Ceritasilat Novel Online

Kembalinya Sang Pendekar Rajawali 18

Eps 18 Kembalinya Sang Pendekar Rajawali - Chin Yung

Baca online Kembalinya Sang Pendekar Rajawali - Chin Yung

Cersil Kembalinya Sang Pendekar Rajawali - Chin Yung.

Ia tidak tahu bahwa sebenarnya itulah akal licik Kongsun Ci, maka ia sengaja pura2 terluka dan melompat mundur dengan sempoyongan terus berlari ke ruangan belakang, Rupanya dalam waktu yang singkat itu ia sudah memperhitungkan keadaan pihak lawan, di depan sana adalah Nyo Ko, Ui Yong dan lain2 serta si paderi tua beralis putih, maka dia sengaja meloloskan diri melalui pintu belakang.

Saat itu Kongsun Lik-oh berdiri di sebelah ibu-nya.

Melihat Kongsun Ci akan kabur dengan membawa obat, cepat ia memburu maju sambil berteriak.

"Tunggu dulu, ayah!"

Pada saat itulah mendengar suara mendenging, dua biji buah kurma juga telah menyamber ke arah Kongsun Ci.

Rupanya Kiu Jian-jio kuatir senjata rahasianya itu salah mengenai puterinya sendiri, maka semburan biji buah kurma itu ditinggikan sedikit dan mengarah belakang kepala Kongsun Ci.

Namun gesit sekali Kongsun Ci menunduk kepala sehingga kedua biji kurma itu menyamber lewat dan menancap di dinding.

"Minggir!"

Bentaknya sembari menerjang ke depan.

"Tinggalkan Coat-ceng-tan..."

Belum habis ucapan Koagsun Lik-oh, tahu2 Kongsun Ci sudah menubruk tiba, sekali pegang segera urat nadi pergelangan tangan gadis itu kena dicengkeramnya, menyusul tubuh berputar, Lik-oh digunakan sebagai tameng di depan, lalu Kongsun Ci membentak "Perempuan bejat, apakah kau ingin mengadu jiwa?

Baiklah kita gugur bersama semuanya!"

Sebenarnya biji kurma Kiu Jian-jiu sudah akan disemburkan lagi, ketika mendadak nampak keadaan berubah dan untuk menahan semprotan juga tidak keburu lagi, terpaksa ia miringkan kepala dan menyemburkan senjata rahasianya itu kesamping.

Dalam keadaan terpaksa begitu, yang diharapkan Kiu Jian-jio asalkan biji kurma itu tidak tersemprot ke arah anak perempuan, sama sekali tidak terpikir siapa yang menjadi sasarannya lagi, Maka terdengarlah suara jeritan dua kali, dua anak murid berseragam hijau menggeletak binasa dengan kepala pecah dan yang lain dada berlubang.

Kongsun Ci menyadari kalau ingin merebut kembali Coat-Ceng-kok, selain memerlukan bantuan Li Bok-chiu juga anak buahnya harus dipuiihkan dulu kesetiaannya, Apa yang terjadi sekarang jelas adalah kesempatan baik untuk menarik simpatik anak buahnya itu, segera ia berseru.

"Perempuan jahat, kau tega membunuh anak muridku, pasti akan kubinasakan kau,"

Karena bicara dan sedikit merandek inilah tahu2 Nyo Ko telah mengadang jalan larinya.

"Kongsun siansing, urusan kita perlu diselesaikan dahulu, jangan ter-buru2 pergi."

Kata Nyo Ko. Kongsun Ci mengangkat tubuh Lik-oh ke atas, katanya dengan menyeringai "Kau berani merintangi aku?"

Segera ia ber-putar2 dengan tungkak kaki sehingga makin mendekati Nyo Ko.

Karena Kongsun Ci berputar dengan mengangkat tubuh Lik-oh, kalau Nyo Ko merintanginya atau Kiu Jian-jio menyerang lagi dengan biji kurma, tentu yang akan terluka adalah Kongsun Lik-oh.

Dengan sendirinya Nyo Ko tidak berani sembarangan bertindak,, betapapun ia tidak mau mengorbanknn jiwa nona itu demi merebut obat bagi kepentingannya sendiri.

Dalam pada itu Kongsun Ci telah menggeser maju lagi dengan memutar tubuh Kongsun Lik-oh, terpaksa Nyo Ko menyingkir ke samping.

Sama sekali Lik-oh takbisa berkutik berada dalam cengkeraman sang ayah, waktu memutar ke sini dan tiba2 dilihatnya Nyo Ko menyingkir memberi jalan bagi ayahnya dengan mata yang penuh prihatin baginya, hati Lik-oh tergetar, pikirnya.

"Demi keselamatanku ternyata dia rela mengorbankan obat yang dapat menyembuhkan dia itu."

Walaupun kaki dan tangannya takbisa bergerak namun kepala dan lehernya dapat berputar, mendadak ia menjerit tertahan.

"O, Nyo-toako!"

Tiba2 batok kepalanya ditumbukkan ke ujung pedang hitam yang dipegang Kongsun Ci itu. Pedang itu sangat tajam, karuan tanpa ampun jiwa Kongsun Lik-oh melayang, tewas di tangan ayahnya sendiri.

"Haya!"

Teriak Nyo Ko kaget, namun sudah kasip meski bermaksud menubruk maju untuk menolong.

Kongsun Ci juga terkejut dan hati terasa pedih sedikit, namun iapun tahu keadaan sangat berbahaya baginya, segera pihak lawan pasti akan menggempur nya dengan mati2an.

Didengarnya suara orang menggeram gusar, tiga biji buah kurma secepat kilat telah menyamber tiba.

Tanpa pikir ia lemparkan mayat puterinya ke belakang sehingga ketiga biji kurma itu seluruhnya mengenai tubuh Lik-oh yang sudah tak bernyawa itu.

Menyaksikan kekejaman Kongsun Ci itu, semua orang sangat murka dan benci padanya, serentak mereka melolos senjata dan segera hendak mengerubut maju.

Cepat Kongsun Ci berseru.

"Wahai para anak murid! perempuan jahat itu bersekongkol dengan orang luar dan hendak membunuh segenap penghuni Coat-ceng-kok kita ini. Hayolah lekas maju dengan barisan jaring berkait kalian!"

Sejak kecil anak muridnya itu memujanya seperti malaikat dewata, Soalnya tempo hari Kongsun Ci terpaksa melarikan diri setelah sebelah matanya di butakan oleh Kiu Jian-jio.

Dalam keadaan kosong pimpinan, terpaksa mereka tunduk kepada perintah Kiu Jian-jio.

Kini seruan Kongsun Ci telah membangkitkan kembali ketaatan mereka, serentak mereka merubung maju dengan membentangkan jaring berkait.

Setiap j'aring itu lebarnya enam-lima meter dan penuh kaitan dan piiau kecil yang tajam, Biarpun kepandaian Bu Sam-tbong, Yalu Ce dan lain2 cukup tinggi juga tidak tahu cara bagaimana menghadapinya.

Apabila jaring itu mengurung rapat, bukan mustahil tubuh mereka akan babak belur, Ta-pi karena kepungan barisan jaring itu, Kiu Jian-jio sendiripun terkurung di tengah.

Segera ia ber-teriak2

"jangan tunduk pada ocehan bangsat tua itu, para anak murid, lekas berhenti, lekas kalian mundur!"

Akan tetapi para anak murid berseragam itu anggap tidak mendengar.

Bahkan Kongsun Ci terus membentak lagi memberi perintah cara bagaimana barisan jaring itu harus bekerja, Anak buahnya ternyata mengikuti perintahnya dan mendesak maju dengan jaring terbentang.

Bahu kanan Ui Yong terluka, terpaksa ia gunakan tangan kiri untuk merogoh segenggam jarum terus ditawurkan, berpuluh jarum lantas menyambar ke sebelah sana.

walaupun tenaga tangan kirinya tidak sekuat tangan kanan, tapi jaraknya cukup dekat pula, jumlah jarum cukup banyak, sedikitnya beberapa orang berseragam hijau akan terluka, dan kalau barisan jaring itu kebobolan segera mereka dapat menerjang keluar.

Tak tahunya di atas jaring ikan itu banyak terikat batu semberani kecil yang bisa digunakan untuk menyedot senjata rahasia musuh.

Maka terdengarlah suara gemerincing nyaring, berpuluh jarum Ui Yong serta paku lembut yang disemburkan Kiu Jian-jio sama lengket pada jaring ikan.

"Celaka!"

Keluh Ui Yong. Segera ia membentak pula.

"Anak Hu, jaga kepalamu dengan pedang dan terjang maju bobolkan jaring musuh"

Di antara rombongannya hanya Kwe Hu saja yang memakai jaket pusaka dan tidak takut dilukai kaitan tajam di atas jaring itu, maka Ui Yong menyerukan puterinya itu menerjang musuh.

Tanpa pikir Kwe Hu memutar pedangnya dan menerjang ke sebelah kanan, Empat orang berseragam hijau membentang jaring terus dilemparkan ke-arahnya, Tapi begitu pisau kecil dan kaitan diatas jaring itu mengenai tubuh Kwe Hu, kaitan jaring itu terpental balik.

Tapi ber-turut2 barisan jaring itu lantas menubruk maju lagi dari kanan-kiri, jika kepungan barisan jaring itu makin mendesak, betapapun sukar bagi Kwe Hu untuk membobolnya sekalipun dia memakai jaket pusaka yang kebal senjata tajam.

Melihat keadaan berbahaya, Nyo Ko tidak tinggal diam, segera ia putar pedangnya yang maha berat itu sekali tebas, kontan sebuah jaring musuh terobek menjadi dua, keempat orang ini terbentang di-pegangi empat orang di kanan kiri..

seketika ke-empat orang itu jatuh terjungkal.

Suasana menjadi kacau, mendadak dari luar ruangan pendopo itu berlari masuk dua orang kejar mengejar.

Semua orang sama terkesiap demi nampak yang muncul-ini adalah Li Bok-chiu dan Cu Cu-liu.

Kiranya Li Bok-chiu telah lama menunggu di puncak Coat ceng-hong dan belum nampak Kongsun Ci kembali dengan obat yang dijanjikan itu, diam2 ia mendongkol dan menyangka Kongsun Ci telah menipunya, Akhirnya ia turun dari puncak gunung itu dan mencari jalan kembali ke Coat-ceng-kok tempat Kiu Jian-jio dengan tujuan mencari kesempatan untuk merebut obat penawar racun bunga cinta menurut cerita Kongsun Ci itu.

Karena tidak apal jalanan di situ, akhirnya Li Bok-chiu kesasar lagi ke tempat yang penuh tumbuh bunga cinta yang melukainya itu.

Pada saat itulah tiba2 didenganiya ada suara orang berjalan mendatangi, Cepat ia sembunyi di baiik batu karang di samping semak2 bunga itu.

Ia coba mengintip diri tempat sembunyinya, dilihatnya kedua orang itu yang satu berdandan sebagai sastrawan dan yang lain adalah Hwesio negeri asing.

Kiranya mereka itu adalah Cu Cu-liu dan paderi Hindu.

Tadinya Cu Cu-liu menunggui paman gurunya yang belum siuman itu di rumah garangan, Sesudah siuman kembali, paderi Hindu itu lantas mengajak Cu Cu-liu ke tempat bertumbuhnya bunga cinta untuk menyelidiki lebih lanjut.

Setiba di semak2 bunga itu, paderi Hindu itu lantas berjongkok dan mulai meraba dan meneliti rumput di sekitar dan di bawah bunga cinta itu.

Maklumlah, barang yang satu biasanya menjadi penangkal barang yang Iain.

Tempat di mana ular berbisa berkeliaran, di situ pasti tumbuh obat bunga cinta itu juga pasti tumbuh di bawah atau di sekitar bunga itu.

Sudah tentu tak diketahuinya bahwa Li Bok-chiu justeru sembunyi di balik batu karang sana, ketika nampak paderi itu me-runduk2 semakin mendekat tanpa bicara lagi Li Bok-chiu lantas menyerangnya dengan sebuah jarum berbisa.

Orang lain saja sukar untuk mengelak serangan menggelap Li Bok-chiu itu, apalagi paderi Hindu itu tidak mahir ilmu silat, kontan saja jarum itu menancap di dadanya dan binasa.

Cu Cu-liu mendengar suara mendesis pelahan itu, lalu paman gurunya menggeletak tak bergerak lagi segera ia tahu apa yang terjadi.

Hanya tak diketahuinya bahwa paderi Hindu sudah mati, tanpa pikir ia memburu maju untuk menolongnya.

Kesempatan baik itu tidak sia2kan Li Bok-chiu, mendadak ia menubruk keluar dari tempat sembunyinya dan pedang terus menusuk punggung Cu Cu-liu, karena tidak menyangka musuh justeru sembunyi di belakang batu, sukar bagi Cu Cu-liu untuk menghindari sergapan itu, sebisanya dia miringkan tubuh, karena itu ujung pedang Li Bok-chiu hanya melukai bahunya saja dan tidak parah.

Segera Cu Cu-liu menggeser ke samping dan membalik, kontan ia balas menutuk dengan It-yang-ci.

Li Bok-chiu pernah merasakan It-yang-ci yang di mainkan Bu Sam-thong, sekarang ilmu jari sakti.

Cu Cu-liu ini ternyata lebih lihay, diam2 Li Bok-chiu terkesiap dan tidak berani gegabah.

Setelah bergebrak beberapa jurus, Cu Cu-liu melihat sang Susiok yang menggeletak itu sama sekali tidak bergerak, cepat ia berseru.

"Susiok! Susiok!"

Tapi sang paman guru tetap tidak menjawab.

"Hehe, jika kau ingin jawabannya, boleh kau ikut ke akhirat saja!"

Ejek Li Bok-chiu sambil menyerang lagi lebih gencar, ia pikir kalau lawan berduka karena paman gurunya sudah mati, tentu pikirannya akan kacau dan mudahlah dikalahkan.

Tak tahunya rasa duka Cu Cu-liu itu justeru menambah sakit hatinya kepada musuh, serangannya malah bertambah lihay tanpa kendur sedikitpun.

Di bawah cahaya bulan sabit yang remang itu Li Bok-chiu melihat wajah Cu Cu-liu berubah beringas, matanya membara, serangannya tambah kalap se-akan2 tidak segan untuk gugur bersama bila perlu, diam2 Li Bok-chiu menjadi takut sendiri, setelah bergebrak lagi beberapa jurus, mendadak ia membalik tubuh terus angkat langkah seribu alias kabur.

Cepat Cu Cu-liu memeriksa keadaan sang Susiok, ternyata sudah tidak bernapas lagi, sekali bersiul penuh duka, segera ia mengudak kearah Li Bok-chiu dan begitulah susul menyusul mereka telah masuk ke ruangan pendopo.

"Susiok telah terbunuh oleh iblis ini, Suhu!"

Seru Cu Cu-liu begitu melihat It-teng Taysu. Melihat datangnya Li Bok-chiu, Kongsun Ci kaget dan girang, segera ia berseru.

"Ke sini saja Li-sumoay!"

Berbareng iapun menyongsong ke sana. Meski terluka, namun pikiran Ui Yong cukup jernih, melihat sikap Kongsun Ci itu segera ia dapat menerka hubungannya dengan Li Bok-chiu, cepat ia berseru.

"Ko-ji, pisahkan kedua iblis itu, jangan sampai mereka bergabung!"

Namun Nyo Ko sudah putus asa demi mendengar berita kematian paderi Hindu itu, kini semuanya tak berarti lagi baginya, sisa Coat-ceng-tan itu telah diambil Kongsun Ci atau bukan sama sekali tak terpikir lagi olehnya.

Maka seruan Ui Yong itu hanya disambut dengan tersenyum dan tidak ikut turun tangan.

Cepat Yalu Ci jemput setengah jaring yang dirobek oleh pedang Nyo Ko tadi dan berseru.

"Bu-suheng, cepat pegang ujung sana!"

Beramai Bu Tun-si, Wanyan Peng dan Yalu Yan lantas memegangi ujung jaring itu dan menghadang di antara Li Bok-chiu Kongsun Ci itu tidak berhasil mengurung musuh, kini malah berbalik kena diperalat oleh musuh untuk merintangi dia sendiri benar2 senjata makan tuan.

Sementara itu, suasana di ruangan itu menjadi gaduh, karena scbagaian jaringnya bobol, anak buah Kongsun Ci menjadi kacau, kesempatan itu segera digunakan Kiu Jian-jio untuk menyemburkan senjata rahaHanya, maka terdengarlah jeritan dan teriakan di sana sini, ber-turut2 lima enam orang telah roboh binasa, barisan jaring juga lantas kacau balau dan buyar.

Dengan gusar Kongsun Ci ayun goloknya membacok Yalu Yan, namun Thia Eng lantas mendahului menutuknva dengan seruling kumalanya.

Terpaksa Kongsun Ci menarik kembali goloknya, diam2 ia terkejut oleh keiihayan Thia Eng itu.

Ber-turut2 ia menusuk dua kali dengan pedangnya dan semuanya dapat dipatahkan Thia Eng pula.

Cepat Bu-siang putar golok sabitnya mengerubut maju, Percumalah Kongsun Ci menerjang kian kemari, maksudnya hendak bergabung dengan Li Bok-chiu selalu dirintangi beberapa anak muda itu, malahan terkadang ia harus waspada terhadap semburan senjata rahasia Kiu Jian-jio.

ia pikir agar bisa bergabung dengan leluasa harus terjang dulu keluar rumah sana.

Maka sambil memutar senjatanya ia lantas berseru.

"Li-suamoay, terjang keluar saja, kita bertemu lagi di tempat tadi!"

Berbareng kedua orang lantas bersuit dan melompat kekanan dan kiri, melayang lewat di samping Nyo Ko dan Siao-liong-li terus menerobos keluar rumah.

Kalau Nyo Ko dan Siao-liong-li mau turun tangan, tentu kedua orang itu dapat dicegah Tapi tangan kiri Nyo Ko menggenggam kencang tangan kanan Siao-liong-li sambil melangkah keluar dengan pelahan, meski tahu jelas Kongsun Ci dan Li Bok-chiu lewat di sebelah mereka juga tidak ambil pusing.

Cepat Ui Yong berseru.

"Cegat Kongsun Ci itu, Liong-sumoay, Coar-ceng-tan berada padanya!"

Siao-liong-li terkejut, ia pikir kalau paderi Hindu itu sudah mati, maka racun dalam tubuh Ko-ji hanya dapat ditolong dengan sisa Coat-ceng-tan itu.

Segera ia melepaskan gandengan tangan Nyo Ko dan memburu ke sana.

"Biarkan saja, Liong-ji!"

Seru Nyo Ko.

"Mana boleh dibiarkan dia pergi?"

Ujar Siao-liong li.

Melihat Siao-liong-li tetap mengejar dengan cepat terpaksa Nyo Ko menyusulnya.

Kongsun Ci dan Li Bok-chiu lari ke jurusan yang berlawanan, maka semua orang juga mengejar dengan terbagi dua rombongan.

Siao-liong-li, Nyo Ko, Thia Eng dan Liok Bu-siang berempat mengejar Kongsun Ci, sedangkan Bu Sam-thong dan kedua Bu cilik, Cu Cu-liu dan Wanyan Peng berlima mengudak Li Bok-chiu.

Yalu Ce, Yalu Yan dan Kwe Hu tinggal di sana mendampingi Ui Yong untuk mengawasi Kiu Jian-jio agar tidak melakukan kekejaman lain.

Di antara rombongan Bu Sam-thong itu, ilmu silat Cu Cu-liu terhitung paling tinggi, tapi bahunya terluka, setelah ber-lari2 sekian lama, akhirnya ia merasa tidak tahan, waktu semua orang berhenti dan memandang Cu Cu-liu, sedikit merandek saja bayangan Li Bok-chiu lantas tak kelihatan lagi.

"Kalau iblis itu sampai lolos, sungguh kita berdosa terhadap Susiok,"

Ujar Cu Cu-liu dengan gregetan, Mereka terus mencari kian kemari di semak2 pohon dan batu karang, tapi jejak Li Bok-chiu tetap menghiIang.

"Tadi Kongsun Ci berseru padanya agar bertemu lagi di tempat semuIa,"

Kata Cu-liu.

"Kita tidak tahu tempat mana yang dimaksudkan, tapi asalkan kita mengikuti Kongsun Ci, akhirnya iblis perempuan ini pasti akan ditemukan di sana."

"Benar ucapan Sute,"

Ujar Bu Sam-thong.

"Marilah kita lekas menguntit Kongsun Ci saja."

Begitulah mereka lantas putar balik ke arah larinya Kongsun Ci tadi.

Tidak lama, benarlah di depan sana terdengar suara teriakan dan bentakan orang, Bu Sam-thong memayang Cu Cu-liu agar dapat berlari lebih cepat Namun suara bentakan dan teriakan itu sebentar mendekat lain saat menjauh lagi, sekejap kemudian lantas lenyap dan keadaan sunyi senyap pula.

Ribut semalam suntuk, sementara itu fajar sudah hampir menyingsing, cuaca sudah remang2.

Tiba2 terlihat di depan ada jalan simpang empat, mereka menjadi bingung jurusan mana yang harus dituju?

Mata Wanyan Peng lebih celi, tiba2 ia tuding sebatang pohon kecil di tepi jalan yang kedua sana dan berseru.

"He, Cu cianpwe, coba lihat, batang pohon itu, baru saja dibacok orang."

"Benar,"

Seru Cu-liu dengan girang.

"Marilah kita coba mengambil jalan ini."

Cepat mereka berlari ke sana.

sesudah membelok kian kemari, kemudian terlihat pula batang pohon di tepi jalan ada lagi bekas bacokan serupa pohon tadi.

semangat mereka terbangkit, mereka menyusur ke sana lebih cepat, pepohonan di tepi jalan makin lama makin lebat, jalanan juga semakin rusak dan sukar ditempuh.

untunglah pada setiap belokan atau lintasan jalan selalu ada tanda2 bacokan golok di atas pohon atau di tanah.

Kiranya tanda2 bacokan itu adalah perbuatan Liok Bu-siang atas perintah Thia Eng.

Kedua nona itu mengikuti Nyo Ko dan Siao-liong-li mengejar Kongsun Ci, karena sasarannya itu lari berputar kian kemari secara menyesatkan kuatir ke-sasar, maka Thia Eng suruh Bu-siang meninggalkan tanda sepanjang jalan.

Tak terduga tanda2 itu akhirnya menjadi petunjuk jalan bagi rombongan Cu Cu-liu.

Begitulah setelah ber-lari2 sekian lama, hari pun sudah terang, namun pepohonan lebat di sekitar mereka menambah suasana jadi suram.

jalanan menanjak dan terjal, terpaksa mereka melambatkan langkah.

Tengah berjalan, tiba2 terdengar suara orang tertawa panjang di bagian atas, suaranya melengking tajam laksana burung hantu, serentak mereka berhenti dan menengadah, tertampaklah di suatu tebing yang curam di depan sana berdiri seorang sedang mendongak sambil tertawa, Siapa lagi dia kalau bukan Kongsun Ci.

Di bawah tebing curam itu adalah jurang yang tak terkira dalamnya, di atasnya adalah puncak gunung yaag menjulang tinggi menembus awan.

Melihat keadaan Kongsun Ci yang menyerupai orang gila itu, diam2 Cu Cu-liu berkuatir.

"Kalau dia terpeleset dan jatuh ke jurang, mampusnya sih tidak perlu disayangkan, tapi Coat-ceng-tan yang dibawanya itu akan ikut lenyap juga."

Segera ia memburu ke sana secepat terbang.

Setelah membelok suatu tikungan, dilihatnya Nyo Ko, Siao-liong-li, Thia Eng dan Liok Bu-siang berempat sudah berdiri di tepi tebing sana dan sedang menengadah memandangi Kongsun Ci.

Melihat datangnya Cu Cu-liu, dengan suara pelahan Siao-liong li lantas berkata.

"Cu-toasiok, lekas engkau mencari akal untuk memancing dia turun."

Cu Cu-liu coba mengamat-amati keadaan sekitar situ, dilihatnya tempat berdiri Kongsun Ci itu hanya dihubungkan oleh sebatang balok batu yang lebarnya tidak lebih dari 30 senti, jembatan dan tebing gunung sana penuh berlumut hijau, berdiri sendirian di sana saja tak bisa bergerak dengan leluasa, apalagi kalau dua orang berdesakan di sana.

Maka selain memancing turun Kongsun Ci rasanya memang tiada jalan lain.

Tapi Kongsun Ci adalah manusia licin dan licik, manabisa dia diakali?

persoalan ini benar2 rumit.

Teringat kepada budi kebaikan Nyo Ko yang telah menyelamatkan jiwa kedua anaknya yang sekarang mati-hidup Nyo Ko sangat bergantung pada obat yang berada di tangan Kongsun Ci, ia merasa sekarang inilah saatnya baginya untuk membalas budi Nyo Ko, segera ia menyingsing lengan baju dan berkata.

"Biar kupergi kesana untuk menyeretnya ke sini."

Tapi baru saja ia melangkah, tiba2 bayangan orang berkelebat tahu2 Thia Eng sudah mendahului di depannya dan berkata.

"Aku saja yang ke-sana!"

Cepat sekali ia terus melangkah ke jembatan batu yang sempit itu.

Akan tetapi cepatnya Thia Eng ternyata masih kalah cepat daripada Nyo Ko, tiba2 Thia Eng merasa pinggangnya mengencang, Nyo Ko telah membelit pinggangnya dengan lengan baju yang kosong itu serta ditariknya kembali Malahan terdengar Nyo Ko membisik di telinganya.

"Apa artinya diriku ini, kenapa engkau perlu berbuat begini?"

Wajah Thia Eng menjadi merah dan seketika tidak sanggup bicara, Pada saat itulah suara Siao-liong-li berkata.

"Tolong pinjam sebentar pedangmu!"

Mendadak sesosok bayangan melayang lewat di samping Bu Tunsi dan Wanyan Peng dan tahu2 pedang mereka sudah di lolos orang, Gerakan itu sungguh secepat kilat, ketika Bu Tun-si dan Wanyan Peng melengak bingung sementara itu Siao-liong-li sudah melayang ke atas jembatan batu dan mendekati Kongsun Ci.

Terkejut juga Kongsun Ci melihat Siao-liongli berani mendekat ke tempat berbahaya itu, Segera ia melangkah maju dan mengadang di ujung jembatan batu sebelum Siao-Iiong-li menyeberang ke tempatnya, Bentaknya.

"Apakah kau ingin mampus?"

Sambil menghunus sepasang pedang, Siao-liong-li berdoa di dalam hati semoga berhasil merebut kembali Coat-ceng-tan dan matipun ia rela, Dengan suara lembut ia lantas berkata.

Kongsun-siansing, engkau pernah menyelamatkan jiwaku, lantaran perempuan yang bernasib malang seperti diriku ini kau telah ikut menderita, sungguh aku sangat menyesal dan sedih.

Kedatanganku sekarang sama sekali tidak ingin mengadu jiwa dengan kau.

"Habis kau mau apa?"

Tanya Kongcun Ci.

"Kumohon engkau suka memberi obat untuk menolong suamiku, obat itu tidak berguna bagimu, kalau suka dihadiahkan padaku, sungguh takkan kulupakan budi kebaikanmu,"

Tutur Siao-liong-li.

"Lekas kembali, Liong ji!"

Demikian Nyo Ko berseru di seberang sana.

"Setengah biji obat itu takkan menolong jiwa kita berdua, apa gunanya kau memintanya?"

Melihat perawakan Siao liong-li yang cantik dan lemah gemulai menggiurkan mana Li Bok-chiu dapat menandinginya biarpun cuma tiga bagiannya, matanya yang tinggal satu mengincar dengan terkesima, tiba2 timbul lagi pikiran jahat Kongsun Ci, ia tanyai "Kau panggil bocah she Nyo itu suamiku?"

"Ya, kan dia sudah menikah dengan aku,"

Jawab Siao-liong-li.

"Asalkan kau menyanggupi suatu permintaanku, segera obat ini kuberikan,"

Kata Kongsun Ci. Melihat sorot mata tunggal orang yang licin itu, segera Siao-liong-Ii tahu maksudnya, katanya sambil menggeleng.

"Aku sudah bersuami, mana boleh kunikahi kau lagi? Kongsun-siansing, kau tetap kesemsem padaku, namun aku sudah ada yang punya, terpaksa mengecewakan maksud baikmu."

Mata Kongsun Ci yang aneh itu mendelik, bentaknya.

"Jika begitu lekas kau mundur ke sana. Kalau kau tetap memusuhi aku, terpaksa aku tidak kenal ampun lagi."

"Kan sia2 belaka perkenalan kita ini jika sampai kita bergebrak dan bermusuhan?"

Ujar Siao-liong-li suaranya sangat halus, dalam hati ia benar2 masih merasa utang budi kepada Kongsun Ci.

"Hm,"

Jengek Kongsun Ci.

"aku justeru ingin menyaksikan bocah she Nyo itu merintih-rintih karena racun dalam tubuhnya masih bekerja, ingin melihat dia sekarat menghadapi elmaut, ingin tahu betapa cantiknya isteri setia seperti kau ini akhirnya menjadi janda muda belia yang berkabung."

Makin bicara makin keji kata2nya dengan menyeringai dan mengertak gigi. Siao liong-li menyambut dengan tersenyum pedih, jawabnya.

"Coba dengarkan kau, bukankah dia sedang memanggilku kembali ke sana? Begitu kasih sayangnya padaku, betapapun dia tak menghiraukan apakah racun dalam tubuhnya akan kumat atau tidak."

Benar juga terdengar Nyo Ko sedang berseru, katanya.

Liong-ji, lekas kembali sini, buat apa banyak bicara dengan orang macam begitu?

Kalau saja jembatan batu itu tidak terlalu sempit dan sukar dipijak dua orang, tentu sejak tadi ia sudah berlari ke sana dan menarik kembali isterinya.

Jarak Kongson Ci dengan Siao-liong-li saat itu hanya satu-dua meter saja, asalkan melangkah maju setindak saja sudah dapat meraihnya.

Cuma tempatnya teramat berbahaya, bila nona itu sedikit meronta saja, maka kedua orang pasti akan tergelincir bersama ke dalam jurang dan hancur lebur.

Kongsun Ci menjadi serba susah, kalau tidak menawan Siao-liong li sebagai sandera, lalu cara bagaimana dirinya dapat lolos dari tebing yang buntu ini.

Di lihatnya di pihak lawan hanya Nyo Ko seorang saja yang lihay, kalau dirinya menerjang mati2 an mungkin anak muda itupun takdapat mengalanginya, paling baik kalau Siao-liong-li mau mundur sesuai seruan Nyo Ko itu, lalu dirinya ikut menyeberang ke sana dan menawannya, kemudian bergabung dengan Li Bok-chiu.

Setelah ambil keputusan demtkian, segera Kongsun Ci membentur pedang dan goloknya hingga menerbitkan suara mendering, bentaknya.

"Lekas mundur!"

Berbareng pedangnya terus menusuk Di luar dugaannya, sejak Siao-liong-li belajar ilmu berkelahi dua tangan dengan dua cara dari Ciu Pek-thong itu, kepandaiannya serentak bertambah satu kali lipat, kalaupun tubuh mengidap racun tenaga dalamnya banyak berkurang, tapi betapa hebat Giok-li-kiam-hoat yang dimainkannya dengan kedua tangan sekaligus manabisa ditandingi golok dan pedang Kongsun Ci.

Dalam sekejap saja sepasang pedang yang diputar Siao liong-li itu telah berubah menjadi dua gulung sinar putih, kalau kiri bertahan, yang kanan segera menyerang dan begitu seterusnya secara bergantian Keruan Kongsun Ci menjadi kelabakan dan terdesak.

Makin lama makin heran dan gelisah hati Kongsun Ci, diam2 ia menyesal, kalau tadi mengetahui orang telah berhasil meyakinkan ilmu pedang selihay ini, tentu dia takkan bergebrak dengannya.

Masih untung baginya karena Siao-liong-li tidak bermaksud membunuhnya, maka untuk sekian lama Kongsun Ci masih sanggup bertahan.

Begitulah mereka terus bertempur dengan sengitnya di tebing yang curam itu, tidak lama It-teng Taysu, Ui Yong, Kwe Hu, Yalu Ce dan Yalu Yari juga dan sama terperanjat menyaksikan pertarungan sengit mereka di tempat yang berbahaya itu.

Kwe Hu berkata kepada Yalu Ce.

"Lekas kita maju membantunya, sendirian mana Liong-cici mampu mengalahkan dia?"

Biarpun watak Kwe Hu rada sembrono dan sejak kecil selalu dimanjakan sang ibu, tapi pada dasarnya sebenarnya berhati bajik.

Ketika menyaksikan keadaan Siao-liong li sangat berbahaya, ia sendiripun pernah bergebrak dengan Kongsun Ci dan diketahuinya kepandaian kakek bermata satu itu sangat lihay, bahkan ibunya juga bukan tandingannya, apalagi sekarang Siao-liong li menempurnya sendirian.

Tapi Yalu Ce mengatakan jembatan batu itu tak muat lagi orang lain, hal inipun memang nyata.

Saking cemasnya terpaksa ia berseru "Lekas mencari akal untuk membantu Liong-cici ibu!"

Padahal tanpa seruannya itu, setiap orang juga berharap bisa membantu Siao-liong li meninggalkan tempat berbahaya itu, tapi apa daya, andai kata bisa terbang ke sana juga tiada tempat untuk berpijak.

Terdengar suara bentakan Kongsun Ci golok dan pedangnya menyerang serabutan, kedua pedang Siao liong-li menyamber kian kemari dengan lemasnya seperti kekurangan tenaga, kalau berlangsung, lama tampaknya dia pasti akan celaka di tangan Kongsun Ci, Hanya Nyo Ko, Ui Yong dan It-teng Taysu saja yang dapat melihat dengan jelas bahwa sesungguhnya Siao-liong-li yang lebih unggul.

Sejenak puIa, dapatlah Ui Yong melihat cara bertempur Siao-liong-li itu ternyata adalah ilmu berkelahi dengan dua tangan dan dua cara.

Kepandaian ini di seluruh jagat tiada orang ketiga yang paham selain Ciu Pek-tong dan Kwe Cing, maka jelas kepandaian Siao liong-li ini pasti ajaran Ciu Pek-thong.

Dilihatnya Kungfu yang dimainkan Kongsun Ci sesungguhnya teramat lihay, sedangkan Siao-liong-li habis luka berat dan keracunan, tenaga dalamnya banyak susut, meski jurus serangannya lebih unggul namun dalam waktu ratusan jurus juga sukar menundukkan Kongsun Ci.

Tiba2 teringat satu akal oleh Ui Yong, segera ia berkata.

"Ko-ji, kau dan aku berbareng bicara pada Kongsun Ci, kau mengertak dan me-nakut2i dia, sebaliknya aku membuatnya gembira, supaya dia lengah dan perhatiannya terpencar."

Habis itu ia lantas mendahului berteriak.

"Hai, Kongsun-siansing, ini kabar baik bagimu, perempuan jahat Kiu Jian-jio itu sudah kubunuh tadi!"

Tergetar juga hati Kongsun Ci mendengar ucapan itu, ia menjadi ragu2, setengah percaya setengah sangsi. Segera Nyo Ko ikut berseru.

"Kongsun Ci, Li Bok-chiu menganggap kau ingkar janji karena tidak membawakan obat yang kau sanggupkan padanya, maka ia telah datang hendak membikin perhitungan dengan kau."

"Tidak, tidak!"

Cepat Ui Yong menambahkan.

"Kata Li Bok-chiu, asalkan kau mampu menyembuhkan racun dalam tubuhnya, maka dia rela menjadi isterimu"

"Ah, mustahil kami mau tinggal diam?"

Seiu Nyo Ko pula.

"Kami pasti akan berusaha menggagalkan angan2mu, kalau kau tertangkap kami, akan kami siksa kau juga dengan duri bunga cinta itu supaya kau juga tahu rasa."

"Persengketaan kita dapat didamaikan, tidak perlu kau kuatir, bagaimana kalau sekarang juga kita mulai berunding?"

Seru Ui Yong.

"He, celaka! Pelayanmu yang kau bunuh dahulu itu telah menjadi hantu dan muncul hendak menagih jiwa padamu!"

Teriak Nyo Ko.

"Nah, nah, itu dia! Awas Dia berdiri tepat di belakangmu, wah, kukunya panjang2 dan tampaknya kau akan diterkamnya"

Begituiah Ui Yong dan Nyo Ko berseru secara bergantian ucapan mereka sebentar membikin takut hati Kongsun Ci dan lain saat membuatnya senang.

Sudah tentu Siao-Iiong-li juga dapat mendengar semua perkataan itu, cuma lantaran urusannya tidak menyangkut kepentingannya, pula dia dapat membagi pikirannya, dan dilaksanakan dengan dua tangan, serangannya sedikitpun tidak menjadi kendur sebaliknya Kongsun Ci memang sudah terdesak di bawah angin, karena pengacauan ucapan Nyo Ko dan Ui Yong itu, pikirannya semakin kacau.

Akhirnya ia menjadi gemas dan membentak.

"Kalian mengoceh apa? Lekas tutup mulut!"

"He, awas, Kongsun Ci!"

Seru Nyo Ko pula.

"Siapa itu nona yang berambut semerawut di belakang itu? Lidahnya menjulur panjang, mukanya penuh darah. Ah, dia hendak mencengkeram lehermu, awasi Wah, celaka!"

Meski Kongsun Ci tahu anak muda itu sengaja hendak mengacaukan pikirannya, tapi teriakan2 ngeri itu membuatnya merinding juga dan tanpa terasa ia melirik sekejap ke belakang Kesempatan itu tidak di-sia-2kan Siao-Iiongli, pedangnya menyamber tiba, dengan tepat pergelangan tangan kiri Kongsun Ci tertusuk.

Dengan sendirinya pegangan Kongsun Ci menjadi kendur, golok emasnya mencelat jatuh ke jurang, sampai lama sekali barulah-terdengar kumandang suara pelahan, sanu..

seperti suara kecebur dalam air, agaknya di bawah jurang itu adalah sebuah kolajn atau sungai.

Semua orang saling pandang dengan melongo, begitu lama golok itu terjatuh ke bawah barulah menerbitkan suara, maka betapa dalamnya jurang itu sungguh sukar diukur.

Begitu kehilangan goloknya, jangankan menyerang lagi, untuk bertahan saja sukar bagi Kongsun Ci.

sebaliknya serangan Siaoliong-li semakin lancar dan gencar, ber-turut2 ia menusuk lagi empat kali ke kanan dan ke kiri, tubuh Kongsun Ci tergeliat, pedang hitamnya kembali terjatuh lagi ke jurang dan mati kutulah dia.

Sambil mengancam dada dan perut lawan dengan sepasang pedangnya, Siao-Iiong-li lantas ber-kata.

"Kongsun-siansing, silakan kau menyerahkan Coat-ceng-tan dan jiwamu takkan kuganggu."

"Tapi bagaimana dengan orang2 -itu?"

Tanya Kongsun Ci dengan suara gemetar "Kujamin takkan membikin susah kau,"

Jawab Siao-liong-li.

Dalam keadaan demikian yang dipikir Kongsun Ci hanya menyelamatkan jiwa belaka, segera ia mengeluarkan botol kecil itu dan disodorkan.

Sambil tetap mengancam dada lawan dengan sebelah pedangnya, tangan SiaoliongIi yang lain menerima botol itu dengan perasaan girang dan pedih pula, pikirnya.

"Meski aku sendiri takdapat hidup lama, akhirnya Coat-ceng-tan ini dapat kurampas untuk menolong Ko-ji." -Segera ia berlari balik ke seberang sini. Meski sebelumnya Bu Sam-thong, Cu Cu-liu dan lain2 sudah tahu ilmu silat Siao-liong-li sangat lihay, tapi sama sekali tidak menduga dia memiliki kepandaian sesakti ini, dapat sekaligus memainkan dua pedang dengan dua cara yang berlainan. Mereka pernah mendengar bahwa Ciu Pek-thong dan Kwe Cing mahir memainkan dua cara bertempur yang berbeda dengan kedua tangan, tapi mereka cuma mendengar saja dan belum pernah menyaksikan sendiri sekarang mereka dapat melihat betapa lihay kepandaian Siao-liong-li itu, mereka menjadi kagum tak terhingga. Tentu saja Yalu Ce, Yalu Yan, Thia Eng, Kwe Hu dan lain2 juga tidak kepalang kagumnya menyaksikan betapa lihay ilmu silat Siao-liong-li itu, padahal usianya sebaya dengan mereka, malahan kelihatan lemah gemulai, kalau tidak menyaksikan sendiri tentu orang takkan percaya. Sementara itu dengan gaya indah laksana bidadari turun dari kahyangan Siao-liong li telah mc layang balik dari jembatan batu sana, serentak semua orang bersorak gembira dan memuji. Cepat Nyo Ko memburu maju dan memegangi tangan sang isteri, Semua orang juga lantas merubungnya untuk bertanya. Cepat Siao-liong-Ii membuka botol porselen itu dan menuang keluar setengah butir pil, katanya dengan tersenyum simpul.

"Koji, obat ini tulen bukan?"

Tapi Nyo Ko memandang obat itu dengan tak acuh, jawabnya.

"Memang tulen, Liong ji, bagaimana keadaanmu? Mengapa kau begini pucat? Coba kau mengatur pernapasanmu"

Namun Siao-liong-li tetap tersenyum saja, Ke-tika berlari balik tadi memang sudah dirasakannya darah terasa bergolak dalam rongga dadanya, rasanya muak dan ingin muntah, tapi sekuatnya ia telah bertahan, ia tahu racun yang diidapnya itu terlalu dalam, untunglah dia telah berhasil merebut setengah biji Coat ceng tan, lebih dari itu tak terpikir lagi olehnya.

Sambil menggenggam tangan Siao-liong-li yang terasa semakin dingin, dengan cemas Nyo Ko ber-tanya.

"He, Liong-ji, bagaimana perasaanmu?"

"Ah, tak apa2, lekas kau minum obat ini,"

Ujar Siao-liong-ii.

"Liong-ji,"

Kata Nyo Ko dengan suara gemetar.

"setengah biji obat ini sukar menyelamatkan jiwa dua orang, untuk apa lagi? O, Liong-ji, masakah kau belum tahu perasaanku? jika engkau mati, masakah aku dapat hidup sendirian?"

Berkata sampai di sini, rasa dukanya tak tertahan, mendadak ia rampas botol beserta obatnya terus dilemparkan ternyata setengah biji obat, satu2nya obat yang dapat menyembuhkan racun yang diidapnya itu telah dibuangnya ke jurang yang tak terhingga dalamnya itu..

Kejadian ini benar2 di luar dugaan siapapun juga semua orang melengak dan segera sama berseru kaget.

Siao-liong-li tahu Nyo Ko bertekad akan sehidup dan semati dengan dia, hatinya menjadi pedih, duka tercampur terima kasih pula.

sehabis bertempur sengit dan racun dalam tubuhnya mulai bekerja, ia tidak tahan lagi, ia tergeliat terus jatuh pingsan dalam pelukan Nyo Ko.

Kedua saudara Bu, Kwe Hu, Wanvan Peng dan anak2 muda iain tidak paham duduknya perkara, be-ramai2 mereka bertanya dan membicarakan kejadian ini.

Mendadak Bu Sam thong membentak.

"Li Bok-chiu, sekali ini jangan kau harap dapat lolos lagi!"

Serentak iapun memburu ke lereng gunung sebelah sana.

Waktu semua orang memandang ke sana, terlihat Kongsun Ci sedang berlari secepat terbang dengan Ginkangnya yang tinggi, di tanjakan lereng gunung sana tiba2 berkumandang suara tertawa orang tua, menyusul seorang muncul dengan memanggul sebuah peti besar, kiranya adalah Lo-wan-tong Ciu Pek-thong,si Anak Tua Nakal.

"He, Lo-wan-tong, lekas giring To-koh jubah kuning itu ke sini!"

Seru Ui Yong.

"Baik boleh kalian saksikan kepandaian Lo-wan-tong!"

Seru Ciu Pek-thong sambil membuka tutup peti, kedua tangannya ber-gerak2, seketika segerombolan tawon madu menyamber keluar terus menerjang ke arah Li Bok-chiu.

Ketika pasukan Mongol membumi-hanguskan Cong-lam-san, kawanan Tosu dari Coan cin-kau sempat meninggalkan gunung dengan membawa kitab agama dan benda2 berharga lain, tapi yang dibawa Cui Pek-thong adalah sebuah peti yang berisi sekawanan tawon putih piaraan Siao-liong-li dahulu.

Biarpun sifatnya jenaka dan tingkah-lakunya ugal2an tapi bakat Ciu Pek-thong sebenarnya sangat pintar, tanpa kenal lelah ia terus mempelajari cara memimpin kawanan tawon putih itu, akhirnya dia berhasil juga menemukan kuncinya.

Sekarang ia diminta Ui Yong menggiring Li Bok-chiu, kebetulan baginya untuk pamer kepandaian yang baru berhasil dipelajarinya itu.

Begitulah Kongsun Ci menjadi kaget melihat kawanan tawon itu, ia tidak berani lagi mendekati Li Bok-chiu melainkan terus menyelusup ke semak2 sebelah sana.

Li Bok-chiu juga kelabakan melihat terjangan kawanan tawon itu, terpaksa ia berlari ke sini mengikuti jalanan pegunungan itu, segera Bu Sam-thong didahului kedua puteranya serta Liok Bu siang dan Thia Eng memapak dengan senjata terhunus.

Tiba2 Yalu Ce berteriak.

"Lihay benar engkau Suhu! Lekas engkau simpan kembali kawanan tawon itu ke dalam kandang!"

Segera Ciu Pek-thong ber-kaok2 ingin menggiring kembali kawanan tawon itu ke dalam peti, tapi di tengah ribut2, mana kawanan tawon mau menuruti perintahnya?

Sambil tetap men-dengung2 gerombolan tawon putih itu tetap mengejar ke arah Li Bokchiu.

Kuatir Li Bok-chiu kabur lagi, tanpa menghiraukan sengatan tawon, segera Bu Sam-thong mengudak ke sana.

"Liong-ji. Liongji!"

Nyo Ko merangkul Siao-liong-li dan memanggilnya pelahan.

Siao-liong-li membuka matanya sedikit2, telinganya mendengar suara mendengung tawon hingga rasanya seperti sudah berada di kediaman lama di Cong-lam-san, hatinya menjadi girang dan bertanya.

"Apakah kita sudah berada di rumah?"

Tapi setelah tenangkan diri baru ingat apa yang terjadi tadi.

Segera ia bersiul pelahan beberapa kali, lalu membentak pula beberapa kali, seketika kawanan tawon putih itu ber-putar2 di sekeliling Li-Bok chiu dan tidak terbang serabutan lagi.

"Suci."

Katanya.

"selama hidupmu telah banyak dosa, apakah sekarang kau tidak menyesal?"

Wajah Li Bok-chiu pucat seperti mayat, jawabnya.

"Mana itu Coat-ceng-tan?"

Siao-liong-li tersenyum pedih, katanyaj "Coat ceng tan itu sudah terlempar ke dalam jurang, Mengapa kau membunuh paderi Hindu itu?

Kalau dia tidak mati, bisa jadi jiwaku dan jiwa Ko-ji dapat tertolong, bahkan kaupun dapat diselamatkan.

Mendelong perasaan Li Bok-chiu, ia tahu Sumoay nya ini selamanya tidak suka omong ko-song.

Diam2 ia merasa menyesal bahwa jarumnya telah menewaskan paderi Hindu itu sehingga dirinya sendiri juga ikut celaka.

Sementara itu Bu Sam-thong dan lain2 sudah merubung maju, sedangkan Ciu Pek-thong masih sibuk ber-teriak2 dan berjingkrakan ingin memanggil kawanan tawon.

"Kakek Ciu, begini caranya,"

Seru Siao-liong-li, lalu ia bersiut dan membentak seperti tadi.

Ciu Pek-thong menirukan bersuit dan membentak, benar juga be-ribu2 tawon putih itu lantas terbang menyusul kembali ke dalam peti, Karuan ia sangat girang, serunya.

"Terima kasih nona Liong."

"Saudara Pek-thong, sudah lama tak berjumpa, kau ternyata sehat2 saja seperti dulu"

Dengan tersenyum It-teng Taysu menyapa. Untuk sejenak Ciu Pek-thong melengak karena tak disangkanya It-teng Taysu juga berada di situ, cepat ia menutup peti dan berkata.

"Ya, aku sehat, kaupun sehat, semua juga sehat!"

Habis ini ia panggul petinya terus mengeluyur pergi tanpa berpaling lagi.

Melihat keadaan sekelilingnya, Li Bok-chiu menyadari kedudukannya yang suiit, melulu Ui Yong, Nyo Ko dan Siao-liong-li salah seorang saja sukar dilawan, apalagi sekarang kalau main kerubut ia menjadi nekat, teriaknya.

"Hm, percuma kalian menganggap diri sebagai kaum pendekar, tahunya, hehe, kalianpun suka main keroyok, Siausumoay, sebagai anak murid Ko-bong-pay, betapapun aku tidak boleh mati di tangan orang luar, Nah, silakan kau maju saja!"

Sembari berkata ia terus menyodorkan gagang pedang ke depan dan ujung pedang mengarah ke dadanya sendiri Namun Siao-liong-li hanya menggeleng, kata-nya.

"Urusan sudah terlanjur begini, untuk apa kubunuh kau?"

"Li Bok-chiu,"

Bentak Sam-thong mendadak "Sekarang ingin kutanya kau, jenazah Liok Tian-goan dan Ho Wan-kun telah kau bawa ke mana?"

Mendengar nama Liok Tian-goan dan Ho Wan-kun tiba2 di sebut, tubuh Li Bok-chiu menjadi gemetar, mukanya ber kerut2, lalu menjawab.

"Sudah kubakar menjadi abu. Abu tulang yang seorang kutebarkan di puncak Hoa-san, abu tulang yang Iain kubuang ke lautan timur, supaya mereka berdua takkan menjelma kembali dan tak pernah berkumpul lagi."

Melihat cara mengucap Li Bok-chiu yang gregetan dan penuh dendam itu, diam2 semua orang terkesiap dan gegetun. Segera Bu-siang berkata.

"Liong-cici adalah orang baik dan tidak tega membunuh kau, tapi segenap keluargaku telah kaubunuh semua, hanya tersisa aku saja seorang, hari ini aku harus menuntut balas, Piauci, hayolah kita maju!"

"Kau membunuh ibuku, betapapun kami tak dapat mengampuni kau,"

Seru kedua saudara Bu.

"Orang yang tewas di bawah kebut dan jarumku tak terhitung banyaknya, jika semuanya ingin menuntut balas padaku, darimana aku mempunyai nyawa cadangan sebanyak itu? Bagaimanapun juga jiwaku cuma satu,"

Ujar Li Bok-chiu tak acuh.

"Jika begitu kemurahan bagimu,"

Seru Bu-siang dan Siu Bun berbareng dan segera menubruk maju dengan senjata masing2. Mendadak Li Bok-chiu angkat pedangnya.

"pletak" , tahu2 pedang itu bergetar patah, sambil tersenyum mengejek Li Bok-chiu bersikap menghina dan berdiri diam tanpa melawan, ia tunggu serangan kedua anak muda itu dan tamatlah riwayatnya. Pada saat itulah mendadak di sebelah timur sana ada asap tebal mengepul dan api berkobar dengan hebatnya.

"Hah, perkampungan sana terbakar!"

Seru Ui Yong.

"Tunda dulu membunuhnya, selamatkan jenazah Susiok lebih penting,"

Kata Cu Cu-liu sambil melompat maju, sekaligus ia tutuk tiga Hiat-to penting di tubuh Li Bok-chiu agar tidak dapat kabur lagi.

"Juga jenazah nona Kongsun,"

Demikian Thia Eng menambahkan.

Semua orang membenarkan dan be-ramai2 mereka lantas berlari ke arah datangnya tadi.

Kedua saudara Bu cilik menggiring Li Bok-chiu, sedang Nyo Ko, Siao-Iiong-li, Ui Yong dan It-teng Taysu menyusul dari belakang dengan pelahan.

Walaupun masih cukup jauh dari perkampungan kediaman Kongsun Ci itu, hawa panas sudah menyerang dengan ganasnya, terdengar suara jeritan dan teriakan ngeri disertai suara gemuruh ambruknya atap dan belandar rumah.

"Keparat Kongsun Ci itu benar2 terlalu jahat, nona Liong seharusnya membinasakan dia saja,"

Ujar Bu Sam-thong.

"Api ini besar kemungkinan bukan dikobarkan oleh Kongsun Ci kukira perbuatan nenek gundul Kiu-jian jio itu,"

Kata Cu Cu-liu.

"Kiu Jian-jio katamu?"

Bu Sarn-thong melengong bingung.

"Untuk apa dia membakar kediaman sendiri yang sukar dibangun ini?"

Sembari berlari ke depan Cu Cu-liu menjawab.

"Sebagian besar anak murid Kongsun Ci tidak tunduk padanya, sekalipun kita membunuh Kongsun Ci juga nenek gundul itu takdapat berdiam aman tenteram di sini, kulihat nenek itu berjiwa sempit dan..."

Tengah berkata sampailah mereka di dekat semak2 bunga cinta yang rada jauh dari kobaran api itu.

Terlihat jenazah paderi Hindu itu masih menggeletak di sana dengan wajah tersenyum simpul seperti orang hidup, agaknya sebelum ajalnya paderi itu menemukan sesuatu yang membuatnya kegirangan.

"Tampaknya Susiok mendadak meninggal sehingga sama sekali tidak menderita,"

Ujar Bu Sam-thong. Cu Cu-liu berpikir sejenak, lalu berkata.

"Waktu itu Susiok sedang mencari rumput yang dapat memunahkan racun bunga cinta."

Sementara itu Ui Yong dan It-teng Taysu juga sudah menyusul tiba, demi mendengar ucapan Cu Cu-liu itu, Ui Yong lantas memeriksa sekitar jenazah paderi Hindu itu, tapi tidak menemukan sesuatu yang aneh, ia coba meraba baju paderi itu dan tetap tiada menemukan sesuatu benda.

"Apakah susiokmu tidak meninggalkan sesuatu pesan?"

Tanyanya kepada Cu liu.

"Tidak,"

Jawab Cu-Jiu.

"Kami keluar dari rumah omprongan itu dan tidak menyangka akan disergap musuh secara mendadak."

Tiba2 Ui Yong melihat air muka paderi Hindu yang mengulum senyum itu, pikirannya tergerak cepat ia memeriksa tangan paderi itu Terlihat-lah kedua jari tangan kanannya memegangi setangkai kecil rumput warna ungu, pelahan Ui Yong mementang jarinya dan rumput kecil itu diambil-nya, lalu bertanya.

"Rumput apakah ini?"

Cu-liu menggeleng karena tidak tahu, Ui Yong coba mengendus rumput itu, terasa bau busuk dan memuakkan.

"Awas, Kwe-hujin, itulah Toan-jong-jau (rumput perantas usus) dan mengandung racun hebat,"

Cepat It-teng berseru.

Ui Yong melengak dan sangat kecewa oleh keterangan itu.

Dalam pada itu kedua saudara Bu juga sudah tiba menggiring Li Bok-chiu, mendengar rumput beracun itu, Siu-bun lantas berkata kepada Ui Yong.

"Sunio (ibu guru), suruh iblis maha jahat ini makan rumput itu saja."

"Ai, anak kecil jangan berpikiran buruk begitu,"

Ujar It-teng.

"Cosuyaya (kakek guru), terhadap manusia jahat begini mengapa engkau juga kasihan padanya?"

Ujar Siu-bun. Sementara itu pepohonan di sebelah sana juga sudah terjilat api dan menerbitkan suara pletak pletok yang keras, hawa panas juga semakin hebat, Cepat Ui Yong berkata.

"Marilah kita mundur ke atas bukit bukit di sebelah timur sana."

Be-ramai2 mereka lantas lari ke lereng bukit sana, terlihatlah bangunan yang ber-deret2 itu dalam waktu singkat telah musnah ditelan lautan api.

Karena Hiat-to tertutuk, meski dapat berjalan, tapi ilmu silat Li Bok-chiu tak dapat digunakan sama sekali, diam2 ia mengerahkan tenaga dalam, maksudnya hendak melancarkan Hiat-to yang ter-tutuk itu dan dapat meloloskan diri jika penjagaan agak lengah.

Tak terduga begitu ia mengerahkan tenaga, seketika dada dan perutnya kesakitan ke-ras, tak tahan lagi ia menjerit.

Rupanya racun bunga cinta yang mengeram dalam tubuhnya itu semula terbendung oleh tenaga murninya sehingga belum dapat bekerja, kini tenaga murninya digunakan menembus Hiat-to yang tertutuk sehingga tenaganya terpencar, racun lantas bekerja dengan ganasnya.

Dalam keadaan dada dan perut kesakitan hebat, dari jauh dilihatnya Nyo Ko dan Siao-liong-li berjalan mendatangi, yang satu pemuda cakap ganteng, yang lain nona cantik molek, pandangannya seketika menjadi kabur, samar2 kedua muda-mudi yang dilihatnya se-akan2 Liok Tian-goan yang dirindukan nya selama hidup ini beserta isterinya, yaitu Ho Wan-kun, tanpa terasa ia terus berteriak.

"Tian goan, kejam benar kau! Dalam keadaan begini kau tega benar menemui aku?"

Karena rangsangan cintanya itu, makin hebat racun bunga yang menyiksanya itu hingga sekujur badan gemetar, kulit daging mukanya ber-kerut2 kejang, Melihat sikapnya yang menakutkan seperti orang gila itu, tanpa terasa semua orang melangkah mundur.

Selamanya Li Bok-chiu berwatak angkuh dan tak pernah mau tunduk kepada orang lain, sekarang hatinya pedih dan tubuhnya menderita, saking tak tahan ia ber-teriak2.

"Aduh, sakiti Tolong! Lekas tolong!"

"Sebenarnya Susiokku dapat menolong kau, namun kau telah membunuhnya."

Kata Cu Cu-liu sambil menunjuk jenazah paderi Hindu. Sambil mengertak gigi Li Bok-chiu menjawab.

"Benar, memang akulah yang membinasakan dia, Setiap manusia di dunia ini, baik atau buruk pasti akan kubunuh, Aku akan mati, ya, aku akan mati! Untuk apa kalian hidup? Aku ingin mati bersama kalian."

Saking tak tahan sakitnya, mendadak ia menubruk ke ujung pedang yang dipegang Bu Tun-si.

Setiap hari Bu Tun-si berusaha menuntut balas dan ingin membunuh musuh besar ini, tapi sekarang mendadak musuh menubruk ke ujung pedang-nya, ia menjadi terkejut malah dan tanpa terasa ia menarik kembali pedangnya Karena itu Li Bokchiu telah menubruk tempat kosong, ia tergelincir ke bawah bukit terus terguling ke tengah lautan api.

Semua orang sama menjerit kaget, dari atas mereka dapat melihat sekejap saja Li Bok-chiu telah terbungkus oleh kobaran api, namun dia justeru merangkak bangun dan berdiri tegak tanpa bergerak lagi dan sama sekali tidak menghiraukan tubuhnya yang terbakar itu.

Teringat hubungan saudara seperguruan Siao-liong-li merasa tidak tega, ia berseru .

"Suci, lekas lari keluar, lekas!"

Namun Li Bok-chiu tetap berdiri tegak di tengah api yang ber-kobar2 itu, dalam waktu singkat tubuhnya berubah menjadi sepotong tunggak hitam dan akhirnya roboh.

Siao-Iiong-Ii memegangi lengan Nyo Ko sambil menutupi mukanya seru meneteskan air mata.

Melihat nasib Li Bok-chiu yang berakhir secara mengenaskan ini, biarpun Thia Eng dan Liok Bu-siaog tidak pernah melupakan sakit hati terbunuhnya ayah-bunda mereka serta segenap anggota keluarga, sekarang dendam itu sudah terbalas, namun sedikitpun mereka tidak bergembira menyaksikan kematian Li Bok-chiu itu.

Ui Yong memondong Kwe Yang, teringat kepada kejahatan yang pernah diperbuat Li Bok-chiu itu, ternyata iblis itu juga pernah berbuat suatu kebaikan, yakni merawat Kwe Yang cilik selama beberapa hari.

Ui Yong lantas pegang kedua tangan Kwe Yang dan memberi hormat ke arah api sebagai tanda terima kasih kepada Li Bok-chiu.

Semula Nyo Ko bermaksud menyelamatkan juga jenazah Kongsun Lik-oh, tapi api kelihatan berkobar dengan hebatnya, segenap bangunan sudah tenggelam di tengah lautan api sehingga tak berdaya lagi, diam2 Nyo Ko merasa sedih, ia menghela napas panjang sambil memandang kobaran api dengan kesima.

Pada saat itulah se-konyong-di atas gunung sebelah timur-laut sana ada suara tertawa melengking aneh laksana bunyi burung hantu, suaranya menusuk telinga walaupun berkumandang dari jarak yang cukup jauh, dapat dibayangkan tenaga dalam orang sesungguhnya sangat hebat.

"ltulah suara Kiu Jian-jio!"

Kata Nyo Ko.

"Mengapa dia bisa berada di puncak gunung sana?"

Tergerak hati Siao-liong-li, katanya.

"Coba kita ke sana untuk menanyai dia apakah masih menyimpan Coat-ceng-tan.

"Liong-ji, masakah sampai sekarang kau masih memikirkan hal ini?"

Ujar Nyo Ko dengan tersenyum getir.

Maksud kedatangan Ui Yong, Bu Sam-tkong, Thia Eng dan lain2 ke Coat-ceng-kok ini memang untuk mencarikan obat bagi Nyo Ko, maka mereka sama menyetujui usul Siaoliong-li itu, mereka pikir kalau dari Kiu Jian-jio bisa dimintakan Coat-ceng-tan lagi pasti Nyo Ko akan dipaksa meminumnya dan takkan membiarkan anak muda itu membuang obatnya lagi secara sia2.

Karena pikiran mereka sama, berbareng mereka lantas berseru.

"Marilah kita pergi ke sana," -Segera Bu Sam-thong dan kedua puteranya serta Yalu Ce dan Wanyan Peng lantas mendahului berlari ke sana. Nyo Ko menghela napas dan menggeleng kepala, pikirnya.

"Apa gunanya usaha kalian ini kecuali kalian dapat mencarikan obat mujijat yang mampu menghidupkan jiwa kami suami-isteri sekagus,"

Sejak tadi Thia Eng hanya memandangi Nyo Ko dengan diam2 saja, kini mendadak berkata.

"Nyo-toako, janganlah engkau mengecewakan maksud baik orang banyak, Marilah kita juga pergi ke sana?"

Selama ini Thia Eng sangat baik pada Nyo Ko, dalam hati anak muda inipun sangat berterima kasih, walaupun cintanya sudah dicurahkan kepada Siao-liong-li seorang dan tidak mungkin bergeser lagi, tapi terhadap nona yang berpribadi halus budi ini biasanya ia sangat menghormatnya.

Sejak kenal Nyo Ko juga Thia Eng tidak pernah memohon sesuatu padanya, kini mendadak mengutarakan kata2 itu, betapapun Nyo Ko sukar menolaknya, terpaksa ia mengangguk dan berkata.

"Baiklah, coba kita lihat nenek itu main gila apalagi di puncak gunung sana,"

Begitulah be-ramai2 mereka lantas berlari ke atas gunung menurut arah datangnya suara tertawa Kiu Jian-jio.

Nyo Ko sudah pernah melihat pepohonan di atas gunung ini, jelas inilah tempat yang pernah dilaluinya ketika dia dan Kongsun Lik oh serta Kiu Jian-jio lolos dari gua di bawah tanah itu.

sekarang pemandangan alam masih tetap begitu, namun Kongsun Lik-oh sudah tidak ada, dirinya sendiri juga tidak lama lagi tinggal di dunia fana ini, teringat semua itu, ia menjadi terharu.

Kira2 beberapa ratus meter di bawah puncak gunung itu, dapatlah rombongan mereka melihat jelas Kiu Jian-jio sendirian duduk di suatu kursi dan sedang tertawa menengadah seperti orang gila.

"Dia tertawa sendirian di situ, mungkin otaknya kurang waras,"

Ujar Bu-siang.

"Kita jangan mendekati dia,"

Kata Ui Yong "Orang ini sangat kejam dan keji, kita harus waspada kalau2 dia mengatur tipu muslihat untuk menjebak kita, Kukira dia tidak gila sungguhan."

Karena jeri terhadap senjata rahasia nenek gundul yang lihay itu, mereka berhenti di kejauhan.

Segera Ui Yong hendak bersuara menegur, tapi tiba2 terlihat seorang muncul dari balik karang di depan sana, siapa lagi dia kalau bukan Kongsun Ci.

Mendadak Kongsun Ci menanggalkan jubahnya terus diputar dan dikebaskan hingga lurus dan mengencang, begitu indah dan kuat gerakannya, sungguh lihay luar biasa.

Diam2 semua orang memuji kehebatan tenaga dalam Kongsun Ci itu, Terdengar dia menyeringai dan membentak.

"Hm, nenek jahat dan keji, apimu sekaligus kau telah memusnahkan perkampunganku yang dibangun leluhur kami, hari ini jiwamu tidak mungkin dapat lolos dari tanganku!"

Berbareng ia terus berlari ke arah Kiu-Jian-jio sambil memutar jubahnya.

"Serrr!"

Terdengar suara mendesir keras satu kali, dari mulut K iu Jian-jio tersembur satu biji buah kurma ke arah Kongsun Ci.

Suara desiran itu berkumandang dari puncak gunung, jarak sambaran senjata rahasia itupun cukup jauh, sebab itulah suaranya menjadi lebih nyaring dan tajam.

Kelihatan Kongsun Ci mengebaskan jubahnya seketika pula buah kurma itu kena dilibatnya, Tadinya Kongsun Ci tidak yakin jubahnya mampu menahan senjata rahasia lihay itu, soalnya dia teramat murka, pula melihat Kiu Jian-jio duduk sendirian di puncak gunung tanpa bala bantuan ia pikir itulah kesempatan bagus untuk membinasakan bekas isterinya itu.

Sebab itulah dengan menyerempet bahaya ia terus menerjang ke situ, apalagi setelah jelas senjata rahasia isterinya itu tak-dapat melukainya, segera ia menerjang lebih cepat lagi ke depan.

Melihat Kongsun Ci sudah dekat, Kiu Jian-jio tampak ketakutan dan ber teriak2.

"Wah, celakai Tolong! Tolong!"

"Nenek itu hendak dibunuhnya, ibu,"

Kata Kwe Hu kepada Ui Yong.

Ui Yong merasa tidak paham, sebab jelas dilihatnya Kiu Jian-jio itu waras dan segar bugar, mengapa sengaja bergelak tertawa dan memancing kedatangan bekas sang suami itu?

Dalam pada itu Kiu Jian jio telah menyemprotkan dua biji paku buah kurma lagi, karena jaraknya sudah dekat, daya samberan senjata rahasia itu jadi lebih keras, Cepat Kongsun Ci putar jubahnya untuk menghalau.

Tapi mendadak ia menjerit satu kali, tubuhnya terus menghilang kejeblos ke bawah tanah dan Kiu Jian jio lantas bergelak tertawa pula.

Tapi suara tertawanya cuma terdengar "haha..."

Dua kali saja, sekejap itu dari bawah tanah menyamber keluar kain panjang yang melibat kaki kursi yang diduduki Kiu Jian-jio itu sehingga kursi dan orangnya ikut terseret ke dalam tanah.

Suara tertawa Kiu Jian jio mendadak berubah menjadi jeritan melengking tercampur teriakan ngeri Kongsun Ci berkumandang dari bawah tanah.

Suara itu berkumandang sampai lama untuk kemudian mendadak lenyap, keadaan menjadi sunyi kembali.

Dari kejauhan semua orang dapat menyaksikan dan mendengar kejadian itu dengan jelas, mereka saling pandang karena tidak paham sebab musababnya, hanya Nyo Ko saja yang tahu jelas seluk-beluk kedua suami isteri itu.

Segera mereka berlari ke atas puncak, tertampaklah empat pelayan perempuan menggeletak tak bernyawa di situ, di samping ada sebuah lubang besar, waktu mereka melongok ke bawah, keadaan gelap guita dan tidak kelihatan apapun.

Kiranya Kiu Jian-jio yang pernah tersiksa cukup lama di gua bawah tanah itu kadung teramat sakit hati dan benci kepada Kongsun Ci, lebih dulu ia bakar habis perkampungannya keluarga Kongsun yang bersejarah be-ratus2 tahun itu, kemudian ia menyuruh empat pelayan menggotongnya ke puncak gunung.

Melalui lubang gua di puncak inilah tempo hari waktu dia diselamatkan dari gua bawah tanah oleh Nyo Ko dan Kongsun Lik-oh.

Ia memerintahkan pelayan2 itu mengumpulkan ranting2 kayu, rumput kering dan sebagainya untuk menutupi lubang gua, lalu pelayan2 itu dibinasakannya.

Kemudian ia sengaja bergelak tertawa untuk memancing kedatangan Konsun Ci.

ia menyemprotkan paku buah kurma serta menjerit minta tolong, semua ini cuma pura2 saja agar Kongsun Ci tidak curiga.

Kongsun Ci tidak tahu bahwa di puncak gunung terpencil ini ada lubang gua sedalam itu, tanpa pikir ia menerjang ke arah Kiu jian-jio dan akhirnya kejeblos, Tapi pada detik terakhir itu ia masih berusaha mencari hidup, sekuatnya ia ayunkan jubahnya untuk membelit kaki kursi Kiu Jian-jio agar dia dapat meloncat ke atas lagi, siapa tahu sekali tarik justeru kedua orang sama2 terjerumus ke bawah malah.

Ber-puluh2 meter dalamnya lubang di bawah tanah itu, keruan tubuh sepasang suami-isteri itu hancur lebur menjadi bakso dan saling lengket tak terpisahkan lagi, Tak terkira semasa hidupnya pasangan yang saling dendam dan benci itu akhirnya mati berbareng pada hari dan detik yang sama, terkubur pada tempat dan liang yang sama pula.

Setelah Nyo Ko menceritakan seluk-beluk kehidupan Kongsun Ci dan Kiu Jian-jio, semua orang sama menghela napas gegetun, Yalu Ce dan anak2 muda lain lantas menggali suatu liang untuk mengubur keempat pelayan itu, Melihat api masih berkobar dengan hebatnya di lembah sana dan jelas tiada tempat tinggal lagi di situ, apalagi setelah menyaksikan korban sebanyak ini, semua orang sama berharap selekasnya dapat meninggalkan Coat ceng-kok itu.

"Penyakit adik Nyo Ko masih perlu disembuhkan kita harus lekas mencarikan tabib sakti untuk mengobati dia,"

Ujar Cu Cu-liu. Semua orang membenarkan usul itu. Tapi Ui Yong telah berkata.

"Tidak, hari ini kita belum boleh berangkat."

"Apa Kwe hujin ada usul lain?"

Tanya Cu Cu-liu . Ui Yong mengerut kening, jawabnya.

"Bahuku terluka dan terasa kesakitan Kuharap malam ini kalian sudi tinggal lagi di sini, kita berangkat besok saja."

Bahwa kesehatan Ui Yong terganggu dengan sendirinya semua orang menurut untuk bermalam di situ.

Be-ramai2 mereka lantas pergi mencari gua dan tempat meneduh lain dan sebagainya.

Siao-liong-li dan Nyo Ko lantas hendak melangkah pergi, Tiba-Ui Yong berseru.

"Liong-moaymoay, coba kemari, ingin kubicarakan sesuatu padamu."

Lalu ia menyerahkan Kwe Yang kepada Kwe Hu dan mendekati Siao-liong-li, katanya pula kepada Nyo Ko dengan tersenyum.

"Jangan kuatir, Ko-ji, dia sudah menikah dengan kau, tak kan kuhasut dia minta cerai padamu."

Nyo Ko tersenyum, jawabnya.

"Boleh saja kau coba menghasutnya"

Dalam hati ia sangat heran apakah yang hendak dibicarakan sang bibi dengan Siao-liong-li.

Terlihat mereka menuju ke sana lalu berduduk di bawah sebatang pohon besar, Meski penuh rasa ingin tahu, namun tidak enak untuk mendekati mereka.

Segera terpikir pula olehnya.

Apakah Liong-ji pasti takkan merahasiakan pada-ku, sebentar juga dia akan memberitahukan apa yang dikatakan bibi Kwe itu. Setelah berduduk di bawah pohon sana, Ui Yong lantas berkata.

"Adik Liong, sungguh aku sangat menyesal puteriku yang ceroboh dan sembrono itu telah banyak membikin susah kau dan Ko-ji."

"Ah, tidak apa2"

Ujar Siao-liong-li dengan tersenyum.

Tapi dalam hati ia pikir dengan sebuah jarum berbisa puterimu telah mencelakai aku hingga tak bisa disembuhkan lagi, sekalipun kau menyesal seribu kali juga tiada gunanya.

Ui Yong tambah melihat kemuraman Siaoliong-li, ia belum lagi tahu bahwa sebuah jarum yang disambitkan Kwe Hu itu sesungguhnya telah menamatkan riwayat Siao-liong-li.

Disangkanya racun jarum itu tidaklah sukar disembuhkan seperti dahulu Bu Sam-thong, Nyo Ko dan lain2 juga pernah terkena jarum berbisa itu dan semuanya dapat di-sembuhkan, ia tidak tahu bahwa tatkala mana Siao-liong-li sedang memutar balik jalan darahnya menurut ajaran Nyo Ko sehingga keadaannya sama sekali berbeda ketika terkena jarum berbisa itu.

Tapi karena waktu itu Ui Yong sendiri tidak ikut masuk ke kuburan kuno itu, maka ia tidak tahu duduknya perkara, segera ia berkata pula.

"Ada sesuatu yang ingin kumintakan penjelasanmu, Dengan susah payah adik berhasil rebut Coat ceng-tan, tapi Ko-ji tidak mau meminumnya, bahkan dibuang ke jurang, Apakah sebabnya dia berbuat begitu?"

Siao-liong-li menghela napas pelahan, ia tahu betapa cintanya Nyo Ko padanya dan tidak mau hidup sendiri, tapi urusan sudah kadung beg'ni, buat apa dibicarakan lagi sehingga menimbulkan gara2 pula?

Maka ia lantas menjawab.

"Mungkin sifatnya memang aneh."

"Ko-ji adalah seorang yang berperasaan dan berbudi, mungkin ia melihat nona Kongsun rela mengorbankan jiwa sendiri demi mendapatkan obat itu, maka iapun tidak tega dan tidak ingin minum obat itu untuk membalas kebaikan nona cantik itu, Adik Liong, jalan pikiran Ko-ji itu harus dipuji, namun orang mati tak dapat hidup kembali, pendiriannya yang kepala batu itu justeru malah berlawanan dengan tujuan pengorbanan nona Kongsun."

Siao-liong li mengangguk dan tidak mau menanggapi. Lalu Ui Yong beikata pula.

"Padahal dengan mati2an adik Liong menempur Kongsun Ci di tebing curam itu kan juga tidak menghiraukan mati hidupnya sendiri? Di dun'a ini Ko-ji hanya menurut pada perkataanmu, kuharap engkau suka menasehati dia agar berpikir panjang."

"Seumpama dia mau menurut perkataanku di dunia ini mana ada Coat-ceng-tan lagi?"

Ujar Siao-Hong-li dengan pilu.

"Meski Coat-ceng-tan tidak ada lagi, namun racun di dalam tubuhnya bisa jadi dapat disembuhkan yang sulit adalah karena dia tidak mau minum obat,"

Kata Ui Yong. Siao-liong-li terkejut girang, cepat ia berdiri dan bertanya.

"Setiap orang suka-memuji Kwe-hujin banyak tipu akalnya, nyatanya memang tidak omong kosong, jadi engkau maksudkan ada. ada obat lain yang dapat menyembuhkan Ko-ji?"

Ui Yong memegangi tangan Siao-liong-li, katanya.

"Duduklah,kau." . Lalu ia mengeluarkan setangkai kecil rumput warna ungu dan berkata puIa.

"lni namanya Toan-jong cau, Sebelum menghembuskan napasnya, paderi Hindu itu memegangi rumput kecil ini, Dari Cu-susiok kudengar waktu itu mereka sedang mencari obat penawar racun bunga cinta dan mendadak disergap hingga binasa oleh jarum berbisa Li Bok-chiu. Bukankah engkau melihat air muka paderi itu menguIum senyum meski orangnya sudah meninggalkan? Kuyakin waktu itu beliau sedang bergirang karena berhasil menemukan rumput ini, Guruku Ang Cit-kong juga pernah bercerita padaku, katanya di mana ular berbisa suka berkeliaran di situ pula pasti ada tumbuh obatnya yang dapat memunahkan racun ular, begitu pula dengan makhluk2 berbisa lainnya, itulah hukum alam, sedangkan Toan-jong-cau ini kebetulan ditemukan di bawah semak2 bunga cinta, meski rumput ini terkenal berbisa, namun setelah kurenungkan ber-ulang2, kuyakm dengan rumput ini dapat digunakan sebagai obat racun menyerang racun, jadi rumput ini adalah obat anti racun bunga cinta itu."

Uraian Ui Yong ini membuat Siao-liong-li manggut2 ber-ulang2. Kemudian Ui Yong menyambung pula.

"Sudah tentu minum rumput berbisa ini harus menyerempet bahaya, tapi mau apa lagi? Toh tiada obat lain yang dapat menolongnya, betapapun kita harus mencobanya, Menurut pikiranku, besar kemungkinan khasiat rumput ini dapat menyembuhkan dia."

Siao-Iiong li tahu Ui Yong memang pintar dan banyak tipu dayanya, jika dia berkata secara begitu meyakinkan, maka urusannya pasti tidak salah, apalagi memang tiada jalan lain kecuali itu.

Setelah membulatkan tekad, lalu ia menjawab.

"Baiklah, akan kuminta dia minum obat ini,"

Segera Ui Yong mengeluarkan lagi segenggam Toan jong-cau dan diserahkan pada Siao-Iiong-li katanya.

"Sepanjang jalan kupetik sebanyak ini, kukira sudah cukup. Untuk permulaan boleh kau suruh dia makan sedikit saja, suruh dia mengerahkan hawa murni untuk melindungi jantung, lihat dulu bagaimana kerjanya rumput ini, kemudian barulah ditambah atau dikurangi jumlah rumput yang harus dimakan."

Siao-liong-li simpan rumput itu dan menyembah kepada Ui Yong, katanya dengan suara rada tersendat.

"Kwe-hujin, selama hidup Ko-ji kenyang duka derita, tindak-tanduknya memang rada kepala batu, tapi sudilah engkau suka menjaganya dengan baik,"

Cepit Ui Yong membangunkan Siao-liong-li, katanya dengan tertawa.

"Kau yang menjaganya akan berpuluh kali lebih baik daripadaku Kelak kalau kepungan musuh atas Siangyang sudah reda, biarlah kita berkunjung ke Tho-hoa-to dan istirahat untuk beberapa lamanya di sana."

Betapapun pintarnya Ui Yong juga tidak menyangka bahwa jiwa Siao liong li tinggal tidak lama lagi, ucapannya tentang menjaga Nyo Ko benar2 permohonannya dengan setulus hati, waktu ia berpaling, dilihatnya Nyo Ko berdiri jauh di sana sedang memandangi Siao-liong-li walaupun apa yang mereka bicarakan sama sekali tak dapat didengarnya.

Sementara itu semua orang telah mengatur tempat bermalam masing-2, ada yang menemukan gua, ada yang di bawah pohon.

Melihal Ui Yong sudah pergi setelah bicara, Nyo Ko lantas mendekati Siao liong-li.

Dengan tersenyum Siao-Iiong-li berdiri memapaknya dan berkata.

"Setelah kita menyaksikan kejadian mengenaskan tadi, hari kita sendiri juga bersisa tidak banyak lagi, Ko ji, kini urusan orang lain sama sekali takkan kita urus, Marilah kau mengawani aku ber-jalan2,"

"Benar, akupun berpikir demikian,"

Jawab Nyo Ko Kedua orang lantas bergandengan tangan dan berjalan melintasi lereng sana Tidak lama kelihatanlah sepasang muda-mudi duduk berdampingan di atas batu asyik bicara dengan pelahan, kiranya mereka adalah Bu Tun-si dan Yalu Yan, Nyo Ko tersenyum saja dan mempercepat langkah melewati kedua anak muda itu.

Belum lagi jauh, tiba2 di tengah semak2 pohon sana ada suara ngikik tawa orang, Wanyan Peng kelihatan berlari keluar dan di belakangnya mengejar seorang sambil berseru.

"Hayo, hendak lari ke mana kau?"

Kepergok oleh Nyo Ko dan Siao liong-Ii, air muka Wanyan Peng menjadi merah dan menyapi.

"Nyo-toako dan Liong-cici"

Cepat pula ia berlari masuk ke hutan sana, menyusul Bu Siu-bun lantas muncul dari semak2 pohon sana terus mengejar ke dalam hutan.

"O, dunia, apakah cinta itu"

Demikian Nyo Ko berguman pelahan, Sejenak kemudian iapun berkata.

"Belum lama berselang kedua saudara Bu itu saling labrak mati2-an demi memperebutkan nona Kwe, tapi hanya sekejap saja cinta kedua anak muda itu sudah berganti sasaran. Ada orang yang selama hidupnya cuma mencintai seorang, tapi juga ada orang yang sukar diketahui cintanya murni atau palsu, O, dunia, apakah cinta itu? pertanyaan ini memang pantas dikemukakan."

Sejak tadi Siao-liong-li hanya menunduk termenung dan tidak bersuara, Keduanya berjalan pelahan hingga di kaki gunung, Waktu menengadah, sang surya di waktu senja sedang memancarkan sinarnya yang cemerlang, salju di puncak gunung kemilauan oleh cahaya matahari menambah keindahan alam yang sukar dilukiskan.

Teringat kepada hidup mereka yang bersisa tidak lama lagi, kedua orang menjadi tambah kesemsem kepada pemandangan permai itu.

Siao-liong li ter-mangu2 sekian lama, tiba2 ia berkata.

"Koji, konon orang mati akan menuju ke akhirat, apakah benar ada akhirat dan rajanya?"

"Semoga begitu hendaknya, kalau tiada akhirat, ke mana kita akan menuju dan tentu takkan berkumpul dan bertemu lagi,"

Ujar Nyo Ko.

Siao-liong-li sudah biasa mengekang perasaan sendiri, walaupun sedih, namun nada ucapannya tetap tenang dan biasa saja, sebaliknya Nyo Ko tidak tahan lagi, ia berpaling ke sana dan meneteskan air mata.

"Ah, soal akhirat masih tanda tanya, kalau bisa terhindar dari mati, tentunya lebih baik tidak mati saja,"

Kata Siao-liong-li sambil menghela napas.

"Eh, Ko-ji, lihatlah alangkah indahnya bunga itu!"

Nyo Ko memandang ke arah yang ditunjuk, tertampak di tepi jalan sana tumbuh setangkai bunga warna merah tua, kelopak bunganya lebar sehingga hampir sebesar mangkuk, bentuknya seperti bunga mawar dan juga mirip bunga peoni.

"Sungguh jarang ada bunga semacam ini, entah apa namanya bunga yang mekar di musim dingin ini? Biarlah kuberi nama Liong-li-hoa (bunga puteri Liong) saja,"

Kata Nyo Ko sambil mendekati dan memetik bunga itu serta menyuntingkan-nya di belakang telinga Siao-liong-li.

"Terima kasih, sudah kau hadiahi bunga bagus, diberi nama bagus pula,"

Kata Siao-liong li dengan tertawa. Mereka melanjutkan perjalanan sejenak pula, kemudian mereka berduduk di suatu tanah berumput.

"Apakah kau masih ingat pada waktu kau menyembah dan mengangkat guru padaku dahulu?"

Tanya Siao-liong li tiba2.

"Tentu saja ingat,"

Jawab Nyo Ko.

"Kau pernah bersumpah bahwa selama hidupmu kau akan tunduk pada perkataanku, apapun yang kukatakan takkan kau bantah, sekarang aku telah menjadi isterimu, menurut pendapatmu sepantasnya aku harus "

Setelah menikah tunduk kepada suami"

Atau kau yang harus "tetap tunduk kepada perintah guru"?"

"Ah, apapun yang kau katakan, itu pula yang kukerjakan,"

Jawab Nyo Ko dengan tertawa "Perintah guru tak berani kubantah, perintah isteri lebih2 tak berani kubangkang."

"Bagus, asal kau ingat saja,"

Kata Siao-liong-li.

Mereka duduk bersandar di tanah berumput itu, pemandangan sekeliling indah permai sehingha rasanya berat untuk berpisah..

Dari jauh mereka dengar suara Bu Sam-thong memanggil mereka ber-santap, Mereka saling pandang dengan tersenyum dan sama2 berpendapat untuk apa bersantap dengan meninggalkan pemandangan indah yang sukar dicari ini?

Sementara itu hari sudah mulai gelap, mereka sudah teramat lelah sehari semalam, apalagi merekapun sama2 terluka, selang tak lama, tanpa terasa mereka sama tertidur.

Sampai tengah malam, layap-layap Nyo Ko memanggil.

"Apakah kau kedinginan, Liong-ji!" -Bcrbareng ia hendak merangkul nya, siapa tahu rangkulannya telah merangkul tempat kosong. Keruan ia terkejut dan cepat membuka mata, ternyata Siao-liong-li sudah menghilang entah ke mana. Segera ia melompat bangun, ia memandang sekitarnya, bulan sabit menghias di angkasa menyinari bumi, suasana sunyi senyap, mana ada bayangan Siao-liong-li? Nyo Ko ber-lari2 ke atas gunung sambil berteriak2.

"Liong ji! Liong-ji!"" -seketika suaranya bergema, kata2

"Liong-ji"

Itu berkumandang dari lembah pegunungan, namun tetap tiada jawaban Siao-liongli.

"Ke mana perginya?"

Tidak kepalang cemasnya Nyo Ko.

ia tidak menguatirkan Siaoliong-li dicelakai binatang buas, sebab diketahuinya di pegunungan ini tiada sesuatu binatang buas yang menakutkan, andaikan ada juga takdapat mengganggu Siao-liong-li, Jika ketemu musuh tangguh, mustahil dirinya tidak mengetahuinya mengingat mereka berdua tidur berdampingan.

Karena teriakan Nyo Ko inilah, serentak It-teng Taysu, Ui Yong, Cu Cu-liu dan lain2 terjaga bangun.

Ketika mendengar Siao-liong li menghilang entah ke mana, tentu saja semua orang merasa heran, be-ramai2 mereka lantas ikut mencari di segenap pelosok lembah pegunungan itu, namun tetap tidak ditemukan jejak.

"Tentu dia sengaja tinggal pergi sehingga aku sama sekali tidak mengetahuinya,"

Demikian pikir Nyo Ko.

"Tapi mengapa dia pergi begitu saja tanpa pamit? Hal ini pasti ada sangkut-pautnya dengan pembicaraannya dengan bibi Kwe siang tadi, Ketika itu dia tampak sedih dan mengajak aku ke sini, tentu juga disebabkan setelah berbicara dengan bibi Kwe."

Karena pikiran ini, segera ia tanya Ui Yong dengan suara keras.

"Kwe-pekbo, apa yang kau bicarakan dengan Liong-ji siang tadi?"

Ui Yong sendiri tidak habis mengerti mengapa mendadak Siao-liong li menghilang, ia lihat urat hijau di dahi Nyo Ko sama menonjol, cara bicaranya rada kasar, segera ia tahu gelagat tidak enak, cepat ia menjawab.

"Kuminta dia agar suka membujuk kau minum Toan-jong-cau itu agar racun dalam tubuhmu bisa dipunahkan."

Tanpa pikir Nyo Ko berteriak pula.

"Jika dia tak dapat hidup larna lagi, untuk apa aku hidup sendirian di dunia ini?"

"Jangan kuatir, Ko ji,"

Ui Yong berusaha menghibur "Seketika nona Liong entah pergi ke mana, tapi mengingat ilmu silatnya yang maha tinggi kukira dia takkan beralangan apapun, masakah kau bilang dia tak dapat hidup lama lagi?"

Saking cemasnya Nyo Ko takdapat menguasai perasaannya Jagi, teriaknya gemas.

"Puteri kesayanganmu telah menyarangkan jarum berbisa di tubuhnya, ketika itu dia sedang mengatur jalan darah secara terbalik untuk menyembuhkan lukanya, maka racun jarum itu telah terserot seluruhnya ke jantungnya, dalam keadaan begitu mana dia dapat hidup lama lagi, dia kan bukan dewa?"

Tentu saja Ui Yong tidak pernah menyangka akan kejadian itu, Meski dia mendengar dari Kwe Hu bahwa Nyo Ko dan Siao-liong li telah keliru dilukainya dengan jarum berbisa di kuburan kuno itu, tapi ia pikir Nyo Ko berdua adalah ahli waris Ko-bong-pay, suatu aliran der.gan Li Bokchiu, tentu mereka memiliki obat penawar perguruannya untuk menyembuhkannya, sekarang mendengar ucapan Nyo Ko ini, seketika mukanya menjadi pucat terkejut.

Cepat sekali Ui Yong menggunakan otaknya, segera terpikir olehnya.

"Kiranya Ko-ji tidak mau minum Coat-ceng-tan itu adalah karena jiwa isteri nya sudah pasti takkan tahan lama lagi, makanya dia tidak ingin hidup sendiri. Lantas ke mana perginya nona Liong sekarang?"

Ia memandang ke puncak gunung yang bergua dan telah menelan bulat2 Kiu Jian-jio dan Kongsun Ci itu, tanpa terasa ia merinding sendiri.

Tanpa berkedip Nyo Ko memandangi Ui Yong, dengan sendirinya iapun dapat meraba jalan pikiran nyonya cerdik yang gemetar memandangi puncak gunung sana, seketika ia kuatir dan gusar, kata-nya.

"Sudah jelas jiwanya sukar dipertahankan lantas kau membujuk dia agar membunuh diri untuk menyelamatkan jiwaku, begitu bukan? Mungkin kau mengira tindakanmu ini ada baiknya bagiku, tapi aku... aku O, betapa benciku padamu..."

Sampai di sini dadanya menjadi sesak, ia terus roboh pingsan. Cepat It-teng menurut gitok anak muda itu sejeuak, pelahan2 Nyo Ko siuman kembali, Ui Yong lantas berkata.

"Aku hanya membujuk dia supaya menyelamatkan jiwamu dan sekali tidak meminta . dia bunuh diri. Kalau kau tidak percaya ya terserah padamu!"

Semua, orang saling pandang dengan bingung, Tiba2 Thia Eng berkata.

"Lekas kita membuat tali panjang dari kulit pohon, biar kuturun ke dalam gua sana untuk mencannya, barangkali... barangkali Liong-cici tergelincir..."

"Ya, betapapun kita harus mencarinya hingga jelas persoalannya,"

Ujar Ui Yong.

Segera mereka bekerja keras mengupas kulit pohon untuk dipintal menjadi tali besar, orang banyak tenaga kuat, tidak lama tali yang ratusan meter panjangnya sudah jadi, Be-ramai2 para anak muda itu mengajukan diri untuk menyelidiki gua di bawah tanah itu.

"Biarlah aku sendiri yang turun ke sana,"

Kata Nyo Ko.

Semua orang memandang Ui Yong untuk menunggu keputusannya, Ui Yong tahu dirinya dicurigai Nyo Ko, kalau keinginan anak muda itu dicegah pasti juga takkan digugu, sebaliknya kalau dibiarkan turun ke bawah, mungkin Siao liong-li betul terjatuh dan meninggal di sana, maka pastilah anak muda itu takkan mau naik lagi di sini.

Selagi Ui Yong ragu2, tiba2 Thia Eng berkata pula dengan iklas.

"Nyo-toako, aku saja yang turun ke sana. Dapatkah engkau mempercayaiku?"

Selain Siao-liong-li, hanya Thia Eng saja yang paling digugu oleh Nyo Ko.

Apalagi ia sendiripun sedih dan bingung, kaki tangan terasa lemas, terpaksa ia mengangguk setuju.

Segera Bu Sam-thong, Yalu Ce dan lain2 yang bertenaga kuat memegangi tali panjang itu untuk menurunkan Thia Eng ke dalam gua bawah tanah itu.

Karena lubang gua di bawah tanah itu terletak dipuncak bukit, maka dalamnya gua juga sama tingginya dengan puncak itu.

Tali panjang itu terus di ulur hingga tertinggal beberapa meter saja barulah Thia Eng mencapai tanah.

Be-ramai2 semua orang berdiri mengelilingi lubang gua itu dan tiada seorangpun yang bicara.

Ui Yong hanya saling pandang dengan Cu Cu-liu, apa yang mereka pikir adalah sama, yakni kalau Siao-liong-li benar2 meninggal di bawah sana, pasti Nyo Ko akan terjun juga ke dalam gua, hal ini harus di cegah sebisanya.

Begitulah dengan perasaan cemas dan gelisah semua orang memandangi lubang gua itu dan menantikan berita yang akan dibawa oleh Thia Eng.

Sekian lama mereka menunggu dengan tidak sabar dan Thia Eng masih belum nampak memberi tanda untuk naik kembali ke atas.

Tidak lama kemudian, tiba2 tali yang dipegang Bu Sam-thong itu ber goyang2 beberapa kali, Kwe Hu dan lain2 lantas berteriak.

"Lekas kerek dia ke atas!"

Be-ramai2 mereka lantas menarik sekuatnya sehingga Thia Eng dapat di kerek ke atas. Sebelum keluar dari lubang gua itu Thia Eng sudah berteriak2 .

"Tidak ada, tidak ada Liong-cici di bawah sana!"

Semua orang menjadi girang dan menghela napas lega, sejenak kemudian Thia Eng menongol keluar dari lubang gua, lalu berkata pula.

"Nyo-toako, sudah kuperiksa dengan teliti, di bawah sana hanya ada mayat Kongsun Ci dan Kiu Jian-jio yang sudah hancur dan tiada terdapat benda lain."

"Kita sudah mencari rata segenap pelosok dan tidak menemukannya, kukira nona Liong saat ini pasti sudah meninggalkan lembah ini,"

Kata Cu Cu-liu setelah berpikir sejenak. Tiba2 Bu-siang berseru.

"He, masih ada suatu tempat yang belum kita longok, bisa jadi Liong-cici sedang berusaha menemukan Coat-ceng tan yang terbuang..."

Tidak sampai habis ucapan Bu-siang, hati Nyo Ko tergetar dan segera ia berlari ke tebing curam kemarin itu, sembari berlari iapun ber-teriak2.

"Liong-ji! Liong ji!"

Setiba di tebing itu, tertampak kabut membungkus permukaan jurang, awan mengapung di udara, kicau burung saja tak terdengar apalagi bayangan manusia.

Nyo Ko pikir Siao-Iiong-li adalah orang yang berhati polos dan lugu, apapun yang dia pikir pasti dikatakan padaku.

Ketika berbaring di tanah rumput itu dia hanya mengatakan agar aku ingat saja sumpahku akan patuh pada perkataannya, Sudah tentu aku tidak pernah membantah kehendaknya, mengapa perlu ditegaskan lagi?

Namun dia kan tidak pernah memberi pesan apa2 padaku?"

Begitulah ia menengadah dan bergumam pelan.

"Liong ji, O, Liong-ji, ke manakah kau sesungguhnya? sebenarnya kau ingin mematuhi perkataanku tentang apa?" -ia memandang ke tebing di depan sana, samar2 tertampak bayangan nona berbaju putih dengan bunga merah tersunting di sanggulnya, bayangannya yang mengambang itu seperti saling bertempur melawan Kongsun Ci.

"Liong-ji!"

Nyo Ko berteriak lagi, tapi setelah diperhatikan lagi, mana ada bayangan Siao-liong-ii, hanya bunga salju belaka yang bertebaran tertiup angin, tapi bunga merah yang dipetiknya kemarin itu memang benar berada di bawah tebing sana.

Nyo Ko menjadi heran, padahal waktu Siao-liong-li menempur Kongsun Ci di situ kemarin belum ada bunga merah itu.

Tebing hanya batu karang belaka tanpa tetumbuhan apapun, mengapa ada bunga di situ?

Kalau bunga itu jatuh ke situ tertiup angin, manabisa terjadi secara kebetulan begitu?

Segera ia tarik napas panjang dan berlari ke tebing sana melalui jembatan batu yang sempit itu.

Sesudah dekat, seketika hatinya tergetar hebat, jelas bunga itu adalah merah yang dipetiknya untuk Siaoliong-li itu, kelopak bunga kelihatan sudah layu dan dapat dikenalnya dengan jelas waktu itu ia sendiri memberi nama "Liong-li-hoa"

Untuk bunga merah ini.

Kalau bunga ini terjatuh di sini, maki Siao-liong-ii pasti juga pernah datang ke sini.

Ia jemput bunga itu, dilihatnya dibawah bunga ada satu bungkusan kertas, cepat ia membuka bungkusan itu, kiranya isinya adalah setangkai rumput warna ungu, yaitu Toan-jong-cau yang tumbul di bawah semak2 bunga cinta itu.

Hati Nyo Ko ber-debar2 keras, ia coba meneliti kertas pembungkus rumput itu, namun tiada sesuatu tulisan apa2.

"Nyo-toako!"

Terdengar Bu-siang memanggil di seberang.

"apa yang kau lakukan di sana?"

Waktu Nyo Ko menoleh, tiba2 terlihat di dinding tebing terukir dua baris huruf dengan ujung pedang, huruf yang satu baris lebih besar dan tertulis.

"16 tahun lagi berjumpa pula di sini, cinta murni suami isteri, jangan sekali2 ingkar janji"

Sedang baris huruf yang lebih kecil tertulis.

"Dengan sangat Siao-liong-li menyampaikan pesan ke pada suamiku Nyo Ko agar menjaga diri baik2 dan harus berusaha berkumpul kembali"

Nyo Ko memandangi dua baris tulisan itu dengan ter-mangu2, seketika ia tidak paham apa maksud Siao-liong li. Pikirnya.

"Dia berjanji padaku untuk berjumpa pula di sini 16 tahun kemudian, lalu ke mana perginya sekarang? Dia mengidap racun jahat dan sukar disembuhkan mungkin sepuluh hari atau setengah bulan saja tak tahan, mana bisa dia mengadakan janji bertemu 16 tahun lagi? sudah jelas dia mengetahui Coat-ceng-tan yang dapat menyelamatkan jiwaku telah kubuang ke jurang, manabisa pula dia menunggu aku sampai 16 tahun lamanya?"

Begitulah makin dipikir makin ruwet sehingga tubuhnya menjadi sempoyongan.

Melihat keadaan Nyo Ko yang linglung itu, semua orang menjadi kuatir kalau anak muda itu tergelincir ke dalam jurang, Tapi untuk menyeberang ke sana dan membujuknya juga sulit karena jembatan itu sangat sempit, kalau mendadak dia menjadi kalap, ilmu silatnya sedemikian tinggi pula, lalu siapa yang mampu mengatasinya dan pasti akan ikut kejeblos ke jurang.

Ui Yong mengerut kening, katanya kemudian kepada Thia Eng.

"Sumoay, tampaknya dia masih mau menurut perkataanmu."

"Baiklah, coba kupergi ke sana,"

Jawab Thia Eng dan segera melompat ke atas jembatan batu dan melangkah ke sana. Mendengar suara tindakan orang dari belakang, segera Nyo Ko membentak.

"Siapapun tak boleh ke sini!"

Cepat iapun membalik tubuh dengan mata mendelik.

"Akulah, Nyo-toako!"

Seru Tbia Eng dengan suara lembut "Aku ingin membantu kau mencari Liong-cici dan tiada maksud lain."

Sejenak Nyo Ko mengawasi Thia Eng dengan termenung, kemudian sorot matanya mulai berubah halus. Thia Eng melangkah maju dan bertanya.

"Apakah bunga merah ini tinggalan Liong-cici?"

"Ya,"

Nyo Ko menjawab.

"Mengapa harus 16 tahun? Mengapa?"

Sudah tentu Thia Eng tidak paham apa yang dikatakan Nyo Ko itu, setelah berada di seberang-dapatlah ia membaca tulisan yang terukir di dinding tebing itu, iapun merasa heran. Katanya kemudian.

"Kwe-hujin banyak tipu dayanya, caranya memecahkan persoalan juga sangat jitu, marilah kita kembali ke sana dan tanya beliau, tentu akan mendapatkan keterangan yang memuaskan,"

"Benar,"

Ujar Nyo Ko.

"Awas, jembatan itu sangat licin, kau harus hati2!"

Segera ia mendahului melompat ke seberang sana serta menceritakan kedua baris tulisan itu kepada Ui Yong, Uhtuk sekian lamanya Ui Yong merenungkan arti tulisan itu, tiba2 matanya bercahaya dan ber-keplok tangan, katanya dengan tertawa.

"Wah, selamat, Ko-ji, selamat!"

Kejut dan girang Nyo Ko, cepat ia bertanya.

"Maksudmu maksudmu itu berita baik?"

"Ya, tentu saja,"

Jawab Ui Yong.

"Rupanya adik Liong telah bertemu dengan Lam-hay Sin-ni (Rahib sakti dari lautan selatan), sungguh penemuan yang sukar di cari."

"Lam-hay Sin-ni?"

Nyo Ko mengulang nama ini dengan bingung.

"Siapakah dia?"

"Lam-hay Sin-ni adalah nabi besar agama Buddha jaman kini,"

Tutur Ui Yong.

"Agama beliau sukar dijajaki, tingkatannya bahkan jauh lebih tinggi daripada It-teng Taysu ini. Lantaran dia jarang ke Tionggoan sini, maka tokoh dunia persilatan jarang yang kenal namanya, Dahulu ayahku pernah bertemu satu kali dengan beliau dan beruntung mendapat ajaran sejurus ilmu pukulan dari beliau. Yah 16, 32. 48, ya benar, kejadian itu sudah 48 tahun yang lalu."

Nyo Ko merasa sangsi "48 tahun yang lalu? "ia menegas.

"Benar,"

Jawab Ui Yong.

"Usia Sin-ni itu mungkin kini sudah dekat seabad, Menurut cerita ayahku, tiap 16 tahun sekali ia datang ke Tionggoan ini. Celakalah orang jahat yang kepergok olehnya, Tapi beruntunglah orang baik yang berjumpa dengan beliau, Nona cantik seperti adik Liong itu pasti sangat disukai oleh Sin-ni dan bisa jadi telah menerimanya sebagai murid dan dibawa ke Lamhay."

"Setiap 16 th. satu kali?"

Nyo Ko menggumam, tiba2 ia berpaling kepada It-teng Taysu dan berta-nya.

"Apakah betul begitu, Taysu?"

Belum lagi It-teng menjavvab, cepat Ui Yong menimbrung.

"Meski agamanya tinggi, tapi tabiat Sin-ni ini rada aneh. Apakah Taysu juga pernah bertemu dengan beliau?"

"O, sayang, belum pernah kulihat dia,"

Jawab It-teng singkat.

"Benar2 orang tua yang agak kurang bijaksana,"

Kata Ui Youg pula.

"Masakah orang muda yang baru bersuami isteri diharuskan berpisah 16 tahun lamanya, bukankah terlalu kejam? Padahal ilmu silat adik Liong sudah begitu tinggi, kalau belajar lagi 16 tahun, memangnya supaya dia dapat mengatasi dan menundukkan sang suami? Hahaha!"

"Ah kukira bukan begitu, Kwe-pekbo,"

Kata Nyo Ko.

"Bagaimana?"

Tanya Ui Yong, Nyo Ko lantas mengulangi bercerita tentang Siao-liong-li yang sedang mengadakan penyembuhan luka dalam sendiri dan mendadak terkena jarum berbisa yang disambitkan Kwe Hu sehingga racun terseret ke jantung, akhirnya ia berkata.

"Jika benar Liong-ji mendapatkan perhatian Sin-ni, maka dalam 16 tahun ini Sin-ni pasti akan menggunakan kesaktiannya untuk menguras racun yang berkumpul dalam tubuh Liong-ji. Tadinya kukira... ku kira dia pasti takdapat disembuhkan lagi."

"Tentang secara semberono anak Hu mencelakai adik Liong juga baru kudengar dari adik Liong semalam,"

Tutur Ui Yong.

"Ko-ji, apa yang kau duga barusan ini memang masuk diakal. Kukira untuk menyembuhkan adik Liong memang sukar dilakukan dalam waktu singkat biarpun Sin-ni memiliki obat mujarab. Maka kita berharap saja semoga Sin-ni tiba2 menaruh belas kasihan dan dapat mengirim kembali adik Liong padamu sebelum waktu yang ditentukan."

Selamanya Nyo Ko belum penuh mendengar tokoh sakti bernama "Lam hay Sin-ni"

Segala, hatinya menjadi ragu2, hendak tidak percaya, namun bunga ditemukannya dan tulisan juga terukir jelas, semua itu adalah bukti nyata yang tak dapat di-bantah, jika Siao-liong-li mengalami sesuatu, mengapa dia menjanjikan pertemuan 16 tahun kelak?

Setelah berpikir sejenak, tiba2 ia tanya Ui Yong.

"Kwe-pekbo, darimana engkau mengetahui Liong-ji dibawa pergi Lam-hay Sin-ni? Sebab apa pula dia tidak menuliskan kejadian yang sebenarnya agar aku tidak berkuatir baginya?"

"KesimpuIanku ini kutarik dari kalimat "16 tahun lagi"

Itu,"

Tutur Ui Yong.

"Kutahu setiap 16 tahun sekali Lam-hay Sin-ni pasti datang ke Tionggoan sini, kecuali dia rasanya tiada orang kosen lain yang mempunyai kebiasaan aneh begitu. It-teng Taysu, apakah engkau teringat ada oran kosen lain pula?"

It-teng menggeleng dan menyatakan tidak ada. Maka Ui Yong berkata pula.

"Malahan Nikoh sakti itupun sungkan namanya di-sebut2 orang, dengan sendirinya dia tidak mengizinkan adik Liong menulis namanya di atas batu, Cuma sayang Toan-jong-cau ini entah dapat menawarkan racun dalam tubuh atau tidak, jika, ...jika tidak, ai, 16 tahun kemudian adik Liong akan pulang dan bila tidak dapat bertemu lagi dengan kau, mungkin iapun tidak ingin hidup lagi."

Air mata Nyo Ko ber-linang2 di kelopak matanya sehingga pandangannya menjadi samar2.

lapat2 seperti dilihatnya ada bayangan putih di seberang sana, se-akan2 16 tahun sudah lalu dan Siao liong li sedang mencarinya di situ, tapi tidak bertemu sehingga sangat kecewa dan berduka.

Angin dingin meniup membuat Nyo Ko ter-gigil, segera ia berkata dengan tegas.

"Kwe-pekbo, biarlah kupergi ke Lam-hay untuk mencari Liong-ji, entah Sin-ni berdiam di mana?"

"Ko ji,"

Jawab Ui Yong.

"janganlah kau berpikir begitu, Tay ti-to yang menjadi pulau kediaman Lam-hay Sin-ni itu mana boleh diinjak orang luar. Bahkan setiap lelaki yang berani mendekati pulau itu akibatnya pasti akan binasa. Dahulu ayahku telah mendapat anugerah beliau, tapi ayah juga belum pernah berkunjung ke sana. Kalau adik Liong sudah diterima oleh Sin-ni, janji bertemu 16 tahun kelak dengan cepat akan lalu, mengapa engkau mesti ter-gesa2 mencarinya?"

Dengan mata membelalak Nyo Ko menatap tajam Ui Yong dan menegas.

"Ucapan Kwe-pekbo ini sesungguhnya betul atau tidak?"

"Terserah kau mau percaya atau tidak,"

Jawab Ui Yong.

"Boleh coba kau memeriksa lagi ukiran tulisan di dinding sana, kalau bukan tulisan tangan adik Liong, maka apa yang kukatakan mungkin juga tidak betul."

"Gaya tulisan itu memang betul tulisan tangan Liong-ji,"

Ujar Nyo Ko.

"Setiap kali menulis huruf Nyo, pada titik kanan itu selalu dia tarik agak panjang, hal ini tidak mungkin dipalsukan orang."

"Bagus jika begitu,"

Seru Ui Yong sambil keplok.

"Terus terang kukatakan, aku sendiripun merasa kejadian ini teramat kebetulan dan semula akupun mencurigai Cu-toako yang sengaja mengatur sandiwara ini untuk mengelabuhi kau."

Nyo Ko termenung sejenak, katanya kemudian.

"Baiklah aku akan coba2 minum Toan-jong-cau jni, jika tidak berhasil, 16 tahun yang akan datang tolong Kwe-pekbo memberitahukan kejadian ini kepada isteriku yang bernasib buruk itu."

Lalu ia berpaling dan tanya Cu Cu-liu.

"Cu-toasiok, bagaimana caranya minum obat rnmput ini?"

Cu Cu liu sendiri hanya tahu Toan-jong-cau itu mengandung racun yang keras, bagaimana caranya menggunakan racunnya untuk mengobati racun belum pernah di dengannya. Terpaksa ia bertanya kepada lt teng.

"Suhu, soal ini harus minta petunjuk engkau."

It-teng Taysu segera menggunakan It-yang-ci dan menutuk empat Hiat-to di bagian2 yang menyangkut ulu hati, serentak Nyo Ko merasakan hawa hangat menyalur ke dada, rasa sesak tadi lantas longgar.

"Karena racun bunga cinta ini berhubungan dengan hati dan perasaan, maka waktu Toan-jong-cau menawarkan racunnya pasti juga akan menyerang bagian hati, sebab itulah kututuk empat Hiat-to untuk melindungi urat nadi jantung hati, sekarang kau boleh coba minum satu tangkai dulu rumput rantas usus itu,"

Demikian kata It-teng.

Nyo Ko lantas mengucapkan terima kasih.

Waktu dia mendengar paderi Hindu itu dibinasakan Li Bok-chiu, ia merasa putus harapanlah usaha menyembuhkan Siao liong-li, maka ia sendiripun bertekad akan mati saja bersama sang isteri sekarang dia dijanjikan bertemu lagi 16 tahun kemudian, segera hasrat ingin hidupnya berkobar kembali cepat ia mengeluarkan setangkai Toanjong-cau atau rumput rantas usus itu terus dikunyahnya, ia merasa pahitnya luar biasa melebihi bratawali.

Tapi baik airnya maupun ampasnya Nyo Ko telan mentah2.

Kalau sebelum ini dia tidak ingin hidup sendirian tanpa Siao-Iiong-li, sekarang dia justeru kuatir akan mati lebih dulu sehingga 16 tahun kemudian Siao-liong-li takdapat menemukan dia di puncak gunung ini.

Ia lantas duduk bersila dan mengerahkan tenaga dalam untuk melindungi urat nadi jantung hati, selang tak lama, mendadak perutnya mulas, menyusul itu lantas kesakitan seperti di-iris2 dan laksana dicocok be-ribu2 jarum sekaligus, Tapi ia bertahan sekuatnya tanpa merintih sedikitpun selang tak lama rasa sakit itu hampir merata di seluruh badan, ruas tulang seakan2 terlepas semuanya.

Rasa sakit itu berlangsung hingga lama, kemudian mulai berkurang dan cuma bagian perut saja yang masih mulas, mendadak ia menumpahkan darah warna merah segar seperti darah orang sehat.

Thia Eng dan Bu-siang sama menjerit kaget melihat anak muda itu tumpah darah.

Tapi It-teng tampak bergirang malah dan menggumam pelahan.

Wah Sute, meski sudah wafat engkau tetap meninggalkan pahala."

Serentak Nyo Ko melompat bangun dan berseru.

"Jiwaku ini adalah pertolongan paderi Thian -tiok, It teng Taysu dan Kwe-pekbo bertiga."

"He, apakah kadar racun dalam tubuhmu sudah punah seluruhnya?"

Tanya Bu-siang dengan girang.

"Mana bisa begitu cepat?"

Ujar Nyo Ko.

"Cuma sekarang sudah jelas kemanjuran obat ini, asalkan setiap hari minum satu tangkai tentu kadar racun akan semakin berkurang pula setiap hari."

"Tapi kalau tak dapat diketahui kapan berhasilnya racun dalam tubuhnya, jika engkau masih terus makan rumput rantas usus itu, jangan2 isi perutmu nanti ikut hancur semua?"

Kata Bu-siang.

"Hal ini tentu dapat kurasakan sendiri,"

Kata Nyo Ko.

"Jika kadar racun belum bersih, bila timbul... timbul rasa cintaku, segera dadaku akan kesakitan."

"Semoga engkau jangan banyak pikir dulu,"

Ujar Bu-siang. Sejak tadi Kwe Hu hanya mendengarkan saja, mendadak ia menimbrung.

"Hm, yang dipikirkan Nyo-toako tentulah Liong-cici, masakah dia memikirkan dirimu?"

Cepat Ui Yong membentaknya.

"Kau mengoceh apa, anak Hu!"

Muka Bu-siang menjadi merah. Malahan Kwe Hu terus menambahkan lagi.

"16 tahun lagi Liong-cici pasti akan pulang, sebaiknya kau jangan sembarang mimpi."

Bu-siang tidak tahan lagi.

"sret", mendadak ia melolos goloknya terus membentak sambil menuding Kwe Hu.

"Jika bukan gara2mu, masakah Nyo-toaku sampai terpisah selama 16 tahun dengan Liong-cici? Coba renungkan, betapa hebat kau membikin susah Nyo-toako?"

Segera Kwe Hu hendak membantah, tapi Ui Yong lantas membentaknya.

"Hu-ji, jika kau bersikap kurang adat lagi kepada orang, lekas kau pulang saja ke Tho-hoa-to dan sekali2 jangan kembali ke Siangyang."

Kwe Hu tidak berani bersuara lagi, ia hanya mendelik belaka kepada Liok Bu-siang. Nyo Ko menghela napas panjang, katanya kepada Bu-siang.

"Kejadian itu memang juga sangat kebetulan dan nona Kwe sendiri juga tidak sengaja hendak mencelakai Liong-ji. Maka urusan ini selanjutnya tidak usah diungkat lagi, adik Liok."

Mendengar dirinya dipanggil "adik", sebaliknya anak muda itu menyebut Kwe Hu sebagai "nona,"

Jelas sekali bedanya antara orang sendiri dan orang luar. Hati Bu-siang menjadi girang, segera ia masukkan golok ke sarungnya sambil mencibir pada Kwe Hu.

"Nyo-sicu telah makan Toan-jong-cau tanpa terganggu apapun, tampaknya rumput ini memang mujarab untuk menawarkan racun bunga cinta ini."

Kata Itteng kemudian.

"Cuma sebaiknya jangan diminum terus menerus, bolehlah tujuh hari kemudian baru minum untuk kedua kalinya."

Nyo Ko memberi hormat dan menerima saran itu. Melihat hari sudah terang benderang, Ui Yong lantas berkata.

"Sudah cukup Iama kita meninggalkan Siangyang, entah bagaimana situasi di sana, aku menjadi sangat kuatir dan sebentar juga akan berangkat pulang, Ko-ji kaupun ikut pulang saja ke sana, paman Kwe tentu sangat kangen padamu."

"Aku tinggal di sini saja untuk menunggu... menunggu dia,"

Jawab Nyo Ko.

"He, kau hendak menunggu dia selama 16 ta-hun di sini?"

Tanya Kwe Hu heran.

"Entahlah,"

Jawab Nyo Ko.

"Rasanya akupun tidak tahu harus pergi ke mana?"

"Baiklah, boleh juga kau menunggu dulu sepuluh hari atau setengah bulan lagi di sini,"

Ujar Ui Yong.

"Andaikata adik Liong benar2 tiada kabar beritanya, hendaklah segera kau datang ke Siangyang saja."

Nyo Ko memandang tebing curam di seberang sana dengan ter-mangu2 tanpa menjawabnya lagi, Semua orang lantas mohon diri kepada Nyo Ko untuk berangkat Melihat Liok Bu-siang tiada tanda2 mau ikut pergi, Kwe Hu tidak tahan dan bertanya.

"He, Liok Bu-siang, apakah kau hendak tinggal di sini menemani Nyo-toako?"

"Peduli apa dengan kau?"

Semprot Bu-siang dengan muka merah. Tiba2 Thia Eng berkata.

"Nyo-toako belum sehat, biarlah aku dan Piaumoay merawatnya beberapa hari lagi di sini."

Ui Yong tahu Sumoay cilik ini wataknya lembut di luar dan keras di dalam, jika puterinya sampai membikin sakit hati dia, kelak pasti akan banyak mendatangkan kesukaran, Maka cepat ia melototi Kwe Hu agar jangan banyak bicara lagi.

Lalu berkata."

Ko-ji mendapatkan perawatan Sumoay, tentu takkan beralangan apapun, Nanti kalau sudah sembuh hendaklah kalian bertiga datang ke Siangyang.

Begitulah Nyo Ko, Thia Eng dan Liok Bu-siang memandangi kepergian It-teng Taysu, Ui Yong dan rombongannya hingga makin jauh dan akhirnya menghilang di balik pepohonan sana.

Api yang berkobar semalaman kini sudah mulai padam, Nyo Ko lantas berkata.

"Kedua adik, ada suatu pikiranku yang kurang pantas, jika kukatakan hendaklah kalian jangan marah."

"Katakan saja, siapa akan marah padamu?"

Ujar Bu-siang.

"Sejak berkenalan, rasanya kita bertiga sangat cocok satu sama lain,"

Tutur Nyo Ko.

"Aku sendiri tidak mempunyai saudara, maka kuingin mengikat persaudaraan angkat dengan kalian berdua, selanjutnya kita benar2 menjadi kakak beradik seperti saudara sekandung Entah bagaimana pendapat kalian dengan usulku ini?"

Pilu rasa hati Thia Eng, ia tahu cinta Nyo Ko kepada Siao-liong-li tidak pernah buyar, lantaran ada janji bertemu 16 tahun lagi, maka dia mengajak mengangkat saudara agar hubungan mereka tidak menjadi kikuk.

Kelihatan Bu-siang menunduk dengan mengembeng air mata, cepat ia berkata.

"Jika begitu kehendak Toako, tentu saja kami setuju, Mempunyai Toako sebaik engkau, apalagi yang kami harapkan?"

Bu-siang lantas membubut tiga tangkai rumput dan ditancapkan di tanah serta berkata.

"Di sini tidak ada Hiosoa (dupa sembayang), biarlah kita menggunakan rumput sebagai gantioya."

Ia berkata dengan tersenyum, tapi kemudian suaranya menjadi ter sendat2 dan sebelum Nyo Ko menjawab ia sudah mendahului berlutut dan memberi hormat.

Cepat Nyo Ko dan Thia Eng ikut berlutut dan saling memberi hormat delapan kali sebagai tanda pengikatan kakak beradik secara resmi.

Kata Nyo Ko kemudian.

"Jimoay dan Sammoay, barang yang paling jahat di dunia ini kukira tak lebih dari pada pohon bunga cinta ini. Bagaimana kalau kita membabatnya hingga akarnya supaya hancur dan lenyap seluruhnya?"

Tanpa pikir Thia Eng dan Bu-siang menyatakan setuju.

Be-ramai2 mereka lantas mencari cangkul dan sekop di perkampungan yang sudah menjadi tumpukan puing, dengan bersemangat mereka terus membabati dan mendongkel setiap pohon bunga cinta yang mereka lihat.

Karena tumbuhan bunga itu cukup banyak, pula berduri, mereka harus hati2 bekerja, setelah sibuk enam hari barulah tumbuhan berbisa itu dibasmi habis.

Sejak itu tumbuhan aneh yang membikin celaka manusia itupun tak pernah bersemi pula dan lenyap dari permukaan bumi ini.

Besoknya pagi2 Bu-siang sudah memberi setangkai rumput rantas usus kepada Nyo Ko dan ber-kata.

"Toako, hari ini kau harus minum lagi rumput berbisa ini."

Karena sudah berpengalaman tujuh hari yang lalu, Nyo Ko tahu rumput rantas usus itu berbisa, tapi dirinya mampu bertahan, maka begitu dia minum sebatang rumput itu segera ia mengerahkan tenaga dalam.

Karena sekarang kadar racun dalam tubuhnya sudah berkurang, rasa sakitnya juga ti -dak sehebat tempo hari lagi.

Selang agak lama, ia muntahkan darah segar puIa, lalu hilanglah rasa sakitnya.

Nyo Ko berdiri coba melemaskan kaki dan tangannya, dilihatnya Thia Eng dan Bu-siang ikut bergirang bagi kemajuan penyakitnya itu.

Pikirnya.

"Kedua adik angkat ini sungguh baik sekali pada-ku, cuma sayang aku tidak dapat membalas kebaikan mereka."

Setelah berpikir pula sejenak, timbul lagi pikirannya.

"Jimoay mempunyai guru kosen, asal berlatih lebih lania lagi tentu dia akan mencapai tokoh tingkatan atas. sedangkan nasib Sammoay jelas kurang beruntung dari pada Jimoay."

Karena itulah ia lantas berkata kepada Bu-siang.

"Sammoay, gurumu dan guruku adalah saudara seperguruan, jadi kita berdua sebenarnya masih sesama saudara seperguruan juga, ilmu silat tertinggi dari Ko-bong-pay kita tercantum semua di dalam Giok-li-sim-keng, sedangkan kitab itu telah direbut Li Bok-chiu dan ikut terkubur di lautan api. Untung aku masih ingat isi kitab itu, daripada iseng biarlah kuajarkan sedikit ilmu silat perguruan kita itu, bagaimana pikiranmu?"

Tentu saja Bu-siang kegirangan, jawabnya.

"Terima kasih, Toako, lain kali kalau ketemu Kwe Hu tentu aku tidak takut dia bertindak kasar lagi padaku."

Nyo Ko tersenyum, segera ia mulai menuturkan permulaan dari ajaran Giok-li-sim-keng beserta-kunci2nya, dimulai dari yang cetek dan kemudian mendalam. Kemudian ia memberi pesan pula.

"Hendaklah kau apalkan dulu kunci2nya, waktu latihan bila perlu boleh minta bantuan jimoay, di lembah ini sangat tenang, sungguh suatu tempat latihan yang baik."

Begitulah selama beberapa hari Bu-siang tekun mengapalkan ajaran Nyo Ko itu, memangnya ilmu yang pernah dipelajarinya adalah aliran Ko-bongpay, dengan sendirinya mudah baginya untuk menerima dan memahaminya.

jika ada bagian2 sulit yang sukar dipecahkan, Nyo Ko menyuruh Bu-siang mengapalkan saja untuk diulangi lagi lain hari.

Dengan begitu selama hampir sebulan dapatlah Bu-siang mengingat seluruh isi Giok-li-sim-keng di luar kepala.

Suatu hari, pagi2 dia dan Thia Eng sudah menyiapkan sarapan, tapi ditunggu sampai lama sekali tidak nampak munculnya Nyo Ko.

Mereka lantas mendatangi gua tempat tinggal Nyo Ko, terlihat di tanah sana tertulis huruf2 besar yang berbunyi "Berpisan untuk sementara, biarlah bertemu lagi kelak.

Hubungan baik kakak beradik tetap kekal dan abadi."

Bu-siang melonggong dan bergumam.

"Akhir-nya dia... dia telah pergi."

Ia ber-lari2 ke puncak gunung dan memandang jauh ke selatan.

Thia Eng segera menyusulnya, mereka memandang jauh ke sana, tapi yang kelihatan hanya awan mengambang diudara, pepohonan menghijau permai, mana ada bayangan Nyo Ko?

Dengan rasa pilu Bu-siang berkata dengan ter-guguk2.

"Jici, kau kira dia... dia pergi ke mana? Apakah kelak kita dapat... dapat berjumpa pula dengan dia?"

"Sammoay,"

Jawab Thia Eng.

"lihatlah gumpalan awan itu yang bergerombol menjadi satu untuk kemudian terpancar lagi. Hidup manusia juga begitu, buat apa kau merasa susah?"

Meski begitu ucapannya, tapi dalam hati sendiri iapun bersedih.

Kiranya selama hampir sebulan Nyo Ko merasa sudah cukup mengajarkan isi Giok-lisim-keng kepada Bu-siang.

tapi selama itu tiada kabar berita Siao-Iiong-li, ia tahu menunggu lagi lebih lama juga tiada gunanya, Maka ia lantas meninggalkan tulisan di tanah dan pergi, ia pikir kalau pulang Cong-lam-san, tentu akan menambah rasa duka, maka seorang diri ia lantas mengembara di Kangouw.

Dengan cepat beberapa bulan telah lalu, dari musim dingin telah datang musim semi, suatu hari ia sampai di dekat Siangyang, dilihatnya bangunan di tepi jalan yang dahulu dibakar oleh pasukan Mongol kini sudah banyak yang dibangun kembali dalam bentuk rumah2 gubuk, walaupun tidak se-makmur dahulu, namun penduduk sudah mulai ramai lagi, agaknya selama ini pasukan Mongol tidak pernah menyerbu lagi ke sini.

Walaupun Nyo Ko juga terkenang kepada Kwe Cing, tapi ia tidak ingin bertemu lagi dengan Kwe Hu, maka ia sungkan mampir ke Siangyang, pikirnya.

"Sudah lama berpisah dengan Tiau-heng (kakak rajawali), biarlah aku menjenguknya ke sana. Segera ia mencari jalan menuju ke arah, lembah pegunungan dahulu itu. Hampir seharian, akhirnya dekatlah dia dengan tempat pengasingan Tok-ko Kiu-pay dahulu. Segera ia bersuit panjang sembari berjalan ke depan, tidak lama kemudian di lereng bukit di depan sana berkumandang suara kaokan burung. Waktu Nyo Ko memandang ke sana, terlihatlah rajawali sakti itu mendekam di bawah pohon besar, kedua cakarnya mencengkeram seekor macan tutul. Berada dalam cengkeraman cakar rajawali yang hebat itu, sama sekali macan tutul itu tak bisa berkutik dan hanya mengeluarkan suara raungan belaka. Melihat kedatangan Nyo Ko, rajawali itu lantas melepaskan macan tutul itu, keruan cepat sekali binatang buas-itu memberosot ke semak2 pohon dengan mencawat ekor. Segera Nyo Ko merangkul leher rajawali itu dengan mesra dan gembira. Mereka, seorang manusia dan seekor burung, lantas kembali ke gua itu. Teringat pengalaman sendiri selama beberapa bulan yang penuh duka derita itu, sayang rajawali tidak dapat bicara diajaknya berbincang sekedar pelipur lara. BegituIah selama beberapa hari Nyo Ko berdiam saja di lembah pegunungan sunyi itu bersama rajawali sakti, Suatu hari, saking isengnya Nyo Ko mendatangi pula tebing tempat makam pedang Tokko Kiu-pang itu. Hian-tiat-pokian, itu pedang yang maha berat yang diambilnya dari sini, sudah dibuangnya di Coat-ceng-kok, segera ia melompat lagi ke atas tebing itu dan membaca kembali tulisan yang terukir di batu kuburan pedang kayu yang sudah lapuk itu dan berbunyi "

Sesudah berusia 40 tahun, sungkan membawa senjata lagi, setiap benda dapat kugunakan sebagai pedang.

Sejak itu latihanku semakin sempurna dan mendekati tingkatan tanpa melebihi memakai pedang ", Nyo Ko coba merenungkan maksud tulisan itu, jgikirnya.

"Waktu aku membawa Hian-tiat-pokiam, boleh dikatakan hampir tiada tandingannya di seluruh jagat Tapi menurut pesan tinggalan Tok-koj Kiupay ini jelas pedang kayu lebih hebat daripada waktu dia menggunakan Hian-tiat-pokiam itu, masa lahan akhirnya tanpa menggunakan pedang menjadi lebih lihay daripada memakai pedang kayu, Kalau Liongji berjanji akan bertemu lagi 16 tahun kelak selama belasan tahun ini biarlah kugunakan untuk mempelajari dan meyakini ilmu pedang kayu melebihi pedang berat dan akhirnya tanpa pedang melebihi menggunakan pedang kayu sesuai ajaran Tok ko Kiu-pay. BegituIah ia lantas memotong setangkai kayu dan dibikin menyerupai pedang, ia pikin "

Hian tiat-pokiam itu beratnya hampir 70 kati, bahwa pedang kayu yang enteng ini dapat mengungkulinya hanya ada dua jalan.

Kebangunan ilmu pedang, dengan cepat mengalahkan kelambanan, Cara lain adalah menang kuat tenaga dalam, dengan keras mengatasi kelemahan.

BegituIah sejak itu iapun memupuk Lwekang dan meyakinkan ilmu pedang, setiap habis hujan deras ia lantas menggembleng diri di bawah air terjun untuk menambah kekuatan serangannya, Tanpa terasa musim berganti musim dan kembali datang lagi musim dingin, perpisahannya dengan Siao-liong-li sudah hampir setahun.

Nyo Ko merasa kemajuan tenaga dalam dan ilmu pedangnya selama setahun ini sangat lambat, mau-tak-mau ia menjadi kesal, Dalam pada itu bunga salju sudah mulai bertebaran Tiba2 rajawali itu berkaok kegirangan dan melompat ke tanah lapang pesta pentang sayap sehingga membangkitkan angin teras, bunga salju tersapu berhamburan.

Tergerak hati Nyo Ko melihat kelakuan burung itu, pikirnya.

"Musim semi tiada air bah, kalau ku latih ilmu pedang di tanah bersalju, rasanya juga suatu cara yang bagus."

Sementara itu dilihatnya si rajawali masih terus menyabet-nyabetkan kedua sayapnya sehingga membawa tenaga semakin keras, biarpun hujan salju lebat, namun tiada sepotong bunga salju yang jatuh di atas badannya.

semangat Nyo Ko terangsang juga, segera ia pegang pedang kayu dan dimainkan juga di bawah hujan salju, berbareng lengan laju tangan kanan juga dikebaskan, setiap ada bunga salju yang melayang turun, segera ia menyambutnya dengan angin putaran pedang atau tenaga kebasan lengan baju, Dengan begitu tanpa terasa hampir setengah hari telah berlalu, ia merasa tenaga dari pedang kayu dan lengan bajunya telah bertambah banyak sekali.

Hujan salju itu terus berlangsung hingga tiga hari lamanya, setiap hari Nyo Ko selalu menari pedang di bawah hujan salju itu bersama si rajawali sakti, Sampai petang hari ketiga, salju turun semakin lebat, selagi Nyo Ko mencurahkan segenap perhatiannya pada pedang kayu untuk menggempur bunga salju, mendadak sebelah sayap rajawali itu di sabetkan ke arahnya.

Karena tidak ber-jaga2, hampir saja Nyo Ko tersabet, cepat ia melompat minggir sehingga sabetan itu dapat dihindari walaupun begitu dahinya sudah ketetesan dua biji bunga salju.

Segera teringat olehnya dahulu rajawali sakti ini juga pernah main gempuran denganku di atas tebing itu sehingga ilmu pedangku maju pesat, sekarang jelas rajawali ini mengajak latihan bersama lagi.

Karena itu ia lantas putar pedang kayu dan balas menusuk satu kali, tapi lantas terdengar suara "krak"

Sekali, begitu kebentur sayap rajawali, seketika pedang kayu itu patah, Rajawali itupun tidak menyerang lagi, tapi berdiri tegak dan mengeluarkan suara ber-cicit2, sikapnya se-akan2 sedang mengomeli kecerobohan si Nyo Ko.

Diam2 Nyo Ko merenungkan cara bagaimana harus menghadapi rajawali sakti itu, pikirnya.

"Jika, kugunakan pedang kayu melawan tenagamu yang maha kuat, jalan satu2nya hanya mengelak dan menghindar, lalu balas menyerang pada setiap ada peluang,"

Setelah menentukan siasat itu, segera ia membuat lagi sebatang pedang kayu, lalu mulai menempur si rajawali pula di tanah salju itu, Sekali ini dia mampu bertahan hingga belasan gebrakan barulah pedang kayu terpatah.

BegituIah ia terus berlatih dengan tekun tanpa berhenti diam2 Nyo Ko sangat berterima kasih kepada si rajawali sakti yang telah menjadi teman berlatihnya tanpa mengenal lelah serta penuh disiplin itu, Pikirnya.

"Kalau aku tidak berhasil meyakinkan ilmu pedang kayu ini tentu akan mengecewakan harapan Tiau-heng ini. Apalagi kesempatan bagus yang sukar dicari ini mana boleh ku-sia2-kan pula?"

Dengan tekad itulah, meski dalam mimpi juga dia mengeraskan otak memikirkan gerak-gerik setiap jurus serangan, cara bagaimana menyerang dan mengelak serta cara bagaimana memperkuat tenaga, Karena kegiatan, latihan ilmu silatnya, rasa rindunya kepada Siao-liong-li menjadi rada berkurang sementara itu racun bunga cinta dalam tubuhnya sudah punah seluruh nya, tenaga dalamnya bertambah kuat, badan juga tampak sehat, kelesuan dan wajahnya yang pucat2 kurus dahulu kinipun sudah tidak kentara lagi.

Hawa semakin dingin, saju turun tiada henti2nya, sudah genap setahun perpisahannya dengan Siao-liong-li.

Berkatalah Nyo Ko kepada rajawali sakti itu.

"O, Tiau-heng, biarlah kita berpisah untuk sementara, kuingin pergi dulu ke Coat-ceng-kok."

Lalu dengan membawa pedang kayu ia meninggalkan pegunungan itu.

Dengan rasa berat rajawali itu mengikuti di belakang Nyo Ko, setiba dipersimpangan jalan Nyo Ko memberi hormat untuk mohon diri, lalu hendak melangkah pergi ke arah utara, Tak terduga mendadak rajawali itu menggigit ujung bajunya dan menyeretnya menuju ke selatan.

Tentu saja Kyo Ko heran, sayangnya di antara dia dan rajawali itu tidak saling mengerti bahasa masing2.

Tapi ia tahu burung itu sangat cerdik dan tiada ubahnya seperti manusia, maka tanpa rewel lagi ia lantas mengikutinya ke arah selatan, Melihat Nyo Ko menuruti kehendaknya, rajawali itu tidak menggigit lagi ujung bajunya dan membiarkannya jalan sendiri Tapi kelihatan Nyo Ko ragu2 dan hendak memutar balik, segera ia meng-gendoli lagi ujung bajunya.

Nyo Ko pikir kalau rajawali sakti ini ngotot mengajaknya ke selatan, tentu ada maksud tujuan tertentu Maka iapun membatalkan niatnya ke Coat ceng-kok dan ikut burung itu terus ke selatan.

Tiba2 hati Nyo Ko tergerak, pikirnya.

"Burung ini sangat pintar, jangan2 dia memberi petunjuk jalan padaku ke lautan selatan untuk menemui Liong ji?"

Teringat kepada Siao-liong-li, seketika ia bersemangat, segera ia melangkah lebar dan ikut rajawali itu berlari cepat ke tenggara, Tiada sebulan kemudian sampai mereka di pantai laut, Nyo Ko berdiri di atas batu karang dan memandang jauh ke lautan bebas sana, tertampak ombak men-dam-par2 dengan hebatnya, sedih dan girang bercampur, aduk dalam benaknya.

Selang tak lama, terdengar suara gemuruh di kejauhan seperti bunyi guntur meru, Karena waktu kecilnya dahulu ia pernah tinggal di Tho hoa-to, ia tahu itulah suara gelombang laut pasang, setiap hari antara lohor dan tengah malam air laut tentu pasang dua kali.

Kini sang surya sedang memancarkan sinarnya di tengah cakrawala, tentu tiba waktunya laut naik pasang.

Suara gemuruh air pasang itu makin lama makin keras dan berkumandang laksana be-ribu2 ekor kuda berderap serentak, Tertampaklah, dari jauh selarik garis putih menerjang ke arah pantai, suara gemuruh itu jauh lebih hebat daripada bunyi geledek dan samberan kilat.

Menyaksikan kedahsyatan alam itu, tanpa terasa air muka Nyo Ko berubah pucat.

Hanya sekejap mata saja gelombang air pasang sudah menerjang tiba dan mendampar ke batu karang tempat berdiri Nyo Ko.

Cepat ia melompat ke belakang, tapi mendadak punggungnya seperti di tubruk oleh suatu tenaga yang maha dahsyat, tanpa kuasa tubuhnya yang terapung di udara itu kecemplung ke laut, jatuh di tengah gelombang laut yang bergulung2, mulutnya terasa asin, tanpa kuasa ia telah minum dua ceguk air laut.

Ia menyadari keadaannya yang berbahaya, syukur ia sudah pernah di gembleng di bawah gerujukan air bah, maka sekuatnya ia tancapkan kaki di dasar laut dengan "Jian-kin tui", ilmu membikin berat tubuh.

Di permukaan air laut berombak, bergemuruh dengan hebatnya, tapi di dasar laut jauh lebih tenang.

Setelah merenungkan sejenak ia paham maksud rajawali itu mengajaknya ke pantai laut ini yakni agar dia berlatih pedang di tengah damparan gelombang laut itu.

Segera ia meloncat ke permukaan air, tapi segera segulung ombak laksana bukit menghantam kepalanya puIa.

Tiada jalan lain, terpaksa ia menarik napas panjang2, lalu selulup lagi menghindar ke dasar laut.

Begitulah ber-ulang2 Nyo Ko timbul dan selulup lagi ketika air laut mulai pasang surut sementara itu Nyo Ko sudah lelah, muka juga pucat namun ia bertambah semangat, tengah malam waktu pasang naik lagi, kembali ia membawa pedang kayu dan menceburkan diri ketengah amukan ombak samudera yang hebat itu, ia putar pedangnya di dalam air, terasa berat sekali karena damparan ombak yang membukit itu, jika terasa payah dan tidak mampu bertahan, cepat ia menyelam ke dasar laut untuk menghindar.

Ia terus berlatih secara begitu dua kali sehari, tidak sampai sebulan ia merasa tenaga dalamnya bertambah banyak, jika pedang kayu diputar di daratan sayup-2 menerbitkan suara seperti ombak mendampar.

Setiap kalau berlatih dengan rajawali itu, kini burung itu tak berani lagi menyambut serangannya dari depan, Suatu kali saking semangatnya Nyo Ko menusukkan pedang kayunya dengan sepenuh tenaga, Rajawali itu berkaok karena kaget dan melompat ke samping.

Karena tidak keburu menahan tenaga serangan-nya, pedang kayu itu menabas batang pohon di samping, pedang itu patah, batang pohon juga terkutung menjadi dua.

Nyo Ko melenggong sambil memegangi kutungan pedang kayu itu, pikirnya.

"Pedang kayu ini adalah benda lemah, tapi dapat mengutungi pohon, sudah tentu karena tenaga seranganku yang hebat Kalau nanti pohon patah dan pedang tidak patah, itulah baru mendekati ilmu sakti yang dicapai Tokko-Iocianpwe dahulu."

Musim semi berlalu, musim rontok tiba, sang tempo lewat dengan cepatnya, setiap hari Nyo Ko terus berlatih pedang di tengah gelombang laut tanpa mengenai lelah dan membedakan musim, Suara gemuruh yang dterbitkan pedangnya setiap kali ia menyerang menjadi semakin keras, sampai akhirnya telinga serasa pekak tergetar.

Tapi setelah beberapa bulan lagi, suara pedangnya mulai berkurang dan akhirnya lenyap tanpa suara lagi.

Ia berlatih lagi beberapa bulan, ternyata suara pedang kembali mendengung pula.

BegituIah terjadi perubahan sampai tujuh kali, akhirnya dapatlah ia menguasai pedangnya, ingin berbunyi lantas mengeluarkan suara, ingin tak bersuara lantas tanpa suara.

Ketika mencapai tingkatan setinggi ini, hitung punya hitung ternyata sudah enam tahun lamanya dia berdiam di pantai laut itu.

Kini dengan pedang terhunus dapatlah Nyo Ko bergerak bebas di tengah gelombang laut yang dahsyat itu, kekuatan yang timbul dari gerakan pedangnya sudah mampu menyampuk ombak laut yang mendampar dari depan.

Meski hidup terpencil di pantai laut dan selama itu tak pernah bergebrak dengan jago silat, namun tenaga si rajawali sakti yang luar biasa itu sudah tidak mampu menahan dua-tiga kali gebrakan pedang kayunya lagi, baru sekarang dia memahami perasaan Tokko Kiu-pay yang tidak pernah menemukan tandingan itu, waktu usianya sudah lanjut, pantaslah Tokko Kiu-pay bertambah terharu dan kesepian karena tiada seorangpun yang sanggup melawan ilmu pedangnya, akhirnya orang dan ilmu pedangnya terkubur semua di lembah sunyi itu.

Terpikir oleh Nyo Ko.

"Jika Tiau-heng dahulu tidak menyaksikan sendiri cara Tokko-locianpwe meyakinkan ilmu pedangnya yang maha sakti itu, mana bisa Tiau-heng mengajarkan lagi ilmu sakti ini padaku? walaupun kusebut burung Tiau heng tapi sesungguhnya dia adalah guruku, Bicara tentang umur, entah sudah berapa puluh tahun atau mungkin sudah ratusan tahun usianya, jadi umpama aku menyebut dia kakek atau buyut rasanya juga pantas."

Begitulah sembari berlatih ilmu pedang di pantai Iaut, iapun tiada hentinya mencari kabar berita tentang Nikoh sakti yang berdiam di lautan selatan sana.

Namun selama beberapa tahun itu ternyata tiada seorangpun pelaut atau pedagang seberang yang ditanyai itu dapat memberi keterangan sesuatu.

Lambat laun iapun putus harapan, ia pikir kalau belum tiba waktunya 16 tahun tentu sulit untuk bertemu lagi dengan Siao-liong-li.

Pada suatu hari, hujan rintik2, angin meniup keras timbul sesuatu perasaan Nyo Ko, segera ia membawa pedang kayu dan pakai mantel, bersama si rajawali sakti ditinggalkanlah pantai laut itu dan mulai mengembara menjelajahi setiap pelosok daerah Tionggoan dan terutama daerah Kanglam yang terkenal indah permai itu * * * Sang tempo berlaku dengan cepat beberapa tahun telah lampau pula.

Waktu itu adalah tahun pertama kaisar Song-li-cong yang bertahta di kerajaan Song Selatan dan terhitung tahun ke sembilan kaisar Goan-hian-cong (dinasti Yuan) dari kerajaan Mongol atau lebih terkenal dengan Kubilai Khan.

Ketika itu baru permulaan musim semi, pada Hong-Jeng-toh, sebuah kota tambangan di tepi utara Hong-ho (Sungai Kuning) tertampak sangat ramai dengan suara orang diseling ringkik kuda dan gemuruh roda kereta.

Rupanya selama beberapa hari ini cuaca berubah2 tidak menentu, terkadang dingin dan kemudian suhu menjadi hangat, mula2 air sungai Kuning itu sudah cair, tapi sejak semalam turun salju dengan lebatnya sehingga air sungai membeku lagi, sebab itulah kapal tambangan tidak dapat berjalan, keretapun tidak berani menyeberangi permukaan sungai yang beku itu.

Sebab itulah banyak saudagar yang hendak menyeberang ke selatan sama tertahan di kota tambangan kecil ini.

Meski di Hong-leng toh ini juga ada beberapa buah rumah penginapan, tapi karena pendatang dari utara masih tak ter-putus2nya, tiada setengah hari semua rumah penginapan sudah penuh sehingga banyak tetamu yang tidak mendapatkan pondokan dan tidak sedikit timbul ribut mulut antara tamu dan pemilik hotel.

Hotel yang paling besar di kota itu bernama "An toh Io-ttam"

Artinya hotel selamat menyeberang, Lantaran halaman hotel ini dan kamarnya terlebih luas daripada hotel lainnya.

maka tetamu yang tidak mendapatkan tempat pondokan lantas membanjiri An-toh-lo-tiam ini dan karena itulah suasana menjadi ramai dan berjubel menyebabkan kesibukan pengurus hotel, banyak kamar yang mestinya buat dua orang terpaksa diisi tiga orang, bahkan masih kelebihan belasan tamu yang tidak mendapatkan kamar, terpaksa duduk berkerumun saja di ruangan tengah, pelayan menyingkirkan meja kursi dan membuat api unggun di tengah2 ruangan untuk menghangatkan badan tetamu.

Menyaksikan bunga salju yang beterbangan dengan lebatnya di luar, para tetamu sama bersedih karena besok merekapun belum tentu dapat melanjutkan perjalanan.

Cuaca mulai gelap, tapi hujan salju semakin lebat tiba-2 terdengar suara derapan kaki kuda, tiga penunggang kuda mendatang secepat terbang dan terhenti di depan An-toh-lo-tiam.

"Kembali ada tamu lagi!"

Gumam seorang tamu yang berduduk di tepi api unggun. Benar juga lantas terdengar suara seorang perempuan berseru.

"He, pengurus berikan dua kamar kelas satu!"

Kuasa hotel menjawab dengan mengering tawa.

"Maaf, sudah sejak pagi kamar hotel kami terhuni penuh, sama sekali tiada kamar kosong lagi."

"Boleh satu kamar saja,"

Ujar perempuan tadi.

"Be ribu2 maaf, nyonya, sungguh sudah penuh semua,"

Jawab pengurus hotel. Tiba2 perempuan itu ayunkan cambuknya ke udara hingga menerbitkan suara "tarrrrr"

Sekali, lalu mengomel.

"Omong kosong! Memangnya kau tak bisa menyuruh orang mengalah sebuah kamar? Biar kutambahi sewanya."

Sembari bicara ia terus menerobos ke dalam hotel.

Pandangan para tamu sama terbeliak melihat perempuan itu, Usianya kira2 lebih 30 tahun, matanya jeli pipinya merah, mukanya cantik, perawakannya montok, berjaket kulit warna biru, bagian leher baju berlapiskan kulit berbulu halus, dan badannya sangat perlente.

Di belakang nyonya muda itu mengikut seorang lelaki dan seorang perempuan lagi, keduanya masih remaja, usianya antara 16-17, yang lelaki beralis tebal dan bermata besar, sikapnya kasar2 gagah, sebaliknya perempuan muda itu sangat cantik.

Ke-duanya sama memakai jaket satin hijau pupus, leher si anak dara memakai sebuah kalung mutiara, setiap biji mutiara itu sebesar jari dan bercahaya.

Para tamu sama terpengaruh oleh lagak lagu ketiga tamu baru, orang2 yang tadinya sedang bicara sama berhenti dan memandangi ketiga orang ini.

Dengan sigap pelayan hotel lantas memberi hormat dan menjelaskan kepada si nyonya muda.

"Lihatlah, nyonya, para tamu inipun tidak mendapatkan kamar. jika kalian tidak merasa kotor, silakan ikut duduk di sini sekedar menghangatkan badan dan lewatkan malam ini, besok kalau air sungai tambah keras membeku mungkin sudah cukup kuat untuk diseberangi."

Tampaknya nyonya muda itu tidak sabar, tapi keadaan memang begitu, terpaksa ia hanya mengerut kening dan tidak bersuara pula.

Seorang perempuan setengah baya yang ikut duduk mengelilingi api unggun lantas berkata.

"Silakan duduk di sini, nyonya, hangatkan badan dulu, hawa sungguh dingin."

"Terima kasih,"

Jawab nyonya cantik itu Segera tamu lelaki yang duduk di samping perempuan setengah umur itu lantas bergeser untuk memberi tempat kepada si nyonya muda.

Duduk tidak lama, pelayan lantas mengantarkan daharan yang dipesan, ada daging ada ayam, arakpun tersedia, Nyonya muda itu sangat kuat minum arak, semangkok demi semangkok ditenggaknya hingga habis, lelaki muda itupun mengiringi minum, hanya si anak dara cantik itu saja setitikpun tidak minum arak.

Dari sapa menjaga mereka dapat diketahui bahwa mereka adalah kakak beradik, Usia pemuda itu tampaknya lebih tua daripada si anak dara, tapi ternyata memanggilnya "Cici" , Habis makan semua orang berkerumun pula di sekitar api unggun, Suara angin yang menderu2 di luar membuyarkan rasa kantuk semua orang.

"Cuaca begini sungguh membikin susah orang,"

Demikian seorang lelaki berkata dengan logat daerah Soasay.

"sebentar hujan salju, sebentar membeku jadi es, lain saat mencair lagi, Thian benar2 ingin menyiksa orang."

"Sebaiknya kau jangan mengomeli Thian dan Te (langit dan bumi),"

Ujar seorang lelaki pendek dengan logat Ouw-pak.

"Adalah untung kita masih dapat menghangatkan badan dengan api dan makan enak di sini, Coba kalau kau pernah berdiam di kota terkepung Siangyang, kukira tempat yang paling sengsara di dunia ini juga akan berubah menjadi sorga bagimu."

Mendengar "kota terkepung Siangyang", nyonya cantik tadi memandang sekejap kepada kedua saudaranya. Lalu terdengar seorang tamu yang bcrlogat Kwitung bertanya.

"Numpang tanya saudara, bagaimana keadaan di kota Simgyang yang terkepung itu?"

"Keganasan orang MongoI kiranya sudah kalian dengar dan tidak perlu kujelaskan lagi,"

Tutur tamu Ouwpak tadi.

"Tahun itu pasukan Mongol menyerang Siangyang secara besar2an, panglima yang menjaga kota itu Lu-tayjin adalah manusia yang tidak berguna, syukurluh Kwe-tayhiap dan isterinya telah membantu dengan sepenuh tenaga."

Mendengar nama Kwe-tayhiap dan isterinya disebut, tampak airmuka nyonya cantik tadi berubah riang pula. Sementara itu tamu berlogat Ouwpak tadi sedang menyambung ceritanya.

"Beratus ribu penduduk siangyang juga bersatu padu menghadapi musuh dan bertahan dengan mati2an, seperti diriku ini, aku hanya pedagang gerobak surungan, tapi akupun ikut berjuang dengan mengangkut pasir dan mengangkat batu untuk memperkokoh benteng kota, lihat ini, codet pada mukaku ini adalah bekas luka kena panah orang Mongol."

Waktu semua orang mengawasi, benar juga terlihat pipi kirinya ada bekas luka panah sebesar gobang, Tanpa terasa semua orang sama menaruh hormat padanya.

"Negeri Song kita sedemikian luas dengan penduduknya begini banyak, kalau setiap orang berjiwa patriot seperti saudara, hah, biarpun Tartar Mongol lebih ganas sepuluh kali lipat juga takkan mampu menginjak tanah air kita,"

Demikian kata si orang Kwitang dengan bersemangat.

"Tepat!"

Ujar si orang Ouwpak.

"Lihatlah, sudah belasan tahun pasukan Mongol menggempur Siangyang, tapi selama ini selalu gagal, sebaliknya tempat2 lain selalu dibobolnya dengan mudah. Kabarnya belasan negeri di benua barat sana juga sudah ditumpas oleh orang Mongol, sedangkan Siangyang kita masih tetap berdiri dengan tegaknya, walau-pun raja mongoI Kubilai sendiri yang memimpin penggempuran juga tetap tidak berhasil."

"Ya, kalau saja Siangyang jatuh, tentu sudah lama tanah air Song Raya kita sudah lama dicaplok orang Mongol,"

Kata orang Kwitang, Begitu semua orang penuh semangat bicara tentang pertahanan Siangyang, orang Ouwpak itu telah menjunjung Kwe Cing dan Ui Yong setinggi langit se-akan2 malaikat dewata dan semua orang juga tiada hentinya memberi pujian.

Tiba2 seorang tamu berlogat Sucoan ikut bicara dengan gegetun.

"Sesungguhnya pembesar yang menjaga benteng di-mana-2 juga ada, soalnya pemerintah kerajaan tidak dapat membedakan antara yang baik dan jahat, seringkali kaum dorna justeru menikmati segala kejayaannya, sedangkan pembesar setia malahan mati penasaran Seperti Gak Hui pujaan kita yang sudah almarhum itu tidak perlu dibicarakan, sekarang saja di daerah Sucoan kami sudah ada beberapa pembesar pembela rakyat telah menjadi kaum dorna."

"Hei pembesar siapakah itu mohon penjelasan,"

Tanya orang Ouwpak tadi.

"Sudah belasan tahun juga pasukan Mongol menggempur wilayah Sucoan, berkat perlawanan Sia Kay yang bijaksana itu, segenap rakyat jelata di Sucoan sama tunduk di bawah pimpinannya dan memujanya se-akan2 Budha penolong,"

Demikian tutur si orang Sucoan.

"Siapa tahu raja kita yang berkuasa sekarang telah mempercayai laporan si dorna Ting Tay-coan. katanya Sia-tayjin menyalah gunakan kekuasaan dan membangkang perintah pusat, maka perlu diambil tindakan dan dikirimlah racun untuk memaksa Sia-tayjin membunuh diri lalu kedudukannya diganti seorang pembesar tak becus yang menjadi komplotan kaum dorna itu. Ketika kemudian pasukan Mongol menyerbu tiba pula, hanya sekejap saja Sucoan lantas jatuh, pihak kerajaan tidak menyesali dirinya sendiri yang salah membunuh pembesar baik, sebaiknya malah menuduh panglima tentara Ong Wi-tiong Ciangkun yang bertahan mati2-an itu bersekongkol dengan musuh dan menangkapnya bersama segenap anggota keluarganya ke ibukota, di sana Ong-ciangkun telah dihukum penggal kepala."

Bicara sampai di sini suaranya menjadi rada tersendat Semua orang sama menghela napas terharu mendengar kisah sedih, orang Kwetang tadi berkata dengan gusar "Hancurnya negara selalu menjadi korban kaum dorna begitu, Kabarnya kerajaan selatan sekarang ada tiga ekor anjing dan pembesar dorna Ting Tay-coan itu adalah salah seekor di antaranya."

Seorang pemuda berwajah putih yang sejak tadi hanya mendengarkan saja kini mendadak menimbrung.

"Benar, kaum dorna kerajaan selatan dikepalai Ting Tay-coan, Tan Tay-hong dan Oh Tay-jiang. Karena nama mereka sama2 memakai "

Tay ", maka orang2 di Liman (ibukota Song Selatan) menambahkan nama mereka itu dengan satu coretan sehingga menjadi "

Khian" (anjing) dan mereka bertiga dianggap tiga ekor anjing."

Sampai di sini, semua orang sama tertawa puas. Orang Sucoan tadi lantas bertanya.

"Dari logat saudara cilik ini, tampaknya engkau orang dari Lim-an?"

"Benar,"

Jawab si pemuda.

"Jika begitu, waktu Ong Wi-tiong Ciangkun menjalani hukuman mati, apakah saudara juga mengetahuinya?"

"Ya, malahan ikut menyaksikan sendiri,"

Jawab pemuda itu.

"Menghadapi ajalnya Ong ciangkun tanpa gentar, dengan gagah berani beliau malah mencaci Ting Tay-coan dan Tan Tay-hong sebagai pembesar dorna penjual negara dan bangsa, Bahkan terjadi pula sesuatu yang aneh."

"Kejadian aneh apa?"

Tanya orang banyak.

"Yang memfitnah Ong-ciangkun jelas adalah Tan Tay-hong", tutur si pemuda.

"Waktu menuju kelapangan hukuman, di tengah jalan Ong-ciang-kun berteriak-teriak dan mencaci maki Tan Tay-hong, katanya setelah mati pasti akan mengadu kepada Giam lo-ong untuk merenggut nyawa dorna she Tan itu. Anehnya tiga hari sesudah Ong ciang-kun menjalani hukuman, Tan Tay-hong itu benar2 mati mendadak di rumahnya dan kepalanya telah dipenggal dan tergantung tinggi di menara lonceng di pintu gerbang timur Lim an. Begitu tinggi menara itu, jangankan manusia, monyet sekalipun sukar merambat ke sana, Coba pikir, jika bukan Giam lo-ong yang merenggut jiwa menteri dorna itu, perbuatan siapa lagi, peristiwa itu diketahui setiap penduduk Lim-an dan sekali2 bukan dongeng belaka."

Semua orang sama bersuara mengatakan heran mereka. Orang Sucoan itu berkata.

"Kejadian itu memang bukan dongengan, cuma yang membunuh Tan Tay-hong itn bukanlah Giam-!o-ong melainkan perbuatan seorang ksatria sejati."

"Di rumah menteri doma itu tidak sedikit pengawalnya, penjagaan tentu sangat ketat, orang biasanya manabisa membunuhnya, bahkan menggantung kepalanya di tempat setinggi itu, apa memangnya orang itu bersayap?"

Si pemuda sambil menggeleng.

"Di dunia ini tidak kurang orang kosen, jika aku tidak menyaksikan sendiri menang juga tidak percaya,"

Kata orang Sucoan itu.

"Kau menyaksikan sendiri memanjat ke tempat setinggi itu? Cara bagaimana kau dapat menyaksikan nya?"

Tanya si pemuda. Orang Sucoan itu ragu2 sejenak, akhirnya ia menutur pula.

"Ong-ciangkun mempunyai seorang anak lelaki yang berhasil kabur waktu keluarganya ditangkap. Demi membabat sampai akar2nya kawanan dorna telah mengirim begundalnya menguber mencari putera Ong-ciangkun itu. Meski putera Ong-ciangkun juga mahir ilmu silat, namun dia cuma sendirian dan tidak mampu melawan orang banyak, ketika dia dikejar dan hampir tertangkap tiba2 datang seorang penolong yang berhasil mengocar-kacirkan pasukan pengejar itu. Lalu putera Ong-ciangkun itu menuturkan apa yang terjadi atas keluarganya, Tentu saja Tayhiap (pendekar besar) yang menolongnya itu tidak tinggal diam dan menyusul ke Lim-an dengan maksud hendak menolong Ong-ciangkun, tapi sayang, beliau terlambat satu hari, Ong-ciangkun sudah dipenggal kepalanya. Dalam gusarnya Tayhiap itu lantas mendatangi kediaman Tan Tay-hong serta memotong kepalanya, Meski menara lonceng itu sangat tinggi dan sukar dicapai manusia, namun bukan soal bagi Tayhiap itu, hanya sekali loncat saja dapatlah beliau naik ke situ."

"Siapakah Tayhiap itu? Bagaimana bentuknya?"

Tanya si orang Kwitang.

"Aku tidak tahu nama pendekar besar itu, yang jelas dia tidak mempunyai lengan kanan, wajahnya cakap, sikapnya gagah, dia selalu membawa seekor burung raksasa yang berbentuk aneh dan buruk."

Belum habis ceritanya, seorang laki2 lain lantas menanggapi "Betul, itulah "Sin-tiau-hiap"

Yang termashur di dunia Kangouw."

"Ya, pendekar besar itu suka membantu yang lemah dan menolong yang miskin, tapi selamanya tidak mau menyebutkan namanya sendiri,"

Tutur laki2 itu.

"Karena dia selalu membawa burung yang aneh itu, kawan2 Kangouw lantas memberi nama julukan "

Sin-tiau-tay-hiap" (pendekar besar rajawali sakti) padanya, Tapi beliau mengatakan arti "Tay-hiap"

Terlalu berat baginya, maka tidak berani menerima, terpaksa orang hanya menyebutnya "Sin-tiau-hiap"

Saja.

padahal berdasarkan tindak perbuatannya yang luhur budi itu, sebutan Tayhiap juga pantas diterima olehnya, Kalau dia takdapat disebut pendekar besar, lalu siapa lagi?

"Huh, di sini Tayhiap, di sana juga Tayhiap, kan bisa kebanjiran Tayhiap nanti,"

Tiba2 si nyonya cantik tadi menimbrung.

"Ah, kenapa nyonya ini bilang begitu?"

Bantah-orang Sucoan itu dengan tegas.

"Meski urusan Kangouw kurang kupahami, tapi demi menolong Ong-ciangkun, Sin-tiau-tayhiap itu telah berangkat dari Hopak ke Lim-an, selama empat hari empat malam tanpa berhenti padahal beliau tidak pernah kenal siapa Ong-ciangkun, hanya karena kasihan padanya panglima yang difitnah menteri dorna itu, maka beliau telah bertindak tanpa menghiraukan bahaya sendiri. Coba, perbuatan begitu apakah tidak pantas disebut Tayhiap?"

Nyonya cantik itu mendengus dan baru hendak mendebat, tiba2 anak dara disampingnya me-nyela.

"Cici, perbuatan kesatria yang terpuji itu kan tidak salah kalau diberi gelaran Tayhiap?"

Suara anak dara itu sangat nyaring dan merdu, enak didengar, segar rasanya bagi pendengaran setiap orang. Nyonya cantik tadi lantas mengomeli adiknya.

"Huh, kau tahu apa?"

Lalu ia berpaling kepada orang Sucoan tadi dan berkata pula.

"Darimana kau dapat mengetahui sejelas itu? Bukankah kaupun mendengar dari obrolan orang di tepi jalan atau berita angin di dunia Kangouw? Huh, sembilan bagian pasti takdapat dipercaya."

Orang Sucoan itu termenung sejenak, akhirnya ia berkata dengan sungguh.

"Aku she Ong, Ong Wi-tiong Ciangkun itu adalah ayahku almarhum. jiwaku sendiri diselamatkan oleh Sin-tiau-tayhiap. walaupun saat ini diriku menjadi buronan pemerintah, tapi soalnya menyangkut nama baik tuan penolongku, terpaksa kujelaskan asal usul diriku ini."

Semua orang melengak mendengar ucapan orang Sucoan ini, serentak orang Kwitang tadi mengacungkan ibu-jarinya dan berseru.

"Ong-ciangkun cilik, kau memang seorang laki2 sejati, Kalau di sini ada manusia rendah yang berani melaporkan dirimu kepada yang berwajib, biarlah kita be-ramai2 menghadaprnya."

Maka bergemuruhlah orang banyak menyatakan setuju, Terpaksa nyonya cantik tadi tidak dapat membantah pula.

Dalam pada itu si anak dara jelita tadi sedang ter-mangu2 memandangi salju yang bertebaran di luar itu sambil bergumam pelahan.

"Sin-tiau tayhiap, Sin-tiau-tayhiap "

Mendadak ia berpaling kepada si orang Sucoan dan bertanya.

"Ong-toako, kalau Sin-tiau-tayhiap itu mempunyai kepandaian setinggi itu, sebab apa pula sebelah lengannya buntung?"

Air muka si nyonya muda tampak berubah demi mendengar persoalan lengan buntung Sin-tiau-tayhiap disinggung bibirnya tampak ber-gerak2 ingin bicara, tapi urung.

Si orang Sucoan she Ong itu menjawab sambil menggeleng.

Entah, nama asli Sin-tiau-tayhiap saja takdapat kuketahui, seluk-beluk pribadi beliau tentu saja lebih2 tidak tahu.

"Tentu saja kau tidak tahu,"

Jengek si nyonya muda. Tiba2 si pemuda Lim-an berkata pu!a.

"Tentang menteri dorna Ting Tay-coan itu, sekarang mukanya mendadak berubah hijau gosong dalam semalam, tentu kejadian ini karena hukuman Allah."

"Aneh, mengapa dalam semalam mukanya berubah menjadi gosong?"

Tanya si orang Kwitang.

"Memang aneh, karena kulit mukanya berubah mendadak, sekarang penduduk Lim-an memberi nama Ting Je-bwe (Ting si kulit hijau) padanya,"

Tutur pemuda Lim-an.

"Asalnya kulit muka Ting Tay-coan itu putih mulus, maklum, hidupnya mewah dan makannya enak Tapi semalaman mendadak kulit mukanya berubah jadi hijau gosong, biarpun sudah diobati oleh tabib paling pandai juga takdapat menghilangkan warna kulitnya yang lucu itu, Konon Sri Baginda pernah menanyakan hal ini, tapi menteri dorna itu malah melapor, katanya lantaran sibuk mengurusi pekerjaan sehingga beberapa malam tidak tidur, maka kulit mukanya menjadi hijau. Akan tetapi setiap penduduk Lim-an sama anggap perubahan kulit muka menteri dorna itu adalah karena kutukan Allah."

"Sungguh aneh kejadian itu,"

Ujar si orang Kwitang.

"Hahaha!"

Mendadak si lelaki kekar tadi bergelak tertawa dan bersemi "Ketahuilah bahwa kejadian itupun atas tindakan Sin-tiau-tayhiap. sungguh menyenangkan sungguh menarik."

"He, bagaimana bisa jadi perbuatan Sin-tiau tayhiap lagi?"

Tanya semua orang.

Laki2 kekar itu hanya bergelak tawa saja dan tidak bercerita lebih lanjut, tampaknya ia sengaja tahan harga, ingin jual mahal.

Lantaran ingin tahu duduk perkaranya lebih jelas, si orang Kwitang lantas memanggil pelayan agar membawakan dua kati arak Ko-tiang yang enak untuk lelaki kekar itu, setelah dicekoki arak, semangat orang itu lantas terbangkit, segera ia bercerita lagi.

"Tentang peristiwa ini, bukan aku sengaja membual, tapi aku sendiri ikut berjasa, Malam hari itu Sin-tiau-hiap tiba2 datang ke Lim-an dan suruh kupimpin para kawan meringkus semua opas yang dinas jaga di kantor walikota, seragam mereka dicopot dan disuruh pakai para kawan. Kami merasa tertarik dan juga heran entah apa yang akan dilakukan Sin-tiau-hiap, tapi kami yakin permainan menarik pasti sedang menanti maka segala perintah beliau selalu kami laksanakan. Kira2 lewat tengah malam, Sin-tiau-hiap tiba di kantor walikota, beliau sendiri lantas memakai jubah kebesaran walikota dan duduk di meja sidang, sekali palu diketok, beliau lantas membentak "

Bawa hadir menteri berdosa Ting Tay-coan! " -Sampai di sini ia lantas angkat mangkuk arak dan menenggaknya hingga habis.

"Tatkala mana saudara kerja apa di Lim-an sana?"

Tanya si orang Kwitang.

"Kerja apa?"

Lelaki itu menegas dengan mata mendelik "Memangnya apa lagi?

Minum arak pakai mangkuk besar, makan daging enak, bagi rejeki dengan timbangan, itulah kerjaku, berusaha tanpa pakai modal.

Orang Kwitang itu terkejut dan tidak berani bertanya pula, ia tahu apa artinya berusaha tanpa pakai modal itu.

Yakni merampok, membegal dan sebagainya.

Orang itu lantas bercerita pula.

Aku melenggong ketika mendengar nama Ting Tay-coan disebut, bukankah pembesar anjing ini adalah perdana menteri sekarang, mengapa Sin-tiau-hiap dapat menyeretnya ke sini?

Terdengar palu diketok lagi, dua petugas benar2 mengiring seorang ke depan sidang, mungkin saking ketakutan, orang itu menjadi gemetar, ingin berlutut, tapi enggan pula.

Seorang kawan lantas mendepak belakang dengkulnya hingga dia jatuh bertekuk lutut.

Haha, sungguh lucu dan mcnarik.

Sin tiau-hiap lantas menanyai dia.

"Ting Tay-coan, apakah kau mengetahui dosamu?"

Ting Tay-coan menjawab.

"Tidak tahu."

Sin-tay-hiap membentak.

"Kau korupsi dan main kekuasaan, memfitnah dan membunuh menteri setia serta membikin sengsara rakyat, bersekongkol dengan negara musuh, semua perbuatanmu yang jahat lekas kau mengakui."

Ting Tay-coan menjawab.

"Engkau ini siapa? Berani menculik pembesar negeri, apakah kau tidak tahu undang-undang kerajaan?"

Sin-tiau-hiap menjadi marah dan membentak pula.

"Hah, kau juga tahu undang-undang segala? Bagus, hayo anak buah, rangket dia 40 kali lebih dulu!"

Memangnya setiap orang sangat benci kepada menteri dorna ini, kini diperintahkan merangketnya, keruan mereka sangat bersemangat cara merangketnya juga diperkeras, tentu saja menteri dorna itu ber-kaok2 minta ampun dan jatuh pingsan beberapa kali, ia tidak berani kepala batu lagi, apa yang ditanya Sin-tiau-hiap lantas diakuinya semua.

Sin-tiau hiap lantas menyuruhnya menulis sendiri pengakuan dosanya, jika dia ragu2 menulisnya, segera Sin tiau hiap menyuruh menggebuk pantatnya lagi atau menempeleng dia.

Si anak dara cantik tadi mengikik tawa senang, desisnya.

"Hihi, sungguh menarik!"

Laki2 itu menenggak habis pula semangkok arak, katanya dengan tertawa.

Ya, memang sangat menarik, Rupanya Ting Tay-coan itu sangat ketakutan, apalagi Sin tiau hiap ber-ulang2 mendesak agar cepat menulisnya, kalau sedikit merandek segera para kawan disuruh menggebuknya, akhirnya Ting Tay coan sampai terkencing2 dan ter-berak2.

Untung baginya, tidak lama fajarpun menyingsing dan di luar kantor walikota itu sudah ramai dengan petugas yang datang dinas pagi, malahan menyusul ada pasukan yang datang pula, mungkin kebocoran berita dan ada orang yang melapor Sin-tiau-hiap menjadi gusar dan berteriak.

"Penggal saja kepalanya!"

Kutahu Sin-tiau-hiap tidak suka sembarangan membunuh orang, tapi kulolos juga golokku terus kuayunkan ke batang leher Ting Tay-coan, ketika golok terangkat ke atas telah ku-putar sekali, lalu dengan tepat mengetuk kuduk Ting Tay-coan, kontan saji menteri dorna itu roboh terguh'ng, tapi tidak mati melainkan jatuh pingsan.

Rupanya yang mengenai adalah punggung golok yang tidak tajam, tapi sudah cukup membuatnya ketakutan setengah mati.

Sin-tiau-hiap bergelar tertawa dan suruh kami mengundurkan diri melalui pintu belakang agar tidak kebentrok dengan pasukan pemerintah.

Konon besoknya Sin-tiau hiap telah mengirim sendiri pengakuan dosa Ting Tay coan itu kepada si tua kaisar, tapi entah ocehan apa Ting Tay-coan telah membuat si kaisar tetap percaya penuh padanya dan tetap menyuruhnya menjabat perdana menteri hingga sekarang.

"Kalau saja Sri Baginda tidak ngawur dan lemah, tentu kaum dorna takkan berkuasa, tampaknya tanah air kita yang jaya ini sukar dipertahankan lagi."

Ujar Ong ciangkun cilik.

"Ya, kecuali Sin-tiau hiap yang menjadi perdana menteri barulah pasukan musuh dapat dikalahkan dan dunia inipun aman,"

Kata lelaki tadi.

"Huh, dia sesuai menjadi perdana menteri?"

Tiba2 si nyonya cantik menyeletuk. Laki2 tadi menjadi gusar dan menjawab.

"Dia tidak sesuai, memangnya kau yang sesuai?"

Nyonya cantik itu naik pitam dan membentak "Kau ini kutu macam apa, berani kasar padaku?" -Dilihatnya laki2 itu sedang memegang sepotong besi pengaduk api dan lagi menyurung kayu bakar ke orggokan api unggun agar berkobar lebih keras, sekenanya ia jemput sepotong kayu dan menyeruk ke besi pengaduk api itu.

Seketika tangan lelaki itu tergetar kesemutan.

"trang" , pengaduk api itu jatuh ke lantai dan memercikkan lelatu dari unggun api itu sehingga beberapa jenggotnya terbakar hangus. Semua orang berteriak kaget, waktu mereka memandang besi pengaduk itu, ternyata sudah bengkok. Biarpun watak lelaki tadi rada berangasan, tapi demi melihat kelihayan si nyonya cantik, ia menjadi mengkeret dan tidak berani bersuara lagi, bahkan arakpun lupa diminum lagi. Si anak dara cantik lantas ikut bicara.

"Cici, orang sedang bercerita tentang Sin-tiau-hiap yang baik budi itu, mengapa kau seperti tidak suka mendengarkan nya?"

Lalu ia berpaling pada lelaki tadi dan berkata dengan tersenyum manis.

"Toasiok, jangan kau marah ya!"

Sebenarnya laki2 tua itu sangat mendongkol tapi karena senyuman manis anak dara ini, seketika api amarahnya sirna tanpa bekas, iapun membalasnya dengan tertawa, mestinya ingin mengucapkan beberapa patah kata rendah hati, tapi urung.

"Toasiok,"

Demikian si anak dara berkata pula.

"silahkan engkau berkisah pula mengenai Sin-tiau-hiap itu. Apakah engkau kenal dia?"

Laki2 itu memandang sekejap ke arah si nyonya cantik dan ragu2 untuk bicara. Anak dara itu lantas berkata.

"Silahkan bercerita saja, asalkan engkau tidak membikin marah Ciciku tentu takkan terjadi apa2. Cara bagaimana engkau kenal Sin-tiau-hiap? Beberapa umurnya kira2? Apakah burungnya rajawali itu sangat bagus?"

Tanpa menunggu jawaban lelaki itu, ia berpaling kepada si nyonya muda dan bertanya.

"Cici, entah bagaimana kalau rajawalinya itu dibandingkan dengan sepasang rajawali kita?"

"Dibandingkan sepasang rajawali kita?"

Tukas si nyonya muda.

"Hah, di dunia ini mana ada burung lain yang dapat menandingi kedua rajawali kita itu?"

"Ah, juga belum tentu,"

Ujar si anak dara.

"Ayah sering mengatakan kita bahwa orang belajar silat harus tahu bahwa di atas langit masih ada langit, di atas orang pandai masih ada yang lebih pandai, sekali2 tidak boleh bangga dan puas. Kalau manusia saja begitu, kukira burung yang lebih daripada rajawali kita itu pasti juga ada."

"Huh, anak kecil tahu apa?"

Omel si nyonya wuda.

"Waktu berangkat, ayah ibu menyuruh kau menurut pada perkataanku, apakah kau sudah lupa?"

"Menurut ya menurut, tapi kan kudu tahu apa yang kau katakan itu betul atau tidak?"

Jawab si anak dara.

"Eh, adik, coba katakan, ucapanku yang betul atau ucapan Cici yang betul?"

Pemuda di samping anak dara itu ragu-2 sejenak, kemudian menjawab.

"Entahlah, aku tidak tahu. Yang jelas ayah bilang kita harus menurut perkataan Taci dan suruh kau jangan adu mulut dengan Taci."

"Nah, benar tidak?"

Kata si nyonya muda dengan senang. Tapi si anak dara juga tidak marah meski adiknya mengeloni sang Taci. dengan tertawa ia berkata.

"Ah, adik memang tidak paham apa2" -Lalu ia berpaling dan tanya laki2 kekar tadi. Toasiok, silakan kau bercerita lagi tentang Sin-tiau-hiap. Lelaki itu menjawab.

"Baik, jika nona senang mendengarkan, tentu akan kuceritakan. Meski kepandaian orang she Song ini rendah, paling tidak akupun seorang Iaki2, satu bilang satu dua ya bilang dua. sepatah katapun tidak berdusta, Tapi kalau nona tidak percaya, ya lebih baik tidak kuceritakan saja."

"Mana aku tidak percaya? Lekas engkau bercerita lagi,"

Kata si anak dara sambil mengangkat poci arak dan menuangkan satu mangkok lagi bagi orang itu, malahan ia terus memanggil pelayan.

"He, pelayan, tambah lagi sepuluh kati arak dan 20 kati daging rebus, Taciku menjamu para paman dan bibi ini minum arak sekadar menolak hawa dingin."

Pelayan mengiakan dan berteriak menyampaikan pesanan itu, Semua orang sama tertawa gembira dan mengucapkan terima kasih kepada si anak dara.

Tidak lama, tiga pelayan lantas mengantarkan arak dan daging yang dipesan.

Tapi si nyonya cantik tadi menjadi tidak senang, katanya dengan cemberut.

"Hm, umpama aku ingin menjamu tamu juga takkan menjamu orang yang suka mengaco belo ini. He, pelayan, rekening arak dan daging itu tidak boleh diperhitungkan padaku."

Si pelayan melengak bingung, ia pandang si nyonya cantik sebentar, lalu pandang si anak dara lagi.

Anak dara cantik itu lantas mengambil tusuk kondai emasnya dan disodorkan kepada pelayan, katanya.

Lni tusuk kondai dari emas murni, sedikitnya bernilai beberapa puluh tahil perak, Nah, tukarkan saja bagiku, Lalu bawakan lagi sepuluh kati arak dan 20 kati daging kambing rebus.

Nyonya cantik tadi menjadi marah, omelnya.

"Jimoay, Kau sengaja membikin keki aku, bukan? Melulu mutiara yang terbingkai di tusuk kondai itu saja bernilai beberapa ratus tahil perak, tapi benda berharga begitu sembarangan kau berikan untuk mentraktir minum arak sembarangan orang. Nanti kalau pulang dan ditanyakan ibu, coba cara bagaimana kau akan menjawab?"

Anak dara itu melelet lidah, lalu berkata dengan tertawa.

"Akan kukatakan hilang di tengah jalan, sudah kucari tapi tidak ketemu."

"Huh, masakah aku mau berdusta bagimu?""

Omel si nyonya muda. Si anak dara lantas mendahului menyupit sepotong daging rebus dan dimakan, lalu berkata.

"Nah, barang sudah dimakan masakah boleh dikembalikan? Eh. hayolah para paman dan mamak, jangan sungkan-2, silakan minum dan makan!"

Melihat kedua kakak beradik itu beradu mulut, semua orang merasa tertarik, mereka sama menyukai si anak dara yang polos ke-kanak 2an, maka dalam hati mereka memihak si anak dara.

Rupanya si nyonya muda cantik itu mendongkol ia terus memejamkan mata dan menutupi telinganya.

"Nah, Song toasiok, Taciku sudah tidur silakan kau bercerita lagi, tentu takkan mengganggunya,"

Kata si anak dara dengan tertawa.

"Bilakah aku tidur?"

Semprot si nyonya muda dengan marah.

"Ah, bagus, tentunya engkau menjadi lebih tak terganggu,"

Jawab si anak dara dengan tertawa. Dengan suara keras si nyonya muda lantas ber-kata;

"Yang-ji, dengarkan kataku, jika kau selalu ngotot dengan aku, besuk aku takkan berangkat bersama kau."

"Ah, tak jadi soal, aku brrangkat bersama Samte (adik ketiga),"

Ujar si nona cilik.

"Tidak, Samte akan ikut aku,"

Kata si nyonya.

""Eh, Samte, kau akan berangkat bersama siapa?"

Tanya anak dara itu. Anak muda tadi menjadi serba susah, kalau membantu sang Taci, tentu Jici kurang senang, jika mengeloni Jici, sang Taci yang akan marah, Dengan tergagap2 kemudian ia menjawab.

"Kata ibu, kita bertiga harus selalu bersamak tak boleh terpencar."

"Nah, betul tidak? Kalau Taci tidak membawa serta diriku, nanti kalau pulang dan ditanyai ibu, tentu Taci tak bebas dari tanggung jawab,"

Jawab si nona cilik dengan tertawa. Dengan mendongkol si nyonya menjawab.

"Tahu kau selalu bandel begini, dulu waktu kau masih kecil dan diculik orang jahat, tentu aku tidak perlu berkuatir dan ikut mencari kau."

Mendengar begitu, nona cilik itu menjadi lunak hatinya, ia terus merangkul bahu sang Taci dan memohon.

"O, Taci yang baik, jangan marah ya! Anggaplah aku yang salah."

Si nyonya muda sengaja bermuka merengut dan tidak menggubris.

"Jika Taci tidak mau tertawa, akan ku-kitik2 kau,"

Kata si anak dara.

Tapi nyonya muda itu malah melengos ke sana.

Mendadak anak dara itu menggunakan tangan kanan untuk mengelitik ketiak sang Taci dari belakang, Tanpa menoleh nyonya muda itu menggunakan siku kiri untuk menyikut ke belakang, Tapi tangan kiri si anak dara sempat menangkap sang Taci dan tangan lain tetap hendak mengelitik.

segera si nyonya muda sedikit memutar tubuh dan sikutnya menyodok untuk memaksa si anak dara menarik kembali tangannya, keduanya bergerak dengan lemah gemulai dan bergaya menarik.

Hanya sekejap saja keduanya sudah saling gebrak beberapa jurus, Si anak dara tetap tidak mampu mengelitik sang Taci, si nyonya muda juga tidak dapa menangkap tangan adiknya.

"Kepandaian bagus!"

Tiba2 seorang berseru tertahan di pojok ruangan sana.

Kedua kakak beradik serentak berhenti dan memandang ke pojok sana, tertampak seorang duduk meringkuk menjadi satu gulungan, kepala terbenam di antara kedua lututnya, agaknya sedari tidur nyenyak, Sejak duduk di tepi api unggun kedua kakak beradik itu sudah melihat cara orang tidur meringkuk begitu tanpa bergerak sedikitpun orang lain tidak dapat melihat cara bagaimana kedua kakak beradik itu bercanda.

Agaknya suara sorakan itu bukan dilakukan olehnya.

Tiba2 si pemuda berkata.

"Taci dan Jici, ayah sudah pesan agar kita jangan sembarangan memperlihatkan kungfu kita."

"Ah, sok kemaki!"

Si anak dara berseloroh.

"Tapi benar juga kau." -Lalu dia berpaling kepada lelaki kekar tadi.

"Maaf, Song toasiok, kami kakak beradik ribut sendiri sehingga lupa mendengar ceritamu Hayolah lekas mulai!"

LcIaki she Song itu menjawab.

"Tapi sekali2 aku bukan mendongeng, apa yang kuceritakan ini adalah kisah nyata."

"Tentu saja cerita Song-toasiok adalah kejadian nyata,"

Ujar si anak dara dengan tertawa. Lelaki itu menenggak dulu araknya, lalu berkata "

Sudah kuminum dan makan suguhan nona, andaikan tidak bercerita juga rikuh rasanya, Kalau saja semalam duitku tidak amblas di meja dadu, tentu akan kujamu kembali engkau nona manis ini, memangnya panggilan Toasiok ber-ulang2 hanya panggilan percuma saja?

-Eh, bicara tentang perkenalanku dengan Sin-tiau-hiap, kejadiannya hampir sama dengan pengalaman Ong-ciangkun cilik ini, jiwaku juga telah diselamatkan oleh Sin-tiau-hiap.

Cuma sekali ini beliau tidak menggunakan kekerasan melainkan dibeli dengan uang."

"Sungguh aneh, masakah dia membeli kau dengan uang?"

Si anak dara menegas.

"Memangnya berapa sih harganya satu kilo dirimu ini?"

Lelaki itu ter-bahak2, katanya.

"Hahaha, daging orang macamku yang berbau tengik ini ternyata jauh lebih mahal daripada daging sampi maupun babi, Tahukah kau berapa Sin-tiau-hiap menghargai diriku ini? Hah, 4000 tahil perak, tidak kurang. Begini kejadiannya. Lima tahun yang lalu ketika membela sesuatu urusan di Celam, Soatang, aku telah membunuh mati seorang bicokok setempat bunuh orang ganti nyawa, bukan soal bagiku. Pada suatu hari aku harus menjalani hukuman mati, yang mendongkolkan aku adalah aku diharuskan mati berbarengan dengan seorang buaya darat setempat yang maha jahat. Sungguh brengsek, masakah seorang laki2 sejati macamku harus mati di tempat yang sama dengan seorang penjahat? Wah, betapapun aku sangat penasaran."

"Tak terduga, selang beberapa hari, buaya darat itu telah menyogok walikotanya sehingga tuduhan menculik orang, memeras, membuka rumah perjudian dan rumah pelacuran, semuanya ditumpukkan atas diriku dan buaya darat itu telah dibebaskan. Dari kepala penjara kudengar bahwa buaya darat itu lelah menyogok dua ribu tahil perak kepada walikota sehingga semua kesalahannya ditambahkan seluruhnya atas namaku. Katanya toh sama saja, suatu pelanggaran dihukum mati, sepuluh pelanggaran juga dihukum mati, daripada mati dua orang biarlah mati satu orang saja "

Keruan aku merasa difitnah dan sangat penasaran aku ber-teriak2 mencaci maki pembesar durjana itu, Tapi apa dayaku ?

Lewat beberapa hari lagi aku dibawa ke sidang, sungguh aneh bin ajaib, tahu2 buaya darat itu dihadapkan sidang pula bersamaku.

Kontan saja aku mengumpat habis2an.

Tapi pembesar korup itu lantas berkata dengan ter-tawa.

"He, Song Ngo, tidak perlu kau mencak2 begitu, persoalannya sudah kuselidiki dengan jelas bahwa kau memang tidak bersalah, Bicokot itu bukan dibunuh olehmu, tapi dia pembunuhnya!"

Sembari bicara ditudingnya pula buaya darat tadi, lalu akupun dibebaskan.

Tentu saja aku meng-garuk2 kepalaku yang tidak gatal ini, sudah jelas akulah yang membunuh bicokot itu, mengapa sekarang kesalahan ini ditimpakan kepada orang lain?

"Hihi, sungguh pembesar yang konyol dan linglung,"

Ujar si anak dara dengan mengikik tawa.

"Mana dia linglung,"

Ujar lelaki she Song itu.

"Setiba di rumah, ibuku memberitahukan padaku bahwa ketika aku diputus hukuman mati, ibu menangis setiap hari di jalan raya, suatu hari kebetulan dilihat Sin-tiau-hiap dan ditanya sebab musababnya, Beliau menyatakan sedang ada urusan penting dan takdapat membereskan perkara itu, ibu di beri uang empat ribu tahil perak untuk menebus diriku. Selang tiga bulan kemudian, tersiarlah berita yang menggegerkan, katanya bapak walikota marah2 lantaran habis kecurian delapan ribu tahil perak, Kuyakin kejadian itu pasti perbuatan Sin-tiauhiap. kami tak berani tinggal lagi di tempat asal dan terpaksa pindah ke Lim-an. Lewat setahun lagi kudengar ada seorang tuan bertangan buntung sebelah bersama seekor burung raksasa selalu berada di pantai laut dan memandangi ombak samudera dengan ter-mangu2, Cepat kuburu ke sana dan dapatlah menemui beliau, disitulah dapat ku-aturkan terima kasih padanya."

"Apa yang kau terima kasihkan?"

Tiba2 si nyonya muda menyela.

"dia mengeluarkan empat ribu tahil perak dan masuk delapan ribu tahil perak, jadi masih untung empat ribu tahil bersih. Memangnya orang she Nyo itu mau berbuat sesuatu yang membuatnya rugi?"

"She Nyo? Sin-tiau-hiap itu she Nyo maksud-mu?"

Tanya si anak dara.

"Entah, siapa yang bilang dia she Nyo?"

Jawab si nyonya muda.

"Jelas baru saja Taci menyebutnya she Nyo,"

Kata anak dara itu.

"Ah, kau sendiri yang salah dengar,"

Bantah si nyonya.

"Baiklah, tak perlu kuribut dengan kau,"

Ujar si anak dara.

"Seumpama betul Sin-tiau-hiap untung bersih empat ribu tahil perak pasti juga akan dipergunakan untuk membantu kaum miskin dan menolong orang sengsara."

Serentak semua orang bersorak merauji.

"Bagus! Memang tepat ucapan nona!"

"Eh, Song-toasiok, Sin-tiau-hiap itu memandangi ombak laut? Apakah dia sedang menunggu sesuatu di sana ?"

Tanya si anak dara pula.

"Entahlah, akupun tidak tahu,"

Jawab lelaki She Ong sambil menggeleng.

Si anak dara mengambil dua potong kayu bakar dan dilemparkan ke gundukan api unggun, iapun ter-menung2 memandangi api yang berkobar itu, kemudian ia menggumam pelahan.

"Meski Sin-tiau-hiap suka menolong orang lain, bisa jadi ia sendiripun menyimpan sesuatu persoalan pelik, Sebab apakah dia termenung memandangi laut? Ya, sebab apakah memandangi laut dengan termangu2?" , Seorang wanita setengah umur yang duduk di sudut kiri sana tiba2 menyeletuk "Aku mempunyai seorang adik misan dan beruntung dapat bertemu dengan Sin-tiau hiap yang sedang memandangi laut dengan ter-mangu2 itu, karena heran, adik misan pernah tanya beliau, menurut keterangan Sin-tiau-hiap, katanya isterinya berada di seberang lautan sana dan takdapat berjumpa."

"Ahhh!"

Semua orang sama bersuara heran.

"Kiranya Sin-tiau-hiap juga punya isteri,"

Kata si anak dara cantik.

Entah sebab apakah isterinya berada di seberang lautan sana, Dia memiliki kepandaian setinggi itu, mengapa dia tidak menyeberang ke sana untuk mencari isterinya?

"Adik misanku juga pernah tanya begitu padanya,"

Tutur si wanita setengah umur tadi.

"Tapi beliau menjawab bahwa lautan seluas itu. entah ke mana baru dapat menemukannya?"

"Ai, kupikir tokoh demikian pasti seorang yang berbudi dan berperasaan halus, ternyata memang benar,"

Kata si anak dara dengan menghela napas pelahan. Lalu ia tanya pula.

"Adik misanmu tentu sangat cantik bukan? Diam2 dia menyukai Sin tiau-hiap. betul tidak?"

"Hus! Jimoay, kau bicara yang aneh2 lagi!"

Bentak si nyonya cantik tadi. Tapi wanita setengah umur itu lantas berkata.

"Ya, adik misanku memang tergolong cantik. Sin-tiau-hiap telah menyelamatkan jiwa ibunya dan membunuh ayahnya Apakah diam2 adik misan menyukai Sin-tiau-hiap sukar diketahui orang lain-Cuma sekarang dia sudah menikah dengan seorang petani yang baik, Sin-tiau-hiap telah memberi sejumlah uang, penghidupannya cukup lumayan."

"Sin-tiau-Hap menyelamatkan jiwa ibunya, membunuh ayahnya sungguh kejadian aneh, aku menjadi rada sangsi apakah betul bisa terjadi begitu?"

Ujar si anak dara tadi.

"Kenapa mesti sangsi?"

Kata sang Taci, si nyonya cantik.

"watak orang itu memang aneh dan sebentar2 berubah, kalau senang dia menolong jiwa orang, kalau tidak suka lantas dia membunuh, Yu, memang sudah begitu sejak kecilnya."

"Sudah begitu sejak kecilnya? Taci tahu darimana?"

Tanya si anak dara.

"Tentu saja kutahu."

Jawab si nyonya muda., Dan meski telah ditanya dan didesak lagi oleh si anak dara, tetap dia tidak mau menjelaskan.

"Baiklah, kau tak mau bercerita ya sudahlah, memangnya siapa pingin tahu?"

Kata si anak dara dengan rada mendongkol "Rasanya seumpama kau mau bercerita juga cuma membual belaka."

Lalu ia berpaling kepada si wanita setengah umur dan berkata pula.

"En, Toasoh, maukah kau bercerita mengenai pengalaman adik misanmu?"

"Baiklah, akan kuceritakan,"

Jawab wanita itu.

"Usiaku dengan adik misan sebaya, rumah adik berada di Holam, Tahun itu orang Mongol telah menyerbu sampai di wilayah sana dan Kohtio (paman) telah diculik pasukan musuh untuk dijadikan kuli kerja paksa, Bibi membawa adik misan mencari paman ke utara dengan cara minta2 sepanjang jalan. Susah payah juga perjalanan mereka itu, terutama jika diingat bahwa wajah bibi dan adik tidaklah jelek, tentu banyak mendatangkan kesuIitan. Sebab itulah bibi dan adik telah memoles muka dengan hangus agar tidak merangsang pikiran orang jahat"

"Mengapa muka mereka dibeji hangus menjadi tidak merangsang orang jahat?"

Tanya si anak dara. Karena pertanyaan ini, sebagian orang2 itu, terutama kaum lelakinya, sama tertawa geli.

"Jimoay!"

Omel si nyonya muda.

"kalau tidak tahu, hendaklah jangan sembarangan bertanya, Nona sebesar ini hanya menimbulkan tawa orang saja!"

"Justeru lantaran aku tidak tahu, makanya aku tanya, kalau sudah tahu buat apa tanya,"

Gerundel si anak dara.

"Ah, urusan kurang pantas diceritakan itu lebih baik nona tidak paham saja,"

Ujar wanita setengah umur tadi.

"Selama empat tahun bibi dan adik misan menjelajahi Mongol dan kemudian sampai ke Soasay, akhirnya dapatlah paman diketemukan menjadi budak di bawah seorang Mongol ber-pangkat Jian-hou-tiang (kepala Seribu Jiwa), Jian-hou-tiang itu sangat jahat ketika paman diketemukan kebetulan bibi menyaksikan sebelah kakinya baru saja dipukul patah oleh orang Mongol itu. Tentu saja bibi sangat berduka dan memohon suaminya dibebaskan Orang Mongol itu bersedia melepaskan paman apabila ditebus dengan seribu tahil perak, sebab katanya dia beli paman dengan harga seratus tahil sedangkan sepuluh tahil saja bibi tidak punya darimana seribu tahil perak itu diperoleh? Setelah putus asa dan menghadapi jalan buntu, bibi menjadi nekat, terjunlah dia ke dunia gelap, bersama adik misan dan ia sendiri dijual ke Ca bo-keng (rumah pelacuran)"

Karena tidak tahu apa artinya "Ca bo-keng"

Si anak dara cantik itu hendak bertanya lagi, tapi karena tadi pertanyaannya telah menimbulkan tertawa orang, tiba2 ia urungkan maksudnya bertanya.

Terdengar wanita setengah baya itu melanjutkan ceritanya.

"Begitulah bibi dan adik misan hidup menderita setengah tahun, sedikit2 mereka sudah ada tabungan, tapi untuk mencukupi seribu tahil perak sungguh tidak mudah. untunglah para tetamu mengetahui cita2 luhur ibu beranak yang ingin menolong suami itu, maka waktu memberi uang sengaja dilebihkan daripada tarip umum. Dengan susah payah dan kenyang hina derita, pada malaman tahun baru dapatlah mereka menabung cukup seribu tahil perak, Dengan riang gembira mereka membawa uang tabungan itu ke rumah Jian-hou-tiang untuk diserahkan sebagai harga tebus paman, mereka pikir malam itu juga antara suami isteri dan anak dapat berkumpul kembali sehingga dapat merayakan tahun baru dengan gembira."

Sampai di smi, si anak dara ikut bergembira juga bagi ibu beranak yang beruntung itu.

Tapi si wanita setengah baya lantas berkata.

Namun kenyataan ternyata berlainan daripada harapan, setelah menerima seribu tahil perak, Jian hou-tiang itu memang benar mengeluarkan paman untuk bertemu bibi dan adik, tapi ketika mereka bertiga menghadap Jian-hou tiang itu untuk mohon diri, tiba2 timbul lagi pikiran jahat pada orang MongoI itu karena melihat adik misan ku yang cantik itu, katanya.

Bagus sekali kalian mau menebus budak ini, nah, boleh serahkan uang tebusannya!

-Keruan bibi terkejut, padahal seribu tahil perak itu sejak tadi sudah diserahkan kepada kasir Jian-hou tiang itu, mengapa sekarang menagih lagi?

Namun Jian-kou-tiang itu tidak mau terima alasan bibi, dengan marah ia malah membentak.

"Huh, masakah seorang berpangkat seperti aku ini sudi anglap duit -kaum budak? Kalian sengaja hendak mencemarkan nama baikku ya?"

Tentu saja bibi menjadi takut dan berduka pula, tanpa tahan lagi ia menangis ter gerung2 di tempat.

"Jian-hou tiang itu lantas berkata -.

"Baik!ah, mengingat malam ini adalah malaman tahun baru, biarlah kuberi kesempatan berkumpul kalian suami-isteri. Tapi budak ini mungkin akan kabur, maka sebagai jaminan anak gadis kalian harus ditinggalkan di sini."

Sudah tentu bibi tahu maksud busuknya dan tidak dapat menerima kehendak orang, Segera Jian-hou-tiang itu mem-bentak2 gusar dan memerintahkan anak buahnya mengusir bibi dan paman.

Karena tidak tega meninggalkan anak perempuannya, bibi menangis sesambatan di depan rumah Jian-hou-tiang itu.

Walaupun setiap orang mengetahui kesusahan bibi, namun di bawah kekuasaan orang Mongol, membunuh seorang Han ibarat kan memites seekor semut, siapa yang berani membela keadilan?

Tapi yang paling celaka adalah pamanku, dia malah bilang.

"Kalau tuan besar Jian-hou-tiang penujui anak gadis kita, inilah rejeki yang sukar dicari bagi orang lain, kenapa kau malah menangis?"

Rupanya paman sudah terlalu lama menjadi budak sehingga jiwa raganya sampai tulang sungsum-nya benar2 sudah berbau budak.

Kemudian iapun menanyakan bibi darimana mendapatkan seribu tahil perak untuk menebusnya.

Semula bibi tidak mau menjelaskan, karena didesak, akhirnya diceritakan juga.

Tak tahunya paman menjadi marah dan menuduh bibi telah mencemarkan nama baiknya, katanya perempuan yang tidak dapat menjaga kepribadian dan suka melacurkan diri, bibi dianggapnya terlalu hina dina.

Segera paman membuat suratce-rai dan menceraikan bibi."

Sampai di sini, semua orang sama menggerutu dan menganggap nasib bibinya itu sungguh malang dan pamannya itu terlalu kejam.

"Bibi menjadi putus asa,"

Demikian tutur wanita lebih lanjut.

"diam2 beliau pergi ke hutan dan hendak menggantung diri dengan tali pinggangnya, Untung Sin-tiau-hiap kebetulan lewat dan dapat menyelamatkan jiwanya, setelah mengetahui duduknya perkara. Sin-tiau-hiap sangat gusar, malam itu juga beliau masuk ke tempat Jian-hou-tiang itu dan melihat adik misan sedang dipaksa untuk menuruti kehendaknya, celakanya paman juga di situ dan malah membujuk agar adik misan menuruti saja. Kontan Sin-tiau-hiap memukul mati pamanku itu dan menyeret Jian-hou-tiang itu dan melemparkan ke sungai, adik misan juga ditolong keluar. Begitulah kisahnya Sin-tiau-hiap menyelamatkan bibi dan membunuh pamanku. Menurut Sin-tiau-hiap, selama hidupnya paling benci kepada manusia yang tak berbudi dan tak berperasaan, apalagi rela diperbudak musuh segala, paman telah melanggar pantangan Sin tiau hiap itu, maka tanpa sungkan2 lantas dibunuhnya."

Saking kesemsemnya mendengar cerita menarik itu. tanpa terasa anak dara cilik itu lantas mengangkat mangkok arak dan minum seceguk.

"Ah, pedas!"

Katanya sambil meringis, Karena tidak biasa minum arak, seceguk saja telah membuat mukanya menjadi merah sehingga makin menambah kecantikannya. Dengan pelahan ia berkata pula.

"Kalian beruntung sudah pernah melihat Sin-tiau-hiap, jika akupun dapat berjumpa dan bicara sejenak dengan dia, andaikan umurku harus berkurang tiga tahun juga aku rela."

"Jimoay, kenapa kau sembarangan percaya kepada obrolan orang?"

Seru si nyonya cantik.

"llmu silat orang itu memang tinggi, tapi kalau dibandingkan ayah masih terlalu jauh, padahal orang itupun sudah pernah kau lihat, malahan dia pernah memondong kau."

Air muka si anak dara menjadi merah jengah, semprotnya.

"Cis, mengapa Taci juga sembarangan omong, siapa mau percaya?"

"Kalau tidak percaya, setelah pulang nanti boleh kau tanya ayah dan ibu,"

Kata si nyonya cantik.

"Apa yang dikatakan Sin-tiau-hiap itu sebenarnya she Nyo bernama Ko, waktu kecilnya juga pernah tinggal di Tho-hoa-to kita, Lengannya yang buntung itu justeru... justeru... Waktu kau baru lahir dia sudah lantas memondong kau-"

Kiranya nyonya cantik ini bukan lain daripada Kwe Hu dan anak dara itu adalah Kwe Yang, sedang pemuda itu adalah adik kembar Kwe Yang, Kwe Boh-lo.

Ketiga kakak beradik ini disuruh ayah-bundanya ke Cinyang untuk mengundang Khu Ju-ki, itu tokoh tertinggi Coan-cin-kau pada masa itu, untuk memimpin Eng-hiong-tay-hwe (pertemuan besar para pahlawan) yang akan diadakan di Siang-yang.

Hari itu mereka bertiga baru pulang dari Cin-yang, setiba di tempat penyeberangan ini merekapun teralang oleh cuaca yang buruk dan masuk ke hotel itu sehingga dapat mendengarkan cerita orang2 tadi mengenai Sin-tiau-hiap, si pendekar sakti rajawali alias Nyo Ko itu.

Dengan cepat 16 tahun berlalu dan sementara itu Kwe Hu sudah menikah dengan Yalu Ce, Kwe Yang dan Kwe Boh-lo juga sudah besar.

Kwe Yang ber-seri2 mendengar ucapan Kwe Hu tadi, ia bergumam sendiri.

"Begitu aku lahir sudah pernah dipondong olehnya."

Ia berpaling dan tanya sang Taci.

"Cici bilang waktu kecilnya Sin-tiau-hiap pernah tinggal di Tho-hoa-to kita, mengapa belum pernah kudengar hal ini dari ayah dan ibu?"

"Kau tahu apa?"

Sahut Kwe Hu.

"Masih banyak soal lain yang tidak diceritakan padamu oleh ayah ibu."

Kiranya tentang buntungnya Nyo Ko serta keracunannya Siao-Iiong li, karena semua itu akibat tindakan Kwe Hu yang ceroboh, setiap kali kejadian itu disinggung selalu menimbulkan amarah Kwe Cing, meski Kwe Hu sudah dewasa dan sudah menikah, tetap Kwe Cing mendamperatnya tanpa kenal ampun.

Sebab itulah setiap anggota keluarga tidak suka menyinggung lagi selama beberapa tahun ini sehingga Kwe Yang dan Kwe Boh-lo tidak pernah mendengar orang bercerita kisah si Nyo Ko.

"lika begitu, kan dia mempunyai hubungan erat dengan keluarga kita, mengapa selama ini dia tak pernah datang ke rumah kita?"

Kata Kwe Yang.

"Ah, pada Eng-hiong-thay-hwe yang akan diadakan di Siangyang tangggal 15 bulan tiga nanti Sin-tiau-hiap itu pasti akan hadir."

"Tindak tanduk orang itu sangat aneh dan wataknya juga angkuh, belum tentu dia mau datang,"

Ujar Kwe Hu.

"Cici, kita harus berusaha mencari jalan untuk menyampaikan kartu undangan padanya,"

Kata Kwe Yang. Lalu ia berpaling kepada lelaki kekar tadi.

"Song-toasiok, dapatkah kau menyampaikan surat kepada Sin-tiau-hiap?"

Orang she Song itu menggeleng dan menjawab.

"Sin-tiau-hiap menjelajahi seluruh jagat, jejaknya sukar diketemukan untuk mencarinya tidaklah mudah."

Kwe Yang sangat kecewa, dia benar2 sangat tertarik oleh kisah keluhuran budi dan kepahlawanan Sin-tiau-hiap, sungguh ia ingin bisa bertemu dengan pendekar rajawali sakti itu, ia merasa gegetun bahwa Sin-tiau-hiap yang dikaguminya itu tak dapat hadir pada Eng-hiong-thay-hwe nanti.

Katanya kemudian sambil menghela napas.

"Ai, orang yang hadir nanti belum tentu semuanya ksatria sejati, sebaliknya ksatria sejati belum tentu mau hadir ke sana."

"Bluk" , mendadak terdengar suara gedebuk yang keras, seorang mendadak melompat berdiri dari pojok ruangan sana, rupanya orang yang sejak tadi tidur meringkuk itulah. Segera semua orang merasa ada suara gemuruh laksana bunyi guruh, kiranya orang itu sedang berkata.

"Apa sulitnya jika nona ingin menemui Sin-tiau-hiap, biarlah malam ini juga akan kubawa kau untuk menjumpai beliau."

Memangnya semua orang terkaget oleh suara orang yang gemuruh keras itu, apalagi setelah melihat jelas bentuk tubuh dan wajahnya, semua orang tampak heran.

Kiranya perawakan orang itu tidak lebih dari satu meter, tubuhnya juga kurus kecil namun kepalanya yang besar, telapak tangannya dan telapak kakinya ternyata jauh lebih besar dari pada orang biasa.

Sejak tadi dia meringkuk di pojok ruangan sehingga tidak diperhatikan oleh siapapun juga, siapa tahu begitu dia berdiri ternyata bentuknya begini aneh dan lucu.

Dengan girang Kwe Yang lantas menanggapi ajakan orang aneh itu.

"Bagus jika engkau mau membawaku ke sana, cuma selamanya aku tidak kenal Sin tiau-hiap, entah beliau mau menemui aku atau tidak?"

"Tapi kalau malam nanti kau tidak menemui dia, selanjutnya mungkin kau takkan dapat melihat dia lagi,"

Kata orang cebol itu dengan suaranya yang mengguruh.

"Sebab apa?"

Tanya Kwe Yang heran. Kwe Hu lantas berdiri dan tanya si cebol.

"Mohon tanya siapakah namamu yang terhormat?"

"Hehehe!"

"orang pendek itu ter-kekek2, katanya "

Orang buruk rupa macamku ini masakah di dunia ini ada keduanya?

Kalau kau tidak kenal diriku, pulang saja tanya kepada ayah-ibumu.

Pada saat itulah sayup2 terdengar suara seruan berkumandang dari jauh.

"Komplotan setan dari Se-san, sepuluh sudah datang sembilan. Wahai Hong thian-fui, kau tidak datang sekarang, mau tunggu sampai kapan?"

Suara sayup2 itu seperti terputus lalu bersambung pula, lirih dan seram kedengarannya, tapi sekata demi sekata dapat terdengar dengan jelas.

Si cebol melongo sejenak, mendadak ia menggertak keras2, debu pasir lantas berhamburan disertai percikan pecahan batu dan genting.

Semua orang sama memejamkan mata dan waktu membuka mata lagi ternyata si cebol sudah menghilang entah ke mana.

Semua orang terkejut, waktu menengadah, tertampak atap rumah telah berlubang besar, Kiranya orang cebol itu menerjang keluar dengan menjebol atap.

"Lihay benar orang itu, cici,"

Kata Kwe Boh-lo.

Kwe Hu sudah cukup berpengalaman dan banyak tokoh persilatan yang dikenalnya, tapi betapa lihay kepala si cebol ini belum pernah dia dengar dari ayah-ibunya, seketika iapun melenggong dan tak dapat menanggapi ucapan adiknya itu.

Kwe Yang lantas nyeletuk.

"Di antara guru2 yang pernah mengajar ayah juga ada seorang pendek bernama Ma-ong-sin Han Pok-ki. Sam-te sembarangan menyebut orang sebagai si cebol, kalau didengar ayah tentu beliau akan marah. Kau harus menyebutnya sebagai Locianpwe."

Belum lagi Kwe Boh-lo menjawab, tiba2 terdengar pula suara "blang"

Yang keras, seketika debu pasir bertebaran Iagi, malahan muka beberapa orang terkena cipratan batu kerikil dan menjerit kesakitan.

Di tengah suara ribut itulah tahu2 terlihat si cebol tadi sudah berdiri pula di tengah ruangan, dinding sebelah timur sana telah bobol suatu lubang setinggi tatu meteran dan lebarnya lebih setengah meter.

Kiranya orang cebol ini menerjang masuk dengan menjebol dinding.

Ilmu silat Kwe Hu sekarang sudah tentu jauh lebih tinggi daripada belasan tahun yang lalu, tapi tidak urung iapun terkejut melihat kelihayan Nge-kang (kekuatan luar) si cebol, cepat ia melompat maju mengadang di depan kedua adiknya untuk menjaga kalau2 si cebol mendadak menyerang.

Orang cebol itu menjulurkan kepalanya yang sebesar gentong itu dan melongok ke belakang Kwe Hu, katanya kepada Kwe Yang.

"Eh, nona cilik, kalau kau ingin bertemu dengan Sin-tiau-hiap, marilah ikut padaku."

"Baiklah!"

Jawab Kwe Yang tanpa pikir.

"Hayo Taci dan Samte, kita pergi bersama."

"Ah, untuk apa menemui dia? Kau jangan pergi, apalagi kita belum pernah kenal tuan ini,"

Ujar Kwe Hu.

"Kupergi sebentar dan segera kembali, kalian tunggu saja di sini,"

Kata Kwe Yang. Mendadak orang she Song tadi berbangkit dan berseru.

"Nona cilik, sekali2 kau jangan pergi. Orang ini... orang ini adalah tokoh gerombolan setan dari Se-san, jika kau ikut pergi, besar, ..besar kemungkinan akan celakai "

Hehehe, kau juga tahu gerombolan setan dari Se-san?"

Si cebol mengekek tawa.

"Maksudmu kami adalah orang jahat?"

Habis itu sebelah tangannya mendadak menyodok ke depan, belum tangannya menyentuh tubuh Song Ngo, tahu2 tubuh Song Ngo sudah tergetar mundur dan menumbuk dinding, seketika mukanya pucat, kedua kaki lemas dan terkulai ke lantai, kepalanya bergelantungan lemas di depan dada, entah sudah mati atau masih hidup.

Kwe Hu menjadi gusar, walaupun tahu kepandaian si cebol lebih tinggi juga tidak boleh kena digertak hingga diam saja, segera ia berteriak.

"Engkan silakan pergi saja, Adikku masih kecil, mana boleh mengikuti kau kian kemari di tengah malam buta?"

Pada saat itu pula suara sayup2 terputus2 tadi berkumandang pula.

"Gerombolan setan dari Se-san sepuluh sudah datang sembilan, Hong-thian-lui, wahai Hong-thian-lui, arwahmu tidak muncul, orang sudah Iama menunggu!"

Suara itu kedengaran sangat jauh, tiba2 seperti sangat dekat dan mengiang di kanan-kiri sehingga membuat merinding orang.

Kwe Yang sudah bertekad harus bertemu dengan Sin-tiau-hiap sekalipun nanti akan kepergok setan iblis, maka segera ia menjawab.

"Baiklah, Cian-pwe, bawalah aku!"

Berbareng ia terus melompat ke sana dan menerobos keluar melalui lubang dinding yang dibobol si cebol tadi.

"He, kau!"

Seru Kwe Hu sambil meraih tangan sang adik, tapi luput, cepat iapun melompat ke sana hendak mengejar keluar melalui lubang dinding.

Siapa tahu baru saja tubuhnya hendak menerobos keluar, mendadak lubang dinding itu menghilang.

Untung kepandaian Kwe Hu kini sudah cukup sempurna dan dapat mengendalikan tubuh sendiri sesuka hati, cepat ia anjiok ke bawah sehingga daya terobosnya tadi dihentikan seketika, begitu kakinya menyentuh lantai, ternyata dirinya tepat berdiri di depan dinding, jaraknya cuma belasan senti saja.

Waktu ia dapat melihat jelas, hampir saja ia menjerit kaget.

Ternyata tubuh si cebol tadi dengan tepat terisi di lubang dinding itu, kepalanya yang besar dan bahunya yang lebar itu persis seperti dicetak pada dinding itu.

Kwe Hu berdiri berhadapan dengan makhluk aneh bermuka buruk itu, malahan tadi mukanya hampir mencium muka si cebol, keruan saja ia terkejut, cepat ia melompat mundur lagi Segera terasalah angin dingin meniup, dinding itu kembali berlubang bentuk tubuh manusia cebol lagi, tapi si cebol sendiri sudah menghilang.

"Jimoay, kembali!"

Seru Kwe Hu sambil menerobos keluar, didengarnya suara tertawa keras di kejauhan, mana ada bayangan si Kwe Yang cilik?

Rupanya setelah si cebol menggertak mundur Kwe Hu, segera pula ia melompat keluar dan mendekati Kwe Yang, katanya.

"Bagus, nona cilik sungguh pembrani!"

Segera ia pegang tangan Kwe Yang dan diajak melompat ke depan, sekali lompat dua-tiga meter jauhnya, jangan dikira orang cebol itu kakinya cekak, lompatannya ternyata sangat jauh dan cepat lagi, yang digunakan ternyata adalah Ginkang yang lain daripada yang lain, seperti katak saja ia terus melompat2 ke depan, biarpun membawa serta Kwe Yang, namun gerak-geriknya tetap sangat lincah dan enteng.

Tangan Kwe Yang yang digenggam si cebol itu rasanya seperti dijepit oleh tanggam sehingga terasa sakit, hatinya menjadi berdebar kuatir, entah dirinya hendak dibawa ke mana oleh orang cebol ini?

Sejak kecil Kwe Yang langsung mendapat didikan dari Kwe Cing dan Ui Yong, dasarnya anak dara itu pintar dan cerdik, semula ia masih sanggup mengikuti lompatan orang cebol itu, tapi lama2 ia menjadi lelah dan perlu ditarik dan diangkat baru dia dapat sama naik dan sama turun dengan si cebol.

Setelah berlompatan begitu beberapa li jauhnya, tiba2 dari balik bukit sana ada orang tertawa dan berkata dengan suara halus.

"Hai, Hong-thian-lui, mengapa kau datang terlambat? Eb, malahan kau membawa anak dara secantik itu!"

"Nona cilik ini adalah puteri Kwe Cing dan ingin melihat Sin-tiau-hiap, maka aku membawanya kemari,"

Kata si cebol.

"Puteri Kwe Cing?"

Orang tadi menegas dengan melengak. Dari bukit sana suara seorang lagi berkata.

"Sudah lewat tengah malam, lekas berangkat!"

Menyusul mana terdengarlah suara derapan kuda lari yang riuh, dari balik bukit lantas muncul belasan ekor kuda.

Sementara itu salju masih terus turun dengan lebatnya, dari pantulan cahaya salju itu dapatlah Kwe Yang melihat belasan ekor kuda itu seluruhnya ada sembilan penunggang kuda yang berlainan bangun tubuh masing2, ada yang tinggi dan ada yang pendek, ada lelaki dan juga ada perempuan, sebagian besar kuda itu tanpa penunggang malah.

Si cebol tadi mendekat ke sana dan menuntun dua ekor kuda, seekor diserahkannya kepada Kwe Yang, ia sendiri menunggang seekor, lalu membentak.

"Hayo berangkat!"

Sekali bersuit, ber-bondong2 belasan ekor kuda itu terus membedal cepat ke arah barat laut.

Dari bentuk tubuh kesembilan orang itu Kwe Yang melihat jelas dua di antaranya adalah perempuan, yang satu kelihatan sudah tua renta, seorang lagi berpakaian merah membara sehingga sangat menyolok di tanah salju yang putih bersih itu.

Wajah ketujuh orang lainnya tidak jelas, hanya perawakan seorang di antaranya sangat tinggi kurus sehingga mirip tiang bendera terpancang di atas pelana kuda.

Rombongan mereka terus mengaburkan kuda dengan cepat, setelah belasan li mereka lantas berganti kuda tunggangan agar kuda yang pertama dapat mengaso.

Diam2 Kwe Yang membatin.

"Dari suara sayup2 yang terdengar tadi katanya gerombolan setan Se-san sepuluh sudah datang sembilan, kini termasuk si cebol tadi jumlah mereka memang sepuluh, Tampaknya mereka inilah yang disebut gerombolan setan dari Se-san. Menurut Song-toa siok tadi, katanya besar bahayanya jika aku ikut mereka dan si cebol terus hantam paman Song itu hingga sekarat, kelihatannya orang2 ini sangat kejam. Tapi orang cebol itu mengatakan hendak membawaku menemui Sin-thay-hiap, agaknya ucapannya juga tidak dusta, Kalau mereka kenal Sin-tiau-hiap, kukira mereka pasti bukan orang jahat."

Dalam sekejap saja belasan li sudah berlalu pula, orang yang paling depan mendadak bersuara dan belasan ekor kuda itu serentak berhenti Orang di depan itu lantas melarikan kudanya ke suatu tempat yang tinggi, lalu memutar balik, Kwe Yang menjadi terkejut dan geli pula melihat wajahnya.

Kiranya orang ini juga seorang cebol, tubuh yang berada di atas kuda tidak lebih daripada setengah meter, tapi jenggotnya yang panjang itu ada satu meteran sehingga melambai ke bawah perut kuda, mukanya berkeriput kedua alis terkerut seperti orang yang selalu bersedih.

"Dari sini ke To-ma-peng tidak lebih 30 li saja,"

Terdengar orang tua itu berkata.

"konon ilmu silat Sin-tiau-hiap itu sangat tinggi, sebaiknya kita berunding dahulu agar gerombolan setan dari Se-san tidak kehilangan pamor."

"Silakan Toako memberi petunjuk saja,"

Ujar si perempuan tua tadi.

"Apakah kita harus bertempur secara bergiliran dengan ia atau mengerubutnya sekaligus?"

Tanya orang tua cebol berjenggot panjang itu. Kwe Yang terkejut pula, dari nada pembicaraan orang2 ini jelas mereka hendak memusuhi Sin-tiau -hiap. Terdengar perempuan tua tadi berkata.

"Sebenarnya Sin-tiau-hiap itu memang mempunyai kepandaian sejati atau cuma bernama kosong belaka? Dalam hal ini, Jit-te, hanya kau yang pernah berjumpa dengan dia, coba kau memberi keterangan sekedarnya!"

Seorang laki2 tinggi besar lantas berkata.

"Meski pernah kulihat dia, tapi aku tidak sampai bergebrak dengan dia kukira kukira dia memang rada2" .

"Jit-ko,"

Tiba2 perempuan berpakaian merah ikut bicara.

"sebab apa kau sampai bermusuhan dengan Sin-tiau-hiap, hendaklah kau jelaskan lebih dulu agar nanti kalau bertarung juga kita sudah mempunyai pegangan."

"Gerombolan setan dari Se-san selamanya sehidup-semati, kalau Sin-tiau-hiap itu sudah mengeluruk ke sini, apakah kita harus mengkeret dan menyingkir?"

Lelaki yang bertubuh tinggi kurus seperti lidi itu berkata.

"Siapa yang bilang menyingkir? Andaikan Kiu-moay (adik kesembilan) tidak tanya juga, aku ingin tahu apa sebabnya kau bermusuhan dengan dia, soalnya kita kan tidak merasa bersalah dan mengapa dia sesumbar hendak mengusir gerombolan setan Se-san keluar wilayah Soasay ini?"

"lni, coba lihat, dia telah memotong sepasang daun telingaku, kalau sakit hati ini tidak dibalas, lalu persaudaraan apalagi diantara kita?"

Teriak lelaki besar tadi dengan gusar, berbareng ia terus menarik kopiahnya sehingga kelihatan kedua sisi kepalanya itu halus licin tanpa kuping.

Kesembilan orang yang lain dari "Gerombolan setan Se-san"

Itu menjadi gusar, beberapa diantaranya lantas mengumpat, ada yang berjingkrak murka dan menyatakan hendak melabrak Sin-tiau-hiap dengan mati-matian.

"Jit-ko,"

Si perempuan baju merah berkata pula.

"sebab apa dia memotong daun telingamu? Apa kesalahanmu? Tentunya kau menggoda wanita keluarga baik2 lagi, bukan?"

Seorang yang berwajah selalu tertawa berkata dengan gusar.

"Sekalipun Jit-ko memang menggoda wanita keluarga baik2 juga tidak perlu diurusi orang lain."

Wajah orang ini sangat aneh, meski sedang gusar toh air mukanya yang tertawa itu tidak menjadi berubah.

Waktu Kwe Yang mengamati lebih teliti, kiranya bibir orang itu menjengkit ke atas, kedua matanya kecil, maka biarpun sedang sedih atau menangis juga tampaknya sedang tertawa riang.

Lelaki tadi menjawab.

Tidak, tidak!

Soalnya waktu itu isteriku bercekcok dengan keempat gundikku mengenai urusan tetek-bengek, dari ribut mulut akhirnya saling cakar2an dan main pisau segala, KebetuLan apa yang disebut Sin-tiau-hiap itu lalu, dasar orang itu memang suka ikut campur urusan orang lain, dia berusaha melerai pertengkaran itu.

Sungguh brengsek, gundikku yang ketiga itu tersenyum padanya.

"O, tahulah aku, Jit-ko lantas cemburu, bukan?"

Tukas si perempuan berbaju merah.

"Cemburu gimana? Soalnya aku tidak ingin urusan rumah-tanggaku dicampur-tangani orang luar,"

Kata lelaki itu.

"Sekali jotos tiga gigi gundikku itu kurontokkan, lalu si buntung sialan itu lantas kusuruh enyah."

Sampai di sini, Kwe Yang takdapat menahan rasa dongkolnya, segera ia menanggapi.

"He, maksudnya kan baik, mengapa kau berlaku kasar padanya? jelas dalam urusan ini kau yang salah."

Semua orang berpaling memandang anak dara, itu, sama sekali mereka tidak menduga nona secilik itu berani ikut bicara. Lelaki itu menjadi rnarah dan membentak.

"Sialan! kau anak sekecil ini juga berani menggurui aku? Go-ko, anak dara ini apamu?"

"Dia ingin melihat Sin-tiau-hiap dan aku membawanya ke sana, urusan lain aku tidak peduli,"

Jawab si cebol kepala besar tadi.

"Baik, jika begitu akan kuajar adat padanya,"

Kata lelaki kekar itu, tarrrr, segera cambuknya menyabet kepala Kwe Yang, Cepat Kwe Yang menangkis dengan cambuknya sehingga kedua cambuk terlibat menjadi satu.

Waktu lelaki itu membetot sekuatnya, seketika Kwe Yang merasa ditarik oleh suatu tenaga yang dahsyat dan terpaksa melepaskan pegangannya.

setelah berhasil merampas cambuk Kwe Yang, segera cambuk lelaki tadi hendak disabetkan lagi.

Syukur si cebol berjenggot panjang tadi lantas berseru.

"Jit-te, kita harus cepat berangkat, untuk apa mengurusi seorang anak kecil?"

Lelaki itu merandek, cambuk yang sudah terangkat ke atas itu tidak jadi dihantamkan. Si kakek jenggot panjang lantas menjengek.

"Hm, gerombolan setan dari Se-san adalah tokoh yang tidak gentar pada langit dan takut pada bumi, betapapun nyaring tersohornya Kwe Cing dan Ui Yong juga tak dapat menggertak kami. he, anak dara, jika kau berani banyak omong lagi segera kami sembelih kau."

Lalu dia berpaling dan berkata pula.

"Jit te, lelaki sejati berani berbuat berani tanggung jawab, kalau jatuh harus cepat merangkak bangun, Jenggot ku yang panjang ini dahulu juga pernah dipotong orang, Kedua kupingmu itu cara bagaimana dipotong orang?"

"Ketika kusuruh Sin-tiau-hiap itu enyah, dia juga tidak membantah. ia malah tertawa saja terus melangkah pergi,"

Demikian tutur lelaki kekar tadi.

Sungguh sialan, tiba2 gundikku yang keempat berteriak2 dan menangis, katanya dia kupaksa menjadi gundik dan hidup tersiksa, kini dianiaya pula oleh isteri tua, mendengar itu mendadak Sin-tiau-hiap memutar balik dan tanya padaku.

"Apakah benar perkataannya itu?"

"Dengan mendongkol kujawab.

"Kalau betul mau apa dan kalau tidak betul lantas bagaimana? Aku berjuluk Sat-sin-kui (setan elmaut), selamanya membunuh orang tanpa kenal ampun, tahu tidak kau?"

Dengan kurang senang dia berkata.

"Jika kau suka padanya, mengapa sudah kawini dia lalu mengambil lagi perempuan lain? Kalau tidak suka padanya, mengapa tadinya kau menikahi dia?"

"Aku bergelak tertawa dan berkata.

"Semula memang suka padanya, sesudah bosan lantas tidak suka lagi, Lelaki mempunyai tiga isteri atau empat gundik adalah kejadian biasa, kenapa mesti heran? Hahaha, malahan aku hendak mengambil tiga gundik lagi."

Dia lantas mengomel "Jika manusia tak berbudi dan tidak setia macam kau bertambah banyak lagi di dunia ini, bukankah semua perempuan di dunia ini akan kecewa terhadap kaum lelaki?"

Habis berkata mendadak ia menubruk maju dan melolos belatiku, sekaligus kedua kupingku dipotong, lalu belati mengancam di depan dadaku dan membentak Akan kukorek hatimu, ingin kulihat warna apakah hatimu ini!"

Tentu saja aku mati kutu...

untunglah isteri dan para gundikku itu lantas berlutut dan memohonkan ampun padanya, malahan gundik ketiga dan keempat itu menangis me-raung2.

Hm, sungguh memalukan, benar2 memalukan Aku menjadi gusar dan berteriak.

"Lekas kau turun tangani jika kau membunuh aku, arwah gerombolan setan Se-san pasti senantiasa akan mengisari kau."

Dia mengerut kening dan berkata kepada perempuan2ku itu.

"Manusia tak berbudi begini, masakah kalian malah mintakan ampun baginya?"

Perempuan2ku itu tidak msnjawab melainkan terus menyembah, Dia lantas berkata pula.

"Baiklah! sekarang kuam-puni kau. Tapi akupun tidak gentar terhadap gerombolan setan dari Se-san itu. Pada akhir bulan ini akan kunantikan kalian di To-mo-peng, boleh kau undang seluruh gerombolan itu untuk menemui aku di sana. Kalau tidak berani datang, sekaligus kalian harus enyah dari wilayah Soasay dan tak oleh kembali ke sini selamanya."

Selesai lelaki kekar itu menutur, semua orang sama terdiam. selang sebentar barulah perempuan tua tadi bertanya.

"Senjata apa yang digunakannya? Dari aliran manakah ilmu silatnya?"

"Lengan buntung sebelah, dia tidak memakai senjata apa2,"

Tutur si lelaki tadi.

"Mengenai aliran ilmu silatnya, tampaknya... tampaknya sukar diketahui."

Perempuan tua tadi berkata pula.

"Toako, sekali gebrak saja orang itu lantas membikin jit-te tak bisa berkutik. tentu kepandaiannya sangat lihay, Kita harus mengerubutnya saja, Toako menghadapi dari depan, biarlah aku dan Go-te menyerang dari samping, dengan tiga lawan satu masakah kita kalah? sebaiknya kita harus menyerang dengan cepat sekaligus membinasakan dia."

Kakek jenggot panjing merenung sejenak, katanya kemudian.

"Nama Sin-tiau-hiap itu sangat termashyur, pertarungan nanti sungguh luar biasa, Biarlah kita mengerubutnya secara ber-ramai2 dan mengerahkan segenap tenaga dan senjata yang kita punyai. Selama gerombolan kita bersatu belum melabrak orang dengan maju sepuluh orang sekaligus dan baru sekarang terjadi untuk pertama kali ini, kalau sudah begitu kita masih belum dapat membinasakan dia, maka biarlah kita bersepuluh ini dari setan bayangan menjadi setan sungguhan saja."

Tiba2 si kakek cebol kepala besar tadi ikut bicara.

"Toako, kita bersepuluh mengeroyok dia seorang, kalau menang rasanya juga kurang terhormat, jika tersiar juga akan ditertawakan orang2 Kangouw."

"Bila Sin-tiau-hiap itu dapat kita bunuh, kecuali anak dara ini kukira tiada orang lain lagi yang tahu,"

Ujar si nenek tadi.

Baru selesai uca-pannya, dengan pelahan iapun mengangkat tangannya.

Cepat si cebol kepala besar mengadang di depan Kwe Yang sambil mengebaskan lengan baju-nya, menyusul dari lengan bajunya dicabutnya sebuah jarum lembut, katanya.

"Jici, aku yang membawa anak dara ini kemari, janganlah mencelakai dia."

Lalu ia berpaling dan berkata kepada Kwe Yang.

"Nona Kwe, jika kau ingin melihat Sintiau-hiap, kejadian malam ini jangan sekali2 kau ceritakan kepada orang lain, Kalau tidak, boleh kau pulang sekarang saja."

Ngeri dan gusar pula Kwe Yang, ia pikir nenek itu sungguh amat keji, kalau bukan paman cebol itu menoIongnya, mungkin dirinya sudah binasa tertusuk oleh jarum yang lembut dan tanpa suara itu.

Segera iapun menjawab "Baiklah, takkan kuceritakan kepada siapapun juga.

Lalu ditambahkannya.

"Kalian bersepuluh, masakah Sintiau-hiap sendiri tidak mempunyai pembantu?"

Si cebol kepala besar bergelak tertawa, katanya.

"Sudah belasan tahun Sin-tiau-hiap itu berkecimpung di Kangouw dan tak pernah terdengar dia membawa pembantu, yang ada cuma seekor rajawali yang senantiasa mendampingi dia."

Habis berkata.

"tarrr!"

Cambuknya menggeletar di udara dan membentak.

"Hayolah berangkat!"

Setelah berlari sekian jauhnya, orang cebol itu berkata pula kepada Kwe Yang.

"Sebentar kalau sudah saling gebrak, jangan sekali2 kau menjauhi aku."

Kwe Yang mengangguk ia tahu gerombolan setan dari Se-san ini ada sebagian sangat jahat dan tidak kenal ampun, bisa jadi mendadak dirinya diserang dan si cebol kepala besar ini tidak sempat menolongnya.

Diam2 iapun berkuatir bagi Sin tiau-hiap yang akan dikerubut kesembilan orang ini, betapapun tinggi kepandaian pendekar rajawali sakti itu apakah sanggup satu lawan sepuIuh?

ia pikir kalau ayah-ibunya berada di sini tentu segalanya akan beres, beliau2 pasti takkan tinggal diam saja menyaksikan pertarungan yang tidak adil ini.

Tengah mereka melarikan kuda dengan cepat, tiba2 dari dalam hutan di depan yang gelap gulita sana berkumandang suara auman harimau, beberapa ekor kuda sama berjingkrak kaget dan takut.

ada yang terus berdiri diam dan ada yang malah terus putar haluan hendak kabur.

Si jangkung tadi segera mengayun cambuknya beberapa kali dan mendahului menerjang kedalam hutan.

Si nenek juga mengomeli kudanya.

"Binatang tak berguna, memangnya takut dicaplok kucing liar begitu? " --Be-ramai2 mereka terus menghalau kawanan kuda mereka dan ikut menerobos ke dalam hutan. Setelah membedal lagi beberapa puluh meter jauhnya, tiba2 seseorang membentak di depan.

"Siapa itu berani terobosan di Bii-iiu-san-ceng malam2 begini?"

Serentak Gerombolan setan Se san itu menahan kuda mereka, tertampaklah seorang mengadang di tengah jalan, kedua sisinya masing2 mendekam seekor harimau loreng.

Mendengar suara raungan harimau yang kereng itu, kembali kawanan kuda ber-jingkrak ketakutan.

Setelah menguasai kembali kudanya, si kakek cebol jenggot panjang lantas memberi hormat dan berkata "GeromboIan Setan Se-san kebetulan lewat di sini dan tidak sempat berkunjung harap suka memaafkan."

Orang yang menghadang di depan itu menjawab.

"O, kalian inikah Gerombolan Setan dari Se-san? jadi saudara ini Tiang-si-kui (setan jenggot panjang) Hoan-ya (tuan Hoao)?"

"Betul"

Jawab si kakek jenggot panjang.

"Ada urusan penting kami harus menuju To-ma-peng, kembalinya nanti kami akan mampir untuk mohon maaf lagi."

Rupanya iapun tahu orang Ban-siu-san-ceng (perkampungan berlaksa binatang) sukar dilawan, pula mereka sekarang harus mencurahkan segenap perhatian untuk menghadapi Sin-tiau-hiap, maka bicaranya sangatlah rendah hati.

"Coba kalian menunggu sebentar,"

Kata orang itu, lalu ia berteriak.

"Toako, inilah Gerombolan Setan Se-san yang hendak pergi ke To-ma-peng katanya kembalinya nanti akan datang untuk minta maaf."

Kawanan "Setan"

Itu merasa kurang senang mendengar ucapannya itu mereka mengatakan kembalinya nanti akan mampir untuk minta maaf, kata2 ini tidak lebih hanya sebagai basa-basi saja, masakah dianggapnya Gerombolan Setan Se-san benar2 gentar kepada pihak Ban-siu-san-ceng?

Maka terdengarlah suara seorang menjawab dengan lagak tuan besar di dalam hutan.

"Minta maaf sih tidak perlu, suruh mereka pergi dengan mengitar hutan saja."

Serentak kawanan setan--itu menjadi gusar, si jangkung tadi lantas mendengus.

"Hm, selamanya Gerombolan Setan Se-san kalau berjalan tidak pernah main mengitari"

Habis berkata segera ia melarikan kudanya terus menerjang ke depan.

Tapi sehati orang yang mengadang itu memberi aba2, serentak kedua harimau di sampingnya terus menubruk maju.

Karena kaget dan takut, kuda si jangkung berjingkrak berdiri.

Tampaknya si jangkung sangat menguasai kuda tunggangannya, sambil tetap menempel di atas pelana.

"sret" , cepat kedua tangannya mengeluarkan senjatanya yang berbentuk sepasang tumbak pendek dan kontan menikam ke arah kedua ekor harimau. Harimau yang sebelah kiri cepat melompat minggir, sedangkan cakar harimau sebelah kanan sempat merobek perut kuda si jangkung, tapi binatang buasnya itupun meraung keras, rupanya juga terluka oleh tikaman tumbak. Segera si jangkung melompat turun dan membentak "HayoIah keluarkan senjatamu!"

Berba-reng ia terus pasang kuda2 dan siap tempur. Orang di depan sana menjengek.

"Hm, kau berani melukai kucing piaraanku, andaikan sekarang kau mau mengitar hutan juga tidak kuidzinkan lagi Bu-siang-kui (setan gentayangan), tinggalkan saja tumbakmu!"

Si jangkung melengak juga karena julukannya dengan tepat disebut lawan, jawabnya.

"siapakah kau? Selama ini Ban--siu-san-ceng berada di Se keng, mengapa sekarang pindah ke sini? Kau ingin kutinggalkan tumbakku, hah, memangnya begitu gampang?"

"Kediaman Ban siu-san-ceng memang berada di Se-keng, tapi kalau kami ingin pindah tempatkan tidak perlu lapor dulu kepada kawanan setan macam kalian toh?"

Ujar orang itu.

"Bahwa Toako kami suruh kalian lewat mengitar hutan sudah cukup ramah, soalnya Samko kami sedang sakit dan tidak suka diganggu orang, kau tahu tidak?"

Berkata sampai di sini, mendadak tangan kirinya meraih ke depan, tahu-gagang tumbak yang dekat dengan ujung tumbak si Bu-siang-kui kena dipegang olehnya.

Sama sekali Bu siang-kui tidak menduga gerakan tangan lawan sedemikian cepatnya, cepat ia menarik sekuatnya, Tapi orang itupun membetot dan ditekuk pula sehingga terdengar "pletak"

Dua kali.sepasang tumbak pendek itu patah semua.

Padahal tumbak2 itu terbuat dari besi, karena tenaga kedua orang sama kerasnya hingga tumbak itu tak dapat menahan tenaga tarikan mereka dan akhirnya patah.

Kejadian ini membuat Gerombolan Setan Se-san melengak.

Si kakek jenggot panjang yang berjuluk "Setan jengot panjang"

Lantas berkata.

"Rupanya saudara inilah Pat jiu-sian-kau (kera sakti bertangan delapan) Apakah Kim kah-say-ong (raja singa bersisik emas) kurang sehat? Saat ini kami ada urusan lain, biarlah kita bertemu lagi di sini besok pada saat yang sama."

Kiranya Ban-siu-san-ceng itu dipimpin oleh lima bersaudara, Toako atau kakak tertua Pek-hia san-kun ( raja gunung dahi putih ) Su Pek-wi, Jiko atau kakak kedua Koan-kian-cu (si bumbung perak ) Su Tiong beng, Samko ( kakak ketiga ) Kim-kah-say-ong Su Siokkang, Suko ( kakak ke-empat ) Tay-lik-sin ( malaikat bertenaga raksasa ) Su ki-kiang dan saudara yang terkecil ialah Pat-jiu-sian-kau Su Beng-ciat ini.

Turun temurun keluarga Bu itu hidup sebagai penjinak binatang, sampai di tangan kelima bersaudara ini bahkan tambah maju kepandaian mereka, bukan saja cara menjinakkan binatang terlebih lihay, bahkan dari gerak gerik setiap binatang buas yang mereka lihat setiap hari itu dipelajari dan dipahami menjadi gerakan ilmu silat yang khas, jadi binatang2 buas se-akan2 menjadi guru kelima bersaudara itu sehingga jadilah mereka memiliki ilmu silat yang tinggi.

Waktu Su Siok kang, yaitu kakak ketiga yang berjuluk Kim-kah-say-ong itu berumur 20-an, suatu hari ketika sedang berburu, secara kebetulan dia bertemu dengan orang kosen dan berhasil meyakinkan pula Lwekang yang tinggi, sepulangnya di rumah ia mengajarkan Lwekang itu pula kepada saudara2nya.

Begitulah semakin banyak mereka memiara binatang buas semakin tinggi pula ilmu silat yang mereka yakinkan Nama Ban-siu-san ceng juga mulai terkenal di dunia Kanguow, maka orang-Bu-lim telah memberikan julukan kepada kelima bersaudara ha sebagai "Hou-pa-say jio-kau" (harimau, macan tutul, smga, gajah dan kera).

Di antara mereka berlima Kim kah say-ong.

si singa berbaju emas, terkenal paling lihay.

Maka Tiang-si-kui merasa lega demi mendengar Su Siok-kang sedang sakit, betapapun lihaynya musuh juga kawanan "Setan"

Mereka tidak gentar, apalagi sekarang pihak lawan berkurang tokoh utama-nya, maka ia lantas menetapkan malam besok untuk pertarungan yang menentukan.

"Baik,"

Segera Pak-jiu-sian-kau Su Beng-ciat menjawab "besok malam kami bersaudara akan menunggu kalian di sini."

Habis berkata, sekali tangan bergerak.

"pIok-plok" , kedua potong tumbak patah yang dirampasnya tadi menyamber dan menancap batang pohon di sebelah Tiang-si-kui. Diam2 Tiang Si-kui terkesiap dan heran mengapa pihak lawan tetap tidak memperbolehkan mereka lewat menerobos hutan, ada pekerjaan apa kelima saudara Su itu di sini? Segera ia memberi salam.

"Baiklah kami mohon diri!"

Kedua kakinya mengempit kencang, segera ia melarikan kudanya ke depan.

"He, tunggu dulu!"

Kembali Su Beng-ciat berteriak mencegah.

"Toako kami menyuruh kalian lewat mengitar hutan, apakah kalian tidak berkuping atau memang tuli?"

Tiang-si-kui menahan kudanya dan baru mau menjawab, terdengarlah di kanan kiri depan sana dua orang tertawa ter-bahak2, menyusul asap tebal lantas mengepul, dua orang berteriak berbarengi "Main gila apa di dalam hutan?

Mana Gerombolan Setan Se-san dapat dikelabui?"

Rupanya secara diam2 Song-bun-kui dan Siau-bin-kui, setan sialan dan setan muka ketawa, yaitu setan ke-8 dan ke-10 menurut urut2an mereka, telah memutar ke belakang sana untuk menyalakan api ketika Su Beng-ciat sedang bicara dengan Tiang si kui.

Tapi baru saja api mulai berkobar, menyusul lantas terdengar Songbun-kui dan Siaubin-kui menjerit kaget dan berlari kembali seperti memergoki sesuatu makhluk yang mengerikan.

"Ada apa?"

Janya Tiang-si-kui.

"Macan! Harimau! ada seratus, dua ratus ekor..."

Seru Song-bun-kui. Su Beng-ciat kelihatan sangat murka melihat api mulai menjilat pepohonan, ia berteriak sekeras-nya.

"Toako, Jiko, yang penting padamkan api duiu, biarkan gerombolan setan ini pergi saja, masakah kelak kita takdapat menemukan mereka?"

Pada saat itulah se-konyong2 pandangan semua orang serasa bureng, seekor binatang sebesar anjing kecil mendadak menerobos keluar dari hutan dan sekejap saja sudah kabur ke sana.

Tubuh binatang itu tidak besar, tapi keempat kakinya sangat panjang warna bulunya putih mulus, hanya bagian ekor saja berwarna hitam, bentuknya mirip kucing dan mem-per anjing.

"Hm, Kau-twe-Ieng-fccu kabur!"

Seru Su Beng-ciat dan segera ia mengidak ke sana.

Suara teriakannya itu penuh mengunjuk rasa kaget, cemas dan kuatir.

Mendadak pula terdengar pula suara raungan yang keras di dalam hutan, suara raungan yang menyerupai raungan harimau dan mirip pula auman singa, malahan seperti suara teriakan orang namun suara manusia seyogianya tidak sekeras dan senyaring itu.

Terdengar suara raungan itu, diam2 Kwe Yang rada merinding.

Setelah suara raungan itu, serentak be-ratus2 binatang buas juga lantas mengaum di segenap penjuru, suara singa, harimau, macan tutul, serigala, gajah, kera, gorila dan entah binatang buas apalagi dan sukar dibedakan.

Menyusul terdengarlah suara gemuruh, be-ratus2, bahkan be-ribu2 binatang buas itu ber-bondong2 lari keluar hutan, Seorang lantas berseru.

"Toako ke sebelah timur, Ji-ko sebelah barat, Site (adik keempat) ke tenggara..."

Jelas ada suara orang ini sama dengan suara raungan tadi.

Sekilas Kwe Yang melihat beberapa sosok bayangan orang berkelebat keluar hutan lebat itu, walaupun tahu bahaya, tapi ia tak dapat menahan rasa ingin tahunya, cepat iapun melarikan kudanya menyusul keluar hutan.

Cepat si cebol kepala besar yang berjuluk Toa-thau-kui (setao kepala besar) tadi berteriak.

"He, nona Kwe, jangan pergi!"

Segera iapun keprak kudanya menyusulnya.

Begitu berada di luar hutan, seketika Kwe Yang menyaksikan pemandangan aneh.

Dilihatnya lima orang sama2 memimpin segerombolan binatang sedang mengurung ke bagian tengah di tanah datar yang berselimutkan salju itu, tampaknya kawanan binatang buas itu sudah terlatih, mereka tidak saling cakar dan bertengkar sendiri, tapi kesana kemari, cara lari mereka sangat teratur.

Kwe Yang merasa takut tapi juga sangat tertarik untuk menonton, Dilihatnya lingkaran kelima barisan binatang buas itu semakin menciut sehingga di tengah2 kelihatan sebuah bundaran, tapi mendadak sesosok bayangan putih berkelebat, binatang kecil yang menyerupai anjing tadi lari menerobos keluar dari kepungan binatang buas, secepat angin binatang kecil itu melayang lewat di depan Kwe Yang.

"Kiu-bwe-leng-hou! Di sana, lari ke sana!"

Terdengar kelima bersaudara she Su itu ber-teriak2, menyusul gerombolan binatang buas itu lantas menerjang tiba seperti gugur gunung dahsyatnya.

Cepat Kwe Yang menarik kudanya menyingkir ke pinggir, tapi kuda itu menjadi ketakutan melihat binatang buas sebanyak itu, saking takutnya hingga kaki lemas terus jatuh mendeprok.

Keruan Kwe Yang terkejut, kalau gerombolan binatang itu menerjang ke arahnya, tentu tubuhnya akan ter-injak2 hancur lebur.

Lekas2 ia melompat turun dari pelana kudanya dan berlari ke samping sana.

Terendus olehnya bau amis, kawanan binatang buas itu terus mengalir lewat di sebelahnya laksana air bah dan sejenak saja sudah menjauh.

Sementara itu Gerombolan Setan Se-san juga sudah berada di luar hutan, si kakek jenggot panjang berkata.

"Betapapun tinggi kepandaian keluarga Su juga kita tidak gentar, hanya kawanan binatang itulah yang sukar dihalau. Malam ini kita tidak perlu cari perkara lagi, kita harus piara tenaga untuk menghadapi Sin-tiau-hiap. Marilah kita berangkat!"

Si nenek juga berkata.

"Ya, malam ini kita bunuh Sin-tiau-hiap, besok kita pesta panggang daging harimau dan singa!" -Habis itu ia terus menarik kudanya dan hendak meneruskan perjalanan dengan mengitari hutan. Pada saat itulah mendadak suara raungan binatang buas tadi terdengar gemuruh pula, gerombolan binatang itu datang lagi dari berbagai arah. Sekali ini suara raungan bnatang itu tidak begitu buas, larinya juga tidak cepat Namun Tiang-si-kui menjadi kuatir, katanya.

"CeIaka! Lekas kita pergi!"

Namun sudah terlambat, di sekeliling mereka terkepung, Cepat Tiang-si kui bersuit, sepuluh orang lantas melompat turun dan berdiri pada lima sudut dengan senjata terhunus menantikan serangan musuh.

"Nona Kwe,"

Kata Toa-thau-kui, si setan kepala btsar.

"lekas pulang saja kau, tidak perlu ikut menyerempet bahaya di sini."

"Tapi mana Sin-tiau-hiap? Kau sudah berjanji akan membawaku untuk menemuinya,"

Kata Kwe Yang.

"Apakah kau tidak melihat binatang buas sebanyak ini?"

Ujar Toa-thau-kui dengan mengernyitkan kening.

"Bicaralah secara baik2 dengan majikan gerombolan binatang itu, katakan kalian ada janji dengan Sin-tiau hiap dan tiada waktu tertahan lama di sini,"

Ujar Kwe Yang.

"Hm, Gerombolan Setan Se-san tidak pernah bicara secara baik2 dengan siapapun juga,"

Kata Toa-thau-kui.

Tengah bicara, sementara itu kelima bersaudara Su itu sudah muncul.

Mereka sama memakai jubah kulit binatang, sesudah berhadapan dengan Gerombolan Setan, tetap Su Beag-ciat yang menjadi juru bicara, katanya.

"Selamanya Ban-siu-san ceng tidak pernah bermusuhan dengan Kawanan Setan, mengapa kalian membakar hutan dan menghalau lari Kiu-bwe-leng-hou (rase cerdik berekor sembilan)?"

Dari nada ucapan orang, Kwe Yang merasakan orang she Su itu sangat gusar dan gemas sekali Pikirnya.

"walaupun binatang kecil tadi sangat menyenangkan tapi tampaknya juga tiada sesuatu yang istimewa, mengapa mesti marah2 begitu rupa? jelas binatang itu cuma punya sebuah ekor, mengapa disebut rase berekor sembilan?"

Maka terdengar perempuan yang berpakaian serba merah dari pihak Gerombolan Setan menjawab.

"Peristiwa ini awal mulanya adalah gara2 tindakan kalian sendiri, selamanya Ban-siu-san-ceng berdiam di wilayah Sa-keng, mengapa mendadak muncul di daerah Soasay sini dan di tengah malam buta melarang orang lain lewat di jalan umum ini. Sikap kalian yang tidak se-mena2 ini masakah kalian malah menyalahkan pihak lain?"

"Persoalan sekarang ini tidak perlu dibicarakan pokoknya tiada seorangpun di antara kalian dapat hidup lagi,"

Mendadak Pek-hia-san-kun Su Pek-wi membentak.

Sekali mengaum murka, dengan bertangan kosong ia terus menubruk ke arah Tiang-si-kui, kedua telapak tangannya tergenggam laksana cakar harimau segera mencengkeram, begitu hebat dan dahsyat, sekalipun harimau benar2 juga tidak seganas itu.

Cepat Tiang-si-kui melangkah mundur terus menggeser.

Baca Juga: Si Rajawali Sakti 4

Baca Juga: Si Rajawali Sakti Kho Ping Hoo

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert