Eps 17 Kembalinya Sang Pendekar Rajawali - Chin Yung
Baca online Kembalinya Sang Pendekar Rajawali - Chin Yung
Cersil Kembalinya Sang Pendekar Rajawali - Chin Yung.
"O, anakku, janganlah kalian ikut, kalau dilihat pemburu itu, tentu jiwa kita akan tamat semuanya, ibu rela mati, cuma kalian yang masih kecil dan lemah, Di dunia ini menang tiada suatu yang abadi, setelah berkumpul akhirnya juga akan berpisah. Nasibku yang jelek sehingga membikin kalian kehilangan ibu sejak kecil." -Habis berkata ia terus berlari ke tempat si pemburu. Kedua anak menjangan sangat menginginkan kasih sang induk, tanpa gentar kepada panah si pemburu merekapun mencari sampai di sana. Melihat induk menjangan menepati janji dan rela untuk mati, kejujuran dan kesetiaannya sukar dibandingi manusia. Dilihatnya pula antara induk dan anak menjangan itu merasa berduka dan berat untuk berpisah, si pemburu merasa tidak tega dan akhirnya membebaskan induk menjangan. Habis mendengar cerita itu, air mata bercucuran memenuhi muka si Hwesio jubah hitam, katanya.
"Menjangan saja mengutamakan janji, induknya baik hati dan anaknya berbakti, betapapun Tecu tak dapat meniru mereka."
"Asal timbul perasaan kasih, seketika napsu membunuh akan lenyap,"
Kata Hwesio alis putih sembari memandang sekejap ke arah Peng-tianglo. Dengan sujud Hwesio baju hitam mengiakan Lalu Hwesio alis putih berkata pula.
"Jika ingin menebus kesalahan, jalan satu2 nya adalah berbuat amal. Dari menyesali perbuatan yang seharusnya dilakukan di masa lalu, ada lebih baik selanjutnya lebih banyak berbuat sesuatu yang harus dikerjakan."
Habis ini ia menghela napas pelahan dan menambahkan pula.
"Sekalipun aku sendiri selama ini juga banyak berbuat kesalahan." -Lalu ia memejamkan kan mata seperti orang semedi. Setelah mendengarkan cerita sang guru, Hwesio baju hitam seperti mulai sadar, tapi gejolak perasaannya selalu sukar diatasi. Waktu ia mengangkat kepalanya, dilihatnya Peng-tianglo sedang memandangnya dengan tersenyum simpul, kedua matanya menyorotkan cahaya yang sangat tajam dan kuat. Hwesio baju hitam terkesiap, ia merasa pernah bertemu dengan orang ini, terasa pula sorot mata orang menimbulkan perasaan sangat tidak enak, cepat ia berpaling ke arah lain, tapi hanya sejenak kembali ia menoleh ke sana.
"Wah, lebat sekali salju yang turun ini,"
Kata Peng tianglo dengan tertawa.
"Ya, ya, lebat sekali,"
Jawab Hwesio baju hitam.
"Marilah kita pergi melihat pemandangan hujan salju ini,"
Kata Peng-tianglo pula sambil membuka pintu.
"Baiklah, kita pergi melihat pemandangan hujan salju,"
Jawab si Hwesio sambil berbangkit dan berdiri di luar pintu di samping Peng-tianglo.
Dari balik dinding Nyo Ko juga merasakan sorot mata Peng-tianglo yang aneh itu, samar2 ia merasakan sesuatu alamat yang tidak enak.
"Ucapan gurumu sangat tepat, membunuh orang sekali2 jangan, tapi seluruh tubuhmu penuh tenaga yang me luap2, kalau tidak bergebrak dengan orang rasanya tidak tahan, begitu bukan?"
Demikian Peng-tianglo berkata pula dengan tertawa. Secara samar2 si Hwesio baju hitam mengiakan, Lalu Peng-tianglo berkata pula.
"Boleh coba kau hantam orang salju ini, pukul saja, kan tidak berdosa."
Hwesio baju hitam memandang orang salju itu dan mengangkat tangannya, hasratnya ingin sekali melancarkan pukulannya.
Sementara itu tubuh si pengemis kurus itu sudah teruruk lagi oleh bunga salju yang bertebaran sejak tadi, maka kedua matanya juga tertutup oleh salju.
"HayoIah, pukul saja dengan kedua tanganmu, hantam orang salju ini! Pukul, hayo pukul!"
Demikian Peng-tiangIo menganjurkan pula, suaranya halus, tapi penuh daya memikat.
"Baik, akan kupukul."
Kata si Hwesio baju hitam sambil mengumpulkan tenaga pada tangannya. Si Hwesio alis putih mengangkat kepala dan menghela napas panjang, dengan pelahan ia menggumam.
"Sekali napsu membunuh timbul, seketika terjadi mala petaka,"
Segera terdengar suara "blang"
Yang keras, kedua tangan Hek-ih-ceng (Hwesio baju hitam) menghantam sekaligus.
salju berhamburan dan terdengar jeritan pengemis kurus.
Rupanya Hiat-to yang tertutup tergetar buka terkena pukulan Hek-ih-ceng"
Jeritan itu sangat ngeri dan menyeramkan dan berkumandang hingga jauh menggema angkasa pegunungan itu. Siaoliong-li juga bersuara kaget dan memegangi tangan Nyo Ko dengan erat.
"Ha, di dalam salju ada orang!"
Teriak Hek-ih-ceng kaget Cepat Pek-bi-ceng (Hwesio alis putih) berlari keluar dan memeriksa keadaan sang korban, ternyata pengemis kurus itu sudah binasa terkena pukulan tangan besi yang maha sakti si Hek-ih-ceng Seketika Hwesio baju hitam ini melongo dengan bingung, sedangkan Peng tianglo berlagak kaget dan berseru.
"He, benar2 aneh, untuk apakah orang ini sembunyi didalam gundukan salju? Eh, mengapa dia membawa senjata?"
Meski dengan Liap-hun tayhoatnya dia berhasil mempengaruhi Hek-ih-ceng membinasakan si pengemis kurus, sudah tentu ia sangat senang, tapi iapun merasa heran pula mengapa si kurus sanggup bertahan tanpa bergerak bersembunyi di dalam gundukan salju dan tidak mendengar suaraku menyuruh orang menghantamnya?
"Suhu...
Suhu!"
Dengan melongo bingung ber-ulang2 Hek-ih-ceng memanggil sang guru.
"Karma! karma!"
Ucap Pekbiceng.
"Orang ini tidak dibunuh olehmu, tapi juga kau yang membunuhnya."
Hek-ih-ceng mendekap di atas tanah salju dan bertanya dengan suara gemetar.
"Tecu tidak paham artinya."
"Kau mengira hanya orang salju belaka dan hatimu tiada bermaksud mencelakai orang,"
Kata Pek-bi-ceng.
"Tapi tenaga pukulanmu maha dahsyat waktu melancarkan serangan, masakah sama sekali tiada pikiranmu hendak membunuh orang!"
"Sesungguhnya Tecu memang berkehendak membunuh orang"
Jawab Hek-ih-ceng.
Pek-bi-ceng lantas memandangi Peng-tianglo hingga sekian lama, sorot matanya halus penuh welas asih, Tapi hanya sekali pandang saja, Liap-hun tay-hoat yang menggetar sukma orang, ilmu andalan Peng tianglo itu lantas sirna tanpa bekas.
Mendadak Hek-ih ceng berteriak.
"He... kau... kau adalah Tianglo di Kay-pang dahulu itu, ya, ya, betul ingatlah aku sekarang!"
Seketika wajah asli Peng-tianglo timbul dari balik sikapnya yang selalu ramah tamah dan tersenyum simpul itu, air mukanya lantas penuh rasa bertentangan batin, katanya.
"Ah, engkau adalah Kiu-pangcu dari Tiat-ciang-pang, mengapa engkau menjadi Hwesio?"
Kiranya Hwesio baju hitam ini memang betul ialah Kiu Jian yim, ketua Tiat-ciang-pang.
Setelah terjadi pertandingan di puncak Hoa-san dahulu, dia telah menyadari segala dosanya di masa lampau dan mengangkat It-teng Taysu sebagai guru, iapun menjadi Hwesio.
Dan Pek-bi-ceng atau Hwesio alis putih ini bukan lain daripada It-teng Taysu, namanya sejajar dengan Ong Tiang-yang, Ui Yok-sui.
Auyang Hong dan Ang Jit-kong itu.
Sesudah menerima agama Budha, Kiu Jian yim mendapatkan nama agama sebagai Cu-in.
Dengan giat dia mempelajari agamanya dan telah memperoleh kemajuan pesat.
Cuma dahulu dia sudah terlalu banyak berdosa, akar kejahatannya sukar dibasmi seluruhnya, kalau kutemukan daya pikat yang kuat dari luar, terkadang dia masih suka umbar kemurkaannya dan mencelakai orang, sebab itulah dia telah membuat dua pasang belenggu besi, apabila pikirannya sedang judek, ia lantas membelenggu kaki tangan sendiri untuk mengekang tindak jahatnya.
Suatu hari lt-teng Taysu menerima berita minta tolong dari muridnya, yaitu Cu Cu-liu, maka dari negeri Tayli It-teng Taysu lantas membawa Cu-in berangkat ke Coat-ceng-kok.
Tak terduga di pegunungan sunyi ini mereka bertemu dengan Peng-tianglo dan tanpa sengaja Cu-in telah membunuh satu orang pula.
Sejak menjadi Hwesio, selama belasan tahun baru pertama kali ini ia membunuh orang meski ada juga pelanggaran yang diperbuatnya, seketika hatinya menjadi bimbang, ia merasa latihannya selama belasan tahun telah hanyut ke laut seluruhnya.
Dengan pelahan ia menoleh dan memandang Peng-tianglo dengan mata berapi.
It-teng Taysu tahu saatnya sangat gawat, kalau mengalangi dia dengan kekerasan, tentu pikiran jahatnya akan semakin menumpuk dan pada suatu hari pasti akan meluap laksana air bah yang tidak terbendungkan.
Hanya dengan jalan menimbulkan rasa welas-asih kepada sesamanya barulah pikiran-jahatnya dapat dilenyapkan dan menuju ke jalan yang bersih.
Begitulah sambil berdiri di samping Cu-in, pelahan-It-teng Taysu menyebut."
"O-mi to-hud!" -Sampai hampir ratusan kali ia menyebut nama Budha barulah sorot mata Cu-in mulai meninggalkan tubuh Peng-tianglo, lalu berduduk di tanah dan napasnya ter-engah2 pula. Sudah sejak dulu Peng-tianglo tahu ilmu silat Kiu Jian-yim maha hebat, tapi kalau ia dapat dipengaruhi dengan Liap-hun-tay-hoat, maka dapatlah dia peralat sesukanya. Siapa tahu kemana sinar mata It-teng Taysu menyorot, seketika perasaannya seperti tertekan oleh sesuatu yang maha berat dan sukar mengeluarkan ilmunya. Maklumlah, Liap-hun-tay-hoat itu kira2 serupa dengan sebangsa ilmu bipnotis atau telepati pada jaman kini, dengan kekuatan batin untuk mengendalikan pihak lawan, kalau kekuatan batin lebih kuat daripada dirinya, maka ilmu itu takkan berhasil sama sekali. Dalam hal ini pikiran It-teng ternyata lebih kuat daripada Peng-tianglo sehingga sukar dipengaruhinya. Kini Peng-tianglo sudah menginsyafi keadaannya yang berbahaya. ia pikir Hwesio tua yang senantiasa menganjurkan orang berbuat bajik ini semoga dapat mempengaruhi Kiu Jian-yim. Kalau dirinya melarikan diri sekarang, betapapun pasti sukar lolos dari kejaran Kiu Jian yim yang Ginkangnya terkenal maha hebat. Terpaksa ia meringkik di pojok rumah dengan hati kebat-kebit, pandangannya sekejap saja-tidak berani meninggalkan gerak-gerik Kiu Jian-yim. Tidak lama kemudian suara napas Cu-in semakin memburu pula, tiba2 ia berseru.
"Suhu, pembawaanku memang orang jahat, Thian tidak berkenan menerima penyesalanku, meski aku tidak sengaja membunuh orang, akhirnya mencelakai juga jiwa orang. Aku tidak mau menjadi Hwesio lagi."
"Ampun! Ampun Akan kuceritakan pula sebuah kisah padamu,"
Kata It-teng. Mendadak Cuin berteriak dengan suara keras.
"Kisah apa lagi? Sudah belasan tahun kau menipu diriku, aku tak percaya lagi padamu."
Krak-krek, tahu2 belenggu pada kaki dan tangannya itu retak dan terlepas. Dengan suara halus It-teng berkata pula.
"Jika perbuatan yang sudah terlanjur terjadi tidak perlu dirisaukan, jangan kau sesalkan lagi."
Namun Cu-in lantas berbangkit ia meng-geleng2 kepada It-teng, habis itu ia memutar tubuh dan menghantamkan kedua tangannya.
"blam" , tahu2 tubuh Peng-tianglo mencelat dan menumbuk dinding gubuk terus melayang keluar. Di bawah pukulan telapak tangan besi yang maha dahsyat itu jelas otot tulangnya pasti hancur, biarpun jiwanya rangkap sepuluh juga pasti tamat riwayatnya. Nyo Ko dan Siao-liong-li juga kaget mendengar suara gedubrakan yang keras itu, cepat mereka memburu keluar dari ruangan dalam, terlihat kedua tangan Cu-in terangkat ke atas, dengan sorot mata bengis ia membentak mereka berdua.
"Apa yang kalian pandang? Satu tidak berbuat, dua tidak berhenti (artinya kalau sudah telanjur berbuat, ya sekalian kerjakan saja), hari ini sengaja kuIanggar pantangan membunuh,"
Habis berkata, tenaga yang sudah terkumpul pada kedua tangannya segera akan dihantamkan.
Dengan tenang It-teng Taysu melangkah maju dan mengadang di depan Nyo Ko berdua, di situ ia berduduk dan mcngucap Budha, air mukanya kereng, katanya.
"Belum jauh kau tersesat, masih sempat kembali jika kau mau. Cu-in, apakah benar2 kau ingin terjerumus ke alam yang tak tertolong pula."
Wajah Cu-in sebentar merah sebentar pucar kusut sekali pikirannya, terjadilah pertentangan batin antara baik dari jahat.
Rupanya pikiran jahatnya akhirnya berkobar lebih hebat, mendadak sebelah tangannya menghantam ke arah It-teng taysu.
Dengan satu tangan terangkat di depan dada It-teng menahan serangan itu dengan tubuh rada tergeliat.
"Bagus, jadi kau benar2 ingin memusuhi aku?"
Teriak Cu-in dengan gusar, menyusul tangan kiri lantas menghantam pula. !t-teng tetap"
Menangkis saja dan tidak balas menyerang. Dengari gusar Cu-in lantas mendamperat.
"Hm, nntuk apa kau mengalah? Hayolah membalas! Mengapa kau tidak balas seranganku? Huh apanya yang hebat antara kalian Tang-sia, Se-tok, Lam-te, Pakkay dan Tiong-sin-thong segala? Belum tentu kalian mampu menandingi telapak tangan besi orang she Kiu ini, Hayolah balas, kalau kau tidak balas menyerang, jangan kau penasaran jika jiwamu melayang percuma."
Meski pikiran Cu-in dalam keadaan kacau tapi ucapannya itu juga tidak salah, ilmu pukulan telapak tangan besinya boleh dikatakan mempunyai keunggulannya sendiri dibandingkan lt-yang-ci yang menjadi andalan It-teng Taysu itu.
Dalam hal ajaran agama memang It-teng jauh lebih daripada cukup untuk menjadi guru Cu-in, tapi bicara tentang ilmu silat, kalau bertempur sekuat tenaga mungkin It teng lebih unggul setingkat, tapi kalau melulu di hantam tanpa membalas, lama2 juga pasti akan terluka parah sekalipun jiwanya tidak melayang.
Akan tetapi It teng sudah bertekad lebih suka mengorbankan diri untuk menolong orang lain, lebih suka binasa kena pukulan tangan besi itu daripada balas menyerang dengan harapan Cu-in akhirnya dapat diinsafkan, jadinya sekarang mereka tidak lagi bertanding iimu silat atau tenaga dalam, tapi lebih tepat dikatakan pertarungan antara pikiran bajik dan pikiran jahat.
Nyo Ko dan Siao-liong li menyaksikan pukulan sakti Cu-in itu terus menerus dilontarkan ke arah It-teng, sampai pada pukulan ke-14, tertumpas lah darah segar dari mulut It-teng.
"Apakah kau tetap tidak mau membalas?,"
Bentak Cu-in melengak demi melihat darah yang mengucur dari mulut It teng itu. Dengan tersenyum It-teng menjawab.
"Untuk apa aku membalas? Apa gunanya jika kukalahkan kau? Apa pula paedahnya kalau kau kaIahkan diriku? Yang paling sukar adalah mengalahkan dirinya sendiri, mengekang perasaannya sendiri."
Cu-in tampak tertegun dan bergumam.
"Mengalahkan dirinya sendiri, mengekang perasaan sendiri inilah yang sukar?"
Beberapa kalimat ucapan It-teng itu laksana bunyi geledek yang menggetar hati Nyo Ko. Pikirnya.
"Untuk mengalahkan kehendak diri sendiri dan mengekang hasrat buruk sendiri memang jauh lebih sukar daripada mengalahkan musuh yang tangguh."
Ucapan pendeta agung ini benar2 sangat tepat dan bernilai. Dalam pada itu dilihatnya kedua tangan Cu-in berhenti sejenak di atas, habis itu terus menghantam pula ke depan.
"Brak" , tubuh It-teng terhuyung, darah segar kembali tersembur keluar, jenggotnya yang putih dan jubahnya sama berlepotan darah... Dari caranya menerima serangan lawan serta daya tahannya, Nyo Ko tahu ilmu silat It-teng asebenarnya terlebih tinggi daripada Hek-ih-ceng itu, tapi kalau melulu terima pukulan saja, biarpun tubuh terbuat dari besi juga akhirnya akan meleyot. Kini Nyo Ko luar biasa kagum dan hormatnya kepada It-teng Taysu, ia tahu It-teng sengaja mengorbankan diri untuk menginsafkan orang jahat, tapi iapun tak dapat menyaksikan orang baik seperti lt teng tewas begitu saja, karena itulah ia lantas mengangkat pedangnya dan mengitar ke samping It-teng, waktu Cu-in melancarkan pukulan lagi.
"sret" , iapun membarengi dengan tusukan pedang. Guncangan angin pukulan yang dahsyat itu menumbuk angin pukulan Cu-in, tubuh kedua orang sama tergetar. Cu-in bersuara heran, tak tersangka olehnya bahwa di pegunungan sunyi ini ada seorang pemburu muda yang memiliki ilmu silat setinggi ini. It-teng memandang Nyo Ko sekejap, hatinya juga heran luar biasa.
"Siapa kau? Apa kehendakmu?"
Bentak Cu-in dengan bengis.
"Gurumu memberi nasihat secara baik2, mengapa Taysu tidak mau sadar?"
Jawab Nyo Ko.
"Tidak mau menerima nasihat sudah keliru, malahan kau membalas kebaikan dengan kebencian dan melancarkan pukulan keji kepada gurumu. Manusia macam demikian bukankah jauh lebih rendah daripada binatang?"
Dengan gusar Cu-in membentak.
"Apakah kaupun orang Kay-pang? Begundal si Tianglo konyol tadi?"
"Kedua orang ini memang orang busuk Kay-pang"
Jawab Nyo Ko dengan tertawa.
"Bahwa Taysu telah membinasakan mereka, menumpas kejahatan sama dengan berbuat kebajikan, mengapa engkau merasa menyesal?"
Untuk sejenak Cu-in melengak, lalu menggumam.
"Menumpas kejahatan sama dengan berbuat kebajikan... menumpas kejahatan sama dengan berbuat kebajikan..."
Setelah mengikuti percakapan It-teng dan Cu-in tadi, lapat2 Nyo Ko sudah paham isi hati mereka yakni lantaran Cu-in merasa menyesal sehingga timbul rasa benci, dari benci lantas timbul pikiran jahat.
Maka ia lantas berkata pula.
"Kedua orang itu adalah anggota khianat Kay-pang, yang berkomplot dengan pihak musuh dan bermaksud menjual tanah air kita kepada bangsa lain, sekarang Taysu membunuh mereka, ini adalah pahala yang maha besar. Kalau kedua orang ini tidak mati, entah betapa orang baik2 akan menjadi korban kejahatan mereka"
Cuin merasa ucapan Nyo Ko itu sangat tepat, pelahan2 ia menurunkan tangannya yang siap menghantam itu.
Tapi segera teringat olehnya dahulu dirinya juga pernah bekerja bagi kerajaan Kim dan pernah membantu bangsa asing itu menjajah negerinya sendiri, jadi ucapan Nyo Ko itu tiada ubahnya seperti mencaci maki kesalahannya itu, mendadak pukulannya dilancarkan ke arah Nyo Ko sambil membentak.
"Kau mengaco-balo apa, binatang cilik?"
Tadinya Nyo Ko menyangka ucapannya tadi telah membangunkan hati nurani Cu-in, siapa duga mendadak orang malah melancarkan serangan maut, serangan yang cepat lagi keji itu dalam sekejap saja sudah sampai di depan dadanya, dalam keadaan gawat ia tidak sempat menangkisnya, terpaksa ia ikuti daya pukulan musuh dan melompat mundur.
"blang-blang"
Dinding papan rumah ambrol dan tubuh Nyo Ko mencelat keluar rumah. lt-teng Taysu terkejut, pikirnya.
"Apakah pemuda ini akan binasa begitu saja? tampaknya ilmu silatnya juga tidak rendah."
Pada saat lain, mendadak api unggun yang berkobar di dalam rumah itu menyurut gelap, lubang dinding yang ambrol itu dihembus angin keras, tahu2 Nyo Ko melayang masuk lagi sambil menusukkan pedangnya ke arah Cu-in dengan membentak.
"Baik, hari ini boleh kita coba2 ukur tenaga."
Rupanya Nyo Ko tadi dapat mundur lebih cepat daripada tenaga pukulan musuh, dengan menumbuk ambrol dinding rumah, dapatlah ia terhindar dari pukulan maut itu.
Kini pedangnya menusuk lurus ke depan kekuatan yang dahsyat dan sukar di tahan.
Cu-in memukulkan tangannya agar tenaga pukulan dapat mengguncang pergi daya tusuk Nyo Ko itu.
Tak disangkanya bahwa ilmu pedang Nyo Ko ini adalah ajaran Tokko Kiu-pay yang tiada tandingnya, apalagi sudah digembleng di tengah air bah serta tambahan tenaga dari buah merah dibantu pula oleh rajawali sakti, kini ilmu pedang yang dikuasi Nyo Ko sudah tiada ubahnya seperti kesaktian Tokko Kiu-pay dahulu, maka telaga pukulan Cu-in itu hampir tiada artinya bagi Hyo Ko, pedang anak muda itu masih tetap menyelonong ke depan.
Keruan Cu-in kaget, cepat mengelak agar tubuhnya tidak tertembus.
Setelah bergebrak barulah sama2 mengetahui ilmu silat pihak lawan memang sangat lihay dan tidak berani lagi meremehkan musuh, It teng ter-heran2 menyaksikan semua itu, ia pikir usia anak muda ini paling2 baru Iikuran, tapi ternyata mampu menandingi ilmu pukulan tangan besi Kiu Jian-yim yang pernah menggetarkan dunia kangouw di masa lampau, malahan gaya ilmu pedang anak muda ini tidak diketahui berasal dari aliran mana meskipun pengalaman sendiri tergolong sangat luas, lebih2 pedangnya yang hitam berat itu jelas merupakan senjata yang aneh pola.
Bahkan Siao-liong-li yang cantik molek itu mengikuti pertarungan itu di samping dengan tenang2 saja, diam2 iapun yakin nona ini pasti juga tokoh yang lain daripada yang lain, Ketika ia mengawasi lebih teliti, dilihatnya diantara dahi si nona samar2 bersemu hitam, tanpa terasa ia bersuara kaget.
Siao-liong-li tersenyum melihat sikap It-teng Taysu itu, katanya.
"Oh, kau sudah tahu?"
Dalam pada itu pertarungan Nyo Ko lebih beruntung dalam hal senjata sebaliknya Cu-in lebih banyak sebuah lengan, jadinya seimbang.
Terdengai pula suara "blang", papan kayu jebol sebuah, menyusul "krek"
Sekali, tiang rumah patah sebuah, padahal luas rumah itu sudah kecil bangunan kurang kukuh pula, betapapun tidak mungkin digunakan sebagai arena pertarungan dua tokoh kelas wahid, ke mana serangan mereka tiba, di situ papan kayu bertebaran, akhirnya terdengarlah suara gemuruh, sebuah tiang patah lagi serentak atap rumah lantas ambruk.
Cepat Siao-liong-li pondong Kwe Yang dan menerobos keluar melalui jendela, Di luar salju masih turun dengan lebatnya dengan angin yang menderu, Nyo Ko dan Cu-in telah mengobrak-abrik kedua rumah gubuk itu secara mentah2 dan pertandingan tetap berlangsung dengan sengitnya di bawah badai salju.
Sudah belasan tahun Cu-in tidak pernah bertempur sesengit ini dengan orang, saking bersemangat nya pukulan telapak besinya yang dahsyat itu disertai pula dengan raungan yang keras.
Sampai ratusan jurus, tenaga pedang pusaka Nyo Ko itu ternyata semakin berat, karena usia Cu-in memang sudah lanjut, lambat-laun ia merasa kewalahan untuk menahannya.
Ketika Nyo Ko menusuk lagi dari depan, Cu-in, lantas menggeser ke samping.
Tapi pedang Nyo Ko lantas menyapu sehingga menimbulkan angin keras dengan hamburan salju menyambar ke muka Cu-in.
Karena matanya tertutup bunga salju, cepat Cu-in mengusap mukanya.
Pada saat itulah pedang Nyo Ko terus memutar dari atas dan menempel di atas pundak Cu-in.
Seketika Cu in merasa seperti ditindihi oleh benda yang beribu kati beratnya dan tidak sanggup berdiri tegak, ia jatuh telentang, Ujung pedang Nyo Ko terus mengancam di dada lawan, biarpun ujung pedang itu tidak tajam, tapi beratnya tak terperikan sehingga Cu-in merasa sesak napas.
Pada saat demikian sekilas terbayang "mati"
Dalam benak Cu-in.
Sejak dia menjadi gembong Tiat-ciang-pang dan malang melintang di dunia Kangouw, selamanya dia hanya membunuh dan mencelakai orang, jarang sekali mengalami kekalahan, biarpun pernah dikalahkan Ciu Pek-thong dan lari ke wilayah barat, akhirnya dia juga dapat menggertak lari si Anak Tua Nakal itu, sekarang ia merasakan ajalnya sudah dekat pintu gerbang neraka, inilah belum pernah dialaminya selama hidup, mau-tak-mau timbul rasa penyesalannya, kalau tamat begini saja riwayatnya, ia merasakan segala dosa yang pernah diperbuatnya menjadi tak bisa ditebus lagi.
Selama ini kuliah It-teng Taysu tidak dapat membuka pikirannya yang gelap, kini ancaman pedang Nyo Ko ternyata merupakan bunyi guntur yang dapat memecahkan segala persoalan dan seketika membuatnya teringat, ternyata begini mengenaskan kalau dibunuh orang, jika begitu orang2 yang pernah kubunuh dahulu tentu juga mengenaskan seperti ini.
Diam2 It-teng sangat kagum menyaksikan Nyo Ko akhirnya dapat menaklukkan Cu-in, segera ia melangkah maju, jarinya menyelentik pelahan pada batang pedang, seketika Nyo Ko merasa lengan kiri kesemutan, pedang lantas bergetar ke samping, serentak Cu-in melompat bangun dan menjura kepada It-teng sambil berseru.
"Suhu, dosa Tecu pantas dihukum mati!"
It-teng tersenyum dan meraba punggungnya, katanya.
"Tidaklah mudah kau dapat menginsafl segalanya, kau harus berterima kasih kepada anak muda ini."
Tadinya Nyo Ko juga sudah sangsi kalau Hwe-sio tua beralis putih ini adalah It-teng Taysu, setelah pedangnya terselentik ke saraping, tanpa sangsi lagi akan dugaannya, sebab soal tenaga jari sakti pada jaman ini selain Ui Yok-su hanya It-yang-ci saja yang dapat mengimbanginya dan tokoh nomor satu It-yang-ci tiada lain adalah It-teng Taysu, segera iapun menyembah dan berkata.
"Tecu Nyo Ko memberi salam hormat kepada Taysu." -Dilihatnya pula Cu-in mendekatinya dan menjura padanya. Cepat ia membalas hormat dan berkata.
"Wah, mana kuberani terima penghormatan sebesar ini, Locian-pwe,"
Lalu ia tuding Siao-liong-li dan menambahkan pula.
"lni adalah isteriku she Liong, Eh,liong-ji, lekas memberi hormat kepada Taysu."
Dengan ber-gegas2 Siao-libng-li melangkah maju dengan memondong Kwe Yang serta memberi hormat.
"Kedua rumah ini sungguh malang sehingga kitapun tiada tempat berduduk untuk ber-bincang2"
Kata It-teng dengan tertawa.
"Tadi pikiran Tecu menjadi gelap dan hilang akal, apakah luka Suhu berbahaya?"
Tanya Cu-in.
"Kau sendiri apakah sudah sehat?"
Tanya It-teng sambil tersenyum.
Cu-in merasa sangat menyesal dan tidak tahu apa yang harus diucapkan, ia coba menegakkan tiang rumah gubuk itu, dinding papan dibetulkan sehingga sekedarnya sebuah gubuk dapat didirikan kembali sekadar tempat bernaung, sementara itu Nyo Ko juga menceritakan pengalamannya berkenalan dengan Bu Sam-kong dan Cu Cu-liu serta terkena racun di Coat-ceng-kok, lalu Paderi Hindu dan Cu Cu-liu berusaha mencarikan obat baginya.
"Kedatangan kami berdua ini justeru hendak pergi ke Coat-ceng-kok,"
Tutur It-teng Taysu.
"Apakah kau tahu hubungan Cu-in Hwesio ini dengan penguasa wanita Coat-ceng-kok itu?"
Karena beberapa kali mendengar Peng-tianglo dan Cu-in menyebut "Kiu-pangcu", maka Nyo Ko lantas bertanya.
"Apakah asalnya Cu-in Taysu she Kiu, yaitu Kiu-pangcu dari Tiat-ciang-pang dahulu?" -Ketika dilihatnya Cu-in mengangguk pelahan, lalu ia berkata pula padanya.
"Jika kegitu penguasa wanita Coat ceng-kok itu adalah adik perempuanmu."
"Benar,"
Jawab Cu in.
"apakah adik perempuanku baik2 saja?"
Nyo Ko merasa sukar untuk menjawabnya. Kaki dan tangan Kiu Jian-jio telah dibikin cacat oleh sang suami, jadi bagaimanapun tak dapat dikatakan "baik."
Melihat anak muda itu ragu2 menjawabnya, Cu-in berkata pula.
"Adik perempuanku itu suka menuruti adatnya sendiri, kalau dia mengalami sesuatu juga tidak perlu diherankan."
"Adikmu hanya cacat tangan dan kaki saja, badannya sih sehat2 saja,"
Kata Nyo Ko. Cu-in menghela napas, katanya.
"Selang sekian tahun, semua sudah tua..., biasanya dia cuma akur dengan Toako kami saja..."
Sampai disini ia lantas ter-mangu2 mengenang masa lampau It-teng Taysu tahu pikiran Cu-in belum bersih dari urusan kehidupan manusia, kalau tadi dia menyesal dan insaf adalah karena menghadapi detik antara mati dan hidup, maka pikiran jahatnya mendadak lantas Ienyap, padahal pikiran jahat dalam benaknya belum hilang sampai akarnya, kelak kalau terpengaruh lagi daya kuat dari luar mungkin penyakitnya akan kambuh lagi dan sukarlah dibayangkan apakah kelak mampu mengatasinya atau tidak.
Melihat It-teng memandangi Cu-in dengan sorot mata yang kasihan, tiba2 Nyo Ko merasa tindakannya tadi bisa jadi malah membikin urusan semakin runyam, maka ia lantas bertanya.
"Taysu, tindakanku yang bodoh tadi apakah salah, mohon Taysu memberi petunjuk."
"Hati orang sukar dijajaki, seumpama aku dihantam mati olehnya juga belum tentu dia akan sadar dan mungkin malah kejeblos lebih dalam,"
Jawab It-teng.
"Yang jelas kau telah menyelamatkan jiwaku, mana bisa salah? Sungguh aku sangat berterima kasih padamu."
Lalu dia berpaling jkepada Siao-liong-Ii dan berianya.
"Cara bagaimana nyonya ini terkena racun?"
Mendengar pertanyaan itu, seketika Nyo Ko rSeperti melihat setitik sinar harapan dalam kegelapan, cepat ia menjawab.
"Dia terluka dan waktu itu sedang berusaha dengan penyembuhan melancarkan urat nadi, tak terduga pada saat yang gawat itu mendadak terserang rahasia berbisa, Apakah Taysu sudi menaruh belas kasihan dan menolong jiwanya?"
Habis berkata tanpa terasa ia berlutut lagi di hadapan It-teng Taysu. It-teng membangunkan anak muda itu dan berkata.
"Cara bagaimana penyembuhan dengan melancarkan urat nadi itu dilakukan?"
"Dia mengerahkan tenaga dalam secara terbalik berbaring di dipan kemala dingin serta ditambah bantuanku,"
Tutur Nyo Ko serta menceritakan secara ringkas apa saja yang telah dilakukannya.
Maka pahamlah It-teng, berulang2 ia menyatakan rasa herannya, ia coba memegang nadi pergelangan tangan Siao-liong-li, lalu kelihatan sedih tanpa membeli keterangan.
Dengan ter-mangu2 Nyo Ko juga memandangi It-teng dengan penuh harapan dari mulut Hwesio agung itu akan bercetus ucapan.
"Dapat ditolong" , sedangkan pandangan Siao-liong-li terarahkan kepada Nyo Ko, sudah sejak mula tak terpikir olehnya bahwa jiwanya dapat bertahan sampai sekarang, maka ia coba menghibur Nyo Ko yang kelihatan menanggung sedih tak terkatakan itu.
"Ko-ji, hidup atau mati sudah ditakdirkan mana bisa dimohon secara paksa, untuk ini hendaklah kau dapat berpikir panjang dan jangan terlalu merisaukannya."
Baru pertama kali ini It-teng Taysu mendengar Siao-liongli buka suara, sama sekali tak terpikir olehnya bahwa perempuan muda seperti ini dapat bicara seterang itu, biasanya setiap orang pasti cemas dan sedih menghadapi persoalan mati hidup sendiri, tapi ucapan Siao-liong-li tadi se-akan2 seorang alim yang sudah tinggi ibadatnya, mati seakan2 pulang saja.
Diam2 It-teng memuji sepasang muda-mudi ini sungguh manusia luar biasa, yang lelaki sangat hebat ilmu silatnya, yang perempuan memiliki ketinggian batin yang tiada bandingannya, Cuma sayang, karena racunnya sudah merasuk terlalu dalam, aku sendiripun terluka dan tak dapat menggunakan ilmu jari sakti It-yang-ci.
Setelah berpikir sejenak, lalu ia berkata.
"Meski usia kalian berdua masih muda, tapi sudah memiliki kebatinan yang tinggi, biarlah kukatakan terus terang saja...."
Mendengar sampai di sini, hati Nyo Ko serasa tertekan, kedua tanganpun terasa dingin.
"Racun dalam tubuh nyonya memang sudah mendalam,"
Demikian It-teng menyambung.
"kalau saja aku tidak terluka, dapat kubantu menyetop bekerjanya racun dengan lt-yang ci, habis itu berusaha mencarikan obat mujarab baginya, tapi sekarang ya, untung Lwekang nyonya sudah terlatih amat tinggi, akan kuberi lagi satu biji obat ini, setelah diminum dapat di jamin selama tujuh hari tujuh malam takkan terjadi alangan apapun, Kita segera berangkat pula ke Coatceng-kok untuk mencari Suteku" .
"Benar."
Seru Nyo Ko sambil berdiri.
"Memang kepandaian mengobati keracunan rahib sakti Hindu itu maha hebat, beliau pasti mempunyai cara pengobatannya."
"Andaikan Suteku juga tidak mampu menolongnya, maka anggaplah memang sudah takdir"
Kata It-teng.
"Di dunia ini banyak anak2 yang belum lama dilahirkan sudah lantas mati pula, sedangkan nyonya sudah menikah barulah mengalami kejadian ini sehingga tidak dapat dikatakan pendek umur."
Selesai berkata, lt-teng lantas termenung karena teringat kepada anak yang dilahirkan selirnya yaitu Lau-kwi hui, hasil hubungan gelap selir itu dengan Ciu Pek-thong, akibat dendam dan cemburu dirinya dan berkeras tidak mau mengobati anak itu dengan It-yang-ci, akhirnya bocah itupun meninggal sedangkan orang yang menyerang anak itu bukan lain daripada Cu-in Hwesio ini.
Dahulu It-teng juga tidak tahu bahwa Cu-in memukul anak itu, baru diketahui setelah Kiu Jian-yim alias Cu-in itu mengangkat dia sebagai gurunya serta mengaku semua dosa yang pernah diperbuatnya.
Namun satu katapun It-teng tidak menyesali Cu-in, cuma dalam lubuk hatinya tidak urung timbul semacam perasaan bahwa nasib jelek sendiri adakah karena gara2 perbuatan Cu-in itu.
Begitulah dengan mata terbelalak Nyo Ko memandangi It-teng Taysu, pikirnya.
"Dapat tidak mengobati Liong-ji belum bisa dipastikan, tapi mengapa engkau sama sekali tidak menghibur sepatah katapun"
Dalam pada itu Siao-liong-li hanya tersenyum tawar saja dan mengiakan setiap ucapan It-teng Taysu, Tiba2 It teng mengeluarkan sebutir telur ayam dan diserahkan kepada Siao-liong-li, katanya.
"Coba katakan, ada ayam lebih dulu atau telur ada lebih dulu."
Ini memang teka-teki yang belum terpecahkan, Nyo Ko menjadi heran dalam keadaan begini si Hwesio tua ini sempat bertanya soal yang tidak penting ini.
Siao-liong-li lantas menerima telur ayam itu, ketika diperiksa ternyata bukan telur ayam biasa melainkan tiruan terbuat dari porselen, baik warna maupun besarnya serupa dengan telur asli.
Setelah berpikir sejenak Siao-liong-li lantas tahu maksud orang, katanya.
"Telur menetaskan ayam, ayam besar bertelur, kalau ada lahir tentu juga ada mati."
Segera ia pencet telur itu dan tertampaklah satu biji obat warna kuning di dalamnya mirip kuning telur.
"Lekas diminum,"
Kata lt-eng, taysu.
Tanpa pikir Siao-Hong-ii terus memasukkam obat itu ke mulut, ia tahu obat itu pasti sangat berharga.
Esok paginya hujan salju masih belum mereda.
m .Nyo Ko pikir jarak dari sini ke Coat-ceng-kok tidak dekat, meski It-teng Taysu menyatakan obatnya dapat mempertahankan jiwa Siao-liong li selama tujuh hari tujuh malam, untuk mencapai lembah itu masih harus menempuh perjalanan secepatnya baru dapat tiba tepat pada waktunya.
Maka ia lantas berkata.
"Taysu, apakah lukamu sendiri tidak beralangan?"
Sebenarnya luka It-teng cukup parah, tapi demi menolong sang Sute, Cn Cu-liu serta Siao-liong-li yang takdapat di-tunda2 lagi, segera ia menyatakan tidak beralangan dan mendahului berangkat, sekali melesat tahu2 sudah beberapa meter jauhnya Cepat Nyo Ko bertiga mengikut kencang dari belakang Setelah minum obat tadi, Siao-liong-ii merasa bagian perutnya terasa hangat, semangat terbangkit, ia melancarkan Ginkangnya dan sekaligus sudah melampaui di depan It-teng Taysu.
Cu-in terkejut, tak disangkanya bahwa nona cantik molek begini juga memiliki ilmu silat setinggi ini.
Semalam melulu menghadapi Nyo Ko saja dirinya sudah kalah, apalagi kalau perempuan muda inipun ikut maju, jelas dirinya pasti kalah terlebih cepat.
Tiba2 timbul rasa ingin menangnya, segera "tancap gas"
Dan menguber cepat ke depan.
Yang seorang adalah ahli waris Ko-bong pay dengan Ginkangnya yang tiada bandingannya di dunia ini, seorang lagi adalah jago tua yang pernah termasyhur dengan julukan "Tiat-ciang-cui-siang-hui" (telapak tangan besi mengapung di atas air) yang menggambarkan betapa hebat ilmu pukulannya seru kecepatan berlarinya.
Hanya sekejap saja kedua orang sudah saling uber menguber di kejauhan dan sejenak pula hanya tampak dua titik hitam saja di tanah salju sana.
Kuatir pikiran jahat Cu-in mendadak timbul lagi dan mencelakai Siao liong-li, cepat Nyo Ko mengejar ke sana.
Ginkangnya sebenarnya bukan tandingan kedua orang itu, tapi dia miliki tenaga dalam yang kuat, dengan sendirinya tenaga kakinya juga lain daripada yang lain, semula jaraknya dengan kedua orang itu sangat jauh, tapi setelah sekian lamanya, bayangan kedua orang di depan itu muIai nampak dan semakin jelas kelihatan.
Selagi Nyo Ko asyik mengejar, tiba2 terdengar It-teng menegur di belakang.
"Hebat benar tenaga dalammu, siapakah gurumu, bolehkah kuketahui."
Nyo Ko terkejut, dia mengejar kedua orang didepan itu tanpa menoIeh, disangkanya It-teng-sudah jauh ditinggalkan di belakang, siapa tahu tanpa besuara Hwesio tua itu tetap mengintil rapat di belakangnya.
Segera ia mengendurkan langkah dan jalan berjajar dengan paderi itu, jawabnya.
"Kepandaianku ini adalah ajaran isteriku."
"Tapi tampaknya isterimu toh tidak lebih hebat daripadamu?"
Ujar It-teng heran.
"Entah mengapa selama beberapa bulan terakhir ini tenagaku mendadak bertambah kuat luar biasa, Cayhe sendiri tidak tahu apa-sebabnya."
"Apakah kau makan suatu obat penambah tenaga? seperti Jinsom atau Lengci dan sebagainya?"
Nyo Ko. menggeleng, Tapi tiba2 teringat sesuatu olehnya, cepat katanya pula.
"Wanpwe pernah makan beberapa puluh biji buah warna merah segar, habis makan buah2an itu tenaga lantas-banyak bertambah, entah buahan itu ada sangkut-pautnya atau tidak dalam hal ini?"
"Buah merah segar? Apakah besarnya hampir sama jeruk nipis, rasanya manis dan tanpa biji?"
"Benar, buah itu memang tiada terdapat biji Wanpwe merasa heran, kalau buah tidak berbiji lalu cara bagaimana membibitnya?"
"Barimana kaudapat buah itu?"
Tanya It-teng.
"Tecu diberi oleh seekor burung rajawali raksasa,"
Jawab Nyo Ko.
"Wah, sungguh suatu penemuan yang sukar dicari. Buah merah segar itu namanya Cu-koh (buah merah), jauh lebih sukar dicari dan bernilai daripada Jinsom dan Lengci yang paling bagus. Cu-koh itu niscaya tumbuh di lereng2 gunung yang sukar di jangkau manusia, biasanya berbuah beberapa puluh tahun sekali, bisa jadi ratusan tahun juga tidak pernah berbuah sekalipun. Agaknya rajawali raksasa itu benar2 rajawali sakti."
"Ya, memang rajawali sakti!"
Tukas Nyo Ko.
iapun berpikir kalau rajawali itu dapat diminta mencarikan beberapa biji buah merah itu untuk Liong-ji, tentu akan besar manfaatnya bagi kesehatannya.
Tapi menurut keterangan Taysu ini, katanya buah merah itu bisa jadi ratusan tahun juga tidak pernah berbuah sekali, entah kesempatan mendapatkan buab merah itu kelak masih terluka atau tidak?
Begitulah sambil bicara kaki merekapun tidak lemah berhenti, beberapa lama kemudian, jarak mereka dengan Siao-liong-li dan Cu-in sudah bertambah dekat, It-teng dan Nyo Ko saling pandang dengan tersenyum.
Rupanya Ginkang mereka memang tidak sehebat Siao-liong-Ii dan Cu-in, tapi dalam hal lomba lari jarak jauh, kepastian terakhir terletak pada tenaga dalam dan bukan bergantung kepada Ginkang, Ginkang hebat tak didukung oleh tenaga dalam yang tahan lama, akhirnya pasti mengendur larinya.
Di antara kedua orang yang berlomba di bagian depan itupun ada perbedaan, Siao-Iiong-li tampak ketinggalan beberapa meter pula di belakang.
Agaknya soal kekuatan Siao-liong-li juga kalah sedikit daripada Cu in.
Tengah berlari dan setelah melintasi sebuah tanjakan, tiba2 Nyo Ko menuding ke depan dan berkata kepada It-teng.
"He, aneh, mengapa di depan sana ada tiga orang?"
Benar juga, tidak jauh di belakang Siao liong-li ternyata ada seorang pula yang ikut berlari dengan cepat.
sekilas pandang saja Nyo Ko lantas merasakan Ginkang orang ketiga ini tidak di bawah Siao-liong-li dan Cu-in, malahan orang ketiga ini tampak memanggul sesuatu benda yang amat besar, seperti sebuah peti, namun langkahnya tetap gesit dan cepat, jaraknya selalu beberapa meter saja di belakang Siao-Iiong-li.
It-teng Taysu juga heran, sama sekali di luar dugaannya bahwa di pegunungan sunyi ini ber-turut2 bertemu dengan orang kosen, semalam bertemu dengan sepasang suami isteri muda yang hebat, sekarang orang yang ikut berlari di depan itu jelas adalah seorang kakek.
Sementara itu Siao-liong-li yang ketinggalan di belakang Cu-in itu semakin menjauh jaraknya, ketika didengarnya di belakang ada suara langkah orang, disangkanya Nyo Ko yang telah menyusul tiba, maka ia lantas berkata.
"Ko-ji, Ginkang Toa-hwesio ini teramat hebat, aku tidak sanggup menandingi dia, coba saja kan menyusulnya."
Tiba2 orang di belakangnya itu tertawa dan berkata.
"Silakan kau mengaso dahulu di atas petiku ini, setelah tenagamu pulih, tentu kau akan melampaui Hwesio itu,"
Merasa suara orang bukan Nyo Ko, cepat Siao liong-li mcnoleh, dilihatnya seorang tua berjenggot dan berambut putih, siapa lagi kalau bukan Lo-wan-tong Ciu Pek-thong, si Anak Tua Nakal, Dengan tertawa simpatik orang tua itu sambil menunjuk peti yang dipangguInya itu "Sini, mari sini, naik ke atas peti ini!"
Peti itu adalah barang Tiong-yang-kiong, mungkin tempat menyimpan kitab Coan-cin-kau, untuk menyelamatkannya dari amukan api, maka Ciu Pek thong telah menggondolnya lari.
Selagi Siao-liong-li tersenyum dan belum menjawab atas tawaran orang tua itu, mendadak Ciu pek thong menyelinap maju ke depan Siaoliong-li, sekali tangannya menolak pinggang si nona dengan enteng, Siao-liong-li di dukungnya ke atas peti yang di pangguInya itu.
Gerakannya sangat cepat, caranya aneh pula, sebelum Siao-liong-ii menghindar atau menolak, tahu2 ia sudah diangkat ke atas peti.
Mau-tak mau Siao-liong-li memuji betapa hebat ilmu silat Coan-cin-pay yang memang mempunyai keunggulan sendiri itu, bahwa para Tosu di Tiong-yang kiong itu tidak mampu menandingi dirinya hanya karena mereka belum menguasai sampai puncaknya ilmu silat perguruan mereka.
Sementara itu Nyo Ko dan It-teng juga sudah mengenali Ciu Pek-thong adanya.
Hanya Cu-in saja yang kuatir disusul Siao-liong-li, ia masih ngebut ke depan tanpa menyadari di belakangnya telah bertambah seorang lagi.
Dengan langkah cepat dan mantap Ciu Pek-thong terus mengintil di belakang Cu-in, dengan suara tertahan ia membisiki Siao-Iiong-li.
"Sebentar lagi langkahnya pasti akan lamban."
"Dari mana kau tahu?"
Tanya Siao-Iong-li dengan tertawa.
"Aku pernah berlomba lari dengan dia, dari Tionggoan kami udak mengudak sampai di wilayah barat dan dari sana memutar balik lagi ke Tionggoan, berpuluh ribu li kami telah berlari, tentu saja kutahu kemampuannya,"
Tutur Ciu Pek-thong dengan tersenyum. Duduk diatas peti itu, Siao-liong-li merasa sangat anteng dan setabil melebihi naik kuda, dengan suara pelahan ia tanya dengan tertawa.
"Lo-wan-tong, untuk apa kau membantu aku?"
"Siapa yang tidak suka membantu nona cantik seperti kau ini, kaupun tidak nakal dan centil seperti si Ui Yong,"
Jawab Ciu Pek thong.
"Malahan kaupun tidak pernah marah biarpun aku telah mencuri madumu."
Begitulah mereka berlari dengan Siao-liong-li membonceng di panggul Ciu Pek-thong, benar juga, tidak lama kemudian lambat laun langkah Cu-in mulai mengendur.
Pada saat itulah Ciu Pek-thong lantas berkata.
"Pergilah!" -Berbareng pundaknya terus menyembul dan tubuuh Siao-liong-li lantas melayang jauh ke depan. Karena cukup istirahat begitu mulai lari lagi, hanya sejenak saja Siao-liong-li sudah dapat melampaui Cu-in, setelah itu ia sengaja menoleh dan tersenyum. Keruan Cu-in terkejut, lekas2 ia "tancap gas"
Pula dan ngebut sekuatnya.
Namun Ginkang kedua orang memangnya selisih tidak jauh, kini yang seorang sudah cukup beristirahat, yang lain sejak tadi ber-lari2 tanpa berhenti, maka jarak kedua orang makin lama makin menyolok dan sukar lagi bagi Cu-in untuk menyusuInya.
Selama ini Cu-in sangat bangga akan dua macam kepandaiannya yang khas dan merasa tiada tandingannya di dunia ini, tapi dalam sehari semalam saja ilmu pukulannya telah dikalahkan Nyo Ko, kini Ginkangnya dikalahkan pula oleh Siao-liong-li, seketika ia lantas lesu dan patah semangat, kedua kakinya terasa lemas se-akan2 tidak mau menurut perintah lagi Diam2 ia berkuatir apakah ajalnya sudah dekat sehingga nona jelita begitu saja mampu menyusulnya?
Semalam napsu jahatnya memuncak dan melukai sang guru, sehabis itu hatinya tidak tenteram, kini dia tak sanggup lagi menyusul Siao-liong-li meski sudah mengerahkan segenap tenaganya, keruan pikirannya semakin kacau dan merasa segala urusan di dunia ini sama sekali sukar dibayangkan.
Kejadian Ciu Pek-thong membantu Siao-liong-li itu dapat dilihat dengan jelas oleh Nyo Ko yang mengintil di belakang, ia tertarik juga oleh perbuatan jahil si Anak Tua Nakal, segera ia percepat pula langkahnya mendekati Ciu Pek-thong serta menegur dengan tertawa.
"Terima kasih banyak2, Ciu-locianpwe"
"Sudah lama sekali aku tidak berjumpa dengan si tua Kiu Jian-yim ini, mengapa semakin tua semakin konyol sehingga akhirnya cukur rambutnya hingga kelimis dan menjadi Hwesio."
"Dia telah mengangkat It-teng Taysu sebagai guru, masakah engkau tidak tahu?" , tutur Nyo Ko sambil menuding ke belakang. Ciu Pek-thong terkejut, serunya.
"He, apakah Toan-hongya juga datang?"
Waktu ia menoleh dan melihat bayangan It-teng, cepat ia berseru pula.
"Wah, tidak enak, paling selamat angkat langkah seribu saja. Habis ini mendadak ia berlari menjurus ke samping terus menyusup ke dalam pepohonan yang rimbun. Nyo Ko sendiri tidak tahu apa itu "
Toan Hongya (raja she Toan) yang diucap Ciu Pek-thong itu, dilihatnya dalam sekejap saja Anak Tua Nakal itu sudah menghilang tanpa bekas, diam-diam ia merasa tindak tanduk orang tua itu sungguh aneh dan jarang ada bandingannya.
Melihat Ciu Pek thong telah kabur menjauhi dirinya, It teng lantas mendekati Nyo Ko, dilihatnya Cu-in lesu dan Iemas, sikapnya semula yang bersemangat dan tangkas mendadak hilang dan entah ke mana, maka dengan suara halus ia coba menghiburnya.
"Masakah jalan pikiranmu masih belum terbuka menghadapi soal kalah dan menang begini?"
Cu-in melenggong bingung. It-teng berkata puIa.
"Setiap kehendak tentu ada kelemahannya dengan kepandaianmu yang tinggi, kalau saja engkau tidak berkeras ingin menang, masakah kau tidak mengetahui bahwa di belakangmu telah bertambah seorang penguntit?"
Sampai di sini, tiba2 terdengar Siao-Iiong-Ii berseru di depan sana .
He, lekas kemari, lihatlah ini..
Cepat Nyo Ko bertiga menyusul kesana, tertampak Siao-liong-li menunjuk pada sebatang pohon, kulit batang pohon itu terkupas, sebagian terlukis sebuah ujung panah yang mengarah ke utara, di bawah panah ada tisi kan beberapa huruf kecil yang berbunyi.
"Arah ke Coat-ceng-kok."
Huruf2 itu dicocok dengan jarum dan bersemu ke-hitam2an. Agaknya huruf2 ini dicocok dengan jarum berbisa Li Bok-chiu,"
Kata Nyo Ko.
"Benar,"
Jawab Siao-Iiong-li.
"Tapi Suciku selamanya tidak pernah ke Coat-ceng-kok, dia tidak mengenal jalanan ke sana."
Nyo Ko termenung sejenak, lalu berkata pula.
"Kwe-hujin dan nona Kwo masih menyimpan Pek-pok-gin-ciam bekas milik Li Bok-chiu. Paman Bu tahu jalanan ke Coat-ceng-kok, mungkin tulisan ini dibuat oleh rombongan mereka."
"Untuk ditujukan kepada siapa petunjuk ini?"
Tanya Siao Iiong-li.
"Muridku she Cu itu banyak tipu akalnya, dia terkurung di sana dan sempat mengirim berita mohon bantuan padaku, bisa jadi Sam-thong juga mengetahui aku akan datang ke sini,"
Kata It-teng Taysu.
Begitulah mereka berempat lantas mempercepat perjalanan mereka, lima hari pertama mereka dapat berjalan dengan cepat, tapi pagi hati keenam luka It-teng tenyata bertambah parah dan mulai tidak tahan berjalan..
Segera Cu-in berjongkok dan memaksa menggendong It-teng Taysu, dengan begitu mereka melanjutkan perjalanan tanpa terhenti Lewat lohor, sampailah rombongan mereka di mulut lembah Coat ceng kok itu.
"Apakah kita perlu memberitahukan kedatangan kita agar adikmu menyambut kedatangan Taysu,"
Tanya Nyo Ko kepada Cu-in.
Belum lagi Cu-in menjawab tiba2 terdengar di tengah lembah sana sayup2 ada suara beradunya senjata.
Kuatir akan keselamatan adik perempuan nya itu yang mungkin sudah bergebrak dengan Bu Sam-thong dan lain2, cepat Cu-in berkata.
Marilah kita masuk saja langsung ke sana untuk mencegah pertarungan mereka.
Be-ramai2 mereka lantas berlari ke arah datangnya suara itu.
Sesudah dekat, terlihat beberapa orang berseragam hijau dengan senjata terhunus sedang berjaga di luar semak2 pohon sana dan suara beradunya senjata berkumandang dari dalam pepohonan yang rimbun itu, sedangkan orang2 yang bertempur tidak kelihatan sama sekali.
Melihat kedatangan musuh lagi, orang2 berbaju bijau itu.
berteriak-teriak sambil menyingkir ke sayap kanan dan kiri dengan maksud hendak mendesak musuh ke tengah pepohonan.
Tapi sesudah berhadapan, mereka mengenali Siao-liong-li dan Nyo Ko, serentak mereka merandek dengan melenggong.
Salah seorang yang menjadi kepala rombongan orang2 berbaju hijau itu lantas menegur Nyo Ko.
"Cubo (majikan perempuan -Cukong majikan Ielaki) menugaskan Nyo-kongcu ke Siangyang, apakah tugas itu sudah berhasil dengan baik?"
Sudah tentu tugas yang dimaksudkan itu adalah membunuh Kwe Cing dan Ui Yong, Nyo Ko tidak menjawab sebaliknya malah bertanya.
"Siapa yang sedang bertempur itu?"
Orang itu tidak menjawab, tapi melirik dengan sangsi, karena tidak tahu kedatangan Nyo Ko ini adalah kawan atau lawan.
"Kedatanganku ini tidak bermaksud buruk,"
Jawab Nyo Ko tersenyum.
"apakah Kongsun-hujin baik2 saja, begitu pula nona Kongsun?"
Hilanglah rasa waswas orang berbaju hijau itu mendengar jawaban Nyo Ko itu, katanya kemudian.
"Terima kasih, Cubo dan nona baik2 semuanya."
Cu-in bergirang mendengar adik perempuannnya baik2 saja. Orang berbaju hijau tadi bertanya pula.
"Dan siapakah kedua Toa-hwesio ini? Apakah sehaluan dengan keempat perempuan di dalam hutan itu? "
Keempat perempuan? siapakah mereka?"
Tanya Nyo Ko....
"Keempat perempuan itu telah menyerbu dalam doa jurusan, Cubo memberi perintah agar mereka diusir, tapi mereka membangkang dan sekarang telah dipancing ke dalam lingkaran bunga cinta, di luar dugaan, begitu keempat perempuan itu saling, bertemu, mereka lantas saling labrak malah,"
Demikian keterangan orang itu.
Nyo Ko terkejut mendengar keempat perempuaa itu terkurung di tengah lingkaran bunga cinta, seketika iapun tidak tahu siapakah keempat perempuan yang dikatakan itu.
Kalau Ui Yong, Kwe Hu, Wanyan Peng dan Yalu Yan, mengapa mereka berempat saling labrak?
Karena itulah ia lantas berkata.
"Jika tidak keberatan, tolong, perlihatkan padaku, kalau kukenal mereka, boleh jadi dapat kulerai mereka untuk ber-sama2 menghadap Kokcu."
Orang berbaju hijau itu yakin keempat perempuan yang sudah terkurung di tengah tetumbuhan bunga cinta itu pasti sukar meloloskan diri, maka ia tak menolak permintaan Nyo Ko, segera ia membawa Nyo Ko berempat ke dalam hutan, Maka tertampaklah di suatu tanah yang rendah yang penuh dilingkari bunga2 yang indah permai ada empat perempuan yang terbagi dalam dua partai sedang bertempur dengan sengit.
Menyaksikan keadaan pertarungan keempat orang itu, serentak Nyo Ko dan Siao-liong-li terkejut bahkan Siao-liong-li sampai berseru kuatif.
Kiranya tempat di mana keempat perempuan itu bertempur adalah sebuah tanah rumput seluas tiga empat meter persegi yang sekitarnya penuh dipagari bunga cinta yang berduri itu, pagar bunga cinta yang mengitari tanah rumput dibagian tengah itu rata2 melebar sampai belasan meter jauhnya, biarpun orang yang memiliki Ginkang maha tinggal dunia ini juga tidak mampu ke luar dari pagar bunga cinta itu dengan sekali lompat, bahkan dua kali lompatan juga sukar.
It-teng Taysu dan Cu-in tidak begitu heran menyaksikan keadaan itu karena mereka tidak tahu betapa lihaynya bunga cinta itu, tapi Nyo Ko dan Siao-liong-li sudah merasakan siksaan bunga itu, maka begitu melihat mereka lantas berkuatir bagi keempat perempuan itu.
"Kiranya Suci adanya,"
Kata Siao-liong-li kemudian.
"Dia datang terlebih dulu dari pada kita"
Kiranya dua di antara keempat perempuan itu memang Li Bok-chiu dan muridnya, yaitu Ang Leng-po.
Mereka sama2 bersenjatakan pedang, mungkin setelah kebutnya patah di dalam kuburan kuno Li Bok-chiu belum sempat membuat kebut baru, sedangkan ke dua perempuan yang menjadi lawan mereka masing2 menggunakan senjata Liu yap-to (golok panjang.
sempit) dan seorang lagi memegang sebangsa seruling, potongan tubuh keduanya sama2 langsing, langkah mereka cepat dan gesit, tampaknya ilmu silat mereka juga tidak lemah walaupun jelas bukan tandingan Li Bok-chiu.
"Kiranya kedua saudara misan inilah,"
Demikianlah Nyo Ko membatin setelah mengenali kedua orang yang bukan lain daripada Thia Eng dan Liok Bu-siang.
Bertempur di tengah arena yang cuma tiga-empat meter luasnya memerlukan kecermatan yang luar biasa, sedikitpun tidak boleh salah langkah, dengan demikian bagi yang lemah ilmu silatnya menjadi rada kerepotan.
Untungnya Li Bok-chiu kurang leluasa menggunakan pedangnya yang bukan senjatanya se-hari2, sedangkan Thia Eng sejak mendapatkan didikan langsung dari Ui Yok-su, sebagian kepandaiannya yang bagus itu juga telah diajarkan kepada Liok Bu-siang, selama beberapa bulan ini mereka sudah maju pesat, ditambah lagi Ang Leng-po merasa kasihan pada Bu-siang yang pernah belajar bersama di bawah pimpinan Li Bok-chiu, ia tidak tega melancarkan serangan maut, karena itulah Bu-siang dan Thia Eng masih sanggup bertahan meski keadaan mereka sudah mulai payah.
"Tanpa sebab apa2 mengapa mereka berempat bisa menerobos ke tengah pagar bunga cinta itu dan bertempur di situ?"
Tanya Nyo Ko kepada orang berbaju hijau. Orang itu sangat bangga dan bercerita dengan pongahnya.
"lnilah perangkap rahasia yang diatur oleh Kongsun-kokcu, sekali mata2 musuh menyusup ke tengah pagar bunga cinta itu, begitu kami tutup jalan masuknya, maka semua jalan menjadi buntu dan tak mungkin bisa keluar lagi."
"Apakah mereka sudah terkena racun bunga cinta itu?"
Tanya Nyo Ko kuatir.
"Seumpama belum kena, kukira cuma soal waktu saja, sebentar lagi,"
Kata orang itu, Nyo Ko menjadi heran cara bagaimana orang2 ini mampu memancing atau memaksa Li Bok-chiu ke dalam pagar bunga cinta itu.
Akhirnya ia ingat, pasti orang2 berbaju hijau ini telah menggunakan barisan berpisau yang lihay itu.
ia menjadi kuatir kalau Thia Eng dan Bu-siang juga kena racun bunga cinta, maka di dunia ini tiada obat lagi yang dapat menyembuhkan mereka.
Dengan suara lantang ia lantas berseru.
"Thia-cici dan Liok-cici, ini-ku diriku Nyo Ko berada di sini. Kalian harus hati2 terhadap bunga2 berduri di sekitar kalian itu, tidak kepalang lihaynya racun bunga itu, awas jangan sampai tertusuk !"
Li Bok-chiu yang cerdik itu sejak mula sudah menduga pasti ada sesuatu pada bunga cinta itu, kalau musuh mengurung mereka dengan tumbuh2an berduri itu tentu ada sebabnya, maka diam2 ia teIah membisiki Ang Leng--po agar ber-hati2 dan sebisanya menjauhi bunga berduri itu.
Thia Eng dan Liok Bu siang juga bukan nona bodoh, tentu saja merekapun melihat keadaan yang tidak beres itu, sebab itulah mereka bertempur dengan waspada dan menghindari sentuhan pada tetumbuhan itu.
Kini demi mendengar peringatan Nyo Ko, di antara keempit orang itu dua orang merasa terkejut dan dua orang bergirang, tapi merekapun bertambah was-was terhadap tetumbuhan di sekitar mereka itu, pertarungan merekapun bertambah sengit mencari selamat sendiri.
Bahwasanya Thia Eng din Liok Bu-siang bertempur demi menuntut balas kematian keluarga mereka, maka mereka sudah tidak memikirkan kelamaan sendiri asalkan dapat membinasakan musuh.
sebaliknya Li Bok-chiu berhasrat harus membunuh kedua "nona"
Itu agar dapat digunakan sebagai batu loncatan untuk melompat dari kepungan pagar bunga cinta itu.
Kedatangan Siao liong-li dan Nyo Ko sebenarnya telah membikin Li Bok-chiu menjadi kuatir, untunglah mereka teralang oleh pagar bunga cinta dan tidak dapat memberi bantuan.
Segera ia membentak.
"Leng-po, lekas menyerang jika kau tidak ingin lekas mati di sini"
Sejak kecil Ang-Leng-po sangat takut kepada sang guru, cepat ia mengiakan dan pedangnya lantas menusuk ke arah Thia Eng.
Tekanan kepada Liok Bu-siang menjadi kendur, tapi Thia Eng lantas terancam bahaya.
Ketika Thia Eng angkat serulingnya menangkis serangan Ang Leng po dari belakang itu, mendadak secepat kilat pedang Li Bok-chiu juga menyerang ke tenggorokannya.
Dengan sendirinya Bu-sing tidak tinggal diam, segera goloknya menangkis.
Namun Li Bok-chiu telah angkat pedangnya berbareng sebelah kakinya kena memegang pergelangan tangan Bu-siang sehingga goloknya terlepas dari pegangan dan jatuh ke tengah bunga cinta.
Menyusul itu pedang Li Bok Chiu bergerak pula, ber-turut2 dia, menusuk tiga kali sehingga Thia Eng tidak mampu menangkisnya dan terpaksa mundur ke belakang, kalau dia mundur lagi selangkah tentu akan menginjak bunga berduri itu.
"Awas, Eng-ci, jangan mundur lagi!"
Seru Bu-siang kuatir.
"Tidak mundur boleh maju saja!."
Jengek Li Bok-cniu sambil melangkah mundur satu tindak. Thia Eng tahu, orang pasti tidak bermaksud baik, tapi tempat berdirinya itu memang sangat berbahaya, maka tanpa pikir ia lantas melangkah maju.
"Hm, berani amat kau !"
Jengek Li Bok-chiu pula, pedangnya bergerak, serentak sinar pedangnya mengurung rapat tubuh Thia Eng bagian atas.
Dari jauh Nyo Ko dapat menyaksikan permainan ilmu pedang Li Bok chiu yang lihay itu, kalau tidak memaharai gaya serangan itu, kebanyakan orang tentu akan berusaha melindungi tubuh sendiri bagian atas, karena itu bagian perut menjadi tak terjaga dan pasti akan terserang.
Tanpa ayal lagi Nyo Ko-lantas pungut sepotong batu kecil dan mendadak diselentikkan.
Begitu cepat batu itu meluncur ke depan mengarah Li Bokchiu yang tinggal satunya itu.
Pada saat itu pula ujung pedang Li Bok-chiu juga sedang menyerang bagian perut Thia Eng.
Ketika tiba2 mendapat serangan batu, kalau serangan pada Thia Eng diteruskan dan dapat membinasakan gadis itu, namun mata sendiri juga sukar diselamatkan Terpaksa ia menarik kembali pedangnya untuk menyampuk batu itu.
"trang" , batu itu tersampuk jauh. Sambitan batu Nyo Ko itu adalah ilmu jari sakti ajaran Ui Yok-su, cuma belum sempurna dilatihnya, maka dia hanya dapat menggunakannya untuk menggertak musuh dan menolong teman, Untung sejak sebelah mata Li Bok-chiu buta, sisa mata satu2nya itu selalu dijaganya dengan baik, kalau tidak mungkin dia berani mengambil risiko membinasakan Thia Eeng lebih dulu, habis itu baru berusaha menundukkan kepala untuk menghindari sambitan batu. Kalau serangan itu dilakukan oleh Ui Yok-su tentu batu itu akan menggetar jatuh pedang Li Bok-chiu atau sedikitnya membuat pedang itu terpental walaupun tidak sehebat Ui Yok-su, namun sedikit-ilmu ajarannya itu juga telah berhasil menyelamatkan jiwa murid kesayangannya. Setelah lolos dari renggutan sang maut, wajah Thia Eng yang memang putih itu menjadi semakin pucat, Melihat itu, segera Li Bok-chiu membentak.
"Awas, datang lagi!"
Pedangnya bergerak, serangan seperti tadi kembali dilancarkan pula.
Thia Eng sudah mendapatkan pengalaman tadi dan ia tahu sasaran musuh adalah bagian perutnya, maka serulingnya lebih diutarnakan melindungi bagian tubuh tersebut.
Di luar dugaan, serangan Li Bok-chiu ternyata beraneka macam perubahannya ujung pedangnya benar2 menusuk pula ke perut Thia Eng, tapi berbareng iapun menubruk maju, jarinya berhasil menutuk "Giok-tong-hiat"
Di dada nona itu, ketika Thia Eng melenggong, segera kaki Li Bok chiu menyapu pula hingga Liok Bu-siang didepak jatuh, menyusul ujung kakinya menendang pula Hiat-to di bagian dengkul Thia Eng.
Beberapa gerakan itu berlangsung dengan cepat luar biasa, dalam sekajap saja Thia Eng dan Liok Bu-siang kena dirobohkan semua, meski Nyo Ko hendak menolongnya juga tidak keburu lagi.
"Suhu!"
Seru Ang Leng-po kuatir. Tapi Li Bok-chiu lantas cengkeram punggung Thia Eng dan di lempar kesana menyusut Bu siang juga dilemparkannya sambil berkata.
"Leng-po, cepat lompat keluar dengan menginjak tubuh mereka berdua...."
Belum habis ucapannya, mendadak Nyo Ko melompat maju dan sempat menangkap tubuh Thia Eng sebelum nona itu terjatuh ke tengah bunga cinta ".
Habis itu lantas melompat maju lagi.
Meski Hiat-to bagian dada dan kaki tertutuk, tapi kedua tangan Thia Eng masih dapat bergerak, segera ia merangkul Liok Bu-siang yang saat itu sedang melayang ke arahnya itu sambil berseru.
"Nyo-toako, engkau..."
Seketika darah bergolak dalam dalam dadanya, memangnya dia sudah jatuh cinta pada Nyo Ko, kini pemuda itu menerjang ke tengah bunga cinta itu untuk menoIongnya tanpa memikirkan keselamatan sendiri, sungguh ia menjadi sangat terharu dan terima kasih tak terhingga.
Rupanya waktu melihat Thia Eng dan Liok Busiang dilemparkan Li Bok-chiu ke tengah semak2 bunga cinta, semula Nyo Ko dapat meraba maksud keji Li Bok-chiu yang hendak menggunakan kedua nona itu sebagai batu loncatan untuk keluar dari kepungan pagar bunga cinta itu, maka tanpa pikir ia terus menerjang maju untuk menolong kedua nona itu.
Setelah berhasil menangkap tubuh kedua orang itu, cepat ia melompat mundur menurunkan mereka.
Kaki Thia Eng tertutuk sehingga tidak dapat berdiri, cepat Siao-liong-li membukakan Hiat-to yang tertutuk itu....Ketiga nona sama memandangi Nyo Ko, tertampak kaki celananya sudah robek terkena duri, kakinya juga berlumuran darah, entah berapa banyak duri bunga berbisa itu telah melukainya.
Thia Eng mengembeng air mata dan tidak sanggup membuka suara, Liok Bu-siang juga cemas dan berkata.
"Mestinya engkau.... tidak perlu menolong diriku mengapa... mengapa engkau bertindak begini ?"
Dengan tertawa Nyo Ko menjawab "memangnya aku sudah terkena racun bunga itu" , kalau tercocok lagi duri bunga itu juga tidak ada bedanya."
Sudah tentu semua orang tahu banyak dan sedikit terkena racun bunga itu besar perbedaannya. Ucapannya itu jelas hanya untuk menghibur ketiga nona ini saja. Tiba2 Liok Bu-siang-berseru pula.
"He, Tolol, ken... kenapa lengan kananmu? Mengapa buntung?"
Siao-liong-li tidak kenal Thia Eng dan Bu-siang, tapi melihat mereka cantik manis, dalam hatinya sudah timbul rasa suka, apalagi melihat mereka sangat memperhatikan Nyo Ko, sekejap saja ia sudah anggap mereka sebagai teman karib.
Dengan tersenyum ia lantas bertanya.
"Mengapa engkau memanggilnya tolol? sama sekali dia tidaklah tolol"
"Ah, maaf, karena sudah terbiasa memanggilnya begitu, seketika aku lupa,"
Jawab Bu-siang ia saling pandang sekejap dengan Thia Eng, lalu bertanya.
"Cici ini apakah..."
"lalah...."
Belum selesai Nyo Ko menerangkan cepat Thia Eng menyambung.
"Tentunya Siao-liong-li cianpwe bukan?"
"Ya, memang sudah kuduga, sungguh cantik laksana bidadari,"
Demikian Bu-siang menambahi.
Rasa cemburu pasti ada pada setiap orang, apalagi perempuan Dahulu, ketika melihat Nyo Ko sangat mencintai Siao-liong-li, betapapun timbul rasai cemburu dalam hati Thia Eng dan Bu-siang, tapi sekarang setelah bertemu, makin dipandang makia terasa Siao-liong-li memang cantik molek dan sederhana, lain daripada yang lain tanpa terasa timbul pikiran rendah dirinya, keduanya sama membatin.
"Memang diriku tak dapat dibandingkan dia."
Bu siang yang berwatak tidak sabaran itu segera bertanya pula.
"He, Nyo-toako, sebab apakah lenganmu itu terkutung? Apalah lukanya sudah sembuh?"
"Sudah lama sembuh.
"jawab Nyo Ko.
"Putus karena dikutungkan orang."
"Keparat!"
Omel Bu-siang.
"Bangsat manakah yang pantas mampus itu? Tentu dia menggunakan akal licik dan keji, bukan?, Apakah perbuatan iblis perempuan yang jahat itu?"
Tiba2 suara seseorang mendengus di belakangnya.
"Hm, apakah tidak rendah caramu memaki di luar tahu orangnya?"
Bu-siang dan Thia Eng terkejut, cepat mereka berpaling, terlihatlah yang bicara itu adalah seorang nona cantik, siapa lagi kalau bukan Kwe Hu.
Dengan tangan memegang garan pedang air muka Kwe Hu tampak marah, di sebelahnya berdiri pula beberapa orang, baik lelaki maupun perempuan.
Dengan heran Bu-siang lantas menjawab.
"He, kan bukan kau yang kumaki, yang kumaki adalah bangsat keparat yg membuntungi lengan Nyo-toako."
"Sret", mendadak Kwe Hu melolos pedangnya sebagian dan berkata pula dengan gusar.
"Akulah yang mengutungkan lengannya. Aku sudah minta maaf padanya, akupun sudnh kenyang didamperat ayah ibuku, tapi kalian masih memaki aku secara keji di belakangku..."
Sampai di sini matanya menjadi memberambang merah penuh rasa penasaran Kiranya rombongan Bu Sam-thong, Kwe Hu, Yalu Ce dan kedua saudara Bu kemudian bergabung kembali dengan Ui Yong serta Wanyan Peng dan Yalu Yan, lalu mereka lantas menuju ke Coat-ceng-j kok, karena Bu Sam-thong sudah tahu jalannya maka rombongan mereka tiba lebih dini setengah hari daripada rombongan It-teng dan Nyo Ko, cuma rombongan Ui Yong lebih dulu berusaha mencari paderi Hindu dan Cu Cu-Iiu, tapi tidak ketemu, maka banyak waktu yang terbuang secara sia2.
Mengenai beradanya Li Bok-chiu dan Ang Leng-po di Coat-ceng-kok, begitu pula Thia Eng dan Liok Bu-siang, keadaan mereka sebaliknya ber-beda2.
Li Bok-chiu berdua datang ke situ tanpa sengaja karena mereka mengikuti tanda2 petunjuk jalan yang ditinggalkan Bu Sam-thong, sedangkan kedatangan Thia Eng berdua adalah karena terpancing oleh kejahilan Ciu Pek-thong.
BegituIah Ui Yong, Bu Sam-thong dan lain2 lantas memberi hormat kepada It-teng Taysu, lalu diperkenalkan pula kepada lain2nya.
Thia Eng belum pernah bertemu dengan kakak seperguruannya seperti Ui Yong ini, namun namanya sudah lama didengarnya serta dikaguminya, maka dengan sangat hormat ia lantas menyembah kepada Ui Yong sambil memanggil "Suci!"
Dari Nyo Ko memang Ui Yong sudah mendengar bahwa akhir2 ini ayahnya telah menerima lagi seorang murid perempuan, kini melihat sang Sumoay ini cukup cantik, ia menjadi menyukainya dan bertanya tentang keadaan ayahnya.
Sementara itu beberapa orang berbaju hijau tadi lantas kabur melaporkan kedatangan musuh itu kepada Kiu Jian-jio.
Kwe Hu dan Liok Bu-siang masih saling melotot, meski tidak berkelahi, tapi sama2 merasa benci.
Apa lagi dari ibunya Kwe Hu disuruh memberi hormat serta memanggil "Susiok"
Kepada Thia Eng, tentu saja ia kurang senang, suara panggilan nya juga sangat kaku.
Sedang Nyo Ko dan Siaoliong-li bergandengan tangan berdiri rada jauh, melihat Kwe Yang dalam pondongan Siao-liong-li itu, ia lantas berkata.
"Liong-ji kembalikan saja, anak ini pada ibunya."
Siao-liong li setuju, ia menciumi dulu pipi mungil anak bayi itu, lalu mendekati Ui Yong dan berkatal "Kwe hujin, terimalah anakmu ini."
Dengan girang Ui Yong menerimanya. Sejak dilahirkan baru sekarang Kwe Yang berada dalam pangkuan sang ibu, sungguh rasa girang Ui Yong sukar dilukiskan.
"Nona Kwe,"
Dengan suara lantang Nyo Ko berkata kepada Kwe Hu.
"itu dia, adikmu dalam keadaan sehat walafiat tanpa kurang, sesuatu apapun sama sekali aku tidak menggunakannya untuk menukar obat bagiku."
"lbuku datang dengan sendirinya kau tidak berani,"
Jawab Kwe Hu dengan gusar.
"Kalau kau tidak bermaksud begitu, untuk apa kau membawa lari adikku ke sini?"
Kalau menurut watak Nyo Ko biasanya tentu kontan dia balas mengejeknya, tapi beberapa bulan terakhir ini dia telah banyak mengalami gemblengan lahir batin, pertengkaran mulut begitu, sudah tidak menarik baginya, maka ia hanya tersenyum tawar saja, lalu menyingkir dengan menggandeng tangan Siao-Iiong li.
Bu-siang memandang sekejap kearah Kwe Yang lalu berkata kepada Thia Eng.
"inilah puteri bungsu Sucimu? Semoga setelah dia besar kelak tidak terlalu galak dan warok!"
Sudah tentu Kwe Hu dapat merasakan ucapan yang menyindirnya itu, segera ia menanggapi.
"Adik-ku akan galak dan warok atau tidak, sangkut paut apa dengan kau? Apa maksud ucapanmu ini?"
"Aku tidak bicara dengan kau,"
Jawab Bu-siang.
"Orang jahat dan galak, setiap orang di dunia ini boleh ikut urus, mengapa tiada sangkut paut denganku."
Jiwa Bu-siang pernah diselamatkan Nyo Ko dalam lubuk hati nona itu hanya anak muda itulah yang selalu dipikirkan olehnya, misalnya waktu sama2 terancam bahaya, Bu-siang rela menyerahkan setengah potong saputangan wasiat kepadanya, itulah pertanda dia rela mengorbankan jiwa sendiri, demi keselamatan Nyo Ko.
Kini mendengar anak muda itu dikutungi oleh Kwe Hu, tentu saja ia ikut sakit hati dan gusar pula.
Wataknya memang tidak sabaran seperti Thia Eng, meski di depan orang banyak iapun tidak dapat menahan perasaannya itu.
Begitulah dengan murka Kwe Hu lantas balas mendamprat.
"Keparat! Kau perempuan pincang..."
"Hu-ji! jangan kurang ajar!"
Bentak Ui Yong cepat.
Pada saat itulah tiba2 terdengar suara orang menjerit di sebelah sana, semua orang lantas memandang ke sana, tertampaklah di tengah lingkaran semak2 bunga cinta itu Li Bok-chiu mengangkat tubuh Ang Leng-po, jeritan itu adalah suara Ang Leng-po yang ketakutan itu.
Rupanya It-teng, Ui Yong, Thia Eng dan lain2 asyik bercengkerama sehingga melupakan Li Bok-chiu dan muridnya itu.
"Celaka, Suhu hendak menggunakan Suci sebagai batu loncatan!"
Seru Bu-siang kuatir.
Sejak kecil dia tinggal bersama Li Bokchiu, maka ia cukup kenal watak sang guru yang keji dan ganas itu, Biarpun Ang Leng-po merupakan jatuhnya orang yang paling dekat dengan dia, tapi kalau terancam bahaya, sang guru itu tidak segan2 menerbitkan jiwa muridnya demi keselamatannya sendiri Selagi semua crang melengak kaget, tertampak Li Bok-chiu sedang melemparkan Ang Leng-po ke semak2 bunga cinta yang berduri itu, menyusul ia sendiri lantas melompat ke sana, sekali kakinya menutul tubuh Leng-po.
serentak dia melompat pula sekuatnya ke depan sambil tangan menarik Ang Leng-po dan dilemparkan lagi, lalu digunakan lagi sebagai batu loncatan, dengan begitu tiga kali lompatan saja dia akan dapat keluar dari kurungan semak2 bunga itu.
Dia juga kuatir akan dicegat Ui Yong dan rornbongannya, maka arah yang dia ambil adalah berlawanan dengan tempat berdiri rombongan Ui Yong itu.
Di luar dugaan, ketika untuk kedua kalinya dia hendak melompat lagi ke depan, mendadak Ang Leng-po berteriak keras2 dan ikut melompat juga ke atas terus merangkul erat2 paha kiri Li Bok-chiu seketika tubuh Li Bok-chiu tertarik ke bawah, dalam keadaan terapung tiada jalan lain bagi Li Bok-chiu kecuali mengayun kakinya yang lain.
"bluk" , dengan keras dada Ang Lengpo tertendang isi perutnya tergetar hancur dan binasa seketika. Namun begitu tangan Ang Leng-po masih merangkul se-kencang2nya sehingga kedua orang sama terbanting jatuh ke semak2 bunga, walaupun tempatnya hanya dua-tiga kaki saja dari tepi semak2 namun selisih jarak sekian itu pun telah membikin Li Bok-chiu ikut merasakan siksaan be-ribu2 duri bunga yang berbisa itu. Perubahan itu mula2 sama sekali tak terduga oleh siapapun dan berakhir secara mengerikan pula, semua orang menyaksikan dengan melongo dan berdebar. Dalam pada itu Li Bok-chiu telah berjongkok dan mementang tangan Ang Leng-po yang masih merangkul erat pada kakinya itu, dilihatnya muridnya itu sudah mati, namun matanya tetap melotot penuh benci dan dendam. Li Bok-chiu tahu dirinya telah keracunan bunga berduri itu, untuk itu harus mencari obat penawarnya di lembah ini. Selagi dia hendak melangkah pergi, tiba2 terdengar Ui Yong berseru padanya.
"Li-cici, coba kemari, ingin kukatakan sesuatu padamu." .. Dengan rada sangsi Li Bok-chiu mendekati Ui Yong, lalu bertanya.
"Ada apa?"
Diam2 ia berharap maksud Ui Yong memanggilnya itu hendak memberi obat atau paling tidak akan memberi petunjuk ke mana harus mencari obat penawar. Maka berkatalah Ui Yong.
"Untuk keluar dari kurungan semak2 bunga itu sebenarnya kau tidak perlu mengorbankan jiwa muridmu."
"Hm, jadi kau hendak mengguruiku?"
Jengek Li Bok chiu.
"Mana aku berani,"
Jawab Ui Yong dengan tertawa.
"Aku cuma ingin mengajarkan sesuatu akal padamu, mestinya cukup kau menggali tanah dan membungkusnya dengan bajumu menjadi dua karung, lalu dilemparkan ke semak2 bunga itu, bukankah akan merupakan batu loncatan yang sangat bagus? Kan kau dapat keluar dengan baik dan jiwa muridmu juga tidak perlu melayang."
Muka Li Bok-cbio menjadi merah dan lain saat berubah pucat pula penuh rasa menyesal.
Apa yang diucapkan Ui Yong itu sebenarnya tidak sulit dilakukan soalnya dia terburu napsu dan tidak memikirkannya tadi sehingga satunya orang yang paling dekat telah menjadi korban dan ia sendiripun belum terhindar dari bencana, Maka dengan gemas ia menjawab.
"Sudah tertambat kalau dibicarakan sekarang!"
"Ya, memang benar sudah terlambat."
Ujar Ui Yong.
"Padahal terkena racun bunga itu atau tidak bagimu tiada bedanya."
Dengan gusar Li Bokchiu mendelik pada Ui Yong karena tidak paham apa arti ucapan itu.
Sebenarnya sudah terang kau terkena racun patah hatimu, akibatnya kau berbuat sesuka hatimu, mencelakai orang lain dan bikin susah sendiri puIa, sampai saat ini memang sudah sangat tertambat bagimu.
Kata Ui Yong dengan gegetun.
Serentak timbul pula rasa angkuh Li Bok-chiu, jawabnya.
Jiwa muridku itu akulah yang menyelamatkannya, kalau aku tidak membesarkan dia, mungkin sejak dulu dia sudah mati, jadi dia hidup dariku dan mati pula bagiku, ini kan maha adil.
"Setiap orang tentu terlahir dari ibu dan ayah, sekalipun ayah-ibu juga takkan membunuh putra putri sendiri, apalagi orang luar ?"
Kata Ui Yong.
Segera Bu Siu-bun melangkah maju dengan pedang terhunus dan membentakt "Li Bok-chiu kejahatanmu sudah kelewat takaran, ajal mu sudah sampai sekarang, maka terima saja kematianmu dan tidak perlu banyak bacot."
Menyusul Bu Tun-si, Bu Sam-thong serta Yalu Ce, Yalu Yan, Wanyan Peng dan Kwe Hu berenam serentak juga mendesak maju dari kanan dan kiri.
Sorot mata Li Bok-chiu menyapu sekeliling tawarnya itu, jelas semua orang penuh rasa benci padanya, ia pikir melulu seorang Ui Yong saja tukar dilawan apa lagi masih ada Nyo Ko dan Siaoliong-li.
Dilihatnya Liok Bu-siang dan Thia Eng juga lantas melangkah maju dengan senjata masing2.
"Orang she Li, secara keji kau telah membunuh segenap keluargaku, kalau sekarang hanya jiwamu sendiri saja yang membayar utangmu itu kan masih terlalu murah bagimu?"
Seru Liok Busiang.
"Kalau bicara kejahatanmu melulu caramu membunuh Ang-suci barusan, kematianmu saja tidak cukup untuk menebas dosamu."
Dalam keadaan demikian ternyata Kwe Hu masih sempat melirik pada Liok Bu-siang dan mengejeknya.
"Hm, itulah perbuatan gurumu yang baik itu!,"
Bu-siang balas melotot, jawabnya.
"Segala perbuatan harus di tanggung sendiri dosanya, yang benar jangan kau meniru tingkah-lakunya."
Li Bok-chiu berseru.
"Siausumoay, apakah sama sekali kau tidak memikirkan hubungan baik saudara seperguruan lagi?"
Selama hidupnya malang melintang di dunia Kangouw tampa kenal belas kasihan kepada siapa-pun, sekarang dia sendiri malah memohon kebaikan hati Siao liong-li, nyata karena dia merasa terdesak dan keadaan sangat gawat bagi nya, selain itu mau-tak-mau hatinya merasa menyesal juga setelah membinasakan Ang Leng-po tadi sehingga membuatnya patah semangat.
Selagi Siao-liong-li hendak menjawab, tiba2 Nyo-Ko menanggapi dengan suara lantang.
"Kau telah mengkhianati perguruan dan membunuh murid sendiri, masakah kau masih berani bicara tentang seperguruan segala?"
"Baik"!"
Seru Li Bok-chtu sambil menghela napas, pedangnya bergerak dan menambahkan pula.
"Nah, majulah kalian semuanya, semakin banyak semakin baik."
Tanpa bicara lagi kedua Bu cilik lantas menusuk dengan pedang mereka, menyusul Liok Bu-siang dan Thia Eng menubruk maju dari samping kiri.
Bu Sam-thong, Yalu Ce dan lain2 juga tidak mau ketinggalan, serentak mereka menyerang.
Mereka telah saksikan Li Bok-chiu membinasakan muridnya dengan keji, maka mereka sama benci dan murka, sebab itulah serangan mereka sama sekali tidak kenal ampun lagi.
Bahkan orang alim seperti It-teng Taysu juga merasa iblis perenv fmt,ti ittf mcraang pantas dimakan daripada hidupnya akan mencelakai orang lain pula, Terdengarlah suara gemerantang beradunya senjata, betapapun tinggi kepandaian Li Bok-chiu juga tidak mampu menghadapi kerubutan orang banyak dan tampak nya sekejap saja tubuhnya pasti akan dicincang oleh berbagai senjata itu.
Pada saat itulah mendadak Li Bok-chiu menngayun tangan kirinya sambil menggertak.
"Awas senjata rahasia!"
Setiap orang cukup kenal betapa lihaynya Peng-pok-gin-ciam, jarum berbisa andalan Li Bok-chiu itu, karena itu serentak mereka terkesiap, Pada saat itu, tahu2 Li Bok-chiu telah melompat ke atas untuk kemudian turun kembali dibalik semak2 bunga cinta sana.
Dalam kaget dan gusarnya, semua orang sama berteriak kuwatir pula.
Rupanya dalam keadaan kepepet, Li Bok-chiu lantas ingat bahwa dirinya telan tercocok oleh duri bunga cinta itu, kalau duri itu berbisa, biarpun tercocok lebih banyak lagi juga sama saja, jadinya masuk kembalinya dia ke tengah semak2 bunga itu juga tak terduga oleh orang cerdik seperti Ui Yong dan Nyo Ko.
Terlihat Li Bok-chiu lantas menyusuri semak2 bunga itu dan menerobos ke pepohonan.
"Marilah kita kejar!"
Seru Siu-bun sambil mendahului berlari ke sana, namun jalanan di tengah hutan itu ternyata berliku2, hanya belasan tombak jauhnya dia sudah berhadapan dengan jalan simpang tiga sehingga dia bingung ke arah mana harus ditelusurinya.
Selagi sangsi, tiba2 dari depan sana muncul lima gadis jelita berbaju hijau dan orang yang paling depan membawa sebuah keranjang bunga, empat kawannya yang ikut di belakang membawa pedang.
Gadis yang berada di depan itu lantas bertanya "Kokcu menanyakan kedatangan kalian, ini entah ada keperluan apa?"
Dari jauh Nyo Ko lantas, mengenali gadis itu, cepat ia berseru.
"He, nona Kongsun, inilah kami yang datang!"
Kiranya gadis jelita itu adalah Kongsun Lik-oh.. Begitu mendengar suara Nyo Ko seketika sikapnya lantas berubah, dengan tingkah cepat ia mendekat anak muda itu dan raenyapa.
"Ah, kiranya Nyo-toako sudah kembali, tentu engkau telah berhasil dengan baik? Marilah lekas menjumpai ibu!"
"Nona Kongsun, marilah kuperkenalkan beberapa Cianpwe ini,"
Kata Nyo Ko, lalu ia perkenalkan It-teng Taysu, Cu in dan Ui Yong.
Kongsun Lik-oh tidak tahu bahwa Hwesio baju hitam di depannya ini adalah Kuku (paman adik Ibu) sendiri, ia hanya memberi hormat sekadarnya dan tidak menaruh perhatian apa2, Tapi ketika mendengar Nyo Ko menyebut Ui Yong sebagai nyonya Kwe, segera ia tahu inilah musuh besar Sang ibu yang ingin dibunuhnya itu, ternyata Nyo Ko tidak membunuhnya, bahkan membawanya ke sana, mau-tak-mau ia menjadi ragu dan curiga tanpa terasa ia mundur dua tiga tindak dan tidak memberi hormat lagi, lalu berkata.
"Ibuku menyilakan para tamu keruangao tamu untuk minum."
Setelah semua orang dibawa ke ruangan besar, tertampak Kiu Jian-jio berduduk di kursi di tengah lapangan itu, dan berkata.
"Perempuan loyo dan cacad tidak dapat menyambut tetamu secara wajar, harap dimaafkan."
Dalam ingatan Cu-in, adik perempuannya yang menikah dengan Kongsun Ci dahulu itu adalah sedang nona jelita berusia 18 tahun, siapa tahu sekarang vang dihadapinya ternyata adalah seorang nenek buruk rupa dan sudah botak.
Terkenang pada kisah-hidup masa lampau, seketika pikiran Cuin menjadi kacau.
Melihat sorot mata muridnya tiba2 berubah aneh, It Teng menjadi kuatir.
Sudah banyak It-teng menuntun orang ke jalan yang baik, hanya muridnya inilah yang sukar diinsafkan dari kejahatannya?
di masa lalu, soalnya ilmu silat Cu-in teramat tinggi, dahulu adalah seorang pemimpin besar suatu organisasi terkenal, seorang tokoh dunia persilatan dan disegani, maklumlah kalau lebih sulit memperbaiki wataknya itu daripada orang biasa.
Apalagi sekarang dia menjelajah Kangouw lagi, setiap langkah selalu menimbulkan kenangan masa lampaunya dan sukar menahan gejolak perasaannya.
Kiu Jian-jio menjadi ter-heran2, melihat Nyo Ko muncul lagi dalam keadaan sehat walafiat setelah lewat waktu yang ditentukan dan datang kembali, tadinya dia menyangka anakmuda itu sudah mampus oleh racun bunga cinta yang jahat itu.
"Kiranya kau belum mampus?"
Demikian ia tanya.
"Aku sudah minum obat penawar racun dan sudah sembuh,"
Jawab Nyo Ko dengan tertawa..
Mau-tak mau Kiu Jian-jio menjadi sangat heran di dunia ini ternyata ada obat penawar lain yang dapat menyembuhkan racun ..bunga cinta ini, tapi mendadak pikirannya tergerak, segera ia mendengus.
"Hm, kau tidak perlu berdusta. Kalau kau mendapatkan obat penawar yang mujarab, untuk apa Hwesio Hindu dan orang she Cu itu menyelinap ke sini?"
"Kiu cianpwe."
Kata Nyo Ko.
"dimanakah kau menyekap paderi Hindu dan Cu locianpwe Sudilah engkau membebaskan mereka saja."
"Hm, tangkap harimau gampang, melepaskan nya sulit..."
Jengek Kiu Jian-jio.
Ucapan juga beralasan.
Maklumlah anggauta badannya cacat, bahwa paderi Hmdo dan Cu Cu-liul ditawannya adalah berkat pesawat rahasia yang-teratur di Coat-eeng kok ini.
Kalau ke dua tawanan itu dibebaskan paderi Hindu itu tidak menjadi soal karena tidak mahir ilmusilat, tapi Cu Cu-liu tentu sakit hati dan akan menuntut balas, padahal tiada seorangpun anak murid Coat-ceng-kok ini mampu menandingi Cu Cu-liu yang lihay ini.
Nyo Ko pikir kalau nenek itu sudah bicara langsung dengan kakak kandungnya mengingat hubungan baik sesama saudara, mungkin segala urusan dapat diselesaikan dengan baik, Maka dengan tersenyum.
ia berkata pula.
"Kiu-cianpwe, harap kau, melihat yang jelas, siapakah yang kubawa ke sini ini? Tentu engkau akan kegirangan jika mengenalinya."
Namun mereka kakak beradik sudah berpisah berpuluh tahun, kini Cu-in telah memakai jubah paderi pula, walaupun Kiu jian jio sudah tahu sang kakak telah menjadi Hwesio, tapi dalam ingatannya kakaknya itu adalah seorang pemuda yang gagah perkasa, seketika mana dia dapat mengenali paderi tua berjubah hitam ini.
Hanya dari Kongsun Lik-oh telah didapatkan laporan bahwa Ui Yong juga datang, maka sorot matanya memandang tiap orang dan akhirnya mendelik pada Ui Yong.
"Bagus! inilah Ui Yong bukan? Kau yang membunuh Toakoku?"
Tiba2 ia berkata dengan mengertak gigi penuh rasa dendam.
Nyo Ko terkejut, tujuannya hendak mempertemukan mereka kakak beradik, tapi Kiu jian-jio ternyata mengenali musuhnya lebih dulu, cepat ia menyela.
"Kiu-locianpwe, persoalan ini ditunda saja dulu, lihatlah lagi siapa ini yang datang!"
"Memangnya Kwe Cing juga datang"
Bentak Kiu Jian-jio.
"Bagus! Bagus! Mana dia?"
Lalu dia memandang Bu Sam-thong dan mengamati Yalu Ce pula, ia merasa yang seorang terlalu tua dan yang lain masih muda, semuanya tidak memper Kwe Cing, ia menjadi bingung dan berusaha menemukan Kwe Cing diantara orang banyak.
Se-konyong2 sinar matanya kebentrok pandang dengan Cu-in, seketika hati masing2 juga lantas tersentuh, Cu-in terus melompat maju sambil berseru.
"Sam-moay (adik ketiga)!"
Kiu Jian-jio juga berteriak "Jiko (kakak kedua)!"
Serentak keduanya lantas terdiam dan sukar mengutarakan perasaan masing2. Sejenak barulah Kiu Jian-jio bertanya.
"Jiko, mengapa engkau menjadi Hwesio?"
"Kaki tanganmu mengapa cacat, Sammoay?"
Jawab Cu-in.
"terjebak oleh akal keji bangsat Kongsun Ci itu."
Tutur Kiu Jian-jio.
"Kongsun Ci siapa?"
Cu-in menegas.
"O, apakah Moaytiang (adik ipar) maksudmu? Dimana dia sekarang?"
"Tidak perlu lagi kau menyebutnya Moaytiang segala!"
Kata Kiu jian-jio dengan gregetan.
"Keparat itu hakekatnya adalah manusia berhati binatang dia telah mencelakai dan menyiksa diriku hingga demikian ini."
Cu-in tak dapat menahan rasa murkanya, teriaknya.
"Ke mana perginya jahanam itu? Akan kucincang dia hingga hancur lebur untuk melampiaskan dendammu."
"Meski aku terperangkap, untung tidak mati, sedangkan Toako kita malah sudah tewas,"
Kata Kiu Jian-jio dengan dingin.
"Ya,"
Jawab Cu-in dengan muram.
"Dan, mengapa kau diam saja?"
Bentak Kiu Jian-jio mendadak.
"Percuma kau memiliki Ilmu silat setinggi itu, mengapa sampai sekarang tidak menuntut belas bagi Toako kita, di maoa letak ke-Itmknmn kepada saudara tendiri?"
Cu-in melengak kaget dan bergumam.
"Menuntut balas bagi Toako"
Saat ini juga perempuan hina Ui Yong juga berada di sini, lekas kau bunuh dia, habis itu cari lagi Kwe Cing dan binasakan dia.
Bentak Kiu Jian jio pula.
Dengan bingung Cu-in memandang Ui Yong, sorot matanya tiba2 berubah aneh, Cepat It-teng mendekatinya dan berkata dengan suara halus.
"Cu-in, Cut-keh" -lang (orang yang sudah meninggalkan rumah) mana boleh timbul lagi pikiran membunuh? Apalagi kematian kakakmu juga akibat perbuatan sendiri dan tidak bisa menyalahkan orang. Cu-in menunduk, setelah termenung sejenak lalu berkata.
"Ucapan Suhu memang benar, Sammoay, sakit hati ini tidak dapat dibalas."
Mendadak Kiu Jian-jio mendamperat It-teng dengan melotot "Hweshio tua suka mengaco-belo.
Jiko, keluarga Kiu kita terkenal gagah perwira, Toako kita dibunuh orang dan kau tinggal diam, lalu terhitung ksatria macam apakah kau ini?
Pikiran Cu-in menjadi kacau, ia bergumam puIa.
"Terhitung ksatria macam apa diriku?"
"Ya, begitulah!"
Seru Kiu Jian jio pula.
"Dahulu kau malang melintang di dunia Kangouw, betapa disegani namamu sebagai Tiat-ciang-cui-siang-biau, tak tersangka setelah usiamu lanjut, kau telah berubah menjadi pengecut. Kiu Jian-yim, dengarkan perkataanku ini, kalau kau tidak menuntut balas bagi Toako, maka kaupun jangan mengakui diriku sebagai adikmu."
Melihat semakin hebat desakan Kiu Jian-yim diam2 semua orang mengakui kelihayan nenek botak itu...
Dahulu Ui Yong pernah merasakan sekali pukulan Kiu Jian-yim yang kini bernama Cu-in Hwesio itu, untung dia ditolong lt-teng Taysu sehingga lolos dari renggutan elmaut, dengan sendirinya ia cukup kenal betapa lihaynya bekas ketua Tiat ciang pang itu.
Maka sejak tadi ia sudah memperhitungkan beberapa jalan cara menyelamatkan diri apabila musuh menyerang mendadak.
Ternyata Kwe Hu tidak dapat menahan perasaannya lagi, segera ia berteriak.
"Ayah-ibuku hanya tidak ingin banyak urusan, memangnya kau kira beliau2 itu takut pada nenek reyot macam mu ini. Kalau banyak cingcong lagi, jangan kau salahkah nonamu ini jika kubertindak kasar padamu."
Mestinya Ui Yong hendak mencegah sikap Kwe Hu itu, tapi lantas terpikir olehnya bahwa tindakan puterinya itu paling tidak akan memencarkan perhatian Cu-in yang hampir terpengaruh hasutan Kiu Jian-jio itu.
Melihat sang ibu tidak mencegahnya, Kwe Hu lantas berseru pula.
"Setidaknya kami ini kan tamu, kau tidak nyambut secara hormat tapi malah bersikap kurang sopan, hm, malahan kau berani membual tentang keluarga ksatria segala?"
Dengan dingin Kiu Jian-jio memandang Kwe Hu bertanya.
"Kau inikah puterinya Kwe Cing dan Ui Yong."
"Benar,"
Jawak Kwe Hu.-"Kalau mampu, kau sendiri boleh turun tangan untuk menuntut balas, kakakmu sudah menjadi Hwesio, mana boleh timbul lagi pikiran yang tidak senonoh?"
Seperti bergumam Kiu Jian-jio berkata.
"Bagus, jadi kau ini putrinya Kwe Cing dan Ui Yong... kau puterinya Kwe Cing dan..."
Belum lagi selesai ucapannya, se-konyong2
"berrrr" , satu biji kurma tersembur dari mulutnya dan menyembur ke-batok kepala Kwe Hu dengan cepat dan tepat. Sudah tentu semua orang tidak menyangka bahwa selagi nenek botak itu bicara mendadak bila mengeluarkan senjata rahasia dengan mulutnya. Karena tidak ter-duga2, dan lagi ilmu menyembur biji kurma itu memang kepandaian khasnya yang maha sakti, bahkan tokoh macam Kongsun Ci juga kena dibutakan sebelah matanya, apa lagi sekarang Kwe Hu, jangankan hendak menangkis, ingin menghindarpun tak sempat terpikir olehnya. Diantara para hadirin itu hanya Nyo Ko dan Siao-liong li saja yang tahu kepandaian khas Kiu Jian-jio itu, tapi dasar pikiran Siao liong li sederhana dan polos, sama sekali tak terpikir olehnya bahwa si nenek bisa mendadak menyerang orang. Hanya Nyo Ko saja yang senantiasa waspada, pandangannya tidak pernah bergeser dari wajah Kiu Jian-jio, begitu melihat bibirnya bergerak, segera pula dia melompat maju, secepat kilat ia lolos pedang dipinggang Kwe Hu terus disampukkan.
"Trang"
Menyusul terdengar pula suara "creng" , biji kurma tersampok jatuh, tapi pedang itu juga patah menjadi dua terbentur biji kurma itu.
Keruan semua orang menjerit kaget, saking terkejutnya bahkan muka Ui Yong dan Kwe Hu menjadi pucat.
Diam2 Ui Yong mawas diri.
"Sudah kuduga dia pasti mempunyai cara keji, tapi sama sekali tidak menduga bahwa anggauta badannya tanpa bergerak sedikitpun, tahu2 dia dapat melancarkan serangan senjata rahasia sekeji itu,"
Kiu Jian-jio mendelik kepada Nyo Ko, tak diduganya bahwa anak muda itu berani menolong si Kwe Hu, segera ia mendjengeknya.
"Tadi kau terkena racun bunga cinta lagi, biarpun sekarang belum bekerja racunnya, rasanya kaupun takkan tahan lebih lama dari pada tiga hari saja, Kini obat yang ada cuma bersisa setengah biji yang dapat menolong jiwamu, masakah kau tidak percaya?"
Waktu menolong Kwe Hu, dalam sekejap itu tentu tak sempat terpikirkan hal itu dalam benak Nyo Ko, kini mendengar ucapan Kiu Jian-jio itu, seketika ia menjadi lemas, ia lantas memberi hormat dan menjawab.
"Kiu-locianpwe, Wanpwe sendiri tidak bersalah apapun padamu, kalau kau sudi memberi obat, sungguh kebaikan mana takkan kulupakan selamanya."
"Ya, dapatnya kumelihat dunia ini lagi boleh dikatakan berkat pertolonganmu,"
Jawab Kiu Jian-jio.
"Tapi aku si nenek Kiu ini pada asasnya kalau sakit hati pasti menuntut balas dan kalau utang ini belum tentu kubalas, Kau telah berjanji akan mengambil kepala Kwe Cing dan Ui Yong kesini. untuk itulah akan kuberikan obat padamu. Siapa duga janji tidak kau tepati, sebaliknya kau malah menyelamatkan musuhku, lalu apa yang perlu dikatakan tegi?"
"Melihat urusan bisa runyam, cepat Kongsun Likoh ikut bicara.
"Mak, dendam Kuku kan tiada sangkut-pautnya dengan Nyo-toako, Harap engkau suka... suka menaruh belas kasihan."
"Tapi separuh obat ini hanya akan kuberikan kepada menantuku dan takkan kuberikan begitu saja kepada orang luar,"
Jawab Kiu Jian jio.
Keruan Kongsun Lik-oh menjadi malu dan gelisah, mukanya berubah merah.
Setelah ber-uIang2 ditolong Nyo Ko, baru sekarang Kwe Hu percaya bahwa jiwa Nyo Ko sesungguhnya memang luhur dan sama sekali tiada maksud memperalat adik perempuannya untuk menukar obat.
Teringat kepada tindakan sendiri yang beberapa kali membikin celaka anak muda itu, sebaliknya orang selalu membalas sakit hati dengan kebaikan, mau-tak-mau Kwe Hu menjadi menyesali dirinya sendiri dan berterima kasih pula kepada anak muda itu.
Segera ia berseru.
"Nyo-toako, segala perbuatan siaumoay diwaktu yang lalu memang salah semua, mohon engkau suka memberi maaf."
Nyo Ko hanya tersenyum saja, senyuman getir. Pikirnya.
"Mengaku salah dan minta maaf adalah paling gampang, tapi tahukah kau betapa aku dan Liong-ji telah menderita akibat perbuatanmu itu?"
Dalam pada itu dilihatnya Kiu Jian-jio sedang melotot padanya, jelas kalau dirinya tidak menyanggupi untuk menikahi putrinya, tentu si nenek takkan memberi setengah biji obat penolong jiwa itu, kalau suasana begini berlangsung terus, yang serba susah tentulah Kongsun Lik-oh dan Siao-liong-li.
Maka dengan lantang dan tegas ia lantas berkata.
"Aku sudah memperistri nona Liong ini, sekalipun Nyo Ko harus mati, mana boleh kujadi manusia yang tidak berbudi dan tidak setia?"
Habis berkata ia lantas putar tubuh dan berjalan pergi sambil menggandeng tangan Siao-liong-li, pikirnya biarkan mereka ribut disini, kesempatan ini akan kugunakan untuk menolong paderi Hindu dan paman Cu.
Ucapan Nyo Ko itu tidak saja membikin melengak Kiu Jian-jio, bahkan hati Thia Eng, Liok Bu-siang, Kongsun Lik oh dan lain2 juga tergetar.
"Hm, hagus, bagus! jika kau ingin mampus, pedulikan apa dengan aku?"
Jengek Kiu Jian-jio, lalu ia berpaling dan berkata kepada Cu-in.
"Jiko, kabarnya Ui Yong adalah ketua Kay-pang? jadi Tiat-ciang-pang kita tidak berani melawannya?"
"Tiat-ciang-pang?"
Cu in menegas.
"Ah, sudah lama bubar, masakah kau sebut Tiat ciang pang lagi"
"O, pantas, pantas!"
Kata Kiu Jian-jio.
"Lantaran kau sudah tidak punya sandaran, makanya nyalimu menjadi kecil."
Begitulah Kiu Jian-jio terus berusaha menghasut sedangkan Kongsun Lik-oh tidak lagi mendengarkan perkataan sang ibu, pandangannya mengikuti langkah Nyo Ko yang sedang berjalan keluar itu.
Mendadak ia berlari maju dan berteriak.
"Nyo Ko, kau manusia yang tidak setia dan tak berbudi, anggaplah mataku ini yang buta."
Nyo Ko tertegun bingung, ia heran nona yang biasanya sabar dan pendiam itu mengapa sekarang kehilangan akal sehatnya?
Apakah karena mendengar pernikahanku dengan Liong-ji, lalu dia menjadi putus asa dan murka?
Dengan rasa menyesal ia lantas berpaling dan berkata.
"Nona Kongsun..."
Mendadak Kongsun Lik-oh memaki.
"Bangsat keparat, akan kubikin kau datang mudah dan pergi sukar..."
Meski mulutnya memaki, tapi air mukanya ternyata ramah tamah dan ber-ulangi mengedip mata memberi isyarat. Melihat itu Nyo Ko tahu pasti ada sebab2-nya, segera iapun balas membentak.
"Memangnya aku kenapa? Betapapun Coat-ceng-kokmu ini takkan mampu mempersulit diriku."
Dia menghadap ke dalam sehingga dapat diIihat Kiu Jian-jio dengan jelas, maka sama sekali ia tidak berani memperlihatkan air muka yang mencurigakan. Kongsun Lik-oh lantas memaki pula.
"Bangsat cilik, betapa benciku padamu, ingin kupotong, kau menjadi dua dan mengorek keluar hatimu..."
Mendadak mulutnya menyemprot, sebuah biji kurma terus manyamber ke arah Nyo Ko. Sebelumnya Nyo Ko sudah bersiap, segera ia menangkap benda kecil itu dan mendengus.
"Hm, lekas kau kembali sana dan takkan kuganggu kau, hanya sedikit kepandaianmu ini kau kira dapat menahan diriku?"
Kembali Kongsun Lik-oh mengedipi pula agar anak muda itu lekas pergi, habis itu mendadak ia menutupi mukanya sendiri sambil menjerit.
"Oh, ibu! Dia... dia menghina anak!"
Segera ia berlari balik ke arah sang ibu sambil menangis, cintanya hanya bertepuk sebelah tangan , impiannya telah buyar, dengan sendirinya rasa dukanya itu benar2 timbul dari lubuk hatinya dan bakan pura2 MeIihat air mata puterinya ber-linang2, Kiu Jian-jio lantas membentak.
"Anak Oh, apa2an kau ini? jiwa bocah itu sendiri takkan tahan beberapa hari saja, mengapa kau menangis baginya?"
Kougsun Lik-oh terus mendekap di atas lutut sang ibu dan menangis dengan sedihnya.
Sandiwara nona Kongsun ini ternyata dapat mengelabui semua orang terkecuali Ui Yong, diam2 nyonya cerdik itu merasa geli.
Pikirnya.
"Rupanya dia pura2 benci dan memaki Nyo Ko agar ibunya tidak curiga, dengan begitu dia akan mencari kesempatan untuk mencuri obat. Sungguh tidak nyana bocah Nyo Ko ini selalu menimbulkan kisah cinta di mana2 sehingga nona cantik sebanyak ini sama ter-gila2 padanya."
Berpikir sampai di sini, tanpa terasa ia memandang ke arah Thia Eng dan Liok Bu-siang.
Setelah menangkap biji kurma yang disemburkan Kongsun Lik-oh tadi, segera Nyo Ko melangkah pergi bersama dengan Siao-liong li sambil merenungkan ucapan Kongsun Lik-oh tadi yang aneh itu, seketika ia tidak paham apa maksudnya.
Siao-liong-li juga melihat air muka dan isyarat Konsun Lik-oh, ia tahu sikap nona itu cuma pura2 saja, segera ia membisiki Nyo Ko.
"Ko-ji, dia pura2 marah padamu, mungkin supaya ibunya tidak curiga agar memudahkan dia mencuri obat."
"Semoga begitulah hendaknya,"
Jawab Nyo Ko.
Setelah kedua orang membelok ke sana, melihat sekitarnya tiada orang lain, cepat Nyo Ko memeriksa biji kurma yang digenggamnya itu.
Ternyata bukan biji kurma melainkan biji kanah, waktu di pencet, biji kanah itu lantas pecah menjadi dua.
Kiranya di dalamnya tersimpan secarik kertas kecil.
"Haha, ucapan nona Kongsun itu ternyata mengandung teka-teki,"-ujar Siao-liong-li dengan tertawa.
"Dia bilang.
"ingin kupotong kau menjadi dua dan mengorek keluar hatimu segala, kiranya demikian artinya."
Cepat Nyo Ko membentang Kertas itu dan di-baca bersama, ternyata di situ tertulis .
"Setengah biji obat itu tersimpan rapi oleh ibu, tentu akan kuupayakan untuk mencarinya dan kuserahkan padamu, paderi Hindu dan Cu-cianpwe terkurung di Hwe-wan-sit (kamar panggang)" , lalu di samping tulisan itu terlukis sebuah seketsa peta yang menunjukkan tempat yang dimaksud. Nyo Ko sangat girang, segera ia berkata.
"Marilah kita lekas pergi ke sana, kebetulan tiada orang yang akan merintangi kita."
Coat-ceng-kok itu sangat luas dan dikitari bukit, selama turun temurun leluhur Kongsun Ci telah membangun lembah ini dengan berbagai macam pesawat rahasia yang mujijat, sampai di tangan Kongsun Ci dan Kiu Jian-jio bahkan telah banyak diperbaiki dan ditambah lagi dengan jalanan yang ber-liku2 dan sukar diterobos.
Namun Nyo Ko dan SiaoliongIi dapat menggunakan Ginkang mereka menuju ke tempat tujuan menurut petunjuk Kongsun Lik-oh dalam petanya itu.
Tidak lama sampailah mereka di suatu tempat yang rindang oleh belasan pohon raksasa, di bawah rumpun pohon itu adalah sebuah omprongan besar, yaitu bangunan yang bisa digunakan membakar genting dan bata, menuruI peta Kongsun Lik-oh, di tempat inilah paderi Hindu dan Cu Cu liu terkurung.
Dengan ragu2 Nyo Ko minta Siao liong-li menunggu saja di luar, ia sendiri lantas menerobos ke dalam omprongan itu.
Tapi baru melangkah masuk pintu omprongan yang sempit itu, serentak hawa panas menyerang mukanya disusul dengan suara bentakan orang.
"Siapa itu?"
"Kokcu memerintahkan agar tawanan dibawa ke sana,"
Jawab Nyo Ko. Orang itu lantas muncul dari balik dinding bata sana dan menegur-dengan heran.
"He, Kau?"
Nyo Ko melihat orang berseragam hijau, segera ia menjawab pula .
"Ya, Kokcu menyuruh aku membawa Hwesio dan orang she Cu ini."
Murid Coat-ceng-kok itu tahu Nyo Ko pernah menolong jiwa sang Kokcu sekarang, hubungan Lik-oh dengan dia juga sangat erat, besar kemungkinan anak muda ini kelak akan menggantikan sebagai Kokcu baru, maka ia tidak berani bersikap kasar, dengan hormat ia bertanya pula.
"Tapi... tapi adakah tanda perintah Kokcu?"
Tanpa menjawab Nyo Ko hanya berkata.
"Ada, bawa aku melihat mereka dahuIu!" -Orang itu mengiakan dan Nyo Ko dibawa masuk ke dalam. Setelah memutar ke sebelah dinding sana, hawa panas semakin hebat, terlihat dua kuli sedang mengangkat kayu bakar, sekarang lagi musim dingin, tapi kedua orang itu telanjang tubuh bagian atasnya sebuah celana pendek saja yang dipakainya, sedangkan keringat bercucuran di sekujur badan mereka. Tempo hari waktu mula2 Nyo Ko datang ke Coat-ceng-kok ini dia pernah bertanding Lwekang Kim lun Hoat-ong, Nimo Singh dan lain2 di kamar berapi itu, ntaka tahulah dia tentu Cu Cu-liu dan paderi Hindu itu juga sedang di-siksa dengan api oleh Kiu Jian-jio. Orang berbaju hijau itu menggeser sebuah batu dan tertampaklah sebuah lubang, Ketika Nyo Ko mengintip ke sana, dilihatnya di bagian dalam sana adalah sebuah kamar batu seluas tiga meter persegi, Cu Cu1iu sedang duduk menghadap dinding dan lagi meng-gores2 dinding batu dengan jari telunjuk, agaknya sedang berlatih seni tulisnya yang terkenal indah itu. sedangkan paderi Hindu itu berbaring di lantai, entah masih hidup atau sudah mati.
"Cu-toasiok, kudatang menolong kau."
Seru Nyo Ko. Cu Cu-Iiu menoleh dan berkata dengan tertawa.
"Aha, ada kawan datang dari jauh, dapatlah, aku bergembira sekarang!"
Diam2 Nyo Ko kagum atas kesabaran Cu Cu-liu itu, padahal sudah tertahan sekian tama di situ. Scgera ia bertanya.
"Apakah paderi sakti sedang tidur?"
Dia mengajukan pertanyaan ini dengan hati berdebar, soalnya mati-hidup Siao-liong-li besar hubungannya dengap keadaan paderi asing itu.
Cu Cu-liu tidak lantas menjawab, selang sejenak barulah ia menghela napas dan berkata.
"Meski Susiok tidak mahir ilmu silat, tapi kepandaiannya menahan dingin dan melawan panas takdapat kutandingi, cuma beliau..."
Sampai di sini, tiba2 Nyo Ko merasa diri belakang ada angin berkesiur, jelas ada orang sedang menyerangnya.
Tanpa menoleh, sikutnya terus menyodok ke belakang, tapi sebelum menyentuh tubuh musuh, tahu2 angin menyamber lewat disamping telinga dan orang itupun menjerit terus jatuh terguling.
Kiranya dari lubang balik jendela batu itu Cu Cu-liu dapat melihat apa yang akan terjadi, sekenanya ia comot sepotong kerikil terus disambitkan dengan tenaga jari sakti It yang ci dan tepat mengenai Hiat-to penyergap itu.
Waktu Nyo Ko membalik tubuh, dilihatnya yang menggeletak di situ adalah seorang murid berbau hijau yang tidak di-kenalnya, sedangkan orang yang membawanya masuk ke situ itu tampak meringkuk di pojok sana dengan ketakutan.
"Lekas membuka pintu dan membebaskan mereka keluar."
Bentak Nyo Ko.
"He, mana kuncinya!"
Jawab orang itu dengan heran.
"Katanya engkau diutus oleh Kokcu, betul tentu beliau akan menyerahkan kuncinya padamu."
Nyo Ko menjadi tidak sabar, bentaknya.
"Minggir sana"Segera ia angkat pedang wasiatnya, sekali tusuk.
"blang" , dinding tebalnya satu bata itu lantas tembus suatu lubang besar, Orang berbaju hijau itu menjerit kaget. Ber-ulang2 Nyo Ko menusuk tiga kali dengan pedangnya dan membabat dua kali secara menyilang, segera lubang tadi bertambah lebar sehingga cukup di terobos oleh tubuh manusia. Menyaksikan betapa sakti cara Nyo Ko mem-bobol dinding batu itu, kejut Cu Cu-liu sungguh luar biasa melebihi orang berbaju hijau itu, Dia didesak oleh barisan jaring berkait yang dikerahkan Kiu Jian-jio itu sehingga terjebak ke dalam rumah garangan ini. Siang dan malam di tempat tahanan dia telah berusaha membebaskan diri dengan It-yang-ci yang sakti. Dengan jarinya yang kuat itu dia telah meng-korek2 celah2 batu, tujuannya kalau celah2 batu itu sudah mulai melebar, lalu dapatlah melolos batu dinding dan dapat melarikan diri. Tapi dinding itu, dibangun dengan balok batu raksasa dan sukar digoyangkan dengan tenaga manusia, kini menyaksikan beberapa kali ayun pedangnya segera Nyo Ko dapat membobolnya, betapa lihay tenaga saktinya sungguh tak pernah dilihatnya. Tanpa terasa ia berseru memuji kesaktian Nyo Ko. Segera pula dia angkat tubuh paderi Hindu dan dikeluarkan melalui lubang dinding. Cepat Nyo Ko menariknya keluar, waktu ia pegang lengan paderi itu dan terasa rada hangat, hatinya menjadi lega, apalagi kemudian diketahui paderi itupun masih bernapas dengan baik. Setelah Cu Cu-liu menerobos keluar, lalu berkata.
"Susiok hanya pingsan saja, rasanya tidak beralangan,"
"Mungkin beliau tidak tahan hawa panas, lekas mencari hawa segar diluar sana,"
Ajak Nyo Ko sambiI membawa paderi Hindu itu keluar. Siao-liong-li sedang menunggu dengan gelisah, ketika melihat Nyo Ko bertiga keluar, dengan girang ia lantas memapak maju.
"Supaya cepat siuman akan kucarikan air untuk cuci muka paderi sakti,"
Kata Nyo Ko.
"Tidak, Susiok pingsan karena kena racun bunnga cinta."
Tutur Cu Cu-liu. Nyo Ko dan Siao-Iiong-li sangat heran dan tanya berbareng.
"Mengapa bisa begitu?"
Dengan menghela napas Cu Cu-liu menutur.
"Menurut cerita Susiok, katanya bunga cinta begitu sudah lenyap dari bumi negeri Thian-tiok (Hindu) dan entah cara bagaimana tersebar ke daerah Tionggoan sini, kalau tersebar lebih luas lagi tentu akan mendatangkan bencana besar, dahulu di negeri Thian-tiok bunga ini juga telah menimbulkan korban yang tidak sedikit. Selama hidup Susiok mempelajari ilmu penyembuhan racun, tapi kadar bunga ini teramat aneh, ketika masuk ke lembah ini beliau sudah tahu sukar mendapatkan obatnya yang mujarab, yang diharapkan hanya mencari suatu resep cara pengobatannya saja. Dengan tubuh Susiok sendiri untuk mencoba racun bunga ini untuk mengetahui betapa kadar racunnya, dengan begitu akan dibuat obat penawarnya."
"Kata Budha. kalau aku tidak masuk neraka, siapa yang akan masuk neraka? Demi menyelamatkan sesamanya, paderi sakti rela menghadapi bahaya sendiri sungguh harus dipuji dan sangat mengagumkan,"
Demikian kata Nyo Ko.
"Dan entah sampai kapan kiranya paderi sakti dapat siuman kembali?"
"Susiok telah mencocok tubuh sendiri dengan duri bunga itu, katanya kalau perhitungannya tidak meleset, setelah tiga hari tiga malam tentu beliau dapat siuman kembali dan sampai kini sudah hampir genap dua hari,"
Tutur Cu-liu. Nyo Ko saling pandang dengan Siao-liong-li, kata mereka.
"Paderi ini harus pingsan tiga-hari tiga-malam, jelas dia keracunan sangat berat. Untungnya kadar racun bunga ini bekerja menurut keadaan orangnya, jika timbul napsu birahi, akan bekerja dengan sangat lihay. Paderi Hindu yang alim dan suci ini menganggap segala apa di dunia ini hanya kosong belaka, melulu ini saja beliau jelas di atas orang biasa."
Sejenak kemudian Siao-liang-li bertanya "Kalian mendapatkan bunga jahat itu?"
"Setelah kami terkurung di sini, kemudian datang seorang nona jelita menjenguk kami."
"Apakah nona yang berperawakan langsing, bermuka putih dan pada ujung mulut ada sebuak andeng2 kecil?"
Siao-liong li menegas.
"Betul,"
Jawab Cu Cu-liu. Siao-liongli tersenyum kepada Nyo Ko, lalu berkata pula kepada Cu Cu-liu.
"Nona itu adalah puteri Kokcu sini, nona Kongsun Lik-oh, ketika mendengar kalian berdua datang mencari obat demi Nyo Ko, tentu saja dia melayani kalian dengan istimewa, kecuali tidak berani membebaskan kalian, apapun yang kalian minta tentu akan diturutinya."
"Memang benar,"
Ujar Cu Cu-liu.
"kettka susiok minta dia membawakan tangkai bunga cinta dan kumohon dia bantu menyiarkan berita minta bantuan kepada Suhu, semuanya telah dia laksanakan dengan baik, Caranya dia memanggang kami di tempat ini juga dikurangi apinya sehingga kami dapat bertahan sampai sekarang, Sering kutanya siapa dia, tapi dia tak mau menjelaskan, tak tersangka dia adalah puteri sang Kokcu."
"Malahan bisanya kami menemukan kalian di sini juga atas petunjuk nona itu,"
Tutur Siao-Iiong-li.
"Gurumu It-teng Taysu juga sudah datang,"
Demikian Nyo Ko menambahkan.
"Aha, lekas kita keluar,"
Seru Cu Cu-liu kegirangan.
"Tiba2 Nyo Ko mengerut kening dan berkata pula.
"pula Cu-in Hwesio juga ikut datang, dalang urusan ini mungkin ada kesulitan."
"Kalau Cu-in Suheng juga datang kan lebih baik?"
Ujar Cu-liu heran.
"Pertemuan kembali mereka kakak beradik, sedikitnya Kiu-kokcu akan memikirkan hubungan baik persaudaraan mereka."
Nyo Ko lantas menceritakan keadaan Cu-in yang kurang waras itu serta cara bagaimana Kiu Jian-jio telah menghasut sang kakak.
"Jika Kwe hujin juga sudah berada di sini, maka segala urusan tentu akan beres,"
Ujar Cu Cu-liu.
"Kwe-hujin pintar dan cerdik, ditambah lagi Suhuku serta kelihayan Nyo-heng, betapapun besarnya persoalan juga tidak perlu dikuatirkan lagi. Yang kupikirkan sekarang justeru kesehatan Susiok."
Nyo Ko juga merasa paderi Hindu itu perlu diselamatkan lebih dulu, maka ia lantas mengusulkan.
"Marilah kita mencari dulu suatu tempat yang aman untuk menyegarkan pikiran paderi sakti. Biarlah kita menjagai dia."
"Tapi mana ada tempat yang aman?"
Ujar Cu-liu sambil berpikir, ia merasa setiap tempat di Coat-ceng-kok ini sama aneh dan berbahayanya. Tiba2 hatinya tergerak dan berkata pula.
"Kukira tetap berada di sini saja."
Nyo Ko melengak, tapi segera ia paham maksud orang, katanya dengan tertawa.
"Ucapan Cu-toasiok memang sangat tepat. Tempat ini tampaknya berbahaya, tapi sebenarnya adalah tempat yang paling aman di lembah ini, asalkan kita tawan kedua orang berbaju hijau ini agar tidak membocorkan kejadian di sini, maka bereslah segala urusan."
"Urusan ini tidak sulit,"
Kata Cu Cu-Iiu dengan tertawa sambil menutukkan jarinya dari jauh lalu ia pondong paderi Hindu itu dan berkata pula.
"Tinggal di rumah omprongan ini tentu aman dan tenteram bagiku, Nyo heng berdua lebih baik pergi lagi ke sana untuk membantu guruku apabila perlu."
Teringat kepada keadaan lt-teng Taysu yang masih terluka, sedangkan sifat baik-buruk Cu in sukar diraba, kalau dirinya menunggui paderi Hindu itu rasanya terlalu mementingkan dirinya sendiri.
Sekarang Cu Cu-liu telah membawa paderi itu ke dalam rumah garangan itu, segera iapun mengajak Siao-liong-li kembali ke tempat semula.
Sementara itu di ruangan besar Coat ceng-kok sudah lain lagi suasananya.
Ber-ulang2 Kiu-Jian-jio berusaha memancing dan menghasut sang kakak, nadanya semakin keras dan mendesak .
It-teng Taysu diam saja dan menyerahkan kepada keputusan Cu-in sendiri sedangkan Cu-in tampak bingung, sebentar ia pandang adik perempuannya, lain saat dipandangnya sang guru, kemudian memandang pula kepada Ui Yong.
Yang satu adalah saudara sekandung sendiri, seorang lagi adalah gurunya yang berbudi, sementara itu yang seorang lain lagi adalah musuh pembunuh kakaknya, seketika pikirannya menjadi kacau dan terjadi pertentangan batin yang hebat.
Menyaksikan sikap Cu-in yang aneh, sebentar bimbang dan lain saat beringas itu, diam2 Liok Bu-siang menjadi kuatir, Dilihatnya Nyo Ko sejak tadi keluar dan sampai sekian lama belum kembali, pelahan ia lantas menarik tangan Thia Eng dan diajak keluar.
"Piauci, ke mana perginya si Tolol itu?"
Tanya Bu-siang sesudah di luar. Tapi Thia Eng tidak menjawabnya melainkan berkata.
"Dia terkena racun bunga yang jahat, entah bagaimana keadaannya?"
"Ya,"
Bu-siang ikut kuatir juga, Mendadak ia menambahkan.
"Sungguh tidak nyana akhirnya dia dan gurunya..."
"Tapi nona Liong itu memang cantik molek, orangnya juga baik, hanya gadis seperti dia setimpal menjadi jodoh Nyo-toako,"
Ujar Thia Eng dengan muram.
"Darimana engkau mengetahui nona Liong itu orang baik? Bicara dengan dia saja kau belum pernah"
Kata Bu-siang. Tiba2 suara seorang perempuan menjengek di belakangnya.
"Hm, kakinya kan tidak pincang, dengan sendirinya dia orang baik,"
Cepat Bu-siang membalik tubuh sambil melolos goloknya, dilihatnya yang bicara itu adalah Kwe Hu.
Melihat Bu-siang melolos golok, segera Kwe Hu juga melolos pedang yang tergantung di pinggang Yalu Ce yang berdiri di sampingnya, dengan mata melotot ia menantang.
"Hm, kau ingin bergerak dengan aku?"
Mendadak Bu-siang berkata dengan tertawa,.
"Hihi, mengapa kau tidak menggunakan pedangnya sendiri?"
Perlu diketahui bahwa sejak kakinya cacat, Bu-siang sangat menyesal terhadap cirinya sendiri itu, orang lainpun tiada yang pernah menyinggung dihadapannya, sekarang dia bertengkar dengan Kwe Hu dan beberapa kali nona itu selalu menyindir kakinya yang pincang itu, tentu saja ia sangat gusar, maka kontan ia balas menyindir pedang Kwe Hu yang dipatahkan oleh semprotan biji kurma Kiu Jian jio.
Kwe Hu menjadi gusar juga, balasnya.
"Biar pun dengan pedang pinjaman juga dapat kulabrak kau,"
Habis berkata pedangnya terus diobat-abitkan hingga mengeluarkan suara mendengung.
"Nah, tidak tahu tua atau muda, rupanya anak keluarga Kwe memang tidak kenal sopan santun dan menghormati orang tua,"
Jengek Bu-siang "Baik, biar ku-ajar adat padamu agar kau mengerti cara bagaimana harus menghormati orang tua."
"Huh, memangnya kau ini orang tua macam apa?"
Omel Kwe Hu dengan mendongkol.
"Haha, sungguh bocah yang tidak tahu adat!"
Bu-siang meng-olok2 dengan tertawa.
"Piauciku adalah Susiokmu, kalau kau tidak memanggil tante padaku juga harus memanggil bibi, Kalau tidak percaya boleh kau tanya Piauciku ini." -Lalu iapun menuding Thia Eng, Ketika Thia Eng bertemu dengan Ui Yong, memang betul Kwe Hu juga mendengar ibunya menyebut nona itu sebagai Sumoay, namun dalam hati ia merasa penasaran dan anggap sang kakek agak keterlaluan masakah sembarangan memungut seorang murid muda belia begitu, apalagi dilihatnya usia Thia Eng sebaya dengan dirinya, rasanya juga tidak mempunyai kepandaian yang berarti. Kini dia di-olok2 Liok Bu-siang, dengan gemas ia lantas menjawab "Hm, memangnya siapa yang berani menjamin tulen atau palsu, Gwakong ( kakek luar ) termashur, siapa yang tidak kenal nama beliau dan tentunya juga, banyak manusia yang tidak tahu malu pengin mengaku sebagai anak-cucu murid beliau."
Walaupun pembawaan Thia Eng berbudi halus dan pendiam, mau-tak mau ia merasa keki juga mendengar ucapan Kwe Hu itu, namun saat ini perhatiannya hanya tertuju kepada keselamatan Nyo Ko, ia tidak ingin bertengkar mengenai urusan tetek bengek itu, segera ia berkata.
"Piaumoay, marilah kita pergi mencari Nyo toako saja."
Bu-siang mengangguk, katanya pula kepada Kwe Hu.
"Nah, kau dengar sendiri bukan ? Dia menyebut diriku sebagai Piaumoay! Memang nama Kwe-tayhiap dan Ui-pangcu juga termashur di seluruh jagat, tentunya juga tidak sedikit manusia tidak tahu malu yang ingin menjadi -putera-putri beliau2 itu"
Habis ini ia sengaja mencibir, lalu melangkah pergi-Sejenak Kwe Hu melengak, ia tidak paham siapakah yang ingin mengaku sebagai putera-puteri ayah-bundanya?
Tapi segera ia dapat menangkap ucapan Liok Bu-siang itu, jelas secara tidak langsung orang hendak memaki dia sebagai anak haram, menganggap dia bukan anak kandung ayah-ibunya.
Sesungguhnya ucapan Bu-siang inipun rada keji, sedangkan watak Kwe Hu juga memang pemberang, begitu mengetahui arti ucapan Bu-siang itu, ia tidak tahan lagi, segera ia memburu maju, tanpa bicara pedangnya terus menusuk ke punggung lawan.
Mendengar angin tajam menyamber dari belakang cepat Bu-siang memutar goloknya menangkis "trang", lengan terasa kesemutan.
"Hm, kau berani memaki aku anak liar?"
Bentak Kwe Hu murka, kembali ia menyerang secara ber-tubi2. Sambil menangkis Liok Bu-siang menjengek pula.
"Hm, Kwe-tayhiap adalah orang yang berbudi luhur, Ui-pangcu adalah puteri kesayangan Tho-hoa-tocu, mereka betapa tinggi budi pekerti beliau itu."
"Memangnya perlu kau jelaskan pula? Tidak perlu kau memuji ayah-bundaku untuk membaiki aku"
Dengus Kwe Hu, disangkanya Bu-siang memuji ayah-ibunya dengan setulus hati, maka daya serangannya menjadi rada kendur. Tak tahunya Bu-siang lantas menyambung pula.
"Tapi bagaimana dengan kau sendiri? Huh, kau telah membuntungi lengan Nyo toako, tanpa cari keterangan lebih dulu lantas memfitnah orang, tindak tanduk cara begini mana ada kemiripan dengan kepribadian Kwe tayhiap dan Ui-pangcu, betapapun orang harus merasa sangsi."
"Sangsi apa2"
Tanya Kwe Hu.
"Hm, boleh kau pikir sendiri, buat apa tanya?"
Jengek Bu-siang ketus. Pertengkaran kedua nona itu disaksikan Yalu Ce, ia tahu watak Kwe Hu lebih lugu dan tidak secerdik Busiang, kalau adu mulut pasti kalah maka ia lantas menyela.
"Nona Kwe, jangan bicara lebih banyak lagi dengan dia."
Dalam marahnya Kwe Hu ternyata tidak paham maksud anak muda itu, ia menjawab.
"Kau jangan ikut campur, aku justeru ingin tanya dia lebih jelas."
Bu-siang juga melotot kepada Yalu Ce dan taerkata;
"Huh, kelak baru kau tahu rasa."
Muka Yalu Ce menjadi merah, ia tahu arti ucapan Bu-siang itu, jelas si nona dapat melihat dia telah jatuh cinta kepada Kwe Hu, maka Bu-siang sengaja ber olok2, maksudnya jika mendapat isteri yang galak dan warok begitu kelak pasti akan banyak mendatangkan kesukaran bagimu.
Melihat air muka Yalu Ce mendadak berubah merah, Kwe Hu menjadi curiga dan bertanya.
"Apakah kau juga menyangsikan aku ini bukan anak kandung ayah-ibuku?"
"Tidak, tidak,"
Cepat Yalu Ce menjawab.
"Marilah kita pergi saja, jangan urus dia."
Tapi Bu-siang lantas menanggapi "Sudah tentu dia sangsi, kalau tidak mengapa dia mengajak kau pergi?"
"Muka Kwe Hu menjadi merah padam, tangan memegang pedang, tapi takdapat mendebatnya."
Yalu Ce kuatir si nona salah paham, terpaksa ia bicara lebih gamblang, katanya.
"Cara bicara nona ini tajam dan menusuk perasaan, kalau mau ber-tanding boleh bertanding saja, tapi jangan banyak omong."
"Nah, tahu tidak kau? Maksudnya kau tidak pintar omong dan bodoh bicara, semakin banyak bicara semakin memalukan saja,"
Sela Bu-siang pula.
Dalam hati Kwe Hu sekarang memang sudah timbul perasaan aneh terhadap Yalu Ce, anak gadis yang baru merasakan madu nya cinta selalu timbul perasaan kuatir dan cemas, setiap ucapan orang lain yang menyangkut sang kekasih, walaupun tidak beralasan sama sekali, tentu akan dipikirkannya secara boIak-balik serta dimamah dan dirasakannya.
Apa-lagi sejak kecil Kwe Hu selalu dimanjakan orang tua, kedua teman ciliknya, yaitu kedua saudara Bu juga sangat penurut padanya, kecuali Nyo Ko yang terkadang suka melawannya, hampir tak pernah dia bertengkar dengan siapapun, kini mendadak dia menghadapi seorang lawan yang pintar putar lidah, seketika dia terdesak di bawah angin, ia tahu kalau bicara lagi tentu dirinya akan lebih banyak pula di olok2, dengan gusar dia lantas memaki.
"Perempuan dingklang, kalau sebelah kakimu tidak kubacok pincang pula, biarlah aku tidak she Kwe."
"Hm, tidak perlu kau membacok kakiku juga kau tidak she Kwe lagi, memangnya siapa tahu kau ini she Li atau she Ong,"
Jawab Bu-siang.
Secara tidak langsung ia selalu memaki Kwe Hu sebagai "anak haram".
Keruan Kwe Hu tidak tahan lagi, segera ia melancarkan serangan dan terjadilah pertarungan sengit.
Kepandaian yang diajarkan Kwe Cing dan Ui Yong kepada kesayangannya ini adalah ilmu pilihan kelas wahid, cuma ilmu silat yang hebat ini harus dimulai dengan memupuk dasar dan latihan yang tekun, sedangkan bakat pembawaan Kwe Hu justeru lebih banyak menuruni sang ayah dari pada sang ibu, sebab itulah kemajuan ilmu silat yang dilatihnya agak lamban, banyak jurus2 serangan lihay belum dapat digunakannya dengan baik.
Walaupun begitu toh Liok Bu-siang tetap bukan tandingannya, ditambah lagi sebelah kakinya pincang, gerak gerik nya tidak leluasa, sedangKan Kwe Hu menyerang dengan beringas, pedangnya selalu mengincar bagian bawah dan ingin menusuk lagi kaki sebelah lawan, Diam2 Thia Eng mengernyitkan kening menyaksikan pertarungan mereka, pikirnya.
"Meski cara ber-olok2 Piaumoay agak tajam, tapi nona Kwe ini juga terlalu garang, pantas lengan Nyo-toako tertabas buntung olehnya, Kalau berlangsung lebih lama lagi mungkin sekali kaki Piaumoay juga sukar diselamatkan."
Dilihatnya Bii-siang terus terdesak mundur dan Kwe Hu menyerang semakin gencar.
"bret"
Tiba2 gaun Bu-siang terobek,menyusul dia menjerit pelahan dan mundur dengan sempoyongan dan muka pucat Kwe Hu terus melangkah maju, kakinya lantas menyapu, dia sengaja hendak membikin Bu-siang terjungkal untuk melampiaskan rasa gemasnya.
Terpaksa Thia Eng bertindak melihat keadaan itu, ia melompat maju mengadang di depan Kwe Hu dan berseru.
"Harap berhenti, nona Kwe!"
Waktu Kwe Hu angkat pedangnya dan tertampak ada setitik darah, tahulah dia kaki Bu-siang telah dilukainya, dengan ber-seri2 ia lantas tuding nona itu dan berolok.
"Nah, nonamu sengaja memberi ajaran padamu agar selanjutnya kau jangan sembarangan mengoceh!"
Padahal Bu-siang adalah nona yang berwatak keras, kepala batu, tidak takut kepada apapun juga, Li Bok-chiu yang begitu kejam juga tidak membuatnya jera, malahan dia berani kabur dengan mencuri kitab pusaka sang guru itu.
sekarang meski dikalahkan Kwe Hu dan darah merembes membasahi gaunnya namun ia tidak menjadi jeri, sebaliknya ia tambah marah dan berteriak.
"Huh, hanya pedangmu saja mampu menyumbat mulut orang seluruh jagat?"
Ia tahu Kwe Hu suka membanggakan ayah-ibunya, maka ia sengaja meng-olok2nya sebagai "anak haram"
Dan bukan puteri kandung kedua orang tuanya itu.
"Kau mengoceh apa lagi?"
Bentak Kwe Hu dengan gusar sambil melarikan maju dan pedangnya disurung pula ke depan dada orang.
Thia Eng berdiri di tengah mereka, melihat ujung pedang menyeleweng tiba, segera ia gunakan jarinya menahan batang pedang Kwe Hu itu terus didorong pelahan ke samping sambil melerai.
"Piau-moay, nona Kwe, kita berada di tempat berbahaya, janganlah kita cecok urusan tidak berarti ini."
Kwe Hu terkejut dan gusar karena pedangnya, didorong ke samping dengan enteng oleh tangan Thia Eng. segera ia membentak.
"Hm, kau hendak membela dia bukan? Baiklah kalian boleh maju bersama, aku tidak takut biarpun satu lawan dua. Hayolah lolos senjatamu!"
Habis berkata ujung pedangnya terus mengacung ke dada Thia Eng dan menantikan lawan melolos seruling kemala yang terselip di pinggang itu. Namun Thia Eng tersenyum hambar saja, kata-nya.
"Aku melerai perkelahian kalian, masakah aku sendiri ikut bertengkar? Yalu-heng, hendaklah kaupun melerai nona Kwe."
"Benar, nona Kwe,"
Ucap Yalu Ce.
"Kita berada di wilayah musuh, kita harus waspada dan hati2."
"Bagus, kau tidak bantu diriku, sebaliknya kau membela orang lain,"
Seru Kwe Hu dengan mendongkol ia lihat Thia Eng cukup cantik dan manis, tiba2 timbul pikirannya jangan2 anak muda itu menyukai nona itu.
Sedikitpun Yalu Ce tidak dapat menangkap jalan pikiran Kwe Hu itu, ia menyambung ucapannya tadi.
"Cu-in Hwesio itu rada aneh sikapnya, lekas kita ke sana untuk melihat ibumu."
Namun Liok Bu-siang teramat cerdik dan pintar, sepatah kata dan sedikit tingkah Kwe Hu saja segera dapat diterka isi hati seterusnya itu, cepat ia berkata puIa.
"Hah Piauciku jauh lebih cantik daripadamu, pribadinya juga halus budinya, ilmu silatnya juga lebih tinggi, hendaklah kau berhati-hati sedikit!"
Setiap kalimat Bu-siang itu cukup menusuk perasaan Kwe Hu, keruan ia menjadi murka, tapi ia lantas pikirnya.
"Aku harus ber-hati2 apa?"
"Huh, kecuali aku orang tolol, kalau tidak masakah aku tidak memilih Piauciku dan sebaliknya menyukai kau,"
Jengek Bu-siang.
Ucapan ini jauh dari jelas dan gamblang, tentu saja Kwe Hu tidak tahan lagi, begitu pedangnya bergerak, segera ia menusuk ke iga Bu-siang dengan mengitar ke samping Thia Eng.
Diam2 Thia Eng mengerut kening melihat serangan Kwe Hu yang ganas itu, ia pikir sekalipun ucapan Piaumoay itu menyinggung perasaanmu, betapapun kita kan bukan musuh, mengapa tanpa kenal ampun kau melancarkan serangan mematikan sekeji ini?
Secepat kilat Thia Eng menghimpun tenaga pada jarinya, begitu pedang Kwe Hu menyelinap lewat dan sebelum mencapai sasarannya, secepat kilat ia terus menyelentik.
"creng" , kontan pedang Kwe Hu terlepas dan jatuh ke tanah. Selentikan Thia Eng itu adalah ilmu jari sakti ajaran Ui Yok-su, karena kekuatan Thia Eng cuma setingkat dengan Kwe Hu, maka cara menyelentik-nya itu dilakukannya secara mendadak, begitu pedang orang terlepas, langkah selanjutnya juga sudah diperhitungkan o!ehnya, segera melangkah maju, pedang itu diinjak, seruling kemala terus dikeluarkan di Hiat-to di tubuh Kwe Hu. Karena didahului orang, keadaan Kwe Hu menjadi serba salah, kalau berjongkok untuk rebut pedang, beberapa Hiat to itu pasti akan bertutuk, sebaliknya kalau melompat mundur untuk menghindar, maka pedang itu berarti dirampas lawan. Karena kurang pengalaman Kwe Hu-menjadi serba runyam, mukanya menjadi merah dan tidak tahu, apa yang harus dilakukan.
"Hai, nona itu, mengapa kau menginjak pe-dangku?"
Tiba2 Yalu Ce membentak, berbareng ia terus menubruk maju hendak mencengkeram seruling orang.
Naraun Thia Eng sempat menyurutkan tangannya, ia membalik tubuh dan menarik Bu-siang terus diajak pergi.
Cepat Kwe Hu jemput kembali pedangnya dan berteriak .
"Nanti dulu! Marilah kita bertanding dengan baik!"
"Haha, masih mau bertanding "
Sebelum Bu-siang meng-olok2 lebih lanjut, cepat sekali Thia Eng telah menyeretnya melompat ke depan, hanya sekejap mereka sudah berada jauh di sana, Yalu Ce segera menghibur Kwe Hu, katanya .
"Nona Kwe, hanya kebetulan saja dia berhasil, sebenarnya kalah menang kalian belum jelas."
"Memangnya,"
Kata Kwe Hu dengan penasaran "tadi pedangku sedang mengincar si pincang, mendadak dia turun tangan, Tampaknya dia ramah tamah, ternyata bertindak secara licik."
Yalu Ce mengiakan saja, wataknya jujur, tidak biasa menyanjung puji orang, katanya.
"Kepandaian nona Thia itu tidak lemah, lain kali kalau bergebrak lagi hendaklah kau jangan meremehkan dia,"
Kwe Hu kurang senang mendengar pujian Yalu Ce kepada Thia Eng itu, tanpa pikir ia bertanya .
"Kau bilang ilmu silatnya bagus?"
"Ya,"
Jawab Yalu Ce.
"Baiklah, kalau begitu jangan kau hiraukan diriku lagi dan berbaik saja dengan dia,"
Kata Kwe Hu dengan gusar sambil melengos.
"He, maksudku agar kau jangan meremehkan dia, supaya kau hati2, itu tandanya kubela kau atau membantu dia?"
Cepat Yalu Ce menjelaskan. Kwe Hu pikir arti ucapan anak muda itu memang benar membela dirinya, maka rianglah hatinya. Segera Yalu Ce berkata pula.
"Malah tadi akupun bantu kau merebut kembali pedangmu, masakah kau masih marah padaku?"
"Ya, marah padamu!"
Omel Kwe Hu sambil berpaling kembali, namun dengan tertawa gembira.
Yalu Ce menjadi girang juga, Pada saat itulah dari ruangan pendopo sana berkumandang suara orang me-raung2 disertai suara nyaring benturan senjata.
"Ai, lekas kita melihat ke sana!"
Seru Kwe Hu.
Tadi dia merasa sebal oleh ocehan Kiu Jian-jio mengenai kejadian di masa talu, ia tidak tahu bahwa setiap kata nenek itu mengandung ancaman bahaya maut bagi ibunya, maka ia lantas mengeluyur keluar dan tanpa sebab telah bertengkar dengan Bu-siang dan Thia Eng, kini ia menjadi kuatir bagi sang ibu demi mendengar suara ribut itu, cepat ia berlari kembali ke sana.
Begitu dia masuk, dilihatnya It-tcng Taysu lagi berduduk di tengah ruangan, tangan me-raba2 tasbih dan mulut mengucap Budha, air mukanya agung dan welas-asih, sedangkan Cu-in Hwesio sedang ber-lari2 mengitari ruangan besar itu sambil mengeluarkan suara raungan buas, belenggu pada tangannya sudah terbetot putus dan saling bentur dengan suara gemerincing.
Kiu Jian-jio kelihatan duduk ditempatnya tadi dengan wajah membesi, mukanya memang buruk, kini menjadi tambah bengis dan menakutkan sementara itu Ui Yong, Bu Sam-thong dan lain2 berada di pojok sana sambil mengawal gerak-gerik Cu-in.
Setelah ber-lari2 sekian lama, dahi Cu-in tampak berkeringat ubun2nya mengepulkan uap putih tipis dan makin lama makin tebal, lari Cu-in itupun semakin cepat.
Mendadak It-teng Taysu membentak lantang.
"Cu-in, wahai, Cu-in! sampai kini apakah kau masih belum menyadari perbedaan antara bajik dan jahat?"
Cu-in tampak melengak, uap putih di atas kepalanya mendadak lenyap, tubuhnya tergeliat, lalu jatuh terjungkal.
"Anak Oh, lekas bangunkan Kuku!"
Bentak Kiu Jian-jio.
Buru2 Kongsun Lik-oh berlari maju untuk membangunkan sang paman, Ketika Cu-in membuka mata, dilihatnya wajah si nona hanya belasan senti di depan matanya, samar2 terlihat alis yang lentik dan mulut yang mungil, wajah yang cantik molek itu mirip benar dengan adik perempuannya dahulu, Tiba2 ia berseru.
"Sammoay, berada di manakah aku ini?"
"Kuku! Kuku! Aku Lik-oh!"
Ucap Lik-oh.
"Kuku? Siapa Kukumu?" -demikian Cu-in berguman.
"Kau memanggil siapa?"
"Jiko, dia adalah puteri adikmu!"
Teriak Kiu Jian-jio.
"dia minta kau membawanya menemui Kuku tertua."
Cu-in terkejut mendadak, katanya.
"O, Kuku tertua? Kakakku? Ah, kau tak dapat melihatnya lagi, dia sudah terjatuh hancur lebur ke jurang Tiat ciang hong."
Teringat kepada kejadian masa Ialu, seketika mukanya menjadi beringas, ia melompat bangun, Ui Yong ditudingnya dan membentak.
"Ui Yong, kau yang membunuh Toakoku, Kau... kau harus mengganti jiwanya!"
Setelah masuk lagi ke ruangan situ.
Kwe Hu berdiri di samping sang ibu dan memondong adik perempuannya.
ketika mendadak melihat Cu-in mencaci-maki ibunya secara bengis, dia orang pertama yang tidak tahan, segera ia melangkah maju beberapa tindak dan balas mendamperat.
"Kau jangan kasar kepada ibuku Hwesio, nonamu ini takkan membiarkan kau main gila."
Kiu Jian-jio lantas menjengek.
"Hm, berani benar anak perempuan ini..."
"Siapa kau?"
Segera Cu-in bertanya.
"Sudah kukatakan sejak tadi, apa kau tuli?W jawab, Kwe Hu.
"Kwe-tayhiap adalah ayahku, Ui pangcu ialah ibuku."
"Hm, jadi Kwe Cing dan Ui Yong malah sudah mempunyai dua anak,"
Teriak Cu-in dengan beringas.
Melihat nadanya berubah buas, Ui Yong menjadi kuatir, cepat ia menyuruh Kwe Hu mundur Akan tetapi Kwe Hu mengira Cu-in gentar kepada ibunya terbukti sejak tadi tidak berani menyerang maka tanpa pikir ia malah melangkah maju dan mengejek.
"Huh, kalau kau mampu bolehlah lekas kau menuntut balas, kalau tidak becus, sebaiknya kau tutup mulut saja!"
"Bagus ucapanmu, kalau mampu bolehlah lekas menuntut balas!"
Bentak Cu-in dengan suara menggelegar sehingga cangkir sama bergetar di atas meja.
Sama sekali Kwe Hu tidak menyangka seorang Hwesio dapat mengeluarkan suara sekeras itu, ia menjadi terkejut dan kebingungan Pada saat itulah telapak tangan kiri Cu-in telah memukul, tangan kanan juga lantas mencengkeram sekaligus.
Dua rangkum tenaga maha dahyat terus membanjir tiba, pikir Kwu Hu hendak menghindari akan tetapi sudah kasip.
Tanpa berjanji Ui Yong, Bu Sam-thong dan Yalu Ce bertiga melompat maju berbareng, pandangan mereka-cukup tajam, mereka tahu cengkeraman tangan kanan Cu-in itu tampaknya ganas, tapi tidak selihay pukulan tangan tangan kiri yang mematikan ttu, Sebab itulah tangan mereka memapak bersama.
"blang" , tiga arus tenaga dahsyat menyentak tangan kiri Cu-in. Terdengar Cu-in bersuara tertahan dan tetap berdiri di tempatnya, sebaliknya Ui Yong bertiga tergetar mundur beberapa langkah, Kekuatan Yalu Ce paling cetek, dia tergentak mundur paling jauh, berikutnya adalah Ui Yong. Sebelum berdiri tegak kembali dia mengawasi puterinya lebih dulu, dilihatnya Kwe Yang cilik sudah dicengkeram oleh Cu-in, sedangkan Kwe Hu berdiri mematung, rupanya Saking kagetnya hingga lupa menghindar. Ui Yong menjadi kuatir kalau2 Kwa Hu dilukai, tenaga pukulan lawan, Cepat ia melompat maju pula dan menarik mundur anak gadisnya itu sembari mengeluarkan pentung penggebuk anjing tmtuk bela diri, sekali pentung pusakanya itu sudah siap, betapapun dahsyat tenaga pukulan Cu-in juga takkan melukainya lagi. Sebenarnya Kwe Hu tidak terluka sedikitpun, cuma pikirannya menjadi kacau, dia baru sempat menjerit kaget setelah bersandar di tubuh sang ibu, sementara kedua saudara Bu, Yalu Yan, Wanyan Peng dan lainnya segera meloIos senjata juga ketika melihat Cu-in akhirnya melancarkan serangan. Be-ramai2 anak buah Kiu Jian-jio juga menyebar dan siap siaga, asalkan sang Kokcu memberi aba-2, serentak merekapun akan menyerbu. Hanya It -teng Taysu saja yang tetap duduk bersila di tengah ruangan dan anggap tidak mendengar dan tidak melihat apa yang terjadi di sekitarnya, dia tetap mengucapkan doa, meski tidak keras suaranya, namun cukup jelas terdengar Mendadak Cu-in mengangkat tinggi2 Kwe Yang cilik dan berteriak.
"lnilah puteri Kwe Cing dan Ui Yong, setelah kubunuh anak ini barulah kubinasakan kedua orang tuanya."
Dengan girang Kiu Jian-jio menanggapi "Bagus, Jiko yang baik, dengan begitulah engkau baru benar2 ketua Tiat-ciang-pang yang tiada bandingannya."
Dalam keadaan demikian, jangankan seorang-pun yang hadir ini mampu mengalahkan Cu-in, sekalipun ada yang berkepandaian lebih tinggi dari dia juga akan mati kutu dan sukar menyelamatkan Kwe Yang kecil dari tangan orang yang sudah kalap itu.
"Nyo toako! Nyo-toako! Di mana engkau? Lekas kemari menolong adikku!"
Se-konyong2 Kwe Hu berseru.
Menghadapi bahaya begini tiba2 dia ingat kepada Nyo Ko.
Maklumlah, beberapa kali Kwe Hu mengalami kesukaran dan tiap kali Nyo Ko yang berhasil menyelamatkan dia di luar dugaannya, kini adiknya terancam dan tampaknya tiada seorangpun yang mampu bertindak, secara otomatis lantas timbul harapannya agar Nyo Ko datang menolongnya.
Akan tetapi saat itu Nyo Ko sedang bergandengan tangan dengan Siao-Iiong-li menikmati pemandangan senja indah pegunungan ini, sama sekali tak terpikir olehnya di ruangan besar sekarang sedang timbul adegan yang mendebarkan itu.
Begitulah dengan tangan kanan mengangkat Kwe Yang ke atas dan tangan kiri siap membela diri, Cu-in mengejek seruan Kwe Hu tadi.
"Huh, Nyo Ko apa? siapakah Nyo Ko itu? Saat ini biar-pun Tang-sia Se-tok, Lam-te, Pak-kay dan Tiong-sin-thong datang ke sini sekaligus paling-2 juga jiwaku Kiu Jian-yim saja yang dapat diganggunya, tapi jangan harap akan dapat menolong anak dara cilik ini."
Pelahan Itteng mengangkat kepalanya dan menatap Cu-in, terlihat kedua matanya merah membara penuh napsu membunuhi segera ia berkata.
"Cu-in kau hendak menuntut balas pada orang, kalau orangpun hendak menuntut balas padamu, lalu bagai mana?"
"Siapa yang berani boleh coba maju!"
Bentak Cu-in.
Sementara hari sudah dekat magrib, cuaca mulai remang2 dan air muka Cu-in juga semakin seram tampaknya.
Pada saat itulah mendadak Ui Yong bergelak tawa, suara tawanya mendadak meninggi dan lain saat merendah laksana suara tawa orang gila.
Begitu seram suara tertawanya hingga membikin orang merinding.
"lbu!"
Seru Kwe Hu kuatir. Bu Sam-thong, Yalu Ce dan lain2 juga serentak memanggil "Kwe-hujin!"
Semua orang kuatir jangan-2 karena memikirkan anaknya berada dalam cengkeraman musuh, mendadak pikiran Ui Yong menjadi tidak waras.
Terlihat Ui Yong membuang pentung bambu, lalu melangkah maju dengan rambut terurai serawutan, suara tawanya melengking tajam dan menyeramkan, berbeda sama sekali daripada sikapnya yang ramah se hari-2
"lbu!"
Seru Kwe Hu sambil menarik lengan Ui Yong.
Tapi sekali mengibas, kontan Kwe Hu terpelanting jatuh, habis itu Ui Yong terus pentang kedua tangan hendak merangkul tubuh Cu in dengan ter-bahak2.
Kejadian ini juga sama sekali diluar dugaan Kiu Jian-jio, ia mengawasi tingkah laku Ui Yong itu dengan mata mendelik dan sangsi.
"Jangan kuatir Kwe-hujin, kita pasti dapat merampas kembali puterimu,"
Seru Bu Sam-thong. Namun Ui Yong tidak menggubrisnya, kedua tangan tetap terpentang sembari melototi Cu-in, katanya.
"Lekas kau cekik mati anak itu! Cekik lehernya yang keras, jangan kendur!"
Wajah Cu-in tampak pucat sebagai mayat, sambil merangkul Kwe Yang dalam pangkuannya, Cuin berkata dengan tergagap.
"Sia...siapa kau?"
Mendadak Ui Yong tertawa ter-kekeh2 terus menubruk maju.
Meski tangan kiri Cu in sudah bersiap namun sebegitu jauh tidak berani me-nyerang, ia hanya menggeser kesamping menghindari tubrukan Ui Yong itu, lalu ia tanya pula.
Kau...
kau siapa?"
"Apakah kau sudah lupa semuanya?"
Jawab Ui Yong dengan suara seram.
"Malam itu di atas istana kerajaan Tayli kau memegang seorang anak... ya, ya, seperti inilah kau memegangnya, bocah itu kau siksa hingga setengah mati, akhirnya jiwanya sukar tertolong pula, dan aku... aku adalah ibu bocah itu, Nah, lekas kau mencekik mampus dia, lekas, kenapa tidak lekas kau lakukan?"
Mendengar sampai di sini, sekujur badan Cu-in lantas menggigil peristiwa beberapa puluh tahun yang lalu mendadak terbayang olehnya, Tatkala itu dia sengaja melukai putera Lau-kuihui, yaitu selir kesayangan Lam-ie (raja di selatan) Toan Hong-ya, yang kini berjuluk It-teng Taysu, tujuannya supaya Toan Hong-ya mau mengorbankan tenaga dalamnya yang dipupuk selama berpuluh tahun itu untuk menyelamatkan jiwa anaknya (yang sebenarnya adalah hasil hubungan gelap antara Lau-kuihui alias Eng Koh dengan Ciu Pek-thong, si Anak Tua Nakal), namun Toan Hong ya tega benar tidak mau mengobati anak itu sehingga anak itu akhirnya meninggal.
Kemudian beberapa kali Eng Koh bertemu dengan Cu-in dan secara kalap melabraknya, kalau perlu siap untuk gugur bersama.
Dalam keadaan begitu, biarpun ilmu silat Cu-in jauh lebih tinggi daripada Eng Koh juga merasa jeri, maklumlah, merasa berdosa, maka tidak berani melawan dan lebih suka kabur saja.
Ui Yong tahu itulah kelemahan terbesar selama hidup Cu-in, dilihatnya cara Cu-in mengawasi Kwe Yang mirip benar kejadian dahulu, maka dia menjatuhkan taruhan terakhir dengan sengaja menyerukan Cu-in mencekik mati Kwe Yang saja.
Tentu saja Bu Sam-thong, Yalu Ce dan Iain2 tidak tahu maksud tujuan Ui Yong, mereka menyangka ketua Kay-pang itu mendadak gila sehingga ucapannya tidak karuan juntrungannya.
Padahal tindakan Ui Yong ini sesungguhnya teramat cerdik dan berani, biarpun kaum lelaki juga belum tentu sanggup bertindak demikian.
Dia telah mengetahui benar kelemahan musuh, inilah kecerdikannya, iapun berani menyuruh orang mencekik anaknya, inilah keberaniannya yang luar biasa.
Begitulah seketika Cu-in menjadi ragu2 dipandangnya Ui Yong, lalu memandang pula ke arah It-tcng Taysu, kemudian mengamat-amati anak yang dipegangnya itu.
Se-konyong2 ia tidak mampu menahan rasa penyesalannya sendiri, tiba2 ia berteriak.
"Mati, sudah mati! Ai, anak baik2 begini telah kucekik mati."
Pelahan ia mendekati Ui Yong dan menyodorkan bayi itu sambil berkata pula.
"Akulah yang membikin mati anak ini, boleh kau membinasakan diriku sebagai pengganti jiwanya."
Girang Ui Yong tak terhingga, segera ia hendak menerima kembali anaknya, mendadak terdengar It-teng membentak.
"Balas membalas, tuntut menuntut, sampai kapan berakhirnya? Golok jagal di tangan, kapan akan kau lemparkan ?"
Cu-in terkejut, pegangannya jadi kendur, Kwe Yang terus terjatuh ke lantai, Namun Ui Yong cukup cekatan sebelum badan anak bayi itu menyentuh lantai, sebelah kakinya tahu2 sudah diayunkan dan tepat mengenai tubuh Kwe Yang hingga mencelat ke sana, berbareng itu Ui Yong lantas berteriak dan ter-kekeh2.
"Ah, anak ini telah dibunuh olehmu. Bagus, bagus sekali!"
Padahal tendangannya tadi tampaknya agak keras, namun sesungguhnya cuma punggung kakinya saja yang menjungkit pelahan di punggung ,anak itu terus ditolak ke sana dengan enteng.
ia tahu keselamatan anak bayi itu bergantung dalam sedetik itu saja, kalau dia berjongkok menyamber anak itu, bisa jadi pikiran Cu-in mendadak berubah lagi dan meraih kembali si Kwe Yang cilik.
Tubuh Kwe Yang mencelat dengan anteng ke arah Yalu Ce, maka dengan tepat anak muda itu dapat menangkapnya, dilihatnya sepasang biji mata Kwe Yang yang hitam itu terbelalak, mulut terbuka hendak menangis, keadaannya segar bugar tanpa cidera apapun.
Yalu Ce paham sebabnya Ui Yong sengaja mengirim Kwe Yang ke arahnya itu adalah karena watak Kwe Hu suka gegabah, maka sang ibu tidak berani menyuruh menerima bayi itu.
Cepat Yalu Ce lantas mendekap mulut Kwe Yang untuk mencegah tangisnya, berbareng iapun ber-teriak2.
"Wah, anak ini telah dibinasakan Hwesio ini!"
Muka Cu-in pucat seperti mayat, seketika dia sadar dan bebas, ia memberi hormat kepada lt-teng dan berkata.
"Terima kasih banyak2 atas bantuan Suhu!"
It-teng membalas hormat dan menjawab.
"Selamatlah engkau telah mencapai kesempurnaan!"
Kedua orang berhadapan dengan tertawa, lalu Cu-in melangkah pergi. Cepat Kiu Jian-jio berseru.
"He, Jiko, kembali..."
Cu-in menoleh dan berkata "Kau suruh aku kembali, aku justeru hendak menyuruh kau kembali juga."
Habis itu ia lantas bertindak pergi tanpa berpaling lagi.
"Bagus, bagus!"
Ber-ulang2 It-teng menyatakan syukurnya, lalu ia mengundurkan diri ke sudut ruangan dan duduk semadi tanpa bicara lagi.
Ui Yong mengikat kembali rambutnya yang kusut tadi, dari Yalu Ce ia terima kembali si Kwe Yang cilik.
Cepat Kwe Hu merangkul sang ibu, serunya dengan kejut2 girang.
"O, kukira ibu benar-benar telah kurang waras!"
Kemudian Ui Yong mendekati It-teng Taycu dan memberi hormat, katanya.
"Taysu, karena kepepet sehingga Siautit terpaksa mengungkat kejadian masa lampau, mohon Taysu sudi memaafkan."
"Yong ji, Yong-ji. kau benar2 Khong Bengnya kaum wanita,"
Ujar It-teng dengan tersenyum.
Di antara hadirin itu hanya Bu Sam-thong saja yang lapat2 mengetahui kejadian dahulu, orang lain sama melongo heran karena tidak tahu apa yang dimaksudkan percakapan It-teng dan Ui Yong.
Bahwa akhirnya menjadi begini, hal inipun di luar dugaan Kiu Jian-jio, ia tahu sekali kakaknya sudah pergi, selanjutnya jelas sukar bertemu lagi, Melihat bayangan Cu-in sudah lenyap, perasaannya menjadi pilu, tapi terasa bimbang dan menyesal pula ketika ingat ucapan Cu-in sebelum pergi tadi.
"Kau suruh aku kembali, justeru akupun hendak menyuruh kau kembali."
Jelas ucapan itu bernada memberi nasehat agar lekas menahan diri dan kembali ke jalan yang baik. Akan tetapi rasa menyesal itu hanya sekilas saja lantas lenyap, dengan angkuh ia lantas berkata.
"Silakan kalian duduk saja disini, aku tidak dapat menemani lama2."
"Nanti dulu!"
Seru Ui Yong tiba2.
"Kunjungan kami ini adalah untuk memohon Coat-ceng-tan."
Kiu Jian-jio lantas mengangguk kepada mu-rid-murid berseragam hijau di sebelahnya, serentak anak murid seragam hijau itu bersuit, dari setiap sudut lantas muncul empat orang berseragam hijau dengan membawa jaring ikan berkait dan meng-adang jalan ke luar semua orang.
Dalam pada itu empat pelayan lantas angkat kursi yang diduduki Kiu Jian-jio dan dibawa masuk ke ruangan dalam.
Melibat kelihayan barisan jaring berkait itu, diam2 Bu Sam-thong, Yalu Ce dan lain2 sama terkejut mereka menjadi bingung pula cara bagaimana membobol barisan jaring musuh itu.
Karena sedikit ragu itulah, tahu2 pintu depan dan belakang ruangan pendopo itu berkeriutan dan merapat, semua orang berseragam hijau lantas menyelinap ke luar lebih dulu.
Cepat kedua saudara Bu cilik menerjang keluar dengan pedang terhunus, akan tetapi sudah terlambat "blang" , pintu telah merapat, kedua batang pedang Bu Tun-si dan Bu Siu-bun yang sempat diselipkan ke tengah daun pintu itu patah seketika terjepit Tampaknya daun pintu besar itu terbuat dari baja yang kuat.
"Tidak perlu kuatir"
Cepat Ui Yong mendesis.
"Untuk keluar dari sini tidaklah sulit, cuma kita harus memikirkan suatu akal cara bagaimana membobol barisan jaring musuh yang berkait itu dan cara bagaimana mencuri obat untuk menyelamatkan kawan kita."
Sementara itu Kongsun Lik-oh juga ikut sang ibu masuk ke ruangan dalam, di situ ia bertanya tindakan apa pula yang akan dilakukan ibunya, Kiu Jian-jio sendiri merasa sulit dengan perginya sang kakak, namun musuh pembunuh kakak kini berada di depan matanya, betapapun ia tidak dapat tinggal diam.
Maka setelah berpikir, kemudian ia berkata kepada Lik-oh.
"Coba kau pergi ke sana, awasi apa yang dilakukan Nyo Ko dan ketiga anak dara itu."
Perintah sang ibu sesuai benar dengan keinginan Lik-oh, segera ia mengangguk dan berlari ke rumah garangan itu.
Sampai di tengah jalan, tiba2 didengarnya ada suara orang bicara di depan sana, jelas itulah suaranya Nyo Ko, menyusul terdengar suara jawaban Siao-liong-li dan lapat2 seperti menyebut "nona Kongsun."
Waktu itu hari sudah gelap, cepat Lik-oh menyelinap ke semak pohon, ia ingin tahu apa yang sedang dibicarakan kedua muda-mudi itu mengenai dirinya.
Dengan langkah pelahan ia lantas merunduk maju, dilihatnya Nyo Ko dan Siao-liong li berdiri berendeng di sana, terdengar Nyo Ko lagi berkata.
"Kau bilang kita harus berterima kasih kepada nona Kongsun, kukira memang betul, Semoga paderi sakti ini lekas siuman, permusuhan ini selekasnya dapat diakhiri sisa racun dapat dibasmi seluruhnya, bukankah bagus begitu?... Aduuh!"
Jeritan mengaduh secara mendadak ini membikin.
Lik-oh kaget karena tidak diketahui apa yang mengakibatkan Nyo Ko menjerit.
ia coba mengintip dari tempat sembunyinya, samar2 dilihatnya Nyo Ko tergeletak di tanah dan Siao-liong-li sedang memegangi lengannya.
Bagian punggung Nyo Ko seperti berkejang dan tampaknya sangat sakit Terdengar Siao-liong-li bertanya padanya.
"Apakah racun bunga cinta kambuh lagi?"
"Iy.. .. iyaa ...."
Sahut Nyo Ko dengan gigi berkeretukan.
"Pedih hati Kongsun Lik-oh dan kasihan pula melihat penderitaan Nyo Ko itu, pikirnya.
"Dia sudah minum separoh Coat-ceng tan, kalau separoh-nya dimakan lagi tentu racunnya akan punah, separoh obat yang tersisa itu betapapun harus ku-mintakan kepada ibu."
Selang sejenak, pelahan Nyo Ko berbangkit dan menghela napas panjang.
"Ko-ji, kumatnya penyakitmu semakin kerap dan jaraknya juga semakin pendek, malahan kelihatan juga tambah parah."
Kata Siao-liong-li.
"Padahal harus sehari lagi barulah paderi Hindu itu akan siuman, seumpama dia dapat meracik obat penawarnya rasanya juga tidak.... tidak mengurangi penderitaanmu ini."
Sebenarnya dia hendak mengatakan "juga tidak keburu lagi menolong kau", tapi akhirnya ia ubah ucapannya itu.
Dengan tersenyum getir Nyo Ko menjawab "Nenek Kongsun itu sangat kepala batu, obat penawarnya juga tersimpan dengan rapat, kalau dia tidak suka-rela mau memberikan obatnya padaku, biarpun senjata mengancam di lehernya juga belum tentu dia mau menyerah dan memberikan obatnya."
"Aku mempunyai akal,"
Ujar Siao-liong-li. Nyo Ko sudah dapat meraba jalan pikiran isterinya itu, katanya.
"Liong-ji, jangan lagi kau mengemukakan kehendakmu ini. Kita suami-isteri saling mencintai dengan segenap jiwa raga, kita akan bersyukur kalau kita dapat hidup sampai kakek-kakek dan nenek2, kalau tidak dapat, ya anggaplah memang sudah takdir, di antara kita berdua sekali2 tidak boleh diselingi dengan orang ketiga."
Dengan suara terguguk Siao-Iiong li berkata.
"Tapi... tapi nona Kongsun itu kulihat pribadinya sangat baik, hendaklah kau menurut perkataanku."
Tergerak hati Kongsun Lik-oh mendengar percakapan mereka itu, ia tahu Siao-liong-li sedang menganjurkan Nyo Ko menikahi dirinya untuk mendapatkan obat penawar. Segera terdengar Nyo Ko berseru lantang.
"Liong ji, nona Kongsun itu memang orang baik. sesungguhnya di dunia ini memang banyak nona2 yang baik, Misalnya itu nona Thia Eng, nona Liok Bu-siang, semuanya juga gadis yang baik budi dari setia kawan. Namun kita berdua sudah saling cinta mencintai mana boleh timbul lagi pikiran lain. Umpamanya kau sendiri, jika ada seorang lelaki yang sanggup menyembuhkan racun dalam tubuhmu dengan syarat kau harus menjadi istrinya, apakah kau juga mau?"
"Aku kan perempuan, sudah tentu lain soal-nya,"
Jawab Siao-liong-li.
"Hah, orang lain berat lelaki dan enteng perempuan, aku Nyo Ko justeru berat perempuan dan enteng lelaki,"
Kata Nyo Ko dengan tertawa. Sampai di sini, tiba2 terdengar suara kresekan di semak pohon sana, cepat Nyo Ko berseru.
"Siapa itu?"
Lik-oh tahu jejaknya telah diketahui orang, baru saja mau menjawab, tiba2 suara seorang lain menjawab.
"Aku, ToloI!"
Menyusul Liok Bu siang dan Thia Eng lantas muncul dari semak2 pohon sana.
Kiranya tidak cuma Kongsun Lik-oh saja yang mengintip di situ, Bu-siang dan Thia Eng juga berada di dekatan sana, Kesempatan itu segera digunakan Lik-oh untuk menyingkir pikirannya lantas bergolak juga tak menentu.
Jangankan berbanding nona Liong, meskipun nona2 Liok dan Thia saja juga sukar bagiku untuk menandinginya, baik ilmu silat maupun lahiriah, apalagi bicara mengenai hubungan baiknya dengan Nyo-kongcu.
Sejak kenal Nyo Ko, tanpa kuasa Kongsun Lik-oh kesemsem kepada pemuda itu, meski sejak mula iapun mengetahui Nyo Ko sangat mencintai Siaoliong-li, tapi selalu diharapkannya semoga dapat bertemu sekali lagi dengan dia, sebab itulah ia terus menanti di Coat-ceng-kok, kini setelah mendengar percakapan mereka, ia menjadi lebih tahu bahwa cinta dirinya cuma bertepuk sebelah tangan saja dan tidak mungkin terkabul Kedua orang tuanya adalah manusia2 yang culas dan sukar bergaul dengan orang luar, sebab itulah sejak kecil Kongsun Lik-oh menjadi sangat pendiam dan tersiksa batin, kini hancur pula segala harapannya, ia bertekad takkan hidup lagi, dengan langkah limbung ia lantas berjalan ke sana.
Dengan pikiran melayang, jalannya menjadi tanpa arah tujuan dan tidak menyadari dirinya berada di mana, cuma dia cukup apal jalanan sekitar situ, maka biarpun di malam gelap juga tidak sampai terperosot ke jurang atau jatuh-ke sungai, suatu suara se-akan2 mengiang dalam benaknya.
"Aku tak ingin hidup lagi, aku tidak ingin hidup lagi!"
Begitulah ia terus berjalan tanpa tujuan, entah sudah berapa Iama, tiba2 didengarnya dibalik dinding karang sebelah sana sayup2 ada suara orang sedang bicara.
Waktu ia memperhatikan keadaan setempat lebih cermat ia terkejut.
Kiranya dalam keadaan ling-lung, tanpa terasa ia teIah berada di suatu tempat di sebelah barat lembah yang jarang dikunjungi manusia.
Waktu ia menengadah tertampak sebuah puncak gunung menjulang tinggi di depan itulah Coat-ceng-hong (puncak putus tinta) yang sangat curam di lembah ini.
Pada pinggang Coat-ceng-hong itu adalah suatu tebing yang menyerupai dinding dan entah-sejak kapan ada orang mengukir tiga huruf besar di situ, bunyinya "Toan-jong-kah" (tebing putus usus), tebing itu halus licin dan selalu dikelilingi awan dan kabut, sekalipun burung juga sukar hinggap di puncak gunung itu.
Di bawah puncak gunung itu adalah jurang yang tak terperikan dalamnya dengan tumbuhan yang lebat walaupun pemandangan alam di situ sangat indah permai, namun karena curamnya dan mungkin akan terjerumus ke dalam jurang jika kurang hati2, maka penduduk setempat jarang yang datang ke situ, sekalipun anak buah Kongsun Ci yang memiliki ilmu silat tinggi juga jarang menginjak tempat itu.
Tapi sekarang ternyata ada orang bicara disitu, entah siapa gerangannya?
Selain ingin mati saja memangnya Kongsun Lik-oh tidak mempunyai kehendak lain lagi, Tapi sekarang timbul rasa ingin tahunya, segera ia menempel di belakang batu karang dan coba mendengarkan dengan cermat.
Tapi setelah mengenali suara orang yang bicara, hatinya lantas berdebar Kiranya pembicara itu ialah ayahnya.
Meski ayahnya berbuat salah terhadap ibunya dan juga tidak sayang padanya, namun ibunya sudah membutakan sebelah mata ayahnya dengan sempritan biji kurma serta telah mengusirnya pergi dari Coat-ceng-kok, betapapun Lik,-oh masih menaruh belas kasihan seorang anak terhadap ayahnya, ia menjadi heran setelah mendengar suara sang ayah, ternyata ayahnya tidak meninggalkan Coatceng kok melainkan masih sembunyi di tempat yang jarang didatangi manusia.
Terdengar ayahnya sedang betkata.
"Matamu diciderai oleh si bangsat cilik Nyo Ko, mataku juga buta juga boleh dikatakan akibat perbuatan bangsat cilik itu, jadi kita boleh dikatakan se... senasib dan setanggungan, hehehe!"
Meski ia terkekeh, namun orang yang diajak bicara itu ternyata tidak menanggapinya.
Lik-oh menjadi heran siapakah gerangan yang diajak bicara sang ayah itu?
seketika iapun tidak ingin siapakah yang matanya pernah diciderai Nyo Ko, sedangkan nada ucapan sang ayah kedengaran rada2 bangor, apakah lawan bicaranya itu adalah seorang perempuan?
Di dengar nya Kongsun Ci berkata pula.
"Kita bertemu di sini juga boleh dikatakan ada jodoh, bukan saja senasib dan setanggungan" . bahkan juga... juga sama2 bermata... bermata..."
"Huh, kau mentertawakan aku ini buruk rupa bukan?"
Tiba2 seorang perempuan mendamperat.
"O,walah, janganlah kau marah, bukan begitu maksudku."
Jawab Kongsun Ci cepat "Aku justru sangat senang bertemu dengan kau."
"Aku telah terluka oleh bunga cinta dan kau sama sekali tidak menghiraukan, malahan kau menggodai diriku saja,"
Omel pula perempuan itu.
Baru sekarang Kongsun Lik-oh ingat siapa orang ini, Kiranya adalah Li Bok-chiu, iapun heran bahwa mata Li Bok-chiu katanya juga diciderai oleh Nyo Ko.
Memang betul lawan bicara Kongsun Ci itu ialah Li Bok-chiu, dia terkena racun bunga cinta dan ingin mendapatkan obat penawarnya, tapi jalanan di Coat-ceng-kok berliku-liku dan ruwet, dia kesasar kian kemari dan akhirnya sampai di tebing curam itu dan kebetulan mempergoki Kongsun Ci juga sembunyi disitu.
Dengan sembunyi disitu Kongsun Ci sedang menunggu kesempatan agar dapat membunuh Kiu Jian-jio untuk merebut kembali kedudukan Kokcu, sedangkan kedatangan Li Bok-chiu ke situ hanya kebetulan.
Keduanya pernah bergebrak dan sama2 tahu lihaynya masing2, maka pertemuan ini lantas menimbulkan pikiran yang sama pula akan bergabung untuk tujuan bersama, setelah bicara sebentar ternyata kedua orang merasa cocok satu sama lain.
Usia Li Bok-chiu sebenarnya tidak muda lagi, tapi sejak kecil dia berlatih Lwekang sehingga wajahnya masih halus dan cantik.
Kongsun Ci telah gagal mengawini Siao-liong-li, kemudian gagal pula menculik Wanyan Peng, kini bertemu dengan Li Bok-chiu, kembali timbul pikirannya.
"Setelah kubunuh perempuan jahat she Kiu itu, biarlah kunikahi nona ini saja, Baik wajahnya maupun ilmu silatnya adalah kelas pilihan, meski buta sebelah, tapi sangat setimpal menjadi jodohku."
Tak tahunya bahwa jiwa Li Bok-chiu yang jahat itu ternyata juga disertai cinta yang suci, sebabnya dia banyak berbuat kejahatan juga akibat gagalnya percintaan.
Kini didengarnya cara bicara Kongsun Ci semakin tidak senonoh, diam2 ia menjadi marah.
Tapi mengingat masih perlu mendapatkan obat penawar, terpaksa ia melayani percakapan orang sekadarnya.
Begitulah Kongsun Ci lantas berkata pula.
"Aku adalah Kokcu di sini, cara membuat obat penawar bunga cinta tiada diketahui orang lain kecuali diriku ini. Cuma membuatnya memerlukan waktu, air di tempat jauh tak dapat memadamkan api di dekat sini. Untung obat itu masih tersisa satu biji di tempat kediamanku, tapi sekarang dikangkangi perempuan jahat itu, terpaksa kita harus membinasakan dia, habis itu apapun juga adalah milikmu."
Kalimat ucapannya yang terakhir itu mengandung makna berganda, artinya tidak cuma obat penawarnya saja akan Kuberikan padamu, bahkan kedudukan nyonya rumah Coat-ceng-kok inipun akan menjadi bagianmu.
Bahwa di dunia ini hanya Kongsun Ci sendiri saja yang tahu cara membuat obat penawar, hal ini memang tidak salah, Bahkan resep obat itu hanya dari ayah diturunkan kepada anak dan tak mungkin diajarkan kepada orang luar, sekalipun Kiu Jian-jio juga tidak tahu tentang resep obat itu, dia menyangka obat itu adalah simpanan dari leluhur keluarga Kongsun dan tidak tahu kalau Kongsun Ci masih menyimpan resepnya, sebaliknya mengenai sisa obat yang tinggal setengah biji pada Kiu Jian-jio itu Kongsun Ci juga tidak tahu, disangkanya masih satu biji.
Begitulah Li Bok-chiu menjadi ragu2, katanya kemudian.
"Jika begitu kan percuma saja omonganmu ini. Obat penawar berada di tangan isterimu dan isteri mu telah menjadi musuhmu, umpamanya tidak sulit bagimu untuk membunuhnya tapi cara bagaimana kau dapat memperoleh obatnya?"
Kongsun Ci terdiam sejenak, lalu berkata.
"Li-sumoay, baru kenal kita lantas cocok, demi menolongmu biar mati bagiku juga tidak sayang"
"Wah, aku harus berterima kasih padamu,"
Ujar Li Bok-chiu hambar.
"Aku mempunyai akal untuk rebut obat dari tangan perempuan jahat itu,"
Kata Kongsun Ci pula.
"Cuma ku harap engkau menyanggupi suatu permintaanku."
Dengan tegas Li Bok-chiu menjawab.
"Selama mengembara kian kemari di Kangouw, belum pernah kuterima ancaman orang dengan persyaratan apapun juga tidak menjadi soal. Aku Li Bok-chiu bukanlah manusia yang sudi mohon belas kasihan orang lain."
"Ah, Li-sumoay salah memahami maksudku."
Cepat Kongsun Ci menjelaskan "maksudku hanya sekedar berbuat sesuatu bagimu, mana aku berani mengancam segala, Cuma untuk rebut obat itu rasanya harus mengorbankan jiwa puteri kandungku sebab itulah mungkin ucapanku menjadi rada kaku."
Tergetar hati Kongsun Lik-oh mendengar kalimat "harus mengorbankan jiwa puteri kandungku!"
Li Bok-chiu juga merasa heran, ia menegas.
"Memangnya obat penawar itu berada di tangan puterimu?"
"Tidak, biarlah kukatakan terus terang padamu,"
Jawab Kongsun Ci "
Watak perempuan jahat itu teramat keras dan pemberang, obat penawar itu tentu disimpannya di tempat yang dirahasiakan untuk memaksa dia menyerahkan obatnya jelas sukar, jalan satu2nya harus dipancing dengan akal.
Terhadap siapapun dia tidak kenalampun, hanya puteri satunya itu masih dapat mempengaruhi pikirannya.
Maka nanti akan kupancing puteriku si Lik-oh kesini dan mendadak kau menawannya serta dilemparkan ke semak2 bunga cinta.
Dengan begitu terpaksa perempuan jahat itu harus mengeluarkan obat untuk menolong jiwa puterinya, kesempatan itu lantas kita gunakan untuk rebut obatnya.
Sejenak kemudian ia menambahkan pula.
"Cuma sayang obat ku hanya sisa satu biji saja, kalau sudah diberikan padamu berarti jiwa puteriku itupun takkan tertolong."
Berkata sampai di sini tiba2 suaranya menjadi parau dan mengucurkan air mata.
"Demi menyelamatkan jiwaku harus mengorbankan puterimu, kukira urusan ini batalkan saja"
Kata Li Bok-chiu.
"Tidak, tidak, meski aku sayang mengorbankan dia, tapi aku lebih2 berat kehilangan kau,"
Kata Kongsun Ci cepat. Li Bok-chiu terdiam, ia merasa selain cara yang di usulkan Kongsun Ci ini memang tiada jalan lain lagi.
"Kita tunggu saja di sini, lewat tengah malam nanti akan kupanggil puteriku keluar, betapapun pintarnya tentu dia takkan menduga akan tipu muslihat ayahnya ini,"
Kata Kongsun Ci pula.
Percakapan mereka itu dengan jelas dapat didengar oleh Kongsun Lik-oh, makin mendengar makin takut hatinya.
Tempo hari Kongsun Ci telah menjebloskan dia dan Nyo Ko ke kolam buaya, maka dia sudah tahu sang ayah sama sekali tidak mempunyai kasih sayang kepada puterinya sendiri, sekarang secara licik malah berkomplot dengan seorang perempuan yang baru dikenalnya untuk mencelakai puterinya sendiri, betapa keji hatinya sungguh melebihi binatang.
Memangnya Lik-oh sudah putus asa dan tidak ingin hidup lagi, tapi demi mendengar muslihat keji yang sedang direncanakan kedua orang itu, dengan sendirinya timbul pikirannya untuk melarikan diri.
Untunglah sekitarnya batu karang belaka, pelahan2 ia lantas melangkah mundur di bawah aling-batu karang sesudah agak jauh barulah ia mempercepat tindakannya.
Sesudah jauh meninggalkan Coat-ceng hong, ia tahu tidak lama lagi ayahnya akan datang mencarinya, maka ia tak berani pulang ke kamarnya, duduk dengan sedih di atas batu karang, bulan sabit mengintip di tengah cakrawala, angin malam meniup sepoi2, ia merasa hampa dan hdup ini sama sekali tidak ada artinya, Gumamya sendiri.
"Memangnya aku tidak ingin hidup lagi, mengapa engkau merencanakan akal keji itu untuk mencelakai diriku? Baiklah, jika kau ingin membunuh diriku boleh bunuh saja. Tapi aneh juga buat apa aku melarikan diri?"
Se-konyong2 terkilas suatu pikiran dalam benak nya .
"Meski keji sekali rencana ayah ini, tapi akalnya ini juga sangat bagus, Aku memang sudah bertekad akan membunuh dri, mengapa tidak kugunakan akal ini untuk menipu obat dari tangan ibu untuk menyelamatkan jiwa Nyo-toako? jika mereka suami-isteri dapat diselamatkan dan hidup bahagia betapapun mereka pasti akan berterima kasih kepadaku si nona yang mencintai dia dengan setulus hati dan bernasib malang ini."
Berpikir sampai di sini ia menjadi girang dan berduka pula, tapi semangatnya lantas terbangkit, ia coba memandang sekelilingnya untuk mengetahui lebih jelas dirinya berada di mana, lalu ia melangkah menuju ke kamar tidur sang ibu.
Ketika lewat di semak2 bunga cinta, dengan hati2 ia memetik dua tangkai besar bunga itu dan di-bungkus dengan ikat pinggang agar duri bunga cinta tidak mencocok tangannya.
Setiba di luar kamar ibunya dengan suara pelahan ia memanggil .
"lbu, apakah engkau sudah tidur?"
"Ada urusan apa, anak Oh?"
Jawab Kiu Jian-jio di dalam kamarnya.
"lbu, o, ibu, aku... aku telah luka tercocok duri bunga cinta,"
Seru Lik-oh dengan suara tergagap sambil merangkul tangkai bunga yang dibawanya itu.
Tanpa ampun lagi beribu2 duri bunga itu tercocok ke dalam kulit dagingnya.
Keruan sakitnya tidak kepalang, sekuatnya dia bertahan dan melepaskan ikat pinggang yang membungkus tangkai bunga itu, lalu memanggil lagi.
"O, ibu! Ibu!"
Kiu Jian-jio terkejut mendengar suara keluhan Lik-oh itu, cepat ia menyuruh pelayan membuka kamar dan memayang Lik-oh ke dalam.
"Ditubuhku masih ada duri bunga, kalian jangan mendekat,"
Seru Lik-oh.
Kedua pelayan menjadi kaget dan membiarkan Lik-oh masuk sendiri ke dalam kamar Kiu Jian-jio terkejut juga melihat wajah Lik-oh yang pucat, badan gemetar dan dua tangkai bunga bergantungan di dadanya, cepat ia tanyai "Kenapa kau?".
"Ayah... ayah..."
Seru Lik-oh terputus-putus, ia tahu sinar mata sang ibu sangat lihay maka ia menunduk dan tak berani beradu pandang.
"Kau masih memanggilnya ayah? Memangnya kenapa bangsat tua itu?"
Kata Kiu Jianjio dengan gusar.
"Dia .dia..."
"Coba angkat kepalamu,"
Bentak Kiu Jian-jio. Waktu Lik-oh angkat kepalanya dan melihat sorot mata ibunya yang kereng itu, tanpa terasa ia bergidik. Katanya dengan tergagap.
"Tanpa sengaja kupergoki....kupergoki dia sedang bicara dengan....dengan To-koh cantik yang siang tadi mengacau ke sini itu, kudengar... kudengar..."
Sampai di sini ia menjadi ragu2 untuk meneruskan, maklumlah dia tak pernah berdusta, kuatir isi hatinya diketahui sang ibu, kembali ia menunduk lagi.
"Apa yang dibicarakan mereka?"
Kiu Jian-jio menegas dengan tak sabar.
"Katanya mereka se.... senasib dan setanggungan, sama2...sama2 bermata satu dan... dan sebab itupun matanya buta sebelah. Mereka... mereka sama memaki ibu sebagai... sebagai perempuan jahat dan macam2 lagi, sungguh anak sangat... sangat gemas."
Sampai di sini ia lantas menangis terguguk.
"Jangan menangis,"
Kata Kiu Jian jio dengar gregetan."
Kemudian apa lagi yang mereka katakan?"
"Tanpa sengaja anak menerbitkan suara sedikit dan diketahui mereka,"
Tutur LiK-oh lebih lanjut "To-koh.... To-koh itu lantas menangkap diriku dan didorong ke semak bunga cinta."
Merasa suara Lik-oh itu rada kurang mantap, segera Kio Jian-jio membentak.
"Tidak benar, kau berdusta? sesungguhnya bagaimana? jangan kau membohongi aku."
Lik-oh berkeringat dingin, cepat ia menjawab.
"Anak tidak berdusta, bukankah tubuhku ini ter-cocok oleh dini bunga?"
"Nada ucapanmu tidak tepat, sejak kecil kaupun begini bicaranya dan tak dapat berdusta, masakah ibumu tidak kenal watakmu?"
Seketika tergerak pikiran Lik-oh, dengan nekat ia berkata pula.
"Ya ibu, memang benar aku telah berdusta padamu, Yang betul ayahlah yang mendorong diriku ke semak2 bunga, dia marah padaku, katanya aku mengeloni engkau, membantu kau melawan dia. Katanya aku lebih condong kepada ibu dan tidak sayang kepada ayah."
Sebenarnya kata2 ini hanya karangan Lik-oh sendiri, namun Kiu Jian-jio sudah kadung sangat benci pada suaminya, ucapan Lik-oh itu masuk diakal atau tidak bukan soal baginya, yang penting adalah hal ini dengan jitu mengenai lubuk hatinya.
cepat ia pegang tangan anak perempuannya dan menghiburnya.
"Jangan susah anak Oh, biarlah ibu nanti melayani bangsat tua itu dan pasti akan melampiaskan dendam kita ini."
Lalu ia menyuruh pe layan mengambilkan gunting dan capitan untuk membuang tangkai bunga serta mengeluarkan duri2 kecil yang masih melekat di tubuh Lik-oh itu.
"lbu, anak sekali ini pasti takkan hidup Iagi."
Kata Lik-oh dengan menangis sedih.
"Jangan."
Ujar Kiu Jian-jio.
"Kita masih menyimpan setengah biji Coat-ceng-tan dan untung belum diberikan kepada bangsat cilik she Nyo yang tidak berbudi itu, setelah kau minum setengah biji obat ini, meski racun bunga tak dapat ditawarkan seluruhnya, asalkan selanjutnya kau mendampingi ibumu dengan prihatin dan tidak gubris lelaki busuk manapun juga, jangan sekali2 memikirkan mereka, maka selamanya kaupun takkan menderita apa2"
Kiu Jian-jio sudah sakit hati kepada suaminya, Nyo Ko juga tidak mau menjadi menantunya, sebab itulah dia membenci setiap lelaki, kalau puterinya tidak menikah selama hidup akan kebetulan baginya malah.
Lik oh mengerut kening dan tidak menanggapi Maka Kiu Jian-jio lantas bertanya pula.
"Sekarang bangsat tua dan To-koh itu berada di mana?"
"Waktu anak merangkak keluar dari semak bunga, lalu lari ke sini tanpa menoleh, bisa jadi mereka masih berada di sana,"
Kata Lik-oh.
Diam2 Kiu Jian-jio memperkirakan Kongsun Ci pasti akan dalang merebut Coat-ceng-kok setelah mendapatkan -bala bantuan Li Bok-chiu.
Anak murid di lembah ini sebagian besar juga orang kepercayaannya, kalau keadaan mendesak mungkin anak muridnya akan berpihak pula kepada Kong-sun Ci, sedangkan dirinya sendiri lumpuh, yang lihay dan diandalkan cuma senjata rahasianya melulu, yakni biji kurma.
Akan tetapi kalau Kongsun Ci sudah siap siaga, mungkin semprotan biji kurma sukar lagi melukai dia, kalau dia membawa perisai, malahan senjata rahasia sendiri akan mati kutu dan tak dapat berbuat apapun juga.
Melihat ibunya termenung dengan sinar mata berkilau, Lik oh menyangka orang itu sedang me-nimbang ucapannya tadi benar atau tidak, kuatir ditanyai pula sehingga rahasianya terbongkar maka selain dirinya akan tersiksa, usahanya untuk Nyo Ko juga akan sia2 belaka.
Teringat kepada Nyo Ko, seketika dadanya menjadi sakit, racun bunga cinta lantas bekerja, tanpa terasa ia menjerit.
Cepat Kiu Jian-jio membelai rambutnya dan berkata.
"Baiklah, mari kita pergi mengambil Coat ceng tan." -Segera ia tepuk tangan, empat pelayan lantas menggotongnya dengan kursi keluar kamar. Sejak perginya Nyo Ko, selama itu Lik-oh ingin sekali mengetahui di mana ibunya menyimpan setengah biji Coat-ceng tan. Menurut dugaannya ibunya yang lumpuh dan tidak leluasa gerak-geriknya itu tentu tidak mungkin menyimpan obat itu di tempat2 yang sukar didatangi besar kemungkinan disimpan di dalam rumah. Cuma menurut pengamatan-nya selama belasan hari ini, rasanya semua tempat sudah pernah ditelitinya dan ternyata tiada sesuatu tanda yang dapat ditemukan Maka ia menjadi heran ketika mendengar ibunya memerintahkan pelayan membawanya ke ruangan pendopo. Padahal ruangan besar itu adalah tempat yang terbuka dan sukar menyembunyikan sesuatu, apalagi sekarang musuh tangguh sama berkumpul di sana dan tujuan merekapun justeru ingin mendapatkan setengah obat biji itu, apakah mungkin obat itu sengaja ditaruh di depan mata musuh dan membiarkan mereka mengambilnya begitu saja? Sementara itu pintu muka-belakang ruangan pendopo itu tertutup rapat dan dijaga oleh anak murid berseragam hijau dengan jaring berkait, melihat datangnya Kiu Jian-jio, serentak mereka memberi hormat. Murid yang menjadi pemimpin barisan lantas berkata.
"Musuh tidak kelihatan bergerak, agaknya mereka sudah mati kutu dan segera dapat ditawan."
Kiu Jian-jio mendengus saja dan anggap ucapan anak buahnya itu terlalu gegabah, musuh2 tangguh yang terkurung di dalam ruangan itu adalah tokoh2 kelas tinggi, mana mungkin mereka menyerah begitu saja untuk ditawan.
Segera ia memerintahkan pintu dibuka, ber-bondong2 rombongan Kiu Jian-jio lantas masuk ke dalam dilindungi dengan dua barisan jaring berkait di kanan-kiri, Terlihatlah It-teng Taysu, Ui Yong, Bu Sam-thong, Yalu Ce dan lain2 sama berduduk di pojok ruangan sana sedang bersemadi.
Setelah, kursinya diturunkan Kiu Jian-jio berseru.
"Kecuali Ui Yong dan anak2nya bertiga, yang lain takkan kuusut kesalahannya mereka yang telah berani menerobos ke lembah ini. Nah, kalian boleh pergi saja."
"Kiu-kokcu,"
Kata Ui Yong dengan tersenyum.
"Engkau sendiri sedang terancam bencana, engkau tidak lekas mencari jalan untuk menyelamatkan diri, tapi malah beromong besar, sungguh lucu."
Kiu Jian-jio terkesiap, ia heran darimana Ui Yong mengetahui dirinya sedang terancam bahaya?
Apakah bangsat tua itu sudah pulang lagi ke sini dan diketahui olehnya?
Namun dia tenang2 saja dan menjawab.
"Ada bencana atau ada rejeki sukarlah diketahui sebelum tiba saatnya, Apalagi diriku sudah cacat begini. kenapa aku harus takut kepada bencana apapun juga?"
Padahal Ui Yong tidak tahu tentang halnya Kongsun Ci, hanya dari gerak -gerik dan air muka Kiu Jian-jio dapat dilihatnya ada sesuatu urusan genting yang sedang dihadapinya, maka ia menduga di lembah ini pasti sedang terjadi keributan apa2.
Bantahan Kiu Jian-jio itu semakin memperkuat dugaan itu, segera ia berkata pula.
"Kiu-kokcu, kakakmu meninggal karena terperosot sendiri ke jurang ketika dia menunggang rajawali piaraanku dan sama sekali bukan aku yang membunuhnya, Kalau kau tetap dendam mengenai soal ini, baiklah aku akan menerima batas dendammu, silakan kau menimpuk diriku dengan tiga biji kurma dan sama sekali aku takkan menghindar. Cuma setelah seranganmu nanti, apakah aku akan mati atau tetap hidup, kau harus berjanji akan memberikan obat penawar untuk menyembuhkan Nyo Ko. jika beruntung aku tidak mati,maka bereslah segala urusan, andaikan mati, maka kawan2 yang hadir di sini juga takkan menyesal dan dendam, mereka tetap akan membantu kau mengatasi kesukaranmu untuk menghadapi musuh dari dalam. Nah, bagaimana usulku ini, kau terima atau tidak?"
Syarat yang dikemukakan Ui Yong ini boleh dikatakan sangat menguntungkan Kiu Jian jio.
Maklumlah, selain senjata rahasia biji kurma yang diandalkan itu, sesungguhnya Kiu Jian-jio tidak mempunyai kemampuan lain untuk menghadapi musuh, sedangkan "musuh dari dalam"
Yang dikatakan Ui Yong lebih2 kena di hatinya.
Maka ia lantas menjawab "Sebagai ketua Kay-pang.
tentu ucapanmu dapat dipercaya, jadi kau rela kuserang dengan tiga biji kurma tanpa mengelak dan menghindar serta tidak akan menangkisnya dengan senjata, begitu bukan?
Belum lagi Ui Yong menjawab, cepat Kwe Hu menyela.
"lbuku cuma menyatakan takkan mengelak dan menghindar tapi tidak mengatakan takkan menangkis dengan senjata."
Namun Ui Yong lantas menyambung dengan tersenyum.
"Agar Kiu-kokcu dapat melampiaskan rasa dendamnya, biarlah akupun takkan menangkis dengan senjata." .
"Mana boleh jadi, ibu!"
Seru Kwe Hu.
Rupa-nya dia benar2 telah merasakan betapa lihaynya semprotan biji kurma nenek itu ketika pedangnya disemprot patah tadi.
Kalau ibunya benar2 tidak mengelak dan tidak menghindar tubuhnya yang terdiri dari kulit-daging itu masa sanggup menahannya.
Namun Ui Yong menganggap Nyo Ko besar jasanya bagi keluarga Kwe, kini anak muda itu keracunan dan sukar disembuhkan, kalau tidak berdaya agar nenek she Kiu ini menyerahkan obat penawarnya, selama hidup keluarga Kwe berarti tetap utang budi kepada Nyo Ko.
Sudah tentu biji kurma si nenek ini senjata rahasia maha lihay di dunia ini, jelas sangat berbahaya jika membiarkan tubuh sendiri diserang tiga kali, sedikit meleng saja jiwa pasti melayang, Tapi kalau tidak menyerempet bahaya, cara bagaimana nenek ini mau memberikan obatnya?
Perlu diketahui bahwa ketika Ui Yong mengemukakan usulnya itu sebelumnya dia sudah menimbang dengan masak2 keadaan Kiu Jian-jio serta sifat2nya, selain harus melenyapkan dendam kesumat nenek itu, diberi janji lagi akan bantu dia mengatasi ancaman bahaya dari dalam, sedangkan serangan tiga biji kurma adalah ilmu khas satu2nya yang bisa digunakannya membinasakan lawan, sekalipun Kiu Jian-jio sendiri juga tidak dapat mengemukakan cara yang lebih baik daripada usul Ui Yong ini.
Tapi dasar Kiu jian-jio memang suka curiga, ia merasa tawaran Ui Yong ini teramat menguntungkan pihaknya dan rasanya tidak masuk akal, maka dengan suara parau ia menegas.
"Kau adalah musuhku, tapi kau kuserang dengan tiga biji kurma, sebenarnya tipu muslihat apa dibalik usulmu ini?"
Ui Yong sengaja mendekati dan membisiki.
"Di sini banyak orang, mungkin tidak sedikit orang yang bermaksud jahat padamu, betapapun kau harus ber-jaga2."
Tanpa terasa Kiu Jian-jio mengerling anak buahnya, ia pikir orang2 ini memang sebagian besar adalah orangnya tua bangka Kongsun Ci dan harus waspada terhadap kemungkinan.
Karena itu iapun mengangguk atas bisikan Ui Yong itu.
Lalu Ui Yong mendesis lagi.
"Sebentar lagi lawanmu pasti akan turun tangan, aku sendiripun menyadari berada di tempat yang berbahaya, karena itu sengketa kita harus cepat diselesaikan tak perduli diriku akan mati atau hidup yang terang nanti be ramai2 kita dapat menghadapi musuh bersama. Selain itu si Nyo Ko telah banyak menanam budi padaku, sekalipun jiwaku melayang baginya juga harus kudapatkan Coat-ceng-tan. Orang hidup harus tahu membalas budi, kalau tidak, lalu apa bedanya antara manusia dan binatang?"
Habis berkata ia terus melangkah mundur kembali dan mengawasi gerak-gerik Kiu Jian-jio.
Betapapun tipis budi Kiu Jian jio, namun ucapan Nyo Ko tentang "manusia yang tidak tahu balas budi tiada bedanya seperti binatang"
Mau-tak-mau menyentuh juga hati nuraninya, pikirnya.
Memang benar juga, kalau saja aku tidak ditolong si Nyo Ko itu, saat ini aku pasti masih terasing dan tersiksa di kolam buaya di bawah tanah itu.
Tapi pikiran itu hanya timbul sekilas saja lantas lenyap pula, serentak timbul lagi pikiran jahatnya, katanya dengan dingin.
"Hm, betapapun kau putar lidah juga takkan mampu mempengaruhi hati nenekmu yang yang sekeras baja ini. Hayolah mulai kau menyingkir duIu, dia harus rasakan tiga biji buah kurmaku."
"Baiklah, akan kuterima seranganmu tiga kali, matipun aku tidak menyesal,"
Kata Ui Yong sambil menggeser ke tengah ruangan dan berjarak sepuluh meter dari Kiu Jian-jio? "Nah, silahkan mulai!"
Meski Bu Sam-thong dan lain2 cukup kenal kepintaran Ui Yong banyak tipu akalnya, tapi betapa lihaynya senjata rahasia Kiu Jian-jio juga telah mereka saksikan sendiri.
Kini tanpa senjata Ui Yong hanya berdiri menunggu serangan saja betapa hal ini membuat mereka ikut kebatkebit.
Yang paling kuatir adalah Kwe Hu, ia coba menarik lengan baju sang ibu dan membisikinya.
"lbu, kita cari suatu tempat sepi dan engkau dapat memakai kaos kutang duri landak yang kupakai ini, dengan demikian tentu takkan takut lagi kepada senjata rahasia musuh."
"Jangan kuatir, boleh kau saksikan kelihayan ibumu nanti,"
Ujar Ui Yong dengan tersenyum.
"Awas...."
Mendadak Kiu Jian-jio membentak belum lenyap suaranya, secepat kilat satu biji kurma telah menyamber ke perut Ui Yong.
Biji buah kurma itu sangat kecil, akan tetapi daya sambernya begitu keras dan membawa suara mendenging.
Kontan Ui Yong menjerit satu kali sambil memegangi perutnya dan setengah menungging.
Keruan Bu Sam-thong, Kwe Hu dan lain2nya terkejut, sebelum mereka sempat bertindak, suara mendenging berbangkit puIa, biji kurma kedua telah menyamber ke dada Ui Yong, Kembali Ui Yong menjerit dan mundur beberapa tindak dengan terhuyung se-akan2 roboh.
Melihat Ui Yong benar2 menepati janji dan tidak berkelit serta menghindar kedua biji kurma yang disemburkan juga tepat mengenai bagian mematikan di tubuh sasarannya, begitu keras tenaga semprotan biji kurma itu, biasanya batu karang keras juga dapat ditembusnya, apalagi cuma tubuh manusia, Namun Ui Yong hanya sempoyongan saja meski jelas sudah terluka, tampaknya sekuatnya ingin bertahan agar mampu diserang lagi satu kali.
Diam2 Kiu Jian-jio terkesiap, baru sekarang dia mengakui Ui Yong yang tampaknya lemah gemulai itu ternyata memiliki kepandaian sejati dan benar2 seorang tokoh persilatan terkemuka.
Namun iapun bergirang melihat sasarannya sudah terkena dua biji buah kurma dan jiwanya pasti suka dipertahankan itu berarti sakit hati kematian kakaknya akan terbalas.
Segera biji buah kurma ketiga tersembur lagi dari mulutnya, Sekali ini yang diarah adalah tenggorokan Ui Yong, asalkan kena sasarannya, seketika musuh itu akan binasa.
Bahwa perut dan dada Ui Yong jelas sudah biji buah kurma yang disemprotkan Kiu Jian-jio itu apakah benar Ui Yong yang pintar dan cerdik itu, akan dilukai begitu taja?
Rupanya persoalannya tidak begitu sederhana, sebelumnya Ui Yong sudah mempunyai daya upaya ketika menyatakan siap di terang tiga kali dengan biji kurma, Kiranya diam2 Ui Yong telah menyembunyikan pedang patah Kwe Hu itu di dalam lengan bajunya, ketika biji kurma musuh tiba, sedikit angkat lengannya dapatlah ia menutupi tempat yang diarah biji kurma dengan ujung pedang patah.
Cuma untuk melenyapkan suara benturan, maka ia sengaja menjerit agar orang lain tidak memperhatikan suara benturan biji kurma dan pedang patah.
Ternyata akal Ui Yong benar2 dapat mengelabui Kiu Jian-jio, bahkan juga Bu Sam-thong dan lain2.
Tapi sebabnya Ui Yong tidak sampai terluka sesungguhnya juga sebagian besar berkat kepandaian ilmu silatnya di samping sebagian kemujurannya.
Cuma dia sengaja berlagak terluka parah, dengan demikian dapat mengurangi rasa gusar Kiu Jian-jio di samping menjaga kehormatannya sebagai Kokcu.
Tapi sekarang biji kurma ketiga itu menyamber tenggorokannya, kalau angkat lengan baju dan menangisnya dengan kutungan pedang yang tersembunyi di balik lengan baju itu tentu rahasianya ini akan diketahui Kiu Jian-jio dan itu berarti dirinya telah melanggar janji.
Dalam keadaan kepepet, terpaksa ia menyerempet bahaya, kedua dengkul sedikit bertekuk sehingga biji kurma yang menyambar.
tiba itu tepat tertuju mulutnya, Sekuatnya Ui Yong menghimpun tenaga murni di dalam perut, sekali mulutnya terbuka, segera ia mendahului menyemburkan hawa murni, ia tahu samberan biji kurma lawan yang hebat itu juga bergantung pada hawa murni yang disemburkan Kiu Jian-jio itu, kalau hawa lawan hawa, jarak musuh lebih jauh dan dirinya lebih dekat, hal ini sangat menguntungkan pihaknya, sekalipun biji kurma itu tidak disembur jatuh sedikitnya juga akan mengurangi daya luncurnya.
Tak tahunya selama ber-tahun2 Kiu Jian-jio terkurung di gua bawah tanah, karena kelumpuhan anggota badan, setiap hari dia cuma berlatih ilmu menyembur biji kurma itu tanpa terganggu urusan lain, maka daya bidiknya menjadi kuat luar biasa, sedangkan Ui Yong sudah cukup banyak melahirkan, mesti melayani suami dan mendidik murid, dengan sendirinya kekuatannya tidak sehebat Kiu Jian-jio itu.
Sebab itulah ketika hawa murni disemburkan daya luncur biji kurma itu memang teralang sedikit hingga rada lambat, namun kekuatan menyambernya masih tetap dahsyat.
Keruan Ui Yong terkesiap, dalam pada itu Biji kurma itu sudah menyambar tiba di depan bibirnya, dalam detik yang menentukan ini,tiada jalan lain terpaksa ia membuka mulut, biji kurma itu digigit-nya mentah2.
Tentu saja giginya tergetar kesakitan dan tergetar mundur dua-tiga tindak.
Kalau tadi dia berpura2 tergetar mundur, sekali ini dia benar tergetar mundur karena daya luncur senjata rahasia yang dahsyat itu.
Untung juga dia dapat bertindak menurut keadaan dan cepat luar biasa, kalau tidak beberapa giginya pasti akan rontok tergetar oleh biji kurma yang lihay itu.
Semua orang sama menjerit, serentak merekapun merubung maju.
Ketika Ui Yong mendongak.
"berr" , biji kurma yang digigitnya itu disemprotkan ke atas dan menancap di belandar, lalu katanya dengan mengernyit kening.
"Kiu-kokcu, setelah menerima tiga kali seranganmu ini, jiwaku sudah mendekat ajalnya, hendak lah kau menepati janji dan memberi obatnya."
Kiu Jian-jio juga kaget melihat Ui Yong mampu mengigit biji kurmanya yang menyamber dengan dahsyat itu. ia melirik Lik-oh dan membatin.
"Anakku sendiri terkena racun bunga cinta itu, jangankan si Nyo Ko menolak mengawini anakku, sekalipun dia menjadi menantuku juga setengah biji obat ini takkan kuberikan padanya."
Padahal dengan jelas kedua biji buah kurma yang disemburkan itu tepat mengenai tubuh Ui Yong, mengapa dia tidak roboh.
Namun janji sudah diberikan dan didengar orang banyak, betapa dirinya tidak boleh ingkar janji, Tapi segera ia mendapat akal, katanya.
"Kwe-hujin, meski kita berdua sama2 perempuan, tapi setiap tindakan, kita harus dapat dipercaya sebagaimana kaum lelaki. Kau telah menerima tiga kali seranganku, sungguh aku sangat kagum, obat akan kuberikan padamu, cuma sebentar nanti aku ada urusan lagi, mohon kalian suka memberi bantuan."
Kwe Hu menyangka ibunya benar2 terkena senjata rahasia orang, segera ia berteriak. Jika ibuku terluka, be-rama2 kami pasti akan melabrak kau."
Habis ini ia terus, bertanya pada ibunya.
"Bagaimana, tubuh ibu yang terkena serangan itu?"
Ui Yong tidak menjawab, sebaliknya ia berkata kepada Kiu Jian-jio.
"Ucapan anak muda, hendaknya Kokcu jangan hiraukan. Betapapun siaumoay pasti akan pegang janji dan tentu akan membantu Kokcu menghalau musuh, sekarang mohon memberikan obatnya."
Suara Ui Yong itu nyaring dan bertenaga, sama sekali tidak menyerupai orang yang terluka dalam, maka legalah hati Bu Sam-thong dan lain2, Hal ini juga dapat dilihat Kiu Jian-jio, ia menjadi ragu2, pikirnya.
"Dia memiliki kemampuan sehebat ini, andaikan aku hendak ingkar janji juga tidak mudah, terpaksa harus kuhadapi dengan muslihat."
"Baiklah,"
Demikian kata Kiu Jian-jio kemudian. Lalu ia berpaling dan memanggil puterinya.
"Anak Oh, coba sini, ingin kukatakan sesuatu."
Selama hidup Ui Yong sudah banyak menghadapi manusia2 licik dan licin, sorot mata Kiu Jian-jio yang bertingkah itu tentu saja tak terlolos dari pengamatannya, ia tahu orang pasti tidak mau menyerahkan obatnya begitu saja, cuma cara bagaimana orang akan memberi alasan, seketika ia belum dapat menerkanya.
Didengarnya Kiu Jian-jio sedang berkata kepada Lik-Oh.
"Coba buka ubin di depan sana, ubin kelima dihitung mulai dari depanku ini."
Lik-Oh sangat heran, apakah mungkin Coat-ceng-tan itu disembunyikan di bawah ubin?
Ui Yong lantas paham urusannya dan diam2 memuji kecerdikan Kiu Jian-jio, Betapa berharganya Coat-ceng-tan itu sudah jelas karena tidak sedikit orang yang sedang diincarnya.
Kalau obat itu disembunyikan di tempat yang setiap hari didatangi orang, hal ini justeru takkan terduga oleh siapapun juga, selain itu obat yang tersimpan di bawah ubin ini pastilah obat tulen, tidak mungkin Kiu Jian-jio menyembunyikan obat palsu di situ sebab sebelumnya takkan diketahui bahwa persoalannya akan berkembang seperti sekarang ini, kalau Kiu Jian-jio menyuruh orang mengambil obat ke kamarnya, betapapun Ui Yong sukar memastikan apakah obat itu memang tulen atau palsu.
Tapi sekarang obat itu dikeluarkan di depan orang banyak, maka ketulenan obat itu tidak perlu disangsikan lagi.
Begitulah setelah menghitung sampai ubin kelima, Lik-oh lantas mengeluarkan sebilah belati dan menyungkil ubin tersebut, dibawah ubin hanya pasir campur kapur belaka dan tiada sesuatu tanda yang aneh.
Tempat penyimpanan obat itu sangat dirahasiakan dan tidak boleh diketahui orang luar, anak Oh, coba kemari, ingin kubisiki kau, K kata Kiu Jian-jio pula.
Segera Ui Yong mengetahui akal bulus Kiu Jian-jio itu, tentu ada sesuatu muslihat yang akan diaturnya, Segera ia berlagak menjerit sakit sambil menungging, ia pura2 kesakitan agar mengurangi kewaspadaan Kiu Jian-jio, dengan begitu akan mudah meraba maksud tujuannya yang sesungguhnya.
Tak terduga bahwa Kiu Jian-jio juga sudah memikirkan hal ini, ia sengaja membisiki Lik-oh, dengan suara lirih, biarpun Ui Yong mengikuti dengan penuh perhatian juga cuma terdengar kata2.
"Coat-ceng-tan itu berada di bawah ubin" , selain itu tiada terdengar apa2 lagi. Tentu saja kata2 yang didengarnya itu tidak mengherankan dia karena sebelumnya sudah diketahui tempat penyimpanan obat itu, cuma sesudah kalimat itu, lalu bibir Kiu Jian jio hanya kelihatan bergerak sedikit, suaranya teramat lirih dan tidak terdengar Tertampak Lik-oh mengernyitkan kening dan ber-ulang2 mengangguk. Selagi gelisah menghadapi detik yang gawat ini Tiba2 terdengar It-teng Taysu berseru.
"Coba ke sini, Yong-ji, ingin kuperiksa keadaan lukamu?"
Waktu Ui Yong berpaling, dilihatnya It-teng berduduk di pojok sana dengan wajah penuh prihatin ia pikir setelah paderi agung itu memegang nadinya tentu akan tahu dirinya sama sekali tidak terluka Segera ia mendekat ke sana dan mengulurkan tangannya.
Sambil memegang nadi Ui Yong, pelahan It-teng Taysu menyebut "O-mi-to-hud ....
kata si nenek O-mi to-hud ....
bahwa di situ ada dua botol...
O-mi-to-hud botol sebelah timur berisi obat tulen...
O mi-to-hud...
botol sebelah barat berisi obat palsu dan O mi-to-hud...
ia suruh puterinya mengambil obat palsu untukmu...
0-mi-to-hud"
Waktu menyebut 0-mi-to-hud suaranya sengaja dikeraskan, tapi ketika mengatakan soal obat itu suaranya sengaja dilirihkan hingga hampir tak terdengar.
Betapa cerdiknya Ui Yong, begitu mendengar kalimat "kata si nenck"
Segera ia paham maksudnya.
Rupanya Lwekang It-teng Taysu sudah mencapai tingkatan tertinggi mata telinganya jauh lebih tajam daripada orang lain, Maka kata2 Kiu Jian-jio yang dibisikkan kepada puterinya itu dapat diikuti It-teng Taysu dengan jelas, ia tahu obat itu menyangkut keselamatan jiwa Nyo Ko, maka lantas diberitahukannya kepada Ui Yong.
Sudah tentu Kiu Jian-jio tidak menduga bahwa rahasianya itu dapat diketahui oleh lawan, disangkanya Hwesio tua itu benar2 lagi memeriksa keadaan-luka Ui Yong.
Dalam pada itu, setelah mendengarkan pesan sang ibu, kemudian Kongsun Lik-oh mulai mengeruk tanah di bawah ubin yang dicungkilnya tadi, benar saja tangannya menyentuh dua buah botol kecil di situ, Diam2 sedih perasaannya, ia sudah bertekad akan mengambil obat yang tulen untuk menolong Nyo Ko, hanya usahanya yang baik ini entah diketahui tidak oleh anak muda itu.
Segera ia keluarkan botol obat yang sebelah kanan dan berseru.
"lnilah Coat-ceng-tan, ibu!"
Karena dia yang merogoh tanah di bawah ubin itu maka hanya dia sendiri yang tahu bahwa yang di ambilnya itu adalah botol sebelah kanan yang berisi obat tulen, sedangkan Kiu Jian-jio dan Ui Yong mengira botol yang dikeluarkan itu adalah botol sebelah kiri.
Baik botol yang berisi obat tulen maupun botol yang berisi obat palsu berbentuk dan berwarna putih porselen sama, setengah biji obat yang terisi itu juga serupa, kalau Kiu Jian-jio tidak mencobanya dengan lidah juga sukar membedakan tulen atau palsu.
Menurut keyakinan Kiu Jian-jio, betapapun Kongsun Lik-oh pasti akan mengeluarkan botol berisi obat palsu untuk Nyo Ko dan obat tulen akan ditinggalkan untuk menyelamatkan dirinya senditi.
Karena jiwanya yang jahat, ia nilai orang lain seperti dirinya sendiri, Sama sekali tak dipahaminya bahwa di dunia ini ada orang yang rela mengorbankan diri sendiri untuk menolong orang lain.
"Berikan obat itu kepada Kwe-hujin,"
Demikian kata Kiu-jian-jio.
Kongsun Lik-oh mengiakan sambil mendekati Ui Yong.
Lebih dulu Ui Yong memberi hormat kepada Kiu-Jian-jio dan mengucapkan terima kasih.
Di dalam hati ia pikir setelah mengetahui tempat obat tulen itu disimpan, tentu tidak sukar untuk mencurinya nanti.
Selagi dia hendak menerima botol obat dari Lik-oh, se-konyong2 atap rumah berbangkit suara gemuruh disertai hamburan debu pasir, seketika atap rumah berlubang dan dari atas udara melompat turun seorang, serentak botol obat yang dipegang Kongsun Lik-oh terus direbutnya.
"Ayah!"
Lik-oh menjerit kaget laksana orang melihat hantu di siang bolong. Melihat perubahan air muka Kongsun Lik-oh yang kaget dan cemas itu, Ui Yong menjadi terkesiap pikirnya.
"Jelas obat yang direbut Kongsun Ci itu adalah palsu, mengapa ini perlu merasa cemas?"
Pada saat itulah pintu gerbang ruangan pendopo itupun bergemuruh didobrak orang sehingga api lilin ikut bergetar dan menambah seramnya suasana, setelah terdengar lagi suara "blang-blang"
Dua kaii, palang pintu mendadak patah dan terpental hingga merusak dua buah bangku porselen, menyusul daun pintu lantas terbentang dan masuklah seorang lelaki dan 3 perempuan.
Yang lelaki adalah Nyo Ko dan yang perempuan adalah Siao-Iiong-li, Thia Eng dan Liok Bu-siang.
"Nyo-toato, .". ."
Tanpa terasa Lik-oh berseru menyongsong kedatangan Nyo Ko, tapi segera ia merasa kurang pantas tindakannya itu dan urung bicara lebih lanjut, langkahnya juga lantas berhenti.
Sejak tadi Ui Yong-terus memperhatikan sikap dan mimik wajah Kongsun Lik-oh, dari tatapan si nona terhadap Nyo Ko yang penuh rasa cinta serta kuatir itu, segera hati Ui Vong tergerak, pahamlah dia duduknya perkara, Pikirnya.
"Ai, sudah menjadi ibu tiga anak masakah belum kupahami perasaan anak gadis, ibu nona Kongsun itu menyuruh dia memberikan obat palsu kepadaku, tapi dia kesemsem pada Ko ji, maka obat yang dia serahkan ini adalah obat tulen, Jadi obat yang baru direbut si tua bangka Kongsun Ci itu adalah Coat-ceng tan asli, tentu saja nona itu sangat cemas dan bingung"
Kiranya waktu Nyo Ko dan Siao-liong-li hendak kembali ke ruangan pendopo, mendadak mereka bertemu dengan Thia Eng dan Liok Bu-siang.
Melihat Thia Eng yang manis itu sangat lemah Iembut, Siao-liong-li menjadi sangat suka padanya,segera mereka terlibat dalam percakapan yang mengasyikkan, sedangkan Liok Bu-siang lantas ngobrol dengan Nyo Ko tentang pertarungannya dengan Kwe Hu tadi serta bercerita cara bagaimana dia telah meng-olok2 Kwe Hu dan Thia Eng telah mengalahkannya.
Sifat Liok Bu-siang periang dan lincah, sejak kenal Nyo Ko, walaupun diam2 benih cintanya ber-semi, tapi mulutnya selalu menyebut Nyo Ko sebagai "si Tolol"
Sebaliknya Nyo Ko juga suka berkelakar, iapun tetap menggoda Bu-siang dengan sebutan "bini cilik" , Mereka mengobrol dengan gembira, sedangkan Siao-liong-li dan Thia Eng yang memang pendiam hanya bicara sebentar saja lantas kehabisan bahan cerita.
"Nyo toako, bagaimana keadaanmu sekarang?"
Sela Thia Eng suatu ketika.
"O, tidak apa2,"
Jawab Nyo Ko.
"Kwe-hujin banyak tipu akalnya, tentu beliau dapat mencarikan obat mujarab bagiku. Yang kukuatirkan justeru adalah lukanya."
Sambil berkata iapun menuding Siao-liong-li.. Thia Eng dan Bu-siang sama terkejut dan tanya berbareng.
"He, jadi Liong cici juga terluka? Mengapa kami tidak melihat sesuatu tanda apa2"
"Ah, tidak apa2,"
Ujar SiaoIiong-li dengan tersenyum.
"Dengan tenaga dalam kutahan kadar racunnya agar tidak bekerta, dalam beberapa hari saja kukira tidak beralangan."
"Racun apakah? Memangnya juga racun bunga cinta-itu?"
Tanya Busiang.
"Bukan,"
Jawab Siao iiong-li.
"racun Pengpok-gin-ciam Li-suciku."
"O, kiranya perbuatan si iblis Li Bok-chiu lagi,"
Kata Bu-siang.
"Nyo-toako, bukankah engkau pernah membaca kitab pusakanya mengenai lima macam racun paling jahat itu? Biarpun lihay racun jarumnya kan tidak sulit untuk disembuhkan?"
Nyo Ko menghela napas, katanya.
"Tapi kadar racun jarum itu sudah meresap ke ulu hati dan sukar disembuhkan dengan pengobatan biasa."
Lalu iapun menceritakan cara bagaimana dia sedang mengobati Siao-liong-li dan mendadak Kwe Hu datang dan keliru menyerangnya dengan jarum berbisa itu.
Dengan gemas Bu siang menghantam batu dengan telapak tangannya dan berseru.
"Kembali perbuatan anak she Kwe yang sok menang sendiri itu, Piauci, betapapun kita harus bikin perhitungan dengan dia, Memangnya kenapa kalau ayah-ibunya adalah pendekar besar jaman kini?"
"Urusan inipun tak dapat menyalahkan dia, malahan berbeda dengan terbuntungnya lengannya,"
Kata Siao-1iong-1i.
"Nanti kalau paderi sakti Thian-tiok itu sudah mendusin, beliau pasti mampu mengobati diriku."
"He, siapakah paderi Thian-tiok yang kau maksud? Mengapa mesti menunggu dia mendusin? Apakah dia sedang tidur?"
Tanya Bu-siang heran.
"Ya, katakanlah dia sedang "tidur, harus tidur tiga hari tiga malam,"
Ujar Nyo Ko dengan ter-senyum, ia kuatir rahasia paderi Thian-tiok yang menggunakan tubuh sendiri sebagai kelinci percobaan untuk menyelidiki kadar racun bunga cinta didengar musuh, maka ia pikir urusan ini belum perlu diceritakan kepada Bu-siang.
Pada saat itulah tiba2 dari kejauhan sana ada suara tindakan orang.
Cepat Nyo Ko mendesis.
"Ssst, jangan bersuara ada orang datang-"
Ucapan Nyo Ko sangat lirih, tapi orang di kejauhan itu agaknya juga sangat tajam pendengarannya, seketika langkahnya juga berhenti Selang sejenak barulah terdengar pula suara tindaknya, cuma sekarang telah berubah arah, yang dituju adalah tempat sembunyi paderi Thian-tiok dan Cu Cu-Iiu itu.
"Wah, celakai Musuh hendak merunduk Cu susiok berdua,"
Kata Siao-liong-li dengan suara tertahan.
"Ssst, jangan bersuara!"
Desis Nyo Ko.
"Coba kita kuntit dia."
Pada saat itu juga tiba2 semak2 pohon di belakang mereka ada suara kresekan pelahan, agaknya ada orang lagi sembunyi di situ.
"Di mana2 ada tikus dan celurut!"
Ujar Bu-siang sambil pungut sepotong batu kecil terus disambitkan ke tempat suara herkeresekan itu.
Tak terduga batu yang jatuh ke tengah2 semak pohon itu ternyata tidak menerbitkan suara, jelas karena ditangkap orang dengan tangan.
"Piauci, coba kita periksa siapa yang sembunyi di situ?"
Ajak Bu-siang. Sementara itu Nyo Ko dan Siao liong-li berdua sudah jauh berlari ke sana, cepat Thia Eng menarik Bu-siang dan mendesis.
"Marilah ikuti Nyo-toako saja, jalanan di sini sangat ruwet, jangan sampai kita terpencar."
Segera Bu-siang percepat langkahnya sambil berbisik.
"Yang sembunyi di semak2 sana jangan2 Li Bok-cbiu."
"Dari mana kau tahu?"
Tanya Thia Eng.
"Sejak kecil ku tinggal bersama dia, kukenal bau-nya,"
Tutur Bu-siang.
Thia Eng terkejut dan melangkah terlebih cepat, ia tahu mereka berdua sama sekali bukan tandingan Li Bok chiu, namun iblis itu sudah keracunan duri bunga cinta, diharap saja ajalnya sudah dekat.
Kaki Bu-siang pincang sebelah, kepandaian larinya jauh dibandingkan sang Piauci, berkat bantuan Thia Eng barulah ia dapat menyusul di belakang Nyo Ko dan Siao-liong-Ii.
Di bawah cahaya bulan sabit yang remang2, tampaknya Nya Ko berdua sedang menguntit seorang.
Orang itu berjalan melingkar ke sana dan membelok ke situ, agaknya sangat apal jalanan di Coat-ceng-kok ini.
Setelah berputar beberapa kali, mendadak orang itu lenyap entah kemana.
Nyo Ko berdua lantas berhenti dan menunggu Thia Eng dan Bu-siang, sesudah dekat, anak muda itu memberitahu.
"Kongsun Ci telah pulang lagi ke sini, entah muslihat keji apa yang hendak dilakukannya?"
Thia Eng berdua belum pernah kenal Kongsun Ci, maka tidak tahu seluk beluk orang, sedangkan pikiran Siao-liong-Ii polos dan sederhana, dengan sendirinya iapun tidak dapat menerka apa maksud tujuan manusia licin macam Kongsun Ci.
Setelah berpikir sejcnak, kemudian Nyo Ko berkata pula.
"Entah bagaimana Kwe-hujin dan It-teng Taysu sedang menghadapi Hwesio gila itu, marilah kita ke sana melihatnya."
Begitulah mereka lantas mencari jalan kembali ke pendopo itu, kira2 belasan tombak, di luar pen-dopo, tiba2 terlibat bayangan orang berkelebat di atas wuwungan, menyusul itu terdengarlah suara gemuruh yang keras, Kongsun Ci telah membobol atap rumah dan melompat ke bawah.
"Celaka!"
Keluh Nyo Ko, ia kuatir di bawah lubang atap yang bobol itu oleh Kongsun Ci telah dipasang jaring berkait untuk memancing dirinya masuk ke situ.
Karena itulah ia lantas keluarkan Hian-tiat-pokiam dan membobol pintu pendopo dan menerjang masuk.
Begitu berada di dalam, dilihatnya tangan kiri Kongsun Ci sudah memegang sebuah botol porselen kecil, tangan lain memutar golok menghadapi kerubutan orang dengan sikap jumawa, rupanya Kongsun Ci bergirang telah berhasil merebut Coat ceng-tan, kerubutan orang banyak itu dianggapnya soal kecil, andaikan kewalahan juga dia yakin mampu melarikan diri.
Tapi sebelum ia angkat kaki, mendadak dilihatnya Nyo Ko membobol pintu dan menerjang masuk, betapa lihaynya sungguh jauh berbeda dari pada ketika saling bergebrak sebulan yang lalu, ia tidak berani menghadapi anak muda itu, segera ia meloncat ke atas deagan maksud menerobos keluar melalui lubang atap yang diboboinya tadi, ia pikir urusan paling penting sekarang adalah mengantar Coatceng-tan kepada Li Bok-chiu, soal membunuh Kiu Jian-jio dan rebut kembali Coat-ceng-kok adalah urusan lain hari dan tidak perlu ter-gesa2.
Namun baru tubuhnya mengapung ke atas, tahu2 Ui Yong telah menyamber pentung bambunya yang dibuangnya tadi terus ikut meloncat ke atas, sekali pentungnya berputar, segera ia sabet kedua kaki orang.
Kiu Jian-jio juga tidak tinggal diam.
"Bangsat!"
Bentaknya murka.
"ser-ser" , susul menyusul dua biji buah kurma juga lantas disemburkan mengarah perut Kongsun Ci. Waktu Kongsun Ci melompat ke atas iapun sudah menduga bekas isterinya itu pasti akan menyerangnya, maka cepat goloknya menyampuk jatuh satu biji buah kurma itu dan daya loncatnya itu tetap mengapung ke atas, dalam pada itu dilihatnya biji buah kurma kedua sudah menyamber tiba pula, sedangkan goloknya sudah disampukkan dan belum sempat ditarik kembali untuk menangkis lagi. Sebagian besar kepandaian Kongsun Ci adalah ajaran Kiu Jian-jio, apa lagi sebelah matanya belum lama dibutakan istrinya itu, tentu saja ia terkejut melihat serangan tiba pula. Dalam keadaan kepepet, agar perutnya tidak beriubang, terpaksa ia miringkan tubuh dan membiarkan pahanya tersambit biji kurma itu jika memang sukar dihindari pula. Tak terduga cara Kiu Jian-jio menyemburkan biji kurmanya ini selain membawa gaya yang indah juga amat keji tujuannya, tampaknya biji kurma itu menuju Kongsun Ci, tapi ketika sudah dekat mendadak biji kurma itu berganti haluan dan menyambar ke arah Ui Yong malah. Sudah tentu siapapun tidak menyangka senjata rahasia yang sudah jelas menyambar ke arah Kong-sun Ci itu mendadak bisa berubah sasaran, sampai orang yang maha cerdik seperti Ui Yong juga sama sekali tidak menduganya, ketika tahu apa yang terjadi dan ingin mengelak. namun sudah terlambat. Untung juga Ui Yong dapat memberi reaksi yang cepat, waktu itu iapun teiapung di udara, maka se-kuatnya ia bikin berat tubuhnya dan anjlok secepatnya ke bawah, namun tidak urung biji kurma itupun menancap di bahu kanannya. Meski berhasil mengelakkan tempat yang mematikan namun kekuatan sambitan Kiu Jian-jio sungguh dahsyat, Ui Yong merasakan sekujur badannya tergetar, tangan menjadi lemas, pentung bambu itupun jatuh ke lantai. Sejak dia menjabat ketua Kaypang dan menerima pentung penggebuk anjing itu dari Ang Jit-kong, walaupun tidak setiap pertempuran dimenangkan olehnya, tapi pentung itu sampai terlepas dari cekalan boleh dikatakan baru pertama kali ini terjadi Melihat Ui Yong rada sempoyongan seperti terluka, Bu Sam-thong, Kwe Hu dan lain2 menyangka dia sengaja berbuat demikian, maka tidak menjadi kuatir seperti tadi waktu dia pura2 terluka, Namun Nyo Ko dapat menyaksikan apa yang terjadi se-sungguhnya, cepat ia memburu maju dan mengambilkan pentung bambu dan diserahkan kembali kepada Ui Yong berbareng pedangnya yang berat itu terus menabas ke kiri dengan membawa samberan angin yang dahsyat Belum lagi Kongsun Ci sempat menggunakan goloknya, lebih dulu ia telah tergetar mundur tiga tindak. Keruan Kongsun Ci terkejut, tak terpikir olehnya bahwa selang sebulan lebih saja bocah she Nyo ini sudah buntung sebelah tangannya, namun ilmu silatnya ternyata bertambah sepesat ini, Waktu ia melirik ke sana, dilihatnya air muka Kiu Jian-jio putih pucat, jelas bekas isterinya itupun melengak kaget melihat ilmu silat Nyo Ko yang hebat itu. Sementara itu Kongsun Lik-oh berdiri diantara ayah dan ibu nya, biasanya dia sangat takut kepada sang ayah, selamanya dia tak berani membantah sepatah-kata, tapi sejak mendengar percakapan sang ayah dengan Li Bok-chiu di puncak gunung itu, diam2 ia merasa sakit hati, ia pikir betapapun buasnya binatang juga tidak makan anaknya sendiri, tapi sang ayah ternyata sampai hati mencelakai puterinya sendiri demi seorang perempuan yang baru dikenalnya, terang tiada lagi perasaan kasih sayang seorang ayah kepada anaknya. Mengingat dirinya sudah bertekad untuk mati, rasa takutnya seketika lenyap, segera ia mendekati Kongsun Ci selangkah dan berseru.
"Ayah, dahulu kau telah membikin cacat dan menjebloskan dia ke gua di bawah tanah, kekejian itu jarang ada bandingannya di dunia ini. Malam ini di Coat-cenghong sana engkau telah bicara apa dengan Li Bok chiu?"
Kongsun Ci terkesiap, dia bicara dengan Li Bok-chiu di tempat terpencil dan sunyi sepi, sama sekali tak tersangka ada orang dapat mendengarnya.
Biarpun dia orang yang keji dan kejam, tapi merencanakan kejahatan terhadap puterinya betapapun membuatnya kikuk, apalagi Lik-oh membongkar rahasianya itu di depan umum, keruan air mukanya berubah, ia menjawab dengan tergagap.
"Aku... aku tidak bicara apa2"
"Engkau hendak mencelakai puterinya sendiri untuk membaiki seorang yang baru kau kenal,"
Kata Lik-oh hambar.
"Sebagai puterimu, kalau engkau menghendaki kematianku sebenarnya juga tak kan kulawan. Tapi Coat-ceng-tan yang kau-ambil itu sudah dijanjikan ibu akan diberikan padaku, sekarang kembalikan saja padaku."
Berbareng ia melangkah maju dan menyodorkan tangannya.
Cepat Kongsun Ci menarik tangan dan memasukkan botol kecil itu ke dalam bajunya, lalu menjengek "Hm, kalian ibu dan anak lebih suka membela orang luar, yang satu durhaka kepada suami, yang lain mengkhianati ayah sendiri, semuanya bukan manusia baik2, biarlah sekarang takkan kurecoki kalian, kelak kalau datang ganjaran setimpal barulah kalian tahu rasa."
Habis berkata, begitu golok dan pedangnya saling bentur dan mengeluarkan suara mendengung, segera ia menerjang keluar dengan langkah Iebar.
Nyo Ko tidak paham seIuk beluk damperatan Kongsun Lik-oh kepada ayahnya tadi, tapi segera ia mengadang kepergian Kongsun Ci, lalu berkata kepada Lik-oh.
"Nona Kongsun, aku ingin bertanya sesuatu padamu."
Mendengar ucapan anak muda ilu, serentak timbul rasa duka dan sesal diri dalam benak Kongsun Lik-oh, pikirnya.
"Soal usahaku dengan matian mengambilkan obat baginya se kali2 jangan sampai diketahui olehnya. Kelak namanya akan termashur di dunia ini dan pasti takkan ingat lagi kepada perempuan macam diriku yang bernasib malang ini, buat apa membikin dia menyesal atas tindakanku ini?" -Maka dengan suara pelahan ia menjawab.
"Apa yang hendak ditanyakan Nyo toako?"
"Baru saja kau mengatakan ayahmu hendak mencelakai kau demi membaiki seorang perempuan yang baru dikenalnya, siapakah gerangan perempuan itu? Mengapa bisa terjadi begitu, sudikah kau menjelaskan?"
Kata Nyo Ko.
"Perempuan itu ialah Li Bok-chiu, mengenai duduk perkaranya..."
Lik-oh merandek, lalu menyambung.
"Meski aku diperlakukan secara begini oleh ayah, betapapun dia adalah ayahku sendiri, urusan ini tidak pantas kuceritakan..."
"Anak Oh, hayo bicaralah!"
Mendadak Kiu Jian jio berteriak.
"Kalau berani berbuat, mengapa kau tidak berani bicara?"
Lik-oh menggeleng dan berkata pula dengan suara lemah.
"Nyo-toako. setengah biji Coat-ceng-tan itu berada di botol yang drebut ayahku itu. O, aku... aku adalah anak yang tidak berbakti pada orang tua."
Sampai di sini ia tidak tahan lagi, ia membalik tubuh sambil menangis dan berjari ke arah Kiu Jian-jio seraya beiseru.
"O, ibu!"
Ucapan "aku adalah anak tidak berbakti ke pada orang tua"
Bagi pendengaran Kiu Jian-jio se-akan2 Lik-oh merasa berani membangkang dan me--lawan sang ayah, padahal yang dimaksud Lik-oh sesungguhnya ada'ah karena dia tidak taat kepada perintah sang ibu.
Semua orang dapat dikelabuhi oleh ucapan Lik-oh itu, hanya Ui Yong seorang saja yang paham arti sesungguhnya.
Dalam pada itu diam2 Kongsun Ci bersyukur bahwa Ui Yong telah kena serangan biji kurma Kiu Jian-jio, ia berharap kedua pihak akan terjadi pertarungan sengit dengan begitu dirinya dapat menarik keuntungan dan sempat pula meloloskan diri.
Dengan berlagak tertawa ia lantas berseru.
"Bagus, bagus! Tidak percuma ayah sayang kepadamu, puteriku sayang! Kau dan ibumu jaga saja di situ, kita harus melabrak semua orang yang berani menerobos ke Coat-ceng-kok kita ini, seorangpun tidak boleh kabur."
Habis berkata mendadak ia menerjang ke arah Ui Yong yang bersandar pada kursi itu.
Cepat Kwe Hu mengacungkan pedangnya untuk membela sang ibu, Yalu Ce berdiri di sampingnya, pedangnya telah dipinjamkan kepada Kwe Hu, segera ia menyerang dari samping dengan bertangan kosong.
Kongsun Ci melirik sekejap dan membatin.
"Buset, sudah bosan hidup barangkali bocah ini, berani menempur aku dengan bertangan kosong?"
Sekali goloknya menabas, ia desak mundur Yalu Ce, berbareng itu pedangnya yang lentik berwarna hitam itu terus menusuk tenggorokan Kwe Hu. Tanpa pikir Kwe Hu menangkis dengan pedangnya.
"Awas, anak Hu!"
Seru Ui Yong kuatir, Maka terdengarlah suara "creng"
Sekali, pedang Kwe Hu terkutung, malahan pedang Kongsun Ci itu tidak latas berhenti melainkan terus memotong ke leher Kwe Hu.
Ui Yong menjadi cemas, ia tahu sampai di mana kepandaian puterinya itu, menghadapi detik berbahaya begini percumalah tipu akal yang dimilikinya, sama sekali ia tak berdaya menolongnya.
Pada saat itulah se-konyong2 Liok Bu-siang berteriak.
"Tangkis dengan tangan kanan!"
Karena jiwanya terancam, serangan musuh begitu cepat datangnya dan sukar mengelak, Kwe Hu tidak sempat membedakan lagi suara siapa yang berteriak padanya itu, tanpa terasa ia menurut dan angkat lengan untuk menangkis serangan maut itu.
"Piaumoay, mengapa kau..."
Bentak Thia Eng.
Ia tahu Bu-siang benci pada Kwe Hu telah membuntungi lengan Nyo Ko, maka sekarang ia sengaja membingungkan Kwe Hu agar menangkis serangan Kongsun Ci dengan lengan agar sebelah lengannya juga terbuntung.
Thia Eng berbudi halus, meski iapun sedih oleh buntungnya lengan Nyo Ko dan menganggap perbuatan Kwe Hu keterlaluan, tapi sama sekali tak pernah timbul pikirannya agar Kwe Hu menebus dosanya dengan sebelah lengannya.
Sebab itulah ia merasa maksud tujuan seruan Bu-siang tadi terlalu kejam dan cepat berseru mence-gahnya.
Namun sudah terlambat, pedang Kongsun Ci sudh menyamber ke lengan Kwe Hu.
"Cret" ,lengan baju Kwe Hu tergores robek pan-jang, berbareng itu iapun tergetar sempoyongan dan jatuh kesamping, Tapi aneh juga, lengannya ternyata tidak tertabas putus, bahkan darahpun tidak mengucur. Karuan Thia Eng dan Bu-siang melongo heran, bahkan Kiu Jian jio dan Kongsun Ci juga terperanjat. Segera pula Kwe Hu dapat berdiri tegak lagi, ia sangat berterima kasih kepada Liok Bu-siang. Dasarnya dia memang seorang nona yang berpikir secara sederhana, ia mengira seruan Bu-siang tadi bermaksud baik untuk menolongnya maka tanpa pikir ia berkata.
"Terima kasih atat petunjuk Cici, cuma darimana engkau tahu..."
Nyo Ko pernah tinggal di Tho-hoa-to, ia tahu Ui Yong mempunyai jaket pusaka "Nui-wi-kah" (jaket duri landak) yang tidak mempan ditabas senjata tajam, maka ia tahu bisanya Kwe Hu menyelamatkan lengannya adalah berkat jaket pusakanya, ia dengar nona itu bertanya "darimana engkau -tahu...."
Dan seterusnya tentu adalah "aku memakai jaket pusaka?" , jika kata2 itu diucapkan berarti rahasia jaket pusaka itu akan diketahui Kongsun Ci.
Padahal saat itu kelihatan Kongsun Ci dan Kiu Jian jio saling pandang sekejap dengan heran dan terperanjat Maka cepat ia berkata.
"Hehe, Kong-sun-siansing, masakah kau tidak kenal nona kita ini?"
Sudah tentu Kongsun Ci sudah diberitahu sekadarnya oleh Li Bok-chiu mengenai orang2 yang menyatroni Coat-ceng-kok ini, meski sudah tahu siapa Kwe Hu, tapi ia tidak mau kalah pamor, dengan dingin ia sengaja menjawab.
"Huh, anak dara sekecil itu mana kutahu dia siapa?"
"Nona kita ini adalah puteri kesayangan Kwe Cing, Kwe-thayhiap, cucu perempuan Tho-hoa-tocu Ui Yok-su, dia memiliki ilmu kekebalan khas ajaran keluarganya yang tidak mempan dibacok segala macam senjata tajam, pedangmu yang mirip besi tua itu tentu saja tidak dapat melukai dia."
"Huh, tadi aku tidak menyerang sungguh2, memangnya kau kira aku tidak mampu melukai dia?"
Jawab Kongsun Ci dengan gusar, berbareng pedangnya yang hitam itu disendalnya pelahan hingga mengeluarkan suara mendengung.
Setelah lolos dari serangan maut musuh, diam2 ia berterima kasih kepada Bu-siang, ia pikir untung Liok-cici ini memperingatkan, kalau tidak mungkin jiwaku sudah melayang, tampaknya hati Liok-cici ini sebenarnya baik walaupun kata2nya tajam dan suka menyindir Dilihatnya Kongsun Ci sedang menjawab ucapan Nyo Ko tadi dan bersikap meremehkan dirinya, secara timbul lagi kecerobohannya, pikirnya.
"Jika aku tidak takut kepada senjatanya, asal kuterjang dan serang dia, jelas aku pasti akan menang dan tiada kalahnya, mengapa aka tidak melakukan hal ini?"
Karena pikiran itu, segera ia berseru kepada Bu Siu-bun.
"Kakak Bu cilik, harap pinjamkan pedangmu padaku, tua bangka Kongsun ini tidak percaya ilmu sakti keluarga Tho.hoa-to, biarlah ku-perlihatkan sedikit padanya."
Tanpa bicara Bu Siu-bun menyodorkan pedangnya dan diterima Kwe Hu. Nona itu memutar pedangnya satu kali lalu berkata.
"Nah, si tua Kongsun, silakan maju!"
Melihat lagaknya yang men-tang2 tanpa gentar sedikitpun, sungguh mirip benar jagoan tulen yang menghadapi anak kecil saja.
Sudah tentu Kongsun Ci dapat menilai anak dara ini hanya dari gerakan pedangnya saja, segera ia membentak.
"Baik, akan kubelajar kenal lagi dengan kepandaianmu."
Berbareng goloknya terus membacok ke muka lawan.
Cepat Kwe Hu mengelak dan balas menusuk dengan pedangnya, Tapi pedang hitam Kongsun Ci mendadak melingkar tiba dan menyabet pedang Kwe Hu.
Sudah tentu Kwe Hu tidak berani mengadu sen-jata, cepat ia tarik kembali pedangnya, Mendadak Kongsun Ci memegang golok dan pedang di tangan kanan, sedangkan tangan kiri terus menghantam.
Diam2 Kwe Hu bergirang, ia pikir kalau tangan orang menggablok duri landak jaket pusaka-kanya itu, maka celakalah musuh.
Tapi kuatir tenaga pukulan musuh terlalu lihay, bisa jadi ia sendiripun akan terluka dalam, maka ia sedikit miringkan tubuh untuk mengelakkan sebagian tenaga pukulan musuh dan membiarkan pukulan itu tetap-mengenai tubuhnya.
Di luar dugaan, belum pukulan Kongsun Ci itu mencapai sasarannya, mendadak ia melompat mundur sambil berteriak.
"Budak hina, menyerang orang secara menggelap."
Tentu saja Kwe Hu bingung, katanya.
"Sama sekali aku tidak melukai kau!"
Ia menjadi heran apakah jaket pusakanya begitu lihay, belum tangan musuh menyentuhnya sudah dapat dilukainya?
Baca Juga: Pedang Darah Bunga Iblis 5
Baca Juga: Pedang Berkarat Pena Beraksara 6