Ceritasilat Novel Online

Seruling Samber Nyawa 8

Eps 8 Seruling Samber Nyawa - Chin Yung

Baca online Seruling Samber Nyawa - Chin Yung

Cersil Seruling Samber Nyawa - Chin Yung.

Lalu ia menghadapi Li Pek-yang katanya .

"Kuperingatkan kepadamu, hapuskan perjanjianmu dengan guruku! Mulai saat ini jika kalian malang melintang dan membuat geger serta mala petaka di dunia persilatan kebentur ditanganku pasti tidak kuberi ampun !"

Li Pek yang terloroh-loroh, aerunya .

"Lekaslah lagi selamatkan diri ! Tuan besarmu ini takkan mata debat dengan bocah seperti kau yang menjelang ajal masuk liang kubur."

Lahirnya Giok liong tetap berlaku wajar dan tenang, namun sebenarnya hatinya gelisah dan was-was, Maka tiada minat ia terlalu lama tinggal di tempat ini main bacot, setelah mendengus dingin ia cepat-cepat tinggalkan tempat itu.

Ibun Hoat tertawa sinis, ujarnya .

"Kita akan mengutus seseorang untuk mengikuti kau!"

Acuh tak acuh dan jengkel Giok-liong menjengek .

"Kukira kalian takkan berani !"

"Lihat saja nanti !"

"Ya, yang sudah bosan hidup, silakan mengintil aku !"

"Wah main marah apa segala, kan kita bermaksud baik !"

"Maksud baik ?"

"Setelah memperoleh seruling samber nyawamu pasti kita akan mengurus jenazahmu dengan upacara pekuburan besarbesaran!"

"Kentutmu busuk !"

Hardik Giok-liong dengan murka, dimana badannya berkelebat jalur sinar kuning dari ujung Potlot masnya berkelebat tahu-tahu Jan hun su-sek sudah di lancarkan Laksana guntur menggelegar dan kilat menyambar langsung ujung senjatanya menutuk kearah tengah kedua mata Ibun Hoat Cukong istana beracun "Kematian sudah didepan mata masih berani gagah gagahan."

Sambil miringkan tubuh berkelit sebat sekali Ibun Hoat menghindarkan diri dari rangsakan ini, enak-enak saja ia menggendong tangan dengan sikap wajar dan tenang seperti tak terjadi sesuatu apa.

Giok-Iiong tahu gelagat dilihatnya tempat ini tidak perlu diberati lagi, apalagi naga-naganya mereka sudah tiada niat bergebrak lagi dengan dirinya, maka sambil mengembangkan kedua lengannya seperti burung terbang badannya mencelat jauh tinggi, di tengah udara ia membentak keras.

"Sekarang aku pergi. Siapa yang bosan hidup silakan mengintil di belakangku!"

Hilang suaranya bayangan tubuhnya juga sudah meluncur turun dari Im-hong gay dan sekejap mata saja sudah menghilang dikejauhan sana. Jauh dibelakangnya sana terlenrar Ibua Hoat berseru lantang .

"Betapapun tinggi Lwekangnya, sayang tidak berumur panjang!"

Terdengar pula Li Pek-yang berkata .

"Engkoh tua, apa betul-betul hendak mengutus orang untuk membuntutinya ?"

Di ujung jalan keluar pegunungan Bu-lay-san yang sempit penuh ditumbuhi pohon siong yang tua dan rimbun itu, angin menghembus kencang, diatas batu-batu runcing yang tersebar luas itu tampak meluncur sebuah bayangan putih laksana meteor terbang tengah berlari kencang seperti memburu waktu.

Begitu cepat luncuran bayangan putih ini sampai sukar dilihat dengan pandangan mata biasa, terus melesat keluar dari pegunungan yang liar dan lebat itu.

Tak lama sesudah bayangan putih ini menghilang dibalik aling-aling pohon yang lebat didepan sana, tiba-tiba terlihat pula setitik bayangan merah juga berlari kencang secepat kilat memburu dengan ketat, gerakan bayangan merah ini kelihatan lebih lincah dan gemulai.

Bayangan putih didepan itu bukan lain adalah Kim-pit janhun Ma Giok liong yang baru saja turun dari Im-hong-gay, setelah mendengar obrolan Cukong istana beracun Ibun Hoat mau tak mau hatinya menjadi goncang dan penuh was-was.

Karena menurut katanya dirinya telah terkenal bisa ilmu pukulan Le hwe-bu-ceng yang jahat itu.

Tapi waktu ia kerahkan hawa murni terbukti bahwa jalan darahnya normal tanpa gangguan atau petunjuk gejala gejala luka dalam.

Tapi kalau dikata dirinya tidak terluka dan terserang racun jahat,pengalaman malam dipenginapan itu sungguh aneh dan minta perhatian juga.

Apalagi tujuan utama ibun Hoat melulu pada seruling samber nyawa, terang benda sakti berada didepan mata tinggal menggunakan kekerasan merebutnya dari tangannya, namun dia tidak berbuat sebodoh itu, terang bahwa dia betul betul mempunyai pegangang akan berhasil dengan analisa tentang penyakit dirinya itu.

lblis tua laknat ini penuh akal muslihat dan licik, berhati loba dan tamak lagi, sesuatu benda yang sudah di incarnya kalau tiada punya pegangan pasti berhasil, tak mungkin begitu gampang ia mau melepas begitu saja, paling tidak harus memeras keringat untuk merobohkan dirinya dulu.

Bukankah Lam cu tok-yam merupakan ilmu sesat yang ganas dan paling diandalkan oleh pihak istana beracun.

Begitulah sambil berlari kencang diatas pegunungan yang lebat itu hatinya terus menimbang dan berpikir gundah tak tentram.

"Berdiri!"

Mendadak sebuah hardikan keras terdengar dari bawah bukit sebelah depan sana.

DisusuI luncuran turun sebuah bayangan abu abu laksana malaikat dewata terus menghadang didepannya, Begitu melihat orang orang menghadang di depannya ini segera Giok liong menghentikan larinya, cepat cepat ia menjura serta menyapa .

"Kiranya adalan Lo cianpwe!"

Ci-hu-sin-kun menunjukkan sikap serius dan tegang, tanpa mengacuhkan kata kata Giok-liong sebaliknya ia membentak lagi.

"Dimana dia?"

Bahwasanya hati Giok liong sudah dongkol perjalanan ini dihalangi kini dibentak-bentak lagi tanpa juntrungan kalau menurut adat biasanya pasti ia unjuk gigi.

Tapi sekarang dirinya dihadapi persoalan penting tak mau ia banyak menimbulkan perkara ditengah jalan, maka tawartawar saja ia menyahut ."Siapa?"

"Siapa ? Kau tidak tahu?"

"Darimana Wanpwe bisa tahu, toh aku bukan tukang ramal!"

"Bangsat! Tutup mulutmu!"

"Tidak mau aku banyak bicara, labih enak! selamat bertemu!"

Dimana badannya melejit terus meluncur kedepan sejauh lima tombak terus melesat lebih laju.

Giok liong sudah bergerak begitu cepat, namun bayangan abu-abu juga tidak kalah cepatnya, tahu-tahu sekali berkelebat telah menghadang lagi didepannya, bentaknya.

"Bocah keparat! Waktu di Bu-tong-san ada Bik-lian-hoa yang melindungi kau maka Lohu memberi ampun melepasmu untuk hidup, Tak duga ternyata pambek ambisimu begitu besar!"

Giok-liong tercengang heran, katanya.

"Ucapan cianpwe ini sungguh aku tidak paham!"

"Tidak paham!"

"Waktu mengadu pukulan di Bu-tong-san adalah kau sendiri yang melukai putrimu, apa pula hubungannya dengan aku yang rendah!"

"Mulut bawel! Serahkan anak Ling kepadako!"

"Serahkan dia? Nona Kiong?"

"Kemana kau bawa lari anak putriku?"

Giok-liong menjadi semakin melenggong, cepat ia menyahut.

"Sejak berpisah di Bu-tong-san, bukankah nona Kiong kau bawa pulang? Kenapa sekarang kau menagih kepadaku?"

Geram benar hati Ci hu sin-kun, dari dalam bajunya dirogohnya keluar selembar kain sutra terus diserahkan Giokliong, mulutnya membentak marah.

"Coba baca ini!"

Kain sutra warna merah berkembang mengandung desiran angin keras terus meluncur seperti anak panah, Agaknya Cihu-sin-kun benar-benar marah, maka lemparan kain sutra ini dilandasi tenaga dalamnya yang lihay, kepandaian Lwekangnya memang cukup hebat.

Giok-liong tak berani berajal, sigap sekali ia menggeser kaki miring ke sebalah kiri untuk menghindar daya tekanan dari sambaran angin keras ini lalu mengulur tangan meraih kain sutra dari samping.

Terlihat olehnya diatas kain sutra itu bertuliskan huruf huruf yang indah bergaya lembut diujung paling kanan berbunyi.

"Disampaikan kepada ibunda !"

Sedang isi tulisan selanjutnya berbunyi "Harap maafkan anak tidak berbakti, sehari aku tidak menemukan Giok liong, sehari aku akan kembali ke Ci hu, Tertanda pi ao anak Ling !"

Giok-liong menjadi melongo di tempatnya, perasaannya hampa tak tahu bagaimana ia harus berkata, Pikirnya, kenapa Kiong Ling-ling bisa begitu ke memek terhadap dirinya, sebegitu besar rasa cintanya sampai hendak mencari aku sampai keujung langit atau didalam bumi.

Betapa besar dunia ini seorang perempuan lemah seperti dia bukankah akan hidup sengsara dan merana dalam rantau.

Sedang aku sendiri tidak tabu mena hu tentang hal ini.

Agaknya cinta asmaranya ini akan sia-sia belaka, Sebab hanya menghadapi Coh-Ki-sia seorang saja cukup membuat kepalanya pusing tujuh keliling, bagaimana ia berani menimbulkan banyak kesulitan lainnya lagi?

Karena pikirannya ini timbul batin dalam hatinya.

"Nona Kiong ! Ling-ling ! betapa besar rasa cintamu terhadapku, terpaksa aku Ma Giok-liong tidak dapat memberikan harapan."

Seorang diri ia terpekur tenggelam dalam renungannya, sebaliknya Ci hu-sin-kun yang menanti sekian lama sudah tidak sabaran Iagi, air mukanya semakin membara seperti di bakar, biji matanya yang berkilat memancarkan cahaya abuabu, dengan tak sabar ia menggembor.

"Masih ada omongan apa lagi yang ingin kau katakan ?"

Tidak gusar Giok liong sebaliknya tertawa gelak-gelak.

"Apa yang kau tertawakan ?"

"Sambut kembali !"

Kain sutra itu melambai lempang meluncur kembali ke arah Ci-hu-sin kun.

"Anakmu sendiri yang merat tanpa kau jaga, apa hubungannya dengan aku !"

Belum habis kata kata Giok-liong, ia sudah menjejakkan kedua kakinya, tahu-tahu badannya sudah melenting sejauh tiga tombak meluncur ke semak belakar di depan sana.

"Keparat, enak benar kau hendak mungkir dari perbuatanmu!"

Gesit sekali Ci-hu-sin-kun juga bergerak laksana mengejar angin memburu kilat berlari kencang mengejar di belakang Giok liong.

"Ai..!"

Terdengar seruan tertahan yang lirih nyaring, setitik bayangan merah meluncur pula kedepan mengejar paling belakang.

"Terjadilah kejar mengejar diantara bayangan putih, abu abu dan merah. Laksana luncuran bintang kemukus mereka meluncur saling kejar diantara lebatnya hutan dan keadaan pegunungan yang penuh jurang-jalang membuat jarak mereka tidak terlalu jauh. Tak lama kemudian jauh didepan sana terdengar kumandangnya suara harpa yang mengalun sedih memilukan Di atas sebidang tanah datar berumput tebal, membumbung tinggi seonggok kayu bakar, beberapa pulun orang orang aneh-aneh yang berambut panjang terurai tengan mengelilingi bara api itu sambil gembar gembor dan menari-nari kegilaan.

"Tang !"

Suara gembreng berbunyi sekali, seketika suara hiruk pikuk menjadi sirap orang-orang aneh yang menari-nari itu juga segera berhenti seluruhnya.

Diantara gerombolan besar ini berdiri seorang tua bermuka biru berteriak dengan suasa keras.

"saudara saudaraku, lihatlah !"

Tangannya menunjuk kearah bayangan putih yang melesat datang dengan kecepatan luar biasa langsung meluncur kearah lapangan berumput ini, jaraknya tidak lebih tinggal lima tujuh tombak saja.

Orang tua bermuka biru itu seketika menggerung keras, laksana seekor burung hijau yang besar mendadak ia menjejakkan kakinya tubuhnya lantas melambung tinggi memapak ke depan.

Di tengah udara sekali lagi ia menggerung bengis seraya bentaknya.

"Siapa kau!"

"Dar ..."

Ledakan dahsyat memekakkan telinga, bayangan putih itu melenting tinggi beberapa tombak baru meluncur turun hinggap di tanah dengan ringan sekali.

Demikian juga orang tua muka biru dengan mata mendelik sebesar jengkol, rambut panjang awut-awutan terjungkir balik turun dari tengah udara, sikapnya garang dan buas penuh nafsu membunuh.

Sementara itu, bayangan abu-abu juga sudah meluncur tiba terus mendarat di sebelah kanan.

Melihat kehadiran sibayangan abu-abu ini berubah air muka si Orang tua muka biru, suaranya mengguntur laksana geledek.

"Ci-hu Loji, berapa tahun tak bertemu, kiranya kau belum mati ?"

Ci hu sin kun Kiong Ki juga berubah dingin, sahutnya penuh keheranan.

"0h ternyata kau !"

"Kau tak menduga bahwa Lit-mo-kiang-si (mayat berambut hijau dari Kiang-si bun (aliran mayat hidup) masih hidup diatas dunia baka ini bukan ?"

Orang tua bermuka biru yang mengaku bernama Lit mokiang-si menggelengkan kepalanya menggemakkati rambut panjang warna hijau diatas kepalanya, nada kata-katanya dingin menusuk pendengaran.

Demikian kedua lengan panjangnya yang tumbuh rambut lebat juga digentakkan sampai berbunyi keretekan, setelah berkata dengan langkah tetap ia mendesak maju ke arah Giok liong yang tengah berdiri melongo di tempatnya, giginya terdengar berkeriut.

Benar seperti dedemit atau siluman penunggu gunung, seolah-olah mayat yang hidup kembali dari liang kubur.

Begitu mendengar kata-kata Ci hun-sin-kun tadi, diam-diam Giok liong sudah waspada, Sebab tiang si bau merupakan aliran sesat yang paling jahat pada ratusan tahun yang lalu, lama sudah aliran ini putus turunan dan sudah lenyap dari kalangan Kangouw, sekarang secara tidak sengaja mendadak ditemui di tempat ini, ini betul-betul suatu hal yang luar biasa.

Sementara itu Lik-mo kiang-si sudah membentak kepada Giok-liong .

"Kawan cilik, siapa kau ini ?"

"Hahahaha ..."

Belum lagi Giok-liong sempat menjawab, di sebelah sana Ci-hu-sin kun sudan bergelak tawa terbahakbahak, Tiba-tiba tawa panjangnya berhenti sekali berkelebat tahu tahu ia sudah melejit tiba di tengah antara Lik-mo kiangsi dan Giok-liong, dimana tangan besarnya bertepuk sekali seraya berkata.

"jalan di dunia ini kelihatannya memang sempit ! Yang tidak seharusnya bertemu justru sudah bersua tanpa disengaja, sungguh sangat kebetulan !"

Liok mo-kiang-si menengguk liur, katanya, melengking .

"Kiong Lotoa ! jangan suka jual mahal ! Dia ini apamu ?"

Ci-hu sin-kun bergelak tawa lagi sambil menengadah, ujarnya .

"Kiaag si kui ! Apa kau kenal To-ji Pang Giok ?"

"Ha ! Pang Giok Bangkotan tua yang belum mati itu ..."

"Tutup mulutmu !"

Hardik Giok-liong dengar gusar mendengar Lik-roo kiang-si berani kurang ajar memaki gurunya.

"Kenapa kau semena-mena memaki orang ?"

Dengan senyum penuh arti Ci-hu-sin kun berkata mengadu domba.

"inilah murid tunggal Pang Giok yang kenamaan dengan gelar Kim pit-jan hun, hahahaha !"

Kontan berubah air muka Lik-mo-kiang-si, sepasang matanya memancarkan cahaya hijau rambutnya berdiri tegak nafsu membunuh membayang pada pandangannya, gigi juga berkerot menahan gusar, kedua telapak tangannya digosokgosokan dengan beringas ia tatap Giok-liong, katanya.

"Setan kecil benar kau murid tunggal Pang Giok?"

Giok liong tidak tahu menahu asal usul orang, maka sejujurnya ia menjawab lantang .

"Benar ! Ada urusan apa ?"

"Bagus ! Bagus !"

Dengan langkah kaku Lik-mo-kiang-si melangkah setindak, mendadak jarak beberapa tombak itu diperpendek dengan sekali lompat, lompatannyapun sangat aneh kedua kaki menjejak tanah lapang, badannya lantas melejit ketengah udara, di mana kedua tangannya berkembang jari-jari tangannya laksana cakar garuda mencengkram datang, mulutnya membentak.

"serahkan jiwamu !"

Tubrukannya ini sungguh sangat ganas dan buas seperti serigala kelaparan, serangan tangannya juga bukan olah-olah hebat dan telengas.

Keruan Giok-liong terkejut bukan main, bukankah selama ini belum pernah ketemu dengan Lik-mo kiang-si ini, kenapa sikapnya terhadap dirinya begitu garang seperti musuh punya dendam kesumat.

Sebab sekali ia menyingkir setombak Iebih, seru Giok-liong .

"Tiada dendam dan permusuhan, apa-apaan perbuatanmu ini!"

"Huaaa ... haha ..."

Begitu tusukannya mengenai tempat kosong, mulut Lik-mo-kiang-si lantas berkaok-kaok mengeluarkan suara aneh, Tapi reaksi suaranya ini sungguh mengejutkan.

Terdengar angin berseliweran, ratusan anak buahnya yang berambut aneh seketika merubung datang mengurung Giok-liong dengan rapat.

Tubuh bagian atas mereka telanjang kelihatan badan yang kurus-kurus tinggal kulit membungkus tulang, namun seluruh tubuhnya dirambati bulu-bulu yang tebal panjang, selembar kulit harimau untuk menutupi bawab tubuhnya, kakinya telanjang seperti para kerucut dari istana Giam lo-ong.

Di lain pihak Ci-hu-sin-kun malah bertepuk tangan sambil berjingkrak seperti melihat tontonan yang menggelikan, serunya.

"Lucu! Lucu ! perhitungan ini cukup menyulitkan bukan !"

Terdengar Lik-mo-kiang-si juga membentak beringas.

"Buyung siksaan selama tujuh puluh tahun sudah cukup kuderita, sungguh Tunan maha pengasih, sehari baru saja aku bebas lantas kau mengantarkan nyawa masuk pintu! Hahahaha !"

Hakikatnya Giok-liong tidak tahu menahu duduk perkaranya, keruan ia menjadi gusar, semprotnya.

"Bicara dulu supaya jelas, Urusan setinggi langit juga aku Ma Giok liong atau menandingi ! jangan main seruduk seperti banteng ketaton yang menggila, apa maksudmu?"

Ci-hu-iin-kun tertawa terpingkel-pingkel ujarnya.

"Betul! Kian-si-kui, bicaralah biar jelas, supaya bocah ini tidak mati penasaran"

"Baik."

Lik mo kiang si menggoyangkan kepala, rambut panjang di kepalanya diambilkan ke belakang.

"keparat ! bagaimana juga kau takkan dapat terbang ke langit!"

Lalu dengan telunjuknya ia menunjuk tulang pundaknya kelihatan tulang pundaknya berlobang sebesar ibu jari, lalu katanya sambil mengertak gigi.

"Ini sepasang lobang ini, sampai hari ini tepat tujuh puluh tahun sudah, Tujuh puluh tahun bukan jangka yang pendek, dua laksa lebih hari-hari yang penuh penderitaan sudah ku kenyam"

Hm"

Giok liong masih belum paham akan juntrungannya, tanyanya.

"Tujuh puluh tahun Aku tidak paham !"

"Sudah tentu akan ku buat kau paham !"

Kata Lik-mo kiang-si sepasang matanya seperti bara api berkilat, lengannya bergerak berkembang dengusnya marah-marah.

"Dengan baja murni, Pang Giok merantai aku di atas Kui-ongpeng selama tujuh puluh tahun, membuatku sangat menderita batin selama tujuh puluh tahun, hujan kedinginan siang kepanasan oleh terik matahari."

Giok-liong menjadi heran, selanya.

"Kenapa harus tujuh puluh tahun?"

"Setan cilik! Kau masih pura-pura main sandiwara, apakah tidak tahu baja asli yang dibuat rantai gurumu itu adalah Liam kiam-jan-thiat yang akan lumer sendiri setelah tujuh puluh tahun? Masa kau tidak tahu sebelum itu Liam-kiam -jan thiat adalah logam keras yang tak mempan sembarang senjata tajam?"

"Memang aku tidak tahu!"

"Tutup bacotmu! Bocah keparat, kau mau mungkir!"

"Aku ? mungkir?"

"Derita selama tujuh puluh tahun sudah kenyang kukecap!"

"Jadi kau penasaran !"

"Ya penasaran ini harus kulampiaskan pada dirimu, kecuali kau suruh guru setanmu itu muncul kemari menggantikan jiwamu!"

Giok liong harus berpikir panjang sebelum bertindak, direm wasnya situasi sekelilingnya.

Musuh begitu kuat, sedang Cihu-sin-kan enak-enak menggendong tangan berdiri dikejauhan sana sambil tersenyum sinis tanpa berbicara Iagi.

sedang orang-orang aneh berambut panjang di sekelilingnya semua mendelik gusar siap menubruk maju mencacah tubuhnya.

Sambil mengerahkan Jilo melindungi badan bersiaga, mulut Giok liong bersuara.

"Kenapa guruku menggunakan Liat-kiamjan thiat membelenggu kau! Seharosnya kau bisa menilai dirimu sendiri!"

"Kentut!"

Lik-mo-kiang-si berjingkrak gusar, teriaknya ."Gagah-gagahan dia anggap dirinya sebagai pendekar bangsa dewata apa segala, menghina aku sebagai iblis sesat dikatakan aku membahayakan Bulim dengan alasan suka membunuh dan membuat huru-hara dan apalagi, buset!"

Giok liong menjadi tertawa terbahak bahak, ujarnya .

"Hahaha itulah, kalau kau tidak membunuh tidak menyebar elmaut di Bulim, belum tentu guruku mau turun tangan, kau sendiri juga belum tentu harus disiksa selama tujuh puluh tahun. Kau harus merasa beruntung tidak kebentur dalam tanganku! Kalau sampai konangan olehku, hm, hm!"

"Kau, kenapa?"

"Aku tidak akan membantumu menderita siksaan selama tujuh puluh tahun!"

"Kau... Apa yang hendak kau lakukan?"

"Hukum mati dengan cacah jiwa!"

Sedemikian lantang dan keras Giok liong berkata-kata dengan sikap garang dan berwibawa, suaranya laksana guntur menggelegar disiang hari bolong.

Lik-mo-kiang si yang memang sudah penasaran ingin melampiaskan kedongkolan hatinya semakin berjingkrak gusar seperti kebakaran jenggot, gerungnya.

"Setan cilik, cari mati!"

Dengan kalap ia menubruk maju dengan serangan tangan laksana bayangan setan beribu banyaknya, yang diarah adalah dada dan perut Giok liong. Giok liong berlaku tenang, ujarnya sambil menyeringai .

"Di belenggu selama tujuh puluh tahun, namun watakmu masih belum berubah!"

Dimana tangannya didorong kedepan serentak ia menghardik keras.

"sambut ini !"

"Blang!"

Dentuman dahsyat menggetarkan langi dan bumi, Dua bayangan manusia terpental mundur, Lik-mo-kiang-si tertolak mundur sampai setombak lebih, mulutnya menggerung dan giginya berkeriut.

sedang Giok-liong sendiri juga tersurut mundur tiga langkah, wajahnya mengunjuk rasa heran.

Adu pukulan kali ini ternyata sama kuat dan setanding tanpa kelihatan siapa unggul dan asor.

Adalah para anak buah Kiang-si-bun yang menonton berkeliling sejauh tiga tombak itu tak kuat berdiri tegak, semua terdesak mundur oleh damparan angin keras akibat dari adu pukulan tadi, kini lingkaran gelanggang menjadi semakin besar.

Terdengar Ci hu sin kun membuka suara dengan rada sinis rendah .

"Kiang si-kui, Lwekang bocah ini tidak lebih rendah dari Pang Giok sendiri, Menurut hematku sudahi saja pertikaian kalian, mandah menyerah sajalah, supaya kau tidak kejatuhan abu mengotori muka sendiri !"

Hebat inilah kata-kata menghasut yang bersifat mengadu domba, Bagi Giok-liong ia mandah tertawa tawar saja, katanya .

"Kiong cian-pwe! Menurut pendapatku lebih penting kau mencari putrimu saja, kenapa kau berdiam disini menghabiskan waktumu belaka ?"

Terkancing mulut Ci hu sin kun, mukanya merat jengah sekian lama tak bisa bicara.

Pada saat itu berkelebat sebuah bayangan merah menyelinap hilang didalam dedaunan pohon yang rimbun diluar gelanggang lapangan rumput sana.

Setelah mengadu pukulan secara keras lawan keras, muka Lim mo-kiang-si yang semula biru menjadi hijau bersemu kekuningan, diantara warna kuning bersemu putih lagi, kilat mata hijaunya menyapu padang sekian lamanya, mendadak ia berteriak.

"Setan kecil, tak nyana hebat benar kau !"

Tawar tawar saja Giok-liong berkata.

"penderitaan selama tujuh puluh tahun masa masih belum dapat mengubah watakmu, menurut pendapatku yang bodoh, letakkan golok jadilah umat Tuhan yang saleh dan bijaksana. Lepas dari jurang kenistaan dan mati dengan tentram dari pada konyol!"

Giok liong mengudal ludah bertujuan baik untuk menasehati orang sebaliknya bagi pendengaran Lik-mo kiangsi adalah sebaliknya, semakin membakar kemarahannya.

Pelan-pelan kakinya menggeser maju, matanya dipicikan kedua, lengannya lurus turun suaranya rendah berat.

"Katakatamu memang betul, tepat sekali ucapanmu! Di mulut ia berkata halus rnanis, namun kakinya masih terus melangkah mendekat ke depan Giok-liong tidak lebih berjarak tujuh kaki, Mendadak mulutnya menggembor keras.

"Roboh!"

"BIang."

Cahaya merah pecah berhamburan disertai tekanan hawa panas sehingga udara menjadi membara laksana terjadi ledakan gunung yang dahsyat sekali.

Tiga tombak sekelilingnya menjadi hangus terbakar kobaran api membungbung tinggi.

Ternyata Lik-mo-kiang si telah berlaku licik dan kejam, secara membokong ia kerahkan seluruh tenaganya untuk melancarkan pukulan dahsyat, Karena tidak menyangka dan tanpa siaga dengan telak dada Giok liong kena digenjot seperti dipalu godam seberat ribuan kati, untuk berkelit sudah tak mungkin lagi, dalam keadaan yang mendesak dan gawat itu terpaksa ia hanya mampu mengempos hawa murni memusatkan seluruh tenaganya di pusar dia mandah digenjot dengan telak.

Diluar tahunya begitu dadanya terpukul hantaman dahsyat itu tenaga yang terkerahkan dalam pusarnya menjadi mendidih panas dan pedas sekali, seperti minyak mendidih, begitu terdesak oleh tenaga genjotan itu seketika seluruh isi perutnya seperti pecah dan hancur lebur, segulung hawa panas terus menerjang langsung ketenggorokan dan menyembur keluar diri mulut tanpa tertahan lagi, sebelum ia sempat menjerit tubuhnya sudah terkurap jatuh tak ingat diri, kepala enteng terasa pusing tujuh keliling.

Tepat sebelum tubuhnya menyentuh tanah dari mulut Giokliong menyembur keluar selarik lidah api yang bersuhu tinggi terus menyemprot kedepan.

Cemas bukan kepalang kaget Lik mo-kiang-si, sebab dikiranya pukulan bokongannya itu membawa hasil yang memuaskan, tengah ia kegirangan siapa tahu belum lagi ia sempat menarik balik tangannya letupan larik api membara itu sudah menyembur ke arah dirinya.

"Celaka ! Bocah ini pandai main sihir "

Tak sempat mulutnya habis berkata kedua lengan yang terjulur ke depan itu sudah celaka lebih dulu, seluruh bulu yang tumbuh dikedua lengannya itu seketika terjilat api apalagi angin menghembus rada kencang, kobaran api semakin besar, sebentar saja rambut diatas kepala serta bulu didepan dadanya juga sudah terjilat terbakar, beruntun kulit harimau yang dipakainya serta kedua kakinya yang kurus kecil itu juga mulai di makan api.

Sekarang Lik-mo kiang si menjadi segulungan bara api yang menyala besar.

Sambil berkaok dan melolong ia bergelindingan di atas tanah berusaha memadamkan api yang membakar dirinya.

Siapa tahu, kalau dikata memang aneh, api ini agaknya rada berbeda dengan api umumnya betapa juga ia menggelinding dan membanting-banting tubuhnya tetap tak mau padam.

Keruan saking kepanasan Lik-mo-kiang-si berjingkrak berloncatan sambil menjerit-jerit.

Alhasil, malah dengan berloncatan dan bergerak itu membawa desiran hembusan angin lebih besar, bukan padam bara api di tubuhnya seperti desiran minyak dihembus angin berkobar semakin besar.

Ci-hu sin kun sudah kaya akan perbendaharaan pengalamannya selama puluhan tahun merupakan Bingcu dari aliran hitam lagi, sekali pandang saja lantas ia tahu dan tersurut mundur dengan kaget dan takut mulutnya berteriak tak tertahan lagi.

"Wah, Bu Cing le hwe, Lehwe . ,"

Belum selesai teriakannya, sesosok bayangan abu-abu sudah melenting tinggi puluhan tombak terus berlari kencang kearah semak belukar sana seperti dikejar setan.

Saking cepatnya ia berlari laksana anak panah terlepas dari busurnya, sebentar saja bayangannya sudah lenyap dari pandangan mata.

Para anak buah Kiang-si bun begitu melihat seluruh tubuh sang Ciang-bun jin terbakar api semua, menjadi panik dan gugup, suasana menjadi kacau balau, ada yang memburu maju berusaha membantu untuk memadamkan api, tapi mereka menjadi kehabisan akal karena tidak tahu cara bagaimana harus bekerja.

Sebagian lagi ada pula memaki kalang kabut terus memburu maju kearah Giok liong, Hakikatnya Giok-liong sendiri saat itu tengah pingsan tak ingat diri, Justru yang lucu dan aneh keadaannya, dari mulut dan hidungnya masih tetap menyemburkan asap tebal yang bergulung panas, setombak disekitar tubuhnya terasa panas tak tertahan, tujuh kaki disekeliling tubuhnya sudah terbakar bangus.

Ada beberapa anak boah Kiang-si-bun yang berani mati menubruk dengan nekad, seketika mereka sendiri bulu dan rambutnya kena tersulut dan terus terbakar juga.

Suasana diatas lapangan berumput itu menjadi semakin gaduh dan panik, Belum lagi yang satu ini dapat dipadamkan yang lain-lain ikut terbakar pula.

Keruan para kurcaci Kiang sibun yang ikut terbakar itu lebih panik dan gaduh mereka bergelindingan ditanah dan menjerit dan menggerang seperti babi hendak disembelih menjelang ajal.

Bagi yang tidak terjilat api menjadi serba sulit pula, Tinggal lari takut kalau nanti api yang membakar Lik mo-kiang-si padam mereka bakal dijatuhi hukuman sebagai penghianat kepada cikal-bakal, lari di medan perang, Kalau tetap tinggal disitu sesaat mereka menjadi bingung cara bagaimana harus menolong para kawan dari jalatan api.

Suasana seri ut cicism kuali panas mereka ii i nnu^ dtiti berputar lari serabutan di aaj l.pFi-ji n )iitnpu!

i u, tak thhu daii mana i.

e.i "A harus mulai turun tangan Adalah Lit mo-kiang si meski seluruh tubuhnya sudah terjilat api yang tengah berkobar besar, pikirannya masih tetap segar dalam keadaan gawat itu dengan suara parau ia membentak kepada anak buahnya.

"Pelan-pelan menggelinding, ke Ham cui-khek, menggelinding"

Bilang menggelinding benar-benar menggelinding, dengan membawa kobaran api di badannya ia mendahului bergelindingan terus menggelinding kearah timur dimana kehinaan buah aliran sungai, Anak buahnya yang tidak terjilat api segera berkaok dan bersorak gegap gempita berlari kencang menuju ke sungai di sebelah timur sana.

Mereka yang terjilat api mencontoh ketua mereka terpaksa ikut bergelundungan sekejap saja lapangan rumput menjadi sepi.

Suasana menjadi sunyi, yang terdengar hanya semburan asap tebal yang masih menyemprot keluar dari hidung dan mulut Giok liong yang rebah celentang ditanah.

Di-samping itu rumput dan semak belukar disekitar lapangan rumput itu juga sudah mulai terjilat api, api menjalar terhembus angin dengan cepat mengeluarkan bunyi keretekan.

Tiba tiba sebuah bayangan merah melompat keluar dari semak belukar sebelah sana.

Sosok bayangan merah ini bukan lain adalah Li Hong.

begitu mendaratkan kakinya kontan ia mengernyitkan kening dan mendelong mengawasi keadaan Giok liong yang aneh itu, gumannya ."Kenapa hidung dan mulutnya bisa menyemprotkan api?"

Tiba tiba ia menemukan sumber rahasia dari kobaran api yang terjadi ini.

Kiranya api yang menyembur keluar dari mulut dan hidung Giok liong hanya merupakan segulung hawa panas yang berupa jalur putih terbaur dengan asap hitam, karena tenaga semburan yang besar sampai menimbulkan gelombang panas dan udara mulai bergolak mengeluarkan suara ini.

Kobarn api di sebelah sana menjadi seperti arus tersedot oleh besi semberani meletup keras terus membakar semakin besar.

setelah mengetahui rahasia ini Li Hong menjadi bingung mulutnya berkata sendirian "Untuk menolongnya, aku harus memadamkan dulu kobaran api ini."

Maka mulailah ia bekerja memadamkan api, Pertama tama ia singkirkan dahan-dahan pohon yang belum terjilat api, lalu menjemput sebatang pohon terus mengepruk dan memadamkan api kobaran api terakhir ia menggali tanah dengan tanah inilah ia menguruk j.n,ng dan sisa sisa kayu bakar yang masih menyala, setelah susah payah akhirnya seluruh kobaran api dapat dipadamkan.

Sudab lazim bagi yang bermain air pasti basah, bermain api kena hangus.

Demikian juga keadaan Li Hong, wajahnya yang putih halus dan cantik itu kini sudah kotor oleh arang dan hangus terutama kedua telapak tangan dengan jari-jarinya menjadi lecet dan lebam hitam.

Baju merahnya juga tidak luput terkena abu dan api apalagi seluruh tubuhnya sudah mandi keringat, napas juga ngos-ngosan.

Tuhan memang maha pengasih terhadap yang menderita bekerja Waktu ia menengok kearah Giok-liong yang masih celentang itu, Benar juga mulut dan hidungnya sudah tidak menyemburkan lidah api lagi, cuma dari hidungnya masih menyemburkan hawa panas.

"Tunggu lagi sebentar mungkin keadaannya bisa mendingan."

Demikian Li Hong berpikir sambil mengusap keringat dan kotoran di mukanya.

Pelan pelan ia memeriksa dan meronda di sekitar Kui-ung-peng (lapangan raja setan).

Pertama ia khawatir Lik-mo kiang-si bakal putar balik lagi, kedua ia gentar menghadapi Ci-hu-sin-kun, siapa tahu bangkotan tua itu bisa datang kemari lagi, Betapapun dirinya bukan menjadi tandingan satu diantara mereka berdua.

Sang waktu sedetik demi sedetik terus berlalu.

Kala malam telah menjelang datang.

Pelan pelan dengan langkah ringan Li Hong mulai maju mendekat, dilihatnya Giok-liong yang masih kepulasan, Seperti layaknya orang yang sedang mabuk, d.iir.ian juga iea risau Giok-liong selebar mukanya merah membara kedua biji matanya merem meIek, muIut dan hidungnya menghembus keras hawa panas yang menyembur keluar dari hidungnya masih kelihatan mengandung kabut putih yang samar-samar.

Tapi suhu panas jauh sudah menurun dibanding pertama tadi.

Coba-coba Li Hong berseru membangunkannya.

"Ma Siau hiap ! Ma Giok-Iiong! Giok-liong ! Liong .."

Sedikit reaksipun tak ada, ia coba meraba pernapasannya, belum mati, rada ragu ragu telapak tangannya terulur mendekap jantungnya, tujuannya hendak merasakan apakah jantungnya masih berdetak, tak kira dimana tangannya menyentuh sebuah benda panjang keras, seruling samber nyawa seketika hatinya bersorak.

Pikirnya "Aku mendapat tugas supaya membuntutinya untuk mengambi seruling samber nyawa, inilah kesempatan paling baik bila kuambil, boleh dikata setan juga tidak bakal mengetahui.

Tapi otaknya lantas membatin lagi.

seruling iamber nyawa merupakan senjata pusaka orang orang kuno, merupakan benda antik yang paling diimpikan, berharga oleh kaum persilatan, sekarang aku hanya mengulur tangan saja sudah menjadi milikku, ah, mimpi juga aku takkan bisa menduga."

Sambil membatin itu pelan-pelan ia membuka kancing baju Giok liong.

Dalam kegelapan malam yang sudah menjelang datang ini tiba tiba keadaan sekitarnya menjadi terang benderang tersoren oleh cahaya puiih cemerlang yang terpancar dari Seruling sakti itu, sigap sekali Li Hong merogohnya keluar lalu dielus elus di tangannya.

Sekonyong konyong bayangan gelap membayangi sanubarinya, kedua tangannya yang mengelus-mgelus seruling tanpa terasa menjadi lemas dan turun semampir menindih di atas dada Giok-liong.

seruling samber nyawa melintang lurus didepan dada Giok-liong.

Bila asli membawa pulang Seruling samber nyawa tak lebih harus "disampaikan kepada cukong istana beracun Ibun Hoat, jikalau tidak diserahkan kepadanya tentu terjadi pertikaian hebat antara Tok-kiong dengan Mo khek, Terang kepandaian ayah bukan tandingan Ibun Hoat, apalagi oigfcoa daa sepasang pembantunya.

buk.-.nsan si i-.i,i saja menimbulkan pertempuran konyol.

Kalau kuserahkan kepadanya, apa pula untangku ?

Apalagi Seruling ini adalah benda yang selalu diinginkan siang malam ....seluruh miliknya."

Berpikir sampai disini tanpa merasa matanya melirik kearah Giok-liong yang masih rebah tak bergerak.

Saat mana warna merah pada mukanya sudah berangsur hilang.

Tepat pada saat itulah terdengar hidungnya mendengus seolah-olah mengeluh karena kesakitan, lalu menggeleng kepala.

"Ma Siau-hiap ! Ma Giok-Iiong ! Giok-liong !"

Giok-liong tetap seperti tidur nyenyak tenggelam dalam impiannya.

"Bila kehilangan benda sakti pemberian perguruan ini, bagaimana nanti akibatnya ?"

Tak kira kini Li Hong sendiri yang tenggelam dalam pikirannya, perang batin tengah terjadi dalam sanubarinya "perbuatan yang merugikan orang lain kenapa harus kulakukan !"

Demikianlah akhirnya kesadaran dan pikiran terangnya telah menang, cepat cepat ia membuka pula baju Giok-iiong terus menyusupkan seruling samber nyawa ke dadanya.

Sekonyong-konyong sesosok bayangan kuning meluncur datang dan kejauhan sana, belum orangnya tiba suaranya sudah berteriak mendaki .

"Siluman bernyali besar. Lihat pedang!"

Dari tengah udara melancarkan serangannya, pedang pendek diputar menjadi kuntum bunga yang kemilau terus menungkrup keatas kepala Li Hong, sungguh hebat dan cukup ganas.

Li Hong berseru kejut, dalam gugupnya Seruling samber nyawa ditariknya keluar untuk menjaga diri, Terdengarlah suara seruling melengking tinggi, cahaya putih terus menyapu ke depan memapak dan menangkis serangan pedang lawan.

"Siluman keparat, sengaja memang kau hendak mencuri pusaka itu. Cara bagaimana kau telah membikinnya pingsan !"

"Tan Soat-kiau, bicaralah biar jelas!"

"Kenyataan di depan mata, kau masih berani bermulut bandel, merabukan pedang pendek Tan Soat kiau lincah dan lihay, tapi tak berani saling bentur dengan seruling sakti, terpaksa ia putar sekencangnya diluar garis pertahanan musuh, begitu deras sinar pedangnya berputar sehingga bayangan merah kena terbungkus didalamnya. Lagi-lagi terdengar ia membentak .

"Ang-i-mo-li permainan apa yang telah kau lakukan, kau membius Engkoh Liong!"

Walaupun bersenjata seruling samber nyawa, tapi karena Li Hong sendiri juga tidak biasa memainkan jurus-jurus ilmu seruling ampuh ini terpaksa digunakan secara ngawur saja seperti Poan-koan-pit umumnya, peranti untuk jalan darah.

Mendengar tuduhan yang semena-mena itu hatinya menjadi gusar, malunya kembali "Budak tidak tahu malu, terang-terangan kau berani panggil engkoh Liong apa segala, engkoh dari hubungan yang mana?"

Keruan merah jengah melebar muka Tan Soat kiau sampai kepinggir kupingnya malu bukan main, pedang lantas diputar lagi semakin gencar, setiap jurusnya semakin ganas, mematikan tak mengenal kasihan lagi mulut nya pun tak kalah adu lidah.

"Kau kira siluman macam kau ini saja yang tahu? siluman kecil macammu ini baru tidak tahu malu, bukankah kau sendiri yang tadi mencopoti baju seorang laki-laki, sungguh rendah dan hina serta kotor sekali !"

Beringas wajah Li Hong dimaki begitu rendah dan kotor, seruling ditangannya diayun sekuatnya terus mengepruk keatas batok kepala lawan, mulutnya tidak tinggal diam saja.

"Budak tidak tahu malu, kau pintar memutar lidah !"

Begitulah kedua belah pihak saling tuduh dan saling maki, namun gerak gerik mereka dengan senjata masing-masing tidak pernah kendor, Pedang dilarikan begitu kencang mengembangkan bundaran cahaya pedang besar kecil, sebaliknya irama seruling melengking lurus tanpa nada.

Kalau bayangan kuning mengepung diluar gelanggang dengan gerak-gerik yang lincah dan serangan yang membadai, adalah bayangan merah berdiri sekokoh gunung menggetarkan cahaya putih, membubung tinggi laksana gunung seperti tonggak menyanggah langit.

Suasana sepi di lapangan rumput kini menjadi ramai dengan makian dan angin deras yang menderu-deru, pertempuran seru penuh kebencian dengan serangan yang saling berlomba untuk merobohkan lawan ini terus berjalan sampai ratusan jurus pada babak terakhir ini mulai kelihatan masing-masing mempunyai kepandaian khusus dan ada pula kelemahannya, tapi sedapat mungkin mereka mempertunjukkan kepandaian istimewanya sehingga situasi pertempuran masih sama kuat.

"Hai, apa apaan kalian bertempur disini hayo berhenti !"

Tiba-tiba sebuah gerungan keras berseru disamping sana, Betul juga bayangan kedua orang yang berkuntet lantas mundur.

Tan Soat-kiau menyapukan pedangnya itu menyapu kedepan, dengan tubuh agak doyong ke depan tiba-tiba kakinya menjejak tanah , kontan tubuhnya terus melejit mundur setombak lebih.

Seruling ditangan Li Hong juga bergoyang malang melintang didepan dada menangkis disusul cahaya putih berkelebat tahu tahu ia sudah berdiri tegak sambil melintangkan seruling samber nyawa di depan dadanya.

Dibawah keremangan sinar bintang-bintang yang bertaburan di cakrawala, kelihatan Giok-liong tengah berdiri bertolak pinggang, matanya berkedip kedip celingukan bergantian memandang Tan Soat kiau dan melihat Li Hong, katanya penuh tanda tanya "Apa kalian rebutkan?"

Enteng sekali Li Hong melayang kede-kat Giok-liong, katanya lemah lembut.

"Ma Siau-hiap, kau sudah siuman kembali !""

Giok-liong kucek-kucek matanya, sahutnya sembarangan "Ai, aku sudah bangun, aku ... ."

Sudah tak teringat olehnya pengalaman yang baru tadi, Tak tahu ia apa yang tengah terjadi dihadapannya ini, pikir punya pikir ia berusaha mengingat kejadian apa yang telah menimpa dirinya tadi siang.

Sementara itu melihat Li Hong menggelendot di pinggir Giok-liong, rasa pahit hati Tan Siat-kiau saking mendelu dengan gusar ia memburu maju terus berteriak "Engkoh Liong, hati-hati akan bokongan, siluman licik ini !".

Giok liong tersentak, tanyanya tak mengerti.

"Di bokong?"

Tan Soat-kiau berkata lantang .

"Bukankah seruling samber nyawamu sudah dicuri oleh siluman keparat itu, awas ..."

Giok liong tersurut mundur sambil berseru tertahan, waktu tangannya merogoh kedalam bajunya lagi-lagi ia berseru kejut sambil berjingkrak.

Baru sekarang dilihatnya bahwa Seruling dicekal ditangan Ang-i mo li Li Hong itu bukan lain adalah Jan hun ti miliknya.

Maka sebelum seruan kejutnya hilang, sigap sekali ia mengulur tangan sambil melangkah kedepan terus menangkap kearah Li Hong.

"Nanti dulu!"

Dengan muka bersungut Li Hong loncat sejauh sembilan kaki, serunya keras.

"Jadi kau percaya obrolannya !"

Memang Giok-liong tengah bingung dan menjadi ceroboh, sahutnya tersekat .

"Tapi Jan-huu-ti ..."

Tangannya menunjuk seruling yang dipegang oleh Li Hong. Tan Soat-kiau tertawa sinis, katanya.

"Hm bukti ada didepan mata, jangan kau mungkir."

Li Hong menjadi gusar, teriaknya kalap .

"Kau menuduh semena-mena, kau ..."

Yang dipikirkan Giok-liong melulu seruling saktinya itu, maka katanya .

"Tak perduli bagaimana serahkan dulu Jan hun ti itu !"

Tan Soat-kiau membakar pula dengan kata-katanya.

"Benar, rebut kembali seruling itu, jangan sampai ia sempat melarikan diri!"

Benar juga Giok-liong termakan oleh hasutan ini, sikapnya lebih waspada dan berjaga-jaga katanya tertekan .

"Untuk membuktikan kesucian hatimu, serahkan kembali seruling itu kepadaku segala sesuatu baiklah dibicarakan kembali !"

Saking jengkel air muka Li Hong sampai berobah keki membesi hijau, teriaknya keras .

"Kecapa kau tidak percaya kepadaku kenapa begitu gampang termakan oleh hasutan dan adu domba mulut manis Tan Soat-kiau ?"

Namun Giok-liong berkata .

"Sebab bukti memang kenyataan kau telah mengambil serulingku !"

"K,au sangka aku benar-benar mencuri."

Kata Li Hong sembari tertawa getir, tawanya ini menjadi sember karena umbaran dari rasa gusarnya suaranya menjadi seperti pekik orang hutan yang mengeluh di malam nan keIam.

Dengan sedih dan hati hancur pelan-pelan ia angkat seruling diatas kepalanya, wajahnya pucat bergetar, bibirnya sudah memutih, tanpa darah, giginya juga berkerot-kerot, serunya.

"Berdiri disitu, selangkah lebih dekat biar aku hancur bersama Serulingmu ini!"

Agaknya ia benar benar hendak melaksanaancamannya. Tergetar badan Giok liong, lekas lekas ia mundur beberapa langkah, serunya gugup.

"Nona Li, jangan! jangan kau berbuat senekad itu!"

Kini berbalik Tan Soat-kiau yang dongkol, air mukanya menjadi tegang dan membesi, makinya dengan gusar .

"Berani kau! Budak galak! Berani kau merusak sedikit saja seruling itu, akan kuhancur leburkan tubuhmu!"

"Tidak tahu malu, ada sangkut paut apa urusan ini dengan tampangmu!"

Dengus Li Hong.

Giok liong kwatir kalau mereka berdua benar-benar saling cakar cakaran lagi, saking gusar mungkin Li Hong benar-benar melaksanakan ancamannya dengan merusak seruling saktinya itu,l pasti akibatnya sangat runyam dan merugikan banyak pihak, Oleh karena itu, lekas lekas ia menggoyangkan kedua tangannya serta berteriak.

"Bicara saja baik baik, mari kita rundingkan kenapa harus bertengkar!"

Pucat pasih selembar muka Li Hong saking menahan gejolak hatinya, suaranya sedu dan penuh rasa keibaan ."Memang tujuanku hendak mengambil seruling samber nyawa ini, ini memang tidak salah!"

Tampak Soat kiau tertawa hambar penuh kemenangan.

"Nah sudah kentara belangnya!"

"Ma Giok-liong ! Kapan seruling sakumu ini terjatuh di tanganku ? Cara bagaimana jatuh di tanganku ? Apa kau tahu ? Coba katakan !"

Giok-iiong menjadi melenggong, matanya berkedip-kedip suaranya tergagap .

"Aku hanya ingat ...setelah meninggalkan ..."

"Setelah meninggalkan Im hong-gay tak perlu kau uraikan ! selanjutnya bagaimana ?"

"Aku bersua dengan Ci-hu-sin kun akhirnya ..."

"Akhirnya bagaimana ?"

"Akhirnya . , ..disini ! Aku bertemu dengan Lik-mo-kiang si !"

Tan Soat-kiau tertegun kejut, ujarnya .

"Haya, Apakah iblis durjana kejam yang membunuh orang tanpa berkesip dan mendadak menghilang jejaknya pada tujuh puluh tahun ini ?"

Jauh jauh Li Hong T,cnyapkan seruling ditangannya, katanya tak senang.

"jangan cerewet !"

Sekarang Giok-liong sudah menjadi tenang dan ingat segala-galanya.

"Lik-mo-kiang-si mendadak melancarkan pukulan membokong aku pukuIannya.,...Haya, pukulannya itu agaknya tepat mengenai jalan darah besar di dadaku, yaitu Tiong-ting-hiat yang mematikan, Dulam keadaan gawat dan mendesak itu, aku masih sempat mengerahkan hawa tenaga dalam pusar, dengan menghimpun seluruh kekuatan Lwekang untuk menerima pukulan dahsyat musuh !"

Li Hong tertawa tawar, jengeknya dingin.

"Sayang usahamu ini sia sia belaka, Sekali pukul akhirnya kau terbanting semaput di tanah, dari hidung dan mulutmu menyemburkan asap tebal dan bara api yang bersuhu sangat panas sekali !"

Giok liong tak berani banyak berkata, ia tenggelam dalam renungannya. Tan Soat-kiau menjadi tidak sabaran, ia menyela lagi .

"Kentut, jatuh ya jatuh, bagaimana mulut dan hidungnya menyemburkan asap apa segala !"

Ang i mo-li Li Hong tidak menggubriskan lagi, dengan suara nyaring ia bicara panjang lebar .

"untung semburan asap tebal dari mulutnya itu telah menimbulkan kebakaran besar di sekitar gelanggang sini, tidak sedikit anak buah Kiang si bun yang kena terjilat api dan lari pontang panting. Kau sebagai murid tunggal Ji-bun yang suci murni dari I-lwe su cun (empat duta agung mayapada), tapi melatih ilmu sesat yang jahat kejam sampai matipun tak memberi ampun pada orang. Ai, Li Hong terhitung sudah terbuka mataku!"

Enak saja ia berbicara seperti bercerita dengan suara nada yang semakin sengit meninggi dan semangat sampai Giok-liong terlongo kesima.

Agak lama kemudian baru ia bergerak seraya menghela napas panjang, katanya ragu ragu "llmu sesat ?

Sampai mati tak memberi ampun ?"

Li Hong menyeringai dingin, ujarnya.

"Hehehe, kejadian ini adalah aku sendiri yang melihat, maka kaupun tak perlu lagi memberi penjalasan."

"Aku ? Aku tidak bisa !"

"Perdengaran kuping mungkin bisa salah tapi penglihatan mana tentu benar. Bagai mana duduk kejadian sebenarnya, Ci-hu-sin-kun bisa menjadi saksi, yang hadir pada waktu itu bukan hanya aku Li Hong seorang saja !"

Giok-liong tak bisa bicara lagi, menengadah ia menghela napas lagi, keluhnya .

"Ai ! Tuhan yang tahu !"

Terdengar Li Hong menyambung lagi.

"Sekian lama kau jatuh pingsan, terpaksa aku bekerja memadamkan bara api, kalau tidak mungkin kau sendiri saat ini sudah hangus terbakar, apa perdulimu tentang Jan-hun-ti segala."

Giok-liong jelajatkan pandangannya ke empat penjuru, memang kata-kata Li Hong rupanya tidak bohong, dengan terlongong ia manggut-manggut, sepasang matanya mengunjuk rasa terima kasih.

Li Hong berkata lagi.

"Tatkala itu, berulang kali aku berusaha membangunkan kau, tapi keadaan seperti orang mati. Kalau mau saat itu aku bisa ambil seruling sumber nyawa dan tinggal pergi, kau dapat menuduh siapa? Masa kau bisa tahu akan perbuatanku?"

Mendengar sampai disini, tiba tiba Tan Soat-kiau tertawa cekikikan katanya ."

Hihi, tadi kau terang-terangan mengatakan kedatanganmu ini..."

"Tak perlu kau cerewet, tujuanku memang hendak mengambil seruling ini!"

Giok liong tercengang, katanya ."

"Kenapa kau tidak lantas pergi setelah memperoleh seruling ini?"

"Aku..."

Mulut Li Hong jadi tersendat, bagaimana mungkin secara berhadapan ia bicara "karena aku menyintai kau"

Maka hatiku tega wajahnya berubah merah.

Beruntun berapa kali Tan Soat-kiau mendapat cemooh saat ini kesempatan baginya untuk membalas, desaknya dengan nada dingin ."Ayo katakan.

coba kulihat cara bagaimana kau berbohong mengarang cerita begitu panjang lebar."

Dari malu Li Hong menjadi gusar di senggak begitu rupa, seruling di tangannya tiba tiba diputar ditengah udara menimbulkan suara lengking tinggi, katanya ."Aku menanti orang ingin berkelahi untuk mencoba kekuatan seruling sakti ini!"

Tan Soat-kiau juga seorang nona yang keras di dalam lemah diluar,"

Mendengar tantangan terang-terangan ini segera iapun acungkan pedangnya, katanya terkikik.

"Sungguh kebetulan, biar nona besarmu ini mengiring bertempur tiga ratus jurus."

"Baik biar aku mengukur berapa tinggi kepandaian Kaujiang -san."

"Kalau kau punya kepandaian sejati, jangan gunakan seruling sakti itu!"

"Kau kira nonamu mengandal seruling ini untuk menundukkanmu?"

Habis berkata tiba-tiba Li Hong melemparkan seruling di tangannya ke-arah Giok liong seraya membentak ."Sambut!"

Giok liong benar-benar tidak menyangka, kejutnya bukan main sigap sekali dengan hati-hati ia mengulur tangan menyambut loncatan seruling yang keras dan deras ini.

Tepat waktu Giok liong dapat menangkap serulingnya, di sebelah sana Li Hong juga sudah melolos Liong cwan kiamnya.

Ti-ba-tiba terpancar cahaya dingin membungkus seluruh tubuhnya yang mengenakan pakaian serba merah menyolok itu.

Waktu Giok liong memasukkan seruling samber nyawa ke kantong bajunya kedua nona berwatak keras itu sudah berkutet dengan sengitnya, keruan Giok liong menjadi gugup dan gelisah, mulutnya saja yang berkaok-kaok.

"Berhenti! Berhenti!"

"Buat apa kalian berkelahi seperti anak-anak?"

Jilid 22 Namun bukan saja mereka tidak mau berhenti, malah masing-masing sudah lancarkan serangan lebih gencar, semakin lama pertempuran semakin seru dan semangat.

Kepandaian kedua belah pihak sudah cukup tinggi termasuk tokoh kelas satu, gerak mereka serba gesit dan cekatan lagi kini, ketemu tandingan yang sembabat, keruan mereka semakin bersemangat untuk menjajal dan mengukur kepandaian sendiri dengan kemampuan lawan.

Hanya Giok-liong sendiri yang dibuat gelisah seperti semut dalam kuali panas, Kalau mau dengan tingkat kepandaiannya gampang saja ia terjun kedalam gelangang untuk melerai perkelahian edan-edanan ini.

Tapi saat ini tak mungkin ia berbuat begitu, pula ia tidak berani, Sebab siapa tahu kalau tidak kebetulan merugikan salah satu pihak, tentu bakal menimbulkan akibat yang susah dibayangkan.

Tan Soat-kiau pernah menolong jiwanya perkenalan ditengah jalan saja, namun dia berulang kali sudah ikut menanggulangi dari kejaran dan keroyokan Hiat hong-pang dan Kim-i pang.

Apalagi sekarang dia sudah di-pungut menjadi anak angkat dari Kim-ling-cu Li cianpve salah satu dari Bu limsu-bi, betapapun ia tidak berani berbuat salah terhadap Soat kiau.

Pertama bersua dengan Li Hong dengan tekun dan prihatin ia melindungi dirinya.

pernah juga menolong jiwanya.

Terang kedatangannya ini adalah mendapat perintah untuk mengambil seruling sakti ini, tak mungkin ia harus mengabaikan perintah ayahnya dan tidak memperdulikan keganasan kaum istana beracun, kenyataan toh ia mengembalikan seruling saktinya, bagaimana juga aku tidak enak menyakiti hatinya.

Pikir punya pikir otaknya semakin terasa butek, semakin kacau balau.

Kalau terang tak mungkin bisa mencegah pertempuran ini untuk apa pula tinggal ditempat ini lamalama, lebih baik tinggal pergi saja seumpama nanti bisa dibedakan siapa lebih unggul dan asor, dirinya juga bakal serba susah lagi.

Karena pikirannya ini Giok-liong lantas putar tubuh tinggal pergi.

Tapi puluhan langkah kemudian mendadak ia menghentikan kakinya lagi, batinnya.

"perkara ini terjadi karena aku, mana mungkin aku tinggal pergi begitu saja tanpa mengurusnya "

Tatkala itu pertempuran berjalan sangat cepat, serang menyerang menggunakan cara kilat, sinar pedang masingmasing menyambar dan membabat atau menikam dengan berbagai gaya yang mematikan, bergulung-gulung ke timur lalu berloncatan kearah barat di lapangan rumput hijau ini, terus saling kejar dan paling hantam.

Memandang dahan dahan pohon dan rumput yang hangus terbakar ditempat itu, mendadak Giok-liong teringat sesuatu.

Bagaimana mungkin hidung dan mulutnya bisa menyemburkan api?

samar-samar pengalaman dirinya mulai terbayang dikelopak matanya.

Mendadak ia mengeluh dalam hati.

"Celaka, sebelum lari Ci-hun sin-kun ada berteriak tentang "Le-hwe..."

Sekarang teringat jelas dalam otaknya sebelum lari pergi memang ia mendengar ci-hu sin-kun berteriak ketakutan.

"Bu-ceng le-hwe, Le hwe ---"

Karena pikirannya inijantungnya menjadi berdebar keras, hatinya menjadi tegang. Terkiang kata kata Cukong Istana beracun Ibun Hoat waktu bertda diatas Im-hong gay .

"setelah terkena Le-hwe bu-ceng-hot kang.... paling banyak masih mempunyai sisa hidup tujuh hari.. ."

Tujuh hari adalah waktu yang begitu pendek-betapa mungkin dirinya lari ko Linglam minta Hui-ting chio kepada Pekschio ang.

apakah mungkln pula mengejar waktu menuju ke laut utara minta Ciat-ham-im.

omongan Ibun Hoat itu naga-naganya memang dapat dipercaya kalau tidak kenapa tanpa sebab dirinya bisa menyemburkan asap dan api.

Mengapa Ci hu-sin-kun sekaligus bisa lantas menyebutkan sumber penyakitnya ini.

Ibun Hoat dan Kiong Ki merupakan tokoh kenamaan yang lihay dari aliran hitam yang sesat dengan tingkat kedudukan mereka tak mungkin sembarangan mengudal mulut bicara bohong atau membual, tak mungkin pula mengada-ngada.

Agaknya memang usia Ma Giok-liong tinggal tujuh hari saja.

"Hidup tua, sakit, mati serta sengsara atau menderita sudah menjadi kodrat alam, bagi seluruh umat manusia takkan luput dari kelima unsur kesukaran ini. Bagaimana mungkin Giok-liong bisa luput dari ketentuan kodrat alam ini ?"

Terpikir olehnya telah tujuh lari kemudian dirinya bakal terbakar hangus dan mampus, tak keruan paran rasa hatinya ini, lesu dan putus asa lagi, semangat gagah dan keperwiraannya sudah hilang dihembus angin lalu.

Tanpa merasa ia menghela napas pula.

gumannya.

"Ai, hidup manusia kiranya juga demikian ini, saja "

Tanpa hiraukan mati hidup pertempuran Li Hong dan soat kiau dengan menunduk kepala langkahnya bergoyang gontai meninggalkan lapangan rumput raja setan itu.

Putus asa benar-benar sudah mencekam seluruh sanubarinya.

Tapi kejadian di dunia ini kadang kadang tak segampang seperti yang di duga oleh manusia umumnya semakin ia berpikir semakin berat rasanya, seperti apa yang dikatakan.

"kalau digunting tidak putus dalamnya masih akan menjadi kacau balau,"

Begitulah karena tidak kuasa mengambil keputusan sendiri hatinya semakin gundah diliputi berbagai bayangan dan kekuatiran.

Akhirnya ia ambil keputusan juga, dengan mengepal tangannya ia berseru lantang.

"yang lain boleh aku tidak peduli, seruling sakti ini merupakan senjata yang ampuh mandra guna, betapapun pantang terjatuh ditangan orang jahat. Kalau tidak tentu bakal menimbulkan banyak dosa dan menyesalpun sudah terlambat."

"Tapi ---"

Pemberian guru inijuga juga harus kukembalikan kepada suhu, tapi di mana aku harus mencari beliau, jejak suhu yang suka kelana mengembara kemanamana itu sulit dijajaki seperti orang linglung mulut kumat kamu langkah sempoyongan.

Akhirnya terpikirjuga cara jalan keluarnya.

"Terpaksa aku harus siang siang pergi ke Gak yang lalu, Kim ling-cu ada mengundang pertemuan pada hari Goan-siau disana, seumpama tidak bisa jumpa dengan suhu, siapa tahu bisa bertemu dengan satu dua orang tokoh-tokoh kenamaan dari aliran lurus atau salah seorang Cianpwe yang punya hubungan erat dengan perguruannya. Baiklah aku tunggu saja disana meninggalkan pesan dan menitipkan pada mereka. Apalagi jangka tujuh hari ini paling cepat cuma kebetulan saja tepat pada waktunya mencapai kota Gak yang."

Setelah mendapat ketetapan hati, hati kecil Giok liong menjadi lapang dan terhibur.

Waktu ia berpaling Kebelakang tak terasa ia sudah jauh meninggalkan Kui-ong-ping, bayangan merah kuning masih kelihatan bertempur dengan sengitnya.

Menghirup napas panjang Giok-liong mengeluh.

"Ai, bertempur dan berkelahi hanya untuk mencari kemenangan dan mengejar nama kosong, akhirnya takkan luput tertimpa kematianjuga, untuk apakah manusia ini hidup "

Pelan-pelan ia salurkan tenaga dari pusarnya dimana tangan berkembang pesat sekali ia kembangkan Ling-hun-toh, laksana seekor garuda tubuhnya mencelat tinggi beberapa tombak setelah mengambil arah tujuan yang tepat sekencang angin ia berlari kedepan tanpa menoleh lagi.

sekejap saja Kui-ong-ping sudah ketinggalan jauh ratusan tombak, sekonyong-konyong terdengar jerit pekik suara perempuan yang ketakutan dari lamping gunung sebelah kiri sana, begitu keras lengking jeritan itu sampai menembus langit menggetarkan alam pegunungan menyayatkan hati.

Tergetar hati Giok liong, badannya giris dan merinding, luncuran tubuhnya menjadi kendor dan mulai pelan pelan berlari.

Tapi terkilas dalam otaknya.

"jiwaku tinggal tujuh hari, orang hampir mati seperti aku buat apa ikut mengurusi segala tetek bengek yang tiada sangkut pautnya dengan diriku "

Segera ia kerahkan tenaganya lagi, tubuhnya lantas mumbul tinggi tiga tombak-luncuran tubuhnya semakin pesat ke depan.

Tak diduga jeritan yang menyayatkan hati tadi terulang kembali, malah jaraknya semakin dekat.

"Aaaa ..."

Terlihat dikeremangan lamping gunung sebelah kiri sana melambung tinggi sesosok bayangan merah jambon diiringi teriakan panjangnya, dari suaranya ini jelas sekali bahwa ia seorang perempuan.

Agaknya kepandaian perempuan itu tidak ungkulan atau mungkin sudah terluka dalam, gaya luncuran tubuhnya agak limbung daa seperti meronta dan berlari sipat kuping sekuat tenaga.

Kira kira puluhan tombak, di belakang bayangan merah ini sebuah bayangan putih laksana salju bergerak lincah dan gesit mengejar dengan kencang, dilihat naga naganya sebentar saja bayangan merah di depan itu kena dicandaksambil berlari sipat kuping perempuan baju merah itu berkaok, dan melolong menjerit-jerit, sebaliknya bayangan putih di belakangnya itu tergelak tawa menyeringai seram.

Kalau dalam keadaan biasanya tentu tanpa banyak pikir lagi Giok-liong mengunjukkan diri mengulur tangan menolong si perempuan dari kelaliman.

Tapi saat itu sifat gagahnya sudah amblas terbawa keputus asaan akan bayangan kematian yang mencekam sanubarinya.

Apalagi ia tergesa-gesa memburu waktu untuk pergi ke Gak-yang hendak menyerahkan kembali benda pusaka perguruannya.

Maka walaupun hatinya tergetar dan tak tega akhirnya ia geleng kepala serta menghela napas panjangkakinya tetap meluncur cepat kedepan menempuh perjalanan.

Tak duga kini bayangan merah ternyata membelok dan memapak kearah yang berlawanan dengan arah tujuan Giok liong, jarak yang rada jauh itu sekejap saja menjadi lebih dekat.

"Haya"

Tak tertahan lagi tiba-tiba Giok-liong berteriak kejut, saat itu baru dilihat tegas olehnya bahwa perempuan yang lari pontang-panting itu bukan lain adalah Hiat-ing Kong-cu Ling soat-Yan.

Dilain pihak agaknya Putri bayangan darah Ling soat-yan juga sudah melihat Giok liong, saking girang ia berterik keras minta tolong sambil terus berlari dengan kencang.

"M a-Giok liong Engkoh Liong"

Meskipun beribu kali tidak sudi turut campur urusan orang lain juga tidak mungkin lagi bagi Giok liong.

Karena itu tubuhnya yang meluncur berderap kedepan mendadak melembung tinggi menerjang ke depan seperti luncuran anak panah dengan gaya Hong-hong-i-hwi (burung hong terbang) terus menubruk kedepan, tangkas sekali kedua tangannya menyanggah kedua pundak Hiat-ing Kong-cu Ling soat yan, mulutnya bertan gugup "Nona Ling kenapa kau?"

Air muka putri bayangan darah Ling soat yan pucat pasi, rambutnya awut-awuran, napasnya ngos ngosan, begitu melihat Giok-liong seperti melihat handai taulan terdekat.

segera menubruk kedalam pelukan Giok-liong terus meluncur turun bersama, setelah berdiri dengan tergegap dan tersengal ia berkata susah payah "Binatang itu---dia memukul mati Chiu-ki, berani berbuat kurang ajar pula terhadapku, dia---"

Seketika berkobar hawa amarah Giok-liong, menepuknepuk pundak orang ia berkata gusar.

"sampah dunia persilatan biar aku memberi hajaran kepadanya."

"Apakah kau mampu?"

Seiring dengan ejak dingin tanpa perasaan ini muncullah seorang pemuda berpakaian serba putih berdiri setombak lebih.

Pelan pelan Giok-liong melepaskan Ling Soat-Yan, waktu ia angkat kepala hendak mengumbar kemarahannya tak duga seketika ia berdiri melongo terkejut bukan kepalang tanpa merasa kakinya tersurut mundur dua langkah setelah menyedot hawa dingin mulutnya tak kuasa berseru kejut dan heran.

Di lain pihak pemuda baju putih itu juga terkejut waktu melihat wajah Giok-liong berbareng mulutnya juga menjerit kaget.

Giok liong menjublek ditempatnya, hatinya membatin.

"Dikolong langit ini masa ada kejadian begini bebetulan, bagaimana mungkin wajahnya persis benar dengan aku?"

Sementara itu pemuda baju putih itujuga tengah berpikir.

"Apa kau melihat setan di siang hari bolong Kenapa ia serupa benar dengan aku seumpama saudara kembar"

Sebab kedua orang yang berhadapan ini bentak tubuhnya serta muka dan segala ciri cirinya persis benar seperti pinang dibelah dua-Hanya hawa perwatakan ditengah alis merekalah satu satunya ciri khas yang dapat membedakan sifat mereka.

Kecuali hawa perwatakan ditengah alis pemuda baju putih kurang bersih dan guram malah kentara juga sifat bangor dan nakalnya, selain itu tiada perbedaan lain yang lebih menyolok, apalagi kalau tidak ditegasi juga sulit dapat melihat pertanda perbedaan yang khas ini begitulah setelah berselang agak lama masing-masing mematung berdiri berhadapan.

Terdengar Giok liong berkata lantang.

"siapakah tuan ini ? Kenapa dialam pegunungan liar ini menganiaya dan mengejar ngejar seorang perempuan jelita ? Apa kau tidak takut merusak nama baikmu serta nama harum perguruanmu?"

Karena rupa pemuda itu persis benar dengan Giok-liong maka kata-kata yang diucapkan ini rada sungkan dan tuanya bersifat menegor saja.

setelah tercengang sebentar pemuda baja putih terlorohloroh menengadah.

"Kau tanya aku ? seharusnya aku yang tanya padamu ?"

"Aku yang rendah Ma Giok-liong ..."

"Ma Giok liong Hahahaha"

"Kenapa tuan tertawa ?"

"Dicari merusakan sepatu besi tak keketemu, sekarang ketemu disini tanpa susah payah Ha sungguh kebetulan sekali "

"Tuan kenal Ma Giok liong ?"

"Tidak, hitung-hitung pernah dengar akan namamu. itu "nada perkataan pemuda baju putih ini rada menghina dan mengandung sindiran lagi tanpa mengenal sopan, Giok-liong berlaku sabar, sahutnya tertawa tawar.

"o, begitu ?"

"Tak heran gadis genit macam keluarga Ling ini begitu melihat aku lantas nanjang pendek dia memanggil aku dengan sebutan Engkoh Liong apa segala dengan mesra dan penuh kasih sayang. Ternyata kalian mempunyai hubungan begitu erat dan rapat, Ma Giok-liong sungguh bahagia hidupmu ini."

Giok-liong menjadi mengerut kening, katanya keras.

"Tuan bicaralah kenal sopan santun dan tata kehormatan "

"Hahahaha Hormat dan sopan santun Apa yang dinamakan sopan santun, jangan kau pura-pura, berlaku sebagai sosiawan, mulutmu mengundal kata bajik dan berbuat susila apa segala hakikatnya kau sendiri menjual tampang memikat kaum perempuan, apakah kau dapat mengelabui mata jeli dari tuan mudamu ini?"

"Tutup bacotmu "

Giok liong menjadi berang, suaranya terdengar lantang penuh kemarahan.

"siapa nama tuan ini, dari aliran atau perguruan mana, sebutkan dengan jelas, perlu kiranya aku yang rendah menyelesaikan urusan ini secara adil "

"Kau tanya padaku?"

"ya, tanya kau "

"Kalau kau tanya aku, kau harus ganti dulu nama busukmu itu "

"Haha Hm, hm Asal kau dapat menyebutkan alasannya, aku Ma Giok-liong sedang setegang apa saja boleh kulakukan "

"Baik-berdirilah kuat dan tegak Aku orang she Ma sejak kecil makan nasi sampai besar, bukan bangsa kurcaci yang gampang di gertak silakan katakan"

"Tuan mudamu inijuga she Ma"

"Betapa besar dunia ini, entah berapa banyak orang yang mempunyai she Ma, tak perlu di buat heran "

"Tuan mudamu ini bernama Ma Giok-hou"

"Ma----Giok---Hou "

Seketika Giok-liong berdiri kesirna, hatinya sambil menjublek ditempatnya.

"Ma Giok-hou? Masih teringat olehnya bahwa ibunya pernah berkata bahwa dia masih punya seorang adik laki-laki, bukankah ia bernama Ma Giok-hou?"

Karena ingatannya tergetar hatinya, cepat ia berseru.

"Giok-hou Kau adalah. -adikku "

"Cis Kentutmu busuk "

Ternyata kata pengakuan Giok-liong ini membuat pemuda baju putih itu menjadi murka, setelah berludah ia berkata menghina .

"Ma Giok-liong Kau sedang mimpi Tuan mudamu ini adalah adikmu? Kecuali kau lahir pada jelmaan yang akan datang"

Wajah Giok-liong menjadi panas, terasa bahwa tadi ia telah salah omong terpaksa tertawa getir, ujarnya.

"Kalau begitu, ya sudah, harap maaf akan kesalahan omonganku."

Lalu ia angkat tangan menjura dalam. Dengan sikap gelak dan besar-besaran pemuda baju putih mendengus jengeknya.

"Hm, tidak tahu diri"

Rasa curiga Giok liong masih belum hilang, katanya sambil tertawa.

"Tuan tamatan aliran kenamaan apakah boleh memberi tahu dari perguruan mana?"

"Boleh, tentu boleh. Kau sangka tuan mudamu ini tidak punya akar tak punya aliran "

"Sudah tentu begitu tentu.. ."

"Tuan mudamu hidup dibesarkan dilaut utara, menetap dalam Hwi thiat-hay"

"o Hwi thian hay Ma Hun dari laut utara, Ma-loeng-hiong entah ada hubungan apa dengan tuan?"

"Beliau adalah ayahku "

"Maaf kekurangan hormat tadi "

"Panggilan akan tuan muda pada diriku tidak berlebihan bukan"

"Tidak sudah tepat benar, keluarga persilatan murid pendekar "

Pemuda baju putih semakin congkak dan takabur dieluelukan, mendadak wajahnya membersut kaku, katanya rendah.

"Kudengar katanya kau mengandal ketenaran nama Toji Pang Giok serta keampuhan seruling sambar nyawamu itu malang melintang dan menjagoi dunia Bulim? Ternyata namamu begitu tenar bagaikan suara guntur di siang hari bolong didalam daerah Tionggoan ?"

Terang-terangan ini adalah tiada angkatan tua memberi teguran dan nasehat kepada angkatan muda, sikapnya sungguh sangat sombong sekali.

Tapi Giok-liong bersikap sabar tanpa ambil marah sedikitpun meskipun rasa hatinya mendelu dan dongkol, namun lahirnya tetap wajar saja, katanya.

"Terima kasih, itu hanya para kawan Kangouw yang terlalu mengelukan, serta anugerah para bulim Cian-pwe"

Tak duga Ma Giok-hou ambil tidak pusing akan penjelasannya ini, air mukanya semakin membeku dingin, tanyanya balik -"Apakah kau tahu apa tujuan tuan mudamu menuju ke Tionggoan sini ?"

"Dari mana aku yang rendah bisa tahu"

"Ketahuilah Khusus aku hendak mencari kau "

"Karena aku?"

"ya"

"Ada petunjuk apakah ?"

"Aku bernama Ma Giok-hou, maka kau tidak boleh lagi menggunakan nama Ma Giok-liong "

"Uh Kenapa pula ?"

"Aku bernama "Hou" (macan) sedang kau menggunakan "Liong" (naga) terang sudah tidak mencocoki satu sama lain, apalagi sama-sama menggunakan pula huruf "

Giok" (kumala) bukankah lebih tidak serasi "

"Tidak serasijuga tidak menjadi soal kurasa "

"Tidak orang lain bisa anggap kita adalah saudara sekandung "

"Ini... Hihihi"

Giok-liong menjadi geli sendiri, pikirnya.

"Hwi-thian khek Ma Hun dari Pak-hay sangat tersohor dan berwibawa tata kehidupan keluarganya tentu sangat keras, bagaimana mungkin bisa punya seorang putra yang bangor dan congkak demikian ini omongannya terlalu takabur, sungguh Jenaka dan menggelikan sekali. Terdengar Ma Giokhou menggerung gusar, semprotnya .

"Apa yang kau tertawakan ?"

"Menurut hemat aku yang rendah, nama seseorang merupakan perwakilan yang tercantum belaka, tentang nama tidak terlalu penting, adalah sepak terjang atau tingkah laku seseorang menjadikan garis utama sebagai hidup manusia layaknya, inilah yang terpenting, bagaimana menurut pendapat tuan?"

Nada perkataan Giok-liong ini sudah mengandung sifat kurang senang. Tak tahunya, sikap Ma Giok-hou acuh tak acuh, cemoohnya.

"Sesuatu yang kau anggap tidak penting sebaliknya kupandang sangat penting "

"Oh Lalu bagaimana menurut pendapat tuan ?"

"segera kau ganti nama "

"Kau minta aku ganti nama, lalu ganti she dan nama apa ?"

"Terserah mana suka"

"Kenapa begitu ?"

"Sukar dapat dibedakan secara jelas antara. mata ikan dan mutiara "

"siapakah mata ikan, lalu siapa pula yang menjadi mutiara ?"

"Untuk itu kau tidak perlu urus, pendek kata selanjutnya kau tidak boleh menggunakan nama Ma Giok-Liong "

Giok liong kurang senang, baru saja ia hendak mengumbar wataknya, akan tetapi lantas teringat olehnya bahwa tidak lama lagi jiwa sendiri bakal melayang, termasuk hari ini tidak lebih tinggal tujuh hari saja, buat apa berbuat menurut isi hati melulu.

Apalagi Hwi-tHan khek Mi Hun dari Pak-hay merupakan tokoh kosen yang berwatak sangat aneh, namanya seumpama geledek disiang hari bolong sifatnya lurus dan suka beramal lagi, bagaimana juga ia tidak rela mengikat permusuhan dengan tokoh kenamaan ini.

Maka sedapat mungkin ia menekan gejolak amarah dalam dadanya mandah menggeleng saja ia berkata.

"untuk soal ini kuharap tuan suka maafkan, gauti nama dan she bukan merupakan urusan sepele, seumpama aku sendiri sudah ganti nama, orang lain juga tetap menyebut namaku yang lama, bukankah sia-sia belaka "

Tak sangka Ma Giok hou masih mengukuhi tuntutannya, dengan berbagai alasan yang tidak masuk diakal. Akhirnya Giok-Hou mengerut alis dan berkata serampangan tak mengenal aturan.

"Hoo, seharusnya sejak semula kau menggunakan namamu sekarang "

Saking dongkol gusar dan geli Giok-liong terloroh-loroh.

"Hahahaha Hehehe Hihi"

"Kau masih berani tertawa "

"Harap tanya tuan tahun ini berusia berapa ?"

"Tuan mudamu sudab cukup berusia delapan belas "

"Nah, kan tidak bisa salahkan aku "

"Apa harus salahkan aku?"

"Aku tidak berani salahkan kau, karena aku lebih tua dua cahun dari kau, tentang nama itu terang aku diberi oleh ibunda dan ayahku lebih dulu "

"Kau pintar memutar bacot dan ingin menang sendiri "

Sekarang Ma Giok hou malah menuduh Giok-liong semena mena menggunakan akal bulusnya, segera ia pasang kudakuda dan bergaya siap untuk bertempur.

Kemarahan Giok-liong sudah memuncak pada titik paling tinggi, dengan mendengus dingin ia tidak hiraukan lagi pada bocah sombong kurang ajar itu.

Pelan pelan ia memutar tubuh berkata pada Ling soat yan yang tengah duduk bersila semedi.

"Nona Ling, mari kita pergi"

Angin berkesiur, tahu-tahu Ma Giok-hou sudah menghadang didepan mereka, bentaknya mendelik.

"Mau pergi, Mau tidak kau ganti nama ?"

"Sulit aku yang rendah menurut perintahmu, kalau mau ganti, silahkan kau sendiri yang ganti"

"Apa kau berani menyuruh tuan mudamu ini ganti nama ?"

"Lalu mengandal apa kau suruh aku ganti nama ?"

"Mengandal wibawa Hwi-thian khek Ma Hun dan kepandaian tunggal Hwi-thian-ling-cu"

"Kau terlalu menghina orang, seumpama seorang limpung aku Ma Giok-liong juga punya parasaan, kau ada simpanan kepandaian tunggal apa, nanti pada suatu ketika biar aku belajar kenal di laut utara sana"

Habis berkata Giok-liong melangkah mendekat ke arah Ling soat-Yan sembari katanya.

"Mari kita pergi"

Saat itu kebetulan Ling soat-Yan selesai dengan semadinya, pelan-pelan merangkak bangun dengan pandangan gusar ia deliki Ma Giok-hou lalu berkata kepada Giok-Liong.

"Kenapa kau hari ini seperti.. ."

Giok-liong tertawa getir, ujarnya.

"Sudahlah Nona Ling "

"Dia membunuh chiu Ki"

"orang yang sudah mati takkan hidup kembali. Nona Ling permusuhan gampang diikat sulit diselesaikan."

Walaupun dengan kata-kata manis Giok-Liong berusaha membujuk Ling Soat-Yan, tapi Ma Giok-hou yang masih mentang-mentang gusar itu tak mau peduli, jurus Ban huasam-ong dimainkan kedua kepelan tangannya beruntun bergerak tiga jurus terus menghadang di depan jalan, bentaknya gusar.

"Kalau kau hari ini tidak ganti nama, jangan harap kau dapat lolos dari sepasang kepelan tuan mudamu ini"

Belum sempat Giok-liong mengumbar kemarahannnja, Ling Soat-Yan sudah tak kuat lagi, katanya kepada Giok liong.

"Kau takut Ma Hun dari Pak-hay, aku orang she Ling tidak takut Awas serangan."

Agaknya ia menyerang dengan penuh kegusaran dan pelampiasan dendam, maka kedua telapak tangannya berubah warna merah darah, sekali turun tangan ia lancarkan Hiat-ing ciang.

Ma Giok hou bergelak tawa dengan congkaknya, serunya.

"Apakah ajaran tadi masih belum cukup ?"

Kelihatan iapun menggerakkan kedua kepelan tangannya.

seiring dengan gerak jalan kepalannya mendadak terdengar suara mendesis dari sambaran tenaga pukulannya yang dingin membekukan, sungguh hebat mengejutkan perbawa sekejap saja tiga tombak sekeliling-tubuhnya diliputi hawa dingin membeku seumpama dimusim dingin yang banyak turun hujan salju, begitu dingin hawa ini sampai menembus tulang membuat orang merinding kedinginan.

Terkejut Giok-liong dibuatnya melihat kehebatan pukulan lawan, tercetus teriakan dari mulutnya gugup.

"Awas nona Ling, jangan, kau sambut dengan kekerasan"

Ling Soat-Yan sendiri juga maklum bahwa Hwi thian ciang yang dilancarkan Ma Giok-hou ini didalam gerak tipunya dilandasi dengan ilmu Ciat tok ham-kang, ilmu tunggal dari aliran Pak-hay yang paling diandalkan, perbawanya bukan kepalang hebatnya, tadi dirinya pun sudah merasakan kehebatannya.

Maka tidak menanti peringatan Giok-liong ia sudah bergerak, dengan jurus Thian-li-san hoa (bidadari menyebar bunga), gesit sekali tiba tiba ia melayang mundur 3 tombak jauhnya, lapat lapat terlihat dalam sorot pandangannya hatinya sudah gentar dan kapok, wajahnya pucat.

Ma Giok hou sangat puas dan senang, katanya bergelak tawa.

"Bagaimana? Belum lagi kena kenapa lantas lari?"

Sambil berkata kata ejek ini laksana tebaran bulu angsa tubuhnya yang memutih melayang mengejar dengan enteng sekali-Dimana ia gerakkan tipu Hian-hong it-sek (sejurus angin lesus) mendadak kedua pundaknya bergoyang tahu tahu ia sudah melejit tiba disamping Lign Soat-Yan tangan kanan menyurung kepada telapak tangannya persis mengarah tulang punggungnya, terus menepuk ringan.

Kalau tepukan telapak tangannya ini kena dengan telak, tentu tamat riwayatnya Ling soat yan.

"Tahan"

Tanpa berayal segera Giok liong membentak, dimana mega pulih berkelompok menerpa tiba, belum lagi tubuhnya meluncur tiba angin pukulannya sudah bergerak dengan dilandasi kobaran api deras yang mencorong mega putih terus menindih ke telapak tangan Ma Giok hou yang terulur keluar itu.

"Ei.. OU"

"biang""

Kedua gulung angin dahsyat saling bentur ditengah udara tepat dibelakang punggung Ling soat yan.

Tiga bayangan orang kontan terpental ketiga jurusan sampai setombak lebih-Terdengar Ma Giok-hou menjengek dingin.

"Kim-pit jan hun, kiranya hanya sebegitu saja."

Bahwasanya ia tidak tahu bahwa Giok-liong hanya mengerahkan tiga bagian tenaganya saja, tujuh bagian yang lain untuk melindungi badan.

sudah tentu pukulan Ma Giok-hou tadi juga atau belum dilancarkan menggunakan seluruh kekuatannya., setelah menyambuti pukulan Giok liong terasa hanya sebegitu saja, tiada tanda-tanda yang hebat dan mengesankan.

Maka sikapnya semakin takabur, nyalinya semakin besar.

Mendengar kata-kata orang yang menghina itu, hampir meledak dada Giok-liong.

Tak tahan lagi ia maju tertindas seraya berkata lantang.

"Aku sudah berkali-kali mengalah. jangan kau mendesak orang begitu keterlaluan Harus kau ketahui.. ."

Jangan cerewet"

Tugas Ma Giok-hou dengan muka membesi dingin.

"keluarkan kepandaian khususmu. Tuan mudamu tahu kau melulu mengandal kesaktian seruling samber nyawa yang ampuh itu"

Keruan semakin menyala kemarahan Giok-liong, desisnya rendah.

"Menghadapi kau tidak perlu kugunakan senjataku itu"

"Bocah keparat Lihat pukulanku ini"

Dalam tanya jawab itu mereka sudah saling serang satu jurus-Mulailah pertempuran besar-besaran yang sengit dan ramai-Kedua pihak samasama mengenakan pakaian serba putih, dan diselubungi kabut putih lagi keadaan gelanggang pertempuran menjadi semakin seru.

Diam-diam Giok liong membatin "Meskipun sifatnya congkak dan sombong, namun kenyataan Iwekangnya tidak rendah "

Dilain pihak Ma Giok hou sendiri juga tengah membatin "Memang tidak omong kosong ketenaran namanya itu, kepandaian dan kekuatan Iwekangnya bukan olah-olah hebatnya"

Batu kerikil dan debu beterbangan pohon bertumbangan keterjang angin pukulan dahsyat-Dua jagoan muda saling memberondong dengan serangan gencar dan mematikan, sama-sama tidak mau unjuk kelemahan dan mengalah.

semula Giok-liong sedanya saja menghadapi serangan musuh sangkanya betapa juga manusia sombong macam begini kekuatan Iwekangnya tentu ada batasnya siapa tahu begitu saling gebrak lantas ia rasakan permainan Giok-hou begitu aneh dan perubahannya sulit dijajaki, apalagi setiap sambaran pukulannya dilandasi angin dingin yang menyampok keras.

Hwi thian-cay dari Pak-hay memang bukan nama kosong.

Tidak dapat tidak Giok liong harus menaruh perhatian khusus untuk meneliti dan memecahkan jurus jurus permainan lawan.

Lima puluh jurus kemudian timbul suatu perasaan aneh yang belum pernah timbul dalam sanubari Giok-liong selama ini.

Terasa oleh Giok-liong, musuh muda yang dihadapinya ini merupakan tokoh muda yang paling kosen selama ia berkelana di kangouw.

Memang banyak yang berkepandaian setingkat dengan Giok-hou, namun dengan usianya yang masih muda belia ini jarang ditemui.

Terpikir dalam otaknya.

"Aku sudah terserang penyakit Le-hwe-bu-ceng yang tak mungkin dapat diobati lagi, jiwaku tinggal hidup tujuh hari lagi, untuk apa aku berebut kemenangan, orang macam Ma Giok-hou ini setelah bertambahnya usia dengan pengalaman hidup yang lebih berat tentu sifat dan watak kotornya itu bakal berubah pula, dia merupakan tunas muda dan bibit harapan kaum Bulim, kalau aku sampai membuatnya cidera sayang sekali. Karena pertimbangannya ini tanpa disadari gerak geriknya menjadi kendor. Tapi tiada terpikir oleh Ma Giok-hou bahwa Ma Giok-liong mempunyai pikiran aneh yang cenderung kepada harapan masa depan dirinya, yang terang setelah lima puluh jurus kemudian terasa olehnya tekanan permainan Giok-Liong kelamaan menjadi kendor dan lemah tak bertenaga, jurus permainannya juga tidak segesit semula, tenaganya lebih payah lagi, keruan Giok-hou bersorak dalam hati. sebaliknya tanpa mengenal kasihan Giok-hou melancarkan serangannya lebih gencar, kedua kepelan tangannya itu laksana ribuan kupu-kupu beterbangan mendesak dan mengancam setiap saat, sehingga Giok-liong kerepotan mundur dan mundur terus membela diri tanpa mampu balas menyerang. Putri bayangan darah Ling soat yan menjadi gelisah melihat Giok liong semakin payah dan terdesak dibawah angin, tak tertahan lagi akhirnya ia berteriak.

"Giok-liong Engkoh Ling Kenapakah kau "

Mendengar teriakan ini Ma Giok-hou masih lebih memberondong serangannya ditambah tenaga berlipat ganda.

Telapak tangan bergoyang memancing mendorong ke depan, sedang telapak kiri yang membabat dari kanan ke kiri tiba-tiba berubah menjadi tutukan, dimana kedua jari tengahnya meluncur mengarah jalan darah besar dibawah tetek Giokliong, cara serangan macam ini betul-betul ganas dan jahat sekali, karena sembari menutuk mulutnya ikut membentak.

"Kena"

Tapi sedetik sebelum kedua jarinya mengenai sasarannya mendadak bentakannya menjadi seruan tertahan tersipu-sipu ia menjejakkan kakinya lantas melayang jauh setombak lebih, karena terlambat serambut saja dada sendiri juga tertembus oleh selarik sinar pedang dingin yang melesat datang dari tengah udara.

Giok-liong juga berteriak khawatir, lekas lekas berkelit mundur keluar kalangan, cepat cepat Ling soat-an memburu maju menarik lengan baju Giok-liong, mukanya pucat penuh kekwatiran.

sejenak kemudian terlihat sesosok bayangan kuning meluncur turun dari tengah udara.

Tahu-tahu Tan soat-kiau sudah berdiri teoak diantara mereka, sedikit membungkuk ia mengulur tangan mencabut pedang pendeknya yang bergoyang-goyang menancap ditanah, sepasang matanya berkilat mendelik kearah Ma Giok hou, semprotnya.

"Kenapa kau turunkan tangan kejam. Engkoh Liong sengaja memberi hati kepadamu, masa kau tidak tahu ?"

"Hahahahaha ". sebelum Ma Giok-hou bergelak tertawa geli-sekian lama ia mengamati Tan soat-kiau, baru suaranya mengalun.

"Aduh satu lagi Ma Giok liong Rejeki sungguh besar, ya Hahaha."

Tan soat kiau membolang baling pedang pendeknya, bentaknya.

"Mulut bawel, awas nonamu memotong lidah kurang ajar itu"

Saat mana Giok liong berdiri menjublek ditempatnya seperti orang linglung, luka dalam hatinya sungguh besar sehingga membuat semangatnya runtuh hakikatnya ia sudah kehilangan daya gerak kehidupan sebagaimana manusia umumnya, tenggelam semakin ambla Ini tak bisa menyalahkan dia sebab tujuh hari adalah waktu yang sangat pendek ?

Lain adalah Ma Giok-hou dengan tertawa cengar cengir ia tunjuk Giok-liong berkata kepada Tan soat kiau.

"Dia adalah engkoh mu ?"

Merah muka Tan soat kiau, namun dengan berani ia menjawab.

"Benar, kau mau apa ?"

"Apa Kaujuga she Ma ?"

"cis Nonamu she Tan"

"Lho, kenapa kau panggil dia engkoh ?"

"Kau tak usah peduli hal ini "

"Kenapa kau tidak panggil 'engkoh' juga kepadaku"

"Bocah bangor Kucincang tubuhmu"

Lenyap suaranya tahutahu sinar pedangnya sudah berkuntum beterbangan laksana titik bintang terus menubruk kearah Ma Giok-hou sembilan jalan darah besar ditubuh orang ia incar dengan tepat, cepat sekali beruntun ia sudah lancarkan sembilan tusukan dan tikaman.

Kepandaian Ma Giok hou boleh dikata sudah mendapat gemblengan pribadi dari Hwt-thian-khek Ma Hun dari laut utara, dengan tingkat kepandaiannya sekarang mana begitu gampang kena disergap oleh serangan musuh.

Pura pura ia berseru kejut dan mundur ketakutan sembari berteriak menggoda.

"Aduh Celaka"

Bayanganputih melayang dan berlompatan kekanan kiri dengan ringan sekali, tanpa terasa dengan kegesitan tubuhnya itu indah sekali ia meluputkan diri dari ancaman ujung pedang lawan, malah tidak sampai disitu saja ia menggoda tiba-tiba ia melejit kekanan Tan soat-kiau begitu dekat jarak mereka boleh di kata berdiri berendeng bersentuhan pundak.

Tangkas sekali ia melulur telapak tangannya mencengkeram pelelangan tangan orang lalu digentakkan, serunya lemah lembut .

"Nona Tan jatuhkan pedangmu"

Tan soat-kiau sangat percaya akan hasil serangannya ini, tak nyana baru saja ia bekerja setengah jalan mendadak bayangan musuh menghilang, belum lagi ia mengetahui duduk perkaranya tahu tahu terasa pergelangan tangan kesakitan kena dicengkeram oleh lawan, begitu sakit sampai menembus tulang, walaupun berusaha hendak berontak namun tenaga sudah lemas.

"Trang"

Ditengah keluhannya pedangnya jatuh ke tanah, sekuatnya ia coba meronta, namun pergelangan tangannya seperti dibelenggu kacip sedikitpun tidak bergeming malah menambah sakit.

Dari kejauhan Hiat-ing Kong-cu tak kuasa memberi pertolongan, mulutnya hanya berteriak mengeluh saja.

sebetulnya semangat tempur Giok-liong sudah ludes dan loyo, namun begitu melihat Tan soat-kiau terbelenggu dalam bahaya kontan membara matanya, mega putih lantas bergerak menerpa kedepan dengan merangkap kedua jari tangan kanannya, ia menubruk maju mengitari jafan darah Gihiat dipunggung Ma Giok-hou, mulutnyapun membentak gusar.

"Lepaskan dia "

Menurut perhitungannya begitu ia lancarkan serangan mematikan ini, tentu Ma Giok hou lepaskan Tan soat-kiau untuk menyelamatkan diri dengan menyingkir jauh.

Tak nyana ternyata Ma Giok-hou malah terkekeh-kekeh, sedikitpun ia tidak bergeming dari tempat berdiri, teriaknya keras.

"Mari tutuk. Asal kau tega lihat si cantik ini gugur bersama aku, silakan tutuk saja "

Walaupun Giok-liong berhasil mengancam jalan darah besar cio-hian di punggungnya, tapi Ma Giok-hou masih mencengkeram pergelangan tangan Tan soat-kiau, dimana merupakan jalan darah yang mematikanjuga.

oleh karena itu ia menjadi serba sulit dilepas sayang kalau itu diteruskan akibatnya juga tentu runyam, terpaksa ia membentak.

"Lekas lepaskan"

Tatkala itu Tan soat-kiau masih bandel berusaha meronta lepas sampai mukanya merah padam, napasnya sengal-sengal sementara Ling soat yan hanya membanting banting kaki saja sembari melotot tak mampu berbuat apa-apa.

Tanpa pedulikan seruan Giok-liong, Ma Giok-hou malah tertawa kering, ujarnya menantang.

"Kalau kau punya kepandaian silahkan tutuk "

Lengan Giok-liong menjadi gemetar, giginya terkancing kencang saking gemas.

Di lihat dari perangai Ma Giok-hou yang bangor dan aseran itu, tentu ia dapat melaksanakan perkataannnya, terang dia takkan mau melemaskan Tan soatkiau yang menjadi sandera keselamatan dirinya.

Keruan Giok-liong menjadi bingung dan gugup, katanya.

"Kau mau lepaskan tidak ?"

Acuh tak acuh dengan sikap malas-malasan Ma Giok-hou menyahut.

"Tidak sulit aku lepas tangan, tapi aku kuatir kau takkan mau setuju "

"Menyetujui apa ?"

Tanya Giok liong.

"Letakkan seruling samber nyawamu ditanah dan kau sendiri harus mundur tiga tombak "

"Hm, kau memeras ?"

"Bukan memeras, inilah syarat dan hitung dagang "

"Tentu, tukar menukar dengan adil Kalau tidak jangan harap aku melepas kekasihmu ini."

Mendengar percakapan ini Tan soat-kiau menjadi gelisah, teriaknya.

"Giok-liong, engkoh Liong sekali-kali jangan percaya obrolannya "

Di sebelah sana Ling soat-yau juga mendesis mengertak gigi.

"Bangsat rendah dan hina dina "

Giok-liong lemas lunglai, ujarnya menghela napas.

"Ternyata tujuanmu hanya pada seruling samber nyawa melulu "

Tan soat-kiau berteriak lagi.

"Bagaimana juga tidak boleh kau serahkan kepada kurcaci ini. Kalau seruling sakti mandra guna berada di tangannya, tentu penghidupan kaum persilatan tak aman sentosa selanjutnya "

Ma Giok-hou mengeraskan cengkeraman tangannya, katanya dongkol.

"Apa kau tidak ingin hidup lagi?"

"ou..."

Keringat sebesar kacang kedele berketes-ketes meleleh membasahi selebar mukanya, agaknya soat-kiau sangat menderita menahan kesakitan.

"Bangsat berani kau "

Bentak Ling soat yan, tapi apa gunanya membuang tenaga dan suara.

"Hentikan siksaanmu "

Mendadak Giok-liong membentak keras, suaranya laksana guntur menggelegar selebar mukanya bersemu hijau mcmbesi, betapa pedih dan mendelu hatinya dapatlah dibayangkan, amarahnya sudah memuncak tak terkendali lagi.

Tapi pada lain kejap sikapnya menjadi lebih tenang, ujarnya pelan-pelan.

"Baiklah selalu kubawapun tiada gunanya lagi, lebih baik kuberikan kepadamu saja"

Soat-kiau dan Soat-Yan berseru tertahan sambil mendekap mulutnya. Ma Giok-hou menyeringai penuh kemenangan ujarnya.

"Asal kau tahu saja Lekas letakkan di tanah dan cepat mundur tiga tombak "

Sepasang mata Giok liong mengembeng air mata, matanya mendelong mengawasi ke depan, pelan-pelan ia merogoh keluar seruling sakti yang selalu diimpikan dan diincar kaum persilatan.

Cahaya cemerlang menyolok mata terpancar dari seruling sakti yang memutih halus itu.

Lekas Ling Soat-Yan memburu maju ke-samping Giok liong, kedua tangannya mengelus-ngelus seruling sakti itu, air mata membanjir keluar, tak tertahan ia menangis sesenggukan keluhnya .

"Apa betul-betul kau hendak menyerahkan seruling ini begitu saja"

Giok liong manggut-manggut tanpa bicara, pelan-pelan ia mendorong tangan Ling soat-yan, lalu dengan seksama dan penuh rasa berat ia mengamati seruling ditangannya.

Lama dan lama selali, akhirnya Ma Giok hou menjadi tidak sabar lagi, serunya mendesak.

"Bagaimana ?Jadi tidak barter ini ?"

"Jadi, jadi Tapi sebelum seruling ini menjadi milikmu aku ada beberapa patah kata ingin kuucapkan"

"Ada omongan apalagi, lekaslah katakan, main plintat plintut segala."

"Baik, kuharap kau dapat meresapinya "

"Katakanlah "

"Pertama, seruling sakti ini peninggalan orang kuno yang telah menjadi senjata ampuh mandraguna. Dia akan menjadi milik orang yang berjodoh dengan seruling ini. Hari ini aku kehilangan seruling ini mungkin perbuatan bajikku masih minim, maka kuharap saudara selalu ingat akan peringatan ku ini"

"Itu kan obrolan biasa selama orang memberi nasehat "

"Kedua, seruling ini karena terlalu sakti sehingga cara menggunakannya sangat ganas dan telengas, tidak bisa dikatakan tidak akan bisa membunuh orang, maka harapanku kedua supaya kau menggunakan kesaktiannya ini untuk membunuh orang-orang jahat, lindungilah yang bijaksana dan lemah tak bersalah, jangan sekali kali kau gunakan untuk menyebar maut menimbulkan bencana."

"Aah, omong kosong belaka "

"Ketiga..."

"Masih ada fagi. Waaah brengsek "

"Hehehe mau tidak kau mematuhi terserah kepadamu saja, bagaimana ?"

"Baiklah, sebutkan terus "

"Ketiga, seruling ini jangan sampai kena kotoran, sebagai benda suci dan sakti sekali kena kotor lenyaplah keampuhannya, bukan menjadi barang antik atau pusaka lagi."

"Untuk hal inu boleh dipercaya dan bisa kumaklumi"

"Keempat..."

"Masih ada keempat?"

"Jangan sembarangan kau serahkan seruling ini kepada siapapun, pilihlah orang yang tepat dan orang itupun harus betul-betul dapat kuat melindunginya...."

"sudah sudah Legakanlah hatimu Berada ditanganku seruling ini akan lebih terlindung daripada menjadi milikmu-Direbut orang lain, sesutu tak mungkin terjadi"

"Kuharap begitu pula"

"Sudah belum, tiada sambungan lagi. Letakkan ditanah dan menyingkir tiga tombak"-"Baik kuturuti segala kemauanmu"

Selesai berkata, mendadak Giok-liong bertekuk lutut, seruling samber nyawa diangkat tinggi diatas kepalanya, menghadap ke timur ia menyembah berulang kali, mulutnya bersabda.

"Tecu tak berguna, seruling sakti ini tak mampu kulindungi lagi, harap para Cosu memberikan hukuman setimpal pada generasi yang tak berguna ini."

Selesai ia mengheningkan cipta air mata sudah membanjir keluar tak tertahan. Hati Tan soat-kiau seperti diiris-iris pisau, teriaknya sambil meronta .

"Aku rela mati, jangan kau...aduh"

"Jangan banyak mulut"

"Ternyata begitu Ma Giok-hou mengeraskan cengkeramannya, hampir saja Tan soat-kiau jatuh pingsan saking kesakitan Giok liong menjadi beringas, hardiknya.

"Kau masih belum lepaskan tanganmu."

Ma Giok-hou menyerinyai, jengeknya-"Aku akan lepas tangan setelah kau letakkan serulingmu itu dan mundur tiga tombak-"

"Kau mengukur hari seorang kuncu dengan martabat seorang rendah. Aku tentu akan menepati janjiku-"

Benar juga pelan-pelan Giok liong meletakkan seruling yang memancarkan cahaya cemerlang diatas rumput, lalu katanya pelan.

"Begini, kau puas bukan?"

"Mundur tiga tombak-"

Bentak Ma Giok hou-Giok liong manggut-manggut, menggape kepada Ling soat-Yan sembari katanya.

"Nona Ling, mari kita mundur tiga tombak"

Ling Soat-Yan sudah tidak kuat menahan rasa sedihnya, ia menangis keras tergerung-gerung, katanya tersekat-sekat.

"Kau-. benar kau..."

Tan soat-kiau sendirijuga sampai ter-tenggak suaranya saking pilu menangis.

"Engkoh Liong, kau tidak seharusnya.-karena aku...."

Giok liong menggigit bibir, ujarnya.

"Aku sudah menyetujuinya, sudahlah jangan banyak omong lagi, mari."

Sambil mengajak Ling Soat-Yan ia sudah melayang tiga tombak lebih, terus duduk diatas sebuah batu besar, sikapnya lesu dan loyo.

Ling soat yan malah mendelong mengawasi seruling sakti di tanah berumput itu, tidak rela untuk meninggalkan begitu saja "Budak-"

Bentak Ma Giok-hou dengan garang.

"Tidak lekas menyingkir, apa cari kematian"

Terdengar Giok-liong berteriak memanggil.

"Nona Ling, marilah kesini "

Dengan pandang berapi-api penuh kebencian Ling Soat-Yan mendelik kearah Ma Giok hou, seolah membanting kaki iapun melompat jauh tiga tombak tiba disamping Giok-liong.

suara Giok-liong terdengar lemah berkata.

"Tuan boleh melepas orang bukan."

Ma Giok-hou menyeringai mendadak ia menengadah serta bergelak tawa, tangan yang mencengkeram Tan soat kiau masih belum dilepaskan mendadak ia menyeretnya ke depan lalu membungkuk menjemput seruling samber nyawa, sambii mengentakkan tangan Tan soat-kiau ia berteriak.

"Ternyata begini gampang tanpa mengeluarkan tenaga, Genduk. ayu, tak nyana jiwamu sebagai timbal dengan senjata sakti mandraguna ini, baik hitung-hitung masih menguntungkan kau"

Habis berkata terlihat tangan kanannya dipuntir terus disendai keatas.

Ternyata sekali sentak ia lemparkan tubuh Tan soat-kiau setinggi lima tombak-Bayangan merah dan putih berkelebat bersama.

Kiranya Ling soat-Yan dan Giok-liong memburu bersama, begitu cepat mereka meluncur kearah Tan soat-kiau yang melayang di tengah udara itu.

Betapa berat tubuh besar ini kini meluncur lurus lagi keruan bukan kepalang deras dan kuat daya jatuhnya.

Untung kembangkan Ling hun-toh Giok-liong secepat kilat, dalam saat gawat dan memburu itu kedua tangannya masih sempat menyandak dan menyanggah ke atas, hitung-hitung ia berhasil menahan sedikit daya luncuran jatuh tubuh Tan soat

Tiraikasih WEBSITE

http.//kangzusi.com/ kiau.

Tapi tubuh Giok-liong yang meluncur lempang itu sudah hampir saja dadanya menyentuh tanah.

Karena kedua tangan menyanggah tubuh Tan soat-kisu sehingga ia tidak leluasa mengembangkan gerak badannya, hanya dada sedikit menyentuh tanah serta kedua tumit kakinya menutul bumi, tubuhnya terus meluncur kedepanpula beberapa jauh baru ia berhasil mengendalikan tubuhnya dengan berdiri tegak-Tapi tak urung jidatnya sudah di basahi keringat dingin-Dengan wajah masih penuh rasa panik Ling soat-Yan menuding Ma Giok-hou, makinya.

"Keparat, seruling sudah diserahkan kepadamu, kenapa kau ingkar janji sengaja hendak mencelakai jiwa orang ?"

Ma Giok-hou tertawa lebar sambil mendongak, ujarnya.

"ingkar janji ? janji apa yang kuingkari ?"

"Sikapmu terlalu kasar terhadap nona Tan ?"

"Kepada siapa aku pernah berjanji? Hahahaha "

Sambil gelak tawa ia mengobat-abitkan seruling ditangannya, serta teriaknya kegirangan.

"Kupandang seruling ini biar kuampuni jiwa kalian sekali ini"

Lalu dengan memicingkan mata ia membelak balik seruling ditangannya serta menikmati cahaya cemerlang yang memancar keluar, pelan-pelan langkahnya mulai beranjak keluar menuju kebawata gunung.

Mendadak Giok-liong tersentak maju seperti teringat sesuatu, teriaknya keras.

"Tuan ini harap tunggu sebentar"

Sebat sekali Ma Giok-beu mendadak memutar tubuh, seruling melintang didepan da-danya, katanya mengumbar kemarahan.

"Kenapa? Kau menyesal ?"

Sikapnya berangasan bersiaga hendak berkelahi,. Giok-liong geleag-geleug kepala, katanya tertawa tawa .

"Bukan begitu maksudku"

"Lalu untuk apa kau panggil aku ?"

"Ada sebuah pesan ketitipkan kepadamu"

"Urusan apa ?"

"Belum lama berselang, aka yang rendah pernah mendapat perintah dari ayahmu, beliau minta aku segera menuju ke Pak hay untuk merundingkan sesuatu sekarang mungkin permintaannya itu tak mungkin terlaksana. Maka kuminta kesedianmu untuk menyampaikan berita ini kepada beliau, tolong sampaikan pula salam hormatku kepada Ma-lo enghiong "

"Kau mimpi mana bisa ayahku mengundangmu "

"omoaganku cukup sekian saja, percaya tidak terserah padamu"

"Hm, kau hendak menekan aku dengan kebesaran nama ayah bukan. Bedebah biarlah dengan seruling ini aku memberi sedikit rente kepadamu, lihat serangan"

"Ma Giok-hou, edan kau"

Bentakan ini nyaring merdu, jauh diluar puluhan tombak.

Namun dalam pendengaran kuping bukan saja jelas malah mendengung berirama tak putus-putus Iwekang orang yang mengeluarkan suara ini tentu sudah mencapai puncak kesempurnaannya.

Disusul terdengar suara kelintingan yang riuh dan ramai berkumandang terbawa hembusan angin.

Berubah air muka Ma Giok-hou, sikapnya menjadi takut-takut nyalinya kuncup.

Giok-liong sebaliknya mengunjuk rasa girang, dengan prihatin ia mengulur leher memandang kearah datangnya suara kelintingan, serunya sambil membungkuk hormat.

"Lo cian pwe telah datang"

Adalah putri bayangan darah Ling Soat-Yan dan Tan Soat kiau yang paling riang berjingkrak-jingkrak seperti anak kecil yang melihat ibunya pulang dari pasar membawa kue-kue, tanpa janji mereka berterik-teriak.

"Ibu datang Ibu ibu ? Bu Bu"

Sekuntum Bunga berkembang dikejauhan sana membawa setitik merah terus melayang datang dari kejauhan sana, sekejap saja sudah melayang turun dihadapan mereka tanpa mengeluarkan suara tanpa menimbulkan kesiur angin.

Dengan sebelah tangan menggandeng Ang-i-mo-li Li Hong, Kim ling cu sudah berdiri tegak diantara mereka.

Bau harum semerbak lantas berkembang merangsang hidung, sehingga perasaan menjadi ringan, semangat pulih bergairah-Memang tida malu dan kenyataan benar Kim-Ling-cu sebagai tertua dari Bu lim-su-bi, meskipun usianya sudah menanjak lanjut karena Iwekangnya yang tinggi maka wajahnya masih kelihatan muda, halus dan cantik sekali tak kalah keayuan bidadari, sejenak ia memandang kearah wajah dan sikap kedua putri angkatnya, seketika alisnya menjekit tinggi, matanya lantas memandang pula kearah Giok liong bibirnya berkemik.

"Terjadi apa lagi disini?"

Karena dongkol dan penasaran Ling soat yang dan Tan soat-kiau sejak tadi masih tertekan dalam hati dan belum sempat melampiaskan, mendengar pertanyaan yang halus penuh rasa prihatin ini tak kuasa lagi berbareng memburu maju sambil pecah tangis tergerung-gerung terus menubruk kedalam pelukan Kim-Ling-cu.

Giok-liong menjura dalam seraya menyapa-"Wanpwe menyampaikan hormat kepada Cian-pwe"

Ma Giok-houjuga maju betapa langkah, katanya menghormat.

"Titji (keponakan) menghadapToa-i-be (Bibi besar)."

Mendelik sepasang biji matanya Kim-ling-cu, tanyanya penuh wibawa.

"Eh, kenapa seruling samber nyawa bisa berada di tanganmu ?"

Kembali Ma Giok-hou mengunjuk sikap sombongnya, seruling samber nyawa diayun ditengah udara membuat lingkaran membundar, katanya tertawa.

"Keponakan memperolehnya dalam menang berjudi "

Merengut air muka Kim-ling-cu, katanya kepada Giok-liong.

"Giok liong Kenapa kau tidak tahu diri Benda pusaka yang sakti mandraguna kenapa kau jadikan taruhan untuk berjudi apa segala kenapa begini ceroboh menuruti perasaan hati melulu ?"

"cianpwe--"

Giok liong tersendak tak kuasa menerangkan. Putri bayangan darah Ling Soat-Yan tampil kedepan seraya menuding muka Ma Giok-Uiou, katanya.

"Bujangan kau percaya obrolannya menang secara berjudi apa segala, bohong "

"sebetulnya, apa yang telah terjadi ?"

Tan soat-kiau menjelaskan sambil sesenggukan.

"Dia menyergap dan membokong mencengkeram pergelanganku, aku dijadikan tandera memeras... dia (Giokliong), sebagai gantinya ia minta jan hun-ti, kalau tidak ia hendak membunuh aku"

"Ha, ada kejadian demikian "

Berubah dingin air maka Kimling-eu, telunjuk rasa tak senang pada wajahnya. Ling soat-yan juga monyongkan mulut, tambahnya.

"Untuk menolong jiwa adik soat-kiau terpaksa Giok-liong meletakkan seruling samber nyawa diatas rumput dan harus mundur lagi tiga tombak jauhnya, siapa tahu setelahjan-hun ti berada ditangan-nya, ia mengerahkan tenaga dalam melemparkan tubuh soat-kiau beberapa tombak, jauhnya kalau Giok-liong terlambat-.."

Dengan memicingkan mata Kim-ling-cu mengawasi Ma Giok-hou, suaranya rendah tertekan.

"Apa besar begitu ?"

Sikap Ma Giok-hou tidak tenang, mulutnya tergagap berkata.

"Tadi memang diadakan pertaruhan"

"yang kutanyakan apakah kenyataan memang begitu ?"

Sekian lama Ma Giok-hou tak berani menjawab, akhirnya ia manggut, namun samar samar dalam pandangan matanya masih terseret rasa dongkol, agaknya hatinya berantai-Kim-ling cu tidak unjuk marah juga tidak memakinya, ia berpaling ke belakang kepada Li Hong memberi syarat kedipan mata serta katanya halus.

"Ambil kembali jan-hun-ti di tangannya itu "

Berdiri alis Ma Giok-hou, mulutnya sudah terbuka tapi urung bicara, badannya tampak bergetar. Kim-ling-cu tersenyum simpul.

"Serahkan padanya "

Saat mana Li Hong sudah beranjak ke depan dengan langkah gemulai, sekali raih gampang saja ia sambut seruling samber nyawa dari tangan Ma Giok-hou.

Lalu pelan-pelan kembali berdiri di belakang Kim-ling cu, sepasang matanya dengan penuh iba dan rasa dongkol dan penasaran melirik kearah Giok-liong.

Kata Kim ling cu kepada Giok liong.

"Kau ini memang ceroboh. Kenapa kau tinggalkan mereka berkelahi diatas Kui-ong-ping, kau sendiri tinggal pergi tanpa pamit, kalau terjadi malapetaka akan jiwa mereka berdua bagaimana?"

Panas selebar muka Giok-liong, jawabnya tersekat-sekat.

"wanpwe mempunyai kesukaran yang sulit untuk diutarakan"

Kata Kim ling cu lagi.

"Li Hong, menerima perintah dari ayahnya dan pesan wanti-wanti dari Ibun Hoat untuk membuntuti jejakmu, sekarang cara bagaimana dia harus kembali ke yu bing-mo khek-melaporkan tugasnya itu. seorang anak perempuan lemah, tak punya rumah berkelana di Kangouw, apakah itu baik?"

Giok liong semakin keripuhan, lidahnya menjilat-jilat bibir, katanya dengan rikuh.

"Kalau begitu serahkan sajajan-hun-ti kepadanya, supaya ia bisa kembali menunaikan tugasnya."

"Bocah gendeng tak berguna, bagaimana mungkin pusaka perguruan kau jadikan taruhan berjudi dengan orang, kini ada di-berikan kepada orang lagi"

"Hati Wanpwe sekaran sudah beku tanpa tanpa lagi"

"Kenapa?"

"sebab... sebab..."

"Katakan saja"

"sebab termasuk hari ini, jiwa wanpwe tinggal hidup tujuh hari saja"

Tersentak kaget seluruh hadirin, terutama Ling-soat Yan dan soat-kiau tergetar tubuhnya, dengan muka pucat dan berdiri menjublek mereka mendelong mengawasi Giok liong.

sebaliknya Kim ling-cu mandah tersenyum manis katanya.

"Kau percaya benar akan ucapan Ibun Hoat"

"Keadaan yang membuat aku harus percaya "

"Coba kau kemari"

Giok liong manggut, ia maju ke hadapan Kim ling cu kirakira lima kaki jauhnya kepadanya, sedangkan pandangan lurus ke depan berdiri tegak-Kim-ling-cu mengulur tangan, kelima jarinya meraba urat nadi pergelangan tangannya, sekali lama ia memeriksa denyut nadi, lalu membalik kelopak mata Giok-liong, lalu memeriksa pula tengah-tengah alisnya dengan seksama.

(Bersambung ke

Jilid 23)

Jilid 23 Sebentar kemudian baru ia berkata.

"Aaah, memang kau benar-benar terserang Le-hwe-bu-ceng, Iwekang beracun dari luar perbatasan itu"

Agaknya Kim-ling-cu sudah mengetahui seluruh seluk beluk Giok-liong dari penuturan Li Hong.

"Le hwe-bu-ceng-tok kang"

Tak tertahan Ling Soat-Yan dan Soat-kiau berseru terbelalak.

Kim-ling cu memejamkan mata berpikir rada curiga dan tanda tanya merangsang benaknya lama dan lama sekali ia tidak berkata-kata.

Akhirnya ia membuka mata dan berkata tak mengerti.

"Kalau sudah terserang racun Le hwe-bu ceng, betapapun tinggi latihan Iwekang mu, dalam j angka dua belas jam tentu racun dalam tubuh akan kumat dan terbakar habis menjadi abu sebaliknya kau.."

Semakin besar kepercayaan diri Giok-liong bahwa dirinya terserang racun jahat, jiwanya bakal melayang dalam waktu dekat.

Karena tahu dirinya bakal mampus batinnya menjadi lapang dan tenang, hidup atau mati menjadi tawar dalam pandangannya, itulah yang dinamakan tak perduli mati atau hidup pasrah pada nasib saja.

Perasaannya lebih enteng dari yang lain, maka dengan tawar saja ia berkata.

"Menurut kata Ibun Hoat, aku punya suatu Lwe-kang khusus yang kuat bertahan maka aku bisa menyambung nyawa tujuh hari lagi. selewat tujuh hari seluruh tubuh terbakar hangus tak membekas lagi "

Tatkala itu Ling soat yang dan Tan soat-klau sudah tergerung-gerung, demikian juga Li Hong tak kuasa membendung air mata lagi. Tanpa merasa Giok-liong membatin.

"Benar, aku punya Iwekang khusus apa yang dapat menahan bekerjanya kadar racun Le-hwe-bu ceng tokskang itu?"

Ma Giok-hou yang sejak tadi diam saja tanpa bersuara sekarang ikut buka suara dengan jengekan dingin.

"Terkena Le-hwe b u-ceng tokskang, tak bisa tidak harus minta bantuan pikak kita dari aliran Pak-hay"

Giok-liong tidak ambil perhatian kata-kata orang, hanya sambil manggut-manggut ia berkata tawar.

"Benar memang memerlukan ciat-ham im yang tumbuh di daerah kalian sana "

Kim-leng cu mengerutkan kening, katanya.

"Seumpama punya Ciat-ham im dari Pak-hay, kalau tiada Hwi-sing chio dari Limg-lam juga sia-sia belaka."

Berubah perasaan Ma Giok-hou, mulutnya sudah terbuka urung berkata, senyum sinis berganti menghias wajahnya. seperti teringat sesuatu mendadak Kim-liong-cu bertanya.

"Giok-liong, Iwekang ji-lo pelajaran gurumu, kau sudah melatihnya sampai babak ke berapa ?"

Giok-hong menunduk malu, sahutnya.

"Baru babak ke tiga."

Kim-ling cu menjadi lemas seperti putus asa katanya sedih.

Ji-lo merupakan ajaran murni perpaduan dari hawa langit dan bumi.

Kalau dapat melatih sampai babak kesembilan dapat mengusir atau menolak sembarang racun.

Kau hanya berlatih sampai babak ketiga, tak mungkln mencapai tingkat sempurna begitu "

Suasana menjadi hening lelap, Kim-ling-cu tengah terpekur seperti tengah memikirkan suatu problem teka teki yang sangat rumit sekali, perbendaharaan pengalaman dan pengetahuannya yang luas serta mendalam toh belum dapat memecahkan rahasia persoalan ini.

Tapi akhirnya ia mengambil suatu kebijaksanaan.

"Giok-liong Kaupun tidak perlu banyak pikir dan khawatir, memang tidak salah kau terserang kadar racun Lc-hwe-bo ceng tok kang. Namun menurut pemeriksaanku tadi, urat nadimu bersih dari segala gangguan, seluruh isi perutmu berjalan normal tanpa terasa adanya racun bekerja dalam tubuhmu, malah karena dengan Le-hwe yang semula mengeram dalam tubuhmu itu, pusarmu menjadi gemblengan dan telah tertempa lebih kuat dan kokoh, bukan saja tidak membahayakan keselamatan malah banyak menambah kekuatan dan kemajuan Iwekang mu "

Giok liong tertawa getir, sahutnya.

"Terima kasih akan kebaikan cian-pwe"

Ternyata ia mengira Kim-ling cu hanya sekedar memberi kata kata hiburan saja supaya tidak kehilangan muka, maka iapun mengunjuk muka berseri tanpa menyinggung lagi persoalan ini.

Hakikatnya dalam hati masih terganjel pikiran tujuh hari kemudian tibalah ia meninggalkan dunia -fana ini.

Kim-ling-cu berseri tawa, katanya.

"janganlah terbawa oleh perasaanmu saja,"

Lalu ia berpaling kearah Li Hong serta katanya.

"Serahkan kembali seruling samber nyawa "

Li Hong mengiakan terus melangkah maju dengan muka merah malu langsung ia anggukkan seruling samber nyawa kepada Giok-liong, matanya tidak berani beradu pandang.

Tatkala itu Kim-ling-cu.

memutar badan menghadapi Ma Giokhou katanya.

"Giok-hou selanjutnya tak peduli dimana saja, ku-larang kau berkelahi lagi dengan Giok-liong. Kalau tidak tanpa memberi tahu dulu kepada ayahmu, perlu aku menghajarmu sampai kedua kakimu putus, tahu "

Nada perkataannya biasa saja namun penuh wibawa dan kekerasan, sepatah demi sekata kedengaran sangat kuat bertenaga.

Agaknya Ma Giok-hou merasa segan takut-takut terhadap tertua dari Bu-lim-su-bi ini, berulang-ulang ia manggutss, mulutnya pula mengiakan.

Tiba-tiba Kim ling-cu menghela napas panjang, matanya mendongak memandang ke-langit biru kelam, suaranya kedengaran berada sedih dan iba.

"Giok-hou Giok-liong Kamu berdua seharusnya.... ai, betapapun kalian seharusnya lebih dekat, ketahuilah, memukul harimau-."

Kedua kelopak matanya kelihatan basah, ucapan selanjutnya menjadi tersendat ditenggorokan tak kuasa diucapkan lagi. sebaliknya Giok-lionglah yang meneruskan kata-katanya.

"Ucapan cianpwe benar, memukul harimau masih saudara sekandung, berangkat kemedan perang masih ayah ber-anak. Kau bernama Giok hou aku bernama Giok-liong, sama-sama she Ma lagi, seumpama saudara sekandung sendiri"

Namun agaknya Ma Giok-hou tidak tergerak atau ada minat dengan rangkaian kata-kata ini, seperti mendengarkan kisah panjang seenaknya mulutnya mengiakan saja.

Giok liong lantas maju berapa langkah dan terus menjura, katanya.

"sikapku yang kasar tadi harap suka diberi maaf "

Ma Giok-hou tertawa dibuat-buat, iapun membalas hormat sekadarnya.

Giok-liong lantas memasukkan seruling kedalam kantongnya Mendadak tangannya meraba sebuah benda dingin, waktu dirogohnya keluar, kelihatan itulah sebuah benda warna hitam yang mengkilap, seperti besi tapi bukan besi juga tidak menyerupai batu, begitu ia angkat tinggi terus diayun diatas kepalanya, bawa sekelilingnya terasa menjadi dingin membeku.

Keruan seluruh hadirin terbelalak kaget-Terutama Ma Giok Hou begitu melihat benda ini berubah hebat air mukanya, tanpa berayal terus berlutut dan menyembah berulang-ulang.

Mulutnya berseru.

"Tecu Ma Giok-hou menyembah pada Ling-kud (medali)."

Giok-liong tercengang, katanya gugup.

"saudara Giok-hou, kau...."

Sikap Kim-ling cu sendiri juga menjadi serius dan hidmat, katanya sungguh-sungguh.

"Dari mana kauperoleh jau lian lui-siau-hwi-soat-ling ? Medali tertinggi dari Pak-hay bun?"

Cepat-cepat Giok-liong menjelaskan.

"Pek Congcu mengutus Ping-goan su lo menggunakan medali ini mengundang wanpwe menuju ke Pak-hay untuk suatu keperluan."

Bersinar mata Kim-lim cu wajahnya mengunjuk rasa girang katanya tersipu-sipu.

"oh ada kejadian begitu, kenapa kau tidak lekas pergi "

"Waktu itu Wanpwe ada janji di Im-hong Pay, maka tak mungkin memenuhi undangan ini"

"Sekarang urusan disini sudah selesai, lekas pergi-Lekas pergi"

"Perjanjian pertemuan di Gak yang lau pada hari Goan siau tahun depan sudah dekat diambang mata, menurut pikiran Wanpwe setelah akan pergi kesana"

"Apa-apaan kau ini Kau bisa segera sampai di Pak hay adalah lebih penting dari urusan pertemuan pada hari Goan siau yang akan datang. Lekas berangkat "

"Apa benar begitu penting?"

"Siang dan malam kau harus melakukan perjalanan kilat, secepat mungkin kau harus tiba di Ping-goan di laut utara, jangan sekali-kali kau main ragu atau bimbang aku khawatir selagi tua itu bakal berubah pikirannya dan mencabut kembali undang-undangannya"

"Maksud Cianpwe-.."

"setelah tiba di Ping-goan kau akan tahu, sekarang aku belum bisa menebak maksud hatinya, tak perlu banyak omong "

Disebelah sini mereka bertanya jawab seenaknya, disebelah sana Ma Giok bou masih tetap berlutut mendekam di tanah tak berani bergerak apalagi angkat kepala.

Akhirnya Giok liong menjadi tidak tega, katanya.

"Giok-hou saudara silakan kau bangun untuk bicara "

Tanpa berani angkat kepala Ma Giok hou mengiakan perlahan.

"Tidak berani"

Kim ling cu merasa geli, ujarnya.

"Kuda liar ini tiba saatnya tahu rasa takut"

Lalu ia menunjuk medali ditangan Giok-liong lalu sambungnya.

"Kalau kau tidak simpan pertanda kebesaran milik ayahnya itu, mana dia berani berlaku kurang ajar?"

Baru sekarang Giok-liong paham cepat-cepat ia memasukkan medali Hwi soat-ling itu kedalam kantongnya, katanya tertawa.

"Silakan bangun"

Sebelum angkat kepala Ma Giok hou melirik dulu ke arah tangan Giok-liong, mendadak ia meloncat bangun serta teriaknya.

"Toa nio Disinilan letak persoalannya."

Semua orang menjadi heran dan tercengang, tak tahu kemana juntrungan ucapannya. Kim-ling-cu sendiri juga tidak paham maksud kata-katanya itu, tanyanya.

"Engkau Persoalan apa dan dimana letaknya?"

"Kutanggung takkan salah "

Teriak Giok hou lagi. Giok-liong melenggong, matanya menjublek memandangi orang, tanyanya-"Tentang urusan apa, coba kau tuturkan pelan-pelan, jangan terlalu emosi."

Memang wajah Ma Giok hou berseri-seri kegirangan sangat puas sekali, sekali tarik Giok liong kehadapan Kim ling cu lebih dekat katanya lantang.

"Mari keluarkan jian lian lui siau hwi soat ling, nanti kuterangkan sejelasnya supaya kau tidak kawatir lagi"

Giok liong tidak tahu kemana juntrungan maksudnya ini, dengan melongo dia awasi wajah Kim ling cu. Kim ling cu sendiri juga diliputi tanda tanya, katanya dengan nada tertekan.

"Apa kau hendak menarik balik jian lian lui siau hwi soat ling milik ayahmu itu?"

Segera Ma Giok hou berdiri tegak lurus penuh rasa hormat katanya sungguh-sungguh.

"Mana keponakan mempunyai nyali sedemikian besar"

"Kenapa kau minta dia mengeluarkan lagi?"

"Akan kubuktikan sesuatu keajaiban alam yang paling aneh sekali"

"oh"

Giok liong berseru paham pula mengeluarkan medali pusaka itu. Tanpa melirik atau melihat kearah medali ditangan Giokliong itu Ma Giok-hou berkata penuh kepercayaan.

"Kalau terkaanku tidak meleset, ditengah-tengah medali pusaka ini tentu ada setitik warna putih sebesar beras-"

Semula Giok liong tidak pernah memperhatikan akan hal ini, setelah kejadian dirinya terserang penyakit aneh itujuga tidak memeriksanya lagi, kini setelah mendengar kata-kata Giok hou baru ia berkesempatan memperhatikan.

Benar juga medali pusaka hitam mengkilap ditangannya ini memang ada setitik putih sebesar beras, tepat ditengahtengah-"Tentu ini ada penjelasan lebih lanjut bukan?"

Kim Ling cu bertindak maju ikut memeriksa, lalu katanya.

"Bagaimana pula dengan titik putih kecil ini?"

Dengan kalem Ma Giok-hou menerangkan.

"Setitik putih kecil itu merupakan wakil dari pada nyawa kamu Kim pit jan hun."

Semua orang lebih heran dan tak mengerti. Kim liong cu menjadi tidak sabar lagi, katanya mendesak.

"Katakan saja secara langsung dan cekak aos, kenapa mesti pakai putar-putar apa segala"

Ma Giok-hou tersenyum serta mengiakan lalu serunya .

"Titik itu, adalah hasil sedotan dari jian Cian lui-siau-hwi soat ling yang telah mengisap api beracun dari Le hwe bu ceng itu-"

Baru sekarang semula orang sadar dari duduk persoalan mereka, melihat betapa bangga dan girang hati Ma Giok-hou, katanya lagi lebih takabur.

"Medali ini adalah batu meteor yang terjatuh dari langit, terpendam didasar tumpukan salju selama ribuan tahun, bukan saja mengandung inti sari tekanan suhu dingin malah beribu lipat lebih dingin kalau dibanding dengan ciat ham im, ini betul-betul merupakan obat manjur dari Le hwe-bu ceng im, kalau kau simpan menempel dalam badanmu segala racun yang bersipat panas bagaimana juga takkan mungkin kuat merangsang badan ini merupakan sesuaru hal yang gampang di mengerti, kenapa harus dibuat heran?"

"Hah, benar begitu"

Tiba-tiba Giok liong berjingkrak, teriaknya.

"Tak heran sewaktu aku menginap dihotel dibawah kaki Bulay-san tempo hari, malam-malam aku terserang racun panas yang tak tertahan lagi, semula aku terserang penyakit malaria?"

Ang i mo-li Li Hong yang sejak tadi tidak bicara tak tertahan lagi menyeletuk "Ya, keadaanmu waktu itu betul betul sangat mengertikan."

Giok liong lantas menyambung lagi.

"Ternyata sebelum naik tidur aku keluarkan medali ini dan kusimpan dibawah bantal, maka tak heran bisa dari Le hwebun-geng itu segera kumat"

Sesaat Kim ling cu mengamati Giok liong, lalu katanya "sekarang racun yang mengeram dalam tubuhmu sudah lenyap sama sekali kukira jiwamu tak perlu dikwatirkan lagi"

Ma Giok hou juga manggut-manggut, katanya.

"Titik putih diatas medali itu sudah terhimpun ketat sebesar beras, ini pertanda bahwa seluruh racun panas dalam tubuhmu sudah tersedot seluruhnya, kukira tak menjadi soal lagi akan kesehatanmu"

Giok liong menjadi rikuh, katanya.

"Terpaksa harus membuat medali, kalian dapat karena setitik putih ini-Ma Giok Wou bergelak tertawa, ujarnya .

"untuk itu kau tak perlu kwatir, tujuh kali tujuh empat puluh sembilan hari kemudian medali ini akan kembali seperti keadaan semula, tanpa kelihatan sedikit bekas-bekas cidera."

Ling soat Yan dan soat kian dan Li-Hong bertiga terlongong seperti kanak-kanak yang mendengarkan cerita khayal. Kim ling-cu menengadah melihat cuaca, katanya.

"Sudah hampir jam dua, aku masih punya urusan penting ditempat lain, Giok-liong harus segera berangkat kePakhay dan jangan tertunda-tunda lagi "

Belum lagi Giok-liong sempat menjawab Ang-i-mo-li Li Hong segera menyelak bicara dengan gelisah.

"Cianpwe, aku..."

Kim-ling-cu lantas mengerut kening, ujarnya.

"Ai, ya, serba berabe juga "

"Nona Li, kenapakah kau ?"

Tanya Giok-liong. Kata Kim-ling cu.

"Dia mendapet tugas dari ayahnya serta diancam oleh Ibun Hoat untuk menguntit jejakmu, sekarang seruling samber nyawa tidak berada ditangannya, bagaimanakah kau suruh dia kembali ke yu-bing-mo-khek melaporkan tugasnya ?"

Sementara itu, Ang-i-mo li mengucek-ngucek ujung bajunya, sambil menunduk dengan malu dan gelisah. Ternyata Tan soat-kiau berwatak polos dan jujur, segera ia ikut bicara.

"Kalau tiada halangan. Nona Li boleh ikut aku kembali ke Kau jiang sai, di sana menetap sementara, bagaimana selanjutnya kelak bicarakan lagi "

Kim-ling cu manggut-manggut, ujarnya.

"Begitupun baik, ya begitu saja Aku harus segera berangkat "

Belum bilang suaranya bayangan putih berkelebat cepat sekali laksana hembusan angin lalu, sekejap saja bayangannya sudah melayang jauh puluhan tombak-dilain kejap sudah hilang dikeremangan malam.

Tanpa bersuara lagi Ma Giok-hou segera menjejakkan kaki tubuhnya melenting tinggi sambil membentangkan kedua lengannya, laksana seekor burung bangau ia meluncur kearah yarg berlawanan, dikejap lain iapun sudah menghilang dari pandangan mata,-"Bocah keparat "

Teriak Ling soat-Yan begitu melihat orang hendak tinggal pergi begitu saja, sebera ia memburu sambil berseru lagi.

"Kematian chiu Ki harus dibereskan"

Kuatir terjadi sesuatu yang tidak diinginkan segera Giokliong kembangan Ling-hun-toh terus mengejar kedepan, kedua lengannya dipentang menghadang di depan Ling soatyan, katanya.

"Nona Ling, sudahlah urusan ini tidak perlu ditarik panjang"

Tan soat-kiau juga memburu maju, bujuknya.

"Adik soat-yan, sudahlah tak perlu cari perkara lagi"

Amarah Ling soat-Yan masih belum terlampias, katanya uring-uringan.

"sudah terlampias rasa dendamku"

"Kalau begitu marilah adik juga ikut ke Kau-jiang-san untuk satu bulan lamanya, setelah lewat musim dingin dan dekat tahun baru kita bersama-sama pergi ke Gak-yang untuk menghadiri pertemuan disana itu"

"Tepat sekali"

Seru Giok-liong bertepuk tangan.

"Kalian bertiga bersama tentu takkan kesepian"

Sekarang sikap Li Hong sudah tidak serikuh tadi, iapun ikut maju membujuk.

"Nona Ling, sementara ini mengalah saja, masa kelak takkan berjumpa lagi dengan kurcaci itu ? Kalau bersua kembali bertiga kita keroyok dia supaya kapok"

Karena bujukan-bujukan ini terpaksa Ling soat-Yan membanting kaki, katanya mengertak gigi.

"Dendam ini betapa juga aku harus membalasnya "

Hakikatnya saat itu Ma Giok hou sudah pergijauh tak kelihatan lagi bayangannya.,. Giok,-liong berkata dengan tertawa.

"Kita bicarakan lagi bila bertemu pula "

"carikan lagi apa segala."

Sungut Ling seat-Yan sambil membanting kaki.

"aku akan mengadu jiwa dengan dia "

Cepat-cepat Giok,-Liong bicara lebih hati-hati.

"Baik, ya, ya, mengadu jiwa Siapa bilang tidak mengadu jiwa "

Tan soat-kiau dan Li Hong menjadi geli sambil menutup mulutnya.

Melihat Giok,-liong bicara sambil angkat tangan menjura dan bertingkah laku sangat lucu, Ling soal yan menjadi geli sendiri, tak tertahan lagi ia tertawa cekikikan, sambil melengos dengan lirikan penuh arti ia tarik Tan soat-kiau serta katanya.

"Mari kita pergi, jangan hiraukan dia lagi "

Tan soat-kiau menggape Li Hong, katanya.

"Nona Li, mari berangkat "

Bayangan putih, kuning dan merah laksana tiga jalur cahaya terbang melesat cepat sekali menembus semak belukar, masing-masing kembangkan ginkangnya berlari kencang saiing kejar menuju kearah barat.

sekarang alam pegunungan yang kosong dan sepi terbenam dalam kegelapan malam, tinggal Giok, liong seorang diri merasa hampa dan kesepian seperti kehilangan sesuatu, ia menjublek dibawah penerangan sang putri malam yang memancarkan sinar redup.

Entah mengapa ia merasa benaknya ada berapa banyak kata kata yang ingin dilimpahkan kepada seseorang, tapi, tak tahu dia omongan apa yang harus ia tuturkan, malahan sendiri menjadi bingung kepada siapa ia harus ber-tutur.

Akhirnya ia menghela napar panjang, tiba-tiba dengan gaya Goan Hong-jip bun badannya melejit tinggi lima tombak, diempos-nya rasa ganjelan hatinya sambil menekan pusar terus menggembor keras dan panjang, suaranya mengalun tinggi seperti kaluban, sementara tubuhnya terus meluncur dengan kecepatan penuh menuju keutara.

Giok-liong belum jelas duduk perkara sebenarnya, apa tujuannya menuju ke Pak-hay, malah rasanya lebih penting dari bencana dunia persilatan yang sudah dlamblang pintu, lebih mendesak lagi katanya.

Tapi pesan Kim Ing-cu mau sak mau harus dipatuhi.

Perihal nama dan asal usul Hwe-thian-khek Ma Hun dari laut utara Giok liong pernah dengar dari ibunya-Katanya beliau sudah memasuki lembah putus nyawa, bagi semua orang yang memasuki lembah putus nyawa bisa masuk takkan dapat kembali, hanya dirinyalah yang paling beruntung penemu rejeki besar satu-satunya didalam lembah putus nyawa itu.

Menurut penuturan gurunya bahwa ternyata Hwi thian-khek Ma Hun tidak pernah memasuki lembah putus nyawa, malah seorang yang she Ma pun tiada disana-Begitulah sembari kencangkan larinya otaknya berputar mengenang pengalaman dahulu, sekarang pikirannya mulai menyelusuri juga pengalaman akhir akhir ini-Bahwa Jian -lian -lui siau hwi-soatling adalah medali khas milik Pak-hay yang tiada ternilai dan tinggi perbawanya, tentu tak mudah dan segampang begitu saja di percayakan kepada orang lain.

Bukti nyata atas diri Ma Giok-hou yang bersifat bangor dan nakal itu begitu melihat medali pusaka ini lantas bertekuk lutut tak berani berkutik lagi.

Maka dapatlah dibayangkan betapa besar perbawa dan keangkeran medali ini, kalau Ma Hun begitu sungguh sungguh mengundang dirinya tentu urusan yang bakal dihadapinya ini bukan sembarang urusan Apalagi pesan wanti-wanti Kim-ling-cu begitu serius tadigelombang pemikiran bergejolak dalam hati kecil Giok, liong, sang waktujuga terus berlalu ditengah pemikirannya yang tidak keruan itu.

sang putri malam tak terasa sudah hampir terbenam di ufuk barat, saat itu kira-kira sudah tiba pada kentongan keempat, dengan berlari kencang sekian lama ini boleh dikata Giok,-liong sudah kerahkan seluruh kemampuannya untuk mengembangkan Leng hun-toh-Tak lama kemudian Giok-liong menghadapi sebuah gagasan gunung yang gundul tanpa tumbuh rumput atau pohon, selayang pandang pasir yang kuning dan batu batu cadas melulu keadaan ini seperti berada di padang pasir, Giok liong menjadi heran.

Tanpa merasa ia menjadi terkesima akan keadaan sekeliling ini lalu menghentikan langkahnya.

Terasakan keanehan di alam sekelilingnya yang dilalui ini, sepanjang jalan jauh ini yang dilewati selalu gunung gemunung yang penuh semak belukar dan pohon-pohon lebat, sekarang berada di tempat terbuka terbentang lebar tak kelihatan ujung pangkal, perasaan hati menjadi agak longgar dan nyaman, apalagi setelah malaman ini terlalu banyak mengeluarkan tenaga menempuh perjalanan jauh perlujuga sekedar istirahat.

siapa tahun baru saja ia hinggap turun dilereng sebuah tanjakkan, sekonyong konyong setitik bintang laksana anak panah cepatnya mengeluarkan suara melengking tajam menerjang datang kearah dirinya.

Karena tak menduga Giok,-liong berseru tertahan, untung Iwekang Giok, liong sekarang sudah mencapai tergerak hatinya secara reflek tanganpun ikut bekerja, begitu ada maksud dalam hati tenaga dalam lantas bekerja sendirinya.

Dengan cara membokong dan serangan menggelap macam begitu mengeluarkan suara lagi, bagi Giok-liong bukan menjadi rlntangan atau tak perlu dikuatirkan.

Terlihat sebelah tangannya terulur maju terus mencengkeram ke depan, telak sekali tangannya menggenggam kencang, terasa empuk dan berbau wangi, kiranya itulah sekuntum kembang serasi warna kuning.

Belum lagi ia melihat tegas benda di-tangannya terdengar sebuah bentakan nyarlng, merdu darl samping sana.

"Keparat Kam pit jan hun yang kejam dan telengas, lihat serangan "

Tahu-tahu ui-hoa Kaunu Kim Eng telah berada di depannya dimana sebelah tangannya menyapu miring dengan babatan menggunakan tipu Bing-tek sian-to (Bing-tek mempersembahkan golok) langsung menusuk ke arah teng gorokan Giok-liong.

serangan ini dilancarkan begitu cepat dan mendadak lagi, cara menyerangnya juga begitu kejam dan ganas seakan-akan sekali pukul hendak meremuk leburkan seluruh badan Giokliong.

Giok liong tidak tahu juntrungan orang, sebat sekali kakinya menutul tanah begitu pundaknya sedikit bergoyang, enteng sekali ia melayang kesamping setombak lebih, secara gampang saja ia menyelamatkan diri darl serangan berbahaya itu.

"Kin-kaucu Kenapa kau-"

"Lihat serangan ini lagi "

"Aduh Celaka Kau..."

"Sambutlah saranganku ini."

Tanpa peduli tujuh kali tiga dua puluh satu sekaligus ui-hoa Kaucu melancarkan dua belas pukulan dan hantaman, setiap jurus serangannya dilandasi seluruh tenaga dalamnya, apalagi cara menyerangnya juga nekad dan kalap, seperti arus sangat besar yang bergulung gulung tak mengenal putus dengan ombaknya yang berderai.

Keruan lereng gunung yang penuh bertaburan pasir kuning itu menjadi gelap oleh debu pasir yang berhamburan tersapu oleh angin pukulan yang dahsyat, batu-batu besar kecil juga ikut beterbangan terdampar oleh kekuatan pukulan Kim Eng.

Walaupun dengan mudah Giok,-Liong selalu mengelakkan diri dari rangsakan hebat ini, tapi tak urung badannya menjadi kotor dan berlepotan debupasir keterjang batu dan krikil lagi sehingga lambat laun bajunya sedikit berlobang dan koyak.

Dari dongkol akhirnya timbul amarah Giok,-Liong, dalam suatu kesempatan dimana dilihatnya lawan menyerang lagi sebera sebelah tangannya terulur maju sambil membentang telapak tangan, sedang sebelah tangan yang lain ditarik kesamping untuk memunahkan dorongan kekuatan tenaga lawan, sementara telapak tangan Yang terpentabg itu memapak maju menyambut.

"Blang "

Terdengar erangan tertahan, kontan terlihat bayangan orang terpental mundur sejauh setombak lebih.

"Kim Kaucu, kenapa begitu sengit dan galak betul sikapmu terhadapku, menyerang secara semena-mena lagi.."

"Hm Hm Galak dan kejam ? Tak nyana berani kau berkata demikian,"

Belum habis kata-kata Kim Eng, lagi-lagi ia menggerakkan tangan serta melangkah maju hendak menyerang lagi-"Tunggu sebentar "

Hardik Giok-liong sambil mengerutkan alis, setelah mencegah serbuan ui-hoa Kaucu Kim Eng, ia membentak pula.

"Bicaralah dulu supaya jelas."

"Apakah perlu kujelaskan lagi?"

"Tentang urusan apa itu ?"

"Kau kira aku tidak tahu ?"

"Kau tahu apa ?"

"Membunuh orang membakar rumah"

"Siapa yang melakukan ?"

"siapa lagi kalau bukan kau"

"Aku ?"

"Selain kau siapa lagi ?"

"siapa yang kubunuh ? Rumah siapa pula yang kubakar ?"

"Perkampungan awan terbang"

"Apa katamu ?"

"Kataku kau telah membakar habis menjadi tumpukan puing seluruh Hwi hun san-cheng, membunuh pula Thi koan im ibunda Coh Jian-kun"

"Kim Kaucu, jangan kau sembarang omong, lebih-lebih kau menuduh aku semena-mena."

"Hahaha..."

Kim Eng Kaucu ui-hoa-kiau terloroh-foroh panjang sambil menengadah, setelah selesai gelak tawanya, air mukanya berubah bengis, serunya beringas.

"Aku melihat dengan mata kepalaku sendiri, kau tak perlu main pungkir-"

Keruan Giok-liong mangkel dan dongkol serunya dengan rada berat.

"Kau sendiri melihat aku Ma Giok-liong membunuh dan membakar rumah ?"

Tak duga Kim Eng mandah tertawa ejek lagi, katanya penuh keyakinan.

"Kalau waktu kejadian itu aku berada disana seumpama harus mengorbankan jiwaku tentu aku tidak tinggal diam melihat pemuda gila macam kau melaksanakan niat jahatmu."

"Cis, bukankah kau tadi mengatakan melihat dengan mata kepala sendiri?"

"Aku melihat sendiri Hwi hun tan cheng sudah menjadi tumpukan puing, kutemui juga Thi koan im yang sudah lanjut usianya itu terluka parah dengan tujuan lobang luka berat ditahannya, keadaannya sangat menfenaskan."

"Apa betul? Betul ada kejadian itu?"

"Kau tak perlu main pura-pura."

"Kaucu, kau tak boleh asal buka mulut berkata seenakmu sendiri-"

"Berkata seenaknya? Kenapa aku tidak katakan kalau itu perbuatan orang lain?"

"Lalu mengandal apa kau mengatakan aku Ma Giok liong yang berbuat?"

"Mengandal batu Giok berbentuk jantung hati yang tergantung diatas lehermu itu"

"Batu giok berbentuk jantung hati-."

Ini menimbulkan banyak pikiran dalam benak Giok-liong.

seperti diketahui bahwa sebentuk batu giok itu kini sudah diminta pulang kembali oleh Coh Ki-sia, dan kejadian itu lantas terbayang di otaknya.

Coh Ki sia adalah gadis rupawan pertama yang pernah terjalin suatu kisah terjadinya antara suami istri umumnya-Giok.

Liong menjublek tak bergerak, ia tenggelam dalam renungan pengalaman lama yang penuh kasih mesra dan mikmar, namun kenangan lama itu kini menambah berat tekanan hati yang penuh penjeriihan.

"Hahahaha Kau tak mampu berkelit lagi bukan"

Melihat sikap ciiong yang terlongong penuh rasa sedih dan kuyu itu lebih mempertebal sikap prasangka Ui hoa Kaucu Kim Eng akan tuduhannya, oleh karena itu lagi-lagi ia terlorohloroh panjang dengan sedih dan rawan.

sungguh pilu perasaan Giok, liong, harinya seperti ditusuk oleh ribuan ujung jarum, suaranya tawar berkata sambil goyang kepala.

"Kaucu Kau salah sangka"

"Aku salah Dimana letak kesalahanku Meskipan aku ada sedikit perselisihan dengan Thi koan-im-."

"Kau dan Thi koan im?"

"Ai-baiklah kuterangkan Dia membenci aku, tapi aku tidak membencinya-"

"Dia membencimu? Kenapa?"

"Tidak mengapa Tapi-"

Bicara sampai disini tiba tiba Ki Eng menghentikan kata kata selanjutnya, alisnya berkerut dalam, sambungnya.

"Sudahlah Kembalikan saja bentuk batu giok milikku itu"

"Milikmu ?"

"ya-milikku, kau sangka aku bohong?"

"Kata-katamu ini semakin membingungkan aku"

"sudah tentu kau takkan paham"

Mendadak sikap ui houkiaucu Kim Eng berubah-Tadi bersikap garang menyerang kalap untut gugur bersama kini sudah tersapu bersih, sekarang kelihatan wajahnya membeku dingin penuh rasa duka nestapa pancaran matanya juga menjadi redup.

Keruan Giok-liong menjadi terheran-heran, serunya.

"Kaucu "

Mata Kim Eng mengembeng air mata, sedapat mungkin ia menahan mengalirnya air mata namun akhirnya tak tertahan lagi ia menangis sesenggukan, keadaannya ini sungguh pilu dan menyedihkan, ujarnya sambil goyang tangan.

"urusan ini kau tidak akan mengerti "

Giok-liong menjadi ketarik, tanyanya mendesak.

"Bolehkah kau ceritakan kepadaku ?"

Dengan ujung bajunya Kim Eng menyeka air matanya sambil menggigit bibir, matanya mendelong memandang jauh ke angkasa. Lama dan lama kemudian baru mulutnya menggumam.

"Ai, pengalaman dulu laksana asap mengepul..."

Baru saja Giok liong hendak membuka mulut, Kim Eng sudah menunjuk sebuah batu besar diatas tanjakan lereng bukit tandus berpasir kuning sana, katanya.

"Di tanjakan atas sana ada batu, mari kita duduk di-sana dengarlah kisah hidupku masa lalu "

"Baik, marilah "

Serentak mereka berdua menjejakkan kaki terus melambung tinggi menuju ketanjakan bukit sana.

Di atas bukit memang ada beberapa batu besar yang rata dan licin, Giok liong dan Kim Eng lantas duduk berhadapan.

sebelum membuka suara Kim Eng menghela napas dulu, ujarnya.

"Ai, kau harus tahu apakah larangan pertama dan undangundang ui-hoi-tiau ?"

Sebetulnya Giok-liong memang tidak tahu namun bagai mana baiknya ia harus menjawab hal ini membuatnya serba susah, mulutnya tergagap.

"Undang-undang pertama...".

"Undang-undang pertama itu berbunyi, semua murid agama kita dilarang berkenalan dan bergaul dengan kaum Adam, terlebih lagi tidak boleh membicarakan soal perkawinan selama hidup ini harus hidup sebatang kara seorang diri selamanya tidak boleh menikah "

"lni... kenapa-"

Kim Eng lantas melanjutkan.

"Undang-undang agama kita semula tidak begitu keras, undang-undang ini dibuat setelah aku menjabat sebagai ketuanya "

"oo, kenapa begitu ?"

"Justru karena Cek Jian-kun dari Hwi-hunsan-cheng itulah-"

"Karena beliau ?"

"Sebelumnya aku belum pernah kenal dengan coh jian kun soalnya karena dijalan raya yang menuju ke kotajiang-ek-la melukai salah seorang anggota agama kita-Waktu itu aku belum lama berkecimpung di Kangouw, mendapat perintah suhu untuk menagih pertanggungan jawabnya, maka aku lantas meluruk ke Kwi-hun san-cheng membuat perhitungan."

"Begitulah cara perkenalan pertama ?"

"Benar, kenal sih tidak menjadi soal, siapa tahu, selain merasa rikuh dan minta maaf kepadaku, iapun menyambut dan berlaku sedemikian rupa."

Giok,-liong manggut-manggut, ujarnya.

"Sebagai tuan rumah sudah jamak kalau ia berlaku ramah dan sopan santun."

Kim Eng tertawa getir ujarnya.

"Ibu-nya Thi koan im, sebaliknya marah-marah, berkeras menantang aku untuk berkelahi"

"inipun tak bisa disalahkan dia,"

Kata Giok liong sambil tersenyum.

"Sudah jamak bukan ada orang meluruk datang menantang, karena besar rasa cintanya terhadap putra tak menghiraukan siapa salah atau benar, betapapun aturanaturan Kangouw harus ia patuhi-"

"ya akupun-tidak salahkan bukan, malah aku mengalah sampai diserang tiga kali, mandah berkelit saja tak berani balas menyerang "

"Betul-betul pambek seorang Kaucu"

"Pambek apa segala, seorang cendekiawan bisa melihat gelagat, bicara sebenarnya kepandaian waktu itu masih bukan tandingannya "

Giok-liong tertawa lagi ujarnya.

"Kaucu berkata sungkan Bagaimana selanjutnya ?"

"Akhirnya dengan berbagai bujukan manis Coh Jian-kim menahan ibunya, malah mengiringi aku menghadap suhuku untuk minta maaf"

"Kejadian itu sudah mencapai penyelesaian yang paling sempurna, pertikaian ini kukira sudah selesai sampai disitu saja bukan "

"Ai, siapa tahu... sungguh durhaka "

"Durhaka ? Adakan kesalah pahaman lain terjadi ?"

"siapa tahu disepanjang jalan pulang itu kita berdua-"

Sampai disini merah malu selebar muka ui-hoa-kaucu Kim Eng, sambil menunduk kepala dalam ia terpekur.

Giok-liong sendiri sudah maklum apa yang telah terjadisebab kejadian dirinya dengan cek Ki-sia merupakan suatu rangkaian penjelasan yang paling tepat.

Maka sambil tersenyum Giok-Liong berkata.

"Ini merupakan suatu berita menggembirakan bagi kaum persilatan, jodoh yang cocok dan pernikahan yang penuh bahagia kiranya "

"Berita gembira ? jodoh takdir apa segala?"

Membeku air muka Kim Eng setelah berkata.

tiba tiba ia menengadah terloroh-loroh seperti orang kesurupan, tawanya tersendatsendat bernada tinggi seperti teriakan orang hutan yang menyedihkan membuat pendengarannya pilu juga.

Giok.-liong merasa heran, tanyanya.

"Apakah Coh Jian-kun mengingkari hubungan.... hubungan mesra itu?"

"Tidak"

"Lalu kenapa...?"

"Ibunya anggap aku merupakan musuh yang meluruk mencari perkara di rumahnya, bagaimana ia juga menolak dan tidak merestui perjodohan ini "

"Wah, serba runyam..."

"Bukan begitu saja, persoalannya lebih celaka lagi, ia menekan dan memaksa Coh Jian kun mempersuntingkan Tam-kiong-sian-ci Hoanji-hoa itu, pernikahan mereka merupakan perjamuan terbesar dalam kalangan Bu-lim."

"Eh"

Tak tertahan Giok-liong berseru tertahan, sebab urusan ini rada mengandung paksaaan yang melanggar peradatan, tidak di landasi kebenaran lagi maka maklumlah kalau Ui hoa-kiaucu sampai sedemikian merana dan duka nestapa.

"Tak duga kejadian itu, masih terus membawa buntut yang tiada akhirnya."

Terdengar Kim Eng menyambung lagi dengan air muka penuh duka dan rawan.

"Lebih celaka lagi karena hubungan diperjalanan itu aku sudah mengandung..."

"Hah urusan ini lebih rumit lagi"

Memang coba pikirkan, sebagai ibu yang belum menikah bagaimana selanjutnya aku harus menjadi manusia muncul dimuka umum.

"Benar, betapapun kau harus mencari penyelesaian terhadap Coh Jian-kun "

"suhuku sendiri yang meluruk ke Hwi-hun-san-ceng menemui Thian-koan im untuk mencari titik pertemuan untuk menyelesaikan urusan melainkan ini"

"Bagaimana katanya?"

"Bukan saja tidak menaruh belas kasihan terhadap aku, malah ia mencaci mati suhuku lagi, katanya undang undang ui-hoa-kiau kurang keras dan melarang anak muridnya untuk memincut laki-laki apa segala "

"Orang tua itu keterlaluan..."

"saking murah-sejak hari itu juga lantas suhuku menghilang mengasingkan diri tak pernah muncul lagi, entah kemana beliau sekarang tak terdengar kabar beritanya-"

Giok-liong gelang-gelens kepala, keluhnya.

"Ai, mengenaskan"

"Takkala itu dua orang suciku yang terbesar menjadi berang, berbareng mereka menantang ke Hwi-hun-sanceng..."

"ya, terpaksa memang harus demikian"

"siapa tahu, mereka menghadapi gabungan tenaga Thikoan-im dan Tam-kiong-sian-ci, dalam pertempuran yang seru itu kedua belah pihak sama menderita luka-luka berat, setelah kembali sampai di markas besar, beruntun mereka meninggal dunia kerena luka-lukanya itu"

"Sungguh tak duga bakal terjadi bencana besar yang sia-sia ini"

"Hari ke hari perutku semakin besar, berulang kali aku sudah berusaha hendak bunuh diri"

"Mana boleh kau mengambil jalan senekad itu, satu pihak kau harus memanggul tugas dan warisan ui-hoa-kiau, dan yang terpenting adalah orok dalam perutmu itu harus tetap hidup dan tumbuh besar "

Ucapan Giok-liong terakhir ini betul-betul mengenai lubuk hati ui-hoa-kiau cu Kim Eng. Maka sekilas pancaran matanya menjadi bersinar cemerlang, ujarnya penuh haru dan girang.

"ya, karena itulah maka mencuri hidup dan sampai sekarang, aku harus hidup meskipun nista dan hina meliputi diriku"

Giok,-liong seperti teringat apas, katanya.

"Dalam jangka waktu selama ini seharusnya Coh Jian-kun datang menengok dan menghiburmu bukan"

"Coh Jian-kun ?"

"Apakah diapun berubah hatinya ?"

"Tidak"

"Dari mana kau tahu?"

"Bukan saja ia tidak melupakan aku, malah sejak pernikahan itu ia tidak pernah tidur sekamar dengan isterinya"

"Eh, kami menderita. Tam kiong-sian-cijuga harus ikut sengsara."

"Tapi ia memang tidak mungkin datang menengokku"

"Kenapa bisa begitu ?"

"Thi koan-im tidak memberi ijin ia meninggalkan rumah, setiap saat selalu ia suruh Tam-kiong sian-ci mendampinginya. Kemana saja ia pergi."

"Orang tua itu sungguh terlalu keras menjaga putranya "

"Akhirnya tiba saatnya juga aku melahirkan seorang anak perempuan"

"Anak perempuan Dimanakah putrimu itu sekarang ?"

Air muka Kim Eng rasa terang, sinar matanya memancarkan rasa riang, tanpa berkedip ia terlongo memandang bintang-bintang dilangit, mulutnya menggumam.

"Masih untung, ia hidup bahagia "

"Dimanakah sekarang dia berada ?"

"Aku tidak tahu"

"Tidak tahu ?"

"ya "

"Akh, kan aneh "

"Tidak lama setelah ia lahir, terus dibawa pergi"

"siapa ?"

"Tam-kiong-sian-ci Hoan ji-hoa "

"oh, dia, kenapa ?"

"sebab dia sendiri belum pernah melahirkan juga tiada tanda-tanda mengandung bakal melahirkan anak "

"Bagaimana kau bisa berlega hati ?"

Kata-kata Giok-liong menusuk perasaannya yang rindu akan cinta kasih kepada putrinya, tak tertahan lagi Kim Eng menjerit menangis sesenggukan.

Giok.-liong ikut meresapi kedukaan orang, cepat-cepat ia membujuk.

"Kalau sudah kau serahkan sejak dulu, apa untungnya kau menangis sekarang ?"

"Apa kau kira aku rela menyerahkan putriku kepadanya. Tapi bagaimana kalau sudah besar nanti ia merajuk kepadaku ingin melihat bapaknya, apalagi setelah menanjak dewasa bagaimana pula ia harus mengambil namanya, bagaimana ia harus hidup ?"

Giok.-liong menjadi kagum dan memuji.

"ya, demi generasi muda, Kaucu sikapmu ini sungguh mengharukan dan agung serta suci "

"setelah Tam-kiong-sian-ci membawa pulang putriku, Thikoan-im menyuruh orang mengirim surat kepadaku, katanya sejak saat itu aku dilarang menemui putriku supaya ia tidak mengetahui masa lalunya "

"Katanya kalau sekali aku berani menengok putriku, beliau tidak mau lagi mengakui cucunya itu, malah mungkin menganiaya dan mengusirnya dari keluarga Coh mereka. Demi kebahagiaan anakku, terpaksa aku menurut saja "

"Kaucu, kau mengorbankan dirimu sendiri demi kebahagiaan putrimu"

"Untung Tam kiong-sian-ci Hoanji hoa tidak melahirkan, dipandang dan dirawatnya sebagai anak kandung sendiri, ini terhitung suatu keberuntungan dalam kejadian yang tidak menguntungkan"

Melonjak hati Giok, liong, tanyanya cepat.

"selamanya dia belum pernah melahirkan?"

"Ah, entah karena Coh Jian-kun berkukuh tidak mau tidur sekamar atau karena apa?"

Kini Giok, liong tidak menaruh perhatian akan persoalan lain, desaknya lebih lanjut.

"Jadi putrinya itu adalah Coh Ki-sia yang sekarang ini"

"siapa bilang bukan?"

Sahut Kim Eng sambil angkat alis.

Jantung Giok liong seperti bertambah berdegup dan darahnya semakin menggelora, hatinya menjadi was-was dan perasaannya tidak tentram.

Hal ini memang serba runyam dan menyulitkan dirinya.

Ada niat ia hendak membuka rahasia hubungan dirinya dengan coh Ki-sia, tapi cara bagaimana ia harus membuka mulut.

Kalau tidak dibicarakan langsung, hati kecil merasa tidak tentram, sesaat perang batin tengah bergejolak dalam benaknya, satu sama lain saling kontras.

Apa lagi persoalan ini sulit untuk mencari jalan tengahsaat itu terdengar Kim Eng berkata lagi.

"Maka kali ini aku mengetahui seluruh anggota kami malam-malam menuju ke Hwi -hun san -cheng, tujuanku hendak mencuri lihat saja darah dagingku ini"

"Berapa tahun sudah perpisahan ini?"

"Waktu itu dia baru lahir tiga bulan, sampai sekarang sudah enam belas tahun, sejak saat itu kita ibu beranak belum pernah jumpa barang sekalipun"

"Kalau begitu berarti ia tidak mengenal akan ibunda yang agung ini"

"ya, dia tidak akan mengenal aku"

Akhirnya Giok-liong mengambil keputusan untuk menutup mulut sementara waktu lagi, katanya.

"Kenapa setelah berselang-enam belas tahun, hari ini mendadak kau teringat hendak menengok putrimu itu?"

Berubah serius wajah Kim Eng, serunya keras.

"Baik tak perlu main sembunyi lagi. karena bentuk batu giok jantung hati di lehermu itulah yang menimbulkan kenangan mendorong untuk aku menengok putriku Kalau tidak puluhan tahun sudah akupun sudah melupakannya."

"Batu giok Bagaimana mungkin....?"

"Memang putriku dibawa pulang ke Hwi hun-san-cheng oleh Tam-kiong-sian ci, namun bentuk batu Giok, jantung hati inilah merupakan pertanda yang takkan lumer atau lenyap selamanya, ini memang sengaja kuatur demikian, malah aku mengikat janji pula dengan Tam kiong-sian-ci supaya ia berpesan wanti-wanti kepada putrinya bahwa kalung batu giok ini selamanya tidak boleh tertinggal dari tubuhnya, karena aku kwatir bila kelak bertemu muka tidak dapat mengenalnya "

"Akh."

Hancur luluh hati Giok-liong sekarang, kalang batu giok itu sudah dikembalikan kepada pemiliknya.

Malah dia jelas yang sudah berhubungan sebagai suami istri layaknya itu kini semakin membenci dirinya, salah paham dalam dunia ini kiranya ada pula yang sulit dijelaskan.

Pikirnya perkara baik selamanya harus sering menemui dirinya.

Kejadian dua generasi yang sama ini sebenarnya bukan perbuatan tercela, kenapa justru ditakdirkan harus menemui aral datang yang menyesatkan, apakah memang yang Maha Kuasa sengaja mengatur demikian ?

Kalau ini benar, Tuhan sungguh tak mengenal kasihan.

Kenapa akibat ini diatur menjadi begitu mengenaskan ?

Paling tidak beruntung, dirinya-pun ikut menjadi salah satu tokoh dalam peranan tragedi yang menyedihkan ini.

Begitulah Giok-liong tenggelam sendiri dalam lamunannya, sebaliknya Kim Eng masih mencerocos dengan ceritanya.

"Tak duga waktu aku sampai di Hwi hun-san cheng, yang kutemui hanyalah puing-puing yang sudah rata dengan tanah, beberapa sosok mayat yang sudah hangus, oleh karena itu lantas aku teringat untuk mencarimu."

"Kenapa harus mencari aku?"

"Karena itu perbuatanmu, maka aku harus mencarimu"

"Dengan alasan apa kau menduga aku yang melakukannya?"

"Kau tidak perlu mungkir dan membela diri dengan berbagai alasan. Permusuhan dendam kesumat dalam kalangan Kangouw aku sudah jera memikirkannya-"

"Tapi ini bukan aku-"

"Waktu bertemu tadi, aku pertama berpikir hendak mengadu jiwa dengan kau, sebab kau sudah memusnahkan Hwi-hun san-cheng itu berarti kau meruntuhkan seluruh milik Coh Jian-kun, aku mencintainya, maka.."

"Sebenarnya memang bukan perbuatanku "

Kim Eng tidak hiraukan pembelaan Giok liong, katanya lagi.

"sekarang aku sudah merubah haluanku sebab dalam puing-puing itu aku tidak menemukan Coh Jian kun serta istri dan anaknya, kutaksir mereka tengah pergi waktu kau membakar kampungnya"

"Bagaimana bisa begitu"

"Kalung batu giok itu, mungkin karena sudah besar dan tidak suka mengenakan lagi melihat benda yang bagus kau ketarik lantas mengambilnya begitu saja dan kau bawa kemana-mana"

"salah semua dugaanmu."

"Tak perlu kau banyak kata, sekarang aku minta kau kembalikan kalung itu kepadaku, urusan lainnya semua tiada sangkut paut dengan diriku, sejak saat ini aku Kim Eng takkan terjun dalam segala urusan dunia persilatan lagi"

"Kaucu, sukakah kau dengar penjelasan ku "

"Apa kelonggaranku ini masih belum dapat kau terima?"

"Bukan tidak kuterima..."

"Kalung batu giok itu bukan merupakan benda berharga yang bila mendatangkan uang, bagi kau tidak berguna, kau miliki atau hilang dari tanganmu tidak membawa akibat apaapa. Tapi sebaliknya bagi aku gunanya sangat besar dan penting sekali "

"Benar, aku paham akan maksud Kaucu"

"Kalau begitu lekaslah kau serahkan kepadaku"

"Hal ini..."

"Adakah kau punya kesukaran?"

"Jangan dikata benda itu sekarang tidak kubawa..."

"Tidak kau bawa ?"

"seumpama kubawa aku juga tak mungkin keserahkan kepada kau"

"Kau memang sengaja..."

"Tidak, bukan sengaja..."

"Lalu kenapa?"

"Aku hanya bisa memberi tahu sebuah hal saja"

"Hal apa?"

"Kalung batu giok itu sekarang sudah ku kembalikan kepada putrimu."

"Apa betul"

"Kalau aku bohong, biarlah aku disambar geledek-"

"o, jadi sudah kau kembalikan"

"Aku sudah bersumpah, percaya tidak terserah kau"

"Sebetulnya cara bagaimana kau mendapatkan mainan kalung itu?"

"Aku hanya bisa menjawab, itulah pemberian dari putrimu"

"Diberikan untuk kau-Anak ini, barang penting macam ini mana boleh sembarangan diserahkan kepada orang lain"

Nada seorang ibunda yang mencintai putrinya, kata-katanya penuh bernada menegor kecerobohan anaknya, tapi akhirnya hatinya merasa sangat girang. Sesaat ia miringkan kepala terpekur, lalu katanya.

"Kenapa dia serahkan barang milik pribadinya?"

Muka Giok liong menjadi panas, dengan senyum dipaksakan ia menjawab samar-samar.

"saat ini belum tiba waktunya menjawab pertanyaanmu ini"

"Hah? Lalu kenapa mendadak ia memintanya kembali?"

"Ini hal ini tidak gampang dijelaskan dengan beberapa patah kata saja"

"Coba katakan...."

"Kancu aku ada sebuah permintaan yang tidak masuk di akal, kuharap kaucu bisa melulusi permohonanku ini,"

"oh, persoalan apa itu? Asal ada tenaga dan mampu pasti kubantu sekuat mungkin."

"Lebih dulu terimalah ucapan terima kasihku"

"Nanti dulu, sebetulnya urusan apa, sampai begitu serius dan penting sekali agaknya?"

"Aku mohon Kaucu sudi mengiringi aku sekali lagi kembali ke Hwi hun-san-cheng, entah apakah Kaucu sudi mencapaikan diri kesana"

Air muka Kim Eng menampilkan rasa heran dan curiga, matanya berkedip-kedip, tanyanya tak mengerti.

"Untuk apakah kesana ?"

Penderitaan batin Giok-liong boleh dikata serupa dengan penderitaan Kim Eng.

Akun tetapi seumpanna si bisu makan buah kembang teratai kuning yang pahit, ada mulut tak bisa bicara, sejenak ia ragu ragu baru berkata tersekat-sekat.

"Dengan Hwi hun-san-cheng aku ada hubungan yang cukup mendalam, kiranya perlu aku menengok kesana"

"Hubungan yang mendalam, hubungan dengan siapa ? Coh Jian kun? Atau putrinya?"

Mata ui-hoa kaucu Kim Eng menatap tajam tak berkedip ke arah Giok-liong, agaknya sangat mendesak ingin mendapat jawaban.

Melihat sikap orang yang begitu serius sikap Giok, liong semakin kikuk dan rikuh, jawabnya samar-samar.

"semua .... semua ada hubungan baik, sebab pernah sekali aku terluku parah, waktu itu aku belum lama berkecimpung dikangouw, terpaksa aku harus merawat luka di Hwi-hun san cheng."

"o, begitu?"

Giok-liong mandah manggut-manggut saja sebagai jawabannya.

sebetulnya Giok, liong seorang yang polos dan jujur, selamanya tidak berani mengucapkan kata-kata yang menipu atau bohong kepada orang lain, apa yang barusan dikatakan sebagian besar benar tapi juga ada yang tidak benar, sehingga hatinya menjadi tidak tentram.

sejenak Kim Eng berpikir lalu katanya.

"Baiklah, mari ku iringi kau kesana "

Tatkala itu sang surya sudah mulai memancarkan sinarnya yang cerlang cemerlang.

Mereka berdua mengembangkan ginkang terus berlari kencang menempuh perjalanan, perasaan mereka sama-sama berat, sebab mereka mempunyai pengalaman dan penderitaan batin yang serupa, hubungan pribadi masing-masing belum begitu kental, maka satu sama lain tiada yang mengucapkan kata-kata menghibur, siapapun tiada yang mau melimpahkan kesusahan hatinya terhadap kawan seperjalanan.

Terutama sikap Giok liong semakin kikuk-sebab kalau diurut dari tingkatan kedudukan Ui hoa kaucu Kim Eng masih setingkat lebih tinggi dari dirinya, kalau dipandang secara peradatan merupakan mertua dirinya pula.

Tapi sebelum duduk perkara ini dibikin jelas betapapun ia tidak berani bertindak secara semberonoitu juga sebelum hari menjelang magrib mereka sudah tiba di Hwi-hun-san-cheng, Tampak keadaan Hwi-hun-san cheng yang begitu indah megah dan banyak pemandangan yang menyejukkan kini sudah berubah sama sekali, bangunan bangunan gedung berloteng sudah ambruk menjadi tumpukan puing, kebon bunga yang teratur rapi kini menjadi acakacakan, demikian juga deretan pohon yang liu yang meliuk indah melambai itu kini sudah hangus dan kuyu.

Tak tertahan lagi Giok liong sampai mengeluh panjang, air mata berlinang di kelopak matanya, pelan-pelan ia beranjak ke deretan pohon yang liu menghadapi aliran sungai yang mengalir halus, ia termenung dengan sedihnya, lama dan lama sekali tak kuasa membuka mulut.

Ditempat inilah dulu ia menetapkan ikatan perkawinannya dengan coh Kisia, sungguh kenangan lama susah dikejar kembalisekarang malah Kim Eng yang membujuknya.

"Mengapa menyiksa diri tiada manfaatnya bagi kesehatan"

"Kaucu,"

Giok liong menelan air liur, katanya kepada Kim Eng.

"Harap tanya di manakah jenazah Thi koan im-"

"Aku sudah menguburnya dipinggir sungai sana"

"o, masih ada siapa lagi yang ikut berkorban dalam bencana ini?"

"Beberapa kacung dan tukang kebon, aku pun sudah mengubur mereka semua"

"Selain mereka tiada orang lain lagi?"

Kim Eng menggeleng kepala, tiba-tiba-seperti teringat apaapa ia berkata.

"Entah bagaimana kalau didalam tumpukan puing sana, aku belum sempat memeriksa "

Tergetar dan merinding seluruh tubuh Giok-liong, pikirnya.

"Semoga tiada orang dibawah tumpukan puing itu"

Dalam hati ia berpikir demikian, kebalikannya mulutnya berkata.

"Mari kita coba periksa kesana, mungkin ada sesuatu yang dapat kita temukan."

Tanpa menanti jawaban Kim Eng, ia mendahului berlari kearah depan sana, tak lupa dicabutnya sebuah pohon itu sebesar lengan orang terus dibawa lari seakar-akarnya.

Dengan batang pohon inilah Giok, liong mulai mengorek ngorek tumpukan puing.,.

Tak mau ketinggalan Kim Eng juga meniru cara Giok-liong sekian lama mereka mengorek-ngorek sehingga seluruh badan basah kuyup oleh keringat namun tiada sesuatu apa yang dapat ditemukan.

sekonyong-konyong Ui hoa kiau Kim Eng menjerit kaget.

"Ah, medali besi..."

Kiranya ia menemukan sebuah medali besi warna hitam berkilauan sebesar tiga senti persegi. Giok-liong ikut berteriak lejut waktu melihat medali besi hitam itu, serunya.

"Hah, kiranya perbuatan mereka yang terkutuk "

"siapa mereka ?"

"Lencana besi yang dari Hutan kematian, inilah lencana perintah yang dikeluarkan oleh Hutan kematian."

"Lencana besi hutan kematian?"

Belum lenyap suara Kim Eng ini, mendadak terdengar gelak tawa panjang yang menggiriskan kumandang menusuk telinga bergema ditengah udara, pertama jaraknya masih rada jauh, namun sekejap saja sudah seperti dipinggir telinga.

Beruntun terdengar kesiur angin keras dari lambaian pakaian dihembus angin dalam keremangan menjelang malam ini, terlihat lima tombak disebelah sana berjajar lima orang berkedok hitam, jubah kepanjangan terseret ditanah, tubuh mereka rata-rata kurus lencir.

Bagaimana muka kelima orang aneh ini tidak diketahui, hanya sepasang mata yang melotot dari balik lobang kedoknya itu sungguh menakutkan, Giok liong dan ui-hoakaucu sampai terdiam untuk beberapa saat.

seiring dengan kata-kata mereka yang memekakkan telinga itu, satu diantara kelima orang berkedok yang bertubuh paling tinggi dan paling kurus seperti genter perlahan bertindak maju, sinar matanya bagai kilat penuh wibawa menatap medali besi ditangan Ui-hoa kaucu Kim Eng, setelah mendengus hidung terdengar suaranya berkata.

"Tak duga kau telah menemukan lebih dulu, banyak mengurangi capek lelah kita, kembalikan"

Nadanya takabur tekanan suaranya dingin

Tiraikasih WEBSITE

http.//kangzusi.com/ setelah berkata entah bagaimana ia bergerak tahu-tahu badannya melejit tiba di tengah tumpukan puing, tidak minta medali besi Hutan kematian yang berada di tangan Kim Eng sebaliknya ia menjura hormat ke arah Giok, liong, sapanya.

"siau-hiap, kau baik-baik saja"

Giok, liong tercengang, Giok, liong tahu bahwa orang aneh ini tentu begundal dari hutan kematian, tapi dari potongan tubuhnya yang kurus lencir bagai genter ini, selama nya belum pernah bertemu muka dengan dirinya, dari mana pula ia bisa kenal dirinya ?

(Bersambung ke

Jilid ke 24)

Jilid 24 Belum lagi Giok liong hilang dari keheranannya, mendadak berubah air muka Kim Eng, makinya sambil menuding Giokliong.

"oh, kiranya kau ini juga orang dari orang Hutan kematian bagus benar, dengan omongan manis dan cerita bohong kau menipu aku, kiranya kalian memang sudah berintrik satu sama lain"

"Kaucu...."

Cepat-cepat Giok-liong berseru hendak memberi penjelasan. Tak duga orang kurus lencir bagai gencer itu tiba-tiba menghadang maju, bentaknya bengis.

"Kenapa dengan Hutan kematian Kau naik pitam ?"

Kepandaian ui-hoa-kiaucu Kim Eng cukup tinggi, tapi menghadapi begundal dari hutan kematian mau tak mau gencar juga hatinya.

Sebab menurut apa yang tersiar dikalangan Kangouw dikatakan bagaimana hebat dan menakutkan kepandaian mereka, tindak tanduknya serba misterius lagi.

Tiada seorangpun yang mengenal asal usulnya menurut kabarnya bukan saja ketua mereka yang sukar diketahui jejak seperti naga sakti yang jarang menunjukkan diri, dua belas Tongcu bawahannya pun merupakan tokoh-tokoh hebat yang juga membekal ilmu silat yang lihay.

Sambil menggenggam medali besi Kim Eng menekan rasa gusarnya, teriaknya lancang.

"Buat apa kau berlaku begitu garang, aku hanya bicara dengan Ma Giok-liong "

"Pun-tong tidak mengijinkan kau berlaku kurang ajar"

Meskipun ni hoa-klaucu bukan merupakan aliran lurus dikalangan Kangouw, jelek-jelek merupakan sebuah perkumpulan yang ada nama dan disegani pula didunia persilatan, sebagai seorang ketua dari sebuah aliran dibentak dan dimaki begitu rupa, keruan Kim Eng betul-betul naik pitam, tak tertahan lagi berubah air mukanya, bentaknya beringas.

"Kau anggap apa terhadap golongan kita."

Orang aneh bertubuh lencir itu terkekeh-kekeh, ujarnya dingin.

"Ku anggap kau sebagai pokrol bambu yang tak perlu disebut namanya"

"Terlalu menghina "

Teriak Kim Eng sambil sekuatnya menyambitkan lencana besi yang digenggam ditangannya, saking gusar cara menyambitkannya begitu keras dan kuat.

Kontan meluncurlah setitik sinar berkilau kehitaman langsung mengarah mata kanan si orang aneh bertubuh kurus tinggi ini-"Bagus"

Seenaknya saja orang aneh kurus tinggi itu mengulurkan tangannya, tahu-tahu lencana besi yang meluncur keras danpesat itu sudah digenggam dalam telapak tangannya, sejenak ia memeriksa lalu di masukkan ke dalam kantongnya, terdengar suaranya berat.

"Kim Eng Kau mencari kematian"

Belum lenyap suaranya bagai potongan setan tubuh kurus tinggi itu enteng sekali seperti dihembus angin melayang tiba disamping Kim Eng, dengan jurus jing ing-poh tho (rajawali menubruk kelinci) cakar panjangnya mencengkeram kepundak kanan Kim Eng.

Dari gerak tubuhnya yang gesit aneh serta cara menyerangnya yang memandang rendah musuhnya ini, dapatlah dinilai bahwa kepandaian orang kurus tinggi serta kedudukannya tentu bukan sembarang tokoh.

Tepat pada saat itujuga tampak sebuah bayangan lain menubruk datang, mega putih pun menerpa tiba.

"Tahan"

Tahu-tahu entah dengan gerakan apa Giok-liong sudah melejit tiba ditengah mereka berdua, sebelah tangannya mengarah tepat kecakar siorang kurus tinggi terus membabat turun.

"Aduh "

"Aih "

Orang aneh tinggi kurus dan ui-hoa-klaucu samasama mundur dan sama-sama berteriak. Giok-liong menarik muka, serunya keras.

"Kau punya kepandaian apa, urusan setinggi langit biarlah aku Ma Giok-liong yang menandingi."

Berkedip-kedip mata si orang aneh tinggi kurus, katanya sambil unjuk tawa dibuat-buat.

"Siau hiap buat apa kau..."

Merah membara sepasang biji mata Kim Eng, semprotnya.

"Cis, kau ini terhitung barang apa, sekarang baru kulihat tampangmu sebenarnya, pura-pura kau bermain sandiwara apa disini, biar aku mengukur dulu betapa tinggi kepandaian Kim-pitrjan-hun"

Tanpa tahu duduk perkara sebenarnya Kim Eng melampiaskan kedongkolan hati dan rasa penasarannya kepada Giok-liong.

"Kaucu, kau "

Mana mungkin Giok liong berani balas menyerang, keruan ia menjadi kerepotan diteter dengan serangan gencar.

saking murka ui-hoa-kaucu betul-betul menyerang sangat bernafsu, jurus pertama luput, jurus kedua sudah menyelonong tiba pula, mulutnya juga tidak tinggal diam berteriak.

"Biar aku mengadu jiwa dengan kau "

Sembari berteriak ini beruntun ia sudah lancarkan delapan pukulan berantai yang cukup hebat, agaknya benar-benar ia sudah berlaku nekad untuk gugur bersama.

Giok-liong tak berani balas menyerang atau menangkis terpaksa harus main kelit dan berloncatan, serunya.

"Apa kau sudah gila "

"sundel tengik hayo berhenti "

Tahu-tahu si orang aneh tinggi kurus sudah menerjunkan diri dalam gelanggang pertempuran berat sebelah ini, dengan jurus Hay-te-lou ciam (merogoh jarum didasar lautan) kelima jarinya mendadak menyelonong tiba dari arah samping yang tak terduga.

Tepat sekali, sekali raih ia cengkeram pergelangan tangan kiri Ui-hoa kiaucu Kim Eng, sekali sentak belum sempat ia melemparkan badan orang.

Dalam saat yang krisis inilah terpaut sedetik saja sejajar sinar putih yang datang laksana awan mengembang.

"Berani kau"

Kumandang bentakan Giok-liok.

tepat pada saat itu juga Giok-liong juga berhasil mencengkeram pergelangan tangan kiri si orang aneh tinggi kurus,.

Inilah yang dinamakan tenggoret hendak menangkap congcorang, tidak tahu bahwa burung gereja berada dibelakang, dalam keadaan yang tidak siaga, meski si orang aneh tinggi kurus berhasil membekuk Ui-hoa-kaucu, tapi Giokliong juga menggunakan caranya ini untuk meringkusnya pula-Ternyata usaha Giok-liong berhasil gemilang.

Maka berkelebatlah empat bayangan hitam berpencar ke empat penjuru, kiranya empat orang aneh berkedok hitam yang lain sudah berpencar menduduki posisi yang menguntungkan bersikap pula untuk bertindak bila perlu.

Tanpa menghiraukan pergelangan tangan sendiri yang dicengkeram Giok-liong, segera orang aneh tinggi kurus itu berteriak.

"Hai, jangan kalian berlaku kurang ajar "

Katanya sambil mengunjuk senyum getir ia berkata kepada Giok liong.

Baca Juga: Kisah Si Bangau Putih 10

Baca Juga: Pedang Sinar Emas 7

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert