Eps 21 Kembalinya Sang Pendekar Rajawali - Chin Yung
Baca online Kembalinya Sang Pendekar Rajawali - Chin Yung
Cersil Kembalinya Sang Pendekar Rajawali - Chin Yung.
Kapal itu tampak akan uang Nyo Ko yang bayar tanpa tawar itu, mereka menyangka dia adalah pengelana sinting, maka siapapun tiada yang mengurusnya.
Suatu hari, tibalah kapal itu di Kang-im, seorang saudagar sekapal telah mohon diri pada Nyo Ko dan bilang akan pergi ke Ka-hin dan Lim-an untuk membeli sutera.
Mendengar kata2 Ka hin ", mendadak Nyo Ko terkejut dan berpikir "
Dahulu ayahku tewas secara mengenaskan oleh Ui Yong di kelenteng Ong-uat jiang dalam kota Ka-hin, entah di manakah kuburannya?
Aku tak bisa mengubur jenazah ayat secara baik2 benar2 aku seorang anak tak berbakti."
Berpikir akan itu, segera ia tinggalkan perahu itu dan mendarat terus menuju ke Ka-hin.
Tatkala itu sudah masuk musim dingin, meski di daerah Kanglam tidak sedingin daerah utara, tapi di mana2 juga salju bertebaran, Nyo Ko memakai mantel ijuk dan bertopikan caping, menujulah dia ke Ka hin.
Sampai di kota itu, cuaca sudah gelap, ia mencari suatu rumah makan serta tanya jalan ke kelenteng Ong tiat jiang, di bawah hujan salju yang lebat ia pergi kesana.
Ketika sampai di kelenteng itu, waktu sudah dekat tengah malam, salju masih terus turun, gelap gulita keadaannya, Tapi Nyo Ko sanggup melihat dimalam gelap, ia lihat Tiat jiang-bio atau "keIenteng tombak besi"
Itu sudah bobrok, pintu sudah lapuk, sedikit didorong lantas roboh.
Nyo Ko masuk ke dalam, di-mana2 terlihat penuh debu dan galagusi-bersinggasana, suatu tanda tiada penghuninya, ia berdiri ter mangu2 di tengah ruangan kelenteng, terbayang olehnya ketika ayahnya tewas di situ dahulu hingga sejak lahirnya tiada pernah melihat muka ayahnya sendiri, sungguh nasib malang itu jarang terdapat di dunia-ini, ia menjadi berduka hingga makin menambah pilu hatinya.
Ia periksa sekitar kelenteng itu, ia pikir sudah lebih 30 tahun ayahnya meninggal dengan sendirinya tiada meninggalkan sesuatu tanda apa2.
ia pergi ke belakang kelenteng, ia lihat di bawah apitan dua pohon ada dua kuburan, di depan kuburan2 itu masing2 berdiri sebuah batu nisan yang penuh tertutup oleh salju.
Ketika Nyo Ko kebas lengan bajunya hingga salju berhamburan oleh angin kebasannya itu, maka tertampaklah pada batu nisan sebelah kiri tertulis "Kuburan Bok-si dari keluarga Nyo".
Diam2 Nyo Ko pikir siapakah gerangan wanita Se Bok ini?
Waktu batu nisan sebelah lain dipandangnya, seketika tak tahan lagi rasa gusarnya.
Kiranya batu nisan itu tertulis.
"Kuburan mu-id durhaka Nyo Khong" , dan dipinggirnya tertulis ebaris huruf kecil yang berbunyi "Guru tak beriImu Khu Ju-ki"
Pikir Nyo Ko dengan gusar.
"lmam tua ini benar2 tak berbudi, ayahku sudah meninggal kenapa harus mendirikan batu nisan untuk mencela kelakuannya? Dalam hal mana ayahku durhaka? Hm kalau aku tidak pergi ke Coan cin kau dan mengobrak abriknya, rasanya hatiku tidak puas"
Habis itu, tangannya diangkat terus hendak menghantam batu nisan itu.
Tapi selagi tangan hendak digablokkan, tiba2 terdengar dari arah barat sana berkumandang datang suara tindakan kaki yang cepat, suaranya begitu aneh, seperti beberapa tokoh dunia persilatan yang hebat, tapi juga mirip jalannya dua ekor binatang, sewaktu kaki menginjak tanah, sebelah kiri antap dan sebelah kanan enteng sungguh aneh luar biasa.
Nyo Ko mendengar suara itu justru menuju ke kelenteng ini, maka cepat ia masuk kembali keruangan tengah kelenteng dan sembunyi di belakang patung malaikat yang sudah doyong, hendak dilihatnya mahluk aneh apakah yang datang itu?
Sebentar saja suara tindakan kaki itu sudah sampai di depan kelenteng, tapi lantas berhenti tak bergerak lagi, agaknya seperti kuatir kalau di dalam kelenteng sudah ada sembunyi musuh, selang sejenak, barulah masuk.
Ketika Nyo Ko mengintip keluar, hampir saja ia tertawa geli.
Kiranya yang masuk kelenteng ini seluruhnya empat orang, kaki kiri keempat orang ini sudah putus semua, masing orang memakai sebatang tongkat dan di pundak kiri masing2 dirangkai seutas rantai besi yang saling terkunci, sebab itulah waktu berjalan, empat tongkat menutul tanah berbareng, lalu empat kaki keempat orang juga melangkah maju bersama.
Orang yang paling depan berkepala gundul pelontos, tangan kiri sudah buntung, kaki kiri putus separoh, sudah cacat bertambah cacat, Orang kedua jidatnya jendul, terdapat tiga uci2 yang besar.
Orang ketiga bertubuh kecil pendek dan orang keempat adalah Hwesio berbadan tegap.
Nyo Ko ter-heran2, macan orang2 apakah dan kenapa saling dirantai tanpa terpisahkan?
Lalu terdengarlah suara gemerantang yang nyaring, si gundul tadi mengeluarkan geretan api dan menyalakan sepotong sisa lilin.
Maka jelaslah sekarang Nyo Ko melihatnya ternyata kecuali orang pertama yang gundul ini, tiga orang lainnya berlubang mata, tapi tiada biji matanya.
Karena itu barulah ia mengerti persoalannya, kiranya ketiga orang buta itu menggunakan si gundul ini sebagai penunjuk jalan mereka.
Kemudian si gundul mengangkat lilin dan memeriksa sekitar kelenteng, maka keempat orang itu menjadi seperti berbaris beriring2an, jarak mereka masing2 tidak lebih tiga kaki.
Namun Nyo Ko yang sembunyi di belakang patung tak diketahui mereka.
Sesudah memeriksa, keempat orang itu masuk lagi ke ruangan dalam, lalu si gundul itu berkata .
"Kwa lolhau tidak membocorkan jejak kita, jika ia mengundang bala bantuan, tentu sudah disembunyikannya di sini dahulu."
"Ya, benar, ia sudah berjanji sekatapun takkan dibocorkan pada orang lain, orang semacam dia ini selamanya berpambekan tinggi, dalam hal "
Kepercayaan"
Sangatlah di beratkan.
"demikian ujar orang ketiga. Tapi orang yang ber-uci2 itu lantas berkata.
"Soa toako, kau kira si tua she Kwa itu akan datang atau tidak?"
"ltulah sukar kukatakan, kurasa ia takkan datang, masakah dia begitu bodoh sengaja mengantarkan kematian?"
Ujar orang pertama tadi.
"Tapi Kwa-lolhau ini adalah orang yang pertama dari Kanglam chit-koay, dahulu mereka bertaruh dengan imam keparat Khu Ju-ki dan jauh2 tanpa kenal lelah pergi ke Mongol memberi pelajaran silat kepada Kwe Cing, hal ini ketika tersiar di Kangouw, semuanya memuji akan janji emas Kanglam chit-koay, sekali berkata, pasti pegang janji. Kita justeru mengingat hal ini barulah melepaskan dia pergi."
Jelas terdengar perjakapan mereka itu oleh Nyo Ko, diam2 ia pikir.
"Eh, kiranya mereka sedang menantikan Kwa-kongkong di sini?"
Dalam pada itu orang kedua yang jendul ber-kata.
"Tapi aku bilang dia pasti takkan datang, Peng-toako, beranikah kau bertaruh, coba lihat..."
Tapi belum habis ucapannya, tiba2 terdengar suara tindakan orang datang dari arah timur, juga langkah yang sebelah antap dan sebelah lagi enteng, ada orang datang lagi menggunakan tongkat, cuma sekarang seorang diri saja.
Sejak kecil Nyo Ko sudah lama tinggal bersama Kwa Tin ok di Tho-hoa-to, maka begitu dengar segera ia tahu orang tua itulah yang datang.
Terdengarlah si orang ketiga yang kecil kurus tadi bergelak-tawa, katanya.
"Nah, Kau laute, Kwa-lothau benar2 telah datang, masih berani kau bertaruh tidak?"
"Keparat, benar2 tak takut mati dia, sungguh aneh,"
Orang kedua tadi mengomel.
Lalu terdengar suara ketokan nyaring beberapa kali, suara ketokan tongkat besi, Hui thian pian hok Kwa Tin-ok tampak masuk ke dalam kelenteng, terus berdiri tegak di tengah ruangan.
"Kwa Tin ok telah datang menurut janji, inilah Kim hoa-giok loh wan buatan Tho hoa-to, seluruhnya berjumlah 12 butir, setiap orang makan tiga butir,"
Demikian katanya. Berbareng tangannya mengayun, sebuah botol kecil lantas ditimpukkan ke arah sikakek gundul tadi.
"Terima kasih!"
Sahut si gundul girang, ia sambuti botol kecil yang dilemparkan kepadanya itu.
"Urusan pribadi Lohu sudah selesai, sekarang sengaja datang buat terima kematian,"
Tiba2 Kwa Tin-ok berkata, ia tegak leher berdiri di tengah ruangan, jenggotnya yang sudah putih ter-gerak2, sikapnya sewajarnya saja.
"Soa-toako, karena dia sudah memberikan Kiu -hoa-giok-loh-wan pada kita hingga luka dalam kita bakal sembuh, tua bangka inipun tiada permusuhan apa2 dengan kita, biarlah kita ampuni dia saja,"
Kata siorang kedua yang kepala barjendul itu.
"Ha, Kau-laute."
Jengek si orang ketiga.
"kata peribahasa "
Piara harimau cari penyakit ", hatimu yang lemah ini mungkin kita berempat nanti harus jadi korban semua, Kini meski ia belum membocorkan rahasia kita, tapi siapa berani menjamin ia akan tutup mulut selamanya?"
Habis itu mendadak ia membcntak.
"HayoIah, turun tangan!"
Dan keempat orangpun melompat bangun cepat dan berdiri diempat sudut, dengan tepat Kwa-Tin-ok terkurung di-tengah2.
"Kwa-Iothau,"
Kata si kakek gundul dengan suara serak.
"lebih 30 tahun yang lalu kita telah menyaksikan bersama kematian Nyo Khong di sini, sungguh tidak nyani har iini kaupun menyusulnya, ini namanya sudah suratan nasib."
Tapi mendadak Kwa Tin-ok ketok keras2 tongkatnya kelantai, dengan gusar katanya.
"Nyo Kong itu terima mengaku musuh sebagai ayah, jual tanah air untuk kenikmatan sendiri, ia seorang rendah yang tak tahu malu, sedang aku Kwa Tin-ok adalah laki2 sejati yang dapat mempertanggung jawabkan segala tindak-tandukku kepada negara maupun bangsa, mengapa kau bandingkan aku Hui-nian-pian-hok dengan manusia rendah itu?"
"Hm, kematianmu sudah di depan mata, masih berlagak pahlawan gagah?"
Jengek si pendek, orang ketiga tadi.
Habis itu, mereka sama2 menghantamkan setelah tangan ke atas kepala Kwa Tin-ok.
Merasa dirinya bukan tandingan keempat lawan ini, Tin-ok berdiri tegak dengan tongkatnya tanpa menangkis.
Maka terdengarlah suara menyambarnya angin yang keras, menyusul suara "blung"
Dibarengi berhamburnya debu pasir, keempat orang itu merasa tmpat yang terkena pukulan mereka itu rasanya tidak betuI, bukannya mengenai tubuh manusia.
Segera si kakek gundul itu dapat melihat jelas dalam lingkaran yang mereka kepung itu Kwa Tinok sudah menghilang, tempat dimana orang berdiri tadi sudah tertukar patung bobrok dari kelenteng itu.
Dan karena pukulan keempat orang itu kena kepala patung, maka seketika hancur menjadi bubuk.
Keempat orang itu tiga diantaranya adalah buta, tapi si kakek gundul itu bermata tajam, namun hanya sekejap saja tahu2 Kwa Tinok bisa berubah menjadi patung, hal ini sunggun bikin terkejut tidak kepalang, empat orang itu sekaligus membalik ke beIakang.
Maka terlihatnya seorang laki2 berumur 30-an berlengan tunggal sudah berdiri disitu dengan wajah gusar, Kwa Tin-ok tercengkeram tengkuknya dan terangkat tinggi.
"Berdasar apa kau berani mencaci-maki ayah-ku?"
Demikian lelaki buntung itu membentak Tin-ok.
"Siapakah saudara?"
Tanya Tin-ok tak gentar.
"Aku puteranya Nyo Khong, Nyo Ko ada-nya,"
Sahut Nyo Ko.
"Ketika tinggal di Tho-hoa-to dulu, tidaklah jelek kau terhadapku tapi kenapa dibelakang kau memaki dan memfitnah mendiang ayahku?"
"Hm,"
Jengek Tin-ok dingin.
"sejak dahulu-kala, manusia yang mati meninggalkan nama, tapi ada juga orang yang turunkan nama busuk, baik atau busuk semuanya perbuatan manusia, mana bisa menyumbat mulut orang agar tidak menyebutkannya?"
Melihat orang sedikitpun tidak gentar, Nyo Ko tambah gusar, ia angkat tubuh Tin-ok dan dibanting kelantai sambil membentak.
"Cobalah katakan, kenapa ayahku rendah dan kotor?"
Melihat begini hebat dan tangkasnya Nyo Ko, si kakek gundul tadi diam2 menarik tiga kawannya terus hendak mengeluyur pergi, Namun sedikit Nyo Ko melesat tahu2 sudah mengadang diambang pintu.
"Hmm kalau tidak bicara yang jelas, siapapun tidak akan hidup keluar dari kelenteng ini,"
Demikian bentaknya. Mendadak keempat orang itu menggertak sekaligus dan memukul ke depan.
"Bagus!"
Sambut Nyo Ko, iapun dorong sebelah tangannya.
Belum lagi tangan beradu tangan, tahu2 keempat orang itu sudah merasa suatu tenaga pukulan yang maha besar menindih ke arah mereka.
Tanpa ampin lagi mereka terjengkang kebelakang dan menerbitkan suara gedubrakan yang keras, tubuh keempat orang menindih di atau patung tadi hingga patung itu remuk ber-keping2.
Di antara empat orang itu, siorang kedua yang punya tiga uci2 di batok kepala itu berkepandaian paling lemah, justru kepalanya tepat menumbuk dada patung itu, keruan seketika ia semaput "Kalian berempat ini siapa?
Kenapa terantai menjadi satu begini dan kenapa bisa berjanji untuk bertemu dengan Kwa Tin-ok di sini?
Tanya Nyo Ko.
Kiranya kakek, gundul ini adalah Soa Thong-thian, orang kedua yang ber-uci2 itu adalah Sute-nya, Kau Hay-thong, yang pendek kecil adalah Peng Lian-hou dan Hwesio yang tinggi besar itu adalah Lian-ti Siang jin.
Lebih 30 tahun yang lalu mereka tertangkap oleh Lo wan-tong Ciu Pek-thong dan diserahkan pada Khu Ju-ki dan Ong Ju-it untuk mengurung mereka dalam Tiong-yang kiong di Cong-Iam-san, kalau mereka sudah insaf baru akan dibebaskan.
Akan tetapi keempat orang ini sukar mengubah watak jahat mereka, dengan segala jalan mereka berusaha melarikan diri, tapi setiap kali kena dibekuk kembali.
Ketika untuk ketiga kalinya mereka hendak merat, Peng Lian Iiou, Kau Thong-hay dan Ling-ti Siangjin bertiga telah membunuh beberapa anak murid Coan-cin kau yang menjaga mereka, setelah tertangkap kembali, sebagai hukuman yang setimpal mereka telah dikutungi sebelah kaki dan mata mereka dibutakan, hanya Soa Thong-thian yang tidak mencelakai jiwa manusia, selamat kedua matanya.
Ketika Nyo Ko belajar silat di Tiong-yang-kiong, karena waktunya tidak lama, pula selalu menderita, maka keempat orang hukuman itu tak dikenalnya, Sampai 16 tahun yang lalu, ketika jago2 Mongol membakar Tiong-yang-kiong, dalam keadaan kacau-balau itu dapatlah Soa Thong-thian berempat meloloskan diri.
Dan karena ketiganya buta, terpaksa bergantung pada Soa Thong thian sebagai penuntun jalan.
Peng Lian-hou kuatir kalau orang tinggal pergi sendiri, maka ia berkeras tidak mau tanggalkan rantai yang masih mengikat tubuh mereka berempat.
Sesudah lari dari Tiong-yang-kiong, Soa Thong thian cs.
masih kuatir kalau2 dapat dibekuk kembali oleh orang2 -Coan-cin pay, maka diam2 mereki lari ke daerah Kanglam dan selalu sembunyi menyepi dipedusunan.
Hari itu kebetulan mereka ke pergok Kwa Tin-ok, ilmu silat Tin-ok jauh bukan tandingan keempat orang itu, maka sekali gebrak sudah kalah, ketika ditanya barulah diketahui Kwa Tin-ok ada keperluan dan tiada maksud mencari mereka.
Meski mereka tiada permusuhan atau dendam tapi pendirian berbeda, pula kuatir orang membocorkan tentang jejak mereka, maka Soa Thong thian cs.
bermaksud membunuh Tin ok.
Waktu itu Tin-ok berkata bahwa ia harus pergi ke Leng-oh-tin di daerah Siangcu., bila urusan selesai ia sendiri akan datang kembali buat terima kematian, kalau keempat orang itu bersedia memberi hidup lebih lama beberapa hari padanya, ia akan mengambilkan beberapa pil Kiu hoaJnok loh-wan yang sangat mujarab untuk luka2 dalam, obat buatan Ui Yok-su dari Tho-boa-tot sebagai balas budi itu.
Memangnya keempat orang itu sejak kakinya dipatahkan selalu menderita sakit encok yang jahat, kini mendengar Tin-ok bersumpah takkan membocorkan tempat sembunyi mereka, juga takkan mengajak pembantu, barulah kemudian mereka tetapkan harinya untuk bertemu kembali di kelenteng Ong-tiat-jiang di Ka hin ini.
BegituIah sehabis menutur kejadian2 itu, lalu Soa Thong-thian berkata.
"Nyo-kongcu, waktu ayahmu masih hidup, kami semuanya adalah tamu undangannya, Sampai ia meninggal, kami sedikitpun tidak salah padanya, maka haraplah suka mengingat kebaikan dulu2 itu dan membiarkan kami pergi!"
Dahulu Soa Thong-thian cs.
adalah jago2 kelas tinggi di kalangan Kangouw, sekalipun golok mengancam ditengkuknya juga tak nanti gentar, tapi sejak mereka dikurung lama, kaki buntung, mata buta, jiwa mereka menjadi melempem, semangat jantan hilang, kini tanpa segan2 mohon ampun pada Nyo Ko.
Tapi Nyo Ko tak menggubris mereka, katanya pula pada Kwa Tin-ok.
"Kau pergi ke Leng-oh tin, apakah untuk menemui Thia Eng daa Liok Bu siang taci beradik? Dan untuk urusan apa?"
Tiba2 Tio-ok menengadah tertawa panjang, katanya.
"Wahai Nyo Ko, Nyo Ko, kau bocah ini benar2 tak tahu urusan!"
"Kenapa aku tak tahu urusan?"
Lahut Nyo Ko gusar.
"Aku Hui-thian-pian-bok (kelelawar terbang di langit, julukan Tin-ok) sudah tidak pikirkan jiwa lapuk ini lagi, sekalipun di masa muda, aku KwaTin-ok juga tak pernah takut pada siapapun, betapa tinggi ilmu silatmu paling banyak hanya dapat me-nakut2i sebangsa manusia2 yang takut mati dan tamak hidup, tapi Kanglam chit-koay apa kau kira kena digertak orang?"
Demikian sahut Tin ok. Melihat sikap orang yang gagah berani, tanpa terasa Nyo Ko menaruh hormat, maka katanya tagi.
"Kwa-Iokongkong, ya, akulah yang salah tapi lantaran kata2-mu tadi menghina mendiang ayahku, terpaksa aku berlaku tidak sopan. Nama Kwa kongkong terkenal diseluruh jagat, Nyo Ko sejak kecil juga sangat kagum, selamanya tak berani kurangajar."
"Beginilah baru pantas,"
Ujar Tin-ok.
"Aku melihat kelakuanmu tidak jelek, pula telah berjasa besar di Siangyang, maka aku anggap kau adalah tokoh kelas satu. Tapi kalau macam ayahmu dahulu, sekalipun berbicara saja aku merasa mual."
Amarah Nyo Ko berkobar lagi oleh olok2 itu, dengan suara keras ia tanya.
"Sebenarnya ayahku berbuat salah apakah, coba terangkan."
Harus diketahui bahwa di antara kawan2 yang pernah dikenal Nyo Ko tidak sedikit orang yang ibu seluk beluk ayahnya dahulu, tapi karena sungkan mengolok2 ayah seorang "Sin-tiau-hiap"
Maka semua orang sungkan membicarakannya, sekalipun ditanya Nyo Ko sendiri.
Namun dasar Kwa Tin-ok selamanya pandang kejahatan sebagai musuh, wataknya keras jujur, ia tak urus apakah ceritanya nanti akan menyinggung perasaan Nyo Ko atau tidak, segera saja ia ceritakan seluruhnya dari awal sampai akhir, tentang bagaimana Nyo Khong tak kenal budi, malahan sekongkoI dengan Auyang Hong hingga lima kawannya dari Kanglam-chit-koay terbinasakan dan akhirnya menggaplok punggung Ui Yong, tapi senjata makan tuan, duri landak kutang Ui Yong yang tanpa sengaja tertempel racun ularnya Auyang Hong itu malah membinasakan Nyo Khong sendiri.
"Kejadian pada malam itu, beberapa orang inipun menyaksikannya, Soa Thong thian, Peng Lian hou, coba kalian katakan, apakah aku Kwa-Iothai pernah berbohong?"
Demikian kata Tin-ok akhirnya.
Beberapa perkataan paling akhir ini diucapkannya dengan sangat keras hingga bikin kaget beberapa puluh ekor burung gagak yang berada di menara kelenteng itu terbang ke udara dengan suara yang berisik.
"Ya, malam itu juga terdapat burung2 gagak begini..."
Tutur Soa Thong-thian.
"Nih, tanganku ini justru karena digaruk sekali oleh Nyo-kongcu, kalau Peng-hengte ini tidak cepat bertindak tanganku ini terus ditabasnya, mungkin jiwaku akan dan melayang pada malam itu juga."
Sungguh tidak kepalang rasa pedih dan pilu Nyo Ko pada saat itu, ia memegangi kepalanya dan duduk termangu2 dengan muka muram, sekali2 tak diduganya bahwa ayahnya ternyata seorang yang begitu jahat dan keji, sekalipun namanya dan perbuatannya sendiri sekarang lebih cemerlang juga sukar mencuci bersih noda ayahnya itu.
Begitulah, untuk sesaat di dalam kelenteng menjadi sunyi, keenam orang tiada yang buka suara, hanya suara gaok masih terus berisik tiada hentinya.
Selang agak lama, berkatalah Kwa Tin-ok.
"Nyo-kongcu, kau telah berjasa besar di Siangyang, betapapun dosa ayahmu juga sudah tertutup semua, Di alam baka pasti ia akan senang karena kau bisa tebus kesalahan orang tua."
Nyo Ko coba merenungkan segala apa yang dialaminya selama ini, sejak ia kenal suami isteri Kwe Cing, selalu Ui Yong menaruh prasangka padanya, segala kesalah pahaman dulu2 semuanya disebabkan ayahnya itu.
Tapt kalau tiada ayah darimanakah datangnya dirinya ini?
Namun banyak kematian dan rasa kesalnya selama ini sesungguhnya juga gara2 perbuatan mendiang ayahnya.
Tanpa terasa ia menghela napas panjang oleh segala suka duka itu.
"Kwa-lokongkong,"
Tanyanya kemudian.
"Apakah Thia Eng dan Liok Bu-siang berdua taci beradik baik2 saja?"
"Ya, mereka menjadi begitu girang ketika mendengar kau membakar gudang perbekalan musuh di Sinyang dan membasmi dua ribu pasukan perintis Mongol,"
Sahut Tin-ok.
"la tanya pula tentang keadaanmu selama ini dan berita Siao-liong-Ii, nyata kedua taci-beradik itu sangat terkenang padamu,"
"Ai, kedua adik ini juga sudah 16 tahun aku tak melihatnya,"
Kata Nyo Ko kemudian habis itu mendadak ia menoleh terus membentak pada Sa Thong thian.
"Nah, Kwa-kongkong sudah berjanji hendak serahkan jiwanya pada kalian, ia orang tua selamanya sekali bicara tidak pernah pungkir janji, sekarang kalian lekas turun tanganlah, dan sesudah kalian membunuhnya baru aku membunuh juga kalian berempat anjing ini untuk membalaskan sakit hatinya."
Soa Thong thian dan Peng Lian-bou menjadi tertegun, sungguh mereka tidak pernah dengar ada bunuh membunuh cara demikian. Maka kata So Thong thian kemudian.
"Nyo-tayhiap, kami tuli tahu hingga berlaku kurangajar pada Kwa lohiap (pendekar tua Kwa), harap kalian berdua suka memaafkan kami."
"Jika begitu, nah, ingat baik2, kalian sendiri yang tidak menepati janji dan tak inginkan jiwa Kwa-kongkong,"
Kata Nyo Ko.
"Ya, ya,"
Sahut Soa Thong thian cepat.
"Terhadap budi luhur Kwa-lohiap kami selamanya juga sangat kagum."
"Nah, sekarang lekas enyah, lain kali jangan ke tumbuk lagi ditanganku,"
Bentak Nyo Ko.
Keruao Soa Thong-thian cs.
seakan2 mendapat lotere, sesudah memberi hormat, dengan cepat mereka lari keluar kelenteng itu.
Nyo Ko menolong jiwa Kwa Tin-ok itu sangatlah menjaga kehormatannya sebagai seorang ksatria, tentu saja Kwa Tin-ok berterima kasih.
Dan sesudah membersihkan pecahan patung di ruangan itu, lalu mereka berduduk untuk omong2.
"Aku pergi ke Leng-oh-tio adalah sebab urusan Kwe-ji-kohnio,"
Demikian tutur Tin-ok.
"Ha,"
Nyo Ko rada terkejut "Ada apakah nona kecil ini?"
"Kedua puteri Kwe Cing itu masing2 punya kenakalannya sendiri2, sungguh bikin orang kepala pusing,"
Ujar Tin-ok.
"Entah mengapa, tiba2 Kwe Yang si anak dara itu meninggalkan rumah tanpa pamit entah ke mana, Sudah tentu orang tuanya menjadi kelabakan, ke-mana2 orang dikirim untuk mencarinya, tapi sama sekali tiada kabar beritanya, karena aku si buta ini tiada pekerjaan apa2 di Siangyang, maka aku juga keluar untuk mencarinya. Jurusan timur, utara dan barat sudah ada orang yang pergi, aku lebih paham keadaan daerah Kanglam maka aku lantas ke selatan sini."
"Dan apakah sudah mendapatkan beritanya?"
Tanya Nyo Ko.
Beberapa hari yang lalu secara kebetulan aku mendengar percakapan dua orang kurir bangsa Mongol, katanya puteri kecil Kwe-tayhiap dari Siang-yang telah tertawan ke dalam pasukan Mongol mereka.
"Haya! Apakah kabar ini betul atau bohong?"
"Kedua kurir Mongol itu berbicara dalam bahasa mereka dan menyangka tiada orang lain yang paham, tak tahunya aku pernah tinggal belasan tahun di negeri Mongol, tentu saja semuanya kudengar dengan jelas,"
Kata Tin-ok pula.
"He, kalau begitu jadi berita ini tidaklah bohong?"
Tanya Nyo Ko terkejut.
"Ya, maka dalam gusarku segera kupersen ke-dua kurir Mongol itu masing2 sebiji "Tok-cit-le"
Dan hendak kulapor ke Siangyang, siapa tahu di tengah dan kepergok empat setan tadi,"
Tutur Tin-ok "
Aku pikir jiwaku tidak jadi soa!, tapi berita nona Kwe Yang harus disampaikan makanya aku minta mereka memberi kelonggaran beberapa hari, kupergi jke Leng-oh tin yang berdekatan dan memberitahukan pada Thia Eng dan Liok Bu siang.
Mendengar berita itu, segera kedua nona itu berangkat ke utara dan aku menepati janji datang kemari mengantarkan kematian.
Sungguh tidak nyana sekarang ke empat setan jahat ini sendiri tak dapat dipercaya, sampai saat terakhir mereka tidak berani -turun tangan.
Haha, hahaha!"
"Apakah Kwa-kongkong pernah mendengar cerita kedua kurir Mongol itu tentang cara bagaimana tertawannya nona Kwe dan apakah berbahaya jiwanya?"
Tanya Nyo Ko sesudah pikir sejenak.
"ltulah aku tidak mendengar,"
Sahut Tin-ok.
"Urusan ini sangat gawat, sekarang juga boanpwe pergi ke sana dan berusaha menolong sebisanya,"
Kata Nyo Ko pula.
"Dan Kwa-kongkong sendiri bolehlah menyusul belakangan saja."
"Baiklah, ada kau yang pergi menolongnya, hatiku akan merasa lega, biarlah aku menunggu kabar baik saja di Siangyang,"
Sahut Tin ok. Nyata sejak menyaksikan apa yang dilakukan Nyo Ko di Siangyang tempo hari, hati orang tua ini sudah sangat kagum atas kemampuannya.
"Tapi Wanpwe ada sesuatu permintaan aku mohon bantuanmu Kwa-kongkong."
Pinta Nyo Ko "Yalah sukalah kau mengganti sebuah batu nisan kuburan ayahku, tulislah puteranya Nyo Ko yang mendirikannya."
"Baiklah, pasti akan kukerjakan dengan baik,"
Sahut Tin ok.
Dan berangkatlah Nyo Ko segera sesudah memberi hormat pad orang itu.
ia membeli dua ekor kuda dulu di Ka-hin dan sepanjang jalan bergantian kuda terus menuju ke Sin-yang tanpa berhenti Maka tidak seberapa hari sudah dekatlah dengan perkemahan pasukan Mongol.
Kiranya raja Mongol yang pimpin pasukan hendak menggempur Siangyang ini, ketika tanpa tahu sebab musababnya kedua pasukan perintisnya terbasmi di Sinya dan Tengciu, ia menjadi ragu2 akan kekuatan pasukan Song yang sebenarnya, maka pasukan induknya berkemah di antara Lamyang, kedua pihak belum pernah bertempur.
Maka terlihatlah panji2 ber-kibar2, senjata gemerlapan, perkemahan yang ber-deret2 memanjang tak kelihatan ujungnya.
Menunggu sesudah malam, Nyo Ko menyelundup ke perkemahan musuh untuk menyelidiki, ia lihat penjagaan sangat keras, disiplin sangat baik.
Kekuatan tentara Mongol itu memang sangat hebat.
Lebih2 kemah di mana raja berdiam, penjagaan lebih ketat lagi.
Meski tinggi ilmu silat Nyo Ko, tapi di ketahuinya tidak sedikit orang2 gagah dalam pasukan musuh, betapapun tangkas sukar juga melawan orang banyak, maka iapun tak berani sembarangan unjuk diri.
Malam itu ia hanya dapat menyelidiki perkemahan bagian timur, besoknya dilanjutkan bagian selatan dan lain hari perkemahan barat, ber-turut2 empat malam empat bagian pertengahan musuh itu selesai diintainya, tapi masih belum memperoleh kabar berita Kwe Yang itu.
Akhirnya Nyo Ko menawan seorang perwira musuh, di bawah ancaman perwira itu telah mengaku terus terang bahwa sesungguhnya tidak pernah terdengar tentang puteri Kwe Cing dari Siangyang.
Namun Nyo Ko masih ragu2, ia selidiki lagi beberapa hari, kemudian baru percaya memang Kwe Yang tidak disekap di situ, Pikirnya.
Againya Kwe-pepek sudah dapat menolong puterinya pulang, atau mungkin kedua kurir Mongol itu juga mendengar dari orang lain jadi hanya berita bohong-belaka.
Sementara itu musim scmi sudah tiba, bunga mekar mewangi.
janji Siao-liong-Ii 16 tahun yang lalu sudah hampir tiba, maka Nyo Ko lantas menuju ke utara, pergi ke Coat-ccng-kok atau lembah putus cinta.
* * * * Mengenai Kwe Yang hari itu setelah disaksikannya Kim-Iun Hoat-ong secara keji membinasakan Tiang-jiu kui dan Toa-thau-kui berdua, dalam hati ia menjadi berduka, iapun insaf takkan bisa lolos dari cengkeraman elmaut, maka dengan tegak ia menantang.
"Hayolah, bunuhlah aku, tunggu apalagi?"
"Hendak membunuh kau adalah terlalu mudah?"
Sahut Kim lun Hoat-ong tertawa "
Tapi hari ini aku sudah membunuh dua orang, sudah cukup, lewat berapa hari lagi nanti akan kusembelih kau. Sekarang lekas turut aku pergi."
Kwe Yang pikir percuma saja hendak membangkang, biarlah nanti tunggu kesempatan untuk meloloskan diri, Maka iapun cempIak ke atas kuda dan jalan pelahan.
Tentu saja Kim-Iun Hoat-ong sangat senang, pikirnya.
Hongsiang dan Hongte (raja dan adik Raja) ingin sekali mencabut jiwa Kwe Cing, tapi selama ini tidak berdaya, Hari ini aku dapat menawan puteri kesayangannya, dengan sandera ini mau tak mau Kwe Cing harus tunduk kepala dan turut perintah, seumpama Kwe Cing tak mau takluk, pelahan kita siksa lahir batin nona ini dibawah benteng dihadapan Kwe Cing, biar dia ngenas dan kacau pikiran, tatkala itu sekali gempur pasti Siangyang akan bobol.
Sampai hari sudah malam, mereka mondok di-rumah tepi jalan, Tapi penghuni rumah sudah kabur, rumah itu kosong melompong.
Hoat-ong mengeluarkan rangsum kering dan diberikan sedikit pada Kwe Yang, anak dara itu disuruh tidur di dalam kamar, ia sendiri duduk sila bersemedi di ruangan luar.
Kwe Yang gulang-guIing dipembaringannya tak bisa pulas.
Sampai tengah malam, secara berindap-indap ia mengintip ke ruangan tengah, ia lihat Hoat-ong masih duduk sila menghadap tembok, sayup2 terdengar suara mendengkurnya pelahan, agaknya sudah tertidur.
Girang sekali Kwe Yang, pelahan2 ia melompat keluar jendola, ia robek kain buntalannya menjadi empat buat bungkus telapak kaki kuda, lalu binatang itu dituntunnya pelahan, Sesudah agak jauh dan melihat Hoat ong tidak mengejar barulah ia cemplak kuda dan dilarikan secepat terbang.
Ia pikir kalau Hoat ong mengetahui dirinya sudah lari, maka akan mengejarnya kearah Siangyang, jadi ke selatan, tapi sekarang ia sengaja berlari ke jurusan barat laut, betapapun dia takkan menemukan aku, Begitulah ia keprak kudanya sekaligus berlari lebih satu jam, karena binatang itu sudah payah, barulah ia lambatkan setindak demi setindak, sepanjang jalan ia selalu menoleh kalau2 Hoat-ong mengejarnya, sampai hari sudah terang tanah, kira2 sudah beberapa puluh li jauhnya, hati anak dara ini barulah lega.
Sementara itu ia telah memasuki suatu jalan kecil pegunungan yang menanjak, makin lama makin tinggi, setelah membelok ke sana, tiba2 terdengar suara ngorok orang tidur sekeras guntur, seorang terlentang melintang di tengah jalan lagi mendengkur.
Ketika Kwe Yang mengawasinya hampir saja ia merosot jatuh dari kudanya.
Ternyata orang yang malang melintang di tengah jalan itu berkepala gundul dan berjubah kuning siapa lagi dia kalau bukan Kim-lun Hoat-ong, sungguh sukar dimengerti cara bagaimana orang tahu2 sudah berada dibagian depannya malah.
Lekas2 Kwe Yang memutar kudanya terus lari ke bawah bukit, ketika ia menoleh, Hoat-ong tertampak masih enak2 tidur tak mengejarnya.
Sekali ini ia tidak menuju ke jalan tadi, tapi ke arah tenggara, ke tempat yang sepi, Setelah setanakan nasi, tiba2 terlihat di atas suatu pohon di depan sana ada seorang menjungkir, kedua kakinya menggantoI pada dahan pohon dan sedang menyengir padanya, Kurangajar!
Siapa lagi dia kaku bukan Hoat-ong?
Namun Kwe Yang tidak lagi terkejut, sebaliknya ia menjadi gusar, damperatnya.
"Hwesio keparat, kau mau mencegat boleh cegat saja, kenapa mesti permainkan nonamu?"
Habis berkata, ia keprak kudanya ke depan, ketika sudah dekat, mendadak pecutnya disabetkan ke muka orang.
ia lihat Hoat ong sama sekali tidak berkelit, tepat sekali ujung pecut mengenai mukanya, Pada saat itu juga kuda tunggangan Kwe Yang sudah nelewati tubuh Hoat-ong yang tergantung itu, ketika Kwe Yang menarik pecutnya, mendadak suatu tenaga maha besar telah melibatnya hingga tanpa kuasa tubuhnya mencelat ke udara.
Kiranya ketika pecut sampai dimuka Hoat-ong, secepat kilat Hoat-ong buka mulut dan gigit kening2 ujung pecut, karena tubuhnya tergantung menjungkir, maka ia terayun tinggi ke atas hingga Kwe Yang ikut terangkat.
Meski tubuh di atas udara, namun Kwe Yang tidak menjadi gugup, ketika dilihatnya Hoat ong hendak mengayunnya kembali, cepat ia lepaskan pecutnya terus terlepas ke bawah.
Hoat-ong terkejut, ia kuatir anak dara itu terbanting luka, maka cepat melompat turun dulu dan menangkapnya sambil berseru.
"Awas!"
Tapi Kwe Yang juga tidak kurang cerdiknya, ia sengaja ber-teriak2.
"Tolong!" -Dan ketika tubuhnya sudah dekat Hoat-ong, mendadak kedua tangannya memukul berbareng, tepat sekali dada Hoat-ong kena digenjotnya. Serangan Kwe Yang ini cepat sekali lagi di luar dugaan, sekalipun ilmu silat Hoat-ong sangat tinggi, orangnya juga cerdik, namun tak sanggup berkelit lagi, kedua kakinya menjadi lemas dan orangnya terkulai ke tanah, kaku tak berkutik Tidak tersangka oleh Kwe Yang bahwa sekali akan berhasil, karuan ia kegirangan cepat ia angkat sepotong batu besar terus hendak dikepruk ke atas kepala Hoat-ong yang gundul itu. Tapi selamanya belum pernah ia membunuh orang, meski ia benci orang telah membunuh dua kawannya, namun ketika hendak turun tangan hatinya menjadi tak tega, ia tertegun sejenak, lalu batu besar itu diletakkannya kembali. Sebagai gantinya ia tutuk "Thian-teng-hiat"
Di tengkuk Hoat-ong.
"Peng-hong-hiat"
Dipunggung.
"Sin-hong-hiat"
Di dada.
"Jing ling-hiat"
Di lengan dan "Hok-hou-hiat"
Di atas mata, sekaligus tanpa berhenti ia tuluk tiga belas tempat jalan darah orang, anak dara ini masih belum puas, ia angkat empat potong batu yang beratnya hampir beratus kati, batu2 itu ia tindih di atas badan Hoat-ong.
"Wahai, Hwesio jahat, hari ini nona tidak ingin membunuh kau, maka selanjutnya harus kau perbaiki diri dan jangan mencelakai orang lain lagi,"
Demikian kata Kwe Yang kemudian.
Habis itu, ia kebut2 bajunya yang berdebu, lalu cemplak kudanya hendak tinggal pergi.
Namun kedua mata Kim-lun Hoat ong yang ber-kilau2 terus memandanginya, tiba2 katanya dengan tertawa.
"Hati nona cilik ternyata berprikemanusiaan, Hwesio tua sangat suka padamu."
Lalu terdengarlah suara keras beberapa kali, beberapa potong batu tadi telah membal semua, lalu orangnya melompat bangun, aneh, entah mengapa, ke-13 tempat jalan darah yang ditutuk Kwe Yang tadi sudah terlepas semua.
Dalam terkejutnya hingga Kwe Yang ternganga tanpa bisa buka suara.
Kiranya meski Hoat-ong terkena pukulannya tadi, dadanya terasa sakit juga, tapi selisih kepandaian mereka terlalu jauh, mana mungkin dua kali pukul itu Kwe Yang merobohkan Hoat-ong?
Apalagi hendak menutuknya hingga tak berkutik?
ia hanya pura2 saja dan hendak melihat apa yang hendak diperbuat anak dara itu.
Ketika melihat Kwe Yang tak jadi mengepruknya dengan batu, diam2 ia merata suka akan kebaikan hati anak dara itu, pintar dan cerdik, jauh lebih baik daripada murid2 yang pernah ia terima.
Tanpa terasa timbul keinginan Hoat-ong akan menjadikan Kwe Yang sebagai muridnya, apalagi mengingat usianya sudah lanjut, sedang muridnya yang dulu seperti Darba, orangnya jujur, bertenaga raksasa, tapi otaknya kurang tajam untuk bisa memahami intisari pelajaran Lwekang yang tinggi, sering Hotu orangnya tak berbudi, dalam keadaan berbahaya tidak segan2 selamatkan diri dan menjerumuskan guru malah.
Karena itu, kadang2 Hoat-ong menjadi sedih, kuatir ilmu kepandaiannya itu akan terpendam begitu saja.
Kini melihat Kwe Yang berbakat bagus, boleh dikatakan susah dicari, walau puteri musuh, tapi usianya masih muda.
tidaklah sukar untuk mengubahnya, asal diajarkan ilmu kepandaian hebat padanya, lama2 dengan sendirinya anak dara itu akan melupakan segala persoalan yang Ialu.
Justeru orang2 Bu-lim atau kalangan persilatan pada umumnya sangat pandang berat soal murid dan keturunan, sekali Hoat ong timbul pikiran begitu, untuk sementara soal2 menggempur Siangyang memaksa Kwe Cing menyerah dan lain2, telah di-kesampingkannya semua.
Melihat biji mata orang mengerling tajam, tapi tidak buka suara, segera Kwe Yang melompat turun dari kudanya dan katanya.
"Kepandaian Hwesio tua memang hebat, sayangnya, tidak mau berbuat baik."
"Kalau kau kagum kepandaianku, asal kau angkat guru padaku, aku lantas ajarkan seluruh kepandaianku ini padamu,"
Ujar Hoat-ong tertawa.
"Cis"
Semprot Kwe Yang.
"Guna apa aku mempelajari kepandaian Hwesio? Toh aku tidak ingin menjadi Nikoh?"
"Apakah belajar kepandaianku harus menjadi Nikoh?"
Sahut Hoat-ong tertawa.
"Kau menutuk jalan darahku, aku bisa meIepaskan diri. Kau menindih badanku dengan batu2 besar, batu2 itu bisa terpental sendirinya. Kau lari menunggang kuda, tahu2 aku sudah tidur di depanmu, apakah semua kepandaian ini tidak menarik?"
Kwe Yang pikir kepandaian2 itu memang menarik juga, tapi Hwesio tua ini adalah orang jahat mana boleh mengangkat guru padanya?
Pula ia sendiri buru2 hendak mencari Nyo Ko, tiada tempo buat mengobrol maka katanya sambil geleng kepala.
"Lebih tinggi lagi kepandaianmu juga tak mungkin kuangkat sebagai guru."
"Darimana kau tahu aku orang jahat?"
Tanya Hoat ong.
"Sekali hantam kau telah membinasakan Tiang jiu-kui dan Toa thau-kui, apakah itu tidak jahat?"
Sahut Kwe Yang.
"Mereka tiada dendam dan tidak bermusuhan dengan kau, kenapa kau turun tangan begitu keji?"
"Itu justru karena aku hendak mencari kuda untukmu, mereka sendiri yang menyerang aku lebhih dulu, kau sendiri menjadi saksi tadi."
Kata Hoat ong.
"Coba, bila kepandaianku sedikit rendah, mungkin aku sudah mati dihantam mereka. seorang Hwesio harus welas-asih, kalau tidak terpaksa, tidak nanti membunuh orang."
Tapi Kwe Yang menjengek tak percaya, Katanya.
"Dan bagaimana kehendakmu sehenarnya? Kalau kau orang baik2, kenapa aku tak boleh pergi?"
"Bila aku larang kau pergi?"
Sahut Hoat-ong.
"Kau menunggang kuda ke timur, tidak larang, ke barat, aku juga tidak mencegah, aku hanya tidur di tengah jalan, apakah aku menghalangi kau?"
"Jika begitu, kau lepaskan aku pergi mencari Nyo Ko, Nyo toako, dan jangan mengikuti aku,"
Kata Kwe Yang.
"Itu tak boleh"
Ujar Hoat-ong geleng kepala.
"Kau harus mengangkat guru padaku. belajar silat 20 tahun dengan aku, habis itu, kemana kau pergi, siapa ingin kau cari, boleh sesukamu."
"Kau Hwesio ini kenapa begini tak tahu aturan, aku tidak suka angkat guru padamu, kenapa kau paksa?"
Damprat Kwe Yang.
"Kau anak dara cilik inilah yang tidak kenal adat, guru pandai seperti aku, kemana bisa kau cari di seluruh jagat?"
Sahut Hoat-ong pula.
"Sekalipun orang lain menyembah tiga kali padaku dan mohon dengan sangat agar aku menerimanya sebagai murid, belum tentu aku mau. Tapi kini kau diberi kesempatan bagus, kau malah berlagak jual mahal, sungguh aneh?"
"Tak malu, hm, tak malu,"
Tiba2 Kwe Yang meng olok2.
"Macam guru apakah kau ini? Paling banyak kau bisa menangkan aku seorang gadis cilik, apanya harus diherankan? Tapi apa kau bisa menangkan ayah-ibuku? Bisa menangkan Gwakong ku Ui Yok-su? jangankan mereka seumpama Toakoko Nyo Ko saja, kau tak sanggup melawannya!"
"Siapa bilang? Siapa bilang aku tak sanggup melawan Nyo Ko si anak ingusan?"
Tanya Hoat ong cepat tanpa pikir.
"Semua ksatria, setiap pahlawan di kolong langit ini semua bilang begitu,"
Sahut Kwe Yang.
"Tempo hari waktu ada pertemuan besar para pahlawan di Siangyang, semuanya juga bilang bahwa tiga orang Kim lun Hoat-ong takkan mampu menangkan seorang Sin-tiau-tayhiap Nyo Ko yang berlengan tunggal."
Sudah tentu apa yang dikatakannya memang untuk bikin marah Kim-lun Hoat-ong saja, namun yang omong tidak sengaja, yang mendengar justru kena.
Sebab belasan tahun yang lalu memang benar2 beberapa kali Kim-lun Hoat-ong dikalahkan oleh Nyo Ko, ia sangka ini kejadian benar2 selalu dibuat buah tutur semua ksatria diseluruh jagat.
Keruan tidak tahan api amarahnya, bentaknya segera.
"Jika Nyo Ko si anak busuk itu berada di sini, biar dia mengicipi lihaynya aku punya "
Liong-jio pan-yok-kang " (ilmu sakti tenaga naga dan gajah), setelah dia tahu rasa barulah akan ketahuan sebenarnya dia Nyo Ko lebih hebat atau aku Kim-lun Hoat-ong yang lebih lihay."
Pikiran Kwc Yang jadi tergerak melihat orang benar2 penasaran maka katanya pula.
"Ah, sudah terang kau tahu Toakoko ku sekarang tidak berada disini, lantas kau meniup harga diri setinggi langit, coba kalau kau bernyali besar, kenapa tak kau pergi mencarinya untuk bertanding? Kau punya ilmu sakti tenaga babi dan anjing..!."
"llmu sakti naga dan gajah!"
Demikian Hoat-ong memotong membetulkan.
"Kalau kau menangkan dia, barulah naga dan gajah, tapi kalau kau tak tahan sekali gebuk, paling banyak hanya jadi babi dan anjing saja!"
Ujar Kwe Yang.
"Jika ilmu silatmu bisa menangkan dia, tak perlu kau paksa aku, dengan sendirinya aku menyembah kau sebagai guru, Cuma aku yakin mungkin kau tak berani mencari dia, maka percuma soal ini dibicarakan. Menurut aku, boleh jadi melihat bayangannya saja kau sudah ketakutan dan lari ter birit2."
Hoat-ong adalah seorang cerdik, sudah tentu iapun tahu akan kata2 pancingan Kwe Yang. Tapi selama hidupnya ia sangat tinggi menilai dan lantaran pernah dikalahkan Nyo Ko, maka sekarang "
Ilmu sakti bertenaga naga dan gajah-nya sudah dilatihnya hingga tingkatan ke-11, memangnya ia sudah mencari Nyo Ko buat tuntut balas ketika dahuIu, Kini mendengar kata2 Kwe Yang itu, tak tahan ia menyahut keras2.
"Tadinya aku bilang Nyo Ko berada di mana, itu melulu untuk membohongi ktu, sayangnya aku jusleru tak tahu anak itu mengumpat di mana, bila tahu, ha, ajaklah kalau aku tidak meluruk ketempatnya dan menghajarnya hingga dia me-nyembah2 minta ampun!"
"Hahahaha,"
Tiba2 Kwe Yang ter-kekeh2, tembangnya bertepuk tangan.
Hwesio gundul membual anggap diri tiada bandingan, sekali melihat Nyo Ko datang, tancap gas lari tunggang Ianggang!.
Hoat ong menjengeknya sekali lalu membisu tanpa berkata.
"Ya, meski aku tidak tahu sekarang Nyo Ko berada di mana sekarang, tapi lewat sebulan lagi pasti ia akan datang ke suatu tempat, hal itu aku malah tahu,"
Kata Kwe Yang kemudian.
"Datang ke mana?"
Tanya Hoat-ong.
"Percuma juga kukatakan padamu? Toh kau lak berani pergi menemuinya. jangan2 nanti bikin kau tak ?nak makan tak nyenyak tidur,"
Kala Kwe Yang, Hoat-ong menjadi gemas kena di kili2.
"Katakan, coba katakan!"
Teriaknya sengit.
"la akan datang ke Coat ceng kok, di atas jurang Toan-jong-ke, ia akan bertemu kembali dengan isterinya, Siao-liong-li,"
Kata Kwe Yang.
"Tapi, Hwesio besar, ada lebih baik jangan kau antar kematian ke sana, seorang Nyo Ko saja bikin hati terkejut dan daging kedutan, apalagi ditambah seorang Siao-Iiong li."
Memangnya selama belasan tahun ini Kim-lui Hoat-ong giat berlatih "ilmu sakti bertenaga nagi dan gajah"
Justru maksudnya ingin melawan "Giok li-soh-sim-kiam-hoat"
Yang dimainkan Nyo Ko dan Siao-liong-li bersama, kalau dia tidak yakin akan satu dapat mengalahkan dua, tak nanti ia datang ke daerah Tionggoan lagi, Kini kena di kili2 Kwe Yang, ia menjadi semakin murka, dari murka iapun tertawa maIah.
"Ya, marilah sekarang juga kita pergi ke Coat-ceng-kok, kalau aku dapat mengalahkan Nyo Ko dan Siao-Iiong-li berdua, lalu bagaimana nanti?"
Tanyanya segera.
"Jika benar2 ilmu silatmu begitu tinggi, hm, masakah aku tidak cepatan mengangkat guru pada-mu? Bukankah itu sukar dicari?"
Sahut Kwe Yang.
"Cuma sayang, Coat-ceng-kok itu tempatnya jauh dan sepi, tidak mudah hendak mencarinya."
"Kebetulan aku pernah ke sana, tak perlu kau kuatir,"
Ujar Hoat-ong tertawa.
"Dan kini waktunya masih cukup lama, mari kau ikut kupergi ke perkemahan pasukan Mongol dulu, setelah selesai kan beberapa urusan, lantas kita pergi ke Coat ceng-kok."
Mendengar orang mau pergi ke Coat-ceog-kok untuk bertanding dengan Nyo Ko, dalam hati Kwe Yang menjadi sangat lega, pikirnya diam2.
"Kuatirku kalau kau tak mau pergi kesana, Kini kau mau pergi sendiri, ha, tahu rasa kau nanti! Kau Hwesio jahat ini tampaknya garang, nanti kalau sudah ketemu Toakoko, mungkin kau akan mcngkerel seperti celurut."
Maka iapun pergilah ikut Hoat-ong ke tengah pasukan Mongol.
Waktu itu yang dipikir oleh Hoat-ong hanya ingin menjadikan Kwe Yang sebagai murid ahliwaris-nya, ia yakin asal dapat menaklukkan hati anak dara ini, kelak tentu akan menjadi muridnya yang terkemuka, Mata sepanjang jalan ia sangat ramah tamah pada si nona.
Harus diketahui, dalam kalangan Bu-lim, guru pandai susah dicari, tapi murid berbakat juga sukar didapatkan, murid harus pilih guru, guru juga ingin pilih murid.
Begitulah sepanjang jalan Hoat-ong selalu ajak bicara dan bergurau dengan Kwe Yang, ia semakin merasakan anak dara ini sangat pintar, otaknya tajam, diam2 ia sangat girang.
Kadang2 bila Kwe Yang berduka oleh kematian Toa-thau-kui dan Tiang-jiu-kui dan mencela kekejian Hoat ong, selalu Hoat-ong anggap sepi saja tanpa gusar, malahan ia anggap anak dara ini seorang berperasaan tidak seperti Hotu yang rendah budi.
Pasukan Mongol di mana Hoat-ong membawa Kwe Yang ke sana adalah perkemahan pasukan bagian selatan yang dipimpin Kubilai, adik raja Mongol tatkala itu, sebaliknya tempat yang dicari Nyo Ko adalah pasukan utara yang dipimpin Monko, si raja sendiri, Soalnya karena percakapan kedua kurir Mongol yang didengar Kwa Tin-ok itu kurang lengkap hingga Nyo Ko buang2 tempo percuma padahal waktu Nyo Ko berangkat ke Coat-ceng kok, tidak lama Hoat-ong dan Kwe Yang juga lantas berangkat seperti sudah direncanakan itu.
Jarak mereka tiada ratusan li, tapi jalan Nyo Ko lebih cepat, pula tidak sabar karena ingin lekas bertemu dengan Siao liong li, maka ia tiba lebih dulu beberapa hari daripada Hoat-ong dan Kwe Yang.
Di lain pihak, sejak minggatnya puteri bungsunya itu, siang malam Kwe Cing dan Ui Yoc sangat berkuatir.
Belasan hari kemudian, beberapa anak murid Kay-pang yang ditugaskan pergi mencari kabar juga pulang dengan tangan hampa.
Selang beberapa hari pula, mendadak Thia Eng dan Bu siang datang di Siangyang dan membawa kabar buruk berasal dari Kwa Tin-ok itu bahwa Kwe Yang telah tertawan oleh pasukan Mongol.
Keruan Kwe Cing dan Ui Yong sangat terkejut.
Malam itu juga Ui Yong bersama Thia Eng lantas menyelidiki ke perkemahan musuh, tapi serupa saja seperti Nyo Ko, merekapun tidak memperoleh suatu tanda2.
Bahkan malam ketiga mereka kcpergok patroli Mongol hingga Ui Yong dan Thia Eng terkepung beberapa puluh perwira, syukur Ui Yong dan Thia Eng bukanlah orang lemah, dengan ilmu silat mereka yang hebat akhirnya dapat lolos dari kepungan musuh.
Melihat gelagatnya, Ui yong menduga puteri kecil itu tentu tiada di dalam pasukan Mongol itu, tapi sedikitpun belum mendapatkan beritanya, inilah bukan alamat baik, maka sesudah berunding dengan Kwe Cing, ia putuskan akan keluar kota mencari sendiri ia membawa sepasang rajawali putih piaraannya itu itu untuk menjaga bila perlu dapat dibuat mengirim surat.
Thia Eng dan Liok Bu siang berkeras ingin ikut serta, kebetulan bagi Ui Yong bisa mendapat dua pembantu yang kuat, maka mereka bertiga lantas mengitari kemah pasukan Mongol terus menuju ke barat laut.
Menurut taksiran Ui Yong, kepergian Kwe Yang itu adalah hendak menasehatkan Nyo Ko supaya jangan mencari pikiran pendek.
Dahulu bertemunya mereka ada di sekitar tambangan Hongleng, sekali ini tentunya si nona akan pergi ke sana pula, karena itu bila lebih dulu ke Hongleng, besar kemungkinan akan mendapat jejaknya.
Ketika mereka bertiga berangkat dari Siang-yang, saat itu masih musim dingin, sepanjang jalan mereka mencari kabar dan setiba di tambangan Hongleng, sementara sudah masuk musim semi, salju sudah cair, sungai sudah mengalir normal.
Ui Yong bertiga mencari keterangan selengan harian di kota tambangan itu, tukang perahu, pengurus hotel, tukang kereta, kuli pikul, semuanya bilang tidak melihat nona seperti yang ditanyakan itu.
""Suci (kakak guru),"
Kata Thia Eng pada Ui Yong.
"hendak lah kau tak perlu kuatir. Ketika Yang-ji lahir, hari itu juga lantas digondol lari oleh Kim-lun Hoat ong dan Li Bok-chiu, dua momok yang paling disegani itu, Kalau dulu tidak apa2, rasanya sekarang juga tak ada bahaya"
Ui Yong hanya menghela napas tanpa menjawab.
Mereka meninggalkan kota tambangan itu dan menuju kejurusan pegunungan sepi.
Suatu hari, sang surya memancarkan sinarnya yang hangat, angin selatan silir2 sejuk, tetumbuhan sudah banyak mekar berbunga, musim semi semakin menarik.
"Suci,"
Kata Thia Eng tiba2 sambil menunjuk bunga Tho yang menarik kepada Ui Yong sekedar menghiburnya.
"musim semi di daerah utara belum lagi mulai, tapi di sini bunga Tho sudah mekar dengan indahnya, malahan pohon Tho dipulau Tho hoa-to kita biasanya sudah lama berbuah!"
Sembari berkata Thia Eng memetik juga sekuntum bunga Tho yang indah itu.
Pada saat itulah, tiba2 terdengar suara ngung-aungnya tawon, seekor tawon besar terbang mengitari bunga Tho yang dipegang Thia Eng, itu, kemudian lantas hinggap dan menyelusup masuk ke dalam kelopak bunga itu untuk menghisap sari bunganya.
Melihat tawon itu berwarna putih kelabu, badannya berlipat ganda daripada tawon umumnya, hati Ui Yong jadi tergerak.
Agaknya ini adalah Giok hong (tawon putih) piaraan Siao-liong li, kenapa bisa muncul di sini?"
Demikian katanya heran.
"Ya."
Sahut Liok Bu siang.
"Marilah kita menguntit tawon ini terbang menuju ke mana?"
SeteIah selesai menghisap sari bunga, kemudian tawon itu terbang mengitari udara beberapa kali, lalu menuju ke barat-laut.
Lekas2 Ui Yong mengikutinya dengan ilmu en tengi tubuh yang cepat.
Agak lama tawon itu terbang, ketika ketemukan tumbuhan bunga, kembali berhenti, kemudian terbang lagi dan berhenti pula beberapa kali, akhirnya bertambah lagi dengan dua ekor tawon lain.
Menjelang petang, mereka bertiga telah menguntit sampai di suatu lembah gunung yang indah sekali pemandangannya, di tanah disektar sana terdapat beberapa sarang tawon terbuat dari kayu, Sampai di situ, ketiga ekor tawon tadi lantas menyusup ke dalam sarangnya.
Ketika mereka memandang pula, di tanah datar sebelah lain terdapat tiga-empat buah rumah ada dua rase kecil sedang bermain.
Tiba2 pintu rumah gubuk yang tengah terpentang dan keluarlah seorang tua bermuka merah bercahaya, rambut hitam ke putih2-an, nyata dialah Lo-wan-tong Ciu Pek-thong.
Keruan Ui Yong sangat girang, segera ia berteriak "Hai, Lo-wan-tong, lihatlah, siapa ini yang datang?"
Melihat Ui Yong, Ciu Pek-thong juga ketawa gembira, Segera ia berlari maju menyambut, tapi baru beberapa langkah, mendadak selebar mukanya merah jengah, lalu putar tubuh terus menyelinap masuk rumah lagi, pintu digabrukkan dan terkunci rapat.
Ui Yong menjadi heran oleh kelakuan si tua nakal itu, ia gedor pintu rumah sambil berseru.
"Hayo, Lo-wan-tong, kenapa kedatangan tamu malah bersembunyi?"
"Tidak buka, tidak buka!"
Sahut Ciu Pek-thong dari dalam.
"Haha, kau tak mau buka, sebentar kubuka ruang kucingmu ini,"
Kata Ui Yong dengan tertawa. Pada saat lain, tiba2 pintu rumah sebelah sana juga terpentang, seorang menyapa dengan tertawa.
"Haha, pegunungan sunyi telah kedatangan tamu agung, Hwesio tua mengaturkan selamat datang!"
Ketika Ui Yong menoIeh, terlihatlah lt teng taysu berdiri di depan pintu dengan bersenyum simpul dan sedang memberi hormat. Segera Ui Yong membalas hormat orang dan menyapa juga.
"Eeh, kiranya Taysu telah menjadi tetangga Lo wan-thong, sungguh tidak nyana, Dan entah mengapa mendadak Lo wan-tong menutup pintu dan tidak terima tamu?"
Lt-teng ter-bahak2 mendengar itu, katanya.
"Jangan urus dia! Mari;ah silakan masuk kemari!"
Lalu merekapun masuk ke rumah It-teng Taysu itu dan disuguh teh oleh tuan rumah.
"Kwe-hujin, coba kau menerkanya, siapakah penghuni di rumah gubuk sebelah kanan itu?"
Kata It-teng kemudian Ui Yong ingat kelakuan Ciu Pek-thong tadi yang tiba2 bermuka merah jengah, segera pikirannya bergerak, tahulah dia sebab musababnya, maka jawabnya dengan bersajak.
Ia mengucapkan sebuah sajak gubahan Lau-kuhui alias Eng-koh sekarang, yang merindukan kekasih.
Karena itu It-teng Tay-su tertawa memuji.
"Kwe-hujin sungguh hebat, segala apa tak terlepas dari dugaanmu."
Lalu ia melongok keluar dan rncmanggil.
"Eng-koh, Eng-koh, marilah menemui kawan cilik kita."
Tidak lama, datanglah Eng-koh membawa senampan minuman beserta makanan manisan, buah2 an, kacang dan lain2.
Segera Ui Yong memberi hormat dan kelima orang lantas pasang omong dengan meriah.
Kiranya It-teng Tay-su, Eng-koh dan Ciu Pek-thong setelah menyelesaikan suka-duka selama berpuluh tahun, lalu mereka tinggal bersama menyepi di lembah beribu bunga ini sambil bercocok tanam piara tawon dan lain2, segala kejadian yang merikuhkan dahulu sudah terlupa semua.
Walaupun begitu, ketika mendadak Ciu Pek-ong melihat Ui Yong, tanpa terasa ia menjadi kikuk, maka ia lantas sembunyi dan tutup pintu rapat2, meski sembunyi di dalam rumah, namun ia tetap pasang kuping mendengarkan percakapan kelima orang itu, ketika didengarnya cerita Ui Yong tentang pertemuan besar kaum ksatria di Siangyang, kemudian tentang terbongkarnya kedok Hotu yang menyamar bagai Ho Su-ngo, sampai tempat yang mengasyikkan, tiba2 Ui Yong sengaja membelokkan ceritanya, maka Pek-thong tak tahan, ia menerobos ke rumah langsung tanya Ui Yong.
"Lalu bagaimana dengan keparat Hotu itu? Apakah ia berhasil lolos?"
Begitulah malamnya Ui Yong bertiga lantas menginap di rumah Eng-koh, Bcsok paginya, ketika Ui Yong keluar, dilihatnya tangan Ciu Pek-thong membawa seekor tawon putih sedang ber jingkrak2 kegirangan.
"Lo-wan tong, ada apakah begitu gembira?"
Tanya Ui Yong tertawa.
"Haha, Ui Yong cilik, kepandaianku makin lama makin tinggi, kau kagum tidak?"
Demikian sahut Pek-thong.
Ui Yong sudah kenal sifat si tua nakal itu.
Selama hidupnya melulu ada dua kesenangan kesatu ilmu silat dan kedua ialah main2 dan menerbitkan onar.
Ia menduga tentu Ciu Pek thong telah menciptakan semacam ilmu silat aneh, maka ia menjadi ingin melihatnya juga, jawabnya segera.
"IImu silat Lo-wan tong sudah sangat kukagumi sejak dulu, hal ini tak perlu ditanya lagi. Tapi selama beberapa tahun ini apa ada ciptaan ilmu silat baru lagi yang aneh2 dan bagus?"
"Bukan, bukan ilmu silat."
Sahat Ciu Pek-thong menggeleng kepala.
"llmu silat paling hebat terakhir yang kulihat adalah "lm-jian-siau-hun-cio"
Ciptaan si bocah Nyo Ko, Lo-wan-tong sudah mengaku kalah, Maka soal ilmu silat jangan dibicarakan lagi. Diam2 Ui Yong heran, pikirnya.
"Hebat benar Nyo Ko ini, yang kecil seperti Kwe Yang, yang tua ada juga Lo Wan-tong yang begitu kesemsem padanya. Entah ilmu pukulan Im jian-siau-hun-cio"
Itu bagaimana macamnya?"
Maka kemudian iapun tanya Ciu Pct-ihoDg.
"Lalu kau bilang makin lama makin pandai. ilmu sakti apakah itu?"
Ciu Pek thong angkat tinggi2 tangannya, ia tidak lantas menjawab, ia unjukkan tawon putih iti dengan rasa bangga lalu katanya.
"ialah mengenai kepandaianku memiara tawon,"
"Tawon ini adalah pemberian Siao-liong li padamu, apanya yang mengherankan?"
Ujar Ui Yong.
"lnilah kau tidak paham,"
Kata Pea-thoMg "Tawon yang Siao liong-li berikan padaku memang betul adalah jenis yang sangat bagus, tapi sesudah Lo-wan-tong memelihara lebih giat, kini dapat kuperoleh sejenis bibit tawon yang tiada bandingan di seluruh jagat, Bctapapun hebat orang pandai juga tiada yang bisa menciptakannya, mana bisa Siao-liong-li dibandingkan aku lagi."
"Hahaha"
Ui Yong tertawa.
"Makin tua Lo-wan-tong makin bermuka tebal, pandai sekali kau me-niup2 diri sendiri setinggi langit, se akan2 di jagat ini tiada bandingannya."
Namun Pek-thong tidak marah, malahan dengan ter-kekeh2 ia berkata lagi.
"Ui Yong cilik, coba aku ingin tanya. Manusia adalah makhluk tercerdik dari segala makhluk hidup, tubuh orang banyak yang suka dilisik dengan gambar dan tulisan. Tapi kecuali manusia, di antara tubuh binatang apakah ada yang terdapat tulisan?"
"Harimau ada yang Ioreng2, macan tutul ber-tutul2, kupu2 dan ular berbisa, badan mereka semuanya berlipat ganda lebih mengherankan daripada tisikan gambar di atas badan manusia segala,"
Ujar Ui Yong.
"Ya, tetapi pernahkah kau melihat di badan sebangsa serangga dan penyengat ada tulisannya?"
Kata Pek-thong.
"Apa kau maksudkan dari pembawaannya"
Memang belum pernah,"
Sahut Ui Yong.
"Baik, nah, ini biar kutunjukkan,"
Kata Pek thong sembari ulur tangannya kedepan mata Ui Yong.
Maka tertampaklah tawon besar di tengah2 telapak tangannya itu pada kedua sayapnya benar2 terdapat tisikan tulisan, Waktu Ui Yong menegasi, ia lihat pada sayap kiri tawon putih itu tertulis huruf "Aku berada di"
Dan di sayap kanan juga ada tiga huruf "Coat-ceng-kok" , Setiap hurufnya sebesar beras menir, tapi tulisannya jelas, terang dibuat dengan tisikan jarum yang paling lembut.
Ui Yong jadi ter-heran2, ia menggumam sendiri.
"Aku berada di Coat-ceng-kok, Aku berada di Coat-cengkok." -Diam2 ia pikir pula. Andai keenam huruf ini pasti bukan pembawaan, tapi ada orarg sengaja menisiknya. Kalau menuruti tabiat Lo-wan-tong, tak mungkin ia melakukan pekerjaan yang makan tempo dan harus sabarTapi segera ia berpendapat lain lagi, katanya dengan terlawa.
"AIi begini saja kenapa bilang aneh? Kau minta Eng koh tisikkan enam huruf ini, masakan kau mampu membohongi aku?"
Muka Pek-thong menjadi merah sahutnya.
"Kau boleh tanya Eng koh apakah aku minta dia menisik tulisan di sini?"
"Tentu saja dia akan membela kau, jika kau bilang matahari dari barat, tentu saja ia akan berkata.
"Ya, ya, benar, matihari muncul dari arah barat"!"
Ujar Ui Yong tertawa.
Selebar muka Lo-wan-tong semakin menjadi merah, merahnya maIu2, rasa kikuk dan terasa penasaran pula.
Karena itu ia lepaskan tawon ditangannya itu, lalu tangan Ui Yong ditariknya sambil berkata.
"Mari, mari, biar kutunjukan, boleh kau periksa sendiri."
Ia seret Ui Yong ke suatu sarang tawon di tanah datar sebelah sana, Sarang tawon itu berdiri sendiri jauh dari yang lain2.
Ketika Pek-thong gerakkan tangannya, segera dua ekor tawon dapat ditangkapnya.
"Nih, lihat!"
Katanya. Waktu Ui Yong meng-amat2-i, benar juga pada kedua sayap tawon2 itu juga ada tulisannya dan serupa tadi terdiri dari enam huruf, yang kiri "Aku berada di"
Dan yang kanan "Coat-ceng kok."
Heran sekali Ui Yong, pikirnya diam2. Betapa-pun aneh pencipta makhluk juga tak mungkin menciptakan tawon seperti ini. Pasti di balik ini ada sebab2nya. Maka katanya puIa.
"Cobalah. Lo-wan tong, kau tangkap lagi beberapa ekor!"
Segera Pek-thong menangkap empat tawon pula dua diantaranya bersih sayapnya, tapi dua ekor lainnya ada pula tisikan enam huruf serupa itu.
Melihat Ui Yong ter-mangu2, terang sudab mengaku kalah.
Pek-thong menjadi senang, katanya dengan tertawa "Nah, apa yang bisa kau katakan lagi?
Hari ini kau kalah tidak dengan Lo-wan-tong?"
Ui Yong tidak menjawab, tapi ia menggumam huruf itu.
"Aku berada di Coat-ceng kok"
Sesudah beberapa kah ia ulangi, tiba2 ia melompat dan berseru.
"Ya, tahulah aku sekarang itu harus dibaca menjadi "
Aku berada didasar Coat-ceng-kok!, siapakah yang berada di dasar Coat ceng-kok? jangan2 Yang-ji?"
Segera ia tanya Ciu Pek-thong.
"Lo-wan-tong tawon2 ini bukan kau yang piara sendiri, tapi datang dari lain tempat, betul tidak?"
Kembali wajah Pek-thong merah lagi,sahutnya.
"Eh, aneh, darimana kau tahu?"
"Tentu saja aku tahu,"
Kata Ui Yong.
"Tawon ini sudah berapa hari bersarang di sini?"
"Tidak terhitung hari lagi, tapi sudah beberapa tahun!"
Sahut Pek-thong.
"MuIa2 aku tidak perhatikan bahwa di sayap tawon2 ini ada tulisannya, baru beberapa hari yang lalu dapat kulihat."
"Benar2 sudah beberapa tahun?"
Desak Ui Yong.
"Ya, kenapa kudustai kau?"
Jawab Pek-thong, Ui Yong ter-menung2 scjenak, segera ia kembali ke rumah sebelah sana dan berunding dengan It-teng Taysu, Thia Eng dan Liok Bu-siang, semuanya juga merasa di dasar Coat ceng-kok pasti ada apa2nya.
Karena kuatirkan puterinya, segera Ui Yong bersama Thia Eng dan Liok Bu-siang mohon diri hendak berangkat ke sana, Segera pula I-teng menyatakan ikut serta.
Melihat kawan2 pada pergi, sudah tentu Lo-wan-tong tak mau kesepian, ia berkeras mengajak Eng Koh juga turut.
Ui Yong menjadi lega dengan bertambahnya pembantu tiga tokoh terkemuka itu, ia pikir dengan enam orang baik mengadu pikiran maupun adu kekuatan, mungkin diseluruh jagat ini tiada tandingan lagi, sekalipun Yang ji jatuh dicengkeraman orang jahat, tentu dapat ditolong keluar.
Maka enam orang bersama sepasang rajawali lantas menuju kearah barat beramat-ramai.
* * ** Kembali tentang Nyo Ko karena janji pertemuan kembalinya dengan Siao-liong li sudah hampir tiba, maka ia tak berani ayal, ia jalan terus siang-malam menuju Coat-ceng kok atau Iembah putus cinta.
Setiba di tempat tujuan, menurut perhitungan masih kurang lima hari daripada hari yang di janjikan Siao liong-li 16 tahun yang lalu.
Lembah ini sepi nyenyak, gedung2 megah yang dahulu dibangun suami-istri Kongsun Ci dan anak muridnya yang berbaju hijau sudah ambruk atau bobrok.
Sejak 16 tahun yang lalu Nyo Ko tinggalkan lembah itu, setiap beberapa tahun sekali pasti ia dalang dan tinggal lagi di lembah itu dengan harapan kalau2 Lam-hay Sin-ni menaruh belas kasihan dan mendadak memulangkan Siao liong-li, Walaupun setiap kali ia harus kembali dengan tangan hampa dan lesu, tapi setiap kali selalu beberapa tahun lebih dekat dengan waktu yang dijanjikan itu.
Kini ia mengunjungi tempat lama pula, ia lihat keadaan sunyi penuh semak belukar, sedikitpun tiada tanda2 pernah diinjak manusia.
Segera ia berlari ke Toan jong-khen atau karang patah hati, ia melalui jembatan batu yang melulu terdiri dari selonjor batu panjang, kemudian me-raba2 tulisan di atas dinding tebing yang ditinggalkan Siao liong li dahulu.
Dengan jarinya ia masukkan ke dekukan tulisan itu dan mengkorek keluar lumut2 yang menutupi huruf2nya, maka segera ter-tampaklah kedua baris tulisan dengan jelas.
Pelahan Nyo Ko membacanya.
"Siao-Iiong li sampaikan pesan pada suamiku Nyo Ko, hendaklah jaga diri baik2, harus sabar menanti untuk berkumpul kembali."
BegituIah sehari penuh ia termenung2 memandangi kedua batu tulisan itu, malamnya ia tidur di atas pohon dengan ranjang tali seperti dahulu.
Besoknya ia pesiar ke seluruh lembah itu, ia lihat tanaman Ceng-hoa atau bunga cinta yang dulu dibabat olehnya bersama Thia Eng dan Liok Bu-siang itu kini tidak berkembang lagi, tapi bunga merah yang olehnya diberi nama "Liong-Ii-hoa"
Atau bunga puteri Liong, sedang mekar dengan indahnya.
Maka ia petik seikat bunga merah itu dan ditaruh didepan tebing yang terdapat tulisan Siao-liong-li itu, BegituIah, dengan perasaan tertekan ia lewatkan hari, sampai tanggal 7 bulan tiga, Nyo Ko sudah dua hari dua malam tidak pernah tidur.
Sampai itu, ia tak mau berpisah setengah langkahpun dari karang patah hati itu.
Sejak pagi ia menanti, dari pagi hingga siang dan siang berganti sore, setiap ada angin meniup atau pohon bergerak, segera ia melompat bangun melongak-longok sekitarnya, tapi bayangan Siao-liong-li tetap tidak tertampak?
"Sejak Nyo Ko mendengar kata2 Ui Yok-su tempo hari, ia lantas tahu tentang "Lam-hay Sin-ni"
Adalah hanya karangan Ui Yong belaka, tapi tulisan di tebing itu jelas adalah tulisan tangan Siao-liong li yang tak bisa dipalsukan.
Maka ia tetap berharap sang isteri akan penuhi janji dan bisa berkumpul kembali.
Sementara itu sang surya sudah silam, hati Nyo Ko juga tenggelam mengikuti silamnya sang petangnya, Ketika matahari tertutup oleh puncak gunung, Nyo Ko menjerit dan berlari ke atas puncak.
Di tempat setinggi itu, bola merah membara kembali tertampak bulat lagi, hatinya menjadi sedikit lega, asal sang surya belum menghilang, berarti tanggal 7 bulan tiga itupun belum lagi lalu.
Namun demikian akhirnya sang surya tetap silam di ufuk barat sana, Nyo Ko masih terpaku di puncak gunung itu, keadaan sunyi dan kosong belaka, hawa dingin menusuk tulang, cuaca remang2 sudah mulai, ia berdiri terpaku, lama sekali tetap tidak bergerak.
Lewat agak lama, bulan sabit pelahan2 tampak tergantung di tengah cakrawala, bukan saja hari tanggal 7 sudah akan lalu, bahkan malam inipun akan lalu dengan cepat.
Tetapi Siao liong-li masih tetap tidak muncul, Bagai patung saja semalam suntuk Nyo Ko berdiri terpaku di puncak gunung itu sampai sang surya muncul di sebelah timur indah perrnai suasana pagi di pegunungan, burung berkicauan merdu, bunga mekar mewangi, sungguh memabukkan orang musim semi ini.
Namun hati Nyo Ko waktu itu dingin bagai es, lapat2 suatu suara seperti mendenging ditepi telinganya "Tolol!
Sudah lama ia mati, 16 tahun yang lalu ia sudah mati, ia tahu dirinya kena racun tak dapat sembuh dan kaupun takmau hidup sendirian, maka ia telah bunuh diri dan mendustai kau untuk menunggu 16 tahun padanya, Tolol, begitulah cintanya padamu, apakah sampai hari ini masih kau tidak mengerti akan jalan pkirannya?
Pelahan Nyo Ko turun dari puncak gunung itu dengan raga tanpa jiwa, sehari-semalam ia tidak makan minum, ia merasa mulutnya kering, ia datang ketepi sungai kecil dan meraup air untuk diminum, ketika menunduk, mendadak terlihat bayangan dirinya di dalam air, tertampak kedua pelipisnya telah ke-putih2an.
Kini ia berusia 36 tahun, mestinya seutas rambut putihpun tiada, tapi kini mendadak kedua pelipisnya tertampak putih, mukanya kotor, hampir ia tak mengenali dirinya sendiri.
Mendadak ia melompat menuju ke depan karang Toan keng khe, ia pandang kedua baris tulisan guratan Siao liong li itu, tiba2 ia berteriak keras.
" 16.tahun kemudian, bertemu lagi di sini, cinta kasuh suami isteri, janganlah ingkar janji! Tapi, Siao-liong-Ii, wahai, Siao liong li, tulisan yang kau ukir sendiri ini, kenapa sekarang kau malah tidak menepati janji?"
Suaranya begitu keras menggema di angkasa raya, seluruh lembah gunung se-akan2 tergetar, dari empat penjuru berkumandang kembali suara-"Kenapa kau tidak menepati janji?
Tidak menepati janji?
Tidak menepati janji?"
Dasar pembawaan Nyo Ko memang berwatak keras dan mudah tersinggung, kini segala harapannya sudah hampa belaka, pikirnya.
"Jika Liong-ji sudah meninggal 16 tahun yang lalu, sungguh tiada artinya bagiku hidup sendiri selama ini."
Ia memandangi jurang Toan jong khe yang entah berapa dalamnya itu, ia mengguman pelahan.
"Dahulu mendadak kau menghilang tanpa bekas, agaknya kau telah terjun ke dalam jurang ini, Selama 16 tahun ini, apakah kau tidak kesepian ?"
Begitulah tiba2 pandangannya terasa kabur, bayangan Siao-liong-ii seakan2 muncul di kelopak matanya, sayup2 seperti terdengar pula suara Siao-liong-li sedang memanggilnya didasar jurang.
"Nyo-long, Nyo-Iong! janganlah berduka janganlah berduka!" . Tiba2 Nyo Ko pejamkan mata dan tubuhnya melayang ke depan, ia terjun ke dalam jurang. * * * * Kembali mengenai Kim-lun Hoat-ong yang membawa Kwe Yang menuju ke Coat ceng-kok ini. Hoat-ong benar2 adalah manusia aneh, di waktu ganas, kejamnya melebihi binatang berbisa, tapi karena ia sudah ambil ketetapan akan menerima Kwe Yang sebagai ahliwarisnya, sepanjang jalan ia menjadi begitu memperhatikan diri anak dara itu, begitu sayang bagai puteri sendiri saja. Sebaliknya karena benci pada Hoat-ong yang telah membinasakan Tiang jiu-kui dan Toa-thau-kui secara keji, maka Kwe Yang selalu bersikap dingin. Hari itu, mereka tiba sampai di Coat ceng-kok ". tiba2 terdengar suara teriakan orang yang sangat keras.
"Kenapa kau tidak menepati janji?"
Suara itu penuh rasa penasaran, putus asa dan menderita sekali. Ketika kemudian suara yang menggema itu berkumandang kembali dari balik lembah gunung, Kwe Yang terkejut, scrunya.
"Ha, itulah suara Toakoko, lekas kita mencarinya ke sana." -Sembari berkata segera ia mendahului memburu ke lembah pegunungan itu. Mendengar lawan besar sudah dekat, semangat Kimlun Hoat ong terbangkit seketika, segera dari buntalannya ia keluarkan "panca-roda" , senjatanya yang istimewa, yaitu lima roda yang terdiri dari lima macam logam. emas, perak, tembaga, besi dan timah. Walaupun sekarang ilmu sakti tenaga naga dan gajah sudah dilatih hingga tingkatan ke-11, namun seIama 16 tahun ini ia yakin Nyo Ko dan Siao-liong-li pasti juga tidak melewatkan waktu percuma, maka Hoat-ong sedikitpun tak berani meremehkannya. Begitulah Kwe Yang berlari menuju tempat datangnya suara, tak lama "jurang patah hati"
Itu sudah dekat, terlihatlah waktu itu Nyo Ko masih terdiri di atas karang, belasan tangkai bunga merah bergerak2 di sekitarnya.
Melihat jurang itu sangat curam, Kwe Yang lidak berani melayang ke sana, maka serunya.
"Toa-koko, aku telah datang!"
Namun Nyo Ko sudah hancur luIuh hatinya, ternyata tidak mendengar seruan anak dara itu.
Dari jauh melihat kelakuan orang agak aneh, cepat Kwe Yang berteriak.
Toakoko, aku masih menyimpan sebuah jarum emas pemberianmu kau harus dengar kata-ku, jangan kau bunuh diri!
Sembari berkata, tanpa pikir lagi ia berlari hendak mendekati Nyo Ko melalui belandar batu jurang itu, Namun sampai di tengah jalan, terlihatlah Nyo Ko telah terjun ke bawah jurang yang tak terperikan dalamnya.
Keruan kejut Kwe Yang tidak kepalang dan terasa sukmanya terbang ke awang2, sesaat itu juga entah terpeleset karena terkejut atau sebab berpikir hendak menolong Nyo Ko, atau mungkin juga karena sudah mendalam cintanya dan rela menyusulnya ke alam baka, mendadak anak dara itu pun ikut terjun ke bawah jurang.
Tatkala itu Kim-iun Hoat ong kira2 ketinggalan beberapa tombak di belakang, melihat Kwe Yang jatuh ke bawah, cepat ia melesat maju buat menolong.
Betapa pesat ilmu entengi tubuh Hoat ong ini seperti anak panah terlepas dari busurnya, namun toh masih terlambat sedikit, ketika memburu sampai di tepi jurang, tubuh Kwe Yang sudah terjerumus ke bawah.
Tanpa pikir lagi Hoat-ong gunakan gerakan "To-kwa kim-kau"
Atau kaitan emas gantung terbalik, dengan kakinya menggantoI di tepi jurang, tubuhnya merosot ke bawah untuk menuj Kwe Yang.
Cara Hoat-ong ini sesungguhnya sangat berbahaya, kalau sedikit meleset, bcleh jadi ia sendiripun akan tergelincir masuk jurang, Maka terdengarlah suara "bret" , kain baju Kwe Yang sobek sebagian sedang tubuh anak dara itu masih terus tenggelam ke bawah jurang, kabut tebal yang menutupi dari jurang itu segera menelan Kwe Yang tanpa bekas Hoat ong menghela napas gegetun, ia menjadi lesu, sepotong kain baju masih dipeganginya, ia ter-mangu2 memandang ke dalam jurang.
Selang agak lama, tiba2 didengarnya di seberang sana ada seorang menegurnya.
"Hai, Hwesio, apa yang kau lakukan di sini?"
Hoat-ong menoleh, ia lihat di atas gunung sana berdiri enam orang, yang paling depan seorang tua bermuka muda, ialah Ciu Pek-thong.
Di samping-nya berdiri tiga wanita yang dikenalnya sebagai Ui ong, Thia Eng, dan Liok Bu-siang.
Dan di belangnya adalah seorang Hwesio tua beralis jenggot putih dan seorang wanita tua berbaju hitam mulus, dua orang terakhir ini tak dikenalnya, yakni It-teng Taysu dan Eng Koh.
Sudah beberapa kali Hoat-ong kenal kepandaian-Ciu Pek-thong.
ia tahu ilmu silat si tua ini luar biasa lihaynya, selamanya iapun rada jeri padanya, apalagi kini bertambah Ui Yong yang merangkap pelajaran Tang-sia dan Pak-kay, orangnya cerdik isinya banyak.
Lebih2 dalam keadaan berduka atas kematian Kwe Yang, sesungguhnya tiada niat lagi buat bermusuhan, maka katanya kemudian dengan muram.
"Nona Kwe Yang telah terjun ke dalam jurang ini?"
"Ha?"
Semua orang terkejut. Terutama Ui Yong sebagai ibu, ia paling tergoncang hatinya, dengan suara gemetar ia menegas.
"Apa benar katamu?"
"Untuk apa aku dusta? Bukankah ini kain baju nya?"
Sahut Hoat ong sembari menggeraki sobekan baju Kwe Yang yang masih dipegangnya itu.
Melihat kain itu memang benar2 adalah sobekan baju puterinya, seketika Ui Yong menggigil se-akan2 terjerumus ke dalam jurang es dan tak sanggup buka suara.
Segera Ciu Pek thong menjadi gusar, damperat nya.
"Hwesio busuk, kenapa kau membunuh nona cilik itu? Hatimu benar2 kejam amat!"
"Bukan aku yang membunuhnya,"
Sahut Hoat ong.
"Tanpa sebab kenapa ia bisa terjun ke dalam jurang?"
Debat Pek-thong "Kalau bukan kau mendorongnya, tentu kau yang memaksanya!"
"Tidak temua,"
Sahut Hoat-ong geleng kepala.
"Aku malah bermaksud menerimanya sebagai murid ahliwarisku, mana mau sembarangan aku membunuhnya?"
"Fui,"
Mendadak Ciu Pek-thong meludahi orang dengan riak kental. Lalu damperatnya.
"Kentut, kentut! Engkongnya adalah Ui losia, ayahnya Kwe Cing dan ibunya Ui Yong, siapa di antara mereka yang lebih hebat daripada kau Hwesio busuk ini? Mana sudi mengangkat guru padamu untuk mewarisi ilmumu yang apek? Huh, melulu aku Lo-wan-tong saja jika mau mengajarkan beberapa jurus padanya juga lebih hebat daripada segala gelangmu yang rombengan ini?"
Jarak Pek thong dengan Hoat-ong cukup jauh, tapi riak kental yang disemprotkan itu bagai sebutir peluru saja mengarah kemukanya, Lekas2 ia mengegos dan diam2 kagum.
Sebaliknya Lo-wan-tong bertambah senang karena orang tak berani menjawab damperatannya tadi, dengan suara keras ia mendesak pula.
"Nah, tentunya dia tak sudi mengangkat guru padamu, bukan? Dan kau berkeras hendak menerimanya sebagai murid?"
Hoat-ong mengangguk.
"Nah, apa yang perlu dikatakan lagi, bukankah karena itu lantas kau mendorongnya ke dalam jurang?"
Teriak Pek-thong pnla. Namun perasaan Hoat-ong masih cemas oleh kematian Kwe Yang ia menghela napas dan menyahut.
"Aku tidak mendorong dia. Tapi sebab apa ku tidak mengerti !"
Sementara itu Ui Yong sudah agak tenang, sekali ia kertak gigi, pentung bambu diangkat terus menubruk kearah Hoat-ong. Dengan gaya "bong"
Mengurung, bayangan pentungan berkelebat kian kemari, seketika tubuh Hoat ong dikurung oleh pentungnya.
Karena ingin membalas dendam puterinya, di atas belandar batu yang lebarnya hanya satu dua kaki itu Ui Yong meluncurkan tipu2 serangan mematikan secara ber tubi2.
Meski ilmu silat Hoat-ong sebenarnya lebih tinggi daripada Ui Yong, tapi tak berani juga ia mengadu jiwa, melihat permainan pentung orang sangat hebat, kalau ia terlibat sedikit saja hingga Ciu Pek-thong maju membantu, pula ditempat yang berbahaya, tentu ia akan sulit melawannya.
Mendadak ia tutul kakinya melompat mundur, habis itu ia bersiul panjang, tahu2 ia melayang Iewat di atas kepala Ui Yong.
Cepat Ui Yong angkat pentungnya menyodok ke atas, tapi kena di tangkis oleh roda perak Hoat-ong.
Ketika Ui Yong membalik tubuh, saat itu Ciu Pek thong sudah memberondongkan pukulan dan tendangan, sudak bergebrak dengan Hoat-ong.
Mengingat dirinya saorang guru besar suatu aliran silat tersendiri melihat lawannya tak bersenjata, Hoat ong menyelipkan rodanya ke pinggang juga, lalu dengan tangan kosong ia layani Pek-thong.
Dalam pada itu Ui Yong sudah memburu datang, pentungnya terus menyodok ke punggung Hoat-ong.
Sejak Hoat-ong berhasil melatih "Liong jio-pio-yok-kang"
Hingga tingkatan ke-11, selamanya belum pernah digunakan, kini ketemu lawan tangguh, kebetulan baginya untuk mencobanya.
Ketika melihat jotosan Ciu Pek-thong tiba, cepat iapun balas menjotos dengan kepalan lawan kepalan.
Pek-thong terperanjat ia tahu tenaga kepalan orang tentu hebat, maka tak berani keras lawan keras, Sedikit ia tekan ke bawah, digunakannya pukulan Khong-bing-kun Atau pukulan "terang-terang kosong.
Tenaga pukulan Hoat-ong itu beratnya melebihi ribuan kati, meski tidak sekuat naga atau gajah, tubuh manusia tak mungkin sanggup menahan-nya, tapi ketika saling beradu dengan tenaga pukulan Ciu Pek-thong, tiba2 terasa mengenai tempat kosong, diam2 Hoat ong heran, menyusul cepat tangan kiripun dihantamkan.
Sementara itu Lo-wan-tong sudah dapat mengetahui tenaga Hoat-ong ternyata besar luar biasa.
Tapi dasar pembawaannya "gila silat", asal mengetahui siapa mempunyai semacam kepandaian istimewa, pasti ia ingin jajal.
Tapi selama hidupnya tenaga pukulan sebesar Hoat-ong ini belum pernah didengarnya, apalagi melihat.
Seketika ia menjadi bingung macam apakah ilmu silat orang ini?
segera ia keluarkan 72 jurus Khong-bing-kun yang "terang-terang kosong"
Itu untuk melawan tenaga pukulan orang yang maha kuat.
Dengan begitu, tenaga raksasa Hoat-ong menjadi tak berguna, Beberapa kali Hoat-ong melontarkan serangan, tapi tidak mencapai sasarannya, keruan ia menjadi kesal tidak kepalang, ilmu sakti yang sudah dilatihnya, belasan tahun baru sekali keluar ternyata sudah tidak berguna.
Pada saat lain tiba2 didengarnya samberan angin dari belakang, pentung bambu Ui Yong kembali menutuk lagi ke "Ling-tay-hiat"
Di punggungnya, tanpa pikir ia menyampuk ke belakang.
"krak" , seketika pentung bambu Ui Yong itu kena disampuknya remuk, bahkan sisa tenaganya menggoncangkan debu pasir hingga berhamburan. Ui Yong melompat pergi terkejut, ia kenal kelihayan Hoat-ong, tapi kepandaian orang sekarang ternyata jauh lebih hebat daripada dulu, sekali gaplok bikin remuk pentung bambunya, ilmu pukulan apakah itu? Nampak Ui Yong terdesak, cepat Thia Eng dan Liok Bu siang mengerubut maju dari kanan-kiri, yang satu bersenjata seruling kemala dan yang lain berpedang.
"Awas."
Segera Ui Yong memperingatkan kepada mereka. Betul saja, menyusul terdengarlah suara "krak-krak"
Dua kali, seruling dan pedang sudah patah semua. Oleh karena berduka oleh kematian Kwe Yang yang mengenaskan Hoat-ong tidak ingin mencelakai nyawa manusia lagi, maka ia hanya mcmbentak.
"Minggir!"
Dan tidak mendesak Thia Eng dan Bu-siang lebih jauh. Ilmu kepandaian Eng Koh sebenarnya belum setinggi Ui Yong, tapi ilmu "Ni jiu-kang"
Atau ilmu belut, sangat tepat untuk berkelit dan mengegos, ketika dilihatnya Hoat-ong hendak angkat kaki, segera iapun maju menyerang.
Namun sekali Hoat-ong menangkis, berbareng terus memotong ke pinggang Eng Koh.
Ketika mendadak terasa sesuatu tenaga maha besar menubruk pinggangnya, lekas2 Eng Koh mengegal-egolkan tubuhnya seperti belut, dan terhindarlah tenaga pukulan Hoat-ong itu.
Hoat-ong tidak tahu kepandaian Eng Koh sebenarnya belum mencapai tingkatan kelas wahid, tapi beberapa kali menghantam selalu dapat di hindarkan orang dengan gaya yang sangat aneh, ia sangat terkejut, ilmu sakti yang sangat ia aguI-kan untuk menjagoi kolong langit ini ternyata seorang wanita saja tak mampu merobohkannya, mau -tak-mau ia menjadi jeri, ia tak berani terlibat lebih lama lagi, sekali tubuhnya melesat, cepat ia menyingkir ke kiri.
"Jangan Iari!"
Bentak Pek thong sambil mengudak. Selagi Hoat ong hendak membaliki tangan menyerang, tiba2 terdengar suara mencicit pelahan, suatu hawa hangat tahu-menyerang mukanya, itulah "lt yang-ci"
Atau ilmu jari betara surya, ilmu kepandaian khas It-teng Taysu, yang telah mencegat larinya.
Sejak tadi Hoat-ong tidak memperhatikan paderi tua ini, siapa duga tenaga tutukan jarinya ini ternyata sedemikian hebatnya.
Tatkala itu ilmu "lt-yang-ci"
It-teng Taysu, sudah mencapai puncak kesempurnaannya, tenaga tutukannya meski tampaknya lambat dan halus, tapi sebenarnya kuat luar biasa tak tertahankan.
Dalam terkejutnya Hoat-ong cepat berkelit, habis itu barulah ia balas menyerang sekali.
Melihat tenaga pukulan Hoat-ong keras luar biasa, It-teng Taysu juga tak berani menyambutnya dari depan, dengan enteng ia melangkah mundur beberapa tindak.
Yang satu adalah paderi berilmu dari selatan dan yang lain adalah orang kosen dari benua barat, sesudah saling gebrak sekali, masing2 tiada yang berani memandang rendah lawannya lagi.
Ciu Pek-thong ingin menjaga harga diri, ia tidak mau mengerubuti melainkan berdiri mengawasi saja di samping.
Jarak antara It-tcng dan Hoat-ong tadinya tiada beberapa kaki, tapi sesudah serang menyerang, yang satu menutuk, yang lain memukuI, akhirnya jarak mereka makin jauh hingga lebih dua tombak, masing2 mengeluarkan tenaga sepenuhnya dan menyerang dari jauh.
Kepala It-teng Taysu tampak mulai menguap, terang sekali sedang pusatkan seluruh Lwekangnya, Ui Yong jadi kuatir, usia It-teng sudah tua hingga tak sanggup melawan Hoat-ong pula hatinya sedih oleh kematian putrinya, sebenarnya ia tiada niat adu jiwa dengan musuh, tapi bila melihat serang menyerang kedua orang masih begitu dasyatnya, ia tidak berani sembarangan menerjang maju.
Selagi ia tak berdaya, tiba2 terdengar suara mencuitnya rajawali di udara, pikirannya tergerak, segera ia bersuit sambil menunjuk Hoat-ong.
Melihat itu, sekali bercuit, sepasang rajawali tu lantas menubruk turun ke atas kepala Hoat-ong.
Jika Sin-tiau kawan Nyo Ko itu yang datang mungkin Hoat-ong akan jeri, tapi sepasang rajawali mi hanya badannya yang besar, tetap burung biasa saja, mana bisa menakuti Hoat-ong?
Cuma saat itu ia lagi pusatkan pikiran dan tenaga buat melawan It-teng Taysu, sedikitpun tak berani ayal, kini mendadak disergap kedua rajawali dari atas, terpaksa ia ayun tangan kirinya ke atas, dengan tenaga pukulan kuat menghantam sepasang rajawali.
Karena tak tahan, cepat rajawali itu terbang ke atas lagi, Dan karena godaan itu, keadaan It teng Taysu lantas di atas angin.
Lekas2 Hoat-ong kerahkan tenaga baru kemudian bisa mengimbangi lagi.
Sepasang rajawali itu sudah lama dipiara U Yong dan sudah pintar, ketika mendengar suitan Ui Yong yang mendesak terus, padahal musuh terlalu lihay, meteka tak berani menubruk lagi seperti tadi, melainkan hanya menyamber kian kemari di atas kepala Hoat ong saja, walaupun tidak bisa melukainya, tapi perhatian Hoat ong banyak terkacau.
Sebenarnya tenaga pukulan Hoat-ong masih lebih unggul daripada lt teng, tapi kalau soal ilmu kebatinan ia jauh kalah, ditambah kini ia merasa gegetun oleh matinya Kwe Yang, semangatnya memang sudah tak tenang kena dikacau lagi oleh rajawali itu, keruan ia menjadi gopoo.
Segera hal ini diketahui It-teng.
Sambil tersenyum It-teng lantas mendesak maju setengah langkah.
Ui Yong sendiri meski sangat berduka akan kematian puterinya, tapi kecerdikannya tidak pernah berkurang ketika melihat It-teng melangkah maju, mendadak iapun menggertak.
"Kwe Cing, Nyo Ko, kebetulan kedatangan kalian, lekas tangkap dia be.ramai2!"
Padahal tidak mungkin Ui Yong menyebut nama sang suami, teriakannya ini melulu gertak sambel belaka untuk mengejutkan Hoat-ong, sebab bila ia bilang "Cing-koko"
Itu, dan kalau sempat berpikir, rasa kaget itupun akan berkurang. Benar saja, ketika tiba2 Hoat-ong mendengar suara "Kwe Cing dan Nyo Ko"
Berdua, ia terperanjat, pikirnya "Jika kedua jago ini dalang juga.
"Melayanglah jiwaku!"
Pada saat itulah, kembali It teng mendesak maju setengah langkah pula.
Rupanya kedua rajawali di atas udara itupun melihat ada kesempatan, mendadak rajawali yang betina bercuit keras terus menubruk cepat ke bawah untuk mencakar biji mata Hoat ong.
"Binatang!"
Damperat Hoat-ong sengit, berbareng sebelah tangannya digablokkannya.
Tak terduga sergapan rajawali betina itu hanya pura2 belaka, ketika dekat mukanya mendadak membelok ke atas lagi, sebaliknya rajawali yang jantan diam2 malah menyerang dari samping, ketika Hoat-ong mengetahui namun cakar rajawali itu sudal menyentuh kepalanya yang gundul.
Terkejut dan gusar sekali Hoat-ong, sehelai tangannya menyampuk ke atas.
"plok" , segera bulu-bulu bertebaran, rajawali jantan itu berhasil mencengkeram kopiah emas Hoat-ong terus terbang pergi tapi sampukan Hoat-ong itupun sangat keras, rajawali jantan itu sudah terbang sampai ditengah udara akhirnya tak tahan dan mendadak terjungkal terjerumus ke dalam jurang yang tak terkirakan dasarnya. Ui Yong, Thia Eng, Liok Bu siang dan Eng Koh menjerit kaget, sedang Ciu Pek thong menjadi gusar.
"Hwesio apek,"
Segera ia memaki.
"Lo-wan-tong tak mau pakai aturan Kangouw lagi segala, mungkin harus dua lawan satu sekaligus."
Habis itu, secara bertubi2 ia kirim hantaman ke punggung Kim-Iun Hoat-ong.
Dalam pada itu si rajawali betina melihat yang jantan terjerumus ke dalam jurang, sekali bercuit panjang, tahu2 yang betina inipun ikut menerjun ke bawah hingga lama sekali tak nampak naik kembali.
Karena dikeroyok dari muka belakang, mau tak-mau Kim-lun Hoat-ong menjadi jeri sekalipun tinggi ilmu silatnya, mana mungkin melawan keroyokan dua jago tertinggi ini?
Maka ia tak berani terlibat lebih lama, Mendadak terdengar suara gemerantang, roda2 emas dan perak menyamber sekaligus, yang depan menahan tutukan "lt-yang ci"
Dan bagian belakang menolak serangan "Khong-bing-kun" , tubuhnya terus mencelat pergi dan cepat sekali sudah melintasi tanah bukit sana, dengan mem-bentak2, segera Ciu Pek-thong mengudak.
Sesudah berhasil meloloskan diri, Hoat-ong terus lari dengan cepat, ia tahu bila kena ditahan lagi oleh Ciu Pek-thong, mungkin beberapa ratus jurus takkan bisa ketahuan unggul atau ator, tatkala itu It-teng Taysu tentu akan menyusul tiba dan jiwanya boleh jadi akan melayang di lembah sunyi ini.
Tiba2 dilihatnya di depan membentang hutan vang lebat, ia menjadi girang, cepat ia berlari ke sana.
Tak terduga mendadak terdengar suara mendenging yang cepat sebutir batu kecil tahu2 menyamber keluar dari dalam hutan.
Jarak hutan itu dengan Hoat-ong masih ada beratus tindak, tapi entah tenaga sakti apa yang menyambitkan batu sekecil itu, dari suara mendenging nya teranglah keras luar biasa dan mengarah badan Hoat-ong.
Lekas Hoat-ong angkat rodanya menyampuk dibarengi suara benturan, batu itu pecah berantai hingga muka Hoat-ong sendiri keciprat beberap butir krikil.
Terkejut Hoat-ong, pikirnya "Batu sekecil ini disambitkan dari tempat jauh, tapi rodaku kena ke bentur mundur, nyata tenaga orang ini tidak di bawah Lo wan-tong dan Hwesio tua tadi, sungguh tidak nyana di jagat ini masih terdapat jago sebanyak ini."
Sedang ia tertegun, terlihatlah dari dalam huti muncul seorang tua berjubah hijau.
Ciu Pek-thong menjadi girang, segera ia berseru.
Ui losia!
Hwesio apek itu telah membinasakan cucu perempuanmu, lekas kau ikut menangkapnya.
Orang yang muncul dari hutan itu memang Tho-hoa-to-cu Ui Yok-su adanya.
Sejak ditinggalkan Nyo Ko, ia meneruskan pengembaraannya lagi ke utara, satu hari ketika singgah minum di suatu pedusunan, tiba2 terlihat sepasang rajawali terbang lewat, ia tahu kalau bukan Ui Yong, tentulah Kwe Hu atau Kwe Yang yang berada di sekitar sini, maka diam2 ia menguntit hingga sampai di Coat ceng kok ini.
Karena tidak ingin dilihat puterinya, ia hanya menguntit dari jauh saja, sampai akhirnya dilihatnya It-teng Taysu dan Ciu Pek-thong ber-turut2 bergebrak melawan Kim-lun Hoat-ong, ia merasa paderi asing ini benar2 seorang lawan tangguh yang jarang diketemukan, ia menjadi ketarik dan ikut turun tangan.
Maka berkatalah Hoat-ong sembari gosok2 kedua rodanya hingga mengeluarkan suara nyaring.
"Apakah kau ini Tang-sia Ui Yok-su?"
"Betul,"
Sahut Yok-su mengangguk.
"Ada petunjuk apakah Taysu?"
"Waktu berada ditempatku, kudengar di daerah Tionggoan terdapat Tang-sia, Se tok, Lam-te, Pak-kay dan Tiong-sin-thong. lima orang lihay. Hari ini beruotung bisa bertemu dan ternyata memang bukan omong kosong belaka,"
Demikian sahut Hoat-ong.
"Dan di manakah yang empat orang itu?"
Tiong sin-thong (Ong Tiong-yang), Pak-kay dan Se-tok sudah lama meninggal,"
Kata Yok-su.
"Paderi agung inilah Lam te yang kau tanya, sedang yang ini adalah Ciu-heng, Sutenya Tiong-sin-thong,"
"Jika Suhengku masih hidup, hm, tak nanti kau mampu menahan 10 jurus serangannya,"
Kata Pek-thong.
Tatkala itu mereka bertiga telah mengepung Hoat-ong di tengah2, Dalam keadaan begitu Hoat-ong menjadi serba susah, ia pandang It-teng Taysu, lain saat melihat Ciu Pek thong dan sebentar2 ia memandang Ui Yok-su puIa.
Habis itu mendadak ia menghela napas panjang, lima rodanya dilempar ke tanah, lalu katanya.
"Jika satu lawan satu, siapapun tiada yang kutakuti."
"Betul,"
Kata Pek-thong.
"Tapi hari ini kita buka bertanding untuk rebut gelar juara segala, siapa ingin main satu lawan satu denganmu? Hwesio apek kau sudah terlalu banyak melakukan kejahatan, dan sekarang kau lekas bunuh diri saja."
"Lima tokoh besar Tionggoan, dua diantaranya sudah kulihat kini, meski aku mati ditangan kalian bertiga juga tidak kecewa,"
Sahut Hoat ong.
"Cuma layang ilmu Liong-jio pan-yok-kang terputus sampai di tanganku, selanjutnya di jagat ini tiada ahli warisnya lagi."
Habis berkata, sebelah tangannya diangkat terus hendak menabok batok kepalanya sendiri. Ketika mendengar kata2
"Liong-jio-pan-yok-kang" , mendadak Ciu Pek-thong jadi ketarik, secepat kilat ia melompat maju dan menangkis tangan Hoat-ong itu dan bcrkata.
"Nanti dulu!"
"Aku lebih suka mati daripada dihina, apa yang kau inginkan lagi?-"
Kata Hoat-ong mendongkol "Kau bilang sayang Ltong-jio pan-yok-kang tiada ahli warisnya, kenapa tidak kau turunkan saja padaku, kemudian kau boleh bunuh diri,"
Sahut Pek-thong tertawa.
Tapi sebelum Hoat ong buka suara pula, tiba2 terdengar suara rajawali betina yang telah membawa rajawali jantan dari dalam jurang, kedua rajawali itu sama basah kuyup, agaknya di dalam jurang itu adalah sebuah kolam air.
Rajawati jantan itu bulunya serawutan tak keruan, napasnya sudah kempas kempis, tapi cakarnya masih mencengkeram kopiah emas Hoatong dengan kencang.
SeteIah meletakkan yang jantan, rajawali betina mendadak terjun lagi ke bawah jurang, ketika naik pula, di atas punggungnya menunggang satu orang ternyata adalah Kwe Yang yang disangka sudah mati itu.
Keruan Ui Yong terkejut bercampur girang, cepat ia berseru.
"Yang-ji... Yang-ji!" -ia memburu maju untuk menurunkan puterinya itu dari punggung rajawali betina. Melihat Kwe Yang ternyata tak kurang suatu apapun, Hoat-oag juga tercengang, Waktu Ciu Pek thong masih menahan tangan Hoat-ong, sekali si tu nakal ini kedipi It-teng dan Ui Yok-su, segera Tang sia dan Lam-te turun tangan berbareng, dengan cepat ketiak kanan dan dan kiri Hoat-ong sekalian kena ditutuk. Menyusul itu Ciu Pek-thong menambahi sekali gebuk pada "Ci-yang-hiat"
Di punggungnya sambil tertawa.
"Nah, tidurlah sebentar!"
Maka lemaslah kedua kaki Hoat-ong, ia lantas deprok terduduk.
It-teng bertiga saling pandang dengan tercengang, sungguh Hwesio ini lihay luar biasa, beruntun tubuhnya kena ditutuk dan digebuk tapi masih tidak roboh menggeletak.
Lalu merekapun mendekati Kwe Yang untuk menanya keadaannya.
"Mak,"
Demikian anak dara itu menutur,"
Ia berada di bawah... di bawah... lekas menolongnya .... lekas menolongnya..."
Saking cemas dan kuatir hanya beberapa kata2 itu saja dapat diucapkannya, lalu jatuh pingsan.
"Tidak apa,"
Ujar It-teng sesudah pegang nadi Kwe Yang. Segera ia memijit beberapak kali pinggang anak dara itu, selang tak lama, Kwe Yang siuman.
"Di manakah Toakoko, apakah dia sudah naik?."
Tanyanya segera setelah anak dara itu menenangkan diri.
"Apakah Nyo Ko juga berada di bawah sana?"
Tanya Ui Yong cepat. Kwe Yang mengangguk, sahutnya pelahan.
"Ya, Tentu..."
Dalam hati iapun berkata.
"Jika ia tidak di bawah, untuk apa aku ikut terjun ke sana?"
Melihat badan puterinya basah kuyup. Ui Yong menanya lagi.
"Apakah di bawah adalah sebuah kolam air?"
Kwe Yang mengangguk saja, ia pejamkan matanya, tak sanggup lagi buka suara, hanya menunjuk ke bawah jurang.
"Kalau Nyo Ko memang berada di bawah sana, terpaksa suruh Tiau-ji mengambilnya naik,"
Ujar Ui Yong, Lalu ia bersuit buat memanggil rajawali betina tadi.
Tapi aneh, sudah berapa kali ia bersuit rajawali betina itu masih tidak menggubrisnya.
Ui Yong menjadi heran, sudah berpuluh tahun kedua rajawali ini sangat penurut, kenapa sekarang anggap angin perintahnya?
Maka kembali ia ulangi suitannya, ia lihat2 rajawali betina itu pentang sayap dan terbang lagi2, sesudah mengitar beberapa kali dan bersuara memilukan, mendadak burung itu menjungkal ke bawah secepat batu meteor.
"Celaka!"
Keluh Ui Yong dalam hati, segera iapun berteriak.
"Tiau-ji"
Akan tetapi sudah terlambat, rajawali itu tertumbuk batu cadas hingga kepala pecah dan sayap patah terus mati.
Semua orang terkejut, waktu memeriksa binatang itu, kiranya rajawali jantan sudah dingin beku dan sudah lama mati.
Semua orang menjadi terharu oleh jiwa setia sehidup semati sepasang burung itu, Ui Yong paling berduka hingga hampir mencucurkan air mata.
"Suhu, Suci, jika Nyo-toako berada di bawah jurang, cara bagaimana kita harus menolongnya naik?"
Kata Thia Eng kemudian.
"Yang-ji"
Tanya Ui Yong sambil mengusap matanya yang basah.
"Sebenarnya bagaimanakah keadaan di dalam jurang sana?"
Sementara Kwe Yang sudah pulih kembali semangatnya, maka tuturnya.
"Begitu aku jatuh ke bawah, dengan cepat ku tenggelam ke dasar kolam, dalam keadaan gugup akupun kemasukan beberapa cegukan air Kemudian entah... entah mengapa aku terapung ke permukaan air dan dan Nyo toako telah menjambak rambutku terus diangkat ke atas..."
Ui Yong rada lega mendengar itu, katanya.
"Apakah di tepi kolom itu ada guanya yang dapat dibuat berdiri?"
"Ya, di tepi kolom itu banyak pepohonan"
Sahut Kwe Yang.
"Oh,"
Kata Ui Yong "Dan sebab apa kau terjun kebawah?"
"Waktu aku diangkat ke atas, Nyo toako juga menanya aku seperti itu,"
Tutur Kwe Yang.
"Aku lantas keluarkan jarum emas dan serahkan padanya, kataku .
"Aku meminta agar engkau menjaga dirimu dan janganlah mencari pikiran pendek."
Tanpa berkedip ia memandangi aku, tak lama kemudian rajawali jantan itu jatuh ke bawah, menyusul yang betina lantas datang membawa kawannya ke atas, lalu datang lagi membawa aku.
Kuminta Nyo-toako juga naik, tapi ia tidak membuka suara dan aku dinaikkan nya keatas punggung rajawali Mak, suruhlah rajawali itu turun kebawah lagi untuk menjemputnya.
Sementara Ui Yong tak mau memberi tahu tentang kematian kedua rajawali, ia tanggalkan baju luarnya sendiri untuk menutupi badan sang puteri yang basah itu.
"Tampaknya sementara Ko-ji tidak berbahaya, lekas kita pintal seutas tambang panjang untuk menjemputnya naik!"
Kata Ui Yoog kemudian kepada kawan2nya.
Be ramai2 semua orang lantai mengelotoki kulit pohon untuk dibikin tali, Kecuali Hoat-ong yang tertutuk jalan darahnya, Kwe Yang belum pulih dari letihnya, selebihnya ikut kerja keras.
Meski mereka adalah jago silat terkemuka, namun untuk mengikal tambang tidaklah lebih pandai daripada tukang yang biasa, maka sibuk sampai hari sudah gelap baru ratusan tombak tambang itu dapat mereka, pilin, tampaknya masih jauh dari cukup.
Thia Eng mengikat sebuah batu pada ujung tambang itu dan diturunkan ke bawah jurang, ujung tambang yang lain diikat pada dahan sebuah pohon, tali itu terus dipilin dan makin panjang terus menurun ke bawah.
Satu malam suntuk mereka kerja terus, sampai besok paginya, Kwe Yang juga ikut membantu dan tambang itupun terus bertambah panjang, Tapi Nyo Ko yang katanya berada di bawah jurang itu sama sekali tak mengirimkan sesuatu tanda atau berita.
Ui Yok-su mulai kuatir, ia keluarkan serulingnya terus ditiup dengan tenaga dalamnya yang hebat, suara seruling begitu nyaring merdu tersiar ke dalam jurang, kalau Nyo Ko mendengar suara seruling itu pasti akan bersiul panjang untuk menjawabnya.
Siapa tahu keadaan masih tetap sunyi saja.
Sesudah berpikir sejenak, Ui Yong memotong sepotong kayu, dengan ujung pedang ia ukir beberapa huruf di atas kayu itu, bunyinya singkat.
"Apa selamat? Harap jawab!" -Lalu batang kayu itu dilemparkan ke dalam jurang, Namun sudah lama sekali, tetap tiada sesuatu suara di dalam jurang sana hingga semua orang menjadi kuatir. Meski jurang sangat dalam, tapi panjang tambang agaknya sudah mencapai dasarnya, biarlah ku turun melihatnya. Kata Thia Eng.
"Aku saja yang turun!"
Seru Ciu Pek-thong tiba2, dan tanpa menunggu jawaban orang lain, cepat saja ia merosot turun dengan tambang itik hanya sekejap saja orangnya sudah menghilang menembus kabut yang mengapung di permukaan jurang.
Agak lama kemudian, secepat kera Ciu Pek-thong merembet naik lagi, rambut dan jenggotnya berlepotan lumut, ber-ulang2 si tua ini menggeleng kepala dan berkata.
"Sedikitpun tiada bayangannya, mana ada Nyo Ko segala?"
Karena itu, semua orang memandangi Kwe Yang dengan rasa sangsi.
"Tadi Toakoko berada di bawah, kenapa bilang tidak ada?"
Kata Kwe Yang pasti.
"la duduk di atas pohon besar di tepi kolam. Thia Eng tidak mau banyak bicara. Segera ia merosot turun dengan tambang, menyusul Liok Bu-siang ikut turun dan ber-turut2 Eng Koh selanjutnya Ui Yok Su dan It teng Taysu juga ikut turun ke bawah. Bagi mereka pertama-tama kuatirkan keselamatan Nyo Ko, kedua tertarik dan ingin mengetahui apa macamnya pemandangan di bawah jurang itu. Ui Yong yang turun paling belakang memberi pesan pada sang puteri.
"Yang ji, kesehatanmu belum puIih, jangan kau ikut turun. jika Nyo-toako berada di bawah, dengan kawan2 begini banyak kita pasti dapat menolongnya ke atas"
Meski perasaan sangat kuatir.
tapi Kwe Yang mengiakan dengan mengembeng air mata.
Ui Yong pandang pula Hoat-ong yang deprok di tanah itu, ia kuatir kalau2 Lwekang terlalu lihay hingga dapat melepaskan tutukan yang sebenarnya harus lewat 12 jam baru bisa punah sendirinya maka ia mendekatinya dao menu pula dipunggung, dada dan kedua lengannya di tempat2 yang melumpuhkan, habis itu baru ia menyusul melorot kebawah jurang.
Daya merosotnya makin lama makin cepat, dalam sekali jurang itu hingga lama barulah sampai dibawah.
Ia lihat dibawah jurang itu memang benar ada sebuah kolam yang berair biru ke hijau-hijauan, Ui Yoksu cs berdiri di tepi kolam lagi memeriksa dengan teliti, tapi jejak Nyo Ko tidak terlihat dikiri kolam sana, di atas pohon terdapat lebih 30 buah sarang tawon, terdengar suara mendengungnya tawon yang mengitari sarang2 nya, nyata itulah tawon putih.
Tergerak pikiran Ui Yong, katanya cepat.
"Ciu-toako, lekas kau tangkap seekor tawon itu, coba kita lihat apakah disayapnya juga terdapat tulisan."
Ciu Pek-thong menurut, ia tangkap seekor tawon itu, tapi tiada terdapat sesuatu tulisan.
Waktu Ui Yong memeriksa sekitar jurang itu ternyata empat penjuru melulu dinding tebing yang beratus2 tombak tingginya, terang tiada jalan tembusan lain, pohon2 besar di tepi kolam berbentuk fiftfa2 daQ tak diketahui apa namanya, waktu m'en (Sigak, kab,ui rapat menutupi permukaan jurang ibmgga tak tertembus sinar matahari.
Sedang ia ter-menung2, mendadak terdengar Ciu Pek-thong berseru.
"Hai, seekor ini ada tulisan-nya!"
Lekas Ui Yong mendekatinya dan benarlah kedua sayap tawon itu tertisik tulisan,"
Bunyinya tetap "Aku berada didasar, Coat-ceng kok."
Di antara orang2 yang hadir sekarang, Ui Yong sendiri yang paling pandai menyelam, tanpa disuruh lagi ia ringkaskan bajunya, ia telan sebutir pil "Kiu hoa-giok-loh-wan"
Untuk menjaga kemungkinan ular air berbisa dan lain2, habis itu ia terjun ke dalam kolam.
Cepat Ui-Yong menyelam ke bawah, makin dalam air kolam itu semakin dingin hingga serasa menusuk tulang, Diam2 Ui Yong terkejut melihat air hijau berlumut se akan2 membeku itu.
Tapi ia belum putus asa, sesudah menongol kepermukaan air buat hirup udara, lalu ia menyelam lebih mendalam lagi.
Ketika sampai tempat yang sangat dalam, dari dasar kolam itu dengan sendirinya timbul semacam daya penolak yang kuat, sekalipun Ui Yong sudah berusaha sebisanya juga tak sanggup menyelam sampai dasar kolam.
ApapuIa dinginnya tak tertahan, sekitarnya juga tiada tanda2 yang aneh, terpaksa ia timbul kembali ke atas Melihat Ui Yong kedinginan hingga bibirnya ke biru2an, rambutnya mengkilat putih, ternyata terbeku selapis es tipis, sungguh semua orang ter-kejut sekali.
Lekas2 Thia Eng dan Liok Bu-siang mengumpulkan kayu kering dan membakar api unggun untuk menghangatkan badan Ui Yong.
Sementara itu Kwe Yang yang ditinggalkan di atas jurang sana sedang berpikir.
"Walaupun Toa-koko tak dapat naik, pasti Gwakong dan ibu akan menyeretnya dengan paksa. Kenapakah ia membunuh diri? Apakah Siao-liong-Ii benar2 sudah mati? selamanya takkan bertemu lagi dengan dia?"
Begitulah selagi ia ter-mangu2, tiba2 didengarnya suara rintihan Kim-Iun Hoat-ong.
Waktu Kwe Yang berpaling, ia lihat urat daging di muka orang berkerut2 seperti kejang, terang sedang menderita sekali "Hm, ini namanya kualat, makanya jangan suka membunuh orang?"
Demikian jengek anak dara itu.
Tapi Hoat-ong masih terus meng aduh2 semakin keras, sorot matanya mengunjuk rasa minta dikasihani.
Betapapun memang hati Kwe Yang bajik dan welas-asih, ia menjadi tak tega akhirnya, maka tanyanya.
"Kenapa? Sangat sakitkah?"
"lbumu telah tutuk "
Leng-tay-hiat"
Dan "
Ki koat-hiat"
Dipunggung dan dadaku, maka seluruh badanku serasa digigit beratus ribu semut, sakit dan gatal luar biasa, kenapa ia tak mau tutuk sekalian aku punya Tan-tiong-hiat"
Dan "
Giok-cim-hiat?"
Sahut Hoat-ong, Kwe Yang terkesiap, ia sudah pernah belajar ilmu Tiamhiat dengan ibunya dan tahu tempat2
"Tantiong"
Dan "Giok-cin"
Adalah jalan darah penting di tubuh manusia, asal sedikit terluka saja bisa terbinasa, maka katanya.
"lbuku tidak menghabiskan jiwamu, kau tidak berterima kasih, masih cerewet apa?"
"Kalau ia tutuk kedua jalan darahku itu, rasa pegal kesemutanku akan banyak berkurang,"
Kata Hoat-ong sungguh2
"Begini tinggi ilmu kepandaian-ku, masakah hanya sekali tutuk bisa bikin jiwaku melayang?"
Akan tetapi Kwe Yang tak percaya.
"Ah, jangan kau bohong,"
Jengeknya.
"Kata ibu, tempat "Tan tiong dan Giok-cim"
Sedikit tertutuk lantas jiwa melayang. Kau hanya pegal kesemutan, bolehlah bersabar sebentar, segera ibu dan lain-lainnya akan kembaii."
Nona Kwe."
Kata Hoat-ong pula. Sepanjang jalan bagaimana aku memperlakukan dirimu?"
"Baik juga,"
Sahut Kwe Yang.
"Cuma kau telah membunuh Tiang jiu-kui dan Toa-thau-kui, pula membunuh kedua rajawaliku, lebih baik lagi kau padaku juga aku tidak mau terima."
"Baiklah, bunuh orang ganti jiwa, sebentar kau boleh, bunuh aku untuk balas sakit hati kawanmu,"
Jelas Hot-ong.
"Tapi sepanjang jalan aku begitu baik padamu, apa balas budimu?"
"Coba katakan cara bagaimana membalasnya?"
Tanya Kwe Yang.
"Harap kau tutuk Tan-tiong dan Giok-cim di punggung dan dadaku masing2 sekali, biar mengurangi penderitaanku, itupun sudah membalas budi padaku"
Kata Hoat ong. Namun Kwe Yang geleng2 kepala.
"Tidak, kau ingin aku membunuhmu, hm, mana mau aku melaksanakannya!"
Sahutnya.
"Hayolah, tutuklah tak nanti aku mati"
Pinta Hoat-ong.
"Sebentar bila ibumu datang, malahan aku ingin minta ampun padanya, tidak nanti aku mati secara begini mudah."
Mendengar orang bicara dengan sungguh2, Kwe Yang menjadi ingin coba2, maka dengan pelahan ia tutuk dada orang sekali.
"Ehm, segar rasanya, tutuklah lebih keras,"
Kata Hoat-ong sambil menarik napas dalam2 Segera Kwe Yang tutuk lebih kuat, ia lihat Hoat-ong bersenyum, sedikitpun tidat menderita, mukanya dari merah berubah pucat, lalu merah lagi.
Habis itu Hoat-ong berkata.
"Nah, lebih keras lagi sedikit....!"
Kwe Yang menurut, ia pakai ilmu menutuk yang dipelajarinya dari ayah-bundanya dan menutuk pula sekali di "Tan tiong-hiat"
Di dada orang.
"Ah, baiklah sekarang, dadaku tidak pegal lagi! Nah, aku tidak mati, bukan?"
Kata Hoat-ong. Kwe Yang sangat heran oleh kekebalan orang, katanya kemudian "Sekarang aku menutuk lagi Giok-cim-hiat."
Mula2 iapun tutuk pelahan seperti tadi, lalu tambahi sedikit lebih keras.
"Banyak terima kasih, banyak terima kasih!"
Ujar Hoat-ong. Lalu ia pejamkan mata menghimpun tenaga, mendadak ia melompat bangun sambil membentak "Marilah pergi!"
Keruan terperanjat luar biasa Kwe Yang.
"Kau... kau..."
Tapi tak sempat ia berkata lebih banyak, sekali Hoat ong mencekal, pergelangan tangannya dipegang terus diseret pergi.
Nyata ilmu melancarkan jalan dan membuka tempat tutukan justeru adalah Lwekang khas yang sangat hebat bagi golongan pertapaan di Tibet.
Ketika Kwe Yang menutuk "Tan-tiong"
Dan "Giok-cim"
Kedua tempat jalan darah, diam2 Hoat-ong sudah menghimpun tenaga melancarkan kembali aliran darahnya.
Kalau Kwe Yang kuatir tutukannya itu akan menewaskan orang, padahal justeru malah membuka jalan darahnya.
BegituIah sambil menyeret Kwe Yang, segera Kim-lun Hoat-ong berlari pergi, tapi baru beberapa tombak jauhnya, tiba2 timbul pikiran jahatnya.
ia lihat tambang yang terikat didahan pohon itu, ia pikir asal tambang ini diputuskan, Ciu Pek-thong, It-teng, Ui Yok-su dan lain2 pasti akan terbinasa di dalam jurang itu, maka cepat ia melompat ke sana terus hendak memutuskan tali tambang itu.
Tentu saja Kwe Yang terkejut, tanpa pikir sikutnya menyodok pinggang Hoat-ong di tempat Nan-ik.hiat"
Salah Hoat-ong sendiri, ia terlalu panjang sepele anak dara itu, maka sikutan itu dengan tepat mengenai jalan darah itu hingga sebagian tubuhnya sesaat lemas tak bertenaga.
Segera Kwe Yang meronta melepaskan cekalan orang, kedua tangannya memegang punggung Hoat-ong dan berkata.
"Aku dorong kau ke dalam jurang, biar kau terbanting mampus!"
Terkejut sekali Hoat-ong, diam2 ia pusatkan tenaga dalam buat punahkan jalan darah sikutan anak dara tadi, sedang lahirnya tidak menjadi gugup, ia ter babak2 dan menggertak.
"Hahaha, melulu sedikit kepandaianmu yang tak berarti-ini masakah mampu mendorong diriku?"
Gertakan ini ternyata bikin Kwe Yang menjadi ragu2, Padahal saat itu Hoat-ong belum terlepas jalan darahnya, asal sedikit ia dorong, tentu akan terjerumus ke dalam jurang, atau dengan lain jalan, umpama menutuk pula beberapa kali jalan darahnya yang lain, tentu Hoat ong akan lumpuh.
Cuma tadi tutukannya malah bikin Hoat-ong berbangkit kembali, maka Kwe Yang pikir, tiada gunanya menutuknya lagi, sebab itulah ia melompat pergi dan berlari ke tepi jurang.
"Lebih baik aku mati bersama2 dengan ibu saja!"
Katanya tiba3 terus hendak terjun ke dalam-jurang.
Terkejut Hoat-ong melihat anak dara itu telah menjadi nekat, saat itulah tutukan dapat dipunahkannya, tak sempat lagi ia putuskan tambang tadi, tapi cepat menubruk ke arah Kwe Yang.
Cepat Kwe Yang berlari pula, ia melompat kian kemari di antara batu2 cadas dan menyusuri pohon2 besar.
Jika di tempat datar, sekali lompat saja pasti Hoat-ong bisa menangkapnya kembali, tapi di puncak karang Toan jong-khe ini penuh batu2 besar dan pohon2, Kwe Yang sengaja menyusup ke sana dan mengumpet ke sini, makin lari makin jauh, seperti orang lagi main kucing2an dengan Hoat-ong.
Sesudah lama, akhirnya sekali menubruk dapatlah tangan Kwe Yang dipegang Hoat-ong.
Ketika main umpet2an dengan Hoatong, Kwe Yang sudah mulai melupakan apa yang terjadi tadi, kini sesudah kepegang barulah ia sadar akan gelagat jelek, cepat ia berteriak.
Tapi secepat itu pula Hoat-ong sudah dekap muIutnya.
Pada saat itulah terdengar berkumandang suara Liok Bu-siang sedang menanyai "He, Kwe Yang ci -iik telah lari kemana?"
Diam2 Hoat-ong gegetun, karena telah kehilangan kesempatan baik, maka ia tutuk jalan darah yang membikin gagu, Kwe Yang diseret pergi Padahal saat itu baru Liok Bu-siang saja yang naik keatas, kalau Hoat-ong mau mengulangi memutuskan tambang masih keburu, sebab melulu Liok Bu siang seorang tak mungkin bisa menahannya.
Tapi karena ia sudah rasakan betapa lihaynya It-teng Tay-su, Ciu Pek-thong dan Ui Yok-su, nyalinya sudah ciut, ia bersyukur dapat menyelamatkan diri, mana berani lagi ia mencari penyakit?
Kiranya sesudah memeriksa dan mencari di bawah, jurang dan tidak mendapatkan sesuatu tanda, Ui Yong dan lain2 menduga Nyo Ko tidak menemukan sesuatu bahaya, maka sesudah berunding, mereka memutuskan untuk naik kembali ke atas.
Orang yang pertama naik itu adalah Liok Bu-siang, menyusul Thia Eng dan Eng Koh.
Ketika Ui Yong sudah naik, segera didengarnya Thia Eng bertiga sedang ber-teriak2 memanggil.
"Kwe Yang cilik, di mana kau?"
Melihat puterinya dan Hoat ong telah menghilang semua, sungguh tidak kepalang cemasnya Ui Yong.
Ketika Ui Yok-su, Ciu Pek-thong dan Itteng ber-turut2 sudah naik pu!a, mereka telah mencari ke segala pelosok lembah gunung itu, tapi bayangan Hoat-ong dan Kwe Yang sama sekali tidak tertampak.
Sampai di mulut lembah, tiba2 diketemukan sebelah sepatu anak dara itu.
"Ah, tak perlu kuatir, Suci."
Ujar Thia Eng.
"Tentu Hoat-ong yang menggondol Yangji ke selatan, Yang ji sengaja tinggalkan sepatunya agar diketahui kita. Sungguh bocah ini sangat cerdik, tidak kalah dari ibunya."
Bila Ui Yong ingat cerita Kwe Yang bahwa Hoat-ong berniat paksa anak dara itu menjadi murid ahliwarisnya, ia pikir untuk sementara mungkin tidak berbahaya, maka rasa kuatirnya banyak berkurang.
Segera rombongan mereka balik ke selatan, sepanjang jalan merekapun mencari tahu jejak Hoat-ong dan Kwa Yang.
Tidak beberapa hari, mereka mendengar berita pasukan Mongol mengepung Siang yang dan sudah terjadi pertempuran besar di luar kota itu, kedua pihak sama2 ada kalah menangnya, kedudukan Siangyang sangat genting.
Musuh telah menggempur Siangyang, kita harus lekas kembali ke sana, urusan Yang-ji uutuk sementara terpaksa tak bisa dipikirkan lagi.
Kata Ui Yong dengan kuatir.
Semua orang menyatakan benar dan bersedia ikut pergi.
walaupun sebenarnya It-teng Taysu, Ui Yok su dan Ciu Pek-thong cs.
tidak ingin mengurus soal2 keduniawian lagi, tapi mati-hidup dari Song besar tergantung hancur atau utuhnya Siang-yang, pertempuran yang menentukan ini tidak memungkinkan mereka berpeluk tangan.
Begitulah mereka lantas percepat perjalanan maka tiada seberapa hari mereka sudah sampai di luar kota Siangyang Dipandang dari jauh, panji ber-kibar2, senjata gemilapan, suara tiupan tanduk meng-huk2 sahut-menyahut, derap kuda kian kemari Siangyang tampak terkurung rapat2 oleh pasukan Mongol.
Walaupun sudah banyak berpengalaman, melihat situasi demikian ini, merekapun terperanjat.
"Kekuatan musuh terlalu besar, meski kita berilmu silat tinggi juga sukar mendekati benteng kota, terpaksa menanti hari gelap nanti baru cari jalan lain"
Demikian kata Ui Yong.
Mereka sembunyi di dalam hutan, kccuali-Ciu Pek-thong yang selalu periang, yang lain2 berhati sedih semua.
Sampai dekat tengah malam, dengan Ui Yong sebagai pembuka jalan, mereka bertujuh lantas menerjang ke dalam perkemahan musuh.
Betapapun tinggi ilmu silat ketujuh orang ini namun begitu besar tentara Mongol, perkemahan berderet2 tak terhitung panjangnya, baru setengah jalan mereka menerjang sudah diketahui patroli musuh, sekali gembreng ditabuh ber-talu2, seketika terkepung, walaupun begitu keruan yang lain ternyata tenang2 saja tidak kacau, suatu tanda betapa disiplin dan terlatihnya pasukan Mongol.
Ui Yong menjadi kuatir, begitu hebat pasukan musuh, untuk mematahkan kepungan musuh atas Siangyang kali ini rasanya tidak mudah, sementara itu Ciu Pek-thong telah berhasil merampas dua tombak panjang terus mendahului membuka jalan, Ui Yok-su dan It teng jalan mungkur untuk menahan kejaran musuh, empat wanita ter-apit di-tengah2 dan menyerbu terus ke depan.
Baiknya di dalam pasukan tentara yang besar, karena kuatir kena kawan sendiri maka perajurit Mongol tak berani melepaskan panah, kalau di tanah lapang dan dihujani panah, betapapun tangkas Ciu Pek-thong dan Ui Yok-su cs, juga tak mampu menahannya.
Sambil bertempur mereka maju terus, sedang pasukan musuh makin lama makin banyak, berpuluh2 tombak selalu menusuk ke arah mereka bergantian.
Tapi di mana angin pukulan Ciu Pek-thong, Ui Yok-su dan It-teng Taysu sampai, di situ segera senjata2 musuh patah dan orangnya terluka atau mampus, sungguhpun demikian tentara Mongol itu ternyata pantang mundur.
"Ui-Iosia, kita bertiga tua bangka ini tampaknya hari ini akan mampus disini,"
Kata Lo-wan tong tiba2 dengan tertawa.
"Masa paling baik kan berdaya agar empat anak dara ini saja ditolong keluar.
"Fui,"
Semprot Eng Koh.
"Omong tidak-genah, masakan aku sudah nenek2 dianggap anak dara? Hendak mati biarlah kita mati bersama, tiga anak dara ayu inilah yang harus ditolong."
Diam2 Ui Yong berkuatir, pikimya.
"Selamanya Lo wan-tong tidak pernah kenal takut, kenapa sekarang tiba2 bilang jiwanya bakal melayang di sini, tampaknya alamat tidak baik!"
Tapi tentara musuh merubung bagai semut, kecuali melawan mati2an, hakekatnya tak berdaya lain.
Sesudah beberapa deret perkemahan musuh di tembus lagi, tiba2 Ui Yong melihat di sebelah kiri sana terdapat dua kemah besar berwarna hitam, ia pernah ikut Jengis Khan menggempur ke benua barat, ia tahu kemah demikian ini biasanya dipakai sebagai gudang rangsum.
Tiba2 pikirannya tergerak, Mendadak ia melompat ke samping dan berhasil merampas sebuah obor seorang perajurit musuh terus berlari ke kemah gudang rangsum itu.
Segera perajurit Mongol ber-teriak2 mengejarnya, tapi Ui Yong sangat sebat, sekali menyelusup, segera ia masuk ke kemah itu, obornya diangkat, segala benda dibakarnya.
Maka sekejap saja dua kemah besar itu sudah kebakaran beberapa tempat, habis itu Ui Yong menerobos keluar lagi bergabung dengan rombongan Ciu Pek-thong.
Benda yang tertumpuk didalam kemah itu tidak sedikit terdiri dari barang yang mudah terbakar, maka cepat saja api sudah menjilat dengan hebatnya.
Lo-wan-tong menjadi tertarik, iapun takmau ketinggalan dari perajurit musuh ia dapat merampas dua obor, iapun pergi menyulut api ke mana2, malahan tanpa sengaja suatu kandang kuda kena dibakarnya, keruan seketika kacau balau oleh lari-kuda2 yang tunggang-langgang, maka pasukan Mongol menjadi kalang kabut.
Waktu itu Kwe Cing berada di kota Siangyang dan mendengar pasukan musuh di utara benteng kacau-balau, ia memeriksa ke atas benteng dan melihat api menjulang tinggi di tengah perkemahan musuh, ia tahu ada orang mengaduk di perkemahan pasukan Mongol itu, maka cepat ia kirim 2000 perajurit dan memerintahkan Bu Tun-si dan Bu Siu-bun berdua menggempur keluar benteng.
Waktu kedua saudara Bu itu sudah beberapa li di luar kota, terlihatlah Ui Yok-su memayang Liok Bu-siang, It-teng Taysu mendukung Ciu Pek-thong tujuh orang dengan menunggang lima ekor kuda sedang mendatangi dengan cepat.
Kedua saudara Bu tak berani menyongsong maju, tapi pasukan yang dipimpinnya itu lantas tersebar ambil kedudukan untuk menahan kejaran tentara musuh, dengan begitu, barisan belakang dijadikan barisan depan untuk melindungi rombongan Ui Yong masuk ke kota.
Kwe Cing sudah menanti di atas benteng, melihat ayah mertua, isteri tercinta, It teng Taysu, Lo-wan-tong datang semua ia sangat girang dan lekas2 membuka pintu benteng menyambut keluar.
Ia lihat pinggang Liok Bu-siang terluka tombak musuh, punggung Ciu Pek thong kena tiga panah, jenggot dan alisnya kelimis terbakar, luka kedua orang ternyata tidak enteng.
Ui Yong sendiri, Thia Eng dan Eng Koh juga terluka kena panah, cuma tidak berbahaya.
It teng dan Ui Yok-su sama2 mahir ilmu pertabiban, setelah memeriksa luka Liok Bu-siang dan Lo wan-tong, mereka mengkerut kening dan bermuka muram tanpa berkata.
"Toan hongya, Ui-losia, kalian tak perlu sedih, Lo-wan-tong sudah dapat firasat dan yakin takkan mampus,"
Demikian tiba2 Ciu Pek-thong buka suara dengan tertawa.
"Maka paling baik kalian curahkan perhatian untuk menyembuhkan si anak dara Bu siang saja."
Begitulah Lo-wan-tong masih terus berkelakar dengan Ui Yok-su, tapi terhadap It-teng Taysu ia sangat menghormatinya, bahkan rada2 takut, meski lt-teng sudah lama menjadi Hwesio, namun sebutan "Toan-hongya"
Masih terus dipakainya.
Melihat Lo wan-tong sanggup menahan sakit dan masih berkelakar, Ui Yok-su dan It-teng menjadi sedikit tega, Hanya keadaan Liok Bu-siang yang menguatirkan, gadis ini masih tak sadarkan diri.
Thia Eng terus menunggui di tepi ranjangnya dan diam2 mengucurkan air mata.
Besok paginya baru terang tanah, diluar kota sudah terdengar tiupan tanduk disertai genderang yang bertalu2 pasukan Mongol telah mulai menyerang besar2an.
Pembesar Siangyang yang resmi, gubemur Lu Bun-hwan memimpin pasukan menjaga di empat penjuru pintu benteng.
Kwe Cing dan Ui Yong mengawasi dari atas benteng, terlihat pasukan musuh membanjir datang bagai semut.
Di antara serangan pasukan Mongol beberapa kali ke Siangyang, persiapan sekali inilah yang paling lihay, Baiknya Kwe Cing pernah lama tinggal dalam pasukan Mongol di masa mudanya, sehingga paham siasat apa yang dipakai tentara Mongol untuk menggempur benteng, segala serangan musuh2 selalu digagalkan, pertarungan sengit itu berlangsung sampai hari sudah petang, perajurit Mongol tewas lebih 2000 jiwa, tapi dari belakang masih terus membanjir dan menggempur benteng dengan gagah berani.
Di dalam kota Siangyang kecuali beberapa puluh ribu perajurit ada pula ratusan ribu penduduk sipil, semua orang tahu mati-hidup mereka bergantung pada pertahanan kota ini, maka setiap orang muda2 yang masih kuat, semua memanggul senjata memenuhi kewajiban pertahanan kota, sekalipun yang tua, wanita dan anak-2 juga tak mau ketinggalan dan membantu di garis belakang.
Maka seketika di dalam maupun di luar kota menjadi gegap-gempita, panah berseliweran di atas udara bagai belalang terbang.
Kwe Cing sendiri dengan tangan menghunus pedang memimpin pertahanan kota di atas benteng.
Ui Yong berdiri di sampingnya dan menyaksikan pertempuran yang semakin sengit itu.
Tiba2 terdengar perajurit Mongol di bawah benteng berseru.
"Banswee (Dirgahayu)!Banswe! Ban-banswe!"
Suara itu dari jauh mendekat bagai gelombang ombak saja, sampai akhirnya beratus ribu perajurit berteriak berbareng sehingga se-akan2 langit ambruk dan menggempa bumi, Laiu tertampaklah sebuah.panji besar berkibar tinggi, beberapa perwira mengiringi seorang dengan payung kencana, Sesudah dekat, ternyata raja Monko sendiri yang maju ke garis depan.
Melihat raja mereka datang sendiri, perajurit Moogol menjadi tambah bersemangat.
Ketika panji merah berkibar, satu pasukan beijumlah 20 ribu orang terus menggempur pintu benteng utara dengan mati2an, ini adalah pasukan cadangan raja Mongol yang terlatih dan paling tangkas, pula semua perajurit ingin berjasa dihadapan rajanya, maka begitu tangga bersandar tembok benteng segera bagai semut berebut naik ke atas.
"MariIah saudara2, hari ini biar raja musuh melihat sendiri betapa gagah perwiranya rakyat Song kita yang jaya!"
Teriak Kwe Cing sambil mengangkat tangannya.
Begitu keras suara Kwe Cing hingga perajurit Song serentak terbangkit semangatnya, semuanya bertempur mati2an mengenyahkan penjajah.
Mayat perajurit Mongol yang menggempur benteng itu tampak makin lama makin banyak dan bertambah tinggi tertumpuk, tapi bala bantuan masih terus membanjir tiada putus2nya.
Kurir yang selalu berada di samping raja Monko tampak mondar-mandir meneruskan perintah.
Tatkala itu tiba2 terdengar petugas itu berteriak "Dengarlah para perajurit dan bintara!
Titah raja,"
Barang siapa yang paling dulu menginjak ke atas benteng, siapa lantas dianugerahi pangkat walikota Siangyang.
Mendengar itu, bersoraklah perajurit Mongol, segera ada beberapa orang yang tak takut mati terus merangsang ke atas benteng.
Kurir itu membawa panji merah dan wira-wiri meneruskan perintah sang raja.
Kwe Cing menjadi gusar, ia pentang busur terus memanah, pesat amat panah itu dan tepat menembus dada petugas musuh itu hingga terjungkal dari kudanya.
Perajurit Mongol ber-teriak2 lagi, sesaat semangat mereka sirap, tapi hanya sebentar, kembali sepasukan cadangan baru tiba pula dibawah benteng.
Dengan tombak panjang di tangan Yalu Ce berlari kehadapan Kwe Cing dan berkata.
"Gakhu, Gakbo (ayah dan ibu mertua), musuh sukar digempur mundur, biarlah anak keluar benteng menerjangnya."
"Baik, bawalah 3000 perajurit, cuma harus hati2"
Sahut Kwe Cing.
Cepat Yalu Ce turun dari benteng, tidak lama kemudian, genderang dipukul riuh sckali, begitu pintu benteng terbuka, 1000 anggota Kay-pang dan 2000 tentara negeri di bawah pimpinan Yalu Ce dengan tombak dan tameng terus menerjang ke depan.
Di bagian pintu utara pasukan Mongol sedang menggempur benteng, ketika mendadak melihat pasukan Song menerjang keluar, cepat mereka putar tubuh terus lari mundur, Segera Yalu Ce pimpin pasukannya memburu, tapi mendadak terdengar tiga kali suara meriam, dua pasukan MongoI telah mengepung dari kanan kiri hingga 3000 orang yang dipimpin Yalu Ce terkepung di-tengah2..
Pasukan Mongol itu berjumlah lebih 20 ribu orang, keruan tiga ribu orangnya Yalu Ce terkepung rapat, namun mereka tak gentar, terutama seribu anggota Kay-pang itu semuanya berilmu silat bagus dan sanggup satu lawan sepuluh, mereka bertempur dengan mati2an.
sedang sepasukan tentara Mongol yang lain kembali memasang tangga menggerapah ke atas benteng lagi.
Melihat sebagian pasukan Mongol sudah tertahan oleh Yalu Ce, segera Kwe Cing memberi perintah pada kedua saudara Bu agar membiarkan perajurit Mongol menyerbu masuk dari gugusan benteng, Sesudah kedua Bu terima perintah itu dan undakan pasukannya, sekejap saja beratus dan beribu perajurit Mongol berhasil merangkak sampai di atas benteng.
Melihat itu, Lu Bun hwan menjadi ketakutan hingga mukanya pucat lesi, badannya gemetar, mulut ternganga.
Namun Kwe Cing tenang2 saja, ia biarkan perajurit Mongol naik kira2 lima ribu orang, tiba2 panji kuning mengebas, se-konyong2 genderang berbunyi, Cu Cu-liu dan Bu Sam-thong masing2 memimpin sepasukan tentara cadangan segera menyerbu keluar dari tempat sembunyi mereka, seketika saja gugusan benteng yang bobol tadi tertutup rapat, perajurit Mongol yang lain tak dapat naik Iagi.
sedang lima ribu orang musuh yang berada di dalam benteng itu terjeblos ke dalam kepungan.
Begitulah, jika di luar benteng pasukan Song terkepung, sebaliknya di atas benteng pasukan Mongol juga terkurung, Sedang pertempuran di ketiga pintu benteng yang lain masih berlangsung dengan sengit luar biasa.
Betapa gagah berani perlawanan pasukan Song itu sungguh sangat mengagumkan raja Mongol, diam2 ia memuji dan insaf salah duga atas kekuatan lawan, sementara itu sudah tengah malam, sinar bulan purnama, langit bersih, angin silir2 sejuk, sebaliknya di permukaan bumi saat itu beratus ribu manusia sedang bertempur mati2an.
Pertempuran ini berlangsung sejak pagi hingga tengah malam, kerugian masing2 pihak sama besarnya.
Pasukan Song menang pada tempat, sebaliknya pasukan Moogol menang jumlah lebih banyak, Selang agak lama, tiba2 sepasukan tentara Song menyerang ke tanah bukit sana, lekas2 pasukan pengawal raja Mongol yang berada di tanah bukit itu melepaskan panah.
Di tempat tinggi raja MongoI dapat melihat jelas dalam pasukan Song itu ada seorang panglima setengah umur.
bersenjata sepasang tumbak, menunggang seekor kuda besar sedang terjang ke sana ke mari tak tertahankan meski panah berhamburan seperti hujan ke arahnya, tapi seluruhnya kena di tangkis dan disampuk oleh tumbak2nya.
"Orang yang gagah ini, siapakah dia?"
Tanya Monko pada bawahannya.
"Lapor Sri Baginda, orang ini Kwe Cing adanya,"
Kata seorang panglima tua di sampingnya.
"Ai, kiranya dia, benar2 gagah perkasa, namanya bukan omong kosong belaka!"
Puji Monko tak tertahan.
Mendengar raja mereka memuji musuh, ada empat perwira merasa kurang senang, sekali berte-riak, be-ramai2 mereka lantas menerjang maju memapak Kwe Cing.
Akan tetapi betapa tangkas dan besar tenaga sakti Kwe Cing, mana keempat perwira itu sanggup melawannya, hanya sekali dua gebrakan saja, keempat perwira itu ber-turut2 sudah dibinasakan.
Maka perwira2 Mongol yang laih menjadi jeri, tiada yang berani pamer lagi di hadapan raja mereka, hanya dari jauh mereka menghujani panah.
Kwe Cing keprak kuda hendak menerjang ke atas bukit itu, tapi beratus senjata perajurit musuh rapat menghadangnya, beberapa kali ia berusaha merangsang maju.
tapi selalu terdesak mundur.
Mendadak kudanya terkena panah hingga meringkik terus roboh.
Perajurit2 Mongol bersorak senang terus merubung maju, Tak terduga mendadak Kwe Cing melompat bangun, sekali tumbaknya menusuk, ia binasakan seorang bintara musuh dan mencemplak keatas kuda rampasan ini, dengan putar tumbak dan menghantam dengan tangan dari dekat, dalam sekejap saja belasan perwira dan perajurit musuh kena dimatikan pula.
Melihat di antara sekian banyak perajuritnya ternyata tiada seorangpun yang mampu mendekati Kwe Cing, diam2 ia mengerut kening, Tiba2 ia memberi perintah.
"Barang siapa bisa membunuh Kwe Cing akan diberi hadiah selaksa tahil emas dan kenaikan pangkat tiga tingkat sekaligus."
Karena janji yang menarik ini, serentak pasukan Mongol lantas membanjir maju.
Nampak keadaan rada gawat, pula dirinya tidak mampu mendekati raja musuh, mendadak Kwe Cing hantam mundur beberapa pengeroyoknya, lalu mementang busur dan melepaskan panah ke arah Monko.
Begitu pesat anak panah itu meluncur secepat kilat terus menyamber ke muka raja itu.
Terkejut para pengawal Monko, dua bintara yang berdiri di sampingnya cepat mengadang di depan junjungan mereka, maka tidak ampun lagi panah itu menembus bintara yang pertama, bahkan terus menembus dada bintara yang kedua yang berdiri dibelakangnya hingga mirip sujen sate.
Metihat betapa hebat serangan panah itu, muka Monko menjadi pucat, di bawah iring2an pengawalnya cepat mundur ke bawah bukit, Padas saat itulah kembali pasukan MongoI ber-teriak sepasukan Song menerjang datang pula, seorang paling depan memutar sepasang gayuh besi sedang menghantam dan menpepruk dengan hebatnya, kiranya dia Su-sui Hi-un, si nelayan dari sungai Su itu muridnya It-teng Taysu.
Rupanya Ui Yong menjadi kuatir karena melihat sang suami seorang diri terkepung musuh, maka Su-sui Hiun diperintahkan memimpin dua ribu tentara untuk memapaknya.
Dalam pada itu, karena melihat raja mereka mengundurkan diri, semangat perajurit Mongol rada terguncang, barisan merekapun kelihatan rada kacau.
Keadaan itu dapat dilihat jelas oleh Ui Yong yang mengawasi di atas benteng, cepat ia memberi perintah.
"Be-ramai2 kita berteriak bahwa raja Mongol sudah mati!"
Maka gegap gempitalah suara teriakan perajurit Song yang menyorakkan.
"Hura, raja Mongol sudah mati! Raja Mongol sudah mati!"
Bahkan di antara perajurit yang fasih bercakap bahasa Mongol segera berteriak dalam bahasa itu.
Mendengar teriakan itu, para perajurit Mongol menoleh ke belakang dan melihat panji kebesaran raja mereka benar2 sedang mundur ke belakang, di sekitar panji itu kelihatan pula kacau-balau, mereka menyangka raja benar2 sudah tewas, seketika semangat tempur mereka patah dan beruntung mundur dengan cepat.
Segera Ui Yong memberi perintah mengejar, pintu benteng segera terpentang, tiga puluh ribu perajurit cadangan terus menerjang keluar, tiga ribu orang yang dipimpin Yalu Ce sudah gugur hampir se-paroh, sisanya kini sekalian ikut menguber musuh.
Tapi pasukan Mongol, sudah banyak pengalaman bertempur, meski kalah, formasi mereka tidak buyar, mereka mundur teratur ke utara, maka pasukan Song juga tidak berani terlalu mendesak.
Hanya lima ribu orang Mongol yang menyerbu kedalam benteng tadi tiada seorangpun yaug tersisa hidup.
Setelah pasukan musuh mundur seluruhnya, sementara itu hari sudah terang tanah, pertempuran sengit ini bertarung tidak kurang daripada 12 jam, mayat bergelimpangan bertumpang tindih, darah menggenang bagai air sungai, tombak patah, golok putus, panji sobek, semuanya berserakan memenuhi jalan sepanjang berpuluh Ii.
Dalam pertempuran ini pihak Mongol kehilangan lebih 30 ribu perajurit pilihannya, sedangkan pihak Siangyang gugur belasan ribu jiwa, Semenjak bangsa Mongol menjajah ke selatan, pertempuran inilah yang terdahsyat dan paling banyak menelan korban.
Setelah mengundurkan pasukannya sejauh 40 li, Monko memerintahkan berkemah.
Teringat keadaan berbahaya tadi, dalam hati masih tak tenteram rasanya.
Tak lama kemudian, adik raja, Kubilai, datang menghadap dan menyampaikan sembah bakti pada Sri Baginda.
"Adikku,"
Kata Monko pada Kubilai.
"mendiang ayah kita suka memuji akan gagah perwiranya Kwe Cing, setelah aku menyaksikan sendiri tadi barulah aku benar2 kagum dan putus asa pula."
"Kakak Baginda tak perlu kuatir, hamba sudah mempunyai suatu akal yang pasti akan bikin Kwe Cing menyerah tanpa berkutik dan Siangyang dengan cepat akan bobol,"
Kata Kubilai. Girang sekali Monko, cepat ia tanya apa tipu akal itu. Kubilai tidak lantas menjawab, ia menoleh kepada pengawalnya dan berkata.
"Silakan Koksu (imam negara) masuk!" -Nyata datangnya Kubilai disertai Kim-lun Hoat-ong. Dalam pada itu, sesudah pasukan Siangyang dapat menggempur mundur musuh, seluruh kota di mana2 terdengar suara tangisan yang memilukan, ada ibu bertangis kehilangan anak, ada isteri menangisi suami, suasana tenggelam dalam keadaan berduka cita. Tanpa mengaso segera Ui Yong pergi memeriksa dan menghibur bawahannya, lalu pergi memeriksa keadaan lukanya Ciu Pek-thong dan Liok Bu siang, ternyata luka mereka sudah baikan. malahan Lo-wan-tong sudah tak sabar lagi rebah di pembaringan, ia sudah keluyuran ke taman. Melihat muka orang yang kini kelimis, Kwe Cing dan Ui Yong merasa geli. Besok paginya, selagi Kwe Cing hendak berunding situasi militer dengan Lu Bun-hwan. tiba2 ada laporan, katanya ada sepasukan tentara Mongol sekira 10 ribu orang sedang menuju ke arah pintu benteng utara, Lu Bun-hwan terkejut bahwa musuh berani datang lagi, Kwe Cing juga segera naik ke atas benteng untuk memeriksa. Maka tertampaklah pasukan musuh itu ambil kedudukan di tempat 3-4 li jauhnya dari kota dan tidak menyerang, Selang tak lama, beribu tukang telah mendatangkan batu dan mendirikan cagak terus membangun sebuah panggung yang tingginya belasan tombak. Tatkala itu Ui Yok-su, Ui Yong, It teng Taysu dan Cu Cu-liu juga sudah naik ke atas benteng, demi melihat tentara Mongol tiba2 mendirikan panggung, mereka menjadi heran dan bingung.
"Jika panggung itu oleh musuh akan digunakan untuk mengintai keadaan dalam benteng, tempatnya tidak seharusnya begitu jauh, apalagi kalau tentara kita memanahnya dengan api, segera bisa terbakar lalu apa gunanya?"
Demikian pendapat Cu liu, Ui Yong pun tak mengerti akan maksud tujuan musuh itu meskipun sudah coba menyelami.
Dan sesudah panggung itu berdiri, beberapa ratus serdadu Mongol dengan kereta2 kuda tampak mengangkut datang kayu2 bakar terus ditumpuk di sekitar panggung tampaknya panggung itu seperti hendak dibakar.
Cu-liu semakin heran, katanya.
"Apakah musuh hendak pakai ilmu gaib? Atau hendak bersembahyang?"
"Sudah lama aku tinggal di tengah pasukan Mongol, tapi selamanya tak pernah melihat cara aneh ini,"
Ujar Kwe Cing.
Tengah bicara, kembali tertampak beribu serdadu Mongol lagi ayun cangkul dan sekop, sedang menggali sebuah parit yang lebar dan dalam di sekitar panggung, Tanah yang digali itu menggunduk melingkari parit itu hingga berwujud seperti pagar.
"Haha, kota Siangyang adalah bekas kediaman Cukat Liang di jaman Samkok, tapi bangsa asing ini berani main kayu di depan rumah nabi, sungguh terlalu menghina bangsa kita?"
Demikian jengek Ui Yok-su dengan gusar.
Dalam pada itu di tengah bunyi genderang ber-turut2 datang pula empat pasukan musuh terus melingkari keempat penjuru panggung tadi dengan macam2 senjata siap di tangan, panggung itu menjadi terkurung rapat.
Mendadak terdengar dentuman meriam sekali, suara genderang lantas berhenti, keadaan sunyi senyap, dari jauh dua penunggang kuda berlari kebawah panggung itu.
Kedua penunggang itu turun dari kuda terus bergandengan tangan naik keatas panggung.
Karena jaraknya jauh dari benteng, maka muka kedua orang itu tak jelas kelihatan, hanya lapat2 seperti seorang pria dan seorang perempuan.
Sedang semua orang ter-hcran2, se-konyong2 Ui Yong menjerit kaget, terus roboh ke belakang dan pingsan.
Lekas semua orang menolongnya siuman dan sama menanya sebab apakah?"
Dengan wajah pucat Ui Yong berkata dengan suara gemetar "ltulah Yang-ji, itulah Yang-ji!"
Terkejut semua orang dan saling pandang.
"Apakah jelas kau melihatnya, Kwe-hujin?"
Tanya Cu liu.
"Meski tidak terang melihat mukanya, tapi menurut dugaan, pastilah dia,"
Kata Ui Yong.
"Musuh tak berhasil membobol benteng, sekarang ternyata pakai akal keji, sungguh rendah dan tidak tahu malu."
Mendengar penuturan itu, segera Ui Yok-su dan Cu Cu-Iiu paham duduknya perkara, merekapun sangat gusar sebaliknya Kwe Cing masih belum mengerti tanyanya.
"Kenapa Yang ji bisa berada diatas panggung itu? Tipu keji apa yang akan dipakai musuh?"
"Cing koko,"
Kata Ui Yong dengan bersemangat.
"Tak beruntung Yang ji jatuh dalam cengkeraman musuh, mereka sengaja bikin panggung dan taruh Yangji di atasnya sebagai umpan, tipuannya memaksa kau menyerah jika kau tak menyerah mereka akan bakar panggung itu agar kita berdua ngenas dan berduka, hilang semangat dan pikiran kacau, dengan begitu mereka bisa menggempur lebih leluasa tanpa perlawanan kita."
"Sebab apa Yang ji jatuh di tangan musuh?"
Tanya Kwe Cing terkejut dan gusar.
"Ya, karena kesibukan militer beberapa hari ini, kukuatir pencarkan perhatianmu maka tidak kuceritakan padamu,"
Sahut Ui Yong.
Lalu iapun menceritakan pengalamannya di Coatceng-kok, di mana Kwe Yang kena digondol Kim lun Hoat-ong.
Mendengar Nyo Ko menghilang dalam jurang, ber-ulang2 Kwe Cing menanya lebih jelas, betapa perhatiannya pada Nyo Ko kelihatan sekali pada wajahnya.
Betapa tinggi budi luhur Kwe Cing, tanpa pikirkan puteri sendiri yang menghadapi bahaya dibakar, tapi tanya dulu keselamatan Nyo Ko, sungguh bikin semua orang sangat mengaguminya.
Scsudah selesai mendengarkan penuturan Ui Yong, dengan mengkerut kening kata Kwe Cing.
"Yong-ji, inilah kesalahanmu mati hidup Ko-ji belum diketahui, kenapa kau meninggalkannya pergi?"
Selamanya Kwe Cing sangat menghormat dan cinta isterinya, tak pernah mencelanya dihadapi orang luar, kini celaan itu diucapkannya dengan sungguh2, Ui Yong menjadi merah mukanya.
"Kwe hujin sudah menyelam ke dalam telaga hingga hampir beku kedinginan dan keadaan Nyo Ko juga sudah kami selidiki memang betul2 tidak berada dijurang itu, pula nona Kwe jatuh di tangan musuh, maka be-ramai2 kami mengusulkan mengejar kembali, hal ini tak bisa menyalahkan Kwe hujin"
Demikian It teng Taysu menjelaskan Karena itu, terpaksa Kwe Cing tak berani bilang apa2 lagi, hanya dengan gemas ia berkata pula.
"Anak dara ini selalu bikin gara2 saja, kalau sampai Ko-ji terjadi apa2, hati kita apakah bisa tenteram? Hari ini biarlah dia dibakar mati musuh saja beres!"
Dengan cemas diam2 Ui Yong turun dari benteng, Mendadak pintu benteng dibuka, dengan menunggang kuda sendirian cepat ia kabur ke utara, Keruan semua orang sangat terkejut Be-runtun2 Kwe Cing, Ui Yok-su, It-teng, Cu Cu-liu dan lain-nya cemplak kuda menyusulnya.
Setiba di depan panggung tinggi tadi, mereka berhenti dalam jarak yang tak dicapai panah musuh, maka terlihatlah di atas panggung berdiam dua orang yang satu berjubah kuning, ialah Kim-lun Hoat-ong, sedang lainnya adalah gadis remaja dengan kedua tangannya diikat pada sebuah cagak.
Siapa lagi dia kalau bukan Kwe Yang.
Meski gusar karena anak dara itu suka timbulkan onar, tapi kasih-sayang ayah, mau-tak-mau Kwe Cing menjadi kuatir, teriaknya keras2.
"Yang-ji, jangan kuatir, ayah-ibu datang buat menolong kau!?"
Betapa kuat tenaga dalamnya, suara teriakannya itu dengan jelas terkirim sampai di atas panggung itu, Waktu itu Kwe Yang sudah dalam keadaan sadar-tak-sadar terpanggang sinar matahari yang terik, ketika mendadak mendengar suara ayah-nya, segera iapun ber-teriak2.
"Ayah, ibu!"
Cuma panggung itu terlalu tinggi, jaraknya juga jauh, maka suaranya tak terdengar oleh ayah-bundanya. Sementara itu Kim-lun Hoat ong sedang tertawa ter-bahak2, katanya lantang.
"Kwe-tayhiap, tidaklah sulit jika kau ingin aku membebaskan puterimu, soalnya tergantung apakah kau punya keberanian tidak?"
Selamanya Kwe Cing sangat tenang, makin berbahaya keadaan yang dihadapi, makin tenang pikirannya, kini mendengar kata2 Hoat-ong itu, sama sekali ia tidak gusar, jawabnya.
"Ada persoalan apa,-"
Silakan Hoat-ong menunjukkan"
"Kalau memang kau mempunyai rasa cinta kasih seorang ayah terhadap puterinya, segera kau naik panggung sini dan menyerahkan diri, kita satu tukar satu, puterimu segera kubebaskan,"
Demikian kata Hoat-ong.
Nyata ia tahu Kwe Cing sangat tinggi budi, tidak nanti untuk seorang puterinya mau mengorbankan jiwa penduduk seluruh kota Siangyang, oleh sebab itu ia sengaja keluarkan kata2 pancingan supaya Kwe Cing masuk perangkap sendiri.
Tak terduga Kwe Cing ternyata tak dapat ditipu, jawabnya lantang.
"Jika musuh asing itu tidak takut padaku, kenapa kalian tawan puteriku? Dan kalau musuh takut padaku, suatu tanda Kwe Cing bukanlah manusia tak berguna, kenapa mesti mati tanpa arti?"
"Hm, orang berkata ilmu silat Kwe-tayhiap lihay, gagah perkasa, tapi nyatanya hanya seorang manusia takut mati dan tamak hidup,"
Demikian jengek Hoat-ong.
Kata2 pancingan ini bila dipakai terhadap orang lain mungkin akan berhasii, tapi Kwe Cing memikul tanggung jawab atas keselamatan seluruh penduduk kota, ia anggap sepi saja kata2 orang dan diganda tersenyum belaka tanpa menggubris.
Tapi Bu Sam-thong dan Su-sui Hi un menjadi murka, segera mereka hendak menerjang maju, namun It-teng Taysu keburu mencegah mereka.
"Kwe-tayhiap,"
Terdengar Hoat-ong berseru pula.
"puterimu pintar dan cerdik, sebenarnya aku sangat menyukainya dan berniat menjadikan dia murid ahliwarisku. Tapi Hongsiang ada titah, bila kau tidak takluk, segera anak dara ini akan dibakar di atas panggung ini. jangankan kau sakit hati atas puterimu yang malang ini, sekalipun aku sendiri juga merasa sayang, maka harap kau suka memikirkannya dalam2."
Kwe Cing menjengek tanpa menjawab, ia lihat berpuluh serdadu musuh sudah siapkan obor disamping tumpukan kayu bakar di bawah panggung itu, asal sekali Hoat-ong memberi perintah, segera api akan disulut.
Berpuluh ribu serdadu musuh mengepung panggung dengan rapat, hanya manusia biasa saja mana mampu menembusnya?
Pula sesudah dekat, kalau api sudah menjilat panggung itu, cara bagaimana bisa menolong puteri kecil itu?
Waktu Kwe Cing mendongak, ia lihat muka puterinya pucat lesu, tak tahan hatinya bagai disayat.
Cukup lama Kwe Cing ikut di dalam pasukan Mongol, dahulu ia kenal serdadu Mongol yang kejam tak kenal ampun, sehari saja tidak segan membunuh beratus ribu wanita maupun kanak2, apalagi kini hanya Kwe Yang, mirip saja seekor semut yang tak berarti.
Karena itu, dengan mengertak gigi ia berteriak.
"Wahai, Yang-ji, dengarlah, ayah bundamu berjuang untuk negara dan bangsa, mati-hidup tidak terpikir. Kau adalah puteri ibu pertiwi, kau harus berani berkorban dengan gagah perwira, dan jangan takut. Hari ini bila ayah-ibu tak bisa menolong kau, kami kelak pasti akan membunuh paderi jahat ini untuk membalas sakit hatimu. Mengertikah kau?"
Dengan mengembeng air mata Kwe Yang mengangguk teriaknya dari jauh.
"Ya, ayah dan ibu, anak tak gentar!"
"ltulah puteriku sejati!"
Seru Kwe Cing.
Habis ini, ia tanggalkan gandewa dari pinggangnya, panah dipasang terus dijebretkan beruntun2 tiga kali, kontan tiga serdadu musuh yang memegang obor di bawah panggung itu terjungkal tiga panah itu ternyata menembus dada mereka.
Harus diketahui ilmu memanah dan menunggang kuda Kwe Cing diperoleh dari ahli panah Caepo yang tersohor di MongoI waktu Kwe Cing tinggal disana dahulu, ditambah lagi tenaga dalamnya yang luar biasa kini, serdadu Mongol lantas berteriak2 sambil angkat perisai untuk melindungi tubuh.
"Marilah kembali"
Kata Kwe Cing kemudian pada rombongannya terus putar kuda dan kembali ke kota.
Setiba di atas benteng lagi, Ui Yong ter-mangu2 memandangi panggung di mana puterinya terikat, pikirannya kacau tak terlukiskan.
"Yong ji, mari kita pakai barisan 28 bintang untuk menempur musuh,"
Kata Ui Yok-su tiba2 Ui Yong terkesiap, sahutnya.
"Tapi meski menang kalau musuh lantas bakar panggung itu, lantas apa daya kita?"
"Asal kita bunuh musuh sekuat tenaga, mati-hidup Yang ji kita serahkan pada takdir,"
Sela Kwe Cing tiba2 dengan bersemangat "Gakhu, mohon tanya, barisan 28 bintang itu cara bagaimanakah mengaturnya?"
"Perubahan barisan bintang2 ini sangat ruwet" , sahut Yok su tertawa "Aku menciptakan barisan 28 bintang2 ini, sebab dahulu menyaksikan "Thiankeng-pak-tau-tin"
Kaum Coan cin-kau, tujuanku hendak menandingi imam2 Coan-cin itu."
"Bagus, dalam hal ilmu pasti dan segala ilmu mujijat lainnya, Ui-Iosia memang menjagoi seluruh kolong langit, sekalipun Ong Tiong-yang hidup kembali juga tak lebih unggul daripadamu, barisan bintang2 ciptaanmu ini pasti sangat hebat,"
Demikian It-teng ikut bersuara. Yok su tidak lantas menjawab, ia berpikir sejenak, lalu katanya "
Barisanku ini tujuannya melulu untuk bertempur dengan jumlah beberapa puluh orang jagoan Bu-lim saja, sebenarnya tak pernah terpikir akan dipakai dalam pertempuran melawan beratus ribu tentara ini.
Tapi kalau diubah sedikit rasanya masih dapat dilakukan.
sayangnya sekarang kekurangan satu orang dan sepasang rajawali kita."
"Cobalah memberi penjelasan lebih lanjut,"
Pinta It-teng.
"Kalau kedua rajawali itu tidak dibinasakan paderi keparat itu, bila barisan kita dikerahkan segera kedua binatang itu disuruh terbang ke atas panggung untuk menolong Yang-ji, tapi sekarang hal itu tak mungkin lagi,"
Demikian kata Ui Yok-Su.
"Tentang barisan 28 bintang ini, hanya menurut perubahan "pancabuta" (unsur lima macam,"
Api, air, bumi hawa dan eter) saja, harus dipimpin lima jagoan tinggi, kita sudah mempunyai empat orang untuk empat jurusan.
timur, selatan, utara, di tengah, tapi barat, Se-tok Auyang Hong sudah mati dan tiada penggantinya, pula Lo-wan-tong terluka, jika ada Nyo Ko di sini, orang ini cerdik pandai ilmu silatnya tidak di bawah mendiang Auyang Hong, tapi kini ke mana harus mencarinya?
pimpinan untuk jurusan barat ini sungguh membikin aku rada ragu2"
Mendengar nama Nyo Ko disebut, Kwe Cing memandang jauh ke utara melampaui panggung tinggi musuh itu dan bergumam.
"Ya, mati atau hidup-kah Koji sekarang sungguh bikin orang sangat berkuatir."
"Ya, sebab apakah Nyo Ko yang katanya bertemu Kwe Yang didasar jurang, tapi mengapa rombongan Ui Yong tidak menemukannya? Sebab apa dalam waktu tiada satu hari Nyo Ko menghilang tanpa bekas? Kiranya saking berduka dari putus asa karena merasa takkan berjumpa pula dengan Siao liong-li, maka Nyo Ko telah terjun kedalam jurang dengan anggapan pasti akan hancur lebur tubuhnya untuk menghabisi riwayatnya. Tak terduga sampai lama melayang ke bawah, akhirnya terdengar suara "
Plung"
Yang keras, tubuhnya tercemplung masuk kolam air.
Betapa tinggi ia terjun dari atas, dengan sendirinya daya tekanan itu amat kerasnya, maka ia tenggelam lurus ke bawah entah berapa dalamnya, mendadak matanya terbeliak, lapat2 seperti dilihatnya ada sebuah gua air, selagi ia hendak menegasi, daya tolak air kolam yang keras luar biasa telah mengapungkan tubuhnya ke atas lagi, pada saat itulah Kwe Yang pun ikut kecemplung ke dalam kolam.
Karena kejadian aneh yang susul menyusul itu, maka tanpa pikir Nyo Ko menunggu Kwe Yang mengambang ke atas air, lalu menyeretnya ke tepi serta menanyai "Adik cilik, kenapa kau terjatuh ke bawah sini?"
"Melihat kau terjun, aku lantas ikut terjun ke sini,"
Sahut Kwe Yang.
"Tobat! ampun!"
Kata Nyo Ko geleng2 kepala.
"Apakah kau tak takut mati?".
"Kau tak takut mati, akupun tak takut,"
Sahut Kwe Yang pula dengan tersenyum. Hati Nyo Ko jadi tergerak pikirnya diam2.
"Apakah mungkin usia semuda ini ternyata sudah mendalam cintanya padaku?"
Berpikir demikian, tanpa merasa kedua tangannya rada gemetar. Tiba2 Kwe Yang mengeluarkan sebuah jarum emas, ia angsurkan pada Nyo Ko dan bertanya.
"Toakoko, dahulu waktu kau memberikan tiga jarum padaku, kau bilang setiap jarum ini berlaku bagiku mengajukan sesuatu permintaan padamu dan engkau pasti takkan menolak. Kini aku memohonpadamu. Tidak peduli apakah Liong-cici dapat bertemu kembali denganmu atau tidak, janganlah sekali-sekali kau mencari pikiran pendek."
"Apakah jauh2 kau datang dari Siangyang, perlunya melulu untuk memohon hal ini padaku?"
Tanya Nyo Ko dengan suara ter-putus2 sambil memandangi jarum emas itu.
"Ya, benar,"
Sahut Kwe Yang penuh girang.
"laki2 sejati sekali berkata harus dapat dipercaya, apa yang kau pernah sanggupkan padaku, jangan kau mungkir janji."
Nyo Ko menghela napas panjang sekali.
seorang hidup ingin mati, tapi dari mati kembali hidup melalui suatu proses tertentu, betapapun tadinya ia berkeras ingin mati, tak mungkin untuk sekali lagi mencari mati, hal ini adalah kelaziman manusia tanpa kecuali.
Kini demi dilihatnya sekujur badan Kwe Yang basah kuyup, kedinginan hingga giginya gemertak saling beradu, tapi rasa girang pada wajahnya tidak tertutup oleb semua itu, lekas Nyo Ko mengumpulkan kayu kering hendak menyalakan api, tapi ketikan api yang mereka bawa sudah ikut basah semua, tak bisa digunakan lagt, terpaksa ia berkata.
"Adik cilik, kau latihan Lwekang dulu dua kali, supaya hawa dingin tidak menyerang badanmu hingga menimbulkan sakit."
"Marilah kita berdua berlatih semua,"
Sahut Kwe Yang.
Lalu merekapun duduk berendeng menjalankan darah dan mengatur napas, Sejak kecil Nyo Ko sudah digembleng tidur di atas batu kemala dingin di dalam kuburan kuno di Cong-lam-san itu, maka sedikit hawa dingin ini bukan apa2 baginya, ia ulur tangan memegang punggung Kwe Yang, maka mengalir hawa hangat melalui "Sin-tong-hiat"
Dipunggung anak dara itu dan pelahan2 merata ke seluruh tubuhnya.
Tidak lama kemudian, Kwe Yang merasa seluruh badannya hangat kembali dan lebih segar.
Lalu Nyo Ko tanya untuk apa anak dara itu datang pula ke Coat-ceng kok.
Dengan terus terang Kwe Yang lantas menceritakan pengalamannya.
Nyo Ko menjadi gusar, katanya.
"Kim-Iun Hoat-ong ini benar2 jahat, marilah kita cari jalan naik ke atas biar Kakak ajar dia hingga setengah mati."
Pada saat mereka bicara itulah mendadak dari atas jatuh seekor burung raksasa ke dalam kolam, itulah rajawali jantan, keruan Kwe Yang terkejut, lekas2 mereka memeriksa rajawali itu yang ternyata terluka amat parah.
Tak lama, menyusul rajawali betina turun ke bawah dan membawa yang jantan ke atas, ketika untuk kedua kalinya turun pula, Nyo Ko dukung Kwe Yang ke atas punggung binatang itu.
ia sangka tentu rajawali itu akan turun pula untuk menjemputnya, siapa tahu ditunggu hingga lama sekali masih tiada sesuatu suara.
Sudah tentu tak diketahuinya bahwa saat itu rajawali betina sudah mati menumbukkan diri pada batu cadas menyusul rajawali yang jantan.
Menunggu hingga lama dan rajawali betina itu tetap tidak datang, lalu Nyo Ko memeriksa keadaan sekitar kolam itu, tiba2 dilihatnya di atas pohon2 besar berjajar2 beberapa puluh sarang tawon, sarang tawon ini berlipat ganda besarnya daripada sarang tawon biasa, pula tawon2 yang meng-aum2 berseliweran itu ternyata adalah jenis tawon putih yang dulu biasa dipiara Siao liong li di kuburan kuno itu.
Tanpa terasa Nyo Ko berseru terkejut dan hingga seketika terpaku di tempatnya.
Selang agak lama barulah ia mendekati sarang tawon itu, ia lihat di pinggir sarang tawon terpoles tanah liat, terang buatan manusia, lapat2 dikenalinya sebagai karya Siao-liong-li.
Nyo Ko tenangkan semangatnya, ia pikir.
"Jangan2 dahulu ketika Liong-ji terjun ke bawah sini, lalu ia bertempat tinggal di sini?" -tapi ketika ia periksa sekitarnya, tempat ini melulu dinding tebing curam bagai di dasar sebuah sumur saja, di atas penuh kabut putih yang menutupi sinar matahari. Nyo Ko coba ketok2 dan mencari sesuatu tanda pada dinding bata itu, tapi tiada sesuatu yang mencurigakan hanya ada beberapa pohon yang kulitnya seperti pernah dikeletek orang, pula ada tetumbuhan seperti pernah dicangkok ketempat lain, sesaat itu rasa suka duka berkecamuk memenuhi benaknya, hatinya ber-debar2, kini ia yakin bahwa Siao liong li pun pernah tinggal di sini, cuma sudah lewat 16 tahun lamanya, sampai har iini apakah orangnya masih sehat walafiat, siapa yang tahu? Biasanya Nyo Ko tidak percaya setan malaikat segala, tapi, dalam cemasnya ia berlutut dan komat-kamit berdoa.
"Thian yang maha kasih, ber-kahilah aku untuk bertemu sekali lagi dengan Liong ji."
Setelah berdoa, Nyo Ko mencari lagi sebentar, tapi tetap tidak ditemukan sesuatu, ia duduk di atas pohon dan berpikir "Jika Liong-ji sudah mati, seharusnya tertinggal juga kerangka tulangnya di sini, kecuali kalau tulangnya tenggelam di dalam kolam."
Berpikir sampai di sini, mendadak ia melompat turun, ia berkata.
"betapapun juga pasti akan kuselidiki sampai segalanya menjadi jelas, sebelum melihat tulang-belulangnya, hatiku belum lega."
Segera ia menerjun ke dalam kolam terus menyelinap ke dasarnya.
Makin dalam makin dingin rasanya di bawah kolam itu, meski Nyo Ko tidak takut dingin, tapi daya tolak air dibagian bawah terlalu kuat, walaupun beberapa kali Nyo Ko berusaha menerjang ke bawah, tapi tetap tak bisa mencapai dasarnya, sedangkan napasnya sudah makin memburu, terpaksa ia apungkan diri keatas, setelah merangkul sepotong batu besar, kembali ia terjun pula ke dalam kolam.
Sekali ini orangnya berikut batunya terus tenggelam dengan cepat, mendadak pandangannya terbeliak, pikiran Nyo Ko tergerak, lekas2 ia menyelidiki ke arah yang terang, tiba2 terasa pusar air yang menggulung tubuhnya terus terhanyut dengan ketatnya, ternyata di tempat yang terang itu memang ada sebuah gua.
Nyo Ko melepaskan batu besar yang dirangkulnya itu, segera ia menyelam ke gua itu, ternyata gua itu menembus miring ke atas, cepat Nyo Ko mengapungkan diri mengikuti lorong gua itu, selang sejenak, tahu2 kepalanya sudah menongol ke permukaan air, sinar matahari menyorot dengan terangnya, bunga semerbak mewangi, ternyata di situ terdapat suatu "dunia luar"
Ia tidak lantas mendarat, ia melihat sekitarnya pemandangan menghijau permai, bunga mekar menarik, tempat itu seperti sebuah taman bunga yang besar, tapi di sekitarnya tiada suatu bayangan orangpun.
Girang dan kejut Nyo Ko, cepat ia melompat keluar air, kemudian terlihat olehnya di tempat sejauh beberapa puluh tombak sana terdapat beberapa buah rumah petak.
Nyo Ko berlari ke sana, tapi mendadak ia berhenti pula, lalu selangkah demi selangkah ia mendekati rumah2 petak itu, dalam hati ia pikir.
"Jika dalam rumah2 petak ini tetap tidak diperoleh beritanya Liong-ji, lalu bagaimana baiknya?"
Makin dekat dengan rumah2 itu, jalannya makin lambat, dalam hati ia kuatir kalau2 harapannya yang terakhir inipun buyar Akhirnya sampai juga di depan rumah petak, waktu ia dnogarkan sekitarnya, sunyi senyap, tiada suara orang, tiada berkicaunya burung, hanya suara mendengungnya tawon yang pelahan.
Dengan tabahkan diri, Nyo Ko lantai menegur beberapa kali, namun tiada jawaban dari rumah itu, pelahan Nyo Ko dorong daun pintu rumah, maka terpentanglah pintu itu dengan mengeluarkan suara kriat-kriut.
Ketika Nyo Ko melangkah masuk, sekilas saja ia pandang ke dalam, tak tahan lagi sekujur badannya mendadak tergetar ia lihat panjangnya dalam rumah sangat sederhana, tapi rajin dan resik luar biasa.
Di tengah ruangan hanya sebuah meja dua sebuah kursi, lain tidak.
Tapi letak meja kursi itu ternyata sudah sangat dikenalnya, serupa benar dengan keadaan meja kursi diruangan batu dalam kuburan kuno.
Tanpa pikir Nyo Ko berjalan membelok ke kanan, betul saja di sana adalah sebuah kamar, lewat kamar ini ada lagi sebuah kamar yang lebih "besar"
Sebagian meja-kursi dan pembaringan di dalam kamar ini sama saja seperti apa yang terdapat di kamar tidur Nyo Ko di kuburan kuno dahulu, cuma perabot rumah di kuburan kuno itu seluruhnya terbuat dari batu, sedangkan yang di sini terbikin dari kayu.
Sesudah masuk kedalam kamar itu, sambil me-rabai alat2 perabot kamar itu, air mata Nyo Ko sudah mengembeng, kini tak dapat ditahan !agi, air matanya meleleh membasahi pipinya.
Tiba2 terasa sebuah tangan yang halus lemas tetesan2 membelai rambutnya, lalu suatu suara lemah lembut telah menanya padanya.
"Ko-ji urusan apakah yang membuat kau sedih?"
Suara itu, lagunya, cara membelai rambutnya, seluruhnya mirip benar dengan cara Siao-liong-ii dahulu bila sedang menghiburnya, Mendadak Nyo Ko membalik tubuh, maka tertampaklah di depannya berdiri seorang perempuan berbaju putih, kulit badannya putih bagai salju, mukanya cantik bagai bunga sedang mekar, siapa lagi dia kalau bukan Siao-liong li yang dirindukannya siang dan malam selama 16 tahun ini?
Kedua orang saling menjublek sekian saat, lalu sama2 berseru pelahan terus saling rangkul.
Sungguh2.
atau mimpikah ini?
Benar2 ataukah khayal?
Yang jelas rasa rindu selama 16 tahun ini seketika itu tak bisa diutarakan seluruhnya?
Lewat agak lama barulah Nyo Ko berkata.
"Liong-ji wajahmu masih tetap cantik molek, tapi aku sudah tua."
"Tidak, kau tidak tua,"
Sahut Siao liong li dengan pandangan penuh arti.
"Tapi aku punya Ko-ji kini sudah dewasa,"
Sebenarnya umur Siao-liong-It banyak lebih tua daripada Nyo Ko, tapi sejak kecil ia sudah berdiam di Ko bong atau kuburan kuno dan belajar Lwekang dari gurunya, segala cita rasa dan napsu sudah di hilangnya jauh2, sebaliknya Nyo Ko sejak kecil sudah kenyang menderita dan banyak berduka, maka ketika keduanya kawin, wajah mereka tampaknya sepadan.
Dan setelah menikah hingga berpisah selama 16 tahun, Nyo Ko merana dan merantau kemana2, siksaan batin itulah yang membikin rambut di kedua pelipisnya sudah mulai memutih, sebaliknya Siao liong-Ii yang tinggal di tengah jurang, walaupun tidak kurang derita rindunya, tapi latihan selama berpuluh tahun di masa kecilnya itu tidaklah percuma, malahan ia kembali berlatih Lwekang ajaran gurunya dahulu tidak banyak berpikir dan sedikit urusan, seorang diri tinggal di dalam jurang rasanya juga tidak begitu sunyi, kini mereka bersua kembali, Nyo Ko malahan tampaknya lebih tua.
Sudah 16 tahun Siao-liong li tidak berbicara, kini meski sangat girang hatinya, tapi rasanya menjadi tidak lancar hendak ber-cakap2.
Tapi bicarapun tidak perlu buat mereka, hanya saling pandang sambil tersenyum penuh arti, sampai akhirnya Nyo Ko menarik tangan Siao-Liong li dan diajaknya keluar.
"Liong ji, alangkah girangku!"
Kata Nyo Ko kemudian, mendadak ia jumpalitan beberapa kali bagai anak kecil.
Memang waktu kecilnya Nyo Ko suka berjumpalitan seperti ini dan Siaoliong-li suka gunakan tangannya untuk mengusap keringat di jidatnya, kini tanpa terasa iapun keluarkan saputangan mengusap beberapa kali di jidat Nyo Ko, walaupun sebenarnya Nyo Ko tidak berkeringat.
Waktu Nyo Ko periksa sapatangan itu, ia lihat terbuat dari serat kulit pohon yang kasar, karena itu ia dapat membayangkan betapa menderitanya Siao-liong li hidup selama 16 tahun di lembah terasing ini, ia menjadi terharu, ia mem-belai2 rambut Siao-liongli dan bertanya.
"Liong-ji, sungguh menderita sekali kau selama 16 tahun ini."
Siao liong li menghela napas, sahutnya.
"jika aku tidak dibesarkan di kuburan kuno itu, selama 16 tahun ini pasti tak sanggup bertahan."
Apa yang dikatakan ini memang benar, kalau umpamanya Nyo Ko yang harus tinggal seorang diri di lembah sunyi ini, sekalipun tinggi ilmu silatnya tak nanti sanggup hidup sendiri selama 2-3 tahun.
Harus diketahui sejak kecil Siao liong-li dibesarkan didalam istana kuburan kuno, meski mula2 ada Suhu dan Sun-popo yang merawatnya, dan kemudian berkawankan Nyo Ko, tapi ia sudah biasa hidup bebas sendirian, sedikit sekali bersandar pada orang lain.
Dan karena hidup sepi dalam panjang itulah dapat ia bertahan melewatkan penghidupan ymg tak mungkin ditahan oleh orang lain.
Begitu mereka berdua duduk berendeng diatas batu besar dan saling mengutarakan rasa rindu selama ini...
Dahulu waktu mengetahui Siao liong-li terlalu mendalam terkena racun dan sukar disembuhkan lagi, Nyo Ko menjadi putus asa, iapun tidak ingin hidup lagi tanpa Siao liong li, walaupun ia sendiri jaga terkena racun Coat-hoa atau bunga cinta, ia sengaja buang separoh obat pil "Coat ceng-tan"
Yang bisa menyembuhkan racun yang diidapnya.
Melihat itu, malamnya Siao-liong-li tidak bila tidur, ia pikir pergi datang, ia tahu kecuali ia sendiri mati dulu untuk melenyapkan harapan Nyo Ko barulah ada kemungkinan menyembuhkan racun Ceng-hoa di dalam badannya.
Tapi kalau ia perlihatkan tanda membunuh diri, itu berarti mempercepat kematian Nyo Ko juga.
ia berpikir terus hingga jauh malam, akhirnya ia mengukir beberapa baris huruf itu dikarang Toan jong-khe, ia sengaja Menetapkan janji pertemuan kembali sesudah 16 tahun lagi, habis itu barulah ia terjun ke dalam jurang untuk membunuh diri.
"Kenapa kau menjanjikan 16 tahun? jika kau berjanji 8 tahun saja, bukankah kita akan bertemu kembali lebih dari 8 tahun?"
Tanya Nyo Ko gegetun.
"Aku tahu cintamu padaku terlalu mendalam kalau melulu 8 tahun yang singkat itu, pasti takkan padamkan watakmu yang kesap bagai api,"
Sahut Siao-liong-li.
"Ai, siapa nyana meski sudah 16 tahun, akhirnya kau tetap terjun kemari."
"Ya, itulah tandanya orang lebih baik cinta murni,"
Ujar Nyo Ko tertawa.
"Umpama rasa rindu ku padamu menjadi dingin, paling banyak aku menangis di atas karang, lalu pergi, dengan begitu kita menjadi takkan bertemu lagi untuk selama-lamanya."
Siao-liong li menghela napas panjang oleh nasib mereka yang diluar dugaan ini. Mereka terdiam agak lama, kemudian Nyo Ko tanya pula.
"Dan sesudah kau terjun ke dalam kolam ini, lantas bagaimana?"
"Dalam keadaan sadar-tak-sadar aku jatuh ke dalam kolam, ketika mengapung ke atas lantas terbawa oleh pusaran air masuk gua es itu dan terhanyut sampai di sini, sejak itu aku lantas hidup sendirian"
Tutur Siao liong li.
"Di sini tiada burung maupun binatang, tapi di dalam kolam itu tidak sedikit terdapat ikan, juga buah2an disekitar sini tidak pernah habis, cuma tiada kain, terpaksa harus mengupas kulit pohon untuk ditenun menjadi baju."
"Tatkala itu bukankah kau terkena racun "Peng-pek-gin-ciam"
Dan racunnya sudah meresap, di dunia ini tiada obat yang bisa menyembuhkan lagi, tapi kenapa bisa menjadi baik di dasar lembah ini? Tanya Nyo Ko.
"Waktu aku sampai di sini, beberapa hari kemudian racun dalam badan lantas bekerja hebat, seluruh tubuh se akan2 dibakar, kepala sakit hendak pecah, rasanya tidak tahan lagi, tapi lantas teringat waktu malam pernikahan kita di kuburan kuno itu kau telah mengajarkan cara duduk diatas ranjang kemala dingin untuk menjalankan aliran darah secara terbalik, meski tidak dapat menolak keluar racun, tapi rasa menderita banyak berkurang,"
Demikian tutur Siao liong-li.
"Namun di sini tiada ranjang kemala dingin, yang ada hanya es beku yang entah berapa tuanya di dasar kolam air itu, aku, lantas menyelam kembali ke dasar kolam dan masuk gua es itu, aku berdiam sebentar di sana. Kadang2 akupun datang ke tepi kolam ketika terjatuh mula2 itu, aku menengadah ke atas dengan harapan bisa memperoleh sedikit kabarmu. Pada suatu hari, tiba2 kulihat beberapa ekor tawan terbang turun menembus kabut yang menutupi permukaan jurang itu, terang itulah tawon tinggalan Lowan-tong yang dibawanya main2 ke Coat-ceng-kok itu, aku menjadi ketarik, segera aku buatkan sarang dan memeliharanya. BeIakangan makin banyak tawon yang datang dan setiap kali aku minum madu tawon yang aku unduh, rasa sakit badanku lantas banyak berkurang, sungguh tidak nyana kasiat madu tawon ini ternyata sangat mujarab untuk memunahkan racun. Begitulah aku meminum madu tawon dalam jangka panjang, kumatnya racun dalam badan juga berkurang, mula2 setiap hari kumat, lalu beberapa hari kumat sekali, kemudian hingga beberapa bulan sekali, paling akhir selama 5-6 tahun ini, satu kali saja tak pernah kumat lagi, agaknya sudah sembuh."
"Ah, itulah tandanya orang berhati baik tentu dibalas baik,"
Ujar Nyo Ko senang.
"Coba kalau dahulu kau tidak hadiahkan tawon pada Lo-wan-tong dan ia tak membawanya ke Coat ceng-kok, tentu penyakitmu pun takkan bisa sembuh."
"Dan sesudah sembuh penyakitku..."
Demikian Siao-liong-li melanjutkan "
Aku jadi sangat rindu padamu, tapi sekitar jurang itu tingginya beratus tombak dan terdiri dari dinding2 tebing yang curam, cara bagaimana bisa naik ke atas?
Maka dengan duri bunga aku menisik enam huruf "Aku berada didasar Coa ceng-kok"
Di atas sayap tawon putih itu dengan harapan sesudah tawon itu terbang ke atas akan diketemukan orang.
Selama beberapa tahun ini sudah beribu ekor tawon yang kutisik tulisan di atas sayapnya, tapi tetap tiada kabar berita yang dibawanya kembali, makin lama aku semakin putus asa, aku merasa hidup ini takkan bisa melihat kau lagi.
"Ah. akupun terlalu ceroboh, kalau begitu,"
Seru Nyo Ko mendadak sambil tepuk paha penuh menyesal "Setiap kali kudatangi Coat ceng-kok, selalu aku melihat tawon putih, tapi selamanya tak pernah menangkapnya seekor untuk diperiksa."
"Sebenarnya hal itupun timbul dari pikiranku yang sudah kehabisan akal,"
Sahut Siao-liong-Ii tersenyum.
"Padahal siapa bisa menduga bahwa di atas badan binatang sekecil itu tertisik tulisan? Begitu lembut tulisan itu, sekalipun beratus tawon itu terbang lewat di depan matamu juga takkan kau perhatikan. Harapanku hanya kalau2 kebetulan ada seekor tawon itu masuk jaring lahan2 dan Thian menaruh belas kasihan sehingga dapat kau lihat serta menolongnya, tatkala itu tentu tulisan di atas sayapnya akan dapat kau baca."
Ia tidak tahu bahwa tulisan disayap tawon itu akhirnya dapat diketahui oleh Ciu Pek-teng yang suka main2 piara tawon itu dan arti tulisan itu kena diterka oleh Ui Yong yang kecerdasannya melebihi orang biasa.
Begitulah, setelah lama ber-cakap2, akhirnya menjadi lapar, Siao liong-li mengajaknya masuk rumah dan menyuguhkan senampan ikan, ada pula buah2an dan madu tawon.
Setelah kenyang makan barulah ganti Nyo Ko menceritakan pengalamannya selama 16 tahun ini.
Siao-liong-li sendiri biasanya tidak banyak menghiraukan soal2 keduniawian, yang diharap asal dia dapat bertemu kembali dengan Nyo Ko dan rasanya sudah puas, maka sekalipun cerita Nyo Ko itu kadang2 mengenai kejadian aneh dan hal2 lain yang mendebarkan hati, paling2 Siao-liong li hanya tersenyum saja, cerita2 itu bagai angin lalu saja di-tepi telinganya.
sebaliknya Nyo Ko terus menerus bertanya tentang segala sesuatu selama Siao-liong-li tinggal di dasar jurang ini.
Sepanjang malam mereka pasang omong hingga hari sudah hampir pagi barulah mereka tidur.
Waktu mendusin, hari sudah lewat lohor, kata Nyo Ko.
"Liong ji, kita akan hidup sempai tua di sini atau berdaya kembali kedunia fana di atas sana!"
Menurut pendapat Siao-liong-li, ia lebih suka hidup aman tenteram dengan Nyo Ko di jurang ini, tapi Nyo Ko suka keramaian, betapapun cintanya pada Siao-liong-li, tetap tak biasa hidup sunyi terpencil.
Maka kata Nyo Ko pula.
"Lebih baik kita berusaha naik saja, kalau di atas sana tidak menyenangkan nanti kita kembali ke sini lagi, cuma... cuma untuk naik ke atas kiranya sangatlah sulit,"
Ia menyelam lagi ke tepi kolam melalui gua es itu, maka tertampaklah dari atas menjulur seutas tambang yang sangat panjang, di tepi kolam terdapat bekas2 kaki orang, malahan ada segunduk api unggun yang apinya masih belum sirap sama sekali "Ah, ada orang datang mencari kita, malahan sudah menyelam ke dalam kolam,"
Kata Nyo Ko.
Ia mengitari tepi kolam itu, tiba2 dilihatnya ada batang pohon besar terdapat ukiran dua baris tulisan yang berbunyi.
It-teng, Pek-thong, Eng Koh, Yong, Eng, Bu -siang, ke sini mencari Nyo Ko tidak ketemu dan pulang dengan masgul.
Nyo Ko menjadi sangat terharu, katanya.
"Mereka ternyata tak pernah melupakan diriku!"
"Ya siapapun tiada yang lupa padamu,"
Ujar Siao-liong-Ii "Mereka telah melorot ke bawah sini dengan tambang panjang ini, meski sudah menyelam, tapi karena tidak melompat dari tempat setinggi ratusan tombak, daya tenggelamnya tidak dalam, maka gua es itu tak mereka lihat,"
Kata Nyo Ko.
"Coba, kalau akupun turun dengan memakai tambang, tentu takkan dapat menemukan kau."
"Ya, makanya aku bilang segala apa memang sudah takdir,"
Sahut Siau-liong-li.
"Tidak, ini namanya di mana ada kemauan, batupun akan luluh karenanya,"
Kala Nyo Ko. Lalu ia mencoba tarik tambang itu dan ternyata sangat kuat, maka katanya pula.
"Biar aku naik dulu, entah Kimlun Hoat-ong itu di atas tidak, Tapi kalau It-teng Tay-su dan Lo-wan-tong sudah kesitu agaknya Hoat-ong sudah kabur pergi."
Habis ini ia bertanya lagi.
"Liong-ji, ilmu silatmu telantar tidak? jika tak dapat kau memanjat, biar kupanggul kau."
"Meski selama 16 tahun tiada kemajuan, tapi apa yang dulu kupelajari rasanya masih tetap,"
Sahut Siao-liong li.
Nyo Ko berpaling sambil tertawa, lalu ia pegang tambang panjang itu, sedikit ia gunakan tenaga, cepat ia melompat ke atas lebih setombak tingginya.
Meski lenganya tinggal sebelah, tapi dibantu kedua kakinya, tidak lama ia sudah panjat sampai di-atas jurang, Menyusut Siao-liong li pun merambat naik dengan tali tambang itu.
Kedua orang berdiri sejajar di depan karang Toan jong-khe, sambil memandangi dua baris tuIisan-yang diukir Siao-liong-Ii dahulu didinding batu itu, sungguh mereka merasa seperti baru hidup kembali.
Mereka tertawa saling pandang, betapa suka ria hati mereka saat itu, rasa penderitaan selama 16 tahun ini sudah buyar seluruhnya bagai asap ter-tiup angin.
Nyo Ko memetik setangkai bunga merah "Liong-li-hoa"
Dan disuntingkan pada sanggulnya, bunga merah di atas kulit badan yang putih, seketika sukar diketahui apakah bunga merah itu yang menambah kecantikan orangnya atau wajah orang yang cantik itu yang menambah keindahan bunganya?
* * * Kembali berceritera tentang Kim lun Hoat-ong yang membangun sebuah panggung tinggi diluar kota Siangyang dan hendak membakar Kwe Yang untuk memaksa Kwe Cing takluk pada pihak Mongol dan Ui Yok-su bilang akan mengatur suatu "barisan 28 bintang2 untuk menempur musuh.
Kwe Cing telah melaporkan hal itu pada gubernur militer kota Lu Bun-hwan agar memberi mandat, supaya Ui Yok su dapat mengatur siasat dan membagi tugas pada para perwira dan prajurit.
Tatkala itu para ksatria yang hadir sudah bubar sebagian besar, yang masih tinggal di situ seluruhnya adalah pahlawan2 yang berjiwa patriot, maka semuanya berkumpul di lapangan militer menunggu perintah.
"Mereka mengerahkan 40 ribu orang untuk mengepung panggung, kalau kita pakai orang yang banyak, jika kita menang rasanya juga tidak mengherankan ,"
Kata Ui Yok-su.
"Maka kitapun hanya perlu 40 ribu orang, menurut Sun Cu, yang penting mahir mengatur, satu lawan satu, apa susahnya?"
Maka Ui Yok-su lantas naik ke atas podium panglima, katanya pula.
"Barisan bintang2 kita ini seluruhnya terbagi dalam lima kesatuan menurut hitungan pancabuta."
Habis ini, segera ia kumpulkan semua komandan pasukan, ia memberi petunjuk dan penjelasan seperlunya, katanya lagi.
"Perubahan2 kita yang sangat ruwet ini seketika sukar dipahami, tapi pertempuran hari ini harus dipimpin oleh lima tokoh silat terkemuka yang paham perobahan pancabuta, komandan pasukan harus menurut petunjuk kelima pemimpin dan menjalankan perintahnya."
Maka pergilah para komandan pasukan itu dengan menerima perintah itu. Lalu Ui Yok-su mulai membagi tugas, katanya.
"Kesatuan tengah tergolong bumi, dipimpin oleh Kwe Cing dengan jumlah prajurit delapan ribu orang, pasukan ini harus mengarah bagian tengah musuh, tujuannya menolong Kwe Yang, tidak perlu harus menghancurkan musuh. Setiap prajurit membawa kantong pasir, begitu menyerbu sampai di bawah panggung, segera gunakan pasir untuk menyirapkan api yang berkobar untuk menolong anak dara di atas panggung itu."
Kwe Cing terima tugas itu dan berdiri ke samping.
"Dan kesatuan jurusan selatan tergelong api,"
Demikiin Ui Yok-su melanjutkan "Harap It-teng Taysu yang memimpin delapan ribu orang.
pasukan ini yang seribu orang melindungi pimpinan, tujuh ribu orang lainnya terbagi menjadi tujuh regu, masing2 dipimpin oleh Cu Culiu, Bu Sam-thong, Su-sui Hi-un, Bu Tun-si dan Bu Siu-bun serta kedua isteri mereka, Yalu Yan dan Wanyen Peng.
It-teng Taysu dan Cu Cu-liu cs.
juga menerima perintah itu dan pergi mengatur tentaranya masing2.
Lalu kata Ui Yok-su pula.
"Barisan utara tergolong air, di bawah pimpinan Ui Yong dengan delapan ribu orang, seribu diantaranya mengawal pimpinan, tujuh ribu orang lainnya terbagi di bawah Yalu Ce, Nio Tianglo, Kwe Hu dan para Tianglo lain dari Kay-pang."
Ui Yong pun menerima perintah itu dengan baik, Kesatuan ini terdiri dari anak murid Kaypang sebagai kekuatan inti, rata2 orangnya berkepandaian tinggi.
Sesudah membagi ketiga kesatuan tadi, kemudian Ui Yok-su meneruskan "Dan jurusan timur tergolong hawa, kesatuan ini biar aku Tang-sia Ui Yok-su sendiri yang memimpinnya, jumlah orangnya juga delapan ribu."
Semua orang pikir, jurusan timur dipimpin Tang sia, Lam-te mengepalai selatan, sedang anak murid Pak-kay menduduki utara.
Kwe Cing adalah panglima pusat, memangnya dia juga murid keturunan Ong Tiong-yang, cara mengatur Ui Yok su itu memang tepat.
Tapi masih ada jurusan barat, gerangan siapakah yang akan mengepalai jurusan ini?
Sementara terdengar Ui Yok-su berkata pula.
"Dan jurusan barat akan dipimpin oleh pejabat ketua Coan-cin-kau, Li Ci-siang."
Mendengar ini, semua orang merasa baik soal kepandaian maupun tenarnya nama, pimpinan jurusan ini jauh lebih lemah daripada yang lain2. Pada saat itulah tiba2 terdengar seorang ber-teriak.
"Hai, Ui-Iosia, kenapa kau jadi lupa padaku?"
Waktu dipandang, kiranya yang bersuara itu adalah Lo-wan-tong Ciu Pek-thong.
"Ciu-heng,"
Sahut Yok-su, lukamu belum sembuh, belum dapat bekerja berat, sebenarnya jurusan barat ini harus kau pimpin, tapi...
"Ah, hanya luka kecil saja, kenapa dipikirkan?"
Sahut Pek thong cepat "Biarlah aku memimpin jurusan barat itu saja, He,Ci-siang, apa kau berani berebut dengan aku?"
"Tecu tak berani,"
Sthut Li Ci-siang sambil memberi hormat.
"Emangnya aku sudah tahu kau takkan berani"
Ujar Pek-thong tertawa. Habis itu segera ia ambil panah tanda tugas dari tangan Li Ci-siang. Terpaksa kata Ui Yok-su kemudian.
"jika begitu, hendaklah Ciu heng suka ber hati2 Kaupun memimpm delapan ribu orang, seribu di antaranya harap Eng Koh suka memimpinnya untuk mengawal kau, tujuh regu lain biar dipimpin masing2 oleh Li Ci-siang dan anak murid Coan cin kau yang lain."
Habis membagi tugas, lalu Ui Yok-su memerintahkan semua prajurit menerima perlengkapan seperlunya ke gudang, bila kemudian bendera kebesarannya memberi tanda, 40 ribu orang terbagi dalam 5 jurusan timur, barat, utara selatan dan tengah.
Dengan suara lantang ia memberi petuah agar parajurit2 itu bertempur mati2an menghancurkan musuh.
Segera anjuran itu disambut dengan sorak-sorai yang bergemuruh penuh semangat Ketika meriam berdentum tiga kali, empat pintu benteng terbuka, lima pasukan itu lantas keluar berbareng.
Perubahan barisan bintang2 ini ternyata aneh sekali, pasukan timur itu setiap orangnya menggendong sepotong kayu cagak yang panjang, ketika sudah menyerbu mendekati sebelah timur panggung, seribu perajuritnya lantas gunakan perisai untuk menahan panah musuh, sedang tujuh ribu orang lainnya segera gunakan cagak kayu dan dipasang disitu menurut petunjuk Ui Yok-su yang telah mengaturnya menurut perhitungan Pat-kwa dan pancabuta, maka sekejap saja bagian timur panggung itu sudah tertutup.
Pasukan jurusan barat berinti anak murid Coancin-kau, para Tosu itu memang sudah paham barisan bintang2, maka terlihatlah sinar pedang gemerlapan hingga terpaksa perajurit MongoI menghamburkan panah untuk mencegah lajunya.
Mendadak terdengar suara teriakan bergemuruh di bagian utara, itulah Ui Yong yang memimpin anak murid Kaypang dengan membawa banyak sekali pipa air terus semprotkan air berbisa ke tubuh perajurit musuh.
Racun air yang disemprotkan itu ternyata sangat jahat, seketika sangat sakit tubuh yang terkena, sebentarpun melepuh dan bernanah, karena tak tahan, perajurit Mongol lari tunggang langgang mundur ke selatan.
Tapi tiba2 terlibat bagian selatan asap mengepul tinggi Kiranya It-teng Taysu bersama delapan ribu anak buahnya telah melakukan serangan dengan api, menggunakan sebangsa belerang dan bahan lain yang mudah terbakar, api menyembur terus dari bumbung besi yang khusus mereka bawa.
Melihat gelagat jelek, segera perajurit Mongol mundur ke bagian tengah.
Namun Kwe Cing sudah siap, ia pimpin delapan ribu orangnya dan maju pelahan, ketika dilihatnya keadaan pasukan musuh kacau, segera ia mengerahkan pasukannya menerjang ke tengah menuju ke panggung.
Pada saat itulah tiba2 terdengar disamping panggung itu suara tiupan tanduk, sekali berteriak dari dalam parit yang sengaja digali itu menongol keluar berpuluh ribu topi baja.
Kiranya pimpinan pihak Mongol juga pandai mengatur siasat, kecuali di sekitar panggung jelas kelihatan 40 ribu orang, tapi di dalam tanah galian itu bersembunyi lagi beberapa puluh ribu perajurit Iain.
Dari jauh Kwe Cing menyangka itu hanya parit biasa yang digali musuh, siapa tahu justru di situlah tersembunyi kekuatan cadangan musuh.
Karena itulah, terdesaknya pasukan Mongol tadi segera berubah, meski barisan bintang2 itu dapat menerjang kacau pasukan musuh, tapi kalau hendak membasminya jelas tak bisa lagi.
Maka terdengarlah genderang dipukul dengan kerasnya, pasukan Song dan Mongol telah saling tempur, pasukan penjaga disamping panggung lantas menghamburkan panah hingga beberapa kali Kwe Cing terpaksa harus mundur kembali.
Setelah hampir sejam kedua pihak bertempur dengan sengitnya, mendadak Ui Yok-su mengibarkan bendera hijau, se-konyong2 pasukan sebelah timur berganti menyerang keselatan, pasukan barat menggempur ke utara, karena perubahan barisan ini, kembali pasukan musuh menjadi kacau lagi.
Meski perajurit Song hanya 40 ribu orang, tapi pertama karena barisan bintang2 ini sangat hebat, kedua dipimpin oleh jago2 silat terkemuka pada jaman ini, ketiga, setiap perajurit Song merasa berterima kasih pada Kwe Cing suami-isteri, mereka bertekad akan menolong puteri kesayangannya.
Oleh sebab itulah meski jumlah orang Mongol berlipat ganda namun tidak sanggup menahannya.
Sesudah berlangsung agak lama, mendadak Ui Yok-su bersiul panjang dan keras, bendera isyarat mengebas beberapa kali, pasukan berpanji hijau mundur ke tengah, pasukan panji merah menuju ke sebelah barat, pasukan panji kuning berganti ke utara, panji putih menggempur bagian timur, panji hitam mengarah ke slatan, kembali barisan berubah lagi.
Dari atas panggung Kim-lun Hoat-ong dapat menyaksikan pertempuran hebat di bawah panggung itu, dalam hati diam2 ia terperanjat sekali, Pikirnya.
"Sungguh tidak nyana di daerah Tionggoan ternyata terdapat orang kosen seperti ini, sejak kini tak berani lagi aku memandang sepele orang Tionggoan."
Sementara itu dilihatnya perajurit2 Mongol yang mati atau luka makin lama makin banyak, pasukan panji kuning terus mendesak ke panggung itu, walaupun ia gunakan Kwe Yang sebagai sandera, tapi toh tidak tega benar2 membakarnya, ia menoleh dan memandang anak dara itu, ia lihat meski kedua kaki dan tangan terikat, tapi kepala anak dara mendongak, sikapnya gagah tak gentar sedikitpun.
"Kwe Yang cilik,"
Seru Hoat-ong.
"lekas kau minta ayahmu menyerah, aku akan menghitung dari satu sampai sepuluh, jika ayahmu tidak takluk, segera aku memberi perintah membakarmu."
"Apa kehendakmu boleh sesukamu. jangankan satu sampai sepuluh, kau boleh menghitung satu sampai seribu atau sejuta juga aku tak peduli,"
Sahut Kwe Yang dingin.
"Hm, apa kau kira aku tak berani membakar kau?"
Hoat ong menjadi gusar.
"Haha, sungguh kasihan kau ini,"
Jengek Kwe Yang tiba2.
"Kasihan apa kau bilang?"
Bentak Hoat ong.
"Ya,kasihan. Sebab kau tak sanggup melawan ayahku, tak sanggup menandingi Gwakongku Ui-losia, tak lebih unggul dari pada Itteng Taysu, tak berani pada Toakokoku Nyo Ko, paling2 kau hanya mampu meringkus aku disini,"
Demikian Kwe Yang meng-olok2.
"Caramu ini, biarpun seorang perajurit Siangyang kami juga tidak sudi melakukan ini Hoat-ong,aku justeru ingin menasehatkan kau."
"Apa? Nasihat?"
Seru Hoat-ong sengit "Ya,"
Sahut Kwe Yang.
"Manusia hidup seperti kau ini apa artinya? Ada lebih baik kau terjun ke bawah panggung dan membunuh diri saja!"
Kwe Yang tidak pikirkan mati-hidupnya lagi, sejak kecil memang tajam kata2nya, selamanya tak pernah kalah adu muIut, keruan kini Hoat-ong kewalahan saking gusarnya serasa dadanya akan meledak.
"Wahai, dengarlah Kwe Cing!"
Segera ia berteriak keras2.
"Aku akan menghitung dari satu sampai sepuluh, apabila kau masih belum mau takluk, segera ku perintahkan membakar panggung ini."
"Boleh kau lihat apakah aku Kwe Cing manusia yang suka takluk atau bukan?"
Sahut Kwe Cing.
"Wahai, Kim lun Hoat-ong!"
Tiba2 Ui Yok-su menyambung.
"Kau salah menaksir musuh, inilah ketidak pintaranmu, Kau menghina seorang dara cilik, ini namanya tidak berbudi."
"Kau tak berani bergebrak terang2an dengan kami untuk menentukan menang atau kalah, ini namanya tidak berani."
"Manusia yang tidak pintar, tidak berbudi, tiada keberanian tapi masih berani kau bicara tentang pahlawan dan ksatria segala? Kau tertangkap oleh kami di Coat ceng-kok. untuk menyelamatkan jiwamu kau telah menyembah "
Ping-pitulikur " (27-kali) kepada Kwe Yang cilik, kemudian kau di-ampuninya.
Haha, manusia takut mati dan tamak hidup semacam kau ini ternyata masih ada muka untuk menjadi Koksu (iman negara MongoI) segala?
Sebenarnya tentang menyembah minta ampun kepada Kwe Yang segala tiada pernah terjadi, tapi Ui Yok-su sengaja gembar-gembor di hadapan umum, di depan pasukan MongoI, agar Hoat-ong serba salah, hendak mendebat, sulit, tidak mendebat, juga salah.
Bangsa Mongol justru paling menghormati orang gagah berani dan pandang hina pada manusia pengecut, kini mendengar gemboran Ui Yok-su itu tanpa terasa banyak yang menengadah ke atas panggung dengan pandangan hina.
Ui Yok-su sudah berpikir panjang, sebelum berangkat ia sudah minta Ui Yong menterjemahkan kata2 untuk meng-olok2 Hoat-ong ini ke-dalam bahasa Mongol.
Kini digemborkaanya dihadapan berpuluh ribu perajurit yang sedang bertempur itu sehingga terdengar jelas.
Dan karena mendengar pemimpin dipihak sendiri adalah manusia rendah dan hina, tanpa terasa pasukan Mongol menjadi kurang semangat, sebaliknya perajurit Song semakin gagah menyerbu musuh.
Melihat gelagat jelek, Kim-Iun Hoat-ong yang berada di atas panggung itu segera berteriak lagi.
"Wahai, Kwc Cing, dengar kau, aku akan menghitung dari satu sampai sepuluh, apabila kata2
"sepuluh"
Terucapkan, puteri kesayanganmu segera akan terbakar menjabi arang. Nah, satu., .... dua... ...tiga.... empat... lima..."
"Begitulah setiap kata2 diucapkan ia sengaja berhenti sejenak dengan harapan Kwe Cing yang tak tahan oleh desakan itu akan menyerah atau sedikitnya juga akan patah semangat, lalu tak berani bertempur lagi. Dilain pihak, Kwe Cing, Ui Yok-su, It-teng Taysu, Ui Yong, dan Ciu Pek-tong yang memimpin lima pasukan, ketika mendengar Hoat ong mulai menghitung, sedangkan di bawah panggung beratus serdadu Mongol sudah mengangkat obor mereka tinggal menunggu komando. bila tanda diberikan segera panggung itu akan dibakar Karena itu Kwe Cing dan lain2 menjadi kuatir dan gusar, mati2an mereka menerjang ke depan panggung buat menolong Kwe Yang. Tapi barisan pemanah bangsa Mongol yang terkenal tangkas itu sudah siap, di bawah hujan panah itu segera terlihat Su-sui Hi-un, Nio tianglo, Bu Siu-bun cs, terluka panah semua, malahan ada beberapa anak murid Kay pang dan Coan-cin-kau yang gugur. Sebelumnya Ui Yong sudah suruh Kwe Hu meminjamkan "
Nui-wi-ka"
Atau kutang berduri landak kepada kakeknya, Ui Yok-su, sebab pertempuran ini berbahaya luar biasa, apabila karena ingin menolong Kwe Yang, tapi jiwa ayahnya harus berkorban atau terluka, hal ini benar2 akan membuat Ui Yong menyesal selama hidup.
Karena maksud baik sang puteri itu sukar di tolak, terpaksa Ui Yok-su menerimanya, tapi diam2 ia pinjamkan baju pusaka itu kepada Ciu Pek-thong.
Sebab itulah meski luka Pek-thong belum sembuh, tapi ia sudah berani terobosan kian kemari di bawah hujan panah dan senjata musuh tanpa luka.
Malahan ketika melihat panah musuh yang mengenai tubuhnya jatuh semua, hati si tua nakal itu menjadi riang, terus saja ia menyerbu maju, di mana tangannya tiba, di situlah segera musuh menggeletak.
Sementara itu terdengar Hoat-ong sudah menghitung sampai ....delapan.....
sembilan.
sepuluh!
Baik, bakarlah!"
Dan sekejap saja asap lantas ber-guIung2, api berkobar dengan hebat.
Walaupun sebenarnya delapan ribu perajurit panji kuning semuanya membawa kantong pasir, tapi karena tak sanggup menyerbu sampai di dekat panggung, terpaksa mereka tiada bisa berbuat apa2.
Pikiran Ui Yong menjadi butek ketika dilihatnya api menjilat dengan hebatnya, mukanya pucat dan orangnya sempoyongan.
Lekas Yalu Ce memayang ibu mertua itu dan katanya.
"Hendaklah Gakbo mengaso dulu ke garis belakang, sekalipun jiwaku harus berkorban, Yang-moay pasti akan kutolong. Pada saat itulah se-konyong2 terdengar suara teriakan gemuruh hebat memecah bumi, dari garis belakang pasukan MongoI mendadak menyerbu tiba dua pasukan berkuda dan langsung menggempuf benteng kota Siangyang. Terdengarlah teriakan "
Ban swe, Banswe!"
Yang hiruk-pikuk, panji kebesaran raja Mongol, Monko, tertampak di angkat tinggi2 dan cepat sekali sudah sampai di bawah benteng Siangyang, di bawah pimpinan sang raja mereka, pasukan Moagol itu bertambah semangat menggempur benteng.
Di lain pihak, tatkala itu Kwe Cing dengan satu tangan membawa perisai dan tangan lain bertombak, sebenarnya tinggal ratusan tindak dari panggung, betapapun barisan pemanah menghujam panah tetap tak bisa melukainya.
Tampaknya sebentar lagi ia pasti dapat melompat ke atas panggung, tiba2 di dengarnya di bagian belakangnya keadaan menjadi kacau, ia terkejut, pikirnya.
"Celaka, terperangkap oleh tipu musuh "
Memancing harimau tinggalkan gunung ".
Sedangkan gubernur kota lemah dan penakut walaupun kekuatan tentara cukup, tapi tiada pimpinan, mungkin urusan bisa runyam.
Sebenarnya ke-40 ribu tentara dari barisan bintang2 ini kuat menandingi beratus ribu patukan Mongol melawan dengan gigihnya, sedangkan raja Mangol tanpa pikirkan.
pertempuran besar yang sedang berlangsung itu terus memimpin sendiri pasukan lain untuk menggempur benteng Siangyang.
Tiba2 Kwe Cing berganti pikiran, ia membatin.
"Urusan anak soal kecil, pertahanan kota lebih penting! Karena itu, segera ia berteriak.
"Gakhu, kita jangan urus anak Yang gagal lagi, lekas kembali menggempur bagian belakang musuh!"
Waktu Ui Yok-su memandang, ia lihat api ber-kobar2 tambah hebat, Hoat-ong lagi turun setindak demi setindak dari tangga panggung itu.
Kini di atas panggang melulu tinggal Kwe Yang saja yang teringkus.
Sudah, tentu Ui Yok-su juga bisa berpikir, ia mengerti seorang Kwe Yang tidak dapat dibandingkan dengan hancur atau selamatnya kota Siang-yang.
Karena itu, ia menghela napas panjang dari berkata.
Sudahlah, Lalu ia kibarkan panji hijau dan menarik pasukannya kembali ke selatan.
Kwe Yang yang teringkus di atas panggung itu menyaksikan ayah-bunda dan Gwakongnya tak berdaya menolongnya, sedangkan atap tebal dan api menganga membakar dengan hebatnya mengitari panggung, ia tahu, sebentar lagi dirinya bakal terbakar mati.
Mula2 iapun takut sekali, tapi akhirnya ia menjadi tenang malah, ia memandangi jauh ke depan, ia pikir.
"Sebentar lagi aku akan mati, tapi entah saat ini Toakoko berada di mana, apakah sudah naik kembali dari jurang itu?"
Begitulah, memandangi lereng2 gunung yang jauh itu, ia menjadi terkenang pada waktu berkumpul dengan Nyo Ko walaupun hanya beberapa hari saja, Meski selanjutnya tiada harapan buat bertemu pula, tapi rasanya sudah puas hidup ini.
Pada saat itulah, tiba2 terdengar sesuatu suara nyaring yang sayup2 terbawa angin, begitu tajam suara itu hingga suara gemuruh pertempuran beratus ribu perajurit itu seakan2 tenggelam di bawah pengaruh suara itu.
Terkesiap hati Kwe Yang, Suara itu mirip benar dengan suara siulan Nyo Ko tatkala dulu menggetarkan kawanan binatang2 buas.
Waktu ia menoleh ke arah datangnya suara itu, ia lihat pasukan MongoI di arah barat-laut itu tunggang-langgang tersiak minggir ke dua samping hingga terbelah menjadi satu jalan, dua orang tampak sedang datang dengan cepat bagai bahtera laju didorong angin buritan, di depan kedua orang itu sebagai pembuka jalan adalah seekor burung raksasa, kedua sayapnya terpentang menyabet ke kanan dan ke kiri hingga panah yang menghujam terpental pergi semua.
Burung raksasa ini tangkas dan ganas luar biasa, nyata itulah Sin-tiau atau rajawali sakti kawan Nyo-Ko itu, betapa kuat kedua sayapnya ternyata tiada satupun panah yang bisa melukainya.
Girang luar biasa Kwe Yang, waktu ia mengawasi kedua orang yang datang itu satu berkopiah hijau berbaju kuning, siapa lagi kalau bukan Nyo Ko dan di sebelahnya seorang wanita cantik berbaju putih mulus, Keduanya sama2 menggunakan pedang yang diputar kencang sambil menyusul di belakang Sin-tiau terus menerjang ke arah panggung.
"Toakoko, apakah wanita inilah Siao-liong-li?"
Demikian saking ingin tahu Kwe Yang lantas berteriak menanyakan.
Memang tidak salah wanita di samping Nyo Ko itu adalah Siao-liong-li, cuma jaraknya terlalu jauh, maka teriakan Kwe Yang itu tidak terdengar oleh Nyo Ko.
Begitulah dengan tangkas si rajawali sakti menyampuk semua anak panah yang berhamburan, bila ada pcrajurit atau perwira Mongol yang berani merintangi, segera Nyo Ko dan Siao-liong-li menggulingkan mereka dengan pedang.
Dengan saling melindungi, tidak antara lama mereka sudah menerjang sampai di depan panggung itu.
"Jangan kuatir, adik cilik, aku datang menolong kau!"
Seru Nyo Ko.
Sementara itu sebagian tangga panggung itu sudah terbakar, tapi sekali enjot, Nyo Ko melompat ke undukan tangga bagian tengah terus memanjat ke atas.
Pada saat itulah mendadak dari atas angin pukulan yang maha dahsyat telah menghantamnya, nyata itulah Kim-lun Hoat-ong yang melontarkan pukulan saktinya.
Lekas2 Nyo Ko baliki tangannya menyambut maka terdengar suara "plak"
Yang keras kedua tenaga raksasa saling bentur, tubuh masing2 terguncang semua, tangga panggung itupun ikut ter-goyang2 hampir patah.
Sekali jajal saja kedua orang sama2 terkejut, sungguh tidak terduga, 16 tahun tidak bertemu, kepandaian lawan ternyata sudah banyak lebih maju.
Melihat keadaan sangat genting, tak mungkin mengadu tenaga di tengah2 tangga itu, mendadak Nyo Ko angkat pedangnya menusuk ke atas, susul-menyusul ia membabat kaki orang terus menusuk perut lawan.
Berada diatas Kim lun Hoat-ong dapat mengeluarkan senjata rodanya buat menempur Nyo Ko, tapi roda bentuknya pendek, terpaksa ia harus membungkuk untuk bisa menghantam orang, hal ini sangat tidak leluasa, maka terpaksa ia mundur ke atas panggung.
Karena itu, bertubi2 Nyo Ko mengirim beberapa kali tusukan lagi ke arah punggung Hoat-ong, namun Hoat-ong tidak menoleh, hanya gunakan kepandaian "thing-hong-piao gi"
Atau mendengarkan angin membedakan senjata, ia ayun roda ke belakang buat menangkis, punggungnya seakan2 bermata, tiap tangkisannya sangat tepat "Bangsat gundul, hebat juga!"
Mau-tak-mau Nyo Ko memuji ketangkasan orang.
Ketika Hoat-ong sudah menginjak di atas panggung, sekali membalik, segera roda emasnya me-ngepruk kepaia Nyo Ko.
Syukur Nyo Ko sempat mengegos ke samping, berbareng itu pedangnya menegak ke atas, tubuhnya mencelat dan selagi terapung di udara.
ia menubruk ke bawah dengan pedang menusuk kemuka musuh.
Lekas2 Hoat-ong angkat roda emas buat menangkis, sedang roda perak di tangan lain lantas mengetok ke batang pedang Nyo Ko.
Tadi mereka sudah saling gebrak di atas tangga, Nyo Ko merasa tenaga Hoat-ong sangat kuat dan berat, belum pernah seumur hidupnya ketemukan lawan setangguh ini, maka diam2 ia sangat heran, ia pikir dengan gemblengannya di tengah ombak, tenaganya cukup kuat untuk melawan gelombang ombak, 16 tahun yang lalu Hoat-ong sudah bukan tandingannya tapi tadi ketika ia menghantam hampir2 saja dirinya tak sanggup menahannya malah?
Karena pikiran itu, demi nampak kedua roda orang maju berbareng, ia tidak menghindarinya melainkan pedang disendal, ia sengaja hendak menjajal tenaga Hoat-ong yang sebenarnya.
Maka terdengarlah suara gemerincing keras, kalau orang lain pasti takkan tahan oleh tenaga sendalan Nyo Ko ini, tapi Hoat-ong punya "ilmu sakti bertenaga naga dan gajah"
Dan sudah terlatih sampai tingkatan ke-11, ketika kedua tenaga raksasa kembali berbentur, maka-terdengarlah suara "kletak" , pedang Nyo Ko yang kalah, patah menjadi beberapa potong, sedang sepasang roda Kim-lun Hoat-ong juga terlepas dari cekalan, terpental jatuh ke bawah panggung, sial bagi tiga pemanah Mongol, kepala mereka pecah terketok oleh roda2 itu.
Setelah gebrakan ini, kedua orang sama2 melompat mundur, tangan mereka merasa pedas kesemutan.
Namun Hoat ong masih belum kehabisan senjata ia masih mempunyai serep, segera roda besi dan roda tembaga dikeluarkannya terus menubruk maju pula.
Sebaliknya Nyo Ko tiada mempunyai senjata lain, terpaksa lengan baju kirinya mengebas, ia balas menghantam dengan tangan kanan.
"Hai, hai, Hwesio besar, memangnya aku sudah bilang kau tak mampu menandingi Toakokoku, sekarang benar tidak?"
Demikian Kwe Yang lantas ber-teriak2.
"Ha, masih berani kau berlagak pandai, kenapa sekarang kau bersenjata untuk melawan dia yang bertangan kosong?"
Tapi Hoat-ong hanya menjengek saja, ia tidak menjawab, permainan kedua rodanya makin kencang.
Tatkala itu Ui Yok-su, Kwe Cing dan Ui Yong cs.
lagi pimpin pasukannya kembali menolong kota Siangyang, ketika mendadak melihat Nyo Ko, Siau-liong li dan Sin-tiau muncul terus menyerbu keatas panggung, tentu saja semangat mereka terbangkit.
Segera Ui Yok-su geraki panji komandonya, ia menarik kelima pasukannya masing3 empat ribu orang menjadi berjumlah 20 ribu orang untuk menggempur bagian belakang musuh yang sedang menyerang benteng kota itu, sisanya 20 ribu orang tetap diformasi semula, tetap mengepung panggung untuk membantu Nyo Ko.
Walaupun pasukan Song sudah berkurang se-paroh, tapi demi nampak Nyo Ko sudah naik ke atas panggung, mereka menjadi gagah berani, dengan 1 lawan 10 mereka bertempur mati2an.
Cuma pasukan pemanah Mongol berjaga terlalu rapat dan kuat hingga beberapa kali pasukan Song menyerbu maju dan selalu kena di desak mundur lagi.
Dalam pada itu di bawah benteng Siangyang pertempuran juga sedang berjalan dengan sengitnya antara yang menggempur dan yang bertahan, gubernur militer kota, Lu Bnn-hwan, dengan uniform lengkap, tidak berani memimpin sendiri ke atas benteng melainkan mengkeret sembunyi di dalam kamar dengan dua selir kesayangannya, dengan badan gemetar sebentar2 menyebut sabda Buddha, lalu saat bertanya kuatir bagaimaaa suasana pertempuran di luar?
Pada saat itulah dengan bertangan kosong dan berlengan tunggal Nyo Ko telah menempur kedua roda besi dan tembaga Kim-lun Hoat-ong hingga lebih dari 400 jurus.
Ilmu silat yang dilatih kedua orang itu meski berbeda, tapi sama2 lihaynya dan makin lama makin kuat sementara itu asap tebal dari bawah panggung membuat mata ketiga orang di atas panggung menjadi pedas.
Walaupun Nyo Ko tak bersenjata, tapi tidak pernah ia terdesak di bawah angin.
Dalam pertarungan sengit itu, Hoat-ong merasa panggung itu rada bergoyang, ia tahu tentu kaki panggung sudah terbakar, sebentar lagi pasti akan ambruk, tatkala mana tak terhindarkan dirinya tentu akan gugur bersama dengan Nyo Ko dan Kwe Yang.
Pula melihat pukulan Nyo Ko makin lama makin aneh, kalau ratusan jurus lagi, mungkin ia sendiri akan terdesak.
Dalam gugupnya, mendadak pikiran jahatnya timbuI, tiba2 roda besinya ia hantam ke pundak kanan Nyo Ko, selagi orang mengegos secepat kilat roda tembaganya terus disambitkan ke muka Kwe Yang.
Gadis itu terikat disatu cagak, dengan sendirinya badannya tak dapat bergerak apalagi hendak menghindari?
Keruan Nyo Ko sangat terkejut lekas2 ia melompat dengan lengan bajunya ia sabet jatuh roda tembaga orang.
Namun jago silat waktu bertarung sebenarnya sedetikpun tak boleh lengah, karena pikirannya di pusatkan untuk menolong Kwe Yang, penjagaan diri sendiri menjadi terbuka, Hoat-ong tidak sia2-kan kesempatan itu, tangannya mengulur dan roda besinya terus mengiris ke paha kiri Nyo Ko.
Dalam keadaan badan terapung, lekas2 Nyo Ko depakkan kaki kirinya ke pergelangan tangan musuh, namun roda besi Hoat-ong lantas membalik ke bawah.
sekali ini Nyo Ko tak mampu lagi menghindar "cret", betis kanan terkena roda besi itu dan mengucurkan darah, lukanya ternyata tidak enteng.
Dalam kagetnya Kwe Yang menjerit kuatir.
Dalam pada itu Hoat-ong sudah mengeluarkan serep rodanya yang masih satu itu, rodi timah, kembali dengan sepasang roda ia menyerang katapt cuma bukan diarahkan pada Nyo Ko, tapi selalu mengincar Kwe Yang.
Kiranya ia tahu meski Nyo Ko terluka, tapi hendak mengalahkannya tidak mungkin terjadi dalam waktu singkat, karena itu ia melulu mengincar Kwe Yang, dengan demikian Nyo Ko pasti akan berusaha menolongnya dan kedudukan lawan dengan sendirinya akan berada dipihak terdesak.
"Toakoko, jangan kau urus aku, kau bunuh saja Hwesio jahat ini untuk balaskan sakit hatiku!"
Demikian Kwe Yaog berseru.
Tiba2 terdengarlah suara tertahan Nyo Ko, kiranya puodak kirinya terluka oleh roda musuh lagi, luka ini ternyata lebih berat, hingga tangannya hampir2 tak bisa diangkat.
Di bawah panggung Siao-liong-li dan Sin tiau bertama Ciu Pek-thong telah menghalau pemanah2 Mongol bersama agar mereka tak sempat melepaskan panah pada Nyo Ko dan Kwe Yang.
Tapi seluruh perhatian Siao liong li tidak pernah meninggalkan diri Nyo Ko, di samping putar senjatanya membunuh musuh, saban2 ia mendongak memandang ke atas panggung.
Ketika mendadak dilihatnya badan Nyo Ko penuh berlepotan darah, hatinya mencelos, kagetnya tidak kepalang.
Tatkala itu tangga panggung sudah putus terbakar, tiada jalan lagi untuk naik ke atas buat membantu , pikiran Siao-liong-ii seakan2 kabur, hanya pedangnya masih diputar membacok dan membabat tapi otaknya seperti kosong plong tak tahu berada dimana dan sedang melakukan apa?
Menghadapi bahaya, beberapa kali Nyo Ko mengeluarkan ilmu pukulan "lm-jian-siau-hun-cio"
Untuk gempur musuh, tapi untuk memainkan ilmu pukulan ini, jiwa dan raga harus bersatu, padahal sejak ia bertemu kembali dengan Siao-liong-li, ia menjadi girang dan periang, darimana bisa lagi timbul perasaan "lm-jian-siau-hun"
Atau hati muram jiwa merana?
Meski dalam keadaan berbahaya, tetap tiada sedikitpun rasa rindunya seperti berpisah tcm-po hari, maka setiap gerak serangannya selalu berselisih sedikit daripada kehendaknya dan tak dapat menunjukkan daya saktinya lagi.
Di sebelah sana Kwe Cing cs.
juga sudah melihat keadaan Nyo Ko yang menempur musuh dengan bertangan kosong dan sudah terluka, tapi jaraknya terlalu jauh, cara bagaimana mereka bisa membantunya?
Tiba2 pikiran Ui Yong tergerak, ia samber pedang Yalu Ce dan dilemparkan pada sang suami, sambil berseru.
"Lemparkan ke atas panggung kepada Koji!"
Kwe Cing menurut, maka meluncurlah pedang itu di atas busurnya terus dijepretkan, maka meluncurlah pedang itu dengan pesatnya dengan mengeluarkan sinar ber-kilau2.
Pedang itu cukup berat bentuknya juga berlainan daripada anak panah biasa, kalau bukan bidikkan tenaga sakti Kwe Cing sukar juga hendak diluncurkannya ke atas panggung, Maka menyamberlah pedang itu dengan cepatnya ke punggung Nyo Ko.
Ketika sudah dekat, mendadak lengan baju Nyo Ko mengebas kebelakang hingga dengan tepat dapat melibat batang pedang itu.
Saat itulah kebetulan roda Hoat-ong juga lagi dihantamkan padanya, segera Nyo Ko tarik pedangnya terus menusuk melalui sela2 kedua roda musuh.
Tak terduga, sebab pundaknya terluka, gerak-geriknya menjadi terganggu, pula pedang ini bukan Hiantiat-pokiam yang tajam tiada bandingan, maka ketika roda Hoat-ong menjepit terus memuntir kedua rodanya.
"pletak"
Kembali pedang Nyo Ko patah.
Menyaksikan itu, semua orang dibawab panggung terkejut luar biasa.
Diam2 Nyo Ko insaf juga bawa hari ini pasti celaka, bukan saja tak dapat menotng Kwe Yang, bahkan jiwa sendiri akan melayang di panggung ini.
Karena itu, dengan cemas ia memandang sekejap ke arah Siao-liong-li sembari berseru.
"Selamat tinggal, Liong-ji, jagalah dirimu baik2!"
Dan pada saat itu juga, sebuah roda Hoatong telah mengepruk ke atas kepalanya, Dalam keadaan sudah putus asa, dengan lesu dan kurang semangat Nyo Ko kebas lengan bajunya menangkis dan sebelah tangannya memukul.
Di luar dugaan, segera terdengar suara "plak"
Yang keras, pukulannya dengan tepat mengenai pundak Kim-lun Hoat-ong. Menyusul itu terdengar Ciu Pek-thong berteriak di bawah panggung.
"Bagus sekali tipu pukulan "to-ni-tay-sui" (berlepotan tanah membawa air) itu!"
Nyo Ko melengak.
Tapi lantaran itu pula barulah ia sadar, Kiranya dalam keadaan putus asa dan lesu, tanpa terasa ia telah keluarkan tipu serangan "tho-ni-tay-sui", suatu jurus dari ilmu pukulan im-jian-siau-hun-cio".
ilmu pukulan ini harus timbul sendirinya dari lubuk hati, dari lubuk hati meneruskan perasaan ke lengan dan lengan menggerakkan tangan, semuanya tergantung sang perasaan.
Rahasia ini sekalipun Ciu Pek-thong yang serba lengkap mempelajari ilmu silat macam apapun juga tak mampu memahaminya.
Sejak Nyo Ko bertemu kembali dengan Siao-liong li, ilmu pukulan ciptaannya ini sudah kehilangan "daya guna"
Nya, baru pada saat yang paling kritis, dalam hati merasa akan berpisah untuk selamanya dengan Siao liong-li, pada detik rasa dukanya itulah tanpa terasa kekuatan daripada ilmu pukulan "lm-jian-siau hun-co"
Itu timbul dengan sendirinya.
Dan karena pundaknya kena digebuk sekali, tubuhnya sempoyongan Hoat-ong terkejut dan heran tapi segera ia menubruk maju pula.
Nyo Ko mengegos mundur, lalu ia memberondongi tiga kali serangan "Uk-put-ciong-sim" (keinginan ada, tenaga kurang).
"To hing-gik-si" (jalan terbalik, berbuat melawan) dan "Yok-yu-soh-sit" (se-akan-2 kehilangan sesuatu). Menyusul mana dengan tipu "Heng-si-cau bak"
Atau mayat berjalan bangkai bergerak, kakinya segera menendang. Tendangan ini datangnya mendadak dan tak terduga, tak sanggup lagi Hoat-ong menghindarinya, tepat sekali kena "Tan-tiong-hiat"
Dadanya, Sambil menjerit keras2 dan muntahkan darah tegar, tanpa ampun lagi Hoat-terjungkal ke bawah panggung.
Melihat itu, tanpa berjanji pasukan Song dan pasukan Mongol sama berteriak berbareng, Bedanya pasukan Song itu bersorak gembira, sebaliknya pasukan Mongol berteriak kaget.
Saat itu panggung sudah mulai bergoyang mengeluarkan suara "krak-krek"
Yang keras, Nyo Ko tahu gelagat jelek, keadaan sudah mendesak, tak sempat lagi untuk memutus tali ringkusan Kwe Yang maka sekali telapak tanggannya memotong, ia hantam patah cagak kayu yang mengikat anak dara itu, lalu orangnya bersama cagaknya diangkatnya sembari berseru.
"Tiau-heng, terimalah kami!"
Ia incar baik2 punggung rajawali sakti terus melompat ke atasnya.
Tangkas sekali Sin-tiau itu, meski tak bisa terbang, tapi sekali loncat setinggi dua-tiga tombak, dengan enteng saja Nyo Ko bersama Kwe Yang jatuh dengan tepat di atas punggungnya dan pe-lahan2 turun ke tanah.
Dan pada saat itulah, didahului suara gedubrakan yang gemuruh, api dan asap berhamburan panggung tinggi itu sudah ambruk rata dengan tanah.
Tatkala Kim lun Hoat-ong ditendang terjungkal ke bawah oleh Nyo Ko, walaupun terluka parah, tapi ia masih berusaha menyelamatkan diri, dengan menahan napas ia berguling sekali di tanah.
Selagi hendak berbangkit kembali tiba2 terdengar olehnya di belakang seorang sedang ketawa ter-bahak2, tahu2 pinggangnya dirangkul terus ditahan diatas tanah lagi.
Menyusul Hoat-ong merasa seperti beratus, beribu jarum tajam menusuk masuk semua ke dalam tubuhnya.
Kiranya yang merangkul dan menindihnya itu bukan lain ialah Lo-wan-tong Ciu Pek-thong, Si tua nakal ini memakai baju kutang berduri landak, benda pusaka Ui Yok su, benda ini tak mempan segala senjata, sebaliknya penuh berduri lancip bagai landak.
Memangnya Hoat-ong sudah terluka parah, kini kena dirangkul terus ditindih Lo wan-tong, keruan jiwanya melayang tanpa ampun.
Ketika panggung tinggi itu ambruk, cepat Ciu Pek thong melompat pergi, sedang Hoat-ong lantas terkubur dibawah puing panggung berapi itu.
Melihat puteri kesayangan terhindar dari elmaut, saking girangnya hingga Ui Yong mencucurkan air mata.
Sungguh tidak terkatakan rasa terima kasihnya pada Nyo Ko.
sekalipun saat itu ia diharuskan mati untuk Nyo Ko usanya iapun rela, Maka cepat ia mendekati sang puteri untuk membuka tali pengikatnya.
Segera pula semangat Kwe Cing, Ui Yok su, It-teng Taysu, Kwe Hu dan lain2 terbangun, sebaliknya pasukan Mongol yang mengepung panggung itu melihat pemimpinnya sudah mati, seketika mereka menjadi kacau-balau, ditambah lagi diterjang pasukan Song kian-kemari, tentu saja tambah pontang-panting tak keruan.
"Gempur balik ke Siangyang, bunuh raja itu!"
Teriak Kwe Cing keras2.
Maka bersoraklah pasukan Song, mereka memutar tubuh terus menerjang pasukan Mongol yang lagi menggempur benteng itu.
Melihat luka Nyo Ko, Siao-Iiong-li menyobek kain bajunya untuk membalut lukanya, saking terharunya hingga tangannya gemetar, tapi tak sanggup buka suara.
"Rasa kuatir mu di bawah panggung batu jauh lebih menderita daripada aku yang bertarung di atas panggung tadi,"
Ujar Nyo Ko tertawa.
Sementara itu terdengar suara teriakan pasukan Song yang hiruk-pikuk memecah bumi dan secara gagah berani sedang menerjang musuh.
Dari jauh Nyo Ko melihat formasi pasukan musuh sangat teratur, pula jumlahnya berlipat ganda daripada pasukan Song, ber-kali2 pasukan Song menyerbu maju bagai gelombang ombak yang susuI-menyusuI, tapi sama sekali tak bisa memboboIkan pertahanan pasukan Mongol.
"Liong-ji,"
Kata Nyo Ko.
"meski lawan tangguh sudah mampus, tapi pasukan musuh belum kalah, Marilah kita menyerbu, Kau letih tidak?"
Betapa bersemangat kata2 Nyo Ko bagian depan itu, sedang kata2 terakhir itu berubah menjadi begitu halus lembut penuh kasih sayang. Siao-liong li tersenyum, jawabnya.
"Jika kau bilang serbu, hayolah, serbu!"
"Toakoko,"
Tiba2 suara seorang anak dara berkata di sampingnya.
"sungguh cantik Liong cici seperti dewi kayangan."
Siao-liong-li berpaling pada Kwe Yang, sahutnya sambil tertawa.
"Adik cilik, banyak terima kasih atas doamu atas pertemuan kembali kami, Toa-kokomu telah banyak bercerita tentang kebaikanmu, ia sengaja membawa aku ke Siangyang sini buat bertemu dengan kau."
"Dan hanya engkaulah yang setimpal berjodohkan dia,"
Ujar Kwe Yang sambil menghela napas.
Lalu Siao-liaong-li menggandeng tangan anak dara itu dengan sangat akrabnya, sebenarnya terhadap siapapun selalu Siao liong-li bersikap dingin, tapi sepanjang jalan ia mendengar cerita Nyo Ko yang me-muji2 Kwe Yang, pula melihat dalam usia sekecil anak dara ini, meski menghadapi ancaman elmaut tadi tetap tak gentar, maka sikap Siao-liong-li menjadi berubah dari pada biasanya.
Sementara itu Nyo Ko telah membawakan beberapa ekor kuda yang tak bertuan lagi, katanya.
"Marilah naik, aku membuka jalan, kita terjang musuh bersama!"
Segera ia mendahului cemplak kudanya dan dilarikan paling depan.
Dengan kencang Siao-liongli dan Kwe Yang mengikut di belakangnya.
Mereka menuju ke selatan, terlihatlah tangga pencakar langit berderet2 bersandar pada tembok benteng, tentara Mongol bagai semut banyaknya sedang memanjat ke atas.
Ketika mereka memandang dari suatu tempat yang tinggi, terlihat di sebelah barat beribu tentara Mongol lagi mengurung Yalu Ce bersama 200 orang anak buahnya.
Tentara Mongol itu semuanya bersenjata golok sepanjang lima kaki dan berbentuk melengkung, maka satu persatu anak buah Yalu Cc banyak yang kena dibabat terguling, Kwe Hu kelihatan memimpin sepasukan tentara lain sedang menerjang hendak menolong suaminya, tapi kena ditahan oleh pasukan Mongol yang berjumlah ribuan orang.
Suami isteri hanya dapat melihat dari jauh saja, tapi tak bisa berhimpun menjadi satu.
Menyaksikan perajurit2 di samping suaminya makin lama makin berkurang, hati Kwe Hu benar2 seperti di-sayat2.
ia tahu dalam pertempuran besar demikian, bila sampai terkepung sendirian, betapapun tinggi ilmu silatnya juga tak terhindar dari kematian.
Pada saat itulah tiba2 terdengar Nyo Ko ber-seru.
"Kwe-toakounio (nona Kwe besar), asal kau menyembah tiga kali padaku, segera aku menolong suamimu!"
Kalau turuti watak Kwe Hu yang congkak dan tinggi hati, jangankan disuruh menyembah, sekalipun mati juga ia tak mau kalah mulut pada Nyo Ko.
Tapi kini jiwa sang suami bergantung di ujung rambut, tanpa ragu2 lagi ia keprak kuda mendekati Nyo Ko, sekali melompat turun, benar saja ia lantas tekuk lutut dan hendak menyembah sungguh2.
Melihat itu, Nyo Ko malah terkejut, lekas ia menarik bangun orang, ia menyesal atas katanya tadi yang rendah budi.
"Maafkan aku telah salah omong, jangan kau anggap sungguh Yalu-heng adalah sahabatku yang terbaik, tidak mungkin aku tidak menolongnya?"
Habis itu, ia mengumpulkan delapan ekor kuda lagi, yang empat ekor ia satu baris di depan dan empat ekor lain tergandeng satu baris di belakang, dengan dua baris kuda muka belakang masing2 empat ekor itu, segera ia melompat ke atasnya, dengan tangan tunggal ia pegang delapan tali kendali, sekali ia bersuit segera ia terjang pasukan musuh.
Walaupun "tank-kuda"
Dikendalikan Nyo Ko ini belum terlatih, tapi dengan tenaga saktinya tidak sukar untuk mengendalikannya, Maka 32 tapak kaki segera ber-detak2 kedepan hingga debu pasir berhamburan, Nyo Ko sendiri dengan Gin-kang yang tinggi, melompat ke sana ke sini di atas ke delapan ekor kuda itu.
Ketika tentara Mongol tertegun menyaksikan ilmu menunggang kuda yang aneh menyerbu ke-dalam pasukan mereka.
Sekali lengan baju Nyo Ko mengebas, sebuah panji segera kena dirampasnya terus di tancapkan di atas pelana.
Dengan mem bentak2 segera perwira dan bintara Mongol hendak merintangi, tapi di mana panji Nyo Ko rampasan tadi menyabet, sekaligus tiga perwira musuh terguling dari kudanya.
Ketika itu Yalu Ce kelihatan tinggal tiga tombak jauhnya, segera NyoKo berseru.
"Yalu heng lekas melompat ke atas!"
Berbareng itu, sekali panji diayunkan, segera Yalu Ce melompat tinggi ke udara, cepat Nyo Ko menggulung dengan panjinya hingga dengan tepat tubuh Yalu Ce terbungkus oleh kain panji itu Dua orang delapan kuda segera menerjang keluar kepungan musuh.
"Nyo hengte,"
Kata Yalu Ce menghela napas lega.
"banyak terima kasih atas pertolonganmu, Tapi anak buahku masih ada yang terkepung, tidak mungkin aku menyelamatkan jiwa sendiri, Biarlah aku bertempur lagi dan mati bersama dengan mereka."
Tiba2 pikiran Nyo Ko tergerak, katanya.
"Marilah, kaupun merampas sebuah panji besar!"
Habis ini, ia mengeluarkan geretan dan kain panji di tangannya itu ia bakar.
"Akal bagus!"
Baca Juga: Satria Gunung Kidul 2
Baca Juga: Pendekar Satu Jurus 6