Eps 2 Pendekar Baja - Gu Long
Baca online Pendekar Baja - Gu Long
Cersil Pendekar Baja - Gu Long.
"Pukulannya keras dan kuat, tapi tidak murni, pukulannya tadi mengakibatkan batu muncrat dan debu berhamburan, pecahan batu-batu itu besar kecil tidak rata. Batu yang dipukulnya pun melayang berputar, ini membuktikan bahwa landasan tenaganya masih kurang kukuh, dari sini dapat dinilai bahwa latihan pukulannya paling-paling baru mencapai enam bagian saja."
Berubah air muka Hongbu Siong, diam-diam dia terkejut akan analisis Ong-jimoacu yang tepat, ini membuktikan bahwa pandangannya tajam dan pengalamannya luas.
Jilid 4 It-siau-hud tertawa lebar, katanya.
"Kalau demikian, pukulan Ong-heng tentu dapat membuat batu hancur dan melayang kencang laksana panah?"
Tiba-tiba Hongbu Siong berdiri, serunya sengit.
"Baiklah, ingin kumohon pengajaran padamu."
Ong-jimoacu menepuk jubah pendeknya yang berwarna kuning, lalu mengetuk pipa cangklongnya di pinggir meja, perlahan ia berdiri.
Tertampak mukanya kuning, matanya sipit berbentuk segitiga, jenggot pendek menyerupai kambing, berdiri pun rasanya payah, langkahnya sempoyongan, dia mendekati Hongbu Siong, katanya dengan tersenyum.
"Boleh kau coba memukulku sekali!"
Hongbu Siong berkata.
"Pukulanku tidak murni, bila kurang hati-hati melukai Anda, mana aku berani menanggungnya?"
Ong-jimoacu mengelus jenggot, katanya dengan tertawa.
"Jika aku terpukul mampus, memang akulah yang sial, takkan kusalahkan orang lain, apalagi aku ini sebatang kara, ingin mencari bini juga serbasusah, maka jangan khawatir ada orang akan menuntut balas kepadamu."
Hongbu Siong menoleh ke kiri-kanan, katanya kemudian dengan bengis.
"Kau sendiri yang menghendaki, kuharap kawan-kawan yang hadir menjadi saksi .... Haait!"
Di tengah bentakannya, jenggot panjang kelihatan bergetar, telapak tangannya mendadak memukul dada Ong-jimoacu, pukulannya memang keras dan dahsyat.
"Serangan bagus!"
Puji Ong-jimoacu, berbareng telapak tangannya terus ditolak ke depan, dia sambut pukulan lawan.
"Blang" , begitu kedua telapak tangan beradu, Hongbu Siong tertolak mundur beberapa langkah, dadanya kembang-kempis, dengan mendelik ia menatap Ong-jimoacu sekian lama, mendadak mulutnya menyemburkan darah segar. Terkejut Siau Mo-in, teriaknya.
"Hongbu-heng, kau ...."
Segera ia memburu maju hendak mamapahnya, tapi Hongbu Siong mengipratkan tangannya dan mengentak kaki dengan gemas, mendadak dia lari keluar.
Siau Mo-in hendak mengejar, tapi urung, ia tertawa getir sambil geleng-geleng kepala.
It-siau-hud tertawa, katanya.
"Boleh juga kau, Ong-heng, hari ini kau membuat mataku terbuka."
Sekali genjot Ong-jimoacu memukul mundur musuh, sikapnya tetap wajar, katanya sambil mengelus jenggot.
"Terima kasih, Taysu terlalu memuji."
Tatkala itu ruang makan menjadi kacau, pecahan mangkuk piring berceceran di lantai, tinggal meja Cu Jit-jit dan kedua suami-istri tadi yang tidak terganggu.
Sim Long tetap asyik dengan araknya, sikapnya santai, seperti tak acuh terhadap apa yang terjadi di sekitarnya.
Cu Jit-jit tetap mengawasinya dengan kesima.
Sementara suami-istri itu dengan tersenyum mengawasi anak mereka, tapi putri mereka, si gadis cilik berpakaian hijau pupus itu berulang berpaling dan menggoda si anak merah, tapi anak merah itu pura-pura tidak melihat, namun terkadang juga mengerut alis, menghela napas, lagaknya mirip orang tua.
Keenam orang ini seperti tenggelam dalam pikirannya sendiri dan tidak menghiraukan orang lain.
It-siau-hud melangkah ke sana, tapi suami istri itu tetap diam, seperti tidak melihat dan mendengar.
Cu Jit-jit mendesis.
"Kalau Hwesio gede ini mencari perkara terhadap mereka berarti dia cari susah sendiri."
Seluruh hadirin menumplakkan perhatian ke arah It-siau-hud dan kedua suami-istri itu dan ingin menyaksikan bagaimana It-siau-hud hendak menguji kedua orang ini.
Tak tahunya, belum It-siau-hud membuka suara, sekonyong-konyong di kejauhan terdengar jeritan ngeri susul-menyusul, ada yang jauh, ada yang dekat, ada yang di sebelah kanan, ada yang di sebelah kiri, ada pula yang seperti terjadi di dalam lingkungan hotel ini.
Jeritan itu sangat menusuk telinga, membuat bulu roma berdiri.
Semua orang berubah air mukanya, It-siau-hud mendahului melesat ke arah jendela, sekali pukul dia dobrak daun jendela, angin dingin kontan mengembus masuk membawa bunga salju, lilin dalam ruang makan seketika tertiup padam.
Di tengah kegelapan tiba-tiba berkumandang seorang bernyanyi.
"Bulan purnama menerangi pusara, hati tamak jangan berbuat jahat, bila masuk kota Pit-yang, harus mampus di kota ini ...."
Suaranya memilukan, sayup bergema di angkasa, di tengah kegelapan yang tak berujung seperti ada setan iblis yang menyeringai dan hendak mencabut nyawa.
Serasa beku darah seluruh hadirin, entah lewat berapa lama kemudian, tiba-tiba It-siau-hud membentak bengis.
"Kejar!"
Segera berjangkit kesiur angin, tiba-tiba bayangan orang sama berlompatan keluar jendela. It-siau-hud melayang paling depan, sekuat tenaga dia mengayun langkah.
"ser, ser" , terasa olehnya ada beberapa orang melesat mendahului dirinya. Malam gelap angin kencang, bunga salju bertaburan. It-siau-hud tidak melihat jelas bayangan mereka, tapi dilihatnya setelah berlompatan beberapa kali, beberapa bayangan itu mendadak berhenti, semua menunduk memandang ke bawah seperti menemukan apa-apa. Setelah dekat Baru It-siau-hud melihat jelas tiga bayangan itu adalah Sim Long dan kedua suami-istri itu, di atas tanah bersalju di depan mereka menggeletak delapan mayat. Mereka adalah orang-orang gagah yang berkumpul dalam ruang makan tadi. Mereka mati meringkuk, agaknya mendadak disergap, sebelum melawan, jiwa sudah melayang.
"Siapa yang turun tangan?"
Tanya It-siau-hud dengan terkesiap.
"cepat amat gerakannya!"
Laki-laki itu menggendong putrinya, mendadak dia tepuk paha dan berteriak girang.
"Ada seorang belum mati."
Sim Long memburu maju dan membangunkan orang itu, tangan kiri menahan punggungnya dan menyalurkan hawa murni ke tubuh orang.
Keadaan orang itu sudah kempas-kempis, kini mendadak seperti ada setitik harapan hidup, setelah menarik napas panjang, dengan jari tangan yang gemetar ia menuding ulu hati sendiri, katanya.
"Panah ... panah ...."
"Panah apa? Di mana?"
Tanya Sim Long.
"Di ...."
Mendadak tubuh orang itu mengejang dan tak mampu bicara lagi, waktu Sim Long memegangnya, napasnya sudah putus, tubuhnya terasa dingin, umpama ada obat dewa juga tak bisa menolongnya lagi.
Umumnya orang yang baru mati, betapa pun mayatnya takkan dingin seketika, tapi begitu orang ini mati, sekujur tubuhnya lantas kaku, sungguh kejadian yang tidak biasa.
Sim Long berkerut alis, sesaat dia termenung, katanya kemudian.
"Siapa bawa geretan api?"
Saat mana rombongan orang banyak telah menyusul tiba, seorang segera mengetik api menyalakan obor.
Api yang ditiup angin tampak guram, namun cukup terang menyinari sekitarnya, tampak muka orang mati itu menunjuk mimik ketakutan, kedua matanya melotot, mukanya berubah hitam, malah juga membengkak, keadaannya sangat seram.
Keruan semua orang sama merinding, terdengar Cu-bu-cui-hun Mo Si berkata.
"Racun, sungguh senjata rahasia beracun yang lihai ...."
It-siau-hud berjongkok, ia coba menyingkap pakaian orang, tertampak sekujur badannya juga membengkak hitam, tepat di tengah dadanya terdapat sebuah luka bekas tusukan panah, darah hitam masih meleleh keluar, tapi senjata rahasia apa yang melukai tidak ditemukan.
Setelah diperiksa lagi mayat-mayat yang lain pun serupa keadaannya, semua mati lantaran terkena senjata rahasia beracun, tapi senjata rahasianya tidak kelihatan.
Orang banyak saling pandang, tiada seorang yang mampu bicara.
Di tengah embusan angin dingin, terdengar suara keriang-keriut, suara gigi yang gemertuk, orang jadi ikut mengirik.
It-siau-hud sendiri juga merinding, katanya dengan suara tertahan.
"Apakah kalian tahu senjata rahasia macam apakah yang mematikan mereka?"
Sim Long berkata.
"Dari bentuk lukanya jelas bidikan panah."
Mo Si mendesis.
"Panah? Lantas di manakah panahnya?"
Setelah berpikir, It-siau-hud berkata.
"Jika pembunuh itu membidikkan panah, setelah mereka terbunuh lalu memunguti pula panah-panah itu, kurasa hal ini agak janggal dan tidak masuk akal, tapi kalau tidak demikian kejadiannya, lalu ke mana panah-panah itu?"
Mendadak suara nyanyian memilukan tadi terdengar pula terbawa angin, arahnya tidak jauh di sebelah selatan.
"Kejar!"
It-siau-hud mendahului bergerak.
Tapi suara nyanyian itu seperti mengambang di udara, kadang-kadang di depan, tahu-tahu di belakang, di kiri atau di kanan tidak menentu, siapa pun sukar menentukan arahnya yang tepat, lalu ke mana mereka harus mengejar?
Akhirnya It-siau-hud berdiri melenggong.
Mendadak gadis cilik putri kedua suami-istri itu menangis tergerung-gerung, tangannya menuding kejauhan sambil menjerit.
"Setan ... ada setan di sana, sekali berkelebat lantas hilang!"
Laki-laki itu menepuk punggung putrinya dan membujuknya.
"Ting-ting, jangan takut, tiada setan di dunia ini?"
Tapi tanpa terasa sorot matanya juga memandang ke arah yang ditunjuk putrinya, namun malam gelap dan salju berhamburan, mana ada bayangan setan segala?
Orang banyak juga tiada melihat apa-apa, tapi mereka tambah mengirik seperti malaikat elmaut yang tidak kelihatan hendak mencabut nyawa mereka dan diam-diam akan membidikkan panah maut.
Mendadak It-siau-hud tertawa latah, katanya.
"Keparat itu main setan-setanan, paling-paling hanya untuk menakuti anak kecil. Aku justru tidak percaya pada setan, ayolah siapa di antara kalian yang berani ikut aku, kita aduk sarangnya, kita buktikan dia jelmaan apa sebetulnya?"
Ong-jimoacu berkata juga.
"Siapa yang tidak berani ikut silakan menemani adik cilik ini kembali ke penginapan, supaya tidak menangis ketakutan."
Sindirannya cukup tajam, tapi orang lain anggap tidak mendengar, sebelum habis bicaranya, beberapa orang sudah berlari pergi. Laki-laki itu serahkan putrinya kepada sang istri, katanya.
"Kau bawa dia kembali, biar aku mengejar."
"Kau saja bawa dia pulang, biar aku yang mengejar,"
Sahut si istri. Laki-laki itu mengentak kaki, serunya.
"Ai, kenapa kau ...."
Ting-ting, gadis cilik itu, menangis pula, serunya.
"Aku mau papa dan mama menemani Ting-ting ...."
Laki-laki itu menghela napas, ia coba membujuk dan menghibur, tapi Ting-ting tetap pada pendiriannya.
Biasanya laki-laki itu berwatak keras dan kasar, tapi terhadap putri tunggalnya ini, ternyata dia kewalahan.
Sim Long berkata.
"Kalian suami-istri boleh kembali saja, mengejar pembunuh adalah urusan kecil, bila adik cilik ini kaget dan jatuh sakit, bukankah urusan bisa susah?"
Suami-istri itu pandang Sim Long dengan rasa terima kasih dan simpati. Ting-ting memang pintar, segera katanya.
"Benar, paman ini memang baik hati ...."
Perempuan itu menukas.
"Kalau demikian, marilah kita pulang saja ...."
Tapi tiba-tiba dia melotot kepada Ong-jimoacu, jengeknya.
"Kalau ada yang mengira kami takut ... hm, rasakan nanti!"
Entah cara bagaimana dia bergerak, tahu-tahu pipa cangklong Ong-jimoacu telah direbutnya, kontan dia patahkan menjadi dua terus dibuang, tanpa bicara lagi dia gandeng tangan sang suami dan melangkah pergi, melirik pun tidak lagi kepada Ong-jimoacu.
Sudah puluhan tahun Ong-jimoacu malang melintang di utara dan selatan sungai besar, mimpi pun tidak pernah terbayang olehnya bahwa pipa cangklong yang dipegangnya secara aneh tahu-tahu direbut orang, dipatahkan dan dibuang lagi, keruan dia terbelalak diam tak bergerak mengawasi kepergian suami-istri itu.
Orang banyak juga terbeliak kaget, segera It-siau-hud berkata.
"Cepat, sungguh cepat! Selama empat puluh tahun baru dua kali ini kulihat gerakan secepat ini!"
Baru sekarang Ong-jimoacu sadar, ia berdehem dan menyengir, katanya.
"Paling-paling hanya kaki tangannya dapat bergerak cepat, jika tidak mengingat dia seorang perempuan, tentu sudah ... sudah ...."
Mati pun dia ingin jaga gengsi, tapi perkataan 'sudah kuhajar dia' tetap malu untuk diucapkannya. Sim Long tersenyum, katanya.
"Apa benar hanya kecepatan gerak kaki dan tangannya saja? Kukira tidak!"
Karena lagi penasaran dan tidak terlampiaskan, kontan Ong-jimoacu mendelik, kulit mukanya yang burik seperti menyala, bentaknya.
"Kalau bukan kecepatan gerak kaki dan tangan, memangnya kenapa?"
Sim Long juga tidak marah, dengan tertawa dia menuding tanah.
"Coba kau lihat!"
Orang banyak sama menunduk, tertampak kedua kutungan pipa cangklong itu ambles masuk ke dalam tanah dan hanya kelihatan dua titik hitam saja, padahal hujan salju sudah berlangsung beberapa hari, kecuali tanah salju, bagian bawahnya sudah mengeras seperti besi, tapi seenaknya perempuan itu membuang kutungan pipa, seperti tidak menggunakan tenaga sedikit pun, tapi kutungan pipa sepanjang dua kaki itu ternyata ambles seluruhnya ditelan bumi, tenaga lemparan yang mengejutkan ini sungguh sukar dipercaya jika orang tidak menyaksikan sendiri.
"Ini ... ini ...."
Ong-jimoacu menyeka keringat, lalu tertawa dingin.
"Ya, memang hebat."
It-siau-hud menghela napas, katanya.
"Suami-istri itu memang aneh ... tapi kita tak perlu urus dia, ayo lekas kejar!"
Mumpung ada kesempatan, segera Ong-jimoacu mendahului.
"Betul, lekas kejar!"
It-siau-hud menoleh kepada Sim Long, tanyanya.
"Entah saudara ini ikut mengejar tidak?"
Sim Long memandang sekelilingnya, dilihatnya Cu Jit-jit dan adiknya tidak ikut datang, sesaat dia berkerut alis, lalu katanya dengan tersenyum.
"Baiklah, kejar!"
Orang-orang ini sebelumnya tidak saling kenal, di antaranya malah ada yang tidak sehaluan, tapi sekarang mereka punya tujuan sama, maka kelihatan akrab, meski mereka tidak berunding lebih dulu, tapi serentak mereka sama menuju ke utara kota Pit-yang, ke "sarang hantu"
Itu, dalam beberapa kejap ini, terlihatlah perbedaan Ginkang masing-masing.
It-siau-hud berlari paling depan, Cu-bu-cui-hun Mo Si ketat ikut di belakangnya, Sim Long pun tak jauh dari mereka.
Ong-jimoacu, Yu-hoa-hong Siau Mo-in berdua kira-kira berendeng dengan Sim Long, Thi Seng-liong masih mampu menyusul dan tidak tertinggal jauh.
Say-un-ho Sun Thong dan Gin-hoa-piau Seng Ing walau agak ketinggalan di belakang, tapi sambil berlari mereka berbincang-bincang dengan asyiknya, langkah mereka tampak enteng, agaknya tidak menggunakan sepenuh tenaga, Poat-swat-siang-to-ciang Beng Lip-jin juga segera menyusul tiba, katanya dengan tertawa.
"Wi Hoat-hou ayah beranak kelihatan gagah, tak tahunya mengekor Ban-su-thong dan diam-diam mengeluyur pergi. Menilai manusia memang tidak boleh melihat tampangnya."
Seng Ing hanya tertawa dan tidak memberi tanggapan. Sun Tong malah berkata.
"Apa di belakang tiada orang lain lagi?"
Beng Lip-jin menjawab.
"Masih ada Hin-te-bu-hoan Li Pa, tapi jauh tertinggal di belakang. Kungfu orang ini tidak lemah, sayang Ginkangnya ...."
Belum habis dia bicara, mendadak terdengar suara jeritan ngeri di belakang. Beng Lip-jin terkejut.
"Wah, Li Pa ...."
Orang banyak juga kaget dan serentak berhenti, tanpa bicara mereka berlomba putar balik ke arah datangnya jeritan itu. It-siau-hud segera memperingatkan.
"Yang bawa senjata cepat keluarkan, yang bawa senjata rahasia juga disiapkan, setiap orang tak dikenal boleh diberondong saja."
Dalam jarak beberapa patah kata itu saja orang banyak lantas melihat salju di depan sana rebah sesosok bayangan hitam.
Tapi di sekitarnya tidak terlihat ada jejak manusia.
Sun Thong, Seng Ing siap memburu maju, tiba-tiba didengarnya It-siau-hud berseru.
"Berhenti! Nyalakan api, periksa dulu tapak kaki di atas salju."
Sun Thong dan Seng Ing saling pandang sekejap, dalam hati membatin.
"Hwesio gede ini kelihatannya goblok, ternyata seorang kawakan Kangouw yang cermat."
Diam-diam mereka kagum, maka rasa benci tadi sirna tanpa terasa.
Beng Lip-jin, Mo Si dan Siau Mo-in bertiga sudah menyalakan api.
Perlu diketahui Yu-hoa-hong Siau Mo-in adalah begal yang biasa beroperasi sendiri pada malam hari, obor bikinannya dibuat secara khas dan sangat bagus, nyala api bisa dibikin besar dan kecil sesuka hati, bila nyala besar bisa menyinari beberapa tombak di sekelilingnya.
Tampak bayangan yang tiarap di atas salju itu memang benar adalah Hin-te-bu-hoan Li Pa, di belakang dan depan mayatnya ada sebaris tapak kaki, tapi salju di kanan-kirinya rata dan rapi tiada bekas apa pun.
It-siau-hud segera berkata.
"Kalian maju dengan hati-hati, coba kenali tapak kaki masing-masing."
Seng Ing menemukan jejak kakinya lebih dulu.
"Ini tapak kakiku."
Lalu dengan ujung jari dia memberi tanda silang.
Maklum besar-kecil tapak kaki setiap orang tidak sama, Ginkang mereka pun berbeda, sepatu juga berlainan, bahwa setiap orang harus mengenali tapak kaki orang lain memang sukar, tapi untuk mengenali tapak kaki sendiri tentu gampang.
Sun Thong juga sudah menemukan tapak kakinya, ia pun memberi tanda silang.
Cepat sekali Ong-jimoacu Siau Mo-in, Thi Seng-liong, Beng Lip-jin juga telah menemukan tapak kaki masing-masing, didapati Beng Lip-jin tapak kakinya ternyata paling dalam, diam-diam merah mukanya.
Orang banyak tahu urusan ini cukup gawat, maka mereka sangat hati-hati dan teliti meski tahu tapak kaki sendiri lebih dalam daripada orang lain juga tidak akan diperbandingkan.
Kini tinggal dua tapak kaki yang belum ditemukan pemiliknya, jelas kelihatan di bawah sinar api kedua tapak kaki ini amat cetek, juga kelihatan alas sepatu orang terdiri dari serat yang kasar.
Tanpa terasa mereka sama mengawasi sepatu rami yang dipakai It-siau-hud.
It-siau-hud berkata.
"Tapak yang satu ini memang betul punyaku ... tapi saudara ini ...."
Sekarang orang baru teringat masih kurang sepasang tapak kaki, tanpa terasa mereka menoleh ke arah Sim Long. Sim Long tersenyum, katanya.
"Mungkin tubuhku terlalu kurus sehingga tapak kakiku tidak kelihatan."
Bicaranya ramah dan rendah hati pula, tapi orang banyak sama terbeliak kagum.
Baru sekarang mereka tahu pemuda yang kelihatan lemah lembut dan tidak ternama ini ternyata memiliki Ginkang Tah-swat-bu-heng (menginjak salju tidak meninggalkan bekas) yang tinggi, bukan saja kagum, mereka pun curiga bagaimana mungkin bocah semuda ini mampu meyakinkan kungfu setinggi itu, curiga pula akan asal usulnya, tapi tiada satu pun di antara mereka yang berani bertanya.
It-siau-hud tergelak katanya.
"Orang pandai memang tidak suka mengagulkan diri, Siangkong (tuan) ini memang berisi,"
Lalu ucapnya lagi dengan prihatin.
"Tiada tapak kaki lain lagi di sekitar sini, tak ada tanda-tanda perkelahian, jelas Li Pa terbunuh juga oleh senjata rahasia. Marilah kita periksa pula senjata rahasia apa yang membunuhnya?"
Lalu dia membalik mayat Li Pa, sekujur tubuhnya tampak membengkak hitam, waktu baju dadanya disingkap, dada kiri sebelah atas dekat pundak ada luka, darah hitam masih meleleh.
Tapi di tempat luka ini tidak kelihatan ada senjata rahasia.
Kembali orang banyak saling pandang, kembali suara gemertuk gigi terdengar di antara mereka, jantung pun berdebar keras.
Akhirnya Mo Si berkata dengan gemetar.
"Senjata ... senjata rahasia itu mungkin memang tiada wujudnya? Kalau tidak kenapa bisa mencair ke dalam darah?"
Maklum, mayat ini jatuh tengkurap dan tiada tanda pernah disentuh atau bergerak, di sekitarnya juga tiada jejak orang lain, maka dapat dipastikan senjata rahasia yang mengenai Li Pa tidak diambil orang.
Padahal begitu dada tersambit senjata rahasia Li Pa terus jatuh tersungkur, siapa pun meski memiliki kepandaian setinggi langit, untuk mengambil senjata rahasia di bawah dadanya juga harus menyentuh tubuhnya, apalagi tiada tapak kaki di sekitar mayat.
Meski orang banyak sama memeras otak, tetap juga mereka tidak habis mengerti dan menemukan jawabannya.
Yang terang bulu kuduk sama berdiri, Beng Lip-jin berkata dengan gemetar.
"Mungkinkah serangan Bu-heng-kiam-khi? (hawa pedang tak berbentuk)?"
It-siau-hud menyeringai.
"Apa kau sedang mimpi?"
Agaknya Beng Lip-jin masih ingin membantah, tapi begitu angkat kepala, seketika ciut nyalinya dan tak mampu bersuara lagi, dilihatnya wajah It-siau-hud diliputi nafsu membunuh, sorot matanya beringas, seperti binatang liar yang kalap, mendadak dia tanggalkan jubah, dengan telanjang dada, bunga salju berjatuhan di atas tubuhnya, bukan saja tidak merasakan dingin, bunga salju yang hinggap di atas tubuhnya seketika cair dan mengeluarkan uap putih.
Di bawah tatapan orang banyak yang keheranan, It-siau-hud robek jubahnya itu menjadi tali-tali panjang selebar tiga-empat senti untuk membalut lengan, paha dan dadanya, daging gempur di tubuhnya terikat kencang, lalu It-siau-hud melompat dan menggerakkan kaki dan tangan, kelihatan gerak-geriknya jauh lebih enteng dan gesit, ia menyapu pandang orang banyak, lalu berkata.
"Nah, yang ingin hidup lekas pulang, yang mau ikut harus siap kehilangan nyawa!"
"Ikut ... ikut ke utara?"
Tanya Beng Lip-jin.
"Kecuali 'sarang hantu', ke mana lagi?"
Seru It-siau-hud, tiba-tiba dia mencomot segumpal salju terus dijejalkan ke dalam mulut, setelah mengunyah beberapa kali dia membentak.
"Ayo kita ubrak-abrik sarang hantu itu, siapa pemberani boleh ikut padaku."
Segera dia mendahului berlari ke depan.
Seng Ing, Sun Thong, Mo Si, Ong-jimoacu, Thi Seng-liong dan Siau Mo-in merasa darah bergolak, mereka sudah tidak pikirkan mati-hidup lagi, berbondong-bondong mereka ikuti langkah It-siau-hud.
Melihat Sim Long tetap berdiri di tempatnya, Beng Lip-jin menegur dengan menunduk.
"Silakan Siangkong, hubunganku dengan Li Pa cukup erat, tak tega kubiarkan jenazahnya tak terkubur di tengah jalan .... Ai, setelah mengebumikan jenazahnya segera kususul ke sana."
Sim Long hanya tersenyum, begitu Beng Lip-jin angkat kepalanya pula, bayangan Sim Long sudah menghilang, yang kelihatan hanya setitik hitam saja di kejauhan.
Melihat orang sudah pergi, legalah hati Beng Lip-jin, tanpa hiraukan mayat Li Pa dia berlari pulang ke hotel.
Hanya sekejap Sim Long sudah menyusul Seng Ing dan lain-lain, tapi dia tidak melampaui mereka, hanya mengintil di belakang dalam jarak tertentu, kini dia yang berada paling belakang, bila ada panah gelap menyerang pula tentu akan dibidikkan padanya.
Dengan tersenyum-senyum, bukan saja tidak acuh, dia seperti mengharap elmaut menyambar ke arahnya, supaya dia bisa tahu bagaimana bentuk panah gelap itu sebetulnya.
Ternyata sepanjang jalan tidak terjadi apa-apa, sementara itu sudah jauh mereka meninggalkan kota, sebentar lagi tentu akan tiba di sarang hantu.
Tengah Sim Long menghela napas kecewa, tiba-tiba didengarnya It-siau-hud yang berada paling depan membentak keras.
Mo Si juga menjerit kaget dan suara ribut orang banyak, lalu It-siau-hud mencaci maki.
"Keparat, kalau berani ayo keluar tandingi bapakmu ini, main seperti sembunyi setan, terhitung binatang macam apa kau?"
Sambil berkerut kening Sim Long mempercepat langkahnya, laksana panah dia meluncur ke depan, dilihatnya orang banyak sudah berhenti, tampak muka It-siau-hud merah padam, tangannya memegang secarik kain sambil mencaci maki, sekelilingnya tiada bayangan orang lain dan tidak mendapatkan reaksi.
Sim Long bertanya perlahan.
"Ada apa?"
"Kau lihat ini!"
Sahut It-siau-hud, kain putih itu dia lemparkan, Sim Long menyambutnya, di bawah pantulan cahaya salju dilihatnya kain putih itu ada tulisan besar dengan tinta darah yang berbunyi.
"Kuperingatkan kalian, lekas kembali, jangan maju ke depan, bila menyesal sudah kasip."
"Dari mana datangnya?"
Tanya Sim Long.
"Aku sedang lari tadi ...."
Tutur It-siau-hud.
Kiranya It-siau-hud memimpin lari paling depan, tanah salju di depannya terbentang luas dan lapang, dari depan sana tiba-tiba bertaburan bunga salju itu, pasir dan tanah, laksana badai menerpa mukanya.
It-siau-hud merasakan pandangannya kabur, sempat dirasakan olehnya di tengah taburan bunga salju itu ada bayangan putih berkelebat menyeruduk dirinya, tapi sebelum dia sempat menyerangnya.
"wut" , bayangan putih itu melesat ke atas lewat kepalanya, dan tahu-tahu kain putih ini sudah berada di tangan It-siau-hud. Sim Long berkerut kening mendengar penjelasannya, katanya kemudian.
"Ke mana orang itu? Kenapa kalian tidak mengejarnya?"
"Dikatakan bayangan orang tidak mirip bayangan orang, panjangnya hanya tiga kaki, mirip seekor rase, tadi sebelum dia bertindak sempat juga kulihat dia mendekam di atas salju, tapi begitu aku membuka mata pula, tiada orang lain di sekelilingku,"
Tutur It-siau-hud pula. Tergerak pikiran Sim Long, batinnya.
"Gerakan itu agak mirip Ngo-sek-hou-sin-ciang-gan-hoat dari Thian-mo-mi-cong-sut, dari penjelasannya, bayangan orang itu mirip Hoa Lui-sian, tapi Hoa Lui-sian tiada sangkut pautnya dengan 'sarang hantu', mana mungkin dia mencampuri urusan ini."
Didengarnya It-siau-hud berkata pula.
"Siangkong tidak perlu berpikir pula, peduli permainan apa pun, tidak nanti kutakut dan takkan mundur, asal Siangkong mau membuka jalan bersamaku, sementara Mo-heng dan Seng ... Seng apa?"
"Seng Ing,"
Sahut Seng Ing tertawa.
"Betul. Seng Ing dan Mo Si berjaga di belakang dan kita yang akan menerjang ke depan."
Sim Long berpikir sejenak.
"Terjang!"
Katanya kemudian.
"Bagus, terjang!"
Sambut Seng Ing.
"Terjang! Terjang!"
Orang banyak sahut-menyahut, tapi suara mereka jelas rada gemetar.
Keadaan sudah sejauh ini, mereka hanya boleh maju dan tak boleh mundur, terpaksa mereka mengeraskan kepala dan memberanikan diri.
Maka orang banyak berlarian pula ke depan, terlihat bentuk bayangan gunung, makin dekat jantung mereka makin berdebar, betapa pun mereka memikirkan keselamatan sendiri, entah apa yang bakal mereka temui di dalam sarang hantu.
Tujuan mereka memang yakin bahwa di dalam sarang hantu itu ada harta karun yang tak ternilai harganya, maka jauh-jauh mereka meluruk kemari, namun setelah menghadapi serentetan peristiwa yang menyeramkan tadi, sifat tamak sudah lenyap sebagian dari hati mereka.
Sim Long berpikir.
"Untung nona binal itu tidak ikut kemari, kalau tidak ...."
Tiba-tiba didengarnya di sebelah depan seorang tertawa merdu dan menegur.
"Baru sekarang kalian tiba?" ***** Sementara itu tanpa berhenti, seperti dikejar setan Beng Lip-jin lari pulang ke hotel, keadaan hotel juga kacau-balau, kelihatan masih ada orang yang sibuk menggotong mayat keluar, didengarnya ada yang berkata.
"Lagi-lagi puluhan jiwa manusia ...."
Jangankan melihat, mendengarkan saja tak berani lagi, Beng Lip-jin langsung lari ke kamarnya, dan pintu langsung didobraknya terbuka, dia menerobos masuk dan cepat-cepat merapatkan daun pintu serta berdiri menggelendot di belakang pintu, baru sekarang dia sempat menghela napas lega, gumamnya.
"Syukurlah jiwaku kupungut kembali. Pulang sajalah, peduli amat harta karun apa di dalam kuburan itu, aku tidak ...."
Tiba-tiba ia merasa ganjil, entah kapan tahu-tahu pelita di kamarnya sudah menyala.
Begitu dia pandang ke sana, seketika ia melongo kelu, darah dalam tubuhnya seperti membeku, kedua lututnya pun gemetar.
Dilihatnya tepat di tengah kamar berduduk seorang berjubah kelabu, duduk membelakangi pintu, maka Beng Lip-jin tidak dapat melihat wajahnya.
Namun jubah kelabu yang panjang dan rambut panjang yang terurai kelihatan bergerak-gerak di bawah sinar pelita yang guram, bentuknya lebih mirip mayat yang baru keluar dari kuburan.
Dengan suara gemetar Beng Lip-jin menegur.
"Sah ... sahabat siapa?"
Orang berjubah kelabu tertawa mengekeh, sepatah demi sepatah berkata.
"Bulan menerangi kuburan ...."
Gemetar kedua lutut Beng Lip-jin, tubuhnya merosot lunglai dan "bluk", jatuh terduduk.
"Apa kau takut mati? Kau ingin pulang?"
Tanya orang berjubah kelabu itu.
"Aku ... aku ingin ...."
Si jubah kelabu menyeringai.
"Setelah masuk kota Pit-yang, pasti mampus dalam kota ini ...."
Mendadak Beng Lip-jin mengertak gigi, dengan nekat mendadak dia menubruk maju, tangannya terayun, ia hantam batok kepala orang berbaju kelabu, sudah puluhan tahun dia ternama, serangan ini bukan main lihainya.
Si baju kelabu tetap tidak menoleh, mendadak lengan bajunya yang panjang mengebas ke belakang, kontan Beng Lip-jin merasa segulung tenaga lunak dingin tapi sangat kuat menumbuk dadanya, kontan dia merasa seperti dipukul palu raksasa, tubuhnya tertolak balik dan "blang" , menumbuk pintu dan "blak", jatuh ke lantai bersandar pintu, mulut terbuka dan darah menyembur keluar.
Si baju kelabu menjengek.
"Begini saja kemampuanmu berani bertepuk dada mengaku sebagai orang gagah?"
Terbelalak mengawasi darahnya sendiri, tubuh Beng Lip-jin menggigil hingga daun pintu bergetar seperti didobrak orang.
"Kau mau mati atau ingin hidup?"
Tanya si baju kelabu. Mulut sudah terkuak lebar, tapi Beng Lip-jin tak kuasa mengeluarkan suara.
"Lekas bicara,"
Bentak si baju kelabu.
"Ing ... ingin ... hidup ...."
Setelah menghabiskan tenaga baru dia mampu bersuara, namun badan juga sudah basah kuyup.
"Kalau ingin hidup, kau harus tunduk pada perintahku,"
Desis si baju kelabu. ***** "Baru sekarang kalian tiba?"
Demikian kata-kata yang biasa tadi, tapi dirasakan orang banyak seperti mendengar suara hantu di tengah malam, semua bergetar kaget.
Thi Seng-liong menyurut mundur.
Siau Mo-in juga hampir jatuh.
It-siau-hud mengepal tinju, bentaknya dengan suara serak.
"Si ... siapa? Keluar!"
Dari tempat gelap segera melayang keluar sesosok bayangan putih, tubuhnya kaku lurus, lutut tidak tertekuk, tubuh tidak bergerak, tidak kelihatan dia menggerakkan kaki, tapi melayang keluar dengan tegak lurus Dari kepala sampai kaki berwarna putih melulu, muka tertutup oleh lengan baju yang terangkat, agaknya sengaja menutupi mukanya yang buruk.
Merinding dan ketakutan orang banyak, kalau bayangan putih ini manusia, mana ada manusia berjalan cara begitu?
Biasanya nyali It-siau-hud cukup besar, tapi menghadapi bayangan putih ini ia pun tertegun sekian lamanya, mendadak ia membentak.
"Umpama betul kau ini setan juga akan kupotong!"
Segera ia menerjang, deru pukulannya menerpa ke dada bayangan putih itu.
Baju bayangan putih berkibar oleh angin pukulan, di tengah jengekan tubuhnya tetap berdiri lurus sambil menggeser dua kaki.
Tentu saja It-siau-hud amat kaget, selagi dia siap menubruk pula, tiba-tiba dirasakan angin berkesiur di sampingnya, tahu-tahu Sim Long sudah melompat maju seraya membentak.
"Cu Jit-jit, belum puas kau menggoda orang?"
Tiba-tiba bayangan putih itu cekikikan dan menurunkan lengan bajunya, remang-remang tampak tubuh nan ramping gemulai, wajah secantik bunga mekar, siapa lagi dia kalau bukan Cu Jit-jit, si gadis binal.
Dari bawah kakinya terdengar pula seorang tertawa, katanya.
"Sim-toako memang lihai!"
Tahu-tahu si anak merah menerobos keluar.
Ternyata anak merah itu merangkul kedua kaki Cu Jit-jit dari belakang, dengan sendirinya tanpa menekuk lutut Cu Jit-jit bisa maju-mundur sesuka hati.
Padahal yang hadir ini semua kawakan Kangouw, tapi di depan "sarang hantu" , di tengah malam hujan salju lagi, setelah mengalami beberapa kejadian yang menegangkan tadi, orang banyak jadi pecah nyalinya sehingga tiada seorang pun perhatikan permainan anak nakal ini.
Kaget dan dongkol hati It-siau-hud, namun dia hanya mengentak kaki dan mengomel.
"Nona, berkelakar boleh saja, tapi harus lihat waktu dan tempat."
Anak merah tertawa, katanya.
"Tapi Hwesio gede memang pemberani, setan juga tidak bisa mengejutkan kau!"
It-siau-hud terbahak-bahak, katanya sambil mendongak.
"Hwesio besar memang tidak pandai membekuk iblis, tapi tidak sulit untuk menundukkan setan."
Lalu dia berkata kepada Sim Long.
"Kakak beradik ini memang nakal dan jenaka, dia hanya menggoda kita, Siangkong jangan marah."
Cu Jit-jit melirik Sim Long, katanya.
"Hm, dia berani marah? Dia telah membongkar permainanku, aku tidak marah kepadanya sudah untung baginya!"
It-siau-hud tertawa, katanya.
"Bagus, bagus, Siangkong memang tidak marah ... bila ada yang mampu membuat Siangkong ini marah, orang itu tentu lihai."
Cu Jit-jit tertawa cekikikan, katanya.
"Memangnya dia, dia ...."
Diam-diam ia mendekat dan mencubit lengan Sim Long, katanya.
"Apa kau ini patung? Kenapa tidak bicara?"
"Baik, aku akan bicara,"
Kata Sim Long.
"Jawab pertanyaanku, cara bagaimana kau bisa kemari? Kapan tiba? Apakah kau sudah masuk dan melihat Hoa ... Hoa-hujin?"
"Eeh, kau ini, diajak bicara tidak mau, kalau mau bicara terus mencerocos seperti mitraliur .... Baiklah kujelaskan. Waktu kalian memeriksa mayat tadi, diam-diam aku sudah tiba sini dan langsung menerjang ke dalam, maksudku semula ingin memeriksa keadaan, tapi di dalam teramat gelap, kami tidak membawa api, walau aku tidak takut, Lo-pat ternyata gemetar, khawatir dia jatuh sakit, terpaksa aku putar balik."
"Hah, tidak tahu malu, memangnya kau tidak takut, kalau tidak takut kenapa menarikku sekencang itu? Terasa jari-jari tanganmu sedingin es dan juga gemetar ...."
Cu Jit-jit membentak.
"Setan cilik, berani omong!"
Anak merah itu tertawa.
"Kalau kau tidak mengolok diriku, tentu aku tidak banyak omong tentang dirimu."
Tiba-tiba dari depan berkumandang jeritan ngeri seorang, dari jauh makin mendekat meski suaranya perlahan, tapi seram menakutkan, tampak bayangan orang dengan langkah sempoyongan berlari datang.
Melihat orang banyak ini, orang itu tertegun sekejap, jarinya menuding, sebelum bicara tubuhnya lantas terjungkal.
Setelah mengalami berbagai kejadian ngeri, perasaan semua orang seperti sudah beku, hanya Sim Long yang masih bertindak cekatan, dia memburu maju dan membangunkannya, diam-diam dia kerahkan Lwekangnya sambil memanggil.
"Saudara, bangunlah."
Mendapat bantuan saluran tenaga murni Sim Long, perlahan orang itu membuka mata dan mengerling ke kanan-kiri, tiba-tiba ia memanggil dengan tersendat.
"Thi ... Thi-heng ...."
Cepat Thi Seng-liong memburu maju, seketika dia menjerit kaget.
"Ah, kau Kim-heng, kenapa ... kenapa jadi begini?"
"Ka ... kami ber ... berlima kini tinggal ... aku saja ...."
"Jadi An-yang-ngo-gi sudah ... sudah gugur semua di sini? Wah ... siapakah yang turun tangan sekeji ini?"
Orang itu tersenyum kaku, gumamnya.
"Di dalam sana ada ... ada setan, jangan ... jangan masuk ke sana ... jangan masuk ... ke sana,"
Tiba-tiba dia meralat dengan suara lebih keras.
"Buk ... bukan setan, tapi ...."
"Tapi apa?"
Tanya Sim Long.
"Saudara ... bangunlah ...."
Terpejam mata orang itu, jiwanya melayang. Sim Long menghela napas panjang, perlahan dia berdiri dengan masygul dan semua orang sama geleng kepala. It-siau-hud bertanya.
"Apa benar orang ini salah satu dari An-yang-ngo-gi (lima saudara angkat dari An-yang)?"
"Orang ini bernama Kim Lin, saudara tertua dari An-yang-ngo-gi, mungkin mereka juga mendengar kabar adanya harta karun di dalam kuburan, maka mendahului kemari, tak nyana ...."
Thi Seng-liong menghela napas. lalu dia membuka pakaian luarnya untuk menutupi jenazah Kim Lin.
"Buka bajumu,"
Tiba-tiba It-siau-hud berseru. Thi Seng-liong melenggong bingung. It-siau-hud berkata pula.
"Coba periksa bagaimana kematiannya?"
"Luka penyebab kematiannya tidak sama dengan Li Pa dan lain-lain ...."
Tukas Mo Si.
It-siau-hud menyobek baju Kim Lin, di depan dada tiada tanda terluka, tapi di punggung ada bekas telapak tangan warna hitam, bekas lima jari yang melesek ke dalam daging.
Mo Si bergidik melihat tapak tangan ini, desisnya.
"Pukulan lihai."
Lama It-siau-hud awasi bekas telapak tangan itu tanpa berkedip, sekian lama baru dia angkat kepala, katanya sambil memandang Sim Long.
"Apakah Siangkong sudah melihatnya?"
"Ya sudah kuketahui,"
Ujar Sim Long. Cu Jit-jit mengentak kaki, tanyanya.
"Kau tahu apa, lekas terangkan!"
"Jik-sat-jiu!"
Sahut Sim Long. Tergetar tubuh Cu Jit-jit, serunya.
"Jik-sat-jiu (telapak ungu), apa benar?"
"Pasti tidak salah,"
Kata It-siau-hud tegas.
"selama lima puluh tahun belakangan ini, orang yang memiliki kungfu sejenis ini dalam Bu-lim hanya Say-siang-sin-liong, Tok-jiu-siu-hun dan Yau-bing-sin-kay bertiga saja, kecuali itu tiada jago silat lain yang mempelajari ilmu pukulan ini."
Mo Si ragu-ragu, katanya.
"Tapi ... bukankah ketiga orang itu sudah mati?"
"Betul,"
Sahut It-siau-hud.
"ketiga orang ini memang sudah mati."
Orang banyak saling pandang, tanpa terasa mereka merubung maju. Cu Jit-jit tertawa.
"Aduh, percakapan kalian sungguh membuat takut saja. Kalau orang lain tiada yang mahir menggunakan Jik-sat-jiu, mungkinkah ketiga orang itu telah bangkit dari liang kuburnya dan membunuh Kim Lin?"
Tapi tertawanya makin lirih karena melihat wajah hadirin sama masam, tanpa terasa dia sendiri ikut ngeri dan tak bicara lagi.
Mendengar Tacinya bicara orang mati, hati si anak merah ikut takut, diam-diam dia mendekati Sim Long, katanya perlahan.
"Tempat ini bukan tempat bermain dan dingin pula, mari pulang saja."
"Kalian berdua memang harus pulang,"
Ucap Sim-Long.
"Dan kau?"
Tanya anak merah.
"Selama hidupku belum pernah melihat setan, kalau hari ini aku bisa melihatnya, menyenangkan juga ...."
Ujar Sim Long setengah berkelakar.
"tapi yang boleh melihat setan hanya beberapa orang saja, supaya setannya tidak lari ketakutan."
Biasanya dia pendiam, kini setelah orang banyak ketakutan dan sukar bicara, dia justru berkelakar seenaknya. It-siau-hud tertawa, katanya.
"Keadaanku sekarang kurasa tak jauh bedanya dengan setan, peduli setan lelaki atau setan perempuan, bila melihatku pasti mengira aku kawan sejenisnya dan takkan lari ketakutan."
Sim Long tertawa.
"Bagus jika Taysu mau pergi ...."
Seperti tidak sengaja ia melirik ke arah Cu-bu-cui-hun Mo Si dan Gin-hoa-piau Seng Ing. Seng Ing segera maju ke depan, katanya tersenyum.
"Cayhe akan tetap berada di samping saudara."
Mo Si tertawa, katanya.
"Orang-orang Kangouw sama memanggilku 'setan perenggut sukma', hari ini biar setan tiruan ini menghadapi setan tulen."
"Bagus,"
Ucap Sim Long.
"ada empat orang sudah cukup ...."
"Dan aku?"
Tanya Cu Jit-jit.
"Kau pulang saja,"
Sahut Sim Long.
"Tidak, berdasar apa kau berani memerintah diriku? Aku justru tidak mau pulang. Lo-pat, angkat kepalamu, besarkan nyalimu, kalau setan membuat kita mati, bukankah kita masih dapat menjadi setan, kenapa takut? Mari kita masuk dulu, coba siapa berani merintangi kita?"
"Aku ... aku ...."
Semula si anak merah bimbang, bola matanya berputar, lalu menambahkan dengan tertawa.
"Aku tidak mau, kukira kau pun tidak perlu ikut."
Dongkol Cu Jit-jit, semprotnya.
"Kau takut setan?"
"Aku tidak takut setan, tapi aku takut pada Sim-toako. Nasihatnya tidak berani kutentang,"
Ujar si anak merah sambil menarik baju Cu Jit-jit, lalu berbisik pula.
"Kalau kau selalu menguntit dia, mana dia mau akrab terhadapmu. Jika ada orang selalu menentangmu, apakah kau menyukainya?"
Berputar bola mata Cu Jit-jit, katanya sambil menghela napas.
"Setan cilik, tahu begini, tidak kubawa kau kemari. Setelah kau ikut, mau tak mau harus kulindungimu. Baiklah, pulang ya pulang."
"Nah, kan begitu,"
Ujar si anak merah riang. Agaknya orang banyak belum pergi, Sim Long berkata.
"Di hotel mungkin juga terjadi apa-apa, tenaga kalian amat diperlukan di sana."
Ong-jimoacu berkata.
"Betul, meski di sini berbahaya, tugas di sana juga tidak ringan, baiklah kita selesaikan tugas masing-masing, jadi siapa pun tiada yang menganggur."
"Ya, memang harus demikian,"
Ujar Sim Long tersenyum, lalu ia putar tubuh dan melangkah dulu ke arah "sarang setan". Mendadak Cu Jit-jit berseru.
"Sim Long, kau ...."
"Kenapa?"
Sim Long menoleh. Cu Jit-jit menggigit bibir, katanya.
"Kau ... jangan-jangan kau digondol setan nanti."
"Sim-toako, Ciciku amat mengkhawatirkan keselamatanmu. Tapi engkau berkepandaian tinggi, setan mana pun pasti takkan mampu membekukmu, aku tidak khawatir ...."
Lalu anak ini menoleh ke arah Ong-jimoacu, Siau Mo-in, dan lain-lain dan tertawa, katanya.
"Kalian memang mau pergi, ayolah berangkat, tunggu apa lagi? Kita berangkat bersama." ***** Akhirnya Sim Long, It-siau-hud, Mo Si, dan Seng Ing memasuki "sarang hantu"
Yang entah telah merenggut nyawa beberapa orang, setelah bayangan mereka berempat lenyap ditelan kegelapan, barulah Ong-jimoacu dan lain-lain pergi.
Cu Jit-jit mengawasi dengan kesima mirip orang linglung, tiba-tiba air matanya meleleh.
"Apa yang kau tangisi, dia kan bakal kembali,"
Omel si anak merah. Cu Jit-jit menunduk, katanya.
"Entah mengapa, aku ... aku takut. Lo-pat, kalau dia ... tidak ... tidak kembali ...."
Tiba-tiba anak merah juga bergidik, mengawasi bayangan gunung yang seram itu, mukanya yang merah seketika pucat, sampai lama tidak mampu bicara.
Mendadak dilihatnya Cu Jit-jit mengayun langkah berlari kencang ke depan.
"Cici ...."
Teriak si anak merah kaget. Cu Jit-jit tidak berpaling, juga tidak berhenti, katanya.
"Kau pulang saja, carilah Hoa-po (nenek Hoa, maksudnya Hoa Lui-sian), aku ... aku akan mendampingi dia ...."
Sekali bayangan putih berkelebat segera lenyap di dalam "gua hantu".
Anak merah celingukan, dilihatnya pepohonan di sekitarnya tandus kering, angin mengembus kencang, seperti bayangan setan berkelebat di antara taburan bunga salju, baru sekarang anak merah itu merasa takut selama hidup, tak tahan segera dia berteriak.
"Cici, tunggu aku ... tunggu ...."
Segera ia pun menyusul ke dalam gua.
***** Di kaki bukit, mulut gua yang gelap gulita menganga seperti mulut raksasa yang siap mencaplok mangsanya, batu besar yang berserakan di sekitar mulut gua juga diselimuti salju, mulut gua serupa dilapisi permadani putih sehingga menambah suasana makin seram dan tidak kelihatan betapa dalam gua ini.
Cu Jit-jit tidak peduli, sekali lompat langsung dia menerjang masuk, apakah nanti dia bakal mati atau hidup tidak dipikir lagi, karena dia tahu umpama mati juga lebih mending daripada menunggu Sim Long di luar gua.
Tiba-tiba didengarnya si anak marah berteriak di belakang.
"Cici ... tunggu ...."
Setelah memanggil dua kali, mungkin karena jatuh, suaranya tiba-tiba putus, tapi segera merangkak bangun dan mengejar pula seraya berteriak.
"Tunggu, Cici ...."
Terasa betapa takut dan panik dari suaranya yang serak. Maklum, betapa besar nyalinya, dia masih seorang bocah. Cu Jit-jit enggan menunggu, tapi juga tak tega, akhirnya dia berhenti, serunya dongkol.
"Setan cilik, kusuruh kau pulang tidak mau .... Hati-hati, jangan jatuh lagi ...."
Di tengah kegelapan tampak bayangan si anak merah menyusul datang dengan sempoyongan, lekas Cu Jit-jit maju memapahnya, katanya.
"Sakit tidak?"
"Tidak sakit,"
Sahut si anak merah, padahal suaranya sudah berubah, tangan kecil yang mengenakan sarung tangan kulit menjangan memegang kencang tangan Cu Jit-jit, mati pun tak mau dilepas lagi.
Cu Jit-jit menghela napas, gumamnya.
"Aku jadi heran kenapa ayah tega membiarkan kau keluar .... Ai, gua ini sangat gelap, kau harus hati-hati."
Kakak beradik bergandeng tangan, selangkah demi selangkah masuk terlebih dalam, keadaan gua juga makin gelap, lima jari sendiri saja tidak kelihatan.
Sim Long berempat sudah tidak kelihatan lagi bayangannya, semula deru angin di luar masih kedengaran, lama-lama suara itu pun lenyap, sekeliling sunyi senyap seperti tiada makhluk hidup di dunia ini, bau apak dan lembap terus merangsang hidung.
Sekonyong-konyong sebuah benda dingin lengket menerjang tiba, Cu Jit-jit berteriak kaget, sekuat tenaga dia sampuk dengan tangannya, benda itu mengeluarkan suara mencicit terus melayang pergi.
Jit-jit berseru.
"Lo-pat, jangan ... jangan takut, itu cuma seekor ... kelelawar."
Dia suruh adiknya jangan takut, padahal suara sendiri rada gemetar. Tiba-tiba dilihatnya ada bayangan berkelebat di depan dan melayang tiba, dengan suara gemetar Jit-jit menegur.
"Sia ... siapa?"
"Apakah Jit-jit?"
Tanya bayangan itu.
"Aku Sim Long."
Cu Jit-jit berpekik girang, dia menubruk maju dan memeluk Sim Long dengan kencang, mukanya yang dingin terbenam dalam pangkuan Sim Long, sekujur badan masih gemetar, lutut pun terasa lemas.
Tak tahan Sim Long mengelus rambutnya, katanya sambil menghela napas.
"Aku sudah bilang jangan ikut, kau tetap kemari, coba ketakutan begini .... Ai, buat apa cari penyakit?"
Mendadak Jit-jit mendorongnya dengan mendongkol, serunya.
"Memang aku pantas mampus, siapa suruh aku menolong kau yang hampir mampus dulu, jika kubiarkan kau mati, sekarang mana ... mana aku bisa menderita begini?"
Tiba-tiba di kejauhan tampak sinar api bergerak, hingga air mata di pelupuk matanya berkilau, lekas Cu Jit-jit melengos ke arah lain, nona yang berhati keras ini, meski menangis lantaran Sim Long, tapi sedapatnya dia berusaha supaya Sim Long tidak melihat dia menangis.
Namun Sim Long sudah melihatnya, sesaat dia melenggong, lalu berkata lembut.
"Coba lihat, Lo-pat malah tahu diri, anak kecil bersikap dewasa, kau sebaliknya seperti anak kecil saja."
"Memangnya kau tidak mirip anak kecil? ...."
Sambil melototi Sim Long tiba-tiba Jit-jit tertawa cekikik, tertawa yang mesra dan penuh kasih sayang, seorang yang berhati baja pun akan luluh hatinya, tapi Sim Long justru berpaling ke sana.
Tertampak It-siau-hud muncul membawa obor, katanya dengan tertawa.
"Apakah nona Cu? Kutahu kau pasti menyusul kemari .... Di depan sana adalah pintu batu, lekas kalian berdua kemari."
Gelak tawanya yang keras menimbulkan gema yang keras pula di dalam "sarang hantu"
Ini hingga tempat yang sunyi gelap ini seketika berubah agak hangat dan ada hawa kehidupan. Terbangkit semangat Cu Jit-jit, lekas dia seka air mata, katanya.
"Kami tidak berdua, tapi bertiga."
Sambil menggandeng tangan Sim Long dan Cu Pat, dia maju ke depan dengan langkah lebar.
Sorot mata seperti bercahaya, dilihatnya si anak merah telah mengenakan topeng setannya yang berwarna merah darah, ia tertawa, katanya.
"Bagus, anak bagus, bila kau pakai topeng itu, setan pun akan ketakutan melihatmu."
Sim Long ambil obor dari tangan Seng Ing, diangkat tinggi di atas kepala terus mendahului jalan ke depan.
Cahaya obor yang bergerak menerangi dinding sekeliling gua hingga kelihatan seram, di tengah embusan angin dingin, sebuah pintu batu mengadang di depan.
Pintu batu polos tanpa hiasan apa-apa, tinggi dan besar, mereka berhenti di depan pintu, meski mendongak juga tidak terlihat betapa tingginya pintu.
Seketika timbul perasaan sedemikian kecil diri mereka ini, hingga rasa takut terhadap gua hantu ini bertambah besar.
Kedua daun pintu besar ini tertutup rapat, di tengahnya terdapat garis celah, tampak bekas bacokan di atas pintu, tapi daun pintu yang tebal dan berat ini jelas tak bisa dibuka dengan kekerasan.
Sim Long berpikir sebentar, lalu katanya.
"Rombongan kuli tambang yang menemukan tempat ini entah cara bagaimana bisa masuk kemari? Entah Wi Be ada penjelasan atau tidak?"
Alis It-siau-hud bertaut, katanya.
"Menurut cerita Wi Be pintu ini berhasil dijebol oleh para kuli itu tatkala mereka mabuk."
Sim Long menarik napas.
"Tapi pintu ini jelas bukan terbuka karena kekerasan, agaknya cerita Wi Be ada yang tidak sesuai dengan keadaan di sini."
"Mungkin badan halus tempat ini yang membuka pintu ini?"
Ucap Jit-jit dengan sangsi.
"Tapi ... tapi ...."
Si anak merah menimbrung, mungkin karena ketakutan, suaranya jadi tergegap, setelah batuk dua kali baru dia meneruskan.
"Tapi kalau setan penghuni kuburan ini melarang orang masuk kemari, mana mungkin dia membuka pintu, bisa jadi dia ... dia merasa kesepian dalam gua ini, maka sengaja menipu beberapa orang untuk mengantar kematian, supaya tambah setan baru untuk menemani mereka?"
Ucapan si anak merah seperti minyak menyiram api, Cu Jit-jit mengomel.
"Setan ... setan cilik, omong ... kosong." -Suaranya pun menggigil. Saking ketakutan Cu-bu-cui-hun Mo Si tak kuat berdiri lagi, katanya,"
Apakah ... tidak lebih baik menunggu siang hari baru ... baru kita masuk kemari lagi?"
It-siau-hud tertawa dingin.
"Sudah puluhan tahun Cu-bu-cui-hun malang melintang di dunia Kangouw, kau terhitung seorang tokoh yang disegani, kenapa sekarang berucap demikian?"
"Tapi ... tapi ...."
Luluh semangat Mo Si, akhirnya dia menunduk tanpa bicara lagi. Sim Long menghela napas perlahan, katanya.
"Memang aneh kejadian dalam gua hantu ini, kalau Mo-heng tidak mau masuk lebih lanjut, janganlah dipaksa."
It-siau-hud menjadi gusar.
"Sudah sampai di sini, siapa lagi yang tak mau masuk?"
"Bukan demikian halnya,"
Kata Sim Long.
"Sekarang siapa pun bila melangkah ke dalam pintu, mati-hidup selanjutnya sukar diramalkan, umpama kau bisa memaksa orang lain berbuat seperti dirimu, tapi tak boleh memaksa orang lain untuk mengantar jiwa secara sia-sia."
It-siau-hud melongo, segera Sim Long menambahkan.
"Kalau Mo-heng tidak mau masuk boleh silakan kembali saja ...."
Mendadak It-siau-hud tertawa, katanya.
"Keluar seorang diri, kukira jangan harap bisa meninggalkan tempat ini dengan hidup."
Bergetar tubuh Mo Si, mendadak dia mengertak gigi, dengan kalap dia membentak.
"Masuk juga boleh!"
Segera dia mendahului menerjang masuk seraya berteriak.
"Ayo, kawanan setan dalam kuburan ini, kalau berani keluar bertempur melawanku .... Keluar, keluar ... hahaha, kenapa tidak berani? Kalian tidak berani? Hahaha ...."
Gelak tertawa yang mengerikan bergema di dalam gua hantu hingga debu rontok berhamburan. Cu Jit-jit bergumam.
"Mungkin orang itu sudah gila."
Sim Long berkerut alis, sekali berkelebat menyusul ke dalam, dilihatnya Mo Si sedang menggerakkan kaki dan tangan, menari mirip orang gila, secepat kilat Sim Long memegang urat nadinya, katanya dengan suara tertahan.
"Mo-heng, kenapa jadi nekat begini, memangnya kau tidak ingin hidup lagi?"
Bergetar tubuh Mo Si, sesaat dia berdiri melongo.
Sementara itu orang banyak telah menyusul tiba, tampak di balik pintu merupakan sebuah ruang besar berbentuk bulat, ada sembilan pintu yang tersebar di berbagai penjuru, langit-langit pun bulat berbentuk kubah dan kelihatan ada lukisan, cuma terlalu tinggi, tak tercapai oleh cahaya api, maka tidak bisa terlihat lukisan apa.
Ruang sebesar ini kosong melompong, hanya sebuah meja bundar di tengah ruangan, benda lain tidak ada.
Cu Jit-jit merinding berada di tempat serbabulat ini, gumamnya.
"Sebetulnya kuburan siapakah ini?"
Seng Ing menimpali.
"Kemungkinan kuburan seorang raja zaman dahulu."
Tiba-tiba ia seperti menemukan apa-apa, dia memburu ke meja bundar sambil mengulurkan tangannya.
"Berhenti!"
Tiba-tiba Sim Long membentak. Seng Ing menoleh, serunya.
"Di atas meja ada ...."
"Apa pun yang berada di dalam ruang ini, siapa pun dilarang menyentuhnya,"
Sim Long memperingatkan.
"Seng-heng harus ingat ...."
"Kenapa?"
Tanya Cu Jit-jit. Sim Long menghela napas, katanya.
"Jangan lupa bagaimana kematian para kuli tambang itu, setiap sudut tempat ini, mungkin dilumuri racun, bila menyentuhnya jangan harap ...."
Mendadak si anak merah menjerit.
"Itu dia setannya datang!"
Serentak semua orang berpaling, tertampak pintu kiri di sebelah anak merah ada cahaya api berkelebat, sinarnya berkelap-kelip laksana kunang-kunang, jelas api setan.
"Kejar!"
It-siau-hud memberi aba-aba.
"Nanti dulu,"
Kembali Sim Long mencegah.
"dalam kuburan ini pasti banyak lorong yang simpang-siur. Jika Taysu kurang hati-hati dan tersesat di dalamnya, mungkin takkan bisa keluar lagi, maka kalian tidak boleh sembarang bertindak."
Seng Ing menghela napas, katanya.
"Pendapat saudara memang benar, menurut apa yang kuketahui, dalam kuburan kuno memang banyak jalan rahasia yang menyesatkan, kecuali bisa mendapatkan peta mengenai seluk-beluk kuburan ini, kalau tidak, jangan harap bisa pergi datang seenaknya sendiri ...."
Tanpa sengaja dia menoleh, air mukanya mendadak pucat, tangannya menuding ke meja, jarinya gemetar, mulutnya menganga, tapi tak mampu mengeluarkan sepatah kata pun. It-siau-hud juga kaget, tanyanya.
"Ada apa, kenapa mendadak berubah setegang ini?"
Seng Ing menenangkan diri, katanya kemudian.
"Barusan kulihat di atas meja bundar ini ada sekeping lencana besi hitam gelap, tapi dalam sekejap saja lantas lenyap."
Mo Si ketakutan, tanyanya gemetar.
"Apakah kau ... melihatnya jelas?"
"Sejak umur tujuh tahun kutumbuh dewasa di kamar gelap, di bawah penerangan api dupa juga aku bisa melihat sesuatu benda, sudah lima belas tahun aku melatih diri, kuyakin pandanganku cukup tajam, dalam jarak tiga tombak, nyamuk terbang pun takkan bisa mengelabui pandanganku .... Barusan ... barusan kulihat dengan jelas, pasti tidak salah."
Maklum, Gin-hoa-piau Seng Ing adalah salah seorang jago muda yang cukup menonjol dalam kalangan Bu-lim di Tionggoan, setiap anak murid Seng-keh-po yang ahli senjata rahasia sangat terkenal, betapa tajam mata murid didik keluarga Seng, kejituan serangannya sudah diakui oleh kaum persilatan, bahwa sekarang Seng Ing bicara seyakin ini, jelas urusannya tidak perlu disangsikan lagi.
Berkeringat jidat Mo Si, katanya gemetar.
"Soal ini tidak boleh dibuat permainan, siapa yang mengambil lencana besi itu, silakan mengaku, supaya kita tidak perlu berkhawatir."
Orang banyak saling pandang dengan wajah serius, tapi tiada seorang pun yang bicara, kembali Mo Si membentak.
"Kalau tiada yang mengambil, memangnya lencana itu punya sayap dan bisa terbang sendiri?"
Gema suaranya seperti bunyi genta yang bertalu-talu, jelas gua ini sangat luas dan dalam, sampai gema suara itu sirna, orang banyak masih tiada yang bicara.
Sambil mengawani Mo Si diam-diam Cu Jit-jit membatin.
"Keparat ini sok bertingkah, bukan mustahil dia sendiri yang main gila."
Sementara itu Mo Si juga mengawasi Seng Ing dan membatin.
"Mungkin pada hakikatnya dia tidak melihat apa-apa, namun sengaja bilang melihat sesuatu supaya orang banyak berkhawatir dan curiga, lalu diam-diam dia akan menarik keuntungan?"
Sedangkan Seng Ing memandang It-siau-hud, pikirnya.
"Hwesio ini memiliki kungfu tinggi, tapi jarang namanya disebut orang di kalangan Kangouw, bukan mustahil dia salah seorang dari anggota penghuni gua hantu ini, sengaja dia memancing orang banyak antar kematian kemari? Kalau dugaan ini benar, jelas lencana tadi diambil olehnya."
Beberapa kali It-siau-hud hendak bicara, tapi urung, dia menatap Sim Long, pikirnya.
"Hm, asal usul bocah ini patut dicurigai, masih semuda ini tapi membekal kungfu setinggi itu, semua peristiwa yang mengejutkan bukan mustahil adalah permainannya?"
Jadi satu sama lain saling curiga, tanpa terasa mereka lantas saling memerhatikan apakah orang yang dicurigai menunjukkan sesuatu gerak-gerik dan memerhatikan tangan orang apakah memegang sesuatu yang mencurigakan?
Hanya Sim Long yang bersikap wajar dan tenang, sedikit pun tidak gugup atau gelisah.
Tiba-tiba terdengar si anak merah berkata.
"Di luar pintu ada setan, lencana besi tadi pasti dibawa setan tadi, tempat ini memang menyeramkan, ayolah putar balik saja!"
Belum habis dia bicara mendadak Mo Si menjerit ngeri dan tersungkur.
Orang banyak berjingkat kaget, It-siau-hud dan Seng Ing bergerak hendak memapahnya, tapi hanya maju tiga langkah, tanpa berjanji keduanya lantas berhenti.
Lekas Sim Long memapah Mo Si, tertampak mukanya pucat, sorot matanya memancarkan rasa takut dan ngeri, bola matanya melotot, dadanya juga naik-turun.
Melihat orang belum mati, lega hati Sim Long, tanyanya.
"Mo-heng, tidak apa-apa bukan?"
"Ada ...ada ...."
Mo Si tergegap.
"Ada apa?"
Tanya Sim Long.
"Ba ... barusan ada ... ada orang memukulku dari belakang."
Cu Jit-jit tertawa dingin, jengeknya.
"Mana ada orang di belakangmu, apa kau mimpi?"
"Benar, ada orang memukul punggungku,"
Suara Mo Si serak dan panik.
"punggungku sekarang masih sakit, aku ... jika aku membual, biarlah aku mati tak terkubur."
Kembali orang banyak saling pandang, tidak ada yang bicara, bernapas pun tak berani keras-keras. Kembali Seng Ing membatin.
"Kapan ada orang memukulnya, kurasa dia sengaja berbuat demikian supaya orang takut dan curiga, diam-diam dia akan memungut keuntungan."
Jit-jit juga membatin.
"Siapakah di antara orang-orang ini yang jadi biang keladi? Mungkin Hwesio gede ini?"
Tapi It-siau-hud tampak menyeringai, otaknya juga bekerja.
"Bukan saja bocah ini patut dicurigai, gadis ini mungkin juga punya maksud tertentu, aku harus lebih hati-hati, jangan sampai tertipu oleh mereka."
Makin besar saling curiga mereka, saling berjaga dan saling mengawasi, di bawah api obor yang bergerak-gerak, tampak air muka mereka tegang dan kaku. Di tengah keheningan itu terdengar Mo Si bergumam.
"Siapa yang memukulku? Siapa?"
Mendadak dia membentak dan menerjang ke depan Seng Ing, katanya dengan beringas.
"Tadi kau berdiri paling dekat denganku, mungkinkah kau yang main gila?"
Seng Ing gusar, dampratnya.
"Kau sendiri yang berpura-pura dan sengaja menuduh orang malah."
"Kentut busuk ...."
Maki Mo Si, kontan ia menjotos. Sigap sekali Seng Ing berkelit, tangannya merogoh kantong. Mo Si sudah telanjur kalap, bentaknya.
"Senjata rahasia keluarga Seng memang lihai, tapi apakah Cu-bu-cui-hun takut padamu? Ayolah maju, orang she Mo ingin membuktikan apakah Gin-hoa-piau lebih lihai, atau Cui-hun-ciam (jarum mengejar sukma) milikku lebih ampuh?"
Kedua orang ini sudah siap saling labrak, padahal senjata rahasia kedua orang ini sama lihai dan terkenal, bila bentrokan terjadi, maka urusan pasti sukar dibereskan.
Dalam keadaan seperti ini orang lain tidak dapat lagi berpeluk tangan, cepat It-siau-hud menarik Mo Si dan Sim Long membujuk Seng Ing, katanya.
"Dalam keadaan seperti ini, mana boleh kalian saling bunuh malah, kalau ditonton musuh di tempat gelap kan ...."
"Mana ada orang di tempat gelap?"
Seru Mo Si gemetar.
"Kalau tiada orang, lalu siapa yang memukulmu?"
Tanya Sim Long. Si anak merah mendadak berteriak.
"Setan! Setan ... pasti ada setan ...."
Mendadak obor yang dipegang It-siau-hud padam, keadaan menjadi guram, perasaan semua orang tambah tertekan. Serak suara It-siau-hud.
"Bagus, bagus! Ayolah saling genjot, kalian boleh berhantam. Kita memang tidak ingin keluar lagi dengan hidup, baiklah aku menonton kalian berhantam lebih dulu."
Tangan Mo Si yang dipegangnya lantas dilepaskan, tapi tubuh Mo Si jadi gemetar, mana dia berani turun tangan? Seng Ing berkata.
"Kita harus maju atau mundur lekas diputuskan, kalau berani ayo terjang ke dalam, mendingan mati daripada menunggu di sini."
Belum habis dia bicara, tiba-tiba Sim Long juga meniup padam obor di tangannya, keadaan seketika gelap gulita, lima jari sendiri pun tidak kelihatan.
Keruan semua orang berteriak kaget, It-siau-hud berkata.
"Siangkong, apa yang kau lakukan?"
"Dalam keadaan seperti sekarang, alat semacam ini teramat penting artinya, kita akan maju atau mundur tetap memerlukan obor ini, mana boleh dinyalakan terus dengan percuma, setelah ada putusan, bila tiada obor untuk penyuluh jalan, lalu apa yang bisa kita lakukan?"
Seng Ing menghela napas, katanya.
"Memang Siangkong lebih cermat berpikir, jika obor tak bisa menyala, kita akan mati kutu, maju tak bisa, mundur juga sulit, mungkin kita semua bisa mati kelaparan terkurung di sini ...."
Dalam kegelapan mendadak terdengar suara anak merah membentak dan mengomel.
"Jit-ci, kenapa kau cubit aku?"
"Aku ... mana aku mencubit kau?"
Sahut Cu Jit-jit.
"Bukan kau, lalu ... siapa?"
Sim Long, Seng Ing, Mo Si dan It-siau-hud serempak berkata.
"Juga bukan aku."
Seketika mereka merinding, terbayang entah siapa dalam kegelapan ini akan menyentuh atau mencubitnya, mereka jadi ngeri, keringat dingin membasahi sekujur badan. Si anak merah gemetar, serunya.
"Ayolah kembali ... kalau terlambat ...."
Tiba-tiba perkataannya terputus karena di luar terdengar suara langkah berat mendatangi, setiap langkah orang seperti berdetak menggetar sanubari mereka.
Tanpa berjanji serempak semua orang bersiaga dan membentak.
"Sia ... siapa?"
Terdengar seorang menjawab di luar.
"Siapa kau?"
It-siau-hud dan Cu Jit-jit melintangkan kedua tangan di depan dada, Mo Si, Seng Ing diam-diam menggenggam senjata rahasia, tampak secercah cahaya menyorot masuk dari luar, suara langkah itu pun berhenti di ambang pintu.
Sebat sekali It-siau-hud menyelinap ke belakang pintu, ia memberi tanda kepada Seng Ing.
Segera Seng Ing berdehem dan berkata.
"Saudara di luar itu silakan masuk!"
Hening sejenak, tiba-tiba sebuah tangan terulur masuk dari balik pintu, sekali pukul daun pintu.
"blang" , di tengah getaran suara yang keras, daun pintu besar dan berat itu digempur terbuka, maka It-siau-hud tak bisa bersembunyi lagi di belakang pintu, cepat dia melompat mundur, pintu itu pun terpentang lebar. Bayangan orang tampak berkelebat di luar pintu, tanpa memberi peringatan kontan Mo Si ayun tangannya menebarkan segenggam jarum beracun. Maka terdengarlah suara gemeresik, jarum beracun semua mengenai daun pintu. Siapa tahu Cu-bu-cui-hun, ahli senjata rahasia yang terkenal, karena gemetar, kaki tangan jadi lemas dan sambitan senjatanya pun lemah hingga jauh dari sasaran. Di bawah kelebat cahaya api seorang besar berdiri di ambang pintu sambil mengacung obor di atas kepala. Perawakannya yang tinggi kekar, tegak lurus, dengan kegelapan di belakangnya sehingga kelihatan angker. Kini semua orang baru melihat jelas, laki-laki ini bukan lain adalah suami yang mengantar istri dan putrinya balik ke hotel tadi, kini seorang diri dia menyusul tiba.
"O, kiranya kau,"
Lega hati Mo Si. Lelaki besar itu mendengus.
"Tanpa membedakan lawan atau kawan saudara terus main serang secara keji, apa tidak sembrono?"
"Soalnya ...."
Mo Si hanya bisa menyengir saja. Mendadak It-siau-hud membentak.
"Dalam keadaan seperti sekarang, semua menghadapi bahaya dan ketakutan, dapat dimengerti jika ingin turun tangan lebih dulu, umpama salah tangan juga lebih baik daripada jiwa sendiri melayang di tangan orang lain. Saudara juga belum memperkenalkan diri, kita sukar membedakan kawan atau lawan, maka bukan salah kami kalau keliru bertindak."
Laki-laki itu juga gusar, katanya.
"Memangnya kau kira aku ini setan gentayangan dari gua hantu ini?"
"Siapa tahu?"
Jengek It-siau-hud. Laki-laki itu bergelak sambil mendongak, katanya.
"Kalau kau ingin tahu asal-usulku juga boleh, tapi aku ingin tanya padamu, tahukah apa yang diucapkan Tay-pi Siangjin sebelum ajalnya dulu?"
It-siau-hud berpikir sejenak, air mukanya berubah, katanya dengan suara berat.
"Maksudmu keempat kalimat yang berbunyi. 'Pada hari munculnya mega putih, tatkala Jit-sat muncul kembali, dunia persilatan yang kotor ini, kekacauan akan segera mulai'."
"Betul,"
Seru laki-laki itu.
"Sepuluh tahun yang lalu padri agung itu telah meramalkan huru-hara yang bakal terjadi, maka sebelum ajal dia telah mengucapkan ramalannya itu, maksudnya tidak lain bila Jik-sat-jiu muncul pula di dunia Kangouw, kekacauan besar akan mulai berlangsung dalam Bu-lim."
"Apa hubungan soal ini dengan dirimu?"
Bentak It-siau-hud. Laki-laki itu makin keras tertawa, serunya.
"Coba kau lihat, apa ini?"
Perlahan dia ulurkan tangannya, di bawah penerangan obor tampak kelima jari tangannya ternyata sama panjang dan pendek, bagian tengah telapak tangannya berwarna ungu gelap dan memancarkan semacam sinar yang aneh.
Kontan semua orang banyak berteriak kaget.
"Jik-sat-jiu."
"Betul,"
Tandas suara laki-laki kekar itu.
"Loan-si-sin-liong Jik-sat-jiu ...."
"Bangsat,"
Mo Si berjingkrak gusar.
"jadi An-yang-ngo-gi mati di tanganmu."
Kontan dia timpukkan pula senjata rahasianya. Loan-si-sin-liong Jik-sat-jiu menghardik bengis, sekali ayun sebelah tangannya, taburan senjata rahasia itu berhasil dipukul rontok, bentaknya marah.
"Apakah kau gila? Sembarang mengoceh!"
Gemertuk gigi Mo Si saking dendam, bentaknya.
"Sudah jelas An-yang-ngo-gi mati di bawah Jik-sat-jiu, kecuali kau, siapa pula yang mampu menggunakan Jik-sat-jiu? Kau ... bayar kembali jiwa mereka berlima."
Dengan nekat tiba-tiba dia menerjang maju dan menghantam dada orang, tapi sebelum tangannya mengenai sasaran, tahu-tahu sikutnya terpegang dan ditelikung oleh Sim Long.
"Kau ... apa kerjamu?"
Teriak Mo Si kalap.
"Mo-heng, harap tenang dan gunakan pikiran. Waktu An-yang-ngo-gi terbunuh, saudara itu masih berada bersama kita, mana mungkin dia membunuh orang di dalam kuburan ini?"
Mo Si melengak, tangannya terjulur lemas. Laki-laki itu masih gusar, serunya.
"Sesungguhnya apa yang terjadi? Setiba di sini, apakah keparat ini menjadi gila karena ketakutan?"
Sim Long menjura, katanya dengan tertawa.
"Mohon tanya, konon Say-siang-sin-liong Liu-tayhiap dahulu mempunyai seorang putri tunggal, sejak kecil hidup di padang pasir jauh di luar perbatasan sana, entah ada hubungan apa dengan Anda ...."
"Ya, dia istriku,"
Sahut laki-laki itu.
"Siapa nyana Anda ini menantu Liu-tayhiap. Maaf, bila kurang hormat,"
Setelah memberi hormat Sim Long menyambung pula.
"Kaum persilatan tahu bahwa Jik-sat-jiu mengutamakan tenaga keras dan tiada bandingannya di dunia ini, tapi ilmu ini harus dilatih oleh perjaka murni baru akan bisa mencapai puncaknya, padahal dahulu Tok-jiu-siu-hun guru dan muridnya mengalami musibah sekaligus, Yau-bing-sin-kay bertabiat aneh dan lebih suka hidup menyendiri, jelas mereka tidak punya keturunan, Say-siang-sin-liong Liu-tayhiap juga hanya punya seorang putri, maka kaum persilatan sama menyangka Jik-sat-jiu kini sudah putus turunan, siapa tahu meski putri tunggal Liu-tayhiap sendiri tidak meyakinkan ilmu pukulan itu, namun pukulan hebat itu telah diwariskan kepada saudara. Bahwa ilmu sakti yang tiada taranya ini ternyata masih ada juga ahli warisnya, sungguh berita gembira dan patut diberi selamat."
Terunjuk senyum tipis di ujung mulut laki-laki itu, katanya kalem.
"Saudara gagah dan masih muda, tapi sudah paham sejarah dunia persilatan, tentunya kau pun dari keluarga besar persilatan yang kenamaan."
"Cayhe Sim Long, kaum keroco, dan siapa nama saudara yang mulia? "Thi Hoat-ho,"
Sahut laki-laki itu. Sim Long berkeplok, katanya.
"Naga sakti muncul tatkala dunia kacau, orang sakti berdarmabakti, orang terkenal memang patut punya nama bagus."
Thi Hoat-ho tergelak, katanya.
"Saudara ternyata pandai bicara!"
Rasa gusarnya tadi tersapu bersih setelah percakapan berlangsung. Sim Lang berkata pula.
"Dalam dunia persilatan sekarang, kecuali Thi-heng, pasti masih ada seorang yang juga mahir menggunakan Jik-sat-jiu, cuma saudara sendiri tidak tahu."
"Mana mungkin?"
Ujar Thi Hoat-ho sambil berkerut kening. Maka Sim Long lantas menerangkan kematian Kim Lin, tertua An-yang-ngo-gi, akibat pukulan Jik-sat-jiu. Berubah air muka Thi Hoat-ho, katanya dengan mendelik.
"Tak tersangka gua hantu ini mengandung banyak keanehan, perguruan Tok-jiu-siu-hun jelas sudah putus turunan, Yau-bing-sin-kay juga tidak punya ahli waris, dari mana orang itu mempelajari Jik-sat-jiu? Apa pun hari ini orang she Thi harus menyelidikinya sampai terang."
Sambil angkat tinggi obornya ia terus melangkah ke dalam gua.
Jilid 5
"Betul,"
Sambut It-siau-hud.
"syukurlah saudara Thi bernyali besar, kalau tidak masuk sarang harimau, mana bisa mendapat anak harimau?"
Bersama Thi Hoat-ho segera mereka memasuki pintu pertama di sebelah kanan, sempat It-siau-hud menoleh.
"Mo Si, Seng Ing, kalian berani ikut?"
Mo Si dan Seng Ing saling pandang, terpaksa mereka mengeraskan kepala dan buru-buru ikut masuk ke sana. Cu Jit-jit mengawasi Sim Long, tanyanya.
"Bagaimana kita?"
Sim Long mengawasi Thi Hoat-ho berempat lenyap di balik pintu, cahaya api makin jauh, tiba-tiba mulutnya menyungging senyum aneh, katanya sambil mengawasi si anak merah.
"Bagaimana pendapatmu?"
Dengan gemetar si anak merah menjawab.
"Kita pulang saja, di sini pasti ada ...."
Sebelum mengucapkan "setan" , mendadak Sim Long bergerak secepat kilat mencengkeram tangan dan menutuk Hiat-to lengan si anak merah. Keruan Cu Jit-jit kaget, teriaknya.
"Apa yang kau lakukan?"
"Kau kira dia ini adikmu?"
Sim Long menyerahkan obor kepada Jit-jit, lalu membentak.
"Coba lihat siapa dia."
Sekali raih dia copot kedok muka si anak merah, maka tertampaklah seraut wajah yang penuh keriput.
Ternyata waktu si anak merah berlari masuk ke dalam gua tadi, sebetulnya dia sudah berubah jadi Hoa Lui-sian.
Keruan tambah kaget Cu Jit-jit serunya.
"Mana Pat-te? Kau ... kau apakan dia?"
Karena Hiat-to tertutuk dan tertawan, Hoa Lui-sian tampak gugup dan takut, sahutnya dengan menunduk.
"Lo-pat kena kututuk dan kubungkus dengan kantong kulit serta kusembunyikan, dalam waktu dekat jelas tidak akan apa-apa."
Baru sekarang Jit-jit ingat waktu berlari masuk gua tadi, untuk sesaat lamanya baru si anak merah menyusul masuk, di luar gua dia menjerit sekali, tentu saat itulah dia ditutuk dan dibelenggu oleh Hoa Lui-sian, setiba di dalam gua meski dia merasakan suara adiknya agak berubah, tapi dia kira adiknya ketakutan hingga suaranya sumbang, maka ia pun tidak memerhatikan lebih lanjut.
Kini baru dia sadar bahwa Hoa Lui-sian telah menipu dirinya, ia menjadi gemas, serunya dengan mengentak kaki.
"Kau ... kenapa kau sekeji ini terhadapnya?"
Makin rendah Hoa Lui-sian menundukkan kepala, Cu Jit-jit tambah beringas.
"Ayo bicara, katakan ... aku ingin tahu, sebab apa kau sampai hati melakukan semua ini terhadapku."
Sim Long berkata.
"Bukan kau saja yang dipermainkan, tadi sinar api berkelebat di luar pintu juga permainannya, ketika pandangan orang banyak tertuju ke sana, secepat kilat dia sambar lencana besi di atas meja itu dan disembunyikan, diam-diam dia pukul pula punggung Mo Si, orang lain anggap dia anak kecil, sudah tentu takkan curiga padanya, tentang jeritannya tadi ia bilang ada orang mencubitnya, sudah tentu karena disengaja ...."
Berhenti sejenak, lalu Sim Long menambahkan dengan tertawa.
"Karena yang terakhir itulah, maka dapat kuketahui permainannya, coba kau pikir, dia memakai topeng, lalu siapa bisa mencubit mukanya?"
Dengan melongo Cu Jit-jit mendengarkan penjelasan Sim Long, kini baru dia menghela napas lega, katanya.
"Ternyata betul dia, semua adalah perbuatannya, hampir saja aku mati ketakutan."
"Yang hampir mati ketakutan bukan kau seorang saja,"
Ujar Sim Long dengan tersenyum.
"Kita sekeluarga baik-baik padanya, menganggapnya sebagai orang sendiri, kenapa dia tega melakukan semua ini untuk menakuti kami dan membekuk adik Pat lagi ...."
Makin bicara makan gusar Jit-jit, mendadak dia menampar muka Hoa Lui-sian.
"Katakan, kenapa, kenapa?"
Mendadak Hoa Lui-sian angkat kepala, dia awasi Cu Jit-jit, sorot matanya memancarkan rasa benci, tapi mulutnya tetap terkancing, satu kata pun tak mau bicara.
Sudah sekian tahun Cu Jit-jit berkumpul dengan dia, belum pernah dia dipandang sebengis dan sebuas ini, ia merasa ngeri.
Mendadak Hoa Lui-sian berteriak kalap, sekuat tenaga kedua kaki menendang selangkangan Sim Long.
Dengan sedikit mengegos, dengan enteng Sim Long menghindarkan diri.
Agaknya karena tamparan Cu Jit-jit hingga sifat buas Hoa Lui-sian kumat, seperti binatang liar kelaparan, kaki tangannya bekerja, menyerang serabutan dengan kalap, namun urat nadinya terpegang, ujung baju Sim Long saja tak mampu disentuhnya.
Tiba-tiba Hoa Lui-sian menyeringai hingga giginya yang putih tertampak, mendadak dia menunduk terus menggigit punggung tangan Sim Long, tapi sekali tarik dan angkat tangannya, Sim Long berbalik menelikung tangan Hoa Lui-sian.
Dalam keadaan ditelikung, meski Hoa Lui-sian punya kepandaian setinggi langit juga mati kutu dan tak mampu melawan lagi, tapi rasa gusar yang terbayang di mukanya sungguh membuat orang ngeri.
Sim Long berkata lembut.
"Kutahu kau sengaja melakukan berbagai adegan menakutkan itu supaya kami mengundurkan diri dari kuburan kuno ini, tapi apa maksud tujuanmu? Mungkinkah dalam kuburan ini ada rahasianya? Kau tidak suka kami tahu rahasia itu? Atau mungkin pribadimu sendiri ada sangkut pautnya dengan kuburan ini? Asal kau mau bicara secara blakblakan, aku pasti tidak akan menyakiti kau."
"Lepaskan tanganmu, nanti aku bicara,"
Serak suara Hoa Lui-sian. Sim Long tersenyum, katanya.
"Kalau aku membebaskan kau, sukar lagi menangkapmu."
Hoa Lui-sian menggerung geram, tiba-tiba ia jumpalitan ke belakang, kedua kakinya terus menendang, sasarannya adalah dada Sim Long.
Tapi sekali mengentak tangannya, Sim Long sampuk kedua kaki orang.
Hoa Lui-sian mengertak gigi, desisnya.
"Baik, kau menyiksa diriku, nanti akan kubikin kau mati tanpa terkubur, lidahmu akan kupotong, biji matamu kukorek, gigimu kupreteli satu per satu, rambutmu kucabuti sebatang demi sebatang ...."
Cu Jit-jit mengirik, katanya dengan suara gemetar.
"Tutup mulut ... jangan kau katakan lagi."
Hoa Lui-sian menyeringai.
"Baru kujelaskan dan kau sudah ketakutan, bila kupraktikkan, apa pula yang bakal terjadi atas dirimu? Lekas suruh dia lepaskan aku, kalau tidak ...."
Cu Jit-jit membanting kaki, katanya.
"Kau terluka parah dan hampir mati, keluargaku menolongmu dan merawat dan memberikan segala keperluanmu, kau difitnah orang, aku berusaha membantumu, dulu perbuatan kejammu memang kelewat batas, tengah malam kau sering mengigau, sering aku tidur mendampingimu, siapa tahu ... siapa tahu beginilah imbalan yang kuterima darimu ...."
Sampai di sini, saking sedih tak tertahan lagi bercucuran air matanya.
Hoa Lui-sian tertegun, perlahan dia menunduk, air mukanya yang masih beringas menampilkan rasa menyesal juga, mulut terbuka hendak bicara, tapi urung.
Sim Long berkata pula.
"Kenapa kau berbuat demikian? Kenapa sejauh ini kau masih tetap bungkam? Mungkinkah ada orang di dalam kuburan kuno ini yang harus kau lindungi, mungkinkah orang itu sanak saudaramu ...."
Hoa Lui-sian membentak dengan beringas.
"Dari mana kau bisa tahu?"
Cepat sekali dia menyadari telah kelepasan omong, dampratnya gusar.
"Binatang cilik, kau ... jangan harap kau bisa memancing sepatah kata pun dari mulutku."
Berubah air muka Sim Long, tapi tetap tenang dan sabar, katanya perlahan.
"Siapa nyana Hoa-hujin masih punya sanak kadang yang masih hidup di dunia ini, demi mereka kau perlu bicara terus terang, setelah kau jelaskan kesulitanmu, mungkin kami dapat berusaha membantumu, kalau tidak, umpama kami berhasil kau kelabui, tapi rahasia kuburan kuno ini juga akan tersiar luas, cepat atau lambat seluk-beluk di sini pasti ketahuan orang banyak, bila urusan sudah telanjur begitu, menyesal pun sudah terlambat."
Tiba-tiba tampak Hoa Lui-sian melelehkan air mata, ucapnya dengan suara gemetar.
"Kalau kuterangkan, apa benar akan kau bantu aku?"
"Kalau aku tidak mau membantu, kenapa tidak kubongkar saja rahasiamu di depan mereka, kau orang pandai, masa hal demikian tidak bisa kau pikirkan?"
"Baiklah,"
Akhirnya Hoa Lui-sian mengertak gigi.
"Dua puluh tahun yang lalu, kami sudah tahu di tempat ini terdapat kuburan kuno yang menyimpan harta karun, waktu itu meski Cap-sa-thian-mo sedang jaya-jayanya dan malang melintang di Bu-lim, tapi setiap saat kami harus hati-hati menghadapi musuh yang selalu akan menyergap, maka tak sempat kami kemari mengeduk harta karun ini. Kemudian setelah tragedi di Heng-san, Cap-sa-thian-mo gugur seluruhnya, terpaksa rahasia kuburan kuno ini kusimpan dalam hati, tak tersangka rahasia ini akhirnya terbongkar juga."
"Jadi demi mempertahankan rahasia kuburan kuno ini, supaya harta itu tidak dikeruk orang lain, maka sengaja kau lakukan semua ini?"
Muka Hoa Lui-sian tampak berkerut-kerut.
"Bukan,"
Sahutnya singkat. Cu Jit-jit melengak.
"Lalu karena apa?"
"Karena ... karena orang yang jadi korban di dalam kuburan ini, semua terkena Lip-te-siu-hun-san (bubuk beracun). Padahal Lip-te-siu-hun-san adalah resep terahasia keluarga Hoa kami, di kolong langit ini kecuali Toakoku, Siau-hun-thian-mo Hoa Kin-sian, siapa pun tak mampu meraciknya."
Sim Long dan Jit-jit sama berubah air mukanya, kata Jit-jit.
"Siau-hun-thian-mo Hoa Kin-sian, bukankah dia sudah mati dalam tragedi Heng-san dulu?"
"Lima hari setelah tragedi Heng-san itu, dunia persilatan kacau-balau, banyak tersiar kabar angin yang bersimpang-siur, tapi siapa pun tiada yang tahu duduk perkara yang sebenarnya. Kala itu hati setiap orang bingung dan gelisah, banyak pula yang hampir gila, Cap-sa-thian-mo waktu itu dipecah menjadi dua rombongan dan naik ke atas gunung, akhirnya semua tercerai-berai, aku hanya mendengar bahwa Toako Hoa Kin-sian mati di parit Loan-hun-kian, tapi tak kutemukan mayatnya."
"Jadi kabar kematian Engkohmu itu harus diragukan?"
"Kukira demikian."
"Jika demikian ... bukan mustahil Toakomu itu sekarang berada di dalam kuburan ini?"
"Kukira begitu,"
Kata Hoa Lui-sian.
"bahwa Lip-te-siu-hun-san muncul dalam kuburan ini, kuyakin Siau-hun-thian-mo pasti berada di sini juga."
Tiba-tiba Sim Long tersenyum, katanya.
"Lip-te-siu-hun-san itu kemungkinan diracik oleh sukma Toakomu di dalam kuburan kuno ini."
Hoa Lui-sian tergetar, tapi segera dia menyeringai, katanya.
"Umpama benar yang menghuni kuburan ini adalah sukma Toakoku, aku pun akan membantunya, orang luar dilarang mengganggu tempat ini."
Mendadak dengan tangan kiri dia merogoh keluar lencana basi dari kantongnya, katanya pula.
"Kau tahu apa ini?"
Di bawah sinar obor yang dipegang Cu Jit-jit, Sim Long mengawasinya dengan tajam, tampak di dalam lencana yang legam itu, seperti ada bayangan yang bergerak, lencana besi sekecil ini ternyata mengandung sesuatu kekuatan yang gaib.
Mau tak mau berubah air muka Sim Long, katanya.
"Bukankah ini Thian-hun-ling milik Hun-bong-siancu, senjata rahasia beracun nomor satu pada masa lampau?"
"Pandanganmu memang tajam,"
Puji Hoa Lui-sian. Cu Jit-jit terkesiap, serunya.
"Thian-hun-ling yang pernah menggetarkan dunia kini muncul kembali, jadi Hun-bong-siancu, si perempuan iblis itu juga belum mati?"
"Mati-hidup orang lain tidak berani kupastikan, tapi dulu waktu Hun-bong-siancu mati di bawah ilmu jari Kian-kun-te-it-ci yang dilancarkan Kiu-ciu-ong Sim Thian-kun, aku menyaksikannya dengan mata kepalaku sendiri."
Berubah air muka Cu Jit-jit, katanya.
"Barang milik orang mati, bagaimana bisa ... bisa berada di sini?"
Hoa Lui-sian tertawa dingin.
"Jik-sat-jiu-sin-kang, Lip-te-siu-hun-san, Thian-hun-ling, semua ini milik orang yang sudah mati, tapi kenyataan sekarang muncul bersama di dalam kuburan kuno ini, hal ini menandakan sukma yang menghuni kuburan ini tidak hanya satu. Waktu hidup mereka aku adalah saudaranya, sesudah mereka mati aku tetap menjadi sahabat setannya, tempat suci mereka ini siapa pun dilarang mengganggunya, maka kuanjurkan lekas kalian keluar saja, kalau tetap bandel, kalian akan menerima nasib seperti It-siau-hud, Thi Hoat-ho dan lain-lain."
"Bagaimana nasib mereka?"
Tanya Sim Long.
Tiba-tiba didapatinya pintu ke mana tadi It-siau-hud, Thi Hoat-ho berempat pergi kini telah tertutup tanpa mengeluarkan suara.
Sim Long memusatkan perhatiannya kepada Hoa Lui-sian, maka tidak tahu kapan pintu itu tertutup.
"Hah ... pintu ... pintu itu ...."
Jit-jit terbeliak. Hoa Lui-sian tertawa terkial-kial, katanya.
"Baru sekarang kalian sadar? .... Dalam kuburan ini akan bertambah beberapa setan baru lagi, kalau aku tinggal di sini juga tidak akan kesepian. Mengingat hubungan masa lalu, baiklah kuanjurkan kalian lekas pergi saja ...."
Sim Long melirik ke sana, dia yakin delapan pintu ini dibangun dengan perhitungan Pat-kwa, katanya sambil berkerut alis.
"Mereka pergi lewat pintu hidup, mana mungkin mengalami nasib jelek?"
Sambil menarik Hoa Lui-sian dia melompat ke sana, dengan sepenuh tenaga dia memukul pintu.
"blang" , pintu itu kukuh kuat bergeming, jelas daun pintunya berat dan tebal, kekuatan tangan siapa pun takkan mampu menjebolnya. Getaran keras berpadu dengan suara gelak tertawa sehingga menimbulkan gema yang lebih keras. Mendadak belasan lelaki yang membawa obor berbondong masuk, karena gema pukulan dan suara tertawa tadi hingga langkah orang banyak ini tidak terdengar. Setelah mereka tiba di ambang pintu baru Sim Long menoleh, tampak yang berdiri paling depan adalah Beng Lip-jin dan Ban-su-thong. Sim Long segera menyapa.
"Beng-heng juga datang, sungguh aku ...."
Belum habis bicara, beberapa orang di belakang Beng Lip-jin tiba-tiba meraung.
"Budak jalang, ternyata kau berada di sini, kami susah payah mencarimu ke mana-mana."
Mereka ternyata adalah Joan-hun-yan Ih Ji-hong, Pok-thian-tiau Li Ting, Sin-gan-eng Pui Jian-li dan Congpiauthau Can Ing-siong dari Wi-bu-piaukiok.
Beberapa orang ini telah mengejar sampai Pit-yang, meski tidak menemukan Cu Jit-jit, tapi bersua dengan Beng Lip-jin.
Karena Beng Lip-jin memang kenalan lama mereka, dalam omong-omong dia menuturkan rahasia kuburan kuno ini, malah mendesak mereka untuk ikut ke sini.
Pui Jian-li dan Can Ing-siong memang manusia tamak, setelah dibujuk oleh Beng Lip-jin dan Ban-su-thong, akhirnya mereka ikut kemari.
Cu Jit-jit melirik sekejap, bisiknya.
"Wah, celaka, beberapa musuh ini datang ...."
Tiba-tiba dia melejit ke sana dan menyelinap masuk pintu lain, sengaja dia berhenti dan menoleh.
"Di dalam banyak setan pencabut nyawa, apa kalian berani masuk kemari?"
Ia melirik ke arah Sim Long, apa boleh buat sambil menyeret Hoa Lui-sian Sim Long ikut masuk ke sana.
Bayangan putih berkelebat, tahu-tahu Cu Jit-jit sudah lenyap di tengah kegelapan.
Sim Long menyusulnya, katanya.
"Besar amat nyalimu, berani sembarangan main terobos."
"Bekerja jangan kepalang tanggung, makin menakutkan cerita Hoa Lui-sian, makin kuingin tahu, toh dia ikut pula, peduli Engkohnya masih hidup atau sudah mati, sedikit banyak pasti akan memberi kelonggaran kepada kita. Apalagi daripada aku dikerubuti oleh Pui Jian-li dan begundalnya, lebih baik aku mati diterkam setan."
Sim Long menghela napas, katanya.
"Setan juga pasti pusing menghadapi kebinalanmu."
"Blang" , tiba-tiba daun pintu di belakang tertutup sendiri, maka cahaya api dan orang-orang di luar terputus hubungan. Padahal obor di tangan Cu Jit-jit sudah padam, keadaan menjadi gelap gulita. ***** Sementara itu Pok-thian-tiau Li Thing sedang marah-marah kepada Pui Jian-li.
"Toako, kenapa kau larang aku mengejar, kenapa membiarkan musuh melarikan diri?"
Pui Jian-li menyeringai, katanya.
"Mereka masuk lewat Si-bun (pintu mati), jelas mereka tidak bisa hidup lagi, buat apa kita susah-susah mengejarnya?"
Betul juga, daun pintu dimaksud tiba-tiba anjlok dan menutup lorong itu. Li Ting mengelus dada, katanya.
"Sungguh berbahaya, syukur Toako paham Kim-bun-pat-kwa, kalau tidak mungkin Siaute ikut terkurung di sana."
Pui Jian-li mendelik, katanya.
"Tapi sebaliknya, bila yang sembunyi di dalam kuburan ini orang hidup, Kim-bun-pat-kwa dengan sendiri berguna, jika dihuni oleh hantu ... hehehe meski Khong Beng menjelma kembali juga takkan lolos dari kematian."
Joan-hun-yan Ih Ji-hong berkata.
"Budak itu kepepet dan masuk ke jalan buntu, anggaplah penasaran sudah terlampias, kini lebih baik kita keluar saja, supaya tidak mengalami kesulitan."
Can Ing-siong dan lain-lain diam saja, agaknya mereka terbujuk, maklum meski mereka punya nyali besar, setelah masuk ke sarang hantu ini ciut juga nyali mereka.
Diam-diam Ban-su-thong memberi kedipan mata kepada Beng Lip-jin, orang yang belakangan ini segera berseru lantang.
"Harta karun yang terpendam di dalam kuburan kuno ini mungkin tiada bandingan di kolong langit, setelah berada di sini, kenapa pulang dengan tangan kosong? Peduli ada setan atau hantu, kita sebanyak ini masa takut?"
"Jika kalian takut, silakan mundur saja,"
Demikian kata Ban-su-thong.
"Cuma aku dan Beng-heng ... hehe, betapa pun harus masuk ke sana."
Can Ing-siong berkata dengan gusar.
"Siapa yang takut? Wi-bu-piaukiok tiada orang yang pernah mundur di medan laga. Ayo kita terjang masuk bersama."
Serentak mereka terus menerobos masuk ke sana. Sin-gan-eng Pui Jian-li mendengus.
"Kami Hong-lin-sam-ciau juga bukan orang yang takut urusan, tapi juga bukan orang bodoh yang ceroboh dan sok berani, umpama kita ingin terjang juga harus dirundingkan bersama, Can-congpiauthau, coba katakan, apakah kau ada pendapat?"
Can Ing-siong balas bertanya.
"Lalu bagaimana menurut pendapat saudara Pui?"
Pui Jian-li berkata.
"Jumlah kita kebetulan dapat dibagi menjadi dua rombongan untuk mencari jalan dan rombongan lain tetap tinggal di sini, kita ikat dengan tali panjang supaya yang masuk tidak kesasar dan bisa kembali."
Beng Lip-jin berkeplok, katanya.
"Pui-heng memang teliti, lalu siapa yang akan mencari jalan?"
"Biar kubicarakan dulu dengan Can-congpiauthau untuk menentukan siapa yang akan bertanggung jawab,"
Kata Pui Jian-li. Can Ing-siong juga setuju menggunakan cara yang diusulkan Pui Jian-li. Pui Jian-li lantas sembunyikan sebelah tangannya ke belakang punggung, katanya.
"Congpiauthau boleh tebak jariku ganjil atau genap?"
Can Ing-siong termenung sejenak, lalu berkata.
"Ganjil."
Pui Jian-li tersenyum dan acungkan dua jarinya, katanya.
"Genap!"
Can Ing-siong berteriak.
"Baik, kami akan membuka jalan, semua anak murid Wi-bu ikut aku."
Diam-diam Beng Lip-jin membatin.
"Pui Jian-li memang licin, jari tangan sendiri disembunyikan di punggung, kalau Can Ing-siong menebak ganjil dia ulurkan dua jari, sebaliknya kalau Can Ing-siong menebak genap, dia lantas acungkan tiga jari, undian cara begini biarpun sampai dunia kiamat juga Can Ing-siong jangan harap bisa menang .... Namun semua orang sudah berada dalam kuburan kuno ini, siapa pun jangan harap bisa lolos sendirian, apa pula bedanya kalah atau menang?"
Maka dia lantas berseru.
"Mari, kutemani Can-heng membuka jalan."
Pui Jian-li segera mengeluarkan tali panjang, ujung tali yang lain dia serahkan kepada Can Ing-siong, katanya.
"Congpiauthau, ikat ujung tali ini pada pinggangmu, bila tali ini habis rentang, di mana pun kau berada harus segera kembali, sepanjang jalan harus meninggalkan tanda. Bila di tengah jalan mengalami sesuatu, cukup kau tarik tali ini dan kami akan segera memberi pertolongan."
"Ya, kutahu,"
Ujar Can Ing-siong. Lalu dia ikat ujung tali di pinggangnya, lalu berseru.
"Ikut aku!"
Ia angkat obor ke atas dan melangkah lebih dulu memasuki pintu tebal itu, di antara Piauthau yang mengintil di belakangnya seorang berkata dengan gemetar.
"Kalau pintu ini jatuh, bukankah kita akan tertutup di dalam?"
"Jangan khawatir,"
Ujar Li Thing.
"kalau pintu ini anjlok ke bawah, aku bersama Ih-samte masih kuat menyangganya beberapa saat, bila Can-toako menarik tambang, kalian masih sempat lari balik."
Can Ing-siong bergelak tertawa, katanya.
"Orang bilang Pok-thian-tiau selain Ginkangnya tinggi juga memiliki tenaga raksasa, agaknya memang bukan julukan kosong. Baiklah, kami mohon bantuan dan perhatian Li-heng saja."
Habis bicara bersama Beng Lip-jin dan sembilan orang lain beruntun mereka berjalan masuk, sembilan obor cukup menerangi lorong panjang di balik pintu besar itu.
Setelah kesembilan orang itu pergi jauh, Li Thing berteriak.
"Can Ing-siong memang seorang lelaki sejati, gagah dan berani."
"Sayangnya terlalu bodoh,"
Jengek Pui Jian-li.
***** Can Ing-siong jalan paling depan, langkahnya tegap dan mantap.
Lorong rahasia ini tingginya antara dua tombak, berliku-liku, panjang seperti tidak berujung.
Banyak pintunya pada kedua sisi, semua tertutup, didorong juga tak terbuka.
Beng Lip-jin berjalan paling belakang, membawa golok dengan wajah mengulum senyum, sikapnya tenang dan seolah-olah percaya umpama kedelapan orang lain mati semua juga dirinya takkan mengalami bahaya apa pun.
Setelah menempuh perjalanan beberapa kejap, mendadak Beng Lip-jin menggunakan goloknya memotong tali panjang itu, orang yang berjalan di depan sudah tentu tiada yang tahu, cepat Beng Lip-jin menyusul ke depan dan berkata.
"Can-heng, sudah ada yang kau temukan?"
Can Ing-siong menggeleng, katanya sambil menghela napas.
"Kuburan kuno ini ternyata sangat besar ...."
Tiba-tiba dilihatnya daun pintu di depan seperti setengah terbuka, di balik pintu kelihatan ada sinar api yang bergerak, tersirap darah Can Ing-siong, katanya gemetar.
"Mungkinkah di sini dihuni orang?"
Cepat dia melompat maju seraya melongok ke dalam.
Tampak di balik pintu adalah sebuah kamar batu segienam, setiap sudut ditaruh sebuah peti mati, paling tengah terdapat sebuah lampu tembaga yang memancarkan sinar yang redup, tiada bayangan manusia, entah siapa yang menyalakan dan menaruh lampu tembaga itu di situ, suasana terasa dingin mencekam, mendirikan bulu roma.
Can Ing-siong menarik napas, katanya.
"Masuk tidak?"
Beng Lip-jin berkata setelah berpikir sejenak.
"Lebih baik kita tarik tali, supaya Pui-heng dan lain-lain menyusul kemari baru kita bicarakan bersama."
"Baik,"
Kata Can Ing-siong, segera dia hendak menarik tali, makin tarik makin cepat dan terasa enteng, tiba-tiba air muka Can Ing-siong berubah, tarikannya dipercepat, mendadak dilihatnya tambang itu putus seperti bekas ditebas senjata tajam, seorang lantas menjerit.
"Lekas kita mundur."
Beng Lip-jin membanting kaki, katanya gemas.
"Ini ... siapa yang melakukan? Urusan sudah telanjur, mundur juga sudah terlambat, lebih baik kita terjang saja ke depan, apa pun kita harus lihat apa yang berada di depan."
Can Ing-siong bimbang sekian lamanya, katanya kemudian.
"Mati-hidup ditentukan takdir, bila Can Ing-siong hari ini mati di sini ... ai, biarlah, ayo terjang."
Segera dia menyelinap masuk ke dalam kamar batu lebih dulu. Beng Lip-jin berkata.
"Biar aku jaga pintu, lekas kalian masuk!"
Wajah orang banyak kelihatan pucat, langkah pun merandek bimbang. Beng Lip-jin melirik dan berkata pula.
"Peti mati tembaga itu bukan mustahil berisi harta karun ...."
Belum habis ucapannya, orang banyak lantas berdesakan berebut masuk. Ujung mulut Beng Lip-jin mengulum senyum sinis, ia malah menyurut mundur dan mendorong pintu, pintu ini pakai pegas.
"blang" , daun pintu lantas tertutup rapat. Waktu orang-orang di dalam menoleh, daun pintu sudah tertutup, maka terdengarlah teriakan kaget dan panik orang-orang di dalam. Pada saat itu satu bayangan kelabu berkelebat di ujung lorong, gerak-geriknya tidak menimbulkan suara, Lip-jin tidak menyadari akan kedatangan orang ini, dengan menyeringai dia bergumam.
"Can Ing-siong, jangan kau salahkan aku, soalnya ...."
Tiba-tiba ada suara dingin menukas perkataannya.
"Kau telah menjalankan tugas dengan baik, sekarang lekas kau putar balik dan tarik tambang itu dan memancing Pui Jian-li dan lainnya masuk kemari untuk mengantar kematian mereka."
Beng Lip-jin tahu suara ini diucapkan orang berjubah kelabu itu, saking ketakutan lututnya sampai gemetar, namun sekuatnya dia melangkah ke depan, didengarnya suara seperti hantu itu berkata.
"Jalan terus, jangan berpaling, perhatikan keselamatan jiwamu sendiri, bila menoleh nasibmu akan serupa mereka." ***** Di sebelah luar, perhatian Pui Jian-li tertuju pada tambang. Li Thing dan Ih Ji-hong berdiri di kanan-kiri pintu di mana tadi Can Ing-siong dan rombongannya masuk. Setelah tambang tertarik makin kencang, mendadak tidak ada gerakan apa-apa lagi. Pui Jian-li tidak tahu kalau tambang sudah putus, maka dia berkerut kening, katanya.
"Kenapa Can Ing-siong tidak maju lebih jauh, mungkin sudah menemukan sesuatu ...."
Mereka menunggu dalam keheningan, menunggu reaksi, terasa sang waktu berjalan teramat lambat, kaki-tangan terasa dingin, deru napas mereka pun bertambah berat, entah berapa lama kemudian mendadak tambang ditarik dan disendal tiga kali, Li Thing segera berteriak.
"Agaknya terjadi sesuatu di dalam, lekas kita beri bantuan!"
Pui Jian-li tertawa dingin, katanya.
"Apa betul kau mau memberi bantuan, atau mau mengantar kematian?"
Li Thing melenggong, katanya tergegap.
"He, ini ...."
Berputar biji mata Ban-su-thong, katanya mendadak.
"Bukan mustahil Can Ing-siong telah menemukan harta karun, kalau kalian tidak mau masuk, biar aku pergi dahulu."
Segera dia menyelinap masuk lebih dulu. Berubah air muka Pui Jian-li, ia diam sebentar, mendadak dia berkata.
"Dengan orang she Can kita tidak ada hubungan, tapi peraturan Kangouw patut dijunjung tinggi, marilah kita masuk membantu mereka."
Lalu dia pimpin orang banyak berbondong masuk ke dalam, Li Thing dan Ih Ji-hong berada paling belakang. Diam-diam Ban-su-thong membatin.
"Rase tua ini banyak muslihatnya, mulutnya manis hatinya jahat, jelas dia mengincar harta karun, namun mulutnya bicara gagah, kali ini biar kau tahu rasa."
Baru beberapa langkah orang banyak masuk, daun pintu tiba-tiba menutup sendiri. Ih Ji-hong tahu lebih dulu, teriaknya panik.
"Celaka, kita masuk perangkap."
Pui Jian-li juga tersirap kaget, waktu dia berlari balik memeriksa, meski dengan gabungan seluruh kekuatan mereka juga jangan harap bisa membuka daun pintu berat ini, baru sekarang dia berkata dengan ngeri.
"Kita terpaksa maju, ayolah terjang saja."
Tapi beberapa langkah kemudian baru dia sadar bahwa tambang panjang itu ternyata putus. Orang banyak sama pucat, suara Li Thing gemetar.
"Can Ing-siong dan ... dan yang lain entah ke mana? Mungkin sudah celaka?"
Dingin muka Pui Jian-li, bibirnya tertutup rapat, matanya menatap tajam ke depan, langkahnya perlahan, walau hati orang banyak sama kebat-kebit, tapi urusan sudah telanjur sejauh ini, terpaksa orang banyak mengintil di belakangnya.
Mendadak ditemukan sebuah obor yang telah padam di depan sebuah pintu yang tertutup, walau apinya padam, rasanya masih hangat, jelas obor ini padam belum lama ini.
Lekas Pui Jian-li jemput obor itu, katanya perlahan.
"Obor ini memang milik mereka, agaknya ...."
Mendadak ia tutup mulut terus melangkah ke depan.
Walau dia tidak melanjutkan perkataannya, semua orang maklum ke arah mana maksud perkataannya, yaitu Can Ing-siong dan lain-lain mungkin sudah mengalami nasib jelek.
Kecuali diliputi rasa takut dan ngeri, orang-orang itu pun merasa sedih.
Tapi dalam keadaan seperti ini mereka segan bicara, sambil mengeraskan kepala terpaksa maju ke depan.
Di depan mendadak ditemukan simpang jalan tiga.
Di simpang tiga ini mereka menemukan lengan manusia yang berlepotan darah yang belum kering, jari tangan mengepal kencang, hanya jari telunjuk yang menuding ke depan, menuding jalan sebelah kiri.
Sejauh cahaya obor menerangi jalan tembus ke kanan, tulang tengkorak manusia tampak berserakan, ada yang masih utuh, ada yang sudah kocar-kacir, ada yang memegang tombak, golok atau pedang yang setengah berkarat, tapi masih memancarkan cahaya gemerdep ditimpa cahaya obor, suasana hening seram.
Li Thing bergidik, katanya gemetar.
"Apakah perlu ... maju terus?"
"Kalau tidak, mau ke mana?"
Jengek Pui Jian-li.
"Tapi di depan ... akhirnya juga ... juga mati,"
Kata Li Thing khawatir.
"Memangnya kenapa kalau mati?"
Jengek Pui Jian-li pula. Serak suara Li Thing.
"Apakah penghuni kuburan kuno ini hendak membunuh kita semua?"
"Orang yang terpancing masuk kuburan ini asal usulnya berbeda dan tiada sangkut pautnya satu dengan yang lain, tapi penghuni kuburan ini justru menghendaki kematian mereka, ini jelas bukan lantaran dendam atau sakit hati ...."
"Memangnya lantaran apa?"
Sela Ih Ji-hong.
"Menurut hematku,"
Kata Pui Jian-li.
"kuburan kuno besar ini pasti menyembunyikan suatu muslihat keji yang akan menimbulkan kegemparan dan keributan di kalangan Bu-lim, kita akan menjadi tumbal muslihatnya."
Ban-su-thong bertanya.
"Jadi Pui-heng yakin penghuni kuburan ini manusia dan bukan setan?"
Pui Jian-li menyeringai, katanya.
"Di dunia mana ada setan, kecuali ...."
Mendadak di belakangnya terdengar suara orang menjengek, seketika bulu kuduk Pui Jian-li berdiri, serempak orang banyak berpaling.
Tapi di belakang kosong melompong, jangankan manusia, bayangan pun tidak kelihatan, ketika mereka menoleh lagi ke arah tudingan tangan kutung tadi, tudingan itu sudah berubah arah, kini menuding ke jalan yang tengah.
Semua orang sama merasa ngeri, entah siapa berkata dengan gigi gemertuk.
"Ini ... ini ... apa lagi kalau bukan setan?"
Pui Jian-li menendang tangan kutung itu, bentaknya.
"Umpama setan juga aku akan melabraknya."
Segera ia mendahului menerobos ke jalan tengah.
Wajah Ban-su-thong menampilkan senyuman misterius, diam-diam dia berjongkok mengusap noda darah pada ujung kakinya, noda darah waktu dia mendepak dan mengubah arah lengan buntung itu.
Cepat Hong-lin-sam-ciau membawa murid-muridnya menerobos ke jalan yang tengah.
Baru saja Ban-su-thong melangkah mendadak sebuah tangan menarik lengan bajunya, seorang berpakaian kelabu mendadak keluar dari balik dinding dan berdiri di belakangnya, katanya sambil menyeringai.
"Apa kau juga ingin ikut mati bersama mereka?"
Bergetar sekujur badan Ban-su-thong, sahutnya gelagapan.
"O, ham ... hamba ...."
Orang itu berkata.
"Kau masih berguna, tidak kubiarkan kau mati. Ingat, arahkan langkahmu ke lorong yang penuh tengkorak itu, temanmu Beng Lip-jin akan menyambut kedatanganmu di ujung sana."
"Baik ... kutahu ...."
Sahut Ban-su-thong.
Mendadak didengarnya suara jeritan Hong-lin-sam-ciau yang menerobos ke lorong tengah itu, segera jeritan mereka terputus seperti leher mereka mendadak tercekik.
Cukup lama tubuh Ban-su-thong menggigil, setelah agak tenang, suasana hening lelap, di bawah penerangan obor tampak tulang belulang yang mengerikan, sekilas Ban-su-thong melirik ke belakang, orang kelabu ternyata sudah lenyap.
Munculnya laksana setan gentayangan, perginya tanpa meninggalkan bekas.
***** Tadi Hong-lin-sam-ciau bersama muridnya menerobos ke depan, tiba di ujung sebuah kamar batu yang pintunya terbuka, cahaya gemerdep tampak menyilaukan mata di dalam.
Pui Jian-li berteriak girang.
"Agaknya arah yang kita tempuh tidak salah."
Segera dia mendahului menerobos masuk.
Dalam kamar batu ini berjajar empat peti mati, tutup peti tersingkap ke pinggir, di dalam peti penuh berisi berbagai batu menikam yang tak ternilai.
Hong-lin-sam-ciau termasuk keluarga persilatan yang kaya raya, namun selama hidup kapan pernah menyaksikan harta pusaka sebanyak ini.
Apalagi murid-muridnya, semua terbeliak kaget, cukup lama mereka berdiri terpesona, entah siapa yang mendahului berteriak, segera mereka memburu maju sambil ulur tangan untuk meraup mutiara, zamrud, mata kucing dan permata lainnya.
Siapa tahu begitu tersentuh tangan, batu permata itu sama pecah dan menyemprotkan air yang berwarna-warni dan muncrat mengenai muka, kepala, lengan, dan badan murid-murid Hong-lin-sam-ciau.
Terasa batu permata itu dingin, tapi begitu pecah dan air berwarna-warni itu muncrat mengenai badan, rasanya ternyata panas membakar, kontan mulut mereka meraung kesakitan, satu per satu jatuh bergulingan saling tindih.
Tampak di mana air berwarna-warni itu mengenai badan, tidak terkecuali apa kain baju, rambut atau kulit badan seketika hancur dan membusuk hingga kelihatan tulangnya.
Makin meronta dan kelejatan makin hebat rasa sakit, dan bagian yang membusuk itu pun makin melebar dengan cepat, dalam sekejap mereka yang menjerit-jerit itu makin lemah dan akhirnya melayang jiwanya.
Beberapa lelaki segar dengan perawakan gagah dan kuat, dalam beberapa kejap telah berubah menjadi seonggok tulang.
Sungguh kaget Pui Jian-li menyaksikan kejadian mengerikan ini, katanya dengan serak.
"Racun ... sungguh keji ...."
Mendadak terdengar suara keresekan perlahan, serempak mereka berpaling, daun pintu di belakang mereka tahu-tahu sudah menutup sendiri.
***** Sementara itu di tempat lain, sejak daun pintu anjlok ke bawah, Sim Long, Cu Jit-jit, dan Hoa Lui-sian berada dalam kegelapan, dari dekat saja sukar melihat wajah masing-masing.
Cu Jit-jit lalu menjinjit hingga muka beradu muka, perlahan dia menggosok pipi sendiri dengan pipi Sim Long, ucapnya setengah berbisik.
"Sungguh baik ...."
"Sudah hampir mati, apanya yang baik?"
Jengek Hoa Lui-sian tiba-tiba.
"Dalam kegelapan yang memabukkan seperti impian ini, bila aku dapat berpelukan mesra begini, meski harus segera mati juga rela aku,"
Demikian kata Cu Jit-jit, lalu dia jewer kuping Sim Long, katanya.
"Aku tak mau ada orang ketiga berada di sini, boleh kau lepaskan dia pergi."
"Walau kau ingin mati, Siociaku, aku sebaliknya belum hidup cukup. Apa pun tidak akan kulepaskan dia,"
Demikian jawab Sim Long tegas. Kontan Cu Jit-jit menggigitnya dengan gemas katanya.
"Kau lelaki patung yang tidak kenal budi kebaikan, aku benci padamu, aku ... aku ingin menggigitmu sampai mati."
"Lekas gigit, lekas,"
Hoa Lui-sian bersorak.
"lebih cepat lebih baik!"
Sim Long melepaskan pegangan Cu Jit-jit, katanya.
"Serahkan."
"Serahkan apa?"
Tanya Jit-jit.
"Ketikan api."
"Tidak ada."
"Aku tahu kau membungkusnya dengan sapu tangan putih dan kau simpan di kantong sebelah kiri, betul tidak?"
Jit-jit membanting kaki.
"Setan alas, setan mampus ... ini, ambil!"
Langsung dia lemparkan ketikan api yang dimaksud.
Walau dalam kegelapan sekali meraih Sim Long dapat menangkap ketikan api itu, segera dia menyalakan sebatang obor.
Dilihatnya pipi Cu Jit-jit bersemu merah, sorot matanya berkilau entah merasa benci, haus cinta atau entah apa lagi ....
Sim Long tersenyum, katanya.
"Ada sinar api jadi lebih mudah terjang ke depan, ayolah!"
"Huh, siapa yang ingin ikut kau?"
Jengek Cu Jit-jit sambil melengos ke arah lain, sesaat kemudian tak urung dia melirik juga, dilihatnya Sim Long telah melangkah pergi sambil menggandeng Hoa Lui-sian. Jit-jit menggereget, serunya.
"Baik, kau tidak urus diriku, boleh kau pergi, biar ... biar aku mampus di sini, coba kau mau apa!"
Tanpa berpaling Sim Long malah tertawa, katanya.
"Coba lihat siapa di belakangmu? Jangan sampai kau ...."
Belum habis dia bicara, Cu Jit-jit lantas menjerit sambil memburu maju dan memukul pundak Sim Long belasan kali, mulut juga menggerutu.
"Setan, biar kupukul kau sampai mampus."
Tapi tenaga pukulannya ternyata ringan saja, tidak urung dia lantas ikut pergi.
Sesaat lamanya mereka menyusuri lorong panjang, akhirnya tiba di depan sebuah pintu setengah terbuka, di balik pintu ada peti, di atas peti ada lentera.
Cu Jit-jit berkata.
"Mungkin di sini ada orang, coba aku masuk melihatnya."
"Jangan masuk,"
Mendadak Sim Long membentak dengan suara tertahan.
"Kenapa?"
Jit-jit membandel.
"aku justru mau masuk."
Sim Long menghela napas, katanya.
"Nona manis, masa kau tidak tahu di sana dipasang perangkap? Bila kau masuk daun pintu akan segera tertutup."
Berputar bola mata Cu Jit-jit, mendadak dia tertawa cekikikan, katanya.
"Ya, memang kau lebih pintar."
Bertiga mereka maju lebih lanjut, mendadak jalan simpang tiga mengadang di depan, pada jalan yang belok ke kiri menggeletak sebuah lengan kutung berlumuran darah dengan jari telunjuk menuding ke depan sana.
Sementara jalan ke arah kanan tampak tumpukan tulang manusia.
Cu Jit-jit berkedip, katanya.
"Mari kita tempuh jalan tengah ini."
Sim Long berkata setelah termenung sejenak.
"Pepatah bilang, dalam isi ada kosong, yang kosong ada isi. Jalan ke kanan ini kelihatannya berbahaya, tapi jalan tengah yang kelihatannya menuju ke pusat kuburan ini merupakan kunci dari seluruh rahasia di sini, maka jalan tengah ini tidak boleh ditempuh."
"Kenapa di luar terdapat delapan pintu?"
Tanya Cu Jit-jit.
"Kini baru kusadari, kedelapan pintu di luar tadi hanyalah pancingan belaka supaya orang menaruh curiga, bukan saja kedelapan jalan itu sama, pasti juga menembus ke satu tujuan, tapi pada setiap lorong pasti ada perangkap, asal kita dapat menghindarkan diri dari jebakan itu dan menuju ke arah yang tepat, akhirnya pasti dapat menemukan rahasia utama yang menyelubungi tempat yang menakutkan ini."
Sembari bicara mereka sudah sampai di ujung jalan kanan. Tiba-tiba Hoa Lui-sian menjengek.
"Hoa Kin-sian biasanya bekerja teliti dan hati-hati, sekali-kali kalian takkan bisa meraba rahasianya, kuanjurkan lekas kembali saja, kenapa harus mengantar kematian?"
Bukan saja tidak menghiraukan ocehannya, Sim Long juga tidak meliriknya, mendadak didengarnya Cu Jit-jit melonjak girang.
"Betul, betul, arah yang kita tempuh ini pasti betul."
Dia menuding ke sebuah kamar, di sana cahaya gemerlapan menyilaukan mata, sebuah kamar yang penuh bertaburan batu permata dan harta benda beraneka ragam.
Berubah hebat air muka Hoa Lui-sian.
Cu Jit-jit dilahirkan dalam keluarga kaya raya, perhiasan atau permata apa yang tidak pernah dilihatnya, tapi sudah bagi sifat seorang gadis remaja, melihat permata sebanyak itu, betapa rasa ketariknya dan menimbulkan rasa ingin memilikinya, tanpa sadar dia ulur tangan, ingin memegang dan mengelus, tak tahunya baru tangannya terulur, mendadak Sim Long menariknya mundur.
"Kenapa kau tarik aku?"
Jit-jit muring-muring.
"Kau hidup dalam keluarga kaya, memangnya tidak pernah melihat permata yang cemerlang? Terutama cahaya gemerdep dalam ruang yang terasa ganjil ini, kalau kau ingin memecahkan rahasia di sini, maka jangan kau menyentuhnya."
"Baik, aku menurut petunjukmu sekali lagi,"
Ucap Cu Jit-jit dengan menggigit bibir. Hoa Lui-sian tertawa dingin.
"Anggap kau pintar, ini memang permainan Hoa Kin-sian, bagian luar permata ini memang khusus dia ciptakan secara istimewa, di dalamnya mengandung cairan racun jahat, siapa pun bila menyentuhnya pasti mampus .... Hehehe, tapi kau pun jangan bangga, biasanya Hoa Kin-sian sangat cerdik merancang, umpama sekarang kau dapat memecahkan perangkapnya, tapi masih banyak perangkap lain yang menunggumu. Maka kuanjurkan lebih baik kau lepaskan diriku, karena ada aku, mungkin kalian akan diampuni dia."
Panjang lebar dia mengoceh, hakikatnya Sim Long tidak memerhatikan, maju lagi beberapa kejap, lorong tidak lurus lagi, kiri putar kanan, sekonyong-konyong bayangan seorang tampak berkelebat dari kiri dan lenyap ke arah kanan.
Hanya dalam gerakan sekelebat itu, tangannya sudah terayun menimpukkan tiga larik sinar yang mengincar Sim Long, Cu Jit-jit, dan Hoa Lui-sian.
Jarak kedua pihak sangat dekat, serangan mendadak dan tidak terduga lagi, lorong panjang dan remang-remang.
Tiga larik senjata rahasia itu jelas tak bisa dilawan oleh sembarang orang.
Siapa tahu mendadak Sim Long memutar lengan bajunya, seperti mengandung daya sedot yang kuat, semua senjata rahasia itu tersedot ke dalam lengan baju Sim Long.
Kaget, girang, dan kagum sekali Cu Jit-jit, sekilas dia melirik, dilihatnya ketiga senjata rahasia itu adalah tiga batang anak panah pendek yang dibuat secara aneh.
Cu Jit-jit bersuara gemetar.
"Panah ... panah ini mungkin dibidikkan oleh malaikat elmaut?"
Sim Long menyobek lengan baju, dengan hati-hati dia cabut ketiga batang panah itu, walau teraling selembar kain, tapi Sim Long rasakan tangan yang memegang panah kecil itu dingin luar biasa.
Diam-diam dia kaget dan heran, di bawah sinar obor dia perhatikan panah itu sesaat lamanya, alisnya berkerut, lalu tertawa, ujarnya.
"O, kiranya begitu."
Wajah Cu Jit-jit juga kelihatan senang, katanya sambil berkeplok.
"Kiranya demikian ... panah setan yang dibidikkan malaikat elmaut itu kelihatannya memang menakutkan, ternyata juga hanya begini saja."
Tiba-tiba di antara lorong gelap yang berliku-liku tak berujung itu sayup-sayup terdengar nyanyian sedih yang menggetar sukma.
Di dalam kuburan luas ini mendadak terdengar nyanyian sedih, sungguh menambah rasa ngeri dan seram.
Tapi Sim Long malah bergelak tertawa, katanya.
"Panah setan apa, tidak lebih hanya beberapa panah es belaka."
Rahasia yang sukar ditebak dan membingungkan orang ini ternyata hanya sepele saja setelah terbongkar.
Panah setan yang dibidikkan malaikat kematian itu ternyata tidak lebih adalah gumpalan salju yang mengeras dan dikikis berbentuk panah, dengan dilandasi Lwekang yang kuat, maka panah es itu dapat menembus kulit manusia dan menamatkan jiwanya, begitu terkena badan manusia yang bersuhu panas, es itu akan mencair menjadi air, oleh karena itu bila orang mencarinya tentu saja sudah lenyap.
Sambil menghela napas, Cu Jit-jit berkata dengan tertawa.
"Hihi, ada-ada saja akal setan yang dipikirkannya, kalau akal bulusnya tidak terbongkar, orang sungguh bisa dibikin kaget setengah mati, tapi kalau bukan musim salju sedingin ini, akal liciknya ini juga tidak akan terlaksana."
Sim Long berkata.
"Tapi kau pun jangan meremehkan urusan sepele ini, air yang membeku jadi es dan dibikin panah ini pasti mengandung racun jahat, sehingga begitu es mencair racun pun bekerja di dalam badan sehingga jiwa direnggutnya."
Sembari bicara sekenanya dia membuang "panah setan"
Yang terbuat dari es itu. Cu Jit-jit mencibir, katanya.
"Betapa pun kita telah berhasil membongkar muslihat keji dalam kuburan kuno ini. Aku jadi ingin melihat masih ada rencana apa pula mereka ...."
Belum habis dia bicara, sebuah dinding di belakangnya mendadak bergerak hingga terbuka sedikit celah-celah, segulung asap tebal segera menyembur.
Sebelum Cu Jit-jit sempat tahan napas, kepala sudah terasa pusing, kontan dia jatuh tak sadarkan diri.
Setelah Cu Jit-jit siuman, kepala masih terasa pening, seperti orang mabuk yang baru sadar, tapi dapat memandang jelas, dirinya berada di pojok sebuah kamar batu yang lembap dan berbau apak, kaki dan tangan tidak terbelenggu, tapi sekujur badan terasa lemas lunglai.
Waktu ia mengerling, dilihatnya Sim Long, Hoa Lui-sian juga rebah di sampingnya, badan mereka pun tidak mampu bergerak, kaget Cu Jit-jit, teriaknya.
"Sim Long, ken ... kenapa kau pun begini."
Dia tidak perhatikan nasibnya sendiri, tapi melihat Sim Long juga tak berdaya, sungguh rasa sedihnya seperti disayat-sayat.
Sim Long hanya tersenyum, menggeleng tanpa bersuara, kelihatan tenang dan wajar.
Hoa Lui-sian sebaliknya mengunjuk rasa puas, katanya perlahan.
"Asap bius itu juga buatan khusus Hoa Kin-sian, aku sendiri pun belum pernah tahu, tapi namanya Sin-sian-it-jit-cui (malaikat dewata mabuk sehari), biarpun dewa bila mencium asap itu juga akan mabuk sehari semalam lamanya, sesudah sadar juga kaki dan tangan akan lemas lunglai, sekarang bila kalian mau berjanji tidak akan membocorkan rahasia di sini kepada orang lain, nanti bila bertemu dengan Hoa Kin-sian akan kubantu bicara bagi kalian supaya jiwa kalian diampuni."
Dengan sekuat tenaga Jit-jit berteriak.
"Kentut, kau nenek peyot yang tidak tahu budi, sungguh berengsek kau, pantas setiap insan persilatan ingin mengganyang kau."
"Budak liar yang galak,"
Damprat Hoa Lui-sian.
"dalam keadaan sekarang kau masih berani memaki orang ...."
Mendadak dilihatnya daun pintu batu tebal itu terbuka sedikit, selarik sinar lampu menyeret masuk dari luar. Hoa Lui-sian lantas berteriak.
"Nah, itu dia, Toakoku sudah datang. Coba tunjukkan lagi kebinalanmu!"
Sorot lampu bergerak langsung menyinari muka Sim Long, Hoa Lui-sian, dan Cu Jit-jit, sinar yang menyilaukan mata entah dipancarkan dari lampu apa, cahayanya benderang dan keras, sekian lama Sim Long bertiga tidak mampu membuka mata karena silau sehingga tak tahu apa yang terjadi di depan mata.
Tapi terasa sebuah bayangan kelabu telah menyelinap masuk terus berduduk di belakang lampu, lalu katanya perlahan.
"Dari jauh kalian datang kemari, Cayhe tidak menyambut semestinya, harap dimaafkan."
Bicaranya sungkan, tapi nadanya kaku dingin, seperti bukan diucapkan dari mulut manusia.
Hoa Lui-sian memicingkan mata, lapat-lapat dapat dilihatnya bayangan orang di belakang lampu, tadinya dia kira yang datang adalah Toakonya, baru saja ia bergirang, namun demi mendengar suara orang, seketika berubah pula air mukanya, tanyanya gemetar.
"Siapa kau? Apakah kau murid Toakoku Hoa Kin-sian? Ayo lekas berikan obat penawarnya kepadaku?"
Si baju kelabu seperti tidak mendengar perkataannya, jengeknya pula.
"Kalian menempuh perjalanan jauh, setiba di sini selayaknya istirahat dengan tenang. Bila kalian memerlukan apa-apa silakan katakan saja, akan kusuruh orang mengantar kemari."
Merah padam muka Cu Jit-jit, ia tak tahan lagi dan menjerit.
"Siapa kau sebetulnya? Apa tujuanmu menipu kami kemari? Kau sebetulnya apa keinginanmu?"
Suara orang itu berkumandang dari belakang lampu.
"Kabarnya putri kesayangan juragan Cu di Kanglam tanpa menghiraukan harga diri sudi berkunjung di tempat ini, tentulah kau nona yang dimaksud itu. Selamat bertemu nona!"
"Kalau benar kau mau apa?"
Jengek Jit-jit gusar.
"Banyak Enghiong ternama dalam Bu-lim yang berhasil kuundang kemari, apa maksud tujuanku, sebetulnya akan kujelaskan setelah kalian cukup beristirahat, tapi nona Cu keburu bertanya, aku jadi rikuh kalau tidak menjelaskan. Apalagi hari-hari mendatang tidak sedikit tenaga nona Cu perlu kuminta bantuannya ...."
"Lekas katakan, jangan mengoceh meluku,"
Teriak Jit-jit tidak sabar. Kalau sekarang dia mampu bergerak, tak peduli siapa orang ini, tentu akan dilabraknya mati-matian. Tapi orang berbaju kelabu itu tetap tenang saja, katanya dingin.
"Tiada maksud jahatku mengundang kalian kemari, jika kalian ingin pulang sembarang waktu boleh berangkat, tidak akan kuhalangi, malah akan kusiapkan pesta untuk menjamu kalian."
Jit-jit bingung, pikirnya.
"Aneh juga ...."
Si baju kelabu melanjutkan pula.
"Tapi sebelum kalian pulang, aku mohon kalian sudi menulis sepucuk surat pendek."
"Surat pendek apa?"
Tanya Jit-jit.
"Surat selamat yang ditujukan kepada keluarga kalian masing-masing, katakan bahwa kalian sekarang dalam keadaan segar bugar dan selamat. Untuk menjaga keselamatan kalian tentunya harus ada sekadar imbalan, oleh karena itu bila kalian tahu berterima kasih, maka dalam surat kepada keluarga itu tolong dimintakan kepada ayah bunda, kakak atau adik di rumah untuk mengantar biaya yang diperlukan sebagai imbalanku untuk menjaga keselamatan kalian."
Gemetar suara Jit-jit, katanya.
"Jadi kau ... kau memeras?"
Orang itu tertawa aneh, seperti suara raung serigala. Tapi sikapnya tetap tenang.
"Bagi seorang ahli, orang seperti nona sudah tentu tidak boleh dipandang sebagai barang yang tak berharga. Aku adalah pengumpul emas perak, tidak pantas nona menggunakan istilah 'pemeras' kepadaku."
"Pengumpul emas perak? Kentut busuk,"
Damprat Cu Jit-jit. Ternyata si baju kelabu juga tidak marah, suaranya tetap kalem.
"Telah kuatur tipu daya dan memeras keringat baru berhasil memancing kalian kemari, lalu menaruh kalian di tempat aman di sini. Kuyakin tuntutanku untuk penggantian jerih payahku dengan harta yang tak berarti itu, sudah merendahkan derajatku, kalau kalian masih juga kikir apakah hatiku tidak akan sedih?"
Tiba-tiba Sim Long tersenyum, katanya.
"Ucapanmu memang benar, entah berapa yang kau tuntut?"
"Setiap benda ada harganya, bergantung baik buruk barang-itu dan penilaian orang tepat atau tidak. Harga badan kalian jelas tak dapat dinilai dengan harga biasa. Dibandingkan Pui Jian-li, Can Ing-siong dan lain-lain, jelas harga kalian berlipat ganda, jika aku menaikkan tarif bagi mereka, berarti aku meninggikan harga mereka malah, betapa pun hal ini takkan kulakukan."
Jelas dia hendak mengeduk uang orang, tapi cara bicaranya justru memutar balik kenyataan sehingga orang akan mengira dia telah memberi kelonggaran kepada tawanannya malah.
Jit-jit merasa keki dan geli, tanyanya.
"Berapa sih yang kau inginkan?"
Orang itu berkata.
"Kepada Can Ing-siong aku hanya menuntut lima belas laksa tahil, tapi terhadap nona, seratus lima puluh laksa tahil ...."
"Hah, seratus lima puluh laksa tahil?"
Pekik Jit-jit kaget.
"Betul, nona secantik ini, pintar lagi, tentu nona tidak sudi bila kunilai dirimu terlalu rendah, betul tidak?"
Cu Jit-jit melenggong sekian saat, akhirnya dengan mendelik dia berkata.
"Betul kentut! Kau ... kau gila, binatang keji ...."
Kini perhatian orang berbaju kelabu tertuju kepada Sim Long, ocehan Cu Jit-jit dianggap tidak mendengar, katanya.
"Tentang Kongcu yang gagah perkasa ini, cakap dan ganteng, cerdik pandai lagi, kalau kunilai seratus lima puluh laksa tahil perak kurasa juga tidak terlalu rendah ...."
Sim Long tertawa, katanya.
"Banyak terima kasih, tak kusangka Anda sudi menilaiku setinggi itu, sungguh aku merasa gembira dan bangga, nilai seratus lima puluh laksa tahil perak kurasa belum apa-apa."
Melengking tawa orang berbaju kelabu, katanya.
"Kongcu ternyata orang bijaksana dan bisa menyelami perasaan orang, tentang Hoa ...."
"Hoa apa?"
Bentak Hoa Lui-sian.
"memangnya kau juga mau menuntut uangku?"
Orang itu berkata.
"Bentukmu seperti labu, kecil buntak dan jelek, tapi jelek-jelek juga malah ada harganya ...."
"Kentut, binatang, kau ... kau ...."
Saking marah suara Hoa Lui-sian sampai gemetar. Tapi si baja kelabu tetap kalem.
"Kau terlalu merendahkan diri sendiri, tapi aku justru tidak memandang rendah kau, paling sedikit aku akan menuntut dua atau tiga puluh laksa tahil kepadamu sebagai tanda penghormatanku."
Walau hati merasa gusar, demi mendengar omongan orang ini, geli dan keki juga Cu Jit-jit, sementara otot hijau di jidat Hoa Lui-sian tampak merongkol, bentaknya.
"Binatang, bila sebentar Toakoku tiba, rasakan nanti betapa nikmatnya bila kubetot ototmu, mengiris kulitmu serta mencacah tubuhmu."
"Toakomu? Siapa itu Toakomu?"
Tanya orang itu.
"Hoa Kin-sian!"
Sahut Hoa Lui-sian dengan suara keras.
"Masa kau tidak tahu? Atau pura-pura bodoh?"
"Hoa Kin-sian?"
Orang itu mengulangnya dengan tawar.
"Ya, orang ini memang memiliki sedikit kepandaian, sayang sekali jiwanya sudah tamat sejak peristiwa di Heng-san dulu, aku takut terhadap apa pun, terhadap setan aku tidak pernah takut."
Hoa Lui-sian tambah gusar, serunya.
"Hoa Kin-sian, Toakoku itu adalah pemilik kuburan kuno ini, berani kau ...."
"Yang berkuasa dan mengatur segala muslihat di kuburan ini adalah diriku,"
Tukas orang itu. Meski suaranya tenang dan perlahan, tapi betapa keras suara bicara orang lain pasti lenyap tenggelam oleh suaranya yang perlahan itu. Gemetar badan Hoa Lui-sian, makinya.
"Kentut, kau binatang ini mengira dapat menipuku, jika Hoa Kin-sian sudah mati, permata palsu, Sin-sian-it-jit-cui dan lain-lain itu dari mana munculnya."
"Semua itu adalah buah karyaku, hasil kerajinan kedua tanganku sendiri,"
Tandas dan tegas jawaban orang itu. Berubah air muka Hoa Lui-sian, katanya serak.
"Kau dusta, kau bohong ... kecuali Toakoku, tiada orang lain di dunia ini yang tahu resep racun itu ... Hoa Kin-sian, Toako di mana kau?! ...."
Mendadak ada angin keras menyambar Hiat-to bisu di lehernya, kontan suaranya terputus dan tak mampu bicara lagi.
Tutukan Hiat-to jarak jauh si baju kelabu ternyata sangat lihai, tepat dan keji, jelas bukan sembarang jago silat dunia Kangouw.
Si baju kelabu berkata pula.
"Bukan aku sengaja kurang ajar, soalnya Hoa-hujin ini terlalu sok, terpaksa kubantu dia supaya istirahat saja."
Cu Jit-jit menjengek.
"Baik juga hatimu."
"Aku bertanggung jawab sebagai pelindung keselamatan kalian, maka tindak tanduk kalian harus selalu kuperhatikan."
Saking gemas Cu Jit-jit hampir gila rasanya, tiba-tiba dia tertawa keras malah. Sejak tadi Sim Long memejamkan mata seperti sedang menghimpun tenaga, sekarang baru dia buka suara.
"Tuan ternyata anak buah Giok-koan Koay-lok-ong, dilihat dari kungfu dan sepak terjang perbuatanmu ini, kuyakin kau pasti salah satu duta kepercayaannya, yaitu Duta Harta dari keempat Duta Arak, Duta Warna, Duta Harta dan Duta Hawa."
Ucapan Sim Long yang tidak terduga ini entah bagaimana reaksi si baju kelabu, tapi Cu Jit-jit jadi kaget setengah mati, teriaknya.
"Dari mana kau tahu?"
Sim Long tertawa, katanya.
"Resep rahasia milik Hoa Kin-sian jelas tidak mungkin dimiliki orang lain di dunia ini, tapi tuan ini telah membuktikan kemampuannya, jelas hanya ada satu dalih saja."
"Tapi setengah dalih saja aku tidak mengerti,"
Ujar Jit-jit.
"Urusan cukup gamblang, sebelum ajal Hoa Kin-sian, tentunya dia menitipkan resepnya kepada Giok-koan Siansing, kalau tuan ini mengaku ahli mengumpulkan harta, maka jelas dia salah satu dari Duta Harta Giok-koan Koay-lok-ong."
Cu Jit-jit melongo hingga tak mampu bicara lagi. Dengan kalem Sim Long berkata pula.
"Selain itu, Hoa Kin-sian memang sudah tahu akan rahasia kuburan ini, maka dia juga meninggalkan rahasia kuburan ini beserta rahasianya resep itu. Sekarang Giok-koan Siansing mengutus Duta Hartanya ini ke sini untuk mengeduk harta karun. Siapa tahu berita tentang harta karun dalam kuburan hanyalah muslihat belaka, padahal kuburan kuno ini kosong melompong. Dasar cerdik, Duta Harta ini lantas mengatur tipu daya, yaitu sasaran dia alihkan kepada kaum persilatan umumnya, kuburan kuno ini dia gunakan untuk merancang muslihat dan menjebak orang yang datang ke sini."
"Tapi ... jika benar dia sengaja memancing orang kemari, kenapa pula dia membuat adegan yang mengerikan dan menakuti orang agar tidak berani masuk ke sini?"
Tanya Jit-jit. Sim Long tersenyum, katanya.
"Manusia memang aneh, makin dilarang makin besar hasratnya. Justru karena Duta Harta yang pintar ini dapat memanfaatkan kelemahan manusia ini, semakin mengerikan semakin misterius tempat ini makin banyak pula gembong-gembong persilatan yang akan datang kemari. Bila tempat ini tidak menakutkan, yang datang tentu juga cuma kaum keroco. Dari orang-orang rendahan itu dia tidak akan mengeduk keuntungan, lalu cara bagaimana Duta Harta ini akan memberikan pertanggungjawaban kepada majikannya?"
Jit-jit manggut-manggut dan menghela napas.
"Betul, betul .... Ai, kenapa kau selalu dapat memecahkan persoalan, sebaliknya aku justru tidak tahu?"
Lama si baju kelabu terdiam, akhirnya dia bersuara perlahan.
"Apakah namamu Sim Long? Eh ya ... Sim-heng kau memang seorang cerdik, kepintaranmu sungguh jauh di luar dugaanku."
Sim Long tertawa, katanya.
"Jadi uraianku tadi tidak meleset bukan?"
"Orang kuno bilang diberi tahu satu dipahami tiga, tapi Sim-heng diberi tahu satu lantas tahu tujuh, kau hanya mendengar beberapa patah kata Hoa Lui-sian lantas dapat membongkar seluruh rahasia serta menganalisisnya satu per satu. Kecuali nama julukanku Duta Harta Kim Bu-bong dan muridku A To yang belum Sim-heng tebak, semua urusan kira-kira sudah kau sebut dengan tepat, seperti kau sendiri yang merancang urusan ini."
Ternyata di belakangnya masih berdiri seorang anak kecil.
"Kim-heng ternyata juga suka berterus terang,"
Ujar Sim Long. Duta Harta Kim Bu-bong berkata.
"Di hadapan orang sepintar Sim-heng, mana kuberani membual, tapi apakah Sim-heng tidak pernah mendengar orang bilang, orang pintar sering mengalami nasib jelek, seorang genius sering pendek usia."
Sim Long tersenyum, katanya.
"Tapi aku tidak merasa khawatir apa pun, bila Kim-heng sudah memberi tarif, kukira jiwaku tidak perlu dikhawatirkan lagi."
"Tapi aku pun tidak suka ada manusia pintar yang berani memusuhiku, terutama lawan seperti Sim-heng,"
Demikian jengek Kim Bu-bong. Gemetar suara Cu Jit-jit, katanya.
"Kau ... apa yang akan kau lakukan terhadapnya?"
Kim Bu-bong menyeringai hingga kelihatan giginya seperti taring binatang buas, katanya.
"Umpama tidak kurenggut jiwanya, sedikitnya juga akan kupotong sebelah kaki atau tangannya, bila musuh setangguh Sim-heng kurang satu lagi di dunia ini, dapatlah aku makan dan tidur dengan tenteram."
Kalau Cu Jit-jit ketakutan, sebaliknya Sim Long masih tetap tersenyum, katanya.
"Masa Kim-heng setega ini?"
"Memangnya Sim-heng kira aku ini orang yang suka menaruh belas kasihan terhadap orang lain?"
"Tapi biarpun Kim-heng hendak mengambil seujung rambut orang she Sim mungkin juga tidak mudah."
Kim Bu-bong tertawa dingin.
"Baik, aku akan mencobanya."
Perlahan dia berdiri dan maju selangkah. Mendadak Sim Long tergelak sambil menengadah, katanya.
"Kukira Kim-heng seorang cerdik pandai, kenyataannya Kim-heng bukanlah orang pintar yang kuduga."
Tiba-tiba sirna gelak tertawanya, matanya menatap Kim Bu-bong dengan tajam, lalu sambungnya.
"Kim-heng kira aku telah terbius oleh Sin-sian-it-jit-cui?"
Kim Bu-bong tersentak kaget dan menarik kakinya. Sim Long berkata pula.
"Begitu asap tebal menyembur masuk, segera aku menahan napas, meski Sin-sian-it-jit-cui amat keras daya kerjanya, namun sedikit pun aku tidak menyerap."
Sesaat Kim Bu-bong berdiri diam, ia menyeringai pula, katanya.
"Dalam hal ini Sim-heng mungkin bisa menipu orang lain, tapi jangan harap bisa menipu diriku. Kalau Sim-heng tidak terpengaruh oleh asap bius itu, kenapa kau rela menjadi tawanan Kim Bu-bong?"
"Ah, masa soal sepele ini Kim-heng juga tidak paham?"
Ujar Sim Long, senyum pada wajahnya makin cerah.
"Coba pikir, kuburan ini penuh lorong yang menyesatkan, tiga hari juga belum tentu dapat menemukan rahasianya. Dengan pura-pura terbius, aku dapat istirahat di kamar ini, adakah cara lain yang lebih enak daripada cara ini?"
Berubah air muka Kim Bu-bong, katanya sambil menyeringai.
"Sim-heng ternyata juga pandai putar lidah, tapi ...."
"Tapi apa, Kim-heng?"
Tukas Sim Long, mendadak dia berbangkit.
Wajah Kim Bu-bong yang semula pucat kini kelihatan lebih mengerikan lagi, tenggorokannya berbunyi, tanpa terasa kaki pun menyurut mundur.
Mencorong sinar mata Sim Long menatap wajah orang, katanya kelam.
"Hari ini dapat perang tanding dengan Kim-heng, sungguh merupakan peristiwa besar yang menggembirakan, siapa yang bakal mampus di sini, tentu tidak usah dikubur lagi."
Kim Bu-bong diam saja, sorot matanya dingin mantap Sim Long, keduanya beradu pandang, tiada yang berkedip, sorot mata Sim Long begitu dingin, tenang dan mantap.
Cu Jit-jit juga mengunjuk rasa senang, katanya.
"Sim Long, boleh kau beri tiga jurus padanya, kalau tidak mana dia berani melawan kau?"
Sim Long tersenyum, katanya.
"Kalau hanya tiga jurus kan sama seperti tidak memberi?"
"Jika begitu boleh kau beri tujuh jurus."
"Begini baru pantas, baiklah aku mengalah tujuh jurus, silakan Kim-heng!"
Kata Sim Long. Wajah Kim Bu-bong sebentar hijau sebentar putih, agaknya sekuatnya dia mengendalikan emosi menghadapi cemooh Sim Long dan Cu Jit-jit.
"Lho, bagaimana, dia mengalah tujuh jurus, kenapa kau malah tidak berani?"
Mendadak Kim Bu-bong melompat mundur.
"blang" , pintu kamar tertutup rapat, cepat sekali Kim Bu-bong lenyap di balik pintu. Jit-jit menghela napas, katanya dengan geregetan.
"Wah, dia melarikan diri."
Sim Long tersenyum, katanya.
"Lebih baik dia melarikan diri ...."
Mendadak dia terkulai lemas. Jit-jit terkesiap, pekiknya.
"He, ken ... kenapa kau?"
Sim Long tertawa getir, katanya.
"Betapa lihai Sin-sian-it-jit-cui, mana bisa aku tidak terbius, tadi aku mengerahkan sisa tenagaku yang masih ada dan berdiri sekuatnya sehingga berhasil menggertaknya lari."
Sekian lama Jit-jit melenggong, katanya dengan gemetar.
"Untung tadi dia tidak terpancing, kalau ... kalau ...."
Sim Long menghela napas.
"Tapi aku tahu, manusia seperti Kim Bu-bong bagaimanapun tidak mudah terpancing ...."
Belum habis dia bicara, mendadak berkumandang gelak tertawa orang, perlahan pintu batu terbentang, Kim Bu-bong muncul kembali. Pucat muka Cu Jit-jit, didengarnya Kim Bu-bong berkata.
"Sim-heng memang pandai, tapi sepintar tupai melompat akhirnya terjatuh juga. Mungkin Sim-heng tidak mengira bahwa kamar batu ini dibuat sedemikian rupa hingga segala gerak-gerikmu dapat kuikuti dari luar,"
Mendadak dia menghardik beringas.
"Urusan sudah begini, apa pula yang ingin kau katakan?"
Sim Long menghela napas panjang, ia memejamkan mata dan tidak bersuara. Selangkah demi selangkah Kim Bu-bong menghampiri, katanya dengan menyeringai.
"Bermusuhan dengan orang seperti Sim-heng sungguh hati selalu kebat-kebit saja, terpaksa kupotong dulu sebelah lengan Sim-heng baru hatiku bisa tenteram."
Segera dia mendekati Sim Long, dia angkat tangannya ....
Jit-jit menjerit khawatir sekerasnya.
Tak terduga belum lenyap suaranya, keajaiban mendadak timbul, pada saat Kim Bu-bong angkat tangan itulah, mendadak tangan Sim Long meraih ke atas dan tepat mencengkeram urat nadi Kim Bu-bong.
Perubahan ini sungguh di luar dugaan siapa pun, dalam sekejap ini perasaan Cu Jit-jit berubah beberapa kali, kejut, khawatir, takut, dan senang, sekarang dia terbeliak dan melongo.
Perlahan Sim Long berdiri, tangan kanannya tetap memegang urat nadi pergelangan tangan Kim Bu-bong, tangan kiri mengebut baju dan membersihkan debu, katanya dengan tersenyum.
"Kim-heng tidak menduga akan kejadian ini bukan?"
Butir keringat tampak menghias jidat Kim Bu-bong. Baru sekarang Jit-jit dapat menenangkan hatinya, serunya dengan tertawa.
"He, sebetulnya apa ... apa yang terjadi?"
"Sebetulnya aku tidak pernah terbius,"
Tutur Sim Long dengan tertawa.
"sekarang tentu Kim-heng sudah tahu akan hal ini."
"Kalau tidak terbius, kenapa tadi ...."
Jit-jit merasa bingung.
"Kalau tadi aku bergebrak dengan Kim-heng, terus terang aku tidak yakin dapat menang, umpama dapat mengalahkan Kim-heng juga belum tentu dapat membekukmu. Tapi setelah sekadar main sandiwara tadi, Kim-heng pasti tidak menaruh curiga kepadaku, secara tidak terduga aku lantas menyergapmu, maka Kim-heng tak bila lolos lagi."
"Setan mampus,"
Omel Jit-jit kegirangan.
"kau ... kau selain menipu dia, aku pun kaget setengah mati tadi, nanti akan kubikin perhitungan denganmu."
Kim Bu-bong melenggong lalu menengadah dan menarik napas, katanya.
"Bahwa hari ini Kim Bu-bong terjungkal di tangan lawan setangguh Sim-heng, kurasa juga bukan hal yang memalukan. Apa kehendakmu sekarang, lekas katakan."
Sim Long tertawa.
"Kalau begitu, tolong Kim-heng bawa kami keluar dari kamar ini, demikian pula kawan-kawan Kangouw lainnya yang kau tipu ke sini, hendaknya dibebaskan semua, untuk kerelaan mana lebih dulu kuucapkan terima kasih."
Kim Bu-bong menarik napas panjang, katanya.
"Baiklah, ikut padaku!"
Sim Long menggendong Jit-jit, tangan lain memegang Kim Bu-bong, setelah keluar dari kamar batu dan berbelok beberapa kali, tiba di depan kamar batu yang lain, sekujur badan Jit-jit masih lemas, tapi kedua tangannya merangkul leher Sim Long dengan erat, dia berteriak.
"Siapa yang terkurung di dalam kamar ini?"
Tampak aneh sinar mata Kim Bu-bong, katanya.
"Sin-gan-eng Pui Jian-li, Pok-thian-tiau Li Thing, Joan-hun-yan Ih Ji-hong dan Congpiauthau Wi-bu-piaukiok Can Ing-siong berempat."
Jit-jit melengak, katanya.
"Masa hanya empat orang saja ...."
"Betul, apa mereka harus dibebaskan?"
Tanya Kim Bu-bong.
"Tunggu dulu,"
Mendadak Jit-jit berteriak.
"jangan dilepaskan."
Sim Long berkerut kening, katanya.
"Kenapa tidak dilepaskan saja?"
Jit-jit menghela napas, katanya.
"Keempat orang ini semua musuhku, begitu mereka keluar bukan saja tidak akan berterima kasih kepada kalian, malah mungkin akan mengadu jiwa denganku, mana boleh mereka dilepaskan?"
Dingin sorot mata Kim Bu-bong, katanya kepada Sim Long.
"Dilepaskan atau tidak terserah Sim-heng ...."
Jit-jit berteriak gusar.
"Memangnya aku tidak boleh memutuskannya? Sekarang tubuhku lemas lunglai, jika mereka dilepaskan, bukankah mereka akan merenggut jiwaku ... bila mereka main mengeroyok, Sim Long juga belum tentu mampu menghadapi mereka."
Kim Bu-bong tetap menatap Sim Long, katanya mendesak.
"Dilepaskan tidak?"
Sim Long menarik napas, katanya.
"Lepaskan ... atau tidak .... Wah, membuatku serbasusah ... apakah mereka berempat tidak terbius oleh Sin-sian-it-jit-cui?"
Kim Bu-bong menjawab.
"Meski bukan obat mujarab, tapi kalau hanya Pui Jian-li dan Can Ing-siong saja rasanya belum setimpal bagiku untuk menggunakan obat bius itu."
"Cara bagaimana membuka pintu ini?"
Tanya Sim Long.
"Pintu ini dikendalikan dengan alat rahasia, tombolnya berada di benjolan batu ini, putar ke kiri tiga kali lalu ke kanan dan didorong ke atas, pintu akan terbuka sendiri."
Sim Long mengangguk, tanpa bicara dia melangkah ke depan. Jit-jit merasa senang, kontan dia persen dua kali cium di belakang kuping Sim Long, katanya dengan tertawa.
"Kau sangat baik ...."
Sebaliknya Bu-bong lantas mendengus.
"Kukira Sim-siangkong seorang yang arif bijaksana, seorang Enghiong yang suka menolong kesengsaraan orang lain, siapa tahu ... hehe ... hahahehe."
Dia menengadah dan tertawa ejek. A To, muridnya yang masih kecil ternyata berpikir tidak kecil, sekilas bola matanya berputar, mendadak dia menanggapi ucapan gurunya.
"Pepatah mengatakan, Enghiong (kesatria) besar pun bertekuk lutut di bawah kaki si cantik, si ayu, teman sendiri pun akan dikesampingkan, Sim-siangkong memang tidak boleh disalahkan."
Sim Long anggap tidak mendengar, tapi Cu Jit-jit lantas mencaci maki.
Sim Long tetap menyeret Kim Bu-bong ke depan sana, setelah membelok mendadak ia berhenti di tempat gelap, katanya dengan suara tertahan.
"Dari mana Kim-heng tahu rahasia kuburan ini?"
"Siapa ayahku almarhum, apa kau tahu?"
Tanya Kim Bu-bong malah. Tentu saja Sim Long tidak tahu. Kim Bu-bong lantas menambahkan.
"Ayahku almarhum berjuluk Kim-so-ong (raja kunci emas)."
Sim Long tertawa, katanya.
"Betul kalau begitu. Menurut berita dunia Kangouw, bahwa kepandaian membuat peralatan rahasia Kim-so-ong tiada bandingannya di dunia, Kim-heng adalah keturunannya, pantas alat rahasia kuburan ini tidak menyulitkan dirimu, memang tepat Koay-lok-ong mengutusmu kemari."
Merandek sejenak, lalu ia berkata pula.
"Kim-heng bilang tiada orang lain lagi yang mondar-mandir dalam kuburan ini, kuyakin ucapanmu pasti tidak salah."
Jilid 6
"Salah atau tidak dapat kau nilai sendiri,"
Jengek Kim Bu-bong.
"Bagus,"
Ucap Sim Long, mendadak ujung jarinya bergetar, sekaligus dia tutuk tiga Hiat-to tidur Kim Bu-bong, cepat sekali tangannya membalik menutuk tiga Hiat-to di tubuh A To pula.
Gerakannya cepat dan ketepatan tutukannya sungguh menakjubkan, kontan Kim Bu-bong dan A To jatuh terkulai bersama.
Jit-jit heran, katanya.
"Apa yang kau lakukan?"
Sim Long menurunkan nona itu, katanya lembut.
"Kau tunggu saja di sini, dalam kuburan ini tiada musuh lain, tidak perlu kau khawatir."
Terbelalak mata Cu Jit-jit, katanya.
"Kau ... kau mau lepaskan ...."
"Betul, akan kubebaskan dulu mereka berempat dan suruh mereka segera keluar. Kurasa tidak memakan waktu banyak, sebentar juga aku kembali."
Semula Jit-jit kelihatan takut, tapi akhirnya dia menghela napas, katanya.
"Aku tahu akan kau bebaskan mereka, seperti dicocoki jarum, sedetik saja hatimu tak bisa tenteram bila mereka tidak dilepaskan."
Sim Long tertawa dan melangkah ke sana, katanya.
"Aku akan segera kembali."
"Tunggu sebentar,"
Seru Cu Jit-jit.
"Ada apa lagi?"
"Kau ... kau ...."
Sorot mata Jit-jit menampilkan rasa takut dan minta belas kasihan, suaranya gemetar.
"Entah kenapa, aku ... aku takut, seperti ... seperti ada setan mengintip di tempat gelap dan akan ... akan mencelakai aku."
Sim Long tersenyum, katanya lembut.
"Anak bodoh, Kim Bu-bong dan A To sudah kututuk Hiat-tonya, apa lagi yang kau takutkan .... Sudahlah, jangan manja, tunggu saja, segera kukembali."
Setelah mengulapkan tangan bergegas dia pergi.
Jit-jit mengawasi bayangan punggungnya lenyap ditelan kegelapan, entah kenapa, tiba-tiba timbul rasa takutnya, tanpa terasa dia duduk menggigil.
***** Tombol pada pintu batu itu setelah diputar ke kiri tiga kali, ke kanan satu kali terus didorong ke atas oleh Sim Long, betul juga pintu lantas terbuka, di dalam terdapat sebuah lentera yang masih menyala tapi minyaknya sudah hampir habis, lidah api dan asap tipis bergoyang lembut seperti tarian hantu di udara.
Keadaan sepi, kamar kosong, mana ada bayangan Pui Jian-li dan lain-lain.
Sim Long melongo kaget, dengan cermat dia perhatikan sekelilingnya, debu di lantai memang ada bekas tapak kaki, jelas tadi ada orang berjalan dan duduk di sini, tapi sekarang entah ke mana?
Mungkinkah mereka meloloskan diri?
Atau ditolong orang?
Lalu siapa yang menolong mereka?
Sekarang berada di mana?
Semua ini berkelebat dalam benak Sim Long, hatinya terasa dingin, cepat dia lari ke arah datangnya tadi, dalam hati ia berteriak.
"Cu Jit-jit, semoga kau tidak kurang suatu apa pun ...."
Tiba di belokan, dia berhenti, darah juga seperti membeku seketika, Cu Jit-jit yang duduk membelakangi dinding tadi, demikian pula Kim Bu-bong dan A To, ternyata telah lenyap, semua hilang dalam sekejap ini.
Lama Sim Long melenggong di tempatnya, keringat dingin memenuhi jidatnya, mendadak ada suara serak berkumandang di belakangnya.
"Lama tak bertemu, Sim-siangkong."
Begitu mendengar suara itu, seketika timbul rasa muak dan bencinya, sedapatnya Sim Long tahan perasaannya, katanya kemudian dengan tertawa.
"Dua hari tidak bertemu, kenapa Kim-heng sudah merasa lama, apa betul Kim-heng begitu rindu kepadaku?"
Suara serak itu berkata dengan tertawa.
"Aku memang rindu, kenapa Sim-siangkong tidak membalik badan, supaya dapat kulihat selama dua hari ini, apakah engkau lebih kurus atau tambah gemuk."
"Terima kasih akan perhatianmu ...."
Mendadak Sim Long putar tubuh, gerakannya cepat tahu-tahu sudah menubruk ke arah suara itu, sekilas tampak bayangan hitam berkelebat, segera ia mencengkeram ke sana, dengan tepat bayangan itu tertangkap olehnya.
Segera terdengar gelak tertawa dari tempat gelap, kejap lain menyala sebatang obor, tertampak Kian-gi-yong-wi Kim Put-hoan berdiri bersandar dinding dengan santai, tangan kiri memegang obor yang baru saja disulut, tangan kanan memegang tongkat pendek, pada ujung tongkat tergantung sehelai mantel kulit, dan yang terpegang oleh tangan Sim Long adalah mantel kulit itu.
Tampak bangga dan senang Kim Put-hoan, katanya dengan tertawa lebar.
"Mantel kulit ini pemberian Siangkong kepadaku tempo hari, apakah sekarang hendak kau minta kembali ...."
Tadi Sim Long mengira aksinya berhasil, baru sekarang dia menyadari Kim Put-hoan adalah manusia licik dan licin, agaknya dia memang sudah mengatur rencananya dengan baik, segera Sim Long berkata dengan tertawa.
"Semula kukira Kim-heng, maka kutubruk kemari untuk bermesraan sekejap, tak kira hanyalah mantel kulit saja."
Lalu dia mengelus mantel kulit kesayangannya dulu, katanya pula dengan tertawa.
"Syukur tidak rusak bulu kulitmu, silakan Kim-heng ambil kembali, selanjutnya jangan sampai direbut orang lain."
"Sim-siangkong memang pandai bicara,"
Kata Kim Put-hoan dengan tertawa.
"mana ada bulu pada kulitku, kulit rase ini justru berasal dari badanmu malah."
Lalu dia sampirkan mantel itu di atas badan sendiri dan menambahkan.
"Namun kulit rase Sim-siangkong ini memang bisa menghangatkan badan."
Sim Long mengumpat dalam hati.
"Keparat ini tidak mau kalah adu mulut."
Ia tetap tertawa, katanya.
"Pepatah bilang, pedang pusaka dihadiahkan kepada pendekar, pupur wangi diberikan kepada perempuan jelita. Dan kulit rase ini memang setimpal diberikan kepada Kim-heng."
Gayung bersambut, kata berjawab, kedua saling sindir secara tajam dengan sikap ramah dan tertawa.
Namun Sim Long tidak menyinggung hilangnya Cu Jit-jit, Kim Put-hoan menjadi kelabakan sendiri, akhirnya dia tidak tahan, katanya.
"Nona Cu mendadak lenyap, apakah Sim-siangkong tidak merasa heran?"
Sim Long tersenyum, katanya.
"Bila nona Cu sudah dijaga oleh Ji Yok-gi, Ji-siauhiap, kenapa aku harus gelisah ...."
Kim Put-hoan tergelak.
"Sim-siangkong memang cerdik, ternyata sudah kau duga Ji-lote juga ikut datang. Ji-lote memang pemuda romantis, dia suka kepada nona Cu, maka keselamatannya tak perlu dikhawatirkan, sekarang keduanya sedang ...."
Perkataannya diputus oleh gelak tertawanya, diam-diam ia memerhatikan reaksi Sim Long apakah berhasil memancing kemarahannya. Ternyata Sim Long tetap tersenyum saja, katanya.
"Entah bagaimana Kim-heng juga datang kemari, bagaimana dia kenal segala peralatan rahasia dalam kuburan ini? Sungguh aku amat heran."
Biji mati Kim Put-hoan berputar, katanya dengan tertawa.
"Sim-siangkong boleh ikut padaku ...."
Segera ia berjalan di depan dan Sim Long mengikut di belakangnya, cahaya obor menyinari mantel kulit di tubuh Kim Put-hoan. Sim Long menghela napas, batinnya.
"Keparat ini memakai mantelku, uang dalam kantongnya juga milikku, tapi masih berusaha mencelakai aku dengan berbagai akal keji, sungguh jarang ada orang seperti ini."
Akhirnya mereka masuk ke sebuah kamar batu, pintu memang terbuka, cahaya lampu terang benderang di dalam kamar, Cu Jit-jit, Hoa Lui-sian, Ji Yok-gi, Kim Bu-bong dan A To semua berada di situ.
Hiat-to Kim Bu-bong belum terbuka, Cu Jit-jit sedang mencaci maki, saking malu Ji Yok-gi menyingkir jauh ke samping sana, begitu melihat kedatangan Sim Long cepat dia memburu ke samping Cu Jit-jit, pedang di tangannya lantas mengancam tenggorokan Cu Jit-jit.
Melihat Sim Long, Cu Jit-jit tak berani memaki lagi, wajahnya tampak memelas, sekian lama dia memonyongkan mulut, katanya kemudian.
"Aku ... kusuruh jangan pergi, sekarang ... sekarang ...."
Segera bercucuran air matanya.
Ji Yok-gi berpaling, agaknya tidak tega melihat si nona menangis.
Kim Put-hoan berdiri di tengah antara Cu Jit-jit dengan Sim Long, katanya sambil menuding sebuah kursi batu di pojok kamar.
"Silakan duduk!"
Dengan tersenyum Sim Long melangkah ke sana dan berduduk dengan tenang. Kim Put-hoan menepuk pundak Ji Yok-gi, katanya.
"Saudaraku, bila Sim-siangkong bergerak, kau pun boleh menggerakkan pedangmu, jangan pikir kasihan terhadap paras ayu, kelak masih banyak waktu bagimu untuk bersuka ria ...."
"Aku tahu bagaimana harus bertindak,"
Ucap Ji Yok-gi.
"Ada beberapa persoalan yang tidak dimengerti oleh Sim-siangkong, kita perlu memberi penjelasan kepadanya, maklum, hatinya lagi penasaran .... Sim-siangkong, biar kumain sandiwara di hadapanmu, perhatikan ya?"
Mendadak dia membuka Hiat-to penidur di tubuh Kim Bu-bong, lalu menutuk pula bagian pinggangnya.
Sim Long tidak tahu apa yang hendak dilakukan Kim Put-hoan, dilihatnya Kim Bu-bong batuk sekali lalu melompat bangun, sorot matanya menyapu pandang sekitarnya.
Lalu ia melototi Sim Long, ketika melihat Kim Put-hoan, seketika wajahnya memperlihatkan rasa kaget, segera dia membentak dan hendak menubruk, tapi lantas roboh terjungkal.
Ternyata tutukan Kim Put-hoan tadi menutup Ciang-bun-hiat, Hiat-to besar bagian pinggang.
Ciang-bun-hiat merupakan penyalur darah ke seluruh badan.
Bila Hiat-to ini tertutuk, badan bagian bawah akan mati rasa dan tidak mampu bergerak, sakitnya bagai digigiti ribuan semut.
Meski Kim Bu-bong adalah laki-laki tabah, begitu dia bergerak seketika dia rasakan kesakitan yang luar biasa sehingga air mata pun meleleh.
Sim Long menyaksikan keadaan Kim Bu-bong, dia membatin.
"Kelihatannya kedua orang ini musuh bebuyutan, bahwa Kim Put-hoan menggunakan cara sekeji ini menyiksa lawannya, sungguh tindakan jahat."
Dari kejauhan Kim Put-hoan gunakan tongkat pendek untuk mengangkat tubuh Kim Bu-bong, katanya tertawa.
"Toako bertemu dengan Siaute di sini, apakah kau tidak merasa heran?"
Panggilan 'Toako' sungguh membuat Sim Long kaget, sungguh tak terpikir olehnya bahwa kedua orang ini ternyata adalah saudara, pikirnya.
"Tindakan Kim Put-hoan menyiksa musuh sudah cukup keji, dengan cara ini dia siksa saudaranya, sungguh lebih rendah daripada binatang."
Dengan tertawa Kim Put-hoan berkata.
"Toakoku ini mengira rahasia jebakan dalam kuburan ini tiada orang mampu memecahkannya kecuali dia sendiri, dia lupa masih punya seorang saudara seperti diriku yang juga ahli dalam bidang ini."
Kim Bu-bong menggereget, desisnya.
"Binatang ... binatang, kenapa kau belum mampus?"
"Orang sebaik Siaute, mana tega Thian merenggut jiwaku. Tapi baru berhadapan Toako lantas mengutuk Siaute, bukankah terlalu?"
Kim Bu-bong berkata dengan mendelik.
"Ayah menerima kau sebagai anak pungut, diasuh, dididik dan dibesarkan, memberi ajaran kungfu lagi, tak nyana hanya karena ingin merebut warisan ayah sampai hati kau mengatur muslihat mencelakaiku hingga aku tidak punya tempat berpijak dan terpaksa lari ke luar perbatasan, di sana aku pun hampir mati ...."
Suaranya makin serak dan lirih, saking gemas dia kehabisan tenaga dan tak sanggup melanjutkan perkataannya. Kim Put-hoan tersenyum, katanya.
"Tahukah kau sekarang aku sudah menjadi pendekar besar yang arif bijaksana, dijuluki Kian-gi-yong-wi segala, kau sebaliknya hanya antek Koay-lok-ong yang bangsat itu, demi mengeruk harta, kau sengaja menyiarkan kabar buruk tentang diriku, memangnya siapa yang mau percaya pada obrolanmu? Umpama aku membinasakan kau, orang Kangouw juga pasti memujiku demi menegakkan keadilan tidak pandang bulu, meski saudara sendiri juga tidak segan dihukum .... Hahaha, waktu itu nama julukan Kim Put-hoan tentu akan tambah cemerlang."
Makin bicara makin senang, akhirnya ia tertawa latah sambil mendongak. Kim Bu-bong mencaci maki kalang kabut, ternyata Cu Jit-jit juga ikut memaki. Tiba-tiba Sim Long berkata.
"Pui Jian-li, Can Ing-siong dan lain-lain apakah telah Kim-heng bebaskan?"
"Betul, bagaimana Sim-heng bisa tahu?"
Tanya Kim Put-hoan. Sim Long tersenyum, katanya.
"Setelah membebaskan mereka Kim-heng suruh mereka lekas keluar, bukan saja mereka berterima kasih kepada pertolongan Kim-heng, mereka pun akan pandang Kim-heng sebagai kesatria besar zaman ini, selanjutnya di mana mereka berada pasti akan menyiarkan kebesaran nama Kim-heng, kelak bila Kim-heng mencari mereka, mau uang ada uang, mau pelesir boleh sesuka hati, bukankah caramu ini lebih baik daripada memeras uang mereka .... Ai sayang sekali saudara Kim yang satu ini justru bekerja sebagai pembantu Koay-lok-ong, meski ia juga mengerti akan hal ini, tapi tak mampu berbuat apa-apa, celakanya dia malah diperalat olehmu."
Kim Put-hoan tertawa, serunya.
"Ayah bunda melahirkan aku, dan Sim-heng saja yang dapat menyelami jiwaku."
Sim Long berkeplok, katanya.
"Sungguh hebat peran yang kau mainkan dalam sandiwara ini, kutahu, tidak boleh menonton gratis sandiwara ini, apa kehendak Kim-heng, boleh katakan saja."
"Sim-siangkong memang pintar, cuma ...."
Kim Put-hoan tertawa, lalu meneruskan.
"agak terlalu pintar sedikit, maka begitu berhadapan dengan Sim-heng, Cayhe lantas memperingatkan diriku sendiri, 'Kalau Kim Put-hoan dilahirkan kenapa lahir pula seorang Sim-siangkong? Bila di kalangan Kangouw ada tokoh macam Sim-siangkong, apakah Kim Put-hoan bisa hidup aman dan tenteram?'"
"Banyak terima kasih akan pujianmu."
"Meski Cayhe bukan orang jahat, tapi demi kehidupan selanjutnya, mau tidak mau timbul pikiran untuk mencelakai jiwa Sim-siangkong, namun dengan kepandaianku sekarang jelas tak mampu mencelakai Sim-siangkong."
"Kim-heng memang suka bicara blakblakan, sungguh harus dipuji,"
Kata Sim Long.
"Dan hari ini, kesempatan baik ternyata berada di tanganku,"
Ujar Kim Put-hoan, mendadak dia melejit ke samping Cu Jit-jit, katanya dengan tersenyum.
"Silakan Sim-heng perhatikan, nona Cu ini dari keluarga kaya raya, cantik dan menggiurkan, dia kesengsem padamu, sungguh mujur sekali Sim-siangkong, jika sekarang nona Cu mengalami apa-apa, bukankah patut disayangkan."
Sengaja Sim Long tertawa, katanya.
"Nona Cu baik-baik saja duduk di situ, di bawah perlindungan Ji-siauhiap yang gagah perkasa, masa bisa terjadi sesuatu, apakah Kim-heng bukan lagi berkelakar?"
"Betul, aku memang cuma bergurau,"
Kim Put-hoan.
Mendadak dia menjatuhkan diri dan menumbuk badan Cu Jit-jit, jidat Cu Jit-jit membentur pedang Ji Yok-gi, kulit badannya yang putih seketika tergores luka dan mengeluarkan darah, Jit-jit mengertak gigi tanpa bersuara, Ji Yok-gi juga kaget.
Kim Put-hoan malah tertawa, katanya.
"Jelas aku tidak lagi bergurau, tentu sudah kau saksikan? Cuaca sukar diramal, nasib manusia sulit diduga, bila jatuhku lebih keras, nona Cu secantik bidadari ini mungkin sudah berubah bentuk."
"Ya, sungguh berbahaya, untung ...."
Mendadak Kim Put-hoan menyeringai.
"Urusan sudah begini, kau tidak perlu berlagak-pilon lagi, jika ingin Cu Jit-jit selamat, kau harus menerima tiga syaratku."
Sim Long tetap kalem, katanya dengan tertawa.
"Baru saja Kim-heng bersikap ramah dan sopan terhadapku, kenapa mendadak berubah kasar dan beringas begini, sungguh sedih hatiku."
Kim Put-hoan tertawa dingin, ia tidak mengacuh lagi, mendadak tangannya melayang ke belakang.
"plak" , kontan dia tampar muka Cu Jit-jit. Berubah air muka Sim Long, tapi segera dia berkata dengan tertawa.
"Sebetulnya apa kehendak Kim-heng, tanpa kehadiran nona Cu sekarang juga pasti kuturut saja, kenapa Kim-heng harus bertindak sekasar ini terhadap nona cilik yang lemah ini."
"Baiklah, dengarkan, pertama, kau harus bersumpah tidak menyiarkan apa yang kau lihat dan dengar di sini."
"Itu gampang, aku memang bukan perempuan bawel yang panjang lidah."
"Kedua, selama hidupmu ini kularang mencari perkara kepadaku ... apa kau terima?"
"Baiklah."
Timbul senyuman misterius dan licik pada wajah Kim Put-hoan, katanya pula.
"Kurasa terlalu mudah kau terima syaratku ini, sekarang aku jadi sangsi, orang she Kim biasa hidup prihatin, sesuatu yang tidak aman tidak nanti kukerjakan."
"Cara bagaimana baru Kim-heng merasa aman?"
Mendadak Kim Put-hoan mengeluarkan sebilah badik dan dilempar ke hadapan Sim Long, katanya dingin.
"Jika kau mati, tentu aku merasa aman, tapi kau tidak pernah bermusuhan denganku mana tega aku menghabisi jiwamu, biarlah hari ini aku berlaku bijaksana, aku hanya menuntut sebelah tanganmu yang biasa memegang pedang, bila kau tebas putus tanganmu sebatas sikut, Cu Jit-jit tanpa kurang suatu apa akan kukembalikan dan segera kuantar kalian keluar dari kuburan kuno ini."
Darah berlepotan di muka Cu Jit-jit, pipinya juga sembap, namun dia tetap melotot, kini pun berteriak.
"Kau ... jangan kau terima syaratnya ...."
Belum habis dia bicara.
"plak", kembali Kim Put-hoan menggamparnya. Jit-jit berteriak serak.
"Pukul ... biarkan aku dipukul mampus ... jangan kau pedulikan diriku, lekas ... lekas kau pergi saja, kawanan binatang ini takkan kuasa mengalangi dirimu."
Kulit muka Sim Long berkerut menahan emosi, namun tetap berkata dengan kalem.
"Anggota badan ini pemberian ayah bunda, mana boleh sembarang kurusak sendiri, apalagi bila lengan kananku ini buntung, bukankah dengan mudah Kim-heng akan menamatkan jiwaku? Kukira aku masih harus ...."
Mendadak dia melompat bangun.
Tapi baru tubuhnya bergerak, tangan Kim Put-hoan lantas menjambak rambut Cu Jit-jit, tangan kanan mengeluarkan lagi sebilah badik dan mengancam tenggorokan Jit-jit, desisnya.
"Ji-lote mungkin seorang penyayang si cantik, tapi aku ini laki-laki kasar, berani kau bergerak, nona cantik ini segera akan menjadi mayat."
Terkepal tinju Sim Long, tapi tidak berani bertindak maju. Dilihatnya Jit-jit telah diseret jatuh, dadanya naik turun, air mata berlinang di pelupuk matanya, tapi mulutnya berpekik serak.
"Jangan hiraukan diriku ... lekas ... lekas pergi ...."
Seperti ditusuk jarum pedih hati Sim Long, tanpa kuasa dia menyurut balik dan duduk kembali di kursinya dengan lesu.
"Kalau tidak kau terima syaratku, apa boleh buat, terpaksa biar kau duduk di situ dan saksikan permainan sandiwara babak selanjutnya ...."
Di mana badik di tangannya bergerak, kain baju depan dada Jit-jit seketika sobek dan terbuka, maka tertampaklah dada yang montok tepat di sela buah dada tergores sejalur garis merah, darah mengalir turun ke perut.
Cu Jit-jit menjerit kalap, suaranya berubah rintihan.
Ujung badik Kim Put-hoan masih bergerak turun, jengeknya.
"Setuju tidak ...."
Di tengah rintihan Cu Jit-jit berteriak pula.
"Kau ... jangan kau terima ... jika lenganmu buntung ... mereka pasti membunuhmu ... lekas pergi ...."
Kim Put-hoan menyeringai, katanya.
"Kau tega melihat penolong jiwamu dahulu dan juga kekasihmu ini tersiksa? ...."
Kembali badiknya diturunkan lebih ke bawah hingga mencapai pusar, darah sudah membasahi badannya yang putih halus dan menimbulkan perpaduan warna yang kontras, lukisan yang keji dan siksa yang keterlaluan.
Mendadak Sim Long mengertak gigi, dia jemput badik tadi seraya berseru.
"Baik, kuterima!"
"Akhirnya kau menyerah juga,"
Seru Kim Put-hoan bergelak tertawa.
"Jangan ... jangan ... jiwamu ...."
Jit-jit menjerit-jerit.
Sampai Kim Bu-bong juga memejamkan mata karena tidak tega menyaksikannya.
Begitu memegang badik, kelima jari Sim Long sampai memutih, ototnya merongkol, tangan gemetar, keringat memenuhi dahi.
Mendadak sinar putih berkelebat.
"trang" , Jit-jit menjerit ... di tengah jeritan itulah badik di tangan Kim Put-hoan ternyata terpukul jatuh oleh pedang panjang Ji Yok-gi. Keruan Kim Put-hoan berjingkrak gusar.
"Kau ... gila!"
Kelam wajah Ji Yok-gi, dampratnya bengis.
"Semula kukira kau ini manusia, tak tahunya lebih rendah daripada babi dan anjing. Ji Yok-gi adalah laki-laki sejati, mana sudi berbuat sejahat ini."
Mulut bicara, sinar pedang pun berkelebat, dalam sekejap Ji Yok-gi menyerang tujuh kali.
Kejut dan girang sekali Sim Long, dilihatnya Kim Put-hoan dikurung sinar pedang dan mundur kerepotan, lekas ia melompat ke samping Jit-jit dan merapatkan pakaiannya.
Rasa takut dan panik Jit-jit belum hilang, berada dalam pelukan sang kekasih, tak tertahan lagi dia melepaskan tangisnya.
Gusar Kim Put-hoan makinya.
"Binatang, makan dalam bela luar. Memangnya kau lupa betapa besar rencana kita bila berhasil, masa kau lupa bila Sim Long mampus, Cu Jit-jit bakal jatuh ke tanganmu? .... Berhenti, lekas berhenti!"
Ji Yok-gi mengertak gigi tanpa bicara, bukan berhenti, serangannya malah tambah gencar, dia berjuluk Sin-kiam-jiu (si Pedang Sakti), ilmu pedangnya memang hebat, dibakar marah lagi, maka dia mainkan jurus Siu-hun-toh-bing-kiam (pedang perampas nyawa) yang jarang dia keluarkan, sesuai namanya ilmu pedangnya memang ganas dan keras.
Jiwa Kim Put-hoan memang jahat, tapi kungfunya juga tidak rendah, walau dalam keadaan tidak siaga dan dicecar lebih dulu, setelah agak tenang, segera dia kembangkan Khong-jiu-jip-pek-to dan Cip-pwe-loh-te-jiat-jiu (berkelahi dengan tangan kosong) dari Kay-pang, dengan tangkas dia bergerak di tengah sambaran sinar pedang Ji Yok-gi, dan ternyata masih mampu balas menyerang juga.
Jit-jit menahan tangisnya, katanya.
"Jang ... jangan kau urus diriku, lekas bekuk bangsat Kim Put-hoan itu, akan ... akan kubeset kulitnya baru terlampias dendamku."
Sim Long menyahut lembut.
"Baik, kau tunggu ...."
Baru dia berdiri, dilihatnya Kim Put-hoan balas menyerang tiga kali lalu menyurut mundur tiga langkah, bentaknya.
"Berhenti, dengarkan perkataanku."
"Kau sekarang ibarat ikan dalam jaring atau kura dalam kuali, apa pula yang ingin kau katakan?"
Jengek Ji Yok-gi. Kim Put-hoan tertawa, katanya.
"Perlu kuberi tahu padamu, akan datang satu hari kau akan menyesal ...."
Mendadak badannya menempel dinding di belakangnya terdengar "krak"
Sekali, dinding batu di belakangnya mendadak terbuka, kontan Kim Put-hoan menyelinap ke belakang.
Waktu Ji Yok-gi memburu maju dengan tebasan pedang, dinding batu itu segera merapat hingga pedangnya mengenai dinding.
Sim Long mengentak kaki, katanya dengan gegetun.
"Celaka, kenapa aku melupakan hal ini."
"Kita kejar ...."
Teriak Ji Yok-gi. Tiba-tiba Kim Bu-bong berkata.
"Jalan rahasia dalam kuburan ini banyak ragamnya, mana bisa kalian mengejarnya?"
Ji Yok-gi gusar, semprotnya.
"Kau tahu hal ini, kenapa tidak sejak tadi kau katakan?"
Dingin suara Kim Bu-bong.
"Yang menjadi saudaraku dia atau kau?"
Sim Long tertawa getir, ujarnya.
"Betul, dalam hal ini Ji-heng tidak boleh menyalahkan dia ...."
Ji Yok-gi menghela napas.
"trang", pedang panjang mengetuk lantai. Jit-jit mengomel.
"Kaulah yang salah, jika kau tidak urus diriku, mana dia mampu melarikan diri?"
Sambil tertawa getir, Sim Long memeluk pundaknya, katanya lembut.
"Jangan khawatir, suatu hari aku pasti dapat membekuk orang ini, akan kutaruh dia di bawah kakimu, terserah bagaimana akan kau hukum dia, supaya rasa dendam dan penasaranmu terlampias."
Jit-jit mendekap dalam pelukannya, katanya tiba-tiba.
"Sekarang aku malah tidak lagi membencinya .... Bukan saja tidak benci, malah aku harus berterima kasih kepadanya."
Sim Long heran, katanya.
"Lho, kenapa begitu, sungguh aku tidak mengerti."
"Kalau dia tidak berbuat sekeji itu padaku, mana kutahu betapa baiknya kau terhadapku? Biasanya kau dingin dan kaku, tapi hari ini kau rela mati demi diriku .... Setelah tahu hal ini, meski lebih menderita lagi juga tidak menjadi soal."
Perlahan dia memejamkan mata, bulu matanya yang panjang masih dibasahi air mata, pipinya yang sembap bersemu merah dengan senyuman manis.
Menyaksikan si nona menderita tadi, keadaannya mengenaskan, tapi sekarang semua itu telah dilupakannya, dari sini terbukti betapa besar cintanya kepada Sim Long, asal Sim Long baik terhadapnya, maka dia puas melebihi apa pun.
Tentang bagaimana sikap orang lain terhadapnya, baik atau jahat, hakikatnya tidak dipikir lagi.
Hal ini mau tak mau membuat patah semangat Ji Yok-gi, dengan wajah guram dia mendekati Sim Long, katanya sambil menghela napas.
"Karena pikiran sesat, Siaute telah diperalat oleh manusia jahat, sungguh aku sangat menyesal."
Sim Long tertawa lantang, katanya.
"Ji-heng tahu salah dan segera bertobat, keberanianmu ini patut dipuji, selanjutnya hendaknya kau pandai menempatkan diri, kelak pasti menjadi pendekar ternama, aku bersyukur hari ini dapat berkenalan dengan Ji-heng."
"Jika demikian, aku ...."
Mendadak dia melirik ke arah Cu Jit-jit, mulutnya lantas terkancing, lekas dia putar badan dan melangkah keluar.
"Ji-heng, tunggu sebentar ...."
Teriak Sim Long.
"Gunung tinggi air mengalir, kelak masih sempat bertemu, semoga Sim-heng hidup rukun sampai tua dengan nona Cu ...."
Belum habis ucapannya bayangannya sudah tidak kelihatan. Cu Jit-jit tertawa manis, katanya.
"Sebetulnya dia juga orang baik, kelak kita harus membuatnya ...."
Sim Long tertawa getir, katanya.
"Sudah untung bila kita tidak minta bantuan orang."
Mendadak Kim Bu-bong menimbrung dengan suara dingin.
"Orang lain sudah pergi, sekarang apa yang akan kau perlakukan kepadaku, boleh lekas turun tangan saja ...."
Sim Long tersenyum, ia lantas membuka Hiat-to orang malah. Keruan Kim Bu-bong melenggong. Sim Long tertawa, katanya.
"Selamanya aku tidak mau kurang adat kepada kaum pendekar di jagat ini, Kim-heng adalah seorang Enghiong, sepatutnya aku menghormati dirimu."
Terbayang rasa terima kasih di mata Kim Bu-bong, namun sikapnya tetap dingin, katanya.
"Aku sudah menjadi tawananmu, terhitung Enghiong macam apa?"
Sim Long tersenyum tanpa bicara, tangan orang juga dilepaskan. Jit-jit kaget, serunya.
"Hah, kau tidak khawatir dia lari?"
Tapi Kim Bu-bong tetap berdiri dan tiada maksud melarikan diri, air mukanya tampak berubah hijau, akhirnya berkata.
"Aku tahu sikapmu terhadapku ini pasti mengandung maksud tertentu, tapi secara jantan kau perlakukan diriku, memangnya aku harus memperlakukan dirimu sebagai manusia rendah? Apa kehendakmu, silakan bicara saja."
Sim Long tersenyum, katanya.
"Tolong tunjukkan jalan keluar kuburan kuno ini."
Kim Bu-bong juga tidak bicara lagi, dia membuka Hiat-to A To, mengambil lentera dari dinding terus melangkah keluar.
Sim Long menggendong Jit-jit, akhirnya Cu Jit-jit tak tahan dan berbisik di pinggir telinganya.
"Kau tidak khawatir dia lari?"
"Dalam keadaan seperti ini, dia pasti tidak lari,"
Ujar Sim Long. Jit-jit menghela napas, katanya.
"Perbuatan kaum lelaki memang membingungkan, aku pun menjadi rada ... rada pusing."
"Memangnya berapa banyak pula lelaki di dunia ini yang dapat menyelami hati perempuan?!"
Sahut Sim Long.
"Satu pun tidak ada, termasuk kau, tapi ... hatiku terhadapmu, masa kau tidak tahu atau pura-pura tidak tahu?"
Sim Long seperti tidak mendengar, Jit-jit buka mulut hendak menggigit kupingnya, tapi begitu bibirnya menyentuh kuping orang, dia malah menciumnya, katanya mesra.
"Lekas jalan."
"Masih ada seorang di sini, masa kau lupa?"
Melotot mata Cu Jit-jit mengawasi Hoa Lui-sian yang pingsan karena ditutuk Kim Bu-bong tadi, katanya benci.
"Manusia tidak kenal budi, biarkan mati di sini ...."
Sim Long tidak lantas bergerak, segera Jit-jit mendorongnya.
"Kenapa melamun, lekas bawa dia?"
Sim Long tertawa geli, katanya.
"Katamu tidak, kenapa menolongnya pula. Adakalanya mencintainya setengah mati, mendadak membencinya pula supaya dia lekas mampus ... itulah hati perempuan yang sukar diraba?"
Segera dia kempit Hoa Lui-sian dan melangkah pergi. Dengan memegang lentera Kim Bu-bong menunggunya di luar pintu. Jit-jit tidak melihat A To, dia berkerut kening dan bertanya.
"Mana setan cilik itu?"
"Setan cilik ada di sini!"
Seorang segera menjawab dengan tertawa di belakang.
Tampak A To berlari keluar dari pojok sana dengan membawa bungkusan besar kain hijau yang berat, memanggul sebuah gendewa berbentuk aneh, panjang gendewa lebih tinggi daripada perawakannya, demikian pula buntelan berat itu lebih besar daripada perutnya, tapi gerak-gerik A To tetap enteng dan cekatan, jelas Ginkangnya sudah punya dasar yang kuat.
Jit-jit membatin.
"Anak ini pintar dan lincah, Lo-pat tentu senang padanya ...."
Teringat kepada adiknya, ia menjadi khawatir dan marah, katanya.
"Bila Lo-pat mengalami sesuatu, coba saja kalau aku tidak membeset kulit Hoa Lui-sian."
Setiap timbul kemarahannya selalu dia menyumpah ruah mau menguliti orang, padahal bila ada orang dikuliti, mungkin dia akan lari lebih dulu daripada orang lain.
Dengan membawa lentera Kim Bu-bong jalan di depan, agaknya dia amat hafal segenap pelosok kuburan kuno ini, di bawah cahaya lampu baru sekarang Sim Long sempat memerhatikan bangunan ini ternyata teramat megah dan tidak kalah dibandingkan makam raja di zaman dahulu, alat rahasia yang dipasang di sini justru lebih lihai dan rumit.
Mengagumi betapa besar proyek kuburan ini, Sim Long berkata dengan gegetun.
"Entah karya raja dinasti manakah kuburan sebesar ini?"
"Dari mana kau tahu ini kuburan raja?"
Tanya Jit-jit.
"Untuk membangun proyek sebesar ini, bukan saja memerlukan tenaga dan keuangan yang besar, jiwa manusia pasti juga tidak sedikit dikorbankan di sini, coba lihat saka dan pilar ini, demikian pula lampu minyak itu, setiap karya di sini adalah hasil seni yang luar biasa, kecuali keluarga raja, siapa pula yang mampu mengerahkan tenaga manusia dan mengeluarkan biaya sebesar ini ...."
"Kau keliru,"
Tiba-tiba Kim Bu-bong menukas. Sim Long melengak.
"Masa bukan kuburan raja?"
"Bukan kuburan raja tapi kuburan Bu-lim-ci-cun ...."
Sejenak dia merandek, lalu menyambung dengan lebih kereng.
"Apakah kau pernah dengar nama kebesaran Kiu-ciu-ong Sim Thian-kun?"
"Per ... pernah dengar,"
Sim Long tergegap.
"Kaum persilatan hanya tahu keluarga Sim adalah keluarga besar paling tua dalam sejarah dunia persilatan. Anak murid keluarga Sim selama dua ratusan tahun pernah mengalami tujuh kali petaka besar, tapi tujuh kali pula dapat menanggulangi bencana yang menimpanya, cerita ini cukup diketahui umum. Di luar tahu orang banyak bahwa di kalangan Kangouw juga terdapat sebuah keluarga turun-temurun, bukan saja wibawa, kekayaan dan kungfunya tidak lebih asor daripada keluarga Sim, malah sejarah keluarga besar ini dimulai dari dinasti Han atau Tong."
"Maksudmu apakah keluarga besar Ko dari Tionggoan?"
Tanya Sim Long.
"Betul, kuburan raksasa ini memang betul dibangun oleh keturunan terakhir keluarga besar Ko untuk tempat semayam jenazahnya."
"Keturunan terakhir? .... Apakah Ko San-ceng?"
"Memang dia, orang ini berbakat besar, kungfunya menggetar dunia, pada waktu keluarga Ko berada di zamannya, kebesaran nama keluarga mereka menjulang tinggi, tak nyana pada masa tuanya, entah kenapa sifatnya berubah suka menyendiri dan nyentrik, percaya kepada takhayul, menyembah setan dan jin, hingga lupa makan dan tidur, seluruh harta bendanya dipergunakan untuk membangun kuburan ini, malah anak keturunannya pun tiada yang tahu akan letak kuburan misterius ini."
Jit-jit menimbrung.
"Kenapa begitu? Memangnya dia tidak ingin keturunannya menyembah dan berbakti kepadanya?"
"Soalnya dia terlalu takhayul, dia percaya manusia mati jika harta benda juga dibawa ke liang kubur, kelak bila menitis kembali dia tetap akan dapat memanfaatkan harta peninggalannya itu, maka dia tidak ingin keturunannya tahu tempat penyimpanan hartanya, dia khawatir anak cucunya mencuri harta yang dibawanya ke liang kubur ini."
Jit-jit tertarik, tanyanya pula.
"Tapi orang yang menguburnya tentu juga tahu ...."
"Sebelum dia mati, seluruh harta kekayaan dan pelajaran ilmu silat warisan keluarganya telah dipindah ke dalam kuburan ini, lalu dia tutup kuburan dari dalam, di sini dia menunggu ajalnya sendiri ...."
"Gila,"
Seru Jit-jit.
"orang itu benar-benar orang gila."
Kim Bu-bong menghela napas, katanya.
"Benar, keluarga besar yang turun-temurun selama ratusan tahun tetap jaya tiada bandingan, akhirnya habis di tangan si gila ini, untuk mencari kuburan besar ini, keturunan keluarga Ko entah keluarkan berapa besar tenaga dan pikiran, ilmu silat warisan keluarga mereka pun diabaikan, di antara dua generasi mereka ada sebelas orang menjadi gila, waktu cucu Ko San-ceng masih hidup, keluarga besar Ko sudah merosot pamornya, tempat tinggal terakhir milik mereka pun sudah dijual untuk membayar utang, keluarga besar yang semula jaya dan kaya telah ludes benar, tidak sedikit keturunannya yang menjadi pengemis, kebesaran nama keluarga mereka sebagai kaum persilatan ternama juga putus turunan."
Sampai di sini cerita Kim Bu-bong, waktu Cu Jit-jit angkat kepala, cahaya terang di mulut kuburan sudah kelihatan, dia menarik napas panjang, hatinya tidak merasa lega, tapi malah merasa kesal.
"Keturunan keluarga Ko sendiri harus disalahkan, mereka tidak berusaha membangun kembali kejayaan keluarga, malah rela menjalani kemiskinan."
"Kalau aku jadi keturunannya, bila tahu kakek moyang menyimpan harta kekayaan sebesar itu, tentu apa pun aku tidak mau bekerja, ini sudah menjadi sifat manusia, mana boleh kau salahkan mereka,"
Demikian debat Jit-jit. Sim Long menghela napas sambil menggeleng kepala, dua langkah berjalan mendadak dia berhenti, katanya.
"Selama seratus tahun ini, kan tiada orang masuk kuburan ini?"
"Waktu kusuruh orang membuka kuburan ini, secara cermat telah kuselidiki, kuyakin kuburan ini tidak pernah diinjak manusia. Peti jenazah Ko San-ceng tidak tertutup rapat, ini membuktikan sebelum sempat dia tutup rapat peti mati sendiri, napas sudah putus lebih dulu. Jenazah Ko San-ceng tinggal tulang belulangnya saja, di pinggir peti kutemukan sebuah cangkir batu kemala yang pecah karena jatuh waktu jiwanya melayang. Lebih penting lagi alat rahasia di sini tiada tanda-tanda pernah digerakkan .... Dari berbagai bukti ini berani kupastikan bahwa selama ratusan tahun kuburan ini belum pernah dijelajahi manusia."
"Kalau begitu, lalu di mana harta kekayaan dan Bu-kang-pit-kip (kitab ilmu silat) itu? Pasti masih tersimpan dalam kuburan ini, cuma Kim-heng belum menemukannya,"
Demikian kata Sim Long dengan berkerut kening. Kim Bu-bong tertawa dingin, katanya.
"Untuk ini tidak perlu khawatir, kalau benar dalam kuburan ini menyimpan harta karun, aku pasti dapat menemukan, jika sekarang aku tak menemukan apa-apa, ini membuktikan kuburan ini memang kosong melompong."
Lama Sim Long termenung, katanya kemudian.
"Kalau orang lain bilang demikian tentu aku tidak percaya. Tapi apa yang Kim-heng katakan kuyakin tidak salah, cuma, lantas di mana harta karun itu? Mungkin tidak dibawa masuk kuburan? Atau harta kekayaannya habis untuk membangun kuburan ini?"
Mendadak dia menghela napas, lalu berkata pula.
"Ai, harta benda orang lain buat apa aku memikirkannya?"
Mengikuti langkah Kim Bu-bong, dia melompat keluar kuburan kuno itu. Hujan salju sudah berhenti, mentari memancarkan cahayanya yang benderang. Jit-jit tertawa senang, katanya.
"Sifatmu inilah yang menarik hatiku, persoalan apa pun dapat kau angkat dan rela meletakkan pula, urusan yang mungkin dipikir orang hingga belasan tahun, tapi dalam sekejap dapat kau lepaskan begitu saja ...."
Sampai di sini suaranya berubah khawatir.
"Tapi jangan kau lupakan Lo-pat, adikku. Lekas, lekas buka Hiat-to Hoa Lui-sian, tanya padanya, di mana dia menyembunyikan Lo-pat?"
Setelah Hiat-to terbuka, keadaan Hoa Lui-sian masih lemah, berdiri pun tidak tegak. Jit-jit lantas membentak.
"Di mana Lo-pat, lekas katakan!"
Hujan salju meski sudah berhenti, namun hawa tetap amat dingin, walau kedinginan, tapi Jit-jit tidak pikir lagi, dia khawatirkan keselamatan Hwe-hay-ji, si anak merah.
Dia sangat gelisah, Hoa Lui-sian justru malas-malasan, katanya dingin.
"Kepalaku pening, mana bisa ingat di mana kusembunyikan dia?"
"Kau ... kau ... biar kubunuh kau,"
Desis Jit-jit.
"Apa gunanya kau bunuh aku? Nanti bila pengaruh obat bius hilang, otakku jadi terang, kalau tidak ...."
Sim Long menukas.
"Katakan di mana kau sembunyikan Lo-pat, sebelum pengaruh obat bius hilang, aku bertanggung jawab atas keselamatanmu."
Dia tahu Hoa Lui-sian licik dan banyak perhitungan, tentu dia khawatir setelah menyerahkan Hwe-hay-ji, umpama Jit-jit tidak mencelakainya, pada saat tenaga belum pulih, bisa celaka juga bila kebentur musuh.
Sebaliknya bila Hwe-hay-ji masih berada di tangannya, betapa pun Cu Jit-jit dan Sim Long pasti akan melindungi dia.
Rupanya ucapan Sim Long telah membongkar isi hatinya, mau tak mau berubah juga air mukanya, bola matanya berputar, sesaat dia berpikir, akhirnya berkata.
"Bagaimana pula bila Lwekangku pulih?"
Jit-jit berkata.
"Setelah Lwekangmu pulih, aku menuju ke arahku dan kau boleh pergi sesukamu, buat apa aku menahanmu?"
Hoa Lui-sian berpikir pula sejenak, katanya kemudian.
"Baiklah, mari ikut padaku!"
Setelah setengah hari, pengaruh obat bius mulai lemah, walau sekarang dia belum bebas bergerak, tapi untuk berjalan sendiri sudah mampu.
Demikian pula Cu Jit-jit, sebetulnya sudah bisa jalan, tapi dia justru masih ngendon di punggung Sim Long dan tidak mau turun, tangannya malah memeluk leher orang dengan lebih kencang.
Kim Bu-bong ikut di belakang mereka, air mukanya kaku, tampaknya tidak berniat lari, A To juga mengintil di belakangnya, berulang ia menggerundel.
"Kalau aku tentu sudah tinggal pergi, untuk apa ikut orang? Memangnya menunggu digorok lehernya?"
Kim Bu-bong diam saja, anggap tidak mendengar ocehannya.
Hoa Lui-sian menyusuri lereng gunung menuju ke bawah tebing yang tingginya puluhan tombak, setiba di depan sebuah batu besar persegi baru berhenti, katanya.
"Pindahkan batu ini, di bawahnya ada lubang, adik mestikamu itu berada di dalam .... Hm, lucunya, aku membungkus tubuhnya dengan mantel kulit itu, sekarang aku sendiri kedinginan, bukankah penasaran?"
Melihat lubang di bawah batu masih utuh dan rapat, lega hati Cu Jit-jit, jengeknya.
"Hm, penasaran apa? Jangan lupa siapa yang memberi mantel itu .... Sim Long, ayo geser batu itu."
Sim Long menoleh ke arah Kim Bu-bong dengan tertawa, sebelum dia bicara, Kim Bu-bong sudah menghampirinya, sekenanya tangannya menepuk batu besar itu, kelihatannya dia tidak mengeluarkan tenaga, tapi batu seberat tiga ratusan kati itu tertolak dan menggelinding ke samping.
Sim Long berseru memuji.
"Pukulan hebat ...."
Belum lenyap suaranya mendadak Jit-jit menjerit, Hoa Lui-sian terbeliak kaget, berubah air mukanya.
Lubang itu ternyata kosong, Hwe-hay-ji entah hilang ke mana?
"Nenek setan, nenek bejat, kau ...
kau berani menipuku!"
Damprat Jit-jit. Hoa Lui-sian juga kebingungan, katanya.
"Aku ... jelas kusembunyikan dia ...."
"Sembunyikan apa?"
Damprat Cu Jit-jit.
"buktinya adikku tidak terdapat di sini .... Di mana kau sembunyikan Lo-pat? Lekas ... lekas cari! Lekas kembalikan dia!"
Hoa Lui-sian jadi gugup, katanya.
"Buat apa kudusta, memangnya aku tidak ingin hidup ... mungkin dia membuka Hiat-to sendiri dan ... dan mendorong batu besar ini terus melarikan diri."
Kim Bu-bong menjengek.
"Kalau dia mampu lari sendiri, buat apa menutup pula batu ini?"
"Betul, apalagi usianya sekecil itu, mana mampu membebaskan Hiat-to sendiri, Sim Long, bunuh dia, lekas bunuh nenek setan ini!"
Sim Long menghela napas, katanya.
"Sekarang biar dibunuh juga percuma. Menurut hematku, Hoa Lui-sian tidak berbohong, adikmu mungkin ... mungkin jatuh ke tangan orang lain."
Hoa Lui-sian menghela napas lega, katanya.
"Sim-siangkong memang adil."
"Lalu bagaimana ... lekas cari akal!"
Seru Jit-jit gelisah.
"Tergesa-gesa juga tidak berguna, carilah akal perlahan ...."
"Cari akal masa harus perlahan? Jiwa Lo-pat mungkin tidak tertolong lagi .... Kau tega ... tega berkata demikian ...."
Akhirnya pecah tangis Jit-jit. Kim Bu-bong berkerut kening, katanya.
"Biarkan dia tidur saja!"
"Ya, itulah cara terbaik,"
Ujar Sim Long.
Kim Bu-bong segera mengebaskan lengan bajunya menutuk Hiat-to penidur Cu Jit-jit, tangis Cu Jit-jit akhirnya berhenti, kelopak mata pun terpejam, sekejap saja sudah pulas dalam gendongan.
Air matanya yang tersisa menetes di pundak Sim Long dan beku menjadi butiran es.
Kim Bu-bong mengawasi Hoa Lui-sian, katanya perlahan.
"Cara bagaimana Sim-heng akan bereskan dia?"
Melihat sorot mata orang yang tajam dingin tanpa terasa Hoa Lui-sian menggigil, di bawah cahaya matahari baru dia melihat jelas tampang Kim Bu-bong ternyata aneh, ganjil dan menakutkan.
Jika kuping, hidung, mata dan mulutnya dipandang satu per satu, kelihatannya memang tiada beda dengan indra orang lain.
Tapi kenyataan kedua daun kupingnya besar-kecil, demikian pula biji matanya satu besar mendelik dan yang lain kecil sipit, hidungnya menonjol besar seperti terung, bibirnya justru tipis seperti pisau, letak kedua mata pun kalau diukur ada sebesar telapak tangan jauhnya, bola mata kiri bundar mendelik seperti kelintingan, sementara mata kanan sipit segitiga.
Mungkin tatkala Thian mencipta umatnya yang satu ini, karena kurang hati-hati hingga pancaindra lima-enam orang yang berbeda keliru diterapkan padanya, perempuan siapa saja atau anak kecil bila melihat wajahnya di tengah malam gelap pasti akan menjerit ketakutan seperti melihat setan.
Makin tidak ingin melihat wajah orang, Hoa Lui-sian jadi makin tertarik untuk memandangnya, makin mengirik, semula dia siap melontarkan caci makinya kepada Kim Bu-bong yang mencampuri urusan orang lain, tapi entah kenapa tiba-tiba terasa kelu, sepatah kata pun tak mampu diucapkan.
A To juga menatap majikan atau gurunya ini dengan terbelalak kaget, seperti heran kenapa Kim-loya (juragan Kim) yang biasanya tinggi hati, tidak pernah tunduk kepada orang lain sekarang sedemikian penurut pada Sim Long.
Sim Long tersenyum, katanya.
"Kalau Kim-heng menjadi diriku entah cara bagaimana akan kau bereskan dia?"
"Bunuh saja habis perkara daripada menjadi beban, atau tinggalkan saja di sini,"
Sahut Kim Bu-bong. Keruan Hoa Lui-sian ketakutan, teriaknya.
"Dar ... daripada aku ditinggalkan di sini, lebih baik kau bunuh aku saja?"
Maklum, sekarang tubuhnya lemas lunglai, berbaju tipis, umpama tiada ditemukan musuh, ia pun tak kuat menahan hawa dingin dan bakal mati kedinginan tertimbun salju. Kim Bu-bong menjengek.
"Huh, Ciang-tiong-thian-mo ternyata juga takut mati ... sambutlah!"
Dia lepaskan ikat pinggang, seperti cambuk saja dia lempar ke sana, cepat Hoa Lui-sian menyambutnya, tapi tidak tahu apa maksud orang. Sim Long tertawa, katanya.
"Kim-heng sudah mengampuni jiwamu, lekas ikat tali pinggang itu di tanganmu, tentu Kim-heng akan membantumu."
Kim Bu-bong berkata.
"Kalau Sim-heng tidak bermaksud membunuhnya, terpaksa aku membawanya saja."
Sim Long tertawa, katanya.
"Siapa nyana Kim-heng dapat menyelami perasaanku, sungguh seorang sahabat baik."
Apa boleh buat terpaksa Hoa Lui-sian mengikat tali pinggang itu pada tangannya, selama hidupnya tak terhitung jiwa manusia direnggut atau dilukainya, dia anggap selama ini dirinya tak takut mati, sekarang menghadapi saat mati hidup baru dia sadar "tidak takut mati"
Hanya omong kosong belaka. Kim Bu-bong berkata pula.
"Sejak dahulu manusia mana yang tidak mati, kalau Hoa Lui-sian takut mati, memangnya aku tidak takut? Sim-heng telah membebaskan jiwaku, mana boleh kulupakan budimu, ke mana Sim-heng hendak pergi akan kuturut untuk mengabdi."
Sim Long tertawa, katanya.
"Kalau aku tidak percaya Kim-heng adalah seorang lelaki yang tegas membedakan budi dan dendam, mana aku bersikap sebebas ini terhadap Kim-heng? .... Marilah kita tinggalkan dulu tempat ini."
Segera ia berjalan cepat, Kim Bu-bong menarik Hoa Lui-sian ikut di belakang.
Alam sekitarnya sunyi, tapi tanah bersalju penuh tapak kaki yang semrawut, jelas Pui Jian-li, Can Ing-siong dan lain-lain pergi dalam keadaan runyam.
Selepas mata memandang Sim Long mendapatkan perbedaan tapak kaki yang mencolok antara yang datang dan pergi, waktu datang tapak kaki tampak ringan dan bekasnya cetek, jarak kaki yang satu dengan yang lain kira-kira ada lima-enam kaki, tapi tapak kaki waktu pergi ternyata ambles lebih dalam, jarak satu dengan yang lain juga lebih pendek, ini menandakan tapak kaki Pui Jian-li dan lain-lain waktu pulangnya sudah terluka sehingga langkah kakinya tampak berat.
Sedikit merenung, Sim Long tertawa sambil menoleh, katanya.
"Hebat benar tindakanmu, Kim-heng."
Kim Bu-bong melengak, katanya.
"Apakah maksud perkataan Sim-heng?"
"Semula kukhawatir Pui Jian-li akan putar balik mencari perkara kepada nona Cu, kini setelah mereka terluka oleh Kim-heng, maka legalah hatiku."
"Cayhe tidak pernah turun tangan, apalagi melukai mereka?"
Jawab Kim Bu-bong. Sim Long terperanjat, pikirnya.
"Kalau dia bilang tidak, kupercaya bukan dia yang melukai Pui Jian-li dan lain-lain, lalu siapa yang melukai mereka? Kim Put-hoan jelas tidak mampu melukai orang sebanyak itu?" -merasa aneh, tanpa terasa dia mengendurkan langkah. Selama itu mereka sudah menempuh perjalanan cukup jauh. Mendadak tampak sesosok bayangan meluncur datang. Semula hanya kelihatan setitik kecil dan samar-samar, tapi cepat sekali bayangan itu sudah tiba di depan mata, ternyata putri Loan-si-sin-liong, atau istri Thi Hoat-ho, nyonya cantik yang mukanya ada bekas luka, dia menggendong putrinya, Ting-ting, wajahnya kelihatan gelisah dan bingung, melihat Sim Long seperti melihat sanak kadang, segera ia berhenti dan tanya dengan napas memburu.
"Siangkong, apa kau lihat suamiku?"
Berubah air muka Sim Long, katanya.
"Apakah Thi-heng belum pulang?"
Nyonya itu tampak lebih gelisah, sahutnya.
"Sampai sekarang belum ada kabar beritanya."
"Pui Jian-li, Seng Ing dan It-siau-hud ...."
"Bukankah mereka ikut Siangkong menyelidiki rahasia kuburan kuno."
Terkejut Sim Long.
"Jadi orang-orang ini juga belum pulang."
Dia tahu betapa besar kasih sayang Thi Hoat-ho terhadap istri dan putrinya, bila sudah bebas keluar kuburan, pasti selekasnya dia pulang berkumpul dengan anak bininya, kalau sekarang belum pulang pasti terjadi perubahan, apa lagi jejak Pui Jian-li dan lain-lain juga belum jelas, kalau tidak pulang ke kota, lalu ke mana?
Melihat sikap bimbang Sim Long, nyonya cantik itu makin gugup, tanpa sadar dia tarik lengan baju Sim Long, tanyanya dengan suara gemetar.
"Hoat-ho ... apakah dia ...."
Sim Long berkata lembut.
"Hujin jangan khawatir, soal ini ...."
Sekilas ia memandang ke sana, seketika juga ia berhenti berucap.
Mendadak diketahuinya bekas telapak kaki kiri hanya tersisa yang menuju ke kuburan kuno saja, sedangkan tapak kaki yang meninggalkan kuburan itu ternyata telah putus sampai di sini.
Diam-diam Sim Long mengeluh.
Tak sempat ia memberi penjelasan kepada si nyonya segera dia putar balik ke sana.
Wajah Kim Bu-bong tampak prihatin, sementara air mata tampak berlinang di pelupuk mata si nyonya, Ting-ting, putrinya menyikap kencang lehernya dan menangis.
Mereka ikut lagi di belakang Sim Long, kira-kira sepemanah jaraknya, mendadak Sim Long berseru.
"Nah, di sini."
Kim Bu-bong memandang ke sana, tapak kaki orang banyak yang menuju ke kota ternyata putus sampai di sini, belasan orang tua-muda itu mendadak lenyap setelah sampai di sini.
Gemetar suara nyonya cantik.
"Ini ... apa yang terjadi?"
Berat suara Sim Long.
"Thi-heng, Pui Jian-li, It-siau-hud dan lain-lain telah lolos dari bahaya di dalam kuburan, rombongan mereka buru-buru ingin pulang ke kota, tapi sampai di sini ... sampai di sini ...."
Mana mungkin setiba di sini rombongan orang itu mendadak lenyap?
Sebetulnya terjadi apa yang menakutkan?
Sim Long sendiri bingung dan tidak mengerti, dia hanya geleng kepala sambil menghela napas.
Betapa pun nyonya cantik ini bukan nyonya rumah umumnya, walau dalam keadaan gugup dan khawatir, dia masih cukup tabah menghadapi kenyataan, ia pun perhatikan bekas kaki di permukaan salju, tiada yang putar balik atau membelok, lenyap seperti mendadak terbang ke langit.
Meski hatinya cukup tabah, tapi semakin dipandang semakin aneh dan makin mencemaskan, tanpa terasa kaki dan tangan menjadi gemetar, saking bingung sepatah kata pun tak terucapkan lagi dari mulutnya.
Sekilas Sim Long adu pandang dengan Kim Bu-bong, kedua orang ini biasanya cukup tajam penglihatan dan otaknya dalam menghadapi sesuatu peristiwa, namun meski sekarang sudah memeras otak tetap tidak mengerti apa sebetulnya terjadi.
Kalau mereka takhayul pasti mengira orang sebanyak itu telah ditelan setan, bila kedua orang ini bodoh dan kurang pengalaman, paling-paling mereka akan menarik kesimpulan, pasti ada sesuatu yang aneh, cuma seketika tidak bisa merabanya.
Tapi kedua orang ini justru berotak dingin, tabah, dan cermat, dalam sekejap ini mereka sudah memikirkan berbagai kemungkinan, namun tiada satu pun dari kemungkinan yang terpikir oleh mereka sesuai untuk memberi jawaban secara meyakinkan.
Bahwa mereka tidak percaya takhayul, mereka yakin kalau peristiwa ini tak dapat dipercaya mereka, orang lain jelas lebih tak bisa memecahkan persoalan ini, maka semakin dipikir terasa peristiwa ini amat ganjil dan misterius.
Tak tertahan lagi si nyonya cantik meneteskan air mata, katanya dengan menunduk.
"Aku bingung setengah mati, bagaimana peristiwa ini harus diselidiki, seluruhnya kuserahkan kepada Siangkong."
Sim Long tertawa, katanya.
"Dalam persoalan ini pasti tersembunyi suatu muslihat yang mengejutkan, dalam waktu singkat ini belum dapat kutentukan langkah apa yang harus kita lakukan, semoga Hujin tidak terlalu bersedih, marilah kita ...."
Mendadak seorang bersuara serak berteriak.
"Thi-toaso, jangan percaya obrolan orang ini, orang di sebelahnya itu adalah anak buah Koay-lok-ong yaitu biang keladi yang merencanakan jebakan dalam kuburan kuno itu, ia bersekongkol dengan orang she Sim. Thi-toako, Pui-tayhiap dan belasan tokoh Bu-lim yang lain sudah terbunuh oleh mereka, aku Kian-gi-yong-wi Kim Put-hoan berani dijadikan saksi."
Suara serak itu memang diucapkan Kim Put-hoan, dia sembunyi di belakang pohon di pinggir jalan sana.
Di sampingnya ada empat orang lagi, yaitu Put-pay-sin-kiam Li Tiang-ceng, Khi-tun-to-gu Lian Thian-hun dan kedua saudara Leng yang jarang bicara itu.
Ternyata Li Tiang-ceng juga mendengar keributan yang terjadi di kota Pok-yang, maka malam itu juga mereka menyusul kemari, kebetulan bersua dengan Kim Put-hoan yang lagi ingin cari perkara.
Kalau Li Tiang-ceng masih tetap tenang, tapi Lian Thian-hun menjadi gusar, bentaknya.
"Pantas kami tidak tahu asal usul orang she Sim, kiranya dia antek Koay-lok-ong. Nah, Leng Toa dan Leng Sam, sekali ini jangan kalian lepaskan dia!"
Nyonya cantik itu merasa sangsi apakah tuduhan Kim Put-hoan dapat dipercaya, setelah mendengar salah satu majikan Jin-gi-ceng juga bilang demikian, ia tidak ragu lagi, sambil mengertak gigi sebelah tangannya mendadak menepuk ke dada Sim Long, gerakannya aneh, pukulannya keras, jauh lebih hebat dibandingkan Thi-sah-ciang yang pernah didemonstrasikan Hongbu Siong.
Walau menggendong satu orang, tapi sekali berkelebat, dengan mudah Sim Long dapat berkelit, dia tahu dalam keadaan seperti sekarang ini tak berguna memberi penjelasan.
Kim Put-hoan tambah senang, makinya.
"Nah, bukankah keparat itu diam-diam sudah mengaku. Thi-toaso, seranganmu tak perlu kenal kasihan ... Lian-locianpwe, kau pun lekas turun tangan!"
Lian Thian-hun berteriak murka.
"Memangnya aku tukang main keroyok."
Kim Put-hoan menjengek.
"Menghadapi orang seperti dia, kenapa harus bicara aturan Bu-lim segala? Coba Lian-locianpwe lihat, siapa yang duduk di tanah bersalju sana itu?"
Begitu melihat Hoa Lui-sian, bola mata Lian Thian-hun seketika merah membara, sambil menggerung segera dia menubruk ke sana, mendadak dilihatnya seorang berjubah kelabu bertampang sadis mengadang di depannya.
Lian Thian-hun membentak gusar.
"Siapa kau, berani merintangiku?"
Kim Bu-bong mengawasinya dengan dingin dan tidak bersuara.
Kontan Lian Thian-hun menggenjotnya.
Kim Bu-bong sempat mematahkan jotosannya.
Beruntun Lian Thian-hun memukul lima kali, kedua tangan Kim Bu-bong bekerja cepat memotong urat nadi tangan lawan, kakinya tidak bergeser sedikit pun, keruan Lian Thian-hun semakin murka, bentaknya.
"Ada hubungan apa kau dengan Hoa Lui-sian?"
Dingin suara Kim Bu-bong.
"Hoa Lui-sian bukan sanak kadangku, tapi Sim-siangkong sudah menyerahkan dia kepadaku, siapa pun dilarang melukainya."
Hoa-Lui-sian yang duduk di sana tampak mengunjuk rasa haru dan terima kasih meski dirinya tadi diseret dan kesakitan setengah mati.
Dilihatnya jenggot rambut Lian Thian-hun seakan-akan menegak, dalam sekejap dia telah menyerang sembilan kali pula.
Khi-tun-to-gu Lian Thian-hun meski kungfunya tinggal separuh sejak peristiwa Heng-san dulu, tapi pukulannya tetap dahsyat.
Namun Kim Bu-bong tetap berdiri sekukuh gunung tanpa bergeser selangkah pun.
Li Tiang-ceng menonton dengan heran, kaget dan kagum atas kungfu Kim Bu-bong yang hebat, namun ia pun kagum dan takjub menyaksikan kegesitan Sim Long, betapa tinggi Ginkangnya, meski menggendong satu orang, ternyata gerak-geriknya masih begitu enteng, kakinya tidak meninggalkan bekas sedikit pun di tanah bersalju, serangan si nyonya cantik cukup gencar, tapi tak dapat menyentuh ujung bajunya sekali pun.
Kim Put-hoan tampak sangat senang, semakin seru orang berkelahi semakin gembira hatinya, tak tahan dia mengoceh lagi.
"Leng Toa, Leng Sam, sudah saatnya kalian pun turun tangan, apakah ...."
Belum habis bicara, angin keras mendadak menerjang mukanya, ternyata tangan Leng Sam yang dipasangi kaitan besi mengilap itu sudah menyambar tiba.
Saking kagetnya Kim Put-hoan melompat ke belakang, teriaknya gusar.
"Apa yang kau lakukan?"
Leng Sam menjengek.
"Tampangmu setimpal memerintah diriku?"
Hanya bicara empat patah kata, rasanya sudah terlalu banyak, lalu dia berludah ke tanah.
Gusar Kim Put-hoan, ia mendelik, tapi apa boleh buat.
Sementara itu kedua orang yang bertempur di tanah bersalju sudah berlangsung belasan jurus.
Sim Long dan Kim Bu-bong tetap mengelakkan serangan lawan.
Walau dibebani satu orang, nyonya itu juga membawa putrinya, maka gerak-geriknya juga terhalang.
Sebaliknya Kim Bu-bong yang harus melayani Lian Thian-hun kelihatan kerepotan, karena hanya bertahan dan tidak balas menyerang, keadaannya cukup gawat, sebentar lagi mungkin dia bakal dikalahkan.
Li Tiang-ceng berpengetahuan luas, dengan prihatin ia bergumam.
"Nyonya ini pasti putri tunggal Say-gwa-sin-liong, Liu Poan-hong, kungfunya ternyata tidak lebih rendah dibandingkan Hoa-san-giok-li. Suaminya Thi Hoat-ho pasti juga memiliki kungfu yang lebih tinggi, dari sini dapat disimpulkan dalam dunia Kangouw masih banyak lagi Enghiong yang tidak ternama .... Jika suami-istri ini keturunan tokoh kosen ternama, lalu siapa pula pemuda ini? Sungguh sukar diraba."
Maklum, sejauh ini Sim Long belum memainkan sejurus pukulan pun, orang lain sudah tentu sukar meraba asal usul ilmu silatnya.
Li Tiang-ceng memerhatikan pula Kim Bu-bong, kerut alisnya tambah rapat.
Mendadak dilihatnya Liu Poan-hong, yaitu si nyonya cantik mundur beberapa langkah dengan mandi keringat, napas pun tersengal-sengal, bertempur sekian lama dia tetap tidak mampu menyentuh ujung baju Sim Long, dia menuding sambil membentak.
"Kau ... kenapa kau tidak balas menyerang?"
"Cayhe tidak bermusuhan dengan Hujin, kenapa harus balas menyerang?"
Ujar Sim Long.
"Omong kosong, kalau bukan kau lalu ke mana orang-orang itu, bila tidak kau jelaskan ...."
"Cayhe sendiri juga heran dan tidak mengerti menghadapi persoalan ini, bagaimana aku bisa memberi penjelasan?"
"Baik,"
Seru Liu Poan-hong sambil mengentak kaki.
"Kau ... kau ...."
Mendadak dia turunkan putrinya, Ting-ting, yang ketakutan hingga tak berani menangis lagi, tapi begitu kaki menyentuh tanah seketika dia menangis pula.
Liu Poan-hong berdiri bingung mengawasi putrinya, lalu mendelik kepada Sim Long, matanya berkaca-kaca, mendadak dia memeluk putrinya dan menangis tersedu sedan.
Sim Long menghela napas, ujarnya.
"Duduk perkara sebetulnya belum diketahui, siapa salah dan siapa yang menjadi biang keladi sukar ditentukan, kalau Hujin sudi memberi tempo setengah bulan aku pasti dapat menemukan jejak Thi-tayhiap."
Liu Poan-hong mendadak mendongak dan menatapnya lekat-lekat.
Kim Put-hoan mau bicara lagi, tapi sorot mata dingin Leng Toa dan Leng Sam telah menghentikan kata-katanya yang hampir terlontar dari mulutnya.
Pandangan Liu Poan-hong makin sayu, mendadak ia berkata.
"Baik, aku menunggu beritamu di Pok-yang."
Sim Long berpaling ke arah Li Tiang-ceng, katanya.
"Bagaimana pendapat Cianpwe?"
Li Tiang-ceng masih bimbang, katanya dengan tersenyum.
"Kurasa Leng bersaudara bersimpati kepadamu, tentu mereka juga tidak ingin melabrakmu, cuma Samteku ini .... Ai, kecuali kau mau menyerahkan Hoa Lui-sian."
"Cayhe berani tanggung dia pasti tiada sangkut paut dengan pembunuhan segenap keluarga Kim Tin-ih,"
Kata Sim Long. Walau sedang bertempur, tapi kuping Lian Thian-hun tidak menganggur, serunya gusar.
"Kentut, kulihat dengan mata kepalaku sendiri ...."
"Apakah Cianpwe tahu, sekarang bermunculan berbagai kungfu yang sudah lama putus turunan di dunia Kangouw? Apakah Cianpwe tahu bahwa kematian An-yang-ngo-gi dikarenakan pukulan Jik-sat-jiu? Padahal Thi Hoat-ho tidak pernah turun tangan, boleh kuserahkan Hoa Lui-sian kepada kalian, tapi sebelum duduk persoalannya diselidiki dengan terang, Cianpwe harus bertanggung jawab akan keselamatannya."
Li Tiang-ceng berpikir sambil mengelus jenggot, katanya kemudian.
"Baik, kuberi waktu setengah bulan, setelah setengah bulan, datanglah ke Jin-gi-ceng, Thi-hujin juga boleh menunggu di perkampungan kami."
Liu Poan-hong mengusap air mata sambil mengangguk. Li Tiang-ceng lantas membentak.
"Samte, lekas berhenti!"
Beruntun Lian Thian-hun menjotos pula tiga kali baru melompat mundur, sorot matanya menatap Kim Bu-bong dengan gemas.
Kim Bu-bong menengadah mengawasi langit tanpa menggubrisnya lagi.
Segera Kim Put-hoan berseru.
"Sim Long boleh pergi, tapi keparat ini anak buah Koay-lok-ong, betapa pun tidak boleh dilepaskan pergi."
"Kau mampu menahan dia?"
Tanya Sim Long. Kim Put-hoan melengak, katanya.
"Aku ... aku ...."
Lalu berkata pula Sim Long.
"Apakah betul dia anak buah Koay-lok-ong atau bukan, kalau kalian sudah membebaskan dia, maka siapa pun tidak boleh mencari perkara lagi padanya, tanpa bantuannya terus terang aku pun sukar menyelidiki persoalan ini."
Li Tiang-ceng menghela napas, katanya.
"Kalau saudara ini mau pergi, memang tiada orang yang dapat merintanginya ...."
Mendadak dia mengebas lengan baju, katanya pula dengan tegas.
"Keputusan sudah diambil, siapa pun tak boleh banyak bicara lagi, harap Thi-hujin suka bantu memapah Hoa-hujin pulang bersama kita."
Sim Long tersenyum dan menjura kepada kedua Leng bersaudara.
Wajah Leng Toa dan Leng Sam yang kaku sekilas seperti tersembul senyuman tipis, tapi waktu sorot mata mereka beralih ke arah Kim Put-hoan, senyum mereka seketika sirna.
Kim Put-hoan berdehem dan menyingkir cukup jauh dan tidak berani lagi beradu pandang dengan orang lain.
Sekilas Li Tiang-ceng melirik ke arahnya, lalu menggeleng kepala dan menghela napas.
Setelah rombongan orang banyak pergi baru A To mengacungkan ibu jari dan memuji dengan tertawa.
"Sim-siangkong memang seorang kawan sejati, meski dalam keadaan bahaya tetap tidak melupakan keselamatan Suhuku, pantas Suhu rela menjual jiwanya kepada Sim-siangkong."
Sim Long tersenyum, katanya.
"Anak baik, ingat, hanya dalam kesulitan baru kelihatan sahabat sejati."
A To berkata.
"Tapi tetap tidak kumengerti kenapa Siangkong melepas ... melepaskan orang she Kim itu?"
Sim Long menghela napas katanya.
"Umpama aku bertindak kepadanya, Li-jihiap tentu melindunginya."
A To manggut-manggut. Mendadak Sim Long berkata pula.
"Ada satu hal ingin kutanyakan kepada Kim-heng, entah ...."
Sebelum lanjut ucapan orang segera Kim Bu-bong berkata.
"Di antara empat duta Koay-lok-ong hanya diriku yang diutus lebih dulu ke Tionggoan, tapi tidak pernah kugunakan nama Hoa Lui-sian untuk mencelakai orang, siapa yang membunuh Kim Tin-ih, terus terang aku tidak tahu."
Bahwa dia dapat meraba pertanyaan apa yang akan diajukan, Sim Long tidak merasa heran, tapi apa yang dikatakan itu benar-benar membuatnya terkejut, sesaat dia melenggong, gumamnya.
"Kalau begitu, lalu siapa yang membunuh keluarga Kim Tin-ih? Kecuali anak buah Koay-lok-ong, adakah aliran lain dalam dunia Kangouw yang juga meyakinkan kungfu andalan perguruan orang lain?"
"Kurasa demikian,"
Ujar Kim Bu-bong.
"dan lagi ... Jik-sat-jiu adalah kungfu andalan Say-gwa-sin-liong yang tidak diajarkan kepada pihak luar, kecuali seorang murid Koay-lok-ong tiada lain yang pernah meyakinkannya, padahal orang ini sekarang jauh berada di luar perbatasan sana, bila An-yang-ngo-gi mati karena Jik-sat-jiu, sungguh aku pun tidak habis mengerti."
Sim Long kaget, katanya.
"Kuyakin biasanya dugaanku jarang meleset, siapa nyana hari ini segala rekaanku tiada satu pun yang tepat, tapi ... tapi An-yang-ngo-gi jelas keluar dari kuburan kuno itu dalam keadaan terluka, jika bukan Kim-heng yang turun tangan, apakah dalam kuburan itu ada orang lain? Lalu siapa dia? Dari mana pula dia bisa mempelajari kungfu andalan orang lain?"
Kim Bu-bong menghela napas, katanya.
"Keadaan semakin ruwet, agaknya geger dunia persilatan sudah di depan mata ...."
Guram air muka Sim Long, katanya dengan prihatin.
"Hwe-hay-ji tidak jelas parannya, Thi Hoat-ho dan belasan jago lain lenyap secara misterius? Pembunuh keluarga Kim Tin-ih sukar ditemukan, kecuali anak murid Koay-lok-ong ternyata masih ada orang lain dalam dunia Kangouw yang mahir kungfu maut itu? Di balik persoalan ini pasti ada muslihat keji, peristiwa ini masih terselubung, tiada titik terang untuk bahan penyelidikan, tapi dalam jangka waktu setengah bulan harus kupecahkan persoalannya."
Kalau orang lain menghadapi persoalan serumit ini mungkin akan putus asa dan menangis, tapi setelah menghela napas, alis Sim Long lantas terbuka lebar, katanya dengan tertawa.
"Padahal waktu masih ada lima belas hari, tapi aku sekarang gelisah setengah mati, tentu bikin Kim-heng geli."
Di tengah gelak tertawa dia lantas berjalan cepat beberapa langkah, melihat Kim Bu-bong masih berdiri terlongong, mendadak dia berhenti, katanya.
"Kenapa Kim-heng ...."
Belum habis dia bicara, mendadak suatu ilham terkilas dalam benaknya, cepat dia mundur pula beberapa langkah dan mengawasi Kim Bu-bong.
Mereka saling pandang, wajah mereka seketika mengunjuk rasa girang, tanpa bicara lagi langsung mereka melangkah ke kuburan kuno, A To kaget dan heran, tak tahan dia bertanya.
"Apa yang hendak kalian lakukan?"
Sim Long berkata.
"Jika orang itu tidak ambles ke dalam bumi atau terbang ke langit, tapi tapak kaki mereka justru terputus di tengah jalan, kecuali orang-orang itu menyurut mundur pula, jawaban apa lagi yang bisa kita dapatkan?"
A To memang cerdik, katanya.
"Betul, bila mereka mundur kembali dengan menginjak tapak kakinya sendiri, orang lain dengan sendirinya tidak akan tahu .... Pantas semua tapak kaki itu kelihatan berat dan ambles dalam serta agak kacau, ternyata setiap tapak kaki itu diinjak dua kali."
Maklum, tapak kaki siapa pun bila diinjak dua kali pasti akan lebih dalam dan kacau keadaannya. Kim Bu-bong berkata.
"Sekarang masih ada satu hal yang belum kumengerti. Tujuan mereka berbuat demikian jelas untuk mengelabui orang lain, lalu siapa yang ingin mereka tipu?"
"Yang hendak ditipu jelas kau dan aku, yang tidak kupahami adalah kenapa Thi Hoat-ho tidak mau menemui anak bininya, kecuali ...."
Gemerdep sinar mata Kim Bu-bong, tukasnya.
"Kecuali orang-orang itu sudah menjadi tawanan, dan di bawah pengaruhnya, demi menculik belasan tokoh itu, maka mereka dipaksa berbuat demikian untuk mengelabui mata orang sehingga sukar menemukan jejak mereka. Tapi ... tapi orang sebanyak itu, bukan saja tunduk pada perintahnya dan pergi bersamanya dengan menyurut mundur ke sana, bukankah hal ini terlalu luar biasa?"
"Kalau orang lain tidak perlu dibuat heran, bahwa Thi Hoat-ho juga rela meninggalkan anak bininya, itulah yang luar biasa, kecuali ... kecuali dia kehilangan kesadarannya atau terpengaruh oleh kekuatan gaib."
"Ya, pasti demikian,"
Seru Kim Bu-bong.
"kalau tidak, biarpun orang itu memiliki kungfu setinggi langit dan mampu menguasai mati-hidup orang, tapi jago-jago Bu-lim yang gagah dan keras hati itu belum tentu mau tunduk pada perintahnya."
Sembari bicara mereka terus menyusuri bekas tapak kaki hingga sampai di depan kuburan kuno, mereka saling pandang sekali, lalu berhenti.
Tampak salju di sebelah kiri semrawut dengan tapak kaki acak-acakan, lebih ke depan lagi bekas tapak kaki kelihatan lebih cetek dan lebih rata.
Kim Bu-bong berkata.
"Orang-orang itu pasti mundur sampai di sini, lalu naik kereta di tepi jalan, di belakang kereta menyeret ranting pohon sehingga bila kereta berjalan bekas roda pun tersapu bersih."
Bahwa persoalan ruwet yang tak terpecahkan akhirnya bisa dibikin jelas, sungguh lega perasaan mereka, tapi hanya sekejap Kim Bu-bong lantas berkerut kening pula, katanya.
"Cara kerja orang itu begini teliti, dia dapat memikat puluhan orang hingga rela mengekor dia, sungguh aku tidak habis pikir tokoh macam apa ini?"
Sim Long termenung, katanya kemudian.
"Tahukah Kim-heng dalam dunia ini siapa yang mahir menggunakan Bi-hun-sip-sim-tay-hoat (semacam ilmu sihir)?"
Tanpa pikir Kim Bu-bong menjawab.
"Hun-bong-siancu!"
"Betul, Hun-bong-siancu dulu pernah menggunakan Am-gi (senjata rahasia) paling jahat Thian-hun-ngo-han-bian (kapas pancawarna) dan Bi-hun-sip-sim-tay-hoat hingga namanya menggetarkan Bu-lim. Jago silat kelas wahid sekalipun bila berhadapan dengan Hun-bong-siancu juga bertekuk lutut."
"Tapi ... bukankah Hun-bong-siancu sudah mati sekian tahun lamanya ...."
"Kalau Ca Giok-koan bisa pura-pura mati, padahal masih hidup, kenapa Hun-bong-siancu tidak bisa berbuat demikian pula?"
Sembari bicara Sim Long mengeluarkan sebuah pelat besi, katanya.
"Apakah Kim-heng tahu besi apa ini?"
Kim Bu-bong hanya melirik saja, air mukanya seketika berubah, serunya.
"Thian-hun-ling."
"Betul, inilah Thian-hun-ling yang digunakan Hun-bong-siancu untuk memerintah kawanan iblis."
"Dari mana Sim-heng memperoleh pelat ini?"
"Di atas meja batu yang terletak di mulut gua kuburan kuno itu, semula kukira pelat ini milik Kim-heng, kini dapatlah kutarik kesimpulan bahwa yang menaruh pelat ini di atas meja pasti orang yang membunuh An-yang-ngo-gi dengan Jik-sat-jiu, yang membawa Pui Jian-li dan lain-lain pasti perbuatannya pula."
Pucat muka Kim Bu-bong.
"Orang ini berada dalam kuburan, aku ternyata tidak tahu, malah segala gerak-gerikku di bawah pengawasannya .... Siapa dia, betulkah Hun-bong-siancu sendiri?"
Membayangkan musuh yang tidak kelihatan selalu mengintip gerak-geriknya di dalam kuburan kuno itu, Kim Bu-bong jadi bergidik sendiri.
Baca Juga: Badik Buntung 9
Baca Juga: Hina Kelana Balada Kaum Kelana 21