Ceritasilat Novel Online

Pendekar Baja 6

Eps 6 Pendekar Baja - Gu Long

Baca online Pendekar Baja - Gu Long

Cersil Pendekar Baja - Gu Long.

Api berkobar dengan sangat cepat, dalam sekejap saja sekeliling ruangan itu sudah terkurung oleh api. Semua orang sama sesak napas karena asap tebal memenuhi ruangan itu.

"Tahan, ikut padaku!"

Seru Sim Long.

Cepat ia mendepak, daun jendela di pojok sana didobrak, segera ia mendahului menerobos ke luar.

Meski api menjilat dengan cepat, namun Sim Long, Kim Bu-bong dan Him Miau-ji adalah jago kelas tinggi, dengan sendirinya kobaran api itu tidak dapat merintangi mereka.

Cu Jit-jit ikut di belakang mereka dan tentu saja banyak hemat tenaga.

Sesudah menerjang ke luar, mereka berada di halaman belakang yang tidak terlalu luas, meski di situ juga ada api, tapi barang-barang yang mudah terbakar tidak banyak, api yang menjalar ke sini sangat kecil dan lambat.

Sekaligus mereka berlari ke kaki pagar dinding sana, waktu mereka berhenti dan memandang ke belakang, api tampak berkobar terlebih hebat.

"Sungguh Ong Ling-hoa yang keji,"

Ucap si Kucing dengan gegetun.

"Begitu cepat dan hebat berkobarnya api, entah dibakar dengan bahan apa,"

Kata Sim Long.

"Ai, kelicikan, kekejian, dan kecerdikan orang ini sungguh jarang ada tandingannya."

Sekonyong-konyong terdengar jeritan ngeri di tengah lautan api, meski suara itu kedengaran sangat jauh dan lemah, tapi menggambarkan betapa cemas, putus asa dan ngerinya sehingga membuat orang yang mendengarnya merinding.

"Siapakah kiranya yang terkurung di tengah lautan api?"

Kata si Kucing.

"Siapa lagi, tentu saja begundal keparat she Ong itu"

Ujar Jit-jit dengan gemas.

Lalu secara ringkas ia ceritakan cara bagaimana Ong Ling-hoa menggunakan tipu muslihat licik mengurung lelaki gede serupa anjing herder itu di gua penjara, lalu dengan gegetun ia berkata pula, ¡Terhadap anteknya sendiri saja begitu keji caranya, sungguh dia bukan manusia.¡"

"Kalian tunggu sebentar, akan kuselamatkan dia"

Kata Sim Long mendadak.

"Untuk apa kau tolong dia, bukankah dia juga ...."

Belum lanjut ucapan Jit-jit segera Sim Long memotong.

"Tak peduli siapa dia, yang jelas dia juga manusia, asalkan manusia, tidak boleh kita menyaksikan dia terbakar hidup-hidup."

Dia bicara dengan tegas tanpa ragu.

Dalam pada itu ia telah menanggalkan baju luarnya dan dibikin basah dengan air salju.

Salju di sekitar lautan api sudah cair, maka dengan cepat dapat Sim Long membasahi bajunya itu, dengan baju basah yang setengah ia gunakan untuk membungkus kepalanya, separuh lagi dipuntir menjadi gada.

Dan sebelum orang lain bersuara lagi dia lantas menerjang ke lautan api.

"Sungguh gila orang ini,"

Omel Jit-jit sambil mengentak kaki, air mata pun berlinang.

"Tanpa menghiraukan keselamatan sendiri dia berusaha menolong seorang antek Ong Ling-hoa yang kejam itu, sungguh dia ...."

"Sungguh dia lelaki sejati yang pernah kukenal selama hidup ini,"

Tukas Kim Bu-bong.

"Aku Kim Bu-bong dapat berkawan dengan kesatria seperti ini, biarpun mati pun tidak menyesal lagi."

"Aku si Kucing baru sekarang benar-benar takluk padanya lahir batin"

Seru Him Miau-ji. Mau tak mau Li Tiang-ceng dan lain-lain juga sama kagum.

"Tak tersangka sedemikian luhur budi Sim Long, inilah perbuatan seorang pendekar sejati" , ujar Li Tiang-ceng dengan gegetun.

"Huh, apanya yang hebat?"

Jengek Kim-Put-hoan mendadak.

"Bocah she Sim itu paling pintar berlagak, dia sengaja berbuat begitu supaya kalian ...."

"Kentut makmu busuk!"

Damprat Lian Thian-hun.

"Dia bertindak tanpa menghiraukan keselamatan sendiri, masakah cara begitu dapat dilakukan dengan berpura-pura?"

"Hm, dia ...."

Belum lanjut ucapan Kim Put-hoan, mendadak Jit-jit membentaknya.

"Keparat, berani kau omong lagi satu kata segera kubinasakan kau!"

Ancaman Jit-jit ternyata berhasil, seketika Kim Put-hoan tidak berani buka mulut lagi. Dengan menghela napas Li Tiang-ceng berucap.

"Semoga Thian memberkahi Sim-heng agar tidak ...."

"Hanya kobaran api begini saja mana dapat membakar mati Sim Long,"

Bentak si Kucing mendadak.

Walaupun begitu ucapannya, namun dalam hati sebenarnya ia pun berkhawatir bagi Sim Long.

Dalam pada itu api semakin dahsyat, dan sejauh itu belum lagi kelihatan Sim Long muncul kembali, sampai suaranya juga tidak terdengar lagi.

"Wah, jangan-jangan dia ...."

Jit-jit berkeluh.

"Jangan khawatir, segera dia akan keluar,"

Ucap si Kucing. Tapi sampai sekian lama Sim Long tetap belum kelihatan. Sedangkan api berkobar semakin hebat.

"Kau kira dia ... apakah dia takkan ...."

Jit-jit tambah kelabakan.

"Orang semacam dia masakah bisa mengalami sesuatu?"

Ujar si Kucing.

"Ya, benar, pasti tidak ...."

Jit-jit berusaha menghibur dirinya sendiri. Ketika angin meniup, hawa panas menyengat tubuh mereka dan membuat mereka terpaksa menyingkir terlebih jauh.

"Hebat amat api ini, kita pun tidak ... tidak tahan, apakah dia ...."

"Meski kita tidak tahan, tapi dia harus dikecualikan, dengan kemampuannya, biarpun menerjang ke neraka juga sanggup keluar lagi. Hahaha, betapa pun aku tidak khawatir dan percaya penuh padanya."

Di tengah suara gaduh api yang menyambar ke sana kemari itu si Kucing lantas bergelak tertawa malah. Namun suara tertawanya tiada sedikit pun bernada gembira, suaranya terlebih mirip orang meratap.

"Betul, orang semacam dia, biarpun setan juga gentar padanya ...."

Jit-jit juga tertawa sebisanya, namun tidak urung air mata pun bercucuran.

Sejauh mata memandang hanya asap dan api belaka, apa pun tidak tertampak lagi ....

Langit pun seakan-akan membara oleh kobaran api yang menjulang tinggi itu.

"Dia ... dia ...."

Jit-jit tidak sanggup bicara lagi, ia coba memandang si Kucing, anak muda itu kelihatan berwajah murung.

Sedangkan Kim Bu-bong tampak menggereget dan mengepal tinjunya erat-erat, jelas lagi menahan perasaan sekuatnya.

Jit-jit memandang sana dan melihat sini akhirnya ia tidak tahan dan menangis tergerung-gerung.

Sejak tadi Pek Fifi pun sudah menangis.

Api sebesar ini, siapa pun tidak percaya Sim Long sanggup keluar lagi dengan hidup, betapa pun dia bukan malaikat dewata.

Tapi api yang dahsyat biasanya tidak tahan lama.

Perkampungan ini berdiri di puncak yang terisolasi, berjarak cukup jauh dengan hutan sana, di belakangnya juga lereng tebing, sebab itulah api tidak menjalar.

"Ah, api mulai mengecil,"

Terdengar Li Tiang-ceng berkata mendadak. Waktu Jit-jit memandang ke sana, serentak ia berteriak parau.

"Betul api mulai padam .... Dapatlah dia keluar!"

Padahal orang terkurung sekian lama di tengah lautan api, jelas tidak ada harapan untuk hidup lagi, namun begitu dia tidak mau mengucapkan kata-kata putus asa.

Api yang berkobar akhirnya padam juga.

Semua orang terbelalak dan terdiam.

Mana Sim Long?

Ke mana dia?

Tidak tampak bayangannya sama sekali.

Semua orang sama putus harapan, tidak ada yang yakin Sim Long dapat muncul lagi dengan hidup, cuma tiada seorang pun berani mengatakannya.

Mendadak Kim Bu-bong berteriak.

"Seorang lelaki sejati sesuatu yang tidak boleh diperbuatnya, biarpun mati juga takkan berbuat. Bagi sesuatu yang harus diperbuatnya, biarpun mati juga tidak gentar. Sim Long, engkau benar-benar seorang pendekar sejati, terimalah hormatku ini!"

Wajahnya yang selalu dingin itu ternyata sudah dibasahi oleh air mata, dia benar-benar berlutut dan menyembah.

Orang yang selalu kaku dan dingin ini ternyata juga bisa mengalirkan air mata dan mau menyembah kepada orang lain, sungguh dia sendiri pun tidak percaya.

"Untuk apa kau omong begini, kan belum tentu dia ....¡"

Belum lanjut ucapannya si Kucing pun berlutut dengan air mata bercucuran.

Anak muda yang pantang meneteskan air mata biarpun menghadapi ancaman maut sekarang menangis benar-benar, menangis dengan keras, betapa sedih tangisnya, betapa hormat dan cintanya kepada orang yang ditangisinya.

"Wahai Sim Long, bahwa ada orang semacam ini mencucurkan air mata bagimu, biarpun mati pun engkau dapat berbangga, kematianmu pun cukup berharga,"

Gumam Li Tiang-ceng. Dengan air mata berlinang Lian Thian-hun berteriak.

"Wahai Sim Long, bila sebelumnya orang she Lian tahu engkau ini kesatria berbudi luhur semacam ini, biarpun kepalaku dipecahkan juga ingin berkawan denganmu, sungguh menyesal, sebelum ini orang she Lian telah salah menilai dirimu."

Hanya Leng Toa saja yang tetap bungkam tanpa bicara, namun dari ujung mulut tampak merembes air berdarah, jelas ia mengertak gigi dengan menahan perasaannya.

"O, Sim ...."

Jerit Pek Fifi mendadak.

"semuanya ini salahku, aku ... aku tidak mau hidup lagi!"

Mendadak ia merangkak bangun terus berlari ke arah api yang belum padam sama sekali itu.

Tapi baru saja dia berlari beberapa langkah, sempat Kim Bu-bong dan Him Miau-ji meraihnya sehingga tidak sanggup bergerak lagi.

"Bagus, kau tidak mau hidup ... memangnya aku ingin hidup? ...."

Gumam Jit-jit, mendadak ia pun berlari secepatnya ke arah lautan api.

Larinya jauh lebih cepat daripada Fifi, Kim Bu-bong dan si Kucing lagi menahan Fifi, dengan sendirinya tidak keburu mencegah Jit-jit.

Baru saja mereka memburu maju, Jit-jit sudah terjun ke lautan api.

Walaupun api sudah mulai padam, tapi masih lebih daripada cukup untuk menghanguskan seorang nona semacam Cu Jit-jit.

"Kembali Jit-jit!"

Teriak Kim Bu-bong. Wajah si Kucing juga pucat, teriaknya.

"Jit-jit, jangan, engkau tidak boleh mati!"

Namun betapa nyaring teriakan mereka tetap tak dapat mencegah orang yang sudah bertekad ingin mati.

Sama sekali Cu Jit-jit tidak berpaling dan terjun ke lautan api.

Tampaknya segera dia akan terbakar ....

"Jit-jit ...."

Baru saja si Kucing berteriak lagi, sekonyong-konyong sesosok bayangan melayang keluar dari lautan api sana dan tepat mengadang di depan Cu Jit-jit sehingga nona itu menerjang ke pangkuannya.

Siapa lagi orang ini kalau bukan Sim Long!

Tertampak dia memanggul seorang lelaki besar yang basah kuyup, seperti baru saja dikeluarkan dari dalam air.

Muka Sim Long sendiri juga penuh butiran air.

Lautan api yang berkobar dengan hebatnya tadi ternyata benar tidak dapat mematikan Sim Long.

Sungguh tidak kepalang kejut dan girang semua orang.

Serentak Sim Long menyeret mundur Cu Jit-jit dan semua orang pun lantas memburu maju.

Jit-jit menengadah, mengucek-ngucek matanya sampai beberapa kali, ia tidak percaya kepada penglihatan sendiri.

Tapi akhirnya ia menubruk ke dalam pelukan Sim Long dan menangis tergerung.

"Sim ... Sim-siangkong, engkau ...."

Pek Fifi menyapa dengan menangis dan juga tertawa. Sim Long tersenyum.

"Tentu kalian menyangka aku sudah terkubur di tengah lautan api."

"Aneh, sungguh suatu keajaiban,"

Ucap si Kucing. Jit-jit memukuli dada Sim Long, dengan air mata masih meleleh ucapnya dengan tertawa.

"Engkau tidak ... tidak mati .... Benar-benar tidak mati ...."

"Aku memang tidak mati terbakar, tapi bisa mati kau pukul,"

Ujar Sim Long.

"Masih kau bicara demikian, kau tahu betapa orang cemas jika kau mati, aku pun tidak ... tidak ...."

Air mata Jit-jit lantas bercucuran lagi. Mau tak mau Sim Long jadi terharu.

"Ya, untung kumuncul tepat pada waktunya."

Kim Put-hoan yang licik itu mendadak berseru.

"Sim-siangkong, hendaknya kau tahu orang yang mau mati bagimu tidak cuma Cu Jit-jit seorang saja, nona Pek itu juga telah ...."

Sekilas lirik melihat sorot mata Kim Bu-bong yang dingin itu, ia tidak berani omong lagi lebih lanjut.

"Api berkobar sedahsyat itu, entah cara bagaimana engkau menyelamatkan diri, sungguh sukar untuk dibayangkan,"

Tanya Kim Bu-bong kemudian. Sim Long tertawa, tuturnya.

"Dari gua penjara itu dapat kuselamatkan orang ini, sementara itu api telah berkobar dengan hebat dan sukar bagiku untuk menerobos keluar lagi. Tiba-tiba teringat olehku kamar penyelamat itu."

"Masa ada kamar penyelamat apa segala?"

Tanya Jit-jit dengan heran.

"Yaitu kamar yang mengurung dirimu itu, sudah kulihat sekeliling kamar itu dibuat secara khusus dan tak tembus api, segera kubawa orang ini bersembunyi di sana. Walaupun begitu, panasnya juga minta ampun."

"Mendingan engkau tidak terpanggang hidup-hidup,"

Ujar Jit-jit dengan tertawa. Dalam pada itu lelaki besar yang dipanggul keluar oleh Sim Long tadi sudah siuman dari pingsannya dan sedang memandang Sim Long dengan terkesima.

"Bagaimana?"

Tanya Sim Long tersenyum.

"Aku lagi menunggu,"

Jawab lelaki itu.

"Menunggu apa?"

Tanya Sim Long pula.

"Menunggu apa yang akan kau lakukan atas diriku,"

Kata orang itu dengan gusar.

"Biarpun kau selamatkan jiwaku tapi aku tidak berterima kasih padamu. Jika ada yang kau harapkan dariku, tentu kau hanya mimpi belaka."

Jit-jit menjadi gusar dan mendamprat. Tapi orang itu berkata pula.

"Aku tidak peduli kalian akan marah atau membunuhku juga boleh, pokoknya aku tidak mengharapkan sesuatu dari kalian."

"Boleh kau pergi saja,"

Kata Sim Long tiba-tiba sambil memberi tanda.

"Pergi?"

Orang itu melengak.

"Kau lepaskanku pergi?"

"Betul,"

Jawab Sim Long. Orang itu tampak ragu dan heran.

"Buk ... bukankah hendak kau paksa sesuatu pengakuanku?"

"Untuk apa harus kupaksa dirimu?"

"Habis untuk apa engkau menolong diriku?"

"Tidak untuk apa-apa, hanya demi perikemanusiaan."

"Masa ... masa begitu sederhana?"

Orang itu tambah heran dan ragu, ia berbangkit dan melangkah dua-tiga tindak, benar juga tidak ada yang merintangi kepergiannya. Tapi dia lantas berhenti malah dan tidak bergerak lagi.

"Mengapa tidak lekas pergi?"

Tanya Sim Long.

"Menolong orang tidak mengharapkan balas budi, hal seperti ini memang sering kudengar, tapi tanpa sebab menolong orang dengan menyerempet bahaya, bahkan orang yang ditolongnya adalah musuh, sungguh hal ini belum pernah kudengar."

"Tapi sekarang justru dapat kau saksikan sendiri hal yang kau anggap aneh itu,"

Sela Jit-jit dengan tertawa.

"Ketahuilah, masih banyak tindak tanduk Sim-siangkong ini yang serba aneh."

"Ya, aku memang rada heran,"

Kata lelaki itu.

"Maka ... maka aku tidak jadi pergilah ...."

Mendadak ia terus berlutut dan menyembah kepada Sim Long.

"Lekas bangun!"

Seru Sim Long.

"Air mengalir ke tempat yang rendah, manusia selalu menanjak ke arah yang tinggi, burung bernaung di hutan gelap, manusia memilih junjungan yang terang, meski aku Nyo Tay-lik seorang kasar, tapi beberapa pepatah itu cukup kupahami."

Ia menghela napas, lalu menyambung pula.

"Aku Nyo Tay-lik hidup selama berpuluh tahun seperti orang buta, baru sekarang mataku melek setelah bertemu dengan Sim-siangkong. Selama ikut Ong Ling-hoa, bagiku di dunia ini hanya ada manusia makan manusia, tipu-menipu, baru sekarang kutahu di dunia ini masih ada kesatria berbudi luhur dan selalu bertindak sesuatu yang terpuji."

"Begini banyak engkau mengoceh, sebenarnya apa kehendakmu?"

Tanya Jit-jit dengan tertawa.

"Aku cuma berharap Sim-siangkong suka menerima diriku, seterusnya aku adalah budak Sim-siangkong, tapi selanjutnya aku pun dapat menjadi manusia dengan membusungkan dada,"

Ujar Nyo Tay-lik.

"Wah ... ini ...."

Sim Long melengak.

"Apa pun ucapan Sim-kongcu, yang pasti aku tetap ikut engkau,"

Kata Nyo Tay-lik tegas.

"Kukira boleh kau terima kehendaknya,"

Bujuk Jit-jit kepada Sim Long.

"Kenapa jadi ... jadi begini ...."

Sim Long merasa terharu.

"Baiklah, silakan bangun saja!"

"Terima kasih, Kongcu,"

Seru Nyo Tay-lik dengan girang. Perlahan ia berbangkit, lalu berucap pula dengan tertawa.

"Kemarin hamba adalah budak Ong Ling-hoa dan kesetiaanku hanya kepadanya. Sekarang hamba sudah menjadi budak Sim-siangkong, apa yang engkau perintahkan atau tanyakan pasti akan kulaksanakan."

"Jika kutanya padamu, jadinya kan ...."

Sim Long menjadi ragu.

"Biarpun Siangkong tidak tanya juga akan hamba katakan,"

Ujar Nyo Tay-lik. Setelah berpikir sejenak, lalu ia mulai menutur.

"Ibu Ong Ling-hoa adalah adik mendiang Hun-bong-siancu, siapa ayahnya sebaliknya tidak ada yang tahu. Segenap kepandaian Ong Ling-hoa itu diperoleh dari ibunya, tapi dari mana ibunya belajar kungfu setinggi itu juga tidak ada yang tahu. Hamba cuma tahu, banyak kungfu sakti dunia persilatan yang sudah lama menghilang kini telah dikuasai oleh mereka ibu dan anak."

"Ah, betul juga,"

Seru Jit-jit seperti menyadari sesuatu.

"Jik-sat-jiu, beberapa orang yang terbunuh oleh Jik-sat-jiu di makam kuno itu pasti juga hasil kerja Ong Ling-hoa."

Nyo Tay-lik tidak menghiraukan apa yang diucapkan si nona, ia menyambung pula.

"Tempat ini hanya merupakan salah satu sarang rahasia mereka ibu dan anak, setahuku, sedikitnya ada lima-enam puluh tempat rahasia seperti ini milik mereka yang tersebar di utara maupun selatan sungai besar."

"Sekian puluh jumlah tempat seperti ini? Wah, betapa besar ambisi orang ini,"

Ujar si Kucing dengan melenggong.

"Sesungguhnya apa tujuan ambisi mereka ibu dan anak tidak kuketahui,"

Tutur Nyo Tay-lik pula.

"Yang jelas memang tidak sedikit jago-jago ternama yang telah mereka kumpulkan sebagai anak buah."

Ia pandang Jit-jit sekejap, lalu menambahkan.

"Tadi orang berkerudung kain yang bersamaku memeriksa nona itu juga seorang tokoh terkenal."

"Oo, siapa dia?"

Tanya Jit-jit.

"Dia seperti berjuluk Kim-hi apa ...."

"Apakah Bu-lin-kim-hi (ikan emas tanpa sisik) Song Sam?"

Jit-jit menegas.

"Betul, itulah dia,"

Seru Nyo Tay-lik.

"Konon orang ini selalu bergaul dengan orang kaya agar mendapat pelayanan yang enak, hidupnya serupa ikan emas saja yang dipiara orang kaya. Adapun sebutan Bu-lin (tak bersisik) itu mungkin untuk menggambarkan betapa licinnya serupa ikan tanpa sisik, sukar dipegang dan sukar diraba. Umpama kejadian hari ini, bukankah dia dapat lolos dengan licin."

"Kurang ajar!"

Omel Jit-jit.

"Pantas Ong Ling-hoa mengincar diriku, pantas juga dia tidak berani menghadapiku dengan wajah aslinya."

"Apakah kau kenal dia?"

Tanya si Kucing.

"Dia juga salah seorang yang hidup nebeng di tempat ayahku sana, maka dia sangat hafal akan segala seluk-beluk keluargaku,"

Tutur Jit-jit.

"Padahal setiap keluarga hartawan di daerah Kanglam hampir semua dikenalnya dengan baik. Sebabnya Ong Ling-hoa merangkul dia mungkin ingin memperalat dia untuk mengerjai kaum hartawan itu."

"Sungguh licin perencanaan orang ini,"

Ujar si Kucing. Kim Bu-bong menatap Li Tiang-ceng dengan dingin, katanya tiba-tiba.

"Nah, sudah kau dengar sendiri semua percakapannya, bukan?"

"Biarpun tidak kudengar penuturannya, setelah menyaksikan tindakan Sim-siangkong yang luhur budi tadi juga sudah cukup membuatku kagum padanya, sebelum ini kami memang telah salah menilainya,"

Jawab Li Tiang-ceng.

"Yang sudah lalu janganlah diungkat pula, yang penting selanjutnya dapatlah kita saling mengerti dan bekerja sama dengan lebih erat,"

Ujar Sim Long.

"Setelah Can Ing-siong dan lain-lain mati secara mendadak dan sukar dimengerti, kini Leng Sam menunggui mayat mereka di sana, entah Sim-heng sudi pergi ke sana untuk memeriksanya?"

Tanya Li Tiang-ceng.

"Periksa apa lagi, jelas perbuatan Ong-Ling-hoa,"

Seru Lian Thian-hun dengan gusar.

"Meskipun begitu, masa ... di dunia ada racun sejahat itu, sungguh aku tidak percaya, kuyakin di dalam persoalan ini pasti ada sesuatu rahasia lain yang belum terungkap,"

Kata Li Tiang-ceng pula.

"Ucapan Cianpwe memang betul,"

Ujar Sim Long.

"aku pun yakin di dalam persoalan ini masih ada rahasia lain, untuk membongkar rahasia ini masih harus dicari jalan yang jitu."

"Entah dengan cara bagaimana Sim-heng akan membongkarnya?"

Tanya Li Tiang-ceng.

"Terus terang, saat ini aku pun tidak tahu apa yang harus kulakukan, terpaksa bertindak menurut perkembangan selanjutnya, sebab itulah perjalanan ke Jin-gi-ceng terpaksa tidak dapat kuikut,"

Jawab Sim Long.

"Kekacauan Kangouw jelas sudah hampir berjangkit, menurut pandanganku, orang yang dapat memikul kewajiban untuk mengamankannya kecuali tokoh muda semacam Sim-heng rasanya tidak ada pilihan lain lagi. Semoga kepergian Sim-heng ini akan berhasil dengan baik, akan kutunggu kabar baikmu di Jin-gi-ceng."

Ia pandang Kim Bu-bong sekejap, meski tidak bicara lagi, tapi maksudnya jelas minta supaya orang menawarkan obat bius yang masih memengaruhi tubuhnya itu.

Tentu Kim Bu-bong juga tahu, tapi obat bius itu hanya dapat digunakannya dan tidak mampu ditawarkannya, sebab itulah terpaksa dia berlagak tidak tahu kehendak Li Tiang-ceng.

Akhirnya Li Tiang-ceng berkata pula.

"Baiklah, sekarang juga kami mohon diri ...."

"Maaf jika kami tidak dapat membantu, terpaksa Sin-sian-it-jit-cui itu harus dibiarkan punah sendiri setelah lewat satu hari,"

Kata Sim Long dengan rikuh. Li Tiang-ceng melengak, katanya dengan ragu.

"Wah, lantas ...."

Tiba-tiba si Kucing berseru.

"Karena tidak ada pekerjaan lagi, biarlah kuantar kedua Cianpwe pulang ke Jin-gi-ceng agar tidak tertunda lebih lama lagi."

"Bagus sekali jika begitu,"

Seru Sim Long.

"Tay-lik, boleh bantu membawa Thian-hoat Taysu dan Leng-heng turun gunung, kemudian tunggu saja di tempat Thian-hoat Taysu, dengan begitu juga dapat sekadar minta petunjuk kepada Taysu."

Meski dalam hati Nyo Tay-lik sangat ingin ikut Sim Long, tapi di mulut ia tidak berani membantah dan terpaksa mengiakan. Sejak tadi Thian-hoat hanya diam saja, sekarang ia pun bicara.

"Sim Long, kuhormati jiwamu yang luhur dan kungfu yang hebat, biarlah persoalan kita yang sudah-sudah kuhapuskan sama sekali. Namun urusanku dengan Hoa Lui-sian hendaknya engkau jangan ikut campur."

Sim Long memberi hormat dan mengiakan.

"Tapi kau pun jangan khawatir, betapa pun tidak nanti kuserang orang yang tak bisa berkutik,"

Kata Thian-hoat pula.

"Sebelum tenaga Hoa Lui-sian pulih, tidak nanti kuganggu seujung jarinya."

"Terima kasih atas kebaikan Taysu,"

Kata Sim Long.

"Dan bagaimana dengan diriku? Siapa yang mengantarku?"

Tiba-tiba Kim Put-hoan bersuara.

"Aku,"

Kata Kim Bu-bong dengan dingin. Tanpa terasa Kim Put-hoan bergidik.

"Eng ... engkau .... Ah, Li-cianpwe, tidak boleh kau tinggalkan diriku, kalian ...."

Mendadak terhenti ucapannya, sebab tangan Kim Bu-bong telah meraba dagunya.

Li Tiang-ceng memandangnya sekejap, lalu menggeleng dan menghela napas tanpa bersuara.

Segera Him Miau-ji memayang Li Tiang-ceng dan Lian Thian-hun, Nyo Tay-lik juga lantas mengangkat Thian-hoat dan Leng Toa.

Mendadak Jit-jit memburu ke depan si Kucing dan bertanya.

"Masa ... masa engkau akan pergi begitu saja?"

Si Kucing melengos, ia tidak berani menatapnya, tapi di mulut menjawab dengan tertawa.

"Ya, aku akan ... akan pergi."

"Kau ... kau ...."

Jit-jit menunduk dan tidak meneruskan.

"Hari ini berpisah, kelak bertemu pula,"

Seru Him Miau-ji alias si Kucing dengan tergelak.

"Budi pertolongan jiwaku tak perlu kuucapkan terima kasih kepada Sim-heng, kelak ...."

Di tengah gelak tertawanya ia memayang Li Tiang-ceng berdua dan melangkah pergi tanpa menoleh lagi. Memandangi bayangan punggung orang, diam-diam Jit-jit menghela napas.

"Kucing ini ternyata seorang jantan juga,"

Kata Kim Bu-bong.

"Orang yang dapat kau puji pasti tidak perlu disangsikan lagi,"

Ujar Sim Long. Mendadak Jit-jit mengentak kaki dan berseru.

"Ayolah, kenapa kita tidak cepat pergi, apa pula yang perlu kita harapkan lagi di sini?"

"Aku akan tinggal di sini,"

Kata Sim Long.

"Sebab hendak kucari lagi di tengah puing, mungkin akan kutemukan sesuatu. Selain ini Kim-heng juga dapat membereskan Kim Put-hoan di sini."

"Cara bagaimana membereskan dia?"

Tanya Jit-jit.

"Bagaimana caranya terserah kepada Kim-heng,"

Ujar Sim Long. Dengan gemas Kim Bu-bong berucap.

"Sungguh ingin kucincang keparat ini."

Habis berkata, segera ia cengkeram Kim Put-hoan terus dibawa lari ke belakang tebing sana.

Awan putih mulai jarang-jarang, sang surya sudah menongol, namun angin masih mendesir dingin.

Pek Fifi menggigil dingin dan memainkan ujung bajunya sambil melirik ke arah Sim Long yang sedang sibuk mencari di tengah puing.

Cu Jit-jit menengadah, memandang langit dengan terkesima, setiap kali Fifi melirik Sim Long pasti menimbulkan rasa dongkolnya.

Mendadak tertampak Kim Bu-bong muncul kembali dengan wajah kelam.

"Hei, di mana Kim Put-hoan, kau apakan dia? Sudah kau bunuh dia?"

Tanya Jit-jit. Sejenak Kim Bu-bong terdiam, jawabnya kemudian.

"Sudah kubebaskan dia."

"Hah, kau bebaskan dia?"

Jit-jit melengak.

"Begitu keji dia terhadapmu dan kau lepaskan dia? Orang jahat begini dibiarkan hidup di dunia ini, entah betapa banyak orang baik akan menjadi korbannya lagi ...."

Tiba-tiba terdengar Sim Long menukas.

"Memang sudah kuketahui Kim-heng pasti akan melepaskan dia."

Entah sejak kapan Sim Long sudah melompat tiba, katanya pula dengan tertawa.

"Betapa pun Kim Put-hoan tidak berbudi terhadap Kim-heng tidak nanti Kim-heng memperlakukan tidak setia kepadanya. Jika aku menjadi Kim-heng juga akan kubebaskan dia."

"Terima kasih ...."

Ucap Kim Bu-bong dengan pedih.

Banyak kebaikan Sim Long kepadanya dan belum pernah dia mengucapkan terima kasih, baru sekarang perasaannya itu dicetuskannya, hal ini disebabkan dia merasa Sim Long telah benar-benar memahami pribadinya.

Untuk memahami kepribadian seorang terkadang jauh lebih sulit daripada menyelamatkan jiwanya, seorang yang berwatak kaku dan menyendiri ternyata dapat dipahami oleh orang lain, betapa rasa terima kasihnya, sungguh sukar dilukiskan.

Jit-jit memandang Kim Bu-bong, lalu memandang Sim Long pula, katanya kemudian.

"Ai, persoalan kaum lelaki kalian terkadang membingungkan orang."

"Persoalan kaum lelaki akan lebih baik tidak dipahami orang perempuan,"

Ujar Sim Long dengan tertawa. Selang sejenak, tiba-tiba Kim Bu-bong bertanya.

"Adakah Sim-heng menemukan sesuatu petunjuk di tengah puing?"

"Memang ada dua macam benda kutemukan, apakah berguna belum lagi kuketahui,"

Jawab Sim Long. Setelah merandek, lalu sambungnya lagi.

"Selanjutnya apa yang akan dikerjakan Kim-heng boleh terserah padamu."

"Apa yang harus kukerjakan?"

Kim Bu-bong bergumam, mendadak ia berseru tegas.

"Sim Long, jiwaku yang tersisa ini sudah menjadi milikmu, apa pula yang perlu kau tanyakan padaku?"

"Tapi ...."

Sim Long melengak.

"Hm, memangnya Kim Bu-bong lebih rendah daripada Nyo Tay-lik?"

"Ah, apabila bisa mendapat bantuan Kim-heng, urusan apa yang tidak dapat kucapai dengan baik?"

Seru Sim Long girang.

"Kim-heng, aku berjanji pasti takkan mengecewakan keputusanmu yang tegas ini ...."

Kedua orang lantas berjabatan tangan dengan erat, apa pun tidak perlu dibicarakan lagi. Jit-jit terharu, katanya kemudian.

"Dan apa yang akan kau kerjakan selanjutnya, Sim Long?"

"Cari Samcihumu lebih dulu,"

Jawab Sim Long.

"Betapa pun harta kekayaanmu yang besar itu tidak boleh terjatuh ke tangan Ong Ling-hoa."

"Aha, betul, kau ... kau ...."

Jit-jit terkejut dan bergirang, mendadak ia rangkul Sim Long dan berseru pula.

"Kiranya engkau belum lagi lupa pada urusanku itu."

Suaranya bergema jauh di lembah pegunungan, awan sudah buyar, cuaca cerah.

Namun angin badai berikutnya mungkin akan timbul pula.

Pek Fifi masih menggigil di sebelah sana, bibirnya yang mungil kelihatan pucat kedinginan.

Namun dia kelihatan mengertak gigi dan bertahan tanpa mengeluh.

Di dalam tubuhnya yang lemah itu ternyata ada sebuah hati yang keras sebagai baja.

Kim Bu-bong memandangnya, lalu memandang pula Cu Jit-jit yang lagi berseru kegirangan itu.

Sorot matanya yang dingin tanpa terasa timbul semacam perasaan kasih sayang.

Rasa kasih sayang itu timbul karena Pek Fifi, atau bisa juga demi Cu Jit-jit.

Mungkin cuma dia saja yang tahu, di balik watak yang keras, suka menang dan manja itu, hati Cu Jit-jit sebenarnya sedemikian lunak dan lemah.

Dua anak perempuan yang sama sekali berbeda watak, keduanya sama-sama ada segi baiknya yang khas dan menarik, nasib mereka kelak juga pasti akan berbeda sesuai dengan watak masing-masing.

Sejauh itu Fifi hanya menunduk saja, entah karena tidak suka melihat sikap Cu Jit-jit yang berjingkrak kegirangan itu atau karena tak berani terlalu banyak memandang Sim Long.

Ia cukup mengerti kedudukannya sendiri, ia tahu dirinya harus menuruti segala perintah orang dan tidak berhak minta diperhatikan orang.

Meski dia kedinginan, lapar, lelah, dan menggigil, terpaksa ia menunduk dan bertahan sekuatnya, bahkan ia tak berani memperlihatkan penderitaannya itu kepada orang lain.

"Marilah kita pergi,"

Terdengar Kim Bu-bong mengajak.

"Betul, ayolah berangkat,"

Seru Jit-jit.

Pada waktu bergirang, apa pun dia mau menuruti kehendak orang lain, segera ia hendak menarik Sim Long, tak tahunya anak muda itu lantas mendekati Fifi.

Tangan dan kaki Pek Fifi hampir beku dan lagi bingung cara bagaimana akan meninggalkan pegunungan ini, tiba-tiba terlihat tangan Sim Long terjulur ke depannya.

Ia terharu dan bergirang, sesungguhnya juga inilah yang dinanti-nantinya, ia melirik sekejap ke arah Jit-jit, ia tidak berani menerima uluran tangan itu, ia menunduk dan mencucurkan air mata, katanya.

"Aku ... aku dapat berjalan sendiri."

"Apa betul dapat berjalan sendiri,"

Ucap Sim Long dengan tersenyum.

"Anak bodoh, jangan bandel, masa kau dapat bergerak?"

Segera ia meraih pinggang Fifi yang ramping, pinggang itu sedang gemetar. Air muka Jit-jit berubah pula, hatinya tertekan memandangi Sim Long merangkul pinggang Pek Fifi dan berjalan ke depan.

"Ayolah, berangkat!"

Tiba-tiba Sim Long berpaling dan berseru padanya.

"Aku ... aku tidak sanggup berjalan,"

Sahut Jit-jit dengan mengertak gigi.

"Ah, masa tidak sanggup berjalan, kau ...."

"Sudah jelas orang bilang dapat berjalan sendiri, engkau justru memapahnya, jelas kukatakan tidak sanggup berjalan, engkau berbalik tidak percaya, kau ... kau ...."

Mendadak ia duduk terkulai dan menangis tersedu-sedan. Sim Long melenggong dan menggeleng kepala. Dengan suara gemetar Fifi berkata.

"Boleh engkau mem ... memapah nona Cu saja, aku ... aku sanggup berjalan sendiri, benar!"

Ia meronta sekuatnya melepaskan diri dari pegangan Sim Long dan terus melangkah ke depan. Sim Long menghela napas, katanya kepada Kim Bu-bong.

"Kim-heng, harap engkau ...."

"Kutahu, akan kujaga dia,"

Sahut Bu-bong. Perlahan Sim Long mendekati Jit-jit dan mengulurkan tangannya.

"Baiklah, mari kita berangkat!"

Tapi tangis Jit-jit bertambah sedih.

"Segala permintaanmu telah kuturuti, apa pula yang kau tangisi?"

"Kutahu, sesungguhnya engkau tidak sudi memapahku, kau mau adalah karena ... karena terpaksa, betul tidak?"

Sim Long berkerut kening dan tidak bicara lagi.

"Kutahu semakin kurengek begini semakin kau jemu padaku,"

Tangis Jit-jit tambah keras.

"Tapi aku tidak berdaya, bila melihat engkau bermesraan dengan gadis lain, hatiku lantas hancur dan ... dan tidak peduli segalanya lagi, aku tidak ... tidak sanggup mengekang perasaan sendiri."

Melihat keterusterangan si nona, Sim Long jadi terharu dan kasihan, akhirnya ia berjongkok dan menarik bangun Jit-jit, ucapnya lembut.

"Sudahlah, jangan mengesot di tanah, seperti anak kecil saja."

Jit-jit terus merangkulnya, ratapnya.

"O, Sim Long, kumohon dengan sangat janganlah engkau jemu padaku, jangan kau tinggalkan diriku .... Asalkan engkau baik padaku, biarpun ... biarpun mati bagimu pun aku rela." ***** Habis makan, api tungku berkobar dengan keras. Meski sebuah losmen sederhana di sebuah perkampungan kecil, alat perabotnya juga sangat sederhana, tapi bagi Cu Jit-jit setelah mengalami berbagai bahaya tempat ini dirasakan seperti surga. Ia meringkuk di atas kursi di depan perapian, pandangannya tidak pernah meninggalkan wajah Sim Long, hatinya penuh rasa bahagia, persoalannya dengan Sim Long tadi kini sudah beres. Tadi waktu turun gunung Sim Long telah berkata kepadanya bahwa Fifi adalah anak perempuan sebatang kara yang harus dikasihani, kita harus bersikap lebih baik kepadanya. Ucapan ini sama dengan pernyataan kepada Jit-jit bahwa perasaannya terhadap Pek Fifi tidak lain hanya karena merasa kasihan saja dan bukan lantaran jatuh hati padanya. Sebab itulah hati Jit-jit lantas lapang, pikirannya terbuka lagi, ia pun berjanji selanjutnya akan bersikap lebih baik kepada Fifi. Sekarang Fifi duduk di pojok kejauhan sana, meski dia takut dingin, tapi tidak berani duduk terlalu dekat dengan perapian, sebab Sim Long berada di situ. Jit-jit teringat kepada pesan Sim Long, timbul juga rasa kasihannya kepada Fifi, selagi dia hendak menyuruh anak perempuan yang perlu dikasihani itu berduduk lebih dekat dengan perapian, tiba-tiba terdengar Sim Long bersuara.

"Fifi, jika kedinginan, duduklah lebih dekat sini."

"Kedinginan apa? Jika kedinginan kan lebih baik pergi tidur, di kolong selimut kan bisa lebih hangat,"

Ucap Jit-jit tanpa pikir. Setelah bicara segera ia merasa menyesal. Sim Long memandangnya sekejap sambil menggeleng kepala. Fifi lantas berbangkit, katanya dengan menunduk.

"Ya, memang harus kupergi tidur saja ...."

Segera ia masuk ke kamarnya. Jit-jit memandang Sim Long, lalu memandang Kim Bu-bong pula, mendadak ia pun berdiri dan berkata.

"Kusuruh dia pergi tidur, apakah ini pun salah?"

"Aku kan tidak bilang ...."

"Meski tidak kau katakan, tentu hatimu berpikir demikian,"

Seru Jit-jit.

"Apa yang kupikirkan masakah kau pun tahu?"

Kata Sim Long.

"Tahu, pasti tahu, dalam hatimu tentu kau anggap aku ini perempuan jahat. Baik, aku memang jahat, biar ...."

Belum habis ucapannya, sekonyong-konyong terdengar suara pintu digedor.

"Siapa?"

Tanya Sim Long.

"Hamba, ada keperluan,"

Jawab orang di luar.

Dengan mendongkol Jit-jit membukakan pintu sambil mengomel.

Waktu pintu dibuka, pelayan melangkah masuk dengan membawa poci air minum dan sepucuk surat.

Ia menjadi tercengang melihat sikap Jit-jit yang garang itu.

"Ada apa, surat?"

Tanya Sim Long.

"Betul, ada surat, ada orang menyuruh hamba menyampaikan surat ini kepada Sim-siangkong,"

Tutur si pelayan dengan gugup.

"Bagaimana bentuk orang yang menyerahkan surat ini?"

Tanya Sim Long.

"Hamba tidak tahu ...."

"Kau terima suratnya, masa tidak tahu bagaimana bentuk orang itu, apakah kau buta?"

Belum lanjut ucapan orang segera Jit-jit mendamprat. Si pelayan tampak takut-takut, tukasnya pula.

"Surat ini dibawa oleh Lau Toa yang menjual bakmi di pengkolan jalan sana, katanya berasal dari seorang pembeli bakmi, hamba juga sudah tanya dia bagaimana bentuk pengirim surat itu. Lau Toa bilang tidak tahu. Dia memang seorang buta."

Jit-jit jadi melengak, mendongkol dan juga geli. Si pelayan tidak berani bicara lagi, cepat ia mengeluyur pergi. Terdengar Sim Long lagi membaca surat itu.

"Ada urusan penting, mohon tunggu sampai tengah malam nanti, jangan lupa."

"Urusan penting? Lalu apa lagi?"

Tanya Jit-jit.

"Tidak ada lagi, hanya beberapa kata ini saja, tidak ada tanda tangan, gaya tulisannya juga tidak kukenal,"

Jawab Sim Long.

"Aneh juga ... siapakah dia?"

Gumam si nona.

Dasar gadis polos, cepat marah, cepat juga lupa segalanya, segera ia menggelendot di bahu Sim Long untuk ikut membaca surat itu.

Sampul dan kertas surat itu tampak sangat kasar, tulisannya juga seperti cakar ayam.

Jit-jit lantas menggerutu.

"Tulisan berengsek, tentu penulisnya juga brengsek."

"Coba kau teliti lagi, adakah sesuatu yang aneh pada tulisan ini?"

Ujar Sim Long.

"Apanya yang aneh?"

Gumam Jit-jit.

"Tulisan seperti cakar ayam .... He, betul, tampaknya setiap goresan tulisan ini dimulai dari sebelah kanan, jadi berlawanan seperti orang biasa."

"Betul, ini menandakan surat ini ditulis dengan tangan kiri, makanya tulisannya kurang rajin."

Jit-jit termenung sejenak, katanya kemudian.

"Dia menulis dengan tangan kiri agar gaya tulisannya tidak dapat dikenali, dia menyuruh orang buta pula untuk menyampaikan surat ini agar kita tidak tahu siapa dia .... Kuyakin dia pasti orang yang sudah kita kenal dengan baik."

"Ya, rasanya memang begitu,"

Ucap Sim Long.

"Anehnya kenapa dia minta bertemu dengan kita di tengah malam buta, permainan apa yang tersembunyi di balik maksudnya ini?"

"Sudah tentu ada sebabnya ... misalnya orang ini lagi menghindari penguntitan musuh, sebelum tengah malam buta dan sunyi tidak berani muncul ... atau mungkin juga tangan kanannya cedera, maka menulis dengan tangan kiri."

"Hah, engkau memang cerdas, hal-hal yang sukar dibayangkan justru dapat kau pikirkan."

"Tapi bisa jadi sebelum tengah malam ini dia hendak bertindak sesuatu, makanya sengaja menggunakan surat ini untuk menahan kita di sini .... Mengenai apa tujuannya sukarlah untuk diterka."

"Kita tunggu saja, tengah malam kan hampir tiba,"

Ujar Jit-jit.

Malam tambah larut, namun terasa sangat lambat datangnya tengah malam.

Sejak tadi Kim Bu-bong hanya memandang ke arah jendela tanpa bergerak.

Diam-diam Jit-jit kagum akan ketekunan orang, ia sendiri sudah tidak tahan berduduk sekian lama.

Mendadak terdengar suara "pluk"

Sekali, menyusul jendela terus terbakar.

Api lantas berkobar dengan hebatnya, di balik kegelapan di luar jendela sana seperti ada bayangan orang.

Kedua tangan Sim Long bekerja sekaligus, daun jendela yang terbakar itu tergetar mencelat.

Kim Bu-bong juga lantas meraih selimut dan menerobos keluar, segera api dapat dipadamkannya.

Perubahan ini terjadi sangat mendadak, namun kedua orang ini tidak gelisah dan bingung, tanpa bersuara mereka sudah membereskan urusannya.

"Jit-jit, kau jaga Fifi di sini, aku dan Kim-heng akan menyelidiki jejak musuh,"

Seru Sim Long dengan suara tertahan, habis itu ia terus melayang pergi dan menghilang dalam kegelapan.

"Kembali Fifi, segala apa tidak lupa pada Fifi,"

Gerutu Jit-jit.

"Dia sudah sebesar ini dan masih perlu dijaga. Memangnya siapa yang menjaga diriku?"

Dalam pada itu terdengar suara kentungan di kejauhan, tepat tengah malam.

Ketika Kim Bu-bong dan Sim Long melompat keluar jendela, bayangan orang yang semula berada di balik api sana lantas menghilang dengan sekali berkelebat.

"Cepat amat gerak tubuh orang ini,"

Kata Sim Long.

"Kejar!"

Seru Kim Bu-bong.

Selain cepat gerak tubuh orang itu, agaknya sebelumnya juga sudah merencanakan jalan mundurnya, betapa pun Sim Long mengejar dengan cepat tetap tidak tampak lagi bayangannya.

Mendadak Sim Long menarik Kim Bu-bong dan berseru.

"Berhenti dulu. Awas tipu memancing harimau meninggalkan gunung."

Gemerdep sinar mata Kim Bu-bong.

"Betul, mari cepat kita putar balik!"

Lalu dia menahan suaranya dan mendesis.

"Aku kembali ke sana, kau kejar terus!"

Sim Long mengangguk, cepat ia menyelinap ke belakang sebatang pohon.

Sedang Kim Bu-bong terus memutar kembali ke arah semula dan sengaja bersuara menggerutu.

Angin dingin menyayat, malam sunyi senyap.

Dengan sabar Sim Long bersembunyi di balik pohon tanpa bergerak.

Menurut perhitungannya gerak tubuh orang itu pasti tidak secepat itu, pasti bersembunyi di suatu tempat yang sudah disiapkan.

Keadaan ini sama dengan musuh di tempat gelap dan awak sendiri di tempat yang terang, bukan mustahil setiap saat bisa disergap musuh.

Jika sekarang Sim Long mendahului bersembunyi, kalau musuh tidak sabar menunggu lagi akhirnya pasti akan muncul.

Siapa tahu, walaupun Sim Long cukup cerdik, orang itu ternyata juga tidak bodoh, ia tidak mau terperangkap Sim Long, ia tetap bersembunyi dan tidak muncul lagi.

Sampai sekian lama Sim Long menunggu tetap tiada sesuatu gerak-gerik apa pun.

Dalam pada itu Kim Bu-bong sudah sampai di rumah pondokan, suasana rumah penginapan itu gelap dan sunyi, hanya halaman depan remang-remang diterangi cahaya lampu yang menembus keluar dari jendela kamar.

Cu Jit-jit tampak berada di halaman dan sedang membuat orang-orangan salju.

Biasanya orang-orangan salju dibikin gendut, tapi orang-orangan salju buatan Cu Jit-jit ini ternyata tinggi dan kurus.

Wajah si nona tampak kemerahan karena hawa dingin, namun tangannya sibuk memoles wajah orang salju dan menepuk pipinya sambil menggerutu.

Meski Kim Bu-bong sudah berada di sampingnya belum lagi diketahuinya, dia masih terus menggerutu, memukul dan juga mencibir pada orang-orangan salju yang dibuatnya ini, rupanya orang salju itu dianggapnya sebagai Sim Long, maka sebentar ia mengomelnya dan lain saat mencibirnya.

Semua ini mengungkapkan perasaannya kepada Sim Long, ya cinta, ya gemas.

Mendadak Kim Bu-bong berdehem.

Jit-jit terkejut dan berpaling.

"Hah, kau bikin kaget diriku. He, bilakah kau kembali? Mana dia?"

"Masih terus mencari ke sana,"

Jawab Bu-bong.

"Salah, sejak tadi dia sudah berada di sini,"

Kata Jit-jit sambil menuding orang salju yang dibuatnya dengan tertawa.

"Bukankah dia berdiri di sini dan telah kenyang kupukul tanpa melawan."

"Adakah terjadi sesuatu di sini?"

Tanya Kim Bu-bong.

"Sudah sekian lama kumain di sini dan tidak melihat sesuatu apa pun,"

Jawab si nona. Sejenak Kim Bu-bong termenung, mendadak ia berseru.

"Wah, celaka!"

Segera ia berlari ke dalam rumah. Cepat Jit-jit mengintilnya dengan bingung, tanyanya.

"Ada apa?"

Bu-bong menerobos ke dalam kamar Pek Fifi, tertampak tempat tidurnya morat-marit, namun Fifi sudah tidak kelihatan lagi.

"He, ke mana dia?"

Seru Jit-jit kaget.

"Seharusnya pertanyaan ini ditujukan kepadamu sendiri,"

Kata Bu-bong dengan dingin.

"Ke mana setan cilik itu mengeluyur? Kalau mau keluar seharusnya dia bilang padaku .... Hei, Fifi ... Pek Fifi ...."

Teriak Jit-jit.

"Tidak perlu memanggilnya lagi, tidak ada gunanya,"

Ujar Bu-bong.

"Seharusnya kau tahu, keadaan kamarnya kacau begini, mungkinkah dia keluar sendiri?"

Jit-jit melengak, ia duduk di tepi tempat tidur dan bergumam.

"Wah, tentu dia ... dia dibawa lari orang .... Siapakah yang menculik dia?"

Tanpa terasa ia mencucurkan air mata dan berkata pula.

"O, kasihan dia, siapakah yang sampai hati membikin susah anak perempuan yang lemah seperti dia ...."

"Jika kau tahu kasihan, kenapa sehari-hari tidak kau perlakukan dia dengan lebih lembut?"

Ujar Bu-bong.

"Aku ... aku sendiri tidak tahu apa sebabnya, biasanya aku jadi keki bila melihat dia,"

Kata Jit-jit. Pada saat itulah mendadak Kim Bu-bong memburu ke tempat tidur dan memungut sesuatu.

"Apa itu?"

Tanya Jit-jit. Kim Bu-bong tidak menjawabnya, diperiksanya barang itu dengan teliti, mendadak air mukanya berubah kelam, bentaknya dengan beringas.

"Kurang ajar! Kiranya dia!"

"Dia? Dia siapa?"

Tanya Jit-jit.

"Kim Put-hoan!"

Tercetus dari mulut Kim Bu-bong sekata demi sekata.

"Hah, dia, apakah betul dia?"

Jit-jit melonjak kaget. Bu-bong memperlihatkan barang yang dipegangnya itu, ternyata sepotong cabikan kain berwarna cokelat.

"Ya, betul, kembali bangsat itu lagi, memang inilah warna bajunya, tentu terobek waktu Fifi melawannya,"

Seru Jit-jit. Bu-bong memandang keluar jendela dengan melotot, giginya gemertuk saking gemasnya. Mestinya Jit-jit mau tanya lagi, tapi urung ketika melihat sikap Kim Bu-bong yang beringas itu.

"Salahku, semua ini salahku, kalau jiwanya tidak kuampuni, tentu takkan terjadi begini,"

Gumam Bu-bong dengan murka.

"Jangan gelisah, tunggu setelah Sim Long datang baru kita rundingkan tindakan apa yang akan kita lakukan,"

Kata Jit-jit.

"Ini adalah tanggung jawabku, kenapa mesti menunggu Sim Long,"

Kata Bu-bong bengis.

"Hendaknya kau sampaikan padanya, dalam waktu tiga hari bila tidak kubekuk bangsat itu, aku bersumpah tidak menjadi manusia."

Belum lenyap suaranya ia terus melayang keluar. Jit-jit menjadi bingung sendiri setelah Kim Bu-bong pergi, serunya.

"He, tunggu sebentar ... kembali!"

Ia memburu keluar, namun bayangan Kim Bu-bong sudah menghilang. Ia tertegun sejenak, akhirnya ia menyusul ke arah perginya Sim Long tadi sambil berteriak sepanjang jalan.

"Sim Long ... Sim Long ...."

Waktu itu Sim Long masih bersembunyi di balik pohon, namun sudah sekian lamanya tetap tidak kelihatan sesuatu gerak-gerik, dia tetap menunggu dengan sabar, ia yakin pada akhirnya yang tidak tahan pastilah bukan dia.

Tapi pada saat itulah didengarnya suara teriakan Jit-jit di kejauhan.

Sim Long mengentak kaki dan berkata ke depan yang gelap sana.

"Baik, sahabat, hari ini anggaplah engkau lebih mujur, sungguh kukagum akan kesabaranmu."

Suara teriakan Jit-jit semakin mendekat.

Segera Sim Long menyongsongnya.

Tidak mudah Jit-jit mencari Sim Long, sebaliknya amat gampang bagi Sim Long untuk menemukan Jit-jit.

Begitu bertemu segera si nona menubruk ke pelukan Sim Long dan berseru.

"Oo, syukurlah engkau tidak mengalami apa-apa ...."

"Memangnya terjadi apa?"

Tanya Sim Long.

"Kim ... Kim Put-hoan, dia ... dia menculik Fifi ...."

"Apa katamu? Fifi diculik Kim Put-hoan? Dan di mana Kim Bu-bong? Dia tidak berusaha membelanya?"

"Waktu itu dia belum pulang,"

Tutur Jit-jit dengan tersendat.

"Aku sendiri lagi bermain orang salju di luar ...."

Sim Long mengentak kaki, tanpa bicara lagi ia berlari kembali ke rumah penginapan sana. Setiba di tempat, Sim Long memeriksa seluruh kamar, lalu bertanya.

"Apakah Kim Bu-bong mengejarnya?"

Jit-jit membenarkan.

"Adakah dia meninggalkan pesan?"

"Dia bilang dalam tiga hari pasti ... pasti akan membekuk kembali Kim Put-hoan, kalau ... kalau tidak ...."

"Tiga hari? Masakah dapat menunggu sampai tiga hari,"

Seru Sim Long, meski cukup diketahuinya kepandaian Kim Bu-bong jauh di atas Kim Put-hoan, tapi kalau bicara tentang kelicikan jelas Bu-bong sukar menandinginya, sekarang dia mengejar sendirian, sungguh mengkhawatirkan.

Selagi Jit-jit hendak bicara pula, mendadak Sim Long mendesis.

"Ssst, ada orang datang!"

Ia heran siapakah pendatang ini, selain Ginkangnya tergolong kelas tinggi, agaknya juga sudah mengetahui tempat tinggal Sim Long, maka dia langsung menuju ke tempat ini.

Sesudah dekat baru terlihat orang ini adalah seorang pengemis.

Kelihatan rambutnya semrawut, bajunya penuh tambalan, tangan memegang pentungan, punggung menyandang beberapa karung goni, cuma wajahnya tidak terlihat jelas.

Semula Jit-jit menyangka Kim Put-hoan datang lagi, ternyata bukan, dari karung goninya sudah jelas orang ini anak murid Kay-pang asli.

Sesudah berada di depan jendela, orang itu berhenti dan menyapa.

"Sim-heng dan nona Cu, baik-baik kalian!"

Sim Long balas memberi salam, ia heran dari mana orang mengenalnya, padahal biasanya tidak ada sesuatu hubungan dengan orang Kay-pang.

Melihat sikap ragu Sim Long, orang itu melangkah lebih dekat, katanya pula dengan tersenyum.

"Mungkin Sim-heng berdua pangling padaku, akhir-akhir ini aku memang sudah banyak berubah."

Baru sekarang Sim Long dan Jit-jit dapat melihat jelas wajahnya yang agak kurus dan kotor itu, namun sinar matanya tetap mencorong terang seperti dahulu.

"Ah, kiranya kau,"

Seru Jit-jit bertanya. Sim Long juga menyapa.

"Kiranya Ji-heng!"

"Betul, memang akulah Ji Yok-gi,"

Sahut orang itu dengan tertawa.

Sungguh tak tersangka bahwa pengemis ini adalah Ji Yok-gi yang berjuluk si Pedang Sakti Mahacakap, kini ternyata sudah menjadi anggota Kay-pang.

Setelah disilakan masuk ke dalam rumah, di bawah cahaya lampu Ji Yok-gi kelihatan mengenaskan, tangan kiri memegang pentungan, tangan kanan terbalut dengan kain putih dan berlepotan darah, jelas terluka.

"Apakah surat yang kami terima ini berasal darimu?"

Segera Jit-jit bertanya.

Ji Yok-gi membenarkan.

Jit-jit memandang Sim Long dengan senyum memuji, ternyata apa yang terjadi ini cocok dengan dugaan anak muda itu.

Sim Long berlagak tidak tahu, ia tanya pada Ji Yok-gi.

"Berpisah belum lama, mengapa Ji-heng telah masuk menjadi anggota sindikat terbesar dunia Kangouw?"

Khawatir menyinggung perasaan orang, maka Sim Long tidak menyebut Kay-pang melainkan dengan sebutan lain.

"Urusan ini agak panjang juga untuk diceritakan,"

Sahut Ji Yok-gi dengan tersenyum.

"Dan memang kedatanganku ini ingin merundingkan sesuatu persoalan penting dengan Sim-heng, hal ini pun ada sangkut pautnya dengan Kay-pang."

"Silakan bicara,"

Kata Sim Long.

"Setelah berpisah dengan Sim-heng, terasa olehku tindak tandukku pada masa lampau sesungguhnya memalukan, hari depanku terasa remang-remang dan entah cara bagaimana supaya dapat mencuci dosaku,"

Demikian tutur Ji Yok-gi dengan menyesal.

"Tatkala mana sungguh hatiku bimbang dan putus asa, aku berkelana kian kemari tanpa arah tujuan dan tidak merawat diri, dalam waktu kurang dari sebulan keadaanku sudah kelihatan tak keruan tiada ubahnya seperti kaum pengemis."

"Kenapa Ji-heng mesti menyiksa diri cara begitu?"

Ujar Sim Long.

"Maklumlah, waktu itu aku sungguh tersiksa lahir batin, rasanya cuma dengan begitu saja baru dapat meringankan beban pikiranku."

Dengan tertawa Sim Long berkata.

"Kay-pang memang betul organisasi terbesar dunia persilatan, anak muridnya tersebar di segenap pelosok, pengaruhnya memang tak ada bandingannya. Tapi bila karena ingin menderita sehingga Ji-heng perlu masuk ke Kay-pang, kukira engkau telah salah tindak."

"Semula tiada maksudku hendak masuk ke Kay-pang,"

Tutur Ji Yok-gi lebih lanjut.

"Cuma lantaran patah semangat, maka segala apa pun tidak menarik bagiku. Sampai akhirnya karena melihat keadaanku yang kasihan, orang mau membantu dan tanpa malu aku pun menerimanya."

Ia tersenyum getir, lalu menyambung.

"Berita Kay-pang sungguh sangat cepat dan tajam, mereka dapat mengenali asal-usulku, maka, dikirimlah tiga orang sesepuhnya untuk berunding denganku."

"Memangnya berunding apa?"

Tanya Jit-jit heran.

"Mereka anggap kelakuanku sudah menyerupai pengemis, maka harus menjadi anggota Kay-pang, kalau tidak berarti melanggar peraturan mereka dan setiap anak murid Kay-pang akan memandangku sebagai musuh."

"Masa ada peraturan begitu .... Dan engkau lantas terima kehendak mereka?"

Tanya Jit-jit.

"Betul,"

Jawab Ji Yok-gi.

"Waktu itu aku sama sekali tidak memikirkan apa akibatnya, mungkin jika ada orang menyuruhku menjadi Hwesio juga akan kulakukan."

"Tujuan Kay-pang itu tidak lain hanya untuk menambah kekuatan saja,"

Ujar Sim Long dengan tertawa.

"Bilamana mereka tidak bermaksud memperalat nama dan kepandaian Ji-heng, tentu karung yang disandang Ji-heng takkan sebanyak ini."

Sekilas pandang saja Sim Long dapat melihat karung goni yang dipanggul Ji Yok-gi itu sedikitnya ada tujuh buah.

Biasanya karung goni yang dibawa anggota Kay-pang melambangkan kedudukannya dalam Kay-pang, semakin banyak karung yang disandangnya semakin tinggi kedudukannya.

Untuk menanjak dari murid berkarung satu hingga berkarung tujuh, ini memerlukan suatu proses perjuangan yang panjang.

Sekarang Ji Yok-gi baru masuk Kay-pang dan lantas diangkat menjadi murid berkarung tujuh, hal ini benar-benar promosi luar biasa dalam sejarah Kay-pang.

Tapi Ji Yok-gi lantas menghela napas, katanya pula.

"Waktu itu jika aku tidak putus asa, mana bisa masuk Kay-pang? Dan bila sudah kuserahkan diriku ke dalam Kay-pang, mana kupikirkan soal berapa buah karung ini ...."

Tiba-tiba ia menengadah dan tertawa, lalu menyambung.

"Jika bukan karena ketujuh buah karung ini, betapa pun sukar bagiku untuk mendengar rahasia itu."

"Apakah kedatangan Ji-heng ini adalah karena rahasia yang kau maksudkan itu?"

Tanya Sim Long.

"Betul,"

Jawab Ji Yok-gi.

"Sesungguhnya rahasia apakah, lekas ceritakan!"

Seru Jit-jit. Asalkan si nona bicara, Ji Yok-gi lantas menunduk, tuturnya.

"Sesudah kumasuk Kay-pang, tiada sesuatu tugas tertentu yang mereka serahkan padaku. Kedudukan Pangcu memang sudah lama lowong, maka semua urusan penting organisasi selalu dirunding dan diputuskan oleh ketiga Tianglo (tertua, sesepuh)."

Jit-jit berkedip heran.

"Kenapa mesti begitu? Jika satu antara mereka bertiga ditetapkan sebagai Pangcu, kan semua urusan menjadi lebih mudah untuk diselesaikan."

"Soalnya di antara ketiga Tianglo itu, baik kedudukan, kungfu, dan nama baik, semuanya seimbang, sebab itulah ketiganya saling mengalah dan tidak mau diangkat sebagai Pangcu,"

Sela Sim Long dengan tertawa.

"Masa mereka saling mengalah .... Sungguh aku tidak percaya di dunia Kangouw ada orang baik hati begitu,"

Ujar Jit-jit dengan tertawa.

"Jika dikatakan di antara mereka saling ngotot dan tidak mau mengalah, tapi karena satu sama lain tidak lebih unggul sehingga ketiganya sama-sama tidak dapat menjabat Pangcu, alasan ini malahan dapat kupercaya."

"Heh, pintar juga kau,"

Ujar Sim Long. Lalu dia berpaling kepada Ji Yok-gi dan bertanya.

"Kemudian bagaimana?"

"Justru dalam keadaan tanpa tugas dan iseng itulah dapat kulihat sesuatu yang ganjil,"

Tutur Yok-gi.

"Sejak kumasuk menjadi anggota, ketiga Tianglo lantas selalu mengikuti jejakku. Semula aku heran dan juga curiga, tapi kemudian dapat kuketahui bahwa di antara mereka sama-sama tidak ingin aku berbicara sendirian dengan salah seorang di antara mereka."

"Sungguh aneh, engkau kan bukan orang perempuan, masakah mereka bisa cemburu?"

Ujar Jit-jit dengan geli. Mendadak ia berkeplok dan berseru pula.

"Aha, tahulah aku. Jelas di antara mereka diam-diam berebut kedudukan Pangcu, namun siapa pun sukar mengungguli yang lain, maka mereka berusaha memikat dirimu untuk membantunya, dengan begitu dapatlah kedua orang lain diatasi. Dalam keadaan berebut pengaruh begitu, dengan sendirinya mereka khawatir bila salah seorang berbicara sendirian denganmu akan merugikan kedua orang yang lain. Memang sudah kuduga apa pun dapat diperbuat orang-orang itu bilamana urusannya menyangkut kedudukan dan keuntungan."

"Sudah lama kudengar tentang ketiga sesepuh Kay-pang itu, kecuali watak Tan Kiong yang ekstrem, tindakannya terkadang suka menuruti kehendak sendiri. Sedangkan Auyang Lun hanya gemar makan minum, namun juga pendekar yang berjiwa besar. Lebih-lebih Co Kong-liong, dia terkenal berbudi luhur dan mahaadil, ketiganya sama-sama pendekar ternama, mana bisa mereka ...."

"Kenal orang dan tahu mukanya tapi tidak tahu hatinya,"

Tukas Ji Yok-gi dengan gegetun.

"apabila aku tidak bergaul rapat dengan mereka, sungguh mimpi pun tidak menyangka satu di antara mereka adalah setan iblis yang mahajahat. Apabila tidak secara kebetulan dapat kuketahui muslihat kejinya, sekian ribu anggota Kay-pang pasti akan menjadi korbannya."

"Masa bisa begitu? ...."

Terkejut juga Sim Long.

"Kedatanganku ini adalah karena persoalan ini, sedikit banyak juga bersangkutan dengan Sim-heng, selain itu ingin kumohon Sim-heng sukalah mengingat sesama orang Kangouw dan berdaya menyelamatkan Kay-pang dari malapetaka perpecahan ini."

"Kan sudah kukatakan, Kay-pang adalah organisasi terbesar dunia Kangouw,"

Ucap Sim Long dengan serius.

"Jika benar Kay-pang dikuasai oleh kaum durjana, dunia Kangouw pasti juga akan kacau. Silakan Ji-heng bicara saja, bila mampu pasti akan kubantu sekuatnya."

"Urusan ini harus diceritakan sejak empat hari yang lalu,"

Tutur Ji Yok-gi.

"Waktu itu aku dan ketiga orang ini bermalam di suatu rumah berhala di tempat terpencil, mereka sudah mendengkur, sebaliknya aku bergulang-guling tak bisa pulas."

"Bisa jadi mereka cuma pura-pura tidur saja,"

Sela Jit-jit.

"Hari itu hujan salju, hawa dingin, di dalam rumah berhala dinyalakan api unggun, kami tidur mengelilingi api unggun,"

Tutur Yok-gi pula.

"Di bawah kakiku adalah Auyang Lun, dia tidur dengan mengadu kepala dengan Co Kong-liong, sedangkan kaki Co Kong-liong beradu kaki dengan Tan Kiong dan dengan sendirinya kepala Tan Kiong berada di belakang kepalaku."

"Cara tidur kalian berempat masakah ada sangkut pautnya dengan rahasia yang akan kau ceritakan,"

Tanya Jit-jit tidak sabar.

"Tentu saja besar sangkut pautnya,"

Ujar Yok-gi.

"Tengah malam, api unggun sudah mulai guram, selagi aku bermaksud bangun untuk menambahi kayu, siapa tahu pada saat itulah mendadak kurasakan tangan Tan Kiong diulurkan ke arahku dan menggores beberapa huruf di atas keningku."

"Dia ternyata tidak tidur,"

Kata Jit-jit.

"Huruf apa yang ditulisnya?"

"Huruf yang ditulisnya berbunyi.

"Kita bekerja sama menumpas Co."

"Tan Kiong ternyata benar bukan manusia baik-baik. Di antara ketiga tokoh sesepuh Kay-pang, semua orang tahu Co Kong-liong adalah yang terbaik, jangan kau percaya kepada hasutan Tan Kiong."

"Waktu itu dapat kupahami tulisannya itu, tapi aku berlagak tidak tahu, maka Tan Kiong menulis pula dan mengatakan Co Kong-liong tidak dapat dipercaya lagi, maka malam ini juga harus bertindak, kalau tidak .... Sampai di sini goresan tangannya tambah berat, jelas hatinya tegang. Benarlah, mendadak Co Kong-liong ...."

Bercerita sampai di sini, sekonyong-konyong di luar terdengar desir angin kain baju yang berkibar, jelas ada orang datang dengan sangat cepat, Ginkangnya sungguh sangat tinggi.

Air muka Ji Yok-gi menjadi pucat.

"Wah, celaka ...."

Segera Sim Long memadamkan lampu dan bertanya.

"Apakah kau tahu siapa yang datang ini?"

"Co Kong-liong ...."

Jawab Ji Yok-gi. Selagi Sim Long merasa heran, terdengarlah seorang bersuara di luar.

"Inilah Kay-pang-sam-lo (tiga sesepuh Kay-pang, kedatangan kami adalah untuk mengadakan pembersihan perguruan sendiri dan menangkap anggota khianat, diharap sahabat Kangouw jangan ikut campur."

Suaranya lantang dan bertenaga, jelas Lwekang orang ini sangat tinggi. Dengan suara tertahan Sim Long bertanya.

"Pembicara ini apakah Co Kong-liong adanya?"

"Betul dia,"

Jawab Ji Yok-gi. Sim Long tidak bicara lagi, hanya dalam hati ia membatin.

"Jika bicara soal ilmu silat, nama Kay-pang-sam-lo pasti tidak lebih menonjol daripada ketujuh tokoh besar dunia persilatan, mengapa tenaga dalam Co Kong-liong ini kedengarannya jauh lebih kuat daripada Thian-hoat Taysu, Kiau Ngo dan lain-lain, mungkinkah selama ini dia menyembunyikan kepandaiannya atau akhir-akhir ini dia mendapat penemuan mukjizat?"

Terdengar orang di luar lagi berseru pula.

"Ji Yok-gi, kenapa tidak lekas keluar? Sudah jelas kau sembunyi di sini, sekeliling tempat ini sudah terkepung, jangan kau harap akan dapat lari."

"Bukankah kau bilang mereka bermaksud merangkul dirimu, mengapa sekarang dia bilang hendak menangkapmu?"

Tanya Jit-jit. Ji Yok-gi menghela napas.

"Soalnya dia tahu rahasianya telah kuketahui, maka ingin membunuhku untuk menghilangkan saksi."

"Jangan khawatir, Sim Long berada di sini, siapa pun tak bisa membunuhmu,"

Ujar si nona.

"Mati-hidupku tidak menjadi soal, aku cuma menyesal belum sempat kuceritakan rahasia itu ...."

Belum lanjut ucapannya.

"serr" , mendadak jalur api menyambar masuk menerobos jendela dan menancap di dinding. Kiranya sebatang panah berapi. Sekali pukul dari jauh Sim Long memadamkan api itu. Segera terdengar lagi suara orang di luar.

"Ji Yok-gi, sudah selesai kubicara, tidak lekas kau keluar ...."

"Keluar juga boleh, kenapa takut?"

Bentak Jit-jit dan segera hendak mendahului menerjang keluar.

Tapi mendadak ia ditarik orang dan jatuh di tempat tidur.

Sedangkan Sim Long lantas melompat keluar.

Di bawah pantulan cahaya salju dalam kekelaman malam tertampak di pelataran berdiri sekian banyak bayangan orang, sedikitnya ada beberapa puluh jumlahnya.

Sekilas pandang saja Sim Long menduga rahasia yang hendak dibongkar Ji Yok-gi pasti bukan urusan sepele, kalau tidak pihak Kay-pang takkan mengerahkan anak buah sebanyak ini.

Baru saja Sim Long melompat keluar, segera di tengah gerombolan orang itu menyala dua batang obor.

Di bawah cahaya obor tertampak orang-orang ini memang berambut semrawut dan berbaju rombeng serta kaki telanjang, masing-masing juga menyandang karung goni, jelas kebanyakan adalah murid Kay-pang tingkat tinggi.

Di depan berdiri seorang pengemis tua berwajah merah, rambut pada kedua pelipisnya sudah memutih, jenggotnya juga putih dan bergoyang tertiup angin.

Jilid 17 Dandanan pengemis tua ini tiada ubahnya seperti pengemis yang lain, perawakannya juga tidak lebih tinggi besar, namun berdiri di tengah kawanan pengemis dia kelihatan seperti bangau di tengah gerombolan ayam.

Sekali pandang saja Sim Long lantas tahu siapa dia.

Pengemis tua itu juga sedang menatap Sim Long dengan tajam.

"Anda ini Co Kong-liong?"

Tanya Sim Long.

"Betul, ada hubungan apa antara Ji Yok-gi denganmu?"

Tanya pengemis tua itu.

"Cayhe Sim Long, sahabat Ji-heng,"

Jawab Sim Long. Alis Co Kong-liong terangkat.

"Sim Long? Ehm, sudah kudengar akhir-akhir ini dunia Kangouw telah muncul seorang pendekar muda, dalam sebulan saja namanya sudah tersiar ke mana-mana, tak tersangka dapat bertemu di sini."

Cara bicara sesepuh Kay-pang ini tampak kereng dan lugas, sedikit pun tidak ada tanda-tanda sesat atau jahat.

Sebaliknya tindak-tanduk Ji Yok-gi biasanya sering tercela, bila orang lain pasti akan menaruh curiga terhadap keterangan Ji Yok-gi tadi.

Tapi setelah termenung sejenak, Sim Long lantas berkata.

"Kay-pang-sam-lo biasanya selalu berada bersama, entah sekarang Tan-tianglo dan Auyang-tianglo berada di mana?"

Mereka berada di mana sekarang, apa sangkut pautnya denganmu?"

Jawab Co Kong-liong. Sim Long tersenyum.

"Cayhe cuma ingin bertanya kepada kedua beliau itu sesungguhnya kesalahan apa Ji Yok-gi sehingga harus dihukum menurut peraturan perguruan Kay-pang."

Cukup dengan keteranganku saja, untuk apa mesti tanya orang lain lagi?"

Jawab Co Kong-liong dengan bengis.

"Jika begitu ingin kumohon petunjuk ...."

Urusan intern Kay-pang orang luar tidak perlu ikut campur,"

Bentak Co Kong-liong. Mendadak Sim Long tertawa.

"Jika begitu, tidak leluasa bagiku untuk ikut campur urusan ini."

Tiba-tiba ia berpaling dan berseru.

"Marilah nona Cu, kita pergi saja."

Ucapan Sim Long ini membikin Ji Yok-gi di dalam rumah terkejut, Jit-jit juga melengak, cepat ia melompat keluar dan menegas.

"Pergi? Masa ... masa akan kau tinggalkan Ji Yok-gi di sini?"

Meski kita adalah sahabatnya, tapi dia telah melanggar peraturan perguruan, adalah pantas dia mendapat hukuman rumah tangga sendiri, ini adalah peraturan umum dunia persilatan, mana boleh kita ikut campur?"

Jawab Sim Long. Tanpa menunggu reaksi si nona, ia lantas memberi hormat kepada Co Kong-liong dan berkata.

"Maaf, sekarang juga kumohon diri."

Siapa tahu mendadak Co Kong-liong lantas membentak.

"Tidak, kau pun tidak boleh pergi."

Sim Long sengaja berlagak heran.

"Anda minta jangan kuikut campur urusan Kay-pang, jika kupergi kan berarti mematuhi pesanmu. Entah mengapa Anda merintangi kepergianku?"

Co Kong-liong tampak melenggong sejenak, lalu mendengus.

"Apa yang akan kulakukan engkau tidak berhak tanya."

Tapi persoalan yang menyangkut kepentinganku masalah tidak boleh kutanya,"

Jawab Sim Long.

"Baik akan kuberi tahukan padamu,"

Teriak Co Kong-liong dengan bengis.

"Soalnya karena kau ini manusia licin, perbuatan tidak senonoh yang dilakukan Ji Yok-gi itu pasti ada sangkut pautnya denganmu."

Jika demikian, jadi Anda bermaksud memberi hukuman padaku bersama Ji Yok-gi?"

Tanya Sim Long.

"Betul!"

Bentak Co Kong-liong. Mendadak Sim Long menengadah dan bergelak tertawa, sungguh gembira tertawanya. Sampai Cu Jit-jit dan Ji Yok-gi juga tercengang.

"Apa yang kau tertawai?"

Teriak Co Kong-liong dengan gusar.

"Kutertawai si rase itu akhirnya kelihatan juga ekornya,"

Kata Sim Long dengan tetap tertawa.

"Sebenarnya siapa yang kau maksudkan?"

Semula kukira engkau ini seorang jujur, mestinya tidak percaya dirimu ini sebenarnya manusia yang berhati binatang, kusangka ucapan Ji-heng yang tidak beres, maka sengaja kucoba dirimu,"

Sim Long tertawa, lalu menyambung.

"Ternyata sekali kucoba segera terlihat belangmu. Tapi cara bagaimana belangmu sampai kelihatan, mungkin kau sendiri belum lagi mengerti. Apakah kau mau kujelaskan?"

Dengan gusar Co Kong-liong membentak.

"Sebentar lagi kau pasti akan mampus, mau omong apa boleh lekas katakan saja."

Jelas kau datang sendirian, tapi sengaja kau kemukakan nama Sam-lo (ketiga orang tua), jelas hatimu rada jeri, jika engkau tidak berdosa, kenapa mesti takut?"

"Hm, apa lagi?"

Jengek Co Kong-liong.

"Berulang-ulang kau minta aku jangan ikut campur urusan orang lain, pada waktu aku mau pergi sebaliknya kau rintangi, jelas karena kau khawatir Ji Yok-gi akan menceritakan padaku segala kemunafikanmu, makanya ingin kau bunuh diriku untuk menutup mulutku. Hah, jika perbuatanmu cukup gilang-gemilang, mengapa takut diketahui orang lain?"

Mau tak mau berubah juga air muka Co Kong-liong, teriaknya.

"Kau ...."

Belum lanjut ucapannya Cu Jit-jit lantas berkeplok dan berseru.

"Haha, Sim Long memang tidak malu sebagai Sim Long, dengan sedikit kelicikanmu ini hendak kau tipu Sim Long, huh, mimpi!"

Baru sekarang Ji Yok-gi melompat keluar, serunya dengan kejut dan girang.

"Sim-heng ternyata tahu akan jiwaku, sungguh mati pun aku tidak menyesal lagi!"

Dengan tertawa Sim Long berkata.

"Ucapan Ji-heng tadi memang tidak salah, tahu orangnya, tahu mukanya, tidak tahu hatinya. Memangnya siapa pula yang menduga bahwa Co Kong-liong yang termasyhur berbudi luhur ternyata adalah ...."

Adalah malaikat maut bagimu!"

Tukas Co Kong-liong sambil membentak.

Berbareng ia memberi tanda, serentak anak murid Kay-pang yang berdiri di sampingnya sama berputar cepat seperti roda angin.

Seketika cahaya senjata berkelebat, Ji Yok-gi, Cu Jit-jit dan Sim Long terkurung di tengah, dipandang dari gemerdep senjata itu kelihatan ada belasan orang pula yang berdiri di luar garis sana.

Belasan orang ini sama membawa kantong senjata rahasia yang tergantung di pinggang, ada yang membawa busur dengan anak panah, jelas asalkan Sim Long dan lain-lain melompat ke atas, seketika hujan senjata rahasia akan terjadi.

Jika di tanah datar, jangankan Sim Long, sekalipun Cu Jit-jit juga pandang sebelah mata akan serangan senjata rahasia lawan.

Tapi dalam keadaan terapung keadaan akan menjadi lain.

Dengan Ginkangnya, sebenarnya untuk lolos dari kepungan ini tidaklah sulit bagi Sim Long dan kawannya.

Tapi dengan senjata rahasia yang disiapkan, Sim Long harus berpikir dua kali sebelum menggunakan Ginkang untuk kabur.

Muka Cu Jit-jit rada pucat, meski banyak juga pengalaman tempurnya, tapi cara keji musuh dan kepungan yang ketat begini jarang dihadapinya.

Begitulah serangan musuh bertambah gencar, kepungan bertambah rapat dan makin menyempit, mau tak mau Jit-jit rada gelisah.

Wajah Ji Yok-gi juga mulai berkeringat.

Sekonyong-konyong tiga bilah golok musuh membacok tiba secepat kilat.

Rasa tegang Jit-jit dan Ji Yok-gi jadi buyar oleh serangan ini, segera keduanya siap menangkis.

Tapi sebelum mereka bergerak, mendadak Sim Long menubruk maju, sekaligus ia rampas golok salah seorang penyerang, berbareng sikutnya menyodok dan tepat lawan sebelah kiri disikut hingga mencelat.

Musuh sebelah kanan terkejut, baru saja hendak melompat mundur, golok rampasan Sim Long telah bekerja, punggung golok membalik membacok kuduk orang itu, kontan orang itu menjerit tertahan dan roboh terkapar, meski tidak binasa sudah cukup membuatnya sekarat.

Hanya sekali turun tangan saja Sim Long lantas membereskan tiga orang, sampai Jit-jit belum sempat melihat jelas apa yang terjadi, keruan ia tercengang.

Dengan golok rampasannya Sim Long serupa harimau tumbuh sayap, terdengar suara gemerencing beradunya senjata, cahaya golok di sekitar mereka dapat dihalau oleh Sim Long, sama sekali Jit-jit dan Ji Yok-gi tidak perlu turun tangan lagi.

Ji Yok-gi terkesima, kejut dan kagum.

Sebaliknya Jit-jit lantas tertawa, ucapnya dengan tertawa manis kepada Ji Yok-gi.

"Coba kau lihat, kan sudah kukatakan tidak perlu takut, asalkan Sim Long hadir di sini, siapa pun tidak perlu ditakuti."

Ji Yok-gi menghela napas perlahan.

"Ya, kungfu Sim-heng memang ...."

Belum habis ucapannya mendadak terlihat kain baju dan rambut si nona beterbangan, ia sendiri pun merasakan angin tajam menyambar dekat di sekitarnya.

Suara gemerencing pun terus berbunyi tiada hentinya.

Bayangan Sim Long juga terus berputar kian kemari.

Tapi cahaya senjata juga bertambah menyilaukan mata dan makin kuat, jelas lingkaran kepungan barisan golok musuh juga semakin sempit.

Mau tak mau Jit-jit menjadi khawatir juga dan tidak dapat tertawa lagi, katanya.

"Wah, apakah Sim Long dapat ...."

Walaupun Sim-heng sangat perkasa, tapi dua tangan tetap sukar melawan empat kepalan,"

Kata Ji Yok-gi.

"Apalagi pihak lawan tidak cuma berjumlah beberapa orang saja, barisan kepungan mereka pun sangat ketat, bisa jadi ...."

Jika begitu, buat apa engkau mengoceh melulu?ömel Jit-jit sambil mengentak kaki.

"Ayolah lekas bantu dia, tunggu apa lagi?!"

Walaupun begitu bicaranya, namun dia tetap berdiri di tempatnya.

Maklumlah, saat itu barisan kepungan musuh telah bergerak cepat, cahaya senjata kemilauan, Jit-jit sendiri tidak tahu harus menerjang dari mana.

Dengan sendirinya Ji Yok-gi juga terkesima dan tidak dapat ikut turun tangan.

"Sabar sebentar, Sim Long, segera akan kami bantu engkau!"

Teriak Jit-jit untuk memberi semangat kepada Sim Long. Tapi anak muda itu tidak menjawab, seperti tidak mendengarnya. Sebaliknya terdengar Co Kong-liong lagi menjengek.

"Saat ini Sim Long sudah berada dalam serbasusah, mana dia sempat bicara denganmu. Tapi kau pun tidak perlu gelisah, setelah Sim Long dibereskan, segera akan datang giliranmu."

Tidak kepalang gemas Jit-jit, kontan ia memaki.

"Keparat, kere mampus! Kalau berani ayolah maju sendiri, omong melulu, terhitung orang gagah macam apa?"

Yang hidup ialah orang gagah, yang mati bukan lagi orang gagah, kalian bertiga sekarang sudah tidak ada bedanya orang mati ...."

Demikian Co Kong-liong berolok-olok dengan tertawa.

"Pengemis busuk, kau sendiri yang akan mampus!"

Damprat Jit-jit dengan gusar, ia pandang Ji Yok-gi sekejap, seketika berhenti ucapannya.

Dilihatnya wajah Ji Yok-gi pucat lesi, kain pembalut pada tangan kanannya tampak kotor, darah segar masih terus merembes keluar.

Jelas luka itu baru terjadi dan banyak keluar darah, melihat gelagatnya, andaikan dia ikut bertempur pasti juga takkan tahan lama.

Dengan terharu si nona memanggilnya perlahan.

"Ji-siangkong!"

Ji Yok-gi jadi melenggong oleh panggilan si nona yang berbeda daripada biasanya ini, cepat ia menjawab.

"Ada apa, nona?"

Dengan menunduk Jit-jit berkata.

"Sekarang kutahu engkau adalah seorang baik, bilamana sebelum ini sikapku kurang hormat padamu, hendaknya suka dimaafkan. Keadaan sekarang agak gawat, tampaknya bila Sim Long mau menerjang keluar sendirian tidaklah sulit, tapi ... tapi kalau ...."

Belum habis ucapan Jit-jit, dapatlah Ji Yok-gi memahami maksudnya, bahwa mendadak nona bersikap ramah padanya, rupanya nona itu merasa dia pasti akan binasa di sini.

Bicara terhadap seorang yang bakal mati dengan sendirinya akan jauh lebih halus daripada biasanya.

"Orang macam apakah Sim Long, tentu juga sudah dikenal Ji-siangkong,"

Kata Jit-jit pula.

"Apabila dia tidak mengetahui rahasiamu, tidak nanti dia mau menerjang pergi, engkau ...."

Tidak perlu nona bicara lagi, sudah kuketahui maksud nona,üjar Ji Yok-gi dengan tersenyum pedih.

"Kematianku tidak ada artinya, namun rahasia itu memang harus kubeberkan kepadanya .... Dengarkan Sim-heng, pada malam itu, di rumah berhala ...."

Belum lanjut ucapannya, mendadak Sim Long berteriak.

"Wah, celaka!"

Menyusul lantas terdengar Co Kong-liong bergelak tertawa dan membentak.

"Haha, baru sekarang kau mau bicara, sudah terlambat ...."

Mendadak ia bersuit panjang melengking.

Di tengah suara suitannya, barisan penyerang serentak berubah posisi, lingkaran cahaya senjata yang terbentuk tadi mendadak menyerbu ke tengah antara Sim Long dan Ji Yok-gi bagaikan air bah yang tak terbendung.

Sim Long mengentak kaki, segera ia melompat ke atas, agaknya ingin bergabung dengan Ji Yok-gi, tapi baru saja ia bergerak, segera terdengar busur berbunyi, anak panah lantas berhamburan bagaikan hujan.

Jit-jit menjerit khawatir.

Dilihatnya Sim Long memutar goloknya secepat kitiran, hujan anak panah itu sama rontok, tapi tubuhnya juga terpaksa turun kembali ke bawah.

Pada saat itulah barisan golok musuh telah terbagi menjadi dua, belasan orang kini mengepung Ji Yok-gi di tengah.

"Wah, bagai ... bagaimana ...."Jit-jit menerjang ke dekat Sim Long.

"Masih bicara lagi? Semua gara-garamu!ömel Sim Long. Jit-jit melengak, ucapnya dengan bingung.

"Aku? ... memangnya aku berbuat salah apa lagi?"

Sim Long tidak menghiraukannya, ia putar goloknya dan hendak menerjang musuh pula.

Tapi meski barisan golok musuh kini sudah terbagi menjadi dua, sisanya yang mengepung Sim Long tidak menyerang lagi melainkan ganti siasat dengan bertahan melulu.

Nyata sasaran serangan mereka sekarang telah beralih kepada Ji Yok-gi.

Dengan sendirinya si pedang sakti yang sudah terluka dan tak bersenjata itu segera terancam maut di bawah kerubutan belasan golok musuh.

Sim Long sangat gelisah, tapi apa daya, pertahanan barisan musuh sangat kuat, setiap kali dia hendak melompat ke atas segera disambut dengan hujan anak panah.

Sekonyong-konyong terdengar Ji Yok-gi menjerit ngeri.

"Ji-heng ...."

Seru Sim Long khawatir.

"Sim-heng, aku tidak ...."

Belum lanjut Ji Yok-gi berkata, kembali ia menjerit, lalu tidak ada suara lagi. Menyusul lantas terdengar gelak tertawa Co Kong-liong, lalu dia berseru.

"Bagaimana, sudah beres?"

Beres, lima belas bacokan, tercincang menjadi perkedel!"

Teriak anak buahnya.

"Baik, murid murtad sudah tertumpas, pergi!"

Bentak Co Kong-liong.

Sinar golok berkelebat dan menyurut mundur, sebagai gantinya sebaris anak panah lantas dibidikkan.

Waktu Sim Long memutar goloknya untuk menghalau hujan anak panah itu rombongan musuh sudah menghilang di kegelapan.

Di atas tanah bersalju menggeletak Ji Yok-gi bermandikan darah.

Cepat Sim Long dan Jit-jit mendekatinya, Sim Long angkat bahu Ji Yok-gi yang penuh berlumuran darah itu.

Dirasakannya orang masih bernapas meski sangat lemah.

Dengan girang Sim Long berseru.

"Ji-heng, tahan, tahan sekuatnya!"

Tubuh Ji Yok-gi berkejang, tiba-tiba matanya terbuka sedikit, kelihatan sorot matanya yang buram, biji matanya berputar, seperti ingin mengenali siapa di depannya ini.

"Aku, Ji-heng ... aku Sim Long!Äkhirnya timbul setitik sinar mata Ji Yok-gi, namun sinar ini tiada ubahnya seperti sumbu pelita yang kehabisan minyak, setiap saat bisa sirap. Bibir Ji Yok-gi bergerak-gerak, tercetus suara yang sangat lemah dan lirih seperti bunyi nyamuk.

"Ak ... aku ... tidak ... tidak sanggup ....¡"

Tahan, Ji-heng, engkau pasti sanggup,"

Seru Sim Long. Namun keadaan Ji Yok-gi memang sangat parah, ingin bicara pun tidak sanggup lagi.

"Selain dirimu, siapa pula yang tahu rahasia yang kau maksudkan?"

Tanya Jit-jit. Sampai lama sekali baru terdengar suara Ji Yok-gi yang sangat lemah.

"Ada sur ... surat untuk ... untuk Liu ...."

Sampai di sini, berbunyilah kerongkongannya seperti tersumbat, lalu kepalanya terkulai dan tidak bergerak lagi, nyata ia telah mengembuskan napasnya yang terakhir.

Dengan pedih Sim Long menggeleng kepala, gumamnya.

"Baiklah, Ji-heng, berangkatlah engkau, suratnya pasti akan kusampaikan kepada nona Liu Giok-ji, akan kuminta keterangan padanya, betapa pun akan kugagalkan intrik mereka." ***** Subuh sudah tiba, fajar telah menyingsing. Cahaya fajar yang remang menyinari muka Ji Yok-gi. Air mata Jit-jit berlinang memandang wajah yang sudah kaku ini.

"Kasihan dia, seharusnya dia tidak perlu mati ...."

Betul, seharusnya dia tidak perlu mati, tapi dia justru mati gara-garamu,"

Tegas Sim Long mendadak.

"Aku?"

Jit-jit menegas.

"Betul, kau ...."

Mata Jit-jit menjadi merah lagi.

"Kembali kau, segala apa kau salahkan aku, memangnya apa kesalahanku? Jelas dia sendiri takut mati dan akhirnya terbunuh, kenapa aku yang disalahkan?"

Tadi kalau tidak kau paksa dia bicara, tentu Co Kong-liong tak tahu bahwa dia belum membeberkan rahasianya, tentu juga mereka takkan menjadikan dia sebagai sasaran serangan dan dia juga takkan terbunuh.

Tujuan Co Kong-liong semula adalah hendak membinasakan diriku lebih dulu."

"Tapi ... tapi waktu itu engkau sendiri dikerubut hingga kalang kabut, jika ... jika engkau tidak tahan, kan dia juga tetap tidak dapat kabur?"

Dari mana kau tahu aku dikerubut hingga kalang kabut?"

Tanya Sim Long mendongkol.

"Justru sengaja kupancing barisan golok musuh agar terpusat di suatu sudut, dengan susah payah kucari titik lemah barisan mereka, tampaknya sudah hampir berhasil, siapa tahu kau ...."

Mendadak Jit-jit berteriak parau.

"Ya, aku salah ... aku salah .... Tapi apa yang kulakukan itu adalah demi dirimu, dari mana kutahu siasatmu akan menumpas musuh ...."

Sambil bicara akhirnya ia menangis tergerung-gerung. Sejenak Sim Long memandangi nona yang lugas ini, ia menghela napas, lalu berkata.

"Sudahlah, tidak perlu menangis lagi, hari sudah terang, Kim Bu-bong tidak ada kabarnya, apa pun juga kita harus menemukan dia lebih dulu." ***** Kim Bu-bong sedang berlarian di bawah deru angin yang dingin, rambutnya kusut bertebaran tertiup angin, di bawah hujan salju yang membeku, sekujur badannya justru membara oleh api kemarahan. Dia sebenarnya seorang tokoh misterius yang penuh teka-teki, asal usulnya sukar diterka. Ia tidak suka menceritakan kisah hidupnya masa lampau, bahkan ia sendiri tidak mau memikirkannya kembali. Ia cuma ingat sejak kecil hingga besar dirinya tidak pernah memerhatikan mati-hidup orang lain, juga tidak pernah meneteskan setitik air mata bagi orang lain. Selamanya tak pernah terpikir olehnya apa artinya kebajikan dan kejahatan, juga tidak pernah memikirkan siapa salah dan siapa benar. Apa yang dia suka, itulah yang dilakukannya. Asalkan dia tidak suka kepada seorang, segera orang itu dibunuhnya. Ia sendiri tidak tahu selama ini sudah berapa orang yang mati di bawah tangannya. Selama ini dia tidak kenal kasihan bagi korbannya.

"yang lemah memang pantas mati", baginya hukum rimba ini memang adil dan wajar. Akan tetapi sekarang ia telah berubah. Ia menjadi marah karena kebusukan dan kejahatan Kim Put-hoan. Demi seorang anak perempuan lemah dia rela menempuh perjalanan di bawah hujan salju dan deru angin yang dingin. Perubahan ini sama sekali tak terduga, mimpi pun tak tersangka olehnya. Salju meliputi bumi raya ini, suasana gelap. Ke mana larinya Kim Put-hoan? Cara bagaimana akan menemukannya? Semua ini tidak diketahui oleh Kim Bu-bong. Hanya berdasarkan semacam naluri asli makhluk hidup, semacam naluri binatang liar, juga naluri jago silat yang selama hidup bertualang seperti dirinya, ia terus mengejar dan mencari ke depan. Mungkin ada yang merasa aneh di antara jago Kangouw bisa mempunyai naluri serupa binatang liar. Tapi kalau dipikirkan dengan cermat, segera akan diketahui di antara keduanya memang banyak terdapat segi persamaannya. Mereka harus menghindari pengejaran orang lain, dalam buron itu mereka juga perlu memburu mangsanya untuk menyambung hidup mereka. Jadi mereka adalah pemburu, tapi setiap saat juga diburu. Jiwa mereka selalu berada di tepi garis antara mati dan hidup. Di tengah hujan salju yang bertaburan ini, untuk pertama kalinya Kim Bu-bong merasakan hidupnya serupa benar dengan hidup binatang liar. Tanpa terasa tersembul senyuman kecut pada ujung mulutnya. Namun kepekaan mencari yang timbul dari nalarnya itu ternyata tidak keliru. Di atas tanah salju di depan sana ada sesuatu benda yang kelihatan gemerlapan. Sorot mata Kim Bu-bong yang tajam serupa mata binatang liar itu tentu saja tidak mengabaikannya. Itulah sebentuk tusuk kundai, jelas itulah tusuk kundai yang dipakai Pek Fifi. Betapa cerdiknya anak perempuan itu, meski berada di bawah ancaman maut dia tidak kehilangan daya pikir dan keberaniannya, diam-diam ia jatuhkan tusuk kundainya untuk menunjukkan ke arah mana larinya Kim Put-hoan. Setelah menemukan tusuk kundai ini, yakinlah Kim Bu-bong bahwa arah yang dilacaknya ini tidak keliru. Segera ia percepat langkahnya, sorot matanya juga tambah jelalatan untuk mencari. Tidak jauh, kembali ditemukan anting-anting yang ditinggalkan Pek Fifi, beberapa puluh tombak lagi kembali ada sebelah anting-anting yang lain, kemudian sepotong saputangan lalu sepotong ikat pinggang. Sampai akhirnya sepatu Pek Fifi pun ditanggalkan dan dibuang di tengah jalan, sepatu yang kecil mungil bersulam bunga merah sehingga sangat mencolok di atas tanah bersalju. Berdasarkan barang-barang petunjuk itu, cara pencarian Kim Bu-bong menjadi terlebih mudah dan terarah. Waktu sepatu terakhir ditemukan, hidung Kim Bu-bong mencium bau harum yang sedap, bau sedap daging yang menusuk hidung. Siapakah yang sedang memanggang daging di tengah malam dingin dan sunyi begini? Tanpa pikir Kim Bu-bong terus melacak ke arah bau sedap daging panggang itu. Tidak jauh, dilihatnya bayangan rumah di depan sana. Samar-samar kelihatan pula kerlip cahaya api unggun. Itulah sebuah "

Suteng", rumah berhala keluarga.

Rumah berhala keluarga demikian banyak didirikan pada zaman itu sebagai lambang kejayaan keluarga yang bersangkutan, tapi bilamana keluarga tersebut mengalami keruntuhan, maka rumah berhala demikian lantas telantar dan akhirnya menjadi bobrok, lalu jadilah tempat meneduh bagi kaum gelandangan atau kaum jembel.

Sekarang cahaya api itu kelihatan menyinari tanah salju di luar rumah berhala itu, di atas tanah bersalju terlihat ada sebaris bekas tapak kaki baru.

Bekas tapak kaki lama jelas sudah terbenam oleh hujan salju tadi.

Meski kungfu Kim Put-hoan tidak lemah, tapi dia menggandeng Pek Fifi, dengan sendirinya bekas kaki yang ditinggalkan cukup jelas.

Setelah mengamati bekas kaki itu, yakinlah Kim Bu-bong akan sasarannya memang berada di sini.

Segera ia melayang masuk ke rumah berhala itu.

Di ruang dalam memang ada api unggun yang menyala dan ada orang memanggang anjing.

Akan tetapi di manakah Kim Put-hoan?

Ternyata tidak terlihat bayangannya?

Rumah berhala ini kecil lagi jelek, tidak ada jendela, pintu adalah satu-satunya jalan tembus, tapi tanah bersalju di luar pintu hanya terlihat ada bekas kaki yang masuk dan tidak ada bekas kaki yang keluar.

Apalagi api unggun kelihatan masih menyala, ada dua potong kayu yang belum habis terbakar, jelas sejenak sebelum ini di rumah berhala ini masih ada orang.

Cahaya api yang menyala menyinar wajah Kim Bu-bong yang kelam.

Air mukanya tidak memperlihatkan sesuatu perasaan, ia berdiri menghadap api unggun di dekat pintu.

Ia yakin Kim Put-hoan pasti masih berada di dalam rumah berhala ini dan pasti tak bisa kabur.

"Ayo keluar saja, memangnya perlu kucari lagi?"

Jengek Kim Bu-bong sekata demi sekata.

Di tengah malam sunyi, suaranya yang dingin seram menggema seluruh ruangan rumah berhala ini.

Namun tidak terdapat suara jawaban, keadaan tetap sunyi senyap.

Di pojok sana penuh debu dan sawang menghiasi altar patung pemujaan, tabir meja sembahyang sudah luntur warnanya, kebetulan angin meniup sehingga tabir meja tersingkap, tertampaklah sebelah kaki menongol di kolong meja.

Secepat terbang Kim Bu-bong memburu ke sana, sekali depak meja sembahyang ditendang hingga terbalik.

Di kolong meja memang betul menggeletak dua orang, tapi bukan Kim Put-hoan dan Pek Fifi melainkan dua orang pengemis tua dengan wajahnya yang kusut dan mata mendelik ....

Dua wajah yang beringas menyeramkan sedang melotot kepada Kim Bu-bong.

Terkejut juga Kim Bu-bong, tanpa terasa ia menyurut mundur dua langkah sambil membentak.

"Siapa?!"

Kedua wajah itu tidak bergerak, biji mata yang mendelik itu penuh rasa kaget, sedih dan benci, jelas wajah ini bukan wajah orang hidup.

Segera Kim Bu-bong tahu sedang berhadapan dengan dua sosok mayat, sedikitnya sudah mati tiga hari, cuma di bawah suhu yang dingin mayat belum lagi membusuk.

Diam-diam dia menghela napas lega, di bawah cahaya api unggun dilihatnya usia kedua pengemis ini sekitar setengah abad, di belakang pundak mayat yang telentang kelihatan ada setumpuk karung.

Setelah menenangkan diri dan mengamati lagi wajah kedua pengemis ini, mendadak Kim Bu-bong berseru.

"Hei, Tan Kiong dan Auyang Lun .... Kenapa kedua tokoh Kay-pang ini bisa mati di sini? Siapa yang membunuh mereka? .... Ke mana pula perginya Co Kong-liong?"

Kay-pang-sam-lo¡ätau tiga sesepuh persekutuan pengemis bukanlah tokoh kelas top dunia persilatan, tapi namanya dan luas pergaulannya pasti tidak di bawah jago silat golongan mana pun.

Sebagai jago Kangouw kawakan dengan sendirinya Kim Bu-bong kenal kedua orang ini.

Namun tidak tersangka olehnya bahwa Kay-pang-sam-lo yang termasyhur mengapa dua di antaranya bisa mati di sini secara mendadak?

Angin mendesir menambah seramnya rumah berhala ini, perlahan Kim Bu-bong menyurut mundur, mengitari api unggun hingga di ambang pintu, sekilas melirik, seketika aliran darah sekujur badan serasa beku.

Kiranya dalam sekejap itu anjing panggang di atas api unggun telah hilang begitu saja.

Siapakah yang mengambilnya, siapakah yang mampu berbuat sesuatu di belakang Kim Bu-bong tanpa diketahuinya.

Sungguh Ginkang yang hebat dan mengejutkan.

Kecuali setan iblis, siapa yang memiliki Ginkang setinggi ini?

Selagi Kim Bu-bong merasa ngeri, sekonyong-konyong di belakang ada orang mengekek tawa dan menegur.

"Kim Bu-bong ...."

Siapa?!"

Bentak Bu-bong sambil membalik tubuh.

Terlihatlah dari luar melangkah tiba dengan perlahan seorang, perawakannya yang kurus kering tampak bergoyang tertiup angin malam yang dingin.

Setiap setindak orang itu lantas mengeluarkan suara tertawa seram, tapi mukanya sengaja dialingi kedua tangannya yang hitam kurus serupa tangan hantu.

Di bawah gemerdep cahaya api unggun kelihatan bajunya yang rombeng dan rambutnya yang kusut, kiranya pendatang ini juga seorang pengemis.

Dilihat dari perawakan dan bentuknya jelas bukan Kim Put-hoan.

Betapa pun Kim Bu-bong bukan anak kemarin, dalam keadaan demikian ia tetap bersabar dan tenang, dipandangnya orang itu dengan tajam.

Akhirnya orang itu melangkah masuk dengan enteng, sapanya dengan tertawa.

"Kim-heng, sekian tahun berpisah, tak tersangka kita dapat bertemu di alam baka."

Hm, orang she Kim masih hidup segar bugar di dunia, apakah gunanya kau gertak orang dengan berlagak sebagai setan? Memangnya kau kira Kim Bu-bong dapat ditakut-takuti?"

"Haha, kau bilang masih hidup di dunia? Huh, sungguh lucu, jelas-jelas tadi kau sudah mati, masakah kau sendiri tidak tahu?"

Kata orang itu.

"Jika orang she Kim mati, tentu aku sendiri tahu dan tidak perlu dirisaukan olehmu. Tapi bila kau tetap main setan segala, bukan mustahil orang she Kim akan membuat kau jadi setan sungguhan."

Hahaha, setan sungguhan? Memangnya saat ini aku setan palsu?"

Meski dia bergelak tertawa, namun tertawa seram dan menakutkan.

"Sesungguhnya siapa kau?"

Bentak Kim Bu-bong.

"Apakah kau ingin melihat wajahku?"

Ya, lepaskan tanganmu!"

"Hehe, boleh juga kau lihat siapakah diriku,örang itu terkekeh."

Jika kau belum mati, mana dapat kau bicara denganku? Orang hidup tidak nanti dapat bicara dengan orang mati tahu?"

Sambil bicara perlahan ia menurunkan kedua tangannya sehingga kelihatan mukanya.

Tertampak mukanya yang pucat kelabu dan biji matanya yang mendelik ....

Hah, dia ternyata Tan Kiong adanya, salah seorang Kay-pang-sam-lo atau tiga sesepuh Kay-pang.

Mayat di kolong meja, anjing panggang lenyap mendadak, semua ini sudah membikin hati Kim Bu-bong ngeri, sekarang terlihat pula mayat yang baru saja menggeletak di kolong meja itu ternyata berdiri di depannya, biarpun nyali Kim Bu-bong cukup besar tidak urung mukanya berubah pucat, ucapnya dengan suara gemetar.

"Tan ... Tan Kiong, kau ... kau ...."

Tan Kiong tertawa terkekeh.

"Betul, aku inilah Tan Kiong, kutahu kau kenal diriku, tadi waktu masih hidup telah kau lihat diriku, tapi mungkin tak kau sangka sejenak sesudah mati akan kau lihat diriku lagi."

Kini betapa pun tenangnya Kim Bu-bong juga sangsi kepada apa yang dilihatnya.

Tanpa terasa ia berpaling untuk memandang lagi kedua sosok mayat di kolong meja tadi.

Tapi baru saja ia menoleh, cakar setan Tan Kiong lantas terjulur, secepat kilat menutuk Hiat-to kelumpuhannya, dalam kejut dan kagetnya, Kim Bu-bong tidak sempat mengelak.

Kontan ia roboh.

Namun pada saat roboh itulah, sekilas sempat dilihatnya kedua sosok mayat di kolong meja, termasuk mayat Tan Kiong itu, masih menggeletak kaku di sana.

Kalau Tan Kiong mati menggeletak di sana, mengapa ada Tan Kiong hidup di sini?

Sesungguhnya apa yang terjadi?

Pikiran Kim Bu-bong berputar dengan cepat, mendadak ia membentak.

"Keparat, kiranya kau, Ong Ling-hoa!"

Meski sudah roboh, namun suaranya tetap garang. Terlihat Tan Kiong yang hidup itu menengadah dan bergelak tertawa.

"Haha, Kim Bu-bong, memang hebat kau! Cuma, meski sekarang dapat kau terka siapa diriku terasa sudah agak terlambat juga."

Di tengah gelak tertawa ia terus berpaling ke sana.

Waktu ia menoleh kembali menghadapi Kim Bu-bong, ternyata mukanya yang pucat kelabu, muka mayat dan mata yang mendelik itu telah berubah menjadi muka yang tampan, wajah putih bersih dengan bibir merah indah.

Siapa lagi dia kalau bukan Ong Ling-hoa?

Hm, sejak mula memang sudah kuduga akan dirimu,ücap Kim Bu-bong dengan gemas.

"Ini pun tidak dapat menyalahkan dirimu,üjar Ong Ling-hoa dengan tertawa.

"dalam keadaan seperti tadi, siapa pun akan ketakutan setengah mati dan mungkin bisa jatuh pingsan."

Belum lenyap suaranya, sekonyong-konyong berkumandang suara tertawa orang yang menusuk telinga dari atas rumah.

"Hehehe, sungguh lucu, sungguh menggelikan,"

Terdengar seorang berseru dengan terkekeh.

"Kim Bu-bong yang biasanya suka menakut-nakuti orang sekarang juga kena digertak orang dengan ketakutan setengah mati!"

Di tengah suara tertawa itu, sesosok bayangan hitam perlahan gemelantung turun dari atas.

Ternyata anjing panggang yang hilang tadi.

Kiranya pada anjing panggang itu terikat seutas tali kecil, waktu Kim Bu-bong masuk ke rumah berhala ini, dia cuma memerhatikan siapa yang berada di sini dan tidak memerhatikan pada anjing panggang itu masih terikat seutas tali.

Meski ada cahaya api, tapi tidak terlalu terang, ketika Kim Bu-bong terkejut melihat kedua sosok mayat, orang yang bersembunyi di atas rumah lantas mengerek anjing panggang ke atas.

Diam-diam Kim Bu-bong menyesali sendiri yang kurang cermat, segera ia menjengek.

"Hm, jadi sudah kalian perhitungkan akan kedatanganku?"

Betul, memang sudah kami perhitungkan kedatanganmu, kalau tidak untuk apa kami mengatur permainan ini di sini?üjar Ong Ling-hoa dengan tertawa.

Orang yang berada di atas rumah juga tertawa dan berkata.

"Haha, ini namanya ada jalan ke surga tak kau pergi, neraka tanpa pintu sengaja kau datangi ...."

Berbareng dengan ucapan itu, sesosok bayangan melompat turun, siapa lagi kalau bukan Kim Put-hoan. Dengan senang dia berkata pula.

"Hehe, dunia berputar terus, Kim Bu-bong, tentunya tidak tersangka sekarang kau pun akan jatuh di tanganku."

Memangnya kenapa?"

Sahut Kim Bu-bong tak acuh.

Kim Put-hoan menyangka dalam keadaan begini Kim Bu-bong pasti akan cemas, khawatir, dan menyesal, siapa tahu orang tetap bersikap kaku dan dingin, sedikitnya tidak resah.

Hal ini membuat kecewa Kim Put-hoan malah, ia ingin menghina dan menyiksa lahir batin Kim Bu-bong, maka ia berkata pula dengan tertawa, ¡ "Kau dapat menguntit sampai di sini, dalam hati tentu sangat senang dan mengira kepandaianmu melacak musuh sangat hebat, tapi apakah kau tahu berdasarkan apa dapat kau susul ke sini?¡"

Kim Bu-bong menggeleng.

"Tentu saja engkau tidak tahu. Biarlah kukatakan padamu, tusuk kundai, anting-anting, ikat pinggang, sepatu dan sebagainya itu bukanlah ditinggalkan oleh Pek Fifi melainkan adalah perbuatanku sendiri."

Hm, bagus,"

Jengek Bu-bong. Biarpun tetap bersikap dingin, tidak urung hatinya tergetar juga.

"Sebenarnya hal ini dapat kau pikirkan,"

Kata Kim Put-hoan pula.

"Jika Pek Fifi sudah tertawan olehku, masakah diam-diam ia dapat membuang tusuk kundai dan menanggalkan sepatunya, memangnya aku orang mampus?"

Saat ini seharusnya kau telah menjadi orang mampus,"

Jengek Bu-bong.

"Betul engkau yang melepaskan diriku tempo hari, tapi sama sekali aku tidak menerima kebaikanmu bahwa kau lepaskan diriku, semua itu pun berkat kepandaianku sendiri."

Hm, bagus,"

Dengus Bu-bong.

"Tempo hari kau lepaskan diriku, sekarang aku justru akan mencabut nyawamu. Apakah hatimu tidak sedih? Tidak menyesal? Meski wajahmu tetap dingin dan tenang, mungkin hatimu menyesal sekali?"

Hm, bilakah aku pernah menyesal terhadap apa yang telah kulakukan?"

Sahut Bu-bong.

"Biasanya engkau memang tidak pernah menyesal, tapi hari ini kau pasti menyesal, biasanya engkau tidak kenal menyerah, hari ini mau tak mau kau harus menyerah. Kau anggap tindak tandukmu lain daripada yang lain, tapi setiap gerak-gerikmu selalu berada dalam perhitungan kami."

Apa betul?"

"Kenapa tidak? Coba kau pikirkan, jika kami sengaja memancing kedatanganmu, tentu sudah kami ketahui engkau cuma sendirian dan tidak mungkin diikuti oleh Sim Long ...."

Kalau Sim Long ikut kemari, mustahil muslihatmu bisa berhasil?"

Jengek Bu-bong.

"Memang betul, justru kami yakin Sim Long tidak mungkin ikut kemari, makanya telah kami atur perangkap bagus di sini. Tapi cara bagaimana pula dapat kami ketahui keparat Sim Long itu tidak ikut datang bersamamu?"

Hal ini memang merupakan tanda tanya bagi Kim Bu-bong dan sangat ingin diketahuinya, tapi ia tetap berlagak tak acuh, katanya.

"Cara bagaimana kau dapat, peduli apa denganku?"

Kim Put-hoan jadi melengak.

"Masakah engkau tidak ingin tahu?"

Bu-bong sengaja memejamkan mata dan tak menghiraukannya.

"Biarpun engkau tidak ingin tahu, aku justru mau memberitahukan padamu,"

Kata Put-hoan, ia sengaja hendak memancing kemarahan Kim Bu-bong.

Semakin dingin, semakin tak acuh sikap Bu-bong itu, semakin membuatnya gemas, sampai akhirnya ia sendiri jadi terpancing marah lebih dulu oleh sikap Kim Bu-bong.

Mendadak ia jambret leher baju Bu-bong dan berteriak.

"Supaya kau tahu, sebab sebelumnya kami sudah tahu Sim Long terlibat dalam pertempuran dengan orang Kay-pang, andaikan tidak mati malam ini juga pasti sukar meloloskan diri, sebab organisasi kaum jembel terbesar di dunia Kangouw kini sudah kami ...."

Sejak tadi Ong Ling-hoa hanya memandangi mereka berdua dengan tersenyum, sekarang mendadak ia berdehem dan berucap.

"Sudah, cukup!"

Seketika Kim Put-hoan berhenti bicara dan mengembus napas panjang.

"Bukankah Kim-heng sudah bicara terlalu banyak?üjar Ong Ling-hoa dengan tersenyum. Cepat Put-hoan menjawab dengan menyengir.

"Ya, ya, sudah terlalu banyak kubicara.Ïa dorong Kim Bu-bong sehingga terbanting ke lantai, lalu katanya pula.

"Tapi dia kan orang yang bakal mampus, apa yang didengarnya tentu takkan dikatakan lagi kepada siapa pun, biarpun dia tahu lebih banyak juga tidak menjadi alangan."

Tentu ada alangannya,üjar Ong Ling-hoa.

"Ya, ya, Siaute tidak bicara lagi,"

Jawab Put-hoan.

Dari pembicaraan dan sikap kedua orang itu, tanpa pikir juga Kim Bu-bong tahu Kim Put-hoan telah dapat dibeli oleh Ong Ling-hoa dan kini telah mengekor dan menjadi anteknya.

Kim Put-hoan memang manusia tamak, asalkan ada untung, apa pun dapat dilakukannya.

Jadi hal ini tidak mengherankan Kim Bu-bong, yang diherankan dan membuatnya terkejut adalah Kay-pang ternyata juga sudah berada dalam genggaman Ong Ling-hoa.

Memangnya Kay-pang juga telah dibeli olehnya?

Apakah kematian Tan Kiong dan Auyang Lun juga disebabkan karena kedua sesepuh Kay-pang itu tidak mau tunduk kepada Ong Ling-hoa?

Apa pula maksud tujuan pihak Kay-pang merecoki Sim Long?

Meski wajah Kim Bu-bong tetap dingin dan kaku, hatinya berdebar-debar dan timbul macam-macam dugaan.

Terlihat Ong Ling-hoa lagi bersandar di depan pintu, agaknya sedang menunggu sesuatu.

Selang sejenak, terdengar derap kaki kuda yang berlari cepat dari kejauhan, sesudah berhenti di depan rumah, lalu suara seorang berkata di luar dengan suara tertahan.

"Kongcu, hamba datang melaporkan hasil tugas."

Sudah kau laksanakan tugasmu dengan baik?"

Terdengar Ong Ling-hoa bertanya.

"Hamba sudah mengatur tempat bagi nona Pek sesuai perintah Kongcu, saat ini nona Pek mungkin sudah tertidur,"

Tutur orang itu.

"Bagus, beberapa hari ini tugasmu cukup berat, tentu kau pun lelah, boleh kau datang pada kasir dan minta 50 tahil perak, pergilah istirahat dan berlibur, setengah bulan lagi boleh datang untuk tugas yang lain." ¡ Terima kasih, Kongcu,"

Sahut orang itu dengan gembira.

"Ingat, meski boleh kau gembira sesukamu di luar sana, tapi jangan sekali-kali berbuat onar, terutama jangan sampai seluk-belukmu sampai diketahui orang Kangouw."

Hamba tidak berani,"

Kata orang itu.

"Asal tahu saja, biarpun perguruan kita selalu memperlakukan anak buah dengan baik, tapi bila terjadi pelanggaran tata tertib, maka hukumannya tentu sudah kau tahu sendiri."

Hamba tahu,"

Dengan hormat dan takut orang itu menjawab pula.

"Baiklah, lekas pergi,"

Kata Ong Ling-hoa. Tapi sejenak kemudian mendadak dia berseru pula.

"Kenapa tidak lekas kau pergi? Menunggu apa lagi?"

Ham ... hamba ingin melapor lagi sesuatu ...."

"Apa?"

Bentak Ong Ling-hoa.

"Tio Beng juga datang bersama hamba setelah menyelesaikan tugasnya ke Kunciu."

Jika sudah menunaikan tugasnya, kenapa dia tinggal di luar sana?"

"Tio Beng bilang tidak ... tidak berani menemui Kongcu."

Tidak berani menemuiku? Jangan-jangan dia berbuat sesuatu kesalahan?"

"Pekerjaan Tio Beng ke Kunciu berjalan dengan lancar, hasilnya sudah diangkut pulang. Cuma ada sesuatu urusan yang menyangkut pribadinya, dia mohon kumintakan ampun lebih dulu kepada Kongcu."

Urusan apa, lekas katakan,"

Bentak Ong Ling-hoa pula.

"Tio Beng dan ... dan gadis gembala bawahan Thayhujin (nyonya besar) yang bernama Peng-ji ada hubungan erat, keduanya sudah suka sama suka, maka ... maka ... sekarang Peng-ji telah mengandung dan ...."

Hm, tidak perlu bicara lagi, aku sudah tahu,"

Jengek Ong Ling-hoa. Sejenak kemudian ia menambahkan dengan tersenyum.

"Sebenarnya hal ini adalah urusan yang menyenangkan kenapa dia tidak berani menemuiku? Lekas panggil dia kemari.Ücapan Ong Ling-hoa ini agaknya di luar dugaan orang itu, sesudah terdiam sejenak, lalu terdengar seorang muda bersuara di luar.

"Hamba Tio Beng menyampaikan sembah hormat kepada Kongcu.Öng Ling-hoa tersenyum, katanya.

"Sudah kuketahui urusanmu. Tak tersangka orang yang kelihatan lugas seperti dirimu juga romantis, orang muda sok iseng, adalah lumrah dan wajar."

Seketika Tio Beng tidak tahu arti ucapan sang majikan, terpaksa ia cuma mohon ampun berulang. Dengan tertawa Ong Ling-hoa berkata pula.

"Sehari-hari Peng-ji itu kelihatan alim dan dingin, tak tersangka dapat jatuh hati padamu, tampaknya tidak kecil kepandaianmu dan harus kunilai dirimu secara lain."

Karena girangnya, Tio Beng menjawab.

"Kata pepatah, di bawah panglima tangguh tidak ada prajurit lemah. Hamba mempunyai majikan sebagai Kongcu, dengan sendirinya ...."

Hah, bagus sekali pepatah yang kau kemukakan, kiranya perbuatanmu adalah meniruku ...."

Belum habis ucapannya sekonyong-konyong Ong Ling-hoa melompat keluar dengan cepat, terdengar ucapannya yang terakhir berubah menjadi dingin dan ketus.

"Hm, berdasarkan apa kau berani meniruku ...."

Sampai di sini lantas terdengar kumandang jeritan Tio Beng di luar, lalu Ong Ling-hoa sudah kembali bersandar di samping pintu seperti tadi seolah-olah tidak pernah terjadi sesuatu.

Suasana kembali sunyi senyap.

Setelah menghela napas, lalu Ong Ling-hoa memberi perintah.

"Bawa pergi mayat Tio Beng dan dikubur sebagaimana mestinya. Ambil juga 200 tahil perak pada kasir, kirimkan kepada Peng-ji, katakan Tio Beng gugur dalam tugasnya di Kunciu."

Dengan suara gemetar orang tadi mengiakan.

Menyaksikan kejadian ini, mau tak mau pikiran Kim Bu-bong bergolak.

Baru diketahuinya sekarang sindikat pimpinan Ong Ling-hoa itu sedemikian besarnya dan juga sedemikian rapinya, betapa keras disiplinnya sungguh mengejutkan orang.

Namun anak muda sebagai Ong Ling-hoa ternyata juga dapat bertindak tegas dan bijaksana, hukum dan pahala dapat dibedakan dengan jelas, sungguh perbawa seorang pemimpin yang besar.

Baru sekarang Kim Bu-bong merasa selama ini telah menilai rendah pribadi Ong Ling-hoa, tak tersangka sedemikian besar ambisi anak muda itu.

Tidak perlu diragukan lagi anak muda ini kelak akan merupakan bibit bencana dunia Kangouw, jika tidak ditumpas sekarang, selanjutnya pasti akan terjadi gelombang besar.

Tiba-tiba angin meniup.

Dengan tertawa Ong Ling-hoa berkata.

"Bagus, kau pun sudah pulang!"

Belum lenyap suaranya, bayangan orang berkelebat, tahu-tahu di ruang rumah berhala ini sudah bertambah dengan seorang lelaki kekar berbaju hitam.

Diam-diam Kim Bu-bong terkejut pula, tak tersangka anak buah Ong Ling-hoa ada yang memiliki Ginkang setinggi ini, entah siapa pula orang ini?

Perawakan orang ini kelihatan kurus kecil, tapi sekujur badan terbungkus rapat oleh baju hitam, sampai kepala juga memakai kerudung kain hitam, hanya kedua matanya kelihatan gemerdep.

Dengan tajam orang itu memandang Kim Bu-bong sekejap, lalu berseru dengan tertawa.

"Aha, bagus! Tak tersangka kau tiba lebih dulu daripadaku."

Kiranya kau pun kenal dia?"

Tanya Ong Ling-hoa.

"Tadi kugunakan akal untuk meloloskan diri, keparat ini dan Sim Long juga bermaksud menipuku dengan akal bulusnya, untung aku tidak terjebak olehnya,"

Tutur si baju hitam dengan tertawa bangga.

"Wah, jika kau tertipu, bisa repot,üjar Ong Ling-hoa. Sekarang juga Kim Bu-bong baru tahu si baju hitam ini adalah orang yang hendak dikejar Sim Long tadi.

"Dan mengapa baru sekarang kau pulang ke sini?"

Tanya Ong Ling-hoa.

"Keparat ini memang benar telah pergi, tapi bocah she Sim itu justru tetap berjaga di sana, dia sangat sabar, selama aku bersembunyi tanpa bergerak, dia juga tetap berdiam tanpa bergerak."

Betul, bocah she Sim itu memang sabar sekali,üjar Ling-hoa dengan tertawa. Si baju hitam tersenyum.

"Tapi nona Cu itu justru tidak tahan, sepanjang jalan ia berkaok-kaok memanggil orang she Sim, karena merasa tidak dapat bersembunyi lagi, terpaksa dia juga angkat kaki."

Jika demikian, harus kau terima kasih kepada nona Cu itu,ücap Ong Ling-hoa dengan tertawa.

"Betul, kalau tidak ada dia, mungkin sampai saat ini aku belum dapat melepaskan diri dari sana,üjar si baju hitam. Ong Ling-hoa memandang cuaca di luar, lalu berkata pula.

"Menurut waktunya, saat ini orang Kay-pang pasti sudah saling gebrak dengan bocah she Sim.

Dan entah bagaimana hasilnya?"

Tukas Kim Put-hoan.

"Kalau cuma kekuatan kawanan jembel itu saja mungkin sukar menghadapi Sim Long, aku memang tidak menaruh harapan muluk-muluk dalam hal ini, namun nasib Ji Yok-gi jelas sudah dapat dipastikan tamat."

Dan jika ... jika Sim Long tahu ...."

"Mau apa biarpun tahu?üjar Ong Ling-hoa dengan tertawa.

"Malahan dapat kuperalat dia untuk saling labrak dengan pihak Kay-pang, yang kepala pusing adalah orang Kay-pang, sama sekali tidak ada sangkut pautnya dengan kita."

Kim Put-hoan menghela napas.

"Perhitungan Kongcu yang jitu sungguh sangat mengagumkan."

Begitulah mereka terus bicara sendiri seakan-akan tidak terdapat seorang Kim Bu-bong yang hadir di situ.

Diam-diam Bu-bong menghela napas, ia tahu nasib dirinya pasti akan ditamatkan oleh mereka.

Api unggun telah ditambahi kayu sehingga berkobar dengan keras.

Dari luar justru ada cahaya terang yang menyorot ke dalam, nyata fajar sudah tiba.

Ong Ling-hoa mondar-mandir di dekat pintu dan berulang bergumam.

"Seharusnya sudah pulang ... seharusnya sudah pulang."

Selang tidak lama, di tengah tiupan angin dingin benar juga berkumandang suara langkah orang berlari. Serentak si baju hitam melompat bangun dan berseru.

"Betul, sudah pulang dia!"

Tidak lama kemudian suara langkah orang itu semakin dekat.

Lalu masuklah tiga orang pengemis.

Yang di depan berambut ubanan, mukanya merah bercahaya, pada punggungnya menyandang delapan atau sembilan buah karung goni.

Segera Kim Bu-bong mengenali pengemis tua ini sebagai Co Kong-liong, salah seorang di antara Kay-pang-sam-lo, sungguh tak terduga olehnya Co Kong-liong yang biasanya terkenal berbudi luhur dan suka membela kaum tertindas itu sekarang berkomplot dengan Ong Ling-hoa.

Tampaknya Ong Ling-hoa cukup menghormati Co Kong-liong, dengan tersenyum ia memberi salam.

"Pangcu tentu sudah lelah."

Co Kong-liong bergelak tertawa.

"Ah, janganlah Kongcu menyebut demikian padaku, apakah aku dapat menjabat Pangcu atau tidak belum dapat dipastikan. Sebutan Kongcu ini terasa membikin kikuk padaku."

Meski saat ini Co-heng belum naik singgasana terhormat, namun kedua penyakit itu sudah tertumpas, apalagi diam-diam dibantu oleh Ong-kongcu, bukankah kedudukan Pangcu itu pasti sudah menjadi isi kantong Co-heng?"

Demikian Kim Put-hoan ikut menyanjung.

"Ah, terima kasih,"

Kata Co Kong-liong dengan tertawa.

"Kelak bila benar kujadi Kay-pang Pangcu, salah satu kursi sesepuhnya pasti akan kuberikan kepada Kim-heng."

Memangnya berapa besar gaji seorang sesepuh?"

Tanya Kim Put-hoan dengan tertawa.

"Wah, jangan Kim-heng bergurau,üjar Co Kong-liong.

"Memangnya berapa yang Kim-heng minta takkan kupenuhi?"

Hahaha, jika begitu terima kasihlah sebelumnya,"

Kim Put-hoan terbahak-bahak.

"Dan entah bagaimana hasil perjalanan Pangcu sekali ini?"

Tanya Ling-hoa.

"Meski tidak sempurna, tapi juga cukup memuaskan,"

Sahut Co Kong-liong, lalu ia menuturkan apa yang terjadi.

"Jika Ji Yok-gi sudah tercincang lima belas kali bacokan, biarpun malaikat dewata juga sukar menyelamatkan jiwanya,üjar Ling-hoa.

"Dan bagaimana dengan Sim Long?"

Cepat Put-hoan ikut bertanya.

"Sim Long belum lagi mampus,"

Kata Co Kong-liong dengan menyesal.

"Sungguh tak tersangka keparat ini bisa panjang umur,"

Seru Kim Put-hoan dengan gemas.

Selama hidupnya orang yang paling ditakutinya ialah Sim Long, meski biasanya dia suka membikin orang pusing kepala tapi bila berhadapan dengan Sim Long, yang pasti kepala pusing ialah dia sendiri.

Sebab itulah siang dan malam dia berharap Sim Long lekas mati, siapa tahu sebegitu jauh Sim Long justru tidak mati.

Padahal yang mengharapkan kematian Sim Long juga tidak cuma dia seorang saja.

Mendadak Ong Ling-hoa berkata dengan tertawa.

"Kukira Kim-heng tidak perlu kecewa, hari ini tahun depan kukira adalah ulang tahun kematian Sim Long."

Betul?"

Put-hoan menegas.

"Bilakah aku pernah sembarangan omong?"

Wah, entah akal bagus apalagi yang telah Kongcu atur?"

"Dalam waktu satu jam Sim Long pasti juga akan datang kemari."

Bagaimana Kongcu yakin pasti akan terjadi?"

Tanya Co Kong-liong.

"Apa pun juga dia kan ingin mencari jejak Kim Bu-bong dan Pek Fifi, betul tidak?"

Betul,"

Sahut Kim Put-hoan.

"Tapi di manakah Kim Bu-bong dan Pek Fifi saat ini, sama sekali dia tidak mempunyai sesuatu petunjuk, untuk ini tentu dia akan berusaha dengan segala macam jalan. Coba, jika Kim-heng menjadi dia, jalan mana yang akan kau tempuh?"

Ini ... ini ...."

Kim Put-hoan tidak dapat menjawab.

"Jika aku, tentu akan kuikuti jejak kawanan pengemis, umpama tidak dapat menemukan Kim Bu-bong, sedikitnya akan kuketahui apa-apa yang dikerjakan kawanan pengemis itu."

Betul, dengan demikian akhirnya dia akan sampai di sini, lantas bagaimana?"

"Tinggi ilmu silat orang ini sungguh sukar dijajaki, sebab itulah kita harus menghadapi dia dengan akal dan tidak boleh melawan dia dengan tenaga, betapa pun harus kita bikin dia dapat datang dan tak bisa pergi,"

Tutur Ong Ling-hoa.

"Namun keparat itu juga cukup cerdik,üjar Kim Put-hoan dengan kening bekernyit.

"Bagaimana dengan kecerdikan Kim Bu-bong? Bukankah saat ini dia juga meringkuk di bawah kakiku?üjar Ong Ling-hoa dengan tertawa.

"Kalau Kim Bu-bong dapat kita jebak, apakah Sim Long tidak dapat kita tipu?"

Mendadak Kim Bu-bong mendengus.

"Hm, betapa cerdik Sim Long sedikitnya ratusan kali di atasku, hanya sedikit permainan kalian ini ingin menipu dia? Huh, jangan mimpi!"

Umpama akal ini gagal kan masih ada lagi akal kedua,"

Kata Ong Ling-hoa sambil menatap Kim Bu-bong, sorot matanya menampilkan sinar kebencian, sambungnya.

"Bilamana akalku yang kedua kugunakan rasanya perlu juga kupinjam sesuatu barang dari tubuhmu."

Dengan murka Kim Bu-bong berteriak.

"Setelah jatuh di tanganmu, orang she Kim sudah tidak pikirkan akan hidup lagi, tapi ... tapi jika kalian ingin menghina diriku, betapa pun aku ...."

Ah, Kim-tayhiap mahacerdik dan merupakan orang berbakat yang sukar dicari, mana aku berani berlaku kurang hormat padamu,üjar Ong Ling-hoa dengan tertawa.

"Cuma, perlu juga diingat, kini Kim-tayhiap sudah jatuh di tanganku, bilamana ingin kuhina dirimu, memangnya apa yang dapat kau lakukan?"

Haha, tepat sekali,"

Sela Kim Put-hoan dengan berkeplok.

"Kim Bu-bong, tentu sekarang kau tahu telah ketemu batunya! Kau dapat menggertak diriku, memangnya dapat kau gertak Ong-kongcu kita. Meski Sim Long adalah sahabatmu, tapi dalam pandangan Ong-kongcu boleh dikatakan Sim Long tidak ada harganya, meski kau pun satu di antara keempat duta Koay-lok-ong, tapi Koay-lok-ong dalam pandangan Ong-kongcu juga ...."

Sudah, cukup,"

Potong Ong Ling-hoa mendadak, ia tersenyum, lalu menyambung pula.

"Bicara tentang Koay-lok-ong, aku jadi teringat ada sesuatu hal belum kuberi tahukan padamu. Yaitu tentang kawanmu Tau-hiang-sucia, meski dia juga pernah kutawan, tapi sudah kubebaskan dia lagi. Hal ini bukan karena mendadak timbul rasa kasihanku kepadanya, tapi karena ... karena apa, dapatkah Kim-tayhiap menerkanya?"

Kim Bu-bong mengertak gigi, dan tidak bersuara. Ong Ling-hoa bergelak tertawa.

"Hahaha, sebabnya kulepaskan dia kembali ke sana agar supaya dia dapat melapor kepada Koay-lok-ong bahwa engkau telah berkhianat padanya .... Cara bagaimana Koay-lok-ong memperlakukan anak buahnya yang berkhianat tentu kau sendiri jauh lebih jelas daripadaku."

Kim Put-hoan terkekeh, tukasnya.

"Makanya sekarang kau jatuh di tangan Ong-kongcu boleh dikatakan mujur."

Angin mendesir, mendadak Ong Ling-hoa berpaling dan memandang ke luar, gumamnya.

"Wahai Sim Long, mengapa engkau belum lagi datang? Sungguh aku jadi agak rindu padamu ...." ***** Dalam pada itu Cu Jit-jit dan Sim Long sedang menghadapi kesulitan mencari jejak Kim Bu-bong. Sim Long sedang menatap ke kejauhan sana, sampai lama masih termangu.

"Hei, bicaralah, bagaimana menurut pendapatmu?"

Seru Jit-jit. Perlahan Sim Long berkata.

"Tampaknya kawanan pengemis itu juga kabur ke arah sana hal ini terbukti bekas tapak kaki yang masih baru di atas salju."

He, aneh juga, bukankah kau bilang paling penting mencari Kim-toako, memangnya ada sangkut paut apa soal bekas tapak kaki kawanan pengemis itu dengan Kim-toako?"

Tanya si nona.

"Kim Bu-bong menghilang tanpa ketahuan ke mana perginya, jelas arah yang ditempuh kawanan pengemis satu arah dengan dia,"

Tutur Sim Long.

"Maka, jika kita mengejar ke sana menurut jejak kawanan pengemis itu, bisa jadi secara kebetulan akan dapat kita temukan Kim Bu-bong."

Aha, tepat, engkau memang pintar,"

Seru Jit-jit sambil berkeplok.

"Jika kita mengejar ke sana mengikuti jejak ini, umpama tidak berhasil menemukan Kim-toako kan dapat menyusul kawanan pengemis itu untuk ditanyai rahasia itu."

Betul,"

Kata Sim Long. Walaupun demikian katanya, namun dia tetap tidak bergerak. Jit-jit menjadi gelisah.

"Sudah bilang betul, mengapa kita tidak lekas berangkat saja?"

Tapi berangkat begini saja juga kurang aman,üjar Sim Long.

"Apanya yang kurang aman?"

Tanya Jit-jit.

"Pek Fifi diculik orang, bisa jadi ada sangkut pautnya dengan kedatangan kawanan pengemis tadi, pemberontakan di dalam Kay-pang serta rahasia yang dimaksudkan Ji Yok-gi, mungkin juga menyangkut diri Kim Put-hoan .... Berbagai hal ini tampaknya tiada sangkut paut satu sama lain, padahal sangat mungkin dikemudikan oleh satu orang yang sama, dan orang ini bisa jadi ialah ...."

Bisa jadi siapa? Koay-lok-ong ... atau Ong Ling-hoa?"

Tanya Jit-jit.

"Betul, pasti Ong Ling-hoa adanya."

Umpama betul Ong Ling-hoa, lantas bagaimana?"

"Jika betul semua ini dikemudikan oleh Ong Ling-hoa, pengejaran kita ke sana menurut jejak kawanan pengemis ini pasti akan berakibat jatuh ke dalam perangkapnya. Bocah she Ong ini sangat licik dan licin, pintar dan cerdik, apabila gerak-gerik kita sampai terduga olehnya, sepanjang jalan kita pasti pusing kepala menghadapi berbagai perangkap berbahaya, sebab itulah setiap langkah kita harus dilakukan dengan prihatin dan hati-hati."

Habis berkata, segera ia melangkah ke depan diikuti si nona.

Walaupun jalan tertimbun salju hingga sebatas betis, angin meniup dingin, tapi perjalanan ini tidak dirasakan sulit bagi Sim Long dan Jit-jit.

Sampai akhirnya di tengah desir angin dingin itu tercium bau sedap daging.

Terbeliak mata si nona, ucapnya tertawa.

"Aha, di sini ada juga seekor kucing rakus, hari belum terang sudah masak daging."

Di tempat terpencil begini dan di bawah hujan salju dan dingin ternyata ada bau sedap daging rebus, apakah hal ini tidak kau rasakan aneh?üjar Sim Long.

"Apanya yang aneh? Orang yang rakus setiap saat ingin makan dan di mana pun terdapat orang rakus begini,"

Kata Jit-jit.

Sim Long memandangnya sekejap sambil tersenyum dan menggeleng tanpa bicara lagi.

Pada saat itulah sebuah Suteng atau rumah berhala bobrok sudah tertampak di kejauhan.

Jejak kawanan pengemis itu pun lenyap di depan Suteng.

Memangnya mereka sama masuk ke rumah berhala ini?

Jit-jit tidak bisa tertawa lagi, ucapnya dengan kening bekernyit.

"Aneh, memang aneh!"

"O, kau pun bisa merasa heran?üjar Sim Long.

"Bau sedap daging tersiar dari rumah berhala ini, siapa yang masak daging ini? Mungkinkah anak murid Kay-pang? Jika benar, mengapa mereka bisa hidup senang dan adem ayem begini tanpa menghiraukan gejolak perkumpulan mereka?"

Sesuatu yang berbahaya, dipandang dari luar biasanya kelihatan adem ayem, apa yang kau lihat sebagai ketenangan ini bukan mustahil adalah perangkap maut yang sedang menunggu mangsanya."

"Tapi cuma daging rebus saja masakah terhitung perangkap? Jangan-jangan ada racun di dalam daging, umpama beracun, asalkan kita tidak makan, dia bisa apa?"

Hah, terkadang kau pun sangat pintar ...."

"Dan sering juga sangat bodoh, begitu bukan maksudmu?ömel Jit-jit.

"Tepat juga terkaanmu sekali ini,"

Sim Long tertawa.

"Di dunia ini cuma ada seorang pintar, yaitu dirimu, tentu saja orang lain sama bodoh."

Gerundel Jit-jit dengan mendongkol.

Meski mengomel di mulut, tapi di dalam hati dia tidak marah.

Selama sehari ini terus-menerus Sim Long mengomeli dia, untuk pertama kali ini dilihatnya Sim Long tertawa.

Asalkan anak muda itu tidak marah lagi padanya, biarpun dia dimaki sebagai gadis goblok juga dia rela.

Biarpun dalam hati merasa senang, di luar dia tetap berlagak marah, maklumlah hati anak perempuan.

Ketika ia melirik lagi anak muda itu, dilihatnya Sim Long sedang memandang rumah berhala itu dengan termangu dan tanpa bergerak.

"He, ada apa?"

Tanya Jit-jit.

"Masakah kita harus berdiri melulu di sini, umpama di dalam ada perangkap juga harus kita periksa, kenapa takut?"

Sim Long memandang si nona, lalu memandang pula rumah berhala itu, katanya kemudian dengan perlahan.

"Aku akan coba masuk ke sana, kau tunggu saja di sini."

Jit-jit melotot, mestinya dia tidak mau, tapi demi melihat kesungguhan Sim Long, ia menghela napas, seperti penasaran ia berkata.

"Baiklah, terserah padamu."

Sim Long tersenyum.

"Inilah baru anak perempuan penurut .... Kalau terjadi sesuatu di dalam nanti akan segera kuberi tahukan padamu .....Ïa tidak melakukan gerak cepat, tapi melangkah ke sana dengan perlahan. Baru saja anak muda itu melangkah beberapa tindak, mendadak Jit-jit memanggilnya.

"Hei, tunggu!"

Sim Long menoleh dengan kening bekernyit.

"Jangan ... jangan terlalu lama harus kutunggu di sini,"

Kata Jit-jit.

Sim Long menggeleng-geleng kepala.

Akhirnya dia masuk juga ke rumah berhala itu.

Meski dia tidak tahu di rumah berhala inilah Kim Bu-bong terjebak dan tertawan dan meski tidak diketahuinya bahwa Ong Ling-hoa masih hendak menjebaknya seperti apa yang terjadi atas diri Kim Bu-bong, tapi agaknya Sim Long sudah mempunyai firasat tidak enak, ia tahu Suteng atau rumah berhala ini adalah tempat tidak baik, maka ia melangkah dengan sangat perlahan.

Tapi apa pun juga akhirnya ia masuk ke situ.

Jit-jit menyaksikan Sim Long masuk ke rumah berhala itu, semula ia penasaran karena ditinggalkan, tapi begitu bayangan Sim Long menghilang di balik pintu, seketika jantungnya berdebar.

Semakin dipikir semakin dirasakan di dalam rumah berhala itu pasti ada perangkap, perangkap maut.

Kalau tidak, fajar baru menyingsing, mengapa sudah ada orang merebus daging di sini, cuma perangkap apa, sukar diterkanya.

Ia pikir jangan-jangan ada orang bersembunyi di dalam dan hendak membius Sim Long, dengan daging rebus ini sebagai umpan agar tidak dirasakan oleh anak muda itu.

Ya, pasti demikian, harus cepat kucegah dia, kalau tidak, bukan mustahil segera dia akan terjebak.

Berpikir demikian segera ia hendak berlari ke dalam rumah berhala itu, tapi baru sebelah kaki bergerak, segera ia berhenti lagi.

Dirasakan jalan pikirannya itu pun tidak betul.

Dengan hidung Sim Long yang tajam mustahil tidak dapat membedakan bau obat bius segala, mana bisa Ong Ling-hoa menggunakan cara sederhana begini untuk menjebak Sim Long?

Ong Ling-hoa cukup kenal kemampuan Sim Long, muslihat yang akan digunakannya untuk menjebak Sim Long pasti akal yang mahalicin, akal jahat yang tak terbayangkan oleh siapa pun.

Lantas akal jahat apakah?

Mungkinkah begitu Sim Long masuk ke situ lantas dihujani anak panah sehingga anak muda itu kelabakan dan tidak mampu mengelak?

Ah, tidak, hal ini juga terlalu naif, mustahil bisa menjebak Sim Long.

Begitulah macam-macam kekhawatiran berkecamuk dalam benaknya, makin dipikir makin kusut.

Ia pandang rumah berhala itu dengan gelisah dan menantikan entah apa yang akan terjadi.

Tapi sudah sekian lamanya Sim Long masuk ke situ dan ternyata tidak terdengar sesuatu suara apa pun.

Jangankan suara teriakan dan bentakan, sampai suara orang berdehem juga tidak terdengar, sama sekali tidak ada sesuatu suara.

Kesunyian demikian terlebih menyeramkan dan menakutkan orang.

Angin lagi meniup, hawa dingin.

Cu Jit-jit menggigit bibir dan menggosok-gosok tangan, hampir gila saking gelisahnya.

Selang sekian lama pula, tetap tidak ada sesuatu suara, suara kentut pun tidak terdengar.

Tambah cemas Jit-jit, betapa kejinya Ong Ling-hoa sudah diketahuinya, kalau Sim Long terjebak, seharusnya dia bersuara seperti janjinya tadi.

Namun suasana tetap sunyi, sungguh Jit-jit tidak tahan lagi, ia menjadi nekat, secepat terbang ia menerjang ke dalam rumah berhala itu.

Remang fajar sudah berubah menjadi terang benderang, keadaan dalam rumah berhala ini kelihatan misterius, seram dan beralamat tidak enak.

Api unggun belum lagi padam, cuma apinya sudah sangat kecil.

Di atas api masih ada daging, lantaran api sudah kecil sehingga daging panggang tidak menjadi hangus.

Tabir meja sembahyang yang sudah luntur itu telah terobek, entah ditarik siapa, lagi bergerak tertiup angin di lantai.

Meja sembahyang sudah roboh terdepak dan juga entah didepak siapa, antara api unggun dan meja terguling itu ada genangan air hitam.

Hah, bukan air, tapi darah, darah segar.

Rumah berhala yang memang bobrok kelihatan tambah seram.

Sim Long yang tadi jelas-jelas masuk ke situ tidak kelihatan lagi bayangannya.

Tidak ada seorang pun, bayangan setan juga tidak ada.

Lantas ke mana Sim Long?

Apakah sudah masuk perangkap musuh dan terbunuh?

Jilid 18 Saking cemasnya Jit-jit lantas berteriak.

"Sim Long ...."

Jeritan melengking tajam ini memecah kesunyian angkasa, tapi hanya sekejap saja lantas berhenti sebab kerongkongan Jit-jit serasa seperti tercekik.

Soalnya mendadak dari kolong meja sembahyang yang terguling itu menongol keluar sebuah kepala.

Kepala Sim Long.

Begitu kepala Sim Long menongol keluar, seketika mengkeret lagi.

Secepat terbang Jit-jit memburu maju, dirangkulnya leher Sim Long, di samping terkejut tentu saja ia pun kegirangan, dengan napas terengah ia menggerundel, ¡O, engkau berada di sini, syukurlah tidak terjadi apa-apa.

Kenapa engkau tidak bersuara, sungguh aku khawatir setengah mati.¡"

Tubuh Sim Long tidak bergerak, dengan dingin ia membentak.

"Menyingkir!"

Jit-jit melengak dan melepaskan rangkulannya.

Betapa pun Sim Long marah padanya tidak pernah anak muda itu menghardiknya seperti sekarang ini.

Setelah melepaskan tangannya, matanya menjadi merah pula, sedemikian dia berkhawatir bagi Sim Long, tapi apa yang diperolehnya adalah hardikan.

Remuk redam hatinya, ia menyurut mundur dengan menggigit bibir, air mata pun bercucuran.

Sebaliknya Sim Long sama sekali tidak memandangnya melainkan menatap ke depan sana.

Apa yang dipandang Sim Long, Jit-jit sendiri tidak tahu.

Yang terlihat oleh si nona sekarang hanya Sim Long melulu, sambil mengusap air mata ia membatin.

"Baiklah, Sim Long, begini keras engkau terhadapku, biarlah ... biarlah seterusnya aku takkan menemuimu lagi."

Walaupun begitu pandangannya tetap tidak pernah berpisah dengan anak muda itu.

Jika mau dikatakan Sim Long pemuda yang baik, di mana kebaikannya juga tak dapat dijelaskan olehnya.

Bicara tentang keterusterangan dia tidak melebihi Him Miau-ji, bicara tentang pendiam, dia juga tak dapat menandingi Kim Bu-bong, soal ketampanan dan pengertiannya terhadap anak perempuan, jelas dia juga kalah daripada Ong Ling-hoa.

Tapi entah mengapa, dalam pandangan Jit-jit cuma ada Sim Long seorang, melihat dia, hatinya lantas senang, kalau tidak melihatnya, sepanjang hari dia akan murung.

Sungguh ia tidak berani membayangkan bilamana selanjutnya tidak bertemu dengan Sim Long akan bagaimana jadinya dia?

Seketika bergolaklah pertentangan batinnya, saking kesalnya ia menangis dan berteriak.

"Sim Long kubenci padamu, kubenci ...."

Namun Sim Long tidak mau memandangnya, tetap menatap ke depan sana. Hancur hati Jit-jit, dengan suara serak ia berteriak.

"Kau orang mampus, ayolah bicara, kau ... kau ...."

Didorong emosi, tanpa pikir tangannya melayang.

"plak", muka Sim Long digamparnya sekali. Tapi anak muda itu seperti tidak merasakan apa pun, tetap tidak bergerak, wajah yang menyenangkan dan juga dibencinya itu telah bertambah sebuah cap tangan yang merah. Pedih hati Jit-jit, cemas dan juga menyesal, kembali ia menangis dengan sedih. Namun Sim Long tetap tidak menghiraukannya. Entah menangis berapa lama lagi, lambat laun suara tangis Jit-jit menjadi lirih. Tiba-tiba terdengar Sim Long berucap dengan suara halus.

"Sudah ... sudah baikkah engkau?"

Jit-jit menjadi girang, ia pikir betapa pun Sim Long tetap memerhatikan diriku. Tapi lantas terdengar anak muda itu menyambung lagi.

"Kim-heng, hendaknya kau tahan sekuatnya."

Nyata sasaran bicara Sim Long bukan dirinya.

Kembali Jit-jit kecewa dan juga heran, waktu ia angkat kepala, barulah diketahuinya di sebelah Sim Long masih berbaring satu orang.

Jelas Kim Bu-bong adanya.

Kim Bu-bong berbaring telentang di tengah genangan darah, kedua matanya terpejam rapat, mukanya pucat seperti kertas, napasnya sangat lemah, nyata dia dalam keadaan sekarat.

Mengapa keadaan rumah berhala ini bisa berubah menjadi begini?

Apa yang terjadi atas diri Kim Bu-bong?

Ke mana perginya Ong Ling-hoa dan Kim Put-hoan?

Bahkan ada yang lebih mengejutkan Jit-jit ketika dilihatnya lengan kanan Kim Bu-bong telah buntung.

Sekujur badannya berlumuran darah.

Tak tahan lagi Jit-jit menjerit kaget.

Pantas Sim Long tidak menghiraukan dia, kiranya saat ini Sim Long sedang berusaha menyelamatkan Kim Bu-bong dengan menyalurkan hawa murninya.

Sekujur badan Jit-jit menjadi gemetar, serunya.

"Oo, Kim-toako, meng ... mengapa engkau jadi begini? Siapa ... siapa yang mencelakaimu?Ïa meratap, tapi rasanya sudah lelah, terpaksa ia cuma menggigit bibir, air mata lantas bercucuran lagi. Sekali ini dia mencucurkan air mata bagi Kim Bu-bong. Diam-diam ia berdoa di dalam hati semoga jiwanya selamat. Sampai sekian lamanya, akhirnya terdengar suara rintihan Kim Bu-bong yang sangat lemah. Baru sekarang Sim Long merasa lega, mukanya penuh keringat, tersembul senyuman pada ujung mulutnya, ia menghela napas, nyata besar harapan Kim Bu-bong dapat ditolongnya. Tanpa terasa fajar sudah menyingsing. Lambat laun napas Kim Bu-bong juga mulai lancar. Jit-jit menggenggam kedua tangannya dengan erat, dia seakan-akan ikut berjuang bersama Kim Bu-bong melepaskan diri dari maut. Akhirnya Kim Bu-bong membuka matanya. Namun sorot matanya kelihatan buram, ia memandang hampa sekitarnya, kemudian hinggap pada wajah Sim Long, sekuatnya ia bersuara.

"Sim ... Sim-heng ...."

Jangan bicara, Kim-heng,üjar Sim Long. ¡Istirahat dulu, bereslah segala urusan, tidak berbahaya lagi.¡"

Kim Bu-bong tidak bersuara lagi.

Namun pandangannya cukup menampilkan rasa pedih, duka, penasaran dan juga terima kasih dan gembiranya.

Dia telah diseret kembali dari renggutan elmaut, sahabat karibnya menunggu di sampingnya.

Pertarungan sengit tadi sungguh rasanya seperti habis mimpi buruk saja.

Tapi juga dirasakan pertarungan sengit tadi dan darah yang dicucurkannya cukup berharga.

Kalau tidak ada pertempuran sengit tadi, mungkin sekali saat ini Sim Long sudah terjebak oleh tipu muslihat Ong Ling-hoa.

Perlahan Jit-jit mendekatkan kepalanya ke telinga Kim Bu-bong dan memanggil.

"Kim-toako ....."

Menyingkir dulu, jangan mengganggunya,"

Kata Sim Long. Jit-jit mendongkol, katanya.

"Aku tidak mengganggunya, aku ingin memberi obat padanya."

Segera ia meraba bajunya dan mengeluarkan sebungkus obat bubuk.

"Obat apa itu?"

Tanya Sim Long.

"Obat luka,"

Tutur Jit-jit.

"Konon obat ini cuma ada di istana raja, obat simpanan ayahku, waktu kuberangkat telah kucuri satu bungkus ...."

Bawa sini,"

Kata Sim Long. Jit-jit menyerahkan obatnya dan berkata.

"Separuh diminum, separuh lagi dibubuhkan pada lukanya."

Obat itu memang mujarab, hanya sebentar setelah minum obat, air muka Kim Bu-bong lantas berubah agak merah.

Jit-jit sibuk menambahkan kayu sehingga api unggun berkobar lagi.

Kim Bu-bong tampak membentangkan matanya lagi dan memandang Sim Long dengan rasa terima kasih yang tak terhingga, namun di mulut tidak berucap terima kasih melainkan cuma bilang.

"Bagus, akhirnya engkau datang."

Sim Long juga tertawa.

"Ya, aku sudah datang .... Hendaknya engkau jangan bicara, istirahat dan kumpulkan tenaga dulu."

Jangan khawatir, aku takkan mati.üjar Bu-bong. Waktu melihat Jit-jit, ia tertawa, habis itu sorot matanya menjadi beringas lagi dan berseru dengan parau.

"Ong Ling-hoa, di mana bangsat itu?"

"Tidak kulihat dia,"

Kata Sim Long.

"Bangsat itu ....ücap Bu-bong dengan gemas.

"Biarpun dia melukaiku, tapi dia sendiri juga merasakan kelihaianku."

Jangan banyak bicara dulu, Kim-heng,"

Kata Sim Long pula. Tapi Bu-bong menggeleng perlahan.

"Tidak, bila tidak kuceritakan kejadian ini, hatiku akan terasa tidak enak. Setelah kukejar sampai di sini, kucium bau sedap daging panggang, segera kumasuk ke rumah berhala ini, siapa tahu mereka telah memasang perangkap di sini, begitu masuk kemari segera aku terjebak."

Segala apa tidak dapat mengelabui Sim Long, begitu mencium bau daging segera itu tahu ...."

"Jangan menimbrung,"

Potong Sim Long sebelum lanjut ucapan Jit-jit.

Mestinya si nona ingin memuji Sim Long, hasilnya malah diomeli, keruan ia mendongkol, dengan mulut yang menjengkit ia melengos.

Didengarkan Kim Bu-bong lagi bercerita.

"Waktu itu Hiat-toku tertutuk dan tak bisa berkutik, kawanan bangsat itu memandang diriku sebagai ikan di dalam jaring dan pasti akan menjadi mangsa mereka, sebab itulah mereka bicara segala apa pun di hadapanku tanpa khawatir akibatnya. Ketika itulah dapat kuketahui betapa licin bangsat she Ong itu dan betapa luas pengaruhnya yang sama sekali di luar dugaan."

Orang ini memang sangat cerdas dan pintar, cuma sayang justru tersesat oleh kepintarannya sendiri,üjar Sim Long dengan menyesal.

"Kemudian datanglah Co Kong-liong, salah seorang sesepuh Kay-pang,"

Sambung Bu-bong.

"Sehari-hari keparat ini berlagak berbudi luhur, siapa tahu dia juga telah dibeli oleh Ong Ling-hoa, tujuannya tiada lain hanya karena kemaruk pada kedudukan Pangcu saja."

Aha, rahasia Ji Yok-gi ternyata ada sangkut pautnya dengan Ong Ling-hoa,"

Kata Sim Long.

"Ji Yok-gi?"

Bu-bong menegas.

"Dia mempunyai rahasia apa?"

Rahasia yang dimaksudkannya agaknya mengenai pengkhianatan sesepuh Kay-pang itu ...."

Lalu Sim Long menceritakan apa yang terjadi atas diri Ji Yok-gi. Bu-bong termenung sejenak, katanya kemudian.

"Tempo hari dia dan Kay-pang-sam-lo tentu setiap malam berkumpul di Suteng ini, pada tengah malam baru Ong Ling-hoa datang kemari."

Dengan sendirinya Ji Yok-gi tidak tahu aku sudah kenal Ong Ling-hoa,"

Kata Sim Long dengan tertawa.

"maka ketika diketahuinya intrik Ong Ling-hoa, buru-buru dia ingin memberitahukannya kepadaku."

Tapi dari mana dia tahu engkau berada di mana?"

Tanya Bu-bong.

"Semula tentu Co Kong-liong memandangnya sebagai orang kepercayaannya, dengan sendirinya Ong Ling-hoa yang bicara tentang jejakku dan dapat didengar olehnya."

Betapa tajam pandangan Ong Ling-hoa, jika Ji Yok-gi akan bertindak sesuatu pasti akan diketahuinya,üjar Bu-bong.

"Memang betul, sebab itulah gerak-geriknya pasti sudah diawasi oleh Ong Ling-hoa, maka sebelum menemukan diriku dia sudah terluka lebih dulu, cuma tidak diketahui cara bagaimana dia lolos dari penguntitan musuh .... Cuma sayang, dengan mati-matian ia berusaha memberitahukan padaku tentang rahasia Ong Ling-hoa, tak diketahuinya rahasia Ong Ling-hoa sudah kuketahui lebih dulu. Jadi dia boleh dikatakan mati sia-sia."

Orang hidup, ada sementara urusan biarpun mati juga harus dikerjakannya,üjar Bu-bong dengan tegas.

"Soal apakah urusan yang dikerjakannya ini berguna atau tidak adalah soal lain. Meski Ji Yok-gi melakukan pekerjaan sia-sia ini dengan mempertaruhkan nyawanya, tapi dia mati demi kepentingan orang banyak, demi kesejahteraan umum, hidupnya boleh dikatakan cukup berharga, kematiannya tidak boleh dianggap penasaran. Padahal, pandangan terhadap mati dan hidup seseorang masih harus kubelajar kepada Sim-heng."

Seorang yang tidak takut mati semakin takkan mati ...."

"Haha, inilah kata-kata emas, kata-kata yang tepat dan harus didengarkan oleh orang sejagat,"

Seru Bu-bong dengan tertawa.

"Coba tadi, kalau aku takut mati, mungkin takkan hidup sampai saat ini."

Wajah Kim Bu-bong tampak bersemangat, segera ia meneruskan ceritanya.

"Waktu itu kawanan bangsat itu memandang diriku pasti akan mampus, aku dihina habis-habisan, bahkan di depanku mereka merencanakan muslihat keji cara bagaimana akan membikin celaka padamu. Pada lahirnya aku berlagak tidak dapat berbuat apa-apa, namun sebenarnya dengan menahan gusar diam-diam sudah ada perhitunganku sendiri."

Betapa kejam dan tajam mata Ong Ling-hoa tentu juga tidak dapat menyelami perasaanmu,üjar Sim Long dengan tertawa.

"Betapa pun dia dapat menyelami perasaanku tentu juga tidak tahu apa yang kuperlihatkan waktu itu cuma pura-pura saja, bahkan tentang tubuhku yang tidak dapat bergerak juga ada setengahnya pura-pura belaka."

Katamu engkau tertutuk olehnya?"

Timbrung Jit-jit.

"Dia menyerang di luar tahuku, aku tidak sempat mengelak, tapi diam-diam aku menghimpun tenaga dalam untuk menahan tutukannya sehingga Hiat-to yang tertutuk tidak tembus seluruhnya,"

Tutur Bu-bong.

"Selama ini, kalau bicara tentang kekuatan Khikang, memang diakui Ca Giok-koan adalah ahli yang paling menonjol, sesudah pertemuan Wi-san dahulu tentu kemajuannya tambah memuncak, cuma tak kusangka Kim-heng juga telah memperoleh ajarannya sedemikian hebat."

Bicara tentang gurunya itu, wajah Kim Bu-bong menampilkan rasa pedih, ucapnya.

"Soal baik atau jahat pribadi Ca Giok-koan tidak perlu dibicarakan, namun kebijaksanaannya terhadap anak muridnya harus dipuji, selamanya dia perlakukan mereka secara adil tanpa menyembunyikan sesuatu."

Meski aku pun benci terhadap tindak tanduknya, tapi terhadap kecerdasan dan kebijaksanaannya yang kau sebut tadi harus kukagumi,üjar Sim Long.

Bu-bong diam saja, jelas dia tidak ingin membicarakan lagi gembong iblis yang membuat orang benci dan juga mengagumkan itu.

Kemudian ia menyambung lagi ceritanya.

"Waktu itu meski kutahan dengan tenaga dalam, tapi tenaga jari Ong Ling-hoa juga tidak boleh diremehkan, kurasakan setengah badanku kaku kesemutan, bilamana kuturun tangan waktu itu rasanya juga sukar menahan tutukannya itu."

Hm, Ong Ling-hoa kan juga gembong iblis zaman ini?üjar Sim Long dengan gegetun.

"Terpaksa aku berlagak tak bisa berkutik agar diam-diam dapat kupulihkan tenagaku dan sekalian mendengarkan rahasia mereka, ketika mereka yakin engkau pasti akan menyusul tiba, tentu saja aku pun senang dan akan turun tangan bilamana engkau sudah datang."

Masa Ong Ling-hoa dapat memperhitungkan kedatangan Sim Long?"

Tanya Jit-jit dengan terbelalak.

"Kecerdasan Ong Ling-hoa memang luar biasa, dia memperhitungkan kalian pasti akan datang mengikuti jejak yang ditinggalkan kawanan pengemis itu, maka dia lantas mengatur tipu keji untuk menantikan kalian, untuk ini, sebelum kalian tiba mereka hendak menggusur diriku ke tempat lain, dalam keadaan kepepet, biarpun tahu sendirian tidak dapat melawan orang banyak, terpaksa aku turun tangan juga."

Wah, pertarungan itu pasti sangat sengit,üjar Sim Long sambil memandang keadaan ruang Suteng yang morat-marit itu. Bu-bong tersenyum getir dan juga merasa bangga, tuturnya.

"Dengan sendirinya aku bukan tandingan Ong Ling-hoa, Kim Put-hoan dan Co Kong-liong, tapi dasar pengecut, melihat aku dapat bergerak, lebih dulu Kim Put-hoan sudah jeri. Co Kong-liong juga gentar menghadapi perlawananku yang nekat, hanya Ong Ling-hoa saja, ai, dia benar-benar serigalanya manusia."

Apakah kungfunya juga sama kejinya dengan tipu akalnya?"

Tanya Sim Long.

"Betapa luas kungfu yang dikuasainya dan betapa keji jurus serangannya, sungguh sukar diceritakan,"

Tutur Bu-bong.

"Yang paling hebat adalah kecerdasannya dalam hal menerka jurus serangan lawan sebelum dilontarkan, sedetik sebelum serangan tiba, lebih dulu dia sudah mengatur pertahanan untuk mengatasi seranganmu."

Bagaimana kungfunya jika dibandingkan Thian-hoat Taysu?"

Tanya Sim Long.

"Thian-hoat pasti tidak mampu menahan 20 jurus serangannya,"

Tutur Bu-bong.

"Masa begitu lihai?"

Seru Sim Long.

"Tentunya Sim-heng sangsi, jika dia begitu lihai, mengapa dapat kulukai dia,"

Kata Bu-bong. ¡Memang, bicara kungfu sejati tidak nanti dapat kulukai dia, tapi ketahuilah, pada waktu bertempur, kungfu yang paling lihai adalah nekat."

Seorang yang nekat sukar dilawan oleh seribu orang", pemeo ini cukup diketahui Sim Long. Dengan tersenyum pedih Bu-bong bercerita pula.

"Dengan mengorbankan lengan kanan ini barulah dapat kupukul dia satu kali. Cuma sayang, waktu itu juga aku lantas jatuh pingsan, bagaimana lukanya aku sendiri tidak tahu."

Pukulanmu mana dapat ditahan oleh tubuh manusia,üjar Sim Long.

"Kalau dia tidak terluka parah, masa engkau dapat bicara denganku seperti sekarang."

Ya, mungkin lukanya juga parah sehingga tidak sempat membunuhku lagi,"

Kata Bu-bong dengan tersenyum pedih. Sim Long menatapnya sekian lama, akhirnya menghela napas dan berkata.

"Sebenarnya ... sebenarnya Kim-heng juga tidak perlu bertindak demikian."

Bertindak apa? Memangnya aku salah berbuat?"

"Sungguh hatiku tidak tenteram oleh tindakan Kim-heng kepadaku ini."

Aku bertindak apa padamu?"

"Waktu itu mestinya engkau tidak perlu bergebrak dengan mereka, cukup kau angkat kaki saja, masa mereka mampu merintangimu? Walaupun tahu bukan tandingan mereka, tapi engkau tetap melabrak mereka, hanya karena engkau ingin membela diriku saja."

Omong kosong!"

Jengek Bu-bong.

"Selama hidupku hanya tahu membela kepentingan sendiri, untuk apa kupikirkan kepentingan orang lain. Bilakah pernah kubela dirimu, apakah engkau lagi mimpi?"

Meski lahirnya engkau kelihatan dingin, tapi sebenarnya hatimu panas membara, tindakanmu itu sungguh membuat hatiku tidak enak ...."

"Kenapa hatimu tidak enak?"

Teriak Bu-bong.

"Apakah karena kasihan melihat aku cacat? .... Hm, meski Kim Bu-bong kini cuma bertangan satu juga jauh lebih kuat daripada mereka yang punya dua tangan, kau percaya tidak?"

Aku ... aku ...."

Sim Long tergegap.

"Ai, kenapa kau jadi serupa anak kecil? Beberapa kali kau selamatkan jiwaku dan tidak pernah kuucapkan banyak terima kasih, masakah sekarang kau ...."

Betul!"

Mendadak Sim Long berseru dan tertawa.

"Bagi seorang lelaki sejati, apa artinya buntung sebelah tangan? Kim Bu-bong yang bertangan satu pasti jauh lebih kuat daripada Ong Ling-hoa yang bertangan dua."

Kedua orang muda ini, yang satu masih berbaring di tengah genangan darah, terluka parah dan sukar berbangkit, yang lain masih harus menghadapi masa depan yang penuh rintangan dan ujian, namun sekarang mereka sama bergelak tertawa.

Meski Jit-jit berdiri di samping, namun semua ucapan mereka dapat didengarnya dengan jelas dan terukir dalam benaknya, seketika ia pun mencucurkan air mata terharu.

Begitulah kedua orang sama tertawa, Kim Bu-bong merasa tenaga sendiri semakin kuat, secara ajaib lukanya bisa sembuh dengan cepat, tentu saja ia gembira.

Tapi sebaliknya dirasakan suara tertawa Sim Long makin lama makin lemah.

Malahan segera dirasakan lagi tangan Sim Long yang tak pernah berpisah dengan tubuhnya itu masih terus menyalurkan hawa murni kepadanya, pantas lukanya yang parah bisa cepat sembuh dan sanggup bicara terus-menerus.

Bagi orang yang berlatih kungfu, tenaga murni sama dengan jiwanya, namun sekarang tenaga murni Sim Long telah disalurkan kepada Kim Bu-bong tanpa pikirkan akibatnya, dengan sendirinya tenaga Kim Bu-bong pulih dengan cepat, sebaiknya Sim Long sendiri menjadi lemah.

Seketika Kim Bu-bong berhenti tertawa dan berteriak.

"Singkirkan tanganmu!"

Sim Long tertawa, sungguh ia tidak tahan lagi, tanpa terasa ia bersandar di kaki meja. Semua ini tentu saja dapat dilihat Cu Jit-jit, betapa pun ia terharu dan berkata kepada dirinya sendiri.

"Lelaki sejati ini tidak boleh kulepaskan, jika kutinggalkan dia, selamanya takkan kudapatkan kesatria sejati seperti dia, betapa pun dia memperlakukan diriku dengan kasar tetap aku harus mengalah, apa alangannya mengalah sedikit?"

Segera ia mengambilkan daging panggang dan mendekati Sim Long. Daging panggang itu sudah agak hangus bagian kulitnya, namun baunya bertambah sedap. Dengan suara lembut Jit-jit berkata.

"Engkau sudah lelah, makanlah sedikit!"

Tak terduga Sim Long tidak menghiraukannya, sebaliknya malah mendengus.

"Singkirkan!"

Tapi Jit-jit berkata pula.

"Sudah kucoba dengan tusuk kundai perak, daging ini dapat dimakan."

Menyingkir!"

Bentak Sim Long malah. Sedapatnya Jit-jit bersabar, ucapnya.

"Jika engkau tidak suka daging panggang ini, di sekitar sini tentu ada kampung yang menjual makanan, maukah kubelikan .... Tentu Kim-toako juga ingin makan."

Tidak perlu,"

Seru Sim Long.

"Aku ... aku cuma ingin bekerja sesuatu bagimu, urusan apa pun akan kulakukan,"

Kata Jit-jit.

"Baik, menyingkirlah sejauhnya, makin jauh makin baik, untuk itu aku akan berterima kasih malah,"

Kata Sim Long dengan ketus.

Jit-jit jadi melengak, kembali air matanya bercucuran.

Dipandangnya Kim Bu-bong, meski ada orang lain di sini, tapi dia tidak peduli lagi, ia sudah bertekad akan berkorban asalkan demi Sim Long, dengan menggereget ia bertanya.

"Se ... sesungguhnya aku berbuat salah apa sehingga membuatmu marah? Katakan saja, bila betul aku salah, selanjutnya pasti akan kuperbaiki, pasti!"

Biasanya tidak nanti dia berucap begini, tapi sekarang telah dikatakannya.

Habis bicara ia lantas menangis tersedu-sedan, tapi cepat ditahannya pula.

Tangisan tanpa suara, kepedihan dengan bersenyum, sungguh mengandung berbagai macam perasaan yang sukar diuraikan.

Akhirnya Sim Long berpaling dan memandang wajah si nona.

Wajah yang mirip apel kehujanan itu.

Namun sorot matanya tetap dingin, jengeknya.

"Hm setelah berbuat salah, kau sendiri tidak mengetahuinya? Kalau bukan gara-garamu, mana Pek Fifi bisa diculik orang, kalau bukan gara-garamu, mana Kim-toako bisa berubah menjadi begini?"

Sem ... semua ini salahku? ...."

"Bukan salahmu, habis salah siapa?"

Bentak Sim Long.

"Jika kau mau sedikit berpikir bagi orang lain, jika ada sedikit rasa simpatimu terhadap orang lain, semua ini pasti takkan terjadi.Äir mata Jit-jit bercucuran bagaikan hujan, ucapnya dengan gemetar.

"Tapi aku ... aku ...."

Kau tidak lain cuma seorang perempuan jahat yang egois, congkak, suka menang dan juga iri, asalkan kau sendiri senang, urusan orang lain tidak kau pikirkan lagi.

Asalkan kau sendiri gembira, biarpun hati orang lain hancur luluh juga tidak kau peduli."

Setiap kata Sim Long itu seolah-olah cemeti yang menyabat tubuh Cu Jit-jit, membuat telinganya serasa mendengung dan akhirnya jatuh terkulai.

Sejak kecil sampai sebesar ini belum pernah dia dimaki orang secara begini, sekarang Sim Long telah mencaci maki dia habis-habisan dan membuatnya tercengang, diam-diam ia bertanya kepada diri sendiri.

"Apakah betul aku sebusuk itu? Apa betul aku sejahat itu? ...."

Seketika itu seakan-akan terbayang wajah Him Miau-ji, Pek Fifi, Pui Jian-li, Can Ing-siong dan lain-lain ....

Orang-orang itu sama pernah dibikin susah olehnya, ada yang dibikin malu olehnya, ada yang dikecewakan dan ada juga yang dibuat berduka olehnya.

"Tapi semua itu kulakukan tanpa sengaja, sama sekali tidak ada niatku untuk membikin susah siapa pun,"

Serunya kemudian dengan penasaran.

"Betul, tidak ada niatmu membikin susah orang lain, tapi orang yang menderita oleh karena ketidaksengajaanmu itu justru lebih susah daripada perbuatanmu yang sengaja. Engkau menganggap dirimu paling terhormat, paling agung, orang lain harus menurut, harus tunduk kepada kehendakmu, orang lain harus kau injak-injak di bawah kakimu, seakan-akan semua perbuatanmu itu adalah selayaknya begitu."

Ti ... tidak, sama sekali aku tidak ... tidak berpikir begitu,"

Ratap Jit-jit.

"Aku tidak berpengalaman, aku tidak tahu apa-apa, masa ... masa engkau tidak dapat memaafkan diriku?"

Tidak,"

Jengek Sim Long ketus. Sambil memukuli tanah Jit-jit meratap pula.

"Banyak orang yang berbuat salah lebih besar daripadaku dan mereka dapat ... dapat kau maafkan, sebaliknya engkau tidak ... tidak dapat memaafkan kesalahanku?"

Maafku kepadamu sudah terlalu banyak,üjar Sim Long. Jit-jit mengertak gigi dan merangkak bangun untuk berdiri di depan Sim Long, teriaknya.

"Baik, engkau tidak dapat memaafkanku, aku pun tidak perlu minta diampuni olehmu, lebih baik kau bunuh saja diriku."

Membunuhmu? Tidak perlu,"

Jengek Sim Long.

"Oo ... betapa kejam hatimu,"

Ratap Jit-jit.

"Aku tidak minta apa-apa, masa engkau tidak sudi membunuhku?"

Sim Long diam saja tanpa menghiraukannya. Kembali Jit-jit jatuh terkulai, ratapnya.

"O, Tuhan, mengapa engkau perlakukan diriku secara tidak adil. Orang yang paling jahat sekalipun boleh mati di tangan Sim Long, sebaliknya aku ... aku tidak ingin hidup lagi dan kesempatan untuk mati di tangannya saja ditolak."

Sim Long memejamkan mata tanpa menghiraukan si nona.

Sejak tadi Kim Bu-bong juga telah memejamkan mata.

Sukar untuk melukiskan perasaan Jit-jit sekarang.

Ia benci, benci kepada diri sendiri, juga benci kepada Sim Long.

Tapi biarpun benci, tetap tidak dapat berbuat sesuatu apa.

Mendadak ia melompat bangun, serupa orang gila ia jemput benda apa pun yang dapat diraihnya terus dilemparkan ke arah Sim Long sambil berteriak histeris.

"Kubenci ... kubenci padamu ... kubenci padamu selamanya ...."

Lalu dia berlari pergi seperti kesetanan.

Perlahan Sim Long membuka matanya, tapi tetap tidak bergerak, serupa seorang padri yang sedang bersemadi.

Kim Bu-bong juga membuka matanya dan memandang Sim Long dengan heran.

Sampai sekian lamanya, akhirnya Sim Long tertawa.

"Apakah hatimu terbuat dari baja?"

Tanya Bu-bong kemudian. Tertawa Sim Long rada mengandung rasa pedih juga, gumamnya.

"Hatiku ... siapa yang tahu akan hatiku? ...."

Mengapa kau tega perlakukan dia cara begini?"

Tanya Bu-bong pula.

"Seharusnya kuperlakukan dia bagaimana?"

Bu-bong terdiam, sejenak kemudian baru berkata pula.

"Apakah betul dia tidak dapat dimaafkan?"

Masakah dia dapat dimaafkan?"

"Seumpama tidak dapat dimaafkan, engkau harus memaafkan dia."

Sebab apa?"

Tanya Sim Long. Bu-bong menatap langit-langit rumah yang guram, katanya perlahan.

"Nanti bila usiamu meningkat seperti diriku sekarang tentu akan kau ketahui. Biarpun banyak perempuan cantik di dunia ini, tapi untuk mencari seorang yang benar-benar mencintaimu sedalam ini kukira tidak ... tidak mudah."

Mendadak ia berpaling dan menatap Sim Long lekat-lekat.

"Tentunya kau akui bahwa dia memang cinta padamu. Betapa pun harus kau akui, apa yang dilakukannya tidak berniat jahat. Terhadap orang lain engkau sangat bijaksana, terhadapnya mengapa engkau seketus itu?"

Sim Long termenung sejenak, sahutnya kemudian.

"Aku dapat mengampuni orang lain, tapi tidak dapat mengampuni dia ...."

Sampai sekian lama Kim Bu-bong melenggong, akhirnya ia mengangguk perlahan dan berucap.

"Ya betul, engkau dapat mengampuni orang lain, tapi tidak kepadanya."

Keduanya tidak bicara lagi, semuanya terhanyut dalam lamunan masing-masing. Apa yang mereka pikirkan, apakah memikirkan betapa rumitnya hubungan antara manusia dan manusia? Kemudian Sim Long berkata.

"Orang lain tentu juga dapat mengampuni dia, tapi aku tidak."

Sekali ini tanpa pikir Bu-bong lantas mengangguk setuju.

"Betul, orang lain dapat memaafkan dia, tapi engkau tidak .... Tanggung jawab orang lain hanya terhadap dirinya sendiri, asalkan memenuhi kewajiban terhadap diri sendiri dan selesailah, tapi tugas ... tugas yang kau pikul teramat berat."

Ternyata cuma Kim-heng saja yang tahu akan pribadiku, apa pula yang perlu kusesalkan lagi hidupku ini?Äpi unggun berkobar dengan keras, ruang Suteng terasa hangat, entah hangat karena api unggun atau hangat karena persahabatan.

Selang agak lama tiba-tiba Sim Long berkata.

"Apa pun juga semoga dia ...."

Pada saat yang sama Kim Bu-bong juga berucap.

"Apa pun juga semoga dia ...."

Kedua orang bicara bersama dan tutup mulut serentak pula, sebab mereka sama tahu apa yang hendak diucapkan ternyata sama.

"Apa pun juga semoga dia hidup selamat dan bahagia!"

Namun doa yang tulus ikhlas itu sudah tidak didengar lagi oleh Cu Jit-jit.

Saat itu entah sudah berapa jauhnya dia berlari.

Mukanya mulai perih karena tersayat tiupan angin, kemudian terasa kaku, lalu terasa sakit seperti digigit semut.

Air matanya sudah kering, kakinya terasa berat.

Untunglah di depan kelihatan ada bangunan rumah.

Ia percepat langkahnya dan berlari ke sana.

Kini dia sudah melupakan rasa duka, yang terpikir hanya semangkuk kuah hangat dan sebuah dipan.

Tapi di depan tidak ada rumah, juga tidak ada kuah panas maupun dipan.

Bayangan bangunan rumah itu sesungguhnya cuma tempat pemakaman.

Nyata kuburan ini milik keluarga hartawan sehingga dibangun dengan sangat megah.

Dengan lemas Jit-jit duduk meringkuk di balik batu nisan, hanya tempat ini dapat digunakan untuk mengalingi tiupan angin.

Ia menanggalkan sepatu dan memijat kaki sendiri yang pegal.

"Mengapa dia sangat baik terhadap orang lain, terhadapku justru tidak kenal kasihan?"

Demikian ia teringat lagi kepada Sim Long, timbul rasa bencinya.

"Mengapa orang lain sangat baik padaku justru kubalas dengan dingin, sebaliknya Sim Long memperlakukan diriku dengan kasar justru tidak dapat kulupakan?"

Pikir punya pikir ia menjadi benci pula kepada dirinya sendiri.

Selagi kusut pikirannya, sekonyong-konyong terdengar sesuatu suara yang berjangkit dari tempat yang sangat dekat.

Itulah suara manusia suara orang lagi bicara.

Waktu ia dengarkan lebih cermat, ternyata suara itu timbul dari dalam kuburan.

Ya, tidak salah lagi, jelas timbul dari dalam kuburan.

Masa kuburan dapat bersuara?

Mungkinkah orang mati bisa bicara?

Walaupun kaget, namun sebagai gadis yang sudah sekian lama berkelana di dunia Kangouw, segera terpikir olehnya.

"Ah, jangan-jangan kuburan ini juga sebuah tempat rahasia yang dijadikan sarang sesuatu sindikat gelap?"

Segera ia memandang sekelilingnya, terdengar suara orang melangkah di bawah batu nisan.

Agaknya ada orang hendak keluar dari dalam kuburan.

Tidak jauh di sebelah sana ada patung Totekong atau Toapekong, patung malaikat penjaga tanah yang biasanya pasti disertakan pada setiap makam.

Patung itu sebesar manusia.

Jit-jit berpindah dan sembunyi di belakang patung, lalu mengintip.

Tertampaklah batu nisan tadi mulai bergerak dan muncul sebuah lubang, kemudian dari dalam lubang menongol sebuah kepala ...

dan sebuah lagi, dua orang menyusup keluar dari bawah tanah.

Kedua lelaki kekar ini sama memakai jaket kulit, meski hawa dingin, namun mereka tetap membusungkan dada dengan lagak kereng.

Orang yang keluar lebih dulu memandang sekeliling makam.

Dengan sendirinya tak terpikir olehnya di sini ada orang asing.

Orang yang keluar belakangan sama sekali tidak memandang keadaan di luar, segera ia mendorong batu nisan itu.

"Krek", batu nisan itu merapat kembali seperti semula. Kedua orang lantas melangkah ke bawah undak-undakan makam besar itu sambil menggerundel. Seorang di antaranya berkata.

"Hm, barang macam apakah si cacat itu, tampaknya bukan sembarangan orang. Cuaca begini kita disuruh membeli obat baginya ke tempat yang berpuluh li jauhnya, bukankah sengaja hendak menyiksa orang?"

Kawannya menanggapi.

"Sudahlah, Ong-lotoa, tidak perlu mengomel, peduli siapa dia pendek kata dia adalah kawan bos kita. Kalau tidak, untuk apa bos membawanya ke sini."

Hm, kalau tidak mengingat hal ini, memangnya aku mau bekerja baginya?"

Jengek orang pertama yang dipanggil sebagai Ong-lotoa itu.

"Tapi juga lumayan, sepanjang hari kita selalu bersembunyi di dalam, meski tersedia arak dan perempuan, rasanya juga sudah bosan, mumpung ada kesempatan keluar, biarlah kita pelesir sepuasnya,üjar orang kedua tadi.

"Betul,"

Seru Ong-lotoa dengan tertawa.

"Kesempatan kita gunakan untuk pelesir setengah hari, toh si cacat itu tampaknya takkan mampus meski tidak segera minum obat."

Begitulah kedua orang itu terus bicara sambil tertawa dan semakin jauh.

Sesudah bayangan kedua orang itu menghilang di kejauhan barulah Jit-jit keluar dari tempat sembunyinya.

Ia coba mendekati batu nisan dan menariknya.

Mendingan kalau dia tidak menarik batu nisan itu, sekali menarik, nasib kehidupannya juga berubah lagi.

Begitu batu nisan bergerak, seketika hatinya juga tergerak, pikirnya.

"Sesungguhnya sarang rahasia apakah ini? Siapa pula si cacat yang dimaksudkan kedua orang tadi? Siapa pula bos mereka? Yang pasti, membuat sarang rahasia di dalam kuburan, besar kemungkinan bukan manusia baik-baik, perlu kuperiksa apa yang terdapat di dalam kuburan ini."

Dasar watak Jit-jit memang usilan, usil mulut, usil perbuatan. Tidak ada urusan saja ingin cari pekerjaan, apalagi sekarang terlihat sesuatu yang sangat aneh dan misterius. Kata pepatah.

"Dunia ini mudah berganti penguasa, watak asli sukar berubah", menghadapi kejadian menarik ini, jelas wataknya yang usilan jadi kumat. Maka begitu lubang gua di balik batu nisan terbuka, segera ia hendak menyusup ke dalam. Tapi segera terpikir olehnya.

"Ah, nanti dulu. Sarang rahasia siapakah ini? Orang baik atau orang jahat? Ada sangkut paut apakah denganku? Kenapa aku mencari urusan? Pantas Sim Long bilang aku ...."

Mestinya dia akan mengurungkan niatnya masuk ke situ, tapi demi teringat kepada Sim Long, segera pikirannya berubah.

"Sim Long, lagi-lagi Sim Long! Mengapa harus kuturut perkataannya, toh aku tak ingin hidup lagi, biarpun menemui bahaya di dalam sana juga tidak menjadi soal."

Sambil mengentak kaki, dengan nekat akhirnya dia masuk ke situ.

***** Pada umumnya segala macam sarang rahasia atau lorong di bawah tanah, kebanyakan mempunyai ciri yang sama, yaitu seram, gelap dan berbau apak yang memusingkan kepala orang.

Lorong di bawah tanah ini ternyata ada keistimewaan, yaitu tidak ada penjaga juga tidak ada pesawat jebakan, bisa jadi lantaran tempat ini terlalu rahasia sehingga pada hakikatnya tidak mungkin ditemukan orang, sebab itulah tak diperlukan penjaga.

Atau mungkin juga majikan makam ini sangat tinggi hati, pada hakikatnya dia memandang sebelah mata terhadap orang lain.

Jit-jit juga tidak peduli sebab apa tidak ada penjaga, setelah merapatkan kembali batu nisan, segera ia melangkah maju.

Ada belasan undak-undakan batu yang dilaluinya menuju ke bawah.

Kemudian ia sampai di sebuah ruangan kecil, sebuah ruang tamu yang terpajang indah serupa rumah keluarga hartawan umumnya.

Ia coba melongok ke dalam, tiada seorang pun di situ.

Segera ia masuk begitu saja.

Sama sekali ia tidak khawatir dipergoki orang, kini ada semacam pikiran menyiksa diri padanya, kalau kepergok orang, dianggapnya lebih baik malah.

Di sebelah sana ada sebuah pintu, langsung Jit-jit menuju ke sana.

Pada saat itulah di dalam sana berkumandang suara orang tertawa dan berkata.

"Sungguh cara berpikir Kongcu sangat lengkap, khawatir anak buahmu hidup kesepian di sini, maka sengaja kau cari dua nona untuk menemani mereka di sini. Haha, sungguh sangat menarik."

Tubuh Jit-jit tergetar, serentak ia berhenti di tempat, sebab dikenalnya suara orang itu sebagai suara Kim Put-hoan.

Ia heran mengapa bangsat itu bisa berada di sini.

Terdengar lagi seorang lain berucap.

"Masa Kim-heng lupa, justru Kongcu selalu berpikir panjang sehingga usahanya tambah maju. Jika di sini tidak ada kenikmatan, siapa yang mau ngendon kesepian di sini?"

Suara ini juga sangat hafal bagi Jit-jit, setelah berpikir segera teringat olehnya.

"Ah, Co Kong-liong."

Didengarnya Kim Put-hoan lagi berkata dengan tertawa.

"Betul, bilamana tidak kerasan, diam-diam orang yang bertugas di sini pasti akan bolos keluar. Tapi kalau segalanya sudah tersedia lengkap, biarpun diusir juga mereka tak mau pergi."

Dan sekarang jadinya engkau yang senang, haha,"

Tukas seorang lagi dengan tertawa.

"Ayo, tuangkan arak, Siau Ling."

Ternyata suara orang ketiga ini ialah Ong Ling-hoa.

Anehnya suara Ong Ling-hoa sekarang kedengaran sangat lemah, habis bicara lantas terengah dan terbatuk lagi.

Jantung Jit-jit hampir saja melompat ke luar dari rongga dadanya.

Dia berdiri mematung di situ, mundur salah, maju pun keliru.

Pintu itu tertutup, tapi di bawah ada celah-celah dan cahaya lampu menembus keluar dari situ.

Setelah berpikir sejenak, akhirnya ia nekat, ia mendekati pintu, ia berjongkok dan coba mengintip ke dalam melalui celah-celah pintu.

Tertampak sebuah perapian terletak di tengah ruangan, di samping perapian ada sebuah meja penuh hidangan, di samping meja Kim Put-hoan dan Co Kong-liong berduduk.

Seorang perempuan berbaju merah dan rambut agak kusut, berdandan berlebihan serupa ronggeng asyik menambahi kayu perapian.

Ada lagi seorang perempuan lain berbaju biru berduduk di dalam pangkuan Kim Put-hoan, mukanya merah dan tersenyum, namun sinar matanya memancarkan rasa jemu dan muak.

Setelah memandang lagi ke sebelah lain baru terlihat Ong Ling-hoa berbaring di atas dipan berlapiskan kulit harimau, wajahnya yang tampan itu sekarang pucat pasi seperti mayat.

Keterangan Kim Bu-bong memang tidak salah, nyata gembong iblis ini memang terluka parah.

Bahkan Kim Put-hoan dan Co Kong-liong tampaknya juga terluka.

Lengan kanan Co Kong-liong tampak terbalut dan tergantung dengan kain pada lehernya, jelas lukanya juga tidak ringan.

Yang tidak berat lukanya jelas cuma Kim Put-hoan, dia lagi makan minum, terkadang tidak lupa mencolek pipi anak perempuan yang berduduk di pangkuannya.

Aneh juga, mengapa dia sengaja menyuruh kedua orang tadi membelikan obat baginya, agaknya makian ¡si cacat"

Yang dilontarkan kedua lelaki berjaket kulit tadi ditujukan kepadanya.

Sungguh tak terpikir oleh Cu Jit-jit bahwa secara tidak sengaja kembali dia kesasar lagi ke sarang rahasia Ong Ling-hoa.

Entah mengapa pertemuan manusia di dunia ini sering terjadi secara kebetulan dan aneh begini?

Di antara orang-orang yang berada di situ yang paling lesu ialah Ong Ling-hoa, yang paling gembira jelas ialah Kim Put-hoan.

Terus-menerus Kim Put-hoan berkaok-kaok senang, sebaliknya tenaga untuk bicara saja tidak dipunyai Ong Ling-hoa, tampaknya dia sangat letih, ingin tidur, tapi Kim Put-hoan justru tidak memberi kesempatan tidur baginya.

Malahan Kim Put-hoan terus menarik si nona baju merah, jadinya sekarang dia rangkul kanan dan peluk kiri, kedua anak perempuan itu tertawa cekakak dan cekikik meski di dalam hati tiada habis-habisnya menggerutu.

Tentu saja Jit-jit agak gemas melihat tingkah laku manusia bejat itu, sampai-sampai Co Kong-liong juga merasa mendongkol, ucapnya setengah menyindir.

"Wah, senang amat Kim-heng."

"Tentu saja senang,"

Sahut Kim Put-hoan dengan tertawa.

"Didampingi dua nona secantik ini, kenapa tidak senang? Eh, sini, Siau Ling, cium satu kali."

Setelah mengalami pertarungan tadi, sekarang Kim-heng masih bisa gembira seperti ini, sungguh luar biasa,"

Jengek Co Kong-liong pula.

"Kejadian tadi ... hehe, kan sudah beres? Keparat Kim Bu-bong itu jelas akan mampus, kenapa kita tidak boleh gembira?"

Waktu itu kalau Kim-heng tambahi lagi sekali tusuk, dia pasti sudah mampus. Cuma sayang ... ketika itu Kim-heng terburu-buru angkat kaki."

"Aku terburu-buru angkat kaki, apakah Co-heng sendiri tidak tergesa-gesa lari? Karena waktu itu Ong-kongcu terluka parah sehingga aku tidak berani lagi tinggal di sana, memangnya Co-heng sendiri bukan begitu?"

Muka Co-Kong-liong sebentar merah sebentar pucat dan tidak sanggup bicara lagi. Sebaliknya Kim Put-hoan lantas bergelak tertawa, katanya pula.

"Urusan sudah lalu, sepantasnya sekarang Co-heng ikut bergembira .... Eh, Siau Hong, lekas menyanyi untuk menghibur Co-toaya."

Si nona baju hijau menunduk dan menjawab.

"Aku tidak dapat menyanyi."

Sialan, orang bekerja seperti ini tidak bisa menyanyi?ömel Kim Put-hoan.

"Sudahlah, Kongcu harus istirahat, kukira Kim-heng perlu mengaso,üjar Co Kong-liong.

"Hehehe, kau bilang Ong-kongcu harus istirahat?"

Kata Kim Put-hoan sambil menyeringai.

"Ya, dia memang perlu istirahat panjang, mumpung masih bernapas, apa jeleknya senang-senang dulu menyaksikan tari dan nyanyi?Ücapan Kim Put-hoan ini membikin enam orang yang berada di luar dan dalam ruangan sama terkejut. Dengan air muka berubah Co Kong-liong menegas.

"Ah, jangan ... jangan Kim-heng bergurau."

Selamanya aku tidak suka bergurau,"

Sahut Put-hoan. Tiba-tiba Ong Ling-hoa bertanya dengan tertawa.

"Dari mana Kim-heng mendapat tahu jika harus istirahat panjang alias mati?"

Walaupun dia berlagak tidak terjadi sesuatu, sebenarnya air mukanya juga rada berubah.

"Tentu saja kutahu."

Jawab Put-hoan.

"Meski Kongcu terkena sekali pukulan Kim Bu-bong, tapi tenaga pukulan keparat itu mana mampu membunuh Kongcu, dalam beberapa hari kesehatan Kongcu pasti akan pulih kembali,üjar Co Kong-liong.

"Tapi kubilang dia takkan hidup melewati hari ini,"

Tukas Put-hoan.

"Apa ... apa katamu? Apakah kau gila?"

Teriak Co Kong-liong.

"Kubilang dia takkan hidup melampaui hari ini, apakah kau berani bertaruh denganku?"

Tantang Put-hoan. Tiba-tiba Ong Ling-hoa tertawa terkekeh-kekeh.

"Tak tersangka waktu kematianku ternyata diketahui Kim-heng sejelas ini, cuma sayang, di tempat ini tersedia segala apa pun, hanya peti mati saja yang tidak tersedia."

Tidak menjadi soal,"

Kata Put-hoan.

"Setelah kau mati, mayatmu diantar ke Jin-gi-ceng, orang-orang di sana pasti akan menyediakan peti mati bagimu."

Dia bicara dengan adem ayem seakan-akan apa yang diucapkan itu adalah kejadian yang lumrah. Tapi bagi pendengaran Co Kong-liong cukup membuatnya pucat, dengan tergegap ia bertanya.

"Kim-heng, sesungguhnya apa maksudmu?"

Apa maksudku masakah belum kau ketahui?"

Di bawah cahaya lampu, wajah Kim Put-hoan yang menyeringai itu tampak seram. Dengan bergidik Co Kong-liong menjawab.

"Aku ... aku tidak tahu."

Sebenarnya bukan Co Kong-liong jeri terhadap kungfu Kim Put-hoan yang diketahuinya tidak lebih tinggi daripada dirinya itu, dia cuma ngeri terhadap kekejian orang saja.

Dilihatnya Kim Put-hoan telah berbangkit dan mendekati Ong Ling-hoa dengan perlahan sambil memegang secawan arak.

Muka Ong Ling-hoa bertambah pucat, sedapatnya ia tenangkan diri dan bertanya.

"Kau mau apa?"

Co Kong-liong tidak tahu aku mau apa, masakah engkau juga tidak tahu?"

Jengek Put-hoan.

"Meski tahu, tapi ada sedikit lagi yang tidak kumengerti,"

Kata Ling-hoa.

"Apa yang kau tidak mengerti?"

Hendak kau bunuh diriku bukan?"

"Hehe, memang anak pintar."

Tapi kita kan bersekutu, mengapa hendak kau bunuh diriku?"

Mendadak Kim Put-hoan meludah, jawabnya sambil menyeringai.

"Sekutu? Huh, berapa harganya sekutu, satu kati berapa duit? Yang memberi susu dialah ibu. Selama hidup orang she Kim tidak pernah bersahabat, apalagi bersekutu dengan siapa pun. Barang siapa menganggap orang she Kim sebagai sekutu, dia yang buta matanya."

Tapi tempo hari ...."

"Tempo hari lantaran kulihat masih dapat kuraih keuntungan darimu, makanya kusepakat bersahabatan denganmu, tapi sekarang engkau sudah mirip bangkai anjing, siapa pula yang mau bersekutu denganmu?"

Meski saat ini aku terluka parah, tapi luka ini pasti akan sembuh dalam waktu singkat.

Kekuatanku tersebar luas di 13 provinsi, anak buah kami sedikitnya beberapa ribu orang.

Asalkan kau mau bersahabat denganku, setelah kusembuh nanti tentu akan banyak memberi keuntungan padamu.

Kau orang pintar, masakah hal ini tidak kau pikirkan?"

Melihat Ong Ling-hoa masih sanggup bicara dengan tenang pada detik menghadapi elmaut itu, mau tak mau Cu Jit-jit yang sembunyi di luar pintu itu merasa kagum juga. Terdengar Kim Put-hoan lagi berkata.

"Betul, setelah kau sembuh memang dapat kudapatkan keuntungan, tapi aku tidak sabar menunggu lagi, apalagi bila kubunuhmu sekarang akan jauh lebih menguntungkan bagiku."

Dia tertawa terkekeh, lalu menyambung.

"Setiap pekerjaanku yang utama adalah keuntungan, asalkan besar keuntungannya, biarpun aku disuruh mencuci pantat orang juga tidak menjadi soal."

Memangnya apa keuntunganmu bila kau bunuhku sekarang?"

"Tentu saja banyak keuntungannya, apakah kau mau tahu?"

"Coba ceritakan,"

Pinta Ong Ling-hoa.

"Pertama, bila kubunuhmu sekarang, tentu dapat kusita barang yang kau tipu dari Cu Jit-jit itu. Tidak lama lagi tumpukan emas yang menyilaukan mata itu akan menjadi milikku."

Wah, kiranya kau pun tahu hal ini,ücap Ong Ling-hoa dengan gegetun.

"Kedua, saat ini engkau sudah ada harga tertentu, setelah kubunuhmu, selain dapat kuterima hadiah dari Jin-gi-ceng, juga pasti akan kudapatkan pujian mereka sebagai seorang pahlawan. Nah, pekerjaan yang bakal mendatangkan keuntungan nama dan harta ini kenapa tidak kulakukan? .... Haha, umpama Sim Long, yang paling dibencinya ialah dirimu dan bukan diriku, bila kubunuhmu tentu dia juga akan tepuk-tepuk bahuku dan memujiku sebagai sahabat sejati .... Jangan lupa, Kim Bu-bong juga terbunuh olehmu."

Bagus ... bagus!ücap Ong Ling-hoa dengan tertawa getir.

"Tentu saja bagus, sekarang kau pun kagum padaku, bukan?"

Tapi kau pun jangan lupa, anak buahku tersebar di mana-mana, ibuku bahkan tokoh nomor satu di dunia persilatan ini, jika kau bunuh diriku, masakah mereka akan mengampunimu?"

"Bila kubunuhmu sekarang, memangnya siapa lagi yang tahu?"

Tapi kan akan kau pergi ke Jin-gi-ceng dan ...."

"Untuk ini tidak perlu kau ikut khawatir,üjar Put-hoan.

"Setiap orang yang terima hadiah Jin-gi-ceng selamanya dijamin rahasia pribadinya, kalau tidak, siapa yang mau mencari penyakit hanya untuk menerima sedikit hadiah itu?"

Tapi kan masih ada lagi Co-pangcu ....Öng Ling-hoa sengaja melirik ke arah Co Kong-liong. Sebutan "Pangcu"

Sengaja diucapkan dengan tarikan suara yang panjang dan lantang, Co Kong-liong yang lagi bersandar di kursi tanpa bergerak itu seketika tergetar.

Ia pikir kalau Ong Ling-hoa mati, siapa pula yang akan mendukungnya naik ke singgasana Pangcu?

Sebutan "

Pangcu"

Serupa percikan api yang segera membakar lagi hatinya yang angkara murka dan membuatnya nekat. Mendadak ia melompat bangun sambil membentak.

"Betul, barang siapa ingin mengganggu Ong-kongcu, tidak nanti kutinggal diam."

Meski keras suaranya, namun Kim Put-hoan tidak menghiraukannya, sebaliknya ia mendengus.

"Hm, jika Co Kong-liong ingin hidup lebih lama, sebaiknya dia tetap duduk di tempatnya, kalau ingin cepat mampus, boleh dia uji diriku dengan tangannya yang masih tersisa itu."

Muka Co Kong-liong menjadi pucat, ia pandang tangannya sendiri yang cedera.

"bluk"

", ia duduk kembali di kursinya. Kim Put-hoan terbahak-bahak, isi cawan ditenggaknya hingga habis.

"prak", cawan kemala itu dibantingnya hingga hancur. Siau Ling dan Siau Hong semula meringkuk ketakutan di pojok sana, kini mendadak Siau Ling berbangkit sambil menarik Siau Hong, omelnya dengan tertawa genit.

"Semuanya gara-garamu sehingga Kim-toako marah, ayolah lekas minta maaf kepada Kim-toaya."

Siau Ling adalah perempuan penghibur yang berpengalaman, ia tahu kalau Ong Ling-hoa mati, jelas mereka pun tak bisa hidup.

Kedua perempuan itu lantas mendekati Kim Put-hoan, Siau Ling mendorong Siau Hong ke pangkuan Kim Put-hoan, ia sendiri juga lantas merangkul dan berkata padanya dengan manja.

"Sudahlah, jangan Kim-toaya marah-marah pula, biarlah kami meladeni Kim-toaya, tanggung ...."

Lalu ia membisikkan sesuatu ke telinga Kim Put-hoan. Kim Put-hoan menjadi sibuk, tangan yang satu meraba dada Siau Ling, tangan yang lain meremas pantat Siau Hong, omelnya dengan tertawa.

"Wah, padat juga, rasanya tuanmu ingin caplok kalian sekaligus."

Kerlingan Siau Ling bisa bikin orang semaput, ucapnya manja.

"Kalau mau caplok bolehlah sekarang juga, rasanya aku pun tidak tahan lagi. Di belakang sana masih ada kamar dan ...."

Baik ....ücap Kim Put-hoan sambil menyeringai, mendadak kedua tangannya menampar.

"plak-plok", kedua perempuan itu terpental jatuh ke sana.

"Sundal,"

Maki Kim Put-hoan.

"memangnya kau kira tuanmu ini orang macam apa dan dapat kau tipu? Hm, perempuan jalang macam kalian ini sedikitnya ribuan sudah pernah kulihat ...."

Mendadak Siau Ling balas memaki.

"Kau manusia bejat, matamu buta, masih berlagak, memangnya kau kira nyonya besar penujuimu, biarpun kau jadi kacung pencuci ...."

Begitulah, dalam keadaan nekat, segala kata kotor dilontarkan seluruhnya. Siapa tahu Kim Put-hoan berbalik tertawa malah.

"Haha, bagus, makian bagus! Makin kotor makianmu, makin senang aku, pada waktu bekerja memang kusuka dimaki orang."

Sungguh Jit-jit merasa muak oleh kata-kata kotor mereka itu. Tapi Ong Ling-hoa lantas berkata.

"Orang semacam dirimu jarang terlihat juga di dunia ini, bahwa orang she Ong hari ini bisa terjungkal di tanganmu rasanya juga tidak terlalu penasaran."

Hm, kiranya kau pun bisa membedakan kualitas orang,"

Kata Kim Put-hoan.

"Tapi kukira saat ini kau pasti juga merasa menyesal mengapa tadi tidak membawa anak buah Kay-pang ke sini, juga menyesal mengapa menyuruh kedua anak buahmu pergi membeli obat bagiku.Öng Ling-hoa menghela napas, katanya.

"Ya, selain menyesal, aku pun merasa sayang."

"Merasa sayang apa?"

Tanya Put-hoan.

"Sayang orang berbakat seperti dirimu ini juga takkan hidup lama lagi."

Kim Put-hoan jadi melengak, tapi lantas tertawa.

"Haha, apakah engkau sudah linglung? Yang akan mampus bukanlah diriku melainkan kau!Öng Ling-hoa tersenyum.

"Betul, aku akan mati, dan kau pun tidak banyak berbeda."

Kentut!"

Damprat Put-hoan. Dengan suara lembut Ong Ling-hoa berkata.

"Kim-heng, engkau memang manusia yang paling rendah, kotor, keji, licik, dan tidak tahu malu. Tapi bilamana dibandingkanmu, rasanya aku pun tidak lebih baik daripadamu."

Tapi engkau toh terjebak juga olehku,üjar Put-hoan dengan menyeringai, namun tidak urung matanya yang tinggal satu itu berkedip-kedip menampilkan rasa sangsi dan takut.

"Meski aku terjebak olehmu, tapi Kim-heng juga tertipu olehku. Arak yang kau minum barusan lebih dulu sudah kucampur dengan racun perantas usus."

Seketika tubuh Kim Put-hoan tergetar, rasanya seperti disambar geledek, ia melenggong dengan mandi keringat.

"Kau ... kau dusta .... Haha, omong kosong!"

Katanya dengan gemetar.

"Jika benar di dalam arak ada racun, ken ... kenapa sampai saat ini tidak kurasakan sesuatu?"

Lalu dia tertawa, namun tertawa yang menyerupai orang menangis.

"Racun itu baru akan bekerja tujuh hari kemudian,"

Tutur Ong Ling-hoa.

"Di dunia ini hanya aku seorang saja yang dapat menolongmu, bila sekarang kau bunuh diriku, tujuh hari kemudian mungkin ...."

Kim Put-hoan melonjak murka dan meraung.

"Kau dusta ... jangan kau kira aku dapat ditipu. Saat ini juga akan kubinasakan kau."

Baik, jika Kim-heng tidak percaya, silakan turun tangan,"

Tentang Ong Ling-hoa malah. Kim Put-hoan memburu maju sambil mengangkat sebelah tangannya. Tapi tangan yang siap menghantam itu tidak lagi diteruskan.

"Kenapa Kim-heng tidak turun tangan?"

Tanya Ling-hoa dengan tertawa. Mendadak Kim Put-hoan menampar mukanya sendiri beberapa kali sambil memaki.

"Semua gara-gara mulut ini, kenapa rakus makan dan minum, mampus kau, mampus!"

Eh, jangan terlalu keras, kenapa Kim-heng menyakiti dirinya sendiri?üjar Ong Ling-hoa dengan tertawa.

"Bluk,"

Mendadak Kim Put-hoan berlutut di lantai dan memohon dengan suara gemetar.

"O, Ong-kongcu, orang besar takkan menyesali perbuatan orang kecil, hendaknya kau ampuni diriku, tadi aku cuma ... cuma main-main saja. Harap Ong-kongcu menawarkan racunku dan takkan habis terima kasihku selama hidup."

Baik, jika kau minta kutolong dirimu, boleh tunggu lagi tujuh hari,"

Kata Ling-hoa dengan tertawa.

"Tapi ... tapi tujuh hari kemudian lukamu akan sembuh,"

Seru Put-hoan dengan parau.

"Memang betul,"

Ling-hoa tersenyum senang.

"Dan ... dan bila kau sembuh, mana ... mana dapat kau ampuniku?"

Saking cemasnya Kim Put-hoan mengusap keringat yang memenuhi dahinya.

"Akan kuampunimu, tapi mau percaya atau tidak terserah padamu."

Tujuh hari lagi, rasanya aku tidak sabar menunggu lagi, mohon Ong-kongcu sekarang juga ...."

"Jika kutolong dirimu sekarang, aku sendiri yang tidak bisa hidup lagi,"

Kata Ling-hoa dengan tertawa. Mendadak Kim Put-hoan berubah beringas dan membentak pula.

"Keparat, kumohon dengan baik-baik, kenapa kau tolak. Padahal saat ini engkau tergenggam di tanganku, hendaknya kau turut perintahku untuk menawarkan racunku, kalau tidak ...."

Kalau tidak bagaimana?"

Sahut Ling-hoa dengan tersenyum.

"Jika kutolong dirimu sekarang aku pasti akan mati, kalau tidak kutolongmu masih ada harapan untuk hidup. Coba jawab, jika kau jadi diriku, apa pilihanmu?"

Seketika Kim Put-hoan melenggong dan serbasalah, untuk membunuh Ong Ling-hoa sekarang juga dia tidak berani, diharuskan menunggu tujuh hari rasanya juga enggan.

Dengan berbagai jalan, ya membujuk, ya mengancam, namun apa daya, Ong Ling-hoa tetap tahan harga.

Kalau tadi lagak Kim Put-hoan serupa harimau yang hendak mencaplok mangsanya, sekarang dia mirip tikus berhadapan dengan kucing.

Semua itu dapat disaksikan Cu Jit-jit dengan jelas, sungguh membuatnya heran, kejut, geli dan juga muak.

Ia pikir betapa keji hati keparat Kim Put-hoan dan betapa tebal kulit mukanya, sungguh tidak ada bandingannya di dunia.

Tiba-tiba terpikir lagi olehnya.

"Saat ini Ong Ling-hoa berbaring tidak bisa berkutik, Kim Put-hoan dan Co Kong-liong juga terluka, jika kesempatan ini tidak kugunakan untuk membekuknya kan terlalu tolol aku ini?"

Berpikir demikian, tanpa ragu lagi segera ia mendobrak pintu.

"blang", langsung ia menerjang ke dalam. Keruan semua orang terperanjat, cepat Kim Put-hoan membalik tubuh dan berteriak.

"Hei kau Cu Jit-jit!"

Huh, masakah kau dapat kabur sekali ini. Sim Long ... cepat kemari, mereka berada di sini!"

Sembari berseru Jit-jit terus menyerang beberapa kali.

Melihat munculnya Jit-jit, meski terkejut, segera Kim Put-hoan menjadi girang, ia merasa kebetulan domba disodorkan ke mulut harimau, segera ia bermaksud menangkap si nona.

Tapi begitu mendengar Jit-jit berteriak memanggil Sim Long, seketika kaki dan tangannya menjadi lemas.

"Betul, kalau Cu Jit-jit muncul, tentu juga Sim Long segera menyusul tiba,"

Demikian pikir Put-hoan. Maka sambil menghindarkan serangan Jit-jit, segera ia menerobos ke arah pintu bagian belakang, ia yakin di situ pasti juga ada jalan tembus keluar. Segera Jit-jit berteriak.

"Jangan ikut lari!"

Diam-diam Co Kong-liong membatin.

"Hanya orang tolol yang tidak ikut lari."

Berpikir demikian, seketika ia pun angkat langkah seribu, bahkan lebih cepat larinya daripada Kim Put-hoan.

"Jangan lari!"

Teriak Jit-jit pula.

"Itu dia, Sim Long, lekas kejar, mereka lari ke sana!"

Semula Ong Ling-hoa pucat melihat kemunculan Cu Jit-jit serta seruannya memanggil Sim Long.

Tapi setelah melihat lagak si nona, mendadak tersembul senyuman geli pada ujung mulutnya.

Tiba-tiba ia pun berseru.

"Tapi Ong Ling-hoa tidak sempat lari, tidak perlu juga kejar mereka!"

Jit-jit melengak, tapi lantas diketahuinya ucapan Ong Ling-hoa itu menirukan suara Sim Long, agaknya supaya Kim Put-hoan dan Co Kong-liong yang lari belum jauh itu dapat mendengarnya dan tidak berani kembali lagi.

Habis itu barulah Ong Ling-hoa berkata pula.

"Terima kasih atas pertolongan nona."

"Tutup mulutmu!"

Bentak Jit-jit sambil membalik tubuh.

"Kenapa Sim-siangkong belum lagi datang?"

Tanya Ling-hoa.

"Dari mana kau tahu dia belum datang, dia berada di luar,"

Kata Jit-jit.

"Jika berada di luar, tentunya nona takkan sengaja menggertak lari mereka dan aku pun tidak perlu membantumu menakut-nakuti mereka."

Hm, tampaknya kau serbatahu,"

Jengek Jit-jit.

"Biarpun Sim Long tidak ikut datang, melulu aku juga sanggup menghadapimu."

Saat ini aku sama sekali tidak bertenaga, dengan sendirinya nona ...."

"Jika tahu begitu, apa yang membuatmu gembira? Kau kira kudatang untuk menolongmu? Hm, aku cuma tidak suka kau jatuh dalam cengkeraman orang lain."

Ya, ya, kutahu,"

Kata Ling-hoa dengan tertawa.

"Hm, tadi Kim Put-hoan dapat kau gertak sehingga tidak berani turun tangan padamu, tapi sekarang kau jatuh dalam cengkeramanku celakalah nasibmu."

Umpama sekarang juga nona membunuhku, tetap aku bergembira. Bisa mati di tangan nona secantik bidadari seperti dirimu kan jauh lebih menyenangkan daripada mati di tangan si buta itu ...."

"Huh, salah besar jika kau sangka jatuh dalam cengkeramanku akan lebih enak. Bagi Kim Put-hoan paling-paling cuma membunuhmu saja, tapi aku ... justru akan kusiksa dulu dirimu."

Teringat kepada macam-macam perbuatan Ong Ling-hoa yang menggemaskan, sungguh Jit-jit tidak tahan, segera ia melompat maju dan sekaligus memberi beberapa kali tamparan.

"Dapat dipukul oleh tangan halus seperti tangan nona ini boleh dikatakan mujur juga,"

Kata Ong Ling-hoa sambil cengar-cengir.

"Jika tangan nona tidak kesakitan, silakan pukul lagi beberapa kali."

Baik!"

Teriak Jit-jit dan kembali ia menggampar lima-enam kali.

"Bagus, pukulan bagus!"

Kalau bagus biar kutambah lagi!"

Dan begitulah, belasan kali tamparan Jit-jit membikin muka Ong Ling-hoa yang putih itu berubah menjadi merah bengap dan bertambah gemuk.

Siau Ling dan Siau Hong sama melongo, mereka tidak menyangka nona cantik manis begitu tega turun tangan sekeji itu.

"Hm, coba omong lagi, segera kupukul lebih banyak,"

Jengek Jit-jit.

"Jangan kau kira aku ini Cu Jit-jit yang dulu, supaya kau tahu, aku sudah berubah sekarang. Jika berani lagi sembarangan mengoceh, bisa kupotong sebelah kupingmu, kau percaya tidak? Cu Jit-jit sekarang bukan lagi Cu Jit-jit yang boleh sembarangan dihina."

Ya, ya,"

Terpaksa Ong Ling-hoa melihat gelagat.

"Apakah masih ingat tempo hari aku telah kau tipu dengan tersiksa?"

Tanya Jit-jit.

"Ingat ... tidak ingat,"

Jawab Ling-hoa dengan gelagapan.

"Ai, kejadian sudah lalu, untuk apa nona mengungkatnya?"

Tidak mengungkatnya? Hm, selama hidup takkan kulupakan kejadian itu,"

Jengek Jit-jit.

"Thian Maha adil, sekarang kau pun jatuh dalam cengkeramanku. Nah, apa ... apa yang dapat kau katakan lagi?"

Aku tidak dapat berkata apa-apa,"

Sahut Ling-hoa.

"Apa kehendak nona, tentu akan kuturuti."

Baik, kembalikan dulu!"

Kata Jit-jit sambil menyodorkan sebelah tangan.

"Kem... kembalikan apa?"

Masa berlagak pilon pula? Barangku yang kau tipu itu lekas kembalikan padaku,"

Bentak Jit-jit dengan gusar.

"O, ya, ya, menurut,"

Sahut Ling-hoa dengan tersenyum getir. Lukanya memang tidak ringan, dengan susah payah akhirnya baru sepasang anting-anting dapat dikeluarkannya. Jit-jit terus menyambarnya dan menjengek.

"Oi, Ong Ling-hoa, tak tersangka akan terjadi juga seperti sekarang ini."

Nona mau apa lagi?"

Tanya Ling-hoa.

Jit-jit tidak menjawab, sambil membetulkan rambutnya ia mondar-mandir di dalam kamar.

Pandangan Ong Ling-hoa juga mengikuti si nona yang kian kemari itu seperti ingin mengetahui apa yang dipikirnya.

Tiba-tiba Siau Ling mengambilkan kursi dan berkata kepada Jit-jit.

"Silakan nona duduk dulu dan jangan marah, umpama Ong-kongcu tidak setia padamu kan dapat ...."

Kentut, dia tidak setia apa?"

Bentak Jit-jit dengan gusar.

"Jangan kau ikut urusan dan takkan kubikin susah padamu, kalau usil mulut, hmk!"

Ya, ya, hamba tidak berani,"

Cepat Siau Ling menjawab dengan takut. Ia sendiri orang perempuan, ia tahu bilamana hati perempuan sudah kejam, biasanya akan jauh lebih kejam daripada lelaki. Mendadak Ong Ling-hoa berkata.

"Lelaki yang tidak setia memang menggemaskan. Jika nona ingin mencari pembantu untuk menghadapi lelaki yang tidak setia padamu, aku inilah pilihan yang paling tepat."

Tutup mulutmu!"

Bentak Jit-jit.

Meski dia berlagak garang, tidak urung matanya menjadi merah dan basah.

Nyata ucapan Ong Ling-hoa itu telah menyentuh perasaannya.

Diam-diam Ling-hoa bergirang, ia tahu sementara ini Cu Jit-jit pasti takkan membikin celaka padanya.

Asalkan tidak turun tangan keji padanya sekarang, selanjutnya dia pasti punya akal untuk meloloskan diri.

Cu Jit-jit mondar-mandir lagi beberapa kali, mendadak ia menutuk dua tempat Hiat-to kelumpuhan Ong Ling-hoa, lalu dibungkusnya dengan selimut, dipanggulnya dan dibawa pergi.

"Ke ... ke mana nona akan membawa Ong-kongcu?"

Tanya Siau Ling dengan takut.

"Sebentar bila ada orang datang dan tanya padamu, katakan Ong Ling-hoa telah digondol pergi nona Cu Jit-jit, jika ada orang bermaksud menolong dia, lebih dulu akan kucabut nyawanya."

Siau Ling mengangguk. Sesudah Jit-jit pergi, dengan tertawa ia bergumam.

"Kalau ada orang datang, jelas kami pun sudah angkat kaki. Untung uang mereka masih tertinggal di sini ...."

Jilid 19 Salju kembali turun lagi.

Meski tidak rendah Ginkang Cu Jit-jit, tapi dia memanggul seorang lelaki, betapa pun gerak-geriknya tidak leluasa.

Dengan sendirinya Ong Ling-hoa yang dibungkus dengan selimut dan dipanggul itu juga tidak enak rasanya.

"Nona hendak membawaku ke mana?"

Tanya Ong Ling-hoa akhirnya.

"Orang yang berhak bicara dan memberi perintah di sini ialah diriku, tahu?"

Jawab Jit-jit.

"Maka ke mana pun akan kubawa dirimu bagimu lebih baik tutup mulut saja."

Menurut,"

Sahut Ling-hoa sambil menyengir.

Jit-jit memandang sekitarnya, suasana sunyi tiada tertampak apa pun.

Diam-diam ia rada gelisah, berkeliaran kian kemari dengan memanggul seorang lelaki betapa pun bukan pekerjaan yang enak.

Akhirnya sampailah di suatu tempat, dilihatnya bekas roda kereta bersimpang-siur, agaknya dia sudah sampai di jalan raya.

Hendaklah maklum, jalan raya sudah tertutup oleh salju sehingga sukar untuk mengenali jalan bila tidak ada bekas roda kereta.

Jit-jit mendapatkan sepotong batu di bawah pohon yang sudah layu, di situ ia duduk mengaso, Ong Ling-hoa dilemparkan di tepi jalan.

Ong Ling-hoa memang tahan uji, dia diam saja diperlakukan bagaimanapun oleh Cu Jit-jit, sebaliknya ia tetap tersenyum simpul biarpun mukanya serasa beku kedinginan, dengan sendirinya senyumnya lebih tepat dikatakan menyengir.

Selang tidak lama, tertampak sebuah kereta besar datang dari kejauhan.

Mendadak Jit-jit membentak sehingga perlahan kereta yang sudah mendekat itu dihentikan.

Belum lagi kusirnya bicara, sebuah kepala menongol keluar dari kabin kereta dan menegur, ¡He, ada apa berhenti?

Lekas jalan, kereta ini sudah kuborong, tidak terima penumpang lagi.¡"

Tapi Jit-jit tidak banyak cincong lagi, ia terus membuka pintu kereta seperti keretanya sendiri.

Tertampaklah tiga orang lelaki berdandan kaum pedagang duduk di dalam, seorang di antaranya terasa sudah kenal, tapi Jit-jit tidak memerhatikannya, ia membentak.

"Turun semuanya, lekas!"

Salah seorang lelaki yang bermuka bundar bertanya dengan terkejut.

"Turun? Ada apa turun?"

"Kalian bertemu dengan bandit, tahu?"

Bentak Jit-jit pula.

"Ban ... bandit? Di mana?örang itu bertanya pula dengan khawatir.

"Aku inilah banditnya?"

Kata Jit-jit sambil menuding hidungnya sendiri. Melihat pada pinggang orang tergantung sebilah golok.

"cring", segera Jit-jit menariknya, golok itu ditekuk ke atas dengkul dan "

Krek ""

Kontan golok itu patah menjadi dua.

Muka ketiga lelaki itu menjadi pucat, mereka tidak berani bicara lagi, buru-buru mereka memberosot keluar kereta.

Segera Jit-jit meraih Ong Ling-hoa dan dilemparkan ke dalam kereta, lalu berseru.

"Lekas larikan keretamu, kusir!Ägaknya si kusir menjadi bingung juga karena ketakutan.

"Ya ... ya, nona ... tidak, Tay-ong (raja, sebutan kepada kaum bandit), ke ... ke mana?"

Langsung saja ke depan, bila perlu akan kuberi tahukan nanti,"

Bentak Jit-jit. Segera kereta itu dilarikan dengan cepat, ketiga lelaki tadi ditinggalkan begitu saja di bawah hujan salju.

"Hehe, Tay-ong ...."

Gumam Ong Ling-hoa dengan tertawa.

"Tak tersangka nona manis telah berubah menjadi Tay-ong."

Jit-jit menarik muka dan tidak menggubrisnya.

Padahal ia pun merasa geli sendiri bila teringat kepada apa yang diperbuatnya tadi, sebelum ini mimpi pun tak terpikir olehnya akan terjadi begini.

Setengah hari sebelum ini Sim Long masih berada di sisinya.

Teringat kepada Sim Long, bila anak muda itu tahu apa yang dilakukannya ini entah bagaimana perasaannya, mungkin juga dia akan tertawa geli.

Tapi di manakah Sim Long saat ini?

Mana dia dapat melihat apa yang dilakukannya?

Begitulah perasaan Cu Jit-jit kembali bergolak, sebentar sedih, lain saat gembira.

"Apa pun juga saat ini Ong Ling-hoa telah jatuh dalam tanganku, dia pasti akan tunduk kepadaku bila tidak ingin kusiksa, dia orang pintar, tentu dapat kulakukan macam-macam urusan yang mengejutkan Sim Long, kelak dia pasti akan tahu juga kelihaianku,"

Demikian Jit-jit berpikir. Sampai di sini, ia jadi bersemangat, segera ia berteriak pula.

"Hai, kusir, percepat lari kudamu supaya lekas sampai di kota, sebentar boleh cari hotel terbesar untuk mengaso, banyak bekerja sedikit bicara, tentu akan kuberi persen lebih banyak.Äkhirnya kereta benar berhenti di depan sebuah hotel besar. Dari saku Ong Ling-hoa dapatlah Jit-jit melolos keluar segebung uang kertas, nilai nominal yang paling kecil adalah lima ratus tahil perak. Begitu saja dia beri selembar kepada kusir. Tentu saja hal ini membuat si kusir melongo kaget dan kegirangan.

"Tutup mulut yang rapat, tahu? Kalau tidak, jiwamu bisa melayang!"

Kata Jit-jit dengan suara tertahan.

Si kusir merasa seperti baru bermimpi, mimpi pertama terasa buruk, tapi kemudian jadi mimpi mujur.

Dengan begini, sampai tua dia tidak perlu menjadi kusir lagi.

Sesudah masuk hotel, Jit-jit berikan sehelai cek yang bernominal seribu tahil perak sebagai deposito di tempat kasir, pesannya.

"Taruh dulu di sini, pakai berapa nanti, sisanya baru kembali, potong dulu 20 tahil sebagai tip untuk semua pegawai di sini, berikan dua kamar kelas satu, usung orang sakit di dalam kereta ke dalam kamar."

Seribu tahil perak itu serupa sebuah cambuk, seluruh pekerja hotel itu, dari kasir sampai pelayan, semuanya telah dibuat tunduk habis-habisan.

Dalam sekejap saja segala apa yang diperlukan telah siap seluruhnya.

Lalu Jit-jit memberi perintah pula kepada pelayan agar membelikan beberapa pasang baju lelaki dan perempuan, lalu menyewakan sebuah kereta agar setiap saat menunggu untuk dipakai.

Uang memang serbaguna, dalam waktu singkat saja pesannya sudah dipenuhi.

"Wah, nona sungguh royal sekali,ücap Ong Ling-hoa dengan tertawa.

"Kan uangmu, tentunya hatimu sakit, bukan?"

Jawab Jit-jit.

"Tidak, tidak sakit, aku sendiri tidak mampu berkutik, kenapa merasa sakit? Jangankan nona cuma memakai uangku, dagingku kau potong juga boleh."

Hm, cukup tahu diri juga,"

Jengek Jit-jit.

"Sekarang hendak kutanya padamu, jika kusuruh kau kerjakan sesuatu, kau tunduk atau tidak? Asalkan kau mau menurut, jiwamu ada harapan akan kuampuni."

Perintah apa pun dari nona pasti akan kukerjakan,"

Jawab Ong Ling-hoa.

"Baik, pertama kali, lekas kau ganti rupamu sendiri,"

Kata Jit-jit.

"Jangan bekernyit kening, kutahu kotak rias selalu kau bawa, hal ini tentu dapat kau kerjakan."

Memangnya nona menghendaki kuganti rupa bagaimana?"

Tanya Ling-hoa. Biji mata Jit-jit berputar, katanya kemudian.

"Ganti rupa sebagai perempuan.Öng Ling-hoa melengak.

"Perem ... perempuan?"

Ya. Memangnya kenapa, engkau tidak mau?"

"Aku ... aku khawatir tidak bisa mirip,"

Sahut Ong Ling-hoa dengan muka bersungut.

"Pasti mirip,üjar Jit-jit.

"Memangnya engkau rada mirip anak perempuan. Nah, lekas keluarkan kotak rias, akan kubuka Hiat-to kelumpuhanmu supaya dapat bergerak setengah badan, hendaknya lekas kau bekerja."

Nona minta kuganti rupa anak perempuan yang bagaimana?"

"Umpamanya bermuka ... bermuka putih beralis lentik, tapi dalam keadaan lesu seperti ... seperti sakit tebese, dan ... dan tentu saja rambutnya harus kusut."

Muka Ong Ling-hoa memang rada mirip anak perempuan dan agak kepucat-pucatan sehingga serupa orang yang berpenyakitan setelah berias.

Jit-jit memandangnya dengan tersenyum, sebaliknya Ong Ling-hoa jadi menyengir.

Jit-jit lantas memilih seperangkat baju, katanya dengan tertawa.

"Baju ini disangka pelayan akan kupakai, tak tahunya engkau yang memakainya."

Lantas apa pula perintah nona?"

Tanya Ling-hoa dengan menahan rasa dongkol.

"Kau pun harus merias diriku."

Nona ingin ganti rupa apa?"

"Berubah menjadi lelaki.Öng Ling-hoa melengak.

"Le ... lelaki bagaimana?"

Lelaki muda yang cakap, supaya tergila-gila tiap gadis yang melihatku. Tapi tidak berbau perempuan agar tidak diketahui orang. Kan cara bicara dan gerak-gerikku juga rada mirip anak lelaki?"

"Wah, alangkah baiknya jika aku tidak paham ilmu rias,üjar Ong Ling-hoa dengan menyesal.

"Hm, jika engkau tidak paham rias, sudah lama kubinasakan kau,"

Jengek Jit-jit. ***** Setelah menyamar, Jit-jit memang mirip anak muda yang tampan. Ia geli sendiri ketika bercermin, gumamnya.

"Wahai Sim Long, bila sekarang kita berebut seorang gadis, tentu engkau tak bisa mengalahkan diriku ...."

Teringat kepada Sim Long, dari geli ia jadi menyesal lagi.

Hari sudah gelap.

Tapi suasana masih ramai, suara roda kereta dan ringkik kuda masih terus berkumandang dari luar.

Mendadak Jit-jit membuka pintu dan memanggil pelayan.

Dengan hormat pelayan mendekati si nona.

Waktu diketahui yang berhadapan dengan dia adalah seorang Kongcu, ia jadi melengak, katanya dengan menyengir.

"O, ki ... kiranya Kongcu sudah sembuh. He, nona itu berbalik jatuh sakit?"

Jit-jit tahu orang menyangka dirinya adalah Ong Ling-hoa yang terbungkus selimut tadi, ia merasa kebetulan, dengan tertawa ia menjawab.

"Ya, dia sakit. Eh, ingin kutanya padamu, mengapa hotelmu seramai ini?"

Hotel kami biasanya memang cukup ramai, tapi juga jarang seramai sekarang ini, entah mengapa selama dua hari ini tamu yang datang jauh lebih banyak daripada biasanya.

Kedua kamar untuk Kongcu ini pun khusus dikosongkan untukmu,"

Demikian tutur si pelayan.

"Rombongan tamu macam apakah?"

Tanya Jit-jit pula.

"Tampaknya kebanyakan adalah pengawal barang,"

Tutur pelayan.

"Ai, mereka bukan orang berkedudukan seperti Kongcu sehingga kurang tertib, untuk ini diharap Kongcu suka memakluminya."

Baiklah, sudah jelas, pergilah,"

Kata si nona.

Pelayan lantas mengundurkan diri, diam-diam ia heran mengapa yang lelaki sembuh secepat itu dan yang perempuan mendadak jatuh sakit, caranya membuang uang seperti khawatir uang tidak laku lagi, sebaliknya baju saja tidak bawa sendiri dan harus membeli.

Tapi, peduli amat, yang penting persennya gede, biar aku berlagak bisu dan buta saja.

Sesudah tutup pintu kembali, Jit-jit lantas tanya Ong Ling-hoa.

"Hai, di kota ini mendadak berkumpul orang Kangouw sebanyak ini, tentu akan terjadi apa-apa lagi. Sesungguhnya ada peristiwa apa, coba ceritakan."

Dari mana kutahu,"

Jawab Ong Ling-hoa.

"Masa engkau tidak tahu?"

Dunia seluas ini dan setiap hari bisa terjadi apa pun, masa semuanya dapat kuketahui?"

Jit-jit mendengus. Tiba-tiba teringat sesuatu olehnya, tanyanya pula.

"Coba jelaskan, sebab apa rombongan Can Ing-siong begitu tiba di Jin-gi-ceng lantas mati semua?"

Oo, ini ... ini pun aku tidak tahu,"

Sahut Ong Ling-hoa.

"Bukan permainanmu?"

Bentak Jit-jit.

"Ai, saat ini aku berada dalam cengkeramanmu, mati-hidupku bergantung di tangan nona, apa yang nona minta kukerjakan masakah berani kutolak, apa yang nona tanya tentu juga kujawab. Tapi bila yang kau tanya memang tidak kuketahui, lalu apa yang harus kukatakan, biar mati pun tidak dapat kujelaskan."

Hm, pada suatu hari pasti dapat kubikin kau bicara segalanya, sekarang belum tiba saatnya,"

Jengek Jit-jit. Setelah berpikir sejenak, mendadak ia membuka pintu pula dan memanggil pelayan. Kedatangan pelayan sekali ini terlebih cepat dan bertanya.

"Kongcu ada perintah apa?"

Coba carikan sebuah joli dan dua orang bibi pengusung joli, aku mau membawa keponakan perempuanku berkeliling kota, supaya dia mendapat hawa segar dan melihat pemandangan. Nah, lekas!"

Cepat pelayan mengiakan dan berlari pergi. Sesudah pelayan pergi, Ong Ling-hoa berseloroh.

"Keponakan perempuan? Ai, apakah keponakan serupa diriku tidak terlalu besar bagimu? Kenapa tidak kau katakan Tacimu atau adikmu? Apalagi kalau kau bilang istrimu, tentu orang akan lebih percaya."

Apakah mukamu sudah gatal dan minta digampar lagi?äncam Jit-jit.

"Aku ... aku hanya khawatir orang lain tidak percaya ...."

Jika tidak kukatakan engkau ini cucu perempuanku kan sudah baik bagimu?"

Jengek Jit-jit.

"Nah, sebentar akan kubawa pesiar dirimu, akan kututuk Hiat-to kelumpuhan dan bisumu agar engkau tidak banyak bertingkah."

Silakan berbuat saja sesukamu, masakah perlu kau katakan padaku?üjar Ling-hoa sambil menyengir.

***** Joli yang disewa terbuat dengan kecil mungil dan cukup empuk, tanpa susah payah dua orang bibi kekar itu dapat mengusungnya.

Ong Ling-hoa ditutup dengan selimut, hanya kepala saja yang menongol di luar, duduk di dalam joli tanpa bisa berkutik.

Jit-jit memandangnya dua-tiga kejap, diam-diam ia merasa geli juga, pikirnya.

"Oi, Ong Ling-hoa, biasanya kau suka siksa orang, sekarang kau pun rasakan bagaimana enaknya tersiksa.Öng Ling-hoa memang tersiksa, tapi bagaimana perasaannya tidak ada yang tahu. Joli berjalan di depan, Jit-jit ikut di belakang, mereka terus putar kayun menyusuri jalan raya dengan perlahan. Kota ini memang cukup ramai, pasar malam baru mulai, yang berlalu-lalang di jalan raya memang tidak sedikit jago dunia persilatan, tapi tiada seorang pun dikenal Cu Jit-jit. Dilihatnya wajah para jago persilatan itu sama berseri-seri, hal ini menandakan umpama terjadi sesuatu di kota ini tentu juga bukan peristiwa buruk. Sekonyong-konyong dari jalan simpang sana muncul dua orang. Seorang lelaki bermuka merah ungu, hidung besar serupa hidung singa, alis tebal dan mata besar, perawakan kekar dan berjubah sutra ungu, kelihatan gagah perkasa. Seorang lagi perempuan. Bentuk perempuan ini sungguh tidak serasi berdampingan dengan si lelaki. Dia jauh lebih pendek, perawakannya boleh dikatakan seperti segumpal daging, malahan pada pipinya memang tumbuh segumpal daging kecil atau sejenis uci-uci. Kedua orang yang tidak serasi ini berjalan bersama, tentu saja sangat mencolok dan membuat orang heran dan geli. Tapi setiap orang persilatan yang melihat kedua orang ini sama sekali tidak berani memperlihatkan rasa geli mereka, malahan bila bertemu lantas memberi hormat. Kedua orang ini juga dikenal oleh Cu Jit-jit, ia heran.

"Mengapa si Singa jantan Kiau Ngo dan si Khong Bing betina Hoa Si-koh juga berada di sini?"

Dilihatnya Kiau Ngo dan Hoa Si-koh tidak menghiraukan orang-orang yang sama menyapa dan memberi hormat kepada mereka.

Terlebih Hoa Si-koh, perhatiannya hanya tercurah kepada Kiau Ngo seorang saja.

Meski bentuk perempuan ini sangat jelek tapi dandanannya tampak lebih bersih dan rajin daripada dahulu, mukanya juga kelihatan cemerlang.

Hanya memandang sekejap saja Cu Jit-jit lantas tahu itulah kecemerlangan cinta, sebab ia sendiri pun pernah mengalami rasa bahagia demikian, walaupun sekarang hal itu dirasakan hambar, bahkan pahit.

Meski heran, diam-diam Jit-jit juga bergirang bagi mereka.

Biarpun Hoa Si-koh bukan wanita cantik, tapi dia terkenal sebagai perempuan cendekia, dan hanya perempuan cendekia saja yang pantas berjodohkan pahlawan.

Mereka bersimpang jalan dengan Cu Jit-jit, sesudah berhadapan, mereka hanya memandang sekejap saja kepada Jit-jit dan tidak lebih.

Nyata ilmu rias Ong Ling-hoa memang sangat hebat dan dapat mengelabui siapa pun.

Sesudah lewat, masih juga Jit-jit menoleh, dilihatnya Kiau Ngo berdua telah masuk ke sebuah restoran, namanya Wat-pin-lau.

Dalam pada itu didengarnya orang berlalu banyak yang kasak-kusuk membicarakan Kiau Ngo berdua, ada yang memberitahukan kepada kawan yang tidak tahu bahwa Kiau Ngo dan Hoa Si-koh adalah dua di antara ketujuh tokoh terkemuka dunia persilatan saat ini.

Diam-diam Jit-jit membatin.

"Nama ketujuh tokoh besar dunia persilatan memang cukup gemilang, cuma sayang di antaranya terdapat juga manusia kotor serupa Kim Put-hoan."

Tiba-tiba timbul pikiran Jit-jit, katanya kepada kedua bibi pengusung joli.

"Kita juga masuk ke restoran itu, bawalah nona ke atas."

Dalam pada itu sorot mata Ong Ling-hoa juga berubah seperti melihat seseorang tokoh yang aneh.

Cuma dia tertutuk Hiat-to bisunya sehingga tidak mampu bersuara.

Restoran Wat-pin-lau memang sangat luas, ratusan tamu ternyata belum lagi memenuhi ruangannya.

Kiau Ngo dan Hoa Si-koh berduduk di meja dekat jendela, inilah tempat pilihan, jelas ada orang sengaja mengalah kepada mereka.

Waktu Jit-jit naik ke atas loteng restoran, terasa pandangan kedua orang yang tajam itu meliriknya sekejap, habis itu keduanya lantas berbisik entah apa yang dibicarakan.

Jit-jit anggap tidak tahu, ia memilih sebuah meja di kejauhan sana, kedua bibi pengusung mengangkat Ong Ling-hoa dan didudukkan di samping si nona.

Dandanan mereka tidak mirip orang Kangouw sehingga tidak menarik perhatian orang lain.

Tiba-tiba terdengar orang di meja samping mereka sedang bicara.

"Tak tersangka urusan ini telah banyak mengejutkan orang, sampai kedua tokoh itu pun muncul di sini."

Yang bicara ini dirasakan Jit-jit seperti sudah pernah dilihatnya, cuma lupa entah di mana.

Orang ini bermuka putih, bibir merah dan gigi rajin, bajunya juga bersih, boleh dikatakan cukup tampan.

Lalu seorang lagi menanggapi.

"Urusan ini memang tidak boleh diremehkan, menurut pendapatku, kecuali mereka berdua tentu akan datang lagi tokoh-tokoh lain, boleh kau lihat saja nanti."

Jit-jit lagi memilih santapan, diam-diam ia heran urusan apakah yang dimaksudkan mereka dan mengapa sampai mengagetkan para tokoh Kangouw? "

Ya, setiap orang Bu-lim yang berkunjung ke kota ini tentu akan masuk ke Wat-pin-lau ini, biarpun hidangan di sini mahal dan tidak enak juga bukan soal, betapa pun harus menghormati pemiliknya,üjar pemuda pertama tadi.

Kembali Jit-jit merasa heran, siapakah pemilik restoran ini, apakah juga kesatria yang ternama?

Ia coba menyapu pandang para tamu, dilihatnya sebagian besar tamunya memang terdiri dari orang Kangouw.

Dari pakaian mereka tidak sulit untuk mengetahui siapa mereka.

Di antara berbagai bentuk tetamu itu, Jit-jit merasa tidak ada seorang pun yang menonjol.

Tapi mendadak dilihatnya satu orang, seketika ia tertarik.

Bentuk orang ini juga tidak luar biasa, bahkan di antara para tamu bentuknya boleh dikatakan sangat umum.

Tapi entah mengapa, di tengah kewajaran orang ini seakan-akan ada sesuatu yang luar biasa dan tidak umum.

Dalam hal apa dirasakan luar biasa, Jit-jit sendiri tidak dapat menjelaskan.

Baca Juga: Badik Buntung 3

Baca Juga: Bangau Sakti 7

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert