Ceritasilat Novel Online

Pendekar Baja 5

Eps 5 Pendekar Baja - Gu Long

Baca online Pendekar Baja - Gu Long

Cersil Pendekar Baja - Gu Long.

"Coba katakan, setelah tahu ada keganjilan itu, kenapa tidak kau beri tahukan padaku, bagaimanapun terbongkarnya rahasia ini kan juga lantaran diriku."

Sim Long tertawa, katanya.

"Karena kutahu betapa berangasan watakmu, tidak tahan sabar, bila waktu itu kumat kebandelanmu, bisa jadi seluruh rencanaku akan berantakan."

"Baik, kau pandai... kau sabar, kau... kau punya rencana setan apa?"

Jit-jit mengomel panjang-pendek. Ong Ling-hoa tertawa, ujarnya.

"Waktu itu Sim-heng diam-diam saja, maka aku juga tidak tahu rahasiaku telah diketahui olehnya, tapi setelah malam tiba...."

Dengan tertawa dia mengawasi Si Kucing dan Jit-jit, lalu melanjutkan.

"Waktu bayangan Nona berkelebat di luar jendela kami segera melihatnya, tapi hanya Si Kucing saja yang mengejar keluar, semula aku juga ingin mengejar, tapi Sim-heng menahanku,"

Lalu dia bergelak tertawa.

"Hahaha, maka malam itu juga timbul niatku untuk mencekok Sim-heng hingga mabuk, takaran minum arakku di Kota Lokyang belum pernah menemukan tandingan."

Jit-jit mencibir, katanya.

"Caramu membual juga pasti belum ada tandingan."

Ong Ling-hoa berlagak tidak mendengar, katanya lagi.

"Siapa tahu, ingin kucekoki Sim-heng, ia pun ingin mencekokiku kami terus saling tenggak, entah berapa cawan sudah kami habiskan, Sim-heng belum mabuk, aku malah merasa pening kepala."

"Setan arak cilik berhadapan dengan setan arak besar, sudah tentu yang kecil akan kewalahan,"

Demikian Jit-jit berolok. Ong Ling-hoa tertawa.

"Aku mendekap meja dan terlena sekejap, waktu aku tersentak sadar bayangan Sim-heng sudah tidak kelihatan, kutahu mengejar juga takkan tersusul terpaksa aku mendahului lari ke taman ini."

"Sim Long,"

Sela Jit-jit.

"bicaralah terus terang, waktu itu kau ke mana?"

Ong Ling-hoa menyela.

"Sim-heng memburu ke toko lilin ini di luar tahu siapa pun, seluruh pegawai toko dia tutuk hiat-tonya, di taman belakang sana dia menemukan mulut lorong bawah tanah ini."

Mendadak Cu Jit-jit berteriak.

"He, bukankah di mulut lorong itu dijaga seorang raksasa, Sim Long, masa kau... kau mampu melawannya?"

Meski lahirnya dia memaki Sim Long, tapi batinnya sangat memerhatikan keselamatan anak muda itu. Sim Long tertawa, katanya.

"Raksasa itu memang memiliki tenaga luar biasa, begitu aku masuk lorong lantas berhadapan dengan dia, untung lorong itu sempit, gerak-gerik orang itu lambat dan tidak leluasa, untung lagi dia bisu-tuli, tidak mampu berteriak minta tolong, kalau tidak, tentu sukar menerobos penjagaannya."

"Kau... kau membunuhnya?"

Tanya Jit-jit. Sim Long menggeleng.

"Aku hanya menutuk hiat-tonya.... Ai, kalau diceritakan memang cukup mengejutkan, seluruhnya kututuk dua belas hiat-to di tubuhnya baru dia roboh tersungkur."

Jit-jit menghela napas lega, katanya.

"Hm, lebih baik kau mati diremas olehnya daripada hidup mendustai orang."

Ong Ling-hoa berkata.

"Kecuali penjaga raksasa itu, sepanjang lorong banyak dipasang alat jebakan, orang biasa jangan harap bisa bergerak leluasa di dalam lorong itu."

Setelah menghela napas, ia menambahkan.

"Tapi Sim-heng bukan saja dapat lolos dari perangkap, tiga puluh enam penjaga di dalam lorong itu ada dua puluh satu yang tertutuk roboh oleh Sim-heng, lima belas orang yang lain ternyata tidak melihat kehadiran Sim-heng di lorong itu, segala alat perangkap itu dianggap seperti permainan anak kecil saja oleh Sim-heng."

"He, Sim Long,"

Seru Jit-jit tak sabar.

"bagaimana sesudah kau keluar dari lorong bawah tanah itu?"

"Memang banyak perangkap keji dalam lorong itu, setiap langkah menghadapi bahaya, beruntung aku selamat keluar dari lorong itu, namun jejakku ternyata sudah ketahuan Ong-lohujin."

Tanpa terasa Jit-jit menjerit kaget.

"Apa yang dia lakukan terhadapmu?"

"Agaknya beliau sudah memperhitungkan bahwa aku pasti akan datang, maka dia duduk di mulut lorong menungguku, tentu saja aku pun kaget dan mengira bakal terjadi pertempuran sengit."

"Jadi baku hantam tidak? Dan siapa yang menang?"

Tanya Jit-jit.

"Tak tahunya beliau malah bersikap ramah dan tiada maksud bergebrak denganku, dengan tersenyum dia menyambut dan mempersilakan aku duduk. Betapa cerdik pandai beliau, besar wibawa dan gayanya yang anggun, sungguh jarang kulihat selama hidupku."

Jit-jit mendengus sambil melirik Ong Ling-hoa, syukur tidak tercetus kata makiannya, namun sorot matanya sudah cukup berbicara. Ong Ling-hoa lantas bercerita.

"Malam itu aku langsung pulang kemari dan kujelaskan persoalannya kepada ibunda, kubicarakan juga tentang Sim-heng.... Ibu amat tertarik pada Sim-heng, beruntun dia tanya bentuk, asal-usul dan perguruan Sim-heng, mendadak ibu turun dari loteng dan duduk di mulut lorong, semula aku heran, mendadak Sim-heng muncul dari dalam lorong.... Ai, betapa tepat analisis ibu terhadap segala persoalan, sungguh jarang ada bandingannya."

Kembali Jit-jit mendengus, katanya kepada Sim Long.

"Apa saja yang dia bicarakan padamu?"

"Beliau menjelaskan seluk-beluk persoalan ini, baru kutahu rencana kerjanya itu adalah untuk menghadapi Koay-lok-ong. Walau kaki Koay-lok-ong kini belum masuk Tionggoan, namun orang ini sudah dipandang sebagai bibit bencana oleh kaum persilatan umumnya, jika usahanya berhasil, maka huru-hara dan bencana bakal menimpa kaum persilatan, kaum persilatan kita tak bisa lagi hidup tenteram,"

Setelah menghela napas Sim Long meneruskan.

"Sesudah mendengar penjelasannya, kecuali mohon maaf akan kecerobohanku yang main terobos, malah kuminta beliau melanjutkan mengatur siasat menghadapi persoalan ini, meski aku tak berguna, sedikit banyak juga akan membantu...."

Dengan tertawa Ong Ling-hoa menyambung.

"Karena itulah mulai sekarang Sim-heng adalah kawan seperjuanganku, kesalahan paham sebelum ini siapa pun jangan mengungkapnya lagi."

Tiba-tiba Sim Long tertawa pula, katanya.

"Tapi sebelum penjelasan beliau itu telah terjadi satu peristiwa lucu."

"Peristiwa lucu apa?"

Tanya Jit-jit.

"Yaitu kalian berdua...."

"Memangnya kenapa kami berdua?"

Ong Ling-hoa tertawa.

"Waktu Nona dan Si Kucing masih berada di luar, jejak kalian sudah ketahuan, semula ibu hendak berpura-pura tak tahu, akan dibiarkan kalian berjalan-jalan sesukamu, tapi Sim-heng ingin memberi kejutan kepada kalian agar kalian mundur teratur, maka ketika di bawah jendela...."

Teringat pada suara yang mereka dengar di bawah jendela, seketika merah muka Jit-jit, teriaknya.

"Sudahlah, jangan diteruskan...."

Lalu dia menerjang ke depan Sim Long, teriaknya dengan suara serak.

"Jawab pertanyaanku, dalam hal apa aku berbuat salah padamu, ken... kenapa kau bersikap begitu kepadaku, kenapa tidak kau biarkan aku kemari, tapi mengapa menakuti aku?"

"Soalnya urusan belum jelas,"

Jawab Sim Long dengan menyesal.

"Kukhawatir kedatanganmu akan membuat onar dan membikin gusar Ong-lohujin, kau pun bisa menggagalkan rencana kerja. Kedua...."

Sampai di sini dia melirik Ong Ling-hoa sekejap, lalu bungkam dengan tertawa. Maka Ong Ling-hoa berkata.

"Kedua, waktu itu belum jelas persoalannya, lawan atau kawan tidak jelas, Sim-heng khawatir kau menempuh bahaya, sedangkan dia tidak leluasa memberi penjelasan kepadamu di hadapan ibu dan aku, maka terpaksa dia menggunakan caranya itu, membuatmu kaget dan mundur teratur... betul tidak Sim-heng?"

"Ya, begitulah,"

Sahut Sim Long.

"Dari sini dapat disimpulkan bahwa Sim-heng bermaksud baik...."

"Maksud baik apa, persetan.... Yang jelas dia sengaja hendak mempermainkan aku, supaya aku ketakutan dan mendapat malu, dan dia sendiri senang, demikian juga kau,"

Mendadak dia membalik ke arah Si Kucing.

"Kau kucing mampus, kucing busuk, kucing malas, kucing keparat.... Ayo jawab, bukankah kau tahu akan semua urusan itu?"

Si Kucing menyengir, katanya tergegap.

"Aku... aku...."

Dengan tertawa Ong Ling-hoa melanjutkan.

"Lewat tengah hari tadi, hal ini memang sudah kami jelaskan kepada Si Kucing...."

Jit-jit menuding Si Kucing, dampratnya.

"Nah, betul tidak? Mereka kan sudah memberitahukan kepadamu lebih dulu?"

"Rasanya memang demikian,"

Sahut Si Kucing dengan bersungut. Beringas Jit-jit.

"Jadi kalian saling mencekok arak tadi hanya untuk permainan belaka?"

"Arak itu memang enak... huk, huk...."

Si Kucing terbatuk.

"Hm, jangan pura-pura batuk. Jawab lagi, kau pura-pura mabuk dan membuat onar, semua itu juga disengaja bukan?"

"Kepalaku memang rada pening, tapi... tapi tidak mabuk betul."

"Kenapa kau dustai aku sehingga aku malu, jawab, kenapa? Kenapa?"

Selangkah demi selangkah Jit-jit mendekati Si Kucing.

Selangkah demi selangkah Si Kucing menyurut mundur.

Selesai Jit-jit bicara, Si Kucing sudah mundur mepet dinding, mendadak dia melompat dan bersembunyi di belakang Sim Long, serunya sambil menyengir.

"Sim-heng, lekas kau beri penjelasan."

Mendelik Cu Jit-jit, semprotnya.

"Penjelasan apa? Untuk apa penjelasan?"

"Dalam hal ini Si Kucing tidak boleh disalahkan,"

Ujar Sim Long.

"Bukan salahnya, lalu salah siapa?"

Seru Jit-jit. Sim Long termenung sejenak, katanya.

"Apakah kau perhatikan sehari ini ada seorang tidak pernah kelihatan."

"Memangnya kenapa kalau tidak kelihatan, aku tidak.... He, iya, Kim Bu-bong telah hilang, ke mana dia? Mungkinkah dia... dia...."

"Mana mungkin kami bertindak padanya,"

Tukas Sim Long.

"sejak pagi dia sudah menghilang, kapan dia pergi dan ke mana, kami juga tidak tahu."

Jit-jit tertegun sekian lamanya, tiba-tiba dia membanting kaki seraya berteriak.

"Dia pergi atau tidak apa hubungannya dengan kalian menipu diriku?"

"Kukhawatir dia mendadak pulang, atau secara diam-diam mengawasi gerak-gerik kita, maka tak leluasa kujelaskan rahasia persoalan ini.... Ai, walau dia seorang lelaki gagah, betapa pun dia adalah anak buah Koay-lok-ong."

"Kau tidak menjelaskan rahasia ini kepadaku, kenapa kau jelaskan kepada kucing mampus itu?"

"Si Kucing pasti takkan membocorkan rahasia ini, sebaliknya kau...."

"Aku kenapa? Memangnya aku perempuan cerewet, perempuan bawel?"

"Walau kau tidak bawel, tapi kau tak bisa menyimpan rahasia, jika Kim Bu-bong mengintip gerak-gerik kita secara diam-diam, umpama kau tidak membocorkan rahasia ini, dari tindak tandukmu pasti akan kentara."

"Bebal, watakku memang tulus lurus, tidak tahan sabar lagi, tidak selicin kalian yang pandai mengatur muslihat, tapi...."

Suara Jit-jit menjadi serak, matanya merah, setelah kucek-kucek mata dia melanjutkan.

"Tapi umpama kalian tidak menjelaskan rahasia ini kepadaku, apakah pantas kalian mempermainkan aku."

"Soalnya...."

Mendadak Sim Long berpaling ke arah Si Kucing. Si Kucing tertawa, katanya.

"Soalnya... hatiku lagi riang setelah minum arak, aku ingin bercanda dengan kau, sebetulnya tak ada maksud jahat apa pun, buat apa kau marah."

"Hati riang setelah minum arak? Buat apa marah? Kau... tahukah kau betapa hatiku gelisah dan khawatir akan keselamatanmu? Tahukah kau dengan mempertaruhkan jiwa aku menerjang masuk kemari demi menolong dirimu?"

Si Kucing melenggong, tanpa terasa ia menunduk, sungguh ia menyesal, terharu dan terima kasih, dan entah bagaimana lagi perasaannya. Jit-jit berkata pula.

"Aku tahu kalian adalah orang-orang pintar, kalian bersekongkol untuk mempermainkan aku si pandir ini, tapi pernahkah kalian pikirkan untuk apa dan siapa perbuatan si pandir ini, memangnya demi diriku sendiri?"

Sim Long dan Ong Ling-hoa saling pandang dan tak mampu bersuara. Jit-jit tertawa dingin, katanya pula.

"Kalian orang-orang pandai ini, kalian kira perbuatan demikian tidak menjadi soal, paling-paling hanya menggoda dan bercanda saja denganku, toh aku tidak akan mati atau cedera, bila kejadian sudah lalu, semuanya tertawa dan selesai, dari sini terbukti lagi betapa cerdik pandai kalian."

Dengan mengertak gigi dan menahan air mata Jit-jit meneruskan dengan suara tersendat.

"Tapi kalian tidak pernah berpikir, betapa kalian telah melukai hatiku?"

"Sebetulnya ini...."

"Tutup mulutmu,"

Bentak Jit-jit menghentikan ucapan Sim Long.

"Tak ingin kudengar obrolanmu, selanjutnya aku tak mau lagi percaya pada kalian, aku... aku... tak mau lagi melihat tampang kalian."

Ia menyurut mundur, suaranya tambah serak.

"Sekarang, aku akan pergi dan takkan kembali selamanya, jika di antara kalian berani mengejar atau merintangiku, biar aku segera mati di hadapan."

Belum habis bicaranya mendadak dia putar tubuh terus lari tanpa menoleh seperti kesetanan. Si Kucing berteriak.

"Nona Cu, tunggu!"

Dia melompat maju hendak mengejar, namun Sim Long keburu menahannya. Keruan Si Kucing gugup, serunya.

"Kau... kau tega membiarkan dia pergi?"

Sim Long menghela napas, katanya.

"Memangnya mau apa kalau tidak membiarkan dia pergi? Wataknya berangasan, siapa bisa merintanginya? Apalagi, biasanya dia berani bilang berani berbuat, kalau kau mengejarnya keluar, mungkin dia betul-betul bunuh diri di depanmu."

"Tapi... dengan wataknya itu, seorang diri bukankah bakal menimbulkan bencana?"

Sim Long tersenyum.

"Untuk ini jangan kau khawatir, dia tidak akan pergi jauh dari sini."

"Tidak jauh? Kenapa?"

Tanya Si Kucing heran.

"Karena masih banyak persoalan yang mengganjal hatinya, sebelum ditanyakan sampai jelas, mungkin dia tidak bisa nyenyak tidur, tadi karena emosi dia lupa mengajukan pertanyaan, tapi bila pikirannya tenang, pasti dia akan balik ke sini untuk mengajukan pertanyaan lagi,"

Ong Ling-hoa menimbrung dengan tertawa.

"Betapa mendalam pengertian Sim-heng terhadap Nona Cu, kuyakin apa yang diucapkan Sim-heng pasti tidak salah."

Terpaksa Si Kucing mengangguk.

"Tidak salah, ya, semoga tidak salah!"

Dengan nanar dia menatap keluar pintu, dengan harapan semoga Cu Jit-jit lekas kembali.

Malam makin larut, salju mulai turun pula dengan lebat.

Cu Jit-jit terus berlari dengan cepat, entah berapa lama dia berlari, tahu-tahu di depan ada tembok tinggi, ternyata tanpa sadar dia berlari ke arah tembok kota.

Padahal pintu kota belum dibuka.

Lekas Jit-jit menghentikan langkah, tak kuat dia mengendalikan tubuhnya lagi, dia jatuh terduduk dan tidak mau bangun lagi, ia bersandar di kaki tembok kota dan menangis.

Entah berapa lama dia menangis, suaranya mencolok di tengah malam gelap hingga terdengar sampai jauh, untung penjaga pintu kota sudah terkapar mabuk, kalau tidak tentu akan memburu kemari memeriksanya.

Tapi biarpun ada orang datang, Jit-jit tidak juga peduli.

Segala urusan seperti tak mau diurus lagi, ia hanya memikirkan rasa penasaran hatinya, ingin melampiaskan perasaannya dengan menangis.

Jit-jit sudah biasa manja dan disanjung puji di rumah, kini setelah banyak mengalami pukulan lahir batin, baru diketahui betapa kejamnya dunia ini.

Memang inilah dunianya yang kuat makan yang lemah, orang yang jujur dan baik hati memang ditakdirkan harus menderita dan menjadi korban.

Angin malam yang dingin dengan cepat menenteramkan gejolak hatinya.

Mendadak teringat olehnya banyak persoalan yang belum sempat dia pikirkan.

Setelah berbicara panjang lebar dengan Sim Long, lalu ke manakah Ong-lohujin?

Kenapa tadi tidak muncul menemuinya?

Apa sebabnya?

Thi Hoat-ho berada di loteng itu, lalu di mana Can Ing-siong dan Pui Jian-li serta yang lain?

Apa betul mereka juga sudah dibebaskan?

Kalau sudah dibebaskan, kenapa tidak kelihatan bayangan mereka?"

Dan lagi, kalau Ong-lohujin pernah pergi ke makam kuno itu, apakah hilangnya Hwe-hay-ji (Si Anak Merah) ada sangkut pautnya dengan dia?

Jika betul ada sangkut pautnya, ke mana dia membawa bocah itu?

Persoalan ini ingin diketahuinya, terutama nasib adiknya, Si Anak Merah itu, tak pernah dia melupakan keselamatan adik kandungnya itu.

Walau tadi sudah timbul rasa kecewa dan putus asa akan segala persoalan yang dihadapinya, tapi sekarang dia baru sadar sementara persoalan tak mungkin diabaikan begitu saja.

Cepat dia berdiri dan putar badan hendak lari ke arah datangnya tadi.

Tapi setelah berdiri dia lantas tertegun, terbayang senyuman sinis Sim Long yang mencemooh dirinya, seolah-olah mengiang perkataan Sim Long yang menyindir.

"Kutahu akhirnya kau pasti kembali...."

Saat itu Jit-jit sangat benci pada Sim Long, sambil membanting kaki dia mendesis dengan geram.

"Aku justru tak mau berbuat seperti apa yang diduganya, aku tak mau kembali ke sana...."

Tapi bagaimana kalau dia tidak kembali?

Malam makin larut, hujan dan dingin pula, mau ke mana dia?

Bagaimana mungkin ia menyelidiki semua persoalan yang ingin diketahuinya itu?

Tak tahan dia menjatuhkan diri pula di atas salju, air mata bercucuran lagi.

Mendadak sebuah tangan yang dingin memegang pundak Jit-jit.

Keruan nona itu berjingkat kaget sambil putar badan, teriaknya.

"Siapa?"

Di tengah remang malam, di antara bunga salju yang bertebaran, tertampak berdiri sesosok bayangan orang, rambut panjang terurai semrawut, mukanya dingin kaku, hanya jubahnya saja yang melambai tertiup angin.

Melihat bayangan ini, Jit-jit menjerit tertahan.

"Kim Bu-bong, kiranya kau!"

Kim Bu-bong berdiri kaku seperti mayat dan tidak menjawab, pertanyaan Jit-jit memang tidak perlu dijawab. Rasa kaget dan heran menyelimuti sanubari Cu Jit-jit, tak tahan dia bertanya pula.

"Bukankah kau sudah pergi? Kenapa kembali lagi?"

"Di tengah malam gelap dan sepi, kudengar isak tangis yang menusuk telinga, maka aku datang kemari."

"Kau... ke mana kau pergi semalam?"

Kim Bu-bong menggeleng, tidak menjawab.

Jit-jit tahu bila orang tidak mau menjawab, siapa pun tak dapat memaksanya menjawab maka ia pun tak banyak bicara lagi.

Kim Bu-bong berdiri kaku tak bergerak dan menunduk mengawasinya.

Lekas Jit-jit menunduk juga.

Agak lama kemudian baru Kim Bu-bong bertanya.

"Apa yang kau tangisi?"

"Tidak apa-apa,"

Sahut Jit-jit sambil menggeleng.

"Pasti ada urusan yang menyedihkan hatimu,"

Kata Bu-bong, meski suaranya kaku dingin, namun nadanya sedikit banyak mengandung rasa simpatik, manusia seperti Kim Bu-bong dapat melontarkan pertanyaan seperti ini, sungguh jarang terjadi.

Ternyata pertanyaannya justru menyentuh rasa sedih Cu Jit-jit, tak tahan lagi dia mendekap muka dan terisak pula.

Lama Kim Bu-bong mengawasinya, mendadak dia menghela napas.

"O, anak perempuan yang kasihan...."

Serentak Jit-jit berbalik, teriaknya.

"Siapa kasihan? Dalam hal apa aku harus dikasihani? Justru kau yang kasihan."

"Makin kau tak mengaku, makin besar kasihanku kepadamu."

Jit-jit jadi melenggong, tapi mendadak dia terkial-kial.

"Hahaha, dalam hal apa aku kasihan... aku punya duit, aku cantik, aku masih muda, aku pandai menulis, pintar kungfu, yang bilang aku kasihan pasti orang gila."

"Lahirnya kau kelihatan gembira dan bahagia, padahal dalam hatimu menderita, lahirnya kau memiliki segala apa yang kau inginkan, namun kau tidak dapat memperoleh apa yang kau harap."

Kembali Jit-jit melenggong, lalu menggeleng kepala, teriaknya.

"Tidak, salah, seribu kali salah."

Kim Bu-bong mengawasinya lekat-lekat.

"Lahirnya kau keras, padahal hatimu lembut, lahirnya kau bersikap kasar dan galak kepada orang, padahal kau seorang nona baik hati terhadap siapa pun. Hanya sayang... jarang ada manusia di dunia ini yang bisa menyelami jiwamu, dan kau... anak perempuan yang kasihan, kau justru suka melakukan hal-hal yang membuang tenaga dan hasilnya bertolak belakang."

Dengan tercengang Cu Jit-jit mengawasinya, tanpa terasa dia terkesima.

Sungguh tak pernah terpikir olehnya bahwa masih ada orang yang bersimpati kepadanya dan mau menyelami perasaannya....

Akan tetapi orang yang bisa menyelami jiwa dan simpati kepadanya ini justru manusia yang dingin kaku ini.

Sungguh tak terpikir olehnya setelah Sim Long, Si Kucing, dan lain-lain bersikap kejam padanya, sekarang laki-laki yang kaku dingin dan pendiam ini justru memberi kehangatan kepadanya.

Waktu dia angkat kepala, terasa orang aneh yang dingin jelek ini sebetulnya tidak sejelek seperti apa yang pernah dipikirnya, di balik tampang yang busuk orang ini memiliki hati yang mulia dan bajik.

Terasa sorot matanya yang tajam ternyata mengandung pengertian yang mendalam terhadap sesama umat manusia.

Dalam sedetik ini terasa oleh Jit-jit hanya orang yang berdiri di depannya inilah lelaki sejati satu-satunya yang pernah dilihatnya.

Entah kenapa darahnya lantas bergolak, mendadak ia menubruk dan memeluk pundak Kim Bu-bong yang keras bagai baja, katanya dengan serak.

"Orang lain tiada yang memahami penderitaanku, hanya engkau saja yang bisa menyelami jiwaku."

Memang beginilah watak Cu Jit-jit, ingin berbuat apa segera dilakukannya, keruan perbuatannya membuat Kim Bu-bong melongo kaget.

Terasa air mata Jit-jit menetes juga meresap ke dalam bajunya yang tipis.

Lama dan lama sekali baru Kim Bu-bong menarik napas, katanya.

"Selama hidupku sebetulnya tidak ingin diriku dipahami orang lain, aku senang karena tiada orang mau mengerti akan keadaanku, tapi sekarang... ai, seorang anak perempuan memang mendambakan pengertian orang lain."

Perlahan Jit-jit melepaskan pelukan dan mundur, dengan nanar dia mengawasinya, air mata masih berlinang, tapi mendadak dia tertawa.

"Dulu memang tiada orang memahami diriku, tapi sejak kini, ada engkau yang dekat di dampingku, walau tiada orang lain mau memahami diriku, namun aku cukup puas karena engkau mau mengerti akan diriku."

Kim Bu-bong melengos, tak berani beradu pandang dengan si nona, gumamnya.

"Apa betul kau bisa menyelami diriku?"

"Ya pasti dapat,"

Lalu ditariknya tangan Kim Bu-bong dan diajak lari ke pintu kota, meski pintu kota masih tertutup, tapi di bawah pintu mereka bisa berteduh dari hamburan bunga salju.

Dia tarik tangan Kim Bu-bong dan diajak berduduk bersandar pintu, katanya.

"Sejak kini aku kan memahami dirimu sepenuhnya, aku ingin tahu seluk-belukmu, sekarang juga ingin tahu riwayat hidupmu masa lalu... sudikah engkau menceritakan perihal dirimu kepadaku?"

Kim Bu-bong menatap jauh ke sana, menghela napas sambil gelang kepala.

"Katakan, ceritakanlah! Kalau tidak kau ceritakan aku akan marah lho."

Mendadak sorot mata Kim Bu-bong gemerdep setajam ujung golok, berkilau menakutkan. Tapi Jit-jit tidak kenal takut, juga tidak kenal menyingkir, ia malah mendesak.

"Katakanlah, katakanlah!"

"Betul, kau ingin tahu?"

Kim Bu-bong menegas.

"Sudah tentu betul, kalau tidak buat apa kutanya."

"Selama hidupku, yang paling kubenci adalah perempuan, setiap kali bertemu dengan gadis cantik, tanpa menghiraukan segala akibatnya aku terus membelejeti pakaiannya dan memerkosanya. Semakin mereka takut padaku, makin besar hasratku ingin memerkosa dia, sejak berumur lima belas sampai sekarang entah sudah berapa banyak gadis yang telah kuperkosa."

Tanpa terasa menggigil tubuh Cu Jit-jit, seketika dia mengkeret mundur. Kim Bu-bong menyeringai, katanya pula.

"Walau biasanya aku bersikap alim, pendiam, tapi di tengah malam dingin begini, tiada orang lain di sekitar sini, bila bertemu dengan seorang perempuan maka aku akan menerkamnya dan mempermainkannya sampai puas...."

Ngeri Jit-jit, dengan menggigil takut kembali dia menyurut mundur. Tapi di belakangnya ada tembok, mundur juga tidak bisa lagi. Tambah menakutkan Kim Bu-bong menyeringai, katanya.

"Bukankah kau sendiri yang ingin tahu kisah hidupku? Kenapa setelah kuceritakan kau jadi takut?.... Apa sekarang kau ingin lari? Haha... hahaha...."

Mendadak dia mendongak dan terbahak-bahak. Mendadak Cu Jit-jit membusungkan dada sambil mendesak maju, teriaknya.

"Kenapa aku takut? Kenapa aku perlu lari?"

Kim Bu-bong tertegun malah, dia berhenti tertawa, tanyanya.

"Kau tidak takut?"

"Biarpun dulu kau pernah berbuat jahat seperti apa yang kau ceritakan, hal itu disebabkan perempuan itu takut melihat tampangmu, mereka hanya melihat luar saja, mereka tidak melihat di balik tampangmu yang jelek ada sebuah hati yang bajik, mereka takut dan menyingkir bila melihat kau, tentu saja kau tersinggung dan menderita lahir batinmu, maka timbul keinginanmu menuntut balas, ini tidak dapat menyalahkan dirimu, kalau orang lain tidak adil terhadap dirimu, kenapa engkau tidak boleh memperlakukan jelek kepada mereka? Kenapa engkau tidak boleh menuntut balas?"

Ia tersenyum, lalu menyambung.

"Apalagi, jika sekarang engkau bercerita demikian padaku jelas semua itu tidak betul terjadi dan lebih-lebih takkan kau lakukan terhadapku."

"Dari mana kau tahu takkan kulakukan?"

Tanya Kim Bu-bong. Berkedip mata Jit-jit, katanya dengan tertawa.

"Umpama betul kau pernah melakukan kejahatan, aku pun tak perlu takut, kalau tidak percaya, boleh kau coba diriku."

Bukan cuma membusung dada saja, ia terus mendesak maju.

Kim Bu-bong berbalik berjingkat kaget dan mundur selangkah, dengan melongo dia menatapnya dan entah bagaimana perasaannya.

Jit-jit berkeplok, katanya dengan tertawa.

"Engkau hanya hendak menggertak saja, betul tidak? Siapa tahu tak berhasil kau gertak malah berbalik kena kugertak, apakah tidak lucu?"

Kim Bu-bong menyengir, katanya.

"Memang aku hanya menggertakmu...."

"Kau tak mau mengisahkan pengalaman hidupmu, niscaya kau pernah mengalami suatu peristiwa yang membuat hatimu terluka dan sedih, maka selanjutnya aku takkan tanya kepadamu lagi,"

Ditariknya tangan Kim Bu-bong, katanya lebih lanjut.

"Tapi engkau harus menjelaskan kepadaku, kenapa semalam kau pergi tanpa pamit.... Sebetulnya ke mana kau pergi secara diam-diam?"

"Pergi tanpa pamit?"

Kim Bu-bong balas bertanya.

"Ya, kan kabur semalam, kenapa?"

"Semalam Sim Long menyuruh aku melakukan sesuatu tugas, apakah dia tidak memberitahukan kepadamu?"

Kini giliran Jit-jit yang melenggong. Sesaat kemudian baru dia bertanya.

"Jadi Sim Long yang menyuruhmu pergi.... Tugas apa yang harus kau lakukan?"

"Mengejar dan menyelidiki jejak serombongan orang."

"Kenapa dia sendiri tidak pergi? Kenapa engkau yang diberi tugas?"

"Waktu itu dia sendiri tidak sempat, tugas ini pun cocok bagiku, hubunganku dengan dia seperti saudara kandung, kalau dia minta bantuanku, sudah tentu dengan senang hati kulakukan."

"Hm, dengan senang hati apa, sungguh penurut kau ini, kenapa setiap orang harus turut perintahnya sungguh aku tidak mengerti."

Lalu diraihnya secomot salju dan dibantingnya dengan gemas. Kim Bu-bong mengawasinya lekat-lekat dengan mengulum senyum. Jit-jit mengentak kaki, katanya.

"Buat apa kau mengawasi aku, lekas ceritakan, apa yang harus kau laksanakan? Urusan apa yang harus kau selidiki? Apa kau pun ingin mengelabui diriku?"

Lama Kim Bu-bong bimbang, katanya kemudian.

"Apakah sudah kau lupakan perjanjian Sim Long dengan majikan Jin-gi-ceng?"

"O, ya, batas waktu yang dijanjikan sudah tiba...."

"Batas waktunya adalah kemarin malam."

"Jadi mewakili dia menepati janjinya itu? Tapi... dari mana kau tahu seluk-beluk persoalannya? Bagaimana kau memberi pertanggungan jawab kepada majikan Jin-gi-ceng?"

"Yang mewakili dia menepati janji bukan aku, aku hanya ditugaskan mengawasi orang yang mewakili dia itu."

"Aku tak mengerti apa yang kau katakan, lalu siapakah yang ditugaskan mewakili dia?"

"Can Ing-siong, Pui Jian-li, dan lain-lain...."

"O, mereka. Ya, benar, bila mereka pergi ke Jin-gi-ceng, segala persoalan akan beres, Sim Long hadir atau tidak memang tidak menjadi soal,"

Mendadak dia tanya pula.

"Tapi kalau mereka sudah mewakili Sim Long, kenapa harus diawasi?"

"Apa sebabnya aku tidak tahu, dia hanya menyuruh aku mengawasi jejak mereka, bila urusan sudah jelas segera balik memberitahukan kepadanya."

"Jadi kalian sudah berjanji sebelumnya,"

Hal ini kembali dia dikelabui oleh Sim Long, keruan bukan main mendongkol hatinya, namun kali ini dia dapat menahan emosinya.

"Ya, betul,"

Sahut Kim Bu-bong mengangguk.

"Kapan dia berjanji bertemu dengan kau?"

"Sekarang."

Jit-jit celingukan sambil menggigit bibir, katanya.

"Di mana kalian akan bertemu?"

"Di sini,"

Sahut Kim Bu-bong.

Jawaban yang sama diucapkan dua suara sekaligus, keruan Jit-jit berjingkat seraya menoleh, tertampak seorang tersenyum simpul di belakangnya, senyum yang gagah dan menarik, siapa lagi kalau bukan Sim Long.

Kejut, gugup, marah, dan girang meliputi hati Cu Jit-jit, serunya sambil mengentak kaki.

"Engkau setan alas, kau... kapan kau datang?"

"Begitu Kim-heng mengedip aku lantas datang."

"Kebetulan kau datang, ingin kutanya, setiap persoalan kenapa selalu kau sembunyikan kepadaku, apa maksudmu menyuruh dia mengikuti jejak Can Ing-siong dan lain-lain?"

"Amat panjang ceritanya."

"Panjang juga harus kau jelaskan."

"Setelah aku bertemu dengan Ong-hujin, setelah berbincang semalaman maka dia membebaskan Can Ing-siong, Thi Hoat-ho, Pui Jian-li, dan lain-lain, di samping khawatir Can Ing-siong dan Pui Jian-li masih dendam kepadamu, apalagi janjiku kepada pihak Jin-gi-ceng juga sudah mendesak, maka kuminta Can, Pui dan segera menuju ke Jin-gi-ceng, seluk-beluk persoalan ini biar mereka jelaskan kepada pihak Jin-gi-ceng...."

"Ya, aku maklum, tapi kenapa masih harus kau awasi gerak-gerik mereka?"

"Karena sejak mula aku yakin kejadian ini agak ganjil, ada sesuatu yang belum bisa kupecahkan."

"Ya, memang agak ganjil, aku pun tahu."

"Syukurlah kalau kau tahu, tak perlu kujelaskan."

Jit-jit melengak.

"Tidak, aku justru ingin kau katakan."

Sim Long tersenyum.

"Coba pikir, kalau Ong-hujin punya iktikad baik terhadap Can Ing-siong dan lain-lain, kenapa perlu menunggu setelah bertemu dengan aku baru dia membebaskan mereka?"

Berkilat mata Cu Jit-jit, katanya.

"Ya, kenapa begitu?"

"Setelah kejadian tentu dapat kau terka."

"Kau kira aku bodoh, baik, biar kujelaskan, dalam urusan ini dia pasti ada intrik tertentu, karena rahasianya sudah kau bongkar, terpaksa dia pura-pura baik hati dan membebaskan orang-orang itu...."

Sim Long mengangguk, pujinya.

"Anak pintar, memang betul demikian. Tapi setelah dia membebaskan Can Ing-siong dan dia bilang ada urusan harus pergi ke Ui-san, lalu buru-buru dia berangkat."

"Maka kau khawatir di tengah jalan dia mencegat dan membunuh Can Ing-siong dan rombongannya, apalagi resminya kau sudah berdiri di pihaknya, kalau Kim... Kim-heng berada di sana juga kurang leluasa maka diam-diam kau suruh dia pergi."

"Kau memang tambah pintar,"

Ucap Sim Long.

"Sebenarnya aku tak bermaksud mengelabui dirimu, tapi di hadapan Ong Ling-hoa, mana mungkin aku menjelaskan kepadamu.... Ai, syukur kau bertemu dengan Kim-heng di sini, kalau tidak...."

Bercahaya mata Cu Jit-jit, katanya.

"Kalau tidak kenapa?"

"Kalau tidak tentu akan membuatku khawatir,"

Ujar Sim Long. Sesaat Jit-jit terkesima.

"Kau khawatirkan diriku? Hanya setan percaya...."

Belum habis bicara, dekik di pipinya sudah kelihatan, tak tahan dia tertawa senang, rasa sedih, risau, jengkel, seketika lenyap sama sekali setelah mendengar pernyataan Sim Long itu.

Mengawasi sikap mesra kedua muda-mudi ini, maka Kim Bu-bong kembali kaku dingin, ia berdehem, lalu berkata dengan suara tertahan.

"Sepanjang jalan rombongan Can Ing-siong tidak mengalami apa-apa hingga tiba di Jin-gi-ceng, kusaksikan sendiri mereka masuk ke perkampungan itu baru kembali ke sini."

"Aneh kalau begitu...."

Ujar Sim Long sambil termenung, tiba-tiba ia tertawa riang, katanya.

"Terima kasih Kim-heng...."

"Rasanya tak perlu kau bilang terima kasih kepadaku."

"Betul, terlalu berlebihan."

"Bahwa Ong-hujin tidak bertindak sesuatu terhadap Can Ing-siong dan rombongannya, lalu bagaimana tindakanmu selanjutnya?"

Sejenak Sim Long berpikir, lalu balas bertanya.

"Bagaimana pula langkah Kim-heng?"

Kim Bu-bong mendongak sambil menghela napas, katanya.

"Perjanjian dengan Jin-gi-ceng sudah selesai, keselamatan Can Ing-siong dan lain-lain juga tak kurang sesuatu apa, urusan ini boleh dikatakan sudah selesai, aku... aku akan pulang saja."

"Pulang?"

Sim Long menegas.

"Betul. Meski Ca Giok-koan jahat dan buas, tapi budi kebaikannya terhadapku amat besar, selama hayat masih dikandung badan aku takkan mengingkari dia...."

Tiba-tiba Kim Bu-bong menatap Sim Long, katanya perlahan.

"Entah Sim-heng sudi kiranya membebaskanku pulang?"

"Orang telah menghargaiku sebagai pahlawan, sebagai pahlawan akan pula kubalas kebaikan orang... terhadap Ca Giok-koan boleh dikatakan Kim-heng sudah menunaikan kewajiban dengan baik, kenapa aku harus menjadi manusia rendah dan merintangi keberangkatanmu?"

Kim Bu-bong menarik napas panjang, gumamnya.

"Orang menghargaiku sebagai pahlawan, sebagai pahlawan aku balas kebaikan orang, tapi...."

Waktu dia angkat kepalanya lagi, sekian saat dia menatap Sim Long lekat-lekat, lalu katanya dengan beringas.

"Selanjutnya bila kita bertemu lagi, kau adalah musuhku, saat mana aku tak peduli lagi siapa kau dan akan kurenggut jiwamu, hari ini kau bebaskan aku, kelak jangan kau menyesal."

Sim Long tertawa pedih, katanya.

"Setiap orang punya cita-citanya sendiri, siapa pun tak dapat memaksanya, kelak meski kau adalah musuhku, tapi dapat bergebrak dengan musuh seperti dirimu, sungguh menyenangkan juga."

"Baiklah kalau begitu,"

Perlahan Kim Bu-bong mengangguk. Lama mereka berdiri berhadapan dan saling pandang. Mendadak keduanya bersuara bersama.

"Selamat berpisah...."

Mereka bersuara bersama dan tutup mulut bersama pula, sama mengulum senyum getir, sementara itu Jit-jit tak kuat menahan air matanya.

Darah seperti bergolak dalam rongga dadanya, dia mengentak kaki, serunya.

"Mau pergi lekas pergi, buat apa banyak omong. Tak tersangka kaum laki-laki kalian juga suka bertele-tele begini."

"Betul,"

Ujar Kim Bu-bong.

"sudah saatnya harus berangkat, kehidupan Kangouw serbabahaya, orang-orang jahat selalu berada di sekelilingmu, hendaknya Sim-heng...."

"Kim-heng jangan khawatir,"

Tukas Sim Long.

"kubisa menjaga diriku, malah Kim-heng sendiri...."

Kim Bu-bong mendongak sambil tertawa panjang.

"Darah mengalir bagi sahabat sejati, biar mati juga tidak menjadi soal...."

Sambil mengulapkan tangan segera dia melangkah pergi tanpa menoleh lagi.

Dengan berlinang air mata Cu Jit-jit mengawasi bayangan orang semakin jauh dan hampir menghilang di tengah hamburan bunga salju, mendadak dia berteriak keras.

"Tunggu... berhenti!"

Kim Bu-bong berhenti di kejauhan, tapi tidak menoleh, tanyanya dingin.

"Kau mau omong apa lagi?"

Jit-jit menggigit bibir, katanya sambil memandang Sim Long sekejap.

"Aku... aku ingin ikut kau."

Kim Bu-bong seperti terpantek di tanah tanpa bergerak, juga tidak menoleh dan tak bersuara pula, agaknya dia tidak tahu apa yang harus dikatakannya.

Alis Sim Long terangkat, wajahnya menampilkan rasa kejut dan heran.

Jit-jit tidak memandangnya lagi, teriaknya.

"Hanya engkau seorang di dunia ini yang simpati dan memahami diriku, hanya kaulah satu-satunya lelaki sejati di dunia ini, kalau aku tidak ikut kau, ikut siapa?"

Kim Bu-bong seperti ingin menoleh, tapi lantas bergelak tawa sambil menengadah, cepat ia melangkah pula ke depan, sukar meraba makna gelak tertawanya itu.

"Nanti dulu, tunggu aku...."

Sambil berteriak Cu Jit-jit lantas memburu dengan kencang.

Sim Long bermaksud menariknya, tapi pikirannya tergerak, dia urungkan niatnya, ia mengawasi bayangan punggung Cu Jit-jit yang makin menjauh, timbul senyuman pada ujung mulutnya.

Setelah puluhan langkah Jit-jit coba melirik ke belakang, Sim Long yang kejam dan tega hati ini ternyata tidak menyusulnya, waktu dia menatap ke depan pula, bayangan Kim Bu-bong juga sudah tidak kelihatan.

Bunga salju beterbangan menyampuk mukanya, seluas mata memandang yang terlihat hanya kabut putih, hatinya sedih, dongkol, dan kecewa.

Tak tahan dia menangis lagi.

Sambil menangis dia berlari terus ke depan, air mati menghalangi pandangannya hingga dia tidak bisa membedakan arah namun masih terus lari seperti dikejar setan.

Hakikatnya dia tidak tahu ke mana dirinya harus pergi, umpama bisa menentukan arah juga tiada gunanya?

Tetesan air matanya hampir membeku menjadi butiran es.

Dengan lengan baju dia menyeka air mata, gumamnya.

"Baiklah, Sim Long, kau tidak menarikku, bila aku mampus, apakah kau tidak akan menyesal, tapi... kenapa aku tidak mati saja...."

Waktu dia mengusap air mata pula, mendadak dia menubruk seseorang.

Saking keras dia berlari hingga tubuhnya terpental balik dua-tiga langkah baru dapat berdiri tegak, selagi dia hendak memaki, begitu dia angkat kepala, orang yang berdiri di depannya ternyata Kim Bu-bong adanya, lelaki yang kaku dingin seperti batu ini.

Dalam keadaan seperti Cu Jit-jit sekarang, mendadak melihat Kim Bu-bong lagi, ia seperti bertemu dengan sanak kandung yang terdekat, entah duka, entah girang, segera dia menjerit terus menubruk ke dalam pelukan Kim Bu-bong dan merangkulnya kencang-kencang.

Kepala dan pundak Kim Bu-bong sudah dilapisi salju, demikian pula kulit mukanya seperti dilumasi es, namun kedua matanya terasa menyala hangat.

Lama sekali baru Kim Bu-bong menghela napas, katanya.

"Kau benar-benar menyusul... buat apa kau menyusulku?"

Jit-jit membenamkan kepalanya di dada orang, sambil menangis campur tertawa katanya.

"Aku memang ingin ikut kau.... Selanjutnya kau tidak akan kesepian, apakah... apakah kau tidak senang?"

"Selamanya kau ikut aku?"

"Ehm, ikut kau selamanya dan takkan berpisah, umpama kau mengusirku, aku pun takkan pergi.... Tapi engkau takkan mengusirku bukan?"

Kim Bu-bong tertawa getir.

"Ai, anak yang kasihan...."

"Tidak, tidak, tidak kasihan, aku tidak mau dikasihani. Ada engkau di sampingku, kenapa aku harus dikasihani? Selanjutnya kularang kau mengatakan kasihan."

Namun mulut Kim Bu-bong masih bergumam.

"Kasihan anak ini...."

Jit-jit merengek sambil membenamkan kepalanya.

"Nah, kau bilang lagi, coba katakan, dalam hal apa aku perlu dikasihani?"

"Hanya untuk membuat jengkel Sim Long kau ikut padaku? Buat apa...."

"Bukan karena Sim Long, dengan sukarela kuikut kau."

"Tapi bila Sim Long menyusulmu dan mengajakmu pulang, bagaimana?"

"Peduli apa dengan dia? Takkan kugubris."

"Apa betul?"

"Betul, seribu kali betul!"

Untuk sejenak Kim Bu-bong diam saja, mendadak dia berkata.

"Coba lihat, Sim Long menyusul kemari!"

Tergetar tubuh Cu Jit-jit, teriaknya girang.

"Di mana?"

Segera dia melompat mundur membalik badan, salju masih beterbangan, mana ada bayangan Sim Long, bayangan setan pun tidak ada.

Waktu dia berpaling, dia melihat Kim Bu-bong menampilkan senyum seorang yang sudah kenyang mengenyam perikehidupan, senyum pengertian, namun juga senyum yang rada mengejek, kontan merah muka Cu Jit-jit, namun dia berusaha menutupi rasa malunya, katanya.

"Dia datang juga aku tidak peduli, aku...aku...."

Kim Bu-bong geleng kepala, katanya.

"Nak, isi hatimu mana bisa mengelabui aku, lekas kau pulang ke sana saja."

"Tidak mau, mati pun aku tidak mau pulang."

"Mana boleh kau ikut aku."

"Kalau kau melarang aku ikut, biar aku mati di depanmu."

Kim Bu-bong menyengir, sesaat kemudian baru berkata dengan perlahan.

"Ikut aku juga bolehlah, cepat atau lambat Sim Long pasti juga akan menyusul kemari, bahwa dia membiarkan Nona Cu ikut aku, mungkin juga untuk memudahkan mengikuti jejakku.... Meski tidak secara gamblang dia paksa aku untuk membawanya mencari Ca Giok-koan, hal ini berarti dia sudah baik terhadapku, jika dia menguntitku secara diam-diam juga pantas, mana boleh aku menyalahkan dia."

Dia bicara sendiri seperti sedang menganalisis bagi dirinya sendiri, tapi juga seperti memberi penjelasan bagi Sim Long, padahal suaranya lirih, kecuali dia sendiri tak terdengar siapa pun.

"Apa katamu?"

Tanya Cu Jit-jit.

"Aku bilang... kalau kau mau ikut aku, ayolah berangkat!"

Setengah hari itu kedua orang menempuh perjalanan secara cepat, menjelang tengah hari mereka sudah tiba di Say-kok.

Say-kok adalah sebuah kota kecil di sebelah barat Kota Sin-an, walau kota kecil, tapi cukup ramai, ke timur menuju Lokyang, ke utara harus menyeberang sungai besar, tidak sedikit kaum pedagang yang seberang-menyeberang di kota ini, maka kehidupan penduduk kota kecil ini cukup makmur.

Sepanjang jalan Jit-jit memegangi tangan Kim Bu-bong, masuk kota pun tidak dilepaskan, dia tidak peduli bagaimana pandangan orang lain terhadapnya.

Dengan sendirinya orang-orang di jalan sama heran, kagum dan pesona akan kecantikannya, tapi bila mereka melihat wajah Kim Bu-bong, seketika mereka melengos.

Jit-jit berkata perlahan.

"Coba lihat, semua orang takut kepadamu, betapa senang dan bangga hatiku."

"Kenapa kau senang dan bangga?"

Tanya Kim Bu-bong.

"Kuharap orang takut kepadaku, tapi mereka justru tidak takut, kini aku ikut bersamamu, seperti kucing ikut harimau, akan dapat membonceng supaya orang sama takut padaku, betapa hatiku tidak senang, cuma... cuma perutku mulai lapar, ingin berlagak juga tidak bisa."

Kim Bu-bong tertawa.

"Apa sekarang juga kau mau makan?"

"Aku bukan anak perempuan yang suka murung, hanya menghadapi sedikit persoalan lantas tak nafsu makan minum.... Segala persoalan dengan cepat dapat kulupakan, maka aku bisa makan seperti biasa. Makanya kakakku kelima pernah bilang, kelak aku bisa jadi gendut."

Kembali Kim Bu-bong tertawa, katanya.

"Memangnya kenapa kalau gendut? Mari kita makan sepuasnya."

Entah kenapa, orang aneh yang biasanya dingin kaku, kini seperti bergairah. Sepanjang jalan raya mereka tidak menemukan restoran, mendadak Kim Bu-bong seperti teringat sesuatu, dia bertanya.

"Apakah kakakmu itu yang terkenal dipanggil Cu-gokongcu di kalangan Kangouw?"

Jit-jit menghela napas.

"Betul, engkohku kelima itu memang makhluk aneh, kejayaan keluargaku seperti tertumplak seluruhnya di atas tubuhnya, ke mana saja dia pergi, selalu dia mendapat sambutan hangat, dia memang pandai bergaul, aku sendiri heran kenapa bisa begitu?"

Kim Bu-bong berkata.

"Sudah lama kudengar nama Cu-gokongcu yang harum, semua bilang dia seorang pemuda cakap yang jarang ada bandingannya, sayang sampai sekarang aku belum pernah melihatnya."

"Jangankan kau tak bisa bertemu dengan dia, kami beberapa saudara sendiri juga sukar melihatnya, dua-tiga tahun baru bertemu satu kali. Hidupnya memang seperti arwah gentayangan. Hah, sudah sampai."

Yang dimaksudkan sampai adalah mereka sudah berada di depan sebuah warung nasi.

Lima buah meja kecil yang cukup bersih, bau arak dan bau masakan seperti menyongsong kedatangan mereka, sayang lima meja sudah penuh diduduki orang.

"Ramai betul pengunjung warung makan ini,"

Kata Kim Bu-bong.

"Rumah makan yang banyak dikunjungi orang, hidangannya tentu lumayan."

"Sayang tidak ada tempat kosong."

"Tidak jadi soal, ikut aku saja,"

Ujar Jit-jit.

Kim Bu-bong ditariknya masuk mendekati sebuah meja di pojok sana, dua orang pedagang sedang makan dengan lahap di meja ini, mendadak mereka angkat kepala, melihat muka Kim Bu-bong, seketika mereka bergidik, cepat mereka menunduk kepala, nafsu makan pun segera lenyap.

Jit-jit tetap pegang tangan Kim Bu-bong, berdiri diam tak bergerak, kedua orang itu memegangi sumpit dengan gemetar, bergegas mereka berbangkit terus membayar rekening.

Maka Cu Jit-jit dan Kim Bu-bong lantas menduduki meja itu.

Kim Bu-bong geleng kepala, katanya.

"Kau memang pandai mencari akal."

"Ini namanya main gertak."

Kim Bu-bong bergelak tertawa, namun setengah jalan mendadak dia berhenti tertawa.

"Kenapa kau berhenti tertawa,"

Tanya Jit-jit.

"aku senang melihat cara tertawamu."

Kim Bu-bong diam sejenak, lalu katanya.

"Setengah hari ini aku sudah tertawa lebih banyak daripada tertawaku beberapa tahun yang lampau."

Jit-jit mengawasinya hingga lama dan tak bicara, entah hatinya merasa kecut, manis, atau getir?

Dia tidak tahu.

Untung hidangan sudah disuguhkan, maka Jit-jit makan minum dengan lahap.

Kim Bu-bong justru sebaliknya, sukar menelan hidangan di depannya, Jit-jit menyumpit makanan ke dalam mangkuknya.

Orang-orang di sekitarnya tidak berani menoleh ke arah mereka, tapi tak sedikit yang melirik secara diam-diam.

Maklum kedua orang ini teramat aneh, lelaki jelek, yang perempuan cantik, kelihatannya mesra, tapi juga seperti tak kenal-mengenal sebelumnya, entah pernah hubungan apa antara kedua orang ini, sungguh sukar menebaknya.

Jit-jit tidak peduli tingkah laku orang-orang di sekitarnya, katanya tertawa.

"Sepotong daging ini harus kau makan, perut kosong mana boleh minum arak... perutmu bisa terbakar lho."

Ia menyumpit sepotong daging dan diangsurkan pula ke mangkuk Kim Bu-bong.

Tapi mendadak tubuhnya bergetar, daging yang tersumpit jatuh kecemplung ke mangkuk kuah di depannya, ia terbelalak ke arah jendela dengan wajah pucat.

"Ada apa?"

Tanya Kim Bu-bong kaget. Dengan sumpit Jit-jit menuding jendela di belakang Kim Bu-bong, katanya.

"Oo...."

Suaranya bukan saja gemetar, lidahnya juga kelu, sumpit pun beradu karena tubuhnya menggigil.

Berubah air muka Kim Bu-bong, lekas dia berpaling, namun jendela kosong tak ada apa-apa, keruan dia heran, tanyanya.

"Kau melihat apa?"

Sahut Jit-jit gemetar.

"Ada... ada orang di luar jendela."

"Mana ada orang, mungkin pandanganmu kabur?"

"Barusan ada, begitu kau berpaling lantas lenyap."

"Siapa?"

"Iblis... iblis laknat itulah, iblis yang membikin aku lumpuh dan bisu itu."

"Apa kau melihat dengan jelas?"

"Aku melihat dengan jelas sekali, selama hidupku takkan kulupakan wajahnya."

Berubah kelam air muka Kim Bu-bong, kedua alisnya bertaut, ia tunduk kepala berpikir tanpa bicara.

"Apa kau mau mengejarnya?"

"Biar kukejar sekarang juga takkan tersusul."

"Lalu... lalu bagaimana baiknya? Begitu melihat dia, aku tiada selera makan lagi, tidur pun tak bisa nyenyak, seolah-olah dia selalu mengintil di belakangku dan mau mencelakai aku, bila kupejamkan mata lantas terbayang dia lagi menyeringai kepadaku...."

Mendadak dia letakkan sumpit terus mendekap muka dan hampir menangis.

Kim Bu-bong berpikir sejenak, mendadak dia berbangkit, sepotong uang perak dilemparkannya di meja, tangan Jit-jit ditariknya sambil mendesis.

"Mari ikut aku!"

"Ke... ke mana?"

Tanya Jit-jit.

Hijau kelam muka Kim Bu-bong, tanpa menjawab dia tarik Cu Jit-jit terus melangkah keluar, ia celingukan sekejap menentukan arah terus berlari keluar kota menuju ke tempat yang sepi.

Heran dan takut Jit-jit, nyalinya sudah pecah bila terbayang kepada iblis itu, padahal biasanya tiada yang ditakutinya di dunia ini, tapi terhadap "iblis"

Yang satu ini dia justru ketakutan setengah mati.

Makin jauh Kim Bu-bong melangkah ke tempat yang sepi, padahal saat itu cahaya mentari sudah menembus gumpalan mega, namun Jit-jit masih menggigil kedinginan.

Tanpa terasa kedua tangannya memeluk pundak Kim Bu-bong dan tubuhnya pun menggelendot di bahunya.

Dipandang dari belakang seolah-olah seorang lelaki kekar berjalan berpelukan dengan seorang gadis, seperti sepasang kekasih yang lagi bermesraan, siapa yang melihatnya pasti iri, tapi bila orang mendahului dan memandang dari depan, yang perempuan cantik bak bidadari, berpelukan dengan lelaki jelek yang mengerikan, siapa pun akan geleng kepala.

Walau pundaknya diganduli, langkah Kim Bu-bong tetap cepat dan gesit.

Tak tahan Jit-jit bertanya.

"Tempat apa di sebelah depan."

"Aku tidak tahu."

Gusar Jit-jit, serunya.

"Habis untuk apa kau... kau...."

"Apa yang kulakukan segera kau akan tahu,"

Ujar Kim Bu-bong, mendadak dia merendahkan suaranya.

"Nah, itu dia datang."

Berdiri bulu kuduk Cu Jit-jit, ia menahan napas dan pasang kuping, memang di belakang didengarnya ada suara desir pakaian melambai, gerakan orang di belakang amat cepat, namun Kim Bu-bong tidak menghentikan langkahnya juga tidak menoleh.

Dengan sendirinya Jit-jit juga tidak berani menoleh, namun dalam hati dia bertanya-tanya.

"Siapakah yang datang? Jangan-jangan dia?"

Didengarnya lambaian pakaian orang itu sudah berada di belakang mereka, gerakannya lantas diperlambat, dalam jarak yang sama terus mengikuti langkah mereka, tidak menyusul ke depan dan juga tidak ketinggalan.

Rasa seram menjalari punggung Jit-jit, sungguh ia ingin menoleh untuk melihatnya, tapi dapat ditahan perasaannya ini, rangkulannya bertambah erat.

Bila Kim Bu-bong mempercepat langkahnya, orang di belakang ikut cepat, bila Kim Bu-bong lambat orang itu pun memperlambat langkahnya.

Kini Jit-jit yakin orang di belakang ini pasti iblis laknat itu, baru sekarang dia sadar Kim Bu-bong sengaja menuju ke tempat yang sepi, tujuannya juga untuk memancing dia.

Tapi sukar dia menebak kenapa Kim Bu-bong berbuat demikian, apa tujuannya?

Jika ingin membunuhnya, sekarang sudah boleh turun tangan, kalau tidak ingin melenyapkan dia, pantasnya sekarang sudah bertindak pula.

Makin lama langkah Kim Bu-bong makin cepat, akhirnya hanya berputar kayun di dataran bersalju ini, orang itu ternyata mengintil terus ikut berputar.

Cu Jit-jit tidak tahan dan ingin mengajukan pertanyaan namun sebelum dia bersuara, kupingnya lantas menangkap suara Kim Bu-bong yang bicara dengan ilmu gelombang suara.

"Kungfu orang ini tidak lemah, tapi tenaga dalamnya kurang kuat, sekarang sengaja kukuras tenaganya, bila lwekang sudah lemah dan kehabisan tenaga baru akan kupancing dia turun tangan, kuyakin dapat mencabut nyawanya."

Kejut dan girang hati rasanya ingin dia peluk leher Kim Bu-bong serta mencium pipinya sekali sebagai tanda rasa senang, haru dan kagumnya.

Mendadak Kim Bu-bong mendongak sambil bergelak tertawa, serunya.

"Haha, bagus... bagus!"

Orang itu juga tertawa serak dan berseru.

"Haha, bagus... bagus!"

"Kutahu kau pasti datang!"

Ucap Kim Bu-bong.

"Kutahu kau pasti datang!"

Orang itu menirukan bicaranya.

"Setelah datang, kenapa kau tidak bicara?"

Tanya Kim Bu-bong. Orang itu juga bertanya.

"Setelah datang, kenapa kau tidak bicara?"

Kim Bu-bong gusar, dampratnya.

"Apa sengaja kau permainkan aku? Meski kita pernah seperguruan, namun hubungan kita sudah putus, tahukah kau kenapa kupancing kau ke sini? Sebab akan kucabut nyawamu!"

Orang itu seperti bersuara kaget, tapi segera menirukan pula.

"Apa sengaja kau permainkan aku? Meski...."

"Siapa kau?"

Mendadak Kim Bu-bong menghardik sambil seret Jit-jit dan membalik badan.

Orang itu sedang lari, hampir saja ia menubruk mereka, syukur satu kaki di depan mereka dia berhasil mengerem langkahnya.

Wajahnya yang jelek dan kotor itu tepat berhenti di depan mata Cu Jit-jit, tapi bukan wajah "iblis"

Yang mereka duga semula, orang ini ternyata adalah Kim Put-hoan.

Perubahan yang tak terduga ini bukan saja membuat Cu Jit-jit kaget, juga di luar dugaan Kim Bu-bong.

Bukan rase yang mereka pancing ke sini sebaliknya terpancing serigala.

"Kiranya... kau!"

Pekik Jit-jit.

"Rupanya kau,"

Bentak Kim Bu-bong dengan gusar.

"Ya, aku...."

Kim Put-hoan tertawa terkekeh.

"Agaknya kalian tidak menduga."

"Kenapa kau buntuti kami sejauh ini? Apa kehendakmu?"

Seru Jit-jit. Kim Put-hoan memicingkan matanya, katanya dengan tertawa.

"Aku hanya ingin menyaksikan betapa mesranya kalian berpelukan, untuk apa pergi ke tempat sepi seperti ini? Di sini kan bukan tempat untuk berpacaran?"

"Tutup mulutmu!"

Bentak Kim Bu-bong.

"Baik, tutup mulut. Toako suruh aku tutup mulut, segera kututup mulut!"

Dia mendongak dan tertawa aneh.

"Baru sekarang kutahu, Toako kita ini ternyata cukup lihai juga dalam hal memikat perempuan, hanya beberapa patah kata dengan mudah dapat merebut nona ayu ini dari tangan Sim Long."

Jelalatan mata Kim Bu-bong, wajah diliputi nafsu membunuh. Jit-jit tidak tahan, ia memaki.

"Kau kentut busuk apa?"

Kim Put-hoan menyengir.

"Aduh galaknya.... Eh, mau tidak kuberi tahu rahasia toakoku ini? Dia kelihatan jujur, padahal... hahahaha...."

"Padahal apa?"

Tanya Jit-jit.

"Padahal toakoku ini laki-laki perayu, seorang hidung belang, sejak umur lima belas, entah betapa banyak gadis yang dibuatnya sakit rindu, kemudian...."

Kim Bu-bong menatapnya dengan dingin dan mendengarkan ocehannya tanpa mencegah atau menyetopnya, tapi Kim Put-hoan sengaja berhenti sambil meliriknya.

"Belakangan bagaimana?"

Tak tahan Jit-jit bertanya pula. Kim Put-hoan sengaja berdehem.

"Aku tak berani mengatakan."

Kim Put-hoan menyengir.

"Banyak nona cantik mengerumuninya hingga toakoku ini tak sempat berlatih kungfu, saking jengkel toakoku ini lantas merusak wajah sendiri yang tampan ini."

"Oo...."

Jit-jit menjerit kaget.

"Dia sendiri yang merusak mukanya tapi setelah wajahnya rusak, tabiatnya ikut berubah, bukan saja dia amat membenci perempuan, terhadap orang laki-laki juga bersikap dingin dan tak acuh."

Cu Jit-jit termenung sekian lama, katanya kemudian.

"Jadi begitulah kejadiannya... kiranya tempo hari kau menipuku."

"Menipumu... kapan aku menipumu...."

Seru Kim Put-hoan.

"Cuh,"

Jit-jit berludah.

"siapa bicara dengan kau."

Kim Put-hoan mengawasinya, lalu melirik Kim Bu-bong, katanya dengan tertawa licik.

"Ah, aku mengerti, aku mengerti.... Agaknya kau bicara dengan dia. Jadi Toako pernah dustai kau, tanpa sengaja aku membongkar rahasianya."

Kim Put-hoan tertawa dan berkata pula.

"Wah, baru sekarang aku bertemu dengan istri Toako, tidak diberi hadiah malah dicaci maki."

"Baik, kuberi hadiah,"

Damprat Cu Jit-jit. Tangan kanan terayun terus menggampar muka Kim Put-hoan.

"Plang" , Kim Put-hoan tidak berkelit menghindar, gamparan Jit-jit telak mengenai pipinya, ternyata dia tidak marah sebaliknya malah tertawa sambil mengelus pipi, katanya.

"Terima kasih, kuterima hadiahmu dengan senang hati. Jari-jemari halus dan runcing rasanya enak juga bila mengelus pipi. Toako, rezekimu memang tidak kecil."

Mendadak Kim Bu-bong mendengus.

"Sudah habis kau bicara?"

"Ya, sudah habis."

"Hubungan persaudaraan kita sudah putus, tapi mengingat kau tumbuh dewasa bersamaku dulu, hari ini kuampuni sekali lagi...."

Mendadak Kim Bu-bong membentak bengis.

"Nah, ayoh, lekas menggelinding, jangan tunggu aku berubah pikiran."

Kim Put-hoan tenang-tenang saja, katanya dengan tertawa.

"Toako suruh aku enyah, tentu segera kupergi. Tapi masih ada pertanyaan yang ingin kuajukan kepada Toako,"

Tanpa menunggu jawaban Kim Bu-bong dia meneruskan.

"Toako tahu tidak di mana Sim Long sekarang?"

Jit-jit heran, tanyanya.

"Untuk apa kau cari Sim Long?"

Kim Put-hoan tertawa lebar, katanya.

"Banyak orang ingin mencari Sim Long, bukan cuma aku."

Jit-jit makin tertarik, tanyanya lagi.

"Siapa pula yang mencarinya?"

"Tiga cianpwe dari Jin-gi-ceng, Toan-hong Totiang, Thian-hoat Taysu, Hiong-say Kiau Ngo, dan... aku juga, walau aku tidak becus, orang-orang itu bukan tokoh sembarang tokoh."

"Untuk apa orang-orang itu mencarinya?"

Tanya Jit-jit khawatir.

"Tidak apa-apa, hanya ingin menggorok lehernya,"

Sahut Kim Put-hoan. Berjingkat Jit-jit, serunya.

"Ken... kenapa?"

"Karena dia ingkar janji, karena dia berbuat jahat, lahirnya bajik, padahal kejam, karena.... Ai, tak perlu kujelaskan lagi, tentunya kau tahu sendiri."

Melotot mata Cu Jit-jit, serunya tergagap.

"Bukankah... bukankah Sim Long sudah mengantar Can Ing-siong, Pui Jian-li, dan lain-lain pergi ke Jin-gi-ceng, bukankah mereka bisa memberi penjelasan."

"Apa benar Sim Long yang mengantar Can Ing-siong dan lain-lain?"

Tanya Kim Put-hoan, suaranya bernada menyindir. Tapi Jit-jit tidak memerhatikan, sahutnya.

"Betul, Sim Long sendiri yang mengantar mereka,"

Lalu ia menoleh ke arah Kim Bu-bong, katanya pula.

"Kau bisa jadi saksi bukan?"

Terunjuk rasa heran pada wajah Kim Bu-bong, katanya dengan mengangguk.

"Betul, aku melihat sendiri mereka sudah masuk ke Jin-gi-ceng."

"Memangnya ada kesalahan apa yang terjadi?"

Tanya Jit-jit. Kim Put-hoan menyeringai.

"Betul, mereka memang sudah masuk ke perkampungan sana."

Jit-jit menghela napas.

"Nah, kan sudah beres...."

"Tapi setelah masuk kampung, sebelum sempat bicara mereka sudah putus nyawanya. Hm... mati secara mutlak, tiada satu pun yang ketinggalan."

Belum Kim Put-hoan selesai bicara, Jit-jit sudah menjerit kaget. Kim Bu-bong juga terbeliak, katanya.

"Cara... cara bagaimana mereka mati?"

"Begitu masuk perkampungan mereka lantas roboh bersama pada saat itu juga dan jiwa melayang seketika, sekujur badan tidak terluka, mungkin mereka mati karena racun yang bekerja dalam tubuh mereka. Padahal tidak sedikit tokoh-tokoh kosen di dalam Jin-gi-ceng, tapi tiada satu pun yang tahu mereka keracunan apa,"

Kata Put-hoan tertawa riang sambil mendongak.

"Membunuh dengan racun tidak perlu diherankan, anehnya waktu yang diperhitungkan ternyata begitu tepat.... Hehehe... sungguh cara lihai, kepandaian hebat, sayang teramat keji."

Kim Bu-bong merinding mendengar perkataan Kim Put-hoan itu, Cu Jit-jit juga gemetar, katanya.

"Aku yakin pasti bukan perbuatan Sim Long."

"Sim Long yang mengantar mereka, kalau bukan dia siapa lagi yang pandai main racun?"

"Pasti dia... perempuan itu?"

Kata Jit-jit.

"Dia siapa? Siapa perempuan itu?"

Tanya Kim Put-hoan.

"Meski kujelaskan juga percuma,"

Segera Jit-jit tarik tangan Kim Bu-bong, serunya.

"Ayo kita sampaikan berita ini kepada Sim Long."

"Kalian tidak perlu susah payah,"

Ucap Kim Put-hoan sambil menyeringai.

"sudah ada orang mencari dia, toh tidak bakal melarikan diri. Mengenai kalian... ai, sekarang kalian juga tak bisa pergi."

"Berani kau rintangiku?"

Damprat Kim Bu-bong. Seperti tertawa tapi tidak tertawa, Kim Put-hoan berkata sinis.

"Mana aku berani... tapi mereka...."

Bola matanya jelalatan ke empat penjuru, Kim Bu-bong dan Cu Jit-jit lantas mengikuti pandangannya ke sana kemari.

Di tengah dataran salju itu, dari arah timur, selatan, barat, dan utara masing-masing muncul bayangan seorang, dengan perlahan melangkah ke arah mereka.

Kelihatannya mereka bergerak lamban, namun tahu-tahu sudah dekat.

Yang datang dari timur berjenggot panjang menyentuh dada, pakaiannya melambai tertiup angin seperti dewa, namun wajahnya yang putih bersih tampak kaku dironai nafsu membunuh, dia bukan lain adalah Put-pay-sin-kiam Li Tiang-ceng, kepala Jin-gi-ceng.

Orang yang datang dari selatan berperawakan tinggi besar, sedikitnya delapan kaki, cambang bauk melebati mukanya, sorot matanya juga memancarkan nafsu membunuh, dia juga salah satu dari Jin-gi-sam-lo yaitu Khi-tun-to-gu Lian Thian-hun.

Orang yang datang dari barat berperawakan agak kurus dan lemah, setiap dua langkah lantas terbatuk-batuk, dia adalah toako dari ketiga Leng bersaudara.

Yang datang dari utara sikapnya kelihatan paling garang, wajahnya beringas kejam, siapa kalau bukan Thian-hoat Taysu dari Ngo-tay, tokoh silat nomor satu aliran Buddha yang disegani.

Sebelum keempat orang ini mendekat, Kim Put-hoan mendadak melompat mundur, lalu serunya lantang.

"Apakah kalian sudah mendengar percakapan kami?"

"Sudah mendengar jelas,"

Seru Lian Thian-hun yang berangasan.

"Aku tidak salah omong bukan, orang-orang itu memang diantar oleh Sim Long,"

Kim Put-hoan membakar kemarahan mereka.

"Memang benar, kau keparat ini bicara dengan betul, Sim Long si anjing itu tak dapat diampuni,"

Demikian damprat Lian Thian-hun, meski usianya sudah lanjut, waktu marah sikapnya menjadi kasar dan tutur katanya juga kotor.

"Perlu juga kalian ketahui, di sini ada seorang yang lebih hebat daripada Sim Long. Hehehe, kalian memang lagi mujur, tanpa sengaja bertemu dengan dia di sini."

"Siapa?"

Bentak Li Tiang-ceng.

Padahal pandangan keempat orang itu sudah menatap Kim Bu-bong.

Meski Kim Bu-bong berdiri tegak tanpa bergerak, diam-diam hatinya menjadi gelisah.

Terdengar Kim Put-hoan berkata lantang.

"Harap kalian perhatikan, inilah Kim Bu-bong, Duta Harta, salah satu duta besar Koay-lok-ong, tentu sudah lama kalian mendengar kebesaran namanya."

Belum habis dia bicara, serentak Li Tiang-ceng berempat melompat maju mengepung Cu Jit-jit dan Kim Bu-bong, setajam golok mereka menatap Kim Bu-bong.

Perlahan Cu Jit-jit makin merapat di samping Kim Bu-bong.

Kalau keempat orang itu menatap Kim Bu-bong, sebaliknya Kim Bu-bong juga balas menatap mereka, tiada yang bicara, dalam keadaan seperti ini, bicara memang berlebihan.

Tanpa tanya juga Kim Bu-bong tahu maksud kedatangan keempat orang ini, keempat orang itu juga tahu jika pihaknya mengajukan pertanyaan, lawan jelas takkan memberi jawaban, maka lebih baik tidak tanya.

Berhadapan secara diam begini tentu saja menambah tegangnya suasana, sinar matahari seakan mulai guram, cuaca remang-remang, deru angin seperti pekikan di medan perang.

Cu Jit-jit tidak tahan lagi, serunya.

"Kalian mau apa?"

Keempat orang itu melirik sekejap, hanya sekejap lalu menatap Kim Bu-bong pula, hakikatnya seperti tak sudi memandangnya, apalagi menjawab pertanyaannya.

"Apa pun persoalannya harus dibicarakan dulu dengan jelas, memangnya apaan cara begini?"

Teriak Jit-jit pula. Kali ini orang-orang itu melirik pun tidak. Dengan nekat Jit-jit berteriak.

"Mereka tidak mau bicara, mari kita pergi."

Kim Put-hoan yang berdiri di samping mendadak tertawa latah, serunya.

"Kalian dengar, merdu sekali ucapan budak ini."

Teriak Jit-jit dengan gusar.

"Kalian tak mau bicara, ayolah turun tangan, jika tidak turun tangan, maka kami mau pergi, memangnya harus ikut berdiri seumur hidup di sini."

Li Tiang-ceng menghela napas, ujarnya.

"Masa kau minta kami turun tangan?"

Meski dia bersuara, tapi ucapannya bukan ditujukan kepada Cu Jit-jit, melainkan kepada Kim Bu-bong.

"Betul,"

Kim Put-hoan ikut bersuara.

"Apa kau ingin kami turun tangan? Kalau kau tahu diri menyerah saja biar kami belenggu, setiap pertanyaan harus kau jawab, daripada tersiksa."

Kim Bu-bong hanya menyeringai saja tanpa bersuara. Tapi Jit-jit tambah tidak tahan, makinya.

"Kentut, kau...."

Mendadak Lian Thian-hun meraung.

"Buat apa banyak cincong, pukul roboh mereka dan ringkus saja, masa mereka takkan bicara nanti?"

Mendadak Kim Bu-bong menengadah dan terbahak-bahak.

"Haha, sungguh gagah, sungguh gagah, orang she Kim memang lagi menunggu kalian para pahlawan ini, silakan turun tangan bersama."

Berputar bola mata Cu Jit-jit, mendadak ia pun tertawa, serunya.

"Sungguh kasihan, sungguh sayang... orang gagah terkenal macam kalian hanya pandai main keroyok...."

"Budak busuk,"

Damprat Lian Thian-hun.

"tutup bacotmu, boleh kau saksikan apakah tuan besarmu ini main keroyok atau tidak? Silakan kalian mundur selangkah, biar kubekuk keparat ini."

Li Tiang-ceng berkerut kening, namun Lian Thian-hun, lantas melompat maju. Kim Bu-bong bertanya.

"Apa betul kau berani melawanku seorang diri?"

"Hanya cucu kura-kura yang tidak berani,"

Sahut Lian Thian-hun dengan gusar.

"Kukira lebih baik kau mundur saja, kungfu Khi-tun-to-gu Lian Thian-hun dulu memang tinggi, tapi sejak tragedi di Heng-san kungfunya sekarang tinggal tiga bagian saja, mana boleh kau bergebrak denganku?"

Lian Thian-hun menjadi gusar, kedua tinjunya beruntun menggenjot seraya membentak.

"Siapa berani membantuku, Lian Thian-hun akan mengadu jiwa dulu dengan dia."

Perlahan Kim Bu-bong mendorong Cu Jit-jit ke samping.

"Awas!"

Sambil bicara ia menghindari dua kali jotosan Lian Thian-hun.

Li Tiang-ceng seorang tokoh besar, melihat gerak tubuh lawan, segera ia tahu lawan memiliki kungfu tinggi, segera dia mundur beberapa langkah dan memberi tanda kedipan mata kepada Leng Toa.

Leng Toa segera melompat ke dekatnya, tanyanya.

"Ada apa?"

Li Tiang-ceng berkata dengan suara tertahan.

"Betapa tinggi kepandaian orang ini sukar diukur, dalam empat puluh jurus Samte mungkin takkan kalah, tapi empat puluh jurus kemudian, bila kehabisan tenaga pasti kalah."

"Ya, kukira juga demikian."

"Belakangan ini bagaimana dengan latihan lwekangmu?"

Leng Toa tersenyum, sahutnya.

"Lumayan."

"Tapi batukmu...."

"Supaya tidak batuk juga bisa."

Berputar mata Li Tiang-ceng, dilihatnya Kim Put-hoan menonton di pinggir sambil tersenyum, Thian-hoat Taysu kelihatan menggosok-golok kepalan dan getol ikut turun gelanggang, namun karena peringatan Lian Thian-hun tadi, maka dia bimbang.

Seperti sengaja dan tidak sengaja, kedua orang ini mencegat jalan pergi Cu Jit-jit di kanan-kiri.

Segera Li Tiang-ceng mendesis lagi.

"Biasanya Kim Put-hoan jarang turun tangan, luka dalam Thian-hoat mungkin belum sembuh, sementara aku, ai, pendek kata, melihat situasi hari ini hanya kaulah yang bisa diharapkan, apakah kau yakin dapat mengalahkan dia?"

"Boleh kucoba!"

"Bagus, tapi sekarang kau tak boleh turun tangan, kau tahu watak Losam, maka harus kau tunggu bila dia melontarkan jurus andalannya itu baru kau terjun.... Sekarang sudah lebih dua puluh jurus, belasan jurus lagi Losam pasti akan melancarkan jurus itu, paham?"

"Tahu!"

Sahut Leng Toa, walau bicaranya lebih banyak daripada adiknya, tapi jawabannya tetap singkat saja.

Pukulan Thian-hun secepat angin, dalam sekejap dia sudah menyerang dua puluhan jurus bagai gugur gunung dahsyatnya, siapa pun yang menyaksikan pukulannya akan pecah nyalinya.

Di tengah deru angin pukulan, bunga salju beterbangan.

Bunga salju yang berhamburan bila hinggap di muka orang akan meninggalkan bercak merah di muka orang, sudah ada tiga-empat bercak merah di muka Cu Jit-jit.

Jilid 14 Menyaksikan pertarungan ini, Jit-jit jadi ngeri dan khawatir, batinnya.

"Siapa bilang kungfu Lian Thian-hun sudah susut? Jika lwekangnya sekarang cuma tiga bagian daripada kemampuannya dulu, bukankah sekali pukulannya bisa menewaskan seorang kosen.... Mungkin Kim Bu-bong percaya omongan orang dan salah tafsir, kalau satu lawan saja tak mampu dikalahkan dia, belum lagi empat orang yang menunggu giliran."

Maklum, watak Cu Jit-jit memang agak ekstrem, maka sering dia melakukan perbuatan tak dapat dilakukan orang lain, apa itu adat istiadat, apa itu peraturan, dia tidak peduli.

Jika dia baik dengan seorang, maka dia harap orang itu akan menang, tentang benar atau salah, baik atau jahat sama sekali tidak dipikirnya.

Demikian pula sekarang, tentu saja dia harap Kim Bu-bong dapat memukul mampus Lian Thian-hun, soal Lian Thian-hun orang baik atau jahat, hakikatnya tak terpikir olehnya.

Tapi Kim Bu-bong justru terdesak di bawah angin, keruan Jit-jit gelisah.

Dia tidak tahu bahwa lwekang Lian Thian-hun sudah jauh berkurang, kekuatannya sekarang paling-paling hanya tiga bagian saja dari kepandaiannya waktu puncaknya dulu.

Dasar Lian Thian-hun berwatak berangasan, sekali bergebrak, dia keluarkan seluruh sisa tenaganya itu tanpa pikirkan keselamatan sendiri.

Betapa luas dan pengalaman tempur Kim Bu-bong, sejak mula dia sudah melihat titik kelemahan lawan, maka dia tidak mau adu jiwa, tujuannya hanya menguras tenaga lawan.

Beberapa jurus lagi, serangan Lian Thian-hun mulai kendur.

Keringat sudah membasahi jidatnya.

Sebaliknya serangan Kim Bu-bong semakin kuat, lambat laun dia mulai berada di atas angin.

Mendadak kedua kepalan Lian Thian-hun menghantam sekaligus, jurus ini dinamakan Ciak-boh-thian-king (Batu Pecah Langit Terkejut), dengan dahsyat menghantam dada Kim Bu-bong.

Pada saat itulah Li Tiang-ceng berkata perlahan.

"Inilah jurus ketiga delapan."

Leng Toa mengangguk, seluruh perhatian tercurah ke tengah kalangan pertempuran.

Tertampak Kim Bu-bong menyurut mundur miring, agaknya dia tidak mau melawan kekerasan serangan Lian Thian-hun, meski kaki melangkah mundur, tapi dia masih menyimpan tenaga susulan untuk menanti pukulan Lian Thian-hun selanjutnya.

Tak terduga Lian Thian-hun juga mundur selangkah dan berdiri tegak di tengah, bentaknya.

"Berhenti!"

Bentakan menggelegar ini membuat kuping Cu Jit-jit mendengung, untuk sekian lama dia tak bisa mendengar suara apa pun.

Kim Bu-bong langsung mengalami akibatnya, terasa seperti ada arus hawa yang memukul dadanya, tanpa kuasa tubuhnya tergeliat, tapi sedapatnya ia bertahan pada posisinya dan siap serang lagi.

Pada saat itulah sesosok bayangan kurus meluncur tiba dan menyelinap di tengah mereka berdua.

Kiranya bentakan Lian Thian-hun tadi adalah salah satu ilmu simpanannya yang lihai, yaitu Ci-te-tui (Palu Bawah Lidah) yang kuat tapi tak berbentuk.

Lian Thian-hun bergelar Khi-tun-to-gu (Bila Marah Menelan Jagat), ini menunjukkan khikangnya teramat hebat, waktu kekuatannya masih utuh dulu sekali dia menghardik dengan Ci-te-tui lawan bisa tergetar putus urat sarafnya dan menjadi linglung.

Sayang sekali khikangnya sekarang tidak sekuat dulu, maka Kim Bu-bong hanya terkejut tak tidak terpengaruh oleh gertakannya.

Lian Thian-hun juga tahu kekuatan Ci-te-tui sekarang jauh lebih lemah dibanding dulu, namun wataknya tidak mau kalah, bila terdesak dan keadaan cukup gawat tanpa sadar dia lantas melancarkan ilmu ini.

Li Tiang-ceng adalah saudara angkatnya sejak muda, sudah diduganya Lian Thian-hun pasti akan melancarkan ilmunya ini.

Maka begitu dia menggertak dengan Ci-te-tui, segera Leng Toa menyelinap masuk arena.

Lian Thian-hun membentak gusar.

"Minggir, siapa suruh kau turut campur?"

Leng Toa tersenyum, katanya.

"Sudah kau suruh orang berhenti, tentunya aku boleh turun tangan."

Lian Thian-hun melengak, lekas Li Tiang-ceng menyeretnya ke pinggir. Kim Put-hoan tertawa lebar, katanya.

"Haha, lucu, sungguh lucu."

Thian-hoat Taysu juga berkata.

"Biar ku...."

"Kenapa Taysu tergesa-gesa? Keparat itu takkan bisa lolos, kenapa Taysu tidak lihat dulu bagaimana kungfu Leng-keh-sam-hengte (Tiga Saudara dari Keluarga Leng) hebat dan yang jarang dipamerkan di depan umum?"

Demikian bujuk Kim Put-hoan.

Sejenak Thian-hoat Taysu termenung dan urung melangkah maju.

Kiranya kedudukan ketiga saudara keluarga Leng di dunia persilatan agak aneh, mereka adalah kaum budak di Jin-gi-ceng, namun kungfu mereka termasuk tokoh kelas tinggi.

Mereka tidak mengejar nama, tidak mencari keuntungan pribadi, juga tak pernah berkecimpung di Kangouw atau ikut campur urusan orang lain, kecuali ada orang mengancam Jin-gi-ceng, mereka tidak sembarangan turun tangan.

Tapi bila mereka sudah turun tangan, lawan mereka jarang ada yang bisa pulang dengan selamat, maka jarang ada kaum persilatan yang tahu asal usul kungfu mereka.

Riwayat hidup mereka merupakan teka-teki pula, mereka tidak pernah menyinggung atau membicarakan perihal pribadi mereka dengan orang lain, umpama ada orang tanya juga mereka tak mau menjawab, kepada siapa pun sukar mencari tahu seluk-beluk mereka.

Kungfu yang misterius, riwayat hidup yang terahasia, ditambah tabiat mereka yang aneh sehingga ketiga bersaudara ini dipandang sebagai tokoh aneh dunia Kangouw.

Sekarang sampai Lian Thian-hun juga ingin menyaksikan saudara tertua keluarga Leng ini memiliki kejutan apa dalam ilmu silatnya.

Sementara Leng Toa sedang terbatuk-batuk tak berhenti-henti, maka Cu Jit-jit lantas bertanya.

"Kau sedang sakit, apa masih sanggup bergebrak?"

Leng Toa angkat kepala dan tertawa padanya, katanya.

"Terima kasih atas perhatianmu."

Habis bicara dia batuk lagi lebih gencar. Jit-jit menghela napas, katanya.

"Masih banyak orang di sini, kenapa kau yang disuruh maju? Kim... Kim-toako, biarlah dia mundur saja, gantikan orang lain."

Kim Bu-bong hanya tertawa dingin tanpa bicara. Kim Put-hoan justru menanggapinya dengan sinis.

"Nona Cu, kau khawatir dia sakit dan tak sanggup berkelahi? Hehehe, nanti bila dia bikin kau menjadi janda, baru kau tahu betapa lihainya."

Beringas muka Jit-jit, hampir dia mengumbar adatnya lagi. Dasar usil, Kim Put-hoan bermaksud meledek lagi, mendadak Leng Toa membentak gusar.

"Tutup mulutmu."

Kim Put-hoan melenggong.

"Kau suruh aku tutup mulut?"

"Ya, kau harus tutup mulut,"

Seru Leng Toa.

"Apa... apakah kau tak bisa membedakan siapa musuh dan siapa kawan?"

"Aku lebih senang punya musuh seperti dia daripada punya teman seperti tampangmu,"

Jawab Leng Toa.

Perkataannya itu berarti "teman yang hina dina jauh lebih menakutkan daripada musuh yang jujur".

Mau tak mau Kim Put-hoan merasa malu, dia menoleh ke arah Li Tiang-ceng, maksudnya seperti ingin bilang.

"Kacungmu bersikap kurang ajar padaku, kenapa kau tidak menegurnya."

Ternyata Li Tiang-ceng diam saja tanpa memberi reaksi, seakan-akan dia tidak mendengar atau memang sengaja tidak peduli akan percakapan Kim Put-hoan dengan Leng Toa.

Waktu Kim Put-hoan berpaling lagi, tampak mata Leng Toa setajam pisau tengah menatapnya dengan gusar, lekas ia ganti sikap, katanya dengan cengar-cengir.

"Agaknya tepukan pantat keliru kutepuk pada paha kuda. Baiklah, aku takkan bicara lagi, silakan Leng-heng turun tangan."

Leng Toa mendengus, sikapnya merasa jijik dan menghina, lalu dia berpaling ke arah Kim Bu-bong, katanya.

"Silakan!"

Cu Jit-jit tidak bersuara lagi, dia menduga Leng Toa yang berpenyakitan ini pasti punya bekal kungfu yang tinggi, kalau tidak Kim Put-hoan yang suka menindas yang lemah dan takut kepada yang kuat ini tidak nanti bersikap begitu takut kepadanya.

Dengan mata terbelalak dia menunggu pertempuran yang akan berlangsung.

Tapi Kim Bu-bong dan Leng Toa ternyata belum bergebrak.

Kedua orang berdiri berhadapan, tidak ambil posisi, tidak pasang kuda-kuda, namun keduanya sama tahu tidak boleh sembarangan menyerang, kalau bergerak secara gegabah mungkin akan mengalami akibat yang fatal.

Maklum, bagi penyerang yang ingin mendahului pasti menggunakan serangan keji dan dahsyat, padahal permainan silat di dunia ini bila mengutamakan serangan pasti ada peluang pada pertahanannya.

Bilamana serangan pertama gagal, lawan pasti balas mengincar titik lemahnya dan melancarkan serangan balasan maut.

Sebab itulah sejak Leng Toa bilang "silakan"

Tubuh kedua orang tiada yang bergerak, mata pun tak berkedip.

Li Tiang-ceng, Kim Put-hoan, Thian-hoat Taysu adalah jago kosen, sudah tentu mereka tahu kenapa sejauh ini kedua orang diam saja tak mau menyerang lebih dulu.

Suasana tegang mencekam, semua orang menahan napas, tak berani berisik, khawatir membuyarkan konsentrasi kedua jago yang siap saling labrak itu.

Akhirnya Cu Jit-jit juga merasakan keadaan kedua jago yang berhadapan itu, mati-hidup mereka hanya bergantung pada sekejap saja, maka dengan tajam dia mengawasi kedua orang yang tegak seperti patung, suasana tegang ini jauh lebih menakutkan daripada pertempuran yang pernah disaksikannya.

Angin dingin mengembus kencang, namun mereka tidak merasa dingin lagi.

Entah berapa lama sudah lalu.

Leng Toa merasakan tenaganya seperti sedang terkuras keluar, padahal dia belum menggerakkan seujung jari pun, tapi energi yang terbuang dalam ketegangan justru lebih besar dibanding tatkala bertempur sengit.

Keringat terasa mengalir di jidatnya, meleleh dan membasahi pipi, seperti ulat-ulat kecil yang merambat di mukanya, gatal dan geli.

Tapi dia bertahan dengan mengertak gigi.

Sebab dia tahu pertempuran ini akan menentukan mati-hidup mereka, juga merupakan ujian tinggi-rendah kungfu mereka, yang lebih penting lagi juga menguji keteguhan ketahanan mereka berdua.

Dia insaf meski dirinya sekarang menderita, lawan pun pasti dalam keadaan serupa.

Entah berapa lama telah berlalu pula.

Bukan saja Leng Toa dan Kim Bu-bong mengeluh dalam hati, Li Tiang-ceng, Thian-hoat Taysu yang menonton di pinggir juga kehilangan sabar, keringat juga membasahi jidat mereka, seolah-olah mereka sendiri baru mengalami pertempuran sengit.

Diam-diam Kim Put-hoan menarik lengan baju Li Tiang-ceng.

Mereka saling pandang sekejap, lalu mundur jauh ke sana.

Kim Put-hoan berkata dengan berbisik.

"Li-heng, menurut pendapatmu, siapa bakal menang dalam pertempuran ini?"

"Kukira kedua orang ini setanding dan sama kuat,"

Jawab Li Tiang-ceng setelah berpikir sejenak.

"Ya, mereka terhitung tokoh top dunia Kangouw, tujuh jago kosen bu-lim seperti kami ini bila dibandingkan mereka sungguh harus merasa malu."

"Dalam segalanya Leng Toa tidak lebih asor daripada Kim Bu-bong, tapi ketahanan fisiknya... penyakit tebesenya terakhir ini semakin parah karena terlalu banyak minum arak, kalau keadaan tegang begini berlangsung lebih lama, tenaga Leng Toa pasti tak kuat bertahan, bukan mustahil akibatnya fatal baginya."

"Wah, lalu bagaimana baiknya,"

Ujar Kim Put-hoan.

"Padahal kutahu betapa tekun orang ini menggembleng diri, sukar mencari orang kedua yang bisa menandingi dia. Apalagi biasanya dia tidak suka campur dengan orang perempuan, bicara tentang ketahanan tenaganya, selama aku berkecimpung di dunia Kangouw belum pernah kulihat orang yang lebih unggul daripada dia. Dahulu pernah dia bertempur melawan belasan orang secara bergilir, setelah belasan babak, ternyata wajahnya tetap tak berubah dan tenaga tak berkurang."

"Kalau betul demikian, tanpa bertempur pun jelas aku juga bukan tandingannya, mungkin...."

"Mungkin Thian-hoat Taysu juga bukan tandingannya, begitu?"

Tanya Kim Put-hoan. Li Tiang-ceng diam saja.

"Jadi kita berlima tiada seorang pun yang kuat melawannya, apakah kita manda saja dipukul roboh satu per satu olehnya?"

"Sudah tentu tidak, kecuali... kecuali...."

Li Tiang-ceng tak berani meneruskan.

"Kecuali bagaimana?"

Tanya Kim Put-hoan.

"Kecuali kau turun tangan bersamaku."

Tujuan Kim Put-hoan ajak orang bicara memang ingin memaksa pernyataannya ini, segera dia bertepuk tangan, serunya.

"Ya, memang harus demikian, menghadapi iblis jahat ini tak perlu kita mematuhi aturan Kangouw segala, daripada kita berkorban, biarlah kita turun tangan bersama saja."

Waktu Li Tiang-ceng memandang ke sana, dalam beberapa kejap percakapannya dengan Kim Put-hoan ini, dilihatnya keadaan Leng Toa semakin payah, jelas dia tidak kuat bertahan lebih lama, sebaliknya sorot mata Kim Bu-bong makin mencorong.

"Bagaimana...."

Kim Put-hoan mendesak. Li Tiang-ceng mengertak gigi, katanya dengan suara tertahan.

"Baiklah."

Belum habis dia bicara Kim Put-hoan menyeringai, katanya.

"Kalau begitu, Kim Bu-bong harus menyerahkan jiwanya."

Di tengah gelak tertawanya, beberapa bintik sinar dingin melesat ke sana langsung menyerang dada Kim Bu-bong, serangan cepat lagi ganas, jelas dia sudah siapkan senjata rahasianya sejak tadi.

Kim Bu-bong sedang tumplak seluruh perhatiannya, sedikit pun tidak boleh lena, kini mendadak diserang, dia dapat berkelit, jelas dia pasti celaka.

Cu Jit-jit menjerit, mau menolong pun terlambat.

Di luar dugaan Kim Bu-bong ternyata mampu menghindar, sekali berjumpalitan, belasan bintik kemilau itu meluncur lewat di bawah kakinya.

Di tengah udara Kim Bu-bong berputar dan turun di samping Cu Jit-jit, ia membentak bengis.

"Kim Put-hoan, sudah kuduga kau akan membokong diriku, maka sejak tadi memang sudah kuperhatikan gerak-gerikmu. Hm, kau ingin mencelakai aku, belajarlah sepuluh tahun lagi."

Sudah tentu hadirin kaget mendengar pertanyaannya. Kim Put-hoan membentak gusar.

"Ayo maju semua, ganyang saja kedua orang ini!"

Meski suaranya lantang, namun dia tidak berani turun tangan lebih dulu.

Thian-hoat Taysu melirik ke arah Li Tiang-ceng, terlihat Li Tiang-ceng mengangguk, tanpa bicara lagi dari kiri-kanan lantas menubruk maju, dalam sekejap mereka sudah menyerang tiga jurus.

Begitu Kim Put-hoan turun tangan, Leng Toa malah mundur beberapa langkah, hanya Lian Thian-hun masih berdiri di tempatnya sambil menunduk seperti sedang memikirkan sesuatu.

Sambil menarik Cu Jit-jit, Kim Bu-bong menangkis ke kiri dan menghindar ke kanan, beruntun dia layani tiga jurus serangan lawan, mendadak dia menjengek.

"Li Tiang-ceng, coba kau lihat keadaan Lian Thian-hun."

Kim Put-hoan membentak.

"Jangan tertipu!"

Sebetulnya Li Tiang-ceng juga berpikir demikian, namun perhatiannya teramat besar atas keselamatan saudara angkatnya ini, akhirnya dia tak tahan dan menoleh.

Seketika dia kaget dan berubah air mukanya.

Ternyata Lian Thian-hun sedang menunduk dengan memejamkan mata, wajahnya pucat pasi, mulut mengeluarkan buih, kelihatan amat mengerikan.

Kaget dan gusar Li Tiang-ceng, bentaknya.

"Kau... kau apakah dia?"

Kaki tangan Kim Bu-bong tidak berhenti, berbareng juga menjengek.

"Waktu bergebrak denganku tadi dia sudah terkena obat biusku yang beracun, tanpa obat penawar perguruanku, dalam dua jam racun akan bekerja dan jiwa pun melayang."

"Bangsat, apa... apa kehendakmu?"

Bentak Li Tiang-ceng khawatir.

"Dengan jiwanya kuminta ganti jiwa orang lain,"

Seru Kim Bu-bong. Kim Put-hoan memaki.

"Kau kira kami akan melepaskan kau? Hehe, jangan mimpi!"

Kembali dia serang tiga kali dengan lebih keji, sungguh dia ingin sekali hantam mampuskan Kim Bu-bong. Sambil tertawa ejek Kim Bu-bong menghindarkan serangan lawan, jengeknya.

"Hm, kau mimpi?!"

"Dalam sekejap kami dapat membekuk dirimu, memangnya takkan kau serahkan obat penawarnya?"

Kata Kim Put-hoan.

"Ya, memang demikian,"

Seru Li Tiang-ceng, kembali dia terjun ke arena, serangannya tambah gencar dan ganas, dalam keadaan begini, demi menolong jiwa Lian Thian-hun, terpaksa Leng Toa ikut mengeroyok.

Diam-diam Cu Jit-jit cemas, pikirnya.

"Dengan demikian bisa celaka dia."

Siapa tahu mendadak Kim Bu-bong bergelak tertawa latah malah.

"Kau tertawa apa? Masih bisa kau tertawa?"

Damprat Kim Put-hoan.

"Coba kau lihat apakah ini?"

Seru Kim Bu-bong, mendadak tangan terayun, selarik bintik hitam menyambar dari tangannya.

Orang banyak menyangka dia balas menyerang dengan am-gi atau senjata rahasia, ternyata delapan bintik hitam itu bukan menyerang lawan, tapi sebaliknya menyerang dirinya sendiri.

Tertampak dia membuka mulut dan menyedot, sekaligus delapan bintik hitam itu tersedot ke dalam mulutnya.

Sudah tentu semua orang terbelalak heran, beramai mereka tanya.

"Apakah itu?"

"Inilah obat penawarnya,"

Sahut Kim Bu-bong, agaknya dia belum telan bintik hitam itu ke dalam perut melainkan hanya dikumur di mulut saja, maka suara bicaranya tidak begitu jelas, tapi semua orang tahu dan maklum akan maksudnya.

"Obat penawar,"

Terkesiap Li Tiang-ceng.

"Hendak... hendak kau telan?"

"Kalau kalian menyerang lagi, obat penawar akan segera kutelan, obat penawar ini tinggal beberapa biji saja di dunia ini, jika kutelan seluruhnya.... Hehehe, umpama dewa juga jangan harap akan dapat menyelamatkan jiwa Lian Thian-hun."

Belum habis dia bicara, Li Tiang-ceng dan Leng Toa serentak mengendurkan serangan, lalu berhenti dan mundur.

Thian-hoat Taysu ikut berhenti, jika Kim Put-hoan tidak berhenti, seorang diri mana dia mampu melawan Kim Bu-bong.

Dengan mata jelalatan Kim Put-hoan berkata.

"Kim Bu-bong, terus terang kuberi tahu kepadamu, bila ingin kau tuntut kami membebaskan dirimu, lalu akan kau serahkan obat penawarnya, jangan harap kami akan menerima tuntutanmu. Tapi kalau kau tinggalkan obat penawarnya baru kami akan membebaskanmu, namun belum tentu kau mau, betul tidak? Lalu apa maksudmu sebenarnya? Lekas katakan saja!"

Kim Bu-bong masih pegang lengan Cu Jit-jit, katanya dengan tertawa dingin.

"Mau datang boleh datang, ingin pergi pun tiada yang dapat menahanku, kenapa perlu kau lepaskanku pergi segala?"

Ucapan Kim Bu-bong ini kembali di luar dugaan.

"Lalu kehendakmu?"

Tanya Kim Put-hoan.

"Kalian harus membebaskan dia,"

Kata Kim Bu-bong.

"Dia?... nona ini?"

Li Tiang-ceng menegas.

"Ya, bebaskan Nona Cu ini,"

Kata Kim Bu-bong.

"Dia tidak ada sangkut pautnya dengan urusan ini, asalkan bebaskan dia, sesudah dia pergi jauh, segera kuberikan obat penawar."

Diam-diam Li Tiang-ceng menghela napas lega, namun di mulut ia berkata.

"Tapi... tapi cara bagaimana dapat kupercayaimu?"

"Percaya atau tidak terserah padamu,"

Jengek Kim Bu-bong. Li Tiang-ceng termenung sejenak, katanya kemudian.

"Baiklah."

Ia pandang Thian-hoat Taysu, padri itu mengangguk perlahan.

Sebaliknya Kim Put-hoan merasa penasaran, namun dilihatnya Leng Toa dan Li Tiang-ceng sama melotot padanya, biarpun ia menyatakan tidak setuju juga tidak ada gunanya.

Terpaksa ia pun mengangguk, bahkan tertawa dan berseru.

"Aha, kiranya permintaanmu hanya pembebasan Nona Cu, haha, bagus sekali. Padahal tanpa kau minta juga takkan kami ganggu dia."

Kim Bu-bong mendengus dan melepaskan pegangannya, katanya kepada Cu Jit-jit.

"Lekas kau pergi saja."

Merah basah mata Jit-jit, ucapnya dengan menunduk.

"Jadi benar kau suruh kupergi?"

"Jika tidak pergi, engkau berbalik akan menambah bebanku,"

Kata Kim Bu-bong dengan dingin, meski sikap dan ucapannya dingin, tapi dadanya berombak, jelas ia pun dirangsang emosi.

Dalam keadaan demikian, bila gadis lain tentu akan menangis dan banyak tingkah, namun sekali ini Cu Jit-jit justru bertindak kebalikannya, walaupun hati terharu dan berterima kasih, tapi ia tahu tiada gunanya bicara lagi.

Segera ia mengentak kaki dan berseru.

"Baik, kupergi! Jika engkau hidup tentu akan kutemukan kau lagi, bila engkau mati akan kutuntut balas bagimu."

Dengan menahan perasaannya segera ia berlari pergi dengan cepat.

Sampai lama sesudah bayangan punggung si nona menghilang di kejauhan Kim Bu-bong masih berdiri termangu tanpa bergerak.

Mendadak Kim Put-hoan mengejek.

"Ai, kasihan, nona ini ternyata tidak tahu budi atas kebaikan Kim-lotoa kami, sekali bilang pergi segera pergi tanpa menoleh...."

"Binatang! Cuhh!"

Semprot Kim Bu-bong, sekaligus delapan bintik hitam menyambar ke sana.

Kim Put-hoan sedang mengoceh dengan gembira dan tidak berjaga-jaga, keruan bintik hitam itu semua hinggap di mukanya.

Wajahnya memang buruk serupa siluman, ditambah lagi hiasan bintik-bintik hitam ini, keruan tampangnya tambah lucu dan menakutkan, juga memuakkan.

Karena muka sakit pedas, Kim Put-hoan menjadi gusar, selagi tangannya hendak mengusap muka, baru tangan terangkat segera dipegang oleh Leng Toa.

"Hm, yang menempel di mukamu itu adalah obat penawar penyelamat jiwa Lian-samya, jika berani sembarangan kau usap, segera kubinasakan kau,"

Jengek Leng Toa.

Baru sekarang Kim Put-hoan ingat yang disemburkan Kim Bu-bong itu adalah obat penawar yang terkulum di mulutnya tadi, terpaksa ia berdiri diam saja dan membiarkan Leng Toa membersihkan obat penawar itu sebiji demi sebiji.

Ludah Kim Bu-bong yang menghiasi muka Kim Put-hoan itu akhirnya kering.

Kim Bu-bong lantas menengadah dan bersuit nyaring, serunya.

"Nah, obat penawar sudah kalian dapatkan, bila mau turun tangan, ayolah mulai!"

Belum lenyap suaranya, serentak dua sosok bayangan lantas menerjang maju.

***** Dalam pada itu tanpa menoleh Cu Jit-jit terus berlari ke depan, sampai sekian jauhnya, air mata tak tertahankan lagi dan bercucuran, semakin dipikir makin berduka, akhirnya ia menangis tergerung-gerung.

Entah menangis berapa lama lagi, tiba-tiba diketahui dirinya berada di bawah sebatang pohon kering, entah kapan dia berhenti di situ juga tidak dirasakannya.

Hari masih siang, namun cuaca remang-remang seakan-akan petang.

Ia mengusap air matanya dan tidak menangis lagi, ia mengingatkan dirinya sendiri.

"Jangan menangis lagi, Cu Jit-jit! Kim Bu-bong takkan mati, untuk apa kau tangisi? Mungkin... mungkin saat ini Kim Bu-bong sudah kabur."

Tapi segera ia mengomeli diri sendiri.

"Omong kosong, siapa bilang Kim Bu-bong tak bisa mati? Siapa bilang Kim Bu-bong akan kabur? Keempat orang itu pasti bukan tandingannya jika satu lawan satu, tapi... tapi satu lawan empat, betapa pun sulit.... Namun dia dapat lari.... Ah, juga tidak betul, dia terkepung empat orang, umpama mau lari juga sukar...."

Begitulah sebentar dia menggerundel, sebentar mengomel, lain saat menghibur lagi diri sendiri, akhirnya ia berbangkit, ia mengertak gigi, setelah membedakan arah, segera ia berangkat ke depan.

Sembari berjalan ia bergumam pula.

"Kepergianku ini bukan untuk mencari Sim Long, dia bersikap kasar padaku, mati pun aku tidak mau mencari dia, aku akan cari Thio Sam atau Li Si dan orang lain, siapa pun dapat kumintai bantuan untuk menolong Kim Bu-bong."

Padahal ia tahu apa yang dikatakannya itu tidak dapat dipercaya, namun dia tetap omong begitu.

Kebanyakan anak perempuan di dunia ini memang ada satu kelebihan daripada kaum lelaki, yaitu suka dusta pada dirinya sendiri.

Begitulah sembari berjalan sambil berpikir, tanpa terasa Jit-jit sampai lagi di kota kecil tempat mereka makan pagi itu, rumah makan kecil itu kelihatan di depan.

Entah mengapa, tanpa terasa ia masuk lagi ke rumah makan itu.

Dia memang lelah, pikiran kusut, ia perlu mencari suatu tempat istirahat untuk menenangkan pikiran.

Pelayan masih mengenali si nona, cepat ia mendekat dan menyapa.

"Nona ingin makan apa, tuan tadi tidak ikut datang lagi? Apakah segera menyusul? Biarkan hamba menyiapkan dua pasang sumpit, boleh?"

Mendadak Jit-jit menggebrak meja dan membentak.

"Jangan cerewet!"

Keruan pelayan itu berjingkat kaget dan melongo.

"Sediakan Ang-sio-hi-sit dan pauhi, ham masak madu, tim tapak beruang dan...."

"Wah, mana... mana ada santapan kelas tinggi itu di tempat kecil ini?"

Ucap si pelayan dengan kelabakan.

"Habis apa yang tersedia di sini?"

Teriak Jit-jit.

"Paling-paling cuma nasi dan mi saja, kalau mi ada beberapa macam, pangsit mi, ti-te-mi, mi babat, loh-mi, dan...."

"Baikan, bawakan satu porsi pangsit mi,"

Kata Jit-jit, ditambahkan pula.

"Cepat!"

Pelayan mengiakan, diam-diam ia menggerutu, minta ini dan itu, akhirnya pangsit mi juga mau.

Dengan cepat juga pangsit mi lantas diantarkan.

Namun pangsit mi yang mengepul panas ini akhirnya menjadi dingin dan tetap tidak disentuh oleh sumpit Cu Jit-jit.

Maklum, kalau pikiran lagi kusut, biarpun disediakan hidangan yang paling enak juga sukar ditelannya.

Pada saat itulah mendadak ada orang berteriak-teriak di luar.

"Tolong.... Tolong...."

Segera seorang berlari masuk dengan wajah berlumuran darah, dari dandanan dan perawakannya jelas bukan sebangsa orang Kangouw.

Jit-jit hanya memandangnya sekejap saja dan malas untuk melihatnya lagi.

Tapi pelayan dan tetamu lain sama terkejut dan beramai-ramai mengerumuni orang itu sambil bertanya.

"He, terjadi apa, Juragan Ong?"

"Siapa yang menganiaya Juragan Ong kita, biar kuadu jiwa dengan dia!"

Teriak lagi seorang. Kiranya yang mengalami pukulan ini adalah pemilik rumah makan ini.

"Tadi aku mengobrol iseng bersama Li gemuk di tempat penjualan daging babi sana,"

Demikian tutur Juragan Ong.

"kukatakan menjelang tengah hari tadi tempat kita ini kedatangan dua tetamu aneh, yang perempuan cantik molek, yang lelaki buruk rupa dan lebih mirip setan, kubilang pasangan itu seperti setangkai bunga menghiasi seonggok kotoran kerbau. Li gemuk tertawa, aku juga tertawa, siapa tahu pada saat itu juga mendadak menerjang tiba seorang lelaki liar dan menghajar diriku, aku...."

Belum habis penuturannya, tiba-tiba dilihatnya nona cantik yang dibicarakannya itu sudah berdiri di depannya dengan wajah bersungut.

Keruan Juragan Ong jadi melongo dan tidak dapat bicara lagi.

Jit-jit lantas mendekati mereka, sekali tangannya menyiah, beberapa orang lantas tertolak sempoyongan ke kanan dan ke kiri, semuanya terkejut dan melongo.

"Ayo, teruskan!"

Kata Jit-jit sambil memandang Juragan Ong dengan dingin.

"Ya, aku... aku akan berce... bercerita lagi...."

Juragan Ong gelagapan.

"Tadi kau bilang siapa mirip setan?"

Segera Jit-jit menjambret leher baju orang. Dengan keringat memenuhi dahinya Juragan Ong menjawab.

"O, ku... kubilang diriku sendiri...."

"Bagaimana bentuk orang yang menghajar dirimu tadi?"

Tanya Jit-jit pula.

"Alis tebal, mata besar dan...."

Belum habis penuturan Juragan Ong, sekali tolak Jit-jit membuat orang terlempar ke atas meja sana, lalu dia melayang pergi, tertampak di kedua tepi jalan berkerumun orang yang ingin melihat keramaian.

Dilihatnya di kejauhan sana sedang berjalan seorang lelaki dengan sebelah tangan membawa buli-buli arak.

Kejut dan girang Jit-jit, teriaknya.

"Hai, Him Miau-ji... Si Kucing!...."

Cepat orang itu berpaling, tertampak jelas alisnya yang tebal dengan matanya yang besar, dada bajunya terbuka, siapa lagi dia kalau bukan Si Kucing.

Si Kucing juga terkejut dan bergirang dapat bertemu dengan Cu Jit-jit, dengan langkah lebar ia menyongsong kedatangan nona itu, kedua orang saling mencengkeram bahu masing-masing serupa dua orang yang sudah berpisah selama berpuluh tahun.

Mereka tidak menghiraukan orang berlalu-lalang.

Air mata Jit-jit hampir saja bercucuran pula, bertemu dengan Him Miau-ji di sini, sungguh serupa bertemu dengan seorang yang paling berdekatan dengan dia.

Ia pegang bahu Si Kucing dengan erat dan berkata padanya dengan suara rada gemetar.

"Sungguh baik sekali... baik sekali dapat bertemu denganmu di sini."

"Ya, bagus sekali kita dapat bertemu di sini,"

Si Kucing juga memegang pundak si nona dengan tertawa.

"Tapi... tapi mengapa kau datang ke sini?"

Tanya Jit-jit.

"Men... mencari dirimu,"

Jawab Si Kucing.

"Dan kau?"

"Aku pun datang ke sini mencarimu,"

Jawab nona. Dan kedua orang lantas tertawa bersama.

"Ayo, harus kita rayakan dengan minum arak!"

Tertawa mereka sangat gembira, sambil berpegangan tangan mereka masuk lagi ke rumah makan tadi.

Karena gembiranya, kedua orang sudah melupakan adat istiadat yang membatasi pergaulan antara lelaki dan perempuan.

Sebaliknya orang lain sama menganggap seperti bertemu dengan malaikat elmaut, semua orang sama menyingkir jauh, Juragan Ong itu juga entah lari ke mana.

Si Kucing dan Jit-jit juga tidak ambil pusing, mereka duduk di rumah makan itu, tidak ada yang melayani mereka, segera mereka minum arak yang dibawa Si Kucing.

"Tak tersangka engkau masih memikirkan diriku dan mau datang ke sini mencariku,"

Ujar Jit-jit dengan tertawa.

"Kupikirkan dirimu?.... Oya, hampir gila saking cemasku, kucari sepanjang jalan dan tidak tahu apakah dapat menemukan dirimu atau tidak?"

"Aku pun gelisah dan entah dapat menemukan dirimu atau tidak, kudengar ada orang dihajar di sini, dari keterangannya segera dapat kuduga yang menghajarnya pasti kau."

"Hahaha! Kudengar keparat itu bicara tidak sopan, dapat kuterka yang dibicarakannya pastilah dirimu, aku tidak tahan, biarpun setan alas juga akan kuberi hajaran setimpal."

Dan keduanya lantas bergelak tertawa pula, akhirnya suara tertawa mereka mulai mereda. Jit-jit tidak tahan, ucapnya.

"Entah Si...."

Ia mengertak gigi, kata "Sim Long"

Ditelannya kembali mentah-mentah. Tapi Him Miau-ji sudah dapat menduga apa yang ingin diucapkan si nona, tanyanya.

"Kau ingin tanya Sim Long bukan?"

"Siapa tanya dia? Setan yang tanya dia,"

Jawab Jit-jit. Si Kucing menghela napas, katanya.

"Tidak lama kau pergi, Sim Long juga pergi. Kutahu dia hendak mencari dirimu, siapa tahu meski sudah kutunggu sampai sekian lama belum juga kelihatan bayangannya."

"Orang busuk begitu, untuk apa kau tunggu dia,"

Ujar Jit-jit dengan gemas.

"Aku tidak menunggu dia, tapi menunggumu,"

Kata Si Kucing.

"Betul?!"

Jit-jit menegas sambil berkedip-kedip.

"Tentu saja betul,"

Jawab Si Kucing.

"Gelisah kutunggu kedatanganmu, sedangkan Ong Ling-hoa tiada hentinya bertanya padaku tentang kungfu Sim Long, perguruan, dan asal usulnya, dia tanya juga cara bagaimana kukenal Sim Long."

"Sebal kau kenal dia,"

Gerutu Jit-jit.

"Meski Ong Ling-hoa bertanya macam-macam, tapi aku malas menggubrisnya, dia tetap berada di situ, tidak enak bagiku untuk meninggalkan dia, untung pada saat itulah datang bintang penolong...."

"O, apakah Sim... siapa dia?"

Si Kucing tampak menyesal dan berkata pula.

"Pendatang itu bukan Sim Long."

"Aku kan tidak tanya apakah dia, setan yang mau tanya dia."

"Kau tanya dia juga pantas,"

Ujar Si Kucing dengan tertawa.

"Buat apa...."

"Ssst,"

Perlahan Jit-jit memberi tanda.

"selanjutnya takkan kusinggung dia lagi. Sungguh! Percayalah padaku, seterusnya aku cuma memerhatikan orang yang baik padaku."

Si Kucing memegang tangan Jit-jit dan memandangnya dengan terkesima, sampai lama belum lagi bicara. Jit-jit mengikik, katanya.

"Hei, siapa pendatang itu, lekas ceritakan."

Si Kucing menenangkan pikiran, lalu bertutur.

"Orang itu bermuka buruk, dari caranya berjalan kelihatan tidak lemah ginkangnya, tapi dia justru berdandan sebagai seorang saudagar."

"Kau kenal dia?"

Tanya Jit-jit.

"Sama sekali tidak kukenal dia,"

Si Kucing menggeleng.

"Begitu datang, dia lantas kasak-kusuk membisiki Ong Ling-hoa, seketika air muka Ong Ling-hoa berubah dan buru-buru mohon diri padaku, lalu pergi bersama orang itu dengan tergesa-gesa dan rada gugup juga."

"Apa yang dibicarakan orang itu, apakah kau dengar?"

Tanya Jit-jit.

"Seorang lelaki sejati mana dapat kucuri dengar pembicaraan orang lain,"

Ujar Si Kucing. Tiba-tiba ia tertawa dan menyambung pula.

"Padahal aku memang ingin mendengarkan, cuma sayang tidak sepatah kata pun terdengar."

Jit-jit tertawa.

"Ai, di sinilah letak cirimu yang menarik, engkau tidak munafik...."

Mendadak ia berkerut kening dan termenung sejenak, lalu menyambung.

"kelakuan Ong Ling-hoa selalu misterius, apa yang diucapkannya juga selalu sukar dipercaya."

"Orang itu memang misterius,"

Ujar Si Kucing.

"Dahulu tidak begitu kurasakan, tapi setelah lebih sering berhubungan dengan dia, semakin kurasakan tindak tanduknya yang sukar diduga."

"Setiap orang yang suka main kasak-kusuk selalu begitu, bukankah Sim... Sim Long juga begitu?"

Mendadak muka Jit-jit menjadi merah, ia menunduk dan menambahkan.

"Aku tidak lagi memikirkan dia, aku cuma menggunakan dia sebagai perumpamaan saja."

"Ya, aku... aku setuju,"

Kata Si Kucing.

"Hubungan kalian dengan Sim Long belum lama dan tidak terasakan apa-apa,"

Ujar Jit-jit.

"Bagiku, kemisteriusan tindak tanduknya kurasakan lebih aneh daripada Ong Ling-hoa."

Si Kucing berpikir sejenak, katanya kemudian dengan gegetun.

"Ya, memang betul juga. Tindak tanduknya sungguh sukar diraba, misalnya sekali ini dia mengadu kecerdasan dengan Ong Ling-hoa.... Ai, kedua orang memang mempunyai caranya sendiri, kini kedua orang kelihatannya bersatu padu, kutahu banyak rahasia yang disembunyikan oleh mereka."

"Siapa bilang tidak,"

Tukas Jit-jit.

"Semula kusangka Sim Long telah sama sekali memercayai Ong Ling-hoa, siapa tahu sikapnya itu cuma sengaja diperlihatkan kepada orang lain saja."

"Jika begitu, bukankah selain Ong Ling-hoa, kita juga dikelabui olehnya,"

Ujar Si Kucing.

"Sungguh aku tidak mengerti, sesungguhnya siapa dia, apa pula maksud tujuan perbuatannya itu?"

"Bukan cuma kau saja yang tidak mengerti, aku pun tidak paham,"

Ujar Jit-jit.

"Segala sesuatu mengenai orang ini seolah-olah tertutup seluruhnya di dalam sebuah rumah, pintu rumah ini tidak dibukanya untuk siapa pun."

"Apakah kau tahu apa sebabnya?"

Tanya Si Kucing.

"Setan yang tahu,"

Jawab Jit-jit. Ia berkedip-kedip, lalu menyambung lagi.

"Sungguh aku tidak paham, mengapa di dunia ada manusia seperti dia, seperti tidak percaya kepada siapa pun. Alangkah baiknya bila manusia di dunia ini suka terus terang dan terbuka seperti engkau dan aku."

"Tapi jika serupa engkau dan aku, dunia mungkin juga akan selalu kacau,"

Ujar Si Kucing dengan tertawa. Mendadak ia berhenti tertawa dan berucap dengan murung.

"Suka berterus terang adalah sifat terpuji, tapi ada sementara orang menanggung susah di dalam hati, pada bahunya terdapat beban yang berat, cara bagaimana akan kau suruh dia bicara terus terang?"

Jit-jit termenung-menung, katanya kemudian.

"Engkau sangat baik, masih bicara baginya...."

Mendadak ia merasa orang yang berduduk di depannya, lelaki yang berbau liar, ternyata jauh lebih menyenangkan daripada lelaki mana pun.

Walaupun beberapa saat sebelum ini dia merasa sikap dingin Kim Bu-bong, keteguhan dan ketenangannya, sifat pendiam dan suka memahami perasaan orang itu adalah watak yang disukainya.

Tapi sekarang dirasakan pula watak Him Miau-ji yang suka terus terang, simpatik, agak liar dan sukar ditundukkan inilah adalah sifat khas kaum lelaki.

Dia termangu dan berpikir pula.

"Jika ada seorang lagi yang dapat menggantikan kedudukan Sim Long dalam hatiku, maka orang itu ialah Si Kucing ini. Jika dia sedemikian mencintaiku, untuk apa kupikirkan lagi Sim Long?"

Waktu ia menengadah, dilihatnya Si Kucing juga sedang melamun, entah apa yang dipikirnya.

Alisnya yang tebal tampak agak terkejut sehingga menambah murung wajahnya yang cerah itu, serupa anak liar yang lelah bermain telah diseret pulang oleh sang ibu.

Tiba-tiba timbul semacam perasaan kasih lembut seorang ibu, rasa hangat meliputi sekujur badannya, perlahan ia tanya.

"Apa yang kau pikirkan?"

"Memikirkan dirimu,"

Jawab Si Kucing. Jit-jit tertawa manis, perlahan ia membelai rambut Si Kucing dan tangan yang lain memegang telapak tangannya, ucapnya dengan lembut.

"Aku berada di sampingmu, untuk apa kau pikirkan diriku?"

"Kupikir, apa yang kau lakukan seharian ini? Apakah kesepian?"

Lalu dia pandang Jit-jit lekat-lekat, si nona juga menatapnya.

"Aku... aku tidak kesepian, kan ada seorang menemaniku...."

Belum lanjut ucapannya, mendadak Jit-jit melonjak bangun dan berseru.

"Wah, celaka!"

Dalam keadaan mesra begitu mendadak dia melonjak, tentu saja Si Kucing terkejut, heran dan juga rada kecewa.

"Ada apa?"

Tanyanya.

"Sehari suntuk Kim Bu-bong terus mendampingiku,"

Tutur Jit-jit.

"Tapi sekarang dia terkepung oleh Kim Put-hoan dan begundalnya, kita harus lekas pergi menolongnya."

Namun Si Kucing tetap berduduk tanpa bergerak.

"Hei, kau dengar tidak? Lekaslah berangkat!"

Omel si nona.

"Ah, kiranya dia selalu mendampingimu, pantas kau pikirkan dia meski berada bersamaku. Baiklah, anggap aku salah taksir,"

Kecut suara Si Kucing, bernada cemburu.

Padahal gadis manakah di dunia ini yang tidak suka lelaki cemburu baginya?

Seketika omelan Jit-jit berubah menjadi tersenyum lembut, ia membelai lagi rambut Si Kucing dan berucap.

"Ai, anak bodoh, justru lantaran kelewat gembira bertemu denganmu, makanya kulupakan urusan lain. Tapi... tapi dia sedang menghadapi kesulitan, adalah pantas kalau kita menolongnya."

"Betul kau gembira melihatku?"

Tanya Si Kucing.

"Betul, tentu saja betul,"

Sahut Jit-jit. Mendadak Si Kucing melompat bangun sambil berseru.

"Ayo, berangkat!"

Segera ia tertarik Jit-jit dan diajak lari keluar. Jit-jit menggeleng kepala dan tertawa.

"Sungguh seperti anak kecil...."

Begitulah dengan bergandengan tangan keduanya terus berlari cepat ke depan menurut petunjuk Jit-jit.

Dataran bersalju itu jarang dijelajahi manusia, bekas tapak kaki Cu Jit-jit dan Kim Bu-bong tadi masih tertinggal di atas tanah bersalju.

Bekas kaki Kim Bu-bong lebih cetek, sedangkan bekas kaki Cu Jit-jit lebih dalam.

Setiba di tempat sepi mendadak bertambah lagi bekas kaki ketiga, itulah bekas kaki Kim Put-hoan yang mengintil di belakang mereka waktu itu.

Setelah sekian lama berlari mengikuti arah bekas kaki itu, mendadak Si Kucing berhenti dan berkata.

"Ah, tidak betul."

"Apa yang tidak betul?"

Tanya Jit-jit.

"Bekas kaki ini jelas cuma berputar-putar di sini, mungkin kalian...."

"Betul, sebab...."

Dengan ringkas Jit-jit lantas menceritakan pengalamannya tadi.

Tentu saja Him Miau-ji terheran-heran, sembari bicara mereka terus maju ke depan.

Tiba-tiba tertampak bekas kaki di atas tanah salju itu kacau-balau.

"Nah, di sinilah,"

Kata Jit-jit.

"Di sini kalian dicegat!"

Tanya Si Kucing.

"Betul, tapi... tapi sekarang mereka sudah pergi, jangan-jangan Kim Bu-bong telah... telah tertawan oleh mereka...."

Mendadak Si Kucing berseru kaget.

"Hei, lihat itu!"

Waktu Jit-jit memandang ke sana, seketika air mukanya berubah, dilihatnya di atas tanah salju dengan bekas kaki yang semrawut itu terdapat pula darah segar.

Darah sudah meresap ke dalam salju dan buyar sehingga warnanya sudah hambar, ditambah lagi sudah terinjak-injak, kalau tidak diperiksa dengan teliti memang sulit ketahuan.

Cepat mereka memburu ke sana, Si Kucing mencomot segumpal salju berdarah dan diciumnya, seketika alisnya yang tebal bekernyit, ucapnya dengan suara berat.

"Betul, memang darah."

"Jika... jika demikian, jangan-jangan dia mengalami sesuatu...."

Suara Jit-jit rada gembira.

Si Kucing tidak bicara lagi, ia berjongkok memeriksa bekas kaki di tanah.

Cara memeriksanya sangat cermat dan teliti, Jit-jit tidak berani mengganggunya, selang sekian lama, ia tidak tahan dan coba bertanya.

"Hai, adakah sesuatu yang kau temukan?"

"Bekas kaki ini sekilas pandang seperti sama, tapi bila diperiksa dengan cermat, terlihat banyak perbedaan di antaranya,"

Kata Si Kucing.

Meski merasa khawatir dan sedih, timbul juga rasa ingin tahu Cu Jit-jit, ia pun berjongkok dan coba memeriksanya, tapi sampai sekian lama ia pandang tetap tidak menemukan sesuatu yang aneh.

Semakin tidak menemukan apa-apa, semakin tertarik dia dan ingin tahu sesungguhnya ada apa, karena tetap tidak melihat sesuatu yang mencurigakan, akhirnya ia bertanya.

"Tampaknya tidak ada perbedaan apa-apa, apakah betul kau temukan sesuatu yang aneh?"

"Masa tidak kau lihat?"

Ucap Si Kucing.

"Seperti... seperti...."

Betapa pun Jit-jit tidak mau mengaku bodoh, ia berharap Si Kucing akan menjelaskan.

Siapa tahu Si Kucing hanya memandangnya dengan tersenyum tanpa bersuara.

Terpaksa Jit-jit berdiri dan mengentak kaki.

"Ya, aku mengaku kalah, aku tidak menemukan sesuatu."

"Hendaknya kau periksa lebih teliti, soalnya belum kau kuasai cara memeriksa sesuatu benda...."

"Ya, ya, kau pintar, kau hebat, lekas katakan saja,"

Si nona ngambek. Si Kucing lantas menunjuk sebuah bekas kaki, katanya.

"Coba lihat, bekas kaki ini paling besar, dapat dibayangkan perawakan orang ini pasti sangat tegap, dan di antara beberapa orang itu yang berperawakan paling tegap ialah...."

"Betul, inilah bekas kaki Lian Thian-hun,"

Tukas Jit-jit. Lalu Si Kucing menunjuk bekas kaki yang lain.

"Bentuk bekas kaki ini tidak sama dengan yang lain, sebab sepatu yang dipakai orang ini adalah sepatu anyaman rami dengan daun telinga banyak, biasanya orang yang bersepatu jenis ini adalah kaum hwesio...."

"Betul, itulah Thian-hoat Taysu,"

Seru Jit-jit pula. Segera ia juga menuding salah sebuah bekas kaki dan berucap.

"Ini bekas sepatu rumput, pada musim dingin pakai sepatu begini, hanya kaum pengemis saja.... Aha, Kim Put-hoan, inilah bekas kakimu."

Dengan gemas ia lantas menginjak-injak bekas kaki itu. Si Kucing tertawa.

"Diberi tahu satu lantas paham tiga, selain menarik, kau pun sangat pintar."

"Tapi masih ada bekas kaki yang lain yang tidak kuketahui,"

Ujar Jit-jit.

"Ketiga bekas kaki yang lain ini tampaknya tiada sesuatu yang istimewa dan memang sukar dibedakan, tapi... coba kau lihat ini, tentu dapat kau bedakan lagi."

Yang ditunjuk adalah dua buah bekas kaki yang lebih dalam dan jelas, dua pasang bekas kaki berjarak agak jauh, lekukan yang cukup dalam itu seperti diukir dengan pisau. Jit-jit berkeplok dan berseru.

"Aha, betul, inilah bekas kaki Kim Bu-bong dan Leng Toa waktu keduanya bertanding. Waktu itu mereka berdiri saling melotot tanpa bergerak, kelihatan tegang dan mengerahkan tenaga, dengan sendirinya bekas kaki mereka sangat dalam."

"Dan Leng Toa kalah, jelas bekas kaki yang paling dalam ini adalah bekas kakinya."

"Betul, betul,"

Seru Jit-jit.

Padahal ia tahu biarpun dapat mengenali bekas kaki setiap orang juga tidak ada gunanya, tapi dapat memahami sesuatu, betapa pun ia merasa girang.

Dia suka bilang orang lain seperti anak kecil padahal ia sendiri yang benar-benar serupa anak kecil.

"Ada lagi satu hal,"

Tutur Si Kucing pula.

"sepanjang tahun Leng Toa tidak keluar rumah, sebab itulah bekas kakinya terdapat garis sol sepatunya, sebaliknya selama ini Kim Bu-bong berkelana kian-kemari, sol sepatunya tentu sudah halus."

Gembira dan kagum Jit-jit serunya.

"Betul, tepat...."

"Setelah bekas kaki masing-masing sudah dikenali, sisanya jelas adalah bekas kaki Li Tiang-ceng, sebab bekas kakimu terlebih gampang dikenali."

"Ai, kau kucing cilik ini tambah lama tambah cerdas,"

Ujar Jit-jit dengan tertawa dan perlahan mencubit pipi Si Kucing sekali.

Betapa mesranya ucapan "Si Kucing cilik" , dan betapa membuat sukma Si Kucing hampir terbang ke awang-awang karena cubitan si nona.

Ia tertawa senang dan berkata pula.

"Padahal caraku meneliti sesuatu benda kubelajar dari Sim Long, dia...."

Mendadak Jit-jit melengos dan berseru.

"Kembali kau singgung dia? Untuk apa kau sebut dia? Bila mendengar namanya kepalaku lantas sakit."

Yang benar bukan kepalanya yang sakit, tapi hatinya.

Ia merasa sudah melupakan Sim Long, bilamana mendengar namanya, hatinya lantas seperti ditusuk jarum.

Melihat si nona menjadi uring-uringan, Si Kucing jadi melenggong, katanya kemudian.

"Baiklah, jika engkau tidak suka mendengar namanya, selanjutnya takkan... takkan kusebut lagi."

"Bagus, lalu bagaimana setelah bekas kaki ini semua dapat dibedakan?"

Tanya Jit-jit. Si Kucing menunjuk bekas kaki Kim Bu-bong dan berkata.

"Coba kau lihat, bekas kaki ini terhitung paling cetek di antara bekas kaki yang lain, ini menandakan ginkang Kim Bu-bong paling tinggi di antara beberapa orang ini. Tapi akhirnya, lantaran kehabisan tenaga, jelas dia telah bertempur mati-matian."

"Lalu apa lagi?"

Tanya Jit-jit.

"Di antara bekas kaki yang memperlihatkan waktu mereka berangkat ini ternyata tidak terdapat bekas kaki Kim Bu-bong...."

"Hah, jangan-jangan dia tertawan dan digotong pergi,"

Seru Jit-jit.

"Bisa jadi,"

Ujar Si Kucing dengan sedih. Jit-jit menjadi gelisah.

"Wah, lantas bagaimana baiknya? Bilamana dia tertawan oleh musuh, sungguh celaka dia."

Si Kucing termenung sejenak, katanya kemudian.

"Dari bekas tapak kaki waktu pergi ini tertampak lebih dalam daripada waktu datangnya, jelas tenaga mereka juga habis terkuras, lebih-lebih Lian Thian-hun dan Leng Toa...."

"Tapi biasanya Kim Put-hoan yang licik itu tidak mau membuang tenaga dan bergebrak dengan orang, mengapa bekas telapak kakinya juga sedalam ini?"

Ujar Jit-jit.

"Kukira dia yang memanggul pergi Kim Bu-bong, bobot dua orang tentu akan meninggalkan bekas kaki yang dalam,"

Kata Si Kucing. Seketika Jit-jit berjingkrak dan menginjak-injak bekas kaki Kim Put-hoan sambil mencaci maki.

"Bangsat, binatang! Apabila kalian berani... berani menyiksa dia, pada suatu hari kelak pasti akan kucincang kalian."

Him Miau-ji memandangnya dengan berduka, entah berduka bagi si nona atau bagi dirinya sendiri.

Maklum, bila melihat orang yang dicintainya cemas bagi pemuda lain, betapa perasaannya sukarlah dilukiskan.

Mendadak Jit-jit menarik tangan Si Kucing dan berkata dengan gemetar.

"Kumohon dengan sangat sudilah kau bantuku menolong dia."

Si Kucing menunduk.

"Aku... aku...."

"Satu-satunya sanak keluargaku di dunia ini hanya engkau, masakah engkau sampai hati...."

Mendadak Si Kucing mengentak kaki dan berteriak.

"Baik, berangkat!" ***** Padahal Si Kucing cukup tahu biarpun dirinya mampu menyusul mereka, untuk merampas Kim Bu-bong dari tangan Thian-hoat Taysu, Li Tiang-ceng dan lain-lain itu jelas sangat sukar. Namun lelaki manakah di dunia yang mampu menolak permohonan gadis yang dicintainya dengan menangis, apalagi Him Miau-ji adalah pemuda yang simpatik. Maka ia tidak mau omong lagi, terpaksa harus mengadu jiwa bilamana perlu. Begitulah mereka terus mengejar mengikuti jejak yang terlihat di atas salju. Karena perasaan tertekan, sepanjang jalan sama tidak bicara. Tapi ketika tangan Jit-jit menyentuh tangan Si Kucing, tangan kedua orang lantas saling genggam lagi dengan erat. Dari jejak yang mereka ikuti itu arahnya ternyata bukan menuju ke Lokyang melainkan sampai di kaki sebuah gunung, sebenarnya tidak tinggi gunung ini, tapi dipandang dari bawah rasanya tetap sangat tinggi. Berdiri di kaki gunung, Si Kucing seperti termangu-mangu pula.

"Ayolah naik ke atas, untuk apa melamun?"

Kata Jit-jit. Meski maksudnya mengomel, namun nadanya tatap mesra dan lembut. Mustahil dia tidak tahu betapa perasaan Si Kucing kepadanya.

"Aku lagi heran,"

Demikian tutur Si Kucing dengan perlahan.

"sesudah mereka menawan Kim Bu-bong untuk diperiksa dan ditanyai, seharusnya mereka pulang ke Jin-gi-ceng, tapi mengapa mereka menuju ke sini?"

"Jangan-jangan mereka hendak... hendak membunuhnya di atas gunung,"

Kata Jit-jit dengan khawatir.

"Jika mereka mau membunuhnya, kenapa mesti dibawanya ke atas gunung? Di mana pun mereka dapat turun tangan. Kukira di balik persoalan ini pasti ada sesuatu yang tidak beres."

"Betul, di mana pun mereka dapat membunuh Kim Bu-bong dan tidak perlu membawanya ke atas gunung.... Ai, sungguh aku tidak mengerti."

Padahal Him Miau-ji sendiri juga bingung.

Dan karena kedua orang sama-sama tidak paham, terpaksa mereka mendaki gunung untuk melihat kejadian selanjutnya.

Namun jalan pegunungan berliku-liku, di antara batu padas dan tetumbuhan penuh ditimbuni salju.

Ada juga tanah yang teraling oleh tebing sehingga tidak teruruk bunga salju, sebab itulah cara mereka mengikuti jejak menjadi tidak semudah tadi.

Begitulah mereka terus mendaki ke atas, sebentar berjalan, sebentar berhenti, memeriksa sini dan melihat sana.

Setiba di suatu tempat datar, di sana ada sebuah gardu kecil.

Gardu yang biasa digunakan istirahat, juga dapat menjadi gardu pemandangan.

Namun jejak yang mereka ikuti sampai di sini mendadak putus, lenyap tanpa bekas lagi.

Meski mereka coba periksa lagi sekitar situ tetap tidak menemukan bekas kaki apa pun.

"Aneh... sungguh aneh,"

Ucap Si Kucing dengan kening bekernyit.

"Ya, memang aneh, masakah setiba di sini orang-orang ini bisa terbang ke langit secara mendadak?"

Tukas Jit-jit. Sejenak kemudian, mendadak ia berkeplok berteriak girang.

"Aha, kiranya demikian!"

"Demikian bagaimana?"

Tanya Si Kucing.

"Keadaan demikian sudah pernah kualami satu kali,"

Tutur Jit-jit.

"Yaitu ketika aku bersama Sim... bersama Thi Hoat-ho dan lain-lain menyelidiki makam kuno itu, di sana juga ada sebaris bekas kaki yang menghilang secara mendadak di tengah jalan. Tatkala itu pun mereka menyatakan rasa heran apakah mungkin orang-orang itu mendadak terbang ke langit?"

"Akhirnya bagaimana?"

Tanya Si Kucing.

"Kemudian baru kuketahui, setiba di sana, mereka lantas mundur kembali ke arah semula dengan menginjak bekas tapak kaki sendiri, dengan demikian orang akan sukar menemukan jejak mereka, bahkan akan curiga dan terheran-heran."

"Aha, memang betul akal bagus."

Seru Si Kucing, segera ia coba menyurut mundur mengikuti tapak kaki yang terlihat, tapi baru dua langkah, segera ia berkerut kening dan berucap pula.

"Tapi sekali ini... sekali ini mungkin tidak demikian halnya."

"Sebab apa? Mengapa sekali ini tidak bisa sama?"

"Urusan makam kuno itu memang tidak terlalu banyak yang kita ketahui, tapi dapat dibayangkan pasti juga perbuatan yang misterius dan mencurigakan, dengan sendirinya harus diatur sedemikian rupa sehingga membuat orang sangsi dan takut. Sebaliknya tokoh-tokoh seperti Thian-hoat Taysu dan lain-lain...."

"Memangnya orang-orang ini pasti orang baik?"

Ujar Jit-jit dengan tertawa.

"Orang-orang ini baik atau busuk tidak perlu kita urus dulu,"

Ujar Si Kucing.

"yang jelas mereka adalah tokoh ternama dan dikenal, biarpun main sembunyi tetap takkan terhindar dari tanggung jawab. Apalagi sama sekali mereka tidak tahu bakal dikuntit orang, terlebih lagi, dengan kepandaian mereka, biarpun dikuntit orang juga mereka tidak perlu main sembunyi."

Jit-jit termenung sejenak.

"Ya, uraianmu juga masuk di akal, tapi jika menurut pendapatmu, lantas apa yang terjadi ini? Memangnya mereka benar-benar bisa terbang ke langit secara mendadak?"

"Hal ini memang... memang sukar dimengerti,"

Kata Si Kucing dengan menyesal.

"Jika aku tidak mengerti dan kau pun tidak mengerti, lalu... lalu bagaimana baiknya? Masa harus kita tunggu di sini sampai mereka jatuh kembali dari atas langit?"

"Kukira... kukira kita tetap mendaki ke atas saja untuk melihatnya, bisa jadi...."

Belum lanjut ucapannya, tiba-tiba terdengar suara jeritan ngeri dari atas gunung. Suara serak seorang berteriak.

"Tolong... tolong!...."

Jit-jit dan Si Kucing terkejut, kedua orang saling pandang sekejap, serentak mereka bergerak dan melayang ke arah datangnya suara itu secepat terbang.

Jeritan minta tolong itu berkumandang dari atas tebing yang curam sana.

Setiba di sana suara itu sudah sangat lemah, orang yang berteriak tolong itu sudah kehabisan tenaga, namun tanpa berhenti tetap merintih dan berteriak.

"Tol... tolong.... Aku akan terjerumus ke jurang, tolong!"

Waktu mereka memandang ke arah suara sana, betul juga terlihat di tepi jurang ada dua tangan memegangi tepian, ruas jarinya sampai berubah menjadi hijau, jelas sudah tidak sanggup bertahan lagi.

Jit-jit menghela napas, ucapnya.

"Untung jiwa orang ini belum ditakdirkan mati sehingga tidak terjerumus, kebetulan juga kita naik ke sini...."

Segera ia berseru.

"Jangan khawatir.... Tahan dulu sekuatnya, segera kami akan menolong dirimu!"

Selagi dia hendak menerjang ke sana, mendadak Him Miau-ji menarik tangannya dan berkata dengan kening bekernyit.

"Nanti dulu, kukira hal ini agak...."

"Jiwa orang sangat penting, menolong orang seperti menolong kebakaran, masa perlu tunggu apa lagi?"

Ujar Jit-jit dengan tidak sabar. Dalam pada itu suara rintih minta tolong orang itu bertambah cemas dan semakin lemah.

"Kulihat urusan ini rada-rada...."

"Rada-rada apa?"

Sela Jit-jit.

"Apa pun juga orang harus diselamatkan lebih dulu. Jika menunggu lagi, mungkin orang akan terjerumus ke bawah. Jika begitu, bagaimana perasaan hati nuranimu?"

Si Kucing mau omong lagi, tapi segera dia didorong oleh Cu Jit-jit. Terpaksa ia mengangguk dan berkata.

"Baik, akan kutolong dia, kau tunggu saja di sini."

Cepat ia melompat ke tepi tebing dan berjongkok untuk memegang kedua tangan orang itu.

"Tarik sekuatnya... lekas!...."

Belum lanjut ucapan Jit-jit, mendadak terlihat kedua tangan yang semula bertahan pada tepi tebing itu meraih ke atas, tahu-tahu pergelangan tangan Him Miau-ji tercengkeram malah.

Nyata yang digunakannya adalah kim-na-jiu-hoat atau ilmu menangkap dan menawan yang mahalihai.

Karena tidak terduga-duga, Si Kucing tidak mampu mengelak, sekali terpegang pun sukar terlepas lagi, seketika ia merasa lengan sendiri kaku kesemutan, tenaga pun lenyap.

Selagi Jit-jit tercengang, terdengarlah Si Kucing menjerit, orangnya terus terlempar ke dalam jurang.

Perubahan ini sungguh terlalu mendadak, Jit-jit merasa seperti disambar geledek, seketika ia melongo di tempat.

Terdengar suara jeritan Si Kucing berkumandang menggema angkasa, sebaliknya dari bawah tebing itu lantas terdengar pula suara orang tertawa terkekeh-kekeh, sesosok bayangan orang lantas melayang ke atas.

Hari sudah mulai gelap, dalam keadaan remang-remang hanya terlihat orang ini memakai baju yang longgar, memakai topi dengan pelindung telinga, inilah dandanan kaum saudagar waktu menempuh perjalanan dalam musim dingin.

Sedapatnya Jit-jit menenangkan diri, bentaknya gusar.

"Bangsat kau, bayar kembali jiwa Si Kucing!"

Sembari membentak ia terus menerjang ke sana. Orang itu tidak mengelak, juga tidak menghindar, ia sambut serudukan Jit-jit dengan tertawa.

"Anak baik, kau berani bergebrak denganku?"

Suaranya halus dan welas asih.

Namun suara lembut ini segera menyerupai cambuk yang menghajar tubuh Cu Jit-jit, begitu mendengar suara ini, seketika ia merandek dan berdiri terpaku.

Angin mendesir, hawa terasa dingin.

Namun wajah Cu Jit-jit penuh butiran keringat, tubuhnya tidak bergerak, namun tangan dan kakinya gemetar.

"Hehe, anak baik, mendingan masih kau kenal diriku,"

Ucap orang itu dengan tertawa.

"Kau... kau...."

Jit-jit tidak sanggup bersuara lebih lanjut, kerongkongannya seperti terkancing, lidah pun kaku.

"Betul, aku inilah bibimu sayang,"

Kata orang itu.

"Hawa sangat dingin, kupakai baju longgar ini, bisa jadi bentukku banyak berubah."

"Kau... kau...."

Jit-jit tetap gelagapan.

"Ai, bibi selalu baik padamu, memberi baju, menyuapi kau makan, tapi masih juga kau kabur, sungguh tidak punya perasaan,"

Omel orang itu dengan suara lembut sembari mendekati Jit-jit.

"Oo... mohon... mohon jangan...."

"Ai, setelah kau pergi, kau tahu betapa sedihku, betapa kurindukan dirimu. Syukurlah sekarang dapat bertemu pula, lekas kemari, biar bibi cium sayang...."

Jit-jit berteriak ketakutan.

"Kau... kau... enyah...."

"Ai, masa pantas kau suruh bibi enyah,"

Ujar orang itu dengan tertawa.

"Justru bibi hendak membawamu pergi, akan kuberi lagi baju yang apik, menyuapimu makanan yang enak...."

Bicara sampai di sini ia sudah berada di depan Cu Jit-jit.

"Jangan... jangan mendekat lagi, akan kupukul kau...."

Teriak Jit-jit dengan suara parau, ia angkat sebelah tangan terus menghantam.

Tapi mungkin saking takutnya sehingga pukulannya itu sama sekali tidak bertenaga, dengan perlahan orang itu dapat menangkap tangan Jit-jit sambil berkata.

"Jangan bandel, anak baik, turutlah perkataan bibi...."

Hanya sekian kata saja yang dapat didengar Cu Jit-jit, mendadak kepala terasa pusing, tubuh menjadi lemas dan tidak tahu apa-apa lagi.

Angin pegunungan meniup dengan kencang, tidak lama kemudian Jit-jit siuman kembali.

Begitu dia membuka mata, segera dirasakannya tubuhnya berada dalam pelukan "iblis"

Itu, sungguh kagetnya luar biasa, rasanya lebih menakutkan daripada mati. Meski teraling oleh dua lapis baju, tapi Jit-jit merasa tubuhnya seperti dililit oleh badan ular yang dingin dan licin.

"Lepas... lepaskan aku...."

Teriaknya parau.

"Ai, sayang, masa kutega melepaskan dirimu?"

Ujar orang itu dengan tertawa.

Jit-jit bermaksud meronta, tapi dirasakan tubuh sendiri lemas lunglai tanpa bisa berkutik.

Pengalaman yang dulu mestinya sudah dianggapnya sebagai impian buruk dan tidak berani lagi dibayangkannya.

Tapi sekarang dia ternyata terjeblos lagi ke dalam impian buruk yang sama.

Perasaannya sekarang tidak dapat lagi dilukiskan dengan kata-kata seperti gemetar, takut dan sebagainya, boleh dikatakan sukar untuk dilukiskan.

Dia tidak dapat melawan, tidak mampu meronta, hanya air mata saja yang bercucuran.

Terpaksa ia memohon belas kasihan dengan suara gemetar.

"Kumohon su... sudilah engkau membebaskan diriku. Aku tidak ada permusuhan apa pun denganmu, mengapa engkau membikin susah padaku? Kenapa...."

"Eh, kupelukmu sehangat ini, masakah kau bilang kubikin susah padamu?"

Kata orang itu dengan tertawa.

"Jika cara begini kau anggap membikin susah, baiklah, boleh kau peluk saja diriku biar kau yang membikin susah padaku."

"Jika... jika tidak mau kau lepaskan diri, lebih baik kau bunuh diriku saja, menjadi setan pun aku akan berterima kasih padamu."

"Ah, jangan bercanda, bila kubunuhmu, masa kau berterima kasih padaku malah? Omong kosong!"

"Betul... sungguh...."

Orang itu tidak menanggapi ucapan Cu Jit-jit lagi, ia bawa si nona ke tepi jurang sana dan memandang ke bawah, tiba-tiba ia tertawa dan berkata.

"Hah, kucingmu yang jinak itu sungguh hebat juga, sampai sekarang dia masih bertahan pada sesuatu sehingga tidak sampai terjerumus ke bawah."

"He, apakah betul dia belum mati?"

Seru Jit-jit dengan girang.

"Ehm, dia belum mati,"

Orang itu mengangguk.

"Tampaknya dia berusaha hendak merambat ke atas, cuma sayang, betapa pun dia takkan mencapai atas sini.... Apakah kau mau melihatnya?"

Sejauh itu Jit-jit tidak berani membuka mata untuk memandang "iblis"

Ini, sekarang mendadak dirasakan orang mengangkat tubuhnya ke depan.

Dengan gemetar ia coba membuka mata, tertampak awan mengambang di bawah, jurang itu sangat dalam dan tidak kelihatan dasarnya, tidak jauh di bawah tebing yang curam itu benarlah ada sesosok bayangan orang sedang meronta dan bergerak-gerak.

Hanya memandang sekejap saja kepala Jit-jit lantas pusing, cepat ia memejamkan mata pula dan berseru.

"O, mohon sudilah engkau men... menolongnya!"

"Menolongnya? Kenapa harus kutolong dia?"

Ujar orang itu.

"Tadi dia bermaksud... bermaksud menolongmu, akibatnya dia terjerumus."

"Hahahaha!"

Orang itu bergelak tertawa.

"Kubuntuti kalian sepanjang jalan sehingga tiba di sini, lalu kugunakan akal bagus ini untuk menamatkan riwayat hidupnya. Memangnya kau kira tadi aku benar-benar lagi minta tolong?"

"Ka... kau iblis... binatang...."

"Betul, aku memang iblis,"

Kata orang itu dengan tertawa.

"Mengapa tadi tidak kau pikirkan, di tempat seperti ini masakah bisa terjadi orang berteriak minta tolong? Mengapa tadi perlu kau tolong diriku? Bukankah kau sendiri yang membikin celaka dia?"

Jit-jit jadi teringat pada keadaan tadi, memang berulang Him Miau-ji hendak menyatakan pendapatnya, tapi dicegahnya, bahkan dipaksanya agar memberi pertolongan kepada orang ini, akibatnya sekarang Si Kucing sendiri yang terancam maut.

Hati Jit-jit menjadi pedih, teriaknya mendadak.

"Him Miau-ji... Si Kucing.... Akulah yang membikin susah padamu... akulah yang membikin celaka dirimu...."

Sekonyong-konyong dari bawah berkumandang suara Si Kucing.

"Jit-jit... Cu Jit-jit.... Engkau berada di mana? Baik-baikkah engkau?!"

Suara itu penuh rasa cemas dan putus asa, tapi juga penuh rasa perhatian, namun yang diperhatikan dan dicemaskan bukan Si Kucing sendiri melainkan bagi Cu Jit-jit.

Bahwa seorang sedang bergulat di tepi garis antara mati-hidup bagi diri sendiri, tapi masih juga memerhatikan keselamatan orang lain, betapa besar jiwa dan betapa luhur budinya ini sungguh tidak ada bandingannya.

Hati Cu Jit-jit serasa dirobek-robek, hancur luluh.

Teriaknya dengan serak.

"Aku berada di sini, Kucing.... Di atas sini...."

Ia meronta mati-matian, tanpa menghiraukan akibatnya ia ingin terjun ke bawah, dalam benaknya sekarang cuma ada satu pikiran, suatu pikiran yang murni, yaitu terjun ke bawah dan mati bersama Him Miau-ji.

Dalam keadaan demikian urusan lain tidak terpikir lagi olehnya, sudah terlupakan seluruhnya.

Namun tangan si iblis serupa tanggam kuatnya merangkulnya, mana Jit-jit mampu melepaskan diri, apalagi terjun ke bawah.

"Lepas... lepaskan diriku!"

Teriak Jit-jit.

"Ai, mestikaku sayang, mana boleh kulepaskan, dengan susah payah baru kudapatkan kembali dirimu, mana boleh membiarkan kau mati begitu saja. Selanjutnya jangan lagi kau pikirkan soal mati segala."

"O, Allah, masakah ingin mati pun tidak boleh?"

Ratap Jit-jit.

"Mati memang soal yang aneh,"

Kata orang itu.

"Ada sementara orang ingin mati, tapi sangat sulit. Sebaliknya ada lagi setengah orang lain justru teramat mudah bilamana ingin mati...."

Sampai di sini, mendadak ia mendepak sepotong batu padas sehingga batu itu mencelat ke bawah jurang.

Dengan membawa suara gemuruh batu itu terguling ke bawah, menyusul lantas terdengar pula jeritan ngeri seorang berkumandang dari bawah tebing, suara ngeri menggetar sukma.

Jit-jit juga menjerit kaget, tapi jeritannya lantas terhenti mendadak serupa lehernya mendadak dicekik orang, sebab jeritan ngeri di bawah jurang juga mendadak terputus.

Keadaan lantas berubah sunyi seperti kuburan, angin pun seolah-olah berhenti mendesir secara mendadak, suasana kelam....

Jagat raya ini seakan-akan beku di tengah kesunyian ini, semuanya membeku di tengah adegan yang mengerikan dan menyesakkan napas.

Namun yang terbayang oleh Cu Jit-jit rasanya seperti adegan yang penuh berlumuran darah, dia seperti melihat Si Kucing terjatuh oleh batu padas tadi, lalu lelaki yang penuh gairah hidup dan gagah perkasa itu dalam sekejap itu hancur lebur di bawah jurang.

Saraf sekujur badan Cu Jit-jit seakan-akan kaku juga dalam sekejap itu.

Entah berselang berapa lama baru dapat dirasakan "iblis"

Yang memondongnya itu sedang menggeser ke depan.

Soal ke mana tujuannya dan sudah berada di mana hampir tidak diketahuinya, juga tidak ingin tahu.

Maklum, baginya sudah tidak ada bedanya hendak dibawa ke mana, dia sudah jatuh dalam cengkeraman iblis, jalan ke mana pun tetap menuju ke neraka.

Akan tetapi neraka yang dituju ini ternyata berada di puncak gunung.

Orang itu membawanya menuju ke atas gunung.

Jalan pegunungan berliku-liku, terkadang hampir sukar dilalui, namun cara berjalan si iblis ini sedemikian enteng dan santai, tampaknya hafal betul terhadap jalan pegunungan yang melingkar-lingkar ini.

Memangnya menembus ke manakah jalan ini?

Di atas gunung yang terpencil terdapat hutan cemara yang lebat, dipandang dari hutan yang ditaburi salju itu samar-samar kelihatan di kejauhan sana ada dinding dan wuwungan rumah yang tinggi.

"Berhenti!"

Mendadak Jit-jit berteriak.

"Berhenti? Mau apa?"

Orang itu menegas dengan heran, disangkanya mungkin si nona mendadak kebelet kencing.

"Berhenti dulu, ingin kutanya padamu,"

Kata Jit-jit pula. Orang itu tambah heran.

"Ingin tanya apa?"

Dilihatnya wajah Jit-jit yang pucat itu mendadak bersemu merah bergairah, sorot matanya yang putus asa itu tiba-tiba juga berubah bersemangat, senang dan berdaya hidup.

Hal ini serupa seorang yang hampir terbenam di lautan ketika mendadak berhasil meraih sepotong kayu sehingga menemukan jalan hidup kembali.

Tapi apa yang berhasil diraih Cu Jit-jit?

Jangan-jangan teringat sesuatu olehnya?

Terdengar nona itu berteriak pula.

"Kusuruh berhenti harus cepat berhenti, bila kutanya padamu harus lekas kau jawab, tahu?"

"Wah, mestikaku sayang, bilakah engkau jadi galak begini dan main perintah padaku?"

Ujar orang itu dengan tertawa geli.

"Eh, sesungguhnya pikiran aneh apa yang timbul dalam benakmu?"

"Huh, memangnya kau sangka aku tidak tahu siapa dirimu?"

Jengek Jit-jit.

"Mau apa kalau tahu?"

Tanya orang itu.

"Engkau ini antek Koay-lok-ong, she Suto, tugasmu khusus mencarikan perempuan cantik bagi Koay-lok-ong, sekarang juga hendak kau bawa diriku kepadanya untuk... untuk dijadikan... dijadikan selirnya."

"Betul, lantas bagaimana?"

Orang itu tertawa.

"Maka bila sekarang tidak kau tunduk kepada perintahku, nanti setelah kujadi selirnya, tentu akan kucari daya upaya untuk menawan hatinya, bilamana aku telah menjadi selir kesayangannya, akan ku...."

Kata itu diucapkan dengan menggunakan tenaga yang besar, walaupun begitu kedengarannya tetap tergegap. Ia berhenti dan ganti panas, lalu berkata pula dengan lagak sungguh-sungguh.

"Nah, bila kujadi selir kesayangannya nanti apa yang kuminta pasti akan diturutinya, tatkala mana umpama kuminta dia membunuhmu pasti juga akan dilaksanakannya."

Orang itu jadi melengak. Dengan tertawa Jit-jit lantas menyambung.

"Sudah tentu kau tahu apa yang kukatakan ini bukan gertakan belaka. Berani bicara pasti berani kulakukan. Maka harus kau pikirkan dulu, jika kau takut...."

"Hahaha, memang betul, aku sangat takut!"

Seru orang itu.

"Jika takut, sekarang harus kau...."

Mendadak orang itu bergelak tertawa.

"Hahaha, mestikaku sayang, boleh juga jalan pikiranmu ini, sungguh engkau seorang nona yang pintar. Mari sayang, akan kucium dikau...."

Benar juga, mendadak ia menunduk dan Jit-jit di"ngok"

Dengan bernafsu. Seketika muka Jit-jit pucat lagi, teriaknya gemetar.

"Masa... masa engkau tidak takut?"

Orang itu tidak bicara lagi melainkan cuma bergelak tertawa dan masuk ke hutan cemara itu.

Jilid 15 Di depan pintu gerbang yang bercat hitam itu, suasana sunyi senyap, iblis itu langsung menolak pintu dan masuk begitu saja serupa pulang ke rumahnya sendiri.

Perkampungan di tengah hutan itu ternyata sangat megah, dinding merah menjulang tinggi, wuwungan rumah berderet-deret diliputi bunga salju sehingga menambah keangkeran kompleks bangunan ini.

Dalam keadaan putus asa, diam-diam Jit-jit juga terkesiap, pikirnya.

"Jangan-jangan inilah sarang Koay-lok-ong yang sengaja didirikan di daerah Tionggoan sini?...."

Tengah berpikir, terasa hawa hangat merangsang dan menyelimuti seluruh tubuhnya, kiranya mereka telah memasuki sebuah kamar indah, di pojok sana ada perapian penghangat dengan api yang berkobar, namun tiada tampak bayangan orang di dalam kamar.

Orang itu menurunkan Jit-jit di atas sebuah dipan yang rendah dan lunak.

Segera dirasakan oleh Jit-jit sorot mata orang yang jahat itu sedang mengamati tubuhnya yang meringkuk di atas pembaringan.

Jantung Jit-jit berdebar, ia pejamkan mata rapat-rapat dan tidak berani beradu pandang dengan mata orang.

Di dalam rumah yang hangat dan tidak ada orang lain ini, sungguh ia tidak berani membayangkan apa yang bakal terjadi.

Sampai saat ini dia belum lagi dapat memastikan "iblis jahat"

Ini lelaki atau perempuan?

Tapi dapat dirasakannya sorot mata iblis yang mengandung maksud jahat dan kotor.

Lebih-lebih sekali ini, dirasakannya sinar matanya yang kotor dan jahat itu jauh lebih nyata daripada yang dulu.

Meski jelas sepasang mata yang sama, namun tidak sedikit perbedaannya antara mata yang dulu dengan mata yang sekarang.

Entah apa sebabnya?

Tentu di dalam hal ini ada sesuatu yang tidak beres.

Namun sekarang Jit-jit tidak sempat memikirkannya.

Dia tetap memejamkan mata dan mulut terkatup rapat untuk menantikan kejadian yang paling buruk baginya.

Dalam keadaan menanti yang kejam ini, dia berharap raganya tidak lagi menjadi miliknya.

Siapa tahu, selang sekian lamanya, si iblis tetap tidak melakukan sesuatu.

Sedapatnya ia menahan perasaannya, bulu roma serasa berdiri semua, berada di dalam kamar yang indah dan hangat ini dirasakan lebih dingin daripada berada di gua es.

Mendadak dirasakannya orang lagi membalik tubuh, melangkah keluar perlahan.

Sungguh Jit-jit tidak percaya, ia coba membuka mata.

Benar juga, dilihatnya bayangan orang menghilang keluar pintu.

Orang itu benar-benar pergi tanpa mengganggunya, hal ini membuat Jit-jit terkejut malah.

Ia heran kenapa orang tidak mengganggunya sama sekali?

Apakah karena ucapannya tadi berhasil menggertaknya?

Tapi lantas dibantah sendiri oleh Jit-jit, mana bisa iblis jahat ini takut kepada gertakannya, meski sekarang dia pergi, bukan mustahil sebentar lagi akan melakukan sesuatu yang lebih keji kepadanya.

Dalam sekejap ini perasaan Jit-jit berganti-ganti, sebentar khawatir, lain saat bergirang, tapi segera sedih lagi.

Mendadak pikirannya tergerak, dirasakannya bayangan punggung orang tadi ada sesuatu yang tidak benar, seperti berbeda dengan bayangan orang yang sudah pernah dilihatnya dahulu.

Ia menjadi sangsi jangan-jangan orang ini bukan orang yang dulu itu?

Ia coba memandang keadaan kamar ini, ternyata segala sesuatunya teratur dengan indah.

Diam-diam ia heran pula, tak terduga Koay-lok-ong sendiri belum muncul di daerah Tionggoan, lantas siapakah yang mengaturkan tempat ini?

Menurut perkiraan Jit-jit, iblis jahat itu tidak mungkin dapat mengatur tempat seindah ini, ia pikir jangan-jangan Kim Bu-bong yang mengaturnya, tapi bila betul, kenapa tidak pernah diceritakannya?

Selain itu, Thian-hoat Taysu dan lain-lain menuju ke pegunungan ini, jejak mereka mendadak menghilang di depan gardu di pinggang gunung tadi, jelas karena dari gardu sana ada jalan rahasia yang menembus ke tempat ini.

Mereka memasuki jalan rahasia, dengan sendirinya jejak mereka menghilang secara mendadak, jadi mereka tidak terbang ke langit, tapi masuk ke bumi.

Tapi pikiran ini lantas dibantahnya lagi, dari watak Kim Bu-bong yang sudah dikenalnya, meski tertawan dan dipaksa juga takkan dibawanya mereka ke sini, apalagi memberitahukan tempat rahasia ini.

Jangan-jangan Kim Bu-bong sebenarnya tidak tertawan oleh mereka, tapi berbalik berhasil mengatasi dan menawan mereka, lalu Kim Bu-bong membawa mereka ke sini.

Dan bila Kim Bu-bong berada di sini berarti aku pun akan tertolong.

Tapi...

tapi cara bagaimana Kim Bu-bong dapat mengatasi keempat orang itu?

Hal ini pun jelas tidak mungkin terjadi.

Begitulah Jit-jit terus berpikir, tambah dipikir tambah ruwet persoalannya sehingga akhirnya dia bingung sendiri.

Sekonyong-konyong tertampak bayangan orang berkelebat diri luar.

Meski cuma sekilas pandang saja, namun sudah merasakan bayangan orang sudah pernah dikenalnya.

Ia heran siapakah orang ini, ia coba mengingat-ingat, di tengah kekusutan pikirannya tiba-tiba ia tahu siapa orang ini, jeritnya di dalam hati.

"Ah, dia Li Tiang-ceng!"

Sekilas tampak bayangan orang yang berperawakan jangkung dan berjenggot panjang itu, tampaknya memang mirip Li Tiang-ceng, tapi Put-pay-sin-kiam Li Tiang-ceng mengapa bisa berada di sini.

Jika benar dia berbalik tertawan oleh Kim Bu-bong dan dibawa ke sini, mana mungkin dia dapat bergerak secara bebas.

Sebaliknya jika dia memaksa Kim Bu-bong membawanya ke sini, seharusnya sejak tadi dia melabrak si iblis jahat itu, mengapa sejak tadi tidak terdengar sesuatu suara apa pun?

Jangan-jangan dia juga berkomplot dengan iblis jahat ini?

Tapi dengan nama dan kedudukannya, rasanya hal ini pun tidak mungkin terjadi, lantas mengapa tindak tanduknya perlu main sembunyi-sembunyi cara begini?

Selagi Jit-jit merasa bingung, dua orang telah mendekatinya.

Seorang di depan bertubuh kurus kecil, baju panjang menyentuh tanah, mukanya memakai kerudung kain hitam, kedua tangan terselubung di dalam lengan baju.

Sukar bagi Jit-jit untuk melihat wajahnya, bahkan lelaki atau perempuan pun tidak dapat dibedakan.

Orang di belakangnya berperawakan tinggi besar, alis tebal mata bulat, muka hitam kasar, sekali pandang saja dapat diketahui seorang lelaki dogol yang bertenaga kuat.

Jit-jit tahu maksud kedatangan kedua orang ini pasti tidak baik, tapi kecuali terhadap si iblis jahat, hakikatnya dia tidak gentar kepada siapa pun, segera ia mendahului membentak.

"Siapa kalian? Mau apa?"

"Jangan urus siapa diriku, kedatanganku cuma ingin tanya sesuatu padamu...."

Jawab si baju panjang dengan suara yang melengking nyaring menusuk telinga, suaranya seperti sengaja dibuat-buat, tapi juga seperti memang begitu pembawaannya.

"Jika tidak kau tanggalkan kerudungmu, jangan harap akan kau dapatkan jawabanku,"

Seru Jit-jit, meski tubuhnya lumpuh, tapi suaranya cukup keras.

"Benar begitu?"

Tanya si baju panjang.

"Boleh kau coba,"

Jawab Jit-jit tegas. Mendadak si baju panjang mendengus.

"Hm, baik. Maju, Tay Hong!"

Rupanya lelaki dogol tinggi besar itu bernama Tay Hong, si Kuning Gede.

Sambil menyeringai sehingga kelihatan giginya yang serupa taring serigala, segera ia melompat ke depan Cu Jit-jit, sekali raih dada baju si nona dicengkeramnya terus diangkat seperti elang menyambar anak ayam.

"Kau... kau mau apa?"

Teriak Jit-jit dengan suara parau, gentar juga dia.

"Apa yang ditanyakannya harus kau jawab, tahu?"

Kata si gede dengan menyeringai.

"Ti... tidak...."

Kata Jit-jit.

"Tidak?"

Si gede menegas, ia menarik terlebih keras, dada baju Jit-jit lantas robek, bila menarik lagi, buah dada si nona pasti akan menongol.

Sungguh gemas dan juga takut Jit-jit, dalam keadaan demikian ia mati kutu, terpaksa ia menahan air mata dan mengertak gigi, teriaknya dengan suara terputus-putus.

"Ap... apa yang akan... akan kau tanyakan?"

"Hm, kan sudah kuperingatkan tadi, kenapa cari penyakit sendiri?"

Jengek si baju panjang.

"Ingin kutanya padamu, apakah kau suka menjadi selir putra Ongya (pangeran) kami yang ke-27?"

"Kentut busuk!...."

Damprat Jit-jit dengan gusar.

"Kurang ajar!"

Bentak si lelaki gede.

"bret" , dada baju Jit-jit terobek sehingga dadanya yang putih mulus tertampak jelas. Dengan suara parau Jit-jit memaki.

"Bangsat, anjing, kau...."

Segera lelaki kasar itu menarik baju bagian pundak Jit-jit, apa bila dirobeknya lagi, seketika Jit-jit bisa telanjang seluruhnya.

"Ayo jawab, kau mau tidak!"

Tanya si baju panjang. Sedapatnya Jit-jit berusaha mengelak pandangan lelaki gede itu terhadap dadanya yang mulus itu, tapi apa daya, dia tak bisa berkutik, ia berucap dengan menangis.

"Tidak, mati pun aku tidak mau. Boleh kalian menganiaya, menyiksa dan menghina diriku tetap aku tidak sudi, boleh kalian bunuh saja diriku dan jangan harap menyentuh tubuhku."

Si baju panjang jadi melenggong juga melihat sikap bandel Cu Jit-jit, dia tidak memberi perintah, dengan sendirinya si lelaki gede tidak berani bertindak lebih lanjut.

Selang sejenak barulah si baju panjang berkata.

"Tay Hong, masukkan dia ke penjara, biarkan dia pikirkan dengan tenang, nanti kita tanyai dia lagi."

Penjara di mana pun sama saja, seram, lembap, dan gelap.

Penjara di puncak gunung ini juga tidak terkecuali, bahkan lembap dan seramnya terlebih hebat daripada penjara di tempat lain.

Lelaki gede itu sama sekali tidak kenal kasihan, dari mulut gua Jit-jit dilemparkan begitu saja sehingga terbanting dengan berat di gua batu, keruan tulang Jit-jit serasa mau retak, belum lagi dia menjerit sudah lantas jatuh pingsan.

Entah berapa lamanya, ketika lamat-lamat didengarnya suara seorang yang sudah dikenalnya dengan baik sedang memanggil di tepi telinganya.

"Jit-jit... bangun, Jit-jit...."

Meski suara ini kedengaran serak dan berat karena cukup lama tersiksa, tapi bagi pendengaran Jit-jit suara orang tetap sedemikian mesranya.

Tergetar hatinya, cepat ia membuka mata, segera terlihatlah seraut wajah yang cakap dengan hidung yang mancung, siapa lagi dia kalau bukan Sim Long?

Sekuat tenaga Jit-jit angkat tangannya dan merangkul leher Sim Long, ucapnya dengan suara gemetar.

"O, Sim Long, kiranya kau... apa betul kau?"

"Ya, betul aku, Jit-jit,"

Kata Sim Long. Air mata Jit-jit bercucuran. Air mata kegirangan, katanya pula.

"Jadi... jadi benar dan bukan... bukan mimpi?"

Ia merangkul Sim Long dengan erat, seakan-akan khawatir mimpi indah ini bisa buyar mendadak.

"Memang benar dan bukan mimpi,"

Jawab Sim Long pula.

"Memang sudah kuduga engkau pasti akan datang menolong diriku, memang sudah kuduga sebelumnya.... Tidak nanti kau biarkan diriku dianiaya orang jahat, engkau pasti akan menyelamatkan diriku,"

Ucap Jit-jit setengah meratap. Sim Long termenung, katanya kemudian.

"Tapi aku tidak menyelamatkan dirimu...."

"Apa katamu, engkau tidak menyelamatkan diriku?"

Jit-jit terkejut.

"Habis cara bagaimana kita bisa bertemu di sini? O, jangan-jangan engkau juga... juga terkurung di penjara ini?"

Pertanyaan ini tidak perlu dijawab Sim Long lagi, sebab sekarang Jit-jit dapat melihat dinding batu yang mengelilingi mereka.

Ternyata Sim Long memang juga dipenjarakan orang di sini.

Kenyataan ini serupa sebilah pisau yang menikam hulu hati Cu Jit-jit, terasa sakit, tapi tidak berdarah dan juga tidak mengucurkan air mata, sebab darah dan air mata pun serasa sudah membeku.

Dia terkesima dan tidak dapat bicara lagi.

Senyuman khas Sim Long pun tidak kelihatan menghias ujung mulutnya lagi, dengan sedih ia berucap.

"Sungguh aku tidak becus.... Tentu engkau sangat kecewa atas diriku.... Ai, tahu begini, lebih baik kumati saja."

"Tidak, tidak, engkau tidak boleh mati,"

Seru Jit-jit dengan banjir air mata.

"asalkan dapat kulihat dirimu, puaslah hatiku, masa aku kecewa?"

"Tapi... tapi di sini...."

"Sudahlah, jangan kau bicara lagi, peluklah diriku lebih erat, asalkan kau peluk diriku erat-erat, aku... aku tidak peduli lagi urusan apa pun,"

Pinta si nona.

Memang baginya asalkan bisa berada di dalam pelukan Sim Long, maka segala apa pun tidak ada artinya lagi.

Kelembutan Kim Bu-bong dan simpati Him Miau-ji padanya kini telah dilupakannya seluruhnya, bahkan dia lupa belum lama dia baru saja mau mati bersama Him Miau-ji.

Jit-jit memang nona yang berdarah panas, simpatik, mudah menyukai seseorang, bila orang lain baik padanya, tanpa peduli apa pun dia akan balas kebaikan orang itu, biarpun hal itu dilakukannya hanya karena dorongan emosi yang timbul seketika itu.

Tapi perasaannya terhadap Sim Long justru mirip beratus ribu utas rambut halus yang telah mengikatnya, merasuk tulang, menyusup ke lubuk hati sehingga sukar terlepas, dipotong juga takkan putus.

Meski penjara itu seram dan gelap, namun berada di dalam pelukan Sim Long dirasakan oleh Cu Jit-jit seperti berada di surga.

Dia ingin menceritakan pengalamannya, penderitaannya, rindunya...

seakan-akan bila semua itu diceritakannya kepada Sim Long, maka segala apa yang dialaminya itu akan menjadi impas, terbayar lunas.

Sebaliknya Sim Long terus-menerus hanya menghela napas dan tidak bicara.

Jit-jit memandangnya dalam keremangan penjara yang seram itu, beberapa kali bibirnya bergerak dan ingin bicara lagi, tapi urung.

Akhirnya ia tidak tahan dan tercetus dari mulutnya.

"Cara bagaimana engkau datang ke sini?"

Dengan rawan Sim Long bertutur.

"Terkena obat bius, aku pun tidak menyangka minuman yang kuminum di warung terpencil itu pun ditaruhi obat bius. Ai, sekali salah langkah, segalanya lantas runtuh. Waktu aku siuman, tahu-tahu sudah berada di sini."

"Engkau tentu banyak tersiksa, coba, sampai... sampai suaramu pun serak, entah betapa engkau telah disiksa oleh kawanan bangsat itu, sungguh ingin ku... ingin ku...."

"Ah, apa gunanya biarpun engkau penasaran di sini?"

Ujar Sim Long.

"Oo, semua ini gara-gara diriku, engkau jadi ikut menderita begini...."

Air mata Jit-jit bercucuran pula.

"Jangan menangis Jit-jit, sakit hati ini pasti akan kita balas,"

Ucap Sim Long dengan lembut. Mendadak Jit-jit berhenti menangis dan menengadah.

"Engkau mampu...."

"Jangan khawatir, asalkan ada kesempatan...."

Belum lanjut ucapan Sim Long, mendadak ada cahaya terang menyorot dari atas.

Cepat Sim Long mengangkat tubuh Jit-jit dan menyingkir ke kaki dinding.

Kepala si lelaki gede serupa herder itu menongol di lubang gua, letak lubang gua ini sedikitnya ada lima tombak tingginya, dipandang dari bawah wajah orang ini terlebih seram dan tidak mirip manusia.

"Bangsat, enyah!"

Teriak Jit-jit dengan parau. Lelaki gede itu terkekeh-kekeh.

"Hehe, apakah kalian tidak lapar?"

"Biarlah lebih baik mati lapar, lekas enyah!"

Teriak Jit-jit pula. Orang itu terkekeh-kekeh pula sambil memperlihatkan sesuatu, katanya.

"Inilah bakpao yang biasa kami berikan kepada anjing, mau tidak, terserah padamu."

"Kau sendiri anjing, bangsat...."

Damprat Jit-jit dengan gusar. Tapi mendadak mulutnya didekap Sim Long. Anak muda itu lantas mendongak ke atas dan berseru.

"Silakan Toako melemparkan bakpao itu."

"Hehe, tidak makan tambah kelaparan, ternyata kau lebih cerdik daripada anak dara itu,"

Ucap lelaki gede itu dengan tertawa latah. Habis berkata, benarlah segera dilemparkannya beberapa biji bakpao, terdengar suara "plok"

Beberapa kali, betapa kerasnya bakpao basi itu dapatlah dibayangkan.

"Krek" , lubang gua itu tertutup lagi, tangan Sim Long yang mendekap mulut Jit-jit juga lantas dilepaskan. Gemas dan cemas Jit-jit, ucapnya dengan gusar.

"Masa... masa engkau benar mau makan bakpao busuk begini?"

"Umpama tidak dimakan juga ada gunanya,"

Ujar Sim Long.

"Apa gunanya?"

Tanya Jit-jit penasaran.

"Bila datang kesempatan baik tentu ada gunanya,"

Sahut Sim Long sambil memunguti beberapa biji bakpao kering itu dan dikumpulkan di dekatnya. Jit-jit memandangnya dengan termangu, sejenak kemudian ia tanya pula.

"Engkau belum kehilangan tenaga?"

"Mendingan tidak,"

Sahut Sim Long. Tertampak rasa girang pada sinar mata Jit-jit.

"Pantas kau bilang akan menuntut balas, asalkan engkau tidak kehilangan tenaga, biarpun engkau ditutup di neraka I8 lapis juga tetap dapat melarikan diri."

"Masa engkau begitu yakin akan kemampuanku?"

"Tentu saja, siapa lagi selain aku?"

Segera Jit-jit meronta bangun dan menjatuhkan diri pula ke dalam pangkuan Sim Long. Selang sejenak, mendadak si nona bertanya lagi.

"Ai, betapa linglung aku ini, saking gembiranya bertemu engkau di sini sehingga melupakan urusan penting yang harus kuberi tahukan padamu."

"Urusan penting apa?"

Tanya Sim Long cepat.

"Tentang rombongan Can Ing-siong yang diantar Kim Bu-bong ke Jin-gi-ceng itu, setiba di sana, segenap anggota rombongan itu lantas mati keracunan, Li Tiang-ceng dan kawan-kawannya menyangka engkau yang mengerjai mereka, maka engkau dicari oleh mereka."

"Masa terjadi begitu?"

Seru Sim Long kaget.

"Hal ini kudengar dari penuturan mereka sendiri, kukira pasti betul,"

Kata Jit-jit.

"Apakah dapat kau terka mengapa bisa terjadi begitu?"

"Seketika aku pun tidak berani menarik kesimpulan...."

"Tapi dapat kupastikan perbuatan Ong Ling-hoa,"

Kata Jit-jit pula.

"Sungguh aku tidak mengerti, sudah jelas kau tahu dia orang busuk, mengapa engkau bergaul dengan dia."

"Soalnya kekuatan kita dengan musuh berselisih terlalu jauh,"

Tutur Sim Long dengan menyengir.

"Padahal kita sedang menghadapi musuh besar sebagai Koay-lok-ong itu, mana boleh kita mengikat permusuhan pula dengan Ong Ling-hoa, apa pun juga dia kan bukan orang sehaluan dengan Koay-lok-ong."

"Tapi menurut pandanganku, dia jauh lebih busuk daripada Koay-lok-ong,"

Jengek Jit-jit.

"Akan lebih baik untuk sementara ini kesampingkan Koay-lok-ong dan jangan membiarkan mereka ibu dan anak berbuat sesukanya."

"Untuk menghadapi ibu dan anak itu kekuatan kita terasa sangat lemah,"

Ujar Sim Long setelah termenung sejenak.

"Mengapa kau puji kekuatan orang lain dan menurunkan derajat sendiri?"

Kata Jit-jit.

"Dalam hal apa engkau lebih asor daripada Ong Ling-hoa? Dalam hal apa pula Ong Ling-hoa lebih unggul daripadamu?"

"Tidak perlu urusan lain, melulu soal harta benda saja jelas sangat jauh selisih diriku dibandingkan dia,"

Jawab Sim Long dengan menyesal.

"Ai, baru sekarang kutahu, untuk bertempur kekuatan dana terkadang juga menjadi faktor penentu. Sayang, dahulu aku terlalu meremehkan benda-benda yang berbau bacin ini."

"Apa artinya harta benda, aku kan tidak kekurangan, kau mau berapa dapat kuberikan,"

Ujar Jit-jit.

"Masa boleh kuterima uangmu?"

Jawab Sim Long dengan tidak senang.

"Memangnya kenapa, punyaku sama dengan punyamu, masa...."

"Sudahlah, jangan kau katakan lagi,"

Potong Sim Long dengan aseran. Jit-jit termenung sejenak, ucapnya kemudian dengan hampa.

"Seumpama engkau tak mau menerima uangku, tapi aku sendiri mengambil bagian dalam pertempuran ini. Seperti semboyan umum yang sudah kita kenal, punya uang keluar uang, punya tenaga bantu tenaga, memangnya aku tidak boleh memberikan sedikit sumbangan bagi perjuangan ini?"

"Tapi... tapi aku...."

"Sudahlah, tidak perlu ini dan itu, yang jelas, meski ayahku rada pelit terhadap orang lain, tapi sangat terbuka tangannya terhadapku, sebab semua saudaraku sudah berdikari, semuanya sudah pandai mencari uang, sebaiknya aku cuma mahir membuang uang, seorang yang tidak pintar mencari uang dan juga tidak berguna.... Sebab itulah, harga kekayaan ayah yang seharusnya dibagi menjadi tujuh telah diwariskan seluruhnya kepadaku dan jumlahnya tidaklah sedikit."

"Pantas orang Kangouw sama bilang Cu-jit-siocia kita adalah miliarder wanita,"

Ujar Sim Long.

"Miliarder atau bukan, yang jelas hartaku memang tidak sedikit,"

Kata Jit-jit.

"Sejak berumur 12 aku sudah biasa menggunakan uang secara bebas. Tapi selama kekayaan itu dipegang ayah, tetap kurang leluasa bagiku. Sebab itulah aku lantas merecoki ayah agar memberi kuasa penuh padaku, sebagian besar harta warisan itu diserahkan padaku, lalu seluruhnya kutitipkan kepada samcihuku."

Ia berhenti sejenak, lalu menyambung pula dengan tertawa.

"Samcihu (kakak ipar (suami kakak) ketiga) adalah orang Soasay, swipoanya bukan main lincahnya bilamana disuruh mengurus soal keuangan, tapi dia paling segan padaku. Maka sebelumnya sudah kuadakan perjanjian dengan dia bahwa simpananku itu tidak perlu diberi bunga, yang penting setiap saat bilamana aku memerlukan uang, bila kuminta pada siang hari, tidak boleh dia tunda sampai malam hari, jika kuperlu sepuluh laksa tahil, tidak boleh dia membayar kurang satu tahil pun. Pokoknya dia harus memberi servis yang paling cepat padaku."

"Apakah samcihumu itu terkenal sebagai Liok-siang-to-cu (Si Mahakaya-raya) Hoan Hun-yang itu?"

Tanya Sim Long.

"Aneh... kau pun kenal namanya?"

Ujar Jit-jit.

"Orang Kangouw yang terkenal tidak ada seorang pun yang tidak kukenal,"

Ujar Sim Long dengan tertawa.

"Apalagi Hoan Hun-yang ini terkenal pintar sekali bergaul, kipas bajanya juga tidak lemah."

"Baik, engkau memang hebat,"

Kata Jit-jit.

"Supaya kau tahu, kami sudah ada perjanjian, asalkan ada tanda pengenalku, setiap saat dapat kuambil uang pada setiap cabang perusahaannya di berbagai provinsi."

"Kenapa dia begitu memercayai dirimu?"

Tanya Sim Long.

"Soalnya, meski sangat banyak uangnya, tapi kekayaanku tidak lebih sedikit daripada miliknya, kenapa dia tidak percaya padaku?"

"Jika begitu, tanda pengenalmu itu harus kau simpan dengan baik."

"Bagaimana bentuk tanda pengenalnya, mimpi pun orang lain tak dapat menerkanya, sepanjang hari benda ini berada pada tubuhku dan tidak akan dicuri orang."

"Berada pada tubuhmu?"

Sim Long menegas dengan heran. Ia tahu Cu Jit-jit pernah ditelanjangi orang, jika benar dia membawa sesuatu benda berharga, mustahil takkan diambil orang? Tapi Jit-jit menjawab dengan sungguh-sungguh.

"Betul, kedua biji mutiara anting-antingku inilah benda tanda pengenalku. Kedua biji mutiara kecil ini tidak mencolok mata, tapi bila mutiara ditanggalkan, bagian anting-anting yang membingkai mutiara ini adalah stempel, kedua belah anting-anting sama pakai stempel huruf Cu, cuma yang satu huruf tebal dan yang lain huruf melekuk. Berdasarkan sepasang anting-anting ini setiap orang dapat mengambil 70 laksa tahil, bukan perak melainkan emas. Dengan harta sejumlah ini tentu dapatlah digunakan sebagai dana pergerakanmu."

Jumlah sebesar ini memang cukup mengejutkan orang, sampai Sim Long juga melenggong.

"Padaku terdapat benda bernilai sebesar ini, lucunya orang-orang yang pernah menawan diriku ternyata tidak ada yang memerhatikannya,"

Tutur Jit-jit pula dengan tertawa. Maklumlah pada zaman itu telinga anak perempuan rata-rata berlubang anting-anting, karena itulah hal ini tidak menarik perhatian dan tidak mengherankan.

"Nah, sekarang terimalah anting-antingku ini, cuma kau perlu hati-hati, lelaki membawa anting-anting, tentu akan menarik perhatian orang,"

Pesan Jit-jit dengan tertawa. Mestinya Sim Long ingin menolak, tapi didesak si nona dan akhirnya diterimanya juga, katanya.

"Kau percaya penuh menyerahkan anting-anting ini kepadaku?"

"Tentu saja kupercaya,"

Jawab Jit-jit lembut.

"Jangankan cuma anting-anting ini, biarpun se... seluruh diriku kuserahkan padamu juga tidak perlu khawatir."

Ia menggelendot dalam pangkuan Sim Long dengan erat, sungguh ingin dirinya terlebur menjadi satu dengan tubuh anak muda itu.

Dalam keadaan begini, dia berbalik berterima kasih kepada iblis jahat itu.

Kalau bukan perbuatannya, saat ini mana bisa dia berada dalam pelukan Sim Long.

Sampai sekian lama keduanya tenggelam dalam khusyuk-masyuk, mendadak Sim Long berteriak dengan suara terputus-putus.

"Ai... air... air!"

Jit-jit terkejut, tapi segera dia tahu anak muda itu pasti mempunyai maksud tujuan tertentu.

Benar juga, sejenak kemudian lantas terlihat lubang gua atas terbuka, lelaki gede serupa anjing herder itu menongolkan kepalanya sambil membentak gusar.

"Keparat, mau apa kau meraung-raung?"

Orang berani memaki Sim Long, segera Jit-jit hendak mendampratnya, tapi mulutnya keburu didekap Sim Long, lalu anak muda itu berkata dengan suara yang dibikin lemah.

"Aku... aku sangat haus, mohon... mohon diberi air."

Untuk sebentar suasana menjadi sunyi, tidak lama kemudian, dari atas terjulur sebatang galah bambu, pada ujungnya terikat sebuah kaleng, lelaki gede itu tertawa terkekeh-kekeh dan berucap.

"Ini airnya. Jika mau minum, masukkan kepala ke dalam kaleng, cara beginilah tuanmu memberi minum kepada babi."

Mendadak Sim Long berbangkit, tangan bergerak, sejalur angin keras lantas menyambar ke atas.

"plak" , kepala si lelaki gede yang menongol itu tepat tertimpuk. Lelaki itu meraung dan terjungkal ke bawah, senjata rahasia yang mengenai kepalanya juga jatuh di sebelahnya, kiranya cuma sebiji bakpao kering. Jit-jit terkejut dan bergirang, dilihatnya Sim Long menutuk beberapa hiat-to orang itu, lalu galah bambu itu dijemputnya. Pada saat itulah di atas terdengar seorang membentak.

"Ada kejadian apa?"

Tanpa bicara tangan Sim Long bergerak pula, kembali sebiji bakpao kering menyambar ke atas dan kembali seorang jatuh terjungkal lagi ke bawah dan dibikin tak berkutik oleh Sim Long.

Cepat Sim Long mengempit Jit-jit dengan tangan kiri, galah bambu di tangan kanan terus menolak hingga tubuh mengapung ke atas.

Jit-jit merasa angin mendesir, waktu ia membuka mata, tahu-tahu mereka sudah meloncat ke luar penjara.

Di atas gua penjara, ini adalah sebuah rumah kecil, di atas meja masih ada santapan, orang yang sedang makan minum tadi kini sudah menggeletak di dalam penjara malah.

"Engkau sungguh orang yang paling pintar, tidak percuma kusuka padamu,"

Seru Jit-jit dengan girang.

"Ssst, jangan bersuara,"

Desis Sim Long. Perlahan ia membuka pintu dan mengintip, suasana sepi, segera ia menyelinap ke luar. Di luar adalah sebuah serambi panjang dan juga tidak kelihatan bayangan seorang pun.

"Untung orang di sini seperti sudah mampus semua,"

Bisik Jit-jit. Sim Long tidak menanggapinya, cepat ia memutar ke kiri, baru saja dia melangkah, terdengarlah dari ujung serambi sana ada suara langkah orang menuju ke sini. Terdengar seorang berkata.

"Mana boleh kau kurung dia bersama Sim Long di situ."

Suara orang ini tidak enak didengar, jelas Kim Put-hoan yang "Kian-li-bang-gi"

Atau mendapat untung lantas lupa kepada kawan. Lalu seorang sedang menjawab.

"Penjara di sini cuma ada satu tempat, kalau tidak dikurung bersama akan digusur ke mana?"

Segera Sim Long bermaksud mundur kembali ke dalam rumah, tapi lantas terdengar seorang lagi berkata.

"Coba kita periksa penjara sana."

Dari suaranya yang kasar dapat dikenali orang ini ialah Lian Thian-hun.

Apabila Sim Long mundur kembali ke tempat semula tentu akan kepergok mereka.

Jadi maju dan mundur serbasusah, mau tak mau Sim Long rada bingung.

"Takut apa, labrak saja mereka,"

Desis Jit-jit, ia percaya penuh atas kemampuan pemuda pujaannya.

Sim-Long menjadi nekat juga, ia rangkul erat tubuh Cu Jit-jit dan menerjang ke sana sekuatnya dan cepat luar biasa.

Baru saja rombongan Lian Thian-hun muncul dari tikungan, sekonyong-konyong sesosok bayangan menyelinap lewat.

Karena kaget, tanpa terasa mereka menyingkir ke samping.

Maka secepat terbang dapatlah Sim Long melayang lewat, tanpa berpaling lagi ia terus lari ke depan.

Serentak terdengar suara bentakan di belakang.

"Hah, itulah Sim Long,"

Seru Kim Put-hoan.

"Betul, lekas kejar!"

Teriak Lian Thian-hun gusar.

Menyusul lantas terdengar suara orang mengejar beramai-ramai.

Dengan sendirinya Sim Long tidak hafal jalanan di tempat orang, apalagi dalam keadaan dikejar, sukar baginya untuk membedakan arah dan memilih jalan.

Baru beberapa tombak ia lari segera dihadapi jalan buntu.

Untung pada ujung kiri jalan buntu terdapat sebuah pintu.

Tanpa pikir Sim Long mendobrak pintu dan menerjang ke dalam.

Tapi segera ia melenggong, sebab kamar ini pun tidak ada jalan tembus.

Sekilas dilihatnya sebelah kanan ada sebuah jendela dan pada sisi lain ada lagi sebuah pintu kecil.

Karena keadaan mendesak, timbul akal Sim Long, ia sambar sebuah kursi dan dilemparkan, kontan jendela itu ambrol, pada saat yang sama ia terus lari masuk ke pintu kecil itu.

Hanya sekejap saja rombongan Kim Put-hoan sudah menyusul tiba, Sim Long bersembunyi di balik pintu kecil itu dengan menahan napas dan tidak berani bergerak.

"Lari ke mana dia?"

Terdengar Lian Thian-hun meraung gusar di luar.

"Jelas membobol jendela dan kabur ke luar,"

Kata Kim Put-hoan.

"Ayo lekas kejar!"

Seru Lian Thian-hun. Menyusul lantas terdengar suara orang melompat keluar jendela, lalu tidak terdengar sesuatu suara lagi. Baru sekarang Sim Long merasa lega, desisnya.

"Mari kita mundur kembali ke tempat tadi untuk mencari jalan lolos lain!"

"Sungguh akal menyesatkan musuh yang bagus,"

Bisik Jit-jit.

Dalam keadaan demikian dia tidak lupa memberi pujian kepada Sim Long.

Tapi baru saja Sim Long membuka pintu, segera terlihat Kim Put-hoan bertiga berdiri di depan pintu dengan tertawa dingin.

Keruan Sim Long melongo.

"Hehe, kau kira kami dapat dikibuli seperti anak kecil?"

Jengek Kim Put-hoan.

"Ayolah, mau lari ke mana lagi, lekas serahkan dirimu,"

Bentak Lian Thian-hun.

Sim Long mengertak gigi, ia tidak jadi menerjang ke luar, sebaliknya menyurut mundur, pintu terus ditutup kembali dan dipalang.

Akan tetapi segera diketahuinya sekeliling ruangan ini rapat tanpa lubang tembus lain, sebuah jendela pun tidak ada, keadaan gelap gulita, kecuali perabotnya yang lebih baik, keadaannya tidak berbeda dengan penjara di bawah tanah itu.

Terdengar Kim Put-hoan bertiga lagi bergelak tertawa di luar dan tidak membobol pintu untuk mengejarnya.

Malahan lantas terdengar suara "krek,"

Pintu berbalik digembok dari luar.

"Ruangan ini sekelilingnya terbuat dari dinding baja, jauh lebih kuat daripada penjara batu itu, boleh kalian tidur saja di situ dan jangan lagi mencari jalan untuk kabur segala,"

Terdengar si baju panjang berseru di luar.

"Nanti kalau kalian sudah lemas kelaparan, barulah kami akan datang lagi, biasanya kami memang sabar menunggu,"

Demikian Kim Put-hoan menyindir.

Habis itu lantas tidak terdengar sesuatu lagi.

Sim Long berlari ke kaki dinding dan memukulnya, terdengar suara nyaring, tangan sendiri tergetar sakit, memang betul dinding sekeliling kamar ini terbuat dari baja seluruhnya.

Seketika Sim Long berdiri terkesima dan tidak tahu apa yang harus dilakukannya.

"Mereka hanya bertiga, bilamana tadi kau labrak mereka, bisa jadi mereka dapat kau kalahkan, tapi sekarang...."

Jit-jit menggerundel dengan menyesal. Sim Long menghela napas.

"Bila kulabrak mereka, bagiku tidak menjadi soal, tapi bagaimana dengan dirimu?"

Jit-jit terkesiap dan tidak bicara lagi. Sejenak kemudian mendadak ia menangis sedih.

"Jangan menangis Jit-jit, memang akulah yang salah,"

Ujar Sim Long.

"Tidak, engkau tidak salah...."

Seru Jit-jit dengan suara parau.

"Dalam segala hal selalu kau pikirkan diriku, tapi aku berbalik menyalahkan engkau. Aku... aku memang pantas mampus!"

Perlahan Sim Long membelai rambutnya yang halus, ucapnya.

"Sudahlah, dalam keadaan demikian, kita senasib setanggungan. Betapa pun menyenangkan juga bila kita dapat mati bersama di tempat ini."

"Tidak, tidak, engkau tidak boleh mati, engkau harus berjuang terus...."

"Ai, dalam keadaan begini, apa yang dapat kulakukan?"

Ujar Sim Long dengan menyesal. Jit-jit masih mau bicara lagi, tapi urung, ia menangis perlahan, sebab ia pun menyadari keadaan cukup gawat. Tiba-tiba ia berkata lagi dengan bersemangat.

"Memang betul juga ucapanmu, betapa bahagia bilamana kita mesti mati bersama di sini. Tapi... tapi kita masih muda, aku tidak mau mati, kita harus hidup bersama dan bahagia untuk berpuluh tahun lagi dan...."

Sampai di sini mendadak ia tertegun, sebab tanpa disadari tenaga sendiri ternyata sudah pulih sebagian, tangannya dapat digunakan untuk memukul tempat tidur sehingga menerbitkan suara keras.

"Ah, rupanya obat bius yang digunakan si iblis ini tidak sama dengan dulu, pengaruh obatnya kini mulai lenyap, sekarang aku sudah dapat berdiri...."

Ia termenung sejenak, lalu menyambung.

"Tapi apa gunanya aku dapat berdiri, keadaan sudah terlambat, biarpun bisa berlari juga sukar kabur dari sini."

Dengan pandangan yang sayu ia tatap wajah Sim Long, entah berapa lama, perlahan ia berkata pula.

"Tapi tetap aku berterima kasih kepada Thian yang murah hati yang telah membuatku dapat bergerak sekarang. Biarpun kita tidak dapat lagi hidup bersanding, tapi sebelum ajal kita dapat berkumpul di sini untuk beberapa hari, betapa pun aku... aku merasa bahagia."

"Kau... kau...."

Belum lanjut ucapan Sim Long, mendadak Jit-jit merangkulnya sehingga keduanya jatuh ke tempat tidur yang lunak itu.

Jit-jit membenamkan kepalanya di dada Sim Long, bisiknya dengan suara setengah merintih.

"O, masakah engkau belum lagi paham? Ai, orang... orang tolol, orang dungu... masa tidak kau ketahui, sebelum ajal, kurela menyerahkan segalanya kepadamu?"

"Kau... kau benar rela...."

Jit-jit tidak bicara lagi, ia peluk anak muda itu terlebih erat, dada beradu dada, bibirnya yang hangat merayapi belakang telinga Sim Long. Bagai orang mengigau ia berkeluh perlahan.

"O, waktu kita sudah tersisa tidak banyak lagi, kurela... apa pula yang kau khawatirkan... apa pula yang kau tunggu?...."

Mendadak Sim Long membalik tubuh di atas, dipeluknya tubuh yang hangat dan mungil yang lagi menyongsongnya dengan rada gemetar itu....

Selagi memuncak api berkobar, selagi banjir hampir membobol tanggul, mendadak Jit-jit menggigit bibir Sim Long sekerasnya, berbareng terus didorongnya sehingga anak muda itu tertolak jatuh ke bawah tempat tidur.

Lantaran tidak menyangka, keruan Sim Long kaget dan berseru.

"Hei, apakah kau gila?"

Jit-jit terus menarik selimut untuk menutupi tubuhnya, teriaknya dengan histeris.

"Kau bukan... bukan Sim Long... kau bukan Sim Long...."

"Kau gila, habis siapa jika aku bukan Sim Long?"

"Kau... kau bangsat, binatang, kau setan iblis, sekarang... sekarang kutahu siapa dirimu...."

"Memangnya siapa diriku?"

Tanya Sim Long.

"Ong Ling-hoa!"

Teriak Jit-jit.

"Kau bangsat jahanam, kau... kau bikin celaka diriku... untung kutahu... dan... dan masih sempat...."

"Hehe, kau bilang aku ini Ong Ling-hoa?"

"Memangnya siapa kalau bukan Ong Ling-hoa,"

Jawab Jit-jit.

"Betapa keji caramu mengatur akalmu yang busuk ini, bukan saja telah kau tipu uangku, kau pun ingin menipu tubuhku...."

"Oo, kau anggap kutipu dirimu?"

"Hm, biarpun kepandaianmu merias mukamu sedemikian hebatnya, tapi lantaran aku sudah terlalu mengenal Sim Long, kau khawatir akan kukenali kepalsuanmu, maka sengaja kau gunakan tipu licik dan bertemu denganku di tempat yang gelap."

Jit-jit mengertak gigi sehingga gemertuk, lalu menyambung.

"Suara Sim Long tak dapat kau tirukan dengan persis, maka sengaja berlagak tersiksa di penjara dengan suara parau agar aku tidak mencurigai dirimu."

"Lalu?"

Jengek Sim Long.

"Sesudah wajahmu kau rias, tentu tidak dapat lagi tersenyum, maka sengaja kau bikin mukamu selalu murung. Padahal, ai, kenapa kulupa bahwa pada keadaan bagaimanapun senyuman khas Sim Long itu selalu menghiasi bibirnya, hampir setiap saat dan di mana pun selalu kulihat senyumannya yang khas itu."

"Apa betul begitu?"

"Selain itu, jika sudah ada akalmu untuk kabur dari penjara itu seharusnya dapat kau lari sebelumnya, kenapa mesti menunggu setelah kudatang barulah kau bawaku kabur?.... Waktu orang itu memberi air padamu, mestinya dia dapat menggunakan cara lain, mengapa pakai galah bambu segala? Jelas semua ini memang sudah diatur sebelumnya agar galah itu dapat kau gunakan untuk meloncat ke luar."

"Ada lagi yang lain?"

Tanya Sim Long dengan tertawa.

"Dasar bangsat, sudah kau tipu uangku, ingin kau tipu pula.... Ya, tentu karena tempat itu kurang baik, maka sengaja kau bawaku ke sini, kau...."

"Betul, penjara di bawah tanah itu lembap dan kotor, siapa pun tidak bergairah berbuat hal begituan di situ, sengaja kubawamu ke sini justru supaya engkau sendiri akan menyodorkan makanan ke mulutku,"

Kata anak muda itu dengan tertawa. Baru sekarang ucapannya mengandung nada pengakuan bahwa dia memang bukan Sim Long melainkan Ong Ling-hoa adanya.

"Bangsat, hewan,"

Dengan suara parau Jit-jit memaki pula.

"Sungguh keji kau, tentu setelah kau tipu diriku, lalu sengaja kau tinggalkan diriku agar kubenci Sim Long selama hidup, dengan begitu kau bikin susah kami berdua sekaligus."

"Betul, ini namanya sekali timpuk dua burung, tahu?"

Jawab Ong Ling-hoa dengan cengar-cengir.

"Hm, kecuali bangsat keji semacam ini, siapa lagi yang dapat menggunakan akal busuk semacam ini. Mungkin tidak ada orang lebih kotor dan rendah daripadamu di seluruh dunia ini."

"Namun masih ada sesuatu yang tidak kupahami,"

Kata Ong Ling-hoa dengan tertawa. Tanpa menunggu tanggapan Jit-jit segera ia menyambung.

"Setelah sekian lama akalku dapat mengelabuimu, mengapa mendadak dapat kau ketahui?"

"Sebab... sebab aku...."

Mendadak Jit-jit berteriak.

"Tidak perlu kau tahu cara bagaimana kuketahui tipu muslihatmu, pokoknya memang dapat kuketahui."

Hal ini selain membingungkan Ong Ling-hoa, sesungguhnya Jit-jit sendiri juga sukar menjelaskan, atau bisa jadi dia malu untuk menerangkan.

Kiranya tadi waktu orang bermesraan dengan dia, tiba-tiba Jit-jit merasakan sesuatu tidak benar, yaitu "gaya"

Pihak lawan. Ia merasa "gaya kerja"

Orang sedemikian hafalnya, serupa benar dengan cara rendah Ong Ling-hoa memperlakukan dia waktu di ruang bawah tanah dahulu.

Dan pada detik sebelum garis pertahanan terakhir dibobol itulah dapat diketahuinya tipu muslihat musuh.

Maklumlah, setiap lelaki mempunyai gaya dan gerak irama tertentu pada saat dia merayu dan main cinta dengan seorang perempuan.

Biarpun sasarannya berganti, cara kerjanya biasanya tidak berubah.

Dan dalam hal ini biasanya di pihak perempuan juga sangat peka merasakan perbedaannya.

***** Entah sejak kapan, lampu di dalam kamar sudah dinyalakan oleh Ong Ling-hoa.

Dia berdiri di depan tempat tidur, raut wajahnya memang sangat mirip Sim Long, cuma matanya, sorot matanya memperlihatkan sifatnya yang kotor dan menjijikkan.

Jit-jit membungkus tubuhnya terlebih rapat, ia tidak berani memandang orang, dari rasa murka kini berubah menjadi rasa takut.

"Kau sangat pintar, sungguh jauh lebih pintar daripada dugaanku,"

Kata Ong Ling-hoa kemudian dengan cengar-cengir.

"Tapi apakah sekarang kau kira sudah lengkap mengetahui segalanya?"

"Memangnya apa yang tidak kuketahui? Aku...."

Mendadak Jit-jit teringat akan sesuatu, waktu ia berpaling, dilihatnya Ong Ling-hoa sedang menatapnya dengan pandangan kotor dan jalang. Seketika hatinya bergetar, teriaknya.

"Matamu... matamu inilah...."

"Mataku kenapa?"

Tanya Ong Ling-hoa dengan tersenyum.

"Kau... ya, kaulah yang membikin celaka Miau-ji tadi.... Jadi iblis jahat itu pun samaranmu, betul tidak?"

"Haha, memang betul,"

Ong Ling-hoa terbahak.

"Menurut pandanganmu, wajah iblis itu adalah samaran keluarga Suto, aku pun pernah melihatnya sekali, dan mengapa aku tidak dapat menyamar seperti dia? Betapa pun pandai ilmu rias keluarga Suto juga tidak banyak lebih mahir daripada diriku tuan muda keluarga Ong ini."

"Bangsat, kau... kau...."

"Ai, nonaku yang manis, biarpun kau pintar, sebenarnya apa pun tidak kau ketahui,"

Sela Ong Ling-hoa dengan gelak tertawa.

"Apakah kau mau bila kuceritakan urusan ini dari awal?"

"Kau... kau...."

Karena gemetar sehingga suara Jit-jit pun tidak jelas.

"Kau tahu, di hutan sunyi sana sudah kulihat Kim Put-hoan, Li Tiang-ceng dan lain-lain, meski mereka tidak kenal diriku, tapi kukenal mereka, maka aku lantas mendekat dan pasang omong dengan mereka."

"Mereka mau bicara dengan binatang semacam dirimu ini?"

"Soalnya, hanya satu kalimat saja sudah dapat kupikat mereka."

"Yang... yang kau kemukakan tentu mengenai Sim Long."

"Betul, kembali dapat kau tebak dengan tepat. Aku berlagak memusuhi Sim Long, dengan sendirinya mereka ingin bersahabat denganku, maka lantas kuberi jalan kepada mereka agar menungguku di sini. Jalan yang mereka tempuh adalah jalan kecil yang dirahasiakan, dengan sendirinya jejak mereka menghilang secara mendadak sehingga kau dan si kucing rakus itu kebingungan."

Hal ini sebelumnya memang sudah diduga oleh Jit-jit, cuma ada sesuatu lain yang belum diketahuinya, maka ia lantas tanya.

"Kenapa mereka mau percaya padamu dan datang ke sini lebih dulu?"

"Sebab mereka memerlukan tenagaku untuk membantu menghadapi Sim Long,"

Tutur Ong Ling-hoa dengan tertawa.

"Mereka percaya aku adalah seorang kesatria dan gagah perkasa, sebaliknya Sim Long adalah seorang bangsat keparat."

"Sialan, sudah buta semua!"

Omel Jit-jit dengan gemas.

"Dari mulut mereka dapat kuketahui kau pun berada di sekitar sini, maka aku lantas tinggal di sana, tidak lama kemudian benarlah kulihat kau dan si Kucing itu datang dengan riang gembira, wah, alangkah mesranya antara kalian berdua, padahal biasanya kau sok berlagak suci."

"Kentut!"

Damprat Jit-jit.

"Hubungan kami cukup terbuka, hanya matamu yang kotor ini sehingga barang bersih juga kau pandang sebagai kotor."

Ong Ling-hoa tidak menghiraukannya, sambungnya lagi.

"Kalian berjalan dengan tangan bergandeng tangan, aku lantas mengintil di belakang kalian dari jauh, waktu kalian mendaki gunung, segera timbul pikiranku untuk menyamar sebagai iblis itu, cepat kuputar jalan terdekat untuk mendahului di depan kalian. Lalu dengan sedikit akal, tanpa susah payah dapatlah kubikin si Kucing hancur lebur di dalam jurang. Haha, sudah sekian lama dia bermesraan denganmu, andaikan mati juga dia tidak perlu penasaran."

Dari cerita Ong Ling-hoa ini baru diketahui mengapa orang sedemikian hafal terhadap keadaan di sekitar sini, rupanya tempat ini memang kepunyaan keluarga Ong.

"Setelah kubawa dirimu ke sini dalam keadaan tak sadar, segera kuganti rupa lagi menjadi Sim Long, kuatur pula tipu sekali timpuk dua burung ini dengan Kim Put-hoan dan...."

"Hm, bangsat she Kim itu memang jahat, tapi Li Tiang-ceng dan Leng Toa juga membantu tipu muslihatmu yang kotor ini, sungguh tak kusangka,"

Ucap Jit-jit dengan gemas.

"Leng Toa dalam keadaan tidak sadar, Li Tiang-ceng juga terluka parah, kedua orang ini masih berbaring di sana tanpa bisa berbuat sesuatu. Sedangkan Lian Thian-hun, hehe, cuma seekor kerbau bodoh, setelah kubujuk Kim Put-hoan, dengan mudah dapat kubohongi kerbau bodoh itu untuk bekerja bagiku."

"Banyak berbuat kejahatan pada akhirnya pasti akan menerima ganjarannya,"

Ujar Cu Jit-jit.

"Biarpun sekarang aku tidak dapat berbuat apa-apa, jadi setan pun akan kucekik mati dirimu."

"Haha, kalau setan perempuan tetap kusambut dengan gembira, bila setan lelaki, huh, waktu hidup saja aku tidak takut padanya, sesudah jadi setan masakah malah takut?"

"Tunggu saja, pada suatu hari pasti...."

"Masa perlu kutunggu lagi, sekarang juga aku mau...."

"Kau mau apa?"

Seru Jit-jit khawatir.

"Aku mau apa masakah kau tidak tahu?"

Tentu saja Jit-jit tahu, melihat sorot mata orang saja ia lantas tahu. Ia sembunyi ke pojok tempat tidur dan berteriak dengan gemetar.

"Kau... kau berani?"

"Kenapa aku tidak berani?"

Sahut Ong Ling-hoa dengan tertawa.

"Jika aku tidak berani, tentu takkan kuberi tahukan rahasiaku kepadamu."

"Lekas kau bunuh diriku saja,"

Jerit Jit-jit.

"Ai, kau tahu namaku Ling-hoa, artinya sayang akan bunga (kiasan bagi perempuan), masakah aku tega membunuh anak perempuan molek seperti dirimu ini?"

Sembari tersenyum ia terus mendekat.

"Enyah, pergi! Mati pun jangan kau harap akan menyentuh diriku!"

Pada saat itulah sayup-sayup di luar ada suara orang membentak dan saling labrak, tapi dalam keadaan panik Jit-jit tidak mendengarnya.

Sedangkan Ong Ling-hoa hanya berkerut kening saja, lalu mendekati Jit-jit lagi.

"O, sayang, betapa mesranya kepadaku tadi, kenapa sekarang kau...."

"Kau bangsat, jahanam...."

Sampai parau suara Jit-jit, tapi apa daya, dia hanya dapat membungkus dirinya terlebih rapat dengan selimut, akhirnya ia memohon.

"O, hendaknya kau ampuni diriku.... Lebih baik kau bunuh diriku saja, perempuan lain masih banyak. Ken... kenapa kau paksa diriku."

"Dan lelaki lain sedemikian banyak, kenapa cuma Sim Long saja yang kau pilih? Kenapa tidak kau anggap diriku sebagai Sim Long saja?"

Habis berkata Ong Ling-hoa terus menubruk ke atas tempat tidur.

Jit-jit menjerit dan meronta serta menghindar, juga memohon, akan tetapi tenaganya belum pulih seluruhnya, dia mulai lemas lagi dan tak berdaya....

"Jangan meronta, jangan melawan,"

Bujuk Ong Ling-hoa dengan napas terengah.

"Tidak ada gunanya kau melawan, setelah kau jadi milikku baru kau tahu aku ini tidak seburuk sebagaimana kau sangka, bahkan bisa jadi engkau tak mau lagi berpisah denganku."

Jit-jit merasakan sorot mata orang yang kotor dan jalang itu semakin mendekat, hawa napasnya yang berbau juga tambah dekat dan akhirnya bibir menempel bibir.

Dia tak mampu meronta lagi, akhirnya dia tak sadarkan diri.

Waktu Jit-jit jatuh pingsan mungkin lama dan mungkin juga singkat, tapi waktu yang singkat ini pun cukup untuk terjadi macam-macam hal.

Namun yang terjadi selama ia pingsan sama sekali tidak diketahuinya.

Sungguh ia lebih suka tidak siuman untuk selamanya, sebab dia tidak berani menghadapi kenyataan apa yang terjadi selama dia pingsan.

Namun begitu, akhirnya dia tetap siuman.

Dan begitu dia membuka mata, segera dilihatnya raut wajah itu, raut wajah yang sama, raut wajah "Sim Long".

Saat itu sedang memandangnya dengan tersenyum.

Sesungguhnya apa yang telah terjadi selama dia pingsan?

Hancur luluh hati Jit-jit, hampir gila dia.

Tanpa pikir akibatnya, sekuatnya dia melompat bangun, kontan ia menampar muka orang.

Anehnya orang tidak mengelak, juga tidak menangkis.

Bisa jadi karena dia sudah merasa puas, apa artinya ditampar dua kali oleh anak gadis yang habis dilalapnya?

"Plak" , menyusul Jit-jit terus menubruk maju menendang dan menjotos lagi seperti orang gila sambil berteriak.

"Jahanam, kau hancurkan hidupku, biar ku...."

Mendadak kedua tangannya dipegang orang. Ia meronta sekuatnya dan tidak terlepas, segera ia berpaling dan mendamprat pula.

"Bangsat, kalian semua...."

Tapi mendadak dilihatnya yang menangkap tangannya terdiri dari dua orang, yang memegang tangan kirinya ialah Him Miau-ji dan yang memegang tangan kanannya adalah Kim Bu-bong.

Sungguh kaget Jit-jit tak terkatakan, dia seperti melihat setan.

Seketika ia melenggong, terkilas macam-macam pikirannya.

"Ai, kiranya mereka berdua belum mati? Ken... kenapa mereka tidak mati dan berada pula di sini?.... Ai, jangan-jangan mereka ini orang Ong Ling-hoa yang menyamar untuk menipu diriku?"

"Siapa kalian?"

Segera ia membentak. Him Miau-ji alias si Kucing terbelalak heran, jawabnya.

"He, apakah engkau linglung, masa kami tidak kau kenal lagi?"

"Kalian palsu semua, kutahu... kutahu, jangan harap lagi akan menipu diriku,"

Teriak Jit-jit dengan parau sambil meronta sekuatnya, tapi tak terlepas.

"Palsu? Coba lihat lagi lebih jelas, apakah kami tulen atau palsu?"

Ucap Kim Bu-bong.

"Mungkin dia memang linglung, kalau tidak masakah Sim-heng dipukulnya?"

Ujar si Kucing.

Waktu Jit-jit memerhatikan mereka, di bawah cahaya terang terlihat sinar mata Kim Bu-bong yang buram, Him Miau-ji juga kelihatan dirangsang emosi, sorot mata dan sikap demikian mustahil dapat ditirukan orang lain.

Apalagi dari suara mereka, jelas memang asli dan bukan samaran.

Tapi cara bagaimana pula mereka datang ke sini?

Jit-jit pandang lagi mata orang yang mencorong dengan senyumannya yang khas.

Ciri ini terlebih tidak mungkin bisa ditiru.

Inilah Sim Long asli.

Sungguh sukar dimengerti, mengapa palsu bisa berubah menjadi asli?

Sebenarnya apa yang telah terjadi?

Jit-jit menjadi girang, kejut, dan juga heran, katanya kemudian.

"Ap... apakah aku sedang mimpi?"

"Siapa bilang kau mimpi?"

Kata si Kucing. Dengan bingung Cu Jit-jit berdiri, lalu ia berlutut pula dan menangis.

"O, jika aku bermimpi, lebih baik biarkanlah bermimpi selamanya.... Aku tidak tahan...."

Perlahan Sim Long berbangkit, sorot matanya penuh rasa kasih sayang, meski mukanya bengep kena tamparan Jit-jit tadi, tapi tetap mengulum senyumannya yang khas itu, ucapnya dengan gegetun.

"Anak baik, jangan menangis, saat ini engkau tidak bermimpi, tadi engkau memang bermimpi, mimpi yang buruk."

Suaranya begitu lembut, begitu mesra, juga tidak dibuat-buat serak. Jit-jit tidak ragu Lagi, sambil menangis ia menubruk ke dalam pelukan Sim Long dan berseru.

"Jadi... jadi engkaulah yang menyelamatkan diriku."

Perlahan Sim Long menjawab.

"Sungguh aku menyesal datang terlambat sehingga engkau banyak tersiksa."

"Engkau telah menolong diriku, tapi berbalik kupukulmu.... Ai, aku memang pantas mampus?"

Ratap Jit-jit.

"Ini pun tidak dapat menyalahkan dirimu,"

Ujar Sim Long dengan suara lembut.

"Kenapa engkau tidak menangkis dan mengelak."

"Sudah banyak kau tersiksa, apa alangannya kubiarkan dipukul dua kali olehmu sekadar melampiaskan rasa gemasmu?"

Ujar Sim Long dengan tersenyum.

"O, mengapa engkau selalu begini baik padaku,"

Seru Jit-jit merangkul anak muda itu.

Dia melupakan segalanya, ia memeluknya erat-erat dan menciuminya, air matanya membasahi wajah Sim Long dan membuat arak muda itu rada kikuk.

Him Miau-ji dan Kim Bu-bong menyaksikan adegan itu dengan melenggong, entah bagaimana perasaan mereka.

"Sudahlah, jangan menangis lagi, di samping masih ada Kim-heng dan Him-heng,"

Ucap Sim Long dengan canggung.

Baru sekarang Jit-jit ingat di situ masih ada orang lain, cepat ia berbangkit dengan kepala menunduk.

Tiba-tiba sebuah tangan putih halus terjulur ke arahnya dengan secangkir teh, suara seorang yang halus berkata padanya.

"Silakan minum, Siocia."

Waktu Jit-jit menengadah, terlihatlah seraut wajah yang cantik molek memesona, serunya.

"Hei, kau!"

"Ya, hamba,"

Sahut si gadis, kiranya Pek Fifi adanya.

"Kau pun datang ke sini? Ke mana pun Sim Long pergi selalu kau ikut?"

Tanya Jit-jit. Fifi menunduk dan tidak berani menjawab, mukanya yang putih bersemu merah sehingga kelihatan kasihan.

"Ayolah bicara, kenapa diam saja,"

Desak Jit-jit.

"Nona, hamba...."

Fifi tetap menunduk, meski sedapatnya menahan air mata, tidak urung tersendat juga suaranya.

"Fifi, boleh kau jaga di luar saja, bila mereka berani bergerak hendaknya segera kau bersuara memanggil,"

Kata Sim Long.

Fifi mengiakan.

Anak perempuan ini sungguh sejinak domba dan menyenangkan serupa burung sriti, sampai sekarang ia pun tidak lupa memberi hormat kepada Jit-jit, lalu melangkah ke luar dengan menunduk.

Memandangi bayangannya yang ramping itu, Jit-jit menjengek.

"Fifi... hm, alangkah mesranya panggilanmu."

"Ai, dia seorang anak perempuan yang patut dikasihani, kenapa kau bersikap ketus padanya? Dia sebatang kara, tidak punya sanak kadang, masa dapat kutinggalkan dia begitu saja?"

Kata Sim Long.

"Dia patut dikasihani, memangnya aku tidak perlu dikasihani?"

Ujar Jit-jit.

"Dia sebatang kara dan tidak punya sanak kadang, memangnya banyak sanak saudaraku di sini? Dan mengapa selalu kau tinggalkan diriku?"

"Betapa pun engkau lebih... lebih...."

"Lebih apa? Selalu kau bela dia, selalu kau pikirkan dia, dan ken... kenapa kau datang menolongku? Lebih baik aku tidak berjumpa lagi denganmu selamanya."

"Baik, baik, anggap aku yang salah, aku...."

Tapi mendadak Jit-jit menubruk lagi ke dalam rangkulannya dan meratap.

"O, tidak, engkau tidak salah, akulah yang salah, aku... aku cemburu, namun apa... apa dayaku...."

Si Kucing terkesima menyaksikan hal-hal demikian ini, ia bergumam.

"Kau cemburu, apakah kau tahu orang lain juga bisa cemburu?"

"Apa katamu?"

Mendadak Jit-jit menoleh.

"O, tidak, kubilang senantiasa Sim-heng terkenang padamu, kalau tidak masakah dia menempuh bahaya untuk menyelamatkan dirimu,"

Sahut si Kucing dengan gelagapan.

"Apa betul?"

Dari menangis Jit-jit berubah tertawa.

"Tentu saja betul,"

Kata si Kucing dengan menunduk. Jit-jit melompat ke depannya dan berseru.

"Ai, engkau sangat baik...."

Lalu ia berpaling ke arah Kim Bu-bong.

"Dan kau... kalian berdua adalah orang yang paling baik padaku, jika kalian tidak ada, entah betapa berduka hatiku. Ah, kulupa tanya cara bagaimana kalian terlepas dari bencana?"

Air muka Kim Bu-bong tidak memperlihatkan sesuatu perasaan, memang inilah kemahirannya, dia dapat menahan setiap perasaannya tanpa kelihatan. Perlahan ia menjawab.

"Sesudah kau pergi, aku tidak mampu melawan mereka berempat, untung Sim-heng muncul dan menyelamatkan diriku. Keempat orang itu tidak mampu mengejar kami, bahkan siapa penolongku saja tidak dilihat mereka."

"Lalu?"

Tanya Jit-jit.

"Apa lagi?"

"Habis,"

Jawab Kim Bu-bong.

"Meski uraian Kim-heng sangat singkat, tapi juga sangat penting, hal-hal kecil yang tidak penting tak mungkin diceritakan oleh Kim-heng,"

Tukas Sim Long dengan tertawa.

"Tidak diceritakannya juga dapat kubayangkan keadaan waktu itu,"

Ucap Jit-jit, lalu ia memejamkan mata dan berkata pula dengan perlahan.

"Tatkala mana pertarungan kalian pasti sangat sengit, keparat Kim Put-hoan itu tentu mengejek terus-menerus dan Kim-toako keki setengah mati, selagi engkau mandi keringat dan tampaknya bisa kalah, mendadak Sim Long melayang tiba secepat terbang, sekali tarik Kim-toako dibawa lari di tengah bayangan orang banyak. Kim Put-hoan dan begundalnya tentu terkejut, tapi mana bisa mereka menyusul dirimu."

Ia membuka mata, lalu menegas dengan tertawa.

"Betul tidak dugaanku?"

"Ya, seperti menyaksikan sendiri saja,"

Sahut Sim Long dengan tertawa.

"Tapi kemudian bagaimana tidak dapat kubayangkan lagi,"

Kata Jit-jit.

"Semula aku pun tidak tahu seluk-beluk urusan ini, sebab itulah meski kuselamatkan Kim-heng, tapi tidak kuperlihatkan siapa diriku, juga tidak bentrok dengan mereka. Kemudian baru kuketahui kedatangan mereka adalah untuk mencari diriku, juga diketahui Can Ing-siong dan lain-lain sama mati keracunan, segera kami putar balik hendak mencari mereka, siapa tahu mereka sudah pergi, untung di atas salju terdapat jejak mereka, bersama Kim-heng segera kami melacaknya ke sini."

"Apakah kau pun melihat jejakku bersama si Kucing?"

Tanya Jit-jit.

"Sudah tentu kulihat, malahan kami heran dan menduga-duga akan dirimu sehingga kami bertambah cemas,"

Jawab Sim Long.

"Ketika sampai di pinggang gunung, kami kehilangan jejak mereka, hanya tersisa jejakmu dan Him-heng, tapi setiba di tepi jurang jejak Him-heng lantas menghilang juga, sedangkan bekas kakimu mengitar tidak jauh di situ dan lenyap pula, sebagai gantinya adalah bekas tapak kaki seorang lain."

"Waktu itulah aku tertipu dan diculik oleh bangsat itu,"

Tutur Jit-jit dengan cemas.

"Aku pun dapat menduga keadaanmu agak gawat, tepi tidak habis mengerti mengapa jejak Him-heng bisa hilang secara mendadak,"

Tutur Sim Long pula.

"Setelah kutimbang, akhirnya kuputuskan untuk turun ke bawah untuk mencari tahu apa yang terjadi."

"Hah, kau turun ke bawah jurang, wah, kan sangat... sangat berbahaya,"

Seru Jit-jit.

"Bagaimana dapat kau temukan si Kucing di bawah?"

"Waktu itu kudengar juga teriakanmu,"

Tutur Him Miau-ji.

"sungguh aku gelisah, tapi tak mampu berbuat apa-apa, ketika batu besar digusur ke bawah oleh bangsat itu, untung teraling oleh batu karang yang mencuat di atas sehingga aku bebas dari bencana. Sekuatnya kupegangi akar-akaran yang tumbuh di dinding tebing dan menunggu kematian di situ, sebab keadaanku juga sudah lemas dan tidak sanggup mengerahkan tenaga lagi. Semula aku masih bertahan sekuatnya, sampai akhirnya tanganku terasa sakit, sekujur badan linu pegal, pandanganku juga kabur, dalam keadaan setengah sadar hampir saja kulepas tangan dan membiarkan diriku jatuh ke bawah, tapi aku tidak boleh mati, sebab... sebab aku...."

"Ai, semua itu gara-garaku,"

Ucap Jit-jit dengan air mata berlinang.

"Sungguh waktu itu aku pun ingin terjun ke bawah dan mati bersamamu, akulah yang membikin susah padamu...."

Mendadak Him Miau-ji melengos agar air mukanya tidak terlihat orang, tapi tubuhnya yang rada gemetar itu memperlihatkan guncangan perasaannya waktu itu.

"Dengan bantuan Fifi kuikat pinggangku dengan tali dan melorot ke bawah, dapatlah kutemukan Him-heng di situ."

Demikian tutur Sim Long.

"Ternyata Him-heng sudah dalam keadaan hampir tak sadar, cepat kuangkat dia ke atas. Kau tahu ucapannya yang pertama padaku adalah minta kuselamatkan dirimu."

Lemas tubuh Jit-jit dan jatuh terduduk.

"Segera kami bertiga memburu ke atas gunung, setiba di sini lantas memergoki Kim Put-hoan dan Lian Thian-hun di luar, dengan cepat dapat kami mengatasi mereka. Ai, untung Fifi ikut serta, dia yang menemukan pintu yang tergembok ini, setelah pintu kami dobrak baru menemukan dirimu."

"Dan bagaimana dengan iblis jahat Ong Ling-hoa itu?...."

"Masakah dia mampu kabur?"

Jengek Kim Bu-bong.

"Haha, keparat ini juga cukup tahu diri,"

Mendadak si Kucing ikut menimbrung dengan tertawa.

"Begitu melihat Sim-heng dia lantas menyerah, dia bilang setelah Sim Long asli muncul, terpaksa Sim Long gadungan harus pasrah nasib. Nyata ia menyadari bukan tandingan Sim-heng dan manda diringkus."

Dalam sekejap ini, pemuda yang simpati telah pulih kembali kepada sifatnya yang riang dan lincah, semua kejadian yang sudah lalu seakan-akan sudah terlupakan olehnya.

Jit-jit merasa gembira dan juga terharu, dengan termangu ia memandangnya, entah bagaimana perasaannya.

"Melihat sikap Ong Ling-hoa itu, aku menjadi tidak enak untuk memperlakukan dia dengan kasar,"

Tutur Sim Long kemudian.

"Kuminta dia duduk bersama Kim Put-hoan dan Lain-lain, setiap pertanyaanku juga pasti dijawabnya dengan jelas."

"Jadi... jadi semua pengalamanku sudah kau ketahui?"

Tanya Jit-jit.

"Ya, tahu,"

Kata Sim Long.

"Oo, aku...."

Jit-jit berseru kaget, seketika teringat keadaannya sebelum jatuh pingsan, ia coba memeriksa keadaan sendiri sekarang, ternyata tidak kurang sesuatu apa pun, baju pun rapi.

Dengan ragu ia memandang ketiga lelaki di depannya ini.

"Semua ini juga berkat kecekatan bekerja Fifi,"

Tutur Sim Long pula dengan tertawa. Tampaknya dia dapat meraba isi hati Cu Jit-jit. Wajah Jit-jit menjadi merah, katanya dengan gemas.

"Terkutuk bangsat itu, apakah... apakah kau ringkus atau tutuk dia?"

"Melihat sikapnya yang sopan santun, mana aku tega bertindak kasar padanya, apalagi terdapat pula kaum cianpwe sebagai Li Tiang-ceng, Thian-hoat Taysu dan lain-lain, aku cuma pinjam pakai sedikit obat bius khas buatan Kim-heng, kuberi mereka masing-masing setitik dan kuyakin mereka takkan mampu kabur."

Obat bius "malaikat dewata mabuk sehari"

Yang disebut itu pernah dirasakan sendiri oleh Cu Jit-jit, dengan sendirinya dia tahu betapa khasiat obat itu, maka dia tidak merasa khawatir lagi, gumamnya.

"Wahai Ong Ling-hoa, tampaknya sudah waktunya kau terima ganjaranmu yang setimpal."

Mendadak ia mendahului berlari ke sana.

Terpaksa semua orang mengikutinya.

Siapa tahu baru saja Cu Jit-jit sampai di ruangan sana, segera ia menjerit, ketika semua orang menyusul tiba, mereka pun tertegun.

Tertampak Li Tiang-ceng, Thian-hoat Taysu, Kim Put-hoan dan Leng Toa masih duduk lemas di tempatnya, tapi Ong Ling-hoa sudah berbangkit dan hampir kabur ke luar, Pek Fifi tercengkeram olehnya dengan penuh rasa takut.

"Hehe, rupanya kalian sudah selesai berbicara, bagus, bagus!"

Seru Ong Ling-hoa dengan tertawa terkekeh.

"Keparat, kau...."

Bentak si Kucing.

"Hehe, perkembangan urusan ini tentu di luar dugaan kalian bukan?"

Jengek Ong Ling-hoa.

"Tapi apa pun juga hendaknya kalian jangan sembarang bertindak, kalau tidak, nona molek indah yang bakal celaka."

Sim Long tampak tenang-tenang saja, ucapnya dengan tersenyum.

"Lepaskan dia!"

"Lepaskan dia?"

Tergelak Ong Ling-hoa.

"Haha, gampang saja Sim-heng berbicara. Betapa manjur nona molek ini menjadi jimat perlindunganku, mana boleh kulepaskan dia begitu saja?"

"Lepaskan dia, dan kau pun boleh pergi, takkan kami kejar dirimu,"

Kata Sim Long.

"Betul?"

Ong Ling-hoa menegas.

"Betul atau tidak, boleh kau putuskan sendiri."

"Haha, baik,"

Seru Ong Ling-hoa dengan tertawa.

"Jika orang lain mungkin aku tidak percaya, sebab pembawaanku memang suka curiga, tapi ucapan Sim-heng tentu saja lain bobotnya."

Dia pandang Pek Fifi lalu menyambung dan tertawa.

"Bicara sejujurnya, sungguh terasa berat bagiku untuk membebaskan kau, tapi biarlah, toh cepat atau lambat kita akan bertemu pula."

Mendadak Fifi diciumnya sekali, lalu nona itu dilepaskan, ia lantas melangkah pergi dengan terbahak.

Fifi jatuh ke tanah dan menangis.

Semua orang sama mengertak gigi saking gemasnya melihat kepergian Ong Ling-hoa itu.

"Kenapa kau bebaskan dia, kubenci...."

Seru Jit-jit sambil mengentak kaki.

"Jangan khawatir, jika dapat kutawan dia satu kali, tentu juga dapat kutawan dia untuk kedua kalinya."

"Semoga begitu...."

Mendadak Jit-jit menjerit.

"Wah, celaka, apakah dia mengembalikan anting-antingku kepadamu?"

"Anting-anting apa?"

Tanya Sim Long.

"Anting-anting mutiaraku itu adalah tanda pengenalku untuk mengambil harta bendaku, kini telah dibawanya lari, dengan anting-anting itu dapat dia menarik berpuluh ribu tahil emas, sekali ini kejahatannya pasti akan tambah hebat seperti harimau tumbuh sayap."

Habis berkata segera ia hendak mengejar ke sana. Tapi Sim Long lantas mencegahnya.

"Kenapa kau tahan diriku, masa benar kau bebaskan dia begitu saja?"

Teriak si nona.

"Masa hendak kau suruh kami menjadi manusia yang tidak dapat dipercaya dan suka menjilat ludahnya sendiri?"

Kata Sim Long. Jit-jit melengak dan menghela napas, mendadak ia tuding Pek Fifi dan mengomel.

"Kau, semuanya gara-garamu sehingga jahanam itu dibebaskan. Sim Long, sungguh aku tidak mengerti mengapa kau bebaskan penjahat yang tak terampunkan itu."

"Apakah kita dapat menyaksikan Fifi menjadi korban kejahatannya?"

Ujar Sim Long, untuk pertama kalinya senyumannya yang khas itu lenyap dari wajahnya.

Terpaksa Jit-jit hanya menggigit bibir dengan menahan rasa dongkol, ia tidak berani bicara lagi.

Kim Bu-bong berkata.

"Sungguh aku tidak mengerti, Sin-sian-it-jit-cui adalah obat bius yang sangat mujarab, entah kenapa keparat itu sanggup menawarkannya dan melarikan diri."

"Hal ini adalah salah... salahku,"

Tutur Fifi dengan menangis.

"Salahmu?"

Kim Bu-bong menegas.

"Tadi dia duduk tenang di tempatnya, mendadak ia merintih, seperti sangat tersiksa,"

Tutur Fifi.

"Aku tidak sampai hati, kutanya dia sebab apa, dia bilang... bilang...."

"Bilang apa?"

Tanya Kim Bu-bong.

"Dia bilang sejak kecil mengidap penyakit aneh, bila kumat lantas kesakitan setengah mati,"

Tutur Fifi dengan air mata berlinang.

"Kutanya dia adakah obat yang dapat mengurangi rasa sakitnya, dia lantas minta kuambilkan obat yang tersimpan di dalam sebuah kotak kecil di laci meja...."

"Dan kau lakukan permintaannya?"

Seru Jit-jit khawatir.

"Aku tidak tega melihat dia tersiksa rasa sakit, maka kulakukan apa yang dimintanya, siapa tahu... siapa tahu sejenak setelah dia minum obat, sekonyong-konyong ia melompat bangun."

"Memang seharusnya kupikirkan kemungkinan ini,"

Kata Kim Bu-bong dengan menyesal.

"Jika keparat itu mempunyai obat penawar bagi obat bius buatan keluarga Suto yang istimewa itu, tentu juga dia mampu menawarkan obat biusku."

"Tapi aku... aku tidak tahu, aku cuma kasihan padanya, maka...."

"Hm, baik benar hatimu,"

Jengek Jit-jit.

"Hal ini tak dapat menyalahkan dia,"

Ujar Sim Long.

"Wataknya memang lembut dan berhati welas asih, dia tidak tega melihat orang lain sengsara...."

"Tidak dapat menyalahkan dia, apakah mesti menyalahkan aku?"

Teriak Jit-jit penasaran.

"Kau tahu betapa aku dibikin susah oleh Ong Ling-hoa.... Hm, apakah pernah kau pikirkan diriku...."

Mendadak ia pun menjatuhkan diri ke tanah dan menangis.

Semua orang jadi serbasalah menyaksikan kedua anak perempuan yang menangis itu.

Pada saat itulah sekonyong-konyong angin meniup kencang, mendadak gumpalan asap menerjang masuk terbawa angin, terbawa pula hawa panas menyengat badan.

"Celaka, kebakaran!"

Seru si Kucing.

"Cepat terjang keluar!"

Kata Sim Long.

"Jangan kalian tinggalkan kami di sini!...."

Teriak Kim Put-hoan dengan khawatir.

"Pengecut!"

Damprat Kim Bu-bong.

"plak" , ia gampar orang satu kali, tapi akhirnya diangkatnya juga tubuh orang, juga Lian Thian-hun dikempitnya.

"Lepaskan, mati pun aku tidak sudi kau tolong,"

Teriak Lian Thian-hun.

"Justru akan kuselamatkan dirimu, kau bisa apa?"

Jengek Kim Bu-bong. Dengan sendirinya Lian Thian-hun tidak bisa apa-apa, terpaksa ia tutup mulut.

Jilid 16 Dalam pada itu Sim Long lantas mengangkat Leng Toa, Li Tiang-ceng dan Thian-hoat Taysu bertiga, serunya.

"Him-heng, hendaknya kau ...."

"Kutahu!"

Jawab si Kucing dengan menyengir, terpaksa ia yang mengangkat Pek Fifi dan Cu Jit-jit. Tapi Jit-jit lantas meronta dan melepaskan diri, katanya.

"Aku dapat berjalan sendiri, jangan khawatir, tidak nanti kumati terbakar."

Baca Juga: Pedang Hati Suci 4

Baca Juga: Si Angin Puyuh Si Tangan Kilat 1

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert