya.

Ia lalu melompat dan berlari menghampiri.

"Mari kita latihan!"

Katanya dan langsung saja ia menyerang pemuda itu.

Linggajaya girang melihat munculnya wanita cantik ini dan dia cepat menangkis lalu membalas.

Mereka segera saling serang dengan cepat dan kuat.

Tubuh mereka berkelebatan.

Setelah menjadi selir Narotama, Lasmini memperoleh kemajuan banyak sekali dalam ilmu silat, juga tenaga saktinya bertambah setelah mendapat petunjuk Narotama bagaimana untuk menghimpun tenaga sakti.

Namun, karena kedua orang itu bertanding hanya untuk latihan, seperti pasangan yang menari-nari, tentu saja mereka membatasi tenaga dan menjaga agar tidak saling melukai.

Karena sering lengan mereka beradu dan melihat betapa dekatnya wanita cantik itu sehingga dia dapat mencium keharuman melati yang melekat di tubuh Lasmini, Linggajaya seperti dibakar gairah nafsunya sendiri.

Demikian pula Lasmini.

Tiba-tiba Lasmini kehilangan bayangan Linggajaya yang menggunakan Aji Panglimutan, yang membuat tubuhnya sejenak tidak tampak.

Lasmini tahu ilmu apa yang dipergunakan Linggajaya.

Kalau ia mau, dengan pengerahan tenaga saktinya mengeluarkan teriakan melengking, ia akan mampu membuyarkan Aji Panglimutan itu.

Akan tetapi ia tidak mau melakukannya, khawatir kalau-kalau teriakan melengking itu akan menarik perhatian orang.

Pula, ia ingin melihat apa yang akan dilakukan pemuda yang menarik hatinya itu.

Tiba-tiba dua lengan yang kuat memeluknya dari belakang.

Hidung dan bibir yang hangat menempel pada lehernya yang membuat ia menggelijang.

"Ihh, sembrono....., jangan di sini..... lepaskan!"

Mulutnya berkata demikian akan tetapi ia tidak meronta agar lepas dari pelukan hangat itu.

"Lalu di mana, sayang?"

Tanya Linggajaya berbisik di dekat telinga Lasmini.

".....di kamarku..... malam ini..... lewat jendela.....I"

Kata Lasmini dengan hati menggetar karena gairah berahi.

Mendengar jawaban ini, Linggajaya girang sekali dan dia melepaskan pelukannya dari belakang.

Lasmini lalu berlari lari meninggalkannya.

Linggajaya tertawa.

Dia tahu bahwa sudah lima hari lamanya Narotama meninggalkan kepatihan.

Saat seperti yang dijanjikan Lasmini tadilah yang dinanti-nantinya, yang membuat dia bertahan menjadi tukang kebun di kepatihan itu.

Kalau tidak ada harapan itu, dia tidak akan sudi menyamar sebagai tukang kebun!

Lasmini mandi dan hatinya bergetar.

Ia masih perawan ketika menjadi isteri Narotama dan sejak itu, ia tidak pernah berdekatan dengan pria lain.

Sekarang inilah pertama kalinya ia hendak menyeleweng dengan laki-laki lain, maka hatinya penuh ketegangan, juga kegembiraan yang membuat jantungnya berdebar-debar.

Seperti sudah dapat diduga sejak sore, malam itu gelap dan mendung menjadi semakin tebal.

Suasana di gedung kepatihan sepi sekali.

Semua penghuni rumah itu merasa lebih senang tinggal di dalam kamar masing-masing.

Apalagi Ki Patih Narotama tidak berada di rumah.

Bahkan para perajurit pengawal yang berjaga di pintu gerbang kepatihan merasa lebih aman tinggal di gardu penjagaan.

Lasmini sejak tadi sudah berada dalam kamarnya.

Pintu kamarnya sudah ditutup dan dipalangi dari dalam, akan tetapi daun jendela kamarnya hanya dirapatkan begitu saja, tidak dipalang.

Dan di luar kamar duduk seorang wanita bertubuh tinggi besar berwajah buruk berusia sekitar empat puluh dua tahun.

Ia adalah Sarti, pelayan pribadi, kepercayaan Lasmini yang dulu dibawanya dari Kerajaan Parang Siluman ketika ia menjadi selir Narotama.

Pelayan ini bertugas untuk menjaga agar kamar Lasmini malam itu tidak mendapat gangguan.

Tentu saja Sarti tahu bahwa majikannya malam itu hendak langen asmara (bermain cinta) dengan Linggajaya!

Lasmini duduk .

menanti di tepi pembaringannya.

Kamar yang indah itu harum semerbak melati, kesukaannya.

Ia mengenakan pakaian tipis.

Di atas meja terdapat lampu kecil yang memberi penerangan remang-remang.

Setelah menanti dengan hati tegang sejak senja tadi, tiba -tiba daun jendela terbuka dan bayangan tubuh Linggajaya melompat masuk melalui lubang jendela.

Dengan tenang Linggajaya menutupkan kembali daun jendela dan memalangnya.

Lalu dia memutar tubuh memandang ke arah Lasmini.

Wanita ini bangkit berdiri.

Dua buah kakinya gemetar ketika ia melangkah perlahan menghampiri pemuda itu.

Tanpa berkata-kata, keduanya saling menghampiri dan entah siapa yang memulai, keduanya sudah melekat dalam rangkulan yang ketat.

Linggajaya memondong tubuh itu dalam pelukannya, melingkari tubuh itu dengan kedua lengannya yang kokoh kuat membawanya ke pembaringan yang seolah sudah menggapai dan mengajak mereka.

Tiba-tiba hujan turun dengan derasnya.

Seolah-olah iblis setan bekasakan merestui perjinaan yang dilakukan dua orang manusia yang sudah menjadi permainan nafsu mereka sendiri.

Lasmini bagaikan seekor ikan yang tadinya menggelepar di darat, kini mendapatkan air sehingga ia dapat berenang-renang sepuas hatinya.

Nafsu berani adalah satu di antara nafsu yang paling mulia karena melalui nafsu ini suami isteri mencurahkan cinta mereka yang paling mendalam, yang mendorong pasangan itu bukan hanya ingin bersatu raga akan tetapi juga bersatu jiwa.

Bahkan melalui nafsu berahi ini terjadilah perkembang-biakan manusia sehingga nafsu ini merupakan anugerah Sang Hyang Widhi yang paling penting, paling indah, dan paling mulia.

Akan tetapi, seperti juga semua nafsu yang amat bermanfaat bagi kehidupan manusia didunia ini maka nafsu diikut-sertakan manusia sejak lahir, nafsu akan menjadi penyeret manusia ke lembah dosa.

Kalau nafsu tetap dalamfungsinya semula, yaitu sebagai hamba yang baik dan bermanfaat, taat kepada kita selaku majikan , jinak dibawah kendali etika, kehormataan dan peradaban, maka nafsu merupakan anugerah.

Akan tetapi sebaliknya, kalau nafsu berahi menjadi majikan, liar tak terkendalikan, dan kita sebaliknya yang diiperhamba, maka nafsu akan menimbulkan malapetaka.

Nafsu berahi akan menyeret kita dan menimbulkan perbuatan sesat seperti perkosaan, perjinaan, pelacuran dan sebagainya.

Dua orang yang menjadi hamba nafsu itu berpesta ria di malam hujan yang dingin itu.

Dan perbuatan yang dilakukan sebagai pemuasan nafsu itu selalu menuntut pengulangan dan pengulangan untuk kemudian menimbulkan kebosanan.

Pagi-pagi sekali Linggajaya meninggalkan Lasmini, keluar dari kamar melalui jendela.

Dan kesempatan selagi Narotama tidak berada di rumah itu dimanfaatkan oleh dua orang yang mabuk berahi untuk mengulangi perbuatan mereka.

Setiap malam Linggajaya berada di kamar Lasmini.

Beberapa hari kemudian, setelah gelombang nafsu berahi yang menguasai diri mereka agak reda, keduanya teringat akan keadaan dan tugas, lalu di sela-sela permainan asmara itu mereka mulai berunding.

Lasmini menceritakan tentang peristiwa yang terjadi di istana Sang Prabu Erlangga, yaitu tentang persidangan di istana untuk memeriksa perkara antara Pangeran Hendratama melawan Senopati Sindukerta dan cucunya, Nurseta.

Mereka rebah berdampingan di atas pembaringan, di antara bantal-bantal.

"Kita harus membantu Pangeran Hendratama. Dia merupakan sekutu kita yang penting karena dengan bantuannya, lebih besar kemungkinan menjatuhkan Sang Prabu Erlangga. Aku mendengar bahwa Pangeran Hendratama terancam oleh pemuda yang bernama Nurseta itu, yang kabarnya sakti mandraguna."

Linggajaya mengerutkan alisnya.

Tentu saja dia mengenal Nurseta, bahkan pernah bertanding melawannya ketika Nurseta menyerbu rumah Ki Lurah Suramenggala, ayahnya dan dia harus mengakui bahwa Nurseta merupakan lawan berat.

Kalau ketika itu tidak muncul Puspa Dewi yang menjadi anak tiri ayahnya dan yang membantunya melawan Nurseta, dia tentu akan kalah.

"Aku tahu siapa itu Nurseta. Sebetulnya dia sedusun dengan aku, bahkan pernah bekerja sebagai kuli pada ayahku yang menjadi lurah di dusun Karang Tirta. Dia menjadi sakti karena diambil murid mendiang Empu Dewamurti."

"Sekarang Nurseta dan kakeknya, Senopati Sindukerta, untuk sementara di tahan di dalam penjara istana. Sang Prabu Erlangga kini mengutus Ki Patih Narotama untuk menyelidiki siapa yang benar antara Pangeran Hendratama dan Nurseta dalam hal menemukan Sang Megatantra dan siapa di antara mereka yang mencurinya."

"Tentu saja yang menemukan adalah Nurseta. Aku sendiri mengetahui hal itu, dan yang mencurinya tentu Pangeran Hendratama."

Kata Linggajaya tidak begitu acuh.

Ada tubuh mulus wajah cantik di dekatnya, bagaimana mungkin dia dapat bergairah memikirkan hal lain?

Dia memeluk lagi, akan tetapi Lasmini menolak dengan lembut, mendorongkan tangannya.

"Ih, dengarkan dulu, kita bicara penting ini!"

Tegurnya.

"Aku juga sudah menduga demikian. Akan tetapi karena itu kita harus membantu Pangeran Hendratama. Dengan Sang Megatantra di tangannya, dia dapat mempengaruhi para pamong praja yang tinggi kedudukannya, untuk memihak kepadanya yang mempunyai wahyu mahkota."

"Bagaimana kita dapat membantunya?"

Tanya Linggajaya penuh perhatian kini karena dia teringat akan tugas mereka untuk bersekutu dan menjatuhkan Kerajaan Kahuripan.

"Begini, kita harus dapat membunuh Nurseta dan Sindukerta dalam penjara. Akan tetapi sebelumnya, kita tunggu kedatangan Ki Patih Narotama. Kalau dia menemukan hal-hal yang memberatkan Pangeran Hendratama, sebelum dia dapat bertindak lebih jauh, kita..... bunuh saja Ki Patih Narotama!"

Linggajaya terkejut dan bangkit duduk, menatap wajah cantik yang masih ada titik-titik keringat seperti embun di dahinya. Dia mengusap dahi halus itu menghilangkan keringatnya.

"Membunuh ..... suamimu??"

Lasmini juga bangkit duduk.

"Husssh, aku menjadi selirnya hanya untuk dapat membunuhnya. Ingat?"

"Ya-ya ..... akan tetapi K i Patih Narotama itu sakti mandraguna. Bagaimana mungkin dapat mengalahkan dan membunuhnya?"

Lasmini merangkul pemuda itu.

"Linggajaya, kalau kita berdua maju bersama mengeroyoknya, kukira kita akan dapat mengalahkan dan membunuhnya. Asal engkau mau membantuku dan bersungguh-sungguh. Ingat, kalau dia mati, hubungan kita akan dapat berlanjut tanpa sembunyi-sembunyi lagi, kan?"

Linggajaya balas merangkul.

"Baiklah, Lasmini. Kalau engkau yang minta, pasti kuturuti. Betapa sukar dan beratnya, aku akan membantumu sekuat tenaga. Engkau benar, betapapun saktinya dia, kalau kita maju bersama, kurasa tidak mungkin kita akan kalah.' Demikianlah, dua orang yang tidak merasa bahwa mereka telah melakukan perbuatan yang kotor dan hina itu melanjutkan hubungan gelap mereka. Tidak ada seorangpun di antara para penghuni gedung kepatihan yang menyangka, apalagi tahu akan hubungan gelap itu, kecuali, tentu saja Sarti pelayan setia dari Lasmini itu. Mereka menanti kembalinya Ki Patih Narotama dan Lasmini juga sering mengadakan kontak rahasia dengan para sekutunya. KARENA Ki Patih Narotama tidak berada di rumah, kesempatan Ini dipergunakan Lasmini bukan saja untuk mengumbar nafsu bejatnya, akan tetapi Juga ia menjadi leluasa untuk mengadakan kunjungan ke istana raja untuk bertemu dan berunding dengan Mandari. Pada suatu hari Lasmini berkunjung kepada adiknya, Mandari di istana keputren. Mereka berdua mempergunakan kesempatan itu untuk pergi berburu binatang hutan bersama. Tentu saja ini hanya alasan. Sebenarnya mereka berkunjung ke hutan di mana akan diadakan pertemuan rapat antara mereka yang bersekutu memusuhi Sang Prabu Erlangga. Kita tinggalkan dulu dua orang puteri yang tiada hentinya berusaha untuk menghancurkan kekuasaan Sang Prabu Erlangga itu dan kita ikut perjalanan Ki Patih Narotama yang hendak menyelidiki tentang keris pusaka Sang Megatantra, siapa sesungguhnya yang menemukan dan siapa pula yang mencurinya agar dapat diketahui siapa yang kini menguasainya. Ki Patih Narotata melakukan perjalanan seorang diri menuju dusun Karang Tirta. Dalam perjalanan ini, tidak ada yang mengenalnya karena seperti biasa kalau melakukan tugas penyelidikan seorang diri, Narotama tidak mengenakan pakaian kebesaran, menunggang kereta atau kuda dan dikawal sepasukan perajurit seperti seorang patih. Dia melakukan perjalanan menunggang kuda dengan pakaian biasa sehingga orang akan mengira bahwa dia hanya seorang laki-laki gagah berusia sekitar tiga puluh dua tahun dengan pakaian biasa, sama sekali tidak menunjukkan bahwa dia seorang bangsawan. Setelah tiba di dusun Karang Tirta, Narotama segera bertanya-tanya dimana dan siapa yang menjadi lurah dusun itu. Dia mendapat keterangan bahwa lurahnya adalah Ki Suramenggala. Karena hari masih pagi dan dia ingin berkunjung kepada lurah itu dalam keadaan menyamar sebagai orang biasa, maka dia hendak menunggu sampai saat yang pantas untuk berkunjung ke rumah orang. Ketika dia melewati sebuah rumah sederhana dan seorang laki-laki berusia sekitar enam puluh tahun tampak menyapu daun-daun kering di halaman rumah yang ditumbuhi pohon nangka, Narotama menghentikan kudanya, lalu menuntun kuda memasuki halaman rumah itu. Pemilik rumah yang sedang menyapu itu menghentikan kegiatannya dan memandang Narotama dengan heran karena dia merasa tidak mengenal tamu yang memasuki halaman rumahnya sambil menuntun kuda itu. Sebagai seorang dusun yang sederhana dan miskin, dalam anggapannya, kalau orang sudah memiliki seekor kuda dan pakaiannya juga tidak seperti petani biasa walaupun pakaian itu tidak mewah, tentu seorang priyayi atau seorang kota yang derajatnya lebih tinggi daripada penduduk dusun. Maka orang itu melepaskan sapunya dan menyambut kedatangan Narotama dengan sikap hormat dan membungkuk-bungkuk. Melihat sikap orang itu, Narotama cepat memberi salam dengan suara lembut dan sikap ramah.

"Permisi, paman, maafkan kalau saya mengganggu kesibukan paman."

Orang itu tersenyum polos, agaknya senang melihat sikap dan mendengar kata-kata yang lembut dan ramah itu.

"Ah, tidak, denmas, sama sekali tidak mengganggu. Ada keperluan apakah, denmas, maka andika sudi berkunjung ke gubuk saya ini?"

"Nanti dulu, paman. Sebelumnya saya ingin mengetahui, apakah paman sudah lama tinggal di dusun Karang Tirta ini?"

"Wah, sudah lama sekali, denmas. Sejak muda bersama isteri saya, sampai isteri saya meninggal..... hemm, berapa lama, ya? Pergantian lurah sudah tiga kali, yang terakhir sampai sekarang lurahnya Ki Suramenggala, sudah hamper dua puluh tahun jadi lurah di sini. Dan sebelum itu ..... hemm, paling tidak sudah tiga puluh tahun saya tinggal di dusun ini."

Girang rasa hati Narotama.

"Kalau begitu, saya berhadapan dengan orang yang tepat, paman. Perkenalkan, nama saya..... Tama dan saya datang dari kota raja. Saya ingin bertanya kepada paman tentang keadaan dusun ini belasan tahun yang lalu."

"Wah, dengan senang hati, denmas Tama. Mari, silakan masuk, kita bicara di dalam."

Narotama menambatkan kudanya pada batang pohon, lalu berkata.

"Terima kasih, paman ....."

"Wirodipo nama saya, denmas. Mari silakan."

Mereka memasuki pondok sederhana dan Narotama dipersilakan duduk di atas bangku.

Mereka duduk berhadapan terhalang sebuah meja yang kasar buatannya.

Narotama melihat betapa isi rumah itupun amat sederhana, namun cukup bersih.

"Nah, denmas Tama, tanyakan apa saja yang andika ingin ketahui. Saya akan menceritakan apa yang saya tahu,."

"Sebelumnya, terima kasih banyak, paman Wirodipo Saya ingin bertanya tentang diri seorang yang dulu tinggal di dusun ini, yang bernama Nurseta. Apakah paman mengenalnya?"

Wirodipo mengerutkan alisnya, mengingat-ingat. Lalu matanya bersinar, wajahnya menjadi cerah.

"Ah ....., dia? Tentu saja saya tahu, bahkan belum lama ini dia membikin geger dusun ini!"

Tentu saja Narotama menjadi tertarik sekali.

"Cenitakan tentang dia, paman. Saya ingin sekali mengetahuinya."

"Saya tidak mengenal baik orang tuanya, hanya tahu bahwa ayahnya bernama Dharmaguna dan isterinya yang cantik, saya lupa lagi namanya. Mereka tinggal di sini beberapa tahun, akan tetapi pada suatu hari suami isteri itu meninggalkan Nurseta begitu saja, entah ke mana. Kalau tidak salah ketika itu Nurseta berusia kurang lebih sepuluh tahun. Anak itu rajin, bekerja di mana saja, tadinya membantu Ki Lurah Suramenggala dan selanjutnya mencari makan dengan membantu para petani di sini. Ketika berusia belasan tahun dia menghilang. Saya tidak melihat sendiri kejadian itu, akan tetapi orang-orang menceritakan Nurseta pergi bersama seorang kakek sakti. Kabarnya, kakek itu membuat Ki Lurah Suramenggala dan anak buahnya lumpuh ketika mereka hendak memukul Nurseta dan kakek itu. Kemudian mereka berdua pergi entah ke mana."

Narotama menduga bahwa kakek yang membawa pergi Nurseta itu tentu Empu Dewamurti.

"Apakah andika mengetahui siapa kakek yang membawa pergi Nurseta itu. Paman Wirodipo?"

"Saya sendiri tidak pernah bertemu dengan kakek sakti itu, denmas. Akan tetapi ada beberapa orang yang pernah bertemu dan mereka mengatakan bahwa kakek itu adalah seorang sakti yang bertapa di tepi pantai Laut Kidul dan pernah menolong orang-orang yang sakit dengan memberi jamu yang mujarab sekali."

"Apakah andika pernah mendengar bahwa Nurseta itu telah menemukan sebatang keris pusaka yang disebut Sang Megatantra?"

Ki Wirodipo mengerutkan alisnya dan menggeleng kepala.

"Saya tidak tahu dan tidak pernah mendengarnya, denmas."

Dalam hatinya, Narotama merasa kecewa. justeru yang terpenting baginya adalah keterangan mengenai Sang Megatantra, akan tetapi kakek ini tidak mengetahuinya.

"Hemm, lalu bagaimana selanjutnya? Tadi andika mengatakan bahwa belum lama ini Nurseta membikin geger dusun ini. Apa yang telah terjadi?"

"Saya juga hanya mendengar saja cerita orang-orang, denmas. Menurut cerita mereka, Nurseta, setelah pergi kurang lebih lima tahun dan sekarang telah dewasa, muncul di rumah Ki Lurah Suramenggala dan kabarnya dia mengamuk, merobohkan para jagoan ki lurah, bahkan mengancam Ki Lurah Suramenggala. Kemudian muncul putera ki lurah dan juga puteri tiri ki lurah. Kedua orang muda ini setelah menghilang kurang lebih lima tahun juga pulang dan telah menjadi orang-orang sakti. Nurseta dikeroyok oleh Denmas Linggajaya dan Masayu Puspa Dewi sehingga melarikan diri."

"Siapa nama anak-anak Ki Lurah Suramenggala itu?"

"Denmas Linggajaya adalah anak kandung ki lurah, sedangkan Masayu Puspa Dewi adalah anak tirinya."

Narotama termenung, diam-diam dia merasa heran.

Dia pernah bertemu dengan Puspa Dewi, gadis yang mengaku sebagal murid Nyi Dewi Durgakumala dan yang menyerangnya karena perintah gurunya, akan tetapi dia dapat menyadarkan gadis itu yang dia tahu dasarnya tidak jahat.

Dan Ki Patih Narotama semakin heran mendengar nama Linggajaya.

Tadinya dia hanya merasa seperti pernah mendengar nama ini.

Kemudian setelah teringat, dia terkejut.

Bukankah juru taman kepatihan yang baru itu, yang diusulkan oleh Lasmini dan katanya pemuda itu saudara misan Sarti pelayan Lasmini, juga bernama Linggajaya?

Kalau benar demikian, msngapa putera seorang lurah, juga yang menurut Ki Wirodipo telah menjadi seorang pemuda sakti, mau menjadi tukang kebun?

Tentu saja timbul kecurigaan dalam hatinya.

Apakah yang tersembunyi di balik semua itu?

Dia teringat Puspa Dewi.

Gadis itu memusuhinya karena terpaksa untuk mentaati pesan gurunya, Nyi Dewi Durgakumala yang memang memusuhinya dan memusuhi Kahuripan.

Lalu apa yang mendorong Linggajaya menyusup ke kepatihan?

Mereka berdua itu anak-anak Ki Lurah Sura menggala!

Dia harus menyelidiki keadaan lurah itu.

Mungkin di sana dia akan menemukan jawabannya.

"Terima kasih, paman. Keteranganmu itu amat berguna bagi saya. Sekarang saya ingin bertanya tentang keluarga Ki Lurah Suramenggala itu, yaitu tentang anak-anaknya."

"Anak kandungnya hanya seorang denmas Linggajaya itulah yang sekarang sudah dewasa, sekitar dua puluh satu tahun usianya. Selain denmas Linggajaya, ki lurah juga mempunyai seorang anak tiri, yaitu Masayu Puspa Dewi, setelah ibu gadis itu, seorang janda diambil selir oleh ki lurah. Selain mereka berdua Ki Lurah Suramenggala tidak mempunyai anak lain."

"Bagaimana watak anak-anaknya itu?"

"Hemm, denmas Linggajaya itu ketika kecilnya terkenal nakal sekali, mungkin karena mengandalkan kedudukan orang tuanya. Entah sekarang setelah dewasa karena sejak pulang dan menjadi orang sakti, dia hanya sebentar berada di sini lalu pergi lagi. Adapun Masayu Puspa Dewi yang juga berasal dari dusun ini, sejak kecil wataknya baik sekali. Ibunya juga seorang janda yang lemah lembut dan baik. Setelah Masayu Puspa Dewi hilang, kabarnya diculik orang, ibunya diambil sebagai selir oleh ki lurah. Kini Masayu Puspa Dewi juga telah menjadi seorang gadis sakti dan saya tidak tahu bagaimana wataknya sekarang."

Narotama mengangguk-angguk. Puspa Dewi masih menjadi seorang gadis yang baik budi, walaupun ia menjadi murid seorang datuk wanita yang sesat.

"Dan bagaimana dengan Nurseta sendiri? Ketika dia masih tinggal di sini, bagaimana wataknya?"

"Wah, kalau dia anaknya rajin dan baik, denmas. Semua orang di dusun ini menyukainya. Bayangkan, dia pernah membantu saya mengerjakan ladang saya dan karena tahu bahwa saya bukan orang kaya, dia sudah puas hanya mendapatkan makan sebagai upahnya. Dia tidak mengharapkan upah lainnya lagi."

Narotama mengangguk-angguk.

Seorang pemuda dengan watak sebaik itu tidak mungkin mencuri keris pusaka Sang Megatantra!

"Terima kasih, Paman Wirodipo.

Sekarang saya hendak menitipkan kuda saya di sini, apakah andika tidak keberatan?

Nanti kalau sudah selesai urusan saya, saya akan mengambilnya."

"O, tentu saja, denmas. Biar di halaman depan, nanti akan saya beri rumput dan minum." (Lanjut ke

Jilid 23) Keris Pusaka Sang Megatantra (seri ke 01 -Serial Keris Pusaka Sang Megatantra) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo

Jilid 23 Setelah mengucapkan terima kasih, Narotana lalu meninggalkan rumah Ki Wirodipo dengan jalan kaki.

Ki Wirodipo memang tidak dapat memberi keterangan sedikitpun juga tentang Sang Megatantra, akan tetapi mungkin di rumah Ki Lurah Suramenggala dia akan bisa mendapatkan keterangan tentang keris pusaka itu.

mudah saja bagi Narotama untuk menemukan rumah Ki Lurah Suramenggala.

Rumah itu tampak mencolok karena berbeda jauh dari rumah-rumah lain.

Tampak besar dan megah untuk ukuran dusun Itu.

Di dekat pintu gerbang pagar tembok yang mengelilingi gedung itu, terdapat lima orang penjaga keamanan yang bertubuh tegap dan berwajah bengis.

Diam-diam Narotama merasa heran.

Kalau rumah seorang lurah dusun dijaga orang-orang yang lagaknya seperti tukang pukul ini, hal itu hanya menunjukkan bahwa hubungan antara lurah itu dan penghuni dusun tidak akrab.

Seorang lurah diharapkan untuk menjadi bapak dari rakyatnya yang mengatur dan melayani rakyatnya, menjadi panutan dan sumber pertolongan.

Bukan menjadi penguasa yang galak; sewenang-wenang, yang ditakuti rakyat dan yang memelihara para tukang pukul untuk menakut nakuti rakyat dan untuk memaksakan kehendaknya sebagai penguasa.

Lurah yang begini pasti bukan lurah yang baik.

Dari keadaan di pintu gerbang kelurahan ini saja Narotama sudah dapat menilai lurah macam apa adanya Ki Suramenggala!

Dengan langkah tenang Narotama memasuki pintu gerbang kelurahan itu.

Baru saja kakinya melangkahi ambang pintu, seorang penjaga keluar dari gardu penjagaan dan membentaknya.

"Hei, berhenti! Siapa engkau yang begini lancing memasuki tempat ini tanpa melapor lebih dulu kepada kami?"

Narotama memandang penjaga yang tubuhnya besar perutnya gendut itu, melihat betapa orang yang usianya sekitar empat puluh tahun itu memandang kepadanya dengan mata melotot lebar "Ini rumah Ki Lurah Suramenggala lurah dusun Karang Tirta ini, bukan?"

Tanyanya.

"Kiranya engkau sudah tahu? Orang asing, engkau tidak tahu aturan! Untuk masuk kelurahan, harus melapor dulu kepada kami, tahu?"

"Hemm, setahuku kelurahan adalah kantor lurah yang melayani semua keperluan penduduk dan karenanya terbuka bagi umum. Aku tidak tahu bahwa di sini aturannya lain."

"Cukup, jangan banyak rewel. Hayo masuk gardu dan membuat laporan tentang dirimu, tempat tinggalmu dan apa keperluanmu masuk ke kelurahan ini! "

Bentak orang kedua yang kumisnya tebal.

Diam-diam Narotama marah, akan tetapi kebijaksanaan mengingatkannya bahwa ulah dan sikap para penjaga ini hanya merupakan pencerminan sikap sang lurah.

Kalau atasannya brengsek, sukar mengharapkan bawahannya baik.

Kebaikan harus dimulai dari atasan karena atasan merupakan tauladan bawahan.

Kalau atasannya benar, tentu bawahan tidak akan berani bertindak melanggar kebenaran karena akan dihantam atasan.

Jadi, para penjaga ini hanya mencontoh saja sikap atasannya, yaitu Ki Lurah Suramenggala.

Narotama memasuki gardu.

Seorang yang bertubuh pendek gendut, kepalanya botak, bertanya sambil lalu dan pandang matanya merendahkan.

"Siapa namamu?"

"Nama saya Tama."

"Dari mana?"

"Dari kota raja."

Si gendut itu memandang dengan alis berkerut dan sinar mata menyelidik ketika mendengar bahwa orang itu datang dari kota raja.

"Mau apa engkau datang ke sini?"

"Aku ingin bertemu dan bicara dengan Ki Lurah Suramenggala."

"Bicara tentang apa?"

Narotama menggeleng kepalanya.

"Tidak ada urusannya dengan kalian, hanya Ki Lurah Suramenggala yang berhak mendengar apa yang akan kubicarakan."

"Huh! Tidak ada orang boleh menghadap yang mulia Bapak Lurah sebelum melaporkan apa yang akan dibicarakan kepada kami!"

Bentak si gendut pendek kepada Narotama.

"Juga engkau harus membayar biaya laporan ini. Hayo keluarkan berapa uang yang kau miliki dan serahkan kepada kami!"

Kata yang berkumis tebal. Narotama mengambil sebuah kantung dari pinggangnya dan membuka kantung yang berisi beberapa potong emas itu. Lima orang itu terbelalak.

"Serahkan itu kepada kami dan kami akan melaporkan kedatanganmu kepada Bapak Lurah!"

Kata si gendut sambil bangkit berdiri dan menjulurkan tangan untuk merampas kantung di tangan Narotama itu. Narotama cepat menyimpan kembali kantungnya lalu berkata.

"Kalau begitu biar aku langsung masuk saja menemui Ki Lurah Suramenggala "

Dia melangkah keluar dari gardu dan menuju ke pendapa kelurahan.

"Hei, keparat! Kawan-kawan, tangkap dia!"

Bentak si pendek gendut kepada empat orang rekannya.

Mereka berhamburan keluar mengejar Narotama.

Ki Patih Narotama yang sudah kehilangan kesabarannya, berhenti melangkah dan memutar tubuh menghadapi lima orang yang menyerbu dan menerjang hendak menangkap dan meringkusnya itu.

Kedua tangan Narotama bergerak seperti kilat menyambar lima kali dan tubuh lima orang itu berpusing lalu roboh terbanting ke atas tanah.

Masih untung bagi mereka karena Narotama membatasi tenaganya sehingga mereka hanya menderita pipi bengkak dan gigi rontok saja.

Akan tetapi dasar orang-orang kasar yang biasanya mengagulkan diri sendiri dengan keroyokan, lima orang itu bangkit dan mencabut senjata mereka dari pinggang, yaitu golok yang tajam mengkilap.

Bagaikan lima ekor anjing mereka melompat dan menggerakkan golok mereka membacok ke arah tubuh Narotama.

Narotama mendahului gerakan mereka.

Kakinya mencuat dan lima kali kedua kakinya secara bergantian menendang.

Kini tubuh lima orang itu terpental dan jatuh berdebuk di atas tanah.

Sekali ini mereka dihantam tenaga yang lebih kuat lagi sehingga sejenak mereka tidak mampu bangkit, hanya mengaduh-aduh dengan kepala pening dan dada sesak.

Suara gaduh di luar itu memancing munculnya Ki Suramenggala dengan tujuh orang pengawal lain.

Dia terkejut sekali melihat seorang pemuda berdiri di tengah halaman dan lima orang anak buahnya bergelimpangan tidak mampu bangkit.

Segera dia dapat menduga apa yang terjadi.

Tentu lima orang penjaga itu berkelahi melawan pemuda itu dan dirobohkan.

Ki Suramenggala yang juga sudah terbiasa ditakuti dan ditaati orang, melihat bahwa pemuda itu hanya seorang biasa berusia tiga puluh tahun lebih, menjadi marah dan memandang rendah.

Dia berseru kepada tujuh orang pengawalnya.

"Tangkap pengacau itu atau bunuh dia!"

Tujuh orang itu mencabut golok masing-masing.

Mereka tidak perlu bertanya-tanya lagi.

Perintah Ki Lurah Suramenggala sudah jelas.

Pengacau harus dibunuh!

Maka, mereka bertujuh segera berlompatan ke depan dan mengepung Narotama.

Ternyata mereka adalah pengawal-pengawal pribadi ki lurah yang tentu saja lebih tangguh dibandingkan lima orang penjaga tadi.

Mereka bergerak mengitari Narotama dengan gerak silat, kemudian dikomando yang diisyarat kan pemimpin mereka, tujuh orang itu serentak menyerang!

Untung bagi tujuh orang itu bahwa Narotama sudah memiliki tenaga batin yang amat kuat sehingga dia mampu mengatasi kemarahannya dengan mengingat bahwa mereka itu hanya memenuhi perintah ki lurah.

Menghadapi serangan yang sesungguhnya amat berbahaya bagi orang lain itu, Narotama segera mengerahkan tenaga saktinya lalu menggerakkan kedua tangan dengan tenaga mendorong sambil memutar tubuhnya.

Hebat sekali dorongan kedua tangan yang mengandung tenaga sakti amat kuat itu.

Tujuh orang penyerang itu terpental ke belakang dan terjengkang sehingga terbanting kuat.

Mereka roboh dan tidak dapat segera bangkit kembali karena kepala terasa pening dan napas menjadi sesak!

Melihat ini, Ki Lurah Suramenggala terkejut bukan main dan dia masih hendak menggertak seperti yang sudah biasa dia lakukan kepada para penduduk dusun "Heh, penjahat dari mana engkau, berani membikin kacau di kelurahan?

Sikapmu Ini berarti pemberontakan terhadap pamong praja!"

Narotama marah sekali. Dengan sekali lompat dia sudah tiba dekat sang lurah, lalu menangkap tubuh lurah itu dengan tangan kanan, mengangkatnya ke atas dengan ringan saja lalu membantingnya.

"Bresss .....!!"

Ki Lurah Suramenggala mengaduh, pinggulnya terasa nyeri sekali karena terbanting ke atas lantai dan dia mencoba untuk merangkak bangun sambil berteriak-teriak.

"Tolooongg ..... toloongg ..... perampok .....!!"

Narotama menjadi semakin marah.

Dicengkeramnya tengkuk baju Ki Lurah Suramenggala dan ditariknya sehingga berdiri.

Dasar lurah yang terbiasa menindas dan merendahkan orang lain, mengandalkan kekuasaan dan kekuatan yang dimilikinya, Lurah Suramenggala masih belum mau tunduk.

Dia malah membentak marah.

"Awas kau, jahanam keparat! Kalau kedua anakku, Linggajaya dan Puspa Dewi pulang dan kuberitahukan kejahatanmu ini kepada mereka, lihat saja, mereka akan mencabik-cabik tubuhmu!"

Pada saat itu, tertarik oleh teriakan Ki Lurah Suramenggala, banyak penduduk dusun datang berlarian dan memenuhi halaman kelurahan.

Juga isteri dan para selir lurah, termasuk Nyi Lasmi, janda Ibu kandung Puspa Dewi yang kini menjadi selir ki lurah, berlarian keluar dan terkejut melihat ki lurah dicengkeram tengkuk bajunya oleh seorang pemuda gagah.

Para tukang pukul yang tadi telah dirobohkan Narotama, sebanyak dua belas orang, juga petantang-petenteng mengepung dengan golok di tangan, seolah mereka itu menguasai keadaan dan mengancam Narotama, padahal tak seorangpun dari mereka berani menyerang orang yang mereka ketahui sakti mandraguna itu.

"Lurah Suramenggala!"

Bentak Narotama dengan suara menggeledek sehingga terdengar oleh semua orang, termasuk yang berada di jalan depan halaman rumah kelurahan itu.

"Sudah butakah matamu? Lihat baik-baik, siapa orang yang engkau perhina dengan makian makianmu tadi! Lihat, tidak kenalkah engkau kepadaku?"

Lurah Suramenggala terbelalak, mengamati wajah Narotama.

Tiba-tiba wajahnya menjadi pucat sekali.

Kalau tadi dia tidak mengenal Narotama, hal Itu tertutup kecongkakannya melihat laki-laki itu berpakaian seperti orang biasa.

Dia sudah beberapa kali sowan (menghadapi Sribaginda) di kota raja dan beberapa kali melihat Ki Patih Narotama.

Maka, setelah kini dia mendengar suara yang amat berwibawa itu dan mengamati wajah itu dengan seksama, baru dia mengenal siapa orang yang tadi dia maki maki.

"A..... aduhh..... paduka..... paduka..... Gusti Patih Narotama.....!"

Ketika Narotama melepaskan cengkeramannya Ki Lurah Suramenggala lalu menjatuhkan diri berlutut dan menyembah-nyembah "Ampun.....

mohon beribu ampun, Gusti Patih.....

hamba.....

hamba tidak tahu.....

bahwa paduka yang dating berkunjung ....."

Mendengar ini, semua keluarganya, juga para tukang pukul, terkejut setengah mati.

Terutama para tukang pukul yang mengeroyok Narotama.

Mereka semua segera menjatuhkan diri berlutut dan dua belas orang tukang pukul itu menggumamkan permohonan ampun berulang kali.

'Semua mundur, biarkan aku bicara berdua dengan Lurah Suramenggala!"

Kata Narotama dengan suara berwibawa.

Mendengar ini, semua keluarga lurah itu memasuki rumah dan dua belas orang jagoan keluar dari pendapa, lalu menyuruh semua orang yang berkerumun di halaman untuk meninggalkan tempat itu.

sebentar saja pendapa rumah itu menjadi sepi, hanya tinggal Narotama yang masih berdiri tegak dan Ki Lurah Suramenggala yang masih berlutut di depannya.

"Nah, ki lurah, bangkit dan duduklah. Mari kita bicara. Ada beberapa pertanyaan yang ingin kuajukan dan kuminta anda menjawabnya dengan sejujurnya."

Kata Narotama dengan suara keren.

KI Luran Suramenggala yang sudah mati kutu itu menurut, bangkit dan mempersilakan Narotama duduk di atas kursi yang berada di pendapa itu.

Dia hendak duduk bersila di atas lantai, di depan Narotama, akan tetapi ki patih itu melarangnya.

"Duduklah di kursi itu agar kita dapat bicara dengan leluasa."

Ki Suramenggala tidak berani membantah lalu duduk di atas kursi berhadapan dengan kt patih, terhalang sebuah meja marmer.

"Ki lurah, aku ingin engkau menceritakan tentang seorang yang bernama Nurseta yang pernah tinggal di dusun ini Apa yang kauketahui tentang dia?"

Diam-diam Ki Lurah Suramenggala terkejut. Kenapa ki patih tiba-tiba datang bertanya tentang Nurseta? "Nurseta .....? Ah, tentu saja, gusti patih. Hamba tahu siapa bocah itu!"

"Hemm, begitukah?"

Narotama menatap tajam wajah lurah yang dari suaranya jelas menunjukkan rasa bencinya terhadap Nurseta.

"Ceritakan sejujurnya apa yang andika ketahui tentang dia".

"Dia itu anak pasangan suami istri yang menjadi buronan, dan ketika Nurseta berusia lima tahun, ayah ibunya melarikan diri karena ketahuan oleh Senopati Sindukerta yang mencari mereka. Nurseta ditinggalkan di dusun ini. Kalau tidak ada hamba yang memeliharanya, tentu anak itu akan kapiran dan mungkin mati kelaparan, gusti patih."

"Hemm, kenapa mereka ketakutan dan dicari Senopati Sindukerta?"

"Karena Dharmaguna, ayah Nurseta Itu, melarikan puteri Senopati Sindukerta yang menjadi ibu kandung Nurseta, dan Senopati Sindukerta mencari mereka, tentu untuk menghukum Dharmaguna yang membawa minggat puterinya."

"Lalu bagaimana dengan Nurseta?"

"Hamba memeliharanya sampai besar. Akan tetapi dasar anak buronan yang tidak mengenal budi, ketika berusia sekitar enam belas tahun dia minggat, tak seorangpun mengetahui dia pergi kemana. Kemudian, baru beberapa bulan yang lalu ini dia muncul kembali dan..... ah, dasar anak orang jahat, anak setan itu ....." .

"Cukup! Hentikan maki-makianmu yang kotor itu dan ceritakan saja apa yang terjadi!"

Narotama membentak. Ki Lurah Suramenggala terkejut sekali dan menyembah.

"Ampun, gusti patih. Anak itu malam malam datang dan hendak membunuh hamba!"

"Hemm, aneh. Kenapa dia hendak membunuhmu?"

"Hamba juga tidak tahu. Dia bertanya kepada hamba dimana adanya orang tuanya. Hamba memang tidak tahu akan tetapi agaknya dia tidak percaya lalu marah dan hendak membunuh hamba. Untung pada saat itu ada anak-anak hamba, Linggajaya dan Puspa Dewi yang juga telah menjadi orang-orang sakti. Kedua anak hamba itu melawan Nurseta dan berhasil membuat Nurseta lari ketakutan. Itulah yang hamba ketahui tentang anak se..... eh, Nurseta itu, gusti patih." ' Narotama termenung. Omongan seorang seperti lurah ini tentu saja tidak dapat dipercaya sepenuhnya, akan tetapi setidaknya dari ceritanya itu dia dapat menilai bahwa lurah ini memang seorang yang tidak pantas menjadi seorang kepala dusun yang mementingkan kesejahteraan rakyatnya. Cerita Ki Wirodipo tentang Nurseta dan tentang keluarga Lurah Suramenggala tentu saja lebih dapat dipercaya kebenarannya.

"Sekarang ceritakan yang sejujurnya tentang keris pusaka Sang Megatantra. Apakah andika mengetahui sesuatu tentang keris pusaka itu?"

Ki Lurah Suramenggala memang belum pernah mendengar tentang keris pusaka itu.

Sebetulnya Puspa Dewi mengetahuinya, akan tetapi anak tirinya itupun tidak bercerita kepadanya.

Maka dia menggeleng kepalanya dan berkata dengan suara yang meyakinkan.

"Tidak, gusti. Hamba sama sekali tidak tahu dan tidak pernah mendengar tentang pusaka yang paduka sebutkan tadi."

Sekali ini Narotama percaya karena kata lurah itu sudah mengetahui, tentu diapun akan memutar-balik kebutaan dan memburukkan Nurseta, mengatakan bahwa Nurseta yang mencuri Orang seperti ini bukan saja tidak boleh dipercaya, akan tetapi yang jelas juga tidak boleh dibiarkan terus menjadi lurah di dusun Karang Tirta ini.

Dia dapat membayangkan betapa lurah ini pasti hidup sebagai seorang raja kecil yang lalim di dusun ini.

Bukti nyata bahwa rakyat Karang Tirta tidak mencintanya adalah ketika lurah itu tadi berteriak teriak minta tolong, ada penduduk yang berlarian datang.

Akan tetapi tak seorangpun di antara mereka yang bersikap hendak membela sang lurah, melainkan hanya ingin menonton apa yang terjadi Dan ketika dia menghajar para anak buah lurah, dia melihat betapa banyak penduduk yang berada di halaman tersenyum gembira!

Pada saat itu juga Narotama sudah mengambil keputusan apa yang harus dia lakukan.

Dia sudah mendapat keterangan tentang Nurseta dan dapat mengambil kesimpulan bahwa Nurseta adalah seorang pemuda yang baik.

Dan agaknya di Karang Tirta ini dia tidak akan bisa mendapatkan keterangan tentang Sang Megatantra.

Akan tetapi yang sudah jelas, sebagai seorang pejabat tinggi kerajaan Kahuripan, sebagai patih yang mewakili raja, dia harus bertindak terhadap seorang pamong praja yang lalim dan sewenang-wenang.

"Lurah Suramenggala, sekarang aku minta andika mengeluarkan tanda memanggil semua penduduk yang berada di dusun ini untuk datang berkumpul di sini. Cepat laksanakan!"

Karena ketakutan, sang lurah memanggil para anak buahnya dengan berteriak lantang, namun tak seorangpun anak buahnya muncul.

Ternyata dua belas orang yang tadi merasa telah menghina dan mengeroyok Ki Patih Narotama, sudah melarikan diri pergi dari dusun Karang Tirta karena takut menerima hukuman berat!

Karena tidak seorangpun muncul Ki lurah Suramenggala terpaksa menghampiri sebuah kentungan yang tergantung di depan pendapa lalu menabuh kentungan Itu dengan alat pemukulnya, memberi tanda untuk mengumpulkan penduduk seperti biasanya.

Mendengar bunyi kentungan, semua penduduk Karang Tirta, tua muda, laki-laki perempuan, yang tidak sedang bekerja di ladang luar dusun, berdatangan berbondong-bondong memenuhi halaman kelurahan.

Memang kebanyakan dari mereka ingin sekali melihat sang lurah di marahi Gusti Patih dan tadi mereka terpaksa pergi karena disuruh oleh para jagoan anak buah Ki Lurah Suramenggala Ketika melihat penduduk dusun memasuki halaman dan tampaknya mereka agak takut-takut sehingga mereka berdiri bergerombol dekat pintu gerbang tidak berani terlalu mendekat pendapa.

Narotama lalu bangkit dan melangkah keluar, berdiri di tepi pendopo yang lebih tinggi daripada tanah halaman itu dan berkata sambil melambaikan tangan "Seluruh warga dusun Karang Tirta dipersilakan maju saja semua, jangan takut.

Tidak ada yang mengancam andika sekalian.

Aku, Ki Patih Narotama, yang menjamin keamanan dan keselamatan andika sekalian.

Hayo, maju dan mendekatlah'"

Mendengar ini, orang-orang itu yang sesungguhnya takut kepada Ki Lurah Suramenggala, menjadi gembira dan timbul keberanian mereka.

Dipelopori oleh beberapa orang pemuda, mereka lalu melangkah maju sampai tiba di pendopo.

Wajah mereka berseri dan memancarkan harapan agar terjadi perubahan yang baik bagi mereka dalam dusun mereka itu.

sementara itu, dari ruangan dalam rumah, ketika kentungan dibunyikan bertalu-talu, para keluarga dan pelayan Kilurah Suramenggala juga bermunculan keluar dan duduk, bergerombol di atas lantai dekat pintu tembusan.

Hanya seorang saja di antara para keluarga yang tidak tampak, yaitu Nyi Lasmi, ibu kandung Puspa Dewi.

Wanita ini, yang dulu diambil sebagai selir oleh Ki Lurah Suramenggala dengan bujukan dan ancaman sehingga terpaksa ia mau menjadi selir ki lurah, sebetulnya merasa tersiksa hidupnya.

Ia hanya melayani ki lurah atas dasar rasa takut dan melihat sepak terjang lurah yang menjadi suaminya itu seringkali ia merasa tidak suka dan menyesal sekali.

Berbagai tindakan kejam dilakukan suaminya itu terhadap penduduk Karang Tirta.

Akan tetapi ia tidak mampu berbuat sesuatu.

Juga perlakukan ki lurah terhadap dirinya kasar dan kejam.

Baru setelah Puspa Dewi muncul, sikap ki lurah agak berbeda, tidak berani bersikap terlalu kasar, apalagi kejam kepadanya.

Dan di dalam hatinya, Nyi Lasmi juga mulai merasa tidak takut karena ia tahu bahwa suaminya itu takut kepada Puspa Dewi yang kini menjadi seorang gadis sakti.

Mulailah ia sering berani membantah kehendak ki lurah.

Tadi ketika melihat munculnya Ki Patih Narotama yang merobohkan para tukang pukul dan memarahi ki lurah, Nyi Lasmi merasa senang, mengharap agar kedatangan ki patih itu akan mengubah watak suaminya dan akan membela kepentingan rakyat Karang Tirta yang selama ini tertindas, dalam ketakutan dan kekurangan.

Maka, ketika ki lurah memanggil semua orang lewat kentungan, diam-diam ia malah keluar dari kelurahan melalui pintu belakang dan dengan jalan memutar kini ia bergabung dengan para penduduk!

Setelah tidak ada yang datang lagi, Ki Patih Narotama mengangkat tangan ke atas dan berdiri di tepi lantai pendapa sambil mengajak ki lurah berdiri di sampingnya.

Suara hiruk-pikuk orang penduduk sehingga suasananya seperti dalam pasar itu segera berhenti dan suasana penjadi sunyi.

Semua orang memandang kepada ki patih.

"Warga dusun Karang Tirta sekalian! Kami, Ki Patih Narotama dalam hal ini mewakili junjungan kita Sang Prabu Erlangga ingin mengadakan perubahan di dusun Karang Tirta ini yang sesuai dengan keinginan andika sekalian. Oleh karena itu, kami akan mengajukan pertanyaan-pertanyaan kepada kalian yang hanya membutuhkan jawaban ya atau tidak, atau sekadar mengacungkan tangan, Nah, sekarang kami hendak mengajukan Pertanyaan pertama dan kami minta agar yang merasa terkena suka mengacungkan tangannya ke atas. Dengarkan baik-baik. Siapa di antara andika sekalian yang merasa tidak memiliki tanah sejengkal pun?"

Banyak sekali tangan diacungkan keatas, hampir semua.

Hanya ada belasan orang yang berdiri di bagian depan yang tidak mengacungkan tangan.

Melihat ini, Narotama mengerutkan alisnya dan menoleh kepada ki lurah yang tampak menundukkan mukanya yang basah oleh peluh.

Narotama menggapai kepada mereka yang tidak mengacungkan tangan dan berdiri di bagian depan kelompok itu "Apakah di antara kalian ada yang suka naik ke sini untuk memberi penjelasan kepada kami?

Jangan takut kepada siapa pun, kami, Ki Patih Narotama yang menjamin keselamatanmu.

Hayo, siapa yang berani menjadi wakil saudara-saudara sedusun.

Maju dan naiklah!"

Mereka saling dorong dan akhirnya seorang laki-laki berusia sekitar empat puluh tahun maju dan naik anak tangga lalu memberi hormat dengan sembah kepada ki patih.

Narotama melihat laki laki ini berwajah cukup terang dan tampaknya selain pemberani juga cerdas.

"Siapa nama andika?"

Tanya ki patih.

"Jawab dengan keras agar semua orang mendengar."

"Nama hamba Pujosaputro."

"Nah, ceritakanlah keadaan penduduk di Karang Tirta ini. Bagaimana sampai hamper semua orang tidak memiliki tanah garapan?"

Pujosaputro menoleh kepada Ki Lurah Suramenggala dan berkata lirih.

"Ki Lurah, maafkan kalau saya harus bercerita sejujurnya."

Kemudian dia menoleh kepada Ki Patih Narotama dan berkata dengan suara lantang.

"Dulu, hampir semua penduduk dusun kami ini mempunyai sebidang tanah, tidak terlalu luas namun hasilnya cukup untuk menghidupi keluarga masing-masing. Lalu beberapa tahun yang lalu datang musim kemarau yang panjang sekali. Tanah tidak menghasilkan apa-apa. Kami beberapa orang yang memiliki simpanan jagung dan gaplek berusaha menolong para saudara yang kekurangan makan, akan tetapi masih juga tidak mencukupi. Lalu Lurah Suramenggala yang mempunyai kelebihan uang, mendatangkan bahan makanan dari daerah lain. Semua penduduk mendapatkan bahan makanan, akan tetapi mereka harus menjual tanah mereka kepada Ki Lurah. Karena itulah maka sebagian besar di antara penduduk kini tidak mempunyai tanah lagi."

"Hemm, begitukah? Dan mereka semua lalu menggarap tanah siapa?"

"Tentu saja menggarap tanah ki lurah gusti patih, dan mereka mendapatkan upah kerja sekadarnya."

"Dan semua hasil panen masuk gudang ki lurah?"

Kembali Pujosaputro mengerling pada ki lurah yang hanya menundukkan muka, lalu menjawab.

"Benar begitu gusti."

Narotama mengangguk-angguk.

"Pujosaputro, apakah selama ini Ki Lurah Suramenggala menggunakan kekuatan para anak buahnya untuk bertindak sewenang-wenang terhadap rakyat?"

Ki Pujosaputro meragu.

"Ampun, gusti patih. Hamba tidak berani menjawab, tidak enak terhadap ki lurah. Mohon paduka tanyakan saja kepada semua penduduk."

Narotama lalu berseru kepada semua penduduk.

"Dengar, warga sekalian. Apakah selama ini Ki Lurah Suramenggala bertindak sewenang-wenang menggunakan para tukang pukulnya, memaksakan kehendaknya terhadap andika sekalian? Kalau tidak, kalian diam saja, kalau benar, angkatlah tangan ke atas."

Serentak semua orang mengangkat tangannya ke atas!

Dengan hadirnya Ki Patih Narotama dan melihat Ki Lurah Suramenggala mati kutu dan para tukang pukul juga tidak ada yang muncul, orang orang itu menjadi berani, apalagi kini mereka berkumpul dan keselamatan mereka dijamin oleh Ki Patih Narotama.

"Baik, sekarang kami yakin bahwa Ki suramenggala memang bertindak sewenang-wenang kepada penghuni dusun Ini. Sekarang, apakah andika sekalian menghendaki lurah dusun ini diganti?"

Kembali semua tangan mengacung keatas.

Orang-orang mulai hiruk-pikuk saling bicara sendiri dan rata-rata mereka gembira dan bersemangat.

Dengan melambaikan kedua tangannya Narotama minta agar semua orang diam Dia lalu berkata kepada Ki Suramenggala suaranya lantang dan penuh wibawa.

"Ki Suramenggala, sepatutnya andika ini dihukum karena telah menyalah-gunakan wewenang sehingga andika mencemarkan nama baik semua pamong praja dan kerajaan Kahuripan. Akan tetapi kami hanya menjatuhkan hukuman agar andika sekeluarga pergi dari dusun Karang Tirta dan boleh membawa barang-barang andika. Akan tetapi, semua tanah akan di kembalikan kepada para petani dan semua hutang para petani kepada andika dihapus. Dusun ini akan mendapatkan seorang lurah lain."

"Ki Suramenggala mengangkat mukanya dan pandang matanya berkilat, sekilas menatap wajah Narotama penuh kebencian, kemudian dia menyapu para penduduk dengan kilatan matanya sehingga para penduduk menjadi gentar. Akan tetapi Narotama dengan lantang membesarkan hati para penduduk.

"Jangan andika sekalian merasa takut. Lurah baru akan membentuk pasukan keamanan terdiri dari para pemuda sehingga kalau ada yang hendak mengacaukan Karang Tirta, kalian dapat melawannya. Pula, kalau kami mendengar ada pengacau di sini, pasti kami akan datang atau mengirim senopati dengan pasukannya untuk menghukum si pengacau!"

Mendengar ucapan yang lantang dan tegas ini, Ki Lurah atau lebih tepat mantan lurah Suramenggala menundukkan mukanya dan semua orang tiba-tiba bersorak gembira.

Sudah terlalu lama mereka merindukan perubahan nasib mereka yang tertindas dibawah tangan besi Ki Suramenggala.

Kini, KI Suramenggala dicopot dari kedudukanya, bahkan tanah mereka yang dibeli secara paksa oleh Ki Suramenggala karena mereka membutuhkan makan di waktu paceklik, kini dikembalikan begitu saja kepada mereka.

Juga mereka yang masih terikat hutang oleh Ki Suramenggala kini telah bebas!

Muncul harapan baru bagaikan sinar matahari pagi di hati para penduduk.

"Nah, Ki Suramenggala, berkemaslah dengan keluargamu dan hari ini juga andika harus meninggalkan Karang Tirta."

Kata Narotama kepada mantan lurah yang mukanya berubah pucat itu.

Ki Suramenggala mengangkat muka memandang kepada Narotama dengan sinar mata berapi, penuh kebencian.

Kemudian, di bawah hiruk-pikuk suara orang-orang yang saling bicara dengan gembira, dia berkata lirih dan hanya terdengar oleh Narotama, bahkan Ki Pujosaputro yang berdiri pula di tepi pendopo itu tidak mendengarnya karena dia asyik memperhatikan kegembiraan penduduk Karang Tirta.

"Ki patih, karena paduka patih dan saya lurah, maka terpaksa saya menaati keputusan paduka. Akan tetapi, harap diingat bahwa saya tidak akan melupakan penghinaan ini. Tunggulah pembalasan anak-anakku kelak!"

Setelah berkata demikian, Ki Suramenggala dengan muka berubah merah karena marah sudah meninggalkan pendapa itu dan masuk kedalam rumah, diikuti oleh semua keluarganya yang tadi duduk di lantai pendapa.

Dengan hati yang sakit dan dendam, Ki Suramenggala lalu mengajak semua keluarganya, kecuali Nyi Lasmi karena selirnya ini ikut bergembira dengan penduduk dan tidak kembali lagi ke dalam rumah, untuk pergi meninggalkan gedung kelurahan melalui pintu belakang dan boyongan keluar dari dusun Karang Tirta.

Barang-barang berharga mereka bawa semua dengan gerobak, juga ternak mereka, kuda dan sapi mereka bawa serta.

Mereka meninggalkan gedung kelurahan dengan prabot-prabot rumahnya.

Sementara itu, Narotama melanjutkan usahanya untuk mengatur agar dusun Karang Tirta menjadi sebuah dusun yang penghuninya hidup tenteram dan tenang, tidak ada penindasan, dipimpin oleh seorang lurah yang baik dan yang membawa penduduk ke dalam kehidupan yang lebih sejahtera dan bergotong royong sebagaimana layaknya kehidupan di dusun sejak jaman nenek moyang mereka dahulu.

Dia mengangkat kedua tangan minta agar semua orang diam.

Setelah keadaaan menjadi tenang, Narotama bertanya "Sekarang kami hendak bertanya, apakah kalian bersedia sekarang untuk memilih dan mengangkat seorang lurah baru.

Kalau bersedia, harap angkat tangan tanda setuju!"

Semua orang mengacungkan tangan dan ada yang berteriak-teriak lantang "Setujuuuu .....!"

"Baik, kalau andika sekalian setuju, pilihlah seorang di antara kalian untuk menjadi lurah baru di dusun ini!"

Bagaikan sekumpulan burung, terdengar mereka menyebutkan nama seseorang.

"Ki Pujosaputro .....!!"

Narotama tersenyum.

Ki patih ini memiliki batin yang selalu dekat dengan Sang Hyang Widhi sehingga dia memiliki kepekaan yang amat halus.

Tadi begitu melihat Ki Pujosaputro, dia sudah merasa suka kepada orang ini.

"Dengarkan semua! Kami mendengar seruan nama Ki Pujosaputro? Benarkah andika sekalian memilih Ki Pujosaputro sebagai lurah kalian yang baru? Kalau benar, acungkan tangan!"

Semua orang bersorak sambil mengacungkan tangan mereka. Ki Pujosaputro sendiri yang berdiri di pendopo segera mendekati Ki Patih Narotama dan berkata dengan muka kemerahan.

"Aduh, Gusti Patih! Hamba..... hamba seorang yang bodoh dan lemah, bagaimana mungkin dapat menjadi seorang lurah yang baik? Mohon paduka memilih lain orang saja."

Narotama tersenyum kepadanya.

"Justeru ucapan penolakanmu ini yang meyakinkan hati kami bahwa andika adalah orang yang tepat untuk menjadi lurah yang baik hati untuk dusun ini. Bukan orang pintar dan kuat yang kami butuhkan, melainkan orang yang rendah hati dan baik budi."

Narotama melihat Ki Wirodipo, orang pertama yang dia jumpai ketika memasuki dusun Karang Tirta, dan yang dia titipi kudanya, berdiri di bagian depan kelompok penduduk dusun itu.

Narotama menggapai kepada Ki Wirodipo dan berkata.

"Paman Wirodipo, naiklah ke sini, kami hendak bertanya kepada andika."

Ki Wirodipo tergopoh-gopoh naik pendapa dan begitu tiba di depan Narotama dia lalu sungkem dan menyembah "Ampunkan hamba, sama sekali hamba tidak tahu bahwa paduka adalah Gusti Patih ....."

"Bangkitlah, Paman Wirodipo dan jawab pertanyaanku dengan suara nyaring agar semua orang dapat mendengarkan. Coba ceritakan tentang keadaan diri Ki Pujosaputro ini. Andika mengenalnya bukan?"

Ki Wirodipo bangkit berdiri dan dengan muka berseri dia memandang kepada Ki Pujosaputro lalu menjawab dengan suara lantang.

"Tentu saja hamba mengenal Ki Pujosaputro. Sejak kecil dia tinggal di dusun ini dan dia adalah seorang yang mewarisi sawah ladang yang luas. Ki Pujosaputro inilah yang mengajak para penduduk yang mampu untuk membantu penduduk yang kekurangan. Kalau tidak ada Ki Pujosaputro dan teman-temannya, hamba semua tentu semakin payah di bawah tekanan Ki Suramenggala. Karena itulah, Gusti Patih, maka hamba sekalian memilih Ki Pujosaputro untuk menjadi lurah Karang Tirta yang baru."

Narotama lalu menghadapi Ki Pujosaputro dan berkata.

"Ki Pujosaputro, kami harap andika tidak menolak lagi karena andika telah dipilih oleh semua penduduk Karang Tirta."

"Ampun, Gusti Patih, bagaimana hamba dapat melaksanakannya?"

"Itu dapat diatur nanti, kami akan memberi petunjuk."

Setelah berkata demikian dan melihat Ki Pujosaputro tidak memperlihatkan sikap menolak lagi, Narotama lalu menghadapi para penduduk dan berkata dengan lantang.

"Kami sebagai Patih Kahuripan mewakili Gusti Sinuwun mengangkat Ki Pujosaputro sebagai lurah dusun Karang Tirta, sesuai dengan keinginan semua penduduknya. Semua pengembalian tanah kepada pemiliknya dahulu akan diatur dengan tertib oleh Ki Lurah Pujosaputro .yang akan dibantu oleh Ki Wirodipo dan para pembantu lain yang akan dipilih dan ditunjuk oleh Ki Lurah Pujosaputro. Sekarang, andika sekalian harap kembali ke pekerjaan masing masing."

Orang-orang itu bersorak sorai dan berlarian meninggalkan halaman kelurahan itu.

Halaman itu sebentar saja kosong dan hanya tinggal seorang yang tinggal situ, seorang wanita berusia kurang lebih tiga puluh tujuh tahun dan wanita itu mendeprok di atas tanah sambil menangis "Ki Lurah Pujosaputro, siapakah wanita itu?

Kenapa ia menangis dan tinggal di sana?"

K i Pujosaputro dan Ki Wirodipo memandang dan Ki Pujosaputro berkata.

"Ia adalah Nyi Lasmi yang sudah beberapa tahun ini menjadi selir Ki Suramengga, gusti. Hamba juga tidak tahu mengapa ia menangis."

"Selir Ki Suramenggala? Kenapa ia tidak ikut pergi bersama Ki Suramenggala? Coba panggil ia ke sini! "

Ki Wirodipo tanpa diperintah mendahului lurahnya turun dari pendopo menghampiri Nyi Lasmi.

Melihat sikap Wtrodipo ini, Ki Lurah Pujosaputro merasa senang.

Tidak salah pilihan Ki Patih Narotama untuk memperbantukan Ki wirodipo kepadanya!

"Nyi Lasmi, andika dipanggil oleh Gusti Patih.

Mari menghadap, beliau bijaksana, tentu akan dapat membikin terang persoalan yang menggelapkan hatimu."

Nyi Lasmi menahan tangisnya, bangkit dan mengikuti naik ke pendopo kelurahan. setelah tiba di depan Narotama, ia menekuk lututnya dan menyembah.

"Nyi Lasmi, mari ikut ke dalam, kita bicara di dalam."

Kata Narotama dan mereka semua memasuki ruangan depan rumah yang telah kosong itu.

Di situ terdapat sebuah meja besar dengan beberapa buah kursi.

Narotama mengajak tiga orang itu duduk berhadapan dengannya, terhalang meja.

Di depan ki patih, Nyi Lasmi tidak berani menangis, hanya matanya masih merah dan terkadang ia harus mengusap air mata yang tergantung di bulu matanya.

"Nyi Lasmi, katakan kenapa andika tidak ikut Ki Suramenggala pergi?"

Tanya Narotama, suaranya lembut dan ramah sehingga hilanglah rasa takut Nyi Lasmi "Bukankah andika ini isterinya?"

Nyi Lasmi menggunakan sehelai sapu tangan yang sudah basah untuk menyusut dua butir air mata, lalu menyembah "Ampunkan hamba, gusti patih, hamba menjadi isteri Ki Suramenggala karena terpaksa dan sekarang setelah dia terusir dari dusun ini, hamba merasa bebas dan tidak ingin ikut dengannya."

Narotama menoleh kepada Ki Pujosaputro.

"Benarkah bahwa Nyi Lasmi ini terpaksa menjadi isteri Suramenggala?"

Ki Pujosaputro melaporkan sejujurnya "Dahulu, Nyi Lasmi adalah seorang janda dengan seorang anak perempuan.

Kurasa lebih lima tahun yang lalu anaknya diculik orang.

Dalam keadaan hidup seorang diri itu dia dibujuk dan diancam oleh Ki Suramenggala dan ia agaknya tidak dapat menolak ketika diambil sebagai selir."

Narotama mengangguk-angguk, ia bertanya lagi kepada wanita itu.

"Kalau memang andika sudah mengambil keputusan untuk tidak mengikuti Ki Suramenggala, kenapa andika menangis di halaman itu?"

"Hamba merasa bingung harus pergi mana, gusti patih. Hamba tidak mempunyai tempat tinggal, hidup sebatang kara."

"Hemm, apakah andika tidak mempunyai sanak keluarga sama sekali?"

Wanita itu kembali mengusap dua bulir air mata.

"Hamba hanya mempunyai seorang anak perempuan yang ketika berusia tiga belas tahun diculik orang. Akan tetapi lima tahun kemudian, baru beberapa bulan yang lalu, ia pulang ke sini dan telah pergi lagi. Kalau saja ada Puspa Dewi anak hamba, tentu hamba tidak menjadi bingung seperti ini."

Narotama melebarkan matanya.

"Puspa Dewi? Ia itu anakmu? Gadis yang memiliki kesaktian itu?"

"Kasinggihan (benar), gusti. Setelah pulang, anak hamba Puspa Dewi menjadi seorang gadis yang memiliki kesaktian, akan tetapi kini ia pergi entah ke mana hamba tidak diberitahu."

Tiba-tiba Ki Lurah Pujosaputro menyembah dan berkata.

"Kalau hamba boleh mengajukan usul, gusti. Biarlah Nyi Lasmi tetap tinggal di rumah ini. Hamba hanya akan menggunakan ruangan depan dan pendopo untuk tempat para pamong desa bekerja dan untuk rapat pertemuan warga dusun."

"Bagaimana, Nyi Lasmi?"

Tanya Narotama.

"Terima kasih atas kebaikan hati Ki Lurah, akan tetapi rumah ini terlalu besar untuk saya tempati seorang diri saja. Saya hanya ingin mondok untuk sementara sambi menanti anak saya pulang."

"Hemm, kalau begitu, Ki Lurah Pujosaputro, sebaiknya andika sekeluarga boyongan pindah ke rumah kelurahan ini dan biarkan Nyi Lasmi mondok di sini. Setujukah andika?"

"Tentu saja hamba setuju, gusti patih!"

Kata Ki Lurah Pujosaputro dengan wajah cerah.

"Nah, kalau begitu urusan Nyi Lasmi sudah beres. Masuklah dan siapkan ke perluanmu, Nyi Lasmi. Kami masih mempunyai banyak persoalan untuk dibicarakan"

Nyi Lasmi menyembah dan berkata.

"Gusti patih, hamba menghaturkan banyak terima kasih. Sesungguhnya, selain hamba terpaksa menjadi selir Ki Suramenggala, juga hamba tidak ingin anak hamba Puspa Dewi dibawa ke jalan sesat olehnya maka sekarang setelah mendapat kesempatan hamba memisahkan diri dari keluarga Ki Suramenggala."

Narotama mengangguk-angguk, dan berkata.

"Keputusan yang andika ambil itu bijaksana."

Nyi Lasmi lalu memberi hormat lagi dan mengundurkan diri, masuk ke ruangan dalam rumah gedung itu.

Narotama lalu memberi petunjuk kepada lurah baru itu.

Agar segera memilih pembantu-pembantu yang jujur dan rajin bekerja, lalu membentuk penjaga keamanan dengan memilih pemuda-pemuda dusun itu yang baik budi.

Menertibkan pemilikan kembali sawah ladang para penduduk yang dulu diambil Ki Suramenggala, dan agar mengajak semua warga untuk menjaga keamanan dan mengusahakan kesejahteraan penduduk dengan bergotong royong.

"Tentu saja untuk mengurus dan menertibkan semua itu andika memerlukan tenaga bantuan, karena itu, bersama Wirodipo yang telah mengenal semua penduduk di sini, harap andika pilih siapa kiranya yang tepat untuk menjadi pembantu kelurahan. Jangan mendahulukan orang pintar, akan tetapi lebih baik mencari pembantu yang jujur dan baik budi. Orang pintar sekarang ini banyak terdapat di mana-mana, akan tetapi mencari orang yang jujur, setia dan baik budi amatlah sulitnya. Soal kepintaran dapat dipelajari oleh orang yang bodoh, akan tetapi kebaikan budi tidak dapat dipelajari oleh orang yang jahat. Kalau kami sudah kembali ke kota raja, akan kami kirim pejabat yang berwenang untuk mengesahkan pengangkatan andika sebagai Lurah baru."

Setelah meninggalkan semua pesan itu Narotama lalu kembali ke kota raja.

Dia ditugaskan oleh Sang Prabu Erlangga untuk menyelidiki urusan antara Nurseta dan Pangeran Hendratama, untuk menentukan siapa yang benar dan siapa yang salah.

Untuk itu, dia membutuhkan bukti yang nyata.

Dia sudah melakukan penyelidikan tentang diri Nurseta dan keterangan yang diperolehnya menyatakan bahwa Nurseta adalah seorang pemuda yang baik wataknya.

Apalagi mengingat betapa pemuda itu menjadi murid mendiang Sang Empu Dewamurti, maka dia mendapatkan kesan baik terhadap pemuda itu.

Kini dia harus melakukan penyelidikan kepada Pangeran Hendratama.

Puteri Lasmini dan Mandari menunggang kuda memasuki hutan lebat.

Sang Prabu Erlangga hanya mengetahui bahwa selirnya, Mandari, yang dikunjungi kakak nya, Lasmini, pergi berdua untuk berburu seperti yang biasa dilakukan dua orang puteri itu, seperti yang dikemukakan Mandari kepadanya ketika berpamit.

Tidak seperti para puteri lain, dua orang puteri kakak beradik ini melakukan perjalanan berburu binatang dalam hutan tanpa pengawal seorangpun.

Hal ini tidak mengherankan, juga Sang Prabu Erlangga memperkenankan, karena dia mengetahui bahwa dua orang wanita cantik itu adalah wanita-wanita digdaya yang tidak membutuhkan pengawal dan mampu melindungi diri sendiri.

Sesungguhnya, dua orang puteri itu bukan berburu binatang biasa saja seperti yang dikatakan ketika berpamit dari Sang Prabu Erlangga.

Mereka hanya menggunakan perburuan sebagai dalih saja.

Sebetulnya mereka memasuki hutan atas undangan Pangeran Hendratama yang mengadakan pertemuan dengan para sekutunya.

Persekutuan yang diam-diam merencanakan kehancuran Sang Prabu Erlangga dan Ki Patih Narotama ini memang telah lama saling mengadakan kontak rahasia.

Mereka berdua menuju ke tengah hutan dan di tempat yang sunyi dan tak pernah dikunjungi orang luar itu terdapat sebuah pondok kayu yang sederhana namun cukup besar.

Di tengah perjalanan tadi, setelah semakin dekat dengan pondok, kedua orang puteri itu melihat orang-orang yang melakukan penjagaan.

Itu adalah orang-orang yang ditugaskan Pangeran Hendratama untuk menjaga agar jangan ada orang luar datang mendekati pondok dimana berkumpul para sekutunya untuk mengadakan perundingan.

Ketika Lasmini dan Mandari tiba, dua orang anak buah Pangeran Hendratama segera menyambut dan mengurus dua ekor kuda yang tadi ditunggangi Lasmini dan Mandari.

Dua orang puteri melompat turun, menyerahkan kuda kepada dua orang anak buah itu, lalu menuju ke pondok.

Sebelum memasuki pintu, mereka disambut Pangeran Hendratama sendiri.

Dengan sikap hormat Pangeran Hendratama membungkuk dan berkata.

"Selamat datang, puteri-puteri yang Cantik dan gagah perkasa, silakan masuk kawan-kawan sudah menanti kedatangan andika berdua sejak pagi tadi."

Lasmini dan Mandari mengangguk dan mereka memasuki ruangan pondok yang luas.

Semua orang yang berada dalam ruangan itu bangkit dan membungkuk dengan hormat menyambut kedatangan Lasmini dan Mandari.

Dua orang puteri itu mengangguk senang sambil memperhatikan siapa yang sudah berkumpul diruangan itu.

Di situ terdapat Puspa Dewi sebagai wakil Kerajaan Wurawuri, Linggajaya mewakili Kerajaan Wengker, Lasmini dan Mandari sendiri mewakili Kerajaan Parang Siluman, dan Pangeran Hendratama merupakan sekutu yang berambisi menggulingkan adik iparnya, Sang Prabu Erlangga agar dia dapat menggantikan kedudukan sebagai Raja Kahuripan.

Setelah duduk menghadapi meja besar dan melayangkan pandang matanya, Lasmini berkata.

"Hemm, aku tidak melihat wakil dari Kerajaan Siluman Laut Kidul!"

Pada saat itu, seolah menjawab pertanyaan yang dilontarkan Lasmini, terdengar derap kaki banyak kuda didepan pondok. Pangeran Hendratama yang bertindak sebagai "tuan rumah"

Bergegas keluar dan dia tersenyum gembira menyambut seorang wanita seperti raseksi (raksasa wanita), berusia lima puluh tahun, tubuhnya gembrot dan tinggi besar, mukanya berbedak tebal, pakaiannya mewah sekali, mengenakan perhiasan emas permata, wajahnya serba bulat dan dari celah-celah bibirnya tampak mengintip keluar dua buah taring!

Inilah Ratu Mayang Gupita, ratu yang berkuasa di kerajaan Siluman Laut Kidul!

"Selamat datang, Kanjeng Ratu, kami berbahagia sekali menerima kedatangan andika yang sudah kami tunggu-tunggu."

Kata Pangeran Hendratama. Ratu yang menyeramkan itu memandang wajah Pangeran Hendratama dan bertanya.

"Apakah wakil semua kerajaan yang bersekutu datang?"

Pangeran Hendratama mengangguk.

"semua lengkap, Kanjeng Ratu. Wakil dari wengker, dari Wura-wuri, dan dari Parang siluman sudah hadir."

"Bagus! Tidak sia-sia aku melakukan perjalanan jauh."

Katanya sambil melangkah memasuki ruangan pondok itu.

Setelah mempersilakan Ratu Mayang Gupita duduk, Pangeran Hendratama lalu memperkenalkan Linggajaya dan Puspa Dewi kepada ratu itu yang sudah mengenal Lasmini dan Mandari.

Atas isyarat pangeran Hendratama, dua orang pelayan pria masuk keruangan membawa minuman dan makanan beberapa macam kue.

mereka menghidangkan makanan dan minuman di atas meja lalu cepat pergi lagi meninggalkan ruangan itu dan menutupkan daun pintu ruangan.

Setelah mengucapkan selamat datang dan terima kasih kepada mereka yang hadir, Pangeran Hendratama lalu menceritakan pendapat dan usulnya.

"Keadaan kini menjadi gawat dan kita harus dapat segera bertindak agar jangan sampai terlambat. Aku terancam oleh penjahat cilik Nurseta dan kakeknya senopati Sindukerta."

"Akan tetapi pangeran, bukankah mereka berdua kini telah ditahan dalam penjara istana? Mereka tidak mungkin dapat lolos dari penjara. Apa yang dikhawatirkan?"

Kata Mandari yang telah mendengar akan hasil persidangan istana itu.

"Benar, akan tetapi mereka hanya ditahan sementara saja. Kini Ki Patih Narotama sedang melakukan penyelidikan dan kalau sampai kemudian diketahui bahwa keris Sang Megatantra berada padaku, rencana kita semua akan gagal."

"AKAN tetapi Ki patih tidak akan dapat membuktikan bahwa keris Itu berada padamu, pangeran?"

Kata Lasmini. 'Memang tidak, akan tetapi Ki Patih Narotama itu cerdik sekali. Aku khawatir dia akan mencurigaiku."

Kata Pangeran Hendratama kelihatan jerih terhadap ki Patih itu.

"Lalu, apa rencanamu, pangeran?"

Mendengar suara parau Ratu Mayang Gupita.

"Kita harus cepat bertindak. Ada tiga hal yang harus kita lakukan kalau kita ingin berhasil dalam rencana kita. Pertama, kita harus berusaha untuk membunuh Ki Patih Narotama! Kedua, kita juga harus membunuh Nurseta dan Ki Sindukerta dalam kamar tahanan. Dan ketiga ini yang terpenting, (Lanjut ke

Jilid 24) Keris Pusaka Sang Megatantra (seri ke 01 -Serial Keris Pusaka Sang Megatantra) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo

Jilid 24 kita harus mempersiapkan balatentara gabungan untuk menyerbu istana dan menguasainya."

"Wah, tiga hal yang andika rencanakan itu kesemuanya amat sukar, Pangeran!"

Linggajaya. Sebagai wakil Kerajaan Wengker dia tidak mau bersikap rendah terhadap Pangeran Hendratama.

"Aku tahu betapa saktinya Ki Patih Narotama. Juga aku pernah bertanding melawan Nurseta dan dia bukan orang yang mudah dibunuh begitu saja. Bagaimana dua hal ini akan dapat dilaksanakan?"

Pangeran Hendratama mengerutkan alisnya, tidak senang mendengar pendapat Linggajaya yang menurunkan semangat itu.

"Semua orang tahu bahwa semua hal itu tidaklah mudah, akan tetapi setiap perjuangan memang tidak ada yang mudah, setiap hasil baik itu harus ditebus dengan usaha yang sekuatnya. Mari kita bahas satu demi satu tiga macam usaha kita untuk mencapai kemenangan itu. Pertama, tentang rencana pembunuhan terhadap Ki Patih Narotama Apakah andika sekalian mempunyai usul yang baik?"

"Menurut pendapatku, yang paling tepat memikul tugas membunuh Ki Patih Narotama ini haruslah orang-orang yang dekat dengan dia. Tidak ada orang lain yang lebih dekat kecuali Puteri Lasmini dari Kerajaan Parang Siluman yang telah menjadi selirnya, dibantu oleh Linggajaya sebagai wakil Kerajaan Wengker karena dia telah berhasil menyusup ke kepatihan sebagai juru taman!"

Semua orang tampaknya setuju dan Pangeran Hendratama berkata.

"Usul itu memang baik sekali dan cocok dengan rencanaku. Akan tetapi tentu saja kami minta pendapat yang bersangkutan, dalam hal ini Puteri Lasmini. Bagaimana pendapat andika dengan usul itu? Dan juga Linggajaya, sanggupkah membantu Puteri Lasmini melaksanakan tugas ini?"

Lasmini tersenyum.

"Terus terang saja, aku memang sudah merencanakan pembunuhan terhadap Ki Patih Narotama, dibantu oleh Linggajaya. Kami sudah merencanakan itu dan hanya tinggal menanti saat baik saja. Baik, kuterima tugas itu."

"Aku juga menerima tugas itu!"

Kata Linggajaya yang tidak punya pilihan lain.

"Bagus, kalau begitu masalah pertama sudah diputuskan. Sekarang persoalan kedua, yaitu pembunuhan Nurseta dan Sindukerta. Siapa yang pantas melaksanakan tugas berat ini?"

"Tugas ini memang berat sekali, terutama karena mereka itu ditahan dalam ruangan tahanan istana, jadi dekat dengan Sang Prabu Erlangga. Aku sendiri tidak dapat membantu karena aku merasa bahwa sedikit banyak Sang Prabu Erlangga sudah agak berubah sikapnya terhadap diriku, seolah sudah menaruh curiga. Aku hanya dapat membantu dengan memberi jalan keluar kepada mereka yang ditugaskan untuk membunuh kedua orang tahanan itu, kalau usaha mereka gagal."

Kata Dewi Mandari.

"Memang sebaiknya, seperti hal pertama tadi, hal kedua ini dilakukan pula oleh orang yang tinggal di istana."

Kata Pangeran Hendratama.

"Dan yang tinggal di istana adalah Puteri Mandari dan Puspa Dewi. Karena tidak mungkin bagi Puteri Mandari melaksanakan tugas itu maka tinggal Puspa Dewi yang tinggal di istana, karenanya ia yang dapat melakukan dengan tidak begitu sukar."

Puspa Dwi mengerutkan alisnya.

"Pangeran, aku juga pernah bertanding melawan Nurseta, bahkan mengeroyoknya bersama Linggajaya, dan harus kukatakan bahwa dia adalah seorang yang memiliki kesaktian tinggi. Aku sendiri tidak mungkin dapat membunuhnya!"

Tentu saja ucapan Puspa Dewi ini tidak sama dengan suara hatinya.

Dalam hatinya, ia tidak mau membunuh Nurseta karena kini semakin jelas baginya pihak siapa yang benar dan siapa yang bersalah.

Untuk membalas budi gurunya, Nyi Dewi Durgakumala yang kini menjadi permaisuri Raja Mhismaprabhawa di Kerajaan Wura-wuri, tentu saja ia mau membela Wura-wuri.

Akan tetapi bukan dengan cara curang dan bersekutu dengan orang-orang jahat seperti ini!

"Tentu saja bukan andika seorang diri, puspa Dewi.

Aku sendiri juga tahu betapa tangguhnya si Nurseta itu.

Sekarang marilah kita membagi-bagi tugas Linggajaya dan Puteri Lasmini sudah mendapat tugas membunuh Ki Patih Narotama".

"Selain itu, aku juga akan mempersiapkan pasukan Kerajaan Wengker untuk membantu merebut kekuasaan diKahuripan!"

Kata Linggajaya.

"Ratu Mayang Gupita, kalau kami boleh mengusulkan dan minta bantuanmu, dapatkah andika mempersiapkan diri untuk membantu Puspa Dewi untuk membunuh Nurseta dan Sindukerta dalam tahanan? Jangan khawatir, Puteri Mandari tentu akan dapat menyelundupkan mu ke dalam istana."

Raksasa wanita itu mengangguk angguk.

"Baiklah, aku akan membantu Puspa Dewi dan aku akan mengajak Dibyo Mamangkoro dan Cekel Aksomolo. Mustahil kami berempat dengan Puspa Dewi tidak akan mampu membunuh Nurseta dan Senopati Sindukerta."

"Bagus sekali! Kalau andika dan pembantu andika mau turun tangan, kami yakin tugas ini akan dapat diselesai dengan berhasil baik!"

Kata Pangeran Hendratama gembira sekali.

Selain dia akan terbebas dari musuh-musuhnya yang hendak membongkar rahasianya dan merampas Sang Megatantra, juga kalau dua pembunuhan itu dapat dilaksanakan dengan baik, berarti memperlancar rencana pemberontakannya dan merampas tahta Kerajaan Kahuripan dari tangan Sang Prabu Erlangga.

Puspa Dewi yang sejak tadi mencari jalan untuk mengetahui semua rencana pangeran pengkhianat itu, lalu berkata.

"bagaimana wakil Kerajaan Wura-wuri, aku ingin sekali mengetahui rencana kita yang ketiga, yaitu tentang penyerbuan ke Istana dan menguasainya. Bagaimana hal yang amat sulit ini dapat diatur?"

"Memang hal yang ke tiga itu harus kita rundingkan baik-baik sekarang setelah dua hal pertama dan kedua sudah kuputuskan. Untuk melaksanakan ini dengan berhasil, kita harus bekerja sama. semua kekuatan harus dipersatukan, karena itu kami harap semua kerajaan mengirimkan pasukan dan bergabung di hutan ini. Bagaimana pendapat kalian?"

"Aku akan mengabarkan kepada Kanjeng Ibu Durgamala di Kerajaan Parang Siluman kami untuk mengirimkan pasukan ke hutan ini?"

Kata Lasmini.

"Aku juga akan mengerahkan para senopatiku untuk memimpin pasukan dan membawa pasukan kami ke sini."

Kata Ratu Mayang Gupita dari Kerajaan Siluman Laut Kidul.

"Baik sekali kalau begitu, hal ke tiga yang terpenting juga sudah disepakati. Linggajaya bertugas mengirim pasukan dari Kerajaan Wengker, Puspa Dewi mengirim pasukan dari Wurawuri, Ratu Mayang Gupita mengirim pasukan dari Kerajaan Siluman Laut Kidul, dan Puteri Lasmini mengirim pasukan dari Kerajaan Parang Siluman. Jadi dari empat kadipaten atau kerajaan itu sudah sepakat mengirimkan pasukan masing-masing ke hutan ini untuk bersatu dan kami sendiri akan mengerahkan pasukan dari para senopati yang mendukung gerakan ini. Kita sekarang rundingkan untuk menetapkan hari dan saat gerakan pasukan gabungan itu untuk menyerbu istana. Semua pasukan harus sudah siap di dalam hutan ini sebelum hari yang telah ditentukan Itu dan semua harus dilakukan secara rahasia agar jangan sampai ketahuan orang dan sebaiknya kalau dilakukan di waktu malam."

"Bagus, dan aku sendiri akan membantu dari dalam istana kalau saat penyerbuan ke istana dilakukan."

Kata Puteri Mandari.

"Pangeran, bagaimana kita dapat yakin bahwa pasukan para senopati di Kahuripan akan benar-benar membantu kalau mereka tahu bahwa pusaka Sang Megatantra tidak berada padamu? Kalau pusaka itu berada di tangan Nurseta, terutama semua orang di Kahuripan condong membantu dia karena pusaka itu dipuja sebagai wahyu keraton oleh semua orang Kahuripan sebagai keturunan Mataram."

Kata Puspa Dewi untuk memancing.

Memang ia seorang gadis yang cerdik.

Ia memancing dan mengajukan alasan yang masuk akal sehingga Pangeran Hendratama sama sekali tidak menyangka bahwa gadis itu memancingnya untuk mengetahui di mana sebetulnya pusaka itu.

Pangeran Hendratama tersenyum.

Baca Juga: Jodoh Rajawali 5

Baca Juga: Mutiara Hitam 29

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert