Ceritasilat Novel Online

Seruling Samber Nyawa 10

Eps 10 Seruling Samber Nyawa - Chin Yung

Baca online Seruling Samber Nyawa - Chin Yung

Cersil Seruling Samber Nyawa - Chin Yung.

Memang cara permainan ilmu pedang orang tua jubah kuning ini cepat gesit laksana angin lesus, malah sangat sempurna dalam latihan dengan tekanan titik yang mengancam kelemahan lawan, ini sudah boleh terhitung angkatan kelas satu pada kalangan persilatan.

Sayang lawan yang dihadapi adalah Ma Giok liong, tunas harapan Bulim yang paling berbakat, kalau dibanding dan dibedakan laksana bumi dan langit, sedikitpun orang tua ini tak mampu memperlihatkan kewajibannya.

Menghadapi ilmu pedang yang lihay ini Giok liong berlaku sangat tenang seperti dirinya tidak diserang sama sekali, setiap gerak luncuran ujung pedang musuh selalu diikuti oleh pandangan matanya, kalau ujung pedang benar-benar menusuk datang pada detik yang menentukan mendadak ia menekuk dada atau menggeser kedudukan kesamping atau mundur maju dengan lincah sekali.

Kadang kala ia ulurkan tangan seperti orang hutan memetik buah dengan ujung jarinya menjepit pedang musuh, atau balas menyerang dengan tutukan jari di badan penting musuh.

gerak serangan balasan Giok liong selalu tepat dan lincah sekali tak terduga lagi sebelumnya, jalan darah yang diarah juga telak sekali, keruan hanya dengan gerak gerik gertak sambil ini saja cukup membuat musuhnya kelab akan setengah mati

Tiraikasih WEBSITE

http.//kangzusi.com/ Suatu ketika terdengar orang tua itu mengeluh tertahan lantas terdengar suara kerontangan, kiranya pedang panjangnya terpental jatuh ke tanah-"Hahahaha"

Giok-liong bergelak tawa terloroh-loroh, suaraku bergema dialam pegunungan yang sunyi lengang ini.

"Lohu mengadu jiwa dengan kau "

Sembari menjerit murka si orang tua jubah kuning lantas menyerbu datang dengan kedua kepalannya, nyata bahwa ia sudah berlaku nekad untuk mengadu jiwa.

Melihat orang berlaku kalap seperti kesetanan dengan serangan kepalan yang cukup ganas lagi, Giok-liong sendiri menjadi keripuhan, sembari melayani serangan musuh terdengar ia berteriak.

"Kau ingin mengadu jiwa, apa kita bermusuhan dan dendam kesumat ?"

Seperti harimau gila orang tua jubah kuning ini menyerbu terus sambil lancarkan pukulan yang gencar, sedikitpun ia tidak hiraukan kepalan tangan Giok-liong yang bakal mendarat diatas tubuhnya, seumpama betul-betul kena, jiwanya tanpa ampun tentu melayang, justru ini memang menjadi tujuannya untuk gugur bersama.

sudah tentu Giok liong tidak sudi adu jiwa, oleh karena itu terang ia berkesempatan melancarkan tutukan jarinya atau sebuah pukulan yang mematikan, tapi betapapun ia harus menjaga diri untuk menolong jiwa sendiri.

Begitulah pertempuran yang agak lucu dan ganjil ini berjalan terus dengan sengitnya sekejap saja lima puluh jurus sudah lewat keadaan masih seperti semula sama kuat tiada yang penghabisan Lama kelamaan Giok-liong menjadi gelisah sendiri, pikirnya, cara tempur begini berlangsung terus tentu tiada akhirnya, sampai kapan nanti baru bisa selesai.

Tiba-tiba ia mencelat mundur tujuh langksh bentaknya.

"Aku sudah mengalah begitu jauh, kalau Lotiang mendesak terus jangan salahkan aku sampai kelepasan tangan"

Orang tua jubah kuning sudah megap-megap kelelahan dengus napasnya seperti hembusan kerbau, saking mangkel ia lantas membentak mengertak gigi.

"selama hidup ini Lohu belum pernah main keroyokan, sebetulnya aku benci main keroyokan tapi, sekarang apa boleh buat"

Habis berkata mendadak ia menjebirkan bibir terus mendongak keatas bersiul panjang, suaranya melengking tinggi menembus awan.

Reaksi dari siulan panjang ini sungguh diluar dugaan, serempak terdengar derap langkah yang ramai dari berbagai penjuru hutan sekelilingnya lantas kelihatan bayangan banyak orang bergerak sembari menghunus senjata tajam.

Nyata bahwa diantara rumpun pohon dan semak belukar sana sudah terpendam bala bantuan yang siaga.

Kini setelah mendengar tanda aba-aba serentak mereka menyerbu keluar langsung meluruk ke arah Giok-liong, jumlah mereka tidak kurang sebanyak dua tiga ratus orang.

Sungguh hebat dan menggetarkan nyali perbawa barisan ini sudah tentu Giok-liocg bercekat, pikirnya.

"Kedua kepalanku ini betapa juga susah menghadapi musuh begitu banyak, seorang laki-laki paling gemas menghadapi keroyokan, untuk mearang aku pantang membunuh sudah tidak mungkin lagi."

"Aku harus turun tangan lebih dulu."

Seiring dengan kilas pikiran dalam benaknya ini Giok-liong lantas menggerakkan kedua kepalannya seraya membentak gusar.

"mau-main keroyokan, silakan, kalau kalian ingin lekas mati"

Orang-orang yang mendesak datang dari empat penjuru itu sekarang sudah tinggal jarak tiga tombak saja semua siap siaga menyerbu tinggal tunggu komando saja.

Terlihat orang tua jubah kuning angkat sebelah tangannya mulutnya berseru keras.

"Pun ciang-bun melanggar undang-undang puluhan tahun, para murid dengar perintah keroyok dan hancur leburlah badannya"

"Bunuh..."

"Sikat...."

Teriakan aba-aba yang semakin ramai dan semangat ini gegap gempita menggetarkan alas pegunungan dalam hutan lebat ini.

Coba bayangkan betapa keras dan menakutkan pcebawa gemboran keras dari gabungan dua tiga ratus orang.

sabar ada batasnya, demikianlah keadaan Giok liong karena didesak demikian rupa akhirnya ia menjadi nekad teriaknya.

"jangan salahkan tanganku yang main keji ini"

Tubuhnya berputar seperti gangsingan, dimana kedua tangannya bergerak memutar menimbulkan angin kencang menahan serbuan musuh, tak lupa hawa ji-lo dikerahkan sampai puncak tertinggi tiba-tiba ia melejit maju setombak terus lancarkan serangannya.

Serbuan ratustan musuh yang mengepung itu laksana air bah dan terjangan ribuan kuda liar, gelombang mega putih yang besar selulup timbul bergerak lincah diantara sekian ratus orang banyak yang seliweran melancarkan serangan ganas tak mengenal kasihan lagi.

Tapi dimana gelembung mega putih itu sampai seketika pasti terdengar jerit dan teriakan kesakitan yang mengenaskan, nafsu membunuh Giok-liong sudah menghantui sanubarinya, tanpa banyak rintangan segera ia kembangkan sam-ji-cui-hun-chiu, selalu ia mengerahkan pukulannya ketempat dimana kelompok manusia paling banyak, sudah tentu orang-orang menjadi korban konyol.

Orang tua jubah kuning berkaok-kaok berang, aba-abanya menjadi semakin deras, namun serta melihat anak buahnya jungkir balik dan satu persatu berguguran, tiba-tiba ia menjerit panjang, seperti banteng ketaton segera ia menyerbu tiba dengan kedua kepalan yang mengancam jiwa, melihat pimpinan mempelopori penyerbuan gelombang kedua ini anak buahnya menjadi lebih semangat lagi, serbuan semakin gila gila tak mengenal apa artinya maut, betul-betul pantang mundur.

Keruan Giok-liong semakin beringas, pikirnya.

"menangkap berandal harus meringkus pentolannya dulu, kalau ular tanpa kepala tentu tak dapat bergerak banyak, terpaksa aku harus membekuk orang tua kepala batu ini, masa takut anak buahnya tidak bertekuk lutut menghentikan rangsakan yang edan-edanan."

Tiba-tiba ia mencelat tinggi ketengah udara, lalu meluncur turun seperti seekor elang langsung menyamber ke arah orang tua jubah kuning itu mulutnya berteriak.

"Tua bangka sudah gila kau"

Sebetulnya orang tua jubah kuning sudah gentar, namun mulutnya masih bandel "Keparat kau Lohu bersumpah takkan hidup berdampingan dengan kau"

Anak buah di-sekelilingnya seiring dengan tubrukan Giokliong ini, bergegas mereka memburu kearah ketuanya untuk melindungi jiwanya.

Tapi saking banyak jumlah mereka, mempunyai itikad yang sama pula, sehingga antara kawan sendiri siling berdesekan, gerak gerik kurang bebas dan tangkas, mana mungkin dapat mengungkuli kecepatan Giokliong yang cekatan dengan dilandasi Iwekang yang tinggi lagi.

Terdengar ia bersuit sekali, setelah menyedot hawa terus berseru.

"Kemarilah "

"Aduh"

Terdengar orang tua jubah kuning mengeluh tertahan, sambil berontak sekuat tenaga, namun sia-sia belaka karena jalan darah dipundak kena dipencet oleh Giok-liong sedang tangan kanan mengancam jalan darah Giok-sia yang mematikan.

Cara turun nya tangan Giok-liong ini betul betul secepat kilat, belum lagi para pengepungnya melihat tegas, tahu-tahu sang ketua sudah diringkus menjadi sandera pihak musuh, terdengar Giok-liong membentak lantang.

"siapa berani bergerak, ku bunuh dia dulu"

Karena jalan darah besar dipencet, orang tua jubah kuning menjadi pucat dan ketakutan sedikit bergerakpun tidak berani, saking gusar air mukanya menjadi pucat dan basah oleh keringat dingin, bibirnya membiru dan gemetar, demikianjuga seluruh tubuhnya bergidik.

Anak buah yang mengepung diempat penjuru menjadi tertegak diam tanpa bersuara diliputi gelapnya sang malam.

Giok-liong berkata lantas.

"Aku yang rendah selamanya belum kenal dengan kalian, belum pernah mengikat permusuhan dan sekarangpun tiada dendam kesumat kalian.. ."

Tak kira orang tua jubah kuning yaag jalan darahnya sudah terpencet dan mati kutu tiba-tiba berontak berteriak beringas.

"Kalian serbu terus sampai titik darah penghabisan tegakkan dan lindungilah nama baik perguruan kita, aku mati tidak menjadi soal, lekas serbu bersama"

Giok-liong menjadi sengit, hardiknya.

"Kau betul-betul tidak takut mati ?"

Tanpa menyahut gentakan Giok-liong, orang tua jubah kuning berteriak lagi dengan suara serak.

"Kalau tidak menumpas bocah kurcaci ini, tentu perguruan kita tiada kesempatan hidup jaya dan sentosa di rimba persilatan. Mari para muridku hayo turun tangan, jangan pedulikan jiwa ku yang tak berarti ini"

Baru saja Giok-liong berniat merintangi, tahu-tahu di antara kelompok pengepung itu ada orang berteriak-"Ketua berkorban demi nama baik perguruan. Hayo kawankawan serbu bersama"

"Maju Serbu "

Gegap gempita bersahutan, beratus orang menyerbu sambil menggerakan senjata tajam tanpa hiraukan lagi sang ketua yang dijadikan sandera ditangan Giok-liong.

Nyata kemurkaan masa memang tukar dibendung lagi.

kejadian ini benar-benar diluar sangka Giok liong, akhirnya ia menjadi sengit pula, teriaknya.

"Kubunuh..."

Sekonyong-konyong -"Giok liong jangan "

Bentakan serak ini laksana samberan geledek seperti keluhan naga kumandang di tengah udara, suarnya, tidak keras tapi tebal kuat dan kokoh terdengar jelas sekali, sampai mendengung dipinggir kuping menggetarkan langit dan bumisupyr gaduh, dari ratusan orang itu menjadi sirap tertelan oleh gema yang menusuk telinga ini-Giok-liong sendiri jaga tersentak kaget seperti baru siuman dari impian batinnya.

"suara ini kukenal betul... ."

Belum lagi habis pikirannya mendadak ia lepaskan cengkeraman sebat sekali tubuhnya lantas melenting tinggi tiga tombak langsung meluncur kearah tanjakan tinggi dari mana suara tadi terdengar, ditengah udara ia berteriak dengan nada kegirangan dan penuh kejut.

"suhu suhu "

Dibawah penerangan cahaya bulan yang redup kelihatan diatas batu yang menonjol keluar diatas gugusan puncak sebelah kiri sana berdiri seseorang laksana malaikat dewata, jubah panjang melambai terhembus angin.

Beliau bukan lain adalah majikan Lembah kematian salah satu dari Ih-lwe-sucun Toji Pang Giok-Tampak air muka Toji Pang Giok serius, alis yang lentik memutih diangkat tinggi, mata jehnya memancar sinar terang dan tajam berwibawa, sikap yang sungguh dan angker ini sedikitpun tiada tawa serinya, sekian lama ia hadapi Giok liong tanpa bersuara.

Kecut perasaan Giok iiok.

tersipu-sipu ia bertekuk lutut terus menyembab, sapanya.

"Suhu"

Dingin muka Toji Pang Giok, dengusnya.

"Kau masih ingat aku ?"

Tanpa marah sudah memperlihatkan perbawanya yang menggetarkan hati, nadanya berat. Giok liong tersentak kejut, berulang-ulang ia menyembah tanpa berani angkat kepala, ratapnya.

"Harap suhu suka mengoreksi "

Toji Pang Giok mendengus keras, tanpa hiraukan Giokliong, tidak menyuruhnya bangun tiba-tiba ia kebutkan lengan bajunya enteng sekali badannya lantas melayang turun dari puncak bukit entah bagaimana ia bergerak tahu-tahu di kejap lain ia sudah hinggap dihadapan orang tua jubah kuning itu, katanya berseri sambil unjuk hormat.

"cio Ciang-bun Baik-baik saja selama berpisah "

Kiranya orang tua jubah kuning ini adalah Ciang-bun-jin dari aliran Bu ih-pay, beliau bukan lain Im yang-kiam cio Beng-hui yang kenamaan itu.

sebagai tertua dari I-lwe-su cun kedudukan tingkat Toji Pang Giok boleh dikata sangat tinggi tiada keduanya yang di dunia persilatan.

Meskipun Im yang-kiam cio Beng-hui sebagai ketua dariBu-ih pay, kalau mau dikata menurut urutan aturan kalangan persilatan boleh dikata tiada hak untuk dijajarkan dengan kedudukan Toji Pang Giok-Pada waktu Go Beng-hui masih ingusan sebagai kacung diBu-ih pay, nama Toji Pang Giok sudah menggetarkan maya pada ini, tokoh kelas satu yang disanjung puja, dulu memang mereka pernah bertemu muka sekali, sekarang sudah berselang puluhan tahun, menurut perkiraannya Toji Pang Giok Giok tentu seorang orang tua bangka yang sudah reyot dan ubanan.

Tak terduga setelah bertemu mula baru dilihatnya tegas, bahwa Toji Pang Giok ternyata masin begitu segar dan sehat, sikap dan semangatnya masih begitu kuat dan muda-Tak heran lantas timbul rasa hormatnya tersipu-sipu ia membungkuk dalam balas menghormat seraya sapanya.

"Beng-hui menghadap pada Ciang-pwe "

Anak murid Bu ih-pay hanya pernah dengar akan keharuman nama ToJi Pang Giok, selamanya belum pernah melihat.

Kini melihat sang ketua begitu hormat, dan merendah terhadap orang, seketika mereka turut membungkuk dengan hormat, menghela napas besarpun tak berani.

Karena hormat Go Beng-hui yang merendahi diri ini Toji Pang Giok menjadi rikuh cepat ia berkata.

"Kenapa Go Ciang bun begitu sungkan. Muridku yang nakal dan kurang ajar itu, biarlah aku orang she Pang yang mintakan maaf dan ampun baginya "

Im-yang-kiam Go Beng-hui menjadi terkejut, berulang kali ia mengiakan.

"Mana Wanpwe berani terima, tak berani terima "

Toji Pang cijiok mendongak dan membentak berat kearah Giok-liong yang masih berlutut di puncak gunung sana.

"Giok-liong Kemari"

Giok-liong menjadi ketakutan, bergegas ia meluncur turun terus berdiri disamping menundukkan kepala tak berani bersuara.

Menurut adat kebiasaan dalam aturan kalangan Kangouw, sesuatu aliran atau golongan kalau hendak menghukum atau melaksanakan hukuman menurut undang-undang perguruan tak boleh ada orang luar hadir Maka cepat-cepat Go Beng-hui maju selangkah, katanya.

"Cian-pwe berkunjung keBu-ih-san, Wanpwe tidak menyambut selayaknya, harap suka dimaafkan sebesarbesarnya "

Toji Pang Giok tertawa, ujarnya.

"Aku malah mengganggu kalian, tak perlu sungkan"

Kata Im yang-kiam Go Beng hui.

"Akhir akhir ini banyak urusan di wilayah kita. Belakangan ini kulihat banyak kaum persilatan yang meluruk datang dan mengobrak-abrik tempat semayan kita disini-Karena itu untuk melindungi nama baik perguruan yang didirikan oleh para Cosu, tak dapat tidak kita harus bertindak tegas, tak duga-tak duga..."

Toji pang Giok manggut-manggut, ujarnya.

"Memang benar ucapan Go Ciang-bun, sudah jamak dan semestinya kalian bertindak demikian "

Kuatir berlarut membicarakan pertikaian yang memalukan barusan tadi, Go Beng-hui segera mengalihkan pokok pembicaraan katanya tertawa getir.

"Urusan ini sudah kujelaskan maka Wanpwe mohon diri "

"Go Ciang bun silakan"

"Mari pulang "

Dengan lantang Go Beng-hui memberi perintah pada anak buahnya, sekejap saja mereka beriring mengundurkan diri menghilang dilamping sebelah kiri Di pegunungan yang sunyi di bawah penerangan cahaya bulan yang remang-remang kini tinggal Toji Pang Giok dan Giok-liong berdua.

Memberanikan diri Giok liong coba bertanya mengambil hati.

"Suhu selama ini apakah baik-baik saja kau orang tua ?"

"Kau duduk "

ToJi Pang Giok membentak dengan suaya berat. Lalu ia melangkah dua tindak memilih sebuah batu besar dan duduk dengan angkernya. Mana Giok-liong berani duduk, mulutnya mengiakan terbata-bata.

"Dimana Tecu ada kesalahan, harap guru berbudi suka menghukum"

"Baik, asal kau masih mengaku aku sebagai gurumu, terhitung hati nuranimu belum padam, kau masih punya perasaan "

Giok-liong bergidik seram, mulutnya hanya mengiakan saja.

"Coba kutanya,"

Kata Toji Pang Giok.

"selama kau kelana di Kangouw, apa saja yang pernah kau lakukan ?"

"Tecu memang bersalah, boleh dikata satupun tiada yang sukses."

"Kaupun tahu bukan saja tiada satupun yang beres, malah mencuci bersih seluruh Go bi, menimbulkan kemarahan delapan partai besar yang meluruk mencari perkara kepada gurumu-"

"Pencucian bersih pihak Go-bi, bukan perbuatan Tecu "

"Aku tahu bukan perbuatanmu tapi kalau kakimu sudah terbenam kedalam lumpur maka kau harus berusaha mencucinya sampai bersih untuk membuktikan kesucian diri "

"Benar, Tecu pasti akan menyelesaikan hal ini"

"Masih ada lagi, kau berkutet dan bermain pat-gulipat tiada habisnya dengan pihak hutan kematian, sehingga mengorbankan jiwa Wi-thian-ciang Liong Bun"

"Tecu memang harus dihukum"

"Yang paling menyengitkan adalah kau memimpin para kawanan anjing menyerbu ke-tempat semayan sip-hiat-Hongpian Koan le kini dan melukai muridnya siau-pa ong"

"Harap suhu suka periksa bersekongkol dan memimpin gerombolan liar adalah salah paham belaka, tentang melukai siau pa ong..."

"Kau tak perlu main debat"

"Keadaan Tecu waktu itu memang sangat terdesak terpaksa harus berbuat begitu"

"Gurumu selama ratusan tahun berkelana di kalangan Kangouw, belum pernah terjadi sampai terdesak atau kepaksa berbuat sesuatu yang melanggar hukum, Masa kau harus dihargai secara istimewa? Ketahuilah, membina diri dan menyempurnakan jiwa tergantung dari pribadi masing-masing jangan kau sesalkan orang lain kalau sesuatu terjadi atas dirimu."

"selanjutnya Tecu pasti membatasi diri dan mematuhi petunjuk Suhu"

"Petunjuk guru? Hm Hm"

Bentak ToJi Pang Giok.

"main gagah-gagahan dan senang berkelahi, hari ini berjanji dengan orang besok menantang orang berkelahi, sehingga gurumu ini terpaksa harus meluruk ke yu-bing-ma khek-bertanding Iwekang dengan iblis itu, karena tidak tega membuka pantangan membunuh selama dua ratus tahun ini, akhirnya terjadi penyelesaian yang cukup memalukan ini semua gara-gara perbuatanmu yang mengakibatkan timbulnya bibit perkara yang menimpa gurumu, bagus ya perbuatanmu?"

Keringat dingin membanjir keluar membasahi seluruh badan Giok liong. Hening sejenak Toji Pang Giok menghela napas panjang lalu berkata lagi dengan suara tertekan .

"Coba katanya lagi Kau kumpulkan para nona cantik itu di Kau ji san, cara bagai mana kau hendak menyelesaikan urusan mereka?"

Mimpi juga Giok liong tidak menyangka bahwa segala perbuatan dirinya selama kelana dikangouw, semua sudah diteropong dan diawasi oleh gurunya sedemikian jelas tak mungkin dirinya membela diri, maka untuk sesaat lamanya ia terbungkam seribu basa.

Suara Toji Pang Giok mendadak meninggi keras "perkara Hwi hun cheng bagaimana pula kau hendak membereskannya?

Hayo bicara?"

Gemetar seluruh tubuh Giok liong, dengan lemas lunglai ia berlutut lalu menyembah berulang-ulang.

Toji Pang Giok menarik muka, sikapnya dingin, bentaknya "Menurut undang undang perguruan, lalu sudah tahu cara bagaimana kau harus dihukum?"

Nada kata-kataaya bengis dan keras laksana geledek di siang hari bolong, laksana sebuah pentung yang mengemplang kepala Giok liong.

selamanya Giok liong belum pernah melihat gurunya marah begitu besar, sebesar ini belum pernah pula dimaki dan di tegur begitu keras, keruan ia menjadi gemetar dan merinding.

Agak lama kemudian baru ia berkata terbata-bata.

"Harap suhu suka jatuhkan hukuman."

Toji Pang Giok semakin murka, hardiknya.

"Tarik kembali ilmu silatmu, bikin cacat kaki tangannya, usir dari perguruan dan diumumkan kepada seluruh Bulim"

Giok liong bagai mendengar bunyi geledek di pinggir telinganya tersentak kaget berdiri terus menubruk maju berlutut dan memeluk kedua kaki suhunya.

suara Toji Pang Giok masih terdengar kereng dia berat.

"Kusangka setelah menyempurnakan kau bisa dibuat bekal untuk menumpas segala kejahatan daa mala petaka di-Bulim, untuk menyambung kemurnian, perguruan ji bun kita. siapa sangka dimana-mana kau bermain romantis mengandal kepandaian malang melintang membuat onar demi kepentingan pribadi-"

"Cukup, cukup Apa kau mau menindas bocah ini sehingga mati ya"

Sebuah suara nyaring merdu laksana kicauan burung kenari terdengar mendatangi, sekejap saja hidung juga lantas terangsang bebauan wangi yang menyegarkan.

Dengan mata mengembeng air mata tersipu-sipu Giok liong memburu kearah Kim Ling cu serta memberi hormat, sapanya .

"Bibi, terimalah sembah Tit-ji."

Laksana dewi dari kahyangan pakaian Kim Ling-cu melambai-lambai meluncur di-hadapan mereka. Toji pang Giok juga tersipu-sipu bangun sambil membetulkan pakaiannya, serunya .

"Ji moay"

Kim ling cu mengulur tangan menggandeng tangan Giokliong, ia diseret kehadapan Pang Giok-katanya tersenyum manis.

"Kau ini guru agama yang nganggur tak ada kerjaan mungkin, bocah ini tengah menghadapi persoalan yang menegangkan dengan gertakanmu tadi untuk melanjutkan cara bagaimana ia harus terjun kembali ke-dunia persilatan"

Tetap dengan sikapnya yang keren dan berwibawa Toji Pang Giok berkata.

"Kalau kedatanganku sedikit terlambat saja, aliran Bu ih bakal terbabat habis di tangannya pula"

Sebetulnya Giok-liong merasa dongkol dan penasaran ada alasan untuk membela diri, tapi melihat sikap garang suhunya untuk marah-marah itu, hatinya menjadi ciut dan tak berani banyak berkutik, sebaliknya Kim-ling-cu berkata dengan sewajarnya "Sudah jamak terjadi dalam dunia persilatan yang kuat menang yang lemah binasa, kebijaksanaan hanya bisa dilaksanakan pada diri orang-orang yang kenal aturan.

Kalau dia tidak turun tangan apa suruh antar jiwa sendiri di ujung golok musuh-Ku tanggung kalau murid kesayanganmu ini binasa kau sendiripun akan bersedih, paling tidak bakal membikin malu nama baik golongan ji-bun kamu"

Toji Pang Giok menjadi bungkam seribu basa, selang berapa lama baru ia berkata sambil menghela napas.

"Ai, takdir selalu mempermainkan manusia"

Kim ling-cu terkikik geli, ujarnya.

"Bocah ini serahkan kepadaku silakan tinggal pergi"

Toji Pang Giok sudah beranjak hendak tinggal pergi, tapi baru dua langkah tiba tiba ia putar balik dengan sikap kereng ia memberi peringatan kepada Giok-liong.

"urusan dirawa naga beracun mempunyai sangkut paut yang penting dengan asal usul riwayatmu. Maka gurumu takkan merintangi keberangkatanmu ini. Tapi ada satu undang-undang yang harus kau patuhi betul "

Lekas-lekas Giok-liong menyembah serta katanya.

"Harap unsu memberi petunjuk"

Kata Pang Giok lantang.

"Betapapun kejadian kularang kau membunuh orang, kalau tidak biarlah kita putus hubungan antara guru dan murid, anggap saja selama ini kita tidak kenal satu sama lain, selanjutnya jangan kau sebut-sebut nama ji bun"

Kim-ling-cu menjadi melenggong, tanya nya tertegun.

"Mana bisa begitu ?"

Giok-liong menduga, berapa banyak gembong-gembong silat dan Para iblis, ia kini telah meluruk datang ke Rawa naga beracun itu, menghadapi musuh sedemikian banyak adalah janggal sekali untuk tidak sampai melukai atau membunuh jiwa seseorang.

Tapi mana ia berani main debat di hadapan gurunya, sambil memandang kearah Kim-ling-cu berteriak.

"suhu.. ."

Kata Pang Giok keras "sudah cukup sekian saja, keputusanku jangan digugat lagi."

Cepat-cepat Kim-ling-cu ikut menyela.

"Kalau sebentar dengan para iblis .. ."

"Jimoay "

Segera Pang Giok menukas kata-kata Kim ling cu dengan panggilannya ini, lalu katanya pula dengan nada serius.

"Kau sudah dengar belum ?"

Mana Giok-liong berani bertingkah-sahutnya tergagap.

"Tecu sudah dengar"

"Bagus "

Sekejap saja TOji Pang Giok lantas melayang jauh dan menghilang dari pandangan mata.

Giok liong berteriak keras, baru sekarang ia berani menangis sekeras-kerasnya.

Memang pembawaan sifatnya sangat keras dan ketus, tapi menghadapi guru yang berbuat di sini meski ia merasa sangat penasaran, betapa juga ia tidak berani mengumbar adatnya, sekarang setelah gurunya pergi, tak tertahan ia lampiskan kedongkolan hatinya dengan tangis gerung-gerung.

Kim ling-cu terkekeh geli, sambil mengelus kepalanya dengan sikap yang halus dan penuh kasih sayang ia berkata lembut.

"Anak bodoh, gurumu sudah pergi jauh, buat apa kau menangis ? sudahlah jangan bersedih "

Sejak berpisah dengan ibunya belum pernah Giok-liong mendengar bujukan serta suara yang begitu halus penuh kasih sayang, seketika timbul rasa hangat dan terkenang akan ibunya, rasa duka membuat tangisnya menjadi keras ia menubruk kedalam pelukan Kim ling cu dan menangis sepuaspuasnya.

secara batiniah Kim-ling cu dapat menyelami betapa dalam dan gersang perasaan anak yang sejak kecil kehilangan cinta kasih orang tuanya ini, maka tanpa banyak bujukan lagi, tangannya menepuk-nepuk punggung Giok liong, sedang tangan yang lain menyeka air mata dipipinya.

Seperti rebah dalam haribaan sang ibunya yang tercinta Giok-liong mengumbar rasa dukanya.

Entah berapa lama berselang, pelan-pelan Kim ling-cu mengangkat dagu Giok-liong, ujarnya penuh prihatin.

"sudah Nak, rasa duka dan dongkolmu sudah terlampias belum "

Teringat akan peringatan suhunya sebelum pergi tadi, Giokliong menjadi kememek fagi, katanya sambil mengembeng air mata.

"Bibi, suhu dia orang tua .. ."

"Kau tak perlu hiraukan dia lagi,"

Ujar Kim Ling cu tersenyum "segalanya biar aku yang tanggung jawab"

Sungguh Giok liong sangat berterima kasih, namun betapa juga ia tidak berani melanggar pesan gurunya, katanya sayu.

"Terima kasih Bibi, tapi menurut pendapatku tak usah ikut campur segala urusan di pegunungan Bu-ih-san ini, sebab seumpama..."

Belum selesai Giok liong bicara, Kim-ling cu sudah berkata.

"Begitu mendengar kabar urusan di Rawa naga beracun sudah tersiar luas dikalangan Kangouw, aku kuatir kau sudah jauh menuju ke Laut utara, maka aku lantas menyusulmu kesana, Ditengah jalan baru kuketahui bahwa kau sudah putar balik dan telah memasuki pegunungan Bu-ih-san ini. urusan kali ini menyangkut kepentingan riwayatmu, budi orang tua setinggi gunung, mana bisa kau lepaskan kesempatan terakhir ini-Asal kau berpedoman sedikit turun tangan kejam dan tidak melukai jiwa orang saja. urusan macam ini aku dan gurumu tidak leluasa ikut campur, maka kau harus kuat bersabar dan mengendalikan diri-Tentang beringatan gurumu tadi kau tak perlu kwatir."

Betapa besar rasa terima kasih Giok-liong, serta merta ia menubruk maju terus menyembah berulang-ulang. Cepatcepat Kim-lingcu menarik bangun, katanya.

"Buat apa kau banyak peradatan. segera kau pergi, kalau urusan disini sudah selesai cepat-cepat menyusul ke ciokyang"

"Lalu perjalanan ke laut utara .. ."

Tersipu-sipu Giok-liong berkata.

"Nantikan saja setelah pertemuan di Gak-yang nanti, mungkin aku sendiri harus pergi bersama kau ke Ping-goan di laut utara "

"Bibi terlalu baik terhadap aku"

"Anak bodoh, apakah perlu diantara kita main sungkan apa segala."

Seiring dengan gelak tawanM yang merdu nyaring dan suara kelintingan yang melengking tinggi, kelihatan Kim lingcu mengebutkan lengan bajunya, laksana seekor bangau terbang sekejap saja bayangan putih telah melayang jauh dan menghilang.

"Bibi "

Giok-liong berseru memanggil sambil melesat tinggi sejauh tiga tombak-"Nak-kunanti kedatanganmu di Gak-yang lau "

Dari kejauhan terdengar seruan Kim-ling cu.

Terpaksa Giok-liong menghentikan pengejarannya, sambil menghela napas ia menjublek di tempatnya sambil memandang jauh kebawah gunung sana-Sekonyong-konyong suara suitan panjang lalu disusul suara gemuruh yang menggetarkan terdengar dari bawah bukit sana-Di lain kejap terlihat selarik sinar biru yang menyala terang meluncur ke tengah angkasa dari hutan gelap dikejauhan sana, sekejap saja sinar biru menyala itu telah meluncur turun diatas bukit tak jauh kira-kira puluhan tombak dimana Giok-liong berada-Giok-liong menjadi tercengang, batinnya.

"Iblis dari aliran mana lagi ini ? Kalau menurut tabiat biasanya tentu segera memburu kesana untuk melihat dengan mata kepala sendiri. Tapi sekarang ia sudah berpedoman, lebih baik tiada tersangkut paut dalam suatu perkara daripada terlibat dalam suatu pertikaian. supaya tidak melanggar larangan gurunya, walaupun Kimling cu sendiri sudah memberi hati hendak menanggung segala sepak terjangnya, tapi bagaimana juga kalau bisa berlaku sabar dan menghindari saja. Karena itu pelan-pelan ia memutar tubuh terus beranjak turun gunung. siapa tahu tiba-tiba terdengar lambaian pakaian yang menderu terhembus angin. Dari belakang gunung sebelah sana terlihat puluhan bayangan hitam laksana kilat meluncur ditengah udara langsung melesat kearah di mana sinar biru tadi lenyap. Jelas kelihatan puluhan bayangan hitam itu rata-rata membekal kepandaian yang tidak boleh di pandang ringan. terang semua adalah tokoh-tokoh silat kelas wahid-Cepat-cepat Giok-liong menyelinap menyembunyikan diri dibelakang semak batu. Baru saja Giok-liong berjongkok mengumpatkan diri, terlihat sebuah bayangan biru tua yang besar meluncur lewat dari atas kepalanya. Meskipun saat itu dalam kegelapan, namun dengan kejelian mata Giok liong, sekilas saja dapat dilihatnya, jelas bayangan itu bukan lain adalah guru Lan-i long-kun Hoa sip-i yaitu ketua Lan ing-hwe Lan-ing-mo-ko Le siang san. seorang diri Lan-ing mo-ko Le Siang san berlari kencang menuju ke puncak bukit di mana rombongan bayangan hitam tadi menuju. Mau tak mau Giok-liong harus menerka-nerka dalam hati, sikap yang semula tak mau campur segala urusan tetek bengek akhirnya menjadi kabur dan lenyap dalam benaknya, karena terasa olehnya keganjilan menurut apa yang dilihatnya ini, betapa juga harus diselidiki kesana. Demikian ia membatin dalam hati, serta sudah tetap pikirnya, tanpa ayal lagi dengan cermat ia menggeremet dan main sembunyi terus menyelinap di antara kegelapan menuju kebukit itujuga. Tak duga belum jauh ia berjalan dari arah timur, selatan barat dan utara berbagai penjuru beruntun terlihat gerak-gerik bayangan orang yang serba misterius, sama menunjukkan kepandaian yang tidak boleh dipandang ringan. Tanpa berjanji terang tujuan mereka tak lainjuga puncak bukit didepan sana itu. Kira-kira setengah jam telah berlalu. Mungkin ada puluhan rombongan yang sudah kelihatan bergerak meluruk kearah tujuan sana, jelas dan terang bukit Bu-ih-san ini sudah menjadi arena tempat yang bakal menjadi pertempuran seru antara gembong-gembong silat kenamaan. Maka Giok-liong tidak berani berlaku ayal, berapa-kali loncatan tubuhnya berkelebat cepat langsung melesat kebelakang sebuah pohon siong besar dipinggir bukit dari tempat sembunyian nya ini diam-diam ia mengintip ke arah puncak bukit sana. setelah tiba diatas puncak dan dari dekat barujelas kelihatan situasi dan keadaan bukit yang menyerupai punggung seekor unta ditengah puncak tanahnya melekuk dalam dan gundul seluas puluhan tombak-Diatas tempat lekuk yang datar ini dibagian timur dan barat sudah berkelompok dibagi dua gerombolan tokoh-tokoh silat dari berbagai golongan dan aliran dari seluruh penjuru dunia. golongan satria dari aliran lurus tak kelihatan seorangpun yang ikut hadir dalam pertemuan besar ini

Tiraikasih WEBSITE

http.//kangzusi.com/ Diantara mereka sebagian besar adalah musuh-musuh yang pernah bergebrak dengan Giok-liong, setelah menerawang situasi dalam gelanggang diam-diam bercekat hati Giok liong, seumpama tak usah hiraukan larangan suhunya, hanya para iblis dan gembong-gembong silat yang harus dihadapinya ini saja cukup membuat kepalanya pusing.

seumpama benar-benar harus berkelahi dan harus menang tanpa membunuh atau melukai mereka ini benar-benar sesukar memanjat keatas langit, Giok liong menjadi serba sulit dan menghela napas panjang ditempat sembunyinya.

Kecuali ia mengundurkan diri dan meninggalkan gunung Bu ih san ini, kalau tidak pertempuran besar dan mati-matian harus ditakuti.

Bolehkah dirinya mengundurkan diri atau berpeluk tangan saja?

Tak mungkin jadi.

Disaat Giok liong dirundung kebingungan inilah tiba-tiba terdengar sebuah gerungan keras disertai melebarnya kabut biru.

Kiranya Cukong istana beracun I bun Hoat telah tampil kedepanserta berseru.

"Go B eng-hui benar-benar bertingkah dan main jual mahal seaala Berulang-kali sudah kita undang dan desak untuk keluar sampai sekarang masih tak sudi unjukkan diri, apa memandang ringan kita orang orang dari aliran samping dan luar pintu ini. Atau hendak mengagulkan kedudukan sendiri sebagai pentolan suatu aliran lurus yang berbau busuk itu?"

Begitu iblis besar ini mempclopori makiannya seketika seluruh lapangan menjadi ribut dan berbisik-bisik, yang bertabiat kasar malah lantas mengumpat caci makian kotor.

"Go-ciang-bun tiba"

Kumandang sebuah gerung a n keras dan kumandang di tengah udara, lantas terlihat pancaran sinar biru berkilau meluncur ke tengah gelanggang, ternyata itulah salah seoarang dari anak buah istana beracun.

Dalam sekejap lain terlihatlah sesosok bayangan kuning meluncur turun pula, itulah Im yang klam Go Beng-hui, Ciangbunjio Bu ih pay telah tiba.

Di belakangnya mengintil empat orang muridnya yang paling diandalkan, punggung mereka menyoreng pedang, semua berdiri tegak dengan sikap serius dan waspada.

Sambil berputar Go Beng-hui angkat tangan memberi hormat keempat peajuru, serunya lantang.

"Para tuan-tuan malam-malam berkunjung keatas gunung kita, aku yang rendah terlambat..."

Tak menanti ia bicara habis, terlihat tubuh kecil cebol I bun Hoat Cukong istana beracun kelihatan bergerak maju, teriaknya dengan angkuh.

"Tay ciang-bun. Tak perlu banyak cerewet, silakan bicara yang penting saja."

Membesi air muka Go Beng-hui, sikapnya dingin membeku,jengeknya dingin.

"Tujuan tuan-tuan..."

Li Peklyang ketua dari yu-bing mo-khek mendadak melompat maju ke hadapan Im-yang-klam, semprotnya dengan beringas.

"Apa perlu ditanyakan lagi maksud kedatangan kita. Kita hanya menanti saja bagaimana sikap pihak B u-ih-pay kalian terhadap persoalan di Rawa naga beracun itu."

Sikapnya yang congkak dan takabur ini sungguh sangat menyebalkan dan tengik sekali. Go Beng hui tertawa getir, ujarnya.

"Gamblang sudah bahwa peristiwa kali ini terjadi diatas gunung kita, betapa juga kita takkan berpeluk tangan mandah menonton saja "

"Sret"

Ke empat murid Bu ih-pay serempak mencabut pedang masing-masing terus berpencar ke empat penjuru, empat batang pedang mereka berkilau menyilaukan mata melintang di depan dada, semua siap dan waspada untuk menghadapi pertempuran besar.

Cukong istana beracun I bun Hoat terkekeh keras, suaranya menusuk telinga dan menyedot sukma, katanya.

"Menurut pendapat aku orang she I bun, lebih baik pihak Bu ih-pay kalian tidak ikut campur dalam air keruh ini supaya tidak --Hehehe Hehe-hehe"

Beruntun jengek dinginnya ini betul-betul mengandung ancaman seram dengan nada yang kejam dan sadis.

Menghadapi musuh sekian banyak yang berkepandaian tinggi sekali, mau tak mau Go Beng hui merasa keder juga.

Tapi sebagai seorang ketua dari satu partai, betapa juga malu untuk menyesali begitu saja, sekilas ia memberi isyarat dengan kedipan mata kepada empat muridnya, artinya agar keempat muridnya jangan sembarangan bergerak lalu dengan sikap tenang yang dibuat-buat ia tertawa kering, katanya.

"Ha Haha-hahaha jadi tuan-tuan sekalian bermaksud main tangan ?"

Dengan suaranya yang serak dan keras yu bing-khek cu Li Pek-yang mengancam.

"Semua terserah dari ucapan Go ciangbun saja "

Delapan belas Hek-i Tongcu serta para rasul yang tak terhitung jumlahnya dari yu-bing mo khek-anak buah dari istana beracun mengenakan pakaian aneh dengan kedok aneh pula seperti laba-laba diatas kepalanya, serta entah berapa banyak gembong-gembong silat dari berbagai aliran serentak merubung maju.

Im yang kiam Go Beng hui sudah terkepung dalam barisan manusia yang berlapis-lapis banyaknya, kalau sedikit ia bicara kurang hati-hati dan menyinggung perasaan mereka, tak ayal lagi puluhan atau ratusan kepalan tangan pasti serempak memberondong kearah dirinya, betapa lihay kepandaian sendiri seumpama setinggi langit juga takkan mungkin dapat membela diri atau meloloskan diri dari serangan gabungan yang dahsyat itu, terang jiwanya bakal melayang secara konyol.

Karena itu sebisanya ia menekan gejolak hatinya dengan muka rada pucat ia berkata gemetar sambil menelan air liur.

"ini urusan besar dalam dunia persilatan betapa juga harus dirundingkan masak-masak, mana mungkin tergantung dari sekejap dua patah kata saja?"

Namun cukong istana beracun tak memberi hati. Bentak I bun Hoat.

"Tidak perlu rundingan apa segala, Go Tay-ciang bun, hayolah kau putuskan sekarang juga."

Go Beng hui menjadi serba salah, saking kewalahan akhirnya ia membuka kata dengan nada sember.

"Terus terang saja perguruan kita tiada menaruh minat terhadap buka catatan rahasia yang berada didalam rawa naga beracun itu"

"Ini terhitung kau pandai melihat gelagat"

"Tapi kejadian hari ini justeru terjadi didalam markas besar kita yang terlarang, kalau pihak kita tidak unjuk muka apakah tidak ditertawakan oleh sesama kaum Dan yang terpenting generasi muda partai kita untuk selanjutnya susah hidup dan tampil di Kangouw"

"Hahahahahahihihihi"

Cukong istana beracun I bun Hoat mengudal gelak tawanya yang menusuk telinga menggetarkan sukma mengalun tinggi menembus angkasa. setelah gelak tawanya berhenti, mulutnya lantas menggerung.

"seorang kesatria harus pandai melihat gelagat memutar haluan menurut arah angin, perguruan Bu-ih-bun kalian kalau bisa terhindar dari malapetaka kali ini sudah terhitung suatu keberuntungan besar, masih masih mau mengurus generasi muda apa segala Go Ciang bun terlalu jauh pandanganmu "

Sebagai Ciang-bun-jin dari suatu aliran, tingkah aku atau tindak tanduk Im-yang-kiam Go Beng hui selalu mewakili perguruan-nya serta nama dan gengsi Bu-ih-pay, bagaimana juga ia harus menegakkan kebenaran dan berani menanggung sebala resiko, maka katanya..

"Ucapan saudara I bun Hoat sukar dapat kusetujui"

Beringas muka I bun Hoat, dengusnya.

"Hah Kenapa?"

"Sebagai seorang ciang-bun, sudah selayaknya aku mengembangkan dan menegakkan keharuman nama dan gengsi perguruan"

I bun Hoat terloroh-loroh sambil menekan perutnya, matanya yang menyipit hampir terpejam karena tertawa itu. sekonyong-konyong gelak tawanya lenyap mukanya berubah bengis dan menjengek dengan ketus.

"Cuh mengembangkan apa segala, kentut busuk jangan kau mimpi"

Umumnya kalau dua orang berhadapan saling bermusuhan karena urusan pribadi masing-masing saling caci maki dan mencemooh atau menghina lawannya adalah jamak dan biasa, ini tak terhitung keluar batas.

Tapi adalah lain kalau kedua belah pihak berhadapan secara masa membawa nama baik perguruan atau golongan, umpat caci atau makian yang menghina secara umum di muka sekian banyak orang belum pernah terjadi, sehingga para gembong-gembong silat yang biasanya berlaku ganas itu juga tercengang dan melenggong mendengar kata-kata I bun Hoat yang terlalu mengandung nada kasar itu.

seumpama seorang tanah liat, betapa juga Go Beng hui punya perasaan, seketika pucat pasi selembar mukanya, bibirnya sampai biru, seluruh badan gemetar saking gusar, serunya.

"I bun Hoat Kau..."

"Coba kau tanya dirimu sendiri, bagaimana kalau kalian dibanding kekuatan dan kebesaran pihak Go bipay "

Demikian semprot I bun Hoat.

Giok liong yang sejak tadi sembunyi dan mengintip menjadi gusar bukan main, rasanya nadi dan jalan darahnya menjadi melembung dan tangan juga gatal ingin rasany segera menerjang keluar merangsak I bun Hoat si manusia laknat itu.

satu pihak karena merasa sebal dan gemas melihat tingkah polahnya yang congkak dan takabur itu, lain pihak karena pencucian bersih diatas gunung Go b i san itu oleh pihak istana beracun sehingga dirinyalah yang terkena getahnya dicap sebagai durjana yang menumpas habis seluruh Go bipay-sungguh penasaran.

Akan tetapi, demi mematuhi larangan gurunya, terpaksa ia harus menelan keinginannya bulat-bulat, dengan menahan sabar ia mandah menonton dan melihat perkembangan selanjutnya.

saat mana Im yang-kiam Go Beng bui memutar tubuh memandang ke empat penjuru lalu katanya dengan mendelu.

"Melihat situasi hari ini, sebenarnya kalian kemari karena benda pusaka di Rawa naga beracun itu, atau hendak mencari perkara dengan perguruan kita?"

Dalam keadaan ujang terdesak ini apa boleh buat ia berusaha hendak memecah urusan besar ini dalam dua persoalan, supaya pihak sendiri tidak konyol dan rugi besar.

siapa tahu Cukong istana beracun ternyata tak mau memberi muka, secara langsung ia menantang.

"Dua-duanya boleh kita bicarakan menjadi satu"

Jawaban yang terus terang ini betapa juga Go Beng hui tak bisa main ulur atau banyak alasan lagi.

Keempat muridnya sudah tak tahan sabar lagi, serempak empat batang pedang mereka bergerak melingkar mematikan sebuah lingkaran besar, mereka siaga bertempur, katanya bersama .

"ciang-bun kau tahan sabar, kita tak kuat lagi, meski harus menentang ajal kita takkan mundur setapakpun"

Belum sempat Go Beng-hui membuka mulut. Cukong istana beracun I bun Hoat terkekeh kekeh, makinya.

"Keparat, agaknya kalian memang harus diberantas"

"I bun Hoat Kau terlalu takabur"

"Bangkotan tua beracun lihat pedang"

Seiring dengan makian mereka empat sinar pedang yang menyilaukan mata berbareng meluruk ke arah I bun Hoat, Mereka turun tangan dengan nekad untuk mengadu jiwa, maka jurus serangan ini dilancarkan cukup lihay dan ganas.

"Hehehehe Cari mampus Hai, hayo maju" -ternyata I bun Hoat tak balas menyerang cukup dengan teriakannya ini serta isyarat tangan bergerak lantas terlihat empat pancaran sinar biru yang menyala meluncur datang dari belakang-nya. seluruh gelanggang kontan menjadi geger.

"Lan cu tok yam "

Terdengar teriakan kejut di mana-mana dari mulut orang-orang sekitarnya, semua melompat mundur karena gentar menghadapi kehebatan ilmu sesat ini.

Empat pancaran, sinar biru melembung tinggi ke angkasa lalu menukik turun dengan deras mengeluarkan suara mendesis yang keras, laksana empat cakar iblis yang ganas tiba-tiba menyemburkan bara api yang menjilat ke empat penjuru, seketika hidung semua orang terendus bau hangus, rumput menjadi kering batu menjadi hangus.

Pancaran sinar pedang ke empat murid Bu-ih pay begitu keterjang lidah api yang dahsyat itu seketika pudar.

Kini hanya terlihat empat kerangka manusia, bukan saja pakaian mereka sudah hancur luluh menjadi abu, sampai daging mereka juga menjadi hangus seluruhnya, tinggal tulang-tulang kerangka yang memutih bersemu kuning atau hitam itulah yang masih teaak berdiri diatas tanah pemandangan ini sungguh mengejutkan dan menakutkan.

Udara pegunungan yang jernih seketika berbau amis dan busuk serta hangus tercampur aduk.

yang terang semua merasa mual dan kepala pening.

seluruh hadirin menjadi melongo dan merinding serta bergidik Memang Lan ca-tok-yam pihak istana beracun sudah lama menggetarkan Bulim, akan tetapi banyak diantaranya yang baru sekali ini melihat dengan mata kepala sendiri betapa hebat dan mengerikan ilmu ganas ini.

Im-yang-kiam Go Beng-hui terkesima menjublek di tempatnya seperti orang sinting tanpa bergerak-Matanya nanar memandang ke depan tanpa berkesip

Tiraikasih WEBSITE

http.//kangzusi.com/ Cukong istana beracun I bun Hoat terliuk-liuk kegelian dengan senangnya ia mementang mulut menarik suara.

"Hahahahaha----"

Tak lama kemudian pelan-pelan kaki Im-yang kiam Go Beng-hui mulai bergerak beranjak maju, mukanya kaku tanpa emosi, setindak demi setindak dengan langkah tetap ia menghampiri kearah I bun Hoat yang masih terloroh itu, mulutnya mendesis sepatah demi sepatah.

"Kau--juga-bunuh aku-sekalian-"

I bun Hoat menghentikan gelak tawanya, bentaknya dengan bengis.

"Kau sangka aku tak berani ? "

"Kau... berani.... kau..."

"Baik, kau sendiri yang cari penyakit dan minta digebuk Biarlah Cukongmu ini menyempurnakan keinginanmu "

Sembari berkata kedua biji matanya yang kecil itu memancarkan cahaya biru kelam, mukanya di-rundung hawa membunuh yang tebal, pelan-pelan dua lengan kecilnya yang kurus kering seperti kayu bakar itu mulai terangkat.

Asal lengan keringnya ini sedikit terayun saja tanggung jiwa Im-yang-kiam Go Beng-hui bakal melayang dalam sekejap itu saja, arwahnya pasti menyusul keempat muridnya yang sudah mendahului menghadap Giam-lo-ong tinggal tulang kerangkanya yang masih utuh berdiri Tepat pada saat itulah sekuntum mega kelabu bergulung mendatangi.

Dua laki-laki kekar berusia pertengahan abad meluncur tiba di tengah gelanggang, serempak mereka berseru.

"Cukong istana beracun, harap tunggu sebentar "

Melihat kedatangan kedua orang tua ini Giok-liong lantas membatin.

"Ternyata ci-hu-ji-lo juga ikut dalam keramaian ini"

Dalam pada itu, I bun Hoat sedikit tertegun, kedua lengannya tetap terangkat tinggi, nadanya berkata hina.

"Kalian datang terlambat hendak main kayu juga ? Berani menghalangi Lohu "

Kedua lengannya mulai bergerak memberi aba-aba kepada anak buahnya supaya segera turun tangan melenyapkan jiwa Im-yang-kiam Go Beng huici huji lo mandah tertawa tawa, katanya bersama.

"Mana kita berani. Lihatlah majikan telah tiba "

Sinar kelabu berkelebat terbungkus oleh kabut ungu yang bergulung mendatangi seperti lambat namun cepat sekali dalam sekejap mata saja Ci hu-sin kun Kiong Ki dengan sikap angker dan penuh wibawa meluncur turun tanpa mengeluarkan suara.

ci-hu bun sudah angkat nama dan gengsi dalam kalangan hitam dan putih, selama ratusan tahun sudah malang melintang dan mendirikan pangkalannya yang kokoh dan digdaya, sudah tentu kedatangannya ini membuat para hadirin menjadi ribut dan berbisik-bisik-Cukong istana beracun I bun Hoat, sendiri juga harus sedikit memberi muka oleh karena itu serta merta tangannya sudah terangkat itu mulai merandek dan pelan-pelan diturunkan lagi-Biji mata Ci-hu-sin kun laksana mata api yang berkilau tajam, sekilas ia menyapu pandang ke seluruh hadirin lalu berkata dengan suara yang menggeledek.

"Disini berkumpul sekian banyak orang, kalian meluruk kemari perorangan atau ada pentolannya ?"

Lagi-lagi semua hadirin menjadi gempar, entah berapa banyak pasang mata sekaligus menatap kearah I bun Hoat.

Meski rada keder, namun sikap I bun Hoat yang congkak dan takabur masih kelihatan nyata, tiga tindak ia tampil kedepan sembari angkat kedua tangannya terus digoyanggoyangkan, katanya dengan lantang.

"Aku yang rendah I bun Hoatlah yang mengundang mereka "

Jilid 28 ci hu-sin kun acuh tak acuh, sikapnya tetap kereng, katanya getir.

"cukong istana beracun sebagai pentolannya, sungguh sangat kebetulan"

Lalu matanya memandang ke empat kerangka manusia yang masih berdiri ditengah gelanggang itu, tanyanya sambil mengerut alis.

"Dari aliran manakah mereka ini?"

Ibun Hoat menyeringai puas, katanya.

"Empat murid andelan pihak Bu-ih-pay"

"o ? Siapa yang membunuh mereka ?"

"Istana beracun "

"Kenapa?"

"Karena mereka juga berani mengincar buku catatan rahasia yang berada di dalam Rawa naga beracun, maka..."

Mendadak ci hu-sin-kun menarik muka, tanyanya serius.

"Apakah buku catatan dalam Rawa naga beracun sudah muncul ?"

"Belum"

Sela Li Pek yang sambil meIangkah kedepan. ci hu-sin-kun semakin heran dan tak habis mengerti, tanyanya.

"Kalau belum, kenapa mereka harus mati sebelum memperebutkan benda pusaka itu ?"

Yu-bing-khek Cu Li Pek yang tertawa geli serunya.

"Bukan karena berebutan pusaka, adalah karena Ibun heng tidak senang mereka turut campur dalam urusan ini "

Laksana tajam golok sinar mata ci-hu-sin-kun menyapu pandang kearah Ibun Hoat, katanya tertekan dengan nada dingini "urusan merebut pusaka setiap orang yang hadir disini mempunyai bagiannya, semua orang boleh mengandal kepandaian dan kecerdikan otaknya, Mana bisa secara liar dan ganas merintangi orang lain turut terjun dalam rimba ini.

Kalau begitu apakah buku dalam mata air didalam rawa naga beracun itu sudah menjadi milik pribadi seseorang ?"

Hening lelap suasana seluruh gelanggang, air muka Ibun Hoat berubah bergantian, namun tak berani ia mengumbar wataknya lagi.

Kuatir kedua gembong bangkotan ini terjadi kelahi yang hebat, cepat-cepat Li Pek-yang tampil kedepan, katanya tergagap.

"Meskipun pusaka itu belum diambil keluar, tapi..."

Tak terkira sekali lagipandangan ci-hu-sin kun menyapu pandang ke empat penjuru, sembari membentak keras.

"Kalau begitu, siapapun yang bakal dapat menjemput buku rahasia itu lantas menjadi sasaran utama dari keroyokan kalian yang goblok dan tak mengenal tata krama ini, Apakah ini yang dinamakan keadilan ?"

Semua hadirin seperti sadar dan mawas diri akan petunjuk Cihu-sin-kun ini.

Memang para hadirin lantas berpikir "betul juga, seandainya secara mati matian aku berhasil mendapatkan buku rahasia itu, masakah aku mampu lolos dari kejaran Lamcutoksyam ?"

Maklum sebelum ini pikiran dan pandangan seluruh hadirin sudah buta dan tumpul saking kemaruk mendapatkan pusaka, semula memang mereka mengikuti arus situasi memberi suara dan semangat kepada pihak istana beracun.

Sungguh untung kesalahan yang tidak disadari ini telah dipecahkan dan ditunjuk secara langsung oleh kata-kata Cihu-sin-kun yang penuh mengandung arti kebenaran.

satu persatu hati mereka lantas menjadi sadar dan mulai goyah akan kepercayaan terhadap pihak istana beracun.

Tak ketinggalan Yu-bing mo khek Li Pek-yang sendiri yang semula sehaluan sekomplot dengan istana beracun menjadi ragu-ragu dan bimbang, serta merta matanya melirik kearah Ibun Hoat, kakinya juga lantas melangkah mundur.

Mata kecil cukong beracun Ibun Hoat berkedip-kedip menyipit giginya, berkeriut terang betapa besar rasa gusar dan dendam hatinya terhadap uraian ci-hu-sin-kun yang mengecilkan arti intrik nya dengan berbagai pihak itu Akan tetapi kata-kata Ci hu-sin-kun masih terus memberondong keluar.

"siapa yang mampu boleh silakan menerjang seorang diri kedalam Rawa naga beracun mengambil buku rahasia itu, kalau bisa berhasil bolehlah dikatakan beliau seorang gagah seorang perwira yang harus diagungkan, Lain pula bagi mereka yang pintarnya mengatur tipu daya dan mengadu domba mengerjakan tenaga orang lain demi keuntungan diri sendiri sedang dia sendiri mandah menonton dan berpeluk tangan, dengan maksud mengambil keuntungan setelah semua pihak empas empis dan kehabisan tenaga gampang saja ia merebut dari tangan orang, ini bukan seorang gagah sebaliknya seorang pengecut, seorang kerdil yang harus ditumpas dan tak perlu diindahkan dalam kalangan Kangouw."

Seketika seluruh hadirin menjadi sadar, berbareng mereka berseru.

"Ucapan sinkun memang benar"

"sin-kun silakan tegakkan keadilan dan kebenaran"

Mendadak Ci-hu-sinkun menarik suara, katanya lebih lantang.

"Kedatanganku ini bukan bertujuan hendak merebut atau memperoleh buku rahasia itu, yang terutama aku hanya ingin menegakkan keadilan demi kebersihan nama kalangan Bulim. Malam ini seluruh hadirin tak peduli dari aliran mana besar atau kecil entah berkedudukan tinggi atau rendah kaya atau miskin. Entah ada yang suka bergabung atau tampil seorang diri silakan saja. siapa yang mampu mengambil pusaka dalam mata air rawa naga beracun itu, pusaka itu menjadi milik pribadinya"

Kata-katanya yang gagahi dan keras penuh wibawa seketika mendapat sambutan tampik sorak dari seluruh hadirin.

Hanya Cukong istana beracun Ibun Hoat saja yang berkerutuk giginya menahan gusar yang tak terkendalikan lagi, matanya beringas buas seperti bara api.

Habis berkata Ci hu-sin-kun berputar sekali sambil layangkan pandangannya, katanya pula.

"Aku orang she Kiong tentu menepati kata-kataku, siapa saja yang bisa mengambil pusaka dalam rawa itu, kutanggung keselamatannya turun dari Bu ih-san ini."

Seluruh hadirin berteriak dan bertepuk tangan gegap gempita.

sementara itu Giok-liong yang sempunyi dibela kang pohon itu menjadi kuatir dan girang pula mendengar kata-kata Cihun-sin-kun itu.

girang karena iblis besar ini ternyata bisa menegakkan keadilan inilah merupakan setitik penerangan demi kejayaan kaum cendekia yang berpikir jernih dan lurus.

Kuatirnya seumpama pusaka dalam air ini betul betul di tangan seseorang saat itu.

cara bagaimana dirinya harus merebutnya.

Cihu sin kun sudah berjanji untuk melindungi siapa saja yang bisa mengambil buku rahasia, lalu bagaimana dirinya harus menghadapi tanggung jawab ini?

Tengah ia terlongong tenggelam dalam pikirannya, tiba-tiba terasa angin berkesiur di belakangnya, lantas dipinggir telinganya terdengar sebuah suara berbisik "Tidak ikut keramaian disana, kenapa sembunyi disini secara plintat plintut?"

Karuan kaget Giok liong seperti disengat kala baru saja ia hendak menggerakkan tangannya.

"jangan bergerak"

Bentaknya lirih tertekan telah mengancam aksinya, terasa dua jalur angin kencang menutuk kejalan darah di kedua pundaknya, asal sipenutuk mau tambah tiga bagian tenaganya lagi sedikit surung jarinya saja, seumpama tidak mati paling ringan dirinya sudah terluka parah.

Bokongan yang secara tiba-tiba dan menggelap ini betulbetul membuat Giok-liong mati kutu dan mengucurkan keringt dingin.

Tatkala mana para hadirin dilapangan depan sana sudah banyak yang tahu bahwa di belakang pohon siong besar ini ada orang sembunyi, pandangan semua orang lantas tertuju kemari.

ci-hu-ju-lo siap menubruk kearah sini.

"siapa? Hayo keluar"

Terdengar bentaknya Cihu sin-kun yang menggeledek.

"Yah Inilah aku Hihihihi"

Meluncurlah sesosok bayangan abu-abu diiringi dengan kumandang suara tawanya yang terkikik nyaring.

Terasa tekanan tenaga dibela kang punggungnya lepas Giok-liong melihat Ci hu giok li Kiong Ling-ling melesat setombak lebih dari atas kepalanya melesat ke depan sana.

Dalam keadaan demikian tempat sembunyi Giok liong menjadi kenangan, terpaksa ia harus keluar dari tempat persembunyiannya, membuntut di belakang Kiong Ling ling iapun menukik turun ketengah geleng gang.

Meskipun mereka bergerak beruntun satu didepan dan yang lain dibelakang, tapi waktu meluncur hinggap ditanah dalam waktu yang bersamaan.

Begitu melihat yang muncul bersama putrinya ini adalah Giok-liong seketika Cihu sin kun memicingkan mata, air mukanya bersemu ungu terang ia teringat akan dendam lama.

Melihat gelagat yang meruncing ini cepat-cepat Kiong Ling ling memburu kehadapan ayahnya, mulutnya dimonyongkan dan berteriak "Yah "

Agaknya Ci-hu-sin kun dapat menahan gejolak hatinya, sikap marahnya berangsur hilang warna ungu dimukanya juga mulai sirna. sekenyong-kenyong sesosok bayangan hitam melekat disertai gerungan keras.

"Bocah keparat, kembalikan putriku "

Kiranya Yu-bing khek-cu Li Pek-yang menerjang kearah Giok liong dengan mata mendelik dan muka beringas, cengkeraman tangannya mengancam dada dan lambung Giok liong.

Giok liong berkelit kesamping, merunya tertawa.

"Apa kau serahkan putrimu kepadaku?"

Ci hu giok-li Kiong Ling Ling menjadi tertawa geli mendengar banyolan Giok liong, Para hadirin sebagian turut bergelak tawa, mereka merasa lucu dengan kedudukan dan ketenaran Li Pek-yang begitu berhadapan muka lantas menyerang orang dan minta putrinya kepada orang lain, ini menurunkan derajat dan sangat memalukan sekali, apalagi mendengar banyolan jawaban ,Giok-liong yang lucu lagi keruan mereka terpingkel-pingkel.

Li Pek yang menjadi murka saking malu, giginya gemerutuk menahan amarah yang tak terkendali, sambil membanting kaki ia menghardik keras.

"Hayo maju, ringkus dia "

Dia memberi aba-aba kepada anak buahnya, seketika delapan belas Hek-i Tong cu bergerak diikuti para rasul berpakaian abu-abu, dengan sikap mengurung berbentuk setengah lingkaran seperti kipas lempit mereka meluruk kearah Giok liong.

situasi menjadi tegang, semua menahan napas akan terjadi pertempuran besar main keroyok ini.

Kalau ganti orang lain mungkin saat itujuga sudah berlangsung pertempuran besar-besaran yang serabutan tak karuan.

sebab biasanya dibawah perintah Li Pek-yang para Tong-cu dan rasul itu pasti serempak beramai-ramai menerjang maju seperti lomba untuk membinasakan musuhnya dengan sekali grebek untuk menunaikan tugas sekaligus menunjukkan wibawa supaya menggetarkan nyali para hadirin lainnya.

Tapi kali ini musuh yang mereka hadapi adalah Giok-liong, Mereka sudah kenal siapa Giok-liong ini bukan saja gerak tubuhnya lihay, Iwekangnya tinggi, kepandaian apa saja mereka sudah pernah belajar kenal, insaf mereka bahwa musuh muda yang dihadapi ini bukan sembarang tokoh yang gampang dilayani meskipun mereka main kerubut.

Maka dengan membentuk barisan melingkar setengah bundaran pelan-pelan mereka mendesak maju, Delapan belas Tongcu rata-rata membekal kepandaian tunggal masing masing yang tinggi dan lihay.

Buat tokoh-tokoh silat kalangan Kangouw tiada yang tidak tahu bahwa mereka merupakan gembong-gembong silat yang kenamaan, sampaipun para rasul dari tingkat rendah juga tak boleh dipandang ringan.

sebanyak seratusan orang semua siaga dan mendesak siap menerkam maju, betapa situasi gawat ini takkan mengejutkan nyali orang.

Namun bagi Giok-liong mandah tersenyum simpul saja dengan sikap tenang dan wajar ia berkata.

"Nanti dulu sabar sabar "

"Kunyuk "

Hardik Li Pek-yang sambil berjingkrak gusar.

"Takabur dan congkak benar ya"

Giok-liong tidak menunjukkan reaksi apa-apa, tetap berdiri tegak kedua tangannya dilebarkan katanya.

"Dalam hal apa aku takabur dan congkak sejak datang aku tiada menantang arau mencari perkara kepada siapapun yang hadir disini "

Sikapnya yang wajar dan kata katanya yang tenang ini diam-diam membuat para hadirin yang biasanya bertabiat kasar berangasan itu menjadi kagum dan memuji dalam hati, benar-benar mereka tunduk lahir dan batin.

Ci hu-sin-kun Kiong Ki sendiri sebagai iblis bangkotan juga diam-diam manggut-manggut merasa kagum.

saat mana ratusan jago lihay dari Yu-bing-mo-khek sudah siap melancarkan serangannya, jarak mereka tidak lebih tinggal setombak lebih, semula sudah menggerakkan lengan serta mengerahkan tenaga tinggal melancarkan pukulan.

Melihat keadaan yang gawat ini Giok liong tak berani ayal, segera ia memasang kuda-kuda dan bergaya dengan mengerahkan hawa jilo melindungi badan, sepasang tangannya sudah dilandasi seluruh kekuatan Iwekangnya.

serunya lantang.

"Kalau betul-betul mendesak orang, jangan salahkan aku berlaku kejam tanpa sengaja membunuh kalian"

Maklum ia memberi peringatan dulu sebelum bergebrak karena sangsi dan takut larangan suhunya.

Tapi kata-kata peringatan yang bermaksud baik ini dalam pendengaran Yu-bing-khekscu, seperti pelita disiram minya ki ia berjingkrak murka, geramnya.

"Keparat, takabur betul, serbu,,"

"Haaaaiiit..."

Para Tonscu dan rasul baju abu abu serentak bergerak sembari berteriak panjang, tubuh mereka melenting dan berloncatan seperti anjing kelaparan yang memperebutkan sekerat tulang saling berlomba menerjang kearah Giok liong.

Tergetar kedua tangan ,Giok-liong, kontan tiga kelompok mega putih bergulung ke luar menerpa kedepan memapak para musuh yang menyerbu datang.

sedetik sebelum rangsekan kedua belah pihak saling bentur itulah mendadak Cihu-sin-kun menghardik keras.

"Tahan "

Gelombang kabut ungu bergulung maju terus menerjang di tengah seperti dinding baja layaknya secara kekerasan menahan dan mendorong ,Giok-liong dan para Tongcu kedua belah pinggiran, begitu hebat tenaga pemisah ini sehingga masing-masing pihak terdesak surut tiga kaki jauhnya.

Kedua belah pihak sama tidak tahu maksud tujuan sepak terjang Cihu-sin-kun ini, keruan mereka menjadi kaget dan beringas, semua siap dan siaga menanti perkembangan selanjutnya.

Demikianjuga Giok liong menjadi kaget dan berubah air mukanya, Tahu dia bahwa Cihu sin-kun mempunyai dasar latihan Lwe-kang yang sangat ampuhi kepandaiannya bukan seolah-olah hebat, ci-hu giok-li sendiri juga menjadi kuatir, lekas ia berteriak memanggil.

"Ayah"

Li Pek-yang segera tampil maju, wajahnya serius tanyanya.

"Harap tanya sin-kun ..."

Ci hu-sini kun angkat sebelah tangannya, menghentikan kata-kata Li Pek-yang selanjutnya, katanya menunjuk Giok liong.

"Aku sendiri juga punya persengketaan dengan bocah ini "

Giok liong merasa serba sulit, timbul rasa was-was dalam benaknya, maka seluruh kekuatan Iwekang terkerahkan di kedua lengannya, bawa jilo juga terhimpun sampai tingkat tertinggi menyelubungi seluruh tubuhnya.

Perasaan Li Pek-yang menjadi sedikit lega, katanya menyeringai "

Kalau begitu, biarlah anak muridnya yang mewakili sinkun meringkus bocah ini, silakan siu-kun menonton saja sambil berjaga-jaga supaya bocah ini tidak melarikan diri"

Tak diduga, Ci hu-sini kun menggeleng kepala menggoyangkan tangan ujarnya.

"Tak perlu, maksud baik Khek cu kuterima dengan setulus hati"

Keruan Yu-bing-khek cu semakin tembarang batinnya kau sendiri turun tangan itu lebih baik, Kita tinggal berpeluk tangan menonton pertarungan.

Dua harimau itu berkelahi tentu salah satu bakal terluka atau cidera, tak peduli pihak mana yang menang dan kalah, situasi kelak urusannya pasti menguntungkan pihak kita.

Karena ketetapan pikirannya ini, diam-diam ia geli dalam hati segera tangan diulapkan memberi tanda kepada delapan belas Tongcu dan para rasulnya serunya "

Kalian boleh sebera mundur"

Melihat gerombolan orang-orang Yu bing-mo-khek mengundurkan diri, legalah hati Giok liong.

Bukan ia takut karena musuh terlalu banyaki adalah karena banyaknya orang bertempur pasti berlangsung dalam keadaan kacau balau, ini menyusahkan dirinya dalam gerak gerik penyerangan, siapa tahu kalau kesalahan tangan dirinya melanggar pantangan gurunya, kalau hal ini terdengar oleh gurunya, bukankah dirinya bakal konyol karena berdosa melanggar pantangan gurunya.

Adalah lain persoalannya kalau seorang diri ia menghadapi pertarungan dengan ci-hu-sin-kun.

Maka hilanglah kekhawatiran hatinya, semangatjuga lantas bangkit sembari menggerakkan lengannya ia berkata.

"Kalau Cianpwe memang menghendaki aku turun tangan, terpaksa aku mengiringi keinginan sin-kun"

Tak sangka air muka Cihu-sin-kun tiba-tiba merengut naganaganya tiada niat untuk berkelahi setelah mendengus hidung berkata.

"Hm buyung Akan datang suatu hari aku membuat perhitungan dengan kau tunggu saja waktunya"

Lalu ia mendongak berkata lantang kepada hadirin.

"Perhatian diBusan hari ini adalah karena kepancing oleh barang pusaka dalam Rawa naga beracun itu. segala dendam permusuhan sebelum ini silakan dikesampingkan dulu, ini adalah pendapatku pribadi sebab, permusuhanku dengan buyung kurang ajar ini juga tak ku singgung lagi"

Pernyataan ini benar-benar diluat dugaan para hadirin.

Keruan para iblis besar itu melongo.

Cihu gio ki li Kiong Lingling berjingkrak kegirangan berloncat-loncat seperti burung gereja sambil bertepuk tangan, teriaknya.

"Yah, sungguh baik kau"

Adalah Yu-bing-khek cu Li Pe ki yang sendiri yang merasa dikibuli, hatinya dongkol dan penasaran.

Tapi apa yang dapat ia lakukan, menurut situasi gelanggang saat itu pihak Yu-bingmo khek keluar tiba waktunya untuk berhadapan langsung di medan lagi dengan pihak Ci hu sin kun bukankah tadi Cihu sin-kun sendiri sudah memberikan pernyataan terbuka yang mempunyai kekuatan terpendam dalam sanubari setiap hadirin tentang perebutan pusaka di Rawa naga beracun.

Yang terang dan nyata hati setiap orang gagah yang hadir ini sebagian besar sudah takluk dan tunduk kepihak Cihu sin-kun.

Dalam keadaan yang kepepet dan apa boleh buat ini, ia mandah mengertak gigi dan melampiaskan kedongkolan hatinya kepada Giok liong, serunya.

"Buyung, kupandang muka sin kun, biarlah .kuampuni kau hidup beberapa hari lagi "

Kata-kata menjual muka bagi kebaikan ci hu-sin-kun ini hakekatnya adalah untuk memuluskan jalan mundurnya saja, memang biasanya dikatakan lombok semakin tua semakin pedas, semakin tua pengalaman dalam kelana di Kangouw semakin luas.

Giok liong mandah tertawa tawar katanya.

"Aku tiada minat bertentangan dengan siapapun, maka kalian juga jangan mencari perkara dengan aku, ini akan banyak mengurangi pertikaian yang tiada manfaat-nya "

"Anak muda bau ingusan."

Semprot ci hu-sin kun dengan menggeram.

"Mulutmu tajam ya "

Baru Giok liong hendak menyahut, Kiong Ling ling sudah menyelak.

"Yah Memang dia benar "

Cihu sin-kun menjadi melengak, tanyanya.

"siapa yang berkata benar ?"

"Dia"

"Dia siapa ?"

Meiahjengah selebar muka Kiong Ling-ling, lari sambil menubruk kedalam pelukan ayahnya tangannya memukulmukul dada sang ayah, mulutnya mengoceh aleman.

"Yah Kau menggoda aku "

Serta merta Ci hu-sin-kun melirik kearah Giok-liong semula memang ia tidak sengaja baru sekarang ia maklum dan menyelami perasaan putrinya, Pikirnya, putriku sudah besar sudah saatnya aku mencarikan jodoh baginya.

Pada saat itulah mendadak meluncur datang dua sosok bayangan orang, ditengah udara terdengar mereka berseru.

"Lapor ciang bun..."

Setelah hinggap ditanah seketika mereka berdiri kesima menghadapi sekian banyak gembong-gembong iblis.

GoBeng-hui yang bersikap lesu dan berdiri mendelong tanpa bersuara sejak tadi kini menggerakkan kakinya melangkah dua tindak dengan lemas, tanyanya lirih.

"Ada kejadian apa ?"

Melihat sikap dan semangat Ciang-bun-jin yang sudah runtuh dan lesu ini kedua murid Bu-ih-san itu menjadi terbelalaki sikap tegang dan tergesa waktu datang semula seketika lenyap.

kepalanya seperti diguyur air dingin sahutnya lirih.

"Banyak orang telah menyerbu kepandaian gunung belakang"

Agaknya tekad hidup Go Beng bui sudah ludes, mendengar berita yang mengejutkan ini sikapnya tawar saja, katanya.

"oh, aku sudah tahu"

Sebaliknya Ci hu-sin-kun melangkah maju tanyanya.

"Siapa mereka yang menerjang di gunung belakang?"

Kedua murid Bu ih san itu memandang kearah Ciang-bunjin, sesaat mereka tergagap tak berani angkat bicara. sambil menggendong tangan Im-yang-kiam Go Beng-hui bertanya.

"Adakah saudara-saudaramu yang terluka ?"

"Ya. banyak saudara dari tingkat kelas tiga yang terluka parah"

Wajah Im-yang-kiam Go Beng hui dirundung kekesalan dan rawan, setelah menghela napas panjang ia berkata.

"suruh mereka mundur semua, seluruh penjagaan dan pospos rahasia semua harus kembali ke pangkalan"

Kedua muridnya itu seketika menjubleki serunya bersama.

"Ciang-bun..."

"Lekas pergi "tukas Go Beng-Hui sambil goyang kepala.

"turutilah menurut pesan-ku"

Sesaat lamanya murid itu tertegun lalu menyahut berbareng.

"Murid terima perintah "

"Tunggu sebentar"

Tiba-tiba ,Go Beng-hui berseru memanggil, katanya kalem.

"siapakah yang datang? Bicara secara terus terang saja. Agaknya sudah menjadi takdir ilahi bahwa malam ini Bu-ih-san bakal menjadi tempat semacam pasar atas restoran yang bakal diinjak dan berpeta pora, siapapun boleh berlalu lalang tanpa rintangan"

Sebuah cikal bakal suatu aliran kenamaan akhirnya menemui kenaasan yang mengenaskan.

sebagai seorang ciang bun-jin mengeluarkan kata-kata yang begitu merawan hati, betapa pedih dan duka hatinya dapatiah dibayangkan.

Kedua murid Bu ih-pay yang baru datang menjadi kesima memandangi wajah ciangbunjin mereka yang menjadi begitu loyo dan patah semangat.

Tak tertahan lagi mereka mengalirkan air mata ikut bersedih dan sepenanggungan.

Persoalan yang paling dikhawatirkan dan menarik perhatian seluruh gembong-gembong silat yang hadir ini adalah siapa saja para penyerbu dari belakang gunung itu Mereka menjadi menduga dan menerka-nerka, terjadilah suara ribut dan gempar, disana-sini terdengar bisikan dan omelan panjang pendek yang tak menentu.

"Kalian harap tenang sebentar "

Terdengar ci-hu sin-kun berseru lantang.

"Dengar apa yang mereka katakan"

Im yang-kiam Go Beng-hui juga ikut tertarik, tanyanya lemah.

"Katakan kepada mereka "

Terpaksa kedua murid Buta-ih-pay itu berkata.

"Yang menerjang paling depan dalam kelompok pertama adalah Tocu dari Pek-bun-to yaitu Ham-kang-it-ho Pek su-in"

Ci-hu sin kun mandah tertawa tawar, ujarnya.

"Kiranya diapun gemar keramaian, sedemikian jauh ikut meluruk datang "

Seorang murid Bu-ih-pay itu berkata lagi.

"To-ou-cin-kui Ang To bok juga ikut menerobos masuk "

Tergerak hati Giok-liong, cepat ia bertanya .

"siapa lagi yang ikut datang bersama mereka ?"

"seorang la galaki pertengahan umur yang telanjang setengah badan"

Memicing mata Ci-hu sin-kun, bertanya mengawasi Giokliong.

"Jadi Ang To-bok sekomplotan dengan kau ?"

Giok-Hong menjengek dingin, ujarnya.

"selamanya aku malang melintang seorang diri belum pernah bergabung dengan orang lain"

Merah wajah Ci hu-sin-kun.

"Mulutmu tajam betul "

Takut sang Ayah menjadi jengkel dan bertengkar terus dengan ,Giok-liong cepat-cepat Kiong Ling ling menukas.

"Yah masih ada siapa lagi yang datang biar mereka katakan "

Memang seorang lain dari kedua murid Bu-ih-pay itu tengah berseru keras.

"Masih ada lagi empat orang tua yang belum pernah kita lihat, Kepandaian mereka rata-rata sangat lihay, Iwekangnya tinggi bersikap gagah dan angker, gerak gerik mereka gesit cara turun tangannya secepat kilat, untung mereka tidak berlaku terlalu kejam cara turun tangannya punya perhitungan "

Bicara sampai disini tak terasa muka mereka menjadi merahi malu serta saling pandang dengan kikuk.

Tak perlu dijelaskan lagi terang sekali bawah pihak Bu-inisan sudah runtuh total.

Berkerut alis Ci hu-sin-kun, tanyanya.

"siapa mereka ? Adakah mereka menyebut namanya?"

"Tidak, tapi Lwekaag mereka betul-betul jarang dicari tandingannya di dunia ini."

Para gembong iblis itu mendengarkan dengan cermat tiada satucun yang ikut bicara.

Giok liong sendiri juga menerka-nerka dan was was.

sebab para gembong iblis yang dihadapi ini saja sudah sulit dilayani, jikalau masih ada lagi tokoh silat kenamaan lain ikut campur dalam urusan ini, siapa bakal menang dan kalah benar benar susah diramalkan.

Terdengar Li Pek-yang membuka kata dengan berangasan "Peduli siapa mereka Tak mungkin seorang tokoh yang punya tiga kepala dan enam tangan, kenapa kita takut dan khawatir "

Belum hadirin menunjuk reaksinya, Tiba-tiba ci-hu-giok-li Kiong ling-ling berteriak "

Ai, yah celaka "

Seluruh hadirin termasuk Giok liong terkejut entah apa yang menyebabkan Kiong Ling-ling berteriak ketakutan. ci-hu sin-kun mendelik, tanyanya gugup.

"Ada apa anak Ling ?"

Kiong Ling ling menunjuk kepada seluruh hadirin, katanya.

"Kapan lbun Hoat telah pergi ?"

Memang dalam gelanggang sudah tidak kelihatan cukong istana beracun Ibun Hoat, malah seluruh anak buah istana beracunpun entah kapan sudah hilang semua.

Li Pek-yang sendirijuga berkeringat dingin, teriaknya.

"Tentu dia sudah bolos pergi ke Toksliong-tam lebih dulu "

Habis berkata ia memutar menghadap ke delapan belas Hek-i Tongcu danpara rasulnya, makinya.

"Kalian ini manusia kayu semua ya ? Hayo kejar "

Bayangan hitam seketika berlomba melejit jauh dan berlari kencang serabutan, dalam sekejap saja ratusan anak buah Yu bing-mo khek sudah pergi jauh menghilang di pedalaman gunung yang berhutan lebat sana.

Giok-liongpun tidak mau ketinggalan sekali melejit setombak lebih terus meluncur kedepan.

Tiba-tiba ci-hu-sin-kun Kiong Ki berteriak keras.

"Kim pit jan hun Berdiri "

Mendengar teriakan ini kontan ,Giok-liong menghentikan tubuhnya terus jumpalitan balik hinggap kedalam gelanggang lagi, dengan rasa ragu dan curiga ia bertanya tak mengerti.

"cianpwe Ada apakah ?"

Serius sikap Ci hu-sin kun katanya.

"Golongan Jibun kalian adalah alitan lurus dan murni pelajaran kalianpun lain dari yang lain dibanding golongan atau aliran lain, Kau sebagai murid tunggal dari Teji, sebagai tunas muda yang punya harapan besar pada masa depan menggembel senjata-senjata sakti mandraguna macam seruling samber nyawa lagi, kenapa kaupun mengincar buku catatan dalam Rawa naga beracun itu Apakah tidak memalukan sifat tamakmu ini ?"

Giok Liong hanya tertawa getir saja, ujarnya.

"ohi jadi hanya karena omongan ini Cian-pwe memanggil aku ?"

"Ya Lohu merasa heran "

"sebetulnya Wanpwe punya kesukaran yang tak dapat kujelaskan "

"Kesukaran ? Kesukaran apa ?"

"Tentang ini ... ."

Sebetulnya Giok Liong hendak menceritakan pesan ibunya sebelum berpisah dan tentang riwayat hidup,nya, namun terasa masih terlalu pagi untuk membeber semua itu.

sebab apa saja yang berada di dasar mata air Rawa naga beracun itu sampai saat ini masih belum diketahui apakah betul mempunyai sangkut paut dengan dirinya masih merupakan tanya besar ?

Atau-kah mungkin catatan se

Jilid buku ilmu silat. Maka kata-kata selanjutnya lantas ditelan kembali, sekian lama ia tergagap tak kuasa bicara. Ci hu-sin kun menjadi tak enaki katanya pula.

"Menurut pendapat Lohu, lebih baik kau segera tinggalkan Bu-ih-san, semakin jauh semakin jauh semakin baik jangan kau ikut menggagap di air keruh ini "

Giok liong tertawa hambar sahutnya.

"Terima kasih akan nasehat Cian-pwe, tapi sebetulnya Wanpwe sungguh punya kesukaran yang tak mungkin kujelaskan sekarang "

"Apakah tak boleh dituturkan kepadaku?"

"Untuk sementara ini tak bisa "

"Kalau begitu, coba Lohu tanya sebuah hal lagi"

"Silakan cianpwe katakan "

"seumpama buku catatan rahasia di mata air Rawa naga beracun itu terjatuh ketangan orang lain, lantas apa yang hendak kau lakukan?"

"Wanpwe sudah bertekad harus mendapatkan buku itu "

"Apa katamu ?"

"Betapa juga harus dapat kurebut"

"o peringatan Lohu tadi apakah kau sudah dengar?"

"Tentang apa ?"

"Begitu buku itu muncul, siapa yang mendapatkan dialah menjadi pemiliknya, siapa dilarang merebutnya "

Kata ci-husin-kun ini diucapkan dengan tandas dan tegas "tiada tawar menawar lagi bagaimanapun kejadiannya nanti kata-katanya ku takkan bisa diubah lagi."

Alis lentik Giok liong lantas berjengkit, katanya.

"Cian-pwe, kenapa pula kau begitu banyak petingkah? "

Hakikatnya Giok-liong sendiri tidak mengetahui jalan pikiran ci hu-sin kun.

Apakah benar kalau dia tidak ingin ikut dalam lomba perebutan ini, lalu kenapa ia meluruk ke Bu-ihsan yang letaknya jauh dan sukar ditempuh ini.

Memang dia sudah punya perhitungan masak menurut rencananya sendiri, maka ia berani membuat peringatan itu, gampang saja alasannya, satu hal sebagai Congcu dari Ci-hu bun yang kenamaan sejak ratusan tahun dulu, dengan kedudukannya yang agung secara terang-terangan ikut merebut pusaka dengan lawan-lawan yang kuat lagi, seumpama gagal bukankan memalukan bagi pendengaran para sahabat Kangouw.

sekali jatuh selamanya nama dan gengsi perguruannya pasti runtuh total.

Pertimbangan kedua.

Dalam mata air di dasar Rawa naga beracun ada tersimpan se

Jilid buku rahasia, ini hanya siaran luas dari mulut di halangan Kangouw, sebetulnya bagaimana duduk perkara atau kenyataan masih belum jelas.

Ketiga .

Dia sendiri, tak mampu terjun ke dalam air yang dapat menyedot amblas bulu burung, malah katanya dingin menembus tulang dan membekukan lagi.

Maka kalau dikatakan kedatangannya ini adalah demi menegakkan keadilan, ini betul-betul merupakan suatu tipu daya yang jangat tepat dapat mengelabui pandangan mata orang lain.

sebab peduli siapapun nanti yang bakal memperoleh buku itu, paling tidak bakal ada orang lain yang secara nekad hendak merebut pusaka itu, dengan dirinya unjuk muka memandang, secara terang ia melindungi pemilik pusaka itu, namun hakekatnya tujuannya adalah memikat pemilik pusaka itu supaya utang budi kepadanya secara tak sadar, bukankah sepak terbangnya ini sangat gamblang dan bakal mendapat puji orang.

Dengan mendapat perlindungannya, si pemilik pusaka nanti tentu menjadi orang yang terbelenggu dalam tangannya, sampai pada suatu ketika apa yang dinamakan pusaka itu tak lain bakal menjadi benda miliknya dalam kantongnya sendiri.

oleh berbagai alasan inilah maka secara wanti-wanti ia memberi peringatannya tadi, menurut perhitungannya seluruh gembong-gembong iblis yang hadir selain empat orang tua yang dituturkan murid Bu ih-pay tadi hanya Giok liong seoranglah yang benar benar tandingannya yang setimpal dan paling sukar dilayani.

Maka dengan ketus dan cermat ia tanya maksud kedatangan Giok liong dengan kata-kata sindirannya yang pedas tadi.

sekarang setelah mendengar jawaban ,Giok-liong yang terang-terangan, berkerut alisnya, katanya.

"Agaknya kau memang sengaja hendak berlawanan dengan Lohu ?"

Giok liong tertawa lagi, sahutnya "

Cianpwe salahi waktu Wanpwe menuju ke Bu ih san ini, sebelumnya tidak tahu bahwa cianpwe bakal datang "

Ci-hu sin kun semakin berang, dengusnya.

"sekarang kau sudah tahu bukan ?"

Melihat sikap orang yang menjadi gugup geli hati Giokliong, maka tanyanya.

"Wanpwe ada sebuah pertanyaan bolehkah aku mengetahui "

"Pertanyaan apa ?"

Tanpa keder dan takut-takut Giok liong bertanya dengan kalem.

"Kedudukannya Cian-pwe sangat tinggi dan terpandang diBulim. ci-hu-bun kalian juga sudah mengguncangkan seluruh dunia persilatan, kepandaian kalian merupakan ilmu tunggal yang jarang mendapat tandingan, sebagai seorang cong cu seorang cikal bakal, buat apa meluruk keBu-ih-san sini turut campur dalam keributan, bukankah akan menyia-nyiakan latihan dan semedi cian-pwe?"

Terlebih dulu ,Giok-liong meng umpaknya setinggi langit, lalu menyindirnya pula sebagai seorang tua yang menindih dan menekan yang kecil, punya tujuan tamak lagi, namun kata-katanya diatur sedemikian rupa sehingga tidak menghalangi tata krama sebagai seorang muda yang bicara terhadap seorang tua.

Keruan ci hu-sin-kun menjadi serba runyam, tak enak mengumbar amarah tak bisa balas menjawab.

Mukanya menjadi merahi mulutnya tersekat.

"Ini... dalam Bu lim ini betapa juga harus ada seseorang yang berani tampil menegakkan .... menegakkan keadilan bukan "

Memang Giok-liong tidak tahu apa yang dikandung dibalik kata-kata manisnya tadi, tapi dari sikapnya sekarang dapatlah diraba bahwa orang tua ini tentu juga punya sesuatu tujuan tersembunyi yang tak enak dikatakan terus terang.

Maka Giok-liong lantas tertawa tawar, katanya menyindir lagi.

"Kalau banyak orang dalam Bulim mempunyai tujuan yang mulia seperti Cian-pwe ini. Tentu kalangan-Kangouw takkan terjadi keributan dan geger saling bunuh, seluruh jagat ini bakal aman sentosa..."

Sudah tentu sindiran ini bagi pendengaran ci hu sin-kun sangat menusuk perasaan, seketika air mukanya berubah tak menentu, merah dan hijau lalu pucat, saking malu akhirnya menjadi gusar, katanya menggerung.

"Apapun yang bakal terjadi, sudah terang Lo-hu harus turut campur dalam urusan ini, cobalah kau tahu diri dan melihat gelagat saja "

Dalam gelanggang sekarang tinggal Cihu sin-kun dengan putrinya serta bawahannya Ci hujulo, para gembong iblis lainnya sudah menghilang semua, Giok-liong menjadi malas banyak bicara, maka katanya.

"Baik-lah kita melihat gelagat saja nanti "

Lalu dengan gaya Han-kang-Ih wi-kiu (camar terbang melintasi sungai) tubuhnya melenting tinggi tiga tombak laksana anak panah yang lepas dari busurnya langsung berlari kencang menuju ke hutan lebat di kejauhan sana, kecepatan tubuhnya laksana meteor jatuh.

Tatkala itu sang putri malam sudah tergantung tinggi di tengah cakrawala, malam sudah sangat larut, deru angin pegunungan sangat keras sehingga daun pepohonan menderu dan berkeresek seperti bunyi pekik setan alas, suasana sangat menggetarkan nyali.

"Plaki plok "

Tiba-tiba terdengar dua kali tepukan tangan dari rumpun pohon pendek sebelah kiri Badan ,Giok-liong tengah terapung di tengah udara, cermat sekali ia memandang ke arah datangnya suara, Rumpun pendek itu sangat lebat, hanya samar-samar kelihatan ada beberapa bayangan hitam dan bergerak dan sembunyi disana.

Malam ini Bu-ih san sudah menjadi gelanggang perkumpulan sekian banyak tokoh silat, tidaklah mengherankan kalau terjadi sesuatu pemandangan yang luar biasa.

Maka meskipun Giok liong mendengar suara tepukan tangan itu, serta melihat bayangan beberapa orang, sedikitpun ia tidak merasa heran, kakinya masih meluncur dengan kecepatan penuh.

"Plakplak plok plok "

Tepukan tangan terdengar lagi malah lebih keras dan nyaring. Tergerak hati Giok-liong, diliriknya sekitar dirinya tiada orang lain, terang bahwa tepukan tangan ini ditunjukan kepada dirinya. pikirnya.

"siapakah itu?"

Karena pikiran terganggu gerak tubuhnya lantas merandek menjadi lamban.

sedikit gerak geriknya menjadi ayal, lantas terdengar kesiur lambaian baju Ci hu sin kun, terlihat sinar ungu berkelebat cepat sekali melampaui tubuhnya.

Menyusul Cihu-Giok li Kiong Ling-ling juga meluncur tiba.

Melihat Giok liong menghentikan larinya dan berdiri cepat iapun meluncur turun tak mengikuti ayahnya lagi, dengan tersenyum simpul ia hinggap dihadapan ,Giok-liong kira-kira lima kaki.

sebetulnya ,Giok-liong hendak menghampiri rumpun pendek sana untuk menyelidiki terpaksa ia harus unjuk senyum dan menyapa.

"Nona Kiong"

Cihu-giok li menarik tawanya, sikapnya sungguh-sungguh sambil mengerutkan kening, katanya lembut.

"siau hiap. aku ada sebuah pertanyaan yang kurang pantas hendak kutanyakan kepadamu"

Giok Liong tercengang batinnya, 'kalau tahu tidak pantas kenapa kau tanyakan kepadaku? 'Dalam hati ia berpikir begitu namun tanyanya bersikap manis, sahutnya.

"Ahi nona Kiong terlalu sungkan"

Kiong Ling-ling menghela napas sambil menunduk. katanya.

"Tabiat ayahku sangat jeleki dalam segala urusan kuharap siau-hiap suka mengalah kepada beliau. Kebaikanmu ini sungguh akan ku ingat selalu, rasa terima kasih ku ini baiklah akan kubalas pada lain kesempatan"

Teringat akan kata sindirannya terhadap Ci hu-sin kun tadi, merah jengah muka Giok Liong, sikapnya menjadi rikuh, katanya.

"Nona Kiong, watakku sendiripun kurang mendapat penghargaan, untuk kcerobohan tadi kuharap nonapun suka memaafkan."

"siau hiap terlalu merendah diri, sebetulnya ayahku..."

Bicara sampai di sini Kiong Ling-ling mendadak hentikan ucapan selanjutnya. Giok liong tidak tahu juntrungannya, tanyanya.

"Bagaimana dengan ayahmu?"

"sebetulnya ayahku sangat kagum dan memuji kau"

Terdengar ucapan Kiong Ling-ltng ini merupakan rangkaian kata yang terucapkan secara lahiriah, terang kata-katanya ini mengandung arti yang mendalam, itu berarti babwa diantara mereka ayah beranak secara diam diam pernah membicarakan perihal diri Giok-liong.

Mendadak tampak ci-hu ji-lo meluncur tiba, setelah hinggap ditanak langsung mereka bicara kepada ci-hu-giok-li Kiong Ling-ling.

"cengcu menyuruh hamba berdua kemari melayani siocia"

Ci hu giok-li cemberut, katanya jengkel.

"Aku toh bukan anak kecil umur tiga tahun, siapa kesuda n perlindungan kalian?"

"Ya"

Ci-hujuIo mengiakan sambil melangkah mundur setindaki "Cepat kalian layani ayah saja. Tak perlu urus aku."

Lagi-lagi Ci hu-ji-lo mengiakan bersama, Tapi tetap berdiri tanpa bergerak. ci-hu giok li Kiong Ling-ling menjadi gemas, bentaknya sambil membanting kaki.

"suruh kalian pergi"

Lalu ia memburu maju sembari angkat tangan hendak memukul desaknya lagi.

"Laporkan kepada ayah, katakah bahwa aku segera menyusul datang."

Ci-hujuIo menjadi kewalahan terpaksa mereka baru angkat kaki, ujarnya sembari membungkuk hormat.

"Terima perintahi harap siocia lekas datang supaya Cengcu..."

"Sudah tahu, pergi, lekas pergi"

Melihat Kiong Ling-ling marah-marah ci-hu-ji lo menjadi takut, cepat-cepat mereka mengiakan terus menjejakkan kakinya, tubuhnya meluncur cepat kebelakang terus berlari kencang laksana terbang.

Giok-Iiong berpikir, watak Cihu-sin-kun berangasan dan ketus, ternyata tabiat putrinya juga keras kepala, Tanpa merasa Giok-liong menjadi geli, katanya tersenyum.

"sin kun sedemikian prihatin akan keselamatanmu maka silakan nona cepat kembali"

Siapa nyana mendadak biji mata Kiong Ling-ling melerok tajam, mulutnya cemberut, rutuknya.

"Apa? Kau tidak sudi bicara dengan aku?"

"Bukan Bukan"

Cepat-cepat Giok-liong menyahut.

"Bukan begitu maksudku."

"Kalau tidak tentu kau membenci aku?"

"Tidak Tidaki tentu tidak"

"Tidak benci? itu berarti kau suka kepada aku"

Serta merta tergetar hati Giok liong seketika merah jengah mukanya, mulutnya ter-kancing sambil tersenyum getir, tapi tidak bisa tidak ia harus bicara, terpaksa dengan terlongo ia manggut-manggut.

Dengan mengigit bibir cihu-giok li Kiog Ling-ling tertawa wajar, katanya pula.

"Apa betul?"

Terpaksa Giok liong manggut-manggut lagi.

"Kalau begitu, ingin kutanya sesuatu kepadamu, kau tidak boleh mengapusi aku"

"selamanya aku yang rendah belum pernah ngapusi orang, kalau tidak ya bungkam saja, entah persoalan apa yang ingin nona tanyakan?"

Bibir ci hu giok li Kiong Ling ling sudah bergeraki namun urung bicara, agaknya sukar dan malu untuk diutarakan kedua tangannya hanya mengucek-ngucek ujung baju-nya.

Giok Liong menjadi heran, tanyanya.

"Nona, coba katakan"

Akhirnya ci-hu-Giok Li Kiong Ling-Iing mau bicara dengan malu malu.

"sebetulnya kan suka Ling soat-yan, Tan soat kiau atau suka kepadaku?"

Habis berkata mukanya lantas merah malu sampai ketelinganya, kepala juga ditundukkan, sikap yang malu dan kikuk sungguh sangat menggiurkan dan membuat orang iba.

Mimpi juga Giok-liong tidak menyangka orang bakal menanyakan persoalan ini padanya.

Keruan ia menjadi kemekmek dan bungkam tak tahu cara bagaimana harus menjawab.

Tak nyana meski tak berani angkat kepala terdengar suara Klong Ling-ling mendesak lagi.

"Coba katakan Kenapa takut-takut? sebenarnya kau cinta kepada siapa?"

Giok liong semakin keripuhan, sambil menyengir sekian lama baru mulutnya bersuara.

"semua sama baik "

"sebetulnya siapakah yang lebih baik ?"

"Kalian ..bertiga... sama baik "

"Aku tidak tanya siapa baik siapa jeleki yang kutanya ialah kau suka kepada siapa?"

Jantung Giok-liong selincah rusa kecil yang melonjaklonjak karena kekenyangan berloncatan tiada hentinya, jalan darahnya mengalir lancar mendebur seperti ombak samudera, walaupun ia sendiri tidak tahu bagaimana jantungnya bisa berdetak sebegitu cepat, tapi persoalan yang dihadapi sekarang sebetulnya sulit untuk dijawab, bagaimana mungkin ia memberi jawaban suka kepada salah seorang diantara mereka bertiga.

Bicara terus terang, kalau dirinya diteruskan memilih satu diantara bertiga gadis rupawan ini, semua rata-rata setali tiga uang sama-sama mempunyai keelokan dan kelebihannya sendiri-sendiri.

Jangan kata secara berhadapan langsung begini ia harus memberikan perbedaan jawaban, seumpama seorang diri membatin dalam hati, iapun takkan mudah mengambil ke putusan yang tetap.

"Anak Ling... anak Ling..."

Terdengar panggilan cihu-sin-kun dari kejauhan semakin mendekat. Giok Liong seperti mendapat pertolongan dewata, terlepas dari belenggu kesukaran, cepat ia berkata.

"Nona Kiong, sin-kun tengah memanggilmu "

Ci hu-Giok Li menjadi jengkel, mulutnya cemberut, sembari membanting kaki mulutnya mengomel gemes.

"Aku tahu Kau tak mau mengatakan itu berarti kau tidak suka kepada aku. Baik, sudahlah "

Setelah berkata dengan laku aleman melangkah mundur terus menjejakkan kaki melejit ke tengah udara mulutnya menyahut lantang.

"Aku disini "

Kepergian Kiong Ling-ling yang marah-marah ini membuat Giok-liong menjublek ditempatnya sekian lamanya, matanya mendelong mengantar bayangan orang lenyap di kejauhan, seketika terasa hatinya menjadi kosong hampa dan rawan, tak tahu apa yang harus ia lakukan selanjutnya.

Kini berkecamuk pertanyaan Kiong Ling-liog tadi, siapakah diantara ketiga gadis rupawan yang dicintainya ?

persoalan ini sungguh sangat aneh dan lucu, dirinya tak mampu memberi jawaban.

sebelum ini belum pernah terpikirkan hal ini dalam hatinya, sekarang setelah ditanyakan oleh Kiong Ling-ling hal ini lantas terkesan sangat dalam lubuk hatinya, seperti diatas kertas putih yang berlepotan tinta hitam yang tak mungkin bisa dihapus lagi.

sekian lama ia terlongong seperti kehilangan semangat berdiri dihembus angin malam, terlupakan olehnya tujuan semula yang hendak memeriksa rumpun pohon pendek didepannya sana, dari mana tadi terdengar tepukan tangan dan bayangan orang yang mencurigakan.

"siau-hiap, apakah baik-baik saja sejak berpisah ?"

Entah sejak kapan disampingnya sudah berjajar empat orang tua yang bertubuh tinggi kekar. Giok liong tersentak menjerit kaget.

"siau-hiap "

Dengan gelagapan Giok-liong mundur selangkah, waktu matanya melihat ke depan, seketika ia berjingkrak kegirangan serunya lantang.

"Empat orang tua yang gagah perwira, Iwekangnya tinggi dan lihay, kiranya adalah kalian Pak-hay-su lo "

King-thian-sin Lo Say, Wi thiau-ing Yu Pau, Ka-liong Gi Hong dan Li Hian menyahut bersama.

"Hamba berempat mendapat perintah pribadi majikan menyusul kemari, sekaligus untuk menanyakan keselamatan siau hiap"

Tersipu-sipu Giok-liong memberi soja, ujarnya.

"Terima kasih, kalian berempat ke-Buh-ih-san..."

Tak menanti Giok-liong bicara selesai, Li Hian sudah menimbrung .

"Kita diperintah oleh majikan "

"Apakah juga karena buku catatan rahasia didasar Rawa naga beracun itu ?"

"Betul."

Sahut Li Hian sungguh-sungguh.

Diam-diam Giok-Iiong menjadi mengeluh dalam hati.

sebab Iwekang Pakhay-su-lo ini benar-benar sangat tinggi, latihannya sudah sempurna, jangankan empat orang bergabung, satu lawan satu saja paling-paling dirinya hanya lebih unggul sedikit.

Umpama tidak membicarakan kepandaian silat, hanya budi yang ditanam Li Hian terhadap dirinya saja sukar untuk dapat membalasnya.

Dan yang lebih celaka adalah majikan Ping goan di laut utara itu juga memberi hati dan sangat prihatin terhadap dirinya, beruntun mengirim undangan, memberi hadiah Ciam liam lui-siau hwi-soat-ling serta menyembuhkan racun Lu hwe-bo-cing, betapa banyak dirinya berhutang budi.

Teringat pula akan kata-kata Kim-Iing-cu yang mengatakan bahwa dirinya mempunyai hubungan yang erat sekali dengan Ping-goan di laut utara itu, sekarang demi pusaka itu su-lo telah diutus kemari, sudah tentu mereka bertekad untuk dapat merebut pusaka itu, kalau dirinya....

Bukankah dirinya sendiri juga bertekad untuk mendapatkan pusaka itu, bagaimana baiknya?

Tanpa merasa Giok liong tertawa kecut, ujarnya.

"Majikan Pak-hay kalian kiranya juga senang akan keributan, sedemikian jauh menyuruh kalian meluruk kemari."

King-thian-sin Lu say berkata.

"Bukan itu saja, sebelum berangkat kita ada dipesan wanti wanti betapa pun dengan cara apa saja harus mendapatkan barang pusaka didasar Rawa naga beracun."

Giok Liong semakin was-was, tanyanya.

"Jikalau sukar memperolehnya bagaimana ?"

Kata Wi-thian-eng YU PaU dengan serius.

"Majikan ada pesan seumpama harus berkorban juga harus berhasil merebutnya, dapatlah dibayangkan betapa teguh keputusannya ini "

Keruan ,Giok-liong semakin kwatir dan cemas, mulutnya hanya mengiakan saja. Sekarang Li Hian membuka kata mengalihkan pokok pembicaraan.

"Sungguh tak kira ternyata siau hiap sudah lebih dulu tiba diBu-ih san "

Giok-liong menjadi heran, tanyanya .

"Majikan Pak-hay tahu kalau kau hendak kemari ?"

Li Hian menggeleng kepala, sahutnya .

"Majikan terima laporan bahwa katanya siau-hiap sudah beranjak menuju ke utara menepati janji ke Pak-hay, maka beliau segera mengeluarkan perintah sepanjang jalan ini supaya melayani dan menjemput siau-hiap. Maka cepat sekali beliaupun tahu kalau ditengah jalan siau-hiap putar balik menuju ke Bu-ih-san sini "

Giok-liong bersoja lagi, ujarnya.

"Majikan kalian terlalu prihatin terhadap aku "

Lahirnya ia berlaku tenang dan angkat bicara, hakikatnya hatinya semakin was-was dan cemas berpikir keras, Dengan kepintaran dan kecerdikan otak Giok Liong, sesaat ini rasanya menjadi bebal dan tak terpikirkan olehnya cara bagaimana ia harus menerangkan kepada Pak hay-su-Io bahwa ia sendiripun sudah bertekad hendak merebut pusaka yang tersimpan di dasar Rawa naga beracun itu.

Pak-hay-su-lo merupakan tokoh kelas wahid yang banyak pengalaman dalam dunia persilatan sikap Giok liong yang tidak tenang dan dirundung kecemasan itu siang-siang sudah dapat diketahui oleh mereka, maka segera Li Kian berkata sambil tersenyum.

"siau-hiap, harap maaf kalau aku terlalu banyak mulut, naga-naganya kaupunya persoalan yang mengganjal lubuk hatimu ?"

Giok Liong menjadi jengah, sahutnya tersekat.

"Ah Tidak Tidak ada persoalan apa-apa."

Li Hian mengerutkan kening, ujarnya.

"Tidak itulah baik Kalau ada silahkan katakan saja kita berempat pasti membantu sekuat tenaga dengan kemampuan kita berempat."

Giok liong berpikir.

"soal sulit ini kukira kalianpun takkan dapat menyelesaikan sebab menurut perkiraannya, betapapun mereka tidak mungkin membantu kepentingan dirinya sehingga berani mengingkari perintah majikannya,"

Maka dengan tersenyum kecut ia berkata.

"sebelumnya kuucapkan banyak terima kasih "

Lalu ia mendengar melihat cuaca, sambungnya.

"Hari sudah hampir pagi, silahkan kalian pergi ke Tok-liongtam dulu "

Segera King-thian-sin menjura, ia tanya .

"Untuk memperebutkan pusaka dalam dasar Tokiliong-tam itu, kami harap siau-hiap suka memberi muka dan mengalah."

Giok Liong tergagap dan mengiakan seadanya, Keadaannya sungguh serba sulit, tak bisa ia memberikan jawaban yang pasti, cara yang terbaik adalah melihat situasi dan bertindak menurut keadaan nanti.

Kata Pak-hay-su-Io bersama .

"Hamba berempat mendengar siau hiap sudah memasuki pegunungan Bu-ih, maka sejak tadi kita menanti disini, Kami kwatir mungkin siau-hiap juga bertekad mendapatkan pusaka itu maka perlu memberi penjelasan supaya tidak salah paham."

Sebetulnya inilah kesempatan terbaik untuk Giok Liong menuturkan maksud tujuannya yang sebenarnya.

tapi sebelum duduk perkara di Tok-liong-tam menjadi jelas lebih baik tetap bungkam saja, maka dengan hambar ia berkata .

"Boleh kita bicara pada waktunya saja, kukira diantara kita jika ada persoalan toh gampang dirundingkan."

"Ya, siau-hiap silakan "

Ujar pak-hay-su-Io berbareng.

"Maaf aku yang rendah mendahului "

Tanpa banyak kata lagi ,Giok-liong langsung melejit menuju puncak di sebelah depan, dimana tadi para gembong iblis tadi menuju.

Mendadak tergerak hatinya, secepat itu otaknya berputar, batinnya, kenapa tidak begitu saja, Maka cepat-cepat ia menghentikan larinya terus melompat balik, Kebetulan Pak-hay su-lo serempak tengah melejit maju sudah puluhan tombak jauhnya.

Maka Giok-liong lanras berteriak.

"Para sahabat tua, harap tunggu sebentar"

Pak hay-su-lo bersama menghentikan luncuran tubuhnya, terus melenting balik, tanyanya.

"siau-hiap ada urusan apa ?"

"Para jagoan yang meluruk ke Bu ih san malam itu termasuk Ci hu-sin-kun yang paling digjaya, maka harap kalian berempat berlaku hati hati "

Ucapan Giok-liong ini bermaksud memancing pandangan pak-hay su-lo terhadap Ci hu sin-kun. Pak-hay-su-Io menunjukkan sikap prihatin, katanya bersama.

"Memang dia merupakan tokoh yang paling sukar dilayani, tapi kita berempat tidak perlu gentar menghadapi ci-hu sinkun itu."

Giok liong rada lega, katanya.

"Tapi kukira kalian perlu waspada."

"Terima kaiih atas perhatian siau hiap "

Sahut Pak hay sulo.

"Silakan "

Lenyap suaranya tubuh Giok Liong lantas meluncur laksana anak panah melesat.

Pak hay su-lo juga ikut mengembangkan ilmu ringan tubuhnya terus berlari kencang langsung menuju ke TOkliong-tam.

Dalam pada itu, sekejap saja Giok-liong sudah terbang jauh sekali, masih tubuhnya terapung ditengah ndara, lapat-lapat kupingnya sudah mendengar suara gaduh dari percakapan orang banyak yang berkumpul menjadi satu, tahu dia bahwa para gembong-gembong iblis itu sudah saling berhadapan dan tengah berdebat dengan seru.

Waktu Giok Liong meluncur turun dan menghinggapkan kaki di tanah, terasa hawa dingin lantas merangsang badannya terlihat sebidang rawa yang permukaan airnya kemilau ditimpa sinar sang putri malam, letak TOk liong-tam ini memang benar-benar sangat berbahaya, luas rawa tidak lebih puluhan tombaki airnya berwarna biru kelam, sekelilingnya dipagari lamping gunung yang curam serta licin tak gampang kaki berpijak disana karena seluruhnya sudah lumutan.

Dari kejauhan sudah terasa hawa dingin menembus tulang menghembus dari permukaan Rawa naga beracun ini, betul

Tiraikasih WEBSITE

http.//kangzusi.com/ betuI merupakan tempat yang penuh mengandung mara bahaya.

sekitar pinggir Rawa berkelompok para kawanan iblis, masing-masing tengah saling bersitegang leher mendebat dan menarik kawan untuk memperkuat kelompok masing-masing.

Pandangan mata ci-hu-sin-kun laksana bara api tengah menatap permukaan air yang tenang tak bergeraki dibelakangnya berdiri ci-hu-Ji lo, sikap mereka serius dan prihatin agaknya tengah menghimpun tenaga untuk berjaga menghadapi seggla kemungkinan.

Kiong Ling-ling sendiri juga tidak ketinggalan menahan napas mengawasi permukaan air.

Lambat laun suasana menjadi tenang dan sunyi, perhatian seluruh hadirin mulai tertuju ke permukaan air rawa.

Giok liong hinggap diatas sebuah dahan pohon tua yang rimbun di sebelah kanan sana, tanpa mengeluarkan suara sedikitpun, agaknya tiada seorangpun diantara hadirin yang mengetahui kehadirannya itu.

Tatkala itu permukaan air rawa yang berputar tenang itu mendadak bergelombang keras mengeluarkan suara seperti mendidih kemana-mana.

"Hah"

"sudah keluar... ke.."

Hadirin menjadi gempar dan berseru kejut, serempak memburu maju lebih dekat ke pinggir rawa, tiap bergerak untuk menubruk. (Bersambung ke

Jilid 29)

Jilid 29 sekonyong-konyong seekor burung air yang besar berpekik kejut dari rumpun alang-alang di pinggir rawa sebelah sana terus terbang ketakutan.

Semua hadirin menjadi menghela napas panjang, mereka menjadi geli dan mengelus dada.

Melihat sikap dan tindak dan tanduk orang-orang itu, Giok Liong menerka dalam hati, tentu ada orang yang sudah terjun ke dalam air, kalau tidak masa mereka berlaku begitu gugup dan tegang.

Memang tepat dugaannya, diantara para gembong gembong iblis itu tampil, keluar seorang laki laki pertengahan umur berpakaian ala sastrawan umumnya, jubah biru yang panjang melambai tertiup angin, sembari tersenyum simpul mulutnya komat-kamit seperti menggumam seorang diri, suaranya keras.

"Suhu air rawa ini sungguh luar biasa, rawa ini merupakan tempat paling berbahaya dari segala danau laut atau sungai yang pernah kulihat. Mengandal kepandaian renang Siangkang-siang-hiong (dua orang gagah dari sungai naga), kukwatir mereka bakal menemui ajalnya di sini."

Nada bicaranya wajar dan sikapnya acuh tak acuh, terang bahwa dia sendiri punya pegangan akan kepandaiannya.

"Pek-tocu."

Terdengar Cukong istana beracun ibun Hoat membuka kata.

"Tuan sebagai majikan dari Ham kang-it-to, ilmu renangmu tentu mempunyai keistimewaan tersendiri, apa kau ada maksud mencobanya ?"

Laki laki pertengahan umur yang bicara tadi bukan lain adalah majikan Ham kang-it-to Pek su-in, sembari gelak tawa ia berkata lantang .

"Aku belajar ilmu renang selama empat puluh tahun, Ham kang merupakan aliran terdingin di seluruh jagad ini, suhu bekunya kukira tidak lebih rendah dari rawa ini, bukan aku orang she Pek suka mengagulkan diri, Hehehehe, hanya mata air semacam ini belum dapat mempersukar diriku "

Tergerak hati Giok-liong, pikirnya.

'Jikalau pusaka rahasia itu terjatuh di tangannya, tidak sukar aku dapat merebutnya,' Muka Cukong istana beracun ibun Hoat yang tepos dan kering itu menyeringai dingin, katanya "Kalau begitu, kenapa tidak kau tunjukkan kemampuanmu itu."

Ham kang-it-ho Pek su-in semakin takabur karena dieluelukan, katanya lantang.

"Tak perlu aku malu sungkan dan pura pura, Kalau aku berani kemari sudah tentu akan kucoba terjun kedalam rawa nanti tapi..."

Ia menghentikan kata-katanya sembari tersenyum penuh arti.

Hadirin yang tengah pasang kuping mendengar perca kapan ini dengan cermat, melihat ia mendadak menghentikan kata-katanya, seketika banyak yang menjadi ribut dan menimbrung.

"Akan tetapi apa? Kenapa kau tidak segera coba turun ke air?"

Sepasang mata ibun Hoat yang bersinar tajam menerawang ke meluruh hadirin, mulutnya lantas berteriak.

"Ya. kenapa Peksto-cu tidak segera mencobanya."

Ham-kang it-to Pek su-in tertawa dingin, katanya sambil melebarkan tangan.

"Kalian bersitegang leher begini, siapa yang berani terjun menempuh bahaya."

"Terjun menempuh bahaya?"

"Coba pikirkan, suhu dingin air rawa ini dapat membekukan darah, mengeraskan tulang menghancurkan nadi, bagi orang yang berani terjun meski betapapun kuat pertahanannya, setelah keluar dari air tentu akan kehilangan hawa murni dan kehabisan tenaga, bocah umur tiga tahunpun gampang saja dapat mencabut jiwanya, apalagi....Hahaha Pek su in bukan seorang goblok masa harus melakukan pekerjaan orang bodoh Hahaha... .."

Gelak tawanya kumandang mengguntur menggetarkan alam sekitarnya.

"Eh"

Cukong istana beracun mulutnya mendesir alisnya berkerut dalam, tiba-tiba dengan langkah enteng ia maju beberapa langkah mendekati Ham-kang in ho Pek su in, katanya perlahan.

"Pek-tocu Aku ingin merundingkan sesuatu dengan kau"

Ham-kang-it-ho tertawa nyengir serba misterius, ujarnya.

"Ada urusan?"

"Ibun Hoat jangan kau mengacau"

Belum lagi ibun Hoat menjawab, Ci-hu-sin-kun Kiong-ki sudah melesat di belakang Ham-kang-it-ho Pek su-in sembari menggeleng keras, katanya.

"Pek-tocu kalau kau benar-benar mampu terjun ke dalam rawa ini..."

Belum habis ia bicara, mendadak putaran air rawa menjadi semakin keras dan bergelombang mengeluarkan suara gemuruh, seketika perhatian seluruh hadirin tertuju ke arah rawa lagi.

sekian lama air rawa bergolak seperti mendidih, mendadak tergulung keluar dua sosok tubuh manusia "Sudah keluar"

"Liong-kang-siang-hiong sudah keluar."

Giok ling yang berada dipuncakpohon melihat paling tegas, apa yang dipanggil Liong-kang-siang-hiong tidak lebih hanyalah dua sosok mayat yang sudah kaku, masing-masing berwarna putih dan merah, pakaian renang mereka masih melekat di-atas badannya.

Mengikuti gelombang air rawa kedua sosok mayat itupun berputar-putar cepat seperti kitiran.

"blup", tiba-tiba tersedot teng gelam pula kedalam air terus menghilang. seluruh hadirin mengawasi dengan mata terbuka lebar, napaspun ditahan saking tegang. Ham kang-it-ho su-in tertawa tawar, ujarnya .

"Bagaimana dugaanku tadi ?"

Berkatalah Ci-hu-sin-kun deagan semangat menyala .

"Ada Lohu disini, Pek Tocu silakan kau terjun saja, setelah naik kedaratan nanti, biar Lohu membantumu menghadapi mereka."

Seketika bersinar biru kelam sepasang biji mata Cukong istana beracun ibun Hoat, pandangannya mengandung kebencian dan nafsu membunuh yang tebal, mulutnya menyeringai dingin.

sebetulnya Cukong istana beracun ibun Hoat bukan takut seratus persen menghadapi Ci-hu-siu-knn, dalam hal adu Lwekang sedikit banyak cukup untuk bertahan sekian lama, justru karena perhitungan yang dianggapnya sempurna maka sejauh ini ia berlaku sabar dan mengalah saja, hakikatnya yang diincar adalah buku rahasia dalam rawa itu, sebelum duduk perkaranya dibikin jelas, tak sudi ia paling bentrok dengan orang sehingga menghabiskan tetaga sendiri, yang penting harus menghimpun tenaga untuk bergerak pada babak terakhir merebut pusaka itu.

ci-hu-sin-kun tidak memandang sebelah mata kepada seluruh gembong-gembong iblis yang hadir, maka tiada sesuatu yang dikwatirkan dengan bengis ia menghardik .

"Ibun Hoat Apa yang kau tertawakan ?"

Acuh tak acuh ibun Hoat berkata .

"Lwe-kang sin-kun meski lihay dan menjagoi didalam dunia persilatan, tapi jangan lupa dua kepelan sukar menghadapi empat tangan, orang gagah paling gentar menghadapi keroyokan orang banyak."

Demikian sindirnya. Ci-hu-sin-kun menjengek dengan berang.

"Bila hendak main keroyok untuk mencapai kemenangan, Huh, Lohu tidak akan mundur setapakpun."

Ibun Hoat menggoyangkan tangan kecil yang kurus kering katanya .

"Bukan hanya aliran Tok-liong saja. Coba kau buka matamu lebar-lebar."

Tangannya menunjuk keseluruh gelanggang lalu tambahnya lagi.

"Mentang-mentang kau tidak pandang sebelah mata kepada para kawan kangouw ini, apa kau tidak kwatir menimbulkan angkara murka mereka, ketahuilah orang yang sudah gugup dapat melompati belandar, anjing yang kepepet dapat melompati dinding, sampai kelinci yang terdesakpun bisa menggigit orang, Hehehehehe"

Ibun Hoat tua-tua keladi, mulutnya tajam dan licik lagi, banyak tipu dayanya dengan kata-kata sindiran ini hakikatnya ia mengobarkan kemarahan hadirin untuk memusuhi Ci-hu sin-kun.

sepihak ia mendesak orang banyak untuk menekan Ci-husin-kun, lain pihak mengadu domba mereka kepada Cihu-sinkun menanamkan rasa dendam dan sakit hati.

Betul juga ada berapa banyak gembong-gembong iblis diantara para hadirin lantas mendelik dengan pandangan berapi api mengawasi kearah Ci-hu-sin-kun, dari sikap mereka yang garang ini jelas kelihatan mereka berani berlaku nekad untuk mengadu jiwa.

Melihat hasutannya yang licik ini membawa hasil akan reaksi yang nyata ini, Cukong istana beracun semakin takabur, mulutnya lagi-lagi menggumam "Kalau kau Ci-hu-sin-kun sendiri yang terjun ke air dan berhasil mengambil pusaka itu mungkin orang lain tak berani sembarangan bergerak tapi..."

Saking menahan gusar muka Ci-hu-sin kun sudah berselubung hawa ungu yang tebal, mulutnya mendesis berat.

"Tapi apa?"

"Tapi, hehehe orang yang mampu terjun kedalam rawa bukan kau Ci-hu-sin kun"

"Kata-kata Lohu seumpama perintah saja, selalu kutepati betapa juga akan kulindungi orang yang terjun kedalam air."

"Kalau begitu kenapa kau tidak melindungi Liong-kangsiang-hiong?"

Sungguh sangat kebetulan, belum lagi lenyap suaranya, tampak tubuh Liong-kang-siang-hiong terpental mumbul dari permukaan air karena tergulung cepat oleh pusaran air yang dahsyat "Plung "

Kedua mayat tadi tersembul ke luar dari permukaan air itu kecemplung lagi terus tenggelam, air muncrat kemana-mana pemandangan ini sungguh sangat menggiriskan dan mengerikan.

Cihu-sinkun menjadi murka, dengan berjingkrak sambil melangkah maju.

"Ibun hoat, kalau kau tidak terima, boleh silakan rasakan kemplangan Lohu "

Dasar wataknya memang berangasan dan keras, seiring dengan lenyap suaranya, langsung tubuhnya menubruk maju berubah segulung kabut abu-abu terus merangsang ke arah ibun Hoat.

Asap biru bergulung mengembang terbang kesamping setombak lebih, gesit sekali Cukong istana beracun melejit menyingkir dari rangsekan yang dahsyat ini.

"Byar"

Tenaga pukulan Ci-hu-sin kun masih terus menerpa kedepan berubah segulung angin puyuh yang dahsyat menerjang ke permukaan air rawa yang berputar kencang itu, air lantas muncrat dan berombak tinggi laksana tonggak perak mengeluarkan suara gaduh yang mendebarkan hati.

"Plak,plak"

Kebetulan kedua mayat Liong-kang-siang-hiong terbawa arus tonggak air yang muncrat itu sehingga terpental jauh dan terdampar diatas pasir kuning.

Kelihatan seluruh tubuhnya sudah berobah hitam legam, kaki tangannya kaku, keadaan sungguh sangat menyedihkan.

Melihat pukulannya tidak mengenai sasarannya, Cihu-sinkun semakin murka.

sebaliknya Cukong istana beracun ibun Hoat semakin takabur dan bergelak tawa sepuasnya, serunya.

"Coba lihat saudara-saudara bukti pernyataan tadi yang hendak melindungi siapa saja yang berani terjun kedalam air, siapa saja yang tidak takut akan Ci-hu sin kuog-ciang, silakan dengar dan patuhilah petunjuknya tadi"

Seluruh hadirin menjadi gempar, berkobar hawa amarah mereka, seketika yang berdarah panas lantas mencaci maki .

"Tujuan yang keji sekali "

"Tindakan yang ganas licik sekali "

Sampai matipun tak diampuni, keterlaluan...

begitulah dari sana sini terdengar umpat caci saling bersahutan serta saling lomba.

semua mencerca dan menista Ci hu-sin-kun.

sebagian besar adalah hasil dari adu domba Cukong istana beracun ibun Hoat yang bermulut tajam, selebihnya karena merekapun berwatak tamak mengincar buku catatan rahasia yang tersimpan di dasar mata air rawa naga beracun ini.

Kemarahan masai sukar dibendung, begitulah menghadapi caci maki yang ribut itu Cihu-sin-kuo semakin berang seperti kebakaran jenggot, namun semakin marah napas memburu, mulutnya sukar bicara.

Melihat adegan yang serba runyam bagi tuan dan ayahnya Ci-hujulo dan Ci-hu-giok-li berubah hebat air mukanya, masing-masing melejit maju kedua samping Ci-hu sin kun bersiaga sembari mengerahkan tenaga dalam.

suara makin semakin riuh dan ribut seperti bergolak.

kuping sampai terasa judek.

Diantara mereka yang mengudal ludah dan pentang bacot, terutama pihak anak buah istana beracun dan Mo khek adalah yang paling keras dan paling kotor makiannya.

Akhirnya tak tertahan lagi kemarahan Ci-hu-sin-kun, dampratnya dengan berjingkrak.

"yang tidak terima silakan tampil kedepan, seorang laki-laki sejati kenapa mesti mengudal mulut berteriak kesetanan macam kentut busuk"

Dua sosok bayangan meluncur maju ke-tengah gelanggang, ternyata Cukong istana beracan dan Gu-bingkhek cu Li Pek-yang tampil bersama maunya berbareng .

"jangan sombong kau, biar kita belajar kenal dan mengukur sampai dimana kehebatan ilmu sakti tunggal dari aliran Ci-hukalian"

"Begitupun baik"

Sahut Ci-hu-sin kun.

Tanpa banyak kata lagi tiba-tiba badannya melenting tinggi ketengah udara, ditengah udara ia goyangkan kepalanya, seketika rambut panjang yang tergelung diatas kepalanya lantas terurai melambai, kabut abu abu menyelubungi seluruh tubuhnya, dimana kedua tangannya bergerak dua pancaran sinar kemilau yang menyilaukan mata lantas menyibak maju menukik kebawah.

Cukong istana beracun Ibun Hoat berdiri disebelah kiri, telapak tangannya terkembang pelan-pelan digerakkan membundar terus didorong kedepan.

Demikianjuga Gu-bingkbek cu yang berdiri disebelah kanan menggerakkan kedua lengannya sedemikian rupa seperti kupu-kupu beterbangan menandingi musuh yang menerjang tiba.

Tiga tokoh silat kelas wahid masing-masing sudah kerahkan seluruh latihan Lwe-kangnya di kedua telapak tangan masingmasing "Blang"

Letusan keras menggetarkan bumi sehingga rumput dan batu beterbangan, begitu keras letusan ini bak umpama guntur menggelegar, laksana angin lesus menerpa tiba, betapa hebat danperbawa adu kekuatan ini betul-betul sangat menakjubkan dan belum pernah terjadi selama ini di kalangan Kang-ouw.

Tengah seluruh hadirin kesima akan kedahsyatan adu tenaga yang hebat ini, sekonyong-konyong bayangan hitam bergerak-gerak,puluhan bayangan hitam yang mengenakan seragam hitam dengan kedok hitam pula tahu-tahu sudah meluncur tiba mengelilingi Tok Liong-tam, begitu lincah dan sebat sekali terus berpencar keempat penjuru, diatas baju depan dada masing-masing tersulam pelangi merah darah yang menyolok mata.

Melihat kedatangan para bandit-bandit dari Hiat hong-pang ini, seketika merah membara biji mata Giok-Liong, seketika terkilas kenangan lama dalam otaknya.

Terbayang betapa keji dan ganas sepak terjang kawanan bandit dari Hiat-hong pang ini sehingga akhirnya dirinya memasuki lembah kematian, kedua tangannya dikepalkan erat-erat.

Tapi dalam keadaan yang tegang dan gawat ini, tak pernah ia turun tangan, begitu kawanan Hiat-hong-pang ini muncul, setelah saling mengadu sebuah pukulan lagi Cukong istana beracun Ibun Hoat lantas melejit mundur, teriaknya bengis.

"Para muridku dengar perintah, siapapun dilarang mendekati pinggir rawa sejauh tujuh kaki, bila berani melampaui ketentuan ini, boleh silakan bunuh dan bikin hancur lebur "

"Terima perintah."

Gemuruh anak buahnya menerima perintah, seketika bayangan bergerak serabutan, seluruh anak buah istana beracun berpencar menjaga sekeliling pinggiran rawa, dengan membelakangi rawa menghadapi seluruh gembong-gembong iblis yang hadir, semua bersiaga menggerakkan tangan melancarkan pukulan, wajah mereka biru kelam..

Di sebelah sana Gu-bing-khekscu Li Pek yang juga tidak mau kalah wibawa berteriak lantang.

"Para Tongcu pimpin rasul masing masing bersama dengan para saudara dari istana beracun menjaga siapa saja yang berani mendekati pinggir rawa tujuh kaki bunuh tanpa kompromi."

Delapan belas Tongcu beserta ratusan rasulnya masingmasing serempak mengiakan dengan suara yang gegap gempita, segera mereka bergerak menurut perintah yang berlaku.

Wajah tua Ci-hu-sin-kun berubah ungu gelap, badan sampai gemetar saking menahan gusar, dengusnya sembari menghentakkan kaki.

"Terlalu menghina orang "

Melihat musuh sudah bersiaga melolos pedang menghunus golok serta segala senjata tajam lainnya, Ci-hu giok-ti menjadi gelisah, betapa tinggi kepandaian ayahnya kalau harus seorang diri melawan jago-jago berani mati demikian banyaknya, tentu akhirnya akan konyol sendiri Maka pelanpelan ia menghampiri kesamping ayahnya, serta bisiknya sembari narik baju ayahnya.

"Yah, sekarang belum saatnya untuk mengadu kekuatan."

Mendadak sesosok bayangan hitam melesat turun dihadapan mereka, kiranya Hiat-hong-pangcu yang berkedok itu telah berkatanya lirih.

"Sin kun Tak perlu menggunakan kekerasan terhadap mereka, urus saja mereka yang berani terjun ke dalam rawa lebih penting "

Dalam keadaan gawat dan terdesak begini, memang Ci-hu sin-kun perlu bala bantuan tenaga dan pikiran orang lain, melihat Hiat-hong pangcu berpihak kepada dirinya betapa girang hatinya, alis tebalnya berjengkit, sahutnya .

"Tepat sekali ucapan Pangcu "

Hiat hong pangcu berkata lagi .

"silahkan sin-kun pegang tampuk pimpinan dalam gelanggang, anak buahku biar berjaga diluar lingkaran, asal ada orang berani terjun ke air, setelah berhasil para gembong iblis dari istana beracun dan Mo khek biar dihadapi anak buahku, sin kun dan aku melindungi orang yang naik kedarat itu, bukankah cara itu sangat aman, kalau tidak bakal memperoleh pusaka terbenam itu, buat apa kita membuat onar dan penghabisan tenaga, kan sia sia belaka."

Berseri girang wajah Ci hu-sin-kun, ujarnya.

"Akal yang cukup cerdik"

Matanya lantas melirik ke arah Ham-kang-it-ho, tiba-tiba entah dengan gerakan apa tubuhnya berkelebat cepat sekali melayang laksana bayangan setan melejit tiba disamping Ham-kang it-ho Pek su-in, telapak tangannya segede kipas terus mencengkeram telak sekali pundak orang telah digenggamnya.

Tindakan Ci-hu-sin kun ini dilakukan secara tiba-tiba, sebelum Ham-kang-it-ho Pek su-in sempat berteriak tahu-tahu pundaknya sudah kesakitan, sepuasnya ia berusaha meronta tapi sia sia, maka dengan pandangan sayu ia berkata.

"sin-kun Kau..."

Suara Ci-hu-sin-kun keras lantang.

"Tocu tak perlu ragu Lohu melindungi kau terjun ke air."

Sesaat Ham kang.it-ho menjadi terlongo, sahutnya tersekat "Tapi.... kalau mendarat..."

"Kalau Lohu sudah berani menanggung kau terjun ke air, tentu melindungimu naik ke darat"

Hiat-hong pangcu juga menghampiri, katanja dengan tekanan berat.

"Pek-tocu, silakan berlega hati kau terjun ke air, urusan naik ke daratan biar sin-kun dan aku yang mengurusnya ."

Disebelah sana Cukong istana beracun dan Tu-bing-khek-cu mendadak tertawa tawa dingin tak bersuara. Ham-kang it-ho Pek su in ragu-ragu, ujarnya mendelong.

"Setelah aku mendarat, tentu kehabisan tenaga, saat mana...."

Ci hu-sin kun menjadi tak sabaran, katanya.

"Masa kau tidak percaya pada Lohu..."

Lalu ia melangkah lebar ke pinggir Rawa, mulutnya tetap mengoceh.

"Lohu membuka jalan"

Sebelah tangannya dikembangkan ke-depan, sedang tangan yang lain melindungi dada, setiap saat siap lancarkan serangan hebat.

Para anak buah istana beracun dan Mo khek yang menjaga dipinggir rawa serentak merubung maju ke arah sini, meski mereka takut dan gentar, betapa juga perintah harus dilaksanakan.

untung sebelum mereka bertindak Cukong istana beracun Ibun Hoat sudah menjebirkan bibir memdengus memberi isyarat sembari menggoyangkan kedua tangannya.

Gu bing khek-cu Li Pek-yang berkilat matanya, setelah tangannya diangkat tinggi menyetop aksi bawahannya.

Dua pentolan iblis ini bersama memberi tanda kepada anak buahnya supaya menyingkir kesamping membiarkan ci hu-sinkun mengapit Ham kang it-ho diikuti Hiat-hong-pangcu beranjak ke pinggir rawa.

Begitu tiba dipinggir air, mereka bertiga dengan natiap memandang air yang berputar cepat seperti kitiran menimbulkan pusaran angin dingin yang menembus tulang, seketika mereka bergidik.

"Pek-tocu"

Suara Ci-hu-sin-kun berat dan serius.

Air muka Ham-kang-it-ho Pek su-in membeku, pelan-pelan ia jongkok mengulur tangan menyentuh air, lantas cepat-cepat ditariknya kembali, air mukanya kontan berubah hebat,desisnya.

"Dingin Dingin Dingin sekali"

Tanya Hiat-hong pangcu.

"Bagaimana kalau dibanding Ham-kang kalian"

Ham-kang-it ho Pek su-in menggelengkan kepalanya sembari melelerkan lidah, katanya.

"Kecepatan putaran air inijauh lebih keras, suhu dinginnya jauh lebih membekukan tulang..."

"Bagaimana?"

Tanya Ci-hu sin kun.

"Mungkin aku yang rendah juga tidak akan kuat bertahan dinginnya, tak kuasa mengendalikan diri dari pusaran air yang kuat itu "

Hiat hong pangcu menjengek dingin.

"Pek tocu di seluruh Bulim pada jaman ini ilmu renang dibawah air kecuali kau seorang tiada keduanya lagi, kenapa kau begitu merendah diri"

Waktu itu, beratus pasang mata seluruhnya terpancar tajam menatap kearah Ham-kang it-ho. Ci hu sin kunjuga tertawa kering ujarnya.

"Betul Pek-tocu silakan"

Tangannya diulur menyilakan, naga-naganya kalau dirinya tidak mau menurut bakal didesaknya terjun ke air.

Ham kong it ho berpaling ke belakang dilihatnya Ci huji lo sudah menutup jalan mundurnya, di paling belakang adalah dua belas anak buah Hiat hongpang yang mengelilingi, terang dirinya sudah terkepung begitu rapat untuk mundurpun tak mungkin Dan di kedua sampingnya masing-masing berdiri Ci hu sin kun dan Hiat hong pang-cu, jarak mereke tidak lebih hanya dua kaki, Keadaan dirinya boleh dikata seumpama naik ke punggung harimau kalau turun takut dicaplok tidak tiada tempat untuk pegangan kecuali terjun kedalam air tiada jalan lain dapat ditempuhnya.

Darah menjadi bergolak dan jantung berdebar keras, kerongkongan terasa kering dan suara menjadi sember, terpaksa akhirnya ia menyahut.

"Baiklah biar kucoba "

Lalu ia menjahitkan lengan bajunya melepas kan jubah biru panjang, maka terlihatlah pakaian dalamnya yang ketat warna biru berminyak, itulah pakaian peranti berenang dalam air, dari dalam kantongnya dikeluarkan pelan sebuah topi yang terbuat dari kulit ikan berbentuk seperti kepala kera terus dikenakan diatas kepalanya, panjang topi ini sampai ringkas menutupi leher, setelah diikat dengan kencang hanya terlihatlah sepasang matanya.

setelah semuanya dipersiapkan Ham-kang-it-ho tidak lantas turun ke air, mulutnya tiba-tiba mengeluarkan gerungan panjang, seperti lenguh kerbau kelaparan kakinya ditekuk terus duduk bersila, menghimpun semangat menenangkan pikiran, mulai semadi.

Tak lama kemudian kelihatan diatas kepalanya mengepulkan uap putih yang panas, uap itu bergulung dan tersendut-sendut diatas kepalanya sebesar mang kok seperti kabut tebal yang mengepul keluar dari bara api yang menganga.

Tak lama kemudian uap putih ini semakin melebar dan membesar seperti baskom membumbung ke atas kita-kira lima kaki tingginya, seluruh hadirin menahan napas, seluruh perhatian mereka tertuju kearah Ham-kang-it-ho yang tengah semadi itu, setupun tiada yang bersuara.

ci-hu sin-kun tahu bahwa orang tengah menghimpun hawa murni memusatkan suhu badannya ke dalam pusarnya, Lwekangnya-pun tak ketinggalan dikerahkan untuk melindungi badan untuk menahan suhu dingin air rawa yang membekukan itu.

Maka iapun tak bersuara supaya tidak mengganggu.

Di tempat sembunyinya diam-diam Giok-liong membatin.

'Naga-naganya Ham-kang-it-ho memang benar benar hendak terjun ke dalam air, aku harus hati-hati dan waspada, aku harus sigap bertindak sesaat waktu orang muncul dari air merebut pusaka itu, kalau terlambat begitu sampai terjatuh ke tangan Ci-hu sin kun, urusan selanjutnya tentu sukar diatasi.' Karena pertimbangan ini, diam-diam Giok lioogpun menghimpun semangat dan memusatkan seluruh perhatiannya, sekejappun matanya tidak berkedip.

sebentar lagi, sekonyong-konyong dengan gaya Peng-receng hun badan Ham-kang it-ho Pek Su-in mencelat mumbul keatas, sepasang biji matinya bersinar tajam mengawasi permukaan air rawa yang masih berputar kencang itu, mulutnya mendesis.

"Hmm saudara-saudara nantikan dengan sabar, biar aku yang rendah turun ke air sebentar."

Tanpa menunggu penyahutan orang banyak, dengan gayajiang-liong-jip-hay (ular naga menukik kelaut).

"Blang "

Kepalanya meluncur dan selulup dulu kedalam air, laksana anak panah seperti ikan besar terus selulup ke dalam rawa.

Kepandaian renang Ham-king-it-bo memang bukan olaholah pintarnya, waktu tubuhnya meluncur amblas ke dalam air sedikitpun air tidak muncrat, airpun tidak bergelombang hanya terlihatlah riak gelombang yang melebar menjadi bundaran besar dan terus menghilang.

seluruh hadirin menjadi melongo, mata mereka terbelalak mengawasi permukaan air.

Agak lama kemudian baru mereka berseru memuji bertepuk tangan tanpa berjanji, suara nya keras dan gegap gempita.

Ci hu-sin kun juga berseri tawa dengan senang dan bangga, katanya kepada Hiat-hong pangcu.

"Pangcu, harap perintahkan kepada anak buahmu, boleh silakan mereka istirahat sebentar."

Hiat hong-pangcu membalas dengan tertawa riang, katanya pelan-pelan.

"Tidak perlu, anak buahku sudah gemblengan semua tak perlu istirahat "

Kata-katanya ini mengandung arti yang tajam, tak lain untuk menyindir kepada anak buah dan kamrat-kamrat istana beracun serta Mo khek.

Cukong istana beracun dan Gu bing-khekscu tengah berdampingan dan berbisik-bisik, entah apa yang tengah mereka rundingkan.

sekonyong-konyong permukaan air bergolak lagi, seluruh hadirin menjadi gempar semua meluruk semakin dekat ke pinggir rawa.

Terlihat tubuh Ham-kang it ho Pek su-in tiba-tiba melesat keluar setinggi dua tombak dengan luncuran miring menuju ke pinggir rawa, tapi mungkin karena kehabisan tenaga sehingga luncuran tubuhnya di tengah jalan menjadi lamban dan merandek terus meluncur hampir kecemplung ke air lagi.

Giok-liong tersentak kaget, baru saja ia hendak menerobos keluar dari tempat sembunyinya tapi sekilas itu dilihatnya kedua tangan Ham-kang it-ho kosong melompong tak membawa apa-apa, Lwekangnya juga sudah susut sebagian besar, besar dugaannya bahwa iapun tak berhasil, karena tak kuat bertahan dari dinginnya suhu beku air rawa maka lantas meronta keluar.

Maka urung ia melesat keluar tetap sembunyi lagi menonton dari tempat sembunyi.

Cihu-sin kun yang berdiri dipinggir rawa berjarak paling dekat, sigap sekali tubuhnya melejit tinggi dengan gaya Liu-in jut-siu tangannya diulur terus meraih tubuh Ham kang it-ho terus jumpalitan kembali ke daratan.

Keadaan yang kalut dan geger dari para hadirin dan merubung maju itu kini menjadi tenang kembali setelah melihat keadaan ganjil dari tubuh Ham kang-it-ho, tahu mereka bahwa Pek su-in belum berhasil mengambil buku catatan rahasia itu, maka seketika suara ribut sirap semua menonton lagi dengan penuh kesabaran.

Keadaan Hamkang-it ho lemas lunglai dipanggul oleh Ci husin-kun terus direbahkan diatas tanah, kelihatan sepasang mata-nya yang berkilat tajam tadi kini sudah guram dan kuyu, pelan-pelan dengan susah payah ia angkat sebelah tangannya, seluruh tubuhnya gemetar.

Hiat-hong-pangcu memburu maju ikut memayang tubuh orang, katanya.

"Pek tocu, bagaimana keadaan didalam rawa tadi"

Pucat dan membiru muka Ham kang-it-ho saking kedinginan giginya berkerutuk tak mampu mengeluarkan suara.

Cepat-cepat Ci-hu sin kun mengulur tangan kanannya memegang tangan kiri Pek su-in, telapak tangan mereka berhadapan, katanya.

"Pangcu, papah dia berduduk. biar aku mengerahkan hawa murni membantunya menghilangkan rasa dinginnya."

Lalu ia kerahkan lwekangnya disalurkan melalui telapak tangannya.

Kira-kira setengah jam kemudian, wajah pucat seperti kertas Ham kang-it ho Pek su in mulai bersemu merah, masih dengan rasa keder dan kedinginan ia berkata.

"Dingin Dingin aku sudah berbuat sekuat tenaga"

Seluruh hadirin bungkam, keadaan sunyi senyap. semua memasang mata mendengarkan. Kata Ham-kang-it-ho Pek su-iu tersendat.

"Disini air rawa ini boleh dikata merupakan nomor satu diseluruh jagat ini, merupakan pengalaman pertama seumur hidup aku orang she Pek."

Ci-hu-sin-kun lepaskan tangan, katanya.

"Apakah kau sudah melihat pusaka yang terendam di mata air itu?"

Ham kang it ho Pek su in manggut-manggut, katanya rada keras-"Aku orang she Pek sudah mengerahkan seluruh kemampuan menyelam sampai ke dasar air, aku menggigit gigi menahan dingin, kira kira seratus tombak dalamnya, aku keterjeng sebuah gelombang pusaran air yang dingin dan besar sekali daya sedotnya menyelubungi sebuah tongkat batu bundar sebesar meja, begitu cepat dan keras daya putarannya.

Betapa besar daya kekuatan yang terpendam dalam gelombang pusaran air ini sehingga aku tak kuasa mendekat, rasa dingin sih boleh dikesampingkan"

"Tongkat batu bundar"

"Ya di ujung tongkat batu bundar samar-samar terlihat sebuah kotak mas persegi panjang satu kaki, sinar mas kelihatan berkilau menyolok mata."

"Kenapa kotak mas itu tidak hanyut keterjang air bah, apa..."

"Sin kun, maka dinamakan mata air sebab itu merupakan aliran gelap di dasar bumi, waktu air berputar ditengahnya kosong tak berair dan tak berhawa, bukan saja kotak mas itu hakekatnya tidak kena air malah tergantung disana, masa bisa hanyut."

Ci hu sin kun menjadi mengurut kening, ujarnya.

"Kembali alam memang sulit diatasi oleh manusia, keajaiban ini benar-benar menakjupkan dan sukar dimengerti."

Hiat-hong pangcu menimbrung.

"Pek-tocu kenapa kau tidak mengambil kotak mas itu?"

Para hadirin menjadi geger lagi, ada yang ikut berteriak bertanya.

"Yah, kenapa tidak kau ambil?"

Ham kang-it-ho su-in tertawa hambar, katanya kepada Hiat-hong-pangcu.

"pangcu, kau terlalu gampang menilai pekerjaan..."

Berkedip mata Hiat-hong-pangcu tanyanya.

"Kenapa?"

"Kenapa"

Ham-kang it-ho Pek su in menjadi uring-uringan mukanya mengunjuk rasa tak senang ujarnya.

"Rasa dingin di dasar rawa laksana badan dicocoki ribuan jarum, kekuatan putaran air sedemikian dahsyatnya lagi, betapa besar daya sedotnya sungguh sukar dilukiskan, seumpama kau Pa ngcu Lwekangmu tinggi menjagoi seluruh dunia tiada tandingan, mungkin juga hanya mandah melihat tak dapat mencapainya."

Merah muka Hiat-hong-pa ngcu, katanya tergagap.

"Ini... aku... aku tidak bisa berenang, mana bisa... dibandingkan kau."

Kata Ham-kang-it-ho Pek su in lebih keras.

"Bukan soal bisa renang atau tidak, soalnya karena putaran air yang dahsyat itu cukup bisa membuat orang mati karena badannya diputar jungkit balikkan."

Ci-hu-sin-kun tersenyum getir, ujarnya .

"Kalau begitu, kotak mas itu..."

Sampai disini sepasang matanya mengawasi wajah Hamkang it-ho Pek su-in. Ham-kang-it-ho Pelc su-in menggelengkan kepala, katanya.

"Aku dapat mengukur diriku sendiri takkan mungkin dapat menerobos ke dalam pusaran dahsyat didasar mata air itu. aku terima kalah"

Hiat-hong-pa ngcu melenggong, ujarnya.

"Tapi entah cara bagaimana orang yang meletakkan kotak mas itu dapat menerobos masuk kedala m pusaran mata air itu"

Ci hu-sin-kun juga berkata.

"Benar, apakah beliau seorang dewata?"

Giok-liong juga berpikir .

"Benar, ayahkujuga berdiri dari darah daging, malah tak bisa renang lagi, mungkin..."

Tenaga Ham kang it-ho sekarang sudah pulih sebagian besar, suaranya terdengar lebih lantang .

"Orang itu tentu dibekali sinkang murni dari aliran cincong ( lurus) yang kuat bertahan dari serangan air dan api, bukan saja latihannya sudah sempurna, kepandaiannya tentu juga sangat lihay, gampang saja dia menerobos masuk kedalam pusaran serta meletakkan kotak mas itu di-sana, mungkin pekerjaan yang bagi orang lain ini dianggap sukar dan mustahil baginya hanya seperti membalikkan tangan gampangnya."

Gembong gembong iblis yang ikut hadir menjadi bergidik dan melelerkan lidah mendengar cerita yang sulit dipercaya ini.

Demikianjuga Cihu-sin-kun yang selamanya mengagulkan kepandaiannya saat inijuga tersumbat mulutnya tak berani banyak komentar lagi.

sebab walaupun semua hadirin dari gembong iblis ini meski kepandaian dan Lwe-kang mereka ada yang tinggi dan sempurna, namun tiada seorangpun yang pernah mempelajari sinkang dari aliran lurus itu, boleh dikata mereka seluruhnya dari perguruan sesat dan liar, maka tiada seorangpun yang berani banyak bertingkah lagi.

Tergerak hati Giok-Liong, batinnya.

"Kalau orang membekal Lwekang dari aliran lurus kuat bertahan terjun kedasar rawa Jilo merupakan pelajaran dari Ji bun yang lurus juga, entah apakah kuat bertahan dari serangan dingin dan pusaran air dahsyat itu?"

Karena pikirannya ini hatinya lantas tertarik dan timbullah niatnya, pikirnya.

"Naga-naganya terpaksa aku harus terjun sendiri keair, demi pesan peninggalan ayah bundaku, meskipun harus menemui ajal juga berharga pengorbananku."

Setelah dipikirkan hatinya menjadi mantup, sembari membetulkan pakaiannya ia siap hendak terjun kedalam air.

sekonyong-konyong dipinggir sebelah sana terjadi keributan lagi, kiranya pada saat yang gawat ini Pekshay su lo telah muncul bersama, begitu datang Kiong-thian-sin Lu say lantas berdiri diatas onggokan tanah yang tinggi serta serunya lantang.

"Para sahabat Bulim sekalian, Pak hay-su-lo bersama menyampaikan selamat bertemu kepada kalian."

Setelah berkata sepasang matanya berkilat menatap ke sekelilingnya. Muka ci-hu-sin-kun cemberut, mulutnya menyeringai dingin. King thian-si Lu say berseru lagi.

"Ketahuilah, bahwa pusaka dalam dasar rawa ini ada pemiliknya, benda yang tersimpan disana itu bukan buku catatan rahasia silat, pokoknya tiada bermanfaat bagi kalian, maka janganlah kalian timbul rasa tamak hendak merebutnya, silakan lekas pergi, tinggalkan tempat ini supaya tidak menimbulkan banyak pertikaian diantara sesama kawan Bulim."

Suaranya keras lantang laksana guntur, setiap kata sangatjelas, terang ia kerahkan Lwekangnya untuk berkata, tujuannya memang hendak memamerkan tenaga dalamnya yang hebat sehingga alam sekelilingnya mendengung, suaranya bergema diatas pegunungan.

Sudan tentu kata kata Lu say ini menimbulkan berbagai reaksi, disana sini menjadi ribut, namun tiada seorangpun yang berani tampil kedepan memberi jawaban.

Tak lama kemudian King-thian-sin Lo say berseru lagi lebih keras.

"Kalian sudah dengar belum ?"

Cukong istana beracun ibun Hoat terkekeh, ujarnya.

"Dengar sih sudah dengar, tapi kata-katamu tentang pusaka itu sudah ada pemiliknya, itu apa maksudnya, apakah benda di dasar rawa itu adalah orang pihak Ping-goan di Pakhay sana yang meletakkan disana?"

Giok-liong bersorak dalam hati, tergerak benaknya, betul dan tepat sekali pertanyaan ini. Tak duga King-tian-sin Lu Say menjadi tak senang, ujarnya.

"Ibun Hoat, apa pedulimu tentang ini."

Tu-bing-khekscu Li Pek-yang sebera menimbrung.

"Ping-goan dilaut utara bisa turut campur urusan di Tionggoan sini, kenapa pihak Tionggoan kita tidak boleh mengurus urusan kita sendiri"

Li Hian menjadi murka bentaknya sambil mengacungkan kedua kepalannya.

"Li Pek yang, perhitungan antara kita dulu masih belum diselesaikan tutup mututmu, lekas cawat ekormu dan kabur pulang ke sarang iblismu, kalau tidak hm"

Gu bing-khekscu Li Pek-yang menyeringai sahutnya.

"Kau ini pesakitanku yang ku kurung selama puluhan tahun berani bertingkah disini, kalau Lohu tidak berbelas kasihan, mungkin..."

"Kau kentut apa."

Sebat sekali sosok tubuh Li Hian berkelebat tahu-tahu ia menerjang tiba dihadapan Gu-bing-khekscu, jarak mereka tidak lebih hanya lima kaki.

Cukong istana beracun Ibun Hoat seorang bandot tua yang licik penuh akal muslihatnya, mana sudi pihaknya cakarcakaran lebih dulu dengan pihak Ping-goan di laut utara yang dipelopori oleh Pak hay-su-lo bukankah melemahkan pihak sendiri juga menguntungkan bagi Ci hu-sin-kun dan Hiathong-pang.

Maka cepat-cepat ia tampil ke depan sembari melirik ke arah Gu bing-khek cu Li Pek-yang memberi isyarat, katanya.

"Nanti dulu Hari ini kita datang karena pusaka dalam dasar rawa itu, pertikaian pribadi yang lain lebih baik dikesampingkan dulu."

Lalu ia memutar tubuh menjura kepada King thian-sin serunya.

"Urusan terjun kedalam rawa adalah menjadi tanggung jawab Ci husin kun kita beramai hanya sebagai penonton belaka, harap kalian suka berunding dengan siu-kun seorang cikal bakal yang di agungkan."

Kata-kata terakhir bernada menyindir, tujuannya adalah hendak memutar tujuan pokok menimpahkan kesulitan kepada orang lain, dalam hal ini adalah aliran Ci-hu dan Hiat-hongpang lah yang di maksud.

Betul juga segera King thian-sin Lu say turun dari gugusan tanah tinggi pelan-pelan beranjak ke pinggir rawa, katanya sembari soja kepada Ci-hu-sin kun.

"Ci-hu-bun sudah menggetarkan BuIim selama puluhan tahun, apakah sin-kun sudi menanamkan diri dalam pertikaian malam ini?"

Serius wajah Ci-hu-sin-kun, katanya.

"pusaka dunia persilatan yang sudah turun temurun merupakan tradisi bagi kaum persilatan untuk memperebutkannya, aliran Ci-hu-bun tidak akan ketinggalan dalam kebiasaan umum ini, dapat atau tidak memperolehnya nanti merupakan persoalan kedua, adalah keadilan dan kebenaran kaum persilatanlah yang harus ditegakkan dan dilindungi."

Ucapannya ini tiada juntrungannya yang menentu bukan mendebat tapi juga tidak mengakui. Malah setelah berkata Cihu-sin-kun lantas membalik tubuh menghadap Ham-kang-itho Pek su in katanya.

"Pek-tocu, silakan kau menyibukkan diri sekali lagi."

Ham-kang-it ho Pek su in mengunjuk rasa keberatan sesaat mulutnya terkancing. Dari samping Hiat-hong pangcu ikut membujuk.

"Pek-tocu sesudah sampai pada tahap sekarang lantas mengundurkan diri, bukankah sia sia belaka energi yang telah kita buang, sayang sekali,"

Akhirnya Ham-kang it-ho terbujuk juga, katanya mendehem sembari menghela napas.

"Menurut kebenarannya bukan hanya membekal Lwekang dari aliran lurus saja yang mampu terjun ke dalam air yang disayangkan..."

"Bagaimana?"

Tanya Ci hu-sin kun cepat-cepat.

"sayang sekali aku bukan jaka tingting, sebetulnya dengan kepandaian renang aku orang she Pek dan ketahanan dalam kebekuan dingin itu sekuatnya masih bisa mencapai tujuan, sayang aku tidak membekal TOng-cu kang (latihan lwekang seseorang yang belum pernah kawini, hawa murniku kurang kuat, mungkin aku akan mengecewakan belaka."

Mendengar penjelasan ini ci hu-sin-kun dan Hiat hong pangcu lantas mengunjuk seri tawa girang sebab harapan mereka menjadi bertambah tebal akan kemampuan Hamkang-it-ho terjun kedua kalinya ini.

Desak ci-hu sin-kun Kiong Ki.

"Kalau begitu, silahkan Pek-tocu mencoba sekali lagi, kalau benar benar tidak mampu, aku orang she Kiong tidak berani memaksa supaya Pek-tocu tidak menderita."

Sudah menjadikan kodrat alam bahwa watak manusia itu selalu lobha dan moha, kadang-kadang manusia menjadi korban akan ketamakan sifatnya sendiri tanpa disadari, sedari dulu kala entah sudah berapa banyak manusia yang hancur dan konyol karena rakusnya ini.

Demikianlah keadaan Ham-kang it ho Pek su-in, hatinya tergerak dan kecantol akan bujuk manis ini, sambil manggutmanggut ia menyahut.

"Baiklah aku orang she Pek secara suka rela mendharna baktikan tenaganya lagi."

Lalu ia bersila dan mulai semadi menghimpun tenaga dan semangat, hawa murni di pusatkan di pusar terus menimbulkan tenaga dalam yang mulai gairah.

Melihat dengan beberapa kata saja Ci-hu-sinkun tanpa menghiraukan dirinya.

King-thian-sin menjadi dongkol, apalagi orang tinggal bicara saja dengan Ham kang-it-ho, tanpa perdulikan mereka, keruan gemes dan jengkel hatinya, dengusnya.

"Siapa yang tidak tahu diri, silakan cicipi pukulan geledek kita bersama."

Lalu tanpa pandang kepada orang lain ia berkata kepada tiga saudaranya .

"Para adikku, berjaga masing-masing satu jurusan, begitu ada orang berani terjun ke air pukul saja dengan tenaga pukulan jarak jauh."

"Kami paham."

Sahut tiga saudara muda yang lain. serempak mereka bergerak bersamaan masing-masing menduduki satu kedudukan yang menguntungkan, nyata Pak

Tiraikasih WEBSITE

http.//kangzusi.com/ hay-su-lo sudah bertekad merintangi siaoa saja yang berani terjun ke air, dilihat dari sikap mereka nyata takkan segansegan mereka turun tangan sesuai dengan ancaman tadi.

Dengan kedipan mata Ci-hu-sin-kun memberi isyarat kepada Hiat-hong-pa ng-cu, Hiat-hong-pangcu manggutmanggut, paham akan maksudnya, pelan pelan ia angkat sebelah tangannya memberi aba-aba kepada anak buahnya yang berpencar di empat penjuru.

Di lain pihak atas kepala Ham-kang-it-ho sudah mengepulkan segulung uap putih yang semakin melebar dan meninggi, Para gembong-gembong iblis yang mengelilingi rawa naga beracun seiring dengan situasi yang meruncing gawat ini hati masing-masing semakin tebang.

Sekonyong-konyong diketahui oleh Giok liong di sela-cela semak gunung yang gelap di sebelah sana kelihatan rumput dan daun-daun pohon bergerak pelan dan lirih sekali, kalau tidak didengarkan dan diawasi secara cermat hampir tidak diketahui.

Bukan saja kejelian mata dan kuping Giok liong jauh melebihi orang lain, apalagi dari tempat gelap melihat ke tempat yang nyata, tempat sembunyinya diatas memandang kebawah lagi maka ia dapat melihat sangat jelas, diam diam ia membatin tentu ada seseorang yang menggeremet sembunyi disana.

Mendadak terdengar ci hu sin kun berteriak keras.

"Pakhay su lo, bagaimana juga biarlah Pek-tocu mencobanya sekali lagi"

King thian-sin Ln say menyahut lantang dan tegas.

"Tidak bofeh."

"yang terakhir saja."

"Betapapun tidak bisa"

Hiat hong pangcu tampil ke depan serta timbrungnya .

"Kalau kalian sendiri tidak mampu terjun ke air mengambil pusaka itu, kenapa merintangi orang lain, tindakan kalian bukankah keterlaluan dan tidak punya aturan."

Ka liong gi Hong menyeringai tawa, ujarnya .

"Dari mana kau tahu kita tidak mampu selulup ke air ?"

Jawaban Gi Hong ini kontan membuat seluruh hadirin terkejut.

Tergetar jantung ci hu sin kun, seketika berubah air mukanya.

sebab salah seorang Pak-hay-su-lo yang berjuluk Ka-liong Gi Hong justru melupakan seorang ahli bermain dalam air sesuai dengan nama julukannya, Ka-liong (ular naga) Lwekang dan latihan kepandaiannya nampaknya tidak dibawah kemampuan Ham-kang-it-ho Pet su-in.

Apalagi su lo berempat sama-sama jaka ting-ting belum pernah kawin, maka latihan Lwekang mereka adalah TOng-cu kang, syarat paling tepat untuk menyelam ke dasar rawa tanpa kwatir kedinginan atau tak kuat bertahan diri pusaran air besar itu.

Kepandaian mereka yang lihay dan tinggi ini sudah puluhan tahun kenamaan di seluruh dunia persilatan sebagai empat tokoh lihay seperti saudara sekandung sendiri.

Kalau menurut tutur kata Ham-kang-it-ho Pek su-in tadi.

justru Ka liong Gi Hong adalah calon yaag paling tepat untuk terjun ke air rawa mengambil kotak mas di mata air itu, seumpama segampang mereka mengambil sesuatu barang dari dalam kantongnya saja.

Kalau Pak hay-sulo sekarang tidak mau bekerja terang karena kwatir begitu Ka-liong Gi Hong berhasil dan keluar dari rawa bukan saja Lwekang dan tenaganya sudah terkuras habis takkan kuat lagi menahan serangan dari luar, terutama gembong-gembong silat lihay seperti Ci-hu sin kun dan lain

Tiraikasih WEBSITE

http.//kangzusi.com/ lain, paling tidak satu diantara saudaranya itu harus melindungi dirinya.

Paling banyak dua diantara Pak hay-su-lo mereka yang dapat berkelahi menandingi kerubutan sekian banyak musuh, dengan sendiri kekuatan mereka menjadi jauh lebih lemah, menang atau kalah menjadi sukar diramaikan.

Kalau sekarang mereka merintangi siapa saja yaag hendak terjun ke air, dengan gabungan kekuatan mereka berempat terang kemenangan bakal dipihak mereka.

Berpikir sampai disini, melihat situasi yang semakin gawat ini, hati Ci-hu sin-kun menjadi semakin gelisah.

Kebetulan saat itu Ham-kang-it-ho Pek Su-in sudah melompat bangun dari duduk semadinya, matanya tajam mengawasi Ci-hu sin-kun tanpa berkata-kata, naga-naganya ia gentar menghadapi ancaman Pak-hay-su lo yang serius tadi.

ci-hu sin kun menjadi nekad, katanya sembari menepuk pundak Ham-kang-it-ho Pek su in .

"Pet-tocu silakan terjun "

"Coba siapa yang berani "

Gerung King-thian sin Lu say sembari mendelik, Ham kang-it-ho Pek su in maju mundur tak berani segera ambil keputusan. Ci hu-sin-kun murka, bentaknya.

"segala biar Lohu yang tanggung jawab,"

Tiba-tiba sekuatnya ia dorong tubuh Ham-kang-it-ho Pek su in dari belakang.

Tanpa kuasa tubuh Ham-kang it-ho Pek su ii lantas mencelat tinggi terus meluncur ketengah rawa.

Kalau dikata lambat kenyataan adalah sangat cepat, berbareng dengan mencelatnya tubuh Pek Su in serentak meluncurlah empat gelombang angincukulan yang miris sehingga hawa sekeliling terasa bergolak mem-buntak menggeledek.

Terdengar Pakhaysulo memaki bersama sembari melangkah setindak-"Berani mati"

"Gempur"

"Blang"

"Pyaar"

Suara serangan mendebarkan hati, air muncrat kemana-mana, disusul bayangan orang bergerak-gerak.

"Aduh"

Teriakan panjang tersendat ditengah udara, sosok bayangan yang mencelat ketengah udara itu terpental tinggi disongsong empat jalur pukulan angin dahsyat itu.

Percikan darah muncrat keempat penjuru seperti hujan darah menyapu keseluruh gelanggang seketika hidung semua orang terangsang bau amis memuakkan.

Nyata tubuh Ham kang itho Pek Su in sudah tergetar hancur lebur dan menjadi ber-gedel terpukul oleh pukulan gabungan Pak-hay-su-lo yang hebat itu, kaki tangan dan tubuh serta kepalanya terbelah dan semua jatuh ke dalam air dan sebentar saja lenyap tak berbekas tertelan pusaran air yang deras itu.

Dalam pada itu, dengan menggertak gigi Cihu sin kun lancarkan sebuah hantaman memukul mundur King thian sin Lu Say.

Tanpa ketinggalan secara diam-diam Hiat hong pangcu juga mendorong kedua telapak tangannya dari belakang menggabiok punggung Ka liong Gi Hong.

Mimpijuga Ka liong Gi Hong tidak menduga apalagi kedua tangan tengah memukul kedepan, merintangi Kiam kang it-ho, seketika badannya terhuyung kedepan hampir terjerembab, tanpa ampun darah segar menyembur deras dari mulutnya terus menyemprot kedalam rawa, sungguh luka dalamnya bukan olah-olah beratnya.

Tepat pada saat itulah, bayangan hitam dalam selokan gelap dipinggir rawa seberang sana mulai bergerak semakin cepat.

"Plung."

Suara percikan air yang hampir tak terdengar, tahu-tahu seorang lak-laki pertengahan umur yang telanjang bagian atas tubuhnya sudah meluncur terjun kedalam pusaran air yang keras itu sedikitpun tidak memercikkan air atau mengeluarkan suara, laksana seekor ikan besar yang menggelengkan kepala mengalutkan ekor langsung selulup tenggelam dan dilain kejap telah menghilang di dasar air.

situasi di daratan sedang geger dan bertempur kacau balau, perhatian seluruh hadirin tertuju pada pertempuran kalut ini sehingga tiada satu orangpun yang melihat kejadian ini.

Adalah Giok-liong yang mengumpet di-rimbun dedaunan diatas pohon diam-diam tertawa tawar, bathinnya.

Kepandaian Te ou-sin-kun Ang TO bok biasa saja, namun otaknya cerdik dan banyak muslihatnya, dia ingin mengail ikan di air keruh pada saat yang genting dan kacau ini, dengan menuntun Ahliong-ong menyuruhnya terjun kedalam rawa, perhitungan waktu yang digunakan sungguh sangat tepat sekali.

Tepat pada dugaan Giok liong, tak jauh dimana tempat Ah liong ong meluncurkan tubuhnya terjun dalam air, di tempat yang gelap dan terlindung itu terlihat sepasang mata berkilat kebiru-biruan tengah berputar mengawasi permukaan air yang bergolak itu.

Hakikatnya dia mana tahu, seperti apa yang dikatakan "ceng coreng hendak menerkam tonggeret tak tahunya burung gereja sudah mengintip di belakangnya"

Tanpa pedulikan apapun juga secara diam-diam Giok liong gunakan kesempatan yang baik ini meluncur turun kearah tempat sembunyinya Ang TO bok, lalu pelan-pelan selangkah demi selangkah menghampirinya.

ilmu Ginkangnya sudah mencapai puncak tertinggi jauh melebihi kemampuan Ang Tobok sendiri seumpama malaikat dewata saja tahu-tahu ia sudah berada di belakang orang.

Apalagi situasi yang kacau balau diseberang sebelah sana karena pertempuran yang seru dan gemuruh itu Tampak Pakhay-su lo terkecung ditengah gelanggang.

sementara Ci hu sin kun bersama Ci hu ji lo bergabung dengan ratusan anak buah Hiat hong pang dengan sengit tengah melancarkan serangan yang serabutan, diantara mereka banyak yang bersenjata golok dan tombak serta senjata tajam lainnya, begitu gencar serangan mereka sehingga untuk waktu dekat Pak hay su-lo kena terdesak dibawah angin.

untung pihak istana beracun dan Gu-bing yang berkeliling dilapisan paling luar selalu membokong dan menyerang begitu ada kesempatan.

Mau tak mau pihak Hiat-hong-pa ng dan cihu-bun menjadi was-was karena harus berjaga dan menghadapi musuh dari dua jurusan.

Kalau tidak satu diantara Pak-hay su-lo sudah terluka parah, pastilah mereka bakal konyol dan hancur karena dikeroyok begitu banyak musuh.

Masih banyak lagi gembong-gembong iblis dari berbagai aliran lain yang-mandah menonton dan berpeluk tangan saja tanpa mau campur, seumpama menonton pertarungan dua harimau yang sama kuat.

Tapi ada juga yang sebelum ini sudah ada rasa dendam permusuhan lantas ikut menerjunkan diri ke pihak Hiat-hong pang atau Ci-hu bun, ada pula yang membantu pihak istana beracun dan sarang Hantu.

Yang sama dalam pertempuran kacau balau ini yaitu bahwa kedua belah pihak sama tidak Pertempuran sepenuh hati dan sepenuh tenaga.

sebab semua orang insyaf bahwa pertempuran ini melulu hanyalah sponsor pembunuhan besarbesaran yang bakal terjadi mendatang ini pertempuran adu jiwa yang benar-benar adalah saat perebutan buku catatan rahasia yang terpendam di dasar rawa itu nanti.

Maka pihak istana beracun tidak mau lancarkan ilmu Lan cu tok-yam yang ganas itu.

demikin juga pihak Ci-hu-bun tidak melancarkan Ci-hu-cin-kangnya.

Namun demikian pertempuran kalut ini sudah cukup menggemparkan, inilah merupakan pertempuran besarbesaran antara gembong-gembong iblis sendiri, pertempuran berdarah yang belum pernah terjadi selama ini.

Darah tergenang, bau amis merangsang hidung di sana sini terdengar dengan umpat caci dan bentakan saling susul diiringi jeritan yang menyayatkan hati sebelum ajal.

Dalam pada itu Giok-liong sudah menggeremet tiba di belakang Te-ou sin kun Ang To bok tidak lebih hanya tiga kaki saja jauh-nya, sekali ulur tangan saja cukup meranggehnya, namun sedikitpun Te ou-sin kun Ang To bok tidak insyaf atas ancaman elmaut ini, sepasang matanya berkilat mendelong mengawasi rawa tanpa berkedip.

seluruh perhatiannya dipusatkan kepermukaan air, tangannya memeluk segulung benang panjang yang terbuat dari urat kerbau, ujung benang yang dipeluknya itu terjulur masuk kedalam rawa.

Diam-diam Giok-liong merasa gemes dan geli pula, tahu dia atau muslihat Te-ou sin kun Ang To-bok ini.

Pasti dengan mulutnya yang manis ia menipu Ah-liong-ong yang tumpul otak dan tidak tahu seluk beluk hidup manusia di dunia ramai yang serba licik dan jahat dengan ujung benang halus dari urat kerbau itu ia mengikat tubuh Ah-liong-ong, sedang ujung yang lain dipegang ditangannya, dengan cara ini ia tidak usah kwatir Ah-liong-ong bakal terbang ke atas langit, Memang tipunya ini tepat sekali untuk menjaga supaya Ah-liong ong tidak melarikan diri setelah berhasil mengambil pusaka didasar rawa itu.

Terpikir sampai disini muak dan benci sekali perasaan ,Giok-liong terhadap pribadi Ang Tok-bok yang licik ini, timbul nafsu membunuh dalam kaIbunya, pelan-pelan ia tepuk pundak orang serta panggilnya perlahan dan tertekan .

"Ang To bok "

"ou "

Te-ou-sin kun Ang To-bok berangkat kaget, namun suaranya sirap seketika sebelum terlontar keluar dari mulutnya, karena dua jari tangan ,Giok-liong sudah menutuk tiba sembari menutuk .

"Kau sendiri yang cari mampus "

Sungguh kasihan Te ou-sin-kun Ang To-bok yang bersusah payah mengatur tipu muslihat mempermainkan Ah-liong-ong, sebelum ajal suaranyapun tak terdengar sama sekali, kedua tangannya masih erat-erat memeluk gulungan benang halus itu.

sekali tutuk Giok liong menutukjalan darah mematikan dipunggung Te ou-sin kun Ang Tok bok, lalu menyingkirkan jenazah-nya kesamping lalu ia sendiri menggeremet lebih maju sembunyi ditempat gelap.

dimana ia lebih terang memandang kearah rawa, benang gulungan itu kini berada di tempatnya.

Kini ganti Giok-liong sendiri yang mencurahkan perhatiannya kearah permukaan air, dasar kepandaiannya tinggi, betapapun bisa diketahuinya bahwa di belakangnya lapat-lapat terdengar suara desiran halus, nyata itulah seseorang tengah merangkak dan menggapai-gapai maju kearah dirinya.

Pendengaran kuping Giok liong sangat tajam, boleh dikata sudah mencapai kesempurnaan sesuai dengan bekal ilmu silatnya.

(Bersambung ke

Jilid 30)

Jilid 30 Begitu mendengar desiran halus itu, siang-siang ia sudah waspada, diam-diam hawa Ji lo sudah terkerahkan untuk melindungi badannya, sebelah tangan menggenggam gulungan benang sedang tangan kanan yang lain sudah bersiap-siaga untuk bertindak "Traki cres "

Itulah suara ketipan jari-jari tangan, suatu tanda atau isyarat umum bagi kawanan kaum persilatan saling memberi tanda dan berhubungan, nyata orang ini adalah kawan bukan lawan.

Timbul rasa curiga dalam benak Glok-liong.

Terdengar seseorang berkata.

"Siao-hiap Lo siu Le Siang-san, mari aku tuntun kau keluar dari gunung berbahaya ini."

"Apa menuntun aku keluar gunung?"

Tanya Giok Liong curiga.

Lan ing-mo-ko Le siang-san berbisik pelan "Timbul niat jahat dari Ciang-bun-jin Bu-ih-pay Im-yangkiam Go Beng-hui, ditempat-tempat penting jalan keluar dari seluruh pegunungan Bu-ih-san ini sudah dipendam banyak sekali dinamit dan bahan peledak lainnya.

tujuannya untuk membumi hanguskan seluruh gembong-gembong iblis yang mengobrak abrik sarangnya demi menuntut balas dendam.

Maka perlu kau ikut aku mencari jalan keluar yang selamat."

"Betul ada kejadian begitu ?"

Giok Liong menegas.

"Buat apa LOsiu membual kepadamu, ketahuilah telah dapat kutemukan sebuah jalan rahasia, tanggung kita bakal selamat ke luar dari sini "

Pada saat itulah sekonyong-konyong benang halus yang terpegang ditangan Giok-liong itu bergerak-gerak tertarik kedalam air, terang Ah-liong ong telah memberi syarat kepada dirinya, begitu bergerak benang halus itu terus tertarik semakin keras kedalam air keruan kejut Giok Liong bukan main, pikirnya mungkinkah Ah-liong-ong sudah berhasil....

cepat-cepat kedua tangannya bergantian meraih dan menarik semakin cepat.

Dibela kang sana Lan ing-mo-ko Le siang-san sudah mendesak lagi.

"Siau-hiap. lekas-lekas, begitu terang tanah mungkin kita sudah terlambat."

Giok Liong sendiri tengah gundah dan mengkhawatirkan keselamatan Ah-liong ong yang berada di dalam air, sembari bekerja menarik sekuat tenaga, mulutnya menyahut.

"Terima kasih akan kebaikan Cian-pwe, tapi... ai "

Dari permukaan air muncul sebuah paha besar yang telanjang, terang itulah salah sebuah kaki Ah-liong ong, kiranya ujung benang yang lain itu terikat dipergelangan kaki Ah-liong ong, kini yang tertarik dulu justru kakinya itu yang muncul kepermukaan air, terang jiwanya mungkin susah diselamatkan lagi.

Teriakan kejut Giok-liong disusul mencuatnya suara air seketika mengalihkan perhatian seluruh gembong iblis yang tengah bertempur kacau balau itu, serempak sinar pandangan mereka beralih kepermukaan air.

Malah ada yang terus berteriak .

"Celaka, ada orang terjun ke air mengambil pusaka itu"

Giok Liong tak berani berayal lagi, sekali sendai langsung ia tarik tali ditahannya itu kuat-kuat, kontan seluruh jubah dan pakaiannya basah kuyup kecipratan air dingin.

Nyata tubuh Ah-liong-ong sudah kaku jiwanya sudah melayang sejak tadi, seluruh tubuhnya berubah hitam kebirubiruan, tujuh lobang panca inderanya mengalirkan darah, dipelukan kedua tangannya erat erat menyikap sebuah kotak kuning mas yang berkilauan sesuai seperti apa yang diceritakan oleh Ham-kang-it-ho tadi, yaitu kotak mas sepanjang satu kaki itulah.

Pertempuran kacau balau itu seketika berhenti sendiri, semua tersipu-sipu lari memburu ke arah tempat sembunyi Giok-liong.

Tapi jarak mereka meskipun tidak jauh tapi antara mereka terpaut oleh rawa air yang berpusar sangat deras itu.

Apalagi tempat kedudukan Giok-liong sekarang berada dihimpitan sebuah celahan gunung yang meneliti tinggi keatas, untuk mencapai kelana harus berputar dulu dari pinggiran dan mesti memanjat tebing dan meloncati selokan baru bisa sampai disana, kecuali untuk cepatnya mereka harus melompati permukaan air rawa yang berbahaya itu.

Memang para gembong-gembong iblis yang hadir pada saat itu tak sedikit yang mampu melompati permukaan rawa ini, tapi siapa yang berani menempuh bahaya ini, salah-salah jiwa sendiri bakal menjadi korban secara konyol.

Bukan takut karena jahatnya pusaran air yang menenggelamkan sesuatu yang terendam.

Adalah takut kalau di saat mereka terbang melintas lantas dibokong dengan pukulan maut yang mematikan, apalagi kalau meluncur jatuh tiada satu tempat yang bisa untuk berpijak, terang kalau batal amblas tenggelam kedasar rawa, masakah bisa tetap hidup?

Justru karena sedikit keraguan inilah telah banyak memberi kesempatan bagi Giok-liong untuk menjemput kotak mas terus di-kempit diketiaknya katanya kepada Lan-ing-mo-ko Le Siang-san yang masih mendekam di tanah .

"Le-cianpwe Mari kita cepat pergi."

Lekas Le Siang-sanjuga mengiakan, Seiring dengan suaranya ini badannya lantas melenting tinggi terus beriari cepat kearah timur laksana segulung asap biru yang mengendarai angin mengejar kilat.

Nyata bahwa ia sudah kerahkan seluruh tenaganya untuk lari secepat meteor jatuh.

Ginkang Giok-liong sudah sempurna sudah tentu larinya tidak kalah cepat, Dua gulung asap memutih biru dan putih kejar mengejar berlari pesat laksana dua jalur kilat.

Sebentar saja bayangan mereka sudah selulup timbul diantara semak belukar dan terus menerobos kecelah gunung melompati jurang jauh di belakang mereka, tampak bayangan orang banyak tengah mengejar kencang mendatangi seperti kunang-kunang yang mengejar sinar lentera terdengar pula umpat caci mereka yang kotor dan ribut.

"Bocah keparat, berani mati kau."

"letakkan kotak mas itu nanti kuampuni jiwamu "

"Kurcaci banyak akal muslihatnya "

Demikianlah berbagai makian saling beriomba dilontarkan suara bentakan membuat pegunungan yang sepi sunyi ini menjadi ramai dan bergema sekian lama.

Mendadak seseorang berteriak keras dengan ancamannya.

"Kalau tidak mau berhenti awas kita serang dengan senjata rahasia "

Mendengar ancaman serius ini Lan ing mo-ko Le Siang-san berkata ditengah luncuran udara.

"Siauhiap Hati-hatilah mereka akan menyerang dengan senjata rahasia"

"Tak perlu khawatir."

Sahut Giok-liong.

"Lekas,"

Sembari berkata ia empos semangatnya terus mengerahkan tenaga dari pusarnya dimana Ji-lo sudah menyelubung seluruh badannya kakijuga melangkah semakin kencang.

Harus diketahui bahwasanya Giok-liong bukan gentar atau takut menghadapi kejaran para gembong-gembong iblis itu, yang di kukhawatirkan justeru adalah seperti apa yang dikatakan Lan-in-mo-ko Le Siang-san tadi bahwa pihak Bu ih pay sudah menanam bahan peledak di seluruh pelosok pegunungan ini untuk menumpas mereka seluruhnya.

Menurut perhitungannya setelah lolos dari lingkungan pegunungan yang penuh mara bahaya ini baru ia akan menghadapi gembong-gembong iblis ini, masa mengandal bekal kepandaian sendiri harus gentar menghadapi musuhmusuh jahat ini.

Bagaimana juga dirinya tak perlu khawatir kena rugi.

"seeeeerrrrrr.

","suiiiiiittttt,"

Desiran senjata-rahasia yang memecah udara melesat lewat dipinggir kuping, suaranya keras membising-kan, sungguh mengejutkan perbawa berbagai senjata rahasia yang meluruk sekaligus sebanyak itu.

Berubah air muka Le Siang-san, teriaknya kejut.

"Celaka Mereka benar-benar menyerang deagan senjata rahasia"

"Cian-pwe."

Sahut Goki liong.

"cepat, jangan hiraukan mereka biar aku menjaga dibelakang."

Lan ing mo ko Le Siang-san sudah kerahkan seluruh Lwekangnya, terus berlari kencang seperti dikejar setan, mulutnya berkata.

"Siau hiap. mereka rata-rata adalah gembong-gembong iblis yang kejam dan telengas, tidak sedikit yang membekal senjata rahasia beracun jahat kau harus hati-hati"

Cepat Giok Liong menyahut .

"jangan hiraukan mereka setelah lolos dari mata bahaya nanti kira bicara lagi."

Akan tetapi serangan berbagai senjata rahasia yang memberondong datang laksana hujan deras, rata-rata menggunakan senjata berat dan bisa dilancarkan dari jarak jauh lagi, suaranya semakin membisingkan dan serabutan, bukan sedikit malah semakin banyak suara bentakan dan makian mereka yang mengejar juga semakin dekat jaraknya, terang bahwa para pengejar itu juga telah mengerahkan seluruh tenaganya mengejar mati matian.

Entah berapa jauh kejar mengejar ini sudah berlangsung, di ufuk timur sana tampak sinar pancaran terang sang surya sudah mulai menongol keluar, cuaca mulai terang benderang, Tak berapa lama lagi seluruh jagat itu suda bakal menjadi pagi.

Lan ing mo ko Le siang-san mencari jalan yang menuju ke tempat arah timur terus lari sipat kuping, sambil menuding sebuah gugusan gunung di depan sebelah utara ia berkata.

"Lembah gunung sebelah utara itulah terdapat sebuah jalan keluar yang paling umum dilewati, tapi disitu telah terpendam tidak kurang lima ratus kati bahan peledaki kalau seberang lewat disana, tanggung badannya bakal hancur lebur tanpa bekas lagi."

Sungguh haru dan terima kasih sekali Giok-liong, katanya.

"Kalau tiada petunjuk Cianpwe ini, sungguh tak dapat kubayangkan bagaimana akibatnya nanti."

Dari belakang sana tiba-tiba terdengar gerungan gusar yang keras sekali.

"Le siang san, keparat tua bangka yang tidak tahu dimampus, apa kau sudah bosan hidup ya?"

Terdengar pula seorang lain berteriak.

"Tuan Le, lekas rintangi bocah keparat itu, sekaligus kau akan menjunjung nama dan tenar diseluruh jagat, kalau tidak jangan harap untuk hari hari selanjutnya kau bisa bercokol di dunia persilatan."

Lan ing mo ko Le siang san tetap berlari sekencang angin, mulutnya juga berteriak.

"Omong kosong belaka. sudah setengah abad ini aku orang she Le berkecimpung dalam penghidupan Kangouw, selama ini belum pernah aku kena gertak sambel macam kentut busukmu ini."

Habis berkata mulutnya lantas bersuit melengking tinggi dan keras menusuk telinga, kakinya terus berlari secepat terbang.

Diam-diam Giok Liong menjadi kagum dan memuji akan watak Le siang san yang gagah perwira dan setia kawan ini, maka iapun tak mau kalah cepat berlari dengan pesat Kalau mau dengan kemampuan Giok Liong sendiri apalagi mengembangkan Leng hun-toh mungkin sejak tadi ia sudah tinggalkan para gembong gembong iblis itu jauh dibelakangnya dan mungkin tak kelihatan lagi,.

Akan tetapi dalam keadaan yang demikian ini betapapun juga ia tidak tega meninggalkan Le siang san yang mencoba menolong dirinya dari mara bahaya ancaman peledakan dinamit yang dipasang oleh pihak Bu ih pay itu.

Maka terpaksa ia mengintil dibelakang orang sambil melindungi orang sengaja ia perlambat larinya sehingga dengan kekebalan hawa Ji-lo menyelubungi badannya untuk mengaburkan pandangan para musuh yang mengejar dan menyerang dengan senjata rahasia itu, siapa tahu kalau senjata rahasia yang jahat itu nanti mengenai Le siang-san.

Lambat laun bentakan dan tindakan kaki pengejaran di belakang mereka sudah semakin susut dan semakin sedikit, sebaliknya suara samberan senjata rahasia semakin banyak memberondong tiba.

Tadi yang menyambitkan senjata rahasianya saking gemes sekarang ikut-ikutan menyerang tanpa banyak bersuara lagi.

Pisau terbang berpaku, mata uang atau paku baja dan entah macam senjata rahasia apa lagi yang telah berseliweran memberondong tiba, begitu deras sambaran senjata rahasia seperti hujan layaknya, sampai suara berkerontangan berjatuhan menyentuh batu-batu gunung.

Akhirnya berang juga hati Le siang-san diberondong terusterusan, teriaknya .

Baca Juga: Pendekar Super Sakti 14

Baca Juga: Petualang Asmara 11

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert