Ceritasilat Novel Online

Anak Rajawali 13

Eps 13 Anak Rajawali - Chin Yung

Baca online Anak Rajawali - Chin Yung

Cersil Anak Rajawali - Chin Yung.

Hatinya hancur sekali.

Betapa dia membahayakan dirinya telah melakukan hubungan bathin dengan seekor kera!

Dan urusan ini jika tersiar di dalam rimba persilatan, akan ditaruh dimana mukanya?

Tangis Kam Lian Cu terus juga tidak berhenti sampai lama sekali.

Dia kaget ketika tiba-tiba ada sesosok bayangan di mulut goa diiringi tertawa yang dikenalnya dan dibencinya sekali.

"Mengapa harus menangis? Apakah engkau menyesal menjadi mantuku?!"

Suara Bun Siang Cuan dingin sekali, seperti juga mengejek si gadis.

Kam Lian Cu menoleh dengan mata yang liar.

Tiba-tiba dengan diiringi suara bentakan bengis dan mengandung kekecewaan serta kebencian yang sangat, Kam Lian Cu telah menghunus pedangnya, yang dipergunakan buat menikam kepada perut Bun Siang Cuan.

Kepandaian Kam Lian Cu memang masih beberapa tingkat di bawah kepandaian Bun Siang Cuan.

Karena itu, mana mungkin dia bisa berhasil dengan serangannya itu, walaupun telah melakukannya dengan sekuat tenaga dan secepat kilat.

Pedangnya itu meluncur dengan cepat sekali, tapi menikam tempat kosong, karena Bun Siang Cuan telah berkelit ke belakang beberapa tombak jauhnya.

"Bangsat keparat, akan kubunuh kau!"

Teriak Kam Lian Cu dengan suara yang mengandung kebencian yang meluap-luap. Dia menyerbu keluar goa itu. Bun Siang Cuan tertawa dingin.

"Kau ingin membunuhku? Bisakah?"

Tanyanya dengan mengejek dan dia mengelak.

Begitu gesit gerakan dari Bun Siang Cuan, sehingga tahu-tahu dia seperti telah lenyap dari hadapan Kam Lian Cu.

Kam Lian Cu menangis terisak-isak dan mengawasi sekelilingnya mencari kakek tua yang telah menjerumuskannya itu.

"Sebagai seorang mantu tidak boleh berlaku dan bersikap kurang ajar kepada mertuanya!"

Terdengar lagi suara dari Bun Siang Cuan yang dingin dari belakangnya.

Kam Lian Cu memutar tubuhnya dibarengi dengan tikaman pedangnya, karena dia menduga kakek tua itu berada di situ.

Tapi dia menikam tempat kosong, kakek tua itu berdiri cukup jauh.

"Hentikan segala kelakuanmu itu, jika memang engkau tidak mau kubuat tidak berdaya!"

Bentak Bun Siang Cuan mengancam.

Sambil berkata begitu, tangan kiri dari Bun Siang Cuan menggenggam gagang pedang itu, sedangkan dua jari tangannya yang lain telah menjepit pedang itu, sehingga seketika dia mengerahkan tenaga dalamnya, maka pedang itu telah menjadi patah.

Di waktu itu terlihat kakek itu telah membuang patahan pedang tersebut.

Dan dia pun telah berkata lagi dengan suara yang dingin.

"Hemmm, dengan adanya peristiwa ini, engkau baru mengetahui siapa adanya Bun Siang Cuan……!"

Kam Lian Cu menangis terisak-isak dengan hati yang hancur bukan main, dia juga telah mengawasi kakek tua itu dengan sorot mata penuh kebencian.

"Kam Lian Cu……! Jika memang engkau tidak bisa membunuh kakek keparat itu dan kera keparat itu, engkau tidak boleh mati dulu!" Begitulah bisik hatinya.

"Ingatlah baik-baik?! Namanya adalah Bun Siang Cuan! Bun Siang Cuan! Bun Siang Cuan.....!"

Setelah berdiam sesaat, kakek tua itu bersiul dengan suara yang nyaring sekali.

Dari kejauhan tampak berlari-lari sesosok bayangan kuning.

Dan setelah mendekat, Kam Lian Cu bisa melihat dengan jelas, itulah si kera bulu kuning Kim Go!

Dengan penuh kebencian, dan mata yang memancarkan sinar bagaikan mata pedang ataupun berapi, dia mengawasi Kim Go.

Kim Go telah berdiri di samping kakek tua she Bun itu, dengan mengeluarkan suara pekik perlahan.

Dengan mengeluarkan suara jeritan mengandung kebencian dan dendam yang mendalam, bercampur baur dengan sakit hati dan kehancuran hatinya, ke dua tangannya meluncur mencekik leher Kim Go.

Kera itu kelejatan kaget, karena tahu-tahu napasnya tersumbat.

Ke dua tangannya bergerak-gerak, dia mencakar ke sana kemari dan mengeluarkan suara pekikan.

Kam Lian Cu tidak memperdulikan tubuhnya sebagian telah kena dicakar oleh kuku-kuku jari tangan Kera itu.

Malah mukanya juga kena tercakar sampai mukanya itu terluka dan mengalirkan darah merah yang sangat deras sekali.

Dia mencekik terus dengan sekuat tenaganya, malah dia bermaksud untuk mencekik terus kera itu sampai mati.

Dan kelak setelah dia berhasil membunuh kakek tua Bun Siang Cuan juga, barulah dia akan membunuh diri.

Karena dia tidak sanggup dengan aib dan malu yang telah dideritanya, berhubungan dengan seekor kera.....

Ketika menyaksikan apa yang dilakukan oleh si gadis, si kakek jadi marah bukan main.

"Perempuan hina dina……!"

Makinya, dan dia mengulurkan tangannya untuk menjambak baju di punggung si gadis.

Dia telah menghentaknya dan melontarkan tubuh si gadis dengan kuat sekali.

Tubuh Kam Lian Cu terbanting bergulingan di atas tanah.

Sedangkan Kim Go mengerang-erang kesakitan sambil memegangi lehernya.

Si kakek Bun Siang Cuan segera berjongkok buat menguruti leher kera itu.

"Tidak apa-apa..... memang seorang isteri terkadang galak dan ganas..... Nanti dia juga akan tunduk dan patuh kepadamu……!"

Kata Bun Siang Cuan.

Kera itu mengeluarkan suatu yang aneh sekali, seperti sikap seorang anak yang manja terhadap ayahnya.

Waktu itu Kam Lian Cu telah bangun berdiri, seperti orang yang berobah pikiran dan menjadi sinting, sambil menangis keras dan kalap dia berlari-lari ke sana ke mari.

Sedangkan waktu itu si kakek telah mengejarnya.

"Berhenti!"

Bentaknya.

Tapi Kam Lian Cu tidak juga mau berhenti.

Dia mengejarnya dan ketika dapat mengejar telah dekat, dia menggunakan tenaga jari telunjuknya untuk menotok.

Si gadis terjungkel.

Walaupun tubuhnya tidak dapat digerakkan, tapi dia jadi menangis sedih sekali.

Di waktu itu, si kera bulu kuning pun telah mengejar tiba, dia mengeluarkan suara "ngukkk, ngukkk"

Berulang kali sambil menunjuk-nunjuk kepada si gadis. Bun Siang Cuan telah bilang.

"Kau jangan kuatir, aku tidak akan mencelakai isterimu! Tapi sayang sekali, mukanya telah rusak sebagian karena engkau cakar……!"

Sambil berkata begitu, si kakek telah berjongkok. Dilihatnya muka Kam Lian Cu penuh oleh bekas cakaran, luka yang agak dalam dan juga mengeluarkan darah segar yang merah membasahi wajahnya.

"Hemmm, penyakit yang dicari sendiri!"

Menggumam si kakek tua she Bun itu. Kemudian dia mengajak kera itu buat meninggalkan tempat tersebut. Namun kera itu mengeluarkan suara "ngukk, ngukk"

Beberapa kali, kemudian menunjuk-nunjuk kepada Kam Lian Cu, seakan juga dia hendak memberitahukan kepada Bun Siang Cuan, bahwa dia tidak mau meninggalkan "isteri"

Nya. Bun Siang Cuan tersenyum.

"Jangan kuatir, aku ingin pergi mengambil obat-obatan buat mengobati mukanya itu.....!"

Kata Bun Siang Cuan.

"Dia dalam keadaan tertotok, tidak mungkin dia bisa melarikan diri!"

Kera itu baru mau ikut dengannya. Kam Lian Cu rebah sendiri di atas tanah dengan isak tangisnya yang kalap.

"Ohhhhhh Thian....... mengapa nasibku demikian buruk ?!"

Sesambatan si gadis.

Dia terus juga sesambatan, di antara tangisnya.

Tidak lama kemudian dia mendengar suara berkerisik rumput tidak jauh dari tempatnya berada.

Dia tidak bisa menggerakkan tubuhnya, dia hanya menoleh ke arah datangnya suara itu.

Karena dia menduga bahwa yang datang tentunya si kakek tua itu bersama keranya yang katanya diangkat menjadi anaknya.

Tapi kemudian dia jadi kaget sendirinya.

Orang yang tengah mendatangi adalah seorang laki-laki berusia limapuluh tahun, berpakaian seorang pendeta yang alim dan wajahnya welas asih.

Pendeta itu kaget tidak terkira ketika melihat seorang wanita yang mukanya berlumuran darah rebah di tanah.

Dia menduga itulah semacam Yauw-koay, yaitu siluman, yang hendak menggodanya.

"Omitohud.....!"

Segera juga pendeta itu memuji akan kebesaran sang Buddha.

Tapi ketika ia melihat wanita itu dalam keadaan tertotok dan dalam keadaan tidak bisa bergerak, menangis terisak-isak dia jadi memandang lagi beberapa saat.

Kemudian hatinya tergerak.

Dia berpikir.

"Apakah wanita ini bukan korban dari begal yang telah menganiaya dan meninggalkannya dalam keadaan tertotok?"

Setelah berpikir begitu, pendeta itu menghampiri Kam Lian Cu lebih dekat. Dia segera bertanya.

"Omitohud! Siancai! Siancai! Apakah kau bukan Yauw-koay?"

Kam Lian Cu menangis terisak-isak. Dia kaget dan malu. Kaget karena telah ada orang asing di tempat itu, yang jika mengetahui urusannya tentu sangat memalukan sekali, di mana dia telah "dikerjakan"

Oleh seekor kera. Hanya saja dia bersyukur bahwa orang itu adalah seorang pendeta.

"Taysu..... tolonglah aku..... tolonglah aku..... aku benar-benar manusia yang paling sengsara dan menderita menerima beban percobaan yang berat sekali di dunia ini……!"

"Siapa kau sebenarnya?"

Tanya si pendeta itu sambil mengawasi Kam Lian Cu dalam-dalam.

"Nanti akan kuceritakan, sekarang kau tolonglah aku, karena jika terlambat, penjahat itu akan kembali, celakalah aku dan kau juga Taysu, akan celaka?!"

"Ohhhhh, kau telah dianiaya oleh penjahat?"

Tanya pendeta itu lagi.

"Ya…… tolonglah aku, Taysu……!"

"Mari...... mari bangun!"

Kata pendeta itu sambil mengulurkan tangannya.

"Aku dalam keadaan tertotok……!"

Berkata Kam Lian Cu dengan isak tangisnya.

Hanya satu-satunya harapannya, yaitu si pendeta.

Karena jika si pendeta mau membawanya kabur meninggalkan tempat itu dan jejak mereka tidak dapat dicari oleh si kakek Bun Siang Cuan, maka si gadis akan terhindar dari perbuatan mesum terkutuk kera bulu kuning itu.

"Gotonglah Taysu...... gotonglah aku…… aku dalam keadaan tertotok!"

Berseru ia kepada pendeta itu.

"Omitohud! Betapa jahatnya penjahat itu mukamu pun telah rusak!"

Kata pendeta itu.

Dia memang seorang ahli silat juga, seorang pendeta pengelana yang berilmu tinggi.

Setelah memuji lagi akan kebesaran sang Buddha, dia membuka totokan pada tubuh Kam Lian Cu.

Pendeta itu mengikuti sambil bertanya-tanya kepadanya, apa sesungguhnya telah terjadi.

Tapi Kam Lian Cu tidak mau menceritakannya, dia hanya bilang.

"Nanti jika telah tiba di tempat aman, aku akan menceritakannya, sekarang yang terpenting kita mencari tempat yang aman buat menyingkirkan diri dari kejaran si penjahat.....!" "Kau beritahukan kepada Lolap, siapakah sebenarnya penjahat itu. Biarlah Lolap nanti pergi membasminya!"

Kata pendeta itu gusar.

"Jangan Taysu, Taysu bukan tandingannya, dia sangat lihay sekali.....!"

Kata Kam Lian Cu masih terus berlari sekuat tenaganya. Si pendeta tampak jadi penasaran.

"Tapi lolap rela mengorbankan jiwa untuk menumpas kebathilan dan kejahatan!"

Katanya kepada si gadis.

Kam Lian Cu tidak melayani, dia berlari terus.

Setelah berlari belasan lie, dilihatnya sebuah mulut lembah.

Tanpa pikir panjang lagi Kam Lian Cu berlari-lari masuk ke dalam lembah itu.

Si pendeta juga telah ikut masuk ke dalam lembah.

Masih Kam Lian Cu berlari terus, karena dia masih ingin mencari tempat yang benar-benar terlindung dengan aman, tidak meninggalkan jejak, sehingga Bun Siang Cuan tidak dapat mencarinya.

Jika dia terjatuh ke dalam tangan Bun Siang Cuan lagi, tentunya Kam Lian Cu menjadi permainan dari si kera bulu kuning itu.

Dengan begitu pula akan membuatnya jadi bulan-bulanan permainan hina dina!

" Jika menuruti hati kecilnya, sesungguhnya Kam Lian Cu sudah tidak mau hidup.

Penderitaan malu yang diperolehnya dari apa yang dilakukan oleh si kakek Bun Siang Cuan berdua dengan kera bulu kuning itu, benar-benar membuat jiwa si gadis hancur.

Namun justeru dendamnya yang membara kepada Bun Siang Cuan, kakek tua keparat yang dianggapnya sebagai sumber dari bencana itu, dan biang keladinya juga, membuat dia tidak mau mati dulu.

Dia bermaksud dan bertekad, walaupun bagaimana hendak menuntut balas dan membunuh kakek tua itu dengan tangannya sendiri.

Juga dia ingin membunuh kera bulu kuning itu, Kim Go.

Karena itu, walaupun bagaimana si gadis masih mau hidup, dia masih mau hidup, dia masih akan mempertahankan jiwanya.

Ketika sampai di sebuah lekukan tebing yang dalam sekali, merupakan tempat yang sangat baik buat menyembunyikan diri, Kam Lian Cu akhirnya berhenti berlari dan merebahkan dirinya di situ.

Napas Kam Lian Cu tampak memburu keras, ia letih bukan main, karena tadi dia telah berlari sekuat tenaganya.

Pendeta itu pun telah duduk di dekatnya, tapi napasnya sama sekali tidak memburu.

Sikapnya tetap tenang, dan dia hanya tersenyum mengawasi si gadis.

Di kala itu Kam Lian Cu kebetulan menoleh kepadanya, dia melihat keadaan si pendeta, jadi terkejut dan bercampur dengan perasaan kagum.

Dengan keadaannya seperti itu menunjukkan bahwa pendeta ini memang memiliki kepandaian yang tinggi.

Kam Lian Cu tadi telah berlari begitu cepat dan juga telah berusaha untuk menggunakan seluruh tenaganya, sampai ia begitu letih dan napasnya memburu keras.

Tapi kenyataannya pendeta itu sama sekali tidak memburu sedikitpun juga napasnya.

Dia malah tampak tenang-tenang saja.

Dengan demikian seperti itu, segera juga Kam Lian Cu dapat menarik kesimpulan bahwa pendeta ini tentunya seorang yang memiliki kepandaian yang tidak ringan dan tidak mau menonjolkan diri.

Sebagai seorang rimba persilatan, si gadis yang juga mengerti, tentunya pendeta ini bukan orang sembarangan.

Cepat-cepat Kam Lian Cu bangun berdiri, dia menjatuhkan dirinya dihadapan si pendeta.

Sambil menangis menggerung-gerung dan katanya.

"Locianpwe, terima kasih atas pertolongan locianpwe……!"

Pendeta itu memintanya agar dia bangun dan tidak melakukan peradatan. Pendeta itu kemudian bilang.

"Sekarang maukah kau nona menceritakan apa yang sesungguhnya telah terjadi?!"

Pipi Kam Lian Cu berobah merah.

Dia malu bukan main mengingat lagi akan peristiwa yang membawa aib luar biasa buat dirinya.

Namun di antara isak tangisnya, dengan suara yang tersendatsendat, dia menceritakan apa yang telah terjadi dan menimpah dirinya.

Mendengar cerita Kam Lian Cu seperti itu, maka pendeta tersebut jadi merah padam, dia tampaknya murka bukan main.

Malah tangan kanannya telah menepuk batu di sampingnya.

"Plakkk!"

Batu itu kena dihantamnya sampai sempal dan sebagian hancur menjadi bubuk. Malah dengan suara mengandung kemurkaan dia bilang.

"Sungguh biadab sekali manusia she Bun itu…..! Bun Siang Cuan. Itulah nama baru buat rimba persilatan. Tapi perbuatannya ini, suatu perbuatan yang biadab yang selama ini belum pernah Lolap dengar.......!"

Waktu berkata begitu, tubuh si pendeta tampak menggigil keras karena menahan kemarahan yang sangat hebat. Sedangkan Kam Lian Cu jadi menangis tambah sedih terisak-isak.

"Sebetulnya Locianpwe....... boanpwe tadinya bermaksud hendak membunuh diri. Tapi akhirnya boanpwe bertekad buat hidup terus. Karena boanpwe bermaksud membalas sakit hati yang sedalam lautan ini.....!"

Kata Kam Lian Cu kemudian. Pendeta itu menghela napas lagi.

"Kau jangan berputus asa dalam usia semuda ini, karena masih banyak yang perlu engkau lakukan untuk dapat melakukan perbuatan besar.....!"

Dan si pendeta telah mengawasi si gadis, akhirnya dia menghela napas lagi. "Nasibmu memang malang benar.....!"

Tiba-tiba Kam Lian Cu telah berlutut di hadapan si pendeta sambil mengangguk-anggukkan kepalanya beberapa kali. Dia menangis sesambatan. Kemudian katanya di antara isak tangisnya.

"Locianpwe, tolong boanpwe! Terimalah boanpwe sebagai murid, karena boanpwe kelak hendak membalas sakit hati dengan membunuh Bun Siang Cuan dengan tangan boanpwe sendiri, begitu juga si..... si..... si kera..... kera bulu kuning itu.....!"

Pendeta itu tampak tertegun sejenak.

Sulit baginya buat menerima seorang murid wanita.

Dia adalah seorang pendeta, dengan demikian tidak pantas dilihat umum kalau saja memang dia menerima seorang murid wanita.

Akhirnya pendeta itu menghela napas.

"Baiklah.....!"

Katanya kemudian dengan suara yang terharu.

"Aku bersedia menerima engkau, tapi bukan sebagai murid, hanya sebagai sesama manusia yang tengah dalam kesulitan dan ditimpah bencana, di mana Lolap akan mewarisi seluruh kepandaian dan ilmu Lolap..... Namun tidak bisa di antara kita diadakan sebutan Suhu atau murid. Mengertikah kau?!"

Bukan kepalang girangnya Kam Lian Cu, ia berlutut sambil mengangguk-anggukkan kepalanya berulang kali.

"Terima kasih Locianpwe….. terima kasih locianpwe..... boanpwe sangat bersyukur sekali!"

Kata Kam Lian Cu, karena kini muncul setitik harapan di dalam hatinya.

Walaupun kepandaian Bun Siang Cuan sangat tinggi sekali, tapi dengan mempelajari ilmu silat si pendeta yang tampaknya juga tidak rendah, dan juga mengharapkan dengan latihan yang tekun, Kam Lian Cu bisa memperoleh kepandaian yang tinggi.

Dan dengan bertambah tuanya usia dari kakek Bun Siang Cuan tentu tenaganya agak berkurang, maka ada harapan bahwa ia kelak akan berhasil membalas sakit hatinya itu.

Si pendeta telah memimpin Kam Lian Cu buat bangun berdiri.

Dia pun telah bilang.

"Lolap harap kau belajar dengan tekun dan giat. Karena dengan mempelajari seluruh kepandaian lolap, tapi tanpa berlatih dengan sebaik mungkin, tidak mungkin kau akan dapat menguasai seluruh ilmu silat itu dengan baik. Mengertikah kau?!" Kam Lian Cu mengangguk beberapa kali mengiyakan. Begitulah, mereka berdua telah memasuki lembah itu lebih dalam lagi. Mereka mencari tempat yang sekiranya cocok buat menjadi tempat tinggal mereka. Di dalam lembah itu memang terdapat banyak sekali goa-goa, dan juga banyak tebing-tebing yang bertonjolan. Dengan demikian tidak sedikit tempat yang bisa dipergunakan sebagai tempat tinggal atau berteduh. Tapi Kam Lian Cu dan si pendeta mencari tempat yang benarbenar tersembunyi yang sekiranya sulit ditemukan orang yang kebetulan lewat di tempat itu. Akhirnya mereka memilih sebuah goa yang tidak jauh dari lekukan batu tebing. Dengan demikian goa ini berada di belakang lekukan batu tebing. Jika memang orang tidak memperhatikan dengan teliti dan baik-baik, tentu tidak mengetahui di belakang tebing itu ada goa yang tersembunyi....... Demikianlah, Kam Lian Cu mulai melatih diri di bawah bimbingan pendeta itu. Ia memang telah memiliki kepandaian yang tinggi. Sekarang memperoleh petunjuk dari guru tak resminya itu, kepandaian dari tingkat atas, membuat Kam Lian Cu memperoleh kemajuan yang pesat. Yang membuat pendeta itu jadi girang, justeru setiap jurus yang diturunkannya, dapat dicernakan oleh Kam Lian Cu dengan mudah dan cepat. Di samping tekadnya yang kuat, Kam Lian Cu memang memiliki bakat dan tulang yang bagus. Karenanya, semakin lama si pendeta semakin tertarik pada Kam Lian Cu. Hanya disayangkan olehnya bahwa Kam Lian Cu adalah seorang wanita, dengan demikian, tentu saja sulit buat dia menerimanya dengan resmi sebagai muridnya. Tapi si pendeta bersungguh-sungguh sekali dalam mewarisi kepandaiannya. Dia telah menurunkan ilmu silat yang hebat dan cara melatih lweekang yang benar-benar ampuh sekali dari tingkat tinggi. Kam Lian Cu giat sekali berlatih diri. Dia tidak mengenal lelah dan berlatih terus dengan rajin, sehingga dia memperoleh kemajuan yang sangat pesat. Namun jika dia tengah duduk termenung seorang diri, air matanya sering menitik berlinang, karena dia berduka bukan main mengingat akan nasibnya yang sangat buruk itu. Dia masih berusia muda sekali. Cantik jelita. Juga memiliki bentuk tubuh yang menarik. Dia pun telah mencintai Ko Tie, dan tampaknya Ko Tie pun mencintainya. Tapi sekarang, justeru dia telah berpisah dengan Ko Tie dan akhirnya mengalami peristiwa yang biadab dan menyedihkan sekali itu. Benar-benar membuat hati si gadis jadi hancur. Terlebih lagi sekarang wajahnya pun terdapat cacad bekas cakaran kuku dari kera bulu kuning itu, sehingga wajahnya, walaupun memang masih tampak sisa-sisa kecantikannya, tokh mukanya itu tampak jadi menyeramkan. Dan setiap kali teringat akan semua itu, Kam Lian Cu jadi berduka. Hatinya hancur dan air matanya telah menitik turun. Tanpa disadarinya, dia telah belajar ilmu silat kepada si pendeta selama empat bulan....... Di waktu itu, tubuhnya pun mengalami perobahan, karena perutnya dari pertama, bulan ke dua dan ke tiga, lalu memasuki bulan ke empat, berobah menjadi besar. Semula Kam Lian Cu menduga bahwa ia bertambah gemuk. Akan tetapi seketika ia memberitahukan keadaannya kepada si pendeta. Dan juga memang belakangan ini si pendeta sering memperhatikan perobahan perut Kam Lian Cu, jadi memeriksa dengan memegang nadi dipergelangan tangan Kam Lian Cu. Wajah si pendeta berobah.

"Oohh, inilah urusan yang benar-benar ajaib sekali!"

Mengeluh si pendeta yang mukanya segera memperlihatkan perasaan tegang sekali.

"Siancai! Siancai! Kau dalam keadaan mengandung.....!"

Bukan kepalang kagetnya Kam Lian Cu.

Dia mengandung?

Apakah hubungan dengan kera kuning itu bisa membuahi rahimnya?

Benar-benar tidak masuk akal!

Si gadis jadi menangis menggerung-gerung.

Dia tidak bisa membayangkannya, entah bagaimana kelak jika anaknya ini telah dilahirkan.

Dan dia tidak berani membayangkan juga, entah bagaimana bentuk dari anaknya itu kelak.

Bukankah ia yang mengetahui dengan pasti, bahwa ia "diperkosa"

Oleh kera berbulu kuning.

Apakah hubungan tersebut justeru dapat membuahi seorang anak?

Apakah antara kera dengan manusia bisa terjadi sesuatu kehamilan?

Betul-betul membuat hati Kam Lian Cu tambah berduka saja.

Ia menangis menggerung-gerung dan hampir jatuh pingsan tidak sadarkan diri.

Si pendeta telah menghiburnya.

Begitulah tiga hari tiga malam Kam Lian Cu menangis tidak hentinya menyesali akan nasibnya.

Bahkan dia pun telah bermaksud untuk membunuh diri saja.

Betapa memalukan sekali!

Bagaimana kelak jika ia telah melahirkan dan yang dilahirkannya itu adalah seorang bayi, yang keadaannya mirip dengan seekor kera?

Atau memang benar-benar dia melahirkan bayi seekor kera?

Dan Kam Lian Cu tidak bisa membayangkan apa yang harus dilakukannya di waktu itu.

Membunuh bayi itu?

Atau pun memeliharanya?

Apakah bayinya itu akan bisa bicara?

Sebetulnya, Kam Lian Cu sudah tidak kuat menanggung semua penderitaan ini.

Terlebih lagi setelah dia mengetahui bahwa dirinya dalam keadaan mengandung.

Hanya saja disebabkan dendamnya yang besar terhadap Bun Siang Cuan, telah membuat dia menguatkan hatinya untuk hidup terus.

Dan juga memang si pendeta selalu menghiburnya, meminta agar Kam Lian Cu menguatkan hatinya.

Karena dari itu, akhirnya dia bisa menguatkan hatinya dan dia pun telah berhasil untuk dapat menetapkan pendiriannya, bahwa dia siap menantikan kelahiran bayinya itu.

Walau bagaimana bentuk bayi itu, tokh tetap saja anaknya.

Hanya saja kedatangan anak itu di permukaan bumi ini, akan mendatangkan linangan air mata calon sang ibu tersebut.

Si pendeta semakin sayang dan berkasihan terhadap nasib si gadis.

Dia bisa membayangkan betapa hebatnya penderitaan bathin dari Kam Lian Cu, karena memang di waktu itu bisa dibayangkan, bagaimana perasaan dari Kam Lian Cu yang menantikan kelahiran bayinya, akibat dari benih yang disebarkan oleh seekor kera di dalam rahimnya?

Dan urusan ini memang merupakan peristiwa yang jarang sekali terjadi.

Peristiwa yang benar-benar sangat hebat sekali, peristiwa yang mungkin akan mencengangkan setiap orang yang mendengarnya.

Dan Kam Lian Cu sebagai orang yang bersangkutan, tentu saja menerima percobaan hidupnya ini dengan hati yang terluka dan hancur sekali diliputi oleh kesedihan yang tidak terkira…… Di waktu itu si pendeta telah menasehati si gadis, karena sekarang telah diketahui bahwa Kam Lian Cu tengah hamil, maka dia tidak boleh melatih ilmu silat yang berat-berat.

Juga tidak boleh melatih ilmu sin-kang yang terlalu tinggi.

Jika setiap hari dia melatih sin-kangnya, karena ilmu tenaga dalamnya merupakan hawa murni yang mengelilingi perutnya, tentu akan membuat gangguan yang tidak kecil buat kandungannya itu.

Kam Lian Cu mematuhi akan nasehat si pendeta.

Dia pun terus banyak beristirahat.

Dan yang luar biasa tabahnya gadis ini, ia pun bersedia dengan penuh tekad dan kesabaran menantikan kelahiran bayinya.

Walaupun bagaimana, yang berada dalam kandungannya adalah bayinya.

Cuma saja yang dikuatirkannya, begitu ia melahirkan, yang dilahirkannya adalah bayi dalam bentuk seratus prosen seekor kera.....

Dan dia pun tidak bisa membayangkan, entah dengan cara bagaimana kelak dia melatih anaknya itu, kalau memang bayi itu dalam bentuk kera.

Tentunya pun tidak akan secerdik manusia.....

tapi jelek, bagus atau pun juga bodoh atau pintarnya bayi itu, tetap saja bayi tersebut anaknya.

Dan ia memang akan mencintainya, cinta seorang ibu.......

◄Y► Giok Hoa telah kita tinggalkan cukup lama, marilah sekarang kita melihat keadaannya.

Giok Hoa telah berkelana dari kota yang satu ke kota lainnya.

Diapun berusaha menyelidiki di mana jejak Ko Tie, karena iapun sangat menguatirkan sekali kalau-kalau terjadi sesuatu pada diri pemuda itu.

Ia mengakui, memang ia sangat mencintai Ko Tie.

Jika sebelumnya dia tidak merasakan terlalu keras perasaannya itu, dan ia pun kurang begitu yakin dia mencintai Ko Tie.

Tapi setelah ia berpisah dengan Ko Tie dan kehilangan jejak pemuda itu, barulah dia merasakan betapa pun juga ia sangat membutuhkan sekali pemuda itu.

Ia sangat merindukannya.

Seringkali jika malam hari dia tengah berada di kamar rumah penginapan yang disinggahinya, si gadis jadi duduk termenung dengan hati yang sangat rindu sekali kepada Ko Tie.

Dan dia mengharapkan dapat bertemu dengan Ko Tie secepat mungkin.

Tapi usahanya itu, yang berusaha menyelidiki jejak Ko Tie tetap saja tidak berhasil.

Karena dia tidak pernah mendengar perihal si pemuda.

Keadaan seperti ini telah membuat Giok Hoa jadi berduka bukan main.

Tubuhnya juga agak kurus, karena selalu memikirkan pemuda pujaan hatinya itu.

Demikianlah, dia menyesali juga tindakannya, yang telah meninggalkan rumah penginapan dan dari Ko Tie begitu saja.

Dia telah membawakan adatnya begitu dan memisahkan diri dengan Ko Tie.

Dia telah meninggalkan surat buat Ko Tie, di mana dia menjelaskan bahwa dia telah pergi hendak berkelana seorang diri.

Namun setelah dia mengetahui bahwa dirinya sangat merindukan Ko Tie, segalanya telah terlambat.

Dia telah demikian rindunya walaupun dia berpisah dengan Ko Tie belum lagi begitu lama.

Juga diapun segera berobah haluan, dia mencari Ko Tie lagi.

Justeru sekarang tidak mudah baginya buat mencari Ko Tie, karena Ko Tie seperti juga telah lenyap begitu saja dari tempatnya, dan tidak meninggalkan jejak.

Giok Hoa mencarinya ke sana ke mari, dengan perasaan rindu yang semakin mencekam dirinya.

Sayangnya Giok Hoa tetap saja tidak berhasil dengan usahanya tersebut.

Akhirnya Giok Hoa berusaha mengendalikan perasaan rindunya itu.

Dia mengalihkan perhatiannya dengan berusaha turun tangan membantu orang-orang yang tengah dalam kesulitan dan juga terancam bahaya oleh perbuatan si jahat tapi kuat.

Karena itu, sedikitnya, Giok Hoa bisa mengalihkan perhatiannya dan setiap hari tidak memikirkan Ko Tie selalu.

Memang terkadang sulit sekali menduga hati wanita.

Jika sebelumnya Giok Hoa yang meninggalkan Ko Tie.

Dia hanya meninggalkan sepucuk surat yang menyatakan bahwa dia telah berangkat lebih dulu dan melanjutkannya seorang diri.

Namun setelah berpisah, justru timbul rindunya dan Giok Hoa menyadarinya bahwa dia sangat membutuhkan dan mencintai Ko Tie.

Tapi justeru belakangan dia sulit sekali buat mencari jejak Ko Tie.

Dengan begitu, akhirnya si gadis hanya mengharap kelak dia bisa bertemu lagi dengan Ko Tie.

Dia telah tiba di kota yang cukup ramai dalam bilangan propinsi Hu-nan.

Kota itu dikenal sebagai kota yang berpenduduk rapat sekali, karena merupakan simpang lintas dari kampung-kampung yang ada di sekitarnya dan tempat ditumpahkannya barang-barang kebutuhan dari penduduk kampung di sekitarnya.

Kota itu bernama Yun-cie-kwan.

Dan memang Yun-cie-kwan merupakan sebuah kota yang luas sekali.

Semakin lama kota itu semakin melebar juga.

Jika sebelumnya kota itu hanya memiliki empat pintu kota, maka sekarang jadi delapan pintu kota.

Sebuah kota dengan pintu kota sejumlah delapan buah itu, menunjukkan bahwa kota tersebut memang merupakan kota yang terhitung besar.

Terlebih lagi penduduknya juga sangat padat dan ramai sekali.

Giok Hoa tiba di kota tersebut di waktu mendekati sore hari.

Dia segera memasuki sebuah rumah makan yang cukup besar dan bertingkat dua.

Dia telah pergi ke tingkat dua, pelayan melayaninya dengan ramah sekali.

Dan Giok Hoa itu berpakaian sebagai seorang pria dengan demikian membuat orang-orang di dalam rumah makan itu sama sekali tidak memperhatikannya.

Giok Hoa bersantap dengan cepat.

Kemudian ia membayar harga makanan, dan menanyakan kepada pelayan, di mana dia bisa memperoleh rumah penginapan yang cukup baik dan bersih.

Pelayan itu mengawasi Giok Hoa beberapa saat.

Dilihatnya si "pemuda"

Adalah seorang yang putih dan tampan sekali, sehingga tentunya dia adalah pemuda dari keluarga kaya.

Dia tentu juga menginginkan sebuah rumah penginapan yang besar dan bersih.

"Mungkin di Tian-men terdapat kamar kosong, coba saja Kongcu lihat ke sana.....

Tapi menurut kabar yang kami dengar, di Tianmen justeru tengah diadakan pesta buat para pembesar setempat, yang menerima kunjungan para pembesar ibu kota.....

"Karena itu, mungkin tidak ada kamar kosong. Rumah penginapan itu satu-satunya merupakan rumah penginapan yang termewah dan terbesar."

Giok Hoa mengangguk.

Setelah mendengar keterangan di mana letak rumah penginapan tersebut, diapun segera meninggalkan rumah makan itu.

Ketika dia tiba di depan rumah penginapan Tian-men, benar saja, rumah penginapan itu ramai bukan main.

Juga tampaknya banyak sekali pembesar kerajaan.

Mereka rupanya tengah berpesta dan seluruh kamar telah dipakai oleh para pembesar kerajaan, karena waktu Giok Hoa, hendak memasuki rumah penginapan itu, dia telah dihadang oleh seorang pelayan, yang memberitahukan kepadanya, orang luar tidak boleh masuk, karena rumah penginapan Tian-men hari ini tidak melayani tamu umum, telah diborong oleh pembesar kerajaan.

Giok Hoa akhirnya meninggalkan rumah penginapan itu.

Dia berjalan mengelilingi kota karena dia bermaksud hendak mencari sebuah rumah penginapan lainnya.

Tapi, ia melihat sebuah rumah penginapan yang tidak begitu besar dan agak kotor.

Si gadis tidak menyukai tempat seperti itu.

Terlebih kemudian dia melihat di dalam rumah penginapan itu seperti juga berkumpul cukup banyak buaya-buaya darat.

Maka dia telah batal memasuki rumah penginapan tersebut dan mencari rumah penginapan lainnya.

Setelah menilai dan mempertimbangkan di antara empat rumah penginapan, akhirnya Giok Hoa memilih rumah penginapan yang memasang merek Kuo-men, di jalan Cing-lu, di mana rumah penginapan itu memang cukup bersih dan besar.

Tapi yang mengherankan rumah penginapan ini sepi sekali, hanya tampak satu-dua orang tamu belaka.

Para pelayan di rumah penginapan ini tampak menganggur karena tidak ada kesibukan buat mereka.

Giok Hoa disambut oleh dua orang pelayan dengan ramah dan sopan, menghormat sekali.

Mereka telah menanyakan apakah tamu ini membutuhkan kamar.

Giok Hoa meminta sebuah kamar yang bersih, kemudian dia dibawa oleh pelayan itu ke tingkat dua, di sebuah kamar yang bersih dan teratur baik.

Dia bisa beristirahat dengan tenang.

Ketika Giok Hoa merebahkan dirinya di pembaringannya, pikirannya jadi melayang-layang.

Dia teringat Ko Tie lagi.

Betapa tidak, perasaan rindunya demikian kuat sekali mendesak Ko Tie.

Justeru sekarang di saat dia berpisah dengan Ko Tie, dia baru menyadarinya, betapapun dia sesungguhnya memang sangat membutuhkan Ko Tie, sangat mencintainya.

Dengan adanya Ko Tie, dia tidak pernah merasa kesepian seperti itu.

Giok Hoa pun teringat kepada gurunya!

Kepada Swat Tocu, entah apa yang mereka lakukan.

Dan juga gurunya tentu bergaul dengan baik bersama Swat Tocu, tokoh sakti itu.

Dan tentunya gurunya tidak akan kesepian.

Tapi, menurut pengamatan Giok Hoa selama menjadi murid gurunya, dia memperoleh kenyataan gurunya itu lebih senang buat mengurung diri mempelajari ilmu silat yang lebih tinggi.

Entah Swat Tocu mau meluluskan permintaan gurunya yang bermaksud untuk minta agar Swat Tocu mengajarkan kepadanya ilmu sin-kangnya yang istimewa, yaitu ilmu Inti Esnya.

Sebelum Giok Hoa berangkat bersama Ko Tie, memang guru Giok Hoa pernah memberitahukan kepadanya, bahwa gurunya itu bermaksud meminta kepada Swat Tocu untuk mengajarkan kepadanya ilmu Pukulan Inti Es nya.

Tapi Giok Hoa sendiri tidak yakin bahwa Swat Tocu bersedia mengajarkan ilmu andalannya itu.

Tengah rebah di pembaringan seperti itu pikiran Giok Hoa jadi menerawang ke sana ke mari.

Dan akhirnya dia memutuskan untuk keliling kota melihat-lihat keramaian di kota itu, karena ia belum lagi bisa tidur.

Karenanya Giok Hoa turun dari pembaringan dan dia mengenakan baju luarnya.

Tapi ketika dia mengenakan baju luarnya tiba-tiba dia merandek.

Karena dia merasakan ada sesuatu yang dicurigakannya, dia merasakan, seperti juga ada seseorang yang tengah mengintai dirinya.

Dengan segera Giok Hoa memperhatikan keadaan di kamarnya itu, dan dia yakin ada orang mengintai dari lobang kunci di pintu kamarnya.

Tahu-tahu dengan gerakan yang sebat sekali seperti terbang, ia melesat ke pintu.

Pintu itu dibukanya dengan mendadak sekali, digentaknya.

Dan di hadapannya berdiri si pelayan dengan wajah yang sangat pucat pias.

"Apa kerjamu mengintai di situ?"

Bentak Giok Hoa marah. Pelayan itu yang ketangkap basah atas perbuatannya itu, jadi meringis salah tingkah.

"Aku…… aku….. aku ingin menanyakan kepada kau, Kongcu. Apa yang ingin kongcu pesan, apakah air teh atau makanan kecil?"

Giok Hoa menjambak baju di dada pelayan itu, katanya dengan suara yang bengis.

"Katakan terus terang, apa maksudmu mengintai di situ?"

Pelayan itu kesakitan.

"Lepaskan…… oooohhhhh, lepaskan……!"

Katanya ketakutan sekali. Mukanya juga pucat pias seperti mayat! "Jika memang engkau tidak mau mengatakan yang sebenarnya, hemmmm akan kuhajar kau!"

Kata Giok Hoa dengan sikap mengancam dan matanya memandang tajam.

Pelayan itu jadi ketakutan, terlebih lagi dia merasakan cengkeraman tangan Giok Hoa semakin kuat dan keras, menyebabkan dia menderita kesakitan.

"Aku..... aku mohon maaf..... memang aku…… aku sengaja mengintai..... karena……!"

Dan pelayan itu tidak meneruskan perkataannya.

"Katakan terus, karena apa?"

Bentak Giok Hoa dengan suara yang bengis.

"Karena…… karena aku melihat…… Kongcu mirip…… mirip seorang wanita, dan aku ingin mengetahui apakah Kongcu memang sesungguhnya seorang wanita yang tengah menyamar!"

Mengaku si pelayan.

Seketika juga Giok Hoa menyadari bahwa pelayan itu seorang yang ceriwis.

Rupanya penyamarannya sebagai seorang pria tidak sempurna, sehingga pelayan ini dapat menduga dia adalah seorang wanita yang tengah menyamar.

Dan memang pada dasarnya pelayan itu yang ceriwis, yang mungkin memiliki kegemaran mengintip, maka dengan segera tangan Giok Hoa digerakkan.

Dia melemparkan tubuh si pelayan, sehingga pelayan itu terbanting di lantai lebih beberapa tombak dan menggelinding bergulingan sambil menjerit-jerit.

Pelayan-pelayan lain yang mendengar suara ribut-ribut itu, segera juga berlari menghampiri.

Mereka berdiri tertegun menyaksikan apa yang terjadi, dan muka mereka pun berobah.

Tampaknya mereka jadi tidak senang ketika memandang kepada Giok Hoa.

Giok Hoa tidak memperdulikan sikap para pelayan itu, dengan suara yang bengis dia bilang.

"Jika dilain kali aku mengamproki kau masih mengintip juga, maka di waktu itu tidak ada tawar menawar, tentu aku akan membunuhmu……!"

Setelah berada di dalam kamarnya, Giok Hoa memasang pendengarannya.

Dia tidak mendengar sesuatu yang mencurigakan.

Dibukanya pakaian baju luarnya, kemudian dia pun telah membuka juga bajunya untuk salin dengan baju tidurnya.

Tanpa setahu Giok Hoa, sesungguhnya beberapa orang pelayan yang tadi di luar rumah penginapan itu, sebetulnya telah bersiapsiap hendak mengintainya lagi.

Ketika Giok Hoa telah masuk ke dalam kamarnya, lima orang pelayan itu berindap-indap menuju ke belakang rumah penginapan, bagian taman bunga.

Ternyata tembok kamar Giok Hoa memang menghadapi taman bunga itu.

Dengan hati-hati sekali ke lima pelayan tersebut telah menghampiri jendela.

Merekapun telah mengintai dari lobang-lobang yang sebelumnya telah mereka bikin.

Seketika ke lima pelayan itu jadi terbelalak matanya.

Karena mereka segera juga melihat bahwa Giok Hoa memang bukan seorang pemuda, melainkan seorang gadis.

Karena waktu itu Giok Hoa telah membuka baju luarnya kemudian baju dalamnya, tampak dadanya yang kulitnya begitu putih seperti salju.

Jantung ke lima pelayan itu berdebar keras.

Karena mereka jadi mengawasi dengan perasaan yang bergolak di dalam hatinya masing-masing melihat seorang gadis cantik jelita yang tengah salin pakaian.

Dan waktu itu Giok Hoapun telah membuka kopiahnya, sehingga rambutnya yang panjang dan hitam lemas itu tergerai di bahunya, menambah kecantikannya.

Benar-benar para pelayan itu tidak menyangka bahwa "pemuda"

Tersebut adalah seorang gadis yang demikian jelita.

Mereka jadi mengintip terus, dan mereka melihat Giok Hoa telah merebahkan dirinya di pembaringan.

Tangan kanannya dikebaskan, api lilin segera padam.

Menyaksikan hebatnya tenaga dalam gadis itu, ke lima pelayan tersebut jadi meleletkan lidahnya dan mereka saling pandang beberapa saat, mereka kagum dan juga jeri, Kemudian dengan berindap-indap hati-hati sekali merekapun meninggalkan tempat mengintai mereka, karena kamar itu sudah gelap dan mereka tidak bisa melihat sesuatu apapun juga.

Salah seorang di antara mereka, ketika telah berada di ruang depan rumah penginapan itu, segera berkata.

"Kita harus segera melapor kepada Lo-ya.....!"

"Ya, tentu Lo-ya akan girang bukan main, kita akan diberi hadiah!"

Menyahuti yang lain.

Segera juga tiga orang dari ke lima pelayan itu pergi ke ruang tengah penginapan tersebut!

Tiba di depan sebuah kamar, salah seorang di antara mereka telah mengetuk pintu.

"Mau apa?"

Terdengar orang di dalam kamar itu menegur, rupanya dia telah dapat menduga siapa yang mengetuk kamar tersebut! "Ada berita bagus, Lo-ya.....!"

Menyahuti ke tiga pelayan itu serentak, namun dengan suara yang perlahan.

"Berita bagus? Masuk!"

Perintah orang di dalam kamar itu.

Pelayan-pelayan itu segera mendorong daun pintu yang ternyata tidak terkunci.

Di atas pembaringan tampak rebah seorang laki-laki berusia empatpuluh tahun.

wajahnya keren, di mana dia memiliki sepasang alis yang tebal.

Bibir yang tebal dan hidung yang tebal.

Gagah sekali tampaknya.

Dia mengawasi ke tiga orang pelayan yang baru masuk itu!

"Kabar bagus apa yang kalian bawa?"

Tanya orang itu, yang dipanggil Lo-ya. Kedua pelayan itu masing-masing memperlihatkan sikap girang, sambil mengacungkan ibu jari mereka.

"Kabar yang benar-benar menggembirakan! Ada ikan kakap yang masuk jaring.....!"

Kata mereka hampir berbareng. "Gadis yang cantik luar biasa Lo-ya.....!"

Kata yang lainnya kemudian.

"Cantik luar biasa.....!"

Nimbrung yang lainnya lagi, untuk meyakinkan si Lo-ya itu. Lo-ya itu duduk dan mengawasi ke tiga pelayan itu.

"Kalian apakah bukan tengah mempermainkan aku?"

Tanya Lo-ya itu tersenyum.

"Mana berani! Mana berani!"

Menyahuti ke tiga pelayan itu yang tersenyum juga.

"Memang gadis itu cantik bukan main. Mungkin selama ini, baru kali ini rumah penginapan kita menerima kunjungan tamu seorang gadis secantik dia........!"

"Di kamar berapa?"

Tanya si Lo-ya.

"Kamar duapuluh empat......!"

"Seorang diri?"

"Ya, dia seorang diri……!"

"Sudah tidur?" "Kami baru saja mengintainya…… Api penerangan kamarnya telah dipadamkan setelah dia naik ke pembaringan. Diapun telah salin pakaian. Kami telah melihatnya semua, Lo-ya, ohhhh, betapa putihnya kulitnya……"

Mata Lo-ya itu mencilak memain sejenak, wajahnya tampak berseri-seri.

"Hemmmm, jika memang berita kalian ini bukan kabar bohong, aku akan menghadiahkan kepada kalian sejumlah besar uang……!"

Janjinya.

"Terima kasih Lo-ya…… memang itu yang kami harapkan……!"

Kata ke tiga pelayan itu.

"Tapi Lo-ya.....!"

Dan berkata sampai di situ, salah seorang dari ke tiga pelayan itu telah berhenti sejenak, tampaknya dia ragu-ragu.

"Kenapa?!"

"Tampaknya gadis itu memiliki ilmu silat yang tidak ringan!"

Menyahuti si pelayan.

Dia menceritakan juga, waktu sore tadi justeru salah seorang kawan mereka telah mengintai dari pintu dan diketahui si gadis yang telah menghantamnya.

Untung saja dia diampuni.

Lo-ya itu tersenyum.

"Jadi dia gadis dari kalangan Kang-ouw?"

Tanyanya dengan suara yang tawar. Pelayan-pelayan itu mengangguk serentak.

"Tampaknya memang demikian.....!"

Kata mereka serentak juga. Lo-ya itu tersenyum.

"Jangan kuatir. Bagaimana tingginya kepandaian gadis itu, aku akan dapat menghadapinya.....!"

Katanya kemudian sambil tertawa tawar, seperti juga dia tidak memandang sebelah mata terhadap cerita para pelayan itu. Kemudian Lo-ya itu telah turun dari pembaringan, dia mengenakan baju luarnya.

"Kalian boleh pergi, nanti jika sudah berhasil, aku akan memberikan hadiahnya.......!"

Kata Lo-ya itu. Ke tiga pelayan itu nyengir.

"Jika bisa sekarang saja diberikan sebagian, Lo-ya. Kami ingin minum arak……!"

Kata salah seorang di antara mereka.

"Tapi jika kalian mendustai aku?!"

Tanya si Lo-ya itu sambil senyum dan mengawasi dengan pandangan menyelidik kepada ke tiga pelayan tersebut.

"Mana berani kami memperdaya Lo-ya....., kami telah memberitahukan apa yang sebenarnya!"

"Hemmm, baiklah!"

Kata Lo-ya itu, dia merogoh sakunya, memberikan duapuluh tail.

Pelayan-pelayan itu kegirangan, mereka mengucapkan terima kasihnya berulang kali.

Setelah pelayan itu pergi, si Lo-ya kemudian pergi ke belakang rumah penginapan itu, ke taman bunga.

Dia mengetahui, jendela mana yang merupakan jendela kamar dari nomor duapuluh empat itu.

Dia pun menghampiri dengan langkah kaki yang ringan, tidak memperdengarkan suara.

Ketika sampai di samping jendela, dia merogoh sakunya, mengeluarkan semacam obat bubuk, yang kemudian dibakarnya.

Asap yang keluar dari obat bubuk yang dibakarnya itu, telah melambung tinggi.

Dia meniupnya perlahan-lahan, sehingga asap itu menyelusup masuk ke dalam kamar.

Rupanya si Lo-ya tengah membakar semacam obat bius, untuk membuat Giok Hoa di dalam kamar itu tidak sadarkan diri, dan dia akan mudah melakukan apa yang diinginkannya.

Asap itu memang menyelusup masuk ke dalam kamar tersebut melewati kisi-kisi jendela.

Setelah menantikan sekian lamanya, akhirnya si Lo-ya beranggapan telah cukup dia menghembuskan asap obat pulasnya itu.

Dengan gembira dia mengulurkan tangannya, berani sekali dia mencongkel jendela, daun jendela itu terbuka.

Keadaan di dalam kamar gelap sekali, tapi dia melompat masuk.

"Bukkk! Aduhhh!"

Tiba-tiba dalam kegelapan itu terdengar suara yang nyaring di susul jeritan si Lo-ya.

Malah tidak lama kemudian tampak si Lo-ya telah melompat keluar lewat jendela itu.

Mukanya meringis menahan sakit.

Menyusul dengan melompatnya si Lo-ya, juga menyusul sesosok bayangan yang melompat keluar jendela.

Dialah Giok Hoa, yang mukanya merah padam karena murka bukan main.

"Hemmm……!"

Dia mendengus dengan suara yang dingin sekali.

"Kau Cay-hoa-cat yang tidak tahu mampus!"

Setelah berkata begitu, pedang di tangannya menikam berulang kali.

Tapi Lo-ya itu telah mengelak ke sana ke mari, dia ripuh sekali.

Rupanya usahanya kali ini telah gagal, malah dia kena terpancing oleh Giok Hoa.

Mengapa Giok Hoa tidak terpengaruh oleh obat bius tersebut?

Rupanya Giok Hoa memang menaruh kecurigaan bahwa di rumah penginapan ini memiliki pelayan-pelayan yang tidak baik.

Walaupun sesungguhnya dia mengantuk, namun dia tidak segera tertidur.

Pendengarannya yang tajam segera mendengar suara langkah kaki mendekati jendela kamarnya.

Waktu itu keadaan malam hening sekali, sehingga dia bisa mendengar jelas suara langkah kaki itu.

Jika memang orang biasa, tentu tidak akan dapat mendengar suara langkah kaki yang perlahan sekali.

Tapi bagi Giok Hoa yang memang memiliki pendengaran yang tajam, segera mengetahui ada seseorang yang tengah mendekati jendela kamarnya.

Malah menyusul kemudian didengarnya suara dinyalakannya bibit api.

Diapun segera mencium bau harum.

Seketika Giok Hoa menyadari tentunya ada seorang Cay-hoa-cat yang hendak mengganggunya dengan mempergunakan obat bius.

Dia segera mengeluarkan tempat simpanan obatnya.

Dia pun telah menelan sebutir obat sehingga dia tidak terpengaruh oleh obat bius tersebut.

Kemudian Giok Hoa pun bersiap-siap di sudut ruangan itu dekat jendela.

Dia menantikan sampai si maling pemetik bunga itu hendak bekerja dan masuk ke dalam kamarnya.

Benar saja, setelah asap itu berkurang, daun jendela dicongkel oleh seseorang, dari luar.

Giok Hoa tetap menantikan dengan sabar.

Keadaan di dalam kamarnya memang gelap gulita, karenanya Giok Hoa tidak perlu kuatir.

Dia memiliki mata yang tajam, yang bisa melihat dalam kegelapan.

Karena dari itu, seketika juga dia telah melihat Lo-ya itu melompat masuk ke kamarnya lewat jendela.

Secepat kilat pedangnya bekerja menikam.

Namun si Lo-ya bisa mengelakkan dari tikaman pedang itu.

Cuma saja hantaman tangan kiri Giok Hoa telah mengenai dada si Lo-ya.

Suara "Bukkk!"

Itulah yang terdengar akibat terpukulnya si Lo-ya, di susul dengan jerit kesakitan dari si Lo-ya itu sendiri.

Tapi memang Lo-ya itupun tampaknya memiliki kepandaian tidak rendah.

Dia telah dapat melompat keluar dari kamar itu lewat jendela yang tadi dibukanya.

Giok Hoa mengejarnya.

Sekarang mereka telah berhadapan dan Giok Hoa pun mulai menyerang dengan pedangnya.

Si Lo-ya mengelak ke sana ke mari dengan lincah sekali.

Giok Hoa tambah penasaran.

"Hemmm, tidak tahunya di daerah ini berkeliaran seorang pemetik bunga! Jika aku tidak dapat membunuhmu hari ini, tentu di belakang hari engkau akan menyebabkan jatuhnya korban yang cukup banyak! Karena itu engkau harus dimampusi!"

Sambil berseru begitu, tampak dia telah menikam berulang kali mempergunakan pedangnya.

Si Lo-ya tampaknya jadi ripuh sekali, karena si gadis telah menikamnya dengan mempergunakan jurus-jurus ilmu pedang Giok-lie-kiam-hoat, yang hebat itu.

Si Lo-ya berusaha mati-matian mengelakan diri dari setiap tikaman si gadis, sampai akhirnya dia baru memiliki kesempatan buat mencabut senjatanya, sebatang golok berukuran kecil.

Dia mempergunakan golok kecilnya itu buat menangkis salah satu tikaman yang dilakukan Giok Hoa.

"Tranggggg......!"

Terdengar pedang dan golok itu telah saling bentur.

Benturan yang terjadi begitu keras dan kuat, sehingga golok dan pedang sama-sama tergetar.

Rupanya memang si Lo-ya ini telah mengerahkan tenaga lweekangnya waktu menangkis.

Giok Hoa tercekat juga hatinya, diam-diam dia berpikir.

"Hemmm, tidak kusangka dia memiliki kepandaian yang lumayan…… Jika demikian dialah bukan seorang pemetik bunga sembarangan……!"

Karena berpikir begitu, Giok Hoa bersikap jauh lebih hati-hati.

Dia selalu memperhitungkan setiap serangannya.

Pedangnya itu berkelebat-kelebat semakin cepat.

Tubuh Giok Hoa juga mencelat ke sana ke mari seperti sesosok bayangan belaka sulit diikuti oleh mata si Lo-ya, membuat dia mulai bingung.

Permainan ilmu goloknya juga mulai kacau, karena dia tidak jarang jadi terdesak hebat sekali dan hampir saja tidak bisa memunahkan serangan Giok Hoa.

Melihat lawannya telah terdesak seperti itu, semangat Giok Hoa terbangun.....

Pedangnya berkelebat-kelebat seperti mengelilingi si Lo-ya itu.

Semakin lama si Lo-ya semakin kebingungan.

Dia juga mengeluh, karena tidak menyangka bahwa lawannya ini demikian tinggi ilmu pedangnya.

Tampak Giok Hoa berhasil menikam dan melukai beberapa bagian anggota tubuh dari lawannya, membuat si Lo-ya benar-benar jadi panik karena berulang kali dia harus menyelamatkan diri.

Si Lo-ya telah mengeluarkan seluruh kepandaiannya, akan tetapi tetap saja dia tidak bisa mengelakkan diri dari desakan Giok Hoa.

Malah semakin lama tampak jelas sekali dia semakin terdesak hebat.

Dua kali dia telah kena dilukai lagi, dan mengeluarkan suara jeritan kesakitan.

Menyusul dengan itu, juga terlihat bahwa memang pada saat itu Giok Hoa tengah mendesak dia semakin hebat, dan ketika goloknya kena disampok oleh tabasan pedang si gadis, tidak ampun lagi golok pendek itu telah terbang terlepas dari cekalannya.

Muka si Lo-ya berobah pucat, dia berdiri kaku, dengan ujung pedang Giok Hoa telah menempel di lehernya.

"Jangan..... jangan membunuhku.....!"

Dia sesambatan dengan tubuh menggigil ketakutan. Giok Hoa tertawa dingin. Dia segera juga menjejakkan kakinya, tubuhnya melayang ke tengah udara, pedangnya bergerak sebat sekali.

"Sreeettttt!"

Muka si Lo-ya telah kena digores oleh mata pedangnya, melintang panjang sekali, juga di waktu itu muka si Loya telah dilumuri oleh darah merah yang kental…… Lo-ya itu menutupi mukanya sambil menjerit, lemaslah sepasang lututnya.

Dia pun segera berlutut sambil sesambatan…… Giok Hoa yang telah turun pula hinggap di tanah, tertawa dingin.

"Hemmm, penjahat pemetik bunga seperti engkau harus dimampusi, untuk menghilangkan bencana buat umum……!"

Kata Giok Hoa dengan suara yang dingin sekali. Di kala itu tampak si Lo-ya telah menggigil ketakutan dan menangis.

"Ampunilah aku…… aku tidak akan melakukannya lagi……!"

Dan tanpa memperdulikan rasa malu lagi dia pun berlutut sambil mengangguk-anggukan kepalanya. Giok Hoa tertawa dingin, pedangnya bergerak. "Sreeettt……!"

Punggung si Lo-ya kena digores lagi dengan mata pedangnya. Lo-ya itu menjerit kesakitan, tubuhnya terjengkit karena goresan mata pedang itu.

"Ampuuuuun……!!"

Dia menjerit. Giok Hoa berdiri dengan gagah.

"Hemmm, rupanya engkau yang menjadi penjahat pemetik bunga, jika memang aku tidak salah, bukankah engkau ini si pemilik rumah penginapan ini?!"

Si Lo-ya ketakutan, dia tidak berani berdusta.

"Benar..... benar….. ampunilah aku....... Aku akan merobah kelakuanku...... dan kuberikan kau menginap gratis sesuka hatimu……!"

Muka Giok Hoa berobah merah padam karena murka.

"Atau kau kira aku ini sebagai wanita rendah yang silau oleh sejumlah uang?!"

Tanyanya dengan suara bengis.

"Hemmmm, akupun memiliki uang yang jumlahnya tidak sedikit.....!" Muka si Lo-ya berobah pucat, dia mengerti bahwa dia kembali telah salah bicara lagi. Maka cepat-cepat dia segera berkata.

"Ampunilah aku..... Aku bersungguh-sungguh tidak akan melakukan perbuatan buruk itu lagi?"

"Aku tidak bisa mempercayai janjimu.....!"

Kata Giok Hoa.

"Penjahat busuk seperti engkau ini adalah kematian merupakan bagianmu!"

Menggigil tubuh si Lo-ya. Dia segera juga mengangguk-anggukan kepalanya.

"Ampunilah aku Lihiap……, aku benar-benar tidak akan melakukan sesuatu yang buruk lagi.......!"

Dan dengan tidak tahu malu, malah si Lo-ya ini telah menangis terisak-isak.

Giok Hoa mendongkol bukan main melihat sikap pengecut dari penjahat pemetik bunga ini.

Dialah merupakan penjahat yang berbahaya sekali, yang tentunya akan merusak kehormatan anak dan isteri orang.

Karena itu, Giok Hoa telah memutuskan, bahwa dia akan membinasakan si Lo-ya itu.

"Baiklah, karena engkau merupakan penjahat yang paling rendah, yang tidak kenal malu dan paling busuk, yang tentunya telah banyak mengganggu isteri dan anak gadis orang, maka engkau harus di kirim ke neraka, agar kelak di kemudian hari tidak ada yang mempersulit penduduk setempat......!"

Bukan main ketakutan si Lo-ya, dia sampai menggigil keras sekali.

Karena saking ketakutan dan mengetahui Giok Hoa tidak akan mengampuni jiwanya, dia jadi nekad.

Tiba-tiba saja si Lo-ya telah melompat bangun untuk membarengi melarikan diri.

Cuma saja, baru dua langkah dia berdiri, pedang Giok Hoa telah bekerja.

Mata pedang itu tepat sekali menghujam punggung si Loya tersebut dalam sekali.

Waktu Giok Hoa menarik pedangnya, seketika darah memancur deras dari luka di punggung si Lo-ya.

Dia pun tidak bisa menjerit lagi, cuma matanya mendelik, mulutnya terbuka, dan dia tampaknya menderita kesakitan yang hebat.

Kemudian rubuh terguling rebah tidak bergerak lagi.

karena jiwanya telah melayang ke neraka.....!

Giok Hoa menyusut pedangnya yang berlumuran darah di baju si Lo-ya, kemudian memasukkan ke dalam sarungnya.

Dengan mendengus dingin, dan memandang jijik kepada mayat si Lo-ya.

Giok Hoa telah melompat masuk kembali ke dalam kamarnya.

Dia telah mengunci jendela kamarnya.

Lalu merebahkan dirinya di pembaringan untuk tidur…… Besok paginya, pintu kamar Giok Hoa digedor keras sekali dari luar, terdengar juga suara yang ramai-ramai, sehinggga membuat Giok Hoa terbangun dengan terkejut.

"Buka! Ayo buka pintu, penjahat!"

Teriak orang-orang di luar kamarnya.

Muka Giok Hoa berobah, seketika dia menduga bahwa yang telah menggedor pintu kamarnya tentunya adalah polisi setempat.

Tapi dengan tenang kemudian Giok Hoa turun dari pembaringan.

"Tunggu!"

Bentaknya dengan suara yang nyaring.

Kemudian dia mengenakan pakaiannya, merapihkan juga buntalannya, lalu pauw-hoknya itu telah disandangkan di pundaknya.

Sedangkan di luar masih ramai juga orang yang menggedor pintu.

Ketika Giok Hoa membuka pintu kamarnya, semua orang jadi berdiri tertegun.

Di hadapan mereka berdiri gagah sekali seorang wanita, dengan pedang tergenggam di tangannya.

Wajahnya cantik luar biasa.

Beberapa orang polisi yang berada di situ jadi saling pandang, mereka heran rupanya.

"Ada apa?!"

Tanya Giok Hoa kemudian dengan suara yang tawar kepada mereka. Para pelayan yang berdiri di belakang para polisi itu telah menunjuk sambil berseru-seru.

"Dialah pembunuhnya! Dialah pembunuhnya!"

Rupanya para pelayan itu telah melihat majikannya mereka terbunuh mati.

Seketika mereka menyadari apa yang terjadi.

Rupanya gadis yang hendak dijadikan calon korban dari si Lo-ya itu memang memiliki kepandaian yang tinggi, sehingga dia bisa membunuh si Lo-ya.

Pagi-pagi sekali para pelayan itu segera melaporkan peristiwa pembunuhan tersebut kepada para pembesar yang berwenang di kota itu.

Terlebih lagi memang si Lo-ya memiliki hubungan dengan beberapa orang pembesar tinggi.

Kemudian, Tie-kwan juga telah perintahkan beberapa orang polisi buat menangkap si pembunuh.

Hanya saja mereka tidak menyangka, bahwa yang disebut sebagai pembunuh si Lo-ya tidak lain seorang wanita cantik.

Padahal mereka mengetahui bahwa si Lo-ya sesungguhnya memiliki ilmu golok yang cukup lihay.

Polisi-polisi itu memandang Giok Hoa seakan juga tidak mempercayai bahwa gadis inilah sebagai pembunuhnya.

Sedangkan para pelayan itu masih terus berseru-seru.

"Dialah pembunuhnya! Siluman wanita itulah pembunuhnya!"

Muka Giok Hoa berobah merah karena mendongkol.

"Benar, memang aku yang membunuh majikan kalian! Dan kalian semuanya pun perlu dihajar, karena kalian pun bukan sebangsa manusia baik-baik! "

Aku baru mengerti mengapa rumah penginapan ini sangat sepi. Karena tampaknya orang-orang telah mengetahui pemiliknya adalah manusia tidak tahu malu.....!!"

Sambil berkata begitu, Giok Hoa menghunus pedangnya dan melangkah akan keluar dari kamarnya.

Para pelayan itu jadi ketakutan, mereka berhamburan melarikan diri.

Tapi para polisi itu segera menghadang di depan Giok Hoa.

"Serahkan pedangmu, atau engkau hendak membangkang kepada kami!!"

Kata salah seorang di antara polisi itu.

"Dan kau sebagai pembunuh, dengan ini kami tahan untuk diperiksa!"

Giok Hoa tertawa dingin.

Mana mau dia membiarkan dirinya ditangkap oleh polisi-polisi itu.

Segera juga dia menggerakkan pedangnya, polisi itu yang tidak menyangka dirinya akan ditikam seperti itu, seketika menjerit, sebab pundaknya tertikam.

Dia terhuyung mundur.

Mempergunakan kesempatan itu Giok Hoa menjejakkan kakinya, tubuhnya melesat ke tengah udara.

Dia pun memutar pedangnya.

Para polisi yang lainnya segera mencabut golok mereka, ramairamai mereka menyerang.

Akan tetapi Giok Hoa bisa menangkis semua serangan itu, dia memutar pedangnya melindungi dirinya.

Dengan mengandalkan gin-kangnya, Giok Hoa bisa meninggalkan rumah penginapan itu, melepaskan diri dari kepungan para polisi tersebut.

Dia berlari pesat sekali keluar kota.

Para polisi itu mengejar sambil berteriak-teriak.

"Tangkap pembunuh! Tangkap pembunuh……!"

Tapi mereka mana bisa mengejar Giok Hoa, yang memiliki ginkang yang tinggi dan dalam waktu yang singkat saja telah lenyap dari pandangan mereka.

Giok Hoa sendiri memang sudah mengetahui bahwa dia tentu akan menghadapi kesulitan, karenanya tadi dia telah mengenakan pakaian baju luarnya, dia pun telah membawa pauw-hoknya, maka dia bisa berlari dengan pesat sekali meninggalkan kota tersebut.....

sedangkan para pengejarnya tertinggal jauh sekali, mereka tidak berhasil mengejarnya.

Setelah berada di luar kota, Giok Hoa masih berlari terus dengan cepat sekali.....

karena dia masih kuatir kalau-kalau tentara kerajaaan dikerahkan buat menangkap dirinya, sehingga biarpun dia memiliki kepandaian tinggi, jika memang dikeroyok dalam jumlah yang besar, niscaya dia akan menghadapi kesulitan yang tidak kecil.

Karena itu Giok Hoa terus juga berlari.

Semakin lama semakin jauh meninggalkan kota tersebut.

Dia mengambil arah ke Barat, karena memang dia tidak mengetahui, ke arah mana dia harus pergi.....

◄Y► Kita kembali kepada Ko Tie, dimana keadaannya berangsur memang mulai membaik.

Karena Oey Yok Su telah berhasil untuk menyalurkan sin-kangnya, membuat Ko Tie dapat mempergunakan bantuan itu buat menyalurkan lweekangnya sendiri.

Diapun telah berhasil untuk menyalurkan sin-kangnya pada beberapa jalan darah besarnya, karena jalan darah terpenting di tubuhnya telah dibuka oleh Oey Yok Su.

Dengan demikian, pesat sekali Ko Tie pulih kesehatannya.

Karena itu, Ko Tie dapat segera duduk pada hari ke duanya.

Dia pun sudah dapat bercakap-cakap dengan Oey Yok Su maupun penduduk kampung itu.

Pada sorenya, Ko Tie telah menanyakan burung rajawalinya itu, Tiauw-jie, bagaimana keadaannya.

"Aku telah mengobati luka pada sayapnya. Dia mengalami patah tulang pada sayap kanannya!"

Menjelaskan Oey Yok Su. Dan kemudian Oey Yok Su keluar buat memeriksa keadaan rajawali itu. Tidak lama kemudian dia kembali.

"Dia telah sembuh, dan bisa terbang kembali dengan leluasa!"

Kata Oey Yok Su kemudian menjelaskan kepada Ko Tie, membuat pemuda itu girang bukan main. Setelah beberapa saat, Oey Yok Su memandangi si pemuda, dia pun bilang.

"Ada yang hendak kutanyakan, apakah engkau bersedia menjawabnya?"

Ko Tie terkejut. "Silahkan locianpwe, mengapa harus sungkan begitu? Setiap pertanyaan locianpwe, pertanyaan apa saja. Jika memang aku mengetahuinya tentu saja boanpwe harus menjelaskannya.....!"

Kata Ko Tie kemudian dengan sikap hormat sekali!

Oey Yok Su menghela napas panjang!

"Melihat burung rajawalimu itu, maka aku jadi teringat kepada Sintiauw, rajawali-rajawali yang dipelihara puteriku itu, dan yang hendak kutanyakan, dari mana engkau memperoleh burung rajawali itu?!"

Sambil bertanya begitu Oey Yok Su mengawasi Ko Tie dalamdalam.

Dia memperoleh kenyataan pemuda itu memang tidak bimbang lagi telah menyahuti, menjelaskan bahwa burung itu sebetulnya burung peliharaan Giok Hoa.

"Oh, murid dari puterinya Yo Ko?!"

Tanya Oey Yok Su setelah mendengar habis cerita Ko Tie. Ko Tie mengangguk.

"Benar Locianpwe……!"

"Sekarang dia berada di mana?!" "Entahlah, dia telah meninggalkan boanpwe, sehingga boanpwe tidak mengetahui di mana sekarang dia berada!"

Menyahuti Ko Tie sejujurnya. Oey Yok Su menghela napas.

"Hai! Hai! Memang begitulah adat-adat orang muda!"

Kata Oey Yok Su kemudian.

"Mungkin juga kawan wanitamu itu membawa adatnya!"

Ko Tie jadi jengah, dia likat sekali, sampai dia tersenyum saja dengan pipi yang berobah memerah. Di waktu itu Oey Yok Su telah bilang lagi dengan suara yang perlahan.

"Mengapa engkau tidak berusaha mencarinya?!"

Ko Tie terkejut ditegur seperti itu.

"Boanpwe telah berusaha mencari dirinya akan tetapi boanpwe tidak berhasil menemukan jejaknya.....!"

Menjelaskan Ko Tie dengan memperlihatkan sikap menyesal.

Betapapun juga memang Ko Tie pun menyesali dirinya, mengapa dia tidak berusaha mencari si gadis.

Bukankah apa yang dikatakan oleh Oey Yok Su memang benar, yaitu bahwa si gadis mungkin membawa adatnya dan mungkin juga di mata si gadis, Ko Tie telah melakukan suatu yang kurang menyenangkan hatinya.

Karena itu, Ko Tie teringat kepada Kam Lian Cu.

Mungkin pula, di saat dia tengah bercakap-cakap dengan Kam Lian Cu, justeru Giok Hoa telah melihatnya, sehingga membuat gadis itu akhirnya angkat kaki meninggalkannya dan jika memang demikian, seharusaya Ko Tie mesti mencarinya.

Karena berpikir begitu, akhirnya Ko Tie memutuskan, begitu dia telah sembuh dari lukanya ini, dia akan segera berusaha mencari jejak si gadis.

Sedangkan di waktu itu Oey Yok Su telah berkata lagi.

"Dalam waktu empat hari lagi, lukamu telah sembuh keseluruhannya, dan engkau boleh melakukan perjalanan dan kita berpisah, karena aku tidak mungkin buat menemani engkau terus menerus..... Akupun ingin pergi melanjutkan perjalanan!"

Ko Tie mengiakan.

Pada waktu itu penduduk kampung juga telah mengetahui bahwa Oey Yok Su sesungguhnya bukanlah seorang tabib, dan juga tidak buta matanya.

Malah uang mereka telah dikembalikan oleh Oey Yok Su, dan tokoh sakti rimba persilatan ini telah memuji semua penduduk kampung itu sebagai orang-orang yang berbudi tinggi, dan mereka telah berusaha menolongi Ko Tie dengan bersungguhsungguh hati.

Oey Yok Su pun telah memberitahukan kepada penduduk kampung itu.

Jika memang di antara penduduk kampung itu ada yang menderita penyakit aneh, dia boleh berobat kepadanya, tentu Oey Yok Su bersedia menolonginya.

Tentu saja penduduk kampung itu jadi girang.

Memang beberapa orang di antara mereka ada yang menderita sakit yang aneh dan selama bertahun-tahun tidak pernah juga sembuh, walaupun telah berobat terus kepada Yang Sin-se.

Setelah memeriksa mereka, Oey Yok Su memberikan mereka semacam obat.

Ketika mereka menelan obat itu, dirasakan obat itu harum semerbak dan menyegarkan.

Lalu Oey Yok Su membagikan setiap orangnya tiga butir dengan pesan setiap harinya harus menelan satu butir.

Dan penyakit mereka dalam waktu tiga hari akan sembuh keseluruhannya.

Bukan main gembiranya penduduk kampung tersebut.

Terlebih lagi Oey Yok Su pun telah mengajarkannya mereka untuk berlatih beberapa jurus gerakan ilmu silat yang dapat membuat tubuh mereka jadi sehat.

Rajin sekali para pemuda dan laki-laki yang berusia agak lanjut penduduk kampung itu berlatih diri dengan ajaran yang diberikan Oey Yok Su.

Ko Tie pun berangsur-angsur telah sembuh dan ia sudah dapat turun dari pembaringan setelah lewat beberapa hari lagi di bawah pengobatan yang diberikan oleh Oey Yok Su.

Sebagai seorang yang memang semula memiliki sin-kang dan kepandaian yang tinggi tentu saja Ko Tie pun dapat mempergunakan sin-kangnya untuk lebih mempersehat tubuhnya.

Terlebih lagi memang setiap harinya dua kali menerima kiriman sin-kang dari Oey Yok Su lewat dari pundak dan perutnya.

Setelah lewat beberapa hari lagi, benar-benar Ko Tie telah sembuh keseluruhannya.

Malah sin-kangnya pun bertambah kuat.

Juga telah memperoleh beberapa jurus ilmu silat yang telah diwariskan oleh Oey Yok Su.

Sebuah ilmu silat itu adalah ilmu silat hasil ciptaan tocu dari To-hoa-to, yang merupakan ilmu silat yang diciptakannya belum lagi begitu lama.

Justeru setelah puluhan tahun tidak memperoleh tandingan dengan sepak terjangnya yang aneh, akhirnya ketika semua orang gagah mengasingkan diri, dan Oey Yok Su sendiri telah mengambil tempat di pulaunya, untuk melewati hari tuanya, dia merenungkan seluruh ilmu silatnya.

Kemudian dia menciptakan ilmu baru, yang merupakan inti dari seluruh ilmu silat yang dimilikinya.

Tentu saja setiap ilmu silatnya, dari bermacam ragam itu, telah diperkecil dan juga dipersedikit gerakannya, melainkan diambil intinya saja.

Dengan begitu, dia telah berhasil untuk menciptakan ilmu silat yang hebat luar biasa, ilmu silatnya dari gabungan seluruh ilmu silatnya.

yang dapat dipersusut hanya menjadi enam jurus.

Setiap jurus dari ilmu silat yang baru diciptakannya tersebut, dia telah bisa membuat gerakan yang banyak sekali, sekehendak hati.

Dan yang lebih menakjubkan, setiap gerakannya itu memiliki tenaga sin-kang yang jauh lebih sempurna pengerahannya, karena dengan ilmu ciptaannya yang baru, Oey Yok Su telah mengatur segala-galanya lebih cermat dan teliti.

Di samping juga memperhatikan faktor-faktor manfaat dari setiap pengerahan tenaga sin-kangnya, walaupun pengerahan yang paling sedikit ataupun yang terkecil sekalipun.

Di waktu itu, Oey Yok Su memberikan nama pada ilmu silat ciptaannya yang baru itu dengan "Cap-lak-kun", enam belas macam ilmu pukulan.

Nama yang sangat sederhana sekali buat ilmu pukulan tersebut, akan tetapi ilmu pukulan itu mungkin yang terhebat di dalam rimba persilatan.

Sekarang ini justeru Ko Tie tampaknya sangat beruntung sekali.

Ia berhasil menerima ilmu silat pukulan "Cap-lak-kun"

Tersebut yang diwarisi oleh Oey Yok Su.

Karenanya pemuda ini telah melatihnya dengan giat sekali.

Karena ia mengetahui, jika memang dia telah berhasil menguasai benarbenar keseluruhan ilmu silat pukulannya tersebut, niscaya akan menyebabkan ia dapat menghadapi jago-jago silat yang bagaimana tangguh sekalipun.

Dia akan dapat menghadapi Bun Siang Cuan ataupun jago-jago lihay lainnya.

Sesungguhnya, Ko Tie memiliki kepandaian yang sudah tinggi.

Dan di kalangan pendekar-pendekar golongan muda, mungkin juga sulit dicari duanya.

Tapi yang sering membuatnya dia jadi mengalami kesulitan, justeru jika dia tengah menghadapi lawan yang tangguh terdiri dari tokoh yang memiliki kepandaian tinggi dan merupakan tokoh sakti di dalam rimba persilatan.

Walaupun Swat Tocu telah mendidik dan mewarisi seluruh kepandaiannya, tapi Ko Tie setiap kali menghadapi tokoh tua yang sakti, ia selalu kalah pengalaman.

Maka dari itu, sekarang Ko Tie menerima warisan ilmu pukulun "Cap-lak-kun"

Dari Oey Yok Su, ia berharap justeru dapat untuk menutupi kekurangannya itu.

Karena dengan "Cap-lak-kun", dia akan dapat menghadapi segala macam ilmu silat dari berbagai golongan.

Waktu menciptakan ilmu pukulannya tersebut, memang Oey Yok Su telah memikirkan dan juga mengingat-ingat seluruh ilmu silat dari berbagai pintu perguruan di seluruh daratan Tiong-goan.

Karenanya, dia juga telah mencari seluruh kelemahan yang terdapat dari berbagai ilmu silat berbagai pintu perguruan itu.

Dan juga sekarang ini, memang Ko Tie pun pada dasarnya telah memiliki kepandaian yang tinggi, dasar yang kuat, sehingga ia mudah sekali mempelajari ilmu silat yang diwarisi oleh Oey Yok Su.

Hanya saja Oey Yok Su waktu pertama kali hendak menurunkan dan mengajarkan "Cap-lak-kun"

Nya itu, telah memesannya, agar Ko Tie sekali-kali tidak boleh mempergunakan Cap-lak-kun tersebut, jika memang ia tidak tengah terancam bahaya.

Dengan begitu, Ko Tie harus memperhatikan benar-benar apakah memang dia tengah terancam dan terdesak oleh sesuatu bahaya.

Jika memang tidak, jelas ia tidak boleh sembarangan mempergunakan ilmunya tersebut.

Ko Tie juga telah memberikan janjinya kepada Oey Yok Su, bahkan ia bersumpah bahwa ia tidak akan sembarangan mempergunakan Cap-lak-kun tersebut.

Begitulah, selama setengah bulan Oey Yok Su telah mengajarkan Ko Tie ilmu Cap-lak-kunnya tersebut.

Di bagian depan telah diceritakan betapa Oey Yok Su bertempur dengan Bun Siang Cuan.

Namun Oey Yok Su sama sekali tidak mempergunakan satu juruspun ilmu barunya itu.

Hal ini disebabkan Oey Yok Su berpikir, bahwa ia memang tidak bermusuhan dengan Bun Siang Cuan.

Dan juga, Bun Siang Cuan, walaupun memang lihay, tapi ia seorang yang angin-anginan.

Dengan demikian telah membuat Oey Yok Su membatasi diri dalam mempergunakan sin-kang maupun ilmunya.

Jika Oey Yok Su mempergunakan Cap-lak-kun nya, niscaya dalam beberapa jurus dia sudah dapat mendesak Bun Siang Cuan.

Memang Bun Siang Cuan menurut penilaian Oey Yok Su memiliki ilmu yang sudah mencapai puncaknya dan tidak bisa memiliki kepandaian yang lebih tinggi lagi.

Karena setelah memperhatikan dengan seksama, maka diketahui oleh Oey Yok Su, bahwa Bun Siang Cuan memang merupakan seorang yang melatih ilmunya secara mahir, sehingga setiap dia melatih dan meyakinkan serupa ilmu, dia tentu akan melatihnya sampai matang.

Namun ilmu tersebut tidak dapat dirobahnya.

Tidak dapat dikurangi atau pun juga ditambahkan.

Dengan demikian dia hanya melatih terus, yang membuatnya semakin lama semakin mahir dengan ilmu dan jurus kepandaiannya.

Sin-kangnya yang terlatih semakin tinggi dan sempurna.

Tapi ia tidak mungkin bisa menambahkan tenaga dalamnya dengan latihan yang baru, yang sekiranya bisa membuat dia semakin lihay dan tangguh.

Dengan begitu, Oey Yok Su pun merasa sayang, jika dia harus merubuhkan Bun Siang Cuan, harus meruntuhkannya.

Karena kepandaian yang dimiliki Oey Yok Su telah mencapai tingkat yang tinggi.

Dia bisa membayangkan juga, betapa Bun Siang Cuan sesungguhnya bersusah payah.

Dan tentunya telah memakan waktu yang lama buat mempelajari ilmu silatnya itu sampai pada tingkat setinggi itu.

Karenanya Oey Yok Su merasa sayang jika harus mengalahkannya.

Dan karena Bun Siang Cuan mengakui bahwa Oey Yok Su memiliki kepandaian yang lebih tinggi darinya, maka puaslah hati Oey Yok Su.

Pernyataan itu saja sudah lebih dari cukup baginya untuk menunjukkan bahwa Bun Siang Cuan memang berada di bawah tingkatnya.

Memang adat Oey Yok Su aneh sekali, dan sepak terjangnya sulit diduga.

Walaupun memang dalam usia yang kian lanjut itu, Oey Yok Su jauh lebih sabar namun sayangnya justeru adat ku-koaynya masih tetap juga tidak berkurang.

Karena dari itu, telah membuat Oey Yok Su semakin dikenal sebagai manusia aneh.

Sebagai bukti dari anehnya tabiat Oey Yok Su, ia telah membatalkan keinginannya buat mengobati Ko Tie.

Malah dia jadi marah semakin mendengar akan perkataan-perkataan Ko Tie.

Namun akhirnya justeru dia telah mengobati Ko Tie juga, membantu mengerahkan sin-kangnya, dan malah telah mewarisi ilmu ciptaannya yang baru.

Dengan begitu, telah membuat Oey Yok Su memperlihatkan, bahwa ia seorang sungguh-sungguh aneh dan Ko Tie sendiri sampai saat itu masih juga tidak mengerti, bahwa orang tua ini masih saja memiliki adat yang begitu ku-koay.

Ko Tie mempelajari ilmu Cap-lak-kun, dengan tekun dan rajin sekali.

Latihannya akan ilmu Cap-lak-kun tersebut, telah membuatnya benar-benar jadi seorang yang pesat sekali memperoleh kemajuan buat kepandaiannya maupun tenaga dalamnya.

Di samping itu, juga latihan-latihan yang dilakukannya telah memperkuat tubuhnya, sehingga ia sembuh cepat dan bertambah segar dan juga dalam waktu yang sangat singkat.

Oey Yok Su yang melihat kemajuan yang dicapai oleh Ko Tie, jadi tambah gembira, karena memang iapun telah melihat Ko Tie memiliki tulang yang baik dan juga bakat yang luar biasa untuk ilmu silat.

Maka akhirnya Oey Yok Su menambahkan pula dengan mengajarkan Ko Tie beberapa macam ilmu dan kepandaian, yang telah diterima oleh Ko Tie dengan gembira.

Karena Ko Tie tidak menyangka bahwa ia memiliki nasib demikian baik, sehingga ia bisa diwarisi ilmu dan kepandaian yang tinggi dari Oey Yok Su, seorang tokoh sakti yang boleh dibilang tidak ada duanya di dalam rimba persilatan.

Mungkin sekarang kalau Swat Tocu, guru Ko Tie, bertempur dengan Oey Yok Su, niscaya diapun tidak akan dapat menandinginya.

Terlebih lagi sekarang Oey Yok Su telah memiliki ilmu andalannya, yaitu ilmu Cap-lak-kun.

Ko Tie seperti menerima hadiah yang sangat berharga sekali.

Ia begitu menghargai dan menghormati Oey Yok Su.

Jika sebelumnya ia pernah bersakit hati pada Oey Yok Su.

Justeru sekarang kesannya telah terbalik jadi lain, karena ia jadi begitu menghormati dan mulai mengenal akan tabiat dan perangai Oey Yok Su.

Ko Tie merasakan, bahwa berapa belas jurus ilmu Cap-lak-kun merupakan ilmu yang benar-benar sangat menakjubkan dan sulit sekali buat dihadapi oleh siapapun juga.

Hal ini diduga oleh Ko Tie seperti itu, karena setiap kali ia berhasil mempelajari satu jurus dari Cap-lak-kun, maka dengan mengkhayalkan belaka, dia sudah dapat memastikan jika ia sendiri yang harus bertempur menghadapi ilmu itu, jelas ia tidak akan berdaya buat memunahkan ataupun juga menghadapinya dengan sebaik-baiknya.

Karena setiap jurus ilmu itu memiliki kehebatan yang tersendiri.

Dan yang membuat Ko Tie benar-benar jadi kagum dan menaruh hormat yang besar kepada Oey Yok Su justeru Oey Yok Su telah berhasil memperoleh hasil ciptaannya yang begitu sempurna, yang telah digarapnya dengan sangat baik.

Sabagai seorang yang telah memiliki kepandaian silat yang tinggi, tentu saja Ko Tie pun menyukai setiap ilmu silat yang tinggi, tentu dia akan tertarik, akan menyamakannya seperti juga dia melihat batu permata yang mahal harganya.

Begitulah Ko Tie telah berlatih diri dengan giat di bawah bimbingan Oey Yok Su.

◄Y► Selama berlatih ilmu silat yang diajarkan Oey Yok Su, juga Ko Tie selalu teringat kepada nasib Kam Lian Cu, karena memang ia tidak mengetahuinya, entah bagaimana nasib dari gadis tersebut.

Dan juga hal itu pernah diungkapkannya kepada Oey Yok Su, dimana dia telah menceritakan apa yang telah dialaminya dan juga tentang keragu-raguan maupun kekuatirannya buat keselamatan Kam Lian Cu.

Waktu wendengar cerita perihal Kam Lian Cu, wajah Oey Yok Su muram dan bilang.

"Hemmm, aku tidak menyangka bahwa gadis itu akan menerima pengalaman pahit seperti itu! Tentunya dia berada dalam ancaman......

"Ku lihat Bun Siang Cuan bukan sebangsa manusia baik-baik. Jika memang sampai gadis itu jatuh ke dalam tangannya, niscaya akan membuat keselamatan gadis itu terancam sekali.......!"

Ko Tie mengangguk.

"Benar.....!"

Katanya.

"Menurut yang didengar Boanpwe, justeru orang she Bun itu bermaksud hendak mengambil si gadis menjadi mantunya, buat dinikahkannya dengan puteranya."

Oey Yok Su mengerutkan keningnya, dia tampaknya tengah berpikir, sampai akhirnya dia bilang.

"Jika memang aku mengetahui akan terjadinya urusan seperti itu, tentunya aku tidak akan pergi meninggalkan tempat tersebut.....!"

Dan setelah berkata begitu Oey Yok Su menghela napas berulang kali.

Dalam keadaan seperti itu, Ko Tie juga berdiam diri saja.

Cuma saja hatinya semakin berkuatir buat keselamatan Kam Lian Cu.

Dia tidak mengetahui apakah Kam Lian Cu berhasil meloloskan diri atau memang terjatuh ke dalam tangan si kakek tua Bun Siang Cuan.

Setelah berdiam sesaat lamanya, Oey Yok Su kemudian bilang.

"Jika saja kita mengetahui ke mana perginya gadis itu, kita bisa mencarinya.......!"

Ko Tie jadi girang.

"Maukah Locianpwe membantunya.......?"

Oey Yok Su mengangguk.

"Jika memang benar gadis itu gagal melarikan diri dan terjatuh ke dalam tangan Bun Siang Cuan, tentu saja aku bersedia untuk menolonginya......!"

Menjawab Oey Yok Su. Dan dia teringat, betapapun juga Kam Lian Cu memiliki banyak persamaan dengan Oey Yong puteri tunggalnya. Dan Oey Yok Su jadi tambah berkuatir terhadap keselamatan gadis itu.

"Tapi ke mana kita harus mencarinya?"

Begitulah gumamnya. Ko Tie juga tampak jadi bingung sekali. "Mudah-mudahan saja memang dia bisa meloloskan diri.....!"

Kata Ko Tie kemudian. Oey Yok Su mengangguk.

"Ya, mudah-mudahan saja memang dia bisa meloloskan diri!"

Katanya kemudian.

"Atau memang kita perlu pergi melihatnya ke tempat di mana dulu kita pernah bertemu dengan Bun Siang Cuan. Tentu dia tidak akan pergi jauh-jauh?"

Ko Tie girang, dia mengangguk cepat.

"Ya..... jika memang kita pergi ke sana, kita tentu akan dapat menemukan Bun Siang Cuan. Kita bisa menanyakan kepadanya di mana Kam Lian Cu berada……!"

Oey Yok Su mengangguk.

"Jika memang orang she Bun itu tak mau bicara, biarlah nanti aku yang akan memaksanya agar dia mau membuka mulut.......!"

Kata Oey Yok Su dengan suara yang ramah dan tersenyum kepada Ko Tie, sehingga senanglah hati Ko Tie.

"Kapan kita pergi ke sana, locianpwe?!"

Tanya Ko Tie kemudian. "Nanti.......!"

Kata Oey Yok Su.

"Kalau memang latihanmu pada Cap-lak-kun telah selesai."

Ko Tie jadi bimbang.

"Jika kita tidak pergi sekarang, justeru boanpwe kuatir kalau-kalau mereka sudah tidak berada di sana. Sedangkan boanpwe saja sudah beberapa hari berada di sini!"

Oey Yok Su terdiam sejenak.

"Bagaimana Locianpwe?!"

Tanya Ko Tie kemudian Akhirnya Oey Yok Su mengangguk.

"Baiklah!"

Jawab Tocu dari pulau Tho-hoa-to tersebut.

"Mari kita pergi sekarang!"

Bukan main girangnya Ko Tie.

Kepada penduduk kampung mereka mengucapkan terima kasih.

Bahkan Oey Yok Su memberikan nasehat kepada mereka agar berlatih diri terus dengan rajin dan tekun ilmu silat yang telah diajarkannya.

Penduduk kampung itu berusaha menahan mereka, agar selama beberapa hari lagi berdiam di situ.

Tapi Ko Tie dan Oey Yok Su menyatakan mereka memiliki kepentingan yang perlu sekali harus diselesaikannya, karena itu mereka tidak bisa berdiam lebih lama lagi.

Begitulah Oey Yok Su berdua dengan Ko Tie telah berangkat meninggalkan tempat itu.

◄Y► Kam Lian Cu merasakan perutnya semakin membesar juga.

Dan diapun merasakan betapa sering terjadi sesuatu yang bergerak di dalam perutnya seakan juga di dalam perutnya itu terdapat benda hidup yang sebentar bergerak ke kiri atau ke kanan, atau terkadang tidak jarang pula berputar, bagaikan di dalam perutnya terdapat bola saja!

Si pendeta telah merawatnya dengan baik hati.

Dia tampaknya memang merasa berkasihan terhadap nasib si gadis.

Karena itu dia telah mencarikan buah-buahan buat si gadis, juga dia yang telah menyediakan setiap keperluan si gadis.

Malah pendeta itu juga yang telah pergi ke kampung-kampung buat mencarikan baju-baju baru Kam Lian Cu.

Hari demi hari telah lewat, dan demikian juga dengan keadaan perut Kam Lian Cu yang semakin hari semakin membesar.

Tidak jarang jika tengah berada seorang diri Kam Lian Cu jadi menangis menyesali nasibnya.

Dia tidak menyangka bahwa dia akan menjadi korban dari Bun Siang Cuan yang telah membuat dia jadi korban keganasan dari kera bulu kuning itu, di mana dia telah diperkosa!

Dengan begitu benar-benar telah membuat Kam Lian Cu sering merasa berduka dan berputus asa.

Tidak jarang terpikir olehnya bahwa dia ingin sekali membunuh diri.

Hanya saja teringat betapa janin bayi di dalam perutnya itu, dia terpaksa harus membatalkan keinginannya yang tidak-tidak.

Dia tidak jadi meneruskan keinginannya buat menghabisi jiwanya sendiri.

Dia ingin melahirkan anaknya dan ingin melimpahkan kasih sayang kepada anaknya.

Tapi yang sering dia membuat ragu justeru dia diperkosa oleh seekor kera bulu kuning itu.

"Apakah hubungan antara kera dengan seorang manusia bisa menimbulkan kehamilan dan menyebabkan kelahiran seorang bayi. Jika memang terlahir seorang bayi, lalu bagaimana keadaan dan rupa dari janin bayi itu?"

Benar-benar Kam Lian Cu sering diliputi perasaan ragu dan dia pun tidak mengetahui apa yang harus dilakukannya.

Hanya saja hiburan-hiburan yang diberikan oleh si pendeta itu juga yang akhirnya telah membesarkan hatinya, membuat dia tidak terlalu nekad dan juga tidak melakukan sesuatu yang bukanbukan.

Kam Lian Cu pun telah bersiap-siap untuk menerima dan menghadapi kelahiran anak di dalam perutnya itu, untuk melihatnya bagaimana bentuk dan rupa anaknya itu.

Apapun bentuk dan rupa anaknya itu, tentu dia akan mengasihinya dan juga mencintainya.

Walaupun bagaimana memang dia adalah ibunya dan anak itu adalah anaknya, yang perlu disayanginya.

Namun berkat hiburan dari si pendeta, Kam Lian Cu lebih tabah menghadapi kepahitan hidupnya itu.

Hari demi hari telah lewat cepat sekali, dan juga Kam Lian Cu telah melihatnya, bahwa perutnya semakin membesar juga.

Perasaan sakitnya seringkali dirasakan, walaupun dia baru hamil selama empat bulan.

Pendeta itu bahkan telah sengaja mengundang seorang bidan dari tempat yang terdekat dengan tempat itu, yaitu dari sebuah perkampungan yang terpisah tidak terlalu jauh dari mulut lembah itu.

Bidan itu segera memeriksa keadaan Kam Lian Cu, dia memperoleh kenyataan tidak terdapat kelainan pada kandungan Kam Lian Cu, semuanya normal.

"Masih lima bulan lagi, bayi ini baru akan lahir!"

Kata bidan itu kemudian.

Pendeta itu memberikan hadiah yang cukup banyak buat bidan tersebut.

Diapun berpesan agar bidan itu tidak menceritakan kepada siapapun juga perihal mereka berdua berada di lembah ini.

Bidan itu berjanji tidak akan membocor.kan rahasia tersebut.

Karena memang dia telah diberikan hadiah yang besar.

Di dalam hati bidan itu cuma menduga bahwa dia memang tengah menghadapi urusan yang tidak benar.

Pasti pendeta itu telah menyeleweng dan memiliki hubungan dengan Kam Lian Cu, gadis itu, sehingga terjadi kehamilan.

Dan pendeta itu memesan agar ia merahasiakan semua itu, hanya disebabkan si pendeta merasa malu!

Begitulah, jika memang telah tiba waktunya, kembali si pendeta mengundang bidan tersebut, dia telah memintanya agar memeriksa lagi keadaan Kam Lian Cu.

Di bawah pengamatan dan pengawasan bidan itu, Kam Lian Cu jadi jauh lebih tenang.

Pendeta itu menjanjikan, jika memang bidan ini telah berhasil menolong dan menyelamatkan Kam Lian Cu, ibu dan anak dari kelahiran kelak, maka ia akan dihadiahkan sepuluh tail emas.

Tentu saja bidan itu jadi benar-benar menutup mulut, karena memang dia mengharapkan sekali hadiah yang begitu besar.

Walaupun bagaimana dia tidak pernah menerima hadiah sebesar itu, dan juga tidak pernah memiliki uang lebih dari satu tail emas.

Sekarang dia akan dihadiahkan 10 tail emas jika kelak dia berhasil menolongi Kam Lian Cu melahirkan.

Begitulah, bidan ini bahkan tanpa dijemput oleh si pendeta sering juga datang ke lembah itu, untuk mengadakan pemeriksaan terhadap kandungan Kam Lian Cu.

Semua itu dilakukan demi kelancaran Kam Lian Cu melahirkan kelak.

Berarti juga merupakan hadiah yang sepuluh tail emas itu akan jatuh dalam tangannya.

Dikala itu tampak si pendeta juga sibuk sekali telah membeli dari kampung terdekat, pakaian-pakaian untuk Kam Lian Cu dan calon bayinya.

Bukan main rasa terima kasih Kam Lian Cu terhadap pendeta yang memang telah menolonginya dengan setulus hati.

Ia melihat pendeta itu memang welas asih dan juga sangat menyayanginya.

Di samping itu si pendeta berusaha untuk dapat merawatnya dengan sebaik-baiknya.

Kam Lian Cu pun telah berusaha untuk menuruti semua petuah dan nasehat yang diberikan pendeta tersebut.

Hanya saja selama mengandung ini, Kam Lian Cu tidak boleh melatih sin-kang maupun ilmu silatnya.

Pendeta itu berjanji, jika memang kelak sudah melahirkan bayi tersebut, maka ia akan diajarkan ilmu silat oleh pendeta ini, yang akan mewarisi sebagian dari ilmunya.

Itulah yang menjadi harapan Kam Lian Cu.

Karena jika memang dia berhasil mempelajari ilmu silat yang diwariskan kelak oleh si pendeta, berarti itu merupakan pegangan yang sangat kuat buat dia, karena dia tentunya akan dapat mempergunakannya buat membalas dendam dan sakit hatinya kepada Bun Siang Cuan, maupun Kera berbulu kuning itu.

Disamping itu, memang diapun bermasud untuk dapat melatih diri dengan sebaik-baiknya, karena ia ingin memiliki kepandaian yang sempurna dan tinggi sekali.

Dalam keadaan seperti itu, Kam Lian Cu hanya dapat berdoa, demi untuk keselamatan dirinya dan bayinya.

Juga agar ia dipayungi Thian, dan dia bisa mempelajari ilmu silat yang diwarisi pendeta itu agar ia pun kelak bisa membalas dendamnya terhadap Bun Siang Cuan maupun kera bulu kuning itu, yang telah menyebabkan ia menerima aib begitu besar bagi dirinya.

Karenanya Kam Lian Cu pun setiap hari hanyalah mempelajari ilmu yang diajarkan oleh si pendeta, baik cara bersembayang maupun yang tentang baca liam-keng.

Kam Lian Cu merasakan tubuhnya kian berat dan juga perutnya kian besar.

Semakin besar perutnya itu, semakin takut juga Kam Lian Cu, yang diliputi kekuatiran, karena ia kuatir untuk menghadapi kelahiran anaknya, untuk melihat kenyataan.

Dia tidak tahu juga, entah bagaimana rupa dan keadaan dari anaknya tersebut.....

Walaupun dia berusaha untuk tabah menghadapi kenyataan yang ada, tokh tidak urung Kam Lian Cu sering kali menetes air mata, menangis menyesali akan nasibnya.

Dan sering juga memikirkan keadaan Ko Tie, entah bagaimana keadaan pemuda itu.

Walaupun hubungannya dengan Ko Tie belum lama, tapi sebelum terjadinya peristiwa tersebut, ia memang telah mencintai Ko Tie.

Dan ia mengetahui bahwa Ko Tie pun mencintainya.

Hanya saja telah terjadi aib seperti itu, maka habislah semua impiannya.

Dan juga dia pun harus menghadapi hari-hari mendatang penuh ketabahan, buat menyambut kelahiran anaknya itu…… Dan jika terpikir seperti itu, Kam Lian Cu sering berduka bukan main.

Dia pun telah terpikir, jika memang kelak ia harus melahirkan dari anaknya itu ternyata memiliki rupa seperti seekor monyet dan juga keadaannya buruk sekali, maka ia akan membawa anaknya ke sebuah tempat yang sepi, untuk hidup mengasingkan diri dan merawat anaknya baik-baik.

Diapun terpikir, mungkin juga memang semua ini terjadi atas tulisan nasibnya sendiri.

◄Y► Giok Hoa yang tengah melakukan perjalanan ke Kotaraja, dengan cepat sekali telah melewati dua buah perkampungan, tapi hanya singgah sebentar saja.

Karena Giok Hoa tidak tertarik untuk bermalam di rumah penginapan di kampung itu, yang dilihatnya begitu kotor.

Iapun melanjutkan perjalanannya di malam hari, karena memang Giok Hoa pun tidak gentar melakukan perjalanan seorang diri di malam hari.

Dia yakin bahwa kepandaiannya telah cukup tinggi.

Telah beberapa hari dia melakukan perjalanan, selama itu si gadis juga seringkali dilanda oleh kesepian yang sangat.

Tidak jarang dia pun teringat akan Ko Tie dan benar-benar membutuhkannya.

Karena itu, timbul juga selalu penyesalannya, mengapa ia harus meninggalkan Ko Tie beberapa waktu yang lalu dengan sengaja membawa adatnya belaka?

Bukankah jika memang dia tidak melakukan hal itu, dan melakukan perjalanan bersama-sama dengan pemuda itu, dia akan gembira sekali?

Sekarang berada seorang diri dalam perjalanan.

Giok Hoa baru merasakannya, betapapun juga memang kenyataan yang ada dia harus mengakuinya, ia sangat mencintai Ko Tie!

Juga ia mengetahui bahwa Ko Te sangat mencintainya, maka dengan adanya perpisahan seperti itu, jelas hanya merugikan dirinya dan telah membuat Giok Hoa sering menyesali akan tindakan yang telah dilakukannya.

Sekarang, walaupun dia bermaksud mencari Ko Tie pula, selalu dia gagal.

Pemuda itu sudah tidak berada di tempat semula dan juga entah telah pergi ke mana.

Untuk menghibur kedukaan dan penyesalan hatinya itu, memang Giok Hoa selalu menikmati pemandangan alam yang indah dan permai.

Namun tetap saja ia tidak bisa melupakan Ko Tie, tidak juga dia bisa mengurangi kerinduan hatinya, di mana ia mengharapkan sekali dapat bertemu dengan Ko Tie.

Malam itu, udara tidak begitu cerah, tapi juga tidak turun hujan.

Sekeliling jalan yang dilalui Giok Hoa gelap pekat, karena rembulan terhalang awan.

Di pinggir kiri kanan dari jalan itu terdapat pohonpohon yang tumbuh cukup lebat.

Ketika Giok Hoa tengah enak-enaknya berjalan, tiba-tiba dia mendengar suara sesuatu.

Suara mendengus.

Seperti seseorang yang tengah keletihan telah berlari jauh.

Suara mendengus itu yang demikian mendesah memburu, didengarnya berasal dari sebelah kanannya, dari gerombolan pohon yang lebat.

Muka Giok Hoa berobah, hatinya tercekat dan dia segera berwaspada karena menduga ia akan menghadapi sesuatu yang tidak diinginkan.

Suara mendengus itu masih juga didengarnya.

Giok Hoa memperhatikannya.

Mendadak, dari sebelah kanannya berkelebat sesosok bayangan yang gesit sekali, kekuning-kuningan.

Dalam keadaan gelap seperti itu, gerakan sosok tubuh itu memang sulit sekali buat dilihat dengan jelas.

Sosok bayangan kuning pun telah menerjang akan menerkam Giok Hoa.

Untung saja memang Giok Hoa sejak tadi telah berwaspada, sehingga dia tidak kena diterjang oleh sosok bayangan kuning tersebut.

Cepat sekali Giok Hoa mengelak dari tubrukan sosok bayangan kuning itu.

Tapi sosok bayangan kuning tersebut, yang telah menubruk tempat kosong, mengerang perlahan, dan menerjang lagi kepada Giok Hoa lebih cepat.

Giok Hoa mengeluarkan seruan tertahan.

Karena mendengar erangan perlahan dari sosok bayangan kuning tersebut.

Ia menduga tentunya yang menerjang dirinya adalah seekor binatang buas.

Ketika makluk berwarna kuning itu menubruknya buat ke tiga kalinya, sekali ini Giok Hoa tidak berkelit.

Dengan diam-diam dia telah mengerahkan tenaga dalamnya, ia menyampoknya kuat sekali.

"Dukkkk!"

Tangan Giok Hoa menghantam sosok tubuh itu.

Terdengar suara pekik yang aneh.

Dan mendengar suara pekik tersebut, Giok Hoa kaget.

Itulah suara seekor kera.

Giok Hoa membuka matanya lebar-lebar.

Benar saja, yang ada di depannya adalah seekor kera.

Kera yang berbulu kuning setinggi manusia dewasa, mengerikan sekali keadaannya.

Giok Hoa segera berpikir.

Entah apa maunya kera ini, dan dilihat berulang kali ia menerjang dan menubruknya, jelas dia merupakan binatang yang buas dan bermaksud untuk menjadikan Giok Hoa sebagai korbannya.

Giok Hoa pun telah mengambil keputusan bahwa ia tidak akan segan menurunkan tangan keras kepada binatang ini, jika saja binatang ini tidak segera menyingkir.

Apa yang diduga oleh Giok Hoa memang tepat.

Karena kera bulu kuning itu diiringi dengan pekiknya yang menyeramkan, telah melompat lagi.

Gerakan tubuhnya begitu cepat dan gesit sekali, di mana dia telah menerjang kepada Giok Hoa diiringi erangan dan sepasang tangan yang diulurkannya.

Kera ini bergerak jauh lebih cepat dari sebelumnya, karena tubuhnya itu telah bergerak begitu lincah dan juga sepasang tangannya terulurkan panjang sekali dengan ke sepuluh jari tangannya terpentang lebar bermaksud rupanya hendak mencengkeram Giok Hoa.

Giok Hoa tidak bisa berpikir lebih lama lagi, begitu kera tersebut menubruknya segera dia memasang kuda-kudanya.

Ketika kera bulu kuning itu menerjang telah dekat, cepat sekali dia menghantam dengan sepasang tangannya.

"Bukkk, bukkk!"

Dua kali terdengar suara tubuh kera itu dihantam oleh pukulan tangan Giok Hoa.

Terdengar pekik kesakitan kera tersebut, malah kera itu telah melompat ke belakang.

Dia tidak menerjang lagi, karena tampaknya kera tersebut, yang meringis kesakitan dan mengeluarkan pekiknya berulang kali, tidak berani untuk menyerbu lagi menerjang Giok Hoa.

Dia rupanya memang mengetahui bahwa dirinya tengah menghadapi calon korban yang bukan sembarangan.

Kera itu tidak hentinya mengeluarkan suara pekiknya yang nyaring.

Walaupun dia jeri buat menyerbu lagi, namun tokh diapun tidak pergi meninggalkan Giok Hoa.

Giok Hoa tertawa dingin.

"Hemmm, kau rupanya minta dihajar lebih keras lagi?!"

Katanya kemudian, sambil Giok Hoa melangkah maju mendekati kera itu.

Kera tersebut memperlihatkan sikap yang jeri buat bertempur lagi dengan Giok Hoa.

Suara pekikan yang dikeluarkan Kera berbulu kuning itu semakin lama jadi semakin keras dan nyaring.

Tapi Giok Hoa tidak memperdulikan, dia melangkah maju terus menghampiri.

Tadi dia telah melihatnya betapa kera ini bisa bergerak begitu lincah, tubuhnya bisa bergerak bagaikan seorang manusia yang mengerti gin-kang.

Karenanya Giok Hoa tidak mau memberi hati kepadanya, dia menghampiri lebih dekat dan setelah dekat benar, barulah dia melompat sambil melancarkan serangan.

"Wuttttt!

Wuttttt……!"

Dua kali dia memukul Kera berbulu kuning itu.

Sedangkan Kera berbulu kuning itu sama sekali tidak berusaha menangkisnya, karena memang dia tampaknya telah demikian jeri.

Dan diapun segera juga melompat ke samping.......

Cuma saja penyerangan yang dilakukan Giok Hoa memang benarbenar cepat.

Waktu Kera berbulu kuning itu mengelakkan diri, ternyata Giok Hoa telah menghantam lagi dengan kuat mengenai punggung kera itu, menimbulkan suara yang nyaring sekali.

"Dukkkk!"

Disusul dengan Kera berbulu kuning itu bergulingan di tanah sambil mengeluarkan suara pekikan yang berulang kali.

Dalam keadaan demikian, tampak Giok Hoa tidak mau membuangbuang waktu lagi, segera dia melompat, sambil sepasang tangannya menghantam lebih dahsyat.

"Dukkk!"

Kembali punggung Kera berbulu kuning itu kena dihajarnya, ketika kera itu hendak melompat berdiri, sehingga tubuhnya seketika terguling-guling di tanah.

Diapun tidak hentinya mengeluarkan suara pekikan.

Tampaknya suara pekikan Kera berbulu kuning itu bukan karena memekik disebabkan takut, namun dia seperti tengah memanggil kawan-kawannya.

"Hemmm, jika memang dia memanggil kawan-kawannya. jelas aku akan menghadapi kesulitan. Lebih baik aku menyingkir saja tidak perlu lebih lama melayaninya. Karena berpikir begitu, Giok Hoa bermaksud untuk meninggalkan tempat itu. Cuma baru saja Giok Hoa memutar tubuhnya, untuk berlalu, justeru di waktu itulah tampak Kera berbulu kuning itu telah melompat bangun berdiri dan tubuhnya menyusul melesat menerjang lagi kepada Giok Hoa. Sepasang tangannya diulurkan buat mencengkeram. Giok Hoa kaget. Itulah penyerangan yang dilakukan Kera berbulu kuning yang sangat cepat sekali. Namun Giok Hoa tidak menjadi bingung tubuhnya bergerak dengan lincah. Dia menangkis dengan menyampokkan tangan kanannya. Tangkisan yang dilakukannya membuat Kera berbulu kuning itu kesakitan pada pergelangan tangannya, dia mengeluarkan pekikan. Di waktu itu Giok Hoa telah berseru.

"Rupanya kau minta aku mencabut nyawamu!!"

Sambil membentak begitu, tangan Giok Hoa cepat sekali telah mencabut pedangnya.

Dan tahu-tahu pedangnya telah dicekalnya, sinar pedang itu berkilauan.

Kera berbulu kuning itu, kaget bukan main melihat pedang tersebut.

Dia mengeluarkan suara pekikan nyaring.

Dia undur ke belakang dengan sikap ketakutan.

Segera Giok Hoa melompat untuk menikam ke dada Kera berbulu kuning tersebut.

Kera berbulu kuning itu mati-matian berusaha untuk mengelakkan diri dari tikaman itu, tapi terlambat.

"Cessssss……!"

Pedang itu telah menembusi lengannya, darah merah segera menyembur.

Dengan menjerit kesakitan, Kera berbulu kuning itu telah membuang dirinya bergulingan di tanah, karena dia bermaksud hendak melarikan diri.

Tapi Giok Hoa justeru sekarang tidak memberikan kesempatan kepada kera itu, dia telah menyusuli dengan tikaman lainnya.

Kera berbulu kuning itu memang tengah melompat akan melarikan diri.

Karenanya punggungnya yang jadi sasaran dari serangan yang dilakukan oleh Giok Hoa telah meluncur akan menikam dengan cepat sekali, menimbulkan angin yang berkesiuran keras sekali.

Di saat jiwa Kera berbulu kuning itu terancam oleh mata pedang Giok Hoa, justeru dari arah samping berkesiuran angin yang sangat kuat sekali, sebutir batu telah membentur pedang si gadis.

"Tranggggg.......!"

Pedang Giok Hoa tergetar malah si gadis merasakan betapa pergelangan tangannya sakit dan telapak tangannya pedih.

Hati Giok Hoa tercekat, karena timpukan batu itu telah memperlihatkan bahwa orang yang menimpuk itu memiliki tenaga dalam atau sin-kang yang tinggi sekali.

Karenanya Giok Hoa segera mengawasi sekelilingnya diapun telah bersikap waspada sekali.

Kera berbulu kuning itu mengeluarkan suara pekikan nyaring dan telah berlari ke arah dari mana tadi batu itu menyambar pedang Giok Hoa.

Giok Hoa mengawasi dengan mata terpentang lebar-lebar, dan di waktu itu dilihatnya sesosok bayangan melompat keluar.

Diikuti juga di belakangnya oleh Kera berbulu kuning tersebut.

"Hemmmm, siapa yang berani menghina Kim Go?!""

Terdengar suara orang menegur dengan dingin sekali.

Giok Hoa tercekat.

Orang menegur dengan suara yang sangat dingin, tapi juga merupakan pertanda bahwa orang itu memiliki sinkang yang kuat.

Dia semakin berwaspada.

Dikala itu Kera berbulu kuning telah hinggap di samping sosok tubuh itu.

Giok Hoa melihat orang itu adalah seorang kakek tua yang mungkin telah berusia tujuhpuluh tahun lebih, rambut dan jenggotnya yang tumbuh panjang itu tergerai sampai ke pundaknya.

Orang tua itu juga tertegun waktu telah melihat jelas Giok Hoa.

"Aha, seorang nona manis yang cantik jelita.....!"

Begitu menggumam orang tua tersebut. Giok Hoa jadi jemu melihatnya. Dia menduga kakek tua ini pasti seorang yang ceriwis maka dengan suara yang tawar dia menegurnya.

"Apakah engkau pemilik kera itu?!"

Kakek tua ini tersenyum sambil mengangguk-anggukkan kepalanya.

"Benar, tepat, sedikitpun tidak salah! Dan kau nona manis, apakah kau memang bersedia menjadi mantuku?"

Mendengar perkataan kakek tua itu, yang menanyakan kesediaannya buat menjadi mantunya, bukan main gusarnya Giok Hoa.

"Hemm!"

Mendengus Giok Hoa dengan suara yang tawar.

"Apakah kau kira aku wanita murahan sehingga begitu mudah engkau mengucapkan kata-katamu itu?!"

Waktu menegur seperti itu, muka Giok Hoa merah padam. Orang tua itu tertawa bergelak-gelak nyaring sekali. Dia bilang.

"Bagus!"

Dan kemudian membarengi dengan perkataannya itu, dia pun melompat ke depan Giok Hoa.

Yang membuat Giok Hoa kaget, betapa sempurnanya gin-kang orang tua itu, karena ia bisa bergerak tanpa Giok Hoa bisa melihatnya cara dia bergerak dengan jelas.

"Kau harus patuh terhadap perintahku kalau tidak, kau akan menderita nona manis……!"

Kata orang tua itu. Giok Hoa menindih perasaan kuatirnya, dia juga menekan perasaan marahnya, lalu bertanya dengan gusar.

"Siapa kau sebenarnya?"

Orang tua itu sudah berdiri di depan Giok Hoa, tertawa dingin.

"Hemmm, kau ingin mengetahui namaku, nona manis?"

Dan setelah berkata begitu, dia tertawa bergelak-gelak.

"Katakan!"

Kata Giok Hoa.

"Aku she Bun bernama Siang Cuan! Nah, sekarang engkau telah mengetahui siapa adanya aku, dan aku harap engkau mematuhi benar segala apa yang kukatakan, agar kau tidak memperoleh kesulitan, nona manis. Engkau cocok sekali menjadi mantuku, karena mantuku yang satu itu telah melarikan diri."

Muka Giok Hoa berobah merah, kemudian dia mengibaskan pedangnya.

"Baiklah, jika memang engkau sudah tidak memiliki urusan lainnya, aku akan melanjutkan perjalananku.....!!"

Sambil berkata begitu, dengan tangan masih menggenggam pedangnya, Giok Hoa memutar tubuhnya.

Dia bermaksud hendak meninggalkan tempat itu, terutama sekali meninggalkan orang tua yang dianggapnya memiliki mulut sangat kurang ajar dan kera bulu kuning itu.

Tapi Bun Siang Cuan, kakek tua yang memang ku-koay itu telah tertawa.

"Mana boleh kau pergi begitu saja?"

Katanya kemudian.

"Aku sudah memberitahukan kepadamu, bahwa engkau cocok buat menjadi mantuku, karena itu, walaupun kau memaksa untuk pergi, tetap saja aku tidak akan mengijinkan engkau pergi.....!"

Setelah berkata begitu, tubuh si kakek tua she Bun tersebut, dengan gerakan yang sangat lincah sekali mencelat ke depan Giok Hoa.

Giok Hoa kaget, karena tahu-tahu dia melihat tangan si kakek tua telah terulur akan mencengkeram pergelangan tangannya.

Segera si gadis mengelakkan diri, pedangnya dipakai menikam.

"Hahahaha.....!"

Tertawa kakek tua tersebut dengan suara yang nyaring.

Tubuhnya bergerak sangat lincah dan tahu-tahu dia telah berhasil mengelakkan diri dari serangan pedang si gadis.

Malah dia telah mencengkeram tangan si gadis, dan pedang Giok Hoa telah pindah ke tangan si kakek tua she Bun tersebut.

Muka Giok Hoa berobah pucat, dia melompat mundur.

Tapi kakek tua Bun Siang Cuan justeru bertindak tidak kalah cepatnya.

Waktu Giok Hoa tengah melompat mundur, justeru di saat itulah tangan si kakek tua tersebut telah berhasil menotok tubuh Giok Hoa.

Tidak ampun lagi Giok Hoa terguling di tanah, dia rebah tidak bisa bergerak.

Bukan main kaget dan kuatirnya si gadis.

Dalam keadaan tertotok dan jika memang Bun Siang Cuan bermaksud hendak melakukan sesuatu yang kurang ajar kepadanya, niscaya dia tidak akan dapat mencegahnya.

Dia mengawasi kakek tua itu, yang sambil menggoyangkan pedang di tangannya, telah datang menghampiri.

Malah diapun telah berkata.

"Aku sudah mengatakan tadi kepadamu, lebih baik engkau menyerahkan diri secara baik-baik dengan menuruti setiap perintah dan kata-kataku, sehingga engkau tidak akan memperoteh kesulitan.

"Hanya saja, sayangnya engkau seorang gadis kepala batu, dengan begitu tentu saja akan membuat engkau menderita! Tapi walaupun bagaimana memang engkau harus menjadi mantuku....... kau akan menjadi calon isteri anakku."

Setelah berkata begitu, tampak kakek tua ini telah menoleh kepada Kera berbulu kuning.

"Kim Go, layani isterimu……!"

Perintah kakek tua itu.

Kera bulu kuning itu, Kim Go, mengeluarkan suara pekikan yang menunjukkan dia tengah kegirangan.

Dia melompat ke dekat Giok Hoa.

Bukan main kagetnya Giok Hoa.

Jadi yang dimaksudkan Bun Siang Cuan sebagai anaknya, tidak lain dari Kera berbulu kuning ini?

Tubuh Giok Hoa menggigil menahan rasa takut yang hebat.

Sedangkan kera itu telah mengulurkan tangannya.

Dia membuka baju bagian atas Giok Hoa.

Menyusul dengan mana dia juga telah membuka juga pakaian bagian bawah Giok Hoa.

Giok Hoa dalam keadaan tidak berdaya.

Dia tidak bisa bergerak dan hanya mulutnya yang bisa berseru-seru.

"Jangan….. jangan……!"

Air matanya juga telah menitik turun.

Bun Siang Cuan duduk di tepi jalan, mengawasi sambil tertawatawa.

Kera berbulu kuning itu juga telah membuka terus pakaian Giok Hoa.

Benar-benar Giok Hoa ketakutan bercampur putus asa.

Dia bisa menduga apa yang hendak dilakukan kera itu.

Namun belum lagi apa yang memalukan dan akan membuat aib yang besar buat Giok Hoa terjadi, justeru tiba-tiba berkelebat sesosok bayangan.

"Binatang……!"

Terdengar suara mendengus yang perlahan dan dingin sekali. Menyusul dengan itu terdengar suara "Plakk!"

Batok kepala Kim Go telah kena terpukul hancur.

Kim Go tidak sempat mengeluarkan suara jeritan lagi, karena tubuhnya terkulai dan napasnya berhenti.

Giok Hoa tertolong.

Tapi si kakek Bun Siang Cuan yang menyaksikan kera peliharaannya, anak angkatnya, yang sangat disayanginya itu telah mati.

Bukan main kagetnya.

Dia menjerit sambil melesat bangun.

Cepat sekali tubuhnya melambung ke tengah udara.

Dia menghantam kepada sosok tubuh yang menolong Giok Hoa.

Waktu itu sosok tubuh tersebut telah berkata kepada Giok Hoa.

"Pakai bajumu lagi!" Dan tangannya telah menyentil, sehingga totokan pada diri Giok Hoa terbuka dan si gadis bisa menggerakkan sepasang tangan, kaki dan tubuhnya. Giok Hoa cepat-cepat telah memakai kembali bajunya, dan melihat yang menolonginya adalah seorang tua yang memakai baju dan topi warna hijau. Waktu itu si kakek tua Bun Siang Cuan telah sampai di belakang laki-laki tua penolong Giok Hoa, dengan diiringi bentakan dan erangan menyeramkan. Dia menghantam. Akan tetapi orang yang memakai baju hijau itu sama sekali tidak gentar. Malah dia telah mengibas dengan tangannya.

"Dukk!!"

Hebat tangkisan yang terjadi, dan seketila itu juga tubuh Bun Siang Cuan dan tubuh orang itu tergetar sangat keras. Juga di saat itu tampak sesosok bayangan lainnya telah melompat ke samping Giok Hoa.

"Hoa-moay, apakah engkau tidak kurang suatu apa?!"

Tanya orang itu.

Giok Hoa terkejut bercampur girang, karena segera dia mengenalinya itulah Ko Tie.

Seketika dia juga jadi malu, hampir saja dia tertimpah bencana yang sangat hebat sekali, yaitu akan diperkosa oleh seekor kera.

"Ko Tie Koko...... kau?"

Hanya kata-kata itu saja yang bisa diucapkannya. Ko Tie mengangguk.

"Ya.....!"

Sahutnya kemudian.

"Dan kau tampaknya memang telah mengalami keterkejutan yang sangat hebat!"

Giok Hoa hanya mengangguk sambil menunduk malu.

Tampak Ko Tie memperhatikan, bahwa kawannya yang memakai baju hijau itu, yaitu Oey Yok Su, tengah bertempur seru melawan Bun Siang Cuan.

Oey Yok Su dan Ko Tie ternyata tiba di tempat itu secara kebetulan, karena mereka memang tengah melakukan perjalanan juga.

Betapa terkejutnya mereka waktu menyaksikan apa yang terjadi, dimana Giok Hoa akan diperkosa oleh seekor Kera berbulu kuning itu, maka Oey Yok Su tidak membuang waktu turun tangan buat menyelamatkan Giok Hoa.

Tidak tahunya kembali dia bertemu dengan Bun Siang Cuan dan sekarang mereka telah bertempur sangat dahsyat.

Karena memang mereka merupakan orang-orang yang telah memiliki kepandaian sangat tinggi sekali, juga sin-kang yang telah sempurna.

Hebat cara bertempur ke dua tokoh lihay dari dunia persilatan itu, karena masing-masing telah mengeluarkan seluruh kepandaian yang mereka miliki.

Sedangkan Bun Siang Cuan sendiri merasakan, semakin lama ia semakin tertindih oleh tenaga Oey Yok Su, karena napasnya juga sekarang mulai memburu keras.

Dikala itu, Oey Yok Su melihat bahwa dia mulai dapat mendengar napas Bun Siang Cuan, semakin memperhebat pengerahan tenaga dalamnya Ko Tie melihat Oey Yok Su menang di atas angin, diam-diam jadi girang.

Oey Yok Su memang sengaja telah mempergunakan seluruh ilmu andalannya, karana dia bermaksud untuk merubuhkan Bun Siang Cuan.

Jika dulu, dia menghargai Bun Siang Cuan sebagai seorang yang memiliki kepandaian sangat tinggi, dan dia tidak mau menurunkan tangan keras kepadanya.

Hanya saja sekarang melihat betapa ancaman yang hampir menimpah si gadis, dan perbuatan yang begitu rendah sempat membuat Oey Yok Su jadi murka bukan main.

Ko Tie cepat-cepat telah membisiki Giok Hoa.

"Pergilah kau menyingkirkan diri dulu!"

Giok Hoa telah mengangguk dan meninggalkan tempat itu, karena memang dia yakin jika sampai dia tidak menyingkir dan Bun Siang Cuan menurunkan tangan kejam padanya, niscaya akan membuat dia bercelaka.

Tampak Ko Tie juga mengiringi Giok Hoa.

Dia tahu, biarpun Bun Siang Cuan telah kena didesak begitu hebat oleh Oey Yok Su, namun tetap saja tidak mudah Bun Siang Cuan bisa dirubuhkan oleh Oey Yok Su, disebabkan kepandaiannya yang memang hampir berimbang dengan Oey Yok Su.

Jika pertempuran itu berlangsung terus, niscaya akan memakan waktu mungkin sampai dua hari dua malam atau mungkin juga lebih.

Karenanya Ko Tie telah menganjurkan agar Giok Hoa menyingkir saja.

Hal ini lebih mempermudah buat Oey Yok Su, kalau sampai ia sudah hendak menyudahi pertempuran tersebut, dia bisa menyudahi sampai di situ saja.

Sedangkan Bun Siang Cuan tentu tidak akan dapat mencari jejak Giok Hoa lagi.

Memang Oey Yok Su juga berpikir seperti itu.

Melihat bahwa Ko Tie dan Giok Hoa telah menyingkir, dia jadi girang.

Dengan suara yang nyaring dia berseru.

"Dengarlah orang she Bun, engkau ternyata seorang yang berhati busuk dan selalu ingin melakukan perbuatan hina dan rendah..... Karena itu, hari ini biarlah aku Oey Yok Su akan turun tangan menghajar kau!"

Sambil berkata begitu, tubuhnya berkelebat-kelebat dengan lincah sekali buat mendesak lawannya. Sedangkan Bun Siang Cuan tertawa bergelak-gelak, dia bilang.

"Hemmm, tidak mudah buat kau merubuhkan diriku! Karena akulah yang akan menghajar kau, akan membunuhmu, karena engkau telah membunuh anakku.....!" Setelah berkata begitu, Bun Siang Cuan mengempos semangatnya, dia membalas menyerang semakin hebat. Hanya saja memang Oey Yok Su menang seurat jika dibandingkan dengan ilmu Bun Siang Cuan membuat lawannya benar-benar terdesak. Dikala itu terlihat betapapun juga Bun Siang Cuan, berusaha untuk mengerahkan seluruh kepandaiannya, namun tetap saja dia tidak bisa membendung serangan yang dilakukan oleh Oey Yok Su. Berulang kali dia terdesak dan hampir saja dia rubuh terkena tekanan dari tenaga dalam Oey Yok Su! Lama kelamaan tampak Bun Siang Cuan lebih banyak membela diri saja. Waktu itu pertempuran tersebut telah berlangsung semakin hebat dan menentukan! Dua tokoh sakti dari rimba persilatan tengah mengukur kepandaian dan tenaga. Dengan begitu, mereka telah mengeluarkan seluruh kepandaian andalannya. Dan mereka juga tampaknya benar-benar tidak mau saling mengalah dengan keadaan seperti itu, jika saja sampai salah seorang di antara mereka rubuh, berarti mereka akan rubuh dalam keadaan terluka parah atau mati! Bun Siang Cuan akhirnya berpikir.

"Hem kau sekarang memang tidak dapat kurubuhkan biarlah…… nanti setelah kulatih lagi ilmuku, aku akan mencarimu……!"

Setelah berpikir begitu, tiba-tiba Bun Siang Cuan tertawa bergelakgelak.

Tahu-tahu dia telah menghantam Oey Yok Su dengan serangan seperti orang kalap dan hebat sekali setiap pukulannya seperti dia hendak mengadu jiwa.

Oey Yok Su tentu saja tidak mau buat mengadu jiwa dengannya, dia mengelakkannya.

Mempergunakan kesempatan di waktu Oey Yok Su telah berkelit, tampak tubuh Bun Siang Cuan telah melompat ke belakang.

Dia tertawa bergelak-gelak sambil berlari cepat sekali !

"Nanti kita bertemu lagi.......!"

Teriaknya.

Oey Yok Su hendak mengejar, namun dia segera teringat kepada Ko Tie dan juga Giok Hoa, maka dia membatalkan keinginannya itu dia telah memutar tubuhnya, berlari ke arah di mana tadi Ko Tie dan Giok Hoa pergi.

◄Y► Ko Tie telah mengajak Giok Hoa buat pergi ke sebuah tempat yang cukup aman, yaitu di antara pohon-pohon yang lebat, karena memang dia ingin mengajak si gadis bersembunyi.

Keadaan di sekitar tempat itu tampak gelap sekali.

Si gadis yang berada di samping si pemuda, jadi berdebar tergoncang hatinya.

Ko Tie waktu itu telah berbisik kepadanya.

"Kita tunggu Oey Locianpwe di sini saja……!"

Giok Hoa mengiyakan dengan suara yang perlahan sekali, dia malu bukan main. Sedangkan Ko Tie telah berkata.

"Hoa-moay, betapa engkau membuat aku jadi bingung karena engkau telah meninggalkan aku begitu saja.....!" Giok Hoa tidak bisa menjawab. Dia berdiam diri saja, dengan pipinya berobah memerah dan terasa panas! Tiba-tiba terlihat sesosok bayangan berlari cepat sekali tengah mendatangi.

"Kita harus bersiap-siap, mungkin juga yang datang adalah Oey Locianpwe, tapi bisa jadi juga adalah orang she Bun itu!"

Bisik Ko Tie.

Giok Hoa mengiakan.

Sosok bayangan itu telah berlari tiba di dekat mereka.

Ko Tie melihat orang itu mengenakan baju warna hijau.

Segera juga dia mengetahui dan mengenalinya, itulah Oey Yok Su.

"Oey Locianpwe!"

Panggilnya dengan suara yang nyaring dan melompat keluar dari tempat persembunyiannya. Oey Yok Su berhenti dan bertanya.

"Bagaimana keadaan kalian berdua?!"

Waktu itu Giok Hoa pun telah melompat keluar, tahu-tahu dia menjatuhkan dirinya berlutut di hadapan Oey Yok Su. "Terima kasih atas pertolongan Oey Locianpwe.....!"

Katanya kemudian.

Oey Yok Su memimpin bangun padanya.

Dikala itu terlihat betapapun juga, memang dia merasa simpati pada si gadis.

Dia melihat gadis ini manis sekali dan cocok jika bersanding dengan Ko Tie.

Maka katanya.

"Diakah gadis yang kau ceritakan dulu kepadaku, murid dari puteri angkatnya Sin-tiauw-tay-hiap Yo Ko?!"

"Benar.....!"

Menyahuti Ko Tie.

"Oey Locianpwe juga telah pernah bertemu dengan Hoa-moy beberapa kali.....!"

Oey Yok Su mengangguk, memang benar dia pernah bertemu dengan gadis ini. Ko Tie telah menceritakan, betapa Bun Siang Cuan ingin "mempergunakan"

Keranya untuk memperkosa Giok Hoa, dengan cara yang biadab sekali.

Semua yang telah didengar dari Giok Hoa diceritakan kepada Oey Yok Su.

Muka Oey Yok Su berobah merah padam dia telah menghela napas beberapa kali.

"Sayang!

Sayang sekali!

Manusia dengan kepandaian seperti orang she Bun itu, yang sangat tinggi dan cukup mengagumkan, ternyata memiliki hati seperti binatang.....!"

Lalu Oey Yok Su menghela napas lagi, barulah dia mengajak Ko Tie dan Giok Hoa buat meninggalkan tempat itu.

Sepanjang perjalanan, Oey Yok Su sering menyinggungnyinggung bahwa Ko Tie dan Giok Hoa merupakan pasangan yang sangat ideal.

Setiap kali Oey Yok Su menyinggung hal itu, maka membuat pasangan remaja itu berobah wajahnya menjadi merah, dengan pipi terasa panas sekali.

Mereka jengah dan likat.

Cuma saja, pertemuan ini justeru telah menyuburkan benih cinta yang terdapat di hati mereka.

Perjalanan telah dilanjutkan terus.

Hanya sayangnya Oey Yok Su tidak keburu menanyakan soal Kam Lian Cu kepada Bun Siang Cuan.

Dia telah keburu melarikan diri.

"Tapi Kam Kouw-nio tentu berada di sekitar tempat ini!"

Kata Ko Tie dengan penuh keyakinan.

"Dia tentu tidak akan menyingkirkan diri terlalu jauh……!" Oey Yok Su mengangguk, dia menghela napas.

"Waktu kejadian itu. dimana Kam Kouw-nio melarikan diri, dia sesungguhnya bisa saja menantikan engkau di sebuah tempat. Tapi kenyataannya kau juga terluka hebat."

Karena itu, tidak diketahui lagi, apakah ia selamat dari tangan orang she Bun itu atau tidak! Tapi jika memang dia berhasil menyelamatkan diri, tentu tidak mudah mencarinya di sekitar tempat ini....."

Sekarang ini telah lewat dua bulan lebih. Tentu dalam dua bulan lebih dia sudah melarikan diri cukup jauh, dia bisa pergi.

"Lain jika memang dia tertawan oleh Bun Siang Cuan, maka dia tidak akan berdaya dan tentu dikurung di sebuah tempat oleh orang she Bun.......!"

"Jika begitu, kita harus mencari orang she Bun itu lagi?!"

Kata Ko Tie. Oey Yok Su mengangguk.

"Tadinya aku tidak berpikir seperti itu, aku membiarkan saja dia melarikan diri. Tapi sekarang, walaupan bagaimana kita harus pergi mencarinya. Kita perlu menanyakan perihal nona Kam kepadanya, dan memaksa dia sampai mau bicara!"

Ko Tie ragu-ragu.

Kepandaian Bun Siang Cuan tidak rendah hampir setingkat dengan kepandaian Oey Yok Su.

Jika memang mereka mencari orang she Bun itu lagi, dan terjadi pertempuran hebat antara Oey Yok Su dengan orang she Bun tersebut, tentunya merupakan pertempuran yang berkepanjangan, juga tidak akan ada keputusan, siapakah yang akan rubuh dan siapakah yang akan menang.

Karena itu, jika memang terjadi hal itu, berarti Oey Yok Su harus benar-benar mengeluarkan seluruh kepandaiannya, sehingga jika memang tidak dapat Oey Yok Su merubuhkan Bun Siang Cuan, kemungkinan besar mereka berdua yang akan terluka atau binasa.

Tidak dapat Oey Yok Su untuk merebut kemenangan begitu saja di kala Bun Siang Cuan masih dalam keadaan segar bugar.

Dan Ko Tie menguatirkan juga buat keselamatan Oey Yok Su, karena jika Oey Yok Su harus bertempur dua hari dua malam dengan mempergunakan seluruh sin-kang dan kepandaiannya, niscaya akan membuat dia letih bukan main, berarti juga dia bisa terluka di dalam, karena usianya yang telah lanjut benar.

Maka Ko Tie ingin mencegah Oey Yok Su mencari Bun Siang Cuan.

Cuma saja, sekejap kemudian dia ragu-ragu.

Dia kuatir Oey Yok Su akan tersinggung karenanya.

Melihat Ko Tie berdiam diri, Giok Hoa juga jadi canggung.

Diapun berdiam diri saja.

Oey Yok Su telah mengajak mereka buat berlalu dan Ko Tie berdua dengan Giok Hoa hanya ikut saja, mereka ingin mencari Kam Lian Cu.

Walaupun mereka telah mencari ke sana ke mari, Bun Siang Cuan tidak terlihat bayangannya.

Kakek tua yang tampaknya agak sinting itu ternyata telah menghilang ke mana?

Hanya saja, masih terlihat bangkai kera itu, yang menggeletak diam dan tampak mengerikan sekali karena batok kepalanya yang hancur itu.

Giok Hoa menggidik melihat kera bulu kuning itu, karena jika tidak keburu Oey Yok Su dan Ko Tie tiba di tempat itu, tentu dia telah menjadi korban kera bulu kuning itu, diperkosa binatang tersebut.

Dan hati Giok Hoa jadi ciut memikirkan hal itu.

Oey Yok Su menghela napas.

"Mari kita cari ke tempat lain..... Dia pasti masih berada di sekitar tempat ini……!"

Segera juga Oey Yok Su berlari-lari untuk mencari Bun Siang Cuan di sekitar tempat ini.

Ko Tie berdua Giok Hoa berlari-lari mengikuti di belakang tokoh sakti tersebut.

Oey Yok Su menduga bahwa Bun Siang Cuan masih berada di sekitar tempat ini, karena dia melihat bangkai kera itu masih berada di tempatnya.

Dia telah menyaksikan betapa Bun Siang Cuan sangat sayang pada kera itu, dan tentu dia akan kembali buat mengambil bangkai kera itu, yang tentunya akan dikuburnya.

Karena itu, Oey Yok Su menduga Bun Siang Cuan masih berada di sekitar tempat ini, dan dia tengah menyembunyikan diri saja di suatu tempat.

Oey Yok Su bertiga telah mencari ke sana ke mari di sekitar tempat itu.

Namun tetap saja Bun Siang Cuan tidak terlihat bayangannya.

Kam Lian Cu juga tidak, berhasil mereka temui.

Ko Tie sangat penasaran sekali, dia meminta kepada Oey Yok Su, untuk beberapa lama dia harus mencari Kam Lian Cu di tempat ini.

Begitulah, selama satu bulan mereka berada di tempat tersebut.

Mereka telah berkeliling ke sana ke mari, menjelajahi sekitar tempat itu.

Namun orang yang mereka cari tetap saja tidak berhasil ditemui.

Sebulan lebih telah lewat, dan Giok Hoa mulai tidak sabar.

Diamdiam di hatinya timbul juga perasaan cemburu.

Dia mendengar dari penuturan Ko Tie bahwa Kam Lian Cu seorang gadis yang cantik sekali, diam-diam hatinya jadi jelus.

Di waktu itu, sebetulnya Giok Hoa hendak mengajak Ko Tie dan Oey Yok Su menyudahi saja pencarian mereka dan meninggalkan tempat tersebut.

Hanya saja, biarpun hatinya berpikir begitu, tokh tetap saja dia tidak bisa menyampaikan isi hatinya itu.

Mulutnya tidak bisa untuk mengucapkan apa yang dipikirkannya.

Karena itu, dua minggu lagi mereka telah berada di sekitar tempat tersebut.

◄Y► PENUTUP Pada waktu itu tampak tubuh Oey Yok Su dengan lincah telah mencelat ke sana ke mari, di mana dia juga telah berusaha untuk mendatangi tempat-tempat yang paling sukar sekali.

Dengan mengandalkan gin-kangnya yang memang telah sempurna dan sangat mahir, Oey Yok Su tidak menemui kesulitan.

Malam tadi dia telah mengatakan kepada Ko Tie dan Giok Hoa, jika dua hari lagi mereka tidak berhasil menemukan Bun Siang Cuan maupun Kam Lian Cu, maka mereka akan meninggalkan tempat tersebut.

Ko Tie sesungguhnya berat meninggalkan tempat itu sebelum Kam Lian Cu berhasil mereka temukan.

Tapi berbalik dengan Giok Hoa, yang menjadi girang mendengar keputusan Oey Yok Su.

Waktu itu Ko Tie juga telah meminta kepada burung rajawali agar bantu mencari.

Memang selama itu burung rajawali tersebut telah membantu mereka mencari jejak Bun Siang Cuan maupun Kam Lian Cu dengan terbang di angkasa, di mana dia mencari ke sana ke mari.

Ko Tie mengharapkan, dengan sisa dua hari ini, burung rajawali itu berhasil menemukan Kam Lian Cu.

Namun burung rajawali itu tetap saja tidak berhasil menemukan jejak dari orang yang tengah mereka cari.

Satu hari lagi telah lewat, dan juga di hari itu mereka gagal buat menemukan jejaknya Bun Siang Cuan maupun Kam Lian Cu.

Benar-benar Ko Tie jadi kecewa sekali…… Pada pagi keesokannya, waktu Ko Tie, Giok Hoa maupun Oey Yok Su, masih rebah menyender di sebatang pohon karena tidur mereka yang nyenyak, tiba-tiba mereka dibangunkan oleh suara pekik rajawali yang begitu nyaring.

Segera juga ke tiga orang ini melompat berdiri, dan mereka melihat burung rajawali itu tengah terbang menukik turun hinggap di atas tanah.

Sepasang sayapnya digerak-gerakan tampaknya burung rajawali itu tengah berusaha memberitahukan sesuatu.

Giok Hoa segera melompat ke punggung burungnya.

Ko Tie juga melompat ke atas punggung burung itu.

Segera juga burung rajawali itu terbang ke tengah udara dengan cepat sekali.

Rupanya burung rajawali ini mengajak mereka ke sebuah lembah, dan Ko Tie maupun Giok Hoa melihat lembah itu rapat sekali oleh tumbuh-tumbuhan maupun pohon yang masih liar.

Tadi Tiauw-jie atau burung rajawali ini, telah melihat seseorang di dalam lembah.

Maka dia telah terbang memberitahukan kepada majikannya.

Burung rajawali itu terbang berputar-putar, tapi Giok Hoa maupun Ko Tie tidak melihat sesuatu.

Akhirnya Giok Hoa perintahkan burung rajawali itu agar terbang menukik turun di lembah tersebut.

Ko Tie dan Giok Hoa melompat turun dari punggung rajawali tersebut, dan mereka mencari-cari menyelidiki keadaan di lembah tersebut dengan teliti.

Dan Ko Tie melihat bahwa di tanah dalam lembah itu, banyak sekali terlihat bekas tapak-tapak kaki.

Seketika Ko Tie dan Giok Hoa jadi girang.

Pasti lembah ini didiami manusia.

Juga dilihat dari bekas tapak kaki itu, tapak kaki laki laki yang berukuran besar dan tapak kaki yang kecil, tapak kaki wanita.

Tengah mereka mencari-cari seperti itu, tiba-tiba terdengar suara orang menyebut akan kebesaran Sang Budha.

"Omitohud…… siapakah kalian dan apa maksud kalian mendatangi lembah ini?"

Tiba-tiba telah muncul seorang pendeta berusia limapuluh tahun lebih dari balik gerombolan pohon. Ko Tie dan Giok Hoa terkejut.

"Maafkan Taysu!"

Kata Ko Tie sambil merangkapkan sepasang tangannya memberi hormat.

"Kami tengah mencari jejak seorang kawan, karena itu telah lancang datang ke lembah ini.....!"

"Tengah mencari kawan?!"

Tanya pendeta itu. Ko Tie mengangguk.

"Benar Taysu……!"

"Siapakah kawan Sicu?!"

Ko Tie ragu-ragu. Giok Hoa pun ragu-ragu. Si pendeta tersenyum.

"Lolap kira di sekitar lembah ini tidak terdapat orang lain…… dan lolap kira, kawan Sicu juga tidak berada di dalam lembah ini……!"

"Apakah hanya Taysu seorang diri yang berdiam di lembah ini?"

Tanya Ko Tie.

Muka pendeta itu berobah lagi.

Dia tentu saja tidak bisa berdusta.

Dia seorang pendeta yang alim dan saleh, maka tidak dapat dia berdusta, sedangkan orang telah bertanya seperti itu, membuat dia benar-benar sangat sulit sekali.

Melihat pendeta itu tampaknya jadi kikuk dan agak bingung, Ko Tie jadi heran.

Namun segera juga sambil tertawa dia bilang.

"Jika memang Taysu keberatan menjelaskannya, sudahlah, kami juga tidak berani bertanya berbelit-belit……!"

Di waktu itu terlihat pendeta itu jadi kurang enak hati. Dia bilang.

"Lolap tinggal di sini bersama kawan."

"Ohhhhh……."

Baru saja Ko Tie hendak meneruskan katakatanya, pada saat itu dari mulut lembah telah berlari-lari pesat sekali sesosok bayangan hijau!

Dialah Oey Yok Su!

Melihat Oey Yok Su, muka pendeta itu jadi berobah seketika, dia segera juga menggumam.

"Mengapa dia bisa berada di tempat ini?"

Waktu itu cepat sekali Oey Yok Su telah berlari tiba di dekat si pendeta. Si pendeta merangkapkan sepasang tangannya memberi hormat kepada Oey Yok Su dan katanya.

"Locianpwe sesungguhnya ini merupakan pertemuan yang sangat menggembirakan sekali! Terimalah hormat dari Yang Bun?"

Melihat pendeta itu, Oey Yok Su hanya membalas penghormatan dengan setengah membungkukkan tubuhnya.

"Jangan banyak peradatan, Yang-bun,"

Katanya.

Ternyata pendeta itu adalah seorang pendeta Siauw-lim-sie dari tingkat kedua.

Dia memang memiliki kepandaian yang sangat tinggi.

Sering juga Yang-bun bertemu dengan Oey Yok Su, karena itu dia mengenali jago tua yang sakti tersebut.

Sekarang melihat Oey Yok Su muncul di tempat ini, dia menjadi heran bukan main.

Melihat pendeta itu hanya memandangi saja, Oey Yok Su kemudian bilang.

"Taysu berada di sini, apakah dalam perjalanan?"

Si pendeta bergeleng kepala.

"Lolap berada berdua dengan kawan yang mengalami nasib sangat buruk sekali, untuk sementara waktu berdiam di sini……!"

Menyahuti si pendeta.

"Oh.....!"

Berseru Oey Yok Su.

"Siapakah kawan Taysu, apakah pendeta Siauw-lim-sie juga?!"

"Bukan!"

Menyahuti Yang Bun Taysu.

"Dia adalah seorang gadis yang malang sekali nasibnya!"

Mendengar keterangan Yang Bun Taysu itu bukan main kagetnya Ko Tie bertiga.

"Seorang gadis?"

Tanya Ko Tie kemudian.

Yang Bun Taysu mengangguk membenarkan, dia juga menceritakan apa yang telah dialami oleh kawannya itu, yang ternyata tidak lain Kam Lian Cu.

Mendengar Kam Lian Cu korban dari kera bulu kuning milik Bun Siang Cuan, hati Ko Tie dan Giok Hoa maupun Oey Yok Su berdebar-debar.

Mereka pun merasa bahwa kawan dari si pendeta ini adalah orang yang tengah mereka cari.

"Bisakah Taysu mengajak kami bertemu dengannya?!"

Tanya Oey Yok Su.

Oey Yok Su merupakan orang yang sangat dihormati oleh Yang Bun Taysu, maka dia tidak memiliki alasan buat menolaknya, malah dengan segera dia mengajak mereka bertiga masuk ke dalam lembah itu lebih jauh.

Ketika dipertemukan dengan orang yang disebutkan Yang Bun Taysu, semuanya terkejut.

Karena dialah Kam Lian Cu, orang yang tengah mereka cari-cari.

Kam Lian Cu menangis sedih sekali.

Oey Yok Su menghiburnya.

Malah menjelaskan juga bahwa Kera berbulu kuning telah dihajar mati olehnya.

"Tapi..... tapi entah apa yang akan terjadi buat hari-hariku di masa mendatang.....!"

Mengeluh Kam Lian Cu dalam isak tangisnya.

Ko Tie dan Giok Hoa ikut menghiburnya.

Oey Yok Su malah menawarkan, jika Kam Lian Cu bersedia, maka dia ingin mengambil anak Kam Lian Cu kelak sebagai muridnya.

Karena dari itu Oey Yok Su menganjurkan Kam Lian Cu ikut dengannya pergi menetap di pulau Tho-hoa-to.

Bukan kepalang girangnya Kam Lian Cu.

Terlebih lagi Yang Bun Taysu, karena dengan demikian dia bebas dari tugasnya yang sangat berat itu.

Diapun yakin bahwa Kam Lian Cu benar-benar terlindung dengan berada dalam perlindungan Oey Yok Su.

Begitulah, setelah bercakap-cakap beberapa saat, merekapun berpisah.

Oey Yok Su mengajak Kam Lian Cu ke Tho-hoa-to, sedangkan Yang Bun Taysu melanjutkan perjalanannya meninggalkan lembah tersebut.

Ko Tie dan Giok Hoa melakukan perjalanan kembali ke tempat guru-guru mereka, dan di sana mereka ingin meminta restu, agar mereka dinikahkan dengan resmi.

Ko Tie sesungguhnya merasa iba dan berkasihan kepada Kam Liam Cu, tapi dia tidak bilang apa-apa.

Dan terhadap Giok Hoa, memang pada dasarnya dia sangat mencintai, dia tidak dapat mengelak lagi untuk lepas dari pernikahan.

Tentu guru mereka akan menyambut berita ini dengan gembira.

Tiauw-jie atau burung rajawali peliharaan Giok Hoa pun telah terbang di tengah udara mengiringi perjalanan mereka sambil terus mengeluarkan pekik mengandung kegembiraan yang meluap-luap.

TAMAT

Baca Juga: Kemelut Kerajaan Mancu Kho Ping Hoo

Baca Juga: Pedang Wucisan 4

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert