Ceritasilat Novel Online

Anak Rajawali 12

Eps 12 Anak Rajawali - Chin Yung

Baca online Anak Rajawali - Chin Yung

Cersil Anak Rajawali - Chin Yung.

"Hemmm, jika memang engkau memiliki kepandaian yang berarti, mengapa engkau menghindar dan tidak menerima serangan itu?"

Ejeknya dengan suara yang dingin.

Kakek tua baju kuning itu juga tertawa terkekeh dengan suara yang aneh.

Sikapnya itu membuat Oey Yok Su tambah gusar, karena dilihatnya kakek tua itu seperti meremehkannya.

"Sekarang kau terimalah……!"

Kata Oey Yok Su kemudian sambil bersiap hendak menghantam lagi.

"Tunggu dulu……!"

Kata kakek tua baju kuning itu dengan suara nyaring. Oey Yok Su menunda gerakan tangannya, dia batal buat menyerangnya.

"Apa yang ingin kau katakan? Atau memang kau hendak menyatakan bahwa engkau jeri dan ingin menyudahi urusan dengan begitu saja?"

Ejek Oey Yok Su.

"Ohhh, tentu saja tidak!"

Menyahuti kakek tua baju kuning itu.

"Tentu saja bukan begitu! Tapi aku memiliki urusan yang jauh lebih penting, aku harus mengurus soal mantuku ini..... urusan kita bisa kita urus nanti saja!"

Oey Yok Su tertawa dingin.

"Urusan gadis itu justeru menjadi urusanku!"

Sahut Oey Yok Su kemudian.

"Mana bisa kau mengatakannya bukan menjadi urusan kita? Bukankah sudah kukatakan bahwa aku bermaksud mengambilnya menjadi muridku?" Wajah kakek baju kuning itu berobah tidak sedap dipandang. Jika sebelumnya dia selalu tertawa tergelak-gelak. Justeru sekarang dia mengawasi Oey Yok Su dengan sinar mata yang tajam.

"Oey Loshia, ternyata engkau hanya mengada-ada saja..... Engkau hanya mencari alasan untuk menimbulkan urusan denganku.....!"

Suaranya terdengar menyeramkan sekali.

Dia telah berkata dengan sikap yang memperlihatkan kegusaran.

Oey Yok Su tidak memperdulikan sikap si kakek baju kuning yang gusar seperti itu, dia tertawa dingin, tawar sekali sikapnya.

"Hemmm, biarpun tanpa adanya urusan gadis itu, tetap saja engkau harus berurusan denganku!"

Kakek berbaju kuning itu memandang Oey Yok Su dengan sinar mata dingin, kemudian katanya.

"Baiklah..... mari kita bereskan dulu urusan kita, baru nanti aku menyelesaikan urusan mantuku itu……!"

Oey Yok Su juga bersiap-siap, di mana kakek tua baju kuning itu telah melangkah menghampiri ke dekatnya.

Ko Tie dan Kam Lian Cu jadi berdebar hati mereka, menyaksikan dua orang tokoh tua yang sakti itu akan mengadu kepandaian.

Walaupun Ko Tie dan Kam Lian Cu tidak mengetahui siapa adanya kakek tua baju kuning itu, tapi mereka yakin bahwa kakek tua itu adalah seorang yang memiliki kepandaian dan kesaktian yang luar biasa yang tidak berada di sebelah bawah kepandaian Oey Yok Su.

Karena itu, niscaya itulah merupakan suatu pertempuran yang seru sekali dan jarang terjadi.

Oey Yok Su dengan suara tawar telah bertanya.

"Dengan cara bagaimana kita mengadu kepandaian?!"

"Terserah padamu!"

Menyahuti kakek tua baju kuning itu dengan suara yang dingin. Oey Yok Su mendengus, dia bilang.

"Baiklah, kita bertanding mempergunakan ilmu Im dulu……!"

Kakek tua itu tampak ragu-ragu.

Mengadu ilmu Im atau ilmu lunak merupakan kepandaian yang sempurna sekali dari Oey Yok Su.

Dia mengetahui sin-kang Oey Yok Su hampir mencapai pada tingkat yang paling sempurna.

Walaupun dia memiliki kepandaian tinggi.

Dia tidak jeri pada Oey Yok Su, akan tetapi, jika memang hanya bertanding dengan mempergunakan ilmu tertentu, itulah yang akan membuat dia menghadapi kesulitan yang tidak kecil.

Lain jika mereka bertempur dengan mempergunakan ilmu yang mana saja, bertempur secara umum terbuka.

Dia yakin masih bisa menghadapi Oey Yok Su.

Jika memang harus mempergunakan ilmu Im, yaitu tenaga lunak, dimana mengandalkan kemahiran sin-kang, berarti kakek tua berbaju kuning itu menghadapi kesukaran yang tidak kecil.

Dia yakin pula, bahwa sin-kangnya tentu berada di bawah dari sin-kang Oey Yok Su.

Cuma saja untuk menolaknya iapun malu, maka ia mengangguk.

"Baik!"

Ia menerima tantangan tersebut, dan ia telah berkata lagi kemudian sambil mengangkat ke dua tangannya.

"Apakah kita mulai sekarang saja?"

Oey Yok Su tersenyum tawar, dan katanya.

"Jika memang demikian, kita membiarkan golongan muda itu menyaksikan dan mereka sebagai saksi?"

Kakek tua berbaju kuning itu mengangguk. "

Ya, bukankah memang kau bermaksud mengambilnya sebagai murid, dan akupun bermaksud mengambilnya sebagai mantuku? Apa, salahnya membiarkan dia menyaksikan semua ini?"

Oey Yok Su memandang dengan muka dingin kepada kakek berbaju kuning itu, kemudian katanya.

"Baiklah, mari kita mulai!"

Lalu Oey Yok Su duduk bersila di tanah, dia memejamkan matanya.

Kakek berbaju kuning itupun telah duduk bersimpuh di hadapan Oey Yok Su.

Ko Tie dan Kam Lian Cu tidak mengerti, entah apa yang hendak dilakukan ke dua tokoh sakti itu dengan perbuatan mereka, karena dari itu, mereka bermaksud untuk menyaksikannya, dengan apa yang disebut bertempur dengan mempergunakan cara Im tersebut.

Oey Yok Su pertama-tama telah menggoreskan jari telunjuknya pada tanah, sehingga di tanah tergores lukisan bulat melingkar, seperti juga sebuah bola, dan lingkaran itu cukup besar, mungkin setengah tombak.

Sedangkan kakek tua berbaju kuning itu telah menunduk dan dia memperhatikan lingkaran itu.

Dia mengawasi sekian lama, sampai akhirnya dia pun mengulurkan tangan kanannya, menggoresnya juga.

Dia menggores melukis bukan lingkaran, tapi empat persegi, dan juga dia berhasil untuk menggores sama kuatnya, dengan jari telunjuknya.

Dikala itu diapun telah berusaha untuk menggores dalam bentuk empat persegi yang lebih lebar dari luasnya lingkaran yang dilukis oleh Oey Yok Su.

Oey Yok Su mengawasi lukisan empat persegi tersebut, tapi kemudian tertawa dingin.

"Hemmm.....!"

Dan tangan kanannya telah bergerak dengan cepat sekali, di mana tahu-tahu jari telunjuknya itu telah melukis lagi setangkai bunga Bwee-hoa!

Kakek baju kuning diam beberapa saat.

Tampaknya dia tengah berpikir keras sambil mengawasi bunga Bwee-hoa yang terlukis di atas tanah.

Itulah cara melukis yang sangat pandai sekali, karena waktu Oey Yok Su menggerakkan jari tangannya, dia cuma menggerakkannya perlahan, tapi jarinya bergerak begitu lincah tahu-tahu telah melukis selesai satu kuntum bunga Bwee-hoa, dengan hanya satu kali jalan lukisan atau coretan jari tangannya.

Setelah mengawasi sekian lama, tampak kakek baju kuning itu menggerakkan jari telunjuknya, dia melukis lagi sekuntum bunga, tapi bunga teratai.

Demikianlah, ke dua jago tua yang memiliki kepandaian luar biasa tingginya tengah mengadu ilmu dengan cara yang aneh seperti itu seperti juga tengah mengadu ilmu melukis saja layaknya, membuat Ko Tie dan Kam Lian Cu jadi heran.

Sedangkan Kam Lian Cu telah berkata dengan suara yang nyaring.

"Kalian tidak akan menang dengan mengadu ilmu seperti itu.....!"

Oey Yok Su dan kakek berbaju kuning sama sekali tidak memperdulikan teriakan si gadis.

Malah tampaknya mereka berdua semakin mencurahkan perhatian mereka buat lebih tekun mengamati gambar-gambar yang dilukis lawan mereka."

"Bebaskan aku dari totokanmu!"

Teriak Kam Lian Cu lagi dengan suara nyaring!

Tapi teriakannya itu tidak diperdulikan oleh ke dua orang yang tengah mengadu ilmu itu.

Memang tampaknya Oey Yok Su dengan kakek baju kuning itu tengah mengadu ilmu yang tidak ada artinya, seperti tengah berlomba melukis saja.

Namun sebenarnya, cara mengadu ilmu seperti itu merupakan cara bertanding kelas tinggi, di mana masing-masing menimbulkan jurus demi jurus, untuk dapat menindih jurus yang lawan berikan.

Memang semuanya merupakan dalam bentuk lukisan.

Tapi di waktu itu, lukisan itu memiliki arti seperti juga merupakan gerakan yang dilakukan oleh orang yang bersangkutan jika tengah bertempur.

Seperti pertama kali Oey Yok Su melukis lingkaran, ia memperlihatkan dalam lukisannya itu, bahwa ia akan bergerak dengan lincah untuk mengelilingi si kakek baju kuning itu, sehingga dia tidak dapat menghadapi Oey Yok Su yang bergerak mengelilinginya.

Justeru kakek baja kuning itu telah melukis empat persegi.

Hal ini merupakan suatu isyarat bahwa ia akan menghadapi Oey Yok Su dengan langkah empat penjuru, dan memang ia berhasil memecahkan cara "pengepungan"

Oey Yok Su.

Demikian juga dengan menggambar bunga, setiap garis lukisan itu merupakan gerakan dari ilmu silat mereka, karenanya mereka telah memperlihatkan kehebatan ilmu masing-masing.

Itulah pertandingan tingkat tinggi.

Tapi bagi yang tidak mengerti, menganggap itulah semacam lomba gambar belaka.

Satu harian hampir si kakek baju kuning itu dan Oey Yok Su tenggelam dalam ketekunan mengeluarkan kepandaian masingmasing, melupakan Kam Lian Cu dan Ko Tie.

Waktu itu tampak Kim Go atau Kera berbulu emas telah muncul lagi.

Ia mengeluarkan suara pekikan yang aneh.

Kakek baju kuning telah menoleh dan tangan kanannya digerakkan perlahan, memberi isyarat.

Kera itu rupanya kera peliharaan kakek baju kuning, karena patuh sekali, setelah ia diberi isyarat tersebut, ia segera duduk bersimpuh di dekat kakek baju kuning.

Oey Yok Su melirik kepada kera bulu kuning itu, iapun segera menggumam.

"Hemmmmmm, menjijikkan."

"Tidak perlu kau menghina Go-jie, karena walaupun bagaimana belum tentu engkau lebih baik dan lebih cakap darinya!"

Kata kakek baju kuning itu, tidak senang.

Oey Yok Su tidak melayani perkataan si kakek baju kuning, dia telah mengawasi lukisan seekor kura-kura yang digambar oleh kakek tua itu.

Kemudian tangannya bergerak.

Dia menggambar seekor menjangan.

Begitulah, ke dua jago tua ini masih terus tenggelam dalam pertarungan lewat gambar.

Perlahan-lahan totokan pada diri Kam Lian Cu telah terbuka sehingga si gadis jadi girang.

Dengan mengeluarkan seruan nyaring, dia melompat berdiri menyambar pedangnya.

Baru saja si gadis bisa mencekal pedangnya, waktu itu kakek baju kuning telah menggerakkan tangan kanannya, berkesiuran angin yang dingin dan tajam sekali.

Dan Kam Lian Cu terjungkal lagi, rubuh terguling tidak bisa bergerak, karena tertotok lagi.

Bukan main mendelunya Kam Lian Cu, tapi benar-benar si gadis tidak berdaya.

"Aku tidak bermusuhan denganmu, mengapa mempersulit diriku?!"

Teriak Kam Lian Cu penasaran. Kakek baju kuning itu mendengus, katanya.

"Jangan marah…… kau adalah calon mantuku…… kau harus dengar kata-kata dan baik-baik menurut kata-kataku…..... !"

Dan kakek baju kuning itu tidak memperdulikan Kam Lian Cu lagi, karena dia tengah tekun memperhatikan gambar yang dilukis Oey Yok Su.

Ternyata waktu itu Oey Yok Su melukiskan garis-garis pat-kwa, segi delapan.

Si kakek baju kuning menyoreng sekian lama memperhatikan, tetap saja dia tidak berhasil mencari jalan untuk memecahkan jurus itu.

Dia tidak bisa melukiskan sebuah gambar lainnya.

Oey Yok Su tertawa dingin.

"Kau menyerah?"

Tanyanya. Mendengar ejekan itu, bukan main gusarnya si kakek berbaju kuning. Dia penasaran sekali. "Hemmm!"

Dia mendengus.

"Jangan tergesa dulu, belum tentu aku tidak bisa memecahkan jurusmu ini!"

Oey Yok Su tertawa tawar.

Dia memang ahli sekali dalam hal ilmu Pat-kwa.

Pulaunya saja To-hoa-to, telah diaturnya menurut susunan Pat-kwa.

Karena itu, tidak mengherankan jika kali ini Oey Yok Su telah mengeluarkan ilmu Pat-kwanya itu, dan membuat kakek baju kuning jadi pusing sendirinya.

Di waktu itu, si kakek baju kuning itu rupanya jadi semakin tidak sabar, karena dia belum juga berhasil untuk mencari jurus yang bisa memecahkan jurus yang dipergunakan Oey Yok Su.

Akhirnya, karena ia berulang kali tidak berhasil untuk mencarikan jurus yang tepat, dia jadi gusar.

Tahu-tahu tangan kanannya menghantam.

"Kita mengadu secara Yang saja!"

Teriaknya.

Telapak tangannya itu mengandung kekuatan sin-kang yang dahsyat sekali.

Oey Yok Su mengerutkan alisnya.

Dia tidak ayal mengangkat tangan kanannya juga buat membendung tenaga serangan kakek baju kuning itu.

Tenaga mereka saling bentur satu dengan yang lainnya.

Nyaring sekali terjadinya benturan tenaga si kakek baju kuning dengan tenaga Oey Yok Su.

Namun ke duanya tetap duduk di tempatnya, masih saling berhadapan.

Hanya tenaga dalam yang mereka kerahkan itu merupakan sin-kang yang kuat sekali.

Saling mendorong, saling menghisap dan menerjang dahsyat sekali.

Tampak Oey Yok Su mendongkol bukan main, karena seperti yang telah di janjikan mereka tadi, bahwa mereka akan mengadu ilmu secara Im bukan dengan cara Yang.

Akan tetapi, kakek baju kuning itu, setelah tidak berhasil memecahkan jurus Pat-kwa yang digambarkannya itu, ia telah menyerangnya dengan cara seperti membokong Untung saja Oey Yok Su memang memiliki sin-kang yang luar biasa kuatnya.

Dengan demikian ia telah berhasil menyalurkan dengan cepat sekali pada tangannya dan menangkis.

Tenaga serangan dari kakek baju kuning itu memang sangat kuat, namun di sanggap oleh tangkisan yang sama kuatnya dari Oey Yok Su membuatnya dia tidak memperoleh hasil sama sekali.

Di waktu itu tampak Oey Yok Su memandang tajam sekali kepada kakek baju kuning tersebut.

Tampaknya kakek baju kuning ini tengah memutar otak untuk mencari jalan, guna dapat merubuhkan Oey Yok Su dengan segera.

Sedangkan Oey Yok Su pun tengah mengempos semangatnya.

Ia telah berusaha untuk dapat menyerang juga dengan tenaga yang bergelombang jauh lebih kuat.

Namun memang pada dasarnya kakek baju kuning itu memiliki tenaga dalam yang hampir setingkat dengannya, membuat mereka seperti juga hanya duduk saling berhadapan dan juga telah saling menempelkan tangan belaka.

Tidak terlihat salah seorang di antara mereka yang terdorong atau yang tertarik oleh kekuatan tenaga dalam lawan.

Beberapa kali kakek baju kuning itu berusaha untuk menambah tenaganya.

Tapi usahanya selalu gagal.

Kera bulu kuning rupanya melihat kakek baju kuning mengalami kesulitan buat merubuhkan Oey Yok Su, jadi tidak sabar.

Dengan mengeluarkan suara aneh, kera bulu kuning itu melompat gesit sekali.

Tubuhnya melesat akan mencakar muka Oey Yok Su.

Harus dimengerti, jika seseorang tengah menghadapi pertandingan tingkat tinggi, dan telah mengeluarkan seluruh tenaga sin-kangnya, maka ia tidak boleh terpecahkan perhatiannya.

Begitu buyar perhatiannya, tenaga dalamnya akan kacau dan berarti dia akan mengalami luka di dalam yang berat.

Belum lagi jika memang tenaga serangan dari lawannya menghantam lebih kuat lagi, niscaya orang yang terbuyarkan perhatiannya akan menemui ajalnya.

Karena itu, apa yang dilakukan oleh kera bulu kuning itu merupakan hal yang sangat membahayakan sekali jiwa Oey Yok Su.

Sebab kalau sampai perhatian Oey Yok Su pecah, berarti dia akan menerima bencana yang tidak kecil buat dirinya.

Namun kakek baju kuning itu sendiri ketika melihat kera bulu kuning itu menerjang akan mencakar muka Oey Yok Su, dia jadi kaget bukan main.

Jika sampai kera itu benar-benar menerjang maju, tentu binatang itu akan mengalami celaka.

Oey Yok Su bukanlah lawan yang ringan dan biasa, karena itu apa yang dilakukan oleh kera bulu kuning itu benar-benar merupakan perbuatan ceroboh.

Namun kakek baju kuning tidak bisa mencegah atau melarangnya, karena dia tengah mengerahkan sin-kangnya juga, dengan begitu dia tidak bisa berseru.

Sekali saja dia bersuara, maka akan buyarlah pengerahan tenaga dalamnya.

Sedangkan kera bulu kuning itu telah menerjang sampai di dekat Oey Yok Su.

Tangannya juga, dengan kuku-kuku yang panjangpanjang telah diulurkan buat mencakar.

Tampak Oey Yok Su tertawa dingin.

Di waktu itulah mendadak sekali, tahu-tahu kaki kiri Oey Yok Su telah terangkat.

Kera bulu kuning itu tertendang dengan keras, tubuhnya sampai terpental bergulingan di tanah, dia juga mengeluarkan suara jeritan kesakitan.

Masih untung kera bulu kuning itu cuma ditendang oleh kaki Oey Yok Su, dan tenaga tendangan Oey Yok Su tidak sepenuhnya, karena seluruh kekuatan tenaga dalamnya berada pada ke dua telapak tangannya.

Maka dari itu, kera bulu kuning tidak perlu sampai menemui kematiannya.

Sedangkan si kakek baju kuning, menyaksikan Oey Yok Su mempergunakan kakinya menendang kera itu, segera juga mempergunakan kesempatan tersebut buat menerjang dengan tenaganya yang lebih kuat.

Tapi Oey Yok Su memang tetap memusatkan tenaga dalamnya pada ke dua tangannya.

Dengan demikian dia bisa menghadapi dan menyanggah terus tenaga dorongan dari kakek tua baju kuning itu.

Ko Tie yang menyaksikan kera bulu kuning itu ingin menyerang Oey Yok Su, bukan main mendongkolnya.

Segera dia terpikir, dasarnya seekor binatang tetap saja binatang, dan juga ia mengharapkan kera bulu kuning itu tertendang mati oleh kaki Oey Yok Su.

Namun harapan Ko Tie ternyata tidak terkabul.

Kera itu masih merangkak bangun.

Hanya saja tampaknya binatang itu jadi ketakutan dan tidak berani terlalu dekat dengan Oey Yok Su lagi.

Rupanya tendangan Oey Yok Su yang diterimanya telah membuat dia kesakitan dan jadi jeri berurusan dengan Oey Yok Su.

Kam Lian Cu waktu itu telah mengawasi jalannya pertempuran.

Dia sendiri jadi bingung mengharapkan siapakah yang menang di antara ke duanya.

Jika ia mengharapkan Oey Yok Su yang menang, kakek tua majikan pulau To-hoa-to itu memiliki perangai yang aneh sekali.

Karena itu jika memang dia menang, belum tentu akan menggembirakan.

Sedangkan kakek baju kuning itupun tampaknya seorang yang aneh juga, karena dia seorang yang luar biasa, tampaknya sebagai majikan dari kera bulu kuning itu.

Dan ia pun mengandung maksud untuk mengambil Kam Lian Cu sebagai mantunya Tentu saja jika sampai kakek baju kuning itu yang menang, Kam Lian Cu akan menghadapi urusan yang tidak menggembirakannya.

Terlebih lagi di saat itu ia tertotok dan rebah tidak berdaya di tanah tidak bisa menggerakkan tangan dan tubuhnya, adalah di sebabkan kakek baju kuning itu.

Dan akhirnya Kam Lian Cu cuma mengawasi saja, dia melihat rambut kakek tua berbaju kuning, yang tumbuh panjang dan telah putih semuanya itu seakan juga telah berdiri disebabkan tengah mengerahkan seluruh kekuatan tenaga dalamnya.

Pertarungan antara kakek tua itu dengan Oey Yok Su benar-benar merupakan pertandingan yang sangat seru sekali, karena memang tampaknya ke dua orang itu bertempur dengan tidak menimbulkan suara dan keributan.

Tapi itulah pertempuran yang menentukan.

Sekali saja salah seorang di antara mereka memperoleh angin dan dapat mendesak lawannya, kemungkinan akan mendapat luka dalam yang parah sekali.

Oey Yok Su telah memandang kepada si kakek berbaju kuning dengan sorot mata yang sangat tajam sekali.

Dia melihat bahwa kakek tua itu berulang kali berusaha mengerahkan seluruh sinkangnya, untuk menindihnya.

Namun sebagai Tong-shia atau juga si tua yang adatnya aneh pemilik pulau To-hoa-to, dia mana mau membiarkan lawannya mendesak dirinya terus menerus.

Dia sebagai Loshia yang sangat terkenal sekali.

Kwee Ceng mantunya, Oey Yong yang sangat terkenal itu adalah puterinya, sedangkan Kwee Siang adalah cucunya, di mana dialah cakal bakal dari Go-bie-pay maka dari itu, dia tidak mau memberikan kesempatan kepada lawannya buat mendesak dirinya.

Di waktu itulah majikan pulau To-hoa-to tersebut telah menghirup udara bersih, dia mengempos semangatnya, dan menyalurkan sinkangnya.

Mendadak sekali terjadi perobahan.

Tenaga mendorongnya bukan merupakan tenaga yang mengandung kekerasan, karena tenaga Oey Yok Su yang tersalur keluar dari ke dua telapak tangannya itu, seperti juga bergelombang.

Sebentar keras, sebentar lagi menjadi lunak.

Dengan demikian membuat kakek baju kuning itu jadi kaget juga karenanya.

Mati-matian kakek baju kuning itu berusaha merobah cara bertempurnya.

Jika tadi dia selalu mengerahkan tenaga dalamnya menyalurkan sin-kangnya dengan kekerasan.

Tapi sekarang justeru dia mengganti caranya juga.

Dia telah mendorong dan menghisap berulang kali, bergantian.

Jika memang Oey Yok Su tengah menerjang mendorong dengan kekuatan lweekangnya yang dahsyat, maka justeru kakek tua baju kuning itu telah mempergunakan cara menyedot.

Tapi jika memang Oey Yok Su tengah menyedot, dia justeru membarengi dengan mendorong.

Dengan cara bertempur seperti itu, barulah dia bisa mengimbangi tenaga dalam Oey Yok Su.

Semakin lama pertempuran itu meningkat pada tingkat yang lebih menentukan, bahkan tampak dari kepala Oey Yok Su telah mengepul asap yang tipis.

Dan juga rambut dari kakek baju kuning itu telah berdiri kaku, membuktikan ke duanya masing-masing telah mengerahkan tenaga dalam mereka dengan sekuatnya.

Tapi pertempuran itu terus juga berlangsung.

Kera bulu kuning itu rupanya sudah berkurang rasa sakitnya.

Dia mengeluarkan suara aneh, melirik kepada Kam Lian Cu.

Dilihatnya si gadis rebah dalam keadaan tertotok tidak berdaya dan tidak bisa bergerak.

Satu kali lagi kera bulu kuning itu mengeluarkan suara pekik yang nyaring, dan juga segera dengan sikap gembira dia menghampiri kepada si gadis, bermaksud hendak mengganggu gadis itu.

Muka Kam Lian Cu berobah pucat pias, dia jadi ketakutan bukan main, kalau saja kera bulu kuning itu mengganggunya seperti sebelumnya.

Sedangkan Ko Tie dalam keadaan rebah tidak berdaya karena luka berat, dan Oey Yok Su tengah menghadapi kakek tua berbaju kuning itu, berarti mereka tidak mungkin bisa menolongi dirinya dari gangguan kera bulu kuning itu.

Apalagi memang dirinya sendiri tengah rebah dalam keadaan tertotok, maka dia tidak akan bisa melakukan sesuatu apapun juga buat membela dirinya.

Kera bulu kuning itu telah menghampiri dekat sekali dengan si gadis.

Tapi kera itu berdiri tertegun di tempatnya beberapa saat, tampaknya dia ragu-ragu, dia cuma mengeluarkan suara merengek yang aneh sekali.

Rupanya kera itu, yang melihat di tangan Kam Lian Cu tergenggam pedang, jadi ragu-ragu.

Karena dia pernah terluka lengannya oleh tikaman pedang Kam Lian Cu.

Maka sekarang melihat pedang tersebut, dia teringat bagaimana gadis itu pernah melukainya, membuat dia tidak berani untuk segera menghampiri lebih dekat.

Setelah mengawasi sekian lama dan yakin bahwa Kam Lian Cu memang tidak dapat menggerakkan tubuh maupun tangan dan kakinya,barulah dia melangkah maju mendekati lagi.

Perlahan-lahan dia mengambil pedang si gadis.

Kam Lian Cu tidak bisa mencegahnya.

Pedang itu setelah dimainkan beberapa kali oleh si kera bulu kuning, segera dilemparkannya, sehingga pedang itu terlempar jauh sekali.

Sedangkan Kam Lian Cu semakin lama jadi semakin ketakutan, karena dia mengetahui bahwa sekali ini tentu dia tidak akan memiliki nasib baik buat menghindar dari gangguan kera bulu kuning itu.

Karenanya, dia hampir saja menangis, karena marah, takut dan juga ngeri melihat muka kera bulu kuning yang menyeringai sangat menyeramkan itu…… Kera bulu kuning itu telah menghampiri semakin dekat, dia telah berjongkok di samping si gadis.

Tangan kanannya yang jari-jari tangannya terdapat kuku-kuku yang runcing dan sangat kotor, telah mencolek muka Kam Lian Cu.

Dia mengeluarkan suara yang aneh sekali.

Kam Lian Cu mengeluh.

Dia yakin, bahwa kali ini tentu dirinya akan menjadi korban monyet kurang ajar ini.

Sedangkan kera bulu kuning itu telah tertawa menyeringai, suara tertawanya itu sangat menyeramkan.

Ko Tie sendiri merasakan darahnya meluap karena amarah.

Namun dia tidak berdaya buat menolongi Kam Lian Cu walaupun menyaksikan si gadis tengah terancam keselamatannya diganggu oleh kera berbulu kuning itu.

Kera bulu kuning itu telah berani lebih kurang ajar lagi dengan mengulurkan tangan kanannya.

Dia melepaskan pakaian si gadis yang sebelah atas.

Kam Lian Cu menjerit-jerit.

"Tidak!

Jangan……!"

Teriaknya dengan kalap karena ketakutan.

Sedangkan kera bulu kuning itu terus juga berusaha melepaskan pakaian Kam Lian Cu Di waktu itu, segera tampak kakek baju kuning yang mendengar teriakan si gadis, telah menoleh.

Dia kaget melibat kera bulu kuning itu bermaksud hendak memperkosa si gadis.

Anakrawali 36.178 .......

Anakrawali 36.177.

Oey Yok Su tertawa tawar.

Dia memang ahli sekali dalam hal ilmu Pat-kwa.

Pulaunya saja To-hoa-to, telah diaturnya menurut susunan Pat-kwa.

Karena itu, tidak mengherankan jika kali ini Oey Yok Su telah mengeluarkan ilmu Pat-kwanya itu, dan membuat kakek baju kuning jadi pusing sendirinya.

Di waktu itu, si kakek baju kuning itu rupanya jadi semakin tidak sabar, karena dia belum juga berhasil untuk mencari jurus yang bisa memecahkan jurus yang dipergunakan Oey Yok Su.

Akhirnya, karena ia berulang kali tidak berhasil untuk mencarikan jurus yang tepat, dia jadi gusar.

Tahu-tahu tangan kanannya menghantam.

"Kita mengadu secara Yang saja!"

Teriaknya.

Telapak tangannya itu mengandung kekuatan sin-kang yang dahsyat sekali.

Oey Yok Su mengerutkan alisnya.

Dia tidak ayal mengangkat tangan kanannya juga buat membendung tenaga serangan kakek baju kuning itu.

Tenaga mereka saling bentur satu dengan yang lainnya.

Nyaring sekali terjadinya benturan tenaga si kakek baju kuning dengan tenaga Oey Yok Su.

Namun ke duanya tetap duduk di tempatnya, masih saling berhadapan.

Hanya tenaga dalam yang mereka kerahkan itu merupakan sin-kang yang kuat sekali.

Saling mendorong, saling menghisap dan menerjang dahsyat sekali.

Tampak Oey Yok Su mendongkol bukan main, karena seperti yang telah di janjikan mereka tadi, bahwa mereka akan mengadu ilmu secara Im bukan dengan cara Yang.

Akan tetapi, kakek baju kuning itu, setelah tidak berhasil memecahkan jurus Pat-kwa yang digambarkannya itu, ia telah menyerangnya dengan cara seperti membokong Untung saja Oey Yok Su memang memiliki sin-kang yang luar biasa kuatnya.

Dengan demikian ia telah berhasil menyalurkan dengan cepat sekali pada tangannya dan menangkis.

Tenaga serangan dari kakek baju kuning itu memang sangat kuat, namun di sanggap oleh tangkisan yang sama kuatnya dari Oey Yok Su membuatnya dia tidak memperoleh hasil sama sekali.

Di waktu itu tampak Oey Yok Su memandang tajam sekali kepada kakek baju kuning tersebut.

Tampaknya kakek baju kuning ini tengah memutar otak untuk mencari jalan, guna dapat merubuhkan Oey Yok Su dengan segera.

Sedangkan Oey Yok Su pun tengah mengempos semangatnya.

Ia telah berusaha untuk dapat menyerang juga dengan tenaga yang bergelombang jauh lebih kuat.

Namun memang pada dasarnya kakek baju kuning itu memiliki tenaga dalam yang hampir setingkat dengannya, membuat mereka seperti juga hanya duduk saling berhadapan dan juga telah saling menempelkan tangan belaka.

Tidak terlihat salah seorang di antara mereka yang terdorong atau yang tertarik oleh kekuatan tenaga dalam lawan.

Beberapa kali kakek baju kuning itu berusaha untuk menambah tenaganya.

Tapi usahanya selalu gagal.

Kera bulu kuning rupanya melihat kakek baju kuning mengalami kesulitan buat merubuhkan Oey Yok Su, jadi tidak sabar.

Dengan mengeluarkan suara aneh, kera bulu kuning itu melompat gesit sekali.

Tubuhnya melesat akan mencakar muka Oey Yok Su.

Harus dimengerti, jika seseorang tengah menghadapi pertandingan tingkat tinggi, dan telah mengeluarkan seluruh tenaga sin-kangnya, maka ia tidak boleh terpecahkan perhatiannya.

Begitu buyar perhatiannya, tenaga dalamnya akan kacau dan berarti dia akan mengalami luka di dalam yang berat.

Belum lagi jika memang tenaga serangan dari lawannya menghantam lebih kuat lagi, niscaya orang yang terbuyarkan perhatiannya akan menemui ajalnya.

Karena itu, apa yang dilakukan oleh kera bulu kuning itu merupakan hal yang sangat membahayakan sekali jiwa Oey Yok Su.

Sebab kalau sampai perhatian Oey Yok Su pecah, berarti dia akan menerima bencana yang tidak kecil buat dirinya.

Namun kakek baju kuning itu sendiri ketika melihat kera bulu kuning itu menerjang akan mencakar muka Oey Yok Su, dia jadi kaget bukan main.

Jika sampai kera itu benar-benar menerjang maju, tentu binatang itu akan mengalami celaka.

Oey Yok Su bukanlah lawan yang ringan dan biasa, karena itu apa yang dilakukan oleh kera bulu kuning itu benar-benar merupakan perbuatan ceroboh.

Namun kakek baju kuning tidak bisa mencegah atau melarangnya, karena dia tengah mengerahkan sin-kangnya juga, dengan begitu dia tidak bisa berseru.

Sekali saja dia bersuara, maka akan buyarlah pengerahan tenaga dalamnya.

Sedangkan kera bulu kuning itu telah menerjang sampai di dekat Oey Yok Su.

Tangannya juga, dengan kuku-kuku yang panjangpanjang telah diulurkan buat mencakar.

Tampak Oey Yok Su tertawa dingin.

Di waktu itulah mendadak sekali, tahu-tahu kaki kiri Oey Yok Su telah terangkat.

Kera bulu kuning itu tertendang dengan keras, tubuhnya sampai terpental bergulingan di tanah, dia juga mengeluarkan suara jeritan kesakitan.

Masih untung kera bulu kuning itu cuma ditendang oleh kaki Oey Yok Su, dan tenaga tendangan Oey Yok Su tidak sepenuhnya, karena seluruh kekuatan tenaga dalamnya berada pada ke dua telapak tangannya.

Maka dari itu, kera bulu kuning tidak perlu sampai menemui kematiannya.

Sedangkan si kakek baju kuning, menyaksikan Oey Yok Su mempergunakan kakinya menendang kera itu, segera juga mempergunakan kesempatan tersebut buat menerjang dengan tenaganya yang lebih kuat.

Tapi Oey Yok Su memang tetap memusatkan tenaga dalamnya pada ke dua tangannya.

Dengan demikian dia bisa menghadapi dan menyanggah terus tenaga dorongan dari kakek tua baju kuning itu.

Ko Tie yang menyaksikan kera bulu kuning itu ingin menyerang Oey Yok Su, bukan main mendongkolnya.

Segera dia terpikir, dasarnya seekor binatang tetap saja binatang, dan juga ia mengharapkan kera bulu kuning itu tertendang mati oleh kaki Oey Yok Su.

Namun harapan Ko Tie ternyata tidak terkabul.

Kera itu masih merangkak bangun.

Hanya saja tampaknya binatang itu jadi ketakutan dan tidak berani terlalu dekat dengan Oey Yok Su lagi.

Rupanya tendangan Oey Yok Su yang diterimanya telah membuat dia kesakitan dan jadi jeri berurusan dengan Oey Yok Su.

Kam Lian Cu waktu itu telah mengawasi jalannya pertempuran.

Dia sendiri jadi bingung mengharapkan siapakah yang menang di antara ke duanya.

Jika ia mengharapkan Oey Yok Su yang menang, kakek tua majikan pulau To-hoa-to itu memiliki perangai yang aneh sekali.

Karena itu jika memang dia menang, belum tentu akan menggembirakan.

Sedangkan kakek baju kuning itupun tampaknya seorang yang aneh juga, karena dia seorang yang luar biasa, tampaknya sebagai majikan dari kera bulu kuning itu.

Dan ia pun mengandung maksud untuk mengambil Kam Lian Cu sebagai mantunya Tentu saja jika sampai kakek baju kuning itu yang menang, Kam Lian Cu akan menghadapi urusan yang tidak menggembirakannya.

Terlebih lagi di saat itu ia tertotok dan rebah tidak berdaya di tanah tidak bisa menggerakkan tangan dan tubuhnya, adalah di sebabkan kakek baju kuning itu.

Dan akhirnya Kam Lian Cu cuma mengawasi saja, dia melihat rambut kakek tua berbaju kuning, yang tumbuh panjang dan telah putih semuanya itu seakan juga telah berdiri disebabkan tengah mengerahkan seluruh kekuatan tenaga dalamnya.

Pertarungan antara kakek tua itu dengan Oey Yok Su benar-benar merupakan pertandingan yang sangat seru sekali, karena memang tampaknya ke dua orang itu bertempur dengan tidak menimbulkan suara dan keributan.

Tapi itulah pertempuran yang menentukan.

Sekali saja salah seorang di antara mereka memperoleh angin dan dapat mendesak lawannya, kemungkinan akan mendapat luka dalam yang parah sekali.

Oey Yok Su telah memandang kepada si kakek berbaju kuning dengan sorot mata yang sangat tajam sekali.

Dia melihat bahwa kakek tua itu berulang kali berusaha mengerahkan seluruh sinkangnya, untuk menindihnya.

Namun sebagai Tong-shia atau juga si tua yang adatnya aneh pemilik pulau To-hoa-to, dia mana mau membiarkan lawannya mendesak dirinya terus menerus.

Dia sebagai Loshia yang sangat terkenal sekali.

Kwee Ceng mantunya, Oey Yong yang sangat terkenal itu adalah puterinya, sedangkan Kwee Siang adalah cucunya, di mana dialah cakal bakal dari Go-bie-pay maka dari itu, dia tidak mau memberikan kesempatan kepada lawannya buat mendesak dirinya.

Di waktu itulah majikan pulau To-hoa-to tersebut telah menghirup udara bersih, dia mengempos semangatnya, dan menyalurkan sinkangnya.

Mendadak sekali terjadi perobahan.

Tenaga mendorongnya bukan merupakan tenaga yang mengandung kekerasan, karena tenaga Oey Yok Su yang tersalur keluar dari ke dua telapak tangannya itu, seperti juga bergelombang.

Sebentar keras, sebentar lagi menjadi lunak.

Dengan demikian membuat kakek baju kuning itu jadi kaget juga karenanya.

Mati-matian kakek baju kuning itu berusaha merobah cara bertempurnya.

Jika tadi dia selalu mengerahkan tenaga dalamnya menyalurkan sin-kangnya dengan kekerasan.

Tapi sekarang justeru dia mengganti caranya juga.

Dia telah mendorong dan menghisap berulang kali, bergantian.

Jika memang Oey Yok Su tengah menerjang mendorong dengan kekuatan lweekangnya yang dahsyat, maka justeru kakek tua baju kuning itu telah mempergunakan cara menyedot.

Tapi jika memang Oey Yok Su tengah menyedot, dia justeru membarengi dengan mendorong.

Dengan cara bertempur seperti itu, barulah dia bisa mengimbangi tenaga dalam Oey Yok Su.

Semakin lama pertempuran itu meningkat pada tingkat yang lebih menentukan, bahkan tampak dari kepala Oey Yok Su telah mengepul asap yang tipis.

Dan juga rambut dari kakek baju kuning itu telah berdiri kaku, membuktikan ke duanya masing-masing telah mengerahkan tenaga dalam mereka dengan sekuatnya.

Tapi pertempuran itu terus juga berlangsung.

Kera bulu kuning itu rupanya sudah berkurang rasa sakitnya.

Dia mengeluarkan suara aneh, melirik kepada Kam Lian Cu.

Dilihatnya si gadis rebah dalam keadaan tertotok tidak berdaya dan tidak bisa bergerak.

Satu kali lagi kera bulu kuning itu mengeluarkan suara pekik yang nyaring, dan juga segera dengan sikap gembira dia menghampiri kepada si gadis, bermaksud hendak mengganggu gadis itu.

Muka Kam Lian Cu berobah pucat pias, dia jadi ketakutan bukan main, kalau saja kera bulu kuning itu mengganggunya seperti sebelumnya.

Sedangkan Ko Tie dalam keadaan rebah tidak berdaya karena luka berat, dan Oey Yok Su tengah menghadapi kakek tua berbaju kuning itu, berarti mereka tidak mungkin bisa menolongi dirinya dari gangguan kera bulu kuning itu.

Apalagi memang dirinya sendiri tengah rebah dalam keadaan tertotok, maka dia tidak akan bisa melakukan sesuatu apapun juga buat membela dirinya.

Kera bulu kuning itu telah menghampiri dekat sekali dengan si gadis.

Tapi kera itu berdiri tertegun di tempatnya beberapa saat, tampaknya dia ragu-ragu, dia cuma mengeluarkan suara merengek yang aneh sekali.

Rupanya kera itu, yang melihat di tangan Kam Lian Cu tergenggam pedang, jadi ragu-ragu.

Karena dia pernah terluka lengannya oleh tikaman pedang Kam Lian Cu.

Maka sekarang melihat pedang tersebut, dia teringat bagaimana gadis itu pernah melukainya, membuat dia tidak berani untuk segera menghampiri lebih dekat.

Setelah mengawasi sekian lama dan yakin bahwa Kam Lian Cu memang tidak dapat menggerakkan tubuh maupun tangan dan kakinya,barulah dia melangkah maju mendekati lagi.

Perlahan-lahan dia mengambil pedang si gadis.

Kam Lian Cu tidak bisa mencegahnya.

Pedang itu setelah dimainkan beberapa kali oleh si kera bulu kuning, segera dilemparkannya, sehingga pedang itu terlempar jauh sekali.

Sedangkan Kam Lian Cu semakin lama jadi semakin ketakutan, karena dia mengetahui bahwa sekali ini tentu dia tidak akan memiliki nasib baik buat menghindar dari gangguan kera bulu kuning itu.

Karenanya, dia hampir saja menangis, karena marah, takut dan juga ngeri melihat muka kera bulu kuning yang menyeringai sangat menyeramkan itu…… Kera bulu kuning itu telah menghampiri semakin dekat, dia telah berjongkok di samping si gadis.

Tangan kanannya yang jari-jari tangannya terdapat kuku-kuku yang runcing dan sangat kotor, telah mencolek muka Kam Lian Cu.

Dia mengeluarkan suara yang aneh sekali.

Kam Lian Cu mengeluh.

Dia yakin, bahwa kali ini tentu dirinya akan menjadi korban monyet kurang ajar ini.

Sedangkan kera bulu kuning itu telah tertawa menyeringai, suara tertawanya itu sangat menyeramkan.

Ko Tie sendiri merasakan darahnya meluap karena amarah.

Namun dia tidak berdaya buat menolongi Kam Lian Cu walaupun menyaksikan si gadis tengah terancam keselamatannya diganggu oleh kera berbulu kuning itu.

Kera bulu kuning itu telah berani lebih kurang ajar lagi dengan mengulurkan tangan kanannya.

Dia melepaskan pakaian si gadis yang sebelah atas.

Kam Lian Cu menjerit-jerit.

"Tidak! Jangan……!"

Teriaknya dengan kalap karena ketakutan.

Sedangkan kera bulu kuning itu terus juga berusaha melepaskan pakaian Kam Lian Cu Di waktu itu, segera tampak kakek baju kuning yang mendengar teriakan si gadis, telah menoleh.

Dia kaget melibat kera bulu kuning itu bermaksud hendak memperkosa si gadis.

"Jangan!"

Berseru kakek tua itu karena lupa bahwa ia tengah mengadu kekuatan dengan Oey Yok Su.

Begitu dia berseru mencegah, maka tubuhnya segera juga terlontarkan ke tengah udara.

Rupanya, waktu dia berseru, tenaga dalamnya jadi buyar, dan tenaga dalam dari Oey Yok Su telah menerjangnya, membuat dia terlempar jauh ke tengah udara.

Di saat itu terlihat, kera bulu kuning jadi kaget mendengar cegahan kakek tua itu.

Dia segera berlari menghampiri si kakek.

Kakek tua baju kuning melompat berdiri, napasnya memburu keras.

Walaupun dia telah kena terlontarkan oleh kekuatan tenaga dalam Oey Yok Su, akan tetapi dia masih sempat buat mengendalikan dirinya, sehingga tenaganya tidak buyar dan dia tidak sampai terluka karenanya.

Dia masih tetap dalam keadaan sehat.

Hal itu juga disebabkan memang kekuatan dan kepandaian kakek tua sangat tinggi sekali.

"Mengapa engkau harus tergesa-gesa seperti itu? Kau tidak boleh menganggu dulu nona mantuku itu.....!"

Kata kakek tua tersebut kepada kera bulu kuning.

Kera bulu kuning itu seperti juga mengerti apa yang dikatakan olah kakek tua tersebut dia berulang kali mengeluarkan suara yang aneh dan kepala tertunduk, seakan juga dia memang tengah menyesali apa yang telah dilakukannya.

Oey Yok Su waktu itu telah melompat berdiri.

"Kera biadab tidak tahu malu……!"

Bentaknya dengan suara yang nyaring sekali, disusul dengan tubuhnya yang melesat ke tengah udara.

Sepasang tangannya telah menyambar kepala kera bulu kuning karena Oey Yok Su bermaksud hendak menghantam binasa kera itu, yang bermaksud tadi berlaku kurang ajar terhadap Kam Lian Cu.

Tapi kera bulu kuning itu segera juga melompat menyingkir ke samping kakek tua itu.

Kakek tua itulah yang mewakilinya menangkis pukulan yang dilakukan oleh Oey Yok Su.

Merekapun segera melakukan adu kekuatan lagi.

Tapi sekarang ini justeru mereka telah mengadu juga gin-kang mereka!

Sambil menyerang bertubi-tubi, mereka telah bergerak ke sana ke mari dengan lincah.

Kera bulu kuning itu, Kim Go, ketika melihat kakek tua itu tengah bertempur seru lagi dengan Oey Yok Su, mereka mengikuti dengan sebentar-sebentar mengeluarkan suara yang aneh.

Juga dia berulang kali melirik kepada si gadis, Kam Lian Cu!

Tampaknya kera itu masih penasaran.

Memang ukuran tubuhnya yang sama seperti tinggi tubuh manusia dewasa, maka sikap dan kelakuannya juga sama seperti manusia, dimana dia begitu tergiur melihat gadis cantik itu.

Karenanya, begitu melihat Oey Yok Su dan kakek tua itu telah bertempur semakin menjauhi tempat itu, di mana mareka terlibat dalam pertempuran yang seru, kera bulu kuning itu rupanya sudah tidak bisa menahan diri lagi.

Segera juga melompat ke dekat si gadis.

Dia bermaksud untuk melakukan sesuatu lagi.

Ke dua tangannya telah diulurkan kepada dada si gadis, dia meremasnya dengan mata meram melek.

Keruan saja Kam Lian Cu jadi menjerit-jerit ketakutan dan marah setengah mati, namun si gadis benar-benar tidak berdaya, karena tubuhnya tidak bisa bergerak.

Waktu itu si kera bulu kuning itu tampaknya semakin lama jadi semakin berani.

Dia bermaksud akan melepaskan pakaian si gadis di sebelah bawah, karena tampaknya memang kera ini sudah tidak kuat membendung akan napsu birahinya…… sampai akhirnya dia tidak menyadarinya bahwa waktu itu ada sesosok tubuh yang tengah mendekatinya, sesosok bayangan berpakaian serba putih…….

"Bukk!"

Sosok bayangan putih itu telah menghantam dengan dahsyat punggung kera itu.

Seperti juga dihantam oleh pukulan alu yang besar, kera itu merasakan sakit bukan main, tulang punggungnya seperti juga akan patah.

Malah kera itu juga tampak telah terjungkal rubuh bergulingan di tanah beberapa tombak jauhnya.

Disebabkan kesakitan yang hebat, kera itu juga telah berulang kali mengeluarkan suara yang aneh.

Di waktu itu, sosok bayangan putih itu telah menerjangnya lagi, menyerang berulang kali.

Kera itu tidak tahan menghadapi pukulan sosok bayangan putih itu, dia memutar tubuhnya, dengan diringi oleh pekiknya yang aneh, dia telah melarikan diri.

Sosok bayangan putih itu tidak mengejarnya.

Ternyata dia seorang pemuda yang memiliki wajah tampan dan jantan sekali dengan tubuh yang tegap dan tinggi.

Dia menghampiri si gadis she Kam, mengulurkan tangannya membebaskan si gadis dari totokan.

Bukan main malunya Kam Lian Cu, karena melihat pemuda itu sempat melihat dadanya yang terbuka.

Tapi dia sangat bersyukur, di dalam saat-saat dirinya terancam bencana yang begitu hebat, telah muncul pemuda tampan ini, yang telah menolonginya.

Sedangkan si pemuda telah melirik kepada Ko Tie.

Matanya memancarkan sinar yang mengandung kebencian.

Kam Liau Cu telah mengeluarkan pakaian baru dari buntalannya dan mengenakannya.

Barulah dia kemudian merangkapkan ke dua tangannya, membungkuk memberi hormat menyatakan terima kasihnya kepada tuan penolongnya ini.

"Terima kasih atas pertolongan in-kong, si apakah in-kong sebenarnya?!"

Tanya Kam Lian Cu. Pemuda tampan berbaju putih itu, yang wajahnya sangat tampan tapi jantan, telah berkata.

"Aku Gorgo San….."

"Ohh…… tampaknya anda bukan seorang Han……?"

Tanya Kam Lian Cu. Pemuda itu mengangguk sambil melirik kepada Ko Tie.

"Mengapa dia rebah terluka seperti itu?"

Tanyanya, nada suaranya terdengar sinis sekali, seperti juga menghina. Kam Lian Cu memandang kepada Ko Tie. Dia menghela napas. Katanya.

"Justeru kawanku itu terluka di dalam yang parah.....!"

Gorgo San yang sebelumnya memang telah kita kenal sebagai murid Dalpa Tacin, tertawa tawar. Ia memang tidak menyukai Ko Tie.

"Mengapa kau tertotok seperti tadi? Apakah engkau dilukai oleh dia?!"

Sambil berkata begitu, tampak Gorgo San menunjuk kepada Ko Tie. Kam Lian Cu menggeleng. "Dia…… dia malah kawanku.....!"

"Hemm......!"

Gorgo San telah mendengus dingin.

Dia melangkah buat menghampiri Ko Tie.

Sedangkan Ko Ti pun kenal siapa pemuda itu.

Dia tahu, tentu Gorgo San tidak akan segan-segan turunkan tangan kejam padanya.

Benar saja, waktu Gorgo San telah tiba di dekatnya, pemuda itu berkata dengan bengis.

"Sekarang engkau tidak akan lolos dari kematian di tanganku!"

Sambil berkata begitu tangan kanannya bergerak menghantam dengan dahsyat.

Namun, justeru ketika telapak tangannya bergerak, di saat itulah berkesiuran juga angin pukulan dari arah belakangnya.

Gorgo San segera mengelak, dia batal menghajar Ko Tie.

Ketika dia menoleh, dilihatnya yang menyerang dirinya tidak lain Kam Lian Cu.

"Kau.....?!"

Katanya dengan sikap tidak puas. Kam Lian Cu jadi salah tingkah, dia bilang.

"In-kong, kau telah menolongiku, tapi mengapa kau hendak mencelakai kawanku?"

"Gorgo San tidak segan-segan membunuh dia!"

Katanya dengan suara menyeramkan.

"Selama Gorgo San berada di permukaan bumi, dia tidak boleh ada bersamaku!"

Mendengar nada suara Gorgo San yang menunjukkan bahwa ia sangat membenci Ko Tie dan juga seakan menaruh dendam yang hebat, Kam Lian Cu segera dapat menduganya bahwa Gorgo San tentunya memang musuh Ko Tie.

Sedangkan Ko Tie dengan suara yang tawar telah berkata.

"Jika memang kau membunuhku sekarang, kau bukan seorang gagah..... percuma saja, karena engkau adalah seorang pengecut yang paling hina di dunia ini!"

Muka Gorgo San berobah merah, karena murka, tubuhnya menggigil menahan amarah.

"Hemmm, aku tidak perduli apakah orang akan menyebutku sebagai manusia hina, tapi yang terpenting engkau harus mampus!" Setelah berkata begitu, dengan bengis kembali ia berusaha menyerang Ko Tie. Tapi Kam Lian Cu mana mau membiarkan Gorgo San mencelakai Ko Tie dalam keadaan tidak berdaya seperti itu. Karenanya, segera juga dia melompat dan menghantam punggung Gorgo San lagi. Bukan kepalang gusarnya Gorgo San.

"Wanita tidak berbudi! Aku telah menyelamatkan dirimu, ternyata engkau berbalik memusuhi diriku!"

Sambil berkata begitu, segera juga dia menghantam kepada Kam Lian Cu, karena dia mendongkol bukan main merasa dirinya dihalang-halangi oleh si gadis.

Sedangkan Kam Lian Cu melayaninya, mereka jadi bertempur seru sekali.

Kepandaian Gorgo San memang tinggi.

Dia merupakan murid tunggal Dalpa Tacin, dengan sendirinya, ilmunya juga luar biasa.

Namun Kam Lian Cu pun memiliki kepandaian yang tinggi, walaupun tak setinggi Oey Yok Su atau kakek tua baju kuning itu.

Namun untuk menghadapi Gorgo San, dia tampaknya masih bisa mempertahankan diri.

Dikala itu Gorgo San telah menyerang semakin lama jadi semakin hebat.

Kam Liam Cu juga telah menyalurkan seluruh kepandaiannya, dia merasakan bahwa Gorgo San memang memiliki kepandaian yang sangat tinggi, karena itu dia tidak berani meremehkannya.

Tadi ia masih setengah hati buat menyerang Gorgo San, mengingat pemuda tampan dengan muka berpotongan jantan itu, merupakan tuan penolongnya.

Akan tetapi setelah bertempur beberapa jurus.

segera dia merasakan bahwa Gorgo San seorang yang bertangan telengas.

Setiap serangan yang dilakukan Gorgo San sangat ganas, dan ini membuktikan hatinya yang kejam.

Terlebih lagi memang Kam Lian Cu telah melihat Gorgo San memusuhi Ko Tie, jelas tentunya Gorgo San bukan seorang yang baik-baik.

Apalagi menyaksikan Gorgo San begitu hina, melihat Ko Tie dalam keadaan tidak berdaya.

Justeru dia hendak menyerang dan membinasakan Ko Tie.

Dan itulah sikap seorang yang rendah dan hina.

Dan sekarang Kam Lian Cu justeru tidak segan-segan lagi buat balas menyerang dengan ilmunya yang terhebat.

Gorgo San sendiri heran, dia melihat gadis ini memiliki kepandaian yang tinggi.

Yang membuatnya tidak mengerti mengapa tadi Kam Lian Cu dalam keadaan tertotok tidak berdaya?

Maka Gorgo San telah mencurahkan perhatiannya lebih baik lagi, dia menyerang semakin gencar dan berusaha tidak memberikan napas dan kesempatan kepada Kam Lian Cu membalas menyerang.

Dalam keadaan seperti itu, Kam Lian Cu melayaninya terus.

Mereka berdua jadi bertempur seru, tubuh mereka berkelebatkelebat ke sana ke mari dengan lincah sekali.

Di saat mereka tengah bertanding, mendadak sekali terlihat Oey Yok Su dan si kakek baju kuning tengah bertempur sambil mendatangi.

Waktu itu Oey Yok Su telah melihat Gorgo San.

"Bagus! Rupanya bocah busuk itu berada di sini!"

Sambil berkata begitu, tiba-tiba Oey Yok Su tampaknya sudah tak memperdulikan ia si kakek baju kuning itu, tubuhnya melesat sangat cepat sekali ke dekat Gorgo San.

Waktu itu Gorgo San tengah berusaha merubuhkan Kam Lian Cu.

Dia tengah bergirang hati sebab melihat Kam Lian Cu terdesak hebat, dan tidak lama lagi tentu dia akan dapat merubuhkannya.

Tapi justeru di saat-saat seperti itulah, dia mendengar bentakan Oey Yok Su.

Dia telah melompat juga untuk menyingkirkan diri.

Kagetnya tidak terkira, karena dia menyadari jika menghadapi Oey Yok Su, tentu dalam beberapa jurus saja dia akan dapat dirubuhkan oleh majikan To-hoa-to yang sangat lihay itu.

Tapi Oey Yok Su tak mau melepaskannya.

"Mau kabur ke mana kau?"

Teriak Loshia dengan suara yang bengis, tubuhnya seperti juga gulungan warna hijau, telah melompat mengejar Gorgo San.

Tapi Gorgo San tidak mau membuang-buang waktu, dia berusaha melarikan diri!

Hatinya terguncang keras, mati-matian dia melarikan diri dengan mengerahkan seluruh gin-kangnya!

Si kakek baju kuning justeru melihat Oey Yok Su tahu-tahu telah meninggalkannya dan mengejar Gorgo San, segera melompat sambil berteriak.

"Oey Loshia, mengapa kau jadi pengecut, bukan menghadapi aku malah ingin menganggu seorang pemuda?!"

Dia bukan hanya berteriak begitu saja, karena sepasang tangannya menghantam kuat sekali di saat tubuhnya masih terapung di tengah udara.

Dia menghantam kepada punggung Oey Yok Su.

Sebetulnya Oey Yok Su pada waktu itu hampir dapat mengejar Gorgo San, dia tengah bersiap-siap hendak menghantam rubuh Gorgo San dan Gorgo San tengah mengeluh.

Tapi justeru dia merasakan hantaman yang begitu dahsyat dari si kakek baju kuning, telah membuat Oey Yok Su mau tidak mau membatalkan serangannya kepada Gorgo San.

Dia membalikkan tubuhnya, terpaksa dia menghadapi si kakek tua baju kuning itu.

Mendongkol bukan main Oey Yok Su, dia berseru.

"Urusan kita masih bisa diselesaikan nanti, kita masih memiliki banyak waktu! Tapi sekarang aku ingin menangkap keparat cilik itu!"

Tapi kakek tua itu tidak mau memperdulikan, dia menyerang terus gencar sekali. "Kau anggap aku budakmu, sehingga seenakmu saja kau perintahkan aku menantikan kau melakukan sesuatu?"

Katanya dengan mengejek dan telah menyerang dengan dahsyat.

Dikala itu terlihat Gorgo San telah melarikan diri secepat mungkin.

Dalam waktu yang singkat dia telah menghilang dan tidak terlihat bayangannya lagi.

Bukan main mendongkolnya Oey Yok Su.

Dia jadi mendelu sekali.

Kemurkaannya itu telah ditumpahkannya kepada si kakek tua baju kuning.

Sedangkan kakek tua itu tampak gembira bisa membikin Oey Yok Su jadi murka seperti itu.

"Ya, dengan demikian kita bisa bertempur sepuas hati! Mengapa harus diselingi dengan segala persoalan tidak ada artinya?"

Katanya. Kakek tua berbaju kuning itu telah melayani terus setiap kali serangan Oey Yok Su. Tapi sejenak kemudian dia melirik melihat Kam Lian Cu yang berdiri diam tidak tertotok.

"Ihhh, kau sudah terbebaskan?!"

Katanya dengan suara terkejut.

Dia menunda serangannya kepada Oey Yok Su dan melompat ke samping untuk menghindarkan diri dari serangan Oey Yok Su.

Kemudian dia menyentil dengan jari telunjuk tangan kanannya, dengan tenaga dalamnya dia bermaksud menotok si gadis lagi.

Tapi Kam Lian Cu sekarang ini telah bersiap sedia, dia tidak mau membiarkan dirinya ditotok lagi oleh kakek tua itu.

Begitu dia melihat si kakek menyentil dan merasakan menyambarnya angin serangan, seketika itu juga Kam Lian Cu melesat menjauhi diri.

Kakek tua itu tertegun melihat totokannya tidak berhasil mengenai sasarannya, malah Kam Lian Cu telah melesat menjauhi diri dari tempatnya.

"Ihhhhh, kau mau ke mana?!"

Teriaknya. Dia bermaksud meninggalkan Oey Yok Su, buat mengejar si gadis. Tapi Oey Yok Su kini gilirannya buat merintangi si kakek, dia menyerang hebat pada kakek itu.

"Mengapa engkau harus mengurusi urusan kecil tidak ada artinya dengan menunda pertempuran kita?!"

Setelah berkata begitu, gencar sekali Oey Yok Su menyerang si kakek.

Dengan demikian kakek tua baju kuning tersebut sudah tidak memiliki kesempatan buat mengejar Kam Lian Cu.

Dia telah melayani Oey Yok Su dengan penasaran sekali, dan juga setiap serangan yang dilakukannya merupakan serangan yang mengandung kematian.

Ko Tie yang menyaksikan hal itu jadi menghela napas.

Dia berpikir di dalam hatinya.

"Mereka berdua memiliki kepandaian yang tinggi luar biasa, jika memang mereka bertempur terus seperti itu, niscaya akhirnya mereka akan terluka bersama atau terbunuh bersama..... Tidak mungkin di antara mereka ada yang menang atau kalah, pasti ke duanya yang akan menerima malapetaka tidak kecil……!"

Setelah berpikir begitu, Ko Tie jadi menghela napas berulang kali lagi.

Sedangkan dari kejauhan tampak berlari-lari sesosok bayangan kuning!

Dialah kera bulu kuning itu, yang mendatangi sambil memperdengarkan suaranya yang aneh.

Melihat Kam Lian Cu sudah berdiri dan berada di tempat yang terpisah jauh, justeru kera bulu kuning itu telah mengeluarkan suara pekik yang aneh lagi.

Kemudian dengan buas dia menghampiri Ko Tie.

Tampaknya kera bulu kuning itu bermaksud hendak melampiaskan kemarahan hatinya kepada Ko Tie.

Menyaksikan hal itu Kam Lian Cu jadi kaget bukan main, karena dia mengetahui bahwa Ko Tie bukanlah seorang yang dapat diandalkan menghadapi kera itu dengan keadaannya yang tengah terluka parah itu.

Tentu Ko Tie akan terbunuh di tangan kera yang buas tersebut.

Dengan segera si gadis telah melompat ke dekat kera bulu kuning.

Dia telah mengayunkan tangannya menyerang kera itu.

Jika tadi dia dalam keadaan tertotok memang dia tidak berdaya menghadapi kera itu.

Justeru sekarang ini dia dalam keadaan bebas, karenanya dia bisa menyerang dengan hebat kepada kera itu.

Sedangkan kera tersebut yang menyadari bahwa Kam Lian Cu memang memiliki kepandaian yang tinggi, dan jeri buat pedang si gadis, telah melawan setengah hati.

Kera itu selalu main mundur.

Namun akhirnya setelah lewat beberapa saat, dia melihat si gadis tidak mencabut keluar pedangnya, yang ternyata pedangnya telah terpental mengeletak jauh di tanah, maka kera bulu kuning itu jadi semakin berani.

Semula kera ini menduga bahwa pedang si gadis belum dicabut keluar.

Sekarang setelah pertempuran itu berlangsung sekian lama dan si gadis masih tidak bersenjatakan pedang, hanya mengandalkan ke dua tangannya, kera itu semakin berani.

Dengan mengeluarkan suara pekik yang menyeramkan tampak tubuhnya berkelebat-kelebat gesit sekali.

Dia mencakar dan bermaksud mencengkeram kepada si gadis.

Kam Lian Cu mengelakkan diri, di dalam hatinya si gadis heran bukan main, karena dia melihatnya bahwa si kera bulu kuning itu bersilat seperti juga mempergunakan ilmu silat yang teratur dan juga bagaikan seorang ahli silat.

"Tentunya kera bulu kuning ini telah dididik baik sekali oleh kakek baju kuning itu!"

Berpikir Kam Lian Cu.

Gadis itu mengempos semangatnya, dia mengerahkan tenaga dalamnya berusaha untuk dapat mendesak kera itu dengan pukulan-pukulan yang bisa mematikan.

Tapi kera tersebut juga bisa bergerak gesit, dia bukan hanya menghindarkan diri belaka.

Dia selalu dapat balas menyerang juga kepada Kam Lian Cu.

Begitulah, manusia dengan kera telah bertempur seru sekali.

Tapi yang luar biasa justeru kera itu bertempur dengan mempergunakan jurus-jurus ilmu silat…… Kakek baju kuning juga melihat betapa keranya telah bertempur dengan Kam Lian Cu.

Dia kuatir sekali kalau-kalau kera itu melukai si gadis.

Karena memang dia telah penuju gadis itu akan dijadikan nona mantunya.

Tetapi untuk mencegah kera itu menyerang si gadis lebih jauh, dia tidak memiliki kesempatan, karena Oey Yok Su telah mengikatnya dalam pertempuran yang seru.

Di waktu itu terlihat, kera itu juga memang berimbang kepandaiannya dengan Kam Lian Cu.

Hal ini disebabkan si gadis sering merasa jijik harus bertemu tangan dengan binatang itu, karenanya dia selalu menghindarkan diri dari bentrokan tangan mereka.

Hal itu telah membuat kera itu menang angin dan memperoleh banyak kesempatan, tampaknya mereka jadi seperti berimbang.

Oey Yok Su melihat pertempuran tersebut, tiba-tiba mengeluarkan tertawa yang nyaring sekali.

"Bagus! manusia dengan kera bertempur! Aku ingin melihat, apakah kera itu yang engkau bangga-banggakan itu dapat menandingi si gadis dan memperoleh kemenangan?"

Itulah ejekan buat si kakek, membuat kakek tua itu jadi tidak senang, pada wajahnya dia memperlihatkan sikap tidak puas, matanya jalang sekali.

"Tentu saja Go-jie akan memperoleh kemenangan! Kita lihat saja, tidak lama lagi calon menantuku itu akan dapat dirubuhkannya!"

"Dirubuhkannya? Tapi jika memang dibunuhnya?!"

Tanya Oey Yok Su.

"Bukankah harapanmu buat memperoleh seorang menantu secantik gadis itu akan sia-sia belaka?!" Kakek tua itu bungkam. Sedangkan ke dua tangannya telah menghujani Oey Yok Su dengan pukulan-pukulan yang sangat gencar. Oey Yok Su memang sejak dulu selalu berusaha untuk mencapai tingkat kedudukan sebagai jago nomor wahid dalam rimba persilatan, Te It Eng-hiong. sehingga pernah diadakan pertandingan di antara lima jago luar biasa, yang terdiri dari Ong Tiong Yang, Oey Yok Su, It Teng Taysu, Ang Cit Kong maupun Auwyang Hong. Tapi selama itu, ke lima jago tersebut tidak berhasil menentukan siapa yang memiliki kepandaian tertinggi. Namun akhirnya Ong Tiong Yang lah yang mereka anggap sebagai jago Nomor Satu di dalam rimba persilatan. Sejak kematian Ong Tiong Yang, antara Auwyang Hong dengan Oey Yok Su, maupun dengan Ang Cit Kong dan It Teng Taysu, tidak pernah tercapai suatu pemutusan, siapakah yang paling lihay di antara mereka. Karena itu pula Oey Yok Su setiap saat telah melatih diri dengan giat. Bahkan di antara empat jago luar biasa itu telah berusaha memiliki kitab Kiu-im-cin-keng, untuk dapat mempelajarinya dengan cermat isinya. Terakhir, sampai menjelang usia tua dari ke empat jago luar biasa itu, bahkan di antaranya telah ada yang putus napas karena usia tua, mereka berempat masih belum bisa menentukan siapakah di antara mereka yang memiliki kepandaian paling tinggi. Kemudian tinggal Oey Yok Su yang memiliki usia paling panjang, dan ia merupakan satu-satunya jago dari tingkatan tua yang memiliki kepandaian tinggi yang masih hidup. Dengan sendirinya dia dianggap satu-satunya jago nomor satu di dalam rimba persilatan di jamannya itu. Sekarang ada si kakek baju kuning, yang penasaran dan menganggap kepandaiannya lebih tinggi dari Oey Yok Su. Waktu mereka bertemu, Oey Yok Su tidak menyangka bahwa kakek tersebut memiliki kepandaian yang tinggi, maka dia tidak memandang sebelah mata. Namun setelah mereka bertempur, ternyata kakek tua berbaju kuning itu memang memiliki kepandaian yang sangat tinggi. Dan hal ini benar-benar mengherankan sekali hati Oey Yok Su. Mengapa dulu-dulu tidak pernah kakek tua berbaju kuning ini muncul. Dan sekarang mereka tengah bertempur dengan seru sekali, buat menentukan siapakah di antara mereka yang memiliki kepandaian lebih tinggi. Dan Oey Yok Su melihat, lagak dan tabiat dari kakek baju kuning itu memang agak mirip dengan Ciu Pek Thong. Hanya saja bedanya, jika Ciu Pek Thong memang telah resmi memiliki kepandaian yang berada di sebelah bawah Oey Yok Su. Sedangkan kakek baju kuning ini belum lagi dapat dipastikan apakah dia yang lebih rendah dari Oey Yok Su atau memang sebaliknya. Karena itu Oey Yok Su telah mengerahkan seluruh kepandaiannya, namun sejauh itu dia masih belum bisa merubuhkan kakek tua baju kuning itu. Sedangkan kepandaian kakek baju kuning itu pun mengejutkannya, beberapa kali hampir saja Oey Yok Su kena didesaknya. Hanya saja memang dasarnya Oey Yok Su memiliki kepandaian tinggi, dia bisa mengimbanginya. Terlebih lagi setelah Oey Yok Su mempergunakan ilmu silat campur aduknya, yang sebagian telah dicernakan dari inti sari Kiuim-cin-keng. Dan juga telah dikombinasikannya dengan langkahlangkah Pat-kwanya. Dengan demikian membuat kakek baju kuning itu jadi gelagapan juga. Kakek tua baju kuning itu berusaha untuk dapat mengatasi keadaan dengan merobah cara bersilatnya. Usahanya itu beberapa kali telah di lakukannya, namun selalu gagal. Oey Yok Su dapat membuat dia bingung, karena setiap serangan yang dilakukan Oey Yok Su di luar dugaan. Juga kakek baju kuning itu akhirnya tidak bisa mendekati tempat di mana Oey Yok Su berada. Hal ini disebabkan memang Oey Yok Su telah melangkah menurut peraturan Pat-kwa. Seperti di dalam Sin-tiauw-hiap-lu, telah dijelaskan juga, jurusjurus langkah Pat-kwa ini telah dipergunakan Oey Yong untuk menyelamatkan Kwee Siang. Dan sekarang, sama halnya. Dengan Oey Yok Su mempergunakan langkah Pat-kwa seperti itu, membuat kakek baju kuning itu tidak dapat untuk mendekatinya. Setiap kali kakek tua baju kuning itu menyerangnya, maka dia menghantam tempat kosong. Sedangkan Oey Yok Su leluasa untuk mendesaknya, sehingga lama kelamaan membuat kakek itu penasaran dan murka sekali.

"Kau main curang…… kau hina sekali, kau main curang tidak berani menghadapiku secara berterang!"

Teriak kakek baju kuning itu berulang kali dengan suara yang mengandung kemarahan.

Tapi Oey Yok Su tidak melayani teriakan-teriakan kakek tua itu.

Dia meneruskan serangannya dengan caranya seperti itu.

Dan selalu pula, dia memang berhasil membuat kakek itu jadi kebingungan karena si kakek selalu gagal dengan serangannya, sedangkan dirinya selalu di serang dari arah yang sukar diterka.

Waktu itu perrempuran antara Kam Lian Cu dengan kera bulu kuning itu terus berlangsung.

Beberapa kali baju si gadis kena dijambret oleh kera bulu kuning.

Muka Kam Lian Cu merah padam karena murka.

Dia penasaran sekali, karena dia merasa tidak yakin bahwa dirinya akan dapat dirobohkan oleh seekor kera seperti itu.

Dia mengempos semangatnya, dan tidak perduli lagi akan perasaan jijiknya, dengan demikian dia telah menangkis setiap serangan tangan kera bulu kuning itu.

Setiap kali menangkis, si gadis mempergunakan tenaga lweekang yang kuat, membuat kera itu jadi kesakitan setiap kali tangannya terbentur dengan tangan Kam Lian Cu.

Dengan mempergunakan cara seperti inilah Kam Lian Cu akhirnya baru bisa menguasai keadaan.

Kam Lim Cu melihat pedangnya menggeletak cukup jauh darinya di atas tanah.

Dia berusaha untuk mendekati pedang itu.

Karena jika dia berhasil mengambil pedang itu dengan bersenjatakan pedang menghadapi kera tersebut tentunya dia tidak akan menghadapi kesulitan.

Tapi yang sulit sekarang adalah kera itu seperti dapat membaca isi hati si gadis.

Dia selalu mendesak si gadis agar tidak dapat mendekati tempat menggeletaknya pedang tersebut.

Begitulah mereka bertempur terus, sampai akhirnya Kam Lian Cu berhasil juga menggeser tubuhnya berada di dekat pedang itu.

Dengan mempergunakan gin-kangnya, waktu si kera bulu kuning tengah menghindarkan diri dari serangan tangan kanannya, Kam Lian Cu telah menjejakkan ke dua kakinya, tubuhnya melesat ke tengah udara, dan dia menyambar pedangnya.

Berhasil!

Pedangnya itu telah dicekalnya kuat dan berdiri tegak menantikan terjangan si kera bulu kuning.

Kera bulu kuning ketika melihat Kam Lian Cu berhasil mengambil pedangnya, jadi berdiri tertegun.

Tampaknya kera ini ngeri dan jeri buat menerjang terus, karena memang di waktu itu ia segera juga terbayang kembali, betapa lengannya pernah tertikam oleh pedang si gadis.

Dia mengeluarkan suara erangan yang aneh, sedangkan Kam Lian Cu melihat kera itu seperti ketakutan dan bimbang buat menerjang kepadanya.

Dia mengeluarkan suara tertawa dingin disertai tubuhnya melesat sangat cepat sekali, dengan pedangnya ditikamkan kepada dada kera bulu kuning tersebut.

Kera itu mengeluarka pekik seperti ketakutan, dia telah memutar tubuhnya dan berlari.

Kam Lian Cu mengejarnya.

Begitulah, antara kera dengan manusia telah saling kejar mengejar.

Kakek tua baju kuning ketika melihat Kam Lian Cu mengejar keranya dengan menggenggam pedangnya, jadi terkejut.

Dia kuatir kalau sampai keranya itu kena dilukai si gadis.

Sedangkan dia sendiri tengah dilibat oleh Oey Yok Su, dengan demikian dia tidak berhasil untuk membagi perhatiannya guna menolongi keranya.

Karena mengetahui jika dibiarkan terus keranya akan memperoleh bahaya yang tidak kecil, si kakek tua telah bersiul.

Nyaring suara siulannya, dan kera itu seperti mengerti maksud siulan itu.

Dengan segera kera itu berlari menghampiri kakek tua tersebut.

Oey Yok Su melihat kera itu menghampiri, segera menghantam dengan tangan kanannya Kera itu berkelit.

Kakek tua tersebut juga menghantam lagi kepada Oey Yok Su, guna mencegah Oey Yok Su menyerang keranya itu.

Di waktu itu Kam Lian Cu telah mengejar semakin dekat.

Pedangnya siap buat ditikamkan kepada kera itu.

Kera tersebut mengeluarkan suara yang aneh, kemudian berlari menjauhi lagi.

"Hentikan dulu! Hentikan dulu!"

Teriak si kakek baju kuning itu.

"Aku ingin mengurus dulu urusanku!"

"Cisssss. tidak tahu aturan!"

Bentak Oey Yok Su mendongkol.

"Kita bertempur sampai ada penentuan siapa di antara kita yang lebih tinggi kepandaiannya!"

"Aku menyerah!"

Teriak kakek tua itu tiba-tiba sekali.

"Aku menyerah! Engkaulah yang memiliki kepandaian lebih tinggi dariku!"

Rupanya kakek tua itu menyerah, karena dia sangat menguatirkan sekali keranya, dan dia tidak mau kalau sampai keranya itu nanti mengalami sesuatu yang tidak diinginkan.

Karena itu dia lebih rela untuk menyerah saja, Oey Yok Su tidak melibat terus padanya.

Puas Oey Yok Su mendengar pengakuan si kakek.

Dia juga tidak mendesak lebih jauh.

"Jadi kau mengakui bahwa kepandaian kau berada di bawah kepandaianku?!"

Tanya Oey Yok Su dingin. Kakek tua itu menghela napas dalam-dalam.

"Ya..... kau memang lebih lihay dariku!"

Kata si kakek tua tersebut.

Dan dia sudah tidak memperdulikan Oey Yok Su lagi, dia melompat mengejar Kam Lian Cu.

Bukan kepalang kagetnya Kam Lian Cu melihat si kakek tua menyudahi pertempurannya dengan Oey Yok Su.

Kalau sampai dia menyerang dirinya, tentu saja Kam Lian Cu tidak akan dapat menghadapinya.

Sedangkan kakek tua itu memang bergerak cepat sekali.

Dia tahutahu telah berada di samping Kam Lian Cu.

Belum lagi Kam Lian Cu sempat menyerangnya, kakek tua itu telah mengulurkan tangannya.

Sebat bukan main, dan Kam Lian Cu sendiri tidak mengetahui entah dengan cara apa, tahu-tahu pedangnya telah kena dirampas oleh kakek itu.

"Ohhh, mantuku, mengapa engkau hendak mencelakai Go-jie?

Apakah dia kurang ajar?"

Tanya si kakek, seperti juga bertanya kepada seorang yang dikasihinya. Kam Lian Cu kalap bercampur takut.

"Kembalikan pedangku!"

Katanya dengan nekad dan hendak menerjang kepada si kakek.

Tapi kakek tua tersebut telah melemparkan pedang itu, yang meluncur jauh sekali, menancap di sebatang pohon.

Dikala itu terlihat betapa Kam Lian Cu menjejakkan kakinya, tubuhnya segera juga melompat akan mengambil pedangnya.

Tapi kakek tua itu segera menghalanginya "Jangan kau memaksa aku menotokmu sehingga engkau tidak bisa bergerak seperti tadi!"

Katanya.

Kam Lian Cu tertegun.

Dia mengawasi kakek tersebut dengan sorot mata jeri.

Ancaman kakek tua itu memang benar, jika kakek tua itu menotoknya, tentunya Kam Lian Cu tidak mungkin bisa menghindarkan diri dan akan membuat dia rubuh kembali.

Karenanya, Kam Lian Cu akhirnya hanya berdiam diri saja, dia cuma mengawasi kakek tua itu.

Waktu itu si kakek tua tersebut telah berkata lagi.

"Kau baik-baik harus mendengar kata-kataku!"

Kam Lian Cu tidak menyahuti.

Di waktu itu kera bulu kuning melihat si kakek telah berhasil menghadapi Kam Lian Cu segera berlari mendatangi dengan mengeluarkan suara pekik yang aneh.

Sedangkan Kam Lian Cu menoleh kepada Oey Yok Su, karena dia mengharapkan Oey Yok Su yang akan menolongnya.

Tapi pada waktu itu Oey Yok Su yang telah merasa puas karena mendengar kakek tua tersebut telah manyatakan dia yang memiliki kepandaian lebih tinggi, dengan bersenandung perlahan, telah melangkah untuk meninggalkan tempat itu.

"Awan gunung terus hitam hijau, sepanjang bergulung, air dunia salju turun, sungai mengalir..... masih berputar.....!" Senandung Oey Yok Su dengan suara perlahan, dan dia semakin menjauh, suara senandungnya semakin samar. Sedangkan Kam Lian Cu jadi tambah gugup. Walaupun bagaimana dia sesungguhnya hanya menumpahkan harapan pada Oey Yok Su. Dan sekarang melihat Oey Yok Su telah pergi, maka habislah harapannya. Kakek tua itu tertawa.

"Kau tampaknya gugup dan ketakutan!"

Katanya dingin sekali.

"Sebetulnya tidak perlu engkau gugup dan ketakutan seperti itu karena aku tidak akan menyiksa dirimu. Aku tidak memusuhi dirimu, malah aku ingin mengambil engkau sebagai mantuku......!"

Mendengar perkataan kakek tua tersebut, Kam Lian Cu berpikir cepat.

Jika memang dia mengadakan perlawanan dan membangkang, berarti dia hanya mencari susah buat dirinya sendiri.

Maka dari itu dia berpikir untuk pura-pura menurut saja terhadap perintah kakek tua itu.

"Baiklah, apa yang kau inginkan?"

Tanya Kam Lian Cu kemudian sambil menatap kepada kakek tua itu.

"Aku ingin mengambil engkau menjadi mantuku!"

Kata kakek tua tersebut.

"Mana anakmu?"

Tanya Kam Lian Cu.

"Tanpa engkau memperkenalkan anakmu kepadaku, bagaimana mungkin aku bisa memastikan bahwa aku bersedia menjadi mantumu atau memang menolaknya permintaanmu itu!?"

Dingin suara Kam Lian Cu. Kakek tua itu tertawa.

"Kau pasti menerima keinginanku itu karena anakku itu selain memiliki kepandaian yang sangat tinggi, dialah satu-satunya calon ahli waris dari seluruh kepandaianku ini!"

Kata kakek tua itu dengan gembira. Tapi Kam Lian Cu menggeleng.

"Tidak, sebelum aku diperkenalkan dengan anakmu, maka aku tidak bisa memberikan keputusan!"

Katanya.

"Kalian sudah bertemu!"

Kata kakek tua itu "Aku sudah bertemu dengan anakmu?!"

Tanya Kam Lian Cu sambil mementang matanya lebar-lebar. Kakek tua itu mengangguk.

"Ya..... kalian memang telah bertemu! Tapi sekarang ini lebih bagus aku tidak memperkenalkan dulu, karena engkau tentu akan banyak tingkah! Nanti saja, jika sudah tiba waktunya, aku akan memberitahukan!"

"Mana ada aturan seperti itu?"

Kata Kam Lian Cu.

"Ini adalah aturanku!"

Menyahuti kakek tua itu. Muka Kam Lian Cu berobah merah padam.

"Aku tidak mau!"

Tibatiba dia menggeleng dan berkata dengan tegas.

"Tidak mau? Tidak mau apa?!"

Tanya kakek.

"Aku tidak mau menjadi mantumu!"

Kata Kam Lian Cu.

"Karena tampaknya engkau seorang yang aneh sekali!"

"Hemmm, jika memang demikian baiklah. Aku akan merobek tubuhmu, aku akan membunuhmu dengan menyiksanya hebat terlebih dulu, agar engkaupun tidak bisa menjadi isteri orang lain! Dengan menolak anakku sebagai suamimu, maka sama saja engkau telah menghina aku!"

Menggidik tubuh Kam l.ian Cu mendengar ancaman kakek tua ini, yang tampaknya agak sinting.

"Mengapa diam?!"

Bentak kakek tua itu dengan suara yang masih bengis. Kam Lian Cu menghela napas.

"Locianpwe.....!"

"Jangan kau memanggilku dengan sebutan locianpwe..... kau harus memanggilku dengan sebutan ayah, karena aku adalah mertuamu!"

Kata si kakek. Bukan main mendongkolnya si gadis.

"Aku ingin melihat anakmu. Tidak bisa pernikahan diadakan dengan cara paksa seperti ini!"

Kata Kam Lian Cu kemudian.

"Hem, tidak ada pilihan, mau atau tidak, engkau harus mau menjadi isteri anakku!"

"Tapi.......!" "Mengapa harus pakai tetapi……!?"

Tanya kakek tua itu.

"Aku sudah menyukai kau dan bersedia mengambil kau menjadi mantuku, itu….., itu saja sudah merupakan peruntungan yang sangat bagus buat kau! "

Hemmmm, walaupun ada gadis yang bersedia menjadi isteri anakku dan berlutut menangis memohon-mohon, belum tentu dia akan kuambil sebagai mantuku!

Engkau memiliki rejeki demikian bagus, ternyata benar-benar tidak perduli.....!"

Kam Lian Cu hanya terdiam.

Sedangkan kera bulu kuning itu mengeluarkan suara pekik yang aneh.

Matanya memancarkan sinar yang sangat tajam, menunjukkan bahwa dia tengah bernapsu birahi kepada si gadis.

Kam Lian Cu tampak sebal sekali melihat monyet itu, dia mendengus beberapa kali dan membuang pandangannya.

Sedangkan pada saat itu tampak si kakek tua itu telah berkata.

"Sekarang juga engkau harus turut bersamaku..... dan nanti akan menikah dengan anakku!"

Kam Lian Cu menggeleng. "Tidak, aku tidak mau ikut sekarang denganmu!"

Katanya kemudian terpaksa.

"Ihhhh, kau masih pura-pura menolak?"

Tanya Si kakek, mukanya jadi bengis Kam Lian Cu menghela napas.

Bukan main bingung hati si gadis.

Menghadapi kakek tua ini dia benar-benar tidak berdaya.

Jika memang dia bersikeras, berarti dia akan menghadapi bahaya tidak kecil juga, bukankah kepandaian kakek tua itu memang sangat tinggi sekali dan bukan menjadi tandingannya.

Karena itu dalam waktu yang hanya beberapa detik itu, dia telah memutar otak.

"Aku bersedia menjadi mantumu, tapi harus ada syaratnya!"

Kata Kam Lian Cu Sepasang alis si kakek berdiri.

"Engkau sudah diberi rejeki bagus untuk menjadi isteri anakku, masih bertingkah seperti ini harus mengajukan syarat?"

Kata si kakek sengit. "Jika memang kau tidak mau memenuhi syaratku ini, lebih baik aku mati dan tidak sudi menjadi isteri anakmu!"

"Baiklah!"

Kata kakek tua itu setelah bimbang sejenak.

"Aku menerima syaratmu. Katakanlah, syarat apakah itu?!"

Kam Lian Cu bimbang, tapi akhirnya dia menunjuk Ko Tie yang rebah di tanah tidak berdaya dalam keadaan terluka parah.

"Kau harus menyembuhkannya dulu. Setelah dia sembuh, aku akan ikut bersama kau pergi menemui anakmu!"

Kata Kam Lian Cu. Kakek tua itu tampak jadi bimbang lagi, untuk sejenak dia berdiam diri.

"Bagaimana, apakah kau menerima syaratku itu?!"

Tanya Kam Lian Cu dengan menatap tajam kepada kakek tua tersebut, sedangkan hatinya berdebar keras sekali.

Dia kuatir kalau kakek tua itu menolaknya, berarti dia pun tidak akan berdaya jika dipaksa oleh kakek tua itu untuk ikut dengannya.

Sedangkan kakek tua tersebut tidak menyahutinya.

"Bagaimana?!"

Tanya si gadis menegasi. Kakek tua tersebut berkata ragu-ragu.

"Untuk menyembuhkan pemuda itu........!"

Dia tidak meneruskan perkataannya lagi.

"Kenapa?!"

Tanya Kam Lian Cu.

"Apakah ada sesuatu yang luar biasa?!"

Tanya Kam Lian Cu.

"Bukan..... bukan begitu.....!"

"Atau memang kepandaianmu kurang tinggi, sehingga engkau tidak bisa mengobatinya?"

"Hemmmmmm, enak saja kau bicara!"

Bentak kakek tua tersebut.

"Kau berani memandang rendah kepandaianku?!"

"Bukan begitu! Oey Yok Su sanggup mengobati pemuda itu, tapi karena engkau muncul dan mengganggunya, dia tidak jadi mengobatinya. Tapi kau tampaknya memang tidak sanggup buat mengobati pemuda itu! "

Dengan demikian jelas kepandaianmu memang kurang tinggi untuk dapat mengobati pemuda itu. Bukankah dengan berkata begitu aku tidak bersalah!?"

Muka kakek itu berobah. "Aku tidak akan kalah dengan Oey Yok Su!"

Katanya dengan temberang.

"Jika tadi aku mengakui bahwa dia memiliki kepandaian yang lebih tinggi dariku, karena aku kuatir kalau-kalau engkau melukai Go-jie! Hemmm, engkau ternyata pandai membakar-bakar! "

Kuberitahukan, bahwa pemuda itu terluka parah sekali. Di dalam tubuhnya telah terjadi pergolakan Im dan Yang, dua macam hawa murni yang bergolak dan bercampur menjadi satu.

"Dengan keadaannya seperti itu, jelas agak sulit buat menyembuhkannya….. Tentu akan memakan waktu yang lama sekali! "

Sedikitnya aku harus mengerahkan lwekangku mengobatinya selama satu minggu! Dengan demikian hari pernikahan puteraku dengan kau akan tertunda juga cukup lama!"

Setelah berkata begitu, tampak kakek tua tersebut memandang tertegun kepada Ko Tie.

Sedangkan Ko Tie rebah dalam keadaan tidak berdaya.

Sesungguhnya, dia mendongkol sekali melihat kakek tua itu hendak memaksa Kam Lian Cu buat menikah dengan anaknya.

Tapi Ko Tie memang dalam keadaan tidak berdaya, maka dia diam saja, sambil memejamkan matanya.

Karena memang dia tidak memiliki kesanggupan buat menghadapi kakek itu, sedangkan buat menggerakkan tubuh dan tangannya saja dia tidak sanggup.

Kam Lian Cu telah mengawasi kakek itu, dia bilang.

"Jika memang engkau tidak mau mengobati pemuda itu, biarlah aku akan bunuh diri saja. Aku tidak sudi menjadi isteri puteramu!"

"Ohhhh, jangan! Jangan nekad seperti itu!"

Kata si kakek yang jadi gugup sekali.

"Kau sanggup mengobatinya?"

Bertanya Kam Lian Cu, mendesaknya. Kakek itu mengangguk.

"Ya, ya, aku sanggup. Tapi kau tidak boleh memungkiri janjimu. Jika memang aku berhasil mengobati pemuda itu, maka engkau tidak boleh menolak lagi untuk menjadi isteri puteraku, menjadi mantuku! Kau mengerti?"

Kam Lian Cu mengangguk.

"Ya, aku mengerti!" "Nah jika demikian aku akan mengobati pemuda itu!"

Kata kakek tua itu.

Dia segera menghampiri Ko Tie.

Waktu itu Ko Tie memejamkan matanya saja.

Sebetulnya dia tidak mengharapkan dirinya diobati oleh kakek tua itu.

Jika dia harus mati, diapun tidak menyesal.

Hanya saja, justeru sekarang, dia jadi mengharapkan bisa sembuh.

Karena jika dia sembuh, berarti dia yang bisa menolongi Kam Lian Cu dari tangan kakek tua itu, agar mencegah si gadis dikawinkan dengan putera si kakek.

Karena itu, Ko Tie berdiam diri saja, dia membiarkan ketika kakek tua tersebut telah memegang tangannya.

Telapak tangan Ko Tie diletakkan pada telapak tangan si kakek tua, kemudian kakek tua itu mengerahkan sin-kangnya.

Tenaga dalam kakek tua meluncur keluar dari telapak tangannya, mengalir masuk ke dalam telapak tangan Ko Tie.

Dikala itu Ko Tie merasakan segulungan hawa yang hangat memasuki telapak tangannya.

Mendadak sekali Ko Tie merasakan kepalanya pusing, dadanya seperti mau meledak, karena hawa panas yang memasuki telapak tangan itu seperti juga mengaduk-aduk dada dan perutnya, yang seperti juga jungkir balik.

Dengan mengeluarkan suara jeritan yang nyaring, tampak Ko Tie tidak sadarkan diri.

Pingsan.

Kam Lian Cu kaget tidak terkira, dia segera menghampiri menjerit pada si kakek.

"Kau….. kau..... kau telah mencelakainya!"

Teriaknya Kakek tua itu menggelengkan kepalanya.

"Tenang, dia tidak akan mengalami sesuatu apapun juga......!"

Kata kakek tua itu.

"Dia hanya tidak kuat menerima tekanan hawa murni dariku!"

Kam Lian Cu mengangguk.

"Kalau begitu..... kalau begitu dia akan dapat disembuhkan?!"

Tanyanya.

"Ya.....!"

Mengangguk kakek tua itu.

Segera juga kakek itu telah mengerahkan tenaga dalamnya lagi, mengempos hawa murninya.

Ko Tie dalam keadaan pingsan tidak sadarkan diri, tapi hawa murni yang dikirim oleh kakek tua itu telah menorobos masuk ke dalam tubuhnya lewat telapak tangannya.

Malah hawa murni itu telah menerjang beberapa jalan darah di dalam tubuh Ko Tie, yang semula telah tersumbat.

Dengan terbukanya beberapa jalan darah yang tadi tersumbat itu, Ko Tie segera tersadar dari pingsannya.

Tapi begitu dia membuka matanya, dia menjerit lagi, dan jatuh pingsan pula.

Hal ini disebabkan begitu Ko Tie membuka matanya, segera dia merasakan kesakitan yang hebat pada dada perutnya, seperti juga di dalam perutnya itu terdapat sesuatu yang telah membuat isi perutnya diremas-remas.

Sedangkan Kam Lian Cu tambah bimbang dan kuatir.

"Apakah..... apakah dia tidak akan celaka oleh perbuatanmu ini?!"

Tanya si gadis.

Kam Lian Cu bertanya begitu, karena dia kuatir, kalau-kalau memang nanti Ko Tie jadi terbiasa karena cara pengobatan si kakek yang tidak benar.

Sedangkan Kakek itu telah menggelengkan kepalanya tanpa menyahuti, dia mengerahkan terus tenaga dalamnya.

Lewat lagi setengah jam, segera juga tampak dari sekujur tubuh Ko Tie menitik butir-butir keringat yang deras sekali.

Dan tidak lama lagi, Ko Tie telah tersadar dari pingsannya, dia telah mengeluarkan suara seruan.

Tapi sekarang dia tidak menderita kesakitan yang hebat seperti tadi.

Dia juga tidak menderita kesakitan yang membuatnya pingsan.

Dia hanya merasakan sekujur tubuhnya lemas, dan panas bukan main, karena hawa sin-kang yang dikirim oleh si kakek tua.

Kakek tua itu pun memperlihatkan sikap gembira, wajahnya berseri-seri, karena dia mengetahui usahanya itu telah berhasil.

"Jika dia telah berhasil diselamatkan, selanjutnya cuma memberikan pertolongan agar lweekang yang telah dimilikinya itu tidak lenyap dan punah! Kam Lian Cu mengangguk, diam-diam dia girang juga melihat Ko Tie dapat diobati oleh kakek tua itu. Ko Tie sendiri merasakan semakin lama hawa panas di dalam tubuhnya semakin meningkat, dan akhirnya dia merasakan sesuatu di lehernya.

"Uwahhh!"

Dia telah memuntahkan gumpalan darah yang telah menghitam.

"Selamat!"

Berseru kakek tua itu, setelah si pemuda memuntahkan gumpalan darah itu.

Dan kakek itu menyudahi pengiriman sin-kangnya.

Kam Lian Cu mecoleh kepada Ko Tie, katanya dengan suara raguragu berkuatir sekali.

"Apakah keadaanmu, jauh lebih baik?!"

Ko Tie mengangguk lemah.

"Ya…… tapi aku merasakan sekujur tubuhku sangat lemas sekali......!" Kam Lian Cu memaksakan diri buat tersenyum untuk menghibur si pemuda.

"Dalam seminggu keadaanmu akan pulih sebagaimana biasa……!"

Katanya. Waktu itu si kakek telah berkata kepada Kam Lian Cu.

"Dan sekarang kau! Kau harus ikut aku dulu ke tempatku…… nanti aku akan melanjutkan pula mengobati pemuda itu. Kam Lian Cu gugup bukan main.

"Tidak! Aku tidak mau!"

Katanya sambil menggelengkan kepalanya beberapa kali.

"Tidak mau? Bukankah tadi engkau telah berjanji, jika aku mengobati pemuda itu, maka kau bersedia menjadi isteri puteraku?!"

Tanya si kakek, matanya memandang bengis sekali. Kam Lian Cu jadi tambah bimbang, dia menyahutinya.

"Kau sendiri yang berjanji bahwa engkau akan mengobati pemuda itu sampai sembuh...... Sekarang dia belum sembuh, bagaimana mungkin kita bisa meninggalkannya? "

Kalau memang kita meninggalkannya, niscaya dia akan mengalami sesuatu yang tidak diinginkan di tempat ini, kalau memang kita meninggalkannya seorang diri.

Jika ada bahaya yang mengancamnya tentu dia tidak bisa menghadapinya, karena dalam keadaan terluka parah seperti itu……!"

"Jadi……!"

Bola mata kakek tua itu terbuka lebar-lebar.

"Ya, aku menginginkan kau mengobati pemuda ini sampai benarbenar sembuh, barulah itu akan ikut bersama kau untuk pergi ke tempatmu buat menikah dengan puteramu!"

Muka kakek tua itu berobah, tapi dia tampak jadi ragu-ragu. Akhirnya dia mengangguk.

"Baiklah mari kita obati dia sampai sembuh, tapi setelah itu engkau tidak boleh mengajukan alasan-alasan lainnya lagi!"

Katanya.

Kim Lian Cu cuma mengangguk.

Begitulah, kakek tua tersebut, yang aneh dan tampaknya agak sinting, berusaha mengobati Ko Tie.

Selama itu Kam Lian Cu selalu gelisah, karena dia tidak mengetahui bagaimana nasibnya selanjutnya.

Tapi yang nembuat dia terhibur, dia melihat kian lama kesehatan Ko Tie memang mengalami kemajuan.

Ko Tie telah mulai sehat menjelang pada hari ke tiga.

◄Y► Selama kakek tua yang aneh itu mengobati Ko Tie, selalu pula Kam Lian Cu diganggu oleh kera berbulu kuning itu, yang berusaha mendekati si gadis dengan mengeluarkan suara yang aneh sekali seperti suara mendesis, seperti suara mengerang.

Kam Lian Cu setiap kali didekati oleh kera bulu kuning yang setinggi manusia itu, selalu jadi jijik.

Jika memang dia tidak memikirkan keselamatan Ko Tie dan takut kalau kakek tua itu jadi marah, tentu Kam Lian Cu sudah menikam mati kera itu.

Terlebih lagi dia teringat betapa kera ini telah berusaha untuk memperkosanya.

Dan jika teringat akan hal itu, maka dia selalu bermaksud membunuh kera tersebut.

"Tapi jika aku membunuhnya kelak pun masih belum terlambat,"

Berpikir Kam Lian Cu akhirnya.

"Jika memang aku terpaksa akhirnya harus menjadi isteri putera kakek tua keparat ini, maka di waktu itu akan membunuh kera ini pun masih belum lagi terlambat!" Karena berpikir begitu, hati Kam Lian Cu jadi lebih tenang. Dan diapun telah berusaha untuk mengendalikan diri. Setiap kali didekati kera bulu kuning itu, dia selalu menyingkir tidak melakukan reaksi apa-apa, dia hanya mendekati si kakek tua. Dan kalau sampai tangan kera bulu kuning itu jail, memegangmegang tubuhnya, dia membentaknya minta kepada kakek tua itu agar mengusir kera itu dan tidak akan mengganggunya. Sedangkan kakek tua tersebut hanya tertawa-tawa dan menganggapnya lucu. Tapi selalu juga dia menuruti permintaan Kam Lian Cu, dia selalu mengusir kera itu. Kera itu pergi dengan penasaran, sikapnya memperlihatkan bahwa dia tidak puas. Hal ini disebabkan kera itu memang sangat ingin sekali dekat selalu dengan Kam Lian Cu. Dia pun memang begitu bernafsu berahi pada gadis ini, sikapnya seperti seorang pemuda yang tengah tergila-gila pada seorang gadis cantik. Pada hari ke enam, tampak Ko Tie jauh lebih sehat. Sekarang dia telah dapat menggerakkan sepasang tangan dan kakinya dengan leluasa. Bukan main girangnya Kam Lian Cu. Dia mengharap Ko Tie memang benar-benar dapat diselamatkannya. Ko Tie pada malam hari ke lima telah bersilat. Dia merasakan gerakannya cukup gesit. Hanya saja, justeru di waktu itu, dia bersilat dengan tenaga yang terus kosong, karena dia belum bisa menyalurkan kekuatan tenaga lweekangnya. Segera dia mengetahui, bahwa tenaga lweekangnya terancam akan musnah. Tapi kakek tua itu yang melihat si pemuda termenung, dia bilang.

"Kau jangan kuatir, setelah seminggu kekuatanmu akan pulih kembali sebagaimana biasa! Tapi ingat jangan sekali-sekali kau berusaha untuk menjadi lawanku dan memusuhiku, sehingga aku terpaksa turun tangan buat memusnahkan lagi kepandaianmu itu!"

Waktu berkata begitu, sikap kakek tua itu sungguh-sungguh, matanya juga memancarkan sinar yang tajam sekali.

"Ada lagi syaratnya!"

Kata kakek tua tersebut.

"Jika memang telah sembuh dari lukamu, pada hari ke delapan, di mana lweekangmu telah pulih kembali, maka harus meninggalkan tempat ini! Aku tidak mau melihat tampangmu lebih lama lagi!"

Ko Tie tidak menyahuti, dia hanya mengangguk saja.

Dan dia berusaha untuk menyalurkan pernapasannya, dia mengempos sinkangnya.

Tetap saja hawa murninya itu tidak dapat dikendalikannya.

Karena itu, dia hanya dapat menghela napas, dia kuatir kalau-kalau kakek tua itu gagal dengan janjinya, bahwa dia akan pulih dengan sin-kang yang utuh.

Namun pada hari ketujuhnya, justeru setelah seminggu ia diobati oleh kakek tua tersebut, dia merasakan sin-kangnya mulai dapat dikendalikan.

Pernapasannya telah dapat disalurkan dengan lancar, sin-kangnya juga sudah dapat dikerahkan kepada Tan-tian.

Dengan dapatnya hawa murni itu dikerahkan kepada Tan-tiannya, berarti Ko Tie telah sembuh seluruhnya.

Sekarang yang tinggal cumalah beristirahat selama beberapa hari lagi, untuk memulihkan kesehatannya benar-benar, dan sembuhlah Ko Tie.

Tapi justeru di waktu itu, pada sore harinya, kakek tua itu telah berkata.

"Sekarang kau telah sembuh, karena itu, kuingatkan kepadamu, mulai besok aku sudah tidak mau melihat tampangmu lagi! Kau sudah harus angkat kaki meninggalkan tempat ini!"

Ko Tie mengangguk.

"Baik, aku memang akan melanjutkan perjalananku! Terima kasih atas pertolongan yang diberikan oleh kau, Locianpwe!"

"Aku tidak mengharapkan terima kasihmu, aku cuma mengharapkan setelah kau sembuh seperti sekarang, engkau tidak menimbulkan kesulitan buatku!"

Muka Ko Tie berobah merah.

Di dalam hatinya dia memang tengah memikirkan, Setelah sinkangnya kumpul, dan ia sembuh, maka dia akan menghadapi kakek tua itu untuk mencegah kakek itu memaksa Kam Lian Cu menjadi mantunya.

Maka dia telah berusaha untuk mempercepat mengerahkan sin-kangnya.

Dan Ko Tie berpikir, setelah lewat satu hari lagi, di waktu itu tentunya dia telah leluasa untuk mengerahkan sin-kangnya, sehingga dia dengan leluasa akan dapat mempergunakan kepandaiannya, buat menghadapi kakek tua itu.

Justeru di saat itu si kakek tua telah berkata dengan suara yang mengandung nada mengejek dan juga seperti telah mengetahui isi hatinya, membuat Ko Tie jadi jengah juga.

Sebagai seorang yang selalu tegak pada aliran putih.....

yaitu jalan pek-to, maka dia tentu saja menghormati kebaikan dan membenci kejahatan.

Sekarang dia telah diselamatkan jiwanya oleh kakek tua itu, karenanya dia sangat berterima kasih sekali pada kakek tua tersebut.

Dan jika memang dia bermaksud hendak menolongi Kam Lian Cu, maka dia harus menentang kakek tua itu, berarti dia melakukan kebaikan dibalas dengan kejahatan.

Inilah yang membuat hati Ko Tie jadi bimbang dan tidak bisa segera mengambil keputusan.

Kam Lian Cu pun girang melihat Ko Tie telah sembuh.

Waktu si kakek tua dan kera bulu kuning berada di tempat yang terpisah cukup jauh, maka si gadis telah berkata.

"Malam ini kita akan berusaha melarikan diri dari mereka!"

Ko Tie mengangguk ragu-ragu. Waktu itu, tampak kakek tua tersebut telah melangkah menghampiri, dia bilang kepada Kam Lian Cu.

"Mari sekarang kita melakukan perjalanan, untuk dapat tiba di tempatku lebih cepat lagi! Kukira kawanmu itu telah sembuh, dan besok dia bisa melakukan perjalanan meninggalkan tempat ini, kau sudah tidak perlu menguatirkan keadaannya!!"

Hati Kam Lian Cu tercekat.

"Tidak!"

Katanya.

"Aku ingin menantikan sampai kawanku ini pergi dulu dari tempat ini, sehingga membuktikan bahwa dia benarbenar telah sembuh.......!"

"Hemmm!"

Mendengus kakek tua itu.

"Kau terlalu mencari-cari alasan saja......!"

"Tapi aku telah berjanji padamu, bahwa aku akan menuruti keinginanmu, asalkan kawanku jadi benar-benar dapat disembuhkannya! Sekarang dia telah sembuh, tapi dia belum lagi sembuh keseluruhannya. Dan jika dia telah bisa meninggalkan tempat ini, berarti dia benar-benar telah sembuh!" Kakek tua itu itu tidak mau membantah dan berdebat dengan si gadis. Ia mengangguk dan mengajak si kera bulu kuning buat tidur di atas sebatang pohon, nyenyak sekali tampaknya tidur mereka.

"Hemmm, tampaknya tak mudah kita melarikan diri dari mereka..... karena kakek tua itu walaupun dia tertidur, tokh dia memiliki ilmu tinggi dan pendengaran yang sangat tajam sekali! Karena itu, jika memang kita ingin melarikan diri, maka kita harus menantikan menjelang tengah malam.....!"

Bisik Ko Tie kepada Kam Lian Cu, dengan suara yang perlahan sekali.

Kam Lian Cu mengangguk.

Sedangkan Ko Tie untuk melihat apakah tenaga dalamnya telah pulih, ia mengambil sebongkah batu yang dikepalnya dalam cengkeraman tangan kanannya.

Iapun kemudian mengerahkan tenaga dalamnya.

Seketika terdengar suara yang perlahan sekali, ternyata batu dalam kepalannya itu telah menjadi remuk dan hancur menjadi bubuk, dengan demikian telah membuat Ko Tie girang bukan main, karena lweekangnya memang telah pulih sebagaimana biasa dan dia dapat mempergunakannya dengan sebaik mungkin.

Kam Lian Cu melirik.

"Aku telah berhasil!"

Bisik Ko Tie kemudian dengan suara yang perlahan. Kam Lian Cu juga girang.

"Jika demikian kita berdua tentu akan dapat menghadapi kakek keparat itu......!"

Kata Kam Lian Cu. Ko Tie mengangguk.

"Ya, kukira jika kita maju berdua, kakek tua itu masih dapat kita hadapi!"

"Tapi….?!"

Kam Lian Cu tampak ragu-ragu. Ko Tie jadi heran.

"Kenapa?!"

Tanyanya.

"Kakek tua itu memiliki kepandaian yang sangat tinggi sekali dan sukar juga kita menghadapinya, terlebih lagi mengingat kau baru saja sembuh dari lukamu! Kalau kau mengeluarkan tenaga berlebihan untuk menghadapinya, niscaya akan menyebabkan lukamu itu akan kambuh kembali……!" Ko Tie juga menyadari apa yang dikatakan oleh Kam Lian Cu memang benar. Jika kelak ia menghadapi kakek tua yang lihay itu, dan mempergunakan tenaga yang berlebihan, niscaya akan membuat dia akan terlalu memaksakan mempergunakan tenaganya itu. Dan ini akan merugikan dirinya, di samping itu kemungkinan dirinya akan kembali pula terluka di dalam. Melihat Ko Tie tidak menyahuti, hanya berdiam diri saja, Kam Lian Cu mengawasinya ia melibat pemuda jadi tampak muram, tentunya ada sesuatu yang menyusahkan hatinya.

"Kenapa?!"

Tanya si gadis perlahan.

"Benar juga apa yang kau katakan, nona Kam……!"

Kata Ko Tie.

"Memang dilihat demikian, sulit kita menghadapi kakek tua itu walaupun kita maju serentak berdua……!"

Kam Lian Cu menghela napas. Tiba-tiba terdengar suara tertawa dingin.

"Walaupun kalian melatih diri selama duapuluh tahun lagi, jangan harap kalian bisa menghadapi diriku!"

Terdengar suara kakek baju kuning itu.

Tercekat hati Ko Tie dan Kam Lian Cu.

Rupanya pembicaraan mereka, walaupun hanya bisik-bisik belaka, telah diketahui oleh kakek tua tersebut.

Maka Ko Tie dan Kam Lian Cu akhirnya hanya berdiam diri sambil saling pandang.

Memang tidak mudah buat mereka berdua menghadapi kakek tua tersebut.

Dan hal ini mereka menyadarinya.

Akan tetapi, juga Ko Tie tidak akan membiarkan Kam Lian Cu dibawa oleh kakek tua itu, yang katanya ingin mengawinkan gadis itu dengan puteranya.

Demikian juga halnya dengan Kam Lian Cu, tentu si gadis lebih baik mati dari pada dipaksakan seperti itu oleh si kakek tua, karena putera si kakek pun ia tidak mengetahui bagaimana rupa dan bentuknya.

Dengan melihat keadaan si kakek seperti itu, maka Kam Lian Cu telah bisa membayangkannya, bahwa putera dari kakek tersebut juga bukankah seorang yang tampan.

Di samping itu, yang dikuatirkan oleh Kam Lian Cu dan Ko Tie kalau-kalau putera si kakek itu yang sempat datang ke tempat ini, berarti mereka akan menghadapi kesulitan yang lebih besar, karena memang putera si kakek niscaya memiliki kepandaian yang tinggi sekali.

Sedang Ko Tie dan Kam Lian Cu bengong saling pandang tanpa berkata apa-apa lagi, karena pendengaran si kakek tua yang memang sangat tajam itu, maka ia pun rupanya telah memasang telinga bukannya tidur, membuat Kam Lian Cu dan Ko Tie sempit sekali memiliki kesempatan untuk dapat melarikan diri.

Di samping itu Kam Lian Cu pun menyadari, bahwa jika kakek tua itu bermaksud membawanya dengan cara paksa, tentu dia tidak akan berdaya mengadakan perlawanan.

Bisa saja kakek tua itu menotoknya dan membawanya pergi dalam keadaan dia tidak berdaya seperti itu.

Sedangkan Ko Tie walaupun berkepandaian tinggi, tetapi dia baru saja sembuh dari lukanya, jika sampai dia mengerahkan tenaga dalamnya terlalu berlebihan, niscaya akan membuat dia terancam bahaya yang tidak kecil.

Malah kepandaian kakek tua itu juga setinggi dan selihay Oey Yok Su.

Bagaimana mungkin Ko Tie bisa menghadapinya.

Karena itu, segera juga Kam Lian Cu menangis.

Tampaknya gadis ini memang sangat bingung sekali.

Ko Tie melihat si gadis menangis, segera menghiburnya, katanya.

"Kau jangan bersusah hati, walaupun bagaimana aku akan membelamu, nona Kam……!"

"Tapi..... tapi dia terlalu lihay.....!"

Menangis Kam Lian Cu.

Ko Tie menghela napas.

Ia menyadari apa yang dikatakan oleh Kam Lian Cu memang benar, yaitu kepandaian kakek tua itu sangat lihay, tapi iapun bersedia buat mengadu jiwa guna melindungi si gadis.

Dalam hal ini, Ko Tie juga tengah memperhitungkan, dengan cara apa dia bisa melawan dan menghadapi kakek tua itu.

Maka sekali lagi Ko Tie telah mengambil sebungkah batu, dia meremasnya, sehingga batu itu kembali remuk dan menjadi hancur seperti juga bubuk.

Di saat itulah tampak si kakek melompat turun dari atas pohon, katanya dingin.

keseluruhannya.

"Hemm, jika lwekangmu sampai kau belum lagi pulih mengeluarkan dan mempergunakan tenaga yang berlebihan, niscaya akan membuat kau terluka di dalam yang lebih parah lagi!" Muka Ko Tie berobah, sedangkan Kam Lian Cu memandang kuatir sekali. Yang di kuatirkan Kim Lian Cu dari Ko Tie, kakek tua itu merobah pikiran dan menyerang mereka. Tapi Ko Tie diam-diam telah memusatkan tenaga dalamnya, dia telah berwaspada dan bersiap sedia, karena walaupun ia menyadari kakek tua itu memiliki kepandaian tinggi, tokh buat belasan jurus dia masih bisa menghadapinya. Dia ingin berusaha, untuk dapat menghadapi kakek tua itu, di mana dia akan berusaha mengerahkan seluruh kepandaiannya dan juga tenaganya. Di waktu dia menghadapi kakek tua tersebut, dia akan berusaha membujuk si gadis agar melarikan diri. Jika memang Kam Lian Cu melarikan diri, tentunya kakek tua itu akan berusaha buat mengejarnya, dia akan meninggalkan Ko Tie. Tapi Ko Tie akan melibatnya terus, sehingga kakek tua itu tidak leluasa mengejarnya. Di saat-saat seperti itu, si gadis she Kam tentunya sudah melarikan diri jauh sekali. Ko Tie pun akan dapat melarikan diri dengan melepaskan si kakek mengejar Kam Lian Cu, sedangkan Kam Lian Cu niscaya akan dapat mengatur sedemikian rupa, agar dia tidak meninggalkan jejak buat si kakek. Karena berpikir begitu, Ko Tie diam-diam telah memusatkan tenaga dalamnya pada ke dua tangannya. Tapi kakek baju kuning itu sama sekali tidak menyerangnya, dia tertawa terkekeh dan kembali ke tempatnya, tubuhnya melesat dan rebah di cabang pohon dekat kera bulu kuning itu. Ko Tie menghela napas lega. Segera juga Ko Tie pun menceritakan kepada Kam Lian Cu tentang rencananya agar si gadis melarikan diri dengan segera begitu dia menghadang si kakek. Tapi Kam Lian Cu menggeleng. Dengan suara yang sangat perlahan karena kuatir kakek tua itu dapat mendengar percakapan mereka seperti tadi, Kam Lian Cu bilang.

"Tidak...... tidak mau aku mengorbankan dirimu demi keselamatanku…….!" Ko Tie tersenyum.

"Tapi kakek tua itu niscaya akan bertempur setengah hati denganku. Begitu dia melihat engkau melarikan diri, tentu dia tidak bisa mencurahkan seluruh perhatinnya kepada pertempuran itu, dia niscaya akan berusaha mengejarmu.

"Sedangkan engkau dapat melarikan diri jauh sekali, karena aku akan melibatnya terus, juga aku tidak akan terlalu berat menghadapi kakek tua itu, karena dia niscaya jadi panik dan akan segera tergesa-gesa berusaha mengejar dirimu.....!"

Mendengar keterangan yang diberikan Ko Tie, Kam Lian Cu diam termenung sejenak.

Namun akhirnya ia mengangguk mengerti, karena ia pun berpikir sama seperti Ko Tie "Ya…… baiklah!

Sebelumnya aku ucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepadamu.....!"

Kata si gadis dengan suara mengandung perasaan terima kasih sekali kepada si pemuda.

Mereka saling pandang, dan hati mereka saling berbisik lewat sinar mata mereka.

Karena walaupun mereka tidak mengucapkan sepatah perkataan pun juga, tokh kenyataaanya mereka itu telah mengetahui akan isi hati masing-masing lewat sinar mata mereka.

Ko Tie malah telah mengulurkan tangannya dia menggenggam tangan si gadis, menggenggamnya mesra dan lembut sekali, meremasnya perlahan-lahan.

Memang si gadis cantik sekali.

Ia malah lebih cantik dari Giok Hoa.

Ko Tie di waktu itu teringat kepada Giok Hoa, yang lincah dan juga adatnya menarik sekali.

Tapi Kam Lian Cu justeru memiliki sifat yang berbeda dengan Giok Hoa.

Jika Giok Hoa bagaikan bunga Botan, maka Kam Lian Cu bagaikan bunga Pek-lian, teratai yang lembut, halus dan juga mesra sekali, yang masing-masing memiliki perbedaan antara Giok Hoa dengan Kam Lian Cu, karena satu dengan yang lainnya memiliki kelebihan dan kekurangannya.

Waktu itu terdengar kakek baju kuning telah mendehem, rupanya ia mengetahui perasaan muda-mudi itu.

Muka Kam Lian Cu berobah jadi merah, dia segera menarik tangannya.

Ko Tie juga merasakan pipinya panas sekali karena malu.

Keadaan di tempat itu sunyi sekali.

"Lebih baik-baik kita berusaha sekarang, kau mencoba melarikan diri, dan aku yang akan menghadangnya……!"

Bisik Ko Tie perlahan.

"Jika kera bulu kuning itu mengejar dan merintangiku, bukankah aku tidak dapat melarikan diri lebih cepat dari apa yang direncanakan?!"

Tanya Kam Lian Cu.

Ko Tie diam.

Mereka jadi berpikir keras sekali.

Dalam keheningan di malam hari seperti itu, mendadak terdengar suara pekik yang aneh dari tengah-tengah angkasa.

Suara pekik itu nyaring sekali.

Ko Tie jadi girang bukan main.

Dia mengenali suara itu, tapi ia tidak yakin dengan dugaannya.

"Apakah benar dia?!"

Pikir Ko Tie di dalam hatinya.

"Tidak mungkin….. mungkin jupa hanya kebetulan saja suaranya yang sama.....!" Kembali terdengar suara pekik dan menggeleparnya sayap yang sangat kuat, menderu-deru. Kakek baju kuning itu melompat turun dari cabang pohon karena dia heran dan terkejut. Dia mengawasi ke atas, untuk melibat sesuatu yang besar dan tengah terbang melayang-layang di tengah udara. Ko Tie bersiul nyaring. Dia sengaja bersiul begitu untuk mencoba saja, apakah benar suara pekik itu berasal dari burung rajawali peliharaan Giok Hoa! Dia memang kenal dengan burung itu, suaranyapun dikenal baikbaik olehnya. Selama bersama-sama Giok Hoa dulu di puncak gunung, iapun selalu bermain dengan burung rajawali yang luar biasa itu. Cuma saja Ko Tie tidak yakin bahwa burung itu bisa muncul di sini. Namun apa yang diragukannya itu akhirnya buyar, karena memang begitu dia bersiul suara pekik itu menyahuti semakin keras dan suara menggeleparnya sayap yang menimbulkan angin menderu-deru kuat sekali terdengar. Ko Tie jadi girang. "Binatang apa itu?!"

Tanya Kam Lian Cu dengan sikap yang berkuatir.

"Burung rajawali..... aku kenal baik dengannya, dan ia pun jinak sekali, bisa di perintah……!"

Kata Ko Tie memberitahukannya.

"Jika memang benar Pek-jie, maka kita akan tertolong...... karena dia akan dapat membantu kita.....!"

Kam Lian Cu memandang heran.

Sedangkan Ko Tie bersiul lagi tiga kali.

Dia bersiul dengan meniru suara yang biasa Giok Hoa siulkan buat memanggil burung rajawali itu.

Sesosok bayangan yang besar telah meluncur turun dari atas angkasa.

Dan hinggap tepat di samping Ko Tie.

Benar saja, itulah burung rajawali peliharaan Giok Hoa.

Burung itu tampak girang bertemu dengan Ko Tie, dia menggesek-gesekkan kepalanya pada lengan Ko Tie.

Kakek baju kuning itu memandang dengan mata terbeliak lebarlebar.

Dia heran melihat burung rajawali yang demikian besar dan tampak kuat dan gagah.

Yang membuat dia lebih heran justeru burung rajawali itu seperti menurut sekali pada Ko Tie, yang bisa memanggilnya dengan siulan belaka.

Ko Tie waktu itu tertawa perlahan, dia bilang.

"Hemmm, sekarang kau telah datang buat membantu! Nah nona Kam, kau bisa naik ke atas punggungnya, Pek-jie akan membawamu pergi terbang ke tengah udara!"

Kakek baju kuning itu kaget, dia melompat menghampiri.

"Kau…… kalian ingin melarikan diri?!"

Tegurnya dengan suara yang dingin dan mengandung kemarahan.

Ko Tie baru saja menyahuti, Pek-jie yang melihat sikap mengancam dari kakek baju kuning itu, telah mengibaskan sayap kanannya, gerakannya tidak di sangka-sangka dan di luar dugaan.

Juga dari sayapnya itu mengeluarkan suara berkesiuran angin yang sangat dahsyat menerjang kepada kakek baju kuning itu.

Kakek baju kuning tersebut tengah melompat maju buat mendekati Ko Tie, tapi mendadak sekali dia merasakan serangkum angin yang sangat kuat mendorong dirinya.

Kakek itu kaget dan heran.

Namun dia cepat sekali telah merangkapkan ke dua tangannya, dan mendorong.

Kakek tua itu rupanya tidak memandang sebelah mata terhadap sampokan sayap burung rajawali itu, karena dia yakin, begitu dia mendorong dengan kekuatan tenaga dalamnya, berapa kuatnya tenaga burung itu sekalipun, tentunya dia akan terdorong terpental.

Namun burung rajawali itu tetap saja berdiri tepat di tempatnya.

Benturan tenaga yang terjadi membuat kakek baju kuning itu yang kaget, karena tubuhnya tergetar dan dia hampir saja terhuyung mundur, kalau saja dia tidak cepat-cepat mengerahkan tenaga dalamnya pada kakinya.

Kemudian si kakek telah mendorongkan telapak tangannya pula dengan mengerahkan sin-kangnya lebih kuat.

Kali ini sayap burung rajawali tersebut telah terdorong, dan burung itu terpekik, dia segera membarengi buat terbang ke tengah udara.

Sedangkan kakek baju kuning ini segera mengetahui bahwa burung rajawali putih yang tubuhnya sangat besar itu bukanlah burung rajawali sembarangan.

Iapun bersikap lebih hati-hati.

Ko Tie waktu itu telah mengambil keputusan yang cepat sekali.

"Nona Kam, cepat kau lari……!"

Berseru Ko Tie dengan suara yang nyaring, tubuhnya segera membarengi melompat ke dekat kakek baju kuning itu.

Kam Lian Cu bimbang sejenak, dia kemudian memutar tubuhnya, berlari dengan cepat sekali.

Dia pikir, tentunya dengan ada burung rajawali itu, Ko Tie akan dapat menghadapi kakek tua baju kuning lebih baik lagi.

Malah kemungkinan nanti Ko Tie akan dapat duduk di punggung rajawali itu, terbang ke tengah udara sehingga dapat meloloskan diri dari kakek baju kuning itu.

Dengan mengerahkan ginkangnya, ilmu meringankan tubuhnya, Kam Lian Cu berlari cepat sekali.

Kakek baju kuning itu berjingkrak karena kagetnya melihat si gadis hendak melarikan diri.

"Hei, mau ke mana kau?!"

Teriak kakek baju kuning itu bengis sekali.

Tubuhnya juga melesat dan ia bermaksud mengejar.

Tapi belum lagi dia bergerak, dari arah belakangnya telah menyambar serangkum angin yang kuat sekali.

Itulah serangan yang dilakukan oleh Ko Tie.

Waktu si gadis she Kam melesat buat memelarikan diri, Ko Tie memang telah mengerahkan tenaga dalamnya.

Dan waktu dia melihat kakek itu hendak mengejar Kam Lian Cu, tanpa membuang-buang waktu lagi segera juga ia melompat dam menghantam dengan sebagian besar lweekangnya.

Hantamannya itu memang dahsyat, dan kakek ini mengetahuinya dengan merasakan berkesiuran angin serangan itu.

Ia tidak berani menyambutinya.

Segera juga dia berhenti dan membatalkan maksudnya untuk mengejar Kam Lian Cu.

Dengan segera ia menangkisnya.

"Dukk!"

Ko Tie merasakan tangannya seperti akan patah oleh tangkisan yang dilakukan kakek itu.

Namun Ko Tie nekad, mati-matian dia menahan rasa sakit itu dan menghantam lagi dengan kekuatan sepenuhnya, dia ingin berusaha mencegah kakek itu mengejar Kam Lian Cu.

Kakek tua itu mendongkol bukan main, karena dia mengerti bahwa Ko Tie bermaksud hendak membendungnya dan melibatnya agar dia tidak memiliki kesempatan mengejar si gadis.

Segera juga dia menangkis lagi, sekali ini dengan kekuatan yang jauh lebih hebat.

Dan iapun kemudian membarengi dengan menyerang pula.

Ko Tie kaget.

Waktu tangkisan ke dua saling bentur dengan serangannya, dia merasakan tenaga kakek tua itu kuat sekali, tulang pergelangan tangannya semakin sakit.

Dia belum lagi bisa melompat mundur menjauhi diri, dirinya telah dihantam begitu kuat oleh kakek tua tersebut.

Terpaksa Ko Tie mengempos seluruh kekuatannya, karena dia bermaksud menangkisnya.

Cuma saja Ko Tie menyadari, kali ini tentu dia tidak akan berhasil membendung kekuatan tenaga dalam si kakek.

"Bukkk……!"

Tangan mereka saling bentur lagi.

Ko Tie menggigit bibirnya.

Dia merasakan tangannya seperti semper tidak dapat digunakan lagi untuk menyerang, sulit untuk diangkat dan juga sakitnya luar biasa, bagaikan tidak memiliki tenaga lagi.

Ko Tie bingung, jika memang dia tidak berhasil melibat kakek tersebut, niscaya akan membuat kakek itu dapat mengejar Kam Lian Cu.

Hanya saja, cepat sekali dia bersiul.

Burung rajawali itu pun rupanya mengerti apa tugasnya.

Dengan disertai pekikannya yang nyaring, burung rajawali itu telah menerjang kepada si kakek.

Kuat sekali sampokan ke dua sayapnya.

Kakek tua itu kaget dan juga sangat murka sekali.

Dia berseru nyaring dan telah menghantam berulang kali dengan ke dua tangannya.

Dia pun berkelit mengelakkan diri ke sana ke mari.

Apa yang dilakukannya itu benar-benar sangat cepat sekali, namun burung rajawali itu pun cukup tangguh.

Yang membuat kakek itu bertambah heran, dia melibat burung rajawali itu bergerak seperti juga dengan mempergunakan jurusjurus ilmu silat, karena tampaknya burung rajawali itu bagaikan mengerti ilmu silat.

Maka untuk sesaat lamanya kakek tua itu dapat dilibat oleh si burung rajawali.

Jika memang menghadapi burung rajawali biasa saja, tentu dengan cepat dan mudah kakek tua itu akan dapat merubuhkannya.

Hanya saja sayangnya, justeru burung rajawali itu memiliki keluar biasaan dari burung rajawali lainnya.

Selain pandai berkelit ke sana ke mari, setiap sampokan dari sepasang sayapnya seperti juga serangan tangan seorang ahli silat yang berbahaya, belum lagi disebabkan tenaga burung rajawali itu yang memang sangat kuat sekali.

Dikala itu terlihat kakek tua itu tambah gusar, berulang kali dia membentak bengis sambil menyerang dengan tenaga dalam yang bisa mematikan.

Burung rajawali itu memang terdesak, namun dia patuh terhadap perintah Ko Tie, dia terus juga melibat kakek tua itu, menerjang dengan segala kehebatannya.

Kera bulu kuning mengeluarkan pekikannya, dia berlari untuk mengejar Kam Lian Cu.

Tapi kera itu tidak bisa berbuat banyak.

Dia berlari baru beberapa tombak, di hadapannya telah menghadang Ko Tie, yang membarengi tanpa membentak atau juga mengeluarkan suara lainnya, telah menghantamnya.

Ko Tie memukul dengan tangan kirinya, karena tangan kanannya yang tadi saling bentur dengan tangan si kakek menjadi seperti semper tidak memiliki kekuatan tenaga lagi, tapi tangan kirinya itu pun tidak kalah hebatnya karena dia menghantam dengan disertai kekuatan lweekangnya.

Walaupun kera bulu kuning itu memiliki ilmu silat yang rupanya diajarkan oleh si kakek tua itu, dan juga sangat gesit, tokh dia tidak bisa menghindarkan diri dari hantaman tangan kiri Ko Tie, yang mengenai telak sekali dadanya.

Dengan diiringi pekik kesakitan dan kaget, kera itu terjungkal bergulingan di tanah.

Ko Tie tidak memberikan kesempatan kera itu bernapas, ia melompat ke tempat kera tersebut, sambil menghantam dengan tangan kirinya pula.

Kera itu telah merasakan betapa kuatnya serangan Ko Tie, sehingga dadanya kena dihantam telak dan dia menderita kesakitan, begitu bangun, tidak berani menghadapi Ko Tie, dia telah memutar tubuhnya, berlari ke sana ke mari.

Ko Tie tersenyum puas.

Dengan demikian, berarti Kam Lian Cu akan dapat melarikan diri dengan leluasa.

Di waktu itu, burung rajawali yang menghadapi si kakek menghadapi kesulitan.

Serangan si kakek luar biasa sekali.

Ia duduk bersimpuh di tanah.

Ke dua tangannya itu saja yang bergerak ke sana ke mari!

Setiap hantaman tangannya mengandung kekuatan yang dahsyat sehingga burung rajawali itu tidak berani mendekatinya.

Bahkan akhirnya burung rajawali itu telah terbang berputar-putar di atas si kakek sekali-kali dia menerjang turun, menukik dengan ke dua cakarnya siap mencengkeram.

Tapi memang kakek itu hebat, dengan cara bertempurnya seperti itu dia bisa menghadapi rajawali tersebut, malah suatu kali, waktu burung rajawali itu menukik turun, kakek tersebut telah menantikan dengan mata terpentang lebar-lebar.

Dia tidak menyerang dulu, dia menantikan sampai burung rajawali itu menukik dekat sekali, dan sayap burung itu tengah meluncur akan mengibas kepadanya.

Setelah jaraknya terpisah tidak begitu jauh, segera juga kakek tua tersebut menghantamkan tangannya kepada sayap burung rajawali tersebut!

"Bukkk!"

Telak sekali hantaman itu mengenai burung rajawali itu, pada sayapnya, sehingga burung rajawali itu memekik kesakitan dan terbang tinggi sekali.

Sayapnya itu ternyata kena di hantam sangat hebat, sampai beberapa helai bulu sayapnya telah rontok dan terbang jatuh ke tanah.

Ko Tie kaget tidak terkira melihat burung rajawali sakti yang biasanya sangat tangguh, menghadapi kakek itu, telah dibuat tak berdaya.

Burung rajawali itu, yang menderita kesakitan karena sayapnya telah patah, hanya mengeluarkan suara pekik yang nyaring berulang kali, terbang di udara tanpa berani menukik turun lagi.

Ko Tie segera melompat ke dekat kakek tua itu, dia menghantam dengan tangan kirinya.

Apa yang dilakukan Ko Tie sangat nekad sekali, karena dia seperti juga sudah tidak memikirkan lagi keselamatan dirinya, dia menghantam dengan sepenuh tenaganya.

Kakek tua itu tertawa dingin, tangan kanannya telah menangkis.

"Dukk, dukk.....!"

Tubuh Ko Tie terpental dan bergulingan di tanah.

Seketika Ko Tie merasakan dadanya sakit sekali ketika dia merangkak bangun!

Kakek tua itu telah melompat berdiri, dia menggerakkan tangannya menyentil sebutir batu.

Batu itu menghantam telak sekali jalan darah Hu-hiang-hiat si pemuda.

Seketika Ko Tie merasakan sekujur tubuhnya lemas tidak hertenaga, mendatangkan rasa sakit yang bukan main, bagaikan tubuhnya dikoyak-koyak dan juga seluruh isi tubuhnya, perut dan dadanya, seperti menjadi hancur.

Dengan mengeluarkan suara keluhan, seketika dia pingsan tidak sadarkan diri.....

Dia tidak tahu lagi apa yang terjadi.

Tadi memang dia tidak sanggup mengelakkan diri dari lontaran batu sentilan kakek tua itu, karena memang dia tidak dapat menggerakkan tubuhnya dengan lincah, dadanya tengah sakit.

Terlebih lagi setelah ia tertotok seperti itu, membuatnya benarbenar jadi tidak berdaya dan pingsan tidak ingat orang.......!

Kakek tua itu segera juga menepuk tangannya.

Kera bulu kuning berlari menghampirinya.

Bersama dengan binatang peliharaannya, segera kakek tua itu melarikan diri.....

untuk mengejar Kam Lian Cu, karena dianggapnya bahwa sebelum burung rajawali itu sempat untuk menyerang nekad kepadanya, lebih baik dia melarikan diri dan mengejar Kam Lian Cu.

Kera bulu kuning berlari-lari di belakangnya, mengikuti sambil berulang kali mengeluarkan suara pekiknya yang sangat nyaring.

Burung rajawali itu tidak mengejar si kakek karena dia menyaksikan bagaimana Ko Tie telah rubuh di tanah dan kemudian diam tidak bergerak, pingsan.

Segera juga burung rajawali itu telah meluncur turun, hinggap di samping Ko Tie, sambil mengeluarkan suara pekik yang perlahan, seperti juga tengah merintih sedih.

Burung rajawali itu tidak berdaya untuk menyembuhkan Ko Tie, juga dia tidak berhasil untuk menyadari Ko Tie dari pingsannya.

Dia hanya diam disamping pemuda itu dengan berulang kali mengeluarkan suara pekik yang lirih, ikut menyatakan tengah bersusah hati atas kemalangan pemuda ini.

Tiauw-jie sebetulnya tengah berusaha mencari majikannya, yaitu Giok Hoa.

Setiap kali dia terbang berkeliling di suatu tempat, dia mengeluarkan suara pekiknya dengan harapan bahwa majikannya akan mendengarnya.

Siapa tahu, justeru dia bertemu dengan Ko Tie dan justeru mengalami, peristiwa seperti ini…….!"

Ko Tie masih rebah pingsan di tempatnya, dalam keadaan tertotok dan juga terluka di dalam, karena tadi dia telah mempergunakan tenaga yang melebihi takaran, juga memang dia baru saja sembuh.

Begitu tenaga dalamnya dikerahkan melewati takaran, membuat peredaran darahnya bergolak, pernapasannya jadi seperti tersumbat, dan akhirnya luka di dalam itu telah bergolak kembali.

Dia terluka yang tidak ringan.

Itulah sebabnya mengapa totokan kakek tua baju kuning itu sempat telah membuatnya pingsan tidak sadarkan diri akibat penderitaan sakit yang luar biasa hebatnya yang membuat dia seperti juga merasakan tubuhnya bagaikan dikoyak-koyak…… ◄Y► Siapakah kakek tua baju kuning itu, yang kepandaiannya sangat lihay dan setingkat dengan kepandaian Oey Yok Su?

Dengan melihat kepandaiannya itu saja, kita sudah menduganya bahwa kakek baju kuning itu bukanlah orang sembarangan.

Dia setingkat dalam kedudukannya dengan Oey Yok Su dan tokoh sakti dalam rimba persilatan yang lainnya.

Hanya saja, dulu-dulu mengapa dia tidak pernah muncul memperlihatkan diri?

Mengapa waktu Lima Jago Luar Biasa memperebutkan gelar jago nomor satu, dia tidak pernah menampakkan diri, dan tidak pernah tersiar berita tentang dirinya.

Padahal Oey Yok Su memiliki pengalaman sangat luas pun tidak kenal padanya, hanya kagum buat kepandaiannya yang memang sangat tinggi dan tidak berada di bawah kepandaiannya.

Sekarang diapun bermaksud untuk mengambil Kam Lian Cu sebagai mantunya, dia telah bentrok dengan Oey Yok Su, dan membuat Ko Tie tidak berdaya, padahal kepandaian Ko Tie pun tidaklah rendah.

Lalu membuat burung rajawali itupun tidak berdaya untuk mencegah keinginannya buat mengejar Kam Lian Cu.

Sesungguhnya, dia seorang jago yang memiliki kepandaian benarbenar sangat hebat.

Dia hanya saja, tidak pernah mau memperlihatkan diri di dalam rimba persilatan.

Perihal perebutan gelar sebagai Jago nomor satu oleh Lima Jago luar Biasa, memang telah didengarnya.

Namun dia tidak tertarik buat mengambil bagian.

Dia hidup sebagai manusia biasa, hanya setiap hari, setiap waktu, setiap menit, dia lebih mementingkan berlatih diri.

Tidak terlalu mengherankan jika ia bisa memiliki kepandaian yang begitu tinggi.

Karena tidak ada waktu yang luang dan disia-siakan begitu saja.

Diapun kini telah menjadi seorang tokoh rimba persilatan yang sulit dicari tandingannya.

Sedangkan Oey Yok Su yang memiliki kepandaian sudah mencapai tingkat paling sempurna, telah tidak berdaya buat merubuhkannya, hanya saja kakek tua itu belaka yang mengakui bahwa kepandaiannya berada di bawah kepandaian Oey Yok Su, tapi sesungguhnya, walaupun mereka bertempur beberapa hari lamanya, belum tentu Oey Yok Su bisa merubuhkannya.

Orang tua itu she Bun dan bernama Siang Cuan.

Dia sejak muda memang senang sekali akan ilmu silat, dan juga telah melatih diri.

Ayahnya seorang hartawan kaya raya.

Tapi ketika orang tuanya mati, dan harta warisan jatuh ke tangannya, ia mempergunakan uangnya buat mengundang puluhan orang guru silat, yang melatihnya dengan sepenuh perhatian.

Kemudian dengan uangnya itu ia juga telah berkelana mencari-cari guru yang pandai.

Memang setiap kali ia mempelajari ilmu silat, ia berhasil mempelajarinya dengan mudah sekali, karena ia selain sangat cerdas pun memang memiliki bakat yang sangat baik sehingga setiap ilmu silat yang diajarkan kepadanya selalu dapat dicernakannya dengan cepat.

Namun sejauh itu Bun Siang Cuan tidak juga puas dengan hasil yang telah di capainya.

Ia terus juga mencari guru-guru pandai, sampai akhirnya ia mendatangi Siauw-lim-sie.

Tapi ia ditolak karena Hong-thio Siauw-lim-sie beranggapan seorang seperti Bun Siang Cuan yang begitu besar keinginannya buat mempelajari ilmu silat, dan juga diwaktu itu telah memiliki berbagai macam ilmu silat yang campur aduk, merupakan "bahan"

Yang tidak baik buat dididik Siauw-lim-sie.

Permintaannya ditolaknya, walaupun Bun Siang Cuan berulang kali telah datang buat memohon agar dirinya diterima menjadi murid Siauw-lim-sie.

Akhirnya Bun Siang Cuan bersakit hati karena tolakan Siauw-limsie.

Iapun bertekad walaupun bagaimana dia harus mempelajari ilmu silat yang tinggi, guna membuktikan kelak kepada Siauw-limsie, bahwa ia sesungguhnya merupakan murid yang baik sekali buat dididik.

Di waktu itu, ia telah berlatih dengan tekun.

Tekadnya semakin kuat untuk memperoleh kepandaian yang tinggi.

Kemajuan yang dicapai oleh Bun Siang Cuan memang pesat sekali.

Dia telah berhasil untuk memupuk ilmunya, yang dari berbagai dan campur aduk itu menjadi semacam ilmu yang berkombinasi, membuat diapun tidak mudah untuk dirubuhkan oleh lawan yang berkepandaian tanggung-tanggung.

Malah cukup banyak jago-jago rimba persilatan yang punya nama di dalam kalangan Kang-ouw telah dirubuhkannya.

Hanya saja, disebabkan nafsunya yang begitu besar untuk dapat merubuhkan orang rimba persilatan sebanyak mungkin, disamping untuk mempelajari ilmu silat Bun Siang Cuan pun jadi memiliki musuh yang tidak sedikit, membuatnya sering dikejar-kejar oleh jago-jago Kang-ouw ternama.

Untuk menghadapi jago-jago ternama itu jelas Bun Siang Cuan belum lagi memiliki kemampuan, sehingga dia telah melarikan diri ke berbagai tempat.

Di samping itu, tekadnya untuk mempelajari ilmu silat semakin kuat.

Dia baru mengerti, betapa pentingnya ilmu silat, karena dengan memiliki kepandaian yang sangat tinggi, tentu dia perlu jeri lagi kepada jago-jago rimba persilatan.

Dikala dia melarikan diri ke perbatasan Sin-kiang, ia bertemu dengan seorang tua, yang ternyata merupakan seorang tokoh sakti Tibet.

Hanya saja jago tua yang aneh itu tidak mau memberitahukan namanya, dia cuma menurunkan ilmu silatnya tanpa bersedia Bun Siang Cuan memanggilnya sebagai guru.

Dengan demikian telah membuat Bun Siang Cuan memperoleh kepandaian yang beberapa lipat lebih tinggi dari sebelumnya.

Hatinya jadi besar dan dia pun segera juga kembali ke daratan Tiong-goan.

Dia mencari musuh-musuhnya.

Dia berhasil merubuhkan beberapa orang di-antara mereka.

Hanya sebagian lagi dari musuh-musuhnya itu bekerja sama dan melakukan pengejaran padanya.

Dikeroyok oleh jago-jago yang memiliki kepandaian tinggi seperti itu membuat Bun Siang Cuan tidak berdaya lagi dan dia melarikan diri pula.

Karenanya, dia bermaksud menyingkir dari Tiong-goan, buat pergi ke Tibet, dengan harapan di sana tentu dia bisa bertemu dengan orang-orang pandai seperti gurunya.

Sepuluh tahun ia berada di Tibet, memang cukup banyak orang pandai di sana yang menurunkan kepandaian kepadanya!

Tapi ketika ia kembali ke daratan Tionggoan, ternyata kepandaiannya itu tidak berarti apa-apa.

Hal ini membuat dia berduka, karena musuh-musuhnya juga semakin maju dengan kepandaian mereka.

Bun Siang Cuan segera berpikir bahwa ia harus benar-benar memperoleh semacam ilmu yang hebat, barulah dia bisa memiliki kepandaian yang tidak tertandingkan.

Waktu ia menyingkirkan diri lagi ke Nepal, ia berkenalan dengan seorang gadis.

Mereka jatuh cinta dan menikah.

Ternyata ayah gadis itu, seorang kakek tua, merupakan seorang jago terpendam dari Nepal yang sudah siang-siang menyimpan pedang dan mengasingkan diri.

Mengetahui mantunya senang mempelajari ilmu silat, dia mengajari lagi, membuat kepandaian Bun Siang Cuan memperoleh kemajuan lagi.

"Tapi ilmu silat tidak ada batasnya, sampai kapanpun kau mempelajarinya, tidak mungkin hanya engkau seorang diri yang memiliki kepandaian tinggi, sebab banyak juga orang lain yang mati-matian mempelajari ilmu silat……! "

Aku memiliki se

Jilid kitab ilmu silat kuno yang belum pernah kupelajari. Jika memang kau menginginkannya, aku akan menghadiahkannya kepadamu. Usiamu masih muda, kau boleh mempelajarinya..... "

Tapi ada ancaman pada kitab itu, jika seseorang yang tidak kuat mempelajari isi kitab itu, jika umpamanya orang itu melatihnya salah dan tersesat, orang itu akan sinting dan gila.....

Karenanya jika memang engkau merasa belum memiliki kepandaian dan kesangggupan buat mempelajari isi kitab itu, kau jangan mempelajarinya dulu……!"

Begitulah pesan mertua Bun Siang Cuan sebelum meninggal dunia karena sakitnya yang berat.

Bukan kepalang girangnya Bu Siang Cuan menerima kitab pusaka tersebut.

Diapun segera mulai mempelajari.

Baru mempelajari beberapa jurus saja, kepandaiannya sudah mengalami kemajuan yang hebat dan menakjubkan, seperti langit dengan bumi dibandingkan dengan kepandaiannya di waktu yang lalu.

Semangat Bun Siang Cuan terbangun, dia mati-matian mempelajari kitab itu.

Kepandaiannya menjadi luar biasa.

Cuma saja, dia jadi melupakan isterinya, yang membuat isterinya jadi berduka dilanda kesepian, karena Bun Siang Cuan lebih sering mengurung diri buat mempelajari ilmu silatnya.

Tidak jarang sampai setengah tahun Bun Siang Cuan tidak menyentuh isterinya.

Dengan demikian berangsur-angsur isterinya menjadi merana dan akhirnya jatuh sakit ketika ia dalam keadaan mengandung muda.

Bukan main berdukanya Bun Siang Cuan.

Dia dapat dua pilihan menyudahi dulu latihannya pada ilmu silat di kitab pusaka itu atau memang dia kehilangan isteri dan calon anaknya.

Tapi desakan jiwanya yang ingin memperoleh ilmu silat yang tinggi demikian kuat.

Dia hanya sempat lima hari menghentikan latihannya, setelah itu ia giat lagi berlatih ilmu silatnya.

Isterinya kecewa bukan main, sehingga akhirnya dia menderita sakit yang semakin parah, yang membuatnya meninggal dunia.

Bukan main kaget dan berdukanya Bun Siang Cuan, dia menangis menggerung-gerung sampai beberapa hari lamanya.

Dan ia menyesali, sekarang biarpun ia memiliki kepandaian yang sangat tinggi, tokh percuma saja.

Dia telah kehilangan orang yang disayanginya, juga kehilangan calon anaknya.

Demikian berdukanya, sehingga selama beberapa tahun dia berkelana dan tidak pernah melatih diri.

Akhirnya, karena terlalu memikirkan calon anaknya yang lenyap dengan kematian isterinya akibat kurangnya perhatiannya, Bun Siang Cuan bermaksud mengambil seorang anak.

Dia tidak ingin menikah lagi, cuma saja dia pun tidak tahu anak siapa yang pantas diambil sebagai anaknya.

Pada suatu hari, ketika ia berjalan-jalan di sebuah hutan, dia melihat kera yang tengah melahirkan.

Kera itu agak luar biasa, berbulu kuning.

Dan di lihatnya anak kera itupun bersih sekali.

Maka segera tanpa dipikir panjang, dia menculik anak kera itu, kemudian dianggap sebagai anaknya!

Sejak saat itu, Bun Siang Cuan dengan "Anaknya"

Yang diberi nama Kim Go (Monyet Emas) itu, berdiam di dalam hutan yang sepi dan terpencil.

Dia melatih ilmu silatnya terus dengan giat dan tidak pernah menampakkan diri di dalam rimba persilatan.

Demikian juga kepada Kim Go telah diturunkan pelajaran ilmu silat.

Sayangnya Kim Go hanya seekor monyet yang tidak bisa menerima dengan baik dan sempurna akan ilmu silat yang diajarkan Bun Siang Cuan.

Begitulah, tanpa dirasa puluhan tahun telah lewat.

Dan selama itu Bun Siang Cuan tidak pernah menampakkan diri di dunia persilatan.

Usianya telah lanjut, rambutnya semua telah berobah putih dan Kim Go pun telah berusia puluhan tahun.

Mengenai monyet berbulu kuning itu, dia memang sejenis monyet yang memiliki usia panjang dan juga hidup dengan sikap dan kelakuan seperti manusia.

Dia memang merupakan monyet yang sangat aneh sekali, sehingga biarpun berusia puluhan tahun, dia masih tampak kuat dan sehat.

Begitulah ayah dan "Anak"

Telah hidup dengan tenteram di hutan itu. Sampai akhirnya, timbul juga keinginan di hati Bun Siang Cuan untuk melihat-lihat keadaan di dunia luar. Dia mengajak "Anaknya"

Untuk meninggalkan hutan itu.

Dia lalu mendengar perihal Oey Yok Su berlima dengan Ong Tiong Yang, Auwyang Hong, It Teng Taysu dan Ang Cit Kong, yang selalu bertanding untuk memperebutkan gelar siapa yang tertinggi kepandaiannya.

Hati Bun Siang Cuan telah tawar, dia tidak berselera untuk ikut mencampuri urusan tersebut.

Karena itu, dia telah hidup menyendiri lagi.

Puluhan tahun telah lewat lagi, dia hidup dalam suasana yang sepi dan terasing bersama Kim Go.

Sampai akhirnya siapa sangka, dia bersama Kim Go telah bertemu dengan Oey Yok Su.

Mengetahui orang yang dijumpainya adalah Oey Yok Su, segera juga kumat lagi penyakit-penyakit lamanya.

Ia ingin mencoba kepandaian yang telah dipelajarinya dari kitab pusaka yang diterimanya dari mertuanya.

Ternyata kepandaiannya memang tinggi, karena Oey Yok Su tidak mudah buat merubuhkannya.

Dan semua peristiwa yang terjadi telah diikuti oleh anda sekalian di bagian depan.

Sekarang mari kita ikuti Bun Siang Cuan yang tengah mengejar Kam Lian Cu.

Dia berlari begitu pesat, tubuhnya seperti terbang, dan juga kera bulu kuning itu, telah mengikutinya dengan sama cepatnya.

Kam Lian Cu telah melarikan diri dengan sekuat tenaganya mengerahkan ginkangnya, dia bermaksud untuk pergi sejauh mungkin, agar lolos dari tangan Bun Siang Cuan.

Tapi siapa sangka, belum lagi dia berlari terlalu jauh, dia telah melihat Bun Siang Cuan yang tengah mengejarnya, berlari-lari bersama si monyet bulu kuning itu.

Bukan main kagetnya Kam Lian Cu.

Semula ia menduga Ko Tie dengan dibantu oleh burung rajawali itu, tentu akan dapat menghadapi Bun Siang Cuan.

Siapa tahu, justeru kini Bun Siang Cuan tengah berlari-lari mengejarnya, juga di belakang Bun Siang Cuan tampak si kera bulu kuning yang dibenci oleh si gadis.

Mati-matian dia berusaha berlari lebih cepat lagi, untuk dapat menyingkirkan diri.

Tapi dia ternyata tidak bisa melepaskan diri dari kejaran Bun Siang Cuan, karena beberapa saat kemudian Bun Siang Cuan telah berhasil mengejarnya dan hanya terpisah beberapa tombak lagi.

"Berhenti, atau aku akan turun tangan mencelakai kau……!"

Bentak Bun Siang Cuan.

Tapi Kam Lian Cu mana mau berhenti berlari, dia terus juga mengerahkan gin-kangnya buat berlari semakin cepat.

Bun Siang Cuan rupanya jadi mendongkol, dia menggerakkan tangan kanannya.

Seketika serangkum angin menyerang Kam Lian Cu, menotok jalan darahnya.

Si gadis yang tengah mati-matian berlari mempergunakan seluruh tenaganya, jadi kaget waktu merasakan tubuhnya jadi lemas tidak bertenaga, dan dia terjungkel rubuh bergulingan di tanah.

Waktu Kam Lian Cu menyadari apa yang terjadi, Bun Siang Cuan bersama Kim Go, kera bulu kuning itu, telah berdiri di sampingnya.

Kera itu menyeringai seperti seorang pemuda yang bernafsu birahi terhadap seorang gadis cantik jelita.

Dikala itu tampak Bun Siang Cuan tertawa bergelak-gelak.

"Walaupun bagaimana kau tidak mungkin bisa terlepas dari tanganku……!"

Katanya kemudian.

"Hemmm, walaupun bagaimana engkau harus menjadi mantuku, harus menikah dengan puteraku......!"

Si gadis she Kam jadi mengeluh, tapi dia benar-benar tidak berdaya.

"Bebaskan aku, aku akan menuruti semua keinginanmu baik-baik!"

Kata Kam Lian Cu kemudian. Si kakek she Bun menggelengkan kepalanya.

"Tidak!"

Katanya sambil menyeringai.

"Kau tentu akan menimbulkan kesulitan lagi.....!"

Setelah berkata begitu, Bun Siang Cuan membungkukkan tubuhnya, dia mengepit tubuh si gadis, dan berlari-lari meninggalkan tempat itu.

Kera bulu kuning telah mengikuti di belakangnya sampai mengeluarkan suara pekikan, pekik kegirangan.

Di waktu itu, tampak Bun Siang Cuan telah berlari pesat sekali, karena dia ingin cepat-cepat tiba di tempat kediamannya, di hutan yang sepi itu.

Tidak lama kemudian tibalah dia di dalam hutan tempat tinggalnya, di depan sebuah goa yang cukup dalam.

Bun Siang Cuan telah melemparkan tubuh si gadis ke dalam goa sampai tubuh si gadis terguling-guling.

"Baik-baiklah kau beristirahat di situ, mantuku!"

Katanya kemudian dengan suara yang tawar. "Tunggu dulu!"

Teriak Kam Lian Cu ketika melihat kakek itu hendak meninggalkannya..... Dia kuatir nanti ši kera bulu kuning mengganggunya lagi.

"Apa?!"

Tanya Bun Siang Cuan.

"Bebaskan aku, aku tidak akan melarikan diri! Sebagai calon mantumu, apakah pantas aku diperlakukan seperti ini?!"

Kata Kam Lian Cu. Kakek tua she Bun itu termenung sejenak tampaknya dia tengah berpikir keras. Namun akhirnya dia mengangguk.

"Baiklah…..!"

Katanya.

"Jika memang demikian, kau berjanji memang tidak akan melarikan diri, aku bersedia untuk membebaskan dirimu! Tapi ingat, jika sekali lagi kau mencoba untuk melarikan diri, niscaya kelak aku sulit mempercayai perkataanmu lagi dan aku akan menotok terus kau sampai tidak berdaya!"

Si gadis berdiam saja. Bun Siang Cuan menghampiri dan membebaskan totokannya, sehingga Kam Lian Cu bisa menggerakkan tangan dan tubuhnya. Dia duduk.

"Kau tunggu di sini, aku ingin mengambil makanan buat kau!"

Kata Bun Siang Cuan.

Kam Lian Cu cuma mengangguk saja, karena dia memang tidak tahu lagi apa yang harus dilakukannya.

Sedangkan Bun Siang Cuan telah meninggalkan tempat itu, kera bulu kuning telah mengawasi Kam Lian Cu dengan sorot mata yang tajam berdiri di luar goa.

Kam Lian Cu ngeri kalau saja kera itu menerjang masuk dan hendak memperkosanya.

Namun dia tentu akan dapat memberikan perlawanan karena kera itu tidaklah terlalu lihay baginya, juga dia tidak dalam keadaan tertotok.

Kera bulu kuning itu, rupanya memang tahu penyakit, karena dia tidak berusaha memasuki goa itu.

Dia menyadarinya, jika memang dia berusaha menerjang juga memasuki goa itu, niscaya akan dihajar oleh si gadis.

Sedangkan kepandaiannya memang tidak dapat menandingi gadis itu, di mana selain dia pernah dilukai oleh Kim Lian Cu, juga dia pernah dihajar oleh gadis itu sampai tidak berdaya.

Kera itu cuma mengawasi Kam Lian Cu dengan sorot mata yang meagandung nafsu berahi yang kuat sekali…… Tidak lama kemudian Bun Siang Cuan telah tiba di tempat itu lagi, dia membawa beberapa macam buah-buahan.

Diberikannya kepada Kam Lian Cu.

"Kau makanlah, untuk menyegarkan dirimu!"

Katanya kemudian.

Kam Lian Cu mengawasi bimbang, namun akhirnya dia menerima juga pemberian itu.

Dia memakannya perlahan-lahan.

Kim Go juga memakan beberapa buah yang di bawa Bun Siang Cuan.

Dia masih tetap mengawasi si gadis dengan mata yang memancarkan sinar mengandung berahi.

Waktu itu Kam Lian Cu teringat, segera tanyanya.

"Mana puteramu.....?!"

Si kakek tertawa.

"Nanti aku akan beritahukan……!"

Katanya sambil melirik kepada Kim Go.

Bun Siang Cuan tiba-tiba saja merasa malu, buat memberitahukan kepada Kam Lian Cu, bahwa yang disebut puteranya adalah Kim Go, kera bulu kuning itu.....

Kam Lian Cu heran melihat sikap si kakek tua itu, dia memakan terus buah-buahan itu.

Sampai akhirnya kakek tua itu bilang.

"Sekarang kukira telah tiba waktunya aku memberitahukan kepadamu, bahwa puteraku itu, sesungguhnya memang buruk tubuhnya, tapi hatinya memang sangat baik, maka jika telah kuperkenalkan kalian, kau harus memperlakukannya baik-baik!"

Kam Lian Cu tertawa dingin.

Si gadis telah berpikir, jika memang putera kakek itu kelak telah diperkenalkan dia merupakan seorang laki-laki yang kasar, dia lebih baik bunuh diri saja.

Sedangkan kakek tua itu telah berkata lagi.

"Kau mau mengetahuinya sekarang? Mau kenal calon suamimu?"

Kam Lian Cu mengangguk saja. Si kakek tampak ragu-ragu.

"Aku..... aku.......!"

Katanya penuh kebimbangan. Kam Lian Cu tambah heran melihat sikap kakek tua itu, segera juga dia menduga, pasti ada sesuatu yang hebat pada diri puteranya itu.

"Kenapa?"

Tanya Kam Lian Cu. Kakek tua itu masih juga ragu-ragu.

"Sebetulnya…… sebetulnya……!"

Kata kakek itu kemudian.

"Sebetulnya kenapa?!!"

Kakek tua itu masih ragu-ragu.

"Jika memang aku memperkenalkannya, apakah engkau tidak akan mencela puteraku itu. Karena kau harus mengerti, jika kau mengeluarkan kata-kata yang melukai hatiku, aku akan membunuhmu.....!"

Kata kakek tua tersebut. Kam Lian Cu cuma mendengus saja. Melihat si gadis tidak menyahuti, kakek tua itu bertanya lagi.

"Apakah sekarang saja kau ingin diperkenalkan dengan anakku itu?!"

Kam Lian Cu cuma mengangguk. "Inilah anakku…… Kim Go!"

Kata si kakek kemudian sambil menunjuk kepada kera bulu kuning itu, yang tampaknya jadi malumalu dan menunduk.

Sedangkan Kim Go waktu itu juga terus dengan sikapnya seperti itu, dan berbeda dengan Kam Lian Cu, yang melihat kakek tua itu menunjuk kepada Kim Go, seketika dia telah memandang dengan mata terpentang lebar-lebar.

Seakan juga Kam Lian Cu tidak mempercayai apa yang didengarnya.

"Itu..... itu anakmu?!"

Kata Kam Lian Cu kemudian setelah bersadar, suaranya tak lancar! Si kakek jadi tegang sendirinya, dia mengangguk.

"Ya..... memang dialah puteraku, namanya Kim Go."

Muka Kam Lian Cu berobah merah karena marah bukan main! Dia hendak dikawinkan dengan seekor monyet? Dianggap apakah dia sebenarnya oleh kakek tua itu? Dan akhirnya Kam Lian Cu tertawa bergelak-gelak.

"Kau mungkin telah sinting? Mana mungkin aku hendak dikawinkan dengan seekor kera?"

Kata si gadis kemudian dengan suara yang nyaring, di antara kemarahan dan isak tangis yang ditahannya, karena Kam Lian Cu merasakan, itulah suatu penghinaan yang luar biasa hebatnya buat dia.

Muka kakek tua itu berobah.

"Kau?"

Tampaknya dia marah sekali.

"Jangan kau sekali-sekali menghina Kim Go!"

"Hemmm, aku lebih baik mati dari pada harus kawin dengan seekor kera.....!"

Kata Kam Lian Cu dengan suara yang nyaring. Muka Bun Siang Cuan berobah dia mengawasi tajam kapada Kam Lian Cu.

"Kau.....kau mengatakan lebih baik engkau mati dari pada menikah dengan anakku?"

Tanya Bun Siang Cuan dengan suara yang bengis.

Kam Lian Cu serasa ingin menjerit menangis sejadi-jadinya, karena benar-benar dia merasa terhina sekali, di mana dia akan dinikahkan dengan seekor kera.

Tapi dia mengetahui bahwa dia dalam keadaan tidak berdaya, karena ia tidak mungkin bisa menghadapi kakek tua itu.

Maka dari itu, Kam Lian Cu sudah tidak berhasil menahan hatinya, kesedihannya dan kemarahannya, dia menangis sejadi-jadinya.

Diapun berpikir, paling tidak jika memang kakek tua itu marah, maka dia akan dibunuh.

Akhirnya karena terlalu sedih, dia jatuh pingsan.......

◄Y► Kini mari kita melihat dulu keadaan Ko Tie, yang rebah dalam keadaan pingsan tidak sadarkan diri.

Di sampingnya tampak rajawali yang setia itu berdiam dengan sekali-kali memperdengarkan suaranya yang lirih.

Rupanya rajawali tersebut juga sangat prihatin dengan keadaan Ko Tie, yang diketahuinya merupakan kawan baik dari majikannya, yaitu Giok Hoa.

Di waktu itu Ko Tie masih dalam keadaan pingsan, mukanya pucat pias.

Sedangkan waktu beredar terus, keadaan di tempat itu telah terang oleh sinar matahari fajar, yang memancarkan sinarnya sehingga membuat tempat itu jadi hangat.

Ko Tie masih juga belum sadar dari pingsannya, membuat rajawali itu tambah bingung.

Sedangkan sayap kanan dari burung rajawali itu masih juga patah dan mendatangkan rasa sakit yang tidak sedikit buat rajawali itu.

Namun karena memikirkan keselamatan Ko Tie, telah membuat rajawali itu seperti juga sudah tidak merasakan lagi perasaan sakit pada sayapnya, pada ujung tulang sayapnya itu, yang patah akibat hantaman tangan Bun Siang Cuan.

Waktu itu perlahan-lahan Ko Tie telah bergerak dan mengeluarkan suara keluhan.

Matanya juga bergerak-gerak pelupuknya, dan kemudian terbuka.

Namun begitu dia membuka matanya dan tersadar, Ko Tie menggerakkan tubuhnya, segera ia mengeluarkan suara jeritan.

Dia rebah kembali dengan mengeluarkan suara keluhan.

Rupanya waktu Ko Tie hendak berusaha bangun, dadanya dirasakan sakit bukan main.

Akibat totokan yang dilakukan oleh Bun Siang Cuan, telah membuat peredaran darahnya tidak lancar.

Itu pun karena dia dapat menggerakkan tubuhnya karena totokan itu telah punah sendirinya dan lewatnya sang waktu.

Sedangkan burung rajawali tersebut seketika melihat Ko Tie telah bergerak dan tersadar dari pingsannya, jadi sangat girang.

Dia mengeluarkan pekik yang cukup nyaring.

Mendengar pekik burung rajawali itu, Ko Tie menoleh dan melirik melihat burung raja wali itu.

Dia tersenyum, karena hatinya terhibur juga bahwa rajawali itu masih berada di dekatnya.

Dan ia segera bersiul, memberitahukan kepada burung itu, bahwa dia dalam keadaan terluka yang cukup parah.

Burung rajawali itu seperti juga mengerti arti siulan itu, dia mengeluarkan suara pekik yang lirih dan perlahan sekali, mengangguk-anggukan kepalanya.

Di waktu itu tampak Ko Tie telah berusaha untuk bangun lagi.

Namun sekali lagi dia mengeluh, karena begitu dia menggerakkan tubuhnya, seketika ia merasakan tubuhnya pada sakit, serasa tulang-tulangnya hendak bercopotan, dada dan isi perutnya seperti terbalik, sehingga dia gagal buat bangun, dan tetap saja rebah di tempatnya itu.

Burung rajawali itu telah menggesek-gesekkan kepalanya ke dada Ko Tie, seakan juga memang burung rajawali itu hendak menghiburnya.

Sedangkan Ko Tie berpikir keras.

Dia telah melihat keadaan di tempat itu sepi sekali.

Jika memang ia rebah terus di situ dalam keadaan tidak terdaya, di samping memang lukanya akan semakin parah, juga akan membuat dia mati kelaparan.

Burung rajawali iapun tidak mungkin dapat melakukan sesuatu buat menolonginya.

Dikala itu burung rajawali tersebut berusaha menggerak-gerakkan sayapnya buat terbang.

Tapi dirasakan sayap kanannya itu sakit bukan main setiap kali dia menggerakkannya.

Ko Tie hanya bisa mengawasi saja.

Diam-diam pemuda ini memikirkan dan menguatirkan sekali keselamatan Kam Lian Cu.

Entah bagaimana nasib si gadis, karena dia tidak mengetahui apakah Kam Lian Cu dapat melarikan diri dari kejaran si kakek Bun Siang Cuan, atau memang dia gagal dan kena dibekuk oleh kakek tersebut.

Karena itu, hati Ko Tie pun jadi tidak tenang.

Akhirnya dia berpikir sesuatu.

Dari berdiam diri saja di situ, bukankah lebih baik dia meminta burung rajawali tersebut agar membawa terbang ke sebuah tempat, yang sekiranya ada manusianya dan di sana nanti bisa dimintai pertolongannya?

Karena berpikir begitu, segera juga Ko Tie bersiul, yang berarti dia meminta agar burung rajawali itu membawanya terbang di punggungnya.

Burung rajawali itu mengerti maksud siulan tersebut.

Akan tetapi burung rajawali itu pun tengah terluka sayapnya, tulang sayapnya patah.

Dengan demikian tentu saja telah membuat dia bimbang.

Dia tidak mengetahui apakah dia akan sanggup membawa terbang pemuda itu.

Karenanya burung rajawali tersebut telah berdiam diri saja, dengan mengeluarkan suara pekikan perlahan.

Di waktu itu terlihat Ko Tie bersiul satu kali lagi, karena dia menduga burung rajawali itu tidak mengerti maksudnya.

Burung rajawali itu telah bimbang sejenak, akhirnya dia menekukkan ke dua kakinya, dia mengambil sikap siap untuk membawa Ko Tie terbang pergi meninggalkan tempat itu.

Ko Tie berusaha untuk membalikkan tubuhnya, kemudian merangkak bangun.

Usahanya itu sakit bukan main bagi tubuhnya, karena dadanya seperti akan pecah, demikian juga halnya dengan isi perutnya, seperti terbalik.

Penderitaan pemuda itu luar biasa hebatnya, akan tetapi dia masih dapat mempertahankan.

Mati-matian dia berusaha merangkak.

Untuk bangun saja, agar dapat merangkak mendekati burung tersebut, yang tidak terpisah jauh dari dia, sulitnya tak terkira, dan hanya dapat bergerak sedikit demi sedikit.

Burung rajawali itu tetap mendekam di atas tanah dengan sabar, sama sekali dia tidak berusaha untuk berdiri.

Dia menantikan sampai Ko Tie berhasil menaiki punggungnya.

Seperti biasanya, untuk naik ke atas punggung rajawali bukanlah pekerjaan yang sulit buat Ko Tie.

Tapi sekarang ini, di mana dia terluka dengan parah sekali, membuat dia sulit untuk naik ke atas punggung burung itu.

Akhirnya, dengan mengerahkan seluruh tenaga dan kemampuannya, dengan menahan rasa sakit yang sangat pada tubuhnya.

Dia berhasil untuk merangkak naik sampai di punggung burung rajawali itu.

Cuma saja dia dalam keadaan rebah, dengan ke dua tangannya melingkari leher burung tersebut, kemudian pingsan tidak sadarkan diri lagi........

Burung rajawali itu, setelah merasakan bahwa Ko Tie berhasil menempatkan dirinya di punggungnya dengan baik, barulah dia berdiri di atas ke dua kakinya.

Lalu perlahan-lahan dia menggerakkan sayapnya.

Sakit bukan main.

Namun burung rajawali itu berusaha melawan rasa sakit itu, dia terus juga mengibaskan ke dua sayapnya.

Dan perlahan-lahan tubuhnya telah melambung ke angkasa.

Dia terbang perlahan-lahan, seakan juga dia mengetahui bahwa Ko Tie dalam keadaan pingsan dan jika dia terbang terlalu keras dan cepat, niscaya akan membuat Ko Tie kemungkinan terjatuh dari atas punggungnya.

Karena itu, semakin lambat dia terbang, burung rajawali itu memperoleh kesulitan yang semakin besar.

Karena di waktu itu segera juga dia merasakan bobot berat tubuhnya ditambah dengan berat bobot tubuh Ko Tie.

Hal ini membuat ia sulit sekali terbang, dan harus mengeluarkan tenaga yang lebih kuat lagi pada ke dua sayapnya itu, membuat sayap kanannya yang terluka dan tulangnya patah pada ujungnya itu mendatangkan rasa sakit yang tidak terkira…… Tapi burung rajawali itu menahan rasa sakitnya, dia terbang terus dan di waktu itu, dia telah terbang semakin tinggi di udara.

Tujuannya adalah perkampungan di sebelah barat dari tempat itu.

Tentu saja burung rajawali yang memang jinak dan telah terdidik itu mengetahui, di dalam kampung itu tentunya Ko Tie akan memperoleh pertolongan dari penduduk kampung itu.

Hanya saja bagi Ko Tie sendiri, belum berarti dia akan tertolong dengan dia dibawa ke kampung itu.

Sebagai sebuah kampung yang tidak begitu besar, tentunya perkampungan tersebut tidak memiliki tabib yang pandai.

Tapi Ko Tie sendiri sudah tidak sadarkan diri, dan semuanya keputusan itu diambil oleh burung rajawali tersebut, tanpa diperintah lagi oleh Ko Tie.

Setelah terbang beberapa saat, dengan menahan sakit pada sayapnya, burung rajawali itu telah terbang cukup jauh.

Dan samar-samar sudah terlihat perkampungan yang ditujunya, di waktu mana burung rajawali tersebut jadi girang dan terbangun semangatnya, dia terbang agak lebih cepat dari sebelumnya.

Dikala itu terlihat perkampungan yang tidak begitu besar dan penduduk tidak begitu padat, karena waktu burung rajawali ini tengah terbang di atas perkampungan tersebut, hanya terlihat beberapa orang saja yang berlalu lalang.

Segera juga burung rajawali itu terbang meluncur turun perlahanlahan di tengah-tengah perkampungan itu.

Dia hinggap di tengah jalan raya.

Beberapa orang penduduk kampung yang berada di situ, jadi mengeluarkan seruan kaget karena melihat seekor burung rajawali yang begitu besar dan tahu-tahu telah menukik turun dan hinggap di jalan raya tersebut.

Akan tetapi burung itu tidak memperlihatkan tanda-tanda ganas, juga sama sekali tidak berusaha untuk menyerang, mereka jadi agak tenang.

Dan di saat itu burung rajawali itu mengeluarkan suara pekik perlahan yang lirih, seakan memohon pertolongan orang-orang itu.

Waktu orang-orang itu menegasi, segera juga mereka melihat sesosok tubuh yang rebah di punggung burung rajawali itu.

Malah sosok tubuh itu tidak bergerak, mungkin dalam keadaan pingsan.

Cepat-cepat beberapa orang penduduk kampung itu berlari untuk menghampirinya, dan setelah mereka melihat jelas seorang pemuda yang pingsan tidak sadarkan diri berada di punggung burung rajawali itu, dan burung rajawali itu mendekam di atas tanah, seakan juga mempersilahkan orang-orang itu menurunkan Ko Tie, rasa takut penduduk kampung itu berkurang.

Merekapun segera mendekati, selangkah demi selangkah, dalam keadaan bersiap dan waspada, karena mereka kuatir kalau-kalau burung rajawali itu akan menerjang mereka.

Namun setelah mereka mendekati lebih jauh, burung itu tetap saja mendekam di tanah tanpa berusaha menyerang mereka, penduduk kampung itu semakin berani, dan mereka segera menurunkan Ko Tie dari punggung rajawali itu.

Burung rajawali tersebut segera berdiri dan mengembangkan sayapnya, kepalanya dianggukkan beberapa kali, seakan juga dia tengah memberi hormat dan mengucapkan terima kasih, sehingga membuat beberapa orang penduduk kampung itu jadi merasa lucu dan tertarik sekali.

Bahkan mereka jadi menyukai burung rajawali.

Di kala itu tampak orang-orang kampung itu telah membawa Ko Tie, yang dalam keadaan tetap pingsan tidak sadarkan diri, ke sebuah rumah.

Burung rajawali itu tidak terbang pula ke tengah udara.

Dia hanya berdiam diri saja di samping dekat rumah itu.

Ko Tie direbahkan di pembaringan, dan telah coba untuk ditolong, agar dia tersadar dari pingsannya.

Tapi usaha dari beberapa penduduk kampung itu sama sekali tidak berhasil, sebab Ko Tie tetap saja dalam keadaan pingsan tidak ingat orang.

Mukanya pucat pias, malah pada ujung mulutnya, tampak bekas-bekas darah yang telah mengering dan berubah warnanya kehitam-hitaman.

Salah seorang dari penduduk kampung itu telah berlari-lari buat pergi memanggil tabib.

Tidak lama kemudian, datang seorang tabib yang berusia lanjut sekali.

Dialah tabib di kampung itu, yang sangat diandalkan sekali.

Pengetahuannya tentang pengobatan sesungguhnya tidak terlalu hebat, karena dia hanya mengerti penyakit-penyakit biasa.

Melihat keadaan Ko Tie seperti itu, tabib tua itu telah menghela napas berulang kali sambil ia menggeleng-gelengkan kepalanya.

"Keadaannya terluka parah demikian, sulit buat menyelamatkan jiwanya……!"

Menggumam tabib itu ketika dia mencekal dan memegang nadi di pergelangan tangan si pemuda.

Tabib itu merasakan betapa ketukan atau denyutan nadi di pergelangan tangan Ko Tie demikian kacaunya.

Sebentar cepat dan sekejap mata berobah jadi perlahan sekali, lemah.

Juga muka pemuda itu pucat pias.

Dengan melihat keadaan si pemuda seperti itu, segera juga tabib tersebut mengambil kesimpulan bahwa ia memang sulit menyembuhkan pemuda ini.

Di waktu itu, tampak dua orang penduduk telah menjura kepada tabib itu.

"Tolonglah Sin-se mengobatinya…… tampak dia bukan sebangsa manusia tidak baik-baik. Dia seorang pemuda yang mungkin telah mengalami sesuatu di tangan para begal....."

Kata penduduk itu. Malah yang seorang pun telah menyambungi.

"Diapun dibawa ke mari oleh rajawali yang besar, yang ada di luar itu, tentunya pemuda ini bukan sebangsa pemuda sembarangan. Tabib itu menghela napas beberapa kali, kemudian memeriksa lagi tubuh Ko Tie.

"Baiklah, aku akan berusaha menolongi dengan memberikan obat, tapi aku tidak bisa memastikan bahwa jiwa pemuda ini akan dapat ditolong!"

Setelah berkata begitu, tabib tersebut meminta peralatan tulis, ia membuat resep.

Seorang penduduk segera berlari-lari pergi ke rumah obat untuk membeli obat itu.

Sedangkan tabib itu setelah menerima bayaran lima bun dan tiga cie, dia kemudian pergi.

Dia memang melihat bahwa Ko Tie tipis sekali harapan bisa diselamatkan.

Diam-diam tabib itu pun berpikir, siapakah pemuda ini, yang tampaknya terluka di dalam tubuh demikian parah dan hebat?

Malah tabib itu segera hendak berpikir, bahwa mungkin juga pemuda ini adalah sebangsa begal yang memiliki kepandaian tinggi dan kebetulan telah bertemu dengan lawan yang tangguh, membuatnya benar-benar jadi terluka begitu parah.

Tapi akhirnya tabib itu tidak mau dipusingkan lagi urusan itu, karena yang terpenting baginya dia telah menerima bayaran, dan tadi dia telah membuka resep dengan obat yang benar, untuk berusaha menolongi pemuda itu.

Walaupun berulang kali dia berusaha meyakinkan penduduk bahwa pemuda itu tidak mungkin dapat ditolonginya, tapi penduduk mendesak buat menolonginya.

Karena itu dia segera juga membuka resep obat.

Dia tidak tahu apakah obatnya itu akan manjur dan menyembuhkan pemuda itu, karena yang diketahuinya justeru bahwa pemuda itu tidak akan hidup lebih lama dari tiga hari…… Ko Tie telah diminumkan obat yang dibuka resepnya oleh tabib itu.

Obat itu dimasak dengan cara digodok, kemudian airnya diminumkan kepada Ko Tie sesendok demi sesendok.

Ko Tie masih dalam keadaan pingsan, namun dengan sabar penduduk kampung yang berusia lanjut, pemilik rumah itu, telah meminumkan obat itu.

Dengan sekali memasukan sesendok obat itu dia memijit rahang Ko Tie, sehingga obat itu dapat mengalir masuk lewat tenggorokan Ko Tie.

Dan akhirnya satu mangkok obat itu telah habis diminumkan buat Ko Tie.

Tapi Ko Tie masih tetap dalam keadaan pingsan tidak ingat orang......

Sedangkan di saat itu terlihat, beberapa orang penduduk kampung tengah berunding.

Mereka bermaksud menemui Yang Sin-se, untuk meminta dan mendesaknya, berusaha menolongi pemuda itu.

"Tapi Yang Sin-se sendiri yang mengatakan bahwa harapan pemuda itu tertolong jiwanya sangat tipis sekali..... bagaimana kita bisa mendesaknya lagi? Bukankah akan percuma saja? Dengan berkata begitu Yang Sin-se juga seakan ingin mengatakan.bahwa ia sudah tidak memiliki daya buat menolongi pemuda ini, yang lukanya demikian parah!" Yang lainnya terdiam, mereka tampaknya memang membenarkan juga kata-kata kawannya. Waktu itu salah seorang di antara mereka berkata.

"Atau kita mencari tabib lainnya?"

"Tabib lain?"

Tanya kawannya. Orang itu mengangguk.

"Ya!"

Sahutnya.

"Tabib mana lagi? Sedangkan Yang Sin-se merupakan tabib yang paling pandai di kampung ini!"

"Tapi kita bisa mencari tabib lain di tempat lain!"

"Di tempat lain di mana?"

Tanya kawannya sambil mengawasi dengan tidak percaya.

"Ke kota yang terdekat misalnya?!"

"Hu! Pemuda itu tentu sudah keburu mati!"

Kata kawannya.

"Pergi ke kota Tiang-an, yang terdekat, yang hanya limapuluh lie, untuk pulang pergi hampir memakan waktu dua hari. Lalu siapa yang bersedia untuk pergi? "

Jika memang di kota itu terdapat tabib itu yang pandai, kalau tidak? Juga kesulitan lainnya, apakah tabib itu mau diundang ke mari? Berapa biayanya?!"

Mendengar perkataan kawannya seperti itu, orang tersebut jadi terdiam.

Memang benar apa yang dibilang kawannya, banyak kesulitan yang mereka hadapi jika saja bermaksud mengundang tabib lainnya dari tempat lain.

Di waktu itu tampak penduduk kampung ini memang berusaha menolongi Ko Tie sekuat kemampuan mereka.

Terlebih lagi mereka menduganya bahwa Ko Tie tentunya bukanlah sebangsa pemuda biasa.

Setidak-tidaknya tentu merupakan pemuda yang memiliki kepandaian tinggi, juga memang ia pun memiliki rajawali yang begitu besar dan tampaknya luar biasa sekali.

Tapi penduduk kampung itu tidak berdaya untuk melakukan sesuatu apa-apa lagi.

Ko Tie masih pingsan tidak sadarkan diri ◄Y► Burung rajawali di luar rumah itu masih berdiri diam dengan sabar.

Seorang penduduk yang tertarik sekali melihat burung rajawali yang besar seperti burung raksasa itu, jinak sekali dan tidak ganas, memberanikan diri.

Dia mengawasi burung itu, sampai akhirnya ketika burung itu merintih perlahan dengan pekikan lirih, dan mengeluarkan sayap kanannya, maka orang itu melihat sayap burung itu terluka, tulangnya patah.

Burung rajawali itu bersikap demikian karena dia mengharapkan orang itu dapat mengobati luka pada sayapnya tersebut.

Orang itu memang benar-benar mengobatinya, karena dia telah mengambil sebatang kayu dan mengikatkan pada sayap burung rajawali itu.

Dia juga mengurutinya dengan arak gosok.

Burung rajawali itu memekik perlahan dan lirih, bagaikan dia mengucapkan terima kasih atas pengobatan yang diberikan oleh orang tersebut.

Segera juga tersiar di dalam kampung itu perihal burung rajawali yang besar seperti burung raksasa, namun tidak ganas dan jinak sekali, seperti mengerti akan perkataan manusia.

Banyak penduduk yang berdatangan buat melihat burung rajawali itu, malah ada beberapa orang di antara mereka yang berani, telah mengulurkan tangannya buat mengusap-usap burung rajawali itu.

Tiauw-jie atau burung rajawali itu berdiam diri saja, dia tampak begitu jinak.

Setiap kali diusap oleh tangan penduduk kampung itu, ia mengeluarkan suara yang lirih dan tampak sama sekali tidak ada tanda-tanda bahwa dia ganas.

Penduduk kampung itu segera mengetahui bahwa burung rajawali ini memang bukan sejenis rajawali yang ganas.

Mereka jadi semakin berani.

Malah ada beberapa orang anak laki-laki penduduk kampung itu yang naiki punggung burung itu.

"Melihat burung rajawali ini, yang tampaknya memang tidak ganas, rupanya pemuda itu memang seorang pemuda baik-baik……!"

Begitulah menggumam beberapa orang penduduk kampung itu.

"Cuma saja anehnya, mengapa justeru dia bisa terluka begitu hebat? Dan burung rajawali ini pun sudah membela pemuda itu, sehingga diapun terluka pada sayapnya itu.....!" Pandangan penduduk pada burung rajawali itu segera berubah jadi baik. Merekapun yakin bahwa Ko Tie seorang pemuda yang memiliki sifat baik bukan sebangsa manusia telur busuk. ◄Y► Hari sudah mendekati sore, waktu itu Ko Tie masih juga pingsan tidak sadarkan diri. Penduduk kampung itu mulai panik, mereka kuatir pemuda itu tidak tertolong. Orang tua pemilik rumah itupun telah menghela napas berulang kali.

"Tampaknya memang ia terluka berat sekali, bukankah Yang Sinse (tabib Yang) telah mengatakan bahwa ia tidak menjamin bahwa pemuda ini akan dapat ditolongnya?!"

Sambil berkata begitu, orang tua pemilik rumah tersebut menghela napas berulang kali, lalu melanjutkan lagi kata-katanya.

"Tampaknya nasib pemuda ini buruk sekali, jika sampai dia meninggal dunia, harus dibuat sayang, karena dia mati muda dan tentunya diapun bukan pemuda sembarangan, dia pasti memiliki kepandaian ilmu silat yang tinggi! Diapun sangat tampan sekali…… Hai, hai, hai……!"

Rupanya penduduk kampung itu memang menyukai Ko Tie, mereka menyayangkan sekali bahwa Ko Tie terluka begitu berat dan juga tampaknya sulit untuk ditolong.

Tapi menjelang tengah malam ia tersadar, dia mengeluh dan kemudian pingsan lagi.

Baru mendekati fajar, Ko Tie tersadar lagi.

Pemilik rumah itu, si orang tua, yang melihat Ko Tie telah tersadar dari pingsannya, jadi girang bukan main.

Dengan siumannya si pemuda, jelas hal ini memiliki harapan bahwa pemuda itu akan tertolong jiwanya.

Akan tetapi kenyataan yang ada justeru pemuda itu pingsan pula.

Dua kali siuman, tapi dua kali pula ia jatuh pingsan tidak sadarkan diri.

Keadaannya tidak menjadi lebih baik, malah semakin memburuk, karena ia jadi begitu lemah, dan waktu ia sempat berkata-kata, suaranya tidak keras, terlalu perlahan, kata-katanya juga tidak jelas.

Dengan sabar pemilik rumah tersebut telah mengompres kening Ko Tie dengan air dingin agar pemuda itu berkurang panas pada tubuhnya.

Tapi Ko Tie tetap saja pingsan.

Barulah setelah matahari naik tinggi, Ko Tie tersadar benar-benar.

Ia tidak pingsan lagi.

Pertama kali yang dilihatnya adalah orang tua pemilik rumah tersebut, ia segera berusaha tersenyum.

Orang tua itu juga tersenyum, dia telah satu malaman menggadangi Ko Tie.

"Tenanglah, kau berada di tempat yang cukup baik dan aman, Kongcu!"

Kata orang tua itu.

"Di mana….. di mana aku sekarang ini?!"

Tanya Ko Tie dengan suata yang serak. Orang tua itu tidak segera menyahuti, dengan perlahan-lahan dan sabar ia memakai sendok untuk meminumkan pemuda itu.

"Kongcu berada di kampung Pu-an-cung, sebuah kampung yang kecil tapi aman..... di sini tidak ada orang jahat. Kongcu bisa beristirahat dengan tenang jangan terlalu banyak bergerak dan bicara dulu, keadaanmu masih lemah! Obat yang diberikan Yang Sin-se tampaknya pun membawa kebaikan juga.....!"

"Terima kasih atas pertolongan Lopeh!"

Kata Ko Tie dengan suara yang lemah.

"Bukan aku yang menolongimu, Kongcu, tapi penduduk kampung ini, mereka melihat kau dibawa oleh seekor burung rajawali..... !"

Kata orang tua itu. Mendengar disebutnya perihal burung rajawali, segera juga Ko Tie teringat kepada Tiauw-jie.

"Di.....di mana Tiauw-jie?!"

Tanya Ko Tie kemudian dengan suara lemah dan serak.

"Tiauw-jie? Siapa Tiauw-jie?!"

Tanya orang tua itu heran dan tidak mengerti.

"Burung…… rajawali itu!"

Menyahuti Ko Tie dengan suara yang tetap lemah. Orang tua itu tersenyum, dia baru mengerti, dia pun mengangguk.

"Tenanglah, burung rajawali pun dalam keadaan selamat…… Kau jangan gelisah, dia berada di luar, diapun memperoleh perawatan yang baik dari kawan-kawanku…… luka pada sayapnya telah diobati……!"

Ko Tie mengangguk perlahan.

Waktu ia ingin berkata-kata lagi, orang tua itu telah mengulap-ngulapkan tangannya, mencegah Ko Tie berkata-kata.

Di kala itu, di luar rumah terdengar suara langkah kaki yang cukup ramai, bukti bahwa beberapa orang tengah mendatangi dan memasuki rumah tersebut.

Orang tua itu menoleh, Ko Tie juga telah ikut melirik ke arah pintu.

Ternyata telah masuk delapan orang penduduk kampung.

"Bagaimana keadaannya, Ang Lotoa?!"

Tanya salah seorang di antara mereka kepada pemilik rumah itu. Orang tua itu telah mengangguk.

"Jangan berisik, Kongcu ini telah siuman, tapi dia perlu istirahat, tampaknya keadaannya membaik juga……!"

Kata Ang Lotoa kemudian.

Penduduk kampung itu segera mendekat ke pembaringan.

Mereka melihat Ko Tie memang telah tersadar.

Mereka segera mengangguk sambil tersenyum.

Ko Tie pun membalas senyum mereka, senyuman yang lemah sekali, karena ia memang masih dalam keadaan yang lemah bukan main.

Dadanya pun dirasakan sakit sekali.

Ini karena dia telah dipukuli oleh kera bulu kuning dan tenaga dalamnya yang baru disembuhkan oleh kakek tua Bun Siang Cuan, telah berbalik kembali menggempur dirinya sendiri ketika dia mempergunakan tenaganya yang melebihi takaran.

"Terima kasih atas pertolongan kalian!"

Kata Ko Tie kemudian dengan suara yang lemah.

"Aku..... aku tidak tahu dengan cara apa membalas kebaikan kalian......!"

"Jangan Kongcu berkata begitu, kami senang jika bisa menolongimu……!"

Kata orang-orang kampung itu.

Ko Tie mengucapkan terima kasih satu kali lagi, dan ia kemudian memejamkan matanya.

Sedangkan penduduk kampung itu yang melihat Ko Tie memejamkan matanya dan mereka menyadari bahwa keadaan Ko Tie masih lemah sekali, maka merekapun segera meninggalkan ruangan itu dan keluar.

"Obat yang diberikan Yang Sin-se ternyata memang manjur!"

Kata salah seorang di antara mereka setelah berada di ruang luar. Kawan-kawannya mengangguk.

"Ya…… maka kita tidak perlu tergesa-gesa, karena obat itu bekerja perlahan. Buktinya saja sekarang, ia telah siuman! Hemmm, jika kita sembarangan memanggil tabib, bukankah jadi berbalik dari apa yang kita harapkan, yaitu bisa membahayakan jiwa pemuda itu? "

Memang kita sudah mengetahui Yang Sin-se memang seorang tabib yang pandai dan obatnya pun sangat manjur.

Maka, nanti sore kita undang lagi Sin-se itu buat mengobati kongcu itu pula…..

Siapa tahu Yang Sin-se berhasil menyembuhkannya dan menyelamatkan jiwanya……!"

Yang lainnya mengangguk.

Ko Tie terharu mendengar percakapan mereka.

Ia sangat berterima kasih sekali, karena penduduk kampung itu ternyata memang seorang yang baik dan juga mau menolonginya dengan bersungguh-sungguh hati.

Dia pun tidak menguatirkan burung rajawalinya, dengan melihat penduduk kampung itu yang semuanya ramah dan baik hati.

Dia tidak menguatirkan Tiauw-jie akan menerima perlakuan yang tidak baik.

Karena itu, Ko Tie telah memejamkan matanya untuk mengasoh.

Diam-diam dia mengerahkan sin-kangnya, karena dia bermaksud untuk menyalurkan tenaga dalamnya, menyembuhkan sendiri luka di dalam tubuhnya.

Begitu Ko Tie mengerahkan tenaga dalamnya, dia jadi tercekat, karena di waktu itu segera juga dia merasakan dadanya sakit, sampai dia mengeluh.

Orang tua pemilik rumah itu, Ang Lotoa, jadi kaget tidak terkira.

Dia memang masih mendampingi Ko Tie dengan sabar.

Mendengar keluhan pemuda itu, tanyanya dengan sabar.

"Apakah ada sesuatu yang Kongcu rasakan?!"

"Dada..... dadaku sangat sakit sekali……!"

Kata Ko Tie dengan suara perlahan dan tubuhnya pun tampak agak merengkat, mukanya juga meringis seperti menahan sakit. "Diamlah dulu, beristirahat……!"

Kata orang tua itu.

"Mungkin tadi Kongcu terlalu banyak bicara dan bergerak. Kongcu belum boleh terlalu banyak bergerak..... kau harus beristirahat dulu baikbaik.....!"

Ko Tie cuma mengangguk.

Dia tidak bermaksud menjelaskan sebab-sebabnya kepada Ang Lotoa tersebut, karena dia yakin, jika tokh dia menjelaskannya, tokh orang tua itu tidak akan mengerti.

Kembali Ko Tie berusaha mencoba sekali lagi menyalurkan tenaga dalamnya.

Dia berhasil mengalirkan pernapasannya dan juga sinkangnya lewat pintu Kong, Cun dan Tan.

Tapi ketika hawa murni di tubuhnya akan melewati pintu Bun, waktu itulah dia merasakan perutnya seperti mau terbalik-balik dan seakan juga isi perutnya akan digores-gores oleh pisau yang tajam, ngilu dan sakit sekali.

Dia menahan tenaga dalamnya dan tidak berusaha menyalurkannya menerobos pintu Bun, dia telah berdiam diri.

Keringat dingin mengalir keluar dari sekujur tubuhnya.

Diwaktu itu juga terlihat betapa Ang Lotoa dengan telaten sekali telah merawatnya.

Dia masih mengompres kepala Ko Tie, karena tubuh pemuda itu masih menguap panas sekali.

Ko Tie memejamkan matanya sejenak lamanya, barulah dia meneruskan lagi mengerahkan tenaga dalamnya.

Kali ini dia berhasil menembusi jalan darah yang disebut Pintu Bun.

Dia juga telah menyedot udara dalam-dalam, dan ingin menyalurkan tenaga dalamnya itu kepada pintu Sie, dan dia telah berhasil menembusi.

Tapi begitu pintu Sie ditembusi tenaga dalamnya, pandangan mata Ko Tie berkunang-kunang.

Dia merasakan kepalanya seperti dihantami oleh martil, di samping itu juga dia mengeluh kesakitan.

Orang tua itu jadi kebingungan, terlebih lagi kemudian dia melihat Ko Tie jatuh pingsan tidak sadarkan diri.

Cepat-cepat Ang Lotoa memanggil beberapa orang penduduk kampung buat membantuinya.

Juga dua orang di antara mereka berlari-lari pergi ke rumah Yang Sin-se.

Tidak lama kemudian Yang Sin-se telah tiba, dan segera memeriksa keadaan Ko Tie.

Dia menghela napas, katanya.

"Tampaknya pemuda ini semakin lemah dan parah.....!"

Kata Sin-se itu.

"Tapi Sin-se, tadi dia telah siuman, namun akhirnya mengeluh dan kemudian tidak sadarkan diri lagi..... tadi dia malah sempat bercakap-cakap dengan kami, dia mengutarakan perasaan terima kasihnya!"

Kata Ang Lotoa. Yang Sin-se menghela napas, kemudian katanya.

"Sayangnya lukanya memang benar-benar sangat parah sekali, sehingga sulit buat menyembuhkannya.....

"Coba, aku ganti saja obat yang kuberikan kepadanya dengan obat yang lebih keras daya kerjanya. Siapa tahu obat itu baru cocok buat dia mempertahankan diri dalam beberapa hari! "

Terus terang saja kukatakan kepada kalian, obat yang akan kuberikan itu tidak mungkin bisa menyembuhkannya, dan hanya bisa memperpanjang umurnya beberapa hari saja, mencegah sakit pada tubuhnya.

Agar begitu dia siuman, dia tidak terlalu menderita kesakitan......!"

Muka semua penduduk kampung itu jadi muram, mereka menyesal sekali bahwa Ko Tie tidak bisa ditolong jiwanya.

Dan obat yang diberikan oleh Yang Sin-se hanya merupakan obat yang memperpanjang umur si pemuda selama beberapa hari saja.

Dengan begitu, mereka jadi putus asa, karena toh akhirnya pemuda itu akan mati juga......!

Yang Sin-se telah menulis resep obatnya lagi, dan seorang penduduk cepat-cepat membelinya di rumah obat.

Begitu pulang membawa obat, segera ia memasaknya.

Dan setelah hangat-hangat, diberikan kepada Ko Tie, untuk meminumnya.

Cara meminumkannya sama seperti tadi, yaitu mempergunakan sendok dan setiap sesendok obat itu dimasukkan ke dalam mulut Ko Tie, rahangnya dipijit, sehingga obat itu tertelan.

Semua penduduk kampung segera juga bisik-bisik, karena mereka menyayangkan sekali kalau sampai Ko Tie benar-benar tidak tertolong.

Pemuda itu tampak demikian tampan, juga tubuhnya tegap dan gagah.

Dia merupakan seorang pemuda yang jarang sekali terlihat di kampung ini.

Hanya sayang menurut Yang Sin-se umurnya hanya beberapa hari lagi.

Dengan begitu, penduduk kampung jadi membicarakan perihalnya, malah beberapa orang gadis kampung itu juga membicarakan perihal ketampanan pemuda tersebut.

Burung rajawali yang masih berada di luar rumah menerima perawatan yang baik.

Selain sayapnya yang luka itu diobati juga dia selalu diberi makan.

Di waktu itu, burung rajawali itu tampak gelisah sekali, karena telah dua hari dia tidak melihat Ko Tie.

Justeru dia ingin mengetahui juga, bagaimana keadaan Ko Tie, sayang tubuhnya sangat besar, sehingga dia tidak bisa masuk ke dalam rumah penduduk itu.

Hanya penduduk yang mengerti akan perasaan burung rajawali itu, telah menghiburnya dan burung rajawali seperti juga mengerti kata-kata manusia itu, dan tampak jauh lebih tenang dari sebelumnya.

Pada pagi hari ke tiga, kembali Yang Sin-se datang pula ke situ untuk memeriksa keadaan Ko Tie.

Keadaan Ko Tie sangat payah dan lemah sekali, karena sejak kemarin di mana dia telah pingsan pula, dia tidak sadarkan diri terus sampai sekarang, karenanya melihat keadaan demikian.

Yang Sin-se yakin tidak lama lagi tentu pemuda ini akan menghembuskan napasnya mati, di mana keadaannya memang semakin lemah itu.

Penduduk kampung pun tampak berduka, wajah mereka muram.

Walaupun mereka memang tidak kenal dan tidak mengetahui siapa adanya Ko Tie, akan tetapi merekapun memang ingin sekali dapat menyelamatkan dan menolong Ko Tie.

Di waktu itu terlihat betapapun juga, memang Ko Tie dalam keadaan sekarat.

Sejak waktu kemarin dia pingsan terus sampai satu hari satu malam itu ia tidak sadarkan diri.

Namun ketika Yang Sin-se tengah memeriksa hong-menya, di waktu itulah Ko Tie membuka pelupuk matanya, dia siuman.

Yang Sin-se mengawasinya sesaat, memeriksa matanya, yang agak kuning.

Yang Sin-se menghela napas, kemudian menggeleng-gelengkan kepalanya.

Waktu itu Ko Tie bersuara perlahan.

"Aku..... aku..... di mana?!"

Seakan juga ia mengigau. Yang Sin-se menoleh kepada Ang Lotoa dan para penduduk kampung lainnya yang telah berkumpul di kamar itu dengan berkuatir.

"Dia sudah tidak dapat ditolong lagi!"

Kata Yang Sin-se kemudian, sambil memutar tubuhnya, bermaksud hendak berlalu. Para penduduk kampung itu mengerubungi Sin-se tersebut.

"Apakah Sin-se tidak bisa usahakan agar ia dapat ditolong dan diselamatkan?!"

Tanya mereka dengan sikap yang sangat berkuatir sekali. Yang Sin-se menggeleng.

"Sayang sekali keadaannya sudah tidak memungkinkan untuk ditolong lagi!"

Kata Sin-se itu kemudian. Dan katanya lagi penuh penyesalan.

"Maafkanlah..... aku benar-benar tidak dapat mengusahakan lebih dari apa yang sanggup kulakukan!"

Setelah berkata begitu, dia memutar tubuhnya dan berlalu.

Seketika itu juga para penduduk kampung jadi bisik-bisik, karena mereka benar-benar menguatirkan sekali keselamatan Ko Tie.

Mereka menyesal sekali bahwa Yang Sin-se mengatakan bahwa ia tidak sanggup menyembuhkan dan menyelamatkan jiwa pemuda itu.

Sedangkan muka Ang Lotoa murung sekali, ia sangat berduka.

Selama tiga hari dia merawat Ko Tie, entah mengapa dia memiliki perasaan senang padanya.

Disaat itu tampak Ang Lotoa telah menghampiri pembaringan, mengawasi Ko Tie yang dalam keadaan sadar, tengah diam dengan mata terbuka.

"Bagaimana keadaanku......, apakah dapat disembuhkan?!"

Tampak Ang Lotoa tersenyum, senyum yang pahit sekali, diapun bilang.

"Maafkanlah..... kami telah berusaha sekuat tenaga. Tapi Kongcu tidak perlu kuatir, karena kami akan berusaha mencari tabib lainnya.....!"

Menghibur Ang Lotoa.

Dia berkata begitu, karena dia yakin bahwa Ko Tie tentunya telah mendengar apa yang dikatakan oleh Yang Sin-se.

Penduduk kampung lainnya telah menghampiri juga, mereka telah mengawasi Ko Tie, yang keadaannya begitu lemah, dengan wajah yang sangat pucat pias.

"Aku..... aku..... memang tampaknya sudah sulit untuk diselamatkan....."

Kata si pemuda kemudian dengan suara yang lemah sekali!

Ang Lotoa memaksakan dirinya buat tersenyum, dia menghibur lagi.

Tapi Ko Tie mengetahui bahwa dia tentunya memang sulit buat diselamatkan, karena lukanya yang memang demikian parah.

Dia masih berusaha menyembuhkan luka mengerahkan di dalam sin-kangnya, tubuhnya itu untuk dengan mempergunakan sin-kangnya.

Akan tetapi kenyataannya, dia tidak berhasil juga menembusi pintu Sie.

Malah ketika dia mengerahkan sin-kangnya ke jalan pintu Sie, pada jalan darah di tubuhnya, dia merasakan kesakitan yang bukan main.

Dan dia mengeluh, setengah menjerit, lalu pingsan lagi.

Ang Lotoa dan yang lainnya tampak begitu bingung.

Mereka tidak mengetahui, entah apa yang harus mereka lakukan.

Dikala itu, di luar terdengar seara keliningan, yang terdengarnya begitu nyaring!

Menyusul dengan itu terdengar juga suara orang berseru.

"Tabib dari Sorga..... penyakit apapun dapat disembuhkan. Walaupun orang yang arwahnya hampir meninggalkan tubuhnya akan dapat disembuhkan…… Siapa yang sakit, boleh berobat, siapa yang sakit boleh berobat. Teriakan orang itu sangat nyaring sekali. Ang Lotoa dan kawan-kawannya jadi tertegun. Mereka saling pandang. Kemudian beramai-ramai mereka berlari keluar. Ternyata di depan rumah Ang Lotoa lewat seorang laki-laki tua sekali. Jenggot dan kumisnya telah memutih, memakai baju warna hijau dengan kopiah warna hijau juga. Di tangan kanannya memegang tongkat kayu cendana, sedangkan tangan kirinya memegang pelakat yang besar sekali yang bertulisan.

"Tabib dari Sorga, dapat mengobati berbagai penyakit yang paling sukar sekalipun! Ada jaminan. Jika tidak sembuh. uang akan dikembalikan menjadi tiga kali lipat……!"

Di punggungnya tampak bergemblok sebuah kotak kayu, mungkin berisikan obat-obatan.

Semua orang kampung itu saling pandang.

Siapakah tabib dari Sorga itu?

Mereka belum pernah melihatnya, dan mereka memang tidak mengenalnya.

Namun melihat pelakat yang dibawa Tabib itu, dan juga teriakannya, yang begitu tekebur, bukankah tabib ini merupakan tabib yang sangat pandai?

Dan bukankah sangat kebetulan sekali Ko Tie dalam keadaan sekarat?

Mereka melihat, tabib itu tampaknya buta karena dia berjalan dengan mata terpejamkan cuma tongkatnya yang mengetukngetuk jalanan, karena tongkat itu sebagai penunjuk jalannya, yang menuntunnya.

Segera juga Ang Lotoa tanpa membuang-buang waktu lagi telah menghampiri.

"Sin-se.....!"

Panggilnya. Tabib itu berhenti melangkah.

"Ada yang memanggilku?!"

Tanyanya kemudian, matanya masih tetap terpejam, dan mereka yakin bahwa tabib ini tentunya seorang tabib yang buta.

Seorang tabib yang buta, bagaimana bisa mengobati orang yang terluka atau sakit?

Tapi dari kata-katanya dan pelakat yang dibawanya, tampaknya tabib ini memang sangat mengandalkan sekali ilmu pengobatannya, sehingga dia berani menjanjikan, jika memang tidak sembuh uang akan dikembalikan dengan berlipat kali lebih besar.

"Sin-se!

kami ingin meminta pertolongan kepada Sin-se, untuk mengobati seseorang!"

Kata Ang Lotoa kemudian. Tabib itu berdiam diri beberapa saat, kemudian mengangguk.

"Boleh! Siapa yang sakit?!"

Tanyanya kemudian.

"Sakit apa? Atau sudah lama sakitnya itu? Apa memang masih penyakit baru yang beberapa hari ini saja?!"

Ang Lotoa segera menyahuti.

"Kawan kami tampaknya terluka pada tubuhnya, sakitnya berat sekali, dia sudah pingsan beberapa kali dalam tiga hari ini! Itulah luka baru..... harap Sin-se mau menolonginya!"

Tabib itu mengangguk-angguk perlahan.

"Hemmm, dia terluka baru tiga hari? Dan selalu jatuh pingsan tidak sadarkan diri, sudah tua atau masih mudakah orang itu?!"

Tanya tabib tersebut.

"Dia mungkin baru berusia duapuluh lima tahun.....!"

"Hemmm, ya, ya, aku akan dapat mengobatinya. Pasti akan dapat menyembuhkannya. Tapi, sebelumnya aku ingin memberitahukan, bahwa setiap kali aku menolongi orang, menyembuhkan sakit seseorang, aku meminta imbalan yang cukup tinggi, untuk sekali pengobatan sampai sembuh, aku meminta seratus tail. Mendengar jumlah uang pengobatan itu, Ang Lotoa jadi tertegun. Itulah jumlah yang sangat besar sekali, dari mana dia bisa memiliki uang sebanyak itu.

"Bagaimana?"

Tanya tabib itu ketika mengetahui lawan bicaranya berdiam diri saja dan tidak mendengar penyahutannya.

"Apakah kau sanggupi akan ongkos pengobatan itu?"

Ang Lotoa tampak berdiri tertegun. Sedangkan orang-orang lainnya telah mendekati.

"Bagaimana Ang Lotoa?"

Tanya beberapa orang penduduk kampung tersebut, ketika melihat Ang Lotoa berdiri tertegun begitu di tempatnya. Ang Lotoa menghela napas.

"Sin-se ini memang menyanggupi untuk menyembuhkan Kongcu itu, tapi ongkos pengobatan yang dimintanya sangat tinggi dan mahal sekali…..!" "Sangat mahal? Berapa yang dimintanya?"

Tanya dua orang penduduk kampung serentak.

"Ia meminta seratus tail.....!"

Kata Ang Lotoa kemudian sambil menghela napas lagi. Muka orang-orang itu jadi berobah.

"Itulah permintaan yang tidak layak, bagaimana mungkin bisa meminta biaya pengobatan semahal itu,"

Kata mereka yang jadi mendongkol kepada tabib buta itu.

"Belum lagi pasti bahwa ia akan dapat mengobati orang itu!"

Tabib itu tampak tersenyum.

"Aku pasti akan dapat menyembuhkannya jika memang kalian berani menyediakan pembayaran seratus tail. Jika memang aku gagal, berarti aku harus mengembalikannya kepada kalian tiga ratus tail.....!"

Itulah tantangan yang benar-benar sangat berani dari tabib buta ini.

Atau memang dia memiliki ilmu pengobatan yang sangat mahir sekali dan pandai, sehingga dia berani bicara tekebur itu.

Bukankah tabib buta itu belum lagi mengetahui bagaimana keadaan si sakit?

Dan juga, bukankah Ko Tie dalam keadaan sakit yang parah sekali?

Tapi tabib buta itu malah telah berkata lagi.

"Bagaimana? Apakah kalian setuju? Jika memang kalian keberatan buat memberikan biaya pengobatan sebesar yang kuminta, maka aku tidak bisa membuang waktu di sini terlalu lama."

Ang Lotoa dan kawan-kawannya jadi bingung, mereka saling pandang beberapa saat lamanya.

"Bagaimana? Baiklah, kalian tampaknya memang keberatan memberikan biaya pengobatan seperti yang kuminta maka aku pun tidak akan memaksa!"

Setelah berkata begitu, tabib tersebut segera juga melangkah meninggalkan tempat itu sambil berseru dengan suara yang nyaring sekali.

"Tabib dari Sorga, dapat menyembuhkan segala macam penyakit yang sudah payah dan sakitnya berat, pasti dapat diobati sembuh..... jika tidak berhasil, uang akan dikembalikan tiga kali lipat?!" Waktu itu ada salah seorang penduduk kampung itu yang berkata kepada Ang Lotoa.

"Bagaimana jika kita bersama-sama menyediakan biaya itu? Bukankah jika dia tidak berhasil kita tidak perlu membayarnya? "

Dan juga malah dia berjanji akan membayar kembali kepada kita sebesar tiga kali lipat?

Bukankah itu untung?

Jika memang dia berhasil, kita boleh bersenang hati, karena pemuda itu yang keadaannya sudah begitu sekarat ternyata masih bisa diobati!"

Mendengar perkataan orang tersebut, yang lainnya segera menyatakan persetujuan mereka.

Ang Lotoa jadi girang bukan main, karena dengan begitu berarti mereka tidak perlu terlalu banyak mengeluarkan biaya pengobatan buat Ko Tie, mereka bisa bersama-sama menanggungnya.

Karena itu, cepat-cepat Ang Lotoa telah mengangguk mengiakan.

"Baiklah!"

Katanya kemudian kepada tabib itu.

"Tolonglah Sin-se mengobati pemuda itu, kawan kami.!"

Tabib itu yang belum begitu jauh melangkah pergi, telah merandek, dia menahan langkah kakinya. "Kalian setuju dengan harga pengobatan yang kuminta?!"

Tanyanya. Ang Lotoa mengiakan.

"Mari Sin-se ikut dengan kami!"

Katanya sambil mengulurkan tangannya buat menuntun tongkat si tabib buta itu. Tabib itu tersenyum.

"Walaupun bagaimana beratnya penyakit kawan kalian, tentu aku akan dapat mengobatinya!"

Kata tabib itu. Tapi Ang Lotoa tidak melayani kata-kata tabib itu, karena dia telah membawa tabib tersebut ke dalam rumahnya, memberitahukan di mana Ko Tie berada.

"Tunggu dulu!"

Kata tabib itu kemudian.

"Apalagi?!"

Tanya Ang Lotoa melihat tabib itu bukannya memeriksa Ko Tie, malah telah berdiri dengan tegak.

"Bukankah telah kukatakan tadi, bahwa aku meminta pembayaran sebesar seratus tail?"

Kata tabib itu. Ang Lotoa jadi mendongkol. "

Sin-se, apakah Sin-se beranggapan bahwa kami ini terlalu miskin sehingga tidak memiliki kemampuan buat membayar ongkos pengobatan itu? Apakah memang Sin-se tidak mempercayai kami?"

Tanya Ang Lotoa dalam keadaan gusar dan mendongkol.

Sebab keadaan Ko Tie sudah demikian parah, akan tetapi tabib itu bukannya segera menolonginya, malah membicarakan soal tetek bengek.

Karena itu, Ang Lotoa sesungguhnya hendak memaki tabib tersebut.

Di waktu itu tampak tabib tersebut mengulap-ulapkan tangannya.

Dia bilang.

"Bukan begitu. Kalian jangan marah dulu! Dengarkan dulu kata-kataku.....! "

Sudah menjadi kebiasaanku, bahwa sebelum aku mengobati si sakit, maka aku harus menerima dulu uangnya!

Ini sudah menjadi peraturanku dan tidak bisa ditawar menawar.

Ang Lotoa dan kawan-kawannya jadi bimbang.

Tapi Mereka yakin, walaupun tabib itu gagal mengobati Ko Tie, tidak mungkin tabib itu bisa melarikan uang mereka.

Bukankah mereka berjumlah banyak?

Maka sibuklah mereka pada pulang ke rumah masingmasing buat mengambil uang.

Setelah uang itu dikumpulkan, dan jumlahnya genap 100 tail, lalu diberikan kepada si tabib.

Demikian telitinya tabib itu, karena dia segera menghitungnya dengan baik.

Barulah dia memasukkan ke dalam sakunya setelah menghitung bahwa jumlah yang diterimanya itu seratus tail.

"Baiklah! Kalian telah membayar kepadaku ongkos pengobatan, dan aku harus berusaha sekuat kemampuanku buat mengobati kawan kalian itu! Ayo tunjukkan, di mana beradanya kawanmu itu!"

Kata tabib tersebut.

Ang Lotoa menuntun tabib itu mendekati pembaringan.

Waktu itu Ko Tie masih dalam keadaan pingsan tidak sadarkan diri, dan tabib itu telah mengulurkan tangannya perlahan-lahan.

Dia merabah-rabah tubuh Ko Tie.

Tapi setelah merabah-rabah sekian lama, tiba-tiba dia berseru nyaring, seakan juga tabib itu terkejut.

"Ihhh, lukanya begitu berat dan parah sekali?!"

Kata tabib tersebut dengan suara yang mengandung kekuatiran. Ang Lotoa mendongkol bukan main.

"Bukankah Sin-se sendiri yang mengatakan luka dan penyakit yang berat bagaimana pun juga engkau akan sanggup buat mengobatinya!"

Katanya. Tabib itu telah tersenyum, wajahnya telah pulih sebagaimana biasa, dia juga mengangguk-anggukkan kepalanya, tenang kembali sikapnya.

"Ya, ya…… memang luka dan penyakit yang bagaimana berat sekalipun aku pasti akan dapat menyembuhkannya…… kalian tidak perlu kuatir. Hanya saja tadi aku terkejut sekali setelah mengetahui bahwa kawan kalian ini terluka demikian parah, karena jika memang dalam dua hari dia tidak diobati dengan baik dan benar, niscaya dia akan mati......!"

Ang Lotoa mengangguk-angguk, berkurang perasaan mendongkolnya.

Demikian juga halnya dengan para penduduk kampung lainnya.

Jika sebelumnya mereka kurang mempercayai bahwa tabib itu memiliki ilmu pengobatan yang lihay dan ampuh.

Sekarang justeru mereka mulai mempercayainya bahwa memang tabib itu memiliki pengetahuan yang sangat luas sekali dalam ilmu pengobatan.

Karena dengan memegang saja dia segera mengetahui bahwa keadaan Ko Tie sangat parah sekali dan hanya memiliki kesempatan buat hidup dua hari saja "Apakah......

apakah pemuda itu dapat ditolong, Sin-se?!"

Tanya Ang Lotoa ketika melihat Sin-se itu berdiri termenung lagi, seperti tengah memikirkan sesuatu. Tabib itu mengangguk.

"Ya..... dia pasti akan dapat tertolong, tapi aku harus mengerahkan seluruh pengetahuanku buat mengobatinya..... sama sekali tidak boleh gagal..... dalam satu hari dia sudah harus tersadar!"

Mendengar perkataan tabib itu, Ang Lo-toa dan kawan-kawannya beranggapan bahwa tabib itu bicara terlalu besar dan terkebur, karena itu, mereka memandang tidak mempercayainya.

Keadaan Ko Tie demikian parah sekali, bagaimana mungkin dia bisa membuat si pemuda tersadar hanya dalam satu hari?

Tapi mereka tidak ada yang memberikan komentar, sedangkan waktu itu si tabib mulai bekerja.

Pertama-tama dia memeriksa sekujur tubuh Ko Tie, dia memeriksanya dengan teliti sekali.

Setelah memeriksa sekian lama, tiba-tiba ia melakukan penotokan di beberapa tempat.

Semuanya dilakukan begitu sebat dan juga setiap totokannya mengenai setiap jalan darah dan tepat sekali, dengan begitu telah membuat orang yang melihatnya akan kagum sekali, kalau saja orang itu memang memiliki ilmu silat.

Hanya saja penduduk kampung itu dan Ang Lotoa tidak mengerti ilmu silat, namun mereka tetap saja kagum karena melihat tangan si tabib yang bergerak begitu lincah dan juga sebat sekali.

Keringat pun telah mengucur deras di sekujur tubuh tabib itu.

Keadaan pada waktu itu sangat tegang sekali, karena semua penduduk kampung itu mengawasi apa yang dilakukan oleh si tabib dengan mata terbuka lebar-lebar.

Tampak tabib ini telah menguruti berbagai anggota tubuh Ko Tie.

Dia melakukannya dengan sikap yang bersungguh-sungguh, dan dia bekerja tanpa mengeluarkan sepatah perkataan pun juga.

Setelah lewat setengah jam, barulah tabib itu berhenti mengurut.

"Selesai tingkat pertama!"

Kata tabib itu kemudian sambil mengeluarkan sehelai kain dan menghapus keringatnya.

Di waktu itu juga terlihat dia telah berkata kepada Ang Lotoa, buat meminta air minum.

Ang Lotoa kaget, dia segera juga menyediakan air minum buat tabib itu.

Tabib itu walaupun buta, akan tetapi dia dapat menotok dan mengurut dengan baik dan tangannya dapat bergerak begitu sebat.

Inilah yang tidak pernah diduga oleh semua orang.

Setelah minum, tabib itu mulai menguruti lagi sekujur tubuh Ko Tie.

Sedangkan Ko Tie masih tetap dalam keadaan pingsan tidak sadarkan diri, di waktu mana dia memiliki paras yang pucat dan sepasang matanya terpejamkan rapat-rapat.

Dikala itu terlihat bahwa tabib itu telah berkata dengan suara perlahan, dia juga telah membuka kotak obatnya, mengeluarkan beberapa macam obat.

Dia memaksa memasukkan ke dalam mulut si pemuda.

Ang Lotoa dan beberapa orang penduduk kampung itu coba membantunya, tapi tabib itu membentak.

"Jangan mencampuri…..!"

Dan semuanya jadi melompat mundur. Tabib ini dengan tangannya yang sebat telah berulang kali memasukkan obat ke mulut Ko Tie. Dan barulah dia duduk beristirahat, sambil mengipas-ngipas.

"Jiwa pemuda ini jika tidak memperoleh pengobatan yang baik, niscaya akan mati.....! Jika saja terlambat satu hari, besok kalian meminta aku mengobati, walaupun aku memiliki obat dewa, tentu aku tak akan dapat mengobatinya, berarti aku akan rugi……!"

Setelah berkata begitu, tabib tersebut menghela napas berulang kali.

"Mengapa sin-se mengatakan Sin-se akan rugi jika memang besok kami meminta pertolongan Sin-se?!"

Tanya Ang Lotoa yang heran dan tidak mengerti maksud perkataan Sin-se itu.

"Karena aku akan gagal mengobatinya dan berarti aku akan mengganti uang kalian tiga kali lipat. Bukankah itu suatu kerugian yang sangat besar sekali?!"

Menyahuti tabib buta itu. Ang Lotoa jadi heran dan takjub, diapun berdebar-debar, tanyanya.

"Kalau begitu...... maksud Sin-se..... pemuda itu akan dapat diselamatkan jiwanya?!"

Tabib itu mengangguk.

"Itu sudah anggukkan pasti.....!"

Kepalanya, dia menyahuti "Jika tidak, sambil mengangguk-mengapa aku harus dengan hanya mengatakan dapat mengobatinya.

"Jika memang tidak dapat mengobatinya, memegang tubuhnya saja aku sudah dapat mengetahui apakah dia akan dapat diobati atau tidak..... Aku tentu akan memberitahukan kepada kalian jika memang aku tidak memiliki kesanggupan buat mengobatinya lagi……!"

Bukan main girangnya Ang Lotoa dan yang lainnya, segera timbul harapan mereka.

"Terima kasih Sin-se, jika memang benar Sin-se dapat mengobatinya, biarpun kami harus mengeluarkan uang sejumlah banyak itu, kami tidak akan menyesal. Kami puas sekali, karena telah berhasil menyelamatkan jiwa seseorang...... seorang manusia..... berarti kami telah sempat melakukan suatu kebaikan!" Tabib itu mengangguk-angguk.

"Seharusnya aku meminta duaratus tail mengingat bahwa lukanya demikian berat dan hebat!"

Kata tabib itu.

"Tapi memang aku sudah terlanjur dengan permintaanku, sudahlah, aku juga tidak akan meminta tambah lagi!"

Sambil berkata begitu, segera dia mulai menguruti lagi tubuh Ko Tie, dan juga telah menotok beberapa jalan darah di tubuh pemuda itu.

Telah terjadi suatu perobahan yang menggembirakan hati semua orang.

Wajah Ko Tie yang semula pucat pias itu perlahan-lahan telah berobah menjadi memerah.

Tentu saja hal ini membuat mereka sangat bersyukur dan harapan mereka jadi besar bahwa tabib ini memang akan berhasil menolongi Ko Tie dan menyelamatkan jiwanya.

Mereka juga melihatnya, betapa napas Ko Tie berjalan teratur dan tidak lemah seperti tadi.

Di waktu itu si tabib terus juga bekerja, sama sekali dia tidak berhenti, walaupun tampaknya dia sangat letih dan sekujur tubuhnya telah mengucur keringat yang deras.

Setelah menguruti lagi sekian lama tubuh Ko Tie, barulah dia berhenti.

Dia menghela napas.

"Krisisnya telah dilewatkan, sekarang tinggal menyadarkannya dari keadaannya ini…… membuat dia siuman!"

Bilang tabib itu perlahan.

Tapi dia tidak melakukan sesuatu, karena dia telah duduk mengasoh dulu, dia beristirahat.

Ang Lotoa mengawasi Ko Tie yang telah berubah pipinya memerah, menandakan pemuda itu memang telah mengalami kemajuan dalam kesehatannya.

Dan dengan adanya kemajuan seperti itu menunjukkan bahwa pemuda ini memang akan berhasil di tolong.

Sedangkan tabib buta itu telah duduk mengasoh beberapa saat, barulah kemudian dia mulai menotoki lagi sekujur tubuh Ko Tie.

Setiap totokannya ternyata memiliki sin-kang yang dahsyat sekali.

Hanya saja semua orang kampung itu tak mengerti ilmu silat, mereka cuma kagum terhadap kesebatan jari tangan tabib itu yang menotok ke sana ke mari.

Tapi kemudian, terlihat betapa Ko Tie telah mengeliat, dan mengeluarkan suara keluhan.

Disusul lagi, setelah ditotok beberapa kali, pelupuk matanya terbuka!

Ko Tie telah siuman!

Bukan main girangnya semua penduduk kampung itu, mereka telah mengucapkan syukur atas kebesaran Thian, karena lewat tabib buta ini Ko Tie telah dapat diselamatkan.

Di waktu itu terlihat si tabib telah menghela napas.

"Akh, akhirnya engkau telah terssdar juga……!"

Halus suaranya. Ko Tie memandang kepada tabib itu.

"Kau..... locianpwe.....?!"

Katanya kemudian ketika melihat tabib itu.

"Jika memang engkau ingin sembuh, engkau tidak boleh bicara dulu!"

Kata tabib buta itu.

"Engkau harus menuruti nasehatku!" Ko Tie mematuhi pesan tabib itu, dia tidak berkata-kata lebih jauh lagi. Sedangkan pada waktu itu, tabib itu terus juga menotoki sekujur tubuh Ko Tie. Setelah menotoki beberapa puluh kali, barulah dia berhenti. Ang Lotoa dan kawan-kawannya jadi memuji betapa hebatnya tabib ini. Sedangkan di waktu itu terlihat betapa Ko Tie telah bisa tersenyum, pipinya memerah dan matanya mulai bersinar.

"Jika memang nanti engkau telah kukirimi lweekang, yang pada puncaknya engkau akan memuntahkan darah segar..... Kau jangan terkejut, karena jika memang berhasil kau memuntahkan darah itu, berarti selanjutnya engkau tidak mengalami ancaman maut lagi, engkau dapat tertolong.....!"

Ko Tie hanya mengangguk saja.

Penduduk kampung itu memandang girang bukan main, malah Ang Lotoa telah menghampiri tepi pembaringan.

Dia bermaksud akan menyeka keringat di kening Ko Tie.

Tapi tabib buta itu telah membentak.

"Jangan mencampuri dulu..... atau aku tidak akan mau mengobatinya.....!" Ang Lotoa terkejut, dia cepat-cepat segera mundur beberapa langkah. Dia pun segera meminta maaf. Tabib itu tanpa berkata apa-apa lagi, telah membuka kopiahnya yang berwarna hijau, sehingga terlibat rambutnya yang berwarna putih semuanya. Dia duduk di tepi pembaringan, kemudian dia meletakkan telapak tangannya di dada Ko Tie. Seketika Ko Tie merasakan betapa dari telapak tangan tabib itu telah mengalir keluar hawa yang hangat sekali, yang menyelusup masuk sampai ke dalam dadanya. Hawa hangat itu dalam bentuk seperti bola dan berputar-putar, dan terus juga menuju ke perutnya, ke Tan-tiannya. Ko Tie memejamkan matanya. Dengan adanya hawa hangat itu, Ko Tie merasakan betapa tubuhnya jadi jauh lebih segar. Sedangkan waktu itu si tabib juga telah memejamkan matanya, dia mengempos semangatnya, mengerahkan tenaga dalamnya yang disalurkan lewat telapak tangannya. Ternyata tabib ini memiliki sin-kang yang luar biasa mahirnya. Jika seseorang yang sin-kangnya belum mahir, tentu tidak akan dapat mengirimkan hawa murni dengan cara seperti itu. Sedangkan waktu itu Ko Tie semakin lama semakin segar. Namun bersamaan dengan dirasakannya rasa segar itu, dia pun merasakan dadanya sakit sekali. Dia membuka matanya, hendak menanyakan sesuatu pada tabib itu, akan tetapi segera juga dia teringat kapada pesan tabib itu yang melarang dia bicara. Maka Ko Tie segera memejamkan matanya lagi, dia telah menahan sakit itu, karena dia tahu bahwa tabib ini memang bermaksud hendak menyembuhkannya. Perasaan sakit itu semakin lama semakin sakit, malah dia merasakan napasnya seperti tersumbat, karena dadanya jadi sesak sekali. Dan karena tidak kuat menahan rasa sakit itu, Ko Tie hendak menanyakan sesuatu dia membuka mulutnya, buat menyatakan kepada tabib itu bahwa dia menderita kesakitan yang hebat. Namun begitu dia membuka mulutnya, seketika dia telah memuntahkan darah yang kehitam-hitaman banyak sekali. Si Tabib telah tersenyum.

"Berhasil.....!"

Katanya kemudian.

Sedangkan Ko Tie telah pingsan lagi tidak sadarkan diri, dia rebah dengan mata yang terpejamkan.

Sedangkan Ang Lotoa dan kawan-kawannya ketika melihat keadaan Ko Tie seperti itu, jadi kaget tidak terkira.

"Sin-se.....!"

Kata mereka serentak dengan hati yang berkuatir sekali.

"Tidak apa-apa..... kalian jangan gugup.....!"

Katanya kemudian.

Di waktu itu terlihat betapa Ko Tie rebah dengan napasnya yang perlahan sekali, dadanya bergerak lemah, juga mulutnya dilumuri oleh darah yang menghitam itu.

Si tabib dengan gesit telah membuka kotak obatnya.

Memang dia tampaknya buta, akan tetapi segalanya dilakukannya dengan cepat sekali.

Dia telah mengambil beberapa macam obat, lalu memberikannya kepada Ko Tie, dipaksa masuk ke dalam mulutnya.

Dikala itu, Ko Tie telah dipijit rahangnya, sehingga mulutnya terbuka dan obat itu tertelan.

Setelah meminumkan obat tersebut, tabib ini kemudian berkata kepada Ang Lotoa dan penduduk kampung lainnya.

"Kalian semua keluar dulu, berikan kesempatan kepadanya buat bernapas dan memperoleh udara yang segar, karena dia pengap sekali dengan kalian memenuhi kamar ini.....!"

Ang Lotoa mengiyakan, bersama dengan kawan-kawannya mereka keluar.

Tampak si tabib menotoki lagi beberapa jalan darah di tubuh Ko Tie.

Lewat beberapa saat, napas Ko Tie lancar kembali dan juga mukanya telah memerah kembali.

Tabib itu berhenti sejenak, dia menghela napas.

"Bakat yang sangat memuaskan, tulang yang benar-benar sangat baik!"

Menggumam tabib itu dengan suara yang perlahan.

Kemudian dia duduk mengasoh, menyenderkan tubuhnya di dinding seakan tengah tertidur.

Hening sekali keadaan di dalam kamar itu.

Ang Lotoa dan kawan-kawannya jadi tegang sendirinya, telah lama mereka mendengarkan, dan hening terus.

Mereka kuatir kalaukalau tabib itu gagal menolongi Ko Tie.

Tapi, ketika Ang Lotoa beranikan diri buat mengintip ke dalam, dia melihat tabib itu tengah duduk menyenderkan tubuhnya di dinding, seakan tengah tidur.

Sedangkan Ko Tie tampak rebah dengan pipi yang telah memerah sehat.

Tampaknya juga seperti tengah tertidur nyenyak.

"Dia..... dia sudah tidak pingsan..... dia telah disembuhkan……!"

Kata Ang Lotoa memberitahukan kepada kawan-kawannya dengan kegembiraan yang meluap.

Sedangkan kawan-kawannya juga girang.

Bergantian mereka telah silih berganti mengintip ke dalam kamar.

Dan di waktu itu juga terlihat betapa mereka bermaksud untuk masuk ke dalam kamar.

Tapi Ang Lotoa telah mencegah.

"Ingat Sin-se itu belum lagi memanggil kita……!"

Kata Ang Lotoa.

"Kita tidak boleh terlalu ceroboh, karena Sin-se itu tampaknya juga seorang tabib yang aneh, karenanya kita tidak bisa sembarangan masuk ke dalam kamar……!"

Yang lainnya telah mengangguk.

Di waktu itu terlihat Ko Tie perlahan-lahan telah menggerakkan pelupuk matanya, tampaknya dia telah sadar.

Dan juga, dia mengeluarkan suara keluhan, begitu matanya terbuka.

Dia telah memanggil.

"Locianpwe.....!"

Tajam sekali pendengaran tabib itu, karena segera juga dia telah bangun berada di sisi pembaringan.

"Telah sehat?!"

Tanyanya. Ko Tie mengangguk.

"Tadi aku telah mencoba menyalurkan tenaga dalamku dan sinkangku itu dapat disalurkan dengan lancar.....!"

Kata Ko Tie sambil tersenyum. "Bagus..... karenanya, di lain waktu, engkau tidak perlu membawa sikap kepala besar.....!"

Kata tabib itu.

"Jika tidak, tentu siang-siang aku telah mengobati kau sembuh dari lukamu itu.....!"

Muka Ko Tie bertambah memerah, dia tersenyum, tidak marah atau menjadi tidak senang oleh kata-kata tabib itu.

"Ya locianpwe, memang apa yang dikatakan locianpwe benar..... maafkanlah kelakuan boanpwe.... karena boanpwe kurang pengalaman dan pengetahuan.....!"

Kata Ko Tie. Tabib itu mengangguk.

"Ya, urusan yang telah lalu sudahlah....... bukankah sekarang aku berhasil mengobatimu?!"

Ko Tie mengangguk.

"Apakah sekarang aku sudah boleh bangun, Locianpwe?!"

Tanya Ko Tie.

"Tunggu beberapa saat lagi engkau masih perlu rebah dulu di situ. Nanti aku beritahukan jika memang engkau telah boleh duduk buat menyalurkan tenaga dalammu.....!"

"Locianpwe.....!" "Ya?!"

"Apakah boanpwe boleh bertanya?!"

"Apa yang ingin kau tanyakan?!"

"Jika memang boanpwe telah disembuhkan, apakah kepandaian boanpwe tidak akan punah atau menjadi cacad?!"

Tanya Ko Tie lagi sambil mengawasi tabib itu. Tabib itu menggeleng.

"Sudah tentu tidak..... kau telah sembuh keseluruhannya.....!"

Kata si Tabib. Setelah berdiam sejenak, dia berkata lagi.

"Ada sesuatu yang hendak kuberitahukan kepadamu.....!"

"Apa itu locianpwe?!"

"Kau memiliki bakat dan tulang yang sangat bagus..... karena itu, jika memang engkau berhasil melatih diri dengan sebaik-baiknya, tentu engkau akan berhasil menguasai ilmu silatmu dengan sempurna……!" "Terima kasih locianpwe dan boanpwe mengharapkan sekali petunjuk dari locianpwe!"

"Itu urusan nanti, jika engkau telah sembuh barulah kita membicarakan lagi.....!"

Kata tabib tersebut.

Ko Tie mengangguk.

Dia memejamkan matanya lagi, sedangkan tabib itu duduk di tepi pembaringan, dia menotok beberapa jalan darah terpenting di tubuh Ko Tie dengan totokan yang diperhitungkan kekuatan tenaga dalamnya, setiap totokan memiliki kekuatan lweekang tersendiri.

Sedangkan Ko Tie sendiri, setiap kali ditotok dia merasakan betapa darahnya beredar lebih baik lagi, napasnya lebih lurus dan lancar, membuat dia girang, karena pemuda ini menyadarinya bahwa dia tengah diberikan bantuan tenaga dalam.

Jika kelak telah sembuh, dia tentu bisa melatih lweekangnya lebih mudah, karena memang dia telah memperoleh kekuatan lweekang yang diberikan oleh tabib itu dengan cara terselubung oleh totokannya.

Sedangkan tabib itu terus juga menotok sekujur tubuh Ko Tie, pada beberapa bagian jalan darahnya.

Siapakah tabib buta itu?

Tidak lain adalah Oey Yok Su.

◄Y► Pada hari itu dia lewat di kampung ini.

Dia melihat rajawali yang besar itu.

Tiauw-jie.

Seketika dia teringat kepada Ko Tie, karena dia memang pernah mendengar bahwa Ko Tie memiliki hubungan yang intim dengan Giok Hoa.

Dengan demikian dia menduga Ko Tie niscaya dalam keadaan terluka parah.

Dia segera dengan mudah mengintai.

Benar saja, Ko Tie dalam keadaan sekarat.

Kemudian dia menulis pelakatnya dan pura-pura menjadi seorang tabib buta.

Dia ingin mengetahui apakah penduduk kampung itu menolongi Ko Tie dengan kesungguhan hati.

Dan ternyata memang semua penduduk kampung itu bermaksud menolong Ko Tie dengan kesungguhan hati, membuat Oey Yok Su jadi terharu sekali.

Hatinya tergerak.

Sedangkan beberapa waktu yang lalu, walaupun dia bermaksud menolongi Ko Tie, tapi dia pun sama seperti hendak mempermainkan Ko Tie, yang akhirnya telah ditinggalkannya.

Maka sekarang, setelah melihat kebaikan penduduk kampung yang begitu bersungguh-sungguh dan rela untuk mengeluarkan uang mereka dalam jumlah yang tidak kecil, buat pembayaran biaya pengobatan itu, hati Oey Yok Su tergerak dan diapun jadi bersikap lembut kepada Ko Tie.

Lenyap juga sifat ku-koaynya.

Di waktu itu tampak dia pun telah berusaha menyalurkan sinkangnya, untuk membantu Ko Tie agar kelak dapat mengerahkan sin-kangnya dengan mudah.

Oey Yok Su pun telah berusaha membuka beberapa bagian jalan darah terpenting di tubuh Ko Tie.

Dan dia bermaksud untuk menggembleng pemuda ini, karenanya bahwa pemuda ini selain memiliki bakat yang sangat baik juga tulang yang bagus.

Sikapnya kali inipun terhadap Ko Tie sangat benar, dia sama sekali tidak membawa sikap ku-koaynya.

Semua ini berlangsung dengan cepat dan dia telah selesai menotok sebanyak seratusdelapan jalan darah di tubuh si pemuda, dan juga dia telah mengurutinya beberapa kali.

Barulah kemudian Oey Yok Su mengasoh lagi.

Dia beristirahat beberapa saat lamanya, sampai akhirnya dia telah menghela napas.

Ia teringat kepada Oey Yong, puterinya, kepada mendiang isterinya, teringat juga kepada cucunya.

Namun di saat-saat hari tuanya seperti ini, dia bagaikan sebatang kara, karena dia hidup sendiri, tidak memiliki isteri dan jauh dari anak.

Dengan begitu dia berkelana ke mana ke dua kakinya membawanya, dia pergi ke tempat-tempat yang disenanginya.

Karena itu, walaupun usianya telah lanjut benar, namun Oey Yok Su memang memiliki pengalaman yang luas sekali.

Dia telah mendatangi tempat-tempat yang terpencil sekalipun.

Dia melewati hari tuanya dengan berkelana ke sana ke mari.

Di waktu itu, Ko Tie sesungguhnya beruntung sekali bertemu dengan Oey Yok Su.

Sebab selain kebetulan luka yang dideritanya bisa disembuhkan, diapun telah diberikan hawa murni dari Oey Yok Su, dibantu juga dengan dibukanya beberapa jalan darah terpenting di tubuhnya yang membantu banyak kepadanya buat melatih sin-kangnya kelak mencapai kesempurnaan.

◄Y► Sekarang kita kembali dulu kepada Kam Lian Cu yang telah kita tinggalkan cukup lama.

Gadis itu rebah di dalam keadaan lemah di dalam goa.

Dia telah membuka matanya perlahan-lahan.

Yang dirasakannya pada waktu itu adalah tubuhnya yang sangat lemah sekali.

Dia mengeluh.

Tapi kemudian Kam Lian Cu tercekat hatinya, dia teringat apa yang telah terjadi.

Dia menjerit keras ketika dia menundukkan kepalanya, melihat tubuhnya dalam keadaan telanjang tanpa ada penutupnya, tak sehelai benangpun menempel di tubuhnya.

Bagaikan sinting, dia telah menjerit-jerit, menjambaki rambutnya dan menangis sejadi-jadinya.

Apa yang telah dilihatnya merupakan kenyataan yang benar-benar sangat pahit, karena segalanya telah terjadi.

Dengan mata jelalatan liar dia memandang sekeliling goa itu.

Dia tidak melihat Kim Go.

Juga dia tidak melihat Bun Siang Cuan.

Hanya dilihatnya, di atas tanah dalam goa itu, pakaiannya yang berserakan di sana-sini.

Dengan tangis terisak-isak dia mengambili pakaiannya dan mengenakan kembali.

Sebetulnya, setelah mengetahui segala apa telah terjadi dengan kera bulu kuning itu, Kam Lian Cu bermaksud membunuh diri, menghabisi jiwanya.

Dengan sekali menabaskan pedangnya, yang menggeletak di luar goa itu, tentu dia bisa menghabisi jiwanya sendiri.

Namun ketika dia mengambil pedang itu dan menghunusnya, tiba-tiba terpikir sesuatu olehnya.

Jika memang dia membunuh diri, niscaya sakit hatinya yang sedalam lautan ini tidak akan dapat dibalas.

Juga dia tidak mungkin akan dapat membunuh kera bulu kuning itu, yang telah menjerumuskan dirinya, demikian juga Bun Siang Cuan.

Karenanya pedang yang telah terhunus itu akhirnya dimasukkan kembali ke dalam sarungnya.

Gadis ini menangis terisak-isak menyedihkan sekali.

Baca Juga: Keris Maut 3

Baca Juga: Seruling Samber Nyawa 9

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert