Ceritasilat Novel Online

Pendekar Baja 4

Eps 4 Pendekar Baja - Gu Long

Baca online Pendekar Baja - Gu Long

Cersil Pendekar Baja - Gu Long.

Baru saja dia membentak, tahu-tahu si nyonya baju hijau menubruk tiba pula dan melancarkan jurus kedua, yang diincar adalah bagian berbahaya di bawah perut, jurus serangan ini lebih keji lagi, saat itu badan si Kucing lagi doyong ke belakang, tenaga belum sempat dikerahkan, maka nyonya baju hijau yakin jurus kedua ini pasti akan menamatkan riwayat lawan.

Di luar tahunya, kekuatan fisik si Kucing sungguh tak terbayang oleh siapa pun, tenaga murni tubuhnya ternyata bagai arus air yang mengalir tak terputus-putus.

Dia menarik napas, dengan tangkas ia menyurut mundur beberapa kaki pula, begitu dia kerahkan tenaga pada tungkak kakinya, mendadak dia melompat ke udara, sekali berjumpalitan kembali ia berada lagi di hadapan si nyonya berbaju hijau.

Jilid 10 Bukan saja mampu meluputkan diri dari dua jurus serangan keji, gerak-gerik lawan ternyata juga aneh dan lincah, mau-tidak-mau si nyonya tampak gugup, bentaknya beringas.

"Masih ada sejurus, sambutlah!"

Kembali telapak tangannya didorong perlahan, gayanya mirip jurus pertama tadi. Si Kucing menjengek.

"Tadi sebetulnya sudah cukup tiga jurus, tapi apa alangannya aku mengalah sejurus lagi."

Beberapa patah kata ini tidak pendek, tapi selesai diucapkannya, pukulan telapak tangan si nyonya baju hijau juga baru mencapai setengah jalan, si Kucing berdiri sekukuh gunung, bola matanya menatap tajam seperti mata harimau, siap menunggu serangan lawan dan segera akan melancarkan serangan balasan mematikan.

Terdengar nyonya berbaju hijau menghardik.

"Kena!"

Telapak tangan berhenti bergerak, tapi kaki kanan mendadak melayang, menendang selangkangan.

Jurus serangan yang tak terduga oleh lawan, namun si Kucing masih sempat berkelit meski agak kelabakan.

Mendadak lengan baju si nyonya mengebas, puluhan bintik sinar lembut menyambar keluar dan berkembang melebar, tiga tombak di kanan-kiri si Kucing terjangkau oleh bintik sinar kemilau itu, betapa pun tinggi kungfu si Kucing, kali ini jelas tak mampu menyelamatkan diri dari am-gi atau senjata rahasia yang ganas ini.

Anak buahnya baru saja bersorak girang ketika melihat si Kucing berhasil meluputkan diri dari serangan berbahaya lawan, kini melihat pemimpin mereka terancam bahaya pula, semuanya menjerit kaget dan khawatir.

Pada detik yang menentukan itulah, buli-buli arak di tangan si Kucing mendadak berputar, puluhan bintik sinar kemilau yang berkembang di udara itu laksana rombongan lebah sekaligus meluncur ke dalam sarangnya, seluruhnya tersedot oleh buli-buli itu.

Nyonya baju hijau terperanjat, sebaliknya anak buah si Kucing berkeplok girang.

Si Kucing menegakkan badan sambil bergelak tertawa, katanya.

"Senjata rahasia keji, tangan yang ganas, untung berhadapan dengan si Kucing, kakek moyangnya ahli antiberbagai am-gi dari segenap perguruan di dunia ini."

Gemetar suara si nyonya baju hijau.

"Kau ... dari mana kau peroleh buli-buli ini?"

Si Kucing tertawa, katanya.

"Tidak perlu kau urus, sambutlah sejurus seranganku!"

Di tengah gelak tertawanya, buli-buli mendadak menghantam dengan dahsyatnya. Cepat si nyonya baju hijau menyurut mundur beberapa langkah dan tidak balas menyerang. Si Kucing tertawa.

"Eh, kenapa berhenti, ayolah serang pula."

Mendelik benci si nyonya baju hijau, desisnya sambil mengertak gigi.

"Tak nyana hari ini aku bertemu dengan kau .... Buli-bulimu itu ...."

Setelah mengentak kaki ia menambahkan.

"Sudahlah."

Segera dia berputar hendak lari.

"Masa mau pergi begitu saja,"

Si Kucing mencemooh, sinar kemilau berkelebat, golok pendek tercabut dari pinggangnya, cahaya lembayung mendadak mencegat jalan pergi si nyonya baju hijau.

Merah mata si nyonya baju hijau, mendadak dia angkat Pek Fifi yang dikempitnya terus diangsurkan ke arah golok.

Keruan si Kucing terkejut, lekas dia menarik golok dan menangkap tubuh Pek Fifi, dalam sekejap itu si nyonya berbaju hijau sudah melesat pergi beberapa tombak jauhnya, sekali melejit pula, bayangannya lantas lenyap.

***** Go-losi sedang mengayun langkah menyusuri jalan, mendadak dilihatnya kedua "kambing gemuk"

Yang banyak uang kertas itu sedang tanya ini-itu kepada seorang lelaki di bawah pohon sana.

Wajah orang yang lebih tua itu tampak kaku dingin, wajahnya aneh dan seram, sepintas pandang bentuknya seperti mayat hidup, siapa pun yang melihatnya pasti mengirik.

Sementara yang lebih muda bersikap ramah santai dan gagah, ujung mulutnya mengulum senyum, berhadapan dengan dia siapa pun akan merasa sejuk seperti melihat bunga mekar di musim semi, ingin rasanya berkenalan dan bersahabat dengan dia.

Tergerak hati Go-losi, pikirnya.

"Him-toako sedang mencari mereka, mungkin mereka juga sedang mencari Him-toako, sungguh kebetulan, sayang orang yang ditanya bukan saudara anggota kita."

Segera dia menghampiri dengan langkah lebar, sapanya dengan tertawa.

"Apakah kalian sedang mencari orang?"

Orang yang sedang bertanya pada lelaki di bawah pohon memang betul Kim Bu-bong dan Sim Long, sesaat mereka mengawasi Go-losi, sorot mata Sim Long tampak cerah, katanya dengan tertawa.

"Orang yang kami cari, apakah Saudara mengenalnya?"

"Coba kalian jelaskan siapa yang kalian cari?"

Tanya Go-losi. Kucing kemala segera dikeluarkan oleh Sim Long dan diangsurkan ke depan Go-losi, katanya dengan tertawa.

"Orang yang memiliki mainan kucing ini."

Go-losi tertawa, segera dia ulur tangan hendak mengambil kucing kemala itu, tapi Sim Long lantas menarik tangannya, Go-losi jadi menyengir katanya.

"Kalau kalian mencari orang lain, mungkin Siaute tidak mengenalnya, tapi pemilik kucing kemala ini ...."

"Kau kenal dia? Di mana dia sekarang?"

Tanya Sim Long.

"Silakan ikut padaku,"

Kata Go-losi, ia putar tubuh terus melangkah pergi.

***** Musim dingin siang lebih pendek, malam datang lebih cepat.

Api unggun dalam kuil bobrok itu tampak berkobar, di atas dinding menyala pula lima batang obor, kuil bobrok yang terpencil ini jadi terasa hangat.

Si Kucing sedang duduk di atas sebuah kasur bundar sambil bertopang dagu mengawasi kedua perempuan buruk rupa yang berada di samping api unggun.

Terasa olehnya ada sesuatu yang kurang beres pada kedua perempuan ini, walau sejauh ini dia belum menyadari bahwa kedua perempuan buruk ini telah diproses sedemikian rupa oleh tangan seorang ahli hingga bentuk wajahnya berubah sama sekali dari aslinya.

Ilmu rias keluarga Suto memang hebat luar biasa.

Terasa pula oleh si Kucing kedua perempuan ini seperti ingin melimpahkan banyak persoalan yang mengganjal hatinya, tapi tak mampu buka suara, maka sorot matanya saja yang berbicara, sorot mata mereka tampak gelisah, mendesak namun juga malu-malu di samping senang pula.

Tak terpikir oleh Cu Jit-jit bahwa nasib manusia memang serbaaneh, orang yang menolong dan membebaskan dia dari belenggu iblis ternyata adalah pemuda bajingan yang pernah dibencinya, sedangkan Sim Long ...

ai, entah di mana Sim Long sekarang.

Buli-buli arak yang serbaguna itu ternyata berada dekat lutut si Kucing, di sekitar perut buli-buli yang gendut itu penuh menemplek jarum lembut yang runcing mengilap seperti dilem saja lengket di atasnya, di bawah pancaran cahaya api, jarum-jarum itu tampak berkilau biru.

Pandangan si Kucing beralih ke arah buli-buli araknya, lalu dengan sepotong kayu kecil dia cungkil sebatang jarum serta diperiksanya dengan saksama, mendadak air mukanya berubah kelam.

Pada saat itulah Go-losi menerobos masuk seraya berseru.

"Toako, Siaute membawa tamu untukmu."

"Siapa?"

Tanya si Kucing dengan berkerut kening.

Sembari bicara dia membalik badan, maka dilihatnya Kim Bu-bong dan Sim Long melangkah masuk.

Wajah Kim Bu-bong tetap kaku masam, sedang Sim Long tetap tersenyum ramah.

Sim Long angsurkan batu kemala itu dengan kedua tangan, si Kucing menerima dengan kedua tangan pula, sepatah kata pun kedua orang ini tidak berucap, hanya sama tersenyum saja, namun segala perasaan hati masing-masing sudah terjalin dalam senyum persahabatan ini.

Sim Long keluarkan pula batu mainan kalung.

Melihat Sim Long muncul, jantung Cu Jit-jit terasa berhenti berdetak, begitu melihat mainan kalung bundar itu, seketika pipi terasa panas jengah.

Dilihatnya si Kucing ulur tangan hendak menerima mainan kalung itu, tapi Sim Long tidak memberikannya.

Si Kucing tertawa, katanya.

"Kalau tidak salah, mainan kalung ini juga milikku bukan?"

Sim Long tersenyum, ucapnya.

"Apakah Saudara sudah periksa ukiran dua huruf di atas mainan kalung ini?"

"Sudah tentu sudah, dua huruf ukiran itu berbunyi 'Sim Long'."

"Apakah Saudara tahu apa arti kedua huruf ini?"

Berkedip mata si Kucing, katanya.

"Sudah tentu tahu, Sim Long adalah nama seorang gadis kenalan baikku, untuk mengenangnya, maka kuukir namanya di atas mainan kalung itu supaya tak terlupakan seumur hidup."

Sudah tentu Cu Jit-jit merasa geli mendengar percakapan mereka itu dan juga mendongkol, batinnya.

"Pemuda ini memang bajingan tengik, untuk mengangkangi mainan kalung, tak segan-segan dia membual, ceritanya seperti benar-benar terjadi."

Sim Long juga tertawa geli, katanya.

"Kalau demikian, aku inilah gadis pacarmu itu."

Keruan si Kucing melongo, katanya.

"Hah, apa ... apa artinya ini?"

"Kedua huruf Sim Long itu sebenarnya adalah namaku."

Sesaat si Kucing berdiri melenggong, mukanya agak merah, tapi kejap lain dia tertawa keras, katanya.

"Bagus, bagus, main copet aku kalah, menipu aku pun asor, baiklah, aku mengaku kalah, boleh tidak?"

Terasa oleh Sim Long, meski pemuda ini bajingan tengik, tapi sifatnya yang polos dan jenaka, tutur katanya yang lucu sungguh menyenangkan.

Setelah reda gelak tawa si Kucing, tiba-tiba ia berkerut kening, katanya.

"Tapi menurut apa yang kuketahui, mainan kalung ini juga bukan milikmu, mana mungkin mainan kalung ini berukir namamu? Mungkin ... mungkinkah nona itu adalah ... adalah kau punya ...."

"Betul,"

Tukas Sim Long cepat.

"nona itu memang teman baikku, kedatanganku ini juga untuk mencarinya, mohon Saudara sudi memberitahukan di mana jejaknya."

Si Kucing tidak segera menjawab, lama dia menatap Sim Long, mulutnya bergumam.

"Bahwa nona itu mengukir namamu di atas mainan kalung yang selalu dipakainya, dia pasti amat mencintaimu .... Ah, bagus sekali ... ai."

Mengerling bola mata Sim Long, sebagai pemuda yang berpengalaman, sekali pandang dia tahu pemuda ini pasti juga jatuh hati kepada Cu Jit-jit yang binal itu sehingga sikapnya sekarang kelihatan linglung.

Karena itu tambah besar keyakinannya bahwa pemuda ini pasti tahu jejak Cu Jit-jit, maka dia berdehem perlahan, lalu bertanya pula.

"Nona itu ...."

Si Kucing tersentak, katanya dengan menyengir.

"O, aku sendiri hanya sekali melihat nona itu, mainan kalung ini juga kutemukan pada waktu itu, sejak itu aku tidak pernah melihatnya lagi."

Setelah menghela napas, lalu ia menyambung.

"Bicara terus terang, selama beberapa hari ini aku mondar-mandir sibuk mencari jejaknya pula, tapi agaknya dia menghilang, ada orang bilang dia diculik Toan-hong-cu."

Sim Long menatapnya lekat-lekat, terasa apa yang diucapkannya memang tidak bohong, sumber penyelidikannya akan jejak Cu Jit-jit jadi terputus pula.

Sambil menunduk dia menghela napas.

Tentu saja Jit-jit yang berada di samping api unggun gelisah setengah mati.

Ingin rasanya dia berteriak.

"Tolol! Kalian semua lelaki tolol, aku berada di sini, memangnya kalian buta semuanya?"

Pek Fifi yang berada di sampingnya malah kelihatan tenang dan adem ayem saja.

Sejak masuk tadi pandangan Kim Bu-bong lantas tertuju ke arah buli-buli arak, diamati sedemikian teliti, sorot matanya terunjuk rasa heran dan kaget, kini mendadak dia bertanya.

"Buli-buli arak ini kau peroleh dari mana?"

Senyum misterius menghias mulut si Kucing, ia tidak menjawab, tapi balas bertanya.

"Apakah tahu asal usul buli-buli arak ini?"

Kim Bu-bong mendengus.

"Kalau tidak tahu buat apa tanya."

"Kalau tahu asal usulnya, maka sepantasnya tidak perlu kau tanya."

Kembali Kim Bu-bong mendengus, tapi tidak tanya lebih lanjut.

Mendengar tanya-jawab kedua orang seperti main teka-teki, tertarik juga perhatian Sim Long, sorot matanya pun beralih pada buli-buli itu, hanya beberapa kejap, sorot matanya mendadak mencorong terang.

Kim Bu-bong bertanya pula.

"Apakah kau pernah bergebrak dengan seorang nyonya berbaju hijau?"

Si Kucing tetap tidak menjawab, malah balas bertanya.

"Kau mengenalnya?"

Kim Bu-bong gusar, serunya.

"Sebenarnya aku yang tanya padamu atau kau yang tanya padaku?"

Si Kucing bergelak, katanya.

"Memang tidak pantas aku tanya hal ini. Jika kau tidak kenal dia buat apa kau tanya padaku? Benar, aku memang sudah bergebrak dengan dia."

Ia menatap tajam Kim Bu-bong, katanya pula.

"Bukan saja aku sudah bergebrak dengan dia, malah aku pun tahu dia adalah keturunan keluarga Suto. Kedua ... kedua gadis di samping api unggun itu berhasil kurebut dari dia, demikian pula am-gi yang lengket pada buli-buli arakku itu adalah am-gi khas keluarga Suto."

Berubah air muka Kim Bu-bong, dia memburu ke samping api unggun, lalu membungkuk dan memeriksa. Pek Fifi ngeri melihat wajahnya, sebaliknya Cu Jit-jit balas menatapnya dengan tajam.

"Kecuali kepandaian am-gi,"

Demikian ujar si Kucing.

"ilmu rias keluarga Suto juga merajai dunia Kangouw, tapi aku tidak bisa membedakan apakah kedua orang ini pernah dirias atau tidak ...."

Kim Bu-bong menjengek.

"Kalau dapat kau bedakan, memangnya ilmu rias macam apa jadinya."

Tergerak hati Sim Long, katanya mendadak.

"Saudara memiliki buli-buli besi sembrani 'Kian-kun-it-tay-ceng' yang terbuat dari baja murni Laut Timur, khusus untuk mematahkan serangan berbagai am-gi, tentunya kau pun pernah mempelajari cara memudarkan ilmu rias keluarga Suto, entah sudi kiranya Saudara menunjukkan keahlianmu untuk memulihkan wajah asli kedua nona itu."

Si Kucing tertawa, katanya.

"Ternyata kau pun tahu Kian-kun-it-tay-ceng segala, sayang sekali aku tidak mempunyai keahlian seperti apa yang Saudara harapkan. Umpama betul kedua nona ini berwajah secantik bidadari juga kita takkan punya kesempatan untuk melihat wajah asli mereka."

Tiba-tiba Go-losi menyeletuk.

"Kenapa susah-susah memudarkan rias orang? Akan kuambilkan air untuk mencuci mukanya, kalau tidak bisa hilang, masih bisa dikerik dengan pisau, kan beres."

Si Kucing tertawa geli, katanya.

"Kalau urusan semudah apa yang kau bilang, bukankah ilmu rias keluarga Suto akan mirip make-up para pemain sandiwara di atas panggung. Padahal ilmu rias keluarga Suto tersohor di seluruh jagat, masa kau anggap sepele saja dan bisa dikerik dengan pisau segala, jika kulit muka mereka sampai tergores luka, lalu siapa akan bertanggung jawab?"

Go-losi menyengir dan tidak berani bersuara lagi. Sebaliknya Cu Jit-jit yang mendengar percakapan mereka menjadi gelisah dan jengkel pula. Ingin rasanya dia menggembor.

"Boleh kalian mengerik mukaku dengan pisau, umpama kulit mukaku rusak juga tidak menjadi soal ...."

Kim Bu-bong menatap mata Jit-jit, katanya kemudian.

"Bukan saja wajah nona ini sudah dioperasi, malah ia pun dicekoki obat bisu dan lumpuh oleh Suto Pian, kulihat banyak persoalan yang ingin dia katakan, sayang mulutnya tidak bisa bersuara ...."

Mendadak si Kucing lari ke sana dan mendapatkan sebuah baskom pecah, diisi dengan abu, lalu ditaruh di depan Cu Jit-jit, dicarinya pula sepotong kayu dan disisipkan pada tangan Jit-jit.

Seketika mata Cu Jit-jit memancarkan rasa gembira.

Si Kucing berkata.

"Tentu kau dengar pembicaraan kami, maka apa yang ingin kau katakan boleh kau tulis di atas abu dengan kayu ini ...."

Tanpa menunggu selesai bicaranya, dengan tangan gemetar Jit-jit siap menulis, ia pikir siksa derita segera akan berakhir, betapa senang dan haru hatinya dapatlah dibayangkan.

Siapa tahu tenaga untuk menulis saja tidak ada, semula dia hendak menulis nama sendiri, ternyata ranting kecil itu hanya mengoret-oret tak keruan di permukaan abu, huruf apa yang ditulis tidak bisa dibaca.

Lebih celaka lagi ranting kayu yang dipegang itu akhirnya pun terlepas, keruan hati Jit-jit keki, dongkol, dan gugup setengah mati, ingin rasanya ia tebas kutung saja tangan sendiri.

Dia ingin mencakar wajah sendiri, tapi tidak bertenaga, ingin dia menggigit putus lidah sendiri juga tidak mampu menggigitnya, dia ingin menjadi gila namun bagaimana caranya menjadi gila ia pun tidak tahu.

Sampai ingin menangis tergerung-gerung juga tidak mampu, terpaksa dia hanya bisa membiarkan air mata meleleh di pipinya.

Sim Long, Kim Bu-bong, dan si Kucing saling pandang, akhirnya mereka menghela napas panjang, demikian pula anak buah si Kucing yang menyaksikan juga ikut terharu dan gegetun.

Kata si Kucing setelah menghela napas.

"Akan kucoba yang satu ini ...."

Pek Fifi juga tidak mampu bersuara, namun badannya tidak lunglai, maklum, dia dianggap gadis lemah yang tidak tahan embusan angin kencang, maka si nyonya baju hijau tidak mencekoki obat bisu dan melumpuhkan badannya.

Begitu si Kucing taruh baskom abu di depannya dia lantas menulis perlahan.

"Aku bernama Pek Fifi, gadis sebatang kara yang hidup menderita, entah mengapa nyonya galak dan sadis itu menculikku dan menyiksaku begini rupa."

Si Kucing manggut-manggut dan berkedip-kedip, tanyanya mendadak.

"Apakah sebelum ini kau berparas cantik?"

Sorot mata Pek Fifi mengunjuk rasa malu, ranting kayu digerakkan, tapi tak mampu menulis lagi. Si Kucing tertawa, katanya.

"Kalau demikian, dugaanku pasti tidak salah lagi. Nona yang senasib dengan kau ini, apakah dia juga cantik jelita? Siapa namanya?"

Pek Fifi menulis.

"Aku tidak mengenalnya, juga belum pernah melihat wajah aslinya."

Si Kucing termenung sejenak, katanya.

"Kalau begitu, dia tersiksa lebih dulu daripadamu?"

Pek Fifi menulis pula;

"Betul, semula aku pun kasihan padanya, tak tahunya aku ...."

Dia tidak meneruskan tulisannya, tapi orang lain sudah tahu maksudnya. Tampak air matanya berlinang, tak tertahan akhirnya dia menangis juga. Si Kucing menoleh dan berkata.

"Sekarang baru kutahu nyonya jahat itu akan menculik gadis-gadis cantik ini ke suatu tempat yang jauh, khawatir di tengah jalan kurang leluasa, maka mereka dipermak menjadi sejelek ini."

Sim Long menghela napas sambil mengangguk, batinnya.

"Selain cekatan, daya tangkap dan pikiran pemuda ini juga dapat bekerja cepat."

Si Kucing berkata lebih lanjut.

"Asalnya mereka adalah gadis jelita, kita tidak boleh berpeluk tangan melihat nasib mereka yang jelek ini, apa pun kita harus berdaya untuk memulihkan wajah asli mereka."

Kim Bu-bong diam saja tanpa komentar.

"Apa daya?"

Ucap Sim Long sambil menghela napas.

"Kecuali kita bekuk murid keluarga Suto itu ...."

Sejenak si Kucing berpikir, lalu katanya dengan tertawa.

"Di kota Lokyang ada seorang temanku, walau usianya masih muda, tapi bun-bu-siang-coan (serbamahir ilmu sastra dan ilmu silat), juga mahir pengobatan dan berbagai kepandaian yang aneh, kalau kita mencarinya dan minta tolong, mungkin dia bisa membantu."

Sim Long tertawa, katanya.

"Kalau betul ada orang sepandai itu, aku ingin menemuinya, kebetulan aku juga akan menyelesaikan suatu urusan di kota Lokyang, cuma ... apakah Saudara ada hubungan baik dengan dia?"

"Orang itu selain pemabukan, juga gemar paras ayu, sifatnya cocok dengan aku, bila kita pergi mencarinya, kuyakin dia pasti banyak mengeluarkan biaya."

Tidak kepalang sedih hati Cu Jit-jit, ia tidak lagi memerhatikan percakapan mereka lebih lanjut, dia cuma merasakan dirinya diangkut ke atas kereta, dia tidak tahu ke mana dirinya akan dibawa oleh orang-orang ini.

Di dalam kereta ada seorang bocah yang dikenalnya, namun bocah ini tidak mengenalnya lagi, duduknya juga menyingkir jauh ke sana dan tidak mau berdekatan dengan dia.

Dengan sepotong kain si Kucing menutup kabin kereta, kuda penarik kereta dipecut supaya lari lebih kencang menuju ke kota Lokyang.

Tengah malam buta kereta kuda ini menempuh perjalanan, setiba di Lokyang hari pun menjelang fajar.

Mereka harus menunggu kira-kira satu jam baru pintu kota terbuka.

Kim Bu-bong menjalankan keretanya masuk ke kota.

"Masih sepagi ini, apa enak mengganggu orang?"

Ujar Sim Long. Si Kucing tertawa, katanya.

"Di kota Lokyang ini, aku masih punya teman lain, pintu besar rumahnya sepanjang tahun tidak pernah tertutup, siapa pun dan kapan pun datang ke rumahnya tanggung takkan kelaparan dan kedinginan."

"Apa betul ada orang sebaik itu?"

Ujar Sim Long. Si Kucing berkeplok dan berseru.

"Orang ini she Auyang dan bernama Hi, hobi satu-satunya adalah berkenalan dengan orang-orang gagah di seluruh jagat, nanti kalian akan membuktikan sendiri."

Mendadak Kim Bu-bong menyeletuk.

"Banyak juga kawanmu!"

Si Kucing tidak bicara lagi dia rebut cemeti terus sabet kuda dan membedal kereta lebih kencang.

Hari masih pagi, jalan raya sangat sepi, maka si Kucing berani melarikan kereta itu sekencang angin.

Mendadak mereka tiba di sebuah persimpangan jalan, suasana di sini ternyata ramai sekali, bau harum bunga semerbak merangsang hidung.

Si Kucing angkat cemetinya seraya berkata.

"Inilah pasar bunga yang terkenal di kota Lokyang, banyak penggemar bunga datang dari tempat ribuan li jauhnya, terutama bunga botan (peoni) dari kota Lokyang terkenal di seluruh jagat."

Sim Long tertawa, katanya.

"Sudah lama kudengar pasar bunga di kota Lokyang yang terkenal ini, hari ini kebetulan berada di sini, pantasnya kubeli beberapa kuntum bunga segar, sayang ... ada maksudku membeli bunga tapi kepada siapa akan kupersembahkan bunga itu? Biar kutunggu sampai kesempatan lain saja."

Kedua orang ini bergelak dan saling pandang, sementara Cu Jit-jit yang berada di dalam kereta mendengarkan dengan kesima.

Kalau sekarang dia bisa di samping Sim Long, lalu Sim Long turun membeli bunga serta menyelipkan bunga itu di atas sanggulnya, umpama segera dia disuruh mati juga rela.

Padahal dia juga tahu kereta mereka kini sedang lewat pasar bunga, tidak jauh ke depan akan tiba di sarang iblis, di mana Pui Jian-li, Thi Hoat-ho, dan lain-lain tersekap, meski dalam benaknya banyak rahasia yang ingin dibeberkan kepada orang banyak, namun tidak mampu diutarakannya.

Pada saat itulah mendadak dua kereta harum yang ditarik dua ekor kuda putih datang dari depan, langsung dilarikan ke dalam pasar bunga.

Lentera perunggu yang terpasang di depan kereta tampak mengilap, terdengar suara merdu percakapan nona jelita laksana kicau burung, terkadang tampak wajah cantik mengintip di balik tabir.

Kebetulan angin berembus dan menyingkap tabir, tanpa sengaja Cu Jit-jit melirik ke sana, seketika jantungnya berdetak, kereta yang ditarik kuda putih itu bukankah kereta iblis yang hari itu memuat Thi Hoat-ho dan lain-lain masuk ke kota ini.

Terdengar Him Miau-ji atau si Kucing bergelak tertawa dan berseru.

"Haha, cantik molek berkereta harum, entah siapa gerangan yang akan tergiur, tampaknya hasratku terpaksa akan hanyut terbawa arus."

"Ah, janganlah Anda bicara demikian, apakah si cantik takkan marah bila mendengar celotehmu?"

Ucap Sim Long dengan tertawa.

"Kau tahu, meski indah bunga ini, apa mau dikata tumbuhnya di dinding tepi jalan, asalkan Anda sudi membayar, dapatlah kupetik bunga itu bagimu, memangnya Anda berminat?"

"Wah, kiranya engkau sudah cukup berpengalaman,"

Ujar Sim Long.

Dan kedua orang lantas saling pandang bergelak tertawa pula.

Cu Jit-jit terkesiap mendengar percakapan mereka.

Apakah mungkin sarang hantu yang banyak mengurung kaum kesatria itu adalah tempat pelesir begituan dari kalangan atas?

Dan para gadis penggembala berbaju putih dan berkepandaian tinggi itu adalah perempuan penghibur di tempat pelesir itu?

Sungguh hal ini sukar dipercaya oleh Jit-jit.

Kereta itu akhirnya tiba di depan pintu gedung yang tak pernah tertutup sepanjang tahun, melihat kedatangan si Kucing, sudah tentu Auyang Hi amat girang, segera ia siapkan meja perjamuan menyambut kedatangannya.

Tak lupa si Kucing memperkenalkan Sim Long dan Kim Bu-bong, lalu ia sibuk dengan araknya sendiri.

Auyang Hi tertawa, katanya.

"Kau kucing binal ini tampaknya semakin liar, sepanjang tahun sukar melihatmu, hari ini kau datang kemari, kecuali ingin makan, memangnya ada persoalan lain?"

Si Kucing tertawa, omelnya.

"Memangnya kau kira aku kemari hendak makan gratis melulu? Hehe, daging masam dan arak kecut yang kau hidangkan ini kau kira dapat menarik selera kucing liar macam diriku?"

"Kalau kau pergi ke rumah orang lain, mustahil kau tidak diusir,"

Auyang Hi berolok dengan tertawa. Si Kucing taruh cawan araknya, katanya.

"Marilah bicara sesungguhnya, kedatanganku hari ini memang lantaran satu hal, aku ingin bertemu dengan Ong Ling-hoa, apakah belakangan ini dia berada di kota?"

"Beruntung kau, kebetulan dia belum meninggalkan Lokyang,"

Sahut Auyang Hi.

"Bicara tentang dia, aku jadi ingat satu lelucon."

"Ong Ling-hoa memang banyak bikin lelucon, coba ceritakan apa yang membuatmu geli."

Auyang Hi bercerita.

"Beberapa hari yang lalu waktu Leng-jisiansing jual-beli di sini, mendadak muncul seorang gadis jelita dari keluarga kaya raya. Ong-kongcu kita itu tentu saja menggunakan rayuannya untuk memikat nona itu, tak tahunya ...."

Sampai di sini dia sengaja berhenti. Si Kucing tidak tahan, tanyanya.

"Tak tahunya bagaimana?"

Auyang Hi tertawa, katanya.

"Begitu melihat dia, nona itu seperti melihat setan, tanpa menoleh terus lari terbirit-birit. Hal ini mungkin belum pernah terjadi selama hidupnya, Keh-pak-bwe yang beruntung, semula dia sudah jual seorang pelayan kepada nona itu, karena si nona lari, dalam keadaan kacau Keh-pak-bwe membawa lari pula pelayan itu."

Si Kucing bergelak tertawa, baru dia ingin tanya siapakah nona itu, ternyata Sim Long sudah mendahului bertanya.

"Leng-jisiansing tersebut apakah ada hubungan dengan Jin-gi-ceng?"

"Benar,"

Ujar Auyang Hi dengan menghela napas.

"demi mempertahankan berdirinya Jin-gi-ceng, Leng-jisiansing boleh dikatakan telah bekerja mati-matian, memangnya siapa orang Kangouw yang tidak tahu cara berdagang Leng-jisiansing tiada keduanya di dunia ini. Dalam setahun entah berapa banyak keuntungan yang berhasil dikeduknya, namun seluruh keuntungan itu dia serahkan kepada Jin-gi-ceng, awak sendiri hidup sederhana, kapan dia pernah berpakaian perlente dan makan enak, sepanjang tahun dia selalu mengenakan jubah biru, bagi yang tidak mengenalnya pasti menyangka dia seorang siucay rudin."

Sim Long kagum, katanya dengan hormat.

"Siapa nyana Leng bersaudara adalah kesatria gagah yang patut dibuat teladan."

Belum habis dia bicara, dari luar pekarangan mendadak berkumandang gelak tertawa seorang. Terdengar suara seorang pemuda berkata.

"Auyang-heng, terlalu kacungmu, aku sedang mendengkur, dia bilang ada seekor kucing menerobos ke sini dan minta aku mengusirnya, kau tahu aku mampu menundukkan naga dan membekuk harimau, tapi setiap kali melihat kucing kepalaku lantas pusing."

Seorang pemuda berpakaian perlente tampak masuk sambil tertawa riang.

Mendadak si Kucing membentak sambil melayang maju dan turun di depan si pemuda, dia jambret baju orang seraya memaki dengan tertawa.

"Pembual macam dirimu, kecuali main sambar sini dan comot sana (maksudnya main perempuan) apa pula kemahiranmu, berani mengaku pandai menundukkan naga dan membekuk harimau segala."

"Wah, celaka,"

Ujar pemuda itu tertawa.

"kucing ini semakin liar."

Si Kucing bersuara lantang.

"Belakangan ini berapa banyak pula cewek yang berhasil kau gaet? Ayo lekas mengaku."

Pemuda itu masih ingin balas berolok, sekilas dilihatnya Kim Bu-bong dan Sim Long, segera dia menghampirinya dengan langkah lebar, katanya dengan tertawa sambil menjura.

"Kedua Saudara ini jelas bukan orang biasa. Auyang-heng, kenapa tidak lekas kau perkenalkan mereka kepadaku."

Agaknya Auyang Hi kelupaan karena mendengarkan selorohnya dengan si Kucing hingga tidak ingat lagi nama Sim Long dan Kim Bu-bong, terpaksa dia berkata.

"Inilah Kim-tayhiap dan Sim-siangkong, Saudara ini adalah Ong Ling-hoa, Ong-kongcu, kalian bertiga seperti naga di antara manusia, selanjutnya silakan bersahabat."

Kim Bu-bong hanya mendengus, sedang Sim Long balas menghormat dengan tertawa. Maka semua orang lantas menempati kursinya masing-masing, kembali senda gurau terjadi. Auyang Hi berkata pula.

"Ong-heng, kucing liar ini sebetulnya ingin mencarimu tapi tidak mau bilang untuk urusan apa, sekarang boleh kau tanya dia."

Ong Ling-hoa tertawa.

"Bila dicari kucing liar biasanya tidak pernah ada urusan enak, tak heran beberapa hari ini burung gagak selalu berkaok di luar jendelaku, pepatah memang benar, kalau badan lagi apes, menutup pintu duduk dalam rumah, bencana tetap menimpa dari langit."

Him Miau-ji alias si Kucing tertawa, katanya.

"Kali ini kau salah terka. Kedatanganku ini bukan untuk minta uang atau ingin minum arak, tapi kuantar dua gadis jelita kemari supaya kau lihat dan menilainya."

Diam-diam Sim Long tertawa dan membatin.

"Si Kucing ini kelihatan kasar, tapi cara kerjanya ternyata cukup rapi dan memakai otak, lebih dulu ia gelitik hati orang, kemudian baru memancingnya."

Ong Ling-hoa lagi tertawa, katanya.

"Masa ada urusan baik kau mau mencari aku, gorok leher pun aku tidak percaya, kedua cewek jelita itu boleh kau pandang sendiri saja, terima kasih atas kebaikanmu."

"Dasar manusia rendah,"

Maki si Kucing dengan tertawa.

"masa menilai diriku dengan hati busukmu, kini kedua cewek jelita sudah kubawa kemari, mau-tidak-mau kau harus memeriksanya, cuma ...."

Ia berkedip-kedip dan tidak melanjutkan ucapannya.

"Aku tahu setiap kali matamu melek-merem pasti sedang merangkai akal bulus, agaknya akal bulusmu sudah berhasil memancing hasratku, hendaklah kau lanjutkan uraianmu supaya orang lain tidak gelisah menunggu."

Sim Long dan Auyang Hi tertawa geli. Si Kucing lantas berkata.

"Cuma untuk melihat kedua cewek menggiurkan ini, kau perlu menggunakan keahlianmu."

"Dengan keahlian apa baru aku bisa melihatnya?"

Tanya Ong Ling-hoa.

"Coba jelaskan dulu, kecuali main golok dan memutar tombak, menggosok tinta dan menggerakkan pensil, meniup seruling, bernyanyi, meramal dan menujum serta memberi obat pada orang yang sakit perut, apa pula keahlianmu?"

"Memangnya semua itu belum cukup?"

Tanya Ong Ling-hoa dengan tertawa.

"Belum cukup, malah ketinggalan jauh,"

Ujar si Kucing. Ong Ling-hoa menggeleng kepala, katanya.

"Kau ini memang bajingan, sayang aku tidak tahu bagaimana tampang bapakmu, kalau tidak, tentu aku akan menyamar menjadi beliau untuk menghajar adat kepada putra kurang ajar macam dirimu ini."

"Nah, itulah yang kumaksudkan?"

Seru si Kucing mendadak sambil menggebrak meja.

"Itu apa?"

Ong Ling-hoa dan Auyang Hi sama melengak.

"Bukankah kau pun mahir ilmu rias, betul tidak?"

Tanya si Kucing.

"Hehe, jangan geleng kepala, barusan kau sudah omong sendiri, mau mungkir juga sudah kasip."

"Memangnya kenapa?"

Tanya Ong Ling-hoa sambil menyengir. Si Kucing menjelaskan.

"Kedua nona ini telah dipermak sedemikian rupa oleh seorang sehingga wajah aslinya yang jelita menjadi seburuk setan, jika kau mampu mengembalikan wajah asli mereka, aku baru betul-betul menyerah kepadamu."

"Siapa sih kedua nona itu?"

Tanya Ong Ling-hoa.

"Wah, aku sendiri kurang jelas,"

Ucap si Kucing sambil garuk kepala.

"aku hanya tahu satu di antaranya she Pek."

Cahaya mata Ong Ling-hoa seketika guram seperti menghela napas secara diam-diam, gumamnya.

"Kiranya she Pek ...."

Mendadak dia tertawa pula, katanya.

"Terus terang, merias aku hanya mahir sekadarnya saja, kalau aku diharuskan mengubah rupa seorang mungkin aku tidak mampu, tapi untuk mencuci samaran seorang aku dapat mencobanya."

"Itu sudah cukup,"

Seru si Kucing girang.

"lekas ikut padaku." ***** Cu Jit-jit dan Pek Fifi sudah dibawa masuk sebuah kamar yang besar, si Kucing menarik Ong Ling-hoa ke kamar itu, Sim Long dan lain-lain ikut dari belakang. Begitu melihat Ong Ling-hoa, jantung Cu Jit-jit hampir melompat keluar, sungguh mimpi pun tak terbayang olehnya bahwa si Kucing bakal membawa datang iblis laknat yang menakutkan ini. Setelah terjatuh ke tangan si nyonya berbaju hijau, ia merasa pemuda ini tidak lebih menakutkan daripada si nyonya berbaju hijau. Namun sekarang ia baru lolos dari cengkeraman iblis, kini mendadak bertemu lagi dengan pemuda bajul ini, berbagai kejadian yang mengerikan dahulu itu seketika terbayang pula olehnya, terpaksa dia menatap tajam ke arah Sim Long, hanya menatap Sim Long baru rasa takutnya sedikit berkurang, sayang Sim Long tidak balas menatapnya. Terdengar Kucing berkata.

"Lekas kau periksa, apakah wajah mereka ini bisa dicuci bersih?"

Ong Ling-hoa lantas mendekatinya dengan saksama ia memeriksa muka mereka.

Jit-jit amat ngeri tapi juga terharu dan senang, karena ia yakin Ong Ling-hoa pasti punya kepandaian untuk memulihkan wajah aslinya.

Tapi tak terpikir olehnya bahwa takdir telah mengatur nasib seorang secara ajaib, ternyata pemuda bajul ini yang harus menolong dirinya, diam-diam dia mengertak gigi, batinnya.

"Terima kasih kepada Yang Mahakuasa yang telah mengatur secara aneh ini, nanti, bila aku bisa bersuara, segera akan kubongkar rahasianya, coba saja bagaimana reaksinya?"

Khawatir Ong Ling-hoa melihat perasaannya lewat sorot matanya, lekas dia memejamkan mata.

Cukup lama Ong Ling-hoa memeriksa wajah kedua gadis itu dengan teliti, si Kucing dan lain-lain pun menunggu dengan sabar sambil menahan napas.

Akhirnya Ong Ling-hoa menegakkan badan sambil menghela napas, ucapnya.

"Hebat sekali, sungguh karya yang bagus ...."

"Bagaimana?"

Lekas si Kucing tanya.

"Dapat kau tolong mereka?"

Ong Ling-hoa tidak segera menjawab, dia malah berkata.

"Dinilai dari cara operasi wajahnya ini, kelihatannya mirip kepandaian khas keluarga Suto yang jarang diajarkan ...."

Si Kucing tepuk paha, serunya senang.

"Aha, betul, agaknya kau memang boleh ... kalau kau tahu asal-usul ilmu riasnya, tentu kau mampu menghapusnya."

"Aku memang dapat mencobanya, tapi ...."

Setelah menghela napas, ia menyambung.

"orang yang mengoperasi wajah kedua nona ini boleh dikatakan sudah mempraktikkan segala kemampuannya, kedua wajah yang dipermaknya ini sungguh amat bagus, sedikit pun tidak kelihatan cirinya ...."

"Memangnya kenapa kalau begitu?"

Tanya si Kucing.

"Dalam pandangan kalian wajah mereka tentu amat buruk bagai setan, tapi menurut penilaianku justru kedua wajah ini merupakan hasil karya seni terbesar dan terpuji, serupa lukisan antik yang tak ternilai harganya, sungguh aku tidak tega untuk merusak karya seni yang bagus ini."

Sesaat si Kucing melenggong bingung, akhirnya dia tertawa dan memaki.

"Kentut anjing, kentut melulu!"

Ong Ling-hoa menggeleng kepala dan menghela napas, katanya.

"Kau ini orang kasar, mana kau bisa menilai karya seni."

Si Kucing segera meraihnya.

"Karya seni atau kentut anjing aku tidak peduli, aku hanya menuntut supaya kau segera memulihkan wajah asli kedua nona ini, coba katakan, mau tidak?"

"Berhadapan dengan kucing liar macammu ini, sungguh serbarunyam, tapi lepaskan dulu tanganmu."

Si Kucing tertawa sambil melepaskan pegangannya, katanya.

"Masih ada, kedua orang ini terbius hingga lumpuh dan bisu, bahwa kau pun ahli pengobatan, kuyakin kau pun bisa menyembuhkan mereka."

Ong Ling-hoa berpikir sejenak, katanya.

"Wah ... baiklah akan kucoba, bahwa aku harus memeras keringat, kalian pun jangan menganggur, bila aku minta bantuan kalian, siapa pun tidak boleh menolak."

Sembari bicara seperti tidak sengaja ia mengerling Sim Long sekejap. Sim Long tertawa, katanya.

"Bila diperlukan tenagaku, silakan bicara saja."

Ong Ling-hoa tertawa.

"Baiklah, kuterima janji kalian."

Lalu sorot matanya tertuju Auyang Hi. Auyang Hi tertawa geli, katanya.

"Wah, giliranku yang kau incar, baiklah Ong-toakongcu yang terhormat, apa kehendakmu? Katakan saja."

"Bagus,"

Ujar Ong Ling-hoa.

"Nah, perhatikan ... cuka hitam kualitas terbaik empat gentong, arak lama terbaik empat gentong, garam murni sepuluh kati, kain kaci putih halus empat blok ...."

"Wah, wah, memangnya kau mau jadi dukun beranak atau mau membuka toko kelontong?"

Seru Auyang Hi. Ong Ling-hoa tidak pedulikan ocehannya, katanya lebih lanjut.

"Dua baskom tembaga yang baru, minta ukuran yang paling besar, dua gunting baru, dua pisau kecil baru, empat anglo, cerek tembaga empat, semua juga ukuran yang paling gede, dua ratus kati batu bara yang bersih ... dan lekas suruh orang-orangmu memotong dan menjahit dua jubah panjang putih untuk aku dan Sim-siangkong ini, ingat, dalam waktu setengah jam jubah harus selesai, tidak perlu bagus jahitannya asal bersih."

Yang hadir melongo dan bingung mendengar sekian banyak barang yang diminta dan harus disiapkan dalam waktu singkat. Si Kucing tertawa, katanya.

"Barang-barang yang kau minta ini seperti mau buka toko serbaada saja, memangnya kau ini ingin jadi dukun bayi, atau mau buka rumah makan gelap yang menghidangkan daging manusia dari tubuh kedua gadis montok ini?"

"Wah celaka tiga belas, aku yang repot,"

Ujar Auyang Hi tertawa.

"dalam waktu setengah jam harus menyiapkan barang-barang tetek bengek, susah ...."

Mulutnya mengeluh, namun wajahnya tetap berseri, sebab ia maklum kalau Ong Ling-hoa menuntut barang-barang yang serbabaru itu, pasti dia akan melakukan sesuatu yang mengejutkan.

Soal ilmu rias atau kemahiran mengubah rupa sudah sering didengar namun praktik atau pelaksanaan yang bersangkutan dengan "operasi muka"

Ini baru sekarang dapat dilihat oleh Auyang Hi, maka bergegas dia keluar menyiapkan apa yang diperlukan.

Belum setengah jam Auyang Hi sudah menyiapkan seluruh barang yang diperlukan, batu bara sudah menyala di tungku, cerek tembaga besar pun sudah berisi air dan tengah digodok, sebentar lagi pasti mendidih.

Ong Ling-hoa menyerahkan seperangkat jubah panjang warna putih kepada Sim Long, katanya dengan tertawa.

"Tolong Sim-heng juga pakai jubah ini, harap sudi menjadi pembantuku?"

"Dengan senang hati ...."

Ucap Sim Long.

"Dan aku?"

Si Kucing bertanya tidak sabar.

"Apa yang harus kulakukan?"

"Kau keluar saja, tunggulah di luar dan jangan berisik."

Si Kucing melongo, serunya.

"Keluar? Apa kami tidak boleh menonton?"

Auyang Hi tertawa.

"Kalau dia suruh kau keluar, lekas kau keluar saja, kita ...."

"Kau pun harus keluar,"

Tukas Ong Ling-hoa. Auyang Hi melengak.

"Apa? .... Aku pun tak boleh menonton?"

Dengan serius Ong Ling-hoa berkata.

"Dalam melaksanakan tugas aku perlu ketenangan dan harus konsentrasi pikiran, siapa pun tak boleh mengganggu, sebab bila sedikit lena dan menimbulkan sesuatu cacat di wajah kedua nona ini, umpama obat dewa juga takkan bisa menyembuhkannya, karena itulah kalian harus keluar, Kim-tayhiap ini pun harap menyingkir sementara waktu."

Auyang Hi dan si Kucing saling pandang, sikap mereka tampak kecewa.

Kim Bu-bong cuma mendengus, ia putar tubuh terus keluar.

Apa boleh buat, terpaksa Auyang Hi dan si Kucing juga keluar.

Pintu jendela segera ditutup rapat oleh Ong Ling-hoa, kain gorden juga diturunkan sehingga penerangan dalam kamar menjadi guram, suasana dalam kamar seketika terasa seperti mengandung sesuatu yang gaib.

Demikian pula bara api dalam tungku yang menyala seperti menambah suasana misterius ini.

Sim Long berdiri diam dan mengawasi orang tanpa bersuara, air dalam cerek di atas tungku sudah mendidih, mengepulkan asap dan bersuara mendesis.

Mendadak Ong Ling-hoa membalik badan, dia menatap Sim Long, lalu katanya.

"Kusuruh mereka menyingkir karena aku tidak ingin rahasia operasi muka ini diketahui mereka, tentunya Sim-heng maklum akan hal ini."

Sim Long tersenyum dan mengiakan.

"Padahal Auyang Hi dan si Kucing sudah lama bersahabat denganku, sebaliknya kau dan aku baru bertemu pertama kali ini, bahwa aku tidak ingin membocorkan rahasia ini kepada mereka, sebaliknya minta bantuanmu, dalam hal ini pasti ada sebabnya, Saudara tentu merasa heran bukan?"

Sim Long tetap tersenyum, katanya.

"Mohon keterangan."

"Soalnya meski kita baru berkenalan, tapi kegagahan Saudara sungguh belum pernah kulihat selama ini, sungguh sangat mengagumkan."

"Terima kasih akan pujianmu, meski Cayhe banyak bergaul, tapi bicara tentang sifat kepribadian, Him-heng itulah yang patut dipuji. Tapi bicara tentang kecerdikan, terpelajar, kurasa Saudaralah yang nomor satu di dunia ini."

Dia merandek, sinar matanya gemerdep, lalu meneruskan.

"Kecuali itu, tentu Saudara punya urusan lain, kalau tidak, tak mungkin ...."

Ong Ling-hoa menukas.

"Betul, Siaute memang ada maksud lain, maka aku lebih akrab terhadap Saudara."

"Sebabnya tentu amat menarik."

"Ya, memang amat menarik."

"Kalau demikian, coba jelaskan, aku ingin mendengarnya."

Ong Ling-hoa berpikir sejenak, katanya kemudian.

"Waktu Auyang Hi memperkenalkan engkau tadi, dia tidak menyebut nama besarmu, betul tidak?"

"Mungkin Auyang-heng sendiri tidak tahu jelas nama lengkapku, atau mungkin sudah lupa, hal ini pun jamak dalam pergaulan umumnya."

"Tapi nama Saudara dapat kutebak."

"Ah, masa Saudara punya kepandaian demikian."

Ong Ling-hoa tersenyum.

"Bukankah nama besar Saudara adalah Sim Long?"

Terunjuk rasa kaget dan heran di wajah Sim Long, katanya.

"Betul, bagaimana bisa kau tebak namaku, mungkin ... seorang pernah menyinggung aku di hadapanmu."

Kalau kedua orang ini asyik bicara, Cu Jit-jit yang mendengarkan di samping menjadi gelisah malu tapi juga senang, dia tidak ingin Ong Ling-hoa menyebut nama Sim Long, namun juga berharap dia akan mengatakan nama Sim Long, bukan saja tidak rela kalau Ong Ling-hoa turun tangan kepada Sim Long, tapi juga berharap sekali genjot Sim Long membinasakan Ong Ling-hoa.

Maka dia membuka lebar kedua matanya dan mengawasi Ong Ling-hoa, ingin tahu cara bagaimana pemuda bajul ini hendak menghadapi Sim Long, apa pula yang hendak dikatakannya?

Didengarnya Ong Ling-hoa berkata.

"Kalau Saudara ingin tahu bagaimana kutahu nama besarmu, ini ... kelak engkau akan tahu sendiri."

Lalu dia mulai membuka tutup gentong cuka, tidak memandang pula kepada Sim Long, tapi tangannya kelihatan rada gemetar.

Diam-diam lega hati Jit-jit, entah kecewa atau merasa bersyukur?

Betapa pikirannya sekarang sukar dijelaskan.

Ong Ling-hoa angkat sebuah cerek tembaga dan mengarahkan corong cerek ke muka Pek Fifi, kepulan asap panas dari dalam cerek segera menyembur muka Pek Fifi, terpaksa Pek Fifi memejamkan mata.

Selang sejenak, Ong Ling-hoa berkata.

"Tolong Sim-heng buka tutup cerek."

Sim Long mengiakan dengan tersenyum, ia membuka tutup cerek tembaga, padahal tutup cerek tembaga itu terpanggang di atas tungku yang membara, panasnya bukan main, tapi Sim Long memegangnya seperti tidak terasa panas sedikit pun.

Sikap Ong Ling-hoa seperti tidak menaruh perhatian, namun air mukanya sedikit berubah, entah kaget, heran, memuji, iri, atau kagum.

Setelah tutup cerek terbuka, Ong Ling-hoa menuang cuka ke dalam cerek, segera uap yang menyembur keluar dari cerek mengandung bau asam, uap panas asam menyembur ke muka Pak Fifi semakin keras hingga matanya terpejam rapat.

Hal ini berlangsung sekian lama pula, setengah gentong cuka sudah menguap di dalam cerek, kulit daging di ujung mulut Pek Fifi yang mengeras kelihatan mulai lunak dan bergerak, malah kelihatan mengiler.

Ong Ling-hoa menurunkan gentong cuka, ganti angkat gentong arak dan arak dituang ke dalam cerek pula, maka uap asam yang kental berubah menjadi bau arak yang pedas, hanya sekejap air mata tampak bercucuran dari mata Pek Fifi.

Asap makin tebal memenuhi kamar, jidat Ong Ling-hoa dan Sim Long sudah berkeringat, dua baskom tembaga raksasa yang tersedia diisi arak oleh Ong Ling-hoa, cuka dan air putih dituang pula lalu berkata.

"Sim-heng, tolong bukakan pakaian nona ini dan masukkan dia ke baskom besar ini."

Sim Long melengak.

"Apakah pakaiannya harus dibuka."

"Benar, pori-pori sekujur badannya sekarang tersumbat oleh obat rias, tanpa melucuti pakaiannya mana bisa menolongnya?"

Sembari bicara Ong Ling-hoa mengeluarkan tiga botol kecil yang terbuat dari kayu, dari botol-botol itu dia tuang sedikit puyer ke dalam kedua baskom besar, lalu berkata dengan tertawa.

"Seorang laki-laki sejati, memangnya tidak berani membuka pakaian seorang perempuan?"

Waktu Sim Long menoleh ke sana, dilihatnya air mata Pek Fifi berlinang, sorot matanya cemas, malu, dan minta belas kasihan. Sim Long menghela napas, katanya.

"Urusan mendesak, terpaksa aku memberanikan diri, harap Nona maklum dan maaf akan kelancanganku."

Perlahan dia membuka pakaian Pek Fifi.

Di luar pintu si Kucing dan Auyang Hi berjalan mondar-mandir, yang satu menggendong tangan, yang lain mengepal tinju, wajah mereka tampak gelisah dan tidak sabar, sikap mereka lebih mirip seorang suami yang gelisah menunggu istrinya yang hendak melahirkan.

Sementara Kim Bu-bong duduk diam di pojok sana, tapi sorot matanya kehilangan ketenangan biasanya.

Terdengar suara mendesis air mendidih serta percikan api batu bara yang menyala besar, air dituang, bau arak dan cuka bersama asap tebal merembes keluar, terdengar pula suara gunting bekerja dan pisau mengiris, lalu terdengar pula suara orang lagi mandi.

Tiba-tiba si Kucing tertawa geli, katanya.

"Mendengar suaranya, mereka berdua seperti lagi menyembelih babi atau memotong kambing, entah bagaimana kedua nona itu dijagal ...."

Auyang Hi berkata.

"Kalau aku boleh masuk melihatnya, suruh aku menyembah tiga kali aku mau."

"Siapa bilang tidak,"

Ucap si Kucing sambil menghela napas.

"Cuma sayang ...."

Mendadak berkumandang suara kaget dan bentakan perlahan, itulah suara Sim Long. Kim Bu-bong melompat bangun dan hendak menerjang masuk, tapi si Kucing segera menariknya mundur.

"Kau mau apa?"

Bentak Kim Bu-bong gusar. Si Kucing tertawa, katanya.

"Kenapa Saudara begini tegang, betapa gagah perwiranya Saudara Sim kita, memangnya kau khawatir dia? Bila Kim-heng main terobos ke dalam hingga Ong Ling-hoa gusar, bukan mustahil tugasnya yang belum selesai akan ditinggal pergi, lantas bagaimana urusan selanjutnya, bukankah kedua nona itu tidak bisa lagi hidup di muka umum."

Kim Bu-bong termangu sejenak, akhirnya ia mendengus sambil mengipratkan tangan si Kucing, dengan langkah lebar ia kembali ke tempat duduknya semula.

Dia juga maklum manusia seperti Sim Long tak mungkin mengalami sesuatu.

Tapi pada saat itulah di dalam kamar terdengar suara telapak tangan saling tepuk, suaranya keras dan kerap seperti rentetan mercon saja, kembali Kim Bu-bong berubah air mukanya, dia berdiri pula.

Auyang Hi juga berkerut kening, katanya.

"Suara apa itu?"

Si Kucing berpikir, katanya kemudian.

"Mungkin suara Ong Ling-hoa sedang mengurut dan memijat kedua nona itu."

Auyang Hi manggut-manggut, katanya.

"Ya, mungkin demikian ...."

Walau diam saja, namun dalam hati Kim Bu-bong menerima pendapat si Kucing, tapi baru saja ia berduduk, dari dalam kamar terdengar pula jeritan kaget pula.

Yang menjerit kali ini ternyata Ong Ling-hoa.

Berubah air muka Auyang Hi, ia pun hendak menerjang masuk ke sana, tapi si Kucing kembali menariknya mundur.

"Ong-heng biasanya tenang dan tabah,"

Kata Auyang Hi.

"bila dia sampai menjerit, mungkin ...."

"Mungkin kenapa?"

Tukas si Kucing.

"Ong Ling-hoa sedang sibuk menolong kedua nona itu, memangnya kau kira Sim-heng akan bertindak sesuatu kepadanya, apalagi mereka baru saja kenal, belum pernah bermusuhan, malah saling kagum dan memuji .... Hehe, kukira lantaran kau ingin masuk, maka sengaja kau cari alasan."

Auyang Hi tertawa geli dan keki, katanya.

"Kucing rakus, apa kau tidak merasa jeritan itu agak ganjil?"

"Mungkin mereka terpesona oleh kecantikan kedua nona itu, hingga tak tahan dan menjerit kaget, terutama Ong Ling-hoa si iblis perayu itu, mungkin tulangnya sekarang sudah lemas lunglai,"

Kata si Kucing. Auyang Hi menggeleng.

"Umpama dugaanmu benar juga hanya mereka berdua saja yang kebagian rezeki, tidak perlu kau ikut ribut."

Pintu tertutup rapat, kecuali suara keras atau jeritan melengking, percakapan Sim Long dengan Ong Ling-hoa tidak terdengar dari luar.

Auyang Hi melongok cuaca luar rumah, mentari sudah semakin tinggi, hampir dia tidak tahan sabar, ia garuk kepala dan membanting kaki, sering bergumam.

"Kenapa mereka belum keluar, mungkin ... mungkin terjadi ...." ***** Ketika Sim Long membuka kancing pertama baju Pek Fifi, nona itu memejamkan kedua matanya, kaki tangan berkeringat dingin dan gemetar. Walau rupanya sudah berubah buruk, tapi waktu dia memejamkan mata, kerlingan mata yang mengandung rasa malu sungguh menggiurkan. Sifat malu-malu seorang gadis jelita semacam ini justru tidak dimiliki oleh Cu Jit-jit. Walau gadis itu sudah memejamkan mata, agaknya Sim Long tidak berani menatap mukanya, dengan perlahan dan hati-hati Sim Long melucuti pakaiannya, ujung jari pun tidak menyentuh badan orang. Ternyata Pek Fifi tidak mengenakan pakaian dalam, begitu baju luar tersingkap, maka badannya yang mulus seketika terpampang di depan mata. Bentuk tubuh yang elok, mulus, kenyal, dan halus terpampang di depan mata Sim Long. Badan yang polos ini tidak merangsang nafsu tapi menimbulkan rasa kasih sayang terhadap gadis yang lemah lembut, daya tarik gadis suci yang khas, yang sukar dilukiskan. Untuk melengos tidak sempat lagi, sekali pandang seketika Sim Long rada terkesima, dia lupa untuk melengos, dia terpesona oleh kemulusan tubuh gadis telanjang di depan mata ini. Biarpun dia seorang enghiong (kesatria), dia tetap seorang lelaki. Ketika mendengar Sim Long disuruh membuka pakaian Pek Fifi, Cu Jit-jit lantas mendelik mengawasi gerak-geriknya, kini melihat sikap kesima Sim Long itu, sorot mata Jit-jit seketika memancarkan rasa keki dan iri. Dia membatin.

"Sim Long, wahai Sim Long, ternyata kau pun laki-laki mata keranjang, betapa besar cintaku kepadamu, lelaki lain tiada yang terpandang olehku, tapi melihat perempuan lain, kau pun melotot semacam ini, ai, sia-sia aku mencintaimu."

Waktu dia melirik ke sana, Ong Ling-hoa berdiri membelakangi Sim Long dan Pek Fifi, melirik pun tidak ke arah sini. Setelah berdehem, Ong Ling-hoa bersuara.

"Pakaiannya sudah dibuka belum? Sekarang silakan Sim-heng masukkan dia ke dalam baskom besar, gunakan kain putih yang baru kupotong, cuci atas kepala sampai kaki dan digosok dua kali, gunakan dulu air baskom sebelah kiri, lalu dibilas dengan air baskom sebelah kanan, sekali-kali jangan keliru."

Sim Long menoleh, katanya gugup.

"Tapi ... kenapa Saudara tidak turun tangan sendiri?"

Ong Ling-hoa tetap tidak berpaling, katanya dengan tertawa.

"Betapa terhormat badan suci seorang anak perawan, hanya lantaran keadaan mendesak, terpaksa harus dikerjakan, lebih baik kalau hanya seorang lelaki saja yang menjamah badannya, betul tidak pendapat Sim-heng .... Selanjutnya dia sudah menjadi orang Sim-heng, maka terpaksa mohon Sim-heng melanjutkan kerja sampai selesai."

Sim Long menjadi gugup, serunya.

"Dia ... dia sudah menjadi orangku apa?"

Ong Ling-hoa tertawa, katanya tanpa menjawab pertanyaannya.

"Khasiat obat dalam air sebentar akan hilang bila air mulai dingin, kenapa Sim-heng tidak lekas turun tangan?"

Sim Long melongo sejenak, apa boleh buat, sambil menghela napas dia angkat Pek Fifi dan diturunkan ke dalam baskom, lalu diambilnya setumpuk kain kaci putih.

Ong Ling-hoa berdiri sambil berpeluk tangan, katanya.

"Kedua nona ini pasti berwajah cantik laksana bidadari, hari ini sungguh Sim-heng amat beruntung."

Kelihatan gusar pada wajah Sim Long, katanya keki.

"Saudara bicara demikian, memangnya kau anggap aku ini orang apa?"

"Ah, Siaute hanya berkelakar saja, harap Saudara jangan marah, tapi ...."

"Tapi apa?"

"Kau yang membawa kemari kedua nona ini, kesucian tubuh mereka juga sudah kau pandang dan kau jamah, maka selanjutnya kuharap engkau tidak telantarkan mereka, bila Saudara berjiwa pendekar, maka masa depan kedua gadis ini harus kau pandang sebagai kewajibanmu, sekali-kali tidak boleh naksir pada gadis yang ketiga."

Sudah tentu kaget dan gusar Sim Long, tapi apa yang diucapkan Ong Ling-hoa juga terasa jujur dan tegas, seketika Sim Long jadi bungkam dan tak mampu mendebat.

Dalam persoalan ini sudah tentu hanya Cu Jit-jit saja yang tahu makna dari ucapan Ong Ling-hoa itu, sebab kecuali dia sendiri siapa pun tidak tahu bahwa dia adalah Cu Jit-jit.

Maksud tujuan Ong Ling-hoa adalah hendak mengikat Sim Long dengan kata-katanya, supaya kedua gadis ini benar-benar membelenggu Sim Long sehingga dia tidak bisa bebas dari tanggung jawab, untuk ini Ong Ling-hoa akan mengatur tipu daya sehingga kedua gadis ini selanjutnya akan mengikat Sim Long, apalagi menurut tradisi zaman itu, bila tubuh suci seorang gadis sampai terlihat, apalagi terjamah oleh seorang laki-laki, maka selama hidup dia tidak akan kawin kecuali dengan lelaki itu apalagi Sim Long adalah tipe lelaki gagah yang disukai anak gadis.

Bila Sim Long sudah terikat oleh kedua gadis ini, sudah tentu dia tidak boleh jatuh cinta kepada gadis lain.

Gadis ketiga yang dimaksud Ong Ling-hoa sudah tentu adalah Cu Jit-jit.

Langkah yang dimainkan Ong Ling-hoa memang lihai, namun betapa rapi perhitungannya, terjadi juga kekhilafan, tak pernah terbayang olehnya bahwa satu di antara kedua gadis ini adalah Cu Jit-jit, dengan susah payah ia mengatur tipu dayanya akhirnya justru merugikan diri sendiri.

Sim Long tidak bicara lagi, ujung mulutnya kembali mengulum senyum.

Ong Ling-hoa berkata.

"Apakah Sim-heng sudah selesai memandikan dia? Baiklah, silakan Sim-heng menggosok kering badannya .... Bagus, selanjutnya dengan tenaga hangat Sim-heng boleh kau urut ke-46 hiat-to di sekitar perutnya, bila Sim-heng merasa malu, boleh kenakan dulu pakaian nona ini."

Belum habis dia bicara, didengarnya suara keresek kain baju, kejap lain terdengar suara tepukan enteng telapak tangan, napas Sim Long lambat laun terdengar berat, Pek Fifi juga mengeluarkan suara keluhan dan napas tersengal, keluhan yang menggetar sukma.

Perlu dimaklumi tempat yang ditepuk dan diurut oleh Sim Long sekarang adalah bagian yang peka di tubuh seorang gadis, apalagi kini yang mengurut adalah telapak tangan lawan jenis, betapa nikmat rasanya dapat dibayangkan.

Cu Jit-jit melotot gusar mengawasi tangan Sim Long yang bergerak di atas badan Pek Fifi, tiba-tiba terbayang olehnya waktu dirinya diurut dan dipijat oleh Ong Ling-hoa tempo hari, bukankah rasanya juga nikmat memabukkan.

Seketika terasa adanya aliran hangat yang menyusuri seluruh badannya, hatinya seperti dibakar nafsu.

Mata Pek Fifi masih terpejam, napasnya makin memburu, badan bergeliat dan gemetar.

Perlahan Ong Ling-hoa membalik tubuh, ia ambil gunting dan dimasukkan ke dalam cuka yang mendidih, dengan tersenyum ia menyaksikan Sim Long mengerjai Pek Fifi, katanya.

"Jangan Sim-heng berhentikan kerja kedua tanganmu, tak peduli apa pula yang kau lihat atau dengar, sekejap pun tidak boleh berhenti, kalau tidak, akan sia-sia usahamu, dan kau sendiri harus bertanggung jawab."

Sim Long tersenyum, katanya.

"Jangan khawatir, selama hidupku belum pernah melakukan sesuatu yang mengecewakan orang."

Bukan dia tidak merasakan reaksi Pek Fifi, ia sendiri juga mulai terpengaruh oleh reaksi yang menggelitik ini.

Tapi lahirnya tetap kelihatan tenang dan wajar, seperti yakin dan penuh kepercayaan pada diri sendiri bahwa segala apa yang akan terjadi, dia sudah siap menghadapinya.

Ong Ling-hoa mendekati Pek Fifi, katanya.

"Obat rias di muka nona ini karena tersembur uap arak dan cuka dan terserang suhu panas badannya yang berkeringat kini sudah mulai lunak."

Sembari bicara kedua tangannya mulai meremas muka Pek Fifi.

"kulit"

Muka Fifi yang serupa asli itu sudah mulai berkerut oleh remasan-remasan tangannya, begitu bentuknya berubah, sungguh tambah mengerikan roman mukanya.

Segera Ong Ling-hoa keluarkan obat dan dijejalkan ke mulut Fifi, katanya.

"Aliran darah dan napasnya sudah berjalan lancar, mulutnya juga sudah bisa bicara, cuma ...."

Tiba-tiba dia tertawa tertahan, lalu menyambung.

"cuma karena rabaan tangan Sim-heng, sekujur badannya menjadi lunglai, untuk bicara saja ogah buka suara."

Kalau orang lain yang mendengar perkataannya ini, mana sanggup lagi bergerak lagi kedua tangannya, tapi Sim Long anggap tidak mendengar ocehannya, kedua tangannya masih terus bekerja.

"Bagus!"

Ong Ling-hoa memuji, dengan dua jari mendadak dia cubit kulit mata Pek Fifi, tangan kanan yang sejak tadi pegang gunting lantas bekerja.

"kres" , kontan dia mengguntingnya. Kulit kelopak mata Fifi diguntingnya secuil, walau Fifi tetap diam seperti tidak merasa sakit, tapi Sim Long dan Cu Jit-jit sama kaget. Ong Ling-hoa lempar hasil guntingannya ke dalam ember garam, lalu pisau kecil ditusukkan ke kulit mata yang barusan diguntingnya. Kembali Sim Long kaget, tapi dilihatnya Pek Fifi diam saja seperti tidak merasakan apa-apa. Dilihatnya kedua tangan Ong Ling-hoa terus bekerja, pisau kecil mengiris pergi-datang, lapisan kulit muka Pek Fifi terkelupas sekeping demi sekeping, kulit mukanya yang memang jelek kini kelihatan lebih buruk lagi. Walau tahu kulit palsu itu buatan obat rias yang membeku, jantung Sim Long berdegup juga. Mendadak sinar dingin berkelebat, pisau kecil di tangan Ong Ling-hoa tiba-tiba mengiris ke muka Sim Long. Jit-jit melihat jelas kejadian ini, sungguh tidak kepalang kagetnya. Sim Long lagi tumplak seluruh perhatiannya, jelas dia tidak mampu menghindari sambaran pisau kecil ini. Siapa tahu mendadak Sim Long berteriak kaget, menyusul lantas membentak pula, kaki tidak bergerak, badan bagian atas menyurut mundur beberapa senti, pisau kecil menyambar lewat pipinya, tidak sampai melukai kulit dagingnya. Tanpa terasa keringat dingin membasahi tubuh Cu Jit-jit, ia mengkhawatirkan keselamatan Sim Long tapi kedua tangan Sim Long tetap bekerja, tidak berhenti juga tidak tertunda, masih terus mengurut, hanya sorot matanya tampak gusar, katanya.

"Apa maksud tindakanmu ini?"

Ong Ling-hoa berlagak seperti tidak terjadi apa-apa, katanya dengan tersenyum.

"Siaute hanya menguji ketenangan Sim-heng apa benar dalam keadaan bagaimanapun kedua tanganmu tidak akan berhenti bekerja."

Sim Long tersenyum, katanya.

"O, begitu?"

Ia bersikap seperti tidak pernah terjadi apa-apa, serangan pisau barusan tidak disinggungnya pula.

Cukup lama Ong Ling-hoa menatapnya, sorot matanya menampilkan rasa kagum tapi juga iri, tiba-tiba ia menghela napas, katanya.

"Selama hidupmu, apakah tidak pernah pikirkan urusan apa pun?"

"Sudah tentu ada,"

Sahut Sim Long tertawa.

"Cuma orang lain tidak tahu saja."

Cara bicaranya tetap tenang dan kalem, namun dalam pendengaran Ong Ling-hoa entah kenapa tiba-tiba timbul rasa dingin dalam hati, pikirnya.

"Ada manusia seperti dia di dunia ini, apa artinya hidup bagiku ...."

Sembari berpikir tangannya juga tetap bekerja, kulit imitasi di muka Pek Fifi telah dipotong-potong lagi dan dilemparkan ke dalam ember.

"Gerak tangan bagus ...."

Sim Long memuji dengan tertawa.

Tapi begitu melihat wajah Pek Fifi, perkataannya terhenti, sekian lama dia melongo.

Tampak pipi Pek Fifi putih bersemu merah laksana mawar, bulu matanya yang panjang tampak menghiasi pelupuk matanya yang terpejam, hidungnya mancung, napas tersengal ....

Tadi Sim Long sudah melihat tubuhnya yang mulus, jarinya sempat menyentuh kulitnya yang halus, namun perasaannya masih terkendali, kini setelah melihat raut wajahnya yang molek memesona, entah mengapa timbul semacam perasaan aneh, tangannya tak berani lagi menyentuh tubuhnya.

Betapa pun Sim Long adalah seorang lelaki, lelaki mana pun takkan terhindar dari perasaan demikian.

Ong Ling-hoa juga terbeliak, lama dia termenung baru menarik napas panjang, katanya dengan gegetun.

"Ternyata memang cantik tiada bandingan ...."

Melihat betapa sikap kedua lelaki itu mengawasi wajah Fifi, sungguh dongkol dan gemas bukan main perasaan Cu Jit-jit, dalam hati dia mengumpat.

"Lelaki, dasar lelaki, tiada lelaki baik di dunia ini."

Walau hati mendongkol, tapi kedua lelaki di hadapannya ini, yang seorang adalah pengagum dirinya, kalau tidak mau dikatakan kasmaran terhadapnya, seorang lagi justru pemuda pujaannya, sekarang terlihat mereka kesengsem kepada orang lain, dengan sendirinya timbul rasa cemburunya.

Betapa pun Jit-jit adalah orang perempuan, perempuan mana pun di dunia ini pasti tak terhindar dari rasa cemburu.

Tanpa sengaja Cu Jit-jit mengerling Ong Ling-hoa, dilihatnya Ong Ling-hoa lagi menatap Sim Long, sorot matanya penuh nafsu membunuh, Cu Jit-jit kaget, teriaknya dalam hati.

"Celaka ...."

Tengah mengeluh dalam hati, dilihatnya kedua tangan Ong Ling-hoa menghantam ke arah Sim Long dengan cepat.

Serangan ini pun dilancarkan secara mendadak, cepat, dan ganas pula.

Di luar dugaan, meski Sim Long lagi menatap wajah si cantik, padahal setiap gerak-gerik orang tidak lepas dari pengawasan Sim Long, baru saja telapak tangannya bergerak, kedua telapak tangan Sim Long lantas memapak ke depan.

Empat telapak tangan beradu dan menimbulkan serentetan suara serupa seperti bunyi mercon, setelah belasan jurus adu pukulan, Sim Long tampak masih berdiri bergeming, Ong Ling-hoa justru menjerit dan tergetar mundur.

"Apa pula maksud perbuatanmu ini?"

Tanya Sim Long.

Ong Ling-hoa tergetar mundur dekat dinding baru dapat berdiri tegak lagi, ia tepuk-tepuk jubah putih yang baru itu, sikapnya tetap tenang dan wajar seperti tidak terjadi sesuatu, katanya dengan tertawa.

"Siaute hanya ingin menjajal, setelah mengurut dan menepuk tadi, apakah tenaga dalammu tidak berkurang?"

Setelah menatapnya lekat-lekat, akhirnya Sim Long tersenyum, katanya.

"O, apa betul? Banyak terima kasih atas perhatianmu."

Sikapnya tetap santai seperti tidak terjadi apa-apa. Mendelik mata Cu Jit-jit, sambil mengertak gigi diam-diam ia mengumpat.

"Sim Long, dungu kau, dia minta kau menjadi pembantunya adalah untuk mencari kesempatan akan membunuhmu, masa kau tidak tahu? Kau goblok, kau tidak punya liangsim, adakalanya, sungguh ingin kulihat kau dibunuh orang saja."

Ternyata diam-diam Pek Fifi juga memicingkan mata dan mencuri lihat ke arah Sim Long, wajahnya masih kelihatan jengah, entah bagaimana perasaannya terhadap Sim Long, entah malu atau cinta dan kagum, yang jelas, kecuali Sim Long, matanya tidak memandang orang lain lagi.

Ong Ling-hoa mengulang apa yang pernah dilakukan tadi terhadap Cu Jit-jit, mukanya disembur dengan uap cuka yang mendidih.

Air mata dan ingus mengalir dari mata dan hidung Jit-jit, dia ingin menjerit dan meronta karena tidak tahan, tapi bila teringat sebentar lagi dirinya akan bebas dari siksa derita, maka jantungnya berdegup lebih cepat, rasa sakit kulit mukanya tidak dirasakan lagi sebagai derita yang luar biasa, dia mengertak gigi dan bertahan.

Ke dalam baskom besar itu Ong Ling-hoa mengisi pula air arak, cuka, dan obat-obatan, kali ini obat yang dia gunakan lebih banyak, ia berkata kepada Sim Long dengan tertawa.

"Untuk memulihkan keadaan nona yang satu ini jauh lebih sukar daripada yang pertama tadi, karena itu Sim-heng harus banyak menguras tenaga juga."

Habis bicara dia mundur ke sana dan berdiri menghadap dinding. Sim Long tertawa getir, katanya.

"Apa sama seperti cara tadi?"

Terhadap setiap permohonan orang agaknya tak pernah dia menolak, segalanya diterima dengan baik. Ong Ling-hoa tertawa, katanya.

"Betul, seperti tadi, mohon Sim-heng juga rendam tubuh nona itu di dalam kedua baskom itu secara bergantian ...."

Melihat jari Sim Long sudah menyentuh kancing bajunya, jantung Jit-jit berdebar, ingin rasanya dia menjerit.

Terpaksa dia memejamkan mata, tubuh terasa dingin, menyusul terangkat lalu terendam di dalam air hangat dalam baskom, tubuhnya meringkuk, terdengar suara napas dan keluh yang merangsang nafsu, dalam hati tadi dia pernah memaki Pek Fifi, namun suara napas dan keluh kepuasan sekarang ini justru dia sendiri yang mengeluarkannya.

Dia seperti mabuk, seperti terbuai dalam impian, entah berapa lama kemudian, akhirnya terasa tubuh terangkat pula, dikeringkan dengan kain dan mengenakan pakaian, kini rasa kaku tubuhnya sudah berangsur hilang, lambat laun perasaannya mulai pulih.

Lalu dia merasakan jari-jari yang hangat mulai mengurut dan memijat tubuhnya, tanpa terasa napasnya mulai memburu lagi, suara keluhannya semakin keras.

Tanpa disadarinya dia bersuara, hal ini sepantasnya dibuat girang, dia pernah bersumpah bila dirinya dapat bersuara, maka segera dia akan membongkar tipu muslihat keji Ong Ling-hoa, ia pun pernah bersumpah akan mencaci maki Sim Long, namun kini perasaannya seperti mabuk dan lupa daratan, ia lupa dirinya sudah bisa bersuara dan bicara.

Pek Fifi meringkuk di ujung ranjang, sesekali dia mengintip ke arah Sim Long, sementara Ong Ling-hoa masih berdiri menghadap dinding tanpa bergerak, seperti sedang termenung.

Cukup lama Ong Ling-hoa berdiri diam, akhirnya dia membalik badan, gunting baru dipegangnya terus mencubit kelopak mata Cu Jit-jit, tapi gunting tidak segera bekerja, entah apa yang menyebabkan dia bimbang, sesaat dia memandang Sim Long dengan terkesima.

Tak tahan Sim Long bertanya.

"Kenapa Saudara tidak lekas turun tangan?"

"Pikiranku sekarang tidak tenteram dan sukar dikonsentrasikan, jika bekerja sembarangan, mungkin bisa merusak wajah nona ini."

"Kenapa pikiranmu mendadak kalut?"

Ong Ling-hoa tersenyum.

"Kupikir, setelah kusembuhkan dan memulihkan wajah kedua nona ini, entah bagaimana sikapmu terhadapku?"

"Tentu kuanggap sebagai sahabat, kenapa Saudara curiga?"

"Tadi dua kali aku menjajalmu, apakah tidak kau curiga bahwa sengaja hendak kulukai atau membunuhmu?"

"Aku tidak bermusuhan dan tidak pernah berbuat salah apa pun terhadapmu, untuk apa kau membunuhku?"

Ong Ling-hoa tersenyum, katanya.

"Kalau demikian, legalah hatiku, semoga Saudara tidak lupa akan apa yang kau katakan ini, selamanya anggap aku sebagai sahabat."

"Sudah tentu, asal Saudara sudi, tak nanti kulupakan."

"Bagus!"

Seru Ong Ling-hoa tertawa, mendadak dia taruh gunting terus melangkah ke sana.

"Kenapa Saudara tidak turun tangan sekarang?"

Tanya Sim Long pula.

"Bahwa Saudara sudi bersahabat denganku, sepantasnya aku menyuguh tiga cawan kepadamu,"

Diambilnya dua cawan dan diisi arak dari gentong.

"Tapi ... tapi nona ini ...."

"Tak perlu gelisah, aku bertanggung jawab memulihkan bentuk wajah asli nona ini, sekarang boleh berhenti sementara, kujamin tak terjadi apa-apa."

Salah satu cawan arak itu disodorkan, terpaksa Sim Long berhenti bekerja dan menerima cawan arak itu. Sambil angkat cawan Ong Ling-hoa tertawa, katanya.

"Secawan arak ini semoga Saudara banyak rezeki dan panjang umur, semoga pula selanjutnya Saudara sudi menganggap diriku sebagai sahabat kental, ringan sama dijinjing, berat sama dipikul."

Sim Long juga angkat cawannya, katanya dengan tertawa.

"Terima kasih ...."

Saat mana keadaan Cu Jit-jit sudah berangsur pulih, kesadarannya mulai jernih, tanpa sengaja dia melirik ke sana, dilihatnya Sim Long sedang angkat cawan arak yang diterima dari Ong Ling-hoa dan akan diminum.

Walau tadi dia keki terhadap Sim Long, meski ia pun tahu bila dirinya bersuara, kemungkinan Ong Ling-hoa tidak akan mau melanjutkan operasinya, dan kemungkinan besar selamanya mukanya akan tetap buruk, namun melihat Sim Long hendak minum arak pemberian Ong Ling-hoa, apa pun dia tidak pikir lagi, mendadak dia berteriak sekuatnya.

"Lepaskan ...."

Jilid 11 Mungkin sudah terlalu lama dia tidak bicara, kini mendadak bisa bersuara, suaranya menjadi kurang jelas. Ong Ling-hoa dan Sim Long sama terkejut, Sim Long berpaling dan bertanya.

"Apa kau bilang, Nona?"

Sebetulnya Cu Jit-jit ingin bilang.

"Lepaskan cawan arak, araknya beracun."

Sungguh tak terpikir olehnya mendadak dirinya bisa bicara.

Setelah sekian lama jadi orang bisu, kini dapat bicara lagi, betapa senang hatinya sukar dilukiskan.

Setelah tercetus perkataan "lepaskan", ia sendiri pun kaget dan melongo, sampai lama ia tak mampu menyambung ucapannya.

Jelalatan bola mata Ong Ling-hoa, mendadak dia memburu maju dan menepuk hiat-to bisu si nona, maka Jit-jit tidak mampu bersuara lagi, ia cemas dan penasaran hingga keringat dingin bercucuran.

Sim Long mengerut alis.

"Kenapa Ong-heng tidak membiarkan nona ini bicara?""

Ong Ling-hoa tertawa, katanya.

"Nona ini terlampau lelah dan mengalami pukulan batin, pikiran belum tenang, setelah dapat bicara dan dapat bergerak, bukan mustahil dia akan melakukan sesuatu yang mengerikan, tadi hampir saja kulupakan hal ini, kini biarlah dia istirahat dulu."

Sejenak kemudian ia angkat cangkirnya pula.

"Mari minum!"

Sim Long agak bimbang, namun melihat Ling-hoa sudah menghabiskan isi cangkirnya, terpaksa ia pun tenggak araknya.

Sudah tentu Cu Jit-jit yang berada di samping jadi gugup dan khawatir setengah mati, air mata pun meleleh.

Ong Ling-hoa mengisi secangkir penuh pula, katanya dengan tertawa.

"Secangkir ini kudoakan saudara ...."

Dia memang pandai bicara, tutur katanya ramah dan sopan, tanpa sadar Sim Long mengiringi dia menghabiskan tiga cangkir.

Sekujur badan Cu Jit-jit berkeringat dingin, kata-kata Ong Ling-hoa di penjara bawah tanah tempo hari kini seperti mengiang kembali di telinganya.

"Sim Long ... Sim Long ... Bagus, ingin kubuktikan orang macam apa dia sebenarnya ... aku justru akan bikin dia mati di depanku."

Seolah-olah terbayang oleh Jit-jit darah hitam meleleh dari tujuh lubang indra Sim Long, lalu jatuh berkelejatan meregang jiwa.

Sungguh ia ingin minum ketiga cangkir arak beracun tadi dan bukan Sim Long.

***** Bulan semakin tinggi, kini Si Kucing pun merasa rada heran.

Auyang Hi tetap mengentak kaki, katanya.

"Kenapa belum lagi keluar?"

Kini dalam kamar tidak terdengar suara berisik apa pun, tenang dan sepi, hal ini mempertebal rasa curiga mereka, akhirnya Si Kucing menghela napas, katanya.

"Sungguh terlebih sulit daripada menunggu orang melahirkan anak."

Makan malam sudah disiapkan di atas meja, tapi ketiga orang ini tiada nafsu makan.

"Pasti terjadi sesuatu, ya, pasti terjadi sesuatu yang tidak menyenangkan ..."

Demikian gumam Auyang Hi. Lalu dia melirik Si Kucing, tanyanya.

"Bagaimana? Perlu tunggu lagi?"

"Tunggu sebentar lagi ... sebentar lagi,"

Sahut Si Kucing. Mendadak Kim Bu-bong berkata.

"Tunggu lagi sebentar, kalau terjadi sesuatu, kau yang harus bertanggung jawab."

"Aku yang bertanggung jawab?"

Si Kucing menegas.

"Kenapa aku yang harus bertanggung jawab?"

"Kalau kau tidak berani bertanggung jawab, biar sekarang aku menerjang ke dalam,"

Jengek Kim Bu-bong. Mendadak dia berbangkit, tapi Si Kucing telah mengadang di depan pintu.

"Apa pula kehendakmu?"

Tanya Kim Bu-bong dengan gusar.

"Umpama ingin masuk juga harus memberi tanda lebih dulu,"

Ujar Si Kucing. Auyang Hi segera mengetuk pintu, serunya.

"Apa kami boleh masuk?"

Terdengar suara Ong Ling-hoa berkumandang dari dalam.

"Kenapa terburu-buru? Tunggu sebentar lagi, hampir selesai."

"Nah, bagaimana?"

Ucap Si Kucing dengan tertawa.

"Apa salahnya tunggu sebentar lagi."

Mendengar ketukan pintu di luar, hati Cu Jit-jit amat girang, dia ingin berteriak supaya Si Kucing, Kim Bu-bong, dan lain-lain terjang masuk, apa pun juga, pasti masih sempat menolong jiwa Sim Long.

Tapi setelah mendapat jawaban Ong Ling-hoa, keadaan di luar kembali sunyi.

Keruan di samping cemas Cu Jit-jit pun amat kecewa dan sedih, dengan sedih ia melihat Sim Long sekejap, sebetulnya dia tidak berani melihatnya lagi, namun tak tertahan dia menoleh ke sana juga.

Tertampak Sim Long masih berdiri tegak di tempatnya, ujung mulutnya masih mengulum senyuman khas yang santai dan gagah, sedikit pun tidak kelihatan keracunan.

Keruan Jit-jit melongo, entah kaget, heran atau gembira, bahwa arak itu tidak beracun, sungguh di luar dugaannya, mimpi pun tak terduga.

Didengarnya Ong Ling-hoa lagi berkata.

"Tugas terakhir ini aku tidak perlu dibantu lagi, Sim-heng telah bekerja cukup berat, tentunya lelah, silakan duduk dan istirahat saja."

Sim Long tertawa, katanya.

"Kalau demikian, tolong saudara kerjakan sendiri."

Kelihatannya dia memang sangat lelah, begitu duduk lantas memejamkan mata, tubuhnya juga lemas.

Senyum di ujung mulutnya juga sirna, badan yang lemas akhirnya terkulai di kursi, entah tertidur pulas atau jatuh pingsan.

Baru saja hati Jit-jit merasa lega, melihat keadaan Sim Long, kembali air matanya meleleh saking cemasnya, sayang dia tidak mampu bersuara dan menangis tergerung-gerung.

Akhirnya Sim Long terperangkap juga oleh muslihat keji Ong Ling-hoa, ternyata dugaannya tadi tidak keliru, ketiga cangkir arak tadi mengandung racun.

Dengan dingin Ong Ling-hoa mengawasi Sim Long, ia tersenyum, senyuman misterius, dengan senyuman ini ia menghampiri Jit-jit, lalu menunduk dan mengawasinya.

Seperti mau menyemburkan bara sorot mata Cu Jit-jit, saking gemasnya ingin rasanya matanya benar-benar bisa menyemburkan api dan membakar mampus manusia keji ini.

Tapi sorot mata Ong Ling-hoa sebaliknya begitu lembut penuh kasih sayang, dengan tangan kiri dia membuka hiat-to di tubuh Cu Jit-jit, tapi tangan kanan tetap menekan hiat-to bisunya.

Dengan demikian, meski Jit-jit bisa bersuara, namun napasnya belum lancar, bersuara juga tidak bisa keras.

Jit-jit tahu keadaan sendiri, maka ia pun segan buka suara.

Dengan tersenyum ramah Ong Ling-hoa lantas berkata.

"Nona Cu, kau ingin bicara, kenapa tidak katakan saja?"

Mata Pek Fifi mendadak terbelalak, dia bergerak seperti hendak merangkak bangun, tapi sekali Ong Ling-hoa kebaskan lengan bajunya pada hiat-to penidurnya, seketika gadis itu tertidur pulas.

Jit-jit tambah kaget lagi, dengan suara gemetar katanya.

"Da ... dari mana kau tahu aku adalah ... adalah ...."

"Mendengar suara rintihanmu tadi, segera dapat kutebak siapa dirimu,"

Jawab Ong Ling-hoa.

"karena rintihanmu itu terasa sudah pernah kudengar, pada saat itulah aku jadi menyesal kenapa baru sekarang teringat padamu, kenapa aku menyerahkan dirimu kepada Sim Long, perangkap yang kurencanakan kini malah menjerat diriku sendiri."

Malu tapi juga benci Jit-jit, ia tahu iblis ini pernah mendengar rintihannya itu, adegan tidak senonoh iblis laknat ini di dalam penjara bawah tanah tempo hari sampai mati pun takkan dilupakannya.

Ong Ling-hoa berkata pula dengan tertawa.

"Sayang Sim-siangkongmu belum pernah mendengar suara keluhanmu yang menggetar sukma itu, maka mimpi pun dia tidak menyangka akan dirimu ...."

"Kau iblis laknat ... kau ...."

Damprat Jit-jit dengan suara parau. Ong Ling-hoa tidak menghiraukan caci makinya, dia berkata sendiri.

"Karena mimpi pun dia tidak menduga akan dirimu, maka umpama tadi kau berteriak sekeras-kerasnya juga belum tentu dia mengenali suaramu, sebaliknya akulah justru mengenal suaramu."

Jit-jit menggereget.

"Kau ... binatang!"

Ong Ling-hoa kelihatan semakin senang, katanya.

"Betul, aku ini binatang, tapi binatang macamku ini tanggung lebih kuat dan lebih bergairah daripada pahlawan pujaanmu itu, hal ini pernah kukemukakan kepadamu tempo hari, walau waktu itu kau tidak percaya, tapi asal kau mau melihat keadaannya sekarang, tentu kau akan tahu seribu Sim Long juga tak dapat dibandingkan seorang Ong Ling-hoa."

Jit-jit mendesis gemas.

"Mencelakai orang secara keji dan kotor, masih berani mengagulkan diri di hadapanku? Huh, bikin malu seluruh lelaki di dunia saja ... jika dengan kepandaian sejati kau bunuh dia, aku pun akan menyerah padamu, tapi perbuatanmu yang rendah dan kotor seperti ini, aku ... menjadi setan pun takkan mengampuni jiwamu."

Ong Ling-hoa tertawa.

"Sayang sekarang kau masih hidup, masih segar bugar, ingin menjadi setan juga tidak bisa."

Teriak Jit-jit dengan suara serak.

"Jika dia mati, segera aku pun akan menyusulnya ke alam baka."

"Dia mati? Siapa bilang dia mati?"

Jit-jit melengak, suaranya gemetar.

"Kau ... kau tidak membunuhnya?"

Ong Ling-hoa tertawa, katanya.

"Jika aku membunuhnya, bukankah seumur hidup kau akan membenciku? Kau adalah gadis pujaanku satu-satunya selama hidup ini, mana boleh kubikin kau membenciku?"

Kejut dan senang hati Jit-jit, katanya.

"Tapi dia ... dia kini ...."

"Sekarang dia hanya terbius oleh obatku dan tidur pulas, tidak perlu kau khawatir, daya kerja obatku itu sangat mustajab, sedikit pun tidak menimbulkan efek sampingan yang merugikan, malah bila dia siuman nanti, dia takkan menduga bahwa barusan dia telah terbius olehku, rasanya seperti mengantuk dan pulas sekejap di atas kursi."

"Kau, kenapa kau lakukan hal ini ...."

"Aku berbuat demikian hanya supaya kau tahu betapa pun aku lebih kuat daripada dia, jika dia betul-betul pintar seperti apa yang pernah kau katakan, mana mungkin dia tertipu olehku?"

"Dia adalah seorang kuncu tulen, seorang lelaki sejati, sudah tentu takkan berpikir dan menjaga diri terhadap muslihat keji seorang siaujin (manusia rendah),"

Kata Jit-jit. Ong Ling-hoa tertawa keras, katanya.

"Betul, dia adalah kuncu dan aku ini siaujin, tapi kau ini juga siaujin. Siaujin sama siaujin, kebetulan adalah pasangan setimpal, akan datang suatu ketika kau akan tahu hanya aku saja yang benar-benar setimpal menjadi pasanganmu. Suatu hari kau akan kembali ke sampingku, ini mungkin karena pada hakikatnya engkau memang bukan pasangannya, kenapa kau harus menunggu dan menunggu dengan sia-sia, kuanjurkan lebih baik sekarang kau ikut aku saja, supaya kelak kau tidak berduka dan menangis."

"Kentut, kentut busuk! ..."

Maki Jit-jit dengan gusar.

"Aku lebih suka kawin dengan anjing dan babi, tidak sudi diperistri binatang yang lebih rendah daripada babi seperti dirimu ini."

"Sekarang boleh kau benci padaku, boleh kau maki diriku sesuka hatimu, tapi jangan kau lupakan apa yang kukatakan kepadamu barusan ini."

"Sudah tentu aku tidak akan lupa, mati pun aku tidak lupa. Jika kau seorang pandai, sekarang juga harus kau bunuh aku dan Sim Long."

"Kenapa harus kubunuhmu? Mana aku tega membunuhmu?"

"Bila kau tidak membunuhku, nanti kalau Sim Long siuman, tentu akan kubongkar muslihatmu, kubongkar rahasiamu. Akan kusuruh Sim Long membunuhmu."

Ong Ling-hoa tertawa.

"Justru itulah keinginanku, kalau tidak, buat apa aku melepasmu tempo hari? Kalau tidak, untuk apa sekarang aku bicara panjang lebar denganmu?"

Melihat betapa senang orang tertawa, mau tak mau Cu Jit-jit menjadi ragu dan heran, serunya.

"Kau tidak takut?"

"Setelah kau katakan nanti baru akan tahu apakah aku takut atau tidak ...."

Tiba-tiba terdengar Sim Long yang pulas di atas kursi itu mengeluarkan sedikit suara gerakan.

Ucapan Ong Ling-hoa seketika terhenti, telapak tangan yang menekan hiat-to di tubuh Cu Jit-jit juga dilepaskan, kembali ia tarik kelopak mata Cu Jit-jit terus diguntingnya.

Gerak-geriknya cekatan dan ahli benar.

Walau sekarang Jit-jit mampu berteriak, namun cinta pada kecantikan adalah pembawaan setiap anak perempuan, betapa pun dia khawatir bila dirinya bergembar-gembor, gunting dan pisau di tangan Ong Ling-hoa bukan mustahil bisa mengiris kulit daging mukanya, itu berarti wajahnya yang ayu jelita akan cacat seumur hidup.

Terpaksa dia menahan diri sambil mengertak gigi.

Didengarnya Sim Long menarik napas panjang, agaknya telah berbangkit, lalu seperti berdiri melenggong, akhirnya tertawa dan berkata.

"Apakah saudara belum rampung bekerja? Sungguh menggelikan, aku pulas di atas kursi."

Ong Ling-hoa tidak menghentikan kedua tangannya, jawabnya.

"Sim-heng hanya mengantuk sekejap ... Hampir selesai pekerjaanku, boleh saudara kemari melihatnya."

Sim Long tertawa, katanya.

"Aku memang ingin tahu siapa sebenarnya nona ini?"

"Jika nona itu begitu cantik molek, nona ini tentu juga bukan gadis sembarangan ... Nah, silakan Sim-heng pentang lebar matamu, tunggu dan lihat sendiri."

Mulut bicara sementara gunting bekerja, lapisan luar kulit muka Cu Jit-jit telah digunting dan dikupasnya tidak keruan, kini dia tinggal mengusapnya saja dan wajah asli Cu Jit-jit lantas terpampang di depan mata Sim Long.

Betapa pun tabah dan tenang hati Sim Long, tak urung menjerit kaget juga.

Suara kaget ini terdengar di luar, Kim Bu-bong tidak tahan lagi, cepat ia memburu maju, sekali pukul.

"blang" , daun pintu jebol dan orangnya pun menerobos ke dalam. Sudah kasip Si Kucing mau merintangi, lekas ia pun ikut menerobos masuk, setiba di depan ranjang, begitu melihat Cu Jit-jit, tak tahan ia pun menjerit kaget.

"Cu Jit-jit ... bagaimana mungkin kau ...."

Sim Long tergegap. Si Kucing juga mematung, gumamnya.

"Jadi ... kiranya engkau ...."

Kedua orang ini memang tidak pernah membayangkan bahwa Cu Jit-jit yang dicarinya ubek-ubekan sekian lamanya, ternyata berada di sampingnya sendiri.

Pada saat itulah mendadak Jit-jit membalik badan, kedua tangan bergerak sekaligus, ia menyerang jian-kin-hiat di dada kiri, dan dua hiat-to mematikan di tubuh Ong Ling-hoa.

Sudah tentu Ong Ling-hoa telah menduga akan serangan ini, mana bisa dia kecundang semudah ini, sedikit berputar, dengan enteng dia menghindarkan diri.

Sebaliknya Si Kucing dan Sim Long kaget sekali, keduanya bergerak berbareng, kedua tangan Cu Jit-jit telah dipegang mereka.

Sim Long menggenggam pergelangan tangan kanan si nona, katanya dengan suara tertahan.

"Jit-jit, apa kau gila? Mana boleh kau serang Ong-kongcu?"

Kedua pergelangan tangan Cu Jit-jit seperti terjepit tanggam, mana mampu meronta lepas, dia gugup dan gelisah hingga mukanya merah padam, kedua kakinya mencak-mencak, teriaknya serak.

"Lepaskan! Kalian berdua babi goblok, kenapa memegangiku? Lekas lepaskan, biar aku mengupas kulit bangsat keparat ini!"

Ong Ling-hoa tertawa, katanya.

"Coba kalian lihat, susah payah kutolong nona ini hingga bebas diri penderitaan, tapi nona ini malah mau mengupas kulitku ... Wah, terhitung apa ini?"

Sim Long berkata.

"Mungkin lantaran pikirannya belum jernih, maka ...."

Jit-jit mengentak kaki, makinya.

"Kentut, kau tahu apa, pikiranku belum pernah sejernih sekarang, kau ... kau inilah babi goblok."

Ong Ling-hoa tertawa.

"Kalau Nona berpikiran jernih, kenapa kebaikanku kau balas dengan jahat?"

"Kau masih berpura-pura? Kalau bukan gara-garamu, mana bisa aku mengalami nasib seperti ini? Aku ... aku ... apa pun aku akan membuat perhitungan denganmu."

Ong Ling-hoa menyengir, ujarnya.

"Apa yang dikatakan nona ini sungguh aku tidak mengerti. Sim-heng, Auyang-heng, dan Si Kucing manis, apa kalian tahu apa maksudnya?"

"Aku tidak mengerti,"

Ujar Si Kucing.

"Nona Cu, kau ...."

"Tutup mulutmu,"

Bentak Cu Jit-jit. Sim Long menghela napas, katanya.

"Kaulah yang harus tutup mulut!"

"Manusia mampus, kau ini orang mampus,"

Pekik Cu Jit-jit.

"Masa kau tidak tahu bahwa Ong Ling-hoa inilah iblis yang menculik Thi Hoat-hou, Can Ing-siong, dan lain-lain itu."

Sim Long terperanjat, dengan alis bekernyit dia menoleh ke arah Ong Ling-hoa. Ong Ling-hoa malah tertawa, katanya.

"Nona Cu, apa kau perlu makan obat lagi? Selama ini tidak kukenal Nona, kenapa Nona memfitnahku?"

"Selama ini belum kenal? Aku memfitnahmu? Kau, kau bangsat keparat, binatang, perbuatan yang pernah kau lakukan kenapa tidak berani kau akui?"

"Aku pernah berbuat apa?"

Ujar Ong Ling-hoa dengan lagak bingung.

"Aku telah menolongmu, memangnya apa salahku? Sim-heng, tolong kau beri keadilan!"

Sim Long menghela napas, katanya.

"Sudah tentu Ong-heng tidak salah, mungkin dia ...."

Hampir gila rasanya Cu Jit-jit, ia memandang kian-kemari tanpa menghiraukan betisnya yang mulus menongol keluar dari balik bajunya.

Terpaksa Sim Long menutuk hiat-to bagian bawah tubuh si nona, katanya dengan menghela napas.

"Tenanglah."

Setelah menutuk hiat-tonya, hatinya menjadi tidak enak, segera ia berkata pula.

"Kau tahu, tindakanku ini demi kebaikanmu."

"Kau orang mampus, kenapa Ong Ling-hoa tadi tidak menusukmu mampus saja supaya matamu melek dan biar kau tahu siapa sebetulnya yang salah, siapa pula yang gila."

"Ong-heng mana bisa membunuhku, kau ...."

Sim Long menyengir.

"Masih omong lagi ... babi goblok, ingin kugigitmu, menggigitmu sampai mampus ...."

Mulutnya segera terbuka dan hendak menggigit Sim Long, sudah ia tentu tak mampu menggigitnya. Agaknya Auyang Hi tidak tega, katanya.

"Umpama benar ada persoalan, Nona harus bicara dengan tenang dan secara baik-baik ...."

"Aku emoh bicara baik-baik, aku ... mau gila ... kalian bunuh aku saja, aku tidak mau hidup lagi ...."

Apa yang dikatakan ada benarnya, kejadian sesungguhnya, orang lain justru menganggap dia gila, keruan ia gugup, mangkel dan penasaran, mana dia kuat menahan perasaannya, akhirnya dia menangis tergerung-gerung.

Orang banyak saling pandang, sesaat lamanya mereka melenggong dan tiada yang bersuara.

Pek Fifi datang menghampiri, katanya dengan lembut.

"Nona ... Siocia, jangan menangis lagi, kumohon sukalah kau bicara dengan baik-baik. Dengan caramu ini kau sendiri yang rugi ...."

"Peduli apa dengan kau, aku rugi adalah urusanku,"

Bentak Jit-jit dengan gusar.

"Kau ... enyah, aku tak mau melihatmu."

Fifi menunduk, seperti anak kecil yang penasaran dimarahi dia menyingkir ke pinggir. Sim Long menghela napas, katanya.

"Dia bermaksud baik, kenapa kau sekasar ini terhadapnya?"

Dengan sesenggukan Jit-jit masih ribut.

"Biar, kau mau apa? Dia orang baik, aku ... aku orang gila, pergi kau merawatnya, jangan pedulikan aku."

Akhirnya Pek Fifi juga tidak tahan, dia menjatuhkan diri di lantai dan menangis keras-keras. Ong Ling-hoa keluarkan sebutir pil, katanya.

"Kukira keadaan Nona ini kurang sehat, obat ini dapat menenangkan pikirannya, silakan Sim-heng beri minum padanya."

Sim Long menatap Jit-jit, dilihatnya kedua bola matanya merah rambutnya kusut masai, keadaannya memang seperti orang yang kurang waras, terpaksa dia terima pil itu, katanya.

"Terima kasih ...."

Kontan Jit-jit meratap dan berteriak.

"Aku emoh ... emoh minum obat ... obat itu pasti obat bius, bila kumakan obat itu ingin mati pun tak bisa."

Sim Long tidak menghiraukan, pil itu diangsurkan ke depan mulutnya, katanya.

"Turut omonganku, jangan bandel ... telanlah pil ini ...."

Sekuatnya Jit-jit menggeleng kepala, suaranya serak.

"Tidak mau, tidak mau, mati pun tidak mau. O, tolong ... tolonglah aku, kumohon jangan kau paksa aku minum obat ini, bila kumakan obat ini, selamanya tak bisa lagi membongkar rahasianya."

Sim Long bimbang, katanya sambil menghela napas.

"Kalau kau mau tenang dan bicara dengan baik, aku tidak akan paksa kau, kalau tidak ...."

"Baiklah, aku akan bicara dengan tenang, asal kau tidak paksa aku minum obat itu. Apa yang kau minta kulakukan tentu akan kulakukan."

Sebenarnyalah dia sudah ngeri, maka menyerah dengan menderita.

"Apa benar pil ini beracun?"

Kata Ong Ling-hoa. Dia tertawa dingin dan ambil pil itu dari tangan Sim Long terus dimasukkan ke mulut sendiri serta ditelan, sambil mendongak katanya.

"Kalau pil ini beracun, biar aku yang mati keracunan."

Sim Long menghela napas, katanya sambil menggeleng.

"Jit-jit, apa pula yang dapat kau katakan?"

Bercucuran air mata Jit-jit, katanya.

"Dengarkan, jangan kau percaya padanya, setiap langkahnya pasti mengandung muslihat keji, dia ... dia manusia paling jahat di dunia ini."

Ong Ling-hoa menyeringai.

"Nona Cu, sebetulnya ada permusuhan apa antara kau dengan aku, kenapa kau fitnahku?"

"Sim Long, dengarkan penjelasanku, setelah aku berpisah dengan kau tempo hari, kebetulan aku bertemu dengan rombongan Can Ing-siong, kulihat keadaan mereka seperti orang linglung, gerak-geriknya lamban ...."

Sambil sesenggukan Jit-jit ceritakan bagaimana dia memergoki gadis-gadis berbaju putih mengiring kawanan mayat hidup, bagaimana dia sembunyi di bawah kereta hingga ikut terbawa ke dalam taman yang serbaaneh, bagaimana dia kepergok Ong Ling-hoa, lalu ditawan oleh nyonya jelita yang misterius itu, akhirnya dia disekap di penjara bawah tanah, secara ringkas dan jelas diceritakan seluruhnya.

Kisahnya memang nyata, umpama Sim Long kurang yakin akan ceritanya terpaksa juga harus percaya.

Ong Ling-hoa tertawa dingin, katanya.

"Sungguh kisah yang menarik, apakah Sim-heng percaya?"

Walau tidak menjawab, sorot mata Sim Long yang menatap muka orang dengan tajam jelas memancarkan rasa curiga.

"Apakah Sim-heng tidak berpikir, jika kisahnya itu benar, urusan begitu penting dan begitu rahasia, mungkinkah kulepaskan harimau pulang ke gunung, membebaskan dia begitu saja?"

Auyang Hi ikut menimbrung.

"Benar, dalam keadaan seperti itu, sudah tentu Ong-heng takut rahasia bocor dari mulut Nona Cu, jelas tidak mungkin membebaskan dia."

Sim Long tetap tidak bersuara, sorot matanya yang masih curiga beralih menatap Jit-jit. Nona itu menunduk, katanya.

"Dalam hal ini memang ada sebabnya, soalnya ...."

Walau watak Jit-jit kasar dan keras, tapi untuk menjelaskan kejadian di dalam penjara bawah tanah itu yang menyangkut kasih yang khusyuk masyuk itu, betapa pun sukar diceritakannya.

Tapi Sim Long justru mendesak lagi.

"Soal apa, katakanlah."

Jit-jit mengertak gigi, mendadak dia angkat kepala dan berseru.

"Baik, kukatakan, soalnya orang she Ong ini mencintai aku, tapi aku justru kasmaran terhadap orang she Sim, karena tak tahan pancinganku, dia tantang kubawa Sim Long padanya, maka aku dibebaskannya."

Bahwa seorang gadis belia berani bicara soal asmara di hadapan umum secara blakblakan, Auyang Hi dan lain-lain berdiri terkesima, sorot mata Si Kucing pun menampilkan rasa derita dan kecewa.

Ong Ling-hoa malah bergelak tertawa, katanya.

"Tutur kata Nona Cu sungguh mengasyikkan ... Umpama Nona Cu jelmaan bidadari, masakah perlu aku tergila-gila seperti itu kepadamu."

"Masih berani mungkir?"

Teriak Jit-jit serak.

"Berulang kali kau hendak mencelakai Sim Long, bukankah lantaran soal ini, barusan juga kau bilang kepadaku bahwa aku adalah perempuan satu-satunya yang paling kau cintai ...."

"Barusan aku bilang begitu?"

Tukas Ong Ling-hoa dengan tertawa lebar.

"Sim-heng, apakah kau dengar?"

Sim Long menghela napas, katanya.

"Aku tidak mendengar."

"Jelas dia bilang begitu, tadi ... kau tadi terbius pulas oleh arak obatnya, saat itulah dia bicara padaku."

Ong Ling-hoa gelang-geleng kepala, katanya.

"Nona bilang tadi aku berulang kali hendak mencelakai Sim-heng, kini kau bilang dia terbius pula hingga tidur pulas ... Sim-heng, bila benar aku hendak mencelakai kau, kenapa tidak mumpung kau terbius kubunuhmu ... Saudara-saudara, coba perhatikan, apa benar ada manusia tolol seperti itu di dunia ini?"

Hadirin diam saja dan saling pandang. Jit-jit berteriak.

"Kau membiusnya untuk berbicara denganku karena waktu itu kau tahu siapa diriku, kau takut selama hidup aku membencimu, maka kau tidak berani membunuhnya."

"Waktu itu Sim-heng sendiri pun belum mengenali dirimu, bagaimana aku bisa mengetahui akan dirimu. Apalagi, umpama benar aku sudah mengenalimu, tapi bila kutahu kau bakal membongkar rahasiaku, kenapa aku mau menolongmu, sekarang kuberi pula kesempatan bicara padamu, memangnya aku sudah gila? Mungkinkah aku mencelakai jiwaku sendiri?"

Pembelaan masuk di akal, sudah tentu orang banyak tiada yang mau percaya pada cerita Cu Jit-jit. Melihat sikap ragu orang banyak, saking gugupnya hampir gila Jit-jit, teriaknya dengan kalap.

"Kau iblis laknat, mana kutahu muslihat yang kau rancang?"

"Tentu saja kau tidak tahu, karena apa yang kau ceritakan itu kau alami dalam mimpi, omong kosong belaka, namun impian yang menyenangkan juga rupanya,"

Demikian Ong Ling-hoa berolok-olok.

Setiap patah kata Jit-jit adalah kejadian sesungguhnya, peristiwa nyata, namun tiada seorang pun yang mau percaya padanya, betapa rasa penasarannya sungguh sukar dilukiskan.

Dengan serak dia berteriak pula.

"Apakah kalian tiada yang percaya pada perkataanku?"

Tiada yang menjawab, namun sikap hadirin sudah memberi jawaban.

Bola mata Cu Jit-jit menyapu pandang wajah mereka satu per satu, akhirnya dia tak tahan isak tangisnya pula, walau tangisnya amat sedih, namun tiada seorang pun yang mau menghiburnya.

Tiba-tiba Si Kucing berkata.

"Untuk membuktikan kebenaran kisah Nona Cu, kurasa ada satu cara dapat kita tempuh."

"Kau kucing ini ada akal aneh apa?"

Tanya Auyang Hi.

"Bila kisah Nona Cu benar, pasti dia bisa membawa kita ke tempat yang diceritakan ...."

Jit-jit berhenti menangis, serunya dengan terbelalak girang.

"Betul, itulah cara yang tepat! Tadi sudah kukatakan, aku akan bawa kalian ke tempat itu, orang she Ong jangan boleh pergi, setiba di tempat itu, coba apa yang bisa dia katakan."

Sim Long menghela napas, katanya.

"Sebetulnya soal ini tidak perlu dibuktikan, namun supaya dia tidak membuat ribut terpaksa kita gunakan cara ini, entah Ong-heng sudi tidak menyertai kami?"

"Tak perlu Sim-heng omong pasti juga kuikut, aku pun ingin tahu, cara bagaimana Nona Cu hendak membuktikan kisahnya. Kalau tak terbukti coba apa yang akan diucapkannya." ***** Waktu itu sudah tengah hari, Lokyang termasuk kota besar di Tionggoan, sudah tentu amat ramai, jalan raya penuh orang berlalu-lalang. Rombongan Cu Jit-jit sudah tentu menarik perhatian orang. Air mata Jit-jit sudah kering, matanya masih merah, dia berjalan paling depan, liku-liku jalan di kota besar ini sudah tentu dia belum hafal, setelah putar kayun sekian lama, belum juga dia menemukan tempat tujuannya. Auyang Hi boleh dikatakan adalah rajanya kota Lokyang, orang paling berkuasa di kota kuno ini, ada Auyang Hi di dalam rombongan ini, siapa berani bertingkah, bahkan melirik pun tidak berani kepada mereka. Sim Long dan Si Kucing berjalan di kanan-kiri mengapit Jit-jit, ternyata Pek Fifi juga mengintil di belakang, berjalan sambil menunduk, sikapnya yang lembut dan jinak sungguh harus dikasihani. Setelah putar kayun setengah hari, Auyang Hi mengerut kening, katanya.

"Agaknya Nona Cu tidak hafal jalan di sini, coba katakan saja di mana atau apa nama tempat itu, aku ini penduduk tua di kota ini, biar aku menunjukkan jalannya."

Jit-jit cemberut, katanya.

"Tak perlu kau menunjukkan jalan, juga tak perlu kau beri komentar."

Setelah putar satu lingkaran pula, mendadak mereka membelok ke sebuah jalan panjang, di kanan-kiri jalan terdapat lima-enam buah warung kecil, bau makanan yang harum merangsang hidung.

Perut Jit-jit sudah kelaparan, mencium bau masakan lezat, seketika tergerak hatinya, mendadak dia teringat waktu dirinya melarikan diri dari toko peti mati, perutnya juga sedang kelaparan, saat itu ia pun mencium bau masakan yang lezat seperti ini.

Waktu dia mendongak dan celingukan, merek toko dan nama warung sekitar tempat ini rasanya seperti pernah dikenalnya.

Jit-jit terbelalak girang, mendadak dia berlari ke depan, begitu angkat kepala, terlihatlah tiga huruf "ONG SOM KI"

Yang besar di sebuah pigura.

Pigura berwarna dasar hitam dengan tulisan huruf emas ini betapa pun tidak salah lagi, apalagi di kedua pintu samping tergantung juga dua papan panjang yang berukir syair yang hafal baginya.

Waktu dia melongok ke dalam, di belakang pintu terdapat sebuah panggung tinggi, di atas lemari terdapat dua timbangan, dua kuli, seorang sumbing bibirnya, yang lain burik, sedang menimbang uang perak.

Keadaan toko ini masih persis seperti waktu dirinya melarikan diri tempo hari.

Tak tertahan Jit-jit berteriak girang.

"Nah, ini dia di sini!"

"Di toko peti ini?"

Sim Long mengerut kening.

"Ya, dalam toko peti mati ini, tanggung tidak salah."

Ong Ling-hoa tertawa, katanya.

"Toko peti mati ini memang milikku, bila anggota keluarga Nona Cu ada yang meninggal dan mau pakai peti mati, ukuran apa dan kualitas terbaik juga dapat kusumbang beberapa buah."

Jit-jit diam saja tidak menanggapi, langsung dia menerjang masuk lebih dulu.

Kedua pegawai itu hendak mengadang, begitu melihat Ong Ling-hoa, segera mereka menjura dan munduk-munduk, sapanya dengar cengar-cengir.

"Siauya, kau telah datang, tumben Siauya datang kemari, biarlah hamba menyeduhkan teh wangi."

Ong Ling-hoa mempersilakan para tamunya masuk, Sim Long bersama Si Kucing ikut menerjang masuk di belakang Cu Jit-jit.

Toko peti mati ini memiliki ruang pamer yang amat besar, peti-peti mati yang sudah siap dipasarkan dan yang belum jadi atau belum dipelitur tersebar di mana-mana, di sebelah belakang tukang-tukang kayu yang bertelanjang dada sedang sibuk bekerja, makan siang telah usai, banyak di antaranya sedang duduk di atas peti mati dan mengobrol sambil menikmati teh panas, mengisap pipa tembakau, melihat Ong Ling-hoa masuk membawa tamu, serempak mereka berdiri menyambut.

Pasah, gergaji, pahat, dan segala macam peralatan tukang kayu berserakan, serbuk gergaji bertumpuk, pasahan kayu berserakan, tapi Cu Jit-jit tidak pedulikan kotoran di sekelilingnya, dia maju ke samping kiri, dia memeriksa lantai di sekitarnya, maka ditemukan sebuah papan batu di sebelah kiri ada tanda-tanda pernah dijugil.

Seketika wajahnya tersenyum senang, inilah senyuman pertama selama beberapa hari ini, khawatir Ong Ling-hoa mencegah atau merintangi tindakannya, dia bersikap seperti tidak terjadi apa-apa, langsung dia mendekat beberapa langkah, akhirnya dia tidak kuat menahan sabar, mendadak dia melompat ke atas papan batu itu, ia berpaling kepada Ong Ling-hoa dan berkata.

"Nah, sekarang apa pula yang hendak kau katakan?"

Ong Ling-hoa seperti bingung, katanya sambil mengerut alis.

"Ada apa?"

Jit-jit tertawa, katanya.

"Masih pura-pura pikun? Jelas kau tahu di bawah batu ini adalah mulut gua di bawah tanah yang terahasia itu, dari lubang inilah hari itu aku melarikan diri."

Urusan sudah sejauh ini, mau tak mau orang setenang dan sedingin Kim Bu-bong pun ikut terbeliak, sorot matanya tampak beringas menatap Ong Ling-hoa, tak tahunya Ong Ling-hoa malah tertawa, katanya.

"Bagus, bagus sekali!"

"Apanya yang bagus?"

Jengek Jit-jit.

"Masa kau masih bisa tertawa?"

"Kalau di bawah batu ada lubang gua, kenapa Nona tidak membongkar papan batu itu?"

"Sudah tentu harus kubongkar untuk bukti."

"Biar aku?"

Seru Si Kucing sambil melompat maju. Jit-jit mendelik, katanya.

"Akulah yang menemukan tempat ini, siapa pun dilarang menggangguku."

Di sana terdapat palu besar, linggis dan sekop, Jit-jit mengambil sekop terus menggali tanah di pinggir papan batu, lalu menjugil batu itu perlahan.

Kejap lain batu itu sudah terangkat ke atas dan terbalik ke sebelah samping, tapi semua orang saling pandang dengan air muka berubah, Jit-jit juga menjerit kaget sambil menyurut mundur.

Di bawah papan batu ternyata adalah tanah padat, mana ada lubang gua segala.

Mendadak Ong Ling-hoa tertawa terkial-kial, suaranya terdengar puas dan gembira.

Dengan kening bekernyit Sim Long awasi Jit-jit, sementara Si Kucing, Auyang Hi menggeleng kepala, hanya Kim Bu-bong yang berdiri diam tanpa menunjukkan reaksi apa-apa, Pek Fifi mencucurkan air mata.

Lama Jit-jit berdiri kesima, mendadak seperti gila dia ambil sekop dan membongkar jubin sekitarnya, orang banyak menyingkir jauh, menonton dengan berpeluk tangan, tiada yang membantu atau mencegah, jubin seluas dua tombak hampir terjugil semua oleh sekop Jit-jit, tapi di bawah jubin jelas adalah tanah yang rata dan padat, tiada tanda-tanda pernah digali atau ditimbun.

"Nona Cu,"

Ujar Ong Ling-hoa penuh kemenangan.

"apa abamu sekarang?"

Cu Jit-jit basah kuyup keringat, pakaiannya berlumpur, kaki tangan pun kotor, makinya sengit.

"Kau bangsat keparat, kau ... pasti sebelumnya kau tahu kami akan kemari, maka siang-siang kau sumbat lubang gua itu."

Sim Long tertawa getir, timbrungnya.

"Tanah yang kau bongkar tiada tanda pernah digali atau ditimbun, orang awam pun tahu tempat ini tidak pernah dibongkar ... Jit-jit, Nona Cu, kuminta jangan membual lagi, sia-sia kita semua berputar kayun dan membuang tenaga belaka."

Jit-jit geregetan, teriaknya dengan air mata bercucuran.

"Sim Long, aku bicara sebenarnya, semua kejadian nyata, kumohon padamu, percayalah kepadaku, selama hidupku kapan pernah kudustaimu?"

"Tapi kali ini? Kali ini ...."

Mendadak Ong Ling-hoa menyela.

"Jika Nona Cu masih penasaran, boleh kusuruh orang membongkar tanah sekitar supaya dia periksa dengan teliti hingga persoalan menjadi jelas."

"Kenapa Ong-heng berbuat demikian ...."

Ujar Sim Long.

"Tidak apa, kalau urusan tidak dibikin beres, aku pun malu ..."

Lalu dia memanggil tukang-tukang kayu itu dan berkata.

"lekas kalian gali tanah di sekitar sini."

Sebelum magrib, tanah di dalam ruang itu sudah digali sedalam beberapa kaki hingga menjadi sebuah kolam, bagian bawah tanah adalah fondasi yang keras, setiap orang yang bermata dapat melihat dengan jelas.

Maka Sim Long dan lain-lain hanya menggeleng kepala dan menghela napas.

"Bagaimana Nona Cu?"

Tanya Ong Ling-hoa dengan tertawa.

"Bluk" , akhirnya Jit-jit jatuh terduduk dengan lemas, mukanya pucat, matanya mendelong seperti orang linglung.

"Ong Ling-hoa hanya memiliki toko peti mati satu ini di kota Lokyang, jadi tiada cabang lain, jika kalian tidak percaya, boleh silakan mencari tahu kepada penduduk dalam kota."

Urusan sudah telanjur sejauh ini, siapa pula yang tidak percaya kepadanya?

Umpama sekarang dia bilang peti mati buatan tokonya semua bulat, mungkin tiada orang yang berani bilang tidak percaya.

Sim Long berkata.

"Kecuali minta maaf, terus terang tidak tahu apa yang harus kukatakan, semoga Ong-heng mengingat dia adalah seorang gadis hijau, jangan pikirkan persoalan ini dalam hatimu."

"Mendengar pernyataan Sim-heng, umpama seluruh tokoku ini harus dibongkar juga kurela,"

Kata Ong Ling-hoa.

"Bagaimana kalau Sim-heng mampir dulu di kediamanku?"

"Mana berani aku mengganggu lagi, lebih baik ...."

Mendadak Cu Jit-jit melompat bangun, serunya.

"Kau tidak mau, biar aku ikut pergi."

"Kau mau ke mana?"

Tanya Sim Long. Jit-jit mengucek mata, katanya.

"Ke rumahnya."

"Kapan Ong-kongcu mengundang kau ke rumahnya?"

"Dia mengundang kau, maka aku ikut, aku ... aku harus memeriksa rumahnya."

"Betul,"

Ucap Ong Ling-hoa dengan tertawa.

"betapa pun aku pasti juga mengundang Nona Cu, apa pun Nona Cu harus memeriksa persoalan ini secara tuntas." ***** Kekayaan Ong Ling-hoa merajai kota Lokyang, rumahnya megah pekarangan luas, bentuk bangunannya sudah tentu sangat hebat. Begitu masuk pintu, bola mata Cu Jit-jit lantas jelalatan, celingukan ke sana-sini. Ong Ling-hoa tertawa, katanya.

"Walau rumahku ini agak sempit, tapi di belakang terdapat taman yang indah permai, sayang Siaute tidak pandai mengatur tanaman dan bangunan sehingga keadaan morat-marit, mohon Sim-heng nanti memeriksa ke sana dan sudilah memberi petunjuk."

Sebelum Sim Long buka suara, Jit-jit menjengek.

"Kita memang harus memeriksa ke taman di belakang."

Sim Long tertawa getir, katanya.

"Ong-heng memang ingin kau periksa ke sana supaya selanjutnya tidak ribut lagi ...."

"Hanya manusia yang licin suka bicara secara terbalik, meski kutahu ucapannya juga sengaja pura-pura tidak tahu."

Segera dia mendahului melangkah ke dalam.

Jit-jit berjalan tanpa menentukan arah, melihat jalan lantas menerobos, sedikit pun tidak sungkan, serupa masuk ke rumah sendiri saja.

Sim Long mengikut di belakangnya, sering tertawa sambil menggeleng kepala.

Pepohonan di sini serbahijau dan tumbuh subur terpelihara baik, di sana loteng, di sini gerai pemandangan, letaknya diperhitungkan dengan tepat, jelas hasil tangan seorang yang ahli bangunan dan tata taman, berada di taman ini rasanya seperti di surga.

Taman seluas ini keadaan sepi lengang, tiada suara atau bayangan orang, kicau burung juga tidak terdengar, hanya jangkrik atau sebangsa serangga saja yang bernyanyi di tempat gelap.

Bergejolak perasaan Cu Jit-jit, batinnya.

"Ke mana laki-laki kekar berbaju hitam serta kawanan gadis penggiring mayat hidup itu?"

Meski binal dan galak, betapa pun dia sungkan main geledah di rumah orang.

Di ujung taman terdapat beberapa rumah berloteng kecil, di samping sana terdapat istal kuda, suara ringkik kuda terdengar terbawa embusan angin.

Semua ini jelas bukan pemandangan yang pernah dilihat Jit-jit hari itu.

Akhirnya dia menghentikan langkahnya dan berkata.

"Rumahmu bukan di sini."

Ong Ling-hoa tertawa, katanya.

"Masa rumahku sendiri tidak kukenal lagi dan Nona Cu lebih mengenalnya malah? Kalau benar omonganmu, bukankah aku ini orang pikun?"

"Jelas ini bukan rumahmu,"

Teriak Jit-jit.

"hendak kau tipu diriku?"

Auyang Hi tidak tahan, dia menyela.

"Sudah puluhan tahun Ong-kongcu tinggal di sini, aku berani menjadi saksi dan pasti tidak salah, jika Nona Cu tetap tidak percaya, Nona boleh tanya pula kepada orang lain ...."

"Kalau demikian ... dia pasti punya rumah yang lain."

"Cayhe belum menikah, kurasa tidak perlu rumah lain untuk menyimpan si cantik."

"Keparat,"

Mendadak Jit-jit menjerit.

"bisa mati gemas aku!"

Mendadak dia berjingkrak, tangannya meraih secomot salju di atap gardu terus dijejal ke mulut serta dikunyahnya dengan bernafsu, giginya sampai berkeriut, orang lain menyaksikan dengan merinding, muka Jit-jit tampak merah padam seperti membara, saking gugup, gelisah dan gusar, badannya seakan terbakar, ingin rasanya bergulingan di atas salju.

Sim Long menyengir, katanya.

"Buat apa kau menyiksa diri ...."

"Jangan kau urus aku,"

Bentak Jit-jit.

"pergi ..."

Mendadak dia menerjang ke depan Ong Ling-hoa.

"aku ingin tanya, bukankah kau punya seorang ibu?"

"Kalau Cayhe tidak punya ibu, memangnya aku dilahirkan dari celah-celah batu? Kenapa Nona tanya hal ini, apa kau sendiri tidak punya ibu?"

Jit-jit anggap tidak mendengar ocehannya, bentaknya.

"Di mana sekarang ibumu?"

"Jadi Nona ingin bertemu dengan ibuku?"

"Betul, bawa aku kepadanya."

"Baiklah, memang aku ingin memperkenalkan Sim-heng kepada ibuku ...."

"Ong-heng, jangan kau turuti kehendaknya, mana berani aku mengganggu ketenangan ibumu,"

Kata Sim Long.

"Tidak apa, walau sudah lanjut usia, tapi ibuku paling suka menerima tamu muda yang gagah, jika Sim-heng tidak percaya, ini, Auyang-heng boleh menjadi saksi."

"Ya, betul,"

Ujar Auyang Hi.

"Bukan, saja aku sering bertemu dengan ibunya, pernah pula Siaute disuguh kuah jinsom masakan beliau sendiri, sungguh seorang tua yang welas asih." ***** Waktu itu Ong-lohujin baru saja bangun tidur siang, rambutnya sudah ubanan seluruhnya, namun tersisir rapi dan berduduk di tengah ruang besar, dengan tertawa dia sambut kedatangan putranya yang membawa beberapa tamu. Raut wajahnya yang penuh keriput tampak berseri tawa, sambil bicara dan berkelakar dia berpesan kepada putranya supaya lekas menyiapkan perjamuan, jangan kurang adat terhadap tamu. Orang banyak saling pandang sekejap, dalam hati sama berpikir.

"Memang seorang tua yang welas asih."

Tapi setelah berhadapan dengan nyonya tua welas asih ini, Jit-jit justru tambah gelisah dan hampir gila. Sebetulnya dia hendak membentak gusar.

"Dia bukan ibumu!"

Syukur dia belum gila benar-benar, dia tidak berani melontarkan kata demikian, dalam keadaan seperti ini, dia insaf dirinya terpaksa harus menahan emosi, maka dia hanya berpeluk tangan dan melancarkan gerakan tutup mulut.

Benaknya rasanya seperti butek dan pening, apa yang dipercakapkan orang lain sepatah pun tidak didengarnya, apa yang dilakukan orang lain juga tidak dilihatnya.

Untunglah hidangan sudah disuguhkan, setelah makan, Ong-hujin pamit masuk kamar, perjamuan usai, Sim Long mohon diri.

Dengan tertawa Ong Ling-hoa berkata.

"Nona Cu ...."

"Ada apa berteriak-teriak?"

Bentak Jit-jit.

"Pintu rumahku selalu terbuka menyambut kedatangan Nona Cu, kalau dalam hati masih curiga atau ada sesuatu yang kurang jelas, sembarang waktu boleh kau datang kemari."

Jit-jit hanya melotot saja dengan mendongkol tanpa balas berolok. Ong Ling-hoa lantas berkata lebih lanjut.

"Kenapa Nona Cu tidak bicara lagi?"

Cu Jit-jit mengentak kaki terus menerobos keluar lebih dulu. Sim Long tertawa getir, katanya.

"Begini sikap Ong-heng padanya, apa yang bisa dia katakan pula." ***** Malam dingin, salju berhamburan. Sim Long tidak lagi minta meninggalkan kota, maka rombongan kembali ke rumah Auyang Hi, hingga malam ketika perjamuan diadakan pula, Cu Jit-jit tetap tutup mulut. Alisnya terkerut, kepala tertunduk, entah apa yang sedang dipikirkan. Siapa pun mengajak bicara juga tidak dipedulikan, seperti tidak mendengar. Akhirnya Auyang Hi menghela napas, katanya.

"Ong Ling-hoa memang bukan seorang kuncu, tapi kuyakin dia juga bukan lelaki seperti apa yang dikisahkan oleh Nona Cu, kurasa dalam persoalan ini pasti ada salah paham, Sim-heng, kau ...."

"Tanpa kau katakan juga kutahu,"

Tukas Sim Long.

"Apa lagi, meski dia bun-bu-siang-coan (serbamahir ilmu silat dan sastra), tapi belum pernah dia pamer di depan umum, kecuali dua-tiga orang tua seangkatanku, penduduk Lokyang hanya tahu dia seorang pemuda kaya yang suka pelesir, siapa pun tidak tahu dia pandai kungfu, terhadap seluk-beluk dunia Kangouw dia lebih-lebih tidak pernah ikut campur."

"Hal itu juga sudah kuketahui,"

Kata Sim Long dengan tertawa. Mendadak Cu Jit-jit menggebrak meja, teriaknya.

"Kau tahu kentut!"

Sim Long mengerut kening, katanya.

"Urusan sudah sejauh ini, kau masih ingin membuat ribut, kau memfitnah orang, jika Ong-kongcu kurang bijaksana dan ramah tamah, mana dia mau mengampuni kau."

"Dia tidak mengampuni aku?"

Jengek Jit-jit penuh kebencian.

"Hm, justru aku yang tidak akan mengampuni dia."

"Apa pula yang hendak kau lakukan?"

Tanya Sim Long. Turun-naik dada Jit-jit saking gemas, akhirnya dia menghela napas dan berkata.

"Aku mau tidur."

Sim Long tertawa, katanya.

"Memangnya sejak tadi kau perlu tidur ...."

Sejak tadi Pek Fifi duduk di samping Cu Jit-jit, segera ia berdiri, katanya.

"Biar kulayani Nona beristirahat!"

Sambil menunduk dia ikut maju melangkah ke sana. Mendadak Jit-jit membalik dan membentak.

"Siapa minta dilayani? Enyahlah yang jauh."

Suara Fifi gemetar, katanya.

"Tapi ... tapi budi pertolongan Nona ...."

"Orang she Sim itu yang menolong kau dan bukan aku, boleh kau ladeni dia saja,"

Sambil mendorong ke belakang Jit-jit lantas berlalu. Sudah tentu Fifi tidak kuat menahan tolakan itu, tubuh yang lemah itu terhuyung dan air mata bercucuran. Cepat Sim Long memapahnya, katanya.

"Begitulah tabiatnya, jangan kau berkecil hati, sebenarnya ... sebenarnya ... Ai, lahirnya dia kelihatan galak, padahal hatinya tidak demikian."

Berlinang air mata Fifi, ia mengangguk, suaranya masih gemetar.

"Budi kebaikan Nona Cu terhadapku setinggi gunung, selama hidupku ini sudah menjadi miliknya, bagaimanapun sikapnya terhadapku adalah pantas ...."

Lama Sim Long menatapnya, wajahnya yang tenang mendadak memperlihatkan perasaan haru, sesaat baru dia menghela napas, ujarnya.

"Cuma ... terlalu menyusahkan kau."

Fifi tertawa pedih, katanya.

"Aku memang bernasib jelek, derita apa pun sudah biasa kualami, apa lagi ... apalagi para Kongcu bersikap sedemikian baik kepadaku ... inilah ... inilah hari-hari kehidupanku yang paling bahagia ...."

Tangannya tidak berhenti menyeka air mata, tapi air mata justru tidak berhenti mengalir. Agak lama Sim Long termenung, akhirnya dia menghela napas.

"Pergilah tidur."

"Terima kasih, Kongcu,"

Ucap Fifi, lalu dia memberi hormat dan melangkah pergi. Auyang Hi menghela napas, katanya.

"Perempuan seperti dia baru terhitung perempuan tulen, lelaki mana bila dapat mempersunting gadis seperti dia, sungguh bahagia selama hidupnya."

Si Kucing mendebat.

"Kau berkata demikian, memangnya Nona Cu itu bukan perempuan tulen dan gadis idaman?"

"Nona Cu? ... Kurasa ... oh ...."

Auyang Hi terbatuk-batuk untuk menghilangkan rasa canggungnya.

"Rase tua, tidak mau bicara, buat apa pura-pura batuk?"

Berolok Si Kucing.

"Yang benar, meski Nona Pek sehalus sutra, secantik bunga, tapi Nona Cu juga tidak kalah dibandingkan dia."

"Nona Cu memang sangat cantik, cuma tabiatnya ...."

"Kau tahu apa? Dia mengumbar nafsu karena dalam hati sedang dirangsang emosi, lelaki mana yang membuatnya kasmaran baru benar-benar bahagia hidupnya."

Auyang Hi tertawa, katanya.

"Apakah betul bahagia, untuk ini kurasa harus tanya Sim-heng."

Sim Long tertawa tanpa memberi jawaban. Saat mana hujan salju makin lebat di luar, hawa dalam kamar justru masih hangat. Sim Long menatap keluar jendela, mendadak dia bergumam.

"Malam sedingin ini, mengapa ada juga orang yang keluar di bawah hujan lebat?"

Auyang Hi tidak jelas, dia tanya.

"Apa yang kau katakan, Sim-heng?"

"O, tidak apa-apa ... marilah, Him-heng, temani aku minum secangkir."

Setelah beberapa cangkir arak masuk ke perut, mendadak Si Kucing mendorong cangkir dan katanya dengan tertawa lebar.

"Siaute sudah tidak kuat minum lagi, aku mau tidur ... haha."

Di tengah gelak tertawanya.

"blang" , dia menumbuk kursi hingga terbalik terus melangkah dengan sempoyongan keluar pintu. Sim Long berkata.

"Pertemuan meriah begini kenapa kau pergi lebih dulu?"

"Biarkan kucing itu pergi, mari kita minum tiga ratus cangkir,"

Agaknya Auyang Hi mulai sinting.

***** Setelah berada di luar, mata Si Kucing menjelajah sekitarnya, setelah yakin tiada bayangan orang lain, dengan langkah sempoyongan dia berjalan beberapa langkah lagi, tapi mendadak dia melompat ke balik pohon sana, gerak-geriknya tampak lincah, cekatan dan mantap, sorot matanya yang semula seperti mabuk kini berkilat terang.

Dia meluncur seperti bermain ski saja, meluncur ke samping sana dan melewati serambi, ia melayang ke sana di bawah hujan salju, lalu melompat ke wuwungan yang tertimbun salju.

Hujan salju yang hebat, suasana remang-remang.

Sedikit merandek, setelah menentukan arah, Si Kucing melesat kencang ke depan.

Embusan angin mengiris muka setajam pisau, dinginnya meresap tulang sumsum, namun dia tidak mengerut kening, dada baju malah disingkap terlebih lebar.

Beruntun dia melompat naik-turun delapan kali, kini dia sudah berada puluhan tombak jauhnya, dari kejauhan sempat dia melihat sesosok bayangan orang yang bergerak di wuwungan rumah di sebelah depan, segera ia berjongkok, menentukan arah dan meneliti sekitarnya.

Tanpa mengeluarkan suara Si Kucing merunduk maju ke sana, langkahnya ternyata tidak meninggalkan jejak dan tanpa mengeluarkan suara.

Dalam sekejap dia sudah melejit turun di belakang orang itu dan berdiri tegak dengan diam.

Didengarnya orang itu sedang bergumam sendiri.

"Menyebalkan, kenapa turun hujan selebat ini? Pantas kebanyakan maling yang berpengalaman suka bilang 'mencuri jangan pada waktu hujan salju', agaknya beroperasi pada saat seperti ini memang tidak leluasa."

Si Kucing tertawa, katanya tiba-tiba.

"Apa yang kau curi?"

Orang itu berjingkat kaget dan membalik tubuh seraya mengayun tangga dan memukul dada Si Kucing, tanpa peduli siapa lawannya, dia menyerang secara keji.

"Wah, celaka!"

Seru Si Kucing. Belum lenyap suaranya, orangnya sudah roboh. Orang itu berpakaian ketat dan berkerudung kepala, setelah merobohkan orang, dia berdiri bingung malah, bentaknya.

"Siapa kau?"

Si Kucing telentang kaku sambil merintih-rintih. Orang itu bergumam.

"Ginkang orang ini tidak rendah, kenapa kungfunya tidak becus ...."

Karena ingin tahu, segera dia melompat maju serta jongkok untuk memeriksa siapa gerangan korbannya ini.

Di bawah refleksi cahaya salju, dilihatnya mata Si Kucing terpejam, mukanya pucat.

Begitu melihat wajah Si Kucing, orang itu mendadak berseru kaget, gumamnya pula.

"Kiranya dia ... Wah, ba ... bagaimana baiknya?"

Agaknya dia gugup dan juga menyesal hingga suaranya gemetar, akhirnya dia raih tubuh Si Kucing dan berkata.

"He, kau kenapa? ... Ayo bicara ... kau ... kau ... kenapa tak berguna, sekali pukul lantas sekarat begini."

Dia tidak tahu bahwa Si Kucing sedang memicingkan mata dan mengintip kelakuannya, ujung mulut malah menyungging senyum geli.

Mendadak tangannya bergerak menarik kain kerudung yang menutupi muka orang itu.

Orang itu kaget, saking gugupnya berlinang air matanya, siapa lagi dia kalau bukan Cu Jit-jit.

Si Kucing tertawa, katanya.

"Ternyata kau, memang sudah kuduga akan dirimu."

Terangkat alis Cu Jit-jit, namun segera ia pun tertawa.

"Oo, apa benar?"

"Tapi tak kuduga sebelumnya, melihat aku roboh terpukul, kau kelihatan khawatir, aku ... aku ...."

"Kau senang sekali, begitu?"

Tukas Jit-jit.

"Kau bersikap sebaik ini kepadaku, tak sia-sia aku memerhatikan dirimu."

"Memang selama ini aku amat baik terhadapmu, masa kau tidak tahu?"

"Aku ... aku tahu, kau ...."

"Aku menghendaki kau ... kau mampus,"

Mendadak Jit-jit ayun tangan menggampar beberapa kali muka Si Kucing, ditambah sekali tendangan pula hingga Si Kucing jatuh terjungkal. Si Kucing tertegun ketika mukanya digampar.

"bluk" , dengan keras dia jatuh terbanting pula di atas salju, pantat seperti mau pecah, kepala pusing dan mata berkunang-kunang. Dilihatnya Cu Jit-jit bertolak pinggang, memaki sambil membungkuk badan ke arahnya.

"Kau kucing mampus, kucing malas, kucing busuk, memangnya nonamu sudah buta, kau sendiri yang mabuk kepayang, kau ... kau lekas mampus saja."

Sambil memaki dia mencomot salju terus ditimpukkan ke badan Si Kucing, lalu berlari pergi tanpa menoleh lagi.

Sekujur badan Si Kucing bertaburan salju, baru saja dia hendak memanggil, ternyata penghuni rumah terjaga bangun karena keributan ini, beberapa orang tampak lari keluar sambil membawa pentung dan menerjang ke arahnya, tanpa bicara terus menghajar Si Kucing dengan bernafsu.

Si Kucing tidak membalas, tapi berteriak-teriak.

"Tahan, berhenti ...."

Tapi beberapa orang itu mencaci dengan gusar.

"Maling keparat, ganyang saja, ayo dibunuh!"

Setelah terkena beberapa kali gebukan pentung baru Si Kucing berhasil menerjang keluar terus melompat ke atas genting dan melarikan diri, hatinya dongkol tapi juga geli.

Sejak dia berkecimpung di dunia Kangouw, kapan pernah digebuk orang, apalagi harus melarikan diri dalam keadaan runyam, waktu dia celingukan, bayangan Cu Jit-jit sudah tidak kelihatan.

Setelah mengejar beberapa saat lamanya, tak tahan dia mengentak kaki dan mengomel.

"Budak busuk, budak setan, seorang diri berkeliaran, entah apa yang dilakukannya, bikin orang lain khawatir bagimu."

Mendadak didengarnya cekikik tawa geli di tempat gelap, katanya.

"Untuk siapa kau bergelisah begini?"

Sambil membetulkan sanggulnya, Cu Jit-jit tampak muncul dari tempat gelap, tubuhnya yang semampai dan menggiurkan menambah cemerlang cahaya salju yang putih perak.

Si Kucing terpesona mengawasinya, katanya tergegap.

"Untukmu ... tentu saja demi kau."

Jit-jit tertawa.

"Jadi budak setan juga memaki diriku?"

Selangkah demi selangkah dia menghampiri, Si Kucing juga menyurut mundur, dengan tertawa merdu Jit-jit berkata lembut.

"Jangan khawatir, walau kau memakiku, aku tidak marah."

"Baiklah ... bagus sekali ...."

Padahal jawaban yang tidak genah, di mana letak baiknya dan mana yang bagus dia tidak tahu, akhirnya Si Kucing tertawa geli sendiri.

"Coba lihat, sekujur badanmu berlepotan salju, mukamu juga bengep seperti dipukul orang, bocah segede ini, memangnya kau tidak tahu menjaga dirimu sendiri?"

Tutur kata Jit-jit lembut penuh kasih sayang, kejadian yang baru menimpa Si Kucing seperti tiada sangkut pautnya dengan dirinya. Si Kucing jadi menyengir, katanya.

"Nona ...."

Jit-jit keluarkan saputangan sutra, katanya.

"Lekas kemari, biar kubersihkan wajahmu ...."

Si Kucing malah mundur sambil menggoyang tangan, katanya.

"Terima kasih, terima kasih, maksud baik Nona tak berani kuterima, selanjutnya asal Nona tidak main kaki dan tangan, Cayhe akan berterima kasih kepadamu."

"Tadi aku hanya berkelakar denganmu, apakah kau sesalkan perbuatanku?"

"Aku ...."

"Kau ini memang masih bocah, kukira ... lebih baik kau anggap aku sebagai taci saja, supaya kelak Taci bisa selalu membela dirimu."

Mendadak Si Kucing terbahak-bahak. Jit-jit melotot.

"Kenapa tertawa?"

Dengan tertawa Si Kucing bertanya.

"Sebetulnya ada urusan apa yang perlu kukerjakan, lekas katakan saja, tak perlu bermuka-muka, jika aku punya taci seperti dirimu, dalam tiga hari saja tulang badanku bisa terhajar remuk."

Merah muka Jit-jit, mendadak tinjunya menjotos secepat kilat. Tapi kali ini Si Kucing sudah siaga, mana mampu dia memukulnya. Jit-jit mengertak gigi, makinya dengar geregetan.

"Kucing mampus, kucing keparat, kau ... kau."

Si Kucing berkata.

"Jangan khawatir, apa saja boleh kau katakan, pasti kukerjakan."

Dia bicara sambil tertawa, namun sorot matanya menunjukkan ketulusan hatinya. Jit-jit tak mampu memakinya lagi, katanya.

"Apa kau bicara setulus hati?"

"Aku tidak suka ngecap, ucapanku pasti dapat dipercaya."

"Tapi ... tapi kenapa kau bersikap demikian?"

"Aku ... aku ..."

Mendadak Si Kucing mengentak kaki, katanya.

"jangan peduli kenapa aku bersikap demikian, pendek kata ... apa yang pernah kuucapkan pasti takkan kujilat kembali, ada persoalan apa yang kau minta kulakukan, katakan saja."

Jit-jit menghela napas.

"Apakah kau hafal jalan di kota Lokyang ini?"

"Jika kau ingin cari penunjuk jalan, tepat sekali kau cari diriku, jalan raya dan gang sempit di seluruh pelosok kota Lokyang ini serupa rumahku sendiri, dengan mata tertutup juga aku bisa menemukan tempatnya."

"Baiklah, bawalah aku ke pasar bunga kota ini." ***** Tengah malam musim dingin, pasar bunga kota Lokyang yang biasanya ramai sekarang jadi sepi lengang, penjual kembang yang rajin bekerja sama datang pagi-pagi, tapi tengah malam tak mungkin mereka berada di pasar. Cu Jit-jit keluyuran ke sana kemari, Si Kucing mengintil di belakangnya. Jit-jit bergumam.

"Apakah kota Lokyang hanya ada pasar kembang satu ini?"

"Ya, hanya ada di sini, tiada cabang di tempat lain, kalau Nona ingin membeli bunga, sekarang masih teramat pagi."

"Aku bukan ingin beli bunga."

"Tidak ingin beli bunga, tapi berkeluyuran di pasar bunga, memangnya kau ingin makan angin malam yang dingin?"

Pandangan Jit-jit menatap ke tempat jauh, mulutnya berkata lirih.

"Dalam hal ini ada rahasianya."

"Rahasia apa?"

"Kalau kau ingin tahu, boleh kuceritakan kepadamu, tapi ..."

Mendadak dia menoleh dan mengawasi Si Kucing, katanya pula dengan serius.

"sebelum kubeberkan rahasia ini, ingin kutanya padamu."

Si Kucing tertawa.

"Sejak kapan kau sungkan padaku? ... Tanya saja."

"Ceritaku ini menyangkut Ong Ling-hoa, kau percaya tidak?"

Berkedip mata Si Kucing, gumamnya.

"Ong Ling-hoa keparat itu adakalanya memang tampak plinplan, kalau orang tanya asal usul ilmu silatnya, sepatah kata pun dia tak mau memberi keterangan. Coba katakan apa saja yang pernah dilakukannya, aku tidak akan kaget atau heran."

"Ya, pasti tidak salah lagi. Hari itu aku sembunyi di bawah kereta, waktu masuk kota Lokyang pernah lewat dan mampir di pasar bunga ini, gadis-gadis di atas kereta turun sejenak membeli bunga segar."

"Maka sekarang kau ingin menelusuri kejadian hari itu mulai dari pasar bunga ini untuk menemukan tempat di mana kau pernah disekap, begitu?"

"Kau memang pintar,"

Puji Jit-jit tertawa.

"Syukurlah kalau tidak bodoh,"

Ujar Si Kucing dengan jenaka.

"Bagus, orang pintar, pergilah cari sebuah kereta dan bawa kemari."

Mata Si Kucing terbelalak, tanyanya heran.

"Cari kereta untuk apa?"

Jit-jit menggeleng, katanya.

"Baru saja bilang kau pandai, kenapa berubah bodoh pula. Hari itu aku sembunyi di bawah kereta, tiada yang bisa kulihat, terpaksa diam-diam aku mengingat arah kereta berjalan, maka sekarang aku harus mengulang dengan sebuah kereta ...."

"Betul, kali ini memang akulah yang bodoh, kenapa hal sepele begini tidak kupahami. Tapi tengah malam buta begini, ke mana dapat kucari kereta?"

"Laki-laki macam dirimu, persoalan apa yang pernah menyulitkan kau? Jangankan hanya sebuah kereta, sepuluh kereta juga dapat kau bawa kemari, betul tidak?"

Si Kucing garuk-garuk kepala.

"Tapi ... tapi ...."

"Aku minta tolong, ya ... aku minta tolong, usahakan!"

Pinta Jit-jit. Si Kucing menghela napas.

"Baiklah, aku akan berusaha."

Jit-jit tertawa lebar, katanya.

"Nah, memang kau anak penurut, lekas pergi dan lekas pulang, aku menunggumu ..."

Lalu dirabanya wajah orang dan berbisik di pinggir telinganya.

"harus berhasil dan lekas bawa kemari, jangan membuatku kecewa."

Si Kucing bersungut-sungut, menggeleng kepala dan melangkah pergi.

Kira-kira sepemasakan air, terdengar derap kuda lari di bawah embusan angin dan taburan salju, tampak Si Kucing membawa datang sebuah kereta besar, wajahnya tampak puas dan bangga.

Jit-jit menyambut kedatangannya sambil berkeplok senang, serunya.

"Bagus, engkau memang pintar, dari mana kau peroleh kereta besar ini? Di mana kusirnya? Apakah kau curi kereta ini?"

"Mencuri atau merampas sama saja, pendek kata aku sudah menunaikan tugas dengan baik, memangnya kau belum puas? Untuk apa kau tanya asal usul kereta ini?"

Jit-jit cekikikan, lalu ia hendak menyelinap ke bawah kereta.

"He, kau mau apa?"

Tanya Si Kucing.

"Goblok, berapa kali kukatakan padamu? Hari itu aku sembunyi di bawah kereta, maka sekarang aku ...."

Mendadak Si Kucing bergelak tertawa.

"Betul, betul, aku memang goblok!"

"Memangnya kau tidak goblok? Apa yang kau tertawakan?"

Si Kucing menahan gelinya, katanya.

"Nona manis, hari itu karena khawatir kepergok orang, maka kau sembunyi di bawah kereta, tapi sekarang untuk apa kau sembunyi di bawah kereta pula? Untuk meneliti arah dan tujuan, apa bedanya duduk saja di depan kereta, kenapa harus meringkal di bawah kereta?"

Merah muka Jit-jit, sesaat kemudian dia berkata sambil bersungut.

"Hm, anggap alasanmu kali ini betul, tapi juga alasan biasa, kenapa bangga? Orang bodoh adakalanya juga bisa pintar."

Si Kucing melongo, gumamnya kemudian.

"Pantas Sim Long tidak berani bercuit di depanmu, nona segalak dan sebinal ini, orang gelandangan seperti diriku ini juga mati kutu."

"Apa katamu?"

Bentak Jit-jit mendelik.

"Tidak apa-apa,"

Sahut Si Kucing gelagapan.

"Nona baik, Nona manis, lekas naik kereta."

Segera Si Kucing ayun cemeti.

"tar" , kereta berkuda itu segera berlari ke depan. Jit-jit duduk di sampingnya, memejamkan mata dan mulut mulai menghitung.

"Satu, dua, tiga ... tiga puluh ... empat puluh ..."

Sampai hitungan empat puluh tujuh mendadak dia membuka mata dan berseru.

"keliru, keliru!"

"Apanya yang keliru?"

"Kereta ini terlalu lambat, dibandingkan laju kereta hari itu jauh lebih lambat, lekas putar balik dan ulangi lagi dari depan pasar bunga."

Si Kucing menghela napas dan mengiakan, kereta diputar balik dan diulang. Kembali Jit-jit menghitung.

"Satu, dua, tiga ..."

Waktu hitung sampai empat puluh tujuh, kembali dia membuka mata dan berteriak.

"salah, salah lagi, kali ini terlalu cepat."

Si Kucing tak sabar, katanya dengan mendongkol.

"Apakah kau tidak bisa tahu lebih dini bila salah? Kenapa setelah sejauh ini baru ...."

Jit-jit mendekap mulut orang, katanya dengan lembut dan tertawa.

"Hanya sekali lagi, ya, sekali saja, apa kau tidak sudi membantuku?"

Sesaat Si Kucing menatapnya dengan kesima, akhirnya dia tertawa getir, katanya.

"Di hadapanmu, aku benar-benar tak berdaya lagi, jangankan hanya sekali, sepuluh kali juga kulakukan."

Sembari bicara kereta dia putar balik.

"Kau memang anak baik,"

Puji Jit-jit dengan tertawa. Waktu kereta dilarikan lagi, kecepatannya kali ini tepat, Jit-jit terus menghitung sampai 90, lalu berkata.

"Belok kanan, lalu belok ke kiri."

Si Kucing memang melihat ada simpang jalan ke kanan.

Maka kereta lantas dibelokkan ke kanan, di sebelah depan benar juga ada jalan yang membelok ke kanan, bilang belok kiri juga betul ada jalan membelok ke kiri, meski hitungan jaraknya ada sedikit berselisih, tapi kebanyakan tepat, mau tidak mau Si Kucing memuji dalam hati.

"Daya ingat budak ini memang hebat, apa yang dikatakannya agaknya bukan bualan."

Tengah Si Kucing membatin, mendadak didengarnya Cu Jit-jit berseru dengan tertawa.

"Sudah sampai, pasti di sini!"

Lekas Si Kucing tarik tali kendali dan menghentikan kereta, tanyanya heran.

"Di sini?"

Waktu Jit-jit membuka mata, dilihatnya jalan raya di sini dilapisi balok-balok batu besar, diapit dinding tinggi, di depan sana terdapat sebuah pintu besar bercat merah, undakan batu tampak bersih dan rata, lampion terpasang benderang, di kedua samping undakan terdapat jalan samping yang bisa buat lewat kuda dan kereta, sekilas pandang, seketika dia berseru girang.

"Ini dia, pintu itulah!"

Si Kucing tampak heran dan kaget, katanya.

"Maksudmu pintu di sana itu?"

"Betul."

"Kali ini mungkin kau keliru."

"Tidak salah, tidak keliru, pasti tidak keliru."

"Aku justru bilang keliru, karena penghuni rumah ini sudah kukenal."

Jit-jit kaget dan terbelalak, katanya.

"Kau kenal? Apa betul rumah Ong Ling-hoa?"

"Memang Ong Ling-hoa sering kemari, tapi pasti bukan rumahnya."

"Lalu ... tempat apakah sebetulnya?"

Si Kucing menyengir, katanya sambil menggeleng.

"Tak dapat kukatakan ...."

"Kenapa tak dapat kau katakan, aku justru ingin kau bicara ... Ayo katakan, lekas!"

Karena terdesak, Si Kucing ragu-ragu, ucapnya.

"Baiklah, kukatakan, tapi setelah dengar, jangan merah mukamu."

"Mukaku merah? Memangnya begitu gampang?"

"Baiklah, biar kujelaskan, itulah tempat lampu merah."

"Tempat lampu merah"

Artinya sarang pelacur, tapi Cu Jit-jit tidak tahu, setelah melenggong sekian saat, lalu diliriknya beberapa kali, katanya.

"Pintu besar itu diterangi lampion sebesar itu, mana ada lampu merah?"

Si Kucing melongo, katanya dengan tertawa getir.

"Maksudku penghuni di rumah ini adalah kaum bidadari."

"Penghuni rumah itu jelas kawanan iblis, kau justru bilang bidadari, memangnya kau juga sehaluan dengan mereka?"

Dongkol hati Si Kucing, dengan tawa tertahan dia berkata.

"Nona manis, apakah benar kau tidak tahu apa-apa?"

"Apa pun aku tahu, kau ... kau memang sehaluan dengan mereka, kau ... kalian memang ingin menggoda aku,"

Akhir katanya suaranya sudah setengah terisak.

"Nona manis, Nona ayu, jangan menangis ... jangan menangis ...."

Jit-jit melengos sambil mengentak kaki.

"Kentut, siapa menangis? ... Lekas katakan, tempat apakah itu, lekas katakan!"

Si Kucing menghela napas.

"Baiklah, kujelaskan, bidadari adalah ... adalah nona-nona yang kerjanya tidak senonoh."

Khawatir Jit-jit curang paham, segera dia menambahkan dengan blakblakan.

"Tempat itu adalah sarang pelacur, penghuninya semua pelacur."

Sudah tentu malu Jit-jit, ia menunduk dan memainkan ujung baju, mendadak dia membalik tubuh dan melotot kepada Si Kucing, teriaknya.

"Sarang pelacur? Mana mungkin sarang pelacur? Kau tipu aku."

"Kalau tidak percaya, kenapa tidak kau masuk memeriksanya."

"Masuk ya masuk, memangnya aku takut?"

Segera dia melompat turun terus berlari ke sana, tangan diangkat dan hendak menggedor pintu.

Tapi tangan yang sudah terangkat itu terhenti di udara, mendadak dia membalik dan lari kembali.

Dengan tertawa Si Kucing mengawasi tingkah lakunya tanpa bicara.

Didengarnya Jit-jit bergumam.

"Sarang pelacur, ya, mungkin saja tempat ini sarang pelacur. Pek-hun-bok-li itu adalah ... adalah bidadari, sarang pelacur, digunakan sebagai tempat operasi untuk menyembunyikan perbuatan mereka, memang akal yang bagus, siapa yang menduga orang-orang gagah yang biasa malang melintang di dunia persilatan bisa menjadi tawanan kawanan pelacur, lalu digusur dan disekap dalam sarang pelacur?"

Si Kucing masih mengawasi tanpa bicara, namun kedua alisnya tampak bekernyit, senyum pun lenyap, kini kelihatan prihatin. Jit-jit menarik lengan bajunya, katanya perlahan.

"Bagaimanapun aku sudah berada di sini, apa pun harus kuselidiki hingga jelas duduknya perkara."

"Ya, memang harus demikian, lekas Nona masuk saja."

Jit-jit melenggong.

"Kau ... kau suruh aku masuk sendiri?"

Si Kucing berkedip-kedip, katanya.

"Apa Nona minta kutemani masuk?"

Jit-jit gigit bibir dengan mendongkol.

"Hm, memangnya kau ingin kumohon padamu ... Huh, jangan harap, kau kira aku tidak pernah masuk ke sana, memangnya apa yang perlu ditakuti?"

Lahirnya bilang tidak takut, padahal dalam hatinya takut sekali, adegan di dalam kamar bawah tanah, betapa tinggi kungfu si nyonya setengah baya yang cantik itu, betapa jahat dan culas hatinya, semua itu cukup membuatnya ngeri dan bergidik.

Kejadian itu betul-betul membuatnya takut, seorang diri betapa pun dia tak berani masuk ke sana.

Akhirnya Jit-jit bersuara.

"Kau ...kau ...."

"Aku kenapa?"

Tanya Si Kucing.

"Apa kau tidak ingin masuk ke sana?"

"Untuk masuk ke tempat ini aku harus menunggu bila hari sudah mulai gelap, kantongku penuh berisi, dengan langkah lebar dan membusung dada kumasuk melalui pintu besar, mana boleh menyelundup masuk di tengah malam buta?"

Jilid 12 Lama Jit-jit menatapnya dengan mendelik, mendadak dia putar tubuh, sekali loncat ia hinggap di atas pagar tembok dan langsung melompat ke dalam.

Sudah tentu si Kucing terperanjat, segera dia ikut melompat dan melayang, ke balik tembok.

Siapa tahu, baru saja dia hinggap di tanah, segera dilihatnya Cu Jit-jit berdiri di kaki tembok sambil mengawasinya dengan tertawa ejek, katanya.

"Kutahu kau pasti tidak tega membiarkan aku masuk sendirian."

Dongkol, gemas juga geli si Kucing, katanya sambil menggeleng.

"Baiklah, aku betul-betul takluk padamu."

"Kalau sudah takluk padaku, maka kau harus patuh pada perintahku."

Mendadak si Kucing berkata serius.

"Bila tempat ini betul tempat yang kau maksud, maka jelas di sinilah sarang naga dan gua harimau, di sekeliling kita pasti terpasang berbagai perangkap."

"Ya, betul,"

Sahut Jit-jit.

"Karena itulah penyelidikanmu kali ini harus dilakukan dengan hati-hati, sedikit pun tidak boleh salah langkah, sedikit lena mungkin takkan bisa keluar dari sini."

"Aku tahu ... ikuti aku,"

Sembari bicara Jit-jit lantas melayang ke depan.

Sebelum tengah malam tempat ini biasanya masih riuh ramai, gelak tertawa dan cekikikan genit, namun sekarang sunyi senyap, sinar lampu pun tidak kelihatan.

Di bawah pantulan salju Cu Jit-jit berusaha membedakan arah, namun dalam keadaan remang-remang sukar baginya memastikan apakah dia pernah datang ke sini.

Si Kucing menyusul di belakangnya, katanya.

"Hati-hati, jangan meninggalkan bekas kaki di permukaan salju."

"Jangan khawatir, aku tahu."

"Apa pun untuk jadi maling jelas kau bukan tandinganku, biar aku yang menunjukkan jalan saja,"

Tanpa menunggu jawaban Cu Jit-jit si Kucing lantas mendahului melayang ke depan.

Satu di depan yang lain di belakang, mereka merunduk ke taman belakang, sepanjang jalan bukan saja tidak terdengar suara orang, juga tidak menemukan rintangan atau perangkap.

Kesunyian yang agak ganjil, membuat orang tegang dan khawatir.

Cu Jit-jit merasakan jantung berdebar cepat dan keras.

Mendadak kakinya menyentuh sesuatu yang lunak, saking tegang dan kaget hampir saja Jit-jit menjerit.

Untung si Kucing keburu mendekap mulutnya, desisnya.

"Ssst, ada apa?"

Jit-jit tergegap, lidah terasa kelu, dia hanya menuding ke sana.

Waktu si Kucing memandang ke arah yang ditunjuk, tertampak di bawah pohon kering meringkuk dua orang berbaju hitam tanpa bergerak, entah masih hidup atau sudah mati.

Keruan berubah air muka mereka, keduanya menyurut mundur setindak.

Kedua orang yang rebah di atas salju itu tetap tidak bergerak.

"Mungkin ... mungkin sudah mati?"

Ucap Jit-jit gemetar.

Si Kucing menunggu beberapa kejap pula, lalu mendekat dan berjongkok membalik tubuh salah seorang berbaju hitam itu, kedua orang ini kelihatan melotot, mulut terbuka lebar, mukanya berlepotan salju, kulit daging sudah kaku dan pucat karena kedinginan, namun hidungnya masih bernapas lemah, dadanya pun masih hangat.

Kedua orang ini jelas belum mati.

Setelah memeriksa sekian lamanya, akhirnya si Kucing berkata.

"Kedua orang ini tertutuk hiat-tonya."

Mengepal tinju Jit-jit, katanya tegang.

"Dilihat dari dandanan kedua orang ini, jelas tukang pukul atau penjaga pekarangan ini, mereka penjaga di sini ...."

"Ya, pasti demikian,"

Kata si Kucing.

"Tapi ... siapakah yang menutuk hiat-to kedua orang ini?"

"Kau tanya, padaku, aku tanya siapa?"

Jit-jit gelisah, katanya.

"Masa tak dapat kau buka hiat-to mereka dan tanyai mereka?"

Si Kucing menggeleng kepala.

"Bukan saja lwekang penutuk itu amat tinggi, cara yang digunakan juga khas, kecuali ajaran perguruannya, siapa pun takkan mampu memusnahkan tutukan hiat-to mereka."

"Lalu ... siapakah gerangan penutuk itu?"

"Melihat gelagatnya, ada seorang kosen secara diam-diam telah datang lebih dahulu, jejak kita bukan mustahil sudah di bawah pengawasannya ...."

"Lalu bagaimana baiknya?"

Si Kucing berdiri.

"Mari kita pulang saja."

"Pulang? Setelah datang kau bilang harus pulang? Umpama benar ada orang mendahului kita, tapi dia menutuk hiat-to kedua budak ini, jelas dia berada di pihak kita, bukankah berarti kita mendapat bantuannya, maka jangan pulang, apa pun kejadian ini harus diselidiki sampai jelas."

Si Kucing berpikir sejenak, memang beralasan si nona, dia lantas berkata dengan menghela napas.

"Baiklah, terserah."

Maka kedua orang ini merunduk maju lebih lanjut, langkah mereka lebih hati-hati. Mendadak tampak di hutan bambu tak jauh di sana ada sinar lampu.

"Tidak masuk sarang harimau mana bisa menangkap anak harimau, mari kita ke sana,"

Ucap Jit-jit.

Urusan sudah telanjur, si Kucing tak bisa menolak, maka dia iringi Cu Jit-jit menerobos ke dalam hutan bambu.

Di dalam hutan bambu terdapat tiga atau lima petak rumah mungil, sinar lampu menyorot keluar dari jendela.

Cahayanya remang-remang, terasa mengandung kegaiban.

Si Kucing jadi tertarik, dengan tabah dia menyelinap ke bawah jendela, mereka mendekam tak bergerak di bawah jendela dengan menahan napas dan pasang kuping.

Sesaat kemudian terdengar suara rintihan seorang perempuan.

Si Kucing dan Cu Jit-jit saling pandang sekejap dan merasa tegang.

Diam-diam Jit-jit membatin.

"Jangan-jangan ada Pek-hun-bok-li yang berbuat salah dan sedang menjalani hukuman?"

Tapi anehnya, setelah mendengarkan sekian lama, bukan saja suara rintihan itu tidak seperti orang kesakitan, malah agak ...

agak ...

entah agak apa Cu Jit-jit sendiri tak bisa menerangkan.

Menyusul terdengar dengus napas seorang lelaki.

Kontan air muka si Kucing berubah, berubah aneh dan lucu, segera dia tarik lengan baju Cu Jit-jit, maksudnya mengajaknya pergi.

Tapi Jit-jit sedang keheranan dan ketarik oleh suara keluhan itu, mana dia mau pergi.

Didengarnya suara laki-laki itu berkata di tengah sengal napasnya yang berat.

"Bagaimana ... nikmat? ...."

Suara genit seorang perempuan menjawab setengah merintih.

"O, sayang ... aku ... aku tidak tahan ... tidak tahan lagi ...."

Betapa pun hijaunya, akhirnya Jit-jit tahu juga apa yang tengah berlangsung di dalam kamar, seketika merah mukanya, diam-diam dia berludah.

Si Kucing juga serbakikuk, keduanya melenggong dan tak bergerak, hingga tanpa sadar sesosok bayangan berkelebat lewat di atas kepala mereka.

Cepat mereka pun berdiri dan lari ke luar hutan.

Setelah jauh, Jit-jit berkata dengan mendongkol.

"Tidak tahu malu ... menyebalkan!"

"Dari sini dapat disimpulkan bahwa di tempat ini tak terjadi sesuatu yang ganjil, kalau tidak masakah di dalam ada laki-laki iseng yang bermain dengan pelacur."

Dengan wajah merah Jit-jit berkata.

"Dari mana kau tahu laki-laki itu iseng, bukan mustahil dia ... dia adalah temannya?"

Diam-diam si Kucing tertawa geli, batinnya.

"Keluhan nikmat perempuan itu memang disengaja untuk menyenangkan setiap lelaki iseng, orang seperti diriku mana bisa dikelabui?"

Sudah tentu hal ini tidak dijelaskannya. Waktu dia angkat kepala dan menoleh, tiba-tiba dia bertanya kaget.

"He, apa yang berada di atas kepalamu?"

"Ada apa ...."

Sahut Cu Jit-jit, waktu dia angkat kepala, ia pun menjerit kaget.

"Hei, apa yang berada di atas kepalamu?"

Berbareng mereka meraba kepala, dari atas kepala mereka masing-masing menjamah sebuah mahkota yang dirangkai dari ranting kayu kering, di atas mahkota ranting kayu itu masing-masing terselip secarik kertas.

Mereka tarik kertas itu, di bawah keremangan mereka melihat tulisan di atas kertas itu berbunyi.

"Ratu Tolol", sedangkan kertas si Kucing tertulis.

"Raja Goblok" . Siapakah yang menaruh mahkota ranting kering di atas kepala mereka? Kapan ditaruhnya? Ternyata si Kucing dan Cu Jit-jit tidak tahu dan tidak menyadari sama sekali. Keruan tidak kepalang kaget mereka, namun setelah membaca tulisan itu di samping mendongkol mereka pun geregetan, Jit-jit menggerutu.

"Kentut, kentut anjing busuk. Huh, ratu ... apa, kalau dapat kutangkap bajingan itu, awas, akan kubeset kulitnya."

Si Kucing tertawa getir katanya.

"Orang menaruh ranting di atas kepalamu saja tidak kau ketahui, cara bagaimana mampu kau tangkap dia, bayangan saja tak dapat melihatnya."

Betapa tinggi kungfu orang, ginkangnya yang lihai dan gerak-geriknya yang cekatan dan tangkas, ngeri Jit-jit membayangkannya, bila yang ditaruh di atas kepala mereka bukan ranting kayu tapi senjata rahasia beracun yang bisa membuat luka kepala mereka, lalu apa jadinya, keruan ia berkeringat dingin.

Si Kucing bergumam.

"Pasti orang itulah yang menutuk hiat-to kedua orang berbaju hitam tadi, tapi ... siapakah dia sebenarnya? Tokoh mana dalam dunia ini yang berkepandaian setinggi ini?"

"Peduli siapa dia,"

Ucap Jit-jit.

"lebih baik kita ...."

"Kita pulang saja,"

Tukas si Kucing.

"Pulang, pulang, kau hanya tahu pulang saja,"

Omel Jit-jit mendongkol. Si Kucing menghela napas, katanya.

"Orang itu jelas tak bermaksud jahat terhadap kita, kalau mau, dengan mudah dia dapat mencabut jiwamu, tapi perbuatannya ini jelas cuma ingin memperingatkan, supaya kita tidak terlalu lama berada di sini."

"Kenapa ... kenapa ...."

Si Kucing memandang sekitarnya, lalu katanya.

"Dalam kegelapan di sekitar kita ini pasti banyak alat perangkap yang tak kelihatan, khawatir kita terjebak, maka orang itu menganjurkan kita pulang saja."

"Kalau dia suruh kau pulang, kau lantas pulang? Kau begitu patuh kepadanya?"

"Betapa pun orang bermaksud baik ...."

"Aku justru tak mau terima kebaikannya, aku justru ingin tahu lebih jelas,"

Belum habis bicara segera orangnya melompat ke depan.

Si Kucing sudah kenyang berkelana di dunia Kangouw, pengalaman luas, banyak tipu akalnya, gesit, dan cekatan, siapa saja yang bermusuhan dengan dia pasti pusing tujuh keliling, tapi menghadapi Cu Jit-jit, justru dia sendiri yang kewalahan.

Cu Jit-jit sudah berlari ke depan, terpaksa dia mengikut di belakangnya.

Dengan kebat-kebit, mereka maju lagi beberapa puluh tombak jauhnya.

Sekonyong-konyong berkumandanglah bunyi keleningan, meski ringan suaranya, tapi di tengah malam gelap dan sunyi, suaranya sungguh mengejutkan.

Menyusul tampak cahaya api menyala di sebelah depan.

Betapa besar nyali Cu Jit-jit kaget juga dia dan menghentikan langkah, terdengar suara bentakan keras di sana.

"Siapa itu? .... Berhenti! .... Tangkap maling!"

Berubah air muka si Kucing.

"Wah, celaka ... lekas mundur ...."

Belum lenyap suaranya, tampak sesosok bayangan orang melesat keluar dari arah cahaya api sana, gerakannya secepat kilat dan menubruk ke arah Cu Jit-jit dan si Kucing bersembunyi.

Gerak-geriknya sungguh amat cepat, walau melesat dari depan, tapi Jit-jit dan si Kucing hanya melihat bayangannya saja, hakikatnya sukar melihat raut wajah dan bentuk perawakan orang.

Tatkala melesat lewat di samping tubuh mereka, bayangan itu membentak lirih.

"Ikuti aku!"

Sementara itu tampak bayangan orang banyak disertai langkah ramai sama memburu ke arah Cu Jit-jit dan si Kucing, bentakan dan teriakan bertambah keras.

Dalam keadaan terdesak begini, terpaksa Jit-jit putar tubuh dan melompat keluar, untung jalan mundur mereka belum tercegat, dengan cepat mereka melayang keluar pagar tembok.

Setiba mereka di luar pagar tembok, bayangan misterius tadi tidak kelihatan lagi.

Jit-jit mengentak kaki, omelnya.

"Maling mampus, bangsat goblok, dia sendiri lebih setimpal dianugerahi julukan raja goblok, jejaknya yang konangan orang, kita ikut susah."

"Kukira dia sengaja berbuat demikian,"

Ujar si Kucing setelah berpikir.

"Maksudmu dia sengaja memperlihatkan jejaknya? Memangnya dia sudah gila?"

"Sudah berulang kali dia memberi peringatan, namun kita tetap bandel, terpaksa jejaknya sengaja diperlihatkan supaya kita pun mau tidak mau ikut kabur ...."

Jit-jit melenggong, katanya kemudian dengan gemas.

"Apa sangkut paut urusan kita dengan dia? Kenapa dia mempermainkan kita?"

Mulut bicara, kaki tidak berhenti, cepat sekali sudah melewati dua jalan raya. Pada saat itulah mendadak Jit-jit berhenti.

"Kau mau apa pula?"

Tanya si Kucing.

"Aku ingin kembali ke sana."

"He, apa kau sudah gila?"

"Siapa bilang aku gila, aku sangat sadar, setelah gagal menangkap maling, mereka tentu tidur lagi, kenapa aku tidak boleh kembali ke sana?"

Si Kucing menghela napas, katanya.

"O, nonaku yang manis, memangnya tak kau pikir, setelah kejadian ini penjagaan tentu diperketat, kalau kau kembali ke sana, pasti masuk perangkap mereka."

Jit-jit mengertak gigi, desisnya.

"Mungkin betul ucapanmu, namun aku tambah yakin tempat itu adalah sarang iblis, kalau aku tidak memeriksanya pula ke sana, mana hatiku bisa tenteram?"

"Berdasarkan apa kau begitu yakin?"

"Coba jawab, kalau sarang pelacur biasa mana mungkin dijaga sekian banyak orang? Apalagi berulang kali orang itu memberi peringatan kepada kita, pasti dia tahu dalam taman itu banyak dipasang jebakan. Nah, coba jawab lagi, sarang pelacur biasa mana mungkin terdapat jebakan dan perangkap?"

Lama si Kucing terdiam, akhirnya menghela napas, katanya.

"Aku selalu kalah berdebat dengan kau."

"Kalau mengaku kalah, ayolah ikut aku pula."

"Baiklah, aku ikut."

"Betul?"

Seru Jit-jit girang.

"Sudah tentu betul, tapi bukan malam ini, sekarang kita pulang dulu, besok kita rancang dulu langkah kita, betapa pun sarang pelacur ini harus diselidiki sampai jelas."

Jit-jit bimbang sejenak, tanyanya.

"Apakah omonganmu dapat dipercaya?"

"Setiap patah kataku laksana paku yang menancap di dinding, satu paku satu mata."

"Baiklah, kali ini aku terima saranmu, besok kita lanjutkan penyelidikan ini." ***** Setiba mereka di rumah keluarga Auyang, penghuni rumah besar itu sudah tidur semua, agaknya tiada orang tahu apa yang dilakukan kedua orang ini setengah malaman ini, segera mereka kembali ke kamar masing-masing. Di musim dingin, malam pendek siang panjang, Jit-jit hanya tidur sebentar di atas ranjang, waktu dia membuka mata mentari sudah memancarkan cahayanya ke dalam kamar. Cukup lama dia duduk termenung di atas ranjang, makin dipikir terasa makin mencurigakan, mendadak dia menyingkap selimut terus berpakaian langsung dia pergi ke kamar Sim Long. Pintu kamar masih tertutup rapat, segera ia hendak menggedor, tapi urung, sejenak ia berpikir, lalu berputar ke arah jendela dan pasang kuping mendengarkan, didengarnya Sim Long masih mendengkur dengan teratur, jelas tidurnya sangat nyenyak. Mendadak di belakangnya seorang menyapa perlahan.

"Selamat pagi, Nona!"

Cepat Jit-jit membalik, yang berdiri di belakangnya dengan meluruskan tangan ternyata Pek Fifi.

Secara diam-diam dia berdiri di luar jendela kamar orang lelaki dan mencuri dengar, kini kepergok, keruan ia malu.

Seketika dia menarik muka, baru saja dia hendak mengumbar adat, mendadak pikirannya berubah, dengan tertawa dia berkata perlahan.

"Kau pun pagi, apa semalam enak tidurmu?"

Dua hari ini setiap melihat tampang Pek Fifi selalu dia jengkel, kini sikapnya mendadak berubah ramah, sudah tentu Pek Fifi merasa di luar dugaan, ia jadi kebat-kebit malah, sahutnya dengan hormat.

"Terima kasih atas perhatian Nona, aku ... aku tidur dengan nyenyak."

"Angkat kepalamu, biar kulihat mukamu."

Fifi mengiakan dan perlahan angkat kepalanya. Hujan salju sudah berhenti, mentari yang baru menyingsing memancarkan cahaya keemasan menyinari wajah Pek Fifi. Jit-jit menghela napas, ujarnya.

"Memang cantik, melihatmu aku pun ketarik, apalagi kaum lelaki hidung belang itu, sudah tentu tergila-gila ...."

Fifi kira rasa cemburu orang mulai angot lagi, maka dengan gugup dia berkata.

"Mana hamba berani dibandingkan dengan Nona ...."

"Tak usah sungkan, tapi ... jangan kau bohongi aku."

Fifi berjingkat kaget, katanya.

"Mana berani hamba bohongi Nona."

"Apa betul kau tidak bohong? Baik, jawab pertanyaanku, kau bilang semalam tidur nyenyak, kenapa kedua matamu tampak merah bengul?"

Wajah Fifi yang semula pucat seketika merah, katanya dengan tergegap.

"Aku ... hamba ...."

Khawatir dimaki Cu Jit-jit, saking takutnya sampai tak mampu bicara. Jit-jit malah tertawa, katanya.

"Kalau semalam kau tidak tidur, aku ingin tanya padamu, kamarmu di sebelah kamar Sim-siangkong, apa kau tahu semalam Sim-siangkong keluar dari kamarnya tidak?"

Lega hati Fifi, katanya.

"Semalam Sim-siangkong pulang ke kamar dengan mabuk, begitu rebah di ranjang lantas tidur pulas, dari kamar hamba pun mendengar suara dengkurannya."

Sesaat Jit-jit menimbang-nimbang, lalu berkerut alis dan bergumam.

"Kalau demikian, mungkin bukan dia ...."

"Bukan dia siapa?"

Tiba-tiba seorang bertanya dengan tertawa. Entah kapan Sim Long sudah membuka pintu dan melangkah keluar. Merah muka Jit-jit, katanya.

"O, tidak ... tidak apa-apa."

Sikapnya di hadapan Sim Long serupa Pek Fifi di hadapannya tadi, muka merah dan menunduk kepala, tergegap tak mampu bicara.

Sambil menunduk diam-diam Fifi mengundurkan diri.

Sim Long menatap Jit-jit, cahaya mentari yang keemasan menyinari wajah Cu Jit-jit, wajahnya kelihatan cantik, siapa pun melihatnya pasti merasa sayang.

Mendadak Sim Long menghela napas, katanya.

"Wajahmu bak bunga mekar, lebih cantik dari ...."

"Siapa maksudmu?"

Tukas Jit-jit.

"Sudah tentu kau, masa orang lain."

Muka merah Jit-jit, belum pernah dia dengar Sim Long memuji kecantikannya, entah kejut entah senang, dia menunduk dan berkata.

"Apakah kau bicara setulus hatimu?"

"Sudah tentu setulus hati .... Angin pagi dingin di luar, marilah duduk di dalam kamar."

Tanpa diminta lagi Jit-jit mendahului melangkah masuk dan duduk di dalam kamar, terasa Sim Long masih terus mengawasi dirinya dengan saksama.

Ia menjadi rikuh, duduk tak tenang, berdiri juga tak enak, akhirnya dia mengomel dengan tertahan.

"Apa yang kau pandang? Bukankah aku serupa, beratus kali telah kau pandangku, dipandang lagi juga takkan tumbuh sekuntum bunga di mukaku."

Sim Long tersenyum, katanya.

"Aku sedang berpikir, perempuan secantik kau bila mengenakan mahkota di atas kepala pasti mirip seorang ratu."

Terkesiap hati Jit-jit.

"Ratu ... ratu apa?"

Sim Long bergelak tertawa.

"Sudah tentu ratu kecantikan. Memangnya ada ratu lain."

Tak tahan Jit-jit, ia mengawasi orang dengan saksama. Sim Long tertawa, katanya.

"Udara dingin bumi beku, keluar malam gampang masuk angin, bila nanti malam kau ingin keluar, lebih baik mengenakan baju kapas ...."

Jit-jit berjingkrak, serunya.

"Siapa bilang nanti malam aku mau keluar?"

"Siapa bilang kau mau keluar, aku hanya bilang umpama kau ingin keluar,"

Mendadak Sim Long menoleh, lalu menyambung dengan tertawa.

"Him-heng, kenapa berdiri di luar jendela, silakan masuk?!"

Si Kucing berdehem, lalu melangkah masuk perlahan dan menyapa.

"Pagi benar Sim-heng bangun."

"Sebetulnya tidak pagi lagi, bagi orang yang malam hari suka keluyuran menjadi maling, semalam suntuk tidak tidur, tapi sekarang sudah bangun, dia baru dapat dikatakan bangun pagi-pagi betul tidak Him-heng?"

Si Kucing menyengir, sahutnya.

"Ya ... ya ...."

"Barusan kubilang ada seorang mirip ratu, kini kulihat tampang Him-heng, haha, cara Him-heng melangkah bagai harimau lapar, gagah perkasa, bila mengenakan mahkota juga, kau pasti mirip seorang raja."

Melotot si Kucing mengawasi Sim Long, sampai sekian lama terkesima dan tak mampu bersuara. Mendadak Sim Long berdiri, katanya, dengan tertawa.

"Silakan kalian duduk di sini, aku akan keluar melihat-lihat dulu."

"Melihat ... melihat apa?"

Tanya Jit-jit.

"Ingin kulihat apakah semalam ada maling datang mencuri barang, mungkin gagal mencuri malah kehilangan segenggam beras, kereta kuda yang ditumpangi juga tertinggal di luar."

Dengan tertawa segera dia berlari keluar. Jit-jit dan si Kucing saling pandang dengan melenggong dan tak mampu bicara. Sesaat kemudian si Kucing tak tahan, ia buka suara.

"Semalam pasti dia."

"Ya, pasti dia,"

Ucap Jit-jit. Si Kucing menghela napas, katanya.

"Sepak terjangnya sungguh menakjubkan, gerak-geriknya laksana setan, tingkah kita ternyata tak mampu mengelabui dia .... Ai, sungguh kungfu hebat."

Tiba-tiba Jit-jit tertawa, katanya.

"Banyak terima kasih."

Si Kucing heran.

"Kau terima kasih apa?"

Manis tawa Jit-jit, katanya.

"Kau memuji dia, berarti memujiku pula, mendengar pujianmu sungguh aku sangat senang, maka aku mengucapkan terima kasih, jika kau maki dia, pasti kuhajarmu."

Si Kucing melongo sejenak, akhirnya menghela napas, katanya.

"Semalam dia mempermalukan dirimu dan kau tidak marah?"

"Siapa bilang dia mempermainkan aku, maksud dia kan baik, ini ... ini kan kau sendiri yang bilang demikian? Kan pantas kita berterima kasih kepadanya, kenapa mesti marah?"

Kembali si Kucing melenggong, katanya kemudian.

"Tapi aku justru marah."

"Kau marah apa?"

Tanya Jit-jit. Si Kucing tidak menjawab, mendadak ia berterus melangkah pergi. Jit-jit tidak mencegah, hanya katanya keras.

"Hanya marah saja apa gunanya? Kalau malam nanti kau dapat membebaskan diri dari pengawasannya baru terbukti kau punya kepandaian tinggi, laki-laki yang serbapintar pasti akan disukai gadis."

Si Kucing sudah pergi dengan langkah lebar, mendadak dia kembali dengan langkah lebar pula, katanya.

"Kau kira aku tak mampu membebaskan diri dari pengawasannya?"

Dengan tertawa Jit-jit mengawasinya, katanya.

"Apa kau mampu?"

"Mampu saja, boleh kau buktikan,"

Seru si Kucing keras. Setelah mengentak kaki, kembali dia melangkah pergi. Mengawasi bayangan orang yang lenyap di luar pintu, Jit-jit tertawa senang, gumamnya.

"Kau si Kucing ini pernah bilang selamanya tak pernah terpancing orang? Sekarang kenapa terpancing juga olehku? .... Tampaknya laki-laki di dunia ini sama saja, tiada satu pun yang tahan dihasut oleh orang perempuan .... Hanya ... kecuali Sim Long saja ...."

Terbayang akan watak Sim Long yang tidak kenal kompromi, tidak doyan halus maupun keras, sering berlagak bisu dan tuli lagi, sungguh ia gemas dan geregetan, rasanya ingin menggigitnya.

Tapi ...

ia hanya menggigitnya perlahan, sebab khawatir menyakitkan dia.

***** Dengan sendirinya Auyang Hi berusaha menahan tetamunya supaya tinggal lebih lama, Jit-jit juga tidak berniat pergi, maka kebetulan orang banyak lantas tinggal lebih lama di rumah Auyang Hi.

Malamnya diadakan pula perjamuan besar.

Setelah minum tiga cawan, si Kucing mendadak berkata.

"Eh, tiba-tiba teringat olehku suatu persoalan menarik."

"Soal apa?"

Tanya Auyang Hi.

"Bila kita berempat bertanding minum arak entah siapa yang akan ambruk lebih dulu?"

"Wah ...."

Auyang Hi jadi bingung, ia menoleh ke arah Sim Long, lalu memandang Ong Ling-hoa pula.

Sim Long diam saja, Ong Ling-hoa juga tidak memberi tanggapan.

Setiap orang yang gemar minum pasti tidak mau mengaku takaran minumnya sedikit dan akan mabuk lebih dulu.

Auyang Hi bergelak tertawa, katanya.

"Persoalanmu memang menarik, namun sukar mendapatkan jawabannya."

"Kenapa sukar,"

Ujar si Kucing.

"asal Auyang-heng mau sediakan arak, hari ini juga kita bisa menentukan kalah-menang."

Belum habis orang bicara Auyang Hi lantas berkeplok, serunya.

"Bagus! .... Ayo keluarkan empat guci arak!"

Cepat sekali empat guci arak yang diminta sudah diusung keluar. Ong Ling-hoa tertawa, katanya.

"Begini saja, satu orang satu guci, siapa pun tak dirugikan."

Sim Long tersenyum.

"Jika habis satu guci dan belum mabuk, lalu bagaimana?"

"Bila empat guci belum mabuk, keluarkan lagi delapan guci,"

Kata Ong Ling-hoa.

"Kalau belum juga mabuk?"

Tanya Sim Long. Ong Ling-hoa tertawa.

"Jika masih juga belum ada yang mabuk, apa salahnya kita teruskan adu minum sampai tiga hari?"

Si Kucing tepuk tangan, serunya dengan bergelak tertawa.

"Haha, bagus! Tapi, masih ada ...."

"Masih ada apa?"

Tanya Auyang Hi.

"Cepat atau lambatnya cara minum juga harus diatur ...."

Ujar si Kucing.

"Betapa cepat kau kucing ini dapat minum kami pasti akan mengiringimu sama cepatnya."

"Baik ...."

Seru si Kucing girang, segera diangkatnya satu guci dengan kepala mendongak, arak terus dituang ke dalam perut, sekaligus dia habiskan setengah guci.

Ketika mendengar si Kucing ribut urusan minum arak, Jit-jit lantas tahu maksud si Kucing hendak mencekok mabuk ketiga orang ini, bila Sim Long juga mabuk, maka dia takkan bisa menguntit gerak-gerik mereka malam ini.

Dalam hati dia tertawa geli dan bersorak akan akal si Kucing.

Maka dia hanya menonton saja di samping tanpa memberi komentar.

Empat orang ini memang jago minum, hanya sekejap saja isi empat guci sudah terminum habis, segera Auyang Hi tepuk tangan dan menyuruh keluarkan empat guci arak lagi.

Ketika empat guci ini habis diminum dan minta tambah empat guci, keadaan keempat orang ini sudah mulai tak genah, mulai sinting, cara bicara juga ngelantur.

Jit-jit sangat tertarik, ia ingin menyaksikan siapa di antara keempat orang ini yang mabuk dan ambruk lebih dulu.

Tapi setelah berpikir pula, ia jadi tidak tertarik lagi.

Pikirnya.

"Takaran minum keempat orang ini agaknya seimbang, jika si Kucing tak mampu mencekoki Sim Long hingga mabuk, malah dia sendiri yang mabuk lebih dulu, lalu bagaimana baiknya?"

Mendadak terlihat Sim Long berdiri dan berseru lantang.

"Kucing tetap kucing, habis tiga guci arak jatuh melingkar seperti kerbau."

Mendadak ia roboh perlahan dan tak bangun lagi.

"Haha, ambruk satu ...."

Teriak si Kucing dengan tertawa. Ong Ling-hoa mengedip mata, katanya.

"Jangan-jangan dia pura-pura mabuk."

Meski ingin mencekoki Sim Long sampai mabuk, tapi melihat keadaannya benar-benar mabuk, Jit-jit menjadi gugup pula, dengan penuh perhatian dia berjongkok memapah Sim Long, katanya.

"Dia tidak pura-pura, tapi betul-betul mabuk, kalau tidak masa dia mengoceh tak keruan."

Ong Ling-hoa tertawa.

"Tak nyana orang lain ambruk lebih dulu, bagus, bagus! Biarlah kuminum lagi tiga cawan."

Lalu dia habiskan tiga cawan arak, namun sebelum cawan ditaruh di atas meja, orangnya mendadak tak kelihatan, kiranya dia telah merosot ke bawah meja dan tak mampu bangun lagi.

Si Kucing tertawa, cawan didorongnya serta berbangkit, tapi sebelum sirap suara tertawanya, ia pun ambruk telentang.

Auyang Hi bergelak, serunya.

"Bagus ... bagus! Bicara soal kungfu memang berbeda satu dengan yang lain, tapi soal kekuatan arak akulah yang paling jempol ...."

Ia pegang cawan dengan langkah sempoyongan dan keluar pintu. Sesaat kemudian terdengar cangkir jatuh berantakan menyusul "bluk"

Yang keras, lalu suara Auyang Hi tak terdengar lagi.

Dengan terkesima Jit-jit mengawasi mereka satu per satu, namun sesaat kemudian mendadak si Kucing melompat bangun, katanya sambil mengawasi Cu Jit-jit.

"Nah, bagaimana, bukankah sekarang aku dapat melepaskan diri dari mereka."

"Ya, anggaplah kau memang lihai, tapi ... tapi tak pantas kau mencekokinya sampai begini,"

Apa pun Jit-jit tetap membela Sim Long. Si Kucing melenggong sejenak, katanya dengan menghela napas.

"O, perempuan ... sudah kubela dia, dia malah membela orang lain ...."

Jit-jit angkat Sim Long ke atas ranjang dan menyelimutinya, habis itu baru dia ikut si Kucing melesat keluar pekarangan.

Kedua orang sama memikirkan persoalannya sendiri, maka tiada yang buka suara.

Setiba di luar tembok rumah itu baru Jit-jit menoleh dan berkata.

"Malam ini Sim Long tidak akan memberi petunjuk dan perlindungan lagi, maka kita harus lebih hati-hati."

"Hmk!"

Si Kucing hanya mendengus saja. Jit-jit tertawa.

"Kau minum arak sebanyak itu dan tidak mabuk, jangan-jangan kau mabuk minum cuka (cemburu)."

Dengan enteng mereka melompati tembok, keadaan gelap gulita sekelilingnya sepi seperti tiada penjagaan, ronda malam juga tidak kelihatan.

Mereka maju terus tanpa rintangan.

Entah berapa lama mereka sudah memasuki pekarangan besar ini, waktu diteliti agaknya mereka sudah berada di taman belakang, pemandangan sekelilingnya memang mirip seperti "sarang iblis"

Yang pernah dilihat Cu Jit-jit dulu.

Hutan cemara, hutan bambu, gardu pemandangan, loteng bersusun, gunung-gunungan dan empang ....

Jalan kecil berkerikil sudah bertabur salju, empang teratai yang sudah membeku.

Makin pandang makin mirip, namun makin dipandang hatinya juga semakin tegang, meski di musim dingin telapak tangan dan jidatnya ternyata berkeringat.

Mendadak si Kucing bergelak tertawa.

"Haha, arak bagus, arak bagus, lagi sepoci ...."

Saking kaget jantung Cu Jit-jit seperti mau melompat keluar dari rongga dadanya, cepat dia membalik dan menarik si Kucing terus diajak menggelinding ke tempat gelap.

Ditunggu sesaat lamanya, keadaan tetap sunyi senyap, gelak tawa si Kucing ternyata tidak mengejutkan penjaga atau ronda malam di taman ini.

Jit-jit merasa lega, ia tarik lengan baju si Kucing dan mengomel.

"Sudah gila kau?"

Si Kucing menyengir.

"Sudah gila, ya sudah gila, lebih baik minum arak ...."

"Celaka, kau ... kau mabuk?"

Mendadak si Kucing menarik muka.

"Siapa mabuk, aku hanya ingin coba apakah di sini ada orang atau tidak."

"Caramu mencoba ini apakah tidak akan membikin jiwa melayang?"

Omel Jit-jit. Mendadak si Kucing berkata keras pula.

"Baiklah, jika kau minta jangan kucoba, aku pun tidak akan mencoba."

Tubuh Jit-jit berkeringat dingin, lekas dia memberi tanda dan mendesis.

"Sssst, jangan bicara."

Mendadak si Kucing juga mendekap mulut dan berkata.

"Sssst, jangan bicara."

Khawatir dan gusar, serbasalah pula Jit-jit, ia tak tahu apa yang harus dilakukan lagi, sekarang baru dia tahu, tadi si Kucing memang pura-pura mabuk, tapi setelah badan kena angin malam, arak dalam perut berontak hingga betul-betul jadi mabuk.

Kalau tadi betul-betul mabuk masih mending, di tempat seperti ini dia baru mabuk, keruan Jit-jit gugup setengah mati.

Tak terduga mendadak si Kucing berdiri, dengan hati-hati dia menuju ke sana, gerak-geriknya kelihatan lincah dan cekatan, Jit-jit tak berhasil menariknya, terpaksa dia ikuti saja langkah orang.

Setelah sekian jauhnya, langkah si Kucing betul-betul seringan kucing merunduk tikus, enteng tak mengeluarkan suara, lega hati Cu Jit-jit, pikirnya.

"Semoga dia tidak mabuk, kalau tidak ...."

Baru melamun, mendadak si Kucing berlari ke arah sepucuk pohon cemara, kaki tangan bekerja sekaligus, beruntun dia memukul dan menendang pohon itu sambil berteriak-teriak.

"Bagus, kau bilang aku mabuk, kuhajar kau ... kuhajar kau sampai mampus."

Di samping kaget, dongkol juga Jit-jit, segera dia memburu maju dan menekan tubuh si Kucing pada batang pohon itu.

"Plak-plok" , belasan kali dia gampar mukanya. Si Kucing tidak meronta, juga tidak melawan, dia malah menyengir lucu. Dengan gemas Jit-jit memaki.

"Kucing goblok, kucing mabuk, akulah yang akan menghajarmu sampai mampus!"

Kucing meratap.

"Nona yang baik, jangan menghajarku sampai mampus, cukup setengah mati saja."

Walau gusar, Jit-jit merasa geli pula, namun saat itu dia sadar bahaya selalu mengelilinginya, yang menemani dirinya justru kucing mabuk, dia bisa tertawa.

Keadaan taman tetap sunyi senyap dan tak kelihatan orang mengejar.

Dengan menahan suara Jit-jit berkata dengan geregetan.

"Kucing mabuk, dengarkan, sekali lagi kau bikin ribut, segera kututuk hiat-tomu dan kubuang ke semak-semak, biar badanmu dicincang orang, kau tahu tidak?"

Si Kucing manggut-manggut.

"Ya, aku tahu, aku tahu!"

"Masih berani kau bikin ribut?"

"Tidak, tidak berani lagi."

Lega hati Jit-jit, katanya.

"Baik, ikuti aku dan jangan berisik, berani bersuara sedikit saja segera kucabut nyawamu."

"Baik, ikuti kau perlahan, asal mengeluarkan suara, kau akan merenggut nyawaku."

Diam-diam Jit-jit membatin.

"Walau dia mabuk, pikirannya ternyata masih jernih. Agaknya nasibku masih mujur, tadi dia ribut sekeras itu, ternyata tidak mengejutkan orang."

Maka kedua orang lantas maju lebih lanjut.

Si Kucing sudah mabuk hingga mengoceh tak keruan, seorang lagi gadis yang hijau dan cetek pengalaman, betapa keras keributan yang dilakukan si Kucing tadi, umpama orang mati pun akan terkejut bangun.

Apalagi orang di sini pasti tidak mati.

Tapi keadaan tetap sunyi, dalam hal ini pasti ada sebab musababnya, namun bukan saja Jit-jit tidak pikirkan hal ini, dia malah merasa senang dan menganggap dirinya bernasib mujur.

***** Dugaan Cu Jit-jit memang tidak salah.

"sarang pelacur"

Ini memang betul adalah sarang iblis yang tempo hari pernah membuat dirinya ketakutan setengah mati itu.

Maju beberapa langkah lagi lantas terlihat loteng kecil itu.

Walau keadaan sekelilingnya gelap gulita, namun sudah terbayang olehnya akan wajah si nyonya setengah baya yang cantik dan berdandan seperti permaisuri itu tengah berdiri di langkan dan melambaikan tangan kepadanya.

Rasa ngeri seketika menjalari benaknya, cepat dia tarik si Kucing terus menyelinap ke belakang sepucuk pohon.

"Ken ...."

Baru si Kucing bersuara, mulutnya lantas didekap Cu Jit-jit. Tangan Jit-jit yang lain menuding loteng kecil itu, katanya.

"Di ... di sana itulah."

Si Kucing bersuara dalam kerongkongan sambil manggut-manggut. Jit-jit berbisik pula.

"Setiba di sini, jangan bersuara apa pun, perempuan yang tinggal di atas loteng itu lebih menakutkan daripada setan, bila mengeluarkan suara dan didengar olehnya, jang ... jangan harap bisa pulang, tahu tidak?"

Si Kucing manggut-manggut, selanjutnya bernapas pun dia tak berani terlalu keras. Jit-jit segera lepaskan dekapan atas mulut orang, katanya perlahan.

"Walau kita sudah temukan tempat ini, tapi aku tidak tahu bagaimana baiknya? Perlukah kita memeriksanya ke atas? Atau pulang dulu mengajak Sim Long kemari?"

Dengan berbisik si Kucing berkata.

"Kita periksa lebih dulu."

Jit-jit menghela napas, katanya.

"Diperiksa dulu juga boleh, tapi tak dapat kau bayangkan betapa menakutkan perempuan di atas loteng itu, apalagi kau sedang mabuk ...."

"Tak jadi soal,"

Kata si Kucing tegas.

Belum lenyap suaranya dia lantas melompat jauh ke depan, meluncur secepat anak panah.

Jit-jit tak berhasil meraihnya, ingin berteriak tidak berani, saking khawatir berubah air mukanya, sebetulnya dia ingin menyusul, sayang kedua kaki terasa lemas.

Dilihatnya si Kucing berlari langsung ke arah loteng, di mana kakinya melayang, dia depak daun pintu bagian bawah, menerjang masuk dengan langkah tegap seperti masuk rumahnya sendiri.

Tendangan si Kucing itu rasanya seperti menendang hulu hati Cu Jit-jit, seketika kepala pusing, jantung pun serasa berhenti berdenyut.

Dia ambruk di tanah, kaki-tangan terasa dingin dan basah keringat, ia bersuara perlahan.

"Wah, celaka ... habis ...."

Dia yakin setelah si Kucing menerjang masuk ke sana, jiwanya pasti amblas dan takkan keluar lagi dengan hidup, sebetulnya timbul niatnya akan ikut menerjang masuk sebagai tanda setia kawannya, sayang, kakinya terasa lemas dan tak mampu berdiri.

Dia membatin sambil mengertak gigi.

"Salahmu sendiri minum sebanyak itu hingga mabuk, kau ... kau mampus juga pantas, buat apa aku kasihan ...."

Walau demikian pikirannya, tapi entah kenapa, air mata lantas bercucuran. Didengarnya si Kucing lagi mengamuk di dalam loteng, teriaknya.

"Perempuan setan, iblis perempuan, ayo keluar, kalau berani ayolah berhantam dengan pendekar besar ini, coba kau yang mampus atau aku yang hidup, memangnya kau kira si Kucing takut padamu?"

Menyusul terdengar suara "blang-blung"

Yang ramai disertai caci maki si Kucing, agaknya telah terjadi baku hantam yang seru di dalam loteng.

Kalau betul terjadi pertarungan sengit, meski kepandaian si Kucing amat tinggi, apa pun dia bukan tandingan si perempuan setengah baya yang menghuni loteng kecil itu, apalagi saat itu si Kucing lagi mabuk.

Jit-jit tak tahan membendung air matanya, sambil menangis terisak dia berkata sendiri.

"Peduli kau mabuk atau tidak, kalau bukan lantaran aku, tentu kau ... kau tidak akan mabuk dan takkan berada di sini .... Akulah yang membuatmu celaka ... aku yang membuatmu celaka, tapi aku malah duduk saja di sini, tak menyertai kau mengadu jiwa ... aku memang patut mampus ... pantas mati ...."

Tangan diangkatnya, mendadak dia gigit lengan sendiri, begitu jengkelnya hingga lengannya digigitnya sampai berdarah.

Sementara itu tak terdengar lagi suara si Kucing di dalam loteng.

Suasana menjadi sepi, keadaan sunyi yang aneh dan mencekam lebih mengerikan dari kegaduhan, dengan khawatir Cu Jit-jit angkat kepalanya, air mata masih berkaca-kaca di pelupuk matanya, ia pandang ke sana dengan bingung.

Di tengah kesunyian yang mencekam perasaan ini, loteng kecil itu tetap menegak di tengah kegelapan, tiada suara, tak terlihat sinar lampu, apalagi bayangan manusia ....

Di samping khawatir dia juga heran, batinnya.

"Apakah yang terjadi .... Mengapa jadi begini .... Mungkinkah dia ... dia menemui ajalnya? Tapi umpama dia gugur, sedikitnya terdengar jeritannya."

Loteng kecil yang tak bernyawa itu dalam pandangan Jit-jit sekarang berubah seperti iblis jahat.

Pintu yang terpentang oleh tendangan si Kucing tadi seperti mulut iblis raksasa yang ternganga menunggu mangsanya, seperti juga menantang dan mencemoohkan Cu Jit-jit.

"Apa kau berani masuk?"

Bergidik Jit-jit.

Tubuhnya memang sudah basah oleh salju, kini celananya juga basah dan kotor, namun dia seperti tidak menyadari, matanya tetap mengawasi bangunan loteng itu, persoalan lain seperti tak dipedulikan lagi.

Daun pintu yang terpentang bergerak-gerak tertiup angin, seperti lagi mengejek Cu Jit-jit, juga seperti sedang menantang.

Dengan mengertak gigi Jit-jit meronta berdiri, diam-diam ia maki dirinya sendiri.

"Kenapa aku jadi penakut, mati saja tak takut, apa yang harus kutakuti?"

Ia tidak menyadari "rasa takut"

Adalah titik lemah manusia, kelemahan yang sudah dibawa sejak lahir, kecuali orangnya mati, pingsan atau mati rasa, kalau normal, siapa pun pasti punya rasa takut.

Meski tak kuasa menghentikan rasa takutnya, namun akhirnya Jit-jit berdiri.

Walau dia seorang gadis, tidak punya jiwa keperwiraan, namun wataknya suka menang dan keras kepala, dia juga memiliki hati yang bajik, dia sudah bersumpah demi kesejahteraan umat persilatan, dia harus membongkar rahasia ini, rahasia yang menakutkan ini.

Setindak demi setindak dia melangkah ke arah loteng.

Pintu masih terbuka lebar.

Tapi keadaan di dalam pintu lebih gelap daripada di luar, dengan ketajaman matanya tetap sukar melihat keadaan di dalam rumah.

Jantungnya seperti hendak melompat keluar, rasa takut makin menjadi.

Tapi sambil mengertak gigi dia tetap melangkah masuk, tidak menoleh dan tidak berhenti.

Dari tempat dia jatuh terduduk tadi ke pintu loteng jaraknya tidak jauh, namun jarak sedekat ini terasa betapa jauh dan lama perjalanan ini.

Akhirnya dia berada di pintu, untuk sampai ke situ rasanya dia sudah mengerahkan seluruh tenaganya, kalau saat itu ada orang menerjang keluar dari balik pintu, sekali tonjok pasti dapat membunuhnya.

"Blang" , mendadak daun pintu tertutup. Hampir saja Jit-jit menjerit. Padahal angin yang bikin gara-gara. Jit-jit menggigit bibir, tangan kiri meraba dada tangan kanan mendorong daun pintu Perlahan daun pintu terbuka, di dalam tiada orang, juga tak ada reaksi apa-apa. Dengan menabahkan hati dia melangkah masuk. Meski masih ngeri, namun kaki-tangannya kini sudah penuh tenaga, sekujur badan bersiap siaga, setiap saat dia siap tempur menghadapi sergapan. Namun setelah beranjak beberapa langkah, ternyata tiada kejadian apa pun yang dialaminya. Saking gelap kelima jari tangan sendiri pun tak terlihat, tiada suara apa pula, hening lelap, kecuali detak jantung sendiri. Keadaan ini membuat Jit-jit jadi bingung dan heran, kesunyian yang ganjil ini malah membuatnya terkejut, sukar untuk dimengerti sebenarnya apa yang terjadi? Perangkap apa yang terpasang di loteng kecil ini? Muslihat apa pula yang direncanakan musuh? Ke manakah si Kucing? Mati atau hidup? Kenapa penghuni loteng ini tidak segera menyergap dirinya? Apa pula yang mereka tunggu? Urusan sudah telanjur sejauh ini, terpaksa Jit-jit mengeraskan kepala dan melangkah maju lebih lanjut. Dia tahu setelah berada di dalam rumah ingin mundur juga kepalang tanggung, peduli ada perangkap atau muslihat apa, biarlah pasrah nasib. Selangkah demi selangkah ia maju terus, telapak tangan sudah basah keringat dingin, keadaan sekarang boleh diibaratkan seorang buta menunggang kuda lamur dan tengah malam berada di tepi jurang. Secara membabi buta dia terjang ke depan, setiap saat bukan mustahil dia akan jatuh ke dalam perangkap dan mengalami bahaya, kecuali nona bandel ini mungkin tak ada yang berani. Tiba-tiba kakinya terasa menginjak sesuatu yang empuk, rasanya seperti kaki orang, waktu tubuhnya tersungkur ke depan, kembali ia membentur sesuatu yang lunak. Benda itu bukan saja basah juga lunak, terendus pula bau khas orang yang kasar, itulah bau arak dan bau keringat, bercampur dengan bau sepatu yang bacin. Saking kaget Jit-jit melompat mundur, bentaknya.

"Siapa?"

Keadaan tetap hening, tiada reaksi apa-apa, tapi mendadak berkumandang gelak tertawa orang. Dengan suara serak Jit-jit berteriak.

"Siapa kau sebenarnya? Kau ...."

Belum habis dia bicara, sinar lampu mendadak menyala di empat penjuru hingga keadaan ruangan itu terang benderang.

Sudah sekian lama dalam kegelapan, mendadak melihat sinar lampu, tentu mata Jit-jit terasa silau, cepat ia pejamkan mata sambil menyurut mundur.

Mendadak punggungnya menumbuk benda lunak pula, seperti badan laki-laki, saking kaget dia menerjang maju lagi.

Tak tersangka sepasang tangan segera menangkap pundaknya.

Dia ingin meronta, namun didengarnya seorang laki-laki bicara perlahan di sampingnya.

"Berdiri yang tegak, jangan terjatuh."

Suara yang sudah amat dikenalnya, seperti suara Sim Long.

Saking kaget segera dia membuka mata.

Mendingan kalau dia tidak membuka mata, seketika dia terbelalak tertegun, mulut ternganga, sepatah kata pun tak mampu bicara.

Di bawah sinar lampu yang benderang, meja kursi di dalam rumah lengkap dan rapi, mana ada bekas orang bertarung sengit?

Seorang berduduk menghadap pintu sambil tertawa lebar, siapa lagi kalau bukan Ong Ling-hoa.

Di tempat ini mendadak melihat Ong Ling-hoa, hal ini sudah cukup membuatnya kaget, ternyata seorang yang duduk di sebelah Ong Ling-hoa dengan tersenyum adalah Sim Long.

Bahwa mendadak dia melihat Sim Long di sini masih bisa dimaklumi, tapi mimpi pun dia tidak percaya bahwa seorang lagi yang duduk santai di sebelah Sim Long ternyata bukan lain adalah si Kucing yang mabuk dan mengoceh tak keruan hingga membuatnya takut dan menangis tadi.

Melihat ketiga orang ini sekaligus berkumpul di sini, meski cukup mengejutkan, tapi yang lebih mengejutkan lagi setelah dia melihat seorang lain yang duduk di sebelah si Kucing.

Tulang pipi orang ini menonjol, sorot matanya tajam berkilat, mulutnya lebar, dia inilah Thi Hoat-ho yang sudah sekian lamanya hilang tak keruan parannya itu.

Keempat orang ini sekaligus berada di sini, padahal semula keempat orang ini adalah lawan dan bukan kawan, tapi sekarang mereka duduk bersama di sini, mengawasi dirinya dengan senyum geli, satu sama lain seperti tiada permusuhan.

Sebetulnya apa yang terjadi Jit-jit tidak habis mengerti.

Tiba-tiba keempat orang itu berdiri.

Ong Ling-hoa bersuara lebih dulu sambil menjura.

"Kagum, sungguh kagum, keberanian Nona Cu memang mengejutkan, sungguh jantannya kaum wanita, Cayhe betul-betul kagum lahir batin."

Thi Hoat-ho juga menjura, katanya dengan tertawa.

"Demi keselamatan kami, Nona tak segan menempuh bahaya dan berusaha membongkar peristiwa ini, entah betapa derita yang kau alami, sungguh Cayhe sangat berterima kasih, seumur hidup takkan kulupakan."

Dengan tersenyum Sim Long juga berkata.

"Setelah mengalami peristiwa ini, baik pengalaman maupun keberanianmu telah bertambah tidak sedikit, bila kau mengalami derita juga setimpal."

Si Kucing juga tertawa, katanya.

"Kalian bilang dia belum tentu berani menerobos kemari, tapi aku justru bilang dia pasti berani, aku ...."

Mendadak Cu Jit-jit berjingkrak, bentaknya.

"Tutup mulut, tutup mulut semua."

Dia menubruk ke depan Sim Long dan menjambret leher bajunya, teriaknya.

"Sebetulnya apa yang terjadi? Lekas katakan, katakan! Aku hampir gila!"

Si Kucing maju mendekat dan membujuk.

"Nona, bicaralah baik-baik, kenapa ...."

"Plak" , belum habis dia bicara mendadak mukanya digampar oleh Jit-jit. Seketika si Kucing melenggong di tempatnya, tangan mendekap pipi yang pedas dan sakit, tak tahu apa yang harus diucapkan lagi. Jit-jit menghadapinya sambil bertolak pinggang, serunya.

"Bicara baik-baik, bicara kentut. Ayo jawab, bukankah kau mabuk, kenapa sekarang mendadak segar bugar, bukankah tadi kau pura-pura mabuk?"

Si Kucing menyengir, katanya.

"Aku ... aku ...."

Mendadak Cu Jit-jit menjerit di dekat kuping orang.

"Kau tipu aku, kenapa kau tipu aku?"

Hampir pecah genderang telinga si Kucing, dia melompat mundur, serunya tergegap.

"Ini ... ini ...."

Si Kucing biasanya pandai bicara, sekarang gelagapan, si Kucing sekarang hanya melirik Ong Ling-hoa dan mohon belas kasihan. Ong Ling-hoa berdehem, katanya.

"Urusan ini memang banyak liku-likunya, cuma ...."

Sim Long menukas.

"Cuma kami tiada bermaksud jahat terhadapmu."

"Tidak bermaksud jahat apa, masih berani kau bilang tak bermaksud jahat,"

Damprat Jit-jit.

"Coba jawab pertanyaanku, kenapa dia menipuku? Kenapa kau pun menipu aku? Kalian laki-laki setan ini kenapa dusta padaku?"

Dia berteriak dengan suara setengah tersendat.

"Rahasia urusan ini mestinya hendak kami jelaskan kepadamu ...."

"Lantas kenapa tidak kalian jelaskan?"

Jit-jit meraung. Sim Long menghela napas, katanya.

"Kau bicara seperti ini, cara bagaimana kami dapat menjelaskan kepadamu."

Jit-jit berjingkrak pula, serunya.

"Seperti ini apa? Berani kau salahkan diriku, kalian menipuku, memangnya begitu masuk kemari aku harus berlutut dan minta maaf kepada kalian?"

Ong Ling-hoa tertawa.

"Tapi Nona harus dengarkan dulu penjelasanku baru boleh marah lagi."

"Ya, seharusnya begitu,"

Timbrung Sim Long.

"Nah, duduklah, dengarkan penjelasan kami."

"Aku justru tak mau duduk, kau mau apa?"

Bantah Jit-jit, dia mundur beberapa langkah dan menarik sebuah kursi, lalu duduk.

Entah kenapa, setiap saran Sim Long, meski lahirnya dia membantah, tapi selalu diturutinya, perkataan Sim Long seperti mengandung tenaga gaib, terpaksa dia harus tunduk dan menurut.

Sim Long menghela napas lega, katanya.

"Baiklah. Urusan ini amat panjang untuk diceritakan, silakan Ong-heng saja yang bicara dari permulaan."

Ong Ling-hoa juga menghela napas lega, tuturnya.

"Soal ini memang ruwet dan berliku-liku, aku sendiri bingung, entah harus mulai dari mana?"

Hampir saja Jit-jit berjingkrak pula, teriaknya.

"Kalau tidak tahu mulai bicara dari mana, apa tak jadi bercerita?"

"Ah, sudah tentu harus kuceritakan, tapi ...."

"Tapi apa?"

Mendelik Jit-jit.

"Karena tidak tahu caranya mulai bicara, maka lebih baik Nona saja yang mengajukan pertanyaan, apa saja boleh tanya dan pasti kujawab tanpa rahasia."

"Baik, biar aku tanya,"

Ujar Jit-jit, namun dia lantas melenggong, kejadian yang dialami memang berbelit-belit dan sukar dimengerti, hakikatnya dia sendiri juga bingung soal apa yang perlu diungkap lebih dulu.

Ia menunduk, lalu angkat kepala pula, benaknya bekerja, biji matanya berputar, mendadak dilihatnya di atas dinding depan tergantung sebuah lukisan raksasa.

Entah sebab apa, sorot matanya segera tertarik pada lukisan besar itu hingga gejolak perasaannya seketika terhenti.

Itulah sebuah lukisan cat air, melukiskan keadaan tengah malam.

Di bawah cahaya rembulan yang sunyi sebuah jalan kecil yang berliku-liku menjurus dari pojok kiri bawah terus menuju ke tengah lukisan dan lenyap di balik keremangan malam, seperti ingin melukiskan perasaan "tak tahu datang dari mana dan tak tahu pergi ke mana".

Kedua tepi jalan kecil itu dipagari tebing curam, pepohonan tumbuh subur memenuhi lereng gunung, bagian bawah adalah tanah dan batu padas berwarna cokelat kelabu.

Di belakang batu padas, sebelah kanan menjorok keluar pagar tembok warna merah, di atas tembok kelihatan payon rumah yang bentuknya seperti kuil kuno dan perkampungan misterius di pegunungan sunyi.

Di balik tebing kanan menongol setengah badan bayangan orang, rambutnya hitam panjang, bola matanya jeli bening, itulah lukisan seorang gadis rupawan, seperti sedang sembunyi, tapi juga seperti sedang mengintip.

Di bawah payon juga ada seorang perempuan, sama cantiknya, masih muda pula, tubuhnya setengah berputar, seperti hendak melangkah keluar, juga seperti mau masuk ke dalam.

Perempuan ketiga berdiri di jalan berliku itu, kepalanya miring hingga cuma sebagian wajahnya saja kelihatan, seperti ingin menoleh dengan lirikannya, seperti juga hendak menghindari tatapan perempuan di bawah payon itu.

Tiga perempuan dalam lukisan sama-sama cantik jelita, namun alis lentik mereka tampak terkerut seperti dirundung persoalan yang merisaukan hati mereka, seperti duka, tapi juga mirip dendam.

Seperti lagi menghindar tapi juga seperti menantikan.

Apakah yang mereka nantikan?

Kedatangan siapa yang mereka harapkan?

Atau menantikan sesuatu yang bakal terjadi?

Meski sebuah lukisan mati, namun apa yang terlukis itu justru serupa hidup.

Tiga perempuan yang terlukis dalam gambar itu menampilkan watak masing-masing yang menonjol, setiap orang seperti siap melakukan sesuatu atau sedang melakukan sesuatu yang khas.

Orang yang melihat lukisan ini memang tak tahu apa yang hendak dilakukan ketiga perempuan itu, namun bila menatap lukisan ini sekian lamanya, dari relung hati akan timbul semacam perasaan ngeri, seolah-olah apa yang akan dilakukan mereka adalah peristiwa yang membuat orang bergidik.

Diterangi cahaya rembulan yang remang-remang sehingga lukisan itu bertambah gaib dan misterius, seperti ada sesuatu yang akan terjadi, namun belum terjadi.

Lukisan yang sederhana dengan goresan biasa, namun hidup dan indah, sekaligus menggambarkan berbagai makna dan perasaan yang berbeda-beda.

Jelas membuktikan pelukis ini punya perasaan yang kuat yang tertuang ke dalam lukisannya ini, keadaan lukisan ini seolah-olah menggambarkan pengalaman hidupnya sendiri.

Hanya pengalaman nyata saja dapat melimpahkan perasaan yang kuat dan menonjol, dan perasaan yang paling kuat dalam hati manusia adalah cinta dan benci.

Tapi yang menarik perhatian Cu Jit-jit sekarang bukan perasaan cinta dan benci yang meliputi lukisan itu melainkan tokoh dalam lukisan.

Kini dia sedang menatap perempuan yang berdiri di tengah jalan dalam lukisan itu, sorot matanya menampilkan rasa kaget dan takut.

Walau hanya kelihatan sebagian wajahnya, namun Jit-jit segera dapat mengenali perempuan dalam gambar itu bukan lain adalah perempuan setengah baya yang cantik tapi berhati keji di atas loteng itu.

Akhirnya Jit-jit berkata.

"Baik, aku ingin tanya, siapakah orang ini?"

"Guruku ...."

Jawab Ong Ling-hoa.

"Bohong,"

Bentak Jit-jit.

"jelas kudengar kau panggil ibu padanya."

Ong Ling-hoa tertawa, katanya.

"Karena guruku teramat sayang kepada anaknya, sejak kecil anaknya hilang tak keruan parannya, maka aku dipungut menjadi muridnya, beliau anggap aku sebagai putra sendiri, dengan sendirinya aku memanggilnya ibu."

"Oo,"

Jit-jit bersuara dalam mulut, agaknya dia menerima penjelasan ini, tapi kejap lain dia bertanya pula dengan suara bengis.

"Kalau begitu jadi kau mengakui aku pernah melihatnya di sini."

"Tidak salah,"

Sahut Ong Ling-hoa dengan tertawa sambil mengangguk.

"Jadi Can Ing-siong, Pui Jian-li, dan lain-lain juga betul digusur kemari dan disekap dalam penjara bawah tanah. Kau pun pernah mengurung aku dalam kamar di bawah loteng ini, kau bebaskan aku, dan aku pun betul-betul lari keluar dari toko peti mati itu?"

"Betul, betul,"

Sahut Ong Ling-hoa tertawa.

Makin beringas sikap Jit-jit, pertanyaannya pun makin mendesak, namun semua diakui oleh Ong Ling-hoa, malah sikapnya tenang, wajahnya selalu mengulum senyum.

Tak tahan Jit-jit berjingkrak pula, serunya gusar.

"Bagus! Sekarang kau baru mengaku terus terang, kenapa waktu itu kau mungkir, celakanya orang sama anggap aku ini membual, mengira aku ini orang gila."

Dengan tertawa Ong Ling-hoa menjelaskannya.

"Soalnya waktu itu aku belum tahu Sim-heng kawan atau lawan? Sudah tentu aku menyangkal segala tuduhanmu, tapi sekarang ...."

"Sekarang kenapa, memangnya sekarang Sim Long sudah sehaluan dengan kau?"

"Ya, sekarang kutahu, Sim Long dan Cayhe sehaluan menghadapi satu musuh yang sama, maka terhadap persoalan apa pun sekarang tidak perlu kututupi lagi."

Bergetar badan Cu Jit-jit, saking kaget dia menjublek.

Dengan mata kepala sendiri Jit-jit saksikan Ong Ling-hoa bersama ibunya melakukan berbagai perbuatan aneh dan rahasia, setiap urusan pasti mencelakai jiwa orang, malah menyangkut keamanan kaum persilatan umumnya, sungguh dia tidak percaya Sim Long mau berdiri di pihak mereka, mimpi pun dia tidak percaya Sim Long yang berjiwa pendekar sudi melakukan hal demikian.

Maka dia lantas berteriak.

"Sim Long, lekas katakan, betulkah apa yang dikatakan?"

Sim Long tersenyum, sahutnya perlahan.

"Apa yang diuraikan Ong-heng memang betul."

Jit-jit terkesiap pula, teriaknya serak.

"Aku tidak percaya ... aku tidak percaya!"

Segera dia memburu ke depan Sim Long, dengan air mata berlinang dia berkata.

"Aku tak percaya kau sekomplotan dengan mereka, aku tak percaya kau ikut dalam komplotan mereka yang kotor dan jahat."

Sim Long menggeleng kepala, katanya sambil menghela napas.

"Kau keliru...."

"Bluk" , Jit-jit jatuh terduduk di lantai, dengan mendongak dia mengawasi Sim Long, sorot matanya menunjukkan rasa kaget dan gusar, curiga, tapi juga berduka, ratapnya.

"Masa ... masa kau pun serendah itu?"

"Kau lebih keliru lagi,"

Ucap Sim Long. Dengan tangan memukul lantai Jit-jit meratap terlebih keras.

"Sebetulnya apakah yang terjadi? Apa yang terjadi? Aku tidak tahu ... aku tidak paham ... aku semakin bingung."

"Biar kujelaskan,"

Ucap Sim Long.

"terhadap segala persoalan, jangan dinilai dari luarnya saja, padahal penilaianmu hanya dari luar persoalan ini, maka bukan saja tidak paham, kau pun salah paham."

Rambut Jit-jit semrawut, wajahnya basah air mata.

"Salah paham ...."

Serunya sambil mendongak.

"Betul, salah paham,"

Sahut Sim Long.

"Ong-kongcu juga bukan iblis jahat seperti apa yang kau bayangkan, demikian pula sepak terjang Ong-lohujin juga tidak seperti yang apa kalian sangka ...."

"Tapi kejadian itu semua kusaksikan sendiri,"

Tukas Jit-jit sengit. Sim Long menghela napas, katanya.

"Apa yang kau saksikan memang betul. Thi-tayhiap, Pui-tayhiap, dan Can-piauthau serta yang lain memang ditolong keluar dari makam kuno itu oleh Ong-lohujin. Sebelumnya beliau sudah menyusup ke dalam kuburan itu, pada waktu kau dan aku bermain petak dengan Kim Put-hoan dan Ji Yok-gi, sementara itu dia orang tua sudah menolong Can-piauthau dan lain-lain keluar dari situ dan menyuruh orang membawanya kemari, tujuannya boleh dikatakan baik dan tak bermaksud jahat."

"Kalau tidak bermaksud jahat, kenapa tingkah lakunya serbamisterius, malah membius kesadaran mereka, lalu menyuruh gadis-gadis berbaju putih itu menggiringnya kemari? Jika betul dia berjiwa pendekar, setelah berhasil ditolong keluar, sepantasnya segera dibebaskan dan suruh mereka pulang."

"Soalnya Ong-lohujin tahu yang menjadi biang keladi intrik jahat ini adalah seorang iblis laknat yang amat kejam, baik kungfu maupun akal muslihatnya tak mampu dilawan oleh Can-piauthau dan lain-lain, bila waktu itu juga mereka dibebaskan, orang-orang itu bukan mustahil akan jatuh lagi ke tangan iblis laknat itu, betul tidak?"

Jit-jit mendengus tanpa menjawab. Lebih lanjut Sim Long berkata.

"Menolong orang harus sampai tuntas, terpaksa beliau menahan mereka sementara di sini, melindungi jiwa mereka, hanya di tempat ini saja mereka akan selamat dari gangguan tangan jahat musuh."

"Umpama betul demikian, tidak pantas dia menggiring mereka ke sini seperti hewan."

"Kalau dia pakai cara biasa mengantar mereka kemari, dalam jarak seratus li pasti konangan orang, jika iblis laknat itu mencegat di tengah jalan, bukankah usahanya akan sia-sia belaka?"

Lama Jit-jit mencerna penjelasan Sim Long, akhirnya dia mendengus lagi sebagai jawaban, namun masih uring-uringan.

"Apalagi keadaan waktu itu amat mendesak, hakikatnya Ong-lohujin tidak sempat memberi penjelasan seluk-beluk persoalan ini, umpama dijelaskan juga belum tentu mereka mau mendengar nasihatnya, demi keselamatan mereka di sepanjang perjalanan, juga untuk memburu waktu, terpaksa digunakan cara luar biasa dan menggiring mereka ke sini. Hal ini harus dimaklumi karena keadaan yang cukup gawat itu, lawan yang harus dihadapi juga luar biasa, maka beliau menggunakan cara yang luar biasa pula .... Justru karena caranya yang luar biasa itulah sehingga menimbulkan salah paham."

"Tapi ... tapi ... aku ikut kemari, kenapa dia memperlakukan diriku begitu rupa?"

Omel Jit-jit. Sim Long tersenyum, katanya.

"Waktu itu beliau tidak tahu siapa kau? Kan pantas kau dicurigai sebagai kaki tangan iblis laknat itu? Adalah logis kalau beliau bersikap demikian kepadamu."

"Tapi ... tapi ...."

Tapi bagaimana Cu Jit-jit tidak dapat menjelaskan.

Walau dirasakan penjelasan Sim Long agak dipaksakan, namun kedengarannya juga masuk akal, hingga sukar menemukan lubang kelemahan penjelasannya itu.

Agak lama kemudian baru dia berkata pula.

"Kau tahu sejelas ini, cara ... cara bagaimana kau bisa tahu sejelas ini?"

"Sudah tentu Ong-heng yang menjelaskan persoalan ini kepadaku,"

Sahut Sim Long.

"Dia yang menjelaskan kepadamu? Mana mungkin dia memberitahukan kepadamu? Kenapa tidak dijelaskannya kepadaku?"

"Wah, ini ...."

Sim Long jadi gelagapan. Ong Ling-hoa segera menyambung.

"Soalnya hingga malam kemarin baru terpaksa kuberi penjelasan kepada Sim-heng."

"Malam kemarin?"

Teriak Jit-jit.

"kenapa baru malam kemarin terpaksa kau jelaskan kepadanya?"

Ong Ling-hoa tertawa.

"Karena banyak persoalan meski dapat kukelabui Nona, tapi tak bisa mengelabui Sim-heng, jadi daripada dikatakan kujelaskan kepada Sim-heng, lebih tepat adalah karena Sim-heng sendiri yang telah membongkar persoalannya."

"Tidak paham, aku tidak mengerti,"

Teriak Jit-jit.

"Sejak Nona membawa Sim-heng ke toko peti mati itu, Sim-heng telah menemukan banyak kejadian ganjil, namun Nona sendiri malah tidak menyadarinya."

Jit-jit menoleh ke arah Sim Long, katanya.

"Keganjilan apa yang kau temukan, kenapa aku tidak melihatnya?"

Sim Long tersenyum, katanya.

"Padahal kejadian itu amat mencolok, siapa pun asal sedikit memerhatikan pasti akan melihat keganjilannya, sayang saat itu hatimu gundah dan pikiran tidak tenang ...."

"Memangnya ada keganjilan apa? Lekas katakan."

"Apakah kau lihat merek toko yang tergantung di atas pintu dan papan syair di kanan-kiri pintu ...."

"Memangnya aku buta, sudah tentu melihatnya, itulah papan merek yang dicat hitam yang sudah luntur, hurufnya berbunyi ...."

"Tulisan apa tidak perlu dibaca."

"Dibaca atau tidak sama saja. Pendek kata, bukan saja aku melihat jelas, juga masih ingat betul, sudah kuperhatikan, papan merek itu tidak ada keganjilan apa-apa?"

"Tapi apakah kau perhatikan papan syair panjang di kanan-kiri pintu itu? Papannya sudah lapuk, catnya juga sudah ngelotok, umurnya sedikitnya sudah hampir sepuluh tahun."

"Tokonya sudah tua, adalah jamak kalau papan mereknya juga sudah lapuk, apanya yang ganjil?"

"Anehnya, toko yang sudah tua, juga papan mereknya, demikian pula meja kursi dan alat perabot lain dalam toko juga serbalama, hanya meja kasir yang tinggi tertutup itulah kelihatan baru dipindah ke sana, bukan saja catnya belum kering, malah dibuat secara kasar, jika dibandingkan papan merek dan meja kursi dalam toko jelas amat mencolok perbedaannya."

Jit-jit melengak, katanya.

"Ya ... hal ini tidak kuperhatikan, tapi ...."

Ia merandek sejenak, lalu berteriak.

"Tapi apa pula sangkut pautnya?"

"Di situlah letak persoalannya, kalau hari itu sudah kau lihat adanya meja kasir besar itu, kenapa meja kasir yang sekarang justru ditaruh di sana secara tergesa-gesa dan baru lagi?"

Jit-jit melenggong pula, katanya kemudian.

"Iya ... kenapa?"

"Masih ada, setiap toko peti mati mana pun, di dalam toko pasti ada bau khusus yang tidak ada di tempat lain, Ong-som-ki adalah toko tua, seharusnya bau khusus itu cukup tebal."

"Ya, bau peti mati memang tidak enak rasanya, bau itu ... bukan bau kayu melulu, tapi seram, bau apak seperti bau orang mati."

"Itu betul, tapi waktu aku berada di Ong-som-ki tempo hari, bau yang kurasakan tidak seperti bau orang mati, sebaliknya bau sejenis lilin wangi."

Jit-jit menepuk paha, serunya.

"Iya ... dan kenapa begitu?"

"Masih ada lagi, toko peti mana pun, yang selalu diperhatikan dan dihindari adalah api, sebab seluruh isi toko adalah bahan yang mudah terbakar."

Jit-jit mendengarkan dengan terkesima, tanpa terasa ia hanya mengiakan saja.

"Tapi di toko Ong-som-ki hari itu, pekarangan di belakang yang membuat peti mati, kutemukan banyak permukaan dinding dan sudut tembok hitam hangus oleh asap api,"

Dengan tersenyum Sim Long meneruskan.

"pada saat kalian tidak memerhatikan, perlahan aku meraba dinding, jari tanganku lantas hitam berminyak, dari sini terbukti bukan saja tempat itu sudah sering tersembur asap api, malah dalam beberapa hari ini juga masih disembur asap ...."

Tak tahan Jit-jit bertanya.

"Aku kurang paham penjelasanmu ini, coba uraikan terlebih jelas."

"Kau tahu, untuk membuat hangus dinding putih diperlukan waktu yang cukup panjang."

"Betul, waktu kecil pernah kucuri makanan dapur, dinding di dapur seluruhnya terbakar hangus, dinding dapur itu sedikitnya sudah puluhan tahun terkena asap."

Sim Long tertawa.

"Tapi waktu aku merabanya, hangus berminyak yang mengotori jari tanganku ternyata masih baru, ini membuktikan bahwa selama bertahun-tahun, tempat itu selalu disembur asap api ...."

"Ya, paham aku sekarang ...."

Mendadak Jit-jit berkedip dan berkata pula.

"Tapi aku juga tidak mengerti, apa pula sangkut pautnya dengan persoalan ini?"

"Ada dua hal penting menyangkut persoalan ini."

"Orang mampus, lekas katakan!"

"Pertama, tempat pembuat peti mati pantasnya menyingkiri api dan asap, tapi dinding sekitar tempat pembuatan peti mati justru hangus oleh semburan asap, bukankah janggal?"

"Betul, memang aneh ...dan yang kedua?"

"Kedua, setelah berani kupastikan tempat itu sering kena asap, namun tak kulihat di sana ada sepotong lilin pun, bukankah hal ini pun janggal?"

Jit-jit berpikir sekian lama, katanya.

"Iya, kenapa begitu?"

Sim Long tertawa.

"Waktu itu dalam hatiku sudah mulai coba meraba hal ini, namun belum dapat dibuktikan, maka tak berani kupastikan, setelah keluar dari toko itu baru dapat kupastikan seluruhnya."

Jit-jit heran, katanya.

"Setelah keluar dari toko lantas kau yakin dugaanmu betul? Berdasar apa kau berani memastikan kebenaran dugaanmu?"

"Kulihat sebelah toko peti mati itu adalah toko lilin dan hio serta pelengkap sembahyang."

Jit-jit makin heran.

"Toko lilin dibuka di sebelah toko peti mati, tiada bedanya pegadaian dibuka di sebelah rumah judi, kukira ini sangat umum, berdasarkan hal ini lantas kau yakin kebenaranmu?"

"Aku yakin beberapa hari yang lalu toko peti mati itu sebetulnya adalah toko lilin, toko lilin sebelah itu sebetulnya adalah toko peti mati, jadi dalam jangka waktu dua-tiga hari kedua toko itu telah saling tukar tempat."

"Tukar tempat ...."

"Ya, tukar tempat, di pekarangan belakang toko peti mati semula adalah tempat pembuatan lilin adalah logis kalau dindingnya menjadi hitam oleh hangus ...."

Melihat Jit-jit masih bingung, maka Sim Long melanjutkan.

"Karena mereka tukar tempat secara tergesa-gesa, segala benda apa pun yang bisa bergerak cepat dipindah, tapi meja kasir besar yang terpendam di lantai tak mungkin dipindah, maka toko peti mati itu harus membuat ruang kasir yang serupa dengan semula ... meja kasir yang dibuat secara tergesa-gesa dengan sendirinya kasar dan jelek, betul tidak?"

"Betul, betul ... betul!"

Dua kata "betul"

Yang diucap duluan sebenarnya masih dirundung rasa bingung, namun pada ucapan "betul"

Yang ketiga, mendadak Jit-jit melonjak bangun. Tampak wajahnya berseri girang dan haru, teriaknya.

"Ya, aku tahu ... aku paham ...."

"Nah, coba sekarang kau uraikan, apa saja yang kau ketahui?"

Tanya Sim Long.

"Toko peti mati yang semula ada lorong bawah tanah, namun toko lilin yang semula tidak ada, Ong Ling-hoa sudah memperhitungkan aku pasti akan kembali ke toko peti mati dan mencari lorong gelap itu, maka dia tukar tempat kedua toko itu, waktu aku datang lagi, sudah tentu tidak menemukan apa-apa."

"Bagus, akhirnya kau paham juga,"

Kata Sim Long.

"Bentuk bangunan deretan toko sepanjang jalan itu sama, jelas seluruhnya milik keluarga Ong Ling-hoa, kalau sang pemilik sendiri ingin pindah ke sana-sini, sudah tentu tinggal memberi perintah saja,"

Demikian kata Jit-jit pula. Ong Ling-hoa tertawa.

"Tidak sederhana seperti apa yang kau kira, mereka juga bekerja berat."

Jit-jit tidak menghiraukan ucapannya, katanya pula.

"Kedua toko saling tukar tempat, penduduk sekitarnya dan para langganan sudah tentu merasa heran, tapi aku sendiri tidak paham seluk-beluk keadaan setempat, dengan sendirinya tidak memerhatikan hal-hal itu."

Sim Long tertawa.

"Justru di situlah kepintaran Ong-heng mengatur tipu dayanya, dia memperalat titik kelemahan sifat manusia, terhadap sesuatu yang mudah dan sering terlihat, biasanya orang tidak menaruh perhatian."

Ong Ling-hoa tertawa, katanya.

"Akalku itu memang bagus, namun tak bisa mengelabui Sim-heng .... Sungguh tak kuduga bahwa daya pengamatan Sim-heng teramat tajam, soal-soal sekecil itu pun tak lepas dari pengamatanmu."

"Sebenarnya hal-hal itu cukup mencolok mata, cuma orang lain tidak memerhatikan, kuyakin banyak rahasia di dunia ini sering terbongkar dari sesuatu yang terlihat jelas, karena itulah cara pengamatanku berbeda daripada orang lain."

Si Kucing menghela napas, katanya.

"Untuk berlatih daya pengamatan setajam Sim-heng, kurasa bukan pekerjaan yang mudah, padahal manusia sama mempunyai dua mata, kenapa Sim-heng bisa melihat dan menemukan kelemahan itu, sebaliknya kita tidak."

Jilid 13 Jit-jit menukas.

"Kedua mata setannya memang jauh lebih lihai dari mata orang lain,"

Lalu ia melototi Sim Long, katanya dengan gemas.

Baca Juga: Ilmu Golok Keramat 1

Baca Juga: Si Rase Terbang Pegunungan Salju 5

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert