Ceritasilat Novel Online

Kembalinya Sang Pendekar Rajawali 20

Eps 20 Kembalinya Sang Pendekar Rajawali - Chin Yung

Baca online Kembalinya Sang Pendekar Rajawali - Chin Yung

Cersil Kembalinya Sang Pendekar Rajawali - Chin Yung.

"tring-tring" , sepasang gelang emas itu membentur kedua tangan Nimo Singh. Tampaknya benturan itu sangat pelahan, tapi entah mengapa, Nimo Singh ternyata tidak sanggup memegangi lagi kedua tongkatnya dan mendadak ia terlempar keras ke belakang.

"blang-blang"

Dua kali kedua tongkat membentur dinding dan membikin debu pasir sama rontok.

Karena tongkat penyangganya terlepas dari cekalan, tubuh Nimo Singh lantas jatuh, tapi si cebol ini memang lihay juga, baru punggungnya menempel lantai, sekali melejit, tahu2 ia meloncat lagi ke atas, sepuluh jarinya yang berkuku panjang tajam itu terus menubruk ke arah Kwe Yang.

Dalam kagetnya tanpa pikir Kwe Yang cabut tusuk kundai kemala hijau yang dipakainya itu terus disambitkan ke depan, terasa angin meniup pula lari belakangnya, tusuk kundai itu disurung cepat ke depan.

Melihat samberan tusuk kundai itu sangat aneh, cepat kedua telapak tangan Nimo Singh memapak ke depan, tapi terdengarlah dia bersuara tertahan, lalu jatuh terdukuk pula dan tidak bergerak lagi.

Kuatir musuh main akal licik, cepat Kwe Yang melompat ke samping Kwe Hu dan berseru dengan-suara gemetar.

"Cici, le.... lekas lari!"

Tapi mereka melihat Nimo Singh tetap diam saja tanpa bergerak sedikitpun ditunggu lagi sejenak juga tetap begitu, Kwe Hu menjadi berani katanya.

"Apakah dia kena penyakit angin duduk dan mati mendadak?"

Segera ia membentak "Nimo Singh, kau main gila apa?"

Kwe Hu pikir musuh sudah kehilangan tongkat dan tidak leluasa bergerak, tentunya tidak perlu ditakuti lagi, dengan pedang terhunus ia lantas mendekatinya.

Dilihatnya kedua mata Ntmo Singh mendelik dengan penuh rasa ketakutan, mulut ternganga lebar ternyata sudah mati sejak tadi.

Kejut, heran dan girang pula Kwe Hu, cepat ia menyulut lilin pada altar sembahyangan.

"belum lagi ia sempat memeriksa lebih jauh, tiba2 terdengar suara orang berteriak di luar kelenteng. Hu-moay Jimoay, apakah kalian berada di dalam kelenteng? Nyata itulah suaranya Yalu Ce. Dengan girang Kwe Hu lantas menjawab.

"Lekas kemari, kakak Ce, sungguh kejadian sangat aneh!"

Sejenak kemudian Yalu Ce berlari masuk dengan dua anggota Kay-pang berkantong enam, Iapun terkejut melihat Nimo Singh tewas menggeletak di situ, ia tahu ilmu silat Nimo Singh sangat tinggi, sekalipun dirinya juga bukan tandingannya, tapi kini jagoan Hindu itu ternyata bisa dibunuh oleh isterinya, sungguh sangat di luar dugaan.

Segera ia mengambil tempat lilin dari tangan Kwe Hu dan mendekati Nimo Singh, setelah diperiksanya, ia tambah keheranan Ternyata kedua telapak tangan Nimo Singh sama berlubang, sebuah tusuk kundai kemala hijau tepat menancap pada Sin-ting-hiat di batok kepalanya.

Padahal tusuk kondai kemala itu sangat mudah patah, namun dapat menembus telapak tangan seorang jago silat kenamaan dan dan sekaligus membinasakannya maka betapa lihay kepandaian pemakai tusuk kundai ini sungguh sukar diukur dan dibayangkan Yalu Ce lantas berpaling dan tanya Kwe Hu.

"Apakah Gwakong datang ke sini? Lekas pertemukan aku dengan beliau."

Kwe Hu menjadi heran, jawabnya.

"Siapa yang bilang Gwakong datang ke sini?"

"Bukan Gwakong?"

Yalu Ce menegas, mendadak ia menjadi girang dan menambahkan "Aha, jika begitu Guruku yang datang!"

Lalu ia memandang sekeliling situ, namun tidak dilihatnya sesuatu jejak Ciu Pek-thong, gurunya itu jenaka dan suka bergurau bisa jadi sengaja sembunyi untuk membuatnya kaget, Cepat ia berlari keluar kelenteng dan melompat ke wuwungan untuk memeriksa sekitar, namun tiada sesuatupun yang ditemukannya, terpaksa ia melompat turun kembali.

"He, apa2an kau bilang Gwakong dan Suhu segala?"

Tegur Kwe Hu dengan bingung.

Yalu Ce lantas bertanya cara bagaimana mereka kepergok Nimo Singn dan mengapa orang itu bisa tewas begitu saja?

Kwe Hu lantas menceritakan apa yang terjadi tadi, tentang tusuk kundai adiknya itu dapat menancap mati Nimo Singh, ia sendiripun tidak dapat menjelaskan.

"Di belakang jimoay pasti ada seorang kosen yang membantu secara diam2,"

Ujar Yalu Ce.

"Ku kira orang yang memiliki kepandaian setinggi ini jaman kini selain ayah mertua hanyalah Gwakong kita Uitocu, guruku, It-teng Taysu serta Kim-lun Hoat-ong saja berlima. Kim-lun Hoat-ong adalah Koksu Mongol, tentunya dia takkan membunuh kawan sendiri, sedangkan It teng Taysu tidak sembarangan mau melanggar pantangan membunuh, maka kukira kalau bukan Gwakong tentulah guruku, Jimoay, coba jelaskan, siapakah gerangan orang yang membantumu itu?"

Kelika menyambitkan tusuk kundainya tadi dan membinasakan Nimo Singh, Kwe Yang segera menoleh dan tidak melihat bayangan seorangpun, maka diam2 ia meresapi ucapan "jangan takut, serang dia dengan Am-gi" , ia merasa suara itu sudah dikenalnya, ia menjadi sangsi apakah Nyo Ko adanya?

Maka waktu ditanya Yalu Ce, seketika ia tak dapat menjawab karena dia masih kesima merenungkan suara itu.

"He, kenapa kau, Jimoay?"

Seru Kwe Hu sambil menarik lengan adiknya, ia kuatir jangan2 adiknya itu menjadi Iinglung karena kejadian yang menakutkan tadi. Tiba2 air muka Kwe Yang berubah menjadi merah dan menjawab.

"O, tidak apa2."

"Cihu bertanya padamu siapa yang membantu tadi, kau dengar tidak?"

Kata Kwe Hu dengan mendongkol.

"O, siapakah yang membantuku membinasakan orang jahat ini? Ah, sudah tentu dia! Kecuali dia siapa lagi yang memiliki kepandaian setinggi ini?"

Kata Kwe Yang.

"Dia? Dia siapa?"

Kwe Hu menegas.

"Apakah pahlawan besar yang kau katakan itu?"

"O, tidak, tidak! Kumaksudkan arwah halus paman Loh,"

Jawab Kwe Yang cepat.

"Cis!"

Semprot Kwe Hu sambil mengipatkan tangan adiknya itu.

"Memangnya apakah kau melihat sesuatu bayangan orang?"

Kata Kwe Yang pula.

"Pastilah paman Loh yang melindungi aku secara diam2. Kau tahu, semasa hidupnya paman Loh sangat karib denganku."

Sudah tentu Kwe Hu menyangsikan cerita Kwe Yang itu, namun memang nyata tadi dirinya tidak melihat sesuatu bayangan orang dan tahu2 Nimo Singh sudah mati.

Sementara itu Yalu Ce sedang memeriksa kedua tongkat Nimo Singh, katanya dengan gegetun.

"Kepandaian sehebat ini, sungguh sangat mengagumkan."

Waktu Kwe Hu dan Kwe Yang ikut meneliti, tertampak setiap tongkat itu terbingkai sebuah gelang emas untiran.

Padahal gelang itu cuma terbuat dari untiran emas yang halus, tapi orang dapat mendorongnya dengan tenaga dalam yang dahsyat dan membentur jatuh kedua tongkat Nimo Singh, pantasIah kalau Yalu Ce merasa gegetun dan kagum tidak kepalang.

"Marilah kita perlihatkan pada ibu, siapakah sebenarnya orang yang membantu jimoay secara diam2 itu, tentu ibu mengenalnya,"

Ujar Kwe Hu.

Nimo Singh dan sepasang tongkatnya segera dibawa kedua anak murid Kay pang dan ikut Yalu Ce pulang ke kota.

Ketika Kwe Cing dan Ui Yong mendengar cerita Kwe Hu dan membayangkan betapa berbahaya kejadian itu, mau tak-mau Kwe Cing terperanjat.

Semula Kwe Yang menyangka keonaran yang diterbitkannya ini pasti akan mendapat persen damperatan, tapi Kwe Cing justeru gembira oleh keberanian dan tinggi budi puteri kecil yang menurunkan gaya sang ayah itu, ia tidak mendamperat, malah menghiburnya.

Begitu pula demi nampak sang suami tidak gusar, maka Ui Yong segera saja merangkul puteri kecil itu dengan penuh sayangnya.

Tapi kemudian setelah dilihatnya mayat Nimo Singh serta keadaan kedua tongkatnya, Ui Yong ter-menung2, kemudian ia baru tanya Kwe Cing.

"Cing-toko, siapakah orangnya menurut kau?"

"Tenaga dalam orang ini mengutamakan keras dan kuat, setahuku,selamanya hanya ada dua orang"

Sahut Kwe Cing.

"Ya, tapi guru berbudi kita Ang Jit-kong sudah lama wafat, pula bukan kau sendiri,"

Ujar Ui Yong.

Ia coba menanya lebih jelas tentang kejadian di kelenteng itu, namun tetap tak bisa diterkanya.

Sesudah Kwe Hu dan Kwe Yang kembali ke-kamar masing2, segera Ui Yong berkata lagi pada sang suami.

"Cing-koko, kau tahu tidak puteri ke-dua kita ada apa2 yang membohongi kita."

"Membohong? Membohong apa?"

Tanya Kwe Cing heran. Nyata wataknya sangat sederhana dan jujur, maka tidak pernah ia mencurigai orang lain.

"Sejak kembalinya dari utara mengantar kartu undangan,"

Demikian tutur Ui Yong.

"seorang diri ia selalu ter-menung2, cara bicaranya malam ini juga sangat aneh."

"Ia terkejut, sudah tentu pikirannya tidak tenang,"

Ujar Kwe Cing.

"Bukan, bukan,"

Sahut Ui Yong.

"la sebentar malu2 kucing, lain saat tersenyum kecil, itu sekali2 bukan karena terkejut,.tapi, dalam hatinya justeru merasa senang tak terkatakan."

"Anak kecil mendadak mendapat bantuan orang kosen, sudah tentu akan terkejut serta kegirangan, apapun tak perlu dibuat heran,"

Kata Kwe Cing Iagi. Ui Yong tersenyum, ia tidak buka suara pula, tapi dalam hati ia berkata.

"Perasaan anak perempuan yang dirundung asmara, waktu mudamu saja kau tak paham, sampai tua juga kau tetap tak mengerti!"

Karena itu, lalu iapun belokkan pokok percakapan mereka tentang siasat2 yang harus digunakan, untuk menghadapi musuh serta acara2 penyambutan tamu dalam perjamuan ksatria besok.Habis itu masing2pun pergilah mengaso.

Tapi di atas ranjang Ui Yong sukar pulas, sebentar2 ia terbayang oleh sikap puteri kecil yang aneh itu, pikirnya.

"Pada waktu anak perempuan ini baru lahir lantas mengalami kesukaran, selama ini aku selalu berkuatir hidupnya akan banyak terjadi alangan, tapi syukurlah selama 16 tahun ini telah dilewatkan dengan selamat, apakah mungkin sekarang inilah bakal terjadi sesuatu atas dirinya?"

Apabila teringat olehnya musuh sudah dekat, malapetaka yang akan datang bakal dihadapi oleh setiap penduduk kota, jika sebelumnya bisa diketahui, sedikit apa2 yang bakal terjadi juga ada gunanya untuk ber jaga2.

Namun tabiat puteri kecil ini sangat aneh, apa yang tak ingin dikatakannya tetap tak dikatakan, betapapun orang tua membujuk dan mendamperatnya, ia tetap bungkam dalam seribut basa, dalam keadaan begitu orang tua jadi kewalahan.

BegituIah makin dipikir perasaan Ui Yong semakin tak enak, diam2 ia berbangkit dan menuju ke pintu kota, ia suruh penjaga benteng membukakan pintu terus menuju ke kelcmeng Yo-tayhu di barat kota.

Tatkala itu sudah jauh lewat tengah malam, bintang guram dan rembulan suram.

Ui Yong keluarkan ilmu entengi tubuhnya yang tinggi berlari ke sana.

Ketika dekat kelenteng Yo-tayhu itu, tiba2 terdengar di belakang tugu "

Tui-lui pi ada suara percakapan orang, Lekas2 Ui Yong mendekam ke tanah dan merunduk maju pelahan, setelah beberapa tombak dari tugu itu, ia mengumpet di belakang pohon besar.

Terdengar seorang berkata.

"Sun-toako, In kong (tuan penolong) suruh kita menanti dibelakang Tui-lui-pi (tugu mencucurkan air mata) ini. Sebab apakah tugu ini diberi nama yang begini menyedihkan, bukankah ini alamat jelek?"

"lnkong agaknya selalu hidup kurang senang, oleh sebab itu bila mendengar nama2 tentang Tui-pi (mengucurkan air mata),"

Yu-jiu" (bersedih) dan lain2 yang menyedihkan lantas mudah teringat akan nasibnya,"

Demikian sahut orang she Sun itu.

"Ah, orang berkepandaian tinggi seperti Inkong, seharusnya tiada urusan sulit baginya,"

Ujar orang yang duluan.

"Tapi kulihat wajahnya senantiasa bermuram durja. Tui-lui-pi"

Ini mungkin sekali dia sendiri yang menamakannya."

"ltulah bukan,"

Sahut orang she Sun.

"Aku pernah mendengar cerita kuno bahwa kelenteng Yo-taybu ini didirikan orang di kaki bukit Hian, ini untuk memperingat seorang menteri bernama Yo Koh yang sangat cinta pada rakyat di daerah sekitar sini, maka telah didirikan pilar (atau tugu) sebagai tanda jasanya. Rakyat yang melihat pilar ini lantas ingat pada kebaikannya dan saking terharu banyak yang menangis, sebab itu pilar ini disebut Tui-lui-pi (tugu mencucurkan air mata), Tan lakte, hidup manusia kalau bisa seperti Yo tayhu ini barulah boleh dikata seorang laki2 sejati."

"lnkong selamanya membela keadilan di Kangouw hingga banyak dipuji orang, bila ia menjadi pembesar negeri di Siangyang, boleh jadi namanya akan lebih cemerlang daripada Yo tayhu nya orang she Tao."

"Benar,"

Sahut si orang she Su.

"malahan Kwe-tayhiap yang namanya terkenal diseluruh jagat memiliki kebaikan yang meliputi apa yang dipunyai Yo-tayhu dan Inkong kita."

Mendengar kedua orang itu memuji suaminya, sudah tentu diam2 Ui Yong senang, tapi ia lantai berpikir juga.

"Siapakah gerangannya Inkong (tuan penolong) yang mereka maksudkan itu? Apakah mungkin orang yang diam2 menolong Yang-ji itu?"

Sementara itu terdengar si orang she Sun berkata pula.

"Kita berdua dahulu bermusuhan dengan Inkong, tapi kemudian jiwa kita malah dia yang menolong. Caranya menghadapi musuh seperti kawan sendiri. sungguh boleh dikata melebihi Yo Koh, Yo-tayhu. Menurut cerita kuno, dijaman Sam Kok waktu itu, Yo Koh menjaga Siangyang dan bertempur melawan panglima Tang Go yang bernama Liok Gong, sewaktu Yo Koh menyerbu daerah Tang Go, waktu perlu memotong tanaman rakyat untuk rangsum pasukannya, ia berkeras mengganti kerugian penduduk setempat Waktu Liok Gong sakit, ia malah mengirim obat untuknya dan Liok Gong pun sama sekali tidak curiga terus mcminumnya, sesudah minum obat itu ternyata lantas sembuh sakitnya. Begitulah betapa tinggi martabat Yo Koh sebagai manusia, sampai musuh sekalipun sangat menghormati dan segan padanya,"

"Sewaktu Yo Koh meninggal, perwira dan tentara Tang Go yang menjadi musuhnya juga ikut menangis sedih, Caranya menaklukkan hati manusia berdasarkan kebajikan itulah baru benar2 disebut Enghiong (pahlawan sejati)."

"He, Sun samko,"

Tiba2 si orang she Tan berseru.

"kau sebut2 Yo Koh, bukankah nama ini sama suaranya dengan nama Inkong kita....."

"Sssst, diam, ada orang datang!"

Mendadak orang she Sun itu mendesis. Ui Yong terkejut, benar segera terdengar dari bawah bukit ada suara orang berlari mendatangi dalam hati iapun berpikir.

"Nama yang sama suaranya dengan "

Yo Koh ",, apakah mungkin adalah Nyo Ko? Ah, tidak, tidak mungkin, Sungguhpun, ilmu silat Ko-ji banyak maju juga tak nanti meningkat sampai tarap yang susah diukur itu.

" .. Selang tak lama, orang yang datang itu tepuk2 tangan tiga kali, lantas orang she Sun itu membalas tepuk tangan, orang yang datang itu mendekati tugu Tui-lui-pi, lalu katanya.

"Sun dan Tan berdua saudara, Inkong suruh kalian tak usah menunggunya lagi, Tapi disini ada dua kartu nama Inkong agar kalian berdua lekas mengirimkannya. Sun-samte mengirimkan kartu ini kepada Tio-lokunsu di Sin-yang, HoIam, Sedang Tan-lakte hendaklah mengirimkan kartu yang ini kepada Liong-ah Thauto di Oh-ah-san. Katakanlah pada mereka bahwa mereka berdua diminta berkumpul di sini dalam waktu sepuluh hari."

Maka terdengarlah orang she Sun dan Tan itu menyahut dengan hormat dan menerima kartu undangan itu.

Percakapan orang2 itu membikin Ui Yong semakin heran dan terkejut.

Kiranya Tio-lokunsu atau si guru silat tua sho Tio yang disebut itu adalah keturunan lurus dari kerajaan Song, ilmu pukulan 32 jurus Tiang kun dan 18 jurus permainan toyanya sangatlah terkenal.

Sedang Liong-ah Thauto atau si paderi berambut bisu dan tuli dari Oh-ah-san adalah jago silat pendaman yang sangat tersohor di daerah Ohlam.

Cuma sejak kecilnya bisu dan tuli, meski ilmu silatnya sangat tinggi, namun selamanya tiada hubungan dengan orang luar.

Karena adanya Eng-hiong-tay-hwe atau perjamuan besar kaum ksatria, Kwe Cing dan Ui Yong tahu kedua orang itu suka menyepi dan pasti tidak suka tampil ke dunia ramai, tapi untuk menghormati nama mereka, toh kartu undangan tetap dikirim, namun betul juga, kedua orang itu membalas dengan surat, dengan alasan halus mereka menolak untuk hadir.

Tapi kini "lnkong"

Yang disebut itu apakah benar2 begitu hebat hingga melulu berdasarkan secarik kartu namanya lantas kedua tokoh terpendam itu sudi datang dalam waktu 10 hari yang ditentukan?

Demikian Ui Yong berpikir penuh tanda tanya.

Tapi bila ia pikir pula, tiba2 ia menjadi kuatir.

Besok perjamuan besar kaum ksatria sudah akan dibuka, kini ada seorang sedang mengumpulkan tokoh2 Kangouw ternama ke Siangyang, apakah tujuannya?

jangan2 hendak membantu pihak Mongol?

Namun bila mengingat watak Tio-lokunsu dan Liong-ah Thauto yang khas, agaknya bukanlah sebangsa manusia khianat, pula "lnkong"

Yang disebut itu bila benar orang yang membantu Yang-ji membunuh Nimo Singh itu, maka jelas pula orang itu adalah kawan pihak sendiri.

Begitulah selagi Ui Yong mengasah otak sendiri, sementara itu terdengar ketiga orang tadi sedang bisik2 pula sebentar, namun jaraknya sudah jauh, maka tak terdengar jelas, hanya sayup2 terdengar si orang she Tan itu bilang.

Selamanya Inkong tak memberi tugas pada kita, sekali ini kita harus melakukannya dengan baik....

kita harus menaikkan pamornya...

kado kita esok....

kata2 lain tak yang jelas.

"Baiklah, sekarang juga kita berangkat, kau jangan kuatir, rencana Inkong pasti takkan kapiran,"

Demikian lantas terdengar si orang she Sun mengiakan.

Habis itu, ke tiga orang lantas turun bukit dengan cepat.

Sesudah orang pergi jauh, Ui Yong masuk kelenteng itu dan memeriksanya, tapi tiada sesuatu tanda2 aneh yang dilihatnya.

Bangunan kelenteng itu sangat megah dan kuat tapi karena pasukan musuh telah mendekat, maka penghuninya sudah lama lari ke kota hingga tiada seorang pula.

Sungguhpun Ui Yong orang pintar, tapi seketika juga bingung oleh orang yang disebut "lnkong"

Atau tuan penolong itu, iapun tak ingin "mengeprak rumput mengejutkan ular"

Dengan menangkap ke tiga orang itu untuk ditanyai, maka sampai fajar menyingsing, barulah ia kembali ke kota.

Ketika sampai disimpang jalan dekat pintu barat kota, tiba2 dilihatnya ada dua penunggang kuda secepat terbang menyerempet lewat, cepat Ui Yong menyingkir kepinggir jalan, waktu diawasinya, ternyata kedua penunggang itu adalah laki2 kekar semua.

Setiba disamping jalan itu, seorang memutar kuda ke barat-laut dan yang lain membalik ke barat-daya.

Ketika hendak berpisah, terdengar seorang diantaranya berseru.

"lnsat, jangan lupa bilang pada Thio-toagocu bahwa dalang, pesinden dan penabuh-nya harus dia sendiri yang membawanya dan pula jangan lupa membawa tukang pembuat bunga api!"

"Ah, tak perlu kau mengingatkan aku terus menerus, kau sendiri disuruh pergi memanggil tukang isak yang kesohor itu, jika terlambat sehari, kau akan diomeli orang banyak,"

Sahut kawannya itu.

Habis itu, cepat sekali kedua orang itu lantas berpisah.

Perlahan Ui Yong masuk ke kota dalam hati ia tambah heran, nama Thio-toagocu (si selendang besar she Thio) sudah dikenalnya sebagai seorang berpengaruh di Hanggau, masakah ada seorang secara begitu mudah bisa memanggilnya datang, apakah ini juga suruhan "lngkong"

Yang disebut itu. Mereka main secara besar2an, sebenarnya apakah maksudnya? BegituIah penuh tanda tanya dalam hati Ui Yong. Mendadak hatinya terkesiap, katanya.

"Ya... ya, sekarang tahulah aku, pasti inilah sebabnya."

Cepat ia kembali ke rumah serta menanyai sang suami.

"Cing-koko, apakah tamu undangan kita ada yang ketinggalan dikirim kartu?"

"Ketinggalan mengirimkan undangan?"

Tanya Kwe Cing heran "Tapi kita sudah memeriksanya beruIang kali, rasanya tiada yang ketinggalan."

"Memangnya akupun berpikir begitu,"

Ujar Ui Yong.

"Karena kuatir ada yang ketinggalan tak di undang, maka orang gagah mana saja, walaupun tidak terlalu dikenal juga kita kirimkan kartunya. Tapi apa yang kulihat tadi jelas sekali ada seorang tokoh besar yang merasa sakit hati hingga akan mengadakan suatu perjamuan besar kaum ksatria untuk mengkonkireni kita."

Namun Kwe Cing yang berjiwa luhur dan berhati terbuka, bukannya iri, sebaliknya ia girang, katanya.

"Aha, itulah kebetulan jika ada seorang Enghiong yang bercita2 sama, itulah paling baik. Kita akan mendukung dia sebagai Bengcu (ketua perserikatan) dan biar dia memimpin para ksatria untuk melawan MongoI, kita sendiri tunduk pada perintahnya saja."

Namun Ui Yong lantas mengkerut keningnya, katanya.

"Tapi melihat tindak-tanduknya, tidak mirip hendak melawan musuh, ia telah kirim undangan kepada Tio-lokunsu di Sinyang, Liong-ah Thauto di Oh-ah-san, Thio-toagocu dan lain-lain lagi."

Tapi Kwe Cing malahan bertambah girang, ia tepuk meja serta berseru.

"Ha, jika orang ini sanggup mengundang Tio-lokunsu, Liongah Thauto dan Thio toagocu ke Siangyang, pasti kekuatan kita akan bertambah bcsar. Yong-ji, tokoh2 seperti itu, kita harus bersahabat baik2 dengan mereka."

Namun Ui Yong tidak menyahut lagi, sementara itu petugas memberitahu bahwa tamu2 telah datang hingga terpaksa Kwe Cing dan Ui Yong sibuk menyambut.

Saking sibuknya harus menyambut tetamu yang datang ber-bondong2 dari segala pelosok itu, terhadap pengalamannya semalam sementara tak sempat dipikirkan lagi oleh Ui Yong.

Esok harinya adalah Eng-hiong-tay-hwe, pertemuan besar ksatria itu tidak kurang disediakan 400 meja perjamuan, komandan militer kota pemerintah Song, Lu Bun-hwan, telah menyuguh sendiri arak kehormatan kepada para ksatria atau pahlawan itu.

Dalam perjamuan, ketika semua orang berbicara tentang keganasan serdadu Mongol yang membunuh rakyat dan merebut tanah airnya, semua orang merasa murka sekali, be-ramai2 semua orang akan bertempur matian melawan musuh -Dan malam itu juga dengan suara bulat Kwe Cing dipilih sebagai Bengcu atau ketua perserikatan, semuanya bersumpah dengan darah dan berjanji melawan musuh hingga titik darah penghabisan.

Di lain pihak sesudah hari itu Kwe Yang bertengkar dengan sang Taci di kelenteng Yo-taybu serta menyatakan takkan ikut hadiri perjamuan besar ksatria itu, betul juga ia tak menampakkan diri melainkan makan-minum sendirian dikamarnya, katanya pada dayang yang melayaninya.

"Taci pergi menghadiri perjamuan ksatria itu, aku sendirian enak2 makan-niinum, masa kalah gembiranya daripada dia?"

Kwe Cing dan Ui Yong sendiri lagi pusatkan pikiran untuk menghadapi musuh, sudah tentu mereka tak sempat menilik kelakuan anak dara yang lagi ngambek itu, Kwe Cing boleh dikatakan sama sekali tak tahu menahu.

Ui Yong pernah juga menanyakan, tapi iapun tahu adat puteri kecil itu memang aneh, maka ia hanya ganda tersenyum saja.

Dalam perjamuan besar itu kebanyakan para pahlawan adalah jago minum, sesudah banyak minum hingga pengaruh alkhohol sudah bekerja, lantas saja banyak yang lupa daratan, ada juga yang lantas memamerkan ilmu silat mereka sebagai selingan.

Betapapun juga akhirnya Ui Yong terkenang pada puteri kecilnya itu, maka katanya pada Kwe Hu.

"Coba kau pergi memanggil adikmu itu keluar untuk melihat keramaian ini, perjamuan seperti ini, selama hidup orang belum tentu dapat menyaksikannya satu kali."

"Ah, aku justeru tak mau mengundangnya,"

Sahut Kwe Hu.

"Adik memangnya lagi ngambek dan ingin mencari gara2 padaku, bukankah aku cari penyakit bila pergi kesana."

"Biar aku saja menyeret Ji-ci kemari,"

Ujar Kwe Boh-lo. Lalu iapun berbangkit dan menuju kebelakang. Tapi tak lama Boh-lo telah kembali sendirian, belum lagi ia buka suara atau Kwe Hu sudah mendahului berkata.

"Gimana? Aku kan sudah bilang ia takkan datang sekarang betul tidak?"

Melihat wajah puteranya itu penuh rasa keheranan segera Ui Yong bertanya.

"Apa yang dikatakan Ji-ci?"

"Sungguh aneh, mak!"

Sahut Boh-lo.

"Sebab apa?"

Tanya sang ibu.

"Kata Ji-ci, di kamarnya sedang diadakan perjamuan kecil kaum ksatria, maka takkan menghadiri perjamuan besar ksatria ini!"

Demikian Boh-lo menerangkan. Namun Ui Yong hanya tersenyum, katanya.

"Ji-cimu itu memang suka berpikir yang tidak2, biarkanlah."

"Mak, tapi di kamar Ji-ci benar2 ada tetamunya,"

Kata Kwe Bob-lo lagi.

"Diantaranya lima laki2 dan dua wanita, semuanya lagi minum arak bersama Ji-ci."

Dengar itu, mau tak-mau Ui Yong mengkerut kening, ia pikir anak dara ini makin lama semakin berani, masakah kamar seorang perawan memasukkan orang laki2 untuk makan-minum sesukanya?

sungguh nama julukan Siau-tong-sia yang diberikan orang benar2 tidak salah.

Tapi hari ini semua orang lagi bergembira, tidak pantas untuk soal sekecil ini puteri itu harus didamperat hingga menghilangkan kegembiraan semua orang.

"Cobalah kau pergi mengundang teman2-adikmu itu agar minum arak ke ruangan besar ini, biar ramai2 bergembira bersama,"

Demikian katanya kepada Kwe Hu, Nyata ia mengira Boh-lo tak pandai menghadapi tamu, maka puteri sulung ini yang di suruhnya sekarang.

Kwe Hu sendiri memang juga heran dan ingin mengetahui kamar adiknya itu kedatangan tamu siapakah, ia cukup kenal watak sang adik yang tak pedulikan adat perbedaan laki2 perempuan segala macam dan lapisan masyarakat suka bergaul, ia pikir teman yang lagi minum arak bersamanya itu tentu sebangsa orang2 tak keruan.

Kini mendengar perintah sang ibu segera iapun berbangkit menuju ke kamar Kwe Yang.

Ketika hampir dekat kamar adiknya itu, terdengarlah suara anak dara itu lagi berseru.

"Hai, Gin-koh, suruhlah koki membawakan lagi dua guci arak!"

Pelayan yang disebut itu menyahut sekali, lalu terdengar Kwe Yang menambahkan.

"Dan pesan pula koki lekas masak dua paha kambing serta memotong 20 kati daging rebus yang hangat2."

Maka pergilah pelayan menerima perintah itu. Kemudian terdengar suara seorang seperti bunyi gembreng pecah berkata pula.

"Kwe-jikohnio (nona Kwe kedua) benar-bertangan sangat terbuka, sayang aku Jin-tu-cu tidak kenal sejak dulu, kalau tahu, sudah lama aku berkawan dengan kau."

"Berkawan sekarang juga belum terlambat,"

Sahut Kwe Yang tertawa.

Mendengar percakapan itu, Kwe Hu mengkerut kening, waktu ia mengintip melalui sela2 jendela, terlihatlah dalam kamar adiknya itu terletak sebuah meja pendek, delapan orang berduduk dilantai, diatas meja sendok-piring simpang siur tak ter-atur, perjamuan sedang berlangsung dengan meriahnya.

Yang duduk menghadap kemari terlihat adalah seorang gemuk gede, simbar dada hingga bulu dadanya yang hitam lebat itu kelihatan, disebelah kirinya adalah seorang sastrawan berjenggot cabang tiga, pakaiannya rajin bersih.

Dan sebelahnya lagi adalah seorang wanita setengah umur, cuma mukanya penuh codet bekas luka, sedikitnya berpuluh tempat.

Dan yang duduk disebelahnya lagi adalah segarang thauto berambut memakai sebuah ikat rambut emas yang berkilau2, ia sedang menggerogoti sepotong ayam panggang dengan lahapnya.

Sedang tiga orang lainnya duduk mungkur, maka tak jelas muka mereka, agaknya yang dua adalah kakek2 yang beruban rambutnya dan seorang lagi adalah Nikoh (paderi wanita) berbaju hitam.

Kwe Yahg sendiri duduk diantara orang2 itu, wajahnya yang cantik itu sudah bersemu merah, suatu tanda pengaruh alkohol, tapi anak dara ini asyik beromong tak pernah diam, nyata sekali hatinya sangat bergembira.

Tidak lama kemudian koki telah antarkan masakan yang diminta tadi, maka semuanya orang makan se-puas2nya pula, malahan yang minum dan makan paling banyak adalah si Nikoh berbaju hitam itu.

Diam2 Kwe Hu pikir, melihat betapa gembiranya mereka, seumpama diundang keruangan besar di depan sana juga mereka tak mau pergi.

Dalam pada itu terlihatlah seorang kakek2 beruban diantaranya telah berdiri, lalu berkata.

"perjamuan ini rasanya sudah mencukupi delapan bagian, biarlah hari ini kita sampai di sini saja, kelak kalau hari ulang tahun nona, pasti kami akan makan minum lebih besar pula, Kini orang tua ada sedikit hadiah. harap saja nona Kwe jangan mencela!"

Habis berkata, dikeluarkannya sebuah kotak terbungkus sutera dan diletakkan di meja.

"Pek-cau-siao hadiah apakah yang kau berikan itu, hayolah perlihatkan."

Segera kakek yang lain berteriak. Sembari berkata iapun ulur tangan membuka kotak itu sendiri. Tapi segera ia berseru tertahan.

"Ah, ini adalah "

Jian-lian-swat-som " (Kolesom salju berumur ribuan tahun), dari mana kau memperolehnya?" -Lalu benda mestika itupun dijemputnya dan di-amat2i.

Dari sela2 jendela dapatiah Kwe Hu melihat jelas kakek itu memegangi sebatang Jin-som seputih salju yang panjangnya kira2 satu kaki, bentuknya menyerupai benar anak orok, kepala, tubuh dan anggota badan semuanya lengkap, malahan kulitnyapun bersemu merah, sungguh semacam benda mestika yang sukar didapatkan saking kagumnya hingga semua orang ber-keplok2 memuji.

Tampaknya kakek yang dipanggil Pek-cau sian atau Dewa Seratus Rumput itu menjadi senang, katanya.

"Jian-lian-swat-som ini manjur menyembuhkan penyakit yang paling berat dan untuk memunahkan segala racun, boleh dikata khasiatnya dapat menghidupkan yang masti dan menyambung umur yang hidup. Bahwa nona hidup bahagia hingga berumur seabad, memangnya tak memerlukannya. Tunggu saja sampai hari ulang tahun seabad, ambil Jim som ini dan meminumnya agar nona panjang umur lagi seratus tahun, bukan kah sangat bagus."

Semua orang bertepuk tangan sambil tertawa, mereka memuji kakek itu pandai mengucapkan kata2 pujian.

Dalam pada itu orang gemuk gede yang bernama Jin-tuicu (si jagal orang) lantas mengeluarkan sebuah kotak besi juga, katanya dengan tertawa.

"Nah, aku menghadiahi nona semacam mainan, hanya untuk bikin tertawa nona saja, tapi tak bisa dibandingkan dengan benda mestika hadiah Pek Cau-sian-ong tadi."

Dan ketika kotak besi itu dijeplakkan, mendadak dari dalam kotak meloncat keluar dua Hwe-sio gemuk terbuat dari besi, panjangnya masing2 kira2 tujuh dim, lalu yang satu memukul dan yang lain menendang terus saling serang-menyerang.

Betapa lucu boneka besi itu hingga semua orang tertawa geli, Ternyata dari gerak gerik pukulan2 kedua boneka besi itu adalah ilmu pukulan "Siau-limlo-han-kun"

Yang terkenal, tak lama kemudian, sesudah alat putaran (pergas) dalam boneka besi itu habis barulah mendadak kedua boneka itu berhenti dengan berdiri tegak, gayanya mirip jago silat kelas satu.

Melihat ini semua orang tidak sanggup tertawa lagi, sebaliknya mereka berwajah kuatir.

"Jin-tu-cu,"

Tiba2 wanita yang bermuka codet itu berkata.

"jangan kau jaga mukamu, tapi malah mendatangkan penyakit bagi nona Kwe. Thi-lo-han" (orang2an besi) ini adalah milik Siau-lim-si, darimana kau dapat mencurinya?"

"Hehe,"

Sahut Jin-tu-cu tertawa, sungguhpun aku Jin-tu-cu bernyali sebesar langit juga tak berani coba2 gerayangi Siau-lim-si, Tapi ini justeru adalah Bu-sik Siansu, itu paderi utama ruangan Lo-han-tong dari Siau-lim-si yang menyuruh aku membawanya kemari, ia bilang tepat pada hari ulang tahun nona pasti akan sampai di Siangyang untuk memberi selamat.

Nah, yang inilah baru benar2 adalah hadiahku sendiri yang tak berarti!"

Habis berkata, ia buka lapisan bawah kotak besi itu hingga tertampaklah sepasang gelang kemala hitam.

Gelang hitam itu tertampak ber-kilat2, bentuknya tidak menarik, mendadak Jin-tu-cu melolos sebilah golok terus membacok gelang kemala itu, maka terdengarlah suara "trang"

Yang nyaring, golok itulah yang membal ke atas, sebaliknya gelang kemala tak kurang apapun.

Maka bersoraklah memuji semua orang, Menyusul itu lantas si sastrawan, Nikoh, Thau-to dan si wanita muka codet masing2 juga memberi kado kepada Kwe Yang, semuanya barang aneh dan mestika yang jarang dilihat.

Tentu saja Kwe Yang kegirangan, dengan senyum simpul semua kado itu diterimanya.

Menyaksikan itu Kwe Hu semakin terperangah sekali putar tubuh, segera ia lari kembali keruangan depan dan ceritakan semua apa yang dilihatnya kepada sang ibu.

Mendengar itu kejut Ui Yong melebihi Kwe Hu, segera ia mengajak Cu Cu-liu dan bertiga masuk ke ruangan dalam.

Lalu Ui Yong tuturkan apa yang dilihat Kwe Hu tadi kepada Cu-Iiu, itu murid tertua dari It-teng Taysu.

Cu Cu-liu ikut ter heran2, katanya.

"Jin-tuicu dan Pek cau-sian? Mengapa mereka bisa datang ke Siangyang sini? si Nikoh berbaju hitam itu mungkin sekali adalah Coat hou-jiu Seng-in Suthay yang membunuh orang tak berkesip, sedang kipas lempit si sastrawan itu terlukis satu setan Bu-siang (setan gentayangan), ehm, apakah mungkin ialah Coan-lun-ong Thio It bin?"

Sembari berkata Ui Yong ber-ulang2 mengangguk sebaliknya Cu-liu sendiri geleng2 kepala, katanya.

"Tapi hal ini teranglah tak mungkin. berapakah usia nona Kwe, kecuali akhir2 ini pernah keluar sekali, selain itu belum pernah kakinya menginjak tempat lebih jauh 10 li di luar Siangyang, mana bisa ia kenal orang2 kosen dari segala pelosok itu? Pula, Bu-sik siansu dari Siaulim-si itu sudah berpuluh tahun tak pernah turun gunung, orang lain sengaja mohon bertemu saja ditolak, mana mungkin sekarang ia malah datang ke Siangyang melulu untuk memberi selamat ulang tahun kepada seorang nona? Menurut pendapatku, tentu nona cilik ini sengaja bersekongkol dengan kawannya dan membesarkan segalanya untuk menggoda encinya."

"Tapi nama2 seperti Seng-in Suthay, Thio It-bin dan lain2 jarang kita sebut2, darimana Yang-ji bisa kenal mereka, hendak main2 juga tidak selengkap itu,"

Ujar Ui Yong ter-mangu2.

"Marilah kita coba menemui mereka menurut aturan, jika mereka adalah teman Kwe-jikohnio kedatangan mereka ke Siangyang ini pasti tiada maksud jahat,"

Kata Cu-Iiu kemudian.

"Akupun berpikir begitu,"

Sahut Ui Yong.

"Cuma Seng-lo Suthay, Coan-lun-ong Thio It-biti dan lain2 itu biasanya lurus2 serong tak tertentu, walaupun kita tak jeri, tapi kalau terlibat permusuhan, rasanya cukup akan bikin kepala pusing, kini pasukan musuh dekat didepan mata, betapapun tak boleh lagi memencarkan perhatian untuk melayani manusia2 aneh ini..."

Sampai di sini, mendadak terdengar suara seorang bergelak ketawa di luar jendela dan berkata.

"Kwe-hujin, kami datang ke Siangyang melulu untuk memberi selamat ulang tahun dan tiada maksud jahat lain, kenapa harus menjadi pusing kepala?"

Ketika mengucapkan "tiada maksud jahat, kenapa harus pusing kepala,"

Ternyata suara itu sudah menjauh.

Cepat Ui Yong, Cu Cu-Iiu dan Kwe Hu memburu ke pinggir jendeia, terlihatlah satu bayangan berkelebat diatas pagar sana, gerak tubuh itu cepat luar biasa, hingga sekejap saja sudah menghilang.

Sedianya Kwe Hu hendak mengudak, tapi Ui Yong telah menariknya "Jangan sembrono, tak mungkin kau bisa menyandaknya!"

Dan ketika ia mendongak tiba2 terlihat di atas dahan pohon diluar itu tertancap sebuah kipas putih yang terpentang.

Kipas itu tingginya empat tombak lebih, Kwe Hu menduga dirinya tak mampu sekali loncat meraihnya, maka serunya.

"Mak!"

Ui Yong meogangguk, dengan enteng saja ia meloncat, tangan kirinya menahan pelahan disuatu dahan terus mencelat naik pula keatas dan kipas itupun dapat dicabutnya turun.

Ketika mereka periksa kipas itu dibawah sinar lampu di dalam rumah, terlihatlah disebelah kipas itu terlukis setan Bu-siang putih yang lidahnya melelet panjang dengan muka ber-seri2, kedua tangannya terangkap mengunjuk hormat, disampingnya tertulis 14 huruf besar yang berbunyi.

"Selamat hari ulang tahun nona Kwe kedua, semoga hidup seabad dan berumur panjang"

Waktu Ui Yong membalik kipas itu, disebelahnya juga tertulis kata2.

"Hek-ih-ni Seng-in, Pek-cau-sian, Jin tu-cuw Kiu-su-sing, Kau-bak Thauto, Han Bu hou dan Thio It-bin, menyampaikan salam hormat kepada Kwe-thayhiap serta Kwehujin, selamat hari ulang tahun puteri kesayangan kalian, kedatangan kami yang lancang ini tak berani lagi tinggal lebih lama, haraplah maaf, maaf."

Beberapa baris tulisan itu belum kering tinta-nya, tulisannya kuat dan bergaya, Cu Cu-Iiu adalah ahli seni-tulis, maka segera ia memuji. tulisan bagus, tulisan bagus!"

"Nah, teranglah sekarang, marilah kita pergi melihat Yang-ji,"

Kata Ui Yong kemudian.

Waktu mereka sampai dikamar anak dara itu, pelayan sedang membersihkan sisa daharan dan mangkok piring kotor "Mak, Cu-pepek, Cici, lihatlah kalian, inilah kado yang kuterima dari tetamu,"

Demikian kata Kwe Yang segera.

Menyaksikan benda2 seperti Jin-lian-swat-som, Tiat-lo-han kembar, gelang kemala hitam serta kado2 lain hadiah Coat-hou-jiu Seng-in Suthay dan Coan-luo-ong Thio It-bin cs., sudah tentu Ui Yong dan Cu-liu sama merasa heran sekali.

Ketika Kwe Yang menjeplak alat penggerak hingga sepasang boneka besi itu bersilat saling pukul puIa, tampaklah anak dara itu amat girangnya.

Ui Yong menunggu selesai kedua boneka itu memainkan "Lo-han-kun"

Dari Siau-lim-si itu, lalu tanyanya.

"Yang-ji, sebenarnya apakah yang terjadi, coba ceritakanlah pada ibu."

"Ah, biasa saja, beberapa kawan baru mengetahui aku Shejit (hari ulang tahun), maka mereka memberikan kado padaku,"

Sahut Kwe Yang tertawa.

"Darimana kau kenal orang2 ini?"

Tanya sang ibu.

"Juga baru hari ini kukenal mereka."

Sahut Kwe Yang. Tadi waktu aku seorang diri minum arak didalam kamar, tiba2 terdengar Han-cici, itu enci yang bernama Han Bu hou, menyapa diluar jendela, katanya.

"Adik cilik, kami be-ramai2 mengiringi kau minum, mau tidak?"

Aku menyahut.

"Baik sekali! Marilah masuk, marilah masuk!" -Dan merekapun melompat masuklah dari luar, malahan mereka menyatakan pada tanggal 24 tepat hari ulang tahun ku nanti mereka akan datang pula memberi selamat. Ya, entah dari mana mereka tahu saat hari ulang tahunku. Mak, apakah mereka kenalanmu dan ayah. Bila tidak, kenapa mereka beri kado begini banyak padaku? "Ayahmu dan aku tidak kenal mereka,"

Sahut Ui Yong.

"Tentunya mereka datang atas undangan seorang sobatmu yang aneh, bukan?"

"Aku tidak punya sobat aneh, kecuali Cihu,"

Sahut Kwe Yang tertawa.

"Ngaco, Cihu-mu kenapa kau katakan aneh?"

Semprot Kwe Hu. Kwe Yang me-Ielet2 lidah, sahutnya tertawa.

"Sesudah menikahi kau, tidak anehpun Cihu ber-ubah aneh."

Segera Kwe Hu angkat tangannya hendak memukul namun sambil terkikik Kwe Yang sembunyi di belakang sang ibu "Sudahlah, taci-adik jangan bergurau Iagi,"

Ujar Ui Yong.

"Coba, Yang-ji, jawablah, tadi Coan-lun-ong dan Pek-cau-sian itu me-nyebut2 tentang Eng hiong-tay-hwe yang akan kita adakan itu tidak?"

"Tidak,"

Sahut Kwe Yang.

"Hanya kedua kakek yang bernama Pek-cau-sian dan Kiu-su-sing itu bilang sangat mengagumi ayah."

Sesudah Ui Yong tanya lagi dan melihat Kwe Yang benar2 tidak membohongi apa2, lalu katanya.

"Baiklah, lekas tidurlah!" -Bersama Cu Cu-liu dan bersama Kwe Hu merekapun keluar dari kamar anak dara itu.

"Mak,"

Tiba2 Kwe Yang menyusul keluar kamar.

"lni Jian-lian-swat-som agaknya sangat berfaedah, harap ibu memakannya separah dan ayah separoh."

"Bukankah itu kado Pek-cau-sian untuk ulang tahunmu?"

Sahut Ui Yong.

"Aku sudah terlahir dan juga sudah besar, tapi tiada sedikit jasapun, tapi ibulah yang selama ini benar2 terlalu capek,"

Ujar Kwe Yong.

Ui Yong pikir janganlah mengecewakan maksud baik puteri kecil ini, maka Jin-som itu diterimanya, bila terkeuang olehnya pada hari Kwe Yang dilahirkan lantas banyak mengalami hal2 yang berbahaya tanpa terasa ia menghela napas.

Ketika Kwe Cing kembali ke kamar dan bercerita pada sang isteri tentang semangat para ksatria yang bersatu padu dan siap berjuang sepenuh tenaga untuk melawan musuh, tampaknya ia menjadi luar biasa girangnya.

Ui Yong menceritakan juga tentang kehadiran Seng in Suthay dan Pek-cau sian cs.

dalam perjamuan Kwe Yang, seketika Kwe Cing melengak.

"Bisa terjadi hal begitu?"

Demikian ia menegas. Ketika ia periksa Jian-lian-swat-som itu, ternyata memang benda mustika yang sukar diperoleh.

"Ha, nona cilik kita agaknya pengaruhnya jauh melebihi orang tuanya,"

Ujar Ui Yong tertawa. Tapi Kwe Cing tak bersuara, ia menunduk memikirkan tindak-tanduk orang2 sebangsa Seng in Suthay, Coan lun ong dan Han Bu hou itu.

"Cing-koko,"

Kata Ui Yong pula.

"urusan pemilihan Pangcu apa lebih baik dimajukan beberapa hari, bila tidak, sampai hari ulang tahun Yang-ji dan Bu-sik siansu cs. benar2 datang rasanya terlalu banyak campur aduk orang2 luar, mungkin akan terjadi hal2 di luar dugaan."

"Tapi aku malah ada suatu pikiran,"

Ujar Kwe Cing.

"Kita justeru tunggu sampai tanggal 24 baru mulai memilih pangcu agar suasana bertambah semarak. Bila Bu-sik siansu dan Liong-ah Thauto benar2 hadir, kita lantas minta mereka agar suka bersatu padu melawan musuh penjajah, bukankah demikian ini menjadi lebih baik?"

Namun aku kuatir kalau2 mereka hanya pura2 datang memberi selamat saja, tapi tujuannya hendak mengacau. Sahut sang isteri.

"Coba kau pikir, ada hubungan apakah mereka dengan Yang-ji yang masih kecil ini, masakah mereka datang melulu untuk memberi selamat Shejit padanya? Sejak dahulu kala yang lurus dan yang serong tidak pernah berdiri sejajar, mungkin masih ada sebagian besar ahli silat didunia ini yang tak suka kau diangkat menjadi Bu-lim Bengcu (ketua himpunan persilatan)."

Tiba2 Kwe Cing berdiri dan ter-bahak2.

"Yong-ji,"

Katanya.

"perbuatan kita asal tidak merugikan negara dan bangsa, tentang Bu-lim Bengcu ini siapapun yang menjabatnya bagiku serupa saja, Apalagi yang serong takkan menangkan yang lurus, jika mereka benar2 bermaksud jahat, biar kita melayani mereka. Kau punya "

Pak-kau-pang hoat " (ilmu permainan pentung penggebuk anjing) dan aku punya "

Hang-liong-sip-pat-ciang " (18 jurus ilmu pukulan penakluk naga) sudah ada belasan tahun tak pernah dipertunjukkan dan agaknya tidaklah perlu jeri pada orang"

Melihat semangat sang suami masih me-nyala2 tidak kurang daripada masa dahulu, maka kata Ui Yong dengan tertawa.

"Baiklah aku menurut saja pada keputusan pimpinan. Dan minumlah Jin-som salju dari Yang-ji ini, agaknya khasiatnya cukup membandingi latihan selama lima-enam tahun"

"Ah, tidak""

Sahut Kwe Cing.

Kau sudah melahirkan tiga anak, kekuatanmu tentunya banyak berkurang, kaulah yang perlu tambah jamu kuat.

Nyata cinta kasih antara suami isteri itu benar2 kekal, sesudah tolak menolak akhirnya Kwe Cing berkata.

"Sudanlah, biar Jin-som ini kita simpan saja. Beberapa hari lagi dalam pertarungan ksatria2 tentu ada kawan kita yang terluka, dan benda ini kita simpan untuk menolong jiwa mereka."

Besok paginya perjamuan besar kaum ksatria itu masih terus dilangsungkan dan di kamar Kwe Yang perjamuan "kecil kaum ksatria juga tetap diadakan.

Sudah siang2 Ui Yong pesan koki agar memasak se-baik2nya untuk tetamu puteri kecilnya itu.

Kwe Hu sendiri sedang mencurahkan seluruh perhatiannya untuk persiapan kemungkinan sang suami, yaitu Yalu Ce, yang bakal merebut kedudukan Pangcu Kay-pang.

Maka terhadap urusan tamu2 aneh sang adik itu sama sekali tak dihiraukannya.

Beberapa hari keadaan demikian itu telah berlangsung dalam pertemuan para ksatria itu sudah selesai dirundingkan dan ditetapkan siasat cara bagaimana menggalang seluruh kekuatan kaum patriot dan cara mengacaukan bala bantuan Mongol serta pertahanan kota.

Para pahlawan sama menggosok2 kepalan penuh semangat menanti datangnya musuh untuk bertempur.

Akhirnya tibalah tanggal 24, pertemuan besar sudah selesai, acara selanjutnya adalah pemilihan pangcu atau ketua Kay-pang, persatuan kaum jembel.

sehabis makan siang, beramai2 para ksatria lantas menuju ke alun2 di selatan kota.

Di tengah alun2 itu terlihatlah satu panggung tinggi megah sudah dipasang, di atas panggung itu kosong bersih tanpa sebuah bangkupun.

Hal ini memang sudah menjadi peraturan Kay-pang turun temurun, tak perduli pertemuan besar rapat kecil, selamanya mereka duduk ditanah sebagai tanda tidak meninggalkan adat asli kaum jembel atau pengemis.

Hanya di sebelah timur panggung teratur beberapa ratus kursi itu melulu disediakan untuk para tamu undangan yang tidak termasuk anggota Kay-pang.

Belum lohor, disekitar panggung itu sudah berjubel lebih dua ribu anggota Kay-pang, semuanya adalah anggota lama dan tergolong tokoh, paling rendah tingkatannya adalah anak murid berkantong empat.

Kedua ribu anggota Kay pang itu tadinya berada di bawah pimpinan empat orang Tianglo atau tertua, yakni yang mula2 terdiri dari Loh-tianglo, yaitu Loh Yu-ka, lalu Kan tianglo, Kho-tianglo dan Peng-tianglo.

Loh-tianglo naik pangkat menjadi Pangcu, sekarang mati dibokong musuh.

Peng-tianglo telah mengkhianat dan terbunuh oleh Cu-in, Kan-tianglo mati tua dan kini tinggal seorang Nio-tianglo saja yang merupakan tertua satu2nya.

Sedang lowongan ketiga Tianglo yang lain itu telah diisi oleh murid berkantong delapan yang dinaikkan pangkatnya.

BegituIah anggota2 Kay-pang itu sama duduk di tanah mengitari panggung itu menurut daerah masing2, sedang beribu ksatria itu duduk dikursi tempat peninjau.

Yalu Ce suami-isteri, Bu Tun si dan Yalu Yen, Bu Siu-bun dan Wanyen Peng cs, karena termasuk angkatan muda, mereka duduk dibarisan kursi yang paling belakang.

Sesudah berlatih giat selama belasan tahun ini, mereka merasa sudah banyak maju, maka diam2 sama memikirkan cara bagaimana nanti akan unjuk kepandaian mereka dihadapan orang banyak.

Kwe Boh lo waktu itu berduduk disamping sang Cici, Kwe Hu, pemuda ini menjadi kegirangan melihat suasana yang begitu ramai, katanya.

"Ji-ci benar2 aneh, suasana seramai ini ternyata tak mau menonton."

"Ah, hati si kecil aneh itu memang sukar menerkanya,"

Sahut Kwe Hu menjengek.

Dalam pada itu terlihatlah disebelah timur sana seorang anak murid Kaypang berkantong delapan telah berdiri dan menempelkan sebuah kulit keong besar kemulutnya dan ditiupnya hingga mengeluarkan suara "hauk-bauk", kiranya telah tiba waktunya antara pukul satu lewat Iohor.

Segera Ui Yong melompat ke atas panggung, ia memberi hormat kepada hadirin, lalu dengan suara hutang berkata.

"Perkumpulan kami hari ini mengadakan rapat besar, berkat para pahlawan dan ksatria angkatan tua sudi mengunjungi serta banyak kawan muda yang sudi hadir sebagai peninjau, sungguh segenap anggota perkumpulan kami merasa bangga dan berterima kasih-"

Habis ini ia memberi hormat lagi hingga para ksatria di bawah panggung sama berdiri membalas hormatnya.

"Mendiang Loh-pangcu kami"

Demikian Ui Yong melanjutkan kata pembukaannya.

"selama hidupnya selalu berbudi dan berjuang untuk kepentingan rakyat dan negara secara tak kenal lelah. Sayang kemarin dulu telah dicelakai bangsat Hotu di kelenteng Yo-tayhu di bukit Hiansan. Dendam ini tidak terbalas, sungguh merupakan suatu noda yang memalukan bagi perkumpulan kita..."

Sampai di sini para anggota Kay-pang yang ingat pada kejujuran dan kebaikan budi Loh Yu ka, segera banyak yang ter-guguk2 menangis dan ada pula yang mengertak gigi mengumpat maki si bangsat Hotu.

"Tapi pasukan Mongol yang mengarah ke kota Siangyang kita ini dalam waktu singkat ini sudah akan datang."

Demikian Ui Yong melanjutkan "maka persoalan pribadi jangan dipikir, urusan perkumpulan kami untuk sementara ditangguhkan, nanti saja dibicarakan lagi setelah musuh kita gempur mundur."

Seketika bersoraklah para hadirin memuji kebijaksanaan Ui Yong yang mengutamakan kepentingan umum daripada urusan pribadi.

"Cuma saja anggota perkumpulan kami yang beratus ribu banyaknya tersebar luas diseluruh pelosok..."

Demikian Ui Yong menyambung.

"ibarat naga tanpa kepala, maka perlu harus diangkat dulu-seorang pangcu baru. Dan pada kesempatan inilah kita memilih seorang yang memenuhi syarat, seorang patriot komplit sebagai Pangcu perkumpulan kita. Adapun caranya memilih baiklah silakan Nio-tianglo saja untuk menerangkannya."

Segera Nio tianglo melompat ke atas panggung, Walaupun Nio-tianglo sudah tua, rambutnya penuh beruban, tapi dadanya membusung, semangatnya me-nyala2, gaya lompatnya juga gesit dan cekatan, suatu tanda betapa tinggi ilmu silatnya, maka semua orangpun bersorak memuji.

Menunggu setelah suara sorak sorai itu mereda barulah kemudian Nio-tianglo buka suara keras2.

"Kepintaran bekas Ui-pangcu tiada bandingannya, apa yang dia katakan barusan pasti tidak salah. Tapi beliau sendiri merasa sungkan hingga kami yang terdiri dari empat Tianglo serta delapan murid berkantong delapan telah disuruh berunding untuk memutuskan. Kini sesudah kami berunding setengah harian, akhirnya dapat juga dikemukakan suatu usuI."

Seketika suasana dibawah panggung menjadi sunyi senyap, semua orang sama ingin mendengarkan apa yang akan diumumkan tertua Kay-pang itu.

"Menurut pendapat kami,"

Demikian Nii tianglo melanjutkan "anak murid Kay-pang tersebar diseluruh jagat, walaupun bukan orang pandai dan tiada berguna, tapi jumlah orangnya tidak sedikit, hendak memimpin sejumlah orang ini, tepat seperti apa yang dikatakan bekas Ui-pangcu tadi bahwa harus dipilih seorang "

Patriot-komplit".

Kini yang hadir disini semuanya adalah orang gagah terkenal di Kangouw, siapa saja yang sudi menjadi pemimpin perkumpulan kami pasti akan kami sambut dengan gembira.

Cuma para ksatria terlalu banyak untuk memilih juga susah, sebab itulah kami 12 orang lantas menentukan suatu cara yang bodoh.

Yakni silakan para ksatria suka unjuk kepandaian di atas panggung, siapa lebih kuat dan mana yang lemah biar kita saksikan bersama.

Cuma harus dijelaskan lebih dulu bahwa pertandingan nanti hendaklah berakhir asal salah sepihak sudah tertutuk saja, sebab bila sampai ada orang terluka atau jiwa melayang sungguh perkumpulan kami yang akan berdosa dan bikin perasaan tidak enak..

Oleh sebab itulah, bila diantara saudara2 ada yang dendam segala, se kali2 tak boleh diselesaikan diatas panggung sini, bila ketentuan ini tidak diturut, itu berarti sengaja mengacau perkumpulan kami, tatkala itu hendaklah jangan menyalahkan kami jika terpaksa diambil tindakan.

Ketika berkata sampai terakhir ini, sinar mata Nio tianglo menyorot tajam kesekitar hadirin sekalian.

Nio-tianglo tahu bahwa dalam keadaan bertanding dan saling unjuk kemahiran masing2 tentu tak mau saling mengalah hingga bakal ada yang terluka atau mati.

Tapi kini saatnya lagi genting menghadapi musuh dari luar, bukankah berbalik bila terjadi saling bunuh dulu diantara bangsa sendiri?

Sebab itulah Nio-tianglo memperingatkan sungguh2 dengan maksud agar orang jangan ambil kesempatan itu untuk balas dendam perseorangan itu.

bila terjadi, tentu be-ramai2 orang akan mengerubutnya.

Mendengar uraian Nio-tianglo itu, keadaan di bawah panggung menjadi sunyi.

Kiranya umumnya jago tua tentunya sudah lama punya kedudukan ketua atau pemimpin aliran masing2 dan tidak mungkin tampil kemuka untuk rebut jabatan Pangcu dari Kay-pang, hanya orang2 muda dibawah umur 40 usianya yang ber-debar2 ingin sekali coba2 mengadu tenaga diatas panggung.

Tapi mengingat harus bertanding dihadapan beribu orang itu dan harus menundukkan anggota2 Kay-pang yang beribu2 banyaknya itu, sesungguhnya bukanlah suatu hal yang mudah.

Karena itulah, sehabis Nio-tianglo bicara tiada seorangpun yang tampak melompat keatas panggung.

"Kecuali beberapa tokoh Locianpwe, ksatria seluruh jagat dan orang2 kosen semuanya berada disini, asal ada yang berminat terhadap perkumpulan kami, bolehlah silakan naik panggung,"

Demikian Nio tianglo berseru lagi dengan suara keras.

"Dan diantara enam murid perkumpulan kita sendiri bila ada yang merasa yakin kepandaiannya tahan diuji, beleh juga naik panggung, sekalipun seorang murid berkantong empat, boleh jadi selama ini ia sengaja menyembunyikan diri hingga tiada yang mengetahui kegagahannya"

Setelah Nio tianglo mengulangi beberapa kali undangannya itu, kemudian barulah terdengar suara bentakan seorang yang keras bagai guntur.

"Akulah yang dalang!"

Menyusul itu, cepat sekali seorang melompat keatas panggung.

Setelah melihat jelas orang itu, seketika para hadirin terkejut, ternyata tubuh orang ini kekar tegap luar biasa, berat badannya sedikitnya ada 300 kati.

Saking beratnya ketika naik keatas panggung, papan panggung yang dipasang sangat kuat itupun terasa tergetar.

Orang itu berjalan ke depan panggung, tanpa pakai menghormat segala, sebaliknya kedua tangannya menolak pinggang terus berkata.

"Aku bernama Tong Tay-hai, berjuluk Jian-kio-tong (wajan seribu kati), jabatan pangcu aku tidak kepingin, tapi siapa yang ingin bergebrak dengan aku boleh silakan naik sini."

Mendengar itu, hati semua orang menjadi senang, dari lagak-lagu nya teranglah seorang tolol atau dogol.

"Tong-toako,"

Segera Nio-tianglo menyapa, panggung yang kita buka hari ini bukanlah panggung Lui-tay (panggung bertanding silat).

jika sekiranya Tong-toako tidak suka menjadi pangcu perkumpulan kami, harap turun saja."

"Tidak sudah terang ini adalah Lui-tay, kenapa bilang bukan?"

Sahut Tong Tay hai menggeleng kepala.

"Jika kau melarang berkelahi kenapa kau tadi ber kaok2 suruh orang naik panggung?"

Selagi Nio-tianglo hendak menjelaskannya, tiba2 Tong Tay-hai berkata lagi.

"Baiklah, jika yang hendak berkelahi dengan aku juga boleh."

Habis ini, kepalannya segera menjotos ke muka Nio tianglo. Lekas Nio-tiangto melompat mundur menghindarkan serangan itu, dengan tertawa katanya.

"Ah, beberapa tulangku yang tua ini mana sanggup menahan sekali hantaman Tong-toako?"

"Memangnya aku sudah menduga kau tak berguna, maka lebih baik lekas menyingkir,"

Ujar Tong Tay-hai dengan tertawa.

Namun belum habis suaranya, tiba2 suatu bayangan berkelebat diatas panggung tahu2 sudah berdiri seorang pengemis yang berbaju compang-camping.

Pengemis ini berusia 30-an, dibelakang punggungnya menggemblok enam buah kantong kain, ialah cucu murid Nio-tianglo, Biasanya si jembel ini sangat menghormat pada kakek-guru itu, kini melihat Jian-kin-teng Tong Tay-bai berani kurang ajar terhadap kakek-gurunya, tak tahan lagi rasa gusarnya dan segera melompat keatas panggung, segera ia berkata dengan dingin.

"Kakek-guruku tak nanti sudi bergebrak dengan seorang angkatan muda, Tong-toaco, lebih baik aku menjajal kau tiga kali jotosan saja!"

"Bagus!"

Sambut Tong Tay-hai. Dan tanpa bertanya nama orang lagi, kepalannya sebesar mangkok itu terus saja menghantam ke dada orang sambil membentak.

"Awas, pukulan!"

Tak terduga mendadak pengemis itu memutar tubuh dan melangkah setindak kedepan, karena itu pukulan Tong Tay-hai itu tepat mengenai kantong kain yang berada dipunggungnya hingga mengeluarkan suara "bluk".

Ketika pukulannya mengenai-isi kantong orang hingga rasa kepalannya mengenai barang licin dan lunak, Tong Tay-hai menjadi heran.

"Barang apakah di dalam kantongmu itu?"

Segera ia membentak.

"Biasanya kaum pengemis suka menangkap apa?"

Sahut si jembel itu dingin. Seketika Tong Tay-hai terkejut dan berseru.

"Hah! Ular... ular..."

"Ya, memang benar ular!"

Sahut pengemis itu.

Membayangkan kepalannya tadi, tanpa terasa Tong Tay-hai menjadi ngeri, maka waktu pukulan kedua dilontarkan sekarang ia mengarah muka orang...

Siapa tahu pengemis itu lantas melompat ke atas dan memutar tubuh sedikit habis itu, turunnya ke bawah kembali ia sodorkan punggung ke depan orang.

Karena kuatir kepalan sendiri kena digigit ular yang terisi dalam kantong lawan atau pakaiannya mengenai taring ular yang berbisa, maka Tong Tay-hai cepat menarik kembali pukulannya itu, ia berganti tipu dan mendadak menendang keselangkangan lawan.

Melihat orang jeri, si jembel itu diam2 geli, sengaja ia jatuhkan diri dan sedikit membalik hingga kembali kantongnya yang disodorkan pada kaki orang.

Keruan Tong Tay-hai ketakutan, ia berseru kaget sambil berjingkrak.

padahal ular yang berada dalam kantong itu sangat jinak, taring berbisa juga sudah dicabut.

Dan pada saat itulah mendadak pengemis itu melompat maju dan secepat kilat dada Tong Tay-hai dicengkeram nya terus diangkat tinggi2 ke atas sambil berteriak.

"Nah, ini namanya Cohpa-ong (nama seorang raja yang kuat) mengangkat Jian kie teng!"

Dalam keadaan gugup tadi Tong Tay-hai telah kena dicengkeram "ci kiong-hiat"

Di dadanya, seketika tubuhnya menjadi lemas tak bisa berkutik, sungguhpun rasa gusarnya tidak kepalang, tapi tak dapat berbuat apa2.

Tong Tay-hai berjuluk Jian-kin-teng (wajan seribu kati), tapi kini "wajan"

Itu diangkat orang tinggi2, maka seketika pecahlah gelak-tawa penonton.

"Lekas lepaskan, jangan kurang sopan!"

Cepat Nio-tianglo membentak cucu-muridnya itu.

Maka cepat si jembel itu meletakkan Tong Tay hai ke atas panggung, lalu melompat turun ke bawah dan menghilang di antara orang banyak.

Dasar Tong Tay-hai ini memang dogoI, dengan muka merah padam ia menuding ke bawah panggung sambil mencaci-maki.

"Pengemis bangsat, hayolah jika berani maju lagi! Main sembunyi2, termasuk orang gagah macam apa? Hayolah maju pengemis busuk? pengemis sialan!"

Terus menerus ia memaki pengemis, padahal di bawah panggung itu terdapat beribu anggota Kay-pang, tapi karena merasa lucu, maka tiada orang menggubrisnya.

Pada saat itulah mendadak bayangan seorang melayang ke atas panggung dengan enteng sekali ketika kaki kirinya menancap tepi panggung,tiba2 tubuh orang itu ter-huyung2 se-akan2 merosot jatuh.

sungguhpun orangnya dogol tapi hati Tong tai-hai ternyata baik, ia berveru."Eh, hati2...!"

Dia berlari maju hendak menarik orang, tapi ternyata melesetlah dugaannya, ia tidak tahu bahwa orang itu sengaja pamerkan ilmu silatnya yang tinggi dihadapan orang banyak, ketika tangan Tong Tay-hay memegang lengan kiri orang itu, mendadak orang itu mcmbaliki tangan terus diayun dengan gerakan Kim-na-jiu-hoat (ilmu mencekal dan raenawan) hingga tanpa kuasa lagi tubuh Tong Tay-hai segede kerbau itu melayang keluar panggung dan jatuh terbanting di tanah.

Waktu semua orang mengamati orang itu, ternyata pakaiannya rajin bersih, alisnya panjang dan matanya jeli, kiranya adalah muridnya Kwe Cing, Bu Siu-bun adanya.

Menyaksikan muridnya mengunjukkan tipu gerakan yang meski gayanya sangat bagus, tapi terlalu sombong, se-kali2 bukan, perbuatan seorang jujur, maka dalam hati Kwe Cing menjadi kurang senang.

Betul saja, dibawah panggung segera banyak suara gerondelan orang yang tidak setuju, berbareng dari kanan-kiri bergema tiga suara orang.

"Kepandaian bagus! Marilah kita belajar kenal berapa jurus!"

"Macam apakah cara itu?"

"Orang bermaksud baik menarik kau tapi kau malah membantingnya, benar2 kurang pantas!"

Dan berbareng itu tiga orang sudah melompat keatas panggung.

ilmu silat Bu Siu-bun adalah ajaran Kwe Cing dan Ui Yong, pula mempunyai dasar kepandaian, yaitu mendapat pelajaran dari sang ayah, Bu Samthong serta It-yangci Yang diperolehnya dari sang Susiok, Cu Cu-liu, Kini kepandaiannya dalam angkatan muda sudah boleh dikatakan kelas terkemuka.

Melihat tiga lawan datang sekaligus, diam2 ia bargirang, pikirnya.

"Ha, kebetulan aku kalahkan tiga orang ini barulah dapat menunjukkan betapa lihay ilmu silatku."

Kuatir ketiga orang itu akan menempurnya secara bergiliran, maka tanpa berkata lagi segera ia mendahului bergerak, dalam sekejap saja ia sudah melontarkan serangan masing2 sekali kearah tiga lawan itu.

Ketiga orang itu belum lagi berdiri tegap di atas panggung, tapi datang2 lantas diserang, dalam gugupnya lekas2 mereka menangkis, namun kerepotan juga.

Siu-bun tidak tunggu lawan ada kesempatan berpikir, cepat kedua tangannya susul-menyusul menyerang pula hingga satu mengurung tiga di-tengah2, ia sendiri berada dilingkaran luar mengitar kian kemari secepat terbang, sebaliknya ketiga orang yang tergencet di-tengah2 menjadi saling desak hingga gerak-gerik mereka kurang leluasa.

Menyaksikan itu, para pahlawan di bawah panggung seketika terkejut, semuanya berpikir "Nyata nama Kwe tayhiap yang menggetarkan kolong langit ini memang bukan omong kosong belaka, buktinya muridnya saja sedemikian lihaynya."

Ketiga orang yang terkurung ditengah ini satu-sama-lain tidak kenal, lebih2 tak paham dari aliran mana ilmu silat masing2, kini kena dikurung Siu bun, seketika mereka susab bergerak dan tak dapat saling membantu, sebaliknya malah terasa saling merintangi.

Berapa kali ketiga orang itu hendak menerjang keluar, tapi selalu tertahan oleh pukulan2 Bu Siu-bun yang ber tubi2 bagai hujan.

Melihat sang suami sudah berada diatas angin, tentu saja dalam hati Wanyan Peng sangat girang, sebaliknya Kwe Hu lantas berkata.

"Ah, tiga orang goblok ini sudah tentu bukan tandingan engkoh-Bu kecil, padahal buat apa dia pamer kegagahannya sekarang hingga banyak membuang tenaga saja, kalau sebentar ada jago kuat naik panggung, bukankah akan susah menandinginya?"

Wanyen Peng berperangai halus, maka ia hanya tersenyum saja tanpa menjawab.

Sebaliknya Yalu-Yen adalah seorang berhati lugu dan tidak pantang omong, meski Kwe-Hu adalah enso (isteri kakaknya), tapi kedua orang sering adu mulut, kini mendengar kata2 enso ini, dapatlah ia menduga maksud hati orang, maka katanya.

"Kalau adik ipar sudah membereskan dulu sebagaian lawan dan nanti Tuh-si juga maju membereskan sebagian lawan Iagi. Paling akhir barulah Koko sendiri naik panggung mengalahkan semua pahlawan maka kau akan menjadi nyonya Pangcu secara aman, bukankah lebih baik begitu?"

Wajah Kwe Hu menjadi merah, jawabnya.

"Ah, begini banyak orang gagah yang hadir disini. Siapa yang tidak ingin menjadi Pangcu? Mnsa bisa dikatakan sudah "

Aman"

Segala?"

"Ya, sebenarnya Koko-ku juga tak perlu naik panggung,"

Kata Yalu Yen lagi.

"Maksudmu?"

Tanya Kwe Hu heran.

"Bukankah tadi Nio-tianglo bercerita bahwa dahulu dalam usia belasan tahun Subo (ibu guru) sudah menjadi Pangcu dengan mengandalkan sebatang pentung bambu. Kata pribahasa, ada sang ibu pasti ada sang puteri, Maka menurut aku, Enso, paling baik kalau kau yang naik panggung daripada Kokoku."

"Bagus, kau sengaja ber olok2 diriku, ya?"

Omel Kwe Hu sembari ulur tangannya hendak mengitik-itik ketiak orang. Tapi cepat Yalu Yen mengumpet kebelakang Yalu Ce sambil berseru tertawa.

"Tolong Pangcu, belum2 nyonya Pangcu sudah akan membunuh orang!"

Begitulah, meski waktu itu usia Kwe Hu dan Bu-si Hengte sudah lebih tiga puluh, tapi sejak kecil sudah biasa bergurau, sungguhpun Yalu Yen dan Wanyen Peng juga sudah punya putra-putri, namun bila bertemu masih suka berkelakar seperti waktu muda.

Tatkala itu Ui Yong berduduk disamping Kwe Cing sambil kadang2 memandang jauh ke sekelilingnya, ia ingin mengamat-amati kalau2 ada orang asing menyelundup masuk diantara orang banyak Disekitar alun2 itu juga sudah diatur penjaggaan oleh anak murid Kay-pang agar bila ada sesuatu yang mencurigakan harus segera melapor.

Betapapun ia kuatir kalau2 Seng-in Suthay, Han Buhou, Thio It-bin cs datang mengacau, tapi tampaknya kini sudah mendekat sore, keadaan masih tenang2 saja seperti biasa, diam2 ia pikir.

"Ada apakah kedatangan mereka ke Siangyang sini? Kalau dibilang ada sesuatu tujuan, kenapa belum lagi kelihatan sesuatu tanda? jika melulu untuk memberi selamat pada Yang-ji, rasanya tidaklah masuk akal."

Ketika ia memandang ke atas panggung, ternyata sekali pukul Bu Siu-bun sudah menjatuhkan dua lawannya kebawah, tinggal seorang lagi yang masih bertahan mati2an, tapi dapat diduga dalam lima jurus pasti akan dikalahkan juga.

"Hari ini para pahlawan dari segenap pelosok berada disini untuk berebut jabatan Pangcu dari Kay-pang, akhirnya nanti entah siapa yang unggul dan menduduki jabatan itu?"

Demikian diam2 Ui Yong membatin.

Begitu pula hati beratus pahlawan di bawah panggung saat itupun mempunyai pikiran seperti itu.

Tapi ditaman bunga, dibelakang rumah keluarga Kwe itu ternyata ada seorang yang sama sekali tidak memikirkan kejadian luar biasa dikota sekarang ini.

Yang sedang dipikirkan adalah.

"Hari itu telah kuserahkan sebuah jarum emas, padanya dan kukatakan agar hari ini ia datang menemui aku karena hari ini adalah hari ulang tahunku yang ke 16. Tatkala itu ia sendiri sudah menyanggupi tapi kenapa sampai saat ini masih belum datang?"

Begitulah anak dara itu sedang duduk ditengah gardu di dalam taman yang dilingkungi bunga beraneka warna, anak dara itu bersandar pada hek gardu dan ter-menung2 sambil menyaksikan sang betara surya lambat-laun menggeser kebarat.

Dalam hatinya berpikir pula "Hari sudah larut sekalipun sekarang juga ia datang, hanya tinggal waktu tiada setengah hari saja untuk berkumpul"

Sambil memandangi bayang2 tetumbuhan di tanah, tangannya memegangi sebuah jarum emas satu2 nya itu sambil menggumam pelahan lagi.

"Ya, aku masih dapat mengharap sesuatu darinya.... tapi boleh jadi sama sekali ia sudah melupakan diriku hingga lupa datang menjenguk daku, lalu harapan ketiga ini apa bisa kuutarakan lagi?"

Kemudian gumamnya pula.

"Ah, tak mungkin, pasti tak mungkin ia adalah pendekar besar di jaman ini, tentu pegang janji, mana bisa menjilat kembali apa yang sudah pernah dikatakannya? Lewat sebentar lagi, ya, sebentar lagu tentu akan datang menyambangi aku"

Teringat segera akan bertemu, tanpa terasa pipinya lantas bersemu merah, jarinya yang memegangi jarum emas itu rada gemetar.

Begitulah kalau di taman bunga, si cilik Kwe Yang lagi dirundung rindu, adalah di tengah alun2 Ui Yong justru sedang menyelami perasaan puteri kecilnya itu.

Ia pikir.

"Menurut apa yang dialami kedua puterinya di kelenteng Yo-tayhu, dimana ada orang kosen diam2 telah menolongnya. Kata Cing-koko, selamanya hanya ada dua orang memiliki tenaga dalam sekuat itu, yaitu kalau bukan Ang Chit-kong almarhum, tentunya Cing-koko sendiri. Tapi guru berbudi luhur itu sudah wafat, Cing-koko lebih2 tak mungkin. Kalau begitu apakah orang yang mengundang manusia2 aneh dari segala tempat untuk memberi selamat pada Yang-ji itu adalah seorang kosen lain lagi? Jika Lo-wan-tong Ciu Pek-thong, si tua nakal itu tabiatnya memang-suka main gila tapi tindak-tanduknya tidak begitu rapi. It-teng Taysu orangnya prihatin, tidak nanti suka buang waktu percuma, sedang Se-tok Auyang Hong dan Cu-in Hwesio alias Kiu-Jianyim sudah mati semua, lalu apakah mungkin ialah Ayah? Memang tindak tanduk Ui Yok Su yang aneh2 dan sukar diraba itu rada2 mirip dengan apa yang dilihatnya sekarang ini."

PuIa Ui Yok-su memang terkenal dengan nama "Tang-sia"

Atau manusia aneh dari timur yang namanya menggetarkan Kangouw beberapa puluh tahun yang lalu, kalau dia yang tampil kemuka mengundang tokoh2 silat itu, rasanya orang pasti akan memenuhinya.

Walaupun tidaklah patut orang tua itu main2 dengan puteri dan cucunya, tapi siapa bisa menduga akan kelakuannya yang terkenal aneh itu, atau bukan mustahil didalamnya ada pula maksud tujuan lain?

Berpikir sampai disini, segera Ui Yong menggapai Kwe Hu agar mendekatinya, lalu dengaa berbisik ia menanya.

"Adikmu menghilang sehari semalam di kota tambangan Hong-leng, ketika kembali pernah tidak ia bicara, tentang Gwakong?"

Kwe Hu tercengang oleh pertanyaan tiada ujung-pangkal ini.

"Gwa Kong?"

Ia menegas.

"Ooh tidak. Bahkan muka Gwakong saja adik belum pernah kenal."

"Coba kau meng-ingat2nya, ketika ia ikut pergi si setan Se-san di tambangan Hongleng itu, pernah ia me-nyebut2 siapa lagi tidak?"

Desak Ui Yong.

"Tidak, tak pernah dia sebut2,"

Sahut Kwe Hu.

ia tahu kepergian adiknya tempo hari justeru ingin melihat Nyo Ko, tapi dihadapan ayah-bundanya paling ditakutinya bila bicara menyangkut namanya-Nyo Ko, sebab bila mendengar nama itu, sang ibu masih mendingan, tapi sang ayah seketika akan menarik muka hingga beberapa hari tak bicara padanya, sebab itulah, kalau adiknya tidak sebut, iapun lebih suka tutup mulut, apalagi urusan sudah lalu, untuk apa nama orang-itu di-ungkat2 buat cari penyakit sendiri?

Tapi Ui Yong adalah wanita cerdik dan pandai, sedikit melihat air muka puteri sulung itu berubah, segera ia menduga pasti tersembunyi sesuatu.

Maka dengan sungguh2 segera ia mendesak lagi.

"Apa yang bakal terjadi didepan mata ini bukanlah main2, coba katakan, apa yang pernah kau dengar, lekas kau katakan terus tarang padaku."

Melihat wajah sang ibu sungguh2, tak berani lagi Kwe Hu membohongi maka katanya.

"Ketika dalam perjalanan mendengar orang mengobrol tentang apa yang disebut Sin-tiau-rayhiap, ialah... ialah Nyo... Nyo Ko, adik lantas bilang ingin pergi melihatnya."

Terkesiap hati Ui Yong.

"Lalu dapat dilihatnya tidak?"

Tanyanya.

"Pasti tidak,"

Kata Kwe Hu.

"Jika sudah, menurut watak adik masakah tidak terus dibuat bahan cerita?"

"Ah, Ko ji, benar2 Ko-ji, benar2 dia!"

Demikian diam2 Ui Yong berkata dalam hati. Segera ia tanya lagi.

"Dan menurut pendapatmu orang yang diam2 membantu kalian membunuh Nimo Singh dikelenteng Yo tayhu itu, dia atau bukan?"

"Mana mungkin?"

Sahut Kwe Hu.

"Nyo... Nyo toako mana bisa memiliki ilmu silat begitu bagus?".

"Apa saja yang kau percakapkan dengan adikmu dikelenteng itu, coba ceritakan seluruhnya, satu patah katapun tak boleh melompat,"

Desak Ui Yong.

"Juga tiada apa2 yang kami bicarakan memang sudah biasa adik suka adu mulut dengan aku,"

Sahut Kwe Hu.

Lalu iapun tuturkan tentang adik perempuannya itu menyatakan takkan menghadiri Eng-hiong-tay-hwe, takkan menyaksikan pemilihan pangcu serta bilang pada Shejitnya nanti bakat ada seorang ksatria muda yang gagah perkasa akan datang menyambanginya.

Habis menuturkan semuanya itu, akhirnya ditambahkannya dengan tertawa.

"Dan betul juga tidak sedikit sobatnya telah datang, cuma kalau bukan sebangsa Hwesio atau Nikoh, ternyata adalah kakek2 dan nenek2, sedangkan ksatria muda gagah perkasa entahlah?"

Mendengar sampai disini, tidak ragu2 lagi Ui Yong, ia yakin orang yang dimaksudkan Kwe Yang itu tentulah Nyo Ko.

ia menaksir tentunya Kwe Yang dan Nyo Ko sudah berjanji untuk bertemu dikelenteng Yo-tayhu, tapi kena dikacau oleh datangnya Kwe Hu, untuk membela kehormatan Kwe Yang, lalu Nyo Ko mengundang tokoh2 Kangouw yang banyak itu untuk memberi kado serta memberi selamat hari ulang tahunnya.

"Tapi, untuk apa ia korbankan begitu banyak tenaga dan pikiran untuk Yang ji?"

Demikian pikirnya pula, Apabila teringat olehnya selama beberapa hari ini puteri kecil itu selalu lesu, pikiran tak tenteram kadang2 pipinya merah jengah mendadak tanpa terasa Ui Yong menarik napas dingin.

"Celaka, jangan2 selama menghilang sehari semalam itu ditambangan Hongleng Yang-ji telah berbuat hal tidak senonoh dengan, dia?"

Menyusul itu lantas terpikir pula olehnya.

"Nyo Ko sakit hati karena aku membinasakan ayahnya, ia benci pula Hu-ji yang mengutungi lengannya dan melukai Siao-liong li dengan jarum berbisa, Ah, janji Siao liong-li yang akan bertemu padanya lagi sesudah 16 tahun, tahun inilah tahun ke-16 itu. Ha, kalau begitu, agaknya Nyo Ko datang untuk membalas dendamnya."

Teringat akan kata2

"Nyo Ko datang untuk membalas dendam" , tanpa terasa Ui Yong menjadi ngeri, ia cukup kenal kepintaran Nyo Ko meski belum melebihi dirinya, tapi orang ini sejak kecil tindak tanduknya sudah sangat lihay, cintanya terhadap Siao liong-li sangat mendalam dan murni, setelah menunggu selama 16 tahun ini, tapi tidak bersua kembali, tentulah penasaran itu akan dicari pangkal pokok yang menyebabkannya dan tentu akan benci luar biasa pada-keluarga Kwe. Dan dendam selama 16 tahun ini kalau menuruti sifat Nyo Ko yang luar biasa itu tak nanti puas hanya sekali hantam membinasakan Kwe Hu saja, tapi pasti akan menggunakan tipu akal yang paling keji untuk membalas sakit hati itu secara besar2-an.

"Apakah ia sengaja hendak memancing Yangji masuk perangkapnya, membikin anak ini jatuh hati dan menyerah padanya, lalu menyiksanya lahir batin, mati tidak, hidup tidak? Ah, ya, ya, benar, kalau turuti watak Nyo Ko memang benar akan dilakukannya,"

Demikian pikir Ui Yong pula.

Biia teringat semua ini, perasaan tertekan selama beberapa hari segera menjadi buyar, ia menduga sebabnya Nyo Ko mau bunuh Nimo Singh untuk menolong Yang-ji dan mengundang begitu banyak tokoh2 silat untuk datang memberi selamat padanya, semua ini bertujuan untuk menarik hati anak dara itu.

Diam2 Ui Yong menghitung lagi dan berpikir.

Tapi ada sesuatu yang tidak benar!

Hari ini tepat adalah ulang tahun Yang-ji, Enam belas tahun yang lalu ketika Yang ji lahir, lewat beberapa bulan kemudian barulah ia berpisah dengan Siao-liong-li di lembah Coat-ceng-kok, layaknya kalau dia mau balas dendam juga harus menunggu genap 16 tahun, yalah sesudah lewat janjinya bertemu dengan Siao-liong-Ii.

Meski janji bertemu 16 tahun kemudian itu sukar dipercaya, tapi tulisan yang ditinggalkan itu jelas tulisan Siao liong li, siapa tahu kalau mereka suami isteii benar2 akan berkumpul pula?

Apakah mungkin ayahku....

atau mungkin bualan tentang Lam-hay Sin-ni?"

Begitulah makin dipikir perasaannya mulai tak enak.

"Ah, biarlah apapun jadinya, jika Yang-ji bertemu lagi dengan dia pastilah terlalu banyak risikonya, Sifat Yangji masih polos kekanak2an, mana bisa memahami hati manusia yang kejam dan keji?"

Pada saat itulah tiba2 terdengar suara jeritan, kiranya Bu Siu-bun telah merobohkan lagi lawannya yang tinggal satu tadi. Lalu Ui Yong mendekati suaminya dan membisikinya.

"Kau mengawasi di sini, biar aku pergi menjenguk Yang-ji."

"Yang ji tidak datang?"

Tanya Kwe Cing.

"Ya, biar aku sendiri memanggilnya, budak cilik ini memang aneh,"

Sahut sang isteri.

Ketika sampai di kamar puteri kecil itu, ternyata Kwe Yang tidak di kamar, ia tanya pelayan, katanya puteri kecil itu berada di taman bunga dan melarang orang mengganggunya.

Ui Yong terkejut, pikirnya.

"Ah, Yang-ji tidak mau menonton pertandingan ramai di alun2, tentu karena dia sudah ada janji dengan Nyo Ko."

Segera ia kembali ke kamar sendiri, ia bawa senjata rahasia seperlunya dan menyelipkan sebilah pedang pendek, lalu membawa lagi pentung pendek terus menuju ke taman bunga di belakang rumah.

Ia tahu ilmu silat Nyo Ko sekarang tentu lain daripada dulu, sesungguhnya lawan yang menakutkan, sebab itu tak berani ia ayal, ia tidak melalui jalanan taman yang ber-batu2 kecil itu, tapi memutar dari belakang gunung2an.

Ketika hampir dekat gardu bunga, tiba2 terdengar Kwe Yang menghela napas.

Ui Yong sembunyi di belakang gunung2an itu, terdengarlah puterinya itu lagi menggumam sendiri pelahan.

"Kenapa sampai sekarang masih belum datang, Ai, benar2 bikin orang tidak sabar!"

Hati Ui Yong menjadi terhibur "Ah, kiranya ia belum tiba, kebetulan bisa mencegatnya di tengah jalan", demikian pikirnya. Sementara itu terdengar Kwe Yang berkata pula.

"Setiap hari ulang tahunku, ibu selalu menyuruh aku menyebut tiga angan2. Kini di sini tiada orang lain, biarlah aku katakan pada Tuhan."

Sebenarnya Ui Yong hendak unjuk diri, tapi ketika mendengar gumaman puterinya itu, tiba2 ia tarik kembali kakinya, ia ingin mendengarkan dulu apakah ketiga angan2 yang akan dikatakan puteri kecil itu.

Selang sejenak, terdengar Kwe Yang bcrkata..

"O, Thian (Tuhan) yang maha pengasih, berkatilah permohonanku ini, angan2ku yang pertama ialah semoga ayah-ibu memimpin pasukannya membunuh habis atau mengusir semua pasukan Mongol yang menyerbu datang itu, agar rakyat Siangyang dapat melewatkan hari2 yang aman sentosa."

Diam2 Ui Yong menghela napas lega dan bersyukur akan hati sang puteri yang luhur itu.

sementara terdengar anak dara itu berkata lagu "Dan harapanku yang kedua, semoga ayah ibu berbadan sehat, berumur panjang, segala sesuatu yang dikerjakannya berjalan baik tak kurang suatu apapun."

Waktu Kwe Yang dilahirkan, Kwe Cing dan Ui Yong berdua lantas banyak mengalami peristiwa2 berbahaya hingga kemudian bila teringat selalu merasa ngeri, sebab itulah tanpa terasa mereka tidak begitu sayang kepada Kwe Yang seperti sang enci, tapi kini setelah mendengar beberapa kata hati-nurani anak dara itu, tak tertahan matanya menjadi basah, rasa kasih sayangnya seketika bertambah Dan harapan ketiga Kwe Yang seketika ternyata sukar diucapkannya, lewat agak lama barulah terdengar ia buka suara.

"Dan harapanku yang ketiga ini ialah semoga Sin-tiau tayhiap Nyo Ko..."

Memang Ui Yong sudah menduga harapan puteri kecil yang ketiga ini tentu ada hubungannya dengan Nyo Ko, namun demikian ketika mendengar nama Nyo Ko disebut, hatinya terkesiap juga.

Sementara terdengar anak dara itu sedang meneruskan.

"...bisa lekas2 berkumpul kembali dengan isterinya, Siao-liong-li dan selanjutnya hidup aman dan bahagia."

Sungguh kata2 terakhir ini sama sekali diluar dugaan Ui Yong, Mula2 ia menyangka Nyo Ko akan memancing puterinya dengan menggunakan kata2 manis dan putar lidah dengan segala macam omongan palsu, diluar dugaan ternyata puterinya itu malah sudah mengetahui persoalan Nyo Ko dan Stao-liong-Ii, juga tahu Nyo Ko senantiasa menanti saat berjumpa pula dengan Siao-liong-li, maka diam2 anak dara itu berdoa untuknya.

Namun segera terpikir lagi olehnya.

"Ai, celaka, cara Nyo Ko ternyata sangat licin, justeru semakin ia menyatakan tak pernah melupakan kekasihnya dahulu, semakin Yang-ji merasa dia berhak seorang berbudi dan akan lebih jatuh hati padinya."

Nyata saking pintarnya Ui Yong, hingga segala sesuai selalu dipikirnya secara jauh, pula selama ini ia suka berperasangka terhadap Nyo Ko, ditambah perhatiannya atas diri sang puteri, maka pikirannya menjadi kacau dan diam2 berkuatir.

Pada saat itulah mendadak terdengar suara keresekan sekali, tahu2 dari pagar tembok sana melompat turun satu orang, Terlihatlah orang ini berkepala besar, tapi tubuhnya pendek, bentuknya sangat Iucu.

Demi nampak si cebol ini, seketika Kwe Yang melonjak girang.

"Hai, Toa thau kui, apakah dia... dia sudah datang?"

Memang si cebol berkepala besar ini adalah Toa-thau-kui atau setan kepala besar, satu di antara Se-san it-khut kui (gerombolan setan Se-san).

Sesudah masuk kedalam gardu bunga itu, segera Toa thau kui memberi hormat pada Kwe Yang, sikapnya ternyata sangat merendah sekali.

"Ai paman Toi-thau-kui, kenapa kau menjadi begini sungkan2 padaku?"

Tegur Kwe Yang dengan tertawa.

"Jangan nona panggil aku paman segala, panggil saja "Tho-thau kui sudah cukup,"

Sahut Toa thau kui.

"Aku mendapat perintah Sin-tiau-tayhiap agar memberitahukan nona.."

Mendengar sampai disini, Kwe Yang tampak kecewa, matanya menjadi basah.

"Toakoko bilang ada "urusan dan tak dapat datang, bukan?"

Demikian menyela.

"tapi dia sudah berjanji..."

"Tidak... tidak!"

Berulangkali Toa-thau-kau menggeleng kepalanya yang benar bagai gantang itu.

"Kenapa tidak? Apa yang kau ketahui?"

Omel Kwe Yang cepat.

"Justeru ia sudah berjanji padaku."

Dan karena cemasnya hampir2 anak dara ini mengucurkan air mata.

"Aku tidak bilang Ia tak berjanji padamu, tapi ingin kukatakan ia tidak bermaksud takkan mengunjungi kau."

Mendengar ini barulah Kwe Yang tertawa.

"Lihatlah, bicara saja tak genah, bukan ini. tidak itu, tak karuan"

Omelnya.

"Ya, Sin-tiau-tayhiap bilang bahwa karena beliau sendiri harus menyiapkan tiga macam kado untuk hari ulang tahunmu, maka kedatangannya nanti agak terlambat."

Demikian tutur Toa thau kui kemudian. Maka senanglah hati sigadis, katanya.

"Sudah begini banyak orang membawa kado untukku, segala apa akupun sudah punya. Haraplah sampaikan pada Toakoko bahwa tak perlu lagi ia membawa kado apa segala."

"Tapi."

Ujar Toa thau-kui sambil goyang2 kepala.

"ketiga macam hadiah itu, yang pertama sudah disediakannya, yang kedua Sin tiau-tayhiap beserta para saudara juga sedang menyiapkannya, besar kemungkinan kini sudah selesai."

"Ai. aku lebih suka ia lekas datang daripada buang2 waktu mengadakan kado segala."

Sahut Kwe Yang.

"Dan mengenai hadiah yang ketiga itu, Sin tiau-tayhiap bilang harus diserahkan sendiri kepada nona ditengah rapat besar Kay-pang di-alun2 sana,"

Kata Toa-thau-kui lagi.

"Sebab itulah nona Kwe silahkan ke sanalah, agaknya waktunya sudah dekat sekarang."

"Sebenarnya aku dongkoI pada Cici dan sudah bilang tak mau hadir ke sana, tapi kalau Toakoko ingin begitu, baiklah, biar kita pergi bersama sekarang juga,"

Sahut Kwe Yang.

Toa thau-kui mengangguk, lalu ia bersuit, tiba2 dari luar pagar tembok sana melompat masuk sesuatu makhluk besar, waktu ditegasi, kiranya adalah Sin-tiau atau si rajawali sakti itu.

Melihat Sin tiau, segera Kwe Yang merangkul lehernya seperti berjumpa dengan sobat lama saja, Sebaliknya rajawali itu malah melangkah mundur dua tindak sambil berdiri dengan angkuh dan melirik seperti sama sekali tidak pandang sebelah mata pada Kwe Yang.

"Ha, Tiau-toako ini sangat angkuh, ia tak gubris padaku, tapi aku justeru ingin kau menggubris."

Kata Kwe Yang tertawa, Habis itu kembali ia melompat terus merangkul leher Sin tiau lagi, sekali ini binatang itu tidak menghindar, tapi kepalanya tetap berpaling ke arah lain, seolah seorang ayah yang kereng menghadapi anak yang nakal dan aleman.

"Marilah Tiau toako, kaupun ikut, nanti aku memberi makanan enak padamu, kau minum arak tidak?"

Kata Kwe Yang.

"Ha, jika kau menyuguh Sin tiau minum arak, itulah paling disukanya,"

Ujar Toa thau-kui tertawa.

"Bagus, kau tunggu sebentar,"

Seru si gadis terus berlari ke dapur, sebentar saja ia sudah kembali dengan seguci arak pilihan.

Segera Toa-thau-kui membuka tutup guci hingga bau-harum arak seketika menusuk hidung, cepat saja setan kepala besar itu angkat guci itu terus ditenggak dahulu.

Ketika-ia sodorkan arak itu kepada Sin-tiau, sekali binatang ini mencocok dengan paruhnya, maka berlubanglah guci itu, segera Sin-tiau masukkan paruhnya kedalam guci dan sekejap saja seluruh isinya sudah terhirup habis.

"Anak dara ini benar2 harus-diajar, sembarangan memberikan "

Kiu-hoa-giok-ioh-ciu buatanku kepada seekor binatang,"

Demikian diam2 Ui Yong mendamperat.

Kiranya cara pembuatan arak itu tidaklah mudah, Ui Yong membikinnya berdasarkan resep cara ayahnya meracik obat "Kiu-hoa-giok-loh wan" , yakni mengumpulkan sari bunga mawar dicampur berbagai racikan obat lain ke dalam arak simpanan, kalau bukan sobat kental biasanya Ui Yong tidak sembarangan mengeluarkan arak itu.

"Wah kekuatan minum Tiau-toako sungguh hebat, marilah berangkat,"

Kata Kwe Yang, kemudian dengan tertawa.

Lalu dua orang dan satu rajawali lantas, menuju ke alun2 Ketika memasuki Iapangan, melihat badan Sin-tiau itu-begitu kekar, tapi rupanya jelek dan aneh, para pahlawan sama merasa heran.

Lalu Kwe Yang membawa Toa-thau-kui dan Sin-tiau itu duduk pada suatu tempat yang sepi.

Anak murid Kay-pang yang bertugas menyambut tamu merasa Toa thau kui belum dikenalnya, segera mereka datang menyapa sambil menanyakan namanya.

Namun Toa-thau-kui telah menjawab.

"Aku tak punya nama segala apapun tak tahu, nona Kwe yang mengajak aku kemari, maka aku lantas ikut kemari."

Sementara itu pertandingan di atas panggung sudah silih berganti Bu Tun-si dan Bu Siu-bun berdua sudah dijatuhkan orang, begitu pula keponakan Cu Cu-liu dan tiga anak murid, Su-sut hiun serta, beberapa anak murid Kay-pang ber-turut2 juga sudah kalah, yang tinggal di atas panggung tatkala itu ialah Yalu Ce dengan 72 jurus "Khong beng-kun" , (ilmu pukulan "terang terang-kosong) ajaran Ciu Pek-thong, ia sedang menempur seorang laki2 kekar setengah umur.

Orang ini bernama Na Thianho, seorang suku Miau di propinsi Kuiciu, waktu kecilnya ketika ia mencari bahan obat di pegunungan telah bertemu seorang kosen dan mendapat ajaran semacam ilmu pukulan yang Iihay.

Gerak serangan Yalu Ce mengutamakan kelemasan, enteng tanpa suara, hingga sukar diduga lawan.

BegituIah satu keras dan yang lain lemas terus saling gebrak dengan sama kuatnya.

Meski tenaga pukulan Na Thian-ho sangat keras, tapi angin tidak selamanya meniup, hujan tidak selamanya turun, betapapun tak bisa tahan lama.

walaupun setiap pukulan yang dilontarkannya masih membawa samberan angin yang santar, namun tenaga dalamnya sudah mulai berkurang.

Sebaliknya tipu gerakan Yalu Ce tidak lebih cepat juga tidak menjadi lambat daripada tadi, ia bergerak enteng saja, setiap serangan lawan selalu dipatahkannya dengan baik, ia tahu pertandingan iui bukanlah pertandingan satu-dua orang saja, tapi lawan yang akan naik panggung lagi dan lebih kuat tentu masih banyak, maka perlu simpan tenaga.

Akhirnya Na Thian-ho mulai tak sabar, selama berpuluh tahun didaerah barat daya belum pernah ada lawan yang sanggup menahan sampai 30 jurus serangannya, tapi harini ia tak bisa apa2 menghadapi seorang muda didepan pahlawan2 yang begini ba-nyak, bukankah ini sangat memalukan?

Sebab itulah, ia kerahkan tenaga dalamnya terus menambahi tenaga pukulannya.

Setelah beberapa puluh jurus berlangsung pula, mendadak Na Thian-ho melihat kesempatan baik.

"Kena!"

Bentaknya cepat, berbareng dengan tipu "Kiu-kui-tt-senglu (sembilan setan mencapai bintang) ia hantam dada Yalu Ce.

Ia sangat girang karena dilihatnya dada lawan terbuka tak terjaga, serangan ini yakin akan mengenai sasarannya, Dan betul saja.

"bluk" , pukulannya tepat mengenai tempat yang diarah. Melihat itu, berseru kaget sebagian besar penonton dibawah panggung hingga sama berdiri. Mendengar suara terpukulnya itu, dapat diduga Yalu Ce kalau tidak mati pasti terluka parah. Padahal tadi Nio-tianglo sudah memperingatkan agar berhenti bila tubuh masing2 sudah ketutul, sekarang kalau sekali pukul Na Thian-ho tewaskan Yalu Ce, sedangkan orang adalah menantu kesayangan Kwe-tayhiap dan Kwe-hujin, dapat diduga segera urusan akan bertambah meluas. Siapa tahu, begitu berhasil memukul, seketika air muka Na Thianho malah pucat lesi, lalu ter-huyung2 mundur beberapa tindak.

"Kagum, kagum!"

Katanya tiba2"

Sambil kiong ciu pada Yalu Ce, lalu balik berjalan kedepan panggung dari teriaknya dengan lantang.

"Yalu-toaya sengaja berlaku murah hati mengampuni jiwaku, benar2 seorang ksatria berbudi luhur, sungguh aku merasa kagum dan terima menyerah."

Habis berkata, segera iapun melompat turun panggung.

Keruan penonton saling pandang dengan bingung karena tak mengerti apa sebabnya.

Waktu mereka pandang Yalu Ce, pemuda itu bersenyum saja seperti biasa, Sudah terang terlihat Yalu Ce kena dihantam Na Thian-ho, tapi kenapa malah Yalu Ce yang dikatakan mengampuni jiwa Na Thian-ho, sekalipun Lwekangnya memang tinggi, tapi juga sukar menang dengan kepandaian itu?

Demikian semua orang tidak habis mengerti.

Kiranya tadi ketika tangannya mengenai dada Yalu Ce, mendadak Na Thiao-ho merasa tangannya se-akan2 mengenai tempat kosong, tapi toh bukannya hampa sama sekali, hanya seperti tangan masuk ke dalam air saja, seperti kosong dan seperti ada barangnya, se-olah2 ada semacam kekuatan yang melengket yang menahan tangannya itu.

Kejut Na Thian-ho tidak kepalang, ia kumpulkan tenaga menarik sekuatnya, tapi tangannya terasa melengket saja, dapat ditarik tapi tak bisa terlepas.

Ia jadi ingat waktu belajar dahulu sang guru pernah memperingatkan bahwa ilmu silatnya itu.

"Hong-lui-cio-hoat" (ilmu pukulan angin dan guntur) bila ketemukan ahli Lwekang harus hati2 sebab bila terserang tenaga dalam lawan hingga masuk ke perut, maka biarpun tidak mati seketika, sedikitnya akan cacat untuk selamanya. Namun selama tiga puluh tahun belum pernah ia ketemukan lawan tangguh, maka kata2 sang guru itu sudah lama terlupa, Siapa tahu kini benar2 ketemukan seorang lihay yang berkepandaian seperti dikatakan gurunya, sekilas peringatan itu terbayang olehnya hingga ia pejamkan mata dan menanti ajalnya. Sama sekali tak tersangka mendadak daya jengkel tangannya itu terasa lenyap, menyusul itu hawa mendidih di dalam perutnya pelahan2 buyar juga, ketika Na Thian-ho geraki tangannya, terasa kepandaiannya sedikitpun tidak teralang, terang Yalu Ce telah sengaja mengampuni jiwanya, sebab itulah dalam keadaan malu dan berterima kasih tak lupa ia mengucapkan beberapa patah kata di hadapan orang banyak. Pertarungan sengit diantara kedua orang itu telah disaksikan semua orang, betapa hebat ilmu pukulan Na Thian bo, tapi akhirnya dikalahkan Yalu Ce secara menakjubkan, maka bagi orang yang punya sedikit pengalaman tiada yang berani lagi coba2 naik ke panggung. Disamping itu Yalu Ce adalah anak menantu Kwe Cing dan Ui Yong yang rapat hubungannya dengan Kay pang, dengan sendirinya anak murid Kay-pang lebih suka kalau pemuda ini jadi pangcu mereka. Pula ia adalah murid Ciu Pek-thong yang tergolong tokoh tertua Coancin-pay dengan sendirinya anak murid Coan-cin-pay dan anak murid Tang-sia atau Lam-te juga sungkan bertanding dengan dia. Hanya ada dua -tiga orang yang sembrono masih coba2 naik panggung, tapi hanya beberapa gebrak saja sudah dikalahkan . Melihat sang suami menjagoi panggung, sudah tentu rasa senang Kwe Hu tak terkatakan, Tapi ketika sekilas dapat dilihatnya ada seekor rajawali raksasa yang aneh dan jelek beserta si cebol berkepala besar yang dilihatnya ditambangan Hongleng sedang duduk di sisi adik perempuannya, tanpa tertahan iapun tercengang. Tadi waktu Kwe Yang bersama Taa-thaokiu dan Sia tiau masuk lapangan, saat itu Yalu Ce lagi seru menempur Na Thian-ho, seluruh perhatian Kwe Hu sedang dicurahkan pada diri sang suami maka ia sama sekali tidak melihatnya. Kini sesudah keadaan mereda barulah ia melihat datangnya sang adik yang katanya tidak mau datang, kenapa sekarang telah hadir? Tapi lantas terpikir lagi sesuatu olehnya, diam2 ia berkita.

"Celaka, Nyo Ko menyebut dirinya sebagai "

Sin-tiau-tayhiap ", tentunya rajawali besar jelek ini adalah Sin tiau yang dimaksudkan itu.

Dan kalau Sin-tiau sudah datang, pasti Nyo Ko juga sudah berada disekitar sini, Kalau dia datang untuk rebut kedudukan Pangcu....

ya, kalau dia datang untuk perebutan Pangcu"

Begitulah sesaat itu dari rasa girangnya segera berubah kuatir sebab betapa tinggi ilmu kepandaian Nyo Ko yang pernah dirasakannya cukuplah diketahui, apa artinya jika benar2 orang telah datang untuk maksud berebut Pangcu.

Namun waktu ia memandang sekitarnya, jejak Nyo Ko sama sekali tak tertampak, sementara itu hari sudah petang, beruntun Yalu Ce telah mengalahkan tujuh orang dan tiada yang berani naik panggung lagi, Majulah Nio-tianglo ke depan dan berkata dengan suara lantang.

"Yalu Ce-toaya ber-kepandaian serba lengkap Bu dan Bun (silat dan surat ), kita sudah lama mengaguminya, kini kalau beliau bisa menjadi Pangcu kita, sudah tentu kami mendukungnya"

Berkata sampai di sini, para anggota Kaypang yang berada di bawah panggung serentak berdiri dan bersorak-sorai. Lalu Nio-tianglo menyambung pula.

"Dan entah ada tidak ksatria lain yang masih ingin naik panggung buat bertanding lagi?"

Setelah berulang kali ia tanya dan bawah panggung sepi saja tiada jawaban. Diam2 Kwe Hu girang, pikirnya.

"Nyo Ko tidak datang pada saat ini, hilanglah kesempatannya! Asal Ce-koko sudah menerima jabatan Pangcu, sekalipun ia hendak mem-persulit juga tiada gunanya."

Pada saat itu juga, tiba2 terdengar suara derapan kuda yang cepat, dua orang penunggang kuda secepat terbang mendekati Mendengar suara derapan kuda yang riuh itu terang penunggangnya sangat ter-gesa2.

"Akhirnya datanglah dia!"

Pikir Kwe Hu.

Dalam pada itu, kedua penunggang kuda itu sudah masuk lapangan, semuanya memakai baju-abu2, kiranya dua pengintai yang Kwe Cing untuk mencari berita pasukan musuh.

Meski Kwe Cing terus mengikuti pertandingan di atas panggung tapi setiap saat selalu ia pikirkan situasi militer, kini melihat kedua pengintainya kembali dengan begitu cepat, katanya dalam hati.

"Ha, akhirnya datanglah!"

Dalam hati Kwe Cing dan Kwe Hu berdua sama2 berkata.

Akhirnya datanglah, tapi yang dimaksudkan sang puteri ialah Nyo Ko, sedang sang nyali maksudkan pasukan musuh, orang Mongol.

Sesudah dekat, segera kedua pengintai itu menghadap Kwe Cing dan memberi hormat.

Pada umumnya, baik atau buruk situasi militer yang akan dilaporkan, dari air muka pengintai biasanya sudah kelihatan.

Kini terlihat wajah kedua pengintai itu menunjuk rasa bingung tapi penuh girang, seperti ketemukan sesuatu kejadian yang di luar dugaan.

"Lapor Kwe tayhiap, pasukan perintis Mongol dari jurusan kanan berjumlah seribu jiwa sudah sampai di Sin-ya,"

Demikian salah seorang pengintai itu melapor. Diam2 Kwe Cing terkejut "Cepat benar majunya,"

Katanya dalam hati, Lalu terdengar pengintai yang lain juga buka suara.

"Lapor, pasukan perintis Mongol barisan kiri seribu orang sudah tiba sampai di Tengciu-"

Harus diketahui bahwa jarak antara Tengciu dan Sin-ya dengan Siangyang hanya seratus li lebih, jalan kedua tempat itu seluruhnya jalan datar, jika pasukan gerak cepat Mongol itu maju pesat, tidak sampai satu hari pasti akan sampai Siangyang.

Namun pengintai yang kedua tadi dengan berseri lantas berkata lagi.

"Cuma ada suatu kejadian aneh, seribu pasukan Mongol diluar kota Tengciu itu seluruhnya menggeletak mati, tiada satupun yang hidup."

"Bisa terjadi begitu?"

Tanya Kwe Cing heran.

"Ya, apa yang hamba lihat di Sin-ya juga begitu,"

Sela pengintai satunya.

"seribu tentara perintis Mongol yang lain juga seluruhnya sudah menjadi mayat, yang paling aneh ialah setiap mayat perajurit Mongol itu daun telinga kirinya telah diiris orang."

"Benar, perajurit Mongol yang di Tengciu juga begitu, daun telinga kanan mereka sudah Ienyap,"

Sambung pengintai kedua tadi.

Mendengar itu, Kwe Cing dan Ui Yong hanya saling pandang dengan rasa heran dan girang yang bercampur-aduk.

Mereka heran siapakah yang mendadak kirim pasukan penggempur lihay hingga kedua pasukan musuh itu kena dihancurkan semua, walaupun hanya 2000 orang musuh dari beratus ribu lainnya, namun bila berita ini disiarkan tentu akan besar membangkitkan semangat tentara sendiri.

"Dan bagaimana pasukan pertahanan kita di kota Sinya dan Tengciu?"

Tanya Kwe Cing.

"Kedua kota itu tertutup rapat, mungkin kematian pasukan Mongol diluar kota itu hingga kini belum diketahui panglima penjaga kota2 terse-but,"

Sahut kedua pengintai itu.

"Lekas kalian laporkan kepada Lu-tayswe, tentu kalian akan diberi hadiah,"

Ujar Ui Yong. Maka pergilah kedua pengintai itu dengan cepat Ketika berita itu diumumkan di atas panggung, seketika bersorak sorailah seluruh hadirin.

"Kay-pang memilih pangcu adalah urusan besar, tapi lebih besar lagi adalah berita tentang hancurnya pasukan musuh ini?"

Kata Ui Yong pula.

"Maka Nio tianglo, lekas suruh orang menyiapkan perjamuan, kita harus merayakannya kemenangan secara besar2an."

Memangnya daharan sudah disiapkan, yakni untuk merayakan Pangcu pilihan baru.

Kini berita kemenangan itu membuat semua orang bertambah gembira.

Hanya Bu Siubun dan Bu tun-si yang kalah bertanding tampak kesal, tapi yang gembira banyak dan yang kesal satu-dua orang, tentu saja tidak pengaruhi suasana gembira-ria itu.

Sebentar saja suara saling memberi selamat terdengar gemuruh diselingi suara beradunya cawan arak.

Kemenangan mendadak itu disangka para pahlawan tentu perangkap yang telah diatur Kwe Cing dan Ui Yong, maka ber-bondong2 mereka datang memberi selamat Namun Kwe Cing tegas menyatakan bukanlah jasanya, sudah tentu semua orang tak mau percaya, sebab memang sudah menjadi watak Kwe Cing yang suka rendah hati.

"Memang kejadian ini rada aneh, Cing-koko!, biarlah kita tunggu kabar lebih lanjut baru bisa mengetahui duduknya perkara,"

Ujar Ui Yong.

Kiranya ketika mendapat laporan itu, Ui Yong tahu di dalamnya tentu ada sesuatu mencurigakan maka cepat ia mengirim delapan anak murid Kay-pang yang pandai dan cerdik menyelidik ke Sinya dan Tengciu.

Dalam pada itu Kwe Yang, Toa-thau kui dan Sin-tiau sedang duduk bersama di suatu tempat, melihat rupa Sio-tiau yang aneh dan hebat hingga tiada orang yang berani mendekatinya.

"Kenapa Toakoko masih belum datang?"

Demikian Kwe Yang terus menanyakan Nyo Ko.

"la sudah bilang akan datang, pastilah datang nanti,"

Sahut Toa-thau-kui. Dan belum lenyap suaranya, mendadak ia sambung pula.

"Tuh, dengarlah suara apakah itu?"

Ketika Kwe Yang mendengarkan dengau cermat, maka terdengarlah dari jauh berkumandang suara meraungnya binatang2 buas. ia bergirang.

"Ah, Su-si Hengte telah datang!"

Demikian katanya.

Tak lama kemudian, suara raungan binatang itu semakin dekat, para pahlawan yang berada di-alun2 itu terkejut, be-ramai2 mereka lolos senjata sambil berdiri, seketika suasana lapangan itu menjadi kacau dan ramai dengan suara orang.

"Darimanakah datangnya binatang buas begini banyak?"

"He, singa! Ah, juga harimau!"

"Awas! Ber-jagalah diserang serigala, begitu juga awas terhadap macan tutul!"

Hanya sikap Kwe Cing saja yang sangat tenang, ia pesan Bu Siu-bun.

"Kau kembali ke kota dan menyampaikan perintahku agar dikirim 2000 pemanah kemari."

Bu Siu-bun mengiakan selagi hendak pergi, tiba2 dari jauh terdengar suara seruan orang yang panjang.

"Ban-siu-san-ceng Su-si Hengte diperintahkan Sin-tiau-hiap datang memberi selamat Shejit kepada nona Kwe Yang serta menghantarkan hadiah ulang tahun."

Suara itu bukan teriakan satu orang tapi keluar dari mulut Su-si Hengte berlima.

lwekang mereka beraliran tersendiri walaupun bukan jagoan kelas wahid, tapi suara teriakan mereka berbareng seakan2 paduan suara yang me-mekak telinga.

Ui Yong memberi tanda agar Bu Siu-bun tetap pergi melaksanakan perintah sang suami tadi, sebab meski begitu dikatakan Su-si Hengte, namun tiada jeleknya kalau ber-siap2 untuk segala kemugkinan lain.

Maka pergilah Siu-bun dengan cepat mencemplak kudanya.

Selang tak lama, pasukan pemanah pertama sudah datang dan tersebar disamping alun2.

Dan baru saja pasukan pemanah itu mengambil kedudukan ber-siap2, terlihatlah seorang laki2 berbaju kulit macan telah sampai diluar lapangan itu, dengan membawa seratus ekor harimau, Siapa lagi dia kalau bukan Pek-hia san-kun Su Pek wi.

Seratus ekor harimau itu secara rajin berbaris mendekam ditanah.

Menyusul itu Koah-kian-cu Su TioDg-bing membawa seratus ekor macan tutul, Kim-ka-say-org rnefjggiring seratus ekor singa, Tai-lik-sin Su Kui kiang memimpin seratus ekor gajah, Pat-jiu-sian-kau Su Beng-ciat dengan seratus ekor monyet besar.

semuanya berbaris dengan rajin diiuar lapangan.

Meski binatang2 itu buas dan tiada hentinya mengeluarkan suara raungan, tapi barisannya rajin tanpa kacau sedikitpun.

Para pahlawan yang hadir itu semuanya sudah banyak berpengalaman tapi mendadak melihat datangnya binatang2 buas begini banyak, mau-tak-mau sama berkuatir juga.

Kemudian Su si Hengte masing2 membawa sebuah kantong kulit terus berjalan kehadapan Kwe Yang, dengan membungkuk badan mereka berkata.

"Selamat hari ulang tahun nona, semoga panjang umur dan tetap awet muda."

"Banyak terima kasih atas doa restu kelima paman Su,"

Sahut Kwe Yang.

"Dan inilah hadiah ulang tahun pertama yang Sin-tiau-hiap kirim pada nona,"

Kata Su Pek-wi sambil menunjuk kelima kantong kulit yang mereka bawa.

"Ah, benar2 aku tak berani menerimanya. Barang apakah itu?", demikian sambut Kwe Yang.

"Ehm, aku menerka dalam kantong kulitmu itu tentu berisi seekor anak harimau kecil, ya bukan?"

"Bukan,"

Sahut Pek-wi menggoyang kepala.

"Tapi hadiah ini adalah berkat usaha Sin-tiau hiap bersama beratus tokoh Kangouw, tenaga yang mereka keluarkan sungguh tidaklah sedikit,"

Habis berkata ia lantas buka kantong kulit yang dipeganginya, Ketika Kwe Yang memeriksa isinya mendadak ia berteriak dan terkejut.

"He, kuping!"

"Betul,"

Sahut Pek-wi.

"Kedua kantong kulit ini isinya adalah 2000 pasang daun kuping prajurit Mongol."

Kwe Yang belum paham akan maksud itu, maka dengan terkejut ia tanya.

"Daun kuping-perajurit Mongol sebanyak ini, untuk apa diberikan padaku?"

Kwe Cing dan Ui Yong mendengar jelas percakapan itu, maka merekapun berbangkit dan mendekati Su Pek-wi serta melongok isi kantong kulit itu.

Segera pula teringatlah apa yang dilaporkankedua pengintai tadi, tak tertahan lagi mereka terkejut dan ter-heran2.

"Su-toako, kiranya sendadu Mongol di kota Sinya dan Tengciu itu adalah Sintiau-hiap beserta kawannya yang membunuh?"

Tanya Ui Yong. Kelima saudara Su itu memberi hormat pada, Kwe Cing dan Ui Yong yang segera pula membalas hormat itu. Kemudian barulah Su Pek-wi menjawab.

"Kata Sin-tiau hiap, nona Kwe berada di Siangyang, tapi pasukan2 Mongol berani datang dan harus dibunuh, cuma kekuatan musuh terlalu besar dan tidak bisa sekaligus dibunuh semua, maka bersama beberapa pahlawan hanya membunuh dulu dua ribu pasukan perintis musuh."

"Di manakah Sin tiau-tayhiap sekarang berada, dapatkah aku menemuinya untuk mengaturkan terima kasih atas nama segenap penduduk kota,"

Kata Kwe Cing.

Hendaklah diketahui bahwa selama belasan tahun ini Kwe Cing selalu mencurahkan tenaga dan pikirannya untuk pertahanan kota Siangyang, maka terhadap urusan2 Kangouw sudah lama tak ikut campur, sedangkan Nyo Ko mengasingkan diri dan ganti nama, pergaulannya juga dengan orang yang aneh2 sehingga Kwe Cing tidak mengetahui bahwa "Sin-tiau-hiap"

Itu adalah Nyo Ko. Maka jawablah Su Pek-wi.

"Beberapa hari ini Sin-tiau-hiap lagi sibuk menyiapkan hadiah ulang tahun nona Kwe, maka belum sempat datang menjumpai Kwe-tayhiap dan Kwehujin, haraplah di-maafkan."

Pada saat itulah tiba2 suara suitan berbangkit pula di kejauhan, suara seorang telah berteriak.

"Se-san-it-khut-kui mendapat perintah Sin tiau hiap datang memberi selamat ulang tahun pada nona Kwe dan membawakan hadiah Shejit."

Suara ini lembut tajam, seperti terputus2, tapi terdengar jelas oleh setiap orang.

Melihat hadiah yang pertama tadi sesungguhnya hebat sekali, maka lekas2 Kwe Cing berseru menyahut "Kwe Cing menantikan kedatangan kalian dengan hormati -Lalu iapun menuju kepintu masuk alon2 itu buat menyambut "

Kau kira Sin-tiau-hiap ini siapa? "tanya Ui Yong berbisik ketika berdiri menyanding sang suami.

"Entahlah, aku tak tahu,"

Sahut Kwe Cing.

"lalah Nyo-Ko!"

Kata Ui Yong.

"Apa? Nyo Ko?"

Kwe Cing menegas dan tercengang, namun segera iapun bergirang.

"Aha, hebat, sungguh hebat! ia berjasa begini besarnya, sungguh ditakdirkan membantu Song kita."

"Kau terka hadiah Shejit-nya yang kedua itu apa?"

Tanya Ui Yong.

"Kepintaran Koji luar biasa, hanya kau yang bisa melebihi dia dan melulu kau yang bisa menerka pikirannya,"

Sahut Kwe Cing tertawa.

"Tapi sekali ini tak bisa menerkanya,"

Ujar Ui Yong sambil menggeleng.

Tidak lama kemudian, Tiang fi kui Hoan It ong beserta delapan setan lainnya telah sampai di-lapangan terus memberi hormat pada Kwe Cing suami isteri, lalu mereka mendekati Kwe Yang dan berkata.

"Selamat hari ulang tahun nona, semoga hidup tenang bahagia Sin-tiau-hiap menyuruh kami mengantarkan hadiahnya yang kedua ini."

"Terima kasih, banyak terima kasih,"

Segera Kwe Yang berseru.

Maka terlihatlah setiap orang Se-san it-khut-kui membawa sebuah kotak, Karena kuatir mereka kembali memberi hadiah sebangsa daun kuping atau batang hidung manusia, cepat Kwe Yang berkata lagi.

"jika barang tak baik dilihat, janganlah dibuka."

"Ha, sekali ini justru sangat indah untuk dilihat,"

Sahut Toa-thau-kui tertawa.

Ketika Hoan It-ong membuka kotaknya, dikeluarkan nya sebuah mercon roket yang sangat besar, ketika sumbunya disulut, secepat kilat mercon roket itupun meluncur tinggi kelangit.

Kemudian waktu mercon itu meletus ditengah udara, maka terlihatlah gemerlapan bintik2 sinar diudara tiba2 terbentuk menjadi suatu tulisan, menyusul itu Tiau si kui juga melepaskan sebuah bunga api yang iain dan merupakan suatu huruf lagi, setelah bergiliraa Se-san-it-khut-kui melepaskan bunga api masing2, huruf bunga api yang gemerlapan itu kalau diurut menjadi berbunyi "Dengan hormat mendoakan semoga nona Kwe panjang umur dan banyak rejeki."

Sepuluh huruf sepuluh warna tergantung tinggi diangkasa hingga lama barulah buyar.

Bunga api ini adalah ciptaan ahli terkenal yang bernama Wi It-bau, betapa indah bunga api buatannya pada jaman itu dianggap sebagai semacam kepandaian khas yang tiada bandingannya.

Kwe Cing tersenyum senang melihat suasana itu, pikirnya dalam hati.

"Memang anak perempuan paling suka dengan permainan aneh2 ini, sungguh pintar Koji bisa mencari ahli pembuat bunga api terkenal ini."

Tapi baru saja sepuluh buraf bunga api ini buyar, tiba2 di udara sebelah utara sana meluncur sebuah mercon yang jaraknya beberapa li dari lapangan ini, menyusul mana di bagian utara lebih jauh lagi menjulang tinggi pula sebuah meteorit yang lain.

"Cara memberi tanda pakai meteor seperti ini dalam sekejap saja bisa tersambung sampai beratus li jauhnya, entah apa yang telah diatur Nyo Ko, rasanya hadiahnya yang kedua ini sekali2 bukan melulu membakar bunga api untuk membikin senang Yang-ji saja,"

Demikian Ui Yong berpikir.

Lalu iapun perintahkan menyediakan meja dan daharan untuk Su si Hengte serta Se-san-it-khut-kui.

Tapi belum selesai perjamuan itu diaiapkan, terdengarlah dari jauh di utara sana berkumandang suara gemuruh bagai guntur melempem, namun suara itu susul menyusul mengguruh terus tiada berhenti cuma jaraknya terlalu jauh, maka suara gemuruh itu kedengaran enteng saja.

Sebaliknya demi mendengar suara itu, mendadak Su si Hengte dan Se-san-it-ihut-kui berjingkrak girang, sambil ber-teriak2.

"Berhasil, berhasil sudah!"

Para pahlawan menjadi bingung entah berhasil apa yang dimaksud itu, Toa-thau kui menuding ke utara dan berteriak.

"Bagus, bagus!" . Tatkala itu udara gelap gulita, tapi di ujung langit sebelah utara itu ternyata bercahaya merah. Terkejut Ui Yong, tapi segera iapun bergirang.

"Ah, Lamyang telah terbakar!"

Serunya kemudian.

"Ya, benar, itulah Lamyang!"

Kwe Cing ikut berteriak sambil tepuk paha.

"Dapatkah kami mendapat sedikit keterangan?"

Tanya Ui Yong pada Hoan It-ong.

"ltulah hadiah ulang tahun kedua yang Sin-tiau-hiap berikan pada nona Kwe, yaitu rangsum pasukan Mongol yang berjumlah dua ratus ribu jiwa itu telah dibakarnya,"

Kata Hoan It-ong.

Memangnya Ui Yong sudah menduga akan itu, kini mendengar dugaannya ternyata tepat, ia saling pandang dengan sang suami dengan girang.

Kiranya pasukan Mongol yang menggempur Siangyang itu menggunakan Lamyang sebagai kota perbekalan, beberapa tahun yang lalu sudah mendirikan gudang dikota itu secara besar2an, lalu dari mana2 didatangkan rangsum dan disimpan di situ.

Beberapa kali Kwe Cing mengirim pasukannya menggempur kota rangsum musuh itu, tapi pertahanan pihak Mongol terlalu kuat hingga tidak pernah berhasil, siapa nyana kini Nyo Ko melulu gunakan waktu semalam saja dapat membakar ludes perbekalan musuh itu.

Menyaksikan sinar api yang ber-kobar2 diarah itu makin lama semakin besar, akhirnya Kwe Cing menjadi kuatir malah.

Tanyanya pada Hoan It ong.

"Para pahlawan yang berjuang disana itu apakah dapat kembali dengan selamat semua?"

Diam2 Hoan It ong harus mengakui memang benarlah Kwe Cing seorang berbudi luhur, tidak tanya hasil pembakaran itu, tapi lebih dulu tanya keselamatan orang-nya, Maka jawabnya.

"Terima kasih atas perhatian Kwe-tayhiap, hal itu Sin-tiau-hiap sudah mengaturnya dengan baik. Yang ikut membakar Lamyang itu adalah Seng-in Suthay, Liong-ah Thauto, Thio It-bin dan Pek-cau sian cs. yang semuanya tergolong jago kelas wahid, seluruhnya ada 81 orang, rasanya perajurit maupun perwira Mongol yang biasa saja tak nanti bisa mencelakai mereka."

Tiba2 Kwe Cing menjadi paham, katanya pada Ui Yong.

"Lihatlah, Ko ji telah mengundang pahlawan2 begitu banyak, kiranya bertujuan mendirikan pahala luar biasa ini, jika bukan jago2 terkemuka ini sekaligus turun tangan berbareng, memangnya tidaklah mudah hendak menghancurkan 2000 perajurit musuh."

"Kami telah mendapat berita bahwa pasukan Mongol akan menggempur Siangyang dengan meriam dan obat peledak lain, maka di gudang bawah tanah Lamyang sana telah penuh tersimpan beratus libu kati obat pasang,"

Demikian tutur Hoan It-ong pula.

"Sebab itulah ketika melihat bunga api selamat ulang tahun yang kami bakar tadi, segera 81 jago2 angkatan tua yang sudah siap dikota Lamyang itu turun tangan berbareng, membakar obat peledak dan menghancurkan rangsum musuh, sekali ini pasukan musuh pasti akan kelaparan."

Mendengar keterangan itu, Kwe Cing saling pandang dengan Ui Yong, diam2 mereka terkesiap Dahulu mereka pernah mengikuti Jengis Khan menjelajah ke barat dan menyaksikan sendiri tentara Mongol menggunakan meriam menggempur benteng musuh, betapa dahsyatnya meriam itu benar2 seperti gugur gunung, cuma saja obat pasang dan peluru meriam nya sukar diperoleh, maka beberapa kali pasukan Mongol yang mengerang Siangyang belum pernah menggunakan meriam.

Tapi sekali ini rajanya sendiri, Mooko, yang memimpin pasukan, sudah tentu membawa alat penggempur benteng yang paling lihay pada jaman itu.

jika bukan apa yang dinyatakan Nyo Ko ini, dapat dipastikan penduduk Siangyang bakal tertimpa malapetaka besar, Apalagi bisa menghancurkan 2000 perajurit musuh dan membakar rangsum musuh yang terhimpun selama beberapa tahun di Lamyang itu, dalam keadan serba kurang lengkap, pasti pasukan musuh terpaksa mundur.

Dan jasa itu sungguh besar luar biasa, maka suami isteri itu lantas mengaturkan terima kasih pada Su si Hengte dan Se-san it-kui.

Dalam pada itu suara ledakan obat pasang masih terus terdengar cuma terlalu jauh, maka kedengarannya se-akan2 kabur, mendadak terdengar letusan beberapa kali lebih keras, menyusul tanah sedikit tergoncang.

Maka berteriaklah Hoan Ii-ong.

"Ah, gudang obat pasang yang terbesar itupun sudah meledak."

Segera juga Kwe Cing memanggil Bu-si Hengte menghadap dan berkata pada mereka.

"Kalian lekas memimpin 2000 pemanah dan merunduk ke Lam-yang. jika pasukan musuh dalam formasi teratur, maka tak usah turun tangan, tapi kalau musuh kacau gugup, segera hujani anak panah dan basmi mereka."

Maka pergilah kedua saudara Bu itu dengan cepat, Karena kejadian hebat yang datangnya susul-menyusul itu seketika ramailah orang membicarakan kegagahan dan memuji akan budi luhur Sin-tiau-hiap.

Sebaliknya Kwe Hu yang melihat suaminya sudah menjagoi di atas panggung dan kedudukan Pangcu sudah terang tergenggam di tangan, siapa tahu mendadak terjadi hal2 yang menyimpang, dan belum Nyo Ko muncul orangnya atau suaranya sudah merobohkan nama sang suami.

Meski kejadian2 membakar rangsum musuh dan membasmi pasukan permtis Mongol adalah berita kemenangan yang menggirangkan tapi dasar Kwe Hu ini berjiwa sempit, maka ia menjadi kurang senang apalagi didengarnya bahwa apa yang terjadi itu menurut Su si Hengte dan Se-san it-khut-kui adalah hadiah ulang tahun Nyo Ko untuk adik perempuannya, kalau dibandingkan terang ia sendiri semakin merosot pamornya.

Berpikir sampai di sini, ia menjadi gusar, pikirnya.

"Bagus, keparat Nyo Ko ini dendam padaku karena kutabas buntung lengannya dan sekarang sengaja datang menghilangkan mukaku!"

Nio tianglo dan Yalu Ce serta Kwe Hu bersama satu meja, orang tua ini melihat semua orang sama riang gembira, hanya Kwe Hu saja tampak bersungut.

Setelah ia pikir, segera ia tahu sebab2nya, maka katanya tertawa.

"Ah, aku benar2 sudah pikun, karena kegirangan oleh datangnya berita kemenangan ternyata urusan di depan mata menjadi terlupa."

Habis ini, segera ia melompat ke atas panggung lagi dan serunya lantang.

"Para hadirin, pasukan musuh berulang kali mengalami kehancuran sudah tentu kita merasa amat girangnya. Tapi masih ada pula sesuatu yang menambahi kegirangan kita, yaitu tadi Yalu-toaya telah mengunjuk ilmu silatnya yang tinggi dan semua orang sangat mengaguminya, sekarang juga kita mengangkat Yalu-toaya sebagai Pangcu kami, Apakah diantara pahlawan2 yang hadir ini ada yang menyanggah? Dan anak murid perkumpulan kita sendiri, apakah ada yang tidak setuju?"

Sesudah ditanya tiga kali dan di bawah panggung tetap tiada sahutan, maka Nio-tianglo melanjutkan. Jika begitu, silakan Yalu Ce naiklah kemari!"

Segera Yalu Ce melompat ke atas panggung, ia merangkap kepalan memberi hormat sekeliling panggung, selagi ia hendak buka suara dengan kata2 yang merendah diri, tiba2 di bawah panggung seseorang berteriak.

"Nanti dulu, hamba ada sesuatu pertanyaan perlu minta penjelasan Yalu-toaya!"

Yalu Ce tercengang, dilihatnya suara itu keluar dari gerombolan anak murid Kay-pang sendiri, maka cepat iapun menjawab.

"Katakanlah, silakan!"

Lantas terlihat di antara anak murid Kay-pang sana telah berdiri satu orang dan berseru.

"Ayah YaIu-toaya sangat agung menjabat perdana menteri dinegeri Mongol, kakaknya juga pernah menjadi pembesar tinggi, walaupun sudah meninggal semua, tapi Kay-pang kita adalah musuh Mongol, dengan riwayat Yalu toaya yang menimbulkan curiga itu, apakah dapat menjadi Pangcu perkumpulan kita?"

"Mendiang ayahku, Yalu Cucay meninggal di racun ibu suri raja Mongol dan mendiang kakakku Yalu Cin dibunuh raja Mongol yang sekarang, hamba sendiri dengan raja Mongol yang kejam itu mempunyai dendam yang tiada taranya,"

Demikian sahut Yalu Ce dengan sengit.

"Meski begitu katanya, tapi kematian ayahmu sesungguhnya kurang jelas, tentang diracun hanya berita angin belaka dan belum ada sesuatu bukti nyata,"

Kata pengemis tadi pula.

Dan kakakmu melanggar perintah serta dihukum mati adalah pantas, dendam ini tak perlukah dibalas, sebaliknya sakit hati Kay-pang kita inilah yang belum terbalas.

Mendengar orang berani menyindir suaminya, Kwe Hu menjadi murka, ia tak tahan lagi, ia membentak.

"Siapa kau? Berani mengaco-belo disini? Kalau berani, hayolah naik ke atas panggung!"

"Hahaha, bagus, bagus!"

Sahut pengemis itu terbahak "Pangcu belum tentu jadi, tapi calon nyonya Pangcu sudah unjuk lagak."

Habis itu, tanpa bergerak, tahu2 orangnya sudah berada di atas panggung. Menyaksikan ilmu entengi tubuh orang ini, semua orang terkesiap.

"Hebat benar ilmu silatnya, siapakah dia?"

Demikian semua orang sama bertanya.

seketika pandangan beribu pasang mata terpusat atas diri pengemis ini.

Pengemis ini memakai baju hitam yang longgar dan compang camping, tangan kanan membawa sebatang tongkat yang bulat tengahnya sebesar cawan arak, rambutnya serawutan, mukanya kuning ke-gemuk2an seperti orang berpenyakit beri2, dekak-dekuk seperti bekas koreng, dipunggungnya menggemblok lima kantong kain, kiranya dia adalah anak murid Kay pang berkantong lima.

Sebenarnya dalam kaum jembel itu tidaklah kurang orang yang bermuka jelek, tapi kejelekan orang ini luar biasa.

Anggota2 Kay-pang kenal dia bernama Ho Su-ngo, orangnya pendiam, tapi giat, sedikit bicara, banyak bekerja.

Sebab belasan tahun selalu giat berjuang untuk tugas perkumpulan dengan setia tanpa kenal capek, maka lambat-laun telah naik tingkat menjadi kantong lima, cuma silatnya dikenal rendah, kedudukan juga rendah, maka siapapun tidak memperhatikannya, orang menduga sesudah naik sampai tingkatan kantong lima tak mungkin lagi naik lebih tinggi, siapa tahu orang bodoh dan rendah demikian ini mendadak bisa naik panggung dan mendebat Yalu Ce, malahan ilmu silatnya juga diluar dugaan, semua orang sama membatin.

"Ho Su ngo ini darimana berhasil mencuri belajar ilmu silat yang demikian bagusnya?"

Sungguhpun Ho Su-ngo orangnya sepele, tapi karena mukanya yang jelek hingga membikin siapa yang melihatnya sukar melupakannya, maka Yalu Ce juga kenal padanya, segera ia rangkap tangan dan menegur "Entah Ho-heng ada pendapat apa lagi, silakan memberi petunjuk."

"Bilang memberi petunjuk, itulah aku tak berani,"

Sahut Ho Su-ngo tertawa dingin.

"Cuma hamba ada dua soal yang belum jelas, maka naik sini dan ingin bertanya."

"Dua soal apa?"

Tanya Yalu Ce..

"Pertama,"

Kata Ho Su-ngo.

"Pangcu baru dan lama kalau mengadakan timbang tcrima, selalu menggunakan "

Pak-kau-pang (pentung pcmukul anjing) sebagai tanda penyerahan kekuasaan Hari ini Yalu Ce-toaya hendak menjadi Pangcu, entah pusaka kita itu, Pak-kau pang, berada dimana?

sungguh hamba ingin sekali melihatnya."

Mendengar pertanyaan ini, seketika para anggota Kay-pang berkata dalam hati.

"Hebat benar pertanyaan ini."

Sementara terdengar Yalu Ce telah menjawab.

"Loh pangcu tewas dibokong musuh, Pak-kau pang itupun hilang dirampas penjahat itu, Memangnya ini adalah noda perkumpulan kita yang harus dicuci bersih, siapa saja asal anak murid kita berkewajiban mencari kembali pentung pemukul anjing itu."

"Dan,"

Kata Ho Su-ngo lagi,"

Soal kedua yang hamba tidak jelas dan ingin tanya, yalab sakit hati Loh-pangcu sebenarnya harus dibalas atau tidak?

"Loh-pangcu dicelakai Hotu, hal ini semua orang tahu, orang2 gagah di jaman ini semuanya ikut berduka dan penasaran, kita sudah mencari dan menyelidiki dan belum nampak jejak si bangsat Hotu ini,"

Demikian sahut Yalu Ce Iagi.

"Tapi ini adalah tugas penting perkumpulan kita, sekalipun ke ujung langit juga akan kita bekuk keparat Hotu itu untuk membalaskan sakit hati Loh-pangcu,"

"Hm,"

Tiba2 Ho Sit-ngo tettawa dingin pula.

"Pertama, pentung pemukul anjing belum diketemukan kedua pembunuh Loh pangcu belum didapatkan, bila urusan ini belum selesai sudah ingin menjadi Pangcu, rasanya agak terlalu kesusu."

Pertanyaan yang tepat dan tegas ini membikin wajah Yalu Ce menjadi merah padam tak sanggup menjawab.

Maka cepat2 Nio tianglo menyela "Apa yang dikatakan Ho-laute ada benarnya juga, tapi anak murid perkumpulan kita meliputi beratus ribu jumlahnya dan tersebar diseluruh pelosok tak dapat tiada pemimpinnya, sedang urusan mencari pentung dan menuntut balas dendam lebih2 memerlukan pimpinan, sebabnya kita buru2 ingin mengingkat seorang Pangcu baru, justeru inilah alasannya" .

"Kata2 Nio tianglo ini salah besar, boleh dikatakan memutar-balikkan persoalan,"

Tiba2 Ho Su-ngo menjawab dengan geleng2 kepala..."

Keruan Nto-tianglo menjadi gusar, ia adalah tertua dalam kalangan Kay-pang, tapi seorang anak murid berkantong lima saja berani mencelanya di-hadapan umura, sungguh besar amat nyalinya.

"Di mana letak kata2ku yang salah?"

Segera Nio tianglo bertanya dengan gusar.

"Menurut pendapat Tecu,"

Demikian Ho Su-ngo menjawab.

"barang siapa yang bisa menemukan Pak kau-pang dan siapa mampu membunuh Hotu untuk balas sakit hati Loh-pangcu, siapa lantas kita angkat menjadi Pangcu, Tapi kalau cara seperti sekarang ini, ilmu silat siapa yang pating kuat lantas dia menjadi Pangcu, jika umpama mendadak Hotu datang kemari dan ilmu silatnya menangkan Yalu-toaya, apakah kitapun lantas mengangkatnya menjadi Pangcu?"

Debatan ini seketika bikin orang saling pandang dan merasa apa yang dikatakan ada benarnya juga. Namun Kwe Hu sudah lantas ber-kaok2 dibawah panggung, teriaknya.

"Ngaco-belo, ilmu silatnya Hotu mana bisa menangkan dia?"

"Hm, meski ilmu silat Yalu toaya sangat tinggi, tapi belum berarti seluruh jagat tiada tandingan, hamba hanya seorang murid kantong lima, tapi belum pasti kalah daripadanya,"

Sahut Ho Su-ngo dengan tertawa dingin. Kwe Hu sangat mendongkol dengan kata2 orang kurangajar itu, kini mendengar orang bersedia saling gebrak, itulah kebetulan, maka cepat ia menggembor lagi.

"Ce-koko, hajarlah manusia congkak yang kurangajar itu!"

"Nio-tianglo,"

Kata Ho Su-ngo pula.

"jika Tecu bisa menangkan Yalu-toaya, jabatan Pangcu ini lantas menjadi bagian Tecu, bukan? Atau mesti menunggu ada orang lain menemukan pentung dan membalas dendam baru akan diangkatnyn menjadi pemimpin kita?"

Melihat sikap orang makin lama semakin kurangajar, Nio-tianglo menjadi gusar sungguh2.

"Tidak peduli siapa,"

Demikian sahutnya segera.

"jika tak mampu menangkan para ksatria, tak mungkin bisa diangkat Pangcu, kelak kalau ia tak mampu ketemukan pentung dan membalas dendam, pasti ia akan malu menduduki jabatan ini. jika Yalu-toaya menjadi pangcu kita, kedua tugas itu tak nanti tak dilaksanakannya, kalau dia tak mampu menang-kan Ho-laute, tak mungkin juga ia bisa menjadi Pangcu?"

"Tepat perkataan Nio-tianglo,"

Seru Ho Su-ngo.

"biarlah hamba segera belajar kenal dulu dengan kepandaian Yalu-toaya, kemudian barulah pergi mencari pentung dan membunuh musuh." -Di balik kata2 itu nyata benar se-akan2 pertandingan ini 9/10 bagian sudah pasti Yalu Ce akan kalah. Biasanya Yalu Ce sangat sabar dan berjiwa besar, tapi mendengar kata2 Ho Sungo ini, tanpa terasa iapun mendongkoI, maka jawabnya.

"Siaute berkepandaian rendah, memangnya tak berani menjadi Pangcu, tapi kalau Hoheng suka memberi pelunjuk, itulah sangat beruntung."

"Tak perlu merendah,"

Kata Ho Su-ngo, habis itu pentung besi yang dibawanya itu ditancapkan diatas panggung, lalu sekali pukul, segera ia merangsang maju.

Tenaga pukulan itu tidak terlalu keras, tapi sasarannya meliputi tempat yang sangat luas, tatkala itu Nio-tianglo belum lagi mundur, hingga angin pukulan Ho Su-ngo yang hebat itupun membikin pipinya terasa pedas.

Yalu Ce tak berani ajal, tangan kiri menangkis, segera tangan kanan memukul dengan tipu "jin cong-yok-bi (tersembunyi seperti kosong), satu tipu pukulan hebat dari 72 jurus "Khong-bin kun"

Ajaran Ciu Pek-thong, segera saja pertarungan kedua orang berlangsung dengan seru di atas panggung.

Tatkala itu sudah lewat tengah malam, di sekitar panggung terdapat beberapa puluh obor besar, maka pertarungan kedua orang itu dapat disaksikan semua orang dengan jelas.

Setelah belasan jurus, Ui Yong melihat anak menantunya sedikitpun belum di atas angin, ia coba meneliti gerak ilmu silat Ho Su-ngo, tapi tidak bisa mengenali dari aliran manakah itu, hanya terlihat orang sangat ulet, sedikitnya sudah mempunyai latihan selama 40 tahun, maka diam2 ia berpikir.

"Belasan tahun terakhir ini hanya secara kebetulan kubaca nama Ho Su-ngo karena bekerja giat telah dinaikkan tingkatannya, tapi selamanya tiada orang menyebut tentang ilmu silatnya, kini melihat gerak-geriknya terang bukan baru2 saja mendapat guru pandai atau penemuan aneh hingga ilmu silatnya maju mendadak, padahal di dalam Kay-pang selama ini ia merendah diri, dan tak terkenal, apakah tujuannya memang untuk hari ini?"

Setelah berlangsung lebih 50 jurus, lambat-laun Yalu Ce terkejut, tidak peduli bagaimana ia ganti gerak tipu serangan selalu kena dipatahkan lawan secara mudah saja, sungguh Ho Su-ngo merupakan lawan tangguh yang jarang diketemukannya selama ini.

Tapi anehnya justru orang juga tidak ambil kesempatan untuk balas menyerang, se-akan2 sengaja piara tenaga biar lawan roboh sendiri..

Yalu Ce sendiri sudah bertempur melawan beberapa orang kecuali Nu Thian-ho tadi, selebihnya biasa saja tidak banyak membuang tenaga kini melihat Ho Su ngo bergerak secara enteng dan tak tertentu seakan2 orang tua menggoda anak kecil, Yalu Ce menjadi tak sabar, mendadak dari kepalan ia ganti menjadi telapak tangan dan menyerang cepat dengan kedua tangan.

Kiranya meski Yalu Ce muridnya Ciu Pek thong, tapi kepandaian khas Ciu Pek-thong, yaitu dua tangan mainkan dua macam ilmu silat berbareng tidaklah mudah mempelajarinya, maka Yalu Ce juga tidak mendapatkan ajaran ilmu silat hebat itu, ajaran ilmu silat Coan-cin kau, sebaliknya Yalu Ce sudah cukup matang memahaminya, maka kini setelah dimainkan, seketika saja sumbu belasan obor di atas panggung itu terdorong memanjang dari ini saja cukup terbukti betapa tenaga pukulannya.

Maka tertampaklah segera di atas panggung itu dua bayangan orang berkelebat kian kemari di bawah cahaya obor yang bergoncang.

"Cing-koko,"

Tanya Ui Yong kepada suaminya.

"menurut pandanganmu dari aliran manakah kepandaian Ho Su ngo ini?"

"Sampai saat ini belum sejurus ilmu silat perguruannya diunjukkannya, terang ia sengaja menyembunyikan asal usul dirinya,"

Sahut Kwe Cing.

"Tapi bila 80 jurus lagi lambat laun Ce ji bakal di atas angin, tatkala mana kalau dia tak mau mengaku kalah, terpaksa harus terbongkar muka aslinya."

Dalam pada itu pertarungan kedua orang semakin cepat, tidak lama 70-80 jurus sudah berlangsung, betul juga seperti apa dikatakan Kwe Cing, tenaga pukulan Yalu Ce sudah mengurung rapat seluruh tubuh lawannya.

Kwe Cing dan Ui Yong penuh perhatian memandangi Ho Su-ngo, mereka tahu dalam keadaan kepepet, kalau tidak keluarkan kepandaian aslinya dan masih gunakan ilmu silat dari aliran lain, pasti orang she Ho itu akan celaka.

Rupanya Yalu Ce juga sudah tahu akan kelemahan lawannya, maka tenaga pukulannya semakin gencar, tapi tidak sembarangan maju, melainkan tetap tenang.

Pada suatu saat, tampaknya tak mungkin bagi Ho Su-ngo tak mengganti tipu silatnya, se-konyong2 terlihatlah lengan bajunya mengebas, angin menyambar santar mulur dan mengkerut pula.

Karena itu, belasan titik obor yang menyala di atas panggung itu juga memanjang, lalu menyurut kembali terus sirap.

Seketika keadaan menjadi gelap gulita, menyusul terdengarlah Ho Su-ngo dan Yalu Ce menjerit bersama, terdengar pula suara gedebukan, ternyata Yalu Ce sudah berguling ke bawah panggung, sebaliknya Ho Su-ngo telah bergejak tertawa di atas panggung.

Dalam keadaan terkejut, semua orang tiada yang berani bersuara, dalam keadaan sunyi itu suara tertawa Ho Su-ngo kedengaran sangat gembira sekali.

"Nyalakan obor lagi!"

Teriak Nio tianglo segera.

Maka segera beberapa anak murid Kay-pang naik ke panggung dan menyulut obor2 yang padam itu.

Dibawah sinar obor tertampaklah pipi kiri Yalu Ce berlumuran darah terluka sebesar cangkir, sebaliknya Ho Su-ngo lagi ulur telapak tangan kirinya sambil tertawa dingin dan berkata.

"Ha, baju kutang hebat, baju kutang hebat!"

Ternyata telapak tangannya juga penuh darah. Kwe Cing dan Ui Yong saling pandang sekejap, mereka tahu Kwe Hu telah pinjamkan "

Kutang lemas berduri landak kepada sang suami, maka sewaktu Ho Su-ngo berhasil menghantam Yalu Ce, sebaliknya tangannya malah terluka oleh duri baju pusaka yang tajam itu.

Cuma, sebab apa Yalu Ce terluka hingga terguling kebawah panggung, karena keadaan mendadak menjadi gelap, maka mereka tidak tahu.

Kiranya tadi waktu pertarungan antara Ho Su-ngo dan Yalu Ce sampai titik menentukan, mendadak Ho Su-ngo mengeluarkan tenaga kebasan lengan bajunya yang hebat hingga obor2 yang menerangi panggung itu seluruhnya padam.

Dalam keadaan terkesiap, cepat Yalu Ce menghantam ke depan untuk bela diri, tapi mendadak terasa ujung jarinya seperti menyentuh benda keras sebangsa logam, seketika ia sadar tentu Ho Su-ngo yang telah bertempur lama dan belum bisa unggul itu kini tiba2 menggunakan muslihat dan dalam kegelapan telah lolos senjatanya untuk membokong.

Namun Yalu Ce bukan murid Lo wan tong Ciu Pek-thong jika begitu gampang kecundang, sekalipun bertangan kosong juga ia tak gentar terhadap musuh yang bersenjata.

Maka segera tipu pukulannya tadi ia ubah menjadi gerak "Kim-na-jiu hoat"

Untuk merampas senjata.

Dengan gerak tangkapan itu, tubuhnya berbareng mendekati lawan, sekali tangannya membalik, gagang senjata musuh sudah kena dipegangnya Bahkan menyusul telapak tangannya yang lain segera memukul muka orang.

Dengan begitu, mau-tak-mau Ho Su-ngo harus melepaskan senjatanya, Dan dalam keadaan gelap, benarlah Ho Su-ngo telah miringkan kepalanya mengegos dan kendorkan tangannya, maka berpindah tanganlah senjatanya ketangan Yalu Ce.

Tapi pada saat yang sama itulah Yalu Ce merasa pipinya kesakitan sekali, terang sudah terluka, menyusul dadanya kena dihantam pula hingga tak sanggup berdiri tegak dan tergentak jatuh ke bawah panggung.

Sungguh tak terduga bahwa sedjata lawan ternyata aneh luar biasa, yaitu di dalamnya terdapat alat rahasia dan terbagi dalam dua potong, setengah potong kena direbutnya, dan setengah potong lainnya mendadak menyambar dan kena pipinya.

Cuma saja lukanya ini meski berat, tapi bukan tempat berbahaya, sebenarnya pukulan mematikan Ho Su-ngo itu terletak pada pukulannya yang mengenai dada Yalu Ce, syukur Kwe Hu sebelum itu berkeras agar suaminya memakai kaos kutang berduri landak didalam baju, karena itu pukulan hebat itu tidak melukainya, sebaliknya telapak tangan Ho Su--ngo sendiri yang tertusuk duri kaos kutang itu hingga berlumuran darah.

Sementara itu melihat suaminya terjungkal ke kawan panggung, Kwe Hu kuatir dan gusar cepat ia memeriksanya.

Namun Nio-tianglo juga tahu Ho Su-ngo telah menggunakan muslihat licik, tapi tiada bukti nyata, pula keduanya sama2 terluka dan berdarah, maka tidak mungkin menyalahkan salah satu pihak melanggar peraturan melukai lawan, meskipun tampaknya luka kedua orang tidak berat Yalu Ce terpukul jatuh ke bawah panggung, terang ia sudah kalah dalam pertandingan ini.

Namun Kwe Hu masih penasaran, katanya.

"Orang ini berlaku licik, kakak Ce naiklah keatas lagi untuk menentukan unggul dan asor dengan dia."

"Tidak,"

Sahut Yalu Ce menggeleng.

"sungguh pun ia gunakan tipu, tapi terang sudah menang, Apalagi kalau benar2 mengeluarkan kepandaian sejati, aku juga belum pasti menang,"

Karena pada saat menentukan tadi panggung menjadi gelap, maka Ui Yong dan Kwe Cing tidak mengetahui Ho Su-ngo menang dengan memakai tipu serangan apa.

Segera Ui Yong memanggil Yalu Ce ke dekatnya dan memeriksa sepotong senjata musuh yang kena dirampasnya itu.

Ternyata benda itu adalah selonjor baja yang panjangnya lima-enam dim saja, seperti sebatang ruji kipas, seketika tak teringat olehnya siapakah gerangan orang Bu -lim yang suka memakai senjata semacam ini.

Pada saat itulah Ho Su-ngo telah berkata sambil menegakkan mukanya yang jelek dan bengkak itu.

"Meski aku telah menangkan Yalu toaya, tapi aku belum berani menduduki jabatan Pangcu, setelah menemukan Pak-kau-pang dan membunuh Hotu, tatkala itu barulah terserah keputusan.musyawarah umum untuk menentukannya."

Mendengar kata2 orang yang ternyata sangat adil dan berjiwa besar, walaupun cara menangnya itu masih meragukan, tapi ilmu silatnya memanglah sangat tinggi, maka segera ada beberapa anggota Kay-pang bersorak memuji ucapannya itu.

"Dan ksatria manakah yang sekiranya masih ingin naik panggung buat memberi petunjuk?"

Kemudian Ho Su-ngo berseru sambil memberi hormat di depan panggung.

Baru selesai ia bicara, mendadak terdengar Su Pek-wi bersuit sekali, lalu beratus ekor binatang buas yang mengelilingi sekitar lapangan itu meraung keras sembari berdiri.

Melulu suara raungan seekor dua-ekor harimau atau singa saja sangat menggetarkan apalagi kini beratus ekor meraung berbareng, keruan suaranya se-akan2 gugur gunung dan memecah bumi, mangkok piring di atas meja perjamuan para pahlawan ikut bergoncang gemerincing suaranya.

Di bawah suara raungan binatang2 buas yang-keras itu, berbareng Se-san it-khut-kui dan keempat saudara Su lantas meloncat ke samping panggung, senjata mereka lolos, panggung itu sudah terkepung rapat.

Pada saat itulah dari jalan datang yang diterangi sinar obor tampak masuk delapan orang dengan obor terangkat diatas tangan.

Terdengar mereka berseru lantang.

"Sin-tiau hiap mengaturkan selamat berulang tahun kepada nona Kwe Yang dan inilah hadiah ketiga yang beliau bawa!" . Terlihat kedelapan orang itu cepat sekali sudah berada dihadapan Kwe Yang, nyata orang2 itu telah mengunjukkan betapa tinggi ilmu entengi tubuh mereka yang cepat dan gesit. Segera kedelapan orang itu membungkuk memberi hormat pada Kwe Yang dan masing2 memberitahukan namanya sendiri2. Para pahlawan menjadi kaget demi mendengar nama2 mereka. Ternyata seorang Hwesio yang paling depan itu adalah Bunsik Siansu, itu pengawas gereja Siau-lim-si, yang lain2 diantaranya ialah Tio-lokunsu, Jing-ling-cu cs., semuanya adalah tokoh2 terkemuka angkatan tua dari dunia persilatan yang sangat disegani. Namun Kwe Yang tidak peduIikan betapa tenar nama orang2 itu, ia hanya berbangkit membalas hormat dengan ber-seri2, katanya.

"Banyak terima kasih para paman dan mamak2 telah sudi berkunjung kemari. Barang permainan apakah yang kalian bawa untukku?"

Segera empat orang yang mengangkat empat ujung sebuah kantong besar terus menarik pelahan, maka terdengarlah suara sobeknya kain, kantong itu pecah menjadi empat potong dan dari dalam lantas menggelinding keluar seorang Hwesio berkepala gundul.

Ketika Hvvesio itu menyentuh tanah, cepat orangnya lantas melompat bangun, gerak tubuhnya ternyata gesit luar biasa, Segera tertampak wajah si Hwesio ini merah padam saking gusarnya, mulutnya mengomel tiada hentinya dalam bahasa yang tak dikenal, entah apa yang dia katakan.

Tapi Kwe Cing dan Ui-Yong segera kenal Hwesio ini adalah murid Kim lun Hoat ong, yaitu Darba, Sungguh aneh, entah cara bagaimana ia telah kena ditawan oleh Bu-sik Siansu dan Tio lo-kunsu cs.

Mula2 Kwe Yang menyangka dalam kantong itu tentu berisi kado yang menyenangkan, siapa tahu isinya adalah seorang paderi Tibet yang mukanya kasar jelek, maka ia rada kecewa.

Katanya.

"Buat apakah Toakoko mengirimkan hadiah seperti ini padaku? Aku tidak suka. Dimanakah dia sekarang, kenapa belum datang?"

Namun kedelapan orang itu tidak menjawab-nya, di antaranya Jing-ling-cu sudah lama tinggal di daerah Tibet dan fasih bicara bahasa Tibet, maka ia mendekati Darba dan bisik2 ditelinganya.

Menyusul itu segera wajah Darba kelihatan terperanjat, matanya tanpa berkedip memandangi Ho Su-ngo yang berada di atas panggung.

Lalu Jing-ling-cu berkata lagi dua patah kata bahasa Tibet dengan keras sembari mengangsurkan gada emas yang dipegangnya kepada Darba.

Gada emas itu adalah senjata Darba sendiri, ia telah dikeroyok oleh kedelapan tokoh terkemuka itu hingga tertawan, senjatanya pun terampas.

Kini sesudah mendengar kisikan Jing-ling-cu, mendadak ia melompat ke atas panggung.

"Nona Kwe,"

Kata Jing-ling-cu kemudian pada Kwe Yang.

"Hwesio ini bisa sunglapan, maka Sin-tiau-hiap suruh dia naik panggung memberi pertunjukan sunglap, cobalah kau melihatnya."

"O, kiranya begitu,"

Sahut Kwe Yang.

"Emang-nya aku lagi heran, untuk apa Toakoko membuang tenaga begitu banyak melulu membawakan seorang Hwesio kepadaku?"

Sementara itu Darba sedang bicara keras2 terhadap Ho Su-ngo, cuma bahasanya "kilikuIuk", sukar dimengerti apa yang dia katakan.

"Hai, Hwesio, kau berkata apa, sedikitpun aku tak paham,"

Demikian Ho Su-ngo membentak.

Mendadak Darba jinjing gada emasnya melangkah maju terus mengemplang kepala Ho Su-ngo.

Ho Su-ngo berkelit, namun Darba ayun gada emas yang gede itu merangsak terus, dengan bertangan kosong harus melawan senjata yang begitu berat, terpaksa Ho Su-ngo harus main mundur.

Melihat Hwesio Tibet ini begini garang, seketika anggota2 Kay-pang yang lain menjadi "solider"

Pada Ho Su-ngo, mereka sama berteriak begitu pula segera Nio-tianglo membentak.

"Hai, Hwesio, jangan serampangan, kau harus tahu dia adalah bakal Pangcu perkumpulan kami."

Namun Darba sama sekali tak menggubris, gadanya berputar begitu cepat hingga berwujud suatu lingkaran emas dengan samberan angin yang semakin dahsyat.

Karena itu, ada 6-7 anak murid Kay-pang yang tak tahan lagi, mereka melompat ke pinggir panggung hendak membantu sang kawan, tapi Jing-ling-cu dan rombongannya, Se san it-khut-kui dan kelima saudara she Su yang seluruhnya berjumlah 23 orang telah mengepung rapat panggung dan meng-halang2i orang lain naik ke atas panggung, sekalipun anggota Kay-pang berjumlah banyak, tapi sesaat juga tidak bisa menerobos lewat.

Sedang keadaan agak kacau, tiba2 Jing-ling-cu melompat ke atas panggung dan mencabut pentung besi Ho Su ngo yang ditancapkan dipinggir panggung tadi.

Terkejut sekali Ho Su-ngo, cepat ia hendak merebut kembali senjatanya itu, tapi kena didesak oleh gada emas Darba, selangkahpun ia tak bisa menggeser.

Betapapun Ui Yong yang biasanya sangat cerdik, dalam keadaan demikian ia menjadi bingung juga dan tidak tahu sebab apa Nyo Ko telah mengirim tokoh2 silat ini datang mengacau, apakah maksud tujuannya yang sebenarnya.

Kalau mengingat hadiah ulang tahun yang di berikannya pada Kwe Yang yang pertama dan kedua semuanya sangat berpaedah bagi Siangyang, rasanya hadiah ketiga ini tidak mungkin bersifat permusuhan.

Sebab itulah, Kwe Cing dan Ui Yong suami-isteri berpeluk tangan saja menyaksikan perkembangan selanjutnya.

Yalu Ce sendiri meski sudah digulingkan Ho Su-ngo kebawah panggung, tapi ia ber-cita2 meneruskan usaha ibu mertua dan berniat mati2an membela Kay-pang, kini melihat Ho Sungo keripuhan didesak Darba, tanpa pikir lagi ia membentak.

"Jangan kuatir, Ho-heng, biar aku membantu kau!"

Tapi ketika ia melompat ke pinggir panggung itu, mendadak seorang telah berseru padanya.

"Siapapun dilarang naik panggung!"

Berbareng tangan orang itupun dipalangkan buat merintangi.

Segera Yalu Ce mcnyampuk tangan orang, tapi sekali membalik, orang itu malah hendak menangkap tangan Yalu Ce, gerakannya ternyata bagus sekali, betapa besar tenaga dalamnya juga lain dari pada yang lain.

Keruan Yalu Ce terkejut waktu ia pandang orangnya, kiranya dia adalah Su Siok kong, tokoh ketiga dari kelima saudara Su.

Beberapa kali Yalu Ce berubah gerak tipu lain, tapi tak mampu mendesak mundur Su Siok-kong, diam2 ia terkejut dan lieran.

"Orang ini hanya anak buah Sm-tiau hiap saja sudah begini lihay, lalu Sin-tiauhiap yang memerintah dan menyuruh tokoh2 silat yang begini banyaknya, ia sendiri entah tokoh macam apa?"

Sementara itu Ji ling-cu telah angkat tinggi2 petung besi milik Ho Su-ngo yang dirampasnya tadi dan menggembor "Wahai, para ksatria sekalian, lihatlah, barang apakah ini?"

Habis itu mendadak ia ayun sebelah tangannya dan membelah ke tengah2 pentung besi itu.

"krak"

Pentung besi itu pecah oleh belahan telapak tangannya.

Ternyata pentung itu tengahnya bolong, ketika Jing-ling-cu menarik pentung yang pecah itu, di dalamnya lantas tertampak sebatang pentung bambu yang hijau mengkilat.

Melihat pentung bambu ini, sesaat anggota2 Kay-pang terdiam, tapi menyusul be-ramai2 mereka lantas berteriak.

"He, itulah Pak-kau-pang milik Pangcu!"

Beberapa anak murid Kay-pang yang lagi bergebrak dengan Su-si Hengte dan Se-san-it-khut-kui segerapun melompat mundur, mereka menjadi heran.

Pak-kau-pang atau pentung pemukul anjing, pentung simbolis dari Pangcu mereka kenapa tersembunyi didalam pentung besinya Ho Su-ngo dan kenapa ia merahasiakannya?

Sungguh mereka tidak habis mengerti.

Dalam heningnya itu semua orang menantikan penjelasan Jing-ling-cu, siapa tahu Jing-ling-cu tidak lagi bicara, ia melompat ke bawah panggung dan menyerahkan pentung bambu itu kepada Kwe Yang.

Melihat barang itu, Kwe Yang lantas teringat pada orangnya, terkenang olehnya suara dan wajah tertawa Loh Yu-ka, ia menjadi berduka, dengan khidmat ia angsurkan pentung bambu itu kepada ibunya.

Tatkala itu tipu serangan gada emas Darba semakin gencar, Ho Su-ngo hanya mampu berkelit dan mengegos kian kemari, berulang2 ia menghadapi berbagai bahaya.

Tapi kini Ho Su-ngo tidak mendapat simpatik dari siapapun lagi, sesudah orang2 Kay-pang melihat "Pentung pemukul anjing"

Tadi, mereka menduga sebabnya Jing-ling-cu menawan Darba kemari untuk menempur Ho Su-ngo tentu ada maksud tujuannya.

Dalam pada itu belasan jurus berlalu lagi, tampaknya Ho Su-ngo pasti akan binasa di bawah gada emas, saat itulah mendadak Ui Yong ingat sesuatu.

"Ho Su-ngo telah melukai Ce-ji, sudah terang dalam lengan bajunya tersembunyi senjata, kenapa detik berbahaya ini masih belum dikeluarkannya buat melawan musuh?"

Ia lihat waktu itu gada emas Darba telah menyerang dan Ho Su-ngo terpaksa melompat berkelit.

Tapi tiba2 Darba tegakkan gadanya terus menyodok ke atas.

Saat itu Ho Su-ngo terapung diudara, sodokan ini betapapun tiada jalan buat menghindar terdengarlah suara "creng"

Nyaring beradunya senjata, berbareng itu Ho Su-ngo sempat melompat ke samping, ditangannya tahu2 sudah bertambah semacam senjata yang berbentuk pendek.

Tampak Darba semakin murka, ia mencaci--maki kalang-kabut dan gada emasnya diputar semakin cepat.

Namun sesudah pegang senjata, keadaan terdesak Ho Su-ngo tadi lantas berubah, segera iapun "unjuk gigi" , ia menutuk, menjodoh, menusuk dan menghantam, sungguhpun senjata pcndek, tapi tipu2 serangannya ternyata sangat hebat, keadaan menjadi sama kuat sekarang.

Setelah menyaksikan sebentar lagi, tiba2 Cu Cu-liu menjadi paham, serunya.

"Aha Kwe-hujin, sekarang tahulah aku siapa dia. Cuma masih ada sesuatu yang aku belum mengerti."

Ui Yong terscnyum, rupanya lebih dulu iapun sudah tahu, maka jawabnya.

"ltu karena mukanya dipoles dengan campuran tepung, madu, hm dan lain2 bahan pelekat."

Yalu Ce, Kwe Hu dan Kwe Yang waktu itu berdiri disamping sang ibu, tapi mereka menjadi bingung mendengar percakapan itu.

"Cu-lopek, kau maksudkan siapakah?"

Tanya Kwe Hu.

"Aku maksudkan Ho Su-ngo yang melukai suamimu itu"

Sahut Cu-liu.

"Kenapa? Apakah dia bukan Ho Su-ngo? Lalu siapa?"

Tanya Kwe Hu lagi.

"Coba kau perhatikan senjata apa yang dia pakai?"

Ujar Cu-liu. Kwe Hu mencoba mengamat-amati, sejenak kemudian, katanya.

"Panjang senjatanya tiada satu kaki, memang aneh bentuknya, bukan Boan koao-pit, bukan Oo ht-ji, juga bukan Tiam-biat kut."

"Kau harus peras otak berpikir dulu,"

Sela Ui Yong.

"Sebab apakah dia tak mau pakai senjatanya sejak tadi, tapi lebih suka menerima resiko dan selalu berkelit saja, sampai akhirnya sesudah terdesak benar2 oleh Hwesio itu barulah ia lolos senjatanya? ia melukai Ce-ji dengan senjata, sebab apa pula harus menyiapkan obor lebih dulu?"

"Ya, tahulah aku sekarang, tentu ia kuatir ada orang yang hadir ini kenal senjata dan gerak tipu-nya, maka tidak berani unjuk corak aslinya,"

Kata Kwe Yang.

"Bagus, memang Kwe-jisiocia sangat pintar,"

Puji Cu-liu. Mendengar adik perempuannya dipuji, dalam hati Kwe Hu menjadi iri, katanya.

"Tak mau unjuk corak asli apa katamu? Bukankah terangan ia berdiri diatas panggung? Kan siapapun dapat melihatnya?"

Tapi Kwe Yang segera ingat lagi kata-2 sang ibu tadi, maka ia raenyambung pula.

"Ah, kiranya dekak dekuk bekas koreng dimukanya itu semuanya adalah palsu, Mukanya sungguh menakutkan sekali aku melihatnya, tak sudi melihatnya untuk kedua kalinya."

"Ya, semakin jelek dan semakin seram ia menyamar, semakin jejaknya tak diketahui sebab semua orang jenuh pada mukanya yang jelek hingga sungkan memandang padanya, dengan begitu, muka palsu itu meski ada sedikit keganjilan juga tidak mudah diketahui orang" , kata Ui Yong.

"Ai menyamar selama 16 tahun, sesungguhnya bukan suatu pekerjaan mudah."

"Bentuk muka bisa dipalsu, tapi ilmu silat dan gerak-geriknya tak mungkin dipalsukan, ilmu kepandaian yang sudah terlatih berpuluh tahun, mana bisa berubah begitu saja,"

Ujar Ciu-liu.

"Kalian maksudkan Ho Su-ngo itu palsu? Kalau begitu siapakah gerangannya?"

Tanya Kwe Hu.

"Adik, kau yang pintar, coba terangkan."

"Aku sedikitpun tidak pintar, maka sedikitpun tidak tahu,"

Sahut Kwe Yang geleng2 kepala.

"Toasiocia (puteri pertama) sendiri sudah pernah melihat dia, tatkala itu Jisiocia malah belum lahir,"

Kata Cu-liu tersenyum.

" 17 tahun yang lalu ditengah perjamuan besar kaum ksatria di Heng-ci-koan, ada seorang telah menempur aku sampai beratus jurus, siapakah dia?"

"He, dia Hotu?"

Seru Kwe Hu.

"Ah, tidak, bukan dia. Ehm, ia memakai senjata kipas lempit, senjata inilah agaknya rada mirip, Ya, ya, kipasnya ini tinggal tulang kipas saja tanpa muka kipas, maka seketika susah dikenali."

"Pertarunganku dengan dia dahulu itu adalah ialah satu kejadian berbahaya selama hidupku, maka tipu serangan dan gerak tubuhnya tidak nanti kuIupakan,"

Ujar Cu-Iiu pula.

"Jika orang ini bukan Hotu, ha, aku she Cu inilah yang bermata lamur!"

Ketika Kwe Hu memandang keatas panggung pula, ia lihat gerak langkah Ho Su-ngo kini ternyata sangat gesit, serangannya sangat keji, lapat2 memang benarlah si Hotu yang pernah dilihatnya dahulu, cuma dalam hati ia masih banyak yang tidak paham, maka tanyanya pula.

"Tapi jika benar ia adalah Hotu, padahal paderi Tibet ini adalah Suhengnya, masakan mereka tidak kenal, sebaliknya saling gebrak secara begitu hebat?"

"Justru Darba mengenali orang itu adalah Sutenya, maka ia melabraknya dengan mati2an,"

Sahut Ui Yong.

"Tahun itu waktu pertarungan sengit di Tiong-yang-kiong, Cong-lam-san, dengan sebilah "

Hian-tiat-kiam " (pedang besi murni) Nyo Ko telah menindih Darba dan Hotu ke bawah, melihat jiwa terancam, mendadak Hotu gunakan akal licik, ia mengkhianat buat selamatkan jiwa sendiri, kejadian ini disaksikan orang banyak, tentunya kaupun mendengar cerita orang?"

"O, kiranya begitulah hingga Darba benci padanya,"

Ujar Kwe Hu.

Mendengar ibunya bercerita tentang Nyo Ko dengan sebilah pedang menindih Hotu dan Darba ke bawah, Kwe Yang jadi terbayang betapa gagah perwiranya Nyo Ko dimasa dahulu, tanpa terasa ia kesemsem.

"Dan kenapa ia berubah menjadi pengemis? Sebab apa pula Pak-kau-pang bisa berada ditangan-nya?"

Kwe Hu menegas.

"Bukankah itu sangat sederhana?"

Jawab Ui Yong.

"Hotu telah mendurhakai Suhu dan khianati Suheng, sudah tentu ia takut dicari mereka, maka ia sengaja menyamar dan ganti corak menyelundup ke Kay-pang, sedikitpun tidak menimbulkan curiga dan lambat laun meningkat hingga anak murid ber-kantong lima, dengan begitu orang2 Kay-pang tiada yang curiga, Kim-lun Hoat ong lebih tak bisa menemukannya. Tapi manusia jahat yang berhati dengki tidak mungkin mau terpendam begitu saja hidupnya, bila ada kesempatan, segera ia jalankan muslihatnya lagi, Hari itu ketika Loh pangcu meronda keluar kota, diam2 ia sembunyi di sana dan tiba2 membokongnya, tapi cara turun tangannya telah membongkar rahasianya, pula ia tinggalkan murid Kay-pang yang masih bernyawa itu agar menyampaikan bahwa yang membunuh Loh Yu ka adalah Hotu. Sesudah Pak-kau-pang dapat direbut-nya, lalu disembunyikan dalam pentungnya, ia menunggu saatnya pemilihan pangcu lantas muncul ikut memperebutnya. Dengan ilmu silatnya yang memang tinggi, sudah tentu tidak terlalu susah baginya untuk merobohkan para ksatria, malahan ia sengaja kemukakan syarat tentang "

Menemukan pentung pemukul anjing , suatu syarat yang memang menjadi peraturan Kay-pang turun-temurun, dengan sendirinya tiada yang bisa mendebatnya.

Ai, keparat Hotu ini benar2 pintar berpikir panjang."

"Tapi ada Kwe-hujin disini, meski dapat mengelabuhi orang untuk sementara, akhirnya juga tak bisa mendustai kau,"

Ujar Cu Cu-liu tertawan. Ui Yong tersenyum tak menjawabnya, dalam hati ia berkata.

"Kalau ia menyelundup ke Kay-pang dan tidak unjuk sesuatu tanda mungkin masih bisa mengelabuhi aku, tapi kalau ingin menjadi Pangcu itulah terlalu meremehkan-aku Ui Yong"

"Dan si Nyo Ko juga hebat benar, ternyata dapat diketahuinya muslihat Hotu ini, pentung pemukul anjing dapat direbutnya kembali, kedok Hotu juga kena dibongkarnya dan dihadiahkan pada Kwe jisoacia sebagai kado ulang tahun, sungguh hadiah ini tidak kecil,"

Ujar Cu-liu.

"Hm,"

Kukira itupun kebetulan saja dapat di-ketahuinya,"

Jengek Kwe Hu. Tapi Kwe Yang lantas ingat sesuatu, katanya.

"Hotu ini sengaja menyamar sebagai pengemis muka jelek dalam Kay pang dan sengaja mengacau, Su -samsiok dari kelima saudara Su itupun pernah di-lukainya, mungkin sekali Su-samsiok sengaja mencarinya untuk membalas sakit hati dan akhirnya telah menemukan jejaknya."

"Benar,"

Sahut Ui Yong, mengangguk.

"dikalangan Kangouw sering kah diketahui jejak Hotu, orang lain sekali2 tak pernah menyangka bahwa Ho Su-ngo dari Kay-pang adalah orang yang sama dengan dia. Tapi seorang yang terlalu tinggi hati, pada suatu hari pasti terjungkal dan terbuka kedoknya."

"Tapir"

Sela Kwe Hu.

"sebab apa dia sendiri bilang akan membunuh Hotu? Bukankah itu sangat bodoh?"

"ltu hanya kata2 untuk menutupi kedoknya saja supaya orang iain tak mencurigainya,"

Kata Ui Yong. Dilain pihak Kwe Yang sedang komat-kamit perlahan.

"Tentu hari itu ia telah mendengar semua perkataanku ketika aku menyembahyangi arwah Loh-pepek di kelenteng Yo-tayhu. Karena tahu hatiku berduka sebab Loh pepek terbunuh musuh, maka ia lantas mencari pembunuhnya ini. Dan dia sendiri, kenapa masih belum datang?"

Tengah bicara, pertarungan Darba dan Hotu di atas panggung semakin sengit.

Kedua orang berasal dari satu guru, masing2 cukup kenal kepandaian lawan, Darba menang dalam hal tenaga lebih besar, tapi Hotu lebih unggul akan kecepatan dan kegesitan, maka sudah ratusan jurus keduanya masih seimbang saja.

Mendadak sontak Darba menggertak, gada emasnya ditimpukkannya ke arah Hotu secepat kilat Gada emas ini beratnya lebih 30 kati, ditimpukkan lagi, gaya meluncurnya menjadi lihay sekali.

Terkejut Hotu, selamanya belum pernah melihat gerak serangan sang Suheng ini.

lekas2 ia mengegos, tapi Darba sudah memburu maju, telapak tangannya mendorong dan mendadak gada emas itu memutar arah terus memburu Hotu puIa.

Sungguh tidak kepalang terperanjat Hotu, barulah sekarang ia tahu selama belasan tahun ini sang Suheng sudah banyak mendapat tambahan ilmu Lwekang lagi dari sang Suhu, kepandaian menimpuk gada ini persis gayanya seperti Kim-lun Hoat-ong meluncurkan kelima rodanya yang terbikin dari "Panca logam"

Itu, melihat tenaga timpukan gada itu sangat keras, se-kali2 tak sanggup ditangkis dengan kipas, terpaksa Hotu berkelit pula, Gada itu menyamber lewat dua tiga senti di atas kepalanya.

Namun makin ditimpuk dan didorong, gada emas Darba itu semakin cepat, obor yang menyala di sekitar panggung itu sampai ter-goncang2 oleh angin samberan hingga sebentar terang, sebentar gelap, Hotu tak berani ajal, ia melompat ke sana kemari, di bawah ancaman gada yang me-nyamber2, melihat keadaan yang menggetarkan itu, semua orang yang menyaksikan ikut terperanjat.

Sampai timpukan yang ke-18 mendadak Darba membentak keras, gada emasnya bagai panah meluncur ke depan Hotu tak sanggup-berkelit lagi, terdengarlah segera suara benturan yang keras, dada dan badannya terus lemas terkulai di atas panggung tak berkutik lagi.

Sesudah ambil kembali gada emasnya, Darba menggerung menangis tiga kali, lalu ia duduk sila di depan mayat Sute itu membacakan doa, habis ia melompat turun dan mendekati Jing-ling-cu, gada emas itu diangkat tinggi2 hendak dikembalikan pada orang.

Tapi Jing ling-cu tak menerimanya, katanya "Selamat, kau berhasil cuci bersih sampah perguruanmu, Sin-tiau-hiap telah mengampuni kau, supaya kau-pulang ke Tibet dan selanjutnya tak boleh menginjak daerah Tionggoan lagi."

"Banyak terima kasih pada Sin-tiau-tayhiap, hamba menurut perintahnya."

Sahut Darba, Lalu ia memberi hormat dan pergi.

Melihat Hotu menggeletak mati di atas panggung, mukanya bengkak seram, tapi Kwe Hu masih tak mau percaya muka demikian ini adalah palsu.

Tiba2 ia cabut pedangnya dan melompat ke atas panggung, dengan ujung pedang ia hendak iris batang hidung Hotu, serunya.

"Biarlah kita melihat muka asli bangsat ini bagaimana macamnya?"

Tak terduga, mendadak terdengar Hotu membentak sekali, tahu2 melompat tinggi, kedna telapak tangannya terus menghantam dengan ganasnya.

Kiranya oleh sodokan gada tadi, meski terluka parah sekali, tapi seketika jiwanya masih belum melayang.

Dasar Hotu memang licik maka ia sengaja tak berkutik, ia menunggu kalau2 Darba mendekatinya dan hendak membalasnya dengan sekali hantam pada saat sebelum ajalnya, agar gugur bersama..

Siapa tahu Darba hanya membacakan doa supaya arwahnya menuju alam baka, lalu turun panggung sebaliknya Kwe Hu yang datang mengiris hidungnya.

Hantaman Hotu ini boleh dikata seluruh sisa tenaga yang masih ada telah dikeluarkan seluruhnya.

Keruan Kwe Hu terkejut sekali, sesaat ia menjadi lupa mengayun pedang buat menahan serangan musuh, pula kutang berduri landak sudah dipinjamkan suaminya, tampaknya jiwanya sekejap saja pasti akan melayang oleh hantaman kedua tangan Hotu.

Dalam terkejutnya Kwe Cing, Ui Yong dan Yalu Ce berbareng hendak melompat keatas panggung.

Untuk menolongnya tapi terang tak keburu lagi.

Pada detik berbahaya itulah, tiba2 terdengarlah suara mencicit dua kali, tahu2 dari udara menyambar datang dua senjata rahasia dengan pesat sekali dari kanan-kiri dan sekaligus mengenai dada Hotu.

Kedua senjata rahasia itu bentuknya sangat lembut, tapi tenaganya luar biasa besarnya, tanpa ampun lagi tubuh Hotu terjengkang merosot ke bawah panggung mulutnya memuntahkan darah dan benar2 binasalah sekarang.

Dengan ternganga kaget semua orang coba memandang ke arah darimana datangnya senjata rahasia itu, tapi tertampak bintang suram, bulan guram, langit gelap, lebih dari itu suasana sunyi senyap saja.

Di depan panggung tegak berdiri dua tiang bendera yang besar dan tingginya beberapa tombak, agaknya senjata rahasia itu disambitkan masing2 dari kedua talang tiang bendera yang tinggi itu.

"Melihat suara menyambernya senjata rahasia tadi, Ui Yong menduga kecuali kepandaian "

Tan-ci sin-thong"

Atau ilmu jari maha sakti yang dari ayahnya, Ui Yok su, rasanya tiada orang lain lagi yang memiliki kepandaian setinggi itu.

Cuma kedua tiang bendera jaraknya masing2 belasan tombak, kenapa dari kedua tiang bendera itu berbareng ditumpukkan senjata rahasia?

Masakah ada dua orang.

Tapi saking girangnya iapun tidak banyak pikir lagi, segera ia berseru memanggil.

"Apakah ayah yang datang, bukan?"

Terdengarlah dari lalang tiang bendera sebelah kiri ada suara seorang tua tertawa ter-bahak2 sambil berkata "Kawan cilik Nyo Ko, marilah kita turun bvrbareng!"

"Baik,"

Sahut seorang dari talang sebelah kanan.

Menyusul itu, dari dalam talang tiang bendera masing2 melompat turun satu orang.

Di bawah sinar bintang dan bulan yang guram, baju kedua orang itu me-lambai2 ketika melompat turun, seorang berjubah hijau berambut putih, yang lain berbaju biru berlengan tunggal, nyatalah mereka memang Ui Yok-su dan Nyo Ko.

Kedua orang itu melompat turun ke arah panggung, Ui Yok-su menarik tangan kiri Nyo Ko selagi masih terapung di udara, kemudian keduanya turun berbareng di atas panggung, Betapa mengagumkan cara melayang turunnya kedua orang itu.

Bila semua orang tidak mendengar suaranya dahulu, boleh jadi akan menyangka mereka adalah malaikat yang turun dari khayangan.

Lekas Kwe Cing dan Ui Yong melompat ke atas panggung memberi hormat pada Ui Yok-su.

Begitu pula Nyo Ko lantas menyembah dihadapan Kwe Cing dan Ui Yong suami-isteri sambil menyapa.

"Tit-ji (keponakan) Nyo Ko memberi hormat kepada Kwe pepek dan Kwe-pekbo."

Cepat Kwe Cing membangunkannya dan katanya dengan tertawa.

"Ko ji, ketiga macam hadiah-mu ini sungguh... sungguh..."

Tapi saking terharunya, pula memang tidak pandai bicara muluk2, maka "sungguh"

Apa, tak bisa dikatakannya Sebaliknya Kwe Hu yang dengki, kuatir kalau dirinya disuruh mengaturkan terima kasih atas pertolongan Nyo Ko tadi, lekas2 mendekati Ui Yok-su sambil memanggil Engkong.

Nyo Ko tersenyum, ia kenal watak orang, ia melompat kehadapan Kwe Yang dan sapanya dengan tertawa.

"Adik cilik, aku datang terlambat."

Berdebar2 hati Kwe Yang saat itu, wajahnya jengah. jawabnya dengan suara lirih.

"Ah, kau telah bawakan tiga nucam hadiah besar ini, sungguh... sungguh bikin capek kau saja."

""Hanya sekedar meramaikan hari ulang tahun adik cilik saja, tiada yang perlu dipuji,"

Sahut Nyo Ko tertawa. Habis itu, ketika ia memberi tanda, segera terdengar Toa thau-kui berteriak "Bawa semua ke sini!" -Segera pula dipintu masuk lapangan sana ada orang meluruskan perintah itu.

"Bawa semua ke mari-dan begitu pula seterusnya suara itu dilanjutkan hingga jauh. Selang tak lama dari Iuar lapangan itu membanjir serombongan orang, ada yang membawa leng-long dan obor, ada yang memikul dan menjinjing tenggok, terus tersebar disekitar lapangan dan mematok cagak mendirikan panggung, sementara orang yang datang semakin banyak tak ter-putus2, namun secara beraturan, tiada seorangpun bicara, hanya bekerja keras. Semua orang sudah saksikan ketiga hadiah besar yang dibawa Nyo Ko tadi, maka siapapun merasa kagum padanya mereka pikir orang2 yang di bawanya kemari ini tentu ada gunanya. Tak lama kemudian, di sebelah barat daya lapangan itu satu panggung sudah berdiri, gembreng berbunyi dan genderang ditabuh, nyata itula sebuah panggung wayang "

Po te-hi"

Yang melakonkan "Pat sian-cok-siu"

Atau delapan dewa memberi selamat ulang tahun.

Menyusul mana satu panggung yang disudut lain mempertunjukan opera yang melakonkan cerita Kwe Cu-gi berulang tahun, dewa-dewi datang memberi selamat padanya, Dalam sekejap saja di-ujung lainpun ada wayang orang yang memulai pertunjukan hingga seketika suasana meriah sekali.

Sungguh hebat usaha Nyo Ko ini, sekalipun keluarga bangsawan yang paling mampu juga tidak selengkap dan seramai sekarang ini.

Betapa girang Kwe Yang atas kebaikan Nyo Ko, saking terharu matanya mengembeng air mata dan tak sanggup bersuara, .

Kwe Hu jadi ingat apa yang dikatakan adiknya tempo hari bahwa ada seorang ksatria besar akan datang memberi selamat ulang tahun padanya, kini ternyata betul2 terjadi, ia gusar dan mendongkol dalam keadaan serba kikuk ia pura2 menarik tangan Ui Yok-su menanyakan ini dan itu, terhadap keramaian disekitarnya ia berlagak tidak tahu.

"Ayah, apakah sebelumnya kau telah berjanji dengan Ko-ji akan sembunyi didalam talang tiang bendera itu?"

Tanya Ui Yong kemudian pada ayahnya.

"Bukan, bukan,"

Sahut Ui Yok-su tertawa.

"Satu hari, ketika aku pesiar di Tong-teng-oh di malam bulan purnama, tiba2 aku mendengar suara orang berseru mencari Yan-po Tio-so (si kakek tukang mancing), katanya ada seorang bernama Sin tiau hiap mengundangnya ke Siangyang, Kepandaian Yan-po Tio-so itu tidaklah rendah, cuma tabiatnya sangat aneh, Maka aku menjadi kuatir kalau diam2 mereka akan melakukan sesuatu yang tidak menguntungkan puteri dan menantuku sayang, diam2 aku lantas datang kemari. Siapa tahu kalau Sin-tiau-hiap ini ternyata adalah kawan cilik Nyo Ko, bila tahu, tak perlu lagi aku ikut2 capekan diri."

Dari lagu perkataan orang, Ui Yong tahu sang ayah meski mengembara ke mana2, tapi dalam hati senantiasa masih merindukannya. maka dengan tertawa ia berkata.

"Tia (ayah), sekali ini janganlah kau pergi lagi, marilah kita hidup berkumpul saja dengan bahagia."

Namun Ui Yok-su tidak menjawabnya, tiba2 Kwe Yang dipanggil kedekatnya.

"Marilah, nak, biar Gwakong melihat kau,"

Demikian katanya.

Memangnya Kwe Yang selama ini belum kenal sang Gwakong atau kakek luar (ayah ibu), maka lekas2 ia mendekatinya dan memberi hormat.

Segera Ui Yok su memegangi tangan anak dara itu dan mengamat-amati raut mukanya, tiba2 dengan muram ia berkata.

"Sungguh persis, sungguh persis!"

Ui Yong tahu ayahnya menjadi terkenang pada mendiang ibunya, maksudnya muka Kwe Yang, sangat mirip dengan nenek sewaktu mudanya, Karena kuatir bikin ayahnya bertambah berduka, maka ia tidak buka suara.

"Sudah tentu persis"

Sela Kwe Hu tiba2 dengan tertawa.

"Engkau berjuIuk "Lo-tong sia"

Dan dia dipanggil orang "Siau-tong sia"

"Hu ji,"

Cepat Kwe Cing membentak.

"Dihadapan Gwakong berani tak beraturan?"

Sebaliknya Ui Yok-su menjadi girang, ia tanya Kwe Yang.

"Apa benar kau berjuluk "Siau tong-sia", Yang-ji?"

Kwe Yang menjadi jengah jawabnya.

"Mula2 Cici yung menyebut aku demikian, lama2 orang lainpun ikut-menyebut aku begitu."

Dalam pada itu empat tertua dari Kay-pang sedang merubung Nyo Ko sambil tiada hentinya mengaturkan terima kasih, dalam hati mereka berpikir.

"la telah menemukan kembali Pak kau-pang dan membongkar kedok muslihat Hotu, jika ia sudi menjadi pangcu kita, itulah paling baik."

Sebab ituIah, segera Nio-tianglo berkata.

"Nyotoaya, sungguh tidak beruntung Loh pangcu kami telah wafat..."

Nyo Ko tahu akan maksud hati orang, tanpa menunggu ucapan orang Iebih lanjut, segera ia memotong.

"Kepandaian Yalu toaya serba pintar, bijaksana dan berbudi, ia juga adalah kawanku sejak duIu, kalau dia yang menjadi Pangcu perkumpulan kalian, pasti akan bisa meneruskan usaha Ang, Ui dan Loh bertiga Pangcu dahulu."

Setelah Ui Yok-su menanya sekedar ilmu silat Kwe Yang, ia berpaling dan hendak memanggil Nyo Ko, tapi demi menoleh, tahu2 Nyo Ko sudah berjalan keluar lapangan, ia tahu sekali Nyo Ko pergi susah bertemu pula, maka cepat serunya.

"Kawan cilik Nyo Ko, nanti dulu, akupun hendak pergi!"

Ketika lengan bajunya mengebas, sekejap saja ia sudah menyusul sampai di samping Nyo Ko, seorang tua dan yang lain muda bergandengan tangan menghilang di malam gelap.

Sebenarnya Ui Yong ada sesuatu hendak dibicarakan dengan ayahnya, cuma dihadapan orang banyak tak IeIuasa diutarakan, kini orang tua itu ternyata pergi begitu saja, ia menjadi gelisah dan lekas2 menguber.

Tapi betapa cepat jalannya Ui Yok su dan Nyo Ko, waktu Ui Yong mengejar keluar, jarak mereka sudah beberapa puluh tombak jauhnya.

"Ayah, Ko ji, marilah tinggal dulu dan berkumpul beberapa hari saja."

Teriak Ui Yong.

"Ah, watak kami berdua suka bebas tak mau dikekang, biarkanlah kami pergi dengan merdeka!"

Demikian Ui Yok-su menyahut dengan tertawa.

Nyata suaranya itu sudah jauh sekali, Diam2 Ui Yong mengeluh, tapi apa daya, terang tak dapat menyandaknya, terpaksa ia kembali pulang, sementara dilapangan itu suasana masih ramai sekali.

Se-san it khut-kui, Su si Hengte, Jing ling cu dan kawan2nya juga sudah pergi.

Sesudah dirundingkan antara tetua Kay pang, kalau tidak dikacau Hotu tentu Yalu Ce sejak tadi sudah diangkat jadi Pungcu, Nyo Ko ada budi pada Kay pang, ia juga mengusulkan Yalu Ce, maka sesuai benar dengan pilihan suara orang banyak.

Karena itulah keempat tertua Kay pang lantas melaporkan kepada Ui Yong, lalu naik punggung mengumumkan tentang pengangkatan Yalu Ce sebagai Pangcu baru.

Menurut aturan, para anggota ber turut2 harus meludahi tubuh Yalu Ce, sedang para pahlawan diluar Kay-pang sama naik panggung memberi selamat, suasana menjadi tambah riang gembira.

Ui Yong suruh orang memberi hadiah seperlunya kepada anak wayang dan seniman seniwati, pementasan itu terus berlangsung hingga terang tanah barulah bubar.

Melihat kedatangan Nyo Ko sekali ini melulu bicara sejenak dan bersenyum sebentar, lantas berpisah, dalam hati Kwe Yang merasa kesal tak terkatakan, semakin dipikir semakin masgul, ia lihat encinya sedang suka ria berdiri di samping sang suami menerima ucapan selamat dari semua orang, ia sendiri menjadi sunyi rasanya, maka ia putar tubuh hendak meninggalkan lapangan itu.

Tapi belum bebetapa langkah ia bertindak, tiba2 Ui Yong menyusulnya, tangan si anak dara dipegangnya dini dengan suara lembut Ui Yong bertanya.

"Yang ji, ada apakah? Apakah merasa kurang gembira?"

"Ah, tidak, aku justru sangat gembira,"

Sahut Kwe Yang.

Habis berkata ini, segera iapun menunduk, air matanya ber linang2 hampir menetes.

Sudah tentu Ui Yong mengerti perasaan puterinya itu, tapi ia sengaja bicara tentang cerita2 lucu yang dilihatnya di panggung sandiwara dengan maksud memancing Kwe Yang agar tertawa.

Pelahan2 ibu dan anak itu pulang ke rumah, Ui Yong mengantar puteri kecilnya itu kembali kamar "Yangji, apa kau lelah?"

Tanyanya penuh rasa kasih sayang.

"Tidak, mak. Kau sendiri semalam suntuk tidak tidur, haraplah pergi mengaso."

Sahut Kwe Yang. Namun Ui Yong menarik tangan anak dara itu pula dan duduk sejajar di tepi ranjang, rambut puterinya itu di-belai2nya, katanya dengan suara lembut.

"Yangji, urusan Nyo toako selamanya tak pernah kuceritakan padamu, ceritanya memang terlalu panjang, apabila kau tidak letih, biarlah ku ceritakan padamu sekarang."

Seketika semangat Kwe Yang terbangkit.

"Ceritakanlah, mak,"

Pintanya cepat."

"Kisah ini dimulai dari engkongnya,"

Tutur Ui Yong.

Laiu iu menceritakan bagaimana dahulu Kwe Siau thian (ayah Kwe Cing) dan Nyo Thi sim (engkongnya Nyo Ko) mengangkat saudara dan saling mengikat janji berbesan selagi isteri kedua orang masih mengandung.

Kemudian Nyo Khong (ayah Nyo Ko) mengaku musuh (Wanyan Liai ) sebagai ayah hingga akhirnya mati secara mengenaskan, Tentang waktu keciInya Nyo Ko pernah tinggal di Tho hoa-to sampai Kwe Hu menabas buntung lengannya, bagaimana berpisah dengan Siao liong-li di Coat ceng kok, semua dituturkannya.

Sungguh sama sekali Kwe Yang tidak menduga bahwa "Toakoko"

Yang siang dan malam di-rindukannya itu ternyata mempunyai hubungan begitu rapat dengan keluarganya sendiri, lebih2 tak menduga bahwa lengannya yang buntung itu justeru encinya yang mengutunginya, sedang menghilangnya Siau liong li juga disebabkan terkena jarum berbisa yang disambitkan cicinya.

Mula2 ia menyangka Nyo Ko hanya seorang ksatria muda yang dikenalnya secara kebetulan, karena orangnya cakap ganteng hingga hati kecilnya kesemsem selalu, siapa tahu di dalamnya terdapat suka duka yang begitu panjang meliputi tiga turunan, Maka ketika ibunya mengakhiri ceritanya, rasa anak dara ini se-akan2 mabuk, pikirannya kacau.

"Semula aku telah salah menduga,"

Demikian kata Ui Yong pula menghela napas.

"kusangka perkenalannya dengan kau mengandung maksud jahat. Ai, tapi melihat ketiga hal yang dilakukan Nyo-toakomu semalam, jangankan dia sebenarnya tiada pikiran serong, sekalipun memang tiada maksud baik, sesudah kita terima budi yang tak sedikit, sesungguhnya kitapun harus berterima kasih tak habis2 padanya."

"Mak, kau bilang Nyo-toako tidak bermaksud baik apa, kenapa berpikiran serong?"

Tanya Kwe Yang heran.

"Ya, muIa2 aku salah duga,"

Sahut Ui Yong.

"Aku kira saking bencinya pada keluarga Kwe kita, maka ia hendak membalas dendam melalui dirimu."

"Mana bisa?"

Ujar Kwe Yang menggeleng kepala.

"Jika ia mau bunuh aku untuk membalas dendam, hal itu mudah sekali seperti membaliki tangan sendiri saja, ketika di daerah Soasay, asal sekali jarinya menutuk saja segera aku bisa dibinasakannya."

"Kau masih kanak, tidak paham,"

Kata Ui Yong.

"Jika ia sengaja bikin kau menderita dan membuat kita selalu berduka dan masgul, sudah tentu ia mempunyai caranya yang lebih keji daripada membunuh orang, Ai, biarlah, jangan dibicarakan lagi, saat ini akupun sudah tahu tak nanti hal itu diperbuatnya. Cuma dalam hatiku masih tetap kuatirkan sesuatu hingga merasa tak enak."

"Kau kuatirkan apa, mak?"

Tanya si gadis.

"Tampaknya kejadian2 dahulu yang harus disesalkan itu, Nyo-toako sudah tidak mengingatnya lagi dalam hati, tidak lama iapun akan bersua kembali dengan Toaso ( kakak ipar ), tatkala itu saking senangnya segala kejadian dahulu pasti akan lenyap dalam ingatannya."

"Tapi yang kukuatirkan justru kalau dia takkan bisa bersua lagi dengan Siao liong li,"

Kata Ui Yong gegetun. Kwe Yang melengak oleh kata2 itu.

"Apa? Mana bisa? Toakoko sendiri berkata padaku bahwa karena lukanya, Liong-cici telah ditolong pergi Lam hay Sin-ni dan berjanji 16 tahun kemudian akan berjumpa pula. Betapapun cinta kasih suami isteri mereka, sudah sekian lamanya saling tunggu masakah takkan bersua kembali?"

Namun Ui Yong mengkerut kening sambil bersuara tak acuh.

"Kata Toakoko,"

Sambung Kwe Yang pula.

"Liong-cici telah mengukir tulisan ditebing gunung yang berbunyi.

"l6 tahun kemudian bertemu lagi di sini, cinta kasih suami isteri, harap jangan salah janji, Apakah mungkin ukiran tulisan itu palsu belaka?"

"Tulisan itu memang tulen, sedikitpun iak palsu,"

Sahut Ui Yong "Cuma yang kukuatirkan justeru karena cinta Siao-liong li terhadap Nyo Ko terlalu mendalam, hingga sebab itu Nyo Ko takkan bisa melihat dia lagi untuk selamanya."

Kwe Yang menjadi bingung, dengan tercengang ia pandang sang ibu penuh tanda tanya.

"16 tahun yang lalu,"

Demikian tutur Ui Yong.

"Nyo toakomu suami-isteri terluka parah semua, Nyo-loako masih ada obat yang bisa menyembuhkannya, tapi racun jarum yang mengenai Siao liong -li sudah meresap tulang, menyaksikan isteri tercintanya itu sukar disembuhkan lagi, Nyo-toakomu itupun tidak ingin hidup sendirian, maka sekalipun ia diberi obat dewa juga ia takmau meminumnya." -berkata sampai di sini suaranya berubah halus, katanya puIa.

"Ai, masih banyak hal lain, karena usiamu masih kccil, sementara ini kau takkan paham."

Kwe Yang ter mangu2 oleh cerita itu, selang se-jenak barulah ia menjungat dan berkata.

"Mak, jika kujadi Liong-cici, kuakan pura2 sudah sehat dan minta dia minum obat untuk menyembuhkan lukanya."

Sungguh Ui Yong tak menyangka puterinya yang masih kecil itu bisa berpikir demikian untuk orang lain, maka sesaat itu ia tertegun.

"Ya, benar, makanya aku kuatirkan Siao-liong li tatkala itu juga berpikir seperti pendapatmu ini dan sengaja meninggalkan Nyo Ko,"

Kata Ui Yong kemudian.

"la mengukir tulisan di tebing batu dan berjanji akan bertemu pula 16 tahun lagi, waktu itu aku lantas menduga menghilangnya Siaoliong-li secara mendadak boleh jadi demi kepentingan Nyo toakomu agar bertahan hidup selama 16 tahun untuk menantikannya Ai. rupanya ia menyangka setelah lewat 16 tahun yang Iama itu, cinta Nyo-toakomu padanya tentunya akan mendingin, dengan begitu, sekalipun dalam hati masih berduka, tapi pasti akan sayang juga pada badan sendiri dan takkan membunuh diri lagi."

"Jika begitu, bagaimanakah tentang cerita Lam-hay Sinni itu?"

Tanya Kwe Yang.

"Lam hay,Sinni itu justeru adalah karanganku. Maka hakikatnya tidak pernah ada seorang tokoh seperti itu,"

Sahut Ui Yong.

"Ha, tidak ada tokoh Lam hay Sinni?"

Kwe Yang menegas terkejut.

"Ya, sebab waktu itu aku melihat keadaan Nyo Ko yang sedih dan merana, hatiku tak tega, lantas aku mengarang nama Lam hay Sinni untuk menghiburnya agar suka menanti selama 16 tahun ini,"

Sahut Ui Yong.

"Aku katakan padanya bahwa Lam-hay Sinni tinggal di pulau Tati, padahal dijagad ini hakikatnya tidak pernah ada pulau itu. Akupun bilang Lam hay Sinni pernah mengajarkan sejurus ilmu pukulan pada Gwakongmu, dengan begitu supaya dia bertambah percaya. Sebab si Nyo Ko ini sangat cerdik, kalau aku tidak bicara se-akan2 benar dan hidup, tak nanti ia mau percaya. Dan kalau ia tak percaya, maksud baik Siao liong li itupun akan sia2."

"Apakah ibu maksudkan Liong cici sudah meninggal dan janji 16 tahun bertemu lagi hanya untuk membohonginya saja?"

Tanya Kwe Yang.

"Tidak, tidak, boleh jadi Siao-liong-li masih hidup, sampai hari yang dijanjikan nanti bila betul2 ia datang berkumpul kembali dengan Nyo Ko, maka kita harus berterima kasih pada yang maha kuasa,"

Sahut Ui Yong cepat.

"Dia adalah ahliwaris Ko-bong-pay satu2nya, cakal bakal Ko bong pay, Lim Tiau eng, lelah menurunkan ilmu kepandaian yang maha hebat padanya, rasanya Siao liong li takkan meninggal secara begitu saja."

"Ya, memangnya akupun berpikir, Liong cici adalah orang yang begitu baik, Nyo toako juga sedemikian cinta padanya, pasti ia takkan mati selagi muda,"

Demikian kata Kwe Yang dengan hati rada lega.

"Dan bila sampai hari yang dijanjikan itu Nyo-toako tak bisa menjumpainya kembali, bukankah pukulan ini akan membuatnya menjadi gila?"

"Makanya kedatangan Gwakong-mu sekarang sebenarnya akan kuminta agar suka membantu membulatkan bualanku tentang Lam hay Sinni itu,"

Kata Ui Yong.

Kwe Yang menjadi kuatir "Ya, saat ini tentu Nyo toako berada bersama dengan Gwakong dan ia akan tanya tentang Lam hay Sin-ni, Tapi Gwa-kong tak tahu duduknya perkara tentu akan bilang tak kenal, dengan begitu lantas terbongkarlah rahasia itu, lantas bagaimana baiknya?"

"Jika benar2 Siao liong li dapat bersua kembali dengan dia, itulah yang kita harapkan dan segalanya akan menjadi beres,"

Kata Ui Yong "Tapi bila sampai saatnya ia tidak melihat Siao-liong-li, turuti wataknya yang tak terkendali itu, entah keonaran apa yang akan diperbuatnya, Tentu ia akan dendam karena aku membohonginya dan bikin susah dia menunggu selama 16 tahun ini!"

"Mak, hal itu tak perlu kau kuatirkan,"

Ujar Kwe Yang.

"Kau membohongi dia demi kebaikannya. Kau bermaksud menolong jiwanya."

"Hubungan kekeluargaan selama tiga keturunan tidaklah perlu dibicarakan, melulu diri Ko-ji saja, beberapa kali ia telah menolong jiwa ayahmu, ibumu dan encimu, hari ini ia berjasa pula begitu besar untuk kota Siangyang, seandainya kita ada sedikit budi padanya juga tidak cukup untuk membalasnya,"

Kata Ui Yong.

"Ai, hidup Ko-ji selama ini menderita sebatangkara, umurnya svdah lebih 30, tapi saat bahagia yang pernah ia kenyam rasanya juga tiada beberapa hari saja."

Kwe Yang menjadi muram, ia menunduk, dalam hati ia pikir.

"Kalau Toakoko tak bisa berjumpa kembali dengan Liong cici, mungkin ia bisa gila benar?"

"Nyo-toakomu itu adalah seorang perasa dan beradab, cuma sejak kecil sudah banyak mengalami pukulan hidup, maka wataknya menjadi rada aneh, tindak tanduknya selalu diiuar dugaan orang,"

Ujar Ui Yong.

"Ya, dia dan Gwakong dan aku, semuanya golongan aneh."

Kata Kwe Yang tertawa tawar.

"Benar, ia adalah orang baik, hanya bersifat rada latah,"

Kata Ui Yong sungguh2

"Makanya, bila tak beruntung Siao liong-li sudah meninggal, selanjutnya sekali2 jangan kau bertemu dia lagi."

Terkejut sekali anak dara itu, sama sekali tak diduganya ibunya bisa berkata begitu.

"Sebab apa? Kenapa tak boleh bertemu dengan Nyo toako lagi?"

Tanyanya cepat. Ui Yong menggenggam tangan puterinya itu dan berkata pula.

"Jika akhirnya ia bisa bertemu kembali dengan Siao liong li, biar kau ikut mengembara ke ujung langit sekalipun aku takkan keberatan. Tapi kalau Siao liong-li tak bersua lagi dengan dia, Yang ji, kau belum kenal sifat Nyo toakomu, bila ia sudah gila, segala apa dapat diperbuatnya"

"Mak,"

Tanya Kwe Yang gemetar.

"jika Liong cici tak dapat dijumpainya lagi, tentu ia akan sangat berduka, kita harus menghiburnya baik2."

"la takkan mendengar hiburan orang,"

Kata Ui Yong menggeleng kepala.

"Mak."

Tanya Kwe Yang lagi setelah merandek sejenak.

"Sesudah menunggu 16 tahun dengan sia2, dalam berdukanya nanti apakah ia akan membunuh diri?"

Ui Yong merenung sejenak, kemudian baru ja-wabnya.

"Pikiran orang lain dapat aku menerkanya, tapi Nyo-toakomu itu sejak kecil aku tak dapat meraba pikiran apa yang terkandung dalam otaknya, justeru sebab itulah maka aku melarang kau bertemu lagi dengannya, kecuali kalau ia datang bersama Siao liong li, itulah lain perkara."

Kwe Yang termenung dan tak menanya lebih jauh.

"Yang-ji,"

Kata Ui Yong pula.

"ibu hanya berpikir untuk kebaikanmu, jika kau tak turut nasihat ibu, kelak pasti akan menyesal"

Habis itu, ia lantas ceritakan kejadian dulu, dimana puteri angkat Nyo Thi-sim yang bernama Bok Liam cu, dalam suatu pertandingan sayembara Bok Lam cu dikalahkan Nyo Khong, meski Nyo Khong banyak melakukan kejahatan tapi cinta Bok Liam cu padanya tetap kekal hingga kemudian Bok Liam-cu gugur menyusul kekasihnya di kelenteng Ong-tiat-jiang.

"Bok Liam-cu sesungguhnya wanita baik yang sukar dicari, tapi karena salah menyerahkan cintanya hingga berakhir secara mengenaskan demikian"

Kata Ui Yong.

"Mak."

Kata Kwe Yang tiba2.

"ia menyukai Nyo-sioksiok, betapapun Nyo-sioksiok berbuat salah pun, ia akan suka padanya sampah akhir jaman."

Ui Yong terkesima memandangi muka sang puteri yang mungil itu, dalam hati ia pikir.

"Usia sekecil ini, darimanakah bisa paham begini banyak?"

Dilihatnya anak dara itu sudah letih dan arip, segera ia tarik selimut dan menyuruhnya tidur sambil dinina-bobokkannya.

Memangnya semalam suntuk Kwe Yang tidak tidur, maka sebentar saja ia sudah pulas, Ui Yong lantas kembali kekamar sendiri.

Sore harinya, kedua saudara Bu yang ditugaskan ke Lam-yang itu telah mengirim berita bahwa gudang rangsum musuh memang benar telah terbakar habis, malahan api masih belum terpadam, pasukan MongoI telah mundur ke utara sejauh ratusan li dan berkemah di sana.

Mendengar kabar itu, seluruh penduduk kota Siangyang menjadi girang, nama "Sin tiau-tayhiap"

Yang sengaja mem bumbu2i dengan pujian setinggi langit.

Malamnya lagi Kwe Cing suami isteri diundang oleh Lu Bun hwan untuk merundingkan soal pertahanan kota hingga sampai jauh malam baru pulang.

Besok paginya, seperti biasa Yalu Ce, Kwe Hu dan Kwe Boh-lo datang memberi selamat pada orang tua, tapi sampai lama Kwe Yang tak kelihatan muncul.

Ui Yong menjadi kuatir, segera pelayan di -suruhnya melihat ke kamar puteri kedua itu apakah lantaran sakit, Tapi tak lama pelayan itu dan dayang pribadi Kwe Yang sudah kembali melapor, katanya.

"Semalam Jisiocia tidak kembali ke kamar"

Keruan Ui Yong terkejut "Kenapa semalam tidak lantas melapor?"

Tanyanya segera.

"Semalam Hujin pulang larut malam, hamba tak berani mengganggu pula kuatir sebentar Jisiocia akan kembali kamar, tak tahunya menunggu sampai sekarang masih belum kelihatan,"

Tutur pelayan pribadi Kwe Yang itu.

Sesudah merenung sebentar segera Ui Yong memeriksa kamar anak dara itu, ia lihat baju se-hari-2, senjata dan uang semuanya tiada yang dibawa anak dara itu Tengah ia heran, tiba2 dilihatnya di bawah bantal puterinya itu menongol ujung secarik kertas.

Segera Ui Yong menduga jelek, diam2 ia mengeluh, cepat kertas itu disambernya dan dibaca, ternyata surat itu tertulis.

Ayah dan ibu tercinta, Anak pergi mencegah Nyo-toako agar jangan sekali2 berpikiran pendek, Bila sudah dapat mencegahnya, segera anak akan pulang.

Hormat puterimu, Yang Sesaat Ui Yong mematung tak bersuara, dalam hati ia pikir.

Anak dara ini benar2 ke-kanak2an.

Macam apakah orangnya Nyo Ko itu, kecuali Siao-liong-Ii, siapa lagi yang bisa bikin dia menurut?

ia bukanlah Nyo Ko jika begitu gnnpang mau mendengar kata2 orang Iain.

Niat Ui Yong hendak mencari puteri kecil itu, tapi mengingat situasi sangat genting, setiap saat pasukan MongoI bisa dikerahkan menyerang Siangyang mana boleh karena urusan anak2 harus menjelajah Kangouw lagi?

Maka sesudah berunding dengan Kwe Cing, segera ia tulis empat pucuk surat dan suruh empat anak murid Kay-pang yang dapat dipercaya pergi mencari Kwe Yang agar anak dara itu bisa lekas pulang.

Kiranya hari itu sesudah Kwe Yang mendengar cerita sang ibu, ia lantas tertidur.

Tapi mimpi buruk datang terus menerus sebentar dilihatnya Nyo Ko menabas buntung lengannya yang tinggal satu itu, lain saat terbayang Nyo Ko terjun ke jurang yang beribu tombak dalamnya hingga hancur lebur.

Karena impian buruk itu, Kwe Yang terjaga bangun dengan keringat dingin, ia terduduk dipinggir ranjang dan ter-menung2

"Toakoko telah beri tiga jarum emas padaku dan sanggup menerima tiga permohonanku yang pasti akan dilakukan untukku. Kini jarum emas tinggal sebuah saja padaku, justru dapat kugunakan untuk mohon dia jangan cari jalan "

Pendek (bunuh diri), ia adalah seorang pendekar, seorang jantan, apa yang dikatakan tentu di pegang janjinya, biar sekarang juga aku pergi mencarinya.

Lantas ia tinggalkan sepucuk surat singkat pada orang tuanya, lalu pergilah ia keluar kota.

Tapi Nyo Ko bersama Ui Yok-su tatkala itu entah sampai dimana, sesungguhnya sukar untuk dicari.

Setelah 30 40 li Kwe Yang menempuh perjalanan tanpa tujuan, ia mulai merasa lapar, ia pikir harus tangsal perut dulu pada suatu rumah makan.

Tapi di luar kota Siangyang penduduknya yang takut datangnya pasukan musuh sudah lama mengungsi, jangankan rumah makan, bahkan rumah penduduk satupun tiada isinya.

Selamanya Kwe Yang belum pernah keluar rumah sendirian, sama sekali tak terduga olehnya orang melawat jauh sesungguhnya sulit seorang diri ia duduk termenung2 diatas batu ditepi jalan sambil bertopang dagu.

Ia berduduk sebentar, ia pikir tiada rumah makan, cari sedikit buah2an untuk sekedar tangsal perut juga lumayan, Tapi ketika memandang sekelilingnya, beberapa li sekelilingnya hanya tanah tandus tanpa suatu pohon, apalagi buah2an.

Selagi ia rada bingung, tiba2 terdengar derapan kuda ber-detak2, seorang penunggung kuda berlari cepat duri timur ke barat, ketika sudah dekat terlihatlah penunggangnya adalah seorang Hwesio tua yang berperawakan tinggi kekar, memadai jubah kuning, kasa bersemampir dipundaknya, diatas kepalanya memakai sebuah kopiah bundar yang bercahaya emas mengkilat.

Kuda itu lari dengan cepat sekali, sekejap saja sudah lewat, tapi tiba2 paderi itu putar kuda kembali dan mendekati Kwe Yang dengan rasa heran.

"Nona cilik, siapakah kau?"

Demikian tanyanya "Kenapa seorang diri kau berada di sini?"

Melihat sorot mata orang tajam bagai kilat, hati Kwe Yang rada terkesiap, segera ia teringat pada It-teng Taysu yang pernah dilihatnya di tambak Hek-liong-tam, diam2 ia pikir.

"lt-teng Taysu itu sangat welas nsiii, tentu paderi beralis putih inipun orang baik."

Maka jawabnya.

"Aku bernama Kwe Yang, baru datang dari Siangyang, hendak cari seseorang."

"Kau hendak mencari siapa?"

Tanya paderi tua itu. Kwe Yang tersenyum sambil miringkan kepalanya dan katanya.

"Hwesio tua suka campur urusan orang lain, aku tak mau beritahukan padamu."

"Cobalah kau terangkan siapakah orang yang hendak kau cari, boleh jadi di tengah jalan tadi aku melihatnya bukankah bisa kuberi petunjuk padamu,"

Ujar paderi tua. Betul juga pikir Kwe Yang, maka jawabnya.

"Orang yang kucari itu sangat mudah dikcnali, ialah seorang laki2 muda tanpa lengan kanan. ia mungkin berada bersama dengan seekor rajawali raksasa, boleh jadi berada sendirian puIa."

Kiranya paderi tua ini bukan lain ialah Kim-lun Hoat-ong. Mendengar orang yang dimaksud kan Kwe Yang itu ternyata Nyo Ko adanya, ia terkejut, tapi pada lahirnya ia tenang2 saja dan pura-bergirang.

"He, orang yang hendak kau cari itu she Nyo bernama Ko, bukan?"

Katanya cepat. Kwe Yang menjadi girang.

"Ya, kau kenal dia?"

"Tentu saja aku kenal, kami adalah sobat lama,"

Demikian kata Kim-lun Hoat-ong dengan tertawa.

"Scwaktu kami berkenalan, boleh jadi kau masih belum lahir."

Muka Kwe Yang yang cantik sedikit merah, tapi tanyanya pula.

"Toahwesio, siapakah nama gelaranmu?"

"Aku bernama Cumulangmah,"

Sahut Kim lun Hoat ong.

"Apa Cumi? Mamah? Ah, begitu panjang, susah diucapkan."

Kata Kwe Yang dengan tertawa.

"Cu mu Iang-mah"

Hoat-ong mcnegas sekata demi sekata.

"O, Cumulangmah, Apakah kau tahu dimana Toakokoku berada?"

Tanya si anak dara lagi.

Kiranya Kim-lun Hoat-ong sengaja bilang namanya Cumulangmah, nama puncak tertinggi dipegunungan Himalaya, yaitu terkenal juga dengan nama Mount Everest, dengan nama samaran ini Hoat-ong se-akan2 anggap ilmu silatnya di seluruh jagat tiada bandingannya.

Maka jawabnya.

"Kau punya Toakoko? Siapa dia?"

"lalah Nyo Ko,"

Sahut Kwe Yang.

"Ha, kau panggil Nyo Ko sebagai Toakoko, katanya kau she Kwe?"

Tanya Hoat ong. Kwe Yang rada jengah, namun jawabnya.

"Ya, kami adalah pamili turun temurun, waktu kecil ia pun tinggal di rumahku."

Tergerak hati Hoat-ong, segera ia tanya.

"Aku mempunyai seorang kenalan baik, ia berilmu silat sangat tinggi, namanya terkenal di seluruh jagat, juga she Kwe, namanya Cing, Entah nona kenal padanya tidak?"

Terkejut Kwe Yang, dalam hati ia membatin .

"Aku telah minggat dari rumah, kalau dia adalah sobat ayah, mungkin sekali aku akan diseret pulang, lebih baik tak kukatakan saji." -Maka jawabnya kemudian.

"Apakah kau maksudkan Kwe Ciog, Kwe-tayhiap? ia adalah angkatan tua dari keluarga Kwe kami. Apakah Touhwesio hendak berkunjung padanya?"

Kim lun Hoat-ong adalah seorang yang sangat pintar dan ccrdik, pula sudah kenyang asam garam, sikap Kwe Yang yang aneh ini segera dapat dilihatnya. Maka katanya pula dengan menghela napas.

"Aku dan Kwe tayhiap menang sobat kental dan sudah lebih 20 tahun tak berjumpa, tempo hari di laerah utara aku mendengar berita buruk, katanya Kwe-tayhiap telah meninggal, aku menjadi sedih, maka cepat datang kemari, Ai, seorang pahlawan besar tidak diberkahi umur panjang, sungguh Thian tidak adil."

Berkata sampai di sini air matanya benar bercucuran membasahi jubahnya.

Kiranya Lwekang Kim-Iun Hoat-ong sudah terlatih amat tinggi, seluruh otot daging tubuhnya dan pernapasan dapat diatur sesuka hatinya, untuk menghentikan denyutan jantung sementara saja tidak sukar, apalagi hanya mencucurkan air mata bikinan.

MeIihat orang menangis sungguhan, walaupun Kwe Yang tahu jelas ayahnya tidak pernah mati, namun soalnya mengenai ayah dan anak mau-tak-mau hatinya ikut pilu juga, maka cepat katanya.

"Toahwesio, kau tak perlu berduka, Kwe tayhiap tidak pernah meninggal."

"Ah, jangan ngaco, ia benar2 sudah meninggal anak perempuan mana tahu akan urutan orang tua?"

Sahut Hoat-ong sambil menggeleng kepala.

"Aku baru saja keluar dari Siangyang, masakah aku tak tahu, malahan baru kemarin aku melihat muka Kwe-tayhiap,"

Kata Kwe Yang. Tanpa ragu2 lagi sekarang Hoat-ong, saking girangnya ia menengadah dan bergeIak-tawa.

"Ah, kiranya kau adalah puteri Kwe tayhiap,"

Katanya kemudian, Namun mendadak ia geleng2 kepala Iagi.

"Salah, salah! puteri Kwe tayhiap itu kukenal, namanya Kwe Hu, umurnya sekarang sedikitnya sudah lebih 3O puluh tahun."

Tak tahan akan pancingan kata2 orang, segera Kwe Yang menegaskan "lalah cnciku, ia bernama Kwe Hu dan aku bernama Kwe Yang."

Girang luar biasa hati Hoat-ong, ia membatin.

"Hari ini benar2 Thian memberkahiku, rejeki ini telah menubruk sendiri padaku." -Maka segera ia-pun berkata.

"Jika begitu, jadi Kwe-tayhiap memang benar tidak meninggal."

Melihat orang benar2 bergirang, Kwe Yang menyangka paderi ini berhati bajik dan senang karena mendengar ayahnya masih segar-bugar, ia menegaskan lebih jauh.

"Aku bilang tidak meninggal tentu tidak meninggal dia adalah ayahku, masakah aku mendustai kau?"

"Batk, baik, baik! Aku percaya, nona Kwe, malahan akupun tak perlu pergi ke Siangyang lagi, Sudilah kau sampaikan pada ayahmu bahwa kawan lama Cumulangtnah mengirim salam pada nya,"

Kata Hoat ong.

ia tahu pasti sebentar Kwe Yang akan tanya tentang urusan Nyo Ko, maka ia sengaja memberi hormat, lalu menarik kudanya terus hendak pergi, Betul saja segera terdengar Kwe Yang berteriak.

"Hai, hai! Toahwesio, kenapa kau tak tahu aturan?"

"Tidak tahu aturan?"

Hoat-ong menegas pula tak mengerti.

"Bukankah aku sudah beritahukan keadaan ayahku, tapi kau belum juga ceritakan keadaan Nyo Ko, sebenarnya dimanakah dia?"

Tanya Kwe Yang.

"Ah, benar, aku menjadi lupa!"

Ujar Hoat-ong.

"Kemarin dulu baru saja aku ber-omong2 sama dengan dia di lembah pegunungan sebelah utara Sinyang, ia sedang berlatih pedang di sana, saat ini mungkin nusih belum pergi, bolehlah kau mencarinya ke sana."

Kwe Yang mengkerut kening oleh penjelasan itu.

"Lembah gunung begini banyak, cara bagaimana aku bisa menemukannya? Terangkanlah lebih jelas,"

Pintanya. Hoat ong pura2 berpikir, lalu katanya.

"Baiklah, sebab aku juga akan ke utara, biarlah kubawa kau ke sana."

Keruan Kwe Yang berjirang.

"Ah, sungguh terima kasih,"

Katanya, Lalu Hoat-ong menuntun kudanya ke hadapan anak dara itu dan katanya.

"Silakan nona cilik menunggang, paderi tua berjalan kaki."

"Ah, mana boleh jadi."

Sahut Kwe Yang.

"Tidak apa,"

Kata Hoat-ong tertawa.

"Empat kaki kuda ini belum tentu lebih cepat daripada kedua kaki paderi tua."

Selagi Kwe Yang hendak cemplak keatas kuda, tiba2 ia berseru.

"Ai, sialan! Toahwesio, aku merasa lapar, kau memhawa makanan tidak?"

Dari buntalannya Hoat-ong mengeluarkan sebungkus rangsum kering, walaupun Kwe Yang tidak biasa dengan makanan begitu, apa lagi panganan kaum paderi, namun sudah lapar, terpaksa dimakannya sebagian sekedar menangsal perutnya, lalu ia keprak kuda berangkat diikuti Hoat ong yang berjalan di sampingnya.

Tiba2 anak dara itu ingat pada kata2 orang tadi bahwa "Empat kaki kuda ini belum tentu lebih cepat daripada kedua kaki paderi tua."

Maka mendadak ia pecut kudanya sambil berseru.

"Toa-hwesio, kutunggu kau di depan sana." -Habis itu, secepat terbang ia larikan kudanya. Kuda itu sangat bagus dan tangkas, sekali ber-lari, Kwe Yang merasa tetumbuhan di tepi jalan sekejap saja sudah jauh tertinggal di belakang. sebentar saja belasan li sudah ditempuhnya, ketika, ia menoleh dan berkata dengan tertawa.

"Toahwesio, dapatkah kau menyusul aku?"

Namun ia menjadi heran dan terkejut, ternyata Kim lun Hoat-ong tak kelihatan bayangannya, sebaliknya mendadak ia lantas mendengar suara seorang berseru di dalam hutan di depan sana.

"Nona Kwe, kudaku itu kurang cepat, kau harus memecutnya lekas."

Kwe Yang menjadi tambah heran "Kcnapa ia malah sudah berada di depan?"

Segera ia keprak kuda pula, maka terlihatlah Kim-Iun Hoat-ong lagi berjalan dengan "Ienggang-kangkung"

Seenaknya di depan, ia pecut kudanya agar berlari lebih kencang, tapi jaraknya selalu belasan tombak di belakang Hoat-ong, Di tanah datar utara Siangyang itu debu selalu bertebaran oleh larinya kuda, tapi Hoat ong yang berjalan di depan itu seakan2 kaki tak menempel tanah, debu sedikitpun tidak mengepul.

Diam2 Kwe Yang sangat kagum, pikirnya.

"Jika dia tidak memiliki ilmu silat setinggi ini memangnya juga tidak sesuai menjadi sobat kental ayah."

Dan dari kagum itu ia menjadi hormat, maka serunya lantas.

"Hai Toahwesio, kau adalah orang tua, lebih baik kau yang menunggang kuda saja."

"Buat apa kita mesti banyak buang tempo di tengah jalan, tidakkah lebih cepat bertemu dengan Toakoko-mu akan lebih baik?"

Sahut Hoat-ong menoleh sambil tertawa.

Tatkala itu kuda tunggangan Kwe Yang sudah mulai payah, larinya tidak secepat mula2 lagi maka jaraknya dengan Hoat-ong semakin jauh.

Pada saat itulah, tiba2 dari arah utara ada suara derapan kuda puIa, dua penunggang kuda secepat terbang sedang mendatangi "Marilah kita tahan kuda-2 mereka ini, dengan menukar kuda ini tentu kau bisa berlari lebih cepat,"

Demikian kata Hoat ong. Tak lama kemudian, kedua penunggang kuda itu sudah datang dekat.

"Marilah turun dulu!"

Bentak Hoat-ong mendadak sambil kedua tangannya terpentang mengadang di tengah jalan.

Kedua kuda itu terkejut hingga meringkik sambil berdiri menegak, Tapi penunggangnya ternyata sangat mahir, tubuhnya masih tetap menempel di atas pelana tak sampai terjatuh.

"Siapa kau? Apa cari mampus?"

Bentak serang di antaranya dengan gusar. Berbareng itu, pecutnya diayun terus menyabet.

"Hai, Tua-thau kui, Tian-jing-kui, kawan sendiri semua, jangan berkelahi!"

Seru Kwe Yang cepat.

Ternyata kedua orang itu memang benar adalah si setan berkepala besar dan setan berjenggot panjang dari Se-san it-khut kui, Tapi saat itu tangan kiri Hoat-ong sudah meraih pecut Toa thau-kau yang menyabet tadi terus ditarik kuat2.

Tak terduga, meski Toa-thau-kui orangnya ceboI, namun bertenaga raksasa pembawaan, pula pecut itu adalah bikinan kulit sampi yang sangat ulet, tenaga tarikan Hoat-ong yang beratus kati itu ternyata tidak membikin pecut itu menjadi putus, juga tidak terlepas dari tangan Toa thau-kui.

"Bagus!"

Seru Hoat-ong, Diam2 ia tambahi tenaga, Dan karena saling betot itulah, segera terdengar suara "peletak"

Yang keras, yang kalah adalah kuda tunggangan Toa thau-kui yang patah tulang punggungnya terus terkulai ke tanah.

Toa thau-kui menjadi murka, sekali melompat turun, segera hendak menubruk maju dan melabrak Hoat-ong.

"Nanti dulu,"

Teriak Tiang jiu-kui tiba2, Lalu tanyanya pada Kwe Yang.

"Jisiocia, kenapa kau berada bersama dengan Kim-lun Hoat-ong?"

Dahulu Kim lun Hoat ong bersama Nyo Ko pernah datang ke Coat-ceng-kok, itu lembah tempat bersemayamnya Kongsun Ci, maka Tiang jiu-kui Hoan Jt-ong kenal padanya.

"Ah, kau telah salah kenali orang ia bernama Cumulangmah, sobat baik ayah,"

Sahut Kwe-Yang tertawa.

"Padahal Kim-lun Hoat-ong itu adalah musuh bebuyutan ayah, ucapanmu ini kan "

Kepala sampi tidak cocok dengan mulut kuda-" (maksudnya salah wesel)?"

"Di mana kau ketemu dengan Hwesio ini?"

Tanya Tiang jiu Iau.

"Baru saja kami bertemu,"

Sahut Kwe Yang "Hwesio besar ini bilang ayah sudah meninggal, coba, lucu bukan? Dan sekarang ia hendak membawa aku pergi mencari Toakoko."

"Jisiocia, lekas kembali, Hwesio ini bukan orang baik2, ia mendustai kau,"

Seru Toa-thau-kui. Tapi Kwe Yang masih ragu2, ia mendustai aku?"

Tanyanya.

"Ya,"

Sahut Toa-thau-kui.

"Siu tiau hiap berada di selatan sana, kenapa ia membawa kau ke utara?"

Kim lun Hoat-ong hanya tersenyum saja walaupun kedoknya terbongkar katanya tiba2.

"Dua orang cebol ini suka mengacau-belo." -Habis itu sedikit tubuhnya bergerak, cepat sekali mendekati kedua "setan"

Itu terus menghantam batok kepala mereka dengan kedua tangan.

Belasan tahun ini Hoat ong telah giat berlatih "Liong jio-pan yok-kang" (ilmu sakti tenaga naga dan gajah), semacam ilmu kebatinan tenaga gaib.

"Liong jio pan yok-kang"

Ini seluruhnya bertingkat tiga belas, konon selama ini tiada pernah satu orangpun yang sanggup melatih diri hingga lebih dari tingkat sepuluh.

Namun Kim-lun Hoat-ong adalah orang berbakat luar biasa, dengan telaten dan giat akhirnya ia dapat menembus ke atas tingkat sepuluh dan kini sudah mencapai tingkatan kesebelas.

DahuIu ia dikalahkan Nyo Ko bersama Siao-liaong-Ii, hal mana dirasakannya sebagai suatu noda besar dalam hidupnya, kini ilmu kepandaiannya sudah maju berlipat ganda, pada kesempatan raja Mongol memimpin pasukan sendiri ke selatan, sekalian iapun ikut serta dengan tujuan hendak balas dendam mematikan Nyo Ko dan Siao-liong-li berdua dengan ilmu pukulannya yang maha sakti ini.

Kembali tadi, ketika kedua tangan lawan memukul, cepat Toa-thau-kui menangkis, tapi segera terdengar suara "krak" , seketika tangannya patah, menyusul batok kepalanyapun pecah, tanpa menjengek sedikitpun terus binasa.

Kepandaian Tiang-jiu-kui lebih ulet, ia tahu pukulan musuh sangat lihay, maka dengan sekuat-nya ia angkat kedua tangannya buat menahan, maka terasalah suatu kekuatan yang maha besar menindih tubuh, seketika pandangannya menjadi gelap, orangnyapun terus roboh.

Terkejut sekali Kwe Yang.

"Hai, kedua orang ini adalah kawanku, berani kau mencelakai mcreka?"

Bentaknya gusar. DaIam pada itu, meski roboh dan muntah darah, mendadak Tiang-jiu-kui melompat bangun terus merangkul kedua kaki Hoat-ong erat2 sambil ber-seru.

"lekas lari nona Kwe, Iekas!"

Segera Hoat-ong mencengkeram punggung Tiang jiu kui dan hendak mengangkatnya untuk dibanting, tapi mati2an Tiang-jiu kui ingin melindungi Kwe Yang, kedua tangannya bagai gelang besi saja memegang erat2 kedua kaki orang, sekalipun tenaga Hoat-ong sangat besar, untuk sesaat juga sukar menariknya lepas.

Terkejut dan gusar sekali Kwe Yang, usianya kecil, tapi pembawaannya berbudi luhur, kini ia pun sudah tahu Hoat ong tidak bermaksud baik padanya.

tapi ia toh tidak mau lari meninggalkan Tiang jiu-kui.

Segera ia bertolak pinggang, dengan suara keras bentaknya.

"Hai, Hwesio jahat, kenapa kau begini keji? Lekas lepaskan Tiang-jiu-kui, biar nona ikut kau pergi."

"Lekas lari, nona, jangan..."

Demikian seru Tiang jiu-kui tapi belum lagi habis ucapannya jiwanya ternyata sudah melayang.

Mayat Tiang-jiu kui kemudian diangkat Hoat-ong dan dibuang ke tepi jalan, lalu katanya dengan menyeringai bengis "Nah, kalau mau lari, kenapa tidak lekas naik kuda?"

Selama hidup Kwe Yang tak pernah benci pada siapapun, meski diketahuinya Loh Yu-ka dibunuh Hotu, tapi ia tidak menyaksikan sendiri, ia hanya berduka dan tidak dendam, tapi kini melihat Hoat-ong begini kejam, tanpa terasa ia menjadi benci padanya, maka dengan melotot ia pandang orang tanpa gentar sedikitpun "Nona cilik, kau tidak takut padaku?"

Tanya Hoat-ong.

"Takut apa?"

Sahut Kwe Yang sengit "Mau bunuh, lekas kau bunuh aku."

Namun Hoat-ong lantas unjuk jempolnya dan memuji.

"Hebat, memang hebat, ayah ksatria tidak nanti melahirkan puteri pengecut."

Dengan benci Kwe Yang memandang Hoat ong sekejap lagi, pikirnya hendak mengubur jenazah kedua kawannya, tapi tak ada alat penggali disitu, sesudah berpikir, ia angkat mayat Tiang jiu kui dan Toa thau-kui ke atas kuda, tali pelana dibalik untuk mengikat mayat itu, lalu ia depak pantat kuda dan berkata.

"Kuda, kuda, lekas antar majikanmu pulang."

Karena sakit didepak, kuda itu lantas berlari pergi ke arah mendatang tadi.

* * * * Bercerita tentang Ui Yoksu dan Nyo Ko, keduanya bergandengan tangan dengan cepat menuju ke selatan, maka sekejap saja beberapa puluh li sudah mereka tcmpuh, mendekati lohor, sampailah mereka di kota Swansia.

Mereka masuk kesuatu restoran besar, pesan daharan dan saling menceritakan pengalaman masing2 selama ini.

Ketika Ui Yok-su menyinggung diri Thia Eng dan Liok Bu biang berdua, selama belasan tahun ini mereka hidup menyepi dikediaman leluhur, yaitu Leng oh, daerah Siangciu, hanya Sah-koh, itu cucu murid Ui,Yok-su yang gendeng, tinggal bersama dengan mereka.

Mendengar itu, Nyo Ko menghela napas panjang.

Setelah minum beberapa cawan arak, kemudian Nyo Ko bertanya.

"Ui tocu, selama belasan tahun ini Wanpwe selalu mencari engkau orang tua, sebab ingin sekali menanya sesuatu padamu, barulah hari ini harapanku terkabul. Watakku makin tua makin aneh, entah adik hendak tanya apa padaku?"

Sahut Ui Yok su tertawa.

Selagi Nyo Ko hendak buka suara pula, tiba2 terdengar suara tangga berdetak, ada orang naik ke atas loteng restoran itu, seluruhnya tiga orang.

Ketika mendengar suara tindakan orang, segera Ui Yok Su dan Nyo Ko menduga orang2 yang datang ini berilmu silat sangat tinggi, Kemudian setelah melihat orangnya, segera Nyo Ko kenal satu di antaranya ialah Siau siang cui, orang kedua bermuka hitam, ia tak kenal, sedang orang ketiga ialah In Kik-si, itu saudagar bangsa Persi yang berkepandaian lihay.

Dalam pada itu Siau-siang-cu dan In Kik-si juga sudah melihat Nyo Ko, mereka menjadi ter-kesiap dan berhenti, keduanya saling mengedip mata, lalu hendak turun kembali ke bawah.

"Eeeh, sobat lama bertemu lagi, kenapa buru2 lantas hendak pergi?"

Sengaja Nyo Ko menegur dengan tertawa ejek.

"Baik2kah Nyo-tayhiap selama ini?"

Segera In Kik si menyapa dan soja...

Sebaliknya Siau siang cu masih dendam karena dulu di Cong lam-san lengannya dipatahkan Nyo Ko, selama belasan tahun ini kepandaiannya juga sudah banyak maju, namun ia tahu masih bukan tandingan Nyo Ko.

maka tak ia gubris teguran Nyo Ko, juga tidak menoleh,.lalu hendak melangkah turun.

Orang bermuka hitam yang datang bersama mereka itu juga seorang jago terkemuka di bawah Kubilai, selamanya sangat tinggi hati, bersama In Kik-si dan Siau-siang cu mereka keluar mencari berita, siapapun tidak terpandang sebelah mata oleh-nya.

Kini melihat kedua kawannya begitu jeri pada Nyo Ko, ia melirik hina ke arah Nyo Ko, lalu berteriak.

"Nanti dulu, Siau-heng, kalau ada orang jahat berani merintangi kesenangan kita, biar Siaute mengusirnya pergi."

Hubis berkata, sebelah tangannya yang terpentang lebar segera mencengkeram ke pundak Nyo Ko dengan maksud mencekalnya untuk dilemparkan ke jalan umum.

Melihat telapak tangan orang lapat-2 bersemu hitam biru, Nyo Ko tahu orang tentu berlatih "Tok-joa-cio"

Atau ilmu pukulan pasir beracun, tiba2 pikirannya tergerak.

"Ya, kenapa aku tidak gunakan tenaga orang ini untuk tanya Ui-Iocianpwe tentang Lam-hay Sinni?"

Demikian pikirnya. Tatkala itu tangan orang bermuka hitam itu sudah hampir menyentuh pundaknya, mendadak Nyo Ko baliki tangannya menyampuk.

"plak-plak"

Tahu2 orang itu malah kena ditempeleng dua kali olehnya. Terperanjat Ui Yok-su menyaksikan itu.

"Cepat benar pukulannya ini!"

Diam2 ia memuji. Dan melulu sekali serangan ini saja sudah terlihatlah ilmu silat ciptaan Nyo Ko sendiri telah menjadi suatu aliran terkemuka. Sementara terdengar lagi suara "plak plak"

Dua kali, kedua pipi Siau-siang-cu telah dipersen tamparan pula. Hanya In Kik-si yang bebas dari tempelengan itu, karena Nyo Ko melihat orang tadi berlaku sopan.

"Nyo-laute, ilmu pukulan ciptaanmu ini sungguh hebat sekali, lohu (aku yang tua) ingin sekali melihat keseluruhannya, entah dapat tidak?"

Kata Ul Yok-su dengan tertawa.

"Justru ingin kuminta petunjuk Locianpwe,"

Sahut Nyo Ko. Segera tubuhnya bergerak cepat, ia mainkan ilmu pukulan "lm-jiau siau-hun-cio hoat"

Yang hebat itu.

Maka tertampaklah lengan bajunya me-lambai2 telapak tangannya naik turun, tiba-tipu serangan "Bu tiong-seng yu" , lain saat gerakan "Ki jin yu-.hian" , ia mengurung S'au-siang-cu, In Kik-si dua praog bermuka hitam itu di tengah2 angin pukulannya.

Ketiga orang itu serasa terombang ambing di tengah2 gelombang badai, ter huyung2 dan sempoyongan terbawa oleh angin pukulan Nyo Ko, jangankan melawan sedang untuk berdiri tegak saja susah.

"Sungguh hebat,"

Puji Ui Yok su.

"Hari ini lohu dapat menyaksikan ilmu pukulan Iaute ini sambil minum arak, sungguh hidupku ini tidak kecewa."

"Locianpwe sukalah memberi petunjuk "sejurus!"

Teriak Nyo Ko mendadak, Ketika telapak tangan-nya mendorong, tahu2 Siau-siang cu "dikirim"

Ke hadapan Ui Yok-su, Tak berani ayal Ui Yok-cu, cepat telapak tangan kirinya menyurung juga ke depan, tubuh Siau-siang cu dikembalikan ke sana, Tapi segera tertampak lelaki muka hitam itu menubruk datang lagi, cepat Vi Yok su angkat cawannya menenggak arak sambil ayun tangan mendorongnya pergi puIa.

Melihat gerak pukulan orang memang sangat kuat dan hebat, tapi juga tidak terlalu luar biasa.

dalam hati Nyo Ko berpikir "Agaknya kalau aku tidak menggunakan seluruh tenaga takkan dapat memancing ilmu pukulan yang dia pelajari dan Lam-hay Sin-ni."

Maka ia pusatkan napasnya dan himpun tenaga pukulannya secara cepat Siau siang-cu, In Kik-si dan lelaki muka hitam itu silih berganti didorongnya ke depan Ui Yok su.

Terpakia Ui Yok-su mengembalikan lagi, tapi terasa daya tekanan serudukan ketiga orang itu semakin berat dan susul menyusul bagai datangnya gelombang ombak, satu lebih kuat dan lebih tinggi dan yang lain.

"Tenaga pukulan bocah ini makin lama makin kuat, sungguh bakat yang susah dicari dalam dunia persilatan!"

Demikian diam2 Ui Yok-su membatin.

Dan pada saat itu juga, orang bermuka hitam itu kembali melayang datang, bahkan kedua kakinya terus menjejak kemukanya.

Cepat Ui Yok-su menyampuknya pergi pula namun tanpa terasa sedikit tergoncang itulah arak dalam cawannya terciprat keluar beberapa tetes, menyusul mana In Kik-si dan Siau-siang-cu juga telah menubruk datang lagi, yang satu dari depan dan yang lain dari samping.

"Bagus!"

Seru Ui Yok-su, ia letakkan cawan araknya, dengan kedua tangannya ia dorong ke depan.

Begitulah, kedua orang -Nyo Ko dan Ui Yok-su -lantas saling oper-mengoper dari jarak beberapa tombak bagai orang main bola basket, Siau siang cu bertiga bagai bola saja terombang-ambing di antara tenaga pukulan kedua orang itu se akan2 terbang kian kemari di udara.

Namun baru "lm jian siau hunjio"

Nyo Ko itu dimainkan sampai tengah jalan, Loh-eng-cio-hoat"

Ui Yok-su sudah tampak di bawah angin.

Waktu itu secepat panah tubuh In Kik-si menubruk kearahnya, Yok-su menaksir tenaganya tak cukup untuk melawan tenaga dorongan Nyo Ko sekali ini, segera ia gunakan jarinya untuk menyentik.

"crit" , terdengar suara lirih tajam, suatu kekuatan halus tapi kuat terus meluncur ke depan dan seketika tenaga pukulan Nyo Ko itu terpatahkan. Be runtun2 Ui Yok-su menyelentik tiga kali, maka tiga kali gedebukan, tubuh Siau-sing-cu. It Kik-si dan lelaki muka hitam itu terbanting semua di atas papan loteng dan semaput. Kalau "Loh cng cio hoat"

Sedikit kalah kuat daripada tenaga Nyo Ko, tapi tenaga sakti jarinya "Tan-ci sin-thong"

Ternyata sama kuatnya, siapapun tiada yang lebih unggul. Maka bergelak ketawalah kedua orang itu, mereka kembali ke tempat duduk masing2, menuang arak dan pasang omong pula.

"llmu pukulan adik ini, kalau soal tenaga, hanya "Hang liong-sip pat ciang"

Menantuku Kwe Cing yang dapat menandingi, sedangkan Loh-eng-cio Lohu masih kalah setingkat demikian kata Ui Yok-su kemudian.

Ber-ulang2 Nyo Ko menyatakan terima kasih dengan rendah hati.

Lalu tanyanya.

"Konon kabarnya Lociaopwe pernah mendapat petunjuk Lam-hay Sin-ni dan dapat mempelajari sejurus Cio-hoat (ilmu pukulan), entah dapatkah Wanpwe melihatnya untuk menambah pengalaman?"

"Ltm-hay Sin-ni? siapakah dia? selamanya belum pernah aku mendengar namanya,"

Sahut Ui Yok-su heran. Seketika berubah air muka Nyo Ko, ia berdiri, dengan suara gemetar ia menegas.

"Apakah di dunia ini hakikatnya tiada seorang Lam-hay Sin-ni"

Melihat perubahan wajah orang yang aneh itu, Ui Yok-su rada terkejut juga, maka jawabnya dengan ragu2.

"Apakah mungkin seorang kosen yang belum lama ini baru terkenal. Lohu suka hidup menyendiri, maka belum kenal akan namanya."

Terpaku Nyo Ko berdiri, begitu cemas perasaannya, serasa hatinya akan melompat keluar dari rongga dadanya, katanya dalam hati.

"Dengan jelas Kwe-pekbo menyatakan bahwa Liongji telah ditolong pergi oleh Lam hay Sin-ni, siapa tahu semua itu bohong belaka dan sengaja mendustai aku!"

Berpikir sampai di sini, tiba2 ia berteriak sambit menengadah, suaranya menggetar sukma, air mata pun meleleh.

"Ada kesulitan apakah Laute, dapatkah kau jelaskan, boleh jadi Lohu dapat membantu sebisa-nya,"

Tanya Yoksu. Tapi Nyo Ko lantas memberi hormat sambil berkata dengan suara parau.

"Perasaan Wanpwe kacau luar biasa hingga tindak tanduk kurang wajar harap dimaafkan."

Habis itu, lengan bajunya mengebas ia putar tubuh terus turun ke bawah, terdengarlah tuara "krak-krak"

Beberapa kali, beberapa undak tangga telah hancur kena diinjaknya. Ui Yok-su menjadi bingung, ia menggumam sendiri.

"Lam-hay Sin-ni, Lam-hay Sin-ni? siapakah gerangannya?"

Sementara itu Nyo Ko telah berlari pergi seperti kerasukan setan, ia lari dan lari terus, dalam beberapa hari tanpa makan tanpa tidur, ia pikir hanya mati letih barulah takkan ingat Siao liong li, sebenarnya kelak masih dapat bertemu tidak, saat itu sama sekali tak berani dibayangkannya.

Tidak berapa lama, tibalah ia di tepi sungai besar, Nyo Ko tak tahan lagi oleh hancurnya perasaan itu, ketika dilihatnya ada sebuah perahu menepi segera ia melompat naik, ia berikan sepotong perak pada si tukang perahu dan tanpa menanya kemana perahu itu bakal berlayar, segera ia rebah di situ terus tidur.

Air sungai mengalir dengan derasnya, perahu layar yang ditumpangi Nyo Ko itu terus laju, setiap kota dagang pasti kapal itu berlabuh beberapa hari buat bongkar-muat barang, agaknya itu adalah sebuah kapal barang yang hilir-mudik di sungai Tiang-kang itu.

Hati Nyo Ko saat itu se-akan2 kosong blong, ke manapun serupa baginya, maka iapun tidak perduIi kapal itu akan berlayar atau berlabuh, ia lewatkan hari2 itu dengan minum arak, di malam hari ia suka bersiul panjang dan ter-menung2 tanpa kenal waktu.

Si tukang perahu dan saudagar yang mencarter"

Baca Juga: Warisan Jenderal Gak Hui 6

Baca Juga: Kemelut Blambangan 6

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert