Eps 3 Pendekar Baja - Gu Long
Baca online Pendekar Baja - Gu Long
Cersil Pendekar Baja - Gu Long.
"Apakah betul dia Hun-bong-siancu? Apa betul Hun-bong-siancu muncul dalam percaturan Kangouw pula? Muslihat apa pula yang dirancangnya dengan menculik Thi Hoat-ho dan lain-lain? Ke mana pula Thi Hoat-ho dan belasan orang itu dibawa pergi? Pembunuhan keluarga Kim Tin-ih apakah juga perbuatannya? .... Ai, dalam setengah bulan aku harus memecahkan semua persoalan ini, entah sudikah Kim-heng membantuku?"
"Semua persoalan ini ada sangkut pautnya dengan diriku, bila persoalan itu tidak terpecahkan, sehari pun aku tidak bisa tenang,"
Ujar Kim Bu-bong.
Jilid 7
"Kalau begitu, silakan Kim-heng ikut padaku, apa pun yang akan terjadi tetap harus kuselidiki. Soal kelak engkau akan menjadi kawan atau lawanku tidak perlu dipikirkan sekarang."
Jawab Kim Bu-bong.
"Ya, memang demikian seharusnya."
Maka mereka terus mengikuti bekas salju yang tersapu, sepanjang jalan memang tidak sedikit penemuan mereka, Kim Bu-bong melepas pandang ke empat penjuru, katanya dengan menghela napas.
"Melihat gelagatnya, mereka seperti menuju ke barat."
Sim Long berkerut kening, katanya.
"Kalau mereka menuju ke tempat yang ramai tentu akan menarik perhatian orang, tapi ke arah barat adalah Thay-hang-san, jalan yang jelas sangat sepi."
"Dengan orang sebanyak itu, tentu tak bisa berjalan cepat. Bila kita percepat mungkin dapat menyusul mereka."
Tapi meski mereka mengejar hingga mentari sudah doyong ke barat tetap tidak menemukan kereta yang patut dicurigai, bila ketemu orang lewat, Kim Bu-bong lantas menyingkir dan Sim Long cari keterangan, soalnya tampang Kim Bu-bong yang aneh dan jelek itu mungkin menakutkan orang dan pasti tak mau memberi keterangan.
Namun sepanjang jalan usaha Sim Long juga selalu nihil, ada yang menjawab tidak melihat apa-apa, ada yang bilang pernah melihat kereta, ditegaskan kereta macam apa dan ada berapa?
Bagaimana pula tampang kusir keretanya?
Orang-orang itu hanya melongo saja dan tidak mampu memberi keterangan lagi.
Menjelang magrib hujan salju turun pula, terpaksa mereka mampir di sebuah pondokan di luar Lokyang, pengaruh bius di tubuh Cu Jit-jit sudah lenyap, maka dia rewel lagi kepada Sim Long, setelah Sim Long memberi keterangan betapa ruwet persoalannya, Jit-jit jadi melongo dan ngeri.
Penginapan di dusun kecil ini amat sederhana, setelah Kim Bu-bong menyodorkan sekeping uang perak, pemilik rumah baru mau memberikan dipan batu yang di bawahnya diberi perapian setiap orang menghabiskan beberapa mangkuk bubur daging sapi, Sim Long berbaring terus tidur, A To juga meringkuk di pojokan, tapi Jit-jit duduk di atas dipan yang keras itu, mengawasi selimut kapas yang kasar dan apak, terbayang yang dibakar di bawah dipan adalah tumpukan tahi kuda, nona cantik bertubuh montok dari keluarga hartawan ini mana dapat memejamkan mata.
Tapi kalau dia tidak tidur, tampang Kim Bu-bong sejelek setan itu selalu terbayang di depan matanya.
Melihat Sim Long dapat tidur nyenyak dan mendengkur, sungguh dongkol sekali Jit-jit, diam-diam dia membatin.
"Orang yang tidak punya perasaan, masa tidur sendiri seperti ini?"
Saking dongkol dia buang selimut terus turun dan mendorong pintu, ia berjalan keluar, meski badan terasa dingin sampai menggigil, tapi melihat taburan bunga salju di udara sungguh pemandangan yang memesona.
Di kejauhan terdengar kentungan peronda, waktu sudah lewat tengah malam.
Mendadak terdengar suara ringkik kuda dan kereta sayup-sayup terbawa angin dari kejauhan.
Terbangkit semangat Jit-jit, batinnya.
"Mungkinkah mereka telah tiba, biar aku membangunkan Sim Long."
Tapi belum lenyap pikirannya, mendadak sesosok bayangan orang sudah melayang keluar lewat sampingnya, siapa lagi kalau bukan Sim Long.
Orang yang tidur paling nyenyak ternyata keluar paling cepat, entah senang atau gemas, Jit-jit mengomel di dalam hati.
"Bagus, ternyata kau pura-pura tidur ...."
Baru saja dia hendak memanggil, bayangan seorang berkelebat pula di sampingnya, siapa lagi kalau bukan Kim Bu-bong.
Betapa pesat gerakan kedua orang ini, hanya sekejap sudah lenyap di balik tembok sana, sama sekali tidak bicara kepada Cu Jit-jit.
Dongkol sekali hati Jit-jit, pikirnya.
"Baik, kalian tidak mengajak diriku, biar kukejar sendiri."
Padahal suara roda kereta dan lari kuda kini tidak terdengar lagi, Cu Jit-jit tidak jelas dari arah mana datangnya suara kereta tadi.
Keruan ia gelisah.
Mendadak dia ambil tusuk kundai dan dilemparkan ke tanah, ujung tusuk kundai mengarah ke timur, segera dia kembangkan Ginkang dan berlari ke timur.
Sepanjang jalan jangankan melihat kereta, bayangan setan pun tidak dilihatnya.
Keadaan di sini juga semakin sepi, pohon kering di tengah hujan salju di malam gelap kelihatan mirip bayang-bayang setan yang siap menerkam.
Kalau orang yang bernyali kecil pasti akan putar balik, tapi Cu Jit-jit justru gadis binal yang bandel, makin tidak ketemu makin ingin dicarinya.
Namun usaha pencariannya tetap nihil, Jit-jit sendiri sudah hampir beku kedinginan, sejak kecil dia biasa diladeni, hidup mewah dan main perintah, setiap patah katanya harus dipatuhi ratusan orang, kapan dia pernah menderita seperti ini.
Mendadak embusan angin dingin terasa merasuk tulang, ternyata sepatunya telah bolong, salju masuk ke dalam sepatu dan membasahi kaus kaki.
Jit-jit menjadi bingung, makin dipikir makin khawatir, akhirnya dia menggelendot di pohon sambil memegang kaki dan menangis terisak.
Omelnya.
"Untuk siapakah aku menderita begini? Orang tidak punya Liang-sim (perasaan), tahukah kau?"
Belum habis dia bicara sendiri, dari luar hutan kering sana terdengar langkah orang yang menyaruk salju, suaranya yang ganjil ini membikin Jit-jit merinding, saking takut air mata pun lupa menetes, dia menyurut ke belakang pohon dan mengintip ke sana.
Derap kaki makin dekat, lalu muncul dua sosok bayangan putih, di bawah pancaran cahaya salju tertampak kedua orang ini mengenakan jubah putih panjang menyentuh tanah, rambut panjang melampaui pundak, tangan masing-masing memegang cambuk panjang hitam, seperti badan halus saja melayang tiba, waktu ditegasi, ternyata dua gadis belia yang berwajah cantik.
Meski wajah mereka kelihatan kaku dingin, betapa pun mereka adalah gadis remaja, maka legalah hati Cu Jit-jit, namun tetap menahan napas dan tetap mengintip tanpa bergerak.
Sambil berjalan kedua gadis berbaju putih itu celingukan kian kemari, lalu berhenti, gadis di sebelah kiri mendadak mendekap bibir dan bersuit.
Suara suitannya terdengar tajam melengking seperti pekikan setan, Cu Jit-jit sampai berjingkat kaget, tapi lantas didengarnya suitan yang sama dalam jarak puluhan tombak sana, kejap lain terdengar derap kaki orang banyak semakin dekat.
Mendadak muncul dua belas laki-laki jalan beriring menjadi dua barisan memasuki hutan.
Kedua belas lelaki ini ada tua-muda, tinggi-pendek, tapi wajah mereka tampak kaku seperti linglung, lebih mirip mayat hidup yang digiring, di belakang mereka ada lagi dua gadis berbaju putih yang memegang cambuk panjang, bila seorang keluar barisan segera cambuk mereka menghajar tubuhnya, cepat orang itu menyelinap pula ke dalam barisan, wajahnya tidak menunjuk sesuatu perasaan, seperti tidak merasakan sakit sama sekali.
Baru saja hati Jit-jit merasa lega dan hilang rasa kaget, melihat keadaan ganjil ini, jantungnya kembali berdebar-debar.
Selama hidupnya dia cuma pernah melihat penggembala menggiring kambing, sapi, kuda, atau bebek, mimpi pun tak terbayang olehnya bakal melihat gadis-gadis remaja menggiring mayat hidup.
"Mengiring mayat,"
Mendadak Jit-jit teringat pada cerita yang biasa terjadi di daerah Siang-say, kembali ia merinding, batinnya.
"Mungkinkah ini menggiring mayat?"
Tapi di sini bukan di Siang-say, juga orang-orang itu meski kaku dingin, jelas tidak mirip orang mati.
Kalau bukan orang mati kenapa menurut saja digiring?
Tampak gadis yang datang duluan tadi mengangkat cambuknya, belasan orang itu pun berhenti, seorang gadis berbaju putih yang berperawakan lebih tinggi berkata sambil menghela napas.
"Ai, letih betul, rasanya mau mati, biarlah kita istirahat di sini!"
Gadis temannya berwajah bagai bulan, ia pun menghela napas, katanya.
"Tugas menggiring orang seperti ini memang bukan tugas enteng, sudah tidak bisa istirahat, juga khawatir kepergok orang. Kepada kita Toasiauya justru memberi nama julukan yang indah 'Pek-hun-bok-li' ...."
Mendadak ia tertawa cekikik geli, lalu menyambung.
"Bok-li (gadis gembala), bila orang mendengar nama ini pasti kita disangka penggembala kambing atau sapi, siapa tahu yang kita gembala adalah manusia?"
Gadis berperawakan ramping tertawa, katanya.
"Menggiring orang kan lebih baik daripada digiring orang. Kau tahu di antara orang-orang ini tidak sedikit tokoh-tokoh ternama, umpama dia ...."
Cambuknya menuding ke tengah barisan.
"dia ini salah seorang Piauthau terkenal di daerah Ho-say."
Jit-jit ikut mengintip ke arah yang ditunjuk, tertampak di tengah barisan itu berdiri seorang lelaki berbadan tinggi besar, tegak kaku dengan selebar muka penuh berewok, siapa lagi kalau bukan Can Ing-siong?
Jika Can Ing-siong berada di sini, maka orang-orang ini pasti juga datang dari kuburan kuno itu.
Sungguh Jit-jit tak menyangka tanpa sengaja akan memergoki rahasia ini, sungguh kejut dan girang hatinya, batinnya.
"Walau Sim Long cerdik dan pandai, pasti tidak pernah menyangka di dunia ini ada orang menggembala manusia, dia kira setelah orang-orang ini terpengaruh daya ingatannya pasti akan dinaikkan kereta .... Hah, terpaut serambut selisihnya ternyata sangat jauh, seluruh perhatiannya tertuju untuk menguntit kereta, diam-diam orang lain justru menggiring pergi orang-orang ini di tengah malam dingin."
Meski Can Ing-siong musuhnya, tapi melihat keadaannya yang mengenaskan, hati Jit-jit jadi merasa kasihan, pikirnya.
"Bagaimana aku harus memberitahukan kepada Sim Long supaya dia berusaha menolong mereka?"
Tapi lantas terpikir pula.
"Ah, tidak, Sim Long selalu anggap aku gadis kolokan, aku justru akan melakukan sesuatu yang mengejutkan dia supaya terbuka matanya, dan kesempatan kini berada di depan mata, mana boleh kuabaikan. Setelah aku menyelidiki sampai jelas duduk persoalannya baru pulang memberitahukan kepadanya, akan kulihat bagaimana mimik wajahnya nanti."
Lantas terbayang olehnya Sim Long yang menyengir dan kagum serta memuji kepadanya, maka tersimpul senyum manis di wajahnya.
Terdengar salah seorang Pek-hun-bok-li atau Gadis Penggembala Awan Putih yang bertubuh kecil berkata.
"Waktu sudah mendesak, marilah berangkat! Jangan lupa, sebelum terang tanah kita harus menggiring orang-orang ini tiba di tempat tujuan, kalau terlambat kita berempat bakal kena hukuman."
Gadis bermuka bulat berkata.
"Kenapa tergesa-gesa, apa gunanya kita sampai di tempat tujuan lebih dini daripada waktu yang ditentukan?"
Yang berperawakan tinggi menghela napas, katanya.
"Tiba lebih dini kan lebih baik daripada terlambat, marilah berangkat."
Cambuk panjang terayun, segera dia membuka jalan di depan.
Can Ing-siong dan lain-lain lantas mengintil di belakangnya, persis kawanan bebek yang digiring ke sawah.
Sementara kedua gadis berbaju putih yang lain mengayun cambuk panjang untuk menghapus bekas tapak kaki mereka di atas salju, dengan cepat mereka sudah keluar hutan pula.
Jit-jit berpikir.
"Agaknya mereka membagi diri dalam empat kelompok, asal kukuntit kelompok yang ini ke sarang mereka, tentu tak bisa mereka lolos."
Dengan penuh semangat dan tekad akan membongkar peristiwa misterius ini, kaki dingin tidak dirasakan lagi, dengan main sembunyi dan menahan napas, dia terus menguntit rombongan orang-orang ini dari kejauhan.
Untung langkah kaki mereka yang menyaruk salju cukup jelas terdengar dari kejauhan, maka Jit-jit tidak perlu khawatir kehilangan jejak buruannya.
Agaknya Pek-hun-bok-li juga tidak mengira di tengah malam dingin hujan salju ini ada orang memergoki rombongan mereka, maka sedikit pun mereka tidak meningkatkan kewaspadaan, hakikatnya mereka tidak pernah menoleh atau memeriksa keadaan di depan dan di belakang.
Kecuali derap kaki lirih, mereka tidak mengeluarkan suara, cara menggiring tawanan puluhan orang dari satu tempat ke tempat lain ini memang akal yang bagus.
Makin dipikir makin kagum Jit-jit akan cara yang ditempuh orang ini, dalam hati dia membatin.
"Cara sebagus ini kenapa sebelum ini tak pernah ada yang memanfaatkannya? .... Tapi orang yang dapat menggunakan akal misterius ini, tentu dia sendiri juga makhluk aneh."
Sambil meraba-raba siapa sebetulnya makhluk aneh itu dan bagaimana tampangnya, tanpa terasa dia sudah menguntit satu jam lebih.
Diperkirakan sekarang mungkin sudah mendekati fajar, tapi musim dingin biasanya malam lebih panjang dan siang pendek, maka alam semesta masih gelap gulita, sedikit cahaya pun belum tampak.
Cu Jit-jit menduga rombongan "penggiring mayat"
Ini pasti menuju suatu tempat tersembunyi yang jarang dijelajah manusia, siapa tahu makin maju ke depan, kecuali menyeberangi sungai yang beku permukaannya, jalanan ternyata makin rata, di bawah refleksi cahaya salju dapat Jit-jit melihat bayangan tembok kota besar di kejauhan.
Hal ini kembali di luar dugaannya, pikirnya.
"Apakah nona penggiring mayat ini akan masuk ke kota? Ah, kukira tak mungkin."
Tapi kenyataan kawanan mayat hidup itu memang digiring mendekati kota.
Waktu itu pintu kota baru terbuka, dua buah kereta mentereng mendadak dibedal keluar dengan kencang.
Empat sisi kereta bergantung empat lampu yang menyala terang, kelihatannya kereta milik keluarga bangsawan atau orang berpangkat, bukan saja keretanya, kudanya pun tinggi besar.
Jit-jit membatin.
"Umpama mereka mau masuk kota tentu juga takkan naik kereta yang mentereng ini, bukankah menarik perhatian orang malah?"
Tak tahunya kedua kereta itu justru menyongsong ke arah rombongan "penggiring mayat"
Ini, nona bermuka bundar bersuit sekali, kereta segera berhenti, kedua belas lelaki dan empat nona berbaju putih segera naik ke atas kedua kereta itu.
Jit-jit melongo mengawasi kejadian ini, bingung dan kaget, dia tidak tahu bahwa sepak terjang orang-orang ini memang selalu di luar dugaan orang, jika penggunaan kereta kuda ini dapat diraba orang, tentu bukan peristiwa misterius lagi.
Cepat sekali kedua kereta itu bergerak.
Jit-jit menjadi nekat, pikirnya.
"Sekali bekerja tidak boleh kepalang tanggung, umpama harus masuk kubangan naga dan gua harimau tetap akan kukuntit mereka sampai ke sarangnya."
Mendadak ia melompat ke depan, dengan gesit ia menyusup ke kolong kereta, dengan membonceng di bawah kereta dia ikut masuk ke sarang musuh.
Orang lain mungkin harus berpikir dua kali, tapi Jit-jit memang gadis binal dan bandel, kalau tidak tentu takkan mengalami macam-macam bahaya.
Kereta masuk kota, Jit-jit bergelantung di kolong kereta dan merasa punggung menyentuh salju, rasa dingin merangsang badannya, sukar baginya membedakan ke arah mana kereta dilarikan.
Lambat laun sekeliling mulai terdengar suara orang, sayup-sayup dia mendengar orang berkata.
"Bunga anggrek ini bibit istimewa, sukar ditemukan meski sengaja dicari."
"Sekarang kan sedang musim bunga, lewat musimnya tentu sukar dibeli lagi."
"Seruni ini terlebih molek lagi, bila ditaruh di meja makan, suasana tentu bertambah indah."
Mendengar percakapan itu, hidung Jit-jit lantas membau harum bunga, dapat ditebak tempat ini adalah pasar pagi yang khusus menjual bunga.
Kereta lantas berhenti sejenak, agaknya keempat Pek-hun-bok-li membeli tidak sedikit bunga kesayangan mereka.
Jit-jit jadi heran.
"Untuk apa mereka membeli bunga?"
Terdengar penjual bunga berkata.
"Nona boleh ambil saja, kenapa bayar segala."
"Besok pagi akan datang jenis bunga lain yang lebih bagus mutunya, hendaknya nona datang lebih pagi."
Jit-jit tambah heran.
"Agaknya mereka adalah langganan lama, hubungannya dengan para penjual bunga sudah akrab, orang yang tindak tanduknya serbamisterius ternyata sering kemari membeli bunga, sungguh aneh."
Kereta mulai bergerak pula ke depan, Jit-jit tidak sempat berpikir lebih banyak.
Setelah keluar dari pasar bunga, jalanan kota yang ditempuh ternyata berbelak-belok ke kiri dan ke kanan, selang sekian lama lagi, terdengar seorang dalam kereta berkata.
"Apakah pintu gerbang terbuka?"
"Ya, terbentang lebar, orang lain mungkin sudah tiba lebih dulu."
"Nah, kan sudah kubilang pulang lebih dini, kau justru ingin istirahat segala."
"Sekarang sudah sampai, untuk apa mengomel, lekas masuk!"
Di tengah percakapan itu, kereta mendadak berjalan menanjak, semula Jit-jit mengira mendaki lereng bukit, akhirnya baru diketahui cuma undakan batu yang lebarnya hanya tiba cukup lewat sebuah kereta, kedua sisi dipagari tembok pendek, undakan batu juga hanya belasan tingkat, di ujung atas terdapat sebuah gerbang yang luas.
Setelah masuk pintu, jalan di situ dilandasi balok batu hijau, salju sudah tersapu bersih, walau tidak bisa melihat keadaan sekelilingnya, tapi Jit-jit merasakan pekarangannya sangat luas dan bangunannya megah, halaman demi halaman berlaku pula, kemudian baru terdengar seorang berseru.
"Kereta diparkir di barak nomor tujuh, orangnya boleh turun lebih dulu."
Jit-jit coba mengintip, dilihatnya kedua sisi kereta ada belasan kaki orang yang mondar-mandir, semua mengenakan sepatu berselongsong tinggi, tapi ada juga yang bersepatu kain bersulam, ada yang pakai celana, ada yang bergaun, langkah mereka ringan, cuma tidak kelihatan wajah mereka, baru sekarang Jit-jit mulai gelisah.
Sekarang dia sudah masuk sarang harimau, ia tak menemukan akal cara meloloskan diri, bila ada orang berjongkok melongok kolong kereta, maka dia akan ketahuan, umpama dirinya punya enam tangan dan tiga kepala juga jangan harap bisa melarikan diri.
Kini selain gugup ia pun agak menyesal, tidak seharusnya seorang diri dia menyerempet bahaya, kini umpama dia mati di sini demi Sim Long juga tak diketahui anak muda itu.
Suara orang banyak ribut seperti di pasar, ringkik kuda terdengar di sana-sini, beberapa orang menarik kereta masuk ke istal, ada yang sibuk menimba air, mengambil sikat, mencuci kuda dan membersihkan kereta, untung tiada yang melongok ke kolong kereta.
Tubuh Jit-jit terasa kaku dingin, lengannya pegal linu, sungguh dia ingin terjang keluar.
Tapi dia belum ingin mati, terpaksa bertahan sekuat tenaga, hanya satu yang diharapkan, semoga tukang cuci ini lekas mengakhiri kerjanya dan menyingkir.
Tak tahunya pencuci itu justru tidak mau pergi, sambil mencuci kuda dan membersihkan kereta malahan sambil ngobrol, ada yang bertembang lagi, maklum, laki-laki kasar, yang dibicarakan tentu juga urusan perempuan melulu.
Jit-jit mengertak gigi, dalam hati dia mencaci maki dan mengutuki supaya orang-orang ini lekas mampus.
Tiba-tiba terdengar bunyi keleningan, seorang berteriak.
"Sarapan pagi sudah tersedia, siapa ingin makan bubur lekas ambil!"
Pencuci kereta dan kuda itu serempak bersorak gembira, sikat dibuang, sapu dilempar, kain lap juga ditinggalkan begitu saja, hanya sekejap orang-orang kasar itu sudah tidak kelihatan lagi bayangannya.
Lega hati Jit-jit, dia tidak tahan lagi, ia jatuh telentang di atas tanah, seluruh ruas tulang seperti terlepas.
Tapi dia sadar dirinya masih dalam bahaya, terpaksa dia mengertak gigi dan menahan sakit, perlahan ia merangkak keluar, sembunyi di belakang kereta dan mengintip keluar.
Di luar istal ada puluhan pohon cemara tua dan rindang penuh salju yang bergantungan di pucuk pohon, ke sana lagi terdapat bangunan yang berderet-deret, entah berapa banyak gedung yang berada di sekitarnya.
Diam-diam Jit-jit berkerut alis, sungguh dia tidak mengerti dirinya berada di tempat apa, dari bangunan gedung yang besar megah berderet ini, ia menduga kalau bukan istana raja tentu gedung menteri, tapi bila direnungkan lagi hal ini pun tidak mungkin.
Selagi sangsi, tiba-tiba terdengar seorang tertawa mengikik, kuduk lantas dicium orang dari belakang.
Keruan kaget dan gusar Jit-jit, cepat ia membalik badan, sayang tubuhnya masih pegal linu dan tak bertenaga, gerak-geriknya tidak setangkas semula, setelah membalik badan, ternyata tidak ada bayangan orang.
Tiba-tiba terasa tengkuk dicium orang pula, lalu suara bernada jahil berkata di belakangnya.
"Wah, alangkah wanginya!"
Kontan Jit-jit menyikut ke belakang, tapi sodokannya luput. Waktu dia putar badan lagi orang itu sudah berada di belakangnya dan mencium tengkuknya pula dan katanya dengan tertawa.
"Seorang nona sepantasnya lemah lembut, mana boleh main sikut dan pukul."
Suara orang sekali ini kedengaran serak tua, berbeda dengan suara tadi.
Sungguh kaget, takut, dan marah bukan kepalang Jit-jit, cepat dia putar tubuh, bayangan orang tetap tidak kelihatan, malah kuduknya tetap dicium pula sekali.
Didengarnya orang di belakang berkata dengan tertawa.
"Meski lebih cepat kau berputar juga tidak akan melihat diriku."
Sekarang suaranya berubah lembut seperti suara seorang gadis remaja.
Jit-jit menjadi gemas, beruntun dia berputar lima kali, otot tulangnya sudah bekerja normal maka gerak tubuhnya tambah cepat dan tangkas, tak tahunya gerak-gerik orang seperti bayangan setan saja, betapa pun cepat Jit-jit bergerak, orang terlebih cepat lagi, suara bicaranya juga berubah-ubah, dari tua menjadi muda, lelaki berubah menjadi suara perempuan, seolah-olah ada delapan orang ganti-berganti bicara di belakangnya.
Betapa besar nyali Cu Jit-jit, saking ngeri jantungnya seperti hendak melompat keluar, katanya, dengan gemetar.
"Kau ... sebetulnya orang atau setan?"
Orang itu tertawa senang, sahutnya.
"Setan ... setan bajul buntung!" -Lalu ia mencium pula. Bibir orang terasa dingin seperti es, setiap kali kuduk Jit-jit dicium orang rasanya seperti dipagut ular, menyingkir tidak mungkin, berkelit juga tidak bisa. Betapa pun Jit-jit memang gadis cerdik yang pandai menggunakan otaknya, setelah bola matanya berputar, mendadak dia tertawa cekikik malah, katanya.
"Kalau betul kau setan bajul, kenapa tidak berani mencium pipiku?"
Orang itu tertawa, katanya.
"Bila kucium pipimu, bukankah akan terlihat olehmu?"
"Biar aku memejamkan mata,"
Ujar Jit-jit.
"Meski ucapan perempuan tak dapat dipercaya, tapi .... Ai, betapa pun aku harus percaya sekali ini."
Kedua tangan Jit-jit sudah penuh terisi tenaga, matanya terbelalak, mulut berkata sambil mengikik.
"Sudah, mulai!"
Tiba-tiba pandangannya kabur, bayangan seorang berkelebat di depan mata.
Dengan sekuat tenaga Jit-jit menghantam dengan kedua tangan, siapa tahu sebelum tinjunya mengenai sasaran, kedua tangannya sudah terpegang orang malah.
Orang itu bergelak tertawa, katanya.
"Omongan perempuan memang tidak boleh dipercaya, untung aku sudah sering tertipu, sekarang tidak mudah ditipu lagi."
Tampak jelas orang ini berpakaian warna jambon, bersepatu tebal, dandanannya persis pemuda bergajul yang suka menggoda perempuan, tapi wajahnya jelek, mata kecil, hidung pesek, alis pendek, bibir tebal, tampang yang menjijikkan.
Jit-jit ngeri dan mual, tapi kedua tangannya dipegang orang sehingga tidak mampu meronta, serunya gugup.
"Kau ... bunuhlah diriku, aku ini mata-mata yang menyelundup kemari, lekas kau serahkan diriku kepada majikan gedung ini, biar aku dihukum berat!"
Ia pikir lebih baik dirinya tertangkap sebagai musuh yang menyelundup kemari dan dihukum berat daripada jatuh ke tangan pemuda bajul yang berwajah jelek ini.
Tak tahunya orang lantas cengar-cengir dan berkata.
"Majikan rumah ini bukan bapakku juga bukan anakku, kau boleh jadi mata-mata, apa sangkut pautnya dengan aku? Kenapa harus kuserahkan dirimu kepadanya!"
"Jadi kau pun menyelundup kemari secara sembunyi-sembunyi?"
Tanya Jit-jit kaget. Pemuda baju jambon tertawa, katanya.
"Kalau tidak masa aku keluar dari istal?"
Berputar biji mata Cu Jit-jit, harapan hidup timbul dalam benaknya, katanya dalam hati.
"Dinilai dari kungfunya yang tinggi, bila dia mau membantuku, dengan mudah segera aku bisa meninggalkan tempat ini."
Tapi berhadapan dengan orang sejelek ini, makin dipandang makin mual, kalau dia harus memohon kepadanya, betapa pun dia tidak sudi.
Apalagi mata orang yang kecil itu bersinar cabul, kata-kata minta bantuan yang hampir terlontar dari mulutnya lantas ditelannya kembali.
Sudah sipit matanya, tapi pemuda itu sengaja memicingkan mata, seperti menikmati sebuah karya besar pengukir ternama, ia mengawasi wajahnya, dadanya, pinggulnya, lalu pahanya, semua bagian tubuh Jit-jit dipandangnya seperti juru kir atau wasit dalam pemilihan ratu kecantikan, mendadak dia tertawa lebar, katanya.
"Apa kau mau minta kubantu melarikan diri?"
"Ap ... apa kau bisa?"
Cu Jit-jit gelagapan. Pemuda baju jambon tertawa, katanya.
"Orang lain anggap tempat ini kubangan naga atau gua harimau, bagiku mau datang boleh datang, mau pergi bisa pergi, mondar-mandir sesuka hatiku seperti keluar-masuk di rumah sendiri."
"Kukira kau hanya membual saja,"
Kata Jit-jit. Pemuda baju jambon menyengir, katanya.
"Tak perlu kau pancing diriku, kalau kau ingin kubantu keluar dari sini, aku harus dipersen dulu cium pipi."
Jit-jit berpikir.
"Biar kupejamkan mata dan dicium sekali daripada mati di sini, kalau mati di sini, Sim Long tak bisa kulihat lagi."
Teringat kepada Sim Long, Jit-jit jadi nekat, asal bisa ketemu Sim Long, umpama dia harus dicium babi atau anjing juga rela. Segera ia pejamkan mata, katanya.
"Baiklah, silakan ...."
Belum habis dia bicara pipinya sudah di"ngok"
Keras-keras satu kali, didengarnya pemuda baju jambon berkata.
"Seorang lelaki sejati harus bisa pegang janji. Nah, ikut padaku!"
Tanpa kuasa Cu Jit-jit lantas terseret pergi, waktu dia membuka mata, dilihatnya dia berlari ke arah gedung-gedung megah sana, keruan Jit-jit kaget setengah mati, teriaknya.
"He, mau ke mana kau?"
Pemuda baju jambon tertawa, katanya.
"Sebetulnya ingin kubantu kau lari, tapi bila kau sudah pergi, selanjutnya tentu takkan menghiraukan aku, setelah kupikir-pikir, lebih baik menahanmu di sini."
"Tapi kau ... kau sudah janji ...."
"Pemilik gedung ini bukan bapakku juga bukan anakku, tapi adalah ibuku,"
Kata pemuda itu.
"Tadi kau menipuku sekali, giliranku sekarang menipumu sekali, satu lawan satu, sama kuat. Supaya kau maklum saja, meski perempuan pandai menipu, tapi bila lelaki mau berdusta kan tidak kalah bila dibandingkan perempuan."
Kejut dan gusar bukan kepalang Cu Jit-jit, ia mencaci maki.
"Kau babi, kau anjing kurap, kau ... kau binatang lebih rendah daripada anjing dan babi, aku benci, ingin kubeset kulitmu."
Makin galak dia memaki, senyuman pemuda baju jambon makin lebar, makin senang.
Ketika para lelaki berbaju hitam, gadis-gadis berbaju putih di halaman itu melihat kedatangannya, semua menyingkir dan memberi hormat sambil menyapa.
"Toasiauya pulang."
Ada seorang gadis agaknya ada hubungan intim dengan dia lantas berkata.
"Toasiauya semalam tidak pulang lagi, awas bila diketahui Hujin (nyonya), pasti kau dilarang masuk pintu."
Pemuda baju jambon berkata dengan tertawa.
"Aku memang tidak masuk pintu, tapi melompat masuk dari tembok dekat istal kuda ... Enci yang baik, jangan kau laporkan kepada ibu, besok pasti kuajak kau main mesra."
Gadis itu tertawa malu, serunya.
"Siapa mau main mesra denganmu? .... Domba yang kau bawa pulang ini tampaknya lumayan juga ...."
Di tengah cekikik para gadis itu, pemuda berbaju jambon terus melangkah pergi sambil menarik Cu Jit-jit menuju ke deretan rumah yang terletak di belakang pepohonan bambu sana.
"Berhenti!"
Mendadak seorang membentak.
Suara nyaring berkumandang dari atas loteng di balik pepohonan bambu, meski tinggi loteng ada beberapa tombak, tapi suara bentakan itu seperti mengiang di tepi telinga Jit-jit.
Pemuda baju jambon ternyata tidak berani melangkah lagi, segera berdiri tak bergerak.
Orang di atas loteng lantas menegur.
"Besar benar nyalimu, sesudah pulang lantas mau masuk kamar secara diam-diam?"
Pemuda baju jambon ternyata tidak berani mendongak, sebaliknya Cu Jit-jit sudah pasrah nasib, segera dia mendongak, dilihatnya di belakang langkan loteng berdiri seorang perempuan setengah baya berdandan seperti seorang ratu.
Tidak sedikit perempuan cantik yang pernah dilihat Cu Jit-jit, tapi bila dibandingkan perempuan cantik setengah baya ini, maka perempuan lain itu menjadi jelek seperti siluman, hanya sekilas Jit-jit memandang ke atas dan lantas berat untuk berpisah, batinnya.
"Aku sendiri perempuan, sekali melihatnya lantas kesengsem, bila lelaki entah bagaimana jadinya, mungkin berjalan pun tidak kuat lagi."
Perempuan cantik berdandan seperti ratu itu juga menatap Jit-jit, katanya dengan dingin.
"Dari mana kau peroleh perempuan ini?"
"Dia ini ...."
Tutur pemuda baju jambon sambil menyengir.
"dia ... inilah Yan Ping-bun, nona Yan yang sering anak katakan itu, ibu bilang ingin melihatnya, maka anak membawanya pulang supaya ibu dapat melihatnya."
Berputar biji mata perempuan setengah baya itu, dengan mengangguk ia berkata.
"Ehm, memang cantik, pantas kau tergila-gila padanya, kalau demikian, silakan dia ...."
Bahwa pemuda berbaju jambon berusaha melindungi dia, kalau orang lain pasti kegirangan, tapi dasar Jit-jit berwatak keras, terbayang bila dirinya dibawa masuk ke kamarnya, rasanya lebih baik mati, maka dia lantas berteriak.
"Aku bukan Yan Ping-bun. Aku she Cu, juga bukan dia yang mengundangku kemari. Aku menyelundup ke sini dengan membonceng di bawah kereta, maksudku hendak menyelidiki rahasia kalian, tak tersangka tertawan oleh dia, sekarang mau dibunuh atau akan disembelih boleh terserah."
Seketika dingin telapak tangan pemuda baju jambon itu, perempuan cantik setengah baya itu pun berubah air mukanya, dengan gusar dia mendelik dan mendesis.
"Bawa dia kemari."
Gedung ini dari luar tertampak megah, pajangan di dalam ternyata juga tidak kalah dibandingkan istana, perempuan cantik setengah baya duduk bersandar di atas kursi besar berlapis kulit harimau, duduk santai dengan gaya yang memesona seperti bidadari.
Begitu masuk pemuda berbaju jambon lantas berlutut di depannya.
Jit-jit sudah tidak memedulikan mati-hidupnya sendiri, apa pula yang ditakuti?
Maka dia berdiri dengan bertolak pinggang sambil mengulum senyum dingin.
"Kau she Cu, siapa namamu?"
Tanya perempuan itu.
"Mestinya tidak perlu kau urus. Tapi boleh juga kuberi tahukan padamu. Cu Jit-jit adalah diriku, aku adalah Cu Jit-jit. Nah, sudah jelas bukan, jangan dilupakan!"
"Cu Jit-jit, besar amat nyalimu,"
Desis perempuan itu.
"Berhadapan dengan perempuan secantik kau, sungguh tidak kepalang senangku, apa pula yang kutakuti? Sayangnya engkau yang cantik ini melahirkan putra yang jelek sekali."
Agaknya perempuan cantik setengah baya belum pernah menghadapi gadis seberani ini, wajahnya yang molek menampilkan rasa tercengang, mendadak dia berseru ke luar.
"Bawa kemari!"
Seorang gadis baju putih mengiakan terus berlari turun ke bawah loteng, kejap lain sudah kembali dengan membawa empat laki-laki kekar dan menggusur dua gadis baju putih, yaitu gadis baju putih yang dilihat Jit-jit menggiring barisan mayat hidup itu.
Melihat nyonya cantik setengah baya, kedua gadis itu ketakutan dan gemetar, cepat mereka berlutut lunglai di lantai.
Perempuan cantik itu lantas tanya kepada Jit-jit.
"Apakah kau membonceng di bawah kereta mereka itu?"
"Seperti benar, tapi juga seperti tidak benar,"
Sahut Jit-jit. Ujung bibir si perempuan cantik tiba-tiba mengulum senyum genit, katanya lembut.
"Anak baik, usiamu masih muda, biar bibi mengajar suatu hal kepadamu, bahwa perempuan di dunia ini semakin cantik semakin jahat dan keji hatinya, yang berwajah jelek malah berhati baik."
"Apa benar?"
Ujar Jit-jit.
"Jika kau tidak percaya, boleh kau saksikan, setiap gadis anak buahku, bila lalai bekerja, apa hukuman yang harus diterimanya,"
Jari tangannya yang lentik lantas menjentik perlahan, kedua Pek-hun-bok-li yang berlutut itu seketika menjerit, menangis takut dan memilukan.
Tapi keempat lelaki itu justru tidak kenal kasihan meski terhadap gadis cantik dengan tubuh montok sekalipun, dengan dua lawan satu, yang belakang menjambak rambut dan yang di depan meraih baju, begitu tangan direntang, pakaian dirobek sehingga telanjang, terlihatlah tubuh yang mulus dengan garis tubuh yang ramping, serempak mereka mengeluarkan cambuk terus menghajarnya, tubuh yang putih mulus dan padat itu seketika babak belur dan berdarah, jerit tangis makin memilukan.
Kedua gadis itu berguling dan menjerit, meratap minta ampun, tapi cambuk kulit tanpa kenal kasihan terus menghajar tubuh mereka.
Jalur merah membiru menghiasi tubuh mulus dan montok itu agaknya menambah kebuasan keempat lelaki itu, cambuk bekerja semakin gencar.
Jit-jit tidak tahan lagi, teriaknya.
"Berhenti ... kumohon kepadamu ... suruh berhenti."
"Anak baik,"
Ucap si perempuan cantik.
"kutahu kau tidak takut mati, tapi kau pun perlu tahu banyak urusan di dunia ini jauh lebih menderita daripada mati, umpamanya ...."
Kedua tangan Jit-jit mendekap kuping, teriaknya.
"Aku tak mau dengar ...."
"Jika demikian, harus kau bicara terus terang kepadaku. Berapa banyak rahasia kami yang kau ketahui? Kecuali dirimu siapa pula yang tahu?"
"Aku tidak ... tidak tahu ... apa pun aku tidak tahu."
"Apa benar kau tidak tahu? Baik ...."
Serentak delapan lelaki kekar telah mengurung Cu Jit-jit. Ngeri hati Jit-jit, dengan gemetar ia berteriak.
"Sim Long, di mana kau? Lekas kemari menolongku."
Belum lenyap suaranya, tiba-tiba terdengar suara keleningan dari belakang tabir, seketika berkerut alis si perempuan cantik, perlahan ia menjulurkan kakinya yang putih dan mengenakan sepatu bersulam, lalu berdiri, dengan langkah gemulai ia berjalan keluar.
Kaget dan melongo Jit-jit, tapi lega juga hatinya.
Pemuda berbaju jambon menoleh, katanya perlahan.
"Kusuruh jangan banyak omong, kau justru usil, sekarang .... Ai, agaknya nasibmu masih mujur, ada seorang tamu yang harus ditemui itu, kalau tidak ...."
Kalau tidak bagaimana, tanpa dijelaskan juga Jit-jit dapat membayangkan. Tampak seorang gadis berbaju putih naik ke atas loteng, lalu bicara dengan kereng.
"Atas perintah Hujin, sementara nona Cu ini supaya disekap di kamar bawah tanah untuk menunggu keputusan lebih lanjut."
Segera si pemuda baju jambon bertanya.
"Aku bagaimana?"
Gadis itu cekikik geli, katanya.
"Kau boleh ikut padaku."
Berputar biji mata Jit-jit, mendadak dia bertindak, memukul dan menendang, sekaligus merobohkan keempat lelaki, menyusul segera ia menerobos jendela terus melompat ke bawah loteng.
Gadis baju putih dan pemuda baju jambon diam saja melihat dia melarikan diri.
Jit-jit sendiri tidak mengira sedemikian gampang dia bisa meloloskan diri, keruan hatinya sangat girang, ia pikir setelah keluar dari loteng ini, orang belum tentu dapat mencegatnya.
Tak tahunya baru saja kakinya menyentuh tanah, mendadak didengarnya seorang tertawa perlahan di belakang.
"Anak baik, kau menyusul datang, aku memang menunggumu!"
Suaranya lembut, nadanya genit, siapa lagi kalau bukan si perempuan cantik setengah baya.
Seketika Jit-jit seperti diguyur air dingin, dengan nekat mendadak dia putar tubuh dan menghantam dengan kedua telapak tangan, jurus serangan lihai yang sempat terpikir dilancarkan seluruhnya, dalam sekejap dia menyerang delapan kali.
Ginkangnya memang tidak rendah, serangan juga tidak lamban, sayang ilmu silat yang diyakinkannya terlalu banyak ragamnya sehingga kedelapan jurus serangan itu meski cukup lihai, namun tiada sejurus pun yang diyakinkan dengan sempurna, untuk menghadapi jago silat biasa memang berkelebihan, tapi di hadapan perempuan cantik setengah baya ini ilmu silatnya hanya seperti permainan anak kecil saja.
Didengarnya perempuan cantik itu tertawa dan berkata.
"Anak baik, tidak sedikit juga kungfu yang kau pelajari ...."
Dengan enteng dia mengebaskan lengan baju, Yu-ti-hiat di siku kanan Cu Jit-jit kena disabetnya, kontan lengan kanan tergantung, namun dia tetap bandel, dengan nekat tetap menyerang pula tiga kali dengan telapak tangan kiri.
"Kau harus tahu, banyak makan sukar dicerna, demikian pula kungfu, makin banyak ragam yang kau pelajari namun tiada satu pun yang sempurna, lalu apa gunanya ...."
Sekali nyonya cantik itu berlenggang, kembali lengan bajunya mengebas.
Yu-ti-hiat di sikut kiri Cu Jit-jit kembali tertutuk, lengan kiri juga lemas tak bisa bergerak, tapi dasar bandel dia tetap tidak mau kalah, kedua kaki beruntun menendang.
Si perempuan cantik tertawa, katanya.
"Dengan kepintaranmu, bila khusus mempelajari satu macam kungfu mungkin kau mampu melawan sepuluh jurus seranganku, tapi sekarang ... lebih baik kau menyerah saja."
Habis berkata, serentak Hoan-tiau-hiat di lutut Jit-jit juga tertutuk dengan kebasan lengan bajunya, Jit-jit terkulai lemas dan tak mampu berdiri lagi.
Tiada seujung rambut perempuan itu tampak kusut, biasanya sikapnya memang anggun, pada waktu bergebrak pun gerak-geriknya lemah lembut memesona.
Jit-jit memandangnya sejenak, katanya dengan menghela napas.
"Sungguh tak pernah terpikir olehku bahwa di dunia persilatan ada perempuan seperti dirimu, tak bisa pula kutebak tipu muslihat apa pula yang sedang kau rancang, agaknya ... geger dunia persilatan sudah di ambang pintu."
"Apa yang kulakukan memang tiada seorang pun di dunia ini dapat merabanya, apa kau tunduk sekarang?"
Walau badan tidak bisa bergerak, tapi mata Jit-jit tetap melotot, teriaknya.
"Kenapa aku harus tunduk padamu? Jika usiaku setua kau, belum tentu dapat kau kalahkan."
"Anak bandel, agaknya sampai mati pun tak mau tunduk, tapi biar kuberi tahukan padamu, waktu usiaku sebaya kau sekarang namaku sudah tersohor di seluruh dunia, tiada lawan yang mampu menandingi aku, jika kau bisa hidup setua aku sekarang, tentu pula kau tahu selama hidupmu jangan harap dapat menandingi aku, hanya sayang ...."
Mendadak dia berhenti bicara dan mengulapkan tangan terus putar tubuh dan tinggal pergi. Jit-jit membayangkan apa arti "hanya sayang"
Yang dikatakan, bila dia kembali lagi nanti entah cara bagaimana orang akan memperlakukan dirinya, terbayang pula keadaan di sini serbamisterius, umpama jiwanya melayang juga tidak akan diketahui orang luar, maka jangan harap ada orang akan menolongnya keluar dari sini.
Semakin dipikir semakin ngeri perasaan Jit-jit, jika tiada harapan untuk lolos, terpaksa dia hanya menunggu kematian saja.
Dua lelaki besar tampak menghampirinya, mereka menyeringai, jelas mengandung maksud tidak baik.
Jit-jit mengertak gigi, pikirnya.
"Umpama orang luar tidak tahu aku mati di sini, paling sedikit aku harus tahu di mana aku meninggal dunia ...."
Untung lehernya mampu bergerak, maka dia celingukan ke kanan-kiri, dilihatnya di sebelah kanan adalah jalan kecil berbatu kerikil warna-warni, ada gunung-gunungan dan kolam teratai, di belakang pepohonan sana tampak deretan rumah berloteng, samar-samar kelihatan bayangan beberapa orang berpakaian berwarna-warni mondar-mandir, entah apa yang sedang dikerjakan.
Mestinya dia ingin melihat jelas, tapi tubuhnya sudah diangkat kedua lelaki itu, empat tangan berbulu seperti sengaja dan tidak sengaja meremas-remas tubuhnya.
Segera Cu Jit-jit memaki kalang kabut.
Lelaki sebelah kiri menyeringai, katanya.
"Genduk busuk, pura-pura suci, sebentar lagi baru ...."
Mendadak seorang menukas.
"Sebentar lagi kenapa?"
Kedua lelaki itu tersentak kaget sambil menoleh, tertampak si pemuda baju jambon tengah menatap mereka dengan dingin, seketika pucat muka mereka, kepala tertunduk dan tidak berani bersuara lagi.
Sambil mengawasi Jit-jit pemuda baju jambon seperti mau bicara lagi, tapi segera ditarik pergi oleh si gadis berbaju putih tadi, kedua lelaki itu pun segera menggusur Jit-jit ke balik pintu, seorang gadis baju putih sudah menunggu di samping meja, dengan jarinya yang lentik sedang memajang bunga anggrek di atas meja.
Melihat Jit-jit, gadis berbaju putih itu geleng kepala, katanya dengan tertawa.
"Setelah berada di sini, masih ingin lari? Membuang-buang tenaga saja ...."
Lalu dia putar meja persegi di depannya dua kali, papan batu di pinggir meja mendadak menjeplak, muncul sebuah pintu gua yang menjurus ke bawah tanah, di bawah cahaya terang benderang, ternyata sepanjang dinding lorong dihiasi lampu perunggu yang indah.
Gadis berbaju putih lantas berkata.
"Kamar Hoa-san masih kosong, bawa dia ke sana saja."
Di hadapan gadis berbaju putih ini, kedua lelaki itu bersikap hormat dan munduk-munduk, dengan langkah lebar mereka lantas masuk ke sana. Cu Jit-jit menoleh, serunya.
"Cici yang baik, sebetulnya tempat apakah ini, dapatkah kau beri tahukan padaku?"
"Ai, merdu juga kau panggil Cici padaku, sayang aku tidak bisa memberi tahu."
Kontan Jit-jit memakinya.
"Setan alas, budak busuk, tidak kau katakan padaku, suatu hari aku pasti juga tahu."
Gadis itu hanya mengawasinya dengan tertawa, tidak menjawab dan tidak menghiraukan ocehannya.
Lorong bawah tanah ini ternyata berliku-liku dan ruwet, gelagatnya tidak kalah rumit dibandingkan kuburan kuno itu.
Tampak oleh Cu Jit-jit di tepi setiap pintu yang dilewati ada ukiran huruf yang berbunyi Lo-hu, Ceng-seng dan nama gunung ternama lainnya.
Setiba di depan kamar yang terukir huruf Hoa-san, kedua lelaki itu menekan tombol rahasia dan membuka pintu batu.
Lelaki sebelah kiri menyeringai pula, katanya.
"Genduk busuk, justru ingin kuciummu, coba saja kau bisa berbuat apa?"
Sembari bicara dia lantas menunduk, mulutnya yang penuh berewok dan berbau bawang itu lantas mencium muka Cu Jit-jit. Jit-jit tidak memaki juga tidak meronta, katanya malah dengan nada genit.
"Asal kau bersikap baik padaku, tidak jadi soal kau menciumku."
Lelaki itu tertawa senang, katanya.
"Nah kan begitu, agaknya sudah kau rasakan nikmatnya dicium olehku, baiklah kucium lagi ...."
Mendadak dia menjerit kesakitan, darah berlepotan di mukanya, ternyata bibirnya digigit sobek oleh Cu Jit-jit.
Saking kesakitan dan murka lelaki itu mencengkeram dan hendak merobek pakaian Jit-jit.
Tapi Jit-jit lantas mengancam.
"Berani kau sentuhku lagi, bila nanti Siauya kemari pasti kuadukan padanya .... Hehe, apa kehendakku pasti akan dilakukannya, coba apa hukuman atas dirimu nanti."
Sambil mendekap mulut lelaki itu melotot gusar. Lelaki temannya lantas membujuk.
"Ma-losam, sudahlah jangan cari perkara, kau tahu bagaimana watak iblis cilik itu."
Dengan gemas lelaki itu mendorong Jit-jit ke dalam kamar, lalu daun pintu pun tertutup.
Lega hati Jit-jit, tapi air mata lantas bercucuran, keadaan sekeliling kamar tidak diperhatikannya lagi, yang terbayang olehnya hanya wajah Sim Long.
Sambil menangis Jit-jit mengomel.
"Setan berhati hitam, di ... di mana kau sekarang? Kenapa tidak lekas kemari menolongku?"
Mengingat diri sendiri yang salah, kenapa minggat tanpa pamit, seketika pecah tangisnya.
Dia memang teramat lelah, menangis dan menangis, tanpa terasa dia tertidur.
Entah berapa lama dia pulas, di dalam mimpi terasa Sim Long menghampirinya dengan tersenyum, dengan girang dia memanggilnya, siapa tahu Sim Long tidak menghiraukannya, malah asyik bermain cinta dengan perempuan cantik setengah umur itu, pemuda baju jambon mendadak muncul dan merayunya, tapi mendadak pemuda itu berubah menjadi kucing dan menubruknya ....
Jit-jit menjerit kaget, tiba-tiba dia terjaga dari alam mimpi, entah sejak kapan pemuda berbaju jambon sudah berdiri di depannya dan dengan tersenyum tengah mengawasinya, matanya memang mirip mata kucing, memancarkan sinar hijau kemilau seolah-olah ingin menelan dirinya bulat-bulat.
Cahaya lampu kelap-kelip.
Jit-jit ragu entah kejadian sesungguhnya atau dalam mimpi?
Yang terang sekujur badannya basah oleh keringat dingin, dengan suara serak dia mendesis.
"Sim Long ... di mana Sim Long?"
Pemuda berbaju jambon tertawa, tanyanya.
"Siapa itu Sim Long?"
Jit-jit menenangkan hati, baru diketahuinya tadi dirinya memang bermimpi, tapi keadaan di depan mata sekarang rasanya tidak lebih baik daripada mimpi buruk tadi. Segera bentaknya.
"Kau ... untuk apa kau kemari?"
Terpicing mata si pemuda baju jambon, katanya dengan tersenyum.
"Apa yang hendak kulakukan? Masa kau tidak tahu?"
Tangannya lantas mengelus wajah Jit-jit yang pucat.
"Kau ... kau ... enyah dari sini!"
Teriak Jit-jit. Pemuda baju jambon cengar-cengir, katanya.
"Kalau aku tidak enyah memangnya kau bisa apa?"
Muka Jit-jit yang pucat bersemu merah, serunya gemetar.
"Kau ... kau berani?"
Padahal dia maklum pemuda ini pasti berani melakukan apa pun, membayangkan apa yang hendak dilakukan orang atas tubuhnya, sungguh dia merinding.
Tak tersangka pemuda itu lantas menghentikan aksinya, katanya dengan tertawa.
"Walau aku ini pemuda bangor, tapi selamanya tak pernah main paksa, asal kau mau menuruti kehendakku, bagaimana kalau kutolong kau keluar?"
"Tidak. Mati pun aku tidak ... tidak mau!"
"Aku ini kurang apa sehingga mati pun kau tidak mau tunduk padaku? Ah, aku tahu sekarang, mungkin kau anggap mukaku terlalu jelek?"
"Memang pemuda bertampang sejelek setan seperti dirimu, hanya babi betina yang suka padamu."
Pemuda itu menepuk paha, katanya.
"Hah, ternyata benar karena mukaku jelek. Baik!"
Mendadak dia putar badan membelakangi Cu Jit-jit, sesaat lagi lantas membalik pula, katanya dengan tertawa.
"Sekarang pandanglah diriku."
Jit-jit tidak mau memandangnya, tapi rasa ingin tahu memaksa dia angkat kepala, seketika dia melongo ...
pemuda yang barusan bertampang jelek mendadak telah berubah menjadi pemuda bertampang cakap.
Di bawah sinar lampu tertampak bibirnya merah tipis, alis lentik mata jeli, kulit mukanya yang putih bersemu merah, biarpun Giok-bin-yau-khim Sin-kiam-jiu Ji Yok-gi yang terkenal sebagai pemuda tampan di Bu-lim juga bukan tandingannya.
Keruan Jit-jit terkesima, katanya kemudian.
"Kau ... kau ...."
"Bagaimana tampangku sekarang? Apa kau mau ...."
"Siluman, iblis, jangan harap!"
"Masih tidak mau? ... kutahu, mungkin kau anggap wajah secakap ini kurang jantan, bukan lelaki sejati ...."
Lalu dia berputar tubuh, setelah membalik kemari pula, kini wajahnya bersemu hijau perunggu, alis tebal, mata besar, sikapnya gagah perkasa, memang berbeda dibandingkan pemuda lembut berpupur tadi, suaranya pun berubah kereng.
"Bagaimana?"
Jit-jit menarik napas dingin, katanya.
"Kau ... jangan harap."
"Masih belum mau?"
Ucap pemuda baju jambon.
"Ehm, mungkin kau suka pada laki-laki yang sudah matang, kau anggap aku masih hijau. Baiklah, boleh kau lihat."
Dia lantas membalik badan pula, mukanya sekarang bertambah jenggot, alisnya gompiok, kumisnya melintang.
Kini tampangnya memang kelihatan lebih tua sebagai lelaki yang pandai mengayomi kaum perempuan.
Lelaki seperti ini memang punya daya tariknya tersendiri.
Meski tercengang, tapi Jit-jit tetap mencaci maki.
Lalu pemuda baju jambon lantas berubah menjadi laki-laki kasar dan bengis, katanya dengan bertolak pinggang.
"Kau perempuan rewel, jika tetap tidak tunduk, rasakan kalau kulahap kau."
Bukan saja tampangnya berubah, suaranya juga berubah persis sesuai orangnya.
Sungguh tak pernah terpikir oleh Jit-jit bahwa di dunia ini ada ilmu merias seaneh ini, keruan dia terkesima.
Melihat Jit-jit terbeliak, pemuda itu tertawa, katanya.
"Orang macam apa pun yang kau sukai, baik tua atau muda, aku bisa berubah sesuai kehendakmu, bila kau menjadi biniku serupa sekaligus punya sepuluh suami, betapa senang dan bahagia hidupmu nanti? Perempuan lain sekalipun menyembah kepadaku takkan kulayani, masa kau masih tetap tidak mau?"
"Kau ... peduli kau berubah menjadi apa, jangan harap akan diriku."
"Hah, tetap tidak mau? Kenapa? Memangnya kenapa? .... Ah, aku tahu, mungkin kau mengutamakan ilmu dan tidak menilai tampang, biarlah kuberi tahukan padamu, meski aku bukan orang pandai, tapi baik main musik dan tulis-menulis, atau mengadu kungfu, semuanya mahir, selain ilmu sastra dan ilmu silat, segala macam ilmu pengetahuan juga kukuasai dengan baik. Bila kau punya suami seperti diriku, tanggung selama hidupmu tidak akan kesepian. Kalau tidak percaya, boleh buktikan."
Sembari bicara dia terus menggerakkan kaki dan tangan, sekaligus dia mempertunjukkan sembilan gerak perubahan, semuanya ilmu silat Siau-lim, Bu-tong dan perguruan besar lain yang tidak sembarangan diajarkan kepada orang.
Lalu dia menepuk ke dinding, dinding batu seketika melekuk sebuah cap tangan, lima jari kelihatan nyata seperti ukiran saja.
Ilmu silat Cu Jit-jit sendiri memang tiada satu pun yang sempurna, tapi kungfu yang pernah dilihatnya sangat banyak, selintas pandang saja dia kenal pukulan lihai orang berasal dari sembilan perguruan besar, sementara tepukan ke dinding itu adalah Toa-jiu-in kaum Lama Tibet.
Pemuda ini masih muda, ternyata mahir menguasai berbagai ilmu pukulan perguruan besar, sungguh hal ini amat mengejutkan dan sukar dibayangkan.
Jit-jit lantas bertanya.
"Dari ... dari mana kau pelajari kungfu itu?"
Pemuda itu tersenyum, katanya.
"Apa susahnya? Bila senggang aku malah memperdalam kungfu dengan perpaduan syair-syair ciptaan pujangga kuno, harap nona suka mengoreksi."
Lalu kedua lengan bajunya berkibar, dia memainkan ilmu silatnya sambil membaca syair.
Beruntun si pemuda mempertunjukkan puluhan jurus kungfu yang dipadukan dengan makna syair yang disenandungkan, tak kepalang heran dan kagum Cu Jit-jit, akhirnya dia berseru memuji.
"Terima kasih atas pujian nona, dan sekarang tentu nona maklum, di kolong langit ini memang banyak orang pandai, tapi untuk mencari pemuda seperti diriku pasti tidak ada keduanya."
Mendadak Jit-jit mendengus.
"Huh, juga belum tentu!"
"Apakah nona kenal lelaki bertampang dan berkepandaian melebihi diriku?"
"Kukenal seorang, baik ilmu sastra atau ilmu silat, jelas seratus kali lebih unggul daripadamu, orang macam dirimu hanya setimpal menjadi kacungnya."
Mendelik si pemuda, tapi segera dia tertawa, katanya.
"Ah, nona sengaja hendak memancing kemarahanku?"
"Kau tidak percaya, apa boleh buat. Sayang dia tidak berada di sini .... Hm, kalau dia berada di sini, siapa yang mampu mengurungku?"
Lama pemuda itu melongo, mendadak matanya memancarkan sinar terang, serunya.
"Hah, aku tahu, dia ... dia pasti Sim Long!"
"Betul ... Sim Long, wahai Sim Long, di mana kau sekarang? Betapa kurindukan dikau?"
Bila mengucap nama Sim Long, sorot mata Jit-jit lantas berubah lembut, manis dan mesra.
Merah mata si pemuda, mukanya dingin, dengan sendirinya ia juga mempunyai daya tarik tersendiri.
Tergerak hati Jit-jit, katanya tak tertahan.
"Kecuali Sim Long, kau pun terhitung pemuda pilihan satu di antara seribu, jika di dunia ini tiada manusia bernama Sim Long itu, kemungkinan aku akan jatuh hati padamu."
"Jadi selama Sim Long ada di dunia ini, selama itu pula kau tidak tertarik padaku, begitu?"
"Pertanyaan ini tidak perlu kujawab, kuyakin kau sendiri maklum."
"Jika Sim-Long mampus, lalu bagaimana?"
Berubah air muka Cu Jit-jit, tapi lantas tersenyum, katanya.
"Manusia seperti Sim Long kuyakin tidak akan mati muda, untuk ini tidak perlu kau khawatir."
"Sim Long ... Sim Long ...."
Si pemuda mendesis benci. Mendadak dia mengentak kaki.
"Baik, ingin kubuktikan orang macam apakah dia, suatu ketika akan kubunuh dia di hadapanmu."
"Kalau berani kau lepaskan diriku, akan kubawa kau menemui dia, siapa lebih jantan dan siapa lebih unggul antara kalian, setelah berhadapan tentu dapat kau buktikan ...."
"Pandai juga kau memancingku, tapi aku justru terperangkap olehmu .... Baik, akan kubebaskan kau, hendaknya kau bawa dia menemuiku."
Dalam hati Jit-jit bersorak girang, tapi lahirnya tetap dingin, katanya.
"Apa kau berani? Tidak takut Sim Long membunuhmu?"
"Aku justru khawatir Sim Long tidak berani menemuiku."
"Sekalipun di sini ada gunung golok dan lautan minyak mendidih juga dia berani datang, mungkin kau sendiri yang akan ngacir."
Sekarang pemuda ini tidak perlu dibakar lagi, sebelum Jit-jit habis bicara dia lantas membuka Hiat-to pada kedua tangan dan lutut Jit-jit.
Cepat Jit-jit melompat bangun, hatinya girang, tapi kaki tangan masih lemas, darah belum lancar, baru berdiri hampir ambruk lagi.
Lekas pemuda baju jambon memapahnya, katanya dingin.
"Apa kau dapat berjalan?"
"Tak bisa berjalan juga aku akan merangkak keluar, tak perlu kau papah diriku."
Pemuda itu menjengek, tanpa bicara kedua tangan segera mengurut sendi tulang lutut Jit-jit dan dibetotnya dua kali, mata Jit-jit sudah mendelik dan hendak mendorongnya, tapi kedua tangan orang rasanya seperti mengandung kekuatan gaib, terasa oleh Jit-jit ke mana tangan orang meraba dan memijat segera terasa linu, geli dan lemas, tapi rasanya juga nyaman dan nikmat, selama hidup belum pernah dia rasakan seperti ini, umpama sekiranya dia mampu mendorongnya juga tidak rela lagi mendorongnya.
Tanpa terasa badannya malah merapat, di bawah cahaya lampu mukanya yang pucat sudah bersemu merah, sorot mata si pemuda juga memancarkan cahaya yang aneh, gerak-gerik jarinya juga mulai gemetar.
"Berhenti ... berhenti ... lepaskan aku ...."
Gemetar suara Jit-jit. Bibir si pemuda berada di tepi telinganya, desisnya perlahan.
"Apa betul kau ingin kulepaskan dirimu?"
Gemetar sekujur badan Cu Jit-jit, tiba-tiba air matanya bercucuran, katanya.
"Aku ... aku tidak tahu ... tolong ... kau ... kau ...."
Mendadak terdengar suara tertawa merdu di luar pintu, seorang mengomel.
"Bagus, memang sudah kuduga kau pasti mengeluyur ke sini. Eh, kalian sedang main apa?"
Nadanya mengandung rasa cemburu, ternyata si gadis berbaju putih tadi.
Keruan kaget dan malu Cu Jit-jit, sekuatnya dia dorong si pemuda.
Gadis berbaju putih meliriknya sekejap, katanya dengan tersenyum.
"Bukankah kau benci padanya, kenapa sekarang tak mau lepas dalam pelukannya?"
Tambah merah muka Cu Jit-jit, biasanya mulutnya usil, tapi sekali ini dia mati kutu dan tidak mampu bersuara.
Sebab dia sendiri tidak tahu kenapa dirinya bisa terbuai oleh rasa nikmat tadi.
Selama hidup baru kali ini dia merasakan rangsangan nafsu berahi, nafsu berahi yang menakutkan dan mudah menjerumuskan.
Lalu gadis baju putih melirik pemuda baju jambon, katanya tetap dengan tertawa.
"Tentunya kau gunakan rabaan maut padanya bukan? Kau ...."
Ketika melihat sorot mata si pemuda memancarkan nafsu yang menyala, segera dia berhenti bicara, tubuh pun bergetar.
Selangkah demi selangkah pemuda baju jambon menghampirinya, sorot matanya seperti tertawa tapi tidak tertawa, katanya.
"Aku kenapa?"
Merah muka si gadis baju putih, mendadak dia menjerit, baru saja memutar badan hendak lari, tapi lengannya sudah ditarik si pemuda dan dipeluknya kencang.
Badannya menjadi lunglai, tenaga untuk meronta pun tiada lagi.
Perlahan si pemuda berkata.
"Kau sendiri yang kemari, jangan salahkan aku!"
Sorot matanya makin mencorong, mukanya juga makin merah, mendadak dia menarik jubah putih si gadis ....
Jit-jit menjerit tertahan, lekas dia melengos ke arah lain.
Didengarnya angin berkesiur, jubah putih itu melayang tiba dan jatuh di depannya, didengarnya dengus napas si gadis semakin memburu, makin keras dan setengah merintih.
Badan Jit-jit ikut menggigil, dia ingin lari keluar, sayang kaki tak kuat bergerak, segera didengarnya pemuda itu berkata.
"Telah kulepaskan dirimu, tidak lekas pergi?"
Jit-jit menggigit bibir, sekuatnya dia berdiri, lalu lari ke pintu dengan sempoyongan. Mendadak pemuda itu membentak.
"Ambil baju itu dan pakailah, setelah keluar pintu, terus belok kiri, tidak boleh berhenti dan jangan menoleh, tiba saatnya ada orang akan menyambutmu ... jangan menunggu sampai aku berubah pikiran."
Bibir Jit-jit berdarah karena tergigit kencang, entah bagaimana perasaannya, dia lari balik menjemput baju putih itu, tak berani melirik si pemuda yang telah menindih si gadis, segera dia berlari.
Dengan langkah terhuyung sambil mengenakan jubah putih itu, setelah membelok dua kali, jantungnya masih berdegup keras.
Baru sekarang teringat ingin melihat keadaan di bawah tanah tadi, tapi apa pun dia tidak berani menoleh lagi, dirasakan pemuda tadi sungguh iblis jahat, bahkan lebih menakutkan daripada iblis, selama hidup belum pernah dia merasa takut seperti sekarang, juga belum pernah merasa benci seperti sekarang.
Dari samping dinding di kejauhan seperti terdengar gemerencing suara logam, serupa suara rantai.
Jit-jit tidak berani berhenti, setiap menemukan belokan ke kiri dia lantas masuk, kembali dia berputar dua kali, baru sekarang ia heran akan bangunan di bawah tanah ini.
Waktu dia angkat kepala, dilihatnya dua lelaki mengadang di depan, jantung Jit-jit berdegup pula, namun untuk mundur tidak mungkin, terpaksa harus menerjang ke depan, biarpun kedua orang ini lawan tangguh juga tidak lebih menakutkan daripada pemuda tadi.
Di luar dugaan, begitu melihat dia, kedua lelaki itu tidak menampilkan sikap bermusuhan, hanya seorang di antaranya seperti berkata.
"Wajah nona ini kok belum pernah kenal."
Temannya menjawab.
"Mungkin baru masuk."
Lega hati Jit-jit, baru sekarang dia mengerti sebab apa pemuda tadi menyuruh dia mengenakan jubah putih ini, dengan tabah segera dia maju lagi dengan langkah lebar.
Bukan saja tidak merintanginya, kedua lelaki itu malah menjura, sapanya.
"Apa nona hendak keluar?"
Sudah tentu Jit-jit tidak berani bicara, dia hanya mendengus, lalu melangkah lewat, didengarnya kedua lelaki itu menggerutu.
Banyak pintu di antara dinding kanan-kiri yang dilewatinya, ia pikir Can Ing-siong, Pui Jian-li dan orang-orang yang lenyap itu mungkin dikurung di balik pintu-pintu itu.
Sementara perempuan cantik setengah baya di atas loteng itu pasti pemilik dan perencana semua perangkap keji ini.
Kalau dia bukan Hun-bong-siancu pasti juga ada hubungan erat dengan Hun-bong-siancu.
Semua ini adalah rahasia yang sedang diselidiki Sim Long, kini-Jit-jit sudah tahu semuanya.
Terbayang bahwa akhirnya dirinya berhasil membantu kekasih pujaannya menyelidiki peristiwa misterius ini, terasa derita yang baru dialaminya bukan apa-apa lagi.
Dia mempercepat langkahnya sambil berpikir.
"Menderita bagi orang yang dicintai ternyata juga satu kenikmatan, namun siapa pula di dunia ini yang bisa menikmati kesenangan seperti diriku sekarang ... bukankah aku lebih gembira dan bahagia daripada orang lain ...."
Sementara itu dia sudah sampai di ujung lorong, di sini tidak kelihatan ada pintu keluar.
Pada saat itulah dari tempat gelap sana muncul sesosok bayangan orang, begitu menoleh ke sana, semula Jit-jit berjingkat kaget, tertampak orang yang muncul ini berperawakan tinggi besar, perawakan Jit-jit tidak terhitung pendek, tapi berdiri di depan orang ini tingginya hanya sebatas dadanya, badan Jit-jit juga tidak terhitung kurus, tapi pinggangnya tidak sebesar lengan orang ini.
Badan besar kekar, gerak-gerik orang ini juga tangkas dan lincah, Jit-jit tidak mendengar langkahnya, tahu-tahu tubuh besar seperti raksasa ini sudah berdiri di depannya, dadanya telanjang, kulit badannya berminyak mengilat, kepalanya juga besar, dicukur gundul kelimis, lelaki raksasa bermuka sadis ini ternyata memancarkan sorot mata lembut selembut seorang ibu yang sayang kepada anaknya, demikian dia pandang Jit-jit dengan lembut.
Jit-jit tenangkan hati dan membesarkan nyali, sapanya.
"Apakah kau ... diutus Kongcu menyambutku?"
Raksasa itu mengangguk, ia menuding kuping sendiri lalu menuding mulut. Jit-jit melengak, batinnya.
"Kiranya dia bisu-tuli."
Dilihatnya lelaki raksasa itu mengangkat kedua tangannya yang panjang besar, langit-langit lorong ini sedikitnya setinggi dua orang, tapi dapat dicapai oleh tangannya.
Samar-samar kelihatan tubuhnya yang berminyak itu penuh otot, sepotong papan batu besar dan berat di atas langit-langit telah diangkatnya.
Jit-jit kaget, pikirnya.
"Hebat benar tenaganya, kecuali dia, mungkin tiada orang yang mampu menggeser papan batu di atas itu."
Tapi dia tidak sempat menoleh lagi, dia melompat ke atas dan menerobos celah-celah papan batu yang tergeser ke pinggir itu.
Semula dia kira di bagian luar kalau bukan hutan tentu adalah tanah pekuburan, ternyata dugaannya keliru pula.
Mulut lorong ternyata berada di sebuah kamar belakang toko peti mati.
Dalam rumah yang besar dan luas di sana-sini bertumpuk peti mati, ada yang sudah jadi, ada yang belum rampung dikerjakan, tukang kayu kekar dengan telanjang dada sedang sibuk bekerja, jelas toko peti mati ini cukup laris sehingga pekerja sebanyak ini tiada satu pun yang menganggur.
Sudah tentu Jit-jit berdiri melongo, tapi papan batu sudah tertutup pula, terpaksa dia harus mengeraskan kepala dan berjalan keluar.
Di luar dugaan, tukang-tukang kayu itu semua tekun pada pekerjaan masing-masing, tiada satu pun yang menoleh memerhatikan kehadirannya.
Di luar sana kereta berlalu-lalang, manusia pun hilir mudik, suara ramai sebuah jalan raya.
Dua orang sedang memilih dan menawar peti mati, di sana suara gergaji, di sini suara palu memukul paku, di depan lagi tukang sedang memasah kayu, suasana kerja keras benar-benar terasa.
Berada dalam toko peti mati ini, hati Cu Jit-jit merasa ngeri dan takut, kenapa bisa berada di toko peti mati?
Mungkinkah dari lorong bawah tanah itu sering digotong keluar orang mati?
Begitu digotong keluar lantas dimasukkan ke dalam peti mati, setan pun tidak tahu perbuatan mereka, adalah jamak kalau penjual peti mati mengirim barang dagangannya, siapa pun takkan menaruh curiga, umpama sehari ada dua-tiga puluh orang mati juga orang luar tidak akan curiga ...
pembunuhan terencana ini sungguh suatu muslihat yang aman dan misterius.
Makin dipikir makin aneh dan ganjil, makin mengerikan, tanpa terasa mengirik bulu kuduknya, lekas dia lari keluar.
Di bagian depan toko dua pegawai sedang melayani pembeli, seorang bermuka burik, seorang lagi bibirnya sumbing, kalau bicara suaranya sumbang.
Di pojok sana terdapat meja kasir yang tinggi, di sebelah kiri tertaruh sebuah timbangan emas.
Jit-jit ingat semua yang dilihatnya ini, batinnya.
"Asal aku ingat baik-baik toko peti mati ini, Sim Long akan kubawa kemari ...."
Tamu itu mengawasinya dengan heran, kedua pegawai itu malah tak mengacuhkannya.
Jit-jit merasa heran, tapi juga tenang, cepat ia melangkah keluar, begitu menginjak jalan raya yang ramai, melihat orang ramai berlalu-lalang, sungguh senang sekali hatinya.
Sambil menunduk dia mencampurkan dirinya di tengah orang lalu di seberang sana, kemudian baru berani menoleh, dilihatnya toko peti mati itu pakai merek "Ong-som-ki"
Yang diukir di atas pigura. Jit-jit ingat baik semua yang dilihatnya, batinnya.
"Hwesionya bisa kabur, kelentengnya masa bisa lari? Asal aku ingat tempat ini, memangnya kutakut mereka lari? Seorang diri aku berhasil membongkar muslihat besar yang menggemparkan dunia ini, Sim Long pasti takkan bilang aku tak becus lagi."
Hatinya menjadi riang kembali, beberapa langkah kemudian dia berpikir pula.
"Anehnya, mereka tahu aku bakal membongkar muslihat mereka, kenapa aku dibebaskan? Mungkinkah pemuda baju jambon itu sudah gila? Bukankah perbuatannya secara tidak langsung telah mempertaruhkan usaha ibunya yang besar itu? Jelas tidak mungkin ...."
Teringat hal "tidak mungkin", tanpa terasa ia mengulum senyum pula, dia kira hal yang "tidak mungkin"
Itu telah didapatkan jawabnya.
"Aku dapat berkorban demi Sim Long, maka pemuda itu tentu juga dapat berkorban demi diriku, cinta memang sesuatu yang agung dan hebat."
Berpikir demikian, hatinya merasakan manis madu, rasa ragunya lenyap.
Waktu itu sudah menjelang magrib, cahaya mentari keemasan menyinari wajah orang yang berjalan hingga tampak cerah dan segar.
Cu Jit-jit merasa belum pernah mengalami cuaca secerah ini, badan terasa ringan, langkah pun cepat bagai mau terbang.
Tapi tabir malam segera tiba, Jit-jit lantas menyadari dirinya tidak seriang seperti apa yang dibayangkan semula, hakikatnya masih banyak urusan yang merisaukannya.
Sekarang dia tidak membawa sangu sepeser pun, padahal perut lapar dan badan kedinginan, di kota seramai ini, di mana dia bisa menemukan Sim Long?
Dia tidak tahu bagaimana dan ke mana dia harus mencari.
Pada waktu menghadapi mati-hidup tadi, tidak pernah dia pikirkan urusan ini, kini baru dirasakan soal kecil ini sangat realistis dan sukar diatasi.
Di sini memang kota Lokyang.
Lama Jit-jit mondar-mandir di depan pintu, sukar mengambil keputusan apakah harus keluar kota atau tetap tinggal di sini.
Ia yakin Sim Long takkan menunggunya di hotel semula, ketika mengetahui dia menghilang, pemuda itu pasti gugup dan gelisah, dan pasti sibuk mencarinya.
Tapi ke mana dia mencarinya?
Sekarang bukan lagi Sim Long yang mencarinya, tapi dia yang mencari Sim Long.
Perubahan ini sangat aneh dan lucu, pikir punya pikir Cu Jit-jit jadi geli sendiri, namun dalam keadaan kantong kempis dan perut lapar, bagaimana dia bisa tertawa?
Sambil berkerut alis, dengan bersedekap dia berjalan menyusuri kaki tembok kota, tiba-tiba dilihatnya seorang bertopi miring sambil bernyanyi kecil dan berjalan sempoyongan ke arahnya, dari tampang dan dandanannya orang ini kalau bukan pencoleng tentu juga kaum gelandangan.
Kebetulan jalan sepi dan tidak kelihatan orang lain, mendadak Jit-jit melompat maju mengadang di depannya, tegurnya.
"He, kau tahu siapa Enghiong (kesatria) terbesar dan ternama di kota Lokyang ini?"
Semula orang itu kaget, dia mengamati Jit-jit sejenak, segera ia cengar-cengir, katanya sambil memicingkan mata.
"Aha, adikku manis, tepat kau tanya kepada orangnya, Enghiong terbesar di kota Lokyang ini siapa lagi kalau bukan aku Hoa-hoa-thay-swe Tio-lotoa ...."
Belum habis dia bicara mendadak mukanya kena gampar empat kali pulang-pergi, kontan dia roboh terjungkal.
Sebelum tahu apa yang menimpa dirinya, lengan kanannya sudah ditelikung orang, saking sakitnya sampai dia mencucurkan air mata.
Baru sekarang dia tahu nona cilik ini tidak boleh dibuat main-main, lekas dia minta ampun.
"Lekas katakan,"
Bentak Jit-jit.
"siapa Enghiong ternama di kota Lokyang?"
Gemetar suara Tio-lotoa.
"Yang tinggal di kota barat bergelar Thi-bin-un-hou Lu Hong-sian. Di kota timur juga ada Tiong-goan-beng-siang Auyang Hi, kedua orang ini adalah Enghiong ternama di kota Lokyang."
Jit-jit pikir.
"Sesuai julukannya, tentu Auyang Hi lebih luas pergaulannya dan royal duitnya ...."
Lalu dia membentak.
"Auyang Hi tinggal di mana? Lekas bawa nona ke rumahnya."
Terkilas senyum licik pada sinar mata Tio-lotoa, serunya.
"Baik, baik, sudilah nona lepaskan dulu tanganku, pasti hamba antar ke sana."
Tiong-goan-beng-siang Auyang Hi memang tokoh terkenal di kota Lokyang, rumahnya terletak di kota timur, gedungnya besar dan angker, loteng bersusun dengan pekarangan yang luas.
Dari jauh Jit-jit sudah melihat sinar lampu yang terpancar dari kediaman Auyang Hi, suara hiruk-pikuk orang bicara dan bersenda gurau pun berkumandang dari sana.
Setelah dekat jadi lebih jelas, orang keluar-masuk dan kereta berseliweran, semua adalah orang-orang Bu-lim yang dada busung dan perut buncit.
Jit-jit membatin.
"Melihat keadaannya memang tidak malu dia dijuluki Tiong-goan-beng-siang (Sosiawan Tionggoan). Tampaknya cukup aku membocorkan sedikit rahasia kepadanya, kuminta dia mencari jejak Sim Long, sekaligus supaya menghubungi orang gagah daerah Tionggoan ...."
Sementara dia berpikir, tiba dia di depan gedung, Jit-jit lantas membebaskan Tio-lotoa. Mendadak Tio-lotoa berteriak sekeras-kerasnya.
"Hai, saudara-saudara, lekas kemari, perempuan celaka ini hendak mencari perkara pada kita."
Orang-orang yang berkumpul dan mengobrol iseng di depan rumah segera merubung maju setelah mendengar teriakan Tio-lotoa, ada yang berteriak dan ada pula yang memaki.
"Tio-lotoa makin tua makin tak berguna, seorang nona cilik saja tidak mampu kau atasi?"
Jilid 8 Baru sekarang Cu Jit-jit tahu bahwa Tio-lotoa ternyata salah seorang pengagum Tiong-goan-beng-siang, melihat belasan lelaki merubung tiba, lekas Jit-jit jambret bahu Tio-lotoa terus dilemparkan ke arah dua lelaki yang memburu datang lebih dulu.
Sudah tentu kedua orang itu tidak kuat menahannya.
Tiga orang terguling mencium tanah, sementara orang lain yang memburu tiba jadi kaget dan merandek, tapi Jit-jit lantas menerjang maju.
Kungfu yang pernah dipelajarinya beraneka ragam dan tiada satu pun yang boleh dikatakan mahir, namun untuk menghadapi lawan keroco ini masih cukup berlebihan, seperti harimau mengamuk di tengah rombongan domba, dalam sekejap belasan lelaki itu telah dihajarnya hingga tunggang langgang.
Sudah beberapa hari ini Cu Jit-jit menanggung penasaran, marah, dan takut, sekarang baru dia berhasil melampiaskan kekesalan hatinya, hingga perut lapar pun terlupakan.
Merasa bukan tandingan Jit-jit, orang-orang itu melawan sambil mundur, sementara Jit-jit menghajar sambil mengejar, sebentar saja mereka sudah dekat di depan pintu gerbang.
"Berhenti!"
Mendadak seorang membentak.
Seorang lelaki berperawakan pendek dan kekar berusia 30-an, berpakaian sutra warna hijau berdiri di ambang pintu sambil menggendong tangan, wajahnya kelihatan kereng dan sedang mengawasi Cu Jit-jit dengan aliasnya berkerut, agaknya heran karena Cu Jit-jit dapat menguasai ilmu silat sebanyak itu ragamnya, tapi sikapnya tetap tenang saja.
Melihat lelaki ini, kawanan lelaki tadi berlari dan sembunyi di belakangnya.
Cu Jit-jit masih memburu maju dan hendak menjotos, tiba-tiba dilihatnya lelaki kekar ini mengadangnya sambil menjura dengan tertawa.
"Sabar, kungfu nona memang mengagumkan."
Tabiat Cu Jit-jit memang senang dilayani secara ramah dan pantang dikasari, melihat orang berlaku sopan, maka jotosannya yang sudah melayang segera ditarik kembali.
Lelaki berbaju sutra hijau tertawa, katanya.
"Kawanan hamba itu memang tidak bermata hingga lancang terhadap nona, semoga nona suka mengampuni mereka."
"Ah, tidak apa-apa,"
Ujar Jit-jit.
"sudah kenyang juga kuhajar mereka."
Lelaki berbaju sutra melengak, katanya pula.
"Sifat nona ternyata suka berterus terang."
"Sifatku ini baik atau jelek?"
Tanya Jit-jit. Tidak sedikit orang yang dikenal lelaki ini, tapi gadis sebinal ini belum pernah dihadapinya, sesaat dia melenggong, katanya kemudian.
"O, baik ... tentu saja baik."
"Melihat tampangmu ini, tentu kau inilah Tiong-goan-beng-sian Auyang Hi."
"Betul ... entah nona ada petunjuk apa?"
"Kalau kau dijuluki Beng-siang, maka sepantasnya kau meladeni aku dengan baik, makan minum dulu sampai puas, sebab ada urusan penting ingin kuberi tahukan kepadamu."
"Tamu seperti nona biarpun sengaja kuundang juga belum tentu sudi kemari, cuma hari ini ...."
"Hari ini kenapa? Apakah hari ini kau kehabisan uang dan tidak mampu mentraktir aku?"
"Biar kukatakan terus terang kepada nona, hari ini ada seorang saudagar besar kalangan Kangouw, Leng-jiya, beliau telah meminjam tempatku ini, tamu agung dari berbagai penjuru sudah berdatangan, maka Cayhe tidak berani ...."
Berputar bola mata Cu Jit-jit, katanya dengan tertawa.
"Dari mana kau tahu bahwa kedatanganku tidak untuk berdagang. Tolong kau bawa aku masuk."
Dengan sangsi Auyang Hi pandang dia beberapa kali lagi, meski pakaian si nona tidak keruan, tapi sikapnya agung dan berani, selagi ragu, Cu Jit-jit lantas melangkah masuk rumah orang seperti rumah sendiri.
Keruan Auyang Hi makin bingung dan tidak dapat meraba asal usul si nona, tapi ia pun tidak berani sembrono, terpaksa dengan tertawa getir dia silakan orang masuk.
Cahaya lampu terang benderang di ruang besar, dua baris meja kayu cendana yang panjang penuh diduduki tiga puluhan orang, baik usia, tampang, dan dandanan mereka berbeda, tapi pakaian mereka sama perlente, jelas mereka adalah saudagar besar yang sering berkecimpung di dunia Kangouw.
Melihat Auyang Hi datang mengiringi seorang nona cantik, semua mengunjuk rasa heran.
Cu Jit-jit sudah biasa dipandang sedemikian rupa oleh orang banyak, kalau orang mengawasi kepalanya sampai ke kaki, dia tetap tak peduli dan tenang-tenang saja, dia malah melirik ke sana-sini.
Sudah tentu kehadirannya menarik perhatian dan menimbulkan kasak-kusuk, tapi Jit-jit langsung menarik kursi terus berduduk, katanya dengan lantang.
"Apakah kalian tidak pernah melihat orang perempuan? Ayolah, bisnis lebih penting, aku kan manusia biasa dan tidak punya tiga mata, kenapa aku dipandang begitu rupa?"
Delapan di antara sepuluh hadirin merah mukanya oleh sindiran Cu Jit-jit, banyak yang menunduk atau melengos.
Sungguh senang, bangga juga geli hati Cu Jit-jit.
Dia melarang orang memandang dirinya, matanya justru menjelajah kanan-kiri dengan pandangan tajam.
Di antara sekian orang yang hadir, dia yakin yang benar-benar pedagang hanya tujuh-delapan orang, belasan yang lain adalah jago-jago kosen Bu-lim, dua di antaranya malah lain daripada yang lain.
Seorang duduk di depan Jit-jit, bibir merah muka putih, pakaiannya serbasutra, di antara sekian hadirin usianya terhitung yang paling muda, wajahnya juga sangat tampan, secara sembunyi-sembunyi dia melirik Jit-jit, bila Jit-jit balas menatapnya, dengan muka jengah dia lantas melengos.
Cu Jit-jit tertawa di dalam hati.
"Kelihatannya pemuda ini anak pingitan yang jarang keluar pintu, lebih pemalu dari gadis ...."
Makin orang pemalu, makin dipandangnya, hingga pemuda itu tidak berani angkat kepalanya, sungguh senang hati Cu Jit-jit.
Seorang lagi kelihatan seperti pelajar tua rudin yang tidak lulus ujian, mukanya kurus, berjenggot kambing yang jarang-jarang, mengenakan jubah panjang yang warnanya sudah luntur, saat mana sedang memejamkan mata seperti orang yang sudah beberapa hari tidak makan, hingga duduk lemas dan tidak mampu bicara lagi.
Di belakangnya berdiri seorang kacung berbaju hijau pula, juga kurus tinggal kulit membungkus tulang, untung bola mata masih berputar kian kemari, kalau tidak, hampir tak kelihatan gairah hidup sedikit pun.
Diam-diam Jit-jit membatin pula.
"Pelajar rudin begini juga berani datang untuk urusan dagang? Memangnya akan menjual pensil butut."
Kasak-kusuk dalam ruang besar sudah sirap, terdengar Auyang Hi berdehem, lalu berseru.
"Kini tinggal Leng-jiya dan Keh-siangkong saja, kedatangan Keh-siangkong ke Lokyang kali ini entah membawa barang-barang aneh apa."
Akhir katanya matanya menatap seorang lelaki gemuk putih, berdandan lucu, usianya jelas tidak muda lagi tapi sengaja berlagak Siangkong (tuan muda), kepalanya pakai ikat kain, jubahnya yang kedodoran bersulam aneka warna, belasan kantong sutra bergantungan di sekeliling pinggangnya, tangan memegang pipa tembakau.
Keh-siangkong memicingkan mata, lalu menoleh ke kanan-kiri, katanya dengan tersenyum.
"Akhir-akhir ini aku sudah makin malas, kutahu dengan kedatangan Leng-jiya, pasaran dagang di kota Lokyang pasti ramai, namun aku hanya membawa dua macam barang saja."
Auyang Hi berkata.
"Barang mengutamakan kualitas dan bukan kuantitas. Barang yang dibawa Keh-siangkong kuyakin pasti luar biasa, silakan Keh-siangkong mengeluarkannya supaya hadirin ikut menyaksikan."
Keh-siangkong berkata.
"Ah, janganlah pujian melulu, cuma kawan Kangouw juga sama tahu, barang berharga di bawah lima ribu tahil aku tidak pernah jual-beli."
Cu Jit-jit berkerut kening, batinnya.
"Besar juga mulutnya, dipandang dari dandanan dan sikapnya, bukan mustahil dia ini salah seorang Ngo-toa-ok-kun (lima penjahat) yang merajalela di Kangouw, yaitu Kan-sian Keh-pak-bwe? (pedagang licik Keh si Pembeset Kulit). Jika benar dia adanya, orang yang berjual-beli dengan dia pasti akan mengalami kerugian."
Tampak Keh-siangkong telah mengeluarkan sebuah kodok-kodokan pualam warna hijau sebesar mangkuk, terutama kedua matanya ternyata terbuat dari sepasang mutiara besar dan bundar, di bawah sinar lampu tampak gemerlap, harganya tentu tidak bernilai.
Keh-siangkong berkata.
"Kalian sama ahli, baik-jelek barang ini tentu dapat kalian lihat, maka tidak perlu aku membual, silakan saja kalian menentukan harga sendiri."
Beruntun dia bersuara dua kali, tapi hadirin tiada yang memberi reaksi. Cu Jit-jit tertawa geli di dalam hati, pikirnya.
"Mungkin orang takut pada yang ahli membeset kulit, maka tiada yang berani memberi penawaran, padahal kodok pualam hijau ini memang berharga sekitar lima-enam ribu tahil."
Keh-siangkong menoleh kian kemari, satu per satu hadirin ditatapnya, akhirnya pandangannya berhenti pada seorang bertubuh gemuk pendek, katanya dengan tertawa.
"Si Yong-kui, kau berdagang batu permata, berapa kau menawar barangku?"
Berdenyut kulit muka Si Yong-kui yang gempal itu, katanya sambil menyengir.
"Ah ... baiklah, aku menawar tiga ribu tahil."
Keh-siangkong menarik muka, katanya dengan tertawa dingin.
"Tiga ribu tahil, tega kau tawar serendah ini, jangankan badan kodok yang hijau ini, hanya sepasang mata mutiaranya saja ... hehe, mutiara sebesar ini pun sukar dicari, besarnya sama, bundar lagi, hehehe, kalau kau punya dua butir yang sama kuberani bayar enam ribu tahil."
Si Yong-kui menyengir, katanya.
"Aku tahu mestika sebesar ini kalau tiga ribu tahil memang terlalu murah, tapi sebelum kuperiksa barang itu secara teliti, terus terang aku tidak berani memberikan tawaran lebih tinggi."
Beringas sorot mata Keh-siangkong, katanya.
"Memangnya sedekat ini tidak kau lihat jelas, barang mestika mana yang boleh sembarang dipegang orang, memangnya kau tidak percaya kepada orang she Keh?"
Kembali bergoyang kulit muka Si Yong-kui, ia menunduk, suaranya juga gelagapan.
"Wah, ini ... baiklah kutawar enam ribu tahil ...."
Keh-siangkong terkekeh, katanya.
"Meski enam ribu belum cukup modal, tapi orang she Keh kalau berdagang biasanya 'cincay', demi hubungan yang lebih erat selanjutnya, kali ini biar aku jual murah kepadamu, tapi bayar dulu baru barang diserahkan, ini adalah kebiasaan jual-beli, enam ribu tahil perak, sepeser pun tidak boleh kurang."
Agaknya Si Yong-kui tidak mengira tawaran semurah ini dapat membeli barang antik yang mahal ini, seketika dia mengunjuk rasa kejut dan girang, orang lain juga mengiri bahwa dia mendapat barang murah, semuanya mengiler.
Jit-jit membatin.
"Orang bilang dia tukang beset kulit, tapi dari jual-beli ini, kenyataan bukan saja adil, malah boleh dikatakan dia agak rugi."
Maklum sebagai putri keluarga hartawan, nilai sesuatu permata cukup dikuasainya dengan baik, nilai mutiara sebesar dan sebundar itu harganya memang pantas enam ribu tahil perak.
Sementara itu Si Yong-kui sudah suruh orangnya mengambil uang dan menimbang bobotnya, setelah uang diserahkan, kodok pualam itu pun diambilnya, tapi hanya dua kali dia mengamati barang itu, seketika wajahnya berubah pucat, serunya dengan suara gemetar.
"Kodok pualam ini cacat, demikian pula mutiara ini ... hanya sebutir di ... dibelah dua, Keh-siangkong, ini ... ini ...."
Keh-siangkong menyeringai, katanya.
"Apa betul? Aku sendiri juga tidak memerhatikannya waktu membeli, tapi barang sudah dibeli, tidak boleh dikembalikan, kuyakin kau Si Yong-kui juga tahu aturan ini?"
Si Yong-kui melenggong sesaat lamanya.
"bluk" , badannya yang gendut duduk lemas di atas kursi, air mukanya sungguh lebih jelek daripada tampang babi. Keh-siangkong tertawa terkekeh, katanya.
"Dan barang kedua yang kubawa untuk kalian adalah ... merupakan suatu keajaiban, ya, keajaiban yang selalu kalian impikan, keajaiban yang diciptakan Tuhan untuk kalian, keajaiban yang tanggung belum pernah kalian lihat .... Ini, silakan kalian periksa keajaiban itu berada di sini."
Meski suaranya tidak enak didengar, tapi dia memang pandai bicara hingga menimbulkan daya pikat yang besar, seluruh hadirin sama menoleh ke arah yang ditudingnya.
Betul juga, hadirin sama menjerit tertahan dan melongo seketika, keajaiban yang dikatakan Keh-siangkong ternyata adalah seorang gadis berbaju putih, berambut panjang hitam legam dan terurai di atas pundak.
Gadis ini berdiri malu-malu, wajahnya putih bersih dan molek, meski pucat karena takut, gayanya ternyata memesona dan menimbulkan rasa belas kasihan.
Kedua bola matanya yang bercahaya bening juga memancarkan rasa kaget, takut, dan malu, mirip seekor rusa yang baru tertangkap dari hutan.
Tubuhnya semampai, dadanya montok, karena dipandang sekian banyak orang ia kelihatan gemetar.
Melihat hadirin terpesona, tersimpul senyuman licik pada wajah Keh-siangkong, sekali raih dia tarik gadis itu, lalu serunya.
"Inilah bidadari dari kahyangan, permaisuri raja, entah kapan kalian mendapat rezeki, barang siapa dapat memberikan tawaran tertinggi, bidadari ini akan menjadi miliknya, bila hatimu kesal, dia bisa bernyanyi menghiburmu, bila kau kesepian dia akan mendampingimu menikmati surga dunia, badannya yang mulus, hangat dan kenyal ini adalah obat untuk melenyapkan kesepian."
Mendengar komentarnya, hadirin berduduk mematung terkesima. Entah berapa lama kemudian tiba-tiba terdengar seorang berseru lantang.
"Kalau dia begitu menggiurkan, kenapa tidak kau pakai sendiri?"
Hadirin memang takut berhadapan dengan Keh-pak-bwe yang suka menggorok pembelinya ini, khawatir dikibuli. Keh-siangkong terkekeh, katanya.
"Kenapa tidak kupakai sendiri? .... Hahaha, terus terang saja, soalnya 'harimau betina' di rumah terlalu lihai, kalau tidak, masa aku mau menjualnya?"
Hadirin saling pandang, masih curiga, juga kurang percaya. Keh-siangkong memancing lagi.
"Ayolah, apa lagi yang kalian tunggu?"
Mendadak dia menarik baju si gadis hingga kelihatan bahunya yang putih melebihi pakaiannya, payudaranya yang mengintip tampak mengilat lagi padat. Keh-siangkong berteriak-teriak.
"Gadis seperti ini, apa kalian pernah melihatnya? Bila ada orang berani bilang dia kurang cantik, pasti dia lelaki tolol, lelaki buta."
Belum habis bicaranya, seorang lelaki bermuka burik segera berdiri, serunya.
"Baik, aku tawar seribu ... seribu lima ratus tahil ...."
Ternyata tawaran pertama ini mendapat sambutan orang banyak, maka di sana-sini orang lantas berlomba.
"Seribu delapan ratus tahil ... dua ribu tahil ... tiga ribu ...."
Lelang berjalan terus, badan si gadis makin gemetar, matanya yang sayu mulai berkaca-kaca, makin dipandang Jit-jit makin merasa kasihan, dia membatin.
"Gadis cantik molek ini, mana tega aku melihat dia terjatuh ke tangan lelaki busuk ini ...."
Entah mengapa mendadak terasa darahnya mendidih, tanpa pikir ia ikut berteriak.
"Aku tawar delapan ribu tahil."
Hadirin melongo, tapi pemuda berbaju sutra di seberang Cu Jit-jit tiba-tiba tersenyum, serunya.
"Selaksa tahil!"
Berkilat bola mata Keh-siangkong, wajahnya kegirangan, hadirin tersirap kaget oleh tawaran yang teramat tinggi ini. Cu Jit-jit mengertak gigi, mendadak dia berseru pula.
"Dua laksa tahil perak!"
Harga ini terlebih mengejutkan, keruan hadirin menjadi gempar.
Gadis itu angkat kepalanya dan menatap Cu Jit-jit dengan heran dan juga senang.
Dengan tertawa Keh-siangkong menatap pemuda berbaju sutra, tanyanya.
"Bagaimana Ong-kongcu?"
Pemuda itu tertawa sambil menggeleng kepala. Keh-siangkong lantas menghadap ke arah Cu Jit-jit, katanya sambil menghormat.
"Selamat nona, gadis secantik bidadari ini kini sudah menjadi milik nona, entah di mana uang nona? Hahaha, dua laksa tahil perak sungguh teramat murah!"
Jit-jit jadi melenggong, sahutnya dengan gelagapan.
"Uang ... uang tidak kubawa, tapi ... dua hari ...."
Kontan Keh-siangkong menarik muka, katanya.
"Apa nona berkelakar? Tanpa uang mana bisa bicara jual-beli?"
Ruang besar ini seketika penuh suara gelak tertawa, ada yang mencemooh, ada yang berolok.
Merah muka Jit-jit, dari malu dia jadi gusar, baru saja dia hendak menyemprot mereka, tiba-tiba sastrawan tua miskin yang sejak tadi duduk dengan mata terpejam itu membuka matanya dan berkata.
"Tidak apa-apa, uang akan kupinjamkan padamu."
Hadirin melengak kaget, Jit-jit juga terbeliak, kakek ini kelihatan rudin, mana punya uang untuk dipinjamkan padaku segala. Keh-siangkong menyengir, katanya.
"Nona ini tidak dikenal engkau orang tua, mana ...."
Kakek rudin tertawa dingin.
"Kau tidak memercayainya, aku justru percaya padanya, soalnya kalian tiada yang kenal siapa dia, aku orang tua sebaliknya mengenalnya dengan jelas."
"Siapa nona ini?"
Tanya Keh-siangkong heran. Kakek rudin berkata.
"Kau Keh-pak-bwe hanya mahir menipu uang orang lain, biar kau menipu tiga puluh tahun lagi juga belum dapat membandingi secuil kuku bapaknya. Tidak perlu kubicara banyak, cukup kuberi tahukan padamu, dia she Cu."
Keh-siangkong terperanjat, serunya.
"She Cu, apakah ... apakah dia putri mestika keluarga Cu?"
Kakek rudin mendengus sambil memejamkan mata pula, pandangan hadirin serentak beralih kepada Cu Jit-jit semua memandangnya dengan terbelalak.
Sejak dahulu kala uang memang punya daya pikat luar biasa, manusia mana pun tidak terkecuali.
Terutama orang berwatak seperti Keh-siangkong, dia lebih tahu betapa hebat daya tarik uang di dunia ini.
Sikapnya yang meremehkan tadi kini berubah tertawa lebar hingga kedua matanya hampir terpejam, katanya.
"Baiklah, bila engkau orang tua yang menanggung, apa pula yang perlu kukatakan .... Fifi, sejak kini kau menjadi milik nona Cu ini, lekas ke sana!"
Orang paling terkejut di dalam ruang ini adalah Cu Jit-jit sendiri, sungguh dia tidak mengerti dari mana kakek rudin ini mengenal dirinya.
Tidak habis pula herannya manusia semacam Keh-siangkong ternyata menaruh kepercayaan penuh kepada kakek rudin ini.
Padahal kakek ini kurus kering, pakaiannya, topinya, harta miliknya dari kepala sampai ke kaki paling-paling cuma berharga satu tahil perak saja.
Gadis baju putih itu lantas menghampiri Jit-jit, sinar matanya tampak terang, lembut dan tetap malu-malu.
Segera dia berlutut memberi hormat serta menyapa dengan suara merdu.
"Lanli (perempuan kesusahan) Pek Fifi menyampaikan sembah hormat kepada nona Cu."
Lekas Jit-jit menariknya bangun, sebelum dia bicara didengarnya Tiong-goan-beng-siang Auyang Hi berseru lantang.
"Acara baik masih ada pada babak terakhir, kuyakin hadirin sedang menunggu dan ingin lihat barang dagangan Leng-jiya."
Hadirin sama mengiakan. Timbul rasa ingin tahu Cu Jit-jit.
"Orang macam apa pula Leng-jiya itu? Orang-orang ini kelihatan sangat segan kepadanya, tentu dia seorang luar biasa."
Waktu matanya mengerling, tampak puluhan pasang mata hadirin sama menatap ke arah kakek rudin kurus itu. Keruan Jit-jit kaget.
"Jadi Leng-jiya adalah kakek ini?"
Waktu dia menoleh, mendadak dilihatnya di belakang pemuda berbaju sutra tahu-tahu berdiri seorang kacung berwajah bersih, kacung ini tengah menatapnya dengan tajam, Jit-jit merasa pernah melihat wajah si kacung, cuma tidak ingat di mana pernah melihatnya.
Sementara itu si kakek rudin telah membuka mata dan batuk dua kali, lalu katanya.
"Go-ji, sekali ini apa saja yang kita bawa, satu per satu boleh kau sebutkan supaya hadirin tahu, ingin kulihat berapa pula tawaran yang diajukan mereka."
Go-ji (anak sengsara), anak yang berperawakan kurus hitam dan berdiri di belakangnya mengiakan dengan suara lemah seperti sudah tidak makan tiga hari, dengan perlahan ia tampil ke depan, lalu serunya.
"Lima puluh kuintal Oh-liong-teh."
Setelah terjadi tawar-menawar yang cukup seru terhadap daun teh terkenal itu, seorang pedagang besar penduduk Lokyang menutupnya dengan harga lima ribu tahil perak. Go-ji berseru pula.
"Tong-hoa-yu lima ratus tong .... Tinta bak seribu potong ...."
Beruntun dia sebutkan delapan jenis barang dagangan, setiap jenis adalah barang-barang produksi suatu daerah yang jarang ada di pasaran, dalam sekejap barang-barang itu sudah terjual habis dengan harga tinggi.
Cu Jit-jit menyaksikan perak sebungkus demi sebungkus digaruk seluruhnya oleh Leng-jiya, namun barang-barang yang disebutkan tadi satu pun tidak kelihatan, maka dia membatin.
"Agaknya Leng-jiya memang seorang pedagang besar sehingga dia mendapat kepercayaan orang sebanyak ini, tapi kenapa dia justru berdandan mirip orang rudin? Ah, mungkin kakek ini seorang kikir."
Kemudian Go-ji berseru pula.
"Bik-kin-hiang-to tersedia lima ratus kuintal."
Sejak tadi Keh-siangkong kelihatan duduk tenang sambil udut tembakau dengan merem melek, begitu mendengar 'Bik-kin-hiang-to-bi' (beras unggul gagang wangi), matanya mendadak bersinar, serunya segera.
"Partai itu kuborong seluruhnya!"
"Berapa tawaranmu?"
Tanya Go-ji. Keh-siangkong tampak berkerut kening, setelah berpikir dia pura-pura murah hati, katanya.
"Selaksa tahil!"
Beras unggul gagang wangi memang jarang ada di pasaran, kalau ada, harga pasaran sekuintal juga cuma dua puluhan tahil saja, bahwa Keh-siangkong berani menutup dengan harga setinggi itu memang sudah terhitung berani.
Tak nyana si pemuda berbaju sutra mendadak berseru dengan tertawa.
"Selaksa lima ribu tahil!"
Keh-siangkong tampak melengak, akhirnya dia mengertak gigi dan berteriak.
"Selaksa enam ribu."
Ong-kongcu berseru.
"Dua laksa."
"Hah, dua laksa? .... Ong-kongcu, apa kau bergurau? Sejak dulu kala beras unggul ini tiada harga setinggi itu."
Ong-kongcu tersenyum, katanya.
"Kalau kau tidak berani beli, tiada orang memaksa."
Air muka Keh-siangkong berubah pucat, menghijau lalu merah padam, giginya bergemertuk, sesaat dia melenggong, akhirnya berteriak lagi.
"Baik kubayar dua laksa seribu."
Harga ini jelas jauh melampaui harga pasaran, bahwa Keh-siangkong yang sering menggaruk uang orang lain secara nakal ini berani membayar setinggi ini, hadirin sama kaget dan heran, di sana-sini mulai terdengar bisik-bisik.
Ong-kongcu mendadak berseru.
"Tiga laksa!"
Kali ini Keh-siangkong melompat bangun dari tempat duduknya, teriaknya.
"Tiga laksa? Apa kau ... kau gila?"
Ong-kongcu menarik muka, jengeknya.
"Keh-heng, kalau bicara harap hati-hati."
Keh-pak-bwe, si Pembeset Kulit yang terkenal nakal ini ternyata jeri terhadap pemuda lemah lembut yang baru keluar kandang macam Ong-kongcu ini, dia tidak berani lagi berkata kotor, dengan lemas dia duduk pula di kursinya, mukanya pucat dan penuh keringat.
Go-ji lantas berkata.
"Tiada penawaran lagi, baiklah barang itu akan diserahkan kepada Ong-kongcu!"
"Nanti dulu,"
Mendadak Keh-siangkong berseru sambil menggebrak meja, teriaknya dengan suara parau.
"Kutambah menjadi tiga laksa seribu .... Nah, Ong-kongcu, harga ini sudah memeras keringatku, kumohon kepadamu, jangan ... jangan berebut lagi denganku."
Ong-kongcu tertawa lebar, katanya.
"Baiklah, hari ini aku mengalah kepadamu."
Keh-pak-bwe tampak kegirangan, segera dia keluarkan uang dan menghitung, bahwa dia membayar lima ratus kuintal beras dengan harga setinggi itu, ternyata masih kegirangan, tiada hadirin yang tidak heran, siapa pun tidak mengerti mengapa Keh-pak-bwe hari ini mau berdagang rugi.
Setelah menerima uang dan memberikan tanda terima, Go-ji lantas tertawa seperti mengalami sesuatu kejadian yang amat menyenangkan, demikian pula Ong-kongcu juga tertawa lebar.
"Apa ... apa yang membuatmu tertawa?"
Tanya Keh-pak-bwe.
"Di kota Kayhong ada seorang saudagar yang berani membayar lima laksa tahil untuk lima ratus kuintal beras unggul gagang wangi, maka sekarang kau berani membayar tiga laksa tahil perak untuk jumlah beras yang sama, betul tidak?"
Berubah air muka Keh-pak-bwe, serunya.
"Dari ... dari mana kau tahu?"
Go-ji tertawa geli, katanya.
"Pedagang yang menawar lima laksa tahil untuk membeli beras jenis itu di Kayhong itu sengaja diutus oleh Leng-jiya kita, bila kau bawa beras itu ke Kayhong, tentu orang itu juga sudah pergi. Hahaha ... Keh-pak-bwe, siapa nyana sekali tempo kau pun akan mengalami rugi, biasanya kau menipu, hari ini kau tertipu."
Pucat pasi muka Keh-pak-bwe, katanya.
"Tapi, Ong ... Ong-kongcu ...."
Go-ji menjelaskan.
"Ong-kongcu juga sudah dipesan oleh Leng-jiya untuk memerankan sandiwara ini hingga kau tertipu ...."
Belum habis dia bicara Keh-pak-bwe meraung terus menubruk maju. Mendadak melotot mata Leng-jiya, jengeknya.
"Kau mau apa?"
Melihat sorot mata tajam orang, Keh-pak-bwe seperti kena dicambuk, seketika kuncup nyalinya, lekas dia mundur kembali, sesaat dia melongo, lalu mendekap muka dan menangis tergerung-gerung.
Tak tahan Jit-jit, dia tertawa geli, demikian pula hadirin ikut bertepuk, bahwa Keh-pak-bwe juga kena tipu, siapa pun merasa girang.
Leng-jiya tersenyum, katanya.
"Si Yong-kui tadi ditipunya, Go-ji, hitung tiga ribu tahil dan kembalikan kepada juragan Si, bulu kambing tumbuh di atas badan kambing, hendaknya Si-heng jangan sungkan!"
Sudah tentu Si Yong-kui kegirangan, berulang dia ucapkan terima kasih.
Dalam hati Cu Jit-jit juga memuji, baru sekarang dia tahu kakek rudin mirip pengemis, Leng-jisiansing, bukan saja seorang lelaki hebat, ternyata juga bukan orang kikir seperti diduganya semula.
Kini mata Leng-jisiansing terpejam pula, sikap Go-ji kembali lesu seperti tidak punya semangat, lalu katanya perlahan.
"Masih ada ... delapan ratus ekor kuda pilihan."
"Delapan ratus kuda pilihan" , sungguh menarik perhatian hadirin, terutama dua kelompok orang yang duduk seberang-menyeberang, kedua kelompok itu sama terbelalak dengan bersemangat. Kedua kelompok orang ini, masing-masing terdiri dari tiga orang dan dua orang. Kelompok tiga orang itu adalah lelaki yang bertampang jelek, kulit daging pada mukanya benjol-benjol. Sementara kedua orang yang lain, seorang bermuka kuning seperti disepuh emas, mirip orang berpenyakitan, seorang lagi bermata elang berhidung betet, alisnya tebal, wajahnya bengis, gagah dan kasar, sikapnya kelihatan angkuh, seperti tidak pandang sebelah kepada siapa pun. Sepintas pandang Cu Jit-jit lantas tahu bahwa kelima orang ini pasti orang-orang gagah dari golongan hitam, tenaga mereka pun pasti besar. Ketiga lelaki itu serempak berdiri, orang pertama berseru.
"Siaute Ciok Bun-hou."
"Siaute Ciok Bun-pa,"
Sambung orang kedua. Orang ketiga berseru juga.
"Siaute Ciok Bun-piau."
Mereka bicara dengan membusung dada, sikapnya garang dan bertolak pinggang, agaknya sengaja mau pamer kekuatan.
Mendengar nama ketiga orang ini, Si Yong-kui dan lain-lain tampak berubah air mukanya.
Auyang Hi lantas bergelak tawa, katanya.
"Kaum persilatan siapa yang tidak tahu nama besar Ciok-si-sam-hiong (tiga jago keluarga Ciok) dari Bing-hou-kang, buat apa pula kalian harus memperkenalkan diri."
Ciok Bun-hou bergelak, katanya.
"Betul, mungkin Auyang-heng juga tahu, kehadiran kami ini adalah untuk kedelapan ratus ekor kuda itu, semoga kalian sudi memberi muka kepada kami bersaudara, supaya kami tidak pulang dengan bertangan kosong."
Ketiga Ciok bersaudara lantas bergelak tertawa, paduan suara tertawa yang keras ini serasa menggetar atap rumah.
Umpama ada pihak lain bermaksud membeli kuda pasti akan kuncup nyalinya dan mundur teratur.
Ciok Bun-hou bertiga menyapu pandang hadirin, sikapnya takabur dan bangga.
Tak terduga lelaki hidung betet tiba-tiba menjengek.
"Kurasa kalian memang akan pulang dengan tangan kosong."
Suaranya tidak keras, tapi setiap hadirin dapat mendengar dengan jelas. Ciok Bun-hou menarik muka, serunya gusar.
"Apa katamu?"
Lelaki berhidung betet berkata pula.
"Kedelapan ratus ekor kuda itu, kami bersaudara yang akan membelinya."
"Berdasar apa kau berani bilang demikian?"
Teriak Ciok Bun-hou. Si hidung betet menyeringai, katanya.
"Di hadapan Leng-jisiansing, tentunya harus dengan uang untuk membeli kuda, siapa berani main rebut atau merampok?"
"Bera ... berapa tawaranmu?"
Teriak Ciok Bun-hou.
"Berapa tawaranmu, pasti kutambah di atasmu."
"Sebun Kau,"
Bentak Ciok Bun-hou.
"jangan kira aku tidak mengenalmu. Mengingat kita sesama satu golongan, selalu kami mengalah kepadamu, tapi kau ... kau terlalu menghina orang ...."
"Memangnya apa kehendakmu?"
Tantang Sebun Kau. Ciok Bun-hou gebrak meja, sebelum dia bicara Ciok Bun-pa lantas menarik tangannya, katanya dengan suara keras dan tegas.
"Bing-hou-kang kami dengan seribuan anggota sedang menunggu kedelapan ratus ekor kuda ini untuk membuka usaha baru, bila Sebun-heng suruh kami pulang dengan bertangan kosong, lalu cara bagaimana kami akan memberi pertanggungan jawab."
"Kalau kalian sedang menunggu kedelapan ratus ekor kuda ini, memangnya Loh-be-ouw kami tidak memerlukan kuda-kuda ini? Kalau pulang bertangan kosong kalian sukar memberi pertanggungan jawab, memangnya kami tidak harus bertanggung jawab juga."
Ciok Bun-piau mendadak menimbrung.
"Jika demikian, biarlah kita mengalah saja."
Sembari bicara segera dia tarik Bun-hou dan Bun-pa keluar.
Selagi hadirin heran kenapa ketiga saudara ini mendadak mau mengalah, tiba-tiba sinar kemilau berkelebat, tiga golok panjang serempak membacok ke arah Sebun Kau, bacokan keras dan keji, jika Sebun Kau terkena bacokan ini, badannya pasti hancur.
Betapa ganas serangan golok ketiga saudara Ciok ini, ternyata Sebun Kau juga sudah waspada dan siaga, dia tertawa dingin, sekali mengegos dapatlah menghindar.
Yang jadi korban adalah kursi tempat duduk Sebun Kau tadi terbacok hancur lebur.
Keruan Si Yong-kui dan lain-lain sama berteriak kaget.
Membara mata Ciok Bun-hou, teriaknya serak.
"Bukan kau yang mampus biar aku yang mati, ayo sikat dia."
Kembali tiga batang golok mereka berputar pula dan hendak menerjang lagi.
Lelaki muka kuning yang tidak bersuara sejak tadi mendadak berdiri, hanya sekali berkelebat tiba-tiba Sebun Kau ditariknya menyingkir sambil membentak.
"Berhenti sebentar, dengarkan perkataanku."
Walau wajahnya kuning seperti orang sakit, tapi gerak-geriknya ternyata gesit dan mengejutkan. Ciok Bun-hou bertiga terpaksa berhenti, katanya.
"Baik, coba kita dengarkan apa yang hendak dikatakan Liong Siang-peng."
Liong Siang-peng lantas berkata.
"Bila kita berkelahi di sini, di samping menimbulkan permusuhan sesama orang Kangouw, rasanya juga tidak enak terhadap Auyang-heng, maka menurut pendapatku, lebih baik ...."
"Bagaimanapun juga kedelapan ratus ekor kuda itu adalah bagian kami,"
Tukas Ciok Bun-hou lantang. Liong Siang-peng atau Liong si Sakit Melulu tertawa, katanya.
"Kalian ingin mendapatkannya, orang lain juga tidak mau mengalah, bukankah terpaksa harus diselesaikan dengan pertarungan sengit. Tapi kalau masing-masing pihak mau membagi empat ratus ekor kuda, permusuhan kan tidak perlu terjadi."
Ciok bersaudara saling pandang, Ciok Bun-pa lantas berkata.
"Ucapan Liong-lotoa memang beralasan ...."
"Kalau begitu marilah kita saling tepuk tangan sebagai tanda perjanjian,"
Ucap Liong Siang-peng. Ciok Bun-hou berpikir sejenak, akhirnya dia menjawab.
"Baiklah, empat ratus ekor kuda sementara juga cukup."
Lalu dia mendahului maju ke depan.
Liong Siang-peng juga menyongsong maju dengan tertawa, masing-masing mengulurkan tangan, mendadak dari tangan kiri Liong Siang-peng menyambar dua titik sinar dingin, berbareng tangan kanan juga menghantam.
"blang" , dengan telak dada Ciok Bun-hou digenjotnya, kedua bintik sinar itu pun tepat mengenai leher Bun-pa dan Bun-piau. Terdengar ketiga bersaudara itu menjerit ngeri, tubuh sempoyongan, mata melotot gusar, lama mereka menatap Liong Siang-peng, teriaknya dengan suara parau.
"Kau ... kau ...."
Belum lanjut suaranya, Ciok Bun-hou menyemburkan darah hitam, wajah Bun-pa dan Bun-piau juga berubah hitam.
Satu per satu mereka roboh tersungkur, tiga orang segar bugar dalam sekejap telah melayang jiwanya menjadi mayat.
Semua hadirin terbelalak kaget, sementara itu dengan tenang Liong Siang-peng berjalan balik ke tempat duduknya, tetap seperti orang penyakitan yang lemah dan acuh tak acuh, seolah-olah tidak pernah terjadi apa-apa.
Wajah Auyang Hi tampak gusar tapi entah mengapa akhirnya dia menahan rasa gusarnya.
Semula Cu Jit-jit juga gusar, tapi kejap lain dia berpikir.
"Orang lain tidak peduli, buat apa aku usil, memangnya urusanku belum cukup merepotkan?"
Ternyata Go-ji juga bersikap tak acuh, katanya dingin.
"Setelah terjadi pembunuhan, apakah jual-beli tetap menggunakan uang?"
Sebun Kau tertawa, serunya.
"Tentu saja pakai uang."
Diturunkan ransel yang digendongnya di atas meja, perlahan dia buka buntelan kain kuning itu, ternyata isinya emas murni.
"Berapa nilainya?"
Tanya Go-ji. Sebun Kau tertawa, katanya.
"Dua ribu tahil, kukira cukup."
Tak nyana Ong-kongcu yang pendiam dan pemalu itu mendadak angkat kepala, katanya dengan tersenyum.
"Siaute tawar dua ribu seratus tahil!"
Mendengar tawarannya, hadirin kaget, Jit-jit juga berubah air mukanya. Sebun Kau menyeringai, katanya.
"Apakah Siangkong ini tidak berkelakar?"
Ong-kongcu tertawa.
"Tiga sosok mayat masih ada di sini, apakah tega orang berkelakar di hadapan mayat?"
Sebun Kau berputar menghadap ke arahnya, selangkah demi selangkah dia menghampirinya, setiap langkahnya makin menimbulkan suasana tegang.
Pandangan semua orang tertuju kepadanya sehingga siapa pun tidak menyadari tahu-tahu Liong Siang-peng sudah melayang ke belakang Ong-kongcu tanpa mengeluarkan suara sedikit pun, perlahan dia angkat telapak tangannya.
Ong-kongcu masih tetap tidak merasakan ancaman bahaya, Sebun Kau menyeringai.
"Bila kau mampu menghindar tiga kali pukulanku, kedelapan ratus kuda ditambah emas ini akan menjadi milikmu."
Pada akhir perkataannya, secepat kilat kedua tangannya menggempur kedua pundak Ong-kongcu.
Pada saat yang sama, dari kedua tangan Liong Siang-peng juga menyambar tujuh bintik sinar dingin, jadi dua orang menggencet dari depan dan belakang, bukan saja jiwa Ong-kongcu terancam, kacung di belakangnya juga sukar terhindar dari malapetaka.
Cu Jit-jit menjerit sambil melompat bangun.
Pada saat itulah mendadak lengan baju Ong-kongcu menggulung ke belakang, di belakang kepalanya seperti bermata, demikian pula lengan bajunya seperti ular sakti, ketujuh bintik sinar dingin itu tergulung semua ke dalam lengan bajunya, sekali kebut lagi ke depan, bintik tajam itu langsung menyambar ke dada Sebun Kau.
Sebun Kau menjerit ngeri, mendekap dada sambil mundur terhuyung.
Muka Liong Siang-peng juga berubah pucat, tapi dia tidak gugup, kedua tangan mengkeret ke dalam lengan baju, waktu dikeluarkan lagi setiap tangan sudah memegang sembilan badik, di mana sinar gemerdep segera badik menikam punggung Ong-kongcu.
Betapa keji serangannya, badik itu juga hitam gilap, jelas dilumuri racun jahat, bila Ong-kongcu tergores sedikit saja kulit badannya, jangan harap bisa hidup lagi.
Tapi Ong-kongcu tetap tidak berpaling, hanya sedetik itu, mendadak tubuhnya mengapung ke atas hingga kedua badik menusuk punggung kursi kayu cendana yang berukir.
Saking kaget, kuncup nyali Liong Siang-peng, dia tidak berani turun lagi ia putar badan terus kabur.
Ong-kongcu tersenyum, katanya.
"Ini pun bawa pulang saja!"
Waktu mengucapkan "ini"
Dari lengan bajunya melesat setitik sinar dingin, ketika mengatakan "pulang"
Sinar dingin itu lantas bersarang di punggung Liong Siang-peng.
Bila dia selesai berkata, Liong Siang-peng pun menjerit dan terkapar di lantai, kaki tangan berkelojotan, lalu tak bergerak lagi.
Bukan saja tidak pernah menoleh, bahkan Ong-kongcu tetap bersenyum, hanya mulutnya berkata.
"Sungguh Am-gi (senjata rahasia) yang jahat, tapi Am-gi itu milik dia sendiri."
Ternyata dalam lengan bajunya masih menyimpan sebuah Am-gi lawan, padahal jari tangannya saja tidak bekerja, tapi kedua begal besar yang beroperasi di Loh-be-ouw telah disikatnya.
Melihat demonstrasi menangkap Am-gi, lalu balas menyerang pula hanya dengan lengan baju saja, seluruh hadirin sama kagum, tapi sikap Ong-kongcu tetap wajar dan tak acuh, seolah-olah membunuh orang bukan perbuatan jahat, keruan hadirin sama melongo dan tiada yang berani menanggapi perkataannya.
Cu Jit-jit juga terkesiap, pikirnya.
"Pemuda yang kelihatan lemah lembut ini ternyata memiliki kungfu yang luar biasa, hatinya kejam dan tindakannya ganas, sungguh mimpi pun orang tidak menyangka ...."
Waktu ia menoleh, tiba-tiba dilihatnya kacung yang berdiri di belakangnya itu juga tengah mengawasinya dengan tersenyum, matanya yang lincah melirik sana-sini, seperti banyak persoalan hendak diberitahukan kepadanya.
Heran dan gusar hati Jit-jit, pikirnya.
"Kenapa keparat ini menatapku sedemikian rupa? Mungkinkah dia kenal aku? Wajahnya memang seperti pernah kukenal, tapi kenapa aku tidak ingat di mana pernah bertemu dengan dia?"
Dia duduk termenung, sedang si gadis baju putih, Pek Fifi, dengan lembut berdiri di sampingnya, senyumnya yang menarik sungguh siapa pun akan tergiur.
Tapi bagaimanapun Jit-jit sukar mendapatkan jawaban, pikir punya pikir, akhirnya dia teringat kepada Sim Long.
"Di mana Sim Long? Sedang apa dia sekarang? Apakah dia juga sedang merindukan diriku?"
Tiba-tiba didengarnya Auyang Hi berkata di sampingnya dengan tertawa.
"Perjamuan makan malam sudah disiapkan, nona Cu ikut hadir?"
Selama dua hari ini, baru sekarang Jit-jit mendengar perkataan ramah terhadap dirinya.
Cepat dia menarik napas, dengan tertawa dia mengangguk serta berdiri.
Baru sekarang didapatinya separuh hadirin sudah meninggalkan tempat ini, mayat juga sudah digotong pergi, tanpa terasa merah mukanya, diam-diam dia tanya diri sendiri.
"Kenapa setiap merindukan Sim Long aku lantas linglung dan lupa daratan?"
Santapan yang dihidangkan memang hebat, bukan saja banyak jenisnya, juga makanan kelas satu semua.
Leng-jisiansing melalap hidangan dengan lahap, apa yang disenangi seperti dituang saja ke dalam perut.
Selama hidup Cu Jit-jit juga belum pernah makan sepuas dan sekenyang ini, entah dari mana datangnya selera, yang terang perutnya memang lapar.
Hanya Ong-kongcu dan dua orang lagi yang jarang menggerakkan sumpitnya, agaknya menonton orang makan saja perut mereka ikut kenyang.
Sambil makan Auyang Hi masih terus mencerocos hingga makanan di mulutnya sering tersembur keluar, di samping minta maaf karena sejak bertemu dia tidak kenal bahwa Cu Jit-jit adalah putri kesayangan keluarga Cu, ia pun sibuk memperkenalkan Cu Jit-jit kepada hadirin lainnya.
Jit-jit ogah melayani pembicaraannya, paling hanya mengangguk atau menggeleng dengan tertawa.
Mendadak Auyang Hi berkata.
"Ong-kongcu ini juga putra keluarga terhormat di Lokyang, asal nona Cu melihat perusahaan bermerek Ong-som-ki, semua itu adalah milik keluarga Ong-kongcu, bukan saja dia ...."
Mendengar "Ong-som-ki" , hati Jit-jit seketika seperti kena cambuk sekali, darah seketika bergolak hingga apa perkataan Auyang Hi selanjutnya tidak diperhatikan lagi.
Waktu dia memandang ke sana, Ong-kongcu dan kacungnya yang cakap itu pun sedang mengawasinya dengan tertawa.
Ong-kongcu tertawa sambil memperkenalkan diri.
"Cayhe she Ong, bernama Ling-hoa ...."
Dengan suara gemetar Jit-jit menukas.
"Kau ... kau ... toko peti mati itu ...."
Ong-kongcu tertawa.
"Apa maksud nona Cu?"
Wajah Jit-jit yang sudah merah karena menenggak arak seketika pucat, matanya terbeliak menyorotkan rasa kaget dan ngeri, pikirnya.
"Ong-som-ki ... jangan-jangan Ong Ling-hoa ini pemuda bergajul yang berhati iblis itu .... Ah, betul, kacung itu bukankah gadis berbaju putih itu, pantas aku merasa mengenalnya, dia mengenakan pakaian lelaki hingga aku pangling padanya ...."
Melihat Jit-jit pucat dan menggigil, Auyang Hi kaget dan heran, tanyanya dengan menyengir.
"Nona Cu, engkau ...."
Dengan menggigil mendadak Cu Jit-jit melompat berdiri.
"blang", kursi yang didudukinya tergetar roboh, Jit-jit menyurut mundur, serunya gemetar.
"Kau ... kau ...."
Mendadak dia putar tubuh terus angkat langkah seribu seperti melihat setan. Terdengar beberapa orang berteriak-teriak di belakang.
"Nona Cu ... tunggu ... nona Cu!"
Di antaranya terselip juga suara Pek Fifi yang minta dikasihani.
"Nona Cu, bawa serta hamba ...."
Mana Jit-jit berani berpaling.
Entah sejak kapan di luar turun hujan deras, Jit-jit juga tidak menghiraukan lagi, dia terus lari ke depan tanpa membedakan arah, juga tidak peduli jalan apa.
Sorot mata Ong Ling-hoa yang mengandung daya iblis itu seperti mengejar di belakangnya.
Memang benar ada orang mengintil di belakangnya, bila dia berhenti, orang itu segera seperti akan menubruknya.
Lari dan lari terus sampai napas Jit-jit sudah ngos-ngosan, kedua matanya juga sukar terpentang lagi karena diguyur air hujan, dia tahu bila dirinya terus berlari di tengah hujan begini, andaikan tidak mati juga pasti akan jatuh sakit.
Lapat-lapat dilihatnya bayangan beberapa rumah di depan, satu di antaranya ada cahaya yang menyorot keluar, pintunya juga seperti terbuka, Jit-jit tidak peduli lagi, langsung dia menerobos ke dalam, begitu berada di dalam rumah dia lantas rebah di lantai.
Setelah mereda napasnya baru dia sempat perhatikan keadaan setempat, rumah ini ternyata sebuah biara bobrok yang sudah lama tidak terawat, galagasi terdapat di mana-mana, patung pemujaan pun sama roboh.
Tepat di tengah ruang pemujaan ada api unggun yang sedang menyala, yang duduk di tepi api unggun memanaskan badan adalah seorang nyonya berbaju hijau dan sedang mengawasinya dengan heran, waktu dia menoleh, hujan masih tertuang dari langit, mana ada bayangan orang mengejarnya.
Setelah tenangkan diri, Jit-jit membetulkan badan dan menyapa dengan tertawa.
"Popo (nenek), bolehkah aku ikut memanaskan badan?"
Sikap nyonya berbaju hijau kelihatan welas asih, tapi hanya mengangguk tanpa bicara.
Rambut Jit-jit semrawut, pakaian basah kuyup dan lengket di badan hingga potongan badannya yang menggiurkan tampak jelas, diam-diam dia bersyukur.
"Untung seorang perempuan tua, kalau lelaki bukankah amat memalukan."
Namun demikian ia pun merasa kupingnya panas, dengan perasaan malu dan tidak tenteram dia membetulkan rambutnya, hingga wajahnya yang molek kelihatan jelas.
Agaknya nyonya berbaju hijau itu pun tidak menyangka gadis yang basah kuyup ini bisa sedemikian cantiknya, sorot matanya yang semula dingin mulai kelihatan ramah, dengan menggeleng kepala dia berkata.
"Kasihan, pakaianmu basah kuyup, apa tidak dingin?"
Jit-jit menarik napas, tubuhnya memang lagi menggigil, mendengar perkataan orang seketika dia tambah gemetar, meski sudah berada di pinggir api unggun, pakaian basah yang lengket di badannya terasa sedingin es.
Dengan suara lembut nyonya berbaju hijau berkata.
"Di sini tiada orang lelaki, lebih baik kau buka pakaian basahmu, setelah dipanggang kering tentu akan merasa hangat."
Walau sungkan dan rikuh, tapi rasa dingin yang merasuk tulang tak tertahan lagi, terpaksa Jit-jit mengangguk, perlahan dia mulai membuka baju.
Meski di hadapan sesama perempuan, tak urung merah juga muka Jit-jit, cahaya api menambah merah pipinya, menyinari potongan tubuhnya yang aduhai ....
Tiba-tiba Cu Jit-jit bersuara tertahan, pakaian dalamnya tak berani dilepas lagi, padahal pakaian dalam juga basah kuyup hingga hampir tembus pandang, cepat ia berjongkok, dan berharap pakaiannya lekas kering.
Mendadak di luar seperti ada orang berdehem perlahan.
Keruan Cu Jit-jit kaget, badannya mengkeret, serunya dengan gemetar.
"Sia ... siapa di luar?"
Suara serak tua berkata di luar tembok.
"Hujan sangat lebat, orang beragama biar berteduh di emper saja."
Legalah hati Cu Jit-jit, katanya.
"Orang beragama ini memang orang baik, bukan saja tidak mau masuk, jendela pun tidak dilongoknya ...."
Belum habis dia bicara, mendadak terdengar terkekeh tawa, katanya.
"Walaupun ada orang baik di luar, tapi ada Siaujin (manusia rendah) di dalam."
Sungguh tidak kepalang kejut Cu Jit-jit, cepat dia meraih pakaian untuk menutup dada, lalu mendongak ke arah datangnya suara.
Tertampak di atas belandar yang penuh debu dan galagasi menongol sebuah kepala, sepasang matanya yang mirip mata kucing sedang menatap Cu Jit-jit.
Malu, gusar, dan kaget Jit-jit, ia mendamprat.
"Kau ... siapa? Berapa lama kau di ... di situ?"
"Sudah cukup lama untuk menonton seluruhnya,"
Ujar orang itu dengan tertawa.
Wajah Jit-jit menjadi merah, repot dia membetulkan pakaiannya, tarik sini, sana terbuka, tarik sana, sini tersingkap, serbarepot, saking malu sungguh kalau bisa ingin sembunyi ke dalam tanah saja.
Orang itu tergelak, katanya.
"Sayang sekali mataku ini masih kurang untung, pakaian nona yang terakhir belum dibuka, wah, sayang ...."
Malu dan gusar, segera Jit-jit mencaci.
"Keparat, bajingan kau ...."
Mendingan dia tidak memaki, karena caci makinya, orang itu segera melompat turun, Jit-jit menjerit kaget, tambah gencar caci makinya.
Tampak lelaki ini berpakaian jaket kulit yang sudah lusuh, bagian dadanya terbuka, tangan kiri pegang buli-buli arak, di pinggang terselip sebatang golok pendek tanpa sarung, usianya belum tua, tapi wajahnya penuh berewok, alisnya hitam tebal, matanya mirip mata kucing dan sedang mengamati Cu Jit-jit dari kepala sampai kaki.
Makin garang Jit-jit memaki, makin senang lelaki itu.
Begitu Jit-jit bungkam, lelaki itu lantas berkata dengan cengar-cengir.
"Kan tidak kubuka pakaian nona, tapi nona sendiri yang membuka pakaian, tentu juga tidak kurintangi, namun nona justru memakiku begitu rupa, bukankah engkau ini tidak kenal aturan?"
Malu dan gemas Jit-jit bukan main, ingin rasanya dia gampar muka orang, tapi mana dia berani berdiri, terpaksa dia membentak.
"Kau ... keluar, setelah ... setelah aku mengenakan pakaian."
"Di luar hujan lebat dan dingin, nona tega suruh aku kehujanan di luar. Daripada nona kesepian, bukankah lebih baik kutemani."
Semula Jit-jit kira si nyonya berbaju hijau pasti seorang tokoh dunia Kangouw, melihat kejadian ini pasti akan membelanya.
Siapa tahu nyonya itu malah menyingkir ke pinggir dengan muka pucat ketakutan.
Berputar mata Jit-jit, mendadak dia tertawa dingin.
"Tahukah kau siapa aku? Hm, inilah Moli (iblis perempuan) Cu Jit-jit, memangnya boleh dibuat permainan olehmu? Kalau tahu diri lekas kau-lari saja, supaya tidak mati sia-sia di sini."
Julukan "Moli"
Sekenanya dia sebut, maksudnya hanya untuk menggertak orang. Semula lelaki itu melenggong, tapi segera tertawa, katanya.
"Sebaliknya apa kau tahu siapa aku?"
"Kau siapa? Apa bedanya kau dengan babi, anjing, binatang ...."
"Ketahuilah,"
Ujar lelaki itu sambil tepuk dada.
"Hok-mo-kim-kong (raksasa penakluk iblis) adalah nama besarku, lebih baik kau menurut saja, jangan ...."
Rasa gusar mendadak merangsang Jit-jit, bila dia sudah nekat, umpama telanjang bulat juga berani berdiri, apalagi sekarang dia masih pakai baju dalam, mendadak dia melompat bangun, jengeknya.
"Baik, kau ingin lihat, ini, silakan lihat, lihatlah yang jelas ... sebentar lagi nona akan mencungkil kedua matamu."
Mimpi pun lelaki itu tidak menyangka ada perempuan seberani ini, dia benar-benar terkejut, badan yang montok terpampang di depan matanya, entah kenapa ia malah tidak berani memandangnya.
Jit-jit tambah nekat, dia maju selangkah pula, tanpa terasa orang itu menyurut mundur dengan mata terbelalak.
Mendadak seorang mendengus di luar jendela.
"Hm, maling cabul, keluar!"
Tampak sesosok bayangan seperti patung berdiri di luar jendela, kepalanya mengenakan caping bambu, dagunya berjenggot, dalam kegelapan tidak terlihat jelas wajahnya, hanya tampak punggungnya menyandang pedang, ronce hiasan pada tangkai pedang tampak bergoyang tertiup angin.
Lelaki tadi kaget, katanya.
"Kau suruh siapa keluar?"
"Kecuali kau, siapa lagi?"
Jengek orang di luar itu. Lelaki itu tertawa, katanya.
"Bagus, jadi aku ini maling cabul!"
Mendadak dia melompat melewati kepala Cu Jit-jit dan melayang keluar pintu.
Jit-jit tidak mengira Ginkang orang ini sedemikian tinggi, terkejut juga hatinya, segera tertampak cahaya pedang berkelebat membendung pintu.
Badan lelaki itu terapung di udara, kedua kakinya menendang beruntun, begitu cahaya pedang terdesak ke samping, lelaki itu melesat keluar di bawah hujan, terdengar gelak tawanya, lalu bentaknya.
"Hidung kerbau keroco, memangnya kau ingin berkelahi?"
Bayangan di luar jendela memang seorang Tojin kurus kecil, gerak-geriknya lincah, sinar pedangnya berkelebat lagi menusuk dada lelaki itu.
"Ilmu pedang bagus!"
Puji lelaki itu sambil angkat buli-buli araknya untuk menangkis.
"trang" , buli-buli arak itu ternyata terbuat dari baja, pedang si Tojin tergetar ke samping, hampir terlepas dari cekalannya.
"Tenaga pergelangan hebat,"
Tojin itu pun memuji.
Dalam jangka ucapan tiga patah kata, sekaligus ia pun menyerang tiga jurus, cepat sekali serangan berantai ini sehingga lelaki itu tidak sempat balas menyerang dengan cara semula.
Melihat kungfu kedua orang ternyata merupakan tokoh kosen tingkat tinggi dunia persilatan, kaget dan heran Cu Jit-jit, sesaat dia jadi melongo.
Untung perempuan berbaju hijau di belakangnya lantas bersuara lirih padanya.
"Nona, lekas pakai baju sekarang!"
Merah muka Jit-jit, katanya dengan menunduk.
"Ya, terima kasih!"
Cepat dia kenakan bajunya yang masih basah, lalu melongok keluar, tertampak di tengah hujan sinar pedang berkelebat bagai sambaran kilat naik-turun, begitu cepat hingga hujan lebat pun tidak tembus, air muncrat ke mana-mana.
Ilmu pedangnya kelihatan tidak begitu lihai, tapi kecepatannya luar biasa, sinar pedangnya membawa desing angin tajam.
Makin dipandang makin heran, ilmu pedang Tojin ini juga tidak di bawah Giok-bin-yau-khim Sin-kiam-jiu Ji Yok-gi yang termasuk salah satu ketujuh jago kosen ....
Agaknya lelaki itu pun mulai gelisah.
"Hidung kerbau, aku tidak ada permusuhan denganmu, apa benar kau ingin mencabut nyawaku?"
"Peduli siapa kau dan apa sebabnya, asalkan bentrok denganku, maka dia harus tahu pedangku selamanya tiada ampun bagi lawan."
Lelaki itu kaget, katanya.
"Orang yang tidak bermusuhan denganmu juga kau bunuh?"
"Dapat mati di bawah pedangku sudah terhitung untung baginya,"
Tojin itu menjengek. Dengan suara keras lelaki itu berteriak.
"Sungguh keji ...."
Dalam pembicaraan singkat ini si Tojin telah menyerang belasan kali, lelaki itu terdesak, sedikit lena jaket kulitnya tertebas sobek oleh pedang lawan.
Bulu domba pada jaketnya bertebaran di bawah hujan lebat.
Lelaki itu menjadi gugup, pedang si Tojin mendadak menyambar lewat buli-bulinya terus menusuk dada kiri, pada urat nadi yang mematikan.
Serangan ini sungguh berbahaya, kejam dan telak.
Tak tertahan Cu Jit-jit berteriak.
"Orang ini tidak perlu dihukum mati, ampuni saja jiwanya!"
Sebetulnya tak perlu Jit-jit bersuara, sebab baru separuh dia bicara, mendadak selarik sinar putih berkelebat dari pinggang lelaki ini menyongsong tusukan pedang "Cring" , si Tojin tergetar mundur tiga langkah, mata Cu Jit-jit cukup jeli, dia lihat ujung pedang si Tojin terkutung sebagian.
Lelaki itu tertawa keras, katanya.
"Tojin keparat, kau dapat memaksa aku menggunakan golok pusaka di pinggangku, ilmu pedangmu boleh dipasang dalam deretan lima ahli pedang Bu-lim zaman ini."
Si Tojin melintangkan pedang di depan dada, siap menunggu serangan balasan lawan.
Tak tahunya lelaki itu tidak balas menyerang, di tengah gelak tertawanya mendadak ia melompat mengapung tinggi ke atas, gelak tawanya berkumandang di udara, serunya.
"Adik manis, lain kali kalau buka baju harus periksa dulu sekitarnya, ingat ya ...."
Suara gelak tertawanya semakin jauh dalam sekejap saja lantas lenyap.
Tojin itu masih berdiri tegak di tengah hujan, air hujan menetes dari pinggir capingnya seperti kerai air.
Jit-jit terkesima, serunya kemudian.
"Toya ini silakan masuk kemari, biar kuaturkan terima kasih."
Perlahan Tojin itu membalik badan dan melangkah masuk ke situ.
Terasa oleh Jit-jit kehadiran Tojin ini seperti membawa nafsu membunuh.
Betapa pun orang adalah penolongnya, meski segan melihat wajah orang, tak dapat dia membuang muka.
Setelah Tojin itu masuk, Jit-jit memberi hormat.
"Atas pertolongan Totiang barusan ...."
Mendadak Tojin itu menukas.
"Tahukah kau siapa aku dan kenapa kutolongmu?"
Jit-jit melenggong, tak tahu bagaimana harus menjawab. Berkata pula si Tojin dengan dingin.
"Soalnya akan kubawa dirimu, maka tak boleh kau jatuh ke tangan orang lain."
Kaget Cu Jit-jit, serunya.
"Kau ... siapa kau?"
Tojin itu mendorong capingnya ke atas hingga tampak jelas mukanya.
Di bawah cahaya api yang bergerak-gerak tertampak mukanya kuning dan kurus, di antara mata alisnya tampak mengandung rasa dingin dan culas, siapa lagi dia kalau bukan Toan-hong-cu, kepala biara Hian-toh-koan dari Ceng-sia, satu di antara ketujuh jago kosen Bu-lim masa kini.
Melihat dia, perasaan Jit-jit lantas tenteram, batinnya.
"Kiranya Toan-hong-cu, lelaki tadi mengatakan dia patut dijajarkan di antara lima ahli pedang zaman ini, ternyata juga tidak salah tebak. Lalu dari mana datangnya lelaki itu? Kungfunya ternyata mampu menandingi salah satu dari ketujuh jago kosen Bu-lim, kenapa belum pernah kudengar tokoh macam itu di Bu-lim?"
Hati berpikir mulut pun berkata.
"Sungguh beruntung dapat bertemu dengan Toan-hong Totiang di sini, tadi Totiang bilang hendak membawa diriku, entah untuk keperluan apa?"
"Karena Hoa Lui-sian itulah, tentunya kau tahu sendiri."
Diam-diam Jit-jit terkejut, tapi lantas katanya.
"Hoa Lui-sian sudah berada di Jin-gi-ceng, apakah Totiang belum tahu?"
"Kalau benar, boleh kau antar aku melihatnya ke sana."
"Maaf, aku masih ada urusan, mau lihat, boleh kau pergi sendiri."
Mencorong gusar sinar mata Toan-hong-cu, katanya bengis.
"Perempuan bernyali besar, berani kau membual di hadapanku, sudah puluhan tahun kumalang melintang di dunia Kangouw, memangnya mudah kau tipu begini saja?"
"Setiap patah kataku benar, jika urusanku tidak penting, tentu boleh kuantarmu ke sana."
"Bila berurusan denganku, urusan penting lain harus dikesampingkan dulu."
Kecuali Sim Long, terhadap siapa pun Jit-jit berani mengumbar adat, seketika matanya mendelik, adat pemberangnya kambuh, serunya gusar.
"Aku justru tidak mau pergi, kau mau apa, jangan berlagak, betapa kehebatanmu, pedang pun ditebas kutung orang ...."
Air muka Toan-hong-cu berubah kelam hardiknya beringas.
"Mau tidak mau harus pergi!"
Sinar pedang berkelebat, kedua pundak Jit-jit segera terancam. Jit-jit jadi nekat.
"Kau kira aku takut?"
Jit-jit memang tidak takut kepada siapa pun, walau lawan bersenjata pedang, jago kosen kenamaan pula, bila kemarahannya sudah membara, apa pun tidak dihiraukan lagi.
Tahu-tahu dia memapak sambaran pedang malah, dengan gerakan menangkap Kim-na-jiu-hoat dari Hoay-yang-pay yang meliputi 72 jurus, maksudnya hendak merebut pedang Toan-hong-cu.
Toan-hong-cu menyeringai, katanya.
"Sungguh budak yang tidak tahu tingginya langit dan tebalnya bumi, biar kubikin cacat lengan kananmu dulu sebagai hajaran."
Pengalaman tempur Cu Jit-jit kurang luas, tapi otaknya cerdik, mendengar ancaman orang, dia malah membentak.
"Baik, bila kau melukai tempat lain di badanku berarti kau ini binatang!"
Tampak dia bermain secara terbuka, kecuali lengan kanan, bagian lain boleh dikatakan tidak terjaga, pertahanan dipusatkan pada lengan kanannya tok, maka daya serangnya cukup hebat hingga Toan-hong-cu ditandingi sama kuat.
Toan-hong-cu menyeringai, katanya.
"Budak busuk dan licin!"
Pedangnya berkelebat.
"sret" , ujung pedang menusuk dada kiri Cu Jit-jit. Dada kiri Cu Jit-jit memang tidak dipertahankan, jika pedang Toan-hong-cu tidak tertebas buntung, tusukan ini tentu sudah melukai kulit dagingnya, namun demikian tetap dia terlambat berkelit.
"bret" , baju pundaknya tersobek hingga pundaknya terlihat jelas. Kejut dan gusar Jit-jit, dia memaki.
"Jelek-jelek kau ini seorang tokoh besar, ucapanmu ternyata tidak dapat dipercaya."
Jit-jit tidak tahu bahwa di hadapan orang banyak Toan-hong-cu pernah meludahi hidangan di atas meja, lalu perbuatan kotor apa pula yang tidak berani dilakukannya?
Sambil menyeringai pedangnya mendadak menyungkit ke atas, serangan keji dan kotor, yaitu Liau-im-sek, yang ditusuk adalah bagian selangkangan.
Sekuatnya Jit-jit menghindar, sungguh tak terpikir olehnya bahwa tokoh seperti Toan-hong-cu juga dapat menyerang seorang gadis dengan cara yang rendah begini, saking malu dan gusarnya, pipi Jit-jit jadi merah, makinya.
"Binatang, kau ... kau binatang."
"Biar hari ini kau jatuh di tangan binatang,"
Dalam beberapa patah katanya itu, beruntun Toan-hong-cu menyerang enam kali.
Kaget, gusar, dan malu Jit-jit, ia terkurung sinar pedang lawan, terdesak hampir tidak mampu balas menyerang, Toan-hong-cu menyeringai, gerak pedangnya tambah berani lagi, mengusap dada, menyontek perut, menyungkit selangkangan, semua gerakan keji dan kotor.
Jit-jit merasa pedih membayangkan dirinya bakal terjatuh ke tangan orang rendah ini.
Sekujur badan sudah berkeringat, kaki tangan lemas, rasa takut merangsang benaknya, tidak kepalang rasa sedih hatinya.
Dalam pada itu si nyonya baju hijau agaknya sangat ketakutan, namun tidak lupa dia menambahi kayu kering ke dalam api unggun, asap putih lantas mengepul dan memenuhi ruangan biara.
Desing angin pedang sementara itu telah mengoyak pakaian di depan dada Jit-jit, demikian pula bagian punggungnya, wajah Jit-jit sudah pucat dan takut.
Toan-hong-cu sebaliknya tambah beringas, gerak pedangnya makin gencar, makin gila.
Tampangnya yang semula kelihatan dingin, mungkin karena kehidupan puluhan tahun yang mengharuskan dia mengekang nafsu sehingga menjadikan sifatnya yang nyentrik.
Kini nafsu berahinya yang terpendam sekian tahun telah meledak, membuatnya tersiksa dan hampir gila.
Dengan pedang buntung di tangannya dia berusaha menyalurkan nafsu yang terpendam itu, jadi bukan ingin selekasnya menundukkan Cu Jit-jit melainkan membikin nona itu meronta dan merintih, makin Jit-jit ketakutan dan menderita, makin puas hatinya dan terlampias.
Setiap manusia pasti punya nafsu yang membara, cuma cara melampiaskannya yang berbeda.
Untuk melampiaskan nafsunya, Toan-hong-cu ingin menyiksa orang, sehingga orang itu menderita.
Setiap kali bergebrak dengan musuh dan melihat musuh kesakitan, meronta dan meratap minta ampun baru dia merasa puas.
Oleh karena itu tak peduli siapa musuhnya, betapa pun tangguh lawannya, serangannya pasti ganas.
Menghadapi sorot matanya yang membara bagai binatang kelaparan, wajahnya yang mirip orang kesetanan, Jit-jit jadi gugup, hingga kaki tangan pun terasa lemas, akhirnya dia jadi nekat dan membatin.
"Begini Yang Kuasa menghukumku, biarlah aku mati saja."
Tatkala dia ambil keputusan nekat hendak menerjangkan tubuhnya ke ujung pedang lawan, pada saat itulah dilihatnya air muka Toan-hong-cu mendadak berubah, gerak pedang mendadak mengendur dan berhenti.
Hidungnya tampak mengendus-endus seperti mencium sesuatu, lalu menoleh mengawasi si nyonya berbaju hijau, sorot matanya tampak gusar dan ngeri pula, serunya dengan suara serak.
"Kau ... kau ...."
Mendadak ia mengentak kaki serta membentak.
"Tak nyana hari ini aku terjungkal di sini."
Belum habis bicara mendadak ia melompat ke atas dan jumpalitan di tengah udara terus melesat pergi, tak tersangka tenaganya seperti putus tengah jalan.
"blang" , ia terbanting jatuh menumbuk kosen jendela, caping di kepalanya terpental jatuh, badan pun terguling ke pecomberan, menggelinding dua kali, dengan pedang buntung dia menopang badan dan merangkak bangun, lalu kabur dengan cepat. Kejut dan heran Jit-jit, sesaat dia melenggong.
"Jelas dia sudah menang, kenapa melarikan diri malah dengan cara serunyam itu?"
Waktu dia menoleh, asap putih masih mengepul dari api unggun, nyonya berbaju hijau duduk kaku seperti patung di tengah asap putih yang makin melebar.
Wajahnya yang semula kelihatan welas asih kini mengulum senyuman aneh sehingga orang merasa ada semacam kekuatan gaib meliputi dirinya.
Terkesiap hati Jit-jit, ucapnya dengan suara gemetar.
"Mungkinkah ... mungkinkah dia ...."
Belum habis bicara seketika ia pun merasa kaki-tangan lemas lunglai, kepala juga pening dan pandangan gelap.
Kini dia baru sadar kenapa Toan-hong-cu melarikan diri, nyonya berbaju hijau yang kelihatan welas asih ini ternyata seorang iblis jahat, asap putih itu mengandung racun yang membius kesadaran orang.
Siapa dia?
Untuk apa dia berbuat demikian?
Tapi Jit-jit tidak sempat berpikir lagi, rasa kantuk mendadak menyerang dirinya, kelopak mata terasa berat ...
akhirnya dia rebah.
***** Waktu Jit-jit siuman, bukan saja badan terasa kering dan hangat, malah kini dia tidur di suatu tempat yang empuk, seperti tidur di gumpalan awan.
Rasa dingin, lembap, takut, dan panik sudah hilang semua, terbayang kejadian yang lalu, sungguh dia merasa seperti bermimpi buruk.
Waktu dia menoleh, dilihatnya si nyonya baju hijau tetap duduk di sebelahnya, tempat itu ternyata sebuah hotel, Jit-jit tidur di atas ranjang, nyonya berbaju hijau duduk di pinggir ranjang.
Wajahnya pulih kembali welas asih, dengan lembut dia mengelus pipi Jit-jit, dengan suara lembut dia berkata.
"Anak baik, sudah bangun, kau sakit, tidurlah lagi."
Terasa oleh Jit-jit jari orang seperti ular berbisa, ingin didorongnya, tapi tangan terasa lemas tak bertenaga.
Dia terkejut dan ingin tanya, tapi hanya bibirnya yang bergerak, suara tidak dapat keluar dari mulutnya.
Sekali ini Jit-jit betul-betul melenggong kaget.
"Perempuan siluman ini telah membuatku bisu."
Walau banyak pengalaman ngeri yang dialaminya tapi rasa takut dan ngeri sekali ini sungguh jauh lebih besar daripada yang sudah. Nyonya berbaju hijau berkata pula penuh kasih sayang.
"Coba lihat, begini pucat mukamu, pasti parah penyakitmu, lekas istirahat. Sebentar bibi akan membawamu keluar."
Jit-jit hanya bisa mengawasi, dia ingin berteriak.
"Aku tidak sakit, tidak sakit ... kau perempuan siluman ini mencelakai aku."
Tapi meski dia mengerahkan segenap tenaga tetap tidak mampu mengeluarkan suara.
Dalam keadaan mengenaskan ini, nasib selanjutnya dan apa pula yang akan menimpa dirinya sungguh tak berani dipikir lagi, dia hanya mengertak gigi supaya air mata tidak menetes.
Tapi apa pun, air mata tak tertahan lagi.
Nyonya baju hijau itu keluar sejenak, waktu datang lagi langsung ia menghampiri dan mengangkat Jit-jit, seorang pelayan hotel ikut masuk dan mengawasi Jit-jit dengan pandangan kasihan, katanya dengan menghela napas.
"Lohujin, engkau sungguh sabar dan telaten."
Nyonya berbaju hijau tertawa getir, katanya.
"Murid perempuanku ini sejak kecil sebatang kara, seorang cacat lagi, kalau bukan aku yang merawat dia, lalu siapa akan mengasuhnya .... Ai, mungkin sudah nasib, apa boleh buat."
Pelayan itu menghela napas berulang kali, katanya.
"Engkau orang tua memang baik hati."
Jit-jit tidak tahan dipandang kasihan, tak tahan pula mendengar percakapan itu.
Dadanya hampir meledak, rasanya ingin mengeremus bulat-bulat perempuan siluman ini.
Tapi apa boleh buat, lalat pun dia tidak mampu membunuhnya, terpaksa bungkam dan membiarkan apa saja yang dilakukan perempuan siluman atas dirinya.
Perempuan berbaju hijau membopongnya keluar dan dinaikkan ke punggung seekor keledai, tiba-tiba si pelayan hotel menyusul keluar, dia mengeluarkan sekeping perak, dia memburu maju serta menyisipkan uang itu ke tangan si nyonya baju hijau, katanya.
"Uang sewa kamar tak perlu bayarlah, uang ini kau bawa saja buat sangu di jalan."
Nyonya berbaju hijau kelihatan seperti terharu, katanya tersendat.
"Kau ... orang baik."
Pelayan itu juga hampir menangis, dia kucek mata terus putar kembali ke dalam hotel. Ingin rasanya Jit-jit menggampar orang baik tapi ceroboh ini, diam-diam dia mengumpat.
"Memangnya matamu buta, perempuan siluman ini kau anggap orang baik, kau ... lekaslah mampus saja biar manusia seluruh dunia ini mampus, mampus seluruhnya."
Keledai dituntun ke depan, air mata meleleh membasahi pipi Jit-jit, mau dibawa ke mana dirinya?
Apa tujuan orang membawanya pergi?
Orang di jalan banyak yang memerhatikan mereka, biasanya bila Jit-jit berada di jalan raya memang sering menarik perhatian orang banyak, untuk ini dia tidak perlu merasa heran.
Anehnya sekarang, sekali melihat dirinya, orang-orang itu lantas melengos dan tidak berani memandangnya pula.
Jit-jit ingin supaya orang memandangnya berulang kali supaya mereka tahu bahwa dirinya sedang menjadi tawanan nyonya berbaju hijau, tapi bukan saja orang-orang itu tidak tahu, malah sama melengos dengan rasa jijik.
Sungguh dongkol, heran, dan marah sekali Jit-jit, ingin dia menjatuhkan diri saja dari punggung keledai supaya mati di jalan raya, tapi nyonya berbaju hijau memapahnya dengan kencang, bergerak pun dia tidak bisa.
Entah berapa lama dari betapa jauh mereka menempuh perjalanan, yang terang matahari makin panas.
Tiba-tiba si nyonya baju hijau berkata dengan suara lembut.
"Apa kau lelah, di depan ada warung teh, nanti kita istirahat dan menangsel perut, ya?"
Makin lembut sikap nyonya berbaju hijau itu, makin benci Jit-jit, rasanya belum pernah dia membenci perempuan yang satu ini.
Warung teh itu di pinggir jalan, sudah banyak kereta kuda, warung itu penuh tamu.
Ketika melihat si nyonya baju hijau membimbing Jit-jit masuk, pandangan tetamu juga kasihan dan simpati padanya.
Sungguh Jit-jit hampir gila, jika sekarang ada orang mampu membikin dia bicara, bisa mengatakan betapa jahatnya perempuan siluman ini, disuruh berbuat apa pun dia mau.
Semula warung ini sudah tiada tempat kosong, tapi begitu mereka masuk, beberapa orang segera merelakan tempatnya, seakan-akan orang-orang itu merasa kasihan dan simpati terhadap nyonya tua yang welas asih ini.
Dalam hati Jit-jit berharap Sim Long mendadak muncul, tapi manusia sebanyak ini, mana ada bayangan Sim Long, dalam hati dia mengumpat, wahai Sim Long, di manakah kau mampus, memangnya kau sudah minggat dan tidak menghiraukan diriku lagi?
Mungkin ada perempuan lain yang memikatmu?
Kau bangsat keji, kau tega meninggalkan aku.
Menghadapi keadaan ini, dia lupa bahwa dia sendiri yang meninggalkan Sim Long, bukan Sim Long yang meninggalkan dia.
Bila perempuan gusar pada orang lain, biasanya memang mau menang sendiri, bila orang itu adalah lelaki yang dicintainya, alasan apa pun jangan harap dapat membuatnya mengerti.
Mendadak sebuah kereta besar ditarik dua ekor kuda berlari datang dan berhenti di depan warung, kudanya kuda pilihan, keretanya juga bercat baru hingga mengilap.
Sais mengayun cemeti, tangan yang lain menarik tali kendali, lagaknya dibuat-buat.
Sikapnya garang.
Banyak tamu dalam warung berkerut kening, pikir mereka.
"Yang menumpang kereta ini besar kemungkinan orang kaya mendadak."
Tampak sais kereta melompat turun, dengan sikap hormat ia membuka pintu kereta.
Dari dalam kereta terdengar orang batuk-batuk beberapa kali, lalu keluar seorang dengan perlahan, tingkahnya memang tidak ubahnya sebangsa orang yang baru kaya.
Badannya yang tambun justru mengenakan pakaian ketat warna cokelat, baju yang pantasnya dipakai orang yang tiga puluh kati lebih kurus daripada dia.
Jilid 9 Usianya sudah mendekati setengah abad, tapi berdandan seperti pemuda bangsawan atau anak pembesar, tangan kiri menjinjing sangkar burung kenari, tangan kanan memegang pipa tembakau, sabuknya emas dengan beberapa kantong bersulam tergantung di pinggang, seakan khawatir orang tidak tahu dirinya kaya, maka kantong yang penuh berisi uang itu semua terbuka tutupnya hingga logam kuning kelihatan gemerlapan.
Orang banyak memang dapat melihat tingkah lakunya, tapi semua orang hampir muntah karena mual terhadap laki-laki gendut berbau tengik ini, celakanya di belakangnya ikut keluar seorang gadis berbaju putih yang cantik bagai bidadari, seperti burung dara saja lengket di samping si gendut.
Kalau si gendut memuakkan, gadis ini bak teratai yang tumbuh di dalam lumpur, cantik sekali, terutama sikapnya yang seperti minta dikasihani, lelaki mana pun akan tergiur.
Melihat kedua orang ini, sungguh senang Jit-jit bukan main.
Kiranya lelaki tambun ini bukan lain ialah Keh-pak-bwe, gadis jelita itu jelas adalah Pek Fifi yang pantas dikasihani.
Melihat Pek Fifi kembali terjatuh ke tangan Keh-pak-bwe, mau tak mau hati Jit-jit jadi sedih dan kasihan, tapi dalam keadaan seperti sekarang ini, setiap melihat orang yang dikenalnya, dirasakan seperti kedatangan penolong yang akan membebaskan dirinya.
Waktu itu kebetulan ada sebuah meja kosong di sebelah kiri Cu Jit-jit, Keh-pak-bwe dengan langkah dibuat-buat membawa Pek Fifi berduduk di meja itu, kebetulan duduk di depan Cu Jit-jit.
Jit-jit berharap dan menunggu Pek Fifi akan angkat kepala, malah ia pun berharap Keh-pak-bwe akan melihat dirinya, maka ia melotot mengawasi kedua orang ini hingga lama, sampai mata terasa pegal.
Akhirnya Pek Fifi angkat kepala, Keh-pak-bwe juga memandangnya sekejap.
Tapi sekali pandang laki-laki kikir yang suka menggasak uang orang ini seketika mengunjuk rasa jijik, dia meludah ke samping terus melengos ke arah lain.
Demikian pula sorot mata Pek Fifi juga mengunjuk rasa kasihan, tapi dia diam saja seperti tidak mengenalnya, tidak tersenyum, tidak mengangguk atau menyapa.
Keruan Jit-jit heran, marah, dan kecewa, kalau Keh-pak-bwe bersikap tak acuh kepadanya masih dapat dimaklumi, tapi Pek Fifi, apakah dia tidak kenal budi?
Akhirnya dia hanya menghela napas, batinnya.
"Sudahlah, manusia di dunia ini memang banyak yang tidak tahu balas budi, apa gunanya aku hidup di dunia ini?"
Sungguh ia kecewa dan putus asa, tekad untuk mati makin menggelora dalam sanubarinya. Didengarnya si nyonya baju hijau berkata kepadanya.
"Anak baik, kau dahaga, minumlah teh ini."
Jit-jit berpikir.
"Cara lain untuk membunuh diri tidak ada, biar aku mogok makan minum saja."
Air teh yang dituang ke mulutnya kontan disemburkan ke atas meja.
Air teh berceceran di atas meja yang mengilap sehingga mirip sebuah cermin.
Tanpa terasa Jit-jit menunduk, mendingan dia tidak melihat permukaan meja, karena apa yang dilihat pada permukaan meja seketika membekukan darahnya.
Dengan air teh yang tumpah di atas meja, dia dapat bercermin melihat muka sendiri, dilihatnya wajah yang kelihatan bukan lagi wajah cantik molek dulu, tapi seraut wajah yang tak keruan bentuknya, hidung yang semula mancung sekarang berubah jadi peyot, bibir yang tipis mungil kini berubah merot, muka yang halus kini berubah kisut, wajah yang cantik seperti bidadari dahulu sekarang lebih mirip hantu.
Sungguh tidak kepalang kaget Jit-jit, remuk redam hatinya.
Umumnya orang perempuan memandang kecantikan melebihi jiwa sendiri, bahwa wajah yang dulu begitu ayu kini rusak jadi begini, betapa luluh perasaannya, ia membatin.
"Pantas sepanjang jalan orang yang melihat aku sama merasa jijik dan keheranan, tak heran pula Pek Fifi jadi tidak mengenalku lagi ...."
Sekarang dia ingin menggembor, ingin menangis, ingin mati pun sukar terlaksana, mendadak dia mengertak gigi dan menumbuk meja sekuatnya.
"Brak, prang!"
Meja ambruk, cangkir piring dan perabot lainnya sama berantakan, Jit-jit juga jatuh terguling di lantai, menggelinding di antara pecahan beling.
Tetamu menjadi panik, si nyonya baju hijau tampak gugup dan kerepotan, Pek Fifi dan beberapa orang lain memburu datang membantu si nyonya untuk memapah Jit-jit.
Seorang menghela napas dan mengawasi dia, katanya.
"Nona, lihatlah betapa sabar dan kasih sayang orang tua ini merawat dan menjagamu, kau harus turut nasihatnya, jangan lagi berbuat hal-hal yang mendatangkan kesulitan bagi beliau dan juga untuk dirimu sendiri."
Ternyata si nyonya baju hijau sedang mencucurkan air mata, katanya.
"Sejak kecil keponakanku ini memang sudah cacat, dasar nasibnya jelek, dilahirkan dalam keadaan seperti ini, maklum bila wataknya juga rada pemberang, jangan kalian salahkan dia."
Hadirin menggeleng kepala mendengar ucapan si nyonya, banyak pula yang menghela napas, semua bersimpati padanya.
Jit-jit dipapah duduk kembali di atas kursi, mau menangis juga tak keluar air mata.
Siapa pula yang tahu betapa sengsara dan tersiksa hatinya?
Siapa pula akan tahu betapa jahat dan keji tujuan si nyonya berbaju hijau, siapa pula yang dapat menolong dirinya?
Ia benar-benar putus asa, umpama Sim Long sekarang berdiri di depannya juga tidak akan mengenalnya lagi, apalagi orang lain, jangan harap orang lain akan menolongnya.
Pek Fifi mengeluarkan saputangan untuk mengusap air mata di pipi Jit-jit, katanya perlahan.
"Cici, jangan menangis, walau kau ... walau kau dihinggapi penyakit, tapi ... tapi ada sementara gadis yang berparas cantik hidupnya justru lebih menderita daripadamu ...."
Gadis lemah ini agaknya teringat akan nasib sendiri, tak tertahan lagi air matanya meleleh. Dengan sesenggukan dia berkata pula.
"Apa pun engkau masih ada yang merawat dan memerhatikan dirimu seperti bibi ini, sebaliknya aku ... aku ...."
Mendadak Keh-pak-bwe membentak.
"Fifi, lekas kembali!"
Bergetar badan Pek Fifi, seketika mukanya pucat, cepat ia mengusap air mata, diam-diam ia melolos sebuah peniti bermutiara dan disisipkan ke tangan si nyonya baju hijau, lalu lari balik ke sana.
Nyonya baju hijau itu melenggong mengawasi bayangan punggungnya, gumamnya sambil menghela napas.
"Nona yang baik hati, semoga Thian selalu melindungimu."
Suara lembut yang penuh kasih sayang, wajah yang arif bijaksana, sungguh seorang tua yang terpuji.
Tapi siapa tahu di balik wajahnya yang baik itu tersembunyi sebuah hati yang jahat, hati iblis.
Cu Jit-jit menatapnya, air matanya hampir berubah menjadi darah.
Dia teringat kepada Ong Ling-hoa dan Toan-hong-cu, meski kedua orang ini rendah dan kotor, keji dan culas, tapi dibandingkan nyonya ini, mereka masih terhitung orang baik.
Kini wajah sendiri sudah rusak, jiwa-raganya tergenggam di tangan si iblis, kecuali ingin lekas mati, harapan apa lagi yang didambakannya?
Dengan keras dia mengertak gigi, sebutir nasi pun tidak mau makan, setetes air pun tidak mau minum.
***** Ketika malam tiba, di bawah bantuan pelayan hotel yang simpatik dan berkasihan, nyonya baju hijau memasuki sebuah kamar yang terletak di pojok barat, tempat yang sepi serta tenang.
Perut Jit-jit sudah keroncongan, tenggorokan kering, baru sekarang dia tahu kelaparan adalah siksaan yang tidak enak, tapi dahaga lebih menyiksa lagi, lehernya seperti dibakar.
Setelah mengantar minuman, pelayan hotel keluar sambil menghela napas, akhirnya tinggal Jit-jit dan si nyonya berbaju hijau, iblis jahat itu berdiri di depan Jit-jit dan menatapnya.
Mendadak si nyonya menjambak rambutnya, katanya dengan menyeringai.
"Budak busuk, kau tidak mau makan minum, memangnya ingin mampus?"
Mendadak Jit-jit membuka matanya, dengan penuh kebencian dia tatap orang, walau mulut tidak mampu bicara, tapi sorot matanya menampilkan tekad ingin mati saja.
"Setelah terjatuh di tanganku, ingin mampus? ... hehehe, tidak begitu gampang. Kukira lebih baik kau tunduk dan menurut saja, kalau tidak ...."
Mendadak tangannya melayang pulang-balik, muka Jit-jit ditamparnya. Memangnya sudah benci dan nekat, Jit-jit tetap menatapnya dengan mendelik. Sorot matanya yang penuh dendam seperti mau bilang.
"Aku bertekad akan mati, apa pula yang kutakutkan? Mau pukul mau bunuh boleh kau lakukan."
Si nyonya menyeringai pula, katanya.
"Budak busuk, tak nyana watakmu sebandel ini, kau tidak takut ya? .... Baik, ingin kubuktikan apa kau takut tidak."
Waktu mengucapkan kata terakhir, mendadak suaranya berubah logat seorang lelaki, kedua tangan terus meraih paha Jit-jit.
Walau sudah terbuktikan nyonya baju hijau ini berhati keji, jahat dan culas, tapi mimpi pun tidak terbayang oleh Jit-jit bahwa perempuan ini samaran seorang lelaki.
"Bret", tahu-tahu si "nyonya"
Merobek pakaian Jit-jit, sebelah tangannya lantas meraba dada Jit-jit yang hangat.
Air mata bercucuran, badan Jit-jit bergetar keras, meski tidak takut mati, mana bisa dia tidak ngeri bila dirinya dijamah dan dihina oleh tangan kotor iblis laknat ini.
Nyonya baju hijau itu tertawa terkial-kial, katanya.
"Sebetulnya aku ingin melayanimu dengan baik, akan kuantarkan ke suatu tempat untuk hidup bahagia, tapi kau tidak tahu kebaikan, terpaksa aku mencicipi dulu keindahan tubuhmu ...."
Badan Jit-jit masih di bawah remasan tangan si iblis, dadanya yang putih kenyal itu kini sudah mulai bersemu merah karena belaian jari jemari iblis itu.
Jit-jit tidak bisa menghindar, juga tidak dapat melawan, ingin marah pun tidak mampu, sorot matanya hanya menampilkan rasa mohon belas kasihan.
Nyonya berbaju hijau tertawa senang, katanya.
"Kau takut sekarang?"
Dengan menahan duka dan marah, dengan penasaran Jit-jit mengangguk.
"Selanjutnya kau mau tunduk dan menurut perintahku?"
Desak si nyonya.
Di bawah cengkeraman tangan iblis, apa yang bisa dilakukan Jit-jit kecuali mengangguk.
Wataknya keras, sejak kecil sudah biasa mengumbar adat, tapi berada di tangan iblis ini, terpaksa dia tunduk dan patuh.
"Bagus, kan begitu seharusnya,"
Si nyonya tertawa. Suaranya berubah pula, berubah lembut, perlahan dia mengusap muka Jit-jit, katanya.
"Anak sayang, bibi akan keluar sejenak, segera aku kembali."
Iblis ini ternyata memiliki dua wajah dan dua suara.
Hanya dalam sekejap dia bisa berubah menjadi seorang lain.
Jit-jit hanya bisa mengawasi orang keluar dan menutup pintu, ia tak tahan lagi dan menangis.
Terhadap nyonya ini sungguh ia sangat takut, meski si nyonya keluar, tapi dia tidak berani sembarang bergerak, hanya ingin melampiaskan rasa takut, duka, marah, putus asa dan terhina lewat air matanya yang tak terbendungkan lagi.
Air mata membasahi pakaian, bantal dan selimut, dia terus menangis dan menangis sampai lemas dan tanpa terasa dia tertidur lelap.
***** Di tengah mimpinya mendadak terasa angin dingin meniup dadanya, Jit-jit kedinginan dan terjaga dari tidurnya.
Waktu ia membuka mata, pintu sudah terbuka, iblis jahat itu sudah pulang.
Di bawah ketiaknya mengempit sebuah bungkusan besar panjang, setelah menutup pintu, perlahan dia turunkan buntelan besar itu di atas ranjang, katanya dengan tertawa.
"Anak baik, nyenyak tidak tidurmu?"
Melihat senyumnya, mendengar suaranya, kembali gemetar badan Jit-jit, kalau senyum dan suaranya sejelek dan sejahat hatinya masih mending, makin ramah dan welas asih senyum dan suaranya semakin mengerikan baginya.
Waktu Jit-jit menoleh ke sana, kembali perasaannya seperti diguyur air dingin.
Buntelan besar itu ternyata berisi seorang gadis berbaju putih, tampak pipinya merah jambu, pelupuk matanya terpejam, tidur pulas dengan senyum dikulum, siapa lagi kalau bukan Pek Fifi.
Fifi yang harus dikasihani ternyata juga jatuh ke tangan iblis laknat ini.
Dengan gemas Jit-jit pandang si nyonya, sorot matanya diliputi rasa dendam dan benci.
Kalau sorot matanya dapat dibuat membunuh orang, entah berapa kali nyonya berbaju hijau itu akan mampus di bawah tatapan matanya.
Tampak orang itu mengeluarkan sebuah kantong kulit hitam, dari dalam kantong dikeluarkan sebilah pisau kecil tipis dan sebuah kaitan yang mengilat, sebuah jepitan, sebuah sendok, sebuah gunting, tiga botol porselen kecil dan ada lagi lima macam peralatan yang tidak diketahui namanya seperti setrika mini, serupa mainan anak-anak saja.
Cu Jit-jit tidak tahu untuk apa peralatan itu, dia mengawasi dengan terkesima.
"Anak baik,"
Ujar si nyonya.
"kalau kau tidak takut mati kaget, boleh kau menonton dari samping, kalau tidak, bibi menasihatimu memejamkan mata saja."
Segera Jit-jit memejamkan mata, didengarnya si nyonya berkata.
"Kau memang anak baik ...."
Selanjutnya didengarnya suara gemerencing alat-alat yang bersentuhan, suara membuka tutup botol, suara gunting bekerja, suara tepukan perlahan ....
Berhenti sejenak lalu terdengar si nyonya meniup berulang kali, lalu pisau mengiris sesuatu diselingi rintihan perlahan Pek Fifi.
Di tengah malam sunyi, semua suara itu terdengar dengan mengerikan, selain takut Jit-jit juga heran dan tertarik, tak tahan lagi, diam-diam ia mengintip ke sana.
Sayang nyonya baju hijau itu berdiri mungkur mengalangi pandangannya, kecuali terlihat kedua tangannya sibuk bekerja, bagaimana keadaan Fifi dan apa yang sedang dilakukan si nyonya baju hijau, sama sekali tidak terlihat.
Terpaksa ia memejamkan mata pula, kira-kira sepemasakan air, terdengar pula gemerencing alat-alat, suara botol ditutup, kantong diikat.
Terakhir nyonya itu menghela napas lega dan berucap.
"Sudah selesai."
Waktu Jit-jit membuka mata dan memandang ke sana, seketika ia melongo.
Nona jelita Pek Fifi yang berwajah cantik itu kini sudah berubah menjadi seorang perempuan setengah umur dengan rambut beruban, bermuka burik, alis tipis, hidung pesek dan bibir tebal, jeleknya sukar dilukiskan.
Nyonya itu tertawa senang, katanya.
"Bagaimana dengan kepandaian operasi bibi? Kini umpama ayah-bunda bocah ini berada di depannya juga tidak mengenalnya lagi."
Sudah tentu Jit-jit tidak mampu bicara.
Nyonya berbaju hijau tertawa riang pula, dia membelejeti pakaian Pek Fifi, sebentar saja nona itu sudah telanjang bulat.
Di bawah penerangan lampu badan Pek Fifi mirip domba yang akan disembelih, meringkuk di tempat tidur, sungguh kasihan, tapi juga menarik.
"Sungguh dara jelita yang mengagumkan ...."
Kata nyonya berbaju hijau dengan tertawa.
Serasa meledak kepala Jit-jit, mukanya merah panas, lekas dia pejamkan mata lagi, mana berani menonton lebih lanjut.
Waktu dia membuka mata pula, si nyonya sudah memberi pakaian kasar rombeng warna hijau kepada Fifi, kini anak dara itu betul-betul telah berganti rupa.
Nyonya berbaju hijau tertawa bangga, katanya.
"Terus terang, bila kau tidak menyaksikan sendiri, dapatkah kau percaya bahwa nyonya buruk di depanmu ini adalah gadis jelita yang kasihan itu?"
Rasa gusar kembali membakar hati Jit-jit, malu dan menyesal pula, kini baru dia tahu bagaimana proses dirinya waktu mukanya dipermak menjadi sejelek setan ini, jalannya operasi tentu sama dengan Pek Fifi tadi.
Dalam hati dia membatin.
"Asal aku tidak mati, akan datang suatu hari akan kupotong kedua tanganmu, mengorek kedua bola matamu yang pernah melihat badanku, supaya selama hidupmu tak dapat lagi melihat dan meraba, biar kau rasakan betapa sengsara orang hidup tersiksa."
Bila dendam membara, keinginan untuk hidup lantas menggelora, dalam hati dia bersumpah apa pun yang terjadi dia harus bertahan hidup, peduli siksa derita apa pun yang akan dialaminya, dia tidak mau mati secara penasaran.
Nyonya itu masih terus tertawa riang, katanya.
"Tahukah kau, bicara tentang ilmu tata rias kecuali ajaran Hun-bong-siancu dulu, kuyakin tiada orang kedua lagi di dunia ini yang mampu menandingi bibimu ini."
Mendadak tergerak hati Jit-jit, teringat olehnya kemahiran Ong Ling-hoa, pemilik perusahaan "Ong-som-ki"
Yang juga pandai ilmu rias itu, rasanya dia tidak lebih asor daripada perempuan ini. Dalam hati dia membatin.
"Mungkinkah Ong Ling-hoa keturunan Hun-bong-siancu? Apakah nyonya setengah umur berdandan seperti permaisuri dengan kepandaian yang mahatinggi itu adalah Hun-bong-siancu?"
Sungguh ia ingin memberitahukan penemuannya ini kepada Sim Long, tapi selama hidupnya ini apakah dapat bertemu pula dengan Sim Long, harapannya terlalu kecil, dia hampir tidak berani mengharapkannya lagi.
***** Hari kedua pagi-pagi mereka bertiga melanjutkan perjalanan.
Jit-jit tetap menunggang keledai, sebelah tangan si nyonya menuntun keledai dan tangan yang kiri menggandeng Pek Fifi.
Fifi dapat berjalan, karena si "nyonya"
Tidak membikin lumpuh badannya, sebab ia tahu gadis lemah ini tidak bakal melawan.
Cu Jit-jit tidak berani memandang Pek Fifi, dan tidak ingin melihat Pek Fifi yang sedang menangis dan juga tampak takut dan ngeri itu.
Maklum, kalau Jit-jit yang berwatak keras saja ketakutan, apalagi gadis lembut dan penurut seperti Pek Fifi, meski tidak dipandang juga dapat dimaklumi Jit-jit.
Tapal keledai berdetak, air mata bercucuran, debu beterbangan tertiup angin menyampuk muka, sorot mata orang lalu yang menaruh belas kasihan, semua itu terjadi serupa kemarin.
Perjalanan yang bisa membuat orang gila ini entah akan berakhir kapan?
Siksa derita yang tidak tertahankan ini apakah tidak akan berakhir?
Mendadak sebuah kereta besar berkabin muncul dari depan.
Kereta ini tiada bedanya dengan kereta umum yang lewat di jalan raya ini, kuda penarik kereta tampak kurus, sudah tua dan lelah.
Tapi yang menjadi kusir kereta ternyata adalah Kim Bu-bong yang tindak tanduknya serbamisterius, yang duduk di samping Kim Bu-bong dengan gagah, siapa lagi kalau bukan Sim Long.
Jantung Cu Jit-jit seperti hendak melompat keluar, tidak kepalang rasa girangnya.
Seketika kepala terasa pening, pandangan juga kabur, air mata tidak terbendung lagi.
Dengan sepenuh hati dia ingin berteriak.
"Sim Long ... Sim Long ... tolong aku ....!"
Sudah tentu Sim Long tidak dapat mendengar suara hatinya, anak muda ini hanya memandang Jit-jit sekejap, kelihatan menghela napas, lalu menoleh ke arah lain.
Kereta itu berjalan lambat karena keledai penarik kereta terlalu lelah dan berlari ogah-ogahan.
Sungguh cemas, gemas dan benci hati Cu Jit-jit, hampir gila rasanya.
Hatinya seperti dirobek-robek, keluhnya.
"Sim Long, O, Sim Long ... tolonglah ... pandanglah diriku, aku inilah Cu Jit-jit yang merindukanmu siang dan malam, apakah kau tidak mengenalku lagi?"
Dia rela mengorbankan apa pun asal Sim Long dapat mendengar jeritan hatinya, tapi sayang, Sim Long tidak mendengar apa pun.
Siapa pun tidak menduga mendadak si nyonya berbaju hijau malah mencegat kereta yang datang dari depan, tangan disodorkan sambil meratap.
"Tuan yang membawa kereta, sudilah memberi sedekah menolong kaum sengsara ini, Thian pasti akan memberkahi kalian panjang umur dan banyak rezeki."
Sim Long mengunjuk rasa heran, ia heran nyonya ini bisa mengadang kereta dan minta sedekah.
Siapa tahu Kim Bu-bong lantas merogoh saku dan menyisipkan selembar uang ke tangannya.
Jit-jit melototi Sim Long, hampir saja dia meneteskan darah.
Hatinya meratap juga mengumpat.
"Sim Long, O, apa betul kau tidak mengenalku lagi, kau jahat, tidak tahu budi, keparat yang tidak punya hati, sekilas pun kau tidak sudi memandangku lagi."
Sim Long memang tidak lagi memandangnya, perhatiannya hanya tertuju kepada nyonya berbaju hijau dan Kim Bu-bong. Nyonya berbaju hijau sedang bergumam.
"Orang yang berhati baik, Thian pasti membalas kebaikanmu."
Wajah Kim Bu-bong tetap kaku, tidak mengunjuk sesuatu perasaan, cemeti diayun.
"tar" , kereta berjalan pula. Runtuh rasanya seluruh raga Jit-jit, walau dia tahu jelas Sim Long tidak mungkin mengenalnya, tapi sebelum bertemu dengan Sim Long, dalam hatinya masih terbetik setitik harapan, dan harapan itu akhirnya juga nihil. Roda kereta gemeretak di jalan raya, makin lama makin jauh, membawa pergi segala harapannya, kini dia benar-benar tahu bagaimana rasanya putus asa, sungguh perasaan yang aneh. Kini hatinya tidak lagi sedih, tidak marah, tidak takut, dan tidak menderita, segenap jiwa raganya sekarang seperti sudah mati rasa. Hanya kegelapan yang terbentang di depannya, tiada sesuatu yang dapat dilihatnya, tiada yang bisa didengarnya lagi, mati rasa ini seperti menyeluruh, mungkin inilah perasaan putus asa total. Jalan raya ini sangat ramai, orang bersimpang-siur, ada yang riang gembira, ada pula yang sedih, ada yang berjalan dengan enteng dan cepat, ada pula yang melangkah dengan berat dan seperti hendak mencari sesuatu, ada pula yang ingin melupakan .... Tapi siapakah yang dapat benar-benar merasakan putus asa? Kereta yang ditunggangi Sim Long dan Kim Bu-bong sudah ratusan tombak jauhnya. Angin dingin mencambuk muka, lekas Sim Long menarik turun topi beledunya yang mahal tapi sudah butut itu, tanpa menghiraukan Kim Bu-bong, dia menguap dan mementang kedua tangan, gumamnya.
"Tiga hari ... sudah tiga hari tanpa menemukan apa-apa, tiada yang kulihat, padahal waktu yang ditentukan sudah makin dekat ...."
"Ya, benar, mungkin sudah tiada harapan lagi,"
Ujar Kim Bu-bong. Tersimpul senyum kemalasan di wajah Sim Long, katanya.
"Tiada harapan? .... Kurasa harapan tetap ada."
"Benar, tiada persoalan apa pun di dunia ini yang dapat membuatmu putus asa."
"Tahukah kau apa harapan satu-satunya yang kudambakan?"
Berhenti sejenak karena Kim Bu-bong tidak menjawab, lalu Sim Long melanjutkan.
"Harapan kita satu-satunya hanya pada Cu Jit-jit, dia lenyap seperti ditelan bumi, tentu karena dia menemukan sesuatu rahasia, dia gadis yang tinggi hati dan keras kepala .... Dia ingin seorang diri menyelidiki rahasia itu, maka diam-diam dia minggat. Kalau tidak, biasanya ia tidak suka pergi sendirian."
"Benar, pikiran siapa pun tak bisa mengelabui kau, apalagi isi hati Cu Jit-jit,"
Ujar Kim Bu-bong. Sim Long menghela napas, ujarnya.
"Tapi sudah tiga hari kita tak berhasil menemukan dia, pasti dia sudah jatuh ke tangan musuh, kalau tidak, menuruti wataknya, di mana pun berada dia pasti menarik perhatian orang, sedikit banyak kita bisa mencari tahu tentang dia."
Mendadak Sim Long tertawa dan memotong.
"Aku bicara panjang lebar, beruntun empat kali kau jawab benar, jangan-jangan kau sedang memikirkan sesuatu ... padahal tidak perlu kau jawab."
Lama Kim Bu-bong termenung, perlahan dia menoleh ke arah Sim Long dan menatapnya dengan tajam, katanya kemudian.
"Tebakanmu memang benar, saat ini aku memang sedang memikirkan sesuatu, tapi soal apa yang kupikirkan? Dapat kau terka?"
Sim Long tertawa.
"Mana bisa kuterka ... aku hanya heran."
"Heran apa?"
"Di tengah jalan bertemu dengan seorang nyonya yang tidak dikenal, tapi sekali rogoh saku kau beri selembar uang senilai selaksa tahil kepadanya, apakah ini tidak patut diherankan?"
Kim Bu-bong berdiam pula, ujung mulutnya mengulum senyum, katanya kemudian.
"Apakah tiada sesuatu kejadian di dunia ini dapat mengelabui matamu?"
"Ya, memang tidak banyak."
"Bukankah kau pun seorang yang murah hati?"
"Betul, kalau aku punya uang selaksa tahil dan melihat orang yang harus dikasihani, pasti juga akan kuberikan selaksa tahil padanya."
"Cocok kalau begitu."
Sim Long menatapnya, katanya.
"Tapi aku ini berasal dari keluarga yang miskin, sebaliknya kau bukan, kelihatannya kau bukan orang yang suka merogoh kantong memberi sedekah kepada orang miskin, kenapa nyonya itu tidak minta sedekah kepadaku atau kepada orang lain, dia justru minta kepadamu."
Kepala Kim Bu-bong menunduk, gumamnya.
"Apa pun tak dapat mengelabui kau ... apa pun tidak bisa mengelabui kau ...."
Mendadak dia angkat kepala, sikapnya kembali dingin dan kaku, suaranya pun berat.
"Betul, dalam hal ini memang ada segi yang patut diherankan dan menarik perhatian, tapi aku tidak bisa menjelaskan."
Pandangan mereka beradu, keduanya sama bungkam, akhirnya Sim Long tersenyum.
"Senyummu kelihatan aneh,"
Kata Kim Bu-bong.
"Rahasia hatimu, meski tidak kau katakan, dapat juga kuterka."
"Kalau bicara jangan terlalu yakin."
"Bagaimana kalau aku menebaknya."
"Boleh saja kau tebak, urusan lain mungkin bisa kau tebak, tapi soal ini ...."
Sampai di sini dia menahan perkataannya, sebab kelanjutannya dikatakan atau tidak tetap sama.
Kereta keledai ini masih terus maju perlahan, Sim Long mengawasi debu yang mengepul di kaki kuda, katanya pula.
"Sejak berkenalan denganku, persoalan apa pun tiada yang kau rahasiakan, hanya soal ini ... soal ini pasti besar sangkut pautnya dengan dirimu, hal ini tidak perlu kutanyakan juga dapat diketahui?"
"Ya ...."
Kim Bu-bong tetap tenang.
"Bila soal ini ada sangkut pautnya dengan dirimu, kuyakin pasti besar pula sangkut pautnya dengan Koay-lok-ong ...."
Kelihatannya dia memerhatikan debu, padahal setiap perubahan sikap dan gerakan Kim Bu-bong tidak terlepas dari pengamatannya, sampai di sini air muka Kim Bu-bong benarlah mulai ada perubahan.
Segera Sim Long berkata pula.
"Karena itu, menurut pendapatku, nyonya yang harus dikasihani itu pasti juga ada hubungan dengan Koay-lok-ong, sikapnya yang kasihan itu mungkin hanya pura-pura belaka."
Sampai di sini dia tidak melanjutkan lagi, ia menatap wajah Kim Bu-bong, bibir orang kelihatan terkancing rapat, kulit mukanya juga dingin.
Kereta terus maju, angin dingin menampar muka, kedua orang ini saling tatap, masing-masing sama ingin menyelami isi hati lawan.
Dari air muka Sim Long agaknya Kim Bu-bong ingin menebak ada berapa banyak yang diketahuinya?
Sebaliknya dari perubahan air muka Kim Bu-bong juga Sim Long ingin tahu ada berapa banyak yang diketahuinya?
Kereta itu maju ratusan tombak pula.
Akhirnya air muka Kim Bu-bong yang dingin beku itu mulai cair.
Hati Sim Long tergerak, namun dia menahan perasaannya, karena dia tahu inilah detik-detik yang menentukan.
Ia tahu bila dirinya tak tahan dan buka suara, maka jangan harap lagi Kim Bu-bong akan mau bicara.
Akhirnya Kim Bu-bong buka suara.
Setelah menarik napas panjang, lalu berkata.
"Betul, nyonya itu memang murid Koay-lok-bun."
Sim Long tidak mau membuang kesempatan, tanyanya segera.
"Di bawah Koay-lok-ong kau bertugas pemegang uang, kedudukanmu tinggi dan penting tapi hanya sedikit mengangguk kepala perempuan itu dapat minta sekian banyak uang darimu, jelas kedudukannya tidak di bawahmu, lantas siapakah dia? Apakah salah satu dari duta besarnya? Tapi mengapa dia seorang perempuan?"
Setiap patah katanya laksana cemeti, begitu deras ia melecut sehingga Kim Bu-bong tidak diberi kesempatan berganti napas karena setiap patah pertanyaan ini tepat mengenai sasarannya.
Kim Bu-bong tidak berani menatap sorot mata Sim Long, ia diam sejenak, mendadak dia balas bertanya.
"Tahukah kau kecuali Hun-bong-siancu yang mahir ilmu tata rias yang diakui nomor satu di dunia ini, masih ada orang atau perguruan lain yang juga mahir?"
Sim Long berpikir sejenak, katanya kemudian.
"Ilmu tata rias sebetulnya tidak terlingkup dalam ilmu silat, seorang yang lihai dan nomor satu ilmu tata riasnya belum tentu seorang pesilat kenamaan ...."
Mendadak dia menepuk paha dan berteriak tertahan.
"Aha, apakah maksudmu Suto dari Sancoh?"
Kim Bu-bong tidak angkat kepalanya, juga tidak bersuara, tapi mengayun pecut menyabat pantat kuda sekeras-kerasnya, namun kuda penarik kereta ini sudah tua dan kurus, betapa pun keras dia memukulnya tetap tak bisa berlari lagi.
Terpancar rasa senang dan bergairah pada sinar mata Sim Long, katanya.
"Keluarga Suto bukan saja terkenal menguasai ilmu tata rias yang luar biasa, malah juga mahir Ginkang, Am-gi dan obat bius, demikian pula dalam hal kepandaian urut-mengurut, semuanya berada pada tingkat paling tinggi. Kebesaran nama keluarga mereka dahulu hanya sedikit lebih asor daripada Hun-bong-siancu. Berita yang tersiar di kalangan Kangouw belakangan ini mengatakan keluarga Suto mulai runtuh karena banyak melakukan kejahatan sehingga mendapat kutukan Thian, namun di antara anggota keluarganya masih ada juga yang hidup di dunia ini. Berdasarkan nama kebesaran dan kepandaian mereka, bila masuk ke dalam lingkungan Koay-lok-bun, kuyakin dapat menduduki jabatan salah satu keempat duta besarnya."
Kim Bu-bong tetap membungkam. Sim Long bergumam pula.
"Kalau aku menjadi Koay-lok-ong, bila ada sanak keluarga Suto mau masuk ke perguruanku, maka kedudukan atau jabatan apa yang akan kuserahkan kepadanya ...."
Air mukanya semakin cerah dan tampak bercahaya, sambungnya.
"Keluarga Suto tidak gemar arak, Duta Harta sudah diduduki orang ... kukira manusia Suto itu bukan jenis lelaki yang suka berkelahi dan bernyali besar, tapi jika anak murid Suto disuruh mengoleksi gadis-gadis cantik di seluruh jagat ini, kurasa tiada orang lain lagi yang lebih tepat, betul tidak?"
Dengan suara dingin Kim Bu-bong menjawab.
"Apa pun tidak pernah kukatakan, semua itu kau sendiri yang menebaknya."
Berkilau sinar mata Sim Long, lama dia pandang angkasa, lalu berkata.
"Kalau aku menjadi murid keluarga Suto, cara bagaimana aku akan mengoleksi gadis-gadis cantik di dunia ini untuk Koay-lok-ong? Cara bagaimana aku akan menunaikan kewajiban? ...."
Perlahan dia mengangguk, lalu meneruskan.
"Ya, pertama aku sendiri sudah tentu harus menyamar menjadi seorang perempuan, dengan demikian kesempatan untuk bercengkerama dengan gadis-gadis akan jauh lebih banyak."
Sorot mata Kim Bu-bong mulai memancarkan rasa kagum. Sim Long berkata lebih lanjut.
"Gadis yang berhasil kuculik, untuk membawanya keluar perbatasan sejauh itu jelas kurang leluasa, maklum gadis cantik umumnya pasti menarik perhatian orang banyak, tapi kalau aku mahir tata rias, dengan mudah bisa saja kurias gadis cantik itu menjadi nenek reyot atau perempuan apa saja yang buruk rupanya sehingga sekilas pandang cukup membuat orang jijik, kalau aku khawatir gadis itu berontak dan tidak tunduk pada perintahku, akan kucekok dia sejenis obat sehingga sepanjang jalan dia tidak bisa bicara atau ribut lagi."
Kim Bu-bong menarik napas panjang, sesaat dia menoleh dan memandang bocah yang tidur pulas di kabin kereta, ia bergumam.
"Kelak kalau bocah ini bisa memiliki setengah kepandaian Sim-siangkong sudah lebih dari cukup."
Rupanya sepanjang hari bocah itu bekerja berat dan keletihan, kini tidurnya pulas sekali, tentu saja tidak mendengar ucapannya.
Padahal meski kata-katanya ditujukan kepada si bocah, tapi secara tak langsung dia seperti mau berkata.
"Sim Long, kau memang cerdik, semua rahasia ini telah kau tebak dengan betul."
Sudah tentu Sim Long merasakan juga pengakuan dari ucapannya yang tidak langsung ini, katanya dengan tersenyum.
"Putar kembali!"
"Kembali?"
Kim Bu-bong berkerut kening.
"Dua gadis yang berada di sampingnya itu, pasti gadis dari keluarga baik-baik, apa tega aku melihat mereka jatuh ke dalam cengkeramannya?"
Mendadak Kim Bu-bong tertawa dingin, kembali ia menoleh kepada bocah itu, katanya.
"Kelak bila kau sudah dewasa, ada beberapa urusan jangan kau tiru seperti apa yang dilakukan Sim-siangkong ini, urusan kecil tidak bisa sabar akan menggagalkan urusan besar, nasihatku ini harus selalu kau camkan dalam sanubarimu."
Sim Long tersenyum, dia tidak bicara lagi, namun kereta belum juga diputar balik. Sesaat kemudian mendadak Kim Bu-bong tersenyum dan berkata kepada Sim Long.
"Banyak terima kasih."
Selama bergaul beberapa hari dengan Kim Bu-bong, baru sekarang Sim Long melihat dia tersenyum, senyuman yang timbul dari relung hatinya yang dalam. Dengan tertawa Sim Long bertanya.
"Soal apa kau berterima kasih padaku?"
"Besar tekadmu menyelidiki jejak Koay-lok-ong, jelas kau pun tahu kali ini Suto Pian pasti akan melaporkan hasil kerjanya kepada Koay-lok-ong, sebetulnya secara diam-diam kau bisa menguntitnya, tapi karena Suto Pian sudah melihat kau seperjalanan denganku, jika kau menguntitnya, jelas, aku akan ikut bersalah dan mendapat hukuman, lantaran diriku terpaksa kau lepaskan kesempatan baik ini, namun sama sekali engkau tidak pernah menyinggung kebaikanmu ini kepadaku, untuk ini aku mengucap terima kasih padamu?"
Lelaki aneh yang berwatak kaku dan pendiam ini kini melimpahkan isi hatinya, nada suaranya kedengaran mengharukan.
"Sesama kawan mengutamakan tahu sama tahu, bila kau dapat menyelami isi hatiku, apa pula yang kuminta?"
Keduanya saling pandang sekejap, namun hati sanubari mereka sudah bertaut, kata-kata hanya akan berlebihan belaka.
Dari arah depan mendadak berkumandang suara senandung seorang dengan lantang, tertampak seorang lelaki muda berperawakan kekar tinggi tengah melangkah dari tepi jalan.
Perawakannya yang setinggi delapan kaki itu sangat gagah, berdada lebar, alis tebal, mata besar, pada pinggangnya terselip sebatang golok pendek tanpa sarung, pada tangannya menjinjing sebuah buli-buli arak, sambil bersenandung dia menenggak arak sepuasnya.
Rambutnya semrawut, baju bagian dadanya terbuka lebar, kakinya mengenakan sepatu butut, pakaiannya kotor, namun langkahnya gagah dan tegap, sikapnya seperti dunia ini milikku, seperti jalan raya ini tiada orang lain lagi.
Sudah tentu perhatian orang yang lewat di jalan raya ini tertuju kepadanya, tapi perhatian pemuda ini justru tertuju ke wajah Sim Long.
Sim Long memandangnya dengan tersenyum, lelaki itu juga balas tersenyum, katanya mendadak.
"Boleh menumpang kereta ini?"
"Silakan,"
Sahut Sim Long. Memburu maju dua langkah, lelaki muda itu melompat ke atas kereta dan berjubel di samping Sim Long. Dengan nada dingin Kim Bu-bong berkata.
"Arah tujuanmu berlawanan dengan kami, kami akan pergi ke arah datangmu, apa tidak salah kau menumpang kereta ini?"
Pemuda kekar itu mendongak dan bergelak tertawa, katanya.
"Seorang lelaki menjadikan empat penjuru sebagai rumahnya, setiap tempat di dunia ini adalah tujuanku, ingin pergi atau mau datang boleh sesuka hati, hidup bebas melanglang buana, kenapa tidak boleh?"
Mendadak dia angkat tangan dan menepuk pundak Sim-Long, katanya.
"Mari, minum seceguk."
Sim Long tertawa, dia terima buli-buli orang, terasa buli-buli ini terbuat dari baja, dengan bernafsu dia menghirup satu ceguk, araknya terasa harum, ternyata arak simpanan yang paling wangi dan jarang ada di pasaran.
Kedua orang ini tidak saling tanya asal usul, tidak tanya she dan nama, tapi seceguk demi seceguk hingga dalam sekejap arak sebuli-buli penuh telah dihabiskan mereka berdua.
Pemuda itu bergelak riang, serunya.
"Lelaki hebat! Peminum baik!"
Belum lenyap gelak tertawanya, Kim Bu-bong menghentikan kereta di sebuah kota kecil, air mukanya kelihatan masam, katanya dingin.
"Tujuan kami sudah sampai, saudara ini silakan turun."
Pemuda itu terus menarik Sim Long turun, katanya.
"Baiklah, kau boleh pergi, aku ingin mengajaknya minum beberapa cawan lagi."
Tanpa menunggu reaksi orang dia tarik Sim Long dan diajak memasuki sebuah warung kecil yang kotor dan gelap. Bocah dalam kabin kereta tiba-tiba tertawa, katanya.
"Mungkinkah orang ini gila? Agaknya dia juga tahu sikap Sim-siangkong yang meremehkan segala persoalan, kalau orang lain tentu sudah dibuatnya gemas."
Kim Bu-bong mendengus sekali, katanya.
"Jaga kereta!"
Waktu dia masuk ke dalam warung, sementara Sim Long dan pemuda tadi sudah menghabiskan tiga cawan, sepiring daging rebus juga sudah disajikan di atas meja.
Dari restoran besar termewah yang ada di dunia ini sampai warung kotor dan paling murah, semua pernah dikunjungi Sim Long, demikian pula hidangan paling lezat sampai makanan paling kasar di dunia ini juga pernah dirasakan olehnya.
Peduli ke mana ia pergi, apa pun yang dimakannya, semua sama saja, begitulah sikapnya.
Dengan kaku Kim Bu-bong menyusul datang terus duduk dengan dingin, dia tatap pemuda itu, sampai lama dia menatapnya, mendadak dia menegur.
"Sebetulnya apa kehendakmu?"
"Hendak apa? Hendak minum arak, ingin bersahabat,"
Sahut pemuda ini.
"Kau ini orang macam apa, memangnya kau kira aku tidak bisa melihatnya?"
Jengek Kim Bu-bong. Pemuda itu bergelak tertawa, serunya.
"Betul, aku memang bukan orang baik, memangnya tuan orang baik. Kalau aku ini perampok, mungkin Anda bandit besar."
Berubah air muka Kim Bu-bong, pemuda itu malah angkat cawan araknya, katanya dengan riang.
"Mari, mari! Biar rampok kecil macamku ini menyuguh secawan arak kepada bandit besar."
Telapak tangan Kim Bu-bong berada di bawah meja, sumpit di atas meja seperti mendadak kena ilmu sihir, entah bagaimana tiba-tiba mencelat terus melesat dengan desing yang keras, kedua sumpit mengincar kedua bola mata si pemuda.
"Khikang bagus!"
Puji pemuda itu.
Sambil mengucap kedua patah kata itu, si pemuda pentang mulut dan tepat menggigit sepasang sumpit itu terus ditiupnya kembali ke sana, dengan membawa suara mendesing meluncur balik mengincar mata Kim Bu-bong.
Pergi-datang sepasang sumpit ini sedemikian cepat hingga sukar diikuti oleh pandangan mata orang biasa.
Sim Long hanya tersenyum, sumpit yang meluncur di udara mendadak lenyap tak keruan parannya, waktu mereka menunduk, ternyata sumpit sudah berada di tangan Sim Long, entah dengan cara bagaimana dan dengan gerakan apa Sim Long menyambar sepasang sumpit yang meluncur kencang dan dalam jarak sedekat ini.
Taraf kepandaian si pemuda jelas di luar dugaan Kim Bu-bong, tapi betapa tinggi kungfu Sim Long, jelas juga di luar dugaan si pemuda.
Maklum kepandaian mereka sudah termasuk jago top dunia persilatan, sesaat mereka bertiga saling pandang dengan kaget dan heran.
Perlahan Sim Long taruh sepasang sumpit di depan Kim Bu-bong, sikapnya tetap wajar dan ramah, cawan arak terus diangkatnya pula, seolah-olah kejadian barusan tidak pernah ada.
Kim Bu-bong tidak bersuara, juga tidak memegang sumpitnya dan cawan, dalam hati sedang berpikir sejak kapankah muncul seorang pemuda kosen ini dalam dunia Kangouw?
Pemuda itu pun tidak menghiraukan lagi kehadirannya, dia tetap makan minum sepuasnya bersama Sim Long, makin tenggak makin banyak, lambat laun pemuda itu mulai mabuk, tiba-tiba dia berdiri serta bergumam.
"Tunggu sebentar, Siaute mau ke belakang."
Mendadak ia sempoyongan dan "bruk"
Ia ambruk dan menjatuhi meja, keruan hidangan di atas meja tumpah berantakan. Kim Bu-bong tengah melamun, karena tidak menduga, badan basah kecipratan kuah dan hidangan.
"Maaf, maaf,"
Cepat pemuda itu membersihkan pakaian Kim Bu-bong dengan lengan bajunya. Tapi Kim Bu-bong lantas mendorong pemuda itu hingga sempoyongan.
"Ai, aku bermaksud baik, kenapa saudara memukulku malah ...."
Dengan langkah sempoyongan pemuda itu lari ke belakang. Kim Bu-bong menatap Sim Long, katanya.
"Maksud keparat ini sukar diraba, kenapa kau bergaul dengan dia, lebih baik ...."
Mendadak berubah air mukanya, serentak ia membentak dengan beringas.
"Celaka, kejar!"
Tapi Sim Long lantas menariknya, katanya dengan tertawa.
"Kejar apa?"
Masam muka Kim Bu-bong, tanpa bersuara dia meronta dan hendak mengejar. Sim Long berkata.
"Apakah ada milikmu digerayangi dia?"
"Dia mengambil barangku, akan kucabut nyawanya!"
Berkilat sorot mata Kim Bu-bong, segera dia balas bertanya.
"Dari mana kau tahu dia mengambil barangku?"
Tersenyum Sim Long, tangannya terangkat dari bawah meja, ternyata menggenggam setumpuk uang kertas dan sebuah kantong kecil mungil. Kim Bu-bong heran, tanyanya.
"Ini ... cara bagaimana bisa berada padamu?"
"Dia mencomot uang kertas ini dari badanmu, maka aku pun mencomotnya dari kantongnya, sekaligus kuambil juga kantong kulit kecil ini."
Beberapa kejap Kim Bu-bong menatapnya lekat-lekat, akhirnya tersembul pula senyuman tulus dan penuh pengertian, perlahan dia duduk pula terus menenggak arak, katanya kemudian.
"Sudah belasan tahun aku tak minum arak, secawan arak ini kuminum untuk sahabatku, pencopet sakti nomor satu di kolong langit ini."
Dengan tertawa sengaja Sim Long bertanya.
"Siapa itu pencopet nomor satu? Apakah pemuda tadi?"
"Kecepatan tangan bocah itu sudah cukup mengejutkan, tapi selama Sim Long masih hidup, orang lain jangan harap bisa memperoleh julukan copet nomor satu di dunia ini."
Sim Long bergelak tertawa.
"Sudah memaki orang sebagai copet, malah dibilang julukan baik segala. Nah, aku tidak berani menerima julukan baik ini."
Segera dia kembalikan uang kertas kepada Kim Bu-bong, lalu berkata pula.
"Coba kita periksa apa isi kantong kulit saudara yang ingin mencopet uangmu itu."
Simpanan uang dalam kantong si pemuda ternyata tidak banyak, hanya uang receh beberapa keping saja. Sim Long geleng kepala, katanya.
"Dinilai dari gerak-geriknya, kuyakin dia bukan lelaki rudin yang kurang penghasilan, siapa tahu hanya memiliki uang receh yang tak berarti ini, mungkin dia terlalu royal menghamburkan uangnya."
"Kalau memperolehnya gampang, membuangnya juga pasti mudah,"
Ujar Kim Bu-bong.
Dengan tertawa Sim Long mengeluarkan secarik kertas dari dalam kantong kecil itu, ternyata bukan uang tapi secarik surat, gaya tulisannya jelek, isinya berbunyi.
Kepada yang terhormat Liongthau Toako.
Sejak Toako mencekok arak, hingga Siaute mabuk tempo hari, terpaksa Siaute juga mencekoki orang lain sampai mabuk, aku sendiri selama ini belum pernah mabuk lagi, haha.
Memang amat menyenangkan.
Selama beberapa hari ini Siaute mendapat penghasilan lumayan, tapi aku selalu tunduk pada nasihat Toako, selain kubagikan kepada mereka yang membutuhkan, seperti juga Toako, sekarang Siaute sering kelaparan, makan tidak tetap, namun setiap malam tidur di dalam biara bobrok, meski hidup agak menderita, namun perasaanku lega dan gembira, baru sekarang aku percaya kepada ucapan Toako membantu kesulitan orang lain rasanya memang jauh lebih menyenangkan dibanding menunaikan tugas apa pun.
Membaca sampai di sini, Sim Long tersenyum, katanya.
"Bagaimana, pemuda ini memang seorang murah hati, bukan?"
Sim Long membaca lebih lanjut.
"Poa-loji memang betul melakukan perbuatan kotor, memerkosa gadis keluarga baik-baik, aku sudah menghukumnya dengan memotong anunya, To-lotoa melakukan korupsi, Tam It-seng berbuat serong, To Bian-ci ingkar janji, ketiga keparat ini membuat Toako marah, maka Siaute mengiris sebelah kupingnya, tapi si tukang makan Lo Ciu telah mencurinya untuk teman arak, saking dongkol, kuping Lo Ciu juga kuiris dan kusuruh dia makan kuping sendiri untuk teman arak pula. Haha, mungkin nikmat dia makan kuping curian, tapi betapa lucu air mukanya waktu dia makan kupingnya sendiri sulit kulukiskan dengan alat tulis ini, sayang Toako tidak menyaksikan sendiri, namun sejak kini Lo Ciu sudah menyatakan kapok, tidak berani makan daging manusia lagi."
Membaca sampai di sini, Kim Bu-bong yang biasa bersikap kaku dingin jadi geli juga. Lebih lanjut surat itu berbunyi.
"Untung masih ada Kam Bun-goan, Ko Ci, Kam Lip-tik, Seng Hiong, Liok Ping, Kim Tek-ho, Sun Ciu-un dan para cucu lainnya, ternyata mereka mau bekerja keras untuk Toako, semua tugas mereka kerjakan dengan baik, karena puas Siaute mewakili Toako menjamu mereka makan-minum sepuasnya, hahaha, setelah kenyang baru Siaute sadar kantong kosong, sepeser pun tidak punya, konon pemilik restoran ini seorang kikir dan tamak, dengan mata melotot orang banyak lantas tinggal pergi dengan begitu saja, sebelum pergi malah minta pinjam kepada kasir restoran lima ratus tujuh puluh tahil perak tunai, seluruhnya disumbangkan kepada Hiong-lusit yang berjualan wedang kacang di seberang jalan untuk menikahkan putranya.
"Satu hal perlu Toako ketahui, saudara-saudara yang hidupnya menderita dalam wilayah ini sudah banyak yang kita rangkul, seluruhnya berjumlah lima ratus delapan puluh empat orang, Siaute sudah ajarkan cara bagaimana mengadakan kontak rahasia, bila di tengah jalan menemukan 'kambing gemuk' yang mencurigakan, harus berusaha memberitahukan kepada Toako. Hahaha, perkumpulan kita sekarang sudah beranggotakan ribuan orang, kekuatan kita sudah tidak kecil lagi, lain kali bila Toako mabuk minum arak, jangan lupa mencarikan nama baik untuk perserikatan kita."
Di bagian bawah bertanda tangan "Ang-thau-eng" (Elang Kepala Merah). Habis membaca surat itu, Sim Long berseru.
"Bagus, bagus, siapa nyana pemuda yang masih begitu muda ternyata mampu mengendalikan ribuan orang dan menjadi Liongthau Toako (pemimpin) mereka."
"Karena itulah kau dan aku disangka sebagai 'kambing gemuk' yang patut digerayangi isi kantongnya,"
Demikian ucap Kim Bu-bong.
"Waktu kau berikan uang kertas ini kepada Suto Pian tadi mungkin terlihat oleh anak buahnya, lalu dia mendahului di depan dan mencegat kita,"
Ujar Sim Long, lalu sambungnya.
"Setiap nama yang disinggung dalam surat ini, kecuali si Ciu Jing, semua adalah orang-orang gagah, terutama Ang-thau-eng yang menulis surat ini, seorang begal besar yang sudah lama terkenal. Konon Ginkang orang ini tidak kalah dibandingkan Toan-hong-cu dan lain-lain, bahwa tokoh selihai ini juga sudah ditundukkan oleh pemuda ini, bagaimana sepak terjang pemuda ini dapatlah dibayangkan, terutama caranya merampas milik si zalim dan dibagikan kepada yang miskin, patut kita berkenalan dengan dia."
Kembali Kim Bu-bong hanya mendengus saja tanpa memberi komentar.
"Apakah kejadian barusan masih kau pikirkan dalam hati?"
Tanpa menjawab pertanyaan ini, Kim Bu-bong balas bertanya.
"Apa lagi isi kantong itu?"
Sim Long angkat kantong kulit itu dan dituangnya, ternyata ada dua benda jatuh di atas meja, yang sebuah adalah seekor kucing batu jade sebesar ibu jari.
Tampaknya hanya perhiasan sederhana saja, namun berkat tangan seorang ahli, ternyata bentuk kucing kecil ini kelihatan begini elok dan laksana hidup tulen.
Setelah diteliti, di bagian bawah lehernya terukir sebaris huruf kecil yang berbunyi.
"Ukiran Him Miau-ji, untuk disimpan, dilihat, dan dibuat main sendiri."
Sim Long tertawa, katanya.
"Rupanya pemuda itu bernama Him Miau-ji (si Kucing)."
Dengus Kim Bu-bong.
"Melihat tampangnya dia memang mirip kucing."
Sim Long bergelak tertawa sambil memandang benda kedua, tapi gelak tertawanya seketika lenyap, air muka pun berubah hebat. Kim Bu-bong heran, tanyanya.
"Benda apa pula ini?"
Benda kedua itu adalah sekeping batu jade bundar yang bolong bagian tengahnya, bentuknya mirip mainan kalung, warnanya hijau pupus mengilap, kelihatan elok sekali, mainan kalung seperti ini terlalu umum, tapi setelah Kim Bu-bong membolak-balik dan memeriksanya, seketika ia pun mengunjuk rasa kaget dan heran.
Ternyata di atas mainan kalung batu jade itu berukir dua huruf "Sim Long".
Kim Bu-bong berkata dengan heran.
"Batu mainanmu, mengapa bisa berada di tangannya? Mungkinkah sebelumnya dia telah menggerayangi isi kantongmu?"
"Batu mainan ini bukan milikku,"
Ucap Sim Long.
"Bukan milikmu, bagaimana mungkin terukir namamu?"
"Batu mainan ini sebetulnya milik Cu Jit-jit."
Tambah terkejut Kim Bu-bong, serunya.
"Batu mainan nona Cu bagaimana bisa berada padanya, mungkin ... mungkin ...."
"Peduli apa sebabnya, kalau mainan ini berada di tangannya, maka dia pasti tahu di mana Cu Jit-jit sekarang, apa pun yang terjadi kita harus mencari dan tanya kepadanya."
"Dia sudah pergi jauh, ke mana kita akan mengejarnya?"
Ujar Kim Bu-bong. Tapi sebelum Sim Long menjawab dia sudah menjawabnya sendiri.
"Tidak sukar, bila di jalan raya kita memergoki kawanan gelandangan, dari mulutnya tentu bisa kita mencari tahu jejak si Kucing."
"Benar, kalau ratusan anak buahnya tersebar di sepanjang jalan raya ini, memangnya khawatir takkan menemukan jejaknya? .... Ayolah cepat!"
Lenyap suaranya, orangnya sudah berkelebat ke luar pintu.
Cuaca lembap, mega mendung, angin berembus dingin, tak jauh di pinggir jalan dalam sebuah kuil bobrok menyala seonggok api unggun, belasan lelaki duduk mengelilingi api unggun itu, mangkuk kosong berserakan, guci arak pun berjungkir balik.
Orang-orang itu sedang berkeplok sambil bernyanyi, suaranya berpadu dan riang.
"Si Kucing, si Kucing, pendekar kelana nomor satu di Kangouw, ahli menggerayangi kantong, merampas yang kaya menolong yang miskin, setiap orang di empat penjuru ikutan memujinya sebagai si Kucing yang tiada duanya ...."
Di tengah paduan suara yang gembira bercampur gelak tawa itu, mendadak seorang bernyanyi solo dengan suara tenor di luar kuil.
"Daripada disebut si Kucing yang tiada duanya, lebih tepat dinamakan si Kucing yang suka mabuk."
Sesosok bayangan tampak bersalto beberapa kali di udara, lalu meluncur turun di pinggir api unggun, siapa lagi dia kalau bukan si Kucing yang beralis tebal.
Orang-orang itu segera bersorak sambil berdiri.
"Toako sudah pulang!"
Seorang lantas bertanya.
"Apakah Toako sudah berhasil?"
Si Kucing menatap tajam satu per satu hadirin ini sambil berputar, alisnya menegak, matanya bercahaya, katanya dengan tertawa.
"Memangnya kapan kalian melihat si Kucing gagal dalam tugasnya?"
Mendadak ia menepuk pundak seorang lelaki bermuka kuning yang duduk di pinggir api unggun katanya.
"Go-losi, matamu memang tidak lamur, kedua orang itu memang punya asal usul luar biasa, pinggangnya juga gemuk, namun betapa tinggi kungfu mereka sungguh mimpi pun tak pernah terduga."
Lelaki bernama Go-losi tertawa, katanya.
"Betapa pun tinggi kungfunya, memangnya dia mampu menahan kelincahan tangan Toako?"
Si Kucing mendongak sambil bergelak, katanya.
"Memang betul, biarlah kuperlihatkan kepada kalian barang apa saja yang berhasil kugaet dari sakunya. Cukup segenggam yang kuperoleh ini, mungkin lebih dari cukup untuk hidup tenteram puluhan keluarga miskin di luar pintu utara itu."
Tapi demi tangannya menepuk saku pinggang, gelak tawanya seketika berubah menjadi menyengir, air muka pun berubah hebat, tangan yang sudah merogoh saku ternyata tak mampu dikeluarkan lagi.
Keruan hadirin melenggong, semua heran dan kaget, seru mereka.
"Kenapa, Toako?"
Lama si Kucing terlongong di tempatnya, akhirnya ia bergumam.
"Lihai benar, sungguh lihai."
Di bawah cahaya api unggun tertampak keringat sebesar kacang berketes-ketes di atas jidatnya, mendadak dia bergelak tertawa sambil mendongak, serunya.
"Gerakan bagus, lelaki hebat, hari ini si Kucing baru dapat bertemu dengan tokoh semacam ini, umpama terjungkal juga rela."
Go-losi bertanya.
"Siapakah yang Toako maksudkan?"
Si Kucing segera mengacungkan jempol, katanya.
"Bicara soal ini, betapa tinggi kungfunya, mungkin jarang ada tandingan di kolong langit ini, tindak tanduknya yang ramah, tutur katanya yang halus, terus terang jarang terlihat olehku selama hidup ini, bila aku ini seorang cewek, kecuali dengan dia, aku bersumpah tidak mau kawin."
Go-losi makin heran, tanyanya mendesak.
"Siapakah dia sebenarnya?"
"Dialah pemuda tampan di antara kedua kambing gemuk itu,"
Sahut si Kucing. Seluruh hadirin bersuara heran, semua melongo, berkata pula Go-losi.
"Toako memujinya begitu rupa, kuyakin dia pasti luar biasa, tapi ... entah ...."
Dia hentikan perkataannya demi melihat tangan si Kucing yang merogoh saku itu sudah sekian lama masih belum ditarik keluar lagi. Si Kucing tertawa, katanya.
"Dalam hati kau sangsi, tapi tak berani tanya, betul tidak? Baik, biar kujelaskan. Aku berhasil menggerayangi seluruh uang kepunyaan orang itu, di luar tahuku sakuku berbalik juga digerayangi olehnya, lebih celaka lagi, dompetku juga ikut jatuh ke tangan pemuda itu, bukankah hal ini dapat dikatakan tak berhasil mencuri ayam malah kehilangan segenggam beras?"
Peristiwa yang memalukan, kalau orang lain, siapa mau bercerita akan hal ini di hadapan anak buahnya sendiri, tapi si Kucing justru omong seenaknya dengan tertawa riang.
Keruan hadirin saling pandang, tiada yang bersuara.
Si Kucing tertawa pula, katanya.
"Untuk apa kalian berlagak seperti ini? Dapat bertemu dengan tokoh seperti itu sudah untung bagiku, kehilangan barang tak berarti apa-apa, pula barang itu juga bukan milikku."
"Tapi ... tapi dompet Toako itu ...."
Go-losi tergegap.
"Dompet itu juga tak berarti, yang harus kusayangkan adalah kucing kemala yang kuukir dengan golok pusakaku ini, namun ...."
Mendadak berubah air muka si Kucing, teriaknya.
"Wah celaka, masih ada benda lain dalam dompetku itu."
Kehilangan barang apa pun si Kucing tidak perlu cemas, namun demi teringat pada barang yang berada dalam dompet itu, seketika muka si Kucing berubah hebat, jelas benda itu sangat berarti dan tinggi nilainya.
Cepat Go-losi bertanya.
"Benda apa?"
Sesaat lamanya si Kucing termenung, katanya kemudian dengan menyengir.
"Benda itu kutemukan di sebuah kuil bobrok, tapi ... tapi ...."
Akhirnya dia menghela napas dan menengadah.
"tapi benda itu jelas milik pribadi nona itu."
Go-losi berkerut kening, beberapa kali dia membuka mulut seperti ingin tanya apa-apa, tapi tidak berani mengutarakan isi hatinya.
"Kalian tentu ingin tahu siapa nona itu, bukan?"
Ucap si Kucing. Go-losi tertawa geli sendiri, katanya.
"Apakah nona itu adalah ... adalah Toako punya ... Toako punya ...."
Hadirin tertawa gemuruh menyambut pertanyaan Go-losi yang kepalang tanggung itu. Si Kucing tertawa riang, katanya sambil membusungkan dada.
"Betul, gadis itu memang menggiurkan, paling cantik dalam pandanganku, tapi siapa dia sebetulnya, siapa namanya, sampai saat ini aku pun tidak tahu."
Berkedip Go-losi, katanya.
"Apakah perlu Siaute mencari tahu?"
"Tak usah,"
Ucap si Kucing tertawa kecut.
"Ai, sejak hari itu aku melihat wajahnya, dia mendadak seperti menghilang begitu saja, beberapa kali aku mondar-mandir di sepanjang jalan raya, namun tak kulihat pula bayangannya."
Sejenak kemudian, mendadak dia putar badan dan melangkah keluar.
"Toako, mau ke mana?"
Serempak semua orang bertanya.
"Apa pun dompetku itu harus kuminta kembali, aku pun ingin bersahabat dengan pemuda itu, bila kalian tiada tugas, boleh tunggu saja di sini,"
Belum habis si Kucing bicara bayangannya sudah lenyap di luar kuil. Go-losi mengawasi bayangan punggungnya, gumamnya.
"Beberapa tahun aku melanglang buana, sungguh belum pernah kulihat seorang gagah jujur, bijaksana dan berjiwa besar seperti Him-toako, kita bisa menjadi saudaranya, sungguh beruntung besar, manusia seperti dia memang ditakdirkan untuk menjadi seorang pemimpin besar. Dia hendak mencari orang, bagaimana juga harus kubantu."
Sambil bicara bergegas ia pun berlari keluar.
***** Senja belum tiba, si Kucing sudah berada di jalan raya, agar dapat menemukan jejak Sim Long dan Kim Bu-bong, dia tidak mengembangkan Ginkangnya yang hebat.
Setelah mengayun langkah sekian lamanya, tampak dari depan datang seorang nyonya berpakaian hijau dengan tubuh terbungkuk-bungkuk, sebelah tangan menggandeng seorang anak perempuan, tangan yang lain menuntun seekor keledai, dengan langkah terseok-seok.
Gadis yang di atas keledai dan yang digandeng itu bermuka jelek sekali, jarang ada perempuan sejelek itu di dunia ini, sampai si Kucing juga tidak tahan dan meliriknya dua kali.
Dua kali lirikan ini cukup berarti, mendadak dia ingat nyonya baju hijau ini bukan lain adalah nyonya yang membuat api unggun di dalam kuil bobrok kemarin, pada waktu itu pula si nona cantik menggiurkan itu mencopot pakaian dan memanggang bajunya.
Sekilas dia berkerut alis, setelah bimbang sejenak, mendadak ia mengadang di depan ketiga orang dan satu keledai itu sambil membentang kedua tangannya, katanya dengan cengar-cengir.
"Masih kenal aku tidak?"
Beberapa kali si nyonya baju hijau mengawasinya naik-turun, lalu berkata dengan tertawa dibuat-buat.
"Toaya apakah mau memberi sedekah?"
Si Kucing tertawa, katanya.
"Kau tidak mengenalku, aku masih mengenalmu. Hari itu kau sendirian, mengapa sekarang berubah menjadi bertiga? Apakah kau melihat nona itu?"
Semula Cu Jit-jit sudah putus asa, kini jantungnya berdebar pula, dia masih kenal pemuda bergajul ini, sungguh tak nyana pemuda bergajul ini bisa mencarinya.
Terdengar nyonya berbaju hijau itu berkata.
"Apa satu jadi tiga segala? Nona apa? Toaya, apa yang kau maksudkan, aku tidak tahu, kalau Toaya ingin memberi sedekah, lekaslah memberi, kalau tidak aku mau pergi saja."
Si Kucing menatapnya dengan melotot, katanya.
"Kau betul tidak tahu atau hanya pura-pura tidak tahu? Nona yang malam itu buka baju di dalam kuil itu masa sudah kau lupakan? Nona yang bermata bundar besar, mulut kecil ...."
Nyonya berbaju hijau seperti teringat mendadak, jawabnya.
"O, maksudmu, nona yang mengeringkan pakaiannya pada api unggun itu. Ai, sungguh cantik sekali, cuma ... malam itu dia lantas pergi ikut si Tosu yang berkelahi dengan kau itu, kudengar katanya menuju ke timur, agaknya Toaya tidak menemukan dia."
Si Kucing menghela napas kecewa, ia tidak tanya pula, baru saja dia membalik badan, mendadak terasa gadis berwajah buruk di samping nyonya baju hijau itu seperti menunjukkan pandangan ganjil padanya.
Segera dia menghentikan langkah sambil berkerut kening, ia merasa heran, dia tidak dapat berpikir lebih cermat, sementara si nyonya baju hijau sudah melangkah pergi sambil menggandeng gadis buruk dan keledainya.
Hati Cu Jit-jit kembali tenggelam, selanjutnya dia tidak berani menaruh harapan setitik pun.
Si Kucing mengguncang buli-buli araknya, isinya sudah kosong, dia menghela napas panjang, perasaannya kesal dan hampa, sesaat dia berdiri bingung, entah apa sebabnya.
"Toako!"
Mendadak didengarnya seorang memanggil di belakang. Ternyata Go-losi memburu datang dengan napas ngos-ngosan, sikapnya kelihatan aneh, si Kucing heran, tanyanya.
"Ada apa?"
Menuding punggung si nyonya berbaju hijau Go-losi mendesis.
"Kedua ... kedua 'kambing gemuk' itu pernah memberi uang kepada nyonya baju hijau itu sehingga dapat kulihat sakunya cukup padat."
"Oo ...."
Si Kucing melengak.
"Mata Siaute cukup tajam, sekilas pandang kulihat uang yang mereka berikan kepada nyonya baju hijau itu berhuruf merah, itu berarti nilai setiap uang kertas itu di atas lima ribu tahil."
Tergerak hati si Kucing, katanya dengan mendelik.
"Kau tidak salah melihat?"
"Tanggung tidak salah,"
Sahut Go-losi. Bertaut alis tebal si Kucing, katanya.
"Kalau hanya memberi sedekah kepada si miskin di tengah jalan, tak mungkin sekali rogoh kantong mengeluarkan uang lima ribuan, aku percaya nyonya baju hijau ini pasti ada hubungan erat dengan kedua orang itu. Kalau kedua orang itu orang aneh dunia Kangouw, maka nyonya berbaju hijau itu pasti juga bukan orang sembarangan, tapi dia justru berpura-pura selemah itu ... kurasa ada sesuatu yang kurang beres."
Mendadak dia putar balik dan memburu ke arah si nyonya baju hijau.
Langkahnya semakin dekat, tapi nyonya baju hijau seperti tidak merasakan.
Sorot mata si Kucing jelalatan, dengan gerak cepat mendadak dia cengkeram pundak si nyonya baju hijau, kelima jarinya penuh dilandasi tenaga dalam, setiap insan persilatan bila mendengar sambaran angin sekuat ini pasti segera tahu bila pundak tercengkeram, tulang pundak pasti teremas hancur.
Tapi nyonya baju hijau tetap seperti tidak merasakan apa-apa, namun mendadak langkahnya seperti tersaruk batu hingga sempoyongan ke depan, pada detik terakhir itu dia meluputkan diri dari cengkeraman si Kucing.
Si Kucing tertawa, katanya.
"Ternyata memang punya kungfu bagus!"
Nyonya itu berpaling dan bertanya dengan bingung.
"Kungfu bagus apa? Toaya, aku tidak mengerti apa yang kau katakan."
"Peduli kau tahu atau tidak, ayolah ikut padaku."
"Mau ... mau ke mana?"
"Kulihat kau terlalu miskin dan hidup sengsara, hatiku tidak tega, ingin kuberi sedekah padamu."
"Terima kasih atas maksud baik tuan, sayang aku harus menempuh perjalanan dengan membawa kedua keponakanku ini ...."
Mendadak si Kucing membentak.
"Mau atau tidak mau harus ikut."
Mendadak dia melompat ke punggung keledai dan segera menepuk pantatnya, karena kesakitan keledai itu segera lari kencang seperti kesetanan.
Keruan si nyonya baju hijau melengak, berubah air mukanya makinya dengan gusar.
"Bajingan, kembali!"
Si Kucing tergelak, serunya.
"Aku memang bajingan, caramu itu pantas untuk menghadapi kaum pendekar, orang lain mungkin tak mampu berbuat apa-apa terhadapmu, tapi menghadapi bajingan seperti diriku, hehehe, memangnya bajingan peduli amat terhadap permainanmu ini."
Walau kurus, dalam sekejap keledai itu telah lari lebih dua puluhan tombak. Nyonya berbaju hijau mencak-mencak, teriaknya.
"Penculik, rampok ... tolong ...."
Dari kejauhan si Kucing berkaok.
"Betul, aku memang rampok, tapi adakah rampok yang takut pada orang baik, sebaliknya orang baik sama takut kepada rampok, sampai pecah tenggorokanmu juga tak ada orang berani menolongmu."
Lari keledai semakin jauh, dalam sekejap lagi hampir lenyap dari pandangan mata.
Akhirnya si nyonya berbaju hijau tidak tahan, sambil mengertak gigi, sekali raih dia peluk pinggang Pek Fifi, tanpa hiraukan apakah orang lain kaget dan melongo, sekali tarik napas dia melompat jauh ke depan terus mengudak dengan kencang.
Ginkang dan gerak tubuhnya memang luar biasa, meski sebelah tangannya mengempit seorang, tapi beruntun empat kali lompat naik-turun dia sudah meluncur dua puluhan tombak.
Kedua kaki si Kucing mengempit keras perut keledai, sebelah tangan memeluk gadis buruk rupa, alias Cu Jit-jit, sebelah tangan terus-menerus menepuk pantat keledai supaya lari lebih cepat, katanya sambil tertawa.
"Nah, kelihatan belangnya sekarang, akhirnya dapat kupaksa menunjukkan kungfumu."
"Memangnya kenapa kalau dipaksa?"
Jengek si nyonya baju hijau dengan benci.
"apa kau kira bisa hidup lagi?"
Beberapa kali lompatan pula, jelas dia akan dapat menyusul keledainya yang berlari kencang itu.
Tak tersangka mendadak si Kucing angkat Cu Jit-jit terus melayang tinggi dari punggung keledai, serunya dengan tertawa.
"Boleh kau kejar aku dulu dan bicara lagi nanti."
Sekali meluncur tiga tombak ke depan, keledai tanpa penumpang itu ditinggalkan, tapi dia yakin yang dikejar nyonya baju hijau bukan keledai melainkan penunggangnya yang bermuka buruk dalam rangkulannya ini.
Jika murid didik kaum pendekar jelas tak sudi melakukan perbuatan yang memalukan ini, tapi lain dengan si Kucing yang tidak peduli tentang sopan santun segala, asal tujuannya suci dan dapat tercapai, perbuatan apa pun berani dilakukannya.
Agaknya nyonya berbaju hijau tidak menduga bajingan tengik ini memiliki Ginkang selihai itu, dirinya ternyata tidak mampu menyusulnya, keruan ia gugup bercampur gusar pula, segera bentaknya.
"Berhenti, marilah kita bicara secara baik."
"Bicara soal apa?"
Tanya si Kucing.
"Sebetulnya apa kehendakmu? Turunkan dulu keponakanku, urusan bisa dirundingkan."
Sementara itu mereka sudah hampir mencapai kuil bobrok itu. Si Kucing tertawa riang, katanya.
"Berhenti juga boleh. Tapi lebih dulu kau harus berhenti mengejar, baru nanti aku akan berhenti, kalau tidak meski tiga hari tiga malam, jangan harap kau dapat menyusul aku, kukira kau sendiri maklum akan hal ini."
"Bangsat, bajingan!"
Maki si nyonya baju hijau. Tapi terpaksa dia menghentikan langkahnya.
"Apa kehendakmu? Katakan!"
Si Kucing juga berhenti dalam jarak lima tombak, katanya dengan tertawa.
"Apa pun tidak kuinginkan, aku hanya ingin tanya beberapa patah kata saja."
Berkilat sorot mata si nyonya baju hijau, wajahnya tidak kelihatan welas asih lagi, desisnya penuh kebencian.
"Lekas, tanya soal apa?"
"Ingin kutanya lebih dulu siapa sebetulnya kedua orang yang memberi uang kertas itu kepadamu?"
"Seorang murah hati yang kebetulan lewat di jalan, mana aku mengenalnya?"
"Kalau kau tidak kenal dia, memangnya dia mau memberi uang kertas sebanyak itu kepadamu?"
Berubah pula air muka si nyonya baju hijau, serunya beringas.
"Baiklah kuberi tahu padamu, kedua orang itu begal besar yang kupegang rahasianya, mulutku terpaksa disumbat dengan uang supaya rahasia itu tidak kubocorkan. Tentang di mana sekarang kedua orang itu, terus terang aku tidak tahu."
Si Kucing tertawa terkial-kial, katanya.
"Kalau betul kedua orang itu begal besar, pasti kau ini sekomplotan dengan mereka. Manusia macam dirimu ini, mengapa membawa dua gadis buruk muka dalam perjalanan, kurasa pasti ada suatu yang tidak beres ...."
"Ini ... ini bukan urusanmu,"
Bentak nyonya baju hijau dengan gusar.
"Aku si Kucing justru suka mencampuri urusan orang lain, meski urusan kecil yang tiada sangkut pautnya denganku, bila kebentur di tanganku, urusan harus dibikin jelas baru puas hatiku. Hari ini kalau aku tidak membekuk kau, tentu kau tak mau bicara sejujurnya."
Mendadak dia menggembor keras.
"Hai, saudara-saudara, ayolah keluar!"
Lenyap suaranya, maka berbondonglah puluhan orang menerjang keluar dari dalam kuil. Si Kucing menyerahkan Cu Jit-jit sambil berpesan.
"Sembunyikan gadis ini di tempat yang rahasia dan jaga baik-baik ...."
Sambil mengiakan anak buahnya merubung maju, sementara si Kucing sendiri melompat balik ke hadapan si nyonya berbaju hijau, katanya.
"Nah, boleh mulai."
Nyonya baju hijau menyeringai, jengeknya.
"Kau ingin mampus? Baik!"
Dalam berkata "baik", sekaligus ia sudah menyerang tiga jurus.
Agaknya dia tidak berani meremehkan pemuda bergajul yang kurang ajar ini, meski sambil mengempit Pek Fifi, tapi tiga jurus pukulannya telah mengerahkan seluruh tenaganya.
Gerakan si Kucing segarang harimau, berputar laksana langkah naga, secepat kilat dia berkelit tiga kali, katanya dengan tertawa.
"Mengingat kau ini seorang perempuan, biar aku mengalah tiga jurus lagi."
Sikap si nyonya baju hijau tampak prihatin, bentaknya bengis.
"Baik, jangan kau menyesal."
Segera kaki kiri melangkah ke depan, tubuh setengah berputar, telapak tangan kanan didorong perlahan, mulut membentak pula.
"Inilah jurus pertama."
Tampak kelima jarinya setengah tertekuk, bentuknya mirip tinju tapi bukan tinju, seperti telapak tangan juga bukan telapak tangan, gerak serangannya lamban, sampai setengah jalan serangannya, lawan masih bingung dan tak dapat meraba ke arah mana serangannya akan dilancarkan.
Si Kucing berdiri tegak bergeming, matanya menatap telapak tangan lawan yang satu ini, sorot matanya tampak prihatin, namun ujung mulutnya mengulum senyuman acuh tak acuh.
Setiba di tengah jalan mendadak telapak tangan nyonya baju hijau itu terayun ke atas dan menghantam telinga kiri si Kucing.
Letak kuping kiri merupakan tempat sepele, dengan sendirinya tidak terduga bahwa lawan bakal menyerang tempat ini, dengan perkataan lain pertahanan paling lemah pada bagian ini.
Si Kucing merasa di luar dugaan, dalam repotnya dia tidak sempat berpikir, ia mengegos ke kanan, tak tahunya si nyonya baju hijau seperti sudah memperhitungkan gerakannya yang berkelit ke kanan ini, hanya bagian tubuh atas saja yang berkisar tanpa menggeser kedua kakinya, ini berarti ruang lingkup gerak tubuhnya tidak besar, maka begitu badan si Kucing miring ke kanan, telunjuk jarinya segera menjentik, yang digunakan adalah sebangsa Tan-ci-sin-thong atau tenaga jari sakti, sejalur angin tajam segera menyambar ke lubang telinga si Kucing.
Lubang telinga dengan genderang kuping adalah titik terlemah pada tubuh manusia umumnya, biasanya cukup orang mengorek kuping dengan gulungan kertas saja akan menimbulkan rasa sakit, apalagi nyonya berbaju hijau ini menyerang dengan landasan tenaga murni, meski tidak kelihatan bentuknya, yang jelas tajamnya melebihi sebatang paku, bila terkena tenaga selentikan jarinya, genderang telinga bisa pecah.
Sungguh tak pernah terpikir oleh si Kucing bahwa nyonya berbaju hijau itu bisa melancarkan serangan sekeji ini, kecuali manusia berhati culas dan jahat, mustahil bisa memikirkan serangan keji ini.
Cepat si Kucing mengkeret kepala dan menjengkang badan serta mundur beberapa kaki.
Tapi betapa cepat sambaran angin jentikan lawan, walau dia sempat berkelit, tak urung jidatnya keserempet juga hingga kulit jidatnya jadi merah.
Seketika si Kucing berjingkrak gusar, bentaknya.
"Apa ini juga terhitung satu jurus?"
Baca Juga: Sepasang Pendekar Daerah Perbatasan 6
Baca Juga: Pendekar Patung Emas 8