Ceritasilat Novel Online

Anak Rajawali 11

Eps 11 Anak Rajawali - Chin Yung

Baca online Anak Rajawali - Chin Yung

Cersil Anak Rajawali - Chin Yung.

"Dia sengaja mengikuti kita, berapa jauh dia telah mengikuti kita tanpa kita sendiri mengetahuinya, karena, sekarang tidak mungkin dia menyingkirkan diri. Dia tentu bersembunyi di sebuah tempat."

Ko Tie ragu-ragu, tapi berpikir. Tentunya memang apa yang dikatakan Giok Hoa tidak terlalu salah.

"Kalau begitu kita nantikan saja apa yang hendak dilakukan si kerbau gundul itu!"

Kata Ko Tie yang jadi sengit sendirinya. Giok Hoa mengangguk.

"Ya, kita yang terpenting berwaspada, lalu mencoba untuk dapat memancing si kepala gundul itu keluar dari tempat persembunyiannya. Di waktu itulah kita tidak boleh membiarkan ia meloloskan diri lagi.......!"

Kata si gadis.

Ko Tie setuju, dan mereka kembali ke rumah penginapan.

Tapi waktu mereka masuk ke dalam kamar, ke duanya jadi kaget.

Karena barang mereka telah acak-acakan, dan buntalan mereka terbuka dengan isinya yang berantakan.

Tentu saja hat ini membuat Ko Tie dari Giok Hoa buat sejenak memandang tertegun, karena mereka segera mengetahui tentu ada orang yang memasuki kamar mereka.

Dan baru saja mereka hendak memanggil pelayan, justeru di waktu itu tampak daun jendela telah terbuka lebar-lebar.

Seketika itu juga Ko Tie dan Giok Hoa menduga, tentunya juga yang telah memasuki kamar mereka dengan membongkar jendela adalah si pendeta Kiang-lung Hweshio.

Bukan main gusarnya Ko Tie dan Giok Hoa.

Mereka telah memandang dengan sinar mata yang mengandung kemarahan kepada barang-barang mereka yang berantakan itu.

Namun setelah mereka membereskan barang itu, tidak ada satupun yang lenyap.

Ko Tie duduk di tepi pembaringan.

"Tampaknya si gundul itu bersama dengan si pendeta yang bernama Gorgo San ingin mencari sesuatu dari kita……!"

Katanya dengan suara yang tawar. Giok Hoa mengangguk.

"Jika memang mereka hendak mengambil uang kita, tentu bungkusan uang kita telah digasaknya. Namun kenyataan yang ada, mereka tidak mengambil uang kita….. semuanya masih utuh, tentunya mereka memang bermaksud untuk mencari sesuatu, yang diduga berada pada kita!"

Mereka berdua jadi saling pandang, beberapa saat kemudian Ko Tie bilang.

"Kalau begitu, selanjutnya kita memang harus lebih hatihati……!"

Begitulah, mereka menutup daun jendela setelah mengawasi keluar.

Mereka melihat tidak ada sesuatu yang mencurigakan.

Malam itu mereka tidur dengan penuh kewaspadaan, sampai akhirnya menjelang pagi tidak terjadi sesuatu apapun juga.

Setelah salin pakaian, Ko Tie dan Giok Hoa menghadapi sarapan yang diantar oleh pelayan tua itu.

Mereka bersantap bernafsu sekali, memang mereka tengah lapar.

Dalam keadaan seperti itulah terlihat Ko Tie tiba-tiba berseru kaget, mukanya berobah.

Dia melompat berdiri dan membanting cawannya.

Sepasang matanya terbuka lebar-lebar.

Giok Hoa kaget bukan main, segera juga ia menanya dengan sikap yang heran dan bingung.

"Mengapa engkau, engkoh Tie?!"

"Racun! Di dalam teko teh itu terdapat racun!"

Berseru Ko Tie dengan suara tersendat.

Dan iapun segera mengambil teko teh itu, dibantingnya sampai teko itu pecah berantakan.

Seketika air teh yang membasahi lantai itu, berobah warnanya menjadi agak kehitam-hitaman.

Dan muka Giok Hoa jadi berobah pucat.

Dia memang belum lagi meminum teh di dalam cawannya, akan tetapi ia jadi menguatirkan sekali keselamatan Ko Tie, karena Ko Tie telah meminum tehnya itu.

"Engkoh Tie…… jadi.......

jadi engkau keracunan?"

Tanyanya dengan suara tergagap.

Muka Ko Tie waktu itu berobah, sebentar pucat sebentar merah, sebentar lagi berobah agak kehijau-hijauan.

Dikala itulah dia telah cepat-cepat mengerahkan tenaga dalamnya, karena dia berusaha mendesak air teh yang telah diminumnya itu agar naik kembali ke lehernya untuk di muntahkan.

Namun dia tidak berhasil, sebab racun itu mulai bekerja.

Tubuh Ko Tie terhuyung.

Bukan kepalang kagetnya Giok Hoa, segera juga ia terhuyunghuyung mundur dan dengan muka yang pucat pias, ia telah berkata.

"Engkoh Tie…….!"

Ko Tie cepat-cepat menjatuhkan dirinya di lantai, dia mengempos semangatnya.

Dia berusaha untuk menindih racun itu sebelum bekerja lebih jauh.

Karena Ko Tie menyadari, kalau racun itu telah bekerja sampai ke jantungnya, niscaya akan membuat dia menemui ajalnya.

Atau jika tertolong, namun racun telah terlanjur bekerja, niscaya akan membuat dia bercacat.

Giok Hoa teringat sesuatu.

Bukankah santapan mereka ini disiapkan oleh pelayan tua itu?

Kecurigaannya jadi semakin kuat, bahwa pelayan-pelayan itu memang bukan sebangsa manusia baik-baik.

Ia bermaksud hendak keluar dari kamar itu buat mencari dan menangkap pelayan tua itu.

Tapi waktu dia membuka daun pintu tersebut seketika ia merandek.

Ia ingat akan keselamatan Ko Tie.

Bukankah Ko Tie tengah keracunan?

Jika dalam keadaan seperti itu ada orang yang masuk ke kamarnya dan bermaksud menganiaya Ko Tie, bukankah akan membuatnya tidak berdaya?

Dan Ko Tie memang membutuhkan perlindungannya.

Segera Giok Hoa membatalkan maksudnya hendak pergi keluar dari kamar itu, segera berjongkok di samping Ko Tie.

Waktu itu Ko Tie tengah berusaha mengempos terus tenaga dalamnya.

Tapi tetap ia merasakan kepalanya pusing, racun telah bekerja dan beredar dalam peredaran darahnya.

Dengan begitu, membuatnya benar-benar jadi tidak berdaya, karena sekujur tubuhnya dirasakannya lemas sekali.

Iapun gagal untuk menyalurkan kekuatan tenaga dalamnya.

Dan kenyataan yang pahit sekali, racun telah bekerja di dalam peredaran darahnya, membuat setiap kali dia mengerahkan tenaga dalamnya, selalu gagal dan tenaga dalamnya itu seperti terbendung dan tidak bisa disalurkan menembus ke Tan-tiannya.

Diam-diam Ko Tie mengeluh.

Jika memang dia tidak berhasil buat mengerahkan tenaga dalamnya, niscaya akan membuatnya benarbenar jadi keracunan, dan kalau sampai racun itu bekerja lebih hebat, niscaya dia akan mati dengan sendirinya.

Giok Hoa waktu itu tengah merogoh sakunya.

Mengeluarkan bungkusan kantong obatnya.

Dia mengeluarkan beberapa butir obat, dan menyesapkan ke dalam mulut si pemuda.

"Telanlah, engkoh Tie.......!"

Katanya dengan suara yang berbisik.

Ko Tie menelan tiga butir obat yang diberikan Giok Hoa.

Di waktu itulah terlihat daun pintu terbuka, masuk si pelayan tua.

Ketika melihat Ko Tie tengah duduk hersemedi dan Giok Koa berjongkok di sampingnya, juga teko teh dan cawan telah pecah hancur berantakan di lantai, ia tampak terkejut dan heran.

"Ihhh…… apa yang terjadi?!."

Tanyanya dengan suara tergagap. Giok Hoa melihat pelayan tua tersebut jadi murka bukan main. Dengan lincah tubuhnya melesat ke samping pelayan itu, tangan kanannya diulurkan buat menampar.

"Kau yang telah menaruhkan racun pada minuman kami!"

Bentaknya. Pelayan tersebut kaget tidak terkira, dan dia segera mengelak ke samping.

"Tunggu dulu..... Kouw-nio ada apa?"

Katanya.

Mata Giok Hoa jadi terbuka lebih lebar.

Sekarang dia semakin yakin dan pasti bahwa pelayan ini adalah seorang yang memiliki ilmu silat yang tidak rendah, karena tadi dia telah menampar dengan tangan yang meluncur sangat kuat dan cepat sekali.

Namun dia bisa menghindarkannya dengan mudah.

Karena itu, segera ia menyusuli dengan tiga serangannya tanpa mengatakan apapun juga.

Tapi pelayan itu tetap saja bisa mengelakkan diri, malah dia dapat bergerak gesit sekali.

Dia melompat ke sana ke mari dengan gerakan yang sangat lincah, dan sama sekali Giok Hoa tidak berhasil menyerangnya.

"Hemmm, kalau demikian memang benar engkau orangnya!"

Bentak Giok Hoa yang semakin gusar.

Tahu-tahu tubuhnya telah melesat dengan ringan, dan sepasang tangannya bergerak cepat sekali tidak bisa diikuti oleh pandangan mata.

Tahu-tahu tengkuk pelayan tua itu telah kena dicekuknya.

Namun begitu tengkuk pelayan tua itu kena dicengkeramnya.

Giok Hoa merasakan kulit di bagian tengkuk itu licin dan keras sekali, sampai jari tangannya melejit dan mencengkeram tempat kosong.

Di waktu itulah terlihat betapa pelayan tua itu membuang dirinya ke lantai dan bergulingan di situ sambil bersiul nyaring.

Dari luar segera menyerbu masuk empat orang, semuanya pelayan di rumah penginapan itu.

Mereka melihat si pelayan tua yang tengah berdiri dan Giok Hoa yang hendak menyerang lagi.

Segera mereka melompat mengurung Giok Hoa.

Sedangkan tangan mereka dengan sebat telah mencabut senjata masing-masing dari balik baju mereka.

Pelayan tua ini pun merabah dadanya, dari balik bajunya telah dikeluarkan sebatang golok pendek.

"Hemmm!"

Giok Hoa tertawa dingin, dia bilang.

"Dengan demikian terbukalah topeng kalian! Apa maksud kalian dengan menaruhkan racun pada minuman kami?"

Pelayan tua itu sudah tidak memperlihatkan sikap yang terheranheran atau kaget seperti tadi. Malah dia berdiri tegak dengan goloknya dilintangkan di dadanya. Dia telah bilang.

"Hemmm, engkau rupanya telah mengetahui semua ini! Baiklah, kami membuka kartu saja! Sesungguhnya kami menginginkan uang dan barangmu! Jika memang engkau ingin hidup dan meninggalkan kota ini masih bernapas, tinggalkan barang-barang dan uang kalian, dan cepat angkat kaki dari tempat ini!"

Mata Giok Hoa mendelik besar sekali, dia bilang.

"Apakah begitu mudah kalian menghendaki barang kami?"

Dan dengan gusar ia telah menerjang buat menghantam si pelayan tua.

Pelayan tua itu menggerakkan goloknya, membacok, namun Giok Hoa bisa menghindar dengan mudah.

Sedangkan empat orang pelayan lainnya segera menggerakkan golok masing-masing, membacok serentak kepada Giok Hoa.

Giok Hoa yang tengah murka, segera mengerahkan gin-kangnya.

Tangannya juga tidak berayal telah mencabut keluar pedangnya, dengan segera diputarnya pedang itu dengan jurus-jurus ilmu pedang Giok-lie-kiam-hoat.

Sinar pedang bergulung-gulung menyambar kepada lawanlawannya.

Jika sebelumnya tampak para pelayan itu lemas dan sikapnya menghormat, maka kini mereka tampaknya gagah dan bengis-bengis.

Setiap bacokan mereka berkesiuran sangat cepat, karena kepandaian mereka walaupun belum tinggi, juga tidak terlalu rendah.

Apa lagi memang mereka itu memiliki hati yang kejam dan bengis, dengan demikian membuat setiap bacokan mereka selalu mengandung maut.

Namun gulungan sinar pedang Giok Hoa membuat mereka jadi tidak berdaya untuk merangsek terlalu dekat.

Ko Tie yang tengah duduk bersemedhi mengatur jalan pernapasannya, seakan juga tidak memperhatikan pertempuran yang terjadi di dekatnya.

Ia terus juga mengatur jalan pernapasannya, karena memang dia bermaksud untuk mendesak racun yang terlanjur telah memasuki peredaran darahnya itu agar tidak menjalar terlalu jauh, sehingga menuju ke jantung.

Dan untuk itu ia mengerahkan seluruh sin-kang nya, karena jalan pernapasannya tidak bisa berjalan lancar.

Dan juga setiap kali ia mengerahkan sin-kangnya, tenaga dalamnya seperti mandek terhalang sesuatu, membuatnya jadi tidak bisa untuk menembus sampai ke Tan-tian.

Karena itu Ko Tie masih terus berusaha mengerahkan tenaga dalamnya, menembus sampai ke Tan-tian.

Jika tenaga dalamnya berhasil menembusi rintangan itu dan bisa mengalir sampai ke Tan-tian berarti untuk selanjutnya tidak ada kesulitan buat Ko Tie membendung beredarnya racun lebih jauh.

Muka Ko Tie agak hitam gelap, karena bekerjanya racun, sedangkan ia memang masih belum bisa mengerahkan sinkangnya menembusi tan-tiannya, pusarnya.

Dengan begitu pertempuran antara Giok Hoa dengan ke lima orang pelayan itu seperti tidak memperhatikan Ko Tie.

Giok Hoa menyadari bahwa ia tidak boleh membuang-buang waktu.

Kalau sampai pertempuran itu berlangsung lama, dan juga mengganggu pemusatan perhatian dan pikiran Ko Tie, sehingga perasaannya tergoncang, Ko Tie pasti mengalami kesulitan yang jauh lebih besar.

Dikala itu, dengan pedang yang berkelebat ke sana ke mari, tubuh Giok Hoa juga berkelebat-kelebat dengan lincah.

Setiap kali dia menggerakkan pedangnya, dengan jurus Giok-lie-kiam-hoat, membuat lawannya mundur tidak bisa mendekatinya.

Malah, setelah lewat belasan jurus, Giok Hoa memiliki kesempatan, pedangnya telah menikam ke pundak salah seorang lawannya.

Tikaman itu meluncurnya sangat cepat, sehingga lawanya yang berada di sebelah kanan, tidak keburu lagi untuk menghindar.

Dan pundaknya kena tikam.

Dia menjerit, dan seketika terhuyung mundur, dengan darah, mengalir deras dari lukanya itu.

Pelayan tua dengan seorang kawannya yang lain segera maju memperdekat pengepungan mereka.

Namun sekali lagi Giok Hoa herhasil menikam lengan seorang lawannya, dan lawannya itu mundur dengan muka meringis, bahkan goloknya telah jatuh ke lantai dengan mengeluarkan suara berkerontongan.

Bukan main gusarnya pelayan tua itu.

Berulang kali ia berseru menganjurkan kepada ke dua orang kawannya, yang belum terluka agar maju lebih ketat merangsek Giok Hoa.

Ia sendiri pun menyerbu dengan goloknya bergerak sangat ganas sehingga membuat Giok Hoa harus memutar pedangnya beberapa kali menangkis serangan itu.

Cuma saja disebabkan pelayan tua itu berlaku nekad, dan juga geraknya berobah, tahu-tahu pedang Giok Hoa telah menyambar menabas kutung tangan kiri pelayan tua itu, sebatas siku tangannya.

Pelayan tua itu mengeluarkan jeritan menyayatkan hati, melompat mundur dan telah berseru.

"Angin kencang……!"

Ia telah melarikan diri, diikuti oleh ke empat orang kawannya.

Giok Hoa hendak mengejarnya, tapi segera ia teringat akan keselamatan Ko Tie, akhirnya ia batal mengejar dan telah menghampiri Ko Tie.

Dilihatnya muka Ko Tie hitam dan pucat, gelap sekali, menunjukkan betapa pemuda itu memang keracunan hebat.

Dalam keadaan seperti itu terlihat jelas, betapapun juga, memang Ko Tie tengah berada dalam keadaan yang gawat sekali, karena ia tengah berusaha membendung bekerjanya racun.

Dengan demikian ia mengerahkan seluruh sin-kangnya dan mati-matian mencegah beredarnya lebih jauh racun yang terlanjur tadi telah diminumnya.

Apa lagi memang tampaknya racun yang dipakai penjahat bukanlah racun sembarangan melainkan racun-racun yang dapat bekerja cepat dan juga sangat ganas.

Biarpun Ko Tie memiliki sinkang yang sangat tinggi, namun ia tidak bisa segera membendung beredarnya racun dalam waktu yang singkat.

Di waktu itu, Giok Hoa berdiri di samping Ko Tie.

Ia bersiap siaga, karena ia kuatir kalau-kalau ada serangan mendadak dari pihak lawan.

Disamping itu, Giok Hoa juga tengah berpikir keras.

Ia menduga entah siapa adanya pelayan-pelayan rumah penginapan ini yang mereka tampaknya memiliki kepandaian tidak rendah juga yang membuat dia curiga.

Sesungguhnya apa yang diucapkan oleh pelayan tua itu, bahwa mereka menginginkan uang dan barang milik Ko Tie dan Giok Hoa, hal itu tidak bisa di percaya penuh sebab tidak masuk dalam akal jika memang mereka cuma menghendaki barang dan uang.

Sebab waktu beberapa waktu yang lalu, ternyata kamar mereka telah kemasukkan penjahat dan uang maupun barang mereka tidak ada yang hilang.

Kalau memang orang-orang itu menginginkan uang dan barang, niscaya mereka akan mengambilnya dengan mudah.

Bukankah di waktu itu memang Ko Tie data Giok Hoa sedang tidak berada di rumah penginapan tersebut?

Maka Giok Hoa yakin, pelayan tua itu hanya memberikan alasan kosong belaka, bahwa mereka hanya sekedar menghendaki uang dan barang.

Justeru melihat Ko Tie telah keracunan seperti itu, tentunya memang para pelayan rumah penginapan ini menghendaki jiwa mereka berdua.

Bukankah Ko Tie dan dia oleh mereka?

Lalu, siapakah yang telah perintahkan mereka buat membunuh Giok Hoa dan Ko Tie?

Inilah yang tengah dipikirkan oleh Giok Hoa.

Malah ia segera berpikir, tentu antara para pelayan itu dengan Kiang-lung Hweshio terdapat hubungan yang erat.

Tetapi, Ko Tie sekarang berada dalam keadaan demikian, jiwa dan keselamatannya tengah terancam maka membuatnya benar-benar jadi harus melindunginya.

Karena jika sekarang ia mengejar para pelayan itu dan memaksa mereka bicara, siapa tahu Kiang-lung Hweshio tahu-tahu muncul dan membunuh Ko Tie.

Bukankah Ko Tie sekarang tengah berada dalam keadaan tidak berdaya.

Sebab ia telah dipengaruhi oleh bekerjanya racun, yang membuat ia selain tidak memiliki tenaga, juga memang belum pasti bisa melawan bekerjanya racun yang dimakannya itu, yang tentunya merupakan racun yang sangat berbahaya sekali.

Tengah Giok Hoa bingung dan panik, melihat muka Ko Tie yang semakin lama semakin gelap menghitam, ia mendengar suara langkah kaki beberapa orang yang tengah mendatangi.

Segera juga Giok Hoa bersiap sedia.

Dikala itu tampak beberapa orang muncul di ambang pintu.

Dan Giok Hoa waktu itu telah melihat mereka, seketika jadi mengeluh.

Karena dilihatnya mereka tidak lain terdiri dari Kiang-lung Hweshio, yang muncul sambil menyeringai sinis dan mukanya bengis sekali.

Disampingnya berdiri Gorgo San dengan muka yang menyeramkan dan matanya memancarkan sinar bernafsu buat membunuh.

Di belakang mereka tampak ke lima pelayan tadi yang telah dipukulnya mundur oleh Giok Hoa.

Tampak Kiang-lung Hweshio sambil tertawa bergelak-gelak telah berkata.

"Bagus! Jika kau nona manis tidak mau menyerahkan diri secara baik-baik, hemmmm, tentu kami akan membuat engkau mati dengan mata meram……!"

Dugaan Giok Hoa bahwa para pelayan itu adalah anak buah dari Kiang-lung Hweshio dan Gorgo San, ternyata tidak meleset.

Tapi, kini biarpun Giok Hoa tengah murka, ia berusaha menahan diri, mengingat akan keselamatan jiwa Ko Tie, yang keadaannya pada waktu itu sangat menguatirkan sekali.

Gorgo San pun tertawa dingin.

"Racun yang telah mengalir dalam peredaran darah kawanmu itu adalah racun nomor satu yang paling ganas di Tibet. Karena itu, tanpa memperoleh obat yang tepat, jangan harap kawanmu itu bisa tertolong jiwanya. Lewat besok pagi, maka jiwanya akan melayang……"

Dan setelah berkata begitu, Gorgo San tertawa bergelak-gelak.

"Aku bersedia menolong kalian!"

Kata Gorgo San lagi kemudian, setelah puas tertawa.

"Tapi ada syaratnya...... entah kau dapat memenuhi syaratnya itu atau tidak……!" Giok Hoa dengan muka yang merah padam berusaha menahan dan membendung kemurkaannya. Ia memandang ragu kepada Gorgo San. Dengan menindih kemarahannya, ia bertanya.

"Syarat apa yang kalian inginkan dari kami ini?"

"Syarat yang tidak terlalu berat……!"

Menyahuti Gorgo San dengan suara yang tawar.

"Kau harus baik-baik ikut denganku dan menjadi kekasihku, barulah aku akan memberikan kepada kawanmu itu obat pemunahnya. Tapi jika engkau membangkang, aku ingin melihat dengan cara bagaimana engkau menghadapi dan memandangi kawanmu yang tidak lama lagi akan mampus……!"

Muka Giok Hoa merah padam.

"Hemmm, dia seorang pemuda hidung belang……!"

Pikir si gadis kemudian.

"Tapi jika engkau melabrak mereka, tentu jiwa Ko Tie koko akan terancam sekali..... lebih baik aku menolongi dulu jiwa engkoh Tie..... nanti bisa diurus lagi……!"

Setelah berpikir begitu maka Giok Hoa mengangguk sambil tersenyum dingin. "Baiklah, aku menerima syaratmu! Tapi sekarang cepat kau berikan obat pemunah racun itu……"

Pinta Giok Hoa sambil mengawasi tajam. Gorgo San menggeleng perlahan, ia pun mengulapkan tangan kanannya.

"Tidak begitu mudah aku menyerahkan obat pemunah itu! Hemmm, apakah dengan begitu saja aku akan mempercayai kesediaanmu untuk menjadi kekasihku? "

Sekarang lemparkan pedangmu, dan kau biarkan kami menotok jalan darahmu, agar engkau tidak dapat melakukan hal-hal yang tidak kami inginkan!

Barulah nanti kami memberikan obat penawar racun kepada kawanmu itu ......!"

Giok Hoa cerdik dan ia pun tidak ceroboh. Mendengar perkataan Gorgo San seperti itu, ia bilang.

"Sekali mengucapkan tidak mungkin dapat ditarik kembali, tidak akan terkejar oleh selaksa kuda!"

Katanya, dan kemudian mendengus dua kali, barulah dia meneruskan perkataannya.

"Dan aku, tidak akan memungkiri janjiku, akan memenuhi syaratmu! Dan kau tidak perlu ragu-ragu, karena memang aku akan ikut bersama dengan kau, asal engkoh Tie bisa disembuhkan!"

Gorgo San tertawa besar, dia bilang.

"Engkoh Tie itu akan sembuh. Percayalah! Tapi, tetap saja engkau harus membiarkan kami menotok jalan darahmu, agar selanjutnya engkau tidak menimbulkan kesulitan buat kami! Bagaimana, kau bersedia?"

Giok Hoa ragu-ragu.

Inilah hebat.

Kalau memang sampai ia membiarkan dirinya ditotok oleh Gorgo San, bukankah sama saja ia menyerahkan diri ke mulut harimau?

Bukankah kelak dalam keadaan tertotok dia tidak akan berdaya?

Dengan mudah Gorgo San tentu akan menghina dirinya atau memperkosanya?

Inilah hebat, syarat yang didengarnya memang sangat ringan, tapi berat untuk dilaksanakannya, karena mengandung bahaya yang tidak kecil bagi dirinya sendiri.

Untuk beberapa saat lamanya Giok Hoa hanya berdiam diri saja dengan ragu-ragu.

Mukanya sebentar berobah pucat, sebentar merah padam.

Jika menuruti adatnya, tentu dia akan menerjang buat menghajar Gorgo San dan Kiang-lung Hweshio.

Tapi ia memikirkan keselamatan Ko Tie, yang membutuhkan obat penawar racun yang tepat agar racun yang mengendap di dalam tubuh Ko Tie dapat dipunahkan.

Melihat Giok Hoa ragu-ragu, Kiang-lung Hweshio tertawa dingin, dia menoleh kepada Gorgo San, katanya dengan suara yang sinis.

"Sudahlah, dia tampaknya sulit memenuhi permintaanmu, syaratmu itu tampaknya memberatkan hatinya! Lebih baik mereka di"

Mampus"kan saja, agar tidak meninggalkan bibit penyakit di belakang hari!"

Gorgo San tersenyum mendengar perkataan kawannya, ia bilang.

"Kawanmu itu terkena racun It-tok, racun tunggal, yang berasal dari Tibet. Jangan harap orang lain dapat menolonginya, karena hanya aku yang memiliki obat pemunahnya! "

Karena itu, biarpun orang yang menjadi korban racun itu memiliki sin-kang yang sempurna, sekali saja terkena racun tersebut, jangan harap ia bisa mempergunakan sin-kangnya buat mengusir racun yang mengendap di dalam tubuhnya!

Hemmm, demikian juga dengan kawanmu itu, walaupun ia bersemedhi dan mengerahkan sin-kangnya untuk dapat mengusir racun, tetap saja tidak akan berhasil."

Giok Hoa mengerutkam alisnya. Ia baru mengerti, mengapa sejauh itu Ko Tie masih belum berhasil mendesak racun yang mengendap di dalam tubuhnya. Sedangkan Gorgo San meneruskan perkataannya.

"Hemmm, perlahan-lahan racun itu akan membuat sin-kang korbannya menjadi semakin lemah dan jangan harap akhirnya dapat berhasil menindih racun itu! Baiklah! Tampaknya kau memang berat buat memenuhi syaratku.

"Aku pun tidak akan memaksa, aku ingin melihat, apa yang hendak kau lakukan besok pagi di kala temanmu itu akan mampus! Batas waktunya cuma besok pagi saja, karena ia akan hilang nyawanya.....!"

Muka Giok Hoa merah padam, malah tahu-tahu cepat sekali pedangnya telah berkelebat menikam kepada Gorgo San.

Giok Hoa bermaksud sekali menikam, ia akan dapat menikam mati Gorgo San.

Namun siapa tahu, justeru di waktu itu terlihat Gorgo San menyingkir ke belakang, dan Kiang-lung Hweshio yang maju memapaki dan menangkis serangan Giok Hoa.

Hal ini memang disebabkan Gorgo San tengah terluka di dalam yang tidak ringan oleh pukulan Ko Tie beberapa waktu yang lalu.

Dan Kiang-lung Hweshio yang telah mewakilinya menghadapi Giok Hoa.

Karena itu, segera terlihat Giok Hoa dan Kiang-lung Hweesio telah bertempur satu dengan yang lainnya.

Mereka bertempur dengan hebat sekali.

Tampak tubuh Kiang-lung Hweshio berkelebat-kelebat dengan ringan, dan ia pun sudah mengerahkan sebagian besar tenaga lweekangnya untuk mendesak Giok Hoa.

Terlebih lagi pedang si gadis bergulung-gulung dengan dahsyat karena dia mempergunakan ilmu pedang Giok-lie-kiam-hoat.

Dalam keadaan seperti itu, Kiang-lung Hweshio pun tidak bisa bertangan kosong.

Ia mempergunakan kayu pemukul bok-hienya untuk menangkis dan menghalau setiap serangan yang dilakukan oleh Giok Hoa.

Sedangkan Giok Hoa semakin berkuatir.

Sekarang ia tengah terlibat oleh Kiang-lung Hweshio.

Dengan demikian, jelas ia sulit sekali buat melindungi Ko Tie.

Dengan adanya Gorgo San di tempat itu tentu saja keadaan diri Ko Tie semakin terancam bahaya.

Karena jika Gorgo San mempergunakan kesempatan itu untuk menganiaya Ko Tie, niscaya si pemuda tidak bisa mengadakan perlawanan yang semestinya.

Jika tokh terpaksa ia menangkisnya, niscaya akan membuatnya jadi terluka di dalam yang lebih hebat.

Disamping racun yang mengendap di dalam tubuhnya akan menjadi buyar dan menjalar ke jantungnya.

Itulah merupakan ancaman yang tidak ringan.

Maka Giok Hoa hendak mendesak si pendeta dan juga ia bermaksud hendak melompat lagi ke tempatnya semula, yaitu melindungi kekasihnya.

Sedangkan Ko Tie walaupun ia tengah mengerahkan seluruh sinkangnya buat menindih racun yang mengendap di dalam tubuhnya, toh memang ia merupakan seorang yang memiliki pendengaran yang tajam.

Ia telah mendengar percakapan Gorgo San dengan Giok Hoa, juga ia mendengar suaranya Kiang-lung Hweshio sehingga ia menyadari bahwa jiwa dan keselamatannya terancam sekali.

Demikian juga keselamatan Giok Hoa, gadis itu bisa terancam bahaya yang tidak kecil.

Dikala itu, Ko Tie sendiri telah gagal beberapa kali untuk mengerahkan tenaga dalamnya guna yang menindih racun yang mengendap di dalam tubuhnya.

Akhirnya Ko Tie pun jadi nekad.

Dia berpikir, percuma saja ia membuang waktu untuk memulihkan tubuhnya dari racun itu, dan memunahkan racun tersebut dengan sin-kangnya.

Terlebih baik, ia membunuh Gorgo San dan lalu mengambil obat panawarnya dari orang tersebut.

Karena berpikir seperti itu, akhirnya Ko Tie mendadak sekali membentak nyaring, tubuhnya melompat berdiri dan tahu-tahu telah menyerang dengan sepasang tangannya kepada Gorgo San.

Gorgo San bukan main kagetnya, karena di waktu itu ia sama sekali tidak pernah menyangka bahwa Ko Tie bisa melompat bangun dan tahu-tahu melesat kepadanya menyerang dengan pukulan yang dahsyat.

Dengan demikian telah membuatnya cepatcepat menyingkir.

Tapi serangan yang dilakukan oleh Ko Tie memang benar-benar hebat.

Karena begitu menyerang tempat kosong, ia tidak menarik pulang tenaga dalamnya, melainkan ia meneruskan serangannya ke arah di mana Gorgo San mengelak.

Begitulah, beruntun tiga tali Gorgo San menghindarkan diri dari serangan yang dilakukan oleh lawannya, dan Ko Tie juga menyerang semakin hebat.

Kepandaian Ko Tie memang tinggi sekali, karena itu, sekarang dalam keadaan murka dan nekad, maka ia menyerang tidak tanggung-tanggung kepada lawannya.

Di dalam hatinya Ko Tie terpikir juga.

Jika saja ia bisa merubuhkan Gorgo San, niscaya dia bisa mengambil obat penawar racun dari Gorgo San.

Di waktu itu, Gorgo San telah terluka di dalam tubuh dan ia belum lagi sembuh keseluruhannya, dengan demikian telah membuatnya jadi tidak dapat memberikan perlawanan yang berarti.

Karena itu ia hanya bisa mengelakkan diri ke sana ke mari.

Tapi untuk dapat membalas menyerang, tenaga dalamnya seperti sudah punah dan tidak memiliki kekuatan.

Jika tokh memang Gorgo San memaksakan diri buat menyerang kepada Ko Tie, itulah serangan yang kosong tidak memiliki tenaga yang berarti.

Dikala itu terlihat, napas Ko Tie pun memburu keras karena ia merasa lelah bukan main.

Dalam keadaan murka, ia mengerahkan tenaga dalamnya yang berlebihan dan ia pun memang tengah keracunan.

Sehingga semakin bergerak dan mengerahkan tenaga dalammya, jelas akan membuat darahnya itu beredar sangat cepat.

Dengan begitu, saat kematiannya pun akan semakin dekat juga.

Karena darahnya yang beredar dengan cepat sekali, niscaya akan membuat racun yang telah terlanjur ikut dalam aliran darah, lebih cepat sampai ke jantung Maka terlihat beberapa kali Ko Tie, sesungguhnya memiliki kesempatan untuk menyerang lawannya.

Ia tidak mempergunakan kesempatan itu.

Dia malah telah menarik napas dalam-dalam, untuk mengatur jalan pernapasannya.

Sehingga telah membuatnya jadi beberapa kali mensia-siakan kesempatan yang ada.

Kiang-lung Hweshio melihat keadaan kawannya terdesak hebat, segera dia menyerang dan mendesak Giok Hoa, agar dia cepatcepat dapat menyudahi pertempuran tersebut dan menolongi Gorgo San.

Tapi Giok Hoa tidak mau memberikan kesempatan kepadanya.

Tampak sinar pedangnya berkelebat-kelebat mengancam bagianbagian yang mematikan di dalam tubuh dari lawannya.

Jika saja tikaman atau tabasan pedangnya itu mengenai sasaran, niscaya akan membuat lawannya itu seketika terbunuh tanpa bisa tertolong lagi.

Giok-lie-kiam-hoat memang ilmu pedang yang sempurna dan sangat hebat.

Karena itu, Giok Hoa menang di atas angin, setelah lewat seratus jurus, Kiang-lung Hweshio jatuh di bawah angin.

Giok Hoa sendiri sebetulnya tengah berkuatir sekali.

Ia mengerti, bahwa Ko Tie berhenti bersemedhi dan juga telah melompat menyerang Gorgo San, itulah cara yang memaksakan diri.

Karena dengan bergerak, bertempur dengan Gorgo San, akan membuatnya jadi mempercepat saat-saat kematian.

Peredaran darahnya akan jadi kencang dan cepat, dengan demikian racun yang mengendap di dalam tubuhnya pun akan mengalir lebih cepat sampai ke jantung.

Di kala itu, lima orang pelayan rumah penginapan itu, yang tidak lain adalah anak buah Kiang-lung Hweshio dan Gorgo San, ketika melihat Gorgo San tengah terdesak hebat oleh serangan Ko Tie, segera juga mereka maju dengan serentak, tampak mereka telah menggerakkan golok masing-masing.

Tiga orang di antara mereka memang telah terluka oleh Giok Hoa, akan tetapi luka mereka itu telah diobati, dan kini mereka bisa menyerang lagi dengan hebat kepada Ko Tie, untuk mengeroyok.

Cuma luka si pelayan tua yang memang agak berat, karena di waktu itu tangan kirinya, sebatas sikunya, telah kutung, oleh tabasan pedang Giok Hoa.

Maka sekarang di waktu menyerang Ko Tie, ia berlaku sangat hati-hati sekali, karena ia kuatir akan dibikin bercacad pula oleh Ko Tie, sebab memang ia mengetahui Ko Tie memiliki kepandaian yang jauh lebih tinggi dari kepandaian Giok Hoa.

Sedikit demi sedikit gerakan Ko Tie mulai lemah dan lambat.

Sekarang maju lima pelayan itu.

Walaupun kepandaian ke lima orang pelayan itu tidak setinggi dan selihay kepandaian dari Gorgo San, namun jumlah mereka banyak.

Dengan demikian, tentu saja akan membuatnya berat sekali menghadapi mereka.

Giok Hoa yang menyaksikan Ko Tie dikeroyok seperti itu, jadi berkuatir sekali.

Malah beberapa kali dia bermaksud melepaskan diri dari libatan Kiang-lung Hweshio tapi sebaliknya, sekarang ini Kiang-lung Hweshio malah bermaksud melibatnya, karena pendeta itu telah melihatnya, bahwa Ko Tie semakin lemah dan mulai kehabisan napas dan tenaga.

Jika memang bertempur lebih lama lagi, niscaya Ko Tie akhirnya pasti rubuh dengan sendirinya.

Karenanya, jika sebelumnya memang dia bermaksud melepaskan diri dari libatan Giok Hoa, dan kemudian menolongi Gorgo San sekarang ini justeru dia telah sengaja melibat terus gadis itu, dengan jurus-jurus yang mematikan.

Di kala itu tampak jelas, Giok Hoa berulang kali menikam dan menabas dengan agak gugup, karena biar bagaimana memang dia mulai tidak tenang menyaksikan keadaan Ko Tie yang mulai terdesak dan kehabisan tenaga.

Si gadis menyadarinya, jika saja Ko Tie bertempur terus dengan cara seperti itu, niscaya akan membuatnya kehabisan tenaga dan akhirnya pasti akan dapat dirubuhkan oleh lawannya.

Ko Tie juga tengah berpikir keras.

Ia merasakan tenaganya yang semakin berkurang banyak, berangsur-angsur membuat ia semakin lemah.

Karena itu, Ko Tie telah mengambil keputusan, untuk mengadu jiwa.

Sebelum dia rubuh dan kehabisan tenaga, terlebih dulu ia hendak membunuh Gorgo San dan nanti merampas obat penawar racunnya.

Di kala itu, Giok Hoa menyaksikan dua bagian dari tubuh Ko Tie terluka dan pakaiannya robek.

Darah yang berwarna merah kehitam-hitaman mengalir, membasahi baju dan tubuhnya.

Ngiris sekali hati Giok Hoa.

Dia melihat sudah lima atau enam bacokan yang kena di tubuh Ko Tie oleh golok lawannya.

Tapi tidak lama kemudian Ko Tie pun telah dapat menghantam dengan telapak tangannya kepada ke dua orang lawannya, yang seketika terpental keras sekali, dan ambruk di lantai dengan mengeluarkan erangan.

Kemudian diam dan tidak bergeming lagi, karena mereka telah pingsan.

Gorgo San dengan ke tiga pelayan rumah penginapan yang lainnya jadi terkejut.

Mereka sejenak lamanya tidak menerjang lagi, hanya mengawasi Ko Tie beberapa saat buat mencari kelemahan pemuda itu.

Ko Tie dengan mengeluarkan erangan sudah tidak mau membuang-buang waktu, di mana ia telah menyerang dengan hebat dan beruntun.

Dua orang pelayan telah dapat dihantam rubuh pula dan pingsan tidak sadarkan diri, karena tulang dada mereka telah melesak hancur terkena hantaman telapak tangan Ko Tie.

Sekarang tinggallah Gorgo San dengan pelayan tua yang tangan kirinya sebatas siku telah kutung itu.

Dan mereka gentar bukan main.

Jika dalam keadaan biasa dan tidak terluka, niscaya Gorgo San tidak akan gentar seperti itu, ia pasti bisa menghadapi Ko Tie sebaik-baiknya.

Justeru sekarang ini ia tengah terluka di dalam dan memang luka di dalam tubuhnya itu belum lagi sembuh.

Karenanya ia telah mengambil keputusan yang cepat, dia menoleh kepada pelayan tua itu.

"Kau layani dulu dia……!"

Dan sambil berkata begitu, tampak Gorgo San menjejakkan ke dua kakinya, tubuhnya melesat mundur ke belakang.

Sesungguhnya pelayan tua itu pun tengah gugup dan gentar, tapi atas perintah Gorgo San yang tidak berani dibantahnya, terpaksa juga ia melompat maju, membacok dengan goloknya beruntun tiga kali.

Ko Tie menghindarkan diri dari tiga bacokan itu, ia kemudian menghantam dengan telapak tangan kirinya.

Tubuh pelayan itu, yang pundaknya kena dihantam dengan kuat, terpental dan jatuh terguling-guling di lantai, namun ia segera dapat bangun.

Di waktu itulah tangan kanan Ko Tie melayang menyambar lagi, dan lengan pelayan tua itu kena dihantamnya.

Seketika tulang lengannya patah dan hancur.

Pelayan itu jadi mengerang-erang kesakitan, dan kemudian pingsan tidak sadarkan diri.

Karena akibat getaran dari kekuatan tenaga serangan itu, membuat ia terluka di dalam tubuh.

Seluruh isi perutnya terasa jungkir balik.

Dan ia menderita kedinginan yang hebat sekali, juga sekujur tubuhnya seperti dibungkus oleh lapisan es yang menggigilkan tubuhnya.

Dengan mengeluh, akhirnya ia pingsan tidak sadarkan diri.

Muka Gorgo San berobah.

Ia menjejakkan ke dua kakinya, tubuhnya segera melesat ingin melarikan diri meninggalkan kamar tersebut.

Ko Tie tidak mau membuang-buang waktu dan kesempatan ini.

Karena dia mengerti, walaupun hanya satu detik, pada waktu itu sangat berguna sekali baginya.

Tubuhnya segera bergerak berkelebat dan ia berhasil mengejar Gorgo San.

Tapi belum lagi Ko Tie menyerang, Gorgo San telah berlari ke arah lain.

Di saat itu Gorgo San seperti main petak kucing, dan dengan cara kucing-kucingan seperti itu ia selalu berusaha menjauhi dari Ko Tie.

Iapun memang sengaja hendak membangkitkan kemarahan Ko Tie.

Sekali saja Ko Tie terbakar hatinya dan marah, niscaya racun yang mengendap di dalam tubuhnya akan segera bekerja lebih cepat.

Berarti kematian yang diterima Ko Tie akan datang lebih cepat lagi.

Kiang-lung Hweshio jadi berkuatir menyaksikan Gorgo San diburuburu oleh Ko Tie.

Dengan mengeluarkan suara erangan bengis, ia pun seringkali mempergunakan kayu pemukul bok-hienya buat menimpuk kepada Giok Hoa.

Jika timpukan kayu pemukul bok-hie itu tidak mengenai sasarannya, maka kayu pemukul bok-hie itu akan terbang meluncur kembali kepada si pendeta.

Dengan berulang kali menimpuk mempergunakan cara seperti itu, telah membuat Giok Hoa tidak bisa mendesak si pendeta terlalu dekat, karena Giok Hoa pun jeri buat kepandaian menimpuk dari lawannya, yang bisa menimpuk dengan kayu pemukul bok-hie itu dengan baik dan juga arah sasarannya sulit sekali diterka.

Cuma saja, yang membuat Giok Hoa berkuatir, adalah keselamatan Ko Tie.

Waktu itu walaupun Ko Tie masih bisa mengejar Gorgo San dan berulang kali menyerang.

Namun tetap saja mukanya semakin hitam.

Larinya yang semakin lambat itu membuktikan racun telah bekerja semakin berat.

Dan tidak lama lagi Ko Tie akan roboh sendirinya, jika saja ia masih mengejar Gorgo San.

Gorgo San bukannya tidak melihat keadaan Ko Tie seperti itu.

Dia girang bukan main, maka ia sengaja berlari terus, semakin lincah dan juga mengejek tidak hentinya, buat membangkitkan kemarahan Ko Tie.

Tetapi waktu itu Ko Tie yang merasakan matanya berkunangkunang, segera juga terkejut dan menghentikan larinya.

Ia pun di dalam hatinya berpikir.

"Celaka! Mengapa aku harus terpancing olehnya seperti ini? Jika memang darahku meluap dan aku mempergunakan tenaga, racun akan bekerja lebih cepat lagi, berarti kematianku akan lebih cepat pula!"

Karena berpikir seperti itu, Ko Tie telah menahan larinya. Dia berdiam diri saja dan mengawasi Gorgo San. Sedangkan Gorgo San berdiri terpisah lima tombak lebih dengan bertolak pinggang.

"Ayo! Ayo maju! Mari! Mengapa berhenti? Atau memang engkau sudah ingin mampus, monyet?"

Ejeknya.

Di ejek seperti itu, bukan main murkanya Ko Tie.

Tapi ia pun menyadari bahwa seseorang yang tengah terkena racun, jelas tidak boleh menuruti emosinya, dan ia harus dapat mengendalikan diri dan juga jika bisa tidak mempergunakan tenaganya.

Jika memang ia melanggar larangan tersebut, niscaya akan membuatnya jadi lebih cepat terancam kematian.

Racun dapat bekerja lebih cepat lagi.

Akhirnya Ko Tie memutuskan, dia akan berdiam diri saja.

Dia hanya akan menimpuk dengan mempergunakan senjata rahasianya.

Tiba-tiba tangannya bergerak, dia menimpukkan beberapa jarum bwee-hoa-ciam kepada Gorgo San.

Gorgo San mengeluarkan seruan kaget dan menyingkir lagi.

Ia cuma bisa bergerak gesit, tanpa memiliki tenaga buat mengadakan perlawanan.

Karena itu, ia cuma berhasil mengelakkan diri dari sambaran senjata rahasia tersebut, tanpa ia bisa untuk balas menimpuk.

Di kala itu Ko Tie gencar sekali menimpuk kepada lawannya.

Gorgo San berpikir.

"Hemmmmm, tampaknya ia masih memiliki sedikit tenaga dan masih bisa bertahan. Jika memang aku meninggalkanya setengah harian dan nanti aku datang kembali ke mari, untuk membunuhnya, di waktu itu tentu dia sudah tidak berdaya lagi......!" Karena berpikir seperti itu, tampak Gorgo San telah menjejakkan ke dua kakinya, tubuhnya melompat keluar dari jendela. Dia pun sambil melompat berseru nyaring kepada Kiang-lung Hweshio.

"Angin kencang!"

Kiang-lung Hweshio memang tengah berpikir sama seperti yang dipikirkan Gorgo San.

Sekarang mendengar kawannya menganjurkan ia angkat kaki, maka segera ia mendesak Giok Hoa.

Waktu Giok Hoa melompat mundur, segera juga ia menjejakkan kakinya, tubuhnya melesat ke luar dari jendela.

Dalam waktu yang singkat, segera juga ia menghilang di luar, menyusul Gorgo San.

Giok Hoa hendak mengejar, namun segera ia teringat kepada Ko Tie.

Ia berlari menghampiri.

"Engkoh Tie…… bagaimana keadaanmu?"

Tanya si gadis dengan berkuatir sekali, karena dilihatnya muka Ko Tie telah gelap dan menghitam.

Dia tahu racun yang mengendap di dalam tubuh Ko Tie telah semakin mengganas dan keadaan si pemuda semakin lemah.

Ko Tie menghela napas.

"Tampaknya memang sulit buat aku lolos dari kematian!"

Menggumam si pemuda itu, yang di saat itu merasakan matanya berkunang-kunang dan kepalanya pusing.

Hal itu disebabkan Ko Tie sudah terlalu banyak mengerahkan tenaga dalamnya, sahingga racun yang mengendap di dalam tubuhnya mulai bekerja mengganas, membuat pandangan mata Ko Tie jadi gelap, dan juga kepalanya pusing, seperti dunia berputar.

Dengan mengeluarkan suara keluhan, tubuhnya terhuyunghuyung.

Ko Tie masih berusaha hendak mempertahan kuda-kuda ke dua kakinya, namun gagal.

Tubuhnya ambruk di lantai.

Untung Giok Hoa cepat sekali memegangi lengannya, malah gadis ini kemudian memayangnya naik ke pembaringan, merebahkan pemuda itu di situ.

Giok Hoa bingung bukan main, ia melihat Ko Tie pingsan tidak sadarkan diri.

Malah, dalam keadaan pingsan seperti itu, napasnya memburu keras dan panas.

Dia juga terlihat, betapa mukanya hitam kehijauhijauan menunjukkan bahwa racun yang mengganas di dalam tubuhnya memang sangat hebat sekali.

Jika pemuda ini tidak memperoleh pengobatan yang tepat dan segera, niscaya ia akan membuang jiwa dengan cara yang mengecewakan.

Giok Hoa karena terlalu bingung dan tidak mengetahui apa yang harus dilakukannya, menangis terisak-isak.

Dan ia pun telah duduk di tepi pembaringan, buat menjagai dan melindungi Ko Tie, kalaukalau sewaktu-waktu ada orang yang datang bermaksud mencelakainya, atau Gorgo San dan Kiang-lung Hweshio datang kembali buat mengacau.

Lama juga Ko Tie pingsan tidak sadarkan diri, sampai akhirnya ketika ia tersadar, ia mengigau dengan suara yang sangat serak dan lemah, keadaannya semakin parah juga, karena racun telah bekerja hebat sekali.

Jika saja racun yang mengendap di dalam tubuhnya itu menjalar sampai ke jantungnya niscaya ia akan menemui ajalnya.

Dengan muka yang pucat dan bingung, Giok Hoa telah bertanya.

"Mau..... maukah kau ku tolong dengan mempergunakan sinkang?"

Tapi Ko Tie menggeleng perlahan suaranya serak.

"Mana…... manusia keparat itu.....?" Giok Hoa ragu-ragu, tapi kemudian dia memberitahukan juga Gorgo San dan Kiang-lung Hweshio telah melarikan diri.

"Hemmm, sebelum aku membunuhnya, aku..... aku tidak mau mati!"

Berkata Ko Tie dengan suara yang serak dan tubuh menggigil.

Dikala itu, Giok Hoa segera memutuskan mungkin dengan menyalurkan lweekangnya, dia bisa membantu Ko Tie untuk menindih racun yang mengendap di dalam tubuh pemuda itu.

Akan tetapi itulah tindakan yang masih belum pasti di samping berbahaya, karena dikala ia mengerahkan tenaga lweekangnya, jika sampai musuh datang niscaya dia tidak akan dapat memberikan perlawanan, dan mudah sekali akan ia akan dapat dirubuhkan.

Berarti mereka berdua akan kehabisan kesempatan untuk hidup lebih jauh, di mana mereka akan terbinasa.

Dikala Giok Hoa ragu-ragu, Ko Tie mendadak mengerang, ia bilang.

"Aku….. aku bisa menyembuhkan diri..... tapi aku membutuhkan tempat untuk tujuh hari lamanya. Selama tujuh hari aku tidak boleh pengerahan tenaga dalam itu terpecahkan..... sekali saja buyar, akan habislah jiwaku…..!" Mendengar perkataan Ko Tie itu, bukan main girangnya Giok Hoa. Ia bertanya dengan segera.

"Baik…… di mana tempat yang kiranya cocok untuk kau mengobati diri?!"

"Di tempat yang sunyi.....?"

Menyahuti Ko Tie dengan suara yang lemah.

"Aku akan membawamu mencari tempat yang cocok untuk kau!"

Kata Giok Hoa.

Si gadis bekerja cepat sekali.

Dia telah memasukkan pedangnya ke dalam sarungnya, kemudian membereskan buntalannya, dan lalu menggendong Ko Tie.

Semua itu dilakukan Giok Hoa dengan cepat, sebab ia kuatir kalau sampai Kiang-lung Hweshio dan Gorgo San datang kembali ke kamar mereka di rumah penginapan ini, di mana kedua orang itu tentu bisa mendesak mereka lebih hebat, di saat Ko Tie tengah berada dalam keadaan tidak berdaya seperti ini.

Waktu meninggalkan rumah penginapan itu, Giok Hoa melihat keadaan sangat sepi sekali.

Dia telah melompat dengan gesit mengambil jalan di atas genting.

Walaupun ia menggendong Ko Tie dan membawa buntalan mereka yang cukup berat, namun ia bisa bergerak dengan lincah.

Ia berlari-lari keluar kota.

Tapi ketika ia menoleh ke belakang, ternyata mengikuti beberapa sosok tubuh, membuat Giok Hoa jadi terkejut.

Yang membuat dia jadi mengeluh, karena segera juga Giok Hoa mengenali, di antara sosok tubuh yang tengah mengikuti di belakangnya adalah Kiang Lung Hweshio dan Gorgo San.

Dengan demikian benar-benar membuat si gadis jadi bingung.

Dalam keadaan seperti itu, di mana dia menggendong Ko Tie dan membawa buntalan mereka, jika diserang oleh Kiang-lung Hweshio serta Gorgo San, niscaya si gadis tidak leluasa buat mengadakan perlawanan.

Karena itu, segera juga ia mempercepat larinya.

Dia mengerahkan gin-kangnya, karena ia bermaksud menjauhi diri secepat mungkin menghindar dari pengejarnya.

Sesungguhnya, Kiang-lung Hwesio dan Gorgo San setelah keluar dari kamar si gadis dan Ko Tie, bukannya mereka pergi meninggalkan tempat itu.

Mereka terus juga mengamati kalaukalau Giok Hoa dan Ko Tie ingin melarikan diri.

Bahkan Kiang-lung Hweshio telah mengumpulkan beberapa orang anak buahnya.

Mereka semuanya bersiap-siap untuk menerjang ke dalam rumah penginapan itu.

Di kala itulah, mereka melihat Giok Hoa dengan menggendong Ko Tie hendak meninggalkan rumah penginapan.

Sebetulnya anak buah Kiang-lung Hweshio hendak menerjang keluar buat mengepung si gadis dan membinasakannya, tetapi Kiang-lung Hweshio memberikan isyarat agar mereka tidak bergerak dulu, karena pendeta ini memang hendak melihat apa yang hendak dilakukan oleh Giok Hoa dan Ko Tie.

Juga Gorgo San.

Walaupun merasa benci kepada Giok Hoa dan Ko Tie pun ia sangat menyukai si gadis yang begitu cantik.

Disebabkan itu pula, jika memang si gadis masih bisa ditangkap hidup-hidup, itu jauh lebih baik dari pada dibunuh.

Itulah sebabnya mengapa mereka hanya mengikuti dari belakang saja.

Sedangkan Giok Hoa yang diikuti, karena menyadari tidak mungkin bisa menghadapi mereka dengan keadaannya seperti sekarang ini, jadi bingung bukan main.

Walaupun dia telah mengerahkan gin-kangnya dan berlari secepat mungkin, tetap saja ia tidak berhasil menyingkirkan diri.

Semua musuhnya masih dapat mengikuti di belakangnya.

Hal ini disebabkan Giok Hoa memang tengah menggendong Ko Tie dan membawa buntalan mereka yang cukup berat, membuat gerakannya tidak leluasa dan tubuhnya tidak bisa berlari terlalu cepat.

Giok Hoa pun merasakan dengus napas Ko Tie yang panas sekali, menunjukkan keadaan pemuda itu sangat gawat sekali.

Apa lagi setelah ia mengetahui bahwa Ko Tie telah pingsan tidak sadarkan diri dalam gendongannya.

Akhirnya si gadis mengambil keputusan nekad.

Ketika sampai di depan sebuah permukaan hutan yang tidak begitu lebat, Giok Hoa menurunkan Ko Tie, di rebahkan di bawah sebatang pohon di atas rumput-rumput yang tebal.

Ia meletakkan juga ke dua buntalannya.

Kemudian dia malah memapak para lawannya itu, dengan pedang yang terhunus.

Tanpa mengucapkan sepatah perkataan pun juga, pedangnya itu telah bekerja, di mana dia menikam dan menabas dengan hebat sekali kepada Gorgo San dan Kiang-lung Hweshio.

Apa yang dilakukannya benar-benar merupakan penyerangan yang nekad.

Giok Hoa bertekad, karena tidak bisa melarikan diri, dari pada ia akhirnya mati juga di tangan musuhnya.

Karena dengan membawa beban seperti Ko Tie membuat gerakannya tidak leluasa.

Di waktu itulah ia telah menyerang dengan pedangnya mati-matian agar sebelum mati ia bisa membunuh lawannya sebanyak-banyaknya.

Pedangnya berkelebat-kelebat.

Giok Hoa mempergunakan ilmu pedang Giok-lie-kiam-hoat yang menjadi andalannya.

Memang segera terdengar suara jerit kematian dari dua orang anak buah Kiang-lung Hweshio.

Akan tetapi, si gadis juga tidak urung telah kena dilukai oleh Kianglung Hweshio, di mana pundaknya telah kena diketok dengan keras sekali oleh kayu pemukul bok-hienya si pendeta, sehingga dia merasakan pundaknya itu seperti juga menjadi patah.

Untung saja itulah pundaknya yang sebelah kiri, dengan begitu dia masih bisa menyerang dengan pedang yang tercekal di tangan kanannya kalap sekali.

Dia menikam dan melukai lengan Kianglung Hweshio.

Gorgo San tidak ikut menyerang Giok Hoa melainkan dengan berlari-lari gesit dia menuju ke tempat di mana Ko Tie tengah rebah tidak berdaya.

Menyaksikan itu, Giok Hoa menjerit kaget, dan hendak memutar tubuh mengejarnya.

Namun Kiang-lung Hweshio dan anak buahnya segera melibatnya dengan serangan-serangan yang membuat si gadis tidak memiliki kesempatan untuk memutar tubuhnya mengejar Gorgo San.

Giok Hoa jadi panik, tubuhnya berkelebat ke sana ke mari dengan lincah, pedangnya juga telah menyambar bergulung-gulung.

Dengan cara menyerang seperti itu, si gadis benar-benar telah memperlihatkan kelihayan Giok-lie-kiam-hoat, apalagi memang dia tengah bingung dan menjadi kalap, maka setiap serangannya merupakan tikaman yang nekad.

Cuma saja, karena memang Kiang-lung Hweshio dan anak buahnya merupakan manusia-manusia licik, dengan sendirinya mereka selalu main menghindar.

Mereka tidak mau melayani serangan si gadis, yang terpenting bagi mereka adalah mengepung terus gadis itu, agar Gorgo San memiliki kesempatan buat membunuh Ko Tie yang tengah rebah tidak berdaya di bawah sebatang pohon.

Di kala itu terlihat sepasang mata Gorgo San memancarkan sinar yang buas dan bengis sekali.

Dia memang kejam, dan sekarang karena ia telah terluka di dalam akibat pukulan Ko Tie, dendamnya meluap.

Sekarang dia hendak mempergunakan kesempatan ini buat membunuh Ko Tie, yang dalam keadaan tidak berdaya itu.

Mulut Gorgo San tampak tersenyum mengejek dan menakutkan.

Jarak mereka terpisah tinggal dua tombak lagi.

Gorgo San melihat Ko Tie dalam keadaan pingsan tidak sadarkan diri.

Tentu dengan satu kali menggerakkan tangannya, dia bisa membunuhnya dengan mudah sekali tanpa memperoleh perlawanan.

Karena itu, dengan bernapsu dia berlari lebih cepat.

Tiga kali lompatan dia telah berada di samping Ko Tie.

Tanpa membuang waktu lagi dia mengangkat tangan kanannya, bermaksud menepuk batok kepala Ko Tie menjadi hancur dan remuk.

Tapi, begitu tangan Gorgo San tengah meluncur, dan Giok Hoa menjerit kalap melihat Ko Tie terancam keselamatannya di tangan Gorgo San.

Sedangkan dia tidak berdaya melepaskan diri dari libatan lawannya, sehingga dia tidak bisa melindungi Ko Tie.

Di kala itulah, dari balik sebatang pohon telah berkelebat sesosok bayangan.

Tangan sosok bayangan tersebut menyambar ke punggung Gorgo San.

"Dukkkk!"

Punggung Gorgo San telah kena dihantam dan tubuhnya terpental jumpalitan di tanah.

Sambil mengeluh perlahan dia memuntahkan darah segar, tubuhnya kemudian lunglai dan lemas tidak bisa bergerak lagi, karena ia telah pingsan tidak sadarkan dirinya lagi.

Kiang-lung Hweshio dan kawan-kawannya kaget tidak terkira.

Demikian juga Giok Hoa.

Tapi si gadis kaget bercampur dengan perasaan girang luar biasa.

Orang yang telah menolongi Ko Tie, segera juga menyambar tubuh Ko Tie, yang dilarikan dengan gesit sekali lenyap ke dalam hutan.

Giok Hoa berseru kaget, tapi ia tidak bisa melihat jelas penolong Ko Tie, karena orang itu bergerak sangat cepat dan gesit sekali, sehingga hanya dalam waktu beberapa detik, tubuhnya telah lenyap lagi ke dalam hutan dengan membawa serta Ko Tie.

Sungguh hal itu membuat Giok Hoa jadi kalap.

Tanpa memperdulikan Kiang-lung Hweshio dan lainnya, Giok Hoa berlari menyusul.

Ia masih sempat menyambar ke dua buntalannya, kemudian menerobos masuk ke dalam hutan, buat menyusul orang yang telah membawa Ko Tie.

Tapi berlari sekian lama, tetap saja ia tidak berhasil menemukan jejak orang itu, yang tampaknya memang sangat lihay dan memiliki gin-kang yang mahir sekali, karena waktu ia muncul dari dalam hutan, menghantam punggung Gorgo San, kemudian mengangkat tubuh Ko Tie dan kembali lari masuk ke dalam hutan itu.

Semua itu berlangsung hanya dalam beberapa detik saja, malah karena cepat dan gesitnya gerakan orang tersebut, membuat Giok Hoa tidak bisa melihat jelas keadaan muka orang itu.

Si gadis cuma bisa melihat gumpalan warna hijau, warna dari baju orang tersebut.

Mati-matian Giok Hoa mengejar terus masuk ke dalam hutan itu, ia mengerahkan seluruh gin-kangnya, buat berlari secepat mungkin, untuk menyusul orang yang menculik Ko Tie, agar dia dapat dengan segera merebut Ko Tie kembali.

Memang diakuinya, bahwa Ko Tie memiliki kepandaian yang sangat tinggi.

Tapi dia dalam keadaan tidak berdaya, di mana dia tengah keracunan dan juga sedang pingsan.

Orang yang telah menculiknya itu tidak diketahuinya dari pihak musuh atau kawan.

Karena itu Giok Hoa mengejar seperti kalap, menerjang banyak pohon-pohon dan terus juga berlari dengan kaki yang terluka oleh tusukan duri.

Si gadis sudah tidak memperdulikan segala apapun juga, ia berlari terus dengan cepat.

Cuma sayangnya orang yang menculik Ko Tie memang memiliki gin-kang yang tinggi luar biasa, sehingga dia sama sekali tidak meninggalkan jejak.

Giok Hoa mengejar terus, juga memanggil-manggil nama Ko Tie.

Tapi sampai suaranya serak dan ia pun lelah sekali, karena setengah harian berlari-lari terus, bahkan telah sampai di luar permukaan hutan di bagian lainnya, dia masih tidak berhasil menemui jejak dari orang yang menculik Ko Tie.

Keadaan di hutan itu sunyi sekali.

Sedangkan Kiang-lung Hweshio tidak mengejarnya, karena mereka telah menyaksikan bahwa orang yang melukai Gorgo San dan kemudian menculik Ko Tie adalah seorang yang memiliki kepandaian tinggi.

Karena itu, mereka tidak mengejarnya.

Apa lagi di dalam rimba persilatan memang terdapat satu pantangan, yaitu siapapun adanya orang Kang-ouw, jika memang bertemu dengan hutan, sekali-kali tidak boleh menerobos masuk ke dalam hutan, karena akan membuat orang itu menghadapi bahaya yang tidak kecil.

Alasan itu pula yang akhirnya membuat Kiang-lung Hweshio tidak mengejar dan perintahkan anak buahnya agar menggotong Gorgo San.

Mereka segera meninggalkan hutan tersebut, agar dapat cepatcepat mengobati Gorgo San, yang keadaannya tampak sangat parah sekali, karena luka yang dideritanya itu pun tidak ringan.

Giok Hoa akhirnya menjatuhkan dirinya duduk di bawah sebatang pohon.

Dia duduk termenung di situ, karena dia tidak berhasil untuk mencari jejak dari penculik Ko Tie, dan berarti Ko Tie tidak berhasil dicarinya pula.

Maka segera juga Giok Hoa berpikir untuk mengelilingi hutan itu beberapa saat lagi, dan setelah ia melakukannya, tetap saja tidak berhasil menemukan jejak si penculik dan Ko Tie.

Ia pun meninggalkan hutan itu dengan hati yang berduka bukan main.

Tapi di dalam hati kecilnya, dia berharap bahwa orang yang telah menculik Ko Tie adalah seorang yang bermaksud hendak menolongi pemuda itu, agar dapat diobatinya.

Dan siapa tahu nanti mereka bisa bertemu lagi.

Dengan hati yang gelisah dan bingung, akhirnya Giok Hoa telah melanjutkan perjalanannya, dan juga ia merasa berkuatir sekali, kalau-kalau Ko Tie tidak dapat ditolong dan menemui ajalnya.

Karena itu, disebabkan bingung dan juga tidak tahu ke mana dia harus pergi, akhirnya Giok Hoa memutuskan untuk pulang ke gurunya dan memberitahukan apa yang telah terjadi kepada gurunya dan Swat Tocu…… ◄Y► Mari kita melihat keadaan Ko Tie.

Waktu ia diangkat oleh orang yang menolonginya, ia tetap berada dalam keadaan pingsan tidak sadarkan diri.

Orang itu, yang telah menghantam Gorgo San sampai jungkir balik dan pingsan tidak sadarkan diri, merupakan seorang lelaki tua yang memelihara jenggot panjang sekali.

Kopiahnya merupakan kopiah bulat.

Dan juga jubah panjangnya itu, berwarna hijau.

Telapak tangannya memang hebat sekali, sekali hantam telah membuat tubuh Gorgo San terpental begitu jauh.

Ia pun dapat bergerak sangat cepat luar biasa.

Begitu ia mengangkat tubuh Ko Tie, segera ia lenyap pula di dalam hutan.

Giok Hoa tidak melihat mukanya dengan jelas.

Hal itu membuktikan betapa tingginya gin-kang orang tersebut.

Orang tua itu, yang memakai jubah warna hijau, terus juga berlari gesit sekali dengan menggendong Ko Tie.

Tubuhnya seperti juga terbang saja, tanpa menginjak tanah, ke dua kakinya seperti juga melayang-layang, karena memang itu disebabkan terlalu cepatnya ia berlari.

Itulah sebabnya, mengapa Giok Hoa tidak berhasil mengejar dan mencari jejaknya.

Sebab orang tua yang berjenggot panjang dan juga memakai jubah warna hijau tersebut, telah berlari dengan gesit keluar di bagian lainnya dari permukaan hutan itu, ia tidak menghentikan larinya, tubuhnya melesat terus menuju ke barat.

Dan akhirnya, orang tua itu bersama Ko Tie telah sampai di sebuah lamping gunung.

Dengan lincah, lebih lincah dari gerakan seekor monyet, orang tua itu telah berlari naik ke atas lamping itu, di mana ia telah bergerak begitu gesit, walaupun ia menggendong Ko Tie.

Ko Tie yang berada dalam gendongannya, sama sekali tidak bergerak-gerak.

Dia masih dalam keadaan pingsan, dan tidak mengalami goncangan, karena orang tua itu menggendongnya dan membawa lari seperti juga ia terbang saja, tanpa tubuhnya bergerak.

Dengan demikian, membuat Ko Tie seperti tengah rebah di atas pembaringan.

Akhirnya, mereka tiba di hadapan sebuah goa yang cukup besar.

Orang tua itu menghela napas.

Dia berhenti di depan goa tersebut, kemudian menurunkan Ko Tie, yang direbahkannya di depan mulut goa itu.

Dia sendiri duduk memeriksa sekujur tubuh pemuda itu, dan akhirnya ia menghela napas dalam-dalam lagi.

"Racun yang sangat telengas dan ganas sekali……!"

Menggumam orang tua tersebut, yang segera merogoh sakunya.

Dia mengeluarkan beberapa butir pil yang berwarna merah darah.

Kemudian memasukkan ke dalam mulut Ko Tie, dan dengan memijit rahang Ko Tie, pil itu tertelan oleh Ko Tie, walaupun dia dalam keadaan pingsan tidak sadarkan diri.

Lalu orang tua yang memakai jubah warna hijau tersebut telah menguruti dan menotok beberapa jalan darah terpenting di tubuh pemuda itu.

Ia menguruti sekian lama, sampai akhirnya ia telah berhasil untuk mendesak racun yang semula sudah mendekati daerah jantung, sampai kepada tempat asalnya, yaitu di dekat leher.

Sekarang yang terpenting adalah cara mengeluarkan racun itu.

Orang tua ini membalikkan tubuh Ko Tie, yang waktu itu masih dalam keadaan pingsan.

Dan kepalanya ditundukkan, kemudian orang tua itu memukul perlahan sekali tengkuk dari Ko Tie, maka dari mulut Ko Tie segera mengalir darah yang telah menghitam dan bau sekali.

Orang tua itu membalikkan tubuh Ko Tie rebah kembali, ia menghela napas dan menghapus keringatnya.

Rupanya menolongi Ko Tie memang sangat melelahkan sekali.

Ia telah mandi keringat, sebab ia telah mengerahkan lweekangnya untuk menotok dan mengurut, guna mendesak racun itu.

Dan semua itu memperlihatkan orang tua itu benar-benar memang memiliki kepandaian yang tinggi sekali.

Setelah itu, orang tua tersebut duduk di samping Ko Tie.

Dia mengeluarkan seruling dari dalam saku jubahnya, kemudian meniup serulingnya itu perlahan dan lembut.

Suara yang merdu dari seruling itu mengalun di sekitar tempat tersebut.

Sedangkan Ko Tie masih tetap pingsan, namun mukanya sudah tidak hitam kehijau-hijauan seperti tadi, sekarang sudah memerah, tampaknya berangsur ia mulai sehat kembali.

Juga napasnya tidak memburu lagi, napasnya berjalan dengan lancar, ia seperti seseorang yang tengah tertidur nyenyak sekali.

Lama juga orang tua berpakaian serba hitam itu meniup serulingnya tersebut mengalun di sekitar tempat itu, membawakan lagu dari Kang-lam.

Kemudian, ia memasukkan serulingnya, dan memeriksa lagi keadaan Ko Tie, ia tersenyum kecil.

"Tertolong.........!"

Menggumam orang tua tersebut.

Kemudian dia telah merogoh sakunya menggeluarkan kantong obatnya.

Dia memasukkan lagi ke mulut Ko Tie beberapa butir pil, yang berwarna hijau.

Jika tadi, pil yang berwarna seperti merah darah itu, menyiarkan bau yang sangat harum, pil yang berwarna hijau ini menyiarkan bau yang busuk sekali.

Empat butir pil yang berwarna hijau tersebut telah dimasukkan ke dalam mulut Ko Tie, dan orang tua itu memijit rahang Ko Tie lagi, sehingga pil itu dapat tertelan, dan masuk lewat leher Ko Tie.

Orang tua berjubah hijau itu kemudian menunggui beberapa saat, sampai akhirnya Ko Tie menggeliat dan mengerang perlahan.

Sepasang matanya terbuka, ia telah tersadar.

Orang tua berjubah hijau tersebut tampak girang.

Ia sampai melompat berdiri dan kemudian mengawasi pemuda ini, kepalanya mengangguk-anguk beberapa kali.

Ko Tie membuka matanya, yang pertama kali dilihatnya adalah rumput hijau yang berada di sekitar dirinya, dan ia rebah di muka sebuah goa.

Pemuda ini jadi heran, baru saja ia hendak duduk bangun, orangtua berjubah hijau tersebut telah menekan pundaknya.

"Kau belum boleh banyak bergerak. Rebahlah dulu!"

Katanya. Ko Tie menurut, tapi ia heran sekali.

"Locianpwe…… apakah locianpwe yang telah menolongi boanpwe?"

Tanya Ko Tie yang segera dapat menduga urusan yang sebenarnya. Orang tua berjubah hijau tersebut tersenyum.

"Kau tengah terancam kematian, disamping itu engkau tengah pingsan dan juga keracunan, karenanya orang yang hendak membunuhmu ia telah kuhantam, sehingga aku bisa membawamu ke mari, untuk diobati! "

Sekarang engkau telah sembuh..... dan kesehatanmu dalam tiga hari lagi, tentu akan pulih sebagaimana biasa! Racun yang jahat itu telah kukeluarkan.............!"

Ko Tie mengeluh perlahan, lalu katanya.

"Terima kasih atas pertolongan locianpwe?!"

"Kau jangan terlalu banyak peradatan, aku paling benci orang yang terlalu bermuka-muka dengan mempergunakan segala macam adat peradatan!"

Setelah berkata begitu, orang tua berjubah hijau tersebut mengeluarkan serulingnya dan meniup serulingnya.

Ko Tie terkejut.

Segera ia teringat sesuatu mukanya berobah jadi girang.

Ia mau menduga bahwa orang tua ini adalah seorang yang menjadi sahabat gurunya itu.

"Apakah…….!

Apakah locianpwe bukannya Oey Yok Su Locianpwe?"

Tanya Ko Tie pula. Orang tua itu tersenyum sambil berhenti meniup serulingnya. Ia menoleh dan katanya.

"Benar..... akulah Oey Yok Su, Oey Loshia…… Engkau tentunya sering mendengar cerita perihal diriku, si kakek baju hijau dengan serulingnya."

"Ya, ya, memang boanpwe seringkali mendengar akan cerita tentang locianpwe dari guruku.......!"

Menyahuti Ko Tie.

"Guru boanpwe seringkali menceritakan akan kehebatan locianpwe.....!"

"Siapa gurumu?"

Tanya orang tua berbaju hijau itu, yang memang tidak lain dari Oey Yok Su.

Keadaannya sekarang ini jauh lebih tua dari sebelumnya, karena jenggotnya sekarang telah tumbuh panjang dan telah memutih semuanya.

Demikian juga dengan rambutnya, yang telah berobah menjadi putih.

Ko Tie segera memberitahukan bahwa gurunya adalah Swat Tocu.

Mata Oey Yok Su terbuka sejenak, kemudian mukanya berobah, dia bilang dengan sikap yang dingin.

"Hu! Hu! Tidak tahunya si tua bangka keparat itu!"

Melihat sikap Oey Yok Su, bukan main kagetnya Ko Tie, dia mengawasi Oey Yok Su beberapa saat kemudian katanya.

"Locianpwe!"

"Sudahlah jangan rewel! Jika aku tahu engkau muridnya si tua keparat itu, aku tentu tidak akan menolongi jiwamu! Lebih dari itu, aku anggap akulah yang buta dan bodoh, telah menolongi murid si tua bangka keparat itu!"

Ketus sekali waktu Oey Yok Su berkata seperti itu.

Memang Oey Yok Su merupakan Oey Loshia.

Si Sesat yang sangat aneh sekali perangainya, karenanya sekarang, melihat sikap Oey Yok Su yang luar biasa itu, benar-benar membuat Ko Tie tidak terlalu heran.

Cuma saja menyaksikan sikap Oey Yok Su seperti itu, tampaknya Oey Yok Su tidak menyukai gurunya, yaitu Swat Tocu.

Diam-diam Ko Tie jadi heran, entah ganjalan apa yang terdapat di antara mereka itu!

Tengah Ko Tie tertegun seperti itu, Oey Yok Su tiba-tiba memandangnya dengan sinar mata yang sangat tajam sekali.

"Di mana gurumu sekarang ini berada?"

Ko Tie ragu-ragu, namun akhirnya ia bilang juga.

"Insu…… insu berada..... berada.....!"

Melihat Ko Tie ragu-ragu seperti itu, Oey Yok Su jadi tersinggung, meluap darahnya, ia bilang ketus sekali.

"Tidak usah kau memberitahukan akupun tidak ingin mendengarnya!"

"Boanpwe bersedia memberitahukannya, locianpwe!"

Kata Ko Tie terkejut dan menyesal telah berlaku ayal seperti itu.

"Insu berada di.....!"

"Sudah! Hentikan! Aku tidak mau dengar lagi! Jika memang engkau menyebutkan juga tempat gurumu berada, aku akan menghantam mulutmu jadi hancur!"

Mengancam Oey Yok Su. Ko Tie jadi serba salah.

"Sesungguhnya locianpwe……!" "Masa bodoh! Aku tidak mau tahu!"

Bentak Oey Yok Su.

"Kau tidak perlu membujuk aku! Aku tidak mau mendengar di mana beradanya gurumu itu!"

Benar-benar aneh perangai dari Oey Yok Su.

Karena ia tadi yang menanyakan, di mana berdiamnya guru Ko Tie.

Hanya disebabkan Ko Tie tidak menjawab dengan segera, membuat dia jadi tersinggung.

Dan malah mengancam kalau Ko Tie memberitahukannya tempat kediaman gurunya, dia yang akan dihajar mulutnya sampai remuk!

Ini benar-benar merupakan suatu yang membingungkan Ko Tie.

"Benar-benar luar biasa adat si tua bangka ini!"

Berpikir Ko Tie di dalam hatinya.

Waktu ia berpikir seperti itu, tampak Oey Yok Su memutar tubuhnya, ia mengeluarkan serulingnya, sambil melangkah, ia meniup serulingnya, langkahnya perlahan-lahan.

Ko Tie terkejut.

"Locianpwe……!"

Panggilnya. Oey Yok Su menahan langkah kakinya. Dia menoleh melihat kepada Ko Tie dengan sorot mata yang tajam, kemudian dia menghampiri.

"Ada apa?"

Tanyanya dengan tawar.

"Boanpwe…… apakah boanpwe akan ditinggal begini saja di sini?"

Tanya Ko Tie akhirnya. Oey Yok Su tertawa dingin.

"Apa barangkali kau anggap aku ini pelayanmu yang harus mengurusi dirimu, heh?"

Jawab Oey Yok Su aseran. Kaget Ko Tie. Memang luar biasa sekali perangai si tua ini, benarbenar sesat adatnya. Tapi cepat-cepat dia menyahuti.

"Bukan begitu, locianpwe…….!"

"Bukan begitu bagaimana? Bukankah tadi engkau mengatakan apakah aku meninggalkan kau begitu saja dan juga menginginkan aku merawati dirimu?"

Ko Tie tersenyum pahit. "Boanpwe sangat berhutang budi dan juga sangat berterima kasih sekali...... cuma saja…… cuma saja.....!"

Ko Tie tidak meneruskan perkataannya.

"Cuma saja bagaimana? Hemmmm, jika kau berani bicara yang bukan-bukan, sungguh-sungguh aku akan menghantam mulutmu!"

Mengancam Oey Yok Su dengan sikap yang tetap aseran. Waktu itu Ko Tie jadi serba salah, akhirnya dia bilang.

"Boanpwe masih lemah dan...... jika ditinggal seorang diri di sini, tentu akan menghadapi bahaya yang tidak kecil, karena boanpwe tidak bisa melindungi diri dalam keadaan seperti sekarang.......!"

Oey Yok Su tertawa dingin, dia mengibaskan serulingnya. Kemudian dengan aseran dia bilang.

"Bagus! Dengan bicara mutar balik, engkau bicarakan yang itu-itu juga, yaitu engkau hendak agar aku merawatimu!"

"Bukan begitu, locianpwe..... tapi boanpwe menginginkan petunjuk locianpwe...!"

Berkata Ko Tie segera.

"Petunjuk? Bukankah si tua bangka bangkotan keparat itu adalah gurumu, tentu saja dia yang berhak memberikan petunjuk kepadamu. Atau memang dia merupakan si tua bangka keparat yang tidak punya guna, sehingga tidak bisa mengajari dan memberikan petunjuk kepada muridnya sendiri!"

Mendengar gurunya didamprat seperti itu, hati Ko Tie tidak senang juga.

Namun saja, disebabkan ia mengetahui Oey Yok Su memang seorang yang berkepandaian tinggi, merupakan orang dari tingkatan tua dan tokoh sakti yang dihormati di dalam rimba persilatan, Ko Tie tidak berani memperlihatkan sikap tidak senangnya, ia malah tertawa, walaupun tertawa pahit.

"Baiklah!"

Katanya kemudian.

"Jika memang locianpwe tidak punya petunjuk apa-apa buat boanpwe, boanpwe pun tidak akan memaksa! Muka Oey Yok Su berobah merah padam. Dengan suara yang meninggi, ia bilang.

"Siapa yang bilang bahwa aku tidak memiliki petunjuk buat kau? Hemmmm, petunjuk apa yang kau inginkan? Jadi kau memandang rendah kepada ku, heh?!"

Ko Tie benar-benar kewalahan menghadapi tabiat Oey Yok Su yang aseran seperti itu. Segera ia bilang. "Boanpwe sangat berterima kasih sekali atas pertolongan yang diberikan locianpwe!"

"Tidak perlu engkau berterima kasih! Aku menolongimu tidak dengan hati yang senang, malah sekarang aku menyesal, karena terbukti engkau adalah murid dari si tua bangka keparat itu.......!"

"Locianpwe, boleh aku bertanya sesuatu?"

Tanya Ko Tie setelah berpikir sejenak.

"Mengapa tidak boleh, bukankah engkau punya mulut? Atau memang mulutmu itu hendak dijahit agar tidak bisa bertanya apaapa?!"

Menyahuti Oey Yok Su.

"Menurut penglihatan boanpwe, maafkanlah jika memang apa yang boanpwe lihat ini ternyata meleset dan tidak benar seperti yang sebenarnya. Tampaknya locianpwe memiliki ganjalan dengan guru boanpwe. Sesungguhnya ada urusan apakah antara locianpwe dengan guru boanpwe?!"

"Bocah cilik!"

Tiba-tiba Oey Yok Su membentak.

"Engkau usil sekali! Ternyata engkau berani begitu lancang, menanyakan urusan orang-orang tua tanpa ingat kedudukanmu!" Muka Ko Tie berobah memerah. Dia jengah sekali ditegur seperti itu oleh Oey Yok Su.

"Ya, ya, boanpwe bersalah……!"

Kata Ko Tie kemudian sambil menghela napas. Oey Yok Su tidak bilang apa-apa, dia mendengus dan setelah mengawasi Ko Tie dengan kerlingan yang tajam, dia baru bilang.

"Kau mengaku salah, tapi engkau menghela napas.

"Itu tandanya bahwa engkau mengaku bersalah dengan hati yang berat dan tidak senang……. Aku tahu, tentu engkau merasa dirimu tidak bersalah, namun karena engkau takut terhadapku, engkau mau mengaku bersalah dengan terpaksa sekali.........!"

Muka Ko Tie merah, karena ia malu, Oey Yok Su seperti bisa membaca isi hatinya.

"Itulah boanpwe tidak berani untuk memiliki perasaan seperti itu……!"

"Tidak berani? Tidak berani? Hemm, di depanku engkau mengatakan tidak berani, tapi di belakangku, hemm, hemm, engkau tentu akan menciwirkan bibir padaku!" "Mana berani boanpwe memiliki pikiran seburuk itu?!"

Kata Ko Tie segera.

"Pikiran buruk? Hemm, engkau tidak sampai berpikir seburuk itu, tentu engkau hendak mengatakan bahwa justeru akulah yang memiliki pikiran buruk seperti itu, karena aku yang mengatakannya, bukan?!"

Benar-benar Ko Tie kewalahan.

Ia baru saja siuman dari pingsannya, dan ia pun baru saja sembuh dari keracunan.

Dan tidak dapat dirasakannya, dikala ia bercakap-cakap dengan Oey Yok Su, kesehatannya semakin pulih membaik.

Ia sudah bisa duduk.

Maka cepat-cepat ia merangkapkan ke dua tangannya dengan berterima kasih dan bersyukur.

"Sungguh locianpwe sangat pandai sekali, telah dapat menyembuhkan boanpwe…… Terimalah penghormatan boanpwe sebagai pernyataan terima kasih boanpwe.....!"

Oey Yok Su mengelak dan menghindar tidak mau menerima pemberian hormat dari Ko Tie.

Dia mendengus dingin, katanya.

"Hemmm, hemmm, engkau hendak bermuka-muka dengan purapura berlaku sopan!

Tetap saja aku tidak bisa menyukai kau, karena engkau adalah murid si tua bangka keparat Swat Tocu!"

"Mengapa tampaknya locianpwe benci sekali kepada guru boanpwe?!"

Tanya Ko Tie yang jadi penasaran.

"Hemmm, jika bertemu dengannya, kami akan mengadu kepandaian dan aku akan mematahkan batang lehernya!"

Itulah jawaban Oey Yok Su, membuat Ko Tie jadi tertegun dan bengong tidak bisa mengatakan apa-apa lagi. Oey Yok Su memandang Ko Tie dengan biji mata mencilak-cilak. Kemudian katanya.

"Hemmm, aku telah menyembuhkan engkau dari keracunan, malah jiwamu yang sekarat telah kutolong, sehingga kini kesehatanmu telah pulih kembali! "

Seharusnya engkau bersyukur karena engkau tidak jadi mampus.

Tidak seharusnya engkau cerewet seperti ini!

Hemmm, jika engkau masih rewel, aku tentu akan membunuhmu.

Aku ingin melihat, apa yang dilakukan Swat Tocu, tua bangka keparat, jika muridnya dibunuh olehku!

" Kaget Ko Tie mendengar perkataan Oey Yok Su seperti itu, ia pun segera cepat-cepat bilang.

"Oey Locianpwe..... bukannya boanpwe hendak rewel."

"Sudah, aku tidak mau mendengar lagi perkataanmu. Jika kau masih rewel, aku tidak akan banyak bicara lagi menghajarmu agar engkau terluka lebih parah dari yang sebelumnya! Dan setelah berkata begitu, Oey Yok Su memutar tubuhnya, dia melangkah meninggalkan Ko Tie dan tempat itu, dengan meniup serulingnya. Suara serulingnya itu semakin lama terdengar semakin jauh…… Ko Tie memandang tertegun, banyak sebenarnya yang ingin dikatakannya, tapi orang tua she Oey yang menjadi salah satu tokoh sakti dalam rimba persilatan itu telah melangkah pergi. Iapun begitu aseran, membuat Ko Tie tidak berani untuk banyak bicara lagi. Setelah Oey Yok Su lenyap dari pandangan matanya, diam-diam Ko Tie berpikir.

"Aneh sekali tabiat orang tua itu…… hemm, benarbenar tidak salah jika ia digelari sebagai Oey Loshia……!"

Sambil berpikir begitu, Ko Tie mencoba untuk bangkit.

Ia berhasil.

Cuma saja tubuhnya masih lemas.

Ia berdiri dan melangkah perlahan-lahan.

Ia teringat kepada Giok Hoa, entah di mana beradanya si gadis, dan ia segera bermaksud untuk mencarinya.

Tapi, Ko Tie merandek lagi.

"Apakah Giok Hoa telah jatuh ke dalam tangan Kiang-lung Hweshio dan kawan-kawannya?"

Karena berpikir seperti itu, Ko Tie melangkah lebar-lebar untuk mencari Giok Hoa.

Dia belum bisa berlari cepat seperti biasanya, karena dia baru saja disembuhkan dari keracunan.

Setelah berjalan sekian lama, akhirnya tibalah ia di kota itu, namun ia tidak berhasil menemui Giok Hoa.

Rumah penginapan yang ditinggalkannya beberapa saat yang lalu, ternyata kosong, tidak terlihat seorang manusia pun juga.

Ko Tie segera juga menghampiri seseorang yang kebetulan berdiri di dekat rumah penginapan itu, ia menanyakan, apakah rumah penginapan itu sudah tidak ada pengurusnya.

"Ohhh, mereka tampaknya sedang keluar semuanya.

Ada apakah kongcu menanyakan perihal mereka?"

Tanya orang itu sambil mengawasi Ko Tie dengan sorot mata menyelidik. Ko Tie tersenyum.

"Bukan urusan yang penting, biarlah nanti siauw-te akan datang pula ke mari!"

Kata Ko Tie kemudian dan mengucapkan terima kasih kepada orang itu, kemudian ngeloyor pergi meninggalkan tempat tersebut.

Di waktu itu terlihat orang itu memperhatikan terus pada Ko Tie, malah waktu pemuda itu telah pergi cukup jauh, orang ini segera mengikuti dari jarak terpisah cukup jauh.

Ko Tie tidak mengetahui bahwa dirinya diikuti oleh orang itu.

Ia mengelilingi kota tersebut.

Sampai akhirnya, ketika ia tengah berjalan di jalan raya yang cukup sepi, hanya sekali-sekali saja ia bertemu dengan orang yang tengah bergegas untuk pergi ke tempat masing-masing, maka dari samping tepi jalan itu, dari balik tembok-tembok rumah, telah bermunculan melompat belasan orang tentara kerajaan.

Dia heran, apa lagi belasan orang tentara kerajaan itu telah meringkusnya.

Ko Tie tidak bisa memberikan perlawanan karena memang ia belum lagi sembuh keseluruhannya.

Jika dalam keadaan demikian ia mengerahkan dan mempergunakan tenaga dalamnya, niscaya ia akan celaka lagi dan terluka di dalam yang berat.

Itulah sebabnya Ko Tie membiarkan saja dirinya dibekuk oleh para tentara kerajaan.

Dia membiarkan sepasang tangannya diikat oleh tali yang tebal.

Diborgol.

Ko Tie pun hanya mengawasi para tentara kerajaan itu seorang demi seorang tanpa mengucapkan kata-kata lainnya.

Dikala itu tampak belasan orang tentara kerajaan, yang girang karena bisa menangkap Ko Tie begitu mudah, dengan kasar telah membawa Ko Tie ke gedung Tie-kwan.

Tie-kwan di kota tersebut adalah Yang Uh Tai-jin, seorang Tiekwan yang beradat keras dan juga kejam.

Tidak jarang ia menjatuhkan hukuman yang sangat berat kepada tersangka.

Bahkan jika ada tersangka yang mohon kebijaksanaannya buat melihat kembali peristiwa yang terjadi, yang seharusnya tidak menerima tahanan sebegitu lama, maka Yang Uh Tie-kwan semakin menambahkan hukuman pada orang itu, yang dianggapnya menghina pangkatnya sebagai seorang hakim.

Karena berani banyak bertanya dan beranggapan hukuman yang dijatuhkan Tie-kwan tersebut salah dan tidak cocok serta tidak sesuai dengan kesalahan yang dilakukan orang tersebut.

Ko Tie ketika dibawa masuk ke dalam gedung Tie-kwan, segera juga disidang.

Dan Yang Uh Tie-kwan keluar dari ruangan dalam, segera duduk di kursi kebesarannya.

Palunya di ketuk keras.

"Inikah orangnya?!"

Tanya Tie-kwan dengan suara yang tawar dan sikap mengejek.

"Benar Tai-jin!"

Menyahuti salah seorang tentara kerajaan, yang memakili kawan-kawannya menceritakan bagaimana mereka menangkap Ko Tie.

Bukan main mendongkolnya mendengar cerita tentara kerajaan yang seorang itu, karena banyak yang berlebih-lebihan.

Bahkan tidak tahu malu sekali tentara kerajaan tersebut menjelaskan bahwa ia seorang diri yang menangkap Ko Tie.

Dengan berdusta seperti itu, ia mengharap bisa cepat-cepat dinaikkan pangkatnya.

Tie-kwan itu mengawasi dan meneliti Ko Tie sampai akhirnya ia bilang.

"Baiklah, sementara tahanlah dulu……!"

Semua tentara kerajaan itu mengiyakan dan menyeret Ko Tie, yang dijebloskan di dalam kamar tahanan.

Di dalam kamar tahanan itu telah ada seorang lelaki bertubuh tinggi besar tampaknya kuat sekali, dan seorang lelaki bertubuh kurus dan lemah.

Namun, justeru lelaki bertubuh kurus itu yang menghampiri Ko Tie, katanya.

"Ini adalah salam perkenalan!"

Sambil berkata begitu, dia menghantam dada Ko Tie.

Waktu itu Ko Tie telah berada dalam keadaan tidak separah sebelumnya, karena sebagian dari tenaganya mulai pulih.

Dan cepat-cepat mengelak dari pukulan itu.

Sedangkan orang yang bertubuh tinggi besar dan berewokan mukanya, tertawa bergelak-gelak.

Ko Tie menghindar dari pukulan itu, tangan kanannya menangkis.

Namun tangan Ko Tie terpental balik, hampir saja menghantam mukanya sendiri.

Sedangkan si kurus kerempeng itu telah menghantam lagi dada Ko Tie.

"Dukkk,"

Nyaring sekali terdengar dada Ko Tie terpukul oleh orang itu. Kembali orang bertubuh tinggi besar itu tertawa bergelak-gelak.

"Bagus A Kian! Dengan demikian, engkau benar-benar cocok menjadi pembantuku!"

Kata orang bertubuh tinggi besar itu.

Sedangkan orang yang bertubuh kurus kerempeng itu, yang ternyata memiliki ilmu yang tinggi, sehingga setiap pukulannya sangat keras, berbeda sekali dengan keadaan tubuhnya yang tampaknya lemah.

A Kian tampaknya senang dipuji oleh orang bertubuh tinggi besar itu.

Ia mengayunkan tangannya lagi, memukul dada Ko Tie.

"Bukkk!"

Tubuh Ko Tie terjengkang.

Ke dua orang itu tertawa bergelak.

Ko Tie marah sekali, jika memang ia bukannya sedang memikirkan kesehatan dirinya, tentu dia sudah akan balas menyerang.

Di waktu itu tampak A Kian telah memberi hormat kepada si orang bertubuh tinggi besar.

"Maafkan, Siauw-jin tidak bisa memuaskan hati Toako!"

Katanya menghormat sekali.

"Bagus! Itu pun sudah lebih dari cukup!"

Kata si Toako. Kemudian si Toako ini, dengan muka yang bengis sekali, menoleh kepada Ko Tie, katanya sambil mengulurkan tangannya mencengkeram baju di dada Ko Tie. Dia menarik tubuh pemuda itu.

"Berapa banyak uang yang kau bawa?!"

"Ada sangkutan dan hubungan apakah antara uang dengan keadaan di dalam kamar tahanan ini?!"

Tanya Ko Tie tidak mengerti. Si Toako tertawa bergelak-gelak, malah kemudian dia bilang.

"Hemm, jika memang engkau memiliki uang yang cukup banyak, maka engkau tidak perlu melewati bingkisan persahabatan lagi. Engkau tidak usah menerima pukulan lagi, dan juga engkau tidak usah menderita lebih jauh……! Mana uangmu?!"

Ko Tie menghela napas, ia merogoh saku bajunya, untuk mengeluarkan beberapa tail perak.

Namun ia jadi kaget, karena saku bajunya kosong, uangnya berada di dalam buntalannya, sedangkan waktu itu buntalannya tidak diketahuinya berada di mana.

"Maaf…….!"

Kata Ko Tie dengan muka yang berubah merah, dia bilang lebih jauh.

"Kebetulan sekali aku tidak membawa uang, dan uangku berada di buntalan pakaian. Jika nanti aku telah bebas, aku akan datang menjengukmu....... di saat itu aku akan menghadiahkan engkau bingkisan yang.....!"

"Dusta!"

Bentak si Toako itu dengan suara yang kasar.

"Hemmm, engkau hendak mendustai aku……?! Bagus! Bagus! Memang kau perlu menerima bingkisan hadiah perkenalan!"

Setelah berkata begitu si Toako melirik kepada A Kian.

A Kian memang telah siap, di tangannya tercekal sebuat cambuk panjang, yang kemudian digerakkan, sehingga suara cambuk itu merobek-robek keheningan di kamar tahanan itu.

Kembali si Toako memberikan isyaratnya, dan A Kian menggerakkan cambuknya, buat mencambuk Ko Tie.

Ko Tie walaupun lemah dan semangatnya belum pulih, namun jika hanya untuk menghadapi itu saja, ia rasa masih bisa.

Maka ia menantikan sampai cambuk itu telah dekat, barulah ia mengulurkan tangannya.

Dia mencekalnya kuat-kuat ujung cambuk tersebut, kemudian dia menggentaknya.

A Kian kaget tidak terkira.

Ia merasakan tubuhnya tertarik kuat, malah kakinya terlepas dari lantai.

Dan ia segera "terbang"

Menubruk dinding kamar tahanan itu, karena itu pula kepalanya telah membentur dinding, cukup keras.

sampai dia ngeloso dan pingsan tidak sadarkan diri.

Tampak si Toako yang tubuhnya tinggi besar itu berdiri kesima, karena saat itu ia melihat pertunjukan yang benar-benar menakjubkannya.

Ia sampai berdiri tertegun.

Barulah sesaat dia sadar dengan murka, dia mengeluarkan suara bentakan yang nyaring sekali, tubuhnya menerjang ke depan.

Ko Tie berkelit ke samping, berkelit begitu di waktu tubuh dari si Toako itu meluncur menubruk tempat kosong, maka ia telah menendang pantat orang itu, sehingga membuat tubuh si Toako jadi nyelonong terus ke depan dan kepalanya menubruk dinding.

Dengan demikian, ia pun sama seperti kawannya itu, A Kian.

Ia segera pingsan tidak sadarkan diri dengan mulut yang terbuka lebar dan juga kepala yang telah bertelor…… Di waktu itu Ko Tie menghela napas dalam-dalam.

Untuk pulih tenaga dan kepandaiannya, mungkin memerlukan tiga hari.

Dan selama itu, dia tidak boleh mengeluarkan tenaga karena jika ia memakai tenaga, niscaya dia akan terluka di dalam lagi yang lebih parah.

Disebabkan itu pula, Ko Tie bermaksud di dalam tiga hari ini untuk beristirahat.

Jika kepandaian dan juga tenaganya telah pulih, tentu ia tidak perlu takut terhadap Tie-kwan atau orang-orangnya.

Dengan mudah tentu Ko Tie bisa menghadapi mereka, juga ia akan dapat menghajar mereka…….

Karena itu, Ko Tie telah duduk di sudut ruangan kamar tahanan tersebut, dia duduk mengawasi si Toako dan A Kian, yang menggeletak tidak bergeming dalam keadaan pingsan.

Sedangkan Ko Tie waktu itu juga merasakan dadanya sedikit sesak, dengan pernapasannya yang agak terganggu, dia menyalurkan tenaga dalamnya.

Karena telah diurut dan diberi obat oleh Oey Yok Su lukanya itu telah sembuh sebagian besar, yang kurang hanyalah beristirahat saja.

Dan juga, dia telah dapat untuk menjalankan pernapasannya sampai menembus ke Tan-tian.

Hal itu merupakan suatu pertanda baik, karena dengan demikian ia sudah bisa mempergunakan dan menyalurkan lweekangnya.

Diam-diam Ko Tie jadi girang bukan main.

Dikala itu terlihat, A Kian dan si Toako telah tersadar.

Mereka merangkak bangun dan dengan muka yang meringis menahan sakit, mereka berdua memandang kepada Ko Tie, yang mereka lihat tengah enak-enaknya duduk di sudut ruangan itu.

Dengan muka beringas, si Toako telah bilang dengan aseran sekali.

"Akan ku robek-robek tubuhnya!"

Sambil berkata begitu, tubuh si Toako telah melompat menubruk menyerang Ko Tie, karena tampaknya si Toako penasaran sekali, tadi dia menduga bahwa dirinya berlaku ceroboh, sehingga membuat dia bisa dirubuhkan.

Sekarang dia mempergunakan tenaga yang sangat besar, dia yakin, begitu dipukul, tentu Ko Tie akan rubuh pingsan atau segera berlutut meminta-minta ampun padanya.

Namun, si Toako ini kecewa.

Karena begitu tangannya meluncur menyambar.

tahu-tahu tubuh Ko Tie seperti lenyap dari hadapannya.

Dan ia merasakan pundaknya ditepuk.

Seketika lemaslah tubuhnya, malah dia pun segera juga merintih kesakitan waktu menggeletak di lantai tanpa bisa menggerakkan lagi tangan dan kakinya, karena dia telah tertotok.

Malah yang hebat, si Toako ini merasakan sekujur tubuhnya sakit-sakit seperti juga digigiti oleh laksaan semut.

A Kian berdiri kesima, karena ia kaget tidak terkira.

Si Toako itu sangat dihormatinya siapa sangka, dengan mudah Ko Tie bisa merubuhkannya.

A Kian jadi ketakutan.

Dia menekuk ke dua kakinya, berlutut sambil mengangguk-anggukan kepalanya, memohon pengampunan dari Ko Tie.

Napas Ko Tie memburu keras.

Dia baru saja mempergunakan sedikit tenaga, lalu pemuda itu merasakan betapa napasnya sesak dan darahnya seperti jungkir balik.

Bukan main kagetnya Ko Tie, dan ia segera juga berdiam diri untuk mengatur pernapasannya.

Iapun tersadar, demikianlah akibat dari dilanggarnya pantangan itu, karena jika sampai dia mempergunakan tenaga berlebihan dalam keadaan seperti ini, niscaya akan membuat dia bisa terluka di dalam pula yang bertambah berat.

Beruntung saja, bahwa untuk kali ini tidak sampai membuat dia terluka di dalam karena dia cuma mempergunakan tenaga yang tidak banyak.

Dia pun tidak berani mencoba-coba mempergunakan tenaga lagi, dia duduk di sudut ruangan itu, di mana dia telah berusaha untuk menyalurkan tenaga dalamnya.

Di waktu itu dilihatnya A Kian yang tengah berlutut ketakutan, malah tengah menghiba-hiba meminta agar dia diampuni.

Ko Tie tidak melayani A Kian, dia terus juga menyalurkan pernapasannya.

A Kian melihat dirinya tidak diladeni oleh Ko Tie, segera juga dia menghampiri si Toako.

Toako itu tengah meringis.

"Sakit…… sakit……!"

Merintih Toako itu dengan suara menahan sakit. Sedangkan A Kian telah bertanya.

"Di mana…… bagian mana yang sakit……?!"

"Seluruh tubuhku sakit……!"

Menyahuti si Toako.

"Mengapa bisa begitu?!"

Tanya A Kian. "Aku..... aku dikerjakan oleh orang itu..........!"

Menyahuti si Toako "Dikerjakan?!"

"Ya…… dia mempergunakan ilmu siluman…..!"

Menyahuti si Toako.

"Hemmm, kalau begitu, nanti malam, jika dia tengah tidur, kita bunuh saja!"

Kata A Kian berbisik pada si Toako.

Si Toako berseri mukanya, tampaknya dia girang.

Namun itu hanya sejenak saja.

Segera ia meringis kesakitan dan merintih lagi, karena rasa sakit di sekujur tubuhnya hebat bukan main.

A Kian berusaha menguruti dan memukuli perlahan-lahan tubuh si Toako.

Di waktu itu Ko Tie menoleh kepada mereka, dengan suara yang dingin dia bilang.

"Jika memang kalian bermaksud buruk seperti itu kepadaku, hemmm, maka akupun tidak akan memberi hati kepada kalian, dengan mudah aku akan membunuh kalian terlebih dulu!"

Bukan kepalang kagetnya A Kian dan juga si Toako itu.

Tadi A Kian berbisik perlahan sekali, tapi ternyata Ko Tie memiliki pendengaran yang sangat tajam, sehingga dia bisa mendengar kata-kata A Kian.

Dengan demikian, ke duanya tambah ketakutan.

"Kami....... kami hanya bergurau....... ampunilah kami Siauwhiap……!"

Memohon A Kian dan si Toako itu dengan sikap ketakutan.

Tubuh mereka menggigil dan muka mereka pucat.

Terlebih lagi si Toako itu yang mukanya seketika meringis menahan sakit yang tidak terkira.

Ko Tie cuma tertawa dingin saja, kemudian dia mengibaskan tangannya, katanya.

"Jika memang kalian tidak mengandung maksud buruk padaku, maka akupun tidak akan menganiaya diri kalian!"

Setelah berkata begitu, segera juga ia menghampiri kepada si Toako dan menendang dengan kakinya.

"Aduhhh ..... .!"

Toako itu menjerit kesakitan, tapi segera dia bebas dari totokan, dan bisa berdiri.

Cepat-cepat si Toako berlutut mengangguk-anggukkan kepalanya.

Dia mengucapkan terima kasih kepada Ko Tie, dan iapun sudah tidak berani main gila lagi terhadap pemuda ini, karena diketahuinya bahwa pemuda ini memang sangat lihay ilmu silatnya.

Di waktu itu, seorang pengawal telah datang membawakan makanan buat Ko Tie bertiga.

Pengawal itu melirik kepada Ko Tie, kemudian katanya.

"Kau makan sepuas hatimu, karena tidak lama lagi kau akan berhenti menjadi manusia, engkau akan dikirim ke neraka!"

Sambil berkata sinis seperti itu, si pengawal kerajaan itu memperdengarkan dengusan mengejek. Ko Tie cuma tersenyum tawar mendengar perkataan pengawal itu, ia telah berpikir di dalam hatinya.

"Jika dalam tiga hari aku bisa memelihara tenagaku, maka aku akan sembuh dan pulih sebagaimana biasanya! Walaupun Tiekwan keparat itu mengerahkan ratusan tentara, tentu dengan mudah aku akan menghadapinya….....!"

Sedangkan, pengawal itu waktu hendak meninggalkan kamar tahanan ini berkata.

"Besok pagi adalah waktunya engkau dipensiunkan sebagai manusia.....!"

Dan tentara kerajaan itu tertawa bergelak-gelak meninggalkan tempat tersebut.

Ko Tie mengerutkan sepasang alisnya.

Besok pagi ia akan dihukum mati oleh Tie-kwan keparat itu?

Ohh, itulah waktu yang belum cukup buat Ko Tie beristirahat.

Karena di waktu itu tenaga dan semangatnya belum pulih keseluruhannya.

Sedangkan di hati kecilnya, dia pun bingung serta heran.

Mengapa Tie-kwan itu menangkap dan memusuhinya, malah tampaknya Tie-kwan itu sengaja tidak mau menyidangkan perkaranya, dan ingin membunuhnya!

Inilah yang mengherankan sekali!

Siapakah Tie-kwan tersebut untuk menangkap dan membunuhnya?

Semua ini merupakan tanda tanya yang tidak terjawab oleh Ko Tie.

Ketika Ko Tie terbengong seperti itu, tampak si Toako telah menghampiri, mendekati, lalu katanya.

"Sesungguhnya apakah kesalahan Siauw-hiap, sehingga hendak dihukum mati?!"

Tanyanya. Ko Tie menoleh kepadanya, kemudian mengangkat bahunya sambil menghela napas, kepalanya digelengkan.

"Aku sendiri tidak mengetahui mengapa mereka menangkapku!"

Katanya.

"Dan aku pun tidak mengetahui apa maksud mereka hendak menghukum mati padaku!" Si Toako memperlihatkan sikap terheran-heran sedangkan A Kian pun memandang dengan mata terbuka lebar-lebar.

"Dan, kalian mengapa ditahan?"

Tanya Ko Tie sambil menoleh kepada mereka. Muka si Toako berobah merah, demikian juga A Kian.

"Aku..... aku telah memperkosa isteri seorang tetanggaku, tapi bukan atas dasar paksaan, tetapi ia memang senang juga. Hanya saja pihak yang berwajib menuduh aku yang memperkosa!"

Menjelaskan si Toako jujur. Ko Tie mengerutkan alisnya.

"Itulah perbuatan yang terkutuk!"

Kata Ko Tie akhirnya dengan sikap tidak senang dan wajah yang guram. Si Toako menunduk, tampaknya dia jadi gugup sekali waktu berkata lagi.

"Ya memang aku sendiri pun mengetahuinya. Itulah perbuatan yang terkutuk dan tidak terpuji. Karena walaupun wanita itu senang padaku tokh ia masih isteri orang lain..... "

Tapi waktu itu aku telah dikuasai oleh bisikan iblis..... Tapi kukira di lain waktu tentu aku tidak akan melakukan perbuatan terkutuk lagi.........!"

"Bagus, jika memang engkau masih mau dan bisa sadar, itulah bagus!"

Kata Ko Tie kemudian.

"Tapi justeru, jika di lain waktu kau masih melakukan perbuatan seperti itu, rendah dan hina dina, jika bertemu denganku, aku sendiri tidak akan mengampunimu, aku akan turun tangan menumpas dan membunuhmu……!"

"Ya Siauw-hiap, aku..... aku bersumpah tidak akan melakukan perbuatan terkutuk lagi,"

Kata si Toako, yang sebenarnya bernama Lay Ci.

"Lalu kau!"

Ko Tie sambil menoleh kepada A Kian.

"Mengapa engkau ditahan?"

"Aku…… aku telah mencuri……"

Menyahuti A Kian.

Ko Tie tersenyum.

Itulah urusan biasa.

Dan ia tidak menegur A Kian seperti ia menegur Lay Ci.

Dan setelah bercakap-cakap beberapa saat, Ko Tie mengatakan bahwa ia tidak berselera untuk makan, maka ia ingin beristirahat dan tidur.

Lay Ci dan A Kian tidak mengganggunya.

Mereka pun rebah di bagian lain dari kamar tahanan tersebut.

Begitulah, Ko Tie telah tidur nyenyak sekali, untuk memelihara semangat dan tenaganya, karena ia menyadari, besok itu akan mengalami kesulitan yang tidak kecil.

Walaupun Ko Tie menyadari, jika besok ia harus bertempur, tenaganya belum pulih keseluruhannya.

Namun Ko Tie pikir, jika memang untuk melarikan diri, ia masih bisa melakukannya.

Karenanya ia tidur siang-siang untuk memelihara semangat dan tenaganya.

◄Y► Pagi itu di ruang sidang Tie-kwan tampak duduk angker sekali Ma Ie Tie-kwan, seorang Tie-kwan yang tampak bengis dan kejam di kursi kebesarannya.

Matanya terbuka lebar-lebar, dan juga dia telah berkata dengan suara yang dingin.

"Hemmm, diakah yang bernama Ko Tie?!"

Seorang pengawal yang membawa Ko Tie dari kamar tahanan telah berlutut dan membenarkan. "Hemmm, baiklah..... hari ini dia akan disidangkan perkaranya.......!"

Setelah berkata begitu, Tie-kwan tersebut mengetuk palunya, untuk membuka sidang.

Ko Tie mengawasi dengan tenang saja, karena ia tahu, Tie-kwan ini tentunya kawan dari Yang Uh Tie-kwan.

Walaupun memang ia katanya akan disidangkan perkaranya, tapi tentunya Ma Ie Tiekwan ini telah dikendalikan oleh Yang Uh Tie-kwan.

Ke dua Tiekwan itu tentu sama setail sepuluh cie.

Waktu Ma Ie Tie-kwan mengetuk meja dengan palunya, Yang Uh Tie-kwan dengan sikap yang angkuh telah keluar dari duduk di kursi kebesarannya yang berada di samping Ma Ie Tie-kwan.

Mereka tampak saling membisikkan sesuatu, lalu Ma Ie Tie-kwan mengangguk-angguk.

"Lie Ko Tie, kau telah bersalah karena engkau hendak memperkosa puteri keluarga Ciu. Karena itu, di dalam sidang ini, apa yang hendak kaukatakan lagi, setelah bukti-bukti lengkap berada di tangan kami dan juga engkau tertangkap basah?"

Tanya Ma Ie Tai-jin dengan suara yang meninggi dan keras sekali, mukanya kejam dan bengis. Ko Tie tertegun. "Itu hanya fitnah belaka!"

Berseru Ko Tie dengan penasaran bukan main "Kalian..... ooh permainan apa yang tengah kalian lakukan?"

Jika menurut adatnya dan juga kalau saja memang di waktu itu Ko Tie tidak berada dalam keadaan lemah, tentu ia akan menghajar habis-habisan ke dua hakim keparat yang telah menyidangkan perkaranya sekehendak mereka.

Ma Ie Tie-kwan tertawa mengejek.

"Engkau hendak menyangkal?"

Tanyanya.

"Ini akan memberatkan hukuman yang akan kau terima! Lebih bijaksana jika engkau mengaku secara terus terang dan jujur, sehingga mungkin hukuman buat kau jadi lebih ringan!"

Ko Tie mengawasi tajam kepada ke dua hakim itu.

Yang Uh Tiekwan tampak tertawa mengejek beberapa kali dan mengerling padanya.

Ko Tie sudah tidak bisa menahan sabar lagi.

Tahu-tahu dia menjejakkan ke dua kakinya.

Tubuhnya melesat ke tengah udara, ke dua kakinya bekerja.

Dua orang tentara kerajaan yang mengawalnya di samping kirinya dan kanan, kena ditendangnya, sampai mereka terguling-guling.

Kemudian tubuh Ko Tie hinggap di depan meja ke dua hakim itu.

Ia mengulurkan ke dua tangannya, mencengkeram baju di dada Ma Ie Tie-kwan dan Yang Uh Tie-kwan.

"Kau..... kau……!"

Muka ke dua Tie-kwan itu pucat pias, mereka kaget dan ketakutan! Ko Tie tidak memperdulikan sikap mereka. Ke dua hakim itu telah ditariknya sampai mereka terpelanting di lantai.

"Kalian pembesar-besar busuk yang sekehendak hati kalian mengandalkan kekuasaan buat memfitnah dan menjatuhkan hukuman kepada orang yang tidak bersalah! Aku dengan kalian tidak memiliki hubungan apa-apa. Mengapa kalian hendak mencelakai aku? Siapa yang perintahkan kalian?"

Waktu bertanya begitu, mata Ko Tie bersinar sangat tajam. Ke dua hakim itu ketakutan bukan main. Sambil merangkak, mereka telah berseru-seru.

"Pengawal! Pengawal! Tangkap penjahat! Tangkap penjahat!"

Tapi tentara kerajaan yang berada di dalam ruangan tersebut hanya mencekal senjata mereka tanpa berani maju, karena telapak tangan kiri dan kanan dari Ko Tie telah berada di atas kapala Tiekwan Yang Uh dan Ma Ie.

"Selangkah saja kalian maju, ke dua manusia busuk ini akan kumampusi lebih dulu!"

Mengancam Ko Tie dengan muka yang merah padam.

Dia sangat murka telah difitnah seperti itu oleh ke dua hakim tersebut.

Para tentara itu tidak berani melangkah lebih jauh.

Mereka hanya mengeluarkan suara yang berisik.

Tiba-tiba dari balik tirai telah melangkah ke luar seseorang, dengan langkah kaki dan sikap yang tenang, malah terdengar suara batuknya dua kali.

"Ada ribut-ribut.....?"

Tanyanya dengan suara yang dingin, sikapnya juga angkuh sekali.

Ko Tie melirik, dia melihat orang itu memiliki tubuh yang jangkung kurus, dengan muka yang ditumbuhi misai yang tipis panjang, mukanya, seperti labu.

Matanya yang tipis sekali memancarkan sinar yang sangat tajam.

Sambil melangkah keluar, matanya telah memandang tajam kepada Ko Tie.

"Hemmm,"

Kata orang itu lagi.

"Rupanya ada pengacau di sini?" Sambil berkata begitu tahu-tahu tubuhnya melesat maju ke dekat Ko Tie. Ke dua Tie-kwan itu, Yang Uh Tie-kwan dan Ma Ie Tie-kwan, yang semula telah ketakutan sekali, ketika melihat orang itu, segera juga jadi girang, muka mereka berseri-seri.

"Phan Suhu, tangkaplah penjahat ini,"

Berseru Yang Uh Tie-kwan.

"Jangan kuatir Tai-jin di tangan Phan Chin Shia tidak ada seekor lalat busuk pun yang bisa terbang meloloskan diri,"

Kata orang itu, yang mengaku bernama Phan Chin Shia.

Dia bukan sekedar berkata begitu saja, karena cepat sekali tangan kanannya telah diulurkan, menjambak ke punggung Ko Tie.

Ko Tie juga melihat langkah dan gerak-gerik orang ini, menyadari dia seorang kang-ouw yang memiliki kepandaian tidak rendah.

Tentunya Phan Chin Shia ini seorang tukang pukul andalan ke dua Tie-kwan tersebut.

Ia tidak berani berayal.

Segera ia mengelak ke samping, tapi waktu mengelak begitu, ke dua kaki Ko Tie bergerak bergantian.

Dia telah menendang ke dua Tie-kwan itu, sampai Yang Uh dan Ma Ie Tie-kwan terpental bergulingan di lantai, menjerit-jerit kesakitan, dan juga mencaci maki tidak hentinya.

Bibir mereka berdarah karena terbentur lantai!"

Phan Chin Shia melihat cengkeraman tangannya tidak berhasil, tampak mengerutkan alisnya. Dia heran dan bahkan ia berseru.

"Ihhhh, kau cukup gesit, bocah?!"

Dan sambil berkata begitu, tubuhnya telah melesat ke samping Ko Tie lagi.

Kali ini ke dua tangannya itu bergerak dengan berbareng.

Dia mengincar pundak dan perut Ko Tie.

Ko Tie menyadari, dia baru saja disembuhkan Oey Yok Su, tenaganya belum pulih keseluruhannya.

Dan ia tidak bisa mempergunakan tenaga berkelebihan.

Kembali dia tidak menangkis dua serangan itu, dia mengelak dengan lincah sekali.

Tapi Phan Chin Shia sama sekali tidak memberikan kesempatan kepadanya, beruntun dia menyerang dengan gencar.

Setiap serangannya mengandung maut.

Ko Tie suatu kali sudah tidak bisa menghindar dari serangan Phan Chin Shia, karenanya terpaksa sekali ia menangkis.

"Dukkkk!"

Tangan mereka saling bentur, namun waktu itulah mata Ko Tie berkunang-kunang, karena ia mempergunakan tenaga berlebihan.

Kuda-kuda ke dua kakinya tergempur, malah tubuhnya seketika terjungkal rubuh bergulingan di lantai.

Disaat itu, tampak Phan Chin Shia telah meluncur lagi menerjang Ko Tie.

Dia menghantam dengan telapak tangan kanannya, telak sekali mengenai dada Ko Tie.

Ko Tie mengerang sedikit, mulutnya memuntahkan darah segar dua kali, mukanya pucat pias.

Ia kembali terluka di dalam.

Namun dirinya tengah terancam bahaya yang tidak kecil.

Dia memaksakan diri buat merangkak bangun, tapi Phan Chin Shia telah menghantam lagi sampai Ko Tie bergulingan pula di lantai.

Tiba-tiba terdengar jeritan yang menyayatkan hati, dua orang tentara kerajaan di luar ruang sidang Tie-kwan itu telah menjerit dan jatuh di tanah tanpa bernapas lagi.

Disusul melangkah masuk seseorang yang mengenakan jubah berwarna hijau, di tangannya memegang seruling, itulah yang tadi dipergunakan memukul perlahan kepada ke dua tentara kerajaan itu.

Dia seorang tua, dan tidak lain dari Oey Yok Su, salah seorang datuk rimba persilatan yang memiliki kepandaian terlihay dan adat yang ku-koay sekali.

"Phan Chin Shia, ternyata engkau mengumbar kepandaianmu buat melakukan banyak kejahatan!"

Berseru Oey Yok Su dengan suara yang dalam menyeramkan, tangannya menggoyang-goyangkan perlahan serulingnya, dan kakinya pun melangkah perlahan.

Perlahan tindakan kakinya, tapi tubuhnya melesat cepat sekali, tahu-tahu dia telah berada di samping Phan Chin Shia.

Phan Chin Shia ketika mengenali siapa orang yang baru datang itu, tubuhnya menggigil.

"Oey Locianpwe..... kau.....?!"

Tanyanya.

Baru saja dia bertanya sampai di situ, justeru seruling Oey Yok Su telah bergerak.

Perlahan.

Dan Phan Chin Shia melihat bergeraknya seruling itu, dia bermaksud hendak menghindar.

Namun belum keburu dia menggerakkan sepasang kakinya, justeru di saat itu seruling dari Oey Yok Su telah mengetuk perlahan kepalanya.

Phan Chin Shia menjerit dengan suara yang menyayatkan hati, menjatuhkan diri di lantai bergulingan sambil memegangi kepalanya.

Dari telinga, hidung, mulut dan matanya telah mengalir darah yang deras sekali.

Dia pun cuma bisa bergulingan di lantai tidak terlalu lama, sebab kemudian dia telah putus napas, diam tidak bergerak.

Yang Uh Tie-kwan dan Ma Ie Tie-kwan jadi ketakutan.

Sambil memutar tubuh hendak melarikan diri dari tempat itu, mereka berseru-seru.

"Pengawal! Pengawal..... tangkap penjahat!"

"Hai, kamu berdua ke mari!"

Bentak Oey Yok Su dengan suara yang dingin.

Wajahnya walaupun telah tua, sangat angker sekali seperti muka mayat, dingin tidak berperasaan.

Yang Uh Tie-kwan dan Ma Ie Tie-kwan jadi merandek, mereka tengah ketakutan, juga Oey Yok Su memanggil dengan suara yang berpengaruh sekali, mereka jadi merandek dan akhirnya menghampiri dengan takut-takut.

"Lo-enghiong..... kami adalah pembesar negeri yang menjalankan tugas, karena itu..... kami tidak punya salah apa-apa dengan Loenghiong……!"

Kata Yang Uh Tie-kwan dengan sikap ketakutan sekali.

"Hemmm, justeru pembesar negeri seperti engkau inilah yang perlu dibasmi!

Tidak ada seorang manusia busuk yang bisa lolos dari tangannya Oey Loshia…..!"

"Ampun Lo-enghiong……!"

Menghiba Yang Uh Tie-kwan dan Ma Ie Tie-kwan yang segera menekuk kedua kaki mereka, berlutut mengangguk-anggukkan kepalanya.

Lenyaplah harga diri mereka karena mereka kuatir dibunuh oleh pendekar tua yang memiliki kepandaian tinggi itu.

Sedangkan para pengawal di ruangan tersebut jeri untuk maju, mereka telah melihatnya Phan Chin Shia yang memiliki kepandaian tinggi, mereka ketahui sebagai tukang pukul andalan ke dua pembesar tersebut telah dapat di bunuh begitu mudah.

Tentu saja para tentara kerajaan itu tidak mau membuang jiwa dengan konyol, walaupun tadi ke dua Tie-kwan itu telah perintahkan mereka maju.

Semuanya hanya berdiri diam saja dengan hati kebat-kebit.

Oey Yok Su tertawa dingin, dia bilang.

"Baiklah, sekarang aku mengampuni kalian, tapi di lain waktu, Oey Loshia tidak akan mengampuni manusia-manusia seperti kalian!" Setelah berkata begitu, serulingnya mengetuk perlahan pundak ke dua Tie-kwan itu. Ke dua Tie-kwan itu menjerit kesakitan dan mereka rubuh pingsan tidak bergerak lagi. Jika nanti mereka tersadar, maka mereka akan menjadi manusia lumpuh yang tidak bisa berjalan dan juga tidak bisa menggerakkan tangan mereka. Memang Oey Yok Su mengampuni jiwa mereka, tapi tidak mengampuni hukuman mereka. Walaupun nanti mereka tetap hidup, ke dua Tie-kwan itu hidup dengan menderita sekali.....! Oey Yok Su yang wajahnya tetap dingin tidak memperlihatkan perasaan apapun juga, telah berjongkok untuk menggendong Ko Tie, yang hendak dibawanya meninggalkan ruangan sidang Tiekwan tersebut. Tapi waktu berjongkok seperti itu, tiba-tiba muka Oey Yok Su berobah dan memperdengarkan suara dengusan "Hemmm!"

Yang perlahan. Ia merasakan dari belakangnya menyambar beberapa batang senjata rahasia. Tanpa menoleh dia menggerakkan serulingnya, terdengar suara "tranggg, tranggg!"

Beberapa kali, dan senjata rahasia yang ditimpukan seseorang buat membokongnya, telah terpental, menyambar ke arah dari mana datangnya tadi.

Seketika terdengar suara jeritan beruntun dua orang, di susul dua sosok tubuh yang melarikan diri dari ruangan itu.

Mereka berdua tidak lain dari Gorgo San dan Kiang-lung Hweshio.

Mereka sejak tadi menyaksikan apa yang terjadi, dan juga menyaksikan datangnya Oey Yok Su, yang terkenal sangat lihay itu.

Mereka berdua pun jeri.

Memang ke dua Tie-kwan itu mereka kendalikan, buat menangkap Ko Tie, dan mereka hendak membunuh Ko Tie dengan meminjam tangan dari ke dua Tie-kwan tersebut.

Namun siapa tahu, justeru Tie-kwan-tie-kwan itu yang telah dibayar oleh Oey Yok Su.

Malah jago-jago andalan ke dua Tiekwan itu, yaitu Phan Chin Shia, telah kena dibinasakan Oey Yok Su dengan cara yang begitu mudah.

Gorgo San dan Kiang-lung Hweshio tidak berani memperlihatkan diri.

Mereka penasaran.

Untuk melampiaskan penasaran mereka, maka mereka menyerang dengan senjata rahasia buat membokong.

Namun Oey Yok Su benar-benar lihay.

Tanpa menoleh ia bisa menyampok kembali senjata rahasia itu, yang menancap di punggung dan di lengan Gorgo San dan Kiang-lung Hwesio, membuat mereka menjerit kesakitan, dan melarikan diri.

Untung saja Oey Yok Su memang tidak bermaksud mengejar mereka.

Jika memang Oey Loshia menginginkan jiwa mereka, berapa cepatnya mereka melarikan diri, jangan harap bisa terlepas dari tangan Oey Loshia, si sesat tua ini.

Dengan muka yang tetap dingin tidak berperasaan, Oey Yok Su mengangkat tubuh Ko Tie yang tengah pingsan tidak sadarkan diri, dibawa meninggalkan tempat itu.

Oey Yok Su membawa Ko Tie ke sebuah penginapan, dan juga telah merawatnya.

Ia menguruti dan memberikan obat kepada Ko Tie.

Tocu pulau To-hoa-to ini memang hebat dan mujijat obat-obat ciptaannya.

Walaupun bagaimana parahnya luka yang diderita oleh Ko Tie, pemuda itu bisa disembuhkan dengan cepat.....!"

Ternyata, Oey Yok Su waktu berpisah dengan Ko Tie, bukan bersungguh-sungguh meninggalkan pemuda itu.

Setelah mengetahui Ko Tie adalah murid Swat Tocu, memang ia jadi tidak menyukai pemuda itu, karena ia beranggapan Swat Tocu seorang jago persilatan yang angkuh dan tidak pernah mau hadir dalam Hoa-san-lun-kiam.

Karenanya ia pun menyesal telah mengobati Ko Tie.

Tapi, rasa penasaran hendak melihat berapa tinggi kepandaian Ko Tie, sebagai murid Swat Tocu, membuat Oey Yok Su mengikutinya.

Ketika tiba di kota tersebut, ia segera mencari rumah makan buat mengisi perut, dan di waktu itulah ia kehilangan jejak Ko Tie.

Hal ini membuat Oey Yok Su semakin penasaran.

Dia mencarinya ke sana ke mari, sampai akhirnya ia mendengar perihal seorang pemuda yang hari itu akan dijatuhi hukuman mati.

Cepat-cepat Oey Yok Su pergi ke kantor Tie-kwan dan benar saja, ia melihat Ko Tie yang tengah disidangkan, malah keselamatan Ko Tie tengah terancam oleh Phan Chin Shia.

Tanpa berpikir panjang lagi, Oey Yok Su segera turun tangan buat membunuh Phan Chin Shia dan menolongi Ko Tie.

Kemudian barulah membawa pemuda itu ke rumah penginapan untuk diobatinya, karena dilihatnya Ko Tie dalam keadaan terluka parah di dalam tubuhnya.

Dia pun telah memberikan obat yang paling mujarab dan langka, hasil ciptaan dan ramuannya sendiri selama mengasingkan diri di To-hoa-to.

◄Y► Waktu Ko Tie membuka matanya tersadar dari pingsannya, yang pertama kali dilihatnya adalah seorang laki-laki tua berjenggot panjang, dengan muka yang dingin tidak memperlihatkan perasaan apapun juga, memakai kopiah dan baju panjang warna hijau, yang tidak lain dari pada Oey Yok Su.

Segera juga Ko Tie hendak bertanya, tapi Oey Yok Su telah mencegahnya dengan mengulap-ulapkan tangannya.

"Jangan bicara dulu, luka di dalam tubuhmu cukup parah……!"

Ko Tie mematuhi perintah Oey Yok Su.

Ia berdiam diri saja.

Kemudian melihat dirinya berada di atas pembaringan di dalam sebuah kamar.

Ia jadi tambah heran.

Dan menduga-duga entah dia berada di mana.

Di waktu itu Oey Yok Su telah bilang lagi dengan suara yang sabar.

"Hemmmm, engkau masih tertolong, karena aku datang belum terlambat. Jika memang aku tiba terlambat satu-dua detik lagi, tentu engkau telah menjadi mayat.....!" Ko Tie mengangguk saja, karena ia ingat akan pesan Oey Yok Su agar dia tidak bicara dulu. Ia pun menyadari, tentunya sekali ini Oey Yok Su pula yang telah menolonginya.

"Untuk mennyembuhkan benar-benar luka di dalam tubuhmu itu, memerlukan waktu duapuluh hari. Setelah itu engkau masih perlu beristirahat duapuluh hari pula, barulah luka di dalam tubuhmu benar-benar sembuh!"

Menjelaskan Oey Yok Su pula.

"Hemm, ada seseorang yang memfitnah kau, apakah engkau mempunyai musuh?!"

Ko Tie menggeleng.

Dan ia berdiam dengan otak bekerja keras.

Karena ia pun heran, bahwa ia telah difitnah seperti itu, dan orang itu yang belum diketahuinya siapa, telah memperalat ke dua Tiekwan tersebut.

Beruntung dia masih bisa tertolong dan Oey Yok Su pula yang menolonginya.

Segera Oey Yok Su membuka baju si pemuda, dia kemudian bilang.

"Selama aku menguruti sekujur tubuhmu, engkau harus menahan nafasmu, buanglah sekali-sekali dengan teratur dan perlahan-lahan!"

Ko Tie mengangguk lagi. Dirasakannya tangan Oey Yok Su hangat sekali menguruti sekujur tubuhnya. Cuma saja Ko Tie merasakan betapa dadanya sesak dan sakit. Ia merintih.

"Tahan! Sakit yang bagaimana hebat sekalipun, engkau harus dapat menahannya, jika tidak, tidak bisa ditolong lagi!"

Ko Tie mulai menggigit bibirnya dengan merintih perlahan, tapi ia mengangguk, bahwa ia akan mematuhi pesan Oey Yok Su, untuk bertahan dari sakit yang dideritanya.

Oey Yok Su bekerja sebat sekali.

Seluruh jalan darah di tubuh Ko Tie, yang berjumlah tigaratus empatpuluh tujuh, telah diurut semuanya, dan kemudian katanya dengan keringat masih memenuhi keningnya.

"Kini engkau telah lolos dari keadaanmu yang gawat…… selanjutnya hanyalah tinggal membuka jalan-jalan darahmu! Kerahkan lweekangmu!"

Sambil berkata begitu, Oey Yok Su meletakkan telapak tangannya pada perut Ko Tie.

Ko Tie menuruti lagi perintah Oey Yok Su.

Dia telah mengerahkan lweekangnya.

Namun gagal.

Lweekangnya dan tenaga murninya telah acak-acakan, tidak bisa disatukan.

Malah, tenaga dalamnya itu telah buyar tidak bisa menembusi beberapa jalan darah terpenting di tubuhnya.

Diamdiam Ko Tie mengeluh, dia menyadari, sekali ini ia benar-benar terluka parah sekali.

Di waktu itu Oey Yok Su bilang dengan suara yang tawar.

"Berusaha terus untuk mangerahkan lweekangmu!"

Kemudian Oey Yok Su memejamkan matanya, dia mengerahkan lweekangnya.

Ko Tie merasakan, dari telapak tangan Oey Yok Su mengalir hawa yang hangat sekali, seperti bola api, yang menerobos masuk ke dalam tubuhnya.

Bola api itu seperti berputar-putar di sekitar perutnya.

Tapi tetap saja sin-kang Ko Tie tidak bisa disatukan, buyar dan tidak bisa menembusi beberapa jalan darah terpenting di tubuhnya.

Ko Tie mencoba terus, berulang kali dia menyalurkan sin-kangnya, untuk dipusatkan menjadi satu.

Walaupun berulang kali gagal, dia tidak berputus asa.

Ia mengerti, sebelum ia berhasil mempersatukan tenaga dalamnya dan hawa murninya, tidak mungkin ia bisa sembuh.

Terlebih lagi sekarang dengan dibantu oleh sin-kang Oey Yok Su, seharusnya ia dapat mengendalikan sin-kangnya jauh lebih mudah.

Jika sekarang ia sulit untuk mempersatukan sin-kangnya walaupun telah menerima bantuan dari Oey Yok Su, itulah disebabkan memang ia terluka di dalam yang benar-benar berat dan parah.

Sedangkan Ko Tie sendiri menyadari, Oey Yok Su sekali ini memang bersungguh-sungguh menolonginya.

Benar-benar dia merasa heran oleh perangai Oey Yok Su yang angin-anginan.

Dulu, beberapa saat yang lalu, Oey Yok Su tampak kecewa waktu mengetahui ia murid Swat Tocu.

Dan juga telah meninggalkannya dengan sikap yang dingin, tidak mau tahu lagi keadaan dirinya.

Siapa tahu, sekarang ini, justeru Oey Yok Su yang telah menolonginya lagi, bahkan Oey Yok Su pula yang telah berusaha membantunya dengan mengerahkan tenaga dalamnya.

Sin-kang Oey Yok Su sudah mencapai puncak kesempurnaan, mungkin di dalam rimba persilatan sudah tidak ada duanya, dialah merupakan datuk rimba persilatan yang memiliki kepandaian sangat tinggi sekali, dan dijaman itu mungkin sudah tidak ada orang yang bisa menandingi kepandaiannya.

Di kala itu terlihat Oey Yok Su mengerahkan lima bagian tenaga dalamnya.

Jika ia mengerahkan sampai delapan bagian, disaat pertama kali ia memusatkan tenaga dalamnya, pasti bisa membahayakan jiwa Ko Tie, sebab pemuda itu tidak akan kuat menerima "sumbangan"

Tenaga dalam yang begitu besar.

Sedangkan Ko Tie masih saja gagal.

Sampai akhirnya Oey Yok Su menarik pulang tangannya.

Ia menghela napas.

Keringat tampak membasahi tubuh Oey Yok Su.

Ia memang telah bersungguh-sungguh hendak menolongi Ko Tie.

Cuma saja, luka di dalam tubuh yang diderita oleh Ko Tie benarbenar berat dan parah.

Karena itu, segera terlihat, betapa pun juga, Ko Tie sangat berterima kasih, dia memandang kepada Oey Yok Su dengan sorot mata bersyukur.

Oey Yok Su telah bilang kepadanya dengan suara yang tawar.

"Lukamu benar-benar terlalu berat…… seharusnya, sebelum engkau cukup beristirahat tiga hari setelah kusembuhkan beberapa waktu yang lalu, engkau tidak boleh mempergunakan tenaga dulu, dan jangan sekali mengerahkan tenaga dalammu. Sekarang terbukti memang, engkau semakin hebat terluka di dalam, dan tidak mudah untuk disembuhkan!" Setelah berkata begitu, Oey Yok Su telah menghela napas lagi. Ko Tie jadi berkuatir sekali, karena ia takut kalau-kalau dirinya tidak bisa disembuhkan, maka kepandaiannya musnah dan ia menjadi bercacad. Tengah pemuda ini memandang mengawasi Oey Yok Su dengan sorot mata berkuatir, waktu itulah Oey Yok Su menoleh kepadanya, sehingga jago tua itu bisa melihat sinar mata Ko Tie, dan ia tersenyum tawar.

"Kau takut mati?!"

Tanyanya kemudian dengan suara yang datar dan dingin. Ko Tie menggeleng.

"Ti…… tidak locianpwe……!"

"Kulihat engkau ketakutan sekali!"

Kata Oey Yok Su dengan suara tetap tawar.

"Boanpwe kuatir kalau-kalau boanpwe tidak bisa disembuhkan, sehingga boanpwe selain akan bercacat, juga ilmu silat boanpwe akan musnah……!"

Kata Ko Tie dengan muka yang guram dan masgul.

Oey Yok Su tiba-tiba tertawa.

Keras sekali suara tertawanya itu, sehingga bergema di sekitar tempat itu, membuat tamu-tamu di rumah penginapan tersebut, termasuk para pelayannya, jadi kaget tidak terkira.

Mereka tidak mengetahui suara apa yang bergema itu.

Mereka menduga apakah suara naga yang tengah meraung?

Lama sekali Oey Yok Su tertawa, sedangkan orang-orang di rumah penginapan itu tengah panik mencari sumber suara tersebut, yang dalam pendengaran mereka sangat aneh.

Oey Yok Su baru berhenti tertawa, katanya.

"Baiklah kujelaskan kepadamu! Walaupun bagaimana aku akan berusaha menyembuhkan engkau……!"

Muka Ko Tie berseri-seri terang.

"Terima kasih, locianpwe……!"

Katanya.

"Budi besar locianpwe tidak mungkin boanpwe lupakan!"

"Aku bukan melepas budi padamu!"

Kata Oey Yok Su dengan suara yang dingin dan mukanya datar tidak memperlihatkan perasaan apapun juga.

Ko Tie tercekat hatinya.

Benar-benar ku-koay sekali adat Oey Yok Su.

Dia sendiri yang mengatakan bahwa dia berusaha akan menyelamatkan Ko Tie, tapi dia sendiri yang bilang tidak mau melepas budi kepada Ko Tie.

Maka Ko Tie berdiam diri saja, ia kuatir jika banyak bicara jadi salah.

Waktu itu Oey Yok Su mengawasi Ko Tie beberapa saat lamanya lagi, dia bilang.

"Menurut apa yang kulihat, engkau memiliki bakat dan tulang yang bagus, tentunya engkau menjadi murid Swat Tocu sebagai murid yang baik, telah mewarisi seluruh kepandaian gurumu itu! Bukankah begitu?!"

Ko Tie ragu-ragu, tapi ia bertanya juga.

"Maksud locianpwe?"

Oey Yok Su tidak segera menyahuti, dia menghela napas, barulah kemdian dia bilang.

"Ya, sesungguhnya, dalam hal ini aku sengaja menolongimu, karena aku kelak ingin melihat, berapa tinggi kepandaian yang telah diwarisi oleh Swat Tocu kepadamu! "

Maka, aku telah turun tangan menyelamatkanmu, dan aku bertekad untuk menyelamatkan engkau dari kematian!

Nah, jika memang nanti, kalau engkau telah sembuh, dan sudah tidak terluka seperti sekarang ini, di waktu itulah aku akan meminta engkau bertempur denganku sebanyak seratus jurus, karena aku ini melihat, betapa lihaynya kepandaian dari Swat Tocu, yang sering dibangga-banggakan orang itu……!"

Setelah berkata begitu, Oey Yok Su memperdengarkan suara tertawa dingin beberapa kali.

Sedangkan Ko Tie jadi kaget tidak terkira.

Memang Oey Yok Su benar-benar si sesat yang aneh sekali perangainya.

Ia menolongi Ko Tie tapi dengan mengandung maksud justeru nanti meminta Ko Tie agar bertempur dengannya.

Tentu saja Ko Tie jadi mengeluh.

Walaupun dia memiliki kepandaian dua kali lipat dari yang sekarang, tidak mungkin dia bisa menandingi Oey Yok Su.

Melihat Ko Tie berdiam diri saja, Oey Yok Su tertawa tawar.

"Mengapa bengong saja? Apakah kau jeri?!"

Tanyanya kemudian. Ko Tie tersenyum pahit.

"Justeru yang tengah boanpwe pikirkan, jika misalnya memang boanpwe memiliki kepandaian dua kali lipat dari sekarang, juga tidak mungkin bisa menandingi locianpwe!"

Kata Ko Tie jujur. Mendengar perkataan Ko Tie, Oey Yok Su tertawa bergelak-gelak.

"Hemm, engkau tampaknya memang benar-benar tidak tahu diri? Dengan aku mengatakan ingin perintahkan engkau bertempur denganku, apakah engkau mengira bahwa aku ini bermaksud bertempur sungguh-sungguh dengan kau? Jika memang bertempur sungguh-sungguh, apakah dalam sepuluh jurus saja engkau bisa bertahan?!"

Ditegur seperti itu, muka Ko Tie jadi berobah merah, dia likat sekali. Sekarang dia baru mengerti, bahwa Oey Yok Su mungkin hanya ingin menguji kepandaiannya belaka.

"Ya, ya, boanpwe telah salah bicara……!"

Kata Ko Tie kemudian. Oey Yok Su mengawasi si pemuda, baru kemudian dia bertanya.

"Sekarang kau jawab yang jujur, aku ada satu pertanyaan. Bersediakah engkau?!"

Ko Tie mengangguk.

"Ya, katakanlah locianpwe, nanti boanpwe menjawabnya dengan jujur.....!"

Kata Ko Tie. "Bagus! Dengarkanlah baik-baik akan pertanyaanku ini!"

Kata Oey Yok Su.

"Menurut kau siapa yang memiliki kepandaian tertinggi, aku atau memang gurumu?!"

Ditanya seperti itu, Ko Tie tertegun, dia tidak menyangka, akan diajukan pertanyaan seperti itu. Buat sejenak ia berdiam diri saja.

"Mengapa engkau tidak menjawab?!"

Tegur Oey Yok Su sambil memperlihatkan senyuman dingin.

"Hemm, apakah pertanyaanku itu sulit buat dijawab?!"

Waktu itu Ko Tie ragu-ragu sekali.

Jelas ia tidak bisa mengatakan bahwa Oey Yok Su memiliki kepandaian di atas kepandaian gurunya.

Dan ia pun tidak mungkin berkata bahwa Swat Tocu memiliki kepandaian di atas kepandaian Oey Yok Su.

Sebab jika ia menjawab seperti itu, niscaya akan membuat Oey Yok Su kalap dan marah bukan main.

Melihat pemuda ini masih bengong, Oey Yok Su telah berkata.

"Sekarang kau mau menjawab atau tidak? Jika memang pertanyaanku itu sulit buat dijawab, aku pun tidak akan memaksa engkau menjawabnya. Ko Tie tersenyum pahit, dia bilang. "

Sesungguhnya locianpwe…… jika memang dalam urusan ini boanpwe dari tingkatan muda, tentu saja tidak berani bicara sembarangan.

"Mengapa tidak berani bicara sembarangan?! Aku bertanya padamu dan kau harus menjawab dengan jujur. Hanya itu saja. Mengapa engkau sulit menjawabnya?!"

Ko Tie terdesak, dia tertawa pahit, kemudian katanya.

"Mungkin yang mengetahui lebih jelas adalah locianpwe……!"

"Jika aku telah mengetahuinya, buat apa aku bertanya lagi kepadamu?!"

Kata Oey Yok Su memperlihatkan sikap tidak senang. Ko Tie semakin terdesak.

"Locianpwe........?!"

"Hemmm, tampaknya pertanyaan itu memang sulit buat engkau jawab! Baiklah, aku tidak akan memaksa engkau menjawabnya lagi.....!"

Setelah berkata begitu, Oey Yok Su memperlihatkan sikap tidak senang, wajahnya guram. Ko Tie jadi nekad ketika melihat keadaan Oey Yok Su, maka dia segera juga menjawabnya.

"Jika memang tidak salah, dan ini menurut pendengaran yang selama ini boanpwe dengar, dan juga merupakan jawaban yang sejujurnya dari hati boanpwe, seperti yang dikehendaki oleh locianpwe, karena itu, maafkan jika boanpwe salah menjawab.......

"Sesungguhnya, baik locianpwe, maupun guruku, di dalam rimba persilatan merupakan tokoh-tokoh yang memiliki kepandaian sangat tinggi sekali dan sukar untuk ditentukan siapa yang lebih tinggi karena memang kalian sangat dihormati oleh orang-orang seluruh rimba persilatan.......!"

Setelah berkata begitu, tampak Ko Tie mengawasi Oey Yok Su, karena ia hendak mengetahuinya, sampai di manakah Oey Yok Su menanggapi perkataannya itu.

Apakah ia akan marah atau akan menghantam mati.

Oey Yok Su berdiam diri saja, wajahnya tetap guram.

Bibirnya bergerak perlahan, dia berkata.

"Menurut kau, aku dan si tua bangka itu, sama-sama merupakan tokoh rimba persilatan yang sangat dihormati sekali oleh orangorang rimba persilatan……!"

Oey Yok Su mengulangi kata-kata itu sampai beberapa kali, dan juga tampaknya dia tengah memikirkan kata-kata tersebut.

Mendadak sekali, tangan kanan Oey Yok Su terangkat, terayun memukul paha kanan dari kaki Ko Tie.

Hati Ko Tie tercekat.

Ia menyangka Oey Yok Su hendak memukul hancur tulang kakinya, agar ia bercacat,karena mungkin saja Oey Y ok Su tidak senang dengan jawabannya tersebut.

Tapi, ketika tangan Oey Yok Su hinggap di pahanya, itulah tepukan biasa yang tidak disertai oleh kekuatan tenaga dalam.

Ko Tie bisa bernapas lega.

Apa lagi waktu itu Oey Yok Su telah bilang.

"Ya, engkau seorang murid yang berbudi. Engkau tahu mengenal budi dari gurumu, yang telah bersusah payah membesarkan dan mendidik engkau, mewarisi kepandaiannya! "

Walaupun dalam keadaan seperti sekarang, engkau tidak bertindak rendah, dengan mengucapkan kata-kata yang menyenangkan hatiku dan lalu meruntuhkan nama baik gurumu!

Aku memuji engkau sebagai murid yang baik, dan aku senang untuk mengobati kau!" Setelah berkata begitu, Oey Yok Su dapat tersenyum.

Memang sungguh aneh sekali sikap dan kelakuan Oey Yok Su, karena ia bisa kesal dan senang dengan mendadak.

Juga urusan yang benar bisa disalahkan, urusan yang salahpun bisa dibenarkan.

Tapi, yang terpenting, Oey Yok Su adalah Oey Yok Su, yang paling benci kepada murid-murid yang murtad terhadap pintu perguruannya.

Karena ia pasti akan menghukum murid murtad itu dengan hukuman yang seberat-beratnya.

Karena Oey Yok Su sendiri memang pernah mengalami, betapa pahitnya jika memang seorang guru dikhianati oleh muridmuridnya, dan murid-murid Oey Yok Su ada yang mengkhianatinya, sehingga saking marahnya Oey Yok Su sampai menghukum semua muridnya.

Dengan begitu, dia telah dapat melampiaskan kemarahannya.

Sekarang ia melihat betapa Ko Tie, di saat membutuhkan pertolongannya, bukan sekedar untuk menyenangkan hatinya belaka, ia mengambil jalan tengah dan tetap menyanjung akan keterkenalan nama besar gurunya, yang malah telah disejajarkan dengan Oey Yok Su, yang disebut sebagai dua orang tokoh sakti yang disegani dan dihormati oleh orang-orang rimba persilatan.

Sesungguhnya, jika memang Oey Yok Su memiliki perkiraan seperti itu, seperti jago-jago silat umumnya, pasti tidak puas dirinya disejajarkan dengan orang yang justeru hendak diruntuhkan dalam tangannya, yang merupakan saingannya Tapi memang dasarnya Oey Yok Su memiliki hati dan perangai yang aneh, karena itu, justeru yang salah bisa dibenarkan, yang benar bisa disalahkan.

Malah oleh kata-kata Ko Tie ia jadi kagum terhadap Ko Tie, karena ia anggap Ko Tie sebagai seorang murid yang setia dan juga berbudi, tidak mau meruntuhkan dan mencari keuntungan dengan menjelekkan nama gurunya.

Hal inilah yang menyenangkan hati Oey Yok Su.

Dia memang paling benci murid-murid yang murtad, dan sekarang ia bisa melihat seorang murid yang bisa menghargai gurunya, dengan sendirinya telah membuat dia benar-benar menghormati dan juga senang untuk menolongi Ko Tie.

Lega hati Ko Tie.

Semula dia menduga jawabannya itu salah dan akan membuat Oey Yok Su murka.

Tapi siapa tahu, justeru Oey Yok Su tampaknya gembira, dan telah berjanji akan menolongnya.

Bahkan juga, telah memujinya sebagai seorang murid yang baik!

Karena girang dan terharu, Ko Tie sampai menitikkan air mata.

Melihat pemuda itu menangis, mendadak muka Oey Yok Su berobah dingin lagi.

"Ihh, mengapa kau menangis?!"

Katanya dengan suara yang tawar. Ko Tie sesenggukan.

"Boanpwe teringat dan rindu kepada suhu......!"

Menyahuti Ko Tie.

"Hem, air mata buaya!"

Mendadak Oey Yok Su mendengus seperti itu, sikapnya dingin sekali, seakan juga ia muak melihat Ko Tie.

Sedangkan Ko Tie terkejut bukan main.

Dia merasakan kepalanya seperti itu dikemplang oleh palu.

Dia sampai berhenti menangis seketika itu juga.

"Locianpwe......?"

Katanya dengan suara tergagap. Oey Yok Su tertawa dingin, dia bilang.

"Hemmm, engkau ternyata seorang murid yang berhati palsu! Seseorang, yang dapat menangis hanya disebabkan rindu terhadap gurunya, adalah seorang manusia berhati palsu.....!"

Dingin dan tawar sekali suara Oey Yok Su, mukanya yang tidak memperlihatkan perasaan apa-apa.

Waktu itu Ko Tie telah memandang Oey Yok Su dengan sorot mata tidak mengerti, karena memang ia benar-benar tidak mengerti, akan perangai Oey Yok Su yang demikian aneh sekali!

Oey Yok Su juga menatap tajam sekali kepada Ko Tie, kemudian dia telah berkata dengan suara yang tawar.

"Baiklah, kau seorang murid yang berhati palsu, seorang murid yang pandai menangis, hanya untuk merayu belaka, untuk mendustai gurumu…… hemmmm, aku jadi muak!"

"Locianpwe.......!"

"Kau tidak perlu memberikan bermacam-macam alasan! Ribuan bahkan laksaan alasan yang bisa dipergunakan untuk menutupi kesalahan! Tapi justeru kita bisa melihat kesalahan seseorang dari tingkah laku yang sebenarnya, yang tentu saja tidak dibuat-buat!" "Tapi locianpwee…… boanpwe sungguh-sungguh rindu pada suhuku......!"

Kata Ko Tie penasaran.

"Masa bodoh! Itu urusanmu sendiri, bukan urusanku dan tidak ada sangkut pautnya denganku!"

Menyahuti Oey Yok Su dengan suara yang ketus sekali.

Mendengar jawaban Oey Yok Su seperti itu, muka Ko Tie jadi berobah merah.

dia segera menunduk dan berdiam diri.

Memang benar apa yang dikatakan Oey Yok Su, bahwa Oey Yok Su tidak ada hubungan apa-apa antara Swat Tocu dengan dia.

Dan juga memang urusan itu tidak perlu dibicarakannya dengan Oey Yok Su.

Namun memang pada dasarnya Oey Yok Su aneh sekali sifatnya dan tabiatnya, di waktu itu dia telah berkata dengan suara yang tawar.

"Hmm, baiklah, aku jelaskan kepadamu, bahwa aku tidak bisa untuk mengobati kau! Aku tarik janjiku tadi, dan aku segan, aku muak, untuk mengobati seseorang yang berhati palsu!"

Hati Ko Tie jadi mencelos. "Locianpwe....... ?"

"Hemmm, memang sudah kuduga, bahwa engkau seorang murid yang tidak setia kepada gurumu! Engkau telah memperoleh kecelakaan seperti ini, dan dengan tidak tahu malu engkau hendak mengemis-ngemis kepadaku, agar engkau diobati, bukan?!"

Muka Ko Tie memerah. Namun akhirnya ia bilang.

"Tapi dalam hal ini....... boanpwe....... boanpwe tidak memaksa locianpwe! Dan..... dan jika memang locianpwe keberatan buat mengobati lukaku ini, terserah kepada locianpwe sendiri, boanpwe tidak akan memaksanya..... terima kasih terhadap kebaikan locianpwe yang beberapa saat yang lalu telah menolongi boanpwe.......!"

Ko Tie berkata begitu, karena memang dia telah nekad, dia pun merasakan harga dirinya diinjak-injak oleh Oey Yok Su.

Jika ia mengalah, tentu akan memalukan gurunya, dan meruntuhkan nama besar gurunya.

Karenanya ia mengeluarkan kata-kata yang nekad seperti itu.

"Plakkk!"

Tiba-tiba Oey Yok Su telah menghantam tepian pembaringan dengan tangan kanannya, sampai tepian pembaringan itu sempal dan juga telah membuat pembaringan itu tergetar keras, dapat dirasakan oleh Ko Tie.

Ko Tie tercekat dan hatinya mencelos, karena ia menduga Oey Yok Su gusar oleh kata-katanya dan akan menghantamnya.

Jika saja Oey Yok Su menggerakkan tangannya, tentu sulit sekali baginya buat hidup lebih jauh.....

Tapi kini Ko Tie jauh lebih tenang.

Ia sudah nekad, maka dia mengawasi Oey Yok Su dengan sikap yang menantang, mengawasi dengan tidak mengucapkan kata-kata apapun juga.

Sedangkan Oey Yok Su dengan muka yang memerah karena mendongkol telah berkata.

"Hemmmm, bagus! Dihadapanku engkau ingin besar adat dan membawa adatmu! Hemmm, bagus! Jadi engkau sekarang ini mengambul terhadapku. Baik aku akan melihat, sampai di mana kau bisa membawa adatmu?"

Mendengar kata-kata Oey Yok Su yang terakhir itu, benar-benar membuat Ko Tie jadi cemas.

Karena Oey Yok Su seorang yang berperangai sangat aneh, dan tentunya iapun akan bertindak yang aneh-aneh juga.

"Locianpwe jangan salah paham,"

Kata Ko Tie.

"Boanpwe berterima kssih jika memang locianpwe bersedia mengobati boanpwe."

Oey Yok Su tertawa dingin, kemudian dengan mata yang memancarkan sinar yang sangat dingin, ia bilang.

"Hemmm, engkau hendak bicara mutar-mutar dan akhirnya bertujuan satu, yaitu ingin memperlihatkan keangkuhan dirimu, mau diobati boleh, tidak diobati engkaupun tidak memaksa! Bukankah begitu?"

Mendengar perkataan Oey Yok Su seperti itu, diam-diam Ko Tie berkata di dalam hatinya.

"Hemmm, dasar memang engkau yang memiliki adat ku-koay, maka engkau memiliki dugaan seperti itu terhadapku! Sebetulnya, jika engkau bersungguh-sungguh hendak mengobatiku, tentunya engkau akan segera turun tangan buat mengobatiku. Lalu mengapa engkau seakan juga hendak mencari-cari urusan dan persoalan denganku? "

Hemmm, melihat demikian, tampaknya memang engkau setengah hati buat menolongi aku!

Sudahlah!

Sudahlah!

Jika tokh engkau tidak mau menolongi, paling tidak aku hanya mati!

" Setelah berpikir seperti itu, Ko Tie menghela napas.

Ia berusaha tersenyum, kemudian bilangnya.

"Locianpwe, sebenarnya boanpwe sangat mengharapkan pertolongan locianpwe. Akan tetapi, jika memang locianpwe tidak bersedia mengobati, bukankah boanpwe tidak bisa memaksanya? "

Jika boanpwe menangis darah, tapi locianpwe memang tidak mau mengobati boanpwe, bukankah tetap saja boanpwe tidak akan diobati oleh locianpwe........? Bukankah begitu?!"

Mendengar perkataan Ko Tie, bola mata Oey Yok Su mencilak memutar beberapa kali.

Ia memang memiliki adat yang aneh sekali, perangai yang luar biasa.

Karena itu, setiap melakukan sesuatu, tentu ia selalu aneh dan ada-ada saja.

Yang salah bisa dibetulkan, yang benar bisa disalahkan.

Maka sekarang mendengar perkataan Ko Tie seperti itu, Oey Yok Su mendengus lagi beberapa kali, ia bilang.

"Jika memang tidak memandang kepada gurumu, hemmm, hemmm, aku tentu sudah membunuhmu!" "Justeru tadi locianpwe mengatakan, bahwa karena boanpwe murid guruku, karena dari itu ada…… ada……"

Ko Tie tidak meneruskan perkataannya.

"Ada…… ada apa?!"

Bentak Oey Yok Su, suaranya meninggi, sikapnya jadi bengis.

"Apakah Iocianpwe tidak marah jika boanpwe mengatakannya?"

Tanya Ko Tie. Muka Oey Yok Su berobah, tahu-tahu tubuhnya telah melesat menghampiri Ko Tie, tangannya bergerak.

"Plakk!"

Nyaring sekali pipi Ko Tie kena ditamparnya, sehingga ia merasakan rahangnya seperti copot dan ngilu sekali, seakan juga giginya akan rontok.

"Kau anggap aku ini seorang jago rimba persilatan yang seperti bajingan, yang harus ditanya dulu marah atau tidak jika memang engkau mengemukakan pendapatmu?!"

Kata Oey Yok Su dengan suara yang bengis.

"Aku bisa membuktikan kepadamu, walaupun engkau tidak melakukan kesalahan, tapi jika memang hatiku tidak senang, maka bisa saja aku menghajarmu.....!" Setelah berkata begitu, berulang kali Oey Yok Su mendengus. Ko Tie tadi sempat merasakan pandangan matanya kabur seperti berkunang-kunang, dan ia pun merasa sakit yang sangat. Walaupun Oey Yok Su menamparnya memang bukan disertai tenaga sin-kangnya, namun tempelengan itu membuat Ko Tie jadi pusing juga. Setelah lewat beberapa saat, akhirnya Ko Tie baru bisa menyahuti.

"Baiklah locianpwe, boanpwe bersedia dihukum apa saja oleh locianpwe, menganggap boanpwe bersalah boanpwe terima, jika dihukum, boanpwe juga terima......!"

"Plak!"

Kembali Ko Tie ditempeleng oleh Oey Yok Su.

"Kau bicara seenakmu! Apakah kau anggap aku orang sinting sehingga orang yang bersalah dibenarkan dan yang benar dipersalahkan?!"

Waktu berkata begitu, bola mata Oey Yok Su memancarkan sinar yang sangat tajam.

Ko Tie sampai menggidik melihatnya.

Sinar mata itu bukan memancarkan hawa pembunuhan, tapi angker dan berwibawa, agung sekali.

Disamping itu, memperlihatkan bahwa Oey Yok Su benar-benar seorang yang memiliki kedudukan yang tinggi.

Dan ia menempatkan dirinya pada kedudukannya itu, sehingga demikian angkernya.

Ko Tie menghela napas.

Menghadapi orang ku-koay seperti Oey Yok Su, Ko Tie jadi bingung sendirinya.

Karena walaupun bagaimana, tetap saja ia harus dapat menerima dan menahan tempelengan Oey Yok Su.

Ia sudah kewalahan juga, karena tidak tahu yang harus dikatakannya, berkata begini salah, berkata begitu salah.

Maka, akhirnya Ko Tie berdiam diri saja, bungkam menutup mulut.

Dalam keadaan seperti itu terlihat Ko Tie benar-benar merupakan seorang anak yang tidak berdaya menghadapi ayahnya yang galak.

Sikapnya berdiam diri dengan kepala tertunduk, membuat Oey Yok Su akhirnya jadi lunak lagi hatinya.

Ia menghela napas, matanya yang semula bersinar sangat tajam, telah menjadi biasa lagi, angker, tapi sinarnya lembut.

Malah, dengan suara menyesal Oey Yok Su bilang.

"Hemmm, engkau yang cari penyakit.....!" Ko Tie mengangkat kepalanya, tapi ia tidak berani mengucapkan sepatah perkataan pun juga, karena pemuda ini kuatir kalau-kalau ia salah bicara dan membangkitkan kemarahan Oey Yok Su, sehingga ia ditempeleng lagi berulang kali. Karena itu, Ko Tie cuma bungkam, mengawasi saja. Oey Yok Su akhirnya bertanya dengan sikap yang jauh lebih lunak.

"Apakah engkau mau diobati?!"

Ko Tie tertawa, ia mengangguk.

"Sudah tentu boanpwe sangat bersyukur sekali jika saja locianpwe mau bermurah hati mengobati boanpwe!"

Menyahuti Ko Tie.

"Hemmm!"

Tiba-tiba Oey Yok Su mendengus lagi.

"Mau bermurah hati? Apakah kau kira seumur hidupku aku ini sebangsa manusia yang tidak pernah bermurah hati, sehingga engkau masih ragu apakah aku mau bermurah hati atau tidak buat mengobati lukamu itu?!"

Tercekat hati Ko Tie.

"Celaka!"

Diam-diam pemuda ini mengeluh. Kembali Oey Yok Su salah paham. Ia cepat-cepat bilang.

"Bukan begitu maksud boanpwe……!" "Jika bukan begitu maksudmu, apakah maksudmu bahwa aku seorang yang berhati kejam dan selalu pula ingin mencari keuntungan dengan mengobati orang yang memerlukan pertolonganku? "

Atau memang engkau menyangka aku ini Thong-shia sebagai manusia kejam yang tidak pernah menolongi orang?!"

"Bukan, bukan begitu maksud boanpwe!"

Berseru Ko Tie agak gugup.

"Hemmm, bukan begitu, bukan begitu, apakah dengan berkata begitu engkau kira aku bisa mempercayai mulutmu lagi? Telah beberapa kali kau menyinggung perasaanku. Hem, sebenarnya engkau harus bersyukur bahwa engkau belum kubunuh karena kesalahanmu itu..... masih kubiarkan hidup!"

Tercekat hati Ko Tie.

Memang ia telah beberapa kali bertemu dengan Oey Yok Su.

Waktu itu ia masih terlalu kecil, juga Oey Yok Su tidak memperhatikannya.

Di samping itu, memang Oey Yok Su seorang yang sangat ku-koay, karenanya Ko Tie tidak bisa menangkap dan mengenal watak dan jiwanya.

Jika seseorang dipuji, di "gong", tentu akan senang.

Tapi lain dengan Oey Yok Su, yang akan jadi marah dan tersinggung, sehingga Ko Tie benar-benar jadi tidak mengetahui, berkata apa seharusnya yang bisa menyenangkan hati Oey Yok Su.

Karena bungkam salah, bicara juga salah.

Bungkam bisa dianggap kurang ajar, bicara bisa salah bicara.

Karena itu, akhirnya Ko Tie sendiri tidak mengetahui apa yang harus diperbuatnya.

Waktu itu Oey Yok Su telah berkata dengan suara yang bengis.

"Kau terlalu rewel!"

Terdengar begitu dingin dan datar suara jago tua tersebut.

Malah ia bukan hanya sekedar berkata saja, sebab ia mengibaskan tangannya yang kanan, maka berkesiuran angin yang kuat sekali menerjang kepada Ko Tie.

Hati Ko Tie mencelos, karena ia mengetahui betapa hebatnya tenaga sin-kangnya dari Oey Yok Su.

Jika memang Oey Yok Su bermaksud membunuh atau mencelakainya, dengan mudah dapat dilakukannya.

Sekarang iapun dalam keadaan tidak berdaya, maka jika angin kibasan tangannya itu telah tiba, niscaya ia akan segera terbinasa.

Angin kibasan tangan Oey Yok Su telah menyambar tiba pada dirinya.

Ko Tie semakin terkejut, ia merasakan tubuhnya terapung di tengah udara, dan kemudian melambung tinggi sekali, lalu telah ambruk di tanah serta bergulingan beberapa kali.

Di saat itulah tampak Oey Yok Su dengan sikap yang acuh tak acuh telah menggerakkan tangan kanannya lagi, mengibas sehingga tubuh Ko Tie yang tengah terguling-guling di tanah, terlontar lagi dengan keras, terapung di tengah udara, dan kemudian bergulingan pula di tanah.

Ko Tie menderita kesakitan yang tidak kepalang, ia tengah terluka di dalam.

Dan sekarang ia di terjang oleh kekuatan sin-kang yang dahsyat seperti itu, juga membuat ia bergulingan tidak hentinya, ia menderita sekali.

Namun, ia tidak menjerit.

Ia telah berdiam diri dengan menggigit bibirnya, walaupun waktu itu dirasakan dunia seperti berputar, mata berkunang-kunang, namun pemuda ini, yang hatinya jadi mendongkol bukan main, telah memandang benci kepada Oey Yok Su.

"Oho, betapa jahatnya matamu!"

Kata Oey Yok Su tawar, tangannya sekali lagi bergerak, mengibas perlahan, namun hebat kesudahannya.

Karena dari tangannya meluncur kekuatan yang dahsyat sekali menyampok tubuh Ko Tie lagi, sampai tubuh Ko Tie terlempar ke tengah udara, lalu terbanting di tanah dengan keras.

Pemuda itu merasakan betapa tulang-tulang di sekujur tubuhnya bagaikan terlepas, sakitnya bukan main.

Bumi berputar semakin keras setelah mengeluarkan keluhan perlahan.

Ia kemudian terkulai dan tidak sadarkan diri lagi, tidak mengetahui apa yang terjadi.

Melihat Ko Tie pingsan tidak sadarkan diri, Oey Yok Su berdiri diam beberapa saat, mengawasi, tapi sinar matanya tidak memancarkan perasaan apa pun juga.

Ia melangkah maju beberapa langkah mendekati Ko Tie, mempergunakan ujung kakinya menelentangkan tubuh Ko Tie, sampai pemuda itu telentang.

Diawasinya beberapa saat akhirnya Oey Yok Su, menggumam perlahan.

"Hemmmm…… masih memerlukan hari beberapa lagi.....!"

Baru saja Oey Yok Su menggumam seperti itu, mendadak dari balik semak belukar terdengar suara berkeresek. Perlahan sekali, bola mata Oey Yok Su berputar, kemudian ia mendengus perlahan. "Hemmm!"

Dan memutar tubuhnya menghampiri ke arah semak belukar itu.

Tahu-tahu tubuhnya cepat sekali berkelebat lenyap dan masuk ke dalam semak belukar.

Terdengar suara jeritan tertahan, disusul dengan tubuh yang terpental dari semak belukar itu, ambruk di tanah tanpa berkutik lagi.

Oey Yok Su melangkah keluar, ia memperlihatkan sikap yang dingin.

Mukanya sampai menyerupai muka mayat yang tidak memperlihatkan perasaan apapun juga.

Sosok tubuh yang terlempar dari balik semak belukar itu tidak lain dari seorang gadis berusia delapanbelas tahun.

Wajahnya cantik dan ia mengenakan baju warna hijau daun.

Ia dalam keadaan tidak bisa bergerak dan tidak pingsan.

Bola matanya saja yang mengawasi Oey Yok Su dengan pancaran sinar yang tajam.

Oey Yok Su telah menghampiri dekat pada gadis itu, katanya dengan suara yang dingin.

"Hemmm, budak kecil, kau rupanya mencari penyakit.....!" Dingin sekali suara Oey Yok Su, sehingga jika ada yang mendengar suaranya seperti itu, walaupun seorang jago rimba persilatan, pun akan menggigil. Gadis itu dalam keadaan tertotok. Ia tidak bisa bergerak, juga tidak bisa berkata-kata. Waktu itu Oey Yok Su menyentil jari tangannya, gadis tersebut terbuka totokannya. Dari mulutnya terdengar suara jeritan tertahan.

"Siapa kau?"

Tanya Oey Yok Su dengan suara yang dingin.

"Mengapa engkau bersembunyi di situ untuk mengintai?"

Gadis tersebut meringis, tampaknya ia masih merasa kesakitan. Kemudian ia bilang dengan suara tidak lancar.

"Aku..... aku kebetulan lewat di tempat ini...... Siapa yang kesudian mengintai kau?!"

Oey Yok Su tersenyum dingin. Ia menghampiri, tangan kanannya diangkat, ia bilang.

"Hemmm, budak setan, rupanya engkau memang mencari mati..... bicara yang benar. Kau dengar tidak, aku bertanya, siapa kau?!" Gadis itu memandang sejenak pada Oey Yok Su. Wajahnya memperlihatkan bahwa ia ragu-ragu sampai akhirnya ia menyahuti juga.

"Mengenai siapa diriku, itu bukan menjadi urusanmu!"

Oey Yok Su tercengang sejenak, kemudian ia tertawa bergelakgelak, sampai bergema jauh sekali suara tertawanya itu, dan lama sekali mengalun terus.

Tapi gadis itu sama sekali tidak memperlihatkan perasaan gentar sedikitpun juga, dia malah mengawasi Oey Yok Su dengan sorot mata yang tajam.

Sedangkan pada saat yang menegangkan itu yang kaget bukan main adalah Ko Tie, karena segera juga ia mengenali siapa adanya gadis tersebut, sehingga hati Ko Tie tercekat dan semangatnya seperti terbang meninggalkan raganya.

"Kam..... Kam Lian Cu?"

Begitulah pikir di dalam hatinya, karena memang dia mengenali gadis cantik manis yang kini menjadi tawanan Oey Yok Su tidak lain dari Kam Lian Cu, si gadis cantik yang pernah bertemu dengannya, tapi telah berpisah lagi.

Mengapa Kam Lian Cu bisa berada di tempat ini?

Dan celakanya lagi justeru ia telah menjadi tawanan Oey Yok Su.

Dengan mata terbuka lebar-lebar Ko Tie cuma bisa mengawasi saja, sedangkan Oey Yok Su yang telah puas tertawa keras, berkata dengan suara yang tawar.

"Hemm, tampaknya memang engkau telah makan nyali macan, sehingga engkau sama sekali tidak merasa jeri terhadapku......!"

Kam Lian Cu tertawa tawar.

"Mengapa aku harus takut padamu? Bukankah engkau bukan hantu? Bukan harimau yang buas? Dan juga bukan hantu yang selalu senang mengganggu wanita?!"

Dingin sekali waktu Kam Lian Cu menyahuti seperti itu.

Oey Yok Su jadi tercengang, buat sesaat lamanya ia tertegun dan telah memandang dengan sikap tidak mengerti bahwa kali ini ia telah disanggapi seperti itu oleh seorang gadis seperti Kam Lian Cu.

Jika dipikir-pikir, memang dia anggap benar juga perkataan si gadis.

Dia memang seorang yang ku-koay, karena itu, sekarang ia melihat sikap si gadis yang demikian ku-koay.

Dengan demikian telah membuatnya seketika menjadi lunak, karena ia malah jadi girang dianggap bukan hantu yang menakutkan, bukan pula setan atau dedemit yang perlu ditakuti oleh si gadis.

"Jadi....... engkau tidak takut padaku?"

Tanyanya dengan suara yang tawar. Si gadis mengangguk.

"Ya, mengapa aku harus takut padamu?!""

Menyahuti Kam Lian Cu tawar.

"Bukankah engkaupun sama seperti aku ini, yaitu seorang manusia juga? Mengapa aku harus takut padamu?!"

Oey Yok Su memandang bengong beberapa saat, sampai akhirnya ia tertawa tergelak-gelak.

"Bagus! Bagus sekali!"

Katanya kemudian suara yang nyaring.

"Dengan demikian, barulah pertama kali ini aku bertemu dengan seorang manusia seperti engkau! "

Benar! Tepat sekali! Memang aku bukan sebangsa manusia yang perlu ditakuti! Justeru dengan sikap kau seperti itu, tampaknya memang engkau seorang yang cukup mengerti akan keadaan.....!"

Setelah berkata begitu, segera juga Oey Yok Su menggerakkan tangannya, menyentil.

Cepat sekali si gadis merasakan tubuhnya tidak kaku lagi, karena segera juga ia bisa menggerakkan tubuhnya, malah dia telah berhasil melompat buat berdiri.

Dengan tersenyum manis tampak gadis itu telah berkata kepada Oey Yok Su.

"Terima kasih!"

Dia pun merangkapkan ke dua tangannya, menjura memberi hormat.

"Atas kebaikanmu, tentu aku tidak akan melupakannya, tapi kebengisanmu tadi waktu menangkap diriku, main turun tangan dengan kasar, akupun tidak akan melupakannya!"

"Ihhh!"

Oey Yok Su mengeluarkan seruan heran, tercengang, karena baru sekali ini ada seorang manusia yang berani mengucapkan kata-kata seperti itu kepadanya.

Jika saja gadis itu hanya mengucapkan terima kasih, tentu Oey Yok Su akan mengejeknya.

Tapi justeru si gadis menyinggung akan kebaikannya dan juga kekasarannya, membuat Oey Yok Su yang tercengang.

Ko Tie mengawasi apa yang terjadi, diam-diam hatinya geli.

Diapun merasa lega karena melihat Kam Lian Cu berhasil menghadapi Oey Yok Su, malah tampaknya si gadis she Kam yang nakal ini berhasil buat mempermainkan Oey Yok Su, Persoalan yang sebenarnya mengapa Oey Yok Su tidak turunkan tangan keras dan juga tidak marah walaupun gadis itu jelas-jelas seperti hendak mempermainkannya, karena di waktu segera ia teringat kepada puterinya sendiri, yaitu Oey Yong, Oey Yong seusia seperti gadis she Kam ini memang sifatnya dan perangainya pun sama nakalnya, karena itu, Oey Yok Su jadi tercengang dan tidak turunkan tangan keras kepada si gadis.

Dia hanya mengawasi beberapa saat, barulah kemudian tanyanya.

"Kau tahu atau tidak siapa adanya diriku?"

Kam Lian Cu berkata dengan suara yang tawar.

"Jika melihat lagakmu, usiamu yang sudah tua itu, dan cara berpakaianmu, maka aku ingin menduga kau adalah seseorang yang terkenal di dalam rimba persilatan, jika memang tidak salah kau tentulah si tua……!"

Dan berkata sampai di situ, tampak Kam Lian Cu sengaja tidak meneruskan perkataannya. Oey Yok Su mendongkol, namun ia bertanya juga.

"Si tua siapa?!"

Bentaknya. Kam Lian Cu tersenyum. "Tentu saja jika tidak salah kau ini adalah Oey Yok Su!"

"Lalu apakah setelah engkau mengetahui siapa adanya diriku, engkau tidak merasa jeri?"

Tanya Oey Yok Su.

"Mengapa harus takut? Bukankah engkau sama saja seperti diriku, yaitu sesama manusia?"

Tanya Kam Lian Cu. Kembali Oey Yok Su dibuat tercengang oleh jawaban si gadis, sampai mulutnya terbuka. Namun akhirnya ia tertawa tergelakgelak, katanya.

"Baiklah! Kalau memang engkau berpikir seperti itu, itulah yang sangat bagus! Aku memang sama seperti engkau, yaitu manusia juga. Tapi engkaupun jangan harap bisa bersikap kurang ajar kepadaku.

"Karena jika sampai engkau berlaku lancang, hemmm, hemmm, aku Tong-shia akan turunkan tangan keras kepadamu.....!"

"Tong-shia tentu tidak akan menghina seorang golongan muda!"

Kata Kam Lian Cu dengan suara nyaring.

"Jika memang Tong-shia menurunkan tangan tidak tahu malu seperti itu, dia berarti bukan Tong-shia, melainkan seorang manusia pengecut yang tak tahu malu!" "Apa kau bilang?"

Bentak Oey Yok Su meluap darahnya. Kam Lian Cu tersenyum.

"Aku bilang, jika memang Tong-shia berani menghina seorang golongan muda, maka dia bukan Tong-shia, melainkan seorang pengecut yang tidak tahu malu. Apa yang kukatakan itu bukankah benar?"

Muka Tong-shia berobah, karena memang Oey Yok Su memiliki adat yang sangat ku-koay sekali.

Menghadapi si gadis yang memiliki perangai yang nakal ini, ia malah bukannya marah sebaliknya jadi menyukainya.

Sambil mengurut-urut kumis dan jenggotnya yang telah memutih dan tumbuh panjang, dia bilang.

"Baiklah! Sekarang kau katakan dengan terus terang, apa maksudmu mengintaiku?!"

Tiba-tiba si gadis tertawa cekikikan, membuat Oey Yok Su mengawasinya dengan tajam.

Namun akhirnya Oey Yok Su ikut merasa geli karena melihat si gadis tertawa terus seperti itu.

Dia sampai tersenyum-senyum ikut merasa lucu.

"Mengapa kau tertawa seperti itu?!"

Bentaknya kemudian menahan perasaan geli di hatinya.

"Pertanyaanmu lucu sekali!"

Kata Kam Lian Cu masih tertawa terus.

"Pertanyaanku lucu? Di mana letak kelucuannya?"

Tanya Oey Yok Su.

"Kau mengatakan itu mengintai dirimu, bukan?"

Tanya Kam Lian Cu kemudian. Oey Yok Su mengangguk.

"Ya, memang benar. Aku meminta kau bicara terus terang jangan sampai membuatku marah, apa maksudmu, dengan mengintaiku secara sembunyi-sembunyi seperti itu?!"

Gadis itu masih tertawa geli.

"Apakah aku perlu mengintai-intai seorang tua seperti engkau? Apakah engkau si tua bangka yang telah jenggotan dan kumisan putih seperti itu masih pantas diintip-intip olehku, seorang gadis remaja? Kalau memang engkau seorang pemuda yang tampan, mungkin masih ada harganya diintai olehku!" Mendengar jawaban Kam Lian Cu, tidak tertahan lagi Oey Yok Su tertawa bergelak-gelak..... Dia tidak marah, malah dia merasa lucu juga dengan jawaban si gadis.

"Ya, memang aku telah tua dan tidak pantas diintip oleh seorang gadis remaja, dan kau tentu saja bukan mengintipku karena naksir padaku! Tapi, aku menanyakan, apa maksudmu bersembunyi dan mengintai apa yang tengah kulakukan?!"

Si gadis tersenyum.

"Aku tertarik menyaksikan apa yang kau lakukan!"

Kata si gadis.

"Apa yang tengah kulakukan?"

Tanya Oey Yok Su. Si gadis memperlihatkan sikap heran.

"Bukankah engkau tengah berusaha mengobati pemuda itu?"

Tanya Kam Lian Cu.

"Ihhhh!"

Berseru Oey Yok Su kaget, karena dia tidak menyangka bahwa si gadis dapat menerkanya begitu tepat.

"Mengapa terkejut? Aku telah menyaksikan, bahwa engkau tengah mengobati pemuda itu, bukankah demikian?"

Tanya Kam Lian Cu lagi. Oey Yok Su menghela napas dia mengangguk.

"Matamu sangat tajam sekali,"

Katanya.

"Tentu saja, aku masih muda, jarak yang jauh saja aku masih bisa melihatnya dengan jelas, apa lagi dalam jarak pisah yang dekat seperti ini.......!"

"Bukan itu maksudku!"

Kata Oey Yok Su "Lalu apa maksudmu?"

Oey Yok Su menghela napas, katanya.

"Aku tidak bermaksud untuk secara berterang mengobati pemuda itu. Aku memang telah mengobatinya, dengan cara menghajar dan melontarkannya, sesungguhnya aku tengah mengerahkan tenaga dalamku, agar beberapa bagian dari jalan darah pemuda itu dapat beredar kembali dengan lancar..... sedangkan pemuda itu beranggapan aku tengah menyiksanya! "

Hemmm, lihatlah, pemuda itu sendiri tidak mengetahui bahwa dirinya tengah kuobati.

Sedangkan kau sekali melihat saja, engkau telah mengetahui bahwa aku tengah berusaha mengobati pemuda itu.

Bukankah dengan demikian engkau sangat cerdik dan juga sangat tajam sekali matamu?

" Si gadis tersenyum, girang hatinya mendengar pujian tersebut, dia bilang.

"Ya, semua ini berkat pengajaran dari guruku!"

"Siapa gurumu?"

Tanya Oey Yok Su.

"Itu rahasiaku, kau tidak boleh tahu!"

Menyahuti si gadis dengan manja. Oey Yok Su mendongkol lagi.

"Jangan main-main……!"

Katanya.

"Siapa yang ingin main-main dengan aku? Bukankah sudah sepantasnya orang setua engkau kuhormati, tidak berani aku main-main dan bersikap kurang ajar……!"

"Mengapa engkau tidak mau menjelaskan siapa gurumu dan siapa namamu?!"

Kata Oey Yok Su.

"Itu hakku, bukankah engkau tidak bisa memaksa aku buat memberitahukan siapa guruku dan siapa namaku?"

Oey Yok Su berobah mukanya.

"Aku akan memaksa kau memberitahukan siapa gurumu dan siapa namamu?"

Katanya mengancam. "Hemmm, tidak mudah! Paling tidak dengan kepandaianmu, kau cuma bisa membunuhku! Tapi kau jangan mimpi bisa mendesak dan memaksa aku memberitahukan siapa guruku dan siapa namaku!"

"Tapi aku akan memaksamu!"

Setelah berkata begitu, tubuh Oey Yok Su telah bergerak sangat gesit sekali, sehingga tidak bisa dilihat dengan pandangan mata tahu-tahu dia telah berada di samping si gadis.

Kam Lian Cu sendiri kagum bukan main melihat gin-kang Oey Yok Su, karena tahu-tahu jago tua itu telah berada di sampingnya.

Sesungguhnya Kam Lian Cu tengah merasa gentar dan jeri berurusan dengan Oey Yok Su, yang diketahuinya memiliki adat yang sangat ku-koay sekali.

Tapi sebagai seorang gadis yang cerdas, segera juga ia mengetahui, seseorang yang memiliki adat sangat aneh, jelas harus dihadapi dengan sikap yang ku-koay pula.

Karena itu, dia sengaja membawa lagak seperti itu, buat menghadapi Oey Yok Su.

Sekarang melihat Oey Yok Su hendak memaksa dirinya agar memberitahukan nama gurunya dan namanya sendiri, dan Oey Yok Su dengan begitu lincah tahu-tahu telah berada di dekatnya, tanpa Kam Lian Cu melihat jelas gerakannya, membuat si gadis tercekat hatinya.

Dan belum lagi si gadis sempat berkata apa-apa, justeru Oey Yok Su telah berkata dengan suara yang dingin.

"Rebahlah!"

Dan jari tangan Oey Yok Su telah bergerak menotoknya. Tidak ampun lagi tubuh Kam Lian Cu terjungkal rubuh tidak bisa bergerak.

"Ohh, kau orang tua tidak tahu malu!"

Teriak Kam Lian Cu.

Walaupun dia dalam keadaan tertotok, akan tetapi dia tidak tertotok pada jalan darah Ah-hiat atau jalan darah gagunya, sehingga dia bisa berseru seperti itu.

Dia cuma tertotok pada jalan darah kakunya belaka, menyebabkan dia tidak bisa menggerakkan tubuhnya.

Oey Yok Su tertawa dingin.

"Hemmm, tidak tahu malu? Aku tidak tahu malu? Kau buktikan, apa saja yang kulakukan sehingga engkau menyebutku sebagai manusia tidak tahu malu?!" Kam Lian Cu sengit sekali bilang.

"Hemm, tua bangka tidak tahu malu! Bukankah dengan merubuhkan seorang golongan muda seperti aku, dengan mengandalkan kepandaian buat menghina golongan muda seperti aku, terlebih lagi seorang gadis yang tidak berdaya, engkau merupakan seorang jago tua yang tidak tahu malu?!"

Muka Oey Yok Su dingin sekali.

"Aku tidak perduli apakah orang akan menyebutku si tua yang tidak tahu malu atau bukan, tapi yang jelas, aku akan memaksa engkau bicara yang jujur. Aku akan memaksa engkau, akan mengajari engkau, agar lain kali janganlah jadi si bocah setan yang nakal, yang main belit-belit jika bicara!"

Kam Lian Cu tercekat hatinya. Ia kaget mendengar perkataan Oey Yok Su itu.

"Apa yang ingin engkau katakan dan lakukan padaku?!"

Tanya Kam Lian Cu kemudian. Oey Yok Su tertawa dingin.

"Aku akan memaksa engkau agar mau bicara dengan jujur, dengan cara apapun juga……!"

Kata Oey Yok Su kemudian.

Kam Lian Cu jadi mengeluarkan keringat dingin.

Memang Oey Yok Su seorang yang memiliki perangai sangat ku-koay, maka apa pun dapat dilakukannya.

Karena itu, kalau sampai memang dia menurunkan tangannya, berarti Kam Lian Cu akan menderita.

Yang membuat dia lebih kaget lagi ketika mendengar Oey Yok Su berkata.

"Aku akan membuka seluruh pakaianmu! Setiap kali aku bertanya engkau tidak mau menjawab, maka aku akan membuka sepotong bajumu! Begitu seterusnya, setiap satu jawaban yang tidak mau kau berikan, aku akan melepaskan sepotong pakaianmu!"

Kam Lian Cu mengeluarkan seruan kaget.

Inilah hebat.

Dia memang tidak takut untuk disiksa.

Menghadapi lawan tangguh, dia pun tidak jeri untuk menemui kematian.

Tapi jika ingin ditelanjangi seperti itu, tentu saja dia jadi gentar dan ketakutan bukan main.

"Manusia rendah! Manusia rendah!"

Memaki Kam Lian Cu kalang kabutan.

"Apakah dengan perbuatan seperti itu engkau bisa mengangkat mukamu sebagai seorang tokoh sakti dalam rimba persilatan?!" Oey Yok Su tertawa dingin.

"Aku tidak perlu muka terang atau muka gelap! Apa yang ingin kulakukan pasti kulakukan!"

Katanya dengan tawar.

"Kau tidak perlu memaki-makiku, karena jika aku naik darah, hemmm, hukuman yang kau terima tentu jauh lebih berat lagi.....!"

Mendengar ancaman Oey Yok Su seperti itu, Kam Lian Cu jadi terdiam.

Dia memutar otaknya, berusaha mencari akal, untuk dapat menghadapi Oey Yok Su, si tua ku-koay itu.

Sedangkan Oey Yok Su telah berkata.

"Sekarang kita mulai setiap pertanyaan harus kau jawab. Jika memang tidak, aku akan segera melepaskan sepotong pakaianmu. Begitu juga selanjutnya!"

Kam Lian Cu diam saja. Sedangkan Oey Yok Su telah berkata lagi.

"Siapa namamu?!"

Kam Lian Cu menyahuti.

"Engkau tidak perlu tahu!"

"Hemmmm, kalau begitu, sekarang giliran potongan pakaianmu yang pertama kubuka!"

Sambil berkata begitu, tampak Oey Yok Su mengulurkan tangannya buat membuka baju di sebelah atas dari Kam Lian Cu. Kam Lian Cu jadi gugup.

"Tunggu dulu, hentikan!"

Kata Kam Lian Cu dengan suara berteriak. Oey Yok Su tertawa dingin.

"Hemm, sudah kukatakan, jika memang engkau tidak mau menjawab pertanyaanku, aku akan melepaskan sepotong pakaianmu, dan juga pada pertanyaan berikutnya!"

"Tapi aku telah menjawab pertanyaanmu itu!"

Kata Kam Lian Cu kemudian dengan suara yang nyaring.

"Menjawab? Kau telah menjawab?!"

Tanya Oey Yok Su sambil memandang dengan mata yang terbeliak lebar-lebar. Sedangkan pada waktu itu terlihat betapa Kam Lian Cu tersenyum memperoleh kemenangan.

"Bukan tadi kau sendiri yang mengatakan, bahwa jika kau mengajukan pertanyaan dan aku tidak menyahuti, maka kau akan membuka sepotong pakaianku?!"

"Benar!"

Oey Yok Su mengangguk. "Lalu, setelah aku menyahuti pertanyaanmu, mengapa engkau masih hendak melepaskan sepotong pakaianku!?"

Tanya Kam Lian Cu.

"Kau telah menjawab pertanyaanku?!"

Tanya Oey Yok Su dengan mata terbeliak.

"Ohh, setan busuk, kau jangan coba-coba mempermainkan diriku!"

"Aku tidak bermaksud mempermainkan dirimu, aku benar-benar telah menyahuti! Tadi engkau bertanya dan aku telah menyahuti.

"Kau tidak perlu tahu! Bukankah itu sudah berarti aku memberikan jawaban, yang kau inginkan?!"

Oey Yok Su terdiam sejenak. Dia mengakui, inilah disebabkan ketidak telitiannya. Maka akhirnya dia bilang.

"Jawaban yang ku inginkan adalah jawaban yang benar. Jika memang engkau menjawabnya dengan tidak bersungguh-sungguh, kuanggap engkau tidak memberikan jawaban, dan hukuman itu akan kulaksanakan Kam Lian Cu jadi tambah gugup. Jika memang nanti Oey Yok Su membuktikan ancamannya, tentu dia akan menderita malu yang luar biasa. Karena itu, dia terdiam saja, sedangkan matanya memandang sekelilingnya, dia berusaha mencari akal. Melihat lagak si gadis, Oey Yok Su tertawa dingin.

"Hemmm, engkau tidak perlu mengharap dapat mencari akal untuk meloloskan diri dari tangan Tong-shia……! Kau harus menjawabnya pertanyaanku dengan benar. Sekali lagi engkau main-main, aku tidak akan memperdulikan lagi kata-katamu!"

Setelah berkata begitu, dengan memperlihatkan sikap sungguhsungguh, tampak Oey Yok Su bertanya lagi.

"Siapa namamu?!"

Kam Lian Cu telah terdiam beberapa saat, kemudian dia bilang.

"Aku she Kam…….!"

"Aku tidak tanya she mu........ aku tanya siapa namamu?!"

Tanya Oey Yok Su lagi.

"Aku…… aku……."

Kam Lian Cu tidak segera menyahuti. Tampaknya dia bimbang, tapi biarpun hatinya mendongkol, dia ngeri dan takut sekali, kalau-kalau Oey Yok Su membuktikan ancamannya tersebut.

"Cepat katakan, atau memang perlu sepotong pakaianmu itu dicopotkan.....?!"

Tanya Oey Yok Su. Muka Kam Lian Cu berobah memerah, dia bilang.

"Aku bernama Kam Lian Cu……!"

"Bagus! Begitulah kau harus menjawab setiap pertanyaanku!"

Kata Oey Yok Su. Sedangkan Kam Lian Cu sengit sekali berkata.

"Tapi aku bisa saja memberikan jawaban palsu kepadamu!"

"Aku akan mengetahuinya jika memang kau memberikan jawaban palsu padaku, karena itu, tanpa tawar menawar lagi, begitu aku mengetahui engkau mendustai aku, segera aku akan membuka sepotong pakaianmu! Karenanya engkau jangan bermimpi cobacoba untuk mendustai aku…….!"

Kam Lian Cu jadi bingung bukan main, karena ia mengetahui Oey Yok Su memang bukan orang sembarangan.

"Siapa nama gurumu?!"

Tanya Oey Yok Su lagi. Waktu itu tidak diperhatikannya sikap si gadis yang gugup sekali. Dia mengajukan pertanyaannya dengan sikap seenaknya.

"Guruku?!"

"Ya, siapa gurumu? Siapa namanya?!" "Dia adalah ayahku!"

"Namanya?!"

Bentak Oey Yok Su.

"Namanya?!"

"Ya...... atau memang engkau menginginkan aku membuka sepotong pakaianmu, dengan pura-pura memperpanjang dan mengulur-ulur waktu seperti itu?!"

Mengancam Oey Yok Su.

"Dia…… dia bernama Kam Cu Ie……!"

Menyahuti Kam Lian Cu kemudian.

"Kam Cu Ie?!"

Oey Yok Su mengerutkan sepasang alisnya, mengawasi si gadis beberapa saat. Waktu itu tampak Kam Lian Cu mengangguk.

"Ya, guruku adalah ayahku. Ayahku bernama Kam Cu Ie……!"

Kata si gadis.

"Apakah Kam Cu Ie, si tua bangka dari Barat daya yang terkenal sebagai Siucai pemabokan?!"

Kam Lian Cu girang, dia mengangguk dengan segera. "Benar! Apakah kau kenal dengan ayahku?!"

Tanya Kam Lian Cu penuh harap, karena jika saja Oey Yok Su kenal dengan ayahnya, dengan memandang muka terang ayahnya niscaya dia tidak akan dipermainkan Oey Yok Su lagi, dia akan dibebaskan.

"Cissss!"

Tiba-tiba sekali Oey Yok Su meludah dan sikapnya dingin sekali, sehingga Kam Lian Cu jadi memandang bengong kepada Oey Yok Su.

"Kenal ayahmu? Hemm, melihat tampangnya saja belum pernah! Apakah sebangsa manusia seperti ia pantas menjadi kenalanku? Apakah manusia seperti dia memang pantas untuk menjadi orang yang diperhatikan olehku? Cissss, kenalpun tidak!"

Kembali satu kali Oey Yok Su meludah, bahkan waktu dia meludah diperhatikannya sikap yang memandang hina dan rendah! Bukan main sakit hati Kam Lian Cu, dia jadi kalap dan nekad, malah dia membentak.

"Ayahku pun tidak kesudian berkenalan dengan seorang manusia jadi-jadian seperti engkau yang memiliki adat seperti adat setan penasaran!"

Makinya. "Apa?"

Melompat Oey Yok Su dari duduknya mendengar perkataan dan makian dari si gadis, mukanya merah padam, matanya terpentang lebar memancarkan hawa kemarahan.

Dialah seorang tokoh rimba persilatan yang sakti dan disegani oleh seluruh orang rimba persilatan.

Tapi sekarang dia dimaki seperti itu oleh Kam Lian Cu, tentu saja darahnya jadi meluap mendidih.

Dia telah memandang bengis.

Kam Lian Cu yang telah memaki karena kalap dan lupa akan dirinya disebabkan amarahnya mendengar ayahnya dihina.

Sekarang melihat sikap Oey Yok Su, jadi menggidik.

Dia teringat bahwa Oey Yok Su ini seorang yang ku-koay.

Dia gentar melihat sinar mata si kakek yang menyala bengis seperti itu.

"Apa yang kau bilang tadi?"

Tanya Oey Yok Su dengan suara yang nyaring. Kam Lian Cu diam saja.

"Jawab! Jika engkau tidak menjawab, mulutmu akan kurobek!"

Ancam Oey Yok Su.

Menggigil tubuh Kam Lian Cu karena perasaan gentar!

Ia mengetahui Oey Yok Su jika mengancam tentunya bukan ancaman kosong belaka.

Dia bisa saja memenuhi ancamannya itu, dan akan membuktikannya.

Kalau sampai mulutnya dirobek, bukankah itu merupakan bencana terburuk buat seumur hidupnya?

"Aku……, aku.......

aku tidak bermaksud menghinamu, jika memang engkau tidat menghina ayahku!"

Menyahuti si gadis kemudian dengan gugup.

Oey Yok Su berangsur-angsur berobah jadi tenang kembali.

Wajahnya pun tidak memperlihatkan sikap bengis seperti tadi, karena perlahan-lahan amarahnya telah menurun kembali.

Dia pun teringat kepada puterinya sendiri, Oey Yong.

Dia berpikir, sebagai seorang gadis, yang ayahnya dihina, tentu saja si gadis lupa diri.

Mungkin jika urusan itu terjadi pada diri Oey Yong, di mana Kam Lian Cu diganti sebagai Oey Yong, malah Oey Yong bisa-bisa memaki kalang kabutan karena nekad.

Karena teringat akan puterinya, berangsur kemarahan Oey Yok Su jadi menurun.

Walaupun dia memang seorang ku-koay, akan tetapi disebabkan usianya yang memang telah meningkat semakin tua, dia jadi jauh lebih sabar dibandingkan dulu-dulu.

Dulu jika dia tidak senang, murid-muridnya saja bisa dibikin bercacad semuanya.

Hanya disebabkan Bwee Tiauw Hong berdua dengan suaminya telah mencuri kitabnya, dia juga telah mematahkan seluruh kaki dari muridnya.

Bahkan Oey Yok Su telah melakukan pencarian dan pengejaran pada Bwee Tiauw Hong, yang ketakutan setengah mati kalaukalau sampai terkejar oleh gurunya.

Sekarang si gadis justeru tampaknya tidak merasa takut pada Oey Yok Su.

Bahkan juga tampaknya memang ia tidak jeri untuk menentang kata-kata Oey Yok Su.

Tentu saja hal ini membuat Oey Yok Su benar-benar jadi mendongkol.

Tapi dengan sifatnya yang ku-koay, ia malah jadi menyukai juga gadis ini.

Ia tidak bermaksud untuk menganiaya.

Karena ia beranggapan gadis ini memang gagah dengan sikapnya dan juga berani sekali, patut dihargai sifatnya yang gagah itu.

Oey Yok Su menghela napas, kemudian dia memandang kepada si gadis.

Dia memperdulikan telah bilang.

keselamatan "Baiklah, jiwamu, jika kau dengan ingin tidak membalas perasaan tidak senangmu itu dengan memakiku.

Hemmm, berarti tidak ada jalan lain lagi kau akan mati karenanya!"

Si gadis she Kam jadi terdiam beberapa saat. Betapapun juga memang Oey Yok Su seorang yang ku-koay sekali. Dengan demikian tentu saja membuat dia jadi putus asa. Dan akhirnya berobah jadi tenang.

"Baiklah! Dari pada aku mati di tangannya dengan percuma, lebih baik jika aku memakinya dulu!"

Karena berpikir begitu, segera juga tampak Kam Lian Cu telah membuka mulutnya, memaki.

"Baiklah, kau ingin membunuhku, bunuhlah. Aku tidak akan gentar menghadapi kematian, tapi kau sebangsa manusia pengecut, kau yang hanya pandai menghina manusia dari golongan muda yang tidak berdaya..... "

Kau akan menjadi bahan tertawaan dari orang orang gagah dalam rimba persilatan! Kecewa kau memiliki nama besar jika memang kau hanya pandai menghina orang yang tidak berdaya!"

Muka Oey Yok Su merah.

"Siapa yang kau anggap pantas menjadi lawanku?"

Tanya Oey Yok Su dengan suara yang dingin.

"Apakah ayahmu?"

Kam Lian Cu tertawa dingin.

"Hemmmmm..... banyak orang bisa menjadi tandinganmu! Walaupun seorang yang memiliki tingkat lebih rendah dari kau, tapi jika memang bertempur aecara jujur, tentu akan dapat menghadapi dirimu dengan sebaik-baiknya……. sayangnya justeru engkau seringkali melakukan hal-hal yang sangat memalukan dan curang sekali untuk merebut kemenangan.......!"

Merah muka Oey Yok Su.

"Kau jangan menuduh sembarangan…...!"

Katanya sengit.

"Aku bukan menuduh, itu kenyataan!" "Siapa yang pernah mengalami hal itu dariku?!"

Bentak Oey Yok Su.

"Jika memang engkau tidak dapat memberikan bukti, maka engkau akan kusiksa hebat......!"

"Kau ingin bukti?"

Tanya si gadis she Kam tersebut tertawa dingin. Muka Oey Yok Su tampak dingin sekali, dengan suara yang tawar ia bilang.

"Ya, jika engkau tidak dapat memberikan bukti, maka ke dua kakimu akan kupatahkan!"

Waktu berkata begitu bengis bukan main sikap Oey Yok Su. Ko Tie yang mendengar suara Oey Yok Su sampai menggigil karena ia tergetar hatinya dan menguatirkan akan diri gadis she Kam tersebut.

"Gampang, aku memiliki bukti yang tidak mungkin kau bisa sangkal!"

Menyahuti Kam Lian Cu dengan suara yang dingin, sikapnya tabah sekali.

"Katakan!"

Bentak Oey Yok Su.

"Hemmm, sekarang saja sudah ada buktinya!"

Kata Kam Lian Cu dengan tawar. "Apa?"

Mata Oey Yok Su terpentang lebar-lebar, namun akhirnya tampak wajahnya muram.

"Akulah sebagai bukti nyata, karena aku orang yang mengalami betapa engkau perlakukan tidak baik!"

Begitulah kata Kam Lian Cu dengan suara yang tawar.

Oey Yok Su tidak bilang apa-apa lagi wajahnya muram.

Dia mengangkat kepalanya, memandang kepada langit, kemudian dia bersenandung "Hujan dengan salju suara turun yang perlahan.

tipis sekali, dan mendung tebal telah menyelimuti bumi……!"

Sambil bersenandung begitu, dia melangkah perlahan akan meninggalkan tempat tersebut.

"Heei tunggu dulu……!"

Teriak Kam Lian Cu nyaring. Oey Yok Su menoleh tanpa mengatakan apa-apa.

"Kau belum menyembuhkan luka dia.....!"

Bilang Kam Lian Cu sambil memonyongkan mulutnya kepada Ko Tie yang masih rebah di atas tanah.

Oey Yok Su tidak menyahuti, dia telah kembali melangkah buat pergi meninggalkan tempat tersebut.

Suara senandungnya terdengar sangat samar.

Dikala itu Kam Lian Cu jadi mendongkol sekali.

"Engkaulah seorang manusia tidak tahu diri, karena telah melakukan sesuatu hanya setengah jalan dan benar-benar tidak tahu malu!"

Teriak si gadis.

Oey Yok Su seperti tidak mendengarnya, sebentar saja ia telah lenyap dari pandangan mata.

Kam Lian Cu jadi gugup, karena dia dalam keadaan tertotok, sedangkan Ko Tie rebah dalam keadaan tidak berdaya.

Waktu itu, Ko Tie telah mengawasi si gadis, perlahan-lahan bibirnya tersenyum!

Ia merasa lucu dan geli melihat gadis she Kam ini berhasil menghadapi Oey Yok Su, mempermainkannya.

"Bagaimana keadaanmu?"

Tanya Kam Lian Cu kemudian sambil tersenyum juga.

"Tidak apa-apa……. mungkin juga benar apa yang dilakukan Oey Yok Su tadi merupakan suatu cara pengobatan buat diriku...... karena sekarang aku merasakan betapa napasku telah dapat berjalan lancar dan lurus kembali. Kam Lian Cu mengangguk dan berkata dengan suara yang perlahan.

"Dia sesungguhnya tidak bermaksud buruk padaku....."

"Tapi kita dalam keadaan tidak berdaya. Kau dalam keadaan tertotok, sedangkan aku dalam keadaan tidak berdaya.....!"

Kata Ko Tie kemudian.

"Ya...... itulah yang mempersulit kita……!"

Kata Kam Lian Cu.

"Hemmm...... jika memang demikian halnya baiklah. Jika kita berdiam saja beberapa saat, karena tidak lama lagi tentu totokannya pada tubuhku akan segera terbuka dengan sendirinya setelah lewat beberapa saat!"

Ko Tie mengangguk. Tapi bersamaan dengan dia mengangguk waktu itu terdengar suara yang samar sekali. suara yang aneh terdengar di kejauhan. Kemudian suara itu lenyap.

"Suara apa itu?"

Kata Kam Lian Cu dengan wajah memperlihatkan perasaan heran. "Entah.....!"

Menyahuti Ko Tie.

"Suara itu aneh sekali, apakah Oey Yok Su yang berseru seperti itu?!"

"Kukira bukan.....!"

Menyahuti Ko Tie.

Begitulah, mereka telah terdiam lagi.

Suara aneh itu terdengar lagi semakin dekat juga.

Aneh sekali suara tersebut, karena seperti suara lolong serigala, tapi juga seperti pekik seorang bayi.

Dikala itu Ko Tie telah memandang kepada Kam Lian Cu katanya.

"Kukira telah mendatangi seseorang yang agak luar biasa ke tempat ini, nona Kam.....!"

Kam Lian Cu mengangguk.

"Kukira juga begitu.....!"

Baru saja Kam Lian Cu berkata sampai di situ, justeru terlihat sesosok tubuh mendatangi cepat sekali, gesit bukan main gerakannya, tubuhnya begitu ringan.

Kam Lian Cu dan Ko Tie mengawasinya.

Mereka melihat yang baru muncul itu bukan seorang manusia.

Melainkan seekor kera yang tinggi besar.

Kera raksasa itu, yang setinggi manusia dewasa, yang mulutnya menyeringai, selalu mengeluarkan bunyi yang aneh.

Yang luar biasa, justeru tubuh kera itu, yang kurus memanjang ke atas, dapat bergerak begitu lincah dan gesit sekali, seakan juga seorang ahli gin-kang yang mahir sekali.

Kam Lian Cu dan Ko Tie saling pandang dengan hati berdebar, karena mereka kuatir kera itu akan menganiaya mereka di saat mereka dalam keadaan tidak berdaya.

Kera tersebut telah berseru nyaring lagi, dia menari-nari beberapa saat, di mana ia telah berusaha mengelilingi Kam Lian Cu, seakan juga ia tengah menemukan sesuatu yang menggembirakan hatinya.

Suara pekikannya juga terdengar berulang kali.

Tapi suatu saat, ketika ia melihat Ko Tie yang menggeletak tidak jauh dari tempat itu, mendadak saja ia mengeluarkan suara pekik yang menyeramkan.

Matanya mendelik bengis.

Ko Tie terkejut.

Sinar mata yang buas memperlihatkan kera itu tidak bermaksud baik padanya.

Kera itu juga telah melompat ke dekatnya menghampiri dengan sikap mengancam.

Mulut kera itu mengeluarkan suara pekik yang menyeramkan.

Di antara keadaan yang hening mengerikan yang menegangkan itu, Ko Tie berusaha memutar otaknya mencari akal, karena ia bermaksud untuk dapat berusaha menghindar dari keganasan kera itu.

Sedangkan kera tersebut telah menghampiri dekat sekali.

Matanya masih memandang buas.

Ia pun memperdengarkan suata yang mengerikan sekali.

Ko Tie menghela napas.

Jika memang kera itu mengkoyak-koyak tubuhnya, habislah dia!

Kam Lian Cu pun jadi berkuatir bukan main.

Dilihat lagaknya, tampaknya kera itu walaupun memang terlihat begitu aneh dan luar biasa, bisa bergerak sangat lincah, iapun tampaknya buas sekali.

Kam Lian Cu kuatir kalau-kalau kera itu akan mengkoyak tubuh Ko Tie.

Akhirnya, untuk memancing perhatian kera tersebut, Kam Lian Cu sengaja mengeluarkan jeritan.

Benar saja.

Kera itu menoleh.

Ia pun malah telah melompat ke dekat Kam Lian Cu.

Bola matanya memain tidak hentinya, tampaknya ia tengah memperhatikan Kam Lian Cu dengan teliti, karena dia heran si gadis mengeluarkan suara jeritan.

Tapi setelah memperhatikan sekian lamanya, ia akhirnya mengeluarkan suara pekik yang nyaring sekali.

dia rupanya segera tahu bahwa tidak ada sesuatu yang menguatirkan pada Kam Lian Cu.

Cepat sekali ia kembali kepada Ko Tie.

Ko Tie mengeluh.

Kali ini memang tampaknya ia tidak mungkin lolos dari kebuasan kera itu.

Bulu kera tersebut berwarna kuning keemas-emasan.

Mungkin juga dia seekor kera yang selama ini terkenal sebagai Kim Go, Kera Emas.

Dan Ko Tie mengetahui bahwa Kim Go memang memiliki kecerdikan seperti seorang manusia.

Jika sampai kera ini, Kim Go, bermaksud untuk mengkoyak tubuhnya, dia dalam keadaan tidak berdaya.

Kam Lian Cu pun tidak berdaya, ia tengah rebah karena dalam keadaan tertotok.

Kim Go, atau kera berbulu emas itu, telah mengeluarkan pekikan.

Dengan kaki kanannya, tahu-tahu dia mendorong tubuh Ko Tie, segera terbalik dan terlentang.

Hati Ko Tie berdebar.

Menghadapi binatang buas ini benar-benar membuatnya jadi gentar juga, terlebih lagi dalam keadaan tidak berdaya seperti itu.

Jika saja, memang di waktu itu ia tidak dalam keadaan terluka parah dan tidak berdaya, niscaya ia akan dapat menghadapi Kim Go itu.

Di kala itu Ko Tie berusaha untuk mengendalikan perasaannya.

Dia memandang kera itu dengan sikap yang diusahakan setenang mungkin.

Ko Tie menyadari, jika saja ia melakukan suatu gerakan, walaupun gerakan yang sangat perlahan, niscaya akan menyebabkan kera itu segera akan mencabik-cabik tubuhnya.

Karena Ko Tie telah berdiam diri saja, dia berdiam dengan hati tergoncang.

Kam Liang Cu kembali mengeluarkan suara seruan nyaring buat memancing perhatian kera itu.

Namun Kim Go cuma menoleh sejenak.

Dia sama sekali tidak menghampiri Kam Lian Cu lagi, karena dia tahu bahwa gadis itu hanya berseru tapi tidak dapat menggerakkan tubuhnya.

Perlahan-lahan, sepasang tangannya yang terjuntai panjang itu, telah diulurkannya.

Dia telah mengangkat tubuh Ko Tie.

Ko Tie berdebar-debar juga.

Dia tidak mengetahui apa yang akan dilakukan oleh kera itu.

Atau memang tubuhnya yang akan dikoyak-koyaknya?

Karena Ko Tie berdiam diri saja, berdiam terus sampai sekian lama, di mana tubuhnya telah diangkat tinggi sekali oleh Kim Go.

Dan Tiba-tiba tubuh Ko Tie dilontarkannya ke tengah udara tinggi sekali.

Kuat tenaga Kim Go, karena dia bisa melontarkan Ko Tie setinggi empat tombak lebih.

Ko Tie mengeluh.

Dia tengah keadaan terluka di dalam yang belum lagi sembuh.

Sekarang dia dilemparkan dan akan terbanting di tanah dari ketinggian seperti itu.

Niscaya akan membuatnya terluka yang lebih berat lagi.

Tubuh Ko Tie meluncur turun cepat sekali.

Sedangkan Kam Lian Cu mengeluarkan suara seruan tertahan menyaksikan itu.

Kim Go mengeluarkan suara aneh.

Dan tampak ia telah melesat gesit sekali.

Begitu tubuh Ko Tie meluncur jatuh di tanah, terbanting keras, Kim Go telah mengangkatnya lagi, melontarkannya lagi dengan sama kuatnya.

Waktu terbanting, Ko Tie merasakan pandangan matanya berkunang-kunang.

Ia menderita kesakitan yang tidak terkira.

Sekarang dia dilontarkan kembali.

Dengan ketinggian yang begitu tinggi, sehingga membuatnya benar-benar jadi mengeluh, sebab tubuhnya akan terbanting pula keras di tanah.

Kam Lian Cu berulang kali menjerit untuk memancing perhatian kera tersebut.

Tapi kera itu tidak mau menoleh lagi kepadanya, asyik tengah mempermainkan Ko Tie yang dilontarkan ke tengah udara terbanting di tanah berulang kali pula.

Kam Lian Cu jadi bingung bukan main.

Dia menyesal tubuhnya dalam keadaan tertotok tidak bisa bergerak.

Jika saja dia tidak dalam keadaan tertotok, niscaya dia bisa menghadapi kera itu dengan sebaik-baiknya.

Justeru dia tengah tertotok, membuatnya tidak berdaya untuk menolongi Ko Tie.

Ko Tie merasakan pandangan matanya gelap ketika pada kelima kalinya ia dibanting di tanah oleh lontaran yang kuat dari Kim Go, dia mengeluh.

Dan di waktu itu, ia pun telah merasakan jantungnya seperti berdegup sangat keras.

Ia hampir tidak sadarkan diri, masih sempat didengarnya pekik Kim Go yang sangat keras sekali.

Dikala itu, Kim Go tak mengangkat tubuhnya tidak melontarkan lagi.

Cuma tangan kanan nya, yang panjang dan berbulu itu meluncur menghantam sangat kuat dada Ko Tie.

"Bukk……!"

Dunia seperti terbalik.

Ko Tie merasakan sakit yang tidak kepalang, dan dia pingsan tidak sadarkan diri.

Kam Lian Cu mengeluarkan jeritan kaget dan berkuatir sekali terhadap nasib Ko Tie.

Kim Go mengeluarkan seruan yang aneh, dia telah duduk disamping Ko Tie.

Sepasang tangannya yang panjang itu digerakkan berulang kali, terdengar suara.

"Bukk, bukk, bukk!"

Kam Lian Cu memandang dengan sepasang mata terpentang lebar-lebar, karena dia menyaksikan bagaimana sepasang tangan Kim Go telah berulang kali menghantam dada Ko Tie.

Ko Tie sendiri tidak sadarkan diri, dalam keadaan pingsan dia tidak merasakan siksaan itu.

Hanya Kam Lian Cu yang justeru jadi seperti merasakan sakit bukan main.

Setiap kali tangan Kim Go menghantam dada Ko Tie, karena suara pukulan itu sangat nyaring sekali.

Kim Go telah memukul terus, sampat akhirnya dia mengeluarkan suara puas.

Kam Lian Cu melompat berdiri, dan sekarang melompat-lompat menghampirinya.

Hati Kam Lian Cu berdebar, karena ia menduga tentunya Kim Go akan menyiksa dirinya, sama halnya seperti ia menyiksa Ko Tie tadi.

Kim Go telah berada di dekatnya.

Matanya mengerikan sekali.

Sepasang tangannya yang sangat panjang itu terjuntai turun ke bawah mendekat tanah.

Kam Lian Cu mengeluh.

Kalau saja dia tidak dalam keadaan tertotok seperti saat itu, tentu si gadis akan dapat memberikan perlawanan dan melumpuhkan kera itu.

Cuma saja sekarang dia dalam keadaan tertotok.

Jangankan memberikan perlawanan kepada kera itu, sedangkan untuk menggerakkan tubuhnya saja dia tidak dapat.

Dan Kam Lian Cu cuma bisa pasrah untuk menyerahkan nasibnya belaka di mana iapun akan menjadi permainan dari kera itu.

Kim Go berdiri beberapa saat di dekat Kam Lian Cu.

Mulutnya tidak hentinya mengeluarkan suara aneh yang perlahan.

Sikapnya seperti tengah kegirangan, seperti memperoleh sesuatu yang sangat menarik dan memuaskan hatinya.

Kemudian Kim Go malah duduk di samping Kam Lian Cu.

Dia mengawasi terus seakan juga ia tengah menghadapi barang yang aneh baginya, tapi juga sangat menggembirakan hatinya.

Napasnya juga mendengus agak nyaring, membuat Kam Lian Cu bartambah ngeri saja.

Sepasang tangan Kim Go tahu-tahu telah diulurkan ke dada Kam Lian Cu.

Sikapnya benar-benar seperti seorang laki-laki ceriwis yang melihat gadis cantik.

Kam Lian Cu kaget.

Ia tidak menyangka seekor kera bisa berlaku segenit itu.

Ia sampai menjerit nyaring.

Kera itu jadi kaget, sampai terlompat berdiri dan mundur ke belakang mengawasi Kam Lian Cu.

Tapi ketika ia melihat Kam Lian Cu tidak bisa bergerak, ia mengeluarkan suara aneh.

Kam Lian Cu berdebar keras hatinya.

Ia melihat kera itu perlahanlahan melangkah menghampirinya.

Setelah dekat, kera itu duduk lagi di samping Kam Lian Cu, sepasang tangannya diulurkan.

Kam Lian Cu memejamkan matanya.

Ternyata kera itu telah mengusap perut Kam Lian Cu.

Si gadis mengggidik tidak terkira, ia menjerit sekuat suaranya.

Tapi sekarang ini kera itu tidak kaget, dia tidak melompat seperti tadi.

Malah tangan kanannya meremas dada Kam Lian Cu.

Bukan main ketakutan Kam Lian Cu.

Dia seakan hendak menangis menghadapi keadaan seperti ini.

Kera itu kesenangan, ia mengeluarkan suara yang aneh sekali.

Sambil sepasang tangannya terus juga merabah dan meremasremas tubuh si gadis, Kam Lian Cu hampir pingsan karena perasaan takut, ngeri dan juga marah.

Dia dalam keadaan tidak berdaya dipermainkan oleh kera itu.

Dan hati si gadis jadi mendongkol kepada Oey Yok Su yang telah menotoknya.

Semua penyesalan ditumpahkannya kepada Oey Yok Su.

Gara-gara Oey Yok Su telah membuatnya jadi tidak berdaya dipermainkan seekor kera seperti itu.

Waktu itu kera tersebut sambil mengeluarkan suara aneh, telah menarik robek baju bagian atas tubuh Kam Lian Cu.

Kembali Kam Lian Cu menjerit, Inilah ancaman yang mengerikan.

Kam Lian Cu segera dapat menerka apa yang akan dilakukan selanjutnya oleh kera itu.

Tentunya kera tersebut tertarik sekali melihat gadis cantik ini, dan ia terangsang, ia hendak memperkosa si gadis.

Sungguh ancaman yang mengerikan dan hampir membuat Kam Lian Cu menangis karena saking ketakutan.

Di waktu itu terlihat, betapapun juga, memang Kam Lian Cu berusaha untuk dapat mempertahankan diri.

Dia membuka matanya mengawasi kera itu.

Sedangkan kera tersebut, dengan sepasang mata yang sangat mengerikan, telah memandangnya buas sekali.

Tangan kera itu juga telah merobek terus baju di bagian atas tubuh Kam Lian Cu.

Benar-benar keadaan si gadis terancam sekali.

◄Y► Ko Tie merasakan kepalanya berdenyut sakit.

Ia pun merasakan betapa tubuhnya sakit bukan main.

Ketika dia membuka matanya, dia segera teringat apa yang telah terjadi, yaitu dia disiksa oleh seekor kera yang setinggi manusia dewasa.

Dia segera berpaling, dan menyaksikan apa yang tengah dilakukan kera itu terhadap Kam Lian Cu, yaitu tengah membuka dengan paksa baju bagian atas tubuh Kam Lian Cu.

Bukan main marahnya Ko Tie, darahnya meluap seakan hendak meledakkan dadanya.

Di antara keadaan seperti tengah bermimpi itu, Ko Tie berusaha menggerakkan tangannya.

Tidak berhasil.

Ia tidak bisa menggerakkan tangannya.

Malah telah membuat dia menderita kesakitan yang sangat hebat.

Dikala itu terlihat kera itu sudah tidak memperdulikan keadaan sekelilingnya.

Sepasang tangannya tengah sibuk sekali buat membuka pakaian Kam Lian Cu.

Semakin lama, semakin melihat tubuh si gadis yang begitu putih karena pakaiannya telah dikoyak dan dibuka dengan paksa, membuat kera itu semakin buas saja.

Kam Lian Cu hampir menangis.

Dan waktu itu kera yang tinggi besar tersebut telah bermaksud membuka juga gaun bawah si gadis dengan cara paksa.

Ko Tie mengeluh di dalam hatinya, karena dia tidak berdaya untuk menolongi si gadis.

Dia memejamkan matanya.

Ko Tie tidak akan sanggup menyaksikan apa yang akan dilakukan kera itu.

Waktu itulah, Kam Lian Cu tiba-tiba merasakan jalan darahnya beredar kembali seperti biasa, dan juga dia bisa menggerakkan tangannya, karena totokan Oey Yok Su telah terbuka.

Tidak memikir dua kali, dia telah menggerakkan tenaga dalamnya pada tangannya, dan menghantam dengan telak.

"Bukkkk!"

Dada kera itu kena dihantamnya dengan kuat sekali, sehingga kera itu terguling-guling di tanah sambil mengeluarkan suara jerit kesakitan.

Kam Lian Cu melompat berdiri.

Dia tidak memperdulikan bagian atas anggota tubuhnya tidak berpenutup.

Dia menggerakkan tangannya lagi, dalam sekejap mata telah mencekal pedangnya dan menikam ke perut kera itu.

Kera tersebut bergerak gesit.

Dia bisa menghindar, cuma lengannya yang kanan kena tergores mata pedang, darah mengucur keluar.

Kera itu tampak kaget dan ketakutan dia segera berlari menjauh sambil mengeluarkan suara pekikan.

Kam Lian Cu bermaksud mengejarnya, namun sebentar saja tampak kera itu lenyap.

Kam Lian Cu berdiri diam beberapa saat dia menghela napas.

Ketika dia teringat akan dirinya, yang pada bagian atas anggota tubuhnya tidak berpenutup, sedangkan di tempat itu ada Ko Tie, mukanya jadi merah.

Dia membuka buntalannya dan mengeluarkan sepotong pakaiannya.

Dia memakainya.

Barulah kemudian Kam Lian Cu memasukkan pedang ke sarungnya, dia telah menghampiri si pemuda.

Dilihatnya Ko Tie lebih dalam keadaan tidak berdaya, karena terluka berat.

Tapi dia tidak dalam keadaan pingsan, karena matanya memandang kepadanya dengan sikap bersyukur.

Kam Lian Cu sendiri sangat bersyukur di detik yang membahayakan jiwanya, di mana dirinya akan diperlakukan tidak pantas oleh kera itu, totokan pada dirinya telah terbuka, sehingga dia bisa menghajar kera itu.

Dan akhirnya membuat kera itu melarikan diri.

Benar-benar merupakan hal yang membuat dia bersyukur tidak hentinya kepada Thian.

Sedangkan Ko Tie dengan suara lemah bertanya.

"Bagaimana....... bagaimana keadaanmu?"

Si gadis tersenyum pahit.

"Untung saja totokan itu terbuka di saat detik-detik yang menentukan itu! Jika tidak, aku tidak bisa membayangkan entah apa yang akan terjadi!"

Menyahuti si gadis. Ko Tie juga tersenyum pahit.

"Lalu bagaimana keadaanmu?"

Tanya Kam Lian Cu melihat muka Ko Tie yang pucat pias dan juga keadaannya begitu lemah.

"Kukira, lukaku tidak ringan.....!"

"Boleh kuperiksa?!"

Tanya Kam Lian Cu.

Ko Tie mengangguk, Kam Lian Cu memeriksanya.

Diperoleh kenyataan bahwa Ko Tie memang terluka yang parah sekali.

Dia berpikir, untuk membantu mengerahkan tenaga dalamnya.

Ko Tie waktu itu telah berkata.

"Jangan, akan sia-sia belaka!"

"Tapi sedikitnya bisa membantu engkau mengerahkan sin-kangmu untuk memulihkan keadaanmu!"

Kata Kam Lian Cu. Ko Tie menggeleng.

"Jangan…… percuma, akan menghabisi tenagamu saja…… dan ini akan membuat kau akhirnya tidak dapat menghadapi kera biadab itu kalau dia datang lagi!"

Disebut tentang kera itu, Kam Lian Cu terdiam. Dia anggap benar apa yang dikatakan oleh Ko Tie.

"Kalau aku pergi mencari Oey Yok Su, memintanya agar dia mau mengobati dan menolongimu, aku kuatir disaat aku pergi, kera itu datang lagi dan menganiaya dirimu……!"

Ko Tie diam saja.

"Dan Oey Yok Su pun belum tentu bersedia menolongi kau!"

Kata si gadis lagi. Ko Tie mengangguk.

"Ya, dia seorang yang sangat ku-koay, tidak nantinya dia mau menolongiku! Jika memang dia bermaksud menolongiku, tentu sejak tadi dia telah menolongiku, tidak perlu dia mempermainkan diriku!"

Kata Ko Tie.

Kam Lian Cu mengangguk.

Mereka terdiam beberapa saat.

Dikala itu, tampak Ko Tie berusaha mengerahkan pernapasannya untuk menyalurkan sin-kangnya.

Dia gagal.

Waktu Ko Tie mengerahkan sin-kangnya, dia merasakan di dadanya seperti juga terjadi suatu pergolakan, dan isi perutnya seperti jungkir balik.

Kiam Lian Cu mengawasinya dengan berkuatir sekali.

Sedangkan Ko Tie yang telah gagal beberapa kali dengan usahanya, akhirnya menghela napas.

"Sudahlah!

Rupanya aku harus membuang jiwa percuma di sini dengan kecewa!"

Kata Ko Tie mengeluh.

Kam Lian Cu pun ikut bersusah hati.

Gadis ini memiliki kepandaian yang tidak terlalu tinggi, tidak sehebat Oey Yok Su.

Mana mungkin dia bisa mengobati Ko Tie?

Terlebih lagi memang ia pun tidak mengerti ilmu pengobatan.

Keadaan di tempat itu hening sekali.

Tiba-tiba dari kejauhan terdengar suara bentakan dan tertawa dingin, yang semakin lama semakin dekat.

Segera tampak sesosok bayang hijau yang berkelebat ke tempat itu.

Di belakang sosok bayangan hijau itu tampak berkelebat sesosok bayangan kuning pula.

Begitu cepatnya gerakan ke dua sosok tubuh itu, sehingga tidak dapat dilihat dengan jelas.

Ko Tie dan juga Kam Lian Cu mementang mata mereka, tapi mereka hanya melihat gulungan warna hijau dan kuning, yang cepat sekali telah menjauh.

Cuma suara bentakan dan mengejek belaka yang mereka dengar, dilontarkan dari ke dua sosok bayangan itu.

"Apakah yang memakai jubah hijau itu bukan Oey Yok Su?!"menggumam Ko Tie.

Memang biasanya Oey Yok Su mengenakan jubah hijau, walaupun tadi karena bergerak terlalu gesit sehingga Ko Tie dan Kam Lian Cu tidak bisa melihat jelas, tokh Ko Tie dapat menerkanya yang mengenakan jubah hijau tentunya Oey Yok Su.

Kam Lian Cu pun memperlihatkan sikap heran.

"Lalu siapa yang mengejarnya?!"

Berkata si gadis. Ko Tie juga jadi heran.

"Oey Yok Su memiliki kepandaian yang tinggi sekali, dan di dunia sekarang ini mungkin sudah tidak ada duanya…… Tapi tampaknya ia menghadapi kesukaran juga dari orang yang mengejarnya yang mengenakan baju kuning itu!"

Kam Lian Cu mengangguk.

"Biar aku pergi melihat!"

Kata si gadis. Dia baru saja bangun, atau segera dia teringat kepada kera bulu kuning, Kim Go, dia jadi bimbang. Dia kuatir begitu dia meninggalkan Ko Tie, kera itu datang lagi. Ko Tie tersenyum.

"Pergilah kau melihatnya!"

Katanya menganjurkan.

"Kera itu tentu tidak akan muncul secara kebetulan di saat sekarang ini!"

Kam Lian Cu bimbang sejenak, tapi perasaan ingin tahunya membuat dia mengangguk dan kemudian mengerahkan ginkangnya buat mengejar Oey Yok Su dan orang yang mengenakan baju kuning itu.

Akan tetapi mana bisa Kam Lian Cu mengejar mereka yang memiliki ilmu meringan tubuh yang begitu mahir?

Tidak lama kemudian Kam Lian Cu telah kembali ke tempat di mana rebah Ko Tie, dengan wajah yang murung.

"Aku tidak berhasil mengejar mereka!"

Katanya dengan suara yang tawar.

"Ya, mereka tampaknya seperti tengah saling kejar…..!"

Menyahuti Ko Tie.

"Tapi siapa orang yang mengejar Oey Yok Su?!"

"Oey Yok Su memiliki nama besar, tentu nya dia bukan tengah melarikan diri dari kejaran orang itu, sebab tidak mungkin dia akan melakukan tindakan serendah itu……!"

Kata Kam Lian Cu kemudian dengan ragu. Ko Tie mengangguk "Ya, tentunya ada sesuatu yang luar biasa……!"

Kata pemuda itu.

Ko Tie dan Kam Lian Cu jadi berdiam diri beberapa saat lamanya, keadaan hening sekali......

Tapi, di saat itu kembali terdengar suara seruan dan bentakan yang datang cepat sekali disusul berkelebat sesosok bayangan hijau dengan di belakangnya mengejar sesosok bayangan kuning.

Sekarang terdengar jelas teriakan Oey Yok Su.

"Jika memang engkau telah dapat mengimbangi gin-kangku, hemmmm, barulah aku sudi melayani dirimu……!"

"Jangan sombong, kepandaianmu berada di bawah tingkat kepandaianku!"

Terdengar orang mengenakan baju kuning itu memaki dengan suara yang sengit.

Dan kemudian, sekejap mata saja, mereka kembali telah menjauh dan lenyap.

Ko Tie dan Kam Lian Cu tambah heran saja, mereka tidak mengerti entah apa yang tengah dilakukan oleh Oey Yok Su dan orang yang mengerakan baju kuning itu.

Tapi melihat gin-kang orang yang memakai baju kuning begitu hebat dan bisa mengejar terus Oey Yok Su dalam jarak pisah yang tidak terlalu jauh, maka mereka bisa menduga tentunya orang yang memakai baju kuning itu bukan orang sembarangan.

Tapi siapa orang itu?

Dan mengapa Oey Yok Su harus berlari-lari seperti itu?

Bukankah biasanya Oey Yok Su memiliki tabiat yang angkuh?

Bukankah jika ada orang yang menantang dirinya, dia akan meghajarnya mampus?

Tengah Kam Lian Cu dan Ko Tie diliputi perasaan heran dan tanda tanya, tiba-tiba mereka mendengar suara aneh di dekat mereka, terpisah tidak jauh.

Kera berbulu kuning telah muncul lagi tidak jauh dari tempat mereka berada!

Muka Kam Lian Cu berobah pucat dan merah, karena dia jijik dan takut melihat kera itu.

Segera juga tangannya mencabut pedangnya, dia bersiap-siap buat menghadapi kera tersebut.

Kera itu mengerang, namun segera memutar tubuhnya, berlari dengan pesat menghilang lagi meninggalkan tempat itu, rupanya kera itu juga kaget.

Sedangkan Ko Tie menghela napas.

"Sayang aku tengah terluka berat seperti ini, jika tidak tentu aku akan menangkap dan menghajar kera kurang ajar itu!"

Menggumam Ko Tie. Kam Lian Cu sambil menggenggam pedangnya erat-erat, matanya mengawasi sekitar tempat itu. Ia kuatir kalau-kalau kera itu akan muncul lagi.

"Nona Kam, sudahlah…… lebih baik kau beristirahat.…!"

Ko Tie menganjurkan.

"Tapi kera itu kurang ajar sekali……!"

Kata Kam Lian Cu kemudian.

"Ya, kemungkinan dia akan kembali lagi, tapi kukira, kita tidak perlu, terlalu kuatir, karena dengan kepandaian yang kau miliki, kulihat engkau akan dapat menghadapinya dengan baik dan kera itu tidak akan berdaya……!" Kam Lian Cu anggap apa yang dikatakan Ko Tie memang benar, maka dia duduk beristirahat. Tapi tangannya masih terus menggengam pedangnya erat-erat, karena dia bermaksud untuk mempergunakan pedangnya itu di sembarang waktu, jika saja kera itu muncul dengan tiba-tiba. Hanya satu yang disesalkan Kam Lian Cu yaitu Ko Tie tengah terluka begitu berat. Jika tidak tentu mereka tidak perlu kuatir terhadap kera tersebut. Kam Lian Cu juga mengetahuinya bahwa kepandaian Ko Tie sangat tinggi, jauh berada di atasnya. Dan sayangnya pemuda yang gagah itu justeru tengah terluka berat dan ia jadi tidak berdaya, malah sekarang ini ia harus di¬lindunginya……!"

Tengah Kam Lian Cu dan Ko Tie berkuatir untuk kera besar itu, yang mereka kuatir akan muncul dengan tiba-tiba, justeru tampak pula berkelebat sesosok bayangan hijau dan bayangan kuning yang saling kejar.

Tentu saja hal ini membuat Ko Tie dan Kam Lian Cu jadi tidak mengerti, mengapa Oey Yok Su, bersikap demikian, berlari-lari terus dikejar oleh sosok bayangan kuning itu yang terus juga mengejarnya.

Entah siapa sosok bayangan itu, yang tampaknya memiliki kepandaian sangat tinggi.

Di waktu itu rupanya sosok bayangan kuning itu melihat Kam Lian Cu dan Ko Tie.

Tahu-tahu dia berhenti mengejar Oey Yok Su, dia berdiri tidak jauh dari Kam Lian Cu dan Ko Tie.

Sekarang Kam Lian Cu dan Ko Tie bisa melihat jelas orang itu.

Dialah seorang lelaki tua yang rambutnya telah putih dan juga tumbuh panjang menutupi pundaknya.

Matanya tampak bersinar sangat tajam sekali, seakan juga sepasang berlian yang berkilauan.

Dengan bersuara terkekeh, tampak kakek tua yang tubuhnya kurus tinggi dan mengenakan jubah warna kuning itu, telah menghampiri Kam Lian Cu dan Ko Tie.

"Hehehehehe, tidak di sangka terdapat pasangan muda-mudi yang demikian cantik dan tampan!"

Menggumam kakek tua itu.

Kam Lian Cu menggenggam pedangnya erat-erat, dia kuatir kalau saja kakek tua itu bermaksud tidak baik pada mereka.

Ko Tie sendiri mengeluh.

Melihat keadaan kakek tua berbaju kuning itu, ia segera mengetahui bahwa kakek tua itu tentunya bukan sebangsa manusia baik-baik!

Sedangkan kakek tua itu yang memakai baja kuning telah berkata lagi.

"Bagus! Bagus! Dengan demikian Go-jie akan memiliki kekasih yang cantik sekali......!"

Setelah berkata begitu, segera juga dia melompat, akan menubruk Kam Lian Cu, tangan kanannya diulurkan.

Kam Lian Cu kaget, dia mengibaskan pedangnya.

Tapi dia menabas tempat kosong, sebab tahu-tahu jalan darah Pai-cinghiat nya telah ditotok jari tangan orang tua itu.

Tanpa ampun lagi, tubuhnya segera terjungkal rubuh bergulingan di tanah.

Dia juga lantas tidak bisa menggerakkan tangan dan tubuhnya, malah pedangnya telah terlemparkan agak jauh, terlepas dari genggaman tangannya.

Ko Tie kaget melihat apa yang dialami Kam Lian Cu, ia sampai mengeluarkan seruan tertahan.

Waktu itu Oey Yok Su yang rupanya melihat orang yang memakai baju kuning itu tidak mengejarnya, ia pun tidak berlari lagi.

Dia membentak, tahu-tahu dia telah berada di situ juga.

"Tua bangka rendah tidak tahu malu, mengapa kau hendak melukai golongan muda yang tidak berdaya?"

Orang tua berbaju kuning itu tertawa dingin.

"Hem, kau jangan banyak bicara, Oey Loshia, aku akan mengambil gadis ini menjadi mantuku!"

Kata orang tua baju kuning itu. Oey Yok Su tertawa aneh.

"Kau ingin mengambil gadis itu menjadi mantumu?"

Tanyanya kemudian dingin sekali.

"Ya!"

"Aneh sekali!"

"Aneh apanya?"

"Kapan kau telah menikah? Dan sejak kapan kau memiliki anak?!"

Tanya Oey Yok Su. "Hemmm!"

Mendengus kakek baju kuning itu.

"Kau tidak perlu mencampuri urusanku! Jika aku tidak memiliki anak, tidak mungkin aku bermaksud untuk memiliki mantu……"

"Tapi…… kukira engkau sinting, telah sinting……!"

Kata Oey Yok Su.

"Sinting? Hemmm, kau tidak perlu banyak komentar! Urusan kita akan kita lanjutkan! Tetapi sekarang aku telah menemukan seorang calon mantu yang sangat baik, calon isteri yang sangat pantas buat anakku....."

Oey Yok Su tidak tertawa lagi. Dia memandang tajam sekali, lalu berkata.

"Siapa anakmu?"

"Itu urusanku!"

"Urusanku juga! Karena akupun menginginkan gadis itu!"

Kata Oey Yok Su.

"Kau……!"

"Ya, aku menginginkan juga gadis itu!"

Menyahuti Oey Yok Su dengan sikap yang tegas Orang tua baju kuning itu tiba-tiba tertawa bergelak-gelak keras sekali.

"Sungguh memalukan! Rupanya semakin tua engkau jadi seorang yang mata keranjang dan genit lagi karena sekarang engkau bermaksud hendak mengambil seorang isteri……"

"Bukan begitu maksudku!"

Kata Oey Yok Su kemudian dengan suara yang dingin.

"Aku ingin mengambil gadis itu menjadi muridku!"

"Menjadi muridmu?!"

"Benar!"

Sahut Oey Yok Su.

"Aku tidak percaya!"

"Mengapa kau tidak percaya?"

Tampaknya Oey Yok Su tidak puas.

"Karena aku mencurigai kau memiliki maksud-maksud tertentu dengan gadis ini!"

"Maksud tertentu apa?"

"Kau pura-pura menerima gadis ini menjadi muridmu, lalu kelak engkau akan mengerjakannya!" "Mulutmu terlalu kotor sekali……!"

"Memang aku si kotor yang sesat..... tidak perlu dibuat heran lagi!"

Menyahuti si kakek baju kuning itu.

"Kau?"

Oey Yok Su tampak jadi tidak puas dan gusar sekali. Tapi kakek tua baju kuning itu tampaknya tidak jeri oleh sikapnya Oey Yok Su.

"Kenapa? Kau tidak puas?"

Tanyanya dengan suara yang mengejek.

"Ya, aku justeru hendak mengajak kau main-main seribu jurus untuk menemukan, apakah engkau memang pantas menjadi manusia yang sesumbar untuk menantang diriku!"

"Jangan begitu lama..... Seribu jurus merupakan waktu yang terlalu lama! Kukira......!"

Berkata sampai di situ dia berhenti berkata dan tertawa dingin. Oey Yok Su penasaran sekali.

"Kau kira apa?"

Tanyanya dengan suara yang bengis dan matanya menatap dingin.

"Kukira…...

dalam waktu hanya seratus jurus, aku dapat membuat Oey Loshia selanjutnya akan menyimpan pedang dan mengakui dirinya tidak pantas lagi berkeliaran di dalam rimba persilatan, karena di dalam rimba persilatan ada aku!"

"Hemmm, kau terlalu congkak. Tahukah engkau siapa Oey Loshia?!"

Tanya Oey Yok Su karena terlalu murka.

"Tentu saja aku tahu......!"

Menyahuti orang tua baju kuning itu dengan suara yang dingin.

"Aku tahu bahwa Oey Loshia adalah calon pecundangku!"

Oey Yok Su sudah tidak dapat menahan kemarahan hatinya.

Dia merupakan tokoh sakti yang sangat dihormati di dalam rimba persilatan.

Mungkin sudah tidak ada duanya lagi, karena memang dia dianggap sebagai satu-satunya tokoh dari tingkatan tua yang sakti dan masih hidup.

Tapi sekarang kakek baju kuning ini berani mengeluarkan kata-kata kurang ajar seperti itu, membuat dadanya seperti juga hendak meledak.

Segera, tangan kanannya dikibaskan.

Tapi kakek tua itu sambil diiringi tertawa dingin telah menyingkir ke pinggir.

"Bukkk!"

Tampak sebatang pohon tumbang menimbulkan suara yang berisik.

Itulah disebabkan batang pohon itu kena diterjang oleh tenaga sinkang Oey Yok Su.

Rupanya tadi waktu dia mengibaskan tangannya walaupun Oey Yok Su cuma mengibas dengan sembarangan saja dan seperti tidak mengerahkan tenaga dalamnya, namun sesungguhnya mengandung kekuatan sin-kang yang luar biasa dahsyatnya.

Karena kakek tua berbaju kuning itu mengelak, tenaga pukulan itu menghantam batang pohon itu.

Ko Tie yang rebah di tanah, jadi kagum melihat hebatnya tenaga dalam Oey Yok Su.

Sedangkan Kam Lian Cu pun tidak kurang kagumnya.

Dia sampai memandang dengan mata terpentang lebar-lebar, mulutnya menggumam.

"Luar biasa……!"

Yang membuat Ko Tie dan Kam Lian Cu heran, mereka mendugaduga, entah siapa kakek tua itu.

Mereka sungguh tidak mengerti, karena mereka tidak pernah mendengar perihalnya kakek tua baju kuning itu.

Jika Oey Yok Su dan beberapa tokoh tua yang sakti lainnya di dalam rimba persilatan, memang mereka mengetahuinya dan seringkali mendengarnya.

Tapi kakek tua baju kuning itu sama sekali tidak pernah mereka dengar.

Karena itu mereka heran sekali, sedangkan kepandaian kakek tua itu yang memakai baju kuning tampaknya tinggi sekali.

Dia tidak merasa jeri terhadap Oey Yok Su dan malah bisa menghadapi Oey Yok Su.

Dengan demikian dia bukan sembarangan.

Oey Yok Su tertawa dingin.

Baca Juga: Asmara Dibalik Dendam Membara 2

Baca Juga: Rondo Kuning Membalas Dendam Kho Ping

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert