Eps 1 Pendekar Baja - Gu Long
Baca online Pendekar Baja - Gu Long
Cersil Pendekar Baja - Gu Long.
KANG ZUSI at
http.//cerita-silat.co.cc/
KANG ZUSI at
http.//cerita-silat.co.cc/ Karya Gu Long Judul asli. Wu Lin Wai Shi Judul Bahasa Inggris. A Fanciful Tale of the Fighting World Saduran. Gan KL Tahun. 1979 Kontributor. Lynx, Ebook by. Dewi KZ
Jilid 1 Cuaca buruk, salju bertebaran, bumi seakan akan dilapisi permadani putih, selepas mata memandang, ribuan li terbentang, hanya putih melulu tanpa warna lain setitik pun.
Jauh di luar kota Kay-hong, di bawah hujan salju yang lebat, tertampak dua ekor kuda dibedal kencang, penunggang kuda di depan mengenakan mantel berbulu tebal, kedua tangannya tersembunyi di dalam lengan baju.
Kudanya gagah tapi penunggangnya kelihatan lesu dan ogah-ogahan, kepalanya mengenakan topi kulit rase yang sudah butut, topinya ditarik rendah hingga tidak jelas raut mukanya.
Kuda yang mengintil di belakangnya juga ditunggangi satu orang, tapi orang ini mendekam melintang di punggung kuda, kiranya sesosok mayat yang telah kaku.
Karena hawa dingin, maka wajahnya masih segar dan kelihatan seperti masih hidup, pakaiannya perlente, warna dan coraknya segar dan baru, sekujur tubuhnya tidak kelihatan ada bekas luka, wajahnya masih mengulum senyum, agaknya dia mati dengan tenteram seolah-olah mati dengan enak.
Entah dari mana datangnya kedua penunggang kuda ini, tapi arah tujuannya adalah sebuah perkampungan besar yang terkenal di luar kota Kay-hong.
Kini penunggang kuda di depan sudah dapat melihat perkampungan besar dan megah yang ditujunya.
Perkampungan ini terletak di sebelah barat parit pelindung kota, ada ratusan wuwungan yang memenuhi tanah seluas beberapa puluh hektare, perkampungan seluas ini ditandai dengan pintu gerbang yang tidak pernah tertutup sepanjang tahun.
Salju di depan pintu gerbang tampak penuh bekas tapal kuda, tapi tidak kelihatan bayangan seseorang pun, lewat pintu gerbang itu masuk ke halaman rumah, di bawah emper kiri terdapat sebuah papan yang penuh bertempelan maklumat besar-kecil dengan gaya tulisan yang berbeda, kertasnya ada yang sudah kuning dan tulisan pun luntur karena dimakan waktu.
Memasuki pintu kecil di sebelah kanan orang akan berada dalam pekarangan yang menghadap ruang kecil, ruangan yang kosong tanpa pajangan dan perabot kecuali deretan peti-peti mati, ada belasan peti mati, semuanya masih baru dan belum dipelitur, seakan-akan di sini memang tersedia peti mati entah untuk dijual atau persediaan untuk penduduk kampung.
Padahal hawa amat dingin, tapi tidak kelihatan ada api di dalam ruangan, dua orang lelaki berpakaian hitam tampak nongkrong di atas peti mati di deretan paling depan, kedua orang ini duduk berhadapan sambil minum arak.
Tiga guci arak sudah menggeletak di lantai, tapi kedua orang ini tidak kelihatan mabuk, padahal perawakan mereka kurus kering, berwajah kaku dingin, selintas pandang tak ubahnya wajah patung, tampang kedua orang hampir mirip satu dengan yang lain, mereka terus minum seperti berlomba saja dan tanpa bicara.
Orang di sebelah kiri buntung lengan kanannya sebatas siku, tangan yang buntung itu dipasangi sebuah gancu besar warna hitam legam, beratnya belasan kati, setiap kali gancunya bergerak seperti hendak menggantol bolong peti mati, tapi yang digantol hanyalah sebutir kacang yang kecil terus dilontarkan ke dalam mulut, lepek wadah kacang sedikit pun tidak tersentuh.
Laki-laki satunya lagi bertubuh utuh, tapi setiap kali habis meneguk secangkir arak tubuhnya lantas terbungkuk-bungkuk dan batuk, namun tetap tidak kapok, secangkir demi secangkir arak dituang lagi ke dalam perut, agaknya biar batuk sampai mampus juga tidak akan berhenti minum.
Rupanya dia lebih rela mati daripada pantang minum arak.
Lewat serambi di sebelah kiri akan sampai ke ruang pendopo, api unggun tampak berkobar di dalam pendopo, di situ berderet delapan meja penuh hidangan, semuanya hidangan kelas satu, ada delapan meja, tapi hanya untuk tujuh orang.
Tujuh orang masing-masing menduduki sebuah meja, maklum, rupanya ketujuh orang ini tidak mau duduk di sebelah bawah yang lain, maka tidak ada yang duduk bersama satu meja.
Usia ketujuh orang ini paling-paling baru tiga puluhan, tapi sikap dan tingkah mereka kelihatan angkuh, seperti orang gede layaknya.
Ketujuh orang ini ada lelaki dan juga ada perempuan, ada padri, ada preman, ada yang menyandang pedang, ada yang membawa kantong kulit, yang sama adalah sorot mata mereka berkilat tajam, jelas Lwekang mereka cukup tinggi, jelas mereka adalah jago-jago muda dunia persilatan.
Kelihatannya ketujuh orang ini satu sama lain tidak saling kenal, tapi juga seperti sudah kenal, mereka pasti bukan datang dari satu tempat, tapi kini serentak berada di tempat ini, entah untuk apa mereka kemari?
Di belakang pendopo, melewati sebuah serambi pula dan belok ke kanan terdapat sebuah bangunan lain, suasana sepi, ruangan di sebelah kiri tertutup rapat namun tercium bau obat.
Sesaat kemudian tertampak seorang anak dengan rambut digelung kundai membuka pintu keluar dengan membawa kaleng obat.
Kini daun pintu terbentang lebar, tertampak dalam ruang itu ada tiga orang tua beruban.
Seorang bermuka kurus kuning, duduk di atas ranjang sambil memeluk selimut tebal, agaknya sudah lama dia rebah di tempat tidur karena mengidap sakit.
Seorang lagi berperawakan tinggi besar, gagah dan tampan, alisnya tegak, matanya besar bercahaya, kedua tangannya putih bersih laksana batu kemala, walau usianya sudah lanjut, namun masih terbayang bekas ketampanan masa mudanya dulu.
Orang ketiga bertubuh kekar, pundaknya lebar, dadanya bidang berotot, jenggotnya kaku, matanya bundar laksana mata singa, hawa sedingin ini, tapi dia hanya mengenakan baju tipis, baju di depan dadanya terbuka lebar lagi.
Kalau rambut dan jenggotnya tidak beruban, siapa percaya usianya sudah tua?
Tiga orang ini duduk di depan ranjang, di ujung ranjang sana ada sebuah meja pendek bertumpuk buku-buku catatan, di sampingnya adalah belasan ikat pinggang dari berbagai jenis kain dan warna yang berbeda.
Waktu itu si kakek berjenggot pendek kaku itu sedang membuka ikat pinggang itu satu per satu, setiap ikat pinggang ditempeli kertas.
Sementara kakek bertubuh tinggi itu memegang pensil dan kertas, ia mencatat apa yang tertera di atas kertas tempelan itu, tiada yang tahu apa ini tulisan itu, namun kelihatan muka ketiga orang ini sangat prihatin dengan dahi berkerut.
Selang sekian lamanya, terdengar kakek tinggi itu menghela napas, katanya.
"Bertahun-tahun berjerih payah, mengeluarkan biaya yang tidak terhitung banyaknya, namun yang berhasil kita kumpulkan juga cuma ini saja, semoga ...."
Tiba-tiba dia batuk perlahan dan menghentikan kata-katanya, jelas hatinya tertekan, entah apa yang dikhawatirkannya. Tapi orang tua yang sakit malah tertawa, ujarnya.
"Hasil yang kita peroleh ini tidak terhitung kecil, yang jelas kita sudah berusaha sekuat tenaga, kuyakin pada suatu hari usaha kita akan berhasil."
"Plak", tiba-tiba kakek berjenggot kaku berkeplok sekali, katanya lantang.
"Ucapan Toako memang benar, bagaimanapun keparat itu hanya seorang saja, memangnya dia mampu mencaplok kita bertiga?"
Kakek tinggi tersenyum, ucapnya.
"Sepuluh tahun terakhir ini, ketujuh jago paling top di Bu-lim kini sudah menunggu di ruang depan. Bila Kungfu ketujuh orang ini benar sama hebat seperti nama besar mereka, dengan gabungan kekuatan mereka bertujuh, kuyakin usaha kita ada harapan, yang kukhawatirkan adalah mereka masih berusia muda, masing-masing suka membawa kemauannya sendiri, satu sama lain tidak mau mengalah, jadi sukar bekerja sama."
Sementara itu, kedua kuda sudah tiba di depan perkampungan, laki-laki bermantel tebal itu melompat turun dari kudanya lalu menghampiri kuda yang lain, memanggul mayat itu terus masuk ke halaman.
Langkahnya perlahan malas seperti tidak bertenaga, tapi tangan yang mengempit mayat itu seperti tidak mengeluarkan tenaga, dia mirip kaum gelandangan yang hidup miskin, tapi kedua ekor kuda yang jempolan itu ditinggalkan begitu saja, biar kuda itu dicuri orang juga tidak jadi soal.
Langsung dia mendekati dinding penahan angin, dengan kemalas-malasan dia mendorong topi bulunya hingga kelihatan raut mukanya, kiranya dia seorang pemuda tampan, mulutnya mengulum senyum walau sikapnya tidak acuh, seperti tidak peduli akan segala sesuatu di sekitarnya, tapi siapa pun bila melihat tampangnya pasti tertarik dan bersimpati kepadanya.
Hanya pedang panjang yang tergantung di pinggangnya dengan sarung pedangnya yang kelihatan kotor dan dekil, sehingga timbul kesan orang meski pedang itu senjata yang dapat membunuh orang, tapi berada di pemuda ini rasanya tidak perlu ditakuti lagi.
Kertas-kertas yang ditempel di dinding itu ternyata semuanya maklumat tentang orang-orang atau penjahat yang sedang dicari atau diuber, di mana tercantum nama, umur dan asal usulnya, kejahatan yang pernah dilakukan, dan berapa besar upah yang dapat diterima bagi siapa pun yang dapat membekuknya hidup atau mati, semua penjahat yang dicari adalah gembong-gembong yang kelewat batas kejahatannya.
Dari maklumat itu dapatlah disimpulkan bahwa akhir-akhir ini tidak sedikit jumlah penjahat yang mengganas di kalangan Kangouw, maklumat itu bukan ditandatangani oleh pihak penguasa yang berwenang, tapi adalah pemberitahuan dari pemilik atau majikan perkampungan besar ini, Jin-gi-ceng.
Ternyata Cengcu dari Jin-gi-ceng ini berani memberi upah besar bagi siapa saja yang berhasil menangkap penjahat yang tercantum dalam maklumat ini, ini memang sesuai dengan nama besar perkampungan itu, Jin-gi-ceng atau perkampungan yang mengutamakan keadilan dan cinta kasih.
Pemuda miskin ini langsung mendekati maklumat yang sudah luntur dan paling lama ditempel di situ, di mana tertulis.
Lay Jiu-hong, 37 tahun, dari aliran Kong-tong, bersenjata ruyung, tujuh puluh tiga Siang-bun-ting (paku pencabut nyawa) dalam kantong kulitnya adalah salah satu dari sembilan belas jenis senjata rahasia paling ganas di Bu-lim.
Orang ini bukan saja licik dan licin, banyak akal muslihatnya, keji, jahat, merampok dan membunuh korban yang diperkosanya, segala macam kejahatan dilakukannya.
Selama tujuh tahun, setiap bulan sedikitnya satu kali melakukan kejahatan besar, siapa saja bila dapat membekuknya mati atau hidup, akan mendapat upah lima ratus tahil perak, janji pasti ditepati.
Tertanda Jin-gi Cengcu Pemuda miskin itu menyobek maklumat itu terus masuk ke pekarangan di sebelah kanan.
Agaknya sudah sering dia kemari, maka hafal jalannya, kedua laki-laki kurus berbaju hitam yang bermuka kaku seperti patung itu menoleh waktu pemuda ini melangkah masuk, mereka saling pandang terus berdiri bersama.
Perlahan si pemuda turunkan mayat itu di atas lantai, lalu menggeliat, telapak tangan terulur, dia minta upah.
Laki-laki berbaju hitam yang bertangan buntung menggantol mayat itu serta mengamati mukanya sejenak, sorot matanya yang semula dingin tampak bercahaya, dia kempit mayat itu dan melangkah keluar dengan setengah berlari, laki-laki berbaju hitam yang lain menuang secangkir arak dan disodorkan.
Tanpa bicara pemuda itu menerimanya dan ditenggak habis, sejak bertemu ketiga orang ini tidak pernah bicara, seolah-olah orang bisu.
Laki-laki lengan buntung membawa mayat itu ke belakang, baru dia tiba di pekarangan, kakek tinggi tegap di dalam kamar telah membuka pintu, melihat dia datang, tanyanya dengan tertawa.
"Siapa pula orang ini?"
Laki-laki buntung melemparkan mayat itu ke tanah bersalju, lalu jari telunjuknya menuding. Kakek itu memburu maju dan memeriksanya sejenak, segera dia berseru girang.
"Hah, Lay Jiu-hong!"
Kakek berjenggot pendek berlari keluar, ia pun bersorak senang.
"Apa? Sam-jiu-long (serigala tiga tangan) akhirnya terbunuh juga? Thian memang Mahaadil, siapa yang membunuhnya?"
"Manusia,"
Sahut lelaki buntung berbaju hitam. Kakek berewok tertawa, makinya.
"Keparat, memangnya bapakmu tidak tahu manusia yang membunuhnya? Kau kira tikus celurut mampu merenggut jiwanya? Dasar, bicara saja tidak becus ...."
Belum habis ucapannya, tiba-tiba gancu di tangan kanan lelaki baju hitam terayun, angin menderu, belum serangan tiba, hawa dingin sudah menyambar.
Dengan terkejut kakek berewok melompat mundur, walau perawakannya besar dan kekar, tapi gerak-geriknya juga tangkas, meski dia sudah berkelit dengan cepat, tak urung baju di depan dadanya tersambar oleh gancu orang.
Hanya menyerang sekali dan si baju hitam tidak melanjutkan serangan lagi.
Keruan kakek berewok naik pitam, makinya gusar.
"Dirodok, main serang, kalau bapakmu sedikit lambat berkelit, apakah dadaku tidak sobek? Kau anjing ...."
"Samte, tutup mulut,"
Tiba-tiba kakek sakit membentak.
"bukankah kau tahu watak Leng Sam, kau justru memaki dia, kan cari penyakit?"
Kakek berewok tergelak, katanya.
"Aku hanya berkelakar, memangnya dia mampu memukul aku. Leng Sam, bila kau mampu memukulku, anggaplah kau memang lihai."
Wajah dan sikap Leng Sam tetap kaku dan dingin, dia tidak menghiraukan ocehan si berewok, langsung dia mendekati pembaringan, katanya.
"Lima ratus tahil perak!"
Berbareng mendadak tangannya terayun balik memukul pundak si berewok, kali ini dia gunakan telapak tangan dan tidak memakai gancu, sebab serangan dengan telapak tangan tidak mengeluarkan suara.
Kontan si berewok kena dipukul terpental dan menumbuk dinding.
Tapi sigap sekali si berewok berdiri lagi dengan bertolak pinggang, bukan dia yang menggelelok, tapi tembok itu yang retak, dengan mendelik dia memaki pula.
"Bedebah, mau berkelahi ya?"
Sembari bicara dia terus menyingsing lengan baju. Kakek tinggi cepat memburu ke tengah, katanya bengis.
"Samte, adatmu kembali seperti anak kecil lagi?"
"Aku kan hanya tanya ...."
Omel si berewok.
"Tak perlu tanya lagi,"
Ujar kakek tinggi.
"dari keadaan kematian Lay Jiu-hong, kan dapat kau duga dia pasti terbunuh oleh pemuda aneh itu?"
"Siapa dia?"
Tanya orang tua yang rebah di pembaringan.
"Tiada yang tahu siap she dan namanya,"
Ujar si kakek tinggi.
"juga tiada yang tahu asal usul Kungfunya. Tapi dalam setahun ini dia sudah menyerahkan tujuh mayat orang yang sudah lama kita uber. Tujuh gembong penjahat yang sekian tahun tak bisa dibekuk dan upahnya pun tinggi, bukan saja kejahatan mereka kelewat batas, buas, licik dan berkepandaian tinggi pula, entah dengan cara bagaimana pemuda itu dapat membunuh mereka."
Orang tua sakit berkerut kening, katanya.
"Sudah tujuh kali dia kemari, ternyata kalian masih belum kenal siapa dia?"
"Setiap kali datang, tak pernah dia mengucap lebih dari sepuluh patah kata, kutanya siapa namanya, dia hanya tertawa dan menggeleng tanpa menjawab,"
Tutur si kakek jangkung. Tiba-tiba kakek berewok tertawa geli, katanya.
"Watak kerbaunya ternyata mirip Leng Sam, tapi mendingan dia, masih mau tertawa dan geleng kepala, kalau Leng Sam sungguh menyebalkan, mukanya kaku dingin seperti mayat saja."
Melotot Leng Sam, cepat si berewok melompat mundur dengan tertawa, orang tua yang sakit ikut tertawa geli, katanya kemudian.
"Hari ini dari mana kau tahu pemuda itu pula yang datang?"
Kakek tinggi memberi penjelasan.
"Setiap korban yang dibunuhnya wajahnya pasti mengulum senyuman aneh. Setiap kali pasti kuperiksa dengan saksama, aku tidak habis mengerti dengan cara apa dia bunuh para korbannya."
Orang tua sakit termenung, si berewok dan si jangkung berdiri diam dan tak berani bersuara pula. Kembali Leng Sam ulurkan tangannya dan berkata.
"Lima ratus tahil!"
Si berewok tertawa, katanya.
"Kan bukan kau yang mau terima uang, kenapa buru-buru?"
Kedua orang ini perang mulut lagi, tapi orang tua sakit tetap tenggelam dalam lamunannya seperti tidak mendengar apa-apa, sesaat baru dia angkat kepala, katanya perlahan.
"Kurasa pemuda ini pasti punya asal usul luar biasa. Kebetulan dia telah datang, tiada salahnya kita mengundangnya untuk membantu usaha kita ... Leng Sam, pergilah dan undang dia makan minum di pendopo ...."
"Lima ratus tahil!"
Kembali Leng Sam berucap singkat. Orang tua sakit tertawa.
"Di sinilah kebaikan Leng Sam, tak peduli persoalan apa yang kau suruh kerjakan, tak peduli siapa kau, jangan harap akan minta kelonggarannya. Setiap patah katanya takkan berubah, aku sendiri pun jangan harap akan menggoyahkan keyakinan ... Jite, lekas ambil uang, tapi setelah Leng Sam menyerahkan uang, anak muda itu jangan dibiarkan pergi."
Setelah menerima uang, tanpa bicara Leng Sam putar badan terus keluar. Si berewok tertawa pula, katanya.
"Budak lebih galak dari majikannya, sungguh jarang ada di dunia ini."
Orang tua sakit menarik muka, katanya dengan sungguh-sungguh.
"Dengan Kungfu mereka berdua, jika tidak mengingat hubungan orang tuanya dengan aku pada masa dulu, mana mereka sudi menetap di sini dengan merendahkan derajat mereka? Samte, kenapa kau menganggapnya sebagai budak?"
"Ah, aku hanya bergurau saja,"
Ujar si berewok.
"hanya anak kura-kura yang menganggapnya budak."
Kakek tinggi tersenyum sambil mengawasi orang tua sakit, katanya.
"Jika kau ingin Samte bicara dengan halus, kukira jauh lebih sukar daripada suruh Leng Sam berbicara."
Selama itu pemuda miskin tadi dan lelaki berbaju hitam tetap tidak berbicara, namun mereka sudah duduk berhadapan, secangkir demi secangkir mereka seperti berlomba minum, setiap menghabiskan secangkir arak lelaki baju hitam lantas terbatuk-batuk, akhirnya pemuda rudin ini minum makin cepat dan banyak, dengan cepat guci kosong di lantai telah bertambah dua.
Sambil mengempit bungkusan uang di sebelah kanan, gancu Leng Sam menyeret mayat dengan langkah lebar datang kembali, langsung dia lemparkan buntalan uang ke atas peti mati, lalu menghampiri peti yang lain serta membuka tutupnya, sekali ayun gancunya, mayat itu dilemparkan ke dalam peti mati, lalu dia duduk di lantai yang dingin dan menenggak arak lagi.
Kembali si pemuda miskin menghabiskan tiga cangkir arak, lalu meraih buntalan uang, sambil tertawa dia memberi hormat terus berdiri.
Tapi mendadak Leng Sam berkelebat mengadang di depannya.
Keruan pemuda itu berkerut kening, sinar matanya seperti ingin bertanya.
"Ada apa?"
Terpaksa Leng Sam buka suara.
"Cengcu mengundangmu makan di pendopo."
"Ah, mana aku berani,"
Ujar si pemuda.
Beruntun Leng Sam mengucapkan beberapa patah kata dan rasanya sudah terlalu banyak bicara maka dia tidak mau omong lagi, waktu pemuda itu menggeser ke kiri, segera ia pun mengadang ke kiri, bila pemuda itu menyingkir ke kanan, dia juga mengadang ke kanan.
Akhirnya si pemuda tersenyum lebar, entah cara bagaimana dia bergerak, sekali berkelebat, tahu-tahu ia sudah berada di belakangnya Leng Sam, ketika Leng Sam membalik tubuh hendak mengejar, pemuda itu sudah berada di kaki tembok luar sana, ia mengulap tangan kepada Leng Sam sambil tertawa.
Merasa tidak sanggup menyusul orang, tiba-tiba Leng Sam ayun gancu terus mengepruk ke batok kepala sendiri.
Sudah tentu pemuda itu kaget, cepat ia melompat balik, belum tiba di tempat, angin pukulannya telah mendampar lebih dulu, kontan gancu Leng Sam tergetar miring, namun kulit kepalanya tetap tergores luka dan mengeluarkan darah, cukup parah juga goresan ujung gancunya itu, tulang kepalanya sampai kelihatan.
Kaget dan heran pula si pemuda, tanyanya.
"Kenapa kau berbuat demikian?"
Darah mencucur membasahi pundak Leng Sam, sama sekali ia tidak mengerutkan kening, seperti tidak merasakan apa-apa dia berkata pendek.
"Kau pergi, aku mati!"
Si pemuda melenggong, akhirnya menggeleng dan menghela napas, katanya.
"Aku tidak pergi dan kau tidak mati!"
"Ikut aku!"
Kata Leng Sam, lalu dia mendahului putar badan dan masuk ke dalam. Dia bawa si pemuda ke pendopo.
"Duduk!"
Katanya, tanpa melirik kepada orang-orang yang sudah berada dalam pendopo, lalu tinggal pergi.
Si pemuda memandang orang menghilang di luar pintu, sesaat dia masih melenggong, akhirnya ia tertawa getir sendiri, sekenanya dia tarik sebuah kursi, lalu duduk di bagian samping.
Dilihatnya di bagian atas duduk seorang Hwesio berusia tiga puluhan, mengenakan jubah warna hijau, tampangnya kereng, sikapnya serius, duduk dengan tegak dan membusungkan dada, kedua tangan ditaruh di atas paha, sejak mula tidak buka suara, matanya menatap jauh ke depan, ada orang duduk di sampingnya juga seperti tidak dilihatnya sama sekali.
Si pemuda tertawa padanya dan melihat orang tidak mengacuhkannya, dia juga tidak peduli, ia angkat poci dan menuang secangkir arak hendak diminumnya sendiri.
Tiba-tiba padri jubah hijau itu membentak dengan suara tertahan.
"Jika mau minum arak, jangan duduk semeja denganku."
Si pemuda melenggong, lalu tersenyum, katanya.
"Baiklah."
Ia batal minum arak, dan berpindah ke meja lain. Yang duduk di meja kedua adalah seorang pemuda tampan berpakaian mewah, sebelum pemuda rudin ini duduk di depannya, segera dia berkata dengan ketus.
"Aku pun tidak suka melihat orang minum arak!"
"O,"
Pemuda rudin itu pun tanpa banyak bicara dan langsung menuju ke meja ketiga.
Meja ketiga berduduk seorang gadis jelita berpakaian serbaputih, dengan tajam dingin dia awasi kedatangan si pemuda, ia berkerut kening dan cemberut, ternyata pemuda rudin ini cukup tahu diri, segera dia menuju meja keempat.
Seorang Tojin kurus kering mendadak berdiri.
"Cuh, cuh ...."
Tiba-tiba dia meludahi setiap hidangan yang berada di depan mejanya, lalu dia duduk kembali dengan tenangnya.
Dengan tersenyum si pemuda mengawasi Tojin kurus ini, ia menuju meja kelima.
Yang duduk di meja kelima ini adalah seorang pemuda bertampang jelek, badan gembrot, dua uci-uci besar menonjol di kedua pipinya, rambutnya semrawut seperti rumput kering, seperti tidak ada orang lain di sekitarnya dia tengah melahap seluruh hidangan yang tersedia, sayur di atas meja hampir habis disikatnya seorang diri.
Kini si pemuda rudin yang berkerut kening, tengah ragu, tiba-tiba dari meja sebelah seorang tertawa dan berkata.
"Saudara yang gemar minum arak, silakan duduk di sini!"
Si pemuda menoleh, dilihatnya yang bicara adalah seorang pengemis bermata satu, mukanya burik, pakaiannya penuh tambalan dan dekil, dengan tertawa lagi melambaikan tangan kepadanya, jarak masih jauh, tapi hidung si pemuda sudah mengendus bau apak dan kecut dari badan si pengemis, mungkin tidak pernah mandi dan ganti pakaian, tapi tanpa berkerut kening langsung pemuda itu duduk di kursi yang ditunjuk, katanya dengan tertawa.
"Banyak terima kasih."
Pengemis mata satu berkata.
"Ada hasratku mengajak Anda minum sepuasnya, sayang arak dalam poci sudah kosong. Mari silakan lahap saja hidangan ini."
Lalu dia angkat sumpit, giginya yang kuning tampak menjijikkan, lebih dulu dia kecup ujung sumpit, lalu dia jepit sepotong daging dan diangsurkan ke piring di depan si pemuda, tanpa periksa si pemuda makan daging itu.
Begitu lahap dia mengunyah daging itu, jangankan daging itu disumpit oleh si pengemis, umpama daging itu direbut dari mulut anjing juga akan dilahapnya.
Di sebelah lagi meja ketujuh, berduduk seorang laki-laki bermuka merah, lagi mengawasi si pemuda yang serbatak-acuh terhadap segala sesuatu itu, agaknya dia sangat tertarik sehingga duduk melongo dan lupa minum arak.
Seorang kacung cilik berbaju hijau tiba-tiba berlari masuk membawakan dua poci arak langsung mendekati meja si pengemis, katanya dengan tertawa.
"Maaf, terlambat mengantar arak!"
Lalu dia isi penuh cangkir kedua orang yang duduk berhadapan ini. Si pemuda tersenyum.
"Terima kasih!"
Dia merogoh saku dan mengeluarkan seikat uang bernilai seratus tahil terus diangsurkan ke tangan si kacung cilik. Kacung itu melongo, katanya tergagap.
"Ini ... apa ini?"
Si pemuda tertawa, katanya.
"Uang ini kuberi untuk beli sepatu."
Mengawasi uang perak di tangannya, kacung itu terkesima sekian lamanya, katanya kemudian.
"Tapi ... tapi ...."
Mendadak dia putar badan terus berlari pergi.
Tidak sedikit dia melihat pemuda hartawan yang royal, tapi belum ada yang sekali memberi persen sebanyak ini.
Pengemis bermata satu angkat cangkirnya, katanya.
"Saudara memang royal, mari minum secangkir ini!"
Keduanya angkat cangkir dan menghabiskan arak masing-masing. Mendadak pengemis mata satu menahan suara, katanya.
"Dalam beberapa hari ini Cayhe juga ada keperluan mendesak, entah saudara ...."
Belum habis orang bicara, si pemuda sudah merogoh keluar empat ikat uang perak dan ditaruh di atas meja, katanya sambil mendorongnya ke depan orang.
"Jumlah sekadarnya ini silakan saudara terima dengan senang hati."
Lima ratus tahil perak itu diperolehnya dengan tidak gampang, tapi semudah itu dia berikan uang jerih payahnya kepada orang yang baru dikenalnya.
Lekas pengemis mata satu meraih uang perak itu terus disimpan dalam baju, katanya sambil menghela napas.
"Mestinya Cayhe perlu enam ratus tahil, masa saudara sekikir ini, hanya memberi empat ratus tahil?"
Si pemuda tersenyum, segera dia membuka mantel kulit berbulu, katanya.
"Mantelku ini mesti sudah tua, kukira nilainya cukup dua ratus tahil, boleh saudara mengambilnya pula."
Setelah menerima mantel itu, si pengemis mengelus-elusnya lalu meniup bulunya, katanya kemudian.
"Bulunya masih baik, sayang sudah terlalu tua ...."
Lalu dibolak-balik beberapa kali mantel itu.
"paling banyak dapat digadaikan untuk seratus lima puluh tahil, harus dipotong lagi rentenya lima belas tahil .... Ai, apa boleh buat!"
Padahal orang belum pernah kenal padanya, namun sudi memberi uang dan barang, tapi pengemis ini masih kurang puas, mengucap terima kasih pun tidak.
Ternyata si pemuda juga tidak peduli, kini hanya baju tipis saja yang melekat di badannya, ternyata dia seperti tidak merasa dingin, dengan tertawa dia minum arak pula.
Laki-laki bermuka merah di meja samping mendadak menggebrak meja, makinya dengan suara keras.
"Bangsat yang tidak tahu malu. Kalau tidak berada di Jin-gi-ceng, orang she Kiau pasti menghajar adat padamu!"
Mendelik mata tunggal si pengemis, bentaknya.
"Anak busuk, siapa yang kau maki?"
Sambil angkat cangkirnya laki-laki muka merah berdiri, serunya gusar.
"Memaki kau, mau apa?"
Tampang si pengemis kelihatan garang dan bengis, tapi melihat orang lebih galak daripada dirinya, tiba-tiba dia malah tertawa, ujarnya.
"O, kiranya memaki aku. Baik, aku memang pantas dimaki ...."
Keruan pemuda miskin tadi melenggong, juga merasa geli. Laki-laki muka merah segera menghampirinya dan menepuk pundaknya, lalu menuding pengemis mata satu dan berkata.
"Saudara, orang ini suka menindas yang lemah tapi takut pada yang kuat, di mana dan kapan saja dia suka merugikan orang lain, tanpa sebab kau memberi uang kepadanya, dia justru memaki kau kikir, manusia macam dia bukankah lebih rendah dari binatang?"
Pengemis mata satu anggap tidak mendengar dan melihat, dia angkat cangkir dan habiskan araknya sendiri, gumamnya.
"Arak bagus, arak enak! Arak tanpa bayar, siapa yang tak mau minum sampai puas, kan tolol dia!"
Laki-laki muka merah naik pitam, dia melototi si pengemis. Mendadak perempuan gembrot bertampang jelek tertawa, katanya dari tempat duduknya.
"Kiau-ngoko, orang ini memang terlalu, tapi sudah kau maki dia habis-habisan, sungguh kasihan, boleh kau ampuni saja."
Wajahnya jelek dan tubuhnya buntak, tapi suaranya ternyata merdu menggetar sukma. Laki-laki bermuka merah, Kiau Ngo, mendengus, katanya.
"Baik, mengingat Hoa-sikoh, hmm ... sudahlah."
Dengan penasaran dia kembali ke tempatnya dan duduk kembali di kursinya. Hoa-sikoh tertawa, katanya.
"Kiau-ngoko memang serbaadil, melihat orang dirugikan, dia lebih marah daripada orang yang tertipu ...."
Tojin kurus tiba-tiba menyela.
"Yang bersangkutan diam saja, orang lain malah mencak-mencak. Haha, buat apa."
Melihat tabiat orang-orang yang hadir ini serbaaneh, si pemuda jadi ketarik, wajahnya tetap mengulum senyum, dia tetap tidak banyak komentar.
Mendadak gelak tertawa ramai berkumandang di belakangnya, kata seseorang.
"Maaf bikin kalian menunggu agak lama!"
Di tengah gelak tertawanya, kakek tinggi tegap keluar dengan langkah lebar. Pengemis mata satu mendahului berdiri menyambut, katanya dengan tertawa.
"Kalau menunggu orang lain, siapa mau. Tapi menunggu Cianpwe, umpama Cayhe harus menunggu setahun juga tidak menjadi soal."
Kakek tinggi tergelak, Katanya.
"Aha, Kim-tayhiap terlalu rendah hati."
Ia memandang para hadirin, lalu menambahkan.
"Hari ini dapat mengundang Thian-hoat Taysu dari Thian-liong-si di Ngo-tay-san, Toan-hong Totiang pimpinan Hian-toh-koan dari Cengsia, Hoa-san-giok-li nona Liu Giok-ji, Giok-bin-yau-khim Ji Yok-gi, Ji-tayhiap, Hiong-say (singa jantan) dari Tiang-pek-san, Kiau-ngohiap, Kiau-jiu-lan-sim Hoa-sikoh, Kian-gi-yong-wi dari Kay-pang, Kim Put-hoan, Kim-tayhiap bertujuh, sungguh Cayhe amat berbahagia dan bersyukur, apalagi masih ada saudara ...."
Sorot matanya tertuju kepada si pemuda miskin, lalu sambungnya dengan tertawa.
"Saudara yang masih muda dan gagah perkasa ini, bolehkah memberi tahu she dan namamu?"
Toan-hong-cu, si Tojin kurus kering menjengek.
"Hm, kaum keroco mana setimpal disejajarkan dengan kami?"
"Betul,"
Si pemuda segera menimpali dengan tertawa.
"Cayhe memang kaum keroco."
Kakek tinggi tertawa, katanya.
"Kalau Anda tidak mau memperkenalkan diri, aku tidak memaksa, terus terang aku amat kagum pada Kungfumu."
Mendengar tokoh Bu-lim kenamaan ini memuji Kungfu pemuda lusuh ini, para hadirin sama melirik kepadanya, namun mereka agak curiga dan tidak percaya.
Walau si pemuda tidak unjuk rasa bangga atau senang, tapi di hadapan tujuh jago top dunia persilatan masa kini, sedikit pun dia tidak unjuk kerendahan dirinya, dia hanya tersenyum tak acuh, lalu tutup mulut lagi.
Tiba-tiba Hoa-san-giok-li Liu Giok-ji berkata.
"Cianpwe mengundang kami kemari, entah ada petunjuk apa?"
Pakaiannya serbaputih laksana salju, lehernya dibalut selendang bulu rase warna putih juga sehingga kelihatan lebih anggun dan molek, membikin orang mabuk melihatnya.
"Pertanyaan nona Liu memang tepat,"
Ujarnya si kakek tinggi.
"memang ada suatu urusan, maka kuundang kalian kemari, akan kuminta bantuan kalian untuk ikut menanggulanginya."
Bola mata Liu Giok-ji mengerling tajam, katanya dengan tersenyum manis.
"Kami tidak berani menerima permohonanmu, ada soal apa silakan Li-locianpwe jelaskan saja."
"Asal mula persoalannya, kukira kalian juga sudah tahu,"
Demikian ucap si kakek tinggi.
"Tapi supaya kalian maklum, terpaksa kujelaskan lagi ...."
Ia merandek sejenak.
"Seolah-olah sudah menjadi tradisi sejak dulu, setiap tiga belas tahun pasti terjadi sekali huru-hara di dunia persilatan! Sembilan tahun yang lalu pernah terjadi pula huru-hara yang menggemparkan, dalam jangka waktu empat bulan ada enam belas perguruan silat baru muncul di kalangan Kangouw, dihitung rata-rata setiap bulan ada terjadi sembilan puluh empat pertandingan atau duel maut, seratus delapan puluh pertikaian berdarah dan rata-rata ada sebelas orang yang menjadi korban, entah berapa banyak pula yang gugur tanpa diketahui ...."
Sampai di sini dia menghela napas panjang.
"Padahal kekacauan yang terjadi di Bu-lim itu satu dengan yang lain mempunyai alasan yang serupa, tapi sejak musim dingin tahun itu, kejadian justru tambah kacau, semakin porak-poranda."
Karena membayangkan peristiwa masa lalu yang mengenaskan itu, sorot mata kakek tinggi ini tampak rawan dan guram, agak lama dia termangu lalu menyambung.
"Karena sejak hari raya Tiongciu tahun itu, dalam Bu-lim mendadak tersiar berita yang amat mengejutkan, katanya Bu-te-po-kam, kitab yang berisi tujuh puluh dua pelajaran Kungfu luar dalam ciptaan Bu-te Hwesio yang pernah menggetarkan Bu-lim pada seratus tahun yang lalu, ternyata disembunyikan di puncak Hui-gan-hong di Heng-san."
Dia minum arak seceguk untuk membasahi tenggorokannya, lalu menyambung.
"Entah dari mana asal mula berita itu, namun Bu-te-po-kam memang teramat menarik setiap insan persilatan, maka kaum persilatan sama percaya akan kebenaran berita itu, siapa pun ingin memilikinya. Begitu berita itu tersiar, berbondong-bondong kaum persilatan datang ke Heng-san, menurut kabar yang tersiar di Kangouw, sepanjang jalan menuju Heng-san kuda yang mati di tengah perjalanan karena kelelahan ada ratusan ekor banyaknya. Demikian pula jago Bu-lim yang berhati tamak, bila bertemu dengan orang yang juga hendak pergi ke Heng-san lantas saling labrak, sebab mati seorang kan berarti kurang satu saingan dan bertambah kesempatan baginya untuk merebut Bu-te-po-kam itu. Dan yang paling mengenaskan adalah para pelancong atau peziarah yang tidak tahu apa-apa, banyak yang ikut menjadi korban teror orang-orang yang tidak bertanggung jawab."
Sampai di sini ceritanya, wajah Kiau Ngo dan Hoa-sikoh tampak sedih dan haru, sebaliknya sikap Kim Put-hoan dan Toan-hong-cu tetap tenang saja.
Dengan sedih si kakek tinggi menghela napas, katanya pula.
"Akhir bulan sebelas, salju sudah bertebaran di angkasa, setiap orang berlomba supaya setindak lebih cepat sampai di Heng-san, meski di tengah jalan melihat mayat saudara, istri atau bapaknya sekalipun juga tidak dihiraukan, mayat bergelimpangan dibiarkan ditelan salju atau dibuat pesta pora kawanan serigala. Belakangan baru kutahu jago kosen Bu-lim yang mati dalam perjalanan ke Heng-san ada seratus delapan puluh lebih, tiga di antaranya adalah cikal bakal sesuatu aliran. Peristiwa itu telah membuat nama seorang jadi terkenal, sebab orang ini rela mengorbankan tenaga dan waktunya, sepanjang jalan ia mengumpulkan mayat serta menguburkannya."
Mendadak Ji Yok-gi menyela.
"Apakah orang itu yang dijuluki Ban-keh-seng-hud Ca Giok-koan?"
"Betul,"
Sahut si kakek jangkung.
"pengetahuan Ji-siauhiap ternyata cukup luas ...."
Ji Yok-gi merasa bangga, katanya.
"Pernah kudengar cerita guruku, katanya tindak tanduk Ca-tayhiap sangat jujur dan berbudi luhur, kaum persilatan sama menghormat dan mengaguminya, sayang sekali ia pun menemui ajalnya dalam peristiwa Heng-san itu, malah kematiannya amat mengenaskan, mukanya hancur oleh Thian-hun-ngo-bian, senjata rahasia paling jahat dan beracun, kepalanya menjadi sebesar ember .... Ai, agaknya Thian tidak mau melindungi mereka yang baik hati, sungguh sayang."
Karena dipuji berpengetahuan luas, Ji Yok-gi tambah mencerocos dan apa yang diketahuinya segera dibeberkan seluruhnya, dia yakin si kakek tinggi akan memberi pujian pula kepadanya.
Tak tersangka si kakek hanya diam saja, entah berduka atau marah, sesaat kemudian dia baru berkata perlahan.
"Bagi kaum persilatan yang punya sedikit pengetahuan, waktu itu tentu akan berpikir melulu kekuatan sendiri jelas tak mungkin bisa merebut Bu-te-po-kam itu, maka tidak sedikit yang berkomplot dan membentuk kelompok dan mendirikan serikat, orang-orang yang berhati culas dan licik lantas menghasut dan mengadu domba. Sebetulnya banyak yang kurang berminat pada nama dan kedudukan, akhirnya terseret juga oleh kawan atau saudara seperguruan untuk membantu dan terpaksa terjun dalam pertikaian itu. Maklumlah ada golongan penjahat berhasrat merebut Bu-te-po-kam itu supaya dapat malang melintang di Kangouw. Demikian pula para pendekar menjadi khawatir, bila pusaka itu jatuh ke tangan orang jahat, dunia tentu tidak akan aman, maka mereka saling berlomba untuk merebut pusaka itu dengan cara masing-masing. Dalam jangka tiga hari, ada dua ratusan jago top dunia persilatan yang berkumpul di Hui-gan-hong, yang berkepandaian rendah sudah menemui ajal di bawah puncak, maka yang berhasil mencapai puncak itu jelas adalah pesilat kelas tinggi."
Agaknya si kakek jangkung memang pandai pidato, rangkaian ceritanya pun menarik, suaranya mantap bertenaga, terdengar dia melanjutkan.
"Jago top persilatan itu datang dari berbagai penjuru, di antara mereka termasuk Ciangbunjin tujuh aliran besar, gembong-gembong iblis yang sudah lama mengasingkan diri pun tidak sedikit jumlahnya. Dua ratusan orang yang terbagi dalam dua puluh tujuh kelompok itu mengadakan pertempuran atau duel sengit secara bergilir ...."
Sampai di sini dia menghela napas.
"Dalam sembilan belas hari itu, puncak Hui-gan-hong diliputi hawa pedang melulu, tiada burung terbang ke sana atau binatang berkeliaran, siapa pun dia, betapa tinggi Kungfunya, asal sudah berada di Hui-gan-hong, maka jangan harap bisa tenteram sekejap pun, sebab setiap gerak langkah bisa jadi mengundang maut, umpamanya Tiong-ciu-kiam-kek mati pada saat dia makan, disergap orang. Ban-seng-to Ji-lopiauthau terpenggal kepalanya pada waktu tidur, maka siapa takkan kebat-kebit menjaga keselamatan sendiri dalam suasana yang menegangkan itu, sampai makan dan tidur pun menjadi persoalan bagi mereka. Pertempuran sengit yang berlangsung beberapa hari, ditambah ketegangan yang mencekam, banyak menimbulkan tekanan jiwa bagi mereka, orang yang biasanya berjiwa luhur bukan mustahil bertindak keji dan buas, Giok-hian-cu, Ciangbunjin atau ketua Heng-san-pay selama lima hari lima malam tidak makan dan minum, setelah merobohkan enam lawan tangguh, tiba-tiba jadi gila, Ciok-ki Totiang yang menjadi sahabat kentalnya juga tiba-tiba dibunuhnya, lalu dia terjun ke dalam jurang mengakhiri hayatnya."
"Prang" , tiba-tiba ada cangkir arak jatuh dan pecah, kiranya saking tegang mendengarkan, tangan Hoa-sikoh jadi gemetar dan cangkir yang dipegangnya terlepas. Hadirin juga terkesima mendengar cerita itu, suara cangkir pecah yang mendadak ini pun membikin kaget mereka. Perlahan si kakek jangkung merapatkan pelupuk matanya.
"Setelah bertempur mati-matian selama sembilan belas hari, dua ratus jago kosen di Hui-gan-hong tinggal sebelas orang saja yang masih hidup, nama sebelas orang ini pun terluka parah, Lwekang dan Kungfu mereka tidak lagi bertahan seperti semula. Jago inti seluruh Bu-lim boleh dikatakan telah gugur dalam peristiwa itu. Selama lima ratusan tahun, tidak jarang terjadi pertempuran besar-kecil di kalangan Kangouw, tapi korban yang jatuh paling besar terjadi pada peristiwa Heng-san itu."
Sampai di sini ceritanya, matanya yang terpejam tampak cucurkan dua baris air mata.
Perlu diketahui bahwa kakek tinggi ini dulu bergelar Put-pay-sin-kiam (pedang sakti tak terkalahkan) Li Tiang-ceng, sementara orang tua sakit itu adalah Thian-ki-te-ling (bumi sakti rahasia alam), Jin-tiong-ci-kiat (manusia genius di antara sesama) Ki Ti, dan si berewok Khi-tun-to-gu (kalau marah menelan kerbau) Lian Thian-hun, ketiga orang tua ini mengangkat saudara.
Mereka adalah tiga orang di antara kesebelas orang yang masih hidup dalam peristiwa Heng-san itu.
Betapa seram dan mengerikan kejadian masa itu, sampai sekarang masih mengirik bila mengenang dan membicarakannya.
Agak lama keadaan pendopo itu menjadi sunyi, akhirnya Li Tiang-ceng bersuara pula.
"Yang paling menyakiti hati adalah kejadian itu sendiri hakikatnya hanyalah suatu tipu muslihat belaka. Aku bersama Ki-toako, Lian-samte, Hong-hoat Taysu dari Siau-lim, Thian-hian Totiang dari Bu-tong, dan pendekar besar sakti Kiu-ciu-ong Sim Thian-kun akhirnya tiba di gua tempat penyimpanan pusaka itu. Kala itu kami berenam sudah kehabisan tenaga, dengan kekuatan kami baru berhasil menggeser batu besar yang menyumbat mulut gua, ternyata gua itu kosong melompong, di atas dinding tertulis huruf besar warna merah darah yang berbunyi. 'KALIAN TERTIPU' ...."
Kejadian sudah beberapa tahun berselang, tatkala mengucap kedua patah kata itu, masih terasa betapa penasaran hatinya, suara pun gemetar. Sambil mendongak dia menghela napas panjang, lalu meneruskan.
"Melihat tulisan besar itu, kecuali Ki-toako, kami jatuh pingsan saking gusar dan penasaran. Waktu aku siuman kembali, kudapati Sim-tayhiap dan Hong-hoat Taysu ternyata sudah ... sudah mati di dalam gua .... Ternyata kedua pendekar besar ini amat malu dan kecewa, mengingat korban yang jatuh sebanyak itu, mereka sedih bukan main, akhirnya menumbukkan kepala ke dinding dan mati seketika dengan kepala pecah, luka Thian-hian Totiang paling parah, sekuat tenaga dia meronta meninggalkan tempat itu kembali ke Bu-tong-san, sayang lukanya tak bisa disembuhkan akhirnya ia pun meninggal. Tinggal kami tiga bersaudara ... kami masih tamak hidup sampai sekarang ...."
Suaranya tersendat tak mampu meneruskan ceritanya pula.
Dari berita yang tersiar di kalangan Kangouw, para hadirin sudah tahu akan kejadian itu, kini mendengar ulang cerita itu dari mulut orang yang langsung bersangkutan dengan peristiwa itu, tak urung mereka sama terbeliak, pemuda rudin itu pun tertunduk lesu sambil memejamkan mata.
Mendadak si Singa Jantan Kiau Ngo menggebrak meja, serunya.
"Mati-hidup adalah suratan takdir, namun ada perbedaan enteng dan beratnya. Bahwa Li-locianpwe masih hidup, namun harus menanggung tugas kewajiban seberat gunung, mana boleh diartikan sebagai tamak hidup. Bila Li-locianpwe juga gugur dalam peristiwa Heng-san itu, sekarang Jin-gi-ceng mana bisa berdiri untuk membela dan menegakkan keadilan di dunia Kangouw."
Li Tiang-ceng menghela napas, ujarnya.
"Dalam tragedi di Heng-san itu, meski golongan putih dan aliran hitam banyak yang gugur namun jago-jago kelas dua dari aliran putih, sembilan di antara sepuluh juga ikut gugur, orang-orang golongan hitam kebanyakan licin dan licik, melihat situasi tidak menguntungkan, tidak sedikit yang mengundurkan diri dari pertarungan sengit itu, maka pihak mereka sedikit yang jatuh korban, hingga yang jahat lebih kuat dari kaum pendekar, bila situasi dunia persilatan berubah jadi begini, bukankah dosa kami bertiga akan bertambah besar? Karena itu, bersama Ki-toako kami gunakan upah besar untuk menghukum dan membekuk durjana-durjana besar itu, kuyakin usaha kami tadi bukan saja akan membakar semangat kaum pendekar, bagi kalangan hitam mereka, demi memperoleh upah besar itu, tentu mereka juga akan saling bunuh sendiri."
Hoa-sikoh menghela napas, katanya.
"Ki-locianpwe memang tidak malu dipandang sebagai orang pintar nomor satu dalam dunia persilatan."
"Akan tetapi untuk menunjang usaha besar ini kami memerlukan dana yang besar, kami bertiga telah mondar-mandir ke sana kemari untuk mencari dana dan donatur, delapan belas keluarga besar yang kaya raya bersedia merogoh kantongnya, namun jumlahnya masih terbatas. Syukurlah keturunan Kiu-ciu-ong Sim-tayhiap suruh orang menjual seluruh harga peninggalan pendekar besar itu dan diantar kemari. Sim-tayhiap berasal dari keluarga bangsawan, punya kedudukan tinggi di kalangan pemerintahan, dapatlah dibayangkan betapa besar harta peninggalan keluarganya, kurasa sejak zaman dulu belum pernah ada orang yang berhati sosial sebesar ini kepada kepentingan kaum Bu-lim."
Singa Jantan Kiau Ngo berkeplok sambil memuji.
"Nama besar Sim-tayhiap tersohor di seluruh jagat, tak nyana anak didiknya ternyata juga berjiwa besar, di mana sekarang orang itu? Orang she Kiau ingin sekali bersahabat dengan dia."
Li Tiang-ceng menghela napas, ucapnya.
"Kami bertiga juga sudah tanya kepada pengantar harta keluarga Sim itu tentang jejak Sim-kongcu, supaya kami bisa langsung menyatakan terima kasih kepadanya, tapi orang itu bilang setelah Sim-kongcu menjual harta benda dan membubarkan keluarga, seorang diri lantas merantau entah ke mana. Dan yang patut dipuji adalah Sim-kongcu itu masih bocah berusia belasan tahun, namun sudah punya kesadaran dan berjiwa besar, siapa takkan kagum dan menaruh hormat kepadanya."
Hoa-san-giok-li Liu Giok-ji menghela napas, katanya.
"Entah gadis siapa dapat menikah dengan pemuda seperti dia, tidak sia-sialah hidupnya ...."
Giok-bin-yau-khim Sin-kiam-jiu Ji Yok-gi menceletuk dengan nada dingin.
"Pemuda gagah perkasa yang dermawan seperti ini, tidak cuma Sim-kongcu saja."
Liu-Giok-ji melirik hina, jengeknya.
"Apa kau pun termasuk di antaranya?"
Pemuda rudin tertawa dan menceletuk.
"Sudah tentu Ji-heng ini termasuk satu di antaranya."
Ji Yok-gi mendelik gusar, semprotnya.
"Memangnya kau setimpal memanggilku Ji-heng?"
"Ya, ya, tidak setimpal, maaf, maaf ...."
Pemuda miskin itu tertawa geli. Liu Giok-ji melirik si pemuda, jengeknya.
"Lelaki tak berguna, sungguh memalukan kaum lelaki saja."
Tapi pemuda itu anggap tidak mendengar.
Sebaliknya alis Singa Jantan Kiau Ngo berkerut, agaknya dia ingin membela.
Demikian pula Hoa-sikoh mengerling tajam ke arah si pemuda, sorot matanya tampak kagum dan memuji.
Sebelum orang lain bicara pula, Li Tiang-ceng berdehem sekali, lalu berkata.
"Sudah sembilan tahun kami tiga bersaudara menguasai Jin-gi-ceng. Selama sembilan tahun ini, musuh yang menyerbu kemari ada ratusan kali, sembilan dari sepuluh bagian Kungfu kami bersaudara telah lenyap, kalau tidak dibantu oleh para sahabat dan pembantu setia terutama Leng-keh-heng-te (saudara keluarga Leng), Jin-gi-ceng mungkin sejak lama sudah bubar. Upah yang telah dikeluarkan oleh Jin-gi-ceng ada puluhan laksa tahil, tapi modal utama yang berhasil kami kumpulkan sejak mula belum pernah berkurang sepeser pun, semua ini berkat usaha Leng-jite yang pandai mengatur dan berdagang, setahun penuh dia mondar-mandir keluar, keuntungan sudah cukup untuk biaya pengeluaran sehari-hari. Ketiga saudara ini bekerja keras, bukan saja mereka tidak mengejar nama dan pangkat, juga tidak memikirkan keuntungan pribadi, bahwa Jin-gi-ceng dapat tegak berdiri seperti sekarang juga berkat tunjangan mereka. Kami bertiga justru hanya membonceng keberhasilan mereka saja, kalau dibicarakan sungguh memalukan dan harus disesalkan."
"Li-locianpwe terlalu merendah ...."ujar Liu Giok-ji.
"Engkau malam ini mengundang Wanpwe kemari, entah ada petunjuk apa?"
"Bahwa pusaka terpendam di Heng-san dulu hanya merupakan muslihat, tapi setelah peristiwa Heng-san itu memang diketahui harta peninggalan yang tak ternilai banyaknya."
Kim Put-hoan terbeliak, serunya.
"Harta apa?"
"Dua ratus jago kosen yang mampu naik ke Hui-gan-hong semua adalah orang-orang ternama, Kungfu mereka berbeda, orang-orang itu tahu setelah mencapai tempat tujuan, harapan hidup kemungkinan sangat tipis, khawatir Kungfu sendiri putus turunan, maka tidak sedikit yang telah meninggalkan buku catatan tentang pelajaran silat dan harta benda yang mereka miliki, padahal di antara mereka banyak yang tidak punya murid atau keturunan, bila punya keturunan juga sudah gugur di tengah perjalanan, maka menjadi masalah bagi mereka kepada siapa harus menyerahkan warisannya itu, akhirnya mereka menyembunyikan peninggalan itu di suatu tempat rahasia, jika diri sendiri kelak tidak bisa mengambilnya, biarlah ditemukan oleh siapa saja yang berjodoh .... Waktu itu nama Ban-keh-seng-hud Ca Giok-koan sedang tenar-tenarnya, kaum persilatan sama memuji tindakannya yang gagah dan bajik, apalagi biasanya Ca Giok-koan memang suka bersahabat dan tidak kikir mengeluarkan duit, para kesatria ternama di kalangan Kangouw tidak sedikit yang bersahabat dengan dia, maka pada waktu menyembunyikan barang peninggalan mereka, siapa pun tiada yang merahasiakan hal ini di hadapannya, malah banyak yang sengaja menunjukkan tempat penyimpanan peninggalan itu kepadanya, jika mereka mati mereka titip supaya peninggalannya itu diatur semestinya."
Li Tiang-ceng menghela napas pula, lalu menyambung.
"Setelah tragedi Heng-san itu, di antara sebelas orang yang masih hidup juga ada tujuh orang yang pasrahkan peninggalan mereka kepada Ca Giok-koan. Bahwa akhirnya mereka masih hidup sudah tentu akan mengambil pulang barang peninggalan mereka itu, tak nyana setiba mereka di tempat penyimpanan, barang mereka itu sudah hilang. Di tempat penyimpanan itu mereka hanya menemukan secarik kertas kecil dan tertulis dua huruf 'kalian tertipu'."
Rentetan peristiwa akibat tragedi di Heng-san itu ternyata merupakan rahasia yang belum diketahui orang banyak, maka hadirin sama tersirap darahnya, seru Ji Yok-gi dengan tergagap.
"Tapi ... bukankah Ca-cianpwe sudah mati keracunan ...."
"Tiada orang yang menyaksikan bahwa Ca Giok-koan benar-benar sudah mati, bukan mustahil dia sengaja mencopot baju sendiri dan dipakaikan pada mayat orang lain, apalagi, setelah Ki-toako memerhatikan gaya tulisannya, huruf 'kalian tertipu' itu ternyata mirip dengan tulisan tangan Ca Giok-koan, lalu kami menyelidiki lebih cermat tentang berita adanya pusaka terpendam di Hui-gan-hong di Heng-san itu, enam orang di antara sepuluh orang mendengar berita itu dari mulut Ca Giok-koan. Para jago kosen Bu-lim itu percaya kepada Ca Giok-koan, maka di luar sadar mereka berita itu tersiar semakin luas dan santer di luaran, makin luas juga makin terasa benar."
Terunjuk rasa gemas pada wajahnya, katanya pula.
"Agaknya dia sudah lama merencanakan siasat licik ini, bahwa dia berbuat demikian, bukan saja bisa menghancurkan kekuatan Bu-lim hingga dia dapat merajai dunia persilatan, sekaligus menjadikan berbagai ilmu silat kelas tinggi yang waktu itu menjagoi dunia persilatan selanjutnya putus turunan, sebaliknya dia yang memperoleh peninggalan ilmu silat dan harta tokoh-tokoh besar itu, mendapat rezeki nomplok dan malang melintang di jagat ini dan tiada yang mampu menandingi dia. Selama beberapa tahun ini, dia tidak pernah muncul, tentunya sedang memperdalam dan mempelajari berbagai Kungfu aliran-aliran besar itu. Kuyakin dalam waktu dekat ini bila latihannya sudah sempurna, pasti dia akan keluar kandang."
Mencelus perasaan semua orang, siapa pun tak berani buka suara. Akhirnya Thian-hoat Taysu dari Ngo-tay-san angkat bicara.
"Kalau betul demikian kejadiannya, maka Ca Giok-koan sungguh terhitung manusia durjana dan laknat di kalangan Bu-lim. Namun semua ini tanpa bukti, jelas tidak mungkin menuduh biang keladi dari tragedi itu adalah Ca Giok-koan, entah Li-locianpwe sependapat tidak dengan pendapatku ini?"
Suaranya kalem tapi lantang, pendapatnya adil dan jujur, sejak Hong-hoat Taysu dari Siau-lim gugur, memang tidak malu dia dianggap sebagai padri agung nomor satu di Bu-lim masa kini, nama besarnya sekarang sudah lebih unggul daripada Ciangbunjin Siau-lim-pay Jin-sim Taysu.
"Bagus sekali uraian Taysu, bagus sekali. Itulah salah satu sebab kenapa kami mengundang kalian berkumpul di sini .... Tiga tahun kemudian kami mengetahui munculnya seorang aneh di luar perbatasan Giok-bun-koan, jejak orang ini tidak tentu, jahat atau baik tidak pasti. Yang menarik perhatian adalah orang ini membekal inti ilmu silat dari berbagai aliran terkemuka, setiap kali turun tangan selalu berbeda jurus serangannya, pernah orang menyaksikan, sekaligus dia melancarkan ilmu silat ajaran Bu-tong, Siau-lim, Go-bi, Kong-tong dan Kun-lun, lima aliran besar yang tidak pernah diwariskan kepada sembarangan orang, padahal Ciangbunjin kelima aliran besar sendiri juga belum pernah mempelajari ilmu yang dia mainkan itu."
Hadirin saling pandang, perasaan tertekan, darah tersirap.
"Dan lagi sepak terjangnya teramat luar biasa, hidupnya mewah, suka berfoya-foya, setiap perjalanannya selalu diikuti ratusan pembantu, biaya yang dikeluarkan dengan sendirinya sangat besar, setiap hari mendekati sepuluh ribu tahil perak. Sejak muncul tiada orang tahu nama dan asal usulnya, jarang orang tahu di mana tempat tinggalnya yang pasti, hanya jelas bahwa dia datang dari luar perbatasan, di sana dia mengumpulkan manusia jahat sebagai komplotannya, sekarang kekuatannya makin melebar, kabarnya sudah merembes ke daerah Tionggoan, agaknya berambisi mencaplok dunia ini."
"Mungkinkah orang itu Ca Giok-koan adanya?"
Tanya Ji Yok-gi.
"Begitu orang muncul, Ki-toako sudah curiga bahwa orang itu mungkin Giok-koan, orang segera kami sebarkan untuk menyelidiki jejaknya dan mencari tahu asal usulnya, tidak sedikit bahan yang kami terima tentang riwayat hidup Ca Giok-koan, semakin banyak bahan yang berhasil dikumpulkan, semakin besar keyakinan kami bahwa orang itu memang patut dicurigai, tapi juga menakutkan."
"Betul,"
Ucap Thian-hoat Taysu setelah merenung sejenak.
"orang-orang di seluruh jagat sama tahu jiwa pendekar Ban-keh-seng-hud Ca Giok-koan, tapi bagaimana sejarah riwayat hidupnya sebelum dia ternama, jarang ada yang tahu."
"Mungkinkah ketenaran namanya itu juga merupakan muslihat keji?"
Cetus Ji Yok-gi pula. Kata Li Tiang-ceng.
"Kami telah menghabiskan lima puluh laksa tahil perak, mengerahkan ribuan orang, akhirnya berhasil juga membentuk suatu ikhtisar riwayat hidupnya. Baru saja kami selesai menurut catatan hasil penyelidikan kami itu, boleh silakan kalian memeriksanya dulu, lalu dirundingkan lagi bersama."
Dia lantas menggantung segulung kertas di atas dinding dan membeberkan ke bawah, habis itu dia berpaling keluar jendela, agaknya dia berjaga-jaga bila ada orang yang tidak berkepentingan mendadak menerjang masuk.
Saat itu si kacung kecil berbaju hijau berjalan masuk membawa pensil dan kertas serta dibagikan kepada kedelapan tamu.
Gulungan kertas itu terdiri dari dua lembar, lebarnya lebih setombak, bentuknya mirip lukisan, pigura keluarga bangsawan yang sering menghiasi ruang tamu.
Di atas kertas penuh tertulis huruf kecil.
Yang sebelah kiri begini bunyinya.
Nama.
Sebelum berumur dua puluh bernama Ca Liang, dua puluh sampai dua puluh enam bernama Ca Ing-bing, dua puluh enam sampai tiga puluh tujuh bernama Ca Lip, setelah tiga puluh tujuh bernama Ca Giok-koan.
Asal usul.
Ayah bernama Ca It-ping, hartawan besar di Ok-tiong, ibunya bernama Li Siau-jui, gundik ketujuh Ca It-ping, punya enam belas saudara, Ca Giok-koan adalah yang termuda.
Sejak kecil sudah kelihatan cerdas, suka menirukan suara orang maka dia fasih berbahasa banyak daerah, sejak ternama mengaku sebagai orang asal Tiongciu dan semua orang percaya.
Waktu Ca Giok-koan berusia empat belas, tiga puluh orang anggota keluarganya mati secara misterius dalam sehari, Ca Giok-koan mewarisi harta kekayaan orang tuanya, maka dia bebas bergaul dan bersahabat dengan komplotan Wan-yang Oh-tiap-pay, komplotan penjahat yang sering merampok, membunuh dan memerkosa, tiga tahun kemudian warisan keluarganya ludes untuk foya-foya, sejak itu Ca Giok-koan mencukur rambut menjadi Hwesio.
Perguruan.
Usia tujuh belas masuk biara Siau-lim menjadi padri pencari kayu bakar dan dipekerjakan di dapur, karena mencuri belajar Kungfu akhirnya diusir dari perguruan.
Usia dua puluh karena kemahiran bicaranya dia mendapat kepercayaan Thian-lam-it-kiam Su Siong-siu, Pangcu dari Cap-ji-lian-hoan-oh (dua belas pelabuhan) dan diterima sebagai murid, selama enam tahun belajar, Ca Giok-koan mengadakan hubungan gelap dengan gundik gurunya, suatu ketika menyikat harta simpanan Su Siong-siu dan minggat bersama gundik gurunya.
Saking gusar Su Siong-siu mengerahkan seluruh anggotanya untuk mengejar jejaknya, karena terdesak, terpaksa Ca Giok-koan lari keluar perbatasan, gundik gurunya, Kim-yan, diserahkan kepada Sek-mo (iblis cabul) Jit-sim-ang sebagai upeti untuk dapat diterima dalam perguruan baru ini, dalam waktu sepuluh tahun ternyata dia berhasil meyakinkan Kungfu Jit-sim-pay dengan sempurna.
Waktu itu Jit-sim-ang juga mati mendadak, maka Ca Giok-koan kembali ke Tionggoan, kini dia muncul sebagai pendekar berbudi luhur yang rela berkorban demi membantu orang lain, pertama dia merangkul orang-orang gagah di daerah kedua sungai besar, Cap-ji-lian-hoan-oh berhasil disikatnya habis, Thian-lam-it-kiam terbunuh hingga namanya terkenal."
Wajah.
Mukanya putih bersih seperti batu giok (jade, kemala) ujung alisnya agak melambai ke bawah, hidungnya seperti paruh elang, bibir tebal, nafsu berahinya besar, dua ujung bibir terdapat tahi lalat kecil, tepat di tengah alisnya terdapat uci-uci, pandai berdandan, suka mengenakan pakaian mutakhir dengan potongan badan yang atletis, suka warna ungu.
Kedua tangannya mulus terpelihara baik seperti tangan orang perempuan, jari tengah mengenakan cincin emas bermata zamrud, setiap bicara suka menggerakkan tangan untuk memamerkan kebersihan dan keindahan tangannya.
Hobi.
suka minum arak, makan bakmi dengan iringan arak Mo-tay, Ko-liang dan Tik-yap-ceng yang keras.
Hidangan yang digemari adalah panggang keong sawah, tiram goreng atau daging ular, daging babi pantang makan.
Mahir menunggang kuda, sering seorang diri mencongklang kuda sekencang angin hingga kuda mati di bawah cambukan, suka berjudi, taruhannya besar.
Suka berburu, terutama memburu wanita cantik, nafsunya terlalu besar, setiap malam takkan puas sebelum tidur dengan dua orang perempuan.
Ciri-ciri.
Mahir bicara dan pidato, pandai menyelami perasaan orang, tokoh ternama akan merasa rugi bila tidak bersahabat dengan dia, bila bicara selalu tersenyum, habis membunuh orang pasti mencuci bersih kedua tangannya, senjata yang digunakan bisa ternoda darah terus dibuang, mahir menggambar dan ahli tulis-menulis.
Dalam gulungan kertas ini memuat riwayat singkat Ca Giok-koan, hidupnya memang banyak gaya ragamnya, para hadirin sama berubah air mukanya demi membaca riwayat hidupnya ini.
Sementara tulisan pada sebelah kanan berbunyi.
Nama.
Penduduk di luar perbatasan Giok-bun-koan biasa memanggilnya "Hoan-hi-ong" (raja gembira), nama aslinya tidak jelas.
Asal usul.
Tidak jelas.
Perguruan.
Tidak jelas, namun mahir Kungfu berbagai aliran yang biasanya dirahasiakan.
Wajah.
Alisnya melambai ke bawah, memelihara jenggot, hidungnya bengkok, suka berdandan, setiap hari ada juru rawat yang menyisir rambut dan jenggotnya, perawakan tinggi, pakaiannya pilihan, hidupnya mewah, kalau bicara suka mengelus jenggot-jenggotnya, mulus tangannya indah, jari tengah tangan kiri mengenakan tiga cincin emas bermata zamrud, cincin itu merupakan senjata kemahirannya.
Hobi.
Ukuran minumnya cukup mengejutkan, suka hidangan yang aneh-aneh, pantang daging babi, setiap perjalanan selalu dikerumuni perempuan cantik.
Sering berjudi dengan hartawan besar atau buaya darat yang berkuasa dengan taruhan besar.
Ciri-ciri.
Pandai bicara, suka tertawa, royal dan suka menjamu tamu, biaya hidupnya sepuluhan ribu tahil setiap hari, suka menjaga kebersihan, tidak peduli siapa pun tamunya bila kelihatan kotor kontan diusirnya.
Pengikutnya ada tiga puluh enam pasukan kilat, semua adalah pemuda-pemuda kekar yang mahir menunggang kuda, bersenjata pedang, jurus ilmu pedangnya hanya tiga belas permainan, tapi gerak tipunya teramat keji dan lihai, meski jago Bu-lim yang paling kosen juga jarang yang mampu melawan ketiga belas jurus ilmu pedangnya.
Di samping itu terdapat pula empat duta besar yang merupakan orang kepercayaan Hoan-hi-ong yang disebut duta arak, duta warna, duta harta, dan duta hawa.
Mereka adalah anak buah Hoan-hi-ong yang paling dipercaya, jarang berada di sampingnya karena keempat duta ini masing-masing mengemban tugas istimewa.
Duta arak bertugas mencari arak bagus, arak mahal, arak yang jarang ada di dunia ini.
Duta warna bertugas mengumpulkan perempuan cantik.
Duta harta mengurus kekayaan dan mencari dana untuk biaya hidup sehari-hari.
Hanya duta hawa saja yang selalu berada di kiri-kanan Hoan-hi-ong, bila orang berani kurang ajar di hadapan Hoan-hi-ong, duta hawa akan segera memenggal kepalanya.
Keempat duta punya tabiat yang berlainan dan aneh, memiliki Kungfu tinggi yang tidak terukur lihainya.
Habis membaca data-data yang tercantum di atas kertas itu, para hadirin sama duduk terlongong, sampai sekian lama mereka mulai mencatat di atas kertas yang diterima masing-masing.
Akhirnya Li Tiang-ceng berkata pula dengan suara berat.
"Apakah kalian sudah melihat titik terang persamaan antara kedua orang ini?"
Ji Yok-gi suka jual lagak, dia mendahului bicara.
"Ada tiga belas titik persamaan dari kedua orang ini. Wajah putih, alis melambai, hidung bengkok, perawakan tinggi, tangan bagus, pakaian mewah, suka minum arak, gemar paras ayu, suka judi, senang hidangan aneh-aneh, pantang daging babi, jari tangan mengenakan cincin berbatu, bila bicara disertai gerakan tangan ... mengelus jenggot juga termasuk gerak tangan bukan?"
Sekaligus dia sebutkan ketiga belas persamaan itu, maka wajahnya menampilkan rasa bangga. Tak tersangka Hoa-san-giok-li Liu Giok-ji tiba-tiba menceletuk dengan dingin.
"Masih ada dua hal yang belum kau sebut."
"Dua hal apa?"
Tanya Ji Yok-gi sambil berkerut kening.
"Bibir Ca Giok-koan tebal dan ada tahi lalat di ujung bibirnya, Hoan-hi-ong justru memelihara jenggot. Di tengah alis Ca Giok-koan ada uci-uci, di tengah alis Hoan-hi-ong ternyata terdapat bekas luka. Kedua tanda ini kelihatannya tidak ada persamaannya, tapi bila mau diperhatikan orang akan tahu persamaannya. Dan lagi kedua orang sama-sama suka bicara dan tertawa, suka bersahabat dan bergaul, maka gampang sekali menemukan titik persamaannya, aku segan membicarakannya,"
Demikian tutur Liu Giok-ji. Merah muka Ji Yok-gi, katanya.
"O, apa betul begitu?"
Segera dia berpaling sambil angkat cangkirnya dan menenggak habis isinya, melirik pun dia tidak sudi kepada Liu Giok-ji.
"Apa yang dibeberkan Ji-siauhiap memang benar, nona Liu juga sangat cermat. Tapi kecuali semua itu, masih banyak persoalan lain yang perlu diperhatikan,"
Ujar Li Tiang-ceng. Wajah Liu Giok-ji jadi merah.
"O ... apa iya?"
"Kalian boleh periksa, semua orang yang ada hubungan dekat dengan Ca Giok-koan, baik ayah bunda atau saudara kandung juga tidak terkecuali, kematian mereka selalu terjadi secara misterius, kuyakin pasti ada sangkut pautnya dengan perbuatan Ca Giok-koan, dari sini dapat kita menilai bahwa dia berjiwa kejam dan keji. Sejak terjadinya tragedi di Heng-san, tidak sedikit pelajaran silat dan harta benda yang diperoleh Ca Giok-koan, Hoan-hi-ong kaya raya dan mahir berbagai cabang ilmu silat. Bahwa Ca Giok-koan berani meracun mati orang tua dan sanak saudaranya sendiri, mengkhianati perguruan dan mendurhakai guru, sampai teman tidur juga dia rebut dari tangan orang lain, lalu diberikan pula kepada orang lain lagi, menjual teman adalah soal sepele baginya,"
Nada bicara Li Tiang-ceng masih keras, sorot matanya beringas.
"dari berbagai persamaan yang meyakinkan ini, masuk di akal kalau kita berkesimpulan bahwa Ca Giok-koan adalah Hoan-hi-ong dan Hoan-hi-ong adalah Ca Giok-koan."
Setelah para hadirin ikut menganalisis data-data itu, mereka pun sependapat, akhirnya Thian-hoat Taysu mengangguk, katanya sambil merangkap kedua tangan.
"Orang ini suka foya-foya, nafsunya besar, kelak pasti akan mati terbakar oleh perbuatan sendiri."
"Taysu memang betul,"
Ucap Li Tiang-ceng.
"justru karena orang ini mengidap nafsu yang luar biasa, maka tidak segan-segan dia melakukan kejahatan yang mendirikan bulu roma. Kalau kita menunggu dan membiarkan dia mampus karena ganjaran perbuatannya sendiri, rasanya terlalu lama dan akan terlambat, entah berapa banyak jiwa manusia akan menjadi korban kekejamannya lagi."
Thian-hoat Taysu manggut-manggut, ia menghela napas dan tidak bersuara lagi.
"Bahwa kami mengundang kalian kemari adalah karena ingin mohon bantuan kalian untuk membongkar rahasia orang itu. Orang itu memang terlampau jahat, kejam dan berbahaya, tapi kalian adalah jago top dunia persilatan, kalau kalian sudi bekerja sama dan bantu-membantu, kurasa tidak sukar melenyapkan bisul bencana di kemudian hari."
Setelah Li Tiang-ceng mengutarakan maksudnya, suasana pendopo tetap sunyi, wajah mereka kelihatan suram dan perasaan tertekan, ada yang tertunduk, ada yang menengadah, merenung atau terlongong, ada pula yang berkerut alis sambil ketuk-ketuk meja dengan jari tangannya.
Sesaat kemudian Kim Put-hoan buka suara.
"Umpama kita berhasil menyikat Hoan-hi-ong, lalu harta kekayaannya itu akan jatuh ke tangan siapa?"
Sekilas Li Tiang-ceng meliriknya, katanya tersenyum.
"Harta miliknya itu kebanyakan hasil tidak halal, setelah dia mati berarti tiada pemiliknya, adalah pantas kalau dibagikan kepada kalian sama rata."
"Hanya itu saja? Tidak ada yang lain?"
Tanya Kim Put-hoan.
"Kecuali itu Jin-gi-ceng juga menyiapkan upah sebesar sepuluh laksa tahil perak."
Kim Put-hoan tertawa, katanya sambil menggosok telapak tangan.
"Kalau begini urusan ini dapat dipertimbangkan."
Segera dia habiskan arak serta menelan sepotong daging. Kiau Ngo menjengek hina, katanya.
"Kiranya manusia tamak yang merah matanya bila melihat uang, mungkin setelah mampus juga masih minta uang."
Kim Put-hoan tertawa lebar, mulutnya berkecap-kecap, serunya.
"Ah, terima kasih atas pujianmu."
Giok-bin-yau-khim Ji Yok-gi sejak tadi melamun dengan menengadah, pembicaraan orang seperti tidak diperhatikannya, tiba-tiba dia bergumam.
"Soal ini memang serbasulit, tapi inilah kesempatan baik untuk angkat nama ...."
Mendadak dia gebrak meja dan berteriak.
"Baiklah, siapa berhasil membunuh Hoan-hi-ong, sepantasnya dianugerahi gelar jago nomor satu."
"Umpama benar demikian, gelar jago nomor satu juga tidak bakal kau rebut,"
Demikian ejek Liu Giok-ji.
"Apa iya? .... Hehehe!"
Ji Yok-gi menyeringai, akhirnya dia termenung pula. Suasana dalam pendopo kembali hening, akhirnya Toan-hong-cu, pimpinan Hian-toh-koan dari Cengsia bergelak tertawa sambil mendongak.
"Lucu, lucu, menggelikan, sungguh menggelikan!"
Dia bergelak tertawa, tapi mukanya tetap kaku dingin, suara tertawanya juga bernada menggoda.
"Entah adakah hal yang kurang benar sehingga Totiang tertawa?"
Tanya Li Tiang-ceng.
"Apakah Anda menghendaki orang-orang ini bekerja sama dan bersatu padu?"
Tanya Toan-hong-cu.
"Begitulah maksud kami,"
Sahut Li Tiang-ceng. Toan-hong-cu menyeringai, katanya.
"Coba lihat para orang gagah ini, kalau bukan kemaruk harta tentu gila pangkat, adakah di antaranya pernah memikirkan kepentingan umum? Jika menginginkan orang-orang ini bekerja sama, hehehe, kurasa jauh lebih sukar daripada mencampur minyak dengan air."
Li Tiang-ceng menghela napas sambil mengerut alis, lama dia bungkam. Akhirnya Kiau-jiu-lan-sim Hoa-sikoh yang banyak akalnya buka suara dengan tersenyum.
"Apa yang dikatakan Toan-hong Totiang memang beralasan, tapi kalau dikatakan di sini tiada orang yang memikirkan kepentingan umum, kurasa pendapatnya kurang objektif, jangankan orang lain, umpamanya Kiau-ngoko kita ini, biasanya suka membantu orang kecil dan menegakkan kebenaran, kapan dia pernah bekerja untuk kepentingan sendiri?"
"Hm, hmk ...."
Toan-hong-cu hanya mendengus beberapa kali dengan mata mendelik.
"Apalagi ...."
Hoa-sikoh meneruskan pidatonya.
"umpama betul setiap orang hanya memikirkan kepentingan pribadinya, tapi bila urusan menyangkut untung-ruginya, bukan mustahil akan tiba saatnya mereka akan bersatu padu."
"Pendapat Hoa-sikoh memang lain daripada yang lain,"
Puji Li Tiang-ceng. Mendadak dilihatnya Thian-hoat Taysu berdiri, serunya bengis.
"Manusia sejenis Ca Giok-koan memang pantas dibunuh, aku sendiri tidak akan mundur setapak pun dalam usaha mulia ini, tapi jika aku harus bekerja sama dengan orang-orang ini, tak usah saja. Maaf, kumohon diri!"
Sambil mengebas lengan baju dia siap tinggal pergi.
Pada saat itulah terdengar derap kaki kuda yang ramai dengan suara keleningan kuda, cepat sekali tiba di luar perkampungan, tapi tidak berhenti, agaknya kuda dan penunggangnya terus menerobos ke dalam pintu gerbang.
Serta-merta Thian-hoat Taysu menghentikan langkahnya, air muka para hadirin pun berubah, serempak mereka bergerak, seperti berlomba lari saja mereka berlari ke depan pintu.
Ilmu silat Li Tiang-ceng sudah surut karena luka-lukanya dulu, ternyata gerakannya masih cukup gesit dan tidak mau kalah dari yang lain, sambil mendorong pintu selangkah dia lebih cepat menerobos keluar.
Serunya dengan suara kereng.
"Orang dari mana yang berkunjung ke perkampungan kami?"
Belum habis dia bicara, tertampak delapan ekor kuda menerobos masuk ke pekarangan dalam, kedelapan ekor kuda semua tinggi dan gagah, berwarna cokelat gilap, mesti hawa amat dingin, kelihatannya kuda-kuda itu bergerak dengan tangkas, penunggangnya berseragam hitam ketat, mengenakan topi bambu dan berikat pinggang sutera kuning, mengenakan mantel berbulu warna hijau, kaki dibalut lapisan kulit, bersepatu kain.
Alis tebal, kulit muka merah, meski turun salju, tapi sikap mereka kelihatan gagah dan membusung dada, sedikit pun tidak jeri terhadap apa pun.
Kesembilan orang yang keluar dari pendopo dapat menilai orang, selintas pandang mereka tahu bahwa kedelapan laki-laki penunggang kuda ini memiliki Kungfu yang tidak rendah, tentu tidak sembarangan asal usulnya.
Sebelum Li Tiang-ceng memperoleh jawabnya, tiba-tiba angin berkesiur, tahu-tahu Leng Sam telah mengadang di depan kuda.
Perawakannya tidak besar, tapi dia mengadang di depan delapan kuda seolah-olah pandang sebelah mata kepada pihak lawan, dengan dingin dia membentak.
"Tidak mau turun, enyah dari sini!"
Suaranya tegas, sikapnya garang, kalau kaget sepantasnya kedelapan orang menjadi gusar, tak nyana kedelapan orang itu tetap bercokol di atas kudanya tanpa bergerak, bukan saja tidak mengunjuk rasa kaget atau marah, mereka tetap duduk tegak seperti patung dengan pandangan lurus ke depan.
Ternyata Leng Sam juga tidak terkejut atau heran, wajahnya tetap kaku, tanpa bicara lagi, mendadak lengan kirinya terayun, gancunya dengan telak menggantol paha kuda paling depan.
Meski kudanya terlatih baik, mana kuat menahan tarikan gancu, sambil meringkik kuda itu roboh ke samping, Leng Sam tidak berhenti, kontan kakinya menendang, tendangannya tampaknya sukar mengenai penunggang kuda itu, tapi entah bagaimana orang itu toh tertendang mencelat jauh, kuda roboh orangnya pun jatuh.
Kejadian ini terlalu mendadak, betapa cepat gerakan serangan yang dilancarkan Leng Sam, sungguh secepat kilat.
Jilid 2 Tapi ketujuh kuda dan penunggang yang lain tetap diam bergeming, seperti tidak mendengar atau melihat kejadian yang dialami rekannya.
Sikap diam mereka sungguh mengejutkan, jika bukan orang yang terlatih baik dan selalu mematuhi disiplin, mana mereka bisa bersikap setenang ini?
Orang banyak terbeliak kaget.
Habis menjatuhkan seekor kuda, Leng Sam bergerak pula hendak menyikat kuda kedua.
Tubuhnya seperti robot saja, tidak punya rasa kasihan sama sekali, asal dia sudah menangani sesuatu pekerjaan, sebelum beres tugasnya tidak mau berhenti, peduli apa pun yang akan dihadapinya, tak pernah dia mundur.
"Tahan!"
Mendadak Li Tiang-ceng berseru. Gancu Leng Sam yang terayun seketika berhenti di udara, segera ia mundur tiga tindak. Sebat sekali Li Tiang-ceng melompat ke depan, katanya dengan suara bengis.
"Saudara datang dari mana? Ada keperluan apa datang ke perkampungan kami?"
Kim Put-hoan segera menceletuk dengan suara dingin.
"Setiba di Jin-gi-ceng juga berani main terjang, tidak turun dari kuda, memangnya kalian mengandalkan pamor siapa berani kurang ajar di sini?"
Ketujuh laki-laki itu tetap tidak bersuara, tapi dari luar segera berkumandang suara seorang yang berkata dengan sepatah demi sepatah.
"Apa yang kuingin berbuat, orang lain tidak berhak ikut campur!"
Sombong sekali nadanya, namun suaranya nyaring merdu, semerdu kicau burung kenari. Kun Put-hoan segera memicingkan mata, ujarnya.
"Aduh merdunya, agaknya seorang cewek manis!"
Lalu dia berpaling ke arah Ji Yok-gi, katanya dengan tertawa.
"Ji-heng, inilah kesempatan baik bagimu!"
Ji Yok-gi menarik muka, katanya ketus.
"Ah, jangan bergurau!"
Tidak urung dia membetulkan topi dan menarik pakaian, sikapnya dibuat segagah mungkin.
Sementara itu sebuah kereta yang hanya terlihat dalam lukisan masuk ditarik empat ekor kuda putih, dua lelaki kekar berseragam hitam pegang tali kendali, dua lagi berpakaian sutera berjalan di sisi kereta.
Li Tiang-ceng berkerut alis, ia diam saja mengawasi kereta itu berhenti di depan undakan pendopo, akhirnya dia menegur.
"Tindakan demikian apa tidak terlalu lancang?!"
"Peduli apa denganmu?"
Orang dalam kereta menanggapi dengan ketus. Meski sabar dan biasanya bisa menekan emosi tak urung kali ini Li Tiang-ceng naik pitam, serunya gusar.
"Apa nona tahu siapa majikan perkampungan ini?"
Ternyata orang di dalam kereta tambah marah, teriaknya keras.
"Buka pintu, buka pintu ... biar aku turun bicara dengan dia."
Dua laki-laki berpakaian sutera hijau yang berdiri di sisi kereta cepat lari ke belakang dan mengambil sapu dengan gagang bambu panjang, sebelum membuka pintu kereta mereka menyapu bersih tanah di depan kereta yang menuju ke undakan, lalu dari dalam kereta keluar dua pelayan cilik berambut dikepang dua dengan menggotong permadani merah terus digelar di bawah kereta.
Kim Put-hoan berpangku tangan, mata tunggalnya jelalatan, sikapnya seperti orang ingin menonton keramaian.
Sebaliknya Ji Yok-gi melotot, wajah Liu Giok-ji menampilkan sikap mengejek, ia membatin.
"Gadis dari mana berani bertingkah sekasar ini, berani kurang ajar di Jin-gi-ceng, tentu punya asal usul yang luar biasa, bagaimana sih tampangnya?"
Soal lain tidak dipedulikan Liu Giok-ji, tapi gadis itu cantik atau tidak akan menjadi perhatiannya, maka dia pentang lebar matanya mengawasi pintu kereta.
Dalam kereta tiba-tiba berkumandang tertawa keras, seorang bocah cilik setinggi tiga kaki dengan pakaian serbamerah mendadak melompat keluar sambil tertawa lebar, tampang dan dandanannya mirip anak perempuan, namun gelak tertawanya jelas bukan suara perempuan.
Bocah ini pendek kecil gemuk buntak, kedua tangannya putih halus, rambutnya dikucir menjadi puluhan banyaknya, semuanya tegak memenuhi kepala, bukan pakaiannya saja yang berwarna merah, sepatu, kaus kaki, dan sapu tangan, semuanya berwarna merah, tapi mukanya ditutup sebuah topeng setan, hanya kelihatan kedua bola matanya yang bundar, sekilas pandang orang akan menyangka dia itu bola api.
Liu Giok-ji betul-betul kaget.
"Tadi ... apakah tadi kau?"
Tanyanya tak tahan. Bocah merah itu cekikikan, katanya.
"Hihi, Jitkohnio belum lagi keluar, tunggu sebentar, beliau jauh lebih cantik daripadamu!"
Tidak pernah terbayang oleh Liu Giok-ji bahwa bocah ini masih kecil tapi punya pikiran dewasa, karena isi hatinya kena dikatai orang, keruan dia jengah, semprotnya.
"Setan cilik, siapa peduli dia cantik atau jelek?"
Belum habis dia bicara, mendadak pandangannya terasa silau, sesosok bayangan putih tahu-tahu sudah berdiri di atas permadani, cukup melihat tubuhnya yang ramping dengan gaun panjang putih yang membelit tubuhnya, perpaduan baju putih dengan permadani merah sungguh kontras dan memesona, belum lagi wajahnya yang cantik molek sungguh sukar dilukiskan, kalau tidak menyaksikan dengan mata sendiri, siapa mau percaya bahwa di dunia ini ada gadis secantik bidadari.
Biasanya Liu Giok-ji suka bangga bahwa kecantikannya tiada bandingannya, tapi di hadapan nona ini, dia merasa dirinya seperti bintang berbanding rembulan.
Maka jengeknya.
"Betul, memang cantik, tapi biarpun secantik bidadari juga tidak boleh kurang ajar terhadap Jin-gi-cengcu? Nona berdasar apa berani bertingkah di sini? Ingin kudengar alasanmu?"
"Berdasar apa pula kau ingin tahu?"
Jawab gadis berbaju putih tidak kalah galaknya.
"Coba jelaskan dulu alasanmu."
"Pertanyaan nona Liu memang benar, aku pun ingin mengajukan pertanyaan serupa."
Tukas Li Tiang-ceng.
"Memangnya kau marah?"
Tanya si gadis baju putih.
Wajah Li Tiang-ceng sedingin es, ia tidak menjawab.
Mendadak gadis itu tertawa terpingkal-pingkal, semula dingin, begitu tertawa ternyata semanis madu, lelaki berhati baja pun akan luluh dan takkan tega bertindak keras kepadanya.
Setelah puas tertawa, tiba-tiba dia angkat jari telunjuk dan menggores pipi, katanya.
"Idih, malu ah, setua ini, masih marah-marah kepada anak kecil, memalukan!"
Sikapnya jenaka, gerak-geriknya nakal, perawakan dan bentuk badannya kelihatan sudah berusia dua puluhan, tapi tingkah lakunya sekarang mirip bocah belasan tahun.
Melihat perubahan yang mendadak ini, semua orang sama terpesona, Li Tiang-ceng melenggong, katanya bingung.
"Kau ... kau ...."
Biasanya dia bersikap tegas, sekarang entah kenapa jadi gelagapan.
"Li-jisiok,"
Kata si gadis baju putih.
"masa engkau tidak mengenalku lagi?"
"Aku ... sungguh sudah pangling padamu,"
Ucap Li Tiang-ceng.
"Sembilan tahun yang lalu ... coba kau ingat-ingat kembali ...."
"Aku tidak ingat lagi ...."
Ujar Li Tiang-ceng sambil mengerut kening.
"Kukira engkau orang tua memang sudah linglung. Pada suatu hari hujan sembilan tahun yang lalu, engkau kehujanan hingga basah kuyup dan mampir ke rumahku ...."
"He, Cu ... jadi kau ini putri tunggal keluarga Cu itu?"
Tukas Li Tiang-ceng.
"Betul,"
Seru gadis baju putih sambil berkeplok.
"akulah gadis cilik yang menangis berguling-guling di lantai karena tidak diberi gula-gula itu ...."
Sembari bicara dia maju menghampiri Li Tiang-ceng, jari-jarinya terulur untuk meraba jenggot orang, lalu berkata pula dengan senyum menggiurkan.
"Kalau engkau orang tua masih marah juga, bolehlah kau lampiaskan kepadaku saja, mau maki atau hendak pukul boleh terserah, toh aku ini keponakan nakal yang jelas takkan melawan."
Selama malang melintang di dunia Kangouw dulu, entah berapa kali Li Tiang-ceng mengalami gelombang besar dan kecil, tidak jarang berhadapan dengan musuh lihai, tapi menghadapi gadis belia ini dia jadi kehilangan akal, rasa marahnya jadi entah tersapu ke mana, dengan tertawa getir dia berkata.
"Eh, tak terasa waktu telah lalu dengan cepat, tahu-tahu Titli (keponakan) sudah sebesar ini, apakah ayahmu baik-baik saja?"
"Belakangan ini orang yang minta uang kepada beliau semakin banyak, mau tidak mau beliau harus merogoh kantong, hingga rambut kepalanya sekarang hampir botak."
Li Tiang-ceng tahu sifat ayahnya, mendengar banyolan anak dara itu, dia tertawa geli, katanya.
"Sembilan tahun yang lalu, demi berdirinya Jin-gi-ceng pernah kami minta bantuan kepada ayahmu, akhirnya meski ayahmu rela menyumbang dua laksa tahil emas, tapi kulihat mukanya seperti merasa sangat sakit ...."
"Memangnya, setelah kalian pulang, ayah menyesal sampai tiga hari tiga malam, makan pun tidak punya selera lagi, arak pun terasa sayang diminum. Maka dia selalu hidup sederhana untuk menambal kerugian kedua-laksa tahil emas itu, yang celaka adalah anggota keluarganya, bila ingin makan enak harus main sembunyi di dapur ...."
Li Tiang-ceng tertawa geli, sambil menggandeng tangan si nona diajaknya ke pendopo, orang banyak sama terpesona oleh gaya manis gadis belia ini, tanpa merasa semua ikut kembali ke dalam, sampai Thian-hoat Taysu yang sudah mau pergi juga urung, padahal biasanya dia tidak suka bergurau, sekarang ia pun tersenyum-senyum.
Kim Put-hoan berada paling belakang, diam-diam dia menarik lengan baju Ji Yok-gi, katanya setengah berbisik.
"Kelihatannya gadis itu anak hartawan, yaitu putri tunggal Cu-lothau (kakek Cu) yang kaya raya itu."
"Ya, pasti tidak salah lagi,"
Sahut Ji Yok-gi.
"Tampaknya kesempatan kita bekerja sama sudah tiba saatnya."
"Kerja sama apa?"
"Ji-heng bertampang begini cakap, bila kuatur sedikit tipu daya, mustahil dara cantik itu takkan terpelet olehmu. Tatkala mana bukan saja Ji-heng dapat untung harta dan bini rupawan, hingga kaum persilatan pasti sama iri terhadapmu, dan aku pun akan memperoleh sedikit keuntungan di belakangmu."
Tampak senang wajah Ji Yok-gi, tapi tiba-tiba dia mengerut alis, katanya.
"Kurasa agak sukar ...."
Gemerdep sinar mata Kim Put-hoan, melihat sikap orang agak ragu, cepat dia menukas.
"Apanya yang sukar? Jangan-jangan Ji-heng merasa dirimu tidak setimpal mempersunting dia, maka kau tidak berani bertindak?"
Dengan membusungkan dada Ji Yok-gi berkata.
"Siapa bilang aku tidak berani?"
"Pukul besi mumpung panas, kalau mau beraksi harus segera dilakukan,"
Demikian bujuk Kim Put-hoan. Mendadak seorang berteriak di belakang.
"Binatang, dua ekor binatang!"
Ji Yok-gi dan Kim Put-hoan kaget, serentak mereka membalik tubuh, tampak anak buntak berbaju merah tadi berdiri dengan bertolak pinggang, dan mata melototi mereka.
"Binatang, apa katamu?"
Bentak Kim Put-hoan.
"Kubilang kau ini binatang!"
Maki anak merah itu. Mendadak dia melompat sambil mengayun tangan, betapa cepat gerakannya, belum lagi terlihat jelas.
"plak" , pipi kiri Kim Put-hoan tahu-tahu kena gampar. Sebagai tokoh yang sudah terkenal di Kangouw, ternyata mukanya kena digampar seorang bocah cilik, sungguh sukar dipercaya bila tidak menyaksikan sendiri. Kim Put-hoan gusar dan kaget, makinya.
"Binatang cilik!"
Jari tangannya serupa cakar burung segera mencengkeram, tak tahunya bayangan merah tiba-tiba berkelebat, anak merah itu sudah menyelinap masuk pendopo.
"Celaka!"
Seru Ji Yok-gi khawatir.
"pembicaraan kita telah didengar setan cilik itu."
Segera dia putar tubuh dan hendak ngacir. Lekas Kim Put-hoan menariknya, katanya.
"Takut apa? Rencana sudah jadi, betapa pun harus dilaksanakan."
Apa boleh buat, Ji Yok-gi diam saja diseret masuk ke pendopo. Sementara itu bocah merah itu sudah berdiri di samping si gadis berbaju putih, melihat mereka masuk, segera dia bertepuk sambil berteriak.
"Nah, dua ekor binatang itu masuk."
"Hei, anak kecil tidak boleh sembarangan omong!"
Tegur Li Tiang-ceng. Anak merah itu berkata.
"Kedua orang ini berkomplot dan berunding cara bagaimana hendak menipu Jitkohnio, supaya dapat bini dan harta, engkau orang tua harus memberi keadilan, bukankah kedua orang ini adalah binatang?"
Li Tiang-ceng batuk-batuk beberapa kali, mulut tidak bicara, tapi matanya menatap tajam mereka.
Ji Yok-gi merah jengah, sedangkan Kim Put-hoan bermuka tebal, sikapnya tetap tak acuh seperti tidak terjadi apa-apa, kelihatannya malah bangga.
"Siapakah kedua orang ini?"
Tanya Jitkohnio (nona ketujuh) dengan muka cemberut. Berputar mata Liu Giok-ji, segera dia mendahului bersuara.
"Biarlah kuperkenalkan, orang ini bergelar Kian-gi-yong-wi (berani bertindak demi keadilan) Kim Put-hoan, kecuali itu dia masih punya dua gelar lain, yaitu Kian-ci-gan-kay (melihat uang mata terbuka) dan Kian-li-bang-gi (mendapat untung lupa kebenaran), kedua gelar yang belakangan ini jauh lebih tersohor di kalangan Kangouw."
"Ya, juga lebih cocok daripada julukan yang pertama,"
Tukas Jitkohnio. Lekas Kim Put-hoan merangkap kedua tangan, katanya sambil menjura.
"Ah, nona terlalu memuji."
Liu Giok-ji cekikik geli, katanya.
"Tebal muka Kim-tayhiap ini memang tiada bandingannya di kolong langit, dibacok pedang atau golok juga tidak mempan."
"Cis, lalu siapa lagi yang satu?"
Tanya Jitkohnio.
"Yang satu ini jauh lebih tersohor. Gelarannya panjang, Giok-bin-yau-khim Sin-kiam-jiu (wajah kemala memetik harpa, si pedang sakti) Ji Yok-gi. Maksudnya, meski kelihatan tolol (Yok-gi), padahal otaknya encer dan cerdik, malah lebih pandai dibandingkan orang lain."
Jitkohnio mengawasi orang, mendadak dia terpingkal-pingkal, katanya sambil menuding Ji Yok-gi.
"Jadi kedua orang ini kepingin makan daging angsa? Lucu, sungguh menggelikan, manusia begini juga setimpal disebut tujuh jago kosen dari Bu-lim, apakah orang lain mau mengakui mereka?"
Wajah Ji Yok-gi yang pucat seketika merah padam.
"Sampah persilatan,"
Kiau Ngo mencaci maki.
"Tidak tahu malu."
"Cuh,"
Tiba-tiba Toan-hong Totiang membuang ludah. Muka Thian-hoat Taysu bertambah kelam. Liu Giok-ji menghela napas.
"Bila tahu di antara ketujuh jago kosen ada manusia sebejat ini, aku sih lebih suka namaku dicoret saja dari deretan tujuh jago kosen."
Belum habis dia bicara, Ji Yok-gi sudah putar tubuh dan berlari pergi.
Kim Put-hoan biasanya hanya garang di depan yang lemah dan kuncup nyalinya di depan orang yang kuat, kini mau tidak mau hatinya terbakar juga, batinnya.
"Biarpun anak dara ini banyak duit, apakah ilmu silatnya bisa lebih tinggi daripadaku? Biar tuan besarmu menghajar adat padamu."
Biasanya dia tidak mau bertindak bila keadaan tidak meyakinkan dirinya pasti akan menang.
Maka setelah berpikir lagi, cepat dia menyusul Ji Yok-gi serta menariknya ke belakang pintu.
Ji Yok-gi mengentak kaki, omelnya.
"Kau ... kau bikin aku malu saja, mau apa lagi kau tarik aku kemari?"
Jawab Kim Put-hoan dengan dingin.
"Apa urusan selesai begini saja?"
Ji Yok-gi mendesis.
"Memangnya mau apa kalau tidak selesai?"
Kim Put-hoan menatapnya, katanya kalem.
"Jika aku jadi dirimu, menghadapi cewek yang begitu menggiurkan, umpama kepalaku bocor juga akan kukejar terus sampai kena, kalau putus asa dan menarik diri di tengah jalan, bukankah memalukan malah?"
"Memalukan?"
Ji Yok-gi melenggong, akhirnya menghela napas panjang.
"Ai, ditertawakan orang juga pantas. Si dia tidak tertarik padaku, buat apa ...."
"Tolol,"
Omel Kim Put-hoan sambil menghela napas.
"siapa bilang dia tidak tertarik padamu?"
JI Yok-gi melengak, katanya dengan tergagap.
"Tapi ... kalau dia tertarik padaku ... mana bisa ... mana bisa menghinaku. Ai, sudahlah, sudahlah ...."
Kembali dia hendak putar tubuh. Kim Put-hoan menghela napas, katanya.
"Agaknya kau masih hijau terhadap perempuan, masa tidak bisa kau tangkap perasaan seorang perempuan?"
Tanpa ditarik lagi, tiba-tiba Ji Yok-gi menghentikan langkah, maka Kim Put-hoan melanjutkan.
"Umpama orang menaksir padamu, memangnya di depan orang banyak berani dia bicara blak-blakan?"
Berkedip mata Ji Yok-gi.
"Ya, beralasan juga ...."
"Ketahuilah, isi hati orang perempuan sukar dijajaki, semakin dia naksir padamu, dia justru sengaja hendak menyiksamu, ingin menguji kemurnian cintamu, jika kalau mundur di medan laga, bukankah kau sia-siakan maksud baiknya?"
Ji Yok-gi terbujuk, katanya riang.
"Ya betul! Lalu menurut pendapat saudara, bagaimana aku harus bertindak?"
"Dengan cara lunak kita gagal, boleh gunakan kekerasan!"
"Kekerasan ... mana boleh pakai kekerasan?"
"Memangnya kau tidak tahu bahwa pada umumnya perempuan pengagum orang gagah. Kesatria setampan kau, mustahil orang tidak akan kagum padamu?"
Ji Yok-gi berkeplok, serunya senang.
"Betul, tanpa petunjuk Kim-heng, hampir saja Siaute mengabaikan kesempatan baik. Tapi ... pakai kekerasan bagaimana, tolong Kim-heng menjelaskan."
"Asal kau tidak mundur di medan laga, tapi mempertahankan garis depan denganku, urusan lain boleh kau bertindak menurut petunjukku nanti,"
Segera dia mendahului melangkah masuk pula.
Terbakar semangat Ji Yok-gi, segera dia betulkan pakaiannya, dengan langkah lebar, dengan membusungkan dada dan menegakkan kepala, dia melangkah balik lagi ke pendopo.
Sementara itu Li Tiang-ceng tengah berkelakar dengan Jitkohnio.
Terhadap Li Tiang-ceng, Jitkohnio memang bersikap ramah, manja, dan jenaka, tapi terhadap orang lain ternyata dia bersikap tak acuh.
Thian-hoat Taysu pun tidak dia hiraukan.
Semula orang banyak merasa suka padanya, kini setelah melihat sikap angkuhnya, mereka jadi mendongkol.
Thian-hoat Taysu berdiri dan siap tinggal pergi.
Demikian pula orang lain juga ingin tinggal pergi saja.
Sementara itu Li Tiang-ceng sedang berkata.
"Kedatanganmu ini secara sengaja atau kebetulan mampir saja?"
Jitkohnio cekikikan, katanya.
"Sepantasnya kubilang sengaja kemari untuk menyampaikan salam kepada engkau orang tua, tapi aku tak dapat berdusta, harap engkau tidak marah padaku."
"Baiklah, jadi kau hanya kebetulan mampir ke sini?"
"Juga bukan mampir saja. Aku datang mencari orang."
"Siapa? Apa dia berada di sini?"
Tanya Li Tiang-ceng.
"Ya, di pendopo ini,"
Sahut si nona.
Mendengar pembicaraan ini, hadirin batal pergi.
Maklum, dalam pendopo hanya ada beberapa orang saja, bahwa nona jelita anak hartawan ini jauh-jauh datang kemari untuk mencari orang, sudah tentu mereka tertarik, ingin tahu siapa yang sedang dicarinya.
Thian-hoat Taysu membatalkan niatnya pergi, timbul juga rasa ingin tahunya, dia membatin.
"Mungkin sejak lama dia mengagumi nama besarku, maka kedatangannya hendak minta petunjuk kepadaku?"
Waktu dia angkat kepala, dilihatnya hadirin yang lain juga bersikap aneh, agaknya punya maksud yang sama seperti dirinya. Bercahaya mata Li Tiang-ceng, katanya dengan tersenyum.
"Jago-jago kosen sedunia sekarang berada di pendopo ini, entah siapa yang Hiantitli cari?"
Tanpa berpaling, jari si gadis yang runcing tiba-tiba menuding ke sana.
"Dia itulah!"
Tanpa terasa para hadirin menoleh mengikuti arah yang dituding, jari telunjuknya yang putih halus dengan kukunya yang panjang bercat merah ternyata menuding ke arah si pemuda rudin yang sejak tadi duduk di pojok sana.
Padahal sejak masuk ke pendopo ini pada hakikatnya Jitkohnio tidak melirik ke sana, seperti tidak tahu akan kehadiran seseorang di sana, tapi tudingan telunjuknya ternyata tepat, ini menandakan walaupun dia tidak pernah memandang ke sana, tapi diam-diam dia sudah memerhatikannya sejak tadi.
Keruan hadirin sama kecewa.
"Ternyata bukan aku yang dia cari." -"Tak nyana pemuda gelandangan ini dapat menarik perhatian gadis secantik ini hingga menyusulnya sampai di sini."
Sudah tentu hadirin makin tertarik, entah karena apa nona jelita ini jauh-jauh mencari pemuda miskin ini. Tak tersangka tiba-tiba pemuda rudin ini berdehem, lalu berdiri, katanya sambil menjura.
"Wanpwe mohon diri."
Belum habis bicara segera dia melangkah keluar. Mendadak bayangan merah berkelebat, tahu-tahu anak merah tadi sudah mengadang di depannya, serunya.
"Tidak boleh pergi, memangnya kau tidak tahu betapa susah Jitkohnio mencarimu?"
Jitkohnio gigit bibir dan mengentak kaki, serunya.
"Bagus, kau ... pergilah, pergi ... bila kau pergi, aku ... aku akan ... akan ...."
Tiba-tiba matanya berkaca dan mewek-mewek, sukar meneruskan lagi. Pemuda itu tertawa getir, katanya sambil menghela napas.
"Ai, buat apa nona berbuat demikian, Cayhe ...."
Anak merah itu bertolak pinggang, teriaknya.
"Bagus sekali, kau pemuda yang tidak berperasaan, berani kau bicara demikian, masa kau lupa bagaimana Jitkohnio terhadapmu ...."
Pemuda itu menghela napas pula.
Sementara Jitkohnio mengentak kaki dan menyeka air mata.
Hadirin jadi heran, mereka tidak tahu apa latar belakang kejadian ini, namun sama maklum juga bahwa Jitkohnio yang tinggi hati ini menaksir pemuda rudin ini, sebaliknya si pemuda bersikap tak acuh dan selalu cari alasan untuk menyingkir.
Liu Giok-ji melirik sambil berkerut kening, batinnya.
"Aneh, laki-laki di dunia ini kan belum mampus seluruhnya, kenapa Jitkohnio justru menyukai pemuda kotor ini?"
Dengan mengelus jenggot, Li Tiang-ceng mengawasi pemuda itu, terasa olehnya bahwa pemuda ini memang bukan pemuda sembarangan, demikian pula Hoa-sikoh menatapnya lekat-lekat, dia punya pendapat yang sama dengan Li Tiang-ceng.
Sebelum hadirin dalam pendopo tahu duduk persoalannya, tertampak Kim Put-hoan menyeret Ji Yok-gi putar balik pula.
Melihat muka mereka setebal ini, sudah pergi kembali lagi, keruan hadirin sama berkerut alis dan merasa muak.
Kiau Ngo segera memberi reaksi.
"Kalian balik lagi untuk membikin malu?"
Kim Put-hoan tidak menghiraukannya, langsung dia menuju ke depan Jitkohnio, dengan tertawa dia menjura, katanya.
"Selamat bertemu!"
Di sampingnya tersipu-sipu Ji Yok-gi juga ikut menjura dan menyapa.
"Selamat bertemu!"
Memangnya Jitkohnio sedang jengkel dan penasaran tak terlampias, kontan matanya melotot, makinya sambil mengentak kaki.
"Enyah! Enyah dari sini!"
Ji Yok-gi berjingkat kaget. Tapi Kim Put-hoan tenang-tenang saja. Katanya dengan cengar-cengir.
"Cayhe memang ingin enyah, tapi dengan cara bagaimana nona hendak mengenyahkan kami? Cayhe ingin membuktikannya."
Sembari bicara, sebelah tangannya memberi tanda di belakang pantat kepada Ji Yok-gi. Ji Yok-gi lantas berdehem, katanya dengan membusungkan dada.
"Siapa tidak tahu Kim-heng ini menjagoi Bu-lim, berani kau kasar terhadapnya, bukankah berarti kau meremehkan orang-orang gagah sedunia?"
Orang ini mudah dihasut, tidak punya pendirian, suka anggap dirinya paling pintar, tapi bicaranya memang patut dipuji, sikapnya kelihatan gagah juga.
Jitkohnio mengerling ke kanan kiri, bergantian dia mengamati kedua orang ini, dengan dingin ia mendengarkan ocehan mereka, mendadak dia tertawa lebar, katanya.
"Bagus, memang mirip orang gagah ...."
Ji Yok-gi bersorak dalam hati.
"Akal Kim-heng memang tepat."
Segera ia berkata.
"Jika sudah tahu, selanjutnya jangan kau rendahkan orang lain ...."
Dadanya makin dibusungkan, namun nada bicaranya menjadi agak lunak. Jitkohnio tertawa, katanya.
"Baiklah, selanjutnya aku tidak berani memandang rendah kalian berdua."
Kontan terunjuk rasa senang pada wajah Ji Yok-gi, katanya dengan tertawa lebar.
"Nah, seyogianya begitu."
Jitkohnio tertawa riang, katanya.
"Kalian pikir aku ini perempuan lemah, membawa anak kecil, mana kuat melawan kalian. Maka setelah gagal dengan cara lunak sekarang hendak menggunakan kekerasan, mau mengajar adat kepadaku. Orang gagah yang pandai melihat gelagat memang jarang ada di dunia persilatan, mana berani kuremehkan kalian?"
Makin manis menggiurkan wajah si nona, muka Ji Yok-gi jadi makin merah, akhirnya dia berdiri melenggong, rasa senang tadi entah kabur ke mana. Kim Put-hoan lantas menjengek.
"Seorang perempuan, bicara secongkak ini, aku jadi heran, cara bagaimana orang tuamu mendidikmu sejak kecil."
"O, jadi kau hendak memberi ajaran padaku?"
Tanya Jitkohnio.
"Betul,"
Jawab Kim Put-hoan.
"Kau kira Ji-heng ini masih muda, ramah tamah, lantas boleh dihina? Hm, sikap Ji-heng memang ramah terhadap orang, tapi terhadap orang sekasar kau, dia merasa sebal. Ji-heng, betul tidak?"
"Ehm ... ya, ya ...."
Ji Yok-gi mengiakan saja sambil manggut-manggut. Dengan gaya gemulai Jitkohnio membetulkan sanggulnya, katanya dengan tersenyum manis.
"Kalau demikian, silakan turun tangan saja."
Sebelah tangan anak merah tadi menarik ujung baju si pemuda miskin, serunya lantang.
"Keparat yang sudah merasakan gamparanku tadi, marilah lawan aku saja, tak perlu nona turun tangan sendiri!"
Kim Put-hoan berkata.
"Kalian maju bersama juga boleh, yang terang ...."
Toan-hong-cu yang sejak tadi bersikap dingin mendadak menceletuk.
"Kim Put-hoan, apa kau perlu minta petunjuk padaku?"
Kim Put-hoan menyeringai, katanya.
"Syukur jika kau sudi memberi petunjuk."
Toan-hong-cu berkata.
"Hoat-cay-sin (malaikat harta hidup) mempunyai kekayaan berlimpah-limpah dan tiada bandingannya di kolong langit ini, tapi gembong penjahat dari golongan hitam mana pun tak pernah mengusik sepeser pun uangnya. Kenapa demikian, apa kau tahu sebabnya?"
Kim Put-hoan tertawa, katanya.
"Mungkinkah gembong-gembong penjahat itu anggap uang perak atau emas miliknya itu sudah bulukan atau berbau!"
Dia merasa lucu akan banyolannya sendiri, maka dia tergelak, tapi ketika matanya melirik ke sana dan melihat wajah Toan-hong-cu yang kereng bengis, seketika kuncup gelak tawanya.
Toan-hong-cu menarik muka, katanya.
"Jadi kau tidak mau mendengar? Hm, tidak apa, tetap akan kubicarakan hal ini. Sebab sudah lama kaum persilatan baik yang berkepandaian tinggi atau rendah, ada yang karena menghindari pengejaran musuh, ada yang menyelamatkan diri dari bahaya yang mengancamnya, semua lari ke rumah Hoat-cay-sin. Memang Hoat-cay-sin sayang pada uangnya dan amat pelit, namun terhadap orang-orang Kangouw itu, kalau ada yang minta pasti dia merogoh kantong. Selama puluhan tahun, rumah Hoat-cay-sin sudah merupakan sarang naga dan gua harimau, penuh dengan orang kosen, jangankan orang lain, sebagai contoh saja, saudara cilik yang ikut nona Cu ini, dia bukan tokoh sembarang tokoh yang boleh dibuat permainan, kau ingin memberi hajaran padanya, salah-salah kau sendiri yang bakal dihajar olehnya."
"Maksud Totiang anak merah ini?"
Tanya Kim Put-hoan sambil menuding bocah merah itu.
"Kecuali dia, siapa lagi dalam ruangan ini yang patut disebut saudara cilik?"
Tak tertahan Kim Put-hoan bergelak tertawa, katanya.
"Jadi maksud Totiang bocah ini? Apa tidak terlalu kau agulkan dia dan meremehkan kawan sendiri? Umpama makhluk aneh kecil ini sejak di kandungan ibunya sudah berlatih silat, memangnya kepandaiannya mampu menandingi jago kosen dari ketujuh pentolan Bu-lim?"
"Kalau tidak percaya, boleh kau coba,"
Jengek Toan-hong-cu.
"Sudah tentu akan kucoba,"
Ucap Kim Put-hoan sambil menyingsing lengan baju. Mendadak Singa Jantan Kiau Ngo juga menyingsing lengan baju, tapi dia ditahan oleh Hoa-sikoh, katanya lirih.
"Apa yang hendak kau lakukan Kiau-ngoko?"
"Keparat ini hendak berkelahi dengan seorang anak kecil. Hm, biar orang lain tidak mau ambil peduli, aku Kiau Ngo justru akan membelanya."
Hoa-sikoh tertawa, katanya.
"Orang lain tidak peduli karena Jitkohnio terlalu temberang, maka mereka ingin lihat tontonan saja untuk mengetahui betapa tinggi Kungfunya. Tapi kalau Li-locianpwe sendiri juga berpeluk tangan saja, apa kau tahu apa sebabnya? Memangnya kau kira beliau juga ingin menonton saja?"
"Iya,"
Ujar Kiau Ngo sambil berkerut kening.
"Aku juga heran ...."
Hoa-sikoh berbisik pula.
"Soalnya Li-locianpwe sudah menaruh curiga kepada bocah cilik berbaju merah itu, maka dia tinggal diam saja membiarkan keributan terjadi."
Kiau Ngo heran, katanya.
"Usianya masih sekecil itu, apanya yang perlu dicurigai?"
"Aku sendiri juga tidak tahu, pendek kata bocah cilik itu pasti ada sesuatu yang patut dicurigai, bukan mustahil .... Ai, kau tunggu dan lihat saja."
Kiau Ngo makin heran, gumamnya.
"Kalau begitu, baiklah kutunggu ...."
Tampak Kim Put-hoan sedang menyingsing lengan baju kanan kiri, belum juga mau turun tangan, tiba-tiba dia tarik Ji Yok-gi ke pinggir serta berbisik entah apa yang dibicarakan.
Sementara Li Tiang-ceng, Toan-hong-cu, Thian-hoat Taysu sama menatap tajam kepada bocah merah itu dengan sorot mata yang aneh.
Kiau Ngo melirik juga dua kali ke arah bocah merah gemuk itu, diam-diam timbul juga rasa curiganya, pikirnya.
"Kenapa bocah ini mengenakan topeng seaneh itu? Kenapa dia tidak mau menanggalkan topeng supaya orang banyak melihat muka aslinya? Usianya paling-paling baru dua belasan tahun, kenapa suara bicara dan tindak tanduknya mirip orang tua?"
Sementara itu bocah merah tetap memegangi ujung baju si pemuda rudin, sedangkan si pemuda bersungut sambil berkerut alis.
Sekilas Jitkohnio melirik Kim Put-hoan, lalu sorot matanya beralih ke arah pemuda rudin dan tidak berkisar lagi.
"Sudah tiba kesempatannya,"
Bisik Kim Put-hoan dengan gemas setelah menarik Ji Yok-gi ke samping.
"Kesempatan apa?"
Tanya Ji Yok-gi.
"Kesempatan untuk gigi dan angkat nama, memangnya kau belum juga mengerti. Lekas kau robohkan makhluk aneh cilik itu dalam dua-tiga gebrak, supaya budak yang tidak tahu diri itu kapok dan tahu kelihaianmu."
"Tapi ... tapi dia hanya seorang bocah, bagaimana aku tega turun tangan?"
"Memangnya kenapa kalau bocah? Tidakkah kau dengar Tojin setan itu bilang dia lihai, jika dapat kau robohkan dia, bukankah namamu akan tersohor?"
Sesaat Ji Yok-gi berpikir, tiba-tiba ia tertawa, katanya sambil menggeleng.
"Kim-heng, kali ini Siaute takkan tertipu lagi olehmu."
"He, kenapa kau bilang demikian?"
"Kalau aku melabrak bocah itu, menang kan sudah jamak, sebaliknya bila aku kalah, ke mana aku harus menaruh mukaku? Karena itulah kau sendiri tidak mau turun tangan, tapi malah menyuruh aku."
"Kau betul tidak mau turun tangan?"
Jengek Kim Put-hoan.
"Biarlah kesempatan memperoleh nama ini kuberikan kepada Kim-heng saja,"
Ujar Ji Yok-gi. Kim Put-hoan memandangnya lekat-lekat, ia tanya pula.
"Kau tidak menyesal?"
"Pasti tidak akan menyesal."
Kim Put-hoan menghela napas.
"Ai, maksud baikku kau salah artikan, sungguh sayang ...."
Perlahan dia memutar tubuh terus hendak maju ke arena.
Ji Yok-gi melongo mengawasi punggungnya, senyumnya sirna seketika, ia mengerling pula ke arah Jitkohnio, betapa pun dia memang kesengsem kepada nona jelita ini, mendadak dia memanggil perlahan.
"Kim-heng, tunggu sebentar!"
Kim Put-hoan tidak berpaling.
"Ada apa?"
Tanyanya.
"Biar ... biarlah aku saja ... aku saja yang turun tangan!"
"Tidak, katamu takkan menyesal?"
Ji Yok-gi menyengir.
"Ah, bila ... bila Kim-heng memberi kesempatan ini kepadaku, kelak Siaute pasti memberi kado besar kepadamu."
Kim Put-hoan seperti menimbang agak lama, kemudian dia membalik badan dan berkata.
"Baiklah, maju!"
Ji Yok-gi kegirangan.
"Terima kasih Kim-heng!"
Segera dia melompat ke depan. Mengawasi punggung orang, Kim Put-hoan menyeringai, dengusnya perlahan.
"Huh, kelihatannya gagah dan tampan, tak tahunya berotak udang."
Begitu melompat ke tengah pendopo, Ji Yok-gi segera berseru lantang.
"Demi menghormati ketiga Cianpwe pemilik Jin-gi-ceng, maka harpa dan pedang tidak kubawa kemari, tapi siapa pun bila ingin memberi pelajaran kepada orang she Ji, akan kulayani dengan bertangan kosong saja."
Baru sekarang Jitkohnio menarik pandangannya atas diri si pemuda, katanya dengan tertawa dan menggeleng.
"Bocah she Ji ini agaknya kena dihasut lagi oleh orang she Kim itu ...."
Anak merah menarik si pemuda rudin ke depan Jitkohnio, katanya.
"Nona, kau jaga dia, jangan sampai terlepas, biar kuberi hajaran kepada bocah yang tidak tahu diri itu."
Jitkohnio mencibir, katanya.
"Siapa sudi menjaga dia? Biarkan saja dia pergi,"
Tapi sembari bicara diam-diam dia sudah ulur jarinya menggantol lengan baju si pemuda. Pemuda itu menghela napas, ujarnya.
"Buat apa selalu kau cari gara-gara?"
"Memangnya aku harus meniru tabiatmu?"
Omel Jitkohnio.
"orang menampar pipi kirimu, malah kau berikan pipi kanan pula. Aku justru tidak mau dihina."
"Ya, kau memang lihai,"
Ujar si pemuda dengan tertawa getir.
"Tapi setelah kau bikin ribut, jangan suruh orang lain membereskan persoalannya. Kalau bisa kau selesaikan urusanmu sendiri, baru benar kau memang lihai."
"Jangan khawatir, mati pun aku tidak perlu minta bantuanmu,"
Lalu si nona melengos dan tidak peduli lagi, tapi kedua jarinya yang menggantol lengan baju orang tetap tidak dilepaskan.
Dengan langkah bergoyang sampan seperti bebek berjalan, anak merah tadi maju ke depan Ji Yok-gi, sekejap dia amat-amati orang dari atas kepala sampai kaki, lalu berputar ke belakang, dan balik ke depan lagi, akhirnya dia tertawa cekikikan, katanya.
"Nah, boleh pukul, tunggu apa lagi?"
"Sebetulnya orang she Ji tidak sudi bergebrak denganmu, tapi ...."
"Mau berkelahi ayo mulai, kenapa mengoceh saja,"
Omel si bocah merah.
Mendadak dia melompat ke atas terus menampar muka Ji Yok-gi.
Geraknya biasa dan terang-terangan, tapi kecepatan serangannya sukar dilukiskan.
Untung Kim Put-hoan yang sudah kena tampar tadi sudah menjadi contoh bagi Ji Yok-gi, maka dia berlaku hati-hati, begitu orang bergerak, sigap sekali dia berputar menyingkir, namun begitu hampir saja mukanya kena gampar.
Bocah merah cekikikan, katanya.
"Ternyata betul sedikit berisi."
Sambil bicara tangan juga tidak menganggur, di mana bayangan merah berkelebat, tangannya segera menghantam.
Serangannya ternyata tidak mengutamakan tipu atau permainan ilmu silat umumnya, tapi lebih mirip anak kecil yang berkelahi main cakar dan tampar, namun serangannya justru cepat dan ketat, gerakannya enteng dan sigap, sehingga lawan tidak diberi kesempatan bernapas.
Seketika Ji Yok-gi terdesak oleh serangan gencar si bocah, tapi gerak langkahnya ternyata cukup tangkas, gayanya kalem dan gagah sehingga penonton manggut-manggut.
Dengan suara perlahan Hoa-sikoh bertanya kepada Kiau Ngo.
"Coba lihat, bukankah bocah itu agak aneh?"
Kiau Ngo mengerut alis, katanya.
"Berkelahi cara demikian memang jarang kulihat."
"Justru ia sengaja berbuat demikian agar orang lain sukar menjajaki asal usul ilmu silatnya."
Kiau Ngo heran, tanyanya.
"Apakah bocah ini juga punya asal usul?"
"Kalau tidak punya asal usul, mampukah dia mendesak Ji Yok-gi sedemikian rupa?"
Kerut alis Kiau Ngo makin rapat. Sesaat kemudian Hoa-sikoh berkata pula dengan menghela napas.
"Meski bocah itu tidak menggunakan ilmu silat andalannya, kalau demikian cara bertempur Ji Yok-gi, akhirnya dia pasti kalah juga."
Kiau Ngo manggut-manggut.
"Betul, jika Ji Yok-gi tidak banyak bertingkah, taraf Kungfunya tentu bisa maju lebih tinggi."
Ji Yok-gi memang suka mengagulkan diri sebagai pemuda ganteng yang romantis, sampai pun waktu berkelahi dengan orang juga memakai gerak-gerik yang terhormat dan gaya yang indah supaya menimbulkan kesan baik orang lain, gerakan yang buruk mati pun tidak sudi digunakan.
Waktu si bocah merah menyerang ketiga kalinya, bagian kiri bawah ketiaknya sebetulnya kosong, Hoa-sikoh dan Kiau Ngo menyaksikan kekosongan ini, mereka tahu bila Ji Yok-gi mau melancarkan jurus serangan Thi-gu-keng-te (lembu besi meluku sawah), umpama tidak berhasil menjatuhkan si bocah, paling tidak dapat memperbaiki posisinya yang terdesak.
Sayang Ji Yok-gi anggap jurus serangan itu kurang indah, maka dia abaikan kesempatan baik itu, malah melancarkan jurus Hong-jui-siu-liu (angin mengembus dahan Liu) yang tak bermanfaat sedikit pun.
Kim Put-hoan geleng-geleng kepala, katanya dingin.
"Mati pun dia memilih gaya yang indah ...."
Tapi hatinya juga lega, karena dia tahu meski Ji Yok-gi tak mungkin menang, agaknya juga tidak gampang dikalahkan. Hoa-sikoh bergumam sendiri.
"Entah Li-locianpwe sudah dapat membongkar asal usulnya atau tidak?"
Waktu dia berpaling, dilihatnya Leng Sam sedang memapah si orang tua sakit, entah sejak kapan sudah berdiri di samping Li Tiang-ceng, pandangan mereka pun tertuju si bocah merah, diam-diam kedua orang tua itu pun saling memandang.
Akhirnya Li Tiang-ceng bertanya.
"Toako, sudah kau lihat sesuatu?"
Si orang sakit, Ki Ti, berkata setelah termenung sejenak.
"Kukira tujuh bagian tepat."
Singa Jantan merasa bingung mendengar pembicaraan mereka, ia tanya.
"Sebetulnya ada apa sih?"
Hoa-sikoh menghela napas, ujarnya.
"Coba lihat cara berkelahi bocah itu tanpa menggunakan norma-norma ilmu silat, tapi gerak-geriknya tidak menunjukkan suatu kelemahan, kalau tidak mempunyai dasar latihan puluhan tahun, mana mampu dia berbuat demikian?"
"Tapi ... paling banyak dia baru berusia belasan tahun ...."
"Bocah berusia belasan tahun mana mungkin punya dasar latihan puluhan tahun, kecuali ... usianya memang tidak muda lagi, hanya perawakannya saja yang memang katai alias cebol, juga dia mengenakan kedok hingga orang sukar menduga berapa umurnya."
Kiau Ngo bergumam sendiri.
"Latihan dasar puluhan tahun ... perawakannya cebol ...."
Mendadak tergerak hatinya, dia teringat pada seseorang, serunya kaget.
"Hah, dia!"
"Ya, delapan bagian pasti dia,"
Ujar Hoa-sikoh. Kiau Ngo berkata pula.
"Pantas sudah lama orang ini tak pernah unjuk diri, tak tahunya bersembunyi di rumah Hoat-cay-sin."
Dia pandang Thian-hoat Taysu sekejap lalu katanya dengan suara tertahan.
"Apakah Thian-hoat Taysu sudah tahu asal usulnya? Jika ia pun sudah tahu, mungkin ...."
"Bukan Thian-hoat Taysu saja, Liu Giok-ji, Toan-hong-cu pun tahu asal usulnya, mungkin mereka juga ...."
Tertampak Thian-hoat Taysu yang berperawakan kekar itu tiba-tiba mulai bergerak, wajahnya kelihatan serius, kulit mukanya bersemu ungu, selangkah demi selangkah perlahan mendekati bocah merah yang sedang melabrak Ji Yok-gi itu.
Jelalatan mata Jitkohnio, mendadak dia membentak.
"Lekas!"
Kontan anak merah melejit ke atas, belum lenyap suara Jitkohnio mendadak dia pentang kedua tangan terus menukik dan menubruk ke arah Ji Yok-gi.
Melihat gerakan si bocah, Li Tiang-ceng terkejut, teriaknya.
"Hui-liong-sik!"
Di tengah teriakan kaget Li Tiang-ceng, terdengar Ji Yok-gi juga menjerit kaget dan menjatuhkan diri ke lantai.
Bukan kebetulan dia terkenal di dunia Kangouw, gerak-geriknya memang tangkas, meski terdesak ia tidak menjadi gugup, dengan gerakan Yan-ceng-cap-pwe-hoan (delapan belas kali jumpalitan gaya Yang Ceng), begitu badan menyentuh lantai langsung menggelinding ke sana lalu melompat berdiri, ia tidak terluka, namun melongo juga dia mengawasi bocah merah itu.
"Ayo pergi!"
Terdengar Jitkohnio membentak, segera dia tarik si pemuda rudin dan tangan lain menggandeng anak merah itu terus hendak melayang pergi.
Mendadak suara sabda Buddha berdengung dalam ruang itu, suaranya sangat keras, memekak telinga, perawakan Thian-hoat Taysu yang tinggi besar tahu-tahu sudah mengadang di depan mereka.
Jitkohnio tidak banyak bicara, dia putar haluan hendak melompat ke jendela.
Tapi bayangan orang tampak berkelebat, Leng Sam, Toan-hong-cu, Liu Giok-ji, Ji Yok-gi dan Kim Put-hoan serempak bergerak mencegat mereka dengan wajah gusar.
Si pemuda rudin menghela napas, katanya geregetan.
"Nyalimu memang teramat besar. Jelas orang akan tahu asal usulnya, kau justru membawanya kemari."
Dengan geram Jitkohnio melotot padanya, katanya dongkol.
"Semua ini juga lantaran kau, karena mencari kau, penderitaan apa saja kurasakan dan apa pun berani kulakukan."
Dalam pada itu Thian-hoat Taysu, Leng Sam dan lain-lain sudah mengurung mereka bertiga. Tiba-tiba Jitkohnio berubah sikap, tanyanya dengan tertawa genit.
"Eh, apa yang kalian lakukan ini?"
Dengan kereng Thian-hoat Taysu menjawab.
"Nona sudah tahu, kenapa sengaja tanya pula?"
Jitkohnio berpaling, serunya.
"Li-jisiok, bagaimana ini? Tamumu ini melarang aku pergi, berani mereka menghinaku di rumahmu, apa engkau orang tua tidak ikut malu?"
Li Tiang-ceng menoleh kepada Ki Ti, dia tidak berani membuka suara.
Mata Ki Ti gemerdep, sesaat lamanya dia diam saja, agaknya dirasakannya urusan cukup gawat.
Hadirin menahan napas, semua menunggu jawaban si cerdik nomor satu di Kangouw.
Maklum, setiap patah kata orang tua ini laksana emas, sekali berucap, selamanya takkan berubah.
Agaknya lama juga baru Ki Ti berkata dengan suara berat.
"Perkampungan ini berdiri juga berkat bantuan dana ayahmu yang cukup besar, nona Cu mau pergi atau datang, siapa pun dilarang merintanginya."
Legalah hati Jitkohnio, sebaliknya Thian-hoat Taysu dan lain-lain berubah air mukanya. Tapi hanya berhenti sejenak Ki Ti lantas menambahkan dengan suara perlahan.
"Tapi orang yang kemari bersama nona, apa pun dia harus tetap tinggal di sini, siapa pun dilarang membawanya keluar."
Jitkohnio berkedip, sengaja dia menuding si pemuda rudin, katanya dengan tertawa.
"Apa dia yang engkau maksudkan? Apakah dia pernah berbuat salah kepada orang lain?"
"Bukan,"
Sahut Ki Ti.
"Kalau bukan dia, pasti bocah ini, dia ini pembantu pribadiku, engkau orang tua hendak menahannya di sini untuk meladeni siapa?"
Ki Ti menarik muka, katanya.
"Urusan sudah sejauh ini, kenapa nona masih berlagak bodoh?"
"Apa maksud ucapanmu, sungguh aku tidak mengerti?!"
Sahut si nona.
"Tidak tahu?"
Jengek Ki Ti.
"Leng Sam, ambil maklumat itu dan berikan kepadanya supaya dibacanya."
Serentak Leng Sam melesat keluar.
Tangan Jitkohnio yang mengandeng si pemuda sudah mulai gemetar, tapi wajahnya masih mengulum senyum, sikapnya seperti tidak acuh.
Cepat sekali Leng Sam sudah balik sambil membawa selembar kertas, warna kertas dan tulisannya sudah agak luntur.
Ki Ti menerima kertas itu, sambil mendongak dia tertawa getir, katanya.
"Sudah tujuh tahun maklumat ini ditempel di dinding depan, tak nyana hari ini baru bisa ditanggalkan dari tempatnya."
"Kertas apakah itu?"
Tanya Jitkohnio sambil berkedip-kedip.
"Peduli kau tahu atau benar-benar tidak tahu, boleh kau ambil dan melihatnya sendiri,"
Segera Ki Ti melempar lembaran kertas itu di depan kaki Jitkohnio. Jitkohnio mengerling kiri-kanannya, lalu menjemput kertas itu, katanya.
"Marilah kalian pun ikut membacanya."
Lalu dia mendahului berjongkok, pemuda itu pun ditariknya berjongkok sehingga sama tinggi dengan anak merah itu agar lebih leluasa mereka membaca bersama. Maklumat itu tertulis demikian.
"Hoa Lui-sian, berjuluk Siang-thian-jip-to (naik ke langit menyusup ke bumi), salah satu dari Cap-sah-thian-mo (tiga belas iblis besar) yang dulu pernah menjagoi Kangouw, sejak tragedi Heng-san hanya orang-orang ini dari Cap-sah-thian-mo yang masih hidup. Sebab jauh sebelum tragedi Heng-san itu, orang ini sudah menghilang, kaum persilatan tiada yang tahu ke mana perginya. Orang ini berusia lima puluh empat tahun, namun perawakannya pendek seperti anak kecil, gemar berpakaian serbamerah, asal usul Kungfunya tidak jelas, namun dia pernah mewarisi ajaran majikan Ngo-toa-mo-kiong yang pernah menggetarkan Bu-lim pada enam puluh tahun yang lampau. Selama hidup tidak pernah pakai senjata, juga tidak menggunakan senjata rahasia, tapi Ginkangnya tinggi, tenaga pukulannya jahat dan beracun, termasuk dalam urutan tokoh keenam dalam Bu-lim. Giok-long Taysu dari Ngo-tay, Liu Hwi-sian dari Hoa-san, Kanglam-tayhiap Tian Thi-ciang dan jago-jago kosen yang lain, semuanya gugur di tangannya. Belasan tahun yang lalu pernah tersiar berita bahwa orang ini sudah mati di muara Huang-ho. Akan tetapi dalam setahun itu, orang-orang yang pernah bermusuhan dengan dia, semuanya batok kepalanya terpenggal di tengah malam, seluruh keluarganya juga dibantai habis, luka mereka lantaran pukulan beracun orang itu. Sampai sekarang sudah jatuh korban sebanyak seratus empat puluhan jiwa. Karena setiap sakit hatinya pasti dituntut, peduli pertikaian besar atau perselisihan kecil, musuhnya tiada yang diberi ampun, sekalipun lari ke langit atau ambles ke bumi juga akan diubernya. Semula Jin-gi-cengcu tidak tahu bahwa dialah pembunuhnya, tapi setelah beliau memeriksa langsung luka-luka para korbannya, yakinlah atas perbuatannya. Konon pada kecilnya orang ini pernah disiksa secara keji dan disekap di dalam kurungan yang sempit selama delapan tahun, karena itulah bentuk badannya tidak bisa berkembang sebagaimana mestinya, lantaran itulah tabiatnya amat jelek, setiap manusia di dunia ini dibencinya, terutama sering menganiaya anak kecil, kedua tangannya sudah berlumuran darah orang banyak, kejahatannya cukup mendirikan bulu roma, barang siapa berhasil membekuknya, baik mati atau hidup, akan mendapat upah sebesar lima ribu tahil perak, janji pasti ditepati. Tertanda Jin-gi-cengcu. Tangan Jitkohnio membeber maklumat itu, tapi matanya tidak pernah membaca apa yang tertulis di atas kertas itu, diam-diam ia mengerling kian kemari memerhatikan keadaan di sekelilingnya, tertampak kedelapan penunggang kuda di luar pintu sudah turun dari kudanya dan berdiri tegak menunggu perintah sambil memegang tali kendali. Thian-hoat Taysu dan lain-lain kelihatan emosi, agaknya ingin segera turun tangan, namun tanpa persetujuan Jin-gi-cengcu mereka tidak berani bertindak. Setelah melirik sekian lamanya, tiba-tiba Jitkohnio berbisik kepada si pemuda.
"Hari ini aku dan dia bisa tidak keluar dari sini, tergantung kepadamu seorang."
Pandangan si pemuda tertuju ke arah maklumat, katanya perlahan.
"Ya, urusan sudah telanjur sejauh ini, apa yang dapat kuperbuat?"
Suaranya keluar dari tenggorokan tapi bibirnya tidak bergerak. Jitkohnio berang, desisnya.
"Mau atau tidak kau harus turut campur, jangan kau lupa siapa yang telah menolong jiwamu? Memangnya kau lupa bagaimana orang memperlakukan dirimu?"
Pemuda itu menghela napas, mulutnya terkancing. Setelah menarik napas panjang Jitkohnio berdiri perlahan, katanya.
"perbuatan Ciang-tiong-thian-mo ini memang keterlaluan, kejam dan keji."
"Syukurlah kalau nona tahu,"
Ucap Ki Ti dengan suara kereng.
"Dan kenapa kau masih membela dia?"
Jitkohnio melirik si bocah merah, katanya sambil menghela napas.
"Agaknya mereka anggap kau inilah Hoa Lui-sian itu."
Bocah merah berkata.
"Hah, sungguh lelucon besar!"
Seperti tertawa dan tidak tertawa Jitkohnio pandang si pemuda, katanya perlahan.
"Peduli lelucon atau bukan, kutahu jelas selama tujuh tahun ini belum pernah dia meninggalkan setapak pun dari sampingku, kalau dia sempat keluar membunuh orang, boleh kau penggal kepalaku saja."
Meski ucapannya di tujukan kepada orang banyak, tapi matanya menatap si pemuda rudin. Tapi pemuda ini berdehem dan menunduk. Thian-hoat Taysu segera berkata dengan bengis.
"Apakah pembunuhan yang terjadi selama tujuh tahun ini perbuatan Hoa Lui-sian atau bukan, tapi kematian Giok-liong Susiok hari ini harus kutuntut balas."
"Betul, juga bibiku ... bibiku ...."
Liu Giok-ji ikut menimbrung, tapi baru beberapa patah kata matanya lantas merah, lidahnya seperti kaku, akhirnya mengentak kaki dan meneruskan.
"Siapa berani merintangi aku menuntut balas, aku ... biar aku adu jiwa dengan dia."
Kedengarannya dia bicara kepada orang banyak, tapi sorot matanya tertuju ke arah Jitkohnio. Diam-diam Kim Put-hoan memberi kedipan mata kepada Ji Yok-gi. Segera Ji Yok-gi berseru lantang.
"Orang she Ji tidak bermusuhan dengan Hoa Lui-sian, tapi terhadap manusia jahat dan kejam, siapa pun wajib menumpasnya."
Anak merah menyeringai.
"Jago yang sudah keok juga berani kentut."
Merah muka Ji Yok-gi, cepat Kim Put-hoan angkat bicara.
"Ji-heng terlalu memandang rendah lawannya sehingga kalah setengah jurus, kekalahan yang tidak berarti."
"Betul,"
Seru Ji Yok-gi.
"mengingat dia hanya bocah cilik, mana orang she Ji tega turun tangan sungguhan."
Jitkohnio menjengek.
"Kalau dia betul Ciang-tiong-thian-mo, masa sekarang kau masih bernyawa? Cis, sok omong besar, tidak tahu malu, dasar muka tebal."
Merah pula muka Ji Yok-gi. Kim Put-hoan balas mengejek.
"Kungfu Hoa Lui-sian memang hebat, tapi demi menumpas kejahatan tidak perlu kami melawannya satu per satu. Yang punya dendam boleh menuntut, yang sakit hati boleh membalas, ayolah maju bersama, biar dia buktikan apakah dia benar-benar mampu naik ke langit atau ambles ke bumi?"
Li Tiang-ceng menghela napas, katanya.
"Dengarlah nasihatku, lebih baik Hoa-hujin menyerah saja, nona Cu tidak perlu menjadi juru bicaranya lagi."
Jelalatan mata Jitkohnio, katanya sambil mengentak hati.
"Jadi engkau orang tua juga mengira dia ini betul-betul Hoa Lui-sian?"
"Ai, untuk apa kau masih berdebat dan membela dia?"
Kata Li Tiang-ceng.
"Kalau bukan dia, lalu bagaimana?"
Tanya Jitkohnio.
"Tanggalkan topengnya biar kami lihat,"
Seru Kim Put-hoan.
"Kalau betul dia seorang bocah, biar Li-locianpwe minta maaf kepadanya,"
Sengaja dia mendahului bicara, kalau pekerjaannya betul, berarti dia yang mendapat jasa, bila sebaliknya, toh orang lain yang akan minta maaf, pekerjaan yang merugikan bagi Kim Put-hoan yang "melihat uang mata terbuka"
Jelas tidak akan dilakukannya.
"Baik,"
Akhirnya Jitkohnio mengentak kaki pula.
"buka ya buka, biar mereka melihat wajahmu."
Bocah merah segera berteriak.
"Lihatlah!"
Belum lenyap suaranya, mendadak dia meraih topeng merah di mukanya.
Seketika mata hadirin terbeliak kaget, di balik topeng merah itu memang terdapat sebentuk wajah bocah yang tembam dan halus, tidak berkeriput, jelas wajah seorang anak-anak, jadi bukan muka seorang nenek yang sudah berusia lanjut.
Jitkohnio tertawa, katanya.
"Nah, kalian sudah melihat jelas bukan? Soalnya kulit muka bocah ini kurang baik, bila kena angin lantas gatal-gatal, makanya dia selalu memakai topeng. Kedatangannya ternyata telah membuat lelucon yang tidak menggelikan di sini."
Di tengah tertawanya, dengan tangan kanan-kiri dia gandeng si pemuda dan si bocah merah terus berlenggang keluar pendopo.
Hadirin sama melongo, tiada lagi yang merintangi mereka.
Tertampak baju Jitkohnio bergetar, entah tertiup angin atau karena gemetar, tapi begitu keluar pintu langkahnya segera di percepat.
"Tunggu sebentar ...."
Mendadak Ki Ti membentak.
"Jangan lepaskan dia!"
Sementara itu Jitkohnio sudah lantas melayang jauh ke depan, jarinya sempat mencubit pergelangan tangan si pemuda. Ketika Ki Ti berteriak.
"Jangan lepaskan dia!"
Jitkohnio dan bocah merah itu sudah mencemplak ke atas kuda dan berseru.
"Orang tak berperasaan, jiwa kami berdua kuserahkan kepada tanggung jawabmu."
Dalam pada itu tertampak Thian-hoat Taysu dan Liu Giok-ji sudah mengejar keluar, bentakan Ki Ti tadi telah menyadarkan mereka adanya keganjilan dalam persoalan ini, maka sigap sekali mereka mendahului bertindak.
Mesti Jitkohnio sudah berada di atas kuda, tapi kuda itu belum lagi angkat kakinya, gerak kuda mana bisa menandingi kecepatan tokoh silat macam Thian-hoat Taysu, jelas sukar bagi mereka untuk lolos keluar pintu gerbang.
Pemuda rudin berdiri terlongong di tempatnya, didengarnya suara angin berkesiur di belakang, dia tahu Thian-hoat Taysu dan Liu Giok-ji mengejar tiba.
Pada detik yang genting ini, si pemuda menghela napas, kedua tangannya mendadak terayun ke belakang, telapak tangan kanan laksana golok, telapak tangan kiri tersembunyi di dalam lengan baju, meski tidak menoleh ke belakang, tapi pukulan telapak tangan dan kebutan lengan bajunya ini justru menyerang ke tempat yang mematikan dan harus dihindari dulu oleh Thian-hoat Taysu dan Liu Giok-ji.
Sudah tentu Thian-hoat Taysu dan Liu Giok-ji mengutamakan menyelamatkan diri daripada mengejar orang.
Tenaga sudah mereka himpun, seperti busur yang sudah ditarik, secara refleks mereka menangkis, maka dapat dibayangkan betapa dahsyat kekuatan mereka.
Liu Giok-ji menjengek.
"Kau cari mampus!"
Kedua tangannya menyongsong kebutan lengan baju si pemuda. Wajah Thian-hoat Taysu kelihatan prihatin, ia pun menangkis dengan telapak tangannya yang merah darah.
"plak" , hadirin melihat jelas bentrokan dahsyat ini, digencet dua jago kosen, mereka mengira si pemuda pasti akan hancur lebur. Siapa tahu, mendadak Liu Giok-ji menjerit kaget, tubuhnya mencelat ke udara. Sementara Thian-hoat Taysu terentak mundur sempoyongan beberapa langkah, setiap langkah kakinya meninggalkan tapak kaki yang satu lebih dalam daripada yang lain, hal ini membuktikan Thian-hoat Taysu sudah mengerahkan seluruh kekuatannya sehingga dia tidak terjungkal jatuh. Waktu hadirin perhatikan si pemuda, digencet oleh dua tenaga dahsyat itu, tubuhnya tiba-tiba meluncur pergi dengan lengan baju melambai membawa deru angin kencang, tampaknya sekejap lagi akan melayang keluar pintu gerbang. Sementara itu Jitkohnio sudah membedal kudanya keluar, mendadak dia menghardik sekali, lengan kanan terayun, tubuh bocah merah terangkat ke udara dengan tangan kiri bergandeng tangan Jitkohnio, sementara tangan kanan meraih, dengan tepat dia pegang lengan baju si pemuda, sementara kuda masih terus membedal kencang, maka bocah merah dan si pemuda ikut terseret mabur ke depan, seolah-olah Jitkohnio mengerek dua helai bendera yang berkibar tertiup angin. Meski hati gusar dan kaget, demi melihat demonstrasi Ginkang sehebat itu, hadirin sama melongo kagum, seketika mereka jadi lupa mengudak. Sementara itu Liu Giok-ji jumpalitan dua kali terus melayang turun dengan napas tersengal-sengal. Thian-hoat Taysu juga berdiri tegak lagi, wajahnya pucat, darah tampak meleleh di ujung bibirnya. Kalau tadi dia langsung menjatuhkan diri, mungkin dirinya tidak akan terluka, namun dasar wataknya keras, tinggi hati, makanya sekuatnya dia bertahan, darah yang hampir menyembur ditelan kembali, luka dalamnya tidaklah ringan. Dalam pada itu kedelapan laki-laki berseragam hitam pun mencemplak ke punggung kuda masing-masing, perlahan mereka keluar, kelihatannya mereka tidak tergesa-gesa, kedua baris kuda mereka sengaja digunakan merintangi para pengejar, sebab mereka maklum orang-orang gagah ini tidak akan turun tangan keji kepada mereka. Ki Ti mencengkeram pundak Li Tiang-ceng sambil berteriak.
"Kejar, kejar! Lekas kejar, jangan terlambat."
Sekilas dia menatap Toan-hong-cu.
Namun Toan-hong-cu hanya batuk-batuk saja sambil melengos dan pura-pura tidak melihat.
Kembali Ki Ti menoleh ke arah Ji Yok-gi, tapi Ji Yok-gi malah melirik Kim Put-hoan, dan Kim Put-hoan hanya menyengir, ujarnya.
"Kami berdua tidak ada permusuhan dengan dia, untuk apa mengejarnya?"
Mereka sudah menyaksikan kehebatan Kungfu si pemuda.
Kalau Thian-hoat Taysu dan Liu Giok-ji saja kecundang, yang lain mana berani mengejar.
Ki Ti menghela napas sambil membanting kaki, katanya geregetan.
"Tujuh jago kosen kalau mau bersatu padu mungkin bisa malang melintang di kolong langit ini, sayang ... sayang keadaan seperti pasir yang berserakan ... sungguh sayang ...."
Menegak alis si Singa Jantan Kiau Ngo, katanya.
"Orang itu sudah membuka topengnya, jelas dia seorang bocah cilik, kenapa Cianpwe masih juga ingin mengudaknya?"
Ki Ti menghela napas.
"Kalau dia bisa pakai topeng, apakah di balik topengnya tidak bisa mengenakan kedok pula? Kepandaian merias muka Cam-sap-mo kan terkenal tiada bandingan di dunia ini."
Kiau Ngo melongo, akhirnya dia sadar.
"Kiranya begitu ...."
Tahu musuh sudah pergi jauh barulah Kim Put-hoan pura-pura mengentak kaki, katanya.
"Ai, kenapa Cianpwe tidak katakan sejak tadi .... Ji-heng, mari kita kejar!" -Ia tarik Ji Yok-gi dan ayunkan langkah seperti hendak mengejar. Hoa-sikoh geleng-geleng kepala, katanya dengan tertawa.
"Ji Yok-gi sudah terlibat dengan manusia bejat itu, nasibnya selanjutnya tentu celaka."
"Biar kupergi melihatnya,"
Kata Kiau Ngo terus melompat pergi.
"Ngo-ko, kau pun akan tertipu ...."
Seru Hoa-sikoh, tapi Kiau Ngo sudah lari jauh. Sambil mengentak kaki Hoa-sikoh berkata pula dengan membungkuk badan.
"Urusan yang Cianpwe katakan tadi pasti akan kuperhatikan ...."
Agaknya dia khawatirkan keselamatan Kiau Ngo, tanpa menunggu jawaban segera dia berlari keluar.
Angin berembus kencang, bunga salju beterbangan pula di angkasa.
Liu Giok-ji termangu-mangu entah apa yang sedang dipikirkan, mendadak dia menghampiri Thian-hoat Taysu, katanya.
"Bagaimana luka Taysu?"
"Siapa terluka?"
Sahut Thian-hoat Taysu dengan gusar.
"bocah itulah yang terluka."
"Ya ... musuh Ngo-tay dan Hoa-san kita telah dibawa lari orang, bila Taysu mau bekerja sama denganku, kuyakin pasti ada harapan untuk menuntut balas, entah bagaimana pendapat Taysu?"
"Selamanya tidak pernah kukerja sama dengan orang,"
Jawab Thian-hoat Taysu bengis, lengan jubahnya mengebas terus melangkah pergi, tapi baru beberapa langkah tiba-tiba dia sempoyongan.
Liu Giok-ji tersenyum, cepat dia memburu maju memapahnya, katanya lembut.
"Hujan salju dan angin kencang lagi, maukah Taysu kuantarkan?"
Thian-hoat Taysu terlongong sejenak, akhirnya dia menghela napas panjang dan tidak bicara lagi.
Hujan salju makin lebat, angin menderu kencang, tujuh jago kosen dalam sekejap sudah bubar.
Tiba-tiba Ki Ti merasakan menggigil kedinginan, lekas dia merapatkan pakaian dan berkata dengan muram.
"Beginilah persoalan kaum Bu-lim ... ai ...."
Tangan kiri berpegang di pundak Leng Sam, tangan kanan dibimbing Li Tiang-ceng, perlahan dia kembali ke dalam pendopo.
"Beginilah kerja ketujuh jago kosen, tapi kecuali ketujuh orang ini, apakah tiada orang gagah lain lagi di kalangan Kangouw?"
Ujar Li Tiang-ceng.
"Ehm ... memang benar .... Ai, hujan semakin lebat, lekaslah tutup pintu ...."
Kata Ki Ti.
Perlahan Li Tiang-ceng putar balik dan menutup pintu, didengarnya sayup-sayup suara senandung Leng Sam yang sedang minum arak dengan nada yang memilukan itu.
Dalam pada itu, Kim Put-hoan menarik Ji Yok-gi dan diajak lari ke arah selatan.
Ji Yok-gi menoleh ke kanan, tiba-tiba berhenti, katanya.
"Hei, Kim-heng, mereka lari ke utara, kenapa kita mengejar ke selatan?"
Kim Put-hoan tertawa lebar.
"Goblok, untuk apa mengejar mereka? Kita hanya cari alasan untuk membebaskan diri saja, kalau lama-lama di sana kan malu."
Tanpa kuasa Ji Yok-gi diseret lari lagi ke depan, tapi mulutnya masih juga berkata.
"Sudah bilang mengejar, betapa pun kita harus mengejarnya."
Kim Put-hoan menjengek.
"Apa Ji-heng tidak melihat Kungfu pemuda tadi, umpama kita berhasil mengudaknya, memangnya kau mampu mengalahkan dia?"
Ji Yok-gi menghela napas, katanya.
"Pemuda itu memang pandai menyembunyikan diri, tak nyana Kungfunya begitu mengejutkan, pantas Jitkohnio tergila-gila padanya."
Kim Put-hoan memicingkan mata, katanya dengan tertawa.
"Kedengarannya suara Ji-heng rada kecut?"
Merah muka Ji Yok-gi, katanya menyangkal.
"Aku ... aku hanya heran akan asal usulnya."
Kim Put-hoan berkata.
"Peduli betapa tinggi Kungfunya, peduli bagaimana asal usulnya, yang jelas hari ini dia telah menimbulkan kemarahan umum, Jin-gi-sam-lo, Thian-hoat Taysu dan lain-lain pasti tidak akan berpeluk tangan ...."
Belum habis dia bicara, di bawah bunga salju yang bertaburan, dari selatan tampak datang puluhan kuda yang dilarikan dengan kencang, penunggangnya semua mengenakan mantel kulit yang melambai tertiup angin.
Seketika terbeliak mata Kim Put-hoan, katanya tertawa.
"Puluhan penunggang kuda ini gagah dan tangkas menempuh perjalanan di bawah hujan salju, pasti mereka ada urusan penting, agaknya aku bakal mendapat rezeki."
Dalam pada itu puluhan kuda itu sudah dibedal tiba, yang paling depan adalah seekor kuda hitam yang ditunggangi lelaki hitam kekar berewok, sambil mengayun cambuk dia membentak.
"Ingin mampus yah? Lekas minggir!"
Kim Put-hoan berdiri di tengah jalan sambil bertolak pinggang, katanya dengan tertawa.
"Aku Kim Put-hoan memang ingin mampus, boleh kau terjang dan injak-injak aku sampai mati!"
"Tarr!"
Cambuk panjang laki-laki berewok itu menggelegar di udara, puluhan kuda di belakangnya segera berhenti. Laki-laki berewok itu melompat turun, katanya sambil tertawa lebar.
"Kiranya engkau Kim-tayhiap, orang she Can terburu-buru menempuh perjalanan sehingga tidak melihat jelas Anda menunggu di sini, maaf, maaf akan kekasaran tadi." -Lalu dia memberi hormat. Kim Put-hoan sengaja mengawasinya dari atas ke bawah, katanya dengan tertawa.
"Kukira siapa, rupanya Can Ing-siong, Congpiauthau dari Wi-bu-piaukiok. Congpiauthau buru-buru menempuh perjalanan, memangnya sedang menguber rampok?"
Can Ing-siong menghela napas, katanya.
"Yang kami kejar meski bukan rampok, tapi lebih jahat daripada rampok. Terus terang saja, Kim-tayhiap, Wi-bu-piaukiok memang belum jaya, tapi berkat bantuan para sahabat Kangouw, selama beberapa tahun belum pernah usaha kami mengalami kegagalan. Tak nyana semalam tanpa sebab budak liar itu berani mencabut panji perusahaan kami, meski orang she Can tahu bukan tandingannya, betapa pun akan kususul dia, kalau tidak, apakah Wi-bu-piaukiok masih bisa berkecimpung di kalangan Kangouw?"
Bola mata Kim Put-hoan berputar, biji matanya yang buta itu pun seakan-akan bersinar, katanya dengan tersenyum.
"Yang dimaksudkan Congpiauthau apakah si nona berpakaian putih dengan seorang budak kecil berpakaian serbamerah?"
Can Ing-siong terbeliak kaget, serunya girang.
"Betul, apa Kim-tayhiap tahu di mana mereka sekarang?"
Kim Put-hoan tidak menghiraukan pertanyaan orang, matanya mengawasi mantel kulit rase hitam berbulu panjang yang membungkus tubuh Can Ing-siong, katanya sambil menghela napas.
"Mantel kulit Congpiauthau ini entah beli di mana, kalau dipakai kelihatan gagah dan kereng, besok kalau pengemis rudin macamku ini memperoleh rezeki besar meski harus menahan kelaparan juga akan kuusahakan untuk beli satu."
Can Ing-siong melengak, segera dia membuka mantelnya, dengan kedua tangan diangsurkan kepada Kim Put-hoan, katanya.
"Bila Kim-tayhiap tidak anggap barang lama, silakan ambil saja ...."
"Ah, mana boleh? Mana berani kuterima?"
Di mulut menolak tapi tangan Kim Put-hoan sudah terulur untuk menerima mantel itu. Lalu Can Ing-siong berdehem, katanya.
"Barang yang tak berharga. Asal Kim-tayhiap sudi memberi imbalan yang pantas ...."
Kim Put-hoan langsung mengenakan mantel itu, katanya sambil menuding ke utara.
"Nona gede dan budak cilik itu lari ke sana, kalau mau mengejar, lekas susul ke sana!"
"Terima kasih!"
Ucap Can Ing-siong sambil mencemplak ke atas kudanya, di tengah aba-abanya puluhan kuda itu segera dibedal lagi ke utara. Ji Yok-gi menyaksikan sambil berkerut kening, katanya sambil geleng kepala.
"Kim-heng sudah punya mantel bulu si pemuda, kini ditambah lagi dengan mantel ini, apa tidak kebanyakan ...."
"Kebanyakan apa?"
Tukas Kim Put-hoan dengan gelak tertawa.
"apa pun yang diinginkan Kim Put-hoan selalu terasa kurang dan tidak pernah kebanyakan .... Eh, aneh, ada orang datang lagi."
Ji Yok-gi memandang ke sana, betul juga, dari jauh datang pula serombongan penunggang kuda.
Dandanan rombongan bermacam regam, ada yang berjubah kulit, ada yang berpakaian ketat, sikap mereka kelihatan lebih gagah dan kereng daripada puluhan penunggang kuda tadi.
Tiba-tiba orang yang paling depan berteriak.
"Yang berdiri di tengah jalan bukankah Kian-gi-yong-wi Kim-tayhiap?"
Baru beberapa patah kata itu diucapkan, rombongan penunggang kuda itu pun sudah dekat. Diam-diam Ji Yok-gi kaget dan membatin.
"Tajam benar pandangan orang ini."
Dilihatnya orang yang bersuara ini berperawakan pendek, rambut dan jenggotnya sudah putih, mengenakan jubah bersulam yang panjang, tampangnya jelek, sikapnya mirip guru sekolah di kampung, namun matanya mencorong tajam bagai mata kucing di tengah kegelapan.
Kim Put-hoan tertawa, katanya.
"Belasan tombak jauhnya dan kuda masih berlari kencang, tapi dapat melihat jelas bentukku, dalam kalangan Bu-lim, kecuali Sin-gan-eng (elang mata sakti) Pui Jian-li, masa ada orang lain lagi?"
Orang tua pendek itu sudah melompat turun, katanya dengan tertawa sambil mengelus jenggot.
"Beberapa tahun tidak bertemu, sekali bertemu Kim-heng sudah memujiku setinggi langit, kalau jatuh bisa gepeng aku ini."
Kim Put-hoan menyapu pandangan sekejap, katanya.
"Wah kebetulan, kecuali Pui-heng ternyata masih ada Pok-thian-tiau Li Ting, Li-tayhiap, Joan-hun-yan Ih Ji-hong, Ih-tayhiap juga datang."
Yang berada di atas kuda sebelah kiri adalah seorang tua beruban, tubuhnya masih kelihatan kuat, yang di sebelah kanan mengenakan jubah sutera seorang tua yang memelihara lima jalur jenggot berperawakan tinggi.
Berbareng kedua orang ini melompat turun dari atas kuda, keduanya lantas menjura sambil menyapa.
"Selamat bertemu Kim-heng!"
"Menurut berita, sejak peristiwa Heng-san dulu, Hong-lin-sam-niau (tiga burung dari hutan angin) katanya sudah hidup tenteram di rumah, hari ini sekaligus kalian keluar kandang, memangnya hendak menikmati sedapnya hujan salju?"
Laki-laki tua pendek Pui Jian-li menghela napas, katanya.
"Kami tiga bersaudara memang ditakdirkan bernasib jelek, sekadar istirahat juga tidak boleh, hidup setua ini, kalau kantong kempis, mana bisa makan. Terpaksa kami membuka pintu dan membuat lapangan menerima beberapa murid sekadar untuk ongkos hidup. Eh, tanpa terasa beberapa tahun telah berlalu, murid tertua juga sudah lulus dan bantu mengajar, kami bertiga tua bangka ini jadi malas turun tangan, perguruan kami serahkan kepada mereka. Tak nyana, se ... semalam entah dari mana datangnya budak gila itu, tidak ada permusuhan tiada dendam, tanpa sebab tahu-tahu tempat kami diubrak-abrik, katanya Jitkohnio sebal melihat permainan kami yang menipu orang melulu."
Kim Put-hoan dan Ji Yok-gi saling pandang, dalam hati mereka maklum dan merasa geli pula, batinnya.
"Ternyata Jitkohnio itu memang gadis binal yang suka membuat onar di mana-mana."
Setelah menghela napas, Pui Jian-li berkata pula.
"Beberapa muridku itu memang tidak becus, dalam sekejap mereka dihajar hingga babak belur dan pontang-panting, mereka lari melapor kepada kami. Kami tiga tua bangka yang tak berguna ini telah mendidik murid yang tidak becus, betapa pun harus membela mereka, apa boleh buat terpaksa kami keluar kandang, meski jiwa lapuk harus kami pertaruhkan juga, budak gila itu akan kami bekuk, ingin kutanya kepadanya berdasarkan apa dia hendak menggulingkan periuk nasi kami."
Sebelum Kim Put-hoan buka mulut, Ji Yok-gi mendahului menuding ke utara.
"Mereka lari ke sana, lekas kalian mengejarnya!"
Pui Jian-li melirik sekejap, katanya.
"Saudara ini ...."
Kim Put-hoan tertawa dingin, katanya.
"Biar kuperkenalkan, inilah Tang-jin-cay-loh (mencegat rezeki orang lain) Ji Yok-gi, apakah Pui-heng belum pernah melihatnya?"
Pui Jian-li melongo, katanya dengan tertawa.
"Ji Yok-gi? Bukankah Giok-bin-yau-khim Sin-kiam-jiu Ji-tayhiap? ...."
Ia menjura dan berkata pula.
"Banyak terima kasih atas petunjuk Ji-heng, biar kami bersaudara segera mohon diri."
Tanpa bicara lagi langsung ia mencemplak ke atas kuda terus dibedal ke utara. Kim Put-hoan melirik ke arah Ji Yok-gi sambil tertawa dingin. Ji Yok-gi menyengir, katanya rikuh.
"Bukan sengaja kuhendak mencegat rezekimu, soalnya kulihat mereka berpakaian sederhana, tidak pakai mantel, kantongnya tentu juga kosong, lebih baik suruh mereka lekas pergi saja."
Mata satu Kim Put-hoan berkedip-kedip, mendadak dia tertawa, katanya.
"Siapa berani mencegat berarti dia musuh besarku, tapi Ji-heng ... hahaha, sesama saudara sendiri, kenapa harus ribut-ribut?"
Jilid 3 Di tengah gelak tertawanya dia tarik Ji Yok-gi dan diajak lari ke utara. Ji Yok-gi heran, tanyanya.
"Kenapa Kim-heng hendak mengejar ke sana?"
"Di depan sudah ada Can Ing-siong dan Hong-lin-sam-niau, setelah ada pelopornya, kenapa kita takut? Biar kita kuntit mereka untuk menonton keramaian saja?"
Tiba-tiba di belakang pohon di tepi jalan ada seorang berkata dengan tertawa.
"Mungkin juga masih dapat menggagap ikan di air keruh, bila ada kesempatan dapat pula menarik keuntungan, benar tidak?"
Lalu tampak Kiau-jin-lan-sim Li-cu-kat Hoa-sikoh melangkah keluar, Singa Jantan Kiau Ngo berada di belakangnya dengan mata mendelik menatap Kim Put-hoan.
Berubah air muka Kim Put-hoan, tapi dia lantas tergelak, katanya.
"Siapa nyana Singa Jantan hari ini berubah jadi musang, makanya langkahnya ringan tidak kedengaran datangnya, Siaute sampai kaget setengah mati."
Jelas dia menyindir tindak tanduk Kiau Ngo yang main sembunyi, secara tidak langsung ia memaki tanpa menggunakan kata-kata kotor. Kontan merah muka Kiau Ngo, serunya gusar.
"Kau ... kau ...."
Saking gusar, dia tak mampu bicara malah. Kim Put-hoan makin senang, katanya tertawa.
"Ada apa kalian menyusul kemari?"
Hoa-sikoh tersenyum, katanya.
"Kami ingin memberi pesan kepada Ji-siauhiap ini agar jangan sampai terjebak oleh manusia yang rendah budi."
Kim Put-hoan pura-pura tidak tahu bahwa dirinya yang dimaki, dia malah tertawa, katanya.
"Hoa-sikoh sungguh baik hati, pantas dipuji ...."
Sekilas dia melirik Ji Yok-gi lalu menyambung.
"Tapi Ji-heng sudah berpengalaman di dunia Kangouw, sejak kapan dia perlu diperhatikan dan diberi pesan segala, Siaute heran dan tidak mengerti."
Merah jengah muka Ji Yok-gi, katanya.
"Orang she Ji bisa menjaga diri dan bertindak hati-hati, tak perlu kalian memerlukan datang memberi tahu kepadaku."
Hoa-sikoh geleng-geleng kepala sambil menghela napas, tapi dia tidak bicara lagi. Kim Put-hoan berkata pula.
"Ji-heng memang punya tujuan sendiri, buat apa kalian membuat keruh air jernih?"
Tangan Kiau Ngo sudah terkepal, namun diam-diam Hoa-sikoh menariknya. Kim Put-hoan tertawa, katanya.
"Sejak kapan kalian menjadi begini mesra, sungguh harus diberi selamat, kelak bila tiba saatnya mengadakan pesta, jangan lupa mengundangku untuk minum arak!" -Di tengah gelak tertawanya, dia tarik Ji Yok-gi terus pergi. Kiau Ngo menggerung gusar dan hendak melabraknya, tapi Hoa-sikoh mencegahnya lagi, terdengar di kejauhan Ji Yok-gi berkata lantang.
"Pasangan mereka memang setimpal ...."
"Keparat, sembarang mengoceh, Sikoh, jangan ambil pusing,"
Kata Kiau Ngo sambil menyengir. Hoa-sikoh tersenyum.
"Mana aku pikirkan mereka?"
Kiau Ngo menghela napas, katanya sembari menengadah.
"Pendekar ternama di Bu-lim ternyata berjiwa rendah begitu ...."
Angin mengembus, dari kejauhan terdengar pula derap kuda mendatangi. Hoa-sikoh menghela napas, gumamnya.
"Siapa lagi yang akan mencari perkara kepada Jitkohnio itu ...." ***** Saat itu Jitkohnio sedang membedal kudanya sekencang angin, sementara bocah merah tetap menarik si pemuda, mati pun tidak mau melepaskannya, maka seekor kuda tiga penunggang terus melanjutkan perjalanan, sebentar saja mereka sudah mencapai beberapa li. Kejap lain tujuh orang anak buahnya juga sudah menyusul tiba, Jitkohnio memperlambat lari kudanya, katanya tertawa.
"Setelah mendemonstrasikan kepandaianmu tadi, kuyakin mereka tak berani lagi mengejar kemari."
Si pemuda menggeleng kepala, akhirnya menghela napas, katanya.
"Cu Jit-jit, kau bikin susah saja padaku."
Dengan lembut Cu Jit-jit menjawab.
"Hari ini kau tolong dia, pasti takkan dia lupakan dirimu. Eh, coba katakan, apakah bisa kau lupakan Sim Long?"
"Tak bisa kulupakan,"
Bocah merah tadi tertawa.
"Pasti takkan kulupakan."
Lebar tertawa Cu Jit-jit.
"Bukan saja dia tidak bisa lupa, aku pun takkan lupa."
Pemuda itu bernama Sim Long, katanya.
"Sebaliknya akulah yang berharap kalian melupakan diriku, jika kalian tidak melupakan diriku, sungguh aku bisa celaka."
"Nonaku justru sangat suka padamu, mana mungkin mencelakai kau?"
Ucap si anak merah dengan cekikikan.
"Sudah, sudahlah,"
Kata Sim Long.
"Ampunilah aku."
Mendadak dia menarik muka dan berkata pula.
"Coba jawab pertanyaanku, jelas kau bukan Hoa Lui-sian, kenapa kau sengaja membiarkan mereka menyangka dirimu Hoa Lui-sian?"
Berkedip mata Cu Jit-jit, katanya.
"Siapa bilang dia bukan Hoa Lui-sian?"
Sim Long tertawa.
"Kalau dia betul Ciang-tiong-thian-mo, apakah Ji Yok-gi masih bernyawa sekarang? Bila dia betul Sian-thian-jin-te, waktu lari apakah perlu aku menangkis pukulan mereka? Jitkohnio, sudah cukup banyak kau tipu orang, tapi akulah yang sudah tanpa sebab kau jadikan kambing hitam, Thian-hoat Taysu pasti membenciku setengah mati."
Anak merah tadi cekikikan, katanya.
"Sebelum kemari sudah kudengar Jitkohnio memujimu setinggi langit, kini setelah kubuktikan kenyataan Kongcu memang sangat hebat. Kakek yang dijuluki si cerdik nomor satu di dunia itu kalau dijadikan budak Sim-kongcu saja tidak setimpal."
Sembari bicara dia lantas menanggalkan topengnya hingga kelihatan wajah yang mungil itu memang benar masih memakai kedok tipis pula.
Sekali raih si bocah kembali melepaskan kedok mukanya, sekarang terbukti memang benar adalah seraut wajah anak kecil, tapi sekali-kali bukan kedok kulit lagi, wajahnya putih bersemu merah, mirip buah apel yang mulai matang, siapa pun bila melihat pipinya, rasanya ingin mengeremuskan bulat-bulat, bola matanya bundar berputar, bila tertawa tertampak dekik pada kedua pipinya.
Dia menjura kepada Sim Long, katanya dengan tertawa.
"Siaute Cu Pat, ayah memanggilku Hi-ji, Cici memanggilku si binal, tapi orang lain memanggilku Hwe-hay-ji (anak bara). Sim-toako, terserah padamu mau panggil apa padaku, yang terang sejak kini Cu Pat tunduk lahir batin kepadamu."
Padahal Sim Long sudah menduga akan rahasia ini, tidak urung sekarang dia melongo juga, sesaat lamanya baru dia menarik napas panjang, katanya.
"Jadi kau ini pun anak murid keluarga Cu."
Cu Jit-jit tertawa geli, katanya.
"Adik mestikaku ini memang nakal, Go-ko (kakak kelima) sendiri merasa pusing terhadapnya, sekarang dia mau tunduk padamu, sungguh luar biasa."
Sim Long menghela napas, katanya.
"Apakah ini juga kau anggap kenakalan saja? Lebih benar kalau dikatakan akal muslihat keji. Hoa Lui-sian entah sudah pergi ke mana, kenapa adikmu ini disuruh membikin onar agar orang beranggapan dia ini Hoa Lui-sian? .... Ai, jurus Thian-mo-hwi-liong-sik yang dilancarkannya tadi memang bagus, Ki Ti yang berpengalaman pun kena dikelabui."
Anak merah alias Cu Pat tertawa, katanya.
"Di antara Thian-mo-cap-sa-sik hanya jurus itu yang pernah kupelajari, serangan serabutan tak keruan tadi justru adalah pelajaran asli yang kuyakinkan."
"Justru serangan tak keruan itulah yang telah bikin celaka orang, kalau bukan karena serangan serabutan tadi, masa Ki Ti bisa kau tipu .... Tapi aku ingin tanya padamu, dalam tipu pemalsuan kali ini, sebetulnya apa latar belakangnya? Di mana Hoa Lui-sian? Bahwa aku sudah kalian seret ke dalam persoalan ini, sedikit banyak aku harus tahu seluk-beluknya."
"Soal ini tidak bisa kujelaskan, tanya saja kepada kakak Jit,"
Ujar si anak merah. Cu Jit-jit menghela napas, katanya.
"Betul, ini memang akal muslihat agar orang lain menyangka Cu Pat adalah Hoa Lui-sian, maka apa yang akan dilakukan Hoa Lui-sian di tempat lain tidak akan diduga oleh orang lain .... Tapi tidak perlu khawatir, apa yang dilakukan Hoa Lui-sian kali ini tanggung bukan urusan yang bakal merugikan orang lain, dia hanya mau mempermainkan Lian Thian-hun sekadar melampiaskan kedongkolannya masa lampau saja."
Sim Long berkerut kening, katanya.
"Lian Thian-hun berbudi luhur, suka membantu yang lemah, berjiwa kesatria. Di antara Jin-gi-sam-lo dia terhitung yang paling perkasa dan berjiwa pendekar, jika Hoa Lui-sian dendam kepadanya, aku yakin pasti Hoa Lui-sian sendiri adalah pihak yang salah."
"Kali ini justru kau yang keliru,"
Ujar Cu Jit-jit.
"Agaknya kau bangga membela Hoa Lui-sian, tadi kau bilang sudah puluhan tahun tangannya tak pernah berlepotan darah, sampai aku pun percaya pada obrolanmu, siapa tahu, tujuh tahun yang lalu masih ada juga seratus empat puluh jiwa yang melayang di tangannya."
"Kedua hal itu justru merupakan satu perkara."
"Bisa kau jelaskan?"
"Sudah sebelas tahun Hoa Lui-sian tidak pernah meninggalkan rumah, adik Pat juga sudah berusia sebelas, kalau tidak percaya, boleh kau tanya dia, apakah aku dusta padamu."
"Setiap hari aku minta digendong olehnya, mana dia bisa pergi?"
Tukas si anak merah. Sim Long berkerut alis.
"Kalau betul selama itu dia tidak pernah meninggalkan Cu-keh-po (Benteng Keluarga Cu), lalu siapa yang membunuh seratus empat puluh jiwa pada tujuh tahun yang lalu?"
"Itulah yang kuherankan. Lebih seratus orang itu semuanya memang musuh Hoa Lui-sian, cara membunuh mereka juga mirip ilmu pukulan yang dulu sering digunakan Hoa Lui-sian, sejak kematian seluruh anggota keluarga Kim Cin-ih dari Jiang-ciu dalam semalam, Lian Thian-hun dan Leng Sam segera datang memeriksa di tempat kejadian dan memastikan pembunuhnya adalah Hoa Lui-sian. Apa yang mereka ucapkan, kaum persilatan percaya sepenuhnya. Padahal pada malam kejadian itu, Hoa Lui-sian berada di rumah, bermain gundu dengan kami bertiga, jika dia bisa menyulap dirinya menjadi dua dan membunuh orang ke Jiang-ciu yang jauh sana, itu berarti kami telah bergaul dengan setan."
"Kalau begitu, sepantasnya kalian berusaha mencuci bersih nama baiknya."
"Nama Hoa Lui-sian sudah kadung busuk, terkenal jahat dan kejam, kalau aku yang bicara, bobotnya jelas tidak sama dengan Lian Thian-hun, kalau aku membela dia, apa orang mau percaya akan penjelasanku?"
"Alasanmu memang benar."
"Padahal Lian Thian-hun tidak menyaksikan sendiri, tanpa bukti lagi, dia memastikan begitu saja perbuatan jahat seseorang. Bukan saja Hoa Lui-sian amat penasaran, kami kakak beradik juga ikut keki, sudah lama kami ingin memberi hajaran kepada Lian Thian-hun itu, sayang sejauh ini kami tidak mampu berbuat apa-apa, hingga kali ini ...."
Dia tertawa manis, katanya pula.
"Baru ini kami mendapat akal, Hoa Lui-sian kusuruh memancing Lian Thian-hun di belakang, dengan Thian-mo-ih-ciong-sut, mempermainkan dia sampai puas, bahkan sengaja menampilkan diri sekejap supaya Lian Thian-hun mengenalinya. Bila Lian Thian-hun pulang dalam keadaan runyam, pasti dia akan menceritakan pengalamannya itu. Padahal Ki Ti dan Li Tiang-ceng menyaksikan dengan mata kepala sendiri di ruang pendopo, di mana Hoa Lui-sian telah membuat onar, sudah pasti mereka takkan percaya apa yang diceritakan oleh Lian Thian-hun? Biasanya Lian Thian-hun sangat tinggi hati, setiap patah perkataannya cukup berbobot, apa pun yang dikatakannya pasti dipercaya orang, bahwa kali ini saudara sendiri juga tidak mau percaya padanya, coba pikir apakah dada Lian Thian-hun tidak akan meledak?"
Kuda masih dilarikan, meski lambat tapi mereka terus menempuh perjalanan di tengah hujan salju yang makin lebat.
Tak terasa dua li telah mereka tempuh pula.
Di atas pohon sebelah kiri jalan mendadak seorang tertawa cekikikan, katanya.
"Bukan saja dadanya meledak saking dongkol, orangnya pun hampir mampus karena sesak napas."
Waktu Sim Long angkat kepala, dilihatnya salju menyelimuti seluruh pohon gundul itu di pinggir jalan, mana ada bayangan orang, tapi setelah dia perhatikan, didapatinya di atas pohon ada tumpukan salju yang mulai bergerak-gerak dan berguguran ke bawah, lalu muncul seorang berpakaian merah, memakai topeng dengan dandanan dan bentuk tubuh yang sama dengan Cu Pat.
Namun anak merah yang satu ini memakai mantel berbulu warna putih, maka waktu dia meringkal di atas pohon dan menutup tubuhnya dengan mantel orang sukar melihat jejaknya, umpama Lian Thian-hun lewat di bawah pohon juga takkan menemukan tempat sembunyinya.
Sim Long menghela napas, ujarnya.
"Kukira itulah Ngo-sek-hou-sin-hoat (pancawarna pelindung badan) dari Thian-mo-ih-ciong-sut. Sudah lama kudengar, syukur hari ini dapat menyaksikan sendiri."
Si baju merah Hoa Lui-sian tertawa.
"Kepandaian yang tak berarti, Sim-kongcu sudi memujinya, nenek jadi rikuh malah."
Cu Jit-jit tertawa, katanya.
"Tak terduga engkau sudah menunggu kami di sini, bagaimana, berhasil tidak?"
"Lian Thian-hun sudah kupermainkan sampai payah, maka nenek ...."
Mendadak embusan angin lalu membawa suara derap kuda yang dilarikan dengan kencang ke arah sini. Cu Jit-jit berkerut kening, katanya.
"Siapa yang mengejar kemari?"
Hoa Lui-sian berkata.
"Kalau bukan Can Ing-siong, pasti Pui Jian-li."
Sim Long heran, katanya.
"Can Ing-siong atau Pui Jian-li, kenapa mereka mengejarmu?"
Hoa Lui-sian cekikikan, katanya.
"Semua ini gara-gara Jitkohnio kita, tidak hujan tanpa angin, dia bilang bendera Piaukiok itu amat jelek, lebih baik dicabut saja."
Cu Jit-jit tertawa geli, katanya.
"Tapi kan bukan aku yang mencabutnya?"
Melotot mata si anak merah, serunya.
"Memangnya kenapa kalau aku yang mencabutnya, bila tua bangka itu mengudak ke sini, lihat saja kalau Cu Pat tidak melabrak mereka habis-habisan."
"Sudah, sudah,"
Kata Hoa Lui-sian.
"semula cuma ada satu siluman pembuat huru-hara, sekarang bertambah dua kakak beradik yang suka membuat onar, Sim-siangkong, bagaimana pendapatmu?"
Sim Long menjura, katanya.
"Kalian siap bertempur, biar kumohon diri saja."
Dia terus memberosot ke belakang dan melompat ke pinggir jalan.
"Jangan pergi Sim-toako,"
Teriak si anak merah. Merah mata Cu Jit-jit, katanya dengan sedih.
"Biarkan dia pergi, walau kita pernah menolong jiwanya, memangnya kita harus menuntut imbalan kepadanya?"
Kontan Sim Long menghentikan langkahnya, sekali melejit ia melayang balik, katanya sambil menghela napas.
"Memangnya apa kehendakmu atas diriku, nona manis?"
Pecah tawa Cu Jit-jit, katanya perlahan.
"Aku ingin ... kau harus ...."
Bola matanya mengerling tajam, tiba-tiba dia gigit bibir dan melengos dengan malu.
Hujan salju makin lebat, angin juga tambah ribut, derap kaki kuda di kejauhan makin mendekat, tapi dia seperti tidak peduli.
Hoa Lui-sian menjadi gelisah, teriaknya.
"Nona manis, sekarang bukan saatnya manja, mau lari atau perang tanding, lekas ambil keputusan!"
"Kenapa takut, hadapi mereka,"
Seru si anak merah.
"Sim-toako juga akan membantu kita."
Sim Long melangkah perlahan, gumamnya.
"Mau berkelahi? ...."
Setiba di samping bocah merah, mendadak tangannya bergerak secepat kilat, Jian-kin-hiat orang dikebutnya sekali.
Kontan anak merah itu merasa kaku.
Sim Long lantas mengempitnya, sekali lompat dia cemplak ke atas kuda yang ditunggangi Cu Jit-jit, sebelah tangan menepuk pantat kuda, segera kuda itu berjingkrak sambil meringkik terus membedal ke depan.
Terpaksa Hoa Lui-sian lari di belakang mereka, demikian pula kedelapan pengawal berseragam hitam itu hanya mengikuti langkah Cu Jit-jit saja.
Tanpa diperintah serempak mereka pun membedal kudanya.
Mendadak Hoa Lui-sian melambung ke atas terus hinggap di atas pantat salah seekor kuda, laki-laki penunggang kuda siap memberikan kudanya, tapi Hoa Lui-sian berkata.
"Pegang kendalimu, tak perlu urus diriku."
Dia berdiri di atas kuda dan kuda itu lari pesat seperti tidak membawa manusia tambahan, Hoa Lui-sian bertengger dengan enteng, sudah tentu kawanan pengawal itu amat kagum.
Karena dikempit di bawah ketiak Sim Long, anak merah itu berkaok-kaok.
"Turunkan aku, turunkan aku! Kalau tidak turunkan aku segera akan mencaci maki."
Sim Long tertawa, katanya.
"Kalau kau berani membuat onar lagi, biar kucukur gundul rambutmu, akan kuantarmu ke Ngo-tay-san dan kuserahkan kepada Thian-hoat Taysu untuk dijadikan Hwesio cilik."
Melotot mata si anak merah, teriaknya.
"Kau berani ... kau berani?"
"Kenapa tidak berani? Kalau tidak percaya boleh kau coba."
Mengirik anak merah itu, dia kapok dan tidak berani bersuara lagi. Cu Jit-jit tertawa geli, katanya.
"Orang galak akhirnya ketemu batunya, sekali ini Pat-te benar-benar mati kutunya."
Bocah merah itu berkata.
"Dia kan bakal Cihu (suami kakak), jadi bukan orang luar, umpama aku takut kepadanya, memangnya perlu diperdebatkan. Betul tidak, Cihu?"
Sim Long menyengir.
"Cis,"
Cu Jit-jit mendelik.
"setan cilik, berani sembarang mengoceh lagi, awas kupotong lidahmu."
Bocah merah itu mencibir.
"Di mulut saja Cici memaki aku, padahal dalam hati alangkah senangnya."
Cu Jit-jit tertawa dan mendadak membalik tubuh hendak memukul, tapi begitu dia membalik kebetulan dia menubruk ke dalam pelukan Sim Long malah. Anak merah itu tertawa lebar, serunya.
"Coba lihat, Cici cari kesempatan bermain."
Tiba-tiba di kejauhan terdengar suara seorang berteriak.
"Tapak kuda ini masih baru, budak itu pasti belum lari jauh. Ayo kejar!"
Maklum angin mengembus kencang dari selatan, maka suara derap kuda di belakang terbawa angin, dan dapat didengar dengan jelas, tapi para pengejar itu tidak mendengar percakapan mereka.
Sim Long keprak kudanya supaya lari terlebih kencang.
Cu Jit-jit berkata.
"Sebetulnya mereka bukan tandingan kita, kenapa kita harus lari?"
"Bukankah kau pun bukan tandinganku, kenapa aku tidak melayanimu?"
"Huh, aku tanya betul-betul, kau menggoda malah."
"Memangnya aku bergurau? Ketahuilah, umpama kepandaianmu sepuluh lebih tinggi daripada mereka, betapa pun jangan kau layani mereka."
"Kenapa jangan melayani mereka?"
"Kan pihakmu yang salah, kalau sampai berkelahi benar, bukankah bakal ditertawakan orang. Apalagi Can Ing-siong dan Pui Jian-li bukan orang yang boleh dibuat permainan, bila sampai bermusuhan dengan mereka, kelak ayahmu yang akan menemui kesulitan."
Tertawa Cu Jit-jit, katanya.
"Kalau demikian, kau toh memikirkan diriku."
Sim Long menghela napas, katanya.
"Budi pertolonganmu masa tidak kubalas."
Cu Jit-jit menghela napas, sekalian dia rapatkan tubuhnya ke pangkuan Sim Long, katanya.
"Baiklah, lari juga boleh, terserah padamu mau lari sampai kapan."
"Aduh, asyiknya! ...."
Tiba-tiba si anak merah menggoda.
***** Mereka lari menyusur pinggir sungai terus menuju ke barat, setiba di kota Liong-seng, mereka menyeberang sungai terus menuju ke Pit-yang.
Syukur para pengejar itu jauh tertinggal di belakang dan tak mungkin menyusul lagi.
Namun kuda dan penunggangnya juga sudah payah, sukar melangkah lagi.
Waktu itu sudah hari kedua menjelang tengah hari, hujan salju masih terus turun tak berhenti.
Sebelum masuk kota Pit-yang, Cu Jit-jit mengeluh.
"Tak tahan lagi, aku tak tahan lagi! Kalau tidak lekas mencari rumah penginapan yang bersih, aku bisa mampus di tengah jalan."
"Sekarang belum tiba saatnya istirahat, apalagi di sini, celaka kalau pengejar itu menyusul tiba,"
Kata Sim Long.
"Pengejar menyusul tiba? Dalam keadaan seperti ini peduli apa dengan para pengejar itu, umpama mereka mengejar tiba dan membunuhku juga aku tetap ingin tidur."
Sim Long kewalahan, katanya sambil geleng kepala.
"Dasar gadis pingitan, rewel dan manja ...."
"Apa katamu?"
Omel Cu Jit-jit.
"Ya, ya, aku bilang memang perlu istirahat."
Anak merah mencibir pula, katanya.
"Bukan begitu katanya, dia bilang kau ini gadis pingitan yang manja ...."
Mendadak dia berhenti bicara dan memandang terkesima ke depan.
Waktu itu mereka mulai memasuki kota, deretan rumah penduduk di pinggir jalan sudah kelihatan, jalan raya dilapisi balok batu besar, dari pengkolan sana tiba-tiba muncul sebarisan orang.
Setelah agak dekat baru terlihat jelas, puluhan orang berbaju kasar dengan dada terbuka sedang menggotong belasan buah peti mati, arahnya ke luar kota.
Para penggotong peti mati berlepotan debu dan hangus, namun peti yang mereka gotong semuanya masih baru, belum dipelitur lagi, agaknya dibuat secara tergesa-gesa karena perlu segera dipakai.
Melihat gelagatnya, dalam kota Pit-yang tiba-tiba berjatuhan banyak korban yang mati sehingga persediaan peti mati tidak mencukupi.
Pejalan kaki semua minggir, namun tiada yang berani memerhatikan rombongan pemikul peti mati ini.
Ada yang tunduk kepala, ada yang melengos ke arah lain, ada pula yang sengaja sembunyi ke dalam toko di sepanjang jalan, agaknya bila mereka berani mengawasi rombongan peti mati itu, bencana bakal menimpa mereka.
Tapi bocah merah memandangnya dengan mata melotot, heran dan kaget, sesaat kemudian baru dia menghela napas, katanya.
"Banyak benar peti mati."
"Memang tidak sedikit,"
Ucapnya Cu Jit-jit.
"Tidak sedikit apa, hakikatnya amat banyak. Peti mati sebanyak itu akan dikubur bersama, sebesar ini belum pernah kulihat atau mendengar. Hehe, kuyakin kau pun belum pernah melihat."
"Orang sebanyak itu mati sekaligus memang jarang terjadi. Lihatlah orang-orang di tepi jalan seperti ingin menyingkir, mungkin di sini berjangkit penyakit menular."
"Kalau berjangkit penyakit menular, mayat mereka tentu sudah dibakar."
"Kalau bukan penyakit menular, pasti terjadi pertempuran kaum persilatan, maka jatuh korban sebanyak itu, tapi pemikul peti itu tiada satu pun yang mirip kaum persilatan."
"Karena itulah kejadian ini dikatakan aneh."
Hoa Lui-sian sudah menyusul tiba, dia mengenakan topeng, orang lain anggap dia bocah cilik yang suka bermain dengan topengnya, maka tidak menarik perhatian orang.
Cu Jit-jit berpaling dan tanya kepadanya.
"Tahukah kau apa yang telah terjadi?"
"Peduli apa yang terjadi, kota Pit-Yang ini pasti tidak aman, lebih baik kita ...."
"Memangnya kenapa kalau tidak aman?"
Tukas Cu Jit-jit dengan melotot.
"Tidak apa-apa,"
Hoa Lui-sian menghela napas, lalu bergumam.
"Sudah tidak aman, kedatangan pula dua orang tukang mencari gara-gara .... Ai, mungkin akan ada tontonan yang lebih menarik lagi."
Cu Jit-jit anggap tidak mendengar, asal Sim Long tidak bersuara, legalah hatinya.
Setelah rombongan pemikul peti mati lewat, segera dia melompat ke tengah jalan raya.
Tampak jalan raya yang panjang ini ternyata sunyi sepi, setiap pejalan kaki sama bungkam sambil lalu dengan menunduk kepala, padahal rombongan peti mati itu sudah tak kelihatan lagi, namun suara berbisik pun tidak terdengar.
Jelas hal ini amat janggal, tapi Cu Jit-jit tetap tidak peduli, setelah mendapatkan hotel segera dia masuk kamar dan istirahat.
Hotel ini amat besar, mungkin hotel satu-satunya yang terbesar di kota Pit-yang ini.
Tapi hotel sebesar ini juga sepi-sepi saja, ruang makan di bagian depan juga tidak terdengar percakapan orang.
Para pedagang, pelancong yang tiba di Pit-yang agaknya juga sudah pergi semua, yang belum datang agaknya juga putar haluan ke tempat lain.
Kota Pit-yang seolah-olah sudah menjadi kota teror.
***** Menjelang magrib baru Cu Jit-jit bangun tidur, meski sudah tidur setengah hari, dia masih belum puas juga.
Maklum tidurnya tidak nyenyak, layap-layap dia seperti mendengar suara kuda lari mondar-mandir di jalan raya.
Setelah mandi dan berdandan, dia keluar dan mengetuk jendela kamar sebelah.
"Lo-pat, Lo ...."
Belum dia mengulangi seruannya, daun jendela terbuka, si anak merah tetap berpakaian serbamerah, cuma potongan bajunya yang berbeda, dia berdiri di atas ranjang yang letaknya dekat jendela, katanya dengan tertawa.
"Sudah kuduga kau pasti sudah bangun."
"Mana dia?"
Tanya Jit-jit dengan suara mendesis. Si anak merah berkerut hidung, katanya.
"Kau bisa dia pergi. Tengoklah sendiri, bukankah dia masih mendengkur seperti babi mati."
"Jangan memaki orang,"
Desis Jit-jit, dilihatnya di ranjang seberang sana seorang rebah dalam selimut yang tebal, bantal guling pun terselubung di dalam. Cu Jit-jit tertawa riang, katanya.
"Jangan biarkan dia tidur melulu, lekas bangunkan dia!"
"Baiklah,"
Ujar si bocah merah, mendadak ia jumpalitan ke belakang, turun di depan ranjang yang lain, serunya.
"Hei, bangun, bangun! Ratu iblis datang, masa kau masih tidur juga?"
Seperti sudah mampus saja tidur Sim Long sungguh lelap, sedikit pun tidak bergerak. Si anak merah bergumam.
"Dia bukan lagi babi, tapi lebih mirip sapi ...."
Mendadak dia menarik selimut.
Di dalam selimut hanya terbungkus seprai dan bantal guling, namun Sim Long entah ke mana perginya.
Cu Jit-jit menjerit kaget, segera dia menerobos masuk lewat jendela, selimut, bantal guling dia ubrak-abrik ke lantai, serunya sambil membanting kaki.
"Kau bilang dia babi, justru kau sendiri babi. Kau bilang tidak tidur, memangnya dia menjadi lalat dan bisa terbang tanpa kau ketahui? Tolong ... tolong ...."
Hoa Lui-sian dan para pengawal berseragam hitam itu langsung berlari datang. Cu Jit-jit lantas berseru.
"Dia ... dia sudah kabur..."
Belum habis bicaranya air mata lantas bercucuran. Karena dimaki, anak merah penasaran dan memonyongkan mulutnya, sambil menyingkir dia mengomel.
"Tidak malu, sudah sebesar ini, sedikit-sedikit menangis. Huh, apa-apaan ...."
"Apa katamu?"
Kontan Cu Jit-jit berjingkrak gusar.
"Aku bilang ... maksudku, kalau orang sudah pergi, ya mau apa lagi, kan masih bisa dicari."
"Lekas, ayo lekas cari, kalau tidak ketemu, awas kepalamu .... Lekas kalian cari, kenapa hanya melongo saja? Mungkin ... mungkin kali ini sukar menemukan dia lagi."
Mendadak dia menjatuhkan diri ke atas ranjang terus menangis tergerung-gerung.
"Ayolah cari ...."
Seru si anak merah kesal.
Tiba-tiba bayangan orang berkelebat masuk dari luar jendela, tahu-tahu Sim Long muncul kembali.
Kaget dan girang si anak merah, segera dia menubruk serta memegang lengannya, teriaknya.
"Bagus, sejak kapan kau kabur? Celakalah aku dimaki-maki Cici."
Sim Long tersenyum geli, katanya.
"Waktu kau mencaci Kim Put-hoan dalam impianmu, diam-diam aku pergi ...." ***** Melihat orang-orang berada di ruang makan sama berbisik-bisik tengah membicarakan Cu Jit-jit, si anak merah naik pitam, katanya sambil mendelik.
"Jit-ci, coba lihat kawanan orang iseng itu, apakah perlu kuhajar mereka?"
"Kenapa kau marah?"
"Mereka membicarakan dirimu, masa kau tidak marah?"
Cu Jit-jit tertawa manis, katanya.
"Cicimu kan cantik, maka orang mau memperbincangkannya, jika kakak jelek seperti babi, kau beri upah pun mereka tak mau membicarakannya, syukurlah bahwa orang-orang itu masih tahu membedakan cantik dan jelek, tidak seperti ...."
Matanya mengerling Sim Long, lalu menyambung.
"tidak seperti laki-laki yang punya mata tapi seperti orang buta, ceweknya cantik atau jelek juga tidak tahu."
Sim Long anggap tidak mendengar, Jit-jit kewalahan, saking jengkel dia angkat kaki dan injak kaki Sim Long sekeras-kerasnya, Sim Long hanya tersenyum saja, tidak memberi komentar, juga seperti tidak merasa sakit.
Anak merah itu geleng kepala, katanya gegetun.
"Taci memang terhitung makhluk aneh, yang pantas marah tidak naik pitam, yang tidak perlu naik pitam, dia justru marah-marah."
"Setan cilik, peduli kau, jangan turut campur!"
Omel Jit-jit. Anak merah alias Cu Pat tertawa.
"Ya, baik, aku memang jeri padamu. Kalau kau marah jangan kau tujukan kepadaku."
Didengarnya pembicaraan orang-orang itu makin keras dan berani, gelak tawa mereka pun semakin ingar-bingar, tak segan-segan mereka menoleh kemari, malah main tuding lagi.
Anak merah berkerut kening, mendadak dia lari keluar memanggil kedelapan pengawal itu masuk, seperti malaikat saja mereka disuruh berbaris di belakang Cu Jit-jit, wajah mereka kereng dan mendelik gusar, bila ada orang yang berani rewel rasanya mereka siap mengganyangnya, di mana ada suara ramai ke sana mereka melotot.
Lambat laun suara percakapan dan kelakar orang-orang itu menjadi sirap, satu per satu mengeluyur pergi.
Tinggal seorang lagi yang duduk di pojok kiri sana, duduk tegak di atas kursi, sejak tadi diam saja tidak bergerak, juga tidak ganti posisi, kedua matanya menatap tanpa berkedip, seperti sedang menunggu seseorang, sorot matanya jalang memancarkan rasa dendam yang tak terlampias.
Dia memakai baju biru panjang, warnanya sudah luntur karena sering dicuci, wajahnya yang pucat seperti tidak berdarah, janggutnya kelimis, tidak memelihara kumis, usianya sekitar 25-26 tahun.
Pada saat itulah dari luar masuk seorang lagi, perawakan dan tampangnya mirip laki-laki berbaju biru itu, cuma pakaiannya jauh lebih perlente, kainnya dari bahan mahal, usianya juga lebih muda, wajahnya berseri tawa, jadi jauh berbeda dengan pemuda jubah biru yang merengut dingin.
Beberapa kali sorot matanya mengerling ke arah Cu Jit-jit, tak lupa ia pun melirik Sim Long, lalu langsung dia mendekati pemuda berbaju biru itu, sapanya.
"Toako, kau sudah datang lebih dulu?"
Sejak tadi sorot mata pemuda jubah biru tidak pernah berpindah dari pintu, pemuda perlente agaknya sudah tahu bahwa pertanyaannya tidak akan mendapat jawaban, setelah duduk dia lantas makan minum tanpa bicara, tapi sorot matanya juga selalu ditujukan keluar.
Di sampingnya lagi terdapat sebuah meja bundar, beberapa orang laki-laki duduk mengitari meja ini, diam-diam mereka sering melirik ke arah kedua pemuda ini, satu di antaranya kelihatan bersikap garang, kalau memandang orang selalu mendelik, sikapnya mengejek seperti meremehkan orang lain, dengan suara tertahan dia sedang berkata.
"Apakah kedua orang ini adalah Ting-keh-hengte yang beberapa hari lalu pamer kepandaian itu?"
Seorang di sebelahnya juga berpakaian mewah tapi mukanya lancip dan matanya sipit, kepalanya panjang, dari tampangnya sudah dapat diraba orang ini jahat dan licik, dengan tertawa dia menjawab.
"Pandangan Thi-toako memang tajam, sekali pandang lantas mengenalnya."
Laki-laki temberang ini mengerutkan alisnya yang tebal, katanya.
"Tak terduga kedua orang ini juga datang kemari. Konon kedua saudara ini pun cukup tangguh, kalau persoalan ini sampai mereka ikut campur, tentu urusan sukar diselesaikan."
Laki-laki bermata sipit itu tertawa perlahan, sahutnya.
"Ting bersaudara ini memang lawan tangguh, tapi di pihak kita ada si Tombak Sakti Thi Seng-liong, Thi-toako, soal apa yang tidak dapat dibereskan?"
Thi Seng-liong di sebelahnya tertawa, tapi begitu dia menoleh, seketika berhenti gelak tawanya, dia terlongong ke arah pintu, katanya kemudian dengan suara tertahan.
"Itu dia, lawan yang benar-benar tangguh telah tiba."
Hampir semua hadirin sama memandang ke luar pintu, tampak seorang lelaki dan seorang perempuan, menggandeng seorang anak perempuan lagi datang dengan langkah lebar.
Kedua orang ini seperti suami-istri, yang lelaki berpundak lebar seperti beruang, pinggang kekar laksana orang hutan, otot tubuhnya kelihatan merongkol, kelihatannya memiliki tenaga yang luar biasa, tulang pipinya menonjol, mulutnya lebar hampir menjangkau kuping, tampangnya kereng menakutkan.
Yang perempuan justru bertubuh ramping dan berdada montok, rambutnya digelung tinggi, dipandang dari samping kelihatannya cantik molek laksana bidadari, sayang bila berhadapan dengan dia, maka tampak pada wajahnya yang molek itu ada jalur merah bekas bacokan senjata tajam sepanjang tujuh dim, dari pelipis miring ke bawah lewat tengah alis terus sampai ke ujung mulut.
Mending kalau mukanya jelek, justru wajahnya secantik kembang mekar, tapi dihiasi bekas bacokan sehingga kelihatan seram dan membuat orang mengirik.
Kalau suami-istri bertampang mengejutkan, anak perempuan yang digandeng mereka itu ternyata mungil jenaka, mukanya bulat dengan pipi yang bersemu merah, montok dan bola matanya bundar berputar kian kemari, begitu melihat si anak merah segera dia melelet lidah membuat muka badut, lalu mencibir.
Anak merah berkerut kening, katanya.
"Setan cilik ini nakal sekali."
Cu Jit-jit tertawa, katanya.
"Kau juga setan cilik, memangnya kau tidak lebih nakal?"
Seluruh hadirin sama memerhatikan kedua suami-istri ini, kedua suami-istri ini ternyata tenang-tenang saja, sedikit pun tidak peduli akan perhatian orang banyak atas diri mereka.
Mereka asyik momong putrinya, tanya mau makan apa dan mau minum apa.
Seolah-oleh hanya putri mereka saja yang paling penting di seluruh jagat ini.
"Hah, sungguh menarik,"
Ucap Cu Jit-jit.
"orang aneh semakin banyak, siapa nyana kota Pit-yang ini ternyata begini ramai."
Tiba-tiba Sim Long mendesis.
"Apakah kau tahu siapa kedua suami-istri ini?"
"Apakah mereka tahu aku ini siapa?"
Jit-jit balas bertanya.
"Siocia, nama besar kedua orang ini kurasa sepuluh kali lebih tenar daripadamu."
Cu Jit-jit tertawa, sahutnya.
"Tujuh jago kosen Bu-lim masa kini juga cuma begitu saja, memangnya mereka terhitung apa?"
"Tahukah di kalangan Kangouw tidak sedikit 'harimau mendekam dan naga sembunyi', meski tokoh-tokoh lihai sangat jarang tapi para pendekar besar yang mengasingkan diri entah masih betapa banyak. Tujuh jago kosen itu hanya kebetulan saja pernah muncul dalam percaturan Kangouw dan belum terkalahkan, jadi hanya kebetulan saja, sehingga terciptalah kebesaran nama mereka. Memangnya kau yakin tiada jago lain yang lebih lihai daripada mereka?"
"Baiklah, aku memang selalu kalah berdebat denganmu, lantas siapa kedua orang ini?"
"Aku juga tidak tahu."
Keruan Jit-jit mendongkol, dia berbisik.
"Kalau di sini tiada orang sebanyak ini, ingin kugigit telingamu."
Sekonyong-konyong terdengar seorang bergelak tertawa, suara tertawa latah itu berkumandang dari luar pintu, gelak tawa yang keras memekak telinga, kedengarannya seperti ada belasan orang tertawa bersama.
Keruan hadirin berjingkat kaget, semua menoleh ke sana.
Tertampaklah delapan laki-laki sedang mengiring seorang Hwesio gede gemuk masuk ke restoran.
Ketujuh laki-laki pengiring itu semua berpakaian bagus, langkahnya tegap, matanya tajam, jelas mereka pun orang persilatan, tapi sikapnya kepada si Hwesio ternyata munduk-munduk.
Sebaliknya tingkah laku Hwesio gede itu menyebalkan, walau cuaca buruk dan hawa dingin, dia hanya memakai jubah pendek di atas lutut dengan celana pendek pula, baju bagian dadanya tersingkap lebar, sehingga daging dadanya yang gembur kelihatan bergetar setiap kakinya melangkah.
Kontan Cu Jit-jit mengerut kening.
"Jit-ci,"
Bisik si anak merah.
"coba lihat, Hwesio itu mirip apa?"
Jit-jit cekikik geli, omelnya.
"Setan cilik, ada orang sedang makan, jangan kau omong kotor, awas kalau sampai lenyap selera makanku."
Anak merah itu berkata pula.
"Kalau Hwesio gede ini juga pandai Kungfu, tentunya amat aneh. Padahal berjalan pun napasnya ngos-ngosan, mampukah dia berkelahi dengan orang?"
Tujuh-delapan lelaki yang mengiringi kedatangan Hwesio gede itu ternyata punya pergaulan luas, begitu mereka masuk seluruh hadirin segera berdiri dan menyapa dengan hormat.
Hanya kedua suami-istri tadi seperti tidak peduli kehadiran orang, sementara kedua saudara Ting juga tetap menunduk saja, mereka sibuk makan-minum sendiri, tidak menoleh ke kanan-kiri.
Thi Seng-liong segera tarik lengan baju laki-laki bermata sipit, tanyanya perlahan.
"Siapakah Hwesio gemuk ini, apa kau tahu?"
Lelaki sipit juga berkerut kening, katanya.
"Setiap jago lihai yang punya sedikit nama di dunia Kangouw, boleh dikatakan aku Ban-su-thong (segala urusan tahu) pasti kenal, tapi Hwesio yang satu ini aku tidak tahu siapa dia."
"Kalau demikian, dia pasti seorang keroco yang tidak punya nama dalam Bu-lim?"
Ucap Thi Seng-liong.
"Ya, ku ... kukira demikian ...."
Sahut Ban-su-thong ragu-ragu.
"Kentutmu busuk,"
Tiba-tiba Thi Seng-liong menghardik gusar.
"kalau dia seorang keroco, memangnya Cin-piauthau, Ong-piauthau, Song-cengcu dan lain-lain sudi bersikap hormat kepadanya. Ban-su-thong apa, sekali ini matamu agaknya lamur!"
Ruang itu sudah penuh sesak.
Banyak orang berjubel tidak kebagian tempat duduk, maka tidak sedikit yang berdiri di pinggir sehingga delapan kacung restoran sibuk dan kerepotan.
Dalam ruang makan besar dan dihadiri orang sebanyak ini, yang terdengar hanya gelak tertawa si Hwesio gede saja, percakapan orang lain seperti ditelan oleh gelak tertawanya.
Anak merah itu jadi uring-uringan, omelnya.
"Huh, menyebalkan!"
"Memang sebal, lebih baik kita ...."
"Kau mau cari setori lagi?"
Cegah Sim Long.
"Memangnya kau tidak muak melihat tampang orang seperti itu?"
"Coba kau lihat, berapa orang di sini yang membencinya, dua orang bersaudara di pojok itu, setiap kali memandangnya terlihat sorot matanya penuh kebencian. Beberapa kali sang kakak mau berdiri, tapi selalu dicegah oleh adiknya. Demikian pula suami-istri itu, walau tidak pernah melirik sekalipun ke sana, tapi sikap mereka kelihatan rada ganjil. Apalagi laki-laki kekar seperti menara itu pun rasanya sudah gatal dan mau melabraknya, namun mereka toh segan dan ragu .... Cepat atau lambat orang-orang itu pasti akan turun tangan, toh bakal ada tontonan, buat apa kau sendiri harus turun tangan?"
"Baiklah, aku selalu kalah berdebat denganmu,"
Omel Jit-jit. Tiba-tiba terdengar si Hwesio gede itu berseru.
"Nah, itu dia sudah datang!"
Waktu hadirin menoleh, tertampak dua laki-laki berbaju hitam mengempit dua lelaki lain dengan topi miring beranjak masuk, sekali pandang orang akan tahu bahwa kedua tawanan itu adalah pencoleng kampungan, tampak mukanya pucat, kedua laki-laki berbaju hitam langsung menggusurnya ke depan Hwesio gede, sambil membungkuk badan mereka memberi laporan.
"Bajingan ini she Wi, berjuluk Wi Be (kuda kuning), dia paling jelas tentang urusan itu, dalam kota Pit-yang ini, mungkin hanya dia yang paling jelas persoalannya."
"Bagus, bagus,"
Puji si Hwesio gede.
"boleh persen dia dulu seratus tahil perak, supaya hatinya senang dan tenteram."
Salah seorang pengiringnya segera melemparkan sekeping perak ke depan kaki Wi Be. Seketika melotot bola mata Wi Be. Si Hwesio gede tertawa, katanya.
"Kalau keteranganmu baik, nanti kupersen lagi."
Wi Be menghela napas lega, katanya.
"Hamba Wi Be, sudah belasan tahun berkecimpung dalam kota Pit-yang ...."
"Singkat saja, bicara yang penting,"
Tukas si Hwesio gede, matanya menyapu pandang sekelilingnya, lalu tertawa lebar.
"suaramu juga harus keras, supaya seluruh hadirin mendengar dengan jelas."
Wi Be berdehem beberapa kali, katanya lantang.
"Di sebelah utara Pit-yang menghasilkan batu bara, tapi penduduk Pit-yang tiada yang berani menggali batu bara itu. Kira-kira setengah bulan yang lalu mendadak datang belasan pedagang, seluruh areal tanah di utara kota Pit-yang dibelinya semua, mereka menyewa ratusan orang untuk menggali batu bara. Mereka mulai bekerja pertengahan bulan yang lalu, tapi setelah bekerja susah payah selama setengah bulan, hasilnya nihil, tiada batu bara yang berhasil mereka gali."
Orang ini bercerita tentang gali-menggali tambang batu bara, tapi Cu Jit-jit dan Sim Long melihat hadirin sama mengunjuk sikap yang serius, maka mereka menduga hal ini pasti ada sangkut pautnya dengan kejadian yang mengejutkan di sekitar kota Pit-yang, maka mereka pun mendengarkan dengan penuh perhatian.
Perlahan Wi Be ulur kakinya dan menginjak uang perak tadi, ujung mulutnya mengunjuk senyuman puas, lalu melanjutkan.
"Tapi pada tanggal satu bulan ini, jadi empat hari yang lalu, batu bara tidak berhasil mereka keduk, sebaliknya di kaki bukit di luar dugaan tergali sebuah pilar batu, di atas pilar itu terukir beberapa huruf ... delapan huruf ...."
Sampai di sini seri tawanya tiba-tiba sirna, mimik wajahnya berubah takut dan ngeri, suaranya pun gemetar.
"Delapan huruf itu berbunyi. 'ketemu batu maju terus, takdir tak terhindarkan'."
Diam-diam hadirin saling pandang, sikap mereka kelihatan makin prihatin, Hwesio gede itu juga tidak tertawa lagi, katanya.
"Kecuali kedelapan huruf itu, adakah ukiran atau gambar lain di atas pilar itu?"
Wi Be berpikir sejenak, sahutnya.
"Tiada lagi. Konon setiap goresan huruf itu berbentuk panah, seluruhnya ada tujuh puluh goresan sehingga terciptalah delapan huruf itu."
"Panah!?"
Tanpa sadar hadirin sama berseru kaget dan heran, mereka tidak paham 'panah' itu melambangkan apa. Wi Be menghela napas, lalu menyambung.
"Di antara kuli penggali batu bara itu ada juga yang melek huruf, melihat tulisan pada pilar itu, mereka mundur tak berani menggali lagi. Sebaliknya setelah melihat pilar batu itu, kawanan pedagang itu justru berjingkrak kegirangan, mereka mau membayar tiga kali lipat bagi siapa yang tetap mau bekerja. Malam itu juga ditemukan sebuah pintu batu di belakang pilar, di atas pintu batu ini juga terukir huruf yang berbunyi. 'masuk pintu selangkah, jiwa melayang seketika'. Warna hurufnya merah, kelihatan amat mengerikan."
Ruang makan itu jadi sunyi, hanya terdengar dengus napas orang banyak. Maka Wi Be melanjutkan.
"Penggali itu juga melihat huruf itu, mereka tidak mau menggali lagi. Agaknya kawanan pedagang itu juga sudah menduga akan hal ini, siang-siang mereka sudah mempersiapkan hidangan, sayur-mayur dengan arak, tanpa basa-basi, semua hidangan diberikan kepada penggali itu, sudah tentu mereka melalap habis hidangan dan puluhan guci arak yang sengaja disediakan. Keruan orang-orang itu mabuk, maka kawanan pedagang itu lantas menyerukan bekerja pula, tanpa sadar para penggali itu mengambil pacul dan sekop dan mulai menggali lagi, mereka sudah mabuk, maka tidak peduli apa arti tulisan yang tertera di atas pintu, dengan cepat sekali pintu batu itu lantas terbuka dan semuanya masuk ke sana. Tapi hari kedua ...."
"Hari kedua kenapa?"
Bentak si Hwesio gede. Jidat Wi Be basah oleh keringat dingin, suaranya gemetar.
"Orang yang masuk itu sampai hari kedua tiada yang keluar, sampai tengah hari, ayah bunda dan anak bini mereka berbondong-bondong datang ke sana, mengharukan jerit tangis mereka, sampai terdengar mereka yang tinggal di dalam kota, sungguh mengenaskan, amat memilukan. Hamba ikut terharu dan mencucurkan air mata, hingga hari hampir sore, tetap tiada reaksi apa-apa dari lubang galian."
Ia mengusap keringat di atas jidatnya, kelihatan jari-jari tangannya gemetar, setelah ganti napas lalu melanjutkan.
"Kemudian ada beberapa orang yang bernyali besar memberanikan diri untuk masuk gua tambang itu secara berombongan. Akhirnya ditemukan orang-orang itu ternyata sudah mati di dalam sebuah kamar batu, tiada luka pada tubuh mereka, namun kematian mereka amat mengerikan, bola matanya melotot, terbayang betapa takut, ngeri dan seram mereka sebelum ajal. Sudah tentu orang-orang yang masuk itu tak berani melihat lagi, serempak mereka menjerit terus berlari keluar. Saking sedih keluarga para korban akhirnya menjadi nekat, mereka berlomba hendak menerjang masuk, untung orang banyak berhasil menahan dan membujuk mereka, akhirnya dipilih beberapa pemuda yang bertenaga besar untuk menggotong keluar mayat-mayat itu, langsung dikebumikan. Siapa tahu, orang-orang yang menggotong keluar mayat-mayat itu, pada hari ketiga juga mati secara mendadak dan aneh."
Wi Be ternyata pandai bicara, cerita yang mengerikan dapat diuraikan secara hidup dan menarik sehingga hadirin seperti menyaksikan atau mengalami sendiri kejadian itu, namun tidak sedikit hadirin yang merasa kaki dan tangan menjadi dingin, jantung berdetak, sembilan di antara sepuluh orang tanpa sadar sama menenggak araknya.
Yang duduk di samping Hwesio gede adalah seorang laki-laki tua kurus kering, matanya bersinar tajam, setelah menghabiskan araknya, dia termenung sejenak, katanya kemudian.
"Apakah kau tahu bagaimana kematian orang-orang yang menggotong keluar mayat itu setelah hari ketiga?"
Wi Be membuka mulut, tapi tak mampu mengeluarkan sepatah kata pun. Akhirnya dengan suara serak dia berkata.
"Hari ketiga lewat tengah hari, di antara mereka ada yang sedang makan, ada yang sedang sembahyang, ada yang sedang menimba air, ada pula yang sedang menulis. Tapi setelah tengah hari, orang-orang itu seperti kesurupan setan saja, mendadak mereka melompat-lompat, mulutnya terbuka tapi tidak dapat mengeluarkan suara, lalu terbanting jatuh kelejatan, hanya sekejap jiwa mereka lantas melayang."
Bergetar tubuh si kakek kurus.
"trang" , cangkir yang dipegangnya jatuh di atas meja, matanya nanar mengawasi belandar, mulutnya bergumam.
"Belum lewat tengah hari ... sungguh lihai ... sungguh lihai ...."
Sorot matanya menampilkan rasa kaget dan ngeri.
"prak" , tahu-tahu cangkir teremas hancur. Diam-diam Cu Jit-jit menggenggam kencang tangan Sim Long yang di atas meja, wajahnya juga berubah pucat, hanya si anak merah yang terbelalak matanya, katanya.
"Mungkinkah orang-orang itu mati keracunan?"
"Betul,"
Desis si kakek kurus kering.
"Racun ... racun ... setiap tempat di balik pintu batu itu pasti terdapat racun, siapa saja bila menyentuh pintu, dinding, atau menyentuh mayat-mayat yang mati keracunan, mereka pun tidak bisa hidup dalam dua belas jam lagi .... Racun seganas itu sudah dua puluh tahun lebih tidak pernah kulihat."
Si Hwesio gede berkata.
"Apakah racun itu lebih lihai daripada Cu-bu-cui-hun (lewat tengah hari merenggut nyawa) milik dirimu yang ahli racun ini?"
Bahwa orang tua kurus kering ini ada pemilik Cu-bu-cui-hun-sah, orang ketiga dari sembilan belas jenis senjata rahasia beracun di Bu-lim dan bernama Bok Hi, keruan seluruh hadirin sama melengak dan pucat mukanya.
Bok Hi tertawa pedih, katanya.
"Racun yang pernah kugunakan, kalau dibandingkan orang hanya seperti permainan anak kecil belaka."
Si Hwesio gede berkerut alis, mendadak dia tergelak, katanya.
"Bila mau ikut padaku, tanggung tidak akan mati, racun yang paling jahat bagiku tak ubahnya seperti gula pasir belaka,"
Lenyap tertawanya mendadak dia berseru bengis.
"Apakah mulut gua itu sekarang sudah tersumbat?"
Cepat Wi Be menjawab.
"Gua iblis itu dalam sehari telah membunuh dua ratus jiwa, jangankan menyumbatnya, pergi ke sana pun tidak berani kecuali orang gila."
Hwesio gede tertawa sambil mendongak.
"Kalau begitu, semua orang yang ada di sini mungkin akan melihat ke sana, memangnya mereka juga orang gila semua?"
Wi Be melongo, seketika pucat air mukanya, cepat dia menyembah, ratapnya.
"Siaujin (hamba) tidak berani, tidak ... bukan begitu maksud hamba."
"Lekas enyah!"
Bentak si Hwesio gede.
Seperti mendapat pengampunan, setelah menyembah beberapa kali dia merangkak mundur terus lari pergi, uang perak yang tadi diinjaknya pun lupa diambilnya.
Mendadak si anak merah melompat ke depan dan berjumpalitan dua kali, sekali raih dia ambil uang perak itu terus dilemparkan pula.
"Tring" , uang itu jatuh di luar pintu, tepat di depan Wi Be, waktu Wi Be memungut uang itu, si anak merah juga sudah duduk kembali di kursinya, katanya dengan tertawa.
"Uang hasil jerih payah, jangan lupa membawanya."
Melihat usianya masih sekecil itu tapi sudah mendemonstrasikan Ginkang selihai itu, keruan hadirin sama terbeliak kaget. Si Hwesio gede bergelak tertawa sambil keplok.
"Anak bagus! Ginkang hebat, dari siapa kau belajar?"
Berputar bola mata si anak merah, sahutnya.
"Belajar sama Taci."
"Bagus, anak bagus! Siapa namamu?"
Tanya pula si Hwesio gede.
"Aku bernama Cu Pat-ya, Hwesio gede, siapa namamu?"
"Cu Pat-ya, hahaha, bagus Cu Pat-ya, aku bergelar It-siau-hud (Buddha tertawa sekali), apa pernah kau dengar namaku?"
Di tengah gelak tertawanya mendadak, tubuhnya bergerak perlahan menghampiri si anak merah, daging gempal di tubuhnya bergetar turun naik, kelihatan lucu.
Tapi Cu Jit-jit dan Sim Long sedikit pun tidak merasa lucu, sebelum It-siau-hud maju mendekat mereka sudah siap siaga, telapak tangan kanan Sim Long diam-diam sudah memegang punggung si anak merah.
Mendadak tubuh besar It-siau-hud berkelebat, melesat ke pinggir, bukan menubruk si anak merah, tapi menerjang ke arah Ting-keh-hengte yang duduk di pojok sana.
Aksinya memang di luar dugaan hadirin, terjangan It-siau-hud sungguh secepat kilat, tapi reaksi Ting-keh-hengte juga tidak kalah cepatnya.
Pemuda jubah biru Ting Lui menarik tubuh sedikit, kontan meja ditendangnya mencelat, berbareng tangannya mencabut pedang lemas terus diayun ke depan.
Sementara pemuda perlente Ting Hi tergelak latah, serunya.
"Bagus, Hwesio keparat, kami bersaudara belum lagi mencari perkara kepadamu, tapi kau sudah mencari gara-gara lebih dulu."
Cepat sekali kedua saudara Ting ini bergerak, tahu-tahu mereka sudah menyingkir beberapa kaki ke kanan dan kiri.
Waktu itu tubuh It-siau-hud yang besar sedang terapung di udara, melihat meja meluncur menumbuk dirinya, dia tidak berkelit atau menyingkir, dengan kepalanya dia tumbuk meja itu hingga pecah berantakan.
Seketika pecahan kayu, mangkuk piring dan cangkir arak muncrat kocar-kacir, malah It-siau-hud masih sempat menyambar dua kaki meja, di tengah gerungan murkanya, kedua tangannya menyapu kakak beradik She Ting itu.
Perawakannya memang besar, kedua lengannya panjang lagi ditambah kedua kaki meja, bila dibentang panjangnya ada satu tombak.
Segera angin menderu, api lilin besar di dalam ruang makan sama bergoyang mau padam, sungguh dahsyat sekali serangan si Hwesio.
Tampaknya kedua Ting bersaudara sudah terkurung di bawah serangan dahsyat dan tak bisa lolos.
Hadirin sama terbelalak kaget, ada yang menjerit ada yang bersorak memuji, tidak sedikit pula yang mengkhawatirkan keselamatan kedua saudara Ting itu.
Tahu-tahu kedua Ting menyelinap lewat selicin belut dari bawah lengan baju si Hwesio, padahal kalau mereka melompat mundur, umpama luput dari serangan ini, pasti takkan bisa lolos dari serangan susulan selanjutnya.
Tapi pengalaman tempur kedua saudara ini ternyata amat luas, ketepatan tindakan mereka pada saat terdesak juga setingkat lebih unggul daripada orang lain.
Dalam detik-detik yang gawat itu, mereka melakukan keputusan yang tidak mungkin berani dilakukan oleh orang lain.
Bukan berkelit atau menyingkir, mereka justru memapak maju dan menyelinap lewat di bawah It-siau-hud, maklum tenaga orang sukar dikerahkan ke bawah, jadi merupakan titik lemah dari gempuran yang dahsyat ini.
Tahu-tahu It-siau-hud merasa pandangannya kabur, bayangan kedua saudara Ting sudah lenyap.
Segera terasa pula datangnya pukulan keras dari belakang, kiranya tanpa berpaling kedua saudara Ting itu mengayun balik tangannya balas menyerang.
Padahal saat itu It-siau-hud tengah melancarkan serangan ke depan, untuk berputar dan menangkis jelas sangat sulit.
Tapi Kungfu Hwesio latah ini memang juga mengejutkan, sambil menarik sikut kiri, tangan kanan terayun ke kiri, lutut kiri setengah ditekuk dan kaki kanan menendang miring ke kiri atas, tubuhnya yang besar secepat kitiran berputar di tengah udara, kaki meja di tangan kiri tepat menangkis pedang Ting Lui yang menyambar tiba, sementara kaki kanan menendang pundak Ting Hi.
Serangan tadi sangat dahsyat, tapi serangan kali ini sekaligus bertahan sambil menendang dan menangkis, jarang ada tokoh silat yang mampu bertindak setangkas ini, sasarannya jitu, temponya cepat, gerakannya tangkas, siapa pun tidak menyangka tubuh yang besar itu mampu melakukan gerakan selincah ini.
Kedua Ting bersaudara menjengek, tanpa berpaling mereka terus melayang ke depan, ketika It-siau-hud turun ke bawah, kedua saudara itu sudah jauh berada di luar pintu.
Terdengar Ting Lui mengejek.
"Jika mau berkelahi, silakan keluar."
Ting Hi juga mendengus.
"Kalau dia sudah berani kemari, memangnya dia takut keluar?"
Serangan It-siau-hud itu dilancarkan dalam sekejap, gebrakan kedua pihak sama-sama di luar dugaan orang banyak, terjadinya secepat kilat, semuanya merupakan perpaduan antara pengalaman, Kungfu sejati dan kecerdikan, hadirin menyaksikan dengan melongo kagum, setelah suara kedua saudara Ting berkumandang di luar pintu baru hadirin serempak bersorak riuh rendah.
Tertampak wajah It-siau-hud berubah merah padam, tapi dia tidak mengejar keluar.
Di tengah duduknya Cu-bu-cui-hun Bok Hi mendengus.
"Lui-hi-siang-liong-kiam, masih muda dan gagah perkasa, di bawah ketenaran nama mereka tiada orang lemah, selanjutnya Taysu harus bertindak lebih hati-hati."
It-siau-hud tertawa latah, katanya.
"Kalau cuma kedua bocah ingusan ini masih belum kupandang sebelah mata, jika tidak ada urusan penting yang harus kita selesaikan, memangnya mampu mereka lolos dari genggamanku?"
Mendadak dia menarik muda dan menyapu pandang hadirin, katanya keras.
"Tentunya kalian sudah mendengar jelas bila di antara kalian ada yang tidak ingin mengambil bagian, boleh silakan pergi dari sini. Asalkan punya tujuan yang sama, boleh tetap tinggal di sini, nanti berunding pula denganku."
Tiba-tiba Cu Jit-jit menjengek.
"Berdasarkan apa kau mengusir orang pergi dari sini?"
It-siau-hud menatap tajam ke arah Jit-jit, ia tertawa.
"Nona berani bilang demikian, tentu kedatanganmu bukan untuk urusan ini?!"
Cu Jit-jit membatin.
"Orang ini kelihatan kasar, tapi juga bisa menggunakan otak, ternyata seorang lihai."
Walau dalam hati tahu Hwesio ini lawan lihai, tapi sedikit pun dia tidak takut, jengeknya.
"Kau keliru, nonamu justru kemari karena soal itu."
Pada akhir katanya sengaja dia melirik Sim Long, pandangan It-siau-hud juga beralih ke arah Sim Long.
Dilihatnya Sim Long duduk bermalas-malasan sambil minum arak, padahal keributan sudah terjadi dalam ruang makan ini, dia sedikit pun seperti tidak tahu-menahu.
Selama hidup belum pernah It-siau-hud melihat orang setenang ini, dia melenggong, mendadak ia tertawa, serunya.
"Bagus ... bagus ...."
Dia terus berputar ke meja sebelah sana dan bertanya.
"Dan bagaimana kalian?"
Meja itu dikitari lima laki-laki, serempak mereka berdiri, semua berubah air mukanya, satu di antaranya tertawa menyeringai dan menjawab.
"Taysu bertanya, entah ada ...."
Belum habis dia bicara It-siau-hud sudah mencengkeramnya, orang itu dapat melihat tangan It-siau-hud mencengkeram dadanya, tapi dia tidak mampu berkelit, tahu-tahu tubuhnya sudah terangkat ke atas terus dibanding di atas meja.
Meja hancur, mangkuk piring pun berantakan.
Keempat temannya berjingkrak gusar, mereka membentak bersama.
"Kau ...."
Belum lanjut ucapannya, terdengar serentetan suara "plak-plok" , ternyata keempat laki-laki itu telah dipersen beberapa kali tamparan, kontan muka mereka merah bengap.
"Budak yang tidak berguna ...."
Bentak It-siau-hud.
"makin banyak orang ikut mengurus soal ini makin baik, tapi kalau orang-orang tak berguna seperti kalian ikut campur, bukan saja hasilnya tidak memuaskan, salah-salah urusan bisa gagal total .... Huh, lekas enyah!"
Cepat keempat orang itu menggotong temannya dan saling pandang, ada yang mendekap pipi, ada yang menghela napas, dengan menunduk lesu mereka berlari pergi.
Dalam pada itu It-siau-hud sudah berada di meja lain, meja ini diduduki empat orang, sejak tadi mata mereka sudah melotot padanya, tangan terkepal dan siap menghadapi segala kemungkinan yang akan menimpa mereka.
Melihat Hwesio gede itu menghampiri, serempak keempat laki-laki itu menggembor terus menubruk maju, delapan kepalan besar serentak menggenjot tubuh It-siau-hud.
It-siau-hud bertolak pinggang sambil bergelak, mendadak tangan kirinya mencengkeram dada seorang, berbareng tangan kanan terayun, seorang lain dipukulnya berputar dua kali baru terguling.
Lalu lututnya menyodok, seorang lagi menungging sambil memegang perut.
Laki-laki terakhir kena ditendangnya mencelat, tepat melayang ke meja di mana Cu Jit-jit dan Sim Long berduduk.
Tanpa berpaling tangan Sim Long menyampuk, hanya dengan gerakan enteng, laki-laki itu kena disengkelitnya hingga berdiri tegak jauh di sana tanpa kurang suatu apa.
Keruan di samping kaget, ngeri, ia pun takut, sesaat dia awasi Sim Long dengan melongo, Sim Long tetap sibuk dengan araknya, segala sesuatu yang terjadi di sekitarnya seperti tidak dihiraukannya.
It-siau-hud berkerut alis, sekali menghardik laki-laki yang dicengkeram oleh tangan kirinya dia lempar, deru angin menyebabkan penerangan dalam ruang makan itu menjadi guram, api lilin padam.
Sekonyong-konyong seorang membentak di meja sebelah, begitu berdiri dia ulur kedua tangannya, laki-laki itu kena ditangkapnya.
Laki-laki ini bukan lain adalah si Tombak Sakti Thi Seng-liong.
Ban-su-thong berkeplok dan bersorak, It-siau-hud tertawa lebar, katanya.
"Orang bilang Thi Seng-liong adalah orang gagah nomor wahid di Hopak, kelihatannya memang tidak bernama kosong."
Bercahaya wajah Thi Seng-liong, sikapnya tampak bangga, katanya sambil menjura.
"Tak nyana Taysu juga tahu namaku, sungguh orang she Thi merasa malu."
It-siau-hud berkata.
"Tokoh seperti Thi-heng justru sangat kuperlukan, tapi yang lain ...."
Matanya lantas menyapu pandang seluruh hadirin, karena kepandaiannya memang cukup menggetar nyali orang, maka tujuh di antara sepuluh orang diam-diam berdiri terus mengeluyur pergi.
Ban-su-thong tertawa, katanya dengan berbisik.
"Dua orang lagi yang duduk di meja sebelah sana yang berpakaian ungu adalah Wi Hoat-hou bergelar Thong-ciu-it-pa, yang berjubah kain kembang adalah putra angkatnya Siau-pa-ong Lo Kong, ke sebelah sana adalah Poat-swat-siang-to-ciang Beng Lip-jin, Tin-san-ciang Hongbu Siong, Hin-te-bu-hoan Li Pa, Yu-hoa-hong Siau Mo-in, yang mengisap pipa cangklong itu adalah Ong-jimoacu, ahli tutuk kenamaan di sekitar sungai besar."
Satu per satu dia menyebut nama tokoh-tokoh Kangouw yang terkenal itu seperti menyebut nama-nama saudara sendiri, ternyata tiada satu pun yang tidak dia kenal.
"Bagus,"
Puji It-siau-hud.
"Masih ada?"
Ban-su-thong menghela napas lega, sambungnya.
"Dua orang di meja itu adalah Sun Thong, Sun-tayhiap dan Seng Ing, Seng-toakoanjin. Cayhe Ban Si-tong, orang salah baca jadi Ban-su-thong (segala urusan tahu). Sedangkan nona yang duduk di meja sana, kalau bukan putri Hoat-cay-sin keluarga Cu, pasti putri keluarga Hay di Kanglam, hanya ... sepasang suami-istri itu, hamba tidak mengenalnya."
It-siau-hud tertawa, katanya.
"Itu sudah cukup, memang tidak malu kau dijuluki Ban-su-thong, kelak bila usahaku berhasil, tenaga macam dirimu ini memang sangat kuperlukan."
Ban-su-thong kegirangan, katanya berseri.
"Terima kasih."
"Seng-toakoanjin, silakan minum arak,"
Mendadak It-siau-hud menepuk meja, cangkir arak di atas meja itu tiba-tiba mencelat dan terbang ke depan Seng Ing. Seng Ing tersenyum kalem, katanya.
"Terima kasih atas pemberianmu."
Begitu tangan terulur, cangkir arak itu diterimanya terus ditenggak habis, arak dalam cangkir sedikit pun tidak tercecer.
Orang ini masih muda, berwajah putih halus dan cakap, sopan santun lagi, kelihatannya memang mirip pemuda bangsawan, tapi Kungfunya ternyata cukup tinggi, dari cara dia menyambut arak tadi terbukti bahwa dia memiliki Lwekang yang tinggi.
It-siau-hud tertawa lebar, serunya.
"Bagus, bagus .... Sun-tayhiap, mari kusuguh kau secangkir juga."
Kembali telapak tangannya menepuk meja, sebuah cangkir meluncur pula ke arah Sun Thong di depan sana.
Ternyata Sun Thong juga seorang pemuda ganteng, cuma mata alisnya kelihatan agak angkuh, melihat cangkir meluncur tiba, dia tidak ulur tangan untuk menyambut, tiba-tiba mulut terbuka dan gigi menggigit, cangkir kena dia gigit, kepala Sun Thong terus mendongak dan menenggak habis arak di dalamnya, tapi lantas terdengar.
"krak"
Lirih, ternyata cangkir itu kena digigitnya pecah, jelas meski reaksinya cukup cekatan, pandangannya tajam, tapi latihan Lwekangnya belum sempurna.
Keruan merah padam muka Sun Thong.
Untung It-siau-hud lantas tertawa dan berkata.
"Pepatah bilang, belibis elok tidak mau terbang bersama burung jelek, empat orang yang duduk bersama di meja ini memang boleh ditonjolkan sebagai Enghiong (kesatria)."
Sun Thong kira orang tidak melihat kegagalannya, diam-diam dia bersyukur dalam hati, tak terduga It-siau-hud tiba-tiba merendahkan suaranya dan berkata padanya.
"Kalau bibirmu pecah lekas kumur dengan arak, supaya tidak terlihat orang lain."
Sun Thong menyengir, katanya dengan menunduk.
"Terima kasih atas petunjukmu."
Kembali It-siau-hud bergelak tertawa beberapa kali, tubuhnya yang gemuk itu mendadak membalik ke belakang, dua jalur angin kencang memecah udara.
Entah kapan dia sudah meraih sepasang sumpit, dengan cara menyambitkan panah, dengan jurus Ji-liong-jiang-cu, kedua sumpit itu mengincar kedua kaki Siau-pa-ong Lu Kong.
Kelihatannya Lu Kong agak gugup, tak sempat melompat ke atas, kedua sumpit sudah hampir mengenai mata kakinya.
Mendadak kedua kaki Lu Kong terangkat dan menendang bergantian, sepasang sumpit itu kena ditendangnya mencelat ke atas, sekali meraih, Lu Kong menangkap sepasang sumpit itu, dengan enteng dia melayang turun, langsung dia menyumpit daging ayam di atas meja terus dijejalkan ke dalam mulut, sambil mengunyah dia tertawa, katanya.
"Terima kasih, sepasang sumpit ini kuterima."
Mukanya tidak merah, napas tidak memburu, dia mendemonstrasikan Ginkangnya yang hebat, sekaligus juga memperlihatkan ketajaman matanya, tenaga pinggang dan kekuatan kaki.
Hadirin yang menyaksikan memuji di dalam hati.
Thong-ciu-it-pa WI Hoat-hou tampak prihatin, dia tumplak seluruh perhatian, siap menunggu It-siau-hud menguji dirinya.
Tak nyana It-siau-hud hanya tertawa lebar saja, katanya.
"Kalau anak sudah selihai ini, kuyakin bapaknya pasti boleh juga."
Dengan langkah lebar dia berlalu, maka legalah hati Wi Hoat-hou, diam-diam dia menyeka keringat.
It-siau-hud menghampiri Beng Lip-jin yang bergelar Poay-swat-siang-to-cing (si Golok Menyibak Salju), dia awasi orang dari atas sampai ke kaki, mendadak ia berkata dengan suara tertahan.
"Lik-pi-hoa-san (tangan membelah gunung Hoa)."
Sesaat Beng Lip-jin duduk melongo, kemudian baru sadar maksud orang, ternyata It-siau-hud menguji dia dengan teori ilmu golok.
Sudah puluhan tahun dia mendalami ilmu golok, seperti murid yang diuji gurunya secara lisan, dengan tertawa lebar Beng Lip-jin berkata.
"Kiri menghantam dengan Hong-hong-siang-ca-ji, kanan memukul dengan Swat-hoa-kay-ting-bun."
Sejurus dua gerakan, di samping menyerang sekaligus juga mempertahankan diri, memang tidak malu dia dipuji sebagai ahli golok.
"Bagus, sekarang aku menyerang dengan Hoan-te-seng-hoa."
Beng Lip-jin melongo, lama dia berpikir, baru saja dia menemukan cara mematahkan serangan itu, ternyata It-siau-hud telah memberondong pula dengan jurus-jurus serangan lain, tiga jurus kemudian Beng Lip-jin sudah mandi keringat dan gelagapan.
It-siau-hud berkata pula.
"Baiklah, aku memukul dengan Lik-pi-hoa-san, tadi kau sudah telanjur menggunakan jurus Ko-jiu-ban-kin (akar membelit pohon kuno), jelas tidak sempat lagi menggunakan jurus Swat-hoa-kay-ting itu."
Beng Lip-jin berkerut kening mengelus jenggot, otaknya bekerja keras, akhirnya dia menghela napas lega, katanya.
"Kiri memukul dengan jurus Tio-thiah-it-su-ciang (sebatang dupa sembahyang kepada Thian), kanan menyerang dengan Kui-bun-sam-tiap-long (tiga gelombang menggempur pintu), semuanya menyerang tempat yang harus kau lindungi."
It-siau-hud manggut-manggut.
"Bagus .... Hwi-jiu-hong-au (membalik tangan mencekik leher)."
Beng Lip-jin menyeka keringat, katanya dengan tertawa.
"Kalau aku menyerang lambung bawahmu, kau pasti akan mundur ke belakang, mana mungkin bisa melancarkan jurus Hwi-jiu-hong-au lagi?"
"Orang lain tidak bisa, tapi aku mampu .... Coba lihat,"
Mendadak It-siau-hud ulur tangan, golok panjang yang tergantung miring di pinggang Beng Lip-jin dilolosnya, lalu dia bergaya melancarkan jurus Lik-pi-hoa-san, tapi sebelum gerakan penuh mendadak dia mengkeret mundur, pundak tidak bergerak, kaki tidak tergeser, tapi bagian bawah tubuhnya dapat meliuk mundur satu kaki, golok di tangan It-siau-hud berputar balik, dia betul-betul melancarkan Hwi-jiu-hong-au, sinar golok menyambar menebas leher Beng Lip-jin, tapi begitu golok hampir menyentuh kulit orang, tahu-tahu golok pun berhenti.
"Bagaimana?"
Tanya It-siau-hud dengan tertawa. Basah kuyup keringat Beng Lip-jin, suaranya gemetar.
"Jika Taysu benar-benar melancarkan jurus itu, maka batok kepalaku sudah terpenggal."
"Tapi tak perlu kau merasa sedih, bekal ilmu golokmu sudah termasuk kelas wahid, jika orang lain, waktu aku melancarkan jurus Hoan-te-seng-hoa tadi, jiwanya pasti sudah melayang."
"Trek" , tahu-tahu golok sudah dia masukkan ke sarungnya, tanpa pedulikan Beng Lip-jin, It-siau-hud berputar ke arah Hongbu Siong. Beng Lip-jin menghela napas lega, namun kedua lutut gemetar tak bertenaga, badan pun dingin, pakaian dalam basah oleh keringat dan lengket dengan tubuhnya, begitu angin mengembus, seketika dia bergidik kedinginan. Maklum, sejak Poat-swat-siang-to angkat nama, entah sudah berapa ratus kali dia perang tanding, tapi dia yakin, adu kepandaian secara teori ilmu silat yang baru saja berlangsung terlebih tegang. Tin-sang-ciang (Pukulan Menggetar Gunung) Hongbu Siong, Hin-te-bu-hoan (Tanah Gersang Tiada Akar) Li Pa dan Yu-hoa-hong (Kumbang Pengeliling) Siau Mo, ia bertiga agaknya sudah ada kata sepakat. Sebelum It-siau-hud menghampiri mereka, mendadak Li Pa putar badan dan lari keluar, sebuah baju hijau besar persegi di tengah pelataran diangkatnya, baju hijau ini sebesar meja, beratnya paling sedikit ada lima ratus kati, jika tidak punya tenaga raksasa, jangan harap bisa mengangkatnya. Tapi Li Pa mampu mengangkatnya tinggi di atas kepala, lalu perlahan masuk pula, tampak otot dagingnya merongkol, kedua lengannya tampak sangat kuat, gayanya mirip raksasa yang menyanggah langit. Tin-san-ciang Hongbu Siong berseru memuji.
"Tenaga hebat!"
Tiba-tiba ia melompat bangun, berbareng telapak tangan kanan terayun.
"blang" , seperti palu membentur batu, baju hijau besar itu kena dipukulnya pecah sebagian, di bawah taburan debu pasir, batu besar itu mencelat dengan deru angin keras melayang ke pekarangan. Yu-hoa-hong Siau Mo-in sedikit mendak, tiba-tiba dia melesat keluar. Batu besar itu sedang melayang keluar, tapi luncuran tubuhnya ternyata lebih cepat lagi, sebelum batu itu jatuh sudah kena dia sanggah, sementara kakinya tidak berhenti, beberapa kali lompatan, batu besar itu, dilemparnya keluar pagar tembok, sesaat kemudian baru terdengar suara "blang" , lalu tertampak Siau Mo-in melayang balik pula, muka tidak merah napas tidak memburu, katanya dengan menjura.
"Batu itu mengganggu pemandangan di dalam pekarangan, dengan meminjam tenaga pukulan Hongbu-toako tadi, aku membuangnya di tempat sampah di luar sana."
Tempat sampah yang dimaksud jauhnya ada ratusan tombak, Yu-hoa-hong Siau Mo-in sekaligus telah membawanya lari dan membuangnya ke sana.
Walau meminjam tenaga luncuran batu, tapi gerak tubuhnya memang enteng dan cepat, pandai memanfaatkan kesempatan, jelas kemampuannya tidak dapat ditiru orang lain.
It-siau-hud tersenyum, katanya.
"Kungfu kalian memang berbeda, tapi satu dengan yang lain sama bagusnya, masing-masing punya kelebihannya, Li-heng keluar tenaga lebih banyak, demikian pula gerakan Siau-heng lebih cepat, tapi kalau dipergunakan untuk berhantam di medan tempur, Kungfu Hongbu-heng kurasa jauh lebih berguna."
Merah muka Li Pa, dia melengos ke sana, agaknya dia kurang terima.
Siau Mo-in menepuk pundak Hongbu Siong, seperti hendak mengatakan apa-apa, tapi tidak jadi.
Tiba-tiba Ong-jimoacu, ahli Tiam-hiat yang menggunakan pipa cangklong, bergelak tertawa, katanya.
"Analisis Taysu memang tepat, tapi menurut pendapatku, bila bertempur dengan orang, pukulan Hongbu Siong juga belum tentu berguna."
"Dari segi aman kau berani bilang demikian?"
Tanya It-siau-hud.
Baca Juga: Bangau Sakti 5
Baca Juga: Anak Rajawali 11