Ceritasilat Novel Online

Pendekar Baja 7

Eps 7 Pendekar Baja - Gu Long

Baca online Pendekar Baja - Gu Long

Cersil Pendekar Baja - Gu Long.

Usia orang ini kira-kira setengah abad, mukanya kuning, alisnya halus dan matanya kecil, berjenggot jarang-jarang seperti bandot atau kambing tua, memakai baju kulit yang sudah agak lusuh.

Tampaknya orang ini cuma seorang pedagang biasa, atau mungkin seorang pensiunan pegawai negeri, karena hawa dingin, maka minum arak sekadar menghangatkan badan.

Takaran minum arak orang ini sungguh hebat.

Jika dibilang ada sesuatu yang luar biasa dan aneh pada orang ini, maka di sinilah letak keanehan itu.

Di depan mejanya tertaruh dua macam hidangan, tapi poci arak yang tersedia adalah tujuh atau delapan buah, cawan arak juga sama banyaknya.

Caranya minum arak sungguh asyik dan lain daripada yang lain, dengan sebelah tangan membelai jenggotnya, tangan yang lain memegang cawan arak, mata setengah terpicing seperti lagi menikmati betapa rasanya arak ini, lalu tersenyum dan manggut-manggut, terkadang juga berkerut kening dan menggeleng kepala.

Nyata isi beberapa poci arak itu berbeda-beda, jadi dia sedang menikmati rasa arak yang berlainan itu.

Dia khawatir rasa arak terbaur, maka menggunakan beberapa cawan untuk mengisi setiap jenis arak yang diminumnya.

Tampaknya dia cuma seorang kakek yang gemar minum arak tapi juga ahli minum, orang lain takkan berbuat jahat padanya, dia juga tidak memperlakukan jahat kepada orang lain.

Tapi entah mengapa, setelah memandangnya beberapa kejap, mendadak timbul semacam rasa muak, jemu dan juga jeri dalam hati Jit-jit, dia sendiri tidak tahu mengapa bisa timbul perasaan demikian.

Ia merasa tidak ingin memandangnya lagi, rasanya kalau memandangnya lagi mungkin akan mendatangkan sesuatu malapetaka baginya.

Perasaan aneh Cu Jit-jit ini entah juga dirasakan orang lain atau tidak, yang jelas si kakek seperti sudah tenggelam dalam isi cawannya, sama sekali ia tidak peduli bagaimana perasaan orang lain terhadapnya.

Ternyata Ong Ling-hoa pun sedang menatap orang tua itu dengan sorot mata yang aneh juga.

Dengan suara tertahan Jit-jit bertanya.

"Apakah kau kenal orang itu?"

Ling-hoa menggeleng. Pada saat itulah sekonyong-konyong terdengar serentetan gelak tertawa di bawah loteng. Seorang lagi berkata.

"Mengapa sekian lama Toako tidak kelihatan, sungguh kami sangat merindukan Toako. Bilamana Toako telah hidup bahagia, seharusnya berita ini disampaikan kepada kami."

Bahagia kentut,"

Demikian seorang lagi menanggapi dengan tertawa.

"Selama dua hari ini aku berlari kian kemari, kalau tidak bertemu dengan Nio Ji mungkin takkan tahu kalian berada di sini."

Belum lagi Jit-jit melihat orang yang bicara itu, cukup dari suara tertawanya yang riang itu sudah diketahuinya siapa dia.

Seketika hatinya terasa hangat, serupa habis minum sepoci arak.

Ong Ling-hoa juga tahu siapa orang itu, diam-diam ia berkerut kening.

Kiranya orang ini ialah Him Miau-ji alias si Kucing.

Di tengah gelak tertawa, beberapa lelaki berkopiah miring dan berjaket yang sengaja diterbalikkan muncul ke atas loteng mengiringi Him Miau-ji yang berwajah cerah.

Pelayan restoran juga berkerut kening.

Wat-pin-lau ini bukan sembarangan restoran, meski mereka tidak menolak kunjungan kaum kesatria Kangouw, tapi kawanan bajul begini mengapa sekarang juga berani masuk ke restoran ini?

Beberapa pelayan saling memberi isyarat, dua orang lantas memapak kedatangan mereka, seorang lagi berlari ke dalam untuk melapor.

Segera hati Cu Jit-jit bergembira.

Ia tahu bakal melihat tontonan menarik lagi.

Dada baju Him Miau-ji tampak setengah terbuka, sebuah buli-buli arak tergantung di pinggangnya, matanya yang besar dan terang itu sedang memandang kian kemari.

Sesudah berhadapan, dengan senyum yang dibuat-buat si pelayan berkata.

"Maaf, sudah penuh semua tempat duduk, silakan berkunjung ke tempat lain saja.Älis si Kucing yang tebal itu menegak, katanya.

"Bukankah di sana masih ada tempat kosong?"

Tempat itu sudah dipesan orang,"

Sahut pelayan dengan dingin. Seorang lelaki tegap di samping si Kucing menjadi marah, teriaknya.

"Siapa yang pesan? Dasar mata anjing suka menilai rendah orang kecil, tuan besar juga punya uang perak, kenapa kau tolak kami?"

Jika punya uang boleh silakan digunakan di tempat lain saja, seumpama masih ada tempat kosong juga takkan kuberikan padamu, memangnya kau mau apa?"

Lelaki itu meraung murka dan menubruk maju terus menjotos.

Ternyata si pelayan juga bisa dua-tiga jurus, dengan gesit ia sempat mengelak.

Serentak pelayan yang lain membanjir tiba, kawanan lelaki kekar itu pun menyingsing baju dan mendelik, sambil mencaci maki kedua pihak lantas saling labrak.

Tapi baru saja saling genjot beberapa kali, beberapa pelayan mendadak mencelat satu per satu, semuanya terlempar ke luar loteng.

Diam-diam Jit-jit berkeplok gembira.

"Aha, si Kucing telah turun tangan!"

Semula para tamu tidak memerhatikan perkelahian itu, tapi sekarang mereka sama melengak, perhatian mereka lantas terpusat ke arah si Kucing.

Si Kucing masih tertawa haha-hihi seperti tidak terjadi sesuatu, katanya.

"Haha, mari kita mencari tempat duduk sendiri, kalau tidak ada pelayan, biarlah kita makan minum melayani diri sendiri, yang pasti hari ini kita akan makan di restoran Wat-pin-lau ini."

Betul, mari kita makan minum melayani diri sendiri,"

Seru orang banyak. Tiba-tiba pemuda tampan di meja sebelah Jit-jit berkata dengan tertawa.

"Sungguh lelaki yang gagah dengan kungfu yang hebat."

Tapi kawannya lantas menanggapi.

"Meski gagah dan hebat, bisa jadi sebentar lagi dia akan menghadapi kesulitan."

Dalam pada itu semua orang sudah melihat dari belakang telah muncul beberapa orang.

Him Miau-ji juga melihatnya, seketika ia berhenti di tempat.

Suasana gaduh di atas restoran segera berubah sunyi.

Mestinya Jit-jit ingin bertaruh dengan orang di meja sebelah bawah Him Miau-ji pasti takkan menghadapi sesuatu kesulitan.

Tapi demi melihat kemunculan beberapa orang dari ruang dalam itu, seketika bergetar juga hatinya, mestinya dia mau bicara, tapi urung.

Didengarnya pemuda cakap di meja sebelah lagi mendesis.

"Aneh, mengapa dia juga berada di sini."

"Ya, memang rada aneh,"

Sahut temannya.

"Meski dia pemilik restoran ini, tapi sepanjang tahun hampir tidak pernah berkunjung kemari. Sungguh tak terduga hari ini dia juga datang kemari."

Jika dia di sini, pemuda sembrono itu mungkin benar akan menghadapi kesulitan,üjar pemuda tampan itu.

"Dia"

Yang dimaksudkan mereka jelas adalah seorang yang muncul paling depan dari ruangan dalam restoran.

Pengikut yang lain ada enam atau tujuh orang.

Perawakan orang yang dimaksud ini tidak terlalu kekar, namun perbawanya sungguh luar biasa.

Dia memakai baju panjang biru, meski tidak mewah, namun potongannya sangat pas dengan tubuhnya sehingga sangat enak dipandang.

Usianya jelas tidak muda lagi, tapi juga belum terlalu tua, mukanya tidak terlalu putih dan juga tidak hitam.

Matanya tidak tergolong besar, namun sinar matanya membuat orang sungkan memandangnya.

Di atas bibirnya ada kumis tipis dan terawat rajin, karena kumis inilah membuat wajahnya yang kereng itu kelihatan agak menarik.

Pada tubuhnya tidak terdapat sesuatu benda yang berharga, tapi setiap orang asalkan memandangnya sekejap pasti dapat melihat dia berasal dari keluarga kaya raya.

Dalam keadaan dan di tempat begini mendadak muncul seorang tokoh seperti ini, tentu saja sangat menarik perhatian orang.

Baik kenal maupun tidak, semuanya sama memperkirakan si pemuda sembrono alias si Kucing pasti akan rasakan akibatnya.

Tapi Him Miau-ji tetap berseri, matanya yang besar tetap menatap orang tanpa berkedip, betapa tajam pandangan orang juga tidak membuatnya gentar.

Tapi pandangan si baju biru tidak cuma menatap Him Miau-ji saja, ia menyapu pandang seluruh ruangan restoran dan menegur sapa kepada setiap orang yang dikenalnya, katanya dengan tertawa.

"Ai, para sahabat sudi berkunjung, sepantasnya kusambut sejak tadi, cuma ...."

Haha, kau khawatir sahabatmu minta dijamu olehmu, dengan sendirinya kau main sembunyi dan pura-pura tidak tahu,"

Mendadak si Kucing menyela dengan tertawa. Si baju biru berlagak tidak mendengarnya, sambungnya.

"Jika ada pelayanan yang kurang lengkap, mohon sudi dimaafkan ...."

Pelayanan di sini memang tidak lengkap, juga tidak dapat dimaafkan,"

Tukas si Kucing lagi.

"Silakan saudara makan minum dengan tenang ...."

Belum lanjut ucapan si baju biru, segera si Kucing memotong lagi.

"Jika di sini ada orang berkelahi, cara bagaimana bisa makan minum dengan tenang?"

Meski setiap kali bicara selalu dipotong oleh si Kucing, namun si baju biru sama sekali tidak memperlihatkan rasa gusar, hanya sorot matanya mulai beralih ke arah Him Miau-ji.

"Lihat apa? Apa tidak kenal?"

Tanya si Kucing.

"Ya, memang terasa asing,"

Kata si baju biru.

"Haha, tidak kenal lebih baik, kalau kenal tentu tidak jadi berkelahi,"

Seru si Kucing dengan tertawa.

"Jika Anda ingin berbuat lain mungkin ada kesukaran, kalau mau berkelahi, hal ini sangat gampang. Cuma di sini penuh tetamu, marilah kita turun ...."

Apa artinya berkelahi tanpa penonton?Äir muka si baju biru rada berubah.

"O, jadi kedatanganmu ini memang sengaja mencari perkara padaku."

Kau ganggu pihakku, dengan sendirinya kucari perkara padamu."

"Hahaha, bagus! Aku ...."

"Tak perlu kau sebut namamu yang besar,"

Sela si Kucing.

"Jika sengaja hendak kucari perkara padamu, peduli siapa kau toh pasti akan kulabrak juga. Apa gunanya kau sebutkan namamu segala?"

Hm, alangkah pongahnya anak muda ini!"

Teriak si baju biru dengan gusar.

"Orang tidak mengganggu diriku, aku pun takkan merecoki orang, jika orang berbuat salah padaku, maka kutanggung takkan pernah ada kompromi."

Dua lelaki kekar yang berdiri di samping si baju biru tidak tahan lagi, sambil meraung mereka menubruk maju, empat kepalan besar terus memburu ke atas kepala si Kucing sambil membentak.

"Turun!"

Baru lenyap suaranya, benar juga segera ada orang turun.

Tapi bukan Him Miau-ji melainkan kedua lelaki itu yang terguling ke bawah loteng.

Rupanya waktu pukulan kedua orang itu menyambar tiba, sekali tangan si Kucing menangkis, seketika tangan kedua orang itu serasa membentur tiang besi, sekujur badan lantas kaku, kesempatan itu digunakan oleh si Kucing untuk mencengkeram pergelangan tangan mereka, sekali tarik terus didorong lagi, kontan tubuh kedua orang yang besar itu mencelat dan terguling ke bawah.

Tentu saja kejadian ini sangat menggemparkan para penonton, sampai Kiau Ngo dan Hoa Si-koh juga berdiri, ingin melihat lebih jelas bagaimana bentuk anak muda yang perkasa ini.

Serentak anak buah Him Miau-ji bersorak gembira.

Hanya si kakek yang di depannya tertaruh beberapa poci arak itu masih tetap adem ayem dan asyik menikmati araknya sendiri.

"Bagaimana, apakah giliranmu sekarang?"

Tanya si Kucing terhadap si baju biru. Tanpa bicara, perlahan si baju biru menanggalkan bajunya, dilipatnya dengan hati-hati, lalu diserahkan kepada seorang pengikutnya, habis itu baru berkata.

"Silakan!"

Menghadapi pertarungan maut, si baju biru masih tetap tenang saja, seperti yakin dirinya pasti akan menang. Kalau tidak masakah dia dapat bertindak sesabar ini? Si Kucing tertawa.

"Haha, mau berkelahi boleh turun tangan saja, pakai silakan apa segala? Dalam hatimu tentu ingin sekali jotos membikin hidungku peyot, tapi di mulut kau bicara seramah ini, kita kan tidak ingin berbesanan?"

Apakah sudah pasti engkau tak mau turun tangan lebih dulu?"

Tanya si baju biru.

"Setiap kali berkelahi, aku memang tidak pernah menyerang lebih dulu,"

Sahut si Kucing dengan tertawa.

"Apa betul?"

Si baju biru menegas.

"Kalau kukatakan begitu, tentu saja betul,"

Kata si Kucing.

"Nah, aku berdiri di sini, sekujur badanku terbuka, silakan kau pilih, mana suka bagian yang hendak kau pukul."

Si baju biru tidak memukul seperti apa yang diminta si Kucing, sebaliknya ia mengawasinya dari kepala sampai ke kaki, lalu dari kaki ke kepala, kemudian ia membalik tubuh, diambilnya kembali bajunya dari pengiringnya tadi, baju dikebut, perlahan lantas dipakai kembali.

Keruan si Kucing berbalik heran.

"Hei, apa-apaan kau ini?"

Dengan kalem si baju biru menjawab.

"Jika berkelahi, selamanya aku pun tidak pernah menyerang lebih dulu. Jika engkau juga tidak mau menyerang dulu dan aku pun sama lalu cara bagaimana perkelahian ini dapat berlangsung?"

Dia lantas mengangkat kedua tangan ke atas dan memberi hormat kepada para tamu, serunya dengan tertawa.

"Silakan hadirin duduk kembali dan makan minum sepuasnya, semua rekening biar dihitung atas bebanku."

Habis berkata ia lantas masuk kembali ke ruangan dalam.

Tindakan ini sungguh sangat di luar dugaan siapa pun, bukan saja Him Miau-ji berdiri melongo, semua orang juga melenggong bingung.

Semula semua orang berharap akan menyaksikan pertandingan yang menarik, siapa tahu urusan berakhir cara demikian, hanya suara guntur saja berbunyi, tapi hujan tidak pernah turun.

Di antara orang-orang itu hanya Cu Jit-jit saja yang sejak mula tidak menghendaki kedua orang itu jadi berkelahi, sebab dia akan serbasusah siapa pun yang akan keluar sebagai pemenang di antara kedua orang itu.

Kini urusan telah selesai begitu saja, keruan girangnya tidak terkatakan, diam-diam ia juga merasa geli.

"Perangainya ternyata tidak berubah, pertarungan yang tidak yakin akan menang tidak mau dilakukannya."

Sebelum ini keadaan sunyi senyap, tapi sekarang telah berubah ramai lagi.

Semua orang sama membicarakan kejadian tadi, ada yang menggerutu, ada yang kecewa, dan ada juga yang bersyukur.

Tapi apa pun juga, kalau dapat makan minum dengan gratis tentu juga menyenangkan.

Maka Him Miau-ji dan rombongannya lantas mencari meja kosong dan berduduk, tanpa diminta segera santapan dan arak diantarkan tanpa putus.

Biji mata Cu Jit-jit berputar, mendadak ia berdiri dan menyapa pemuda cakap di meja sebelah.

"Maaf!"

Pemuda itu tercengang, terpaksa ia pun berbangkit dan menjawab.

"O, ada apa?"

Melihat orang merasa bingung, Jit-jit merasa geli, cepat ia bicara lagi.

"Bila tidak keberatan, bagaimana kalau saudara makan bersama satu meja dengan kami?"

O, ini ... ini agak repot, kan saudara membawa anggota keluarga, mana berani kuganggu,üjar pemuda itu.

"Ah, tidak menjadi soal,"

Kata Jit-jit.

"Dia bukan anak gadis atau bakal menantu segala, pada hakikatnya dia bukan perempuan ...."

Pemuda tampan itu melenggong lagi, jelas dandanan Ong Ling-hoa adalah perempuan, mengapa dikatakan bukan orang perempuan?

Memangnya orang gila?

Diam-diam Jit-jit tertawa geli, sedapatnya ia menahan perasaannya dan berkata.

"Kumaksudkan keponakan perempuanku yang kurang enak badan ini sifatnya sehari-hari tiada ubahnya seperti anak laki-laki, maka Anda tidak perlu pantang, silakan pindah ke sini saja."

O, kiranya begitu,"

Pemuda itu merasa lega.

"Jika ... jika begitu biarlah kuganggu sebentar."

Setelah dia pindah ke meja Cu Jit-jit dan minum arak secawan. Jit-jit terus-menerus memandangi pemuda ini, keruan orang menjadi kikuk, katanya dengan menunduk.

"Sesungguhnya ada ... ada petunjuk apa yang hendak Anda bicarakan?"

Soalnya kurasakan wajahmu seperti sudah pernah kulihat, tapi tidak ingat di mana kita pernah berjumpa,üjar Jit-jit dengan tertawa. Pemuda itu termenung sejenak, tanyanya kemudian.

"Apakah boleh kutanya nama Anda yang terhormat?"

"Aku Sim Long,"

Jawab Jit-jit.

"Hah, jadi Anda ini Sim Long?"

Seru pemuda itu kaget.

Karena suara orang cukup keras, Jit-jit jadi kaget juga dan khawatir didengar oleh Kiau Ngo.

Untung suasana di atas loteng sangat ramai sehingga tidak ada orang lain yang memerhatikan mereka.

Legalah hati Jit-jit, katanya kemudian.

"Masa ... masa kau kenal aku?"

Meski Sim-heng tidak kukenal, namun nama kebesaranmu sudah lama kudengar."

"Oo, masa ... masakah namaku begitu terkenal?"

Tanya Jit-jit. Dengan sungguh-sungguh si pemuda menjawab.

"Mungkin Sim-heng sendiri sungkan menyiarkan nama kebesaran sendiri, tapi ada beberapa kawanku semuanya sama memuji Sim-heng adalah tokoh nomor satu dunia Kangouw zaman ini, tak tersangka hari ini dapat kujumpai di sini.Äneh juga, meski sekarang Jit-jit sangat benci kepada Sim Long, tapi demi mendengar orang memujinya, hatinya ikut gembira juga, dengan tertawa ia menjawab.

"Ah, mana .... Anda terlampau memuji. Numpang tanya siapakah nama Anda yang mulia?"

Cayhe Sing Hian,"

Jawab pemuda itu.

"Sing Hian? Jangan-jangan Sing-kongcu dari Sing-keh-po (benteng keluarga Sing)?"

Terima kasih, memang betul."

"Aha, pantas aku merasa sudah pernah kenal dirimu, kiranya engkau ini adik Sing Ing. Wajahmu memang rada mirip dengan kakakmu."

O, kiranya Sim-siangkong kenal kakak?"

"Ya, kenal ...."

"Kedatanganku ini justru ingin mencari kakak,"

Tutur Sing Hian dengan girang.

"Sim-siangkong telah menjelajahi seluruh wilayah Kanglam, tentu engkau mengetahui di mana beradanya kakak."

Hati Jit-jit tergetar, tiba-tiba terpikir olehnya bisa jadi Sing Ing juga mengalami nasib nahas serupa Can Ing-siong dan lain-lain yang ikut pergi ke Jin-gi-ceng dan terbunuh di sana.

Untung Jit-jit dalam keadaan menyamar sehingga perubahan air mukanya tidak terlihat, cepat ia berkata pula.

"Bulan yang lalu memang pernah kulihat kakakmu satu kali, tapi ke mana perginya lagi tidak diketahui."

Sing Hian menghela napas.

"Sudah lebih setengah tahun kakak meninggalkan rumah dan tidak ada kabar beritanya lagi, kedua orang tua di rumah sama mengkhawatirkan dia, sebab itulah Siaute disuruh keluar mencarinya."

Cepat Jit-jit membelokkan pokok persoalan.

"Tampaknya banyak kaum orang gagah berkumpul di sini, kuyakin pasti ada peristiwa besar, dan entah ... entah ada urusan apa, mungkin Sing-heng tahu?"

Peristiwa ini memang benar urusan penting,"

Tutur Sing Hian.

"Soalnya kedudukan ketua Kay-pang sudah lama lowong, sebab itulah para anak murid Kay-pang mengundang kehadiran para kesatria ke sini untuk menyaksikan pemilihan Pangcu mereka."

O, kiranya urusan ini,ücap Jit-jit.

Dengan sendirinya urusan ini ada sangkut pautnya dengan Ong Ling-hoa, tanpa terasa ia melirik Ong Ling-hoa sekejap, dilihatnya sinar mata Sing Hian juga lagi melirik anak muda itu.

Sudah cukup banyak Sing Hian bicara, setiap kali dia omong sesuatu, selalu ia melirik ke arah Ong Ling-hoa.

Maklumlah, Ong Ling-hoa memang seorang pemuda tampan, kini dirias menjadi wanita, di bawah cahaya lampu dengan sendirinya kelihatan cantik dan memesona.

Lebih-lebih kedua matanya yang jalang itu, sungguh menggetar sukma.

Apalagi dalam keadaan tak bisa berkutik sekarang, sorot matanya yang sayu menampilkan rasa menyesal, susah dan cemas, sungguh membuat orang merasa kasihan padanya.

Seketika Sing Hian sampai terkesima.

Sebaliknya hampir mulas perut Jit-jit saking gelinya, biji matanya berputar, tiba-tiba ia berkata pula.

"Eh, Sing-heng, bagaimana menurut pendapatmu atas diri keponakan perempuanku ini?"

Muka Sing Hian menjadi merah, sahutnya dengan menunduk rikuh.

"O, ini ....Ïa tidak dapat menjawab, terpaksa cuma berdehem saja. Dengan menahan rasa geli Jit-jit berkata pula.

"Ai, usia keponakanku ini pun tidak kecil lagi, cuma penilaiannya terlalu tinggi, siapa pun tidak terpandang olehnya, maka sampai saat ini belum lagi mendapat jodoh. Apabila ada pemuda yang setimpal, harap Sing-heng suka memperkenalkannya."

Dengan muka merah akhirnya Sing Hian memberanikan diri untuk bertanya.

"Entah ... entah orang macam apa yang memenuhi syarat?"

Pertama, harus muda dan tampan. Kedua, harus keturunan keluarga terhormat. Ketiga, harus ... ah, pendek kata, asalkan orang semacam Sing-heng sudah pasti memenuhi syarat."

Sing Hian terkesiap dan bergirang, juga malu, tanpa terasa ia melirik Ong Ling-hoa lagi sekejap, lalu cepat menunduk.

Sebaliknya tidak kepalang gemas Ong Ling-hoa dan serba runyam, sungguh lidah Cu Jit-jit ingin dipotongnya, biji mata Sing Hian juga ingin dicungkilnya.

Cu Jit-jit merasa geli, ia terpingkal-pingkal hingga air mata pun hampir tercucur, tapi juga tidak berani mengeluarkan suara tertawa sehingga terpaksa ditahan sekuatnya.

Pada saat itulah mendadak seorang berteriak.

"Hei, Sim ... Sim Long, Sim-kongcu!"

Jit-jit terkejut, cepat ia memandang ke sana. Dilihatnya Kiau Ngo telah membuka jendela dan berseru ke luar.

"Sim Long ...."

Segera Him Miau-ji juga melompat ke luar secepat anak panah. Sing Hian juga heran, gumamnya.

"Sim-siangkong berada di sini, mengapa mereka berseru ke luar?"

Jit-jit tertegun, sahutnya dengan gelagapan.

"Mana ... mana kutahu."

"Ah, barangkali ada orang yang bernama sama,üjar Sing Hian.

"Ya, benar, memang banyak sekali di dunia ini orang yang bernama sama,"

Cepat Jit-jit menukas.

Ia tahu sekali Him Miau-ji melompat turun, segera Sim Long akan diseretnya ke atas loteng.

Maka tanpa berkedip ia memandang ke arah ujung tangga dengan hati berdebar.

Entah girang, kejut, gemas atau benci.

Dan akhirnya benarlah Him Miau-ji telah menyeret Sim Long ke atas, belum lagi mereka muncul, suara tertawa mereka sudah bergema.

"Haha, mata kucing sungguh tajam luar biasa,"

Demikian terdengar Sim Long berseloroh.

"Tapi bukan aku yang memergokimu,üjar si Kucing. Dengan menggereget Jit-jit memandang ujung tangga. Akhirnya tertampak kepala anak muda yang dicintai dan juga dibenci ini, lalu terlihat alisnya yang kereng dan matanya yang bersinar dan kemudian wajahnya yang selalu menampilkan semacam senyuman aneh itu. Meski tangan Jit-jit terkepal, tidak urung rada gemetar juga, sungguh ia ingin tonjok mulut Sim Long supaya dia tidak dapat tersenyum lagi. Hanya terlihat Sim Long dan Him Miau-ji saja, Kim Bu-bong tidak ikut serta, hal ini juga tidak diperhatikan Jit-jit, asalkan melihat Sim Long, urusan lain tidak terpikir lagi olehnya. Kini pandangan semua orang juga sama tertuju ke arah Sim Long, sampai si kakek peminum juga berubah aneh mendadak. Dengan langkah lebar Kiau Ngo lantas menyongsongnya sambil menyapa.

"Aha, apakah Sim-kongcu masih ingat kepada orang she Kiau?"

Segera Sim Long berseru.

"Ah, kiranya Kiau-tayhiap, selamat bertemu."

Nah, yang melihatmu ialah dia,üjar Him Miau-ji dengan tertawa.

"Sebab itulah Sim-kongcu harus berduduk di mejaku sana,"

Kata Kiau Ngo.

"Wah, caramu menarik tamu ternyata boleh juga,"

Kata si Kucing.

"Selain dia kutarik, juga kutarik dirimu,üjar Kiau Ngo dengan tertawa.

"Bahwa engkau adalah sahabat Sim-kongcu juga, sungguh sangat beruntung bagiku."

Dengan tertawa lepas si Kucing berkata.

"Haha, bagus sekali, biarlah kita duduk bersama satu meja, toh sama-sama tidak bayar, ke sana atau ke sini juga sama saja. Cuma sudah sekian lama Sim-heng menghilang, ingin kuhormati dulu satu cawan."

Hah, cuma satu cawan, arak tanpa bayar, masa begitu pelit kau?"

Seru Kiau Ngo dengan tergelak.

"Hah, betul, sedikitnya harus sepuluh cawan,"

Sahut si Kucing dengan tertawa.

Dan begitulah Sim Long lantas disongsong ke meja sana.

Dengan demikian suasana restoran bertambah ramai, beberapa orang berebut menuangkan arak bagi Sim Long, suara tertawa dan teriakan hiruk-pikuk memekak telinga.

Mendadak Jit-jit menggebrak meja dan berteriak.

"Ayo, angkat nona dan pergi!"

"Eh, kenapa saudara tergesa-gesa?"

Tanya Sing Hian bingung.

"Aku tidak biasa melihat orang macam begitu,"

Jengek Jit-jit.

Bilang tidak biasa melihatnya, tidak urung ia melirik lagi ke sana, lalu dengan menggereget ia berbangkit dan mendesak kedua bibi lekas mengusung pergi Ong Ling-hoa.

Sing Hian tertegun sejenak, mendadak ia memburu maju dan bertanya.

"Eh, di manakah Sim-heng bermalam?"

Jit-jit tidak sabar lagi bicara dengan dia, dengan tak acuh ia menjawab.

"Di hotel yang paling besar sana."

Segera ia turun ke bawah dengan langkah yang dientak-entakkan. Sing Hian memandangi kepergiannya dengan termenung, gumamnya.

"Mengapa sifat Sim-siangkong ini sedemikian aneh? ...."

Tiba-tiba teringat olehnya meski Sim-siangkong yang ini sudah pergi, kan masih ada Sim-siangkong yang lain di sana, tanpa terasa ia berpaling ....

Ternyata Sim-siangkong yang sana sudah menghabiskan belasan cawan arak.

Biarpun paling sedikit sudah 17 cawan arak diminumnya, namun air muka Sim Long tidak berubah sama sekali, tidak ada tanda-tanda pengaruh alkohol, sinar matanya masih tajam, masih jernih.

Banyak orang memandangnya dengan heran kagum dan memuji, tapi juga ada yang merasa iri dan benci.

Namun Sim Long tidak menghiraukan pandangan orang lain dan bagaimana perasaan mereka terhadapnya, yang penting baginya dia tetap mempertahankan kesadarannya, dalam pandangan orang lain hal ini mungkin mengagumkan, tapi bagi Sim Long sendiri hal ini adalah suatu penderitaan.

Orang yang selalu sadar, penderitaan yang dirasakan tentu akan jauh lebih banyak daripada orang lain.

Manusia, terkadang akan lebih enak dalam keadaan tidak sadar.

Memandangi Him Miau-ji yang lagi bergelak tertawa itu, Sim Long justru kagum kepadanya.

Si Kucing lebih suka melepaskan segalanya dan juga melupakan segalanya.

Pada waktu bergembira, si Kucing benar-benar gembira.

Sebaliknya meski saat ini Sim Long juga gembira, tapi tetap tidak dapat melupakan segala macam penderitaan.

Yang terlihat olehnya sekarang adalah orang-orang yang gembira, tapi dalam hati senantiasa terbayang orang yang lagi menderita.

Mereka, Cu Jit-jit, Pek Fifi, Kim Bu-bong ....

Jit-jit sudah pergi, tidak diketahuinya nona itu berada di mana?

Meski dia yang mengusir kepergian nona itu, tapi mau tak mau dia berkhawatir juga baginya.

Kekerasannya terhadap Cu Jit-jit juga kebesaran cintanya kepadanya.

Cinta yang sudah tebal akan berubah menjadi tipis.

Tapi semua ini mana dapat dimengerti oleh Cu Jit-jit.

Dan di manakah Pek Fifi?

Anak perempuan yang sebatang kara ini sekarang berada dalam cengkeraman kaum iblis.

Meski tidak ada sesuatu hubungan antara si nona dan dirinya, tapi selalu dirasakannya wajib mengatur seperlunya bagi nasib anak perempuan itu, bagi masa depannya.

Tapi sekarang, jika terjadi sesuatu atas nona itu, sungguh dia merasa berdosa.

Ia ingin menolongnya, tapi ke mana dapat ditemukannya?

Lalu mengenai Kim Bu-bong, dia juga sudah pergi.

Kim Bu-bong sendiri yang berkeras mau pergi.

Lelaki seperti Kim Bu-bong, bilamana dia bertekad ingin pergi, siapa pula yang mampu mencegahnya?

Sim Long dapat mengerti tekad Kim Bu-bong itu, dengan sendirinya ia tidak dapat memaksanya, ia cuma bertanya ke mana dia akan pergi dan bagaimana rencananya di kemudian hari?

Namun Kim Bu-bong tidak menjawab.

Padahal dia memang tidak perlu menjawab, betapa isi hatinya cukup diketahui Sim Long.

Dia tidak mau menjadi beban Sim Long karena tubuhnya telah invalid.

Sim Long bukan orang biasa, urusan yang harus dikerjakannya sangat banyak, tugasnya masih sangat berat.

Sebaliknya sakit hati dirinya harus dibalas, harus dibalasnya sendiri.

Meski dia sudah cacat, tapi tidak patah semangat, yang cacat hanya lahiriahnya dengan tidak rohaniahnya.

Ia masih mau berjuang, berbuat sesuatu yang mengguncangkan dunia.

Sim Long tidak dapat merintangi tekad Kim Bu-bong itu, juga tidak dapat menahannya, terpaksa ia menyaksikan kepergiannya ....

Begitulah derita batin yang ditanggung Sim Long sekarang dan di luar tahu orang lain.

Dengan tertawa Him Miau-ji berkata.

"Bagus, Sim Long, arak sudah minum cukup, sekarang ingin kutanya padamu, di mana nona Cu dan Kim-heng sekarang?"

Sim Long termenung sejenak, mendadak ia menenggak lagi secawan arak, lalu berkata.

"Hal ini kelak akan kau ketahui sendiri."

Si Kucing tidak tanya lagi, sebab dapat dilihatnya dalam urusan ini pasti ada sesuatu yang sukar dijelaskan oleh Sim Long.

Ia suka kepada Sim Long, maka dia tidak mau menyakiti hatinya.

Si Singa Jantan Kiau Ngo lantas bertanya.

"Kedatangan Sim-siangkong ini apakah juga lantaran menerima undangan Kay-pang?"

Sim Long tersenyum.

"Ah, tidak, kedatanganku ini hanya secara kebetulan saja, baru semalam kutahu urusan Kay-pang, maka kugunakan kesempatan ini dengan baik. Sebab itulah tanpa kartu undangan juga akan kujadi tamu yang tidak diundang."

Tamu tidak diundang apa,üjar Kiau Ngo dengan tertawa.

"Kunjungan tokoh seperti Sim-siangkong adalah suatu kehormatan besar bagi Kay-pang. Betul tidak, Si-moay?"

Hoa Si-koh tertawa.

"Ya, kedatangan Sim-siangkong ini kukira paling menggembirakan Kiau-goko. Sejak berpisah di Jin-gi-ceng tempo hari, selalu Goko terkenang kepadamu."

Sim Long memandang Kiau Ngo, lalu memandang Hoa Si-koh pula, dapat dilihatnya betapa erat dan mesranya antara kedua orang itu, segera ia angkat cawan arak dan berkata dengan tertawa.

"Terimalah selamatku, mari minum secawan!"

Muka Hoa Si-koh menjadi merah. Sebaliknya Kiau Ngo tertawa.

"Baik, marilah kita minum secawan!"

Habis minum, Sim Long berkata pula.

"Haha, sekarang baru kuketahui Kiau-goko adalah lelaki paling beruntung di dunia ini, lelaki yang paling pintar."

Aku pintar dalam hal apa?"

Tanya Kiau Ngo.

"Dia bilang kau pintar lantaran engkau tidak mencari anak perempuan cantik lain, tapi malah mencari diriku,üjar Hoa Si-koh dengan tertawa.

"Padahal kau dapatkan perempuan muka jelek seperti diriku ini justru perbuatan yang paling bodoh."

Kiau Ngo memandangnya dengan lembut, ucapnya.

"Jika perbuatanku yang paling pintar selama hidup ini adalah berkenalan denganmu. Hanya orang pintar saja yang dapat melihat kecantikanmu dan mengetahui engkau berpuluh kali lebih cantik daripada anak perempuan mana pun. Sim-siangkong juga orang pintar, maka kuyakin ucapannya adalah pujian setulus hati padamu."

Hoa Si-koh tersenyum kikuk.

"Terima kasih atas kepintaran kalian berdua."

Semula Him Miau-ji merasa heran Kiau Ngo yang gagah perkasa itu mengapa menyukai anak perempuan bermuka buruk seperti Hoa Si-koh ini, baru sekarang ia tahu sebab musababnya.

Nyata Hoa Si-koh ini cuma lahirnya saja kurang cantik, tapi setiap gerak-geriknya, tutur katanya, senyum tawanya, semuanya lembut dan lugas, tidak ada sesuatu yang sengaja dibuat-buat, polos, apa adanya.

Sebaliknya umpama Cu Jit-jit, dia serupa ombak samudra, ombak samudra yang selalu bergolak.

Tatkala engkau mabuk dibuai ombak, mendadak ombak itu mendampar dan membuat badanmu hancur lebur.

Dengan lembut Hoa Si-koh memandang Sim Long, katanya kemudian dengan tersenyum.

"Mendadak Sim-siangkong bicara hal-hal ini, apakah disebabkan nonamu yang cantik itu telah banyak menimbulkan pikiranmu?"

Ah, mana ada pikiran apa segala?"

Sahut Sim Long dengan tertawa.

"Kutahu lelaki semacam dirimu ini, biarpun menanggung sesuatu pikiran juga takkan kau katakan,üjar Hoa Si-koh dengan tersenyum.

"Tapi di depan kawan sendiri, ada urusan apa seharusnya kau katakan terus terang.Ïnilah orang pertama yang dapat melihat isi hati Sim Long, meski tidak mengaku, diam-diam Sim Long merasa kagum atas ketajaman perasaan Hoa Si-koh, sungguh perempuan luar biasa. Segera ia angkat cawan dan berseru.

"Marilah kita minum lagi tiga cawan!"

Mendadak di kejauhan sana seorang menyela.

"Wah, Kongcu yang di sana sungguh kuat takaran minumnya, bila tidak menolak, bolehkah orang tua mengiringi Kongcu minum beberapa cawan?"

Suaranya tidak keras, tidak lantang, tapi bagi pendengaran setiap orang kata-kata orang seperti disiarkan ke tepi telinga dan terdengar dengan jelas di tengah gelak tertawa orang banyak.

Ternyata yang bicara itu adalah si kakek kecil aneh yang asyik minum arak tadi.

Ketika naik ke atas loteng tadi Sim Long lantas melihat kakek yang lagi minum arak sendiri itu, waktu itu diam-diam ia sudah heran terhadap kakek yang kelihatan biasa, tapi rasanya membawa semacam gaya yang misterius.

Dengan sendirinya ia tidak menyia-nyiakan kesempatan untuk berkenalan dengan tokoh misterius demikian, cepat ia berbangkit dan memberi hormat dari jauh, serunya.

"Bilamana Lotiang sudi, mana Wanpwe berani menolak?"

Namun si kakek tetap duduk saja di tempatnya, katanya dengan tersenyum.

"Jika begitu, silakan pindah saja ke sini."

Menurut,"

Kata Sim Long. Dengan mendongkol si Kucing menggerutu.

"Kurang ajar! Besar amat lagaknya! .... Sim-heng, biar kuikut ke sana."

Begitulah mereka lantas mendekati meja si kakek. Tapi pandangan si kakek hanya tertuju kepada Sim Long saja seorang, katanya.

"Maafkan jika orang tua tidak dapat berdiri untuk menyambut ...."

Mendadak air mukanya berubah aneh, sambungnya pula.

"Ya, sebab orang tua memang mempunyai alasan agar Kongcu dapat memaafkan hal ini."

Apa alasanmu?"

Tanya si Kucing dengan mendongkol.

Si kakek tidak menjawab, ia cuma sedikit menyingkap baju bagian bawah.

Kiranya si kakek tidak punya kaki.

Kaki celananya ternyata kosong melompong tanpa isi.

Dengan sorot mata tajam si kakek lantas menatap si Kucing.

"Apa alasanku tentu tidak perlu lagi kujelaskan, bukan?"

Si Kucing jadi menyesal, katanya dengan gelagapan.

"O, ini ... ini ...."

"Nah, engkau puas sekarang?"

Jengek si kakek.

"Maka hendaknya engkau menyingkir saja agak jauh, aku tidak mengundang dirimu, jika engkau ikut duduk di sini tentu juga merasa tidak enak."

Tentu saja si Kucing melenggong. Tapi ia lantas tertawa.

"Haha, sungguh tak tersangka aku bisa diusir orang, bahkan tidak dapat berbuat apa-apa, sungguh baru pertama kali ini kualami kejadian demikian selama hidup. Tapi jika aku tidak ikut duduk melainkan cuma berdiri saja di samping, kan boleh?"

Bila Anda tidak tahu diri, ya terserah,ücap si kakek. Lalu ia tidak menggubrisnya lagi, kembali ia tersenyum terhadap Sim Long dan berkata.

"Silakan duduk."

Terima kasih,"

Kata Sim Long.

Si Kucing menjadi kikuk dan serbasalah, tapi dia benar-benar berdiri di samping situ dan tidak pergi.

Si kakek lantas memanggil pelayan membawakan lagi tujuh buah cawan arak dan ditaruh di depan Sim Long, dengan tertawa gembira ia berkata.

"Sebagai seorang ahli minum, tentu Kongcu juga kenal setiap jenis arak."

Sulit mencari sahabat di dunia ini, apa salahnya mencarinya di dalam cawan,üjar Sim Long dengan tertawa.

"Ah, bagus, bagus sekali,"

Seru si kakek sambil berkeplok.

Lalu ia angkat poci arak pertama dan menuangkan pada cawan di depan Sim Long, hanya setengah cawan saja arak yang dituangnya, arak berwarna hijau muda rada pucat, serupa air muka si kakek.

"Sebagai seorang ahli, silakan Anda cicipi arak ini,"

Kata si kakek. Tanpa ragu Sim Long angkat cawan itu dan ditenggaknya hingga habis, serunya dengan tertawa.

"Ehm, arak bagus."

Arak apakah ini, dapatkah Anda membedakannya?"

Tanya si kakek. Dengan tersenyum Sim Long menjawab.

"Rasa arak ini ada halusnya dan ada kerasnya, rasanya seperti campuran Tay-mi-ciu dan Tik-yap-jing."

Haha, sungguh hebat, Kongcu ternyata benar seorang ahli,"

Seru si kakek.

"Tik-yap-jing dan Tay-mi-ciu mempunyai rasa yang berbeda sama sekali, tapi kalau dicampur, rasanya menjadi lain daripada yang lain."

Ya, kalau tidak dicampur oleh tangan ajaib Lotiang, mana bisa sebagus ini rasa arak campuran ini?üjar Sim Long. Si kakek menghela napas gegetun.

"Terus terang, selama hidupku ini memang banyak membuang waktu dalam hal campur-mencampur arak. Baru sekarang dapatlah bertemu dengan seorang ahli yang sepaham seperti Kongcu ini."

Dengan mendongkol tiba-tiba si Kucing berteriak.

"Huh, hanya mencampur dua macam arak saja, anak kecil umur tiga juga bisa, kenapa mesti dibuat membual segala?"

Si kakek tetap tenang saja, bahkan tidak menggubrisnya, ia cuma berkata dengan perlahan.

"Ada sementara bocah ingusan yang mengira sangat gampang mencampur arak, tak diketahuinya bahwa betapa banyak jenis arak di dunia ini serupa bintang di langit yang sukar dihitung. Dengan cara bagaimana untuk mencampur arak dan mencampurnya dengan jenis arak apa agar dapat menghasilkan arak campuran yang mempunyai cita rasa yang paling enak, kepandaian demikian masakah dapat dipahami begitu saja oleh anak ingusan yang tidak tahu apa-apa itu?"

Tentu saja si Kucing tambah mendongkol, tapi dia memang bukan ahli minum, terpaksa tidak bisa bicara lagi. Dengan tersenyum Sim Long meliriknya sekejap, lalu berkata.

"Kata pepatah. Mengarang adalah bakat pembawaan, keahlian hanya timbul secara kebetulan. Kukira kepandaian Lotiang mencampur arak juga bakat pembawaan ditambah dengan keringanan tanganmu yang hebat."

Tepat, perumpamaanmu memang tepat,"

Seru si kakek.

"Tulisan harus dirangkai oleh tangan penulis yang ahli supaya dapat terbentuk sebuah karangan yang baik. Arak juga memerlukan tangan kaum ahli untuk mencampurnya baru dapat menghasilkan arak paling enak."

Jika begitu, biarlah kucicipi lagi arak yang lain,"

Pinta Sim Long dengan tertawa.

Segera si kakek mengangkat poci kedua dan menuangkan pula setengah cawan pada cawan kedua di depan Sim Long, warna arak ini kemerah-merahan, tapi bersemu semacam warna hijau yang aneh.

Warna ini serupa juga dengan sorot mata si kakek.

Tanpa sungkan Sim Long angkat cawan dan menghabiskan lagi isinya, lalu berkata pula dengan gegetun.

"Ehmm, sungguh arak bagus? Bukankah arak ini terdiri dari Li-ji-hong (arak merah putri) dan ditambah arak Mau-tay dan Tik-yap-jing, lalu diberi lagi beberapa tetes arak Ho-yok-ciu?"

Haha, memang betul,"

Sahut si kakek dengan tertawa.

"Untuk mencampur arak ini, banyak juga memeras pikiranku ...."

Begitulah tambah lama kedua orang merasa semakin cocok satu sama lain.

Waktu si kakek menuangkan lagi arak ketiga, Him Miau-ji tidak tahan lagi berdiri di situ, terpaksa ia mencari kesempatan untuk mengeluyur kembali ke tempatnya semula.

"Saudara jadi kembali juga,"

Kata Kiau Ngo dengan tertawa. Si kucing mengangkat pundak, sahutnya dengan tertawa.

"Minum arak adalah untuk mencari kesenangan, masa perlu repot campur mencampur begitu, bagiku lebih baik tidak minum daripada mencampur arak dengan susah payah."

Betul, kau lebih enak minum seadanya saja semangkuk demi semangkuk,üjar Kiau Ngo dengan tertawa.

"Tampaknya Kiau-heng adalah teman sepahamku¡"

Kata si Kucing.

"Mari kita minum!"

Kedua orang lantas menghabiskan tiga cawan sambil selalu melirik ke arah sana.

"Kukira kalian tentu juga ingin minum arak campuran kakek itu,"

Tiba-tiba Hoa Si-koh menggoda dengan tertawa.

"Siapa bilang aku ingin minum,"

Kiau Ngo mendelik. Dengan tertawa Him Miau-ji menanggapi.

"Rezeki Sim Long selalu jauh lebih besar daripada orang lain. Selain rezeki terhadap anak perempuan, juga rezeki makan jauh lebih besar daripada orang lain."

Tapi jangan kau kira beberapa cawan arak itu dapat diminumnya dengan mudah?üjar Hoa Si-koh. Si Kucing berkedip-kedip.

"Apa arti ucapanmu ini? Orang menuangkan arak baginya, sekali tenggak isi cawan pun habis, kenapa diminumnya dengan tidak mudah katamu?"

Justru lantaran orang menuangkan arak, makanya tidak mudah baginya meminum arak itu,"

Si-koh.

"Wah, makin omong aku jadi makin bingung,"

Kata si Kucing sambil menyengir.

"Bukan cuma kau saja yang bingung, aku pun tidak mengerti,"

Tukas Kiau Ngo.

"Coba kalian lihat ke sana dengan lebih cermat,"

Kata Si-koh. Waktu Him Miau-ji dan Kiau Ngo memandang ke sana, terlihat Sim Long sudah habis minum cawan kelima dan sedang angkat cawan keenam.

"Nah, lihat yang betul, sekarang Sim-siangkong lagi angkat cawan araknya, bukan?"

Tanya Si-koh.

"Betul,"

Kata si Kucing.

"Dan si kakek lagi memegang poci dan ... dan menuang, bukan?"

Ya, mulut poci sudah menyentuh cawan Sim Long."

"Betul, dan dia sudah mulai menuang araknya,"

Sambung Kiau Ngo.

"Masa belum kau lihat sesuatu yang aneh?"

Kata Si-koh.

"Apa ... apanya yang aneh? ...."

Kiau Ngo merasa bingung.

"Aha, betul,"

Seru si Kucing dengan suara tertahan.

"Gerakan kakek itu sangat lambat, caranya menuang arak juga perlahan, kita telah bicara sekian lama, tapi secawan arak saja belum penuh dituangnya."

Ya, dan sekarang tentu dapat kau lihat apa sebabnya kelambanan gerak-geriknya, bukan?"

"Sungguh tidak nyata kakek ini mempunyai tenaga dalam sehebat ini sehingga dapat menandingi Sim Long dengan sama kuatnya, sungguh luar biasa,"

Kata si Kucing.

Kiranya dilihatnya cara menuang arak si kakek yang lambat itu, lengan bajunya juga bergetar seolah-olah tangannya lagi gemetar.

Sebaliknya Sim Long kelihatan tetap tersenyum, cuma senyumnya juga rada kaku, bahkan lengan bajunya juga rada bergetar.

Yang hebat adalah cawan arak yang dipegangnya mendadak kelihatan gumpil sedikit, tertindih oleh mulut poci arak si kakek dan mulut poci terbuat dari timbel itu pun mulai melengkung.

Nyata kedua orang telah mulai mengadu tenaga dalam secara diam-diam.

"Menurut pandanganku, Sim-kongcu tetap lebih unggul,"

Gumam Kiau Ngo.

"Dengan sendirinya Sim Long lebih unggul, tapi di dunia Kangouw zaman ini ada berapa orang yang dapat memaksa Sim Long mengeluarkan tenaga sebesar ini?"

Kata si Kucing.

"Betul juga,üjar Kiau Ngo.

"Sebab itulah semakin kurasakan keanehan kakek ini, begini tinggi kungfunya, mengapa kedua kakinya buntung? Tingkah lakunya juga seaneh ini? Entah bagaimana asal usulnya?"

Tampaknya dia dan Sim-siangkong pasti ada sesuatu persoalan, kalau tidak masakah begitu berkenalan lantas mengadu tenaga dalam dengan mati-matian?üjar Kiau Ngo.

Selagi mereka sama merasa bingung, tiba-tiba terlihat cawan arak dan poci arak sudah terpisah, rupanya arak sudah cukup tertuang.

Sim Long lantas menenggak habis lagi isi cawannya dan tetap berseru dengan tertawa.

"Ehm, arak sedap!"

Bruk", si kakek menaruh poci di atas meja tapi mulut poci lantas putus sebatas leher dan jatuh, namun si kakek anggap tidak terjadi sesuatu, ucapnya dengan tertawa.

"Arak ini tentu saja sedap, arak yang kucampur, makin banyak kau minum, selalu muncul lagi yang lebih enak."

Jika demikian, cawan ketujuh ini pasti terlebih sedap,"

Kata Sim Long dengan tertawa.

"Sedap atau tidak, setelah dicoba tentu akan tahu,üjar si kakek. Perlahan ia angkat poci ketujuh dan disodorkan ke depan. Dengan mengulum senyum Sim Long juga pegang cawan ketujuh untuk menyambut poci orang.

"Kakek ini sungguh bandel,"

Kata si Kucing dengan kening bekernyit.

"Sudah jelas tahu tenaga dalamnya tidak lebih unggul, mengapa masih juga ...."

Jilid 20 Belum habis ucapannya mendadak terlihat tangan Sim Long membalikkan guci cawan arak pada telapak tangannya dengan jari kelingking, lalu dengan jari telunjuk, jari tengah, dan ibu jari ia pencet mulut poci si kakek serta dirampasnya dengan enteng.

Si kakek tetap tenang saja, katanya dengan tertawa.

"Apakah Kongcu ingin menuang sendiri?"

Sim Long hanya tertawa saja tanpa menjawab, sebaliknya ia mendorong daun jendela dan melongok ke luar, lalu poci arak dijulurkan, seluruh isi poci dituangnya ke luar jendela.

Akhirnya berubah juga air muka si kakek.

"Mengapa Kongcu berbuat demikian?"

Betapa pun arak cawan ketujuh suguhan Lotiang ini tidak berani kuterima,"

Sahut Sim Long.

"Bila enam cawan sudah kau minum, sepantasnya kau minum juga cawan ketujuh, jika sekarang engkau bersikap kurang sopan padaku, seharusnya keenam cawan arak tadi tidak kau minum,"

Damprat si kakek.

"Soalnya keenam cawan arak yang lebih dulu memang boleh diminum dan cawan ketujuh ini tidak boleh kuminum,üjar Sim Long dengan tersenyum.

"Kau ...."

Belum lanjut ucapan si kakek, mendadak Sim Long turun tangan secepat kilat, sekali tangannya meraih saku baju si kakek, belum lagi orang sempat berbuat sesuatu, cepat Sim Long menarik kembali tangannya, dan pada tangannya sudah bertambah sebuah kotak kecil mungil buatan kemala hijau berukir.

Di atas loteng restoran sekarang selain Hoa Si-koh, Kiau Ngo dan Him Miau-ji bertiga, masih banyak juga berpasang mata yang menyaksikan tontonan menarik ini.

Mereka sama terkejut melihat Sim Long mendadak bertindak demikian.

Si kakek juga kaget, tapi sedapatnya ia berlagak tenang dan membentak.

"Dengan maksud baik kuajak minum arak padamu, mengapa engkau bertindak kasar begini? .... Kembalikan!"

Tentu saja akan kukembalikan, cuma ...."

Dengan tertawa Sim Long membuka kotak kemala itu, dengan kuku jari kelingking ia mencukit setitik bubuk merah dan disentilkan ke dalam cawan arak, dipandangnya dengan cermat, lalu berucap dengan menyesal.

"Ternyata benar racun yang tidak ada bandingannya."

"Apa katamu?"

Teriak si kakek bengis.

"Jika Lotiang tidak menjentikkan racun ini ke dalam arak secara diam-diam, tentu sejak tadi arak cawan ketujuh sudah kuminum,"

Kata Sim Long.

"Kentut!"

Damprat si kakek dengan gusar.

"Kau ...."

Dengan tertawa Sim Long memotong.

"Tadi Lotiang telah beradu tenaga dalam denganku, tujuanmu hanya ingin memencarkan perhatianku saja. Jika aku anak kemarin, tanpa curiga tentu akan kuminum arak cawan ketujuh dan ....ïa menengadah dan tergelak, lalu menyambung.

"Haha, mungkin saat ini aku tidak dapat minum arak lagi!"

Wajah si kakek tampak pucat, namun dia masih juga menjengek.

"Hm, antara kita tidak ada permusuhan, bahkan belum pernah kenal, untuk apa kubikin celaka padamu?"

Sim Long tersenyum.

"Kukira Lotiang sudah kenal diriku, mengenai dirimu ... sekarang dapat juga kukenal Lotiang."

Kau kenal padaku?"

Tanya si kakek dengan melengak.

"Duta Arak, datang dari Kwan-gwa ...."

Belum lanjut ucapan Sim Long, serentak si kakek meraung murka, rambut dan jenggotnya seakan-akan menegak ....

Percakapan di sebelah sini dapat diikuti Him Miau-ji dan lain-lain dengan jelas.

Rada berubah juga air muka Kiau Ngo, katanya.

"Tak tersangka kakek ini adalah satu di antara keempat duta andalan Koay-lok-ong."

Ya, tindak tanduknya serapi ini akhirnya juga terbongkar oleh Sim-siangkong,"

Tukas Hoa Si-koh.

Saat itu sinar mata si Duta Arak telah berubah serupa pisau yang tajam sedang menatap Sim Long, sungguh anak muda itu ingin diganyangnya mentah-mentah.

Tapi setelah dia pandang Sim Long sekian lama, akhirnya sinar matanya berubah menjadi halus, rambut dan jenggotnya yang seolah-olah menegak itu sama lurus kembali, api kemarahannya telah padam.

"Tidak salah bukan terkaanku?"

Kata Sim Long dengan tersenyum. Tiba-tiba tersembul juga senyuman si kakek.

"Ya, sungguh lihai ... memang betul ...."

Jika begitu, dapatkah kutahu nama Lotiang yang terhormat?"

"Aku Han Ling,"

Sahut si kakek.

"Bagus,"

Seru Sim Long.

"Dahulu ada seorang tokoh Lau Ling terkenal sebagai dewa arak, sekarang ada Han Ling yang Duta Arak, sungguh beruntung sekali hari ini aku dapat berjumpa dengan Ciu-say (Duta Arak)."

Han Ling juga berkeplok tertawa dan berkata.

"Cuma sayang, semangatku minum arak sambil bekerja tak dapat menandingi Lau Ling."

Begitulah kedua orang lantas bergelak tertawa bersama, tampaknya sangat gembira. Semua orang saling pandang dengan bingung.

"Sim-siangkong sungguh berjiwa besar, si kakek bermaksud membikin celaka padanya, sama sekali dia tidak menyinggung soal ini, sebaliknya masih bicara dan tertawa bersama dia,ücap Kiau Ngo dengan gegetun.

"Di balik tertawanya sinar mata si kakek tampak gemerdep, entah rencana keji apa pula yang diaturnya, kukira Sim-siangkong harus berhati-hati."

Jangan khawatir, tidak nanti Sim Long terperangkap,üjar si Kucing.

"Wah, celaka ...."

Tiba-tiba Hoa Si-koh berseru tertahan.

"Ada apa?"

Tanya Kiau Ngo.

"Lihatlah kedua kaki orang tua itu!"

Mana dia punya kaki?üjar si Kucing dengan heran.

Belum lenyap suaranya, mendadak terdengar Sim Long tertawa panjang, meja di depannya lantas mencelat, segera cahaya kebiruan berkelebat di kolong meja.

Si Kucing dapat melihat cahaya itu terpancar dari kaki celana si kakek yang bernama Han Ling itu.

Ternyata di dalam kaki celana kedua kaki yang buntung itu tersembunyi dua bilah pedang.

Dua bilah pedang beracun.

Rupanya sambil bicara dan tertawa, mendadak kedua kaki pedang di kolong meja terus menendang, asalkan Sim Long tersentuh saja, seketika bisa binasa keracunan.

Siapa tahu Sim Long seperti dapat melihat di kolong meja, begitu kaki Han Ling bergerak, seketika dia lantas menggeser mundur.

Sekali serang tidak kena sasarannya, menyusul meja lantas didomplangkan oleh Han Ling, meja menabrak ke arah Sim Long, sedangkan Han Ling sendiri lantas melompat maju, kedua kaki pedang menendang susul-menyusul.

Agaknya sehari-hari dia berjalan dengan pedang sebagai kaki, latihan selama 20 tahun ini membikin kedua bilah pedang yang direndam dengan racun telah tumbuh serupa kaki asli.

Tendangan kaki pedangnya sungguh lihai sekali, gesit dan tajam.

Semua orang sama menjerit kaget.

Bahkan Him Miau-ji dan Kiau Ngo terus memburu maju sambil membentak.

Pada saat itulah mendadak tertampak Sim Long berputar kian kemari di tengah sinar pedang, beruntun Han Ling menendang tujuh kali dan semuanya mengenai tempat kosong.

Habis ini mendadak ia menghantam jendela hingga hancur lalu secepat terbang ia menerobos keluar.

Waktu Si Kucing dan Kiau Ngo memburu ke depan jendela, tahu-tahu si kakek yang keji itu sudah lenyap.

Suasana di dalam restoran itu menjadi gempar.

Si Kucing mengentak kaki dan mengomel.

"Sim-heng, mengapa engkau tidak balas menyerang dan juga tidak mengejarnya?"

Sim Long termenung sejenak, katanya kemudian.

"Mengingat Kim Bu-bong, biarlah kuampuni dia sekali ini."

Him Miau-ji juga termenung sejenak, katanya kemudian.

"Ya, memang pantas lepaskan dia."

Tapi melepaskan harimau lebih mudah daripada menawannya,üjar Kiau Ngo.

"Ada Singa Jantan di sini, kenapa takut kepada harimau?"

Sim Long berseloroh.

"Haha, jika Cayhe benar Singa, maka Anda adalah Naga Sakti,"

Seru Kiau Ngo dengan bergelak.

"Bagus, kalian yang satu singa dan yang lain naga, tapi ada lagi seekor kucing di sini,"

Tukas Miau-ji.

Di tengah gelak tertawa, ketiga kesatria gagah ini seolah-olah sudah melupakan pertarungan maut yang hampir membikin jiwa melayang tadi.

Pada saat itulah mendadak seorang pemuda tampan mendekati Sim Long, lalu mengamat-amatinya dari atas ke bawah dan dari bawah ke atas.

"Saudara ini ...."

Sim Long merasa heran.

"O, Cayhe Sing Hian,"

Kata pemuda tampan itu.

"Mukanya kan tidak berbunga, apa yang kau pandang?"

Tanya Miau-ji. Sing Hian tidak menghiraukannya, dipandangnya lagi beberapa kejap lalu mengangguk dan berucap.

"Betul, engkaulah Sim Long yang sebenarnya."

Sim Long yang sebenarnya? .... Memangnya ada Sim Long palsu?üjar Sim Long dengan tertawa.

"Ada satu,"

Kata Sing Hian dengan menyesal.

"Sim Long palsu?"

Teriak Miau-ji.

"Di mana? Pernah kau lihat?"

Tentu saja telah kulihat, baru saja berada di sini,"

Tutur Sing Hian.

"Sekarang di mana?"

Desak si Kucing.

"Sekarang dia ...."

Mendadak terbayang wajah yang menggiurkan itu, seketika Sing Hian berhenti bicara.

"Ayolah katakan, kenapa diam?"

Desak si Kucing. Sing Hian tersenyum.

"Bisa jadi orang itu cuma sama nama dengan Sim-siangkong."

Coba jelaskan, biar kita tanyai dia,üjar Miau-ji.

"Wah, ini ...."

Mendadak si Kucing memegang pundaknya dan membentak.

"Mau bicara atau tidak."

Hm, mestinya ingin kukatakan, sekarang aku jadi tidak mau,"

Jawab Sing Hian ketus. Miau-ji mendelik, tapi mendadak ia bergelak tertawa.

"Aha, bagus, tak tersangka engkau juga seorang jantan, selama hidup si Kucing paling suka kepada lelaki keras kepala seperti dirimu ini. Mari, urusan lain kita tunda dulu, biarlah kita minum dulu tiga cawan."

Habis bicara benar-benar Sing Hian lantas diseretnya ke sana untuk minum arak. Kiau Ngo menggeleng kepala.

"Kucing ini sungguh lucu."

Ya, bila tidak kenal si Kucing, sungguh akan menyesal,"

Tukas Sim Long dengan tertawa.

Terlihat Sing Hian telah kembali setelah dicekoki tiga cawan arak, dia memang sudah minum cukup banyak, ditambah lagi tiga cawan ini, langkahnya mulai sempoyongan.

Sim Long memayangnya dan berkata.

"Lain kali jangan adu minum cepat dengan si Kucing, minumlah secara lambat, dia pasti takkan melebihi dirimu."

Sing-heng bukan anak perempuan, mana dia mau minum seceguk demi seceguk,üjar si Kucing dengan tertawa.

"Seorang lelaki, kalau mabuk biarlah mabuk, kalau tidak tahan ya menggeletak, cara beginilah baru tingkah seorang lelaki sejati."

Betul, betul, kalau mabuk biar mabuk, kalau tidak tahan biar menggeletak, apa salahnya? .... Tapi aku belum lagi mabuk. Betul tidak, Sim-heng, aku kan belum mabuk?"

Seru Sing Hian dengan muka merah.

"Ya, tidak mabuk,"

Jawab Sim Long.

"Bagus, Sim-heng memang adil."

Kata Sing Hian pula.

"Eh, Sim-heng, jangan khawatir, bilamana kau ingin menemui Sim Long yang satu lagi, tunggulah sampai besok."

Besok?"

Sim Long menegas.

"Ya, besok ... besok adalah pertemuan kaum jembel, dia pasti akan ikut hadir!"

Sim Long melengak, katanya kemudian.

"Baiklah, dalam sidang kaum jembel besok kukira macam-macam orang dapat kulihat, tentu juga dapat kutemui berbagai orang yang ingin kujumpai."

Pada saat itulah tiba-tiba datang seorang pelayan, dia tidak berani lagi memandang Him Miau-ji, agaknya sudah kapok, ia berhenti di kejauhan dan bicara dengan kepala menunduk.

"Adakah Sim-siangkong di sini?"

"Ya, aku inilah,"

Sahut Sim Long.

"Juragan kami telah menyiapkan sekadar perjamuan di belakang, mohon Sim-siangkong sudi berkunjung ke dalam,"

Kata si pelayan sambil memberi hormat. Selagi Sim Long merasa ragu, dengan tertawa si Kucing menyela.

"Hah, kembali ada orang hendak menjamu dirimu, ramai juga bisnismu."

Ya, kenapa tidak ada orang mengundang makan padaku?"

Tukas Sing Hian. Sim Long lantas menjawab.

"Sampaikan saja kepada juraganmu, katakan Sim Long sudah kenyang dan mabuk, tidak berani mengganggunya lagi."

Cepat si pelayan bicara pula.

"Tapi juragan memberi pesan dengan sangat Sim-siangkong harus diminta sudi berkunjung, sebab ... sebab juragan ingin berunding mengenai ... mengenai seorang nona Cu."

O, jika ... jika begitu, baiklah,"

Sahut Sim Long cepat. Begitulah si pelayan lantas membawa Sim Long ke dalam.

"Nona Cu yang dimaksudkan itu apakah putri keluarga Cu yang kaya raya itu?"

Tanya Kiau Ngo setelah Sim Long pergi.

"Ya, jangan-jangan dia juga datang atau ... atau mungkin dia membikin onar lagi .... Tapi ada hubungan apa pula antara dia dengan juragan restoran ini?"

Gumam si Kucing.

***** Sementara itu Cu Jit-jit sudah tiba kembali di hotelnya, begitu dia suruh kedua bibi pengusung ke luar, segera ia gabrukkan pintu kamar dengan keras.

Ong Ling-hoa berduduk tak bisa berkutik menyaksikan si nona yang uring-uringan sendiri itu.

Dilihatnya Jit-jit mondar-mandir di dalam kamar, lalu minum teh seceguk, habis itu mendadak cangkir teh dibantingnya hingga hancur.

Ong Ling-hoa tetap memandangnya dengan geli.

Mendadak Jit-jit mendekati Ling-hoa dan membuka Hiat-to bisunya, lalu membalik ke sana, tiba-tiba dia kesandung bangku yang mengadang di depan, dengan gemas ia tendang bangku itu hingga mencelat.

Tapi tendangannya itu membuat sakit tulang kakinya, tanpa terasa ia berjongkok untuk menggosok-gosok bagian yang sakit itu.

Keruan Ong Ling-hoa tertawa geli.

Seketika Jit-jit mendelik.

"Kau tertawa apa?"

Aku ... haha .... O, tidak ...."

"Ayo tertawa, berani tertawa lagi bisa kukawinkan dirimu dengan bocah she Sing itu,ömel Jit-jit. Baru habis berkata demikian, ia sendiri jadi tertawa geli. Namun tertawa ini sangat singkat, sebab dengan segera dia teringat kepada Sim Long sehingga tidak mampu tertawa lagi.

"Ai, kenapa ... kenapa menendang bangku hingga kaki sendiri kesakitan, apalagi ... apalagi sengaja mencari satu orang untuk ... untuk ... untuk menyakiti hatinya sendiri, kan cari penyakit sendiri?"

Apa kau bilang?"

Bentak Jit-jit.

"Aku lagi tanya pada diriku sendiri, apa lelaki di dunia ini sudah mati seluruhnya dan cuma bersisa seorang Sim Long saja, padahal setahuku kebanyakan orang jauh lebih baik daripada orang she Sim itu."

Jit-jit memburu ke depannya dengan tangan terangkat. Tapi dia tidak jadi menggamparnya. Diam-diam ia pun bertanya kepada diri sendiri.

"Ya, apakah lelaki di dunia ini sudah mati semua? Ken ... kenapa aku tetap terkenang kepada Sim Long seorang dan tidak dapat melupakannya?"

Mendadak ia mengentak kaki dan berteriak.

"Aku harus membalas ... harus menuntut balas."

Perlahan Ong Ling-hoa berkata.

"Melulu tenagamu sendiri, mungkin tidak gampang jika ingin balas dendam kepada Sim Long ...."

Memangnya kenapa, aku tidak mampu katamu?"

Bentak Jit-jit dengan mendongkol.

"Dengan sendirinya mampu, cuma ... cuma perlu mengikutsertakan diriku. Aku yang akan mencarikan akal bagimu. Dengan bantuanku, mustahil Sim Long takkan bertekuk lutut di depanmu."

Jit-jit memandangnya lekat-lekat sampai lama, mendadak ia membalik ke sana dengan badan agak gemetar, nyata sedang terjadi pertentangan batinnya dengan hebat. Dengan tersenyum Ong Ling-hoa berkata.

"Padahal, menurut pendapatku, hanya sedikit tersinggung saja mestinya tidak perlu dipersoalkan lagi. Orang she Sim itu memang sukar dihadapi, buat apa ...."

Siapa bilang sukar menghadapi dia, aku justru akan menghadapi dia,"

Teriak Jit-jit dengan gusar sambil berpaling pula.

"Jika begitu, apakah engkau sudah ada rencana?"

Tanya Ling-hoa.

"Aku ... aku ....¡"

Mendadak timbul suatu pikiran Jit-jit, teriaknya.

"akan kubikin setiap orang sama benci padanya dan memusuhi dia.

Ya, ini memang gagasan bagus,üjar Ling-hoa sambil manggut-manggut.

"Tapi cara bagaimana akan kau bikin semua orang memusuhi dia? .... Tentunya kau saksikan sendiri tadi, sekarang dia adalah tokoh kesayangan orang banyak."

Hm, tentu ada rencanaku,üjar si nona.

Kembali ia mondar-mandir lagi di dalam kamar, kemudian ia berhenti di depan Ong Ling-hoa dan berkata,¡ "Sesungguhnya bagaimana dengan rapat besar orang Kay-pang itu, tentunya kau tahu urusan ini?"

Memang tidak ada orang lain yang lebih tahu daripadaku mengenai urusan ini,üjar Ling-hoa dengan tertawa.

"Coba ceritakan,"

Pinta Jit-jit.

"Soalnya Co Kong-liong ingin menjadi Pangcu, telah kusanggupi akan membantu dia, sebab itulah dia mengumpulkan segenap anak murid Kay-pang ke sini."

Tapi sekarang Co Kong-liong telah kabur hingga tak tahu di mana jejaknya, engkau juga ... hehe, juga tidak tahu bagaimana nasibnya sendiri selanjutnya."

"Perubahan semua ini kan tidak diketahui oleh orang Kay-pang, yang jelas setelah mereka menerima panggilan ketiga sesepuh mereka, dengan sendirinya mereka lantas berkumpul dari berbagai penjuru."

Dan para kesatria yang datang sebagai peninjau itu diundang oleh siapa?"

"Dengan sendirinya juga Co Kong-liong,"

Tutur Ling-hoa.

"Kalau dapat naik singgasana sebagai Kay-pang Pangcu, hal ini adalah peristiwa menggembirakan baginya, tentu saja dia ingin para kesatria sejagat sama berkumpul untuk menyaksikan dia naik takhta."

Itu dia,"

Mendadak Jit-jit bertepuk tangan.

"Wah, tampaknya engkau ada akal bagus?"

Sorot mata Jit-jit penuh rasa senang dan bangga, katanya dengan tertawa.

"Ong Ling-hoa, supaya kau tahu, aku ini juga bukan orang baik hati. Mendingan kalau tidak ada maksudku hendak membikin susah orang lain, bilamana ingin kubikin celaka orang kukira tindakanku pasti tidak kalah kejamnya daripadamu."

Sesungguhnya ada akal bagus apa, coba ceritakan?"

Tanya Ong Ling-hoa dengan tertawa.

"Begini,"

Gemerdep sinar mata Jit-jit.

"setelah anak murid Kay-pang menerima panggilan Co Kong-liong, segera mereka berkumpul ke sini. Hal ini menunjukkan Co Kong-liong dalam pandangan anak murid Kay-pang masih dianggap sebagai pucuk pimpinan."

Memang,"

Kata Ling-hoa.

"Dan bila para kesatria Bu-lim, termasuk ketujuh tokoh top saat ini juga ikut hadir dari jauh, ini pun menandakan nama Co Kong-liong di dunia persilatan cukup dihormati."

Di dunia Kangouw memang Co Kong-liong terkenal sebagai orang baik hati,üjar Ong Ling-hoa dengan tertawa.

"Kalau bicara tentang nama baik, mendiang Pangcu yang dulu juga tidak lebih unggul daripada dia."

Dari sini terlihat bahwa sampai sekarang orang Kangouw umumnya belum lagi kenal wajah asli Co Kong-liong, semuanya masih sayang dan mendukung dia."

"Ya, asalkan aku dan engkau tidak bicara pasti orang lain tidak tahu."

Mendadak Jit-jit menarik muka, katanya pula.

"Maka, bila sekarang ada berita yang menyatakan Co Kong-liong telah dibunuh oleh Sim Long, tentu tidak sedikit orang yang akan menuntut balas bagi Co Kong-liong."

Meski sedapatnya ia berlagak memperlihatkan wajahnya yang beringas dan kejam, tapi lagaknya justru tidak mirip.

Diam-diam Ong Ling-hoa merasa geli, tapi di mulut dia terus memuji kebagusan akal si nona.

"Tidak cuma kita siarkan Sim Long membunuh Co Kong-liong, kita juga bilang Tan Kiong dan Auyang Lun terbunuh semua oleh Sim Long, dengan demikian orang yang akan mencari perkara kepadanya pasti akan tambah banyak."

Bagus, bagus sekali ...."

Seru Ling-hoa dengan tertawa. Tapi mendadak ia berkerut kening.

"Ah, cuma ada sedikit yang kurang bagus."

"Apa yang tidak bagus?"

Tanya Jit-jit.

"Kan Co Kong-liong belum mati, jika dia muncul ...."

Katanya engkau ini orang pintar, nyatanya begini goblok,ömel Jit-jit dengan tertawa.

"Munculnya Co Kong-liong kan lebih baik, bukankah dia juga benci sekali terhadap Sim Long, bila dia muncul, tentu kita dapat menyuruh dia mengaku memang habis lolos dari cengkeraman Sim Long, hanya Tan Kiong dan Auyang Lun yang benar-benar telah mati terbunuh.Ïa berhenti sejenak, lalu menyambung sambil berkeplok.

"Jika Co Kong-liong sendiri yang memberi keterangan demikian, siapa pula yang tidak percaya?"

Aha, betul, sungguh sangat bagus!"

Seru Ling-hoa. Mendadak ia berkerut kening dan menyambung.

"Tapi ... tapi apa yang kita katakan ini apakah dapat di ... dipercaya orang lain?"

Makanya kita juga perlu lagi seorang peran pembantu, berita ini tidak perlu kita siarkan sendiri, tapi melalui mulut pembantu inilah berita ini disebarkan."

"Wah, bagus, akal bagus!"

Supaya orang lain percaya kepada berita yang disiarkan pembantu ini, maka pembantu yang kita pilih juga harus seorang tokoh yang berwibawa, apa yang diucapkannya harus berbobot."

"Orang semacam ini mungkin ... mungkin sukar dicari,üjar Ling-hoa.

"Kenapa kau lupa, bukankah sekarang juga ada satu orang berada di sini."

Siapa?"

Tanya Ling-hoa dengan heran.

"Oo ... apakah kau maksudkan bocah itu?"

Ya, bocah she Sing itu."

"Tapi dia ... dia ...."

Ling-hoa tampak ragu.

"Meski dia cuma seorang pemuda ingusan, belum menonjol di dunia persilatan, tapi keluarganya, Sing-keh-po, kan keluarga yang terkenal di dunia Kangouw. Masakah putra keluarga ternama itu tak dipercaya orang?"

Betul, soalnya terletak pada ... apakah dia mau?"

"Untuk ini tentu saja masih perlu pakai akal,üjar Jit-jit.

"Akal apa yang akan kita gunakan terhadapnya?"

Akal Hoan-kan-keh (akal memecah belah, mengadu domba),"

Jit-jit mengerling Ong Ling-hoa sekejap, lalu menambahkan dengan tertawa.

"Dengan sendirinya juga Bi-jin-keh (akal memperalat perempuan cantik).Öng Ling-hoa melengak.

"Bi-jin-keh? .... Wah, masakah hendak ... hendak kau gunakan diriku ...."

Betul, hendak kuperalat nona cantik dirimu ini,"

Kata Jit-jit sambil mengikik tawa.

"Bahwa ada orang terpikat kepadamu, kan seharusnya kau senang, kenapa malah sedih?"

Habis berkata, ia tertawa terpingkal-pingkal hingga menungging. Keruan Ling-hoa mendongkol dan gelisah, serunya.

"Tapi ... tapi ini ...."

"Tidak perlu ini-itu,üjar Jit-jit dengan memegang perut yang mulas.

"Ini kan beruntung bagimu, telah kucarikan jodoh bagus bagimu, mestinya engkau berterima kasih kepadaku."

Dengan bersungut Ong Ling-hoa berkata.

"Tapi ... tapi kalau dia benar hendak ... hendak anu ...."

Kembali Jit-jit terpingkal-pingkal hingga hampir tidak dapat bernapas, ucapnya kemudian.

"Itu kan urusanmu, aku ... aku tidak tahu ...."

Mendadak ia membuka pintu dan memanggil pelayan. Panggilan tuan muda yang padat sakunya tentu saja ditaati si pelayan secepat terbang.

"Ada sesuatu urusan kuminta kau kerjakan, entah dapat tidak?"

Kata Jit-jit.

"Silakan Kongcu bicara,"

Jawab si pelayan dengan munduk-munduk.

"Ada seorang kawanku, she Sing, namanya Hian, dia juga berada di kota ini, cuma tidak diketahui tinggal di hotel mana, dapatkah kau carikan bagiku?"

Ah, pekerjaan gampang, segera hamba carikan,"

Sahut si pelayan.

"Baik, lekas kerjakan, bila berhasil kuberi persen."

Tidak kepalang girang si pelayan, sambil mengiakan segera ia berlari pergi.

"Setan pun doyan duit, apalagi seorang pelayan,"

Gumam Jit-jit kemudian.

"Eh, Ong Ling-hoa, kau ...."

Belum lanjut ucapannya, sekonyong-konyong terdengar seorang berteriak di luar.

"Hai, pelayan, adakah seorang Kongcu muda bersama seorang nona jelita tinggal di sini?"

Suara orang ini lantang serupa bunyi genta terdengar jelas berkumandang dari jauh. Air muka Jit-jit berubah seketika.

"Wah, celaka, itu dia si Kucing. Kenapa dia juga datang kemari?"

Lalu terdengar suara seorang berkata pula.

"Tuan muda itu she Sim ...."

"Ah, itu dia Sing Hian,"

Desis Jit-jit.

"Kenapa dia bisa berada bersama si Kucing? Untuk apa pula datang mencariku? Wah, jangan-jangan ...."

Segera terdengar pelayan lagi menjawab.

"Maaf, Kongcu she apa?"

Jelas suara pelayan tadi, rupanya baru saja dia sampai di pintu lantas tercegat oleh kedatangan Miau-ji dan Sing Hian.

"Aku she Sing ...."

"Aha, kiranya Sing-kongcu, sungguh kebetulan,"

Demikian seru si pelayan.

"Memangnya Sim-kongcu menyuruh hamba mencari Sing-kongcu ...."

Di tengah gelak tertawa terdengarlah suara langkah orang ramai menuju ke sini. Tentu saja Jit-jit kelabakan.

"Wah, celaka, datang semua, lantas bagaimana baiknya ...."

Dengan tertawa Ong Ling-hoa berkata.

"Jangan khawatir, dari suaranya agaknya kedua bocah itu dalam keadaan mabuk, pasti tak dapat mengenali dirimu. Apalagi dengan kepandaian riasku, biarpun kucing itu tidak mabuk juga tidak dapat membedakan dirimu."

Tapi ... lekas kau tidur di atas ranjang,"

Seru Jit-jit, segera ia memburu maju dan mengangkat Ong Ling-hoa.

"blang", anak muda itu dilemparkan ke tempat tidur, selimut lantas ditarik untuk menutupi tubuhnya. Pada saat itulah Sing Hian telah berseru di luar.

"Sim-heng, Sim-kongcu, Siaute Sing Hian, sengaja berkunjung kemari!"

Him Miau-ji alias si Kucing dan Sing Hian memang benar dalam keadaan mabuk.

Sesudah Sim Long diundang pergi, kembali si Kucing menarik Sing Hian untuk minum beberapa cawan arak lagi, Kiau Ngo bilang si Kucing terlalu, segera ditantangnya minum sembilan cawan pula.

Setelah minum sembilan cawan, Miau-ji sendiri pun mulai sinting, seorang kalau sudah setengah mabuk, biasanya akan minum terlebih banyak pula.

Maka dia angkat poci dan menantang minum setiap orang.

Akhirnya dia mabuk benar-benar.

Maka begitu Jit-jit membuka pintu, seketika tercium bau arak yang menusuk hidung.

Belum lagi ia bersuara, Him Miau-ji lantas menarik Sing Hian dan melangkah masuk dengan sempoyongan.

Melihat orang benar-benar mabuk, diam-diam Jit-jit bergirang, segera ia menegur.

"Eh, siapakah nama saudara yang mulia? Ada keperluan apa?"

Karena mabuk, lidah Sing Hian menjadi agak kaku, ucapnya dengan rada tergegap.

"O, dia ... dia adalah Him Miau-ji yang termasyhur."

Betul, aku inilah Him Miau-ji, si Kucing ... meong-meong, seekor kucing besar, hahahaha!"

Seru Miau-ji dengan tertawa.

"Ai, kiranya Miau-heng, kagum, kagum,ücap Jit-jit dengan menahan rasa geli.

"Kedatanganku si kucing ini adalah untuk ... untuk melamar bagi Sing-heng,"

Seru Miau-ji pula.

"plok", ia tepuk pundak Sing Hian, lalu menyambung.

"Ayolah, bicara, sudah berada di sini, malu apa lagi?"

Sing Hian menunduk malu, ucapnya dengan gelagapan, ¡Aku ... aku ingin ... hehe ...."

Dia tidak dapat bicara, biar kubicara baginya,"

Seru Miau-ji dengan tertawa.

"Soalnya, sejak dia melihat keponakan perempuanmu, dia lantas mabuk kepayang, tidur tidak nyenyak, makan tidak enak, maka dia minta kudatang kemari untuk melamar baginya .... Haha, aku inilah comblangnya, comblang istimewa!"

Tidak, bukan ... bukan aku, tapi dia ... dia bertepuk dada akan menjadi comblang bagiku, maka aku diseretnya kemari,"

Cepat Sing Hian membela diri. Miau-ji berlagak marah.

"Baik, baik, kiranya aku yang menyeretmu ke sini dan bukan kehendakmu, jika begitu, buat apa aku ikut campur ...."

Habis bicara ia lantas membalik tubuh dan seperti mau melangkah pergi. Tapi baru saja kakinya bergerak, mendadak Sing Hian menariknya.

"Eh, aneh? Kenapa kau tarik diriku?"

Tanya Miau-ji.

"Him-heng, hehe, jang ... jangan ...."

Sing Hian tertawa kikuk.

"Sesungguhnya Sing-heng yang menyeret aku atau aku yang menyeretmu?"

Ya, ya, aku ... aku ...."

Sahut Sing Hian dengan peringas-peringis.

"Hahaha, akhirnya kau bicara terus terang juga,"

Seru si Kucing dengan terbahak.

"Jika demikian, bolehlah kumaafkan sekali ini. Oya, bagaimana dengan comblang seperti diriku ini?"

Sambil meraba dagu Jit-jit pura-pura ragu, sahutnya.

"Wah, ini ...."

Sing Hian menjadi gelisah tampaknya, cepat ia berseru.

"Jelek-jelek aku ini berasal keluarga ternama, aku tidak pintar, namun juga tidak bodoh, cukup tampan, bahkan alim, tidak pernah berbuat hal-hal yang kurang sopan ...."

Hai, kata demikian mestinya comblang yang bicara bagimu, mengapa kau jadi menyanjung dirinya sendiri?"

Seru si Kucing dengan tertawa.

"Tapi ... tapi semua ini memang benar,üjar Sing Hian dengan kikuk.

"Ai, kan kuminta bantuanmu, mengapa kau jegal diriku malah? ...."

Sampai sakit perut Jit-jit saking gelinya. Pikirnya.

"Comblang semacam ini sungguh jarang ada. Calon menantu dengan cara melamarnya ini juga tidak pernah terlihat. Andaikan benar aku mempunyai keponakan perempuan juga pasti takkan kuberikan kepada pelamar demikian."

Dalam pada itu Him Miau-ji telah berteriak.

"Baik, baik, tidak perlu ribut lagi, dengarkan ucapanku ...."

Lalu ia menepuk dada dan menyambung.

"Aku she Him, bernama Miau-ji, alias si Kucing, kalau berkelahi tidak pernah kalah, bila minum arak tidak pernah menggeletak. Tidak pernah berbuat jelek, cukup terpelajar. Lelaki semacam diriku ini ke mana lagi akan kau cari?"

Hei, se ... sesungguhnya engkau lagi melamar bagiku atau bagimu sendiri?"

Cepat Sing Hian menegur.

"Tentu saja bagimu."

Jawab si Kucing.

"Jika bagiku, kenapa engkau membual bagimu sendiri? .... Ai, sungguh sial mendapat comblang semacam dirimu."

Dengan sungguh-sungguh Miau-ji menjawab.

"Tampaknya engkau tidak mengerti. Bahwa aku menjadi comblang, kan perlu kuperkenalkan dulu siapa diriku, jika seorang comblang berasal dari kaum rendahan, apakah engkau yang melamar ini akan dihargai?"

Oo ... ya, benar juga,"

Kata Sing Hian dengan tergegap.

"Jika benar, maka dengarkan saja dan jangan ribut ...."

Mendadak Jit-jit berucap.

"Baiklah ...."

"Jadi Anda menerima lamaranku?"

Seru Miau-ji dengan tertawa.

"Ya, kuterima, keponakan perempuanku kuberikan padamu,"

Kata Jit-jit. Miau-ji jadi melenggong.

"Be ... berikan padaku?"

Sing Hian juga terkejut, cepat ia menegas.

"Berikan padanya? Lantas ... lantas bagaimana dengan diriku?"

Jit-jit sengaja menarik muka, katanya.

"Jika dia ini lelaki yang sukar dicari, akan kujodohkan kepada siapa keponakanku itu kalau bukan kepadanya?"

Tapi ini ... ini ...."

Miau-ji garuk-garuk kepala sendiri dengan menyengir. Sing Hian lantas mengentak kaki ucapnya dengan menyesal.

"Wah, lantas ... lantas bagaimana? Him Miau-ji, kau ...."

Jit-jit tidak tahan lagi akan rasa gelinya, ia tertawa terpingkal-pingkal.

"Baik, aku memang membual, betapa pun baiknya si Kucing tetap sukar menandingi jejaka keluarga Sing,"

Seru Miau-ji. ¡"

Maka lebih baik keponakan perempuanmu kau jodohkan saja kepadanya.¡"

Jit-jit sengaja berlagak sangsi sejenak, katanya kemudian.

"Baiklah, kuterima lamarannya."

Baru habis ucapannya, seketika Him Miau-ji berjingkrak kegirangan. Sebaliknya Sing Hian berdiri mematung, saking senangnya dia jadi linglung.

"Plak", si Kucing menepuk pundaknya dengan keras sambil berseru, ¡"

Hei, masa engkau tidak gembira?¡"

"Gembira ... gembira ...."

Teriak Sing Hian, mendadak ia melonjak dan berjumpalitan satu kali terus menerjang ke luar, hanya sebentar saja dia sudah berlari kembali dengan gelak tertawa, pada tangannya sudah bertambah sebotol arak.

"Aha, bagus, rupanya arak untuk menyuguh kepada comblang yang berjasa,"

Seru si Kucing dengan senang.

"Betul, harus menyuguh arak kepada comblang,"

Seru Jit-jit sambil mengambilkan dua mangkuk, katanya pula.

"Mari, biar kusuguh comblang dulu."

"Aku dulu,"

Kata Sing Hian. Seketika Jit-jit mendelik.

"Hm, apakah kau lupa siapa diriku?"

Engkau ... engkau ...."

Sing Hian jadi melengak. Si Kucing lantas berkeplok tertawa.

"Aha, betul, masa kau lupa dia adalah bakal pamanmu, mana boleh kau rebut dulu dengan dia?"

Kontan Sing Hian menggampar muka sendiri dan berkata.

"Betul, aku salah, silakan paman menyuguhnya dulu."

Begini baru pantas,üjar Jit-jit. Segera ia menuangkan semangkuk penuh bagi Him Miau-ji, ia sendiri cuma menuang setengah mangkuk saja, katanya pula.

"Silakan"

Pandangan Him Miau-ji sudah kabur, arak yang dituangkan itu banyak atau sedikit tak terlihat lagi olehnya, begitu pegang mangkuk, seketika seluruh isinya ditenggaknya hingga habis.

Dalam keadaan demikian, biarpun isi mangkuk itu adalah air kencing juga akan diminumnya.

Dan begitulah seterusnya Jit-jit menuangkan pula semangkuk demi semangkuk, setiap mangkuk diminumnya hingga habis.

Lima-enam mangkuk arak telah dihabiskan si Kucing, mendadak ia berteriak.

"Ha, siapa kalian? .... Di mana Sim Long? .... Siapa ... siapa bilang Sim Long lebih unggul daripadaku? .... Him Miau-ji tetap nomor satu di dunia, minum arak nomor satu ... berkelahi juga nomor satu ...."

Sampai di sini.

"bluk", mendadak ia terguling ke lantai dan tidak bergerak lagi. Jit-jit coba memanggilnya.

"Miau-heng .... Miau-ji ...."

Tapi Si Kucing tidak bergerak sama sekali. Jit-jit coba mendorongnya, lalu menggoyang-goyangkan tangan di depan matanya, namun mata si kucing tetap tidak terpentang.

"Hihi, kucing ini mabuk benar-benar,"

Kata Jit-jit dengan tertawa.

Waktu ia berpaling, dilihatnya Sing Hian juga sudah mendekap di atas meja dan tertidur.

Mendadak Jit-jit angkat satu poci teh terus dituang ke leher Sing Hian.

Semula Sing Hian meraba-raba leher, lalu mengangkat kepala dan hidungnya berkerut-kerut, akhirnya ia melonjak bangun sambil berteriak.

Mestinya dia mau marah, tapi ketika diketahuinya yang menuangi air adalah "

Bakal paman mertua,"

Seketika ia melongo dan tidak jadi memukul orang, sebaliknya lantas memberi hormat dan minta maaf.

"O, sungguh kurang sopan, tanpa terasa Siaute (adik) tertidur ...."

Siaute?"

Seketika Jit-jit menarik muka.

"O, bukan Siaute, tapi Siautit (keponakan),"

Cepat Sing Hian mengoreksi dengan menyengir.

"Ini baru betul,ücap Jit-jit dengan tertawa.

"Tampaknya Hiantit sekarang sudah mendusin."

"Siautit sebenarnya tidak mabuk ...."

Andaikan mabuk, sepoci teh segar itu pun dapat membuat sadar padamu."

Sing Hian menjadi kikuk, ia meraba lagi leher sendiri, mabuknya sekarang memang benar telah hilang, ia menunduk dan berkata.

"Ah, rasanya Siautit tidak ... tidak boleh mengganggu lebih lama lagi ...."

Kau mau pergi?"

Tanya Jit-jit.

"Ya, Siautit mohon diri dulu, besok ... besok kami akan berkunjung lagi kemari,"

Sing Hian ragu sejenak, akhirnya ia berkata pula.

"Mengenai cara bagaimana mengatur emas kawin dan upacara tukar cincin, Siautit menurut saja atas kehendak paman."

Mendadak Jit-jit mendengus.

"Hm, tukar cincin, masakah begitu gampang?"

Keruan Sing Hian melengak.

"Bu ... bukankah lamaran Siautit sudah diterima?"

Terima memang sudah diterima, cuma setiap calon menantu keluarga kami harus kerja bakti dulu bagi keluarga kami,üjar Jit-jit.

"Kecuali itu juga harus berbuat amal dulu kepada sesama orang Kangouw, bilamana kulihat caramu bekerja memang lumayan barulah dapat kuserahkan keponakan perempuanku kepadamu."

Jika ... jika begitu, mohon diberi petunjuk apa yang harus Siautit lakukan?"

Tanya Sing Hian.

"Bilakah mulai rapat besar orang Kay-pang, tentu kau tahu?"

Tanya Jit-jit.

"Pada waktu magrib, sebelum makan malam besok,"

Jawab Sing Hian.

"Ehm, apabila sebelum tengah hari besok dapat kau siarkan sesuatu berita mahapenting sehingga diketahui oleh segenap peserta rapat ini, maka caramu bekerja akan terhitung lumayan."

Ini kan pekerjaan mudah,üjar Sing Hian.

"Dan entah ... entah berita apa yang harus kusiarkan?"

Tadi mendadak kutinggalkan restoran, apakah kau tahu apa sebabnya?"

"O, mungkin ... mungkin disebabkan ada Sim ...."

Betul, sebab Sim Long yang satu itu adalah seorang mahajahat,"

Tukas Jit-jit.

"Kay-pang-sam-lo terbunuh seluruhnya olehnya, perbuatan jahat begini kan harus kita beri tahukan kepada orang banyak."

Sing Hian kaget.

"Ap ... apa betul?"

"Masa tidak kau percayai keteranganku?"

Jit-jit berlagak marah.

"Bukan ... bukan maksudku tidak percaya, soalnya ... soalnya urusan ini terlalu besar dan mengejutkan, sebelum ... sebelum jelas bukti dan saksinya tak berani sembarangan kusiarkan."

Ha, tak tersangka engkau malah bicara baginya,"

Jengek Jit-jit.

"Apakah kau tahu cara bagaimana Sing Ing, kakakmu itu menghilang? Apakah kau tahu siapa yang membikin celaka dia?"

Kakak telah ... telah dicelakai siapa? Apakah juga ... juga perbuatan Sim ...."

"Ya, memang dia,"

Sela Jit-jit. Sing Hian jatuh terduduk lemas di kursi.

"Ahh, urusan ... urusan ini pun tidak boleh dipercaya begitu saja."

Baik, karena kau sangsi, biar kuceritakan padamu mulai awal,"

Kata Jit-jit.

"Kakakmu dan Sun To sampai di Tiongciu, kemudian mereka ...."

Begitulah ia lantas bercerita cara bagaimana Sing Ing masuk ke makam kuno yang misterius itu dan terjebak, lalu ditolong orang dan kemudian sampai di Lokyang, di sana Sim Long berhasil membebaskan mereka dari cengkeraman Ong-hujin dan menyuruh mereka pergi ke Jin-gi-ceng, tapi begitu sampai di Jin-gi-ceng semuanya lantas mati keracunan.

Dasar Jit-jit memang pintar bercerita, apa yang terjadi itu memang juga sungguh, tentu saja caranya menutur jadi sangat menarik.

Sing Hian tampak gemetar, mabuknya benar-benar hilang sama sekali.

"Nah, engkau bukan orang bodoh, tentu dapat kau bedakan apa yang kuceritakan ini sungguh terjadi atau cuma karangan belaka."

Ya, aku ... sungguh aku sangat benci ...."

Seru Sing Hian dengan gemetar.

"Dan sekarang masih kau bicara bagi Sim Long?"

Tanya Jit-jit. Mendadak Sing Hian melompat bangun seperti orang gila terus hendak menerjang keluar. Cepat Jit-jit menarik bajunya dan berseru, ¡Hei, kau mau apa?"

Menuntut balas, membalas dendam!"

Seru Sing Hian. ¡Akan kucari Sim Long untuk ...."

"Untuk mengantar kematianmu?"

Tukas Jit-jit dengan dingin. Dengan suara parau Sing Hian berteriak.

"Sakit hati ayah dan kakak sedalam lautan, betapa pun aku harus ... harus mencari dia untuk mengadu jiwa."

Tolol,ömel Jit-jit sambil menggeleng.

"Cuma sedikit kepandaianmu ini, tidak lebih tiga jurus saja jiwamu bisa melayang di tangan Sim Long, kepergianmu ini bukankah cuma mengantar kematian saja secara penasaran?"

Tapi ... apa pun juga harus kucari dia,"

Teriak Sing Hian kalap. Jit-jit berkedip-kedip.

"Seluruhnya engkau bersaudara berapa orang?"

Cuma kami berdua saja, sebab itulah aku harus ...."

"Hm, kakakmu sudah mati di tangannya, sekarang kau mau antar kematian lagi, selanjutnya keluarga Sing akan putus keturunan, lalu siapa lagi yang akan menuntut balas bagimu?"

Sing Hian jadi melengak, kembali ia duduk lemas.

"Banyak cara untuk menuntut balas, hanya orang yang paling bodoh yang mau mengadu jiwa secara ngawur,üjar Jit-jit.

"Asalkan kau mau turut kepada gagasanku, kutanggung engkau akan dapat membalas dendam dengan baik."

Sing Hian menunduk dan termenung sekian lama, gumamnya kemudian.

"Aku ... aku merasa bingung, kuturut saja saranmu ...."

Baik, jika begitu, harus segera kau beri tahukan kepada anak murid Kay-pang tentang segala kejahatan yang telah dilakukan Sim Long itu, juga setiap kesatria dunia persilatan perlu mengetahui urusan ini, bilamana orang tahu kemalanganmu, dengan sendirinya banyak orang yang akan membantumu."

"Baiklah, segera kukerjakan ...."

Tanpa pikir Sing Hian terus berlari pergi.

Sekali ini Jit-jit tidak menariknya lagi melainkan memandangi kepergian orang dengan tersenyum puas.

Kemudian ia menyingkap selimut dan terlihatlah Ong Ling-hoa masih meringkuk di situ tanpa bisa berkutik, cuma sorot matanya juga menampilkan senyuman puas serupa Cu Jit-jit, bahkan dia terlebih senang daripada si nona.

"Nah, sudah kau dengar, bagaimana?"

Tanya Jit-jit.

"Ya, bagus, sungguh bagus sekali!"

Jawab Ong Ling-hoa.

"Tentunya sekarang kau tahu aku bukan orang yang mudah direcoki?"

Ya, aku pun tahu sedikit urusan lain."

"Kau tahu urusan lain apa?"

Tanya Jit-jit.

"Baru sekarang kutahu anak muda keluarga ternama kebanyakan adalah orang bodoh, untuk menipu mereka sungguh jauh lebih gampang daripada menipu anak kecil,Öng Ling-hoa menghela napas, lalu menyambung.

"Sebelum ini kuanggap dirimu masih sangat hijau dan mudah tertipu, siapa tahu masih ada orang lain yang juga dapat kau tipu."

Hm, memangnya siapa yang bisa menipuku?"

Jengek Jit-jit dengan pongahnya.

"Dan apa lagi yang kau ketahui?"

Aku pun tahu, seorang anak perempuan yang senantiasa menyaru sebagai lelaki, betapa pun dia berlagak tetap membawa sedikit gerak-gerik orang perempuan."

"Masa gerak-gerikku juga kelihatan?"

Jit-jit mendelik.

"Terkadang memang kelihatan, umpama kau suka meraba rambut sendiri, itu khas gerakan orang perempuan, juga tadi, waktu kau tarik anak she Sing itu, bukan kau tarik lengannya, tapi menarik bajunya."

Hm, dasar mata setan, apa pun dapat kau lihat,ömel Jit-jit.

"Coba, apa lagi yang kau ketahui?"

Sekarang aku juga tahu, bilamana dicintai seorang anak perempuan, wah, sungguh sangat menakutkan,ücap Ling-hoa.

"Dicintai orang adalah kejadian baik, apa yang menakutkan?"

Seorang lelaki disukai oleh seorang perempuan, sudah tentu hal yang menyenangkan dan membanggakan, tapi bila cinta perempuan itu berubah menjadi dendam, itu berarti maut baginya."

Jit-jit seperti mau bicara, tapi urung. Ong Ling-hoa lantas menyambung pula.

"Kata peribahasa, cinta yang mendalam juga dapat menimbulkan benci yang luar biasa. Cinta yang dalam, sungguh kalau bisa keduanya ingin terlebur menjadi satu. Pada waktu benci juga ingin menghancurkannya dan membakarnya menjadi abu!Äkhirnya Jit-jit menghela napas.

"Memang, seorang perempuan kalau sudah benci kepada seorang, hal itu memang sangat menakutkan. Tapi ... jika kau minta cuma dicintai tanpa dibenci, apanya yang menakutkan?"

Betul juga ucapanmu, namun jarak antara cinta dan benci seorang perempuan biasanya hampir tidak kelihatan, apalagi ...

bilamana seorang dibenci perempuan, sungguh dia ingin mencincang tubuhmu dan makan dagingmu.

Pada saat dia cinta padamu, dia juga geregetan dan ingin menggiling dirimu, mengurung dirimu dan makan dagingmu.

Keduanya sama-sama tidak enak.

Bila dapat membikin orang perempuan tidak benci padamu dan juga tidak cinta padamu, itu barulah orang lelaki yang pintar."

Habis berkata, Ong Ling-hoa bergelak tertawa hingga terbatuk-batuk.

"Huh, tidak perlu kau senang,"

Jengek Jit-jit.

"Meski Sim Long tidak baik, engkau juga tidak lebih baik, betapa pun selamanya tidak mungkin kusuka padamu, yang jelas benciku padamu juga kelewat takaran dan ingin kucincang tubuhmu."

Sembari mencaci maki ia terus berbangkit, mendadak ia kesandung sesuatu, waktu ia melihat ke bawah, kiranya Him Miau-ji yang masih menggeletak di situ seperti orang mampus.

"Hendak kau apakan kucing ini?"

Tanya Ling-hoa tiba-tiba.

"Bilamana dia sadar besok, tentu akan teringat olehnya kedatangannya bersama Sing Hian, bukan mustahil Sing Hian sudah memberitahukan tentang namamu juga Sim Long, tentu dia dapat menerka engkaulah orang yang hendak membikin celaka Sim Long yang asli dan ...."

Dan apa?"

Jit-jit mendelik pula.

"Demi keselamatanmu di kemudian hari, seharusnya kau bikin dia takkan sadar untuk selamanya,ücap Ling-hoa perlahan.

"Kentut busuk!"

Bentak Jit-jit.

"Dasar bangsat, hendak kau gunakan tanganku untuk membunuh setiap orang yang memusuhimu. Huh, jangan ... jangan kau mimpi."

Tidak kau bunuh dia, kelak engkau sendiri akan menyesal,üjar Ling-hoa.

"Waktu datang tadi dia sudah mabuk, jika sekarang kubawa dia pergi dan ditaruh di setiap tempat, besok kalau dia mendusin pasti juga tidak ingat lagi apa yang terjadi tadi."

Jika hendak kau lakukan cara begini, apa mau kukatakan lagi?üjar Ong Ling-hoa dengan tersenyum getir.

"Tentu saja tak dapat kau bilang apa-apa,"

Jengek Jit-jit, segera ia mengangkat tubuh Him Miau-ji, tapi segera si Kucing memberosot lagi ke lantai.

"Kucing mampus, kucing sialan!ömel Jit-jit dengan mendongkol. Sembari mengomel ia mengeluarkan juga saputangan untuk mengusap air liur yang mengalir dari ujung mulut Him Miau-ji, habis itu sekuatnya ia mengangkat si Kucing dan dibawa keluar. Tapi baru dua-tiga langkah, mendadak ia putar balik, Ong Ling-hoa ditutuknya lagi supaya tidak dapat berkutik. Orang yang berlalu-lalang di jalan raya sudah jarang-jarang, cahaya lampu juga guram, namun di sana-sini masih ada gerombolan pemabuk yang berjalan sempoyongan sambil mengoceh tak keruan, ada juga yang menyanyi asal nyanyi. Melihat kawanan pemabuk di sana-sini dan memandang pula pemabuk yang dipondongnya, diam-diam Jit-jit merasa gegetun.

"Orang lelaki sungguh aneh, mengapa suka mencekoki dirinya sendiri sehingga mabuk seperti babi mampus, kan mencari penyakit sendiri?"

Jit-jit sengaja berjalan di bawah emper rumah yang agak gelap agar tidak mencolok mata orang lain, meski dia ingin membuang si Kucing di sembarang tempat, tapi khawatir juga anak muda itu akan mengalami sesuatu.

Sekonyong-konyong dari ujung jalan sana muncul tiga penunggang kuda.

Semula Jit-jit tidak menaruh perhatian, tapi di malam sunyi kuda dilarikan secepat ini, apa pun juga agak luar biasa, mau tak mau ia berpaling memandangnya.

Mendingan tidak dipandangnya, sekali pandang ia jadi melengak.

Kiranya penunggang kuda pertama tampak gagah dengan potongan baju yang sangat pas dengan tubuhnya, bibirnya berkumis pendek, jelas dia inilah pemilik restoran Wat-pin-lau itu.

Dan penunggang kuda yang kedua ternyata Sim Long adanya.

Jit-jit melenggong sampai sekian lama, meski ketiga penunggang kuda sudah lalu dan menghilang dalam kegelapan sana, dia masih tetap tidak bergerak.

Tampaknya ketiga penunggang kuda itu ada urusan penting, semuanya kelihatan prihatin dan menempuh perjalanan dengan terburu-buru sehingga tiada seorang pun memerhatikan Jit-jit.

Setelah termangu pula sejenak, Jit-jit bergumam.

"Aneh, mengapa dia juga kenal Sim Long dan berkumpul bersama dia."

Lantas terpikir pula olehnya.

"Ah, tentu dia mendengar orang bilang di restorannya datang seorang Sim Long, sedangkan pergaulanku dengan Sim Long juga sudah banyak diketahui orang, maka dia sengaja mencari Sim Long untuk menanyai kabar mengenai diriku.Äpa yang dipikirnya itu memang betul.

"Tapi sesungguhnya apa yang dibicarakannya dengan Sim Long? Mengapa kedua orang menempuh perjalanan dengan tergesa? Hendak ke manakah mereka?"

Hal-hal inilah yang tidak diketahui oleh Jit-jit. Diam-diam ia mengomel.

"Setan ini mengapa mengajak pergi Sim Long? Bila dalam rapat besar Kay-pang besok Sim Long tidak sempat hadir, bukankah segala jerih payahku akan tersia-sia belaka?"

Berpikir sampai di sini, tak dihiraukan lagi apa yang akan dialami Him Miau-ji, si Kucing ditaruhkan di bawah emper rumah, katanya.

"Maaf, salahmu sendiri, suka ikut campur tetek bengek dan juga suka mabuk-mabukan."

Lalu dia tinggal pergi.

Tapi baru dua langkah, segera ia putar balik, ia membuka baju luar sendiri dan ditutupkan pada tubuh si Kucing.

Habis itu cepat ia pulang ke hotelnya.

Hanya sebentar saja seperginya Cu Jit-jit, mendadak muncul empat lelaki kekar berbaju hitam dari balik kegelapan sana, dua orang ikut ke arah hotel si nona, dua orang lagi menuju ke tempat Him Miau-ji.

Kedua orang ini kelihatan gagah, kekar, langkahnya gesit dan cekatan.

Setiba di depan Miau-ji dan memandangnya dua kejap, seorang di antaranya mendepak sekali, Him Miau-ji bersuara mengeluh dan membalik tubuh, lalu tidak bergerak lagi.

"Hm, menghadapi kucing mabuk ini kan tidak perlu banyak mengeluarkan tenaga,"

Jengek seorang.

"Menurut pesan bos,"

Demikian seorang lagi berkata.

"Setiap orang yang berada bersama domba itu harus kita awasi secara khusus. Apa yang dipesan bos kita tentu ada alasannya."

Biarlah kita lemparkan dia ke sungai saja untuk umpan ikan,"

Kata orang pertama.

"Tidak boleh, kan menurut pesan bos, semuanya harus tetap hidup."

Baiklah, mari kita gotong dia pulang."

Begitulah kedua lelaki itu lantas mengangkat Him Miau-ji dan dilarikan ke ujung jalan sana. Pada saat itulah kebetulan ada beberapa pemabuk muncul dari situ, ada yang lagi menyanyi.

"Siapakah pendekar Kangouw nomor satu zaman ini .... Ialah Toako kita Him Miau-ji ...."

Ketika kedua pihak berpapasan, mendadak orang itu berhenti bernyanyi dan berseru dengan tertawa.

"Lihatlah, di situ ada yang mabuknya lebih hebat daripada kita, sampai perlu digotong segala."

Haha, sebentar juga engkau akan sama seperti itu,üjar kawannya.

Agaknya kedua lelaki yang menggotong Him Miau-ji itu tidak suka menimbulkan perkara, mereka sengaja menghindar ke tepi jalan dan kedua pihak dengan cepat bersimpang jalan.

Mendadak salah seorang pemabuk itu berseru.

"Hai, tidak betul ... tidak betul ...."

"Tidak betul apa?"

Tanya seorang lagi.

"Tampaknya orang ... orang yang digotong itu rada mirip Toako kita?!"

Ah, tentu matamu sudah kabur!"

"Ehm, rasanya pandanganku memang rada kabur."

Tapi apa pun juga harus kita memeriksanya dengan jelas,"

Tiba-tiba seorang mengusul. Dalam keadaan mabuk, bilamana seorang mengusulkan sesuatu, biasanya yang lain lantas mendukungnya, maka serentak mereka berteriak.

"Betul, harus kita periksa dia."

Maka rombongan pemabuk ini lantas berputar balik ke sana.

Melihat kawanan pemabuk itu mengejarnya, meski tidak diketahui mau apa, tidak urung kedua lelaki tadi rada gugup, cepat mereka berlari dengan lebih kencang.

Karena mereka lari, kawanan pemabuk itu lantas mengejar, seorang malah berteriak.

"Berhenti ... jangan lari!"

Makin dibentak, makin cepat lari kedua orang itu. Tapi mereka menggotong Him Miau-ji, dengan sendirinya kecepatannya terbatas. Belum sampai ujung jalan mereka sudah tersusul dan terkepung di tengah.

"Ada apa, sahabat?"

Kedua orang itu berlagak tabah dan menegur. Dalam pada itu kawanan pemabuk itu sudah mengenali Him Miau-ji, beramai mereka berseru, ¡Aha, ternyata benar Toako adanya."

Hai, hendak kau bawa Toako kami ke mana?"

"Lekas lepaskan Toako kami!"

Di tengah teriakan orang banyak, beramai-ramai kawanan pemabuk itu lantas mengerubuti kedua lelaki itu.

Karena menggotong orang, dengan sendirinya kedua lelaki itu tidak mampu menangkis dan balas menyerang, ketika mereka lepaskan Him Miau-ji, tubuh mereka sudah kena belasan kali genjotan.

Biarpun kawanan pemabuk itu tidak menguasai kungfu yang tinggi, tapi jotosan mereka tidak ringan, asal kena juga cukup membuatnya meringis kesakitan.

Kedua lelaki itu juga tidak tinggi ilmu silatnya, setelah digenjot belasan kali, ruas tulang mereka hampir retak, mana mereka mampu membalas, maka cepat mereka melarikan diri.

Sambil membentak-bentak kawanan pemabuk itu bermaksud mengejar.

Tak terduga Him Miau-ji lantas melompat bangun.

Keruan kawanan pemabuk itu terkejut dan bergirang, beramai mereka mengerumuninya sambil menyapa.

"Aha, kiranya Toako tidak mabuk."

Tanpa bicara.

"plak-plok", kontan Miau-ji menggampar kawanan pemabuk itu, setiap orang beberapa kali. Tentu saja kawanan pemabuk itu melongo, sambil memegang muka masing-masing mereka berseru.

"O, ampun, Toako .... Mengapa Toako menghajar kami malah?"

Hm, rasanya harus kutambahi lagi beberapa gamparan kepada kalian!"

Damprat si Kucing.

"Kami berbuat salah apa, Toako?!"

Salah seorang pemabuk itu coba tanya.

"Apakah kalian tahu sebab apa aku berlagak mabuk?"

Kata si Kucing.

"Tidak tahu."

Sahut para pemabuk itu dengan menggeleng.

"Aku pura-pura mabuk sebab aku justru ingin tahu kedua keparat itu orang macam apa, di mana sarang mereka? Siapa tahu usahaku ini telah digagalkan oleh kalian."

Seketika kawanan pemabuk menunduk dan tidak berani bicara lagi.

"Nah, apakah hajaranku kepada kalian membuat penasaran?"

Tanya si Kucing.

"O, tidak, tidak, hajaran Toako memang pantas!"

Sahut mereka.

"Bagus,ücap si Kucing, lalu tangannya bergerak lagi, tapi bukan menghajar mereka lagi melainkan setiap orang diberikan sepotong uang perak.

"He, untuk ... untuk apakah ini?"

Tanya para pemabuk.

"Meski kalian pantas dihajar, tapi ketika kalian melihat aku ada kesulitan, kalian segera menolong tanpa menghiraukan bahaya sendiri, kalian tetap saudaraku yang baik, maka harus kutraktir kalian minum arak."

Aha, Toako tetap Toako, tetap sebaik ini, jangankan cuma digampar dua-tiga kali, dibacok dan tubuh dilubangi juga kami rela,"

Seru kawanan pemabuk itu. Mendadak si Kucing terkulai ke tanah dengan lemas. Keruan kawanan pemabuk itu terkejut.

"Hei, apakah Toako terluka?"

Omong kosong, siapa yang mampu melukaiku?"

Sahut si Kucing. ¡Aku cuma ... ai, tubuhku rasanya mabuk benar, kaki dan tangan terasa lemas."

Kembali kawanan pemabuk itu bersorak gembira dan bernyanyi, ¡Aha, tampaknya biarpun Toako kita sangat tangkas, tapi araknya justru lebih ...."

"Sudahlah, jangan kalian ngacau lagi,"

Sela si Kucing.

"Ingin kutanya kepada kalian, apakah kalian melihat Sim-siangkong, Sim Long,"

Seru si Kucing.

"Oo, baru saja Sim-siangkong lagi mencari Toako,"

Sahut seorang.

"Dan sekarang?"

Sekarang telah diajak pergi oleh juragan restoran besar itu dengan menumpang kuda."

"Hah, pergi dengan naik kuda?"

Seru si Kucing khawatir.

"Wah, celaka, bisa celaka! Apakah kalian tahu untuk apa mereka pergi dan ke mana?"

Kawanan pemabuk itu saling pandang dengan bingung. Akhirnya seorang bicara.

"Seperti pergi mencari orang."

"Mencari siapa?"

Desak si Kucing.

"Wah, mencari siapa, mana hamba tahu?"

Sahut orang itu.

"Cuma jelas kulihat mereka menuju ke sana, keluar kota."

Buset, jadi suara kuda lari tadi pastilah mereka ...."

Gumam si Kucing.

Maklumlah, meski waktu itu dia mendengar derapan kaki kuda lari, tapi Jit-jit juga sedang bergumam.

Dengan sendirinya waktu itu dia memang setengah mabuk, hanya mabuknya tidak separah dugaan Cu Jit-jit.

"Betul, belum lama mereka melarikan kuda ke sana,"

Kata orang tadi.

"Jika kususul sekarang mungkin masih keburu,"

Kata si Kucing.

"Baiklah, saudara, lekas mencarikan seekor kuda bagiku. Lekas, boleh kalian merampas atau mencuri, aku tidak peduli!" ***** Sementara itu Jit-jit sudah masuk ke hotelnya. Selama beberapa hari ini pintu hotel itu selalu terbuka siang dan malam. Pelayan menyapa kedatangannya, namun Jit-jit tidak menghiraukannya, langsung ia masuk ke dalam dengan hati bimbang. Pada saat itulah mendadak seorang berseru di belakang.

"Tunggu dulu, Siangkong di depan itu!"

Waktu Jit-jit berpaling dengan terkejut, terlihatlah dua lelaki kekar berbaju hitam berlari masuk, wajah keduanya mengulum senyum, tampaknya tidak bermaksud jahat.

Tapi Jit-jit lantas melotot dan menegur.

"Aku tidak kenal kalian, untuk apa kalian memanggil diriku?"

Salah seorang berbaju hitam itu menjawab dengan tertawa.

"Meski hamba tidak kenal, tapi majikan kami kenal Kongcu. Ada ... ada sesuatu urusan beliau ingin menemuimu."

Oo, ada urusan apa?"

Tanya Jit-jit.

"Ti ... tidak ada apa-apa, beliau cuma mengundang Kongcu ke sana untuk ... untuk minum barang dua-tiga cawan,"

Tutur lelaki itu dengan agak gelagapan. Jit-jit berkerut kening.

"Minum arak? Tengah malam buta begini mengundangku minum arak? Hm, kukira majikan kalian pasti ...."

Mendadak teringat dirinya dalam keadaan menyamar, siapa pun tidak dapat mengenalnya lagi, segera ia berganti suara dan membentak.

"Siapa majikan kalian?"

Majikan kami ialah Auyang ...."

"Aku tidak kenal orang she Auyang,"

Bentak Jit-jit.

"Tapi ... tapi majikan bilang kenal Li-kongcu, maka hamba disuruh ...."

Kalian sudah buta barangkali?"

Damprat Jit-jit.

"Memangnya siapa she Li?Örang itu mengamat-amati si nona beberapa kejap, lalu saling pandang dengan kawannya, kemudian berucap dengan ragu.

"Jangan-jangan kita salah lihat?"

"Keparat ...."

Jit-jit mendamprat pula.

"Selanjutnya hendaknya lihat lebih jelas bila mencari orang, tahu?"

Kedua orang itu mengiakan dengan takut-takut.

Meski mendongkol, Jit-jit hanya mendengus saja dan tinggal masuk lagi ke dalam sambil menggerutu.

Setiba di serambi samping, terlihat beberapa orang perempuan yang rambut kusut menggotong sebuah amben sambil menangis, amben itu tertutup sehelai kain putih, agaknya orang mati.

Beberapa perempuan itu menangis dengan sangat sedih.

"Sungguh sial, ketemu orang mati lagi,"

Gerutu Jit-jit di dalam hati.

Terpaksa ia menepi memberi jalan kepada mereka.

Sambil menangis, kawanan perempuan itu juga membuang ingus, ketika lalu di samping Jit-jit, seorang perempuan tua membuang ingusnya dan tepat hinggap di tubuh Jit-jit.

Keruan si nona keki setengah mati, tapi orang lain lagi berduka, terpaksa ia menahan rasa marahnya, ia percepat langkahnya dan menerjang ke dalam kamar sendiri.

Untung keadaan kamar tidak terjadi sesuatu, Ong Ling-hoa masih berbaring di tempatnya.

Karena tertutuk Hiat-to tidurnya, saat itu Ong Ling-hoa masih tidur dengan nyenyak.

Segera Jit-jit menepuk Hiat-to untuk menyadarkan Ong Ling-hoa, karena hatinya lagi keki, tepukannya menjadi agak keras.

Kontan Ong Ling-hoa menjerit dan terjaga bangun.

"Hm, enak saja kau tidur, aku justru mengalami berbagai kesialan di luar,ömel Jit-jit.

"Eh, apakah kau tahu baru saja Sim Long telah pergi."

"Dari ... dari mana kutahu?"

Jawab Ling-hoa.

"Kukhawatir bila besok dia tidak pulang, kan usahaku akan sia-sia belaka?"

Kukira tidak menjadi soal, mana dia mau mengabaikan pertemuan besar besok yang jarang terjadi itu?"

Setelah berpikir, Jit-jit berkata.

"Benar juga .... Selama hidup ini, hanya ucapanmu ini yang paling mencocoki seleraku. Baiklah, tampaknya matamu masih sepat, akan kubiarkan kau tidur lagi."

Terima kasih,"

Kata Ling-hoa, lalu ia menghela napas.

"Ai, sampai tidur juga perlu memohon berkah orang lain, sungguh kasihan ...."

Jit-jit jadi tertawa geli juga dan tidak menyiksanya lagi.

Ia lantas berbaring di dipan pojok sana, tanpa terasa dia terpulas.

Nona itu memang sudah lelah, sungguh lelap sekali tidurnya.

Waktu dia mendusin, Ong Ling-hoa ternyata masih tidur.

Ia berkerut kening, lalu tertawa juga.

Dengan kemalasan dia berbangkit dan mengulet, lalu membuka pintu.

Sekonyong-konyong seorang menerjang masuk.

Keruan Jit-jit terkejut.

Waktu diawasi, kiranya orang ini ialah Sing Hian yang dicemoohkan Ong Ling-hoa itu.

Cepat Sing Hian berdiri tegak, matanya tampak merah wajah pucat lesu, jelas kurang tidur.

Jit-jit tahu semalam pasti cukup membuat anak muda itu kapiran.

Maklum, putra keluarga ternama bilakah pernah menderita seperti ini?

Apakah kau tidur di luar pintu?"

Tanya Jit-jit. Dengan muka merah Sing Hian menjawab.

"Pagi-pagi aku sudah datang, kudengar suara orang mendengkur di dalam, kuyakin kalian masih tidur dan tidak berani kuganggu ....Ïa melirik sekejap Ong Ling-hoa di sebelah sana, lalu menyambung dengan tergegap.

"Sebab itulah aku lantas ... lantas menunggu di luar pintu. Siapa ... siapa tahu aku jadi tertidur juga bersandar pintu ...."

Sampai di sini ia pandang Ong Ling-hoa beberapa kejap, lalu memandang Jit-jit pula dengan sorot mata menunjukkan rasa keheranan. Dengan tertawa cepat Jit-jit menjelaskan.

"Keponakan perempuanku ini lagi sakit, tengah malam perlu dijaga. Orang dalam perjalanan juga tidak membawa pelayan, terpaksa kutidur di sini untuk menjaga dia."

Rupanya isi hati Sing Hian terungkap oleh ucapan Jit-jit ini, mukanya menjadi merah, cepat ia mengiakan.

"Eh, apa yang kusuruh kau kerjakan apakah sudah dilaksanakan?"

Tanya Jit-jit.

"Sudah,"

Jawab Sing Hian.

"Hanya dalam semalam saja sudah kuberi tahukan perbuatan jahat Sim Long itu kepada 57 orang dan ... Sim Long sendiri pasti tidak tahu."

Baik, lantas bagaimana reaksi orang-orang itu setelah mendengar kabar darimu?"

"Anak murid Kay-pang tentu saja murka, ada di antaranya menangis sedih, ada yang hendak mencari Sim Long itu untuk menuntut balas, terpaksa kubujuk mereka agar bersabar sampai besok."

Lantas bagaimana lagi yang lain?"

Jilid 21

"Yang lain juga gusar,"

Tutur Sing Hian.

"Pendek kata, bilamana Sim Long hadir dalam rapat Kay-pang petang nanti, dia pasti takkan pergi lagi dengan selamat."

Hm, bagus, bagus sekali,ücap Jit-jit dengan gemas.

"Justru akan kulihat bagaimana bentuknya waktu itu. Sungguh aku tidak sabar menunggu lagi. Sekarang sudah waktu apa?"

O, masih sangat pagi ...."

Belum lanjut jawaban Sing Hian, mendadak seorang pelayan melongok ke dalam dan bertanya.

"Apakah Tuan tamu ingin makan?"

"Makan pagi atau makan siang?"

Tanya Jit-jit.

"Makan siang sudah hampir lewat, sudah beberapa kali hamba datang kemari, namun tidak berani membikin kaget,"

Tutur si pelayan.

"Ai, kiranya sudah hampir lewat tengah hari, hampir, sudah hampir waktunya!"

Seru Jit-jit. Teringat kepada bencana yang hampir menimpa Sim Long, hampir saja si nona tertawa. Tapi entah mengapa, sukar untuk tertawa. Akhirnya dia berseru.

"Baiklah, lekas atur makan siang!"

Sesudah pelayan pergi, kembali ia bergumam.

"Sesudah makan siang, kita harus keluar, Sing Hian, kau perlu makan agak banyak, bila kenyang baru bertenaga, baru dapat membunuh orang."

Cuma sayang, mungkin sebelum kuturun tangan, bisa jadi Sim Long sudah dicincang orang,üjar Sing Hian dengan menyesal.

Hidangan telah disiapkan, kedua bibi juga ikut datang, tujuannya untuk meladeni Ong Ling-hoa.

Sambil makan Ong Ling-hoa terus berkeluh-kesah, hampir sukar menelan nasi.

Dengan susah payah akhirnya selesai juga makan siang ini.

Sing Hian menghela napas dan mengusap keringat.

Jit-jit mulai lagi mondar-mandir di dalam rumah, kelihatan sangat gelisah.

Tentu saja Sing Hian tidak berani mengganggunya, dia duduk diam saja di kejauhan.

Ong Ling-hoa lantas tidur malah, tidur dengan menutupi kepalanya, nyata dia tidak ingin dipandang oleh Sing Hian, betapa pun merasa rikuh seorang lelaki dipandang semesra itu oleh lelaki lain.

Sang waktu terasa lalu dengan sangat lambat, jangankan Jit-jit, Sing Hian juga merasa gelisah.

Entah sudah berapa kali Jit-jit membuka jendela dan menutupnya lagi.

Ketika untuk ke-13 kalinya dia membuka jendela, akhirnya dia tidak tahan dan bertanya, ¡ "Sudah tiba waktunya?¡"

"Hampir,"

Jawab Sing Hian.

"Di mana tempatnya, apakah kau tahu?"

Semalam sudah pernah kudatang ke sana."

"Baik, suruh bibi itu ke sini dan kita lantas berangkat,"

Kata si nona. Sing Hian tercengang, dipandangnya Ong Ling-hoa yang meringkuk di tempat tidur, katanya.

"Dia ... dia boleh pergi?"

"Mengapa tidak?üjar Jit-jit.

"Di sana terlalu banyak orang, juga terlalu ramai, bila dia tercedera ...."

Hm, dia belum lagi menjadi istrimu, dia masih anggota keluargaku, aku sendiri tidak khawatir, mengapa kau khawatir malah? .... Ada aku, siapa yang mampu mencederai dia?"

Muka Sing Hian menjadi merah, dengan tersipu-sipu dia lari keluar untuk memanggil kedua bibi itu.

Jalan raya terlebih ramai daripada semalam.

Hampir setiap belasan langkah pasti terdapat seorang lelaki berdandan serupa pengemis berdiri di emper rumah, kebanyakan menyandang tiga empat buah kantong, jelas mereka ini anak murid Kay-pang.

Mereka ada yang bersandar di samping pintu rumah orang, ada juga yang berjongkok di ujung jalan, orang lain tidak mengajak bicara mereka, mereka juga tidak bicara dengan orang lain.

Inilah peraturan Kay-pang.

Meski mereka datang ke sini untuk menerima tamu, yaitu para kawan Bu-lim, tapi di tengah jalan raya, kecuali minta-minta sebagai tugas rutin, biasanya mereka dilarang bicara dengan orang lain.

Dengan sendirinya ada juga orang Bu-lim yang mencari keterangan kepada mereka atau tanya arah jalan, maka mereka lantas menuding ke timur.

Nyata pertemuan besar Kay-pang itu diadakan di luar kota timur.

Jit-jit minta Sing Hian sebagai penunjuk jalan, maka Sing Hian berjalan di depan, di tengahnya kedua bibi menggotong tandu yang ditumpangi Ong Ling-hoa dan Cu Jit-jit sendiri mengintil di belakang tandu.

Orang yang berlalu-lalang kebanyakan memandang lebih banyak beberapa kejap kepada mereka.

Tapi ketika melihat mata Jit-jit yang melotot, kelihatan garang, semua orang cepat menoleh dan tidak berani memandang lagi.

Setelah meninggalkan pusat kota, anak murid Kay-pang tampak bertambah banyak.

Pada waktu itu anak murid Kay-pang juga telah melihat Sing Hian, banyak di antaranya menegur sapa padanya dengan tersenyum.

Namun senyum anak murid Kay-pang itu kelihatan kaku, sorot mata mereka pun menampilkan rasa duka, senyuman yang memperlihatkan tidak dapat menutupi perasaan mereka yang berat.

Dari perasaan anak murid Kay-pang, Jit-jit menarik kesimpulan Co Kong-liong pasti belum muncul.

Tiba-tiba ia memburu ke depan dan membisiki Sing Hian.

"Sebentar bila tiba di sana, sebaiknya jangan kau duduk bersama kami."

Seb ... sebab apa?"

Tanya Sing Hian.

"Sebab aku menghendaki demikian,"

Jawab Jit-jit dengan mendelik. Terpaksa Sing Hian mengiakan dan tidak berani tanya lagi.

"Tapi tempat dudukmu juga jangan terlalu jauh ...."

Sampai di sini, mendadak Jit-jit berseru.

"Hei, Him Miau-ji berada di sana!"

Sing Hian juga sempat melihat bayangan orang berkelebat di kejauhan sana, cepat ia berkata, ¡"

Baik, akan kupanggil dia.¡"

"Untuk apa panggil setan arak itu?"

Bentak Jit-jit.

Terpaksa Sing Hian mengiakan lagi dengan menunduk.

Tertampak dua anggota Kay-pang datang dari kejauhan, yang sebelah kanan bermuka jelek, penuh burik, tapi punggungnya menyandang enam buah karung.

Pengemis sebelah kiri berusia belum tua, berperawakan gemuk pendek, mukanya bulat dan selalu tertawa, kelihatan rada ketolol-tololan, tapi karung yang disandangnya juga ada enam buah.

Anak murid Kay-pang yang berkarung enam jumlahnya tidak banyak.

Jit-jit mendesis.

"Apakah kau kenal kedua orang ini?"

"Kenal,"

Jawab Sing Hian.

"Kedua orang ini adalah anak buah langsung Him-pangcu almarhum, konon nama mereka cukup menonjol di dalam Kay-pang, kedudukan mereka cuma berada di bawah Kay-pang-sam-lo."

Siapa nama mereka?"

Tanya Jit-jit.

"Yang sebelah kiri bernama Ci Kong-tay berjuluk Pian-te-say-kim-ci (menyebar mata uang di mana-mana) dan yang sebelah kanan bernama Ko Siau-diong berjuluk Siau-bian-siau-hok-sin (si malaikat rezeki selalu tertawa)."

Siau-diong (ulat kecil)? Sungguh aneh namanya,üjar Jit-jit dengan tertawa. Dalam pada itu kedua orang itu sudah mendekat. Segera Ci Kong-tay memberi hormat.

"Banyak terima kasih atas berita yang disampaikan Sing-kongcu semalam ...."

Ketika melihat Cu Jit-jit, cepat ia ganti ucapannya.

"Oh, ini ...."

"Aku, pamannya,"

Cepat Jit-jit mendahului sebelum Sing Hian menjawab.

"Oo,"

Ci Kong-tay bersuara heran sambil mengamat-amati Cu Jit-jit.

"Kau kira usiaku terlalu muda dan tidak mirip menjadi pamannya?"

Tanya si nona.

"Ah, mana,"

Cepat Ci Kong-tay menjawab dengan menyengir.

"Apakah kalian datang untuk menjadi petunjuk jalan bagi kami?"

Tanya Jit-jit.

"O ... ya,"

Jawab Ci Kong-tay.

"Baiklah jika begitu, mari berangkat,"

Kata Jit-jit.

Terpaksa Ci Kong-tay berdua menurut.

Padahal kedatangan mereka adalah untuk mencari Sing Hian, namun Sing Hian sama sekali tidak bicara melainkan cuma tersenyum getir saja.

Tempat rapat kawanan jembel itu tampaknya serupa bekas sawah, kini musim dingin, panen sudah lama lalu, di tengah sawah hanya tersisa merang kering dan timbunan salju saja.

Di pedusunan daerah utara banyak tumbuh pohon bambu, maka anak murid Kay-pang telah membangun barak yang panjang di sekeliling sawah ini.

Agaknya tergesa-gesa sehingga barak yang dibangun sangat sederhana dan kurang rajin, yang tersedia di dalam barak juga cuma bangku dan meja kasar.

Namun yang berduduk di dalam barak sekarang kebanyakan adalah orang yang berbaju perlente dan bersikap gagah sehingga keadaannya tidak serasi.

Di luar barak adalah anak murid Kay-pang, ada yang mondar-mandir tanpa tujuan, ada yang berduduk dengan mata terpejam dan sedang berjemur, ada yang lagi mencari kutu.

Meski orang-orang Kay-pang ini kelihatan iseng dan tenang, namun air muka setiap orang sama prihatin, dua ratusan orang berjubel di situ dan sedikit sekali yang bicara.

Mestinya Ci Kong-tay tidak bermaksud menjadi petunjuk jalan, karena beberapa patah kata Cu Jit-jit tadi terpaksa menjadi petunjuk jalan.

Sedangkan pengemis yang bernama Ko Siau-diong itu tidak bicara apa-apa melainkan cuma tertawa ketololan saja.

Ci Kong-tay membawa rombongan Jit-jit ke barak sebelah utara dan berduduk di situ, barat utara adalah tempat terhormat, yang hadir di situ belum terlalu banyak.

Jit-jit tidak menghiraukan orang lain, dengan lagak tuan besar ia duduk saja di situ.

Cepat Ci Kong-tay memberi hormat dan berucap.

"Silakan kalian duduk dan minum di sini, Cayhe masih perlu meladeni tetamu lain."

Rupanya ia pun merasakan sang "

Pamanïni kurang simpatik, maka ingin lekas-lekas melepaskan diri.

"Eh, nanti dulu,"

Mendadak Jit-jit berkata.

"Anda ada keperluan apa lagi?"

Tanya Kong-tay.

"Jika kalian mengundang tamu pada saat makan, kenapa kalian cuma menyuguh tamu minum teh saja?"

Kata si nona. Ci Kong-tay menyengir, ucapnya.

"Ah, ada juga, cuma makanan kasar dan arak hambar, untuk ini mohon dimaafkan."

Baiklah, asal ada saja,üjar Jit-jit.

"Jika Ci-heng ada urusan, silakan pergi saja,"

Cepat Sing Hian menambahkan. Ko Siau-diong yang sejak tadi cuma tertawa itu mendadak berkata.

"Aku tidak ada pekerjaan, biar kutemani kalian di sini."

Ci Kong-tay memandangnya sekejap dengan tersenyum getir, lalu tinggal pergi dengan tergesa-gesa.

"Baik, jika engkau yang akan mengiringi harap ambilkan teh dulu,"

Kata Jit-jit.

Dengan tertawa Ko Siau-diong benar-benar menuangkan tiga mangkuk teh dan menyilakan tetamunya minum.

Di barak sebelah utara ini sudah berduduk likuran orang, pandangan semua orang sejak tadi sudah beralih kepada rombongan Cu Jit-jit ini, ada yang sedang kasak-kusuk, jelas diam-diam sedang menduga dan menerka sesungguhnya siapakah orang-orang ini.

Mata Jit-jit juga tidak sungkan-sungkan, ia pandang orang-orang itu satu per satu, dilihatnya kebanyakan sudah berusia setengah baya, berpakaian mentereng, tampaknya orang mampu semua dan jelas tokoh berkedudukan penting di dunia Kangouw.

Akan tetapi tiada seorang pun dikenalnya.

Him Miau-ji telah berputar beberapa kali mengelilingi barak, ketika melihat rombongan Cu Jit-jit, pandangannya terbeliak, tapi diam-diam ia menyingkir dan membatin.

"Bagus, bocah ini telah datang ... dan di manakah Sim Long sekarang? ...."

Rupanya semalam dia mencari Sim Long dan tidak diketemukan.

Dalam pada itu tamu yang datang semakin banyak.

Setelah mengeliling sekali lagi barak itu, tiba-tiba si Kucing merasa dirinya terlalu bodoh, apa gunanya menunggu di sini, kan lebih baik cegat dia saja di jalan raya sana?

Berpikir demikian, serentak ia balik ke sana, sepanjang jalan memandang ke sini dan melihat ke sana, namun bayangan Sim Long tetap tidak kelihatan.

Waktu dia putar balik ke jalan kota, orang berlalu-lalang sudah sedikit, kebanyakan sudah pergi ke tempat rapat, hanya tersisa anak murid Kay-pang saja yang berada di bawah emper sana-sini.

Si Kucing berhenti di pengkolan jalan, ia pikir kalau Sim Long pulang pasti akan lalu di sini.

Maka ia pun bersedekap dan bersandar di samping pintu rumah orang.

Setelah menunggu sekian lamanya, tiba-tiba seorang memberinya sepuluh mata uang tanpa diminta.

Tentu saja Miau-ji heran, katanya.

"Ini ... ini ...."

Harap Toako berdiri saja di tempat lain supaya tidak mengganggu tamu toko kami,"

Kata orang itu dengan tertawa. Semula Miau-ji melenggong, tapi merasa geli, pikirnya.

"Ah, kiranya dia menyangka diriku sebagai pengemis.Ïa pandang dandanan sendiri yang memang tidak banyak berbeda dengan anggota Kay-pang, tanpa terasa ia tertawa geli, ia terima uang pemberian orang dan mengucapkan terima kasih. Lalu ia menuju ke sebuah warung arak di seberang dan berkata kepada penjual, ¡"

Berikan arak sepuluh duit!¡"

Orang yang memberi sedekah tadi menggeleng kepala dan menggerutu.

"Ai, dasar pengemis, punya duit sedikit lantas minum arak."

Biarpun sudah di seberang jalan, dengan ketajaman telinga Him Miau-ji dapat didengarnya gerutu orang itu, diam-diam ia merasa geli.

Begitu arak yang diminta disodorkan, sekali tenggak ia minum habis, mendadak ia keluarkan sepotong uang perak dan dilemparkan kepada penjual arak, katanya.

"Berikan lagi tiga mangkuk besar!"

Pemberi sedekah itu melongo, sampai sekian lama tercengang, lalu menggeleng dan masuk ke tokonya dengan menggerundel.

"Zaman ini orang aneh dan kejadian aneh memang semakin banyak."

Setelah Him Miau-ji habis minum empat mangkuk arak, jalan raya tambah sepi.

Tiba-tiba dilihatnya seorang murid Kay-pang datang dari depan sana, ia tepuk tangan beberapa kali, para anggota Kay-pang yang berdiri di ujung jalan dan di bawah emper itu lantas ikut dia menuju ke luar kota.

Namun Sim Long masih tetap tidak kelihatan.

Keruan si Kucing menjadi gelisah, gumamnya.

"Masakah dia tidak kembali ke sini? .... Ah, tidak mungkin, rapat besar Kay-pang ini mana boleh diabaikannya? Tapi mengapa dia pergi malah? Memangnya ada urusan lain yang lebih penting?"

Sekarang suasana tambah sepi, kembali Miau-ji minum lagi semangkuk, dada bajunya tersingkap, gumamnya.

"Wah, lantas bagaimana jika dia tidak kembali ke sini?" ***** Karena tidak kenal orang lain, maka pandangan Cu Jit-jit hanya menatap ke arah Ko Siau-diong melulu. Jika orang lain tentu akan merasa risi oleh pandangan Cu Jit-jit itu, tapi Ko Siau-diong ini tetap tertawa ketololan seperti tidak merasakan apa pun.

"Sepanjang hari engkau tertawa terus-menerus, apakah hatimu selalu gembira?"

Tanya Jit-jit tak tahan.

"Ya,"

Jawab Ko Siau-diong.

"Urusan apa yang membuatmu gembira?"

"Banyak,"

Jawab Ko Siau-diong.

"Coba lihat, sinar sang surya sedemikian hangat, tanah bersalju seindah ini, tamu pun datang sekian banyak .... Bukankah semua ini sangat menggembirakan?"

Pernah juga engkau tidak gembira?"

"Tidak, di mana-mana aku selalu gembira."

Engkau sungguh manusia aneh,ücap Jit-jit kemudian.

Ia pikir orang aneh yang dilihatnya selama ini sungguh tidak sedikit.

Sim Long, Him Miau-ji, Kim Bu-bong, bahkan Sing Hian, semua ini orang aneh.

Untung juga, setiap orang aneh itu terasa sangat menyenangkan.

Pada saat itulah mendadak ada orang berdiri dan berseru, ¡ "Itu dia Kiau-tayhiap datang!¡"

Waktu Jit-jit berpaling, benarlah dilihatnya Kiau Ngo dan Hoa Si-koh telah muncul.

Kiau Ngo memberi salam kepada para hadirin, tamu yang datang lebih dulu juga balas menyapa padanya.

Diam-diam Jit-jit merasa heran, ucapnya, ¡"

Aneh, orang yang angkuh begini juga banyak kenalannya.¡"

"Asalkan tidak berbuat jahat, asalkan baik hati nuraninya, setiap tindak tanduknya selalu di pihak yang benar, biarpun agak angkuh tetap disukai orang,"

Kata Ko Siau-diong dengan tertawa.

"Wah, banyak juga pengetahuanmu,"

Kata Jit-jit.

"Ah, lumayan,üjar Ko Siau-diong. Mendadak terdengar suara ¡"

Tok-tok-tok¡"

Tiga kali, suara ketukan kentungan.

"Suheng memerintahkan berkumpul, terpaksa kumohon diri,"

Kata Ko Siau-diong dengan tertawa.

Waktu Jit-jit memandang ke sana, benarlah para anggota Kay-pang yang tadinya tersebar itu kini telah berkumpul dan berbaris dengan rajin.

Yang menjadi komandan barisan ternyata Ci Kong-tay dan Ko Siau-diong, barisan masuk ke pelataran kosong di tengah barak, serentak lebih dua ratus anggota Kay-pang memberi hormat kepada hadirin dan mengucapkan terima kasih.

Lalu mereka berduduk di atas jerami kering bertimbun salju itu.

Jit-jit menjadi gelisah, gumamnya.

"Rapat segera akan dimulai, mengapa Sim Long belum lagi muncul?"

Him Miau-ji telah minum sebelas mangkuk arak, kalau tidak terdengar derapan kaki kuda mungkin dia akan minum lagi sepuluh mangkuk.

Demi mendengar suara kaki kuda, segera ia taruh mangkuk arak dan berlari ke sana.

Tiga ekor kuda muncul, benarlah Sim Long dan si pemilik restoran serta seorang lelaki kekar yang pernah digenjot sekali oleh Him Miau-ji itu.

Di belakang ketiga ekor kuda ikut sebuah kereta besar.

Miau-ji pentang tangan dan menyongsong ke sana sambil berteriak.

"O, Sim-heng, jika engkau tidak lagi datang, sungguh aku bisa gila."

Sim Long menahan kudanya dan bertanya kepada kedua kawannya.

"Apakah kalian kenal dia?"

Lelaki kekar itu bersungut dan diam saja. Sedangkan si pemilik restoran lantas tertawa dan berkata.

"Kalau aku tidak dapat melihat gelagat, tentu semalam juga sudah merasakan bogem mentah saudara ini."

Si Kucing tertawa.

"Untuk itu kuminta maaf. Sekarang ingin kupinjam sebentar Sim-heng untuk bicara."

Segera ia menarik Sim Long ke samping sana.

"Ada urusan rahasia apa?"

Tanya Sim Long dengan tertawa.

"Setelah kau minum arak, siapa yang mampu menemukan dirimu si Kucing ini?"

Tapi dengan serius Miau-ji lantas berkata.

"Namun semalam telah kudengar sesuatu yang mengejutkan."

Belum pernah Sim Long melihat si Kucing bicara sungguh-sungguh begini, cepat ia tanya.

"Urusan apa?"

Bocah she Sing itu mabuk dan menarikku untuk menjadi comblang baginya, terpaksa kuikut pergi ke Peng-an-khek-tiam sana ...."

Begitulah Miau-ji lantas bercerita apa yang dilihat dan didengarnya semalam.

"Apa betul pembicaraan mereka itu?"

Sim Long terperanjat juga.

"Mereka menyangka aku mabuk, maka cara bicara mereka sama sekali tidak khawatir didengar olehku,"

Tutur Miau-ji.

"Mereka tidak tahu biarpun mabuk orangnya, otakku selalu jernih. Justru setelah mendengar percakapan mereka aku lantas sengaja berlagak mabuk."

Jadi orang itulah Sim Long palsu seperti apa yang diceritakan Sing Hian itu,"

Gumam Sim Long.

"Betul,"

Kata Miau-ji.

"Menurut pendapatmu, siapakah orang ini?"

Tanya Sim Long.

"Dari suara orang ini, kukira ... ai ...."

Miau-ji menghela napas dan tidak melanjutkan. Kedua orang lantas saling pandang sekejap dan sama menghela napas, keduanya sama-sama tahu siapa yang dipikirkan masing-masing.

"Ai, mengapa dia berbuat demikian?"

Berulang-ulang Sim Long menggerutu.

"Apakah kau pikir dia benar-benar Cu Jit-jit?"

Tanya si Kucing.

"Besar kemungkinan dia, orang lain takkan bicara demikian."

Tapi ... tapi meski suaranya sama, wujudnya sama sekali tidak sama."

"Waktu itu kau pun mabuk, mana dapat melihatnya dengan jelas."

Miau-ji menggeleng, ¡Tidak, waktu kumasuk ke sana belum terlalu terlambat, orang itu memang tidak mirip Cu Jit-jit .... Anehnya, kedengarannya dia justru nona Cu, ai, sungguh runyam."

Dia pasti sudah mengalami penyamaran,üjar Sim Long setelah berpikir.

"Tapi dia tidak paham ilmu merias, kecuali ...."

Kecuali Ong Ling-hoa, begitu bukan maksudmu?"

"Kau pikir Ong Ling-hoa akan ... akan merias muka nona Cu?"

Tanya Miau-ji dengan khawatir.

"Kukira yang perempuan itu ialah Ong Ling-hoa,ücap Sim Long sekata demi sekata. Miau-ji melonjak kaget.

"Ah, mana bisa ... tidak mungkin ...."

Tapi cepat ia menyambung pula.

"Sungguh setan alas, memang betul dia .... Jadi dia merias nona Cu menjadi lelaki, ia sendiri berbalik menyamar sebagai perempuan. Tapi ... apa maksudnya berbuat demikian?"

Tentu karena dipaksa oleh Jit-jit,üjar Sim Long.

"Masakah nona Cu mampu memaksa dia?"

Melengak juga si Kucing.

"Mungkin Jit-jit mendapatkan suatu kesempatan yang luar biasa dan berhasil membekuk Ong Ling-hoa. Karena dia sudah kenyang dikerjai bocah she Ong itu, maka sekarang ia pun balas mengerjai orang dengan cara yang sama."

Ya, betul, memang betul,¡"

Seru si Kucing. ¡ "Setelah nona Cu membekuk Ong Ling-hoa, lalu memaksa dia merias mukanya. Karena dia merasa ... merasa gemas padamu, maka ingin membalas."

Ya, memang begitulah, biasanya Jit-jit memang suka menuruti wataknya, bila di dunia ini ada orang yang berani berbuat apa pun maka orang ini ialah Cu Jit-jit."

"Wah, lantas ... lantas bagaimana?"

Si Kucing merasa tidak sabar.

"Kukira lebih baik cari dulu Co Kong-liong, lalu memaksa dia membereskan segala seluk-beluk urusan ini. Hm, ada caraku dapat membuat dia bicara sejujurnya."

Sim Long tidak menanggapi, setelah termenung sejenak, katanya kemudian.

"Kau tahu semalam kupergi ke mana?"

"Thian yang tahu,"

Jawab si Kucing dengan tertawa.

"Kupergi menemui Co Kong-liong,ücap Sim Long sekata demi sekata.

"Hah, apa betul?"

Si Kucing melonjak kaget. Sim Long melirik sekejap ke arah si pemilik restoran, lalu berkata pula.

"Dia yang membawaku ke sana."

"Dan sudah bertemu?"

Tanya Miau-ji dengan kejut dan girang.

"Sudah,"

Jawab Sim Long.

"Aha, di mana dia sekarang,"

Miau-ji berjingkrak gembira. Sim Long termenung lagi sejenak lalu berkata.

"Mari ikut padaku."

Segera ia menuju ke arah kereta yang masih berhenti di sana itu.

"Ah, urusan ini menjadi lebih sederhana, kiranya dia di dalam kereta,"

Gumam si Kucing.

Perlahan Sim Long telah membuka pintu kereta.

Benar juga terlihat Co Kong-liong berada di dalam.

Sang surya sudah hampir terbenam, hari sudah mulai remang-remang.

Namun jelas kelihatan wajah Co Kong-liong yang pucat dan kisut, dadanya tertancap sebilah belati.

Tergetar tubuh si Kucing, ia menyurut mundur dan berkata.

"Hah, sudah mati, dia ... dia sudah mati!"

Betul, perjalananku semalam hanya menemukan mayatnya,"

Tutur Sim Long dengan menyesal.

"Dia ... dia dibunuh siapa?"

Baik sekali bilamana kutahu."

"Apakah tiada sesuatu tanda pengenal pada belati itu?"

Belati ini milik Co Kong-liong sendiri ...."

Tutur Sim Long.

"Orang yang membunuhnya mampu mencabut belatinya dan menubles ke dalam dadanya tanpa ada perlawanan dari Co Kong-liong sendiri, semua ini menandakan dia ...."

Dia pasti kenalan baik Co Kong-liong,"

Tukas si Kucing.

"Bahkan turun tangan pada saat tidak terduga-duga oleh Co Kong-liong .... Tapi siapakah dia?"

Sim Long diam saja tanpa menjawab.

"Setelah Co Kong-liong mati, urusan menjadi lebih ruwet,üjar Miau-ji dengan mengentak kaki.

"Anak murid Kay-pang sudah menaruh prasangka bila melihat dirimu, bisa jadi mereka akan melabrakmu mati-matian, maka kukira lebih baik sementara ini jangan kau pergi ke sana, nanti ...."

Jika sekarang aku tidak ke sana, nanti tambah sukar menjelaskan duduknya perkara,üjar Sim Long dengan tertawa. Miau-ji menggeleng kepala.

"Sungguh aneh, engkau masih dapat tertawa ...." ***** Musim dingin dan salju menimbuni jerami, orang biasa mana tahan berduduk di atas jerami bersalju itu. Tapi anak murid Kay-pang terasa enak saja berduduk di situ. Sudah dekat magrib, hari belum gelap, tapi belasan anggota Kay-pang berkarung satu telah membawakan obor dan diikat di sekeliling tiang barak. Jit-jit berkerut kening dan menggerundel.

"Mengapa mereka cuma duduk tepekur tanpa bicara ...."

Belum selesai ucapannya, sekonyong-konyong Ci Kong-tay telah berbangkit.

Mukanya yang burik tampak prihatin, di bawah cahaya obor lekuk-lekuk kecil pada mukanya itu memang serupa mata uang sesuai julukannya, namun justru menambah keangkerannya.

Dia menjura sekeliling kepada hadirin, lalu berseru dengan suara lantang, ¡"

Lebih dulu atas nama segenap anggota Pang kami mengucapkan banyak terima kasih atas kehadiran saudara-saudara, oleh karena para sesepuh Pang kami sama tidak di tempat, terpaksa Tecu mewakili Pang kami menyampaikan sepatah kata.¡"

Sampai di sini, kembali ia memberi hormat lagi.

Serentak terdengar suara hadirin yang ramai, ada yang bertanya sebab apa Kay-pang-sam-lo tidak hadir?

Maka dengan sedih Ci Kong-tay menyambung lagi sambutannya.

"Adapun undangan Pang kami kepada hadirin sekalian, kecuali untuk menyaksikan pemilihan Pangcu, mestinya sekaligus dapat sekadar bergembira ria bersama hadirin, namun sekarang ... sekarang ....ïa menengadah dan menghela napas panjang, lalu menyambung, ¡"

Sekarang terpaksa harus kupermaklumkan sesuatu berita duka.¡"

"Hah, berita duka apa?"

Seru hadirin dengan gempar.

"Bahwa ketiga Tianglo kami telah mengalami musibah seluruhnya,"

Sambung Ci Kong-tay dengan suara tersendat. Keterangan ini benar-benar sangat mengejutkan semua orang, serentak geger di seluruh barak, sebagian besar hadirin sama berteriak.

"Apa betul berita ini?"

Dengan sedih Ci Kong-tay menjawab.

"Tecu pun berharap berita ini tidak betul, tapi setahuku, hal ini memang benar terjadi."

Seketika suasana diliputi dukacita yang tak terhingga.

"Karena ketiga sesepuh kami sudah meninggal, sementara ini Pang kami menjadi krisis pimpinan,"

Sambung Ci Kong-tay dengan sedih.

"Namun begitu, biar bagaimanapun kami harap hadirin suka tinggal sementara di sini, kalian harus menyaksikan juga segenap anggota Pang kami menuntut balas terhadap musuh yang membunuh ketiga sesepuh kami itu."

Hah, siapa dia?"

Beberapa orang lantas berteriak. Dengan suara bengis Ci Kong-tay berkata.

"Setahuku, orang ini juga akan hadir ke sini, dia ...."

Mendadak seorang menukas dengan mendengus dari luar barak sana.

"Hm, orang itu bukan orang tolol, masakah dia mau mengantarkan kematian ke sini?"

Siapa?!"

Bentak Ci Kong-tay.

Tertampaklah seorang muncul dari luar barak sebelah timur sana.

Di bawah cahaya obor kelihatan orang ini bertubuh bungkuk, berbaju rombeng, mukanya jelek, jalannya tertatih-tatih.

Cepat Jit-jit mendekap mulut sendiri, sebab hampir saja dia menjerit.

"Hah, Kim Put-hoan ...."

Langsung Kim Put-hoan mendekati Ci Kong-tay, dengan cengar-cengir katanya.

"Kian-gi-yong-wi Kim Put-hoan ialah diriku, kukira hadirin tentu sudah pernah mendengar."

Sebagian hadirin memang kenal dia, ada juga yang tidak kenal.

Ketika mendengar orang cacat ini adalah satu di antara ketujuh tokoh terkemuka dunia persilatan zaman ini yang tidak kenal menjadi gempar seketika.

Di sebelah sana Kiau Ngo lagi berkerut kening.

"Hm, untuk apa sampah ini datang ke sini?"

Kita lihat saja nanti,üjar Hoa Si-koh dengan tersenyum.

Dalam pada itu diam-diam di luar barak sana juga sudah merunduk datang tiga sosok bayangan orang.

Ci Kong-tay sendiri kenal Kim Put-hoan, diam-diam keningnya bekernyit, namun ia coba menegur.

"Kim-tayhiap ...."

"Kim-tayhiap apa,"

Semprot Kim Put-hoan.

"Orang lain menyebut Kim-tayhiap padaku, mengapa kau pun menyebut demikian padaku? Tampaknya angkatan muda Kay-pang makin lama makin tidak tahu urusan."

Terpaksa Ci Kong-tay ganti sebutan dengan menahan rasa dongkol.

"O, ada keperluan apakah Cianpwe datang kemari?"

Kubilang kau ini tidak paham urusan, tampaknya memang betul ...."

Jengek Kim Put-hoan.

"Telah timbul peristiwa besar di dalam Kay-pang, masakah aku orang tua tidak ikut hadir? Pertanyaanmu ini bukankah berlebihan?"

Tapi ... tapi Cianpwe bukan ...."

"Apa katamu? Maksudmu aku orang tua bukan anggota Kay-pang, begitu?"

Potong Kim Put-hoan dengan gusar.

"Hehe, kau tahu, mungkin kau sendiri belum lagi lahir ketika aku masuk menjadi anggota Kay-pang."

Di barak utara sana diam-diam Hoa Si-koh tanya kepada Kiau Ngo.

"Apakah benar dia anggota Kay-pang?"

"Ada benarnya juga,"

Jawab Kiau Ngo.

"Dahulu dia memang pernah masuk Kay-pang, tapi setelah dia terkenal, dia sungkan menyebut lagi dirinya orang Kay-pang. Kecuali bajunya yang tetap rombeng seperti kaum pengemis, sesungguhnya dia sudah meninggalkan Kay-pang."

Tapi sekarang dia muncul lagi selaku orang Kay-pang, entah permainan apa yang akan dibawakannya?üjar Hoa Si-koh dengan gegetun.

"Hm, kita pun hadir di sini, jangan harap permainannya yang busuk dapat terlaksana,"

Jengek Kiau Ngo. Dilihatnya Ci Kong-tay tidak berani membantah lagi, dengan hormat ia mengiakan. Rupanya ada orang yang memberi kesaksian atas identitas Kim Put-hoan.

"Eh, lantas untuk apakah kedatangan engkau orang tua sekarang?"

Dengan cengar-cengir tiba-tiba Ko Siau-diong yang ketolol-tololan itu bertanya.

"Aku orang tua ingin memberitahukan kepada kalian bahwa ular tanpa kepala tak bisa jalan,"

Sahut Kim Put-hoan.

"Pang kita yang beranggotakan beribu orang mana boleh selalu tanpa pimpinan. Sebabnya kekuatan Pang kita kian menurun akhir-akhir ini justru lantaran krisis pimpinan. Apalagi suatu organisasi besar seperti Pang kita ini, kalau tanpa pimpinan, tentu anggotanya akan menjadi kurang disiplin."

Oo, jangan-jangan engkau orang tua bermaksud menjadi Pangcu?"

Kata Siau-diong mendadak.

"Tutup mulut, binatang!"

Damprat Kim Put-hoan.

"memangnya kau kira kedudukan Pangcu boleh sembarangan diduduki begitu oleh setiap orang. Bahwa sekarang ketiga sesepuh sudah meninggal, adalah pantas kalau lowongan Pangcu harus kita isi, untuk ini marilah kita memilih ...."

Cara bagaimana memilihnya?"

Potong Ko Siau-diong dengan tertawanya yang khas.

"Sudah tentu ada syaratnya,ücap Kim Put-hoan.

"Perguruan atau aliran mana pun, kalau memilih ketua, tentu harus menimbangnya dari nama tingkat asal usul dan tinggi rendahnya kungfu yang dikuasainya. Masakah hal-hal begini tidak kau pahami?"

Jika begitu, kukira tak perlu memilih lagi,üjar Ko Siau-diong dengan tertawa.

"Apa katamu?"

Bentak Kim Put-hoan.

"Sebab kalau bicara tentang syaratnya jelas engkau orang tua paling terhormat, apalagi bicara tentang kungfu, siapa pula kaum muda kami dapat menandingi engkau orang tua? ...."

Diam-diam Cu Jit-jit merasa geli.

"Ko Siau-diong ini tampaknya ketololan, yang benar dia sama sekali tidak tolol. Betapa pun tebal kulit muka Kim Put-hoan, mustahil mukanya takkan merah setelah mendengar ucapan ini."

Siapa tahu bukan saja muka Kim Put-hoan tidak merah, sebaliknya ia malah tertawa dan berkata.

"Aha, anak baik, bicaramu memang beralasan. Apabila orang lain tidak mempunyai pendapat yang berbeda, rasanya tidak enak jika kutolak saranmu ini."

Segera matanya yang cuma satu itu mendelik dan menatap para hadirin sambil berteriak.

"Nah, siapa yang sekiranya tidak setuju?"

Para anak murid Kay-pang sama memandang Ci Kong-tay dengan bingung, Ci Kong-tay sendiri tampak berdiri melenggong, sedangkan Ko Siau-diong tetap tertawa.

Maka segenap hadirin menjadi gempar pula.

Kim Put-hoan bergelak tertawa.

"Hahahaha! Jika demikian aku jadi ...."

Mendadak seorang membentak.

"Siapa pun boleh menjabat Pangcu kaum jembel, hanya kau Kim Put-hoan yang tidak boleh."

Siapa yang bicara ini?"

Teriak Kim Put-hoan dengan gusar.

"Aku, Kiau Ngo!"

Baru terdengar suaranya, serentak tubuh Kiau Ngo yang tinggi besar itu sudah melayang keluar dari barak dan hinggap di tengah pelataran, di depan Kim Put-hoan. Air muka Kim Put-hoan berubah seketika.

"Kiranya kau pun hadir?"

"Hm, anggap sial bagimu, kembali kepergok olehku,"

Jengek Kiau Ngo.

"Memangnya ada ... ada persoalan apa antara kita sehingga selalu ... selalu kau memusuhi diriku?"

Tanya Kim Put-hoan.

"Setiap orang jahat di dunia ini seluruhnya adalah lawan orang she Kiau,"

Teriak Kiau Ngo dengan bengis.

"Bilamana manusia rendah dan kotor semacam dirimu menjadi ketua Kay-pang, mustahil dunia persilatan bisa aman."

Urusan Kay-pang kami sendiri peduli apa denganmu?"

Jawab Kim Put-hoan.

"Aku justru ingin ikut campur, kau mau apa?"

Bentak Kiau Ngo. Gemertuk Kim Put-hoan mengertak gigi, tapi juga tidak dapat bicara lagi. Waktu itu Ci Kong-tay telah menarik Ko Siau-diong ke pinggir dan mengomelnya.

"Ai, kenapa tadi kau bicara begitu?"

Memang sudah kuduga orang lain pasti takkan membiarkan dia naik ke singgasana Pangcu, jika kita tidak dapat merobohkan dia, biarkan saja orang luar yang tampil untuk menghadapi dia,üjar Ko Siau-diong dengan tertawa.

"Ehm, benar juga,üjar Ci Kong-tay. Sementara itu terdengar Kiau Ngo lagi berteriak pula.

"Kim Put-hoan, orang she Kiau juga takkan bertindak semena-mena, pokoknya asalkan anak murid Kay-pang sama tunduk dan menerima dirimu, aku pun pasti tidak ikut campur. Tapi bila hendak kau gunakan kekerasan untuk menindas yang lebih lemah, main gertak dan ancam, betapa pun orang she Kiau takkan tinggal diam."

Cepat Kim Put-hoan berkata.

"Dengan sendirinya anak murid Pang kami sama setuju ...."

Mendadak Ko Siau-diong memotong pula dengan tertawa.

"Kalau bicara kungfumu lebih tinggi dan nama pun lebih terkenal, memang kami tidak dapat menyangkal .... Tapi bila kau bilang kami sama setuju mengangkat engkau sebagai Pangcu, hehe, jelas itu salah besar."

Memangnya kau berani ... berani membangkang?"

Damprat Kim Put-hoan dengan gusar.

"Kim Put-hoan,"

Bentak Kiau Ngo.

"tidak perlu banyak bicara, hanya ada dua pilihan bagimu, lekas menyingsingkan lengan baju dan bertempur denganku atau lekas angkat kaki dari sini."

Kim Put-hoan benar-benar menggulung lengan baju dan berteriak.

"Orang she Kiau, memangnya kau kira aku takut padamu?"

Pada saat itulah mendadak dari barak sebelah timur berkumandang suara tertawa dingin seorang.

"Hm, memangnya kau takut apa Kim Put-hoan, urusan intern Kay-pang orang luar memang tidak perlu ikut campur."

Suara orang ini sangat lambat, rasanya seperti orang yang kempas-kempis, orang yang sudah hampir putus nyawa.

Namun suara ini berkumandang dari barak sana dan dapat didengar oleh setiap orang dengan jelas.

Malahan suara tertawa dinginnya terasa seram dan membuat orang mengirik.

Tanpa terasa semua orang sama berpaling ke sana.

Tertampaklah di atap barak yang remang sana entah sejak kapan sudah duduk bersila seorang, yang bermata tajam segera dapat melihatnya orang ini seorang kakek.

"Hah, kiranya dia ....ücap Jit-jit dengan terperanjat.

"Dia inilah si kakek kecil yang minum arak sendirian di restoran besar tempo hari."

Sing Hian juga mendesis.

"Ya, orang ini she Han bernama Ling, kabarnya ...."

Dalam pada itu terdengar Kiau Ngo lagi membentak.

"Hm, kiranya kau, untuk apa kau ikut campur?"

Dan kau sendiri buat apa kau ikut campur?"

Jawab si kakek kecil dengan ketus.

"Haha, betul, tepat!"

Seru Kim Put-hoan dengan girang.

"Hm, rupanya kau dan Kim Put-hoan ...."

Orang tua tidak kenal dia,"

Jengek si kakek alias Han Ling.

"Aku cuma ingin menegakkan keadilan saja."

Betul, beliau orang tua memang tidak kenal padaku, dia cuma penasaran melihat perbuatanmu yang sok ikut campur urusan orang lain, maka ingin membela keadilan,"

Seru Put-hoan dengan tertawa. Watak Kiau Ngo sangat keras, bila gusar, segala urusan tak dipikir panjang lagi, sambil meraung segera ia melompat ke atas barak.

"Bagus, ternyata ada orang mau mengantarkan kematian,"

Seru Han Ling dengan tertawa.

"Awas Goko, pedang pada kakinya berbisa keji, hati-hati!"

Seru Si-koh.

Kim Put-hoan berkeplok gembira.

Hadirin juga gempar.

Di tengah suara ramai Kiau Ngo sudah melayang ke atas dan menubruk ke arah Han Ling.

Cocok dengan julukannya sebagai Singa Jantan, gaya tubruknya itu memang sangat hebat serupa singa menerkam mangsanya.

Namun Han Ling tetap duduk bersila di tempatnya.

Kepalan baja Kiau Ngo segera menghantam bagai gugur gunung dahsyatnya.

Pada saat itulah terdengar Han Ling tertawa mengekek, mendadak tubuhnya melejit ke atas, di mana kain bajunya berkibar, tahu-tahu sinar hijau berkelebat menyambar tenggorokan Kiau Ngo.

Padahal saat itu Kiau Ngo lagi terapung di udara, jelas sukar baginya untuk mengelak.

Keruan Hoa Si-koh menjerit khawatir.

Namun Kiau Ngo yang kelihatan kasar itu tidak berarti tidak punya taktik, pada detik berbahaya itu mendadak ia anjlok ke bawah, barak bambu seketika berlubang, tubuh Kiau Ngo kejeblos ke bawah dan serangan kaki berpedang Han Ling lantas mengenai tempat kosong.

Meski cara menghindar Kiau Ngo ini di luar teori silat mana pun, namun merupakan gerakan penyelamat yang jitu.

Dari jerit khawatir segera Hoa Si-koh berteriak gembira pula.

Han Ling sendiri juga tidak menyangka serangan maut sendiri bisa mengenai tempat kosong, sedikit tercengang, tanpa tertahan tubuhnya juga anjlok ke bawah menerobos lubang yang dibobol Kiau Ngo itu.

Hadirin yang duduk di dalam barak sama lari menghindar.

Begitu hinggap di tanah, Kiau Ngo terus berjumpalitan ke samping.

Sedangkan Han Ling hinggap di atas sebuah meja dengan posisi tetap duduk bersila.

Kedua orang saling tatap.

Han Ling menyeringai dan berkata.

"Hm, tak terduga barak yang dibangun orang Kay-pang ini telah menyelamatkan jiwamu."

Ya, bila bertanding secara resmi, memang orang she Kiau harus mengaku kalah, tapi sekarang ...."

Mendadak tangan Kiau Ngo terangkat, kedua tangannya sudah memegang semacam senjata kemilauan sepanjang tangan manusia.

Senjata aneh itu serupa garpu tanpa tangkai serupa pula cakar.

Inilah Jing-say-jiau atau cakar singa hijau, senjata andalan si Singa Jantan.

Bahwa Kiau Ngo sampai mengeluarkan senjata, seketika menimbulkan hasrat para hadirin untuk menonton pertarungan yang pasti akan berlangsung sengit.

Dalam pada itu Kiau Ngo lantas menubruk maju sambil meraung, berbareng sinar hijau juga menyambar.

Terdengar suara dering nyaring berulang-ulang, kedua orang sudah saling gebrak empat-lima jurus.

Tapi tidak ada yang tahu cara bagaimana beberapa jurus serangan itu berlangsung.

Tubuh Han Ling selalu melejit dan menyerang dengan kaki berpedang.

Sampai empat-lima jurus tubuhnya masih belum anjlok ke bawah, malahan jurus serangan selanjutnya terus dilancarkan lagi.

Karena pedang pada kakinya saling bentur dengan cakar singa Kiau Ngo, daya bentur itu membuat tubuhnya melenting lagi ke atas sehingga dia dapat bertahan lama mengapung di udara.

"Hm, cuma begini saja,"

Jengek Han Ling, ketika pedang kaki beradu lagi dengan cakar singa lawan, mendadak tubuhnya mengapung ke atas dan menerobos keluar lubang atap yang jebol tadi.

Pandangan Kiau Ngo terasa kabur dan tahu-tahu Han Ling sudah hilang.

Terdengar suara Han Ling mengejek di atas barak.

"Kalau berani ayolah naik ke sini!"

"Jangan naik,"

Cepat Hoa Si-koh berseru kepada Kiau Ngo.

"Dia pasti mengintai di samping lubang ...."

Belum habis ucapannya Kiau Ngo sudah meloncat ke atas.

Cuma dia tidak menerobos keluar melalui lubang tadi melainkan dengan cakar singa ia bobol lubang baru, dengan daya raih cakarnya itu ia lantas melayang ke atas.

Beramai-ramai hadirin berlari ke pelataran lagi dan menengadah untuk menonton pertempuran di atas barak.

Cahaya hijau di atas barak tampak menyambar kian kemari di sekeliling Kiau Ngo.

Namun Kiau Ngo juga tidak kurang tangkasnya, cakar singa juga berputar dengan macam-macam gaya serangan, ya mencakar, merobek, memuntir dan juga menangkis, semuanya gerak serangan yang jarang terlihat.

Namun kaki berpedang Han Ling memang luar biasa, merupakan kungfu yang khas, setiap serangannya ganas tanpa kenal ampun.

Yang lihai adalah serangan yang susul-menyusul dan betapa cepat gerak perubahannya, sungguh sukar dibayangkan dan hampir tidak memberi kesempatan bernapas kepada lawan.

Setelah belasan jurus berlangsung, keadaan Kiau Ngo mulai payah.

Pada waktu itu di kejauhan sana ada tiga sosok bayangan orang mendekam di tempat gelap.

"Sungguh ilmu pedang yang aneh,"

Demikian ucap orang pertama.

"Ya, meski sudah kuperas otak tetap tidak tahu cara bagaimana mematahkan kaki berpedang itu,üjar orang kedua. Orang ketiga tersenyum.

"Di dunia ini mana ada ilmu silat yang tak dapat dipatahkan."

Tapi, coba, cara bagaimana akan kau patahkan ilmu pedangnya yang istimewa itu?üjar orang pertama.

"Berlagak mundur untuk menyerang, pura-pura menyerang, tapi mendadak menyerang sungguhan,"

Kata orang ketiga. Orang pertama termenung sejenak, katanya kemudian.

"Ah, betul, dengan siasat ini, setiap serangan Han Ling pasti akan mengenai tempat kosong sehingga sukar mendapatkan tempat berpijak dan dia terpaksa akan anjlok ke bawah."

Dan begitu anjlok ke bawah, biarpun dapat meloncat lagi ke atas, tentu juga akan terlambat selangkah, sebab daya serangnya mengutamakan kecepatan sehingga lawan tidak diberi kesempatan bernapas, tapi bila dia sendiri terlambat satu langkah, daya serangnya akan teralang juga,"

Demikian ucap orang kedua.

"Ya, cuma sayang Kiau Ngo tidak dapat memikirkan jalan mematahkan ilmu pedang musuh ini ....üjar orang pertama dengan gegetun.

"Tapi itu pun bukan satu-satunya jalan untuk mematahkan ilmu pedang musuh,"

Kata orang ketiga dengan tertawa.

"Oo, masih ada cara apa lagi?"

Tanya orang kedua.

"Dia masih mempunyai lawan mematikan terbesar,"

Kata orang ketiga.

"Siapa lawannya yang mematikan dia? Jangan-jangan Sim-heng sendiri?"

Tanya orang kedua.

"Bukan aku, tapi engkau,"

Sahut orang ketiga dengan tertawa. Orang kedua terdiam sejenak, mendadak ia pun tertawa dan berkata.

"Ya, betul, senjataku memang merupakan maut baginya."

Sebab itulah sebentar lagi engkau harus ...."

Lalu orang ketiga berbisik-bisik.

"Baik, kutahu,"

Jawab orang kedua. Orang pertama berkeplok tertawa dan berseru.

"Haha, akal bagus ... tapi cara bagaimana pula Sim-heng dapat memastikan Co Kong-liong terbunuh oleh Kim Put-hoan?"

Jika bukan dia yang membunuh Co Kong-liong, mengapa dia berani memastikan Co Kong-liong sudah mati?

Bila dia tidak dapat memastikan Co Kong-liong sudah mati, mengapa dia berani ikut berebut kedudukan Pangcu?"

Kata orang ketiga.

***** Dalam pada itu Kiau Ngo sudah mandi keringat, namun dasar wataknya keras, biarpun sudah kepayahan dia tetap pantang memperlihatkan kelemahan, dia masih terus menyerang mati-matian dengan cakar singanya.

Sedangkan Han Ling terus main mundur hingga barak selatan.

Hoa Si-koh sendiri tidak melihat ada tanda Kiau Ngo akan kalah, tentu saja orang lain juga tidak sehingga mereka masih bersorak memberi semangat kepadanya, malahan ada yang menyenggak.

"Lelaki hebat, singa jantan sejati, coba lihat, dari awal hingga sekarang dia terus mendesak maju ...."

Tak diketahuinya bahwa serangan yang mendesak ini justru merupakan kesalahan fatal Kiau Ngo sendiri. Mendadak terdengar Han Ling tertawa mengekek, ejeknya.

"Dalam tiga jurus lagi harus serahkan nyawamu!"

Di tengah tertawanya kedua kaki berpedang terus menendang secara berantai.

Dengan sendirinya Kiau Ngo sambut serangan itu dengan cakar singanya.

Terdengar suara gemerencing, pedang dan cakar baja saling beradu dan memercikkan lelatu api.

Pada saat itulah tiba-tiba tangan kanan Han Ling meraba pinggang, sekali terangkat, tahu-tahu tangannya sudah bertambah sebatang pedang lemas, kontan ia menusuk.

Sungguh mimpi pun Kiau Ngo tidak menduga pada pinggang lawan terbelit sebatang pedang lemas.

Tusukan pedang ketiga ini sungguh serangan maut.

Kedua cakar singa Kiau Ngo sedang digunakan memapak kedua pedang kaki Han Ling, maka sukar baginya untuk mengelak atau menangkis tusukan pedang ketiga ini.

Penonton sama menjerit kaget ....

Syukurlah pada detik terakhir itu mendadak dari kejauhan seorang membentak.

"Serang!"

Terdengar suara mendenging memecah udara, langsung menyambar ke punggung Han Ling.

Jarang orang mendengar denging tajam dan secepat ini, sungguh tak tersangka di dunia ada senjata rahasia selihai dan sekuat ini.

Tentu saja Han Ling juga terkejut, mana dia sempat melukai lawan lagi, dari suara mendenging tajam itu dirasakan senjata rahasia orang sudah dekat punggungnya, terpaksa sekuatnya ia putar pedang ke belakang ....

"Tring", kembali lelatu tepercik. Tangan Han Ling sampai kesemutan tergetar oleh senjata rahasia lawan yang kecil itu. Dalam kejut dan gusarnya Han Ling membentak.

"Keluar sini pengecut yang suka main menyergap!"

Di tengah kegelapan sana seorang tertawa keras, serunya.

"Ini dia datang!"

Baru lenyap suaranya, tahu-tahu seorang sudah melayang ke atas barak, betapa cepat gerak tubuhnya sungguh sangat mengejutkan.

Han Ling sudah duduk bersila lagi, dipandang dalam kegelapan sukar melihat jelas wajah pendatang ini, tapi dapat dilihatnya dada bajunya yang terbuka dan rambutnya yang kusut, matanya yang besar dan mencorong terang seperti kerlip bintang di langit.

"Itu dia si Kucing,"

Seru Jit-jit tanpa terasa. Sing Hian juga bergumam.

"Tak tersangka dia memiliki Ginkang setinggi ini."

Terdengar Him Miau-ji lagi berkata dengan tertawa.

"Silakan Kiau-goya mengaso dulu, biarkan aku si setan arak cilik melayani setan arak tua ini."

Kiau Ngo termangu sejenak akhirnya ia mengentak kaki dan berkata.

"Baiklah."

Dia terus melompat turun ke pelataran, di mana Hoa Si-koh sedang menunggunya. Dalam kegelapan mata Han Ling seakan-akan memercikkan lelatu. Dengan tertawa si Kucing lantas menegur.

"Kembali datang seorang yang suka ikut campur tetek bengek, kenapa kau duduk melulu, ayolah berkelahi!"

Han Ling hanya melotot saja tanpa bicara, juga tidak bergerak.

"Jika sengaja kau tunggu kuturun tangan lebih dulu, kukira engkau bisa konyol,¡üjar si Kucing dengan tertawa. ¡"

Ketika di restoran itu tempo hari kan sudah kau ketahui selamanya aku tidak turun tangan lebih dulu.Äpi yang seakan-akan menyala pada mata Han Ling sudah padam dan mendadak berubah dingin.

Tiba-tiba Ko Siau-diong di bawah berkata dengan tertawa.

"Orang ini pasti menang."

Yang dimaksudkan adalah si Kucing.

"Cara bagaimana dapat kau pastikan?"

Tanya Ci Kong-tay.

"Dari caranya yang sabar dan tidak mau turun tangan lebih dulu segera kutahu dia pasti akan menang."

Ah, masa ...."

Belum lanjut ucapan Ci Kong-tay mendadak secepat kilat Han Ling melayang maju, cahaya hijau berkelebat, kembali kakinya yang berpedang menusuk tenggorokan Him Miau-ji.

Si Kucing bergelak tertawa dan menyurut mundur.

Sekali berputar di udara, kembali pedang kaki lain Han Ling menyerang lagi.

Dan si Kucing tetap menyurut mundur, sebelah tangan lantas meraih buli-buli arak yang tergantung di pinggang.

Dua kali menendang tidak kena sasaran, Han Ling hinggap ke belakang, tapi begitu ujung pedang menutul atap barak, serentak tubuhnya melejit lagi ke atas dan sinar hijau menyambar pula.

Sekali ini dia menyerang dengan tendangan berantai, kedua kaki berpedang menyambar susul-menyusul.

"Bagus!"

Teriak si Kucing. Sekali ini dia tidak mundur lagi melainkan memapak maju malah dengan buli-buli arak terpegang di tangan, kontan ia sambut ujung pedang lawan dengan buli-buli.

"Tring-tring", kedua pedang sama mengenai buli-buli. Selagi Han Ling hendak ganti gerakan, siapa tahu kedua kaki pedang telah melengket pada lawan. Hal ini serupa kedua kakinya terpegang oleh orang. Bila orang lain, kalau senjata tercengkeram lawan tentu dapat lepas tangan dan habis perkara, tapi senjata Han Ling ini lain daripada yang lain, kedua pedangnya sama dengan kedua kakinya dan tidak mungkin dilepaskan. Keruan kejut Han Ling tak terkatakan, saking kagetnya, pedang yang dipegang tangan kanan terus menebas, tak terduga kembali terdengar ¡"

Tring¡", begitu pedang mengenai buli-buli, lagi-lagi pedang melengket dan sukar terlepas lagi.

"Haha, turunlah!"

Seru si Kucing dengan tertawa.

Ketika si Kucing menarik buli-bulinya, jelas sekujur badan Han Ling akan ikut terseret ke bawah.

Dalam keadaan terapung terang dia tidak mampu melawan.

Serentak terdengar sorak gembira anggota Kay-pang.

Siapa tahu pada saat itulah tangan kiri Han Ling mendadak bertambah lagi dengan sebatang pedang pandak.

Sinar tajam berkelebat, belati itu terus menikam, bukan Him Miau-ji yang diserang melainkan menebas kedua kaki sendiri, kedua pedang hijau berkilau itu.

Terdengarlah suara "

Tring-tring"

Dua kali, tahu-tahu kedua pedang yang digunakan sebagai kaki itu tertebas patah.

Nyata belatinya adalah senjata mestika yang dapat memotong besi serupa merajang sayur.

Begitu pedang kaki patah, seketika Han Ling terbebas dari lengketan buli-buli, cepat ia berjumpalitan dan melompat sejauh beberapa meter ke sana, sekali berkelebat bayangannya segera lenyap dalam kegelapan.

Para penonton sama melenggong, Miau-ji juga terkesima.

Sampai sekian lama barulah si Kucing menggeleng kepala dan berkata.

"Ai, tak tersangka keparat ini masih memegang pedang keempat."

Nyata pedang keempat itu adalah pedang penyelamat jiwa.

Kim Put-hoan merasa sudah kehilangan segalanya, segera ia bermaksud mengeluyur pergi.

Tapi baru saja dia bergerak, tahu-tahu Miau-ji sudah mengadang di depannya dengan tertawa.

"Hehe, hebat benar kungfu Him-heng,ücap Kim Put-hoan dengan menyengir.

"Ah, mana,"

Sahut si Kucing dengan tertawa.

"Antara diriku dengan Him-heng rasanya tidak terjadi sengketa apa pun,ücap Kim Put-hoan pula.

"Hahahaha!"

Mendadak si Kucing menengadah.

"Wahai Kim Put-hoan, apa gunanya engkau mengoceh dan menjilat diriku? Jika kulepaskan dirimu hari ini, tentu Sim Long yang akan menanggung dosa bagimu."

Mendadak ia berhenti tertawa dan membentak.

"Dengarkan kawan-kawan Kay-pang, kematian Co Kong-liong, Co-tianglo adalah karena dibunuh oleh orang she Kim ini."

Tentu saja terjadi heboh di antara anggota Kay-pang itu, juga para tamu sama gempar. Dengan air muka berubah Kim Put-hoan berseru.

"Selama ini tidak ada ... tidak ada permusuhan apa pun antara kita, mengapa ... mengapa engkau memfitnah diriku?"

Apa yang kukatakan sudah barang tentu ada bukti dan saksi,"

Kata si Kucing. Mendadak sikap Kim Put-hoan berubah tenang lagi, jengeknya.

"Bukti dan saksi? .... Hm, coba buktikan!"

Huh, mungkin kau kira perbuatanmu itu pasti tidak diketahui oleh siapa pun, apalagi bukti segala.

Wahai Kim Put-hoan, apakah kau tahu bahwa jaring yang dipasang Thian cukup ketat, setiap kejahatan tidak nanti lolos dari pengawasan Thian yang mahaadil.

Kau kira perbuatanmu cukup rahasia, siapa tahu justru ada orang ...."

"Hm, jika cuma perlu seorang saksi saja apa sukarnya?"

Jengek Kim Put-hoan.

"Saksi juga harus dapat memberi bukti, orang yang kuajukan justru dapat memberi kesaksian sekaligus juga memberi bukti."

Memangnya siapa dia? Aku jadi ingin tahu,üjar Kim Put-hoan.

"Orang itu tak-lain-tak-bukan ialah Co Kong-liong sendiri,"

Jawab Miau-ji.

"Hahh, apa katamu?"

Kim Put-hoan menegas dengan bingung. Dengan suara bengis si Kucing menjawab.

"Ketahuilah, bacokanmu itu ternyata tidak menewaskan dia."

Sampai di sini mendadak ia menuding ke atas dan berteriak.

"Coba kau lihat, siapa dia?!"

Tanpa terasa semua orang sama memandang ke arah yang ditunjuk, begitu pula Kim Put-hoan.

Tertampaklah di atas barak selatan sana perlahan muncul sesosok bayangan orang, meski dalam kegelapan tidak terlihat jelas wajahnya, tapi samar-samar dapat dikenali ialah Co Kong-liong.

Keruan hadirin sama gempar, terutama anak murid Kay-pang, serentak mereka berteriak.

"Co-tianglo ...."

Kepala Kim Put-hoan terasa seperti disambar geledek, sampai sekian lama ia tercengang, lalu berteriak dengan suara parau.

"Tidak, bukan, palsu, dia palsu, jelas-jelas golokku telah menghabisi dia ...."

Mendadak disadarinya telah telanjur omong, segera dia bermaksud lari seperti orang gila.

Tapi keadaan sekarang tidak mengizinkan dia kabur lagi.

Serentak anak murid Kay-pang menerjangnya dengan kalap.

Sambil membentak Kim Put-hoan meloncat ke atas barak, di situ Co Kong-liong berdiri.

Tak terduga mendadak Co Kong-liong terus ambruk ke belakang, sebagai gantinya lantas melayang keluar seorang dan mengadang di depan Kim Put-hoan.

Orang ini bukan lain daripada Sim Long adanya.

Belum lagi Sim Long turun tangan tubuh Kim Put-hoan sendiri sudah lemas, sukma seolah-olah terbang meninggalkan raganya.

Ketika tangan Sim Long bergerak perlahan, kontan Kim Put-hoan terjungkal ke bawah barak.

Melihat munculnya Sim Long tubuh Cu Jit-jit juga lemas, gumamnya.

"Wah, habis ... tamat! ...."

Segala daya upayanya, setiap tipu akalnya bila kebentur Sim Long menjadi sama sekali tidak ada artinya. Sing Hian juga melenggong di tempatnya sambil bergumam.

"O, Sim Long ... lihai amat ...."

Dia ... dia memang bukan manusia, tapi setan!"

Kata Jit-jit dengan mendongkol.

"Mengapa di dunia ini tidak ada seorang pun yang mampu merobohkan dia. Cara bagaimanapun orang hendak membikin celaka dia, rasanya selalu diketahui olehnya sebelum terjadi."

Di luar sana terjadi kekacauan, Kim Put-hoan sudah kena diringkus oleh anak murid Kay-pang.

Semua orang asyik membicarakan kejadian ini, tapi setiap percakapan selalu membawa nama seorang, dengan sendirinya ialah nama Sim Long.

Sungguh saking dongkolnya Cu Jit-jit ingin mendekap di atas meja dan menangis.

Air matanya berlinang-linang, ia menunduk dan diam-diam mengusapnya.

Waktu ia menengadah, pandangan pertama yang terlihat ialah Sim Long.

Anak muda yang gagah santai dengan senyumnya yang khas itu.

Him Miau-ji juga sudah berada di depannya dan juga lagi tersenyum padanya.

Cu Jit-jit merasa jantungnya mau melompat keluar dari rongga dadanya, sedapatnya ia menenangkan diri dan berlagak tidak mengenal mereka.

Tapi Sim Long lantas menegurnya dengan tersenyum.

"Baik-baikkah engkau?"

"Sia ... siapa kau? Aku tidak kenal dirimu,"

Jawab Jit-jit.

"Apa benar engkau tidak kenal kami?"

Si Kucing ikut bertanya dengan tertawa.

"Aneh, mengapa ... mengapa aku harus kenal kalian?"

Jawab Jit-jit ketus. Betapa pun ia berlagak, tidak urung suaranya rada gemetar.

"Sudahlah, untuk apa lagi berpura-pura,üjar si Kucing dengan tertawa.

"Umpama orang lain dapat kau kelabui, tidak mungkin aku dan Sim Long dapat kau tipu. Bilakah pernah kau lihat ada sesuatu urusan dapat mengelabui Sim Long?"

Apa ... apa yang kau bicarakan, sungguh aku tidak paham?"

Kata Jit-jit.

"Apa benar kau minta kubongkar urusan ini?"

Tanya Miau-ji dengan tertawa. Mendadak Jit-jit melengos dan berucap.

"Orang semacam ini sungguh membingungkan, Sing Hian ....Äkhirnya Sing Hian mendekat dan mengadang di depan Miau-ji, katanya.

"Him-heng, sudahlah jika dia tidak mau kenal ...."

Haha, rupanya hendak kau bantu bicara bagi bakal paman mertuamu?"

Miau-ji berolok-olok dengan tergelak. Muka Sing Hian menjadi merah.

"Ah, aku ... aku ...."

Haha, bilamana kau jadi menikahi keponakan perempuannya, itulah baru lelucon besar,"

Seru Miau-ji. Mending jika dia bicara urusan lain, demi menyinggung "si dia", Sing Hian menjadi marah, segera ia menjengek.

"Hm, lelucon apa? Maksudmu aku tidak setimpal mendapatkan dia?"

Kau memang tidak setimpal,"

Kata Miau-ji.

"Mungkin engkau yang setimpal?"

Jengek Sing Hian pula dengan gusar.

"Aku lebih-lebih tidak setimpal,"

Miau-ji terbahak.

"Mana si Kucing macam diriku punya rezeki sebesar itu untuk mendapatkan si cantik ...."

Di depan nona caramu bicara hendaknya tahu aturan sedikit!"

Bentak Sing Hian mendadak.

"E-eh, apakah kau ingin berkelahi membela dia?"

Tanya Miau-ji.

"Berkelahi juga berani,"

Sahut Sing Hian.

"O, kasihan, ditipu orang belum juga sadar,üjar si Kucing dengan gegetun. Sampai pucat muka Sing Hian karena gusarnya.

"Kau sendiri yang perlu dikasihani, kaulah yang tertipu."

Tapi sedikitnya aku tidak sampai mengambil seorang lelaki sebagai bini,"

Kata Miau-ji. Sing Hian jadi melengak, mendadak ia tertawa keras.

"Hahaahh! Orang ini sudah gila barangkali, masakah nona ini dibilang lelaki."

Melihat bentuk samaran Ong Ling-hoa yang cantik molek itu, semua orang juga merasa ucapan Him Miau-ji agak janggal, mungkin kurang waras, malahan lantas ada yang menertawainya.

Namun tertawa Him Miau-ji sendiri lebih lantang daripada orang lain, serunya.

"Haha, kau bilang aku gila, memangnya kau minta kuberi bukti padamu?"

Jika dapat kau buktikan, akan kuberi kepalaku,"

Kata Sing Hian.

"Aku tidak mau kepalamu, cukup bayar beberapa botol arak saja ...."

Sembari bicara, mendadak Miau-ji melompat ke sana, mendekati "

Ong Ling-hoa yang cantik¡ïtu, ditariknya dada baju si dia sambil berteriak, ¡ "Nah, boleh kau lihat dia lelaki atau perempuan?!"

Brett¡", seketika dada baju ¡ "Ong Ling-hoa"

Terobek sehingga dada terbuka.

Mendadak senyum khas Sim Long lenyap dari wajahnya.

Him Miau-ji juga melongo.

Ternyata dada yang terpampang di depan mata itu adalah dada orang perempuan, hal ini terbukti jelas dua "

Onde-onde,"

Yang menghiasi dadanya yang cukup merangsang itu.

Dalam sekejap itu tidak cuma Sim Long dan Him Miau-ji saja yang kaget dan bingung, bahkan Cu Jit-jit jauh lebih terperanjat daripada mereka.

Jelas-jelas orang itu adalah samaran Ong Ling-hoa, mengapa bisa malah menjadi seorang perempuan.

Dengan mata kepala sendiri langsung ia menyaksikan Ong Ling-hoa merias sendiri menjadi perempuan, hal ini tidak mungkin salah dan keliru, mengapa sekarang bisa terjadi kekeliruan begini?

Apakah mungkin Ong Ling-hoa sendiri aslinya memang seorang perempuan?

Ah, tidak bisa, tidak mungkin.

Senyumnya dan pandangannya yang jalang, jelas bukan perempuan.

Apalagi secara langsung Cu Jit-jit pernah mengalami dipeluk dan diraba oleh Ong Ling-hoa, semua itu takkan dilupakannya selama hidup dan tidak mungkin salah, sebab perbuatan begitu tak mungkin dapat dilakukan oleh seorang anak perempuan.

Tapi sekarang Ong Ling-hoa justru malah menjadi perempuan.

Keruan keadaan menjadi heboh, Jit-jit berseru kaget, Sim Long dan Miau-ji melongo, Sing Hian menjadi gusar karena merasa dikibuli.

Di antara orang banyak ada yang heran dan geli, ada yang gusar, ada yang tidak berani memandang dada yang telanjang itu, tapi lebih banyak yang melotot, malahan ada yang mendesak maju agar dapat melihat lebih jelas.

Suasana menjadi kacau, sebaliknya si "Ong Ling-hoa", perempuan itu lantas menangis dan berteriak.

"O, kalian lelaki sebanyak ini sengaja menganiaya seorang perempuan lemah, menganiaya perempuan sakit seperti diriku ini ...."

Sing Hian terus menubruk maju dan mencengkeram leher baju Him Miau-ji sambil berteriak dengan suara parau.

"Katakan ...."

Aku ... aku ...."

Si Kucing juga gelagapan.

Yang seorang marah, yang lain gugup, keduanya sama-sama tidak sanggup bicara.

Sukar bicara, tangan Sing Hian tidak tinggal diam.

Sekaligus ia genjot tubuh si Kucing beberapa kali.

Terpaksa Miau-ji manda dipukuli.

Biarpun Sing Hian tidak mengeluarkan tenaga dan tubuh Miau-ji juga cukup kekar, tapi beberapa kali genjotan itu pun cukup membuatnya meringis.

"Pukulan bagus, hajaran baik!"

Banyak penonton ikut berkeplok. Dengan sendirinya Miau-ji tidak dapat membalas, terpaksa ia minta tolong.

"Sim Long ken ... kenapa kau tinggal diam saja?"

Mendadak Sim Long melompat ke depan Jit-jit dan berkata.

"Masa kau biarkan si Kucing dipukuli begitu saja? Jangan lupa, dia pernah menyelamatkan jiwamu dan ...."

Terpaksa Jit-jit berteriak.

"Lepaskan dia, Sing Hian ...."

Jilid 22 Dalam keadaan begini, satu-satunya orang yang dapat memerintahkan Sing Hian melepaskan si Kucing memang cuma Cu Jit-jit saja.

Sing Hian lantas lepas tangan, meski sudah memukul sekian kali, rasa gusarnya belum lagi reda, dengan suara bengis ia berkata.

"Kucing busuk, jangan kau harap akan kusudahi urusan ini ...."

Lalu ia berpaling kepada Cu Jit-jit dari bertanya.

"Cara bagaimana akan menyelesaikan keparat ini?"

Lepaskan dia saja,üjar Cu Jit-jit dengan menghela napas. Sing Hian jadi melengak.

"Ap ... apa? Lepaskan dia?"

Semua orang juga merasa agak di luar dugaan, segera ada orang membentak.

"Tidak, tidak boleh bebaskan dia!"

Sekali kubilang lepaskan dia, maka harus lepaskan dia,"

Kata Jit-jit.

"Sebab apa?"

Tanya Sing Hian.

"Sebab ... sebab ...."

Jit-jit berpaling, terlihat sorot mata Sim Long yang tajam dan wajah Him Miau-ji yang murung serta sikap gusar orang banyak ingin bertindak terhadap si Kucing.

Mendadak ia mengentak kaki dan berteriak.

"Ini, boleh kalian lihat ini!"

Lalu ia menanggalkan topi, membuka ikat rambut, mencopot baju luar, semua itu dibuang ke lantai.

Di tengah rasa tercengang orang banyak, tertampaklah rambut Jit-jit yang panjang terurai dengan pakaiannya yang singsat sehingga terlihat garis tubuhnya yang bernas.

Meski mukanya belum lagi berubah, tapi sekarang kecuali orang buta, siapa pun pasti dapat melihat dia adalah seorang perempuan.

Kembali terjadi kegemparan, ada orang berteriak.

"Hah, perempuan! Kiranya lelaki ini juga samaran seorang perempuan!"

Lebih-lebih Sing Hian, ia jadi melongo dan terbelalak, ucapnya dengan gelagapan.

"He, ken ... kenapa engkau seorang perempuan?"

Mengapa aku bukan perempuan?"

Jawab Jit-jit. Sing Hian memandang "Ong Ling-hoa betina¡ïtu, ¡"

Habis dia ...."

"Aku perempuan, dengan sendirinya dia lelaki,"

Tukas Jit-jit. Semua orang tertawa, ada yang berteriak.

"Haha, engkau perempuan kan tidak lantas membuktikan dia harus lelaki?"

Aku justru bilang dia lelaki,"

Teriak Jit-jit.

"Jelas-jelas dia perempuan, apa gunanya biarpun seratus kali kau bilang dia lelaki?"

Kata orang banyak. Jit-jit menggigit bibir, cemas dan gugup.

"Jelas dia ... dia ...."

Jika dia jelas ialah Ong Ling-hoa, mengapa bisa berubah menjadi perempuan?"

Mendadak Sim Long ikut bicara dengan menyesal.

"Bila dia telah ditukar orang, kan seharusnya diketahui olehmu. Masakah engkau sama sekali tidak tahu?"

Aku ... aku justru tidak tahu ...."

Jit-jit mengentak kaki pula. Mendadak ia cengkeram perempuan ¡ "Ong Ling-hoa¡ïtu dan membentak.

"Katakan, mengapa kau bisa berubah menjadi perempuan?"

Aku memang orang perempuan,"

Jawab perempuan itu.

"Apakah ada orang menukar dia dengan dirimu?"

Tanya Jit-jit pula.

"Engkau selalu mendampingi diriku, mana bisa aku ditukar orang?"

Masih belum mau mengaku terus terang?"

Bentak Jit-jit sambil memuntir tangan perempuan itu. ¡Ayo mengaku, cara bagaimana Ong Ling-hoa ditukar dengan dirimu? Tidak lekas mengaku segera kupatahkan tanganmu."

Perempuan itu menjerit kesakitan seperti babi hendak disembelih. Sembilan di antara sepuluh orang perempuan pasti takut sakit. Saking tak tahan, akhirnya perempuan itu berkata dengan menangis.

"Baik ... baik, akan kukatakan .... Semalam ...."

Belum lanjut ucapannya, terdengar suara desing angin dari kerumunan orang banyak, tahu-tahu lima buah jarum berbisa bersarang di pinggang perempuan itu.

Dia cuma sempat menjerit, lalu mata mendelik dan binasa.

Sungguh keji sekali senjata rahasia ini.

Kejut dan gusar Jit-jit, bentaknya.

"Siapa itu? Siapa yang turun tangan sekeji ini?"

Him Miau-ji juga sudah bergerak, segera ia menerjang ke sana.

Tapi untuk mencari si pembunuh yang tidak kelihatan di tengah orang banyak tentu saja sangat sulit, pada hakikatnya tidak ada yang tahu dari arah mana jarum itu dihamburkan.

Seketika suasana menjadi kacau.

Jit-jit berjingkrak gusar, hanya Ko Siau-diong saja yang tetap tertawa, sedikit pun tidak menghiraukan apa yang terjadi, sebaliknya ia malah berucap dengan tertawa.

"Nona juga tidak perlu cemas, toh akhirnya urusan ini pasti akan menjadi terang, umpama sekarang nona mati kelabakan juga tidak ada gunanya."

Ucapan saudara ini memang betul ...."

Belum lanjut perkataan Sim Long, Jit-jit lantas berteriak.

"Kentut busuk, biarpun aku mati kelabakan juga tidak ada sangkut pautnya dengan kalian."

Tapi ada sangkut pautnya denganku,"

Tiba-tiba seorang menukas dengan tertawa.

Waktu Jit-jit menoleh ke sana, dilihatnya yang bicara itu ialah si pemilik restoran.

Semula ia melengak, tapi segera menubruk ke dalam pelukan orang sambil berteriak dan menangis.

"O, Cihu (kakak ipar, suami kakak), mereka sama menghina diriku ...."

Kiranya pemilik restoran ini ialah Samcihu (kakak ipar ketiga) Cu Jit-jit, tokoh dunia persilatan daerah Tionggoan yang kaya raya dan terkenal sebagai Liok-sian-to-cu (si Mahahartawan di Daratan) Hoan Hun-yang.

Perusahaannya tersebar di segenap pelosok daerah utara dan selatan sungai besar, kepada Hoan Hun-yang, Cu Jit-jit telah menitipkan harta warisan ayahnya dan dapat diambil depositonya itu dengan tanda pengenal anting-anting yang telah diceritakan di depan itu.

Begitulah Jit-jit menangis manja di dalam rangkulan sang Cihu, inilah sanak keluarga terdekat yang pernah dijumpainya selama sekian bulan ini, sungguh dia ingin menumpahkan segenap unek-uneknya kepada kakak iparnya itu.

"Ya, ya, kutahu, mereka menghinamu, akan kubela dirimu,"

Kata Hoan Hun-yang suara lembut.

"Sim Long, dia ... dia ...."

Jit-jit tidak sanggup melanjutkan.

"Ya, Sim Long adalah telur mahabusuk, jangan kita hiraukan dia,"

Tukas Hoan Hun-yang sembari diam-diam mengedipi Sim Long, lalu menuding Jit-jit dan menuding diri sendiri pula, maksudnya hendak menyatakan agar nona ini boleh diserahkan saja padaku.

Dengan tersenyum Sim Long mengangguk, ucapnya.

"Urusan di sini akan kuselesaikan."

Hoan Hun-yang lantas merangkul pundak Jit-jit dan diajak pergi, katanya.

"Orang-orang ini memang suka menghina orang, buat apa kita tinggal lagi di sini, ayolah kita pergi saja."

Begitulah seperti membujuk anak kecil, dapatlah Hoan Hun-yang membawa pergi Cu Jit-jit.

Di tengah kekacauan orang lain tidak ada yang memerhatikan mereka.

Tapi ada seorang anggota Kay-pang lantas menyusulnya dan bertanya.

"Pang kami menyediakan kereta di sini, apakah Hoan-tayhiap perlu pakai?"

Ah, kau kenal padaku .... Baiklah, terpaksa bikin repot padamu,"

Jawab Hoan Hun-yang dengan tertawa.

Anggota Kay-pang itu lantas bersuit, hanya sebentar saja dua anggota Kay-pang yang lain telah datang dengan membawa sebuah kereta dan seekor kuda.

Dengan tertawa Hoan Hun-yang lantas berkata.

"Jit-jit, boleh kau naik kereta, aku sendiri menunggang kuda saja agar sepanjang jalan dapat menjaga dirimu dengan lebih jelas."

Padahal maksudnya cuma untuk menghindari menumpang bersama dalam satu kereta saja.

Maklumlah, antara suami kakak dan ipar perempuan cantik memang perlu menghindari prasangka.

***** Dengan sendirinya si Kucing tidak dapat menemukan si pembunuh tadi.

Dengan lesu dia kembali ke barak bambu sambil mencaci maki.

"Keparat, pengecut yang cuma berani berbuat dengan main sembunyi, bila kepergok olehku baru ... hmk ...."

Jangan khawatir, pada suatu hari pasti akan kepergok olehmu,"

Kata Sim Long dengan tertawa.

"Tapi sama sekali aku tidak tahu siapa dia?üjar si Kucing.

"Masa tidak tahu?"

Eh, jangan-jangan engkau sudah tahu?"

"Kecuali antek Ong Ling-hoa yang sengaja membunuh orang untuk menutup mulutnya, siapa lagi?"

Hah, masakah di tengah orang banyak ini juga terdapat antek Ong Ling-hoa?"

"Kan sudah kukatakan jangan meremehkan Ong Ling-hoa, bukan mustahil di mana-mana sekarang sudah diselusupi oleh begundalnya,üjar Sim Long dengan gegetun. Si Kucing bicara dengan geregetan.

"Pada suatu hari pasti akan kubekuk kawanan tikus itu satu per satu, dan orang pertama yang akan kusikat sekarang ialah Kim Put-hoan."

Segera ia seret Kim Put-hoan ke depan, katanya dengan kagum.

"Dalam sekejap tadi ternyata Sim-heng telah menutuk lima tempat Hiat-tonya."

Keparat ini sangat licik dan licin, bukan mustahil dia akan kabur lagi bila kita tidak bertindak lebih hati-hati,üjar Sim Long.

"Entah cara bagaimana kalian akan membereskan keparat ini?"

Mendadak Ci Kong-tay ikut bicara.

"Jahanam ini sungguh mahabusuk,"

Kata Miau-ji.

"bukan cuma kami saja yang benci padanya, juga tokoh seperti Kiau-tayhiap .... He, ke mana perginya Kiau Ngo dan Hoa Si-koh?"

Karena gegabah sehingga mengalami kekalahan, dengan perangainya yang keras itu tentu saja dia malu untuk tinggal di sini, maka pada waktu kacau tadi diam-diam ia sudah pergi,"

Tutur Sim Long. Tiba-tiba Ci Kong-tay berkata pula.

"Sim-tayhiap, Co-tianglo kami menjadi korban kejahatan orang she Kim ini, segenap anggota Kay-pang kami sama berharap akan menuntut balas, apakah sekiranya Sim-tayhiap tidak keberatan menyerahkan keparat ini kepada kami untuk diadili menurut peraturan Pang kami?"

Ya, seharusnya demikian, cuma ...."

"Apakah ada keberatan Sim-tayhiap?"

Keberatan sih tidak ada, aku cuma ingin tanya dia dulu beberapa hal."

"Jika begitu, supaya Sim-tayhiap dapat bertindak leluasa, biarkan kami menyingkir lebih dulu,üjar Ci Kong-tay.

"Tidak perlu ...."

Kata Sim Long, mendadak ia menepuk Hiat-to Kim Put-hoan dan segera bertanya.

"Telah kau bawa ke mana nona she Pek itu?"

Dengan suara keras Kim Put-hoan menjawab.

"Sim Long, ketahuilah, meski Kim Put-hoan ini bukan manusia baik-baik, tapi juga bukan lelaki mata keranjang sehingga mengincar seorang anak dara ...."

Jika begitu, kenapa kau ...."

"Yang minta menculik nona Pek ialah Ong Ling-hoa, ke mana Ong Ling-hoa membawa nona itu aku pun tidak tahu. Yang jelas keparat Ong Ling-hoa itu pasti tidak bermaksud baik terhadapnya."

Hm, jika Ong Ling-hoa berada di sini, berani engkau memaki dia?"

Jengek si Kucing.

"Kenapa aku tidak berani, aku justru ingin menyembelih dia, cuma sayang dia keburu ditolong oleh Cu Jit-jit."

Apa katamu? Jit-jit menolong dia?"

Si Kucing menegas.

"Wahai Sim Long, kalau dibicarakan seharusnya engkau berterima kasih padaku,"

Lalu Kim Put-hoan bercerita cara bagaimana Ong Ling-hoa terluka dan dia bermaksud membunuhnya, tapi kebetulan Cu Jit-jit muncul.

Dengan sendirinya sama sekali dia tidak menceritakan keserakahannya, tapi melukiskan dirinya sendiri sebagai orang yang berbudi dan tentu juga Cu Jit-jit dicaci makinya habis-habisan.

Sim Long termenung sejenak, katanya kemudian.

"Jika demikian, jadi benar Ong Ling-hoa telah jatuh dalam cengkeraman Cu Jit-jit .... Tapi mengapa mendadak dia berubah lagi menjadi seorang perempuan, sungguh aku tidak mengerti."

Ya, Cu Jit-jit selalu menjaganya tanpa meninggalkan dia barang sejengkal pun, sampai tidur pun mereka berdiam di dalam satu kamar,"

Tutur si Kucing. Tapi mendadak ia berteriak.

"Ah, betul!"

"Ada apa?"

Tanya Sim Long.

"Semalam Cu Jit-jit mengantarku ke jalan raya, hanya Ong Ling-hoa saja yang ditinggalkan di sini,"

Tutur Miau-ji.

"Tapi waktu itu juga kulihat sendiri Jit-jit menutuk beberapa tempat Hiat-to kelumpuhannya, kecuali ada orang lain yang menolong dia ...."

Padahal tidak ada orang lain yang tahu Ong Ling-hoa berada dalam cengkeraman Jit-jit,üjar Sim Long.

"Kecuali Kim Put-hoan,"

Kata Miau-ji. Cepat Kim Put-hoan menyanggah.

"Kalau bisa saat ini juga ingin kubeset kulit keparat she Ong itu, mana bisa kubantu dia."

Siapa yang mau percaya kepada ocehanmu, harus kutanya Cu Jit-jit .... Ah, kiranya nona Cu juga sudah pergi. Eh, Sim Long, mengapa kau biarkan dia pergi?"

"Telah kuserahkan kepada Cihunya,"

Sahut Sim Long.

"Jika terjadi apa-apa lagi, lantas bagaimana?üjar Miau-ji.

"Pribadi Hoan Hun-yang masakah kau ragukan?"

Kata Sim Long dengan tersenyum.

"Tindak tanduk orang ini paling cermat dan hati-hati, boleh dikatakan setitik air saja takkan bocor."

Haha, betul,"

Seru Miau-ji dengan tertawa.

"Hari itu meski aku sangat mendongkol padanya, tapi sebelum meraba jelas mengenai diriku, dia tidak mau bergebrak denganku. Orang macam begini pantas bisa kaya raya dan menjadi pengusaha besar."

Dan bila Cu Jit-jit kuserahkan padanya dengan sendirinya tidak perlu khawatir lagi,"

Kata Sim Long.

"Orang semacam dia cara berjalannya pasti juga tidak cepat, jika kita susul dia mungkin masih keburu,"

Kata Miau-ji. Belum lagi Sim Long menanggapi, mendadak di tengah orang banyak ada seorang memberi tahu.

"Mereka sudah berangkat dengan menumpang kereta, sukar disusul lagi."

Miau-ji tertawa.

"Hoan Hun-yang itu memang selalu menjaga gengsi sebagai orang kaya, biarpun datang bersama kita, kereta selalu tersedia menunggunya."

Sim Long menggeleng.

"Tidak, bukan keretanya, dia bersamaku langsung menuju ke sini .... Mungkin pihak Kay-pang yang menyiapkan kereta baginya."

Mendadak Ci Kong-tay menyela.

"Menurut peraturan Pang kami turun-temurun, selamanya kami tidak menyediakan kereta atau kuda bagi siapa pun."

Sim Long termenung sejenak, mendadak serunya.

"Wah, celaka!"

Jarang Miau-ji melihat perubahan sikap Sim Long seperti ini, ia pun terkejut dan cepat bertanya.

"Ada apa?"

"Di balik kejadian ini tentu ada sesuatu yang tidak beres,"

Kata Sim Long.

"Bisa jadi Ong Ling-hoa lagi ...."

"Kembali Ong Ling-hoa?"

Miau-ji mengentak kaki.

"Apa pun juga harus lekas kita susul mereka,"

Seru Sim Long. Segera Miau-ji mendorong Kim Put-hoan ke depan Ci Kong-tay katanya.

"Kuserahkan keparat ini kepadamu, harus kau jaga dengan hati-hati agar jangan sampai kabur ...."

Belum habis ucapannya segera ia berlari pergi bersama Sim Long.

***** Saat itu Cu Jit-jit duduk di dalam kereta dengan pikiran kusut, ia tidak habis mengerti mengapa Ong Ling-hoa bisa berubah menjadi seorang perempuan, diam-diam ia pun gemas kepada Sim Long ....

Dengan menunggang kuda Hoan Hun-yang mengiring di samping kereta, tubuhnya yang tegak dan gayanya yang menarik menambah kegagahannya.

"Samci sungguh besar rezekinya,"

Demikian Jit-jit membatin.

"sebaliknya aku ini memang gadis yang bernasib buruk, juga nona yang linglung. Jelas Ong Ling-hoa sudah kubekuk, akhirnya dia kabur lagi."

Didengarnya Hoan Hun-yang lagi berkata dengan tertawa.

"Sekali ini harus kau jenguk Samcimu. Waktu dia dengar kau tinggalkan rumah, sedikitnya tiga hari dia tidak makan memikirkan dirimu."

Dia kan sudah tambah gemuk, kalau cuma puasa tiga hari saja kan tidak menjadi soal, sebaliknya bisa bikin badannya agak langsing,ücap Jit-jit dengan tertawa.

"Betul juga, tapi jangan sampai ucapanmu ini didengar olehnya,"

Kata Hoan Hun-yang dengan tertawa.

"Saat ini dia paling pantang mendengar kata si gemuk¡, bila ada orang bilang dia gemuk, mungkin orang itu bisa dilabraknya."

Tiba-tiba ia menghela napas dan berkata pula.

"Ai, sayang Pat-te (adik kedelapan)..."

"Kau pun tahu Pat-te?"

Tanya Jit-jit.

"Sim Long yang memberitahukan padaku,"

Tutur Hoan Hun-yang.

"Ai, anak sepintar itu justru .... Ai, semoga dia tidak mengalami nasib buruk dan masih hidup sehat walafiat."

Menyinggung adiknya si anak merah, seketika Jit-jit merasa sedih, air mata lantas bercucuran .... Anak yang menyenangkan itu sesungguhnya berada di mana? "

Apakah ayah sudah mengetahui urusan ini??¡"

Tanyanya dengan sedih.

"Masakah ada yang mau memberitahukan kepada beliau dan membuatnya berduka?üjar Hoan Hun-yang.

"Ya, betul, memang jangan sampai beliau mengetahuinya,"

Kata Jit-jit dengan menunduk.

"Pada suatu hari, aku bersumpah pada suatu hari tentu akan kutemukan Lopat (si kedelapan) kembali."

Hoan Hun-yang termenung sejenak, mendadak ia tertawa.

"Aha, ingin kuberi tahukan kabar baik padamu, akhir-akhir ini nama Goko (kakak kelima) jadi semakin menanjak, belum lama berselang ia berjudi dengan orang di Tay-tong-hu, sekali menang berjumlah 50 laksa tahil perak, semua orang di Tay-tong-hu menjadi geger, katanya kekayaan Tay-tong-hu telah digondol seluruhnya oleh Cu-gokongcu. Lucunya Li-lotoa yang konyol dari Thay-hing-san itu justru berani mengincar Goko di tengah jalan, tapi hasilnya dia berbalik dihajar habis-habisan, bahkan kedua daun telinganya dipotong oleh Goko, malahan dua ribu tahil emas simpanan Li-lotoa di Thay-hing-san ikut dirampas oleh Goko. Dan beberapa hari yang lalu ketika Samcimu berulang tahun, dia telah memberi kado sepasang patung Kim-siu-sing (patung orang tua tanda panjang umur), tentu saja Samci kegirangan. Waktu kedua patung emas itu ditimbang, ternyata persis dua ribu tahil."

Ah, aku sendiri sampai melupakan hari ulang tahun Samci,"

Kata Jit-jit dengan menyesal. Dengan bersemangat Hoan Hun-yang bercerita pula.

"Lalu Toakomu ...."

Mendadak Jit-jit mendekap kuping dan berseru.

"Sudahlah, jangan kau bicara tentang dia lagi, dia selalu mujur, kalian semua bernasib baik, hanya aku ... hanya aku saja yang selalu sial."

Kau salah,"

Kata Hoan Hun-yang dengan tertawa.

"nama Cu-jitsiocia kita akhir-akhir ini cukup terkenal di dunia Kangouw. Sebelum kulihat dirimu sudah banyak kudengar mengenai dirimu."

Makanya lantas kau cari Sim Long untuk minta keterangan, begitu?"

"Aku cuma ...."

Hm, urusanku tidak ada sangkut pautnya dengan dia, selanjutnya jangan kau tanya dia mengenai diriku. Dia ... dia ... pada hakikatnya aku tidak kenal dia."

Hoan Hun-yang mengangkat pundak.

"Baik, jika begitu ...."

Belum lanjut perkataannya, sekonyong-konyong kuda tunggangannya berjingkrak seperti kesetanan.

Keruan Hoan Hun-yang kaget, cepat ia pererat impitan kedua kakinya.

Tapi kuda itu lantas membedal seperti kesurupan setan sambil berjingkrak dan meringkik, biarpun kepandaian menunggang kuda Hoan Hun-yang sangat tinggi juga sukar mengatasinya.

Jit-jit juga terkejut, serunya.

"He, Cihu ... Cihu ...."

Siapa tahu, baru saja dia berteriak, mendadak kereta ini juga dilarikan secepat terbang ke depan. Kejut dan gusar Jit-jit, bentaknya.

"Hei, kusir ... kau ...."

Kusir yang berdandan pengemis itu melongok dari lubang jendela kecil di depan, tanyanya dengan tertawa.

"Ada apa, nona?"

"Apakah kau buta? Tunggu dulu, Cihuku ...."

Mendadak kusir itu berkata.

"Cihumu salah makan obat, kuda ini pun sama, orang gila dan kuda gila berada bersama, untuk apa menunggu dia?"

Keruan Jit-jit terkejut.

"Apa katamu?"

Si kusir tertawa.

"Haha, masa tidak kau kenal diriku lagi?"

"Sia ... siapa kau?"

Tanya Jit-jit.

"Silakan kau lihat sendiri siapa aku,"

Seru si kusir dengan tertawa. Begitu dia mengusap wajahnya, sehelai kedok tipis tertanggal, siapa lagi dia kalau bukan Ong Ling-hoa. Kembali Ong Ling-hoa. Jit-jit kaget dan takut, teriaknya.

"Hah, setan alas, kembali kau setan iblis ini!"

Apakah kau kaget, nona Cu?"

Tanya Ong Ling-hoa dengan cengar-cengir.

Waktu Jit-jit melongok ke luar, bayangan Hoan Hun-yang dan kudanya sudah tak tertampak lagi.

Ia ingin membuka pintu kereta, tapi meski ditarik-tarik tetap tak mau terbuka.

Ong Ling-hoa terbahak-bahak.

"Haha, nona Cu, hendaknya tenang sedikit, kereta ini dibuat secara khusus, tidak nanti dapat kau lari."

Setan jahat, biar kuadu jiwa denganmu!"

Teriak Jit-jit nekat, segera ia menghantam jendela kecil itu.

Tapi Ong Ling-hoa lantas menarik kepalanya sehingga pukulan Jit-jit mengenai tempat kosong.

Dan karena tangannya terjulur keluar jendela, segera Ong Ling-hoa mencengkeram pergelangan tangannya.

Segera kedua kaki Jit-jit mendepak, namun kereta ini memang buatan khusus, dinding kereta berlapis baja sehingga kaki Jit-jit kesakitan sendiri.

Di luar Ong Ling-hoa lantas cengar-cengir dan berkata.

"Nona manis, jangan bergerak, lukaku belum lagi sembuh, jangan menarik terlalu keras."

Kenapa kau tidak mati saja, paling baik kalau mati!"

Teriak Jit-jit.

"Eh, masakah tidak kau dengar pemeo yang mengatakan orang baik panjang umur, manusia jahat hidup seribu tahun. Orang busuk seperti diriku mana bisa mati begitu saja?"

Sekuatnya Jit-jit meronta, namun urat nadi pergelangan tangan terpencet, lambat laun tubuh menjadi lemas. Dirasakan Ong Ling-hoa terus menciumi tangannya malah sembari berkata dengan tertawa.

"Ehmm, alangkah putih tanganmu sungguh halus dan harum ...."

Tidak kepalang gusar Jit-jit.

"Bangsat ... kau ...."

Mendadak kepalanya ditumbukkan ke dinding kereta, seketika ia jatuh pingsan ....

Sementara itu Sim Long dan Him Miau-ji sedang mengejar secepat terbang.

Mendadak mereka mendengar suara ringkik kuda yang seram di dalam hutan gelap sana.

Kedua orang saling pandang sekejap, serentak mereka membelok ke sana.

Sesudah dekat, tertampak Hoan Hun-yang berdiri di sana dengan napas terengah, di sampingnya rebah seekor kuda mati.

"Apakah yang terjadi, Hoan-heng?"

Tanya Sim Long cepat.

"Wah, celaka!"

Sahut Hun-yang.

"Celaka bagaimana, lekas ceritakan,"

Seru Miau-ji tak sabar.

"Apakah kalian melihat Jit-jit?"

Tanya Hoan Hun-yang malah.

"Aneh, bukankah dia bersamamu?"

Seru Miau-ji khawatir.

Hoan Hun-yang tidak bicara lagi, segera ia berlari ke arah tadi.

Miau-ji saling pandang sekejap dengan Sim Long, mereka tahu telah terjadi sesuatu yang tidak enak lagi.

Cepat mereka menyusul ke sana, Miau-ji terus bertanya.

"Sesungguhnya apa yang terjadi, di mana nona Jit-jit?"

Hun-yang tetap tidak bicara melainkan berlari terlebih cepat.

Terpaksa Sim Long berdua mengintil dengan sama cepatnya.

Ketiga orang sama berwajah kelam, lari mereka sama cepatnya, namun di tengah malam dengan cahaya remang bintang di langit, sepanjang jalan tidak ditemukan sesosok bayangan pun.

Tiba di suatu tempat, sekonyong-konyong terlihat sebuah kereta terbalik di tepi jalan tanpa kuda penarik kereta.

Cepat Hun-yang memburu ke sana dan membuka pintu kereta.

Dengan sendirinya tiada sesuatu yang ditemukannya.

"Apakah kereta ini yang ditumpangi nona Cu?"

Tanya Miau-ji. Hun-yang hanya mengentak kaki dan menghela napas.

"Ai, aku berdosa kepada ayahnya dan kepada Samcinya, juga ... juga bersalah kepada kalian."

Kiranya benar terjadi sesuatu?"

Miau-ji menjadi kelabakan.

"He, lihat apa ini?"

Seru Sim Long mendadak.

Ternyata di jok belakang kereta secarik kertas ditindih dengan batu.

Si Kucing menjemput kertas itu dan dibaca bersama, itulah tulisan Ong Ling-hoa yang mengolok-olok Sim Long dan menyatakan si nona cantik telah digondol olehnya.

"Kurang ajar! Kembali Ong Ling-hoa!"

Teriak Miau-ji dengan gemas. Hoan Hun-yang juga geregetan, ucapnya.

"Bangsat, sungguh hebat, sampai aku pun tertipu."

Ayo kita kejar!äjak Miau-ji. Tapi Sim Long lantas berkata.

"Dia membuang kereta dan pergi dengan naik kuda, tujuannya supaya jejaknya sukar ditemukan. Padahal orang ini banyak tipu akalnya, sarangnya terdapat di mana-mana, ke mana kita dapat menemukan dia?"

Jika begitu, apakah kita harus tinggal diam saja?"

Kata Miau-ji dengan mendongkol.

"Coba tunggu sebentar, biar kupikirkan, mungkin ada jalan yang baik,"

Kata Sim Long, dirabanya dinding kereta itu, sampai lama belum lagi bicara ....

***** Waktu Jit-jit siuman kembali, dirasakan kepala kedinginan.

Ia coba merabanya, kiranya kepalanya dikompres dengan sekantong air dingin.

Cepat ia lemparkan kantong itu dan melompat bangun.

Tapi baru saja setengah badan terangkat, terpaksa ia harus rebah kembali.

Kiranya dirasakan dirinya tidur di dalam selimut dengan telanjang bulat, sekujur badan tiada sehelai benang pun.

Sebaliknya tertampak Ong Ling-hoa berdiri di samping sana dan sedang memandangnya dengan kedua matanya yang jalang itu.

Terpaksa Jit-jit menyusup lagi ke dalam selimut dan mencaci maki.

"Setan alas, anjing buduk .... Mana bajuku?Öng Ling-hoa terbahak-bahak.

"Hahahaha! Ada orang bilang padaku, cara terbaik menghadapi perempuan adalah melepaskan bajunya hingga telanjang bulat. Hahaha, ternyata cara ini memang sangat bagus."

Dengan muka merah Jit-jit memaki.

"Bangsat, pada suatu hari pasti akan ...."

Pasti akan kau beset kulitku begitu bukan?"

Tukas Ling-hoa dengan tertawa.

"Haha, ucapan begini sudah terlalu banyak kudengar darimu. Sungguh aku pun ingin merasakan bagaimana rasanya kulit dibeset olehmu, cuma sayang hari yang kau janjikan itu tidak pernah kunjung tiba."

Kau ... kau ...."

Saking gemas Jit-jit terus menangis tergerung-gerung sambil membalik tubuh dan mendekap di atas bantal terus memukuli dipan.

Apa daya, kecuali menangis apa yang dapat diperbuatnya lagi?

Dengan cengar-cengir Ong Ling-hoa malah berseloroh.

"Eh, jangan terlalu tinggi mengangkat tanganmu, itu dia kelihatan!"

Jit-jit benar-benar tidak berani lagi mengangkat tangannya, khawatir dadanya terbuka, cepat ia tarik selimut terlebih rapat.

"Ai, anak kasihan, untuk apa berbuat begitu?üjar Ling-hoa.

"Jika kau kasihan padaku hendaknya lekas kau bunuh diriku,"

Teriak Jit-jit parau.

"Mana aku tega membunuhmu,"

Kata Ling-hoa.

"sedemikian baik kuperlakukan dirimu ...."

"O, Tuhan, kau baik padaku?"

Jerit Jit-jit.

"Masa kurang baik?üjar Ling-hoa dengan tertawa.

"Coba kau ingat kembali, sejak kukenal dirimu sampai sekarang, dalam hal apa aku kurang baik padamu? Engkau selalu ingin memukul, bahkan membunuhku, sebaliknya aku cuma ingin merabamu dengan perlahan ...."

Sembari bicara ia terus mendekat ke sana.

Serentak Jit-jit bangun dan membungkus tubuhnya erat-erat dengan selimut serta meringkuk ke pojok tempat tidur, dilihatnya sorot mata Ong Ling-hoa yang jalang itu, ia menjadi ketakutan sehingga lupa menangis lagi.

"Apa ... apa yang kau hendaki?"

Serunya parau.

"Apa yang kuhendaki? Haha, sudah tahu pura-pura tanya,"

Sahut Ling-hoa dengan cengar-cengir.

"Berhenti!"

Teriak Jit-jit.

"Satu-satunya jalan bagimu untuk membuatku berhenti hanya jika kau bangun dan merangkul diriku, kecuali jalan ini mungkin tidak ada cara lain yang dapat membuatku berhenti,"

Kata Ling-hoa dengan tertawa. ***** Dalam pada itu Sim Long sedang menyelidiki keadaan kereta yang terbalik itu, setelah meraba-raba dinding kereta, mendadak ia berseru.

"Aha, ada jalannya."

"Apa akalmu?"

Tanya Miau-ji cepat.

"Jika ingin kita temukan jejak Ong Ling-hoa kukira cuma ada satu cara,"

Kata Sim Long.

"Cara bagaimana?"

Tanya Miau-ji.

"Yakni tunggu di sini,"

Jawab Sim Long. Miau-ji jadi melengak.

"Tunggu di sini? Masakah dia akan jatuh dari langit. Memangnya Ong Ling-hoa begitu goblok dan mau antarkan diri sendiri kepada kita?"

Sim Long tersenyum.

"Coba kau raba kereta ini."

Tanpa terasa Miau-ji dan Hun-yang terus meraba-raba dinding kereta.

"Adakah sesuatu keanehan yang dapat kau raba?"

Tanya Sim Long. Hun-yang termenung sejenak, katanya kemudian.

"Dinding kereta ini terasa sedemikian keras dan berat, agaknya berlapis baja."

Betul, kereta ini memang buatan khusus,"

Kata Sim Long.

"Kalau buatan khusus lantas bagaimana?"

Tanya Miau-ji.

"Untuk membuat sebuah kereta khusus begini tentu bukan pekerjaan gampang, tidak nanti Ong Ling-hoa membuangnya begini saja."

O, maksudmu dia pasti akan balik lagi ke sini untuk membawa pulang kereta ini?"

Tanya Miau-ji.

"Ya, begitulah,"

Kata Sim Long. Miau-ji menggeleng.

"Sekalipun kereta ini dibuat dengan emas juga belum pasti Ong Ling-hoa mau menyerempet bahaya demi sebuah kereta saja. Sekali ini kukira dugaanmu bisa meleset."

Justru dia tidak merasa balik ke sini akan menyerempet bahaya maka dia pasti akan balik ke sini ...."

"Betul,"

Seru Hun-yang tiba-tiba.

"menurut perhitungannya, tentu dia mengira kita terus pergi mencarinya ke tempat lain setelah membaca tulisan yang ditinggalkannya ini, dia pasti tidak menyangka kita akan menunggunya di sini."

Miau-ji lantas berkeplok juga.

"Aha, memang betul! Cuma kukira dia takkan datang lagi sendiri."

Tidak perlu dia sendiri, asalkan ada suruhannya yang datang untuk membawa pulang keretanya ini, tentu kita dapat menemukan jejaknya.

Cara ini kan jauh lebih baik daripada kita mencarinya secara ngawur?üjar Sim Long.

***** Dalam pada itu Ong Ling-hoa sudah berada di depan tempat tidur.

"Keparat, jika ... jika kau berani naik ke sini, segera kubunuh diri dengan menggigit lidah sendiri,äncam Jit-jit dengan gemetar.

"Engkau lebih suka mati daripada ...."

Ya, aku lebih suka mati daripada terjamah oleh jarimu."

"Masa begitu kau benci padaku?"

Aku benci padamu, muak padamu."

"Jika benar kau benci padaku, untuk itu harus kau jadi istriku."

Kentut busuk, masakah benci padamu justru harus menjadi istrimu, omong kosong!"

"Hahahaha!"

Ling-hoa tertawa.

"Rupanya kau belum paham. Bagimu, satu-satunya jalan untuk mengatasi diriku tiada lain hanya menjadi istriku. Setelah kau jadi istriku, selama hidup dapat kau siksa diriku, dapat kau minta kuberi uang sebanyak-banyaknya supaya dapat kau gunakan sesukamu, dapat kau perbudak diriku, salah sedikit saja dapat kau marah padaku, macam-macam jalan untuk melampiaskan bencimu padaku. Coba, betul tidak, kecuali menjadi istriku, memangnya ada cara lain supaya dapat kau siksa diriku?"

Sungguh logika ajaib, sampai Cu Jit-jit juga melenggong, gemas dan dongkol serta serbasalah pula.

"Nah, tampaknya kau setuju bukan? Mari ...."

Segera sebelah kaki Ong Ling-hoa melangkah ke atas dipan.

"Turun!"

Bentak Jit-jit.

"Jangan kau paksa diriku untuk mengadu jiwa denganmu, jangan lupa, lukamu sendiri belum sembuh ...."

Bisa mati di bawah bunga peoni, menjadi setan juga puas ...."

Kata Ling-hoa dengan tertawa.

Jit-jit menyurut lagi ke belakang.

Meski diketahuinya luka Ong Ling-hoa belum sembuh, tapi entah mengapa, ia menjadi takut bila melihat anak muda itu dan tidak berani main kekerasan padanya.

Pandangan Ong Ling-hoa yang jalang itu seperti memancarkan semacam daya pikat yang membuat hati setiap anak perempuan merasa takut dan menyerah.

Tangan Ong Ling-hoa sudah mulai meraih selimut.

Pada saat inilah mendadak Cu Jit-jit bergelak tertawa malah.

Dalam keadaan demikian dia bisa tertawa, hal ini membuat Ong Ling-hoa jadi terkejut, tanpa terasa ia berhenti menarik selimut.

Tertawa Cu Jit-jit sangat manis, juga agak misterius.

Tanpa terasa Ong Ling-hoa bertanya.

"Apa yang kau tertawakan?"

"Kutertawai dirimu ini sungguh seorang tolol,"

Kata Jit-jit.

"Aku ini orang tolol?Öng Ling-hoa menegas.

"Haha, selama hidupku entah berapa banyak dimaki orang, segala kata kotor dan keji pernah orang memaki padaku, tapi belum pernah ada orang memaki diriku sebagai orang tolol."

Tapi engkau memang benar seorang tolol,"

Kata Jit-jit pula.

"Di mana ketololanku? Coba jelaskan."

Hihi, percuma engkau mengaku sebagai pemuda romantis, nyatanya sama sekali tidak dapat memahami perasaan anak perempuan."

"Oo?!Öng Ling-hoa jadi melengak.

"Masa tidak kau ketahui yang paling dibenci anak perempuan adalah diperlakukan kasar oleh orang lelaki. Yang tidak disukainya adalah lelaki yang tidak tahu kehendak anak perempuan. Jika engkau bukan orang tolol, mengapa engkau sengaja bertindak hal-hal yang dibenci oleh anak perempuan seperti ini?"

Oo ... ai ....Öng Ling-hoa merasa serbabingung.

"Jika kau perlakukan diriku dengan halus dan lembut, bukan mustahil sudah ... sudah lama aku ...."

Jit-jit tersenyum dan menunduk malu-malu.

Suaranya lembut, senyumnya manis dengan malu-malu membawa semacam daya pikat yang sukar dilawan.

Nyata, dalam keadaan kepepet dapat juga Jit-jit mengeluarkan senjata orang perempuan yang paling lihai, yaitu merayu.

Ong Ling-hoa termenung sejenak, mendadak ia menampar muka sendiri satu kali sambil berseru.

"Ya, betul dan salah!"

"Betul dan salah apa?"

Tanya Jit-jit dengan tertawa.

"Memang betul perkataanmu, akulah yang salah,üjar Ling-hoa dengan menyesal.

"Jika begitu hendaknya kau duduk baik-baik di situ dan menemani aku mengobrol,"

Kata Jit-jit dengan tersenyum manis.

"Baik, mengobrol apa?"

Tanya Ling-hoa. Jit-jit mengerling genit.

"Begini, cara bagaimana dapat kau lolos dari cengkeramanku, coba ceritakan, sampai saat ini aku tidak habis mengerti hal ini."

Jika tidak kuceritakan, selamanya jangan harap kau mengerti,üjar Ling-hoa dengan tertawa.

"Makanya kutanya. Eh, apakah anak buahmu yang membantu membebaskan dirimu?"

Aku kan tertutuk sehingga tak bisa berkutik, juga dalam keadaan terluka, jika tidak dibantu orang cara bagaimana dapat kukabur?"

"Tapi wajahmu sudah terias, aku pun tersamar, cara bagaimana mereka mengenali dirimu. Kan tidak ada seorang pun yang tahu bahwa engkau tertangkap olehku?Öng Ling-hoa tertawa.

"Kau tahu, meski wajahku tersamar, tapi selalu kuberi setitik tanda khusus pada wajahku. Dengan sendirinya hal ini sudah kuberi tahukan kepada anak buahku, kalau tidak, dari mana mereka dapat mengenali aku inilah bos mereka dalam keadaan menyamar?"

Diam-diam Jit-jit geregetan, tapi di mulut ia berucap dengan tertawa.

"Ah, engkau sungguh pintar dan cerdik, sama sekali tidak kupikirkan hal itu."

Mungkin waktu itu kau kira orang lain tidak dapat mengenali diriku, padahal begitu kita berada di jalan raya, segera anak buahku tahu siapa diriku.

Di jalan raya itu sedikitnya ada belasan anak buahku."

Tambah gemas Jit-jit, tapi tertawanya justru tambah genit.

"Jika mereka sudah mengenalimu, mengapa mereka tidak langsung turun tangan menolongmu?"

Waktu itu keselamatanku masih berada dalam cengkeramanmu, dengan sendirinya mereka tidak berani sembarangan bertindak.

Tapi sejak itu diam-diam lantas ada orang mengawasi gerak-gerikmu dan menunggu kesempatan untuk berusaha membebaskan diriku."

"Tak tersangka anak buahmu juga cukup lihai."

Di bawah panglima yang kuat dengan sendirinya tidak ada prajurit yang lemah."

"Kesabaran mereka sungguh hebat sehingga sanggup menunggu begitu lama."

Mereka hanya menunggu ketika kau antar si Kucing keluar segera mereka masuk ke sana.

Agar tidak menarik perhatian dan demi lancarnya pekerjaan, yang datang menolong diriku itu terdiri dari orang perempuan seluruhnya, maka aku lantas memilih satu di antaranya untuk menjadi tumbalku, setelah dapat bergerak, segera kudandani dia sehingga serupa diriku."

"Untuk itu kan diperlukan waktu yang cukup?"

"Ya, mereka juga khawatir kepergok olehmu, maka sebelumnya sudah mengadakan persiapan di luar, mereka sengaja merintangimu, sengaja mengulur waktu ...."

"Aah, ingat aku. Kedua lelaki yang berlagak salah mengenal diriku pasti anak buahmu, mereka pura-pura salah mengenali orang karena ingin mengulur waktu agar aku tidak cepat masuk ke kamar. Kemudian di serambi aku pun bertemu dengan beberapa orang perempuan yang mengangkut orang mati, tentu mereka itulah yang masuk ke kamar untuk menolongmu. Sungguh kurang ajar, seorang di antaranya malahan membuang ingusnya di bajuku."

"Dan mayat di bawah kain putih itu ialah diriku,"

Baca Juga: Bahagia Pendekar Binal 7

Baca Juga: Bara Naga 5

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert