Eps 19 Kembalinya Sang Pendekar Rajawali - Chin Yung
Baca online Kembalinya Sang Pendekar Rajawali - Chin Yung
Cersil Kembalinya Sang Pendekar Rajawali - Chin Yung.
"serrr" , senjatanya yang panjang terus menyapu pinggang lawan. Tanpa menghindar, cakar harimau Su Pek-wi lantas mencengkeram ujung senjata lawan, kiranya senjata Tiang-sin-kui itu adalah sebatang tongkat baja yang besar dan berat. Belum lagi cengkeraman Su Pek-wi itu mengencang, mendadak tangan terasa panas, cepat ia lepaskan kembali tangannya sambil disampuk ke sam-ping. Untung dia dapat bergerak dengan cepat sehingga dadanya terhindar dari sodokan tongkat. Diam2 Su Pek-wi terkesiap, baru sekarang ia tahu Gerombolan Setan Se-san itu memang bukan orang sembarangan pantas nama mereka akhir2 ini semakin menanjak, ia tidak berani gegabah lagi "creng" , segera iapun mengeluarkan senjatanya, yakni Hoa-thau-kau (kaitan dengan ujung berukir kepala harimau), sepasang kaitan baja itu beratnya ada 30 kati dan merupakan senjata yang tajam dan lihay. Begitulah dua larik sinar kuning berkelebat kaitan itu lantas menempur sengit tongkat baja si Setan jenggot panjang. Sementara itu Kaan-kian-cu Su Tiong-beng dengan senjatanya yang berupa sepasang bumbung atau pipa perak juga telah melabrak Jui beng-kui setan pencabut nyawa, yang bersenjatakan golok dan tombak si Song-bun-kui. Sedangkan Tay-lik-sin Su Ki-kiang juga menempur Tiau-si kui (setan gantung) yaitu si nenek, yang bersenjatakan seutas tali panjang lagi lemas sehingga sukar diraba, ia hanya meraung2 murka saja dan sukar mengembangkan tenaga raksasa yang dimilikinya. Di sebelah sana Pat-jiu-sian-kau Su Beng ciat juga menghadapi Toa thau-kui, si Setan Kepala Besar Dengan senjatanya yang berwujut godam persegi delapan. Su Beng-ciat bersenjata sepasang Boan koan-pit, potlot baja berujung runcing, serangannya hebat, tenaganya kuat, Toa-thiiu kui rada kewalahan cepat Siau-yau-kui, Setan Cantik, yaitu perempuan berbaju serba merah, segera menubruk maju membantunya dengan senjata golok. Di tanah salju itu terjadilah pertarungan sengit sepuluh orang terbagilah menjadi empat partai, bunga salju bertebaran. namun pertempuran belum dapat menentukan kalah dan menang. Pihak Gerombolan Setan masih ada empat orang belum ikut turun tangan, sebalnya pihak lawan hanya Kim-Kah-say ong saja yang belum bergerak. Terlihat dia bersandar pada tubuh seekor singa jantan tampaknya menderita sesuatu penyakit lemas lunglai. Melihat situasi pertarungan ini, jelas pihak Gerombolan Setan lebih untung karena berjumlah lebih banyak, tapi kalau persaudaraan Su itu berseru memberi komando, seketika kawanan binatang buas itu pasti akan menerjang dan Gerombolan Setan itu pasti akan celaka. Siau-bian kui, si setan muka tertawa juga merasa kebat kebit menyaksikan kawanan binatang buas yang siap menunggu perintah itu, ia pikir sebentar harus menggunakan kabut racun untuk merobohkan sebagian binatang itu baru dapat menerjang keluar kepungan. Sementara itu pertarungan sengit sudah berlangsung sekian lama, Tiang-si-kui dan Su Pek-wi tetap sama kuatnya, Tiau si-kui, si nenek dapat memainkan talinya yang panjang itu dengan cara yang aneh dan ujung tali selalu berubah menjadi lingkaran jiratan, kalau Su Ki-kiang meleng, mungkin lehernya bisa terjirat. Tapi karena dia memiliki tenaga raksasa, mau tak-mau Tiau-si-kui juga rada jeri. Toa-lhau-kui dan Siau-kui bahu-membahu menghadapi Su Beng-ciat, mereka dapat bekerja sama dengan baik, Tapi gerak serangan Su Beng ciat cepat lagi aneh, mereka terus berputar, terdengar suara Toa-thau-kui meng-guruh2, sedangkan si Setan cantik tertawa ngikik, tujuan mereka memancarkan perhatian musuh, namun Su Beng ciat anggap tidak mendengar dan menempur mereka dengan sengit. Di sebelah sana Ji Beng-kui dan Song-bun-kui ternyata tidak mampu menandingi pipa perak Su Tiong-beng, Pipa perak yang digunakan sebagai senjata itu lebih pendek daripada toya dan kosong bagian tengah, gaya serangannya juga aneh. Suatu ketika Song-bun-kui menusuk dengan tumbaknya, tapi Su Tiong-beng justeru mengincar ujung tumbak lawan dan pipanya juga ditusukkan kedepan, pipa itu terus menyelongsong ke bawah sehingga gagang tumbak terkunci di dalam pipa. Keruan Song-bun-kui terkejut dan cepat menarik tumbak kirinya itu, tumbak terus diputar untuk menjaga diri. Melihat kawannya terancam bahaya, cepat To-ceh-kui, si Setan Penagih Utang, menubruk untuk membantu, senjatanya yang berbentuk sepotong pelat besi segera memotong ke pipa Su Tiong heng. Kiranya senjata To-ceh-kui itu terdiri dari lima potong pelat besi sehingga berbentuk buku utang-piutang sesuai namanya sebagai tukang tagih utang, Tepi pelat besi itu tajam sehingga merupakan sejenis senjata aneh dan lihay. Sebenarnya GeromboIan Setan Se san itu masing2 mempunyai nama asli sendiri2, tapi sejak nama "Gerombolan Setan Se-san"
Terkenal di dunia Kangouw, mereka lantas membuang nama aslinya dan menggunakan julukan Setan sebagai tanda pengenal.
Apalagi tindak tanduk dan bentuk tubuh dan wajah mereka bersepuIuh memang juga aneh dan ber-beda2.
Misalnya si To-ceh kui, Setan penagih utang, dia menggunakan senjata lima helai pelat besi sehingga menyerupai buku utang piutang, soalnya dia memang juga pendendam, sakit hati sekecil apapun juga pasti akan dituntut-balasnya, tiada seorangpun dapat lolos jika pernah menyakiti hatinya.
Sebab itulah dia diberi julukan setan tukang tagih utang.
Tapi dia malah senang dengan nama poyokan itu, senjata pelat besi di ubahnya menjadi seperti halaman buku, tipis dengan tepinya sangat tajam, bahkan pelat besi itu diukir nama musuhnya dengan kesalahannya, kalau sakit hati itu sudah dibereskan barulah nama musuh itu dicoret.
Pipa perak adalah senjata aneh, tapi buku besi itu terlebih aneh, lima halaman besi itu saling bergesek dan mengeluarkan tuara nyaring, Dengan bertiga setan menempur Su Tiong beng barulah ke adaan mereka rada mendingan.
Kwe Yang terus mengikuti pertempuran itu di samping, dilihatnya cuaca sudah mulai remang2 fajar sudah hampir tiba, tapi pertarungan itu masih berlangsung dengan sengitnya, ia pikir janji pertemuan kesepuluh setan itu dengan Sin-tiau-hiap sudah lewat waktunya, mungkin tidak sabar menunggu dan pendekar sakti itu sudah pergi sendiri, ia menjadi gelisah dan kecewa karena maksudnya melihat Sin-tiau-hiap tak tersampai, untuk melerai pertempuran orang2 itupun ia tak mampu.
Dilihatnya kawanan binatang buas itu sama mendekam di tanah dalam suatu tingkatan yang rapat, seumpama Gerombolan Setan itu dapat membinasakan kelima saudara Su juga sukar menerjang keluar kepungan kawanan binatang buas itu.
Keadaan demikian juga disadari oleh GeromboIan Setan itu.
Maka si nenek, yaitu setan gantung, berhasrat menangkap Tay-lik-sin Su Ki-Kiang dengan tali jiratannya yang panjang itu.
asalkan lawan berhasil ditawan tentu dapat digunakan sebagai sandera untuk memaksa Su-si hengte (saudara keluarga Su) membubarkan kepungan binatang buasnya.
Namun kepandaian Su Ki kiang sendiri lebih tinggi daripada Tiau-si kui si setan gantung, hanya saja senjata tali memang aneh dan sukar dilayani, makanya kedudukan mereka menjadi sama kuat, tapi untuk menangkapnya jelas tidaklah mudah.
Siau-bian-kui, si setan muka tertawa tahu keadaan sangat berbahaya, ia pikir tiada jalan lain terpaksa harus menggunakan akal licik.
Segera ia berseru.
"Jici, biar kubantu kau!"
Segera ia melolos senjatanya dan menerjang ke arah Su Ki-kiang. Su Ki-kiang tidak gentar ketambahan seorang lawan.
"Bagus!"
Serunya menyambut terjangan musuh, berbareng senjatanya gada baja terus mengepruk kepala orang.
Cepat Siau-bian-kui mengegos sambil menangkis dengan sepasang ruyung "Prak, krek", senjata saling beradu dan kedua ruyung seketika patah.
Tapi dari bagian yang patah itu lantas mengepul asap putih kemerahan Su Ki-kiang melengak, langkahnya rada sempoyongan terus roboh terjungkal.
Tanpa ayal tali jirat si setan gantung terus di-lempar ke depan dan tepat menjirat kedua kaki musuh.
Kiranya gagang ruyung Siau bin-kui itu kopong dan tersimpan bubuk racun, pada gagang ruyung-nya terpasang pesawat rahasia, sekali ditekan segera bubuk racun akan tersembur untuk mencelakai musuh.
Tapi tenaga Su Ki-kiang teramat besar, sekali hantam ia patahkan ruyung lawan.
Tapi meski senjatanya patah tetap Siau-bin-kui dan Tiau si kui berhasil menawan Su Ki kiang.
"He, he! Apa2an kalian ini? Merobohkan lawan dengan cara licik, terhitung orang gagah macam apa?"
Seru Kwe Yang.
Melihat saudaranya tertawan musuh, Su Pek-wi, Su Tiong-beng dnn Su Beng-ciat juga terkejut dan murka, Tapi apa daya, mereka sendiri terlibat dalam pertempuran dan sukar memberi bantuan.
Kwe Yang sendiri sebenarnya tidak membela manapun, cuma dilihatnya cara Siau bian-kui merobohkan Su Ki-kiang itu kurang "sportip", maka dia berseru mencelanya.
Pada saat itu juga tiba2 terdengar suara rating-an di sebelah sana, terlihat Kim kah-say-ong Su Siok-kang berbangkit pelahan, lalu membentak dengan suara berat.
"Lepaskan saudaraku!"
Su Ki-kiang tidak sadarkan diri, Tiau-si kui meringkusnya dengan tali, bahkan menambahkan beberapa kali tutukan pada Hiat-to yang penting agar takdapat berkutik bila nanti sudah siuman, ia menjawab.
"Silakan kau menyingkirkan kawanan binatang ini dan memberi jalan, segera kami membebaskan saudaramu."
Dilihatnya kedua mata Su Siok kang cekung, mukanya pucat, jalannya sempoyongan, jelas sedang sakit parah, maka kawanan setan itu tidak merasa gentar.
simpatik Kwe Yarg beroda pada Su Siok-kang, melihat orang dalam keadaan sakit toh tetap hendak menolong saudaranya, cepat ia berseru.
"He engkau sakit, jangan ikut bertempur."
Su Siok-kang mengangguk padanya dan mengucapkan terima kasih, tapi langkahnya tidak berhenti, ia masih terus mendekati Su Ki-kiang yang menggeletak teringkus musuh itu.
Siau-bian kui mengedipi Tiau-si-kui, kedua orang lantas menubruk dari kanan dan liri, mereka hendak menangkap sekaligus lawan yang tampaknya sakit tebese ini.
Begitu sudah dekat, keempat tangan mereka terus mencengkeram.
Tapi mendadak Su Siok-kiang meraung seperti singa, tangan kirinya menabok pundak Tiau-si-kui dan tangan kanan menyodok dada Siau-bin-kui, seketika kedua "setan"
Itu merasa ditekan oleh suatu tenaga maha dahsyat, langkah mereka menjadi terhuyung dan hampir saja terperosot jatuh.
Cepat mereka melompat mundur, untunglah Su Siok-kiang tidak mengejar maju, Keruan mereka saling pandang dengan kaget dan sama berkeringat dingin, sama sekali tak mereka duga bahwa orang yang tampaknya sakit tebese itu ternyata sedemikian lihaynya.
Su Siok-kiang lantas melepaskan Hiat-to saudaranya yang tertutuk itu, sekali tarik, tali Tiau-si-kui yang meringkus Su Ki-kiangitu lantas putus menjadi beberapa potong.
Namun Su Ki-kiang belum lagi sadar karena dia kena asap beracun.
Sambil mengerut kening Su Siok-kang membentak "Berikan obat penawarnya!"
"Bubarkan dulu kepungan binatang buas kalian dan segera kuberikan obat penawar,"
Jawab Siau-bin-kui.
Su Siok-kiang mendengus, lalu melangkah ke arah Siau-bin-kui dengan sempoyongan.
Siau-bin kui tidak berani melawannya, cepat ia mengelak ke samping.
Rupanya karena sakit sehingga gerak-geriknya tidak leluasa, namun Su Siok -kang masih terus melangkah ke arah Siau-bin-kui.
Sudah tentu sisa keempat "setan"
Yang masih menganggur itu tidak tinggal diam, segera mereka mengerubut maju, Siau-hin-kui juga lantas memutar balik untuk ikut mengeroyok.
Gerak serangan Su Siok-kang sangat lamban, tapi tenaga pukulannya amat kuat, kelima setan itu mengepungnya di tengah sambil melancarkan serangan dengan golok dan tumbak, namun tidak berani terlalu mendekat Diam2 Kwe Yang menaruh kasihan kepada Su Ki-kiang yang dirobohkan lawan dengan akal licik dan belum sadar itu, segera ia mencomot sepotong salju dan di-usap2kan di dahi Su Ki-kiang, lalu secomot kecil bunga salju dijejalkan ke mulutnya.
Rupanya asap racun tadi takdapat bertahan terlalu lama, Su Ki-kiang sendiri sehat dan kuat, begitu kepala terasa dingin dan mulut dicekoki es batu, segera pikirannya jernih kembali, pelahan ia lantas merangkak bangun dan mengucek-ucek matanya, ia menjadi murka demi melihat kakak ketiganya dikerubut lima orang, ia berteriak.
"Mundur dulu, Samko!"
Berbareng ia terus menubruk maju dan merangkul pinggang Siau-bin-kui.
Di sebelah Iain Su Pek-wi yang sedang menempur sengit Tiang-si-kui itu menjadi girang melihat Su Ki-kiang sudah siuman kembali, segera ia bersuit panjang, serentak kawanan binatang buas yang sejak tadi hanya mendekam di atas tanah itu berdiri semua demi mendengar suitan itu dan ber-siap2 hendak menubruk musuh.
Ketika Su Pek-wi menggertak lagi dengan suara keras, serentak kawanan binatang itupun mengaum buas, Meski GoromboIan Setan Se-san itu sudah banyak berpengalaman di medan pertempuran, tapi menyaksikan suasana yang mengerikan ini mau-tak-mau mereka menjadi kuatir, Benar saja, belum lenyap suara raungan kawanan binatang itu, di sana sini berbagai jenis binatang buas sudah lantas menerjang maju dan menerkam ke sepuluh "setan"
Itu.
Kwe Yang menjerit kaget dengan muka pucat.
Syukur Su Siok-kang lantas menyadari keadaan anak dara itu, cepat ia mendorong seekor harimau yang sedang menubruk ke arah Kwe Yang, menyusul ia tanggalkan kopiah kulit sendiri dan dipasang di kepala anak dara.
Agaknya kawanan binatang buas itu sudah ter-latih, begitu melihat Kwe Yang memakai kopiah kulit, mereka tidak menubruknya lagi melainkan terus membelok ke sana dan menyerang Gerombolan Setan.
Macam2 binatang buas, ada harimau, singa, serigala, makan tutul, gorila, beruang dan sebagainya serentak menerjang ke sepuluh Setan itu, namun Gerombolan Setan itu juga bertahan mati2an belasan ekor binatang buas itupun dapat mereka binasakan.
Tapi lantaran Su-si-hengte terus memberi aba2 di samping sana, pula jumlah binatang buas itu teramat banyak, hanya sekejap saja Gerombolan Setan itu sudah terluka semua, baju robek dan darah mengucur, tampaknya dalam waktu singkat mereka pasti akan dilalap habis oleh kawanan binatang buas itu.
Ketika itu Kwe Yang melihat tiga ekor singa jantan sedang mengkerubuti Toa-thau-kui, si Setan Kepala besar, godam besar yang merupakan senjata andalannya itu sudah terjatuh, lengan kanannya tergigit seekor singa dan tak dilepaskan.
Hanya tangan kiri saja yang masih terus menghantam serabutan dan sekadar bertahan mati2-an terhadap terkaman kedua ekor singa yang lain.
Teringat oleh Kwe Yang bahwa Toa-thau kui itulah yang membawanya ke sini, sekarang orang terancam bahaya, ia menjadi tidak tega, tanpa pikir ia lantas menanggalkan kopiah kulit yang dipakainya itu serta dilemparkan ke atas kepala Toa-thau-kui, Kopiah kecil di atas kepala besar, tentunya menggelikan rampaknya, bahkan kopiah itu ber-goyang2 hendak jatuh ke bawah.
Rupanya di waktu melatih kawanan binatang itu kelima saudara Su itu selalu memakai kopiah kulit, serentak ketiga ekor singa itu tidak menubruk dan menggigitnya lagi dan terus menyingkir pergi.
Dalam pada itu Kwe Yang sendiri telah terkepung oleh empat ekor macan tutul, Keruan ia, ketakutan dan men-jerit2.
Saat itu Su Siok-kang sedang berusaha merampas tongkat baja si Tiang-si-kui agar tongkat itu tidak banyak mengambil korban kawanan binatang buas, Demi mendengar jeritan Kwe Yang ia menoleh dan terkejut, tapi jaraknya dengan anak dara itu agak jauh dan sukar memberi pertolongan.
Aneh juga, begitu keempat ekor macan tutul itu mendekati Kwe Yang, mereka tidak menerkam dan mencakamya, sebaliknya seperti anjing piaraan saja mereka mengitari Kwe Yang sambil mengendusnya disertai meng-gesek2kan tubuhnya pada anak dara itu, tampaknya seperti sudah kenal dengan akrab sekali.
Kwe Yang sebenarnya sudah ketakutan dan pasrah nasib, ia menjadi terkesiap ketika melihat macan tutul itu tidak bermaksud jahat padanya, segera ia teringat kepada cerita ibu dan kakaknya bahwa waktu bayinya dahulu dirinya pernah menetek pada induk harimau tutul, agaknya keempat macan tutul itu mencium bau aneh pada tubuhnya tehingga menganggapnya sebagai kaum sejenisnya.
Dengan takut2 girang Kwe Yang lantas berjongkok dan merangkul leher dua ekor macan tutul, dua ekor yang lain lantas menjilati tangannya dan mukanya.
Keruan Kwe Yang merasa kerih dan tertawa terkikik.
Selama menjadi pelatih dan penjinak binatang buas, belum pernah kelima saudara Su itu menyaksikan adegan aneh itu, keruan mereka melongo heran.
Meski Toa-thau-kui sendiri dapat terhindar dari bahaya berkat kopiah kulit, tapi melihat kesembilan saudara angkatnya sukar lolos dari renggutan elmaut, betapapun ia takdapat mencari selamat sendiri, Tanpa pikir ia terus memegang kopiah kulit dan dilemparkan kepada Siau-kui, si perempuan berbaju serba merah, sambil berseru.
"Kiu-moay, pakailah kopiah ini dan lekas menyelamatkan diri!"
Siau-kui menangkap kopiah itu dan dilemparkan kepada Tiang-si kui, serunya.
"Toako, engkau saja menerjang keluar dahulu, kelak berusaha lagi menuntut balas bagi kita!"
Tapi Tiang-si-kui juga lantas melangsir kopiah itu kepada Siau bin-kui sembari berteriak.
"Capte (adik kesepuluh), menuntut balas biarpun sepuluh tahun lagi juga belum kasip, Engkau saja lekas lari, kakakmu ini sudah cukup umur dan sudah bosan hidup!"
Ternyata di antara mereka sangat setia satu sama lain, siapapun tiiak mau meninggalkan kawannya untuk menyelamatkan diri sendiri.
Karena dikerubuti lima ekor serigala Siau-bin-kui tidak sempat mengoper kopiahnya kepada saudara yang lain, sedangkan serigala terkenal rakus dan buas, sekali merasakan darah, betapapun tidak mau tinggal pergi, meski Siai-"nn-kui memegang kopiah itu, serigala2 itu masih belum mau meninggal kan mangsanya itu.
Tentu saja Siao-bin-kui mencaci maki dengan gusar, namun wajahnya tetap tersenyum simpul.
Pada saat itulah mendadak terdengar suara suitan nyaring di atas, seorang berseru lantang.
"Gerombolan Setan Se-san ingkar janji, aku menunggu semalaman secara sia2, kiranya kalian sedang ribut dengan kawanan binatang di sini!"
Girang sekali Kwe Yang mendengar ucapan itu, pikirnya.
"Aha, Sin-tiau-hiap sudah datang"
Waktu ia mendongak, terlihat seorang berduduk di atas dahan pohon, di sebelahnya menangkring pula seekor rajawali besar dan buruk rupa.
Orang itu memakai jubah panjang warna putih, lengan baju kanan terselip pada ikat pinggang, nyata memang buntung lengannya, Waktu memandang wajahnya, seketika Kwe Yang bergidik, air mukanya ternyata pucat kaku seperti mayat, hakikatnya bukan air muka manusia hidup.
Banyak juga orang bermuka buruk dan menakutkan, misalnya para Gerombolan Setan Se-san itu juga semuanya berwajahj penjahat, tapi tidak seburuk dan menyeramkan seperti ini.
Sebelum ini dalam hati kecil Kwe Yang membayangkan wajah Sin-tiau-hiap itu pasti cakap ganteng, kini ia menjadi sangat kecewa melihat kejelekan mukanya itu, Tanpa terasa ia memandang sekejap lagi padanya, terlihat sorot matanya memancarkan sinar tajam.
Sinar mata tajam itu sekilas mengerling ke arahnya dan tiba-2 terhenti sejenak seperti rada menimbulkan rasa herannya.
Tanpa terasa wajah Kwe Yang menjadi merah jengah dan tanpa kuasa menunduk malu, samar2 ia merasa sang Sin-tiau-hiap toh tidak terlalu buruk.
Sin tiau-hiap dihadapan Kwe Yang ini memang betul Nyo Ko adanya, Selama 16 Tahun ini dia menunggu dengan menderita akan bertemu kembali dengan Siao-liong-li, ia telah berkelana ke segenap penjuru dan memberikan darma baktinya bagi sesamanya, karena dia selalu ditemani rajawali sakti itu, maka didapatkanlah nama julukan "Sin-tiau-hiap".
Ia merasa berdosa waktu mukanya telah banyak digilai anak perempuan seperti Kongsun Lik-oh lelah binasa demi menolong jiwanya, Thia Eng dan Liok Bu siang hidup merana karena patah hati ia pikir kalau mukanya buruk, tentu takkan menarik perhatian anak perempuan itu.
Sebab itulah sekarang ia memakai kedok muka pemberian Ui Yok-su dahuIu untuk menutupi wajah aslinya.
Malam ini dia mestinya ada janji bertemu dengan Gerombolan Setan Se-san di Te-ma-peng, tapi pihak lawan ternyata ingkar janji dan tidak datang, sebab itulah ia lantas mencarinya malah dan kebetulan dilihatnya apa yang terjadi di hutan ini.
Jiwa kesepuluh setan itu sebenarnya sudah terancam di tengah kerubutan kawanan binatang buas sebanyak itu, kini mendadak Nyo Ko membuka suara pula sehingga bertambah lagi satu musuh tangguh bagi mereka, keruan mereka menjadi putus asa dan yakin sekali ini jiwa mereka pasti akan melayang semuanya.
Dalam pada itu terdengar Nyo Ko berkata pula dengan suara lantang.
"Beberapa saudara ini mungkin adalah Su-si hengte dari Ban-siu san-ceng? Silakan kalian berhenti dulu dan dengarkanlah perkataanku."
"Kami memang she Su,"
Jawab Su Pek-wi.
"Dan siapakah tuan?"
Tapi segera ia menambahkan "Ah, maaf agaknya tuan inilah Sin-tiau-hiap?"
"Terima kasih, memang betul Cayhe adanya,"
Sahut Nyo Ko.
"Harap kalian lekas menghentikan amukan kawanan binatang buas itu, kaiau terlambat sebentar lagi mungkin para setan gadungan ini akan berubah menjadi setan sungguhan."
"Ya, biar jadi setan sungguhan barulah kami bicara denganmu,"
Ujar Su Pek wi. Nyo Ko mengernyitkan kening, katanya.
"Tapi Gerombolan Setan itu sudah ada janji pertemuan denganku lebih dulu, kalau binatang kalian membinasakan mereka. lalu kepada siapa aku harus bicara lagi?"
Mendengar ucapan Nyo Ko mulai kasar, Su Pek wi menjengek, ia malah memberi aba2 agar kawanan binatang menyerang lebih ganas.
"Kalau kau sudah tahu aku ini Sin-tiau-hiap, mengapa kau tidak ambil pusing kepada perkataanku?"
Bentak Nyo Ko.
"Memangnya kalau Sin-tiau hiap lantas bagaimana?"
Jawab Su Pek-wi dengan tertawa.
"Kalau mampu boleh kau menghentikan serangan kawanan binatang kami ini,"
"Baik,"
Kata Nyo Ko.
"Marilah, Tiau-heng, kita turun!"
Habis berkata, bersama rajawali raksasa itu mereka lantas melompat ke bawah.
sebelum Nyo Ko dan rajawali itu menyentuh tanah, kawanan binatang sudah lantas meraung dan menubruk maju, Tapi sekali sayap rajawali itu menyabet ke kanan dan menyampuk ke kiri, kontan beberapa ekor binatang yang lebih kecil seperti serigala dan sebagainya lantas berjungkal, Seekor singa dan seekor harimau mengaum murka dm menubruk tiba, kembali sayap rajawali menyabet, bukan main kekuatannya, singa dan harimau itu sama terguling dan tak mampu mendekati lagi.
Menyusul sayap yang lain menyabet pula, kontan kepala seekor macan tutul hancur berantakan.
Melihat kesaktian rajawali itu, kawanan binatang buas yang lain menjadi ketakutan dan tak berani menyerang pula, semuanya mendekam di kejauhan sambil mengeluarkan suara menggereng.
Su Pek-wi menjadi gusar, segera iu memapaki Nyo Ko, tangannya seperti cakar macan itu terus mencengkeram ke dada lawacu Namun Nyo Ko telah sedikit mengebas lengan baju kanan yang kopong itu.
"bluk" , dengan tepat kedua pergelangan tangan Su Pck-wi tersabet dan menimbulkan rasa sakit tidak kepalang seperti dipotong pisau, tanpa tertahan ia menjerit. Dengan langkah tertahan Su Siok-kang mendekati Nyo Ko, kedua tangannya menyodok lurus ke depan.
"Bagus!"
Sambut Nyo Ko sambil tersenyum dan menjulurkan telapak tangan kiri untuk memapak serangan lawan, ia hanya menggunakan tiga bagian tenaganya saja.
Maklumlah, selama belasan tahun dia menggembleng diri di tengah amukan ombak sanudera, kalau dia mengeluarkan tenaga penuh, jangankan tubuh manusia, sekalipun batang pohon dan dinding tembok juga akan runtuh dihantamnya.
Namun Su Siok kiang juga pernah mendapat ajaran orang koscn, tenaga dalamnya juga lain daripada yang lain, begitu beradu tangan, tubuhnya tergeliat, tapi tidak tergerar mundur.
"Awas!"
Seru Nyo Ko memperingatkan sambil mengerahkan tenaga. Seketika pandangan Su Siok-kang menjadi gelap dan mengeluh jiwanya sekali ini pasti melayang. Untung pada saat gawat itulah tiba2 Nyo Ko berkata.
"Ah, kau sedang sakit!" --Berbareng itu tenaga yang maha dahsyat seketika hilang sirna. Lolos dari renggutan elmaut, Su Siok-kang menjadi melenggong dan tak dapat berkata apa2. Su Pek wi, Su Tiong beng dan lain2 mengira Su Siok-kang terluka dan tak bisa bergerak, mereka menjadi cemas dan gusar, serentak mereka menerjang Nyo Ko. Tepat pada waktu yang sama seekor harimau juga menubruk dari sebelah sana. Tapi sekali meraih, dapatlah Nyo Ko mencengkeram leher raja hutan itu, binatang buas ini lantas digunakan sebagai senjata untuk menangkis serangan pipa perak Su Tiong-beng dan gada baju Su Ki-kiang. sedangkan cakar macan malah terus mencakar muka Su Pek-wi dan Su Beng-ciat. Belasan tahun yang lalu Nyo Ko sudah pernah menggunakan pedang yang beratnya lebih 70 kati, sekarang memegangi tubuh harimau yang besar, beratnya paling2 juga cuma seratusan kati, maka enteng saja baginya. Karena lehernya terpegang, harimau itu menjadi rnurka dan tidak kenal lagi sang majikan, cakarnya terus menggaruk dan mulutnya menggigit, Dalam keadaan demikian Su Pek-wi dan Su Beng-ciat menjadi kelabakan juga meski biasanya selalu berkawan dengan binatang buas. Menyaksikan pertarungan itu, Kwe Yang bersorak gembira, teriaknya.
"Hebat sekali Sintiau-hiap!"
Nah, kalian mengaku kalah tidak, Su-keh-hengte?"
Nyo Ko memandang sekejap pada anak dara itu, ia tidak tahu siapakah Kwe Yang ini, anehnya anak dara itu berkawan dengan macan tutul, tapi sekarang mengolok dan mengejek kelima saudara Su pula.
Sementara itu Su Siok-kang telah mengatur pernapasannya dan terasa lancar tanpa gangguan apapun, ia tahu Sin-tiau-hiap ini sengaja bermurah hati dan tidak ingin melukainya tadi, diam2 iapun mengakui kalau berdasarkan kepandaian sejati biarpun mereka berlima mengerubutnya sekaligus juga bukan tandingannya.
Saat itu kelihatan keempat saudaranya sedang mengerubuti Nyo Ko, segera ia berseru.
"Para kakak dan adik, lekas berhenti, kita harus tahu diri."
Mendengar itu, Koan-kian-cu Su Tiong-beng mendahului menarik kembali pipanya dan melompat mundur sedangkan Tay-Iik-sin Su Kt-kiang adalah orang yang lebih sembrono, ia anggap sepele seruan saudaranya itu.
"Tahu diri apa? Rasakan dulu gadaku ini!"
Demikian ia pikir, segera kedua tangan memegang gada terus. mengepruk kepala Nyo Ko dengan gaya "Ki-siang-kay-san"
Atau gajah raksasa menggugur gunung, jurus ini ditirunya dari cara gajah menggunakan belalainya menghantam sesuatu benda, pukulan dahsyatnya dapatlah dibayangkan.
Namun Nyo Ko juga tidak menghindar ia lenparkan harimau yang dipegangnya itu, tangan kiri terus membalik ke atas, sekali meraih dapatlah ujung gada belalai gajah lawan ditangkapnya, kata-nya.
"Marilah kita coba-2 tenaga siapa lebih kuat?"
Sekuatnya Su Ki-kiang berusaha menekan ke bawah, tapi gada itu berhenti di atas kepala Nyo Ko dan tidak dapat menurun lagi.
"Berhenti, Site! jangan kurang adat!"
Seru Su Siok-kang pula.
Sekuatnya Su Ki-kiang lantas membetot dengan maksud hendak menarik kembali gadanya, namun gada itu seperti mclengket saja di tangan Nyo Ko, sedikitpun tak bisa bergerak, Ber-ulang2 Su Ki-kiang membetot dan tetap tidak berhasil.
Nyo Ko merasa tenaga tarikan lawan sangat kuat, pikirnya.
"Kalau tidak kuperlihatkan tenaga sakti, orang dogol ini tentu tidak mau takluk."
Mendadak ia mengerahkan tenaga dan dipelintir ke atas, tapi Su Ki-kiang tetap memegangi gadanya sekuat-kuatnya, keruan gada yang menyerupai belalai gajah itu lantas bengkok.
"Bagus!"
Bentak Nyo Ko terus ditekuk balik ke bawah, karena ditekuk ke atas dan ke bawah, gada itu tidak tahan.
"pletak" , patah menjadi dua, Tangan Su Ki-kiang tergetar hingga lecet berdarah. Tapi dia benar2 kuat dan kepala batu, gada patah itu masih dipegangnya dengan kencang. Nyo Ko bergelak tawa sambil membuang bagian gada patah yang dirampasnya itu, kontan setengah gada itu ambles ke dalam tanah bersalju itu, padahal tebal salju tiada satu kaki, sedangkan gada patah itu panjangnya lebih tiga kaki, namun menghilang tanpa bekas ke dalam tanah, betapa hebat tenaga sakti Nyo Ko sungguh sangat mengejutkan. Dilihatnya Su Siok-kang, Su Beng-ciat dan lain2 sedang membentak2 menghentikan serangan kawanan binatang buas, tapi sekali kawanan binatang itu mengamuk dan melihat darah, sukarlah untuk dikendalikan begitu saja. Cepat Nyo Ko memberi tanda kepada Kwe Yang agar nona cilik itu menutup telinganya dengan tangan, walaupun tidak tahu apa tujuannya tapi Kwe Yang menurut saja, segera ia mendekap rapat kedua kupingnya. Segera Nyo Ko berteriak dengan keras, begitu nyaring suaranya hingga seperti bunyi guntur yang menggelegar. Meski telinganya sudah ditutupi, tergetar juga jantung Kwe Yang hingga ber-debar2 dan rada pening, untung sejak kecil Lwe-kangnya tertumpuk cukup kuat sehingga suara Nyo Ko itu tidak sampai membuatnya roboh. Suara Nyo Ko itu masih terus menggelegar hingga lama sekali, air muka semua orang sama berubah, kawanan binatang buas juga sama roboh, menyusul Gerombolan Setan Se-xan dan Su-si-hengte juga terguling, hanya tersisa belasan ekor gajah serta Su Siok-kang dan Kwe Yang saja yang masih tetap berdiri, sedangkan si rajawali sakti tampak berdiri dengan bersitegang leher, kelihatannya sangat umuk, sombong. Melihat Su Siok-kang sanggup berdiri, Nyo Ko pikir tenaga dalam orang sakit ini juga hebat, tapi kalau suaranya dikeraskan lagi sedikit sehingga Su Siok-kang dirobohkan, mungkin dia akan terluka dalam dengan parah, Maka ia lantas menghentikan suara suitannya. Selang tak lama, semua orang dan kawanan binatang itu baru dapat berdiri kembali, tapi sebagian binatang kecil sebangsa serigala dan sebagainya ada yang pingsan dan belum sadar kembali malahan di mana2 banyak terdapat kotoran binatang, rupanya saking ketakutan, kawanan binatang itu banyak yang ter-kencing2 dan ter-berak2. Dan begitu bangun, kawanan binatang itu terus lari ke dalam hutan dengan mencawat ekor tanpa menunggu lagi komando Su si-hengte. Sudah tentu Su-si-hengte dan gerombolan Se-tan Se-san itu tidak pernah menyaksikan perbawa sehebat ini. Mereka sama berdiri kesima dan tidak tahu apa yang harus dilakukan. Maka berkatalah Nyo Ko.
"Maaf jika Cayhe telah mengganggu soalnya Cayhe ada janji dengan Gerombolan Setan Se-san, terpaksa harus kuhentikan pertarungan kedua pihak ini, nanti kalau persoalan Cayhe sudah selesai, bolehlah silakan melanjutkan pertikaian kalian ini dan pihak manapun Cayhe takkan membantu selain menonton saja di samping."
Lalu dia berpaling kepada Sat-sin-kui, si setan elmaut.
"Nah, bagaimana kalian? ingin satu persatu bergiliran menempur aku atau sepuluh orang maju bersama sekaligus?"
Karena pengaruh suitan Nyo Ko tadi, sampai sekarang perasaan Sat-sin-kui belum lagi tenang, seketika ia tak dapat menjawab pertanyaan Nyo Ko. Segera Tiang-si-kui membeli hormat dan ber-kata.
"Sin-tiau-tayhiap, kepandaianmu dengan kami bedanya seperti langit dan bumi, mana Gerombolan Setan Se-san berani bermusuhan lagi dengan engkau? jiwa kami tadi telah diselamatkan olehmu, selanjutnya engkau ada perintah apapun pasti akan kami laksanakan. Jika engkau suruh kami harus keluar dari wilayah Soasay ini, maka segera kami akan pergi, sedetikpun tak berani tertahan di sini."
Dari bentuk tubuh serta jenggotnya yang panjang itu sejak tadi Nyo Ko merasa kakek cebol ini seperti pernah dikenalnya, setelah mendengar suaranya, segera ia bertanya.
"Bukankah kau ini she Hoan bernama It-ong?"
Kiranya Tiang-si-kui ini memang betul adalah Hoan It-ong, yaitu murid tertua Kongsun Ci di Coat-ceng-kok, setelah jiwanya diampuni Nyo Ko, dia lantas mengasingkan diri, sepuluh tahun kemudian baru berkecimpung pula di dunia Kang-ouw, berkat kepandaiannya yang lumayan itulah dia berhasil mengepalai Gerombolan Setan Se-san.
Dulu Nyo Ko dikenalnya sebagai pemuda yang cakap dan berkepandaian tinggi, kini tangan Nyo Ko buntung sebelah, pakai kedok lagi, dengan sendirinya Hoan It-ong pangling padanya.
"Ya, hamba memang Hoan It-ong adanya dan siap menerima pesan Sin-tiau-tayhiap."
Demikian jawab Tiang-si-kui dengan munduk2. Nyo Ko tersenyum, katanya.
"Jika kalian mau tunduk pada perkataanku, maka kalian juga tidak perlu keluar dari wilayah Soasay, Sat-sin-kui, cukuplah asalkan kau membebaskan saja keempat gundikmu itu."
Sat-sin-kui mengiakan setelah terdiam sejenak, katanya.
"Jika keempat perempuan hina itu tidak mau angkat kaki, biar kuhalau mereka dengan pentung."
Nyo Ko jadi melengak malah, teringat olehnya ketika kelima isteri dan gundik Sat-siu-kui sama menyembah padanya dan mintakan ampun bagi sang suami, sikap mereka yang sungguh2 itu tampaknya memang setia dan mencintai suaminya, kalau perempuan2 itu mau ikut dia, sekarang dia malah diharuskan mengusir keempat gundiknya itu, bisa jadi tindakan ini malah akan melukai hati mereka.
Maka dengan tertawa Nyo Ko lantas menambahkan "
Usir sih tidak perlu, Kalau mereka ingin pergi, maka kau tidak boleh menahan mereka, sebaliknya kalau mereka suka ikut kau, ya.
apa mau dikatakan lagi?
Tapi kau bilang mau ambil lagi empat orang gundik, apakah betul ucapanmu ini?"
"Ah, persoalan perempuan itu sudah membikin repot Sin-tiau-tayhiap, malahan jiwa para saudaraku ini hampir ikut melayang, masakah hamba beradi ambil isteri lagi, Andaikan berani, rasanya Toako kami ini juga takkan mengidzinkan."
Serentak "Setan"
Yang lain tertawa geli mendengar ucapan Sat-sin-kui itu.
"Baiklah, sekarang urusanku sudah selesai, kalian boleh mulai bertempur lagi,"
Kata Nyo Ko, lalu ia mundur ke sana bersama rajawali sakti dan membiarkan Su-si-hengte dan Gerombolan Setan itu bertarung lagi. Segera Hoan It-ong melangkah maju dan berkata kepada Su Pek-wi.
"Gerombolan Setan Se-san sudah sama babak belur, biarkan sementara ini kami mohon diri saja, Kami hanya ingin tahu selanjutnya Ban-siu-san-ceng tetap bercokol di sini atau akan kembali ke Se-keng? Harap dijelaskan supaya kelak kami dapat menemukan alamat kalian secara tepat."
Dari nada ucapan itu, Su Pek-wi paham kelak orang bermaksud mencarinya untuk menuntut balas, maka dengan angkuh iapun menjawab.
"Kami akan menanti kedatangan kalian di Se-keng saja, Jika Samte kami akhirnya... akhirnya takkan disembuhkan maka tanpa kunjungan kalian juga kami berempat saudara akan mendahului berkunjung kepada kalian."
Hoan It-ong melengak, katanya.
"Memangnya Susamko sedang sakit, apa sangkut-paut sakitnya dengan kami, untuk ini mohon diberi penjelasan?"
Su Pek-wi menjadi murka, dengan muka merah padam ia berteriak.
"Samte..."
Belum lanjut ucapannya, tiba2 Su Siok-kang menghela napas panjang dan menyela.
"Toako, urusan ini tidak perlu disebut lagi, Kukira Gerombolan Setan Se-san juga tidak sengaja, mungkin sudah ditakdirkan nasibku harus begini, maka tidak perlu banyak mengikat permusuhan lagi."
"Baik!"
Seru Su Pek-wi dengan menahan amarahnya, lalu dia memberi salam kepada Hoan liong dan berkata.
"Selama gunung tetap menghijau dan air tetap mengalir, kelak kita pasti bertemu lagi."
Kemudian dia berpaling dan bertanya kepada Nyo Ko.
"Sin-tiau-tayhiap. kami bersaudara terjungkal di tanganmu, sungguh kami merasa sangat kagum. Rasanya meski kami berlatih lagi 20 tahun juga tetap bukan tandinganmu, sengketa ini jelas kami tidak berharap dapat membalasnya, kamipun tidak berani lagi bertemu dengan engkau, pokoknya ke mana engkau datang di sana pula kami lantas mendahului menyingkir."
"Ah, ucapan Su-toako teramat berlebihan,"
Ujar Nyo Ko-dengan tertawa.
"Hayolah, kita berangkat"
Kata Su Pek-wi sambil mendekati Su Siok-kang. ia memapah saudaranya yang sakit itu dan diajak pergi, Hoan It-ong merasa ucapan Su Pek-wi itu banyak yang sukar dipahami, cepat ia berseru pula.
"Tunggu dulu, Su-toako. Tadi Su-samko mengatakan tindakan kami tidak disengaja, Padahal seingat kami kecuali terobosan di tempat kediaman kalian ini, rasanya tiada pernah berbuat kesalahan lain. Apabila memang benar kami telah berbuat sesuatu kesalahan di luar sadar kami, sedangkan kepala dipenggal saja Gerombolan Setan Se-san tidak gentar, apalagi menyembah dan mohon maaf kepada kalian bersaudara?"
Su Pek-wi tadi sudah menyaksikan cara Gerombolan Setan Se-san itu saling melempar kopiah kulit milik Su Siok-kang tadi dan tiada satupun yang ingin menyelamatkan diri sendiri, rata2 adalah ksatria yang tidak takut mati, hal ini tidak perlu disangsikan lagi.
Maka dengan rasa pedih ia menjawab "Kalian telah menyebabkan larinya Kiu-bwe-leng-hou sehingga luka dalam Samte kami tak dapat diobati lagi, sekalipun kau menyembah seratus kali atau seribu kali kepada kami juga tiada gunanya."
Hoan It-ong terkejut baru teringat olehnya tadi kelima saudara Su memimpin kawanan binatang menguber seekor binatang kecil mirip kucing dan anjing, kiranya itu yang disebut Kiu-bwe-leng-hou (rase atau musang cerdik berekor sembilan), masakah binatang kecil mempunyai kegunaan yang sangat penting?
Tiba2 Sat-sin-kui menimbrung.
"Memangnya untuk apa sih rase kecil itu? Tapi kalau binatang kecil itu menyangkut kesehatan Su-samko, maka marilah kita be-ramai2 memburu dan menangkapnya lagi. Hanya seekor rase kecil begitu apa sih artinya?"
"Apa artinya, katamu hm?"
Teriak SuKi-kiang.
"kalau kau mampu menangkap rase kecil itu, biarlah nanti aku menyembah seratus kali, bahkan seribu kali padamu juga kurela."
Hoan It-ong terkesiap, pikirnya.
"Keluarga Su ini terkenal mahir menjinakkan binatang, rasanya di dunia ini tiada yang lebih pandai daripada mereka, kalau mereka menyatakan betapa sulitnya menangkap rase itu, lalu siapa lagi yang sanggup?" -Berpikir sampai di sini, tanpa terasa ia memandang Nyo Ko. Kwe Yang tidak tahan, segera ia menyelutuk.
"Sejak tadi kalian hanya bicara saja, mengapa kalian tidak mohon bantuan Sin-tiau-hiap?"
Su Tiong-beng terhitung paling banyak tipu akalnya, dia adalah motor penggerak di antara kelima saudara Su itu, ia pikir ilmu silat Sin-tiau--hiap ini memang sukar diukur, bisa jadi beliau mau memberi pertolongan.
Maka ia lantas berkata.
"Ah-, nona cilik tahu apa? Kukira selain malaikat dewata yang turun ke bumi ini tiada seorang lagi yang sanggup menangkap Kiu-bwe-long-hou itu."
Nyo Ko hanya tersenyum saja, ia tahu orang sengaja hendak memancing reaksinya, namun dia tidak menanggapinya.
"Sesungguhnya rase kecil itu mempunyai kemujijatan apa? Coba ceritakan"
Kata Kwe Yang.
Su Tiong-beng menghela napas sedih, katanya kemudian "Akhir tahun yang lalu, karena membela keadilan di daerah Hengciu, samte kami telah bergebrak dengan orang, tapi pihak lawan memakai akal licik sehingga Samte kami kena diselomoti musuh dan terluka parah."
"Aneh, Su-samsiok ini jelas sangat tinggi kepandaiannya siapa lagi yang begitu lihay dan mampu melukainya?"
Ujar Kwe Yang heran.
"Ah, nona memuji sedikit kepandaianku yang tak berarti ini, bukankah akan ditertawai Sin-tiau-hiap?"
Kata Su Siok-kang dengan suara lemah. Kwe Yang melirik Nyo Ko sekejap katanya.
"Dia! Sudah tentu dia di luar hitungan. Yang kumaksud adalah orang lain."
"Yang melukai Samte kami adalah seorang Mongol,"
Tutur Su Tiong-beng lebih lanjut.
"namanya Hotu kalau tidak salah, Konon dia adalah murid Kim-lun Hoat-ong, Koksu kerajaan Mongol."
Tiba2 Kwe Yang berkata kepada Nyo Ko.
"Sin-tiau-hiap, kumohon engkau suka pergi mencari pangeran Mongol itu dan memberi ajaran setimpal padanya untuk membalaskan sakit hati Su-samsiok ini "
"Untuk ini kami tak berani membikin repot Sin-tiau hiap,"
Kata Su Tiong-beng.
"Asalkan luka Samte kami sudah sembuh, kami akan mencari dia dan pasti dapat menuntut balas, Hanya saja Lwe-kang kami ini lain daripada yang lain, luka yang diderita Samte kami ini sangat sukar disembuhkan untuk ini harus minum darah, segar Kiu-bwe-leng-hou itu."
"Ah, kiranya demikian,"
Kwe Yang dan Gerombolan Setan Se-san sama bersuara.
"Rase kecil itu adalah binatang yang sangat jarang, makhluk yang amat cerdik,"
Tutur Su Tiong-beng pula.
"Sudah lebih setahun kami bersaudara mencari ke mana2 dan baru kami kutemukan jejaknya di daerah Cinlam. Tempat sembunyi rase itupun sangat aneh, yaitu di tengah sebuah kolam lumpur yang sangat luas yang terletak kurang lebih 30 li dari sini."
"Kolam lumpur besar? Maksudmu Hek-liong-tam (tambak naga hitam)?"
Sat-sin-kui menegas dengan heran.
"BetuI,"
Sahut Su Tiong-beng.
"Kalian sudah lama berdiam di sini, tentu juga mengetahui bahwa beberapa li sekeliling Hek-liong-tam itu hanya lumpur belaka, manusia maupun khewan sukar berdiam di tempat seperti itu, tapi rase kecil ilu justeru bersarang di sana. Dengan susah payah akhirnya kami berhasil memancingnya ke tengah hutan ini."
"Ah, pantas kalian marah dan melarang kami memasuki hutan ini,"
Kata Sat-sin-kui menyadari kejadian tadi.
"Begitulah,"
Kata Su Tiong-beng pula.
"Bahwasanya kedatangan kami ke sini adalah tamu, betapapun kasarnya juga tidak pantas kami mengangkangi tempat orang lain, soalnya cuma terpaksa saja, Harus dimaklumi bahwa rase itu sangat gesit dan cepat larinya, sekejap saja lantas menghilang, hal ini telah kalian saksikan tadi. Karena itulah kami mengerahkan segenap binatang buas piaraan kami dan mengepung rapat hutan itu, tampaknya dengan segera rase itu dapat kami tangkap, siapa tahu kalian justeru membakar hutan sehingga kawanan binatang sama terkejut dan memberi kesempatan lo!osnya rase itu. Memalukan juga jika diceritakan meski kami sudah berusaha sepenuh tenaga tetap tidak mampu menangkapnya, Namun luka Samte kami semakin hari semakin berat, kami menjadi sedih sehingga tindak-tanduk kamipun menjadi berangasan, untuk ini hendaklah kalian maklumi"
Habis berkata ia terus memberi hormat se-keliling, tapi pandangannya justeru menatap Nyo Ko.
"Urusan ini adalah karena kecerobohan kami dan Gerombolan Setan kami sekali lagi minta maaf."
Kata Hoan It-ong.
"Tentang rase itu entah dengan cara bagaimana Su-toako berlima telah memancingnya ke sini? Mengapa cara itu tidak dapat digunakan lagi sekarang?"
"Sifat rase adalah suka curiga disamping cerdik, sukar sekali hendak menjebaknya, apalagi Kiu-bwe-leng-hou ini, jauh lebih cerdik dan licin daripada rase biasa,"
Demikian tutur Su Tiong-beng.
"Kami-telah mengorbankan ribuan ekor ayam jantan, dalam jarak setiap tombak jauhnya kami-panggang seekor dan ber-turut2 kami pancing dia dengan bau sedap ayam panggang, kami tidak mengusiknya dan membiarkan dia makan, setelah setiap hari berhasil makan ayam panggang tanpa gangguan, sampai dua-tiga bulan lamanya barulah curiga rase itu mulai berkurang. Habis itu barulah kami pancing dia ke hutan ini, Tapi sekali ini dia telah mengalami kaget luar biasa, biarpun seratus tahun lagi juga tidak mau tertipu pula."
"Ya, memang betul sulit,"
Kata Hoan It-ong.
"Tapi kalau kita langsung masuk ke Hek liong-tam dan menangkapnya, apakah tidak bisa?"
"Seluas beberapa li Hek-liong-tam itu hanya lumpur belaka yang beberapa meter dalamnya, betapapun tinggi Ginkangmu juga sukar berpinjak di atas lumpur,"
Tutup Su Tiong-beng.
"Juga perahu, rakit atau getek dan sebagainya sukar berjalan di sana. Namun tubuh Kiu-bwe-leng-hou itu sangat kecil dan enteng, telapak kakinya tebal lagi, larinya juga cepat, maka dia mampu meluncur di permukaan lumpur itu dengan cepat."
Kwe Yang tiba2 ingat kedua rajawali di rumah, mereka kakak beradik sering naik rajawali itu dan dibawa terbang ke udara, Kini dilihatnya rajawali sakti jauh lebih besar daripada rajawali di rumahnya, blakan mustahil dua orang juga dapat dibawanya terbang Maka dengan tertawa ia berkata "Sin-tiau-hiap, asalkan engkau sudi membantur kuyakin pasti ada jalannya."
Nyo Ko tersenyum, jawabnya.
"Su-si-hangte adalah ahli penjinak binatang kalau mereka angkat tangan tak berdaya, maka apa yang dapat ku lakukan seumpama aku ingin membantu?"
Mendengar nada ucapan orang, ternyata bersedia menolong, urusan ini menyangkut mati-hidup saudaranya, maka tanpa pikir lagi Su Tiong-btng, lantas bertekuk lutut di depan Nyo Ko dan me-mohon.
"Sin-tiau-tayhiap, jiwa adik kami hanya menanti ajal, mohon engkau kasihan padanya."
Sorot mata mengerling sekilas ke muka Kwe Yang, katanya kemudran.
"Kau bilang aku pasti dapat menolongnya, coba kuingin tahu-bagaimana pendapat adik cilik ini."
"Asalkan engkau naik rajawali raksasa itu, bukankah lantas dapat terbang masuk ke Hek-liong-tam?"
Jawab Kwe Yang.
"Hahaha! Menarik juga saranmu ini,"
Kata Nyo Ko sambil tertawa..
"Tapi Tiau.-heng kita berlainan dengan burung umumnya, karena tubuhnya teramat berat, maka sejak kecil beliau tidak dapat terbang, Sekali sabet sayapnya mampu membinasakan singa atau harimau, tapi justeru tidak dapat digunakan untuk terbang."
Sementara itu, kecuali Su Siok-kang saja, ke-empat saudara she Su itu sudah sama berlutut di depan Nyo Ko. Segera Nyo Ko membangunkan mereka dan berkata.
"Apa boleh buat, biarlah kukerjakan sekuat tenagaku, cuma kalau tidak berhasil ya kalian jangan menyesali"
Su-si-hengte menjadi girang, mereka pikir nama pendekar besar itu termashur, sekali dia sudah menyanggupi pastilah akan dilaksanakannya.
Kalau beliau juga gagal, terpaksa pasrah nasib saja.
Begitulah Su Pek-wi menyembah beberapa kali pula dan berkata.
"Jika demikian, silakan Tayhiap dan para saudara dari Se-san mengaso dulu ke tempat kediaman kami untuk berunding lebih lanjut."
"Urusan ini berpangkal kesalahan kami, sudah tentu kami siap menerima tugas apapun,"
Kata Hoan It-ong.
"Ah, tak perlu begitu,"
Ujar Su Pek-wi.
"Tidak berkelahi takkan kenal kalau kalian tidak menoIak, marilah mulai sekarang kita berkawan."
Dari pertarungan tadi masing2 sudah sama tahu kelihayan pihak lawan, memangnya kedua pihak tidak ada permusuhan apa2, soalnya cuma bertengkar mulut saja lalu berkelahi, maka setelah bera-mah tamah sejenak, kedua pihak lantas seperti kenalan lama saja dan bersahabat baik.
"Sekarang juga biarlah kupergi ke Hek-Iiong--tam, apakah berhasil atau tidak pasti aku akan kembali lagi ke sini,"
Kata Nyo Ko tiba2.
Walaupun GeromboIan Setan Su-si hengte ingin mencurahkan tenaga, namun mereka tidak mendengar Nyo Ko menghendaki pembantu, terpaksa mereka diam saja dan tidak berani mencalonkan diri, setelah memberi salam kepada para hadirin, lalu Nyo Ko melangkah pergi.
Maksud kedatangan Kwe Yang ini ialah ingin melihat Sin-tiau-hiap, kini tokoh tersebut sudah dilihatnya, meski berwajah jelek, tapi ilmu silatnya mengejutkan, suka membantu yang lemah dan menolong yang susah, nyata memang setimpal mendapatkan sebutan "Tayhiap" , jadi tujuan kedatangannya ini tidaklah percuma, Tapi demi teringat Sin-tiau hiap akan pergi menangkap Kiu-hwe-leng-hou.
Caranya pasti sangat menarik, dasar anak muda, rasa ingin tahunya telah menggelitik lubuk hatinya, tanpa terasa iapun melangkah ke sana mengintil di belakang Nyo Ko.
Melihat itu, segera Toa-thau-kui bermaksud memanggilnya kembali tapi lantas terpikir olehnya.
"Dia bertekad ingin menemui Sin tiau-hiap, tentu ada sesuatu hendak dikatakan padanya."
Sedangkan Su si-hengte tdak tahu asal usul Kwe Yang, dengan sendirinya merekapun tidak dapat ikut campur urusan nona cilik itu.
Kwe Yang terus mengintil di belakang Nyo Ko, jaraknya kira2 belasan meter, yang dituju hanya ingin tahu cara bagaimana pendekar besar itu menangkap rase, Dilihatnya jalan Nyo Ko makin lama semakin cepat, rajawali raksasa itu jalan berjajar dengan dia dengan langkah lebar, cepatnya ternyata tidak kalah dengan kuda lari.
Hanya sekejap saja Kwe Yang sudah jauh tertinggal di belakang.
Sekuatnya Kwe Yang mengeluaikan Ginkang ajaran ibunya, tampaknya Nyo Ko berlenggang seenaknya, tapi jaraknya ternyata semakin jauh, tak lama-kemudian bayangan Nyo Ko dan si rajawali raksasa itu telah mengecil menjadi dua titik hitam saja.
Kwe Yang menjadi cemas, serunya.
"Hei, tunggu!"
Karena sedikit meleng, mendadak ia ter-peleset tanah salju yang licin dan jatuh terduduk, Ya malu ya gelisah, maka menangislah dia. Tiba2 sebuah suara yang halus mendenging di tepi telinganya.
"Kenapa menangis? Siapa yang nakal?"
Waktu Kwe Yang mendongak, ternyata Nyo Ko adanya, entah mengapa dia dapat putar balik secepat ini.
Kejut dan girang pula si nona, segera iapun merasa likat dan cepat menunduk, ia bermaksud mengambil saputangan untuk mengusap air mata, tapi karena berlari2 tadi, saputangan ternyata sudah hilang.
"lnikah yang kau cari?"
Tanya Nyo Ko tiba2 sambil menyodorkan sebuah saputangan.
Segera Kwe Yang mengenali saputangan yang ujungnya bersulam setangkai bunga kecil itu adalah miliknya sendiri Mendadak ia menjawab pertanyaan Nyo Ko tadi.
"Ya, kau inilah yang nakal"
"He, bilakah aku nakal?"
Ujar Nyo Ko heran.
"Kau telah merampas saputanganku, apakah perbuatan ini tidak nakal?"
"Saputanganmu jatuh di sana, dengan maksud baik kupungut dan mengembalikannya padamu, masakah kau tuduh aku merampasnya darimu?"
Kata Nyo Ko dengan tertawa.
"Aku berada di belakangmu, andaikan benar saputanganku jatuh, cara bagaimana pula kau me-mungutnya? Hm, jelas kau mencolongnya dariku,"
Kata Kwe Yang.
Padahal sejak tadi Nyo Ko sudah tahu Kwe Yang mengintil di belakangnya, dia sengaja percepat langkahnya untuk menjajal Ginkang si nona, ia merasa meski usia nona cilik ini masih sangat muda, tapi ilmu silatnya sudah mempunyai dasar yang kuat dan jelas mendapatkan ajaran tokoh ternama.
Maka begitu mengetahui Kwe Yang terpeleset jatuh, cepat ia meluncur balik.
Dilihatnya sebuah saputangan jatuh tidak jauh di sebelah sana, segera ia memungutnya.
Cuma gerakannya teramat gesit, pergi datang secepat terbang, walaupun berada di depan, tapi dapat memungut saputangan yang jatuh di bagian belakang, hal ini memang tidak masuk diakal.
Dengan tersenyum Nyo Ko lantas tanya.
"Kau she apa dan siapa namamu? siapa pula gurumu? Mengapa kau mengikuti aku?"
"She dan namamu yang terhormat harap diberitahukan lebih dulu padaku baru nanti akupun memberitahukan namaku,"
Jawab Kwe Yang.
Selama belasan tahun ini Nyo Ko selalu menutupi wajah aslinya bagi umum, dengan sendirinya juga tidak suka memberitahukan namanya sendiri pada seorang nona cilik yang tidak dikenaInya.
Maka katanya.
"Nona cilik ini sangat aneh, kalau kau tidak mau menerangkan ya sudahlah, Saputa-nganmu kukembalikan."
Habis berbicara, dengan pelahan tangannya mcngebas, saputangan itu lantas mekar merata dan mengembang di udara terus melayang enteng ke depan Kwe Yang.
Kwe Yang sangat teriank, cepat ia tangkap saputangan itu dan berkata.
"Sia-tiau-hiap, ilmu kepandaian apakah ini? Maukah kau mengajarkan padaku?"
Melihat si nona yang lincah ke kanak2an, sama sekali tidak takut kepada wajahnya yang seram, tiba2 timbul pikiran Nyo Ko untuk coba menakut2inya, mendadak ia lantas membentak bengis.
"Berani benar kau, mengapa kau tidak takut padaku, hm? Akan kuhantam kaul"
Berbareng ia melangkah maju dan berlagak hendak menyerang. Kwe Yang terkejut, tapi cepat iapun mengikik tawa, katanya.
"Mana aku takut, jika betul kau ingin mencelakai aku, masakah kau sendiri mau mengatakan lebih dulu? Sin-tiau-tayhiap terkenal berbudi dan baik hati, mana mungkin mencelakai seorang anak perempuan kecil seperti diriku ini?"
Di dunia ini tiada seorangpun yang tidak suka dipuji, apakah mendengar orang memujinya dengan setulus hati, meski Nyo Ko tidak suka disanjung puji orang, tapi mendengar ucapan Kwe Yang benar2 mengaguminya itu, mau-tak-mau ia tersenyum dan berkata.
"Kau baru kenal diriku darimana mengetahui aku takkan mencelakai kau?"
"Meski sebelumnya aku tidak kenal kau, tapi semalam kudengar orang banyak bercerita mengenai tindak-tandukmu yang terpuji. Maka di dalam hati aku bertekad ingin melihat tokoh ksatria besar ini, sebab itulah aku lantas ikut Toa-thau-kui ke sini untuk menemui engkau."
"Ah, aku ini terhitung ksatria apa?"
Ujar Nyo Ko sambil menggeleng.
"Dan setelah bertemu kini, kau pasti kecewa bukan?"
"Tidak, tidak!"
Jawab Kwe Yang cepat "Jika engkau bukan pahlawan dan kesatria besar, siapa lagi yang dapat dianggap pahlawan lagi?" -Habis berkaca demikian, segera ia merasa tidak pantas kalau ayahnya sendiri tidak disebut pula, maka cepat ia menambahkan.
"Sudah tentu, selain engkau, di dunia ini juga masih ada beberapa pahlawan dan ksatria besar lagi, tapi engkau adalah satu diantaranya."
Diam2 Nyo Ko pikir anak dara sekecil ini masakah tahu tokoh2 dunia segala, dengan tersenyum ia lantas bertanya.
"Coba katakan, siapa2 yang kau anggap pahlawan dan ksatria besar?"
Karena nada ucapan orang terasa meremehkan dirinya, tiba2 terpikir sesuatu, oleh Kwe Yang, katanya.
Akan kukatakan, kalau tepat, engkau harus berjanji akan membawa serta diriku pergi menangkap Kiu-bwe-leng-hou, jadi?
"Baiklah, coba katakan,"
Jawab Nyo Ko.
"Nah, ada seorang pahlawan yang bertahan di kota Siangyang, gagah perkasa tanpa menghiraukan keselamatan scndiri, sekuat tenaga melawan serbuan pasukan mongol, membela negara dan melindungi rakyat, Tokoh demikian terhitung pahlawan atau tidak?"
"Bagus!"
Ujar Nyo Ko sambil mengacungkan ibu jarinya.
"Yang kau maksud ialah Kwe Cing, Kwe-tayhiap. jelas beliau terhitung pahlawan besar."
"Ada lagi seorang pahlawan wanita, beliau senantiasa membantu sang suami mempertahankan Siangyang, tipu akalnya tiada bandingannya, dia terhitung pahlawan besar atau tidak?"
"O, maksudmu Kwe-hujin Ui Yong? Ya, beliau juga terhitung pahlawan."
"Masih ada seorang pahlawan tua, beliau mahir ilmu falak dan macam2 ilmu gaib, baik ilmu silat maupun sastra jarang ada bandingannya, Beliau dapat dianggap pahlawan besar tidak?"
"ltulah Tho-hoa-tocu Ui Yok-su, beliau adalah angkatan tua di dunia persilatan dan adalah tokoh kekagumanku."
"Ada lagi satu, pahlawan beliau memimpin kawanan orang jembel, menumpas orang lalim dan menyerbu musuh, membela negara dan rakyat tanpa kenal lelah, dia terhitung pahlawan besar tidak?"
"Maksudmu Loh-pangcu, Loh Yu-kah. ilmu silat orang ini tidak menonjol dan juga tiada sesuatu tindakannya yang luar biasa, tapi mengingat semangat perjuangannya membela negara dan rakyat serta menumpas penjahat dan menyerbu musuh, dapatlah dia dianggap tokoh kelas satu."
Kwe Yang pikir Sin-tiau-tayhiap sendiri sedemikian hebatnya, sudah tentu penilaiannya terhadap orang lain juga tinggi, kalau kukatakan lagi mungkin akan dibantah olehnya.
Apalagi selain ayah-ibu, kakek dan paman Loh, rasanya juga tiada tokoh lain yang dapat ditonjolkan.
Melihat air muka si nona mengunjuk rasa ragu2 untuk bicara pula, Nyo Ko lantai berkata.
"Asalkan kau dapat menyebut lagi seorang pahlawan lain dan tepat, segera kubawa kau ke Hek-liong-tam untuk menangkap Kiu-bwe-leng-bou."
Ia pikir nama paman dan bibi Kwe serta Ui-tocu dan Loh-pangcu sangat terkenal di dunia Kangouw, maka tidaklah heran jika nona cilik ini dapat menyebut nama mereka.
Segera Kwe Yang bermaksud menyebut kakak iparnya, yaitu Yalu Ce, tapi rasanya kurang cocok untuk dianggap sebagai "pahlawan besar"
Meski ilmu silatnya cukup tinggi, Selagi serba susah, tiba2 timbul kecerdikannya, cepatlah ia berkata.
"Baik, ada seorang lagi, beliau suka membantu kaum lernah, menolong yang sengsara, setiap orang selalu memuji nya, itulah dia Sin-tiau-tayhiapl Nah, kalau beliau tak dapat dianggap sebagai pahlawan besar, jelas.kau sendiri yang bohong."
Nyo Ko bergelak tertawa, katanya.
"Ha ha, cara bicara nona cilik sungguh lucu."
"Jadi tidak kau membawaku ke Hek-liong-tam?"
Tanya Kwe Yang.
"Karena kau sudah mengatakan diriku ini pahlawan besar, maka pahlawan besar tidak boleh mungkir janji pada seorang nona cilik, Marilah kita berangkat!"
Senang sekali hati Kwe Yang, segera tangan kanannya menggandeng tangan kiri Nyo Ko.
Sejak kecil dia berkawan dengan para ksatria di Siangyang dan semua menganggap dia sebagai adik kecil, maka sekarang saking senangnya iapun anggap Nyo Ko sebagai kenalan lama.
Nyo Ko sendiri menjadi rikuh, ia merasa tangan si nona lunak dan halus, kalau dia melepaskan pegangan Kwe Yang, rasanya kurang sopan, ia coba melirik nona cilik ini, terlihat dia me-loncat2 kegirangan dan sama sekali tiada pikiran Iain.
Dengan tersenyum dia lantas menuding ke arah utara.
"Hek-liong-tam terletak tidak jauh di sana."
Dengan alasan menuding inilah dia dapat menarik tangannya dari pegangan Kwe Yang.
Kiranya Nyo Ko merasa waktu mudanya sudah terlalu banyak membikin anak perempuan tergila2 padanya, tapi sejak matinya Kongsun Lik-oh dan menghilangnya Siao-liong-li, diam2 ia sangat menyesalkan tindakannya di masa lampau, selama belasan tahun ini ia menjadi sangat alim sehingga tangan anak perempuan kecil seperti Kwe Yang ini juga enggan disentuhnya lagi.
Sama sekali Kwe Yang tidak merasakan perubahan pikiran Nyo Ko itu, dia jalan berjajar dengan Nyo Ko, ketika melihat muka rajawali sakti itu sangat jelek, tapi tubuhnya kekar, tanpa pikir ia tepuk punggungnya sebagai tanda simpatik.
Sejak kecil dia sudah biasa bermain dengan sepasang rajawali di rumahnya itu, siapa tahu rajawali ini ternyata tidak suka ditepuk, mendadak sayapnya terbentang.
"bret" , tangan Kwe Yang didorong pergi. Keruan Kwe Yang menjerit kaget, Dengan tertawa Nyo Ko lantas berkata.
"Jangan marah, Tiau-heng! Buat apa mengurusi anak kecil?"
Kwe Yang me-lelet2 lidah dan menyingkir ke sisi Nyo Ko yang lain dan tak berani berdekatan dengan si rajawali sakti lagi, ia tidak tahu bahwa sepasang rajawali di rumahnya itu termasuk burung piaraan, sedangkan hubungan rajawali sakti ini dengan Nyo Ko boleh dikatakan setengah guru dan setengah kawan, kalau bicara tentang usia bahkan terhitung angkatan tua, jelas tidak sama kedudukan.
Begitulah mereka terus ke Hek-liong-tam.
Tempat itu sangat mudah dikenali, beberapa ii sekeliling sama sekali tiada tetumbuhan sebenarnya Hek-liong-tam itu adalah sebuah danau, mungkin karena sumber airnya kering, lama2 dasar danau mendangkal sehingga akhirnya berubah menjadi tambak besar dengan lumpur melulu Tidak lama kemudian Nyo Ko dan Kwe Yang sudah berada di tepi tambak, sejauh mata memandang, suasana sepi senyap dan menyeramkan.
Hanya di tengah2 tambak sana kelihatan tertimbun seongokan kayu dan rumput kering.
Bisa jadi tempat sembunyi Kiu-bwe-leng-hou adalah di bawah onggokan kayu dan rumput kering itu.
Nyo Ko ambil sepotong tangkai kayu dan dilemparkan ke tengah tambak, tangkai kayu itu mula2 melintang di atas salju, tapi tidak lama kemudian kelihatan mulai ambles ke bawah, meski tenggelam-nya sangat pelahan, tapi berjalan terus tanpa berhenti, sedikit demi sedikit dan akhirnya timbunan salju di kedua sisinya merapat sehingga tangkai kayu itu teruruk hilang tanpa bekas.
Tidak kepalang kejut Kvve Yang, tangkai kayu seenteng itu saja amblas ke dalam lumpur, lalu cara bagaimana manusia dapat berpijak di sana?
Dengan melenggong ia pandang Nyo Ko dan ingin tahu orang mempunyai tipu daya apa?
Sejenak Nyo Ko berpikir, lalu ia cari lagi dua potong tangkai kayu yang agak licin, masing2 panjangnya satu meteran, tangkai kayu itu lantas diikat di bawah telapak kaki, Lalu katanya.
"Akan kucoba, entah bisa tidak?"
Habis berkata, segera tubuhnya melayang ke tengah tambak, secepat anak panah melesat dari busurnya ia terus meluncur di permukaan salju yang menutupi tambak itu.
Dengan melenggak-lenggok ke sana dan ke sini, sama sekali dia tidak berhenti sedetikpun, ia terus meluncur sekeliling tambak, seperti orang main ski jaman kini, kemudian dia meluncur balik ke tempat semula.
"Kepandaian hebat, kecakapan luar biasa!"
Sorak Kwe Yang memuji Dari sorot mata Kwe Yang yang, penuh rasa kagum itu, Nyo Ko tahu nona itu sangat berharap dapat ikut menangkap rase ke tengah tambak, tapi nona itu menyadari tak memiliki kepandaian Ginkang setinggi itu.
Maka Nyo Ko lantas berkata dengan tertawa "Aku sudah berjanji padamu akan membawa kau ke Hek liong-tam untuk menangkap Kiu-bwe leng hou.
Soalnya kau berani tidak?"
"Aku tidak memiliki kepandaian setinggi kau, biarpun berani juga percuma,"
Sahut Kwe Yang sambil menghela napas pelahan.
Nyo Ko tersenyum dan tidak menanggapi pu-la, ia mencari lagi dua potong kayu yang lebih pendek sedikit daripada miliknya tadi dan disodorkan pada si nona, katanya.
"lkatlah di bawah telapak kakimu!"
Gugup dan girang pula Kwe Yang, ia menurut dan mengikat kencang kedua potong kayu itu di bawah telapak kakinya.
"Tubuhnya mendoyong sedikit ke depan, kaki jangan menggunakan tenaga, biarkan saja mengimbangi"
Pesan Nyo Ko. Lalu tangan kirinya memegangi tangan kanan Kwe Yang terus berseru tertahan "Awas!"
Sekali angkat dan tarik, tanpa kuasa tubuh Kwe Yang terus melayang dan meluncur ke tengah tambak, Semula dia rada gugup dan takut2, tapi setelah meluncur beberapa meter jauhnya, terasa badan enteng dan melayang seperti terbang, kaki tanpa merasa mengeluarkan tenaga sedikitpun ia menjadi cekikik senang, rasanya lebih enak daripada terbang menumpang rajawali di rumah.
Sesudah main ski sekian lama mengelilingi tombak itu tiba2 Nyo Ko berseru heran "He?"
"Ada apa?"
Tanya Kwe Yang.
"Apakah kau melihat rase kecil itu?""
"Bukan,"
Jawab Nyo Ko.
"Kukira di tengah tambak sana ada penghuninya!"
Kwe Yang menjadi heran juga, katanya.
"Di tempat begini mana mungkin dihuni orang?"
"Akupun tidak paham,"
Kata Nyo Ko.
"Tampaknya susunan onggokan kayu dan rumput kering ini ada kelainan dan bukan barang yang tumbuh sendiri."
Sementara itu mereka sudah dekat dengan onggokan kayu dan rumput itu, Kwe Yang coba mengamati dengan teliti, lalu berkata.
"Ya, memang benar. sebelah timur diatur dalam hitungan Bok (kayu), sebelah selatan menurut Hwe (api), bagian tengah menurut Tho (bumi) dan utara adalah Sui (air)."
Rupanya sejak kecil Kwe Yang juga ikut belajar hitungan Im yang-ngo-heng, yaitu falsafat Tiong-hoa kuno mengenai unsur2 laki-perempuan di jagat raya ini.
walaupun belum banyak yang dipahami-nya, tapi dasarnya memang pintar, maka apa yang dapat diketahuinya jauh lebih banyak daripada kakaknya, yaitu Kwe Hu.
Sifat Kwe Yang serba ingin tahu, macam jalan pikirannya dan tindak-tanduknya acapkali di luar dugaan orang, kelakuannya itu rada2 mirip dengan sang kakek luar, yaitu Ui Yok-su, sebab itulah di rumah dia diberi julukan "Siau Tang sia"
Atau si Tang-sia kecil.
Misalnya tindakannya menukar tusuk kundai untuk menjamu orang2 yang baru dikenalnya dan ikut Toa-thau-kui yang menakutkan itu hanya karena ingin melihat Sin tiau hiap, kemudian ikut lagi Sin-tiau-hiap yang baru dikenalnya pergi menangkap rase, keberanian ini jeias sangat berbeda daripada Ui Yong dan Kwe Hu dahulu.
Begitulah Nyo Ko menjadi heran mendengar nona cilik ini dapat menyebut bentuk bangunan onggokan kayu-rumput itu, ia coba bertanyar "Darimana kau tahu bentuk Im yang-ngo-heng itu?
Siapa yang mengajarkan kau?"
"Kubaca dari buku, entah tepat atau tidak ucapanku,"
Jawab Kwe Yung dengan tertawa.
"Kulihat pengaturan kayu-rumput itupun tiada sesuatu yang luar biasa, agaknya juga bukan orang kosen yang hebat."
"Ya, anehnya cara bagaimana orang itu dapat tinggal di atas lumpur dan tidak tenggelam ke bawah?"
Kata Nyo Ko. Segera ia berseru lantang.
"Sa-habat di tengah Hek liong-tam, ini ada tamu datang!"
Selang sekian lama, keadaan tetap sunyi tanpa sesuatu suara, Nyo Ko berseru sekali lagi dan tetap tiada jawaban orang.
Tampaknya orang sengaja menumpuk onggokan kayu rumput di sini dan tidak dihuni di sini, marilah kita melihatnya ke sana.
Kata Nyo Ko sambil meluncur ke tempat onggokan rumput itu.
Se-kunyong2 kaki Kwe Yang merasa berpijak pada tempat yang keras, agaknya tanah datar di bawah mereka.
Rupanya Nyo Ko sudah mengetahui lebih dulu, dengan tertawa ia berkata.
"Tidak mengherankan kiranya di tengah tambak ini ada sebuah pulau kecil."
Baru habis ucapannya, mendadak bayangan putih berkelebat dari bawah onggokan itu menerobos keluar dua ekor binatang kecil, ternyata sepasang "Kiu bwe-lenghou yang dicarinya itu.
yang seekor terus lari ke timur dan yang lain kabur ke selatan dengan cepat luar biasa.
"Kau tunggu di sini nona cilik dan jangan sembarangan bergerak,"
Pesan Nyo Ko.
Habis itu ia terus meluncur dan menguber rase sebelah timur.
Kini ia tidak perlu menjaga Kwe Yang lagi sehingga dapat mengeluarkan segenap Ginkangnya untuk meluncur, sungguh cepatnya melebihi burung terbang.
Akan tetapi lari rase itupun cepat dan gesit luar biasa, seperti angin saja binatang kecil itu lantas memutar balik dan menyamber lewat di samping Kwe Yang, Tapi Nyo Ko terus membayanginya, sekali lengan bajunya mengebas tampaknya rase kecil itu pasti akan tersampuk jatuh, tak terduga binatang itu benar2 sangat cerdik, mendadak ia meloncat ke atas dan berjumpalitan di udara, dengan demikian sabetan lengan baju Nyo Ko itu menjadi luput.
Ber-ulang2 Kwe Yang menyatakan.
"Sayang! Sayang!"
Begitulah satu orang dan satu hewan terus uber menguber di atas salju, Kwe Yang sangat senang menyaksikan tontonan menarik itu.
ber ulang2 ia berseru memberi semangat kepada Nyo Ko agar mengudak lebih kencang.
Dalam pada itu rase yang lain juga terus berlari kian kemari.
terkadang sengaja mendekati Nyo Ko.
Tapi Nyo Ko tahu binatang kecil itu sengaja mengacau untuk membelokkan perhatiannya, maka dia tidak ambil pusing, yang diudak melulu rase yang satu itu, ia sengaja hendak berlomba lari dengan rase itu agar binatang kecil itu akhirnya kehabisan tenaga.
Tak tahunya rase yang kecil itu ternyata memiliki tenaga yang besar, rupanya iapun tahu sedang menghadapi bencana, maka larinya seperti kesurupan setan tanpa ada tanda2 lelah.
Semakin lari semakin bersemangat Nyo Ko, ketika dilihatnya rase yang lain ingin menolong kawannya dan mendekat lagi untuk mengacau, diam2 ia mengomel akan kenakalan binatang kecil itu.
sekenanya ia meraup segenggam salju dan di remas hingga keras menyerupai batu, habis itu terus ditimpukkan dan tepat mengenai kepala rase pengacau itu, kontan binatang itu roboh terjungkal tapi ber-guling-2 beberapa kali rase itu terus berdiri lagi dan lari masuk onggokan kayu rumput tadi dan tidak berani keluar lagi.
Rupanya Nyo Ko tidak bermaksud membinasakan rase itu, maka timpukannya tidak keras.
Sebenarnya dengan cara yang sama Nyo Ko dapat merobohkan dan menawan rase yang diu-daknya ini, tapi dia sengaja hendak balapan lari, katanya.
"Rase cilik, kalau kurobohkan kau dengan batu salju, matipun kau penasaran, Seorang lelaki sejati harus bertindak secara ksatria, jika aku tidak mampu menyusul kau, maka jiwamu biar kuampuni."
Segera ia "tancap gas"
Dan meluncur lebih kencang, tahu2 dia sudah berada di depan si rase dan mendadak tangannya meraih untuk menangkapnya.
Keruan rase itu terkejut dan melompat ke kanan.
Namun Nyo Ko sudah siap, lengan bajunya terus mengebas sehingga rase itu tergulung, tangan kanan lantas pegang kuduk rase itu dan diangkat ke atas, saking gembiranya ia bergelak tertawa.
Tapi belum lenyap suara tawanya, tiba2 dilihatnya rase itu menjadi kaku tanpa bergerak lagi ternyata sudah mati.
"Wah, celaka!"
Keluh Nyo Ko.
"Mungkin tenaga kebasanku terlalu keras, rupanya binatang ini sedemikian lemah dan tidak tahan. Entah rase mati dapat digunakan menyembuhkan luka si Su-losam atau tidak?"
Dengan menjinjing rase mati itu ia meluncur kembali ke samping Kwe Yang dan berkata.
"Ra-se ini sudah mati, mungkin tak berguna lagi, kita harus menangkap pula rase yang satunya itu."
Berbareng iapun melemparkan rase mati itu ke tanah, tapi iapun tahu sifat rase sangat licik, bisa jadi pura2 mati, maka diam2 iapun sudah bersiap bila rase itu bergerak, segera akan digulungnya kembali dengan lengan baju.
Namun rase itu ternyata tidak bergerak sedikitpun tampaknya memang sudah mati betul2.
"Menyenangkan juga bentuk rase kecil ini, matinya mungkin karena terlalu lelah di-uber2,"
Ujar Kwe Yang. Lalu ia jemput sepotong kayu dan berkata pula.
"Biar kuhalau rase lain itu supaya ke luar, engkau jaga saja di sini."
Kwe Yang lantas memdekati onggokan kayu rumput itu.
Kemudian dihantamkan ke onggokan kayu itu, tapi sekali pukul, untuk menghantam kedua kalinya ternyata tidak mampu lagi, sungguh aneh, seperti melengkat saja kayu yang dipegang Kwe Yang itu tak dapat ditarik kembali, Keruan Kwe Yang berseru kaget dan berusaha membetot sekuatnya, namun tangkai kayu itu malah terlepas dan jatuh ke dalam onggokan kayu dan rumput kering itu.
Menyusul mana, mendadak onggokan kayu-rumput itu tersiak dan tahu2 menerobos keluar seorang nenek beruban dengan muka penuh keriput dan pakaiannya compang-camping.
Dengan bengis nenek itu memandangi Kwe Yang dan tangkai kayu yang dirampasnya itu diangkat dengan lagak hendak memukul si nona.
Kwe Yang terkejut dan cepat melompat mundur ke samping Nyo Ko.
pada saat itulah rase yang menggeletak di tanah itu mendadak melompat ke atas dan masuk pelukan si nenek, sepasang matanya yang bundar kecil ber-kilat2 memandangi Nyo Ko, ternyata binatang kecil itu memang benar2 cuma pura2 mati saja.
Melihat itu Nyo Ko menjadi mendongkol dan geli pula, pikirnya.
"Sekali ini aku ternyata dikalahkan seekor hewan kecil ini, tampaknya rase kecil ini adalah piaraan nenek ini, Entah siapakah gerangannya nenek ini, rasanya di dunia Kangouw tak pernah terdengar ada seorang tokoh macam begini. Rasanya akan sulit jika menghendaki rase kecil itu."
Segera Nyo Ko memberi hormat dan menya-pa.
"Maaf kelancangan Wanpwe masuk ke sini tanpa permisi."
Nenek itu memandangi tangkai kayu di telapak kaki Nyo Ko berdua, wajahnya menampilkan rasa kejut dan heran, namun hanya sekilas saja perasaan itu lantas menghilang, ia melambaikan tangannya dan berkata.
"Orang tua mengasingkan diri di tempat terpencil ini dan tidak suka menemui tamu, kalian boleh pergi saja!"
Suaranya lembut, tapi menyeramkan kedengarannya, di antara mata-alisnya juga menampilkan rasa yang benci kepada sesamanya.
Meski wajah nenek itu kelihatannya serarn, tapi raut mukanya bersih, waktu mudanya jelas seorang wanita cantik, sungguh ia tidak ingat tokoh Kangouw siapakah nenek ini.
Segera ia memberi hormat pula dan berkata.
"Cayhe mempunyai seorang kawan terluka parah dan harus disembuhkan dengan darah Kiu-bwe-leng-hou, maka-mohon locianpwe sudi memberi bantuan."
"Hahahaha, haha, heheheeee!"
Mendadak nenek itu ter-bahak2 sambil menengadah, sampai lama sekali ia terkakah dan terkekeh, tapi suara tawanya itu ternyata penuh mengandung rasa pedih dan boleh Sesudah tertawa sekian latna barulah ia berkata.
"Terluka parah dan harus menolongnya, hm? Bagus, tapi mengapa anakku terluka parah dan orang lain sama sekali tidak sudi menolongnya?"
Nyo Ko terkejut, jawabnya.
"Entah siapakah putera Locianpwe? Apakah sekarang masih keburu ditolong?"
Kembali nenek itu ter-bahak2, katanya.
"Apakah masih keburu ditolong? Dia sudah mati berpuluh tahun, mungkin tulang belulangnya juga sudah menjadi abu, masakah kau bertanya apakah masih keburu ditolong segala?"
Nyo Ko tahu si nenek jadi terkenang kepada kejadian masa lampau sehingga merangsang emosinya, maka ia tidak berani bertanya pula, terpaksa berkata pula.
"Memang tidak pantas kami datang begini saja untuk memohon bantuan rase kecil ini, sudah tentu kami tidak ingin menerimanya dengan cuma2, apabila Locianpwe menghendaki sesuatu, asalkan tenagaku mampu mengerjakannya, pasti akan kulaksanakannya dengan baik,"
Nenek itu mengerling sekejap ke arah Kwe Yang, lalu berkata.
"Perempuan tua berdiam terpencil di kolam lumpur ini tanpa sanak tanpa kadang, hanya sepasang rase inilah teman hidupku Boleh juga jika kau ingin mengambilnya, tapi nona itu harus ditinggalkan di sini untuk mengawani aku selama sepuluh tahun."
Nyo Ko mengerut kening, belum lagi menja-wab, tiba2 Kwe Yang mendahului berkata dengan tertawa.
"Di sini hanya lumpur melulu, kurasa tidak enak hidup di sini, Kalau engkau merasa kesepian, marilah tinggal saja di rumahku, apakah kau ingin tinggal selama sepuluh tahun, ayah-ibuku pasti akan menghormati engkau sebagai kaum locianpwe Lebih baik begitu bukan?"
Tiba2 nenek itu menarik muka dan mendamperat.
"Ayah-ibumu itu orang apa? Memangnya begitu saja aku dapat diundang ke sana?"
Watak Kwe Yang memang periang dan sabar, sekalipun orang lain bersikap kasar juga dihadapinya dengan tertawa saja dan jarang marah.
Kalau ucapan si nenek yang menyinggung kehormatan Kwe Cing dan Ui Yong ini didengar Kwe Hu, pasti seketika akan menjadi pertengkaran.
Tapi Kwe Yang hanya tersenyum saja dan meleletkan lidahnya pada Nyo Ko, lalu tidak bersuara pula.
Betapapun Nyo Ko memuji keramahan nona cilik ini, sedikitpun tidak menimbulkan kesukaran baginya, maka ia balas mengangguk kepada Kwe Yang sebagai tanda memuji, lalu berpaling dan berkata kepada si nenek.
"Bahwasanya Locianpwe menyukai adik cilik ini, sebenarnya ini adalah kesempatan bagus yang sukar dicari, cuma sebelum mendapat idzin ayah-bundanya, betapapun Cayhe tak berani mengambil keputusan sendiri."
"Siapa ayah-ibunya? Kau sendiri siapa?"
Tanya si nenek dengan bengis. Nyo Ko menjadi gelagapan dan takdapat menjawab tapi Kwe Yang lantas menanggapinya.
"Ayah ibuku adalah orang kampung, biar kukatakan juga Locianpwe tidak kenal, sedangkan dia ini. dia, dia adalah Toakokoku!"
Sembari berkata nona itupun memandang kejaran Nyo Ko.
Kebetulan saat itu Nyo Ko juga memandang padanya, sorot mata kedua orang kebentrok.
Tapi Nyo Ko memakai kedok, air mukanya kaku tanpa emosi, hanya sorot matanya jelas menunjukkan rasa akrab yang menghangatkan perasaan.
Tergerak hati Kwe Yang, terpikir olehnya.
"Jika benar aku mempunyai seorang toakoko(ka-kak tertua) seperti ini, tentu dia akan menjaga dan membantu diriku, pasti tidak rewel dan selalu mengomeli aku seperti kakak Hu. gini salah, gitu salah, ini dilarang, itu tidak boleh."
Berpikir sampai disini, air mukanya lantas penuh rasa hormat dan kagum kepada Nyo Ko. Didengarnya Nyo Ko lantas berkata.
"Ya, adik ku yang kecil ini tidak tahu urusan, maka kubawa dia keluar cari pengalaman Ketika dilihatnya Kiu-bwe-leng-hou ini sangat aneh dan menarik, dia tahu pasti binatang piaraan oaang kosen angkatan tua, sebab itulah dia minta Wanpwe membawanya berkunjung ke sini dan sungguh beruntung sekali dapat bertemu dengan Locianpwe."
"Hm kalian menguber dan memukuli rase piaraanku, apakah begini caranya kalian menghormati kaum Cianpwe?"
Jengek nenek itu.
"Hayo, lekas enyah dari sini dan selamanya jangan menemui aku lagi!"
Habis itu kedua tangannya terus mengebas ke depan, tangan yang satu mendorong ke arah Nyo Ko dan tangan lain mendorong Kwe Yang.
Jarak mereka ada dua-tiga meter jauhnya, sodokan tangan nenek itu jelas tak dapat mencapai tubuh Nyo Ko berdua, tapi tenaga pukulannya ternyata keras dan keji, serentak Kwe Yang merasakan angin dingin menyampuk tiba.
Tapi lengan baju Nyo Ko sempat bergerak sehingga angin pukulan si nenek dapat dipatahkan, sebaliknya tenaga pukulan yang ditujukan kepadanya itu sama sekali tidak dielakkannya.
Sebenarnya nenek itupun tidak bermaksud mencelakai Nyo Ko berdua, ia hanya ingin mengusir mereka saja.
sebab itulah hanya separoh tenaganya saja yang digunakan.
Tapi dilihatnya kedua orang itu ternyala tidak bergeming sama sekali, mau-tak mau ia terkejut dan gusar pula.
Segera ia himpun tenaga, kembali kedua tangan menyodok ke depan dengan lebih kuat, kini ia tidak pedulikan lagi mati-hidup pihak lawan.
Ketika merasakan angin pukulan nenek itu menyamber tiba, dada Kwe Yang terasa sesak, namun lengan baju Nyo Ko mengebas lagi sehingga serangan si nenek di patahkan pula, ia tahu Nyo Ko dan nenek itu sedang mengadu tenaga dalam, tampaknya si nenek menjadi beringas dan menakutkan sebaliknya Nyo Ko berdiri tenang2 saja, jelas berada di atas angin alias lebih unggul.
Se-konyong2 si nenek berkelebat maju, gerakannya sungguh cepat luar biasa.
"BIang"
Dengan tepat dan keras kedua tangannya menghantam dada Nyo Ko.
Sekali menyerang segera nenek itu melompat mundur pula tanpa memberi kesempatan Nyo Ko untuk balas menyerang.
Keruan Kwe Yang terkejut, cepat ia menarik tangan Nyo Ko dan bertanya.
"Ap.... apakah engkau terluka?"
Si nenek lantas berteriak bengis.
"Dia sudah terkena pukulanku "
Han-im-cian " (tenaga panas dingin), ajalnya takkan lebih lama daripada satu hari saja, dia menerima ganjarannya karena perbuatannya sendiri dan takdapat menyalahkan orang lain."
Dengan ilmu silat Nyo Ko 15 tahun yang lalu saja tak dapat ditandingi oleh si nenek, apalagi sekarang luar-dalamnya sudah tergembleng sedemikian sempurna, betapapun lihaynya tenaga pukulan si nenek juga takdapat melukainya.
Soalnya Nyo Ko tiada permusuhan apapun dengan si nenek kedatangannya ini juga ingin memohon barang kesayangan orang tua itu, maka dia sengaja membiarkan si nenek menyerang tiga kali tanpa balas menyerang.
Selama likuran tahun nenek itu giat berlatih ilmu pukulan "Han im cian"
Dan sekaligus sudah dapat menghancurkan 17 potong bata dalam keadaan luar utuh dan dalam remuk, tapi kini jelas Nyo Ko terkena pukulannya dengan telak, ia yakin orang pasti akan remuk isi perutnya, tapi lawan justeru tetap berdiri tenang dan tertawa seperti tidak terjadi sesuatu, ia pikir bocah ini benar2 kepala batu, sudah dekat ajal masih berlagak gagah, segera ia berkata.
"Mumpung belum roboh binasa, lekas kau pergi membawa anak dara ini dan jangan sampai mampus ditengah tambakku ini."
Nyo Ko mendongak dan berseru lantang.
"Hahaha, rupanya sudah lama Locianpwe menyepi di tempat terpencil begini, tentunya Locianpwe tak dapat membayangkan betapa kemajuan ilmu silat di dunia ini."
Habis berkata ia sengaja bergelak tertawa, suara tertawanya nyaring keras menggelegar dengan tenaga dalam yang kuat.
Mendengar suara Nyo Ko itu, si nenek tahu orang ternyata tidak mengalami luka sedikitpun, seketika mukanya menjadi pucat, tubuhnya sempoyongan baru sekarang ia menyadari bahwa Nyo Ko sengaja membiarkan diserang tiga kali, kalau bicara kepandaian sejati, jelaslah dirinya bukan tandingannya.
Tiba2 si nenek angkat rase kecil dalam pelukannya itu, lalu ia bersuit, rase yang lain juga lantas menerobos keluar dari onggokan rumput dan melompat ke dalam pangkuan si nenek, Lalu ia ber-kata.
"Kepandaianmu memang hebat, sungguh aku sangat kagum. Tapi kalau engkau ingin merebut rase ini secara kekerasan, hm, jangan kau harap. Asalkan kau melangkah maju setindak, seketika ku cekik mati kedua ekor rase ini agar kau datang dan pergi dengan bertangan hampa."
Melihat sikap dan ucapan si nenek yang tegas dan pasti itu, Nyo Ko tahu watak orang tua itu sangat keras dan kaku, biarpun mati juga tidak mau menyerah.
Mau-tak-mau ia menjadi serba susah, kalau mendadak menubruk maju dan menutuk Hiat-to si nenek, lalu merebut rase, rasanya si nenek bisa membunuh diri saking gusarnya, jika demikian jadinya, maka biarpun Su Siok kang dapat diselamatkan tapi harus korbankan jiwa orang lain.
Selagi Nyo Ko merasa ragu2, tiba2 dari jauh sana berkumandang suara orang menyebut.
"0mi tohud!"
Menyusul orang itu berkata.
"Loceng (paderi tua) It-teng mohon berjumpa, sudilah kiranya Eng koh menemuinya!"
Kwe Yang memandang sekeliling tambak, tapi tidak tampak seorangpun padahal suara orang itu tidak begitu keras, jelas datang dari tempat dekat saja, namun sekitar situ jelas tiada tempat bersembunyi, lalu berada di manakah orang yang bersuara itu?
Dia pernah mendengar cerita dari ibunya bahwa Ii-teng Taysu adalah tokoh angkatan tua, pernah menolong jiwa ibunya, juga terhitung kakek guru kedua saudara Bu, hanya selama ini paderi sakti itu belum pernah dilihatnya.
Kini tiba2 didengarnya ada orang menyebut "lt-teng", tentu saja ia terkejut dan bergirang.
Nyo Ko juga sangat gembira mendengar suara It-teng, ia tahu yang digunakan it-teng Taysu adalah Lwekang maha sakti, yaitu ilmu menyiarkan gelombang suara dari tempat beberapa li jauhnya, semakin tinggi Lwekangnya, semakin halus pula suaranya sehingga mirip orang bicara dari dekat saja.
Kagum sekali mendengar suara It-teng Taysu yang luar biasa itu, betapapun ia merasa tenaga dalam sendiri tak dapat menandingi paderi sakti itu, pikirnya pula.
"Kiranya nenek ini bernama Engkoh. Entah ada urusan apa It teng Taysu ingin menemui-nya? jika paderi itu suka tampil ke muka, mungkin sekali rase ini akan bisa diperoleh."
Kiranya nenek penghuni Hek-liong-tam ini memang betul bernama Eng-koh.
Sewaktu masih menjadi raja negeri Tayli, aslinya It-teng Taysu she Toan dan terkenal sebagai tokoh Raja di Selatan di dunia Kangouw.
Sebagai raja, sudah tentu cukup banyak selir-nya, Eng-koh adalah salah satu selir kesayangannya ketika itu, Tapi suatu waktu Toan-hongya (raja Toan) kedatangan tamu yang terkenal, yaitu Ong Tiong-yang dari Coan-cin-kau beserta Sutenya, yakni si Anak Tua Nakal Ciu Pek-thong.
Mungkin sudah suratan nasib, selama tinggal beberapa lama di negeri Tayli, dasar watak Ciu Pek-thong memang suka keluyuran, maka secara kebetulan dia pergoki Eng-koh sedang berlatih silat (ajaran Toan-hongya), karena sifatnya yang jahil dan tidak sirik mengenai adat lelaki dan perempuan, Ciu Pek-thong telah mendekati Eng-koh dan mengajaknya ngobrol tentang ilmu silat (Ciu Pek-thong itu memang orang yang keranjingan ilmu silat).
Bicara punya bicara, akhirnya keduanya jatuh cinta dan "ada main"
Serta membuahkan seorang anak laki2.
Ketika Toan-Hongya kedatangan musuh, yaitu Kiu Jian-yim yang kemudian terkenal sebagai Cu-in Hwesio, secara licik Kiu Jian-yim telah melukai anak haram hasil "semokel"
Antara Ciu Pek-thong dan Eng-koh itu, tujuannya untuk memaksa Toan-hongya menyelamatkan orok itu dengao It-yang-ci, dengan demikian tenaga dalamnya terpaksa harus dikorbankan dan sukar dipulihkan dalam waktu singkat, pada saat demikian Kiu Jian-yim yakin pasti dapat mengalahkan Toan-hongya.
Tak terduga tipu muslihatnya ternyata diketahui Toan-hongya, pula dia cemburu karena hubungan gelap Eng-koh dengan Ciu Pek-thong itu, maka dia bertekad tidak mau menolongnya, akhirnya anak itupun mati.
Toan-hongya sangat menyesal, akibatnya ia cukur rambut dan menjadi Hwesio dengan gelar It-teng.
Kematian anaknya sudah tentu membuat Eng-koh juga sakit hati dan merana, ia terus minggat dari negeri Tayli, suatu ketika di puncak Hoa-san dipergokinya Kiu Jian-yim, tapi tidak berhasil membunuhnya, iapun bertemu dengan Ciu Pek-thong dan ingin bicara dengan dia, tapi asal melihat bayangan Eng-koh seketika si Anak Tua Nakal itu kabur lebih dulu, soalnya dia malu dan merasa ber-dosa, maka tidak berani menemui bekas kekasih itu.
Eng-koh lantas mengembara tanpa tujuan dan akhirnya menetap di Hek-liong-tam ini.
Sebenarnya sudah belasan hari It-teng Taysu berada di tepi Hek-liong-tam dan setiap hari selalu berseru untuk mohon bertemu, Namun Eng-koh masih sakit hati karena dahulu bekas raja Tayli itu tega tidak mau menolong jiwa anaknya, maka dia tetap tidak mau menemuinya.
Begitulah Eng-koh tampak lesu dan mundur berduduk di atas onggokan kayu, sorot matanya kelihatan dendam dan benci.
Selang tak lama, terdengar It-teng berseru pula.
"Dari jauh It-teng datang ke sini, hanya untuk mohon bertemu sejenak dengan Eng-koh."
Namun Eng-koh tetap tidak menggubrisnya.
Nyo Ko menjadi heran, ia pikir kepandaian It-teng jauh lebih tinggi daripada Eng-koh, kalau dia mau menemuinya ke sini toh nenek ini tak dapat menolaknya, mengapa dia mesti memohon dari kejauhan?
Dalam pada itu terdengar It-teng berseru memohon lagi, setelah Eng-koh tetap tidak memberi jawaban, lalu tidak diulangi lagi, suasana kembali sunyi.
"Toakoko,"
Kata Kwe Yang.
"It-teng Taysu itu adalah tokoh yang luar biasa, maukah kita ke sana menemuinya?"
"Baik, memangnya aku ingin menemui beliau,"
Jawab Nyo Ko.
Terlihat Eng-koh berbangkit pelahan dengan sorot mata bengis, meski Nyo Ko merasa tidak gentar padanya, tapi tidak enak juga perasaannya melihat sikap orang ini, Segera ia pegang tangan Kwe Yang dan berkata.
"Marilah pergi!"
Sekali melayang, segera kedua orang meluncur ke tengah tambak. Setelah berpuluh meter di bawa meluncur Nyo Ko, Kwe Yang lalu bertanya.
"Toakoko, berada di manakah Taysu? suaranya seperti berada di sebelah sini saja."
Dua kali Nyo Ko dipanggil "Toakoko"
Dengan suara yang halus dan mesra, hatinya terkesiap juga pikirnya "
Cintaku kepada Liong-ji suci murni dan tak mungkin bergoyah, betapapun aku tidak boleh terjerumus lagi kejaringan asmara.
Usia nona cilik ini masih muda dan ke-kanak2an, ada lebih baik selekasnya berpisah dengan dia agar tidak menimbulkan hal2 yang tidak diharapkan -Akan tetapi berada di atas lumpur bcrselimutkan salju itu, sedetikpun tidak boleh berhenti, lebih2 tidak mungkin mengendurkan pegangannya pada tangan si nona.
"Toakoko", kembali Kwe Yang berkata.
"ku-tanya kau, apakah engkau tidak mendengar."
"lt-teng Taysu berada di timur laut sana, kira2 dua-tiga li dari sini,"
Jawab Nyo Ko.
"Suaranya kedengarannya dekat, tapi sebenarnya berada cukup jauh. dia menggunakan ilmu jian-li-toan-im" (me-ngirim gelombang suara dari jauh)."
"He, apakah engkau juga mahir ilmu itu?"
Tanya Kwe Yang.
"Maukah engkau mengajarkan padaku? Kelak kalau kita berpisah di tempat jauh agar akupun dapat bicara denganmu dengan ilmu itu, kan menyenangkan bukan?"
"Namanya saja mengirim gelombang suara dari jauh, sebenarnya kalau dapat mencapai dua-tiga li sudah luar biasa,"
Ujar Kwe Yang dengan tertawa.
"Untuk mencapai kepandaian setingkat lt-teng Taysu, biarpun secerdas kau juga harus berlatih hingga rambut ubanan."
Kwe Yang sangat senang karena orang memuji-nya cerdas, katanya pula.
"Ah, aku ini cerdas apa? Kalau aku mempunyai dua bagian kecerdasan ibuku saja aku sudah merasa puas."
Tergerak hati Nyo Ko, dari raut muka si nona ia melihat samar2 ada beberapa bagian menyerupai Ui Yong, Pikirnya.
"Tokoh2 yang kukenal selama hidup baik lelaki maupun perempuan, kalau bicara tentang kepintaran dan kecerdasan rasanya tiada orang lain yang mampu menandingi Kwe pekbo, apakah mungkin nona cilik ini adalah puteri bibi Kwe?"
Tapi segera ia tertawa geli sendiri dan anggap jalan pikirannya itu terlalu meng-ada2, masakah di dunia ini bisa terjadi sedemikian kebetulan?
Kalau benar nona ini puteri Kwe-pekbo, mana mungkin paman dan bibi Kwe membiarkannya berkeliaran di Iuaran.
Maka ia coba bertanya kepada Kwe Yang.
"Siapakah ibumu?"
"lbu ya ibu, meski kukatakan juga kau tidak kenal,"
Jawab Kwe Yang dengan tertawa "Eh, Toa-koko, kepandaianmu lebih tinggi atau kepandaian It-teng Taysu lebih tinggi?"
Usia Nyo Ko sekarang sudah mendekati setengah baya, iapun kenyang mengalami gemblengan kehidupan dan merasakan betapa pahit getirnya sejak berpisah dengan Siao-liong-Ii, walaupun semangat ksatrianya tidak berkurang, tapi sifat dugal-nya di masa mudanya sudah hampir lenyap seluruhnya, Maka ia menjawab.
"lt-teng Taysu sangat terhormat di dunia persilatan, berpuluh tahun yang lalu namanya sudah sama tingginya dengan Tho-hoa tocu dan lain2, beliau adalah Lam-te (raja di selatan), yaitu satu diantara lima tokoh terkemuka di jaman itu, mana aku dapat dibandingkan beliau."
"Wah, jika begitu, kalau engkau dilahirkan lebih dini beberapa puluh tahun yang lalu, tentu tokoh tertinggi waktu itu bukan lagi lima orang, tapi enam jadinya. Konon mereka disebut Tang-sia Se-tok, Lam-te, Pak-kay dan Tiong-sin-thong, lalu engkau berjuluk apa? Ah, pasti juga Sin-tiau-tayhiap. Oya, masih ada lagi Kwe-tayhiap dan Kwe-hujin."
Nyo Ko bertanya pula.
"Apakah kau pernah melihat Kwe-tayhiap dan Kwe-hujin?"
"Sudah tentu aku pernah melihat mereka, malahan mereka sangat sayang padaku,"
Sahut Kwe Yang.
"Eh, Toakoko, apakah engkau juga kenal beliau2 itu? Nanti kalau urusan di sini sudah beres2 maukah kita pergi menyambangi mereka?"
Nyo Ko benci pada Kwe Hu yang telah membuntungi lengannya, setelah lewat sekian tahun, rasa benci itu semakin menipis.
Tapi Siao-liong-li mengidap racun dan terpaksa harus berpisah 16 tahun, persoalan ini takdapat tidak membuatnya sangat dendam kepada Kwe Hu.
Maka dengan hambar saja ia menjawab.
"Tahun depan bisa jadi aku akan berkunjung kepada Kwe-tayhiap dan isterinya, tapi harus tunggu dulu setelah kuberjumpa dengan isteriku dan kami berdua akan pergi ke sana bersama."
Begitu menyebut Siao-Iiong-li, tanpa terasa timbul hasratnya yang menyala, Kwe Yang dapat merasakan telapak tangan Nyo Ko yang mendadak menjadi panas. Segera ia bertanya pula.
"lsterimu tentu sangat cantik dan ilmu silatnya pasti pula sangat tinggi."
"Kukira di dunia ini tiada orang lain yang lebih cantik daripada dia,"
Kata Nyo Ko.
"Bicara tentang ilmu silat, saat ini dia tentu juga melebihi diriku."
Kwe Yang menjadi sangat hormat dan kagum, katanya.
"Toakoko, engkau harus membawa diriku menemui isterimu, maukah kau berjanji?"
"Mengapa tidak?"
Ujar Nyo Ko dengan tertawa.
"Kuyakin nyonyaku juga pasti suka padamu, Saat mana barulah kau benar2 memanggil aku Toakoko."
"Apakah sekarang aku tidak boleh memanggil demikian padamu?"
T mya Kwe Yang dengan melenggak.
Karena sedikit merandek itulah, sebelah kakinya lantas kejeblos ke dalam lumpur, Untung Nyo Ko lantas menariknya melompat jauh ke depan.
Tertampaklah di kejauhan sana berdiri seorang dengan jenggot panjang dengan memakai jubah paderi warna kelabu, siapa lagi kalau bukan It-teng Taysu.
Segera Nyo Ko berseru.
"Tecu Nyo Ko memberi hormat kepada Taysu!"
Sambil menarik Kwe Yang sekaligus ia meluncur ke depan paderi sakti itu.
Tempat berada It teng itu di tepi kolam lumpur Hek-liong-tam itu, ia menjadi girang ketika mendengar nama Nyo Ko.
maka ia lantas membangunkannya ketika Nyo Ko datang menyembah padanya, katanya dengan tertawa"
"Baik2kah selama ini, saudara Nyo? Pesat amat kemajuan ilmu sakti-mu, sungguh menggembirakan dan mengagumkan."
Waktu Nyo Ko berbangkit dilihatnya di belakang It-teng sana menggeletak seorang dengan muka pucat lesi seperti mayat, ia melengak. Ketika ia awasi, kiranya Cuin Hwesio adanya.
"Kenapakah Cu-in Taysu?"
Tanya Nyo Ko terkejut.
"Dia dilukai orang, meski sudah kutolong sepenuh tenaga tetap sukar menyembuhkan dia,"
Tutur It-teng menyesal.
Nyo Ko coba mendekati Cu-in dan memeriksa nadinya, terasa denyutnya amat Iemah, lama sekali barulah berdenyut pelahan sekali, kalau saja Lwe kang Cu-in tidak kuat, mungkin sudah lama menghembuskan napas penghabisan.
"Kepandaian Cu-in Taysu sedemikian tinggi, entah siapakah yang mampu melukainya?"
Tanya Nyo Ko heran.
"Kami bermaksud pulang ke Tayli waktu itu karena ada kabar bahwa pasukan Mongol ada maksud menyerbu ke daerah selatan,"
Tutur It-teng.
"Sebelum berangkat, Cu-in telah keluar untuk mencari keterangan keadaan, di tengah jalan kepergok seorang dan mereka bertempur selama tiga-hari-tiga-malam, akhirnya Cu in terluka parah."
"Ah, kiranya keparat Kim-lun Hoat-ong datang ke Tionggoan lagi,"
Ujar Nyo Ko sambil membanting kaki ke tanah.
"He, Toakoko, darimana engkau mengetahui orang itu ialah Kim-lun Hoat-ong?"
Tanya Kwe Yang heran.
"padahal It-teng Taysu tidak menyebut dia."
"lt-teng Taysu bilang mereka bertempur selama tiga-hari-tiga-malam, maka jelas luka Cu-in bukan disergap musuh yang licik,"
Jawab Nyo Ko.
"Di dunia ini, orang yang mampu melukai Cu-in Taysu rasanya jumlahnya dapat dihitung dengan jari, dan di antaranya beberapa orang ini hanya Kim-lun Hoat-ong saja tergolong orang jahat."
"Toakoko, lekas engkau mencari bangsat itu dan hantam dia untuk membalaskan sakit hati Toahwesio ini,"
Ujar Kwe Yang. Tiba2 Cu-in yang menggeletak dengan kempas-kempis di tanah itu membuka matanya sedikit dan menggeleng pelahan kepada Kwe Yang.
"Kenapa? Memangnya kau tidak ingin membalas dendam?"
Tanya Kwe Yang heran.
"Ah, barangkali maksudmu Kim-lun Hoat-ong itu terlalu lihay dan kuatir Toakoko tak dapat menandingi dia?"
"Kau salah sangka, nona cilik,"
Sela It-teng.
"Soalnya muridku ini telah banyak berbuat dosa, selama belasan tahun ini dia berusaha menebus dosanya itu dan ternyata tak pernah tercapai, hal inilah selalu mengganjal hatinya dan membuatnya matipun tidak tenteram. Jadi bukan maksudnya ingin orang membalaskan sakit hatinya, tapi justeru mengharapkan pengampunan dari seseorang agar dia dapat mangkat dengan hati tenteram."
"Apakah nenek di kolam lumpur ini yang dia inginkan?"
Tanya Kwe Yang.
"Hati nenek ini sangat keras, jika bersalah padanya, tidak nanti dia mengampuni orang begitu saja."
"Justeru begitulah,"
Kata It-teng dengan menghela napas.
"Kami sudah memohonnya di sini selama tujuh-hari-tujuh-malam dan sama sekali dia tidak mau menemui kami."
Tiba2 hati Nyo Ko tergerak, teringat olehnya ucapan si nenek tentang anaknya yang terluka dan orang yang dimintai pertolongan tidak mau menyembuhkannya itu. Segera ia bertanya.
"Apakah berhubungan dengan anaknya yang terluka dan tak tertolong itu?"
Badan It-teng tampak bergetar, sahutnya sambil mengangguk.
"Ya, kiranya kaupun sudah tahu?"
"Tecu tidak tahu,"
Jawab Nyo Ko.
"Cuma tadi Locianpwe di tengah kolam itu menyinggungnya sedikit."
Lalu iapun mengisahkan pengalaman-nya bertemu dengan si nenek tadi.
"Dia bernama Eng-koh,"
Tutur It-teng pula.
"dahulu ialah isteriku. wataknya memang keras. Ai, kalau tertunda lebih lama lagi mungkin Cu in tidak tahan."
Seketika timbul macam2 tanda tanya dalam benak Kwe Yang, tapi ia tak berani bertanya. Dengan gegetun Nyo Ko lantas berkata.
"Setiap orang tentu pernah berbuat salah, kalau menyadari salahnya, maka apa yang sudah lampau bisalah dianggap selesai, Rasanya jiwa Eng-koh ini juga teramat sempit." -Dilihatnya ajal Cu-in sudah dekat, seketika timbul jiwa ksatrianya yang ingin menolong, segera ia menambahkan.
"Taysu, maafkan jika Tecu memberanikan diri memaksa Engkoh keluar ke sini."
It-teng termenung sejenak, ia pikir kedatangannya dengan Cu-in ini adalah untuk minta ampun kepada Eog-koh, rasanya tidak pantas memakai kekerasan.
Tapi permohonan dengan sopan sudah sekian lamanya dan Eng-koh tetap tidak mau menemuinya, tampaknya kalau tetap memohon begitu saja juga percuma.
jika Nyo Ko mempunyai caranya sendiri, rasanya boleh juga dicoba, seumpama tidak berhasil, paling2 juga cuma gagal bertemu saja, Maka ia lantas menjawab.
"Jika Nyo heng dapat membujuknya keluar, tentu segala persoalan menjadi beres, cuma sebisanya jangan sampai menimbulkan sengketa baru sehingga malah menambah dosa mereka."
Nyo Ko mengiakan, Lalu ia merobek sapu-tangan menjadi empat potong, dua potong digunakan, menyumbat telinga Cu in, dua potong lain di si nona menyumbat lubang kupingnya, Habis itu ia lantas menghimpun tenaga dalam dan minta maaf dulu kepada It-teng lalu ia menengadah dan mengeluarkan suara nyaring panjang.
Suara suitannya ini muIa2 nyaring bening dan berkumandang jauh, lama2 suaranya berubah melengking tajam, lalu berubah keras gemuruh laksana bunyi guntur.
Meski kupingnya sudah disumbat kain, tidak urung muka Kwe Yang berubah pucat karena getaran suara yang membuat jantungnya ber-debar2.
Suara gemuruh itu terus berlangsung secara bergelombang sehingga mirip deburan ombak samudera, Kwe Yang merasa dirinya seperti berdiri di tanah lapang dan guntur terus berbunyi mengelilinginya, ia menjadi takut dan gelisah.
"Toakoko, lekas berhenti, aku tidak tahan,"
Teriaknya.
Akan tetapi suaranya ternyata tenggelam di tengah suitan Nyo Ko yang hebat itu, bahkan ia sendiri tidak mendengar apa2, terasa pikiran menjadi linglung dan pandangan kabur, Untung pada saat itulah It-teng telah mengulurkan tangannya untuk memegangi telapak tangan Kwe Yang.
segera terasalah hawa hangat tersalur dari tangan paderi sakti itu.
Tahulah dia paderi sakti itu sedang membantunya dengan tenaga dalamnya yang kuat, Segera iapun memejamkan mata dan mengerahkan tenaga dalam sendiri.
Sejenak kemudian, meski suara gemuruh tadi masih tetap memekak telinga, namun pikirannya sudah tidak bergolak lagi.
Setelah bersuit panjang sekian lamanya, ternyata Nyo Ko tetap bersemangat dan kuat, sedikitpun tiada tanda2 lelah.
Diam2 It-teng merasa kagum, ia merasa semasa mudanya dahulu juga tidak sekuat Nyo Ko sekarang ini, apalagi kini usianya sudah lanjut, jelas takdapat dibandingkan anak muda itu.
Selang tak lama, tertampaklah sesosok bayangan meluncur dari Hek liong tam sana.
Sekali Nyo Ko mengebaskan lengan bajunya, suara suitan lantas berhenti.
Baru saja Kwe Yang menghela napas lega dan belum lagi pulih air mukanya, terdengar bayangan orang tadi berseru melengking dan jauh.
"Toanhongya, caramu malang melintang memaksa aku keluar, sebenarnya ada urusan apa?"
"Adik Nyo inilah yang mengundang kau,"
Jawab It-teng.
Tengah bicara, tahu2 bayangan orang tadi sudah mendekat.
Siapa lagi kalau bukan Eng koh.
Dia menjadi ragu2 mendengar jawaban It-teng ttu, ia heran di dunia ini kecuali Toan-hongya ternyata ada lagi yang memiliki kekuatan sehebat ini padahal orang yang mukanya sukar diketahui dengan pasti ini berambut hitam, umurnya paling banyak juga belum ada 40 tahun, tapi Lwekangnya ternyata selihay ini, sungguh luar biasa dan mengagumkan.
Sebenarnya Eng-koh bertekad tidak mau menemui Toan-hongya alias It-teng Taysu, tapi suara Nyo Ko tadi telah membuatnya gelisah, ia tahu jika dirinya tidak keluar, sekali tenaga dalam orang dikerahkan, maka pikirannya pasti akan terguncang dan mungkin sekali akan roboh dan terluka dalam.
Karena itulah terpaksa ia keluar walaupun dengan sikap ogah2an.
"lni, rase ini kuberikan padamu, anggaplah aku menyerah padamu dan lekas pergi dari sini,"
Kata Eng-koh kepada Nyo Ko dengan rasa dongkol. Habis itu dia pegang leher seekor rasenya terus hendak dilemparkan ke arah Nyo Ko.
"Nanti dulu,"
Seru Nyo Ko.
"urusan rase adalah soal kecil, ada urusan penting yang hendak dibicarakan It-teng Taysu, harap engkau suka mendengarkannya."
Eng-koh memandang It-teng dengan sikap dingin, katanya.
"Baiklah, silakan Hongya memberitahu."
"Kejadian di masa lampau laksana impian belaka, sebutan diwaktu dahulu buat apa digunakan lagi?"
Ujar It-teng dengan gegetun.
"Eng-koh, apakah kau masih kenal dia?" -Berbareng iapun menuding Cu-in yang menggeletak di tanah itu. Kini Cu-in memakai jubah Hwesio, bahkan mukanya sudah banyak berbeda daripada pertemuan di Hoa-san lebih 30 tahun yang lalu, Maka hakikatnya Eng-koh sudah pangling, katanya setelah memandang sekejap ke arah Cu-in.
"Mana ku kenal Hwesio ini?"
"Dahulu siapakah yang menyerang anakmu dengan cara keji?"
Tanya lt-teng.
Seketika tubuh Eng-koh gemetar, air mukanya berubah pucat, lalu berubah menjadi merah, katanya dengan suara ter-putus2.
Jadi......
jadi dia ini bangsat Kiu Jian-yim itu?
Biarpun...
biarpun tulang belulangnya menjadi abu juga tetap kukenali.
"Kejadian itu sudah berpuluh tahun yang lalu dan kau masih tetap dendam dan tidak melupakannya,"
Ujar It-teng dengan menghela napas.
"Orang ini memang betul Kiu Jian-yim. Sedangkan mukanya saja kau pangling, tapi dendam lama itu belum pernah kau hipakan."
Mendadak Eng-koh menubruk ke sana, kesepuluh jarinya laksana kaitan terus hendak ditancapkan ke dada Cu-in, ia coba meng-amat2i wajahnya, samar2 ia merasa rada mirip Kiu Jian-yim, tapi setelah diawasi lebin teliti, rasanya seperti bukan.
Kedua pipi paderi ini cekung dan menggeletak tak bergerak, tampaknya sudah tiga perempat mati.
"Apakah orang ini benar2 Kiu Jian-yim,"
Teriak Eng-koh bengis.
"Untuk apa dia menemui aku?"
"Dia memang betul Kiu Jian yim,"
Kata It-teng"
"Dia merasa dosanya terlalu besar dan sudah memeluk agama Buddha serta menjadi muridku, nama agamanya ialah Cu-in."
"Hm, setelah berbuat dosa, dengan menjadi Hwesio lantas segala dosanya akan punah, pantas di dunia ini tambah banyak orang menjadi Hwesio,"
Jengek Eng-koh.
"Dosa tetap dosa, mana mungkin ditebas dengan menjadi Hwesio?"
Ujar It-teng.
"Kini Cu-in terluka parah, ajalnya tinggal beberapa saat saja, teringat olehnya, dosanya mencelakai anakmu, dia merasa tidak tenteram, maka sekuatnya ia bertahan hembusan napas terakhir dan dari jauh datang kesini untuk memohon ampun padamu atas dosanya."
Dengan mata melotot Engkoh memandangi It-teng hingga lama sekali, wajahnya mengunjuk penuh rasa dendam dan benci, se-akan2 seluruh duka derita selama hidupnya ingin dilampiaskannya dalam sekejap ini.
Melihat air muka Eng-koh yang menyeramkan itu, Kwe Yang menjadi takut.
Terlihat kedua tangan Eng-koh telah diangkat dan segera akan dijatuhkan atas tubuh Cu-in.
walaupun merasa takut tapi dasar pembawaan Kwe Yang memang berbudi luhur, segera ia membentak.
"Nanti dulu! Dia sudah tak bisa berkutik, tapi kau hendak menyerangnya pula. sebab apa kau tega berbuat demikian?"
"Hm, dia membunuh anakku, selama berpuluh tahun aku menanti dengan menderita dan akhirnya aku dapat mencabut jiwanya dengan tanganku sendiri walaupun rasanya sudah agak terlambat tapi kau masih bertanya sebab2nya?"
Jengek Eng-koh.
"Kalau dia sudah menyadari kesalahannya dan mengaku berdosa, kejadian yang sudah lampau, buat apa di-ungkat2 lagi?"
Ujar Kwe Yang.
"Hehehehe!"
Eng-koh terkekeh sambil menengadah.
"Enak saja kau bicara, anak dara, Coba jawab andaikan yang dibunuhnya adalah anakmu, lalu bagai mana?"
"Dari... darimana aku mempunyai anak?"
Jawab Kwe Yang gelagapan.
"Atau yang dibunuhnya adalah suamimu, ke-kasihmu, atau Toakokomu ini?"
Jengek Eng-koh pula. Muka Kwe Yang menjadi merah, katanya.
"Ngaco-be!o! Dari... darimana datangnya suami atau kekasihku?"
Makin bicara makin meluap rasa gusar Eng-koh, mana dia tak mau banyak omong lagi, sambil menatap Cu-in segera tangannya hendak menghantam ke bawah.
Tapi mendadak terlihat Cu-in menghela napas dengan menyungging senyum dan berkata dengan perlahan.
"Terima kasih Eng-koh sudi menyempurnakan diriku."
Eng-koh jadi melengak dan pukulannya tidak jadi diteruskan, bentaknya.
"Menyempurnakan apa katamu?"
Tapi segera ia paham maksud orang, rupanya Cu-in yakin pasti dirinya mati, maka dia ingin diberi satu pukulan agar dapat mati di tangannya, jadi pukulan yang dahulu pernah menewaskan anaknya telah dibalas dengan pukulan maut pula, dengan begitu dosanya menjadi tertebus.
Dengan tertawa dingin Engkoh lantas berkata.
"Masakah begini enak bagimu? Aku takkan membunuh kau, tapi akupun tak pernah mengampuni kau!"
Kalimat2 ini diucapkan dengan tegas dan seram sehingga membuat orang mengkirik.
Nyo Ko tahu watak It-teng Taysu welas asih dan tidak mungkin bersitegang dengan bekas selirnya itu, sedangkan Kwe Yang adalah anak kecil, apa yang dikatakan tentu tidak mendapat perhatian Eng-koh, kalau dirinya tidak ikut campur tentu urusan ini takkan beres.
Maka dengan ketus ia lantas berkata.
"Eng-locianpwe, persoalan suka-duka di antara kalian sebenarnya tidak jelas bagiku, hanya saja ucapan dan tindak-tanduk cianpwe terasa agak keterlaluan bagiku, betapapun aku menjadi ingin ikut campur tangan urusan ini."
Eng-koh berpaling dengan terkesiap, dia sudah pernah bergebrak dengan Nyo Ko, dari suara suitan-nya tadi iapun tahu kepandaian orang ini jauh di atasnya dan tidak mungkin ditandingi.
Sungguh tak terduga dalam keadaan demikian ada orang tampil ke muka dan main kekerasan padanya setelah dipikir dan pikir lagi, tanpa terasa ia menjadi sedih dan merasa nasibnya teramat tidak beruntung, terus saja ia duduk mendeprok dan menangis ter-gerung2.
Tangisnya Eng-koh ini tidak saja membuat bingung Nyo Ko dan Kwe Yang, bahkan juga di luar dugaan It-teng Taysu.
Terdengar Eng-koh menangis sambil mengomeli "Kalian ini bertemu dengan aku, cara halus tidak dapat lantas memakai kekerasan, tapi orang itu tidak mau menemui aku, kenapa kalian tidak ambil pusing?"
"He, Locianpwe, siapakah yang tidak mau bertemu dengan kau?"
Tanya Kwe Yang cepat "Bagaimana jika kami membantu kau?"
Tanpa menjawab Eng-koh melanjutkan keluhannya.
"Kalian hanya dapat menganiaya kaum wanita macam diriku, kalau ketemu tokoh yang besar2 lihay masakah kalian berani mengutiknya?"
Kwe Yang lantas menanggapi lagi.
"Anak kecil seperti diriku sudah tentu tak berguna, tapi di sini sekarang kan ada It-teng Taysu dan Toakoko-ku, memangnya kita ikut kepada siapa?"
Eng-koh termenung sejenak, mendadak ia berbangkit dan berseru.
"Baik, asalkan kalian mencari dia dan membawanya ke sini untuk menemui aku dan biarkan dia bicara sebentar dengan aku, maka apapun kehendak kalian, ingin rase atau minta aku berdamai dengan Kiu Jian-yim, semuanya kuterima."
"Eh, Teakoko, apakah transaksi ini dapat diterima?"
Tanya Kwe Yang kepada Nyo Ko.
"Siapakah yang ingin cianpwe temui, masakah begitu sulit?"
Tanya Nyo Ko.
"Boleh kau tanya dia."
Jawab Engkoh sambil menuding It-teng Taysu.
Sekilas melihat air muka bersemu merah, Kwe Yang menjadi heran, masakah sudah tua begitu masih bisa malu2 seperti anak perawan.
Melihat Nyo Ko dan Kwe Yang sama menatap ke arahnya, dengan pelahan It-teng lantas menutur.
"Yang dia maksudkan adalah Ciu-suheng, Lo-wan-tong Ciu Pek-tong."
"Ah, kiranya Lowantong yang dimaksudkan,"
Seru Nyo Ko girang.
"Dia sangat baik padaku, biarlah kupergi mencari dan membawanya ke sini untuk menemuinya."
"Namaku Eng-koh, kau harus katakan jelas2 kepadanya bahwa dia akan dibawa ke sini menemui aku,"
Kata Eng-koh.
"Kalau tidak, begitu melihat bayanganku segera dia kabur dan sukar lagi mencarinya. Asakan dia mau datang ke sini maka setiap permintaan kalian pasti akan kupenuhi."
Nyo Ko coba melirik It-teng, terlihat paderi itu menggeleng pelahan, maka diduganya di antara Ciu Pek-thong dan Eng-koh pasti ada persengketaan berat dan keduanya tidak mungkin dipertemukan.
Tapi lantas teringat olehnya bahwa Ciu Pek-thong itu berpikiran seperti anak kecil, bukan mustahil akan dapat memancingnya ke sini dengan sesuatu akal aneh, Maka ia lantas berkata.
"Lo wan-tong itu berada di mana sekarang? Pasti akan kudayakan untuk mengajaknya ke sini."
"Kira2 lebih 200 li dari sini ke utara ada sebuah lembah Pek-hoa-kok (lembah seratus bunga), dia mengasingkan diri di sana dan mencari kesenangan dengan beternak lebah,"
Tutur Eng koh. Mendengar kata2
"beternak lebah" , seketika Nyo Ko terkenang kepada Siao liong-li. Teringat olehnya dahulu Ciu Pek-thong diajari oleh Siao-liong-li cara memiara tawon dan menguasainya, tanpa terasa hatinya menjadi sedih dan mata merah katanya kemudian.
"Baiklah, sekarang juga Wanpwe akan mencari Lo-wan-tong, harap kalian tunggu saja di sini."
Habis itu ia tanya letak Pek-hoa-kok lebih jelas, lalu melangkah pergi. Tanpa bicara Kwe Yang lantas ikut di belakangnya, Nyo Ko lantas mengisiki anak dara itu.
"ilmu silat It-teng Taysu maha tinggi, orangnya juga welas asih, kau tinggal sementara di sini dan mohon belajar sedikit kepandaian padanya, asalkan beliau mau memberi petunjuk, maka beruntungan bagimu."
"Tidak, kuingin ikut kau pergi menemui Lo-wan-tong itu,"
Kata Kwe Yang. Nyo Ko mengernyit kening, katanya.
"Sebenarnya inilah kesempatan yang sukar dicari, mengapa kau sia2kan?"
"Aku tidak ingin belajar ilmu apapun,"
Ujar Kwe Yang.
"Setelah ketemu Lo-wan-tong tentu kau akan pergi, akupun harus pulang, maka biarlah aku ikut pergi saja dengan kau."
Arti ucapan ini adalah merasa waktu berkumpul tidak banyak lagi, kalau dapat berdampingan dengan sang toa-koko lebih lama lagi inilah yang diharapkan.
Melihat anak dara itu marasa berat untuk berpisah dengan dirinya, diam2 Nyo Ko merasa ter-haru, dengan tersenyum ia lantas berkata.
"Semalaman kau tidak tidur, apakah kau tidak letih kantuk?"
"Kantuk sih memang kantuk, namun aku tetap ingin ikut kau,"
Kata Kwe Yang.
"Baiklah,"
Segera Nyo Ko gandeng tangan anak dara itu dan melayang ke depan secepat terbang dengan Ginkang yang tinggi.
Karena tarikan Nyo Ko ini, seketika tubuh Kwe Yang terasa enteng, langkahnya tanpa mengeluarkan tenaga sedikitpun, dengan tertawa ia ber-kata.
"Apabila tanpa digandeng olehmu dan aku sendiri sanggup berlari secepat ini, maka puaslah aku."
"Ginkangmu sudah mempunyai dasar yang baik, kalau berlatih terus, akhirnya kau pasti mencapai tingkatan seperti ini,"
Ujar Nyo Ko. Mendadak ia menengadah dan bersuit. Kwe Yang kaget dan cepat mendekap kuping-nya, tapi Nyo Ko tidak bersuit lagi, maka tertampaklah si rajawali raksasa itu muncul dari balik semak2 pohon.
"Tiau-heng, ada sesuatu urusan kita harus ke utara, mariah engkaupun ikut,"
Kata Nyo Ko.
Rajawali itu lantas tegak leher dan berkaok beberapa kali, entah paham entah tidak, yang jelas dia lantas ikut berangkat bersama Nyo Ko.
Kira2 dua tiga li jauhnya, lari rajawali itu semakin cepat, meski Kwe Yang mengganduI Nyo Ko masih juga tidak mampu menyusul burung itu.
Rupa-nya rajawali itu menjadi tidak sabar lagi, tiba2 ia berhenti dan mendakkan tubuh di depan Kwe Yang.
"Tiau-heng bersedia menggendong kau"
Kata Nyo Ko dengan tertawa.
"Kau harus berterima kasih padanya."
Kwe Yang tidak berani kasar lagi kepada rajawali itu, lebih dulu ia memberi hormat, lalu mencemplak ke atas punggungnya.
Segera rajawali itu mengayunkan langkahnya yang lebar, seketika Kwe Yang merasa seperti di-bawa-terbang, pepohonan di kedua samping sama melayang ke belakang, meski belum secepat terbang kedua ekor rajawali di rumahnya, namun sudah lebih cepat daripada kuda lari.
Nyo Ko kelihatan mengintil di sebelah burung itu tanpa ketinggalan sedikitpun, terkadang ia malah mengajak bicara dan bergurau.
Senang sekali hati si nona, ia merasa pengalamannya sekali ini jauh lebih aneh dan menggembirakan, daripada pengalaman sebelumnya.
Menjelang lohor, sudah lebih 200 li mereka lalui, Nyo Ko terus melintasi bukit menurut petunjuk Eng-koh, akhirnya pandangannya terbeliak, di depan sana sebuah lembah menghijau permai dengan aneka macam bunga mekar mewangi, sepanjang jalan mereka menyelusuri tanah salju melalu, sampai di sini se-akan2 memasuki suatu dunia lain, serentak Kwe Yang bersorak gembira dan melompat turun dan punggung rajawali sambil ber-teriak.
"Wah, pintar sekali Lo wan-thong menikmati hidup, sungguh suatu tempat ajaib yang sukar dicari. Eh, Toakoko, coba katakan, mengapa tempat ini sedemikian indahnya?"
"Lembah ini menghadapi selatan, gunung di belakangnya mengalingi angin dari utara, mungkin di bawah tanah banyak tambang batu bara dan belerang atau sebangsanya, makanya suhu tanah di sini cukup hangat, sebab itu pula suasana selalu semarak seperti di musim semi dan bunga mekar serentak."
BegituIah sambil bicara mereka terus memasuki lembah gunung itu.
Setelah membelok lagi beberapa kali, terlihatlah di depan sana sebuah selat diapit tebing gunung di kanan kiri, di tengahnya tumbuh tiga pohon Siong tua menjulang tinggi laksana malaikat penjaga pintu selat.
Menyusul lantas terdengar suara mendengung riuh ramai, banyak sekali, tawon putih beterbangan di sekitar pohon.
Nyo Ko tahu Ciu Pek-thong pasti berada di situ, segera ia berseru lantang.
"Hai, Lo-wan-tong, adik Nyo Ko membawa kawan cilik ingin bermain dengan kau!"
Sebenarnya tingkatan Nyo Ko selisih jauh dengan Ciu Pek-thong, menyebutnya kakek juga belum cukup, namun ia tahu Ciu Pek-thong itu tua2 nakal, kocak dan suka bermain seperti anak kecil, semakin blak2an dengan dia tanpa membedakan tua dan muda, semakin senang dia.
Benar saja, baru lenyap suaranya, segera dari balik pohon sana menongol satu orang, Sekali pandang, Nyo Ko berjingkat kaget.
Belasan tahun yang lalu ketika Nyo Ko pertama kali kenal Ciu Pek-thong, rambut alis Anak Tua Nakal itu sudah putih seperti perak, sekarang wajahnya memang tidak berubah sedikitpun tapi rambut, jenggot dan alisnya malahan berubah menjadi sebagian putih dan sebagian hitam sehingga tampaknya jauh lebih muda daripada dulu.
"Hahaha... adik Nyo, mengapa baru sekarang kau datang mencari aku?"
Demikian Ciu Pek-thong lantas menyambut dengan bergelak tertawa.
"Aha, kau memakai kedok segala untuk me-nakut2i siapa sih?" -Berbareng itu sebelah tangannya terus terjulur hendak meraih kedok tipis yang dipakai. Cengkeraman Ciu Pek-thong itu mengarah sebelah kiri, tapi sedikit menarik pundak kanan, kepala Nyo Ko berbalik miring ke kiri malah dan anehnya cengkeraman Ciu Pek-thong itupun mengenai tempat kosong. Kelima jarinya yang terpentang itu berhenti di sisi leher Nyo Ko, Lo-wantong tampak rada melengak, habis itu lantas terbahak2 dan memuji.
"Adik Nyo, hebat benar kepandaianmu Mungkin sudah jauh melebihi waktu muda Lo-wan-tong dahulu"
Rupanya dalam satu kali cengkeram dan satu kali mengegos itu, kedua orang telah sama2 memperlihatkan ilmu silat mereka yang tinggi luar biasa..
sebenarnya cengkeraman Ciu Pek-thong itu mencakup sasaran cukup luas, jangankan Nyo Ko menghindar dengan miringkan kepala, sekalipun melompat juga sukar menghindari cengkeramannya itu, dalam keadaan terpaksa bisa jadi Nyo Ko menangkis dengan keras lawan keras barulah dapat mematahkannya.
Tapi sedikit angkat pundak kanan tadi Nyo Ko lantas siap dengan lengan bajunya, rupanya Ciu Pek-thong juga tahu kemungkinan itu, terpaksa ia siap menangkis dan karena itu raihan tangannya menjadi kendur sehingga Nyo Ko dapat memiringkan kepalanya dan bebas dari cengkeraman itu.
Sudah tentu Kwe Yang tidak tahu seluk-beluk gebrakan itu, ia merasa senang mendengar Ciu Pek-thong memuji Nyo Ko, segera ia berkata.
"Eh, Ciu-loyacu, kepandaianmu sekarang lebih tinggi atau lebih tinggi waktu masih muda?"
"Waktu muda rambutku putih, kini rambutku hitam, dengan sendirinya sekarang lebih hebat daripada dulu,"
Jawab Ciu Pek-thong.
"Tapi sekarang engkau takdapat mengalahkan Toakokoku, dengan sendirinya dahulu lebih2 bukan tandingannya,"
Ujar Kwe Yang. Ciu Pek thong tidak marah, ia hanya tertawa dan bertanya.
"Hahaha, nona cilik sembarangan omong!" -Mendadak kedua tangannya bekerja sekaligus, satu pegang bagian kuduk dan lainnya mencengkeram punggung, tubuh Kwe Yang terus diangkat tinggi2 dan diputar tiga kali, dilemparkannya pelahan ke atas untuk kemudian ditangkap kembali, lalu diturunkan pelahan ke tanah. Kwe Yang datang bersama Nyo Ko, rajawali sakti itu tahu si nona adalah teman Nyo Ko, ia menjadi marah melihat Lo-wah-tong mempermainkan-Kwe-Yang.
"Bret" , mendadak sebelah sayapnya menyabet ke arah Lo-wan-tong. Seketika Ciu Pek-thong merasakan angin keras menyamber tiba, ia pikir akan kucoba betapa hebat kekuatan binatang ini. Segera ia mengerahkan tenaga, kedua tangannya terus menghantam ke depan. Rajawali sakti itu memang makhluk luar biasa, sayapnya yang terpentang itu ada dua-tiga meter lebarnya, maka terdengarlah suara "blang" , kedua, tenaga saling bentur, Ciu Pek-thong tetap berdiri tak bergeming, tenaga sabetan sayap rajawali yang dahsyat itupun menyamber lewat ke samping. Segera rajawali itu hendak menyusuIkan serangan lain, tapi Nyo Ko cepat membentaknya.
"Jangan, Tiau-heng! Kawan kita ini adalah orang kosen angkatan tua!"
Rajawali itu lantas mengurungkan serangannya, tapi tetap bersikap angkuh.
"Besar juga tenaga hewan ini, pantas berani berlagak,"
Ujar Ciu Pek-thong dengan tertawa "Usia Tiau-heng ini entah sudah berapa ratus tahun, jelas jauh lebih tua daripadamu,"
Ujar Nyo Ko.
"He, Lo-wan tong, mengapa dari tua kau kembali muda, rambutmu yang sudah ubanan semuanya kini malah berubah hitam."
"Habis apa mau dikata?"
Jawab Ciu Pek-thong dengan tertawa.
"Rambut dan jenggot ini tidak mau dipimpin, dahulu dia lebih suka dari hitam menjadi putih, terpaksa kubiarkan, sekarang dia ingin dari putih menjadi hitam, ya, akupun tak berdaya dan masa bodoh."
"Tapi kelak kalau kau semakin lama makin kecil, setiap orang yang ketemu kau suka raba2 kepalamu dan memanggil kau adik kecil, nah, jika begitu barulah menarik,"
Ujar Kwe Yang.
Sekelika Ciu Pek-thong benar2 rada kuatir, ia berdiri menjublek tanpa bicara lagi.
Padahal di dunia inii tidak mungkin terjadi orang tua kembali muda, soalnya sifat Ciu Pek-thong itu lugu, polos, selama hidup tidak kenal kuatir sedih.
Lwekangnya juga sangat tinggi, ditambah lagi dia suka makan tumbuh2an pegunungan sebangsa Ho siu-oh, Hok-leng (bahan obat, kuat) dan madu tawon, semua itu besar manfaatnya bagi kesehatan, sebab itulah rambut-alisnya yang tadi nya putih malah kembali menjadi hitam.
Malahan juga sering terjadi orang tua yang sudah ompong tumbuh gigi lagi, tulang yang sudah lapuk berubah menjadi kuat, apalagi Ciu Pek thong memang paham cara merawat diri sehingga umurnya sudah dekat seabad masih tetap segar dan bersemangat Mendengar ucapan Kwe Yang yang membuat kuatir tidak perlu bagi Ciu Pek-tbong itu, diam2 Nyo Ko merasa geli, segera ia berkata.
"Ciu-heng, asalkan kau mau menemui satu orang, kujamin kau takkan berubah menjadi kecil."
"Menemui siapa?"
Tanya Ciu Pek-thong "Jika kusebut nama orang ini, jangan kau terus pergi begitu saja,"
Kata Nyo Ko.
Bahwa watak Ciu Pek-thong hanya lugu saja, tapi sekali2 bukan orang bodoh, Kalau tidak masakah dia mampu meyakinkan ilmu silat setinggi ini.
Maka diam2 telah dapat menangkap maksud kedatangan Nyo Ko, segera ia menjawab.
"Di dunia ini ada dua orang-yang takdapat kutemui, seorang ialah Toan hongya dan yang lain ialah bekas selirnya, Eng-koh. Kecuali mereka berdua, siapapun aku mau menemuinya."
Diam2 Nyo Ko pikir harus menggunakan akal pancingan, segera ia berkata pula.
"Ah, kutahu, tentu kau pernah dikalahkan mereka, ilmu silatmu lebih rendah daripada mereka, makanya kau kapok dan takut bertemu dengan mereka."
"Tidak, tidak,"
Sahut Lo-wan tong sambil meng-ge!eng2.
"Soalnya perbuatanku terlalu kotor dan rendah, aku merasa bersalah kepada mereka, maka malu untuk bertemu dengan mereka,"
Nyo Ko melengak, sama sekali tak terduga olehnya bahwa begitulah sebabnya Cui Pek-thong tak berani bertemu dengan Eng-koh.
Tapi dia dapat berpikir cepat, segera ia menambahkan "Kalau kedua orang itu terancam bahaya dan jiwa mereka sudah dekat ajalnya, apakah kaupun tidak sudi memberi pertolongan?"
Melenggong juga Ciu Pek-thong, dalam hati ia sangat menyesal dan merasa berdosa terhadap It-teng dan Eng-koh, kalau kedua orang itu ada kesukaran, biarpun mengorbankan jiwa sendiri juga dia akan menolong mereka tanpa ragu sedikitpun.
Tapi sekilas ia melihat Kwe Yang tersenyum simpul, sama sekali tiada rasa cemas dan kuatir, segera ia menjawab dengan tertawa.
"Aha, kau ingin menipuka ya? Kepandaian Toan-hongya maha sakti, mana mungkin dia terancam bahaya? Andaikan benar dia menemukan lawan maha lihay, kalau dia tidak sanggup menandingi ya, maka akupun tidak mampu."
"Terus terang kukatakan, sesungguhnya Eng-koh sangat rindu padamu, betapapun kau diminta ke sana menemuinya."
Seketika air muka Ciu Pek-thong berubah sambil meng-goyang2 kedua tangannya, katanya.
"Adik Nyo, jika kau mengungkat urusan ini sepatah kata lagi, segera kusilakan kau keluar dari Pek-hoa-kok ini dan jangan menyalahkan aku jika aku tidak kenal sahabat lagi."
Setelah mengalami gemblengan selama belasan tahun, sifat latah Nyo Ko sudah lenyap, tapi semangat jantannya tidak menjadi berkurang, sekali bajunya mengebas, segera ia menjawab.
"Ciu-Ioheng seumpama kau ingin mengusirku pergi dari sini, kukira juga tidak begitu mudah."
"Hehe, memangnya kau ingin berkelahi dengan aku?"
Kata Lo-wan-tong dengan tertawa.
"Boleh juga jika kau ingin berkelahi,"
Jawab Nyo Ko.
"Kalau aku kalah, segera kupergi dari sini dan takkan menginjak tempatmu lagi, tapi kalau kau kalah, kau harus ikut aku pergi menemui Eng-koh."
"Tidak, tidak, salah!"
Seru Ciu Pek-thong.
"Pertama, mana bisa kukalah daripada anak muda seperti kau ini. Kedua, seumpama aku kalah juga aku takkan menemui Lau-kui-hui (Lau, she Eng-koh)"
Nyo Ko menjadi marah, katanya.
"Jika kau menang adalah hakmu untuk tidak menemui dia, tapi kalau kau kalah juga tetap tidak mau, lalu apa taruhan kita?"
"Sekali aku bilang tidak mau menemui dia-ya tetap tidak mau, tidak perlu banyak omong lagi, hayolah mulai!"
Seru Ciu Pek-thong sambil menyingsing lengan baju dan gosok2 kepalan Nyo Ko pikir Lo-wan-tong ini sukar dipancing dan ditipu, terpaksa harus memakai kekerasan.
Kalau benar2 harus bergebrak rasanya juga tidak yakin pasti akan menang, tiada jalan lain, terpaksa harus melihat gelagat saja nanti.
Watak Ciu Pek-thong memang keranjingan ilmu silat, meski tinggal terpencil di Pek-hoa-kok masin tetap berlatih setiap hari, tapi kepandaiannya sudah maha tinggi, dengan sendirinya sukar mencari pamer berlatih.
Kini melihat Nyo Ko mau bertanding dengan dirinya, tentu saja ia menjadi gatal tangan dan ingin coba2 selekasnya, ia pikir kalau tertunda Iama2, jangan nanti Nyo Ko mencari alasan dan membatalkan niatnya, kan hilanglah kesempatan baik ini?
Karena itu, segera ia mendahului membentak, menjotos ke depan, yang dimainkan adalah 72 jurus "Khong-beng-kun-hoat", ilmu pukulan sakti.
Cepat Nyo Ko angkat tangan kiri dan balas menghantam satu kali, mendadak ia merasa tenaga pukulan orang seperti ada juga seperti tidak ada, kalau dirinya menghantam benar2 terasa per cuma, sebaliknya kalau tidak jadi diterusnya, rasanya juga berbahaya.
Diam2 ia terkejut dan menyadari benar2 ketemu tandingan berat yang belum pernah ditemukannya.
Segera ia memainkan ilmu pukulan yang dilatihnya secara giat selama belasan tahun di bawah damparan ombak samudera itu, ia balas menyerang dengan dahsyat.
Terdengar suara gemuruh, tiga kali ia melancarkan pukulan keras hingga pepohonan di sekitarnya sama tergetar, seketika terjadilah hujan kelopak bunga beraneka warna, Semula Nyo Ko rada kuatir kalau usia Ciu Pek-thong sudah lanjut dan tidak tahan tenaga pukulannya yang semakin dahsyat ini, maka setiap pukulannya selalu ditahan sedikit, tapi setelah beberapa kali bergebrak dan melihat tenaga dan ilmu pukulan lawan bahkan di atasnya, kalau dirinya meleng sedikit saja mungkin malah bisa dirobohkan oleh si Anak Tua Nakal, maka iapun tidak sungkan2 lagi dan melayaninya dengan sepenuh tenaga.
Ciu Pek-thong menjadi semakin bersemangat, teriaknya.
"Kepandaian hebat, ilmu pukulan lihay! Wah, perkelahian ini benar2 menarik dan memuaskan!"
Lingkaran yang dicapai tenaga pukulan mereka semakin meluas, selangkah demi selangkah Kwe Yang terpaksa mundur terus, sedangkan si rajawali tetap berdiri di tempatnya dengan sayap setengah terpentang dan siap membela Nyo Ko bila perlu, rupanya burung itupun tahu lawan yang dihadapi Nyo Ko sekarang teramat lihay.
Melihat ilmu pukulan yang dilatihnya selama berpuluh tahun itu tidak dapat mengalahkan Nyo Ko, diam2 Ciu Pek-thong memuji kehebatan Iawannya, Mendadak ia ganti siasat, kini tangan kiri mengepal dan tangan kanan pakai telapak tangan, kedua tangan menyerang dengan cara yang berbeda, inilah ilmu silat ciptaan Ciu Pek-thong-sendiri yang pernah diajarkan kepada Kwe Cing dan Siao-liong-li itu, yakni dua tangan menyerang dengan cara yang berbeda, Dengan demikian-seorang Lo-wan-tong seperti berubah menjadi dua orang, ia menggempur Nyo Ko dari kiri-kanan.
Dengan melulu sebelah tangannya melawan serangan Ciu Pek-tbong yang hebat tadi memangnya Nyo Ko merasa tak dapat menang, apalagi sekarang satu harus lawan dua serangan berlainan, tentu saja ia tambah kewalahan.
Diam2 ia terkejut dan terpaksa lengan baju yang kosong itupun digunakan menyambut sebagian serangan orang tua itu.
Meski Kwe Yang tidak dapat memahami di mana letak kehebatan tipu serangan kedua orang itu, tapi dari sama kuat berubah menjadi Nyo Ko yang terdesak, betapapun ia dapat melihat keadilan itu, tentu saja ia terkejut dan heran pula, tiba2 teringat olehnya waktu ayahnya mengajarnya pernah menggunakan kedua tangan melayani dirinya dan adik lelakinya sekaligus dengan gerakan yang berbeda, tampaknya apa yang dimainkan Ciu Pek-thong sekarang adalah kepandaian yang sama seperti ayahnya itu.
Sudah tentu Kwe Yang tidak tahu bahwa ilmu silat aneh ini justeru Ciu Pek-thong yang mengajarkan kepada Kwe Cing, dia malah menyangka mungkin si anak Tua ini telah mencuri belajar kepandaian khas sang ayah.
Karena itulah ia lantas berteriak2.
"He, berhenti, berhenti! Tidak adil, tidak adil, Lo-wan tong! Toakoko, jangan mau lagi bertanding dengan dia!"
Ciu Pek thong melengak sambil melompat mundur, bentaknya.
"Tidak adil bagai mana?"
"Seranganmu yang aneh ini tentu kau curi dari ayahku, sekarang kau gunakan berkelahi dengan toakokoku, huh, apa kau tidak malu?"
Omel Kwe Yang. Ber-ulang2 mendengar Kwe Yang menyebut Nyo Ko sebagai "toakoko" , Ciu Pek-thong menyangka anak dara itu benar2 adik perempuan Nyo Ko, tapi seketika ia tidak ingat siapakah ayah Nyo Ko.
"Ah, nona cilik sembarangan omong,"
Katanya kemudian dengan tertawa.
"ilmu aneh ini adalah hasil-renunganku di dalam gua dahulu, masakah kau tuduh kucari belajar dari ayahmu?"
"Baiklah, seumpama kau tidak mencuri belajar, kau mempunyai dua tangan, sedangkan Toakokoku lanya sebelah tangan, perkelahian sudah berlangsung sekian lama, apalagi yang dipertandingkan? Coba kalau Toakoko juga punya dua tangan, tentu sejak tadi sudah kalah."
Ciu Pek-thong melengak, katanya kemudian.
"Ya, beralasan juga ucapanmu, tapi biarpun dia mempunyai dua tangan juga tak dapat sekaligus memainkan dua macam ilmu silat."
Habis berkata ia lantas bergelak tertawa.
"Huh jelas kau tahu lengan Toakokoku takkan tumbuh lagi, makanya kau bicara seenaknya, jika kau benar2 laki2 sejati dan pahlawan tulen, cara bertanding ini harus dilakukan dengan adil. dengan demikian barulah dapat dibedakan benar2 siapa yang lebih unggul atau asor."
"Baik jika begitu ke dua tanganku akan memainkan semacam ilmu pukulan saja,"
Kata Ciu Pek-thong.
"Hehe, masakah ada cara begitu? Kau benar2 tidak tahu malu,"
Ejek Kwe Yang. Ciu Pek-thong menjadi kurang senang, omeInya.
"Habis apakah aku harus meniru dia dan membiarkan sebelah lenganku dikutungi perempuan,"
Kwe Yang melengak dan memandang sekejap ke arah Nyo Ko, pikimya.
"Kiranya sungguh kejam dia!"
Segera ia menjawab.
"Tidak pertu lenganmu dibikin buntung, cukup asalkan sebelah tanganmu diikat pada pinggangmu, kalian bertanding lagi sama2 satu tangan, kan jadi adil bukan?"
Karena merasa cara bertanding yang diusulkan Kwe Yang ini, cukup menarik, pula yakin kepandaian sendiri cukup dikuasai dengan satu tangan maka tanpa tawar menawar lagi segera ia menyelipkan lengan kanan ke ikat pinggang, lalu berkata pada Nyo Ko.
"Baiklah, kita mulai lagi, supaya kau kalah tanpa menyesal."
Nyo Ko diam2 saja selama Kwe Yang bicara dengan Ciu Pek-thong, dia tidak pantang orang menyebut lengannya buntung, tapi ia percaya pada dirinya sendiri dan merasa tidak lebih lemah daripada orang yang bertangan lengkap, maka demi nampak Ciu Pek-thong mengikat tangan sendiri untuk menghadapinya, jelas ini sikap meremehkan dirinya, segera ia berkata dengan tegas!
"Lo-wan-tong, caramu ini bukankah memandang rendah pada diriku?
Kalau dengan lengan tunggal aku tidak mampu menandingi kau, biarlah nanti aku...
aku..."
Menuruti wataknya ia hendak mengatakan "aku membunuh diri di Pek-hoa-kok ini" , tapi mendadak ia ingat janjinya bertemu dengan Siao--liong-li sudah dekat waktunya, mana boleh diri-nya berpikiran pendek begini, maka ia tidak meneruskan ucapannya itu.
Kwe Yang sangat menyesal, maksudnya ingin membela Nyo Ko, tak tahunya malah menimbulkan suasana yang tidak mengenakkan ini, Cepat ia mendekati Nyo Ko dan berkata.
"Toakoko, akulah yang salah..."
Lalu ia mendekati Ciu Pek-thong dan menarik tangannya yang terselip di ikat pinggang itu bahkan tali pinggangnya di betotnya hingga putus, lalu katanya.
"Meski dengan satu tangan saja pasti toakokoku dapat menandingi kedua tanganmu, kalau tidak percaya boleh kau mencobanya."
Tanpa menunggu Ciu Pek-thong bicara lagi, sedikit melangkah ke samping, segera Nyo Ko mendahului menghantam.
Cepat Ciu Pek-tong membalas dengan tangan kiri, Meski tangan kanannya tak terikat lagi, tapi ia pikir takkan melayani Nyo Ko dengan dua tangan, maka tangan kanan tetap dijulurkan ke bawah tanpa digunakan.
Walaupun begitu, karena tipu serangannya tetap lihay, maka Nyo Ko masih juga kewalahan.
Diam2 Nyo Ko penasaran, masakah dirinya yang lebih muda tak dapat mengalahkan seorang kakek yang usianya sudah dekat seabad, lalu kepandaian yang terlatih selama belasan tahun ini dikemanakan perginya?
Ia merasakan daya pukulan Ciu Pek-thong ini semakin keras dan kuat, sama sekali berbeda dengan "Khong-beng kun-hoat"
Yang mengutamakan lunak tadi. Tiba2 pikirannya tergerak, teringat olehnya "
Kiu im cin-keng yang pernah dibacanya di dinding kuburan kuno di Cong-Iam-san dahulu itu, rasanya gerak serangan Cui Pek-thong sekarang ini adalah sebagian daripada ilmu silat yang tercantum dalam kitab pusaka yang terukir itu, kalau tidak salah ia ingat namanya Hok-mo-kun-hoat (ilmu pukulan penakluk iblis).
Mendadak Nyo Ko membentak.
"Apa artinya Hok mo kun hoatmu ini? Silakan kau menggunakan kedua tanganmu dan sambut aku punya Im -jian-soh-hun-kun"
Ini!"
Ciu Pek-thong melengak karena nama ilmu pukulannya sendiri dengan tepat dapat disebut oleh Nyo Ko, ia tambah melongo demi mendengar lawan hendak memainkan "lm-jian-soh-hun-kun" (ilmu pukulan pengikat sukma) segala.
Sejak kecil Ciu Pek-thong sudah "gila silat"
Ilmu silat dari golongan dan aliran manapun sudah hampir seluruhnya diketahuinya, tapi nama "lm jan-soh-hun-kun""
Baru pertama kali ini didengarnya, Dilihatnya lengan tunggal Nyo Ke terpanggul di punggung, matanya memandang jauh, langkahnya mengambang dan bagian dada tidak terjaga, gayanya itu sangat berlawanan dengan teori ilmu silat manapun juga.
Segera Ciu Pek-thong melangkah maju satu tindak, tangan kiri berlagak siap menyergap, maksudnya ingin memancing reaksi lawan.
Tapi Nyo Ko seperti tidak tabu saja dan tidak menggubrisnya.
"Awas!"
Seru Ciu Pek-thong terus menghantam ke perut Nyo Ko, ia kuatir melukai lawan, maka pukulan ini hanya memakai tiga bagian tenaga saja.
Tak terduga baru saja kepalan hampir mengenai tubuh Nyo Ko, mendadak terasa perutnya seperti bergetar, dada mendekuk terus mental keluar lagi.
Karuan Ciu Pek-thong terkejut dan cepat melompat mundur, kalau orang mendekukkan perut untuk menghindari serangan adalah kejadian biasa, tapi menggunakan kulit daging dada untuk menyerang musuh, sungguh belum pernah terlihat dan terdengar.
Tentu saja Ciu Pek-thong ingin tahu, segera ia membentak.
"Ilmu silat apa ini namanya?"
"lnilah jurus ke-13 dari Im-jian-soh-hun-ciang, namanya "
Sim-keng-bak-tiau" (hati kaget daging kedutan)!"
Ciu Pek-thong menggumam mengulangi nama jurus itu.
"Sim-keng bak-tiau? Tak pernah dengar? tak pernah dengar!"
"Sudah tentu kau tidak pernah dengar,"
Ujar Nyo Ko.
"soalnya Im-jian-soh-hun-ciang adalah 17 jurus ilmu pukulan ciptaanku sendiri."
Kiranya sejak di tinggal menghilang oleh Siao-liong-li, kemudian Nyo Ko bersama si rajawali sakti menggembleng diri di bawah darnparan ombak samudera yang dahsyat, beberapa tahun kemudian, kecuali Lwekangnya bertambah kuat rasanya tiada apa-2 lagi yang dapat dilatihnya, tapi rindunya kepada SiaoliongIi tak pernah pudar, bahkan semakin hari semakin menjadi sehingga tambah kurus dan kehilangan gairah hidup.
Suatu hari dia gerak badan bebas di tepi pantai, saking isengnya ia ayun tangan dan gerakkan kaki untuk melemaskan otot, mungkin tenaga dalamnya sudah mencapai tingkatan yang sempurna sehingga sekali hantam saja ia telah menghancurkan tempurung punggung seekor penyu raksasa, Dari sinilah ia mulai merenung dan akhirnya menciptakan Im-jian-soh-hun-ciang-hoat yang meliputi 17 jurus dan mengutamakan tenaga dalam yang kuat.
Bahwa Nyo Ko dapat berdiri dan menciptakan ilmu silat baru tidaklah perlu diherankan.
SeIama hidupnya telah mendapat ajaran mahaguru ilmu silat berbagai aliran, seperti ilmu silat Coan cinkau Giok-li-sim-keng dari Ko-bong-pay sendiri serta Kiu-im-cin-keng yang sudah diapalkannya di luar kepala itu, dari Auyang Hong diperoleh ajaran Ha-mo-kang, ilmu weduk katak, Ang Jit-kong juga mengajarkan Pah-kau-pang hoat, Ui Yok-su menurunkan Giok-siau-kiam-boat dan Sian-ci-sin thong, kecuali It-yang-ci dari It-teng Taysu, hampir seluruh ilmu silat paling disegani di dunia ini telah dipelajari, maka tidaklah sulit baginya untuk meleburnya lalu menciptakan yang baru.
Hanya saja lengannya buntung sebelah, sebab itulah dia tidak mengutamakan tipu serangan melainkan terletak pada tenaganya, bahkan sengaja dimainkan secara berlawan daripada teori ilmu silat umumnya.
Ilmu pukulannya itu diberi nama "Im-jiansoh-im-ciang"
Dan selama ini belum pernah digunakan, baru sekarang dia keluarkan setelah bertemu dengan lawan maha tangguh seperti Ciu Pek-thong yang keranjingan ilmu silat ini.
Karuan Anak Tua Nakal ini sangat senang demi mendengar si Nyo Ko berhasil menciptakan ilmu pukulan sendiri, segera ia berseru gembira.
"Aha, kebetulan, aku ingin belajar kenal dengan ilmu ciptaanmu itu,"
Habis berkata segera ia melangkah maju dan menyerang pula, yang digunakan tetap tangan kiri saja. Nyo Ko juga tetap anggap tidak tahu saja.
"brek" , ia memukul ke atas, tapi tenaga pukulannya itu dapat menyebar ke bawah dalam lingkup yang cukup luas. Ciu Pek-thong merasa sukar untuk menghindar segera ia angkat tangan menangkis.
"Plak" , kedua tangan saling bentur, tanpa terasa Ciu Pek-thong tergeliat oleh getaran itu. Kalau orang lain pasti sudah sesak napas dan roboh binasa oleh tenaga pukulan Nyo Ko yang dahsyat itu, tapi cepat Lo-wan-tong dapat mengatur pernapasannya, lalu bersorak memuji.
"Bagus ! Apakah namanya jurus ini?"
"Namanya "Ki-jin-yu-thian" (si tolol menguatirkan runtuhnya langit )! "
Jawab Nyo Ko.
"Dan awas, jurus berikutnya adalah "
Bu-tiong-seng-yu"
I tidak ada tapi meng-ada2 )!"
Ciu Pek-thong melengak sambil mengulang nama jurus itu, segera ia mengikik geii.
"Butiong-seng-yu" , nama ini sungguh aneh dan jenaka, bisa saja bocah ini memberi nama jurus serangan ini,demikian pikirnya. Segera ia meng-gosok2 kepalan dan menubruk maju lagi, Dilihatnya tangan Nyo Ko melambai ke bawah, sedikitpun tidak pasang kuda2 dan siap ber-tempur, tapi begitu serangan Ciu Pek-thong dilontarkan mendadak kaki dan tangan Nyo Ko bergerak serentak, telapak tangan kiri, lengan baju kanan, kedua kakinya dan juga gerak kepalanya, bahkan punggung dan perut, hampir semua tempat di sekujur badannya dapat digunakan untuk melukai musuh. Meski sebelumnya Ciu Pek-thong sudah menduga lawannya pasti mempunyai jurus simpanan yang hebat, tapi tidak menduga bahwa sekujur badan lawan dapat dikerahkan untuk menyerang hanya sekejap saja belasan macam gaya serangan dilontarkan sekaligus. Keruan Ciu Pek-thong kerepotan juga menghadapi serangan aneh itu, tangan kirinya yang tidak digunakan mau-tak-mau terpaksa diangkat untuk menangkis dan dengan sepenuh tenaga barulah serangan Nyo Ko dapat di patahkan.
"He, Ciu-loyacu, tampaknya dua tangan tidak cukup bagimu, paling baik kalau kau mempunyai satu tangan lagi!"
Seru Kwe Yang. Sama sekali Ciu Pek-thong tidak marah, ia hanya mengomel.
"Brengsek! Memangnya kau kira namaku si tangan tiga?"
Diam2 Nyo Ko juga kagum terhadap kelihayan Ciu Pek-thong yang dapat mematahkan setiap serangannya dengan baik, segera ia berseru pula.
"Awas, jurus selanjutnya bernama "Do-ni-taysui (basah kuyup dan berlumpur)!"
Ciu Pek-thong dan Kwe Yang sama tertawa dan bersorak.
"Haha, nama bagus!"
"Jangan memuji dulu, rasakan saja serangan ini!"
Seru Nyo Ko, lengan baju kanan terus bergerak enteng, sedangkan telapak tangan kiri lantas menyodok ke depan dengan kuat.
Tentu saja Ciu Pek-thong tidak berani ayal, segera iapun mengeluarkan Hok-mo-kunhoat dengan tangan kanan dan tangan kiri menggunakan Khong-beng-kun yang enteng, jadinya keras lawan keras dan enteng lawan enteng, kedua orang sama2 membentak sekali, lalu sama2 mundur pula beberapa tindak.
Setelah mengadu pukulan lagi, kedua orang sama2 mengagumi pihak lawan, diam2 Nyo Ko merasa tidak mudah untuk mengalahkan si Tua Nakal ini, kalau mesti mengadu tenaga dalara, bukan mustahil akibatnya akan mati konyol bersama seperti halnya Ang Jit-kong dan Auyang Hong dahulu, kiranya juga tidak perlu sampai berakhir demikian.
Maka ia lantas menghentikan serangannya, dengan sikap rendah hati ia memberi hormat dao berkata.
"Ciu-locianpwe, sungguh aku sangat kagum padamu dan terima mengaku kalah."
Lalu ia berpaling dan berkata kepada Kwe Yang.
"Adik cilik, Ciu-locianpwe jelas tidak terima undangan kita, marilah kita pergi saja."
"Nanti dulu!""
Tiba2 Ciu Pek-thong mencegah malah.
"Kau bilang linu pukulanmu ini meliputi 17 jurus, sedangkan kau baru mengeluarkan empat jurus, itu berarti masih ada 13 jurus yang belum kau mainkan, Mengapa sekarang kau mau pergi begini saja?"
"Selamanya kita tidak bermusuhan dan dendam apapun juga, buat apa kita mengadu jiwa? Biarlah Wanpvve mengaku kalah saja,"
Kata Nyo Ko.
"Tidak, tidak bisa,"
Seru Ciu Pek thong sambil goyang2 kedua tangannya.
"Kau belum kalah, akupun tidak menang. Jika kau ingin keluar Pek-hoa-kok ini. kau harus memainkan ke-17 jurus ilmu pukulanmu secara lengkap."
Rupanya Ciu Pek-thong menjadi sangat terpikat oleh nama2 jurus serangan seperti "Sim-keng-bak-tiau", Ki jin-yu-thian".
"Bu-tiong seng yu"
Dan "Do-ni tay-sui"
Segala, ia merasa namanya menarik dan permainannya juga aneh, biarpun orang biasa juga ingin tahu permainan selengkapnya, apalagi dasar pembawaan si Tua Nakal ini memang "gila silat", tentu saja ia lebih2 ingin tahu ilmu pukulan ciptaan Nyo Ko itu.
Tapi Nyo Ko sudah mempunyai perhitungan sendiri, ia sengaja jual mahal, jawabnya.
"Hah, sungguh aneh, Engkau menolak undanganku, terpaksa kupergi saja dan habis perkara. Memangnya orang mengundang tamu malah hendak ditahan di sini?" .. Dengan sikap memelas Ciu Pek-thong berbalik memohon.
"O, adik yang baik, betapapun sukar kubayangkan ke-13 jurus ilmu pukulanmu itu. Kumohon belas kasihanmu, sudilah kau menguraikan namanya padaku, sebagai imbalannya, kepandaian apa yang kau inginkan, tentu kuajarkan kepadamu"
Hati Nyo Ko tergerak, segera ia berkata.
"Ku-kira tidak sulit jika kau ingin tahu lengkap ilmu pukulanku ini, Akupun tidak ingin minta belajar kepandaianmu sebagai imbalan cukup asalkan kau berjanji ikut pergi menemui Eng-koh."
"Biarpun kau potong kepalaku juga aku tidak mau menemuinya,"
Jawab Ciu Pek-thong dengan serba susah.
"Jika begitu, kumohon diri saja,"
Segera Nyi Ko hendak melangkah pergi pula. Namun Ciu Pek-thong terus melompat maju mencegatnya, tangan bergerak, segera ia menghantar sambil berkata.
"Adik yang baik, coba mainkan lagi jurus seranganmu selanjutnya!"
Nyo Ko menangkis serangan Lo-wan-tong itu, tapi yang digunakan adalah ilmu pukulan Coan-cin-pay.
Beberapa kali Ciu Pek-thong menyerang pula dengan pukulan lain, namun Nyo Ko tetap dengan ilmu silat Coan-cin-pay dan apa yang per.nah dipelajari dari Kiu-im-cin-keng, dengan demikian serangan Ciu Pek-thong selalu gagal mencapai sasarannya.
Untuk mengalahkan Ciu Pek-thong memang juga tidak mudah bagi Nyo Ko, tapi kalau cuma mempertahankan diri saja, betapa Anak Tua itupun takbisa berbuat apa?, Nyo Ko tidak ambil pusing orang menyerangnya dengan cara2 memancing, ia justeru tidak memperlihatkan lagi jurus serangan baru dari Im-jian-soh-hun-ciang, hanya terkadang ia mengulangngi keempat jurus yang telah diperlihatkannya tadi dan hal ini tentu saja semakin mengitik-ngitik rasa ingin tahu si Anak Tua Nakal.
Sampai lama sekali Ciu Pek thong tetap tak berdaya memaksa Nyo Ko memenuhi harapannya betapapun usianya sudah lanjut, tenaga terbatas, lama2 iapun merasa lelah, ia tahu sukar lagi memancing dan memaksanya, mendadak ia melompat mundur dan berseru.
"Sudahlah, sudahlah! Biarlah aku menyembah delapan kali padamu dan memanggil guru padamu, dengan begitu sukalah kau mengajari aku?"
Diam2 Nyo Ko merasa geli bahwa di dunia ini ada orang yang "gila silat"
Sedemikian rupa, cepat ia menjawab."Ah, mana berani kuterima. Biar-lah "kuberitahu saja nama ke-13 jurus sisanya dari Im jian-soh-hun ciang itu."
Seketika Ciu Pek-thong berjingkrak kegirangan serunya;
"Aha, sungguh adik yang baik!"
Tapi Kwe Yang lantas menyela.
"Nanti dulu dia kan tidak mau ikut kita ke sana, maka jangan kau mengajarkan dia."
Namun Nyo Ko justeru sengaja hendak membikin si Anak Tua itu kepingin tahu, jika sudah tahu nama jurusnya, tentu akan semakin tertarik. Maka dengan tersenyum ia menjawab.
"Kukira cuma mengetahui namanya saja tidaklah menjadi soal."
"Ya, hanya nama jurusnya saja, kan tidak soal?"
Cepat Ciu Pek-thong menukas. Nyo Ko lantas duduk di bawah pohon, lalu berkata.
"Dengarkan yang betul, ,Ciu-heng, sisa ke 13 jurus itu disebut. Bok-beng-ki-miau (bingung tidak paham), Yak-yu-soh-sit (seperti kehilangan sesuatu), To-heng-gik-si (tindak terbalik dan berbuat berlawanan), Keh-hoa-soh-yang (menggaruk gatal dari balik sepatu), Lik-put-ciong-sim (keinginan besar tenaga kurang), Bin-bu-jin-sik (muka pucat tanpa pcrasaan)"
Begitulah Kwe Yang sampai ter-pingkal2 geli mendengar nama2 yang aneh itu, sebaliknya Ciu Pek-thong mengikuti dengan penuh perhatian sambil menggumam dan mengulang nama2 jurus itu.
Ciu Pek-thong menjadi seperti orang linglung saking kesemsemnya pada nama ke-13 jurus itu, sampai lama sekali ia merenung, lalu berkata.
"Coba, jurus "Bin-bu-jin-sik"
Itu cara bagaimana menggunakannya menghadapi musuh?"
"Jurus ini memang banyak perubahannya,"
Tutur Nyo Ko.
"Jurus ini intinya terletak pada milik muka yang ber-ubah2, sebentar gembira, lain saat gusar, mendadak sedih. tiba2 girang pula sehingga membuat perasaan musuh juga tidak tenteram dan teratasi, akibatnya kalau kita gembira musuh ikut gembira, kita sedih musuh juga sedih, dalam keadaan demikian musuhpun tunduk sama sekali di bawah perintah kita, inilah caranya mengalahkan musuh tanpa tenaga dan tanpa suara, lebih tinggi setingkat daripada cara mengatasi musuh dengan suara suitan dan lain sebagainya."
"Ah, agaknya jurus itu perubahan dari "Liap-sim-tay-hoat"
Ilmu pengaruhi pikiran, sejenis ilmu hipnotis) yang terdapat dalam Kiu-im-cin-keng."
"Benar,"
Jawab Nyo Ko.
"Lantas bagaimana dengan jurus "To-heng-gik-si"?"
Mendadak Nyo Ko menjungkir dengan kepala di bawah dan kaki di atas, lalu tubuhnya berputaran tangan menghantam, katanya.
"lnilah Co-heng giksi yang juga banyak gerak perubahannya. ilmu ini bersumber dari ilmu silat Se-tok Auyang Hong tentunya"
Ciu Pek-thong mengangguk.
"Betul"
Kata Nyo Ko setelah berbangkit kembali, semua ilmu pukulan ini masih banyak corak perobahannya, seringkali saling bertentangan dan sukar dijelaskan.
Ciu Pek-thong tetap tidak paham, tapi ia tidak berani tanya lagi, ia tahu biar pun ditanyai juga Nyo Ko takkan menerangkan.
Melihat Anak Toa Nakal itu garuk2 kepala dan tampaknya kelabakan ingin tahu, diam2 Kwe Yang merasa kasihan, ia mendekatinya dan berbisik padanya.
"Ciu-loyacu, sebenarnya apa sebabnya engkau tidak mau menemui Eng koh? Eh, bagaimana kalau kita mencari suatu akal untuk memohon Toakoko mengajarkan kepandaiannya ini padamu?"
Cin Pek-thong menghela napas, katanya "Tentang Eng koh, memang akulah yang bersalah karena perbuatanku waktu masih muda, kalau kuceritakan rasanya tidak enak."
"Tidak apa2"
Ujar Kwe Yang.
"Kalau sudah kau ceritakan tentu terasa lebih enak daripada selalu disimpan di dalam hati. Umpamanya aku juga pernah berbuat salah, tapi kalau ditanya ayah dan ibu, tentu aku bicara terus terang dan selesailah persoalannya kalau sudah diomeli ayah-ibu. Kalau tidak misalnya kita berdusta atas perbuatan sendiri, tentu rasanya tidak tenteram."
Melihat wajah si nona yang kekanak2an itu, Ciu Pek-thong memandang sekejap pula pada Nyo Ko, lalu berkata.
"Baiklah, akan kuceritakan perbuatanku yang tidak senonoh di waktu muda itu, tapi jangan kau tertawakan diriku."
"Tidak, tak ada yang akan menertawai kau, anggaplah kau sedang berkisah mengenai diri orang lain, Nanti akupun akan bercerita kesalahan yang pernah kulakukan,"
Habis berkata Kwe Yang lantas geser lebih mendekati si Tua Nakal dengan sikap yang akrab sekali.
"Kau juga pernah berbuat salah?"
Pek-thong memandangi wajah yang halus dan cantik itu.
"Tentu saja, memangnya kau kira aku tak dapat berbuat salah?" .
"Baiklah, coba kau ceritakan dulu sesuatu perbuatanmu itu."
"Hah, tidak cuma sekali saja, bahkan beberapa kali pernah ku berbuat salah,"
Tutur Kwe Yang.
"Misalnya pernah satu kali seorang perajurit penjaga benteng tertidur dalam tugasnya, ayah memerintahkan meringkus perajurit itu dan akan kami penggal kepala, aku merasa kasihan padanya dan tengah malam kubebaskan perajurit itu, Tentu saja ayah sangat marah, tapi aku mengaku terus terang dan dipukul ayah, tapi lantas habis perkara, dan masih banyak lagi kejadian lainnya"
Ciu Pek-thong menghela napas, katanya.
"Permasalahan itu belum apa2 kalau dibandingkan perbuatanku ini-" -Lalu berceritalah dia hubungannya dengan Lao-kuihui alias Eng-koh sehingga mengakibatkan kemarahan Toan-Ongya dan meninggalkan tahtanya untuk menjadi Hwesio, sebab itulah ia merasa malu untuk bertemu muka dengan kedua orang itu. Kwe Yang mendengarkan cerita itu dengan asyiknya, sampai Ciu Pek-thong habis berkisah dan wajahnya tampak merasa malu, lalu Kwe Yang bertanya.
"Selain Lau-kuihui itu, Toan-hongya masih mempunyai beberapa orang selir lagi?"
"Kerajaan Tayli tidak besar, dengan sendirinya tidak mempunyai ratusan atau ribuan selir seperti raja Song kita, tapi puluhan selir kukira pasti ada,"
Jawab Ciu Pek-thong.
"Nah, kalau dia mempunyai berpuluh orang selir, sedangkan kau seorang isteri saja tidak punya, sebagai sahabat sepantasnya dia hadiahkan lau kuihui padamu kan?"
Ujar Kwe Yang.
Nyo Ko mengangguk tanda setuju atas ucapan Kwe Yang itu, diam2 ia pikir jalan pikiran si nona yang tidak suka terikat oleh adat kebiasaan umum itu sangat cocok dengan seleranya.
Ciu Pek-thong lantas menjawab "Waktu itu Toan-hongya juga berucap begitu, tapi Lau-kuihui adalah selir kesayangannya, untuk ini dia sampai meninggalkan tahta dan rela menjadi Hwesio, suatu tanda perbuatanku itu sesungguhnya sangat berdosa padanya."
"Keliru kau"
Mendadak Nyo Ko menyela.
"sebabnya Toan-Ongya menjadi Hwesio adalah karena dia merasa bersalah padamu dan bukan kau yang bersalah padanya, masakah kau belum tahu persoalan ini?"
"Aneh, dia berbuat salah apa padaku?"
Tanya Ciu Pek-thong ter-heran2.
"Soalnya ada orang mencelakai anakmu dan dia sengaja tidak mau menolongnya sehingga bocah itu akhirnya meninggal"
Tutur Nyo Ko.
Selama berpuluh tahun ini Ciu Pek-thong tidak tahu bahwa hubungan gelapnya dengan Eng koh telah menghasilkan seorang anak laki2, maka ia tambah heran mendengar ucapan Nyo Ko, cepat ia menegas.
"Anakku apa maksudmu"
"Akupun tidak tahu seluk-beluknya, hanya kudengar dari It-teng Taysu,"
Jawab Nyo Ko. Lalu iapun menguraikan kembali apa yang didengarkan dari It-teng di tepi Hek liong-tam itu."
Mendadak mengetahui dirinya pernah mempunyai seorang anak laki2, seketika kepala Ciu Pek-thong merasa seperti disamber geledek, ia melenggong kaget hingga lama sekali, hatinya sebentar sedih sebentar girang, teringat kepala nasib Eng-koh yang malang dan menderita selama puluhan tahun ini, ia menjadi tambah menyesal dan merasa kasihan padanya.
Melihat keadaan Ciu Pek-thong itu, diam2 Nyo Ko merasa si Tua Nakal ini sesungguhnya juga seorang yang berperasaan dan dirinya kenapa meski sayang menjelaskan 17 jurus Imjiansoh-hun-ciang itu.
Segera ia berkata.
"Ciu-locianpwe, baiklah ku perlihatkan secara lengkap ilmu pukulan ini, kalau ada kekurangannya masih diharapkan petunjukmu."
Habis ini ia memainkan ilmu pukulan ciptaannya sambil mulut mengucapkan nama2 jurus yang bersangkutan.
Ciu Pek-thong paham isi Kiu-im-cin-keng, maka uraian Nyo Ko itu dengan mudah saja dapat di terima dan dimengerti dengan baik, hanya dua-tiga jurus yang tetap sukar dipahami letak intisarinya.
meski sudah diulangi dan dijelaskan lagi oleh Nyo Ko, namun Ciu Pek-thong tetap tidak paham.
Rupanya ilmu pukulan itu hasil ciptaan Nyo Ko setelah berpisah dengan Siao-liong-li sehingga setiap jurus itu se-akan2 menggambarkan kisah cintanya.
Dengan menghela napas ia lantas berkata.
"Ciulocianpwe. 15 tahun yang lalu isteriku berpisah dengan aku, karena rindu timbul ilham dan terciptalah jurus ilmu pukulan ini. Locianpwe sendiri tidak kenal apa artinya sedih dan duka, engkau senantiasa riang gembira, dengan sendirinya engkau tidak dapat mengerti apa rasanya orang yang sedih dan duka."
"Ah, isterimu mengapa berpisah dengan kau??"
Tanya Ciu Pek-thong.
"Dia sangat cantik, hatinya juga baik, jika kau cinta dan merindukan dia adalah pantas."
Nyo Ko tidak ingin mengungkat tentang kecerobohan Kwe Hu yang melukai Siao-liong-li dengan jarum berbisa itu, maka ia cuma sekedarnya katakan isterinya keracunan dan dibawa pergi Lam-hay-sin-ni dan baru dapat sehat lagi 16 tahun kemudian Habis itu ia lantas menceritakan rasa rindu sendiri dan berdoa siang dan malam agar Siao-liong-Ii dapat pulang dengan selamat, Akhirnya ia menambahkan "Kuharap dapat bertemu sekali lagi dengan dia, untuk itu biarpun tubuhku ini harus hancur lebur juga aku rela."
Sebegitu jauh Kwe Yang tidak tahu rasa rindu Nyo Ko kepada isterinya ternyata begini mendalam, ia menjadi terharu dan mencucurkao air mata, ia pegang tangan Nyo Ko dan berkata dengan suara lembut.
"Somoga Thian memberkahi dan akhirnya, kalian dapat berjumpa dan berkumpul kembali."
Sejak berpisah dengan Siao-liong-li, untuk pertama kalinya ini Nyo Ko mendengar ucapan orang yang simpatik dan tulus, ia merasa sangat berterima kasih dan tak pernah melupakan selama hidup ini, ia lantas berbangkit sambil menghela napas, ia memberi hormat kepada Ciu Pek-thong dan berkata.
"Sekarang kumohon diri saja, Ciu-locianpwe!"
Lalu ia ajak Kwe Yang dan melangkah pergi. Setelah belasan langkah, Kwe Yang menoleh dan berseru kepada si Tua Nakal.
"Ciu-locianpwe, Toakokoku sedemikian rindu kepada isterinya, Eng koh juga sangat merindukan engkau, tapi engkau tetap tidak mau menemui Eng-koh tega benar kau ini?"
Ciu Pek-thong terkesiap, air mukanya berubah hebat. Nyo Ko lantas membisiki Kwe Yang.
"Adik cilik, jangan menyinggung lagi, setiap orang mempunyai cita2 masing2, tiada gunanya banyak bicara."
Begitulah mereka lantas melangkah ke arah datangnya tadi.
"Toakoko,"
Tiba2 Kwe Yang berkata pula.
"jika kutanya tentang isterimu, apakah kau akan berduka lagi?"
"Tidak,"
Jawab Nyo Ko.
"Toh beberapa bulan lagi dapatlah kuberjumpa dengan dia."
"Cara bagaimana engkau berkenalan dengan beliau?"
Tanya Kwe Yang.
Nyo Ko lantas bercerita kisah hidupnya sejak kecil sebatangkara, lalu diantar Kwe Cing ke Coan-cinpay untuk belajar sjlat, di sana dianiaya sesama saudara seperguruan sehingga minggat dan masuk ke kuburan kuno, di sanalah dia berkumpul dengan Siao liong-li, lama2 timbul rasa cinta antara mereka dan setelah mengalami macam2 suka-duka akhirnya terikat menjadi suami isteri.
Kwe Yang mendengarkan cerita itu dengan penuh perhatian, diam2 ia terharu terhadap cinta murni Nyo Ko yang suci dan mendalami itu, akhirnya ia berkata pula.
"Semoga Thian memberkahi pertemuan kembali kalian berdua dengan selamat!"
"Terima kasih, adik cilik, akan kuingat selalu kebaikan hatimu ini, kalau sudah bertemu dengan isteriku kelak tentu juga akan kuberitahukan tentang dirimu,"
Ujar Nyo Ko.
"Setiap hari ulang tahunku, ibu dan aku suka bersembahyang dan berdoa, ibu menyuruhku menyebut tiga buah nazar, tapi setelah kupikirkan hingga lama, tak pernah kutahu nazar apa yang harus kusebutkan. Tapi pada hari ulang tahun yang akan datang sudah kusiapkan nazarku, akan ku katakan harapanku semoga Toakoko berjumpa dan hidup bahagia dengan isterinya yang cantik."
"Lalu apa kedua nazarmu yang lain?"
Tanya Nyo Ko, Kwe Yang tersenyum, katanya.
"Takkan ku katakan padamu."
Pada saat itulah, tiba2 dibelakang sana ada orang ber-teriak2-.
"Hai, adik Nyo, tunggu! Nyo Ko, tunggu!"
Dari suaranya dapat dikenali adalah suara Ciu Pek-thong. Nyo Ko sangat girang, cepat ia berpaling, benar saja dilihatnya Ciu Pek-thong sedang berlari datang secepat terbang sambil berseru.
"Adik Nyo, sudah kupikirkan dengan baik, kuharap engkau lekas mambawaku menemui Eng-koh!"
"Nah, memang seharusnya begitu,"
Ujar Kwe Yang.
"Kau tahu betapa orang merindukan dirimu."
"Ya, setelah kalian berangkat, kupikirkan ucapan adik Nyo tadi dan semakin kupikir semakin tidak enak rasa hatiku,"
Tutur Pek-thong.
"Kurasa kalau aku tidak menemuinya, maka selama hidupku ini pasti tak dapat tidur nyenyak, soalnya aku ingin tanya sesuatu padanya."
Nyo Ko dan Kwe Yang tidak tanya soal apa yang hendak ditanyakan si Tua Nakal itu kepada Eng-koh, yang jelas perjalanan mereka ini ternyata tidak sia2, maka mereka sangat gembira.
Kalau menuruti watak Ciu Pek-thong yang tidak sabar, seketika juga ingin bertemu dengan Eng-koh, namun malam sudah tiba, Kwe Yang merasa lelah dan lapar serta kantuk pula, Maka tiga orang dan satu rajawali lantas bermalam dibawah pohon.
Esoknya pagi2 mereka sudah melanjutkan perjalanan, sebelum lohor mereka sudah sampai di tepi Hek-liong-tam.
Melihat Nyo Ko benar2 dapat mengundang datang Ciu Pek-thong, sungguh girang Eng-koh tak terlukiskan, hatinya ber-debar2 dan mulut melongo, seketika tak dapat mengucapkan sekatapun.
Ciu Pek-thong mendekati Eng-koh, dengan suara keras ia bertanya.
"Eng-koh, anak kita itu punya satu atau dua pusar kepala?"
Eng-koh melengak, sama sekali tak terduga olehnya bahwa kekasihnya yang terpisah sejak muda dan kini dapat berjumpa kembali setelah sama2 tua, tapi pertanyaan yang diucapkan per-tama2 justeru adalah urusan yang tidak penting, yakni tentang pusar kepala segala, Tapi ia lantas menjawab.
"Dua pusar kepalanya."
"Hahaha, jadi sama seperti aku, sungguh anak yang pintar,"
Seru Ciu Pek-thong kegirangan. Tapi ia lantas menghela napas dan menambahkan.
"Tapi, tapi sayang sudah mati, sayang sudah mati!"
Rasa suka-duka Eng-koh tak tertahan Iagi, segera ia menangis keras2.
"Jangan menangis, jangan menangis!"
Demikian Pek-thong menghiburnya sambil menggabloki punggungnya dengan keras. Lalu katanya kepada It-teng.
"Toan-hongya, kupikat isterimu, tapi kaupun tak mau menolong jiwa anakku, jadi kita anggap saja seri, urusan dimasa lampau tidak perlu di-ungkap lagi."
It-teng menuding Cu-in yang menggeletak di tanah itu dan berkata.
"lnilah pembunuh anakmu itu, sekali hantam boleh kau binasakan dia!"
Pek-thong memandang sekejap ke arah Cu-in, lalu berkata.
"Kau saja yang turun tangan, Eng-koh!"
Sekejap Eng-koh memandang Cu-in, lalu berkata dengan lirih.
"Jika bukan lantaran dia, selama hidup ini mungkin aku tak dapat berjumpa pula dengan kau, apalagi orang mati tak dapat dihidupkan kembali, biarlah kita merayakan pertemuan kita ini dan melupakan dendam masa lalu saja,"
"Betul juga ucapanmu, baiklah kita mengampuni dia,"
Ujar Pek-thong.
Keadaan Cu-in sangat parah, dia bertahan dengan sisa tenaganya dengan harapan akan mendapat pengampunan dari Eng-kob, kini mendengar sendiri Ciu Pek-thong dan Eng-koh bersedia mengampuni dosanya itu, hatinya sangat terhibur, katanya dengan lemah kepada It-teng.
"Banyak terima kasih atas penyempurnaan Suhu!"
Lalu iapun mengucapkan terima kasih pada Nyo Ko, habisi itu ia lantas menutup mata untuk selamanya.
It-teng menunduk dan membacakan doa bagi kepergian Cu-in, habis itu bersama Nyo Ko dan Kwe Yang mereka mengubur Cu in di situ, Memandangi kuburan Cu-in itu, Nyo Ko menjadi terharu, teringat olehnya ketika dia dan Siao-liong li baru saja menikah dan memergoki Cu-in yang kumat di puncak gunung bersalju itu, tak tersangka tokoh yang termashur dengan telapak tangan besi itu kini sudah kembali ke asalnya.
Eng-koh dan Ciu Pek-thong saling pandang dengan penuh rasa haru, banyak sekali ingin mereka bicarakan, tapi entah cara bagaimana harus mulai.
Kemudian Ehg-koh mengeluarkan kedua ekor rase kecil itu, katanya.
"Nyo-kongcu, budi pertolonganmu sukar kubalas, kedua ekor binatang ini bolehlah kau ambil saja."
Tapi Nyo Ko hanya menerima seekor saja, katanya.
"Cukup seekor saja dan terima kasih!"
Tiba2 It-teng berkata.
"Nyo-kongcu, boleh kau bawa kedua ekor rase itu, tidak perlu kau membunuhnya, cukup membelih pahanya dan ambil darahnya secangkir kecil setiap hari, kukira luka kawanmu itu dengan cepat dapat disembuhkan."
Nyo Ko dan Eng-koh sangat girang, kata mereka.
"Kalau jiwa rase dapat diselamatkan adalah paling baik."
Segera Nyo Ko terima kedua ekor rase itu dan mohon diri pada It-teng, Eng-koh dan Ciu Pek-thong.
"Sehabis ambil darahnya, lepaskan saja disana, tentu kedua rase itu akan pulang sendiri ke sini,"
Pesan Eng-koh. Mendadak Ciu Pek-thong menyela.
"Eh, Toan-hongya dan Eng-koh, silakan kalian tinggal beberapa hari di Pek-hoa-kok sana. Adik Nyo, setelah menyembuhkan luka kawanmu, silakan juga bersama adik kecil itu bermain ke tempatku."
Nyo Ko menerima undangan itu dengan baik, ia berjanji kalau urusannya sudah beres tentu akan berkunjung ke sana.
Habis itu ia lantas melangkah pergi bersama Kwe Yang, ia merasa sangat gembira karena sekaligus dapat membuat Ciu Pek-thong dan Eng-koh berkumpul kembali sehingga Cu-in juga dapat mati dengan tenteram, pula dengan mudah mendapatkan kedua ekor rase kecil itu.
Setiba kembali di Ban-siu-san-ceng, kelima saudara Su sangat girang melihat Nyo Ko berhasil membawa pulang kedua ekor rase yang diharapkan itu, ber-ulang2 mereka mengucapkan terima kasih kepada Nyo Ko.
Segera mereka mulai mengambil darah rase dan diminumkan kepada Su Siok-kang.
Malamnya diadakan perjamuan besar dan Nyo Ko diangkat sebagai tamu kehormatan utama.
Ma-cam2 santapan lezat, terutama yang sukar diperoleh dan biasanya dianggap santapan yang mewah di restoran jaman kini, seperti bibir singa, paha harimau, telapak kaki beruang dan belalai gajah, biasanya sejenis makanan seperti itu saja sukar diperoleh, sekarang sekaligus ada belasan macam yang dihidangkan.
Su-si-hengte dan Gerombolan Setan Se-san tidak mengutarakan terima kasih mereka lagi kepadi Nyo Ko, yang pasti di dalam hati mereka sudah menganggap Nyo Ko sebagai tuan penolong mereka, kelak kalau ada urusan dan memerlukan tenaga mereka, biarpun di suruh terjun ke jurang jugi mereka takkan menolak.
Di tengah perjamuan yang meriah itu, semua asyik bicara tentang pengalaman masing2 serta kejadian2 menarik di dunia Kangouw, Hanya Kwe Yang saja yang duduk termenung tanpa bicara, padahal anak dara ini biasanya sangat gembira ria, rupanya ia sedang bersedih mengingat dalam waktu tidak lama lagi harus berpisah dengan Nyo Ko.
Tidak lama kemudian, tiba2 di sebelah sana berkumandang suara melengking seekor kera, menyusul suara kera yang lain juga lantas membalas sehingga ributlah suasana.
Air muka Su-si-bengte tampak berubah.
Su Beng-ciat lantas minta maaf lan mohon diri sebentar untuk memeriksa keadaan di sana.
Semua orang tahu tentu di luar hutan sana ada musuh yang datang, Toa-thau-kui berkata.
"!Paling baik yang datang itu adalah pangeran Hotu, biar kita labrak dia untuk membalas sakit hati Su-samko"
Belum habis ucapannya, tiba2 terdengar Su Beng-ciat membentak di luar sana.
"Siapa itu malam2 berkunjung ke sini? Silakan berhenti!"
Lalu suara seorang perempuan menjawab.
"lAdakah seorang cebol berkepala besar di sini? ingin kutanya dia kemana dia membawa adik perempuanku?"
Kejut dan girang Kwe Yang mendengar suara Kwe Hu itu, ia coba melirik Nyo Ko dan melihat sorot matanya berkedip aneh, diam2 ia heran, seketika ia tidak jadi berseru memanggil "Cici"
"Hei, kau tahu aturan tidak, mengapa tidak menjawab pertanyaanku, sebaliknya kau terobosan sesukamu?"
Demikian terdengar Su Beng-ciat mendamperat. Segera terdengar Kwe Hu membentak.
"Menyingkir!" -Menyusul lantas terdengar suara nyaring beradunya senjata, agaknya nona itu hendak menerjang masuk, tapi dirintangi Beng-ciat dan kedua orang itu lantas bergebrak. Sejak berpisah dengan Kwe Hu di Coat-ceng-kok dahulu, sudah belasan tahun Nyo Ko tidak pernah berjumpa dengan nona itu, kini mendadak mendengar suaranya, seketika macam2 perasaan berkecamuk dalam benaknya. Didengarnya suara benturan senjata sudah mulai menjauh, agaknya Su Beng-ciat berhasil memancing Kwe Hu ke tempat lain.
"Yang dicarinya adalah diriku, biar kutemui dia,"
Seru Toa-thau-kui sambil berlari keluar Menyusul Su Ki-kiang dan Hong It-ong juga ikut ke sana. Tiba2 Kwe Yang berbangkit dan berkata kepada Nyo Ko.
"Toakoko, ciciku datang mencari diri-ku, kini aku harus pulang."
Nyo Ko terkejut.
"Jadi dia.....dia itu cicimu?"
"Ya, jawab Kwe Yang.
"Kuingin melihat Sin-tiau-tayhiap, paman Toathau kui lantas membawaku ke sini menemuimu, Aku... aku sangat senang..."
Belum habis ucapannya mendadak kepalanya menunduk terus berlari pergi. Sekilas Nyo Ko melihat dua tetes air mata meleleh di pipi anak dara itu, tiba2 terpikir olehnya.
"Dia ingin menemui aku, tentu adaurusan penting, mengapa sekarang pergi begitu saja tanpa bicara apa2?" -Segera ia menyusul ke sana dan berseru.
"Adik cilik, jika kau ada kesulitan, boleh katakan saja padaku."
Kwe Yang tersenyum dan menjawab.
"Ah, tidak, aku tiada kesulitan apa2."
Di bawah cahaya bulan muda yang remang2 Nyo Ko dapat melihat wajah si nona yang putih bersih itu masih basah air mata, dengan suara lembut ia lantas berkata pula.
"Kiranya kau adalah anak dara Kwe Tayhiap dan Kwe-hujin, apakah Tacimu nakal padamu?"
Menurut perkiraan Nyo Ko, tidak mungkin puteri Kwe-tayhiap yang termashur itu mengalami kesulitan, besar kemungkinan Kwe Hu yang suka se-wenang2 itu telah menghina atau memukuli adik perempuan nya ini.
Ternyata Kwe Yang menjawab dengan tertawa.
"Sekalipun Cici nakal padaku juga aku tidak takut padanya, kalau dia mengomel aku lantas adu muIut dengan dia, betapapun dia juga tak berani memukuli aku."
""Habis untuk apa kau mencari aku? Silakan bicara terus terang saja."
Di tempat penyeberangan sana kudengar orang bercerita tentang tindakanmu yang baik budi dan yang sangat terpuji itu, hatiku menjadi sangat kagum dan sangat ingin melihat wajahmu, selain itu tiada sesuatu maksudku yang lain lagi.
Dalam perjamuan tadi aku teringat kepada pameo yang mengatakan.
"Tiada pesta yang tidak bubar di dunia ini. Hatiku menjadi sedih, siapa tahu pesta tadi Selum bubar dan aku.....aku harus segera pergi,"
Sampai di sini suara Kvve Yang menjadi rada tersendat.
Tergetar hati Nyo Ko, teringat olehnya waktu anak dara ini dilahirkan, beberapa saat kemudian dirinya lantas memondongnya dan membawanya.
Ketika dikejar oleh Kim-lun Hoat-ong, malah kemudian terjadi perebutan beberapa kali antara dirinya dengan Kim-lun Hoat-ong dan Li Bok chi, juga pernah menangkap induk harimau tutul untuk dijadikan mak inangnya yang menyusuinya, akhirnya dibawanya lagi ke kuburan kuno itu dan dipelihara sekian lamanya di sana.
Tak tersangka sekarang dapat bertemu pula di sini dan jabang bayi dahulu itu kini telah berubah menjadi gadis remaja yang molek.
Tanpa terasa Nyo Ko berdiri ter-mangu2 mengenangkan kejadian di masa lampau di bawah sinar bulan yang remang2 itu.
Selang sejenak, Kwe Yang berkata puIa.
"Toa-koko, aku harus pergi sekarang, Aku hanya ingin minta tolong sesuatu padamu."
"Katakan saja,"
Ujar Nyo Ko.
"Bilakah engkau akan bertemu dengan isterimu?"
"Antara musim dingin tahun ini,"
"Setelah engkau berjumpa dengan isterimu, sukalah engkau mengirim kabar padaku di Siang-yang agar aku ikut bergirang bagimu."
Nyo Ko sangat berterima kasth, ia pikir meski anak dara ini dilahirkan dari ibu kandung yang sama dengan Kwe Hu, tapi tabiat keduanya ternyata sangat berbeda, Segera ia bertanya pula.
"Apakah ayah-ibumu sehat2 semua?"
"Ayah dan ibu semua baik2 saja."
Jawab Kwe Yang. Tiba2 timbul suatu pikirannya, cepat ia memyambung pula.
"Toakoko, setelah engkau berjumpa dengan isterimu, maukah kalian datang ke Siangyang dan menjadi tamu kami? Ayah-ibu dan kalian suami-isteri sama2 kesatria besar jaman ini, tentu kalian akan sama cocok satu sama lain."
"Hal ini biarlah kita lihat dulu keadaan nanti,"
Jawab Nyo Ko.
"Eh, adik cilik, tentang pertemuan kita ini sebaiknya jangan kau ceritakan pada Cicimu, kukira juga tidak perlu diceritakan pada ayah-ibumu."
"Sebab apa?"
Kwe Yang menjadi heran, Tiba2 teringat olehnya ketika orang2 sama mengobrol di kota tambangan itu, tampaknya Cici kurang senang dengan Sin-tiau-hiap yang di-sebut2 itu, bisa jadi diantara mereka pernah terjadi sengketa apa2.
Maka ia lantas menambahkan.
"Baiklah, takkan kuceritakan pada mereka."
Dengan mata tak berkedip Nyo Ko memandangi anak dara itu, dalam benaknya terbayang wajah kecil si orok yang pernah dipondongnya 15 tahun yang lalu itu.
Karena dipandangi sedemikian rupa, Kwe Yang menjadi rada malu dan menunduk.
Timbul pikiran Nyo Ko ingin membela dan melindungi anak dara di depannya sekarang ini sama halnya seperti perlindungannya kepada jabang bayi yang lemah pada masa belasan tahun yang lalu itu.
Segera ia berkata pula.
"Siaumoaycu, (adik perempuan cilik), ayah-ibumu adalah pendekar besar masa kini dan dihormati siapapun juga, jika kau ada kesulitan kiranya juga tidak perlu bantuanku Namun kejadian di dunia ini seringkali ber-ubah2, suka duka sukar diduga. Andaikah kau mempunyai sesuatu persoalan yang tidak ingin dikatakan kepada ayah-ibumu dan perlu bala bantuan, maka bolehlah kau mengirim berita padaku, aku berjanji akan membereskannya bagimu dengan se-baik2nya."
Kwe Yang tertawa manis, katanya.
"Engkau sungguh sangat baik padaku, Cici sering pamer di depan umum bahwa dia adalah puteri Kwe-tayhiap dan Kwe-hujin, terkadang aku merasa risi dan kikuk bagi ucapannya itu, Betapapun termasyhurnya ayah dan ibu kan tidak pantas kalau hal itu selalu ditonjolkan. Tapi nanti kalau kukatakan kepada orang bahwa Sintiau-tayhiap adalah Toakokoku, maka Cici pasti takdapat menirukannya."
Meski ucapan Kwe Yang ini setengah bergurau, namun jelas tampak rasa bangganya karena dapat berkenalan dengan Nyo Ko.
"Ah, cicimu mana menghargai orang macam diriku ini?"
Ujar Nyo Ko dengan tersenyum. Setelah merandek sejenak sambil meng-hitung2 dengan menekuk jari, lalu ia berkata pula.
"Tahun ini kau sudah berusia 15, ya, bulan sepuluh, tanggal 22, 23, 24 ya, kau lahir pada tanggal 24 bulan sepuluh, betul tidak?"
Kwe Yang ter-heran2, serunya.
"He! Memang benar, darimana kau tahu?"
Nyo Ko tersenyum dan tidak menjawab, katanya pula.
"Kau dilahirkan di Siangyang, makanya kau diberi nama Yang, betul tidak?"
"He, jadi kau tahu semuanya, tadi pura2 tidak kenal padaku,"
Seru Kwe Yang.
"Engkau pasti sahabat baik ayahku." . Seperti melamun, Nyo Ko tidak menjawabnya, tapi berkata pula dengan menengadah.
"Pada hari itu, pertarungan hebat melawan Kim-lun Hoat-ong, Liong-ji memondong anak itu..."
Kwe Yang tidak paham apa yang digumamkan Nyo Ko itu, sayup2 ia dengar suara benturan senjata di sebelah sana, ia menjadi kuatir kalau cicinya dilukai Su Beng-ciat, segera ia berkata.
"Toakoko, aku benar2 akan pergi sekarang."
Nyo Ko masih menggumam.
"Tanggal 24 bulan sepuluh, sungguh cepat sekali, 16 tahun sudah hampir lalu."
Mendadak ia tersadar karena teguran Kwe Yang tadi dan berkata.
"Ah, kau hendak pergi... Ehm, pada tanggal 24 bulan sepuluh nanti, katamu akan sembayang dan berdoa untuk mengemukakan tiga buah nazar pada Thian."
Rupanya ia jadi teringat pada ucapan Kwe Yang tadi bahwa waktu sembayang dan berdoa, anak dara itu akan memohon Thian memberi berkah supaya dia lekas bertemu kembali dengan Siao-Iiong-li.
Tiba2 Kwe Yang berkata pula.
"Eh, Toakoko, jika kelak akupun mohon tiga soal padamu, apakah engkau dapat menyanggupi?"
"Asalkan dapat kukerjakan sekuat tenagaku tentu akan kuterima,"
Jawab Nyo Ko tegas, Lalu dari sakunya ia mengeluarkan sebuah kotak kecil, dikeluarkannya tiga buah jarum lembut yang biasa digunakan Siao-liong-li sebagai senjata rahasia itu dan diberikannya kepada Kwe Yang, katanya "Jika kulihat jarum ini nanti, sama saja seperti kulihat wajahmu.
Kalau kau tak dapat menemui aku sendiri, boleh kau suruh orang membawa jarum ini untuk menyampaikan keinginanmu padaku dan tentu akan kulaksanakannya bagimu.
"Terima kasib,"
Ucapan Kwe Yang sambil menerima jarum2 itu, lalu berkata puIa.
"Sekarang akan kukemukakan keinginanku yang pertama." -segera ia mengembalikan sebuah jarum itu kepada "Nyo Ko dan menambahkan "Kuminta engkau menanggalkan kedokmu agar aku dapat melihat wajah aslimu "
"Soal ini terlalu kecil dan mudah dilaksanakan karena aku tidak ingin dikenali kawan lama, maka sengaja memakai kedok,"
Kata Nyo Ko dengan tertawa.
"Tapi caramu sembarangan menggunakan sebuah jarum emas ini, apakah tidak sayang?"
"Jika muka aslimu saja tidak kuketahui mana dapat dikatakan kukenal kau? ini sekali2 bukan soal kecil,"
Ujar Kwe Yang.
Harus diketahui bahwa kaum pendekar jaman dahulu paling taat pada janji yang pernah diucapkan, karena sudah menyanggupi, dengan menyerahkan jarum itu sekalipun Kwe Yang minta Nyo Ko berbuat sesuatu yang maha sulit juga akan dilakukannya tanpa pikir, Karena itu juga iapun tak dapat menolak permintaan si nona yang pertama ini.
"Baiklah,"
Katanya sambil menanggalkan kedoknya.
Seketika pandangan Kwe Yang terbeliak, di depannya muncul seraut wajah yang cakap dengan alis panjang tebal dan mata besar bercahaya cuma sudah lama memakainya, air mukanya agak pucat dan kekurus2an.
"Ahhh!"
Terasa Kwe Yang berteriak.
"Kenapa?"
Tanya Nyo Ko. Muka Kwe Yang menjadi meraj.
"O, tidak apa2,"
Jawabnya, Tapi dalam hatinya berkata.
"Sungguh tidak nyana engkau begini cakap."
Setelah tenangkan diri, kembali Kwe Yang menyerahkan pula jarum kedua dan berkata.
"Sekarang ini kukatakan cita2ku yang kedua."
Nyo Ko tersenyum dan berkata.
"Katakau saja beberapa tahun lagi juga belum terlambat. Anak gadis belum tahu urusan, yang kau ucapkan hanya cita2 kanak2 saja."
Karena itulah ia tidak lantas menerima jarum kedua itu. Tapi Kwe Yang lantas menaruh jarum digenggaman tangan Nyo Ko dan berkata.
"Cita2ku yang kedua ini adalah pada tanggal 24 bulan sepuluh yang akan datang, yakni pada hari ulang tahunku nanti, hendaklah kau datang ke Siangyang daa menemui aku untuk ber-cakap2 sebentar."
Meski permintaannya yang kedua ini lebih repot, daripada permintaan yang pertama, namun bersifat ke-kanak2an.
Maka dengan tertawa Nyo Ko menjawab "Baiklah, kusanggupi memangnya apa susahnya?
Cuma aku hanya menemui kau sendiri saja, ayah-ibu dan Cicirnu takkan kutemui."
"Terserah padamu,"
Ujar Kwe Yang dengan tertawa, jari tangannya yang lentik dan putih halus itu memegangi jarum ketiga yang berkilau di bawah cahaya bulan, katanya pula.
"Tentang permintaanku yang ketiga ini..."
Nyo Ko meng-geleng2 kepala, pikirnya.
"Busyet! Memangnya aku Nyo Ko begini mudah berjanji pada orang? sungguh nona cilik yang tidak tahu urusan, janjiku dianggapnya seperti permainan anak kecil saja."
Mendadak wajah Kwe Yang tampak merah jengah, katanya dengan tertawa.
"Cita2ku yang ketiga ini sementara belum terpikir olehku, biarlah kelak akan kukatakan padamu." -Habis ini ia membalik dan lari ke sana sambil ber-teriak2.
"Cici! Cici!"
Kwe Yang terus menuju ke arah datangnya pertempuran dilihatnya Kwe Hu sedang bertempur sengit melawan Su Beng-ciat dan Toa-thau kui.
Hoan It-ong dan Su Ki kiang mengikuti pertarungan itu di samping dengan siap siaga.
"Cici, inilah aku,"
Seru Kwo Yang.
"Beberapa orang ini adalah teman sendiri."
Selama ini Kwe Hu banyak mendapat petunjuk dari ayah-ibunya, suaminya yaitu Yalu Ce juga tokoh silat pilihan, maka kepandaiannya sekarang sudah berbeda jauh dengan daripada belasan tahun yang lalu.
Cuma wataknya berangasan dan tidak telaten berlatih sebab itulah tingkat ilmu silatnya selalu berkisar antara kelas dua atau tiga saja meski ayah-bunda dan suami nya terhitung tokoh terkemuka.
Kini meski dia sanggup menempur kerubutan Su Beng-ciat dan Toa-thau-kui dengan sama kuatnya, tapi lama2 tentu dia akan kewalahan dan terdesak di bawah angin.
Tengah gelisah karena takdapat mengalahkan lawan dengan cepat, tiba2 Kwe Hu mendengar seruan sang adik, segera ia membentak "Lekas kemari, Moaymoay!"
Su Beng-ciat mendengar sendiri Kwe Yang memanggil Nyo Ko sebagai Toakoko, kini didengarnya pula Kwe Hu menyebut Kwe Yang sebagai Moaymoay atau adik perempuan, seketika ia terkesiap dan ragu2 apakah wanita ini adalah isteri atau adik Sin-tiau-tayhiap?
Karena itulah serangannya yang sedang dilontarkannya pada saat itu segera ditarik kembali, berbareng iapun melompat mundur.
Kwe Hu sendiri tahu lawan sengaja mengalah, tapi hatinya sudah kadung mendongkol tanpa pikir pedangnya terus menasuk.
"sret"
Dengan tepat dada Su Beng-ciat tertusuk. Keruan Toa-thau kui terkejut dan berseru.
"Hei, mengapa kau..."
Tapi sekali pedang Kwe Hu lantas berkelebat, tahu2 lengan Toathaukui juga terluka. Dengan pongahnya Kwe Hu lantas membentak pula.
"Nah, rasakan lihaynya nyonyamu ini!"
"He, Cici, kubilang orang2 ini adalah teman sendiri."
Seru Kwe Yang pula. Kwe Hu menjadi gusar dan membentak.
"Lekas pulang bersamaku! Siapa kenal temanmu yang tidak keruan ini?"
Luka di dada Su Beng-ciat itu ternyata tidak ringan. dia ter-huyung2 dan jatuh tersungkur. Cepat Kwe Yang memburu ke sana dan membangunkannya sambil bertanya.
"Su-goko, bagaimana lukamu?"
Darah segera mengucur dari dada Su Beng-ciat hingga baju Kwe Yang berlepotan lekas anak dara itu merobek ujung bajunya untuk membalut luka orang. Sementara itu Kwe Hu sedang mendesak pula.
"Hayo lekas berangkat lekas! setiba di rumah nanti kulaporkan kepada ayah dan ibu, mustahil kau tak kan dipukuli hingga kau minta2 ampun."
Dengan gusar Kwe Yang menjawab.
"Kau sembarangan melukai orang, akan kulaporkan juga kepada ayah dan ibu."
Melihat muka Kwe Yang merah padam dan mengembang air mata, Su Beng-ciat menghiburnya dengan tertawa yang di paksakan.
"jangan kuatir, nona cilik, lukaku ini takkan membuatku mati."
Di samping Su Ki-kiang memegangi gadanya dengan napas ter-engah2, seketika ia menjadi ragu2 apa mesti melabrak Kwe Hu atau menolong adiknya dahulu.
Mendadak Kwe Hu menjerit kaget, kiranya dari depan dua ekor harimau loreng telah mendekatinya secara diam2, segera ia hendak menyingkir ke kiri, tapi terlihat pula dua ekor singa jantan sudah mendekam di situ, waktu ia menoleh, di sebelah kanan bahkan berdiri empat ekor macan tutul.
Rupanya dalam sekejap itu Su Tiong-beng sudan memimpin kawanan binatang buas itu dan mengepung rapat Kwe Hu.
Keruan muka Kwe Hu menjadi pucat dan hampir2 jatuh kelengar, Syukur pada saat itu juga suara seorang di dalam hutan hutan berseru.
"Gote, bagaimana lukamu?"
"Mendingan, tidak begitu parah!"
Sahut Su Beng-ciat.
"Oh, perintah Sin-tiau-hiap agar kedua nona ini dibiarkan pergi saja,"
Kata orang itu. Segera Su Ki-kiang bersuit beberapa kali, kawanan binatang buas itu lantas memutar tubuh dan menghilang ke dalam semak2.
"Su-goko, atas nama Ciciku kuminta maaf padamu,"
Kata Kwe Yang. Sesungguhnya luka Su Beng-ciat itu membuatnya sangat sakit, dengan meringis ia menjawab.
"Mengingat Sin tiau-tayhiap, sekalipun Cicimu membunuh aku juga tidak menjadi soal."
Kwe Yang hendak bicara pula, tapi Kwe Hu lantas menariknya sambil membentak.
"Hayo pulang!"
Berbareng anak dara itu terus diseret berlari keluar hutan.
Melihat kedua kakak beradik itu sudah per-gi, Su-si hengte dan Gerombolan Setan lantas berlari keluar untuk memeriksa keadaan Su Beng ciat dan Toa-thau-kui, be-ramai2 mereka mencela tindakan Kwe Hu yang tidak pantas itu, cuma ucapan merekapun tidak berani kasar kerena belum mengetahui ada hubungan apa antara Kwe Hu dan Nyo Ko.
Dengan gemas Su Ki-kiang berkata.
"Nona cilik itu sangat baik hati, tapi kakaknya ternyata begitu galak, sudah jelas adik Ciat mengalah pada-nya, tapi dia malah melukainya secara keji, Coba kalau tusukannya masuk sedikit lagi tentu jiwa adik Ciat sudah melayang."
"Marilah kita tanya kepada Sin-tiau-hiap tentang asal usul perempuan itu,"
Kata Toa thau-kui.
"Di tempat penyeberangan sana ber-ulang2 dia juga mengeluarkan kata2 yang tidak baik terhadap Sin tiau-hiap."
Pada saat itulah dari balik pohon sana muncul seorang dan berkata.
"Syukurlah luka Su-goko tidak terlalu parah. Tindak-tanduk perempuan itu memang semberono dan cerohoh, ketahuilah bahwa lenganku ini justeru ditebas kutung olehnya."
Melihat yang bicara itu adalah Nyo Ko, semua orang sama melengak dan tak dapat bicara lagi, setiap orang sama sangsi dan ingin tahu, tapi tidak berani bertanya.
Begitulah Kwe Hu telah membawa Kwe Yang kembali ke tempat penyeberangan, sementara itu air sungai Kuning yang membeku itu sudah cair, kakak beradik bertiga dapat menyeberang dan pulang ke Siangyang, sepanjang jalan Kwe Hu masih terus mengomeli Kwe Yang yang dianggap suka berkeluyuran dengan orang2 yang tidak keruan.
Tapi Kwe Yang berlagak tuli saja dan tidak menggubris omelan sang Taci, mengenai pertemuannya dengan Nyo Ko juga sama sekali tak disinggungnya.
Setiba di Sianyang, per-tama2 Kwe Hu lantas melapor kepada ayah-bundanya bahwa Kwe Yang dalam perjalanan tidak mau tunduk padanya dan banyak menimbulkan keonaran, lalu iapun menceritakan apa yang terjadi selama Kwe Yang menghilang dua hari dua malam, tentu saja ia bumbui-bumbui pula, tambahi kecap dan imbuhi sambel.
Kwe Cing sendiri sedang pusing kepala oleh situasi militer beberapa hari terakhir ini, maka ia tambah marah demi mendengar laporan Kwe Hu itu, segera ia bertanya.
"Yang-ji, benar tidak laporan cici ini?"
Kwe Yang mengikik tawa, katanya.
"Ah, cici memang suka geger, aku ikut seorang teman pergi melihat keramaian, kenapa sih mesti diributkan?"
"Teman apa? Siapa namanya?"
Taaya Kwe-Cing. Kwe Yang melelet lidah, lalu menjawab.
"Ah, lupa kutanyai namanya, cuma kudengar orang memanggil dia Tea-thau-kui begitu."
"Seperti orang dari "Gerombolan Setan Se-san,"
Tukas Kwe Hu. Kwe Cing juga dengar nama "Gerombolan Setan Se-san"
Itu, meski tak dapat dikatakan gerombolan penjahat, tapi juga bukan kaum ksatria yang baik, maka ia tambah marah demi mendengar anak perempuan itu bergaul dengan orang2 macam begitu, Cuma perangainya memang sabar dan pendiam, biarpun marah ia hanya mendengus geram saja dan tidak berkata lagi, sedangkan Ui Yong lantas mengomeli Kwe Yang.
Malamnya Kwe Cing suami-isteri mengadakan perjamuan keluarga untuk menghibur pulangnya Kwe Hu dan Kwe Boh-Io, tapi sengaja tidak menyediakan tempat duduk bagi Kwe Yang.
Yalu Ce berusaha membujuk kedua mertuanya, tapi malah diomeli Kwe Cing agar sebagai kakak ipar seharusnya ikut mendidik adiknya, Karena itulah terpaksa Yalu Ce tak berani mengusik lagi.
Kiranya Kwe Cing dan Ui Yong merasa pernah terlalu memanjakan Kwe Hu sehingga banyak menimbulkan petaka, maka sekarang caranya mendidik Kwe Yang dan Kwe Boh-lo telah berubah sama sekali.
Sejak kecil diawasi dengan keras, sifat Kwe Boh-lo pendiam seperti sang ayah sehingga tak menjadi soal, tapi Kwe Yang sejak kecil sudah suka berbuat hal2 yang aneh dan sukar di-jajaki jalan pikirannya, lahirnya ia menurut, tapi di dalam hati ia memberontak Ketika ia diberitahu oleh pelayan bahwa Tuan dan Nyonya mengadakan perjamuan keluarga dan Ji siocia (puteri kedua) sengaja tidak diundang, keruan Kwe Yang menjadi marah, bahkan ia lantas mogok makan sekalian selama dua hari.
Sampai hari ketiga, Ui Yong jadi kasihan sendiri, di luar sang suami ia membuat beberapa macam daharan lezat, disertai menghibur dan membujuk barulah anak perempuan bungsu itu mau makan dan gembira lagi.
Tapi dengan demikian, maksud orang tua mendidik anaknya dengan keras kembali luntur dan sia2 pula.
Sementara itu pasukan Mongol sudah berhasil menyerbu ke negeri Tayli di daerah Hunlam (Yu-nan), sesudah menduduki kerajaan kecil selatan itu, pasukan induk beralih pula ke utara, sedangkan pasukan Mongol yang lain dari utara juga menerobos ke selatan sehingga dua induk pasukan telah bergabung hendak menggempur Siangyang untuk akhirnya melalap kerajaan Song sekaligus.
Waktu pasukan Mongol mulai menyerbu Tayli, Kwe Cing menyebarKan Eng hiong-tiap (kartu undangan para ksatria) agar para pahlawan berkumpul di Siangyang untuk merundingkan siasat menghadapi musuh, keberangkatan Kwe Hu dan kedua adiknya ke utara itu adalah mengemban tugas yang diberikan sang ayah itu.
Tak terduga gerak cepat pasukan Mongol ternyata luar biasa, dalam waktu singkat Tayli sudah ditumpas, sebab itulah ketika para pahlawan mulai berkumpul di Siangyang, sementara itu kekuatan pasukan Mongol juga mulai mendekati kota itu.
Eng-hiong-tay hwe atau musyawarah besar para pahlawan ditetapkan pada tanggal 15 bulan sepuluh dan direncanakan berlangsung selama 10 hari.
Hari ini baru tanggal 13, jadi masih dua hari sebelum hari rapat, sementara itu para pahlawan dan ksatria dari segenap penjuru ber-bondong2 telah tiba di Siangyang.
Kwe Cing dan Ui Yong sibuk mengurusi tugas pertahanan, maka urusan menyambut tamu telah diserahkan kepada Loh Yu-ka dan Yalu Ce.
Di antara tamu2 yang sudah tiba itu ada Cu Cu-liu, Su-sui Hi-un dan Bu Sam-thong, kedua Bu cilik bersama Yalu Yan dan Wanyan Peng juga sudah datang, begitu pula Hui-thian-pian-hok Kwa Tin-ok.
Pejabat ketua Coan-cin-kau waktu itu, Li Ci siang, dengan 16 murid utama Coan-cin-pay juga sudah tiba, begitu pula para tertua Kay-pang serta tokoh2 pengemis yang berkantong tujuh dan delapan.
Seketika kota Siangyang penuh dengan jago2 silat terkemuka.
Banyak di antara tokoh2 persilatan yang jarang muncul di dunia Kangouw kini juga hadir mengingat pertemuan Siangyang sekali ini menyangkut nasib negara dan bangsa, pula mereka kagum pada budi pekerti Kwe Cing suami isteri, maka hampir semua orang yang menerima kartu undangan pasti hadir.
Malam hari tanggal 13 bulan sepuluh, Kwe Cing suami-isteri mengadakan perjamuan kecil pribadi di di kediamannya dan mengundang Cu Cu-liu, Bu Sam-thong dan beberapa kenalan lama untuk beramahtamah.
Loh Yu-ka juga diundang, tapi sampai malam ketua Pangcu itu belum tampak hadir, semua mengira dia sibuk oleh pekerjaan sehingga tidak menyangka sesuatu.
Tengah mereka bersuka ria dan berbincang macam2 kejadian Bu-lim selama belasan tahun terakhir ini, Yalu Ce, Kwe Hu dan anak2 muda yang bersatu meja tersendiri juga asyik bercengkerama, tiba2 datang seorang murid Kay-pang berkantong delapan dan ber-bisik2 kepada Ui Yong, seketika air muka Ui Yong tampak berubah dan berkata dengan suara gemetar.
"Bisa terjadi demikian?"
Semua orang sama berpaling memandang nyonya rumah itu. Terdengar Ui Yong berkata pula kepada anggota Kay-pang itu.
"Yang hadir di sini adalah orang kita sendiri, boleh kau bicara saja, bagaimana awal mula kejadian ini?"
Segera anggota Kay-pang itu menutur.
"Lewat lohor tadi, Loh-pangcu membawa tujuh murid kantong tujuh patroli ke utara kota, siapa tahu sampai malam tiba beliau belum nampak pulang, Tecu menjadi kuatir dan bersama teman2 lain terbagi dalam beberapa kelompok keluar kota untuk mencarinya, akhirnya di kelenteng Yo-tayhu di kaki gunung Hian diketemukan jenazah Loh-pangcu."
Mendengar kata2
"jenazah" , tanpa terasa semua orang sama menjerit kaget. Sampai di sini, suara anggota Kay-paog itupun ter-sendat2. Maklumlah meski ilmu silat Loh Yu-ka tidak terlalu tinggi, tapi orangnya berbudi dan bijaksana sehingga mendapat dukungan luas di kalangan anggota. Murid Kay-pang tadi melanjutkan penuturannya.
"Kedua murid tujuh kantong yang mengiringi pangcu itupun menggeletak di samping beliau, seorang sudah tewas yang lain belum putus napasnya sehingga sempat memberi keterangan bahwa mereka kepergok pangeran MongoI yang bernama Hotu. Pangcu yang kena sergap lebih dulu, kedua murid kantong tujuh itu bertempur mati2an dan akhirnya juga dicelakainya."
"Hehe, jadi Hotu, Hotu!"
Demikian gumam Kwe Cing saking menahan gusarnya, ia jadi menyesal dahulu telah memberi ampun kepada pangeran Mongol itu di Cong-lam-san, tahu begini tentu waktu itu sudah dibinasakan.
"Apakah Hotu itu meninggalkan ucapan apa?"
Tanya Ui Yong.
"Tecu tidak berani omong,"
Kata anggota Kay-pang itu.
"Kenapa lidak berani omong,"
Tukas Ui Yong.
"Tentunya dia bilang supaya Kwe Cing disuruh lekas menyerah kepada pihak mongol, kalau tidak, maka contohnya ialah Loh Yu-ka itu, begitu bukan?"
"Hu jin sungguh hebat, memang begitulah ucapan keparat Hotu itu,"
Jawab si anggota Kay-pang.
Be ramai2 semua orang lantas pergi memeriksa jenazah Loh Yu-ka, terlihat punggungnya terkena sebatang tulang2 kipas buatan dari baja, tulang iganya juga patah, jelas lebih dulu Hotu menyergapnya dengan senjata rahasia, habis itu menghantamnya pula dengan tenaga dahsyat hingga binasa, semua orang menjadi gusar dan berduka pula menyaksikan itu.
Saat itu di Siangyang berkumpul be-ribu2 anggota Kay-pang, maka suasana menjadi sedih ketika kabar tewasnya Loh Yu-ka disiarkan.
Se-hari2nya Kwe Yang sangat akrab dengan Loh Yu-ka, sering ia menyeret orang tua itu diajak ke tempat sepi seperti kelenteng Yo-tayhu itu untuk minum arak sambil merecoki orang itu menceritakan kejadian2 menarik di dunia Kangouw, kalau sudah begitu, maka acapkali berlangsung hingga hampir sehari suntuk dan kedua orang tua dan muda itu sama2 gembiralah.
Kelenteng Yo-tayhu itu tidak jauh di luar kota, ketika mendengar kawan tua itu meninggal di kelenteng itu, Kwe Yang ikut berduka, segera ia membawa satu Holo (buii2) berisi arak penuh serta menjinjing sebuah keranjang sayur, seperti biasanya ia terus menuju ke kelenteng itu.
Saat itu sudah hampir tengah malam, Kwe Yang mengeluarkan dua pasang sumpit dari keranjangnya dan diatur secara berhadapan, dituangnya dua cawan arak pula, lalu berkata.
"Paman Loh, setengah bulan yang lalu kita baru saja makan-minum dan mengobrol di sini, siapa duga sekarang engkau telah mengalami malapetaka, apabila arwahmu mengetahui, silakan kemari minum arak lagi bersamaku ini."
Habis berkata, ia siram secawan arak itu di lantai, ia sendiri lantas menenggak habis secawan.
Teringat kepada teman karib yang kini telah tiada itu, ia menjadi berduka katanya sambil mencucurkan air mata.
"Paman Loh, marilah kita habiskan pula secawan!" -ia menyiram lagi secawan arak di lantai dan ia sendiri kembali menghabiskan secawan. Kemampuan minum arak Kwe Yang sebenarnya sedikit sekali, cuma sifatnya yang terbuka dan suka bergaul dengan orang2 Kangouw, maka iapun ikut2an minum arak dan bicara seperti orang dewasa. Kini setelah menghabiskan dua cawan, mau-tak-mau mukanya menjadi merah, kepala rada pening. Dalam kegelapan tiba2 seperti ada bayangan orang berkelebat di luar pintu kelenteng sana, ia terkejut dan bergirang, disangkanya arwah Loh Yu-ka benar2 telah datang, segera ia berseru.
"Apakah paman Loh? marilah kita minum dan mengobrol"
Hatinya ber-debar2, tapi juga sangat ingin melihat arwah halus Loh Yu ka. Tapi segera didengarnya seorang menegurnya.
"Tengah malam buta kau main gila apa di sini? ibu mencari kau, lekas pulang!"
Secepat itu pula seorang lantas menyelinap masuk, kiranya Kwe Hu adanya. Kwe Yang sangat kecewa, katanya.
"Aku sedang memanggil arwah paman Loh untuk bertemu di sini, dengan gangguanmu ini mana dia mau datang lagi? Cici, silakan kau pulang dahulu, segera aku menyusul."
"Kembali kau mengaco belo lagi, dalam benakmu yang kecil itu selalu berpikir hal2 yang tidak karuan. Mana bisa arwah Loh Yu-ka mau menemui kau?"
"Biasanya dia sangat akrab denganku, apalagi sudah kusanggupi akan memberitahukan sesuatu padanya sudah kujanjikan akan kuberitahu pada hari ulang tahunku. Siapa tahu, dia tidak dapat menunggu lagi,"
Sampai di sini, anak dara itu menjadi berduka lagi.
"Sekejap saja kau lantas menghilang, segera ibu menduga kau datang ke sini dan ternyata tepat dugaan ibu,"
Kata Kwe Hu.
"Hm, se-nakal2nya monyet kecil macammu ini masakah dapat mengelabuhi perhitungan ibu? Kau benar2 teramat bandel, ibu sangat marah, coba kalau Hotu itu bersembunyi di sekitar sini, sedangkan tengah malam buta kau sendirian berada disini, kan sangat berbahaya?"
Kwe Yang menghela napas, katanya "
Aku terkenang kepada paman Loh sehingga tidak memikirkan bahaya lagi, O, Cici yang baik, temanilah duduk sebentar di sini, boleh jadi arwah paman Loh akan datang benar2 menemui aku.
Cuma engkau jangan bersuara agar tidak mengejutkan dia."
Biasanya Kwe Hu kurang menghormati Loh Yu-ka, menurut anggapannya bisanya Loh Yu-ka diangkat menjadi Pangcu adalah karena dukungan ibunya, maka ia pikir kalau betul arwah Loh Yu-ka akan datang juga tidak perlu ditakuti, iapun tahu watak kepala batu adiknya itu, sekali sudah menyatakan hendak menunggu di situ, maka sukar-lah disuruhnya pulang begitu saja kecuali kalau ayah-ibu datang sendiri dan mengomelinya.
Maka ia lantas berduduk, katanya dengan gegetun.
"Ji-moay, usiamu makin menanjak, tampaknya kau semakin ke-kanak2an. Tahun ini kau sudah 16 tahun, selang dua-tiga tahun lagi juga akan punya mertua, memangnya sesudah di rumah mertua kau juga akan angin2an seperti ini?"
"Memangnya apa bedanya?"
Ujar Kwe Yang.
"Setelah kau menikah dengan Cihu (kakak ipar, suami kakak), bukankah kaupun tetap bebas merdeka seperti waktu masih gadis?"
"He, mana boleh kau membandingkan Cihu-mu dengan orang Iain?"
Jawab Kwe Hu dengan bangga.
"Dia adalah ksatria sejati jaman kini, pengetahuan dan pandangannya sudah tentu jauh lebih daripada orang lain, dengan sendirinya dia takkan mengekang kebebasanku. Bakat seperti Cihumu itu jasanya jarang ada bandingannya di antara jago2 angkatan muda sekarang. Kelak kalau bakal suamimu ada setengah kepandaiannya saja, kukira ayah-ibu sudah cukup merasa puas."
Mendengar ucapan sang Taci yang sombong itu, Kwe Yang balas mcncibir, katanya.
"Sudah tentu Cihu adalah tokoh yang hebat, cuma aku tidak percaya bahwa di dunia ini tiada orang lain yang melebihi dia."
"BoIeh lihat saja nanti kalau kau tidak percaya"
Ujar Kwe Hu.
"Aku justeru mempunyai seorang kenalan yaog berpuluh kali lebih hebat daripada Cihu,"
Kata Kwe Yang. Keruan Kwe Hu menjadi gusar, teriaknya.
"Siapa dia? Hayo katakan lekas!"
"Untuk apa kukatakan? Asalkan aku sendiri tahu di dalam hati saja, kan cukup?"
Jawab Kwe Yang.
"Huh, apakah kau maksudkan Li-samte? atau Ong Kiam bu? Atau Tio Si-kong?"
Jengek Kwe Hu-Yang disebutnya itu adalah beberapa ksatria muda yang ganteng kenalan mereka. Namun Kwe Yang menggeleng, katanya.
"Bukan, bukan! Memadai Cihu saja mereka tidak dapat, mana bisa dikatakan lebih hebat berpuluh kali daripada nya?"
"Habis siapa?"
Kwe Hu menegas-.
"Ya, kecuali Gwakong kita, atau ayah dan ibu atau paman Cu Cu-liu dan beberapa ksatria angkatan tua,"
"Tidak, orang yang kumaksud itu justeru lebih muda daripada Cihu, wajahnya juga lebih cakap, sedangkan ilmu silatnya jauh lebih tinggi daripada Cihu, hakikatnya bedanya seperti langit dan bumi, sama sekali tak dapat dibandingkan...."
Setiap kalimat diucapkan Kwe Yang, setiap kali pula disambut oleh Kwe Hu dengan mencemoohkan.
"Cis, cis, cis!"
Tapi Kwe Yang tidak peduli, ia menyambung pula.
"Jika kau tidak mau percaya, ya terserah padamu, Pokoknya orang itu sangat baik budi, siapapun yang ada kesukaran, tak peduli kenal atau tidak selalu dia suka memberi pertolongan."
Bicara sampai akhirnya, wajahnya yang cantik itu tampak memandang kesima ke depan seperti mengenangkan sesuatu yang sukar dilupakannya. Dengan gusar Kwe Hu lantas berkata.
"Dalam benakmu yang kecil ini selalu berkhayal saja. Baik-lah, setelah matinya Loh Yu-ka, jabatan Pangcu menjadi lowong, tadi ibu mengatakan, mumpung para pahlawan berkumpul di sini, maka kesempatan ini sebaiknya digunakan mengadakan pemilihan Pangcu. Biarlah orang banyak ikut bertanding, siapa yang berkepandaian paling tinggi, dia yang diangkat menjadi Pangcu, dengan begitu persengketaan antara Ut-ih-pay (aliran baju kotor) dan Ceng-ih-pay (aliran baju bersih) dalam Kaypang dapat dihindarkan. Kalau orang yang kau anggap hebat itu benar2 lihay, nah boleh kau suruh dia maju dan bertanding dengan Cihumu untuk memperebutkan kedudukan Pangcu."
"Hihi, belum tentu dia kepengin menjadi Pangcu kaum jembel begitu,"
Ujar Kwe Yang dengan tertawa.
"Hm, kau berani meremehkan kedudukan Pang-cu?"
Semprot Kwe Hu dengan marah.
"Dahulu kedudukan itu pernah di jabat Ang Jit-kong, ibu kita juga pernah menjabatnya, masakah kau berani menghina Ang-lokongkong dan ibu?"
"Baik aku pernah menghina beliau2 itu, kan kau sendiri yang bilang? Kau sendiripun tahu aku sangat akrab dengan paman Loh dan bergaul baik dengan kaum jembel lain,"
"Baiklah, boleh kau suruh pahlawanmu itu bertanding dengan Cihumu,"
Kata Kwe Hu pula.
"Sementara ini para ksatria sama berkumpul di Siangyang, lihat saja nanti, siapa pahlawan dan siapa kerbau, sekali gebrak segera akan ketahuan."
"Cici, bicaramu memang suka melamur tak genah, bilakah kubilang Cihu adalah kerbau? Kalau dia kerbau, bukankah engkaupun menjadi hewan? Padahal kita dilahirkan dari satu ibu, kan aku ikut kurang terhormat?"
Kwe Hu menjadi serba runyam, ya dongkol dan geli, ia lantas berbangkit dan berkata.
"Aku tidak ada waktu buat ribut dengan kau. Hayolah pulang, jangan2 nanti aku ikut didamprat"
Kwe Yang bersifat lincah dan pintar bicara, biasanya memang suka adu mulut dengan sang Ta-ci, segera ia ber-olok2 pula.
"Ai, engkau kan nyonya muda yang sudah menikah, biasanya ayah dan ibu juga paling sayang padamu, engkau juga isteri calon pangcu, siapakah gerangannya yang sudah makan "
Hati harimau sehingga berani mendamperat kau?"
Mendengar adiknya menyebutnya "isteri calon Pangcu", hati Kwe Hu menjadi senang, katanya.
"Sekian banyak kaum ksatria berkumpul di sini, siapa orangnya yang tidak ingin menjadi Pangcu? Cihumu juga belum tentu akan terpilih, sebaiknya kau jangan bicara muluk2 dahulu agar tidak ditertawakan orang."
Kwe Yang termangu2 sejenak pula, dilihatnya bulan setengah bulat itu menghiasi cakrawala yang kelam, suasana sunyi sepi, katanya kemudian dengan gegetun.
"Tampaknya arwah paman Loh takkan datang, Cici, mengapa begini cepat mengangkat Pangcu? pengganti paman Loh kan dapat ditunda sementara waktu agar kita dapat lebih lama mengenangkan jasa beliau."
"Kembali kau bicara seperti anak kecil,"
Ujar Kwe Hu "Kay-pang adalah organisasi terbesar di dunia Kangouw, naga tanpa kepala, mana boleh jadi?"
"Ibu bilang kapan akan diadakan pemilihan Pangcu?"
Tanya Kwe Hu.
"Tanggal 15 adalah hari pembukaan Eng-hiong-tay-hwe dengan acara utama bagaimana menghimpun para pahlawan dari segenap penjuru untuk bersama2 melawan Mongol. Musyawarah itu bisa berlangsung hingga lima enam hari atau bisa juga 8-9 hari. Jadi pemilihan ketua Kay-pang itu kukira baru dapat diselenggarakan pada tanggal 23 atau 24 nanti."
"Ahhhh!"
Kwe Yang bersuara tertahan "Ada apa?"
Tanya Kwe Hu.
"Tidak apa2,"
Jawab Kwe Yang.
"Soalnya tanggal 24 adalah bertepatan dengan hari ulang tahun-ku, Karena kesibukan kalian dalam pemilihan pangcu itu, tentunya ibu menjadi tidak sempat merayakan hari ulang tahunku nanti."
"Hahahaha!"
Kwe Hu bergelak tertawa.
"Cuma hari ulang tahun anak dara seperti kau ini memangnya begitu penting? Mana boleh kau anggap urusan penting pemilihan pangcu itu justeru mengganggu hari ulang tahunmu? Haha, kalau didengar orang bisa jadi gigi orang akan rontok menertawakanmu, Ai, mungkin di dunia ini hanya kau saja yang selalu ingat kepada urusan tetek bengek begitu?"
Dengan muka merah padam Kwe Yang menjawab.
"Umpama ayah tidak ingat ibu pasti ingat. kau bilang urusan tetek bengek, aku justeru bilang ini urusan penting, Sekali ini ulang tahunku genap berusia 16. kau tahu tidak?"
Kwe Hu tambah geli dan ber-oIok2.
"Ya, ya! Pada hari itu nanti, berpuluh ksatria dan pahlawan yang berada di Siangyang ini akan hadir memberi selamat kepada Kwe-jisiocia kita, setiap orang akan menyumbangkan kado padamu, sebab tahun ini Kwe-jisocia kita genap berusia 16 dan bukan lagi anak dara melainkan sudah nona besar, Hahahaha!"
"Orang lain mungkin takkan ambil pusing, tapi paling sedikit ada seorang pahlawan besar pasti ingat kepada hari ulang tahunku, dia sudah berjanji akan datang menemui aku,"
Kata Kwe Yang dengan rasa bangga.
"Ah, pahlawan besar apakah? Ya, tahulah aku, tentu pahlawan yang jauh lebih hebat daripada Cihumu itu,"
Ujar Kwe Hu.
"lngin kukatakan padamu, pertama, di dunia ini hakikatnya tiada tokoh nomor satu begituan, hanya benakmu sendiri yang berkhayal seperti itu. Kedua, seumpama ada orang begitu, betapa banyak urusan penting yang harus dilakukannya, mana dia mau datang memberi selamat kepada anak dara seperti kau ini. Kecuali dia juga menghadiri Eng-hiong-tay-hwe, kalau tidak masakah dia datang ke Siangyang ini."
Hampir2 menangis Kwe Yang oleh olok2 sang taci, sambil banting2 kaki ia berseru.
"Dia sudah berjanji padaku, dia sudah berjanji. Dia takkan menghadiri Eng-hiong tay-hwe dan juga tak ikut berebut pangcu segala."
"Dia bukan Enghiong, dengan sendirinya ayah takkan mengirim Eng-hiong-tiap padanya,"
Kata Kwe Hu.
"Sekalipun dia ingin menghadiri pertemuan besar ini kukira juga belum memenuhi syarat."
Kwe Yang mengusap air matanya dengan sapu-tangan kecil, katanya.
"Jika begitu akupun takkan hadir pada pertemuan kalian itu, masa-bodoh kalian hendak mengangkat Pangcu segala, betapapun ramainya juga aku takkan meiihatnya."
"Aduh, jika Kwe-jisiocia kita tidak hadir, lalu bagaimana jadinya Eng-hiong-tay-hwe itu nanti?"
Demikian Kwe Hu ber-olok2 pula.
"Yang terpilih menjadi Pangcu nanti juga kurang gemilang, mana boleh kau tidak hadir."
Sambil menutupi kedua telinganya Kwe Yang terus berlari keluar kelenteng, Tapi mendadak bayangan berkelebat tahu2 diambang pintu kelentertg telah berdiri seorang dan mengalang jalan keluarnya, keruan Kwe Yang kaget, cepat ia melompat mundur sehingga tidak bertubrukan dengan pengadang-nya itu.
Di bawah cahaya bulan tertampak perawakan orang itu sangat jangkung, mukanya hitam, anehnya tubuh bagian atas ternyata sangat cekak, hanya bagian pinggang ke bawah yang teramat panjang.
Setelah diawasi lebih teliti baru tahu jelas, rupanya kedua kaki orang itu buntung, kedua ketiaknya di sanggah dengan sepasang tongkat yang panjangnya-hampir dua meter, karena itulah lengan celananya menjadi bsrgoyang-gontai di bagian bawah, orang pendek memakai egrang sehingga menjadi orang jangkung.
"He, kau, Nimo Singh!"
Seru Kwe Hu terkejut.
Kiranya orang ini memang betul Nimo Singh adanya.
Sekali ini raja Mongol memimpin sendiri pasukannya ke selatan, maka segenap jago silat benua barat dan Mongol telah dikerahkan, setiap orang sama berharap dapat memamerkan kemahirannya dalam pertempuran nanti untuk mendapatkan pahala dan kedudukan.
Meski kedua kaki Nimo Singh sudah buntung, tapi ilmu silatnya belum punah, selama gembleng belasan tahun itu, sepasang tongkat penyanggah tubuhnya itu dapat dimainkan terlebih lihay daripada sebelum buntung kakinya.
Sementara ini pasukan Mongol masih ratusan li di utara Siangyang, tapi para pengintai yang terdiri dari jago2 silat pilihan seperti Nimo Singh dan lain2 sudah tiba lebih dulu di sekitar Siangyang.
Malam ini maksudnya hendak menginap di kelentong Yo-tayhu ini tak terduga didengarnya percakapan Kwe Hu berdua, keruan ia menjadi kegirangan, ia tahu berhasilnya Siangyang dipertahankan sekian lama oleh kerajaan Song adalah berkat perjuangan Kwe Cing, kalau sekarang kedua puteri kesayangannya ini ditawan, andaikan tak dapat memaksa Kwe Cing menyerah, sedikitnya juga dapat mengacaukan semangatnya dan sungguh suatu jasa besar baginya bila dilaporkan kepada raja Mongol.
Karena itulah ia lantas menjawab.
"Eh, nona Kwe, sungguh bagus daya ingatanmu, ternyata kau tidak pangling padaku, Baiklah, supaya tidak membikin susah kedua pihak, silakan kalian ikut padaku saja."
Gusar dan kuatir pula Kwe Hu, ia tahu ilmu silat orang Hindu ini sangat lihay, sekalipun dirinya kakak beradik maju sekaligus juga bukan tandingannya.
Tanpa terasa ia melotot gusar pada Kwe Yang, pikirnya.
"Semua ini gara2mu, coba cara bagaimana harus menghadapi bahaya di depan mata sekarang?"
Sebaliknya Kwe Yang telah berkata pada Nimo Singh.
"Eh, kenapa kedua kakimu itu begitu aneh? Sebelum buntung dahulu apakah juga sepanjang itu?"
Nimo Singh hanya mendengus saja dan tidak menggubrisnya, tapi lantas berkata pula kepada Kwe Hu.
"Kalian berjalan di depan, jangan sekali2 timbul pikiran hendak melarikan diri." -Nyata dia telah anggap kakak beradik itu sebagai tawanannya yang sudah berada dalam genggamannya. Kwe Yang lantas berkata pula.
"He, cara bi-caramu ini sungguh aneh, tengah malam buta kau suruh kami kakak beradik pergi ke mana?"
"Jangan banyak bicara, lekas ikut pergi!"
Bentak Nimo Singh, ia kuatir kedatangan musuh yang kini banyak berkumpul Siangyang dan usahanya ini mungkin bisa gagal, maka ingin lekas2 pergi.
"Jimoay, si cebol ini adalah jagoan pihak Mongol, kepandaiannya cukup lihay, marilah kita mengerubutnya dari kanan dan kiri,"
Bisik Kwe Hu kepada adiknya. Habis barkata.
"sret" , segera ia melolos pedang terus menusuk ke pinggang musuh. Kwe Yang tidak membawa senjata, ia lihat Nimo Singh tidak mempunyai kaki, bisanya berdiri adalah berkat tongkatnya saja, sekarang sang Taci menyerangnya, apakah dia bisa menangkisnya? Dasar hati Kwe Yang memang welas asih, maka ia berbalik berseru.
"He, Cici, orang ini harus dikasihani jangan dilukai!" . Tak terduga, belum lenyap suaranya, mendadak Nimo Singh menyangga tubuhnya dengan tongkat kiri, tongkat kanan terus menyabet.
"trang"
Tongkat membentur pedang Kwe Hu dan memercikkan lelatu api dalam kegelapan, pedang Kwe Hu hampir saja terlepas dan cekalan.
Seketika Kwe Hu merasa tangannya kesemutan dan dada sakit Cepat ia menggeser ke samping dan menyerang pula, ia mainkan "Wat-li-kiam hoat"
Dan menempur Nimo Singh dengan sengit.
Wat li-kiam hoat atau ilmu pedang gadis cantik diajarkan Kwe Cing kepada puterinya ini untuk mengenang salah seorang gurunya dari Kanglam-jit-koay, yaitu Han Siao-eng yang tewas secara mengenaskan di Mongol.
ilmu pedang ini mengutamakan kelincahan dan kegesitan, akan tetapi karena terbatas oleh tenaga, betapapun Kwe Hu memang bukan tandingan Nimo Singh.
Melihat cara Nimo Singh menggunakan kedua tongkatnya dengan bergantian, yang satu digunakan menyangga tubuh, yang lain lantas digunakan menyerang, gerak geriknya cepat dan gesit tiada ubahnya seperti orang yang berkaki, apalagi kedua tongkatnya itu sangat panjang, dari atas menggempur ke bawah, daya serangannya menjadi lebih hebat, jelas sang Taci tidak sanggup melawannya, baru sekarang Kwe Yang merasa kuatir.
Sesungguhnya kepandaian Nimo Singh memang jauh lebih tinggi daripada Kwe Hu, hanya kepandaian nona itu adalah ajaran Kwe Cing dan Ui Yong yang lihay, maka dapatlah Kwe Hu bertahan sekian lama, tapi dirasakannya tekanan tongkat musuh semakin berat sehingga sukar ditangkis lagi.
Nampak kakaknya terdesak, tanpa pikir lagi Kwe Yang lantas menubruk maju dengan bertangan kosong.
"Kena!"
Mendadak Nimo Smgh berteriak tongkat kiri menutul lantai, tubuhnya mengapung ke atas, kedua tongkat digunakan sekaligus untuk menyerang, tongkat yang satu kena menutuk bahu kiri Kwe Yang, tongkat lain tepat menutuk Hiat to di dada Kwe Hu.
Kwe Yang tergeliat sempoyongan dan mundur beberapa tindak.
sedangkan Kwe Hu cukup berat ditutuk oleh tongkat lawan, ia tidak tahan dan "bluk", jatuh terduduk.
Gesit luar biasa Nimo Singh, cepat lagi keji, begitu tongkatnya menutul pelahan, segera ia mendesak maju ke depan Kwe Hu sambil menjengek.
"Nah, sudah kukatakan ikut saja padaku..."
Di luar dugaannya, mendadak Kwe Hu sambil berseru.
"Jimoay, lekas lari ke belakang!"
Nimo Singh terkejut, sudah jelas Hiat-to di dada Kwe Hu kena ditutuknya dengan ujung tongkat, mengapa nona itu masih dapat bergerak dengan bebas?
ia tidak tahu bahwa Kwe Hu memakai baju wasiat berduri landak (Nui-wi-kah) pemberian sang ibu, disangkanya keluarga Kwe punya ilmu kekebalan yang tidat mampu ditutuk dan tidak mempan dilukai.
Padahal setelah terkena tutukan tongkat tadi, meski tidak beralangan apa2, namun rasa sakitnya juga tidak kepalang, dan kurang leluasa lagi buat bergerak.
Tapi Kwe Yang lantas memainkan ilmu pukulan "Lok-eng-ciang-hoat"
Dan melindungi di belakang sang Taci sambil berseru.
"Cici, engkau saja lari lebih dulu!"
Namun sebelum mereka angkat kaki, tahu2 Nimo Singh melayang lewat di atas mereka dan mengadang di depan Kwe Hu sambil membentak "jangan bergerak!"
Kwe Yang menjadi gusar dan mendamperat.
"Tadinya kau harus dikasihani tak tahunya kau begini jahat!"
"Hahaha!"
Nimo Singh bergelak tertawa.
"Anak dara, rupanya kau belum kenal kelihayan kakek sebelum tahu rasa."
Habis ini, kedua tongkatnya bergantian melangkah maju sehingga menerbitkan suara "tok-toktok"
Yang keras, dengan muka menyeringai selangkah demi selangkah ia mendesak maju.
Keruan Kwe Hu dan Kwe Yang melangkah mundur dengan ketakutan.
Selama hidup Kwe Yang belum pernah melihat wajah orang sebengis ini, dilihatnya kedua mata Nimo Singh melotot, mukanya beringas dan muIutnya menyeringai iblis, tampak pula taringnya yang runcing putih, se-akan2 drakula yang akan menerkam dan menggigit lehernya, saking takutnya ia menjerit ngeri.
Pada saat itulah tiba2 Kwe Yang mendengar suara halus berkata di belakangnya.
"Jangan takut, serang dia dengan Am-gi (senjata rahasia)!"
Dalam keadaan gawat begitu, tak berpikir lagi oleh Kwe Yang siapa yang bicara itu, segera ia meraba bajunya, tapi lantas disadarinya dia tidak membawa senjata apapun juga, katanya dengan cemas.
"Aku tidak membawa Am-gi."
Sementara itu Nimo Singh telah mendesak maju Iagi, ia menjadi bingung dan terpaksa kedua tangannya disodorkan ke depan dengan gaya membela diri.
Tak terduga baru saja tangannya menjulur ke depan, se-konyong2 dari belakang se-akan2 ditiup serangkum angin, lengannya terasa tergetar pelahan, sepasang gelang untiran emas yang dipakainya itu tahu2 terlepas dari pergelangan tangannya dan melayang ke depan.
Baca Juga: Seruling Samber Nyawa 7
Baca Juga: Pendekar Satu Jurus 1