Ceritasilat Novel Online

Seruling Samber Nyawa 9

Eps 9 Seruling Samber Nyawa - Chin Yung

Baca online Seruling Samber Nyawa - Chin Yung

Cersil Seruling Samber Nyawa - Chin Yung.

"siau-hiap, lepaskan tanganku. Tindakanku ini adalah demi keselamatanmu..."

"Kau lepaskan dulu tangan Kim-kaucu "

Bentak Giok-liong.

"Urusanku jangan kau turut campur "

Jengek Kim Eng dingin. Tapi si orang aneh tinggi kurus benar-benar melepaskan tangan kanannya serta berseru lantang.

"Baik aku menurut perintah Ma siau-hiap Kuampuni jiwamu sekali ini Pergilah "

Tak kuasa ui-hoa kaucu terhuyung sempoyongan beberapa langkah, mukanya pucat serunya menuding Giok-liong.

"Kim pit Jan-hun peristiwa hari ini selamanya takkan kulupakan"

Habis berkata segera ia menjejakkan kakinya terus meluncur jauh dan menghilang.

"Kaucu Kaucu"

Beruntun Giok liong berteriak memanggil dua kali, namun Kom Eng tak menghiraukan lagi, larinya malah dipercepat.

"Siau-hiap, tanganmu..."

Siorang aneh tinggi kurus berkata lirih sambil meringis. Giok liong berkata tertekan .

"kau sudah melepas dia, akupun tentu melepas kau. Tapi urusan kita masih belum selesai."

Orang aneh kurus tinggi tertawa tawar, ujarnya lirih .

"siauhiap, menurut hemat hamba, lekaslah kau menuju ke Hutan kematian, kalau tidak peristiwa seperti hari ini akan selalu terulang lagi, selamanya takkan berakhir"

Giok-liong kurang paham akan arti perkataan orang.

"Jadi maksudmu..."

"Maksudnya kalau kau tidak segera berkunjung ke Hutan kematian, siapapun orang yang pernah berhubungan langsung dengan kau mungkin akan menemui nasib seperti kejadian di Hwi-hun-san cheng ini"

"Kenapa bisa begitu?"

"Entah kenapa, sejak Cukong hutan kematian menemukan siauniap beliau mengharap benar kunjungan siauhiap ke sana. Tempo hari sudah mengeluarkan perintah lencana besi, siauhiap dibatasi dalam tempo tiga hari harus menghadap, tak nyana..."

Merinding tengkuk Giok liong, sempitnya.

"Mengandal apa dia berani membatasi aku tiga hari?"

"Batas yang dikeluarkan dari hutan kematian adalah atas perintah dari Cukong, perintahnya ini seumpama perintah raja yang tidak boleh dilanggar atau dibangkang. Hanya terhadap kaulah siau-hiap boleh dikata merupakan suatu keajaiban yang pernah terjadi hanya satu kali."

"Hm, kalau aku tidak sudi pergi kesana, apa pula yang dapat diperbuatnya?"

"Kalau ganti orang lain, aku berani pastikan tentu sudah hancur lebur tanpa ketinggalan utuh jenazahnya. Ketahuilah Cukong malah merubah sikapnya yang marah itu dan tersenyum simpul, katanya.

"Anak ini, kukuh dan keras kepala benar wataknya Coba kau pikir..."

"Kentut "

Giok liong berjingkrak gusar.

"jangan kau mengudal mulut dihadapanku, mengandal apa dia berani menilai diriku sedemikian rupa"

Sahut orang aneh tinggi kurus.

"Menurut pengalamanku selama menghamba di-bawah Cukong puluhan tahun, ini sudah merupakan suatu peristiwa yang menyenangkan selama belum pernah terjadi memberi muka kepada orang lain"

"Hah, sombong dan takabur"

Sambung siorang aneh tinggi kurus.

"Tak duga belakangan ini, cukong mengutus hamba sekalian untuk mencari jejak siau hiap tanpa dapat menemukan kabar beritanya."

"Untuk apa mencari aku?"

"Belakangan ini mendadak Cukong suka marah-marah, maka beliau lantas mengutus hamba membawa anak buah meluruk ke Hwi-hun-san cheng sini, membunuh meratakan seluruh perkampungan ini tujuan utama tak lain supaya siau hiap mendengar berita ini lantas datang kemari"

Membesi hijau muka Giok-liong saking marah, bentaknya.

"Kiranya begitu kejam dan telengas betul perbuatan kalian"

Seiring dengan bentakannya ini Giok-liong lantas menerjang maju sambil mengirim sebuah jotosan, mega putih berguling-guling sekaligus menerpa ke depan memberondong ke arah si orang aneh tinggi kurus, dalam satu gebrak ini Giok-liong sudah lancarkan pukulan dan mengarah sembilan jalan besar ditubuh lawan.

Agaknya seorang aneh tinggi kurus itu sejak tadi sudah bersiaga dan menduga Giok-liong bakal melancarkan serangan dahsyat, sebat sekali tiba-tiba bayangan tubuhnya melonjak jauh setombak lebih, gerak kecepatan tubuhnya laksana kilat seperti bayangan setan saja layaknya, terdengar suaranya berkumandang.

"Menurut hemat hamba seharusnya siau-hiap segera berangkat ke Hutan kematian, kalau tidak.....Huh Huh "

"Kalau tidak bagaimana?"

"Kalau tidak dimana dan siapa saja ada hubungan erat dengan siau-hiap, tentu takkan terhindar dari bencana kematian atau di babat habis ke akar-akarnya."

Amarah Giok-liong sudah mencapai puncaknya, kedua lengannya digentakan sembari berseru.

"Selama aku Ma Giok-liong masih hidup sehari di Kangouw, tipu muslihat hutan kematian harus ku bongkar-Baiklah aku mulai turun tangan terhadap kau, akan ku bunuh dan berantas seluruh kurcaci dari hutan kematian Lihat serangan"

Angin kencang dan dorongan kepalan tangan seketika menderu keras laksana angin puyuh langsung menyerang ke seluruh jalan darah penting diseluruh tubuh orang aneh tinggi kurus.

saking marah maka cara turun tangan Giok liong ini laksana gelombang samudera mengamuk-Mendadak biji mata orang aneh tinggi kurus, sehat sekali ia berloncatan menghindar, lagi-lagi mulutnya berteriak-"Aku bermaksud baik, kenapa siau-hiap tidak membedakan baik buruk "

Saat itu mana Giok-liong mau dengar segala obrolannya, beruntung ia lancarkan serangan dahsyat lagi sembari menghardik murka.

"Kubunuh kau dulu, terhitung sebagai peringatan keras kepada hutan kematian, serahkan jiwamu"

Bersinar kedua mata orang aneh tinggi kurus, begitu menjejakkan kaki mendadak ia meloncat setinggi setombak lebih, teriaknya lagi.

"Aku mendapat perintah dan di larang oleh Cukong, maka tidak leluasa bertarung dengan siau-hiap"

Sebetulnya jurus selanjutnya sudah siap dilancarkan begitu mendengar teriakan orang. Giok-liong merandek lantas menghentikan serangan selanjutnya, garangnya.

"Selamanya aku tidak akan membunuh manusia kurcaci yang tidak berani membalas-"

Orang aneh itu bergelak tawa, ujarnya.

"Aku yang rendah menjabat Coa-tong (sektor ular) dalam hutan kematian. Kalau siauhiap betul-betul ada minat baiklah lain kali saja "

Melihat sikap orang yang main ulur dan berkata melulu tanpa ada minat hendak berkelahi, Giok-liong menjadi kewalahan dan ragu-ragu. Akhirnya ia menarik kedua tangannya, ujarnya lantang.

"Kalau begitu, setelah pulang nanti tolong sampaikan kepada Cu-kong kalian, katakan bahwa dalam waktu singkat ini aku tiada tempo, terpaksa harus menunda beberapa lama lagi, kelak kalau ada kesempatan pasti aku datang menyambangi beliau"

Coa-tong Tongcu menjura katanya.

"Tentu akan kulaparkan kepada Cukong, mohon pamit"

Tubuhnya masih membungkuk namun tiba-tiba badannya sudah melayang mundur dua tombak, sambil mengulapkan tangan memberi tanda kepada empat kawannya, sebentar saja bayangan mereka sudah -ditelan gelapnya sang malam.

"Hai Nanti dulu"

Ringan sekali tubuh Giok liongpun ikut meluncur kedepan menghadang di depan mereka, katanya.

"Perlu juga diberitahukan kepada Cukong kalian, katakan bahwa kehidupan kaum persilatan lebih baik aman sentosa, sekali menimbulkan gelombang bencana kedua belah pihak tentu akan menelan akibatnya. Cukup sskian saja kalian boleh silakan". Coa-tong Tongcu tertawa ringan, ujarnya.

"Tentu akan hamba sampaikan, tapi watak Cukong... hihihi selamat bertemu "

Belum habis suaranya bayangan tubuhnya mendadak sudah lenyap, gerak gerik tubuh Coa Tong Tongcu ini betul cepat dan gesit diluar dugaan.

sekarang diantara puing-puing Hwi-hun-san cheng yang begitu luas tinggal Giok liong seorang diri, seluruh alam semesta sudah diliputi oleh kabut malam, bulan sabit remangremang memancarkan sinarnya yang redup.

Pelan-pelan Giok-fiong berjalan kearah dimana dulu ia tiduran berkasih mesra bersama Coh Ki-sia, ditempat inilah mereka mengadakan hubungan suami istri, kembali ditempat yang penuh kenangan nikmat ini, sungguh pilu dan duka benar harinya, sejak itu menjadi berat untuk meninggalkan tempat ini.

sinar bulan sabit yang pucat dan redup dengan bertaburan sinar bintang kelap-kelip diangkasa yang memantul dari permukaan aliran sungai yang bening halus, dahan pohon meliuk melambai ringan dihembus angin sepoi-sepoi, keadaan sunyi yang penuh mengandung hawa kesedihan ini lebih mencekam perasaan Giok-liong yang sedang dirundung duka dan seorang diri memandang bayangan tubuhnya yang memanjang jauh tak terasa ia menghela napas panjang dengan lesu ia duduk di-pinggir sungai.

Hawa malam mulai dingin waktu terus berlalu, tanpa terasa hari sudah menjelang tengah malam, Giok liong sudah melimpahkan perasaan duka hatinya, lalu dikeluarkannya seruling samber nyawa diam-diam ia merenung not lagu yang dulu pernah di ajarkan oleh Li Hian, lalu pelan-pelan meniup serulingnyna.

Pembukaan lagunya ringan dan lembut seumpama mengiring sang bidadari tengah menari dengan selendang panjangnya, laksana hembusan angin musim semi yang berlalu halus membuat pendengarannya menjadi nyaman dan ngantuk-Lambat laun alunan nadanya mulai berubah nyaring merdu kumandang menyelusuri alam semesta nan sunyi ini, kembang-kembang serentak mekar seakan seluruh penghuni alam ini hanyut tenggelam dalam buaian yang merdu mengasyikan ini.

sekonyong-konyong-irama seruling berubah cepat dan meninggi, gemuruh laksana derap kuda berlari kencang seumpama angin topan bergulung menyelimuti seluruh angkasa, geledek dan kilat menyamber, gunung dan bumi terasa bergetar, ombak faut mengamuk, seakan dunia ini hampir kiamat.

Entah berapa lama Giok liong meniup serulingnya saking menggunakan perasaannya.

Giok liong tak tahan lagi meneteskan air mata, badannya menjadi lemas dan tiada tenaga untuk meniup lagi.

setelah menyedot hawa dingin ia simpan kembali seruling kedalam bajunya.

Tak duga begitu irama serulingnya berhenti dari jarak jauh lima tombak disamping sana mendadak melesat sebuah bayangan masih di tengah udara orang itu sudah berteriak beringas.

"Bocah keparat, Iwekang tidak lemah, tiga lima tahun lagi tentu seluruh Bulim bakal kau kangkangi. Apa boleh buat, Losiu si orang tua harus melenyapkan kau dulu supaya tidak menimbulkan bencana di belakang hari"

Keruan Giok liong tersentak kaget, belum lagi ia melihat tegas orang mendadak matanya menjadi silau oleh menyamber datang sinar kuning yang memancar terang laksana seekor ular emas, diantara tengah cahaya sinar kuning menyilaukan mata inilah sebuah telapak tangan besar tiba-tiba sudah menyelonong tiba menepuk keatas balok kepalanya.

Perbawa kekuatan pukulan telapak tangan ini sungguh hebat bukan olah-olah .

Dalam keadaan yang tidak siaga terpaksa Giok liong harus berusaha berkelit, badannya menggelimpang kesamping terus menubruk kedepan sebat sekali tubuhnya jumpalitan ditengah udara, maka dilain saat ia sudah tiba di seberang sungai sebelah sana yang lebarnya tiga tombak lebih, untung benar ia dapat menghindar dari serangan mematikan ini.

"Biang"

Dentuman dahsyat menggetarkan bumi, air sungai muncrat tinggi kemana-mana, tempat duduk Giok liong tadi kini sudah berlobang dalam setombak bundarannya.

Maka dapatlah dibayangkan betapa hebat dan dahsyat tenaga pukulan yang mengejutkan ini.

Jubah putih Giok liong menjadi berlepotan kotoran lumpur, hatinya menjadi berang, sambil mengebutkan lengan bajunya lincah sekali ia loncat kembali keseberang, bentaknya sambil menuding pendatang itu.

"Membokong dengan serangan ganas, apa tujuanmu?"

"Hahahaha Hahaha Hohohoooo "tidak menjawab sebaliknya orang itu terloroh-3 kegila-gilaan. Baru sekarang cilok-liong melihat tegas, pendatang uni, ternyata seorang laki-laki tua yang bermuka merah, bibir tebal, hidung besar seperti hidung singa, kedua biji matanya melotot besar seperti jengkol berwarna merah, selain ini tiada keistimewaan lainnya. Begitu menghentikan gelak tawanya si orang tua muka merah berkata dengan nada rendah sember.

"serahkan seruling samber nyawamu itu"

Giok-liong menjadi heran, dari mana dia kenal aku ? Karena pikirannya ini hatinya menjadi gusar, semprotnya.

"serahkan kepada siapa ?"

"serahkan kepada Lohu"

"serahkan kepadamu Hehehe Mengandal apa kau ?"

"Tidak mengandal apa-apa Kalau To-ji Pang Giok berada disini betapa juga ia harus memberi muka kepada Lohu"

Sesaat Giok-liong menjadi ragu-ragu, ia kwatir kalau orang tua ini punya hubungan erat dengan perguruannya, terpaksa ia tekan perasaannya. ujarnya.

"o, betulkah ? Siapa nama Cian.jwe ?"

"Tak heran, kiranya kau tidak kenal pada Lohu"

Bicara sampai d sini mendadak si orang tua mendelikkan mata, seketika terpancar sinar merah dingin dari kedua biji matanya, selebar mukanya juga semakin merah terang, begitu tajam pandangan matanya cukup membuat orang yang dipandang kuncup nyalinya.

Tak terasa Giok-liong menjadi merinding, cepat-cepat ia empos semangat dan mengheningkan cipta menyalurkan hawa murni kepusar dan diam-diam mengerah kanji lo pelindung tubuh, sedikltpun ia tidak berani berlaku takabur.

Lama dan lama sekali kedua biji matanya besar merah dari orang itu terus menatap wajah Giok-liong.

Entah berapa lama kemudian terdengar mulutnya berseru heran, agaknya ia sangat terkejut sini air mukanya berubah dan lenyaplah cahaya terang dimukanya, serunya keras.

"Sudah kenal pada Losiu belum ?"

Tersentak kaget Giok-liong mendengar pertanyaan ini, baru sekarang ia sadar, cepat ia menjura dalam serta katanya.

"Kiranya Cian-jwe adalah Bingcu dari aliran hitam, yaitu yang berjuluk Sip niat Ling Boan Bok-ki Licianpwe "

Orang tua muka merah mengunjuk rasa bangga, serunya lantang sambil tersenyum.

"Akhirnya dapat kau ingat juga "

Giok-liong tersenyum simpul, cepat-cepat ia memberi hormat serta katanya pula.

"cian-pwe sudah lama belum turun gunung, untuk keperluan apakah sekarang muncul di Tiong-goan, sudikah memberi sedikit penunjuk?"

Dengan muka berseri-seri Toan Bokki berkata.

"Tepat sekali pertanyaanmu perjalanan Lohu kali ini, ada sebagian karena kau ini"

Giok liong merasa heran, lekas-lekas ia bertanya lebih lanjut.

"Hanya karena aku yang rendah?"

"Tadi sudah kukatakan aku hendak meminjam seruling samber nyawamu itu"

"Ah, kiranya Cian-pwe main kelakar belaka ?"

"Kelakar ? selama Hidup ini Lohu belum pernah membual"

"Kalau begini Cian-pwe betul-betul pinjam serulingku ini "

Giok liong mengerahkan Ji-o lagi buat siaga dan menjaga segala kemungkinan, nadanya sudah tidak sehormat tadi.

"sudah tentu sungguh-sungguh "

Sikap sip-hiat-Ling Toan Bok ki serius, agaknya memang bukan kelakar atau omong kosong belaka.

"Ini... harus kupikir-pikir dulu, sebab seruling samber nyawa adalah milik perguruan yang dipercayakan ditanganku, Wanpwe tidak berani sembarangan ambil putusan "

"Kau tak perlu, bersitegang leher, Lohu bukan minta milikmu itu "

Mendengar kata-kata ini Giok-liong berlega hati, batinnya.

"Kalau begitu lekaslah pergi, orang tua kalangan hitam ini sungguh sulit dilayani sebentar marah lain saat tertawa berseri, walaupun aku tidak perlu gentar menghadapi dia, kalau sampai menunda yang ditentukan sampai di Pak-hay, segalanya bisa berabe."

Karena batinnya ini segera ia menjura serta berkata.

"Kalau begitu, maaf wanpwe minta diri saja "

Habis ucapannya segera ia melejitjauh hendak tinggal pergi

Tiraikasih WEBSITE

http.//kangzusi.com/ "Tunggu sebentar omongan Lohu masih belum selesai "

"cianpwe masih ada omongan apalagi ?"

"Musim perayaan kembang pada bulan dua tahun depan, adalah tepat jatuh genap seratus tahun dari kelahiran Lohu..."

"Wah sungguh beruntung,"

Ujar Giok liong sambil unjuk hormat.

"Pada saatnya Wanpwe datang berkunjung mengucapkan selamat-"

Kata sip-hiat Ling ToanBek ki lambil mengelus jeng gotnya.

"Sejak berusia dua puluh Lohu sudah berkecimpung di Kangouw, sampai sekarang sudah delapan puluh tahun lamanya, aku merancang pada hari lahirku nanti akan kuundang para sahabat Bulim untuk berkumpul untuk merayakan, dihadapan para sahabat Bulim itulah nanti aku hendak mencuci tangan menyimpan golok mengasingkan diri selamanya takkan terjun didunia persilatan lagi"

Senada dengan ucapan orang segera Giok liong menyanjung puji.

"Sungguh bahagia dan tepat benar jalan yang cian-pwe tempuh ini "

Sip hiat-Ling Toan Bok ki meneruskan obrolannya.

"selama delapan puluh tahun uni, Lohu hidup di ujung golok, boleh dikata segala pait getir ku kenyam hanya tinggal sebuah angan-anganku yang sampai sekarang belum bisa terlaksana "

"cian-pwe bisa hidup bahagia sampai sepanjang umur ini, masih ada angan-angan apa yang terlaksana?"

"Aku hendak mengoleksi empat senjata pusaka yang terampuh dikolong langit ini sekedar sebagai hadiah hari ulang tahunku itu"

"Empat senjata pusaka?"

"Benar, Pek sia-kiam, sian-lo-sian Tio-thian-hu dan seruling samber nyawa ditanganmu itu."

Tergerak hati Giok-liong, pikirnya-"Tua renta yang tamak dan membosankan, sungguh besar dan muluk-muluk angan-angannya untuk secepatnya meleloskan diri dari libatan orang, terpaksa dimulut Giok liong berlaku manis dan menyanjung pula.

"O, ini betul betul berita bahagia dan menggirangkan sepanjang umur-"

Sip-hiat-ling Toan Bok ki bergelak tawa girang, ujarnya.

"Memang betul, maka terpak sa Lohu harus turun tangan sendiri terjun pula diBulim untuk mengajar angan anganku itu, supaya dihari tua ini tidak hidup kecewa."

"Benar juga ucapan cian-pwe ini"

"Serahkanlah seruling tamber nyawa itu kepada Lohu setelak lewat musim perayaan kembang tentu kukembalikan lagi kepadamu."

Secara terang dan gamblang sip-hiat-ling Toan Bok ki menyatakan langsung hendak meminjam seruling itu, sesaat Giok liong kemekmek tak enak lantas menolaknya begini saja, sejenak ia berpikir lalu berkata.

"Wanpwe ada dua cara"

"Cara apa?"

"Pertama dalam satu bulan ini kalau Wanpwe ketemu suhu biar kusampaikan persoalan ini kepada beliau-kalau suhu suka memberi ijin, tiga hari sebelum perayaan kembang musim semi langsung kuantar sendiri ke Tiang Pek-san diatas Hiat-hong-cay kediaman cian-pwe itu, langsung kuserahkan kepada Cian-pwe"

"Lalu cara kedua?"

"Kedua sebelum hari ulang tahun tiba, Wanpwe akan datang untuk mengucapkan panjang umur kepada Cianpwe saat itujuga kuserahkan kepada Cianpwe"

Tak nyana tiba tiba muka merah sip-Uiiat-ling Toan Bok ki bersungut, bentaknya keras.

"Kedua cara ini tidak bisa kuterima "

Cara yang diajukan oleh Giok-liong tadi boleh dikata sudah merupakan kelonggaran yang banyak memeras pemikirannya, terutama merupakan kebijaksanaan pula, sebab sip hiat-Ling Toan Bok ki walaupun gembong nomer satu yaitu Bing cu dari aliran hitam, kata-katanya merupakan perintah sekokoh gunung, boleh mana suka ia menyebutkan dan harus dipatuhi oleh siapa saja.

Tapi perguruan Giok-liong bukan dari aliran hitam, peribadinyapun bukan dari keluarga golongan sesat diBulim, maka tidak seharusnya begitu congkak dan takabur Toan Bokki membuka mulut terhadap dirinya.

Maka cara yang diajukan tadi sudah memberikan muka kepadanya, kalau toh tadi ia tidak segera menolaknya secara tegas.

sekarang mendengar bentakan yang congkak ini hatinya tidak menjadi tidak senang dan gemas, dalam keadaan yang serba repot bagi Giok-liong ini, ia selalu bersemboyan dari pada terlibat dalam suatu urusan yang mengikat dirinya lebih baik mengurangi suatu beban.

Maka dengan membawa sikap tertawa yang dibuat-buat, Giok-liong bertanya.

"Kenapa tidak bisa diterima."

Kata Toan Bok ki mengagulkan ketuaannya.

"Kalau kau tidak ketemu Pang Giok, atau sebelum hari ulang tahunku pada perayaan kembang musim semi itu kau tak sempat ke Tiang pekssan, bukankah akan menyapu bersih kesenangan Lohu, ini namanya urusan besar Lohu pula. Tatkala itu bukankah Lohu bakal menjadi buah tertawaan para kerabat Bulim karena tidak becus bekerja."

Giok-liong menyeringai dingin.

"Kalau menurut pendapat Cian-pwe lalu bagaimana baiknya ?"

"Sekarang juga kau serahkan seruling samber nyawa itu kepadaku"

"Jan-hun-ti adalah peninggalan perguruan, mana boleh-.."

"Kau tidak percaya pada Lohu atau memandang rendah Lohu ?"

"semua bukan"

"Kenapa cari alasan apa segala. Apakah kira ilmu sip hiatpok ciang Lohu kurang sembabat menghadapi kau"

"cian-pwe jangan marah dulu, dua cara yang kuajukan tadi anggap saja batal, aku yang rendah masih ada suatu cara lain ku-tanggung pasti dapat terlaksana "

"Lekas katakan"

"Cara lain yaitu harus mengandalkan kepandaian sejati masing-masing"

"Bocah, besar benar nyalimu "

"Sikapmu juga terlalu sombong, ketahuilah Kim-pitjun-hun sebetulnya tidak gampang mandah dipermainkan"

"Bocah keparat, kau mencari mampus"

"Sekarang belum tentu siapa bakal menang dan asor"

"Lihat serangan"

"Hm, aku orang she Ma siap melayani"

Mega putih berkembang mengepul naik menyelubungi tubuh, dua jalur pelangi merah darah juga melesat keluar bergulung-gulung, pertempuran dahsyat yang paling seru mulai bergerak dibalas tumpukan puing bekas perkampungan awan terbang.

sebagai pemimpin golongan Hitam, kalau tidak membekal kepandaian silat luar biasa serta dengan latihan yang sempurna mana bisa menundukkan orang-orang gagah dari berbagai aliran.

Terlihat ia mulai mengembangkan ilmu sip hiat-ling yang sangat di banggakan, seketika seluruh gelanggang laksana diliputi kabut merah berdarah, dari sambaran angin yang kencang itu terendus bau amis yang memualkan, diantara taburan angin membadai itu, kedua telapak tangan sebesar mangkok ini bergerak lincah dan kuat sekokoh gunung, selincah ular sanca.

Cara permainannya ini benar-benar sudah begitu sempurna dan lihay betul mencapai puncak yang tertinggi.

Kalau diperumpamakan secara seksama, bekal kepandaian yang dimiliki Giok liong sekarang boleh dikata sudah terhitung seorang tokoh kosen yang jarang diketemukan apalagi dengan berlandaskan kepandaian sam-ji-cui-hun chiu yang merupakan ilmu sakti dari aliran lurus dan murni, walaupun jurus permainannya tidak banyak namun penuh mengandung banyak perubahan.

Cih-chiu.

Hoat-bwe dan Tian-ceng satu sama lain saling mengisi dan menambal kekosongan dan kekurangan satu sama lain, apalagi kalau dilancarkan secara berantai, tiga berubah enam, enam berubah dua belas tangan pukulan begitulah jurus demi jurus berlipat ganda lebih banyak tiada kenal putus laksana aliran sungai besar yang bergulung-g ulung sepanjang ribuan li.

Dua tokoh silat puncak tinggi sesaat berkutet dengan seru, satu sama lain dapat mengambil kemenangan, meskipun sejurus saja masing masing berusaha sekuat tenaga untuk memenangkan sejurus, atau setengah jurus, namun sukarnya bagai memetik rembulan diangkasa raya, sinar merah darah menerpa tiba, segera merah putih memapak maju maka terdengarlah ledakan dahsyat berulang kali.

satu jam kemudian lima ratus juras telah berlalu tak terasa, selama ini masih belum kuasa ditentukan siapa lebih unggul atau asor, kepandaian kedua belah pihak memang sama kuat.

"Berhenti dulu"

Mendadak terdengar gerungan keras sit hiat-ling Toan Bok ku, seiring dengan bentakannya tampak ia meloncat keluar dari arena pertempuran.

Mukanya bersungut gusar, biji matanya mendelik tajam mengawasi Giok liong, katanya.

"Lohu tak sabar main berkelahi lama-lama begini, dengan bekal nama dan ketenaran selama hidup ini biarlah aku main taruhan saja."

Giok-liong tertawa tawar, sahutnya.

"Apakah itu perlu?"

"Apa kau takut?"

"Tiada sesuatu urusan yang perlu ditakuti silakan sebutkan cara permainan apa, semua-kulayani sesuka hatimu"

"Sombong benar katamu, mari Lohu akan menjajal sampai dimana latihan Iwekangmu"

Sebetulnya si orang tua ini hendak main licik dan mengandung maksud tak baik, menurut pertimbangannya, ilmu simpanan Giok-liong benar-benar hebat dan rumit sekali susah dijajaki, gerak langkahnya juga lincah dan gesit sekali, apalagi tenaga muda lagi.

Tapi mengandal latihan Iwekangnya selama ratusan tahun ini tentu ada pegangan dapat merobohkan musuh kecil ini.

Betapa Giok liong tidak tahu maksud yang terkandung dibalik ajakan adu Iwekang ini, tapi janji sudah diucapkan tak mungkin ditarik kembali, maka ujarnya sambil tersenyum sinis.

"Perhitunganmu ini cukup mengagumkan, aku terpaksa harus melayani, coba sebutkan cara pertandingan babak adu Iwekang ini ?"

Tak nyana mnndadak sip-hiat ling Toan Bok-ki mementang kedua kakinya lalu memasang kuda-kuda serentak itu pula kedua lengan dengan telapak tangan berkembang didorong lurus kedepan, kiranya ia lebih dulu lancarkan jurus serangannya, menyerang dulu baru mulutnya berteriak.

"Cara mengadu kekerasan beginilah "

Dua jalur sinar merah darah yang membawa tenaga hebat menggulung tiba laksana damparan angin puyuh, seperti pula air tercurah dari atas langit, betapa hebat kekuatannya sungguh jarang diketemukan di kalangan persilatan, ganas dan telengas lagi.

sontak Giok-liong menjadi beringas, geramnya rendah.

"Tua bangkotan yang licik telengas"

Seiring dengan geramannya ini mendadak terasakan segulung tenaga laksana gugur gunung dahsyatnya menerpa tiba menindih dada, tanpa ayal sigap sekali segera ia angkat kedua tangan sambil mengerahkan seluruh kekuatannya terus mendorong kede-pan untuk menangkis.

Untung latihan Giok-liong sudah mencapai tenaga dapat mengikuti kemauan, kalau tidak seketika ia akan terbanting mampus dengan, seluruh isi perut hancur lebur, meskipun begitu sigap ia menangkis karena dilancarkan tergesa-gesa tak urung terasa juga tekanan besar ribuan kati menggetarkan seluruh badannya sehingga jantungnya ikut tergetar seketika pandangan menjadi gelap dada sesak dan mual, jalan darah menjadi terbalik.

Untung ia membekal ilmu sakti dari aliran lurus, Hawa Ji-lo dapat mengikuti tekanan dari luar, semakin besar tekanan daya tolaknya juga jadi bertambah besar, sehingga tekanan yang menindih dadanya sebagian besar bisa dipunahkan Dengan cara menyerang secara licik hampir serupa membokong ini tujuan Toan Bok-ki adalah cukup sejurus saja pasti dapat merobohkan lawan kecil ini, apalagi ia merasa serangannya cukup menggetarkan jantung Giok-Liong, keruan girang bukan main hatinya, menurut perhitungannya dalam beberapa detik saja darah Giok liong pasti tersungsang sumbel dan tak kuat bertahan lagi.

Tak duga begitu tenaganya baru saja merembes masuk ke badan orang sebelum mencapai eiasaf pusarnya, mendadak terasa olehnya ada segulung tenaga lunak yang timbul menahan dampratan tenaga sendiri sehingga kekuatan tenaganya tidak dapat dikontrol lagi, bukan saia tak kuasa meneriang jalan darah besar musuh malah semakin lama semakin lemah dan menyurut kembali, sehingga terasa pula kedua lengan sendiri kesemutan.

Dedongkot tua licik berpengalaman luas ini tujuan semula sekali serang merobohkan lawan kini setelah melihat serangannya menemui jalan buntu dan gagal total cepat-cepat ia tarik kembali tenaganya, Tahu dia bahwa musuh muda yang dihadapi ini betul-betul merupakan tokoh kosen yang tak mudah di tundukkan latihan Iwekangnya betul-betul sudah mencapai sukses yang paling di banggakan.

Maka untuk selanjutnya tak berani ia berlaku ceroboh, diempotnya semangat tenaga dikerahkan kedua lengan, begitulah dengan bekal latihan tenaga dalamnya ia berniat bertahan mengadu kekuatan secara jangka panjang untuk mengambil kemenangan.

Di lain pihak Giok liong sendiri juga insyaf bahwa jago tua yang dihadapi ini adalah musuh paling kuat yang belum pernah diketemukan selama ini, maka sedikitpun ia tidak berani lalai, pelan-pelan dikerahkan seluruh tenaga murninya terus dilancarkan pelan-pelan.

Menurut pertimbangannya terlebih dulu ia memperkokoh kedudukannya baru selain itu melancarkan serangan balasan yang mematikan.

Kedua belah pihak mempunyai maksud yang terkandung dalam benaknya dan mulai dipraktekkan, siapapun tak berani semberono bergerak, begitulah mereka berdua menjadi berhadapan kaku dipinggir sungai berjarak lima tombak, biji mata mereka mendelik tak berkesip.

empat telapak tangan saling berhadapan diam-diam mereka tengah mengerahkan tenaga untuk bertahan.

Tenang dan sunyi mencekam seluruh penghuni alam ini, seolah-olah seluruh alam semesta ini sudah mati sehingga suasana menjadi hening lelap.

Hanya terdengar lapat-lapat hawa udara bergelombang mengeluarkan desis rendah yang semakin keras.

Kira-kira seperminuman teh kemudian, sampai diatas kepala sip-hiat-ling Toan Bok ki mengepul sinar merah darah yang lembut dan tipis terus terus membumbung tinggi setombak lebih-Demikian juga keadaan Giok-liong, tampak dua jalur kabut putih laksana tonggak batu pualam menguap dari kepalanya.

sebentar lagi mulai terdengar pernapasan yang berat, jidat mereka sudah basah oleh keringat dan memancarkan cahaya terang-Cahaya merah darah semakin susut dan menipis, demikian juga kabut putih mulai sirna menghilang.

Akhirnya kedua tangan masing-masing sudah tak kuasa lagi diangkat dan semampai lemas walau sekuatnya bertahan dengan gaya duduk bersila, tapi tenaga sudah dikuras habis, seperti pelita yang kehabisan minyak, tanaman yang mulai layu kekeringan, mati atau hidup tinggal terpaut seutas benang saja.

Keheningan alam sekelilingnya kini diramalkan dengan dengusan napas yang berat serta suara "krak keok"

Dari tenggorokan kedua orang yang kehabisan tenaga ini.

"Hooaaaa...."

Tiba-tiba terdengar loroh gelak tawa panjang aneh yang menusuk telinga dari tumpukan puing sebelah sana, belum hilang suara tawa ini, di keremangan sinar bulan tampak berjalan keluar seorang kate cebol setinggi tiga kakiorang kate cebol ini mengenakan jubah panjang yang terbuat dari kain iaci, kepalanya gundul tinggal berapa utas rambut yang sudah uban, raut mukanya Jenaka menyerupai wajah bayi, tingkah lakunya sangat lucu.

orang tua cebol bermuka seperti orok kecil ini pelan-pelan menghampiri Giok-liong saat mana Giok liong sudah kehabisan tenaga, seluruh tubuh lemas lunglai seperti kapas, sedikitpun tak kuasa mengerahkan sedikit tenagapun.

Demikianjuga keadaan Toan Bok ki duduk mematung seperti tonggak, jangan kata hendak main menang-menangan merebut seruling apa segala, dihembus angin keras saja tanggung roboh terkapar.

yang membuat mereka gegetun adalah meskipun kehabisan tenaga namun pikiran dan perasaan mereka masih peka, begitulah dengan mendelong saja mereka mandah diejek oleh orang tua cebol bermuka bocah ini tapi apa yang dapat mereka perbuat, walau hati gelisah dan was-was namun tenaga untuk membuka suara saja tak mampu.

Kira-kira dua kaki didepan Giok-liong orang tua cebol bermuka bocah berhenti lalu menjura katanya.

"Terlebih dulu aku si orang tua mengucapkan terima kasih atas pemberian seruling ini."

Lalu seenaknya saja ia mulai membuka kencing baju luar Giok liong terus mengulur tangan merogoh keluar jan-hun ti, seketika terpancar cahaya putih cemerlang menerangi alam sekelilingnya, begitu gemilang cahaya ini menyilaukan mata.

seperti bocah mendapat mainan yang disenangi orang tua cebol bermuka bocah ini meugelus-elus seruling di tangannya, lalu dengan langkah lebar mendekati sip hiat-ling Toan Bok ki katanya pula menggoda.

"saudara tua untuk mendapatkan jan-hun-ti ini mungkin dalam mimpi kaupun tak tenang, nih silakan kau lihat biar terang supaya tidaklah sia-sia puluhan tahun angan-angan itu. Ha Hahaha..."

Seruling diangkat lalu digoyang-goyang-kan didepan mata sip-hiat-ling Toan Bok ki katanya pula.

"Kesempatan sukar didapat, kalau aku siorang tua sudah kembali di Ling lam, untuk melihatnya lagi sudah tidak begitu gampang lho "

Sembari kata ini ia mundur lima tombak jauhnya terus putar tubuh tinggal pergi-Dalam hati Giok liong gugup bukan buatan, matanya saja yang mendelik mengawasi kepergian orang.

Di lain pihak sip-hiat-ling Toan Bok ki sendiri juga gelisah, hati sangat pilu seperti diiris-iris, ada hati hendak mengejar dan merebutnya kembali sayang tenaga sendiri tak berdaya.

sementara itu orang tua cebol bermuka bocah itu sudah berjalan tujuh delapan tombak mendadak ia berteriak sambil menepuk jidatnya.

"Hayooo, aku sungguh goblok, bila Iwekang mereka pulih kembali bukankah akan meluruk mencari perkara kepadaku Kalau sekarang kubunuh mereka siapa yang tahu kalau seruling sakti ini terjatuh ditanganku, inilah yang dinamakan membabat rumput tidak seakar-akarnya, dihembus angin musim semi ia akan tumbuh lagi. ya, seorang laki-laki sejati harus berani bekerja secara jantan, mereka harus dilenyapkan supaya tidak meninggalkan bencana di kemudian hari "

Begitulah sambil mengguman seorang diri ia sudah putar balik, setelah dekat kelihatan muka bocahnya yang lucu itu kini sudah berubah menyeringai iblis sangat ketakutan, sambil angkat seruling diatas kepala ia memburu kearah sip-hiat ling Toan Bok ki, katanya sambil mengertak gigi.

"sahabat tua jangan salahkan aku berlaku kejam padamu "

Jan-hun-ti sudah diangkat diatas kepalanya hampir dikeprukan.

Kebetulan saat mana teng gorokan Toan Bok ki berbunyi berkerok-kerok keras terus menyemburkan segumpal darah segar, tampak air mata meleleh diri kelopak matanya.

Karena tidak menduga, dan berjaga-jaga saking kaget orang tua cebol itu meloncat lima kaki, teriaknya tertawa.

"sahabat tua Kenapa berduka Apakah karena tidak dapat melewatkan hari ulang tahun yang keseratusanmu itu, sudahlah sidak perlu manusia hidup seratus tahun akhirnya juga mesti mati, legakan saja saatmu hari ini tahun depan adalah... aduh"

Setitik sinar putih perak melesat secepat kilat menyambar tiba, kontan si orang cebol bermuka bocah menjerit ngeri, badannya terhuyung terus tersungkur jatuh.

Tepat saat itujuga tampak sebuah bayangan hijau pupus berkelebat mendatangi secepat mengejar angin, begitu dekat terdengar teriakan.

"Kakek Kakek"

Kiranya itulah seorang gadis rupawan bertubuh langsing sudah meluncur datang ditengah tumpukan puing itu.

Tanpa memperdulikan si orang tua cebol bermuka bocah yang bergulingan sesambatan langsung gadis rupawan itu menubruk kearah sip-hiat-ling Toan Bok ki, teriaknya menangis sambil mendekap lengannya.

"Kek Kenapa kau Kenapa tidak bicara,"

Berteriak lalu menangis lagi sikapnya yang gelisah dan gugup itu sungguh sangat kasihan.

sip hiat-Ling Toan Bok-ki menderita luka dalam yang teramat parah, mana bisa ia bicara.

gadis baju hijau itu sudah payah memapahnya bangun, mulutnya mengomel panjang pendek.

"Aku mau ikut keluar kau tidak mengijinkan kalau aku tidak mengelabui ayah dan mengintil kemari, coba siapa yang dapat merawat mu Kek Lain kali kaiau ke luar lagi kau harus mengajak aku, marilah kita pulang ke Hiat-hong-cay, setelah lukamu sembuh kita bisa melancong lagi "

Gerak geriknya memang lincah dan bersifat kanak-kanak, tanpa hiraukan Giok-liong yang terduduk sila, lebih tidak pedulikan si orang cebol bermuka bocah yang bernapas ngosngosan, mukanya sudah menjadi kuning dan kaku.

Tatkala itu sip-hiat-ling Toan Bok ki sudah dipapahnya bangun, namun tubuhnya lemas lunglai menggelendot dipundaknya, mulutnya tidak kuasa bicara.

Kata gadis baju hijau lagi.

"Kek berpegangan kencang, kita harus cepat cepat pulang mengobati lukamu"

Karena mulut tak dapat bersuara, sip-hiat-ling Toan Bok ki menggerak-gerakkan biji matanya yang redup itu melihat kebawah tanah, ujung mulutnya juga bergerak-gerak-Giok-liong paham akan syarat ini.

Tahu dia maksud Toan Bok-ki menyuruh gadis rupawan itu menjemput seruling samber nyawa, sudah tentu hatinya kembali gelisah kalau seruling samber nyawa terjatuh ditangan pihak Tiang-pek san, untuk memintanya kembali tentu tidak mudah.

sebaliknya gadis baju hitam itu tidak mengerti akan maksud kakeknya, katanya.

"Aku menyambitnya dengan sebatang sio-hiat gin ciam (jarum perak penyedot darah), kutanggung jiwanya takkan hidup sampai terang tanah, buat apa pedulikan bocah cebol ini"

Kiranya ia menyangka kakeknya menyuruh dirinya membunuh si cebol itu.

seperti orang bisu ada mulut hendak berkata namun sia-sia belaka, demikianlah keadaan Toan Bok-ki, namun matanya tetap memandang kebawah terus, tapi lama kelamaan matanya itu juga terasa berat untuk di-bukagadis baju hijau masih tak mengerti, mulutnya dimonyongkan sungutnya.

"Kakek ada-ada saja, biarlah ia menderita lebih lama lagi biar kapok ? siapa suruh dia berani memukul kau dan orang itu menjadi demikian rupa "

Sembari berkata ia angkat tangan kanannya terus menepuk dari kejauhan kepala si orang cebol yang masih menggerung-gerung ditanah, serunya.

"Baik kuturuti kemauan kakek, supaya hatinya lekas lega "

Terdengar kesiuran angin keras menyampok kedepan "

Blang"

"aduh "

Si orang tua cebol berteriak setengah jalan lantas berhenti kepalanya pecah berhamburan otaknya berceceran terang jiwanya tak dapat diselamatkan lagi.

Giok-liong berlega hati diam-diam dia berteriak girang merasa beruntung, syukur gadis baju hijau ini tidak mengetahui asal-usul jan hun ti, senjata sakti yang menjadi perebutan kaum persilatan.

Tapi sekarang pandangan mata siap-hiat ling Toan Bok-ki melirik kearah Giok liong yang masih duduk bersila.

Lagi lagi baju hijau bersungut uring-uringan, ujarnya.

"Kek kau betul-betul bawel, seorang diri mana aku bisa mengepruk-mati banyak orang-"

Memandang kearah Giok liong ia berkata lincah.

"Engkoh kecil Aku tahu kau dan kakekku dipukul luka parah oleh si orang tua cebol keparat itu, karena luka kalian berdua sama, tapi aku tak bisa menolongmu karena tenagaku kecil, tak mampu aku memaya dua orang, dendam ini sudan kebalasan, terpaksa kau kutinggalkan aku bersama kakek hendak pulang, kelak datanglah ke Tiang pek san di Hiat hong-cay, tentu kutemani bermain"

Dalam hati Giok liong merasa geli dan ingin bergelak tawa, segera sekuatnya ia manggut manggut. Kata gadis itu lagi.

"Kalau ke Hiat-hong-cay, carilah Toan Bok ki wsi, kalau orang tak tahu tanyakan Ciong ci liong li banyak orang tahu itulah aku adanya"

Giok liong mengharap dia memayang kakeknya lekas meninggalkan tempat ini, tempat ini sepi tak ada orang, ia bisa mengerahkan hawa murni memulihkan tenaganya, asal bisa menghimpun hawa murni dan memulihkan tenaga murni dan memulihkan tenaga tentu dapat bergerak dan menyimpan kembali jan-hun-ti selanjutnya gampang saja mencari tempat tersembunyi untuk menyembuhkan luka dalamnya.

Maka sekali lagi ia manggut-aianggut sambil tersenyum simpul.

Melihat Giok liong beruntun manggut dua kali Ciang ci liong-liToan Bok si menjadi lega dan menghela napas serta tersenyum manis.

Tanpa melihat sikap Toan Bok ki lagi, sekali melejit ia panggul tubuh kakeknya terus berlari kencang, terdengar ia berteriak.

"Engkoh kecil janganlah lupa datang ke Tiang pekssan untuk bermain"

Belum hilang uaranya beberapa kali loncatan saja bayangannya sudah jauh berada di puluhan tombak sana.

Mana dia tahu, kakek yang dipanggul dipunggungnya saat itu sangat gemas dan gegetun sekali, tapi apa boleh buat, karena diri sendiri tak kuasa buka suara, rasa dongkolnya ditelan bulat-bulat.

Mengantar bayangan ciang Hiong-li yang menghilang dikejauhan, hati Giok-liong seperti terlepas dari tindihan batu besar, diam-diam ia berseru dalam hati.

"Sungguh berbahaya."

Pelan-pelan ia mengheningkan cipta, lalu menghimpun hawa murni, mulai mengatur pernapasan.

Tak duga baru saja ia mulai, tiba-tiba terdengar lambatan baju yang dihembus angin maka dilain kejap meluncur lurus sesosok bayangan orang, pendatang ini adalah seorang muda yang bermuka pucat kurus.

Giok-liong tersentak bangun, luka dalam yang sudah mulai terawat dan hampir sembuh tadi kini menjadi berantakan karena gangguan dari luar ini, keadaan menjadi payah karena hawa murni yang terhimpun menjadi buyar.

"Celaka "

Diam-diam Giok liong mengeluh dalam hati.

"Apakah Jan hun ti sudah di takdirkan bukan menjadi milikku abadi ? Atau mungkin bintangku sedang guram ? Kalau tidak kenapa aku harus menghadapi berbagai bencana bergelombang yang selalu mengintai ini."

Betul juga ternyata pemuda muka pucat itu tahu akan benda antik, setelah berteriak teriak sekian lama mendadak ia meraih jan-hun-ti yang masih dipegang oleh orang cebol itu, gumamnya.

"Suhu, terang kau sudah berhasil, kenapa tidak segera tinggal pergi "

Saat itulah baru ia melihat Giok-liong yang sudah empas empis itu, maka dengusnya dengan menyeringai.

"Hm, kiranya beliau terluka parah setelah mengadu Iwekang dengan bocah keparat kau ini "

Setelah berkata giginya gemeratak menahan amarah yang tak tertahan, setindak demi setindak dengan langkah berat ia menghampiri ke arah Giok-liong, sepuluh jarinya dipentang melengkung laksana cakar garuda siap menerkam mangsanya, demikianjuga seringainya menakutkan.

Giok-liong mandah mendelong saja mengawasi orang, yang tenaga sendiri sudah hilang daya untuk bergerak saja tidak mampu lagi, terpaksa tinggal menunggu ajal saja, diam-diam ia mengeluh dalam hati sambil pejamkan kedua mata pasrah pada nasib.

Derap langkah berat si pemuda pucat terdengar sangat menusuk telinga, setiap langkah bagi Giok-liong menjadi lebih dekat nyawanya diambang elmaut.

sebetulnya hatinya berontak, pikirnya-"aku tidak boleh mati, dendam kesumat ayah bunda belum dibikin terang, budi perguruanpun belum terbalas tentang bencana dunia persilatan sebagai kaum persilatan betapa juga harus ikut prihatin akan keselamatan sesama golongan, Dan yang terpenting lagi adalah seruling samber nyawa bila terjatuh ke tangan orang jahat kelakpasti membawa bencana besar yang susah dibayangkan dan sumber dari semua kekalutan ini bukan lain adalah gara gara dirinya bukankah dosaku bertumpuk setinggi langit.

Coh Ki-sia teringat Coh Ki-sia boleh di kata merupakan penyesalan terbesar selama hidup ini-Lagipula.....untuk sesaat pikiran Giok-liong menjadi timbul tenggelam.

Derap langkah kakijuga semakin dekat.

Terdengar pemuda pucat itu menyeringai sinis, serunya.

"Kau membunuh suhuku, maka aku harus membunuh kau, ini sudah jamak danjangan kau sesalkan perbuatan aku Hunbin-ji-long terlalu kejam pulanglah menyusul nenek moyangmu"

Angin kencang menderu.

"Aooooo-"

Jeritan panjang yang mengerikan melengking tinggi menembus angkasa bertepatan dengan itu darah tampak muncrat kemana-mana.

"Bluk."

Sesosok mayat terbanting keras celentang di tanah. Diam-diam Giok liong berteriak.

"Tamat.. segalanya berakhir sudah "

Tapi yang terasa olehnya adalah mukanya seperti ketetesan air hujan, meskipun tubuhnya terdampar oleh terpaan angin kencang, namun badannya tetap berduduk tanpa roboh.

Dia berpikir, apakah orang setelah mati beginikah rasanya ?

kematian siapapun tiada yang tahu, sebab kalau kau betulbetul sudah merasakan saat itu jiwa jaga sudah melayang.

Karena pikirannya ini Giok liong lantas merasa kelopak matanya rada pedas bau anyir darah juga lantas merangsang hidung menyesakkan.

Coba-coba ia melirik membuka kelopak matanya, tak tertahan lagi ia berseru kejut seperti disengat kala.

Ternyata keadaan di depan mata yang dilihat ini seolah-olah dalam mimpi belaka.

Kiranya pemuda pucat yang mengaku bernama Han-binjilong, saat itu terkapar ditanah dengan batok kepalanya sudah pecah berhamburan mayatnya digenangi air darah, menggeletak hanya tiga kaki di hadapannya keadaannya sungguh mengerikan.

sekelilingnya sunyi senyap tak kelihatan bayangan seorangpunjuga.

Giok liong menjadi heran.

Apalagi yang barusan terjadi.

Apakah aku belum mati?

secara tak sadar seperti diperintah oleh nurani ia menggigit lidahnya.

"Aduh "

Hampir saja ia berteriak saking kesakitan.

Ternyata aku belum mati, kenapa aku tidak mati ?

Ini merupakan teka-teki, teka teki yang sulit ditebak dan dipecahkan sebagai manusia yang masih segar bugar tentu mempunyai pikiran demikianjuga keadaan Giok-liong.

Hal pertama yang ingin diketahui adalah seruling samber nyawa yang di-kempit dibawah ketiak Hun binji long tadi-'Haya' Jan hun ti sudah lenyap tanpa bekas, Giok-liong betul-betul menderita dan sengsara kalau kehilangan seruling samber nyawa, rasanya lebih baik mati daripada hidup-Tapi apa pula yang dapat ia per buat ?

Terpikir olehnya selama gunung masih menghijau tak usah kwatir tiada kayu bakar.

urusan terpenting yang dihadapi sekarang adalah menyembuhkan luka-luka dalam dulu baru nanti mengambil langkah-langkah lebih lanjut.

Maka mulai lagi ia mengheningkan cipta dan menghimpun semangat mengatur pernapasan, sang malam semakin larut, kesunyian mencekam alam sekelilingnya.

Air embun mulai membasahi seluruh badannya, waktu angin malam menghembus lalu terasa badannya menjadi dingin bergidik, mengandal hawa dingin inilah Giok-fiong melancarkan hawa murni yang sudah tersusun dan lancar mengitari seluruh tubuh.

sang waktu berjalan terus tanpa terasa, terdengar kentongan ketiga dan tak lama pula terdengar kentongan keempat.

Bulan sabit lambat laun sudah doyong kearah barat, ini pertanda bahwa pergantian cuaca sudah menjelang tiba, tak lama kemudian diufuk timur sudah terpancar sinar kuning cemerlang menerangi jagat raya.

seiring dengan terpancang sinar matahari Iwekang Giok liong juga sudah mulai pulih dan sembuh seperti sedia kala.

sebuah bola api bundar besar lambat-lambat terus merayap semakin tinggi sampai dipuncak gunung, seluruh maya pada sudah terang cemerlang, kabut pagi mulai menipis dan akhirnya hilang.

Keadaan Giok liong juga sudah pulih seluruhnya, hawa murni tengah berputar sembilan kali setelah berputar kesepuluh boleh dikata keadaannya sudah seperti manusia umumnya, kesehatannya sudah sembuh seluruhnya.

Namun ia tetap duduk terpekur tanpa berniat berdiri, matanya mendelong mengawasi tumpukan puing disekitarnya, dipandang juga mayat Hun-binji-long dan orang tua cebol bermuka bocah itu sebab sekarang ia tidak tahu lagi kemana dirinya harus mencari tujuan.

Meneruskan perjalanan ke Ping-goan.

Perjalanan ini terlalu banyak makan waktu, setelah kembali nanti beiarti sudah lewat pertemuan besar di Gak yang itu.

Kalau saat mana bersua dengan guru tanpa membekal seruling samber nyawa bagaimana dirinya harus memberikan pertanggungan jawab.

Atau ke hutan kematian saja?

Tanpa seruling samber nyawa seumpama harus berkelahi disana, bagaimana kuat dirinya menghadap tokoh-tokoh silat begitu banyak dan lihay, bukan berarti mencari gebuk dan malu saja.

"Tidak, betapapun aku harus menemukan kembali seruling samber nyawa itu dulu"

Demikian akhirnya Giok liong berketetapan dalam batin.

Tapi dunia sedemikian luas manusia begitu banyak-kemana dan kepada siapa pula dirinya harus minta kembali serulingnya, tugas ini seumpama harus menggagap jarum di tengah lautan samudera.

sungguh sesal Giok liong bukan kepalang, kenapa waktu itu dirinya harus memejamkan mata, kalau dapat melihat tegas paling tidak ada sumber penyelidikan, sekarang pikirannya menjadi kosong hampa-Dalam keadaan serba sulit dan kewalahan ini terpaksa pelan-pelan ia merangkak bangun, dengan lesu ia menghela napas panjang, lalu keluar pelan-pelan keluar dari tumpukan puing Bwe-hun san cheng?

Dengan patah semangat seorang diri ia melenggong menuju kejalan raya, Ditengah jalan Giok liong menemukan sebuah perigi, disini ia mencuci mukanya yang penuh berlepotan darah yang sudah kering.

Dunia selebar ini tak tahu dia kemana kakinya harus melangkah.

Mendadak empat ekor kuda tinggi besar warna kuning langsat berlari kencang mendatangi dari belakangnya, begitu cepat lari kuda ini sampai debu mengepul tinggi, sehingga tubuh Giok liong dikotori debu.

Meskipun kuda pilihan itu berlari pesat, namun dengan ketajaman mata Giok-liong dilihatnya tegas keempat penunggangnya adalah empat laki-laki kekar berseragam ungu berpakaian ketat, diatas punggungnya kelihatan terselip senjata tajam, gerak-geriknya mereka kelihatan gugup gelisah seperti memburu waktu.

Tengah ia terlonggong sambil menerawang.

Didengarnya lambaian angin kencang dari belakang, ternyata itulah seorang nenek tua berambut uban berkulit hitam yang menyolok mata adalah pakaian yang dipakainya itu adalah baju dan blus yang berkembang warna-warni.

Dan yang lebih mengherankan langkah kakinya itu ternyata begitu ringan laksana terbang, kelihatan lebih pesat dari laju keempat kuda pilihan tadi, sekejap jaraknya sudah dekat sekali.

Jilid 25

"Hai bocah cilik adakah empat ekor kuda lewat kedepan ?"

Giok-liong berlagak seperti orang kampungan yang takut kena perkara, sahutnya.

"Baru saja lewat"

Lalu bergegas tinggal pergi dengan langkah lebar.

Dilihat gelagatnya mereka para kaum persilatan ini tengah mengejar sesuatu, dirinya saat ini sedang dilibat oleh urusan besar yang harus cepat-cepat dapat diselesaikan kalau sampai ikut terlibat dalam urusan tetek bengek dengan mereka ini tentu serba berabe.

Tak duga nenek beruban itu berteriak lagi.

"Bocah cilik berapa ia tua mereka lewat"

"Baru saia belum lama "

Sahut Giok-LLong dari kejauhan. Si nenek lantas tersipu-sipu berlari ke depan sambil mulutnya mengomel panjang pendek. Tak nyana belum berapa jauh tiba-tiba ia putar balik lagi, tanyanya keras.

"Didepan keempat ekor kuda adalah kau melihat seorang gadis baju hitam lewat disini ?"

Giok-Liong menunduk dan menyahut mafas-malasan.

"Aku tidak melihat"

"Tidak melihat ?"

Si nenek seperti tidak percaya, matanya berkedip-kedip, lalu desaknya lagi.

"Gadis baju hitam itu berusia enam tujuh belasan, tangannya membekaL sebatang seruling batu pualam "

"Hah."

Tak tertahan Giok-liong sampai berseru kejut, tergetar seluruh badannya. Agaknya si nenek tidak perhatikan sikap perubahan Giok-Liong ini, katanya pula tak sabar.

"Hai, apa kau tuli ? Kataku seorang gadis baju hitam yang membawa sebatang seruling batu pualam warna putih, berapa lama lewat dan sini?"

Sungguh girang Giok-liong bukan main, bangkit semangatnya secara reflek ia kembangkan kesehatan ringan tubuhnya, sekali melesat tiga tombak lebih mendahului didepan si nenek, mulutnya berseru keras.

"Benar ada kejadian ini"

Sekejap saja bayangannya sudah berlari kencang berapa jauh. Terdengar si nenek berseru tertahan, gerungnya gusar.

"Kurang ajar, aku salah mata "

Jantung Giok-liong berdegup keras sekali, ingin benar segera mengejar kedepan mendapatkan gadis baju hitam yang dikatakan si nenek itu, maka Leng-hun-toh dikembangkan sampai puncak tertinggi untung hari belum terang tanah, manusia masih jarang berlalu lalang maka secepat terbang ia kembangkan ilmunya tanpa kuatir sesuatu apapun terjadisekejap saja dilihatnya dikejauhan sana debu mengepul tinggi, terang sebentar ke-empat ekor kuda yang dicongklang cepat itu pasti dapat disusulnya.

Terlihat seratusan tombak didepaa sana adalah hutan pohon cemara yang lebat sekali, kelihatan keempat ekor kuda itu membelok masuk hutan terus lenyap dari pandangan mata.

Kuatir kegilangan jejak kuntitannya, Giok-liong kerahkan tenaganya, badannya melesat ke depan bagai terbang langsung meluncur memasuki rimba lebat itu.

"Aih, kemana mereka ?"

Tampak empat ekor kuda yang basah kuyup dengan keringat tengah kempas-kempis tersebar dalam hutan, empat orang laki-laki kekar diatas kuda tadi tak kelihatan bayangannya entah kemana-Tengah Giok-lioag terlongong bingung mendadak disebelah dalam hutan sana terdengar suara bentakan dan gemboran nyaring, angin menderu keras berseliweran didalam hutan sebelah sana.

Tanpa ayal segera ia memburu masuk ke sebelah dalam, menurut dugaannya pasti keempat laki-laki itu sudah menyusul orang yang hendak dicarinya itu, karena tiada persesuaian paham lantas berkelahi mati matian, yang bertempur dengar mereka juga bukan lain si gadis baju hitam yang dikatakan oieh nenek beruban itu.

Tanpa banyak pikir Giok-liong lantas meloncat kearah dimana terjadi pertempuran itu.

Tepat menurut dugaannya terlihat didalam hutan sana seorang gadis baju hitam tengah berkelahi sengit melawan musuhnya senjata ditangannya itu memang bukan lain adalah seruling samber nyawa miliknya yang telah hilang itu.

Naga-naganya si gadis tidak tahu cara permainan silat menggunakan seruling itu, karena tidak menyalurkan Iwekangnya, bukan saja jan-hun-ti tidak dapat memperlihatkan perbawanya, sampai cahaya terang yang terpancar dari batu pualam itupun tidak terpancar keluar.

Lawan sigadis baju hitam ternyata bukan empat laki-laki diatas kuda, ternyata adalah seorang pemuda berpakaian baju biru dan pemuda ini sudah dikenal oleh Giok-liong karena dia bukan lain adalah murid Lining mo-io Li siang-san, yaitu Lanitong-kim Hoa sip-i.

Begitu tiba cepat-cepat Giok-llong berteriak-"saudara Hoa, lekas berhenti "

Seiring dengan teriakan langsung ia melesat memasuki gelanggang terus berdiri bertolak-Maka tampaklah tangan orang terpental mundur.

Lani-longfcuo Hoa sip-i meloncat mundur tujuh kaki, menghindari sejurus seringan Giok ci-liang-jay dari si gadis baju hitam, terdengar ia berseru dengan kegirangan.

"siau-hiap Tepat benar kedatanganmu"

Kiranya napas sudah ngos-ngosan, tenaga juga hampir habis, jidatnya sudah basah oleh keringat.

si gadis baju hitam melintangkan seruling di depan dadanya, begitu melihat Giok-liong ia rada tercengang, matanya tak berkedip memandang Giok-liong, ujarnya heran.

"Aih, bukankah kau sudah mampus?"

Giok liong mandah tertawa geli, sahutnya-"Nona ini betul betul pandai main kelakar"

Gadis baju hitam mengangkat alis, serunya.

"siapa berkelakar dengan kau, waktu aku lewat bekas tempat terbakar itu, kulihat kau berduduk mematung seperti Hwesio yang sudah mati-sedang kurcaci yang membawa seruling ini tanpa menghiraukan undang-undang dalam rimba persilatan hendak menghancurkan jenazahmu-maka tanpa tanggung tanggung lagi kupersen sebuah kemplangan di belakang batok kepalanya-Apakah itu kejadian yang purapura saja?"

Giok-liong semakin tertawa lebar, katanya lembut sembari menjura.

"Terima kasih akan bantuan nona, sebetulnya aku yang rendah belum mati, memang aku terluka parah karena mengadu Iwekang dengan seorang musuh"

Sekarang berkerut alis si gadis baju hitam, dengan sikapnya yang besar-besaran berkata dengan nada penuh teguran.

"usia masih muda sudah berani gagah-gagahan mengadu tenaga dalam dengan orang jangan sekali-sekali kau ulangi lagi ya"

Hoa sip-i yang berdiri disamping menjengek dingin dan hendak membuka mulut.

Cepat-cepat Giok-liong mencegah orang bicara dengan syarat tangannya-sebab meski pun baru pertama kali ini bertemu, namun Giok-liong tahu bahwa nona ini tentu biasa sangat dimanjakan, seorang gadis binal seperti kuda pingitan yang jarang bergaul dengan umum, sekarang seruling samber nyawa masih berada ditangannya, sekali-kali jangan sampai membuatnya marah.

Giok liong lantas membungkuk serta katanya.

"Ucapan nona memang benar "

Sigadis baju hitam semakin mendapat angin, katanya-"

Hidup dikalangan Kangouw kok gampang-gampang mengadu jiwa mati-matian."

Giok liong mengiakan "ya, memang benar "

Si gadis baju hitam semakin berbesar hati, seperti orang dewasa saja manggut-manggut, katanya.

"Sudahlah aku hendak pergi-"

Bergegas Giok-liong lantas memburu maju menghadang didepannya, katanya sambil memberi hormat.

"Nona, ada sesuatu urusan kuharap nona suka memberi maaf kepadaku"

"Urusan apa ?"

"Tentang seruling itulah "

"seruling ? Bagaimana dengan seruling ini ?"

"Seruling ini sebenarnya adalah milik-ku."

"Terang nyata adalah milik pemuda pucat itu, bagaimana bisa---"

Lan-i-long-kun Hoa sip-i segera menyela bicara.

"ya memang milik Ma siau hiap, aku berani menjadi saksi-"

Giok-liong khawatir membuat orang jengkel, maka lekaslekas ia bicara lagi.

"sebetulnya memang milikku, justeru karena jan.. ."

Mendadak tergerak hatinya, kata-katanya sudah sampai diujung mulut lantas ditelannya kembali, gadis baju hitam dihadapannya ini terang tidak tahu asal usul dan nilai seruling ini, andaikata diketahui sebagai senjata sakti dan benda pusaka dunia persilatan, mungkin ia tidak mau menyerahkan kembali.

Benar juga tampak si gadis baju hitam bersungut, katanya cemberut.

"Hanya karena sebatang seruling saja lantas mengadu jiwa apa segala, sungguh nakal benar kau ini"

Giok-liong lantas berkesempatan bicara lebih lanjut.

"Betul, seperti lelucon saja "

"Sudahlah tak perlu banyak bicara lagi, nah kau ambil kembali "

Seperti mendapat anugerah dari sang raja layaknya Giokliong melangkah setindak sambil mengulur tangan menyambut.

sekonyong-konyong terlihat bayangan orang bergerak gerak didalam hutan sana di susul terdengar sebuah bentakan berkata.

"Jangan kau serahkan kepadanya "

Empat laki-laki penunggang kuda itu juga serentak merubung datang, sikapnya garang dan mengancam, senjata terhunus dengan berdiri tegang, mata mereka tertuju ke arah seruling samber nyawa.

Mata gadis baju hitam berkedip-kedip, tanyanya heran.

"Kenapa ?"

Serempak ke empat laki-laki kekar itu berseru.

"Serahkan kepada kita"

Muka si gadis baju hitam mengunjuk rasa tak senang, katanya mendesis.

"Apa yang hendak kalian lakukan ?"

"Kau tidak kenal kita, tapi kita kenal siapa kau ?"

"siapa kalian ?"

"Apakah pernah dengar Kuisan-su kiat? (empat gagah dari gunung kura)."

"Tidak pernah dengar"

"Bersama ayahmu Hwi-thian-bu-siong siangkwan Hou kita adalah kawan sehidup semati-"

Bercekat hati Giok liong, saat masa tak menguntungkan bagi dirinya kalau terus merebut secara kekerasan, terpaksa harus menggebah keempat Kui-san-su-kiat lebih dulu, segera ia melangkah maju sambil bersiap siap hendak menyerang.

Tak duga si gadis baju hitam sudah bertindak lebih cepat, serunya tertawa .

"Ka-lian sahabat ayahkujuga kenal aku-Tapi, apa peduli kalian atas diriku ?"

Salah seorang dari Kui-san-su-kiat berteriak.

"Apakab kau tahu asal usul seruling ini?"

"Kalian tidak perlu urus tentang hal ini "

Sahut si gadis baju hitam uring-uringan.

"seruling ini adalah senjata kuno yang sakti mandraguna, pusaka dunia persilatan itulah seruling samber nyawa. yang menggetarkan seluruh Kangouw "

"Aku tidak peduli, aku harus mengembalikan secara adil kepada pemiliknya "

Sembari berkata ia angsurkan seruling samber nyawa kepada Giok-liong.

Tampak bayangan berkelebat dibarengi sinar abu-abu melesat tiba, empat bayangan abu-abu menubruk tempat kosong, kirinya ringan sekali gadis baju hitam itu telah melayang jauh setombak lebih, serunya tak senang sambil mengebutkan lengan bajunya.

"Apa yang kalian hendak lakukan ?"

Su-Kiat berkasa berseru.

"serahkan seruling samber nyawa kepada kita "

"Mimpi seumpama memang benar pusaka Bulim, kalau tidak kukembalikan kepada dia juga harus menjadi milikku, kenapa harus kuserahkan kepada kalian ?"

Giok-liong menjadi gugup, cepat-cepat ia menyela bicara.

"Nona .. ."

"Legakanlah hatimu,"

Ujar si nona baja hitam sambil tersenyum manis "

Kalau memang milikmu nanti kukembalikan kepadamu"

Salah seorang dari su-kiat berkata lagi.

"Usiamu masih muda dengan bekal kepandaianmu sekarang takkan mungkin dapat melindungi pusaka itu, kupandang muka ayahmu dan demi keselamatan jiwamu, maksud kita adalah baik"

Gadis baju hitam menjadi berang, semprotnya.

"Pembual Iwekang kalian lebih lihay dari aku ? Marilah kita coba coba "

Apa yang dikatakan lantas dilaksanakan tampak bayangan hitam berkelebat sekali melejit ia tiba dihadapan Giok liong langsung menyisipkan seruling ke tangan Giok-liong, katanya tertawa .

"Jangan pergi dulu, lihatlah biar kuhajar mereka."

Kelakuan si gadis ayu ini benar benar diluar dugaan Giok liong, setelah seruling berada ditangannya hatinya menjadi lega, ia berdiri di tempatnya tanpa bergeming, matanya mendelong mengawasi gelanggang.

Lan ie long kun Hoa sip i lantas mendekati Giok hong, katanya lirih.

"Siau-hiap sekarang juga kau tidak maupergi masih tunggu apa lagi?"

Giok liong menggeleng kepala. matanya masih mengawasi kenakalan sepak terjang si gadis baju hitam. Kata Hoa sip-i lagi.

"siau hiap, ayah bocah perempuan ini bukan sembarang tokoh yang boleh dibuat permainan, ilmu kepandaian Hwithian bu-siong-tun-hiat elang sudah mencapai tingkat yang sempurna,"

Giok-liong manggut-manggut, ujarnya.

"Karena aku dia sampai berkelahi mana bisa aku tinggal pergi tanpa pamit, tanpa pedulikan mati hidupnya ?"

Saat mana si gadis baju hitam sudah melangkah ke depan Kuisan su-kiat kira-kira tujuh kaki, sembari menepukkan tangannya ia berseru lantang.

"Berkelahi cara bagaimana, satu lawan satu, atau kalian maju bersama ?"

Bersungut muka Kui-san-su kiat, serunya bersama.

"Tujuan kita adalah Jan-hun-ti, siapa yang sudi main tangan dengan kau "

Lalu saling memberi isyarat dan serentak bergerak menghampiri kcarah Giok-Liong.

Gadis baju hitam semakin naik pitam, dengan sejurus TOpa cui-liu tiba-tiba badannya jumpalitan menghadang didepan Kui-san-su-kiat, katanya tak senang.

"Memandang rendah aku siangkwan Hong-cu ya ?"

Kui-san su kiat menjadi mangkel, serentak mereka membentak.

"Budak binal, terlalu kurang ajar"

Makian budak binal betul-betul membuat siang-kwan Hongcu berjingkrak gusar, makinya.

"Kentut"

Kedua kepalannya lantas bergerak sambil menubruk menyerang-Kui-san-su-kiat betul-betul dibuat mencak-mencak, mereka tak menduga kalau bakal diserang, maka dengan gugup saling berebutan meloncat menghindar selamatkan diri

Tiraikasih WEBSITE

http.//kangzusi.com/ sekali serang berhasil membikin kocar kacir pihak musuh, siang-kwan Hong cu semakin mendapat hati, seperti bayangan mengikuti bentuknya serentak ia kembangkan ilmu pukulannya, sekejap saja beruntun ia lancarkan dua belas pukulan tangan terbagi empat Melihat cara permainan gadis baju hitam ini diam-diam Giok-liong terkejut dalam hati, bahwa kepandaian siangkwan Kong-cu ini memang cukup lihay.

saat itulah terdengar sebuah gerangan keras dari luar rimba, suara sember seperti gembreng pecah berkata.

"Hong Cu Jan-hun-ti jangan sampai hilang "

Seiring dengan habis perkataannya, segulung sinar terang berkelebat masuk ke dalam gelanggang. Begitu melihat si nenek ubanan, segera siangkwan Hong cu berteriak.

"Si lolo, Kui-san-su-kiat terlalu menghina orang "

Tak tahunya perhatian si-lolo ternyata tertuju ke seruling sambar nyawa yang di pegang Giok-liong, tanpa pedulikan teriakan siangkwan Hong cu, langsung ia menyerbu ke arah Giok-liong sembari menggerung gusar.

"Bocah keparat, kau menipu aku "

Gesit sekali Giok-lioag meloncat mundur dua tombak, kedua biji matanya bersinar tajam, ujarnya.

"Aku menipu kau apa ?"

"Mulutmu bawel, serahkan jiwamu "

Seperti banteng ketaton si-lolo menyerbu lagi dengan ancaman cakarnya yang berbahaya.

"Celaka Awas dialah Li ciau-sin si ji-ping "

Tiba-tiba Hoa sip-i berteriak kaget sambil menarik lengan baju Giok-liong.

"Lolo, jangan "

Dari samping sana Siangkwan Hong-cu berteriak sambil memburu tiba.

Kebetulan Li-ciau-sin siJiping tengah melancarkan 'ui-yan toh-hong-ciang' begitu melihat siangkwan Hong cu memapak datang, kejutnya bukan main, cepat ia menarik kembali serangannya, mulutnya ikut berteriak.

"Hong-cu Bocah gendeng "

Jikalau kurang sigap ia menarik kembali serangannya tentu kedua telapak tangannya tadi sudah telak mengenai badan siangkwan Hong cu. Siangkwan Hong-cu merengut sambil membanting kaki.

"Lolo, kenapa kau hendak memukulnya ? Marilah kita hajar dulu empat kura-kura banci itu"

Keruan kata-katanya ini semakin membuat Kui san su-kiat murka, serunya-"Bagaimana Hwi thian bu siong siangkwan Hou mendidik anak gadis yang kurang ajar ini"

Li ciau sin sendirijuga dibikin kewalahan ujarnya.

"Hong cu yang penting sekarang kita menebus jan hun ti itu dulu"

Justru siangkwan Hong cu tak mau dengar nasehatnya katanya marah-marah.

"Aku tidak sudi, baik aku tidak perlu bantuan Lolo, masa aku tidak berani menempur empat kura kura ini"

Lekas-lekas Li ciau sin memburu maju merintangi, ujarnya.

"Hongcu, buat apa...."

Tanpa hiraukan nasehat orang, segera siangkwan Hong cu menerjang dengan serangan yang lebih gencar, betapa lincah dan gesit permainannya laksana seekor burung hong yang tengah menari dan berloncatan kedua lengannya tak berhenti, setiap pukulannya tentu mengarah Kui san su kiat.

Diam-diam Giok liong merasa geli dalam hati, sambil menenteng seruling samber nyawa ia acuh tak acuh menonton dari samping, coba cara bagaimana mereka hendak menyelesaikan urusan konyol ini, maka diam-diam ia ambil keputusan pada saat yang tidak dibutuhkan dia takkan sudi turun tangan mencampuri urusan ini.

Demikianjuga Lan i long-kun Hoa sip i berdiri berendeng bersama Giok-liong bersikap menonton saja.

sementara itu dengan gaya yang lincah serta ilmu pukulan yang lihay itu siangkwan Hong cu menyerbu ke tengah kawanan Kui-sansu kiat, beruntun ia lancarkan pukulan tendangan serabutan yang membikin lawannya kocar kacir, untuk mengalah sudah tidak mungkin bagi Kui san su kiat, atau sebaliknya mereka sendiri yang bakal menerima bogem mentah.

Namun karena Li ciau sin siji-ping juga hadir, supaya tidak dimaki orang tua menindas anak kecil, apalagi mereka masih gentar dan tak berani menyalahi terhadap siangkwan Hou maka cara permainan silat mereka juga rada tendor dan tak berani menyerang sungguh-sungguh, paling-paling cuma membelas diri saja.

sebaliknya siangkwan Hong cu seperti mendapat hati saja, serangannya terus membadai tak tahu apa yang dinamakan takut dan khawatir untuk menjaga diri, begitulah seperti orang kerasukan setan ia menyerang musuhnya habis-habisan dengan kalapnya-Keruan Kui-san su-kiat semakin mencak-mencak keripuhan sambil berkaok-kaok.

namun dasar kepandaian mereka lebih tinggi gesit dan tangkas sekali mereka dapat menghindarkan diri dari rangsekan musuh kecil ini.

Melihat keberandalan si gadis pingitan ini, akhirnya Li ciausin siji-ping menjadi dongkol, teriaknya.

"Hong cu, kenapa kau ini Hayo lekas berhenti"

Lalu ia berseru lagi.

"Para saudara dari Kui-san, kalian berempat masa hendak mengeroyok bocah kecil "

Baru saja lenyap suaranya mendadak terdengar siangkwan Hong cu menggerang keras.

"Roboh "

"Aduh "

Terdengar losam atau orang ke tiga dari Kui-san-su kiat mengeluh kesakitan, kedua kakinya lantas dijejakkan dan mundur beberapa tindak-saking besar tenaga yang telah dikerahkan tak waspada lagi kontan tubuhnya menumbuk sebuah batang pohon besar, lagi-lagi ia menjerit kesakitan terus membalik-balik dan terhuyung jatuh tersungkur, kepala berat dan mata berkunang-kunang babak belur.

Keruan tiga saudara lainnya menjadi gusar.

"Budak kurang ajar cari mati kau"

Demikian mereka memaki berbareng. sekali pukul dapat merobohkan salah seorang musuhnya, sudah tentu siangkwan Hong-cu semakin takabur, terdengar tawanya cekikikan seperti keliningan ujarnya.

"Empat lawan satu, kalau tidak kurobohkan kalian satu persatu tentu aku yang rugi "

Sebetulnya ditimbang secara wajar dengan bekal kepandaiannya untuk melawan Kui-san-su kiat sebenarnya kemampuannya sangat terbatas, soalnya memang pihak lawan sengaja mengalah dan terlalu memberi hati.

Kini Kui-san-su kiat tidak tahan lagi, salah seorang yang tertua terdengar membentak .

"sikat "

"su-kiat"

Terdengar U-ciau sin siji-ping berteriak.

"Apakah kalian akan mengadu jiwa ?"

"Apa kau tidak lihat keadaan ini, atau kau sengaja hendak menghina dan mentertawakan kami?"

Sembari berkata serentak enam kepalan mereka bertiga bergerak mengepung siangkwan Hong cu ditengah arena.

"Lolo,"

Omel si Lotoa dengan gemas.

sebagai kambing gembel yang masih muda, tidak takut melihat harimau layaknya, siangkwan Hong cu semakin bernafsu berkelebat meski dikepung ketat dan setiap saat terancam mara bahaya masih terdengar suara tawanya yang cekikikan, sepasang tangan kecilnya yang putih halus bergerak lincah dan menderu membawa angin kencang terdengar suara merdu menggoda.

"Heh-Masih ada simpanan apa lagi yang belum kalian lancarkan ?"

Sementara itu si Losam yang jatuh muntah darah itu sudah merangkak bangun sambil menyeka darah yang meleleh di ujung mulutnya terus menyerbu ke dalam gelanggang pertempuran.

Pertempuran menjadi semakin sengit, angin menderu dan debu serta daun-daun kering beterbangan menari-nari di tengah udara.

Giok liong manggut-manggut merasa kagum, sungguh diluar dugaannya.

bahwa dengan sepasang kepalannya kiranya siangkwan Hong-cu kuat bertahan melawan keroyokan empat musuhnya yang kekar dan cukup tinggi kepandaiannya seperti Kui-san-iu-kiat ini, malah sama kuat dan kadangkadang mendesak

Tiraikasih WEBSITE

http.//kangzusi.com/ Meskipun tingkat kepandaian Ku>san-su-kiat belum termasuk katagori kelas wahid dan tokoh-tokoh kenamaannya, paling tidak nama mereka juga sudah disegani oleh kalangan persilatan sekitar daerahnya, sekarang hanya melawan gadis kecil macam siangkwan Hong-cu saja sudah begitu terdesak keripuhan, walaupun belum kelihatan kena kejotos roboh, menurut gelagatnya saja mereka sudah jatuh pamor dan malu.

sementara itu sambil mengikuti jalan pertempuran, tak lupa Li-ciau-sin siji-ping selalu melirik kearah seruling samber nyawa ditangan Giok-liong.

Kira-kira setengah jam sudah lewat, pertempuran masih kelihatan sama kuat, siang-kwan Hong cu mengandal ilmu pukulannya yang penuh mengandung tipu-tipu aneh dan lihay selalu menyergap musuh dan melancarkan sennpan menentukan, sehingga lama kelamaan tenaga mesti terkuras habis apalagi kalau diukur perorangan saja Iwekangrya masih setingkat lebih bawah, semakin lama maka kelihatan akan kelelahan dalam latihannya yang kurang sempurna.

Napas sudah megap-megap, tenaga juga semakin lemah, gerak geriknya semakin-lamban, tak kuasa menjebol kepungan Kui san-su kiat, sering kali sekarang ia menghadapi elmaut yang mengancam jiwa.

Tanpa merasa Giok-liong menggumam sendiri.

"sepuluh jurus lagi mungkin ia tak kuat bertahan"

Pelan-pelan jan hun-ti dimasukan kedalam kantongnya.

Melihat Giok liong menyimpan seruling sambar nyawa, sedang matanya tidak berkesip mengawasi gelanggang pertempuran, pundak juga sudah terangkat dengan kaki sudah bersiap bergerak.

Li ciau-sin menjadi kwatir kalau Giokliong melarikan diri segera ia menubruk maju sambil membentak.

"Kau hendak merat Tak begitu gampang "

Perhatian Giok-liong hanya tertuju kepada keselamatan siangkwan Hong cu, maka terhadap sikap terjang Li ciau-sian ini sedikitpun ia tidak ambil perhatian.

Tepat pada saat itulah perubahan dalam gelanggang pertempuran.

Dengan jurus yacan-pat hong (bertempur dari delapan penjuru) ia lancarkan sebuah pukulan dahsyat yang lihay, sayang tenaga sudah terkuras habis, tenaga yang terkerahkan tidak mencukupi jatah yang seharusnya diperlukan sehingga kakipun ikut tergoyah kedudukannya sehingga terlihatlah lobang kelemahannya.

Lotoa dari Kui san-su-kiat sudah pengalaman dalam pertempuran sengaja ia memancing musuh-musuh dalam tipu dayanya, sedikit tubuhnya terjengkang kebelakang untuk menghindar.

siangkwan Hong cu yang baru saja kelana di Kangouw dan belum berpengalaman menyangka bahwa serangannya pasti berhasil dan dirinya bisa segera menerobos keluar kepungan, maka dengan gesit sekali ia menerjang kearah lobang jebakan ini.

Adalah melihat kesempatan bagus ini, tiga saudara Kui-sansu kiat serempak menggembor keras enam tangan pukulan bersama memukul kedepan.

Dalam keadaan kritis bagi jiwa siang-kwan Hong-cu ini melihatlah sesosok bayangan putih berkelebat, tahu-tahu segesit kabut Giok liong sudah menerjunkan diri ke dalam gelanggang pertempuran sekali ulur ia cengkeram baju di tengkuk siangkwan Hong-cu terus menggembor keras, seketika seperti elang menyambar kelinci kontan tubuhnya melejit tinggi menjulang ke tengah angkasa setinggi tiga tombak, tepat sekali menyelamatkan jiwa siangkwan Hong-cu dari cengkraman elmaut dari pukulan gabungan musuh.

Maka terdengarlah suara "blang"

Yang keras, begitu dahsyat gabungan pukulan ini sehingga tanah dimana siangkwan Hong cu berpijak tadi kini sudah berlobang dalam..

Karena pukulan mengenai bumi dan tenaga yang terkerahkan juga sekuatnya maka tangan ketiga penyerangnya menjadi kaku kesemutan.

Waktu Kui san-su kiat angkat kepala, entah kapan tahutahu dipinggir lobang bekas kena pukulan itu kini sudah berdiri seorang tua pertengahan umur yang mengenakan pakaian jubah hitam dan topi rumput, wajahnya tampak bersegi empat.

Kejadian ini berlangsung begitu cepat sehingga Hoa sip-i dan si jiping juga tidak melihat jelas.

Tahu-tahu Giok liong sudah melayang jauh terhindar dari bahaya, setelah hinggap ditanah ia letakkan tubuh siangkwan Hong-cu diatas tanah, katanya lirih.

"Nona Hong cu Kau tidak kaget bukan ?"

Sepasang biji mata bening siangkwan Hong-cu, berkedipkedip memandangi wajah Giok-liong sesaat kemudian tiba-tiba ia berlari menubruk ke dalam pelukan si orang tua jubah hitam itu terus menangis gerung-gerung.

Ternyata orang tua jubah hitam bertopi rumput ini bukan lain adalah ayah siangkwan Hong cu yaitu Hwi thian bu siong Siangkwan Hou.

Air muka siangkwan Hou semakin membeku, giginya bergemeratak menahan gusar yang tak terkendali, napasnya juga rada memburu pancaran matanya mengandung nafsu membunuh.

Pelan-pelan dan ragu-ragu.

Li ciau sin siji-ping tampil ke depan, ujarnya.

"Engkoh tua, kau-."

Tak duga siangkwan Kou malah membentaknya dengan suara keras bagai geledek.

"Jangan kau hiraukan aku"

Merah jengah selebar muka siji-ping katanya tersendat-"Kenapa kau ini ?"

"Aku tidak apa-apa-"

Sahut siangkwan Hou ketus-"Kenapa berlaku garang dan kasar terhadap aku Li-ciausin?"

"Aku-.. hm, terhitung kau sebagai kenalan kental, terhadap kau orang she si selamanya kupandang sebagai famili dan seperti saudara sedaging sendiri, bukankah hubungan kita baik-baik saja selama ini?"

"Siapa bilang salah?"

Sahut Li-ciau-sin manggut-manggut. Hwi-thian-bu-siong mendengus hidung, lalu jengeknya.

"Cuh, Kalau begitu kenapa kau melihat anakku di keroyok empat kau tinggal menggendong tangan diam saja-Kalau bukan kawan kecil ini yang menolong tepat pada waktunya, apakah saat ini Hong-cu masih bernyawa?"

Semakin merah wajah Li-ciau-sin siji-ping, katanya tersekatsekat.

"Karena.. hanya..."

Tanpa terasa melirik kearah dirinya, siangkwan Hou mengelus kepala siangkwan Hong-cu pelan-pelan, ia menyurung tubuh putrinya serta katanya lembut "Hong cu, kau istirahat di-samping, biar aku mengukur sampai dimana tingkat kepandaian simpanan para saudara Kui-san su-kiat"

Lotoa dari Kui-san-su-kiat segera memburu dua langkah, katanya sambil menjura.

"Siangkwan Toako . ."

Belum habis kata-katanya Hivi-thian-bu-siong siangkwan Hou sudah menukas dengan berjingkrak gusar.

"jangan cerewet lagi, mulailah"

"Duduk perkara ini..."

"Tutup mulutmu jelek-jelek aku siangkwan Hou punya nama dan kedudukan di kalangan Kangouw, masa bisa ku diamkan saja orang lain menghajar putriku didepan pintu rumahku, jangan sebutkan segala alasanmu. Mulailah "

Kui-san bersaudara menjadi kememek dan saling pandang.

Naga-naganya mereka rada gentar dan takut menghadapi siang-kwan Hou.

Tapi siangkwan Hou tidak memberi hati kedua lengannya digerak-gerakkan sampai mengeluarkan suara kerotokan, suaranya keras.

"Mari kalian berempat maju bersama, setelah mengeroyok yang muda keroyok sekalian yang tua ini, bukankah kalian akan puas dan gembira ?"

Kata Lotoa dari Kui san-su-kiat.

"siang-kwan Toako, urusan ini betapa juga kau harus mendengar dulu penjelasan dari si lolo"

Siangkwan Hou mandah terloroh-loroh dingin, mendadak ia menepuk tangannya serta serunya .

"Aku tidak kenal siapa itu si-lolo, akupan tidak perlu ada orang ketiga sebagai saksi untuk mengobral kentut busuknya "

"Kalau begitu..."

"Tutup bacotmu kenyataan sudah membuktikan sendiri, kalau berani silakan turun tangan terhadap tulang tuaku ini "

Keadaan Li ciau-sin siji-ping menjadi serba runyam, segera selanya mendebat.

"Paling tidak kau harus mendengarkan dulu duduk perkara sebenarnya .. ."

"Aku tidak sudi mendengar, kalau kau tidak terima silakan kalian berlima maju sekalian, aku siangkwan Hou tidak memandang sebelah mata "

Terang Kui-san su kiat merasa gentar, namun di desak sedemikian rupa akhirnya si Lotoa membanting kaki seraya berkata mengertak gigi.

"Baik siangkwan Toako, kita bersaudara segera mengundurkan diri dari rimba itu "

"Berdiri Masa begitu gampang mau tinggal pergi begitu saja?"

"siangkwan Toako.."

"Lihat serangan"

Tanpa banyak kata lagi siangkwan Hou segera mendahului melancarkan serangan, jurus serangannya dilancarkan dengan landasan kekuatan yang besar saking gusar, sekaligus empat lawannya diserang berbareng .

Bukan begitu saja akibatnya, pada saat gaya serangannya mulai dilancarkan tiba-tiba tubuhnya meluncur lurus kedepan, diam-diam sikutnya menyodok ke samping berbareng sebelah kaki kanan diangkat untuk menendang Li-ciau-sin yang berdiri disamping sebelah sana.

Li ciau-sin sedikitpun tidak menduga bahwa dirinya bakal diserang begitu rupa, keruan dalam keadaan yang tidak siaga ia menjadi gelagapan, untung ia cukup gesit mengelak mundur terus menggelendot dibatang pohon, air mukanya berubah bergantian menjadi jelek-Cara serangan siangkwan Hou ini bukan saja sangat sempurna dan kuat, dilandasi Iwekang yang ampuh lagi maka kekuatannya jauh lebih dahsyat dibanding anak putrinya tadi, setiap jurus tipunya mengancam jiwa keempat lawannya.

sudah tentu ilmu Hwi thian bu-siong Kun-hiat ciang (ilmu pukulan kelabang terbang menelan darah) jauh lebih hebat perbawanya dibanding putrinya tadisudah tentu Kui-san su-kiat merasa tekanan serangan musuh tua ini jauh lebih berat dan berbahaya, mau tak mau mereka harus kerahkan setaker kemampuannya untuk bertahan, namun demikian mereka merasa sangat payah juga-Dalam pada itu, pelan-pelan siangkwan Hong cu menggeremet mendekati Giok-liong, katanya terdengar lirih.

"Terima kasih atas pertolonganmu tadi "

Gadis pingitan ini berwatak keras dan kukuh, setelah mengucapkan kata katanya ini selebar mukanya menjadi jengah sendiri, lekas-lekas ia menundukkan kepala-Giok-liong juga menyahut lirih.

"Nona Heng-cu, kau terlalu sungkan. Kalau su-kiat tidak mengatur tipu daya ditambah sekali lipat lagi juga mereka bukan tandinganmu."

Syuuur rasa hati siangkwan Hong-cu, tanyanya lagi.

"Dimana serulingnya ?"

Giok-liong menepuk dadanya, sahutnya.

"Tersimpan disini, apa kau mau ?"

Siangkwan Hong cu menggeleng kepala, sahutnya.

"Bukan barang milikku, selamanya aku tidak mau terima, kecuali-.."

Belum habis kata-katanya tiba-tiba terasa angin kencang menyambar datang, disusul terlihat sesosok bayangan berkembang terus menubruk tiba

Tiraikasih WEBSITE

http.//kangzusi.com/ Giok-liong menjadi murka, bentaknya sambil menggerakkan kedua tangannya.

"Li-ciau-sin, cari mampus kau"

Disaat Giok-Liong belum sempat melancarkan pukulannya siangkwan Hong-cu sudah mendahului bergerak, sambil mendorong kedua lengannya ia berteriak.

"Lolo kau berani pukul aku ?"

Sebenarnya sasaran serangan si Lolo tertuju kepada Giokliong, maka serangannya ini menggunakan sepenuh tenaganya, maka untuk menarik kembali menjadi rada sulit, apalagi tadi ia kena dicemoohkan secara terbuka oleh siangkwan Hou, rasa penasarannya lantas dilampiaskan kepada putrinya, begitulah tanpa peduli tiga kali tujuh dua satu langsung ia teruskan serangannya.

"Huh, kiranya memang kau bersekongkol dengan kura-kura itu"

Demikian dengus siangkwan Hou.

Lekas-lekas Giok-liong lantas melesat maju pula kedalam kancah pertempuran ini, demikianjuga Lan-Ulong-kun Hoa sip i juga tidak mau tinggal diam ikut menerjunkan diri kedalam perkelahian sengit ini.

Sembilan orang terbagi dalam dua kelompok, sehingga pertempuran ini terjadi begitu seru dan gegap gempita.

Siangkwan Hou yang tengah melawan keroyokan Kui-sansu-kiat begitu mendengar teriakan putrinya menjadi semakin murka, berulang kali ia berkaok-kaok mengumpat caci.

Tapi Kui-san-su-kiat bertempur dengan sepenuh tenaga dan kalap sehingga dalam waktu dekat menjadikan halangan bagi Siangkwan Hou untuk melepas diri dari libatan untuk menolong putrinya.

Kira kira setengah jam kemudisn.

Giok liong mulai lancarkan Sam-ji cui chlu, setiap gerak tipu serangannya selalu membayangi jalan darah mematikan ditubuh Li-ciau-sin, sehingga Siji-ping terdesak keripuhan, mulutnya tak kuasa mencaci kalang kabut sayang Siangkwan Hong-cu dan Hoa Sip-i ikut mengerubuti sehingga menghalangi kebebasan gerak gerik Giok-liong, kalau tidak siang-siang Giok-liong sudah dapat merobohkan Li-ciau sin.

Lain pula keadaan pertempuran Kui-san-su kiat melawan Siangkwan Hou, kalau di timbang dari Iwekang mereka, Kuisan su-kiat secara perorangan memang bukan tandingan Siangkwan Hou, tapi sekarang mereka bergabung bekerja sama sangat rapat bertempur secara nekad lagi, apalagi orang sering mengatakan dua kepalan sukar melawan empat musuh, seorang gagah paling payah menghadapi keroyokan, apalagi seorang yang kalap juga sulit ditahan oleh orang banyak, maka keadaan sama kuat tadi kini berbalik Siangkwan Hou yang terdesak dibawah angin malah.

Begitu melihat gelagat yang tidak menguntungkan bagi dirinya ini, timbul akal licik dalam hati Li-ciau-sin, sembari mempertahankan diri ia terus mundur mendekat kearah gelanggang pertempuran Kui-san s i-kiat, pikirnya hendak bergabung dengan su-kiat untuk mengurangi tekanan yang menimpa dirinya.

Benar juga usahanya berhasil dua kelompok pertempuran kini menjadi satu kelompok besar yang bertempur secara serabutan.

Tepat pada saat itu Giok-liang teogan melancarkan jurus Hwat bwe, jari kanan dan telapak tangan kiri menutuk dan menggablok terus disurung kedepan.

Diam-diam Li-ciau-sin mengeluh dalam hati, dalam keadaan yang tengah melancarkan serangan balasan dengan penuh serangan yang kepepet ini tiba-tiba ia menjejakkan kaki, tubuhnya mencelat mundur langsung menumbuk ke arah siangkwan Hou.

Tujuan semula adalah hendak menumbuk minggir siangkwan Hou, setelah itu kalau cilok-liong masih membuntuti dengan serangan dahsyatnya ia hendak berkelit dan menyingkir kebelakang Kui-san-sukiat, supaya Giok-liong secara langsung berhadapan dengan Kui-san-su-kiat, tinggal Lan-i-long-kun Hoa sip-i dan siangkwan Hong-cu baginya merupakan musuh enteng yang tidak dipandang sebelah matanya.

Tak terduga saking gugup tenaga yang dikerahkan pada kakinya terlalu besar, malah diluar perhitungan kita lagi, dalam keadaan tanpa siaga sama sekali, siangkwan Hou kena ditumbuknya sampai terhuyung ke depan, sudah tentu Kui-san su-kiat, tidak melepaskan kesempatan baik ini serentak mereka menghardik.

"serahkan jiwamu"

"Aduh"

Terlakan tertahan yang menyayatkan hati lantas disusul semburan darah segar dari mulutnya yang terpentang lebar.

Keruan siangkwan Hong-cu berteriak keras dengan muka pucat ia terus menubruk kearah ayahnya sambil menggerung tangis.

"Ayah Ayah"

Giok-liong menjadi tak tega dan murka sekali, desisnya.

"Manusia rendah yang keji-Kubunuh kalian"

"Tri... lili... ."pancaran sinar putih cemerlang menembus udara sekitarnya, seruling samber nyawa mengeluarkan irama keras menusuk telinga.

"Jan-hun ti"

Li ciau-sin siji-ping berteriak sambil menerjang datang.

Namun secarik sinar putih laksana selendang perak tiba-tiba menyapu melintang memapas kedatangannya itu, terdengar Giok-liong menjengek "Bukankah, kau teramat tamak hendak merebut seruling ini?

Nih kuberikan kepada mu "

Bermula memang siji-ping menyangka Giok-Liong itu seketika kuncup nyalinya, belum lagi ia sempat melarikan diri tahu-tahu ia menjerit panjang dengan pandangan mata terpelalak.

mungkin saking kesima melihat cahaya cemerlang yang terpencar keluar dari seruling sakti itu, untuk menyingkir lagi sudah tak mungkin untuk membela diri secara reflek ia gerakkan lengannya menangkis-"Krak."

"Aduh-"

Lengan yang hampir hancur dan patah itu terbang berhamburan sejauh lima tombak lebihselama hidup ini belum pernah Kui san su-kiat melihat perbawa sejurus serangan yang begitu hebat menakutkan, sepontan mulut mereka berteriak bersama.

"Angin kencang "

Masing-masing terus putar tubuh dan berniat hendak melarikan diri Nafsu membunuh sudah menghantui lubuk hati Giok-liong, dengan mata yang merah membara buas ia mengejar dengan gesit, dimana kelihatan larik sinar putih berkelebat jurusjanhun-pat-sek di kembangkan beruntun ia lancarkan empat jurus tipu permainan ilmu seruling delapan jurus yang sakti mandraguna itu.

seumpama tumbuh sayap juga tak mungkin lagi Kui-san sukiat mampu lari secepat menyambar datangnya sinarpgrak yang mematikan itu.

Tanpa mengeluarkan suara seketika tubuh mereka hancur luluh beterbangan, bau darah yang anyir terhembus angin sangat memualkan.

Ditanah bertambah empat jenazah yang sudah tak lengkap panca inderanya, sejak saat itu Kut-san su kiat meninggalkan dunia fana yang penuh liku-liku hidup dan beban ini.

Beruntun beberapa jurus saja cukup buat Giok-liong memberantas Li-ciau-sin dan Kui-san su-kiat, aksinya ini boleh dikata hanya terjadi dalam berapa kejap saja.

Bukan saja Lan-i long-kun Hoa sip-i terpesona dan terlongong-longong, Hongcu yang biasanya bertabiat keras dan kukuh itu juga menjublek kesima menghentikan tangisnya.

Dengan pandangan yang aneh ia pandang Giok-liong, baru sekarang lubuk hatinya tunduk dan kagum betul-betul.

setelah membunuh musuh-musuh ini rasa gusar Giok-liong masih belum terlampias habis, terdengar ia menggeram.

"Manusia tak berguna "

Lan i long-kun Hoa Sin-i lantas mendekati Giok liong, katanya sambil berseri tawa.

"sudah lama tak bertemu, ternyata Iwekang siau hiap semakin maju dan menakjubkan"

Giok liong tertawa tawar, air mukanya bersemu merah, sahutnya rada rikuh.

"saudara Hoa terlalu memuji "

Saat mana Siangkwan Hong cu sudah mendekati jenazah ayahnya dan sesenggukan lagi.

Tak urung Giok liang ikut merasakan pula duka cita ini, bukankah orang begitu baik hati hati mengembalikan seruling pusakanya, malah begitu berani pula menampilkan diri untuk menghadapi para musuh, sudah tentu kesudahan yang mengenaskan ini membuat hatinya rikuh dan serba sulit, maka pelan-pelan ia maju mendekat serta bujuk-nya.

"Nona Hong cu, manusia mati takkan hidup kembali, lebih baik lekas kita urus layonnya saja, mari kita rundingkan urusan selanjutnya."

Siapa tahu kata-kata bujukan ini malah membuat hati si gadis manis ini bertambah duka, tangisnya malah semakin gerung-gerung. Terpaksa Giok liong mengajak Hoa sip i serta katanya.

"Saudara Hoa Mari bantu aku mengubur jenazah mereka ini"

Secara ala kadarnya sebentar saja mereka sudah mengubur bersama kelima jenazah Kui san-sukiat dan Li ciau sin.

Tak lupa di galinya pula sebuah liang untuk mengubur jenazah siangkwan Hou.

Tatkala mereka selesai mengubur matahari sudah naik ketengah cakrawala, sekarang siangkwan Hong-cu sudah menghentikan tangisnya, setelah bersembah lutut didepan pusara ayahnya, ia terlongong berdiri ditempatnyasambil mengebutkan kotoran ditangan dan bajunya Giokliong berkata.

"Nona Hong cu, urusan disini sudah selesai, silakan kaupulang saja, aku sendiri juga harus segera berangkat."

"Nanti dulu siau hiap"

Tiba-tiba Hoa sip-i berteriak menahan.

"saudara Hoa masih ada pentunjuk apa lagi ?"

Untuk membalas budi pertolongan siauhiap terhadap jiwaku tempo hari, aku mendengar sebuah berita penting perlu kuberitahukan kepada siau-hiap, tadi belum sempat kita bicarakan."

"o, entah berita penting-"

Hoa sip-i sudah membuka mulut namun lantas urung bicara, ia menjadi ragu karena siangkwan Hong-cu juga hadir disitu. Giok liong maklum akan keraguan orang ujarnya tertawa tawar.

"seorang laki laki harus berani bicara terus terang, coba silakan saudara Hoa bicara saja "

Muka Hoa sip-i menjadi merah, katanya sambil tertawa getir.

"Menurut berita yang kudengar diBulim, katanya didaerah pegunungan Bu-san telah diketemukan sebuah catatan rahasia sepeningggalan seorang tokoh kosen. Banyak gembonggembong persilatan yang meluruk kesana untuk merebutnya. Dengan bekal kepandaian siau-hiap sekarang, kukira dengan mudah dapat merebutnya."

Giok-liong menjadi geli, sahutuya.

"Maksud baik saudara Hoa kuterima dengan senang hati. Tapi saat ini aku tengah dilibat oleh sebuah tugas penting tak mungkin bisa kesana, apalagi usia hidup manusia paling panjang seratus tahun, catatan rahasia benda pusaka apa segala takkan dapat membawa berkah, aku tak berniat untuk merebutnya."

Hoa sip ie menjadi lesu dan putus harapan, katanya dengan rawan.

"Tak duga siauhiap kiranya sudah tawar menghadapi keramaian dunia ini"

Giok-liong menggeleng kepala, sambil menghela napas panjang untuk menghilangkan kerisauan hatinya segera ia angkat tangan sambil katanya.

"selamat bertemu"

Tiba-tiba siangkwan Hong-cu memburu ke hadapannya, katanya sambil menunduk.

"Kemana kau?"

Sambut Giok-liong tersenyum.

"Aku ada urusan penting, jauh harus menuju kelaut utara."

Tak nyana siangkwan Hon-cu malah membelalak matanya., tanyanya.

"Lalu bagaimana aku?"

"Kau,"

Giok-liong menjadi kememek-"sekarang ayah sudah meninggal, tinggal aku sebatang kara didunia fana ini, kemana pula aku harus pergi?"

"Ini... bukankah nona bisa pulang?"

"Pulang?"

"Bukankah nona punya rumah?"

"Orang siapa yang tak punya rumah Tapi dirumah tinggal ayah dan aku.. ."

"o, aku sendiri juga seorang yang tak punya rumah maka tak bisa... ."

"Bukankah sangat kebetulan malah, kau tak punya rumah dan aku juga takpunya rumah, kita sama-sama orang gelandangan, biarlah aku ikut kau berkelana di Kangouw, begitupun terpaksa..."

Siangkwan Hong-cu seorang gadis pingitan yang berhati polos dan jujur, belum tahu liku liku hidup duniawi yang serba rumit ini sudah tentu kata-katanya itu menjadi terasa lain bagi pendengaran Giok-liong, sambil menghela napas ia berkata, sambil tersenyum getir.

"Ini, hidupku selanjutnya penuh menghadapi gelombang hidup yang diliputi marah bahaya, betapa juga tak bisa menyeret nona kedalam libatan hidup."

Tak duga tanpa menanti Giok-liong bicara habis SiangKwan Hong-cu sudah berjingkrak membanting kaki dengan tingkah aleman, teriaknya bersungut.

"Aku tak peduli, aku harus ikut bersama kau"

Keruan Giok-liong menjadi malu dan kikuk sementara Hoa sip-i ikut tersenyum geli-Giok-liong menjadi gugup dan gelisah, katanya keras.

"Nona Hong cu, betul aku ada urusan penting harus menuju kelaut utara-"

"Kemana kau pergi, seumpama sampai di-ujung langit aku harus ikut kepada kau"

"Wah berabe ---"

"Apa kau membenci aku ?"

"Tidak, bukan begitu maksudku"

"Habis kenapa kau menolak dengan segala alasan tak sudi membawa aku-"

Giok liong betul betul kewalahan dibuatnya siangkwan Hongcu sudah mendesak maju dan menarik lengan bajunya, katanya, mendesak.

"Kalau mau berangkat mari sekarang juga "

Dari samping Hoa sip i segera ikut bicara.

"siauhiap kalau nona Hong-cu rela-"

Kuatir orang banyak pentang mulut, lekas-lekas Giok-liong menukas.

"Aku betul-betul memikul tugas penting-gi, baiklah-"

Siangkwan Hong-cu lantas berjingkrak menari-nari.

"Kau mau melulusi ?"

Teriaknya kegirangan. Giok-Liong menjadi keripuhan dibuatnya, katanya kepada Hoa sip-i.

"saudara Hoa, adakah lain urusan lagi ?"

Hoa sip i membalas hormat, sahutnya.

"Aku khusus mencari siau-hiap hanya karena urusan itu tadi "

"Aku ada sebuah persoalan apakah saudara dapat membantu aku?"

"Ah, kenapa siau-hiap berlaku begitu sungkan, kalau ada pesan apa silakan katakan, menempuh lautan api gunung golok juga pasti kulaksanakan."

"Kuharap saudara Hoa suka pergi ke Kau-jiang san"

"Entah untuk urusan apakah yang perlu dibereskan ?"

"Antarlah nona siangkwan ke Kau-jiang-san, carilah Nona Tan soat-kiau "

Lalu ia menghadapi siangkwan Hoag-cu serta katanya.

"Nona Hong cu, di Kau jiang-san ada beberapa kawan semua bersahabat baik dengan aku, kalau kau bersama mereka ku-tanggung kau takkan kesepian."

Siangkwan Hong cu membelalakkan matanya, serunya keheranan.

"Berapa nona yang bersahabat baik dengan kau ?"

Giok-liong manggut-manggut, sahutnya.

"ya, seperti saudara sekandung sendiri "

Sangkwan Hong cu menghela napas lega, namun masih tetap bersungut dan monyongkan mulutnya.

"Aku tidak mau, aku ingin .bersama kau saja "

"Nona, hal itu tidak mungkin terjadi"

"Kenapa"

Apa tak suka kepadaku "

Siangkwan Hong-cu terburu nafsu berkata, setelah bicara baru ia sadar telah kesalahan omong, seketika selebar mukanya merah malu. Muka Giok liong juga terasa seperti dihajar, cepat-cepat ia berkata.

"Bukan Bukan sebetulnya karena... a i"

Ia menghela napas dalam-dalam lalu katanya lagi.

"Sebetulnya tugas kelaut utara ini sangat penting dan berat, jaraknya begitu jauh diatas alam pegunungan yang penuh bertaburan saiju."

"Aku tidak takut hidup sengsara "

"ya, memang nona tidak takut menderita, tapi itu tidak perlu terjadi buat apa kita harus mencari penyakit sendiri?"

"Kenapa kau sendiri harus pergi kesana?"

Hampir saja Giok liong terpingkal-pingkal oleh pertanyaan ini, namun ia menjadi ragu-ragu juga, menerangkan.

"Ini... .aku sendiri juga tidah tahu" 'ya, memang Giok liong sendiri hakikatnya tidak tahu apa keperluannya menuju keping goan di laut utara itu?' keadaan Ping-goan boleh dikata masih sangat asing bagi dirinya, seumpama hanya undangan Hwi thian-khek Ma Hunsaja belum tentu ia mau melulusi pergi ke sana, apalagi disaat masih banyak perkara dan keramaian diBulim ini. Tapi betapapun ucapan Kim ling-cu harus ditaati, Giok-liong maklum bahwa angkatan cianpwe dari tertua Bulim su-bi ini tentu tak semena-mena menyuruh dirinya pergi menderita dalam perjalanan jauh ini tanpa membawa suatu manfaat yang berguna. Apalagi menurut naluri hatinya memang ia terdorong juga untuk mencoba pergi kesana, perasaan ini lebih tebal setelah ia berjumpa dengan Ma Giok hou. Akhirnya Lan i long-kun Hoa sip ijuga merasakan bahwa Giok liong memang mempunyai suatu ganjelan hati yang sulit diutarakan kemauan hatinya, tanpa merenung kedua alis yang mengerut dalam. Apalagi ia tahu sifat Giok-liong yang keras, apa yang pernah diucapkan tentu harus dilaksanakan. Maka akhirnya ia ikut membujuk kepada siangkwan Hong cu .

"Kalau Ma siau hiap sudah mengatur jalan hidupmu, kukira untuk sementara bolehlah nona menetap dulu di Kau-jiang san."

Lekas-lekas Giok liong menyambung.

"setelah lewat tahun ini, paling tidak kita bakal berjumpa-"

"Apa kau bisa pulang sebelum tahun baru?"

Tanya siangkwan Hong-cu.

"Pertemuan besar di Gak-yang pada hari Goan siau aku harus hadir, tatkala itu kau boleh ikut nona Tan mereka datang kesana, bukankah kita bisa jumpa lagi?"

Lan-i-long-kun Hoa sip-i lantas menambahi lagi "Tidak kurang dua bulan lagi hari Goan siau sudah tiba."

Mata besar dan jeli siangkwan Hong cu kemekmek memandangi Giok liong dengan rasa berat dan segan berpisah, akhirnya apa boleh buat ia manggut-manggut, sebelum pergi sekali lagi ia berpesan wanti-wanti.

"jangan kau ngapusi aku ya?"

Giok liong tertawa geli, serunya.

"Ah, buat apa aku menipumu? Tidak bakal"

"Baik, pada hari Goan siau kau harus datang kekota Gak yang"

Ujar siangkwan Hong-cu tersendat hampir saja air mata meleleh keluar dari kelopak matanya.

Giok liong menjadi tak tega dan kasihan, tanpa merasa ia tenggelam kedalam kenangan lama disaat perpisahan pertama dengan coh Ki-sia dulu.

Begitulah tanpa disadari pikirannya melayang entah apa saja yang telah dipikirkan, ia berdiri menjublek bagai patung.

Melihat orang mematung sekian lama tanpa bersuara siangkwan Hong cu menjadi heran, tanyanya .

"eh, apa yang tengah kaupikirkan?"

"Aku... aku..."

Giok-liong gelagapan.

"Aku tengah memperhitungkan waktu perjalanan ke Pinggoan ini, apakah kiranya bisa mempercepat kembali menyusul ke ciak-yang"

Sudah tentu Hoa sip-i dapat memaklumi maksud kata-kata Giok-liong yang susah di utarakan secara gamblang.

Memang apa yang tengah terkandung dalam pikiran Giok-liong ia tidak tahu, namun dari sinar pancaran mata Giok liong yang rawan dan redup serta hampa itu.

Hal ini disalah artikan oleh Hoa sip-i, apalagi dilihatnya siangkwan Hong-cu memandang dengan penuh kasih mesra yang mendalam.

Mungkinkah diantara mereka berdua telah terikat tali asmara yang mendalam dan susah menyatakan terus terang.

Aku tidak seharusnya mengganggu diantara mereka.

Begitulah Hoa sipi menimbang dia menyangka bahwa dugaannya ini pasti benar, untuk menyatakan rasa terima kasihnya terhadap Giok liong yang sudah menyelamatkan jiwanya tempo hari, betapa juga ia harus membantu untuk merangkap perjodohan mereda berdua ini.

Karerja pikirannya yang terkandung dalam lubuk hatinya ini wajahnya lantas berseri-seri, dengan segera ia tampil ke depan dan berkata dengan penuh kepercayaan.

"siau-hiap, kalau sesudah sampai di Kau-jiang-san, seumpama nona Tan tidak mau percaya dan menerima kita bagaimana ?"

"Tidak mungkin mereka "

"Aku dan nona Hong-cu sama tidak kenal mereka,"

Demikian sela Hoa sip i sambil tertawa.

"Menurut hematku, lebih baik siauhiap menyerahkan suatu barang kepercayaan kepada nona Hong cu supaya kita tidak membuang buang tempo-"

"Benar..."

Siangkwan Hong-cu ikut bicara lagi.

"seumpama mereka tidak mau menerima aku, membuang waktu dan tenaga untuk pulang pergi sejauh ini tidak menjadi soal, yang penting kemana selanjutnya aku harus taruh mukaku ini"

"Akutoh bukan pimpinan sebuah aliran atau kepala dari suatu golongan, mana ada kepercayaan apa yang kumiliki"

"Sesuatu barang milik pribadimu yang selalu kau bawa juga bolehlah "

"Ini..."

Giok-liong termenung, supaya siangkwan Hongcu tidak mungkir lagi untuk pergi ke Kau-jiang san terpaksa Giokliong merogoh keluar mainan kalung berbentuk jantung hati pemberian ibundanya yang sudah pernah diserahkan kepada Coh Kisia dan dikembalikan lagi itu, katanya.

"Inilah mainan batu pualam merah pemberian ibundaku dulu. Batu ini termasuk barang berharga yang susah didapat, kedua juga menjadi milik pribadiku. Nona Tan, nona Ling dan nona Li sudah tahu akan asal-usul barangku ini, legakan kalian berangkat"

Sambil berseri tawa riang Hoa sip i bertepuk tangan.

"Mainan batu pualam Bagus sungguh bagus"

Sembari berkata ia menyambut batu mainan itu terus diserahkan kepada siangkwan Hong-cu, serta pesannya.

"Nona Hong-cu, kau sudah dengar bukan, inilah benda warisan keluarga Ma siau-hiap"

"Tidak Bukan begitu penting dan serius "

Cepat-cepat Giokliong coba menjelaskan. Tak duga Hoa sip-i malah menambahi dengan katakatanya.

"Ketahuilah hati siau-hiap boleh dikata sudah diserahkan kepada mu "

Berdegup jantung Siangkwan Hong cu, selebar mukanya merah jengah, sedikit melirik kepada Giok-liong, mulutnya berseru lincah-"Biarlah aku menunggumu di Kau jiang-san."

Habis ucapannya seperti segulung asap tubuhnya lantas meluncur enteng dan gesit sekali laksana seekor kupu-kupu yang terbang melincah diantara rumpun pohon, sekejap kemudian lenyap pandangan mata.

Begitu bayangan siang-kwan Hong-cu menghilang Giokliong merasa ucapan terakhir Hoa sip-i rada dipaksakan, lekaslekas ia menjelaskan dengan sungguh-.

"saudara Hoa, ucapanmu tadi terlalu..."

Hoa sip-i menduga bahwa dugaannya memang tepat, kini ia sangka Giok liong malu-malu kucing maka segera ia berseru lantang.

"siau-hiap, urusan ini serahkan saja kepadaku "

Giok liong salah sangka maksud kata-kata orang ini adalah melindungi siangkwa Hong-cu sepanjang perjalanan menuju ke Kaujiang-san, maka terpaksa ia mengiakan dan berpesan.

"ya, segalanya kuserahkan kepadamu selamat jumpa kesempatan lain kuucapkan terima kasih."

"sudah tentu kelak siau-hiap harus banyak terima kasih kepada aku "

Lalu gesit sekali ia berlari-lari kencang menyusul ke arah dimana siangkwan Hong-cu tadi menghilang, dari jauh terdengar kumandang gelak tawanya yang puas-Mengantar keberangkatan Hoa sip i, Giok-liong menghela napas lega, pelan-pelan ia beranjak keluar dari rimba yang kosong dan sunyi itu-sang putri malam yang redup mulai memancarkan cahayanya dari ufuk timur sana, dengan hati yang risau dan tenggelam dalam berbagai alampikiran tak terasa Giok liong sudah menyelusuri jalan raya-Semakin ke utara hawa udara semakin dingin, hujan saiju mulai turun, alam semesta ini sudah rata ditaburi bunga salju yang mulai menebal.

Laksana sebatang anak panah seperti bintang meteor yang jatuh Giok-liong kembangkan ilmu ringan tubuhnya melesat diatas saiju yang lama tak kelihatan ujung pangkalnya.

sekonyong-konyong didengarnya derap kaki kuda yang kencang serta ringkik kuda yang keras kumandang ditengah malam gelap ini-"siapakah itu yang menempuh jalan di tengah malam hujan saiju ini ?"

Demikian Giok liong bertanya dalam hati.

Belum lenyap pikirannya, dua ekor kuda sekencang angin tahu-tahu sudah melesat lewat dari samping tubuhnya, delapan kakinya mencabangkan bunga saiju dan kotoran lumpur.

sekilas pandang saja lantas bercekat hati Giok-liong siapakah dia ?

siapa pula pemuda yang menunggang kuda pupus itu ?

Lari kedua ekor kuda tadi betul-betul cepat sekali, bagi orang lain mungkin tak dapat melihat tegas.

Namun bagi pandangan Giok-liong yang jeli sekilas saja ia sudah melihat tegas.

(Bersambungjiiid ke 26)

Jilid 26 Kuda pupus itu ditunggangi seorang pemuda yang berusia dua puluh lima bermuka lebar berkuping besar, sikapnya garang, yang paling menyolok adalah sebuah andeng-andeng besar di tengah kedua alisnya itu, pakaian yang dikenakanjuga serba biru berkilau, selain sepatu putihnya itu boleh dikata seluruh tubuhnya serba bersinar kemilau.

Kuda satunya yang dilarikan berendeng itu tak lain di tunggangi oleh Coh Ki-sia yang mengenakan pakaian warna coklat.

"Adik Sia..."

Mendadak tergerak hati Giok-liong, ini hanya terjadi sekilas saja, namun kaki Giok-liong lantas melompat maju mengejar seraya berteriak.

"Ki sia sia ...."

Begitu cepat lari kedua ekor kuda itu laksana mengejar angin, sekejap saja tabu-tahu sudah jauh puluhan tombak, hanya terlihat kedua ekornya saja yang bergoyang gontai diantara taburan bunga salju itu.

Giok-liong rasa mendelu karena teriakannya tiada mendapat sambutan, tapi sedikit merenung akhirnya ia membanting kaki dan menggumam.

"Aku harus mencari tahu persoalan ini.-"

Siapakah pemuda diatas kuda itu?

Kenapa Coh Ki-sia bisa bersama dia?

Buat apa mereka menempuh perjalanan dalam malam gelap di hujan salju ini ?

inilah tiga pertanyaan yang mengganjel dalam lubuk hati Giok-liong.

Giok-liong harus memecahkan tiga pertanyaan teka-teki ini, Maka begitu membanting kaki menggunakan tenaga tutulan ini segera ia mengejar ke depan.

Akan tetapi saat itu kedua ekor kuda tadi sudah tidak kelihatan lagi.

Tapi Giok-liong tidak peduli segalanya, dengan penuh semangat ia terus berlari kencang kira-kira sepeminuman teh kemudian masih belum tersusul, untung diatas salju masih kelihatan bekas tapak kaki kuda yang menyolok sekali, menyelusuri bekas tapak kaki inilah sebagai jalan Giok liong membuntuti terus.

Tak lama kemudian di depan sana kelihatan setitik api kelap kelip serta terdengar gonggongan anjing, Giok-liong menghibur hati.

"Tidak, jauh lagi, mungkin itu sebuah desa yang baru saja mereka lewati sampai mengejutkan anjing liar disana"

Sembari berpikir kakinya terus melangkah cepat menuju kearah-titik sinar lampu yang fcelap, kelip itu.

Kiranya itulah sebuah perkampungan terasing yang jauh dari kota, penghuninya tidak lebih tiga puluhan keluarga dan sebuah rumah makan, karena hari sudah larut malam seluruhnya sudah tutup pintu, lalu di-ujung jalan paling kiri sana masih terlihat penerangan lampu menyorot keluar, memang tinggal rumah makan satu-satunya inilah yang belum sempat tutup pintu.

Dengan langkah lebar Giok-liong langsung mendatangi.

Kebetulan rumah makan baru saja hendak menutup pintu.

"Hei, Tiam-keh Tunggu sebentar "

Buru-buru Giok liong berseru.

Tiam-keh atau juragan rumah makan ini adalah seorang tua berusia lima puluhan dengan kejut dan heran ia mengawali Giok-liong.

Terlihat oleh Giok liong salah satu meja dalam ruangan sana terdapat dua mang kok dan sayur mayur serta sumpit yang belum sempat dikemasi, terang baru saja ada dua orang tengah makan minum disini, maka dengan tersipu-sipu ia bertanya.

"Tian-keh, Adakah tadi dua muda mudi menunggang kuda lewat disini ?"

Kuasa rumah makan itu melongo, sahutnya.

"Baru saja mereka berangkat "

Tanpa ayal lagi Giok-Liongbergegas mem buru maju kedekat meja sebelah kanan sana dimana diatas meja terdapat sepiring tumpukan Bakpan, seraya sembarang dicomotnya empat buah terus melompat keluar lagi tenggang berlari kencang seraya berteriak.

"Tiam-keh Terima kasih "

Sembari mengejar Giok-liong mulai jejalkan bakpao kering ke dalam mulutnya, ciinkangnya dikembangkan sampai puncak tertinggi.

Waktu empat bakpao habis digares ia sudah jauh ratusan tombak ditempuhnya.

Benar juga dikeremangan malamjauh didepao sana, lapatlapat terdengar derap langkah kuda dan dua titik bayangan hitam tengah meluncur diatas salju.

Lambat laun jarak meieka semakin dekat, kira-kira terpaut hanya tiga puluhan tombak lagi-Tak tertahan lagi segera Giok-liong berteriak nyaring.

"Kisia Adik sia Adik sia"

Kedua ekor kuda yang berlari kencang itu mendadak berhenti sehingga kedua ekor kuda itu meringkik dan berdiri diatas kedua kakinya.

Berjajar berhenti ditengah jalan.

Memang tidak salah perempuan diatas kuda itu memang Coh Ki-sia adanya sekian lama tak berjumpa kini kelihatan tambah segar dan montok

Tiraikasih WEBSITE

http.//kangzusi.com/ Tapi kelihatan air mukanya bersungut dan mengunjuk rasa gusar dan dongkol. Begitu memutar kudanya lantas Coh Ki-sia melihat kedatangan Giok liong serunya dengan nada heran.

"oo-Kiranya kau ?"

"Adik sia.. ."

"Tutup mulutmu "

Tiba-tiba pemuda di atas kuda pupus itu mengayun pecutnya sehingga mengeluarkan suara nyaring di tengah udara, lalu dengan sikap garang ia mendelik, semprotnya.

"siapa kau ? Berani gembar-gembor memanggil nama orang "

Berkerut alis Giok-liong, hampir saja ia mengumbar nafsunya.

Namun serta dilihat sikap Coh Ki sia yang merengut rawan, kelopak matanya berkedip-kedip mengembeng air mata, hatinya menjadi tidak tega, segera ia angkat tangan unjuk hormat, katanya.

"Aku yang rendah Ma Giok-liong. Harap tanya siapakah saudara ini ?"

Tak duga dengan gaya Ki yan liong bu (ikan melompati pintu naga) pemuda ini lantas melompas lurun dari atas kuda, gerak geriknya kelihatan lincah dan gesit, nyata bahwa Iwekang-nya cukup tinggi, setelah menginjak tanah, pecut diayun terus menuding Giok-liong, jengeknya.

"Hm, saudara Mengandal apa kau menyebut aku Saudara apa kau sembabat? Coba kekolam ikan sana untuk bercermin, lihatlah tampangmu yang buruk itu"

Beringas muka Giok-liong, hawa membunuh menyelubungi mukanya. Tapi kejap lain ia sudah merubah sikapnya lagi, wajahnya berseri tawa. pikirnya.

"sebelum aku mencari tahu hubunganmu dengan coh Kisia, lebih baik aku tidak berlaku gegabah, supaya tidak menambah kesalahpahamanku dengan coh Ki-sia."

Karena itu tertawa tawar ia tidak hiraukan lagi kepada pemuda itu, langsung ia menghadapi Coh Ki-sia yang masih berada diatas kuda.

"Adik sia .. ."

"siiuuut"

Segulung angin kencang tiba2 menyambar keatas kepalanya.

Kepandaian Giok-liong sudah mencapai puncaknya, panca inderanya cukup tajam, sekilas saja jantas ia bergerak secara reflek.

macam bokongan yang licin begini masa dapat terlaksana.

gesit sekali Giok-liong berkelebat menghindar diri, matanya mendelik gusar semprotnya.

"sau... apa yang kau hendaki ?"

Lagi-lagi pemuda itu mengayun pecutnya dengusnya berat.

"Kau panggil apa terhadap dia?"

Tanpa ragu-ragu Giok-liong ulangi panggilannya.

"Adik sia "

"Kurang ajar Kau harus dihajar"

Sekarang serangan pecutnya ini.

dilancarkan dengan sepenuh hati, maka jurus tipunya cukup lihay dan hebat, belum lagi pecutnya, tiba angin bertenaga terpendam sudah mendahului merangsang datang.

Meskipun dirinya dimusuhi tanpa ampun, diam-diam Giokliong memuji juga dalam hati.

"Bagus "

Belum lagi pecut mengenai sasarannya mendadak Coa Kisia berteriak diatas kudanya.

"Engkoh seng, mari kita mefanjutkan perjalanan, jangan layani dia "

Mendengar teriakan ini wajah beringas si pemuda seketika sirna amblas, kini berubah berseri tawa, agaknya ia penurut benar menarik balik pecutnya terus melompat mundur berapa kaki berulang kali mulutnya mengiakan sambil beiseri tawa.

"ya memang benar ucapanmu dik "

Lalu dengan gaya loncatan burung bangau menyisik bulu ia melompat kembali ke atas tunggangannya.

Tatkala itu Coh Ki-sia sudah menarik tali kendali kudanya terus dilarikan kedepan.

sudah tentu Giok-liong menjadi gugup, dengan tersipu-sipu segera ia melesat tiga tombak terus menghadang didepan kuda serta serunya.

"Adik sia, kau.. ."

Tak duga Coh Ki-sia malah mengangkat alis dengan mata gusar ia mendamprat.

"Pemuda bangor yang kurang ajar, siapa kenal kau ini ?"

Kata-kata ini seumpama ujung pisau menusuk lubuk hati Giok-liong, selamanya belum pernah merasakan penderitaan batin seberat ini, namun sekuatnya ia berlaku sabar dan menahan gelora amarahnya, katanya sengal-sengal.

"Adik sia, masa kau -."

"Sudah jangan cerewet"

"Benar-benar cari mampus kau"

Pemuda penunggang kuda pupus itu menerjang turun dari kudanya. segera Coh Ki-sia menarik kendali melarikan kudanya kedapan, serta ujarnya lemah lembut.

"Engkoh seng Mari berangkat jangan mengurusi dan mengabaikan urusan besar kita. Mungkin ini merupakanjebakannya supaya melibat kita, maka janganlah tertipu olehnya "

Seperti mendengar petuah orang tuanya saja, pemuda itu mengiakan dan manggut-manggut, tampaknya riang sekali, sahutnya "Huh menguntungkan bocah keparat ini"

Sembari berkata ia mendelik garang kearah Giok-liong, lalu membedaL kudanya dilarikan kedepan seraya berteriak-"Adik sia Bukan saja Iwekang-mu sudah mencapai tingkat yang dibanggakan otakmu cerdik dan banyak akal lagi Mungkin memang tipu daya kaum keroco atau pokrol bambu belaka untuk mencegat perjalanan kita ini"

Dengan nada kasih mesra Coh Ki sia menyebut.

"Maka kukatakan jangan hiraukan dia lagi"

Cobalah bayangkan betapa kecewa dan duka hati Giok liong serta melihat istrinya berjalan dengan pemuda yang asing baginya, malah sikap dan hubungan mereka kelihatan sangat mesra.

"sudahlah Memang dia sudah berubah. Kenapa aku harus memaksanya"

Sesaat hatinya membatin sepontan ia lantas menghela napas panjang.

Akan tetapi segala sesuatu kalau bisa dibereskan begitu gampang dan sepele mungkin dalam dunia fana ini tiada segala kericuhan atau pertikaian apa segalanya.

Meskipun sedapat mungkin Giok liong segan untuk memikirkan lagi, tapi kebalikan dari angan angan ini, lubuk hatinya semakin kecantol dan tidak bisa tentram, samar-samar kupingnya mendengar derap langkah kuda yang semakinjauh dan menghilang, terasa jantungnya berdegup semakin kencang tak terkendalikan lagisekonyong-konyong ia berteriak keras penuh haru.

"Aku harus membuat terang persoalan ini,"

Begitu mengerahkan hawa murninya sekuli loncat berapa tombak ditempuhnya, sekejap saja ia sudah kembangkan ilmu ringan tubuhnya lagi mengejar untuk kedua kalinya.

Beberapa kali loncat saja dari jauh sudah kelihatan dua ekor kuda yang membedal kencang didepan sana.

Betapa juga sebagai seorang laki laki Giok liong tak sudi dan disepelekan oleh Coh Ki sia-Maka kuntitannya sekali ini tidak secara langsung menegurnya, hanya dengan jarak tertentu ia menguntit darl belakang supaya tidak diketahui oleh mereka berdua.

Entah sudah berselang berapa lama, sebelum hari menjelang tengah malam mereka sudah sampai disebuah kota yang cukup besar, Coh Ki-sia dan pemuda itu langsung memasuki kota dan mencari penginapan.

Giok liong sembunyi diemperan rumah dan mengintai dengan cermat, setelah mengingat-ngingat mereka mereka lantas ia sendiri mencari tempat untuk melepaskan lelahnya, menurut rencananya kira kira jam dua nanti ia akan menyelidiki rahasia sikap dan perjalanan coh Kisia yang serba janggal dan rahasia bagi pendapat Giok-liong.

Malam sangat dingin, salju bertebaran, seorang diri Giok liong duduk berdiam diemperan rumah orang yang rada gelap dan tersembunyi bunga salju yang terhembus angin menghiasi mukanya sehingga badan terasa segar dan nyaman.

Tujuannya adalah melepaskan lelah dan menghimpun tenaga, tapi mana mungkin hatinya bisa tenteram, jantungnya berdetak keras dan hatinya risau gundah gulana.

TUnggu punya tunggu, waktu yang dinantikan tiba juga, darijarak yang cukup dekat terdengar kentongan sudah dipukul dua kali, Giok liong bergegas berdiri sambil mengebutkan bunga salju yang mengotori tubuhnya, sekali lompat ia naik keatas rumah terus langsung melesat kearah penginapan satu-satunya dalam kota itu.

Hari sudah jam dua keadaan penginapan seluruhnya sudah gelap gulita, hanya kamar di belakang sebelah kanan sana masih kelihatan cahaya pelita menyorot keluar.

Tanpa ayal Giok liong terus menggeremat kearah sana langsung turun didepan jendela, hati-hati waspada dengan lidahnya ia memecah lobang kecil terus mengintip ke dalam dengan mata kirinya.

sangat kebetulan sekali, kelihatan setiap sinar pelita sebesar kacang berkelap-kelip.

Coh Ki-sia tengah duduk bertopang dagu dipinggir ranjang, matanya mendelong dan melamun mengawasi sinar pelita.

Wajahnya berkerut dalam membayangkan rasa duka dan cemas, seolah-olah tengah memikirkan sesuatu yang mengganjal dalam hatinya.

Baru saja Giok-liong hendak menjentikkan jari memanggilnya, kelihatan pintu kamar disebelah kiri sana terbuka.

Pemuda yang bertahi lalat merah di tengah alisnya itu tampak berjalan masuk, Agaknya ia sangat prihatin dan kasih sayang, dengan berdiri diambang pintu ia berkata sambil tersenyum.

"Adik sia, kau belum tidur ?"

Coh Ki-sia tersentak kaget dan meloncat bangun, wajahnya membeku dingin, desisnya dengan mengancam.

"Engkoh seng Hari sudah begitu malam buat apa kau datang kekamarku ini?"

Sikapnya serius nada perkataannya juga ketus dan kasar terbalik dari sikap halus dan mesranya tadi siang. Pemuda itu cukup bandel, dengan tetap berseri tawa ia menyahut.

"sia ---"

"silakan kau keluar "

Segera Coh Ki-sia membentak dengan suara berat-"Adik sia, kau "

"Aku kenapa ?"

"Watakmu sungguh sukar dapat kuraba, hanya ingin tanya sebuah hal kepadamu "

"Tentang urusan apa ?"

"Pemuda baju putih tadi siang itu, dia -"

"Jangan singgung tentang dia lagi"

"o, baik Aku tidak tanya tentang dia lagi. Tapi adik sia selama beberapa bulan ini aku merasa belum pernah kau bersikap begitu mesra Kenapakah ?"

"Ini..."

Coh Ki-sia tersekat matanya mendelong air mata lantas mengalir keluar. si pemuda menjadi kaget, cepat ia bertanya.

"Adik sia Kau.. ."

"Keluar Keluar Aku hendak tidur..."

Coh Ki-sia mendesak langkah terus menarik daun pintu hendak ditutupkan. Pemuda itu tidak bergerak dari tempat-nya, tanyanya mendesak "Adik, siapakah pemuda baju putih itu adalah..."

"Musuh besar yang melukai ayah "

Sepatah demi sepatah Coh Ki-sia mengatakan sambil mengertak gigi, air mata meleleh semakin deras, agaknya hatinya sangat pilu dan sedih.

Giok-liong yang mengintip diluar jendela juga menjadi kecutsementara itu, waktu si pemuda mengundurkan diri, diamdiam ia sudah tahu kalau dibawah jendela diluar kamar itu ada orang sembunyi sambil menggerung tertahan langsung ia meloncat keluar pekarangan.

saat itu penerangan pelita dalam kamar juga lantas padam dan dilain kejap Coh Ki-sia juga memburu keluar.

Tahu bahwa jejaknya sudah konangan sedikitpun Giok liong tidak takut, dengan berdiri terlongong ia tidak bergerak ditempatnya.

"Kiranya kau "

Pemuda itu sudah menyilangkan tangannya menubruk maju sembari kirim serangan.

Giok-liong tidak mau balas menyerang, begitu kembangkan Leng-hun toh gesit sekali ia menghindar diri dari samberan angin pukulan lawan langsung menyongsong kedatangan coh Ki-sia, katanya lirih.

"Adik sia. Apakah kau betul-betul tidak bisa menyelami perasaanku?"

Belum habis perkataannya si pemuda sudah menubruk tiba dengan serangan yang lebih dahsyat dan ganas, mungkin setaker tenaganya sudah dikerahkan sambil membentak.

"Keparat cari mampus"

Tidak menjawab pertanyaan iok-liong tiba-tiba Coh Ki-sia malah berteriak kaget suara terdengar aneh dan ganjil.

Giok liong juga ikut terkejut, sekali tutul kaki, tubuhnya melambung tinggi naik keatap rumah, serambut saja terlambat tentu badannya hancur kena pukulan lawan.

"Keparat Toan-bak seng takkan melepas kau "

Sembari berteriak marah-marah si pemuda itu mengejar naik keatas, masih badan melambung ditengah udara ia sudah mendahului lancarkan serangan yang keji dan telengas.

Belum lagi kaki Giok-liong berdiri tetap angin kencang sudah menyamber datang, dalam keadaan yang gawat ini sigap sekali ia sampokkan sebelah tangannya untuk punahkan tenaga serangan musuh lalu tubuhnya jumpalitan lagi meluncur kebawah, katanya kepada Coh Ki sia.

"Adik sia Apa kau betul-betul sudah membenciku sedemikian rupa ?"

"Aku benci kau Benci sekali"

Sembari berteriak dengan kalap segera Coh Ki sia menerjang maju langsung menyerang kepada Giok liong. Perasaan Giok-liong seperti lubuk hati-nya diiris-iris pisau, gesit sekali ia mencelat, serunya.

"Baik, akan datang suatu hari segalanya dapat dibikin terang "

Tatkala itu pemuda yang memburu ke-atas rumah jaga sudah meluncur turun kali ini tanpa bersuara terus menepukkan kedua telapak tangannya serangannya terbagi tiga jalan dengan tiga sasaran atas tengah dan bawah-Giok-liong menghela napas dengan ringan sekali loncat ia melejit keatas rumah lagi.

"Lari kemana kau"

Pemuda itu mengejar datang sembari menyerang lagi dari belakang.

sembari kertak gigi Giok-liong kerahkan tenaganya, sekali tiga tombak dilampaui setelah melewati beberapa wuwungan rumah orang langsung berlari kencang keluar kota.

Ternyata si pemuda terus mengejar, maka terjadilah kejar mengejar dengan kencang, terlihat dua titik hitam bayangan diatas salju,jarak mereka kira-kira cuma beberapa tombak, sama-sama mengerahkan tenaga dan mengembangkan ilmu ringan tubuh.

Kira kira ratusan tombak kemudian tiba tiba Giok liong menghentikan langkahnya terus berdiri menanti.

Kini mereka sudahjauh dari kota, tak perlu takut mengganggu orang, maka Giok-liong berteriak keras.

"Kenapa kau mengejarku?"

Pemuda itu menggaung murka begitu menerjang datang kedua tangannya lantas bergebrak menyerang dengan tipu yang mematikan makinya.

"Kurcaci malam malam kau mengintip di penginapan, tentu punya tujuan tidak senonoh"

Sebelah tangan kiri Giok-liong disurung lalu disampok kesamping mematahkan tekanan serangan lawan sedang tangan kanannya melancarkan serangan balasan.

Tujuan Giok-liong hanya hendak menggertakkan sajamaka serangannya ini hanya menggunakan tiga bagian tenaganya saja, sehingga gaya serangannya kelihatan sangat lemah-"Alah silat kampungan saja juga berani tarung dengan aku"

Demikian si pemuda mengejek sambil tersenyum sinis, tanpa berkelit atau menangkis, tahu-tahu kedua tangannya malah terulur keluar seperti cakar kera langsung mencengkeram pergelangan Giok-liong.

sebetulnya Giok liong tidak berniat bertempur sungguhsungguh, karena sedikit geaabah hampir saja tangannya patah dicengkeram lawan untung dia berlaku gesit dengan gerakan reflek yang cukup cekatan cepat-cepat ia tarik tangannya sembari melangkah mundur tujuh kaki, selamatlah tangannya.

Mendapat angin si pemuda semakin takabur, serangan lanjutan segera ditaburkan semakin menderas dengan gencar, sekali ini ia benar-benar lancarkan ilmu pukulan laksana gugusan sebuah gunung yang ketat dan rapat sekali.

"Engkoh seng, bunuh dia"

Kiranya Coh Ki-sia juga sudah menyusul datang langsung menerjang kedalam gelanggang pertempuran terus menyerang dengan kalap.

sungguh seperti diiris-iris hati Giok-liong, betul-betul tak terduga olehnya bahwa istrinya tercinta ternyata bergabung dengan orang mengeroyoknya.

"Adik sia, apakah kau betul-betul tiada rasa cinta dan setia "

"Bocah keparat, omong kosong belaka "

Seperti kebakaran jenggot pemuda itu berjingkrak gusar seraya lancarkan pukulan yang lebih ganas dan mematikan. Coh Ki-sia sendiri juga mengertak gigi, teriaknya.

"Siapa yang ada cinta dan setia apa segala"

Rasa duka dan dongkol Giok-liong benar benar susah dilukiskan dengan kata-kata, akhirnya ia menjadi nekad dan ambil ketetapan hati, batinnya, 'terang dia sudah tiada rasa cinta kasih terhadapku, buat apa aku selalu mengenangnya kembali.' sebat sekali ia melompat tinggi sam-ji cui-hun-chiu lantas dikembangkan, mulai dari jurus Cin-chiu, ia tahan gelombang serangan si pemuda sedang tangan kanan menggunakan jurus Hwat-bwe balas menyerang ke arah Coh Ki sia.

Lweekangnya sudah mencapai tingkat yang paling sempurna, sam-ji-cui-hun chiu merupakan ilmu pelajaran Teji Pang Giok yang tunggal dan digdaya lagi, maka bukan olaholah hebatperbawanya-Mega putih lantas berkembang menderu dengan hawa dingin yang menyesakkan napas.

Bercekat hati sipemada, kejutnya bukan main, seiring dengan teriak kejut tubuhnya lantas mencelat setombak tebih, sejauh sembilan kaki, meski ia sudah bergerak sangat tangkas tak urung dirinya tudah dibuat kepayahan terpental keluar dari gelanggang pertempuran.

sementara itu, pergelangan coh Ki-sia sendirijuga sudah kena digenggam oleh Giok-liong asal Giok-liong mengerahkan tenaga meremas, seumpama jalan darah Coh Ki-sia tidak sungsang surobel dan mengalir terbalik sehingga mematikan, paling tidak sebelah tangannya itu sudah hancur luluh tulangtulangnya, selamanya menjadi invalid.

Tapi apakah Giok-liong betul-betul tega turun tangan sekejam itu, terasa pergelangan orang begitu lembut dan halus serta empuk seperti tak bertulang, bercekat hatinyasekilas itu terbayang olehnya betapa kasih mesra hubungan mereka waktu masih berada di Hwi-hun-san cheng dulu, maka sambil membanting kaki dan mengertak gigi ia mendesah berat.

"Adik sia "

Cengkeramannya di lepas lalu tubuhnya mencelat mundur beberapa tombak, kelopak matanya mengembeng air mata.

Coh Ki sia sendiri terhuyung berapa langkah kena gentakan tenaga Giok-liong tadi, beruntung ia sempoyongan sampai setombak lebih baru bisa berdiri tegak-Pemuda itu buru-buru maju memayang tubuhnya, tanyanya penuh prihatini "Adik sia, kau terluka ?"

Sungguh gemes dan duka hati Coh Ki-sia, tak tertahan lagi air mata mengalir deras membasahi pipinya, mukanya pucat dan bibir gemetar napas juga sengal-sengal, agaknya ia sangat haru terbawa oleh hanyutan perasaannya..

"Engkoh seng kau... bunuh ia-"

"Nanti kululusi permintaanmu "

Kata-kata terakhir ini bagi pendengaran Giok liong laksana ribuan jarum yang menghunjam kejantucgnya. Agaknya pemuda itu juga tersentak bingung, namun seketika semangatnya lantas terbangun, sahutnya.

"itu gampang Kuharap kau kelak tidak pungkiri janji dan menyesal "

Lalu ia melepaskan tubuh Coh Ki-sia langsung menerjang kedepan Giok liong, teriaknya.

"Kurcaci lihat seranganku "

Sebetulnya Giok-liong sendiri juga tak kuasa mengontrol perasaaan hatinya, hatinya sangat gusar dan seperti dibakar, tanpa banyak suara lagi maka segera ia kerahkan tenaganya di kedua lengannya.

setiap gerak langkah berat dan serangannya juga kuat,membawa gelombang damparan angin pakaian yang dahsyat, jauh lebih hebat dan tekanan Belum lagi pemuda itu menerjang tiba, tahu-tahu tubuhnya sudah mencelat balik terguling-guling tujuh kaki jauhnya, setelah merangkak bangun mulutnya mendaki gusar.

"Bocah keparat kau"

Kemurkaan Giok liong sudah meledak mana bisa dikendalikan lagi, serangannya semakin cepat dan ganas rasa gusar dan dukanya semua dicurahkan kearah pemuda yang dianggapnya sebagai duri di depan matanya, begitu ia menerjang tiba pukulannya juga tidak ketinggalan begitu serangan datang tekanan tenaganya juga langsung memberondong sampaisebetulnya kepandaian si-pemuda juga cukup tinggi, tapi mana kuat bertahan dibawah tekanan serangan dahsyat ci iok-Liong yang sudah terlanjur marah marah ttu, baru berapa jurus saja Lantas keLihat ia kerepotan mundur berulang-ulang, setiap gerak tangannya cuma membela diri melulu tiada mampu baLas menyerang.

Pada saat kritik itulah mendadak terdengar Lambaian baju mendatangi.

LaLu terdengar sebuah seruan sember berkata "Anak seng Kau minggir"

Tahu-tahu ditengah geLanggang sudah hinggap seorang tua pertengahan umur.

orang tua ini bertubuh tinggi kekar melebihi orang biasa, seperti bentuk menara saja Layaknya, sepasang matanya berkilat seperti pancaran bara api, dagunya bercambang bauk Lebat, bajunya kain kaci warna kuning mengenakan mantel kuning pula, sikapnya yang angker ini Laksana maLaikat dewata yang-baru turun dari atas Langit.

Pemuda bertahi LaLat di tengah aLisnya itu Lantas memburu maju ke depan orang tua ini terus membungkuk daLam seraya menyapa hormat.

"Ayah"

Coh Ki-sia juga memburu maju terus menubruk kedaLam peLukan si orang tua sambil nangis gerung-gerung, teriaknya sesenggukan.

"Paman Dia-"

Yang ditunjuk adalah Giok liong, sayang karena terlalu emosi, kata katanya tersendat di tengah tenggorokan.

sebelah tangan orang tua itu mengelus kepala Coh Ki sia sedang matanya berkilat menatap tajam ke arah Giok-liong sebentar, lalu berpaling kepada si pemuda, tanyanya.

"Anak seng Apa yang telah terjadi di-sini?"

Pemuda itu membungkuk hormat, sahutnya .

"Bocah kurcaci ini adalah musuh besar Adik sia"

Si orang tua lantas menarik muka, bentaknya.

"Apa benar?"

"Adik sia sendiri yang mengatakan kepadaku"

Orang tua termenung sebentar lalu mengguman.

"Dia-dia adalah musuh tandingan coh Jian-kuo suami istri itu"

Tanpa menghiraukan Giok liong ia bertanya kepada si pemuda.

"Coba katakan apakah sepanjang jalan ini ada perubahan ?"

"Tidak ada "

"Konon, kabarnya perjalan keBu-ih-san ini kita harus hatihati. Banyak gembong-gembong iblis yang lama mengeram diri kini bermunculan kembali, situasi sangat tegang, maka bergegas aku menyusul kemari, tak duga kalian.. ."

"Tak kira Ih-hun cheng cu sendiri juga ikut terjan dalam keramaian ini tak heran kalangan persilatan bakal geger "

Mendadak terdengar orang berseru lantang dan suara merdu bagaikan irama sembilu, keruan semua orang menjadi kaget sebetulnya Giok-liong tengah menjublek dan terlongonglongong memandangi coh Ki-sia dalam pelukan si orang tua tinggi kekar itu, tak urung iapun tersentak kaget mendengar suara aneh ini, tiba-tiba tergerak hatinya ia membatin.

"Ternyata orang tua ini adalah Ih-hun-cheng cu dari daerah timur laut itu yang bernama Toanbok Ih-bun, tak perlu dijelaskan lagi terang pemuda itu tentu putranya yang bernama julukan It-tiam-ang (setitik merah) Toan-bok seng."

Kalau Giok-liong tengah tenggelam dalam hatinya. Di sebelah sana terdengar Toan-bok Ih-hun sudah berseru keras kearah datangnya suara.

"Ang To-bok, apa kau belum modar ?"

"orang macam aku yang tidak disambut di akhirat, setan dan dedemit lari pontang-panting melihat aku, masa gampang disuruh mati Hahahahaha "

Gelak tawannya seperti sengguk orang nangis, tahu-tahu sebuah tubuh kecil cebol yang kurus kering melesat hinggap di tengah gelanggang.

orang cebol kurus kecil yang tinggi tiga kaki ini sudah berambut uban, tidak lebih seperut Toan bok Ih hun berdiri di hadapan orang sehingga kelihatan janggal dan lucu sekali, perbedaan yang menyolok ini-Begitu menancapkan kakinya, sepasang matanya yang kecil bundar lantas jelilatan berputar menyapu pandang keempat penjuru, suaranya melengking berkata.

"Tengah malam buta begini, kenapa kalian saling pelotot disini-"

Ih hun ceng-cu Toan-bok Ih-hun tertawa tawa, katanya.

"Menyelesaikan urusan anak-anak kecil-"

Orang tua cebol kurus ini mengiakan sambil manggutmanggut, sekilas ia melirik berapa kali ke arah Giok-Liong, jelas kelihatan sikapnya acuh tak acuh terhadap Giok-liong, malah jengeknya.

"Waktu amat mendesak, para gembong iblis itu mungkin sudah membuat geger di Bu ih-sin sana, masa kau masih ada tempo mengurus persoalan bocah tetek bengek ini, mari tuan besar, segera kita berangkat "

Toan-bok Ih-hun melepas pelukan coh Ki-sia, lalu katanya kepada Giok-Liong.

"Apakah kau ini yang bernama Kim-pitrjan hun Ma Giok liong."

"Hah "

Belum lagi Giok-liong sempat menjawab si orang tua kate itu sudah berjingkrak kejut, merubah sikapnya yang acuh tak acuh itu matanya berkedip kedip mukanya beringas, bentaknya.

"Katakan betul apa tidak ?"

Giok-liong mendesis dengan suara dingin.

"Ya, memang akulah yang rendah "

Kontan si kate cebol perdengarkanjengek dingin, katanya sambil menunjuk Ih-hun-ceng-cu.

"Bagus sekali. Tuan besar, hubungan selama puluhan tahun, kau begitu tega mengapusi aku si tua bangka itu, mengatakan apa itu.. ."

Keruan Ih-hun-cheng cu Toan bok Ih-hun melengak. tanyanya.

"Aku ngapusi apa?"

Ang To-bok menyeringai licik, katanya.

"Katamu menyelesaikan urusan anak kecil, yang terang disini kau sedang berdaya upaya merundingkan guna merebut pusaka itu"

"Perundingan merebut pusaka ?"

Hampir berbareng Giok liong danToan bak ih hun berteriak-Ang to bok menggerakkan kepala kecil yang sudah penuh ubanan itu, katanya seperti mengetahui duduk perkara sebenarnya.

"Pusaka tersembunyi yang berada di dalam rawa naga beracun di gunung Bu-ih san itu, siapa yang tidak tahu bahwa pemilik sebenarnya adalah orang she Ma .. ."

Tergetar hati Giok-liong. Mendadak teringat olehnya pesan teiakhir ibundanya dulu.

"Pada sumber mata air didasar rawa naga beracun di pegunungan Bu-ih-san tersimpan se

Jilid buku catatan rahasia tulisan ayahmu.. ."

Teringat pula akan kata-kata ibundanya yang lalu.

"Nak turutilah kata-kata ibu-mu, pergilah ke Ih hun sancheng di daerah timur laut sana-carilah Toan bok Ih hun, dan mintalah supaya dia membantu."

Kalau dalam perjalanan menemui kesulitan perlihatkan bentuk batu pualam ini...

tadi karena hati tidak tentram dan gelisah sehingga tidak ingat atas kejadian beberapa tahun yang lalu.

sekarang setelah mendengar Ang to bok menyinggung persoalan ini tanpa terasa bergidik tubuhnya, batinnya.

"Bocah yang tidak mengenal budi pekerti dan tak berbakti kenapa aku melupakan pesan ibu yang wanti-wanti itu"

Karena pikirannya ini bergegas ia tampil ke depan langsung menjura kepada Toan bok Ih hun, katanya lantang.

"wanpwe tidak tahu bahwa cianpwe adalah Ih hun-chengcu yang berdiam di Liao-tong itu, harap suka dimaafkan"

Kejadian perubahan ini sangat mendadak sekali, sudah tentu Toan bok Ih hun dirundung cemas dan curiga, tanyanya.

"Apa maksudmu ini ?"

"sebelum cayhe berkelana, pernah ibu berpesan dengan batu pualam berbentuk. jantung sebagai bukti supaya Wanpwe ke Liok-tong menemui kau orang tua"

"Batu pualam bentuk jantung hati?"

"Benar, tatkala itu, aku..."

"Jadi kau ini adalah-"

Mendadak Toan bok Ih hun memutus kata-katanya, dengan cermat dan seksama ia amatamati Giok-liong sikapnya menjadi tawar dan rawan. Giok-liong tinggal seadanya.

"Hanya karena Wanpwe belum lama meninggalkan rumah lantas merubah arah tujuan sehingga tidak menuruti pesan ibunda, ditengah jalan aku berputar menuju ke lembah kematian dan untung di sanalah aku bersua dengan guru yang berbudi "

Toan-bok lh-hun tidak perhatikan penjelasannya ini, tanyanya.

"Lalu dimana batu pualam bentuk jantung hati itu?"

Tanpa disadari Giok liong meraba kantong bajunya, sahutnya dengan muka merah.

"sudah kuserahkan kepada seorang nona untuk tanda kepercayaan"

Belum habis ucapannya, mendadak sesosok bayangan melejit jauh terus, berlari pergi.

Kiranya mendengar penjelasan Giok liong ini coh Ki-sia lantas mendengus gusar terus melesat dua tombak lebih berlari kembali kearah kota.

Toai bok Ih-hun tidak hiraukan kedua anak muda itu, sebaiknya membentak kepada Giok-liong.

"Mulutmu saja yang ngobrol tanpa bukti, lekas cari kembali batu pualam bentukjantung hati itu baru menghadap kepada aku"

Selesai bicara iapun melambung tinggi seraya berkata kepada Ang TO-bok-"Cebol selamat bertemu diBu-ih san"

Keberangkatan ketiga orang inijuga terlalu mendadak, Giok liong sendiri masih belum jelas dalam ingatannya, suduh tentu dia tidak menyadari katanya tadi.

"Diserahkan kepada seorang nona untuk tanda kepercayaan ini betul-betul sangat melukai perasaan coh Kisia? Tapi betapapun tidak terpikirkan oleh Giok-liong akan kesalahan kata-katanya ini, karena Coh Ki-sia sudah lari jauh tak kelihatan lagi. Dalam pada itu sambil berlenggang si cebol Ang To bok menghampiri kedepan Giok-liong, katanya dengan suara di buat-buat.

"saudara kecil Apa yang telah kalian ikrarkan bersama Toan-bok Ih-hun tadi?"

Hakikatnya Giok liong sendiri tidak tahu pangkal tujuan pertanyaan orang, dasar hati sedang gundah, tiada minat ia banyak bicara, lalu ia menyahut tawar "Ikrar ? Tidak "

Sembari menjawab kakinya sudah beranjak tinggal pergi, dalam hati ia tengah menerawang langkahlangkah selanjutnya.

Menuju ke Laut utara atau pergi keBu-lhsan?

Aku harus pilih satu diantara ini.

Tak duga Ang To-bok berseyot-seyot mengintil dibelakangnya, katanya berat.

"saudara kecil, walau aku Te ou sing-kun (dedemit bumi kesataria bintang) Ang to bok bukan cukat Liang yang hidup kembali tapi hanya menghadapi urusan kecil macam ini, jangan harap dapat mengelabui aku"

Giok-liong menjadi uring-uringan, semprotnya.

"Jangan cerewet Peduii apa kau manusia kerdil ini"

Sambil menyeringai iblis Ang To-bok tertawa-tawa, katanya.

"Kau jangan main galak? Perjalanan keBu-ih-san ketahuilah aku orang she Ang juga termasuk satu hitungan tangan"

Rasa dongkol Giok liong susah dilampiaskan, kini mendengar ocehan yang menyebalkan ini seperti api disiram minyak semakin berkobar amarahnya, desisnya geram "Persoalan di Rawa naga beracun itu siapa berani turut campur, maka jangan harap dia bisa hidup kembali."

Ang-to-bok bergelak tawa, teriaknya.

"Hahaha, takabur benar kau ini"

"Kau mau apa".

"Tidak lain aku hanya ingin bergabung dan bekerja sama dengan kau, nanti kita bagi sama adil setelah mendapatkan buku catatan rahasia itu"

"Ha h, h m Kau mimpi"

"Mimpi saudara kecil, jangankan pandang rendah aku ini"

Giok liong menjadi sebal, saking kewalahan mendadak ia jejakkan kakinya terus berlari kencang tinggal pergi, gerak gerik Giok-liong cukup hebat, namun Ang To bokjuga tidak kalah gesit bukan saja ia mengejar kencang malah berlari berendeng, ditengah udara ia bersuara.

"saudara kecil, demi menjaga kepercayaanmu terhadap Toan bok Ih-bun, boleh aku mengalah dibagi tiga sama rata."

"Menyebalkan"

Giok liong membentak sambil mengibaskan sebelah tangan menampar kesamping.

"Wah kok turun tangan"

Seru Ang TO bok sambiljumpalitan, terus meluncur turun.

Karena menyerang dan menggunakan tenaga Gioks liong sendirijuga melorot ke-bawah, menurut dugaannya Ang to bok pasti balas menyerang, maka begitu kakinya menginjak tanah segera ia bersiaga dengan memasang kuda-kuda.

Diluar sangkanya Ang to bok tertawa-tawa disebelah sana, ujarnya.

"saudara kecil, kau tidak sudi bekerja sama dengan aku mungkin karena kau belum tahu seluk beluk keadaan di Rawa naga beracun itu, kalau tidak tentu kau tidak menolak uluran tanganku ini"

"Maksudmu..."

Giok Liong sudah hendak lancarkan pukulannya dengan gemas, namun bentakannya lantas di telan kembali dan takjadi menyerang, hatinya berpikir memang keadaan di TOksliong-tam sana aku tidak tahu, apa salahnya aku mengorek keluar keterangan dari mulut orang bawel ini, kan menguntungkan.

Maka ia merubah sikapnya tadi, katanya kalem.

"Bagaimana keadaan di Toksliong-tam?"

"Nah kan begitu saudara kecil"

Ujar Ang to bok berjingkrak girang sambil menjentik ibu jarinya.

"Urusan dapat dirundingkan bukankah bisa menelorkan hasil yang menguntungkan, kalau sampai berkelahi wah berabe merugikan kita dua belah pihak"

Karena punya tujuan tertentu terpaksa Giok liong menekan rasa dongkolnya, sahutnya.

"ya, coba terangkan dula situasi di-Rawa naga beracun itu"

"Baik, mari ikut aku"

Kata Ang To-bok sambil menunjuk ketempat yang jauh badan nya lalu melesat pergi.

Diam-diam Giok-liong sudah bersiaga, tapi terpaksa ia mengintiljuga, setelah melewati bidang-bidang sawah terus menyelusuri anak sungai di ujung muara sana kelihatan sebuah biara kecil, saking tua dan tidak terurus keadaannya sudah bobrok, namun papan namanya kelihatan bertulis Liong ong bio tiga huruf besar-Ang To-bok meluncur turun didepan biara kecil ini, kedua tangannya lantas bertepuk dua kali.

segera terdengar suara kereyat kereyot terlihat pintu biara terpentang pelan, bergegas ia beranjak keatas undakan batu diambang pintu serta berkata kepada Giok-liong yang baru saja tiba.

"saudara kecil, mari silakan "

Kwatir orang mengatur tipu daya, diam-diam Giok-liong kerahkan ji-lo untuk melindungi badan, kabut putih menyelubungi seluruh badannya. Ang To-bok tertawa kering, ujarnya.

"Terlalu memandang rendah aku orang she Ang, tarik kembali hawa pelindung mu itu"

Giok-liong menjadi rikuh, sahutnya kikuk-"Niat mencelakai orang tidak boleh ada, berjaga mengatasi tipu daya orang harus waspada-"

Sembari kata ia sudah naik keatas undakan batu.

Pintu biara sudah terpentang lebar, berdiri dihadapannya seorang laki-laki pertengahan umur.

sesaat Giok-liong menjadi tertegun, sebab pada cuaca dimusim dingin ini, laki laki ini ternyata bertelanjang bagian atas tubuhnya, tempat fitalnya saja yang digubat dengan selilit kain panjang dari sutra, seluruh tubuhnya tumbuh rambut hitam panjang, badannya kekar dan berotot keras.

Begitu melihat kedatangan Ang To-bok.

lantas unjuk tawa lebar, giginya kelihaian rajin memutih lalu ia mengerling pada Giok-liong, dua biji matanya tajam dan bening seperti dua tonggak yang berhawa dingin.

sambil tertawa-tawa Ang To-bok manggut-manggut menunjuk dirinya lalu menunjuk Giok-liong, akhirnya menunjuk orang laki-laki bertelanjang itu.

Lalu ketiga jari tanganya dirangkap bersama terus digenggam dengan tangan lainnya.

Laki-laki itu menyeringai tertawa besar, suaranya aneh dan serak, tersipu-sipu ia melangkah mundur kesamping.

Ang To-bok menyilangkan tangan memperlihatkan Giokliong.

"saudara kecil silakan kita bicara didalam"

Kalau sudah datang apa pula yang harus dikawatirkan, maka dengan langkah lebar tanpa ragu Giok-liong beranjak masuk.

tengah ruangan terdapat seonggok bara api yang tengah menyala besar.

Di pinggir api unggun terletak seguci arak dan separo kempol kambing yang baru saja dipanggang mengeluarkan baunya yang wangi.

"Mari, sambil gegares kita bicara disini jauh lebih enak diluar yang dingin "

Demikian ujar Ang to bok sembari menarik sebuah gulungan rumput kering untuk alas duduk Giok liong.

sementara ini laki-laki setengah telanjang itu sudah duduk dipinggir guci besar itu, dengan cawan besar ia meminum arak lalu merogoh keluar pisau kecil mengiris daging kambing terus dijejalkan kedalam mulutnya, tanpa berkata-kata lagi.

Giok liong tidak hiraukan orang, langsung ia mengungkat pembicaraan "sudah mari kita mulai, bagaimana sebenarnya keadaan Tok liong tam itu ?"

Kata Ang Toksbok berseri tawa.

"Letak Toksliong-tam di dalam pedalaman gunung Bu-ih san yang jarang diinjak manusia, air rawa ini sangat dingin membekukan tulang di tempat sumber mata airnya, bulu angsa saja tentu ditelan tenggelam ke dasarnya, apalagi pusarannya besar dan kuat sekali-"

"oh apa betul ?"

Tanya Giok liong.

"Hal yang penting ini masa boleh menipu orang."

Sahut Ang to bok sungguh-sungguh. Giok-liong pernah mendengar penjelasan ibunya, maka sambil mengerut kening ia bertanya lagi.

"Kalau begitu bagaimana menurut rencanamu ?"

Ang to bok tertawa getir, ujarnya.

"Aku orang she Ang boleh dikata sebagai seekor bebek kering, jangan kata rawa naga beracun, air biasa saja mungkin aku bisa kelelap dan mampus tenggelam. Sudah tentu aku tak mungkin berani turun kendalam rawa maut itu ?"

"Lalu siapa ... ."

"Nah, dia inilah "

Tukas Ang to bok sambil menunjuk lakilaki setengah telanjang itu.

Giok-liong melirik berkali-kali kearah laki-laki setengah telanjang itu.

Kata Ang To-bok dengan penuh kepercayaan "Dia bukan lain adalah Ah-liong-ong (raja naga bisu) yang sangat kenamaan di dunia persilatan."

"Ah-liong-ong ?"

"Ya, raja naga bisu "

"Kepandaiannya ---"

"Kepandaian diatas tanah biasa saja, tapi sekali ia masuk air laksana ikan terbang naga sakti, boleh dikata ia sangat berbakat sejak kecil, pembawaan sejak lahir-"

"O, betul-beiul ada hal serupa itu ?"

"Bukan begitu saja keahliannya, betapa dingin airnya selama tiga puluh enam jam ia kuat bertahan bertahan di dasar air, di dalam air ia bisa hidup seperti ikan umumnya, kalau meninggalkan air hidupnya malah sengsara-"

Giok-liong terlongong mendengar cerita aneh yang belum pernah didengarnya ini.

Ah-liong-ong ini agaknya memang sudah pembawaan bisu dan tuli, tak tahu apa yang tengah mereka bicarakan, melihat Giok-liong memandang dirinya, ia terus angkat cawan arak dan ditenggaknya habis, Giok-liong manggut-manggut dan tertawa-tawa.

Terdengar Ang to bok melanjutkan penjelasannya.

"Untuk mencapai dasar rawa naga beracun ini selain Ahliong-ong ini, ku berani tanggung di seluruh Kangouw ini tentu tiada orang kedua yang berani. Maka buku catatan rahasia ini, sudah terang dan nyata bakal menjadi milik aku orang she Ang "

Giok liong menyeringai dingin, katanya.

"Kalau begitu, kenapa kau undang aku untuk membantu ?"

"Tentang ini..."

Merah wajah Ang To-bok, sekian lama baru ia bicara tersekat.

"Tapi, tapi... betapa juga harus berjaga-jaga, sebab menurut kabar berita di kalangan Kangouw, entah ada berapa banyak gembong-gembong silat yang sudah berkumpul diBuih san sana, meski mereka tak kuasa turun ke air tapi diatas bumi... diatas bumi..."

Giok liong tertawa dengan nada hina.

"Bukankah ada kau "

"Aku.. ."

Selebar muka Ang To-bok lebih merah seperti kepiting direbus, katanya terbata-bata.

"Aku... tentu.. tapi ---"

"Maka kau undang aku untuk melawan musuh-musuh berat di atas daratan ?"

"ya, begitulah "

"Lalu setelah memperoleh buku catatan rahasia itu, kau bisa merat melarikan diri bukan ?"

"Ah Tidak."

"Masa tidak ?"

"Aku paling dapat dipercaya, legakan hatimu "

Giok-liong menyeringai dingin, tiba-tiba ia berteriak.

"Barang yang tersimpan didalam sumber mata air dalam dasar rawa naga beracun digunung Bu-ih san itu ada pemiliknya, ketahuilah barang yang tidak halal lebih baik kau jangan tamak hendak merebutnya "

Ang to bok ternyata tidak marah, sebaliknya malah manggut-manggut sambil tertawa tawa, ujarnya.

"Duduk, silahkan duduk."

Sekonyong-konyong terdengar lengking panjang yang bersahutan dari jarak yang cukup jauh diluar sana, Suar n ini begitu tajam daw-meninggi seperti menembus langit menggetarkan sukma.

Ah liong ong yang sedang makan minum itu juga terpengaruh oleh suara lengking ini sampai berobah pucat air mukanya seketika ia duduk menjublek ketakutan.

Ang to bok sendiri juga menarik muka dan mendengarkan dengar serius katanya dengan suara berat.

"selalu kalian mencari gara-gara kepada Lohu"

Nada perkataannya penuh kebencian tapi terang mengandung rasa takut, terang paling tidak ia merasa gentar menghadapi pendatang ini. Tergerak hati Giok liong, tanyanya.

"siapa mereka ?"

"Tong-si ngo kui ? "Lima setan keluarga Tong ?"

Tong-singo-kui atau Lima setan keluarga Tong adalah gembong silat aliran hitam yang kenamaan di daerah barat laut.

Mereka berlima adalah saudara kandung seibu, biasanya suka bertempur dengan cara keroyokan yang diberi nama Ngo-kui-nau-pan (lima setan menggeserkan sidang).

Cara turun tangannya keji selamanya tak memberi ampun kepada musuhnya.

Sudah sekian lama mereka malang melintang di Kangouw, ditakuti dan disegani oleh kaum persilatan karena kekejamannya.

Giok liong membatin.

"Agaknya Ang-to bok bukan tandingan Tong-si ngo-kui itu,"

Karena pikirannya ini serta merta Giok-liong tertawa geli, ujarnya.

"Kalau kau berani pergi keBu-ih-san, terlebih dulu kau harus memberantas musuh-musuh berat, sekarang mereka mengantar jiwa di depan pintu, inilah saatnya kau memperlihatkan kepandaianmu sejati, supaya mereka kena gertak "

Merah muka Ang to kok, dengan beringas ia mendesis terbata-bata.

"Lohu, takkan... ampuni jiwa mereka-"

Diam-diam Giok liong tertawa geli-suara suitan itu sudah semakin dekat, nadanya semakin keras dan menusuk telinga Ah liong-ong yang duduk disebelah sana tampak mementang kelima jarinya diulur kedepan, mulutnya berseru.

"fiii.......ya......aaaaahhhn....uuuuh"

Terang hati Ang-to-bok sangat gelisah, namun lahirnya ia berlaku tenang, dengan tangan ia memberitahu kepada Ahliong ong supaya tenang-tenang saja.

Lalu sambil menggerakkan kedua lengannya ia melangkah lebar keluar pintu.

Baru saja melangkah berapa tindak diluar sana terdengar suara "Blang"

Yang keras sekali, daun pintu biara kecil yang tebal itu tiba tiba mencelat jauh gedebukan dilantai, debu dan pasir beterbangan dan rontok dari atas runtuhan, begitu keras terjangan tenaga menumbuk pintu ini sehingga seluruh biara terasa tergetar seperti terjadi gempa bumi.

Belum lagi suara sirap dan debu menghilang beruntun meluncur masuk lima bayangan laki-laki yang bertubuh kekar sejajar menghadang diambang pintu, muka mereka beringas dengan pandangan mendelik.

Laki-laki tertua yang berdiri ditengah terdengar membentak dengan sengit .

"Ang to bok, didaerah kekuasaan kita berlima berani kau menculik Ah-liong-ong, kau terlalu tidak pandang sebelah mata kita bersaudara sekarang kita berlima sudah tiba, cara bagaimana kau hendak menyelesaikan urusan ini?"

Belum sempat Ang to bak menjawab. Empat saudara lain dari Tong-si-ngo kui sudah menggerung bersama.

"Mana ada begitu banyak tempo untuk main debat dengan kurcaci ini, sikat saja"-belum lenyap dengung suara mereka serentak menubruk maju sambil menjerit lengking tajam, angin kencang yang dahsyat seketika meluruk kearah Ang to bok-Dengan suara gemetar dan sember Ang To-bok menjadi nekad, serunya.

"Baik, Lohu adu jiwa dengan kalian." -dengan nekad ia menyambut serangan para musuhnya dengan kegesitan tubuhnya. sekali gebrak Tong-si ngo-kui langsung kembangkan ilmu Ngo kui nau san yang paling mereka banggakan itu ternyata memang cukup lihay dan hebat juga. Baru beberapa jurus saja kelihatan Ang to bok sudah terdesak dibawah angin, gerak geriknya sudah kacau balau setiap saat menghadapi ancaman mara bahaya. sementara itu. Ah-liong ong meringkuk dibawah jendela sana, naga-naganya ia hendak mencari kesempatan untuk melarikan diri Karena kemenangan sudah terang bakal dipihaknya, siangsiang Tong-si-ngo-kui juga sudah memperhitungkan kejadian ini, maka tiba-tiba salah seorang dari ngo-kui melompat keluar dari gelanggang pertempuran langsung memburu ke-arah Ahliong-ong, sembari membentak.

"Ah-liong ong kau hendak lari "

Tampak pula sebuah bayanga dari seorang saudaranya ikut menerjang datang.

kepandaian silat Ang-liong ong biasa saja mana mungkin dapat menghindar diri dari cengkeraman lihay dari setan jahat ini.

Tiba-tiba dalam keadaan yang genting ini, mega putih kelihatan berkembang terdengar cniok-liong membentak gusar.

"Tong-si-ngo-kii jangan kalian mentang-mentang disini, lihat Tuan mudamu akan menghajar kalian."

Sebuah suit panjang yang melengking mengalun tinggi bergema sekian lamanya dari mulut Giok-liong, mega putih lantas melayang ketimur melebar ke barat bergulung-gulung, sebuah tangan putih halus tahu-tahu menyelonong tiba melancarkan sejurus tipu Cin-chiu, Hwat-bwe dan Tiam-ceng sekaligus.

seketika angin ribut bergulung seperti lesus memberondong kearah kedua musuh yang menerjang datang ini.

Terdengar jerit dan pekik kesakitan yang menyayat hati, darah berterbangan bau anyir darah lantas merangsang hidung.

Dua dlantara kelima Ngo-kui yang menerjang kearah Ah liong-ong itu sudah tamat riwayatnya, sesuai dengan nama julukan mereka kini benar-benar menjadi setan gentayangan toeng-hadap Giam-lo-ong.

salah seorang tengah terpental jauh tiga tombak, perutnya pecah dedel dowel seorang lagi otaknya pecah berhamburan, tapi tangannya masih mencengkeram kencang lengan Ahliong-ong, sehingga seluruh tubuh Ang-liong-ong menjadi kotor oleh darah dan cairan otak.

Ah-liong-Ong sendiri menggelendot diambang jendela, tubuhnya menjadi lemas dan tak kuasa mengeluarkan suara, lidahnya terjulur keluar berdiri menjublek seperti patung.

Tapi sepasang matanya yang bening memandang ke arah Giokliong dengan perasaan yang penuh haru dan terima kasih-Memang kalau bukan serangan telak Giok liong yang mematikan kedua setan itu, mungkin Ah liong ong sendiri yang bakal mampus, kalau bukan perut pecah tentu kepala hancur.

Tiga saudara yang lain begitu melihat dua saudara sendiri mati begitu mengenaskan dalam satu gebrak, betapa mereka takkan murka dan sedih-Berbareng mereka menjerit bersama lantas tinggalkan Ang To-bok serentak menerjang kearah Giok-liong dengan serangan dahsyat.

sudah tentu Giok-liong tidak pandang mata kepada ketiga musuhnya ini, bentaknya.

"Mampus "

Kedua tangannya didorong memapak ke depan, gulungan mega putih lantas menerpa dengan kekuatan yang menggetarkan "Blam"

Suara ledakan gegap gempita disusul suata runtuhan yang riuh rendah ternyata biara bobrok yang sudah tua ini menjadi runtuh berantakan karena sebuah tonggaknya kena terdampar oleh angin pukulan dahsyat tadiserasa pacah nyali tiga Ngo-kui yang masih sisa hidup inisalah seorang terdengar berteriak.

"Angin kencang "

Ia mendahului melesat keluar dari lobang runtuhan ini.

Dua saudara lainnya juga segera lari sipat kupingsementara itu, karena kehabisan tenaga Ang to bok tengah duduk bersimpuh semampai di kaki meja sembari mengempos tenaga mengembalikan semangatnya.

Ah liong-ong masih berdiri menjublek bagai patung dipinggir jendela.

Dari kejauhan diluar sana terdengar kokok ayam jago, agaknya hari sudah menjelang pagi-Giok liong tertawa dingin, katanya kepada Ang to bok-"Ang to bok-mengandalkan kemampuan ini, berani kau hendak merebut benda pusaka ke Bu ih-san, benar-benar mimpi dan menggelikan sekali, menurut hematku lebih baik kau belajar lagi dan melihat gelagat supaya tidak mengantar jiwa sia-sia."

Habis berkata dengan langkah lebar ia tinggalpergi keluar biara. Belum lagi ia beranjak sampai diluar pintu, mendadak Ang to bok membentak.

"Kemana kau"

Giok-liong menjadi gusar, hardiknya sambil membalik badan.

"Ang To-bok cari mampus "

Ang To-bok tengah merangkak bangun, dengan tawa getir ia berkata halus.

"Bukan...Bukan kau siau hiap Aku memanggil dia "

Ternyata secara diam-diam Ah liong-ong mengintil dibela kang Giok liong, juga hendak tinggal pergi, sepasang matanya terus menatap muka Giok-liong, mimiknya mengunjuk rasa terima kasih dan kagum mohon pertolongan lagi, tangannya bergerak-gerak serta mulutnya mengeluarkan suara aneh yang tidak dimengerti oleh Giok-liong, Tangannya menunjuk Ang To-bok lalu digoyang-goyang lalu menunjuk Giok-liong terus hatinya sendiri.

Ang To-bok yang tahu arti main tunjuknya ini menjadi geram, gerungnya.

"Bocah keparat, melihat yang baru kau lupakan yang lama kau ingin ikut dia pergi "

Dengan kalap ia menerjang kearah Ah-liong-ong. gesit sekali Giok-liong melejit menghadang di depannya, hardiknya dengan murka.

"Ang To-bok berani kau"

Ringan sekali ia menggeser tenaga serangan Ang to bok lela menepuk pundak Ah-liong-ong menenangkan hatinya.

Lalu katanya pula kepada Ang to bok-"Terhadap seorang cacat kau mengundal keberanianmu sikapmu begitu kasar sudah tentu ia ingin ikut orang lain, apalagi kepandaianmu hakikatnya untuk menyelamatkan jiwa sendiri masih kepalang tanggung masa kuasa melindungijiwanya pula?"

Lalu ia putar tubuh berkata keras kepada Ah-liong-ong.

"Untuk sementara waktu kau tetap bersama Ang To-bokikutlah kepadanya, karena Tong-si-ngo-kui akan selalu mengejar kau"

Ah-liong-ong menggerakkan kaki tangan-nya, mulutnya entah mengatakan apa yang tidak di mengerti

Tiraikasih WEBSITE

http.//kangzusi.com/ Giok-liong tertawa tawa, katanya keras.

"Aku tidak mengerti maksud ucapanmu."

Saking kewalahan Ah liong-ong memburu maju terus menarik lengan baju Giok-liong dan tak mau dilepas lagi.

Tahu Giok-liong bahwa orang hendak ikut dirinya-Tapi dirinya sendiri seperti awan mengembang yang kemana saja terhembus angin tiada sesuatu tujuan tertentu tak punya rumah lagi, kemana pula ia harus membawa seorang gagu ini.

Akhirnya ia berkeputusan, katanya kepada Ang To-bok.

"Orang she Ang, perlakukan baik-baik, tentu dia akan senang dan setia terhadap kau. Bakat pembawaan yang jarang ada ini sangat berguna bagi kejayaan kaum persilatan. Cukup sekian saja kata kataku kelak Kalau jumpa lagi kuharap kau masih membawa dia, kalau tidak aku Ma Giok-liong tentu akan membuat perhitungan dengan kau, ingat pesanku ini."

Lalu dengan gerak-gerak tangannya Giok-liong membujuk Ah-liong-ong, setelah itu baru bertindak ke luar dengan langkah lebar.

sang surya sudah memancarkan sinar cemerlang, hari sudah pagi-sesampai diluar Giok-liong menghirup hawa segar, di alam terbuka dengan hawa yang segar nyaman ini pikirannya menjadi tenang dan lapang, diam-diam ia ambil keputusan untuk menuju keBu ih san.

Demi memecahkan teka-teki rahasia riwayatnya sendiri, untuk ayahnya dan sebagai putra yang berbakti betapapun tugas suci ini harus dilaksanakan.

(Bersambung ke

Jilid 27)

Jilid 27 Pikirnya, meskipun Kim-ling-cu Cian-pwe berpesan supaya aku secepatnya menuju ke ping goan dilaut utara, mungkin urusan disana juga tidak kalah pentingnya.

Akan tetapi urusan di Bu-ih san ini menurut berita yang didapat ditengah jalan ini betapa juga dirinya tidak boleh ayal untuk segera menyusul kesana, semoga dirinya kelak tidak mendapat teguran karena perubahan arah tujuan ini.

Setelah mengambil keputusan tetap, disaat waktu masih pagi dan belum kelihatan orang berlalu lalang ini segera ia kembang-kan Leng-hun-toh, membelok kearah tenggara langsung menuju ke Bu ih-san.

Sepanjang jalan ini secara cermat ia awasi setiap orang yang berlalu lalang, betul juga didapatinya tidak sedikit kaum persilatan yang juga tengah menempuh perjalanan dengan langkah cepat, semua menunjukkan sikap tegang dan tergesagesa, sama pula tujuan arah mereka ke tenggara dimana letak Bu-ih san itu.

Supaya lebih cepat sampai ditempat tujuan, sedapat mungkin Giok-liong menghindar diri dari bentrokan dengan kaum persilatan Bukan begitu saja, malah pada tengah hari ia tekan tenaga dan menyedot hawa mengendalikan Iwekang pakaian juga berganti seperti pelancongan umumnya, sedikltpun ia tidak tunjukan gaya sebagai kaum persilatan.

yang terpenting selalu ia sengaja lewati kota-kota besar dan rumah penginapan, seadanya saja menginap di rumah petani atau gubuk pemburu serta beli makanan kering untuk ditangsel di tengah perjalanan setiap malam saat paling enak untuk melanjutkan perjalanan kilat.

Entah berapa hari telah lewat, hari itu ia sudah mulai memasuki daerah pedalaman pegunungan Bu ih-san.

Bulan sabit bertengger dicakrawala, bintang berkelap-ke diangkasa raya, hawa malam yang sejak menghembus halus sepoi-sepoi.

Di bawah sinar bulan yang redup ini, Giok liong melanjutkan perjalanan terus menerobos semak belukar dan jurang jurang, menurut perhitungannya sebelum terang tanah tentu dirinya sudah tiba di rawa naga beracun itu.

semakin dekat semangatnya semakin menyala, tenaganya terkerahkan kakinyapun melangkah semakin cepat.

sekonyong-konyong selarik sinar biru meluncur tinggi ke tengah angkasa terus meledak ditengah udara, cahayanya terang menyolok mata, Bersama itu dari semak belukar kanan kiri terdengar suara keresakan bayangan orang bergerakgerak disertai kilatan sinar senjata tajam.

Tanpa disadari Giokliong sudah masuk kepungan.

sesaat Giok-liong melengak, namun dilain saat ia menghimpun semangat mengerahkan hawa ji-lo melindungi badan, lahirnya berlaku tenang, kakinya terus melangkah menyelusuri jalan pegunungan kecil yang berliku-liku, tapi langkah kakinya mulai lamban.

Tiba-tiba sesosok bayangan kuning terbang menubruk datang, belum sampai suaranya sudah membentak.

"Berdiri "

Hilang suaranya bayangan itu sudah hinggap ditanah kira-kira tiga toaibak dihadapan Giok-liong.

dari penerangan cahaya bulan kelihatan orang ini tinggi kurus berusia lima puluhan mengenakan jubah kuning dari kain kaci yang tipis.

Cuaca pada saat ini musim dingin sedikitpun ia kelihatan tidak merasa dingin, terang kalau Iwekang sudah sangat tinggi, di belakang punggungnya menonjol keluar batang pedangnya, sikapnya kelihatan sangat garang dan angker.

Kepandaian tinggi membuat nyali Giok-liong besar dan tabah.

Apalagi sudah dalam perhitungan kalau berani meluruk keBu-ih-san ini paling tidak harus mengalami pertempuran besar melawan gembong-gembong silat kenamaan, maka sikapnya ini sangat tenang tanpa merasa sesuatu keganjilan, dengan senyum manis ia berkata tawar.

"Lo-tiang menyuruh aku berhenti"

Sudah tentu si orang tua jubah kuning ini tertegun malah, melihat sikap Giok-liong yang wajar tanpa kejut dan takut ini terasa aneh dan lucu baginya, maka dengan mengangkat alis ia menghardik bengis.

"Kalau tidak melarang kau siapa pula yang berada disini ?"

"oh Lalu kenapakah ?"

"Tidak karena apa "

"Kalau tidak ada persoalan, terpaksa aku yang rendah melanggar perintah "

Lalu dengan langkah semula ia beranjak maju ke depan, Giok-liong memang sengaja hendak menggertak orang, maka langkahnya kelihatan pelan, namun waktu kakinya menutul tanah, dimana Leng-hun-toh dikembalikan tahu-tahu tubuhnya berkelebat laksana bayangan telah melesat lewat disamping si orang tua yang berdiri tegak tiga tombak di depannya.

"Hah "

Orang tua jubah kuning terbelalak sambil mengucekngucek matanya, belum sempat ia berkedip tahu-tahu bayangan putih berkelebat lewat terus menghilang, keruan saking kejut mulutnya berteriak.

"Apa aku melihat setan ?"

"Hehehe, bukankah aku berada disini"

Mendengar suara Giok-liong bicara di-belakangnya orang tua jubah kuning tersentak kaget seperti disengat kala, sambil bersitegang leher bergegas ia memutar tubuh sambil melolos keluar pedang dari punggungnya, dengan gaya dibuat-buat ia menghardik bengis.

"Bedebah, kau setan atau manusia ?"

Giok-liong menjadi geli dan dongkol, desisnya.

"pandangan orang kampung Katak dalam sumur yang tidak melihat betapa besarnya dunia ini"

Orang tua jubah kuning menjadi murka diolok-olok, bentaknya geram.

"Buyung kurang ajar"

Pedangnya terus menusuk dan menerjang dengan tendangan pula.

Giok liong tertawa dingin, tangan kirinya berputar setengah lingkaran di udara, sedangkan jari tangan kiri seperti cakar mencengkeram pergelangan tangan musuh yang memegang pedang cara kerjanya secepat kilat dan indah sekali "Wah"

Orang tua jubah kuning lagi-lagi menjerit sempoyongan tujuh kali sambil menarik pedangnya-Meski sasaran serangannya tidak berhasil hanya cukup menggertak mundur musuh, Giok-liong menjadi segan melanjutkan aksinya, maka ejeknya tawar.

"Hm Mengandal kemampuanmu ini, apa tidak malu ditertawakan orang."

Orang tua jubah kuning semakin berjingkrak gusar seperti kebakaran jenggot, teriaknya sambil membanting kaki.

"Keparat Kau menghina Lohu yang tidak becus ini"

Giok liong tertawa gelak, ujarnya.

"Bukan aku menghina kau tidak tidak becus. kenyataan bahwa kau sendiri yang tidak becus"

"Mati aku saking jengkel, lihat pedang"

Sinar pedangnya bergerak lincah dan cepat sekali seperti bianglala laksana titik sinar bintang kelap kelip yang rapat dan kokoh serta keji, terang inilah ilmu pedang aliran tingkat tinggi yang cukup hebat.

Tapi apa boleh buat, betapa juga kepandaian setingkat ini masih jauh dibanding kemampuan orang lain betapapun tak dapat dipaksakan seperti orang sering berkata telur ayam diadu dengan batu, hancurlah.

Baca Juga: Kisah Si Pedang Kilat 7

Baca Juga: Suling Emas 2

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert