Ceritasilat Novel Online

Pendekar Baja 8

Eps 8 Pendekar Baja - Gu Long

Baca online Pendekar Baja - Gu Long

Cersil Pendekar Baja - Gu Long.

Sambung Ling-hoa dengan tertawa. Jit-jit menghela napas.

"Ai, cara kerja kalian sungguh sangat rapi."

"Terima kasih,"

Sahut Ling-hoa.

"Tapi aku tetap tidak mengerti, setelah kau bebas, mengapa kalian tidak turun tangan kepadaku? Mengapa sengaja meninggalkan seorang tumbal di sana, tidakkah hal ini terlalu berlebihan?"

Waktu itu untuk apa kuturun tangan padamu? Kan tidak mendatangkan manfaat bagiku?"

"Tapi perbuatan kalian sekarang ini ada manfaat apa?"

Jika kami mengganggu dirimu waktu itu, tentu berarti menghentikan rencanamu mengerjai Sim Long, hal ini boleh dikatakan ada rugi dan tiada untungnya bagiku.

Sebab itulah cara yang paling baik adalah mengelabui dirimu."

"Sungguh lihai kau,"

Kata Jit-jit.

"Dan anak perempuan yang beruntung ialah menjadi istri seorang lelaki lihai, dengan demikian selama hidupnya dia pasti takkan dihina dan dianiaya orang,ücap Ling-hoa dengan tertawa. Jit-jit berkedip-kedip.

"Ehm, betul juga ucapanmu. Cuma ... cuma masih ada sesuatu aku merasa tidak paham."

Sesuatu apa? Coba katakan."

"Setelah menyamar, tanda apa yang kau tinggalkan pada wajahmu.Öng Ling-hoa berpikir sejenak, lalu berkata dengan tertawa.

"Coba kau lihat apakah ada sesuatu ciri khas pada wajahku?"

Tampaknya ti ... tidak ada,"

Kata Jit-jit.

"Coba periksa lebih teliti,"

Ling-hoa mendekatkan mukanya.

"Hidungmu mancung, matamu besar ... mulutmu .... Ah, betul, dapat kulihat di sini. Apakah maksudmu tahi lalat di ujung mulutmu ini?"

Betul, betapa aku merias mukaku pasti terdapat tahi lalat ini,"

Kata Ling-hoa.

"Tapi banyak orang di dunia ini mempunyai tahi lalat semacam ini, cara bagaimana anak buahmu akan mengenali dirimu?"

Dengan sendirinya karena mereka sudah lama terlatih, mereka ingat jelas letak dan besar tahi lalat ini, jika kutambahi lagi dengan isyarat mata, kan terlalu goblok bilamana tetap tidak mengenali diriku."

Jit-jit menatap tajam tahi lalat orang, katanya kemudian.

"Sungguh tak tersangka engkau mau memberitahukan rahasia ini kepadaku."

Memangnya kau gembira? Kukira jangan keburu gembira dulu, seharusnya engkau merasa susah."

"Merasa susah? Sebab apa?"

Jit-jit terbelalak.

"Bilamana ada kesempatan kabur bagimu, apakah mungkin kuberi tahukan rahasia ini kepadamu?"

Jika engkau sedemikian lembut padaku, sekalipun kau suruh kupergi juga aku tidak mau, apa lagi kabur?"

Sedapatnya Jit-jit tertawa manis, namun toh tetap kelihatan tertawa yang dibuat-buat.

"Apakah benar ucapanmu?"

Dengan tertawa Ling-hoa menegas.

"Tentu saja benar. Aku ... aku sudah kecewa terhadap Sim Long, hatiku sudah luka, padahal di dunia ini selain Sim Long saja, lelaki mana lagi yang dapat membandingi dirimu."

Jika demikian, mari, biar kucium dulu,"

Sembari tertawa Ong Ling-hoa lantas menubruk ke atas. Seketika air muka Jit-jit berubah lagi, tapi sedapatnya ia berlagak tenang dan berseru.

"Eh, coba, kenapa engkau jadi terburu-buru begini, kan asyik lagi mengobrol ....Öng Ling-hoa menengadah dan tergelak.

"Haha, nona manis, jangan main sandiwara lagi, kan tolol bilamana tidak dapat kuraba isi hatimu ...."

Aku ... aku sungguh ...."

"Jika kau sungguh hati, saat ini juga ingin kubuktikan,"

Sambil bicara ia terus menubruk maju dan merangkul Cu Jit-jit dengan terkekeh-kekeh.

"Sudah kupahami sekarang, terhadap anak perempuan seperti dirimu hanya cara inilah yang paling tepat ...." ***** Dalam pada itu Sim Long, Him Miau-ji dan Hoan Hun-yang bertiga sedang bersembunyi di tempat gelap di sekitar kereta yang terbalik itu. Malam sudah larut, meski hujan sudah berhenti, hawa terasa semakin dingin. Berulang Miau-ji mengangkat buli-buli dan menenggak araknya, Hoan Hun-yang juga merasa tidak sabar lagi sambil memandangi cuaca malam yang kelam. Hanya Sim Long saja yang tetap tenang. Akhirnya Miau-ji tidak tahan dan berkata.

"Menurut dugaanku, mereka belum tentu datang kemari."

"Datang, pasti datang,"

Kata Sim Long.

"Sungguh aku sangat kagum kepada pendirianmu yang teguh, bilamana engkau sudah memastikan sesuatu, rasanya tidak ada urusan lain yang dapat menggoyahkan keyakinanmu .... Tapi bilamana aku menjadi Ong Ling-hoa, tentu aku takkan kembali ke sini untuk mengambil kereta ini ...."

Belum habis ucapannya, mendadak terdengar suara orang berkumandang dari jauh.

"Aha, itu dia datang,"

Seru Miau-ji.

Waktu Sim Long dan Hoan Hun-yang pasang kuping, diketahuilah pendatang pasti tidak cuma dua-tiga orang saja, malahan terselip juga derap kaki kuda.

Di tengah malam sunyi suara mereka kedengaran cukup menusuk telinga.

Miau-ji mulai menggosok kepalan dengan penuh semangat, ucapnya dengan tertawa.

"Sim Long memang tidak malu sebagai Sim Long, setiap perhitungannya tidak pernah meleset."

Namun wajah Sim Long kelihatan prihatin, gumamnya.

"Cepat amat kedatangan mereka, sungguh tidak nyana ...."

Jelas sebelumnya telah kau perhitungkan kedatangan mereka, mengapa kau bilang tidak nyana?"

"Aku cuma heran mereka datang secepat ini,"

Kata Sim Long.

"Memangnya kenapa?"

Tanya Miau-ji.

"Rapat besar Kay-pang belum bubar, di sini adalah jalan yang harus dilalui oleh para pengikut rapat itu, jika mereka harus datang ke sini tentu dilakukan setelah rapat bubar .... Umpama datang lebih dini juga tidak perlu ribut begitu seperti tidak takut diketahui orang."

Miau-ji melenggong, tapi segera berkata dengan tertawa.

"Ah, tentu kawanan anjing itu merasa mempunyai majikan yang kuat, dengan sendirinya mereka tidak takut terhadap orang lain. Betul tidak, Hoan-heng?"

Kukira ...."

Belum sempat Hoan Hun-yang menanggapi, rombongan orang itu sudah mendekat, mereka terdiri dari dua orang dan dua ekor kuda.

Beramai-ramai lantas menegakkan kereta yang roboh itu, kuda dipasang pada sabuk penarik, lalu memeriksa keadaan kereta.

Seorang di antaranya berkata dengan tertawa.

"Bos memang tidak malu sebagai bos, beliau benar-benar sangat hebat. Setiap perhitungan beliau selalu terbukti seperti dilihatnya sendiri saja."

Memang, setiap perhitungan bos kita melebihi siasat perang panglima mana pun, selalu tepat dan jitu,"

Sahut kawannya.

"Malahan beliau tidak perlu pusing dan banyak bekerja, cukup tinggal di rumah dan bermain dengan anak dara itu dan segala sesuatu telah berlangsung dengan beres tanpa meleset sedikit pun."

Begitulah kelima orang itu bekerja dengan riang gembira, lalu kereta itu dihalau pergi, sama sekali tidak memerhatikan keadaan di sekitar situ.

"Lekas kita kejar mereka,"

Segera Miau-ji hendak bergerak. Tapi Sim Long lantas menariknya dan mendesis.

"Tidak, kita tidak mengejar mereka."

Miau-ji menjadi heran.

"Kita menunggu dengan susah payah, memangnya untuk apa? Setelah mereka muncul, kenapa kita tidak jadi menguntitnya? Se ... sebenarnya apa kehendakmu?"

Urusan menguntit dan menyelidiki musuh boleh serahkan saja kepada Hoan-heng,"

Kata Sim Long.

"Dan engkau dan aku?"

Tanya Miau-ji dengan terbelalak.

"Kita harus mendatangi tempat rapat Kay-pang lebih dulu, bilamana tidak salah dugaanku, di sana mungkin telah terjadi sesuatu yang mengejutkan,"

Tutur Sim Long.

"Masa ... masa betul begitu? ...."

Hendaknya Hoan-heng menguntit kereta tadi, setiba di tempat janganlah sembarang bertindak, sebaiknya putar balik ke sini, nanti kita berkumpul lagi untuk berunding lebih lanjut,"

Kata Sim Long dengan suara tertahan.

"Kutahu, Sim-heng tidak perlu khawatir,"

Jawab Hun-yang.

***** Di tengah malam musim dingin, bau harum arak tersiar terlebih jauh daripada bau harum apa pun.

Sebelum tiba di tempat rapat Kay-pang, hidung Sim Long dan Miau-ji sudah mengendus bau arak yang menusuk hidung.

Tanpa terasa Miau-ji meraba buli-buli araknya, ucapnya.

"Kawanan jembel ini biasanya kelihatan hidup miskin dan serbahemat, tapi pada waktu menjamu tamu ternyata cukup royal."

Mencium bau arak, kau jadi mengiler bukan?"

Kata Sim Long dengan tertawa.

"Tapi menurut pendapatku, arak dalam pesta sana sebaiknya kita jangan ikut minum."

Tidak ikut minum, memangnya kenapa?"

Tanya si Kucing.

Sim Long menghela napas dan tidak bicara lagi tapi dia berlari terlebih cepat.

Hanya sebentar saja tertampaklah barak bambu yang sederhana itu dengan cahaya obor yang terang, bayangan orang tampak berjubel di dalam barak, agaknya sama berduduk dengan tenang.

"Lihat itu, mana ada sesuatu, bukankah semuanya asyik duduk minum arak?üjar Miau-ji dengan tertawa.

"Apa betul?"

Kata Sim Long.

"Jika terjadi apa-apa kan seharusnya mereka ...."

Belum lanjut ucapan si Kucing, ia jadi melenggong sendiri, sebab dari jauh kini dilihatnya keadaan agak tidak beres.

Meski orang-orang itu tampak duduk tenang di dalam barak, tapi suasana terlalu sunyi dan menimbulkan rasa seram.

Beratus orang duduk di situ tanpa mengeluarkan suara, orang yang tidak minum arak saja tidak mungkin berdiam begitu, apalagi orang yang telah menenggak arak.

Kesunyian yang aneh ini telah memberi alamat yang tidak enak.

Miau-ji tidak tahan, dengan cepat ia melompat ke sana dan menerjang ke dalam barak, apa yang terlihat membuatnya terkesima.

Ribuan orang yang berada di barak yang mengelilingi tanah lapang di tengah ini tampaknya benar telah berubah menjadi orang mati.

Ada yang menggeletak dengan mulut berbuih, ada yang mendekap di meja dan tidak sadar, hidangan di atas meja belum banyak yang termakan, tapi cawan dan botol arak tampak berserakan.

Orang-orang ini apakah mabuk seluruhnya?

Setelah tercengang sejenak, Miau-ji lantas mengangkat tubuh seorang dan memeriksa napasnya, air muka si Kucing berubah, serunya.

"Hah, keracunan!"

"Ternyata cocok dengan dugaanku, ada racun dalam arak,"

Kata Sim Long.

"Setiap orang yang hadir di sini adalah kawakan Kangouw, mereka juga terperangkap?üjar Miau-ji dengan gegetun.

"Dalam keadaan gembira ria tadi, siapa yang tidak ingin minum dua-tiga cawan untuk menambah semarak pesta ini, siapa lagi yang curiga dan perlu memeriksa arak di dalam botol?üjar Sim Long. Di bawah cahaya obor yang bergoyang tertiup angin itu terlihat wajah orang-orang yang sudah tak bernyawa ini sama pucat pasi dengan kulit muka berkerut, keadaannya sangat menyedihkan dan juga mengerikan.

"He, lihat, baju orang-orang ini sama terbuka,"

Mendadak Miau-ji berteriak. Tanpa bicara Sim Long mendekati beberapa orang itu dan meraba badan mereka, saku mereka ternyata sudah kosong tanpa isi serupa habis dirampok orang habis-habisan.

"Sudah membunuh orang, merampas juga harta bendanya, keji amat!"

Gerutu Miau-ji dengan gemas.

"Makan orang tanpa menumpahkan tulangnya, inilah kebiasaan perbuatan Ong Ling-hoa,"

Kata Sim Long.

"Kau kira orang-orang ini dapat ... dapat diselamatkan tidak?"

Tanya si Kucing.

"Jika ada obat penawar yang jitu, dengan sendirinya mereka dapat tertolong, tapi apa mau dikatakan lagi, kita sama sekali tidak tahu racun apa yang diminum mereka."

Kedua orang menjadi serbasusah berdiri di tengah ribuan orang yang keracunan dengan wajah yang mengerikan ini.

Sekonyong-konyong mereka merasakan di tengah orang-orang yang mendelik menanti ajal ini masih ada sepasang mata yang terpentang lebar seperti lagi menatap mereka.

Serentak kedua orang sama memburu ke sana.

Itulah mata yang melotot penuh rasa dendam, biji matanya seperti mau melompat keluar dari kelopak matanya.

"He, Ci Kong-tay!"

Seru Miau-ji.

Ternyata Ci Kong-tay tidak keracunan melainkan Hiat-to tertutuk sehingga tubuh tidak bisa berkutik, mukanya yang burik tampak berkilau.

Mulutnya tidak berbau arak, jelas setetes arak pun tidak diminumnya.

Jika demikian apa yang terjadi di sini pasti telah disaksikan seluruhnya.

"Rupanya tidak minum arak juga ada faedahnya,ücap Miau-ji dengan gegetun.

"Sesungguhnya apa yang terjadi di sini, tanya dia tentu segalanya akan menjadi jelas."

Dalam pada itu Sim Long telah membuka Hiat-to Ci Kong-tay yang tertutuk. Cepat Ci Kong-tay merangkak bangun dan melemaskan otot tulang tangan dan kakinya.

"Bagaimana ...."

Cayhe baik-baik saja, terima kasih atas perhatian kalian ...."

Begitulah Ci Kong-tay telah menyambut ucapan Sim Long, berbareng itu mendadak berpuluh bintik tajam menyambar dari tangannya ke arah Sim Long, menyusul ia pun menubruk maju seperti orang kalap.

Ci Kong-tay berjuluk "mata uang berhamburan memenuhi bumi", selain menggambarkan mukanya yang burikan juga melukiskan kemahirannya menghamburkan senjata rahasia serupa hujan memenuhi bumi.

Sekarang berpuluh biji mata uang dihamburkan dengan cepat dan jitu serta di luar dugaan pula, bila orang lain mustahil mampu menghindar.

Namun Sim Long tetap Sim Long.

Di tengah jerit kaget Miau-ji, serentak Sim Long meloncat ke atas, betapa cepat sambaran senjata rahasia musuh tetap tidak secepat gerak tubuhnya.

Hujan Kim-ci-piau (senjata rahasia mata uang) itu tiada satu pun menyentuh tubuhnya.

Secepat kilat Him Miau-ji juga menyelinap ke belakang Ci Kong-tay, sekaligus ia pegang kedua tangan tokoh Kay-pang itu dan ditelikung ke belakang.

Seketika Ci Kong-tay tak bisa berkutik lagi, tapi ia lantas mencaci maki.

"Keparat she Sim, kuanggap dirimu ini seorang kesatria sejati, siapa tahu sebenarnya engkau ini manusia berhati binatang ...."

Kau sendiri binatang,"

Bentak Miau-ji dengan gusar.

"Sim Long telah menolong jiwamu, sebaliknya kau balas air susu dengan tuba dan bermaksud menyergapnya secara keji, apakah perbuatanmu ini tidak lebih rendah daripada binatang?"

Ci Kong-tay meraung.

"Sim Long bintang kau pun binatang! Boleh kalian bunuh saja diriku, aku memang tidak ingin hidup lagi, masa aku takut kalian membunuhku untuk membungkam mulut saksi hidup."

Orang ini sudah gila barangkali, sembarang mengaco-belo,"

Teriak Miau-ji dengan gusar. Dengan tenang Sim Long bertanya.

"Ci Kong-tay, coba katakan kenapa engkau menuduh kami hendak membunuhmu untuk membungkam mulut saksi hidup?"

Kay-pang kami memandang dirimu sebagai kawan, siapa tahu kau taruh racun di dalam arak sehingga beribu kawan yang hadir di sini kau celakai, malahan secara keji kalian merampok harta benda mereka,"

Teriak Ci Kong-tay dengan suara parau. Muka Miau-ji merah padam saking gusarnya.

"Kentut busuk! Siapa bilang kami menaruh racun, siapa bilang kami merampok? ...."

Kau dan Sim Long yang turun tangan secara terang-terangan, memangnya hendak kau kelabui mataku?"

Bentak Ci Kong-tay. Saking gemas sebelah tangan Miau-ji lantas menggampar. Tapi Sim Long keburu mencegahnya. Dengan tetap sabar Sim Long berkata pula.

"Kenapa tidak kau pikirkan, jika benar kami yang turun tangan keji, untuk apa kami kembali lagi ke sini?"

Hm, kutahu kalian kembali ke sini hanya ingin tahu apakah orang-orang ini sudah mati seluruhnya atau belum,"

Jengek Ci Kong-tay.

"Kalau tidak, bila perbuatanmu yang rendah ini sampai tersiar, apakah selanjutnya kalian dapat tancap kaki lagi di dunia Kangouw?"

Sim Long saling pandang sekejap dengan Him Miau-ji, keduanya sama-sama merasa ngeri akan kekejian tipu muslihat Ong Ling-hoa.

Jelas ia sendiri yang berbuat jahat, tapi sengaja menyuruh orang menyamar sebagai Sim Long dan Him Miau-ji agar orang salah sangka terhadap Sim Long berdua.

Dalam keadaan demikian, biarpun Sim Long dan si Kucing punya seratus buah mulut juga sukar membela diri, apalagi kini ada saksi hidup yang melihat perbuatan mereka itu.

Untuk menghilangkan salah sangka itu jalan paling baik bagi Sim Long adalah membunuh Ci Kong-tay.

Tapi bila Ci Kong-tay dibunuh, rasanya tiada untung dan malah ada ruginya.

Apalagi mereka juga tidak mungkin bertindak sekeji ini.

Begitulah kedua, orang saling pandang dengan bingung.

Dengan suara serak Ci Kong-tay lantas berteriak pula.

"Nah, apa yang kalian tunggu lagi, lekas bunuhlah diriku."

Kau maha dungu, aku memang ingin membinasakanmu dan habis perkara,ücap Miau-ji dengan gemas.

"Jika begitu, mengapa tidak lekas turun tangan,"

Tantang Ci Kong-tay sambil menyeringai.

"Aku ... aku ...."

Miau-ji menjadi gelagapan saking dongkolnya, mendadak ia mengentak kaki dan memaki.

"Dasar bangsat Ong Ling-hoa itu."

Sim Long juga cuma menggeleng kepala saja dan tidak tahu apa yang mesti diperbuatnya.

Pada saat itulah sekonyong-konyong terdengar derap kaki kuda yang ramai, tiga penunggang kuda datang dengan cepat, hanya sekejap saja sudah sampai di depan barak, serentak melompat turun tiga lelaki berbaju hitam, semuanya membawa poci tembaga ukuran besar.

"Siapa itu?"

Bentak Miau-ji. Ketiga lelaki itu memandang Sim Long sekejap, lalu memandang Miau-ji pula, tanpa memperlihatkan sesuatu perasaan mereka berkata.

"Kongcu kami mengetahui di sini ada orang keracunan, kami disuruh datang memberi pertolongan."

Kongcu kalian? Apakah Ong Ling-hoa?"

Seru Miau-ji.

"Betul,"

Jawab salah seorang dengan tak acuh.

"Bangsat, masih juga berani datang kemari!"

Teriak Miau-ji dan segera hendak melabrak ketiga orang itu. Tapi lagi-lagi Sim Long menahannya dan berkata.

"Nanti dulu!"

Melihat orang yang menggeletak keracunan sedemikian banyaknya, bila dia main kekerasan, lalu siapa yang akan menolong mereka?

Terpaksa Miau-ji mengertak gigi dan menahan diri.

Dengan sorot mata tajam Sim Long lantas tanya ketiga orang itu.

"Dari mana Kongcu kalian mengetahui di sini ada orang keracunan?"

Kongcu kami memang sudah mengkhawatirkan ada manusia berhati binatang diam-diam main gila dan turun tangan keji di sini, maka sebelumnya kami sudah disuruh mengawasi keadaan tempat ini,"

Jawab salah seorang itu.

"Kentut busuk! Kau ... kau ...."

Miau-ji meraung murka.

"Menolong orang harus cepat, kalian sengaja merintangi dan mengulur waktu, jangan-jangan kalian ingin menyaksikan kematian kesatria sebanyak ini?"

Kata orang pertama tadi. Ci Kong-tay juga lantas berteriak.

"O, Sim Long dan Him Miau-ji, kumohon sukalah kalian mengampuni orang-orang ini. Mereka sama berkeluarga dan punya anak istri, apakah kalian tidak kasihan ...."

Miau-ji sangat gelisah, ia tahu bilamana orang-orang ini ditolong dan siuman, tentu mereka akan membenci Sim Long dan dirinya, urusan tentu juga sukar dijelaskan lagi.

Ia tahu Ong Ling-hoa sengaja hendak menista mereka dengan memperalat mulut orang-orang ini untuk menyebarkan nama busuk mereka.

Sebaliknya ia juga tidak dapat merintangi ketiga orang ini menolong ribuan orang yang keracunan ini.

Sungguh tindakan Ong Ling-hoa ini jauh lebih lihai daripada membunuh semua orang ini.

Didengarnya Sim Long lagi berkata.

"Baiklah, boleh lekas kalian menolong mereka."

"Dan kita? ...."

Teriak Miau-ji dengan parau.

"Kita terpaksa harus angkat kaki,ücap Sim Long.

"Angkat kaki?"

Miau-ji menegas. Sim Long tersenyum pedih, katanya.

"Jika saat ini kita tidak angkat kaki, sebentar bila orang banyak siuman, tentu akan timbul kesulitan. Tatkala mana mungkin sukar lagi bagi kita untuk angkat kaki."

Ketiga lelaki kekar itu tampak senang, segera mereka mencekoki air di dalam poci kepada orang-orang yang keracunan itu satu per satu.

Pada saat itu juga diam-diam Sim Long dan Miau-ji lantas mengeluyur pergi.

Terdengar suara caci maki Ci Kong-tay masih bergema di belakang mereka.

Dengan sedih Miau-ji berkata.

"Kita pergi begini saja, bukankah seterusnya kita harus menanggung tuduhan jahat ini dan sukar dicuci bersih lagi. Aku ... aku lebih suka mati daripada ...."

Mati tidak menjadi soal bagi kita, tapi dapatkah kau biarkan orang-orang itu pun mati tanpa tertolong?üjar Sim Long. Gemertuk gigi Miau-ji saking gemasnya.

"Bangsat Ong Ling-hoa, dia tahu Kay-pang tidak dapat lagi diperalat olehnya, maka digunakannya lagi akal keji ini. Dia telah merampas segala milik mereka, tapi sengaja menyelamatkan jiwa mereka, tujuannya supaya mereka menuntut balas pada kita berdua. Nyata siapa saja dan setiap kesempatan yang dapat diperalat olehnya selalu tak disia-siakannya."

Kalau bicara tentang kekejaman, orang ini sungguh diakui tidak ada bandingannya di dunia,üjar Sim Long dengan tertawa.

"Tampaknya biarpun Koay-lok-ong juga belum pasti dapat melebihi dia."

Miau-ji kurang senang.

"Ai, keadaan sudah runyam begini, ternyata engkau masih bisa tertawa."

Jangan khawatir, biarpun kita sudah kalah selangkah, tapi ada juga urusan lain dia kalah selangkah daripada kita. Dan langkah ini justru langkah kematiannya."

"Langkah apa?"

Tanya Miau-ji bingung.

"Apa pun juga seharusnya dia tidak boleh memperlihatkan ekornya."

Ekor apa?"

"Kereta itu adalah ekornya. Dengan memegangi ekornya tentu dapat kita temukan dia, bila kita dapat menemukan dia, tentu dapat kita merenggut nyawanya. Biarpun dia menang seribu kali daripada kita juga sukar menambal kekalahannya yang satu kali ini."

Wah, jika begitu ayolah lekas kita menyusul Hoan Hun-yang untuk memegang ekornya itu,"

Seru Miau-ji.

"Ekor itu tidak perlu lagi kita pegang,üjar Sim Long dengan tersenyum.

"Kenapa?"

Miau-ji merasa bingung lagi.

"Sebab Ong Ling-hoa masih mempunyai ekor lain di sini."

"Di sini? Di mana?"

Tanya Miau-ji.

"Mari ikut padaku."

Segera Sim Long mendahului mengitar ke belakang barak, mendekati tempat tambatan kuda.

"Apakah maksudmu hendak menunggu kembalinya ketiga orang itu dan diam-diam kita mengintilnya?"

Tanya Miau-ji dengan suara tertahan.

"Ketiga orang itu pasti akan tinggal lama di sini, jika kita menunggu mereka kan lebih cepat bila kita mencari Hoan Hun-yang saja. Apalagi ketiga orang ini tentu juga curiga kemungkinan akan penguntitan kita."

Jika begitu, lantas ... lantas di mana ekor yang kau maksudkan?"

"Di sini, lihat saja,ücap Sim Long sambil mengayun sebelah tangannya. Terdengar suara mendesing, dua biji batu kecil telah disambitkan. Batu pertama tepat mengenai tali kendali salah seekor kuda, batu kedua mengenai pantat kuda dengan jitu. Kuda itu kaget dan meringkik kesakitan, lalu membedal ke sana. Ketiga lelaki di dalam barak mencaci maki, disangkanya kudanya yang nakal. Mereka tidak menduga kuda itu telah dikerjai Sim Long, maka cuma mencaci maki dan sibuk menolong orang, tiada seorang pun yang mengejar kuda.

"Kuda inilah ekor Ong Ling-hoa, ayo kita kejar?"

Desis Sim Long.

Miau-ji masih juga heran, sedangkan Sim Long lantas melayang ke arah kuda secepat terbang.

Terpaksa Miau-ji ikut lari ke sana.

Sesudah berada di belakang kuda lepas tadi barulah ia menyadari duduknya perkara.

"Ah, betul, sifat kuda hafal jalan. Kuda lepas ini pasti akan lari pulang ke kandangnya, asalkan kita mengikuti kuda ini, akhirnya akan sampai juga di sarang Ong Ling-hoa."

Sim Long tersenyum.

"Menguntit kuda kan lebih mudah daripada menguntit manusia."

Sim Long, engkau sungguh hebat!"

Kembali Miau-ji berseru memuji.

Meski lari kuda itu cukup cepat, namun gerak tubuh Sim Long berdua tidak kalah cepatnya.

Dada baju Him Miau-ji masih juga terbuka menyongsong angin dingin yang menyayat, tapi dadanya serupa gemblengan baja tanpa merasakan sesuatu.

Dia justru bersemangat mengingat sebentar lagi si bangsat Ong Ling-hoa akan dibekuknya.

Tidak lama kemudian, terlihat sebidang hutan di depan sana.

Di samping hutan ada beberapa rumah gubuk dan setitik cahaya api.

Itulah rumah petani penunggu hutan lai itu.

Tapi kuda ini ternyata langsung menuju ke hutan sana.

"Masakah di sini tempatnya?"

Miau-ji berkerut kening.

"Pasti tidak keliru,"

Kata Sim Long.

Setiba di depan rumah gubuk, benar juga kuda itu lantas berhenti sambil meringkik perlahan.

Segera dari dalam gubuk menyelinap keluar dua sosok bayangan orang, gerak-geriknya cukup gesit, jelas bukan kaum petani biasa.

Agaknya kedua orang itu merasa heran melihat kuda kembali sendirian tanpa penunggangnya.

Kedua orang kasak-kusuk berunding sebentar, seorang lantas masuk lagi ke dalam gubuk, yang lain menuntun kuda ke belakang rumah.

"Ya, memang betul di sini tempatnya,ücap Miau-ji.

"Tunggu setelah orang yang menuntun kuda itu muncul kembali, segera kita menerjang ke dalam,"

Kata Sim Long.

"Menerjang ke dalam? Tidak perlu kita selidiki dulu?"

Jilid 23

"Menghadapi orang semacam Ong Ling-hoa harus dilakukan gerak cepat secara di luar dugaan,"

Kata Sim Long.

"Aha, cocok dengan seleraku,"

Desis Miau-ji.

Selagi bicara, orang yang membawa kuda ke belakang itu sudah muncul kembali, perlahan ia menolak pintu sehingga kelihatan cahaya lampu di dalam, lalu dia hendak menyelinap ke dalam.

Pada saat itulah secepat kilat Sim Long dan Miau-ji menerjang ke sana.

Begitu melayang tiba kontan Sim Long menutuk Giok-cim-hiat di belakang tengkuk orang itu.

Sebelum orang itu sempat bersuara, tahu-tahu lantas roboh.

Miau-ji terus mendepak pintu hingga terpentang, segera pula ia menghantam orang yang membuka pintu.

Dengan terkejut orang itu hendak menangkis.

"krek-krek", tahu-tahu kedua tangannya dipukul patah oleh si Kucing, kontan orang itu menjerit dan terjungkal. Cepat Miau-ji meraih sehingga dagu orang mengsol dan tidak dapat bersuara lagi. Di dalam rumah terkecuali orang yang membuka pintu itu masih ada lagi lima lelaki kekar lain, mereka lagi asyik minum arak. Karena kejadian mendadak ini, mereka terkejut dan sama melompat bangun. Kelima orang itu serentak pun bergerak, yang satu meraih kursi, orang kedua melolos golok, orang ketiga menjungkirkan meja, orang keempat berlari ke pojok sana untuk mengambil tombak, orang kelima memburu maju dan menghantam. Tapi sekali Miau-ji mencengkeram, kontan kepalan orang itu kena ditangkapnya, tangan yang lain terus menahan belakang kepala orang, kepalan orang ini dijejalkan ke mulutnya sendiri. Tanpa bisa bersuara segera tubuh orang ini terangkat oleh si Kucing. Waktu itu meja lagi diangkat seorang lagi, belum lagi terjungkir sudah dilihatnya sesosok tubuh melayang tiba, dua kepala saling bentur, ¡"

Prak¡", keduanya lantas ambruk bersama dengan kepala remuk.

Orang yang melolos golok itu belum lagi sempat mengangkat senjatanya, tahu-tahu iga terasa kesemutan, tenggorokan juga terasa kaku, mata lantas gelap, ia pun roboh terjungkal.

Sama sekali ia belum sempat melihat siapa lawannya, apakah lelaki atau perempuan, mati pun menjadi setan penasaran.

Di sebelah lain Sim Long juga sudah bertindak, sekaligus ia tutuk Hiat-to orang yang melolos golok, kaki terus menendang orang yang meraih kursi sehingga orang itu ditendang mencelat.

Orang yang mengambil tombak di pojok sana segera menusuk dengan tombaknya tanpa berpaling.

Tapi belum lagi bergerak tahu-tahu tombak sudah hilang, di belakang juga tidak ada serangan.

Dengan sendirinya ia menoleh untuk melihat keadaan, segera tertampak sepasang mata kucing lagi menatapnya dengan tersenyum simpul.

Dalam kagetnya kedua kepalannya lantas menghantam.

"blang-bluk", beberapa kali pukulannya tepat mengenai orang. Tapi orang yang kena pukul itu tetap tertawa saja, sebaliknya kedua tangan pemukulnya terasa kesakitan seperti mau patah. Ia menjadi nekat, sebelah kaki lantas menendang. Tapi baru saja kakinya menendang, segera matanya terasa gelap, seperti mendadak tercekik oleh tanggam baja, apakah tendangannya mengenai sasarannya atau tidak takkan diketahuinya lagi untuk selamanya. Hanya dalam sekejap saja ketujuh orang di luar dan dalam rumah telah dibereskan semua.

"Haha, sungguh menyenangkan,"

Seru Miau-ji dengan tertawa.

Sim Long lantas menyelinap masuk dengan cepat, Miau-ji juga menerjang ke dalam dan dilihatnya orang-orang di dalam rumah sudah tidak ada yang hidup lagi.

Sementara itu Sim Long sudah menerjang ke dapur.

"Sisakan satu untukku, Sim Long,"

Seru Miau-ji. Selagi ia hendak menyusul ke dapur, dilihatnya Sim Long telah melompat keluar kembali.

"Tidak ada orang lagi di dapur,"

Kata Sim Long.

"Dan di mana Ong Ling-hoa?"

Seru Miau-ji.

"Di sini pasti ada ruang rahasia tempat sembunyi Ong Ling-hoa, lekas kita cari,"

Kata Sim Long.

"Betul, jangan sampai keparat itu kabur lagi,"

Seru Miau-ji. Dilihatnya Sim Long lagi mengitari rumah ini, lalu memeriksa lagi ke rumah yang lain. Miau-ji ikut berkeliling dan ternyata tidak menemukan seorang pun.

"Wah, bagaimana, jangan-jangan dia tidak berada di sini."

Sim Long termenung sejenak, mendadak ia menerjang lagi ke dapur tadi disusul oleh Miau-ji. Sim Long berhenti di depan tungku dan memandangnya dengan tersenyum.

"Ini dia, di sini."

Miau-ji berseru girang.

"Ya, pasti di sini."

Kiranya tungku itu model tungku yang umum digunakan kaum petani di daerah utara, di atas tungku ada dua buah wajan besi besar, wajan yang satu kelihatan penuh hangus, wajan yang lain dalam keadaan bersih.

Sim Long pegang wajan yang bersih itu dan diputar, habis itu lantas diangkat dan benarlah di bawah wajan terdapat sebuah jalan bawah tanah.

"Hah, sungguh tempat sembunyi yang sangat hebat,"

Seru Miau-ji kejut dan girang.

Teringat kepada iblis Ong Ling-hoa itu berada di lorong bawah tanah ini, seketika darah Him Miau-ji bergolak, tapi juga agak kebat-kebit.

Dalam pada itu Sim Long sudah lantas melompat ke dalam lorong itu.

Tanpa pikir Miau-ji ikut melompat ke situ dan masuk ke sebuah kamar rahasia dengan perabotan yang indah.

Terdapat sebuah ranjang besar dengan selimut bantal bersulam serupa kamar tidur anak gadis.

Tapi di manakah Ong Ling-hoa, sama sekali tidak tertampak bayangannya.

Kelambu tempat tidur kelihatan tercantol dengan baik, selimut juga terlipat rapi, jelas tempat tidur ini sudah sekian lama tidak pernah dipakai.

Miau-ji dan Sim Long berdiri di depan tempat tidur dengan saling pandang, keduanya sama merasa kecewa dan kesal.

Sim Long menggeleng dengan menyesal.

"Salah, aku salah duga. Tak tersangka sarang Ong Ling-hoa sekecil ini tidak cuma tersedia sebuah tempat sembunyi saja."

Salah sangka satu kali juga tidak menjadi soal, cepat atau lambat toh bocah she Ong itu takkan terlepas dari cengkeramanmu,üjar Miau-ji.

"Tapi bila hari ini sampai dia lolos lagi, selanjutnya mungkin ...."

Sim Long menggeleng dan tidak meneruskan.

Miau-ji tidak tahu cara bagaimana harus menghibur orang, ia sendiri juga merasa kecewa, ia coba memeriksa kamar rahasia ini, pajangan kamar ini memang mewah, tempat tidurnya juga berbau harum.

"Keparat Ong Ling-hoa itu sungguh setan iblis, di mana pun sarangnya tidak lupa tersedia tempat tidur ....ücap Miau-ji dengan gemas, mendadak ia berteriak.

"Biar kuhancurkan dulu tempat tidurnya untuk melampiaskan rasa dongkolku."

Segera ia melompat maju dan menarik kelambu. Siapa tahu, baru saja kelambu terpegang, mendadak terdengar suara "

Keriang-keriut"

Berkumandang dari bawah tempat tidur. Seketika dia berhenti bergerak dan mendengarkan dengan cermat. Sim Long juga bergirang dan pasang telinga. Terdengar suara itu semakin dekat dan makin keras.

"Hah, jangan-jangan itu dia,"

Desis Miau-ji.

"Ya, mungkin betul ...."

Sahut Sim Long dengan suara tertahan. Terdengar pula suara "

Krek"

Lagi, ranjang seperti mulai bergerak.

Sim Long memandang sekeliling kamar ini dan dapat dipastikannya kamar ini tidak mengalami sesuatu perubahan, segera ia menarik Miau-ji dan bersembunyi di belakang kelambu yang terbuat dari kain satin tebal dan rapat.

Selagi Miau-ji hendak bersuara pula, mendadak ranjang besar itu menjeplak dan dua orang menerobos ke luar.

Terdengar seorang berkata.

"Hendaknya kendurkan peganganmu supaya aku dapat bernapas lebih longgar."

Tangan Miau-ji terasa gemetar, itulah suara Cu Jit-jit. Seorang lagi lantas menanggapi dengan tertawa.

"Memondong nona cantik semacam dirimu rasanya sangat berat untuk melepaskanmu."

Suara tertawa jalang itu membikin telinga Miau-ji menjadi merah dan dada hampir meledak saking gusarnya.

Nyata itulah suara Ong Ling-hoa, keparat ini benar-benar telah muncul.

Terdengar Ong Ling-hoa menghela napas panjang, katanya dengan tertawa.

"Sungguh kurang ajar, keparat itu justru muncul pada saat yang paling genting, sehingga menggagalkan urusan kita."

Jit-jit juga menghela napas dan menjawab.

"Hm, kusangka cuma Sim Long saja yang kau takuti, rupanya kau pun takut kepada Hoan Hun-yang sehingga larimu secepat ini, masa engkau tidak merasa malu padaku?"

Miau-ji saling pandang sekejap dengan Sim Long, diam-diam ia membatin dengan menyesal.

"Bila tahu tempat yang dituju Hoan Hun-yang itu akan menemukan Ong Ling-hoa di sana, tentu kami ikut pergi bersama dia ke sana."

Dalam pada itu Ong Ling-hoa lagi berkata pula dengan tertawa.

"Memangnya kau kira aku takut kepada Hoan Hun-yang? Hm, aku cuma khawatir di belakang Hoan Hun-yang akan menyusul datang Sim Long dan si kucing rakus itu."

O, kiranya engkau toh takut kepada mereka, mau juga engkau mengaku terus terang."

"Juga bukan lantaran kutakut kepada mereka,üjar Ong Ling-hoa dengan tertawa.

"Di sana kan ada orang yang siap melayani mereka, kita sendiri mencari suatu tempat tenang untuk ...."

Auhh, tanganmu ...."

Mendadak Jit-jit berteriak.

"Tanganku kan sangat pintar, selalu mengarah ke tempat yang menyenangkan,üjar Ong Ling-hoa dengan tertawa.

"Jang ... jangan, singkirkan tanganmu,"

Terdengar Jit-jit berkeluh.

"Eh, kenapa kau rewel, bukanlah sudah kau sanggupi akan kawin denganku?"

Tapi ... tapi, hendaknya kau buka dulu Hiat-toku,"

Mendadak Jit-jit bersuara genit.

"Begini kan tidak ... tidak baik, masakah kau takut aku akan lari?"

Aku memang khawatir,"

Sahut Ling-hoa.

"Kan sudah kuterima keinginanmu, masa perlu kulari?"

Sekarang engkau belum terhitung orangku, sebentar lagi kalau ... kalau sudah beres barulah akan kuturuti segala permintaanmu."

"Tapi ... tapi engkau .... Oo, jangan ...."

Jit-jit berkeluh pula dengan terengah.

Tangan Sim Long menjadi gemetar mendengar percakapan mereka.

Si Kucing juga tidak tahan, mendadak ia meraung, ia tarik kelambu sekuatnya sehingga robek.

Ong Ling-hoa berteriak kaget sambil melompat bangun.

Ternyata dia cuma memakai baju dalam saja, air muka tampak pucat, setelah melompat turun dari tempat tidur segera ia meraih sebuah kursi terus dilemparkan ke arah Him Miau-ji.

Mata Miau-ji merah membara, sama sekali ia tidak berkelit dan menghindar.

Tepat kursi menimpa tubuhnya dan tergetar hancur, sebaliknya ia tetap menubruk ke arah Ong Ling-hoa sambil berteriak murka.

"Ong Ling-hoa, serahkan nyawamu!"

Secepat kilat Ong Ling-hoa menyerang, sekaligus ia menghantam empat kali. Terdengar suara "

Plak-plok"

Berulang, empat kali pukulan itu sama mengenai tubuh Him Miau-ji, sebaliknya Miau-ji juga berhasil mencengkeram dada Ong Ling-hoa.

Jika pada waktu biasa sedikitnya Miau-ji akan terluka parah andaikan tidak binasa terkena pukulan-pukulan Ong Ling-hoa itu, tapi sekarang luka Ong Ling-hoa sendiri belum lagi sembuh, tenaganya banyak berkurang sehingga Miau-ji sanggup menahan pukulannya.

"Him-heng, kau ...."

Seru Ong Ling-hoa dengan muka pucat.

"Memangnya kau ingin hidup lagi?"

Jengek Miau-ji dengan murka, berbareng ia hantam kepala orang.

Bilamana pukulan ini tepat mengenai sasarannya, mustahil kepala Ong Ling-hoa takkan hancur lebur.

Untung baginya mendadak sebuah tangan menangkis baginya sehingga pukulan Miau-ji itu terpatahkan.

"Mengapa engkau merintangi pukulanku, Sim Long?"

Teriak Miau-ji gusar.

"Biarkan dia hidup sementara ini, masih banyak urusan yang harus kutanyai dia,"

Kata Sim Long.

"Saat ini dia sudah berada dalam cengkeraman kita, memangnya kau takut dia kabur lagi?"

Dengan gemas Miau-ji berkata.

"Sungguh ingin kucincang dia saat ini juga."

Dia lantas melepaskan Ong Ling-hoa dan melengos. Dilihatnya rambut Cu Jit-jit kusut dan tangan memegang selimut yang membungkus tubuhnya dengan rapat, nona itu sedang memandangnya dengan terkesima.

"Kau ... kau ...."

Miau-ji menjadi gelagapan.

Mendadak ia berpaling pula dan tidak memandang si nona lagi, ia mengepal tinjunya dengan erat.

Sim Long telah menutuk beberapa Hiat-to Ong Ling-hoa, lalu pandangannya juga beralih kepada Cu Jit-jit dengan senyum tak senyum, akhirnya ia menyapa.

"Engkau baik?"

Aku ... aku ...."

Bibir Jit-jit bergerak, tapi sukar untuk bicara. Sekian lama Sim Long termenung, katanya kemudian dengan menyesal.

"Sungguh aku tidak mengerti mengapa engkau ...."

Mendadak Jit-jit menangis tergerung-gerung, ucapan Sim Long itu serasa pisau menghunjam hulu hatinya, ratapnya.

"O, Sim Long, engkau pasti paham, engkau harus mengerti."

Benar aku harus mengerti?"

Gumam Sim Long. Mendadak si Kucing berteriak tanpa menoleh.

"Tadi engkau tidak menangis, sekarang apa yang kau tangisi?"

Aku ... aku ...."

Jit-jit tidak mampu bicara lagi. Dengan suara rada gemetar si Kucing berkata pula.

"Apakah engkau menangis karena kedatangan kami? .... Baiklah kami pergi saja ... supaya kalian ...."

Keji amat kau bicara demikian, Miau-ji!"

Teriak Jit-jit parau.

"Masa engkau tidak tahu, aku ... aku terpaksa, jika aku tidak bicara begitu padanya, apa yang akan terjadi atas diriku? ... aku cuma berusaha mengulur waktu saja.Äkhirnya si Kucing menghela napas dan menunduk.

"Sebenarnya engkau ada jalan lain,ücap Sim Long perlahan.

"Betul, aku memang mempunyai jalan lain,"

Seru Jit-jit.

"Tapi aku belum mau mati, aku ingin menuntut balas, aku ... aku ingin melihatmu sekali lagi."

Aku? ...."

Sim Long bergumam.

"Engkau tidak percaya? ... tidak percaya?"

Jit-jit menegas.

"Kupercaya."

Dan dapatkah engkau memaafkan daku?"

"Ya, kumaafkan."

Tapi Jit-jit lantas menangis sedih lagi, ratapnya.

"Kutahu hatimu tidak senang melihat tindakanku tadi, tapi untuk itu engkau boleh mencaci maki diriku, boleh kau hajar diriku, aku cuma memohon janganlah engkau bersikap dingin padaku."

Aku bersikap dingin?"

"Aku ... aku ...."

Remuk redam hati Jit-jit dan tidak sanggup bicara lagi. Perlahan Sim Long mendekati si nona dan membuka Hiat-tonya, katanya.

"Pakailah bajumu."

Mendadak Jit-jit menubruk maju dan merangkulnya erat-erat, meski tubuhnya cuma memakai baju dalam juga tak dipikirkan lagi.

Ia merangkul dengan menangis sedih.

Namun Sim Long tidak terpengaruh, ia berdiri diam dan berucap.

"Lepaskan tanganmu."

O, Sim Long, kejam amat engkau, apakah engkau tidak dapat memaafkanku?"

"Kan sudah kukatakan kumaafkanmu."

Meski di mulut kau bilang demikian, tapi dalam hatimu tidak. O, Tuhan, seharusnya lebih baik kumati saja tadi. Namun aku ... aku ingin mati saja di tanganmu."

"Kenapa kau ingin mati, bukankah selama ini aku memang bersikap demikian padamu, kau pun sudah cukup mengetahui."

Aku tidak ... tidak tahu, kuyakin engkau suka ... suka padaku, betul tidak Sim Long, katakan?!"

"Lepaskan!"

Kata Sim Long. Mendadak Jit-jit mengusap mata dan berteriak dengan menggereget.

"Baik Sim Long, aku memang tidak setimpal bagimu, aku tidak ingin apa-apa lagi, aku cuma mohon kau bunuh saja diriku."

Pakai bajumu,"

Kembali Sim Long berkata. Mendadak Jit-jit melompat ke dekat dinding sana dan melolos sebilah pedang serta dilemparkan kepada Sim Long. Terpaksa anak muda itu menangkap senjata itu.

"Sim Long ...."

Jerit Jit-jit sambil membentang kedua tangan dan membusungkan dada terus menubruk ke ujung pedang yang dipegang Sim Long.

Tapi hanya sekali menggetar tangannya, seketika pedang yang dipegangnya patah sebatas tangkai.

"Trang", pedang jatuh ke lantai, Jit-jit juga terkulai dengan tangis yang memilukan. Sim Long terdiam sejenak, katanya kemudian kepada Miau-ji.

"Mungkin Hoan Hun-yang lagi menghadapi bahaya, kupergi ke sana membantunya, kau jaga mereka di sini, segera kukembali lagi kemari."

Segera ia membalik tempat tidur dan melompat masuk ke dalam lorong itu.

"Tunggu, Sim Long ...."

Seru Miau-ji, namun Sim Long sudah menghilang.

Cahaya lampu yang menempel di dinding gemerdep menyinar wajah Him Miau-ji, ternyata air matanya telah bercucuran.

Ia pikir hati Sim Long sungguh sedingin es, meski dia tahu juga sebab apa orang berhati setega itu, tapi ia tetap tidak setuju.

Ia cuma memandang Jit-jit dengan rasa sedih tanpa bicara.

Mendadak Ong Ling-hoa menghela napas dan berkata.

"Wahai Sim Long, meski engkau adalah musuhku yang paling besar, tapi aku tetap kagum padamu. Bahwa engkau tega bersikap demikian terhadap gadis yang mencintaimu, sungguh aku mengaku bukan tandinganmu."

Tutup mulut!"

Bentak Miau-ji mendadak.

"Wahai kucing yang rakus, baru sekarang kutahu engkau juga menyukai Cu Jit-jit,"

Kata Ling-hoa pula.

"Kalau tidak tentu tadi engkau tidak perlu emosi begitu dan marah-marah padaku, cuma sayang ...."

Berani kau bicara lagi, segera kubunuh dirimu!"

Bentak Miau-ji.

"Baik, aku tidak bicara lagi, memang tidak pantas kukorek isi hati orang lain."

Meski dia bilang tidak mau bicara lagi, toh dia tetap omong pula.

Orang ini benar-benar gembong iblis yang luar biasa, kecuali dia mana ada orang lain yang bersikap setenang seperti ini dalam keadaan demikian.

Mendadak Jit-jit berdiri dan tidak menangis lagi, perlahan ia mendekati tempat tidur dan memakai bajunya.

Wajahnya mendadak berubah dingin tanpa perasaan, seperti di situ tidak ada orang lain lagi.

Miau-ji menunduk, tidak berani memandangnya, juga tidak tega untuk memandangnya.

Tapi Jit-jit lantas mendekati si Kucing dan menjura padanya.

"Ken ... kenapa kau ...."

Tersendat juga suara Miau-ji.

"Engkau sangat baik padaku,ücap Jit-jit dengan kaku.

"sebaliknya aku ... aku .... Ai, saat ini sungguh aku berharap cuma kenal engkau seorang saja dan tidak kenal orang lain, namun sayang ... di dunia ini memang banyak kejadian yang tidak bisa memenuhi harapan orang. Kutahu hatimu, aku benci padaku sendiri, mengapa aku tidak ...."

Mendadak Miau-ji bergelak tertawa, ia pegang pundak Jit-jit dan berseru.

"Tidak perlu kau bicara lagi. Apa pun juga aku tetap sahabatmu, hidup Him Miau-ji bisa mempunyai seorang sahabat perempuan sebagai dirimu, sungguh tidak sia-sia hidupku ini."

Engkau sungguh lelaki sejati, sungguh aku tidak tahu ada berapa orang lelaki di dunia ini serupa dirimu, alangkah baiknya bilamana aku mem ... mempunyai seorang kakak seperti dirimu ini,"

Kata Jit-jit dengan hampa.

"Kenapa tidak sekarang juga kau angkat aku sebagai kakak?ücap Miau-ji dengan tertawa.

"Benar kau mau menerima diriku sebagai adik?"

Tentu saja."

"O, Toako, sungguh aku sangat ... sangat bahagia ...."

Dengan suara terharu Jit-jit lantas memberi hormat. Air mata Miau-ji hampir menetes lagi, tapi di mulut ia berkata dengan tertawa.

"Adik yang baik ...."

"Jangan lupa, Toako, selamanya aku adalah adikmu yang baik,"

Tukas Jit-jit.

"Selanjutnya bila ... bila adikmu ini berbuat sesuatu kesalahan, dapatkah Toako memberi maaf?"

Tentu saja,üjar Miau-ji.

"Terima kasih, Toako ...."

Kata Jit-jit sambil melangkah maju secepat kilat dan di luar dugaan ia terus menutuk beberapa Hiat-to kelumpuhan tubuh Him Miau-ji.

Mimpi pun Miau-ji tidak menyangka mendadak Jit-jit bisa menyerangnya secara mendadak, bahkan sudah roboh pun dia tetap tidak percaya.

Ong Ling-hoa juga tercengang sehingga melongo tanpa bersuara.

"Apa ... apa maksudmu ini?"

Tanya Miau-ji dengan mendongkol.

"Aku ini kan adikmu, Toako ...."

Masakah seorang adik memperlakukan kakaknya secara demikian?"

Damprat Miau-ji.

"Jangan marah, Toako,"

Kata Jit-jit pula.

"Jangan marah??"

Teriak Miau-ji.

"Hampir gila aku saking gusarnya!"

Tapi ... tapi Toako tadi kan sudah berjanji akan memaafkan bilamana adik berbuat kesalahan,"

Kata Jit-jit dengan menunduk manja. Miau-ji menjadi serbarunyam.

"Tapi ... tapi mengapa ...."

Dengan sendirinya ada alasannya adik berbuat demikian,"

Kata Jit-jit.

"Ada alasan kentut, coba jelaskan!"

Aku berbuat demikian karena ingin kubawa pergi Ong Ling-hoa."

Kejut dan gusar Miau-ji.

"Hah, hendak kau bawa pergi dia? Kau ... hendak kau tolong dia malah?"

Bukan maksudku hendak menolong dia, aku cuma mau membawa pergi dia."

"Membawa pergi dia bukan berarti hendak kau tolong dia?"

Tidak, sebab ... sebab ...."

Mendadak Jit-jit tertawa dan menyambung.

"Pokoknya ada alasanku, cuma tidak dapat kujelaskan sekarang."

Alasan apa? Alasan gila?"

Teriak Miau-ji.

"Aku tidak gila, kuyakin perbuatanku pasti tidak keliru, maka kulakukan."

Masih kau bilang tidak keliru, apa yang kau lakukan ini pasti akan membuat engkau menyesal selama hidup."

"Tidak, aku takkan pernah menyesal."

Ai, rupanya aku telah salah menilai dirimu, sungguh aku ... aku berdosa terhadap Sim Long."

"Pada suatu hari nanti Toako pasti akan tahu perbuatanku ini tidak keliru."

Mendengar percakapan mereka itu, tentu saja Ong Ling-hoa sangat senang, segera ia menimbrung.

"Apa pun juga aku tidak salah menilai nona Cu kita, rupanya engkau memang sangat baik padaku."

Belum habis ucapannya, mendadak Jit-jit melompat maju dan menamparnya beberapa kali dengan keras. Seketika muka Ong Ling-hoa berubah menjadi merah bengap.

"He, ken ... kenapa kau? ...."

Dia jadi melongo juga.

"Dengarkan, Ong Ling-hoa, jangan keburu-senang dulu!"

Teriak Jit-jit dengan geregetan.

"Jika kau jatuh dalam cengkeraman Sim Long, bagimu memang cuma ada kematian. Tapi bila jatuh di tanganku, akan kubikin engkau mati tidak hidup pun sukar."

Omong kosong!"

Seru Miau-ji.

"Memangnya dia belum pernah terjatuh ke dalam tanganmu dan bukankah dia telah lolos? Kukira sekali ini kau pun ...."

Sekali ini pasti tidak sama,"

Potong Jit-jit.

"Hm, tidak sama kentut,"

Jengek Miau-ji.

"Toako, kutahu ...."

Jangan kau sebut Toako lagi padaku, aku tidak suka dengar,"

Si Kucing meraung. Jit-jit tertawa pedih.

"Toako, kutahu engkau marah atas tindakanku ini, tapi aku terpaksa harus berbuat demikian ...."

Dengan menggereget ia terus menyeret Ong Ling-hoa keluar.

Terpaksa Him Miau-ji menyaksikan kepergian orang tanpa bisa berkutik dengan hati mendongkol.

Mendadak Jit-jit menaruh Ong Ling-hoa di luar dan masuk kembali, ia berjongkok di samping Miau-ji dan perlahan meraba mukanya dengan tangannya yang halus itu.

"Singkirkan tanganmu?"

Miau-ji meraung pula. Namun Jit-jit seperti tidak mendengar, ucapnya dengan perlahan.

"Toako Him Miau-ji, maaf, bilamana hidupku ini pernah berbuat sesuatu kesalahan kepada seorang, maka orang itu ialah engkau. Selama hidupku takkan kulupakan dirimu ...."

Sampai di sini, tanpa terasa air matanya bercucuran lagi dan menetes di muka Him Miau-ji.

Jit-jit berdiri dan berlari pergi sambil menyeret Ong Ling-hoa.

Air mata Jit-jit membasahi muka Miau-ji, ia pandang Jit-jit yang berlari pergi itu dengan perasaan remuk redam, tanpa terasa ia berteriak.

"Jit-jit, kembali ...."

Tapi nona itu tak berpaling lagi. Sungguh Miau-ji tidak paham, tidak habis mengerti. Mengapa Jit-jit berbuat demikian? Dia dongkol, gemas dan kesal.

"O, perempuan, dasar perempuan ....ïa bergumam, baru sekarang dirasakan perempuan memang sangat sukar dimengerti. Apalagi Cu Jit-jit, jika ada orang menyangka dapat memahami pribadi Cu Jit-jit, orang itu kalau bukan orang gila pasti juga orang tolol.

"Aku memang tolol ...."

Miau-ji bergumam pula.

"Bila Sim Long kembali dan melihat keadaanku ini, entah bagaimana komentarnya atas diriku? Kan malu aku?"

Tapi dia sama sekali tidak dapat bergerak, apa dayanya?

Tidak lama kemudian, tiba-tiba terdengar suara langkah orang.

Suara ini bukan berkumandang dari lorong bawah tanah, tapi dari luar rumah, jelas yang datang ini bukanlah Sim Long.

"Siapa?"

Bentak Miau-ji.

Belum lenyap suaranya, seperti orang gila tiga lelaki kekar telah menerjang masuk.

Kiranya ketiga orang yang membawa poci tembaga yang hendak menolong orang yang keracunan tadi.

Melihat mayat kawan-kawannya bergelimpangan di situ, mata ketiga orang itu menjadi marah.

Apalagi terlihat lagi Him Miau-ji, serentak mereka menubruk maju.

Berubah juga air muka Miau-ji, tapi mendadak ia bergelak tertawa malah.

Salah seorang itu memaki.

"Keparat piaraan biang anjing, apakah engkau yang membunuh kawan kami?"

Betul, tepat, sangat kebetulan kedatangan kalian,"

Seru Miau-ji dengan tertawa.

"Kebetulan untuk membinasakanmu,"

Teriak orang itu.

"Baik, terima kasih!"

Kata Miau-ji. Melihat sikap si Kucing yang tidak gentar itu, ketiga orang berbalik tercengang dan mengira ada sesuatu perangkap, tanpa terasa mereka menyurut mundur dua langkah.

"Bagaimana, mengapa kalian tidak turun tangan?"

Tanya Miau-ji.

"Keparat piaraan biang anjing, benar kau minta mampus?"

Teriak seorang di antaranya.

"Hahaha, terus terang kuberi tahukan, kawanan binatang, tuanmu memang lagi ingin mati di tangan kalian bertiga binatang ini, tapi lebih baik juga daripada tidak mati."

Keparat ini mungkin gila,"

Kata seorang lagi.

"Ya, tampaknya memang gila,üjar orang ketiga. Dengan gusar Miau-ji lantas membentak.

"Binatang, kenapa tidak lekas turun tangan, bilamana Sim Long pulang tentu kalian tidak mampu berbuat lagi."

Mendengar nama Sim Long disebut, ketiga orang itu sama kaget dan tanpa terasa menoleh ke belakang. Untung tidak tampak bayangan Sim Long. Orang pertama tadi akhirnya membentak.

"Baik, jika keparat piaraan biang anjing ini ingin mampus, biar tuan besar penuhi permintaanmu."

Haha, bagus, ayolah lekas!"

Seru Miau-ji dengan tertawa.

"Segala apa pun pernah kurasakan, hanya belum tahu bagaimana rasanya mati."

Sret", orang itu terus melolos golok dan membacok.

Di mana sinar golok berkelebat mendadak terdengar suara jeritan, menyusul lantas terdengar pula dua kali jeritan tertahan, ketiga orang itu tahu-tahu roboh semua, sebaliknya Him Miau-ji masih menggeletak di tempatnya tanpa cedera sedikit pun.

Rupanya Sim Long telah kembali, di sampingnya berdiri Hoan Hun-yang dengan tubuh berlepotan darah.

Miau-ji menghela napas dan memejamkan mata, dirasakan sebuah tangan menepuk Hiat-to pada tubuhnya, maka terpaksa dia berbangkit, Sim Long lagi memandangnya dengan tenang.

"Him-heng, kenapa ...."

Segera Hoan Hun-yang mendahului bertanya dengan heran.

"Minum seceguk arak dulu,"

Sela Sim Long. Tanpa bicara Miau-ji angkat buli-buli dan menenggak dua-tiga ceguk.

"Mengapa bisa ...."

Belum lanjut ucapan Hoan Hun-yang, kembali Sim Long memotong lagi.

"Ternyata kedatangan kita tidak sampai terlambat."

Mendadak Miau-ji berteriak.

"Sim Long, mengapa tidak kau tanyai diriku, mengapa tidak kau tanya ke mana perginya Cu Jit-jit dan Ong Ling-hoa. Mengapa tidak kau tanya sebab apa aku jadi begini?"

Asalkan engkau selamat, terjadi apa pun tidak menjadi soal,üjar Sim Long dengan tersenyum.

"Tapi aku ...."

Engkau sudah berusaha sepenuh tenaga dan sekarang pantas beristirahat dulu,"

Potong Sim Long pula.

"Ai, semua ini salahku, tanpa persetujuanmu segera kutinggal pergi begitu saja. Untuk ini harus kuminta maaf padamu."

Miau-ji jadi melenggong, ucapnya dengan menyesal.

"O, seyogianya aku yang mesti minta maaf padamu, tapi engkau malah minta maaf dulu kepadaku. Padahal Cu Jit-jit dan Ong Ling-hoa telah hilang, urusan penting ini sama sekali tidak kau singgung, sebaliknya kau tanya dulu keselamatanku. Ai, mendapatkan sahabat seperti dirimu, apa pula yang dapat kukatakan .... Nyawa Him Miau-ji ini selanjutnya kuserahkan padamu."

Mengapa Ong Ling-hoa bisa kabur,"

Tanya Hoan Hun-yang.

"Tentu gara-gara Cu Jit-jit lagi,üjar Sim Long.

"Masakah dia menolong lari Ong Ling-hoa?"

Tanya Hun-yang ragu.

"Tentunya begitu, betul tidak Him-heng?"

Kata Sim Long. Muka Miau-ji menjadi merah, segera diuraikannya apa yang terjadi tadi. Hoan Hun-yang menggeleng-geleng kepala setelah mengetahui tingkah polah adik iparnya itu.

"Setelah Jit-jit membawa pergi Ong Ling-hoa, entah keonaran apa pula yang akan dilakukannya,"

Gumam Sim Long sambil termenung.

Tiba-tiba ia mendekati ketiga lelaki yang menggeletak tak bisa berkutik itu, perlahan ia mendepak salah seorang di antaranya.

Orang itu menggelinding dua kali terus melompat bangun dan bermaksud kabur, tapi mana dia bisa lari, sekali gampar Miau-ji membuatnya melompat balik.

"Berani bergerak lagi segera kubinasakanmu,äncam si Kucing. Lelaki itu meraba-raba mukanya yang bengap, katanya.

"Kau ... kau mau apa?"

Jawab setiap pertanyaanku dengan baik dan akan kuampuni jiwamu, juga kedua temanmu,ücap Sim Long. Lelaki itu tampak ragu, jawabnya kemudian.

"Akan kujawab sebenarnya, tapi ... tapi harus kulakukan sesuatu lebih dulu."

Lakukan apa? ...."

Belum lanjut bentakan Miau-ji, mendadak lelaki itu melompat ke samping dan menjemput goloknya yang terjatuh tadi.

Miau-ji mengira orang akan mengadu jiwa, segera ia bermaksud menubruk maju, tak terduga orang itu lantas mengangkat golok dan membunuh kedua kawannya sendiri yang menggeletak tak bergerak itu.

Hal ini membuat Miau-ji terkejut, bentaknya.

"Kenapa kau ...."

"Jika mereka tidak mati, mana aku berani bicara terus terang,"

Kata lelaki itu.

"Hm, keji amat hatimu,ücap Miau-ji.

"Engkau memang tidak main sebagai anak buah Ong Ling-hoa."

Baiklah, sekarang boleh kalian tanya,"

Kata orang itu.

"Bagaimana dengan orang-orang yang keracunan tadi?"

Tanya Sim Long.

"Dengan sendirinya sudah siuman semua dan mungkin saat ini sudah pergi dengan penuh rasa terima kasih kepada kami."

Adakah di antaranya seorang Kim Put-hoan?"

"Kim Put-hoan? .... Rasanya tidak kulihat."

Sim Long saling pandang dengan Miau-ji.

"Tak tersangka keparat ini kembali lolos lagi,ücap Miau-ji dengan menyesal.

"Dan ada juga seorang nona bernama Pek Fifi, kau lihat dia?"

Tanya Sim Long pula.

"Apakah si cantik molek yang kelihatan lemah tak tahan angin itu?"

Lelaki itu menegas.

"Betul, dia terkurung di mana?"

Semula dia dikurung di sini, ada seorang lagi yang terkurung bersama dia, kabarnya seorang utusan Koay-lok-ong segala ...."

"Bagaimana bentuk utusan Koay-lok-ong itu?"

Tanya Sim Long.

"Dia berdandan seperti seorang nenek, terkadang bicara dengan suara lelaki, diam-diam kami heran dan bertaruh mengenai jenis kelaminnya,üjar orang itu.

"Sesungguhnya dia lelaki atau perempuan?"

Tanya Miau-ji. Mendadak orang itu meludah dan menjengek.

"Huh, yang bertaruh dia lelaki jelas kalah ...."

O, jadi dia seorang perempuan?"

"Yang menyangka dia perempuan juga salah."

Hah, lantas apa jenis kelaminnya?"

Miau-ji jadi tercengang.

"Dia bukan lelaki, juga bukan perempuan, tapi bencong, banci ...."

Tutur orang itu.

"Huh, rasanya muak bila menyebut siluman semacam ini."

Sim Long menggeleng kepala.

"Koay-lok-ong juga makhluk aneh, kecuali dia, siapa lagi yang dapat memperalat manusia banci begitu untuk mencarikan gadis cantik baginya."

Diam-diam semua orang mendongkol dan geli juga.

"Jika mereka berdua dikurung di sini, mengapa sekarang tidak tertampak lagi?"

Tanya Sim Long kemudian.

"Keduanya sudah kabur,"

Jawab orang itu.

"Kabur?"

Sim Long dan Miau-ji menegas berbareng.

"Ya, siluman bencong itulah yang membawa kabur nona Pek."

Miau-ji cengkeram leher baju orang dan membentak.

"Kentut busuk! .... Melulu kepandaiannya masakah mampu kabur dari cengkeraman Ong Ling-hoa? Hm, setan yang mau percaya?"

Lepaskan, dengarkan dulu, sudah tentu ada sebab musababnya,ücap orang itu dengan meringis.

"Sebab apa? Lekas katakan?"

Soalnya Kongcu kami sengaja melepaskan mereka lari."

"Sengaja melepaskan dia? Sebab apa?"

Rahasia urusan ini mana dapat diketahui kaum hamba seperti kami ini?"

"Apa betul keteranganmu? ...."

Miau-ji membentak. Sim Long lantas berkata.

"Kukira tidak salah. Dengan sendirinya di balik urusan ini ada intrik tertentu, bisa jadi Ong Ling-hoa sengaja hendak mengambil hati Koay-lok-ong atau mungkin juga dia ingin menyelidiki gerak-gerik Koay-lok-ong .... Apa yang dirancang Ong Ling-hoa memang sukar diduga. Yang jelas, ai, nasib Pek Fifi mungkin bisa tambah runyam."

Dan apa yang dapat kita lakukan sekarang?"

Tanya Miau-ji.

"Sekarang aku cuma ingin mandi air panas dan istirahat dengan tenang,"

Kata Sim Long.

"Jika mau istirahat, datanglah ke tempatku saja,üjar Hoan Hun-yang.

"Baik, segera kita berangkat,"

Seru Sim Long.

"Dan aku?"

Tanya lelaki tadi. Tanpa pikir Sim Long memberi tanda.

"Kau pergi saja .... Lepaskan dia, Him-heng, sekali berjanji harus kita tepati. Biarkan dia pergi saja!" ***** Hoan Hun-yang memang benar saudagar besar di daerah Tionggoan, melulu di kota Cin-sia saja dia mempunyai tiga buah perusahaan besar.

"Di antara ketiga tempatku yang paling besar adalah Hun-ki-ci-ceng (usaha bank), tapi yang paling santai adalah Ging-yang-ciu-lau (restoran),"

Tutur Hoan Hun-yang dengan tertawa.

"Yang kuinginkan adalah yang terdekat,üjar Sim Long.

"Yang terdekat adalah Hun-ki-po-ceng (toko kain), tapi di sana ...."

Adakah tempat tidur di sana?"

Sela Sim Long.

"Dengan sendirinya ada."

"Adakah arak di sana?"

Miau-ji juga bertanya.

"Haha, itulah paling bagus!"

Seru Sim Long dan Miau-ji berbareng. Setelah mereka membelok simpang jalan sana, segera tertampak papan merek "

Hun-ki-po-ceng"

Yang berhuruf emas itu. Tapi sesudah dekat, ternyata pintu toko tertutup rapat. Dengan kening bekernyit Hun-yang menggerundel.

"Kurang ajar! Tambah lama tambah malas kerjanya."

Segera ia menggedor pintu, meski bergemuruh bunyi gedoran pintu, namun di dalam tetap sunyi senyap.

"Apakah kawanan budak ini sudah mampus semua?ömel Hoan Hun-yang dengan gusar. Mendadak ia mendepak dengan keras sehingga pintu itu retak, namun daun pintu ini benar-benar sangat kuat, biarpun depakan Hun yang sangat keras tetap tidak membuat pintu terpentang. Cuma dari celah pintu yang retak dapatlah Hoan Hun-yang melihat keadaan di dalam. Miau-ji juga ikut mengintip ke dalam, tiada seorang pun terlihat, bahkan blok kain yang biasanya memenuhi rak juga kosong melompong.

"Haha, jangankan arak, toko kain ini ternyata tiada sepotong kain pun,"

Kata Miau-ji dengan tertawa.

"Wah, barangkali Hoan-heng biasanya suka dibeli kosong jual kosong (main spekulasi), pantas engkau cepat kaya raya.Äir muka Hoan Hun-yang tampak berubah, jawabnya dengan tersenyum.

"Kukira ada ... ada sesuatu yang tidak beres."

Tiba-tiba dari rumah sebelah seorang melongok keluar, lalu mendekati Hoan Hun-yang bertiga dan bertanya.

"Siapakah yang kalian cari?"

Cari? Dia sendiri inilah juragan toko kain ini, masakah engkau tidak kenal dia?üjar dengan tertawa.

"O, kiranya Hoan-toaya,"

Kata orang itu dengan tertawa.

"Usaha Hoan-toaya terlalu luas, lima tahun pun belum tentu berkunjung satu kali ke sini, tentu saja Cayhe tidak kenal. Maaf, Cayhe ini Thio Tiau-kui, tetangga Hoan-toaya ...."

Dengan tidak sabar Hoan Hun-yang lantas memotong.

"Apakah Thio-lopan (juragan Thio) tahu apa yang terjadi atas toko kami?"

Cayhe memang lagi heran,üjar Thio Tiau-kui.

"Tengah malam kemarin mendadak datang beberapa kereta besar dan mengangkut seluruh isi toko kalian ini, mungkin pembantu Hoan-toaya cepat pergi lagi mencari persediaan barang baru, maka ...."

Tanpa menunggu selesai penuturan orang, segera Hun-yang menarik kedua kawannya meneruskan perjalanan, tambah erat kening Hun-yang terkerut. Dengan tertawa Miau-ji lantas berkata.

"Wah, tampaknya usaha Hoan-toako sangat ramai sehingga isi toko diborong orang sekaligus, sepantasnya engkau bersukaria."

Kalau jual-beli biasa, mustahil dilakukan di tengah malam buta?üjar Hun-yang dengan curiga.

"Kukira di dalam urusan ini pasti ada yang tidak beres."

Sim Long juga mengernyitkan kening, gumamnya.

"Kemarin malam ... tengah malam ...."

Setelah melintasi dua jalan simpang lagi, tertampaklah papan merek Hun-ki-ci-ceng yang besar.

Dengan langkah lebar Hoan Hun-yang mendahului menuju ke sana, dilihatnya bank yang sehari-hari sangat ramai itu sekarang pintunya juga tertutup rapat, di dalam pun sunyi sepi.

Padahal di antara usaha perbankan di wilayah Soasay, hanya Ginbio atau cek yang dibuka oleh Hun-ki-ci-ceng saja yang berlaku secara umum dibawa ke wilayah mana pun dapat diuangkan secara kontan di bank mana pun, bonafiditasnya tidak perlu disangsikan lagi.

Tapi sekarang bank yang paling tepercaya ini telah tutup pintu, seperti tidak dapat membayar lagi, bukan saja menandakan keadaannya yang gawat, bahkan hal yang belum pernah terjadi.

Sampai di sini wajah Him Miau-ji yang selalu tertawa itu menjadi prihatin juga, tentu saja Hoan Hun-yang paling gelisah, ia memburu ke depan pintu dan berteriak.

"Siu-sing, buka pintu!"

Setelah diulang lagi beberapa kali panggilan, akhirnya pintu terbuka juga.

Yang membukakan pintu adalah seorang lelaki setengah umur dengan pakaian sederhana tapi berdandan cukup rapi.

Melihat Hoan Hun-yang, seketika orang ini memperlihatkan rasa girang dan terkejut.

Kiranya orang ini adalah pembantu kepercayaan Hoan Hun-yang, namanya Hoan Siu-sing, masih terhitung sanak keluarga Han.

Belum lagi pintu terbuka lebar segera Hoan Hun-yang menerjang ke dalam dengan gusar, bentaknya.

"Siu-sing, kenapa kau jadi linglung juga? Mana boleh pintu perusahaan kau tutup? Mati pun tidak boleh tutup pintu. Wah, merek Hun-ki-ci-ceng bisa tamat di tanganmu."

Hoan Siu-sing berdiri diam dengan sikap hormat, ucapnya kemudian.

"Kutahu, cuma ..."

Sekalipun ada kemacetan lalu lintas keuangan, tapi berdasarkan nama baik perusahaan kita juga dapat minta bantuan kawan, apalagi kutahu di dalam kas sedikitnya ada sisa kontan beberapa laksa tahil emas, cek yang kita buka tahun ini juga tidak lebih daripada jumlah sekian."

"Ya, memang betul, tapi ...."

Hoan Siu-sing menutur dengan serbasusah.

"Ai, justru tidak cuma sisa kas kita sekaligus ditarik orang, bahkan setiap tempat di kota ini yang dapat kita mintai bantuan juga sudah kulaksanakan."

Hah, masakah dalam perusahaan kita ada pemegang rekening giro sebesar ini?ücap Han Hun-yang dengan heran.

"Kecuali ada orang sengaja hendak membikin bangkrut kita sehingga semua cek yang telah kita buka dikumpulkan seluruhnya, lalu diuangkan sekaligus, tapi rasanya aku tidak ingat siapakah yang sengaja hendak membangkrutkan kita,"

Kata Hoan Siu-sing.

"Jika begitu lantas apa yang terjadi?"

Tanya Hun-yang.

"Yang menarik seluruh uang kontan kita ialah nona Jit,"

Tutur Siu-sing dengan menyengir. Hun-yang melengak sambil menyurut mundur.

"bluk", ia jatuh terduduk di kursi sambil bergumam, ¡Hah, dia ... kembali dia!"

Coba, apakah dapat kutolak kehendak nona Jit?"

Kata Siu-sing. ¡Tidak cuma sisa kas telah ditarik seluruhnya, bahkan persediaan toko cita juga diangkut pergi olehnya. Ingin kutanya dia, tapi dia lantas mendelik dan mau pukul."

Hoan Hun-yang mengentak kaki, Sim Long dan Him Miau-ji juga melenggong.

"Apakah nona itu datang sendiri?"

Tanya Sim Long.

"Jika dia tidak datang sendiri, masakah bisa terjadi begini? ...."

Dia datang seorang diri?"

Tanya Miau-ji. Melihat tampang Him Miau-ji, meski enggan menjawab, tapi juga tidak berani tidak menjawab, maka Siu-sing hanya mengangguk acuh tak acuh saja sambil berucap.

"Ya, sendirian."

"Dia dapat mengangkut barang sebanyak itu sendirian?üjar si Kucing.

"Dia punya uang, masakah tidak dapat menyewa kereta?ücap Siu-sing dengan ketus.

"Ai, dasar budak yang suka bikin ribut,ömel Hun-yang dengan mendongkol.

"Dengan uang sebanyak itu, ditambah lagi seorang Ong Ling-hoa, entah keonaran apa yang akan diperbuatnya nanti."

Mengambil uang sebanyak itu masih dapat dimengerti, tapi untuk apakah dia angkut seluruh persediaan cita toko kita? Mau bikin baju baru kan tidak perlu sebanyak itu?üjar Siu-sing dengan bersungut.

"Biarpun tingkah laku Ong Ling-hoa sukar diduga, tingkah polah nona Jit ini terlebih sukar dijajaki, sungguh aku Him Miau-ji kagum lahir batin,ücap si Kucing dengan tersenyum getir.

"He, jadi engkau inilah Him Miau-ji?"

Seru Siu-sing mendadak.

"Betul, aku inilah si Kucing, ada ... ada apa?"

Siu-sing menghela napas lega, ucapnya dengan tertawa.

"Tidak apa-apa, soalnya nona Jit menitipkan sepucuk surat padaku agar disampaikan kepada seorang Him Miau-ji. Him-tayhiap, tak kusangka yang dimaksudkan ialah Anda."

Tentu saja tidak kau duga, aku memang tidak bertampang Tayhiap segala,"

Gurau Miau-ji. Siu-sing tidak berani banyak bicara lagi, cepat ia mengeluarkan sepucuk surat, katanya.

"Berulang nona Jit memberi pesan agar surat ini harus diserahkan langsung kepada Him-tayhiap dan cuma boleh dibaca oleh Anda seorang, kalau kulanggar pesannya, aku ... aku akan ditindak olehnya."

Masakah kau takut padanya?"

Tanya si Kucing. Muka Siu-sing menjadi merah.

"Aku ... aku ...."

"Kau pun tidak perlu kikuk,üjar si Kucing dengan tertawa.

"Ketahuilah, bukan cuma engkau saja takut padanya, aku pun jeri padanya, setiap orang yang berada di sini sama segan padanya."

Lalu ia menerima surat itu dan dibacanya, seketika air mukanya berubah dan tidak dapat bersuara lagi.

"Apa yang tertulis dalam suratnya?"

Tanya Hun-yang. Miau-ji garuk-garuk kepala sambil memandang Sim Long, katanya.

"Wah, ini ...."

Barangkali isi surat itu mencaci maki diriku, maka tidak enak kau perlihatkan padaku?"

Tanya Sim Long dengan tertawa.

"Me ... memang dia menggerutu padamu, tapi juga menyampaikan berita yang amat mengejutkan,"

Tutur Miau-ji.

Kiranya surat itu tertulis.

Toako.

Dari pengakuan Ong Ling-hoa dapat kuketahui bahwa Koay-lok-ong sudah masuk ke daerah Tionggoan, jejaknya sekarang berada di sekitar Thay-hing-san, untuk ini hendaknya Toako waspada.

Sim Long manusia tak berbudi, licik dan munafik, jangan Toako bergaul dengan dia, kalau tidak, pada suatu hari engkau pasti akan menyesal.

Berita ini juga jangan diberitahukan kepadanya, biarkan saja dia terjebak dan rasakan akibatnya, hatiku senang.

Hormat adikmu, Jit-jit Sehabis membaca surat itu, Hun-yang menggeleng kepala.

"Bila aku tidak kenal tulisan tangannya, bisa kusangka surat ini ditulis oleh seorang lelaki bangor. Ai, kalimat surat ini mana pantas ditulis seorang gadis."

Tapi kalimatnya kan cukup lancar, serupa caranya bicara,üjar Miau-ji. Mendadak teringat olehnya macam-macam perbuatan jahil anak dara itu, segera ia menambahkan.

"Caranya bicara memang tidak mirip seorang anak gadis, tapi lebih menyerupai bandit."

Air muka Sim Long tampak prihatin, katanya.

"Cara bagaimanapun dia menulis surat itu, yang penting beritanya memang sangat mengejutkan. Bahwa Koay-lok-ong telah ke pedalaman sini, mau tak mau kita harus waspada."

Dia sudah masuk ke pedalaman kan kebetulan bagi kita, bukankah kita memang juga mau mencari dia?¡üjar Miau-ji. ¡ "Sekarang dia datang sendiri, kan hemat tenaga bagi kita?"

Tapi urusan tidak semudah itu,üjar Sim Long.

"Tidak mudah bagaimana? Kita kan sudah tahu jejaknya? ...."

Biarpun kita tahu jejaknya, namun di mana beradanya Ong Ling-hoa belum lagi jelas, maksud tujuan Jit-jit juga sukar diraba ...."

"Urusan Ong Ling-hoa dapat dikesampingkan untuk sementara,"

Seru Miau-ji.

"Biarpun dapat dikesampingkan dulu, tapi melulu tenaga kita bertiga apakah mampu mengalahkan dia? Apalagi setiap anak buahnya juga tergolong jago kelas tinggi dan tidak boleh diremehkan."

Hoan Hun-yang lantas menyambung.

"Betul, sudah lama kudengar anak buah Koay-lok-ong rata-rata tergolong jago kelas satu, selain keempat duta andalannya, ada lagi 36 jago pengawal yang semuanya tergolong jago pilihan."

Huh, rupanya kalian takut padanya,"

Seru Miau-ji.

"Haha, sebelum dia datang, setiap orang bilang mau mencari dia, sesudah dia datang benar, semua orang berbalik ketakutan dan kalau bisa ingin lari secepatnya."

Siapa bilang mau lari?"

Tanya Sim Long dengan tersenyum.

"Jika tidak lari, ayolah kita berangkat ke Thay-hing-san,äjak si Kucing. Sim Long berpikir sejenak, katanya kemudian.

"Perjalanan ke Thay-hing-san sudah pasti akan kita lakukan, tapi engkau harus menyanggupi suatu permintaanku."

Bilakah pernah kutolak permintaanmu?"

Jawab Miau-ji dengan girang.

"Baik, setiba di Thay-hing-san, bilamana sudah menemukan rombongan Koay-lok-ong, tapi sebelum mendapat persetujuanku, engkau dilarang sembarangan bertindak atau turun tangan."

Baik, kuterima,"

Seru Miau-ji sambil berkeplok. Hoan Hun-yang juga berkata.

"Aku pun ...."

"Sebaiknya Hoan-heng jangan ikut pergi,üjar Sim Long. Hun-yang tersenyum.

"Biarpun aku bukan seorang pemberani, tapi juga bukan penakut ...."

Mana berani kupandang Hoan-heng sebagai penakut,üjar Sim Long.

"Soalnya kedatangan Koay-lok-ong sekali ini jelas tidak boleh dipandang enteng. Kepergianku bersama Him-heng ini hanya bertujuan menyelidik saja dan pasti tidak sembarangan bertindak. Bilamana Hoan-heng tinggal di sini untuk mengatur segala keperluan garis belakang, tentu Siaute tidak perlu khawatir akan terjadi sesuatu. Apalagi Jit-jit dan jejak Ong Ling-hoa juga tidak diketahui, jika Hoan-heng tinggal di sini serta menyelidiki hal mereka, tentu segala sesuatu tidak perlu kukhawatirkan lagi."

Jika demikian, terpaksa kuturut saja kehendakmu,"

Sahut Hun-yang setelah berpikir sejenak. Miau-ji menggosok kepal dengan bersemangat, serunya dengan tertawa.

"Wahai Koay-lok-ong, akhirnya Him Miau-ji dapat juga berjumpa denganmu, ingin kulihat betapa bentukmu, apakah engkau punya tiga kepala dan enam tangan, memangnya betapa lihai kungfumu."

Thay-hing-san adalah pegunungan yang sejak dahulu kala terkenal menjadi sarang kaum penyamun, banyak kisah keperkasaan tokoh Kangouw yang terjadi di pegunungan ini.

Di antaranya terkenal Ke-36 Golok Kilat dari Thay-hing-san, konon betapa cepatnya golok kilat mereka dapat menebas lalat terbang.

Kisah kepahlawanan jago Thay-hing-san memang sangat menarik dan seakan-akan tak pernah habis dibuat cerita orang.

Setiap puncak gunung, setiap batu karang dan setiap pohon yang aneh di sini seakan-akan mengandung sesuatu kisah yang menarik.

Sudah dua hari Sim Long dan Miau-ji menyusuri lereng gunung.

Pada siang hari ini, mereka berhenti di tepi sebuah sumber air yang jernih, mereka makan ransum kering yang dibawanya dan minum air sumber yang segar.

Meski di udara ada sinar matahari, namun angin pegunungan tetap meniup dingin.

Tapi dada baju Miau-ji tetap terbuka, dia berdiri menyongsong desir angin dan tiba-tiba berkata.

"Lihatlah di sana ada sebuah tebing yang mencuat seakan-akan tergantung di udara."

Itulah tempat Thay-hing-sam-gan (tiga belibis gunung Thay-hing) membunuh diri,"

Kata Sim Long.

"Membunuh diri adalah perbuatan orang perempuan, seorang lelaki sejati biarpun menghadapi kesukaran apa pun tidak pantas mengorbankan nyawanya begitu saja. Thay-hing-sam-gan ternyata lebih suka meniru tindakan orang perempuan, kukira mereka pasti bukan kesatria sejati."

Jika orang lain main bunuh diri tentu bukan perbuatan seorang kesatria, tapi sebabnya Thay-hing-sam-gan membunuh diri sungguh peristiwa yang amat mengharukan."

"Oo?!"

Heran juga Miau-ji.

"Thay-hing-sam-gan itu adalah tiga orang bersaudara angkat, tapi ketiganya berkelana ke mana-mana dan jarang berkumpul,"

Tutur Sim Long.

"Suatu hari Soat Gan membawa beberapa guci arak, sekaligus ia mengajak Gin Gan dan Thi Gan ke sini Tebing karang yang mencuat aneh itu dahulu adalah tempat berkumpul mereka Gin Gan dan Thi Gan tahu sang Toako mendadak mengajak mereka ke tempat berkumpul ini tentu ada sebab musababnya, maka mereka coba minta keterangan, namun Soat Gan tidak lantas bicara, ia cuma membuka guci arak dan mengajak minum kedua saudara angkatnya sepuas-puasnya selama tiga hari tiga malam" .

"Sampai tengah malam hari ketiga, mendadak Soat Gan berlutut menyembah kepada kedua saudara angkatnya itu ...."

Aneh, mengapa dia berbuat begitu?üjar Miau-ji.

"Kiranya pada waktu mudanya Soat Gan pernah salah membunuh satu orang, justru orang sangat berbudi dan sangat baik padanya, hal ini membuatnya menyesal selama hidup, maka dengan susah payah tanpa kenal lelah ia berusaha memupuk dan membesarkan keturunan orang yang dibunuhnya itu ...."

Betapa pun Soat Gan itu terhitung punya Liang-sim (hati nurani yang baik) juga,üjar Miau-ji.

"Tujuannya adalah menebus dosa, sebab itulah meski dia membesarkannya dengan segenap jerih payah, anak itu tidak diberitahukan hal ihwalnya. Siapa tahu setelah dewasa, anak muda itu lantas hendak menuntut balas padanya dan ingin mencabut nyawanya."

Sakit hati kematian ayah sedalam lautan, pemuda itu juga tidak dapat disalahkan,üjar Miau-ji dengan gegetun.

"Cuma, bila Soat Gan sudah menyadari kesalahannya dan telah menebus dosanya dengan membesarkan anak muda itu, sepantasnya pemuda itu dapat mengampuni dia."

Walaupun begitu, Soat Gan tahu dendam kesumat begitu sulit diselesaikan hanya dengan beberapa patah kata penjelasan saja.

Apalagi dia juga bukan manusia yang suka memaksakan kehendaknya hanya lantaran dia pernah membesarkan anak muda itu."

"Lantas bagaimana tindakannya?"

Tanya Miau-ji.

"Dia berjanji dengan anak muda itu untuk bertemu di tebing karang yang mencuat ini."

Apakah dia khawatir urusan sukar diselesaikan, maka kedua saudara angkatnya diundang sekalian ke sini dan minta bantuan mereka? Huh, tindakan kesatria macam apakah itu?"

"Kau salah,"

Kata Sim Long.

"Dia berlutut kepada kedua adik angkatnya memang minta bantuan, tapi bantuan yang diminta adalah supaya kedua saudaranya itu jangan ikut turun tangan mengerubuti anak muda itu, dia minta bilamana persoalan ini sudah selesai mereka harus mempermaklumkan kepada dunia bahwa urusan ini telah diselesaikan dengan adil, kematiannya juga wajar karena tidak mampu menandingi anak muda itu. Jadi bukan saja dia hendak membikin nama anak muda itu termasyhur, juga menghendaki orang lain tidak menuntut balas baginya."

O, kiranya begitu, dan kedua saudaranya menyanggupinya?"

Tanya si Kucing.

"Kedua saudaranya juga lelaki yang berjiwa kesatria, meski kurang sependapat, tetap mereka menerima baik permintaannya. Dan pada waktu fajar menyingsing, anak muda itu pun muncul. Tanpa bicara keduanya lantas berhadapan, Soat Gan sudah bertekad untuk mati, meski dia membalas juga serangan orang, tapi hanya sekadar melayani saja. Tidak lebih dari 30 jurus, dia lantas terkena serangan mematikan anak muda itu."

Dan bagaimana dengan kedua saudara angkatnya?"

"Sesuai janji mereka, kedua saudaranya cuma menonton saja tanpa membantu dan menyaksikan Soat Gan mati di bawah tangan anak muda itu. Karena mengira sakit hatinya telah terimpas pemuda itu tertawa puas. Selagi dia hendak tinggal pergi, mendadak Thi Gan yang berwatak keras itu berteriak memanggilnya dan membeberkan rahasia itu kepadanya."

Lantas ba ... bagaimana dengan anak muda itu?"

Tanya Miau-ji.

"Dengan sendirinya pemuda itu melongo. Malahan lantas terlihat Gin Gan dan Thi Gan mendadak melolos golok dan membunuh diri sekaligus, mereka benar-benar telah memenuhi sumpah setia sehidup semati tiga serangkai. Pemuda itu berdiri terkesima di depan ketiga jenazah selama tiga hari tiga malam, tanpa bicara dan tidak bergerak. Waktu itu sedang musim dingin, salju menimbuni sekujur badannya dan membeku, lambat laun matanya, hidungnya dan juga mulutnya ikut beku, namun dia tetap tidak bergerak, ai ... akhirnya pemuda itu pun mati beku."

Si Kucing jadi terkesima juga mendengarkan cerita yang mengesankan itu, mendadak ia meraung dan berteriak.

"Arwah kepahlawanan mereka pasti tetap hidup abadi dan masih berada di atas tebing sana, aku ingin melihatnya ke atas."

Sim Long ingin mencegahnya, tapi tidak keburu, Miau-ji sudah lantas meloncat ke atas tebing yang mencuat itu.

Di atas tebing cuma salju melulu, berdiri di tengah remang kabut Miau-ji merasa seperti juga anak muda dahulu itu, ia berdiri termangu tanpa bergerak.

Sim Long sudah menyusul tiba, katanya dengan tersenyum.

"Kenapa kau jadi emosi, apa barangkali kisah Thay-hing-sam-gan telah menyentuh perasaanmu?"

Ai, apakah kau tahu aku pun mempunyai seorang adik angkat?"

Tanya Miau-ji mendadak.

"Oo ...."

Orang lain sedemikian baik terhadap saudara angkatnya, apa pun yang diperbuat Soat Gan toh kedua saudara angkatnya tetap dapat memaklumi kesukarannya, sebaliknya aku ... aku ...."

"Memangnya engkau merasa bersalah kepada adik angkatmu?"

Tanya Sim Long. Dengan menghela napas Miau-ji menjawab.

"Adik angkatku itu berbuat sedikit kesalahan padaku dan aku lantas membencinya. Padahal dia juga mempunyai kesulitan, selayaknya aku memaafkan perbuatannya ...."

Sim Long termenung sejenak, katanya kemudian dengan tersenyum.

"Adik angkatmu itu seorang perempuan, bukan?"

"Dari ... dari mana kau tahu?"

Miau-ji melengak.

"Meski tidak kau katakan juga dapat kuterka,ücap Sim Long.

"Cu Jit-jit telah menyebutmu sebagai Toako, kalau tidak tentu tidak segampang itu engkau ditutuk olehnya."

Kutahu apa pun tak dapat mengelabuimu, seharusnya kuberi tahukan waktu itu juga, tapi aku ..."

Si Kucing menunduk dengan menyesal. ¡ "Tidak apa, siapa pun pasti mempunyai sesuatu rahasia yang tidak ingin diketahui orang lain, biarpun suami-istri dan antarsaudara juga begitu."

Miau-ji memandang Sim Long lekat-lekat.

"Memangnya engkau juga mempunyai rahasia yang tidak boleh diketahui orang lain?"

Tentu saja ada,"

Sahut Sim Long.

"Malahan rahasiaku terlebih banyak daripada siapa pun."

Ya, sampai saat ini pun belum kukenal asal usulmu, tapi kupercaya apa yang kau rahasiakan pasti bukan kejahatan, engkau ... engkau selalu membuat orang menaruh kepercayaan penuh."

"Terima kasih,"

Kata Sim Long.

"Tapi tertawamu yang khas selalu membuat orang tidak mengerti,üjar si Kucing.

"Meski tertawamu terkadang tampak cerah, tapi kurasakan di balik tertawamu seperti mengandung kepedihan, mengapa tidak kau katakan kepedihanmu ...."

Sim Long tersenyum dan berpaling tanpa bicara. Miau-ji juga terdiam. Hawa di atas tebing terasa semakin dingin. Mendadak Sim Long berseru.

"Hei, lihat, apa itu?"

Waktu Miau-ji memandang ke sana secermatnya, tertampak kabut dingin telah terobek sebuah garis oleh cahaya matahari, terlihat di kejauhan sana ada tanah datar.

Di dataran bawah sana juga tertimbun salju, terlihat berbagai bekas jejak di atas salju, ada bekas roda kereta dan kaki kuda, tampaknya ada juga bekas barang lain yang aneh.

"Mari kita memeriksanya ke bawah sana,äjak Sim Long. Langsung ia melompat ke bawah dengan baju berkibar hingga serupa dewa melayang turun dari langit.

"Ginkang hebat, aku pun ingin mencoba,"

Seru Miau-ji, segera ia pun melompat ke bawah. Tapi segera dirasakan di bagian bawah seperti ada daya tarik yang kuat sehingga sukar baginya untuk ganti gerakan.

"Bluk", akhirnya dia jatuh terbanting atas tanah bersalju.

"Bagaimana?"

Tanya Sim Long memburu ke samping si Kucing.

"Untung tubuhku ini gemblengan baja, kalau tidak tentu sudah retak,"

Kata Miau-ji dengan tertawa.

"Cuma ... aneh juga, rasanya pantatku seperti kena tertusuk sesuatu.Ïa meronta bangun, waktu ia raba pinggul sendiri, ternyata benar tertancap sepotong benda tajam, waktu dicabut, kiranya sepotong tulang kaki ayam.

"Sialan, ternyata di sini ada tulang ayam,"

Gerutu Miau-ji.

"Bukan cuma tulang ayam saja, mungkin masih ada benda lain,"

Desis Sim Long.

Keduanya lantas memeriksa keadaan sekitar tanah datar yang teruruk salju ini.

Ternyata benar terdapat bekas kaki kuda dan roda kereta yang simpang-siur, juga ada gundukan abu bekas api unggun serta pecahan beling keramik.

Miau-ji memungut sepotong beling keramik dan diperiksanya sejenak, katanya kemudian.

"Ini beling pecahan cangkir arak."

Melihat kualitas beling keramik ini jelas cawan arak yang berkualitas tinggi, sekalipun keluarga hartawan atau bangsawan juga tidak sembarangan mau menggunakan cawan antik begini untuk meladeni tamu,üjar Sim Long.

"Tapi orang ini telah menggunakan cawan sebagus ini untuk minum arak di pegunungan sunyi sini, bahkan terbanting pecah,"

Tukas Miau-ji. Kedua orang saling pandang sekejap, lalu memeriksa lebih lanjut.

"Eh, lihat ini,"

Seru Sim Long mendadak sambil memungut sesuatu dari atas tanah.

Dapat dilihat oleh Him Miau-ji benda yang dipungut Sim Long itu adalah sebuah anting-anting mutiara, biji mutiara itu sangat besar, hampir sebesar biji buah kelengkeng, bercahaya dan dibingkai dengan sangat indah.

"Melulu harga anting-anting ini saja sukar dinilai ...."

Dan orang ini sama sekali tidak menghiraukannya kehilangan anting-anting sebagus ini,"

Sambung Miau-ji.

Segera mereka memeriksa lebih lanjut ke depan, ditemukan mereka di atas tanah ada belasan lubang sebesar mangkuk, setiap baris ada enam lubang dengan kedalaman beberapa kaki, jarak barisan lubang itu lebih dari setombak.

"Apa pula ini?"

Gumam Miau-ji dengan kening bekernyit.

"Tampaknya ini lubang bekas patok perkemahan mereka,üjar Sim Long setelah berpikir.

"Lubang sedalam ini, jelas bukan patok kemah orang biasa, jika patoknya sebesar ini, bukankah kemahnya sangat mengejutkan besarnya?"

Ya, sekalipun kemah bangsawan Mongol juga tidak lebih daripada ini,"

Kata Sim Long.

"Masa perkemahan orang ini untuk menginap semalam saja memerlukan pekerjaan sebesar ini,üjar Miau-ji. Kedua orang saling pandang tanpa bicara, keduanya sama berdiri, namun dalam hati masing-masing timbul pendapat yang sama. Koay-lok-ong! Perkemahan sebesar dan semewah ini, siapa lagi kecuali Koay-lok-ong? "

Cu Jit-jit ternyata tidak dusta, Koay-lok-ong benar telah datang,"

Gumam si Kucing.

"Melihat gelagatnya, perjalanannya tidak cuma diiringi ke-36 jago pengawalnya, juga membawa bini dan selir, dia datang secara besar-besaran begini, jangan-jangan dia tidak ingin pulang lagi ke sana."

Hm, biarpun dia ingin pulang juga tidak bisa lagi,ücap Miau-ji dengan menggereget. Sim Long memandang segumpal awan di langit dan termangu sejenak, katanya kemudian.

"Dan entah Kim Bu-bong ikut datang tidak?"

Koay-lok-ong benar-benar mahasakti, entah dengan cara bagaimana dan entah jalan rahasia mana yang diambil, meski Him Miau-ji dan Sim Long telah melacaki bekas roda kereta sampai keluar tanah datar itu, tahu-tahu semua jejak itu menghilang secara ajaib tanpa bekas lagi.

"Keparat ini sungguh seekor rase tua,"

Gerutu Miau-ji dengan gemas.

"Bahwa dia sudah begitu besar kekuatannya, ternyata khawatir juga dikuntit orang, bahkan berada di tempat setan begini juga khawatir orang menguntitnya."

Jilid 24

"Gerak-gerik gembong iblis seperti dia dengan sendirinya penuh misterius, biarpun dia tidak takut dikuntit orang tetap dia akan berbuat demikian."

Sebab apa?"

Tanya Miau-ji heran.

"Ke mana pun orang semacam ini dan apa pun yang dilakukannya selalu dia mengatur macam-macam tabir rahasia agar orang lain sukar meraba keadaannya yang sebenarnya."

Ya, gembong iblis ini memang kebanyakan telur busuk, besar rasa curiganya, bahkan terhadap orang kepercayaan sendiri juga selalu waswas.

Tapi tanah salju di sini tidak ada tanda sengaja disapu rata, juga tidak ada bekas lain yang menunjukkan rombongan mereka mundur kembali ke arah lain ...."

"Manusianya dapat mundur begitu saja, kereta dan kuda sebanyak itu jelas tidak gampang berbuat demikian."

Habis sebab apa bekas roda kereta dan kaki kuda bisa lenyap mendadak?"

"Keadaan ini pernah kualami satu kali,"

Tutur Sim Long.

"Yaitu di luar sebuah makam kuno, caranya ialah mereka menyuruh mundur kembali ke tempat semula dengan menginjak bekas kaki masing-masing."

Dan yang kedua kalinya di atas gunung tempo hari, bukan?"

"Betul, waktu itu mendadak ia masuk di lorong bawah tanah."

Ya, makanya kukatakan aneh,"

Kata Miau-ji.

"Padahal kereta dan kuda tidak mungkin bisa berjalan mundur, di sini juga tidak ada lorong di bawah tanah, memangnya mereka dapat terbang ke langit?"

Sim Long lagi memandang tanah bersalju, terlihat cahaya matahari yang menyinari tanah salju itu serupa sebuah cermin yang memantulkan cahaya refleksi.

"Di sini tidak ada lagi sesuatu yang aneh, memangnya dapat kau lihat apa lagi?"

Tanya Miau-ji. Sim Long termenung sejenak, katanya kemudian.

"Justru dapat kulihat sesuatu."

"Apa yang dapat kau lihat?"

Tanya Miau-ji dengan heran.

"Kau bilang di tempat ini tiada sesuatu yang aneh, memang betul juga, tanah salju ini memang tidak ada keanehan, tapi justru di sinilah letak keanehannya."

Ai, jangan kau main teka-teki, sesungguhnya apa yang kau lihat?"

"Masakah tidak dapat kau lihat sesuatu yang istimewa pada tanah bersalju ini?"

Tapi Miau-ji memandangnya dari sudut mana pun tetap tidak terlihat sesuatu keistimewaan. Tanah salju ini halus bersih tiada setitik tanda apa pun. Terpaksa ia berkata sambil menggeleng.

"Bilamana terdapat sesuatu ciri di tanah bersalju ini, mungkin mataku yang lamur."

Kau lihat tanah salju ini halus bersih bukan?"

Tanya Sim Long.

"Ya, teramat bersih,"

Jawab si Kucing.

"Jika hujan salju sudah berlangsung dua-tiga hari yang lalu, mengapa timbunan salju di sini bisa begini halus dan bersih seperti dilukis saja."

Ehm ... ya ... memang janggal."

"Maka seharusnya kau paham."

"Tapi aku tetap tidak paham,"

Si Kucing menyengir.

"Tanah bersalju ini buatan manusia,"

Kata Sim Long dengan tersenyum.

"Buatan manusia? Bagaimana caranya?"

Mereka mengusung salju dari tempat lain untuk menimbuni tempat ini, kan sederhana caranya?"

"Ha, dia mau bekerja susah payah begitu?"

Yang bekerja susah payah kan bukan dia sendiri?"

Sementara itu hari sudah dekat magrib, Sim Long dan Him Miau-ji mengejar terus sehingga beberapa lereng bukit dilintasi pula.

Mata Him Miau-ji terbelalak bulat seperti mata kucing benar-benar, ia terus mencari, namun tetap tiada menemukan sesuatu petunjuk apa pun.

Akhirnya malam pun tiba, bintang bertaburan di langit.

"Ai, hari kembali gelap lagi dan sehari telah berlalu pula,ücap si Kucing dengan menyesal.

"Apa jeleknya hari gelap?üjar Sim Long.

"Siang hari tidak kita temukan sesuatu, dalam keadaan gelap kan tambah ...."

Kukira hari gelap malahan ada harapan,"

Sela Sim Long dengan tertawa. Miau-ji melenggong.

"Ah, jangan kau pandang diriku ini seperti kucing benar-benar yang dapat melihat sesuatu terlebih jelas dalam keadaan gelap."

Maksudku, biarpun Koay-lok-ong banyak tipu akalnya, kalau hari sudah gelap, dia kan juga mesti menyalakan lampu?"

"Aha, betul,"

Seru si Kucing sambil berkeplok tertawa.

"Memang betul lebih gampang menemukan dia setelah hari gelap. Asal dia menyalakan lampu, betapa jauhnya pasti dapat kita lihat. Tidaklah mudah baginya untuk menyembunyikan cahaya lampu di tengah kegelapan pegunungan ini."

Kedua orang lantas menuju ke depan lagi dengan bersemangat. Suasana sunyi senyap sehingga napas sendiri pun terdengar. Kemudian Miau-ji bergumam lagi.

"Kenapa belum terlihat apa pun, jangan-jangan kita salah arah."

Sim Long tidak menanggapi dan masih terus melangkah ke depan. Tidak jauh, mendadak ia tertawa gembira, serunya.

"Lihat, apa itu?"

Sinar lampu!

Dalam kegelapan jauh di sana ada setitik cahaya lampu.

Tanpa bicara lagi Miau-ji terus berlari ke sana.

Terpaksa Sim Long menyusulnya dengan sama cepatnya.

Dalam kegelapan sukar membedakan jauh atau dekatnya cahaya lampu.

Namun cuma sebentar saja Miau-ji sudah berada di depan cahaya lampu tadi.

Ternyata di atas sepotong batu karang besar terletak sebuah lentera.

Api lentera gemerdep seperti api setan, di atas batu masih ada sisa salju, tapi entah telah dibersihkan oleh siapa.

Tiada tampak bayangan seorang pun.

Dengan hati berdebar Miau-ji maju lebih dekat.

Terlihat lentera itu bersinar keemasan.

Ternyata lentera itu sendiri terbuat dari emas.

"Buset, sampai lampu juga terbuat dari emas,"

Kata si Kucing.

"Entah apa pula maksudnya meninggalkan lentera di sini?"

Dengan wajah prihatin Sim Long berucap.

"Lentera ini jelas ditinggalkan bagi kita."

"Bagi kita?"

Miau-ji menegas.

"Perangkapnya, maksudmu?"

Jika dia menggunakan perangkap sekecil ini untuk menjebak kita, maka dia bukan Koay-lok-ong lagi."

"Aku tidak paham perkataanmu."

Gembong iblis semacam dia tidak nanti sembarangan menilai rendah kemampuan lawan."

"Aha, betul, terlebih lawan seperti Sim Long, meski dia tidak pernah melihat Sim Long tentu juga pernah mendengar namanya. Tapi ...."

Mendadak si Kucing berkerut kening.

"dari mana dia tahu Sim Long yang ingin mencarinya?"

Melihat gelagatnya, bukan mustahil di lereng gunung ini sudah penuh tersebar pos pengintainya, mungkin ...."

"Apa pun juga harus kuperiksa lebih lanjut,"

Sela si Kucing tak sabar, segera ia melompat lagi ke depan. Ternyata di bawah lentera emas tertindih sehelai kertas dan tertulis.

"Apakah kau ingin mencari diriku, Sim Long? Jika demikian, terus saja mengikuti jalan ini!"

Di samping beberapa huruf yang singkat ini terlukis pula peta yang cukup jelas ke arah mana dan cara bagaimana mencapai tempat tujuan, di mana dia bercokol.

"Setan, dia malah khawatir kita tidak menemukan dia, maka sengaja memberi peta tempat tinggalnya,"

Gerutu Miau-ji.

"Cuma, apakah peta ini dapat dipercaya."

Ya, bisa jadi dia sengaja memberi peta ini supaya kita terjebak,"

Kata Sim Long.

"Jika kita menuruti petunjuk peta ini, bisa jadi takkan menemukan dia selamanya, sebaliknya makin jauh meninggalkan dia."

Tapi dia kan tidak jeri terhadap kita, untuk apa dia berbuat demikian?"

"Makanya peta ini mungkin juga tulen,"

Kata Sim Long.

"Di sinilah letak kelihaian orang ini, dia sengaja membikin kita serbasusah dan ragu untuk bertindak. Melulu hal ini saja dia sudah lebih unggul selangkah."

Wah, sungguh membikin pusing kepala,"

Seru Miau-ji.

"Kukira urusan ini sangat sederhana, siapa tahu membikin orang serbasalah, makin dipikir makin ruwet dan makin buntu. Tahu begini mestinya tidak perlu hiraukan peta ini."

Banyak urusan di dunia ini memang begini adanya,"

Tutur Sim Long berfalsafah.

"Makin dipikirkan dan ditimbang, makin banyak kekhawatiran yang timbul, maka urusan pun tak terlaksana. Jika sesuatu dilakukan tanpa pikir, bukan mustahil malah akan terpecahkan dan terlaksana dengan baik. Banyak urusan penting di dunia ini sering kali terlaksana karena tidak banyak pertimbangan ini dan itu, jika mesti dipikirkan untung-ruginya justru takkan terlaksana.Ücapan Sim Long yang sederhana ini mengandung filsafat yang tinggi, mau tak mau Miau-ji manggut-manggut.

"Ya, benar, tepat? Lantas bagaimana?"

Kita anggap saja tidak pernah memikirkan apa pun,"

Kata Sim-Long.

"Ya, betul, tanpa peduli apa pun kita teruskan menurut petunjuk peta,"

Seru Miau-ji.

"Sebelum ini sudah kubelajar darimu harus menggunakan otak bila hendak mengerjakan sesuatu, tapi sekarang dapat kubelajar pula darimu bilamana menghadapi sesuatu yang serbamenyusahkan, maka tidak perlu lagi banyak pikir."

Dalil ini kedengaran seperti bertentangan namun sebenarnya merupakan suatu kesatuan.

Begitulah mereka terus mengusut menurut petunjuk peta.

Tidak lama, dari bayang-bayang gunung yang gelap sana kembali muncul sinar lampu.

Sekali ini cahaya lampu kelihatan sangat terang, jelas tidak cuma sebuah lentera saja.

Tertampak sebuah kemah besar berdiri megah di bawah cahaya lampu sana.

"Berdasarkan petunjuk peta, tempat ini agaknya bukan tempat kediaman Koay-lok-ong, tapi kemahnya justru berada di sini, mengapa bisa begini?ücap Miau-ji dengan heran.

"Bilamana setiap tindakan seorang selalu sukar dimengerti, hal ini menandakan betapa lihainya orang ini,"

Kata Sim Long. Mendadak terlihat setitik sinar lampu bergerak datang dari sebelah sana.

"Ada orang datang,"

Desus Miau-ji.

"Kebetulan, kita jadi benar tidak perlu memeras otak lagi,üjar Sim Long dengan tertawa. Dalam pada itu sinar lampu itu sudah dekat, orang itu mengangkat sebuah obor dan berhenti beberapa meter di depan mereka. Seorang lelaki tegap berbaju satin.

"Yang datang ini apakah anak buah Koay-lok-ong?"

Segera Miau-ji membentak.

"Ya,"

Jawab orang itu.

"Apakah kau tahu siapa kami?"

Tanya Miau-ji pula.

"Ya,"

Jawab lelaki itu.

"Jika demikian, kau diutus Koay-lok-ong untuk menyambut kami,"

Sela Sim Long dengan tertawa.

Kembali orang itu mengiakan, lalu membalik tubuh dan melangkah kembali ke sana.

Meski langkahnya tidak cepat, tapi juga tidak lambat, tampaknya kungfunya lumayan.

Sejenak kemudian mereka sudah berada di depan kemah megah itu.

Jalan masuk kemah tergantung tabir yang terangkai dari mutiara kristal, zamrud dan berbagai mutu manikam yang tidak diketahui namanya.

Karena cahaya lampu yang terang sehingga batu permata ini memantulkan cahaya yang menyilaukan.

Namun orang di balik tabir batu permata ini dengan macam-macam dongeng yang menyangkut dirinya itu seakan-akan jauh lebih menarik, lebih indah dan lebih cemerlang daripada tabir gemilang ini.

Sampai di sini Miau-ji merasakan sekujur badannya menegang.

Diam-diam ia memaki dirinya sendiri mengapa berubah menjadi penakut.

Berpikir demikian, tanpa menunggu lelaki itu menyingkapkan tabir, juga tidak menunggu diperintah Sim Long, serentak ia menerobos ke dalam kemah dan berteriak, ¡"

Koay-lok-ong, ini dia Him Miau-ji datang menemuimu!¡"

Menggelegar suaranya, akan tetapi sia-sia belaka.

Sebab di dalam kemah ternyata kosong melompong, bayangan setan saja tidak ada, apalagi manusia.

Cahaya lampu di dalam kemah terlebih terang, menyinari singgasana berlapiskan kulit harimau dan berbantal sulaman benang emas, meja kristal dan hiasan macam-macam batu permata berwarna-warni, lantai berlapis permadani Persia ....

Di atas meja penuh tersedia macam-macam buah-buahan yang aneh, di dalam piala emas penuh terisi arak, barang siapa datang ke tempat begini pasti akan terpesona, terutama orang yang doyan makan minum seperti Him Miau-ji, tentu akan merasa senang dan puas.

Tapi di manakah orangnya?

Ke mana perginya penghuni kemah ini?

Mendadak Him Miau-ji membalik tubuh dan menjambret leher baju lelaki tadi sambil membentak.

"Apakah Koay-lok-ong tidak berada di sini?"

"Ya,"

Jawab lelaki itu.

"Mengapa tiada seorang pun menemui kami?"

Bentak Miau-ji pula. Kembali orang itu menjawab.

"Ya."

"Ya, ya memangnya cuma ya saja yang dapat kau katakan?"

Miau-ji meraung gusar.

"Ya,"

Lagi-lagi orang itu menjawab.

"Sekali lagi kau bilang ya segera kupatahkan lehermu!"

Bentak Miau-ji. Tapi kembali orang itu bilang.

"Ya"

Keruan dada Miau-ji hampir meledak, orang diangkatnya terus dilemparkan keluar.

"Enyah, babi!Örang itu terbanting keras di luar sana menerobos tabir batu permata tadi, sudah begitu dia masih juga berkata.

"Ya"

Dengan tersenyum Sim Long menyela.

"Biarpun kau bunuh dia tetap dia akan bilang ya."

Sebenarnya apa maksud tujuan Koay-lok-ong memancing kita ke sini?"

Kata si Kucing.

"Melihat gelagatnya, tempat ini pasti tempat Koay-lok-ong menerima tamu,üjar Sim Long.

"Tempat menerima tamu? Memangnya dia pandang kita sebagai tamu?"

Dia menghendaki kita mengaso semalam dulu di sini, sesudah cukup tenaga baru menemui dia ...."

"Hah, masa begitu baik hati dia?"

Teriak Miau-ji.

"Tentu saja bukan lantaran dia baik hati melainkan lagi pamer kekuatan kepada kita untuk menunjukkan bahwa dia meremehkan kita, betapa tangkas kita juga tidak membuatnya gentar."

Berengsek, nanti boleh rasakan kepalanku ....ücap Miau-ji dengan gemas. Mendadak ia tertawa pula sambil memandang atas meja.

"Haha, kenapa tidak sikat saja makanan di sini. Dengan kedudukannya kuyakin dia takkan berbuat rendah dengan menaruh racun di dalam makanan."

Banyak juga santapan di atas meja, tapi sebentar saja telah disikat habis oleh mereka berdua.

Miau-ji mengusap mulut yang berlepotan minyak, sehabis kenyang menenggak arak, dia terus berbaring dan tidur.

Sim Long juga makan minum dengan kenyang, tapi sukar baginya untuk pulas di tempat dan saat begini.

Dia cuma duduk termenung memandangi si Kucing yang tidur nyenyak serupa anak kecil itu.

Entah sudah berselang berapa lama lagi, mendadak di luar tabir mutiara ada orang memanggil.

"Sim-kongcu!"

Baru saja suara panggilan terdengar, tahu-tahu Sim Long sudah berada di luar. Lelaki berbaju satin itu tidak menyangka Sim Long akan muncul secepat itu, ia sampai kaget dan menyurut mundur.

"Untuk apa kau panggil diriku?"

Tegur Sim Long. Muka orang itu tampak pucat, bibir rada gemetar, jawabnya dengan menunduk.

"Ongya (Tuanku) mengundang Sim-kongcu untuk bertemu sendirian."

Oo, selain ya rupanya engkau juga dapat bicara lain,üjar Sim Long dengan tertawa.

"Ap ... apakah Sim-kongcu mau berangkat sekarang dan janganlah mengejutkan Him-siauya itu ...."

Jika kupergi bersama dia dan Ongya kalian tidak mau menemui kami kan sia-sia belaka?üjar Sim Long.

"Baiklah, mari Sim-kongcu ikut hamba,"

Kata orang itu sambil membalik tubuh.

Sim Long seperti percaya penuh terhadap apa yang telah diatur Koay-lok-ong, ia pun percaya si Kucing yang tertidur itu pasti tidak menjadi soal, tanpa pikir ia terus ikut pergi.

Tidak lama kemudian, tertampak dua lelaki membawa sebuah tandu telah menanti di depan, orang tadi berhenti dan berpaling, katanya dengan tersenyum.

"Silakan Sim-kongcu menumpang tandu saja."

Sim Long tidak tanya juga tidak ragu, segera ia naik ke atas tandu, kedua lelaki itu lantas menggotong tandu dan dibawa lari secepat terbang.

Tidak lama lagi tiba-tiba terdengar suara musik yang merdu di depan sana.

Sim Long tetap duduk tenang saja di dalam tandu.

Terdengar suara musik itu semakin dekat dan mendadak tandu berhenti.

Lalu suara seorang perempuan muda berseru di luar.

"Apakah Sim-kongcu sudah datang?Örang tadi mengiakan.

"Baiklah, biarkan kami yang membawa tandu ke dalam, pekerjaan kalian sudah selesai,"

Kata si perempuan muda.

Menyusul tandu diusung pula, sejenak kemudian terasa hawa menjadi hangat, tercium pula bau harum menembus tabir tandu.

Sim Long tetap duduk tenang saja di dalam seperti kalau tidak disilakan keluar dari tandu dia akan tetap tinggal di situ selamanya.

Suara musik berbunyi terus-menerus, lalu ada pula orang menyanyi merdu.

Akhirnya Sim Long disilakan keluar dari tandu.

Dilihatnya dirinya sudah berada lagi di dalam sebuah kemah besar yang sangat mewah, segala sesuatu yang terdapat di sini jarang terlihat oleh orang biasa.

Namun Sim Long tidak memerhatikan benda-benda berharga itu, sebab begitu keluar dari tandu ia lantas silau oleh berpuluh gadis cantik luar biasa sehingga tidak sempat memerhatikan urusan lain.

Tertampak dua-tiga puluh gadis cantik berbaju sutra tipis sehingga kelihatan garis tubuh mereka yang menggiurkan di bawah cahaya lampu yang agak guram, rambut mereka panjang terurai dengan kaki putih telanjang.

Sebagian gadis cantik itu sedang main macam-macam alat musik, ada yang duduk termenung di samping kasur berlapis kulit harimau, ada yang asyik menyanyi, ada pula yang menari mengikuti irama musik.

Selain itu ada lima-enam gadis cantik mengelilingi sebuah meja pendek dan lagi menuang arak pada piala emas, di balik meja pendek itu berduduk seorang gadis lagi dengan dada setengah telanjang dan sangat memikat, di atas pangkuannya saat itu berbaring satu orang yang cuma kelihatan kepalanya saja, dapat dilihat oleh Sim Long kepala orang itu memakai kopiah berbentuk mahkota, namun mukanya tidak terlihat jelas.

Sim Long berdiri diam saja dengan tersenyum.

Setiap gadis cantik di situ seakan-akan terpesona oleh gaya Sim Long yang gagah itu, semuanya memandang padanya dengan terkesima.

Pada saat itulah orang yang berbaring di pangkuan si cantik itu mendadak bersenandung.

"Mabuk tidur di pangkuan si cantik, bila siuman pegang pedang tanpa tandingan. Sungguh gembira, sungguh bahagia!"

Memang menggembirakan dan sungguh bahagia!"

Timbrung Sim Long.

"Hah, apakah Sim Long yang bicara itu?"

Tanya orang itu dengan tertawa.

"Betul,"

Jawab Sim Long.

"Kau tahu siapa aku?"

Tanya pula orang itu.

"Tentu saja,"

Kata Sim Long.

Tertampak sebelah tangan orang itu terangkat, segera seorang gadis molek di samping meja pendek itu menyodorkan sebuah piala emas.

Tangan ini ternyata sama putih dan halusnya seperti gadis cantik yang lain, pada jari tengahnya memakai tiga buah cincin permata yang berbentuk aneh.

Sambil memegang piala orang itu berseru dengan tertawa.

"Jika kita sudah saling kenal, apa halangannya minum satu cangkir bersama?"

Baik,"

Seru Sim Long. Baru saja ia berucap, serentak seorang gadis dengan langkah gemulai telah mendekatinya dan menyodorkan sebuah piala emas, ucapnya dengan suara merdu dan lirikan genit.

"Silakan, Sim-kongcu!"

Sim Long tersenyum dan menerima cangkir emas itu, sekali tenggak habislah seluruh isi piala itu.

"Hahaha, bagus, Sim Long yang hebat!"

Seru orang itu dengan tertawa.

"Masa engkau tidak takut di dalam arak ada racun?"

Disuguh minum oleh seorang kesatria, didampingi oleh perempuan cantik, biarpun arak beracun juga akan kuminum,"

Jawab Sim Long dengan tertawa.

"Haha, bagus! Kabarnya Sim Long senantiasa berlaku cermat, siapa tahu juga begini gagah, pantas setiap selir dan pelayanku di sini sama terkesima melihatmu."

Di tengah gelak tertawanya orang itu mendadak bangun berduduk, di bawah cahaya lampu yang agak guram, tertampak alis orang ini tebal dan panjang, sinar matanya tajam mengilat, di dahinya ada bekas luka sehingga menambah keangkerannya.

Dengan tangannya yang putih halus seperti tangan orang perempuan itu sedang mengelus jenggotnya yang terpelihara sambil melototi Sim Long dengan sinar matanya yang tajam.

Orang ini ternyata bermata siwer, biji matanya berwarna hijau.

Hah, siapa lagi dia kalau bukan Koay-lok-ong.

Mendadak Koay-lok-ong berhenti tertawa dan berucap.

"Kau salah Sim Long!"

"Salah?"

Sim Long menegas.

"Di dalam arak itu beracun!ücap Koay-lok-ong dengan dingin. Sim Long seperti terkejut.

"Hah, apa betul?"

Bukan cuma beracun saja, bahkan racun yang paling jahat. Di dunia ini kecuali padaku sendiri sukar lagi mencari obat penawarnya. Dalam waktu satu jam engkau pasti akan mati keracunan."

"Wah, tak tersangka kau perlakukan diriku dengan cara pengecut,ücap Sim Long dengan menyesal. Koay-lok-ong tertawa latah.

"Dengan berbagai daya upaya engkau mencari diriku, dengan sendirinya tujuanmu hendak membunuhku, kenapa aku tidak boleh turun tangan membinasakan dirimu lebih dulu bila ada kesempatan?"

Caramu membunuhku ini apakah takkan ditertawai kesatria sejagat?"

"Orang lain siapa yang tahu apa yang terjadi di dalam kemah surga ini? Kecuali aku sendiri, mana ada lelaki lain yang boleh masuk. Jika bukan lantaran engkau pasti akan mati di sini, mana mungkin ada kesempatan bagimu untuk melihat surga di dalam kemah ini."

O, pantas tidak terlihat seorang pun anak buahmu di antara keempat duta dan ke-36 jago pedang."

"Ya, memang begitulah."

Jika demikian, mumpung masih ada waktu rasanya aku harus menikmati surga dunia di sini sepuas-puasnya,"

Kata Sim Long. Mendadak ia menarik salah seorang penari cantik terus dipeluknya dengan tertawa.

"Mati di bawah bunga peoni, jadi setan pun tidak penasaran."

Perbuatan Sim Long ini tidak cuma membikin gadis cantik lain sama melengak, sampai Koay-lok-ong sendiri juga melongo, matanya yang siwer itu tampak melotot, jelas merasa dongkol dan gusar, bahkan rada cemburu.

Muka si penari cantik menjadi pucat karena dipeluk Sim Long, ia meronta dan berseru.

"Ai ... ai ...."

"O, kiranya namamu Ai-ai?"

Kata Sim Long dengan tertawa.

"Ti ... ti ...."

Penari itu tidak sanggup meneruskan lagi.

"O, namamu Ti-ti?"

Kata Sim Long pula. Koay-lok-ong tidak dapat menahan rasa gusarnya, segera ia mendamprat.

"Sim Long, kematianmu sudah di depan mata, masakah engkau tidak cemas?"

Jika segera akan mati, untuk apa cemas?"

Jawab Sim Long dengan tertawa.

"Ken ... kenapa engkau tidak mengadu jiwa denganku?"

Betapa pun aku akan mati keracunan, biarpun kubunuhmu juga tidak ada gunanya."

Sambil bicara Sim Long terus mencium gadis cantik dalam pelukannya dan mendengus.

"Ai-ai, Ti-ti, betul tidak?"

Sinar mata Koay-lok-ong tampak gemerdep dan entah apa yang dipikirnya.

Sim Long semakin riang gembira, si penari juga tertawa geli oleh kasak-kusuk Sim Long, entah apa yang dibisikkan kepadanya.

Mendadak Koay-lok-ong menggebrak meja dan membentak.

"Dengarkan, Sim Long!"

Wah, ada apa lagi?"

Tanya Sim Long. Koay-lok-ong mengeluarkan sebuah kotak kecil dan berseru.

"Lihat, inilah obat penawar racun yang kau minum tadi."

Oo?!"

Sim Long bersuara tak acuh, tanpa memandangnya.

"Apakah engkau tidak mengharapkan obat penawar ini?"

Tentu saja mau, namun ... jika tidak kau berikan padaku, kan percuma."

"Jika kau mau, ada satu cara dapat kau tempuh,"

Kata Koay-lok-ong.

"Cara bagaimana?"

Tanya Sim Long.

"Kau tahu, aku mempunyai kesukaan bertaruh. Nah, boleh kita bertaruh, bila kau menang obat penawar ini akan kuberikan padamu."

Ehm, usul bagus, entah bagaimana caranya bertaruh?"

"Dengan nyawaku untuk bertaruhan dengan nyawamu!"

Kan nyawaku sudah berada dalam genggamanmu, untuk apa engkau bertaruh nyawa denganku?"

"Ini hanya soal hobi saja,"

Seru Koay-lok-ong dengan tertawa.

"Bila bertaruh dengan harta benda, segala apa aku sudah punya, tentu kurang menarik. Hanya taruhan nyawa saja yang cukup merangsang."

Baiklah, jika begitu kuterima tantanganmu,"

Jawab Sim Long. Seketika Koay-lok-ong bersemangat, ia bertepuk tangan dan minta disediakan pedang.

"Sret", ketika Koay-lok-ong melolos pedang, tertampaklah cahaya hijau kemilauan, jelas pedang pusaka yang jarang ada bandingannya. Pedang ini diberikannya kepada Sim Long. Lalu Koay-lok-ong berucap dengan bengis.

"Nah, aku akan tetap duduk di sini, dengan pedang itu boleh kau serang aku tiga kali, aku takkan balas menyerang. Jika di dalam tiga jurus dapat kau tusuk mati diriku, obat penawar ini akan menjadi milikmu, segala apa yang terdapat di sini juga dapat kau kuasai."

Jika tidak dapat kutusuk dirimu?"

Tanya Sim Long.

"Ya, dirimu yang harus mati!"

Jengek Koay-lok-ong.

"Baik, cara bertaruh demikian memang menarik,"

Seru Sim Long sambil tertawa. Koay-lok-ong lantas memberi tanda dan membentak.

"Menyingkir semua!"

Para gadis cantik sudah ketakutan sehingga muka pucat, perintah menyingkir ini diterima dengan rasa lega seperti mendapat pengampunan besar, serentak mereka angkat kaki.

Perlahan Sim Long meraba pedang dan bergumam.

"Wahai pedangku sayang, janganlah engkau mengecewakan harapanku!"

Selangkah demi selangkah ia lantas mendekat.

Koay-lok-ong tetap duduk diam saja tanpa bergerak.

Matanya yang berwarna hijau itu menatap Sim Long dengan mendelik.

Tanpa bicara Sim Long memutar pedang terus menusuk ke depan.

Dilihatnya Koay-lok-ong benar-benar tidak mengelak, sebaliknya malah menyongsong tusukan itu dengan dadanya.

Apakah dia gila dan sengaja ingin mati di tangan Sim Long?

Sekali pedang Sim Long menusuk, sukar lagi ditahan.

Rasanya dada Koay-lok-ong sudah tersentuh ujung pedang ....

***** Ketika si Kucing terjaga bangun, ia menjadi bingung karena kehilangan Sim Long.

Cepat ia melompat bangun sambil mengucek-ucek mata yang sepat, teriaknya.

"Sim Long ... Sim Long ...."

Tidak terdengar suara jawaban.

Cepat ia menerjang keluar sehingga tabir mutiara tersaruk rontok.

Di luar malam tampak kelam, hanya sinar remang bulan sabit menghiasi cakrawala.

Bayangan Sim Long tidak kelihatan lagi.

Mabuk Miau-ji jadi hilang, ia mengentak kaki dan menggerutu.

"Ai, kenapa Sim Long jadi pikun begini, mau pergi kan aku harus diberi tahu, memangnya aku disangka sudah mati mabuk?"

Tapi lantas terpikir olehnya.

"Ah, tidak betul, cara bekerja Sim Long tidak nanti sembrono begini. Jangan-jangan dia terpancing pergi oleh Koay-lok-ong dan sekarang mungkin ...."

Teringat kemungkinan Sim Long akan dicelakai musuh, ia menjadi gelisah, segera ia memburu ke sana, tapi baru beberapa langkah ia lantas berhenti dan bergumam.

"Ah, ini pun tidak betul. Jika Sim Long mengalami sesuatu, mengapa aku tidak diapa-apakan Koay-lok-ong? Apalagi orang seperti Sim Long masakah begitu gampang dikerjai lawan?"

Karena bingung, ia putar balik ke kemah besar itu.

Dilihatnya sisa hidangan yang mereka makan masih tetap terletak di situ, sumpit yang pernah digunakan Sim Long juga tetap di tempat semula, tapi Sim Long ...

ke manakah dia?

Si Kucing berputar di dalam kemah kelabakan seperti semut di dalam wajan yang panas, tiba-tiba ditemukannya sepucuk surat tertaruh di samping bantal yang tadi dibuatnya tidur.

Bilamana dia tidak terburu-buru lari keluar tentu surat ini sudah dilihatnya tadi.

Miau-ji merasa lega, ia sangka surat ini tentu ditinggalkan oleh Sim Long untuk dia.

Di atas sampul memang tertulis namanya sebagai si penerima.

Cepat ia sobek sampulnya dan membaca suratnya.

Tapi baru membaca satu-dua kalimat, air mukanya lantas berubah.

Ternyata surat ini bukan tinggalan Sim Long.

Penulis surat ini ialah Cu Jit-jit.

Sungguh aneh bin ajaib, mengapa Cu Jit-jit bisa datang ke sini?

Kalimat pertama pada surat itu tertulis.

"Toako, ketika surat ini kau baca, tentu aku sudah mati."

Melulu satu kalimat ini saja sudah cukup membuat gugup si Kucing, dan yang lebih mengejutkan justru isi surat selanjutnya, di situ tertulis.

"Toako, mungkin tidak kau sangka aku akan mati di tangan Sim Long. Tapi jangan kau salahkan Sim Long, semua adalah akibat perbuatanku sendiri. Hidupku ini sudah tidak ada artinya lagi, mati di tangan Sim Long adalah cita-citaku. Konyolnya Sim Long justru tidak mau membunuhku. Sejak kecil hingga besar tidak ada sesuatu yang tidak bisa kuperoleh kecuali Sim Long saja. Kubenci padanya, sudah menjadi tekadku, apa pun juga aku harus mati di tangannya. Dia tidak membunuhku, dengan segala tipu daya akan kubikin dia membunuhku ....¡"

Sampai di sini si Kucing lantas mengentak kaki.

"Ai, dasar budak bodoh, budak gila, bukannya minta dicintai Sim Long, sebaliknya ingin dibunuh.Ïa membaca lagi.

"Dan sekarang rencanaku akan berhasil, Sim Long pasti akan membunuhku. Dari tempat Samcihu kuambil sejumlah besar harta benda, kuangkut persediaan kain dari tokonya, kubikin pakaian yang indah untuk orang banyak dan kuberi upah besar kepada mereka. Toako pasti tak dapat menerka untuk apakah berbuat demikian. Tujuanku tidak lain adalah ingin menyamar sebagai Koay-lok-ong, menyaru sebagai musuh terbesar Sim Long. Dengan bantuan Ong Ling-hoa yang sekarang kutawan, dengan sangat mudah bagiku untuk menyamar sebagai siapa pun. Orang ini meski sangat busuk, tapi kepandaiannya merias muka sungguh luar biasa. Apalagi Sim Long juga belum pernah melihat wajah asli Koay-lok-ong, dia cuma tahu sekadarnya bentuk wajah Koay-lok-ong dari cerita orang Jin-gi-ceng, maka kuminta Ong Ling-hoa merias diriku menjadi Koay-lok-ong sebagaimana diketahui Sim Long itu. Lalu kutinggalkan surat bagimu dan memberitahukan jejak Koay-lok-ong, kuyakin kalian pasti akan menyusul kemari. Sekarang ternyata benar kalian telah menyusul tiba. Kini Sim Long telah berhadapan muka denganku sebagai musuh, dia pasti akan membunuhku, rencanaku sudah akan terlaksana seluruhnya, mati pun aku tidak menyesal. Sebabnya kuberi tahukan urusan ini kepadamu adalah karena engkau adalah Toako yang baik, di alam baka pun aku akan berterima kasih kepadamu. Semoga kelak engkau akan mendapatkan istri yang cantik, sepuluh kali lebih cantik daripada bini Sim Long, dengan begitu terlampias juga rasa dendamku kepadanya. Selamat tinggal, Toako, aku selalu ingat kepadamu."

Hormat adikmu, Cu Jit-jit Surat ini ditulis meliputi beberapa lembar kertas, makin lama makin tak teratur tulisannya, dua lembar terakhir malahan kelihatan ada bekas air mata.

Dapat dibayangkan betapa remuk redam perasaan Cu Jit-jit waktu menulis surat ini.

Dengan mengembeng air mata Miau-ji memegang surat itu dengan termangu-mangu, dia tidak pernah mencucurkan air mata, tapi sekarang rasanya air mata hampir menetes.

Dia bergumam sendiri.

"Urusan yang membingungkan ini kiranya adalah permainan budak setan itu. Wahai Cu Jit-jit, mestinya engkau anak perempuan pintar, mengapa sekarang jadi sebodoh ini dan menjadi nekat?Ïa tidak tahu bilamana orang pintar berbuat bodoh, biasanya bisa jauh lebih dungu daripada orang yang paling bodoh. Tiba-tiba teringat olehnya Cu Jit-jit segera akan terbunuh oleh Sim Long, segera ia berlari pergi seperti kesetanan sambil berteriak.

"Sim Long, tidak boleh ... tidak boleh kau bunuh dia ....Ïa yakin Sim Long pasti akan turun tangan tanpa sangsi, sebab sudah lama Sim Long memang ingin menumpas Koay-lok-ong, bila ada kesempatan mana dia mau memberi ampun. Dan dari mana pula dia tahu "

Koay-lok-ongïni adalah samaran Cu Jit-jit.

Makin dipikir makin gelisah si Kucing.

Dia berharap dirinya keburu mencegah Sim Long.

Tapi Sim Long dan Cu Jit-jit berada di mana?

Begitulah dia terus berlari di lereng gunung sambil berteriak seperti orang gila.

***** Dengan sendirinya si Kucing tidak keburu mencegah, pedang Sim Long sudah ditusukkan, tiada seorang pun yang mencegahnya.

Siapa tahu tusukan Sim Long secepat kilat dan tak tertahankan ini pada detik terakhir mendadak ujung pedang bergetar dan melenting ke atas.

Sudah jelas dada ¡ "Koay-lok-ong¡"

Sudah terasa tersentuh ujung pedang yang dingin tapi tahu-tahu dadanya menyongsong tempat kosong, Sim Long telah melompat mundur, pedang masih kelihatan bergetar.

"Koay-lok-ongïni terperanjat, ucapnya dengan suara gemetar.

"Engkau masih ... masih boleh menusuk lagi dua kali ...."

Tapi Sim Long lantas menjawab dengan tersenyum.

"Tidak, sudah selesai, sandiwara ini sudah tamat!"

Apa katamu? Sandiwara apa maksudmu?"

Kata "Koay-lok-ongälias si Raja Riang Gembira dengan bingung.

"Memangnya sandiwaramu ini akan kau sambung lagi? Kau kira aku tidak tahu engkau ini Jit-jit?ücap Sim Long dengan tertawa. Kontan tubuh Cu Jit-jit bergetar, ia berdiri termangu sejenak, mendadak mendekap di atas meja dan menangis tergerung, ratapnya sambil memukul meja.

"O, mengapa nasibku begini jelek, ingin mati saja tidak dapat ...."

Sim Long memandangnya dengan tenang, sesudah tangis si nona dirasa cukup barulah ia mendekatinya dan membelai rambutnya, ucapnya dengan lembut.

"Ai, anak bodoh, untuk apa kau cari mati?"

Mengapa aku tidak cari mati saja, apa artinya hidup bagiku?"

Seru Jit-jit parau.

"Sim Long, jika engkau mempunyai perasaan, hendaknya ... hendaknya bunuh saja diriku."

Jika aku punya perasaan, mana kutega membunuhmu?ücap Sim Long perlahan.

Tubuh Jit-jit tergetar, serentak ia melompat bangun dan memandang Sim Long dengan kelopak mata yang masih diliputi air mata, terasa kegirangan, tapi juga tidak percaya, serunya.

"Jadi ... jadi engkau ...."

Sim Long juga sedang menatapnya dengan sinar mata yang lembut, ucapnya dengan penuh kasih sayang.

"Memangnya hati Sim Long terbuat dari batu?"

Jit-jit menjerit tertahan terus menubruk ke dalam pelukan Sim Long.

Kasih sayang yang diperoleh setelah masa derita dan ujian menjadi lebih berharga dan beruntung.

Keduanya saling berdekapan hingga lama tanpa bicara.

Sekonyong-konyong seorang berlari datang sambil berteriak.

"Sim Long, jangan ... jangan kau turun tangan, dia ... dia Jit-jit ....Ïtulah Him Miau-ji, dengan cemas dan berteriak parau dia menerjang tiba. Jit-jit tidak bergerak, di dunia ini tidak ada sesuatu urusan atau siapa pun yang dapat membuatnya berpisah dari rangkulan Sim Long. Sim Long juga tidak bergerak, ia tidak sampai hati melepaskan si nona. Sesudah dekat, Miau-ji jadi melenggong dan tidak sanggup bersuara lagi.

"Toako! ...."

Jit-jit menegur.

"Jit ... Jit-jit .... Engkau tidak ... tidak mati."

Tentu saja tidak,"

Sahut si nona dengan tertawa.

Miau-ji menyurut mundur dua langkah sambil menatap mereka, mendadak ia bergelak tertawa.

Begitu gembira tertawanya, seperti orang sinting.

Jit-jit sampai kikuk sendiri, ia menunduk dan bertanya.

"Kau tertawa apa, Toako?"

"Ha haaah!"

Miau-ji tergelak pula.

"Seorang kakek berjenggot berdekapan dengan seorang pemuda cakap, sungguh lucu!"

Muka Jit-jit menjadi merah, betapa pun berat rasanya mau tak mau ia harus melepaskan diri dari pelukan Sim Long.

Dengan tertawa ia menarik rambut palsu, jenggot palsu dan sebagainya, juga kedok kulit muka yang tipis itu ditariknya sehingga pulih kembali wajahnya yang asli, wajah yang molek.

"Jika begitu engkau tidak kelihatan berubah sedikit pun, cuma ... cuma matamu itu, mengapa bisa berubah menjadi siwer?"

Tanya Miau-ji heran.

"Ini permainan sulap, lihat!"

Seru Jit-jit sambil menoleh ke arah lain, waktu ia berpaling kembali, sinar matanya sudah kembali bening, tangannya memegang dua keping benda kecil tipis berwarna kehijauan.

"Hah, barang apakah ini?"

Tanya Miau-ji dengan terbelalak.

"Ini namanya kaca lensa,"

Tutur Jit-jit dengan tertawa.

"Benda ini memang sukar dicari, dibeli dari saudagar Persia. Benda ini sangat aneh, tembus pandang dan sangat mahal. Konon dibelinya dengan beberapa ribu tahil perak."

Tentu barang permainan Ong Ling-hoa lagi,"

Kata Miau-ji.

"Siapa lagi selain dia?üjar Jit-jit.

"Kepandaian merias keparat ini sungguh luar biasa, jika tidak tahu sebelumnya pasti tak dapat kukenali dirimu,üjar Miau-ji.

"Tapi Sim Long kita justru dapat mengenali samaranku,"

Kata Jit-jit dengan tertawa.

"Ha ha, Sim Long kita .... Pantas engkau kegirangan,"

Si Kucing berseloroh. Lalu ia berkata kepada Sim Long.

"Engkau memang hebat, sekali lagi aku takluk kepadamu. Cuma cara bagaimana dapat kau kenali dia, sungguh aku tidak mengerti."

Pertama kali aku menaruh curiga pada waktu menemukan kemahnya itu,"

Tutur Sim Long.

"Kupikir, gembong iblis seperti Koay-lok-ong betapa hebat caranya menggembleng anak buahnya, pada waktu berangkat mustahil bisa meninggalkan sisa barang begitu banyak."

Sebenarnya barang-barang itu sengaja kutinggalkan supaya dilihat kalian, siapa tahu berbalik menjadi petunjuk yang menimbulkan curigamu,"

Kata Jit-jit.

"Dan untuk kedua kalinya kucuriga ketika melihat surat yang ditinggalkannya itu."

Dalam hal apa surat itu mencurigakanmu?"

Tanya Miau-ji.

"Kulihat tulisan dalam surat itu sangat kasar, kalimatnya juga kurang teratur, padahal anak buah Koay-lok-ong banyak yang terpelajar, masa menulis surat saja tidak becus."

Ah, betul juga, mengapa tidak kau katakan waktu itu?"

Tanya Miau-ji.

"Waktu itu aku pun belum yakin akan curigaku, setelah kulihat lelaki berbaju satin itu barulah dapat kupastikan dia bukan anak buah Koay-lok-ong."

Apakah gerak-gerik atau tutur katanya memperlihatkan sesuatu yang mencurigakanmu?"

Tanya Jit-jit.

"Tidak ada, hanya pakaiannya yang menimbulkan tanda tanya."

"Pakaiannya?"

Jit-jit jadi heran.

"Pakaiannya terlalu baru ...."

Tutur Sim Long dengan tertawa.

"Bahwa Koay-lok-ong datang dari jauh di luar perbatasan barat sana, mana bisa anak buahnya berbaju sebaru itu, sampai sepatunya juga masih baru gres."

Ai, hal ini malah tidak pernah kupikirkan,"

Seru Jit-jit dengan tertawa.

"Sebab itulah diam-diam kusingkap ujung bajunya dan kebetulan kulihat ada cap toko kain Yun-yan-po-ceng, dengan demikian kan segalanya menjadi jelas?"

Jadi ... jadi waktu itu juga sudah kau ketahui siapa diriku?"

Tanya Jit-jit dengan terbelalak.

"Ya, kalau tidak masakah aku berani makan minum sepuasnya bersama Miau-ji?"

Engkau memang setan siluman!ömel Jit-jit dengan muka merah.

"Terus terang kepandaian merias Ong Ling-hoa memang mahatinggi dan sukar diketahui, caramu bicara juga sangat mirip lelaki ...."

Untuk itu aku telah berlatih dengan tekun,"

Tukas Jit-jit.

"Cuma karena sudah kuketahui sebelumnya maka betapa hebat samaranmu tetap dapat kulihat cirinya, misalnya ...."

Sim Long tertawa lalu menyambung.

"Umpamanya pada waktu aku sengaja memeluk si penari, kulihat engkau keki setengah mati ...."

Jit-jit terus memukul dada Sim Long dan berseru.

"Ayo, bicara lagi ...."

Haha, budak ini tidak mampu menipumu tapi akulah yang tertipu dan kelabakan,"

Tutur Miau-ji.

"Kau tahu betapa cemasku waktu kubaca surat tinggalannya, sungguh kuingin terbang ke sini kalau bisa ...."

Jit-jit tertawa geli membayangkan betapa gelisah si Kucing waktu itu. Ia menuang tiga piala arak dan berkata.

"Sembari bicara perlu juga mencuci kerongkongan."

Betul, mari habiskan secawan,"

Seru Miau-ji. Sekali tenggak ketiga orang sama menghabiskan isi piala, segera Miau-ji berteriak minta tambah secawan lagi.

"Hari ini kita memang harus bergembira,"

Kata Sim Long.

"Cuma Ong Ling-hoa ...."

Jangan khawatir, keparat itu takkan kabur lagi,üjar Jit-jit. Mendengar nama Ong Ling-hoa, seketika kening Miau-ji bekernyit, tanyanya.

"Di mana keparat itu sekarang?"

Berputar bola mata Jit-jit, jawabnya dengan tertawa.

"Coba kau terka kutaruh dia di mana?"

"Aku tidak sanggup menerkanya,"

Kata Miau-ji.

"Dia berada di dalam kemah ini,"

Tutur Jit-jit.

"Hah, di sini?"

Seru si Kucing, tapi ketika mereka mengawasi sekeliling kemah, mana ada bayangan Ong Ling-hoa.

"Di mana dia, apakah dia bisa menghilang?üjar Miau-ji. Jit-jit tertawa, katanya.

"Kau lihat apa yang kududuki ini?"

"Sebuah peti ...."

Gumam Miau-ji.

"Hah, apakah kau kurung dia di situ?"

Jit-jit tertawa senang.

"Makanya kubilang dia takkan lolos lagi. Betul tidak?"

Segera ia mengetuk peti itu dengan piala berkata.

"Ong Ling-hoa, kau dengar suaraku tidak?"

Miau-ji juga mengetuk peti dan berteriak.

"Haha, sekali ini engkau baru tahu rasa seorang perempuan berduduk di atas kepalamu!"

Jika Jit-jit dan Miau-ji tertawa gembira, mendadak Sim Long berkata.

"Wah, celaka!"

"Ada apa?"

Melengak juga Jit-jit.

"Peti ini kosong,"

Kata Sim Long.

"Mana bisa kosong, aku sendiri yang memasukkan Ong Ling-hoa ke sini,"

Kata Jit-jit.

"Peti yang berisi takkan bersuara nyaring demikian,"

Kata Sim Long. Cepat Jit-jit berbangkit dan membuka tutup peti. Dan ... ternyata benar peti itu kosong melompong.

"Hah, meng ... mengapa Ong Ling-hoa bisa hilang?"

Seru Jit-jit.

"Setelah kau tutup dia di sini apakah pernah kau tinggalkan dia?"

Tanya Sim Long.

"Kupergi ke tempat sana sebentar, tapi di sini tetap dijaga orang."

"Orang siapa?"

Tanya Sim Long.

"Yaitu orang-orang yang kubayar untuk menyamar sebagai anak buah Koay-lok-ong."

Jika mereka mau bekerja bagimu dengan menerima upah kenapa mereka tidak menerima upah dari Ong Ling-hoa untuk membebaskannya."

"Tapi ... tapi Ong Ling-hoa tidak ...."

Meski Ong Ling-hoa tidak membawa uang, tapi mulutnya pintar bicara, bukan mustahil kawanan gadis itu telah dibujuk ...."

"Setan alas, akan kuperiksa mereka,"

Seru Jit-jit dengan gemas, segera ia hendak menerjang keluar, tapi baru beberapa langkah mendadak ia roboh terkulai dan tidak sanggup bangun lagi.

Cepat Sim Long dan Miau-ji memburu maju untuk membangunkan si nona, di bawah cahaya lampu kelihatan mukanya pucat lesu.

"He, kenapa?"

Tanya Miau-ji khawatir.

"Aku ... aku merasa lemas, mendadak mata pun enggan ...."

Makin lemah suaranya dan kepala lantas tergolek dan tidak sadar lagi. Cepat Sim Long berseru.

"Kita harus lekas pergi dari sini."

Se ... sebenarnya ada apa ini?"

Tanya Miau-ji kejut dan heran.

"Di dalam arak pasti telah ditaruh racun oleh Ong Ling-hoa. Cuma, agar rencana Cu Jit-jit dibunuh olehku dapat terlaksana, maka obat bius yang digunakannya bekerja sangat lambat. Biasanya obat bius yang bekerja lambat justru makin sukar ditawarkan."

Sungguh bangsat!"

Gerutu Miau-ji dengan gemas.

"Lantas bagaimana sekarang?"

Mumpung racun belum bekerja atas diri kita, lekas kita tinggalkan tempat ini,"

Kata Sim Long.

"Ai, tak kusangka cara bekerja Jit-jit seceroboh ini, kalau tidak tentu aku tidak minum arak tadi."

Sembari bicara ia terus mengangkat Jit-jit dan dibawa lari keluar.

Di luar tidak ada seorang pun, kawanan lelaki dan perempuan tadi entah sama kabur ke mana lagi.

Segera mereka berlari lebih cepat, tapi entah mengapa, betapa mereka ingin lari tetap tidak segesit biasanya.

"Sungguh obat bius yang hebat, tenagaku serasa hilang sama sekali,"

Seru Miau-ji.

"Untung Ong Ling-hoa tidak menyergap kita di sini, kalau tidak, semuanya tentu akan tamat."

Sebelum racun bekerja atas diri kita, mana dia berani turun tangan terhadap kita,"

Jengek Sim Long.

Miau-ji mengangguk, mereka berlari lagi sekian jauhnya, langkah mereka terasa semakin berat, kaki seperti diganduli batu.

Sebenarnya Sim Long terlebih kuat daripada Miau-ji, tapi begitu masuk kemah tadi dia lantas minum secangkir bersama Cu Jit-jit, maka racun dalam tubuh mereka sekarang mulai bekerja pada saat yang sama.

Jika bukan lantaran Sim Long yakin benar Koay-lok-ong itu adalah samaran Cu Jit-jit, tentu dia takkan minum arak beracun itu.

Orang pintar terkadang memang juga bisa keblinger.

Mau tak mau Sim Long menghela napas, katanya.

"Jika sekarang muncul Ong Ling-hoa, pasti tamatlah, riwayat kita."

Untung dia salah hitung, kalau tidak ...."

Belum lanjut ucapan si Kucing, mendadak terdengar seorang bergelak tertawa di kejauhan.

"Haha, baru sekarang kalian datang!"

Nyata itulah suara Ong Ling-hoa.

Suaranya terdengar berkumandang dari tempat ketinggian, ramah dan halus, serupa tuan rumah yang baik hati lagi menyambut kedatangan sahabat yang sudah lama berpisah.

Tapi bagi pendengaran Him Miau-ji dan Sim Long tidak ubahnya seperti bunyi guntur waktu siang bolong.

Serentak mereka memandang ke atas.

Tertampak di atas sepotong batu karang raksasa di depan sana menongkrong sesosok bayangan orang, di bawah remang cahaya bintang samar-samar memang dapat dikenali, siapa lagi dia kalau bukan Ong Ling-hoa.

"Sudah lama kutunggu kedatangan kalian, silakan naik kemari, di sini tersedia hidangan dan minuman, marilah kita makan minum dulu bersama!"

Demikian Ong Ling-hoa berseru pula. Dengan gusar Him Miau-ji membentak.

"Bangsat, akan ku ...."

Jika kau inginkan kepalaku, silakan juga naik kemari, pasti kuserahkan dengan hormat,"

Sela Ong Ling-hoa dengan tertawa.

"Segera kunaik ke situ, memangnya kutakut padamu?"

Teriak Miau-ji murka. Segera ia bermaksud meloncat ke atas, tapi mendadak kaki terasa sempoyongan dan hampir saja jatuh terjungkal.

"Hahaha, apakah Anda mabuk, kenapa berdiri saja kurang mantap?"

Kata Ong Ling-hoa dengan terbahak. Miau-ji hendak menubruk ke depan, tapi Sim Long lantas menariknya mundur dan berlari kembali ke arah semula.

"Eh, baru saja datang kenapa lantas pergi lagi?"

Terdengar Ong Ling-hoa tertawa mengejek.

"Maaf aku tidak mengantar lebih jauh."

Bangsat terkutuk, pada suatu hari pasti akan ...."

Si Kucing mencaci maki, tapi langkahnya menjadi berat sehingga Sim Long hampir ikut jatuh tersaruk.

"Eh, hendaknya kalian berjalan perlahan, jangan sampai jatuh terbanting,"

Seru Ong Ling-hoa.

"Cuma, menurut perhitunganku sekarang, rasanya kalian takkan berlari lebih jauh daripada tujuh langkah lagi."

Dengan mengertak gigi sekuatnya Sim Long melangkah lebih cepat, tapi sia-sia, baru beberapa langkah lagi akhirnya si Kucing ambruk. Mau tak mau Sim Long lantas berhenti juga.

"Eh, mengapa Anda tidak lari lagi?ëjek Ong Ling-hoa. Sim Long lantas membalik tubuh, katanya dengan tersenyum.

"Ong Ling-hoa, sekali ini anggaplah engkau yang menang."

Ah, terima kasih ...."

Kata Ling-hoa dengan tertawa.

"Dalam keadaan begini Anda masih sanggup tertawa, sungguh seorang lawanku yang paling hebat yang pernah kuhadapi. Cuma sayang, Anda tidak ada kesempatan untuk bergebrak lagi denganku, pada hari ini tahun depan aku berjanji akan berziarah ke kuburanmu."

Engkau takkan berani membunuhku¡üjar Sim Long dengan tersenyum.

"Aku tidak berani? .... Mengapa?"

Melengak juga Ong Ling-hoa.

"Tidak ada alasan, yang jelas engkau tidak berani ...."

Kata Sim Long, tahu-tahu ia pun roboh terkulai. Segera Ong Ling-hoa berdiri dan tertawa latah.

"Hahaha, Sim Long, akhirnya kau jatuh juga ke dalam tanganku. Selanjutnya siapakah di dunia ini yang mampu menghadapi aku, Ong Ling-hoa?!"

Perlahan suara tertawa Ong Ling-hoa mereda, lalu ia melompat turun dan memeriksa keadaan Sim Long, kemudian berkata pula.

"Wahai Sim Long, dari mana kau tahu aku takkan membunuhmu?" ***** Hari sudah mulai terang, namun kabut masih meliputi lembah pegunungan sunyi. Waktu Jit-jit siuman, dirasakan tubuh masih lemas tak bertenaga. Sungguh obat bius yang sangat lihai. Lamat-lamat dilihatnya sebuah lentera, cahayanya menyilaukan, baru saja ia membuka mata lantas dipejamkan lagi. Timbul rasa waswasnya, dengan gemetar tangannya meraba bagian bawah .... Untung pakaiannya masih teratur rapi, apa yang paling ditakutinya ternyata tidak terjadi, sesuatu yang paling berharga baginya ternyata belum lagi direnggut orang. Ong Ling-hoa yang jahat, menggemaskan dan licik itu betapa pun juga mempunyai keangkuhan dan tidak mau menganiaya orang yang tidak sadar. Padahal setiap serigala pelahap anak perempuan memang begitu, mereka tahu walaupun dapat menaklukkan tubuh seorang perempuan dalam keadaan tak sadar, namun jelas kurang menarik. Begitulah Cu Jit-jit dapat merasa lega, tapi segera teringat olehnya akan nasib Sim Long dan Him Miau-ji, cepat ia melompat bangun dan berseru.

"Sim Long ....Ïa tidak melihat Sim Long, tapi melihat Him Miau-ji. Mereka ternyata berada di dalam sebuah ruangan yang tidak berjendela juga tidak berpintu. Miau-ji serupa seekor kucing meringkuk di pojok sana, tidak bergerak dan belum lagi siuman. Jit-jit merangkak ke sana dan menggoyang-goyang pundak Miau-ji. Mulut Miau-ji bergerak-gerak seperti orang makan sesuatu sambil bergumam.

"Enak ... enak ...."

Enak apa, orang mampus! Ayolah lekas bangun ...."

Seru Jit-jit dengan geli dan juga mendongkol, lalu ditepuknya muka Miau-ji.

Seketika Miau-ji terjaga bangun, tapi begitu dia berduduk, segera ia pegang kepalanya yang kesakitan seperti mau pecah, ucapnya.

"Tempat apakah ini? Mengapa kita berada di sini."

Aku jatuh pingsan lebih dulu, mana kutahu?üjar Jit-jit dengan mendongkol.

"Dan di manakah Sim Long?"

Justru hendak kutanya padamu, engkau malah tanya padaku."

"Waktu kuroboh, kuingat Sim Long masih berdiri tegak, tapi ... tapi Ong Ling-hoa ...."

Makin lirih suaranya, sampai akhirnya hampir tak terdengar lagi.

"Jadi kalian telah melihat Ong Ling-hoa?"

Tanya Jit-jit khawatir.

"Ya, tapi waktu itu aku ... aku hampir tidak sanggup berjalan lagi."

Dan bagaimana dengan Sim Long, masakah dia juga ...."

Jit-jit tidak berani bertanya lebih lanjut. Miau-ji menghela napas panjang dan berucap.

"Dia juga tidak dapat berbuat apa-apa lagi."

Seketika Jit-jit merasa seperti dikemplang dengan keras, ia termangu-mangu sejenak, gumamnya dengan suara gemetar.

"O, jadi ... jadi kita benar telah jatuh dalam cengkeraman Ong Ling-hoa."

Tampaknya memang demikian,"

Kata Miau-ji.

"Tapi Sim Long tidak ... tidak berada di sini, mungkin dia sempat lolos,"

Kata Jit-jit.

"Bisa jadi, apa yang tidak dapat diperbuat orang lain, Sim Long selalu mempunyai caranya sendiri untuk menyelamatkan diri."

Dan dia pasti akan berdaya menolong kita,"

Tukas Jit-jit.

"Tentu saja, segera dia akan datang menolong kita. Ong Ling-hoa tidak gentar terhadap orang lain, tapi melihat Sim Long, dia akan ketakutan seperti tikus melihat kucing, haha ...."

Meski di mulut dia tertawa, namun suara tertawanya tidak berbau gembira. Mendadak menubruk dan menjambret leher baju si Kucing dan berteriak parau.

"Kau dusta, kau ... kau tahu Sim Long juga tak bisa lolos."

Dia tentu bisa lolos, kalau tidak, kenapa dia tidak berada di sini?"

"Mungkin karena dia ...."

Mendadak Jit-jit menangis sedih.

"Mungkin dia sudah dibunuh oleh Ong Ling-hoa."

"Tidak ... tidak bisa,"

Kata Miau-ji.

"Ong Ling-hoa membencinya sampai merasuk tulang, kalau dia tertawan, mana Ong Ling-hoa mau melepaskan dia,"

Ratap Jit-jit sambil mengguncang-guncangkan tubuh Miau-ji. Miau-ji menatapnya lekat-lekat tanpa bicara lagi.

"Akulah yang membikin celaka dia, aku yang salah ...."

Ratap Jit-jit pula, entah berapa puluh kali ia mengulangi ucapannya itu.

Tiba-tiba ia berdiri perlahan, di bawah remang cahaya lampu kelihatan mukanya pucat seperti orang entah dari mana tahu-tahu sebilah belati telah dipegangnya, lalu dia tertawa terkekeh dan berseru.

"Aku yang bikin susah dia ... aku yang bikin celaka dia ...."

Habis itu mendadak ia tusuk bahu sendiri. Keruan Miau-ji terkejut, teriaknya.

"Hei, Jit-jit, berhenti!"

Namun si nona seperti tidak mendengar, sambil terkekeh ia cabut belati sehingga darah melumuri bajunya tanpa dirasakan sakit lagi, dia masih terus bergumam.

"Aku yang bikin susah dia ...."

Habis itu kembali ia menikam bahu sendiri lagi. Kaget sekali Miau-ji, ingin mencegah, tapi badan masih lemas lunglai, terpaksa ia cuma menyaksikan nona itu berulang-ulang menusuk bahu sendiri.

"Jit-jit, berhenti ... jangan!ïa cuma dapat berteriak khawatir saja. Sekonyong-konyong dinding di belakang mereka merekah dan muncul sebuah pintu, sesosok bayangan orang menyelinap tiba, secepat kilat tangan Jit-jit dipegangnya. Tertampak orang ini berdandan rapi dengan baju satin panjang berwarna jambon dan gemerdep di bawah sinar lampu.

"Ong Ling-hoa!"

Seru Miau-ji dengan air muka berubah pucat.

"Trang", belati Jit-jit jatuh ke lantai dan berdiri termangu, membiarkan tangannya dipegang Ong Ling-hoa, tidak meronta dan tidak melawan. Ong Ling-hoa memandangi Him Miau-ji dengan tertawa, tanyanya.

"Apakah Anda dapat tidur dengan baik?"

Kau bangsat, lepaskan dia, jangan sentuh dia,"

Teriak Miau-ji parau.

"Baik, takkan kusentuh dia, aku cuma mau memondong dia,"

Kata Ong Ling-hoa dengan tertawa, segera ia angkat Cu Jit-jit malah. Tentu saja Miau-ji tak berdaya, ia cuma memandangnya dengan mata melotot.

"Jangan kau pandang diriku cara demikian, seharusnya tidak boleh kau benci padaku,üjar Ling-hoa dengan tertawa. Ia colek muka Jit-jit, lalu menyambung lagi.

"Kau pun mestinya tidak benci padaku .... Yang harus kalian benci seharusnya Sim Long. Kalian sedemikian cemas bagi keselamatannya, tapi apakah kalian tahu dia sama sekali tidak cemas bagi kalian."

Dia tidak mati?"

Tanya Miau-ji.

"Tentu saja tidak,"

Jawab Ling-hoa tertawa.

"Di ... di mana dia?"

Meski dia tidak mati, tapi bila melihat keadaannya sekarang bisa jadi akan mati keki."

"Kentut busuk,"

Damprat Miau-ji dengan gusar.

"Jangan kau ...."

"Kutahu kalian pasti takkan percaya,üjar Ling-hoa.

"Untuk itu, terpaksa kubawa kalian melihat dia ...."

Mendadak ia menepuk tangan dua kali sambil memanggil.

"Kemari, angkat Him-tayhiap kita ini!"

Dua gadis cantik muncul dengan tersenyum manis, mereka lantas mengangkat Him Miau-ji, seorang berkata dengan tertawa.

"Wah, berat amat!"

Gadis yang lain menanggapi.

"Begitulah baru seorang lelaki!Öng Ling-hoa tertawa.

"Jika kau suka padanya, boleh kau cium dia .... Cuma, awas, jangan kau gigit putus hidungnya."

Begitulah si Kucing lantas diusung pergi oleh dua anak perempuan sambil digoda, ya diraba, ya dicium sehingga mukanya berlepotan gincu.

Tentu saja dia gugup dan dongkol, tapi tak berdaya.

Demi bisa melihat Sim Long, terpaksa ia menahan perasaannya.

Jit-jit lantas dipapah juga oleh Ong Ling-hoa, namun anak muda ini cukup prihatin dan tidak berbuat sesuatu yang kurang sopan.

Setelah melalui sebuah lorong panjang lalu masuk sebuah ruangan kecil, di sini tidak ada meja, tidak ada bangku, juga tidak ada tempat tidur, tidak ada apa pun, hanya ada empat buah boneka kayu tergantung di dinding.

"Pindahkan boneka kayu itu, segera kalian akan melihat empat lubang kecil, melalui lubang kecil itu nanti dapatlah kalian melihat Sim Long, hahaha ... Sim Long!"

Tertawa Ong Ling-hoa tidak keras, tapi dirasakan Miau-ji sangat menusuk telinga.

"Nah, kalian boleh melihatnya dengan bebas dan Sim Long pasti takkan mengetahui akan perbuatan kalian, sebab di balik keempat lubang kecil ini terlukis badan manusia dan lubang kecil ini adalah biji mata manusia yang terlukis itu ...."

Demikian Ong Ling-hoa bertutur dengan tertawa.

"Haha, tentu kalian tidak tahu betapa indah manusia yang terlukis itu, sungguh sangat menarik dan mengesankan, cuma sayang kalian tidak dapat melihatnya."

Hm, sekalipun lukisan porno juga tidak mengherankanku,"

Jengek Miau-ji.

"Haha, Him-heng memang orang cerdik, sekali terka lantas dapat menerka bahwa lukisan di atas dinding adalah gambaran porno. Tapi apa yang dilakukan Sim Long di tengah ruangan yang penuh lukisan porno itu? Dapatkah Him-heng menerkanya?"

Tubuh Jit-jit menjadi gemetar, mendadak ia menerjang ke sana, tapi segera dipegang oleh Ong Ling-hoa.

"Bukankah kau bilang aku boleh melihatnya dengan bebas?"

Teriak Jit-jit dengan suara gemetar.

"Tentu saja boleh kau lihat dengan bebas, cuma jangan tergesa-gesa,"

Kata Ling-hoa dengan tertawa.

"Memangnya menunggu apa lagi?"

Tanya Miau-ji.

"Saat ini Sim-heng lagi menikmati segala kesenangan di situ, bisa jadi kalian akan mengganggu ketenangannya, demi keamanannya terpaksa kubikin susah kalian untuk sementara,"

Sembari bicara Ong Ling-hoa terus menutuk Hiat-to bisu Jit-jit dan Miau-ji.

Saking gemas sampai biji mata Him Miau-ji melotot seperti mata ikan mas, namun Ong Ling-hoa tidak menghiraukannya, ia geser salah sebuah boneka kayu, benar juga lantas tertampak sebuah lubang kecil di atas dinding.

"Nah, kalian yang ingin melihatnya, jika mati gemas jangan menyalahkan aku,"

Kata Ling-hoa dengan tertawa, lalu ia menyingkir dan berkata.

"Sekarang boleh silakan!"

Serentak Miau-ji dan Jit-jit memburu maju dan mengintip melalui lubang kecil itu.

Benar juga Sim Long dapat dilihat mereka.

Meski di ruangan sini tidak ada sesuatu alat perabot apa pun, tapi di ruangan sebelah ternyata tersedia perabotan yang lengkap, semuanya teratur rapi dan serbaserasi.

Dan Sim Long sekarang justru berduduk di tempat yang paling menyenangkan.

Dia memakai jubah sutra halus dan berduduk bersandar di atas kursi sebangsa sofa dengan kasuran yang empuk.

Tangannya memegang piala emas, seorang gadis jelita dengan baju tipis asyik menuangkan arak dengan tersenyum manis.

Arak yang berwarna merah.

Tapi bagi pandangan Miau-ji sekarang arak itu serupa darah.

Miau-ji saling pandang sekejap dengan Jit-jit, keduanya sama tidak dapat bicara, mereka menahan perasaan dengan geregetan.

Jika mereka dapat bicara, tentu mereka akan sama mencaci maki Sim Long, orang lain khawatir setengah mati baginya, tahu-tahu dia asyik menikmati kesenangan orang hidup di sini.

Sim Long tampaknya memang benar lagi menikmati kesenangan orang hidup, setiap kali gadis cantik itu menuangkan arak segera ditenggaknya habis.

Begitu si gadis mengambilkan buah segar lantas dimakannya.

Sungguh tidak kepalang gemas Jit-jit, gerutunya di dalam hati.

"Wahai Sim Long, kiranya kau pun lelaki mata keranjang dan pemabuk, tahu begini kan lebih baik kubiarkan kau mati saja."

Miau-ji juga mendongkol melihat Sim Long yang lupa daratan itu.

Karena keduanya sama keki, mereka sampai lupa tanya kepada Ong Ling-hoa sebab apa Sim Long tidak dibunuhnya, sebaliknya malah memberi segala kesenangan hidup baginya?

Kan aneh bin ajaib?

Banyak sekali Sim Long menenggak arak, sampai tangan si gadis cantik terasa pegal menuangkan arak, tapi cara minum Sim Long terlebih cepat pula.

"Sungguh hebat takaran minummu,äkhirnya si gadis cantik berkata.

"Entah cara bagaimana engkau melatih kepandaian ini."

Soalnya sering kali ada orang ingin mencekoki aku sampai mabuk, maka takaranku minum lantas terlatih sekuat ini,"

Tutur Sim Long dengan tertawa.

"Namun tampaknya tidak terlalu mudah jika ingin mencekoki kau sampai mabuk,"

Kata gadis dengan lirikan yang menggiurkan.

"Apakah lebih gampang mencekokimu sampai mabuk?"

Tanya Sim Long. Nona itu melirik genit pula, katanya.

"Ada sementara anak perempuan meski mabuk akan tetap seperti tidak pernah mabuk, siapa pun jangan harap akan dapat menggodanya. Sebaliknya ada perempuan lain biarpun tidak minum arak akan serupa orang mabuk saja."

Hah, tampaknya anak perempuan memang jauh lebih memahami urusan sesama anak perempuan,üjar Sim Long dengan tertawa.

"Dan ... engkau ini tergolong jenis anak perempuan yang mana?"

Gadis itu memandang Sim Long dengan mesra, ucapnya perlahan.

"Hal ini ... harus kulihat dulu siapa lelaki pihak lawan. Terkadang tidak mabuk pun aku bisa jadi mabuk, sering juga tanpa minum arak aku pun mabuk, seperti halnya se ... sekarang ...."

Makin mendengar makin tak keruan perasaan Jit-jit, hampir gila dia saking kekinya.

Kalau bisa dia ingin menyerbu ke ruangan sana dan mencukil biji mata gadis itu.

Apalagi waktu dilihatnya tubuh si gadis yang gempal itu terus menggelendot di pangkuan Sim Long, yang lebih menggemaskan ialah Sim Long, gadis itu lantas dirangkulnya sekalian dengan eratnya.

Sungguh Jit-jit ingin membunuh diri saja, tak disangkanya Sim Long ternyata sedemikian berengseknya.

Ia memejamkan mata dan tidak sudi melihatnya.

Untunglah pada saat itu juga muncul seorang bintang penolong, dari suara gemerencing dan suara tertawa merdu Jit-jit yakin orang datang ini pasti seorang perempuan mahacantik, terutama bau harumnya yang khas juga dapat dicium oleh Jit-jit.

Kemunculan perempuan baru ini membuat si gadis tadi cepat melompat bangun dari pangkuan Sim Long, wajahnya yang berseri seketika juga lenyap.

Jilid 25 Apa yang dipakainya, bagaimana dandanannya, siapa pula yang mengikut di belakangnya dan bagaimana bentuk orang-orang ini, sama sekali Cu Jit-jit tidak memerhatikannya, begitu pula Him Miau-ji.

Maklum, pandangan mereka hanya tertarik oleh perempuan cantik ini saja, pada tubuhnya seolah-olah terpancar cahaya yang menyilaukan dan mengaburkan pandangan orang.

Dewi kahyangan yang bercahaya gemilang ini ternyata ibu Ong Ling-hoa, Ong-hujin atau nyonya Ong.

Terlihat Sim Long sedikit membetulkan tempat duduknya, lalu memberi salam dan menyapa.

"Ong-hujin ...."

Sim-kongcu ....Öng-hujin balas menegur dengan tersenyum.

Kedua orang saling menyapa serupa sahabat yang sudah lama berpisah dan sekarang baru bertemu lagi.

Tapi juga serupa kenalan baru sehingga kedua pihak sama sungkan-sungkan.

Keduanya lantas duduk berhadapan.

Akhirnya Jit-jit menarik napas lega, sebab dilihatnya jarak berduduk mereka cukup jauh.

Gadis tadi mengangkat poci dan menuangkan arak pula bagi Sim Long dengan sopan.

Dengan tersenyum manis Ong-hujin lantas berkata pula.

"Cara Ling-hoa mengundang Sim-kongcu ke sini agak kasar, untuk itu kuminta Sim-kongcu suka memaafkannya."

Ah, aku pun tahu kedatanganku ini pasti akan berjumpa pula dengan wajah bidadari, betapa pun Ong-kongcu pasti tidak berani menggangguku, masakah perlu kuberi maaf segala?Öng-hujin tertawa merdu.

"Tapi cara kerja Ling-hoa sering ceroboh, masakah Sim-kongcu yakin Ling-hoa takkan membunuhmu."

Kuyakin tenagaku masih cukup berguna, bilamana Hujin ingin bekerja besar, mana bisa membunuh orang yang masih berguna?üjar Sim Long.

Maka kedua orang lantas tertawa, jika tertawa Ong-hujin sangat menggiurkan hati setiap lelaki, tertawa Sim Long juga dapat memabukkan setiap anak perempuan.

Melihat tertawa mereka ini, diam-diam si Kucing membatin.

"Kedua orang ini sungguh setanding benar, siapa pun tidak bisa dikalahkan."

Sebaliknya diam-diam Jit-jit lagi geregetan, pikirnya.

"Apa maksud rase tua ini? Mengapa dia tertawa sedemikian terhadap Sim Long, apakah dia juga penujui Sim Long?"

Akhirnya Sim Long berhenti tertawa dan menatap Ong-hujin dengan tajam.

"Jika di antara kita sudah ada saling pengertian, sebenarnya ada keperluan apa tentu sekarang dapat Hujin katakan terus terang."

Ya, memang ada suatu urusan ingin kumohon bantuan Kongcu,"

Kata Ong-hujin.

"Apakah Hujin minta kuhadapi seorang?"

Ah, rupanya Kongcu sudah dapat menyelami pikiranku,üjar Ong-hujin dengan tertawa.

"Memang betul, ingin kuminta bantuan Kongcu untuk menghadapi satu orang, yaitu ...."

Koay-lok-ong?"

Tukas Sim Long dengan tersenyum.

"Siapa lagi selain dia,üjar Ong-hujin.

"Memangnya siapa lagi yang perlu Sim-kongcu turun tangan kecuali dia."

Tapi ... tapi putra Anda pun seorang tokoh ajaib yang sukar dibandingi, apalagi masih ada Hujin yang mengatur segala sesuatu, apa yang dapat kulakukan pasti juga dapat dilaksanakan oleh putra Anda,"

Jawab Sim Long.

"Tidak, biarpun Ling-hoa juga pintar, tapi tidak dapat membandingi sebuah jari Sim-kongcu. Apalagi urusan ini, sama sekali dia tidak sanggup, tidak mungkin bisa."

Memangnya urusan apa?"

Tanya Sim Long.

"Kehebatan Koay-lok-ong tentu sudah diketahui oleh Kongcu."

Ya, tahu sekadarnya."

"Kemampuan orang ini selain selicin rase, juga sekeji serigala dan setangkas singa, menghadap orang semacam ini tidak boleh dilawan dengan akal, juga tidak boleh ditandingi dengan kekerasan."

Jika demikian, lantas cara bagaimana harus kuhadapi dia?"

Tanya Sim Long.

"Betapa pun setiap manusia tentu mempunyai kelemahan,üjar Ong-hujin dengan tertawa.

"Baik atau buruk Koay-lok-ong juga manusia dan tidak terkecuali, maka kalau kita ingin mengatasi dia, terpaksa harus bertindak mencecar titik kelemahannya.¡"

Apa kelemahannya,"

Tanya Sim Long.

"Sebenarnya juga bukan kelemahan jika kita bilang dia sayang kepada orang berbakat, atau dengan perkataan lain, katakanlah dia suka disanjung puji, suka dijilat orang. Setiap orang cerdik pandai bila ingin bekerja baginya pasti takkan ditolaknya."

Haha, pantas, rupanya Koay-lok-ong suka kepada manusia penjilat pantat, makanya begitu banyak pengikutnya,"

Kata Sim Long dengan tertawa.

"Ya, memang banyak anak buahnya, tapi tidak ada tokoh yang menonjol ... serupa Sim-kongcu."

Wah, jangan-jangan Hujin bermaksud menyuruhku menjadi agen rahasia di tempat Koay-lok-ong?"

"Betul, cara demikian mungkin agak bikin susah pada Kongcu, tapi jika kita ingin mencapai maksud tujuan kan harus menggunakan segala cara?"

Ah, kiranya Hujin hendak menyuruhku menjadi agen rahasia di tempat Koay-lok-ong, tapi pekerjaan ini bukankah jauh lebih tepat dilakukan oleh putra Anda sendiri?"

"Pekerjaan ini sekali-kali tidak dapat dilakukan Ling-hoa."

"Oo?!"

Heran juga Sim Long.

"Pekerjaan ini mestinya tidak sukar dilakukan Ling-hoa, meski kecerdasannya tidak dapat membandingi Kongcu, tapi cukup lumayanlah. Cuma dia mempunyai suatu kelemahan besar."

Kelemahan apa?"

Tanya Sim Long.

"Sebab Koay-lok-ong kenal dia.Ücapan ini membikin Sim Long agak melengak.

"Kenal dia? Cara bagaimana bisa mengenalnya?"

Maukah engkau tidak tanya soal ini?"

Sim Long termenung sejenak.

"Tapi kepandaian menyamar Ong-kongcu kan mahatinggi dan tidak ada bandingannya di kolong langit ini ...."

Kepandaian menyamar Ling-hoa memang lumayan, tapi coba jawab, bila sesudah menyamar lalu kalian tinggal bersama setiap hari, apakah Kongcu takkan mengetahui penyamarannya?"

"Ya, betul, jika begitu tentu Koay-lok-ong dapat mengetahui penyamarannya."

Makanya kupikir sukarlah mencari pengganti Ling-hoa untuk melakukan tugas ini kecuali Sim-kongcu sendiri."

"Tapi ada juga anak buah Koay-lok-ong yang mengenal diriku."

"Siapa?"

Tanya Ong-hujin.

"Kim Bu-bong ...."

Dia kan sahabat karibmu, masa akan membongkar rahasiamu?"

"Wah, rupanya Hujin mengetahui segalanya, tapi ...."

Tapi masih ada anak buahnya yang tidak bersahabat denganmu, begitu bukan?"

"Betul, misalnya Han Ling si Duta Arak dan Suto si Duta Kecantikan.Öng-hujin tertawa, katanya.

"Tapi kedua orang ini selamanya takkan melihat Koay-lok-ong lagi."

O, jadi mereka pun serupa diriku, telah terjatuh dalam cengkeraman Hujin?"

"Betul, bedanya Kongcu adalah tamuku terhormat, sebaliknya mereka adalah tawanan dalam penjara."

Sim Long terdiam sejenak, tiba-tiba ia berkata pula dengan tertawa.

"Tapi masih ada sesuatu yang tidak kupahami."

Urusan apa?"

"Hujin kan tahu Koay-lok-ong juga musuhku, andaikan tidak diminta Hujin juga akan kuhadapi dia. Lantas mengapa Hujin bersusah payah menghendaki kutunduk kepada perintahmu untuk menghadapi dia?"

Soalnya cara kalian menghadapi Koay-lok-ong tidak sama dengan caraku."

"Oo?!"

Sim Long jadi ingin tahu.

"Jika tidak kuundang Sim-kongcu ke sini dan mengadakan persekutuan denganmu, bila ada kesempatan tentu Koay-lok-ong akan kau binasakan, betul tidak?"

Dengan sendirinya, masakah Hujin ...."

"Aku justru tidak menghendaki kematiannya,"

Senyum yang semula menghiasi muka nyonya cantik itu mendadak lenyap, lirikan matanya yang menggiurkan seketika juga berubah mendelik. Ia memandang kejauhan sana dan berucap pula sekata demi sekata.

"Aku justru menghendaki dia hidup, supaya dia dapat menyaksikan segala usahanya gagal total satu per satu, kuingin dia hidup dan merasakan pukulan batin satu demi satu."

Brak", mendadak dia menggebrak meja dan menyambung pula dengan suara bengis.

"Aku menghendaki dia hidup tidak mati pun tidak, jika dia mati kan terlalu enak baginya.Ïtulah dendam, dendam kesumat yang menakutkan. Sim Long memandangnya dengan melenggong. Ia tidak mengerti mengapa Ong-hujin ini mempunyai permusuhan sedemikian mendalam dengan Koay-lok-ong? Sesungguhnya permusuhan apakah itu? Entah selang berapa lama, akhirnya Ong-hujin tertawa manis lagi, tertawa cerah serupa bunga mekar di musim semi dan membikin suasana berubah hangat lagi.

"Nah, sekarang tentunya Sim-kongcu mengerti segalanya?"

Katanya kemudian.

"Tentu saja mengerti, hanya orang tolol yang tidak mengerti,"

Sahut Sim Long dengan tertawa.

"Dan bila ada agenku serupa Sim-kongcu di samping Koay-lok-ong, setiap gerak-gerik Koay-lok-ong tentu takkan terlepas dari pengawasanku ...."

Ya, dengan demikian apa pun yang akan dilakukannya dapat Hujin sambut dia dengan sekali kemplang, biarpun dia mempunyai kepandaian setinggi langit juga pasti akan gagal."

"Ya, begitulah,ücap Ong-hujin dengan tertawa.

"Makanya untuk itulah Sim-kongcu mau membantuku, bukan?"

Memangnya boleh kutolak?"

"Mungkin tidak boleh."

Ya, jika tidak boleh, terpaksa kuterima,"

Jawab Sim Long dengan tertawa. Ong-hujin lantas mengangkat cawan arak.

"Terima kasih, marilah kusuguh Kongcu secawan dulu, semoga usaha kita mencapai sukses."

Keduanya lantas menenggak arak, lalu saling pandang dengan tertawa. Sebaliknya hampir meledak perut Him Miau-ji saking mendongkolnya. Diam-diam ia menggerutu, ¡"

Berengsek benar Sim Long ini, masakah terima begitu saja, memangnya takut dicaplok olehnya?¡"

Dengan sendirinya Jit-jit terlebih gemas daripada Him Miau-ji, pikirnya.

"Pantas Ong Ling-hoa bermuka tebal, ternyata ibunya terlebih tidak tahu malu."

Meski Ong-hujin bilang mau menyuguh secawan kepada Sim Long, praktiknya dia telah minum tiga cawan, mukanya menjadi merah dan tambah memesona.

Setelah dipandang dan dipandang lagi, tiba-tiba Miau-ji tidak mendongkol pula.

Terpikir olehnya.

"Apa yang dilakukan Sim Long ini jangan-jangan cuma tipu akal belaka. Bilamana nanti Ong-hujin mengirim dia ke Kwan-gwa, kan sama seperti telah membebaskan dia dan selanjutnya dia dapat berbuat sesukanya."

Berpikir demikian, hampir saja ia tertawa. Ia merasa Ong-hujin ini sesungguhnya tidak begitu pintar sebagaimana disangkanya, sebaliknya sangat bodoh. Terdengar Ong-hujin bicara pula.

"Sebenarnya aku tidak kuat minum arak, tapi hari ini harus kuminum sepuasnya dengan Kongcu sebagai tanda selamat jalan."

Selamat jalan?"

Sim Long menegas.

"Ya, tiga hari kemudian Kongcu kan harus berangkat ke Kwan-gwa untuk melaksanakan tugas berat, sebab itulah di dalam tiga hari ini harus kuladenimu dengan baik."

Lirikan matanya sungguh lebih memabukkan daripada arak, meski Sim Long juga memandangnya, namun seperti tidak paham arti yang terkandung dalam lirikan orang. Ia cuma berkata dengan tersenyum.

"Dan apakah aku akan berangkat begitu saja?"

Dengan sendirinya tidak, sudah kurancang cara bagaimana akan memperkuat perjalanan Kongcu."

"Tapi sama sekali aku tidak tahu jejak Koay-lok-ong ...."

Jangan khawatir,"

Sela Ong-hujin dengan tertawa.

"Dengan sendirinya akan kuatur supaya engkau dapat bertemu dengan Koay-lok-ong. Dengan tokoh muda semacam Kongcu, wajahmu juga asing bagi dunia Kangouw, bila Koay-lok-ong melihat dirimu pasti akan dipandang sebagai benda mestika, dan jangan harap lagi Kongcu akan dapat meninggalkan dia."

Lalu?"

Sim Long berkedip-kedip.

"Lalu jadilah Kongcu sebagai orang kepercayaan Koay-lok-ong."

Ah, juga belum tentu. Jika dia tidak mau memercayaiku, lantas bagaimana?"

"Orang semacam Kongcu masakah tidak tahu cara bagaimana mendapatkan kepercayaannya? Ibaratnya segenggam jarum ditaruh di dalam kantong, mustahil jarum itu tidak akan merobek kantong?"

Aha, kiranya Hujin menghendaki kulamar langsung kepada Koay-lok-ong.

Tapi ada lagi satu hal, masakah Hujin mau melepaskan kepergianku begini saja tanpa menggunakan sesuatu cara untuk menjaga kemungkinan pembelotanku setiba di tempat tujuan?"

"Boleh coba kau terka cara apa yang akan kupakai?üjar Ong-hujin dengan tertawa.

"Dengan racun umpamanya, ada semacam racun yang bekerja secara lambat atau sampai batas waktunya baru mulai bekerja. Bisa jadi racun semacam ini sekarang sudah berada di dalam perutku."

Kongcu adalah tokoh pujaan Bu-lim zaman ini, jika kuperlakukan Kongcu dengan cara rendah begini bukan saja berarti memandang rendah diri Kongcu, bahkan juga merendahkan martabatku sendiri."

"Atau dengan cara lain, mungkin Hujin diam-diam telah menugaskan orang lain untuk mengawasi gerak-gerikku di sana ...."

Mendadak Ong-hujin tertawa nyaring dan memotong ucapan Sim Long.

"Ai, betapa bagusnya akal ini, siapa pula di dunia ini, yang mampu mengawasi tindak tanduk Sim-kongcu kita? Betapa pun bodohku masakah dapat kugunakan cara bodoh begini?"

Atau mungkin Hujin akan minta aku bersumpah berat ...."

"Hahaha,"

Kembali Ong-hujin memotong dengan tertawa.

"kalau di dunia ini ada hal yang tidak boleh dipercaya, maka hal itu adalah sumpah lelaki terhadap orang perempuan. Bila ada anak perempuan bodoh yang mau percaya kepada sumpah lelaki, maka selama hidup anak perempuan itu pasti akan merana."

Wah, tampaknya Hujin sendiri sudah berpengalaman?üjar Sim Long dengan tertawa.

"Memangnya kau lihat sekarang aku sedang merana?"

Sahut Ong-hujin dengan melirik genit.

"Ya, orang yang sering membikin orang lain merana, dia sendiri tentu takkan merana,"

Kata Sim Long. Keduanya lantas saling pandang dan tertawa pula. Mendengar suara tertawa mereka, perut Miau-ji menjadi sakit saking dongkolnya, pikirnya.

"Berengsek Sim Long ini, dalam keadaan begini masih bisa berkelakar dengan dia. Wahai Sim Long, katanya engkau orang pintar, mengapa engkau pun tidak tahu dengan cara bagaimana orang akan mengendalikan dirimu."

Perut Jit-jit sih tidak sakit, tapi hatinya yang sakit, pikirnya.

"Sering membikin orang merana, dia sendiri takkan merana .... Bagus, Sim Long, kiranya beginilah pribadimu, baru sekarang kukenal siapa kau!"

Padahal sesungguhnya orang macam apa Sim Long itu belum lagi diketahuinya. Terdengarlah Ong-hujin berkata pula dengan mengikik tawa.

"Kecuali cara-cara bodoh begitu apakah Kongcu mengira aku tidak mempunyai akal lain?"

Hujin mempunyai beribu macam akal, sungguh tidak dapat kuterka,"

Sahut Sim Long.

"Kecuali dengan cara paksa dan mengawasi tindak tanduk Kongcu, memangnya tidak dapat kubikin Kongcu melakukan tugas ini secara sukarela. Dengan begitu aku pun tidak perlu main paksa dan repot mengawasi gerak-gerikmu lagi?"

Tapi Hujin pun jangan lupa, tidaklah mudah untuk membuatku takluk lahir batin,"

Kata Sim Long dengan tertawa.

Ong-hujin tertawa menggiurkan, dengan tangannya yang putih halus ia membelai rambutnya yang indah, gayanya memesona membuat orang akan menerka berapa usianya, membuat orang melupakan akan umurnya.

"Dengan sendirinya kutahu hal ini tidak mudah, tapi sesuatu yang semakin sulit diperoleh kan semakin berharga, terlebih bagi seorang perempuan."

Ya, betul."

"Dan biasanya barang berharga juga harus ditukar dengan barang berharga,"

Kata lagi Ong-hujin.

"Bahwasanya di dunia Kangouw sekarang ada tiga macam barang yang paling berharga dan sukar diperoleh, apakah kau tahu?"

Wah, rasanya belum pernah kudengar ....ücap Sim Long.

"Barangkali ... kitab pusaka simpanan Siau-lim-si termasuk satu di antaranya."

Biarpun Siau-lim-pay terkenal perguruan terbesar di dunia persilatan, tapi selama ini belum pernah terjadi tokoh Siau-lim-pay diakui sebagai jago nomor satu di dunia, dari sini terbukti bahwa berbagai cerita mengenai ilmu silat Siau-lim-si hanya dongeng belaka, apakah di biara itu benar tersimpan kitab pusaka atau tidak sukarlah diketahui dengan pasti."

"Wah, jika kitab pusaka Siau-lim-si saja tidak terhitung benda berharga, apalagi kitab pusaka perguruan lain?üjar Sim Long tertawa.

"Kitab pusaka pelajaran ilmu silat adalah benda mati, coba jawab, ada berapa orang di dunia yang memperoleh kungfu sejati dari kitab-kitab ini? Hanya kecerdasan, keuletan, pengalaman, ditambah lagi giat berlatih, semua itulah unsur penting untuk menguasai semacam kungfu yang ampuh. Soalnya orang awam kurang pengertian dan sering terkecoh oleh berbagai cerita tentang berbagai kitab pusaka segala. Terlebih kitab silat kaum Hwesio yang katanya tidak ada tandingannya, semua itu cuma omong kosong belaka."

Wah, Hujin berani bicara apa yang tidak berani dibicarakan orang lain, sungguh pikiranku jadi terbuka.

Bilamana kaum kesatria sama paham akan dalil ini, tentu takkan terjadi korban sia-sia dalam pertemuan di Wi-san dahulu dan dunia persilatan sekarang juga takkan hampa begini.

Nyata jalan pikiran Hujin memang lain daripada yang lain."

"Selama hidupku tidak suka disanjung puji orang, tapi ucapan Kongcu ini sungguh membikin hatiku sangat gembira. Sekarang coba kau terka lagi barang berharga lain."

Sim Long berpikir sejenak, katanya kemudian.

"Aha, betul Hun-bong-siancu terkenal memegang sepotong Hun-bong-leng (tanda perintah), barang siapa melihat Hun-bong-leng semuanya akan tunduk kepada perintahnya. Tentunya benda ini termasuk salah satu paling berharga."

Ah, rupanya Kongcu sengaja menyanjung diriku lagi,üjar Ong-hujin dengan tertawa.

"Umpama betul aku ini Hun-bong-siancu masa lampau, rasanya juga takkan gembira setelah mendengar ucapanmu ini. Hun-bong-leng itu paling-paling juga cuma barang untuk menakut-nakuti orang saja, terhitung benda pusaka apa?"

Wah, lantas apa lagi? .... Ah, barangkali pedang inti baja milik Thi-kiam-siansing, pedang itu tentunya benda mestika?"

"Pedang juga benda mati, biarpun senjata paling tajam di dunia, bila berada di tangan orang awam, tetap akan menjadi besi karatan yang tak berguna,ïa tuding si gadis cantik yang melayani Sim Long tadi dan menambahkan.

"Boleh coba kau tanya Ci-hiang, pedang pusaka yang dipegangnya itu apakah mampu mengalahkanmu?"

Betul juga,üjar Sim Long.

"Tapi ketiga benda mestika yang kumaksudkan itu biarpun jatuh di tangan orang awam tetap berguna juga, sebab itulah baru dapat dianggap sebagai benda mestika benar-benar."

Benda mestika yang Hujin maksudkan jangan-jangan benda hidup?"

Tanya Sim Long tiba-tiba. Bola mata Ong-hujin mengerling, sahutnya dengan tertawa.

"Yang satu barang mati, yang dua benda hidup."

Wah, rasanya kuperlu minum arak lagi untuk mencari ilham,"

Kata Sim Long tertawa.

Cepat si gadis bernama Ci-hiang tadi menuangkan arak lagi dan Ong-hujin pun menyilakan orang minum dengan tertawa manis.

Sehabis minum secawan, segera Sim Long berkeplok dan berseru.

"Aha, betul. Keluarga Ko turun menurun mewariskan harta kekayaan beribu juta tahil perak dan emas, kekayaannya melebihi kas negara, apakah ini termasuk satu di antara yang Hujin maksudkan?"

Akhirnya tertebak juga satu di antaranya oleh Kongcu,"

Jawab Ong-hujin dengan tertawa.

"Kekayaan keluarga Ko memang sukar dihitung dan menjadi idam-idaman setiap orang Kangouw. Lalu kedua benda hidup lainnya?"

Benda hidup ... hidup .... Ah, jangan-jangan kuda mestika Tiang-pek-san-ong dan anjing ajaib milik Opas Sakti Ku Lam?"

"Bukan, semuanya bukan."

Atau harimau dari Pek-siu-san-ceng, atau elang sakti milik keluarga Tik ...."

"Bukan, seluruhnya bukan."

Wah, segala macam binatang ajaib dan hewan aneh telah kusebut dan tetap bukan yang dimaksudkan Hujin, aku jadi tidak tahu lagi apa yang harus kukatakan."

"Memangnya di dunia ini cuma binatang atau hewan saja terhitung makhluk hidup?"

"Memangnya ada ... ada lagi?"

"Manusia, masakah manusia bukan makhluk hidup?üjar Ong-hujin sambil mengikik. Sim Long melengak, segera ia pun tertawa.

"Ah, betul, memang manusia juga makhluk hidup."

Nah, sekarang tentunya dapat kau tebak."

"Tidak, malahan aku tambah bingung, di dunia ini tidak sedikit orang kosen dan manusia ajaib ...."

Baiklah, biar kukatakan padamu, kecuali harta kekayaan keluarga Ko, benda mestika yang kedua itu adalah tangan mendiang Sim Thian-kun."

"Hah, tangan ... tangan Sim Thian-kun?"

Betul, tangan Sim Thian-kun mahasakti, dalam sekejap ia sanggup menghabiskan berlaksa tahil emas, tapi pada saat lain ia pun mampu mengumpulkan jumlah yang lebih banyak ....

Tangan Sim Thian-kun dapat menentukan mati-hidup seorang, dapat meruntuhkan rumah dan menggugurkan gunung, dapat menghancurkan segala tapi juga mampu membuat macam-macam hal yang sukar dibayangkan, asalkan tangan Sim Thian-kun bergerak, segala urusan di dunia Kangouw bisa segera berubah."

Sampai terkesima Sim Long mendengarkan, gumamnya.

"Tangan Sim Thian-kun ... sungguh tangan yang hebat.Ïa angkat cawan dan menenggak arak.

"Dan yang ketiga itu jauh lebih berharga,"

Kata Ong-hujin, ia pun angkat cawan dan menenggak habis isinya sambil melirik Sim Long dengan kerlingan yang menggiurkan, tanyanya dengan tersenyum genit.

"Masakah sekarang belum lagi dapat kau terka?"

Sim Long juga menatapnya, tiba-tiba ia tertawa dan berkata.

"Ah, jangan-jangan ialah Hujin sendiri.Öng-hujin tertawa nyaring.

"Kembali tepat tebakanmu."

Lirikan Ci-hiang sudah cukup menggiurkan dan memikat, bisa membikin sukma orang melayang ke awang-awang, tapi kalau dibandingkan kerlingan Ong-hujin, mata Ci-hiang akan lebih mirip mata ikan mati yang buram.

Kerlingan mata Ci-hiang sudah cukup membuat Jit-jit ingin geregetan saja tidak bisa.

Meski Jit-jit juga orang perempuan, tapi demi melihat kerlingan mata orang, entah mengapa, perasaan sendiri juga terombang-ambing dan hampir tidak sanggup berdiri.

Dengan kerlingan mata begitulah Ong-hujin memandang Sim Long, katanya pula.

"Kongcu tahu, berapa banyak lelaki di dunia Kangouw ini telah mati hanya karena ingin bermesraan denganku. Tapi biarpun mati mereka pun mati secara sukarela."

Dia bicara dengan sangat lambat, sangat memikat, dengan senyum yang memabukkan, katanya pula.

"Sebabnya adalah karena aku bukan wanita biasa, betapa tinggi kungfuku dalam hal ilmu silat boleh dikatakan sudah mencapai puncaknya, tapi kungfuku dalam hal lain bahkan sepuluh kali lebih hebat daripada ilmu silatku."

Sim Long tampak melenggong. Maka Ong-hujin menyambung pula.

"Asal aku mau, dapat kubikin setiap lelaki tergila-gila dan dapat kubuat dia menikmati kesenangan yang tak terpikir olehnya biarpun dalam mimpi."

Muka Ci-hiang tampak merah dan menunduk sambil tertawa cekikikan.

"Kau tertawa apa?"

Tanya Ong-hujin.

"Ini pun semacam seni, kesenian yang paling tinggi. Asalnya aku hidup sebatang kara, tapi lantaran inilah dapat kuyakinkan kungfuku yang sempurna dan tercapai seperti apa yang sekarang ini. Siapa pun, asalkan sudah menyentuh tubuhku, selama hidupnya pasti takkan terlupakan."

Sim Long menarik napas panjang, seperti mau bicara, tapi urung. Tampaknya dia tidak sanggup bicara lagi.

"Entah sudah berapa banyak orang lelaki, berapa banyak tokoh ternama yang ingin naik surga lagi bersamaku, mereka tak sayang mempersembahkan segalanya kepadaku, rela berlutut dan merangkak di depanku dan memohon, tapi sekarang ....Öng-hujin tersenyum dan meneruskan.

"Sekarang akan kugunakan tubuhku yang paling berharga ini untuk menukar hatiku. Kupikir ini adalah bisnis yang paling adil."

Sim Long terkesima dan tidak dapat bergerak lagi.

Sudah banyak perempuan jalang dan janda gasang yang pernah dilihatnya, tapi tiada seorang pun serupa Ong-hujin ini.

Meski pada mulutnya bicara hal-hal yang cabul, tapi sikapnya masih tetap suci bersih, meski yang dikemukakannya adalah bisnis yang paling janggal, namun caranya bicara serupa orang yang lagi berunding jual-beli biasa.

Dia adalah perawan sucinya perempuan jalang, juga perempuan jalangnya perawan suci.

"He, kenapa engkau diam saja, apakah engkau tidak percaya?"

Tanya Ong-hujin.

Habis bicara demikian, mendadak tangannya mulai bekerja, sepotong demi sepotong ia menanggalkan bajunya.

Meski sedang menanggalkan pakaian, gayanya tetap indah dan cantik.

Di dunia ini memang tidak banyak orang perempuan yang mampu mempertahankan gayanya yang tetap indah pada waktu menanggalkan pakaian, jarang pula yang tahu bahwa gaya pada waktu membuka pakaianlah paling menarik hati lelaki.

Maka tubuh Ong-hujin pun seluruhnya terpampang di depan mata Sim Long, terpampang dalam keadaan telanjang bulat.

Pundaknya yang halus licin, buah dadanya yang padat dan menegak, pinggangnya yang ramping, kakinya yang panjang dengan garis yang serasi, terutama betisnya yang indah ....

Semua itu pada hakikatnya bukan lagi tubuh manusia, itulah perpaduan antara bidadari dan perempuan jalang.

Meski tubuhnya dalam keadaan bugil, namun sikapnya tiada ubahnya dalam keadaan berpakaian mentereng.

Di dunia ini memang jarang ada perempuan yang tetap dapat mempertahankan gayanya yang indah dalam keadaan bugil.

"Aku ... aku ... kau ...."

Sim Long jadi gelagapan. Ong-hujin tersenyum manis.

"Bukan cuma kuserahkan tubuhku kepadamu, bahkan kuserahkan untuk selamanya, dan aku pun minta kau serahkan hatimu kepadaku untuk selamanya. Kujamin selanjutnya engkau pasti akan menikmati segala macam kebahagiaan yang tidak mungkin bisa dinikmati oleh setiap lelaki di dunia ini.Ïa merandek sejenak, lalu menyambung pula sekata demi sekata.

"Kujadi istrimu!"

Sampai di sini semua orang yang mengintip di ruang sebelah sama melenggong. Diam-diam Him Miau-ji menjerit di dalam hati.

"Jangan, tidak, tidak boleh jadi!"

Tubuh Cu Jit-jit juga bergetar keras dan hampir jatuh kelengar.

Bahwa mama Ong Ling-hoa ingin menjadi istri Sim Long, sungguh mimpi pun tak pernah terpikir oleh siapa pun.

Bukan cuma Him Miau-ji dan Cu Jit-jit, air muka Ong Ling-hoa juga sama berubah.

"Bagaimana Sim-kongcu, kau setuju?"

Terdengar Ong-hujin lagi bertanya pula.

Semua orang sama terbelalak dan ingin tahu bagaimana jawaban Sim Long.

Anak muda itu sedang menatap Ong-hujin, kembali ujung mulutnya menampilkan senyuman yang khas, senyuman yang juga mengandung ejekan, tanyanya.

"Benar kau ingin menjadi istriku?"

Dengan sendirinya benar, kau ...."

"Baik!"

Tukas Sim Long. Jawaban "

Baikïni serupa bunyi guntur di siang bolong yang membikin Him Miau-ji, Cu Jit-jit dan Ong Ling-hoa sama melongo. Tampaknya Ong-hujin juga tercengang oleh jawaban orang, ia menegas.

"Engkau benar-benar mau?"

"Sudah tentu benar,"

Jawab Sim Long.

"Urusan kawin yang mahapenting mana boleh dibuat mainan?Öng-hujin lantas menatap lekat-lekat kepada Sim Long, tersembul pula senyumnya yang menggiurkan.

"Aku ingin tanya sesuatu lagi padamu."

Sekarang engkau boleh berbuat apa pun padaku, apalagi cuma tanya sesuatu,"

Kata Sim Long dengan tertawa.

"Meski kutahu engkau akan setuju, tapi tidak kusangka engkau akan menjawab secepat itu, sebenarnya apa ... apa sebabnya? Dapatkah kau katakan padaku?"

Sim Long mengangkat sumpit, dicapitnya sepotong udang dan berkata.

"Karena aku ingin Ong Ling-hoa menjadi anakku, maka kuterima tawaranmu. Apalagi ....ïa pandang Ong-hujin dengan tertawa, sebaliknya sumpit yang mencapit udang mendadak menjentik ke sana. Kontan sepotong udang masak saus manis itu melayang ke lubang kecil tempat Ong Ling-hoa mengintip terus menerobos lubang itu. Ong Ling-hoa memang lagi melenggong, juga tidak mengira akan tindakan Sim Long ini, meski dia sempat menarik kepala, tidak urung mukanya tertimpuk oleh udang saus yang menerobos tiba itu.

"Ong Ling-hoa,"

Terdengar Sim Long berseru di ruang sebelah.

"tentu sudah cukup kau tonton apa yang terjadi ini, sekarang aku sudah menjadi ayahmu, masakah engkau masih sembunyi di situ?"

Ai, memang sudah kuduga pasti tidak dapat mengelabuimu,üjar Ong-hujin dengan tertawa.

"Pada hakikatnya engkau memang sengaja membuatku tahu mereka sedang mengintip, karena itu caraku bicara dengan sendirinya menjadi lebih prihatin, apa yang kusanggupi padamu juga takkan berubah."

Mungkin engkau tidak tahu, justru sengaja kubikin kau bicara seperti ini di depan nona Cu itu, dengan begitu seterusnya ia pun akan putus cintanya padamu,"

Dengan tersenyum Ong-hujin memakai lagi bajunya, lalu menambahkan.

"Cuma keenakan mata si Kucing itu."

Jika engkau mau membalik tubuh ke sana, tentu dia akan tambah senang,üjar Sim Long tertawa.

"Ah, toh sudah kupandang dia sebagai anakku, apa alangannya dia melihat punggung ibunya, apalagi aku cuma berduduk di sini."

Dan sekarang bolehkah mereka disuruh keluar?"

Tanya Sim Long.¡"

"Apa yang kau minta, siapa yang berani menolak?üjar Ong-hujin dengan suara lembut. Ketika kakinya menginjak perlahan di samping kursinya, seketika dinding belakang terbuka bagian tengah dan menyurut ke kanan-kiri tanpa mengeluarkan suara sedikit pun. Maka dapatlah Sim Long melihat Him Miau-ji dan Cu Jit-jit. Wajah Miau-ji yang penuh rasa gusar dan wajah Cu Jit-jit yang penuh air mata. Dengan sendirinya ada lagi Ong Ling-hoa. Dia lagi sibuk membersihkan mukanya dengan sapu tangan. Dengan langkah limbung Jit-jit mendekati Sim Long, meski mulutnya tidak dapat bicara, tapi sorot matanya yang menunjukkan rasa duka dan benci itu jauh melebihi perkataan apa pun. Him Miau-ji juga melangkah maju dengan langkah sempoyongan, dia menyeringai, kalau bisa Sim Long hendak dicaploknya. Perlahan tangan Ong-hujin bergerak sambil berkata.

"Silakan duduk kalian!"

Seketika pinggang Jit-jit dan Miau-ji seperti kesemutan, tanpa kuasa terus berduduk dan tidak sanggup berbangkit lagi, hanya tetap melototi Sim Long.

"Bagaimana kalau saudara Ling-hoa juga disilakan duduk?"

Kata Sim Long dengan tertawa.

"Wah, masa ... masa masih kau panggil dia saudara?üjar Ong-hujin.

"Harus kupanggil apa padanya?"

Bola mata Ong-hujin berputar, katanya kemudian sambil tertawa.

"Anak Hoa, coba kemarilah memberi hormat kepada paman."

Sim Long bergumam dengan tertawa.

"Paman .... Haha, sementara menjadi paman juga boleh ...."

Muka Ong Ling-hoa tampak masam, kalau ada lubang sungguh dia ingin menerobos masuk ke situ.

Jika Miau-ji tidak mendongkol, bisa jadi dia sudah bergelak tertawa.

Melihat sikap Ong Ling-hoa yang kikuk itu, Sim Long sengaja berkata dengan tertawa.

"Saat ini Hiantit (keponakan) pasti menyesal mengapa dulu tidak membunuhku saja, bukan?"

Aku ... aku ...."

Muka Ong Ling-hoa tampak merah padam.

"Ah, untuk apa kau pikirkan perbuatan anak kecil, ampuni dia saja,"

Kata Ong-hujin dengan tertawa. Mendadak Ong Ling-hoa juga tertawa dan berkata.

"Paman Sim, apakah engkau sengaja hendak membikin marah padaku agar menyabot perkawinan kalian ini? .... Haha, engkau salah, paman Sim, bahwa sekarang kupanggil paman padamu sesungguhnya timbul dari sukarelaku, umpama kelak kupanggil ayah padamu juga tetap riang gembira .... Bahwasanya ibu dapat bersuamikan tokoh muda berbakat semacam paman Sim, sungguh aku pun ikut bahagia."

Hihi, anak baik, sungguh anak baik,"

Kata Ong-hujin dengan tertawa senang.

"Memang anak baik,"

Sim Long juga tertawa.

Diam-diam ia membatin ada ibu dan anak demikian, pantaslah kalau dunia Kangouw teraduk hingga kacau-balau.

Ketika Ong-hujin memberi isyarat, segera ada orang menggusur pergi Cu Jit-jit dan Him Miau-ji sehingga di dalam kamar cuma tertinggal Sim Long.

Ong-hujin dan Ong Ling-hoa bertiga.

Sim Long cuma diam saja menyaksikan kedua orang itu digusur pergi, sama sekali ia tidak memperlihatkan sesuatu reaksi.

Dengan tertawa merdu Ong-hujin menuangkan arak bagi Sim Long, lalu berkata pula.

"Sekarang mereka sudah pergi semua. Apakah kau tahu sebab apa kuenyahkan mereka?"

Mungkin engkau ingin berunding urusan penting denganku?"

Jawab Sim Long dengan tertawa. Ong-hujin mengerling genit.

"Apakah kau tahu urusan apa yang paling penting sekarang?"

"Tidak tahu,"

Sim Long menggeleng.

"Ah, jangan berlagak bodoh."

Sim Long berkedip-kedip, ucapnya kemudian.

"Masa ... masa urusanmu dengan diriku ...."

Eh, memang Siautit juga ingin lekas memanggilmu sebagai ayah, makin cepat makin baik,"

Sela Ong Ling-hoa sebelum ibunya bicara. Dia dapat bicara demikian, bahkan air muka tidak berubah sedikit pun, entah betapa tebal kulit mukanya. Tapi Sim Long juga menyambutnya dengan tertawa.

"Betul juga, makin cepat makin baik. Menurut pikiranmu, dimulai kapan?"

Daripada pilih hari lebih baik mumpung saja, bagaimana kalau malam ini?"

Jawab Ling-hoa.

"Malam ini? .... Wah, masa begitu cepat?"

Kata Sim Long dengan tertawa.

"Jika malam ini terlalu cepat, boleh besok saja,"

Kata Ling-hoa.

"Aku dan ibumu sendiri tidak tergesa, mengapa engkau jadi terburu-buru malah?üjar Sim Long. Semula Ong-hujin menunduk kikuk dan berlagak tidak mendengar, sekarang ia tidak tahan dan ikut bicara dengan lembut.

"Tapi tiga hari kemudian engkau harus berangkat, biarpun tidak tergesa-gesa juga urusan kita ini perlu diselesaikan di dalam tiga hari ini."

Kukira di dalam tiga hari ini juga tidak bisa,"

Kata Sim Long. Air muka Ong-hujin rada berubah, tapi tetap bicara dengan tertawa.

"Habis mesti menunggu sampai kapan?"

Menunggu sampai suamimu mati,"

Jawab Sim Long sekata demi sekata dengan tersenyum. Sekali ini air muka Ong-hujin baru berubah benar-benar.

"Suamiku?ïa menegas.

"Ya suamimu ....ücap Sim Long dengan tertawa.

"Meski aku belum pernah menjadi "gundik"

Tapi dapat kubayangkan rasanya pasti tidak enak, maka aku pun tidak ingin dijadikan "gundik lelaki"

Orang."

Mendadak Ong-hujin tertawa malah, tertawa terkial-kial sehingga mirip tangkai bunga kehujanan. Tertawa terkadang adalah cara yang paling baik untuk menutupi perasaan yang tidak tenteram.

"Gundik lelaki? Ai, bisa juga engkau menciptakan istilah,"

Katanya dengan terkikik.

"Sebenarnya, kalau seorang lelaki boleh punya dua istri, seorang perempuan kan juga boleh punya dua suami, itu baru adil. Cuma sayang ... dari mana datangnya suamiku?"

Masakah engkau tidak mempunyai suami?"

"Tidak punya."

Sim Long melirik Ong Ling-hoa sekejap, lalu berucap pula.

"Lantas dia ...."

Sekalipun punya suami juga sudah lama mati, sudah terlalu lama sehingga kulupakan dia.Ïa tersenyum genit, lalu menyambung.

"Ai, orang pintar seperti dirimu seharusnya tahu bahwa janda bukan saja jauh lebih lembut daripada gadis, juga jauh lebih pandai meladeni, jauh lebih berpengalaman, jauh lebih menyenangkan. Sebab itulah lelaki yang cerdik lebih suka memperistrikan janda daripada perawan, masakah engkau tidak suka?"

Tentu saja aku suka, cuma sayang ... engkau belum lagi janda."

"Maksudmu suamiku belum mati? .... Ai, tak tersangka terhadap urusan suamiku engkau terlebih jelas daripada diriku. Memangnya pernah kau lihat dia?"

Meski belum pernah kulihat Locianpwe ini, tapi kutahu dia."

"O, memangnya siapa dia? Coba katakan!"

Dia dahulu bernama Ca Giok-koan, namanya sekarang Koay-lok-ong!Ücapan Sim Long membuat Ong-hujin dan Ong Ling-hoa merasa seperti kepala dikemplang sekali, untuk sekian lamanya suasana di dalam ruangan sunyi senyap.

Kemudian Ong-hujin tertawa nyaring lagi, katanya.

"Jadi kau bilang Ca Giok-koan adalah suamiku? Ai, sungguh sangat menggelikan. Coba katakan lagi, dari mana timbulnya kesimpulanmu ini?"

Perlahan Sim Long berkata.

"Seorang kalau ingin pura-pura mati dengan sendirinya dia perlu mencari seorang pengganti. Untuk itu harus dirusak wajahnya sehingga tidak dikenal orang lagi."

Ya, jika aku ingin pura-pura mati tentu juga memakai cara ini,"

Kata Ong-hujin.

"Yang dilakukan Ca Giok-koan juga cara ini. Dia juga menggunakan seorang pengganti, bukan cuma wajah orang itu dirusaknya sama sekali, bahkan tubuh orang itu pun dirusak."

Tapi ... tapi apa sangkut pautnya denganku?"

Tanya Ong-hujin.

"Mestinya memang tidak ada sangkut pautnya, namun pada waktu dia merusak penggantinya itu yang digunakannya adalah Thian-hun-ngo-bian. Padahal sampai saat ini kebanyakan orang Kangouw menganggap Ca Giok-koan sudah lama mati, bahkan juga mati oleh Thian-hun-ngo-bian. Nah, masakah semua ini tidak ada sangkut pautnya denganmu?"

Sangkut paut apa?"

Tanya Ong-hujin sambil berkedip-kedip.

"Thian-hun-ngo-bian adalah senjata rahasia khas andalan Hun-bong-siancu, dan kau, tak-lain-tak-bukan ialah Hun-bong-siancu yang namanya termasyhur di seluruh jagat itu,"

Sama sekali Sim Long tidak memberi kesempatan bagi Ong-hujin untuk menyangkal, segera ia menyambung pula.

"Dan di kolong langit ini, kecuali dirimu tiada orang lain yang paham cara menggunakan Thian-hun-ngo-bian dan cara membuatnya, malahan melihatnya juga tidak pernah."

Oo ....Öng-hujin bersuara heran.

"Sebab orang yang pernah melihat Thian-hun-ngo-bian, kecuali dirimu dan Ca Giok-koan, yang lain sudah mati seluruhnya."

Apakah kau ingin melihat senjata rahasia khas itu?"

Tanya Ong-hujin.

"Jika ingin, segera dapat kuperlihatkan padamu."

Dia lantas mengakui dirinya sebagai pemilik Thian-hun-ngo-bian, yaitu Hun-bong-siancu. Ia maklum, di depan Sim Long tiada gunanya menyangkal. Maka tertawalah Sim Long, jawabnya.

"Mana kusanggup terima."

Baik, anggap ucapanmu memang benar, aku ini pemilik Thian-hun-ngo-bian, aku ini Hun-bong-siancu, tapi Hun-bong-siancu bukanlah istri Ca Giok-koan, hal ini juga sama diketahui oleh orang Kangouw."

"Dengan sendirinya ini pun suatu rahasia,"

Kata Sim Long.

"Jika Ca Giok-koan telah mendapatkan nama pujian sebagai Ban-keh-seng-hud (Buddha hidup khalayak ramai), dengan sendirinya ia tak mau mengaku telah memperistrikan Hun-bong-siancu, yang terkenal sebagai iblis perempuan nomor satu di dunia Kangouw. Sebagai seorang anak perempuan, sudah jelas engkau telah menikah dengan dia, tapi masih harus main sembunyi-sembunyi dan tidak dapat tampil di muka umum, hal ini dengan sendirinya membuat penasaran padamu, juga sesuatu yang tidak bisa ditahan oleh setiap anak perempuan."

Wah, pantas kebanyakan anak perempuan suka padamu, rupanya engkau memang sangat pintar menyelami perasaan anak perempuan ...."

Kata Ong-hujin dengan tertawa. ¡Tapi jika benar aku tidak suka diperlakukan begitu, masa aku mau menikah dengan dia?"

"Meski tidak mau juga tak berdaya,"

Kata Sim Long.

"Sebab waktu itu engkau benar-benar menurut dan tunduk kepada segala kemauan Ca Giok-koan."

Apakah kau lihat aku ini seorang penurut?"

"Betapa kerasnya hati seorang anak perempuan pada suatu ketika juga akan menurut kepada seorang lelaki. Biarpun dia memandang sebelah mata terhadap lelaki lain, tapi dia akan tunduk lahir batin kepada seorang itu."

Hah, tampaknya kau anggap setiap anak perempuan di dunia serupa Cu Jit-jit saja."

"Kau tahu, bila ingin Ca Giok-koan mengakui dirimu sebagai istrinya secara resmi, untuk itu harus membuat dia menjadi jago nomor satu di dunia. Tatkala mana tiada seorang pun berani membangkang lagi kepada perintahnya dan segala urusan pun tidak menjadi soal."

Kemudian?"

"Kalian suami-istri lantas mengatur rencana rahasia, lebih dulu segenap tokoh persilatan dipancing ke Wi-san dan dijaring sekaligus, habis itu Ca Giok-koan berusaha menipu dan mendapatkan segenap kitab pusaka kungfu perguruan tokoh-tokoh itu."

"Hal, bagus sekali jalan pikiranmu,üjar Ong-hujin.

"Tapi untuk menguasai berbagai kungfu khas itu jelas sukar tercapai dalam waktu singkat, maka terpaksa Ca Giok-koan pura-pura mati lalu kalian berdua mencari suatu tempat rahasia untuk berlatih selama sepuluh tahun, semua inti ilmu silat dari berbagai perguruan itu terhimpun menjadi satu pada diri kalian, dengan begitu siapa pula di dunia ini yang mampu menandingi kalian?"

Jika begitu, mengapa sekarang ingin kubunuh dia?"

Tanya Ong-hujin. Sim Long menghela napas, tuturnya pula.

"Soalnya Ca Giok-koan itu sungguh manusia berhati binatang. Dia tidak ingin ada orang lain membagi hasil dengan dia, maka sesudah kejadian di Wi-san, engkau juga akan dibunuhnya, sebab pada waktu itu kungfumu sendiri sudah di atasnya, jika giat berlatih sepuluh tahun lagi, yang akan menjadi jago nomor satu di dunia bukan dia melainkan kau."

Oo?!Öng-hujin bersuara tak acuh.

"Untunglah pada waktu itu ilmu silatnya bukan tandinganmu, maka meski engkau tesergap hingga terluka parah tetap tak dapat membinasakanmu. Selama belasan tahun ini nama Hun-bong-siancu telah lenyap dari dunia Kangouw juga lantaran inilah sebabnya."

Senyuman Ong-hujin tidak tertampak lagi pada wajahnya, ia diam sejenak, lalu bertanya.

"Kemudian?"

Karena gagal membunuhmu, terpaksa dia kabur dan bersembunyi selama belasan tahun lamanya, selama ini dengan sendirinya engkau sangat benci padanya, benci siang dan malam ....

Sebab itulah setelah Koay-lok-ong muncul, orang pertama yang berpikir kemungkinan Koay-lok-ong ialah Ca Giok-koan dengan sendirinya juga dirimu.

Dendam kesumat yang terpendam selama ini jika dia cuma kau bunuh begitu saja tentu tak terlampiaskan rasa bencimu, sebab itulah hendak kau siksa dia secara perlahan, supaya dia mati menderita dengan perlahan.Öng-hujin tidak bicara, namun kedua tangannya yang terletak di atas lutut kelihatan bergemetar.

Mulutnya tidak bicara, tapi tangannya sudah bicara.

Sim Long menyambung pula sambil memandang jari tangan orang yang gemetar itu.

"Namun Koay-lok-ong sekarang, tidak dapat dibandingkan lagi Ca Giok-koan dahulu, untuk membunuhnya saja tidak gampang, apalagi hendak kau bikin dia mati perlahan, maka sejak munculnya Koay-lok-ong diam-diam engkau lantas mengatur segala apa yang perlu, tidak cuma tenaga manusia, engkau juga memerlukan biaya yang besar, karena itulah makam kuno itu ...."

Sudah cukup, tidak perlu omong lagi,"

Bentak Ong-hujin mendadak.

"Masih ada satu hal ...."

Pandangan Sim Long beralih ke arah Ong Ling-hoa dan sambungnya pula.

"Urusan ini semula aku pun tidak berani memastikannya, baru ketika engkau tidak mau mengirimkan dia dengan alasan Koay-lok-ong kenal dia, aku jadi sangsi. Padahal sudah belasan tahun Koay-lok-ong mengasingkan diri, masa dia kenal anak muda yang baru berumur likuran, kecuali anak muda ini ialah anaknya.Öng Ling-hoa melotot, matanya merah membara. Sim Long tersenyum.

"Kecuali ayah semacam Koay-lok-ong, siapa pula yang dapat melahirkan anak seperti ini. Ayahnya gembong iblis, anak juga selisih tidak jauh, antara ayah dan anak ...."

Siapa anaknya?"

Mendadak Ong Ling-hoa berteriak.

"Engkau tidak suka mengaku ayah padanya?"

"Aku tidak punya ayah semacam itu,"

Jengek Ong Ling-hoa.

"Haha, bagus, bagus sekali,"

Sim Long bergelak tertawa.

"Ayah tidak mengakui anaknya, anak juga tidak mau mengakui ayahnya, hanya ayah yang berhati kejam baru mempunyai anak yang berhati dingin begini.Öng-hujin menatapnya hingga lama, mendadak ia tertawa nyaring.

"Bagus, rupanya semuanya telah kau ketahui. Urusan ini mestinya juga akan kuberi tahukan padamu."

Oo? ...."

Sim Long tertawa.

"Engkau tidak percaya?Öng-hujin menegas.

"Masa aku tidak percaya?"

Bagus, jika begitu, jadi kau mau pergi bukan?"

"Tentu saja mau, jika tidak kubantu menumpas dia, mana bisa kukawinimu, ke mana lagi akan kucari perempuan semacam dirimu ini?Öng-hujin menatapnya tajam, entah senang entah gusar, akhirnya ia menghela napas dan berucap hampa.

"Ai, bicara kian kemari, tampaknya maksudmu baru akan menikah denganku setelah urusan sudah selesai, begitu bukan?"

Tampaknya harus begitu,"

Kata Sim Long.

"Jika demikian, cara bagaimana pula dapat kupercayaimu?"

Engkau jangan lupa, aku pun seorang lelaki ....

Di dunia ini mana ada lelaki yang tidak tergiur olehmu?

Jika aku sudah terpikat, engkau tidak perlu khawatir lagi.Öng-hujin menatapnya lagi, sorot matanya terkadang sayu, terkadang tajam menusuk seakan-akan menembus hati Sim Long.

Akhirnya dia tertawa manis dan berucap.

"Baik, akan kutunggu kepulanganmu."

Aku pasti akan pulang secepatnya, kau kira aku tidak ... tidak gelisah?üjar Sim Long dengan tertawa.

"Kupercaya engkau akan pulang selekasnya, di sini bukan cuma aku saja yang menunggumu, juga ada sahabatmu, pada hari kepulanganmu nanti kami pasti akan mengadakan pesta bagimu."

Bola mata Sim Long berputar.

"Apakah sahabatku ... juga harus menunggu di sini?"

"Ya, engkau jangan khawatir, pasti akan kuladeni mereka dengan baik,"

Kata Ong-hujin.

"Dan jika engkau tidak pulang, mereka terpaksa ikut mati,"

Jengek Ong Ling-hoa.

"Haha, bagus!"

Seru Sim Long mendadak.

"Coba katakan, di mana Koay-lok-ong berada, cara bagaimana dapat kutemui dia?"

Untuk apa terburu-buru, nanti, tiga hari lagi,"

Kata Ong-hujin.

"Jika sudah ada keputusan begini, kenapa mesti menunggu lagi tiga hari?"

Masa kau mau pergi begini saja?"

"Kan lebih cepat pergi juga lebih cepat pulang?üjar Sim Long tersenyum. Ong-hujin berpikir sejenak, katanya kemudian dengan tertawa.

"Baik, besok engkau boleh berangkat. Nah, Ling-hoa, lekas kau siapkan perbekalan seperlunya bagi paman Sim."

Jangan khawatir, cukup satu jam bagiku sudah dapat kusiapkan perbekalan paman Sim yang lebih mentereng daripada pangeran,"

Kata Ling-hoa dengan tertawa, serentak ia berbangkit dan tinggal pergi.

"Perbekalan yang tidak kalah daripada pangeran?"

Gumam Sim Long.

"Yang akan kau temui ialah Koay-lok-ong, dengan sendirinya engkau tidak boleh kelihatan rudin, terhadap orang miskin biasanya dia tidak sudi menggubris."

Tapi dalam perjalanan jauh ke luar perbatasan yang penuh gurun pasir, perbekalan yang terlalu banyak apakah tidak akan menjadi beban malah?"

"Mungkin engkau tidak perlu ke luar perbatasan,"

Kata Ong-hujin.

"Oo ... memangnya dia tidak berada di luar perbatasan sana?Öng-hujin termenung sejenak.

"Apakah kau tahu di luar kota Lanciu ada sebuah Hin-liong-san?"

Ya, pernah kudengar."

"Pegunungan di sekitar Lanciu umumnya tandus, tidak ada tetumbuhan apa pun serupa sebuah bakpao belaka. Hanya Hin-liong-san ini saja rimbun dengan pepohonan dan dikelilingi sungai, boleh dikatakan sebuah gunung ternama di daerah barat-laut sana."

Apa sangkut pautnya antara Hin-liong-san dengan Koay-lok-ong?"

"Apakah kau tahu di puncak Hin-liong-san ada sumber air yang bernama Sam-goan-coan?"

Mana aku bisa tahu?"

"Baik, akan kuberi tahukan padamu supaya kau tambah pengalaman. Air sumber Sam-goan-coan ini merembes keluar dari celah-celah batu padas, yang satu kanan yang lain kiri."

"Jika cuma dua lubang sumber air, kan seharusnya bernama Ji-goan (dua unsur), mengapa disebut Sam-goan (tiga unsur)?"

Tanya Sim Long.

"Ai, ceritaku kan belum habis, dengarkan dulu,ömel Ong-hujin dengan lirikan genit.

"Mula-mula kedua sumber air ini mengalir masuk ke sebuah kotak air, kotak ini ada tiga lubang kecil, air sumber mengalir keluar dari kotak batu ini ke dalam sebuah kolam kecil berbentuk setengah bulan, kemudian mengalir lagi dari ujung sepotong batu yang berbentuk serupa naga ke dalam kotak batu yang lain, dari lubang kotak batu ini akhirnya air mancur ke dalam kolam lagi ...."

Ah, ruwet benar,"

Gerutu Sim Long.

"Meski ruwet, tapi setelah mengalami beberapa kali saringan, akhirnya air kolam menjadi jernih sebagai kaca, bahkan harum dan manis, boleh dikatakan merupakan sumber air nomor satu di daerah barat laut sana."

Ada sangkut paut apa pula antara sumber air dengan Koay-lok-ong?"

"Tentu ada sangkut pautnya, kalau tidak untuk apa kuceritakan,"

Kata Ong-hujin.

"Orang Kangouw cuma tahu dia gemar minum arak dan tidak tahu dia mempunyai kegemaran lain."

Gemar minum teh?"

Tukas Sim Long.

"Betul,"

Jawab Ong-hujin.

"Dahulu waktu dia masih tinggal bersamaku, setiap tahun dia pasti pergi ke Kim-san untuk mengambil air sumber yang terkenal di sana guna menyeduh teh. Malam hari dia minum arak, pagi hari dia minum teh. Sering kali dia tinggal sampai setengah bulan lebih di sana, selama tinggal di sana dia tidak mau pusing terhadap urusan apa pun."

Dengan sendirinya sekarang dia tidak mampu minum teh lagi ke Kim-san."

"Ya, makanya dia terpaksa mencari jalan lain walaupun tidak sebaik Kim-san,"

Tutur Ong-hujin.

"Telah kudapatkan berita yang meyakinkan bahwa setiap tahun antara musim semi dan panas dia pasti masuk ke dalam Kwan (gerbang tembok besar yang zaman dulu dianggap sebagai perbatasan) dan mengunjungi Hin-liong-san, di sana dia mengambil air sumber untuk menyeduh teh, sebab ada peralihan antara musim panas dan semi itulah air sumber terlebih manis, pula air sumber tidak boleh terlalu jauh meninggalkan gunung, kalau tidak, rasa airnya akan berubah kadarnya."

Hah, tak tersangka dia seorang yang suka kenikmatan juga,üjar Sim Long. Ong-hujin seperti tidak mendengar ucapannya itu, sambungnya pula.

"Setelah kudapatkan berita itu segera kucari dua orang kepercayaan dan kukirim ke Hin-liong-san. Apakah dapat kau terka siapa kedua orangku itu?"

Tidak dapat kuterka siapa mereka, tapi dapat kupastikan satu di antaranya pasti ahli menyeduh teh dan yang lain mungkin ahli mengilang arak."

"Engkau sungguh pintar, sekali diberi tahu lantas tahu semuanya,"

Kata Ong-hujin dengan tertawa, lalu sambungnya.

"Satu di antara kedua orang itu bernama Li Teng-liong, asalnya dia keturunan keluarga hartawan, tapi sekarang sudah jatuh miskin."

Ya, pada umumnya anak keluarga hartawan sama ahli minum teh,üjar Sim Long.

"Tapi dia cuma ahli merasakan kualitas sesuatu jenis teh dan tidak mahir menyeduh teh."

O, lantas ...."

"Tapi dia mempunyai seorang istri muda kesayangan,"

Sambung Ong-hujin.

"namanya Jun-kiau, perempuan inilah ahli menyeduh teh. Kau tahu, untuk menyeduh selain diperlukan air sumber yang bagus, lamanya teh dimasak juga memegang peranan. Bahkan teko, kayu, segala peralatannya pun perlu dipelajari."

Wah, tampaknya Hujin sendiri juga ahli dalam hal ini,"

Kata Sim Long dengan tertawa.

"Nanti kalau engkau pulang, tentu kubawa ke Kim-san untuk menikmati kehidupan surga di sana, tatkala mana baru kau tahu apakah aku mahir menyeduh teh atau tidak."

Tapi aku tidak pergi ke sana, sebab engkau sudah pernah menemani orang lain di sana."

"Ai, jadi engkau juga suka minum cuka?"

Sebelum minum teh boleh juga minum cuka dulu,"

Sim Long tertawa.

Karena di dalam ruangan sudah tidak ada orang lain, entah sejak kapan Ong-hujin telah berada dalam pangkuan Sim Long, anak muda itu seperti sudah rada mabuk ....

Jika tadi Ong-hujin serupa paduan antara perawan suci dan perempuan jalang, maka sekarang sebagian yang perawan suci itu entah sudah hilang ke mana.

Dengan jari-jemarinya yang halus lentik ia membelai perlahan rambut di pelipis Sim Long, tuturnya pula dengan lembut.

"Seorang lagi bernama Coh Bin-kim, dia mahir mengilang arak, juga mahir mencampur arak. Dia sanggup mencampur berbagai jenis arak menjadi semacam arak yang sangat sedap."

Wah, agaknya orang ini pun seorang penikmat!üjar Sim Long tertawa.

"Dengan honorarium besar kusewa kedua orang ini dan kutugaskan mereka ke lereng pegunungan Hin-liong-san dan membuka sebuah taman hiburan Koay-hoat-lim di sana, di dalam Koay-hoat-lim ini selain ada macam-macam objek wisata yang menarik juga tersedia arak paling terkenal, selain itu dengan sendirinya ada pula puluhan gadis cantik dari daerah Kanglam yang mempertunjukkan nyanyi dan tari untuk menghibur tetamu. Dengan sendirinya, bilamana perlu mereka pun sanggup melakukan tugas tambahan yang lain."

Haha, bagus melulu taman hiburan Koay-hoat-lim ini saja sudah cukup memancing kedatangan Koay-lok-ong, apalagi araknya dan gadisnya, tentu saja terlebih cocok dengan seleranya,"

Seru Sim Long dengan tertawa.

"Ya, maka pada musim rontok tahun yang lalu ia sudah pernah masuk ke dalam Kwan satu kali dan tinggal selama setengah bulan di Koay-hoat-lim, tampaknya merasa berat untuk tinggal pergi lagi."

Wah, jika aku pun pergi ke sana, bisa jadi aku juga akan lengket di sana,üjar Sim Long.

"Engkau takkan lengket di sana, sebab di sana tidak terdapat diriku,"

Kata Ong-hujin dengan senyuman memikat. Lalu untuk sejenak di dalam rumah tidak terdengar sesuatu suara apa pun. Kemudian Ong-hujin berkata lagi dengan perlahan.

"Sepuluh hari lagi dapatlah kau lihat dia."

"Sepuluh hari?"

Sim Long menegas.

"Wah, selama sepuluh hari pasti akan terasa panjang sekali bagiku."

Dan engkau mesti ingat, sebutan Koay-hi-ong (raja gembira), Koay-lok-ong (raja girang), Koay-hoat-ong (raja senang) dan sebagainya adalah nama pemberian orang kepadanya, pada waktu engkau berjumpa dengan dia jangan sekali-kali kau sebut dia dengan julukan demikian,"

Pesan Ong-hujin.

"Lantas harus kusebut apa kepadanya? Apakah kusebut dia Locianpwe .... Aduh ...."

Mendadak Sim Long menjerit, jeritan serupa orang digelitik, setiap orang yang berpengalaman tentu tahu apa yang terjadi ....

***** Sepanjang jalan seratusan li dari kota Lanciu menuju ke Hin-liong-san, sejauh mata memandang hanya tanah tandus belaka, meski lagi musim semi juga tidak kelihatan pemandangan indah sedikit pun.

Tapi ketika dekat dengan kaki gunung Hin-liong itu, mendadak pemandangan alam berubah sama sekali, di mana-mana kelihatan pepohonan menghijau permai, segenap keindahan musim semi seolah-olah terkumpul seluruhnya di sini.

Di sebelah barat Hin-liong-san ada lagi sebuah gunung dengan nama Ji-in-san, di tengah kedua gunung itu ada sebuah sungai, secara alamiah terbentuk menjadi sungai yang memisahkan kedua gunung, untuk pelintasan sungai terdapat sebuah jembatan gantung dengan nama In-liong-kio atau jembatan naga di tengah awan.

Dan Koay-hoat-lim atau hutan gembira, yang dijadikan taman hiburan itu terletak di lereng kedua gunung itu.

Sebuah kebun luas dengan pemandangan alam yang permai.

Sungai kecil tersebut menebus tengah taman diapit pepohonan Yangliu di tepi kanan kiri.

Kecuali pepohonan yang rimbun hampir tidak terlihat sesuatu lagi di taman luas ini, tapi bilamana berjalan menyusuri pepohonan Yangliu di tepi sungai, dapatlah terlihat ada jembatan gantung serta beberapa ujung rumah yang menongol di balik pepohonan sana.

Waktu itu menjelang senja.

Dua gadis cilik dengan berseri-seri sambil bernyanyi kecil lagi turun dari jalan setapak dari lereng sana.

Tangan mereka membawa cerek keramik kecil berbentuk antik, cerek itu berisi air sumber yang baru diambilnya dari mata air sana.

Mereka memakai baju merah, wajah mereka yang berseri juga bersemu merah, sorot mata mereka bersinar, tampaknya sangat bergairah oleh karena ada sesuatu urusan yang istimewa.

Kerlingan mata gadis yang sebelah kiri serupa Jun-sui (air musim semi), dan mata gadis sebelah kanan serupa Beng-cu (mutiara).

Si Jun-sui mendadak berhenti bernyanyi, lalu menggigit bibir dan tersenyum seperti lagi memandang cahaya senja yang indah di kejauhan, tapi sebenarnya apa pun tidak terlihat olehnya.

Beng-cu meliriknya sekejap, katanya dengan tertawa.

"Setan cilik, kutahu apa yang sedang kau pikirkan."

Oo, memangnya engkau ini cacing pita di dalam perutku?"

Sahut Jun-sui. Mendadak Beng-cu mengilik-ngilik pinggang Jun-sui sehingga Jun-sui tertawa geli sampai menungging, serunya dengan napas terengah.

"Ampun Cici yang baik."

Boleh juga kuampuni, tapi harus kau bicara terus terang, kau memikirkan dia, bukan?"

"Dia ... dia siapa?"

Sahut Jun-sui sambil berkedip-kedip.

"Setan cilik, berani berlagak tidak tahu? ...."

Tangan Beng-cu lantas menggelitik lagi sehingga Jun-sui kembali menggeliat-geliat pula.

"Ampun, Cici, aku tidak berani lagi ...."

Teriak Jun-sui.

"Kutahu si dia yang dimaksudkan Enci Beng-cu adalah ... adalah Kongcu yang baru datang pagi tadi itu."

Nah, coba katakan lagi, kau pikirkan dia bukan?"

Tanya Beng-cu pula.

"Ya ... ya, tang ... tanganmu ...."

Keluh Jun-sui.

"Karena sudah mengaku, baiklah kuampunimu,"

Kata Beng-cu sambil menarik tangannya.

Jun-sui masih terengah, mukanya merah serupa cahaya senja.

Ia menaruh teko di tanah dan berduduk di tepi jalan dengan tubuh lemas.

Sambil meliriknya Beng-cu berkata pula.

"Setan cilik, melihat tingkah lakumu ini, tentu hatimu tergelitik dan lagi berahi bukan?"

Gara-garamu,ömel Jun-sui dengan menggigit bibir.

"Tanganmu ...."

Tanganku kenapa, jika tangannya kan ...."

Mendadak muka Beng-cu sendiri menjadi merah juga.

Baca Juga: Kesatria Baju Putih 6

Baca Juga: Patung Emas Kaki Tunggal 5

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert