Ceritasilat Novel Online

Kembalinya Sang Pendekar Rajawali 16

Eps 16 Kembalinya Sang Pendekar Rajawali - Chin Yung

Baca online Kembalinya Sang Pendekar Rajawali - Chin Yung

Cersil Kembalinya Sang Pendekar Rajawali - Chin Yung.

Beberapa ratus Tosu yang sudah lama tirakat dan jauh dari urusan kehidupan manusia itu menjadi serba runyam ketika mendadak mendengar u-capan kedua muda mudi yang penuh kasih mesra itu, semuanya saling pandang dengan wajah merah jengah.

Segera Sun Put-ji membentak.

"Lekas kalian pergi saja dari sini, Tiong-yang-kiong adalah tempat suci, tidak pantas kalian mengucapkan kata2 tidak sopan di sini."

Akan tetapi Nyo Ko malah berseru pula.

"Dahulu Tiong-yang Cosu dan Lim-cosu sebenarnya adalah suatu pasangan yang setimpal, tapi entah sebab tata adat apa yang menyebabkan gagalnya perjodohan mereka dan meninggalkan penyesalan selama hidup, Kokoh justeru kita menikah di hadapan pemujaan Tiong-yang Cosu untuk melampiaskan rasa dongkol Lim-cosu kita."

Siao-liong-li tertawa manis, ia menghela napas dan menjawab.

"Koji, kau sungguh baik padaku,"

Tentang hubungan cinta antara mendiang Ong Tiong-yang dan Lim Tiau-eng, hal ini cukup diketahui oleh Coan-cin-ngo-cu.

Maka hati mereka tergetar demi mendengar Nyo Ko mengungkat urusan itu.

Sun Put-ji lantas membentak pula.

"Mendiang guru kami mendirikan Coan-cia-kau ini dengan kepintaran dan keyakinan yang penuh, jika kau berani sembarangan omong dan bertindak di sini, jangan menyesal jika pedangku tidak kenal ampun padamu,"

Sret, segera ia melolos pedangnya.

padahal melulu kepandaian Sun Put-ji sendiri sejak dulu juga bukan tandingnan Nyo Ko, tapi sekali bergerak, tentu be-ratus2 Tosu itu takkan tinggal diam.

Maka Nyo Ko hanya melirik sekejap saja padanya dan tidak menggubris, ia membatin .

Betapapun aku harus segera menikah dengan Kokoh, Kalau tidak dilaksanakan di sini, jangan2 setelah meninggalkan Tiong-yang-kiong ini Kokoh lantas tak tertolong lagi, tentu Kokoh akan meninggal dengan menyesali Biasanya Nyo Ko memang suka bertindak menuruti kehendaknya, sekali dia menyatakan ingin menikah di hadapan pemujaan Tiong-yang Cosu, maka apapun yang akan terjadi pasti akan dilaksanakannya.

Dilihatnya sebagian besar kawanan Tosu itu sudah menghunus pedangnya dan siap tempur ia lantas berkata .

"Sun-totiang, jadi kau sengaja mengusir kami?"

Dengan suara ketus Sun Put-ji membentak pula.

"Pergi, lekas pergi! selanjutnya Coan-cin-kau putus hubungan dengan Ko-bong-pay, paling baik kalau kita tidak bertemu lagi!"

Tadinya Nyo Ko berdiri menghadapi Tiong-yang-kiong, ia menghela napas panjang mendengar ucapan Sun Put-ji yang tegas itu, ia membalik tubuh dan melangkah ke kuburan kuno, dua langkah ia berjalan, berbareng ia mengembalikan pedang pada pinggangnya, lengan baju kanan mengebas dan memayang Siao-liong-Ii.

Tiba2 ia menengadah dan tertawa ter-bahak2.

Begitu keras suara tertawanya hingga mengejutkan semua orang.

Baru selesai tertawa, mendadak ia melepaskan Siao-Iiong-Ii-dan melompat mundur, tahu2 Hjat-to bagian pergelangan tangan kanan Sun Put-ji kena dipegangnya, Ketika Siao Iiong-ir kehilangan sang-gahan dan mulai sempoyongan pada saat itu juga Nyo Ko sudah melompat tiba pula dengan membawa Sun Put-ji.

Gerakan melompat mundur dan maju sungguh cepat dan gesit luar biasa, belum lagi para Tosu menyadari apa yang terjadi, tahu2 Sun Put-ji sudah berada dalam cengkeraman Nyo Ko dan tak bisa berkutik.

Sebenarnya tokoh berpengalaman sebagai Khu Ju-ki, Ong Ju-it, Sun Put-ji dan lain2 juga sudah waswas sebelumnya kalau mendadak Nyo Ko melancarkan serangan dan menawan salah seorang kawannya untuk dijadikan sandera.

Mereka menyaksikan Nyo Ko menyimpan kembali senjatanya dan melangkah pergi, tangan satunya digunakan pula untuk memayang Siao-liong-li, siapa tahu anak muda itu sengaja mengacaukan perhatian lawan dengan tawanya, lalu mendadak melakukan sergapan dan berhasil menawan Sun Put-ji.

Serentak para Tosu itu ber-teriak2 dan merubung maju dengan pedang terhunus, tapi mereka menjadi mati kutu dan tidak berani sembarangan bertindak karena Sun Put-ji berada dalam genggaman musuh.

Dengan suara pelahan Nyo Ko berkata.

"Maaf, Sun-totiang, terpaksa kulakukan begini dan membikin susah kau."

Ia terus gandeng tangan Sun Put-ji itu, bersama Siao-liong-Ii mereka lantas melangkah pelahan ke pendopo Tiong-yang-kiong, Para Tosu mengikut dari belakang, semuanya merasa gusar dan kuatir pula, tapi tidak berani bertindak.

Setelah memasuki pintu halaman dan menyusun serambi samping, akhirnya Nyo Ko dan Siao-liong-li sampai di ruangan induk Tiong-yang-kiong dengan Sun Put-ji sebagai sanderanya, Nyo Ko menoleh dan berseru kepada para Tosu.

"Hendaknya kalian menunggu di luar ruangan, siapapun dilarang masuk, Kami berdua sudah tidak memikirkan jiwa lagi, kalau sampai bergebrak, biarlah kami gugur bersama Sun-totiang sekaligus."

"Bagaimana, Khu suheng?"

Tanya Ong Ju-it pelahan.

"Tenang saja dan bertindaklah menurut keadaan"

Jawab Khu Ju-ki.

"Tampaknya dia tidak bermaksud jahat pada Sun-sumoay."

Coan-cin-ngo-cu selamanya malang melintang di dunia Kangouw, namanya dihormati kawan dan disegani lawan, tak tersangka sekarang mereka malah mati kutu menghadapi seorang anak muda yang masih hijau begitu, sungguh mereka mendongkol tapi juga geli sendiri.

Nyo Ko lantas mengambil sebuah kasuran bundar untuk tempat duduk Sun Put-ji sambil menutuk pula Hiat-to bagian punggungnya,agar tidak dapat bergerak, Para Tosu ternyata tidak berani masuk sebagaimana telah diperingatkannya tadi, lalu ia memayang Siao-liong-li ke depan lukisan Ong Tiong yang, mereka berdiri berjajar.

Karena waktu kecilnya pernah belajar di Tiong-yang-kiong, bagi Nyo Ko lukisan Ong Tiong-yang itu sudah tidak asing lagi, sekarang ia coba memandang beberapa kali lukisan itu, terlihat Tojin yang terlukis itu menghunus pedang dengan gagahnya, usianya antara 30 tahun, di tepi lukisan ada tiga huruf.

"Hoat-su-jin" (orang hidup mati, artinya orang yang hidup ini tiada ubahnya seperti orang sudah mati), Lukisan itu cuma terdiri dari beberapa goresan saja, tapi orang yang terlukis itu tampak gagah perkasa, jelas goresan itu berasal dari tangan pelukis yang mahir. Tiba2 Nyo Ko teringat bahwa di dalam kuburan kuno itu juga ada sebuah lukisan diri Ong Tiong-yang, meski lukisan di Tiong-yang-kiong, ini tokoh yang dilukiskan ini berdiri menghadap ke depan dan lukisan di kuburan itu bagian samping, namun gaya goresan pelukisnya jelas sama, Segera ia berkata.

"Kokoh, lukisan inipun buah tangan Lim cosu."

Siao-liong-li mengangguk dan tersenyum manis padanya, katanya dengan suara lirih.

"Kita menikah di hadapan lukisan Tiong-yang Cosu, sedangkan lukisan ini adalah buah tangan Lim-cosu, sungguh sangat kebetulan dan baik sekali."

Nyo Ko lantas menggeser dua buah kasuran bundar dan dijajarkan di depan lukisan, lalu berseru.

"Tecu Nyo Ko dan perempuan she Liong sekarang mengikat menjadi suami-isteri di depan Tiongyang-Cosu, beberapa ratus Totiang dari Coan-cin-kau yaing hadir di sini adalah saksi semua." -Sembari berkata ia terus berlutut di atas sebuah kasuran, ketika melihat Siao-liong-li masih berdiri tegak, segera ia berkata puIa.

"Kokoh, sekarang juga kita melangsungkan upacara nikah, hendaklah kaupun berlutut di sini!" . Siao-liong-li termenung diam, kedua matanya tampak merah dengan air mata berIinang2. sejenak barulah ia berkata.

"Ko-ji, tubuhku sudah tidak bersih lagi, pula ajalku sudah dekat, buat apa.... buat apa kau begini baik padaku?"

Sampai di sini tak tertahankan lagi air matanya bercucuran laksana butiran mutiara. Nyo Ko lantas berdiri lagi dan mengusapkan air mata si nona, katanya dengan tertawa.

"Kokoh, masakah kau masih belum memahami hatiku?"

Siao-liong-li mengangkat kepalanya memandangi Nyo Ko, terdengar anak muda itu berkata pula.

"Sungguh kuharap kita berdua dapat hidup seratus tahun lagi agar kusempat membalas budi kebaikanmu dahulu padaku, andaikan tidak dapat, kalau Thian (Tuhan) cuma berkenan memberi hidup satu hari saja kepada kita, maka bolehlah kita menjadi suami-isteri satu hari, jika cuma diberi hidup lagi satu jam, biarlah kitapun menjadi suami-isteri satu jam."

Tidak kepalang rasa haru Siao-Siong-li melihat kesungguhan hati anak muda itu dengan sorot matanya yang penuh kasih mesra, wajahnya yang pedih pelahan2 menampilkan senyuman manis, air mata masih meleleh di pipinya, namun jelas tak terkatakan rasa bahagianya, pelahan iapun berlutut di atas kasuran itu.

Nyo Ko lantas berlutut pula, keduanya lantas menyembah kepada lukisan itu, hati mereka merasa bahagia, segala duka derita di masa lalu serta ajal yang sudah dekat sama sekali tidak berarti apa2 bagi mereka.

BegituIah mereka saling pandang dengan tersenyum, dengan suara pelahan Nyo Ko ber-doa.

"Tecu Nyo Ko dan Siao-liong-li saling mencintai dengan setulus hati, semoga selalu dilahirkan menjadi suami isteri, kekal dan abadi."

Dengan suara pelahan Siao-liong-li juga mengikuti doa Nyo Ko itu dengan khidmat.

Sun Put-ji duduk di sebelah mereka, meski tubuh tak bisa bergerak, tapi dia dapat melihat dan mendengar, sikap dan ucapan,kedua anak muda itu dapat diikutinya dengan jelas.

Semakin melihat semakin dirasakannya tindak tanduk kedua orang muda itu sungguh suci murni, biarpun perbuatan mereka itu melanggar adat, namun semua itu timbul dari pikiran yang bersih, dari jiwa yang luhur.

"Kini kami sudah terikat menjadi suami-isteri, sekalipun harus mati dengan segera juga tidak menyesal lagi,"

Demikian pikir Nyo Ko. Semula ia kuatir kawanan Tosu itu akan menyerbu ke dalam ruangan untuk merintangi perbuatan mereka itu, kini rasa kuatir itu telah lenyap semuanya. Dengan tertawa ia berkata.

"Kokoh, diriku adalah murid yang murtad Coan-cin-pay, hal ini sudah terkenal di dunia persilatan Engkau sendiri ternyata juga seorang murid maha murtad."

"Benar,"

Jawab Siao-liong-li.

"Suhu,melarang aku memikirkan cinta, melarang aku menerima murid lelaki, lebih2 dilarang menikah, tapi sebuahpun aku tidak mematuhinya, jadi penderitaan kita ini memang juga setimpal."

"Biarlah, sekali murtad tetaplah murtad,"

Seru Nyo Ko.

"Ong-cosu dan Lim-cosu jauh lebih perkasa, lebih ksatria daripada kita, namun mereka justeru tidak berani menikah. Kalau kedua Cosu itu mengetahui di alam baka belum tentu beliau2 itu akan menyalahkan kita."

Selagi Nyo Ko menyatakan tekadnya itu dengan penuh bersemangat dan bangga, pada saat itulah se-konyong2 terdengar suara gemuruh di atap rumah disertai dengan berhamburnya genting pecah dan kasxti pecah, menyusul sebuah genta seberat beberapa ratus kati anjlok dari atas tepat di atas kepala Sun Put-ji.

Tergerak hati Nyo Ko dan seketika iapun paham duduknya perkara, secepatnya ia melompat maju, tangan kiripun sudah melolos Hian-tiat-pokiam, pedang tumpul yang berat itu.

Kiranya perbuatan Nyo Ko dan Siao-liong-li yang melangsungkan upacara nikah di ruangan besar Tiong-yang-kiong itu telah menimbulkan rasa gusar para Tosu Coan-cinkau.

Diantara Coan-cin ngo-cu itu Lau Ju-hian paling banyak tipu akalnya, ia tahu kalau menyerbu ke dalam mungkin Sun Put-ji akan menjadi korban lebih dulu.

Tiba2 ia mendapatkan akal, ia bisik2 berunding dengan Ong Ju-it, Khu Ju ki dan Hek Tay-thong bertiga, habis itu ia memberi pesan kepada anak muridnya agar mengambil genta raksasa yang beratnya ribuan kati di belakang istana, Khu Ju-ki berempat lantas menggotong genta raksasa itu dan meloncat ke atas wuwungan, lalu mendadak genta itu dijatuhkannya ke bawah sehingga atap rumah berlubang, genta itu dijatuhkan tepat di atas tubuh Sun Put ji.

Asalkan Sun Put-ji tertutup di dalam genta dan Nyo Ko tidak dapat mencelakai dia, maka be-ramai2 kawanan Tosu itu akan dapat mengerubut dan menawan Nyo Ko berdua.

Akal itu sebenarnya sangat bagus, tapi Lau Ju-hian tidak tahu bahwa kini ilmu pedang Nyo Ko benar2 sudah maha sakti, tenaga dalamnya juga maju banyak, sekali pedang tumpul itu ditusukkan ke depan.

"trang" , tahu2 genta raksasa itu tergeser menceng sedikit ke samping dan jatuhnya tepat akan menindih tubuh Sun Put-ji. Kejadian ini dapat disaksikan dengan jelas Lau Ju-hian berempat dari atas, mereka sama menjerit kaget dan berduka, sama sekali mereka tidak mengira tenaga anak muda itu sedemikian hebatnya, Lau Ju-hian sampai memejamkan matanya untuk menyaksikan nasib buruk Sun Put-ji yang akan tertimpa genta itu. Tak terduga segera terdengar Khu Ju-ki berseru.

"Terima kasih atas kemurahan hatimu!"

Waktu Lau Ju-hiaa membuka kembali matanya, ia menjadi heran, ternyata genta itu telah mengurung rapat Sun Put-ji di dalamnya, di samping genta tiada sesuatu tanda bekas tertindihnya Sun Put-ji bahkan ujung jubahnya juga tidak kelihatan.

Rupanya waktu Nyo Ko melihat genta yang ditolak oleh pedangnya itu bakal menimpa Sun Put-ji dan pasti akan membuatnya binasa, tiba2 teringat olehnya bahwa baru saja kami menikah, tidaklah baik kalau mencelakai jiwa orang, apalagi To-koh tua itu juga tidak jahat, hanya wataknya saja yang rada aneh.

Karena pikiran itulah, secepat kilat ia mengebaskan lengan bajunya untuk mendorong kasur yang diduduki Sun Put ji itu sehingga tepat tertutup rapat di dalam genta.

Khu Ju-ki berempat menjadi serba salah sekarang, mereka merasa tidak pantas lagi memusuhi Nyo Ko, namun anak muridnya tadi sudah diberi pesan bila genta itu sudah dijatuhkan ke bawah, serentak mereka harus menyerbu ke dalam pendopo, Anak murid mereka tentu tidak dapat menyaksikan apa yang terjadi di bagian dalam, maka saat itu kawanan Tosu itu be-ramai2 sudah mulai menyerbu.

Melihat suasana rada gawat, cepat Nyo Ko gantungkan pedang pada pinggangnya, ia rangkul Siao-liong-li terus dibawa, lari ke ruangan belakang.

"Perhatian para anak murid, jangan sekali2 mencelakai jiwa mereka berdua,"

Seru Khu Ju-ki dengan suara lantang.

Dalam pada itu para Tosu itu lantas mengudak ke belakang sambil ber-teriak2.

Sebelum itu Lau Ju-hian juga sudah menyiapkan 21 murid pilihan di halaman belakang pendopo, baru saja Nyo Ko keluar, tertampak sinar pedang gemerdapan, mereka telah dipapak oleh barisan pedang.

Tiba2 Nyo Ko berpikir bahwa lebih baik menerjang keluar melalui lubang atap yang jebol oleh genta raksasa tadi, meski di atas atap ada dijaga oleh keempat tokoh utama Coan cin-pay, tampaknya mereka berempat takkan melancarkan serangan maut padaku.

Karena pikiran ini, segera ia berlari kembali ke ruangan pendopo, Kedua tangan Siao-liong-li merangkul kencang di leher Nyo Ko, katanya dengan suara lembut.

"Kita sudah terikat menjadi suami-isteri, cita2 hidup kita sudah tercapai. Adalah baik kalau kita dapat menerjang keluar, andaikan tidak dapat juga tidak menjadi soal."

"Benar,"

Kata Nyo Ko, begitu kakinya bekerja .

"blakbluk" , kontan dua Tosu yang mengadangnya didepaknya hingga terjungkal sementara itu ruangan pendopo itu sudah penuh berjubel kawanan Tosu, karena itu barisan pedang Coan-cin-pay itu sukar dikerahkan Namun lengan kiri Nyo Ko digunakan memondong Siao-liong-li, hanya dengan kakinya saja ia dapat merobohkan musuh dan dengan sendirinya sukarlah baginya untuk lolos dari kepungan. Diam2 ia menjadi gemas terhadap para Tosu itu.

"Blang" , kembali seorang Tojin ditendangnya terjungkal dan menumbuk jatuh pula dua kawannya. Tengah ribut2 sekonyong2 dari luar sana berlari masuk seorang tua berjenggot dan berambut ubanan semua, di belakang si kakek mengikut suatu gerombolan besar tawon madu, orang itu ternyata Ciu Pek-thong adanya. Pendopo Tiong-yang-kiong itu kacau balau sehingga bertambah seorang Ciu Pek-thong juga tidak menjadi perhatian orang Coan-cin-kau. Tapi begitu tiba, segera kawanan tawon mencari sasarannya untuk disengat, keruan keadaan tambah gaduh, Ka-wanan tawon madu itu bukanlah tawon biasa, tapi adalah tawon putih piaraan Siao-liong-li di kuburan kuno itu. Begitu tersengat tawon itu, seketika timbul rasa sakit dan gatal yang tak tertahankan. saking tidak tahan, sebagian Tosu itu sama ber-guling2 di lantai sambil ber-teriak2, keruan suasana tambah kacau. Kiranya Ciu Pek-thong teramat kagum dan tertarik setelah menyaksikan Siao-liong-li dapat mengundang dan memimpin gerombolan tawon di luar kota Siangyang tempo hari, di luar tahu Siao-liong-li ia telah mencuri botol madu tawon nona itu dengan maksud akan menirukan kepandaian Siao-liong-li mengumpulkan barisan tawon. Tak terduga, biarpun beberapa puluh ekor tawon dapat dipancing datang, tapi lantaran caranya tidak tepat, segerombolan tawon itu tidak mau tunduk pada perintahnya. Ketika permainannya itu kemudian kepergok Siao-liong-li, Ciu pek-thong jadi malu dan cepat2 kabur. Tadinya dia bermaksud mencari Kwe Cing, tapi kuatir ketemu Siao-liong-li lagi di sana, ia batalkan maksudnya ke kota itu, setelah ditimbang, akhirnya ia ambil keputusan mengunjungi Cong-lam-san, tujuan utama dapat bertemu dengan para Sutit (murid keponakan) yang sudah belasan tahun tidak bcrjumpa, selain itu iapun ingin mencari Tio Ci-keng untuk ditanyai mengapa berani mengapusi dan mencelakai sang Susiokco? Sepanjang jalan Ciu Pek'thong mempelajari madu tawon yang dicurinya dari Siao-liong-li itu, lama2 iapun dapat meraba sedikit cara2 memerintah kawanan tawon. Perlu diketahui bahwa sifat Ciu Pek-thong memang kocak, ke-kanak2an, suka humor, senang gara2 dan cari perkara serta ugal2an, sebab itulah dia di beri julukan "Lo wan-tong"

Atau si anak tua nakal, tapi sesungguhnya dia bukan orang bodoh, bahkan sebenarnya otaknya sangat cerdas dan pintar, kalau tidak masakah ilmu silatnya dapat mencapai setinggi itu?

Begitulah karena hasratnya ingin meniru Siao-liong-li main-main dengan tawon, setibanya di Conglam-san ia benar2 ketemu batunya.

Tawon putih itu berbeda daripada tawon madu biasa, bentuk badannya lebih besar, sengatannya juga berbisa, begitu mencium bau madu yang dibawa Ciu Pek-thong, serentak datanglah kawanan tawon itu sehingga membikin Ciu Pek-thong merasa kewalahan malah.

Kawanan tawon putih itu sudah biasa mengikuti suara dan gerak tangan Siao-liong-li, dengan sendirinya sukar bagi Ciu Pek-thong untuk menghalaunya, tidak hanya itu saja, bahkan terus mengikutinya.

Melihat gelagat jelek, Ciu Pek-thong berlari ke Tiong-yang-kiong dengan tujuan mencari suatu tempat sembunyi yang baik.

Kebetulan saat itu Tiong-yang-kiong sedang kacau balau dan ramainya bukan main.

Sekilas ia melihat Siao-liong-li berada di situ, ia terkejut dan bergirang pula, cepat ia melemparkan botol madu kepada Siao-liong-li sambil berseru.

"Wah, celaka, aku tidak sanggup melayani tuan2 besar tawon ini, lekas kau menolong aku!"

Sekali kebas lengan bajunya dapatlah Nyo Ko menangkap botol madu itu, dengan tersenyum Siao liong-li menerima botol itu.

Dalam pada itu gerombolan tawon itu beterbangan memenuhi ruangan pendopo, Khu Ju-ki berempat cepat melompat turun dari atap rumah untuk memberi hormat kepada sang Susiok.

Segera Hek Tay-thong berseru.

"Lekas ambil obor, ambil obor!"

Para anak murid Coan-cin-kau menjadi sibuk, ada yang memutar pedang untuk mengusir kawanan tawon, ada yang cari selamat dengan menutupi muka dan kepala dengan lengan jubah, ada pula yang berlari pergi mengambil obor.

Ciu Pek-thong tidak pedulikan Khu Ju-ki dan lain2, batok kepala anak tua nakal itu sendiri sudah benjal-benjol tersengat tawon, yang dia harapkan adalah mencari suatu tempat sembunyi yang ia dapat diselundupi oleh tawon, Ketika tiba2 melihat sebuah genta besar terletak di situ, ia menjadi girang, Cepat ia mengungkap genta itu, tapi dilihatnya di bawahnya sudah ada seorang, tanpa diperhatkan siapa orang itu, ia lantas berkata.

"Maaf, silakan menyingkir dulu."

Berbareng ia dorong Sun Putji keluar, ia sendiri lantas menyusup ke dalam genta, sekali lepas tangan.

"blang" , genta itu segera menutup rapat lagi. Girang luar biasa Ciu Pek thong berada di dalam genta, ia pikir biarpun gerombolan tawon yang ber-laksa2 jumlahnya juga tak dapat mengejarnya serta menyengatnya lagi. Dalam pada itu Nyo Ko telah membisiki Siao liong-li.

"Cepat kau memerintahkan bantuan tawon, kita terjang keluar saja,"

Biasanya yang selalu memberi perintah adalah Siao-liong-li, sekarang baru saja menjadi isterinya, untuk pertama kalinya ia dengar si Nyo Ko bicara seperti memberi perintah padanya, hati Siao-liong-li merasa sangat bahagia, pikirnya.

"Ternyata dia tidak anggap aku sebagai gurunya lagi dan sungguh2 menganggap diriku sebagai isterinya."

Segera Siao-liong-li mengiakan dengan suara lembut dan penurut, ia lantas angkat botol madu dan diguncangkan beberapa kali sembari berseru beberapa kali.

Karena bertemu dengan majikannya, kawanan tawon lantas bergerombol menjadi satu dalam waktu sekejap saja, Siao-liong-li terus memberi tanda dan membentak pula, gerombolan tawon itu lantas terbagi menjadi dua barisan, baris pertama mendahului di depan, barisan lain berjaga di belakang, Siao-liong-li dan Nyo Ko se-akan2 di-kawal oleh kedua barisan tawon itu terus menerjang ke belakang Tiong-yang-kiong.

Karena gara2 kedatangan Ciu Pek-thong, Khu Ju-ki dan kawan2nya menjadi serba runyam, tampaknya Nyo Ko berdua sudah mundur ke belakang istana, segera ia memberi perintah agar anak muridnya tidak mengejar.

Ong Ju-it lantas membuka Hiat-to Sun Put-ji yang tertutuk itu, sedang Khu Ju-ki berusaha membuka genta.

Ciu Pek-thong yang sembunyi di dalam genta dengan sendirinya tidak tahu apa yang terjadi di luar, ketika merasakan genta itu hendak dibuka orang, ia menjadi kuatir dan berteriak.

Haya, celaka!

Dengan kedua tangannya ia menahan dinding genta dan ditekan ke bawah.

Karena tenaga dalam Khu Ju-ki tidak lebih kuat daripada sang Susiok.

"trang" , baru tersingkap sedikit, segera genta itu jatuh lagi ke bawah. Dengan tertawa Khu Ju-ki berkata kepada para Sutenya.

"Susiok kembali bergurau lagi. Ma-rilah kita bekerja sama."

Segera Khu Ju-ki, Ong Ju-it, Lan Ju-hian dan Hek Tay-thong berempat sama sama menggunakan sebelah tangan untuk menahan genta itu, sekali bentak seketika genta itu terangkat ke atas, Tapi mereka lantas bersuara heran ketika tidak melihat bayangan seorangpun di bawah genta, Ciu Pek-thong ternyata sudah lenyap entah ke mana.

Selagi mereka melongo heran, tiba2 sesosok bayangan menyelinap keluar, Ciu Pek-thong sudah berdiri di situ dengan bergelak tertawa, Rupanya tadi dia sengaja pentang kaki dan tangannya menahan di dinding genta bagian dalam sehingga tubuhnya ikut terangkat ke atas, kalau genta itu tak di jungkir atau orang melongok ke bagian dalam genta tentu takkan melihatnya.

Khu Ju-ki dan lain2 lantas mengulangi lagi memberi hormat, tapi Ciu Pek-thong telah goyang2 tangannya dan bersem.

"Sudah, anak2 tidak perlu banyak adat"

Padahal usia Khu Ju-ki dan kawan2 nya itu sudah berusia lanjut, tapi Ciu Pek-thong masih tetap menyebut mereka "anak2"

Saja. Baru saja mereka hendak tanya sang Susiok, sekilas Ciu Pek-thong melihat Tio Ci-keng hendak mengeluyur pergi, sambil membentak segera ia melompat ke sana dan membekuknya seraya memaki.

"Eh, hendak lari kau? jangan kau harap, hidung kerbau bangsat!"

Segera ia menyingkap genta raksasa itu -Cikeng terus dilemparkan ke dalam, sekali lepas tangan, genta itu lantas menutup rapat lagi, malahan mulut Ciu Pek-thong belum berhenti memaki.

"Hidung kerbau bangsat, hidung kerbau maling!"

"Hidung kerbau"

Adalah istilah olok2 pada kaum Tosu, Padahal yang hadir di situ sekarang, kecuali Ciu Pek-thong sendiri, selebihnya adalah Tosu semua, maka makian Ciu Pek-thong itu sama saja -memaki seluruh anggota Coau-ciu kau, Tapi lantaran sudah kenal sifat sang Susiok, Khu Ju-ki berlima hanya saling pandang dengan menyengir saja.

"Susiok,"

Ong Ju-it coba bertanya.

"entah cara bagaimana Ci-keng bersalah kepada Susiok? Tecu pasti akan memberi hukuman setimpal padanya."

"Hehe, hidung kerbau bangsat ini memancing aku ke gua itu untuk mencuri panji, tapi di sana banyak tersembunyi labah2 besar, untung ada nona cilik itu, wah mana nona cilik itu? Nyo Ko mana pula?"

Begitulah Ciu Pek-thong menutur dengan tidak teratur Sudah tentu Ong Ju-it tidak paham apa yang dimaksudkan sang Susiok, hanya kelihatan orang tua itu celingukan kian kemari ingin mencari Siao-hong-li.

Pada saat itulah ada murid memberi laporan bahwa Nyo Ko dan Siao-liong-Ii telah mengundurkan diri ke belakang gunung dan masuk ke Cong-keng-kok (ruangan perpustakaan) Keruan Khu Ju-ki berlima terkejut, Cong-keng-kok adalah tempat penting Coan-cin-kau, di mana tersimpan berbagai kitab pusaka serta dokumen2-rahasia yang menyangkut kepentingan agama mereka, kalau terjadi sesuatu akan berarti bahaya besar bagi nasib Coan-cin-kau mereka.

Cepat Khu Ju-ki berseru.

"Marilah kita menyusul ke sana! Tadi Nyo Ko itu tidak melukai Sun-sumoay, sebaiknya permusuhan ini diubah menjadi persahabatan."

Sun Put-ji mengiakan, be-ramai2 mereka lantas berlari ke belakang.

Hanya Ong Ju-it saja merasa kuatir Ci-keng mati sesak napas di dalam genta, betapapun Ci-keng adalah muridnya yang tertua, apalagi tindak tanduk sang Susiok biasanya terkenal angin2an, dalam urusan ini belum pasti Ci-keng yang bersalah, maka nanti masih harus ditanyai lebih jelas.

Karena itu ia lantas mengambil sepotong batu, ia singkap sedikit genta itu dan batu itu diganjalkan di bawahnya sebagai jalan hawa.

Habis itu barulah ia berlari menyusul ke sana.

Setiba di depan Cong-keng-kok, terlihat ber-ratus2 anak murid sedang ber-kaok2, tapi tiada seorangpun yang berani naik ke loteng Cong-keng kok itu.

Segera Khu Ju-ki berseru.

"Nona Liong dan Nyo-siauhiap, segala persoalan biarlah kita anggap selesai dan marilah kita berkawan saja bagai-mana?"

Selang sejenak ternyata tidak terdengar sesuatu suara jawab, Khu Ju-ki lantas berkata pula.

"Nona liong terluka, silakan turun saja dan berdaya untuk menyembuhkannya. Kami berjanji pasti takkan membikin susah kalian."

Akan tetapi sekian lamanya tetap tiada sesuatu suara apapun, pikiran Lau lu-hian tergerak, katanya.

"Khu-suko, tampaknya mereka sudah pergi."

"Mana bisa?"

Ujar Ju-ki.

"Lihatlah kawanan tawon yang beterbangan serabutan itu,"

Kata Ju-hian sambil mengambil sebuah obor dari seorang muridnya, lalu ia mendahului berlari ke atas loteng.

Be-ramai2 Khu Ju-ki dan lain2 juga ikut ke sana, benar juga ruangan perpustakaan itu ternyata kosong tiada seorangpun, di meja tengah ruangan itu tertaruh botol madu tawon itu, Seperti menemukan jimat saja, cepat Ciu Pek-thong menyamber botol itu dan dimasukkan bajunya.

Semua orang coba memeriksa sekitar Cong-keng-kok, tetap tiada menemukan sesuatu tanda yang mencurigakan, hanya pada lantai di pojok ruangan sana ada setumpuk kitab, namun tiada tanda berkurangnya jumlah kitab, hanya peti tempat kitab2 itu sudah lenyap, Tiba2 Hek Tay-thong berseru.

"He, mereka kabur melalui sini" . Semua orang mendekati jendela itu di bagian belakang loteng itu, terlihat seutas tali terikat pada jendela itu, ujung tali yang lain terikat pada pohon di tebing sebelah sana. Antara Cong-keng-kok dan tebing sana teralang oleh sebuah jurang yang lebarnya belasan meter, sebenarnya buntu tiada jalan tembus, sama sekali tak terduga bahwa Nyo Ko dapat menyeberang ke sana dengan melalui seutas tali itu dengan Ginkangnya yang hebat. Nyo Ko dan Siao-liong-li melangsungkan upacara nikah di pendopo Tiong-yang-kiong, betapapun orang2 Coan-cin-kau merasa kehilangan muka karena takdapat mencegah perbuatan kedua muda-mudi itu kini kedua lawan telah pergi, Coan-cin-ngo-cu saling pandang dengan senyum kecut, namun hati terasa lega juga. Yang paling dongkol dan penasaran sebenarnya adalah Sun Put-ji, tapi setelah menyaksikan cinta kasih Nyo Ko dan Siao-liong-li yang suci murni itu, pula pada detik yang berbahaya Nyo Ko juga menyelamatkan dia, tanpa terasa Sun Put-ji seperti kehilangan apa2 dan bungkam saja. BegituIah Coan-cin-ngo-cu dan Ciu Pek-thong lantas kembali lagi ke ruangan pendopo untuk menanyai seluk-beluk datangnya utusan raja Mongol kita pertengkaran antara golongan In Ci-peng dengan komplotan Tio Ci-keng dan mendadak Siao-liong-li muncul sehingga terjadi pertarungan sengit itu. Dengan sejujurnya Li Ci-siang dan Song Tek-hong lantas memberikan laporan secara jelas. Khu Ju-ki meneteskan air mata dan berkata.

"Meski Ci-peng berbuat salah, tapi dia juga telah membela Coan-cin-kau dengan mati2an dan tidak sudi menyerah pada Mongol, jasanya juga tidak kecil."

"Benar, kesalahan Ci-peng tidak lebih besar daripada jasanya, betapapun kita tetap mengakui dia sebagai pejabat lama,"

Kata Ong Ju-it dan di-tunjang oleh Lau Ju-hian dan Iain2.

Kalau Khu Ju-ki dan lain2 sedang sibuk menanyai Li Ci-siang untuk membereskan persoalan selanjutnya, Ciu Pek-thong ternyata tidak mau ambil pusing, ia lagi sibuk memainkan botol madu itu, beberapa kali ingin membuka botol itu untuk memancing kedatangan kawanan tawon, tapi iapun takut kalau sekali tawon sudah datang tak bisa di balau pergi lagi.

Dalam pada itu seorang murid memberi laporan bahwa ada lima orang murid lainnya sedang menderita tersengat tawon dan mohon paraguru berusaha mengobatinya, Hek Tay-thong lantas teringat pada pemberian madu tawon oleh Sun-popoh dahulu!

Segera mendekati Ciu Pek-thong dan berkata.

"Kebetulan Susiok membawa sebotol madu tawon ini, mohon kemurahan hati Susiok agar sudi membagikan madu ini untuk para cucu murid yang tersiksa itu."

Mendadak Ciu Pek-thong mengangkat kedua tangannya, ternyata botol madu tadi sudah tak kelihatan lagi, katanya.

"Aneh, entah mengapa, botol madu itu lenyap mendadak."

Padahal dengan jelas Hek Tay-thong melihat barusan saja botol madu itu masih dipegangi sang Susiok, mana bisa hilang mendadak, tentu sang Susiok sengaja tidak mau memberi, namun terhadap paman guru dengan sendirinya tidak sopan mendesaknya dengan kata-, maka Hek Tay-thong menjadi serba sulit.

Kembali Ciu Pek-thong tepuk2 bajunya dan mengebas lengan baju beberapa kali, lalu berkata pula.

"Nak, aku kan tidak menyembunyikan botol madu itu. jangan kau anggap aku pelit dan tidak mau memberi!"

Rupanya si "anak tua nakal"

Ini memang suka jahil dan gemar mainan seperti anak kecil, sampai tua sifatnya ini tetap tidak berubah, ia pikir kalau cuma disengat tawon saja, paling2 cuma kesakitan dan takkan mampus, sebaliknya madu tawon yang sukar dicari ini tidak boleh diberikan begitu saja.

Sebab itulah baru saja Hek Tay-thong membuka mulut segera ia selusupkan botol madu itu ke lengan baju, ketika ia mengangkat tangannya, botol itu terus menyusup ke kelek dan menerobos ke dada sampai ke perut, waktu ia kerut kan perutnya, kembali botol itu menerobos ke dalam celananya dan dari kaki celana botol itu jatuh pelahan di belakang tungkak kaki, Karena Lwekang Ciu Pek-thong sudah sangat tinggi sehingga kulit daging sekujur badannya dapat dikuasai dengan sesukanya, maka sedikitpun tidak mengeluarkan suara ketika botol madu yang kecil itu diselundupkannya sampai di lantai.

Melihat sang Susiok tidak mau memberi, Ong Ju-it dan lain2 tidak berani memaksa, ia pikir tunggu nanti saja kalau sang paman guru lagi memainkan botol madu itu, lalu secara mendadak diminta lagi, tentu tiada alasan baginya untuk menolak, ia pikir urusan penting sekarang adalah menyelesaikan dulu soal penghianatan Tio Ci-keng.

Maka dengan tegas ia lantas menyatakan pendiriannya itu.

"Hek-sute, urusan lain kita tunda dahulu, kita harus membereskan dulu soal murid khianat Tio Ci-keng."

Serentak semna orang menyatakan setuju.

Semua saudara seperguruannya cukup kenal watak Ong Ju-it yang jujur dan adil, biarpun murid sendiri juga pasti tidak dibela kalau berbuat kesalahan, apalagi sekarang melakukan penghianatan yang tak terampunkan.

Tapi pada saat itu juga dari bawah genta tiba2 Ci-keng berkata dengan suara lemah.

"Ciu-susiok-co, jika engkau menolong jiwaku, segera akan kukembalikan madu tawon ini, kalau tidak akan kuminum habis, bagaimanapun juga aku toh akan mati."

Ciu Pek-thong terkejut, cepat ia membalik ke belakang, benar juga botol madu itu sudah lenyap.

Kiranya dia berdiri tepat di samping genta raksasa itu.

Ci-keng mendekam di dalam genta dan botol madu kebetulan jatuh di depannya, ia dengar Hek Tay-thong memohon madu pada Ciu Pek-thong dan tidak berhasil, maka botol itu lantas dicomotnya melalui lubang genta yang diganjal batu itu.

Dengan botol madu itu sebagai alat pemerasan untuk menyelamatkan jiwanya, cara ini sebenarnya terlalu ke-kanak2an dan tipis harapan, tapi di antara putus harapan itu sedikitnya masih ada setitik harapan untuk hidup, untuk itulah Ci-kcng berusaha sebisanya Ternyata Ciu Pek-thong menjadi kuatir mendengar ancaman Ci-keng itu, cepat ia berseru.

"He, he, jangan kau minum madu itu, segala urusan dapat kita rundingkan."

"Jika begitu engkau harus berjanji akan menyelamatkan jiwaku,"

Kata Ci-keng pula. Khu Ju-ki dan lain2 juga terkejut, mereka kenal sang Susiok yang berjuluk "Lo-wan-tong"

Itu berwatak lain daripada yang lain, kalau saja paman guru itu menyanggupi permintaan Ci-keng itu, maka sukar lagi menghukum murid murtad itu, Cepat Ju-ki bicara.

"Susiok, dosa murid murtad ini tak terampunkan, jangan sekali engkau mengampuni dia."

Ciu Pek-thong berjongkok dan mendekatkan kepalanya ke celah genta dan berseru pula "He... he, jangan kau minum madu itu""

"Jangan gubris dia, Susiok,"

Kata Lau Ju-hian.

"Apa sulitnya jika Susiok ingin mendapatkan madu itu, kini permusuhan kita dengan nona Liong sudah berakhir, sebentar kita dapat pergi ke tempatnya untuk memohon beberapa botol madu seperti itu, Kalau nona Liong sudah mau memberi sebotol padamu, tentu dia akan memberi lagi sebotol sedikitnya."

Tapi Ciu Pek-thong menggeleng dan menjawab.

"Belum tentu, belum tentu!"

Sudah tentu ia tak berani memberitahu bahwa madu itu adalah hasil copetannya dari Siao-liongli dan tadi setelah dikembalikan kepada si nona, rupanya botol itu tertinggal di Cong-keng-kok, kalau meminta pada Siao-liong-li lagi belum tentu nona itu mau memberi lagi, andaikan diberi juga akan digunakan sebagai obat dan dia takkan mendapatkan bagian.

Dalam pada itu tiba2 terdengar suara mendengung pelahan, ada beberapa ekor tawon putih tampak terbang masuk ke pendopo situ dan mengitari genta.

Pikiran Ciu Pek thong tergerak, cepat ia melongok lagi ke bawah genta dan berseru.

"Ci-keng yang kau ambil itu mungkin bukan madu tawon."

"Benar, benar madu tulen, mengapa bukan?"

Ujar Cikeng gugup.

"Kukira bukan, bisa jadi madu palsu,"

Ujar Ciu Pek-thong. Supaya aku percaya, coba kau buka tutup botol agar aku dapat mencium baunya, tulen atau palsu segera akan terbukti. Tanpa pikir Ci-keng membuka sumbat botol dan berkata.

"Baiklah, coba kau menciumnya! Wah, harum dan sedap baunya, masakah palsu?"

Ciu Pek-thong sengaja menarik napas panjang beberapa kali dengan hidungnya, lalu berkata.

"Uh, rasa2nya bukan madu, seperti bau sirup! Coba ku-cium beberapa kali!"

Ci-keng genggam botol madu itu sekcncangnya dengan kedua tangannya, kuatir kalau orang mendadak menyingkap genta terus merampas botolnya, berulang ia menyatakan "Harum dan sedap sekali, betul tidak?"

Dalam pada itu bau harum madu tawon itu sudah teruar memenuhi ruangan pendopo itu, Ciu iPek-thong sengaja bersin satu kali dan berkata dengan tertawa.

"Wah, aku sedang pilek, hidungku mampet!" -Sembari bicara iapun kucek hidung dan memicingkan sebelah mata kepada Khu Ju-ki dan lain-lain. Sudah tentu Cikeng juga menduga orang sedang main akal ulur waktu, segera ia mengancam pula.

"Awas, jangan kau menyentuh genta ini, sekali tanganmu memegang genta segera kuminum habis madu ini."

Sementara itu tawon putih yang berdatangan sudah tambah menjadi puluhan ekor dan sedang mengitari genta besar itu dengan suaranya yang mendengung, Mendadak Ciu Pek-thong mengebaskan lengan bajunya sambil membentak.

"Masuk ke sana dan sengat dia!"

Kawanan tawon itu belum tentu mau tunduk pada perintahnya, tapi saat itu bau harum madu itu semakin keras, benar saja beberapa ekor tawon itu lantas menerobos ke dalam genta melalui celah2 yang diganjal batu itu.

Segera terdengar Ci-keng menjerit, menyusul terdengar suara jatuhnya benda pecah disertai bau harum yang semakin keras, nyata Ci-keng telah kena disengat tawon, saking kesakitan botol madu yang dipegangnya terjatuh dan hancur berantakan.

"Bangsat keparat!"

Bentak Ciu Pek-thong dengan gusar.

"Memegang botol saja tidak becus!"

Segera ia bermaksud menyingkap genta itu untuk memberi beberapa kali tamparan pada Ci-keng yang dianggapnya tak becus, tiba2 segerombol tawon putih membanjir tiba karena tertarik oleh bau madu yang harum itu, be ramai2 kawanan tawon itu lantas menyusup ke dalam genta.

Ciu Pek-thong sudah merasakan betapa lihay sengatan tawon itu, ia sudah kapok mendekatinya, Dilihatnya tawon yang menyusup ke dalam genta itu bertambah banyak, sedangkan tempat luang di dalam genta itu terbatas, tubuh Ci-keng berlepotan madu tawon, setiap kali bergerak pasti menyenggol kawanan tawon itu, keruan berpuluh, beratus bahkan beribu sengatan tawon memenuhi badannya.

Semula orang masih mendengar jeritan ngerinya, sebentar kemudian suaranya menjadi lemah dan akhirnya tak terdengar lagi, jelas karena terlalu hebat kena racun sengatan dan telah melayang jiwanya.

Mendadak Ciu Pek-thong pegang baju dada Lau Ju-hian dan berteriak.

"Baik, Ju-hian, sekarang kau harus memohonkan sebotol madu kepada nona Liong bagiku."

Lau Ju-hian menyeringai serba susah, tadi dia cuma berharap Ciu Pek-thong jangan mudah menyanggupi pemerasan Ci-keng, maka dia menyatakan akan memintakan madu tawon kepada Siao liong-li bagi sang Susiok, sekarang dia dicengkeram, terpaksa ia menjawab.

"Susiok, lepaskan tangahmu, akan kumintakan niadunya."

Lalu ia membetuIkan bajunya dan melangkah ke arah kuburan kuno Khu Ju-ki tahu kepergian Lau Ju-bian ini sangat berbahaya, kalau Siao-liong-li selamat tidaklah menjadi soal, tapi kalau lukanya parah dan tak bisa sembuh, entah berapa banyak orang Coan-cin-kau yang akan dibunuh lagi oleh Nyo Ko.

Karena itu ia lantas berseru.

"Marilah kita ber-sama2 ikut ke sana!"

Hutan di dekat kuburan kuno itu sudah lama dilarang masuk oleh anak murid Coan-cin-kau sesuai ketentuan mendiang Ong Tiong-yang, maka setiba di pinggir hutan itu, dengan suara lantang Khu Ju-ki berseru.

"Nyo-siauhiap, apakah luka nona sudah baikan? Di sini adalah beberapa biji obat, silakan ambil ini!"

Akan tetapi sampai sekian lama tiada terdengar jawaban orang.

Khu Ju-ki mengulangi lagi seruannya dan tetap sunyi senyap saja keadaannya hutan.

Kelihatan rimbun dengan pohon2 tua yang tumbuh di bawah pohon juga penuh semak beluka, mereka coba menyusuri tepian hutan itu dan tidak tampak tanda ada orang menuju ke arah kuburan kuno, tampaknya Nyo Ko dan Siao-Iiong-li tidak pulang ke sana melainkan meninggalkan Cong-Iam-san.

Dengan girang dan kuatir pula semua orang kembali ke Tiong-yang-kiong, mereka bergirang karena Nyo Ko dan Siao liong-Ii sudah pergi jauh, tapi juga kuatir kalau luka Siao-liong-li tak bisa disembuhkan, untuk itu tentu Nyo Ko akan membalas dendam dan celakalah Coan-cin-kau.

Ternyata si anak tua nakal Ciu Pek-thong juga tampak senang dan sedih, dia sedih karena tidak berhasil mendapatkan madu tawon, senangnya karena dia tidak perlu bertemu lagi dengan Siao-liong-li sehingga perbuatannya mencopet madu takkan terbongkar.

Selama berpuluh tahun tinggal di Cong-lamsan ternyata orang2 Coan-cin-kau itu sama sekali tidak dapat menerka ke mana perginya Nyo Ko dan Siaoliongli.

Kiranya waktu suasana di Tiong-yang-kiong menjadi kacau oleh datangnya gerombolan lebah, segera-Siao-liong-li memimpin barisannya sebagai pengaman dan menerjang ke belakang gunung, dilihatnya ada sebuah bangunan kecil berloteng di atas bukit situ, Nyo Ko tahu itulah Cong-keng-kok yang merupakan salah satu tempat penting di Tiong-yang kiong ini, segera ia pondong Siao-liong-li ke atas loteng itu.

Baru saja mereka sempat mengaso sejenak, segera terdengar pula suara hiruk pikuk di bawah, berpuluh Tosu sudah menyusul tiba, cuma tangga loteng itu rada sempit dan sukar memainkan barisan pedang, maka kawanan Tosu itu tidaki berani sembarangan menyerbu ke atas.

Setelah mendudukkan Siao-liong-li di atas kursi, Nyo Ko coba memeriksa keadaan sekitar loteng itu, dilihatnya di belakang Cong-keng-kok itu adalah sebuah sungai gunung yang dalam, namun sungai itu tidak begitu lebar, Tiba2 ia mendapatkan akal, ia keluarkan tali yang biasanya diikat pada dua batang pohon digunakan tempat tidur, ia ikat ujung tali itu pada tiang Cong-keng-kok dan ujung tali yang lain dibawanya melompat ke seberang sungai dan diikat pada sebatang pohon.

Lalu ia melompat kembali ke Cong-keng-kok dan bertanya kepada Siao-Iiong-li.

"Sebaiknya kita pulang ke mana?".

"Kau bilang ke mana, aku hanya ikut saja padamu,"

Jawab Siao liong-li sambil menghela napas.

Dari air muka si nona dapat lah Nyo Ko menerka pikirannya, tentu yang diharapkannya adalah pulang kembali ke kuburan kuno itu.

Cuma cara bagaimana masuk ke sana, inilah yang menjadi persoalan Dalam pada itu suara ribut di bawah sana tambah ramai rasanya tak dapat tahan lebih lama lagi di sini.

Nyo Ko dapat memahami pikiran Siaoliong-li, tapi si nona juga dapat meraba pikiran anak muda itu, dengan suara halus ia berkata.

"Akupun tidak harus pulang ke kuburan kuno itu, jangan kau pikirkan hal ini." -ia tersenyum manis, lalu menambahkan "Asalkan senantiasa berada bersamamu, ke manapun aku setuju,"

Inilah cita2 Siao-liong-li yang pertama setelah mereka menikah, maka Nyo Ko bertekad akan melaksanakan keinginan si nona, kalau tidak ia merasa tidak sesuai sebagai suaminya ia coba memandang ruangan loteng itu, dilihatnya di belakang rak buku di sudut sana ada sebuah peti kayu, tiba2 tergerak pikirannya, cepat ia mendekati peti itu, ternyata peti itu digembok dengan sebuah gembok besi.

Dengan mudah saja Nyo Ko puntir patah gembok itu dan membuka tutup peti ternyata penuh terisi kitab dan sejenisnya.

Segera ia angkat peti itu sehingga isi peti itu tertumplek semua di lantai.

Peti itu terbuat dari kayu kamper, tebalnya lima senti dan sangat kukuh, ia coba melompat dan meraba atas rak buku, benar juga penuh tertutup oleh kain minyak.

yaitu untuk menjaga kalau kebocoran agar tidak merusak kitab2 itu.

Dia tarik dua helai kain minyak itu dan dimasukkan ke dalam peti, lalu peti itu diseberangkan lebih dulu dengan melalui jembatan tali tadi, kemudian ia kembali lagi untuk memondong Siao-Iiong-ii ke sana.

"Marilah, kita pulang ke rumah asal"

Katanya dengan tertawa. Siao-liong-li sangat girang, jawabnya dengan tersenyum.

"Bagus sekali caramu mengatur!"

Kuatir si nona berkuatir, Nyo Ko lantas menambahkan.

"Pedangku ini sangat hebat, apapun di dasar sungai yang merintangi peti ini tentu dapat kubereskan dengan pedang ini, aku akan berjalan dengan cepat, engkau pasti takkan sumpek di dalam peti,"

"Cuma ada sesuatu yang tidak baik bagiku"

"Apa itu?"

Tanya Nyo Ko dengan me1engak.

"Untuk waktu tertentu aku takdapat melihat kau,"

Jawab si nona. Sambil bicara merekapun sudah sampai di seberang. Nyo Ko jadi teringat kepada Kwe Yang yang tertinggal di gua itn, katanya segera.

"Nona keluarga Kwe juga kubawa ke sini. Apa yang harus kulakukan menurut pendapatmu?"

Siao-liong-li melenggong, tanyanya dengan suara rada gemetar.

"Apa katamu? Kau.. kau membawa puteri Kwe-tayhiap itu ke sini?"

Melihat sikap si nona yang aneh itu, Nyo Ko melengak juga, tapi cepat ia paham sebab musababnya, tentu Siao-liong-li salah paham dan mengira dia membawa Kwe Hu ke sini, segera ia mencium pelahan pipi si nona dan berkata.

"Ya, puteri Kwe-tayhiap yang kubawa ke sini, tapi bukan nona yang membuntungi lenganku melainkan orok yang baru lahir tiada sebulan itu."

Muka Siao-liong-li menjadi merah jengah, ia rangkul Nyo Ko kencang2 dan tak berani memandangnya, selang sejenak barulah ia berkata.

"Bolehlah kita membawanya serta ke kuburan kuno. Jika ditinggalkan lebih lama di hutan ini, boleh jadi jiwanya akan melayang."

Nyo Ko menjadi kuatir juga, sudah sekian lama dia teralang di Tiong-yang-kiong, entah bagaimana keadaan Kwe Yang yang disembunyikan di dalam gua itu.

Cepat ia menuju ke gua itu, ternyata keadaan sunyi sepi tiada suara tangisan anak kecil, ia tambah kuatir, lekas2 ia menyingkirkan belukar kering dan masuk ke gua, dilihatnya Kwe Yang sedang tidur dengan lelapnya, kedua pipi bayi itu kelihatan ke-merah2an menyenangkan "Biar kubopong dia,"

Kata Siao liong-li.

kuatir si nona kurang tenaga karena belum sehat, Nyo Ko mengusulkan anak itu ditaruh saja di dalam peti, lalu ia mencari belasan Lamkwa (wa-toh, sebangsa labu besar warna kuning) hasil tanaman kawanan Tosu Coan-cin-kau, ia memasukkan waloh itu ke dalam peti dan diseret ke tepi sungai.

Setelah Siao-liong-li juga didudukkan di dalam peti sambil memondong Kwe Yang, pelahan Nyo Ko lantas menutup peti itu dan dibungkus pula dengan kain minyak, habis itu barulah memasukkan peti itu ke sungai.

ia menarik napas panjang terus menyelam ke dasar sungai sambil menarik peti itu melalui jalan waktu keluar dari kuburan kuno itu tempo hari.

Sejak digembleng di bawah air terjun itu, kini tenaga dalam Nyo Ko boleh dikatakan tiada taranya, berjalan di bawah sungai kecil itu bukan soal lagi baginya.

Dasar sungai itu ternyata tidak rata, terkadang meninggi, lalu merendah lagi.

Nyo Ko terus menyusuri sungai itu, kalau teralang oleh batu karang sehingga peti itu tak dapat lewat, segera ia menahannya dengan pedang dan segala rintangan dapatlah dibereskan, ia kuatir Siap-liong-li sumpek di dalam peti, maka jalannya sangat cepat, tidak lama kemudian ia sudah timbul lagi ke atas sungai dan sampai di jalan rahasia di bawah tanah yang menuju ke kuburan kuno.

Lekas2 ia membuka peti itu, dilihatnya Siao-Ijong-li dalam keadaan lemas dan setengah sadar, mungkin karena terluka parah sehingga tidak tahan dikurung dalam peti yang rapat itu, sebaliknya Kwe Yang tampak ber-teriak2 dan menangis penuh semangat.

Rupanya orok itu diberi minum susu macan selama sebulan sehingga jauh lebih sehat daripada bayi biasa.

Dengan lemah Siao liong-li tersenyum bahagia dan berkata.

"Akhirnya kita pulang juga ke rumah!" -Habis berkata ia tak tahan lagi dan memejamkan mata Nyo Ko tidak memandangnya lagi dan mem-biarkannya tetap duduk di dalam peti, ia seret peti itu ke tempat tinggal mereka di dalam kuburan kuno itu. Dilihatnya segala sesuatu di situ masih tetap serupa seperti waktu ditinggalkan dahulu, Sambil memeriksa kamar2 batu di situ dan mengamat-amari pula barang2 yang pernah dipakainya sejak kecil, tiba2 anak muda itu timbul semacam perasaan yang sukar dilukiskan, seperti girang rasanya, tapi juga mengandung rasa haru dan duka. Waktu ia menoleh, dilihatnya Siao liong-li berdiri berpegang pada samakan kursi dengan air mata berlinang-linang. Kini kedua orang sudah terikat menjadi suami-isteri, cita2 yang terkandung selama ini sudah terkabul merekapun sudah pulang di kediaman lama, selanjutnya tidak akan tersangkut pula dengan macam2 suka-duka dan permusuhan di dunia fana, namun dalam hati kedua orang sama2 merasa berduka dan sedih tak terkatakan. Keduanya sama tahu bahwa luka Siao-liong-li teramat parah, sudah terkena hantaman roda Kim-lun Hoat ong, terkena pula pukulan gabungan Coan-cin-ngo-cu yang hebat itu, dengan tubuhnya yang lemah gemulai itu jelas tidak tahan. Walaupun sebelumnya kedua orang sudah berulang2 memikirkan asalkan cita2 mereka terkabul dan dapat berkumpul kembali, sekalipun harus mati seketika juga rela. Tapi setelah keduanya benar2 sudah menikah dan berkumpul menjadi satu, rasanya menjadi berat sekali untuk berpisah dan mati. Mereka sama2 masih muda dengan kisah hidup yang menderita, selama ini belum pernah merasakan bahagianya orang hidup, kini mendadak mencapai cita2 paling utama orang hidup, tapi dengan segera mereka akan berpisah puIa. Nyo Ko termangu sejenak, ia ke kamar Sun-popoh dan membongkar tempat tidurnya untuk di pindahkan ke samping "dipan kemala dingin" , ia atur bantal kasurnya dengan baik dan membaringkan Siao-liong-li di situ. Sisa bahan makanan sudah rusak, namun ber-botol2 madu tawon yang dikumpulkan Siao liong-li dahulu tetap baik, Nyo Ko menuang setengah mangkuk madu yang kental itu dan dicampur dengan air untuk diminumkan pada Siao-liong-li serta Kwe Yang cilik, habis itu ia sendiri juga minum satu mangkuk. Ia coba memandang sekeliling kamar batu itu, pikirnya.

"Aku harus bersemangat untuk menggirangkan hati Kokoh, kesedihanku tidak boleh kentara sedikitpun pada wajahku."

Begitulah ia lantas mencari dua batang lilin yang paling besar serta dibungkusnya dengan kain merah, lalu disulutkan dan ditancapkan di atas meja, katanya dengan tertawa.

"lnilah kamar pengantin kita dengan lilin bahagianya."

Cahaya lilin menambah semaraknya kamar batu itu. Siao liong-li duduk di tempat tidurnya, terlihat tubuh sendiri penuh kotoran dan noda darah, dengan tersenyum ia berkata.

"Macamku ini mana mirip pengantin baru!"

Tiba2 ia ingat sesuatu, katanya pu'a.

"Ko-ji, coba kau ke kamarnya Lim-cosu dan bawa kemari peti berlapis emas itu."

Meski pernah tinggal beberapa tahun di kuburan ini, tapi kamar bekas tempat tinggal Lim Tiau-eng tak berani dimasukinya, apalagi barang2 tinggalannya, tentu saja tidak berani dijamahnya.

Kini Siao-liong-li menyuruhnya, segera Nyo Ko ke sana dan mengambilkan peti yang diminta itu.

Peti itu tidak terlalu berat, juga tidak digembok, tapi tepian peti dilapis emas dan banyak ukiran yang indah.

"Menurut Sun-popoh, katanya peti ini berisi pakaian pengantin Lim-cosu, tapi kemudian beliau urung menikah, maka barang2 inipun tidak jadi dipakai,"

Kata Siao-liongli.

Nyo Ko mengiakan saja dan meletakkan peti itu di batu kemala dingin itu, setelah tutup peti di buka, benarlah di dalamnya tersimpan sebuah kopiah berukir burung Hong dengan hiasan mutiara, ada sepotong baju sulaman emas serta gaun sutera merah.

Semuanya terbuat dari bahan pilihan, meski sudah selang berpuluh tahun, tapi tampaknya masih seperti baru.

"Coba keluarkan isinya, ingin kulihat."

Kata Siao-liong-li.

Nyo Ko lantas mengeluarkan satu persatu isi peti itu, di bawah pakaian pengantin ternyata ada sebuah kotak rias dan sebuah kotak barang2 perluasan Gincu dan pupur dalam kotak rias itu sudah kering, tapi minyak wanginya ternyata masih ada sisa setengah botol kecil.

Ketika kotak perhiasan dibuka, seketika pandangan mereka menjadi silau, macam2 perhiasan yang jarang terlihat, ada tusuk kundai bermutiara, gelang kemala dan mutu manikam yang lain.

Biasanya Siao-liong-li dan Nyo Ko jarang melihat benda2 mestika seperti itu, merekapun tidak tahu betapa bernilainya barang2 perhiasan itu, yang jelas mereka melihat barang2 itu terbuat dengan sangat halus dan indah, maka merekapun sangat tertarik.

"Bagaimana kalau kubersolek menjadi pengantin baru?"

Ujar Siao-liong-li dengan tersenyum.

"Kau sudah terlalu lelah, mengasoJsipleBaf latti, bersoleklah besok,"

Kata Nyo Ko. Siao-liong-Ii menggeleng, katanya.

"Tidak, inilah hari bahagia pernikahan kita, Aku suka menjadi pengantin baru, Tempo hari di Coat-ceng-kok itu Kongsun Ci ingin menikah dengan aku dan akupun urung berdandan sebagai pengantin baru."

"Hah, masakah itu dapat dianggap menikah? itukan cuma khayalan Kongsun Ci saja!"

Ujar Nyo Ko dengan tersenyum Begitulah Siao-liong-li lantas mencampuri bedak dan Gincu dengan sedikit air dan mulailah bersolek menghadap cermin.

Selama hidup untuk pertama kali inilah dia memakai pupur dan gincu.

Air mukanya sebenarnya memang putih bersih dan tidak perlu berbedak lagi, cuma dia habis terluka parah, mukanya pucat pasi, setelah kedua pipinya diberi pupur dan sedikit gincu, sungguh kecantikannya sukar dilukiskan.

Ia berhenti sejenak, lalu menyisir rambut, katanya dengan gegetun.

"Bicara menyisir rambut, sama sekali aku tidak bisa, Ko-ji, kau bisa tidak?"

"Akupun tidak bisa! Kukira engkau lebih cantik jika rambut tidak tersisir,"

Ujar Nyo Ko.

"Apa ya?"

Siao-liong-Ii tersenyum.

ia lantas memakai anting2 dan gelang serta perhiasan kepala lainnya, di bawah cahaya lilin sungguh cantik molek tak terperikan.

Dengan ber-seri2 ia menoleh pada Nyo Ko, maksudnya supaya dipuji beberapa patah kata oleh anak muda itu.

Tapi dilihatnya wajah Nyo Ko ada bekas air mata, jelas anak muda itu sedang berduka, Siao-liong-li berusaha menahan perasaan dan anggap tidak tahu, dengan tersenyum ia bertanya pula.

"Ko-ji, bagus tidak dandananku ini?"

"Ba... bagus sekali!"

Jawab Nyo Ko dengan rada terguguk.

"lni kupasangkan kopiahnya."

Segera ia angkat kopiah pengantin ke belakang si nona dan dipasang di atas kepalanya.

Dari bayangan cermin dapatlah Siao-liong-li melihat anak muda itu telah mengusap air matanya dengan lengan baju, ketika berada di belakangnya anak muda itu sengaja memperlihatkan wajah riang-nya serta berkata.

"Selanjutnya kupanggil engkau "Niocu" (isteriku) atau tetap menyebut Kokoh padamu?"

Dalam hati Siao-Iiong-Ii membatin.

"Masakah masih ada "selanjutnya"

Segala bagi kita? Akan tetapi ia berusaha memperlihatkan rasa gembiranya dan menjawab dengan tersenyum.

"Rasanya tidak pantas jika tetap memanggil Kokoh. sebaliknya sebutan Niocu, Hujin dan sebagainya terasa agak ke-tua-an!"

"Baiklah, selanjutnya engkau memanggil Ko-ji padaku dan akan kupanggil Liong-ji padamu, jadinya adil, tiada yang rugi,"

Ujar Nyo Ko dengan tertawa.

"Kdak kalau sudah punya anak, lalu ganti panggilan. He, pakne bocah atau ibunya anak dan... dan kalau anak itu sudah besar dan beristeri atau bersuami "

Semu!a Siao liong-li hanya tersenyum saja mendengarkan ocehan Nyo Ko yang ngalor-ngidul itu, akhirnya ia tidak tahan dan mendadak mendekam di atas peti dan menangis sedih.

Nyo Ko tahu perasaan si nona, ia mendekati dan memeluknya, katanya dengan suara halus.

"Liong-ji. kau tidak baik, buat apa kita pedulikan urusan selanjutnya, Yang jelas saat ini kau takkan mati dan akupun takkan mati, marilah kita bergembira ria, siapapun tidak perlu memikirkan urusan esok."

Siao-Iiong li mengangkat kepalanya dan mengangguk dengan tersenyum.

"Lihatlah betapa indahnya sulaman burung Hong pada gaun pengantin ini,,biarlah kubantu kau mengenakannya."

Kata Nyo Ko pula, lalu ia menegakkan tubuh si nona dan bantu mengenakan pakaian pengantin merah itu.

Siao-liong-Ii mengusap air matanya dan pipinya diberi lagi sedikit pupur, dengan tersenyum bahagia ia lantas duduk di samping lilin merah.

Dalam pada itu Kwe Yang terbaring di ujung tempat tidur itupun mementang kedua biji matanya yang hitam itu sedang memandangi dengan penuh keheranan, Mungkin dalam hati kecilnya itupun merasakan dandanan Siao-liong-li itu sangat cantik dan menarik.

"Aku sudah selesai berdandan, cuma sayang di dalam peti ini tiada pakaian pengantin laki2. terpaksa kau harus begini saja,"

Ujar Siao-liong-li.

"Coba kucari lagi, mungkin ada barang2 lain yang indah,"

Kata Nyo Ko sembari membongkar isi peti yang lain dan dipindahkan ke atas tempat tidur, Melihat ada sebuah bunga2an buatan emas, Siao liong-li lantas mengambilnya dan diselipkan di atas rambut Nyo Ko.

"Ya, begini barulah mirip2 pengantin baru,"

Ujar Nyo Ko dengan tertawa.

Ia terus membongkar isi peti itu, sampai di dasar peti, dilihatnya ada satu tumpuk surat yang diikat dengan benang merah, benang merah itu sudah luntur, sampul surat juga sudah ke-kuning2an.

"Ku-temukan surat2 ini,"

Seru Nyo Ko sambil mengangkat tumpukan surat itu.

"Coba dilihat surat apa itu?"

Kata Siao-Iiong-li. Setelah ikatannya dilepas, Nyo Ko melihat sampul surat pertama itu tertulis.

"Kepada sayangku Lim Tiau-heng, pribadi!"

Dan pada sudut lain ada sebuah huruf "Say".

Surat2 itu berjumlah lebih 20 pucuk, semuanya sama tertulis begitu.

Nyo Ko tahu sebelum Ong Tiong-yang terikat menjadi Tosu, nama partikelirnya adalah "Say", lengkapnya Ong Say, Dengan tertawa ia berkata .

"Tampaknya surat2 ini adalah surat cinta Ong-cosu kepada Lim-cosu kita, apakah boleh kita membacanya?"

Sejak kecil Siao-liong-li menghormati sang cakal bakal itu sebagai malaikat dewata, maka cepat ia menjawab.

"Tidak, tidak boleh!"

Nyo Ko tertawa dan mengikat kembali bundel surat itu, katanya kemudian..

"Kawanan Tosu Coan-cin-kau itu sungguh terlalu kolot, melihat kita menikah dihadapan lukisan Tiong-yang Cosu, lalu kita dianggap seperti berdosa dan tidak dapat diampuni."

Aku justeru tidak percaya bahwa Tiong-yang Cosu tidak mencintai Lim-cosu kita, Kalau saja kita perlihatkan surat2 cinta Ong-cosu ini pasti kawanan Tosu tua itu akan meringis.

Sembari berkata iapun memandangi Siao-liong li dan merasa berduka bagi Lim Tiau-eng.

Pikirnya.

"Lim-cosu hidup sunyi di dalam kuburan ini, tentunya beliau ingin sekali dapat memakai baju pengantin ini dan selalu gagal, jaai kami berdua ini ternyata jauh lebih beruntung daripada beliau."

Tiba2 terdengar Siao-liong-li berkata.

"Ya, kita memang lebih beruntung daripada Lim-cosu, tapi mengapa kau menjadi tidak gembira?"

Nyo Ko mengiakan, mendadak iapun melengak dan bcrtanya.

"He, kau tidak bicara, mengapa engkau mengetahui pikiranku?"

"Kalau tidak dapat mengetahui jalan pikiranmu mana sesuai untuk menjadi isterimu?"

Jawab Siao-liong-li dengan tertawa.

Nyo Ko mendekatinya dan duduk ditepi tempat tidur, dengan lengan kiri ia merangkul Siau liong li, tak terbilang rasa gembira dan bahagia mereka, diharapkan semoga saat2 demikian ini takkan berubah selamanya, kekal abadi.

Sampai sekian lama keduanya guling peluk dan terdiam.

Selang sebentar lagi, keduanya sama memandang pada bundel surat tadi dengan penuh pandang dengan tertawa, keduanya sama2 menyorotkan sorot mata yang nakal.

Maklumlah, usia mereka masih sama2 muda, sehingga belum hilang sifat anak2 mereka, walaupun tahu tidak pantas membaca surat pribadri mendiang cakal bakal, tapi rasa ingin tahu sukarlah dibendung.

Tiba2 Nyo Ko berkata.

"Bagaimana kalau kita hanya membaca sepucuk saja? Pasti tidak membaca lebih dari itu."

"Ya, akupun ingin sekali mengetahui isi surat-itu,"

Jawab Siao-liong-li.

"Baiklah, kita hanya membaca sepucuk saja."

Dengan girang Nyo Ko lantas membuka ikatan bundel surat tadi. Siao-liong-li berkata pula.

"Kalau isi surat itu membikin orang berduka, hendaknya kau jangan bersuara membacanya bagiku."

Nyo Ko mengiakan, ia coba mengambil sampul pertama dan dilolos keluar suratnya, lalu mulai membacanya.

"Adik Eng, kemarin dulu pasukan kita bertempur dengan pasukan musuh dan mengalami kekalahan kecil dengan kerugian beberapa ratus orang..."

Ternyata isi surat itu memberitahukan-keadaan medan perang dan bagian akhir surat itu Ong Tiong-yang minta agar Lim Tiau-eng suka menjual sebagian harta benda untuk dijadikan perbekalan pasukan.

Ber-turut2 ia membaca lagi dua-tiga pucuk surat lain dan isinya hampir semuanya sama, yakni mengenai situasi medan perang belaka, hampir tidak pernah menyinggung urusan pribadi mereka.

Nyo Ko menghela napas dan berkata pula.

"Tiong-yang Cosu benar2 seorang pahlawan teladan dan ksatria sejati, segenap jiwa raganya dicurahkan bagi perjuangan sehingga melupakan kepentingan pribadi, pantaslah kalau Lim-cosu menjadi dingin hatinya,"

"Tidak!"

Ujar Siao-liongIi.

"Ketika menerima surat2 ini, justeru Lim-cosu merasa sangat senang."

"Darimana kau tahu?"

Tanya Nyo Ko heran.

"Sudah tentu aku tidak tahu, aku cuma menafsirkan menurut hati sesama orang perempuan saja."

Jawab Siao-liong-li.

-"Coba kau, lihat isi surat itu, yang diuraikan selalu situasi medan perang yang makin genting, namun Ong cosu tetap tidak lupa menulis surat kepada Lim-cosu dalam keadaan yang gawat dan sulit itu, coba katakan, apakah itu tidak berarti senantiasa Ong-cosu terkenang kepada Lim-cosu?"

"Ya, benar, memang betul,"

Sahut Nyo Ko sambil mengangguk Lalu ia membaca lagi surat yang lain.

Surat itupun mengabarkan pasukan yang dipimpin Ong Tiong-yang mengalami kekalahan lagi karena jumlah pasukan musuh jauh lebih besar.

Selain itu pada akhir surat juga ditanyakan keadaan luka Lim Tiau-eng, meski singkat saja, tapi penuh simpatik dan perhatian Siao-liong-li hanya tersenyum hambar, ia menyadari betapa parah lukanya sendiri, namun iapun tidak ingin membikin kecewa anak muda itu, katanya kemudian.

"Tampaknya surat2 itu tiada yang menyangkut rahasia pribadi, boleh kau membacanya semua."

Nyo Ko lantas membuka lagi surat2 yang lain, kebanyakan juga berceritera tentang pengalaman tempur di medan perang, tapi selanjutnya lebih sering lagi kalahnya sehingga nada Ong Tiong-yang semakin guram dan putus asa.

"isi surat ini cuma memerosotkan semangat orang saja, biarlah kita bicara urusan lain saja."

"Eh, apa ini?"

Mendadak nada Nyo Ko berubah menjadi bersemangat, tangan yang memegang surat itupun rada gemetar, lalu ia membacanya dengan suara lebih keras.

"kudengar di kutub utara yang maha dingin sana ada batu dengan nama Han-giok (kemala dingin), khasiatnya dapat menghilangkan penyakit lama dan menyembuhkan luka yang sukar diobati, untuk itu akan kuusahakan mendapatkannya bagi adik Eng..."

He, Liong-ji yang dimaksudkan ini apakah bukan Han-giokjoan (dipan kemala dingin) ini?"

Melihat wujih Nyo Ko yang menampilkan rasa girang seperti orang yang putus asa mendadak menemukan titik sinar harapan itu, dengan suara gemetar Siau-liong-Ii pun menjawab.

"Apakah... apakah... maksudmu kemala dingin ini dapat menyembuhkan lukaku ini-?"

"Akupun tidak tahu,"

Jawab Nyo Ko.

"Tapi Tiong-yang Cosu berkata demikian, tentu ada alasannya. Dan nyatanya kemala dingin ini kan sudah didapatkannya dan berada di sini? Bukankah memang sudah menjadikannya menjadi dipan untuk tempat tidur? bukankah luka beliau yang parah itu akhirnya juga sembuh?"

Cepat2 Nyo Ko membuka lagi surat yang lain dengan harapan kalau2 isi surat lain ada, yang menguraikan tentang cara penyembuhan dengan kemala dingin itu, tapi istilah "kemala dingin"

Ternyata tidak pernah disebut lagi kecuali di dalam surat tadi."

Nyo Ko mengikat kembali bundel surat itu dan ditaruh ke dalam pcti, lalu ia duduk termenung.

Ia pikir kalau dipan kemala dingin itu memang mempunyai khasiat sehebat itu, tentu juga dapat menyembuhkan luka Siao-liong-li, hanya caranya saja yang belum di ketahui.

"He, apa yang kau renungkan?"

Tegur Siao-liong-li dengan tertawa.

"Sedang kupikirkan cara bagaimana menyembuhkan kau dengan dipan ini, apa harus dihancurkan dan dicampur dengan obat lain, entahlah!"

Gumam Nyo Ko.

"Tentunya kau masih ingat pada Sun-popoh? Sekiranya dipan kemala dingin ini dapat menyembuhkan Iuka dalam yang parah, masakah Sun popoh tidak tahu? Harapan Nyo Ko yang tadinya berkobar2 itu seketika padam seperti di siram air dingin demi mendengar ucapan Siao liong-li itu. Perlahan Siao liong-li membelai rambut Nyo Ko, katanya dengan suara lembut "

Ko-ji tidak perlu kau memikirkan lukaku, buat apa kau membikin susah sendiri?

sekarang akan kuceritakan sesuatu mengenai guruku.

Meski cukup lama tinggal bersama Siao-liong-li, tapi jarang sekali Nyo Ko mendengar si nona bercerita tentang mendiang gurunya itu, maka cepat ia menanggapi "Ya,lekas ceritakan!"

"Tahukah kau sebab apa meninggalnya Suhuku?"

Tanya Siao-Iiong-li. Nyo Ko menggeleng, Siao-Iiong-li lantas melanjutkan "

Beliau menyepi di sini dan jarang keluar, tapi pada suatu ketika beliau pernah keluar menyelesaikan sesuatu urusan penting mengenai Suci sehingga kena dipedayai seorang jahat.

Suhu tidak mau banyak urusan meski mengalami kesukaran.

Siapa tahu orang jahat itu diberi hati justeru minta rempala, Suci diculiknya pula, sebenarnya kepandaian Suhu jauh melebihi orang jahat itu, cuma dalam hal Am-gi (senjata rahasia) saja orang jahat itu memang lebih lihay.

Suhuku adalah pelayan pribadi Lim-cosu, sifatnya ramah dan penurut, hatinya bajik dan jarang marah, tapi demi membela Suci, beliau terpaksa membuat dua macam senjata rahasia, yakni Giok-hong-kim-ciam (jarum emas tawon putih) dan Peng pok-gin-ciam (jarum perak inti es) yang berbisa itu, akhirnya Suci dapat direbut kembali setelah mengalahkan musuh.

Tapi dalam pertarungan itu Suhu juga terluka parah, walaupun bertahan sampai beberapa tahun, akhirnya juga tak-dapat disembuhkan, ilmu pukulan Panca Bisa andalan Suci itu adalah ajaran orang jahat itu, Suci (Li Bok-chiu) berkumpul sekian lama dengan orang itu sehingga tanpa terasa terpengaruh juga oleh sifat jahatnya.

Lantaran ini, sampai meninggalnya Suhu tetap merasa sedih."

Terkenang kepada gurunya yang berbudi itu, tanpa terasa hati Siao-liong-li menjadi terharu.

Pikiran Nyo Ko sendiri terasa kusut, tadinya ia merasa menemukan titik harapan dapat menyembuhkan Siao-liong-li, tapi lantas tenggelam pula dalam kegelapan, ia pikir memang juga masuk diakal, andaikan dipan kemala dingin itu dapat menyembuhkan luka dalam yang parah, mengapa Sun-popoh dan guru Siao-liong-li itu tidak menggunakan untuk menyembuhkan diri mereka?

Karena urusan sudah begini, ia pikir sebaiknya jangan dirisaukan lagi, akan lebih baik jika bicara hal2 yang menyenangkan saja dengan si nona agar hatinya gembira.

Begitulah ia lantas berkata.

"Jarum emas lebih lembut dan jarum perak lebih panjang, tapi menghadapi musuh ternyata jarum emas lebih berguna daripada jarum perak. Tampaknya kakek guru memang lebih sayang padamu, makanya jarum emas diajarkan padamu dan jarum perak diturunkan pada Li-supek."

Siao-liong-li tersenyum, katanya.

"Suhu memang sangat baik padaku, ya guru ya seperti ibu, kalau beliau mengetahui aku mendapatkan suami sebaik ini, entah betapa beliau akan bergirang."

"Ah, juga belum tentu, beliau kan melarang anak muridnya menikah,"

Ujar Nyo Ko.

"Tapi guruku sangat baik hati dan sayang padaku, mula2 mungkin beliau tidak mengidzinkan, lama2 kalau melihat keteguhan hatiku, tentu beliau juga akan menuruti permintaanku,"

Kata Siao-liong-li.

"Hanya, hanya Li-suci saja yang berdosa kepada Suhu".

"Bagaimana?"

Tanya Nyo Ko.

"Waktu Suhu bertarung dengan orang jahat itu, sebenarnya orang itu sudah tertutuk oleh Suhu dan takbisa berkutik, siapa tahu secara diam-2 Suci telah membebaskan orang itu, rupanya Suci ingat kepada budi orang itu yang telah mengajarkan ilmu pukulan berbisa padanya. Setelah orang itu dapat bcrgerak, secara mendadak dia menyerang Suhu, karena tidak ber-jaga2, maka Suhu terkena pukulannya."

"Siapakah nama orang jahat itu? Dia mampu menandingi Suco (kakek guru), tenlu iapun tokoh silat terkemuka jaman ini."

"Suhu tidak pernah memberitahukan nama orang itu padaku, Dia ingin hatiku bebas dari segala cita rasa dan tidak kenal suka duka dan budi atau dendam, menurut Suhu, kalau nama orang ini kuketahui, tentu akan kuingat selalu dan boleh jadi kelak akan kucari dan menuntut balas pudanya."

"Ai. Suco sungguh orang baik budi,"

Ujar Nyo Ko dengan gegetun. Lalu Siao-Iiong-li berkata pula.

"Setelah terluka, Suhu lantas berpindah kamar dan menjauhi dipan kemala dingin ini. Menurut beliau, dingin akan mengalangi kemajuan ilmu Ko-bong-pay kita, maka bagus sekali jika menggunakan dipan kemala dingin ini untuk membantu berlatih Lwe-kang, akan tetapi orang yang terluka tentu tidak tahan."

Melihat Siao-liong-li ada tanda2 lelah Nyo Ko berkuta.

"Silakan tidur saja, akan kutunggui kau di sini."

"Tidak, aku tidak lelah, malam ini kita tidak tidur,"

Jawab Siao-Iiong-li sambil pentang lebar2 matanya.

sesungguhnya dalam hati kecilnya berkuatir akan luka sendiri yang parah itu, kalau sampai tertidur dan untuk seterusnya tidak pernah mendusin lagi, itu berarti takkan bertemu lagi dengan Nyo Ko selamanya, Karena itulah ia lantas menambahkan "Ajaklah aku bicara saja, Eh, kau sendiri tampaknya lelah?"

"Tidak, aku tidak lelah,"

Jawab Nyo Ko menggeleng.

"Jika tidak ingin tidur, bolehlah kau memejamkan mata untuk menghilangkan kantuk."

Siao-liong-li mengiakan dan pelahan memejamkan matanya, lalu berkata dengan suara pelahan.

"Suhu sering berkata padaku bahwa ada satu hal yang tidak dipahaminya sampai akhir hayatnya. Ko-ji, kau sangat pintar, coba ikut memikirkan soal ini."

"Soal apa?"

Tanya Nyo Ko "Ketika orang jahat itu tertutuk oleh Suhu dengan ilmu Tiam-hiat khas ciptaan Lim-cosu, selama hidup Lim-cosu hanya diajarkan kepada Suhuku dan Suhuku tak mengajarkannya kepada Li-suci, entah cara bagaimana Li-suci dapat membukakan Hiat-to orang jahat yang tertutuk itu."

"Mungkin waktu suco berlatih sendiri, di luar tahu beliau Li-suci telah mengintip dan mempelajarinya secara diam2,"

Kata Nyo Ko.

"Tidak, tidak bisa, kau sendiripun tahu,"

Ujar Siao-long-li.

Nyo Ko pikir ilmu Tiam-hiat perguruan sendiri memang sangat aneh dan ruwet, betapapun sukar-dipelajari dari mengintip.

Selagi ia hendak bicara pu!a, terasa Siao-liong-li yang bersandar pada badannya itupun berdiam, napasnya terhembus halus, ternyata sudah tertidur.

Sambil termangu memandangi wajah si nona, pikiran Nyo Ko bergolak, selang tak lama, sebuah lilin telah padam karena sudah habis tersulut, tidak lama kemudian lilin kedua juga padam.

Tiba2 Nyo Ko membayangkan kedua lilin itu seperti dirinya dan Siao-liong-li, setelah tersulut habis, akhirnya lantas padam, tamat Selagi ter mangu2, didengarnya Siao liong li menghela napas panjang dan berkata.

"Tidak, aku tidak mau mati, Ko ji, aku tidak mau mati! kita harus hidup terus, hidup untuk selamanya."

"Benar, kita takkan mati, engkau pasti akan sehat kembali setelah istirahat beberapa hari lagi,"

Kata Nyo Ko.

"Bagaimana rasa dadamu sekarang?"

Tapi Siao-Iiong li tidak menjawab, rupanya ucapannya tadi hanya mengigau saja, Nyo Ko coba meraba kening si nona, ternyata panas sekali, ia menjadi kuatir dan sedih pula. pikirnya dalam hati.

"Li-Bok-chiu yang jahatnya kelewat takaran sampai saat ini masih hidup segar bugar, sebaliknya Liong ji selama hidup tidak pernah berbuat sesuatu.apa yang merugikan orang lain kini sudah dekat dengan ajalnya. Oh, Thian yang maha kasih, dimanakah letak keadilanmu?"

Selamanya Nyo Ko tidak gentar apapun juga, dalam keadaan tak berdaya, tanpa terasa ia geser tubuh Siao-liong-li ke sampingnya sendiri lantas-berlutut dan berdoa di dalam batin.

"Thian yang welas asih semoga memberi berkah selamat kepada Liong-ji, untuk itu aku rela.... aku rela..."

Pada hal untuk keselamatan Siao-liong-li, tiada-sesuatupun yang diragukannya untuk diperbuat guna menebus jiwa si nona.

BegituIah sedang dia berdoa dengan khidmat-nya, tiba2 terdengar Siao-liong-li berkata.

"Ya benar Auyang Hong, Sun-popoh bilang pasti Auyang Hong adanya, Ko-ji, eh, Ko-ji, ke mana kau?"

Sambil berseru mendadak iapun bangun berduduk. Karena itu cepat Nyo Ko kembali berduduk di samping si nona dan memegangi tangannya sambil berkata.

"Aku berada di sini."

DaIam tidurnya mendadak merasa kehilangan sandaran, seketika Siao-liong-li terjaga bangun, tapi ia menjadi girang dan lega, setelah melihat Nyo Ko masih tetap berada di sampingnya.

"Jangan kuatir, aku takkan meninggalkan kau untuk se-lama2nya,"

Kata Nyo Ko.

Seumpama kelak kita harus keluar dari kuburan kuno ini, aku akan tetap berjaga di sampingmu tanpa berpisah selangkahpun ".

Di dunia luar sana sesungguhnya memang jauh lebih bagus daripada tempat yang sunyi dan seram ini"

Ujar Siao Iiong-li.

"Cuma aku lantas takut begitu berada di luar sana."

"Kini kita tidak perlu takut lagi,"

Kata Nyo-Ko.

"beberapa bulan pula bila kesehatanmu sudah pulih, kita berdua akan pergi ke selatan. Konon cuaca di sana selalu cerah dan pemandangan indah. Di sana kita tidak perlu lagi main senjata segala, kita akan bercocok tanam, berkebun dan beternak, kita juga akan punya anak banyak..."

Siao-liong-li juga membayangkan kehidupan yang indah itu, katanya.

"Ya, selamanya -kita takkan main senjata segala, tiada orang memusuhi kita dan kitapun takkan berkelahi dengan orang lain, kita berkebun dan piara ayam, piara itik. Ai apabila aku boleh tetap hidup..."

Begitulah keduanya terdiam sejenak, meski berada di dalam kuburan kuno, tapi dua buah hati mereka selalu melayang jauh ke selatan yang alamnya indah permai itu, selamanya mereka belum pernah menginjak daerah selatan, tapi hidung serasa sudah mencium bau harum bunga dan telinga mendengar kicauan burung merdu.

Siao-liong-li benar2 tidak tahan lagi, lapat2 ia hendak pulas pula, tapi sesungguhnya ia tidak ingin tidur, katanya.

"Aku tidak ingin tidur, bicaralah padaku!"

"Tadi dalam tiduran kau mengigau tentang Auyang Hong, mengenai urusan apa itu?"

Tanya Nyo Ko.

Seperti diketahui, waktu kecilnya Nyo Ko pernah mengakui Auyang Hong sebagai ayah angkat, kemudian didengarnya dari orang Coan-cin-kau bahwa Auyang Hong itu berjuluk "Se-tok" (si racun barat), namanya sangat busuk di dunia persilatan malahan Tam Jutoan, salah satu dari tujuh tokoh Coan-cin-pay itu tewas di tangannya.

Kemudian Nyo Ko masuk perguruan Ko-bong-pay dan tak berani lagi bicara mengenai Auyang Hong.

sekarang dia sudah menikah dengan Siao-liong-li dan segala apapun boleh dibicarakan, maka iapun ter-heran2 mendengar igauan Siao-liong-li tadi.

"Apakah aku menyebut Auyang Hong?"

Demikian jawab Siao-liong-li.

"Kau juga mengatakan bahwa Sun-popoh bilang pasti dia,"

Kata Nyo Ko pula. Baru sekarang Siao-liong-li teringat, katanya.

"Ah, ya, menurut Sun-popoh, katanya orang yang melukai Suhuku pasti Se-tok Auyang Hong, Katanya di dunia ini yang mampu melukai guruku boleh dikatakan dapat dihitung dengan jari, sedangkan ilmu pukulan keji seperti Ngo-toksin-ciang itu selain Auyang Hong pasti tiada orang lain yang sudi menggunakannya. Tapi sampai detik terakhir ajalnya guruku tetap tidak mau mengatakan penjahat yang melukainya itu. Sun-popoh bertanya kepadanya apakah penyerang itu Auyang Hong adanya? Namun Suhu tetap menggeleng dan tersenyum saja, lalu menghembuskan napasnya yang penghabisan."

"Auyang Hong adalah ayah angkatku,"

Kata Nyo Ko kemudian.

"He apa betul? Mengapa aku tidak tahu?"

Seru Siao-liong-li heran.

Nyo Ko lantas menceritakan pengalamannya dahulu ketika dia terkena racun jarum berbisa Li Bok chiu, berkat pertolongan Auyang Hong, dapatlah dia diselamatkan sebab itulah ia mengakui Auyang Hong sebagai ayah angkat, Akhirnya ia berkata pula.

"Kini ayah angkatku sudah meninggal, Suco dan Sun-popoh juga sudah wafat, Tiong-yang Cosu pun sudah tak ada, segala budi dan dendam, suka dan duka sampai saatnya telah dihapus seluruhnya oleh Thian yang maha kuasa, Malahan sampai saat terakhir Suco tetap tidak mau menyebut nama ayah-angkatku. Ah, kiranya begitu!"

Melihat anak muda itu seperti mendadak menyadari kejadian sesuatu, cepat Siao-liong-li bertanya.

"Kiranya begitu apa?"

"Tentang ayah angkatku tertutuk oleh Suco bukan Li-supek yang menolongnya, tapi dia membebaskan dirinya sendiri,"

Tutur Nyo Ko.

"Membebaskan dirinya sendiri? Bagaimana bisa begitu?"

"Ayah angkatku memiliki semacam kepandaian khas, yakni dapat memutar balik jalan urat nadi seluruh tubuh, sekali urat nadi sudah terbalik, segenap Hiat-to juga berubah tempat, sekalipun ter-tutuk juga dapat melepaskan diri."

"Di dunia ini masakah ada kepandaian seaneh ini, sungguh sukar dibayangkan."

"lni akan kuperlihatkan padamu,"

Kata Nyo Ko sambil berbangkit lalu ia berjungkir dengan kepala dibawah terus berputar beberapa kali sambil mengatur pernapasan.

Mendadak ia melompat bangun, ubun2 kepalanya terus ditumbukkan pada ujung meja di depan dipan sana.

"Hai, awas!"

Seru Siao-liong-li kuatir. Hiat-to yang tepat di ubun2 kepala itu disebut "Pek-hwe-hiat"

Dan merupakan salah satu Hiat-to paling penting di tubuh manusia, Tapi meski tertumbuk ujung meja batu, ternyata sedikitpun Nyo Ko tidak terluka dan sakit, malahan anak muda itu tetap berdiri tegak dan berkata dengan tertawa.

"Lihatlah, sekali jalan urat nadi terbalik, seketika Pek-hwe-hiat juga berpindah tempat."

Kagum sekali Siao-liong-li, katanya dengan heran.

"Sungguh aneh, hanya dia yang mampu memikirkan kepandaian ini."

Walaupun tidak terluka, tapi lantaran terlalu keras menggunakan tenaga, Nyo Ko merasa rada pening juga kepalanya, tapi dalam keadaan samar2 tiba2 ia seperti menemukan sesuatu yang maha penting, cuma seketika sukar dikatakan urusan penting apa yang ditemukan itu.

Sampai sekian lama tetap sukar memecahkan persoalannya, ia menjadi kesal, ingin dikesampingkan tapi berat pula urusannya Akhjrnya ia cakar2 kepala sendiri dengan perasaan sangat masgul, katanya kemudian.

"Liong-ji, ku-ingat sesuatu yang sangat penting, tapi tidak tahu apakah itu. Dapatkah kau membantu?"

Sebenarnya tidaklah masak diakal bahwa pikiran seseorang yang kusut dan tak dapat menyimpulkan sesuatu ditanyakan kepada orang lain.

Tapi lantaran mereka berdua sudah berkumpul lama, sudah ada kontak batin yang mendalam, apa yang dipikirkan pihak lain biasanya dapat diterka sebagian besar.

Maka Siao-Iiong-li lantas bertanya.

"Apakah urusan ini sangat penting."

Nyo Ko mengiakan Siao-liong-li menegas pula.

"Apakah ada sangkut-pautnya dengan keadaan lukaku?"

"Benar, benar! Apakah itu? Urusan apa yang teringat olehku?"

"Tadi kau bicara tentang ayah-angkatmu Auyang Hong serta caranya memutar balik letak hiat-to, ada sangkut paut apakah soal ini dengan lukaku? Kan bukan dia yang melukai aku..."

Mendadak Nyo Ko melonjak dan berteriak.

"Aha, benar!"

Begitu keras teriakannya sehingga bergemalah kumandang suaranya dari kamar2 batu di kuburan kuno itu.

Habis itu Nyo Ko terus pegang lengan Siao-liong-li dan berseru pula.

Engkau tertolong, Liong-ji!

Engkau tertolong!

Hanya sekian saja ucapannya, saking girangnya air matapun ber-linang2 dan tak dapat melanjutkan ucapan-nya.

Melihat anak muda itu sedemikian gembiranya, Siao-liong-li juga ikut senang dan bangkit berduduk.

"Coba dengarkan Liong-ji,"

Kata Nyo Ko kemudian.

"kau terluka dan tak dapat menggunakan Lwekang dari perguruan kita sehingga sukar disembuhkan tapi engkau dapat memutar balik urat nadimu untuk penyembuhanmu dan dipan kemala dingin itu adalah alat pembantu yang ajaib."

"Tapi... tapi aku masih belum paham!"

Sahut si nona dengan bingung.

"Bahwa Giok-li-sim-keng aslinya adalah Ci-im negatip, dingin), kebalikannya adalah Sun-yang (panas, positip),"

Tutur Nyo Ko.

"Ketika membicarakan kepandaian membalikkan urat nadi ayahku tadi samar2 sudah kurasakan bahwa lukamu ini pasti tertolong. Cuma cara bagaimana menyembuhkannya yang masih membingungkanku. Akhirnya setelah ingat pada kemala dingin yang disebut dalam surat Tiong-yang Cosu barulah aku memahami persoalannya dengan jelas, sekarang jangan kita menunda lebih lama lagi, marilah... Marilah..."

Begitulah ia lantas pergi mencari beberapa ikat kayu bakar, lalu dibakar di pojok kamar, kemudian dia mengajarkan pengantar dasar ilmu membalikkan urat nadi itu kepada Siao-liong-li, si nona dibiarkan duduk, di atas dipan kemala dingin, ia sendiri duduk di samping api unggun, tangan kirinya menahan telapak tangan kanan Siao-liong-li.

"Akan kutarik hawa panas ini untuk menerobos-segenap Hiat-to di tubuhmu, sekuatnya engkau mengerahkan tenaga secara jalan terbalik, satu satu Hiat-to itu akan di terobos, kalau hawa panas itu sudah sampai ke dipan kemala dingin, maka keadaan lukamu menjadi berkurang pula parahnya."

"Apakah akupun harus berjungkir dan berputar seperti kau tadi?."

Tanya Siao-liong-li dengan tertawa.

"Sekarang belum perlu, nanti kalau sembilan Hiat-to besar sudah diterobos, cara berjungkir dan mengerahkan tenaga menjadi jauh lebih mudah,"

Siao-liong-li berkata pula dengan tertawa.

"Untung kedua lenganmu tidak terkutung semua, nona Kwe itu ternyata tidak terlalu jelek."

Setelah mengalami detik2 maut tadi, mengenai buntungnya tangan bagi mereka sudah bukan soal lagi, makanya Siao-Iiong li menggunakan hal ini untuk bergurau. Dengan tertawa Nyo Ko menjawab.

"Kalau tanganku buntung semua, masih ada dua kaki. Hanya kalau membantu menyembuhkan dengan telapak kaki, bau keringat kaki tentu memualkan kau."

Sementara itu api unggun sudah mulai berkobar selagi Nyo Ko bersiap akan mengerahkan tenaga dalam dan mulai penyembuhannya-pada Siao-liong-ti, mendadak ia berteriak.

"Haya, hampir saja celaka!"

"Ada apa?"

Tanya Siao-liong-li Nyo Ko menuding Kwe Yang yang tertaruh di ujung tempat tidur sana dan berkata-"Kalau latihan kita sedang memuncak pada titik yang genting dan mendadak setan cilik ini berkaok, kan segalanya bisa runyam?"

"Ya, sungguh berbahaya, hampir saja!"

Siao-liong-Iipun bersyukur.

Maklumlah, orang yang asyik berlatih lwekang paling pantang akan gangguan dari luar, seperti dahulu ketika Siao-liong-li dan Nyo Ko sedang berlatih Giok-li-sim-keng, tanpa sengaja mereka telah terganggu oleh datangnya In Ci-peng dan Tio Ci-keng sehingga akibatnya hampir saja menewaskan Siao-Iiong-li.

Cepat Nyo Ko mengaduk setengah mangkuk madu untuk Kwe Yang kecil, lalu membawanya ke suatu kamar yang agak jauh, pintu kamar itu ditutup pula sehingga jerit tangisnya takkan terdengar, Habis itu barulah ia kembali ke tempat semula dan berkata.

"Seluruhnya Hiat-to penting di tubuhmu kukira dalam waktu tujuh hari sampai setengah bulan dapatlah diterobos seluruhnya, selama itu tentu sukar menghindari gangguan dari luar, tapi tempat ini sama sekali terpisah dengan dunia luar, sungguh suatu tempat yang sangat bagus."

"Lukaku ini dipukul kawanan Tosu Coan-cin kau, tapi cakal bakal mereka yang membangun kuburan ini serta menyediakan dipan kemala dingin ini bagiku sehingga kesehatanmu dapat dipulihkan, rasanya dosa dan jasa mereka dapatlah dianggap sama."

"Dan bagaimana dengan Kim-lun Hoat-ong? Kita takkan ampuni dia,"

Kata Nyo Ko.

"Asalkan aku tetap hidup, apalagi yang tak memuaskan kau?"

"Ya, benar juga ucapanmu,"

Kata Nyo Ko sambil memegang tangan si nona yang putih halus itu.

"Setelah kau sembuh, selanjutnya kita takkan berkelahi lagi dengan siapapun."

"Kita akan pergi keselatan dan bercocok tanam di sana memiara ayam dan itik serta..."

Dia termenung sejenak, tiba2 terasa suatu bawa panas tersalur tiba melalui telapak tangannya, hatinya terkesiap cepat ia melancarkan jalan darah dan mulai berlatih sesuai ajaran Nyo Ko.

Penyembuhan dengan cara membalikkan jalan darah dibantu dengan khasiat dipan kemala dingin itu ternyata sangat besar manfaatnya, Sudah tentu cara penyembuhan ini tidak dapat segera berhasil melainkan memerlukan ketekunan dan kesabaran * * * Kembali bercerita tentang Ui Yong, sesudah membuat Li Bok-chiu tak bisa berkutik, namun dilihatnya Kwe Yang cilik sudah tidak berada di tempatnya lagi, tentu saja dia kelabakan, ia coba membentak pada Li Bok-chiu dan bertanya.

"Kau main tipu muslihat keji apa, ke mana kau sembunyikan anakku?"

"Bukankah nona cilik itu terkurung baik2 di tengah pagar rotan yang kau buat itu?"

Jawab Li Bok-chiu heran.

"Mana ada? Sudah lenyap!"

Kata Ui Yong, hampir saja ia.

menangis saking cemasnya.

Karena sudah sekian lama momong Kwe Yang, maka Li Bok-chiu juga sangat menyukai orok itu, iapun terkejut demi mendengar anak itu lenyap tercetus ucapannya.

"Kalau bukan Nyo Ko tentu-Kim lun Hoat-ong."

"Apa maksudmu?"

Tanya Ui Yong.

Li Bok-chiu lantas menceritakan kejadian perebutan Kwe Yang antara dia, Nyo Ko dan Kim-lun Hoat-ong tempo hari, dari cara Li Bok-chiu menguraikan itu jelas kelihatan dia sangat menguatirkan anak itu.

Kini Ui Yong percaya penuh hilangnya Kwe Yang itu memang di luar tahu Li Bok-chiu, segera ia membuat Hiat-to yang ditutuknya tadi, cuma pelahan ia ketuk Soan ki-hiat di dada orang, dengan demikian Li Bok-chiu dapat bergerak seperti biasa, tapi dalam waktu 12 jam dia belum kuat mencelakai orang lain.

Li Bok-chiu berbangkit dengan tersenyum getir dan membersihkan debu dibajunya, ialu berkata.

"Kalau jatuh di tangan Nyo Ko rasanya tidak beralangan, kuatirnya kalau digondol lari si bangsat gundul Kim-lun Hoat-ong."

"Apa sebabnya?"

Tanya Ui Yong.

"Nyo Ko sangat baik kepada anak itu, kuyakin dia takkan membikin celaka padanya, sebab itulah tadinya kukira orok itu adalah anaknya."

Mendadak Li Bok-chiu berhenti, kuatir Ui Yong tersinggung dan marah lagi.

Tapi dalam hati Ui Yong justeru sedang memikir soal lain, ia sedang membayangkan betapa susah payahnya Nyo Ko berusaha menempur Li Bok-chiu dan Kim-lun Hoat-ong demi menyelamatkan Kwe cilik, tapi dirinya dan Kwe Hu justeru salah sangka jelek padanya sehingga mengakibatkan sebelah lengan anak muda itu ditabas kutung oleh Kwe Hu.

Teringat itu, hati Ui Yong merasa sangat menyesal, pikirnya.

"Ko-ji pernah menyelamatkan jiwa kakak Cing, menyelamatkan aku dan kedua Bu. sekarang dia menyelamatkan anak Yang, tapi... tapi lantaran pikiranku sudah menarik kesimpulan keburukan ayahnya dan menganggap "

Kacang tidak meninggalkan Ianjarannya , serigala tentu beranak serigala, maka selama ini aku tidak pernah percaya padanya, meski terkadang agak baik padanya, selang tak lama aku lantas memakinya lagi.

Ai percumalah diriku maha pintar dan cerdik, kalau bicara tentang kejujuran dan ketulusan terhadap orang lain mana aku dapat dibandingkan dengan kakak Cing.

Melihat nyonya Kwe itu termangu dan mengembeng air mata, Li Bok-chiu menyangka orang sedang menguatirkan keselamatan anaknya, maka ia berusaha menghiburnya.

"Kwe-hujin, puterimu belum sebulan terlahir dan sudah mengalami bencana begini, namun tetap selamat tak kurang sesuatupun apa. Bayi mungil menyenangkan seperti dia itu, biarpun momok yang ditakuti orang macamku ini juga jatuh hati padanya, maka dapat dipahami kalau bayi itu mempunyai rejeki besar, Hendaknya kaupun berdoa saja bagi keselamatannya, marilah pergi mencari nya"

Ui Yong mengusap air mata, ia pikir ucapan Li Bok-chiu itu ada benarnya juga, maka ia lantas membuka lagi Hiat-to orang yang ditutuknya tadi dan berkata.

"Terima kasih banyak bahwa kau suka pergi bersamaku untuk mencari puteriku itu. Tapi kalau engkau ada urusan lain, biarlah kita berpisah saja aisini, sampai berjumpa pula kelak,"

"Urusan penting lain apa? Kalau ada urusan penting, kiranya tidak lebih penting daripada mencari anak itu. Eh, tunggu sebentar!"

Habis ini Li Bok-chiu terus menyusup lagi ke dalam gua di balik pepohonan sana untuk membuka tali pengikat kaki macan tutul.

Begitu merasa bebas, dengan meraung sekali macan tutul itu terus melompat pergi dengan cepat.

Tentu saja Ui Yong heran.

"Untuk apa kau menawan macan tutul itu?"

Tanyanya.

"Dia itulah mak inang puterimu,"

Tutur Li Bok-chiu dengan tertawan.

Baru sekarang Ui Yong paham, ia tersenyum, keduanya lantas kembali ke kota kecil itu untuk mencari jejak Nyo Ko.

Setiba di sana, tertampak Kwe Hu sedang celingukan dan bingung.

Nona itu menjadi girang melihat datangnya sang ibu, segera ia berseru.

"lbu, adik dibawa..."

Belum habis ucapannya, ia kaget karena melihat yang mengikut di belakang sang ibu ternyata Li Bok-chiu adanya.

"Bibi Li akan bantu kita mencari adikmu,"

Tutur Ui Yong kemudian.

"Bagaimana dengan adikmu?"

"Adik dibawa lari Nyo Ko, malahan kuda merah kita juga dirampasnya."

Jawab Kwe Hu.

"Lihatlah pedangku ini. Dengan kebasan lengan bajunya yang tak berlengan itu, segera pedangku jadi begini."

"Hanya dengan lengan baju?"

Tanya Ui Yong dan Li Bok-chiu berbareng.

"Ya, sekali kebas saja pedang ini lantas bengkok, sungguh aneh, entah ilmu hitam apa yang berhasil dikuasainya pula,"

Kata Kwe Hu. Ui Yong dan Li Bok-chiu saling pandang sekejap dengan terkesiap."

Mereka tahu kalau, tenaga dalam seorang sudah terlatih sempurna, maka dengan sesuatu benda yang lunak pun dapat digunakan untuk menghantam benda lawan yang keras, untuk mencapai tingkatan itu sedikitnya juga perlu waktu beberapa puluh tahun kalau mendapatkan guru yang mahir, namun usia Nyo Ko masih muda belia, masakah Lwekangnya sudah mencapai puncaknya seperti ini?

Hati Ui Yong merasa lega juga ketika mengetahui Kwe Yang memang digondol oleh Nyo Ko.

sedangkan Li Bok-chiu berpikir tentang kehebatan Kang hu anak muda itu tentulah berkat ilmu yang diperolehnya dari Giok-li-sim-keng, kalau saja sekarang dirinya membantu Kwe-hujin merebut kembali puterinya, sebagai imbalannya tentu nyonya Kwe itupun mau membantunya rebut kembali kitab pusaka itu.

Bcgitutah setelah tanya arah perginya Nyo Ko, kemudian Ui Yong berkata pula kepada Kwe Hu.

"Kaupun tidak perlu lagi pulang ke Tho-hoa-to marilah ikut pergi mencari Nyo-toako."

Tentu saja Kwe Hu kegirangan dan mengiakan berulang2. Tiba2 Ui Yong menarik muka dan berkata pula.

"Kau harus bertemu dengan dia, tak peduIi dia mau-mengampuni kau atau tidak, kaulah yang harus minta maaf padanya dengan setulus hati."

"Tapi Kwe Hu tidak dapat menerima, katanya.

"Mengapa begitu? Bukankah dia telah mencuik adik?"

Ui Yong lantas menceritakan secara ringkas apa yang didengarnya dari Li Bok-chiu, dan menambahkan "Kalau dia bermaksud jahat, mana bisa adikmu hidup sampai sekarang?

Lagi pula, dengan kebutan lengan bajunya itu, kalau saja yang diincar adalah kepalamu, coba bayangkan, bagaimana keadaanmu sekarang?

Ngeri juga hati Kwe Hu mendengar ucapan sang ibu, ia pikir betul juga omongan ibunya.

Tapi apakah benar Nyo Ko sengaja bermurah hati padanya?

Dasar anak manja, betapapun mulutnya tidak mau kalah, katanya pula.

"Dia menggondol adik ke arah utara, tentu dia menuju ke Coat-ceng-kok."

"Tidak, dia pasti pulang ke Cong-lam-san."

Ujar Ui Yong. Kwe Hu masih penasaran, jawabnya.

"lbu selalu membantu dia saja, Padahal kalau dia bertujuan baik, untuk apa dia membawa adik ke Cong-Iam-san "

Ui Yong menghela napas katanya.

"Kau dibesarkan bersama Nyotoako, ternyata kau masih belum kenal wataknya, selamanya dia bertinggi hati dan angkuh, tidak tahan dihina orang, Ketika mendadak kau mengutungkan lengannya, dia merasa tidak sampai hati hendak balas membuntungi lenganmu tapi iapun tidak rela kalau menyudahi begitu saja urusan ini, dia sengaja membawa pergi adikmu agar kita dibuatnya kelabakan dan bersedih. Selang sementara waktu, kalau dongkolnya sudah mereda, kuyakin dia pasti akan mengembalikan adikmu itu, Nah, paham tidak sekarang?"

Tegasnya.

"Karena kau memfitnah dia menculik adikmu, maka ia betul2 lantas sengaja menculiknya."

Ui Yong memang sangat cerdas dan pintar, setelah mendengarcerita Li Bok-chiu, jalan pikiran Nyo Ko ternyata dapat diraba dan diukurnya dengan tepat padahal Siao-liong-li dan Kwe Cing menganggap Nyo Ko teramat baik, sebaliknya Li Bok-chiu dan Kwe Hu justeru menganggap anak muda itu terlampau busuk.

Sampai saat ini, satu2-nya yang betul2 memahami jalan pikiran dan watak Nyo Ko ternyata hanya Ui Yong saja.

Begitulah akhirnya Kwe Hu tak berani bicara Iagi.

Mereka lantas mendatangi warung makan semula untuk meminjam alat tulis, Ui Yong menulis suatu surat singkat dan memberi persen kepada pelayan agar segera mengirimkan surat itu kepada Kwe Cing di Siangyang.

Habis itu mereka bertiga lantas membeli kuda dan berangkatlah ke Cong-lam-san.

Kwe Hu tidak menyukai Li Bok-chiu, sepanjang jalan sikapnya dingin dan jarang bicara dengan dia.

Hari itu lewat lohor, tengah mereka melanjutkan perjalanan, tiba2 dari depan seorang penunggang kuda mendatangi secepat terbang "Hei, itulah kuda merah kita...."

Seru Kwe Hu, belum habis ucapannya, penunggang kuda itu mendekat dan segera Kwe Hu melompat maju.

Kuda itu memang betul kuda Kwe Hu yang dirampas Nyo Ko itu, sebelum Kwe Hu meraih tali kendali, kuda merah itu sudah lantas-berhenti mendadak sambil berjingkrak dan meringkik kegirangan karena mengenali sang majikan.

Waktu Kwe Hu mengamati penunggangnya, kiranya seorang nona berbaju hitam yang pernah berjumpa satu kali dahulu waktu bersama mengeroyok Li Bok-chiu yaitu Wanyan Peng.

Rambut nona itu tampak kusut masai, wajahnya pucat, keadaannya mengenaskan.

"He, kenapa kau, Wanyan-taci?"

Tanya Kwe Hu cepat.

"Di sana, lekas..."

Jawab Wanyan Peng dengan suara ter-putus2 sambil menuding ke belakang, mendadak tubuhnya tergeliat terus terperosot jatuh ke bawah kuda.

Cepat Kwe Hu melompat turun untuk membangunkan nona itu, ternyata Wanyan Peng sudah pingsan, pundaknya terluka dan merembes darah segar.

Segera Kwe Hu membubuhi obat luka dan merobek kain baju untuk membalut lukanya sambil berkata kepada sang ibu.

"iniiah Wayan-cici yang pernah kukatakan itu."

Habis berkata ia melotot sekali pada Li Bok-chiu.

Ui Yong pikir sebelum jatuh pingsan Wayan Peng sempat menuding ke sana, tentu di sana terjadi sesuatu dan mungkin ada kawannya yang masih perlu ditolong.

Cepat ia suruh Kwe Hu memonong Wayan Peng ke atas kuda merah dan memberi pesan agar mengikutinya dari belakang.

Habis ini ia memberi tanda kepada Li Bok-chiu dan mengajaknya berlari ke arah utara dengan Ginkang mereka yang tinggi.

Sekaligus mereka berlari belasan li tanpa berhenti benar juga sayup2 terdengar suara beradunya senjata di lereng bukit sana.

Mereka mempercepat langkah, setelah melintasi bukit itu, terlihatlah ada lima orang sedang bertempur sengit di suatu tanah datar di depan sana.

Dua di antara lima orang itu, adalah kedua saudara Bu, selain itu ada lagi seorang pemuda dan seorang pemudi yang tak dikenal, berempat sedang mengerubuti seorang lelaki setengah umur.

Meski empat mengeroyok satu, tapi tampaknya masih kewalahan, lebih banyak terserang daripada menyerang.

Tampaknya kedua, saudara Bu sudah terluka, hanya pemuda itu dengan pedangnya yang berputar dengan cepat hampir menangkis sebagian besar serangan lelaki setengah umur itu, di samping sana tampak menggeletak pula seorang berewok dan berlumuran darah, ternyata Bu Sam-thong adanya.

Yang aneh adalah senjata lelaki itu, tangan satu menggunakan golok emas, tangan lain memainkan pedang panjang lentik warna hitam, gerak serangannya aneh, tapi luar biasa.

Ui Yong pikir kalau tidak lekas turun tangan, tentu kedua saudara Bu itu bisa celaka, Segera ia berkata kepada Li Bok-chiu.

"Kedua anak muda itu adalah muridku."

Li Bok-chiu hanya tersenyum saja, sudah tentu ia kenal kedua Bu cilik itu sebab ibu mereka terbunuh olehnya, ia lihat ilmu silat lelaki setengah umur itu sangat tinggi, diam2 ia terkejut, segera ia siapkan kebutnya dan berkata.

"Marilah kita maju bersama!"

Ui Yong juga keluarkan pentungnya, dua orang terus menerjang maju dari kanan-kiri, kebut Li Bok-chiu melayani pedang hitam lawan dan Ui Yong menghadapi golok emas musuh.

Leaki itu bukan lain daripada Kongsun Ci, ia terkejut juga ketika mendadak dua wanita setengah baya dan cantik mengerubutnya sekaligus.

Terdengar Li Bok-chiu berseru.

"Satu!"

Ketika kebutnya menyabet lagi segera ia berseru pula.

"Dua!"

Rupanya diam2 ia ingin berlomba dengan Ui Yong untuk mendahului menjatuhkan senjata lawan, Tapi meski dia sudah berteriak sampai hitungan ke sepuluh, ternyata Kongsun Ci masih tetap dapat menahan dan balas menyerang juga.

Anak muda yang berpedang tadi melihat ada kesempatan, ber-turut2 ia terus menyerang tiga kali ke punggung Kongsun Ci, serangan2 lihay ini membuat Kongsun Ci rada kerepotan karena dia tidak mau menangkisnya, terpaksa ia melompat maju untuk melepaskan diri dari kerubutan itu.

la tahu kalau pertempuran dilanjutkan tentu dirinya akan celaka.

mendadak kedua senjata sendiri ia adu hingga menguarkan suara mendenging dan bergaya hendak menerjang lagi.

Ui Yong dan Li Bok-chiu juga menyadari kelihayan lawan, mereka tidak berani gegabah dan siap bertahan.

Tak terduga baru saja tubuh Kongsun Ci terangkat ke atas, ternyata tidak melompat maju melainkan menyurut mundur malah, hanya beberapa kali lompatan saja ia sudah lari sampai diatas bukit.

Diam2 Ui Yong dan Li Bok-chiu mengakui kclicinan orang itu dan tinggi pula ilmu silatnya, kalau saja kepergok satu lawan satu mungkin diri sendiri bukan tandingannya.

Dalam pada itu kedua saudara Bu lantas memberi hormat kepada sang ibu guru, sesudah itu mereka terus melotot kepada Li Bok-chiu dengan sikap memusuhi.

"Dendam Iama sementara ini kesampingkan dahulu,"

Kata Ui Yong..

"Luka ayahmu parah tidak? Eh, siapakah kedua anak muda ini? Wah, celaka, Lekas ikut aku ke sana, Li-cici!" -Habis berseru ia terus mendahului lari ke arah kedatangannya tadi. Li Bok-chiu tidak paham maksud seruan Ui Yong itu, namun ia tetap ikut lari kesana sambil berteriak.

"Ada apa?"

"Anak Hu,"

Jawab Ui Yong sambi lari.

"Anak Hu kebetulan akan kepergok orang tadi."

Begitulah mereka terus berlari sekencangnya, namun Kongsun Ci juga tidak kurang cepatnya, sementara itu ia sudah meninggalkan satu -dua li jauhnya.

Baru saja Ui Yong berdua sampai di atas bukit, Kongsun Ci sendiri sudah berada di kaki bukit, tertampak Kwe Hu yang membawa Wanyan Peng dengan menunggang kuda merah itu sedang menanjak ke atas dengan pelahan.

"Awas, Hu-ji!"

Seru Ui Yong dari jauh, Belum lenyap suaranya mendadak kelihatan Kongsun Ci mencemplak ke atas kuda merah, sekaligus Kwe Hu telah di bekuk olehnya, menyusul tali kendali kuda merah itu ditarik hendak dibelokkan ke sana.

Ui Yong yang menjadi kuatir, harapannya kini hanya terletak pada kuda merah itu, cepat ia bersuit untuk mengundang kuda itu.

Dasar kuda merah itu memang binatang cerdik, begitu mendengar suara panggilan sang majikan, terus saja kabur ke atas bukit secepat terbang.

Keruan Kongsun Ci terkejut, pikirnya.

"Sungguh sial, masakah seekor kuda saja takdapat ku-kuasai?"

Sekuatnya ia berusaha menarik tali kendali, tapi karena sentakan mendadak itu, kuda merah lantas berjingkrak dan meringkik.

Sebisanya Kongsun Ci berusaha memutar kuda itu ke arah lain,namun kuda merah itu lantas mendepak2 sambil mundur2 ke atas bukit malah.

Tentu saja Ui Yong bergirang, cepat ia memburu maju.

Merasa tidak sanggup mengatasi kebandelan kuda merah itu, sedangkan kedua lawan tangguh sudah memburu tiba, terpaksa Kongsun Ci menyimpan senjatanya, tangan yang satu ia kempit Kwe-Hu dan tangan lain mengempit Wanyan Peng, ia terus melompat turun dari kuda dan kabur dengan cepat.

Kongsun Ci sungguh lihay, biarpun membawa dua nona larinya tetap secepat terbang.

Tapi Gin-kang Ui Yong dan Li Bok-chiu juga kelas wahid, tidak seberapa lama dapatlah mereka menyusul tiba.

jaraknya tinggal belasan meter saja.

Se-konyong2 Kongsun Ci berhenti dan membalik tubuh sambil berkata.

"Heh, kalau kupiting sekuatnya, kukira kedua anak perempuan cantik ini akan menghadapi Giam-lo-ong (raja akhirat)."

Ui Yong terkesiap, tanyanya kemudian.

"Siapakah kau? selamanya kita tidak kenal, mengapa kau menawan puteriku?" .

"O, inikah puterimu? jadi kau ini nyonya Wan-yan?"

Tanya Kongsun Ci dengan tertawa.

"Yang inilah puteriku,"

Kata Ui Yong sambil menunjuk Kwe Hu. Kongsun Ci memandang sekejap pada KweHu, lalu memandang Ui Yong pula, dengan cengar-cengir lalu berkata.

"Wah, sangat cantik, ibu dan anak sama2 cantiknya, sungguh cantik!"

Tentu saja Ui Yong sangat gusar, tapi apa daya, puterinya berada dalam cengkeraman musuh, terpaksa harus bersabar dan mencari akal.

Selagi hendak bicara pula, mendadak terdengar suara mendesir dari belakang, dua anak panah menyamber lewat di pipi kirinya dan langsung mengarah muka Kongsun Ci.

Kekuatan kedua anak panah itu sungguh luar biasa, suara mendesingnya sangat keras, dari suara mendesing panah itu hampir saja Ui Yong berteriak kegirangan, sebab disangkanya sang suami (Kwe-Cing) sudah tiba.

Maklumlah kemahiran memanah jarang dimiliki tokoh persilatan daerah Tionggoan, sedangkan jago panah Mongol banyak yang tidak memiliki tenaga dalam yang kuat dan sukar mencapai jauh, maka dari suara mendesingnya panah yang keras tadi, Ui Yong merasa tiada orang lain lagi kecuali Kwe Cing yang mampu memanah sehebat itu.

Kongsun Ci itu juga maha lihay, kedua tangannya tak dapat digunakan menangkap anak panah yang menyambar tiba itu, mendadak ia membuka mulut dan menggigit tepat ujung panah pertama menyusul kepalanya sedikit menggeleng sehingga panah kedua dapat disampuk jatuh dengan panah yang digigitnya itu.

Ui Yong menjadi ragu, apakah sang suami yang memanah, sebab ia yakin jika Kwe Cing yang-memanah dan musuh berani menggigit dengan mulutnya, mustahil tenggorokannya takkan tembus oleh anak panah itu.

Dalam pada itu terdengar pula suara mendesing ber turut2, sekaligus sembilan panah menyamber pula ke muka Kongsun Ci secara susul menyusul.

Mau-tak-mau Kongsun Ci menjadi kelabakan terpaksa ia lepaskan kedua nona dan meloIos senjata untuk menangkis.

Selagi Ui Yong hendak menubruk maju untuk menyelamatkan puterinya, tahu2 sesosok bayangan telah menggelinding ke depan, Kwe Hu dirangkulnya terus berguling lagi ke samping, Tapi sebelum orang itu melompat bangun, tangan Kongsun Ci yang lain terus menghantam kepala orang itu.

Dalam keadaan masih telentang orang yang menolong Kwe Hu itu sempat menangkis dengan tangannya.

"blang", debu pasir berhamburan Kong-sun Ci berseru.

"Bagus!" -Menyusul pukulan ke dua dilontarkan pula dengan lebih dahsyat. Tampaknya orang itu sukar menangkis lagi, cepat Ui Yong mengulur pentung bambunya dan menangkiskan pukulan itu. Merasa dirinya pasti takkan mampu menghadapi kerubutan orang banyak itu, Kongsun Ci tidak menyerang pula, ia terbahak dan melompat mundur terus melangkah pergi. Gayanya indah, caranya tangkas pula dan ternyata tiada yang berani mengejarnya Iagi. Setelah berbangkit, orang yang merangkul Kwe Hu tadi lantas melepaskan si nona, pinggang orang itu membawa busur, perawakannya tinggi dan bahunya lebar, segera Ui Yong mengenalinya scbapai pemuda yang berpedang tadi, ke-11 anak panah yang dibidikkan secara berantai itu tentu pula dilakukan oleh anak muda ini. Meski tertawan Kongsun Ci, tapi Kwe Hu tidak mengalami luka, segera ia menyapa pemuda yang menolongnya itu dengan muka merah jengah.

"Eh, kiranya Yalu-toako, terima kasih atas pertolonganmu! "

Dalam pada itu Bu Siu-bun dan nona satunya lagi sudah memburu tiba, hanya Bu Tun-si saja yang tinggal di sana menjaga ayahnya.Pantasnya Bu Siu-bun mesti memperkenalkan mereka, tapi dia ternyata tidak dapat menahan marah dan dendamnya, kedua matanya melotot benci kepada Li Bok-chiu dan lupa keadaan sekitarnya, dua kali Ui Yong memanggilnya juga tidak mendengar Kwe Hu lantas bicara pada sang ibu sambil menunjuk pemuda yang menolongnya itu.

"Mak inilah Yalu-toako!"

Lalu ia tuding pula nona yang datang bersama Bu Siu-bun dan menambahkan.

"Dan ini Yalu-cici."

"Oh, hebat benar kepandaian kalian berdua!"

Puji Ui Yong. Kedua saudara Yalu itu mengucapkan kata2 rendah hati sambil memberi hormat sedangkan Li Bok chiu berdiri menjauhi di sana tanpa urus orang2 lain.

"Gaya ilmu silat kalian nampaknya dari Coan-cin-pay, entah kalian ini murid Coan-cin-jit-cu yang mana?"

Tanya Ui Yong pula, ia menyaksikan kepandaian Yalu Ce yang hebat, antara angkatan muda yang pernah dilihatnya, kecuali Nyo Ko saja boIeh dikatakan tiada bandingannya lagi maka ia yakin Yalu Ce pasti bukan anak murid -Coan-cin-pay angkatan ketiga atau keempat.

Dengan rendah hati Yalu Yan berkata.

"Kepandaianku sih ajaran kakak"

Ui Yong mengangguk dan memandang Yalu Ce. Tampaknya Yalu Ce-merasa sungkan untuk menerangkan, jawabnya kemudian.

"Pantasnya Wanpwe harus menjelaskan pertanyaan Cianpwe, cuma Suhu pernah memberi pesan agar jangan se-kali2 menyebut nama beliau, sebab itulah mohon Kwe-hujin sudi memaafkan."

Semula Ui Yong terkesiap, ia heran mulai kapan Coan cin jit-cu memakai peraturan aneh yang melarang anak murid menyebut nama gurunya?

Tapi cepat tergerak pikirannya, mendadak ia tertawa ter-pingkal2 seperti teringat kepada sesuatu yang sangat lucu.

"He. apakah yang menggelikan engkau, bu"

Tanya Kwe Hu heran. Akan tetapi Ui Yong tidak menjawab dan tetap tertawa Yalu Ce ternyata tidak tersinggung, malahan iapun tersenyum dan akhirnya berkata.

"Kiranya Kwe-hujin, dapat menerkanya."

Kwe Hu tetap bingung, waktu ia pandang Yalu Yan, nona itupun merasa tidak paham apa yang ditertawakan kedua orang itu.

Di samping sana Bu Siu-bun telah membalut luka Wanyan Peng yang menjadi pecah lagi karena ditawan dan dibanting pula oleh Kongsun Ci tadi.

"Bagaimana keadaan ayahmu Siu-bun?"

Tanya Ui Yong. Belum Siu-bun menjawab, tiba2 Yalu Yan berseru terus berlari ke tempat-Bu Sam-thong menggeletak.

"Luka ayah terletak di paha kiri, terkena serangan tua bangka Kongsun itu,"

Tutur Siu-bun. Ui Yong mengangguk lalu ia mendekati kuda merah dan mengelus bulu surinya yang panjang itu, katanya dengan terharu.

"Oh, kudaku sayang, sungguh besar jasamu terhadap keluarga Kwe kami."

Ternyata Bu Siu-bun tidak lagi bersikap akrab terhadap Kwe Hu, sebaliknya tampak sangat simpatik kepada Wanyan Peng, entah sengaja hendak membikin sirik Kwe Hu atau memang pemuda itu jatuh hati kepada Wanyan Peng, betapapun Ui Yong juga tidak sempat urus persoalan anak2 muda itu, segera ia berlari ke tempat Bu Sam-thong untuk memeriksa keadaannya.

Melihat Ui Yong, Bu Sam-thong bermaksud berdiri, tapi karena kakinya terluka, tubuhnya menjadi sempoyongan, cepat Bu Tun-si dan Yalu Yan memegangi orang tua, ketika jadi kedua muda-mudi itu saling sentuh, keduanya saling pandang dan tersenyum penuh arti.

Diam2 Ui Yong geli, pikirnya.

"Rupanya ada satu pasangan lagi, padahal beberapa hari yang lalu kedua saudara Bu cilik itu baru berkelahi mati2an berebut anak Hu tanpa menghiraukan hubungan baik saudara sekandung, sekarang setelah menemukan nona cantik lain, seketika segala kejadian yang lalu terlupa sama sekali"

Bahwasanya kedua saudara Bu jatuh hati kepada Kwe Hu sebenarnya bukanlah sesuatu yang aneh, soalnya mereka dibesarkan bersama di Tho-hoa-to, di pulau terpencil itu tiada anak perempuan lain, lama2 tentu saja menimbulkan bibit cinta antara mereka.

Tapi kemudian setelah mengetahui Kwe Hu ternyata tidak mencintai mereka, dengan sendirinya kedua Bu cilik itu sangat kecewa dan putus asa, hidup mereka terasa himpa dan tiada artinya, Tak terduga tidak iama kemudian mereka lantas ketemukan Yalu Yan dan Wanyan Peng, masing2 ternyata rada cocok dengan kedua saudara Bu itu.

Kini mereka saling bertemu lagi, diam2 kedua Bu cilik membandingkan Kwe Hu dengan buah hati mereka yang baru, Dan pameo "cinta buta"

Juga berlaku di sini, dalam anggapan mereka tentu segala sesuatu kekasihnya jauh lebih baik.

Sebenarnya kedua saudara Bu sudah bersumpah takkan menemui Kwe Hu lagi, tapi pertemuan ini terjadi mendadak dan kepergok, jadi bukan sengaja hendak bertemu, mereka anggap bukan melanggar sumpah.

Dalam hati Kwe Hu sendiri sedang membayangkan kejadian Yalu Ce menolongnya tadi, beberapa kali ia melirik anak muda yang gagah dan cakap itu, ia menjadi heran ilmu silatnya ternyata begini hebat, dan anak muda itupun saling pandang dan tertawa geli, entah apa pula yang ditertawakan mereka.

Begitulah setelah memeriksa luka Bu Sam-thong dan ternyata tidak parah, Ui Yong merasa lega, mereka lantas ambil tempat duduk di batu karang dan saling menceritakan pengalaman masing2 selama berpisah.

Kiranya tempo hari ketika Cu Cu-Iiu ikut paman gurunya, yaitu si paderi Hindu itu mencari obat ke Coat-ceng-kok, secara diam2 Bu Sam-thong juga mengikut ke sana demi untuk membalas budi kebaikan Nyo Ko.

Tapi baru saja sampai di luar kota, dilihatnya kedua puteranya juga keluar kota bersama, ia terkejut dan kuatir kalau kedua saudara sekandung itu akan duel pula, cepat ia menegur dan menanyai kedua puteranya itu, akhirnya baru diketahui bahwa kedua Bu cilik telah bersumpah takkan bertemu lagi dengan Kwe Hu, maka mereka tidak ingin tinggal lagi di Siangyang.

Karena itulah mereka bertiga lantas menuju ke Coat-ceng-kok.

Tapi Coat-ceng-kok itu mirip suatu dunia lain, meski Nyo Ko telah memberitahukan keadaan tempat itu secara garis besar, tapi sungguh sukar menemukan jalan masuknya, Mereka ber-putar2 kian kemari dan beberapa kali kesasar, akhirnya dapat juga menemukan mulut lembah itu.

Tak terduga paderi Hindu dan Cu Cu-liu berdua ternyata sudah tertawan oleh Kiu Jian-jio.

Bcberapa kali Bu Sam-thong bertiga berusaha menolong mereka, tapi selalu gagal dan terpaksa keluar dari lembah itu dengan maksud pulang Siangyang untuk mencari bala bantuan, tak tahunya di tengah jalan mereka kepergok pula dengan Kongsun Ci, mereka dituduh sengaja berkeliaran di lembah itu sehingga terjadilah pertarungan sengit.

Bu Sam-thong bukan tandingan Kongsun Ci dan kakinya tertusuk pedang, sebenarnya Kongsun Ci juga tidak bermaksud mencelakai jiwa mereka, dia ingin mengusir mereka saja dan melarang mereka datang lagi ke situ.

Justeru pada saat itu juga Yalu Ce dan Yalu Yan serta Wanyan Peng juga lewat di situ, Ketiga muda-mudi itu pernah bertemu satu kali dengan kedua Bu cilik, mereka lantas berhenti dan sapa menyapa.

Kongsun Ci baru saja gagal menikahi Siao-liong-li dan habis di usir sang isteri, dia sedang kesepian dan mendongkol tiba2 dilihatnya Wanyan Peng berwajah cantik, seketika timbul napsu jahatnya, mendadak ia turun tangan dan hendak menawan Wanyan Peng.

Tentu saja kedua saudara Yalu dan kedua Bu cilik tidak tinggal diam, serentak mengerubut Kongsun Ci.

Kalau saja Bu Sam-thong tidak terluka lebih dulu, dengan gabungan mereka berenam mestinya dapat menandingi Kongsun Ci, kini yang dapat diandalkan hanya Yalu Ce saja, biarpun mereka main keroyok juga sukar menandingi musuh yang lihay itu.

Untunglah pada saat itu kuda merah yang-tempo hari dibawa Nyo Ko dan dilepas di Cong-Iam-san itu kini telah lari pulang, Cepat Siu-bun mencegat kuda itu dan membiarkan Wanyan Peng kabur dengan menunggang kuda merah, tapi Wanyan Pcng telah bertemu dengan Ui Yong dan Li Bok-chiu dan akhirnya Kongsun Ci dihalau pergi.

Kemudian Ui Yong juga menceritakan secara ringkas tentang buntungnya lengan Nyo Ko serta membawa lari Kwe Yang, Bu Sam-thong terkejut, cepat ia menjelaskan sebabnya Nyo Ko mengaku telah bertunangan dengan Kwe Hu adalah ingin menolong kedua Bu cilik agar tidak saling membunuh antara saudara sendiri, siapa duga akibatnya malah membikin susah Nyo Ko.

Dasar watak Bu Sam-thong memang keras dan pemberang, mengingat buntungnya Nyo Ko itu adalah gara2 kedua anaknya itu, makin dipikir makin marah, mendadak ia terus menuding Siu-bun dan Tun-si terus dicaci maki, kalau kakinya tidak terluka, bisa jadi ia terus mendekati kedua Bu cilik dan menggamparnya.

Saat itu Tun-si dan Siu-bun sedang asyik-bicara dengan Yalu Yan dan Wanyan Peng, tidak lama Kwe Hu dan Yalu Ce ikut bicara, usia keenam orang sebaya, tapi bahu membahu bertempur pula maka obrolan mereka menjadi bersemangat.

Siapa tahu mendadak Bu Sam-thong terus mencaci-maki, keruan Siu-bun dan Tun-si menjadi bingung, mereka tidak tahu apa sebabnya sang ayah mendadak marah, mereka sama melirik Yalu Yan dan Wanyan Peng, betapapun mereka merasa malu mendapatkan damperatan begitu di depan si nona jelita.

Apalagi kalau sampai sang ayah membongkar rahasia hubungan mereka dengan Kwe Hu, tentu akan membikin mereka tambah runyam.

Melihat keadaan serba kikuk, cepat Ui Yong menyela, katanya.

"Sudahlah, hendaklah Bu-heng jangan gusar lagi, buntungnya tangan Nyo Ko adalah karena kekurangajaran puteriku, tatkala mana kakak Cing juga sangat murka dan hampir saja tangan anak Hu juga dikutunginya."

"Bagus, seharusnya begitu!"

Seru Bu Sam-thong. Kwe Hu mendelik sekejap kepada orang tua yang sok tahu itu, kalau saja ibunya tidak di situ, mungkin dia sudah balas olok2 Bu Sam-thong. Ui Yong lantas berkata pula.

"Bu-heng, sekarang urusannya sudah jelas, jadi kita telah salah menuduh si Nyo Ko. Paling penting sekarang kita harus menemukan Nyo Ko dan minta maaf padanya."

"Benar benar!"

Ber-ulang2 Sam-thong menyatakan setuju.

"Selain itu kita harus pergi ke Coat-ceng-kok untuk menolong susiokmu dan Cu-toako berbareng itu, kita akan memintakan obat penawar bagi Nyo Ko Cuma tidak diketahui mengapa Cu-toako sampai terkurung musuh dan bagaimana keadaannya sekarang?" .

"Susiok dan Sute tertawan oleh barisan jaring musuh dan sekarang terkurung di suatu kamar batu, tampaknya jiwa mereka tidak begitu menguatirkan,"

"Jika begitu biarlah kita mencari Nyo Ko dahulu baru pergi ke Coat ceng-kok, dengan kepandaiannya yang tinggi itu anak muda itu merupakan pembantu yang terkuat apalagi obat penawar didapatkan segera bisa diminum olehnya dan tidak perlu membuang waktu lagi,"

Kata Ui Yong.

"Benar, benar,"

Seru Sam-thong.

"Cuma tidak diketahui sekarang Nyo Ko berada di mana?"

Sambil menuding kuda merah, Ui Yong menjawab.

"Kuda ini baru saja di pinjam si Nyo Ko, kuda ini akan menjadi petunjuk jalan, kita pasti dapat menemukan tempat tinggalnya."

Bu Sam thong sangat girang, serunya.

"Untung Kwe-hujin berada di sini, kalau tidak, tentu aku akan kelabakan setengah mati tanpa berdaya."

Ui Yong pikir kalau Bu Sam-thong dan kedua puteranya ikut pergi, besar kemungkinan ketiga muda-mudi yang lain juga akan ikut, akan terasa lebih aman jika ada pembantu lebih banyak Segera ia berkata kepada Yalu Ce.

"Bagaimana kalau kalian juga ikut bersama kami?"

Belum lagi Yalu Ce menjawab, cepat Yalu Yan mendahului bersorak.

"Baiklah, kakak, kita ikut pergi."

Tanpa terasa Yalu Ce memandang sekejap kepada Kwe Hu dan terlihat sorot mata nona itu juga memberi dorongan padanya, ketika ia berpaling ke arah Wanyan Peng, nona itu juga tersenyum, maka iapun menjawab dengan menghormat.

"Kami tunduk saja kepada pesan Bu-locianpwe dan Kwe-hujin, kalau kami bisa, selalu mendapat petunjuk kalian, itulah yang kami harapkan"

Ui Yong lantas berkata pula.

"Meski tidak banyak jumlah kita, tapi kita perlu juga seorang komandan sebagai pimpinan. Bu-heng, biarlah kami tunduk kepada pimpinanmu dan takkan membantah perintahmu."

Namun Bu Sam-thong lantas geleng kepala dan menjawab.

"Tidak, jelas seorang Kunsu (juru pikir) wanita seperti kau berada di sini, siapa lagi yang berani main perintah segala? Sudah tentu mandat penuh kuserahkan padamu."

"Apa sudah betul pilihanmu?"

Ui Yong menegas dengan tertawa.

"Masakah aku bergurau?"

Jawab Sam-thong.

"Anak2 sih tidak menjadi soaV, yang kukuatirkan adalah kau. si tua ini tidak mau tunduk pada perintahku,"

Kata Ui Yong.

"Apa perintahmu, apa pula yang kulaksanakan,"

Seru Sam-thong.

"Sekalipun masuk lautan api atau terjun ke rawa mendidih juga takkan kutolak."

"Di hadapan anak2 muda ini, apa yang sudah kau katakan harus kau tepati,"

Ujar Ui Yong.

"Sudah tentu,"

Jawab Sam-thong dengan muka merah padam "Memangnya kalau tiada orang lain pernah kuingkar janji?"

"Bagus! itulah yang kuinginkan darimu,"

Kata Ui Yong.

"Keberangkatan kita nntuk mencari Nyo Ko, meminta obat dan menolong kawan, semuanya harus dilakukan dengan cara gotong royong maka segala dendam sakit hati dimasa-lampau untuk sementara ini harus dikesampingkan. Jadi maksudku, Bu-heng, untuk sementara ini kalian sekali-kali tidak boleh merecoki Li Bok-chiu, nanti kalau urusan sudah bcres, bolehlah kalian melabrak dia untuk menuntut balas."

Bu Sam-thong melengak, baru sekarang ia tahu tujuan kata2 Ui Yong tadi hanya untuk memancing pernyataannya saja.

Padahal Li Bok-chiu adalah pembunuh isterinya, sakit hati ini mana boleh dibiarkan?

Belum lagi Sam-thong menjawab, Ui Yong membuka suara pula dengan lirih.

"Bu-heng, kakimu terluka, sementara ini tentu juga tak dapat berbuat banyak. Untuk menuntut balas kukira juga tidak perlu terburu-buru saat ini juga."

Terpaksa Bu Sam-thong berkata.

"Baiklah, apa yang kau katakan, apa yang kulakukan."

Ui Yong lantas berseru memanggil Li Bok-chiu.

"Li-cici marilah kita berangkat!"

Begitulah kuda merah itu dibiarkan jalan di depan dan mereka ikut dari belakang, Benar juga kuda itu ternyata menuju ke arah Cong-lam-san.

Lantaran Bu Sam-thong dan Wanyan Peng terluka dan tak dapat jalan cepat, setiap hari mereka cuma menempuh ratusan li saja lantas istirahat.

Diam2 Li Bok-chiu waspada menjaga segala kemungkinan, di waktu istirahat ia sengaja menjauhi semua orang.

Waktu menempuh perjalanan iapun mengintil dari kejauhan.

Sepanjang jalan yang paling gembira adalah ke.

enam muda-mudi itu, mereka bicara dan bergurau dengan akrab sekali, Sejak kecil kedua saudara Bu saling bersaing mencari muka pada Kwe Hu sehingga hubungan mereka sedikit-banyak kurang baik, tapi sekarang masing2 sudah menemukan gadis idaman, kedua saudara menjadi sangat rukun dan sayang menyayang.

Tentu saja Bu Sam-thong sangat senang melihat itu dan tambah terima kasihnya kepada Nyo Ko yang telah menyelamatkan kedua Bu cilik itu dari saling membunuh memperebutkan seorang gadis.

Suatu hari sampailah mereka di Cong-lam-san.

Ui Yong dan Bu Sam-thong membawa anak muda itu berkunjung kepada Coan-cin-jit-cu di Tiong-yang-kiong.

Li Bok-chiu berhenti jauh di luar istana Coan-cin-pay dan menyatakan hendak menunggu saja di situ.

Dengan sendirinya Ui Yong tidak memaksa karena tahu iblis itu bermusuhan dengan pihak Coan-cin-pay, rombongan mereka lantas menuju Tiong-yangkiong.

Ketika mendapat laporan, cepat Khu Ju-ki dan lain2 menyambut keluar.

Sesudah rombongan tamu disilakan masuk dan berduduk di pendopo agung, baru saja mereka beramah-tamah sejenak, tiba2 di ruangan belakang ada suara orang membentak2.

seketika Ui Yong mengenali suara orang itu, segera ia berseru.

"Hai, Lo-wan-tong, lihatlah siapakah ini yang datang?"

Selama beberapa hari ini memang Ciu Pek-thong lagi sibuk mempelajari cara2-mengundang dan memimpin kawanan tawon putih, Dasarnya memang pintar, tekun pula, maka sedikit-banyak sudah ada kemajuan, saat itu dia sedang asyik dengan permainannya itu, ketika tiba2 didengarnya orang memanggil julukannya, segera ia kenal itulah suaranya Ui Yong.

"Aha, kiranya bininya adik angkatku yang genit dan jahil itu telah datang!"

Sambil ber-teriak2 ia terus berlari ke depan. Serentak Yalu Ce memampak maju dan menyembah kepada Ciu Pek-thong sambil mengucapkan doa selamat, Dengan tertawa Ciu Pek-thong menjawab.

"Sudahlah, lekas bangun. Kaupun selamat-selamat ya!"

Menyaksikan itu semua orang jadi ter-heran2.

Sungguh tidak tersangka bahwa Yalu Ce adalah, muridnya Ciu Pek-thong, padahal tingkah lakunya Anak Tua Nakal itu suka ugal2an dan angin2an, tapi murid didiknya ternyata pintar dan tangkas, jujur-dan sopan, sama sekali berbeda antara guru dan murid.

Khu Ju-ki dan lain2 juga sangat senang melihat sang Susiok sudah mempunyai ahli waris, be-ramai2 mereka lantas mengucapkan selamat kepada Ciu Pek-thong.

Baru sekarang juga Kwe Hu menyadari sebab musababnya tempo hari sang ibu dan Yalu Ce saling pandang dengan bergelak tertawa ketika anak muda itu tidak mau menerangkan siapa gurunya, rupanya waktu itu Ui Yong sudah dapat menerka bahwa guru Yal-u Ce adalah si Anak Tua Nakal Ciu Pek-thong.

Tengah ramai2, mendadak di bawah gunung ada suara terompet, itulah pemberitahuan para anak murid yang bertugas jaga bahwa musuh datang menyerang secara besar2an.

Seketika air muka Khu Ju-ki berubah, ia tahu pasti pasukan Mongol yang datang akibat kegagalan usaha Kim lun Hoat-ong dan begundalnya menaklukkan Coan-cin-kau tempo hari.

Walaupun orang2 Coan-cin-kau mahir ilmu silat, tapi tidak mungkin bertempur secara terbuka melawan pasukan Mongol, maka sebelumnya mereka sudah mengatur siasatnya, kalau perlu akan mundur teratur dengan meninggalkan gunung.

Tugas ini sebenarnya adalah tanggung jawab Li Ci-siang yang kini diangkat sebagai pejabat ketua menggantikan In Ci-peng yang sudah meninggal itu.

Tapi menghadapi suasana gawat ini, dengan sendirinya pimpinan dipegang lagi oleh Coan-cin-ngo-cu.

Segera Khu Ju-ki berkata kepada Ui Yong tentang keadaan genting dan menyesal tak dapat memenuhi kewajiban sebagai tuan rumah terhadap tetamunya.

Dalam pada itu suara gemuruh serbuan pasukan terdengar di bawah gunung, Rupanya pasukan Mongol menyerbu dari arah utara gunung, sedangkan rombongan Ui Yong datang dari bagian selatan, selisihnya cuma setengah jam saja.

"Oh jadi ada musuh datang? Hah, sangat kebetulan."

Seru Ciu Pek-thong "Hayolah, anak Ce, inilah kesempatan baik bagimu untuk memperlihatkan kepandaian ajaran gurumu ini kepada para Suheng di sini!"

Seperti anak kecil, apabila mempunyai barang mainan kesayangannya, tentu suka pamer untuk mendapatkan pujian orang lain.

Begitu pula si Anak Tua Nakal, dia mempunyai seorang murid baik, tentu iapun ingin membikin kagum orang Iain..Kalau dahulu dia pesan Yalu Ce agar jangan membocorkan nama gurunya, maksud tujuannya adalah untuk mengejutkan dunia Kangouw saja agar semua orang kaget demi kemudian mengetahui Ciu Pek-thong mempunyai seorang murid lihay.

Begitulah Khu Ju-ki lantas memberi laporan sekadarnya kepada Ciu Pek-thong tentang siasatnya akan mengundurkan diri demi untuk menjaga keutuhan Coan-cin-kau.

Habis itu ia lantas memberi perintah agar setiap orang membawa barang2 keperluan dan meninggalkan gunung menurut arah yang sudah ditentukan, ber-bondong2 anak murid Coan-cin-kau lantas melaksanakan tugas masing2 secara teratur.

"Khu-totiang,"

Kata Ui Yong kemudian.

"cara pengaturanmu sungguh hebat, kuyakin sedikit alangan ini pasti takkan menjadi soal bagi kalian, Kelak Coan-cin-kau pasti akan bangkit kembali dan lebih jaya daripada sekarang, Kedatangan kami ini adalah untuk mencari Nyo Ko, maka sekarang juga kami mohon diri."

"Nyo Ko?"

Khu Ju-ki meIengak.

"Apakah dia masih berada di pegunungan ini?"

"Ada seorang teman mengetahui tempat kediamannya,"

Ujar Ui Yong dengan tertawa. Habis itu ia lantas berangkat dengan rombongannya menuju ke belakang Tiong-yang-kiong dan kemudian menemukan Li Bok-chiu.

"Li-cici, sekarang silakan memberi petunjuk cara masuk ke kuburan itu,"

Kata Ui Yong.

"Darimana kau mengetahui dia pasti berada didalam kuburan?"

Jawab Bok-chiu.

"Seumpama Nyo Ko tidak berada di sana, Giok li-sim-keng pasti ada,"

Ujar Ui Yong.

Diam2 Li Bok-chiu terkesiap dan mengakui kelihayan nyonya Kwe itu, sampai2 isi hatinya ingin mendapatkan kitab pusaka itupun dapat diterkanya dengan jitu.

Karena tujuannya toh sudah diketahui orang, Li Bok-chiu lantas berkata sekalian secara terang2an.

"Baiklah, biar kita bicara di muka, kubantu kau menemukan puterimu dan kau harus bantu aku merebut kitab pusaka perguruanku, Kau adalah ketua Kay-pang, pendekar wanita yang termashur, kau harus pegang janji."

"Tapi Nyo Ko adalah putera saudara angkat tuan Kwe kami, meski ada sedikit selisih paham dengan kami, kalau sudah bertemu tentu segalanya dapat dijernihkan dan puteriku pasti juga akan dikembalikan padaku jika memang betul anak itu berada padanya, Jadi tak dapat dikatakan rebut berebut segala."

"O, kalau begitu, baiklah kita menuju ke arah masing2 dan berpisah saja di sini,"

Habis ini Li Bok chiu terus putar tubuh hendak pergi. Ui Yong lantas mengedipi Bu Siu-bun.

"sret"

Si Bu cilik itu segera melolos pedang dan membentak "Li Bok-chiu, hari ini jangan kau harap dapat meninggalkan Cong-lam-san dengan hidup!"

Li Bok-chiu menyadari keadaan sendiri yang kepepet, seorang Ui Yong saja sukar diiawan, apalagi ada Bu Sam-thong dan anak muda yang cukup lihay itu.

Biasanya iapun banyak tipu akalnya, tapi menghadapi Ui Yong ia benar2 menjadi bodoh dan mati kutu.

sedapatnya ia berlaku tenang dan berkata dengan dingin.

"Kwe-hujin maha pintar, kalau berada di sini, masakah Kwe-hujin kuatir tak-dapat menemukan dia dan masakah perlu petunjuk jalan dariku?"

"Untuk mencari jalan masuk kuburan kuno, terus terang aku tidak mampu,"

Jawab Ui Xong.

"Tapi kalau kami berdelapan orang secara sabar menunggu dan bergilir mengawasi sekitar sini, akhirnya kami pasti akan pergoki mereka apabila Nyo Ko dan nona Liong benar2 sembunyi di dalam kuburan kuno, masakah pada suatu hari mereka tidak keluar untuk belanja keperluan hidup mereka?"

Ucapan ini dengan jelas memojokkan Li Bok-chiu agar lebih baik menunjukkan jalannya, kalau tidak segera akan dibunuhnya.

Li Bok-chiu menjadi serba susah, apa yang di katakan Ui Yong itu memang masuk di akal, kalau mereka menunggu saja di sekitar sini, akhirnya Nyo Ko tentu juga akan keluar, Untuk bertempur jelas dirinya bukan tandingan mereka yang berjumlah banyak, tapi kalau memancing mereka masuk ke kuburan kuno itu.

di tempat yang sudah dikenalnya benar2 itu tentu dapat mencari akal untuk membinasakan musuh2 ini satu persatu, Begitulah ia lantas menjawab.

"Baiklah, apa mau dikatakan lagi, aku toh tidak mampu menandingi kalian. Memangnya aku juga akan mencari si bocah she Nyo itu? Marilah. kalian ikut padaku."

Segera ia menyingkap semak belukar dan menyusup ke tengah pepohonon yang lebat diikuti Ui Yong dan lain2 dari dekat karena kuatir dia melarikan diri mendadak Setelah menyusup ke sana dan menyusur sini, tidak lama sampailah mereka di tepi sebuah sungai kecil.

Sudah lama Li Bok-chiu bertekat hendak rebut Giok-li-sim-keng, tempo hari dia hampir mampus ketika lolos keluar dari kuburan itu melalui dasar sungai, maklum dia memang tidak mahir berenang dan menyelam.

Karena itu akhir2 ini dia telah berlatih renang dan kini sudah siap.

Berdiri di tepi sungai berkatalah dia.

"Pintu depan kuburan itu sudah tertutup, untuk membukanya secara paksa di perlukan waktu berbulan2, bahkan tahunan. Sedang pintu belakangnya harus selulup melalui sungai ini. Nah, siapa2 di antara kalian yang akan ikut aku masuk ke sana?"

Kwe Hu dan kedua saudara Bu dibesarkan di Tho-hoa-to, setiap hari hampir selalu berkecimpung di tengah gelombang laut, kepandaian berenang mereka dapat diandalkan, serentak mereka bertiga menyatakan ikut, Bu Sam-thong juga bisa-berenang, maka iapun ingin ikut serta.

Ui Yong tahu Li Bok-chiu sangat keji, kalau mendadak dia menyerang dikuburan-kunb itu, pasti Bu Sam-thong dan lain2 tidak mampu melawannya, seharusnya dirinya sendiri ikut mengawasi kesana, namun kesehatan sendiri yang baru melahirkan terasa tidak sanggup bertahan menyelam lama di dalam air yang dingin.

Tengah ragu2, tiba2 Yalu Ce berkata.

"Kwe pekbo boleh tunggu saja di sini, biar siautit ikut paman Bu ke sana."

"Kau mahir berenang?"

Tanya Ui Yong girang.

"Berenang sih tidak begitu mahir, kalau menyelam kukira boleh juga,"

Jawab Yalu Ce.

Dalam pada itu Li Bok-chiu sudah bebenah seperlunya dan siap akan terjun ke dalam sungai, Ui Yong lantas mendekati Bu Sam-thong dan memberi pesan agar hati2 dan waspada, Begitulah Yalu Ce dan Bu Sam-thong berlima lantas ikut Li Bok-chiu menyusun sungai itu.

Sungai di bawah tanah itu terkadang sempit dan terkadang luas, arusnya juga kadang2 keras tempo2 lambat, Ada kalanya dasar sungai sangat dalam hingga tinggi air melebihi kepala dan harus menyelam, tapi lain saat air sungai berubah menjadi cetek cuma sebatas pinggang.

Setelah berjalan sekian lama, akhirnya mereka sampai di lubang masuk ke kuburan itu.

Li Bok-chiu menarik batu penyumbat dan menerobos ke dalam, yang lain lantas ikut masuk ber-turut2.

Meski sekarang tidak terbenam lagi dalam air, tapi keadaan gelap gulita, semua orang bergandengan tangan agar tidak terpencar dan mengikuti Li Bok-chiu ke depan secara ber-liku2 sehingga sukar lagi membedakan arah.

Tidak lama kemudian terasa mulai menanjak, tanah yang terpijak juga kering, Tiba2 terdengar suara berkeriutan, sebuah pintu batu didorong oleh Li Bok-chiu, semua orang lantas ikut masuk ke situ.

"Di sini sudah berada di tengah2 kuburan kuno, kita berhenti sebentar lalu pergi mencari Nyo Ko,"

Kata Li Bok-chiu.

Sejak memasuki kuburan itu itu selangkahpun Bu Sam-thong dan Yalu Ce tidak tertinggal di belakang Li Bok-chiu, tapi keadaan sangat gelap, terpaksa mereka hanya mengandalkan indera pendengaran saja untuk menjaga segala kemungkinan.

Dalam kegelapan itu semua orang lantas berdiam.

Tiba2 Li Bok-chiu berkata pula.

"Eh, kedua tanganku sudah menggenggam Peng-pok-gin-ciam, kenapa kalian bertiga orang she Bu ini tidak mau maju untuk merasakan enaknya jarum ini?"

Bu Sam-thong terkejut, sebelumnya iapun tahu orang pasti mengandung maksud jahat, tapi tidak menyangkanya musuh akan mulai bertindak sekarang ini.

Mereka sudah pernah merasakan betapa lihaynya jarum orang, betapapun mereka tidak berani gegabah.

Segera mereka pegang senjata dan siap menangkis bila mendengar suara mendesingnya senjata rahasia.

Namun tempatnya terlalu sempit, jarum musuh hanya dapat dipukul ke tanah, kalau di sampuk bisa jadi akan mengenai kawan sendiri.

Yalu Ce juga menyadari keadaan sangat berbahaya, kalau sampai musuh sembarangan menyambitkan jarumnya, pihak sendiri yang berlima ini pasti ada yang terluka atau binasa, jalan paling baik harus melabraknya dari dekat agar orang tidak sempat menggunakan jarum berbisanya.

Ternyata Kwe Hu juga berpendapat sama seperti dia, jadi tanpa berjanji keduanya mendadak menubruk bersama ke arah suara Li Bok-chiu.

Padahal setelah bicara tadi, selagi orang2 ter-kesiap, diam2 Li Bok-chiu telah mundur ke tepi pintu, Maka waktu Yalu Ce dan Kwe Hu menubruk tempat kosong, sebaliknya tangan kedua orang saling berpegang sehingga Kwe Hu menjerit kaget.

Kepandaian Yalu Ce lebih tinggi, begitu memegang tangan yang halus serta mencium bau harum dan disertai suara Kwe Hu, segera ia tahu apa yang terjadi.

Dalam pada itu terdengar suara keriat-keriut bergesernya pintu, Yalu Ce dan Bu Sam-thong terus melompat pula ke sana, terdengar suara mendesing, dua jarum perak telah menyamber tiba, cepat mengelak, waktu mereka mendorong pintu, ternyata pintu itu sudah tertutup rapat dan tak bergeming lagi.

Yalu Ce coba meraba pintu batu itu, ternyata halus licin tiada sesuatu alat pegangan pintu, ia berjalan merambat dinding sekeliling, ia menaksir ruangan itu kira2 empat persegi, dinding terbuat seluruhnya dari batu, ia coba mengetok dinding dengan pedangnya, terdengar suara keras dan berat, jelas batu dinding itu sangat tebal.

"Wah, bagaimana? jangan2 kita akan mati terkurung di sini?"

Kata Kwe Hu dengan kuatir dan hampir2 menangis.

"Jangan kuatir, kita pasti akan menemukan jalannya,"

Cepat Yalu Ce menghiburnya "Apalagi Kwe-hujin menunggu di luar, beliau pasti akan berdaya menolong kita."

Habis berkata ia coba meraba pula sekeliling kamar itu untuk mencari jalan keluar.

Li Bok-chiu sangat girang setelah berhasil menyekap Bu Sam-thong berlima di kamar batu itu, ia pikir setelah lawan2 itu dienyahkan, tentu akan lebih mudah untuk menyergap Siao-liong-li dan Nyo Ko.

Ia menyadari kalau bertempur secara terang2an pasti bukan tandingan sang Sumoay, maka ia harus menyergapnya secara mendadak.

ia lantas menggenggam jarum berbisa, sepatu ditanggalkannya, hanya dengan berkaos kaki saja ia melangkah ke depan dengan pelahan.

Selama beberapa hari ini Siao-Iiong-Ii, berduduk di depan kemala dingin itu menerima penyembuhan dari Nyo Ko dengan menerobos Hiat-to secara terbalik.

Saat itu mereka sedang mengerahkan segenap tenaga untuk menerobos Tam-tiong-hiat, Hiat-to penting yang terletak di bagian dada, kalau Hiat-to ini sudah diterobos dengan lancar, maka berarti delapan bagian lukanya sudah tersembuhkan, Akan tetapi Hiat-to ini memang sangat gawat, salah sedikit saja akan menyebabkan kelumpuhan total, sebab itu harus dilakukan dengan hati2 dan sabar, sedikitpun tidak boleh gegabah.

Watak Siao-liong-li memang sangat sabar, baginya bukan soal apakah penyembuhannya itu dapat dirampungkan secepatnya atau berapa lama Iagi.

Sebaliknya Nyo Ko berwatak tidak sabaran, dia berharap Siao-liong-li dapat lekas sembuh.

Akari tetapi iapun tahu bahayanya cara penyembuhan begitu, kalau ter-buru2 napsu, bisa jadi malah-runyam.

Begitulah Nyo Ko merasa denyut nadi Siao-liong-li terkadang keras dan lain saat lemah, meski tidak stabil, tapi tiada tanda2 buruk, Diam2 ia mengerahkan tenaga dan mempercepat usahanya menyembuhkan si nona.

Dalam keadaan sunyi senyap itulah, tiba2 dari jauh ada suara "tek"

Satu kali, suara itu sangat lirih kalau saja Nyo Ko tidak sedang memusatkan pikiran tentu tak mendengar suara itu.

Apalagi kuburan kuno itu terletak jauh di bawah tanah, kecuali suara pernapasan mereka bertiga (termasuk Kwe Yang), sedikit kelainan suara tentu akan ketahuan.

Selang tak lama, suara "tek"

Itu kembali berbunyi lagi sekali, kini jaraknya bertambah dekat, Nyo Ko tahu pasti ada sesuatu yang tidak beres, tapi kuatir perhatian Siao-liong-li terganggu dan membahayakan nona itu, maka ia sengaja berlagak tidak tahu.

Tak lama, lagi2 suara itu berbunyi, kini terlebih dekat pula, Maka yakinlah Nyo Ko bahwa ada orang menyusup ke kuburan kuno itu, agaknya orang itu tidak berani menerobos datang begitu saja dan sengaja merunduk maju dengan pelahan.

ia pikir maksud kedatangan orang ini pasti tidak baik, kalau orang mampu masuk ke situ, tentu juga bukan sembarangan orang.

Celakanya keadaan Siao-liong-li tidak boleh terganggu ia menjadi serba susah.

"Tek" , ternyata suara itu semakin mendekat Nyo Ko menjadi bingung dan sukar menahan pi-kiranaya, mendadak tangannya tergetar, suatu arus hawa panas tertolak balik, kiranya Siao-liong-li juga terkejut oleh suara itu. Lekas2 Nyo Ko menghimpun tenaga dan mendorong kembali tenaga dalam Siao-liong-li sambil memberi isyarat agar si nona tenangkan diri. Tatkala itu di luar kuburan adalah siang hari, meski musim dingin, tapi sang surya sedang memancarkan cahayanya di tengah cakrawala, sebaliknya di dalam kuburan gelap gulita seperti tengah malam belaka. Terdengar suara tadi semakin dekat lagi. Diam2 Nyo Ko mengeluh, ia pikir sejak jalan masuk kuburan itu tertutup rapat, di dunia ini hanya Li Bok-chiu dan Ang Leng-po saja yang tahu jalan masuk melalui dasar sungai itu, maka dapat dipastikan yang datang tentu satu diantara mereka. Dengan kepandaian Nyo Ko sekarang sedikitpun tidak perlu takut biarpun Li Bok-chiu dan muridnya itu datang semua sekaligus, Celakanya kedatangannya itu tidak lebih cepat dan tidak lebih lambat, tapi justeru pada saat penting bagi keselamatan Siao-liong-li ini, seketika Nyo Ko menjadi bingung dan serba susah. Selang sejenak, dengan jelas Siao-liong-li juga dapat mendengar suara kedatangan musuh, iapun buru2 ingin menerobos Hiat-to sendiri yang penting itu, tapi karena bingung, tenaganya menjadi kacau, terkadang lancar terkadang berontak, dada sendiri menjadi sesak malah. Pada saat itulah suara tindakan seorang yang halus dan cepat menerobos masuk, menyusul terdengarlah suara mendesirnya benda kecil, beberapa jarum telah menyamber tiba. Waktu itu keadaan Siao-liong-li dan Nyo Ko mirip orang yang tak bisa ilmu silat saja, untungnya mereka sudah siap, sedia sebelumnya, begitu melihat jarum musuh menyambar tiba, serentak mereka mendoyong ke belakang tanpa melepaskan tangan mereka yang saling menempel itu, jarum2 itu me-nyamber lewat di sisi mereka. Li Bokchiu sendiri tidak menyangka kedua orang sedang mencurahkan segenap perhatian untuk penyembuhkan Siao-liong-Ii, kuatir kedua lawannya balas menyerang, maka begitu jarum disambitkan segera ia melompat ke samping, Kalau saja dia tidak jeri kepada lawannya dan segera menyusulkan lagi jarum2 lain, maka Nyo Ko berdua pasti celaka. Ketajaman mata Li Bok-chiu di tempat gelap jauh dibandingkan Nyo Ko berdua, samar2 ia cuma melihat kedua muda-mudi itu duduk berjajar di Han-giok-jeng dipan kemala dingin, ia menjadi kebat-kebit ketika sergapannya tidak mengenai sasarannya, Tapi ia menjadi ragu2 pula ketika melihat lawan tidak berbangkit dan balas menyerangnya. Cepat ia menggeser ke samping pintu dengan kebut siap di tangan, lalu menegur "Hm, baik2kah kalian selama berpisah!"

"Apa kehendakmu?"

Tanya Nyo Ko.

"Masakah perlu tanya lagi kehendakku disaat ini?"

Jawab Bok-chiu.

"Ah, Giok-Ii-sim-keng yang kau inginkan bukan?"

Ujar Nyo Ko "Baiklah, memangnya kitab itupun tidak berguna bagi kami yang ingin hidup tirakat di tempat ini. Nah, boleh kau ambil saja."

Sudah tentu Li Bok-chiu setengah percaya dari setengah sangsi, katanya.

"Mana? Bawa ke sini!"

Giok-li-sim-keng tersimpan dalam buntalan SiaoIiong-li, dengan seodirinya mereka tidak dapat menyodorkannya.

"ltu berada dalam bungkusan di atas meja, ambil saja sendiri,"

Demikian jawab Nyo Ko Li Bok-chiu tambah curiga, pikirnya.

"Aneh, mengapa mereka berubah penurut begini? Di dalam bungkusan itu tentu ada sesuatu yang tidak beres. Apa barangkali dia sengaja memancing aku lebih dekat, lalu mendadak menyerang dan mencegat jalan lariku" .. Ia menyadari bukan tandingan Siao-liong-li, maka segala sesuatu harus ditimbangnya dengan masak, ia coba mengawasi sang Sumoay, terlihat sebelah tangannya mendempel dengan telapak tangan Nyo Ko. Seketika tergerak pikirannya.

"Ah, rupanya tangan Nyo Ko buntung dan parah, maka perempuan hina ini sedang membantu menyembuhkannya dengan tenaga dalam sendiri. Saat ini mereka sedang menghadapi detik genting, inilah kesempatan baik bagiku untuk membinasakan mereka."

Walaupun cuma betul separuh saja terkaannya, namun rasa jerinya seketika lenyap, segera ia menubruk maju, kebutnya terus menyabet kepala Siao-Iiong-li.

Dalam keadaan demikian kalau Siao-liong-li mengangkat tangan untuk menangkis, serentak tenaga dalamnya akan terguncang dan bisa binasa seketika dengan muntah darah, sebaliknya kalau serangan itu tidak ditangkis, maka batok kepalanya juga pasti akan hancur.

Syukurlah pada saat itulah mendadak Nyo Ko membuka mulut dan meniup hawa ke muka Li Bok-chiu, sebenarnya tiupan hawa ini sama sekali tidak bertenaga, tapi Li Bok-chiu tahu si Nyo Ko banyak tipu akalnya, ketika mendadak mukanya terasa hangat oleh hawa yang disebul anak muda itu, ia kaget dan lekas melompat mundur, Ketika merasa muka tiada sesuatu kelainan barulah ia tahu tertipu, segera ia mcmbentak.

"Kau cari mampus ya."

Eh, baju yang kupinjamkan padamu tempo hari itu, apakah sekarang kau bawa untuk dikembalikan padaku?

Tanya Nyo Ko dengan tertawa.

Li Bok-chiu jadi teringat waktu bertempur melawan Pang Bik-hong, pakaiannya terbakar oleh palu si pandai besi-tua yang berapi itu, kalau Nyo Ko tidak menanggalkan jubahnya untuk dia, maka pasti akan telanjang dan malu, sepantasnya kalau mengingat pemberian jubah itu dahulu tidak seharusnya dia mencelakai jiwa Nyo Ko sekarang, tapi jika hatinya sedikit lunak, bahaya dikemudian hari tentu sukar dibayangkan.

Segera ia menubruk maju, tangan kirinya menghantam pula.

Dalam keadaan kepepet tiba2 Nyo Ko mendapat akal, se-konyong2 dia berjungkir dengan kedua kaki di atas dan kepala di bawah, sekali kakinya memancal, sepatu dan kaos kaki lantas terlepas serunya.

"Liong-ji, pegang kakiku!" -Berbareog itu sebelah tangannya terus dipukulkan untuk memapak hantaman Li Bok-chiu tadi. Dalam pada itu Siao-liong-li juga telah memegang kaki Nyo Ko. Meski Ngo-tok-sin-ciang yang lihay itu diperoleh dari Auyang Hong, tapi ilmu menjungkir berasal dari Kiu-im-Cin-keng yang merupakan kepandaian khas Auyang Hong ini tidak pernah dilihat Li-Bok-chiu, ia terkejut menyaksikan perbuatan Nyo Ko yang aneh itu, ia mengerahkan tenaga sekuat-nya dan ingin membinasakan lawan selekasnya, seketika Nyo Ko merasakan arus hawa panas menerjang dari telapak tangan musuh, tergerak pikirannya, sama sekali ia tidak menahan tenaga lawan itu, sebaliknya tenaga sendiri malah ditambahkan pada tenaga musuh dan disalurkan seluruhnya ke tubuh Siao-liong-li. Dengan demikian jadinya Li Bok-chiu se-akan2 membantu Nyo Ko menerobos Hiat-to dan urat nadi Siao-liong-li. Walapun apa yang dipelajari Li Bok-chiu tidak seluas Nyo Ko berdua, tapi bicara tentang kekuatan sendiri, karena sudah berlatih berpuluh tahun lamanya, dengan sendirinya bukan main lihaynya. Siao-liong-li mendadak merasakan suatu arus tenaga maha kuat menerjang tiba, Tam-tiong hiat seketika diterobos tembus, napas terasa lancar, hawa panas yang tadinya macet di dada seketika tersalur ke bagian perut, semangat terasa segar, serentak ia bersorak.

"Aha, terima kasih, Suci!"

Segera ia melepaskan kaki Nyo Ko dan melompat turun dari dipan kemala dingin.

Tentu saja Li Bok-chiu melengak, Tadinya ia mengira Siao liong-li yang sedang membantu menyembuhkan Nyo Ko, sebab ituIah ia mengerahkan tenaga sekuatnya dengan maksud merontokkan urat nadi Nyo Ko, siapa tahu tanpa sengaja malah telah membantu pihak lawan.

Nyo Ko juga sangat girang, sekuatnya ia menolak mundur musuh, lalu ia melompat bangun dan berdiri dengan kaki telanjang, katanya dengan tertawa.

"Kalau engkau tidak keburu datang membantuku. sungguh sulit menerobos Tam-Tiong hiat Sumoay mu."

Belum lagi Li Bok-chiu menja-wab, tiba2 Siao liong-!i menjerit sambil memegangi ulu hatinya terus jatuh ke atas dipan pula..

"He, ada apa?"

Tanya Nyo Ko kuatir.

"Dia... dia... tangannya beracun!"

Ucap Siao-liong-Ii dengan ter putus2.

Nyo Ko sendiri juga lantas merasakan kepala rada pusing, Rupanya tanpa disadarinya ketika tangan beradu tangan tadi racun pukulan berbisa Li Bok-chiu telah menyalur ke tubuh anak muda itu dan terus merembes pula ke tubuh Siao-liong li.

"Serahkan obat penawarnya!"

Bentak Nyo Ko segera sambil angkat Hian-tiat-pokiam, pedang pusaka yang maha berat itu.

Habis itu pedangnya terus membacok "Trang" , Li Bok-chiu menangkis dengan kebutnya, akan tetapi batang kebutnya yang terbuat dari baja itu kontan terkutung mendjadi dua, tangan juga tergetar hingga lecet dan sakit.

Kebut yang pernah merontokkan nyali tokoh dunia persilatan itu ternyata sekali tabas saja telah dihancurkan lawan, sungguh kejadian ini membuatnya terkejut luar biasa, lekas2 ia melompat keluar kamar batu itu.

Segera Nyo Ko mengejar, tampaknya sudah dekat dan baru pedangnya disodorkan ke depan dan Li Bok-chiu pasti tidak dapat menangkisnya, siapa tahu racun yang sudah bersarang dalam tubuhnya itu mendadak bekerja, matanya menjadi ber-kunang2 dan tangan terasa lemas.

"trang" , pedang jatuh ke tanah. Li Bok-chiu tidak berani berhenti, ia melompat jauh ke depan, habis itu baru menoleh, dilihatnya Nyo Ko ter-huyung2 sambil berpegangan dinding, tampaknya sekuatnya sedang menahan serangan racun dalam tubuh. Merasa bukan tandingan anak muda itu, Li-Bok-chiu tak berani mendekatinya, ia pikir tunggu saja sementara, nanti kalau anak muda itu sudah roboh. barulah kudekati dia. Tenggorokan Nyo Ko terasa kering, kepala, serasa mau pecah, sekuatnya ia kumpulkan tenaga pada tangan kiri, kalau Li Bok-chiu mendekat, segera ia hendak membinasakannya dengan sekali hantam. Tapi lawan, itu sungguh licik dan tetap berdiri di sana. Akhirnya Nyo Ko harus ambil keputusan, ia pikir semakin lama tentu semakin meluas racun yang mengeram di tubuhnya dan tambah menguntungkan pihak musuh, Sekuatnya ia menarik napas segar, habis itu mendadak ia melompat balik ke sana dan merangkul pinggang Siao-liong-li, dengan ujung pedang ia cungkit bungkusan di atas meja, lalu melangkah keluar sambil membentak.

"Minggir!" . Melihat perbawa Nyo Ko itu, Li Bok-chiu ternyata tidak berani mengadangnya, Yang diharapkan Nyo Ko sekarang adalah mencari suatu kamar batu yang dapat ditutup rapat sehingga untuk sementara Li Bok-chiu tidak mampu masuk mengganggu-nya, dengan begitu mereka dapat berusaha mendesak keluar kadar racun yang berada dalam tubuhnya. Cara mengusir racun ini jauh lebih mudah daripada cara penyembuhan Siao-Iiong Ii tadi, waktu kecilnya Nyo Ko sudah pernah kena racun jarum Li Bok chiu dan mendapat pertolongan Auyang Hong, sekarang kepandaiannya sedemikian tinggi, begitu pula Hiat-to Siao-Iiong-li juga sudah lancar, tentu tidak sulit mengeluarkan racun dalam tubuh asalkan tidak direcoki Li Bok-chiu. Li Bok chiu juga tahu maksud tujuan Nyo Ko ketika melihat anak muda, itu menerjang keluar dengan membopong Siao-liong li dengan sendirinya ia tidak membiarkan Nyo Ko mencapai tujuannya, cuma ia tidak berani mendekat dan menyerang, ia terus menguntit saja dari belakang dalam jarak dua-tiga meter jauhnya. Bila Nyo Ko berhenti dan menunggu dia mendekat, dia justeru berhenti juga dan menunggu. Nyo Ko merasa debar jantungnya semakin keras dan tak sanggup bertahan lagi, dengan sempoyongan ia berlari masuk sebuah kamar dan mendudukkan Siao liog-li di atas meja batu, ia sendiri lantas ter-engah2 sambil berpegang tepi meja tanpa menghiraukan Li Bok-chiu tetap mengintil dibelakang. Karena Li Bok chiu juga pernah tinggal di dalam kuburan kuno ini, meski ketajamannya memandang di tempat gelap tidak sebaik Nyo Ko berdua, tapi iapun dapat melihat jelas bahwa di kamar itu berjajar lima buah peti mati.

"Suhu benar2 pilih kasih, selamanya aku tidak diberitahu tempat2 rahasia seperti ini, kiranya di sini ada lima buah peti mati,"

Demikian Li Bok-chiu berpikir, ia tidak tahu bahwa kamar ini adalah makam guru dan kakek gurunya.

Selama hidup Li Bok-chiu telah membunuh orang tak terbilang jumlahnya, maka tentang peti mati, mayat dan sebagainya tidak membuatnya heran.

Diam2 iapun bergirang melihat keadaan Nyo Ko yang sudah payah itu, ia lantas menyindir "Hehe, tempat pilihanmu ini sungguh bagus sekali sebagai kuburanmu."

Pandangan Nyo Kb sebenarnya sudah samar2, mendengar ucapan Li Bok-chiu itu, ia coba meng-amat-amati kamar itu, ternyata tangannya bukan menahan di atas meja batu segala melainkan sebuah peti mati batu, jadi Siao-liong-li juga berduduk di atas peti batu.

Tanpa terasa ia merasa ngeri, pikirnya.

"Tempo hari Liong-ji ingin aku mati bersamanya di sini, sekuatnya aku melarikan diri, siapa tahu akhirnya kami mati juga di sini, mungkin memang sudah suratan nasib dan takdir ilahi."

Keadaan Siao-liong-li juga lemah dan setengah sadar, tapi samar2 iapun mengetahui dirinya berada di samping peti mati sang guru, Teringat bahwa dirinya sudah berdekatan dengan gurunya, hatinya terasa lega, ia menghela napas panjang se-akan2 orang yang pergi jauh baru pulang kampung halaman dengan aman.

Begitulah mereka bertiga diam, seorang berdiri dan seorang berduduk, seorang lagi setengah bersandar kecuali suara hembusan napas tiada terdengar suara lain di kamar batu itu.

"Andaikan aku dan Liong-ji harus mati sekarang, sebisanya harus kucegah agar iblis ini tidak mendapatkan kitab pusaka ini dan berbuat lebih jahat lagi dunia luar,"

Demikian pikir Nyo Ko.

Tiba2 ia mendapat satu akal, ia tahu di antara lima buah peti mati batu itu tiga diantaranya sudah terisi, yaitu jenazah Lim Tiau-eng dan muridnya serta Sun-popoh, dua peti lainnya masih kosong dan tersedia bagi Siao-liong-li dan Li Bok-chiu.

Tutup kedua peti mati yang kosong itu belum dirapatkan dan masih terlihat celah selebar satu meteran.

mendadak Nyo Ko angkat pedangnya dan mencukil bungkusan berisi Giok-li-sim-keng itu sehingga mencelat ke dalam satu peti yang kosong itu, berbareng iapun membentak.

"Hm, keparat betapapun kitab pusaka ini takkan kuserahkan padamu, aduuh..."

Tiba2 ia menjerit terus roboh.

Li Bok-chiu terkejut dan bergirang, ia kuatir jangan2 Nyo Ko hendak memancingnya, maka dia menunggu sejenak, ketika melihat anak muda itu sama sekali tidak bergerak lagi barulah ia mendekatinya dan coba meraba mukanya, rasanya dingin dan jelas sudah mati.

"Hahaha, betapapun licik dan licinmu, akhirnya kau mampus juga!"

Serunya kemudian sambil berbahak, lalu ia mendekati peti batu dan menjulurkan tangan dengan maksud hendak mengambil bungkusan yang terlempar ke dalam peti tadi.

Namun bungkusan itu oleh Nyo Ko ternyata dilemparkan ke ujung peti yang tertutup sana, Kebut Li Bok-chiu sudah putus, kalau tidak tentu ujung kebut dapat digunakan untuk meraih sebisanya ia mengulur tangan dan me raba2, namun hasilnya tetap nihil, Akhirnya ia tidak sabar, ia terus menyusup ke dalam peti, dengan begitu barulah bungkusan itu dapat dipegangnya.

Akan tetapi pada saat itulah Nyo Ko berbangkit tangan kirinya mendorong sekuatnya, kontan tutup peti itu terus merapat, seketika Li Bok-chiu terkurung di dalam peti batu itu.

Kiranya jatuh dan jeritan Nyo Ko tadi cuma pura2 saja, serentak ia nembikin ruwet denyut nadinya sehingga mukanya menjadi dingin laksana orang mati.

Padahal orang mati sebagaimanapun tidak mungkin jasadnya lantas kaku dingin seketika, untuk itu sedikitnya makan waktu setengah jam.

Tapi rupanya saking girangnya Li Bok-chiu menjadi kurang teliti dan terjebak oleh akal Nyo Ko.

Begitu Li Bok-chiu sudah terpancing masuk peti dan ditutup rapat, segera Nyo Ko menggunakan pedangnya untuk menyungkit sekuatnya peti mati kosong satunya lagi untuk ditindihkan di atasnya, dengan demikian, berat tutup ditambah peti batu sedikitnya setengah ton, betapapun tak bisa keluar biarpun memiliki kepandaian setinggi langit.

Nyo Ko sendiri sebenarnya dalam keadaan payah hanya terdorong oleh tekad ingin bertahan sampai detik terakhir, maka sekuatnya ia, mcncungkit peti batu tadi, habis itu ia benar2 kehabisan tenaga, pedang dilemparkan kelantai, dengan sempoyongan ia mendekati Siao-liong-li, lebih dulu ia menggunakan ilmu ajaran Auyang Hong dahulu untuk menguras keluar sebagian racun dalam tubuh sendiri, habis itu barulah ia menempelkan tangan sendiri pada tangan Siao liong li untuk bantu penyembuhan nona itu.

Sementara itu Kwe Hu dan Yalu Ce berlima sedang kelabakan terkurung di kamar batu itu.

Mereka sama duduk dilantai tanpa berdaya, semakin dipikir semakin mendongkol dan penasaran tiada hentinya Bu Sam-thong mencaci maki Li Bok chiu yang kejam itu.

Dalam keadaan gelisah, Kwe Hu menjadi sebal mendengar makian Bu Sam-thong yang tiada berhenti itu, tanpa pikir ia berkata padanya.

"Bu-pepek kekejian perempuan she Li itu kan sudah lama kau ketahui, apa gunanya sekarang kau mencaci maki dia?"

Bu Sam-thong melengak dan tak bisa menjawab, sebaliknya Bu Siu-bun menjadi marah karena ayahnya diomeli si nona, segera ia menanggapi "Kedatangan kita ke kuburan ini kan demi menolong adikmu, kalau tidak beruntung mengalami kesukaran, biarlah kita mati bersama saja, kenapa kau marah2 segala..."

"Diam, adik Bun!"

Cepat Bu Tun-si menghardik sehingga Siu-bun tidak melanjutkan ucapannya.

Ucapan Siu-bun itu sebenarnya cuma terdorong oleh ingin membela sang ayah saja, begitu tercetus katanya itu, segera ia sendiripun merasa heran.

Padahal biasanya dia sangat penurut kepada Kwe Hu, malahan se-dapat2nya ia ingin mengerjakan apapun bagi si nona, mana berani dia berbantah dengan dia, siapa tahu sekarang dia ternyata berani menjawabnya dengan sama kerasnya.

Kwe Hu juga melenggong karena tidak pernah menyangka si Bu cilik berani berbantah dengan dia, ingin dia bicara lagi, tapi rasanya tiada sesuatu alasan kuat yang dapat dikemukannya, Teringat bahwa dirinya akan mati terkurung di kuburan kuno ini dan takkan bertemu lagi selamanya dengan ayah bunda, ia menjadi sedih dan mcnangis.

Dalam kegelapan dan tidak dapat memandang keadaan sekitarnya, tanpa terasa ia mendekap di atas sesuatu dan menangislah dia ter-guguk2.

Mendadak si nona menangis, Siu-bun merasa tidak enak, katanya.

"Baiklah, aku mengaku salah, biarlah kuminta maaf padamu."

"Apa gunanya minta maaf!"

Jawab Kwe Hu dan tangisnya semakin menjadi sekenanya ia tarik sepotong kain untuk mengusap ingusnya, tapi mendadak disadarinya ternyata..dia mendekap di atas paha seorang dan kain yang dibuat mengusap ingus itu kiranya ujung baju orang itu.

Dengan terkejut cepat Kwe Hu menegakkan tubuhnya, dari persiapan Bu Sam-thong dan kedua anaknya tadi, jelas mereka bertiga duduk di sebelah sana, hanya Yalu Ce saja yang berdiam tanpa bersuara, jelas orang ini adalah dia.

Keruan Kwe Hu menjadi malu.

"Aku....aku....", katanya dengan ter-sipu2. Pada saat itulah tiba2 Yalu Ce berkata.

"He, dengarkan, suara apakah itu?"

Waktu mereka pasang kuping yang cermat, ternyata tiada mendengar sesuatu, Tapi Yalu Ce berkata pula.

"Ehm, itukah suara tangisan anak kecil, nona Kwe, pasti suara adikmu itu."

Karena teraling oleh dinding batu, suara itu sangat halus kalau bukan indera pendengaran Yalu Ce sangat tajam pasti tidak mendengarnya.

Cepat ia berbangkit dan melangkah ke sana, tapi suara itu lantas terdengar Iemah, ia coba membalik ke sebelah lain, ternyata suara itu tambah jelas, Segera ia menuju ke ujung sana, ia gunakan pedangnya untuk menusuk dan mencungkil pelahan, terdengar suaranya agak lain.

agaknya dinding di situ rada tipis.

Segera ia menyimpan pedangnya, kedua tangannya coba menahan di dinding batu itu dan didorongnya, namun tidak bergeming sedikitpun.

Ia coba ganti haluan, ia menarik "napas kuat2, lalu kedua tangan menolak pula, menyusul terus aipomir daya tarik dengan gaya "

Lengket"

Mendadak "blang"

Satu kali.

sepotong batu kena ditarik lepas oleh tenaga sedotan tangannya dan jatuh ke lantai.

Tentu saja Kwe Hu dan lain sangat girang, sambil bersorak mereka terus memburu maju dan ikut menarik dan membongkar, sebentar saja beberapa potong batu kena dilepaskan pula dan kini sebuah lubang sudah cukup digunakan untuk menerobos.

Ber-turut2 mereka lantas menerobos ke -sana, Kwe Hu terus mencari dengan mengikuti arah suara, akhirnya mereka sampai di suatu kamar batu yang kecil, dalam kegelapan suara tangisan anak itu terdengar sangat keras, cepat Kwe Hu mendorongnya.

Bayi itu memang betul Kwe Yang adanya, Demi menyembuhkan Siao liong-li, pula harus menempur Li Bok-chiu, maka Nyo Ko tidak sempat menyuap orok itu, karena lapar, anak itu menangis sejadinya.

Kwe Hu berusaha meminang dan membujuki tapi saking kelaparan, bukannya diam, sebaliknya tangis Kwe Yang semakin keras.

Akhirnya Kwe Hu menjadi tidak sabar dan menyodorkan kepada Bu Sam-thong, katanya.

"Paman Bu, coba kau memeriksanya apakah ada sesuatu yang tidak beres."

Dalam pada itu Yalu Ce sedang me-raba2 ke-sana kemari, akhirnya di atas meja dapat ditemukan sebuah Caktay (tatakan lilin), menyusul teraba pula batu api dan alat ketiknya, setelah membuat api dan menyulut lilin, seketika pandangan semua orang terbeliak.

setelah terkurung di tempat gelap sekian lamanya, baru sekarang dada mereka merasa lapang oleh cahaya terang.

Betapapun Bu Sam-thong adalah orang tua yang berpengalaman dari suara tangisan Kwe Yang itu, ia tahu anak ini pasti merasa lapar, Dilihatnya di atas meja ada setengah mangkuk air madu, pula sebuah sendok kayu kecil, segera ia menyuapi anak itu dengan air madu dengan sedikit2.

Benar saja, begitu air masuk mulutnya, Kwe Yang lantas berhenti menangis.

"Kalau nona Kwe cilik ini tidak menangis kelaparan, mungkin kita akan mati semua di kamar batu itu,"

Ujar Yalu Ce dengan tertawa.

"Segera kita pergi mencari jahanam Li Bok-chiu."

Kata Bu Sam-thong dengan penuh dendam.

Mereka masing2 lantas memotong kaki kunsi untuk digunakan sebagai obor, lalu menyusun Iorong2, setiap ada pengkolan Bu Tun si lantas memberi tanda dengan ujung pedang agar nanti kembalinya tidak tersesat.

Begitulah mereka terus mencari jejak Li Bok-chiu dari sebuah ruangan ke ruangan yang lain.

Rupanya dahulu Ong Tiong-yang gagal memimpin pasukannya melawan pasukan Kim, lalu dia dan anak buahnya membangun kuburan raksasa ini di lereng Cong-Iam-san ini sebagai tempat tirakatnya.

Sudah tentu Yalu Ce dan lain-sama ter-heran2 melihat betapa luasnya kuburan ini, sungguh tak tersangka bahwa dibawah sungai kecil itu terdapat bangunan raksasa begitu.

Ketika mereka sampai di kamar Siao-Iiong-li tertampak kebut Li Bok-chiu yang putus itu berserakan di lantai, di samping sana ada pula dua jarum perak milik Li Bok-chiu, Kwe Hu membungkus tangannya dan menjemput jarum itu, katanya dengan tertawa.

"Sebentar akupun gunakan jarum berbisa ini untuk balas menusuk iblis keparat itu."

Dalam pada itu Nyo Ko sedang bantu mendesak keluar racun dalam tubuh Siao-Iiong li, dari jari si nona telah merembes keluar air hitam, asal setanakan nasi lagi mungkin usahanya, akan berhasil Pada saat itulah tiba-tiba dari lorong sana ada suara undakan orang, seluruhnya ada lima orang sedang mendatangi.

Diam2 Nyo Ko terkejut, dalam keadaan genting begitu, andaikan diserang seorang Li Bok-chiu saja sukar melawannya, apalagi sekarang musuh berjumlah lima orang.

Selagi bingung dan gelisah, mendadak terlihat cahaya api berkelebat di kejauhan, kelima orang itu sudah semakin dekat.

Tanpa pikir Nyo Ko rangkul Siao-liong-li dan melompat masuk ke dalam peti batu yang menindih di atas Li Bok-chiu itu, lalu ia menggeser sekuatnya tutup peti, hanya saja tidak dirapatkan agar nanti tidak mengalami kesukaran jika hendak keluar.

Baru saja mereka sembunyi di dalam peti batu, serentak Yalu Ce berlima lantas masuk juga ke kamar itu.

Mereka terkesiap melihat di kamar itu ditaruh lima buah peti mati, samar2 mereka merasakan hal ini sungguh teramat kebetulan, mereka berlima dan jumlah peti mati di situ juga lima, sungguh alamat jelek.

Tanpa terasa Kwe Hu bergumam.

"Hm, kita berlima peti mati inipun lima!"

Nyo Ko dan Siao-Iiong-Ii dapat mendengar suara Kwe Hu itu, mereka sama heran bahwa yang datang ini di antaranya ternyata nona Kwe ini.

Yalu Ce juga mendengar di dalam peti itu ada suara napas orang, ia pikir pasti Li Bok-cbiu yang sembunyi di situ, Segera ia memberi tanda agar kawannya mengelilingi peti itu.

Dari sela2 peti yang belum tertutup rapat itu samar2 Kwe Hu dapat melihat ujung baju orang yang sembunyi di dalamnya, ia yakin orang itu pasti Li Bok-chiu adanya, Dengan tertawa ia lantas membentak.

"lnilah senjata makan tuan!"

Sekali ia dorong tutup peti, berbareng dua buah jarum berbisa yang dijemputnya tadi terus disambitkan kedalam.

Meski Nyo Ko sembunyi di dalam peti dengan merangkul Siao-liong-li, tapi tangan kirinya tetap menempel tangan kanan nona itu dan berusaha menguras bersih racun melalui tubuhnya dalam waktu singkat yang menentukan mati-hidup mereka itu.

Walaupun heran ketika mendengar antara pendatang2, itu juga terdapat Kwe Hu, tapi hatinya merasa lega juga karena yang datang itu bukan musuh.

Sudah tentu tak disangkanya pula bahwa mendadak Kwe Hu akan menyerangnya, maka dengan diam saja meneruskan penyembuhannya pada Siao liong-it dengan tekun, Siapa tahu Kwe Hu justeru menyangka mereka sebagai Li Bok-chiu dan menyerang dengan jarum berbisa.

Karena jaraknya sangat dekat, di dalam peti itupun sukar bergerak tiada peluang untuk menghindar, seketika Nyo Ko berdua menjerit, jarum yang satu mengenai paha kanan anak muda itu dan jarum lain mengenai bahu kiri Siao-liong-Ii..

Setelah menyambitkan jarum, hati Kwe Hu sangat senang, tapi mendadak terdengar suara jeritan lelaki dan perempuan di dalam peti, seketika iapun menjerit kaget, Segera Yalu Ce mendepak tutup peti itu hingga terjatuh ke tantai, dengan pelahan Nyo Ko dan Siao-Iiong-Ii lantas berdih, di bawah cahaya obor tertampak muka mereka pucat pasi dan saling pandang dengan pedih.

Kwe Hu sendiri belum menyadari kesalahan yang diperbuatnya sekali ini jauh lebih hebat daripada mengutungi sebelah lengan Nyo Ko, dia cuma merasa menyesal saja dan coba meminta maaf, ka-tanya.

"Nyo-toako dan Liong-cici, kiranya engkau yang berada di situ sehingga kusalah melukai kalian, untunglah ibuku menyimpan obat mujarab penawar racun jarum ini, dahulu dua ekor rajawaliku juga pernah terluka oleh jarum ini dan dapat disembuhkan oleh ibuku. Aneh juga, mengapa kalian sembunyi di dalam peti? Tentu saja aku tidak menyangka akan kalian?"

Kiranya urusan membuntungi lengan Nyo Ko itu sudah selesai dengan dibengkokkan pedangnya oleh oleh anak muda itu tempo hari, apalagi ayah bundanya juga sudah cukup mencaci-makinya habis2 an, maka dalam anggapan Kwe Hu.

"Biarlah takkan kusalahkan kau dan anggap beres persoalan ini."

Demikianlah jalan pikiran nona manja macam Kwe Hu ini, selama hidupnya selalu disanjung orang, lantaran menghormati ayah-ibunya, maka orang lain juga suka menghormat dan mengalah padanya, sebab itulah segala urusan yg terpikir selalu dirinya sendiri yang diutamakan dan jarang memikirkan kepentingan orang lain, Dari nada ucapannya tadi malahan akhirnya se-akan2 anggap salah sendiri Nyo Ko berdua yang sembunyi di dalam peti batu itu'sehingr.

ga membuatnya kaget malah.

Mana dia mau tahu bahwa tatkala terkena sambitan jarumnya itu, ketika itu kadar racun dalam tubuh Siao-iiong-li justeru sedang mengalif keluar, tapi mendadak terguncang oleh serangan dari luar sehingga seluruh racun itu mengalir balik merasuk segenap Hiat-to di tubuh nona itu, dengan demikian sekalipun ada obat mujarab malaikat dewata juga sukar menolongnya lagi.

Sesaat itu Siao-liong-Ii merasa dadanya seperti kosong melompong, hampa dan linglung, ia menoleh dan melihat sorot mata si Nyo Ko penuh rasa duka, gemas dan penasaran, tubuhnya juga gemetaran se-akan2 segenap siksa derita yang pernah dialami nya hendak dilampiaskannya sekarang juga.

Siao-liong-li tidak tega melihat kepedihan hati anak muda itu dan kuatir dia bertindak nekad, cepat ia menghiburnya.

"Ko-ji, agaknya sudah suratan nasib kita harus begini, janganlah kau salahkan, orang lain dan bersedih."

Lebih dulu ia mencabut jarum di paha anak muda itu, lalu mencabut jarum yang menancap di bahu sendiri, jarum berbisa itu berasal dari perguruannya dan berbeda daripada racun pukulan berbisa ajaran Auyang Hong, jadi dapat disembuhkan dengan obat perguruan yang selalu dibawanya.

Segera ia mengeluarkan satu biji obat kepada Nyo Ko, lalu ia sendiripun minum satu biji.

Hati Nyo Ko tak terperikan pedih dari gemas-nya.

"berrrr", ia menyemburkan obat penawar itu ke tanah. Kwe Hu jadi gusar, serunya.

"Aduh, besar amat lagakmu!,Memangnya aku sengaja hendak membikin celaka kalian? Kan sudah kuminta maaf pada-mu, mengapa kau masih marah2 saja?"

Dari air muka Nyo Ko yang penuh rasa duka nestapa, lalu rasa gusarnya semakin memuncak serta menjemput kembali pedangnya yang ke-hitam2an itu, Bu Sam-thong tabu gelagat bisa runyam, maka cepat ia menghibur anak muda itu.

"Janganlah marah adik Nyo, soalnya kami berlima terkurung oleh iblis she Li itu di kamar batu sana dan dengan susah payah akhirnya berhasil lolos, karena kecerobohan nona Kwe sehingga dia..."

"Mengapa kau anggap aku yang ceroboh?"

Sela Kwe Hu mendadak.

"Salah siapa dia sembunyi di situ dan diam saja, malahan kau sendiripun mengira dia Li Bok chiu."

Bu Sam-thong menjadi serba salah, ia pandang NyoKo dan pandang pula Kwe Hu dengan bingung. Siao liong-li lantas mengeluarkan pula satu butir obatnya, katanya dengan suara lembut.

"Ko-ji, minumlah obat ini. Masakah perkataanku juga tak-kan kau turut?"

Tanpa pikir Nyo Ko lantas minum obat itui Suara Siao-liong-Ii yang lembut dan penuh kasih sayang itu mengingatkannya selama ber-hari2 ini mereka berdua senantiasa bergulat antara mati dan hidup, tapi akhirnya semua harapannya telah buyar, sungguh sedihnya tak terkatakan, ia tidak tahan lagi, ia mendekap di atas peti batu itu dan menangis keras2.

Bu Sam-thong dan lain2 saling pandang dengan bingung,-biasanya hati Nyo Ko sangat terbukaj menghadapi urusan apapun tidak mudah menyerah, mengapa sekarang cuma terkena sebuah jarum saja lantas menangis sedih begitu?

Dengan pelahan Siao-"iong-li membelai rambut Nyo Ko, katanya.

"Ko-ji, boleh kau suruh mereka itu pergi saja, aku tidak akan kumpul bersama mereka."

Selamanya Siao-liongli tidak pernah bicara keras, kalimat "aku tidak suka berkumpul bersama mereka"

Sudah cukup menunjukkan rasa jemu dan marahnya, Segera Nyo Ko berbangkit dimulai dari Kwe Hu, sorot matanya terus menyapu setiap orang itu, biarpun marah dan gemas, tapi iapun tahu bahwa serangan Kwe Hu tadi sesungguhnya tidaklah sengaja, kecuali ceroboh, rasanya tiada kesalahan lain, apalagi seumpama nona itu dibunuh juga tak-dapat lagi menyelamatkan jiwa Siao-liong-li.

Begitulah Nya Ko berdiri dengan sinar mata berapi dan menghunus pedang, mendadak pedangnya membacok sekuatnya.

"trang" , tahu2 peti batu yang dibuatnya sembunyi tadi telah ditabasnya menjadi dua potong, bukan saja tenaganya maha kuat bacokannya itu, bahkan mengandung penuh rasa duka dan marah, Yalu Ce dan lain-2 sama melenggong melihat betapa dahsyatnya pedang Nyo Ko itu, Padahal peti batu itu tebal dan kuat, tapi sekali bacok saja pedang ke-hitam2an itu ternyata mampu memotongnya, bahkan jauh lebih mudah memotong sebuah peti mati kayu. Melihat kelima orang itu saling pandang dengan bingung Nyo Ko lantas membentak dengan bengis.

"Untuk apa kalian datang ke sini?"

"Adik Nyo, kami ikut Kwe-hujin ke sini untuk mencari kau,"

Jawab Sam-thong "Hm, kalian ingin merebut kembali puterinya betul tidak?"

Bentak Nyo Ko pula dengan gusar.

"Demi anak kecil ini, kalian tega menewaskan isteri kesayanganku."

"lsteri kesayanganmu?"

Sam-thong menegas.

"O ya, nona Liong ini! Dia terkena racun jarunr untung Kwe hujin mempunyai obat penawarnya, beliau sedang menunggu diluar sana."

"Huh, kalau ada Kwe-hujin lantas bisa apa? Memangnya dia mempunyai kepandaian menghidupkan orang yang jelas pasti akan mati?"

Jengek Nyo Ko dengan gusar.

"Justeru gangguan kedatangan kalian serta jarum berbisa tadi, kadar racun sudah mengeram di segenap Hiat-to penting tubuhnya,"

Lantaran utang budi, maka Bu Sam-thong sangat hormat dan segan kepada Nyo Ko, biarpun didamperat juga diterimanya, ia menggumam kaget.

"Kadar racun telah mengeram di tubuhnya? Wah lantas bagaimana baiknya?"

Ternyata Kwe Hu tidak menyadari kesalahannya. sebaliknya ia menjadi marah karena ucapan Nyo Ko tadi kurang menghormat pada ibunya, dengan gusar ia lantas membentak.

"Memangnya salah apa ibuku padamu? Waktu kecil kau terluntang Iantung seperti orang gelandangan, bukankah ibu yang membawa kau ke rumah, diberi makan dan diberi baju, tapi kau justeru lupa budi dan tak tahu diri, malah mau menculik adik perempuanku."

Padahal sekarang iapun tahu jelas sebabnya Kwe Yang berada di tangan Nyo Ko bukanlah karena anak muda itu bermaksud jahat, soalnya dia telah telanjur mengomel maka segala apa yang dapat mencemoohkan Nyo Ko lantas diucapkannya.

Nyo Ko lantas mendengus pula.

"Hm, memang aku sengata lupa budi dan tidak tahu diri, kau menuduh kuculik adikmu, maka benar2 akan kuculik anak ini dan takkan kukembalikan selamanya, ingin kulihat kau dapat mengapakan diriku?"

Karena ancaman itu, segera Kwe Hu memondong adiknya dengan kencang, tangan lain memegang obor dan diacungkan ke depan, Bu Sam-thong berseru.

"Adik Nyo, jika isterimu keracunan, sebaiknya lekas berusaha menolongnya "

"Tak berguna lagi, Bu-heng."

Kata Nyo Ko dengan pedih, mendadak ia bersuit panjang,"

Lengan baju kanannya terus mengebas.

Seketika Kwe Hu dan kedua saudara Bu mera-sakan angin keras menyamber, muka mereka panas pedas seperti tcrsayat, lima buah obor padam serentak dan keadaan menjadi gelap gulita.

"Celaka!"

Jerit Kwe Hu.

Kuatir nona itu dicelakai Nyo Ko, cepat Yelu Ce menubruk maju, Tapi lantas terdengar pekik tangis Kwe Yang, suaranya sudah berada di luar kamar sana.

Keruan semua orang terkejut, ketika mereka menyadari apa yang terjadi, tahu2 suara tangisan tadi sudah berada sejauh ratusan meter, betapa cepat gerakan Nyo Ko itu sungguh laksana hantu saja.

"Adik telah dirampas lagi olehnya,"

Seru Kwe Hu cemas.

"Adik Nyo! Nona Liong!"

Ber-ulang2 Bu Sam, thong memanggil Akan tetapi tiada sesuatu jawaban.

"Lekas keluar, jangan sampai kita terkurung di sini,"

Seru Yalu Ce. Dengan gusar Bu Sam-thong berkata.

"Adik Nyo adalah orang berbudi, manabisa dia berbuat demikian,"

"Lebih baik lekas keluar, buat apa tinggal di sini?"

Ujar Kwe Hu. Baru habis ucapannya, tiba2 terdengar suara "kxek-krek"

Beberapa kali, suara itu timbul dari peti mati itu. cuma teraling oleh tutup peti sehingga suaranya kedengaran agak tersumbat dan seram.

"Ada setan!"

Teriak Kwe Hu sambil memegangi tangan Yalu Ce.

Dengan jelas Bu Sam-thong dan lain2 juga mendengar suara itu keluar dari peti mati itu seakan2 ada mayat hidup akan merangkak keluar, keruan mereka sama merinding.

Yalu Ce berbisik pada Bu Sam-thong.

"Bu-siok-siok, kau jaga di situ dan aku di sini, jika mayat hidup itu keluar, serentak kita menghantam-nya, mustahil dia takkan hancur luluh."

Berbareng itu ia tarik Kwe Hu ke belakangnya agar tidak dicelakai setan yang mendadak muncul. Pada saat itulah.

"blang" , terdengar suara keras, dari dalam peti mati mendadak melayang keluar sesuatu, serentak Yalu Ce dan Bu Sam-thong memukulkan tangan2 mereka, Tapi begitu tangan menyentuh benda itu, berbareng mereka berseru.

"Celaka!" -Kiranya benda yang kena hantam itu adalah sepotong batu, yaitu bantalan batu didalam peti mati itu. Kontan bantal batu itu hancur membentur peti batu, hampir pada saat yang sama sesuatu benda melayang lewat puIa, baru saja Yalu Ce dan Bu Sam-thong hendak memukuI, namun benda itu sudah melayang jauh ke sana, terdengar suara tertawa orang mengekek, lalu lenyap dan sunyi kembali.

"He, Li Bok-chiu."

Seru Sam-thong kaget.

"Bukan, tapi mayat hidup!"

Ujar Kwe Hu.

"Mana bisa Li Bok-chiu berada di dalam peti mati ini." . Yalu Ce tidak ikut menanggapi, ia tidak percaya di dunia ini ada setan segala, tapi bilang Li Bok-chiu rasanya juga tidak masuk diakal Jelas Li Bok-chiu datang bersama mereka, sedangkan Nyo Ko dan Siao-liong-li sudah tinggal sekian lama di kuburan kuno ini, mana bisa terjadi Li Bok-chiu sembunyi di dalam peti mati yang terletak di bawah tempat sembunyi Nyo Ko tadi? "Habis ke mana perginya Li Bok-chiu?"

Tanya Bu Sam-thong.

"Banyak keanehan di dalam kuburan ini sebaiknya lekas kita keluar saja,"

Ajak Yalu Ce.

"Bagaimana dengan adikku?"

Tanya Kwe Hu.

"lbumu banyak tipu dayanya tentu dia mempunyai akal yang baik, marilah kita keluar ke sana dan minta petunjuknya,"

Ujar Sam-thong.

Begitulah mereka lantas mencari jalan keluar dengan melalui sungai itu.

Tapi baru saja mereka muncul di permukaan air, pemandangan yang mereka lihat adalah merah membara, pepohonan di kanan kiri sungai ternyata sudah terbakar semua, hawa panas serasa membakar muka mereka.

"lbu, ibu!"

Teriak Kwe Hu kuatir, tapi tidak mendapatkan jawaban, Se-konyong2 sebatang pohon yang sudah terbakar roboh dan mengeluarkan suara gemuruh, Melihat keadaan sangat berbahaya, cepat Yalu Ce menarik Kwe Hu dan berenang ke hulu menjauhi tempat pohon roboh itu.

Tatkala itu adalah musim kerirrg, pepohonan dan rerumputan mudah terbakar, di-mana2 api me-ngamuk, seluruh gunung sudah menjadi lautan api, Meski mereka terendam di dalam air sungai, muka merekapun terasa panas tergarang oleh api yang berkobar dengan hebat itu.

"Pasti pasukan Mongol yang gagal menyerang Tiong-yang-kiong itu yang melampiaskan dendam dengan membakar Cong-lam-san ini."

Kata Bu Sam thong.

"lbu, ibu! Di mana kau?"

Teriak Kwe Hu pula kuatir. Tiba2 di kiri sungai sana ada bayangan seorang perempuan sedang ber lompat2 kian kemari menghindari api. Kwe Hu menjadi girang dan berseru.

"lbu!"

Tanpa pikir ia terus melompat keluar dari sungai dan memburu ke sana.

"He, awas!"

Seru Sam-thong.

Mendadak dua pohon besar roboh pula dan mengalingi pemandangan Bu Sam-thong.

Kwe Hu terus berlari ke sana, di bawah gumpalan asap dan menerjang api.

Karena ingin menemukan ibunya, maka tanpa pikir ia memburu maju, sesudah dekat barulah ia merasa bayangan orang itu menoleh dan ternyata Li Bok-chiu adanya.

Keruan kejut Kwe Hu tak terkatakan.

Sebenarnya Li Bok-chiu benar2 sudah putus asa setelah tertutup di dalam peti batu itu dan di-tindih lagi peti lainnya oleh Nyo Ko.

Tapi kemudian dalam gusarnya tanpa sengaja Nyo Ko telan membacok peti batu yang menindihnya itu hingga tutup peti bagian bawah juga ikut retak terbacok.

Li Bok chiu benar2 lolos dari renggutan maut, kesempatan itu tidak di-sia2kan olehnya, lebih dulu ia melemparkan keluar bantal batu, habis itu iapun melompat keluar Meski belum lama ia terkurung di dalam peti mati itu, tapi rasanya orang akan mati sesak napas itu benar2 keadaan yang paling menderita dan paling mengenaskan dalam waktu yang singkat itu pikirannya diliputi penuh rasa dendam, ia benci kepada setiap manusia yang hidup di dunia ini, pikirnya.

"Setelah mati aku pasti menjadi hantu yang jahat, akan kubinasakan Nyo Ko, bunuh Siaoliong-li, Bu Sam-thong, Ui, Yong dan lain2..."

Begitulah setiap orang akan dibunuhnya untuk membalas sakit hatinya.

Meski kemudian dia berhasil lolos dengan selamat meski secara kebetulan, tapi rasa dendam dan bencinya tidak menjadi ber-kurang.

Kini mendadak Kwe Hu muncul sendiri di-badapannya, ia menjadi girang dengan tersenyum ia menegurnya-"Eh kiranya kau, nona Kwe!

Api berkobar dengan hebatnya, kau harus hati2."

Kwe Hu tidak menyangka orang akan bersikap begini ramah padanya-, segera ia bertanya.

"Apakah engkau melihat ibuku?"

Waktu Kwe Hu memandang ke arah yang di tunjuk, mendadak Li Bck-chiu menubruk tiba, sekali tangannya bekerja, Hiat-to di pinggang Kwe Hu sudah tertutuk olehnya, dengan tertawa Li Bok-chiu berkata.

"Sabarlah, kau tunggu saja di sini, segera ibumu akan datang."

Sementara itu api berkobar semakin hebat dan mendesak dari berbagai jurusan, kalau lebih lama di situ mungkin jiwa sendiripun akan melayang, Karena itulah Li Bok-chiu lantas melompat ke sana dan berlari cepat ke arah yang belum terjilat api.

Kwe Hu tergeletak tak bisa berkutik menyaksikan kepergian Li Bok-chiu.

Mendadak segumpal asap menyamber tiba, napasnya menjadi sesak, ia ter-batuk2 hebat.

Bu Sam-thong dan Yalu Ce berempat masih berdiri di tengah sungai, muka dan kepala mereka penuh hangus, antara Kwe Hu dan sungai kecil itu telah teraling oleh api yang berkobar dengan hebatnya.

Meski mereka mengetahui si nona berada dalam bahaya, tapi jiwa mereka pasti akan ikut melayang kalau mereka memburu maju untuk menoIongnya.

Dalam keadaan sesak napas dan rasa panas seperti dipanggang, Kwe Hu hampir2 tak sadarkan diri Iagi.

Pada saat itulah tiba2 dari jurusan timur sana ada suara men-deru2, waktu ia berpaling, dilihatnya sesosok bayangan seperti angin lesus saja ber-gulung2 menyamber tiba.

Waktu Kwe Hu mengawasi, kiranya bayangan itu adalah Nyo Ko.

Pemuda itu telah menanggalkan jubahnya yang basah kuyup untuk membungkus Hiat-tiat-po-kiam, dengan tenaga dalam yang kuat ia ayun2kan pedang itu untuk menyingkirkan kobaran api.

Tadinya Kwe Hu bergirang karena ada orang datang menolongnya, tapi setelah mengetahui orang itu adalah Nyo Ko, seketika perasaannya seperti di-siram air dingin meski di luar tubuh panas seperti dipanggang, Pikirnya.

"Sudah dekat ajalku toh dia sengaja datang buat menghina diriku."

Betapa pun dia adalah anak Kwe Cing, dengan gemas ia melototi Nyo Ko tanpa gentar, Tak terduga, bagitu sampai di samping Kwe Hu, segera Nyo Ko membuka Hiat-to si nona ydog tertutuk itu, pedangnya terus menusuk, tapi bukan menembus tubuhnya melainkan menerobos lewat di pinggangnya, sekali bentak.

"Awas!"

Tangan kirinya terus mengayun sekuatnya ke sana, bobot pedang pusaka yang amat berat itu ditambah tenaga dalamnya yang maha kuat, seketika Kwe Hu melayang ke udara seperti terbang di awang2 dan melintasi belasan pohon besar yang terbakar.

"plung" , akhirnya ia jatuh ke dalam sungai. Lekas2 Yaiu Ce memburu maju untuk membangunkan Kwe Hu, tapi nona itu masih kepala pening dan mata ber-kunang2, ia serba runyam, entah senang entah sedih. Kiranya setelah Nyo Ko dan Siao-liong-li keluar dari kuburan kuno itu dengan membawa Kwe Yang, terlihat pasukan Mongol sedang membakar hutan di lereng Cong-lam-san itu. Sudah ber-tahun2 mereka hidup disekitar hutan yang rindang itu, mereka menjadi menyesal dan merasa sayang menyaksikan kebakaran hebat itu, tapi pasukan Mongol terlalu kuat dan sukar dilawan, terpaksa mereka tidak dapat berbuat sesuatu. Nyo Ko tidak tahu Siao-liong-li sanggup bertahan berapa lama setelah racun bersarang dalam segenap Hiat-to penting, segera ia mencari suatu gua-yang jauh dari tetumbuhan untuk bersembunyi sementara, dari jauh mereka menyaksikan Kwe Hu dirobohkan Li Bok-chiu dan tampaknya segera akan terbakar mati. Dengan gegetun Nyo Ko berkata kepada Siao-Iiong-li.

"Liong-ji, nona itu telah membikin sengsara padaku dan mencelakai kau pula, akhirnya dia mendapatkan ganjarannya yang setimpal seperti sekarang ini."

Dengan heran Siao-liong-li memandang Nyo Ko dengan sorot matanya yang tajam.

"Ko-ji, masakah kau tak pergi menolongnya?"

"Dia telah membikin susah hingga begini, kalau tidak kubunuh dia sudah cukup baginya."

Ujar Nyo Ko dengan gemas.

"Ah, kita sendiri tidak beruntung, semua itu disebabkan suratan nasib, biarkan orang lain gembira dan bahagia, kan lebih baik begitu?"

Ujar Siao-liong-li. Walaupun di mulutnya Nyo Ko berkata begitu, tapi dalam hati merasa tidak tega ketika menyaksikan api sudah menjalar sampai di dekat Kwe Hu, Akhirnya ia berkata dengan pedih.

"Baiklah, nasib kita yang buruk, nasib orang lain yang beruntung!"

Segera ia membungkus pedang pusakanya dengan jubah sendiri yang basah itu dan setelah melemparkan Kwe Hu ke sungai, dia berlari kembali ke dekat Siao liong-li dengan baju dan rambut hangus, celananya juga terbakar sebagian, malahan pahanya telah timbul gelembung2 air akibat terbakar.

Siao-Iiong-li membawa Kwe Yang mundur ke tempat yang lebih jauh dari hawa panas, lalu ia membelai rambut Nyo Ko serta membetulkan pakaiannya, tidak kepalang rasa bangganya mendapatkan seorang suami ksatria dan gagah perkasa demikian ini, ia bersandar pada tubuh Nyo Ko dengan perasaan yang gembira dan bahagia.

Nyo Ko merangkul pinggang Siao-liong li dan memandangi dengan terkesima, si nona yang tersorot cahaya api itu bertambah molek, sesaat itu mereka sama sekali melupakan segala duka derita di dunia ini.

Mereka berdua berada di tempat lebih tinggi, Bu Sam-thong, Kwe Hu dan Yaiu Ce berlima yang berada di sungai itu memandang dari balik api yang ber-kobar2, tertampak pakaian kedua suami isteri itu berkibar2 tertiup angin, sikapnya agung berwibawa laksana malaikat dewata.

Biasanya Kwe Hu suka memandang hina si Nyo Ko, tapi sekarang ia menjadi malu diri.

Sejenak Nyo Ko berdua berdiri, sambil memandangi api yang mengamuk itu, Siao-Iiong-li berkata dengan gegetun.

"Setelah terbakar habis bersih, kelak kalau pepohonan tumbuh lagi di sini, entah bagaimana wujudnya nanti?"

"Api yang dibakar pasukan Mongol ini mungkin merupakan pesta bagi pernikahan kita,"

Ujar Nyo Ko dengan tertawa.

"Mari!ah kita mengaso saja ke gua sebelah sana."

Siao-liong-li mengiakan Keduanya lantas ber-jalan ke balik gunung sana. Tiba2 Bu Sam-tisong ingat sesuatu, cepat ia berteriak.

"Adik Nyo Susiok dan Cu-sute terkurung di Coat-ceng-kok, engkau mau menolong mereka tidak?"

Nyo Ko rada melengak, ia menggumam sendiri.

"Peduli amat urusan orang lain."

Sambii berkata begitu ia terus melangkah ke sana.

Meski racun mengeram hebat dalam tubuhnya, namun sementara ini belum bekerja, sebaliknya ilmu silatnya mulai pulih karena Hiat-to yang tadinya terganggu itu telah berhasil diterobos semuanya, Dengan memondong Kwe Yang ia dapat melangkah cepat ke depan.

Lebih satu jam mereka berjalan dan makin jauh meninggalkan Tiong-yang-kiong, dipandang dari jauh api masih berkobar di pegunungan itu.

Angin utara meniup semakin kencang sehingga muka si Kwe Yang cilik kedinginan ke-merah2an.

"Marilah kita mencari sesuatu makanan, anak ini kedinginan dan lapar pula, mungkin tidak tahan"

Kata Siao-liong-Ii.

"Ya, aku ini sungguh tolol, entah untuk apa kurebut anak ini, hanya menambah beban saja,"

Ujar Nyo Ko. Siao-liong-li mencium muka Kwe Yang yang memerah apel itu, katanya.

"Adik cilik ini sangat menyenangkan, apakah kau tidak suka padanya?"

"Anak orang lain, tetap anak orang Iain, paling baik kalau kita dapat melahirkan anak sendiri,"

Kata Nyo Ko dengan tertawa. Wajah Siao-liong-li menjadi merah, ucapan Nyo Ko ini menyentuh sifat keibuan lubuk hatinya, pikirnya.

"Ya, alangkah baiknya kalau kudapat melahirkan anak bagimu, akan tetapi ai...."

Kuatir si nona berduka, Nyo Ko tak berani mengadu pandang, ia menengadah memandangi langit tertampak awan tebal menggumpal bergeser dan sebelah barat-laut, begitu tebal dan luas gumpalan awan itu seakan2 jatuh menimpa kepala saja, katanya.

"Melihat gelagatnya, mungkin segera akan turun salju, kita perlu mencari rumah penduduk untuk mondok."

Tapj arah yang mereka tempuh adalah lereng pegunungan yang sunyi, di mana2 hanya batu padat dan semak belukar belaka, mana ada rumah penduduk segala.

"Wah, tampaknya salju yang turun nanti pasti sangat lebat, agar jalan kita tidak tertutup, sebaiknya kita harus memburu waktu dan turun gunung sekarang juga,"

Kata Nyo Ko sambil mempercepat langkahnya.

"Paman Bu dan nona Kwe mereka akan ke-pergok pasukan Mongol tidak? Para Tosu Coan-cin-kau itu entah dapat lolos dengan selamat tidak?"

Demikian Siao liong-li berucap dengan nada yang simpatik.

"Kau benar2 mempunyai Liangsim (hati nurani), orang2 itu berbuat jahat padamu, tapi kau tetapi tidak melupakan keselamatan mereka, pantas dahulu kakek guru mengharuskan kau berlatih ilmu yang bebas dari segala cinta rasa, urusan apapun tidak peduli dan tidak ambil pusing, akan tetapi karena kau menaruh perhatian padaku, hasil latihanmu selama 20-an tahun telah hanyut seluruhnya dan mulailah kau menaruh perhatian terhadap siapapun"

Siao-liong-li tersenyum, katanya.

"Sesungguhnya, pahit getir penderitaanku bagimu juga mendatangkan rasa mnais, yang kukuatirkan adalah kau tidak mau terima perhatianku kepadamu."

"Ya, merasakan pahit dan manis jauh lebih baik daripada tidak merasakan apa2!"

Kata Nyo Ko.

"Aku sendiri hanya suka ugal2an dan angin2an, tidak pernah hidup tenang dan aman tenteram."

"Bukankah kau mengatakan kita akan pergi ke selatan, di sana kita akan bercocok tanam dan beternak?"

Tanya si nona dengan tersenyum.

"Benar, semoga terkabul harapan kita,"

Ujar Nyo Ko dengan menghela napas.

Sampai di sini, tertampaklah kapas tipis mulai beterbangan dari udara, bunga salju sudah mulai turun.

Dengan Lwekang mereka yang tinggi, dengan sendirinya hawa dingin itu tidak menjadi soal bagi mereka, segera mereka melangkah dengan cepat.

"Eh, Ko-ji, coba kau terka ke mana perginya Suciku sekarang?"

"Kembali kau memperhatikan dia lagi, Akhirnya Giok-li-sim-keng dibawa lari olehnya dan terkabul cita2nya. Kuatirnya kalau isi kitab itu berhasil diyakinkan dan ilmu silatnya maju pesat, bisa jadi kejahatannya juga akan bertambah hebat."

"Sebenarnya Suci juga harus dikasihani,"

Ujar Siao-liong-li.

Tapi dia sendiri tidak rela dan ingin membikin setiap orang di dunia ini juga berduka dan merana seperti dia.

Kata Nyo Ko.

Tengah bicara, cuaca semakin gelap.

Setelah membelok ke lereng sana, tiba2 terlibat di antara dua pohon Siong tua terdapat dua buah rumah gubuk, atap rumah itu sudah tertimbun salju setebal jari manusia.

"Aha, di sinilah kita lewatkan malam ini,"

Seru Nyo Ko kegirangan. Setiba di depan gubuk2 itu, terlihat daun pintunya setengah tertutup tanah salju di situ tiada tanda2 bekas kaki, ia coba berseru.

"Permisi! Karena hujan salju, kami mohon mondok semalam saja."

Tapi sampai sekian lama ternyata tiada suara jawaban, Nyo Ko lantas mendorong pintu di dalam rumah, tiada seorangpun.

Di atas meja kursi penuh debu, agaknya sudah lama tiada penghuninya, segera ia memanggil Siao liong li masuk, setelah menutup pintu, mereka lantas membuat api unggun.

Dinding papan rumah itu tergantung busur dan anak panah, di pojok rumah sana ada sebuah alat perangkap kelinci, Tampaknya rumah ini adalah pondok darurat kaum pemburu.

Dengan busur dan anak panah itu Nyo Ko keluar berburu dan mendapatkan buruan, maka mulailah mereka berpesta rusa panggang.

Sementara itu salju turun semakin lebat, namun hawa dalam rumah cukup hangat oleh api unggun.

Siao liong li mengunyah sedikit daging rusa dan dan menyuapi si Kwe yang cilik, dengan menikmati daging rusa panggang itu, Nyo Ko memandangi mereka berdua dengan tersenyum simpuI, suasana hangat dan mesra laksana pengantin baru yang sedang bertamasya.

Se-konyong2 dari arah timur tanah salju itu berkumandang suara tindakan orang yang cepat, jelas itulah ginkang orang yang mahir ilmu silat.

Nyo Ko berdiri dan melongok ke sana melalui jendela, dilihatnya dua kakek mendatang ke arah gubuk ini, seorang gemuk dan yang lain kurus, pakaian mereka rombeng, kakek kurus menyanggul sebuah HioIo-(buli2 dari sejenis labu besar) besar warna merah.

Hati Nyo Ko tergetar, teringat olehnya bahwa benda itu adalah milik Ang Jit-kong.

Dahulu Ang Jit-kong, itu ketua Kaypang yang berjuluk pengemis sakti berjari sembilan, bertempur mati2an dengan Auyang Hong di puncak tertinggi Thian san, akhirnya kedua orang sama2 kehabisan tenaga dan gugur bersama.

Nyo Ko yang mengubur kedua orang tua itu dan Holo besar merah itupun ditanam di samping jasad Ang Jit-kong.

Kemudian dalam pertemuan besar para ksatria, seorang pengemis tua pernah membawa Holo merah itu sebagai tanda perintah Ang Jit-kong, katanya sang ketua itu belum meninggal, bahkan menganjurkan kaum jembel berbangkit membela tanah air dan mengusir musuh.

Tatkala mana Nyo Ko sangat heran darimana munculnya Holo merah itu?

Tapi dalam pertemuan besar itu banyak terjadi persoalan sehingga tidak sempat mengusut urusan itu, kemudian juga tidak bertemu lagi dengan orang Kaypang, maka urusan itupun sudah terlupa, sekarang dandanan kedua kakek ini jelas juga anggota Kaypang.

Nyo Ko jadi tertarik demi ingat kejadian dahulu itu, segera ia membisiki Siao-Iiong li.

"Di luar ada orang, kau rebah saja di pembaringan dan pura2 sedang sakit?"

Siao-liong-li menurut, ia pondong Kwe Yang dan berbaring di atas ranjang, ditariknya selimut butut yang terletak di ujung tempat tidur itu.

Nyo Ko lantas xnemolesi mukanya dengan hangus, topinya ditariknya hingga hampir menutupi mukanya, pedang pusaka juga disembunyikan.

Dalam pada itu kedua orang tadi sudah mengetok pintu.

Cepat Nyo Ko meng-gosok2 tangannya yang berlepotan minyak daging rusa yang baru dimakannya itu sehingga lebih mirip seorang pemburu yang kotor, habis itu pintu lantas dibukanya.

Dengan tertawa si kakek gemuk lantas berkata.

"Hujan salju ini sangat hebat dan sukar meneruskan perjalanan, mohon kemurahan hati tuan sudi menerima pengemis untuk mondok semalam."

"Ah, pemburu macamku tidak perlu dipanggil tuan segala, silakan Lotiang (bapak) masuk dan bermalam di sini,"

Jawab Nyo Ko.

Ber-ulang2 pengemis gemuk itu mengucapkan terima kasih, Segera Nyo Ko lantas mengenali juga si pengemis kurus itu, jelas dia orang yang pernah menyampaikan perintah Ang Jit-kong dahulu dengan membawa Holo besar merah, diam2 ia menjadi kuatir kalau2 dirinya akan dikenali pengemis kurus itu, cepat ia merobek dua potong daging panggang dan diberikan kepada kedua orang itu, katanya.

"Mumpung masih hangat2, silakan makan seadanya, hujan salju begini kebetulan bagiku untuk menambah penghasilan. Besok pagi2 harus kupergi memasang perangkap untuk menangkap rase, maafkan aku tidak temani kalian lebih lama,"

"Oh, jangan sungkan2, silakan saja,"

Jawab si pengemis gemuk tadi. Segera Nyo Ko sengaja berseru dengan suara keras.

"He, ibunya bocah, apakah batukmu sudah baikan?"

"Wah, pergantian musim menambah dadaku makin sesak saja,"

Jawab Siao-liong-li sambil batuk lebih keras, berbareng ia sengaja menggoyangi si Kwe Yang sehingga anak itu terjjaga bangun, maka di antara suara batuk lantas terseling suara tangisan anak bayi, sandiwara keluarga pemburu benar2 dimainkan mereka dengan sangat hidup.

05 Nyo Ko lantas masuk ke ruangan dalam serta menutup pintu, lalu ia berbaring disamping Siao-liong-li, diam2 ia sedang mengingat2 muka si pengemis gemuk tadi seperti sudah pernah dikenalnya, cuma di mana, seketika tak teringat.

Kedua pengemis gemuk kurus itu menyangka Nyo Ko benar2 seorang pemburu miskin, maka mereka tidak menaruh perhatian padanya, sembari makan daging rusa panggang mereka lantas mulai mengobrol Si pengemis kurus berkata.

"Melihat api yang berkobar di Cong-lam-san itu, agaknya sudah berhasil."

Dimana tiba pasukan Mongol disitu lantas ditaklukkan hanya sekawanan Tosu Coan-cin-kau saja apa artinya lagi? Ujar si pengemis gemuk dengan tertawa.

"Tapi beberapa hari yang lalu Kim-lun Hoat-ong dan begundalnya telah pulang dengan mengalami kekalahan yang mengenaskan,"

Kata si kurus.

"Itupun baik, biar Sri Baginda tahu bahwa untuk menduduki tanah air bangsa Han ini juga diperlukan tenaga bangsa Han sendiri, kalau melulu mengandalkan orang Mongol dan orang asing lainnya jelas tidak jadi."

Sampai di sini, tiba2 Nyo Ko teringat pada si gemuk ini juga pernah dilihatnya dalam pertemuan besar kaum ksatria dahulu, cuma waktu itu si gemuk ini memakai mantel kulit dan berdandan sebagai orang Mongol serta selalu ber-bisik2 di samping Kim-lun Hoat-ong, jelas inilah orangnya.

Diam2 ia merasa gemas, pikirnya.

"Apa yang mereka bicarakan melulu urusan pengkhianatan belaka, kebetulan kepergok olehku, tidak dapat kuampuni mereka."

Kiranya pengemis gemuk ini adalah satu di su-tay-tianglo (empat tertua) dalam Kay-pang, yaitu Peng-tiangIo.

perbuatannya memang khianat sudah lama dia menyerah kepada pihak Mongol.

Begitulah terdengar si pengemis kurus sedang berkata pula.

"Peng-tianglo, sekali ini apabila Kay-pang aliran selatan jadi didirikan, entah pangkat apa akan kau dapat dari raja Mongol?"

"Raja menjanjikan pangkat "panglima besar wilayah selatan"

Padaku,"

Jawab Peng-tianglo.

"Akan tetapi seperti kata pribahasa kita, mengemis tiga tahun lebih bebas daripada jadi raja tiga hari. Kaum pengemis seperti kita masakah ingin menjadi pembesar segala?"

Walaupun demikian katanya, namun dan balik ruangan sana Nyo Ko dapat menangkap nada ucapannya yang penuh ambisi dan harapan itu.

"Wah, untuk itu terimalah lebih dulu ucapan selamat dariku,"

Kata si kurus.

"Selama beberapa tahun terakhir ini, jasamu juga tidak kecil, kelak tentu kau juga akan mendapat bagian yang sesuai."

"Soal kedudukan tidak berani kuharapkan cuma engkau pernah menjanjikan Liap hun-tay-hoat (ilmu pengikat sukma, serupa hipnotisme sekarang), bilakah baru engkau akan mengajarkannya kepadaku?"

"Nanti kalau Kay-pang selatan sudah berdiri dengan resmi, setelah aku menjadi Pangcu dan begitu ada waktu luang segera akan kuajarkan padamu."

"Kukira setelah engkau menjadi Paagcu serta diangkat menjadi panglima, pekerjaanmu tentu semakin banyak dan sibuk, mana ada waktu luang?"

"Ah, masakah kau tidak percaya padaku,"

Ujar Peng-tianglo dengan tertawa. Si kurus tidak bicara lagi, hanya hidungnya mendengus pelahan, tampaknya dia masih ragu. Diam2 Nyo Ko membatin.

"seluruh dunia hanya ada satu organisasi Kay-pang tanpa membedakan utara dan selatan, untuk apa dia mau mendirikan Kay-pang aliran selatan segala, ini pasti permainan gila orang Mongol."

Terdengar Peng-tianglo sedang berkata pula dengan tertawa.

"Setelah berkeliling, hendaklah kau menyebarkan perintah si setan tua she Ang, katakan utara dan selatan teralang dan sukar mengadakan kontak, maka utara dan selatan perlu dipisahkan menjadi dua."

"Dan anggota bagian selatan dengan sendirinya berada di bawah pimpinanmu"

Kata si kurus dengan dingin.

"Juga tidak perlu begitu, biarlah kita mengangkat dulu Kan-tianglo sebagai ketua, usianya lebih tua, anak muridnya juga banyak, orang lain tentu tidak curiga, Nanti kalau dia sudah kupengaruhi dengan Liap-hun-tay-hoat, tentu dia akan menyerahkan kedudukannya padaku, tatkala mana segalanya akan menjadi beres dengan sendirinya."

"sebenarnya Ang-lopangcu sudah lama wafat, kalau kusiarkan lagi perintah palsu beliau, mungkin akan lebih menimbulkan curiga orang, Melulu mengandalkan Holo palsu ini rasanya sukar mendustai orang terus menerus, kalau kepungan terhadap Siang-yang sudah mereda dan Ui-pangcu datang mengusut persoalan ini, wah, biarpun jiwaku pakai serep juga akan melayang semuanya."

"Hahaha!"

Peng tianglo tertawa.

"Asal kau bertindak secara cepat, maka urusan juga akan cepat beres, mengenai perempuan hina she Ui itu, kini dia terkepung di kota, jiwanya pasti sukar tertolong"

Sampai di sini barulah Nyo Ko mengetahui duduknya perkara, kiranya Holo merah itu adalah tiruan, lantaran tiada orang yang menyaksikan meninggalnya Ang Jit-kong, mereka berdua lantas membawa Holo palsu itu untuk mempengaruhi murid2 Kay pang, karena seruan yang mereka sebarkan itu mengenai tugas suci kaum pahlawan, demi negara dan bangsa, sebab itulah anggota Kay-pang tidak menaruh curiga.

Kalau semua anggauta sudah percaya penuh barulah Peng-tianglo itu akan berusaha mendirikan aliran cabang untuk memecah belah Kay-pang, itu organisasi terbesar pada jaman itu.

Meski Nyo Ko hanya berkumpul beberapa hari saja dengan Ang Jit-kong, tapi dia benar2 kagum dan hormat terhadap sifat ksatria tokoh tua itu, pikirnya.

"Ang-locianpwe sedemikian perkasa, nama baiknya sesudah meninggal tidak boleh dirusak oleh kaum tikus celurut begini."

Apalagi iapun teringat kepada keganasan pasukan Mongol yang dilihatnya di sepanjang jalan, maka diam2 ia bertekat akan membunuh kedua-jahanam ini.

Begitulah terdengar si pengemis kurus tadi sedang berkata pula.

"Peng-tianglo, barang yang sudah kau janjikan, kapan2 juga harus kau berikan, cuma kulihat engkau rada2 lain di mulut lain di hati."

"Habis kau mau apa?"

Tanya Peng-tianglo dengan tak senang.

"Aku berani apa?"

Jawab si kurus.

"Hanya aku ini memang penakut, selanjutnya aku tak berani lagi menyiarkan perintah palsu Ang-pangcu."

Diam2 Nyo Ko anggap ucapan si kurus itu benar2 goblok, barangkali ingin mampus, makanya berani berkata begitu. Terdengar Peng-tianglo lantas bergelak tertawa katanya.

"Baiklah, urusan ini dapat kita rundingkan lagi, jangan kau sangsi."

Setelah berhenti sejenak, kemudian si kurus berkata pula.

"Sisa daging rusa ini tidak kenyang kita makan, biar kupergi mencari buruan lain." -Habis itu ia lantas membawa busur dan anak panah dan melangkah keluar. Segera Nyo Ko mengintip dari sela2 dinding papan, dilihatnya begitu si kurus pergi, Peng-tiango itu juga lantas berbangkit dan mclolos belati serta mendengarkan gerak-gerik kawannya dari balik pintu, setelah mendengar suara tindakan si kurus sudah pergi jauh, dengan ber jengket2 iapun menyelinap keluar. Dengan tertawa Nyo Ko membisiki Siao-liong-li. Jelas kedua jahanam ini akan saling bunuh, kebetulan bagiku, dapat ku irit tenaga, Ku-lihat si gemuk itu jauh lebih lihay dan sikurus bukan tandingannya.

"Paling baik kalau keduanya tidak datang kembali semua dan gubuk ini akan tenang dan tenteram tak terganggu,"

Ujar Siao -liong li. Nyo Ko mengiakan, Mendadak ia mendesis pula dengan suara tertahan.

"Dengarkan suara tindakan orang." -Terdengar ada orang berjalan dengan ber-jinjit2 di lereng sebelah barat terus memutar ke belakang gubuk.

"Agaknya si kurus tadi menyusup kembali hendak menyergap si gemuk,"

Bisik Nyo Ko pula dengan tersenyum.

Segera ia menolak daun jendela dan melompat keluar dengan enteng tanpa mengeluarkan suara sedikitpun.

Benar juga dilihatnya si pengemis kurus sedang mengintip di antara sela2 dinding.

Rupanya ia menjadi ragu2 karena tidak menemukan bayangan si gemuk.

Pada saat itulah Nyo-Ko telah berada di belakangnya dan mendadak mengikik tawa Sudah tentu si kurus kaget, cepat ia berpaling dengan air muka ketakutan karena menyangka Peng tianglo yang berada di belakangnya, tapi si Nyo Ko lantas berkata dengan tertawa.

"Jangan takut, jangan takut!"

Berbareng itu cepat sekali ia menutuk tiga Hiat-to penting di bagian dada, iga dan kaki orang, lalu ia menjinjing tubuh si kurus ke depan gubuk.

Ia memandang sekelilingnya yang sunyi dan salju belaka, itu, tiba2 timbul sifat kanak2nya, serunya.

"Liongji, lekas kemari, bantulah aku membikin orang2an salju," -Habis itu ia terus mengeduk salju yang memenuhi bumi itu dan diurukkan pada tubuh si pengemis kurus. Siao-liong-li lantas keluar dari gubuk dan membantunya, dengan tertawa cekakak dan cekikik Nyo Ko dan Siao-liong-li benar2 seperti anak kecil saja, hanya sebentar seluruh badan pengemis kurus itu sudah penuh diuruki salju. Selain sepasang biji mata saja yang masih dapat bergerak, kini pengemis kurus itu telah berubah menjadi orang salju yang gemuk laksana "gajah bengkak" , malahan pada punggungnya masih menggendong Holo besar yang juga berlapiskan bunga salju.

"Hahaha, kakek kurus kering ini hanya sekejap saja telah berubah menjadi gemuk dan putih,"

Kata Nyo Ko sambil tertawa.

"Dan kakek aslinya memang gemuk dan putih itu nanti akan kau permak menjadi apa?"

Ujar Siao-liong-ii dengan riang. Belum lagi Nyo Ko menjawab, terdengarlah Iangkah orang dari jauh. cepat anak muda itu mendesis.

"Ssssst, si gemuk sudah kembali, lekas kita sembunyi dulu."

Cepat mereka masuk lagi ke dalam rumah dan merapatkan pintu kamar, Siao liong-li sengaja menggoyangkan Kwe Yang agar anak itu menangis, tapi niatnya tiada berhenti menimangnya agar lekas tidur.

Selama hidupnya tidak pernah Siao-liong-li berdusta dan berbuat munafik, perbuatan yang aneh dan licik ini malahan belum terbayang olehnya, soalnya dia melihat Nyo Ko suka berbuat begitu, maka iapun ikut ramai2 saja.

Dalam pada itu Peng-tianglo telah kembali, sepanjang jalan ia mengikuti jejak kaki, dilihatnya jejak kaki si kurus itu memutar balik dan sembunyi di kiri belakang rumah, maka iapun mengikuti jejak itu ke belakang, lalu sampai pula di depan rumah.

Dari sela2 dinding Nyo Ko dan Siao-liong-li dapat melihat si gemuk sedang mengintip ke dalam rumah dengan menggenggam belati dan siap siaga.

Meski pengemis kurus yang diuruki salju itu merasa kedinginan setengah mati, tapi dia masih sadar, di lihatnya Peng-tianglo justeru berada disampingnya, tapi sedikitpun pengemis gemuk itu tidak menyadari hal ini, asal si kurus ayun tangannya ke bawah pasti dapat membinasakan si gemuk, celakanya tiga tempat Hiat-to si kurus tertutuk dan takbisa berkutik.

Tampaknya Peng-tianglo sangat heran ketika mengetahui si kurus tidak berada di dalam rumah, ia lantas mendorong pintu dan sedang memikirkan ke mana perginya pengemis kurus itu, pada saat itulah tiba2 terdengar suara orang berjalan mendatangi.

Muka Peng-tianglo tampak berkerut lalu sembunyi di balik pintu untuk menanti pulangnya si kurus.

Siao-liong-li dan Nyo Ko juga sangat heran, jelas pengemis kurus itu sudah menjadi orang salju, mengapa ada orang datang pula?

Baru mereka berpikir, segera terdengar bahwa yang datang itu seluruhnya dua orang, jelas adalah pendatang baru dan bukan si kurus.

Karena Peng-tianglo itu bertujuan jahat dan bertekad akan membinasakan si kurus, pula daya pendengarannya memang kalah tajam daripada Nyo Ko dan Siao-liongli, maka dia tidak mendengarnya dan baru tahu dugaannya meleset dan setelah kedua pendatang itu sudah berada di depan rumah..

"0-mi-to-hud. (Adhi Budaya)!"

Terdengar seorang di antaranya mereka menyebut Budha.

"Karena kehujanan salju, kami mohon Sicu suka memberi mondok semalam di sini."

Peng-tianglo lantas menyelinap keluar, dilihatnya di tanah salju sana berdiri dua Hwesio tua, seorang alis jenggotnya sudah putih, wajahnya welas asih, seorang lagi jenggot hitam kaku dan memakai jubah hitam, walaupun di musim dingin, namun pakaian kedua pendeta itu sangat tipis.

Selagi Peng-tianglo melengak dan belum menjawab, tahu2 Nyo Ko sudah keluar dan berseru.

"Silakan masuk, Toa hwesio! Orang dalam perjalanan memangnya membawa rumah sendiri?"

Pada saat itu juga mendadak Peng-tianglo melihat Holo besar dipungguhg si pengemis kurus yang telah berubah orang salju gemuk itu, ia terkejut dan heran melihat keadaan kawannya yang aneh itu.

Waktu ia menoleh pada Nyo Ko, dilihatnya anak muda ini bersikap biasa saja seperti tidak mengetahui sesuatu.

Dalam pada itu Nyo Ko telah menyilakan kedua Hwesio tua itu ke dalam rumah, dari gerak-gerik kedua Hwesio itu ia yakin mereka pasti bukan sembarangan pendeta agama Budha, terlebih Hwesio jubah hitam yang berwajah bengis dan bersorot mata aneh itu, ia menjadi sangsi jangan2 adalah orang segolongan Peng-tianglo.

"Silakan tinggal saja di sini, Toahwesio,"

Kata Nyo Ko kemudian.

"cuma orang gunung miskin seperti kami ini tiada alat perlengkapan tidur segala"

Eh, kalian suka makan daging panggang tidak?"

Padahal dia tahu umumnya kaum Budha tidak makan barang berjiwa, Maka cepat si Hwesio alis putih telah menjawab.

"Ampun, ampun! Kami sendiri membawa sekedar rangsum kering, Sicu tidak perlu repo2"

"Baiklah, kalau begitu,"

Kata Nyo Ko, lalu iapun masuk ke kamarnya dan membisiki Siao-liong li.

Kedua Hwesio tua ini tampaknya adalah tokoh yang sangat tangguh, sebentar kita harus dua lawan tiga.

Siao-liong-li mengernyitkan keningnya, katanya dengan suara tertahan.

"Orang jahat di dunia ini sungguh banyak sekali, orang ingin hidup tenang di pegunungan sunyi begini juga tetap terganggu,"

Nyo Ko coba mengintip gerak-gerik kedua Hwesio tua, dilihatnya si Hwesio alis putih mengeluarkan empat potong kue tawar, dua potong diberikan si Hwesio baju hitam, ia sendiri makan dua biji.

Dari wajah dan sikap Hwesio alis putih itu Nyo Ko percaya pendeta itu pasti tinggi ibadat agamanya, cuma di dunia ini juga tidak kurang manusia jahat berwajah alim, contoh di depan mata juga ada, yaitu Peng-tianglo, bukankah sikapnya juga ramah tamah dan wajahnya selalu berseri2, tapi hatinya ternyata busuk.

Yang aneh adalah Hwesio jubah hitam itu, mengapa sinar matanya begitu bengis buas.

Tengah berpikir, se-konyong2 terdengar suara gemerinctng, si Hwesio jubah hitam mendadak mengeluarkan dua potong benda ke-hitam2an terbuat dari besi.

Tadinya Peng-tianglo duduk dibangku, mendadak ia melompat bangun sambil siap melolos senjata, Tapi Hwesio jubah hitam tidak menggubris-nya.

"krek-krek" , benda hitam itu telah digembol pada kakinya sendiri, kiranya benda itu adalah sepasang belenggu besi. sepasang belenggu lagi lantas dipasang pula pada kedua tangan sendiri. Tentu saja Nyo Ko dan Peng-tianglo sangat heran dan tidak dapat menerka apa maksud dan artinya perbuatan Hwesio itu membelenggu kaki dan tangan sendiri Tapi dengan demikian rasa was-was mereka juga lantas berkurang beberapa bagian. Paderi alis putih tampaknya menaruh perhatian kepada kawannya, dengan suara pelahan ia bertanya.

"Apakah hari ini waktunya?"

"Sepanjang jalan Tecu sudah merasakan gelagat tidak enak", bisa jadi hari ini,"

Jawab si Hwesio jubah hitam, mendadak ia terus berlutut, kedua tangan terangkap di depan dada serta berdo'a.

"Mo-hon pertolongan Budha-yang maha welas asih."

Habis berucap begitu, Hwesio baju hitam itu lantas menunduk dari meringkukkan tubuhnya tanpa bergerak, Selang sejenak, tubuh bagian atas rada gemetar, napasnya mulai ter-engah2, makin lama makin ngos2an, sampai akhirnya suara napasnya menjadi seperti raungan kerbau yang sekarat, sampai rumah papan itu bergetar oleh suara raungannya dan bunga salju di atas atap sama rontok.

Tidak hanya Peng-tianglo saja yang terkejut dan kebat-kebit hatinya, tapi Nyo Ko dan Siao-liong-li juga saling pandang dengan bingung, mereka tidak tahu apa yang dilakukan Hwesio baju hitam itu, dari suara raungannya itu tampaknya dia sedang menderita siksaan yang maha hebat.

Tadinya Nyo Ko berprasangka buruk terhadap Hwesio baju hitam itu, sekarang mau tak-mau timbul rasa kasihannya.

pikirnya.

"Entah penyakit aneh apa yang dideritanya, mengapa Hwesio alis putih tidak ambil pusing, bahkan anggap tidak tahu dan tidak lihat suara napasnya yang keras itu?"

Selang sebentar pula, suara napas Hwesio baju hitam semakin memburu, dengan pelahan Hwesio alis putih berkatalah "Tidak seharusnya diperbuatnya tapi telah diperbuatnya, seharusnya diperbuat malah tidak diperbuatnya, terbakar oleh mengamuk nya api penyesalan terjerumuslah ke jalan sesat di-jelmaan mendatangi...."

Kalimat sabda Budha itu diucapkan Hwesio itu dengan pelahan, tapi ternyata dapat terdengar dengan jelas di tengah suara napas Hwesio baju hitam yang gemuruh, Nyo Ko terkejut akan Lwekang si Hwesio tua yang hebat itu, rasanya di jaman ini jarang ada bandingannya.

Terdengar Hwesio alis putih meneruskan membaca weda Budha "Kalau orang berdosa mau menyadari dosanya, sesudah sadar tidak lagi meresahkannya, dengan begitu hatipun tenteram, tidak perlu lagi memikirkannya pula, jangan karena rasa penyesalannya itu, tidak melakukan apa2 yang seharusnya dilakukannya, kejahatan2 yang sudah diperbuatnya, tidak mungkin ditariknya kembali."

Lambat laun napas Hwesio baju hitam menjadi pelahan dan akhirnya berhenti, sambil berenung iapun menggumam.

"Kalau orang berdosa mau -menyadari dosanya, sesudah sadar tidak lagi meresahkannya. Suhu, Tecu menyadari macam perbuatan di masa lalu itu berdosa, Tecu sangat menyesal dan hampir tak dapat mengatasi perasaan berdosa sendiri ini. Yang Tecu pikirkan adalah. kejahatan yang sudah diperbuatnya, tidak dapat ditarik kembali Karena itu hati Tecu tidak jadi tenang dan gembira, bagaimana sebaiknya ini?"

"Berbuat salah dan mau menyesalinya, biasanya sukar terjadi,"

Ujar Hwesio alis putih.

"Manusia bukan Nabi, manabisa tanpa berbuat salah. Berbuat salah dan mau memperbaikinya, itulah yang maha muIia."

Sampai di sini mendadak Nyo Ko teringat kepada namanya sendiri, yakni "Ko" (salah), menurut ibunya dia juga mempunyai nama alias "Kay-ci" (perbaikilah), jadi persis seperti apa yang diucapkan Hwesio alis pulih tadi, ia menjadi ragu apakah pendeta tua ini adalah seorang maha sakti yang sengaja datang buat membuka pikirannya?

Mau-tak-mau timbul rasa kagum dan hormatnya kepaaa pendeta yang ucapannya penuh filsafat hidup ini.

Terdengar Hwesio baju hitam berkata pula.

"Akar kejahatan Tecu sukar dilenyapkan sepuluh tahun yang lalu. Tecu sudah lama mengikuti ajaran Suhu dan tetap terjadi menewaskan jiwa tiga orang, sekarang darah Tecu terasa bergolak dan sukar diatasi mungkin sekali Tecu akan berbuat dosa pula, Untuk ini mohon welas asih Suhu, sukalah potong saja kedua tangan Tecu ini."

"Syahdu! Syahdu! Biarpun kudapat potong ke dua tanganmu, tapi pikiran jahat dalam hatimu harus kau babat sendiri. Kalau pikiran jahat belum lenyap, meski kaki dan tanganmu putus juga percuma saja, Coba dengarkan, akan kuceritakan sebuah kisah "

Lnduk menjangan dan si pemburu, bagimu."

"Tecu siap mendengarkan,"

Jawab si baju hitam sambil duduk bersila, Di balik ruangan sana Nyo Ko dan Siao-liong-Ii juga lantas duduk tenang ikut mendengarkan cerita pendeta itu.

"Ada seekor induk menjangan dengan dua ekor anak menjangan,"

Demikian Hwesio alis putih mulai berkisah.

Malang bagi induk menjangan itu karena tertangkap oleh seorang pemburu, Pemburu akan membunuh induk menjangan, dengan sangat induk menjangan minta dikasihani katanya.

"Aku mempunyai dua anak, masih kecil dan lemah, belum mahir mencari makan dan minum. Mohon di beri kelonggaran sementara waktu agar dapat mengajarkan cara mencari makan bagi anakku, habis itu pasti kudatang kembali untuk menyerahkan diri" -pemburu tidak mengidzinkan, Induk menjangan memohon pula dengan memelas, akhirnya hati pemburu terharu dan meluluskannya, induk menjangan menemukan kedua anaknya dan saling bermesraan dengan girang dan sedih pula induk menjangan menceritakan nasibnya yang malang dan berharap kedua anaknya menjaga diri. Sudah tentu anak menjangan yang masih kecil itu tidak paham maksud sang induk. Lalu induk menjangan membawa kedua anaknya ke tempat yang banyak rumput dan sumber air, setelah memberi petunjuk cara2 mencari hidup lain, dengan berlinang air mata kemudian induk menjangan lantas mohon diri. Mendengar sampai disini, Siao-liong-li jadi teringat kepada jiwa sendiri yang sudah dekat ajalnya, tanpa terasa iapun mencucurkan air mata, walaupun tahu cerita Hwesio itu cuma dongeng belaka, tapi cinta kasih ibu dan anak dalam cerita itu sangat mengharukan hati Nyo Ko. Dalam pada itu Hwesio alis putih sedang melanjutkan ceritanya. Sehabis memberi pesan, induk menjangan lantas melangkah pergi. Kedua anak menjangan lantas menangis sedih dan terus mengikutinya dari belakang, walaupun kecil dan lemah, larinya lambat dan jatuh bangun, namun tetap tidak mau berpisah dengan sang induk. induk menjangan lantas berhenti dan menoleh, katanya.

Baca Juga: Wanita Iblis Pencabut Nyawa 3

Baca Juga: Tiga Dara Pendekar Siauw Lim 4

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert