Ceritasilat Novel Online

Seruling Samber Nyawa 7

Eps 7 Seruling Samber Nyawa - Chin Yung

Baca online Seruling Samber Nyawa - Chin Yung

Cersil Seruling Samber Nyawa - Chin Yung.

Melihat orang terus menyerbu dengan serangan membadai tanpa hiraukan lagi keselematan diri sendiri, seketika timbul rasa curiga Giok liong.

pikirnya.

"Apakah nenek tua ini adalah ibu Siau-pa ong! Kalau tidak..."

Karena perasangkanya ini, mendadak ia ayun seruling samber nyawa keras keras sehingga bersuit nyaring bersama itu Potlot masnya bergerak melintang menahan kedepan, jurus ini merupakan intisari dari kekuatan ilmu Jan-hun-su-sek, hanya cara serangannya ia rubah sedikit, yaitu potlot mas yang seharusnya ia tusukkan kedepan ia rubah melintang terus mendesak maju.

Dibawah tekanan ilmu tunggal yang tiada taranya di dunia persilatan ini, betapapun si nenek sudah nekad juga tak kuasa lagi menerjang masuk kedalam penjagaan jurus yang ampuh ini, malah dengan mendengus keras ia tersurut mundur tiga langkah.

Setelah sejurus mendesak mundur lawan, Giok-liong baru berkesempatan buka bicara.

"Tiada juntrungannya kita bertempur, kenapa kau tidak tahu aturan !"

Si nenek semakin beringas, semprotnya gusar.

"Tiada juntrungannya ! Penasaran anakku, kejengkelan menantuku dan cucu perempuanku harus mengandal siapa coba katakan ! Katakan ? Kau mau bicara tidak?"

Di mulutt ia mendesak orang untuk bicara, sebaliknya tangannya tidak menanti orang buka mulut, serentak ia tarikan lagi selendang di kedua tangannya, terus menubruk maju lagi untuk kedua kalinya, giginya berkerut penuh dendam seperti kesurupan setan.

Kelihatannya ia sudah kehilangan kesadarannya.

Giok-liong berpikir lagi, kiranya tepat dugaanku, ternyata Siau-pa-ong masih mempunyai keluarga.

Sinar perak berkembang rapat memenuhi udara melingkar lingkar berwujud berpuluh bundaran besar kecil yang indah, membawa kirasan angin yang kencang menderu laksana derap langkah berlaksa kuda yaag tengah berlari kencang terus menerjang datang.

Mega putih mulai berkembang, Dibawah lindungan hawa Ji lo, Giok-liong berkelebat melejit kesamping dimana Siau-paong tengah semadi, Menunjuk kearah Siau pa-ong ia berteriak kepada sinenek .

"Orang tua, lihatlah putramu ini terluka berat ...""

Tak di duga si nenek malah semakin murka sambil membanting kaki ia menerjang lagi dengan serangan yang lebih hebat, bentaknya.

"Bangsat kecil, kau masih pintar main lidah!"

Dua larik lingkaran sinar perak serentak menggulung dari kanan kiri, sebelah kiri melingkar hendak menggubat sedang se-lendang kanan menyebut menyapu muka.

Sekarang Giok-liong menghadapi dua serangan dari dua jurusan yang berlawanan, untung ia sudah kerahkan hawa Jilo pelindung badan, kalau tidak pundaknya tulang tuIangnya pasti patah atau remuk kena digubat.

Walau demikian tak urung ia rasakan pundak kirinya menjadi kesemutan, seruling samber nyawa lantas terasa semakin berat bobotnya.

Karena kena kebutan senjata lawan inilah lantas menimbulkan kemarahan Giok-liong "Nenek tua, kau terlalu mendesak orang!"

Pancaran cahaya Potlot masnya semakin terang cemerlang, demikian juga irama seruling semakin merdu dan keras lantang perbawanya semakin hebat.

Kini yang terlihat hanyalah sebuah bayangan putih terbungkus di dalam putaran cahaya kuning mas dan kilauan cahaya putih tengah berputar dan bergerak lincah seperti angin lesus.

Saking cepat ia bergerak sulit membedakan apakah itu jurus serangan potlot mas atau tusukan Seruling sambar nyawa, kiri kanan, depan belakang, timur, selatan, barat dan utara seluruhnya terbungkus dalam sinar kuning dan cahaya putih perak.

Saking marahnya Giok-liong tidak hiraukan lagi segala akibatnya karena tanpa khawatir lagi perbawa serangannya ini bertambah berlipat ganda.

Beruntun terdengarlah suara berlainan saling susul lalu terdengar pula jerit gusar yang penasaran, tahu-tahu selendang perak panjang itu kini terbang melayang ditengah udara terlepas dari cekalan tangan si nenek.

Saking keras kisaran angin yang diierbitkan oleh putaran Potlot mas, sehingga selendang perak iiu tergulung melayang tinggi ketengah udara lama sekali terus berkembang baru melayang jatuh ditanah.

Si nenek berpakaian abu abu itu kelihatan terhuyunghuyung mundur tak kuasa berdiri tegak.

Kedua lengannya lemas semampai, terang ia sudah menderita luka yang sangat parah.

Wajahnya kelihatan pucat pasi, desisnya penuh kebencian.

"Bocali keparat, ingat kejadian hari ini!"

Laksana daun melayang jatuh dengan sempoyongan ia melejit tinggi, maksudnya hendak tinggal pergi saja.

Tak duga sesaat waktu badannya masih terapung di tengah udara.

Mendadak dari semak belukar sana berbareng melesat keluar puluhan bayangan hitam, puluhan jalur angin pukulan dilancarkan ditengah udara dari kejauhan, semua serangan tertuju kearah yang sudah terluka parah itu.

Terdengarlah lolong panjang yang mengerikan dari jiwa yang meregang sebelum ajal.

Seketika Giok liong sampai kesima kaget ditempatnya.

Hujan darah terjadi ditengah udara, darah tercecer keempat penjuru.

"Bluk!"

Jazat si nenek tua terbanting keras dari tengah udara.

Ternyata para bayangan hitam itu masih tidak memberi ampun lagi, serentak mereka lancarkan pula pukulan angin jarak jauh meluruk kearah badan yang sudah menggeletak tak bergerak itu, Kareaa jiwa sudah melayang sebelum jatuh ditanah ra-di, seketika badan si nenek htncur lebur seperti bergedel susah dikenali lagi.

Dalam pada itu, Siau-pa oug sudah selesai dengan usaha pengobatan dirinya, meskipun belum sembuh seluruhnya tapi ia sudah membuka mata, melihat adegan yang seram itu seketika ia duduk terlongong-longong.

Giok-liong menjadi serba kikuk juga sangat menyesal baru saja ia bermaksud maju memberi penjalasan kepada pecut sakit penghipap darah Koan It-kiat dan muridnya, Mendadak Koan It-kiat bergelak tawa lantang.

"Hahahahaha! Hahahaha! Hehehehe!"

"Cian-pwe urusan ini....."

"Ma Giok-Iiong, kejadian kali ini tidak menguntungkan bagimu?"

"Maksud Cian-pwe ?"

"Ketahuilah Hwi-hun-san-cheng tidak akan terima dihina semena-mena!"

"Apa Hwi-hun-san cheng?"

"Apa kau tidak kenal si nenek tua itu?"

"Bukankah ia ibu muridmu?"

"Huh! Koan It-kiat berludah sambil menyeringai acuh tak acuh, ia mendesis dingin.

"Buyung, ketahuilah nenek tua ini adalah ibu Hwi hun-chiu Coh Jian kun majikan dari Hwi-hunsan-cheng itu. Ketenaran nama Coh Jian-kun sebagai Bulim Bing-cu selama lima puluh tahun masih tetap jaya! Bencana sudah terang harus kau pikul!"

Kata-kata ini laksana sebuah pentung yang mengemplang diatas kepalanya laksana guntur menggelegar disiang hari bolong.

Otak Giot-liong serasa seperti dipukul godam menjadi pusing dan berat, sesaat ia berdiri menjublek seperti kehilangan kesadaran tanpa bersuara.

Tubuhnya kaku seperti patung kayu berdiri tegak ditempatnya.

Pecut sakti penghisap darah Kaon lt kiat sendiri juga tidak tahu akan seluk beluk persoalan yang scbs.ulnya, taPi melihat orang melongo lantas ia mengejek.

"Kau takut ? Sudah menyesal"

Giok liong masih tetap tak bergerak dan bicara, sebab dia tengah berpikir.

Bagaimana ini bisa terjadi?

Bagaimana mungkin dia adalah nenek diri istri tercinta ?

Kalau ini betul betul kenyataan ....Bagaimana aku harus memberi penjelasan kepada Coh Ki sia ?

Peristiwa yang terdahulu ia sudah berbuat salah dan dosa kepada kedua orang tua yaitu Coh Con Jian-Min dan Tam kiong sian cu Hoan Ji-hoa, sekarang ..Tuhan agaknya memang sengaja hendak mempermainkan umatnya ?

Ataukah memang hidupku ini yang harus menderita?

Giok-liong semakin tenggeIam dalam alam pikirannya.

Terdengar Pecut sakti penghisap darah Koan It-kiat kembali tawa ejek .

"Bagus! selama hidup waktu muda dulu Pang Giok dengan Potlot mas tunggalnya malang melintang namanya tenar sehingga diberi julukan Bulim-sucun. Kau sendiri Giok liong belum lama berkelana di Kangouw ini ternyata sudah mempunyai musuh sedemikian banyak tidak suka. ! Yang harus dibayangkan adalah ketenaran dan keharuman nama Pang Giok dan keempat bayangan senjata rahasia Potlot mas kecilnya itu. sepatah laksana golok sekata seperti anak panah golok dan anak ini menusuk ke sanubari Giok liong rasanya terhunjam sangat dalam terasa merddu. Tiba tiba sorot matanya berkilat terang, bahwa nafsu membunuh menjalar dimukanya, bentaknya dergan bengis . Koan It-kiat, Apa yang kau maksudkan"?"

"Coba kau pikir sendiri, ditempat ini dalam waktu sekarang ini siapa yang harus kusebutkan ?"

"Omong kosong belaka ?"

Serempak bayangan hitam bergerak-gerak, puluhan manusia aneh-aneh seragam hitam bergerak maju merubung datang berkumpul menghadang Giok liong, berbareng mereka menjura kepada Giok-Iiong seraya berseru bersama.

"Tak perlu Siau hiap turun tangan kami tunggu sekejap petunjukmu saja!"

"Kenyataan lebih menang dari berdebat, demikian teriak Pccut sakti penghisap darah Koan It-kiat.

"Apa lagi yang dapat kau katakan ?"

Giok liong menjadi melenggong tak tahu apa yang harus diperbuatnya, dengan terlongong dan tak habis herannya ia mengawasi orang orang aneh seragam hitam itu. Kata koan It kiat pula.

"Kalau kalian hendak mengeroyok ! Marilah turun tangan"

Pecut masih berada ditangan Koan lt kiat.

"Kalau tidak malas aku melihat tampangmu sebagai murid Pang Giok yang memalukan perguruan, sudahlah aku hendak kembali tidur!"

Tanpa menanti penyahutan Giok-long, sambil tertawa dingin ia menggape kepada Siau Pang ong, ujarnya.

"Hayo pulang!"

Sekali berkelebat ia menyelinap hilang didalam hutan.

Menghilangnya bayangan Koan It kiat guru dan murid hati Giok liong semakin merasa kesepian dan hampa.

Hati seperti kosong tak punya juntrungannya lagi.

Dalam pada itu para orang aneh seragam hitam itu masih berdiri tegak disekelilingnya mereka mematung diam tanpa bersuara.

Akhirnya menimbulkan kemarahan Giok liong yang tak tertahan lagi hardiknya.

"Ka-lian dari mana?"

"Hamba sekalian dari Kau-tong ( sekte anjing ) dihutan kematian..."

"Baik, lihat pukulanku !"

Boleh dikata kebencian Giok-liong sudah memuncak tak terkendali lagi, dimana setelah tangannya melancarkan pukulan baru mulutnya bersuara.

"Hayo."

"Aduh !" -"Tobat !"

Pekik dan teriakan jiwa yang rnerenggang sebelum ajal gegap gempita saling susul menggetarkan pinggir hutan belantara.

Dalam keadaan yang tidak berani balas menyerang atau menjaga diri para orang aneh seragam hitam segera lari berpencar pontang penting sambil mengeluh berksokan.

Seluruh kemurkaan dan kedongkolan hati Giok liong seluruhnya dilampiaskan di kedua kepalan tangannya, kakinya tidak berhenti bekerja mengejar kemana kakinya melangkah melihat lalu pukul satu kecandak dua bunuh memang sungguh kasihan orang orang aneh siapani hitam tidak tahu menahu soal apa yang menimbulkan kemarahan orang belum tahu duduk perkara, jiwanya sudah melarang sia sia dengan penasaran.

Hakekatnya Giok liong sendiri sebetulnya juga terlalu mengumbar nafsu dan ceroboh ?

Tapi memang pukulan batin yang menimpa sanubarinya terlalu berat saking terburu nafsu ia kehilangan kontrol kesadarannya, rasa kebencian yang meluap menghantui nuraninya.

Benci, ia benci berbagai rasa kebencian Tak peduli apakah orang-orang aneh seragam hitam inilah adalah orang orang yang harus dibencinya, tanpa tanya lagi apakah mereka setimpal untuk dibencinya.

sekarang bahwa otak pikirannya sudah dirangsang oleh nafsu jahat yang ingin membunuh orang, bunuh seluruh manusia yang diketemukan.

baru rasanya dapat melenyapkan rasa benci yang mengeram dalam badannya.

Terutama karena perubahan hati nuraninya terasa olehnya semakin banyak ia membunuh, baru terhapus rasa bencinya.

Oleh karena itu, semakin besar dan berkobar nafsunya untuk membunuh, dengan kencang ia mengejar kemana saja dilihatnya bayangan orang orang seragam hitam melarikan diri.

Entah dengan tutukan, pukulan atau cengkeraman jarak jauh dengan angin pukulan dahsyat.

Giok liong sudah lancarkan seluruh cara-cara ganas untuk melaksanakan kekejaman terasa semakin telengas hatinya rada terhibur kalau tidak kejam tak dapat melampiaskan kedongkolan hatinya.

Sekali tangan kiri bergerak lantas terdengar raungan yang menyayatkan hati dimana tangan kanan mencengkeram darah lantas muncrat kemana-mana, Alas belantara menjelang diliputi kegelapan yang terdengar hanyalah gemboran Giok liong yang melampiaskan kegusaran hatinya seperti jerit dan pekik menyayatkan hati yang mendirikan bulu roma.

Dimana hembusan angin malam silir membawa bau anyir darah yang memualkan sinar bulan sabit yanp redup menyinari mayat-mayat yang bergelimpangan di semak belukar, Kira-kira cukup satu jam lamanya, Giok-liong menggeledah seluruh empat penjuru tak kelihatan lagi ada bayangan manusia baru ia sempat untuk istirahat.

Baru kemarahan juga mulai mereda dan tumpas seluruhnya dibawah cahaya sinar bulan yang remang-remang dipandangnya sepasang tangannya yang penuh berlepotan darah, tak terasa lagi dan tak tersadar olehnya ia bergelak tawa tanpa juntrungan.

Apakah gelak tawanya ini penanda kepuasan hati?

Bukan !

pertanda kemenangan?

Bukan !

Pendek kata dia sendiri juga tidak tahu gerangan apakah yang membuatnya tertawa?

Yang terang sesudah ia bergelak tertawa terasa ringan tekanan batin dan lahiriah yang menyepak dadanya ini memang kenyataan.

Segera ia menuju ke pinggir sungai yang tidak jauh letaknya untuk mencuci kedua tangannya, Waktu kedua tangannya masuk ke daian air dingin, tanpa merasa gemetar kedinginan.

Pikirnya.

"Kenapakah aku ini? Kubunuh sedemikian banyak orang ada manfaat bagiku? Apakah setelah membunuh sekian banyak orang, rasa benciku sudah himpas seluruhnya? Terhitung sudah menuntut balas bagi ayah bunda? ataukah menumpas dan mengurangi tekanan bibit bencana yang bakal bersemi di Bulim? Apakah penebus budi untuk perguruan yang telah mendidik dan mengajar dirinya? Bukan, semua tidak! Tak berani ia memandang bayangan diri sendiri dipermukaan air sekali loncat terus berjalan pergi tanpa tujuan, dengan kencang ia berlari kearah atas belukar yang tak berujung pingkal itu.. Gunung gemunung berlapis sambung menyambung tiada ujung pangkalnya. Kabut menyelimuti seluruh alam pegunungan,dilereng di puncak di lembah atau di ngarai, saking tebal kabut menjelang malam ini, sehingga pemandangan menjadi gelap tak dapat dibedakan lagi dimana pohon berada. Namun setitik bayangan putih secepat anak panah meluncur membelah kabut yang tebal berlari kencang menembus kegelapan, meloncati jurang dan melintasi ngarai. Angin dingin menghembus kencang dipinggir telinganya. Cuaca semakin gelap mungkin sudah menjelang tengah malam, bulan sabit yang memancarkan sinarnya yang redup kadang-kadang muncul di lain saat sembunyi di balik awan, tak terasa ia sudah naik ketengah cakrawala, Bayangan putih ia agaknya juga sudah kecapekan. Akhirnya ia meluncur memasuki sebuah lembah sempit yang membelakangi lamping gunung dekat aliran sungai. Bayangan putih itu bukan lain adalah Ma Giok-liong yang tengah dirundung kesedihan dan kedongkolan yang belum terjawab. Pertempuran yang menghabiskan tenaga serta perjalanan jauh dengan berlari kencang ini akhirnya melelahkan badannya. Didepannya melintang sebuah aliran sungai kecil yang mengalir lembut, menyelusuri sungai ini ia terus menanjak naik melewati batu-batu aneh dan rumput menghijau yang lebat laksana permadani hijau. Tiba-tiba Giok-liong berseru tertahan, ternyata pinggir sungai sebelah sana di atas sebuah batu besar didirikan sebuah bangsal dari rumput yang cukup untuk tidur satu orang.

"Ditempat sunyi yang jarang diinjak manusia ini, siapakah yang menetap disini?"

Di dalam bangsal kelihatan ditaburi rumput-rumput kering yang lembut, disebelah ujung kiri terletak sebuah mangkok yang terbuat dari tanah liat, didalam mangkok inilah terbaur keluar bau harum arak yang merangsang hidung di sebelah mangkok ini terletak sebuah ayam panggang yang di bungkus dengan daun teratai, sungguh sedap dan merangsang baunya.

Bahwasanya memang Giok-liong sudah sekian lama belum makan, perutnya memang sedang keroncongan, Melihat arak dan daging ayam yang harum, tanpa merasa ia menjilat lidah karena mengalirkan ilernya.

Sudah jamak bagi sifat manusia dalam keadaan kepepet apalagi tengah kelaparan lantas terlupakan akan sifat jantan keperwiraannya sebagai laki laki sejati, ini berarti saking lapar lantas timbul niat jahat untuk mencuri.

Maka tanpa banyak pikir lagi Giok liong lantas geragoti ayam panggang itu, diiringi dengan menenggak arak dalam mangkok besar itu, sungguh nikmat dan menyegarkan lebih senang dan gembira dari pada menjadi raja.

Sebuah ayam panggang dan semangkok arak boleh dikata jumlah yang rada lumayan, tapi bagi Giok-liong yang tengah kelaparan sekali lalap saja sebentar saja semua sudah dikuras ludes sama sekali, malah mulut masih berkecap-kecap kekurangan.

Seekor ayam boleh dikata masih kurang, sebaliknya arak itu terlalu banyak keliwat takaran.

Sebab selamanya Giok-liong belum pernah minum arak, sekarang secara perlunya saja ia tonggak habis habisan, keruan kepala menjadi pusing, mata juga berkunang, badan menjadi mual, rasa kantuk lantas merangsang tak terkendali lagi, akhirnya ia roboh celentang diatas runput kering dalam bangsal terus tidur kepulasan..

Entah sudah berselang berapa lama ia kepulasan dalam impiannya.

Dari luar bangsal sinar matahari sudah menyilaukan mata, ternyata sang surya sudah naik tinggi.

Sambll mengucek-ngucek mata Giok-liong bangun terduduk.

"Celaka !"

Mendadak ia meloncat berdiri, sungguh kejutnya bulan kepalang.

Empat batang Potlot mas besar kecil seruling sambar nyawa yang tersimpan dalam buntalan bajunya, serta batu giok pemberian ibunda yang tergantung di lehernya itu kini sudah hilang dan terbang tanpa sayap.

Benda-benda itu merupakan barang penting yang berhubungan erat satu sama lain dan tak boleh hilang.

Arak dan ayam panggang itu !

"Apakah ini tipu muslihat penjahat, dari mana mereka bisa tahu sebelumnya kalau aku bakal datang kemari ?"

Sambil merangkak rangkak Giok-liong membongkar seluruh pelosok bangsah rumput yang menaburi dalam bayaJ semua dilempar keluar, Tapi mana ada bayangan barang-barang pusakanya, hal ini sangat menggelisahkan hatinya.

Saking kejengkelan dan gugup ia meloncat keluar, sekali angkat kaki ""Brak"

Bangsal rumput itu ditendangnya roboh.

"Kemana aku harus mencari ?"

Dengan lesu ia menuju ke pinggir sungai lalu jongkok dengan kedua tangan ia menggayuh air ubtuk membasuh mukanya.

Lalu dengan langkah malas malasan ia berjalan balik melalui jalan yang ditempuhnya datang tadi.

"Hei, kau tidak mau barangmu lagi ?"

Tiba tiba terdengar seorang berkata.

"O siapa ?""

Giok-liong terkejut garang.

Bagaimana juga tidak terpikirkan olehnya di tempat semacam ini masih ada orang kedua ?

Tapi waktu ia celingukan ke sekitarnya, batu runcing saling tonjol laksana hutan, dimana-mana penuh semak belukar, tak kelihatan ada bayangan manusia.

"Siapa yang bicara ..."

"Adalah aku! Aku disini !"

Dari tempat datangnya suara semula terdengar pula penyahutan datar, jaraknya terpaut berapa tombak dari tempat Giok liong berdiri.

Menurut arah datangnya suara ternyata di tempat batu batu runcing laksana hutan itu.

Kini terlihat jelas dibawah sebuah batu besar yang lekuk tengahnya seperti jambul ayam duduk diatas rumput halus seorang tua renta berambut uban.

Orang tua ini berwajah biasa dan bersih tiada tanda-tanda aneh yang menyolok mata seperti manusia umumnya, dari sikap dan cara duduk serta suaranya tadi tiada kelihatan ciricirinya sebagai kaum persilatan, pakaiannya serba sederhana, bajunya terbuat dari kain kasar, dengan mengenakan mantel yang terbuat dari kulit landak.

Disamping menggeletak setumpukan kemul butut yang terbuat dari kulit anjing serta sebuah buli-buli warna kuning.

Di depan kakinya diaras tanah kelihatan sinar kuning dan cahaya putih yang cemerlang menyilaukan mata, itulah bendabenda Giok liong yang bilang, yaitu empat batang Potlor mas besar kecil, seruling samber nyawa dan sebentuk batu Giok berbentuk jantung warna merah darah, semua lengkap tergeletak disitu.

Keruan girang bukan main hati Giok-liong, seketika wajahnya mengunjuk seri tawa, dengan bergegas ia melangkah maju terus menjura daIam.

ujarnya.

"Terima kasih kepada Lotiang ini."

"Nanti dulu !"

Cegah si orang tua sambil menjulurkan tangan kedepan menolak tubuh Gick-liong yang memburu tiba hendak menjemput barang-barangnya.

Seketika Giok-liong berseru tertahan, badannya yang meluruk maju seketika seperti membentur dinding tertolak mundur.

Tapi sedikitpun ia tidak ambil perhatian akan hal ini, sambil tetap mengunjuk senyum ia berkata.

"Lo-tiang (paman) mengembalikan barang-barangku yang hilang ini, sungguh aku yang rendah berterima kasih setulus hati !"

Habis berkata ia maju lagi.

Terjadilah suatu keanehan.

Beruntun Giok-liong maju dua langkah entah bagaimana sedikitpun kakinya tak kuasa menggeser tempat, kedua kakinya tetap melengket ditempatnya semula.

Dengan mata mendelong ia awasi senjata pusaka perguruan yang menggeletak di tanah, walaupun barang barangnya itu terletak di depan matanya, tapi hanya bisa dilihat tak mampu dijamah.

Baru sekarang Giok-liong tersadar, bahwa si orang tua di hadapannya kiranya bukan orang sembarang orang.

Hal ini seharusnya tidak perlu dibuat heran, bukankah di tempat belukar yang sepi ini, jarang diinjak manusia, si orang tua ini hanya seorang tunggal saja, Kalau dia tidak mempunyai sesuatu kemampuan, bukankah berarti mengantar kematian belaka.

Karena tafsirannya ini, tat berani ia berlaku gegabah, sambil tertawa ia menjura lagi.

ujarnya.

"Harap dimaafkan akan kelancangan tadi. Keempat batang Potlot mas dan seruling itu dan batu giok iiu adalah barang-barangku yang hilang, harap paman suka mengembalikan, sungguh aku yang rendah sangat berterima kasih !"

"Aku tidak perlu terima kasihmu !"

Suara si orang tua tetap datar tanpa irama.

"Lalu apa kehendak paman."

"Kembalikan dulu ayam panggang serta semangkok besar arak wangiku. Kalau tidak semua barangmu ini sebagai gantinya !"

Seketika merah jengah selebar muka Giok-liong, sikapnya kikuk kemalu-maluan, katanya tergagap.

"Ternyata ....ternyata ... , arak itu ... adalah ...."

"Kau kira tidak ada pemiliknya ? seumpama tidak ada pemiliknya juga tidak boleh sembarangan gegares ! Kalau aku sih tidak apa-apa sesuai dengan kehidupanku ... lain adalah kau !"

"Petunjuk paman memang betul ! Pasti kuganti selipat ganda !"

"Aku tidak perlu dengan penggantian yang terlalu banyak !"

"Baiklah akan kuganti menurut apa adanya semula !"

"Mana keluarkan ?"

"Wah ....sekarang..., maksudku nanti setelah turun gunung !"

"Ha ! setelah turun gunung aku juga tidak perlu minta kepada kau lagi, justru ditempat ini dan sekarang juga baru terasa betapa berharganya makananku itu !"

"Tapi kemana aku harus mencari gantinya !"

"Salahmu sendiri ! siapa suruh kau ceiufak "Benar, akulah yang salah! harap paman suka maafkan kesalahanku kali ini !"

"Selama or.cnj.i&iJti ayam panggang dan arak wangiku, masih ada satu jalan dapat kau tempuh !"

"Harap paman sebutkan caranya !"

"Mengandal Lwekangmu mengambil dengan kekerasan !"

"Ini ...."

"Kau tidak berani !"

"Bukan tidak berani !"

"Lalu kenapa?"

"Menang kalah menjadi serba runyam !"

"Kenapa bisa begitu?"

"Kalau aku yang rendah kalah, berarti tak dapat mengambil balik barang-barangku, aku menjadi orang terkutuk terhadap perguruan dan orang tua !"

"Toh kau boleh berusaha untuk menang"

"Kalau menang kau kesalahan dan berlaku kurang adat terhadap paman!"

"Bagaimana maksudmu?"

"Sudah gegares makan minum secara gratis kini harus memukulmu lagi, bukankah serba runyam !"

"Kelihatannya watakmu cukup baik juga"

"Aku sendiri berpendapat belum terlalu nyeleweng !"

"Juga belum tentu !"

"Ini paman..."

"Seumpama aku tidak turun tangan?"

"Gampang, sekali raih dapat kuambil !"

"CtJDalan !"

"Hihihi paman berkelakar?"

"Coba, kan belum kau lakukan !"

"Baik !"

Giok liong melangkah maju mengulur tangannya sambil membungkuk.

"Heh""

Siapa tahu bukan saja kakinya sulit digeser sesentipun, tangannya yang terjulur kedepan itu juga seperti menancap ke-dalam tumpukan kapok, lemas dan empuk, samar-samar seperti ada hawa tipis yang tidak kelihatan merintangi sehingga tangannya tak kuasa dijulurkan kedepan lebih lanjut.

Bercekat hati Giok Liong, seketika teringat akan cerita suhunya To-ji Pang Gtok tentang semacam ilmu yang dinantikan Bu-siang-sin kang, ilmu lurus dari agama Budha.

Bergegas ia mundur tujuh kaki serta serunya lantang.

"Paman, bukankah ini Bu-siang sin-kang! Kau orang tua. .."

"Jangan tanya siapa aku, dan tanya ilmu apakah ini, Yang terang kau masih ingin tidak milikmu ini kembali?"

"Sudah tentu harus kembali pulang!"

"Kalau sekarang juga kau tidak mampu mengambil aku sudah tak sabar menantikan semua kubawa pulang!"

"Baik'ah biar Wanpwe mencoba coba ? Harap pinjam seruling samber nyawa sebentar !"

Lalu dengan sikap serius ia menghimpun semangat mengerahkan hawa murni, pertama"tama Ji-lo dikerahkan melindungi badan lalu duduk bersila dihadapan si orang tua, lalu ia sambuti seruling yang diangsurkan siorang tua.

"Tula... Tuli... mulailah Giok liong meniup dengan iramanya yang merdu lincah, seketika berubah hebat air muka si orang tua, serunya dengan nada berat.

"Buyung, berapa tinggi bekal Lwekangmu?"

Giok liong meramkan mata menundukkan kepala tak hiraukan pertanyaan orang pelan-pelan ia kerahkan seluruh kekuatan Lwekangnya dipusatkan kearah tiupan mulutnya, dengan tekun dan seksama seluruh perhatiannya dicurahkan pada seruling samber nyawa.

Pertama dimulai dengan irama lincah jenaka yang riang gembira, lalu berubah menyelarasi perubahan batinnya, dengan nada yang penuh perasaan berganti-ganti irama, dari suara rendah terus meninggi.

Dari pelan laksana air mengalir seperti angin menghembus sepoi-sepoi, laksana burung walet bernyanyi rendah, Larnbar laun semakin tak kendali meninggi gemuruh seperti hujan baju yang lebat laksana samudera bergolak.

Seumpama genta besar dalam kelenteng berkelontengan semakin memburu cepat seiring dengan derap langkah berlaksa kuda yang berlari kencang sampai akhirnya semakin cepat lagi, Sampai bumi terasa bergetar hampir merekah, gelombang samudera mendampar batu karang sehingga dunia seperti hampir kiamat.

Meskipun saat itu tepat tengah hari tapi cuaca menjadi gelap, mendung diliputi kabut tebal, dalam lembah terdengar suara pekikan setan dan gerungan malaikat, suasana semakin menjadi seram menakutkan, perasaan juga tercekam seperti isi perut hampir hancur lebur.

Berkuntum-kuntum mega putih seiring dengan irama seruling yang meninggi rendah mengepul keluar dari tujuh lubang seruling terus berkembang keatas.

Kabut putih bergulung-gulung diatas kepala Giok-liong, seperti air yang mendidih diatas tungku terus mengepul ke atas.

Sikap dan perubahan wajah si orang tua seiring dengan perubahan irama seruling Giok-lsong semakin tegang dan serius Lambat laun jidatnya mulai berkeringat, matanya mendelik besar seperti kelereng hampir meloncat keluar, rupanya sudah jauh berbeda dengan keadaan semula yang wajar.

Waktu irama seruling Giuk liong semakin melengking tinggi, mengalun menggetarkan seluruh penghuni alam semesta ini.

Air muka si orang tua juga semakin tak genah, Akhirnya dia angkat kedua lengannya kedua telapak tangan didorong lempang kedepan, walau kelihatannya lowong, tapi kedua tangannya itu seolah-olah sangat berat sekali bertahan.

Tepat pada saat itu lagu yang ditiup Giok liong sudah habis, pelan-pelan ia bangkit berdiri seraya berkata.

"Paman, aku hendak mengambil pusaka peninggalan perguruan dan benda kenangan dari ibuku !"

Lalu ia beranjak maju dua langkah.

"Hah !"

Seketika ia berdiri terlongong-longong di tempatnya, kedua matanya berkilat mendelong memandangi kedua tangan si orang tua yang dijulurkan ke depan itu.

Ternyata telapak tangan si orang tua masing-tnasing tangannya sudah kehilangan jempolnya, kiri tinggal delapan jari.

Cukup lama Giok liong mengamati hatinya samakia ciut tidak mengambil barang-barangnya malah bergegas bertekuk lutut terus menyembah berulang ulang serta katanya dengan gelisah .

"Wanpwe memang harus mati, tidak tahu adalah kau orang tua !"

Harus diketahui kedudukan Pat-ci kay-ong (raja pengemis delapan jari) dalam Bu-lim-su-cun sangat tinggi sekarang terpaksa ia harus menjulurkan kedua telapak tangannya, mengandal Bu-siang-sin-kang berusaha melawan kekuatan suara dari Jan hun-it-ki, ilmu peninggalan tokoh-tokoh silat jaman kuno.

Dalam keadaan biasa, Pat-ci-kay ong takkan gampang rela memperlihatkan kedudukan serta asal usulnya, maka sedikit sekali orang yang pernah melihat akan kedelapan jarinya itu, Giok-liong adalah murid To-ji Pang Giok, ialah satu dari tokoh Bu-lim-su-cun itu, mana mungkin gurunya tidak pernah memperkenalkan ciri-ciri tokoh-tokoh sakti pada jaman itu.

Maka begitu Giok-liong melihat kedua telapak tangannya yang tinggal delapan jari segera unjuk hormat kebesaran.

Jan-hun-it-ki ( irama menyiksa sukma ) adalah ilmu tunggal yang karya gemblengan tokoh-tokoh kosen jaman kuno dulu, meliputi seluruh intisari kekuatan terpendam dalam alam semesta ini.

Sekali irama ini ditiup, kalau belum satu jam lamanya, Lwekangnya masih terus terpusat menjadi satu memperlihatkan perbawanya, satu jam kemudian baru menipis dan buyar.

Oleh karena itu meskipun Giok-Iiong sudah kenal akan Patci-kay-ong dan serulingnya sudah tidak ditiup lagi, tapi Pat cikay-ong inikttitn akan kekuatan sakti dari irama seruling yang hebat itu, duduknya tetap bergaya seperti tadi mengerahkan seluruh kekuatan Bi-siang-sinkang untuk bertahan, sedikitpun ia tidak berani memecah perhatian untuk bicara.

Akhirnya satu jam telah berlalu, pelan-pelan Pat ci-kay-ong baru menarik kedua tangannya terus menghapus keringat di jidatnya, setelah menghela napas panjang ia berkata.

"irama lagu ini seharusnya hanya ada di sorga, kapan manusia di dunia baka ini bisa menikmatinya, Hidup pengemis tua selama seratus tahun ini kiranya sia-sia, kini terbuka mataku!"

Selama ini Giok-Iiong tetap berlutut di-tanah, katanya lirih.

"Supek, harap ..."

"Bangun !"

"ujar Pat-ci-kay-o.ii tidak sabaran Giot-liong mengiakan terus bergegas bangun.

"Tak heran kau malang melintang di Kangouw, belum lama kau kelana sudah menggegerkan Bulim. Memang kenyataan hijau jauh lebih menang dari biru, Jan-hun-itki itu gurumu sendiri belum mampu menyelami sampai sebegitu jauh, tak kira kau sendiri sudah mencapai tujuh tingkat kesempurnaan !"

"Cian pwe terlalu memuji !"

"Duduklah !"

Ujar Pat-ci kay-ong menunjuk sebuah batu disampingnya. Giok-liong tahu watak pengemis tua yang keras, tanpa sungkan-sungkan ia terus duduk bersila.

"Giok liong,"

Demikian sambung pengemis tua.

"setengah bulan yang lalu, aku pernah bertemu dengan gurumu di perbatasan Kiang-han !"

Tersipu-sipu Giok-iiong berdiri lalu menjura dan bertanya dengan hormat .

"Apakah beliau baik-baik saja?"

"Dia tidak baik !"

Seumpama petir menyambar Giok-liong berjingkrak bangun dari tempat duduknya, teriaknya gugup.

"Bagaimana keadaan beliau ?"

"Hampir mati saking karena jengkel sepak terjang mu!"

Sahut si pengemis tua dengan nada berat.

"Ini ... Wanpwe memang pantas dihukum mati, tapi tak tahu kenapa ..."

"Kau memasuki Lembah kematian menempuh bahaya kematian apakah tojuanmu?"

"Menuntut balas bagi ayah bunda, dan menceri tahu riwayat hidupku !"

"Selama berkelana ini, apakah sudah kau ketemukan sumbernya ?"

"Giok-liong menggeleng kepala dengan sedih. Adalah kebalikannya Pat ci-kay-ong malah manggutmanggut, katanya.

"ItuIah, coba pikirkan selama kau kelana ini bukan saja tidak mengurus tujuan yang sebesarnya malah kemana-mana kau mengunjuk kejahatan, gagah-gagahan menyebar maut membunuh sekian banyak jiwa, Berani kau menjunjung tinggi julukan Kim pit-jan hun menimbulkan keonaran dan kegaduhan di Bulim, dimana kau berada berada disitu timbul kericuhan!"

Sebentar ia berhenti, lalu sambungnya lagi.

"Bukan begitu saja perbuatanmu dikalangan kangouw kau khusus bergaul dengan kaum hawa bergulat tiada habisnya serta romantis. Yang terakhir ini tingkah lakumu semakin menjadi-jadi, mencari gara gara kepada sembilan aliran besar, dengan darah kau cuci bersih seluruh penghuni Go-bi-san dan Butong-pay, sebetulnya apakah tujuanmu. Hari ini tiada halangannya kau tuturkan kepadaku duduk perkara sebenarnya. Begitulah secara panjang lebar dan ringkas ia beberkan pengalaman Giok-liong selama di kangouw, nadanya sungguhsungguh penuh keseriusan. Selama mendengarkan Giok-liong mandah bungkam seribu basa sambil tunduk kepala, hati terasa seperti dibakar, juga seperti diiris-iris sampai seluruh badan geinetar, lama dan lama sekali baru ia dapat mengendalikan perasaannya, katanya.

"Masa Suhu dia orang tua fidak memahami dan menyelami pengalaman ku!"

"Memang segala sepak terjang dan perbuatanku susah dipahami, dengan cara bagaimana dia harus menyelami perbuatanmu?"

"Cianpwe harap tanya dikatakan sekarang Suhu berada?"

"Dia mewakili kau pergi kepuncak Bu-tay-san untuk memenuhi janji dengan pihak Yu-liong-kiam khek, Apalagi sembilan partai besar sudah tergabung dalam satu barisan hendak mencari perhitungan kepadamu, coba bila kau berdiri di pihak Suhumu, harus tidak menjadi marah."

Semakin pedih rasa hati Giok-liong, sam bil menjura dalam lantas ia membungkuk menjemput Potlot mas dan batu giok tanda kenangaa itu, katanya lantang.

"Supek. anak memang tidak berbakti, baiklah kita berpisah disini saja!"

Pat-ci-kay ong mengerutkan alis, katanya keras.

"Hendak kemana kau?"

"Aku harus menuju ke ngarai Im-hong (Angin Dingin) di puncak Bu-tay-san mencari Suhu!"

"Cara bagaimana kau harus menyelesaikan persoalan itu dihadapan mereka?"

"Aku harus lapor peristiwa sebenarnya kepada Suhu, terserah bagaimana dia orang tua hendas menjatuhkan hukumannya. seumpama aku harus hancur lebur juga rela."

"Begitupun baik, Tapi sebelumnya perlu ditegaskan dulu, sebetulnya bukan suhumu tidak mau menyelamli sepak terjangmu, Betapa-pun kabar angin atau omongan orang perlu pertimbangan, kabar angin dan desas desus di kalangan kangouw sebetulnya cukup merepotkan!"

"Wanpwe paham, terima kasih akan petunjuk Supek!"

"Hyaaaat!"

Tibn-tiba dari kejauhan sana terdengar jeritan keras bengis yang berkumandang menggeiarkr.n alam pegunungan menembus awan.

Tanpa merasa Giok liang berdua berjing krak kaget, sesaat mereka saling pandang.

"Ciiataat !"

Gerangan lebih dahsyat terdengar mengerikan malah jarak nya terdengar semakin dekat. Tiba-tiba Pat-ci-kay-ong meloncat bangun, katanya lirih.

"Lwekang orang ini cukup hebat."

Giok-liong mendengarkan dengan cermat sahutnya berbisik.

"kalau terkaan Wanpwe tidak salah kedua kali teriakan ini bukan keluar dari mulut seorang !"

"Oh ..."

Merah jengah muka Pat ci-kay ong, sikapnya menjadi kikuk, betul-betul ia tidak menduga akan hal ini, sebab itu hatinya berpikir.

"Gelombang dibelakang selalu dorong yang didepan, tunas muda tumbuh diantara kaum remaja. pemuda ini memang berbakat, bukan saja Lwekangnya sudah sangat menonjol kecerdikan otak dan reaksinya cukup hebat, jauh melebihi tokoh-tokoh tua dari dunia persilatan. Tak heran begitu cepat ia mengangkat nama menggetarkan dunia persilatan Lebih tak perlu diherankan kalau golongan putih dan hitam semua takut dan benci terhadapnya !"

Tengah Pat-ci-kay ong terbenam dalam lamunannya, tibatiba Giok liong berbisik di pinggir telinganya.

"Supek, lihatlah !"

Jauh diluar hutan belantara sana, sebuah titik kecil, warna abu-abu gelap tengah berlari kencang laksana meteor jatuh, sedang di belakangnya mengejar dengan ketat sebuah bayangan merah marong yang besar, jarak ke dua bayangan orang itu kira-kira puluhan tombak, satu didepan yang lain dibelakang mereka mengembangkan Ginkang yang teramat lihay belum pernah terlihat di Kangouw, inilah Ginkang tingkat tinggi yang dikembangkan laksana bintang terbang mengejar rembulan, tujuan bayangan itu adalah tempat mereka berdua berada.

Sekejap mata saja jarak ratusan tombak telah diperpendek menjadi seratusan tombak kurang.

Kini kedua bayangan itu semakin dekat dan jelas kelihatan.

"Hah! Bo pak-it-jan!"

"Oh Bo pak-it jan Sa Ko"

Hampir bersamaan Pa-ci kay-ong dan Giok liong berseru berbareng. Mata Giok-liong berkedip-kedip, katanya.

"siapakah orang aneh berpakaian serba merah."

"Celaka! Le hwe-heng cia, Bagaimana iblis ini bisa. ."

Belum habis ia berkata terdengar Le-hwe heng-cia membentak keras ditengah udara suaranya kasar dan keras seperti bunyi, kokok beluk.

"Sa Ko jangan harap kau dapat lari meloloskan diri! Tidak lekas kau berhenti!"

Serangan tangannya membarengi ancamannya, Waktu telapak tangannya terayun tiba tiba ditengah udara meledaklah suara gemuruh lantas terlihat menyemburnya lidah berapi yang membawa bau bakar yang keras laksana sekuntum awan merah didorong oleh angin baju yang keras langsung menerjang kearah Bo pak-it jan Sa Ko.

Kebetulan saat itu angin menghembus kencang sehingga semburan berapi tadi semakin berkobar lebih besar, sungguh mengejutkan.

Bo pak it jan Sa Ko mendengar di belakangnya seniman baja api sangat santar sampai menderu, Cepat-cepat ia goyangkan pundak meliukkan pinggang dan menjejakkan kaki tunggalnya sementara tangan tunggalnya juga dikebutkan kebelakang, badannya lantas meluncur turun miring kesebelah samping.

Tapi perbawa pukulan Le hwe heng cia ini betul betul sangat ganas, Bagaimana cepat gerak tubuh Bo pak it jan, badannya limbung terhuyung kedepan tak kuasa berdiri tegak, Saat mana meskipun jauh berada di dua tiga puluh tombak jauhnya, tak urung badannya tergetar keras tak terkendali lagi.

"Blung !"

Air lantas muncrat tinggi ternyata tepat sekali tubuhnya terpental masuk kedalam aliran sungai, sehingga seluruh tubuhnya basah kuyup, untung kecemplung kedalam air kalau tidak paling ringan kepalanya pasti keluar kecap atau benjut.

Bo-pak-it-jan sudah sekian tahun lamanya malang melintang di gurun pasir utara, merupakan seorang tokoh kosen yang tiada tandingannya didaerahnya.

Termasuk kalangan persilatan di Tionggoan dan perbatasan pedalaman selatan termasuk juga sebagai gembong silat yang sangat disegani.

Kepandaian dan Lwekangnya tidak lebih rendah dari Bu-lim sucun.

Tapi apa yang sekarang disaksikan, bukan saja tidak berani balas menyerang sampai menangkis saja tidak mampu, malah untuk menghindar tnati-matian saja juga harus menderita begitu rupa.

Maka dapat dibayangkan betapa mengejutkan kepandaian Le-hwe-lieng-cia ini !

Baru saja kepala Bo pak it jan menongol keluar dari permukaan air, pukulan Le hwe-heng cia sudah menerjang tiba lagi.

Giok-liong yang berdiri jauh tiga tombak juga merasakan udara mendadak menjadi panas membakar kulit seperti di panggang diatas tungku, aliran hangat menyampok muka sehingga napas sesak.

"Byaaaak !"

Kembang air, pecahan batu, rumput dan dahan dahan pohon beterbangan tak karuan paran seperti tengah terjadi gempa bumi.

Badan Bo pak it-jan melayan tinggi sejauh lima tombak terus terbang melintang meluncur kedepan.

"Blang !"

Tepat ia terjatuh disamping Pat ci-kay-ong dan Giok-liong.

Kedua matanya kelihatan mendelong lurus kedepan, seluruh mukanya merah membara seperti babi panggang, seluruh baju yang dipakainya hangus terbakar, sejenak Patct kay-ong jongkok, memeriksa lalu berkata kepada Giok-liong.

"Waspadalah, Le hwe-heng-cia iblis ini tiada tandingannya di jagat ini."

"Terlihat bayangan merah berkelebat tahu-tahu Le-hwe heng cia sudah meluncar datang.

"Ha Hehenehe!"

Begitu melihat kehadiran Pat-ci kay-ong ia bergelak tawa sebelum sempat membuka suara bicara, Gema suaranya seperti auman harimau seperti lolong serigala menggetarkan alam pegunungan sampai kumandang sekian lama, binatang dan burung lari dan beterbangan karena terkejut.

Lenyap gema tawanya lantas terdengarlah suaranya yang keras sember seperti gembreng pecah .

"Ada In-lwe-su cun diam sebagai pelindung tak heran dia berlari sipat kuping kearah sini ! Tidak salah ! Tidak salah !"

Sikap sombongnya ini seolah-olah tidak memandang sebelah mata Pat-ci-kay-ong. Giok-liong menjadi aseran, raut mukanya yang putih berubah merah padam, serunya.

"Kenapa kau begitu ..."

Belum kata sombong keluar dari mulutnya, keburu Pat-ci-kayong memberi kedipan mata mencegah kata katanya, malah ia sendiri segera berteriak.

"Le-hwe heng-cia ! Salah dugaanmu ! Belum pernah aku mengadakan janji pertemuan ditempat ini !"

Tak duga Le hwe heng-cia membalik mata, serunya dengan beringas .

"Aku tidak peduli ! Kalian bongkot-bongkot silat dari Tiong-goan berani membunuh muridku, maka aku harus membuat perhitungan dengan kalangan persilatan Tiong-goan kalian !"

"Siapa yang telah membunuh muridmu?"

Tanya Pat ci kayong tawar.

"Aku tidak tahu !"

Sentak Le-hwe-heng-cia dengan murka.

"Dimana muridmu dibunuh orang !"

"Di Hiat hong-pang !"

Tergerak hati Giok-liong, segera ia turut bicara .

"Apakah pelindung Hiat-hong-pang yang menggunakan ilmu Le hwetok-yam itu ?"

Tergetar badan Le hwe-heng-cia, raut mukanya menjadi serius tiga langkah ia mendesak maju kedepan Giok liong dengan sorot pandangan tajam ia menyahut tak sabaran "Benar ! Kau tahu "

Sementara itu, Bo pak it jan Sa Ko yang terluka tidak ringan itu sudah merangkak bangun, duduk sambil menuding Giokliong mulutnya berkata gagap terputus-putus.

"Nah, . itulah ... dia ! Dia .., . inilah !"

Sepasang mata Le-hwe-heng-cia yang merah membara berkedip kedip, terlebih dulu ia berkakakan baru katanya.

"Cacat tua ! Kau ngapusi aku !"

Sambil menyeka darah yang mengalir di ujung mulutnya, Bo pak-it-jan Sa Ko berkata sangat payah.

"Aku tidak menipumu, yang memukul mati muridmu dia itulah, Kim pit jan hun Ma Giok liong ini ! Pat-ci-kay ong berubah keras air mukanya dengan tajam ia pandang Giok-liong. Le hwe-heng cia menjadi ragu-ragu setengah percaya ia pandang Giok-liong lalu beralih pandang kepada Sa Ko yang duduk di-tanah, lalu ujarnya dengan suara serak.

"Dia? Mengandal bocah ingusan ... ."

"Hahahaha ! Hahahaha!"

Giok liong tertawa lebar.

"Le-hwe heng-cia, jangan terlalu yang membunuh pelindung Hiat hong pang memang aku inilah adanya, apa yang dapat kauperbuat atas diriku ? Apa tindakanmu selanjutnya?"

"Buyung, benar kau ini yang berbuat?"

"Kenapa kau tidak percaya?"

"Aku harus menuntut balas bagi muridku !"

"Di saat ini hanya ada murid menuntut balas bagi gurunya belum pernah kudengar sang guru menuntut balas bagi muridnya ! Hahahaha ! Hehehehe !"

"Keparat, kurang ajar"

Le hwe heng-cia melejit ke atas dari kejauhan diudara dia menjulurkan tangannya mencengkeram seperti galian te i Li i mencakar pundak Giok-Iiong.

Belum lagi orangnya tiba, hawa panas sudah menerpa tiba membawa kesiur angin yang deras.

Ringan sekali mendadak bayangan putih berkelebat hilang Sambil berseru heran bayangan merah segera terbang mengejar dengan kencang.

"Berhenti !"

Latihan Ginkang Pat ci-kay-ong boleh dikata sudah mencapai puncak kesempurnaannya, ringan sekali ia melayang maju mencegat diantara mereka, lalu sambungnya.

"Bicaralah dulu supaya jelas !"

"Kau juga ingin ikut campur Rija pengemis !"

Sentak Le hwe-heng-cla dengan beringas. Pat ci-kay-ong bersabar sahutnya tertawa tawar "Maksudku urusan ini dibicarakan dulu biar jelas duduk perkaranya."

"Bukankah bocah ini sudah mengaku sendiri !"

Giok-liong insyaf bahwa Le-hwe-heng-cia merupakan gembong silat yang lihay dari kepandaiannya, bagaimana juga perhitungan dendam ini harus diselesaikan, oleh karena itu tanpa banyak bicara lagi segera dirogohnya keluar Potlot mas di tangannya.

serunya.

"Supek! Biar kucoba manusia liar ini punya kepandaian siiat macam apa?"

Pat-ci kay-ong mendelik, tanyanya.

"Benarkah muridnya, . ."

"Bikin aku mati gusar!"

Bayangan merah terbang melayang beberapa tombak melewati Pat-ci kay ong terus menubruk kearah Giok liong.

Pat ci kay ong tidak keburu mencegah mereka sudah berkutet dan bertempur seru sekali, sinar kuning berkembang dan diputar empat laksana kitiran melawan sepasang kepalan warna merah marong.

Begitu cepat cara serang menyerang ini sekejap saja puluhan jurus telah berlalu, selama ini kedua belah pihak tampak sama kuat.

Le hwe heng cia berkaok-kaok, suaranya laksana geledek mengguntur yang marah marah, Scba iknya Giok liong putar Potlot masnya secepat mengejar angin, seluruh badan diselubungi kabut putih, dimana Ji lo sudah dikerahkan melindungi badan, seketika terbangun semangatnya Jan hun su sek berulang kali dilancarkan dengan ketat sekali, tiada tampak sedikitpun lobang kelemahannya, Malah setiap jurus permainannya sering balas menyerang dengan gencar dan ganas tak mengenal ampun.

Terdengar kesiur angin dari lambaian baju orang, diluar gelanggang sana dari berbagai penjuru saling bermunculan bayangan orang yang tak terhitung jumlahnya, kiranya mereka juga kaum persilatan yang cukup tinggi kepandaiannya, terbukti dari Ginkang mereka yang cukup lihay, semua berdiri menonton diatas batu diatas pohon, menahan napas tak sembarangan bergerak.

Para pendatang ini semua mengenakan seragam hitam didepan dada tersulam pelangi merah darah, Terang mereka adalah anak buah Hiat hong pang.

Saat itu Bo pak it jan Sa Ko sudah merangkak bangun dengan susah payah terus mendekat disamping Pat ci kay ong.

katanya dengan lirih seperti nyamuk.

"Kay-ong ! Coba lihat ! Terang Hiat-hong pang yang mengundang iblis laknat itu datang kemari!"

Perhatian Pat ci-kay-ong tertuju pada keselamatan Giokliong, acuh tak aoiti ia menyahut .

,.Peduli Hiat-hong pang apa segala, iblis tua ini membikin onar di Tiong-goan merupakan bencana bagi kalangan persilatan.

Inilah takdir, semua harus mengalami kesukaran !"

Belum habis kata katanya, dalam gelanggang pertempuran terdengar Iedakan dahsyat bayangan manusia jaga lantas berpisah masing masing berdiri pada dua jurusan Le-hweheng cia melompat sejauh lima tombak, sepasang mata apinya merah membara terus berkedip-kedip, sikut tangan kirinya kelihatan mengucurkan darah segar, mulutnya tak hentinya berkaok-kaok.

"Aduh, aduh! Bocah keparat ! Bocah keparat !kiranya .., , tac heiiehe !"

Dilain pihak Giok-liong sendiri juga berkelebat menyingkir sejauh setombak lebih, Potlot mas di tangan kanan dilintangkan di depan dada, air mukanya berubah tegang, terlihat lengan baju tangan kirinya sobek separo dicakar Le hwe heng cia dan jatuh di atas tanah.

Puluhan anak buah Hiat-hong pang serempak berteriakteriak gegap gempita sambil bertepuk tangan, suaranya keras berkumandang bergema dalam lembah pegunungan

Jilid 19 Sikut kiri Le-hwe heng-cia kena tergores oleh Potlot mas Giok-liong, keruan hatinya bertambah marah seperti terbakar.

Terlihat ia geleng-gelengkan kepalanya yang besar sehingga rambutnya menjadi riap-riapan, mukanya menyeringai seperti wajah setan, menepuk kedua tangannya ia menggembor keras.

"Bocah keparat, kau harus mati !"

Tepat disaat ia mengayun telapak tangannya, cahaya merah dari bara yang panas sekali samar-samar seperti dua tonggak api menyembur keluar dari telapak tangannya. Terdengar Pat-ci-kay-ong berteriak.

"Giok liong, hati-hati, inilah Le-hwe-ceng-ciang."

Siang-siang Giok-liong sudah kerahkan seluruh latihan Lwekangnya Ji-lo juga dikerahkan sampai puncaknya, tanpa disadari tangan kirinya sudah merogoh keluar seruling samber nyawa.

Dengan kedua senjata ampuh dan sakti berada ditangan Giok-liong seperti harimau tumbuh sayap, dengan gencar ia lancarkan seluruh kepandaiannya.

Lambat laun kedua belah pihak sudah kerahkan kemampuan masing-masing, seluruh kekuatan telah disalurkan untuk mengadu kekerasan.

Pada saat itulah, mendadak gelak tawa lantang yang kumandang ditengah udara meluncur semakin dekat dari kejauhan sana.

Belum sempat mata berkedip, dalam gelanggang sudah bertambah dengan empat laki-laki tua berambut putih perak.

Rambut keempat orang tua ini samasama berkilau, sikapnya gagah bertubuh tinggi besar dan kekar.

Begitu mendarat di tanah, serentak mereka bersuara.

"Lehwe heng cia, berhenti!"

Agaknya Pat ci kay ong kenal ke empat kakek tua ini, memburu maju beberapa langkah ia berseru.

"Ji kang su-gi ..."

Keempat kakek tua itu sedikit manggut sambil tersenyum, katanya bersama.

"Kay-oag ! Apa kau baik ? Kita sekarang sudah merubah sebutan bersama Pak hay-su-lok ! Hahahaha !"

Sementara itu Giok-liong juga sudah memburu tiba lantas menjura kepada ke-empat kakek tua itu, ujarnya .

"Apakah cianpwe berempat belum kembali ke Ping-goan di laut utara ?"

Le hwe-heng cia menggosok gosok kedua telapak tangannya, matanya berapi-api sambil berkaok uring uringan.

"Aku tengah menuntut balas hutang darah dengan bocah ini, peduli apa dengan kalian ..."

Tertua dari pak-hay-su-lo King thian-sio Lu Say segera menarik muka desisnya berat .

"Tutup mulutmu ! Sebab Ma Siau-hiap yang kau tuntut ini adalah juga orang yang hendak kita undang, terpaksa kau harus mengalah sedikit ! Kembalilah kesarangmu di perbatasan sana ! Terhitung kau yang sebat!"

Li Hian termuda dari Pat hay-su lo mendekat di samping Giok-liong, dengan sungguh-sungguh ia berkata .

"Kawan kecil ! Kita sudah kembali ke laut utara, kini kita menerima perintah majikan untuk mengundangmu ke laut utara."

Belum Giok-liong sempat menjawab, di sebelah sana Le hwe-heng-cia sudah menggerung gusar, sambil menggemakan kedua tangannya terus menubruk maju.

Berubah air muka Pak-hay su-lo melihat amukan orang seperti banteng ketaton ini, serentak mereka bergerak bersama mendorong tangan memapak kedepan, seraya berseru .

"Besar nyalimu iblis !"

"Blang !"

Ledakan yang keras sekali menggetarkan bumi dan langit Le hwe-heng-cia tergetar mundur lima kaki, angkara murka menghantui pikirannya.

Sebaliknya Pek-hay su-lo masing-masing juga tersurut mundur tiga kaki, air muka mereka mengunjuk sikap serius, Tempat kosong di antara jarak mereka yang terpaut dua tombak itu rumput menjadi kering, batu juga terhangus seperti telah terjadi kebakaran besar laksana disamber geledek sehingga meninggalkan bekas yang menyolok.

King-thian-sin Lu Say menjadi murka, gerungnya berat.

"Betapapun jahatnya Le-hwe-heng-ceng, jangan kau lupa akan Nay-ham kang dari Ping-goan di laut utara yang merupakan tandingan setimpal dari ilmu jahatmu itu !"

Wi-tian ing Yu Pau juga berubah air mukanya, ancamnya dengan serius.

"Tua bangka bangkotan yang tidak tahu akan kebaikan !"

Ka-liong Gi-hong juga membentak.

"Kalau berani mari sekali lagi!"

Pat-oi-kay-ong berseri tawa seraya maju tampil kedepan, katanya lembut kepada Le-hwe heng cia.

"Urusan hari ini menurut hematku sudahi saja sampai disini. Kalau api ketemu es, kukira tidak bakal membawa keuntungan !"

Le hwe-heng cia merenung sebentar, sinar matanya lantas beringas tajam menatap ke arah Giok-liong, desisnya penuh kebencian.

"Baik ! Bocah keparat ! Urusan ini tidak akan berakhir sampai disini saja !"

Giok-liong bergelak tawa dengan congkaknya, ujaraya lantang.

"Aku Ma Giok-liong selalu melayani tantanganmu !"

King-thian sia Lu Say menjadi tidak sabar, sekali melayang ia mendesak maju ke-depan Le-hwe beog-cia sembari membentak.

"Kalau mau jual lagak marilah sekarang saja !"

Mana Le hwe heng cia bisa tahan di olok-olok sedemikian rupa, sambil kertak gigi segera tangannya terayun terus menepuk keatas kepala King-thian-sin Lu Say berbareng mulutnya membentak.

"Aliran Pak-hay kalian terlalu menghina orang !"

"Besar nyalimu !"

Serentak Pek-hay-su-lo melompat maju, masing-masing kirim pukulan setaker tenaganya, Bayangan orang, angin pukulan, serta hawa yang panas membakar terbaur dengan hawa dingin, batu menjadi hancur rumput beterbangan menari-nari udara menjadi gelap ditaburi kotoran dan debu.

Siapapun tak melihat tegas, dan siapapun takkan menduga "Haya!"

Pekik beruntun terdengar lantas terlihatlah bayangan mereka berpencar Pak hay-su lo dalam segebrak telah mengadu kekuatan pukulan dengan Lo-hwe-heng-cia !

Adu pukulan kali ini kedua belah pihak sudah kerahkan seluruh kekuatannya.

Secara naruliah dibandingkan Le-hweheng cia adalah seorang gembong silat aneh dari luar perbatasan, Lwekang serta kepandaiannya lihay luar biasa yang sangat diagungkan di daerahnya, Terutama Le-hwe-bubeng-ciang.( pukulan tangan berapi tak kenal ampun ) sudah menjagoi di dunia persilatan merupakan ilmu tunggal yang jarang menemui tandingannya.

Seumpama Nay-ham kang dari Ping-goan dilaut utara yang merupakan lawan tandingannya yang setimpal, karena yang satu panas dan yang lain dingin membeku, jikalau mereka berempat tidak bergabung mungkin juga takkan kuat bertahan, jangan kata bisa menang !

Sebuah pameo sering dibicarakan orang di kalangan Kangouw yang berkata, dua kepalan sulit melawan empat tangan, seorang gagah perwira tak gentar menghadapi keroyokan.

Sekarang terbukti dengan seluruh kekuatan Pak-hay-su lo harus mengadu pukulan, dengan gabungan Lwekang mereka berempat yang masing-masing mempunyai latihan ratusan tahun jadi boleh dijumlah menjadi empat ratusan tahun.

Maka dapatlah dibayangkan betapa hebat perbawa dari gabungan Lwekang selama latihan empat ratus tahun ini.

Maka tidaklah heran Le-hwe-hengcia yang mempunyai latihan kepandaiannya selama dua ratus tahun menelan pil pahit, Begitulah sebat sekali ia melompat mundur setombak lebih, mukanya yang merah beringas tadi kini berubah pucat pasi menakutkan orang, kedua tangannya tergantung semampai naga-naganya ia sudah lemas kehabisan tenaga karena terkuras habis mengadu pukulan dahsyat tadi.

Sorot matanya yang tadi berkilat garang juga menjadi lesu guram, ujarnya dengan rasa tertekan.

"Pihak Pak-hay kalian suka main keroyok, sampai mati juga Lohu takkan tunduk !"

Li Hian maju selangkah, ejeknya temberang.

"Tidak tunduk. Tapi hari ini terhitung sudah keok, seorang laki-laki harus tahu gelagat, lekaslah pergi pergi ! Karena empat lawan satu tadi maka Pak-hay bun kita mengampuni jiwamu sekali ini !"

"Sudah keok !"

Jengek Le-hwe-heng-cia dengan uringuringan. Jangan kalian mimpi disiang hari bolong !"

Agaknya ia masih belum kapok dan ingin maju lagi, kedua tangannya digerakkan sehingga berbunyi kerotokan.

Tiba-tiba sebuah bayangan hitam melayang turun disampingnya.

kiranya Hiat hong-pangcu yang berkedok itu telah muncul, katanya sambil angkat tangan .

"Cianpwe, selama gununggunung tetap menghijau tak perlu khawatir kehabisan kayu bakar. Bocah ini takkan selamanya mengandal pihak Pak-hay untuk melindunginya. Lain hari kita boleh mencarinya."

Terpaksa Le-hwe-heng-cia harus melihat angin memutar haluan, sambil membanting kaki ia tuding Giok-liong, ancamnya.

"Lain hari jangan kau kepergok ditangan Lohu ! "

"Sekarang juga tidak menjadi halangan !"

Tantang Giok liong.

"Baik."

Seru Le hwe-heng cia sambil kertak gigi. marahnya masih belum hilang.

"Ingat kejadian hari ini. Mari..!"

Bayangan merah melayang sekali berkelebat bayangannya sudah terbang jauh seperti mengejar angin.

Sepasang matanya berkilat dibalik kedok Hiat-hong-pangcu menatap gusar kearah Gok liong, lalu ia pimpin anak buahnya mengundurkan diri.

Sementara itu Bok-pak-it jan Sa Ko yang duduk ditanah bersemadi mengobati luka lukanya itu entah sudah tidak kelihatan bayangannya lagi.

Menghadapi Pak hay-su-Io, Pat-ci-kay ong berseri tawa.

"Kapan kalian berempat sudah menghamba kedalam Pak-hay, ataukah kalian mendirikan aliran tersendiri ?"

Li Hian juga tertawa tawar, katanya.

"Emangnya bertulang budak kita tetap meneduh dibawah perintah orang, Kay-ong jangan mentertawakan lho !"

Terlintas rasa heran dan tak habis mengerti pada air muka Pat ci-kay ong, tanyanya.

"Apakah saudara Li tidak bicara kelakar?"

Li Hian menyahut sungguh.

"Masa aku harus berkelakar terhadap raja pengemis macam kau ?"

"Lalu siapakah Cukong kalian ?"

Li Hian menyengir tawa, sahutnya penuh arti .

"Harap maaf, hal ini tak bisa kita beritahu, karena , ... ."

Tatkala mana King-thian-shi Lu Say tengah bicara kepada Giok liong .

"Kita berempat mendapat perintah dari junjungan, siang malam kita menempuh perjalanan balik ke Tiong-goan sini. Harap Siau-hiap suka mengiring kita ke Pak-hay, sekarang juga kita harus berangkat supaya junjungan tidak khawatir dan mengharap-harap !"

Giok-liong mengedip-ngedipkap mata, tanyanya heran.

"Kalian khusus diperintahkan untuk mencari aku ?"

"Benar, tiada urusan lain yang lebih penting dari ini ini!"

Sahut Li Hian. Giok-liong semakin menaruh perhatian tanyanya mendadak.

"Siapakah pimpinan dari Pak-hay kalian, Wanpwe belum pernah tahu namanya, bagaimana bisa..."

"Setelah siauhiap tiba di Pak-hay, tentu semua akan jauh beres."

Hati Giok liong menjadi gundah sulit mengambil keputusan, sebaliknya Li Hian sudah mendesaknya lagi.

"Siau hiap, bagaimana karakter dan martabat kita berempat takkan dapat mengelabuhi Kay ong, tujuan kali ini tentu takkan terjadi sesuatu yang merugikan kau!"

Giok-liong menjadi rikuh memandang ke arah Pat ci kayong.

Pat-ci-kay ong sendiri agaknya juga tengah merenungkan sesuatu apa, mendengar ucapan Li Hian itu segera ia menimbrung "Ji-kang-su-gi dulu malang melintang di kangouw memperoleh pujian harum, untuk kali ini aku pengemis tua sungguh sangat kagum!"

Li Hian tertawa getir, ujarnya "Kay-ong terlalu memuji, banyak terimakasih!"

King-thian-sin Lu Say mengangkat tangan menyilakan Giokliong.

"Siau-hiap, mari silahkan!"

Sejenak Giok-liong berpikir, lalu katanya rikuh.

"Harap kalian suka maafkan, saat ini aku tak mungkin ikut kalian menuju ke Pak hay!"

"Apakah kau meragukan ketulusan hati kita berempat akan tugas yang dibebankan kepada kami ini?"

"Bukan, bukan !"

Cepat-cepat Giok-liong berkata sambil goyang tangan.

"Lalu kenapa"

"Aku harus menepati janji ke Yu-bing-mo-khek!"

"Benar,"

Ujar Li Hian.

"Perihal itu aku tahu, tapi untuk janjimu itu biar aku mewakili kau kesana!"

"Tidak mungkin!"

"Harap Siau-hiap suka melegakan hati.".

"Ya, bukan aku kwatir, sebab guruku sudah kesana lebih dulu, mungkin saat ini sudah tiba di ngarai Im-hong di puncak Bu Iay-hong"

"Jadi siauhiap tertekad harus berangkat kesana?"

Giok-liong manggut manggut mengiakan. Pak-hay-su-lo saling pandang sebentar, raut muka mereka menunjuk serba susah. Pat ci kay ong sendiri juga menjadi kewalahan katanya kepada Giok-liong.

"Setelah bertemu dengan Suhumu, katakan supaya dia tidak melupakan janji pertemuan di Gak yang lau pada hari Goan siau nanti. Aku masih ada urusan, aku harus berangkat dulu!"

Lalu ia manggut-manggut kearah Pak-hay su-lo sambil berpisah. Setelah bayangan Pat ci kay ong menghilang, Giok-liong menjura kepada Sulo katanya.

"Para Cianpwe, aku juga harus minta diri!"

"Tunggu sebentar!"

Tiba-tiba Li Hian maju mencegah, Giokliong cepat-cepat menghentikan langkahnya, tanyanya tak mengerti.

"Li cian-pwe sebetulnya Wanpwe..."

Tanpa menanti Giok liong bicara habis, Li Hian sudah celingukan keempat penjuru, seperti memeriksa sesuatu lalu katanya lirih.

"Saat ini tiada orang lain, tiada halangan aku beritahukan kepada kau, perjalanan ke Pak-hay kali ini betapa juga kau harus berangkat ."

"Sebetulnya untuk keperluan apakah?"

"Sebab sampai di ini Li Hian ragu-ragu meneruskan katanya, melirik ketiga temannya, Dengan sikap serius mereka bertiga segera berkata.

"Nanti dulu mari kita periksa tempat ini ! "

Serempak mereka berempat lantas berlari pencar keempat penjuru beruntun berapa kali lompatan bagian utara timur selataa dan barat telah mereka geledah dengan seksama.

Begitu tangkas dan gesit sekali gerak gerik mereka tak lama kemudian dengan berbagai gaya loncatan berbareng mereka sudah loncat kembali.

Giok liong menjadi bingung dan tak habis mengerti melihat tingkah laku mereka yang serba aneh ini, entah apa maksud mereka begitu serius dan begitu hati hati.

Untuk keperluan apakah mereka bekerja sedemikian rapi dan waspada.

Tak lama kemudian Sulo sudah mengelilingi Giok liong Li Hian buka bicara dengan hati hati dan prihatin.

"Siau-hiap, bukankah kau hendak mencari tahu riwayat hidupmu, serta hendak menuntut balas bagi ayah bundamu ?"

Tergetar badan Giok-liong terasa darah, berdesir keras sekali dalam tubuhnya, sahutnya cepat.

"Ya, benar !"

"Perjalanan ke Pak hay (Laut utara) kali ini mungkin ada sangkut paut dengan rahasia riwayat hidupmu, janganlah kau sia-siakan kesempatan yang baik ini !"

"Ha !"

Keterangan ini benar-benar di-luar sangka Giok-liong tidak heran ia tersentak kaset.

"Apakah benar ucapan cianpwe ini?"

"Aku hanya dapat memberi keterangan sampai sekian saja ! Yang lain aku tak bisa membocorkan !"

"Kenapa pula begitu ?"

"Sebab urusan ini masih merupakan tanda tanya besar tentang kebenarannya, betul atau tidak siapapun tiada yang berani memberi kepastian, maka aku tidak berani banyak mulut !"

"Maksudmu tentang aku dengan junjungan kalian di Pakhay itu ?"

"Ini ..."

Pak-hay su-lo mengunjuk senyum simpul yang misterius dengan ragu-ragu mereka menyahut samar samar Selama kelana di kangouw, belum pernah Giok liong melupakan rahasia riwayat hidupnya, Hakikatnya selama ini belum pernah diperoleh sumber pemecahan tentang asal usul dirinya, sekarang secara diluar dugaan mengalami peristiwa yang sangat diharapkan betapa juga dia tidak akan menyianyiakan kesempatan bagus ini.

Akan tetapi, Suhu yang berbudi jauh menempuh bahaya ke Bu-lay hong demi memenuhi perjuangan dirinya, sebetulnya mengandal kepandaian dan Lwekang To-ji Pang Giok, dapatlah dipercaya bahwa gurunya takkan mungkin kena cidera di Yu bing-mo-khek.

Tapi sebagai seorang murid yang mengerti tata kehidupan dan budi pekerti, bagaimana juga dirinya tidak boleh tinggal berpeluk tangan menonton saja.

Apalagi bukannya Pat ci-kay ong memberi pesan untuk disampaikan kepada gurunya.

kematian Wi thian ciang Liong Bun tersangkut paut dengan pedang dan meletusnya bencana dunia persilatan yang bersumber dari Hutan Kematian, hal ini juga harus segera dilaporkan kepada Suhunya, banyak persoalan ini benar benar membuatnya serba sulit.

Giok-liong merenung sekian lamanya, baru akhirnya berkata penuh kepastian.

"Bagaimana juga aku harus menyusul Suhu di Bu-lay-san dulu, harap kalian pulang dulu ke Pak-hay, laporkan kepada cukong kalian, baru setelah urusan di Bu lay-san selesai, aku pasti segera berangkat kesana, harap para cianpwe nanti memberi petunjuk!"

Pak hay su lo saling pandang terpaksa mereka manggut manggut saja, King-thian-sin Lu Say merogoh saku mengeluarkan sebuah kantongan suara hijau terus diangsurkan ke-depan Giok-liong, dengan air muka prihatin dan sungguh-sungguh ia berkata.

"Siau-hiap, benda ini adalah Hwi soat ling (lencana salju terbang), bagi siapa yang membekal lencana ini boleh bergerak bebas didaerah Pak-hay, malah pasti ada orang yang menyambut dan melayani segala keperluan, Kami harap setelah urusan di Bu-lay-san selesai, kau segera berangkat ke sana!"

Li Hian juga menambahkan dengan serius.

"Lencana ini merupakan benda pusaka dari Pak-hay kita, merupakan tanda teragung yang tidak ternilai harganya, siauhiap jangan kau pandang enteng benda ini!"

Giok liong mengulur tangan menyambut kentongan sutra hijau yang lembut laksana salju lalu dibukanya, tiba tiba pandangannya menjadi silau, Kiranya benda dalam kalangan itn bukan lain sebuah lencana empat persegi berwarna putih seperti perak tapi bukan .perak, bukan batu giok pula, bobotnya lebih berat dari benda logam biasanya, apalagi memancarkan cahaya cemerlang dan berhawa dingin, begitu bersih menembus cahaya sangat indah sekali.

Kata Lu Say lebih lanjut.

"Jian lian soat-siau hwi soat ling ini adalah batu meteor yang jatuh kedalam timbunan salju didaerah Pak-hay pada ribuan tahun yang lalu, selama ribuan tahun ini sudah menyedot hawa dingin dari salju menjadikan lebih keras dari baja, aliran kita hanya memperoleh dua potong, dipandang sebagai benda pusaka yaag tak ternilai sekarang dijadikan lencana (perintah) atau pertanda tertinggi dari golongan kita untuk segala pelosok di Pak-hay. sebelum berangkat menunaikan tugas kali ini, Cukong ada berpesan wanti wanti dan menyerahkan lencana pusaka ini, sebagai penghargaan untuk menyambut Siau hiap dan diharap supaya tidak sampai hilang!"

Melihat orang memberi pesan sedemikian serius, Giok liong malah tidak enak menerima, katanya mengangsurkan kembali.

"Jikalau sedemikian berhaaga, aku benar benar tidak berhak menerima!"

Li Hian cepat berkata.

"Kalangan persilatan di Pak hay jangan disamakan dengan dunia persilatan di Tionggoan, Kalau tidak membekal Hwi-soat-ling setiap tindakan mungkin kau akan selalu menghadapi banyak kesukaran, Siau-hiap terima saja!"

Merah wajah King thian in Lu Say, katanya rikuh.

"Bukan Losiu banyak curiga, aku hanya menerangkan asal usul dan kepentingan dari Hwi-soat-ling ini, harap Siau-hiap tidak salah paham."

Giok liong sendiri juga menjadi kikuk, terpaksa ia simpan lencana menjaga serta berkata .

"Kalau begitu, banyak-terima kasih akan segala bantuan ini, sekarang aku minta diri !"

Pak hay-su-Io berkata bersama.

"Kami berempat menunggu kedatangan Siau hiap di Pak hay"

"Aku pasti datang !"

"Silakan !"

Pak-hay su-lo melejit bersama hanya berapa kali lompatan saja bayangan mereka sudah menghilang dikejauhan sana.

Giok liong terlongong memandang kedepan, tangannya meraba raba Hwi soat ling, sesaat perasaannya yang sangat gundah sulit dikendalikan.

Sebab sebagai manusia umumnya tentu mempunyai rumah sendiri, punya ayah bunda seumpama ayah bunda sudah meninggal, paling tidak juga mengetahui siapakah nama ayah bunda serta riwayat hidupnya selama masih hidup, Adalah semua ini bagi Giok-liong masih sangat kabur dan gelap, sekarang sudah mendapat titik terang sebagai petunjuk kearah penyelidikannya yang menjurus ke sumber yang tepat.

Betapa Giok-liong takkan gundah setelah mendengar berita yang menggirangkan ini, karena selama ini dengan segala daya upaya dan jerih payah sudah menyelidiki kemana-mana tanpa hasil, Dan sekarang karena benturan banyak hal-hal yang harus segera dilaksanakan terpaksa ia harus menunda perjalanan ke Pak hay ini.

Entah berapa lama Giok-liong mendelong memandang ke arah dimana Pak hay-su-lo menghilang, hatinya menjadi kosong dan tak tahu apa yang harus dilakukan selanjutnya.

Akhirnya setelah menghela napas panjang menyusuri pinggir sungai ia beriari-lari kencang seperti orang gila turun gunung.

Karena kerisauan hatinya maka ia kerahkan seluruh Lwekangnya untuk mengembangkan ilmu ringan tubuh, satu pihak untuk me lampiaskan ganjalan hatinya, kedua karena ingin benar rasanya dapat segera terbang sampai di Bu-laysan, setelah bersua dengan Suhu segera berangkat lagi menuju ke Pak-hay, untuk memecahkan rahasia riwayat hidupnya.

Tengah malam ia sudah sampai di luar batas pegunungan disini jalan datar maka langkah kakinya menjadi lebih pesat terus menuju ke Bu-lay-san.

Seorang diri siang malam terus menempuh perjalanan jauh ini, beruntun beberapa hari sampai pakaiannya tak keruan, akhirnya ia sampai juga didaerah perbatasan gunung Bu-Iayhong.

Sore hari itu ia tiba di kaki gunting Bu-lay, dilihatnya hari sudah hampir petang, terpaksa ia mencari penginapan didalam sebuah kota kecil, menurut perhitungannya setelah mencari tahu jalan, besok pagi-pagi sekali segera melanjutkan perjalanan memasuki pegunungan.

Beberapa hari ini kurang tidur kurang makan dengan puas, tidak mandi lagi, Maka begitu mendapat tempat menetap, setelah cuci badan lantas pesan makanan dan minuman paling mahal setelah makan besar dengan lahapnya, ia kembali kekamarnya, mencopot baju luarnya meletakkan Potlot mas, Seruling dan Hwi soat-ling diatas ranjang, meskipun hari masih pagi ia sudah mapan tidur supaya besok bisa bangun pagi dan melanjutkan perjalanan.

Tak nyana, kira kira tengah malam tiba-tiba ia siuman dari tidurnya terasa seluruh badan panas membara seperti terbakar, begitu panas sampai tak tertahan lagi, napasnya juga seperti menyemburkan api, seluruh tulang belulang terasa linu dan sakit sekali, jantung berdesir keras sekali, sehingga darah terasa bergolak dalam tubuhnya.

Giok-liong tak kuat lagi, susah payah ia coba merangkak bangun, akan tetapi seluruh badan terasa lemas sedikitpun tak kuasa mengerahkan tenaga.

Keruan bukan kepalang kejutnya, Apakah Lwekang telah buyar dan kehilangan hawa murni ?

Ataukah sudah Jauhwe-jip cto ( tersesat ) ?

Haruslah diketahui bagai orang tokoh silat yang melihat Lwekang atau hawa murni yang sudah sempurna badannya akan kuat bertahan dari segala macam penyakit, maka biasanya mereka berusia sampai lanjut dengan badan tetap segar bugar.

Bagi Giok-liong yang sudah mencapai latihan sempurna seharusnya tidak mungkin bisa terserang penyakit sekarang kenyataan dirinya mengalami keadaan yang diiuar tahu sebelumnya betapa hatinya takkan kejut dan khawatir.

Betapa juga Giok-liong tidak putus asa, dengan menahan segala derita, ia berusaha mengerahkan hawa murni lalu pelan-pelan disalurkan.

Siapa tahu, bukan saja hawa murni sulit dihimpunkan, malah pusarnya terasa panas seperti dibakar, sakit bukan buatan, isi perut seperti dipuntir dan dipanggang, seluruh sendi tulang seperti copot, jalan darah menjadi panas laksana arus gelombang panas yang cepat sekali menjalar keseluruh badan.

Akhirnya Giok-liong tidak tahan lagi terguling-guling diatas ranjang sambil mengeluh sesambatan, Kebetulan penginapan itu banyak kamar kosong, maklum kota kecil yang jarang diinjak pedagang besar dari luar daerah.

Apalagi pemilik penginapan tidur dibagian ruang paling belakang, meskipun Giok-liong sudah tergerung-gerung menahan sakit sudah tentu tiada seorangpun yang menghiraukan, sebagai orang kelana kalau jatuh sakit dalam penginapan dirantau benar-benar merupakan suatu penderitaan besar.

Bagi orang yang pernah mengalami sendiri baru akan tahu betapa hebat penderitaan yang menyiksa dirinya itu.

Sudah tentu orang lain takkan dapat meresapi akan hal ini.

Demikianlah keadaan Giok liong, menghadapi sebuah pelita yang kelap kelip diatas meja ia terus bergulingan saking tak tahan, mulut sudah terasa kering seperti dibakar namun ia hanya mendelong saja melihati poci dan cawan yang terletak dimeja, tak mampu mengambilnya karena seluruh badan lemai lunglai tak bertenaga.

Seketika hatinya pilu dan sedih sekali, air mata tak tertahan mengalir dengan deras sampai bantal menjadi basah.

Tahan punya tahan setelah menderita siksaan yang hebat itu akhirnya cuaca mulai terang tanah.

Waktu pelayan penginapan masuk membawakan air sebaskom baru diketahui bahwa Giok-liong celentang terserang penyakit di-atas, tempat tidur, tanyanya.

"Tuan muda, kenapah kau ?"

Seluruh badan Giok liong masih panas membara, keluhnya berkata .

"Ambilkan air yang dingin, aku dahaga, sekali !"

Segera pelayan itu memegang secawan air dingin terus maju mendekat baru berapa langkah ia laitas berteriak kaget.

"Haya, tuan muda kenapa badanmu begitu panas, lihat aku sampai tidak berani mendekati."

"Oh, apa ya ?"

Keluh Giok lion semakin sedih.

"Siapa itu ?"

Tiba -tiba dari luar terdengar sebuah bentakan.

"kenipa ribat-ribut."

Seiring dengan suaranya diambang pintu lantas muncul seorang laki-laki pertengahan umur wajahnya kasar dan bengis, penuh daging menonjol. Si pelayan segera membungkuk maju terus menyapa hormat.

"Samya ! Kau orang tua tiba!"

Laki laki pertengahan umur yang dipanggil Samya itu mengerutkan kening tanyanya.

"Ada apa ?"

Lekas-lekas si pelayan menjawab .

"Tuan muda ini terserang penyakit, mungkin ..."

"Kenapa dibuat heran."

Sentak laki-laki kasar itu acuh tak acuh.

"bekal yang dibawa banyak tidak ?"

Sambil berkata matanya jelilatan menyapu pandang keseluruh ruangan kamar, lalu sambungnya lagi dengan nada menghina.

"Kukira banyak membawa uang untuk membeli obat diatas gunung ? Ternyata uang sangunya saja tidak cukup, nanti setelah malam tiba angkut keluar dan buang kedalam sungai, supaya tidak menghabiskan sebuah peti mati."

"Hm, apakah kau ini pemilik penginapan ini ?"

Jengek Giokliong gusar. Si pelayan segera menyahut.

"Bukan ! ini adalah Siau-Efltnya dari atas gunuag, penginapan kita ini..."

"Jangan cerewet,"

Bentak Siau-samya.

"Dalam beberapa hari ini mungkin ada mangsa besar yang bakal naik ke atas gunung, kalian harus hati-hati!"

Si pelayan lantas menarik leher sambil-membungkukbungkuk, lidahnya dijulurkan keluar dengan ketakutan sementara itu, laki-laki yang dipanggil Siau samya itu lantas tinggal pergi sambil menggendong tangan.

Mengawasi punggung orang itu sungguh berang bukan buatan hati Giok-liong, ingin rasanya sekali bacok mampuskan niat usia kurang ajar ini.

Akan tetapi saat itu dirinya sendiri sedang dalam keadaan sekarat, jangan kata hendak membacok untuk angkat tangan sendiri saja tidak kuat, mana mungkin bisa melampiaskan rasa dongkolnya.

Terpaksa ia minta belas kasihan kepada si pelayan.

"Siau-ji koan ambilkan air!"

Si pelayan menjinjing secawan teh dan baru saja hendak diangsurkan datang. Mendadak seseorang berteriak.

"Siau-ji, nona besar turun gunung, lekas sediakan hidangan?"

Agaknya si pelayan sangat terkejut akan perintah ini, segera ia menyahut keras.

"Baik, segera aku datang !"

Dengan tersipu ia lantas lari keluar pintu, saking gugup sampai lupa meletakkan cawan teh yang akan diberikan kepada Giok-liong itu.

"Traang!"

Cawan itu pecah berhamburan jatuh di atas lantai, tak menghiraukan cawan pecah itu ia terus memburu lari keluar kamar.

"Aduh !"

"Keparat kurang ajar !"

Demikian terdengar keluhan dan bentakan gusar di ambang pintu, terlihatlah bayangan merah berkelebat.

Kontan si pelayan terhuyung sempoyongan masuk ke kamar terus terjungkir balik menghadap langit.

Giok-liong menjadi kaget, tak tahu apa yang telah terjadi, tanyanya .

"Siau-jiko, kenapa kau ?"

BeIum sempat si pelayan merangkak bangun menjawab pertanyaan, dari ambang pintu melenggok berjalan masuk seorang gadis baju merah, katanya uring-uringan.

"Jalan tidak pakai mata, biar mampus jiwamu... ai!"

Belum habis katakatanya mendadak ia berseru kejut terus memburu masuk kamar.

"Nona Li!"

Begitu melihat gadis baju merah ini yang tak lain adalah Ang i-mo-li Li Hong, Giok-liong berseru kegirangan seperti ketemu pamili, namun suaranya menjadi tersendak dikerongkongan karena kering, hidung menjadi kecut.

Begitu melihat Giok liong yang rebah diatas ranjang, Ang imo li Li Hong segera memburu maju ke pinggir ranjang, katanya terperanjat.

"Kau...bagaimana bisa kau ... matanya yang bening jeli laksana mata burung Hong itu lantas menitikkan air mata. Peristiwa aneh yang dulu terjadi membawa kesan mendalam bagi pertemuan Giok-liong dan Ang-mo-li Li Hong untuk pertama kalinya dulu, Malah Ang i-mo li pernah menolong jiwa Giok-liong, sejak berpisah sampai sekarang, walaupun dulu belum pernah bicara secara panjang lebar, tapi dalam nurani masing-masing sudah bersemi rasa simpatik sebagai kawan terdekat yang mempunyai ikatan batin antara mati dan hidup. Terutama bagi Ang-i-mo li Li Hong, cobalah pikir. bila seorang perempuan tidak mempunyai rasa cinta kasih, siapa yang sudi menolong jiwa orang dengan mempertaruhkan jiwa sendiri. sekarang meskipun ditempat yang tak terduga ini bertemu kembali malah Giok-liong dalam keadaan sakit berat, semakin besar rasa tanggung jawab sebagai seorang sahabat sejati. Dengan adanya alasan jamak yang alamiah ini, maka seruan panggilan tadi terdengar begitu mesra penuh perasaan, ini lebih mengesankan dan mengetuk sanubari. Bagi Li Hong sendiri, sejak berpisah dengan Giok liong dulu, boleh dikata satiap saat selalu terbayang akan pemuda pujaan-nya ini. sekarang begitu melihat sang jejaka terserang penyakit begitu parah, betapa hatinya takkan sedih. Tak kuasa mereka saling berpandangan dengan mcngembeng air mata. Melihat Giok liong adalah kenalan kental Ang i-mo li Li Hong, apalagi melihat hubungan mereka yang mesra itu, si pelayan tak hiraukan lagi bokongnya yang jatuh kesakitan tadi, tersipu-sipu ia merangkak bangun terus menuang teh lalu diangsurkan kedepan pembaringan, katanya.

"Tuan muda minum teh!"

Membasut air mata yang berlinang Li Hong berkata kememek.

"Bagaimana sampai terserang penyakit demikian? Kau..."

Disambutnya cawan teh dari pelayan lalu diangsurkan sendiri ke mulut Giok liong.

Mendapat peluang ini si pelayan lantas berlari terbirit birit keluar kamar, Tak lama kemudian, laki laki bertengahan umur bermuka kasar yang dipanggil Siau samya itu telah memburu masuk kedalam kamar-dengan muka gugup dan penuh rasa ketakutan dengan langkah lebar segera ia membungkuk badan menjura dalam, sikapnya ini betul-betul menyebalkan, dasar manusia penjilat yang rendah budi, ujarnya lirih kepada Li Hong.

"Siocia, dia ..."

Tanpa melirik sedikitpun Li Hong mengulurkan tangannya meraba jidat Giok-liong mulutnya lantas mengeluh tertahan.

"Ha-ya, badanmu panas benar."

Tanpa menanti Giok liong mengiakan ia-lantas memutar tubuh, menghadapi laki laki kasar itu, makinya.

"Modar kau ! Ayo sediakan tandu, angkut Siau hiap ini keatas gunung !"

Siau sam si laki laki kasar tadi mengiakan sambil membungkuk badan dalam hampir saja kepalanya menyentuh dengkulnya. Sebentar Ang-i-mo-li Li Hong berpikir, lalu katanya kepada Giok liong.

"Coba kau berdaya mengenakan pakaianmu, aku tunggu diluar. Tempat ini tidak jauh dari rumahku, kau istirahat disana nanti ku-panggilkan tabib untuk menyembuhkan penyakitmu ini. hatimu jangan risau!"

Seperti kakak menghibur adik, seperti pula ibunda yang mengemang kakinya-hakikatnya tidak lain hanya sebagai kekasih yang menghibur dan prihatin kepada pujaannya.

Giok liong manggut manggut, susah payah ia mengiakan, sambil melirik penuh arti Ang i mo-li beranjak keluar terus menutup pintu.

Seluruh tubuh Gick liong panas sukar ditahan, badan lemas lunglai.

Tapi sekuat tenaga ia berusaha merangkak bangun terus mengenakan pakaian luarnya, menjemput Potlot mas, seruling samber nyawa dan Hwi-hun-ling lalu hendak dimasukkan kedalam buntalannya.

"Hah!"

Tiba tiba ia berseru kejut waktu tangannya memegang Jian lian lut siau-hwi sat ling..

seketika terasa suhu panas badannya segera menurun dan susut sebagian besar, rasa sakit juga berangsur hilang, selain masih terasa lemas dan puyeng, kalau dibanding waktu berbaring tadi seumpama dua orang yang jauh sekali bedanya.

Rasa kejutnya ini terlalu mendadak dan begitu lebih besar waktu-ia terserang penyakit yang melumpuhkan seluruh sendi-sendi tulangnya ini.

Sebab kejadian ini juga sangat aneh sekali, pikirannya bagaimana ini bisa terjadi.

apa...."

Giok liong terlongong-longong menggenggam Hwi-soat-ling itu.

sekarang keanehan telah timbul lagi, terasa pada telapak tangan yang menggenggam Jian-lian-Iui-siau-hwi-,soatling itu merembes sejalur hawa dingin yang menyejukkan terus menerjang keseluruh urat syarat dan sendi sendi tulangnya meluas keseluruh badan, dimana hawa dingin ini tiba,terasa semakin sejuk nyaman, suhu panas yang merangsang dalam badannya lantas punah tak berbekas lagi, semangatnya lantas terbangun.

"Ya, tentu begitu!"

Tak tertahan ia berseru kegirangan.

pikirnya, mungkin aku terserang penyakit panas beracun, Hwisoat ling ini sangat dingin maka dapat memunahkan suhu panas, semalam aku buka pakaian dan meletakkannya di pinggir maka suhu panas terus terjangkit sampai tidak tertahan lagi.

Tapi, Lwekang yang kupelajari adalah ilmu dari aliran lurus yang murni, bagaimana aku terserang panas beracun.

Memikirkan penemuannya ini sehingga ia menjublek semakin lama.

"Blang, blang!"

"Hai, kenapa kau sudah mengenakan pakaian belum?"

Diluar pintu digembrong, Ang i mo li Li Hong berteriak tidak sabaran lagi.

Giok liong tersipu sipu seperti baru sadar dari lamunannya, sambil masih menggenggam Hwi soat ling ia membuka pintu sambil tertawa ia berkata.

"Wah merepotkan nona Li menunggu terlalu lama!"

"Haya,"

Saking kejut Ang l mo li Li Hong sampai tersurut mundur keluar pintu, sepasang matanya kesima dan berkedip kedip, katanya.

"Kau......kau...."

Sesaat mulutnya melongo tak mampu bicara. Giok liong sendiri juga menjadi sulit untuk menerangkan, mulutnya juga tergagap.

"Aku ..... aku..."

"Hahahahah!"

"Hahahaha!"

Hehehehe! Hihihihihihi!"

Akhirnya mereka bergelak tawa berhadapan, nadanya penuh riang gembira.

Saat mana laki laki bernama Siau Sam itu sudah masuk dan tengah menggamit-gamit maju pelan-pelan dan hati hati di belakang Ang-i-mo-li Li Hong sebagaimana lazimnya sebagai budak ia membungkuk hormat, seraya berkata.

"Lapor Toasiocia, tandu...."

Li Hong tengah tertawa riang dan kehilangan kontrol, mendengar teguran ini seketika merah padam mukanya, semprotnya sambil mengerut kening dan mendelik.

"Siau Lim, lihatlah tingkah polahmu yang main sembunyi seperti panca longok."

Siau Sam mengerutkan leher, mundur dua tindak sahutnya membungkuk badan.

"Tadi hamba sudah melapor bahwa tandu sudah di siapkan !"

Rasa dongkol Li Hong masih belum hilang bentaknya.

"Sudah sana tunggu diluar."

Giok-liong teringat akan sikap Siau Sam yang congkak dan gagah gagahan tadi, maka ia bertanya.

"Nona Li, siapakah orang ini?"

"Kacung pengantar berita dan tukang gertak sambel !"

Siau Sam si budak rendah itu segera maju setindak lalu menjura kepada Giok liong katanya.

"Hamba yang rendah bernama Siau Sam ..."

"Cis !"

Li Hong marah semprotnya semakin gusar.

"jangan kau banyak mulut di hadapan Siau hiap ! Tidak tahu diri minta dilaporkan kepada ayah coba kedua kaki anjingmu dipatahkan dan dibuang kegunung untuk tangsel srigala,"

Berubah ketakutan air muka Siau Sam, seluruh badan gemetar. tersipu sipu ia minta ampun.

"Harap siocia suka memberi ampun maafkan kekurang-ajaran hamba, selanjutnya hamba takkan berani lagi, takkan berani lagi."

Giok-liong rada rikuh malah, katanya memutar haluan.

"Nona Li, penyakitku sudah sembuh, aku masih punya urusan penting, terpaksa tak dapat berkunjung kerumahmu, biarlah lain kesempatan !"

Ang-i-mo-li Li Hong tersentak kaget, tanyanya.

"Ada urusan penting?"

"Ya, sebab aku ada suatu janji yang sangat penting harus ditepati !"

"Janji apakah itu."

"Hal ini .."

Giok-liong menjadi bimbang untuk menerangkan karena ia tidak suka tentang perjanjian dengan pihak Yu-bing mokhek diketahui orang lain, kata-katanya sudah sampai diujung mutui lantas ia berkata putar haluan.

"Aku hendak mencari guruku !"

"Dimanakah gurumu sekarang ..."

"Sekarang sudah memasuki Bu-lay-san, maka aku buru buru menyusulnya kemari !"

"Sungguh kebetulan sekali, rumahku berada di Bu-lay san, kita kan sejalan dan satu tujuan ! "

Terpaksa Giok-Iiong tak bisa mencari alasan lain lagi, katanya apa boleh buat.

"Kalau begitu, marilah kita naik gunung bersama, setelah sampai di persimpangan kita berpisah !"

Ang-i-moii Li Hong tersenyum penuh arti, sambil manggut.

"Baiklah!"

Lalu ia berpaling dan memberi perintah kepada Siau Sam .

"Tandu tak berguna lagi, sediakan kuda!"

Bagaikan mendapat lotre besar, Siau Sam mengiakan kegirangan.

Setelah keluar dari penginapan benring mereka naik kuda terus membedal menuju ke Bu Iay-san, sepanjang jalan ini banyak tikungan dan harus melewati hutan lebat dan himpun kembang yang berkembang semarak, aliran sungai dengan airnya yang bening, banyak panorama yang mempersonakan, BegituIah sambil bercakap cakap seenaknya mereka terus maju, tak terasa mereka sudah semakin dalam memasuki pedalaman pegunungan yang semakin jelek dan berbahaya.

Hari sudah lewat tengah hari didepan sebuah selat terlihatlah sebuah batu gunung yang berdiri setinggi lima tombak, dimana terukir huruf huruf besar yang berbunyi.

"Pintu masuk menuju Im liong pay !"

Begitu melihat tanda jalan ini, diatas kuda segera Giokliong menjura kepada Li Hong.

"Nona Li aku yang rendah harus berpisah disini. apakah kudamu ini boleh kupinjam, nanti setelah turun gunung pasti kukembalikan di penginapan itu!"

Li Hong cekikikan geli, ujarnya.

"Belum saatnya kita berpisah ucapan berpisah terlalu pagi kau katakan !"

"Apakah nona juga hendak menuju ke Im-liong gay ? (ngarai angin dingin)."

Li Hong mandah cekikikan lagi, menarik tali kekangnya di bedal meninggalkannya lari kedepan langsung memasuki selat sempit yang menuju ke Im-hong-gay itu. Mau tak mau Giok liong harus berpikir.

"Aneh ! Bagaimana mungkin dia bisa menetap di Im hong gay ?"

Tengah ia berpikir-pikir, kuda tunggangannya tanpa di kendalikan lagi segera berlari sendiri mengikuti dibelakang tunggangan Li Hong.

Tak lama kemudian pandangan di depan mendadak menjadi gelap, Kiranya di sebelah depan sana adalah selat sempit yang diapit oleh lereng gunung yang sangat curam dan tinggi, ditengah-tengahnya ada mulut selat yang mereka cukup tiba untuk jalan seorang dan seekor kuda, Ini betul-betul merupakan jalanan yang sangat bahaya sekali.

Di depan selat sempit ini terdapat pula sebuah baru pualam warna hijau yang terukir beberapa huruf berbunyi .

"Tempat terlarang Yu bing, sembarang orang tak boleh masuk !"

Baru saja Giok-Jiong hendak berseru mencegah Li Hong yang memang berjalan di sebelah depan terus membedal kudanya masuk tanpa melirik keatas batu yang penuh huruf

Tiraikasih WEBSITE

http.//kangzusi.com/ huruf peringatan seumpama tidak melihat saja ia terus berlari kencang memasuki selat itu.

Bukan begitu saja malah kedua kakinya menendang perut kuda, saking kesakitan sang tunggangan menjadi jmgkrak berdiri sambil berbenger keras dan memekik panjang, suaranya kumandang dan bergema lama dalam alam pegunungan yang sepi ini.

Bercekat hati Giok-liong, batinya.

"Kalau sampai konangan oleh anak buah pihak Yu-bing mo-khek, lalu bagaimana baiknya?"

Karena pikirannya segera ia congklang kudanya semakin cepat mengejar ketat dibelakang Li Hong, serunya dengan suara tertahan.

"Nona Li ! Kini sudah sampai ditempat terlarang, menurut hematku ... Tak sangka dari atas kuda Li Hong berpaling sambil unjuk senyum manis, katanya menggoda .

"Kau takut?"

"Aku hanya khawatir kau terbawa-bawa dalam kericuhan ini."

"Haaa! Hahahaha"

Ang-i-mo-li Li Hong terloroh loroh geli diatas kuda, sambil meliuk-liuk badan dan menekan perut, Bukan begitu saja malah nada tawanya ia tekan dengan mengunakan lwekang sehingga gelak tawanya melengking tinggi membelah kesunyian dialam pegunungan, mungkin suaranya bisa terdengar sejauh lima li dengan jelas.

Keruan Giok-liong semaki gelisah, Tapi hakekatnya mereka sudah beranjak terlalu dalam paling tidak sudah sampai ditengah-tengah selat sempit itu, seumpama tidak bisa menembus terus kedepan untuk putar balik juga tidak mungkin lagi.

Apa boleh buat dalam hati ia mengeluh panjang pendek.

"Celaka ! jikalau anak buah Yu-bing-mo khek meluruk datang karena suaranya tadi, Li Hong mana mungkin kuat menghadapi mereka I"

Karena pikirannya ini hatinya menjadi semakin gugup, serunya .

"Nona Li ! Apakah kau tahu untuk tujuan apa aku meluruk datang ke atas Bu-lay-san ini ?"

"Kalau tidak kau jelaskan mana aku bisa tahu,"

Sahut Li Hong tawar.

"Aku ada janji dengan pihak Yubing-mo khek untuk menyelesaikan suatu pertikaian !"

"O, begitu ?"

Ujar Li Hong acuh tak acuh sedikitpun ia tidak terkejut atau heran. Giok-liong menambahkan .

"Karena itu kuharap nona berhenti sampai disini saja supaya tidak terbawa-bawa dalam urusan yang tak ada habisnya ini."

"Yu bing-mo khek itu adalah serigala atau harimau?"

"Ini ..."

"Kau sendiri tidak takut kepada mereka, masa aku Li Hong harus takut ?"

"Bukan begitu maksudku !"

"Kalau tidak, mengapa kau selalu mendesak aku kembali saja ?".

"Karena aku tidak ingin melihat nona terlihat dalam urusan ini, maka ..."

"Seumpama tidak ingin terlihat juga tidak mungkin lagi."

"Kenapa begitu ?"

"Sebab dengan adanya kau, aku ..."

Ucapannya yang terakhir tak terdengar lagi oleh Giok-liong saking lirihnya.

sambil menoleh ke belakang tampak sepasang mata Li Hong yang memancarkan cahaya yang cemerlang melirik penuh arti kepada Giok-liong.

Saat mana mereka sudah dekat mulut keluar selat sempit itu.

Tidak jauh didepan sana dalam semak belukar sudah tampak gerak gerik bayangan orang.

Melihat ini segera Giok liong tarik tali kekangnya membedal kuda menerobos lewat kedepan menghadang di depan Li Hong, dengan suara berat ia membentak .

"Nona Li berhenti, lihatlah !"

Belum hilang suaranya dari berbagai penjuru di semak belukar itu beruntun melompat keluar puluhan laki laki seragam abu-abu berambut panjang, sambil bersuit nyaring mereka menghadang didepan jalan.

Rombongan laki laki ini semua berambut panjang terurai, jubah panjang menyentuh tanah, terang mereka setingkatan dengan para rasul dan pihak Yu bing-mo khek, sudah tentu hal ini membuat Giok liong kaget dan bersiaga ?

Dari atas kuda Giok liong melompat tinggi setombak lebih terus hinggap diatas tanah, serunya sambil membusung dada .

"Aku yang rendah menepati janji tiga bulan yang lalu ke Imhong gay ! Lekas laporkan kepada ketua kalian!"

Tak duga para rombongan seragam abu-abu seperti tidak mendengar seruannya, mata mereka semua tertuju kearah Ang i-mo li Li Hong masih bercokol diatas kuda.

Keruan Giok-liong menjadi uring-uringan dan gelisah.

Tapi Li Hong sendiri bersila tenang seperti tidak terjadi apa apa, malah unjuk senyum menggumam, katanya kepada Giok liong dengan lembut.

"Naiklah kekudamu, perjalanan masih cukup jauh."

Giok liong terlongong heran serunya gugup.

"Nona Li, orang orang ini ..."

Maksudnya hendak berpaling lagi menunjuk rombongan abu-abu itu serta memberi lahu kepada Li Hong siapa mereka adanya, siapa tahu, waktu ia menoleh balik lagi, orang orang seragam abu-abu itu seperti hilang di telan bumi tak kelihatan lagi bayangannya, entah kemana perginya.

"Aih ! "sesaat Giok liong menjadi melongo ditempatnya karena tak menduga sebelumnya. Ang i-mo-li Li Hong bersikap biasa suaranya juga wajar, katanya menunjuk tunggangan Giok-liong.

"Naiklah mari kita lanjutkan kedepan !"

Giok-liong seperti tenggelam dalam lautan kabut tebal yang gelap, matanya menjelajah kesekitarnya, tapi keadaan sunyi senyap tanpa suara apa-apa, terpaksa ia naik keatas kudanya lagi, katanya coba memancing.

"Nona Li rumahmu ..."

Tanpa menanti Giok-liong berkata habis Li Hong sudah menunjuk gunung gemunung di depan sana sembari berkata.

"Di depan itulah tak jauh lagi !"

Walaupun hati Giok-liong penuh curiga tapi terpaksa ia mengintil maju terus.

kira-kira beberapa ratus meter kemudian, disebelah depan dpinggir jalan terdapat sebuah pohon besar diatas pohon inilah terpasang papan kayu diatas kayu ini digambar setan terbentuk makhluk aneh, dimana tertulis delapan huruf besar yang berwarna merah darah berbunyi "Daerah terlarang, masuk mati."

Giok liong tak tahan lantas berteriak sambil membedal kudanya mengejar kedepan.

"Nona Li, lekas turun, lekas turun !"

Li Hong mandah berseri tawa, sikapnya wajar ujarnya dengan nada menggoda.

"Kenapa?"

"Tidakkah kau melihat papan larangan itu?"

"Didepan masih ada satu lagi !"

Betul juga kira-kira puluhan meter kemudian diatas pohon ada pula papan kayu yang dipancang diatas pohon, kali ini berbunyi.

"Dilarang kembangkan silat letakkan senjata tajam!"

Giok-liong lantas berpikir.

"Sungguh aneh kalau melarang orang masuk kenapa dipasang lagi papan larangan kedua yang satu sama lain menjadi kontras, bukankah berarti menampar mulutnya sendiri !"

Ang i-mo li Li Hong agaknya dapat menyelami isi hati Giok liong, ujarnya genit.

"Papan larangan ini khusus di tunjukan kepada kaum dalam orang orang Mo-khek sendiri !"

"Oh, masa orang-orang Mo-khek sendiri kalau masuk ke dalam sarang juga harus meletakkan senjata dan dilarang menggunakan ilmu sifatnya ?"

"Sudah tentu, sesuai dengan larangan itu !"

"Lalu kita ini ... ."

"Kita juga termasuk orang sendiri, maka tidak perlu mendapat larangan sesuai dengan papan larangan pertama !"

"Kita ? Orang sendiri ?"

"Kau diundang kemari, dan aku tinggal disini, bukankah termasuk orang sendiri!"

"Ada orang datang."

Benar juga disebelah depan dari dua samping jalan melayang layang seperti tidak menyentuh tanah berkelebat keluar delapan belas laki-laki kekat berambut panjang seragam hitam, gerak langkah mereka sangat aneh dan lucu sekali, terang kepandaian rombongan kedua ini jauh lebih lihay dan tinggi dibanding dengan rombongan seragam abuabu tadi.

Segera Giok-liong siap terus mengerahkan Ji lo untuk melindungi badan, Siapa tahu kiranya kedelapan belas laki-laki seragam hitam ini lantas berbaris rapi dikedua pinggiran jalan di belakang papan larangan kedua itu, semua berdiri tegap dengan mata tertuju ke depan tanpa bergerak dan bersuara.

"Mari !"

Ang-i-tno li Li Hong mengajak Giok-liong maju terus, dengan pecut ditangan ia mencongklang tunggangannya terus menerobos ke depan melewati tengah tengah deretan barisan, ke delapan belas seragam hitam itu.

Jantung Giok-liong berdebar keras, hatinya menjadi waswas dan risau, tak tahu apa yang bakal terjadi dan apa pula sebabnya.

"Kalau sudah berani datang, apapun akibatnya harus berani dihadapi, Tak peduIi sarang naga atau gua harimau, keadaanku seumpama anak panah yang terpasang di-busur, tinggal dilepaskan, seperti menunggang harimau yang sulit turun, betapapun aku tak boleh unjuk kelemahan supaya tdak dipandang ringan olen mereka !"

Karena pikirannya ini, Giokliong tak banyak mulut lagi, mengintil di belakang Li Hong iapun sedepan pelan-pelan.

Kira-kira dua puluhan tombak lagi, di-depan sana terlihat lagi papan larangan ketiga kali ini hanya tertulis dua huruf besar warna hitam .

"Tenang !"

Sampai didepan papan larangan Li Hong menghentikan kudanya terus turun dari tunggangannya, serunya merdu menggiurkan.

"Sudah sampai turun."

Belum lagi Giok-liong bergerak turun, bayangan orang berkelebat, dari belakang papan larangan itu melayang keluar empat orang aneh berambut panjang yang mengenakan seragam kuning.

Cara dandanan keempat orang aneh ini serupa dan sama, rambutnya riap-riapan dengan roman muka yang kasar dan beringas sangat menakutkan, apalagi panca inderanya tidak lengkap, kulit mukanya penuh tergores bekas luka luka dari senjata tajam yang matang melintang, jadi hakikatnya roman mukanya ini sudah tidak menyerupai wajah manusia umumnya.

Sekali pandang saja orang akan ketakutan dan merinding.

Begitu menginjak tanah tersipu-sipu mereka memburu maju menyambut ke depan Ang i mo li Li Hong terus menyapa berbareng.

"Siocia telah pulang !"

Sesaat Giok-liong tertegun diatas kudanya, pikirnya.

"Apa Li Hong warga Yu-bing-mo-khek?", tapi tiada banyak tempo untuk dia berpikir. Dengan sikap angkuh dan besar-besar Li liong manggut lalu katanya menunjuk Giok-liong.

"Su-ciang ( empat panglima ) menghadap pada Ma Tay hiap !"

Mendapat perintah ini keempat orang aneh itu saling pandang sebentar terus maju melangkah sambil menjura kepada Giok-liong, serunya bersama .

"selamat datang Ma Tay-hiap !"

Dengan suara merdunya lantas Li Hong memperkenalkan.

"inilah Ang-keh su-ciang, tokoh kosen langsung dibawah Sancu (ketua) Bu lay-san, Kaum bulim baik golongan hitam bila mendengar namanya pasti lari ketakutan, untuk aliran putih paling tidak akan mengerutkan kening, puluhaa tahun yang lalu mereka sudah malang melintang di Kangouw dengan nama Ang-st su-ni ing (empat pan!a-tvaa dari keluarga Ang)"

Ang keh-su ciang mundur berbareng sembari mengiakan .

"Siocia terlalu memuji hamba sekalian !"

Namun sedikitpun Li Hong tidak hiraukan mereka lagi, tanpa banyak omong lagi tangannya menjulur menyilahkan serta berkata kepada Giok-liong .

"Silakan !"

Bagi Giok liong semua yang dihadapi ini menjadi serba diluar dugaan, semua dirasakan aneh dan mengherankan, terpaksa ia bersikap acuh mengikuti situasi dengan manggut manggut tersenyum, menurut yang ditunjuk Li Hong ia mendahului berjalan di depan.

Setelah belak belok beberapa kali pemandangan di depan mata mendadak berubah sama sekali, sebuah lereng bukit yang terjal tak kelihatan ujung pangkalnya setinggi ribuan meter terbentang di depan mata, betapa curam dan berbahaya sungguh menggiriskan sekali, Puncak tertinggi tak kelihatan diselimuti awan tebal, angin menghembus keras menyampuk muka.

Di dasar lereng curam sana pohon pohon siong dan pek tumbuh subur, air sungai mengalir deras sekali laksana derap ribuan kuda yang mecnbedal kencang menggetarkan bumi memekakkan telinga, mengiring dasar jurang didasir lereng gunung curam itu adalah sebuah jalanan gunung yang penuh ditaburi lumut yang sangat licin sekali, sekali kurang hati-hati begitu terpeleset pasti badan akan jatuh masuk jurang tak terkira dalamnya.

Sampai di ujung jalan kecil pegunungan ini dihadapannya dihadapi banyak gua-gua yang hitam gelap, gua-gua ini berjajar sedemikian banyak tak kurang sembilan belas lobang.

Gua besar yang terletak dipaling tengah teratas atapnya terukir huruf huruf kuno yang besar berbunyi .

"Yu Bing !"

Melihat kedua huruf besar ini tanpa merasa Giok-liong menghentikan langkahnya, katanya kepada Ang-i-mo-li Li Hong.

"Nona Li, kau adalah ..."

Li Hong tersenyum simpul, ujarnya.

"Masuk dulu, nanti kita bicara lagi!"

Belum lenyap suara Li Hong, mendadak "Kok !

kok !

sebuah jeritan keras yang pendek menembus angkasa terdengar dari puncak lereng yang tinggi sana.

Tak kuasa berubah air muka Li Hong sesaat ia tertegun melenggong.

Giok-liong sendiri juga menjadi kaget dan kesima mendengar suara itu.

"Siuuuuur ....."

Terdengar angin berkesiur di susul subuah bayangan merah melesat keluar dari Yu-bing-khek menyusuri jalan kecil diatas lereng itu beruntun beberapa kali loncaran saja ringan sekali sudah meluncur turun dan hinggap disamping Li Hong.

Pendatang ini kiranya adalah seorang laki-iaki, tiga puluhan tahun, pakaian merah yang dipakainya itu sangat menyolok mata, kedua biji matanya berkilat tajam, pertama tama ia tetap Giok liong lalu beralih pandang ke arah Li Hong, katanya lantang.

"Dik, kau sudah kembali ?"

Tidak menjawab sebaliknya Li Hong baru bertanya.

"Toako dipuncak lereng --."

"Ayah naik ke puncak sana untuk menepati janji kupikir..."

Li Hong bertambah heran, tanyanya mengerut kening.

"Menepati janji?"

Lalu ia berputar menghadapi Giok liong katanya lagi.

"Kau punya teman?"

Giok liong menggeleng kepala dengan keheranan, katanya.

"Teman? Aku? Tidak?"

"Lalu siapakah dia?"

Ang-i-mo-li Li Hoog menggumam dan berkata seorang diri sambil merenung lalu katanya kepada laki-laki berbaju merah itu.

"Toako layanilah Ma Siau-hiap ini masuk ke dalam lembah biar aku naik keatas melihat-lihat."

Cepat-cepat Ang-mo atau laki-laki berpakaian merah itu menggoyang tangan serta berkata gugup.

"Dik, jangan bagaimana watak ayah masa kau tidak tahu?"

"Apa yang dikatakan ayah?" (Bersambung

Jilid ke 20)

Jilid 20

"Sebelum naik ayah pernah berpesan, kecuali dari atas puncak ayah melepaskan kembang api tanda sos, siapapun dilarang naik kesana, Malah dipesan pula wanti-wanti supaya aku dan kau tidak turut campur dalam persoalan ini !"

"Begitu ?"

"Menurut ayah katanya musuh yang datang kali ini adalah seorang tokoh tenar yang kenamaan, diminta kita harus hatihati supaya tidak dipandang ringan oleh musuh !"

Kakak beradik saling bercakap sendiri sehingga Giok liong menjadi melongo dipinggir menyepi seorang diri.

Maklunn hakikatnya terhadap riwayat dan asal usul Ang-imo-li Li Hong sedikitpun Giok-liong tidak tahu apa-apa, Walau sekarang dari pembicaraan mereka dia berani memastikan bahwa Li Hong adalah salah satu warga dari Yu-bing-mo-khek, namun dia sendiri belum berani ambil kepastian apa tujuan dan maksud orang terhadap dirinya.

Maka begitu ia mendengar kata-kata "menepati janji"

Di atas puncak lereng itu, lantas ia menjadi maklum bahwa janjinya untuk hadir meluruk ke Yu-bing mokhek pada tiga bulan yang lalu kiranya sudah tiba saatnya.

Dirinya terang sudah setindak terlambat, lalu orang yang menepati janji diatas itu apakah gurunya ?

Kalau itu benar betapa juga aku harus segera menyusul kesana.

Lalu pura-pura ia batuk batuk, katanya .

"Eh, nona Li ! Aku ..."

"Haya, coba lihat aku sampai kelupakan memperkenalkan kalian !"

Seru Li Hong memutus kata kata Giok-liong.

"Ini adalah engkohku, yang diberi nama julukan Ang-i mo-su (iblis merah) Li Hong, Dan dia adalah Kim pit-jan hun Ma Siau hiap yang menggetarkan dunia persilatan di Tiong-goan !"

Berjelilatan pandangan Ang-imo-su Li Hong katanya raguragu.

"Dik !"

Li Hong cemberut, katanya melerok sambil mengurut kening.

"Toako, tamu sudah sampai diambang pintu, masa tidak kau silahkan orang masuk ke dalam gua !"

Giok-liong menjadi keripuhan, katanya tergagap.

"Nona Li, kedatanganku ini adalah ...."

Tanpa menanti Giok liong bicara habis Li Hong sudah menyelak.

"Untuk menepati janji di Im-hong gay bukan, kenapa tergesa-gesa ? Kutanggung takkan sia-sia dalam perjalananmu !"

Saat mana berulang kali terdengar suara bentakan dan damparan angin keras di atas puncak sana, meskipun suaranya hanya samar-samar dan lembut sekali, tapi kedengaran sangat jelas.

Giok liong menjadi tidak sabaran lagi, kitanya.

"Suara itu"

"Watak ayahku sangat aneh, kalau sudah dikatakan melarang orang ketiga turut campur tangan, siapapun jangan harap diijinkan naik kasana."

"Tapi..."

"Mari silahkan masuk untuk istirahat!"

Sambil berkata dengan kerlingan mata yang penuh arti Li Hong mengulur tangan menggandeng tangan Giok liong terus ditarik melompat begitu mendaratkan kakinya dijalan kecil menanjak keatas sana mulutnya berseru.

"Hati hati!"

Sambil berkata tangan masih menarik kencang kakinya terus menjejak tanah lagi terus melambung tinggi ke depan.

Tanpa merasa merah jengah selembar muka Giok liong, pergaulan laki perempuan harus ada batasnya, betapa juga tidak baik rasanya dirinya digandeng seorang gadis diajak jalan-jalan berlo-rcnrsr, maka dengan suara lirih ia berkata.

"Nona Li! Lepaskan tanganmu, biar aku jalan sendiri!"

Benar juga Angi mo li Li Hong melepas cekalannya, sambil cekikikan beruntun berapa kali lompatan ringan sekali ia sudah menerobos masuk kedalam gua besar ditengah itu.

berdiri diambang pintu gua besar ia menggape tangan kepada Giok liong.

Saat mana Ang i mo-su Li Liong juga sudah mengintil dibelakang Giok-liong, seru-nya.

"Ma Siau hiap, mari silahkan!"

Giok liong menjadi serba salah, terpaksa ia jejakkan kaki badannya lantai melejit tinggi, mulutnya berseru.

"Silakan!"

Dengan gaya Ceng-ting tiam cui sedikit kakinya menutul di tanah jalan pegunungan kecil itu langsung ia terus menerobos masuk kedalam Yu-bing-khek.

Dilihat dari luar keadaan dalam gua merupakan ruang yang gelap gulita, namun setelah berada didalam pandangan mata seketika berubah, bukan saja keadaan didalam terang benderang malah perabot dan pajangannya serba mewah dan megah sekali, tak kalah dengan hiasan istana raja.

Ang i mo li Li Hong berkata tertawa.

"Ditempat pegunungan, keadaan serba sederhana, harap tidak ditertawakan!"

Bagi Giok liong sudah tidak bakal memperdulikan segala hal tetek bengek ini, mulutnya lantas berkata.

"Nona, sebelum ini aku yang rendah betul betul tidak tahu kalau kau adalah putri dari ketua Mo khek ini!"

Li Hong menggigit bibir sambil tersenyum tawar, ujarnya.

"Sekarang setelah tahu lalu bagaimana?"

Giok liong tercengang akan pertanyaan ini, katanya.

"persahabatan kita masih tetap baik, apalagi nona berbudi padaku kelak bila ketemu saatnya pasti kubalas kebaikan ini!"

"Dapat membedakan budi dan dendam, betul-betul pambek seorang laki-laki!"

"Saat ini aku yang rendah tiada tempo tinggal disini lamalama!"

"Kau hendak kemana?"

"Aku harus menuju ke Im-hong-gay!"

"Kau hendak bergabung dengan pendatang itu untuk mengeroyok dan membunuh ayahku?"

"Aku yang rendah tiada maksud demikian"

"Lalu kenapa kau tergesa gesa harus pergi ke Im-hong gay!"

"Bicara terus terang. Orang yang berada di lereng sana dan tengah bertempur dengan ayahmu itu adalah guru berbudi dari Giok liong!"

"Ha !"

Ang i mo Li Hong tersentak kaget sehingga berubah air mukanya.

Sementara itu Ang i mo su Li Liong juga sudah beranjak masuk kedalam gua itu, mendengar kata-kata Giok-liong, badannya tergetar hebat, desisnya geram.

"Jadi mulutmu saja yang mengudal jiwa kesana dan segala kebajikan, tak tahunya perbuatanmu sedemikian rendah dan hina dina, sungguh picik dan memalukan!"

Dicecar sedemikian kotor dongkol hati Giok-liong, serunya lantang .

"Kata-kata saudara ini apakah tidak keterlaluan sedikit."

"Apakah tuduhanku salah ? Dengan lagak dan pamormu ini kau menyelundup masuk kesini, sedang guru yang kau undang diam-diam naik ke atas lm hong-gay, apakah kau hendak mungkir lagi ?"

Angi-moli Li Hong menghela napas, ujarnya penuh kesedihan dan mendelu .

"Kalau benar begitu, teilmutt aku salah lihat orang !"

Seperti disayat-sayat perasaan Giok-liong cepat-cepat ia memberi keterangan.

"Karena aku selalu terlibat dalam banyak pertikaian di Kangouw, sehingga guruku menjadi khawatir aku terlambat datang dan tidak menepati janji disini, maka beliau datang lebih dulu untuk mewakili aku, aku sendiripun belum lama ini mengetahui dari Pat-ci-kay-ong. Untuk tidak menyusahkan guruku yang berbudi maka siang malam kutempuh perjalanan jauh memburu tiba disini, hakikatnya selama ini aku sama sekali tidak pernah jumpa dengan Suhu, dari mana bisa dikatakan aku bersekongkol dan tidak seharusnya pula menuduh aku menyelundup dan menerjang ke sarang kalian ini !"

Tak duga Li Liong bersikap kasar dan keras kepala, bentaknya dengan gusar.

"Omong kosong dan main debat belaka, siapa mau percaya obrolanmu, aku khawatir kau bisa datang tak bisa kembali lagi !"

"Belum tentu !"

Jengek Giok-liong naik darah. Li Long berjingkrak semakin gusar seperti kebakaran jenggot, semprotnya.

"Hm, kau terlalu pandang rendah pihak Yu-bing-mo khek kami, paling tidak kau harus menerima hajaran yang setimpal."

Lalu dari dalam bajunya dikeluarkan sebuah bumbung sepanjang lima senti terus diayun dan dilempar keluar gua. Dari samping Li Hong buru-buru berseru dan mencegah.

"Engkoh jangan sembarangan kau lepaskan pertanda gawat perintah berapi itu !"

Tapi sudah terlambat karena bumbung di tangan Li Liong itu sudah meluncur keluar gua dengan mengeluarkan suitan panjang lalu terdengarlah ledakan keras ditengah udara, kembang api berpencar dan berteman di angkasa, Dari satu menjadi dua dan dari dua berkembang menjadi empat begitulah seterusnya semakin bertambah banyak, sebentar saja seluruh keadaan alam sekeliling Yu-bing-mo-khek dari luar dan belakang menjadi terang benderang dengan taburan percikan api yang menyolok mata !

Keruan Li Hong menjadi gugup, teriaknya ketakutan .

"Celaka! Engkoh, bila syah melihat pertandumu itu bukankah akan menambah kekhawatirannya ! "

Sebaliknya Li Liong menuding Giok liong dengan marah.

"Tangkap dan ringkus dia dulu, bicara belakang !"

"Kukira tidak begitu gampang !"

Seiring dengan ejekannya ini Giok liong melejit cepat sekali terus menerjang keluar gua.

"Lari kemana kau!"

Ang i mosu Li Liong berdiri tegak ditengah jalan, dimana kedua tangannya bergetar, tetus didorong dengan sebuah jurus hantaman yang kuat sekali untuk merintangi luncuran tubuh Giok-liong..

Berubah dingin air muka Giok liong, dilihatnya diluar sana diambang pintu samar-samar berjajar delapan belas orang aneh seragam hitam rambut panjang, mata mereka memancarkan kilat tajam dengan sikap berang mereka bersiaga siap tempur, dilihat gelagat ini, agaknya untuk menerjang keluar gua bukan pekerjaan gampang, paling tidak harus mengeluarkan banyak tenaga dan menguras keringat.

Dengan tawa dingin ia berpaling kearah Li Hong serta katanya "Nona!

inikah tujuanmu memancingku kemari, terlalu..."

Merah padam selembar muka Li Hong sampai kekupingnya, epat ia membela diri.

"Ini..."

"Dik jangan turut campur, Akan kulihat cara bagaimana ia hendak lolos keluar dari Yu-bing mo-khek!"

"Baik akan kubuat matamu terbuka!"

Dimana bayangan putih menerjang tiba kuntum mega putih juga lantas menubruk datang.

"Bocah keparat, sudah terkepung juga masih berani bertingkah!"

Tanpa gentar sedikitpun Li Liong juga menerjang maju, terjadilah pertempuran dahsyat didalam sarang gua pihak Yu bing.

Hakikatnya Yu-bing-mo-khek belum lama berdiri, namun ilmu pelajaran mereka mempunyai kehebatannya sendiri, jauh berbeda dengan aliran pelajaran silat kaum persilatan umummya.

Demikianlah akan Li Liong si iblis merah ini adalah putra tunggal ketua mereka, sudah tentu pelajaran silatnya sudah mendapat didikan langsung dan lihay luar biasa, merupakan salah seorang tokoh paling diandalkan dari pihak Yu bing mo khek.

Cara permainan silatnya memang sangat menakjupkan gerak geriknya lincah dan tipu-tipunya sulit diduga dan banyak perubahannya lagi, terutama lwekangnya yang aneh dan sulit dijajaki.

Maka untuk sementara waktu kedua belah pihak berlaku sangat hati-hati untuk menyelami ilmu masing masing.

Mega putih dan bayang merah saling bergumul dan beterbangan didalam gua besar itu, angin menderu kencang.

Giok liong sebelumnya tak menduga bahwa Ang i mo su Li Liong ini membekal lwekang yang begitu aneh dan lihay, sebaliknya Li Liong sendiri juga tidak menyangka bahwa Giok liong ternyata sudah sempurna dalam latihan kepandaian silatnya.

Maka sesaat bayangan mereka berkelebat cepat, tak dapat lagi dibedakan apakah itu kepalan tangan silau tendangan kaki yang terang angin keras menderu sehingga sulit dibedakan jurus-jurus apa yang telah mereka lancarkan.

Dalam pada itu delapan belas Tongcu ditambah para rasul berseragam abu-abu itu tengah bergerombol di ambang gua dan menonton dengan kesima sehingga jalan keluar menjadi buntu, Meskipun mereka tak berani masuk untuk bantu mengeroyok, tapi jauh diambang pintu itu mereka berteriakteriak dan bersorak memberi dorongan semangat.

Adalah Ang i moli Li Houg yang menjadi serba salah, karena kedua pemuda yang tengah bertempur ini masingmasing setaraf kepandaiannya, siapapun takkan mau mengalah, sehingga sulit untuk dirinya menyelak di tengah, apalagi mencegah dengan seruan kata kata saja.

Sementara suara pertempuran diatas Im-hong gay sana juga samar-samar berkumandang terbawa angin.

Li Hong menjadi semakin gelisah, teriaknya keras.

"Engkoh. berhenti dulu, ayah..."

Dengan keras Li Liong dorong sebuah pukulan seraya membentak.

"Ringkus dulu bocah ini!"

Giok liong sendiri juga tengah memgkhawatirkan keselamatan Suhunya, karena terjangan dan halangan Li liong ini hatinya semakin gopoh, melihat orang memukul dengan kekuatan penuh segera ia gerakkan kedua tangannya sambil mendatar terus disurung maju memapak ke depan, mulutnya juga menghardik lantang.

"Minggir!"

Hantamannya dilandasi delapan bagian Lwekang Giok liong, Maka terjadilah kuntum mega putih berkembang menggulung maju mengeluarkan desis suara keras laksana angin badai seperti gugur gunung dahsyatnya menerpa kedepan !

Meskipun Lwekang Li Liong aneh tapi latihannya masih terpaut jauh sekali, seketika ia rasakan dada seperti dipukul godam, darah bergolak menyesakkan napas, berdiri juga tidak kuat lagi, diam-diam mengeluh dihati .

"Ce!aka !"

Seiring dengan bentakan tadi badan Giok-liong juga sudah melambung meluncur ke depan.

Kontan badan Li Liong terpental jauh melayang-layang seperti layangan putus terus meluncur keluar gua di depan sana.

"Kokoh."

Li Hong berteriak dengan dengan panik, tubuhnya melompat sekuatnya meluncur mengejar, apa boleh buat jarak terlalu jauh, teraling oleh Giok-liong lagi, maka tak mungkin ia dapat meranggeh tubuh engkohnya itu.

Sementara itu, para Tong cu serta beberapa puluh rasul pakaian abu abu semua turun meloncat tinggi memapak maju hendak menyambut badan Li Liong yang terbang pesat itu.

Tak tahunya luncuran daya badan Li Liong adalah sedemikian cepat dan keras karena dipukul dengan seluruh kekuatan tenaga Giok liong sehingga seperti lebih cepat dari anak panah, apalagi kejadian terjadi begitu mendadak sehingga siapapun telah menangkap tempat kosong.

Terpaksa semua mata mendelong memandangi bayangan merah terbang keluar gua di dorong angin kencang terus meluncur keluar gua dan jatuh ke dalam lembah yang tidak kelihatan dasarnya sana.

Sudah pasti dengan jatuh kedalam jurang sana badannya tentu hancur lebur.

Tepat pada saat itu, dari puncak bukit lereng ci-)-i g-.n?i se")ua-i bayangan kuning besar melambai-lambai seperti seekor burung garuda besar tengah menukik turun deagan cepat sekali sambil bersuit panjang, teriaknya .

"Anak Liong "

Terdengar suaranya begitu gelisah dan gugup, maka daya luncuran tubuhnya juga semakin kencang menukik turun.

Tepat pada saat semua orang mengelak dan tak mampu memberi pertolongan lagi, bayangan kuning itu laksana bintang jatuh melesat lewat di-depan pintu gua begitu cepat sampai pandangan semua orang terasa kabur.

Kalau dikata lambat, kejadian adalah begitu cepat, Terlihat bayangan kuning itu menjejakkan kedua kakinya dan saling silang, tangannya terus diulur meraih kebawah seraya membentak .

"Naik !"

Tepat sekali tangannya kena menyengkeram baju Li Liong serta menahan daya luncuran tubuhnya yang meluncur jatuh.

Akan tetapi karena dia sendiri juga meluncur turun dari atas laksana mengejar setan maka untuk sesaat sukar untuk menahan daya luncuran jatuhnya, maka badan mereka berdua tetap melayanig ke bawah.

"Ayah !"

Pekik Ang-i mo-li-Li Hong kegirangan dan waswas.

Bayangan kuning yang menangkap tubuh Li Liong dan ikut memang jatuh itu, mendadak bersuit keras dan panjang, begitu nyaring lengking suitan ini sampai bergema dan kumandang di seluruh alam pegunungan yang luas dan terbuka ini.

Disaat ia memperdengarkan suitan panjangnya inilah terlihat ia menekuk pinggang di tengah udara menggunakan daya Teng-kiau ki hong"

Sehingga daya luncuran kebawahnya kena dihambat dan menjadi lamban, begitu ia membalik badan kedua tangannya terus angkat Li Liong tinggi diatas kepalanya, dengan begitu bukan saja badan mereka yang melayang kena terhambat, disusul dengan ilmu memanjat tangga langit di kembangkan lalu dirubah pula dengan jurus Ping-te ceng-hun (awan berkembang ditanah datar) laksana sebuah meteor seperti permainan kembang api yang meluncur ditengah udara terus melesat naik keatas.

Delapan belas Tong-cu serta para rasul dan anak buah lainnya seketika bersorak sorai suaranya gegap gempita.

Giokliong sendiri juga kagum dan memuji dalam hati akan kehebatan lwekang siorang tua berpakaian kuning yang mempunyai ilmu tunggal tiada taranya.

"Ayah ! "dengan riang Li Hong memburu maju kepinggir jurang dan berteriak ke arah laki-laki berbaju kuning itu. Baru sekarang jelas bagi Giok-liong bahwa laki-laki baja kuning ini bukan lain adalah Yu-Bing-khek cu Li Pek-yang. Saat itu adalah kesempatan paling baik untuk tinggal pergi saja, sebab perhatian semua orang tengah tertuju pada diri Li Pek-yang, Tapi dia tak mungkin pergi sebab dia harus segera tahu apakah benar gurunya sudah datang mewakili dirinya menepati janji itu? Dan yang lebih penting lagi bagaimana akhir dari adu kepandaian diatas ngarai angin itu? Yu-bing-khek-cu Li Pek-yang ternyata adalah seorang lakilaki bertubuh kekar dan tinggi besar, wajahnya dihiasi jambang bauk lebat, mukanya warna merah seperti kepiting direbus, dengan gerakan Biau-si-sin hoat ringan sekali ia kempit tubuh Li Liong masuk kedalam gua. Begitu menginjak tanah pandangan matanya lantas tertuju kearah Giok-liong berpaling ia tanya pada putrinya.

"A-nak Hong ! Siapa dia?"

Delapan belas Tong cu serentak mendahului menjura serta menjawab berbareng.

"Dia inilah Kim pit-jan hun Giok-liong !."

"Oh"

Tak tertahan Li Pek-yang berseru kejut, Melihat muka ayahnya mengunjuk rasa kaget dan heran, khawatir ayahnya segera turun tangan, cepat-cepat Li Hong memburu maju dihadapannya serta serunya pelan.."

Yah..!"

Pandangan Yu bing-khek-cu Li Pek-yang terpancar tajam dingin, sambil masih menenteng tubuh Li Liong ia bertanya dengan nada berat.

"Yang memukul terbang anak Liong jadi kau ini ?"

"Tidak salah, memang aku yang rendah adanya !"

"Aku yang rendah ? Begitu takabur kau sehingga membahasakan diri Wanpwe saja tidak sudi sombong benar !"

"Aku datang untuk menepati janji, kawan atau lawan toh belum jelas."

"Kawan atau lawan belum jelas ?"

Ulang Yu-bing khek-cu Li Pek-yang menarik muka tiba-tiba suaranya menjadi bengis.

"Sudah terang belum tahu kawan atau lawan, kenapa lantas turun tangan melukai orang ?"

Sambil berkata ia serahkan tubuh Li Liong kepada salah seorang Tongcu dibelakangnya, kakinya terus melangkah tindak demi tindak kearah Giok liong. Berubah pucat wajah Li Hong, teriaknya .

"Ayah... ."

"Jangan turut campur !"

Yu bing khep cu Li Pek-yang memicingkan mata menatap Giok-liong, jarak mereka tidak lebih tujuh kaki, sekali ulur tangan saja cukup meranggeh.

"Delapan belas Tongcu berdiri tegang dan bersiaga, bernapaspun mereka tahan pelan-pelan. Sedikitpun Giok-liong tidak merasa gentar, diam diam ia kerahkan Ji-lo, katanya lantang .

"Haha, kejadian ini jangan kau salahkan aku yang rendah !"

"LaLu salahkan siapa ?"

"Anak masmu itu yang turun tangan dulu !"

"Kau berani menyelundup ke sarang kita lalu harus salahkan siapa ?"

"Aku datang untuk menepati janji !"

"Kenapa tidak langsung ke Im-hong-gay ? sebaliknya kau menerjang dan membikin onar di sini ? "

"ini ...."

Pandangan Giok liong beralih ke arah Ang-i mo-li Li Hong Li Hong, tahu Giok-liong tidak enak buka mulut secara terang-terangan, maka lekas-lekas ia tampil ke depan serta katanya .

"Yah ! ini ... aku lah yang membawanya kemari, jangan kau salahkan dia !"

Giok-liong bergelak tawa, dengan menyeringai ejek dia pandang Yu-bing-khek-cu. Tak diduga, Yu-bing khek cu Li pek-yang menyentak dengan suara rendah berat.

"Anak Hong jangan banyak mulut!"

Li Hong menyambung lagi .

"Memang benar akulah yang membawa dia kemari, Ayah !"

"Huh,"

Yu-bing-khek cu mendengus lalu katanya.

"Kau kira dia sengaja datang untuk menepati janji ? Hakikatnya dia mengundang seorang tokoh kosen lain menanti Lohu di puncak Im-hong gay, ini terang sengaja hendak membokong ayahmu, tapi mana dapat mengelabui aku !"

Giok-liong menjadi kaget, tanyanya .

"Tokoh kosen ? Siapa ?"

"To ji Pang Giok."

"O, beliau adalah guruku!"

"Ya, guru dan murid berintrik mengatur tipu muslihat ini lebih kenyataan belangnya."

Tanpa menjawab atau hiraukan tuduhan orang sepasang mata Giok liong jelilatan mengawasi tubuh Li Pek-yang dari kepala ke-kaki, lalu dari kaki ke kepala lagi, semua diperiksa dengan seksama dan cermat.

"Lihat apa ?"

Sentak Yu bing-khek-cu Li Pek-yang dengan kasar.

Tapi sepasang mata Giok-liong masih tetap tidak berkibar dari pandangan tubuhnya.

Dari tubuh Yu bing khekku Li Pek-yang ini ia hendak melihat dan mengetahui keadaan perjanjian yang sudah terjadi diatas Im-hom-gay tadi, Apakah sudah bergebrak?

Bagaimana keadaan pertempuran tadi ?

Siapa yang menang ?

Siapa yang kalah ?

Sekian lama ia mengawasi, hatinya menjadi heran dan curiga sebagai dari tubuh Li Pek yang sedikitpun it tidak menemukan tanda-tanda yang diharapkan.

Pakaiannya tetap rapi, rambutnya juga tidak awut-awutan terang bahwa sebelum ini dia tidak atau belum mengadakan pertempuran.

Apa mungkin tidak terjadi adu tanding kepandaian diatas Im hong-gay sana?

Hati berpikir, tanpa merasa mulutnya berkata .

"Kau sudah bergebrak dengan guru belum?"

Tanpa ragu-ragu Li Pek-yang bersuara keras.

"Sudah lama kudengar nama To-ji Pang Giok sebagai salah seorang ih-lwesu cun yang diagungkan, ternyata kepandaiannya juga hanya begitu saja ! Hahahahaha!"

Gelak tawanya ini membuat hati Giok-liong mencelos, hatinya terasa menjadi ciut, Sebab gelak tawanya itu menunjukkan rasa puas dan bangganya akan kemenangannya. Giok liong bertanya lebih keras.

"Sudah saling gebrak!"

"Lohu sudah mengukur kepandaian gurumu!"

Tidak perlu ditanyakan lagi terang bahwa Yu-bing-khek cu Li Pek-yang teish menang. Giok-liong tak kuat menahan perasaan hatinya, maju setapak ia bertanya tak sabaran.

"Guruku ? ..."

Dia tidak berani mengatakan "kalah".

"Gurumu jjga hanya sebegitu saja buyung, coba ketuk hatimu dan tanyakan apakah kau bisa lebih kuat dari gurumu sendiri !"

"Aku . ."

"Kau bagaimana ?"

"Aku tidak percaya !"

"Tidak percaya ?"

"Ya."

"Aku punya sebuah bukti."

Belum habis ucapannya Yu-bingkekcu Li Pek yang tahu-tahu berkelebat tiba diambang pintu gua, setelah menggape kepada Giok liong ia menunjuk puncak lereng serta katanya.

"Ikut aku ke puncak Im-hong-gay lihatlah sendiri kemampuan gurumu !"

Perasaan dingin menjalari seluruh tubuh Giok-liong, sungguh kejamnya bukan main, pikirnya.

"Apakah mungkin guru ... ia tak berani membayangkan keadaan sebenarnya diatas puncak lereng sana, Apakah mayat yang sudah tercerai berai ..."

Giok liong melompat gesit sekali. dimana bayangan putih berkelebat, terdengar ia berserunya nyaring.

"Silakan !"

Datang belakang tapi Giok-liong sudah mendahuIui menginjak kaki diambang gua terus membentang kedua lengan tangan.

Keruan sepak terjang Giok-liong ini membuat Li Pek yang tertegun sejenak sampai mengeluarkan suara tertahan.

Sungguh diluar dugaannya bohwa pemuda ini bisa bergerak begitu lincah dan sempurna betul, kecepatan gerak tubuhnya melebihi orang persilatan umumnya, tanpa merasa dari kekagumannya ini berapa kali ia pandang Giok-liong dengan seksama.

Giok liong berkata wajar .

"Khek-cu maaf ada masalah apa ?"

"Kita bicara lagi setelah sampai diatas."

Habis ucapannya tubuh Li Pek-yang lantas melesat tinggi, dimana ia menggentakkan kedua lengannya, jubah bajunya yang kuning gondrong itu melambai lambai seperti dua sayap burung besar terus melembung tinggi menjulang ke tengah angkasa melesat kearah lereng curam dan terjal didepan sana.

Lereng bukit dari batu gunung adalah sedemikian licin seperti kaca, rumput tidak tumbuh, tiada tempat berpinjak untuk meletakkan tenaga, jangan untuk berpijak bagi manusia sampai burung juga tidak kuasa menotok diatas lereng terjal itu.

Tapi begitu Li Pek-yang mementang kedua lengannya di tengah udara menekuk pinggang, tangan dan kaki diulur berkembang lempeng, dengan jurusan gaya Ham-ya to lim langsung tubuhnya menempel diatas batu terjal diatas lereng itu, sedikit tangan-menekan dan menarik keatas berbareng kedua kakinya sedikit menutul.

Mulutnya juga lantas menggembor keras, kontan badan besarnya melenting lebih cepat lagi ketengah udara seperti bintang mengejar rembuIan.

Disaat tubuhnya melenting seperti anak panah meluncur ini tubuhnya lantas terjajar lempeng, daya luncurannya menjadi semakin keras menegang kearas, lima tombak dicapainya dengan mudah, Begitulah beruntun dua kali ia menggunakan cara yang sama kaki dan tangan bekerja sama badannya terus mumbul keatas.

Kalau dituturkan memang gampang, tapi bagi yang melakukan adalah memeras keringat dan untuk yang menonton merasa giris dan merinding, sebab sangat sulit dapat melakukan pertunjukkan macam begitu, Karena bukan saja sangat berbahaya, kalau tidak membekali lwekang dan kepandaian yang sudah sempurna tak mungkin dapat mengembangkan kepandaian selincah itu.

Akan tetapi bagi Giok liong hanya sekali pandang cara gerakan permulaan Li Pek yang lantas ia tahu cara apa yang telah digunakan orang, dimaklumi oleh Giok-liong cara meminjam tenaga melentingkan tubuh dengan gaya meminjam tenaga ini lebih cepat dan cekatan kalau dibanding ilmu Pik hou kang (cecak merayap).

Oleh karena itu Giok liong juga hendak meniru cara orang, sekali loncat ia jungkir ke belakang, punggung menempel dinding lalu dengan Leng-hun-toh ia mulai bergerak.

Tapi karena punggung yang menempel dinding maka ia tidak menggunakan kaki tangan, waktu tubuhnya melayang hampir menyentuh dinding, mendadak bokongnya dijorokkan kebelakang dengan gaya seperti orang duduk umumnya, tapi meminjam gaya berduduk ini begitu pantatnya menyentuh dinding badannya lantas jumpalitan keatas, sekali melesat lima tujuh tombak tingginya untuk kedua kalinya mundur menempel dinding lagi terus dengan pantatnya meminjam tenaga melentingkan tubuhnya semakin tinggi.

Cara dan gaya yang aneh dilakukan Giok-liong ini bukan saja bagi orang dibawah merasa aneh dan takjub, bagi Giokliong sendiri juga merupakan penemuan baru sesuai mengikuti situasi dihadapinya ini, inilah cara baru yang diilhami oleh kecerdikannya !

Tapi bila benar benar diukur hakikatnya gerak luncuran tubuhnya ini jauh lebih pesat dibanding gerak tubuh Li pekyang tadi.

Dari atas Li Pek-yang melihat pertunjukan aneh ini, diamdiam hatinya gelisah dan risau, pikirnya terhitung ilmu apakah yang dikembangkan bocah ini!

Hati berpikir tapi gerakannya masih tetap dilancarkan beruntun berapa kali jumpalitan dengan enteng mendaratkan kakinya diatas ngarai.

Baru saja kakinya mendarat dan memutar tubuh, terdengar angin berkesiur melesat lewat disamping pundaknya, terdengar suara orang bertanya.

"Khek cu, dimanakah guruku?"

Sebetulnya Yu-bing-khek-cu Li Pek-yang sangat terkejut karena Giok-liong bisa bersamaan waktu tiba diatas bukit, tapi dasar tua-tua keladi, lahirnya tetap tenang tanpa menunjuk rasa kagum, tawar saja ia menyahut .

"Mari ikut aku !"

Angin pegunungan menghembus keras menderu di pinggir kuping, dahan dahan pohon bergoyang melambai turun naik angin ini terasa dingin membekukan badan manusia sedemikian tinggi puncak ini menjulang naik ke awan, waktu pandang kebawah, gunung gemunung tiada batas ujung pangkalnya beriring dan berjajar sambung menyambung, memang kenyataan hanya puncak dirinya berpijak inilah yang paling tinggi di banding sekitarnya.

Sekali lompat Ll Pek-yang melesat ditengah-tengah Imhong gay, katanya sambil menunjuk sebuah batu gunung besar.

"Nah, inilah tanda peninggalan Lwekang gurumu !"

Lekas-lekas Giok-liong memburu maju terus memeriksa batu besar itu.

Batu gunung ini begitu besar laksana sebuah rumah, samar samar terlibat ada bekas telapak tangan manusia, bekas telapak tangan ini melesak masuk sedalam tiga senti.

Giok liong kurang paham, tanyanya.

"Lwekang Guruku ..."

"Coba kau lihat muka sebelah sana."

Kata Li Pek-yang tawar, Hilang suaranya tubuhnya sudah melambung tinggi melampaui batu gunung besar itu meluncur ke balik sana.

Gesit sekali Giok-liong juga sudah tiba di sebelah sana, menurut arahnya ia memandang.

Ternyata muka sebelah sini diatas batu gunung itu ada pula bekas telapak tangan, sepasang telapak tangan ini juga melesak sedalam tiga senti.

"Ini ?"

Giok liong membelalakan mata, ia bertanya dengan tidak mengerti."

"inilah bekas telapak tangan gurumu dan Khek cu waktu mengadu Lwekang, bagaimana ? Kau masih belum paham?"

Mengadu keras telapak tangan ?"

Giok-liong menggeleng kepala, otaknya menjadi tumpul tak tahu apa yang telah terjadi.

"Buyung ! Baiklah kuterangkan ! Gurumu berdiri di sebelah sana, aku berdiri disini, kedua belah pihak bersama mengerahkan tenaga mendorong batu ini untuk mengadu Lwekang ! Sudah paham belum ?"

"O, baru sekarang Giok-liong mengerti, menunjuk bekas telapak tangan diatas batu itu ia berkata .

"Suhu tiga uang, sama kuat tiada yaag lebih unggul sau asor !"

Siapa tahu Li Pek yang membentak aseran.

"Siapa bilang tidak terbedakan kalah menang !"

"Dilihat dari bekas telapak tangan ini, terang gurumu masih kalah seurat dibanding aku."

"Omong kosong belaka !"

"Ada bukti dapat kau lihat, Lihat ini !"

Kata Li Pek-yaog sambil menunjuk kebawah kakinya, sambut nya lagi .

"Nah, disini masih ada buktinya !"

Waktu Giok-liong memandang kebawah benar juga diatas batu gunung kasar yang penuh lumut itu kelihatan ada sepasang bekas kaki, melesak dalam lima senti, tapak itu sangat rapi dan persis sekali seperti diukir dan di tanah.

Belum sempat Giok-liong membuka sura Li Pek-yang sudah berkata lagi lebih keras.

"Inilah bekas tapak kaki Lohu!"

Lalu ke dua kakinya dimasukkan kedalam tapak kaki diatas batu itu, benar juga persis benar tanpa kelihatan lobang-lobang sisanya. Maka dengan penuh kemenangan ia berkata lagi.

"Mari kita lihat punya gurumu !"

Giok-liong melompat lebih dulu kebalik batu sebelah sana, begitu ia melihat bekas tekas diatas tanah seketika ia berdiri melongo.

Ternyata diatas batu gunung yang sana bekas telapak kaki disini jauh berbeda, Bukan saja melesak sedalam tujuh senti malah bekas tapak kaki ini meleset mundur empat inci, terang kalau berdirinya tidak kuat dan ksunit mundur serta bertahan mati matian.

Giok-liong menggeleng kepala, otaknya menjadi tumpul tak tahu apa yang telah terjadi.

Dari samping dengan pandangan hina, Li Pek-yang mengejek dingin.

"Sekarang sudah paham belum?"

Kenyataan membuktikan mulut Giok-liong terkancing tak kuasa buka suara lagi, akhirnya ia bertanya ragu-ragu.

"Guruku? Dia..."

Li Pek yang tertawa hambar dengan puas, katanya.

"Dia sudah mengadakan suatu perjanjian denganku !"

"Janji? janji api ?"

"Dia tidak turut campur urusanku dengan pihak golongan dan aliran Iain. Sebaliknya aku tidak menguarnya berita kekalahannya hari ini kepada dunia persilaian, supaya tidak merusak nama baik Ih lwe su-cun selama dua ratusan tahun !"

"Benar begitu?"

"Sebagai seorang ketua mungkinkah aku berbohong !"

Giok liong menjadi bungkam seribu basa matanya memandang ketempat yang jauh disana, otaknya tengah berpikir dan menerawang tindakan apa yang harus dilaksanakan sekarang.

"Hahahaha! "Hehehehehe!"

Saking puas dan bangga Li Pekyang memperdengarkan gelak tawanya yang melengking tinggi.

Giok-liong merasa kalau membiarkan saja Yu-bing-mo khek terus berkembang dan menjadi besar, pigak yang menderita dan jadi sasaran utama pasti delapan aliran besar, sedang golongan Pang atau Pay dalam kalangan Kangou juga takkan luput dari agresi pihak Yu-bing-mo-khek.

Hm, kalau ini dibiarkan berkembang biak, pasti terjadilah pembantaian manusia besar-besaran, dunia persilatan pasti geger dan dan tiada satu haripun yang aman sentosa.

Karena pikirannya ini akhirnya Giok-liong mengempos semangat, dengan sabar ia berkata.

"Khek-cu! Apakah perjanjianmu ini tidak mungkin dirubah lagi?"

"Tentu, kecuali gurumu sudak tidak hiraukan lagi nama baiknya selama dua ratus tahun itu, ditambah dosa sebagai manusia kerdil rendah yang mengingkari janji, kalau tidak, Lohu pasti melaksanakan apa saja yang pernah kukatakan."

"Hahahaha ... .Giok-liong menengadah bergelak terloroh-Ioroh dengan kecut, Tak tahu dia bagaimana perasaan tawanya itu, yang terang cukup membuat pendengarnya merinding. Yu-bing khek-cu sendiri juga terlongong di tempatnya tak tahu apa maksud tawa orang, sekian lama ia menjublek tak bersuara. Giok-liong menarik tawanya lala berkata lantang.

"Khek cu, sayang sekali perhitunganmu yang cukup menguntungkan kau itu bakal gagal total Hahahahana!"

"Gagal total..."

"Ya, sebab perjanjian itu tidak berlaku."

"Tidak berlaku?"

"Ya tidak berguna sama sekali!"

"Kau berani melanggar perjanjian yang diadakan perguruanmu?"

"Penjanjian diatas Im hong gay sini adalah aku yang menjanjikan, kalau orang lain yang mewakili seharusnya kau boleh tidak usah melayani dia. Part apa yang dikatakan wakil itu tanpa mandat lagi, sudah tentu tak boleh masuk hitungan."

"Pembual besar!"

"Dimana aku membual, bukankah Khek-cu sendiri yang mengundang aku!"

"Ini...."

"Dan lagi, pertandingan guruku dan kau, itu hakekatnya kurang pada tempatnya."

"Bagaimana maksud katamu ini!"

"Ketahuilah betupa sempurna kepandaian guruku, boleh dikata sudah hampir mencapai menjadi dewa, mana dia tega menduga tenaga kasar dengan kau, terang dia mengalah untuk memberi muka kepada kau. Dan bagimu kau anggap mendapat angin dan dapat mengalahkan beliau. Sampai sekarang kau masihdikelabui oleh pikiran sempitmu. Malah mentang-mentang mengadakan ikatan janji demi keuntungan sendiri. Huh, benar benar tidak tahu betapa tingginya langit dan tebalnya bumi, Hahaha."

Sementara kata-kata Giok-ling ini diucapkan dengan takabur seolah-olah disampingnya tiada orang lain terang ia tidak memandang sebelah mata Yu bing-khek-cu Li Pek-yang, terutama tawa dinginnya yang bernada mengejek ini lebih tajam dari senjata mengetuk sanubarinya, keruan Li Pek-yang menjadi berang bentaknya.

"Buyung. tutup mulutmu!"

Tibatiba ia melompat keatas batu besar itu serta hardiknya lagi.

"Aapakah kau berani tanggung resiko membatalkan perjanjian perguruanmu."

Acuh tak acuh Giok liong menjawab perjanjian perguruan aku tidak menolak dan tidak berani membangkang!"

"Itulah baik!"

"Tapi nanti dulu!"

"Apa lagi yang perlu diperbincangkan?"

"Janjiku sendiri aku harus manepatinya !"

"Janjimu ?"

"Bukankah kau perintahkan Tong-cumu menjanjikan aku datang kemari ?"

"Brengsek ?"

"Apa yang kau maksudkan brengsek ?"

"Gurumu sudab mewakili kau menapati janji itu, bukan!"

"Janji dikalangan Kangouw kecuali orang yang itu sendiri sudah meninggal seharusnya dia sendiri yang harus hadir tepat pada waktunya, Aku yang rendah masih segar bugar, bukan saja belum mati malah tepat aku datang pada waktunya, buat apa perlu orang lain mewakili aku !"

"Buyung, masa kau berani tidak mengelabui Pang Giok ?"

Pertanyaan ini membuat Giok-liong mengerut kening, Karena kaum persilatan di Kangouw paling mengutamakan dan menjunjung tinggi nama suci perguruan betapapun yang terjadi harus selalu setia dan bakti pada sang guru sekarang Li Pek-yang mengemukakan pertanyaan besar ini kepada Giokliong, sudah tentu Giok-liong menjadi serba salah, tak mungkin ia berani mengeluarkan kata-kata yang tidak mengakui perguruannya apalagi sejak semula ia sangat hormat dan setia pada gurunya yang berbudi.

Sebab itu, sesaat ia terhenyak bungkam tak bisa bersuara.

Li Pek yang semakin mendapat hati, jengeknya dingin .

"Buyung, urusan pihak kita lebih baik selanjutnya jangan kau turut campur!"

Giok-liong terlongong-longong menengadah memandang langit.

"Sudah tidak bisa berdebat lagi ? Kuperintahkan segera kau keluar dari lingkungan Yu bing-mo-khek!"

"Baik ! ... kau .."

Dengan lesu dan rasa saya Giok liong sudah siap hendak tinggal pergi, mendadak hatinya tergerak, otaknya memperoleh sebuah ilham segera kakinya lantas merandek, dengan berani ia pandang Yu-bing-khek-cu serta katanya .

"Kali ini adalah kau yang mengundang aku. Apakah boleh aku berbalik menantangmu?"

"Tanpa ragu-ragu Yu bing -khek-cu menjawab.

"Sudah tentu boleh!"

Berubah girang air muka Giok liong, serunya lantang sambil berseri tawa.

"Baik, sekarang aku menantangmu!"

"Kapan dan ditempat mana? Lohu selalu mengiringi kemauanmu!"

"Watuunya adalah sekarang dan tempatnya juga di Imhong gay sini!"

Li Pek yang tidak mengira akan ucapan Giok liong ini, sesaat ia menjadi tercengang, katanya tergagap."Se...sekarang..."

Semangat Giok liong menyala-nyala, hatinya girang bukan main, laksana pohon cemara yang menghadapi gelombang hujan bayu berdiri tegak ia berseru keras.

"Bagaimana? Tidak relu. Atau tidak berani"

Yubing khek cu Li Pek-yang menjadi naik pitam, semprotnya gusar.

"Bocah keparat yang kurang ajar, Sebutkan cara pertandingan?"

Keadaan Giok liong terbalik dari tamu menjadi tuan rumah, dengan penuh semangat ia tertawa dingin.

"Mengadu Iwekang, caranya terserah pada kau orang tua untuk menentukan menang dan asor, tapi aku perlu mengemukakan suatu permintaan!"

"Apa itu?"

"Hapus janji antara guruku, dengan kau ini!"

"Kau memang sengaja hendak ikut campur dalam urusan Lohu"

"Dikalangan kangouw paling mengutamakan kebajikan dan keperwiraan baru memperbincangkan untung ruginya, Membunuh atau mencelakai jiwa orang memang tidak seharusnya!"

"Apa kau punya pegangan pasti bisa menang dari Lohu?"

"Sudah tentu aku yang rendah pasrah pada takdir!"

"Kiranya kau pintar juga!"

"Kau sendiri juga harus pintar melihat gelagat!"

"Lihat serangan!"

Yu bing khek cu Li Pek-yang melancarkan serangan dahsyat saking gusarnya karena diolok-olok.

Perbawa kekuatan pukulannya ini laksana guntur menggelegar dan kilat menyambar, apalagi dilancarkan secara tiba-tiba sebelum lawan bersiaga, maka dapatlah dibayangkan betapa hebat serangan ini.

Giok liong menjadi terkejut tersipu-sipu ia meloncat tinggi hinggap diatas sebuah basu besar, teriaknya.

"Hei, main sergap dan membokong."

Li Pek yang sudah dibakar oleh kemarahan, mana ia perdulikan segala cemoohan dan ejekan Giokliong, sambil membalikkan badan sebelah tangannya membalik menepuk kebelakang, inilah untuk kedua kalinya ia turun tangan, kekuatannya lebih dahsyat lagi dari serangan pertama tadi, yang diarah adalah perut Giok liong.

Terpaksa Giok liong harus main kelit lagi, badannya melejit tinggi lima tombak untuk menghindar "Blang"

Pecahan batu beterbangan melesat kemana-mana.

Dua kali pukulannya mengenai tempat kosong membuat Li Pek-yang tambah murka sambil mengerling dan berkaok kaok ia lan carkan serangannya lebih gencar.

Melihat keadaan lawan, Giok-liong semakin girang dalam hati pikirnya bagi tokoh kosen paling pantang mengumbar hawa amarah hatinya dalam pertempuran, masa dia tidak tahu akan hal ini, tapi peduli amat, paling benar kupancing supaya dia lebih berang dan marah seperti kebakaran jenggot, baru yang terakhir nanti menundukkannya.

Dengan bekal niatnya ini, wajahnya semakin mengunjuk rasa puas dan gagah-gagahan sambil berloncatan ia terkakak keras se-runya.

"Silakan Kau boyong keluar semua kemampuanmu, tiga ratus jurus atau dalam gebrak lima ratus jurus kalau bisa menyentuh bajuku, anggap saja pertempuran sekarang ini aku kalah, Kalau tidak hehe,hehe, hihi, hahaha !"

Benar juga tantangannya ini membuat Li Pek-yang semakin murka mencak mencak seperti kera makan trasi, mulutnya masih menggerung beringas sepasang matanya menyala gosar berapi api napasnya juga mulai memburu seperti dengus sapi.

Dimana setiap pukulannya menyambar pasti menderu angin kencang yang menggetarkan bumi.

Hakikatnya kepandaian Ginkang Giok-liong sudah sempurna, berkelit dari berbagai serangan tokoh silat utama masih berlebihan malah kadang-kadang bisa balas menyerang dan menggoda, sekarang selalu main kelit dan menghindar seenaknya tanpa takut takut dengan sikap tetap wajar maju mundur, kakinya bergerak bebas seenaknya.

Justru karena gerak geriknya yang wajar dan tidak takut serta menggoda inilah semakin membakar dada Li Pek-yang, Terdengar lah suara "blang" .

"blung"

Dimana angin pukuIan menyambar lewat, batu gunung atau pohon menjadi pecah dan tumbang, rumput dan dedaunan serta debu beterbangan menari-nari ditengah udara.

Beruntun terdengar suara kesiur angin dari lambaian baju orang, tahu-tahu diatas puncak lereng sudah bertambah puluhan bayangan orang.

Ang-i-mo-li Li Hong yang terlebih dulu mendaratkan kakinya di puncak lereng terjal ini, Di belakangnya delapan belas Tong-cu serta berpuluh rasul jubah abu-abu semua sudah meluruk tiba di im-hong-gay ini.

Melihat anak buahnya semua meluruk datang bertambah murka Li Pek-yang.

sebagai ketua dari suatu aliran yang disegani mana boleh dibawah tontonan anak buahnya mengunjukkan kelemahan dirinya.

Akan tetapi, apa boleh buat Giok-liong selalu main kelit dan berloncatan menghindar seperti burung gereja tangkasnya, laksana burung terbang gesitnya, mulutnya tak henti-hentinya berkakakan, bergerak bebas dan selulup timbul diantara samberan angin pukulan dan diantara pohon dan batu-batu gunung.

Betapapun dahsyat dan hebat angin pukulan yang dilancarkan oleh Li Pek-yang jangan harap bisa menyentuh ujung bajunya saja, Apalagi gerak gerik Giok liong begitu cepat dan sebat hebat sekali, jangan toh menyentak bisa mendesak dekat satu kaki saja payah sekali.

Sudah tentu bukan kepalang sengit dan gemas Ti Pekyang, Demikian juga delapan belas Tong-cu juga ikut dongkol dan gusar, Tiba tiba serentak mereka bergerak berpencar ke empat penjuru delapan belas, Tong cu berpencar mengepung rapat, segala jurusan Im-hong-gay ini.

Kedua mata Ang i-mo li Li Hong memancarkan rasa heran dan kejut, Keadaannya memang serba susah.

Teringat akan hubungan asmara dirinya dengan Giok-liong, apalagi pujaan yang selalu diserang f.tng mslim, sekarang mana mungkin dia diam saja melihatnya hancur lebur diatas Im-hong gay karena keroyokan sedemikian banyak tokoh silat kelas wahid.

Begitu melihat delapan belas Tong cu bergerak mengepung dirinya, tanpa merasa Giok-Iiong menjadi aseran, seiring dengan hardikan keras dari muIutnya, mendadak ia rogoh keluar Potlot mas dan seruling samber nyawa.

Dengan menarikan potlot mas ditangan kanan dan seruling samber nyawa ditangan kiri Giokliong menggembor keras.

"Ada berapa banyak kurcaci Yu-bing mo-khek yang tidak takut mati, silahkan maju bersama!"

"Ha! Seruling samber nyawa !"

"Kim-pit-jan-hun?"

Delapan belas Tong-cu berbareng berteriak kejut.

"Sreng!"

Serempak mereka juga me!olos keluar delapan belas macam senjata masing-masing.

Tapi mereka maklum bahwa seruling samber nyawa merupakan senjata kuno yang sakti mandraguna, kekuatan dan kesaktiannya tidak boleh dibuat main-main.

Maka siapapun tiada yang berani berlaku ceroboh mendahului bergerak menyerang.

Semua hanya bergerak dan mengepung diIuar kalangan pertempuran sambil berteriak-teriak pula.

Terlihat Li Pek yang rada tertegun, maka dilain saat ia juga merogoh ke pinggangnya mengeluarkan sepasang gadanya.

"Prang gada iblis ditangan kirinya diketukkan bersama memercikkan kembang api, teriaknya beringas.

"Bocah keparat, kau memancing kemarahan Lohu, jangan harap hari ini kau bisa meninggalkan Im hong pay, kecuali kau tinggalkan Jan hun-ti, kalau tidak silakan jiwa saja yang serahkan kepada Kami.!"

Dengan membekal senjata pusaka ditangan Giok-liong lebih temberang, serunya lantang.

"Itu kan impian mu belaka!"

Selain saling cercah itu jarak mereka sudah semakin dekat Mendadak kedua belah pihak bergerak bersama.

"Lihat serangan !" ..

"Bagus sekali!"

Bentakan geras kedua bilah pihak ini laksana geledek menggelegar penuh hawa amarah.

Sinar putih berkelebat cahaya kuning laksana bianglala memancar luas dan tinggi.

Sebaliknya dua bayangan hitam yang besar juga bergerak gesit dan kencang sekali seperti awan mendung berkembang, tiga macam bayangan yang tidak sama tengah berkutet menimbulkan berbagai pandangan aneh yang menakjubkan, angin menderu keras mendesak mundur para pengepung diluar gelanggang, sungguh hebat dan dahsyat sekali pertempuran kali ini jarang ketemu pertempuran yang begini sengit selagi ratusan tahun di kalangan kangouw.

Tatkala itu udara mendadak menjadi mendung gelap angin menghembus semakin dingin, tak lama kemudian hujan rintikrintik.

Tapi pertempuran sengit ditengah gelanggang tidak menjadi kendor karena hujan rintik-rintik ini, sebaliknya mereka semakin semangat karena kepala basah dan menjadi segar.

Gebrak perkelahian tokoh kosen tingkat tinggi dilakukan dengan banyak mengambil resiko, begitu cepat lawan cepat dan ketangkasan, sekejap saja ratusan jurus sudah berlalu !

sinar kuning, cahaya putih perak serta bayangan gada, ditambah deru angin yang menghembus kencang dalam suasana hujan rintik-rintik lagi.

Delapan belas Tongcu semua berdiri menjublek kedinginan basah kuyup seperti ayam kecimplung keaij mereka berdiri tegang dan bersiaga tak bergerak gerak seperti pasung saja.

Terlebih lagi para rasul jubah abu-abu semua menahan napas.

Adalah Ang-i mo li Li Hong yang paling runyam keadaannya, hatinya dirundung khawatir, khawatir akan keselamatan ayahnya, juga khawatir pujaannya menemui mara bahaya.

Dan yang paling menyulitkan adalah watak ayahnya yang kasar dan ketus itu mana dirinya berani maju menyelak untuk bicara, Apalagi dalam keadaan pertempuran yang sengit dan tegang begini juga tidak mungkin ia minta Giok-liong menghentikan pertempuran.

Pada saat itulah, diantara alam pegunungan yang luas sana berkumanding auman keras bagai guntur menggelegar, suaranya seperti kayu pecah berkelotokan, membuat semua pendengar merasa merinding dan berdiri bulu romanya, Baju saja lengking suara ini menembus angkasa, Mendadak rada Li Pek-yang bergerak dengan tipu Mo in jan-jan (bayangan iblis berkelebat), sekuat tenaga ia sapukan kedua gadanya untuk memukul mundur Giok-liong lalu terloroh-loroh menyela, ujarnya.

"Hahahaha. Para Tong-cu lekas berbaris, sambut tahu terhormat!"

Serempak delapan belas Tong-cu mengiakan.

"Siap!"

Rapi sekali mereka bergerak gesit dan teratur terus berdiri jajar menyusup pinggir jurang, membetulkan pakaian terus menyimpan senjata masing-masing!

Para rasul juga lantas berantai ramai merubung jadi satu berdiri tegak dibekakang ketua mereka, semua berdiri tegak hormat tanpa berani bersuara.

Giok liong tidak tahu apa yang bakal terjadi, sesaat ia melongo dan tertegun di-tempatnya.

Melihat sikap Giok-liong ini, Pek yang menjengek dingin, ujarnya.

"Tunggu sebentar, tak perlu Lohu mengadu kepandaian dengan kau lagi, sebentar lagi akan datang seorang yang mencari Kim-pit-jan-hun membuat perhitungan !"

Giok-liong semakin melongo, tanyanya tak mengerti ."

Mencari aku ?Siapa ?"

"Sebentar lagi kau akan tahu sendiri Tapi Lohu juga merasa sedikit sayang! "

"Kau merasa sayang !"

"Ya, aku merasa sayang bagi kau !"

"Bagiku untus apa yang perlu disayangkan ?"

"Sayang karena seruling sakti mandraguna itu sekejap nanti bakal pindah tangan menjadi milik orang lain, bukankah aku harus merasa sayang !"

"Omong kosong belaka ! "

"Jangan mengumbar jengkel, lohu tak perlu repot sekarang, nanti ada orang lain yang akan menggebah mu, lihat!"

Pada akhir katanya Li Pek-yang menuding ketempat jauh.

Jauh dibawah pegunungan sana sebuah bayangan kecil cebol telah berloncatan dengan cepat seperti kupu-kupu menari, melesat secepat terbang di puncak pohon dan batu batu gunung secepat kilat meluncur ke arah puncak lereng terjal disini.

Dari kecepatan gerak tubuhnya dapatlah diperkirakan pendatang baru ini tentu lihay paling tidak Lwckangnya tiduk lebih rendah dibanding Li Pek-yang, malah mungkin setingkat lebih tinggi.

Giok liong menjadi heran.

maju setindak ia bertanya lagi.

"Siapa? sebetulnya siapakah dia?"

Belum lagi Li Pek-yarjg membuka kata, dari samping Ang-i mo li Li Hong sudah menyelak.

"Ayah, apa bukan paman Ibun?"

Dalam bertanya ini sengaja sepasang matanya mengerling kearah Giok liong, malah ia monyongkan bibir mulutnya, serta memberi syarat memandang kebawah lereng sana.

Terang ia memberi bisikan kepada Giok-liong supaya ia lekas melarikan diri turun gunung.

Walaupun Giok-liong tahu maksud baiknya ini, namun ia mandah tersenyum saja, katanya tawar.

"Ibun? lbun apa?"

Melihat sikap kurang ajar Giok-liong ini Li Pek-yang menjadi senang, wajahnya cerah dan belum sempat lagi ia membuka suara, lambaian baju sudah terdengar dekat.

"Ibun Hoat disini ! Apa tidak kenal aku bangkotan tua ini?"

Orangnya belum kelihatan suaranya sudah kumandang dulu, dan seiring dengan habis ucapannya, bayangannya sudah mendarat diatas puncak.

Bercekat hati Giok liong waktu ia pentang mata, terlihat di hadapannya kini bertambah seorang tua renta berkepala gundul bertubuh kurus kecil, cebol lagi.

Begitu kurus kering tubuhnya tinggal kulit membungkuk tulang, kalau ditimbang mungkin bobot tidak bakal lebih berat dari bebek panggang yang paling gemuk.

Keadaan yang aneh dan tidak menyolok mata ini, mengenakan pakaian jubah sutera tersulam indah dubrakan, saking kedodoran sampai melambai-lambai tertiup angin gunung seperti joget kera.

Meski tubuhnya kurus kecil tapi suaranya keras bagai geledek, berkaok seperti bambu pecah mendengung memekakkan telinga bergema sekian lamanya.

Tersipu-sipu Li Pek-yang tampil kedepan sambil menjura ia berkata tertawa lebar.

"Engkoh tua! Bilang datang pasti datang!"

Tua renta gundul ini mandah celingukan seperti orang gendeng, sahutnya tanpa expresi.

"Bagus, apa yang pernah Ibun Hoat katakan selamanya pasti dilakukan! Disini kunyatakan terima kasihku dulu."

Yu-bing-khek cu Li Pek-yang terhenyak, tanyanya.

"Engkoh tua! Terima kasih? Terima kasih apa dari aku?"

Tetap dengan sikapnya yang kaku tanpa bergerak air mukanya, si tua renta berkata.

"Tidak bakal mengangkangi Jan hun-ti, malah setuju untuk ditinggalkan dan diserahkan kepada Lohu, sekarang kenyataan masih di-tinggal disini dan berkesempatan untuk menjadi milikku, bagaimana kebaikan ini tidak harus dinyatakan terima kasih? Kalau diganti kurcaci lain yang rakus dan tamak, mungkin siang-siang sudah ngacir tak ketinggalan jejaknya"

Menurut nada perkataannya ini terang percaya benar bahwa Seruling samber nyawa sudah bakal menjadi miliknya, sekali raih gampang saja lantas disimpan dalam kantongnya hebatnya ia tidak pandang sebelah mata kepada Giok liong.

Gigi giok liong berkerut menahan gusar, jengeknya dengan mendengus hidung keras-keras.

Pada saat itulah para Tong-cu dari Yu-bing-mo-khek dengan para rasulnya ada kesempatan menjura bersama serta berseru berbareng pula "Selamat datang Tok-kiong-cu-jin!"

Bergetar perasaan Giok-liong, pikirnya, ternyata si tua renta kurus kering cebol ini bukan lain adalah Cukong istana beracun Ibun Hoat.

Cukong istana beracun Ibun Hoat menengadah mengulapkan tangan saja serta berkata acuh tak acuh.

"Kalian bebas, tak perlu banyak peradatan !"

Habis berkata ia terus maju ke hadapan Giok-liong, dengan tajam ia awasi muka dan seluruh tubuh Giok-liong seperti menikmati sebuah gambar elok dan indah.

Harus ketahui bahwa Cukong istana beracun Ibun Hoat ini merupakan orang tokoh tua yang paling beracun dan jahat dalam dunia persilatan, bukan saja kepandaianya sangat lihay dan menjagoi sendiri tingkatannya juga tidak lebih rendah dari Ih-lwe-su-cun.

Apalagi beratus beribu macam obat-obatan beracun selalu digembol dalam tubuhnya.

Selama dua ratusan tahun ini tiada seorang kaum persilatan yang tidak takut dan gentar menghadapi beliau.

Sebab itu, siang-siang Giok-liong sudah siap waspada, Ji-lo sudah dikerahkan melindungi badan memusatkan hawa murni terus disalurkan dikedua belah lengannya, tangan kiri menyekal seruling samber nyawa sedang tangan kanan melintangkan potlot mas.

Pasti sudah pertempuran babak kedua antara Giok-liong lawan Ibun hoat ini tentu lebin dahsyat dan hebat sekali.

Tapi kejadian di dunia ini kadang kadang diluar perhitungan manusia.

Setelah mendesak maju sampai didepan Giok liong, jarak mereka kira-kira masih setombak lebih, mendadak ia tersentak mundur dua langkah dengan airmuka penuh rasa heran dan kejut, sepasang mata bundar kecilnya itu mendelik kesima penuh dirundung pertanyaan yang tak terjawab, muIutnya ternganga, sesaat ia menyublek di tempatnya.

Giok-liong melayangkan Potlot mas serta bentaknya.

"Apa yang hendak kau lakukan?"

"Hahahaha..."

Mendadak Ibun hoat menengadah bergelak tawa menggila seperti kesetanan, sepasang tangan kurus kecil itu bergerak menggaruk-garuk seperti cakar ayam.

Dengan tingkah lakunya diluar dugaan ini bukan saja Giok liong dibuat heran, Yu-bing-khek-cu Li Pek-yang sendiri juga tercengang sekian lama melongo tak tahu apa yang harus dilakukan, lama kemudian baru ia bertanya.

"Engkoh tua, apa yang kau tertawakan?"

Tak duga Ibu Hoat malah tertawa semakin keras, begitu geli agaknya sampai badannya bergerak membungkukbungkuk sambil menekan perut.

Giok liong menjadi jengkel, sambil menyapukan Seruling samber nyawa ia menghardik.

"Apa yang kau tertawakan! Sudah gila kau, suaranya rendah berat, namun alunan irama seruling sebaliknya melengking tinggi nyaring seperti pekik bangau ditengah angkasa. (Bersambung

Jilid ke 21)

Jilid 21 Baru sekarang Ibun Hoat menghentikan gelak tawanya, kepalanya berpaling menghadap Yu-bing-khek-cu Li Pek-yang, katanya keras.

"Khek-cu ! suruhlah seorang bawahan mu yang paliug kuat dan dapat dipercaya untuk mengikuti dia."

Ucapan yang tiada juntrungannya ini seketika membuat seluruh hadirin melongo heran tak tahu kemana gerangan maksud kata-katanya itu? Tanya Li Pek-yang tak mengerti.

"Mengikuti Ma Giok-liong ?"

"Betul !"

"Untuk apa ?"

"Menanti kesempatan menjemput seruling saktinya itu tanpa mengeluarkan tenaga."

"Bangkotan tua jadah ! Kau mimpi disiang hari bolong !"

Sebelum berkata Ibun Hoat mendengus dingin .

"Hm, bocah keparat ! Kematian sudah diambang pintu masih berkepala batu, malah mengatakan Lohu mimpi !"

"Maksud engkoh adalah ..."

Li Pek yang bertanya. Dengan kalem Cukong istana beracun Ibun Hoat menjelaskan.

"Biji matanya bersemu merah membara sedang ujung hidungnya gelap dingin, urat nadi sudah mulai terbakar, menurut pandanganku pasti dia sudah terkena pukulan Le hwe bu ceng-tok-kang dari Le-hwe-heng-cia tokoh kenamaan dari luar perbatasan itu! Kalau tidak menunggu ajal apalagi yang dinantinya ?"

Tergetar perasaan Giok-liong, tapi ia masih tak berani percaya diam-diam ia mengempos semangat menyalurkan bawa murni untuk mencoba apakah jalan darahnya berjalan normal, kenyataan seluruh sendi tulang dan urat nadinya tak apa-apa tanpa rintangan hatinya menjadi lega maka sahutnya sambil tertawa lebar.

"Bangkotan tua., kau betul-betul sudah melihat setan pada tengah hari bolong ini!"

Li Pek-yang juga bimbang rada tidak percaya, katanya tersekat sekat.

"Engkoh tua, bagi orang yang keracunan Le hwe-bu-ceng dalam jangka waktu dua belas jam seluruh tubuhnya pasti terbakar hangus, Bocah ini sejak memasuki daerah pegunungan kita sampai sekarang jauh sudah melampaui dua belas jam, apa mungkin ..."

"Tidak akan salah, tapi..."

Ibun Hoat juga menjadi curiga dan ragu-ragu.

Dalam pada itu, Ibun Hoat maju dua langkah lebih dekat dihadapan Giok-lioag, dengan cermat matanya menyelidik dan memeriksa dengan teliti sekian lama.

Walau dalam hati Giok liong sangat gusar dirinya dijadikan tontonan, tapi untuk orang membuktikan apakah dirinya betulbetul sudah terkena Le-hwe bu ceng, sedapat mungkin ia berlaku sabar membiarkan orang bertingkah semaunya.

"Paman Ibun, apakah omonganmu dapat dipercaya?"

Tanya Li Hong yang sejak tadi diam saja, dalam bertanya ini matanya mengerling tajam kearah Giok-liong, Nadanya terang bertanya keadaan sebenarnya, namun hakekatnya rasa prihatin dan gelisah hatinya tidak kalah besar dari kekhwatiran Giok-liong sendiri.

Sambil mengelus-elus jenggot kambingnya Ibun Hoat merenung, ujarnya .

"Aneh bocah ini ada melatih ilmu tunggal macam apa, kalau tidak ? Mengapa ....."

Bicara sampai disini mendadak ia bertepuk keras-keras, serunya .

"Tidak peduli bagaimana, betapa juga Lwekangmu tinggi dan kuat, tujuh hari ini walaupun dewa datang juga tidak akan dapat menolong jiwanya dari reng-gutan elmaut, Buat apa aku patut dicap sebagai pembunuh kejam !"

Mulutnya mengoceh sendirian seperti sang tabib tua tengah menyelidiki suatu penyakit yang menyulitkan.

Dilain pihak Giok-liong sendiri juga tenggelam dalam renungannya, lupa akan keadaan dirinya saat itu.

Sebab ia tengah memikirkan pengalaman semalam dirumah penginapan itu semalam suntuk dirinya terserang penyakit panas yang aneh.

Lantas teringat pula akan pertempuran dirinya dengan Lehwe-heng-cia tempo hari.

semua hnl itu pasti Ibun Hoat takkan menduga dengan tepat, Tapi kenapa sekali lihat lantas dia dapat menunjuk secara tepat.

Terang bukan bohong atau membual belaka.

Tak tahu Ang i-mo-Ii bagaimana perasaan hatinya selanya cepat.

"Paman Ibun, apa kau tidak kwatir dia mempunyai cara pengobatan yang cocok!"

"Hahaha ! Mana gampang ! Mana gampang!"

Tak duga Li Pek-yang juga ikut bicara .

"Engkoh tua ! Bocah ini cukup cerdik, hubungan I-hwe su-cun juga sangat luas, Apa kau tidak kwatir salah perhitungan ?"

Terbalik biji mata Ibun Hoat, dengan semangat riang ia tertawa kering, lalu katanya.

"Hehe! Apa kau kira Le-hwe-boceng merupakan ilmu pasaran yang gampang di buat main, Kalau tidak masa dianggap satu dari tujuh ilmu tunggal mematikan paling hebat di daerah luar perbatasan !"

Cepat-cepat Li Hong membuka mulut lagi .

"Apakah tiada cara pengobatannya ?"

"Ada !"

Jawab Ibun Hoat tegas. Tergerak hati Giok-liong, dengan cermat ia pasang kuping mendengarkan.

"Pengobatan cara bagaimana ?"

Tercetus juga pertanyaan dari mulut Li Pek-yang. Ibun Hoat menggoyangkan kepala serta mengetuk dahinya, ujarnya .

"Lebih sulit memanjat langit ! Tiada halangannya kuberi tahu ! jangan katakan bahwa aku tua bangka terlalu tahu diri!"

Lalu ia berputar menghadap Giok liong serta melangkah maju lebih dekat, mulutnya berkata pelan.

"Hwising-chio dari Ling lam dan Ciat-bam-im dari Pak-hay beruntun kau harus minum tujuh resep baru jiwamu tertolong, namun ilmu silatmu musnah. Dalam tempo tujuh hari kau harus bisa lari keselatan di Ling-lam lalu mengejar waktu menuju kelaut utara untuk memohon kedua ramuan obat pusaka tadi, mungkin jiwamu bakal tertunda selama tiga lima tahun, Kalau tidak terpaksa kau harus niecca-ri Le-hwe heng cia untuk memperhitungkan hutang darah ini ! Hahaha ! Hahaha!"

Panjang lebar ia menjelaskan sambil tuding sana tunjuk sini serta mencak-mencak dengan bangga. Yu-bing-khek-cu Li Pek yang mendengar dan bergelak tawa keras, serunya lantang.

"Kalau begitu caranya, benar benar lebih sukar memanjat langit Pek-cho-ang di Ling-lam masa gampang mau diganggu usik ? Lebih sulit lagi dapat menemui Pak-hay Hwi-thian khek itu tokoh misterius yang aneh !"

Giok-liong semakin gelisah dan kwatir mendengar tembang sebul tanya jawab mereka berdua, jelas bahwa mereka berintrik hendak merebut seruling saktinya, maka tidak bisa ia harus percaya akan kata kata mereka itu.

Pikirnya, apapun yang bakal terjadi aku harus mencari Suhu dulu.

Karena pikirannya ini, Potlot mas diacungkan kedepan serta katanya dengan nada rendah .

"Bagaimana, aku tidak dapat menunggu terlalu lama disini !"

Tidak menanti Giok-liong bicara habis Ibun Hoat sudah menjura kepadanya serta ujarnya .

"Silakan ! Lebih baik kau cepat-cepat keluar dari lingkungan daerah Bu-lay-san supaya tidak membawa kau busuk bagi kita semua."

Giok-liong berludahi semprotnya.

"Coh! Basgkotan tua yang tidak tahu diri !"

Baca Juga: Pedang Naga Kemala 6

Baca Juga: Mutiara Hitam 10

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert