Ceritasilat Novel Online

Anak Rajawali 10

Eps 10 Anak Rajawali - Chin Yung

Baca online Anak Rajawali - Chin Yung

Cersil Anak Rajawali - Chin Yung.

Karena terlalu kaget, dia sampai menjerit.

Sedangkan orang berpakaian baju hijau segera membuka matanya.

Dia jadi heran.

Penolongnya adalah pemuda pelajar yang saat itu duduk di sebelahnya, yang sebelumnya dipandang ringan dan tidak sebelah mata olehnya.

Siapa tahu, pemuda pelajar yang semula diduganya lemah itu, kini telah memperlihatkan bahwa ia memiliki kepandaian yang tinggi sekali, juga dia telah menolongnya.

Belum lagi orang berbaju hijau tersebut mengucapkan terima kasihnya, waktu itu, dengan sebat Tojin tersebut telah kaget waktu menghantam lagi kepada Ko Tie.

Rupanya Oey Tojin penasaran sekali.

Dia serangannya ditangkis dan telah membuat tubuhnya sampai terpental seperti itu.

Segera juga dia mengawasi orang yang telah menangkis serangannya tersebut.

Dan dia tambah heran, karena itulah seorang pemuda remaja yang mungkin usianya baru duapuluh tahun lebih, dan ternyata memiliki kepandaian yang sangat tinggi.

Maka segera juga tampak Oey Tojin telah melesat dengan lincah dia menghantam kepada Ko Tie.

Pukulan yang dilakukannya jauh lebih hebat dibandingkan dengan pukulannya yang tadi.

Angin pukulan itu juga berkesiuran menderu-deru.

Ko Tie tertawa dingin, dia bilang.

"Hemm, engkau mencari mampus……!"

Dan sambil berkata begitu, segera juga ia menangkis.

Kali ini ia menangkis dengan mempergunakan Pukulan Inti Esnya.

Karena itu, begitu tangannya saling bentur dengan tangan Oey Tojin, seketika imam itu terhuyung mundur empat langkah ke belakang, dan mukanya pucat.

Tubuhnya menggigil keras, karena ia merasakan tubuhnya seperti juga direndam di dalam kolam es!

Ke lima orang anak buahnya yang menyaksikan keadaan Oey Tojin seperti itu, segera juga membentak bengis.

Mereka menggerakkan pedang masing-masing.

Lima batang pedang telah menyambar berseliweran, mengancam bagian-bagian yang mematikan di tubuh Ko Tie.

Tapi Ko Tie memang sangat lihay.

Dia mana memandang sebelah mata terhadap penyerangan dari ke lima orang itu.

Sambil tertawa dingin, dia telah melesat ke sana ke mari, tahu-tahu ke lima batang pedang itu telah pindah tangan.

Tapi ke lima orang anggota Ang-kie-pay itu benar-benar manusia kepala batu.

Setelah mereka tertegun sejenak, dan tersadar, mereka cepat sekali melompat sambil mengayunkan ke dua tangan masingmasing, yang menyerang dengan sekuat tenaga mereka.

Dengan demikian, mereka bermaksud untuk merubuhkan pemuda yang tidak mereka kenal ini.

Ko Tie jadi mendongkol melihat kepala batu ke lima anggota Angkie-pay, terlebih lagi ia menyaksikan sendiri, betapa semua anggota Ang-kie-pay memiliki tangan telengas.

Cepat luar biasa dia melontarkan ke lima batang pedang rampasannya.

Ke lima batang pedang itu meluncur dengan mengeluarkan suara mendengung, karena kuatnya timpukan Ko Tie dan ke lima pedang itu menancap serentak di batang pohon, melesak dalam sekali.

Membarengi dengan itu, tubuh Ko Tie juga berkelebat-kelebat menangkis pukulan ke lima orang anggota Ang-kie-pay tersebut.

Tangan mereka saling bentur, disusul dengan terdengarnya suara hancur dan patahnya tulang tangan ke lima orang itu, yang menjerit kesakitan dan telah melompat mundur dengan muka yang pucat dan tubuh menggigil keras.

Masing-masing ke dua tangan mereka telah hancur dan lunglai tidak bertenaga serta sudah tidak dapat dipergunakan lagi!

Ko Tie tertawa dingin.

"Hemmm, manusia bertangan telengas dan berhati kejam seperti kalian tidak perlu diampuni……!"

Dingin sekali suaranya Waktu itu Oey Tojin tengah berusaha menahan hawa dingin yang menyerang dirinya, dan tangan kanannya dipakai bersiul nyaring dengan ditempelkan pada bibirnya.

Suara siulan itu bergema di sekitar tempat itu.

Ko Tie tertawa, katanya.

"Hemm, engkau memang hendak memanggil kawanmu, bala bantuanmu?"

Dan dia telah berkata begitu sambil tubuhnya dengan cepat sekali bergerak, di mana tangannya melayang menghantam lagi.

Maka seketika tubuh dari orang tua itu, imam yang lanjut usia tersebut, seperti juga daun kering yang tidak berbobot lagi, terpental dan ambruk di tanah, dengan tubuh yang menggigil keras.

Tubuhnya juga telah dibungkus oleh selapisan salju yang tipis sekali, di waktu mana dia menggigil keras dengan gigi yang bercatrukan satu dengan yang lainnya.

Akhirnya karena menahan hawa dingin yang luar biasa hebatnya membuat dia pingsan tidak sadarkan diri.

Dalam keadaan seperti itulah, dia juga telah menggeletak diam dengan napas yang tidak berhembus lagi, karena begitu ia pingsan, begitu jantungnya tidak bekerja lagi, dan telah menutup mata buat selama-lamanya.

Ko Tie memang telah menurunkan tangan yang keras seperti itu, karena memang dia melihatnya betapa Oey Tojin seorang pendeta yang bertangan telengas sekali.

Karena itu, dalam turun tangan dia tidak tanggung-tanggung.

Dia telah membunuhnya tidak mengenal kasihan lagi.

Di waktu itu juga tampak dari kejauhan berlari-lari beberapa orang.

Gerakan orang-orang itu sangat gesit sekali.

Dalam waktu yang singkat, mereka telah sampai di tempat tersebut.

Mereka adalah lima orang tua yang jenggot dan juga kumisnya telah memutih semuanya.

Disamping itu, mereka semuanya memakai jubah warna merah.

Ke lima orang tua itu kaget bukan kepalang melihat Oey Tojin menggeletak tidak bernapas lagi, tubuhnya telah terbungkus oleh salju yang tipis.

Mereka memandang kepada Ko Tie dengat sorot mata yang tajam.

Karena di waktu itu mereka juga melihat ke lima orang anggota Ang-kie-pay menggeletak tidak bernapas lagi.

"Tuan……!"

Kata salah seorang di antara mereka sambil merangkapkan sepasang tangannya memberi hormat kepada Ko Tie.

"Sesungguhnya, apa kesalahan mereka, sehingga kau turunkan tangan begitu keras kepada mereka?!"

Ko Tie tertawa dingin.

"Mereka merupakan manusia-manusia yang tidak berperikemanusiaan! Mereka memang memiliki muka manusia, tapi berhati binatang!"

Ke lima orang tua itu berobah mukanya jadi merah padam, dan mereka murka bukan main. Tapi orang tua yang tadi berkata-kata itu telah bilang lagi, sambil menindih kegusarannya.

"Siapakah kau sebenarnya tuan?"

"Kalian tidak berderajat buat menanyakan namaku....."

Kata Ko Tie dengan suara yang dingin.

"Hemmm, kalian dari Ang-kie-pay, ternyata kalian hanya dapat menyelenggarakan pesta untuk banjir darah dari orang-orang yang tidak berdaya! "

Berusaha menancapkan kaki di Bu-ciu, hanyalah untuk memperluas kekuasaan kalian belaka, tanpa memikirkan lagi korban yang akan jatuh karenanya.....!

Sekarang tuan mudamu ingin melihat, sesungguhnya perkumpulan macam apakah itu yang disebut Ang-kie-pay?"

Setelah berkata begitu, Ko Tie berdiri sambil memperlihatkan sikap mengejek.

Muka ke lima orang tua itu berobah hebat.

Inilah baru pertama kali mereka alami, seorang pemuda, yang usianya baru duapuluh tahun lebih, telah menantang mereka dengan sikap kurang ajar seperti itu.

Seumur mereka, belum pernah mereka menghadapi sikap seperti itu walaupun seorang tokoh rimba persilatan, mereka dihormati, dan tidak ada yang berani bersikap kurang ajar seperti itu.

Karenanya, tampak mereka telah memandang dengan sikap yang bengis sekali, yang seorang itu telah berkata dengan suaranya yang tawar.

"Baik, engkau tidak mau menyebutkan namamu dan tidak mau menjelaskan siapa adanya kau. Inipun tidak menjadi persoalan buat kami! Tetapi yang jelas, memang kau yang telah membunuh Oey Tojin dan ke lima orang anggota Ang-kie-pay kami itu bukan?"

"Benar..... memang aku yang telah mengirim mereka ke neraka!"

Menyahuti Ko Tie berani sekali, bahkan sambil menyahuti seperti itu, dia telah memperdengarkan suara tertawa mengejek, sikapnya tidak memandang sebelah mata kepada lawan-lawannya itu.

Orang yang memakai baju hijau, yang telah ditolongi jiwanya oleh Ko Tie, jadi memandang dengan mata terbuka lebar-lebar.

Dia telah menyaksikan sendiri betapa lihaynya pemuda ini.

Tapi, dia juga berkuatir sekali, karena ke lima orang tua itu adalah jago-jago tertinggi dari Ang-kie-pay, yang bergelar Kim-hong-ngosian (Lima Dewa Dari Puncak Emas), di mana kepandaian mereka sulit dijajaki dan juga memang mereka itu merupakan manusiamanusia aneh di dalam rimba persilatan.

Mereka memiliki kedudukan tertinggi di Ang-kie-pay, setelah Pangcu mereka.

Dan kepandaian mereka memang menggetarkan rimba persilatan.

Karena itu, orang berbaju hijau tersebut berkuatir kalau-kalau nanti pemuda penolongnya itu tidak sanggup menghadapi ke lima tokoh Ang-kie-pay tersebut.

Dengan sorot mata mengandung kekuatiran yang sangat, orang yang memakai baju hijau tersebut hanya mengawasi saja.

Sedangkan orang Ang-kie-pay, yang tadi telah menanyakan halnya kematian Oey Tojin kepada Ko Tie, melangkah perlahanlahan, ia menghampiri Ko Tie dengan sikapnya yang mengancam.

Namun Ko Tie tetap berdiri tegak di tempatnya dengan tenang, sama sekali dia tidak memperlihatkan perasaan gentar sedikit pun juga.

Dia telah melihatnya, betapa empat orang tua lainnya pun telah melangkah maju serentak berlima.

Ko Tie diam-diam telah memusatkan tenaga dalamya.

Dia mengetahui, ke lima orang tokoh dari Ang-kie-pay bukanlah sebangsa manusia baik-baik.

Ilmu silat mereka walaupun ilmu silat tersesat, namun mereka lihay sekali.

Karenanya, Ko Tie juga bermaksud ingin melihatnya, berapa tinggi kepandaian ke lima orang itu.

Sedangkan orang tua yang seorang itu telah berkata dengan suara yang dingin menahan kemurkaannya.

"Tuan, baiklah, aku ingin sekali minta pengajaran dari kau..........!"

Dan menyusul dengan perkataannya itu, cepat bukan main dia telah melompat dan menyerang dengan dahsyat sekali.

Tenaga pukulannya itu mengandung kekuatan yang bisa merubuhkan sebatang pohon yang cukup besar.

Ko Tie juga memang merasakan, sambaran angin pukulan itu memang kuat sekali, tapi dia tidak gentar.

Sedangkan orang tua itu, karena mengetahui pemuda ini yang telah membinasakan Oey Tojin dan ke lima anak buah Ang-kie-pay lainnya.

Sedangkan kepandaian Oey Tojin sesungguhnya tinggi sekali, maka dapat menduganya bahwa Ko Tie tentunya memiliki kepandaian yang hebat.

Maka begitu dia turun tangan, seketika dia menyerang dengan dahsyat.

Pukulan yang dilakukannya itu disertai delapan bagian tenaga dalamnya.

Waktu itulah dia melihatnya, betapa Ko Tie sama sekali tak menangkis pukulannya tersebut, hanya berdiri tersenyumsenyum dengan tenang.

Dia jadi girang, dia yakin, begitu pemuda ini berusaha menangkis, tentu sudah terlambat.

Karena jarak pukulan itu sudah terlalu dekat.

Karena itu, dia memperhebat pukulannya, dia bermaksud dapat merubuhkan Ko Tie dalam sekali hantam saja.

Waktu pukulan itu menyambar lebih dekat, di saat itulah tahu-tahu tubuh Ko Tie telah lenyap dari penglihatan orang tua tersebut.

Gerakannya begitu gesit, sehingga si orang tua itupun jadi kabur matanya, karena dia tidak bisa melihat jelas gerakan Ko Tie.

Tahu-tahu Ko Tie telah berada di belakangnya, dengan tangan kanannya dia menepuk pundak orang tua itu.

Perlahan tepukannya, tapi akibatnya memang luar biasa buat orang tua itu Sambil menjerit keras, tubuhnya terjerunuk ke depan.

Hampir saja dia ambruk rebah di tanah, kalau saja dia tidak cepat-cepat mengendalikan kuda-kuda ke dua kakinya.

Di saat itu ke empat orang tua lainnya, yang kaget melihat kawan mereka telah ditepuk terjerunuk seperti itu, segera juga menjejakkan ke dua kaki mereka, menerjang serentak.

Ilmu pukulan mereka merupakan pukulan yang telengas sekali, yang bisa mematikan.

Tubuh Ko Tie berkelebat-kelebat ke sana ke mari dengan lincah, dan setiap pukulan lawannya dapat dihindarkan dengan mudah.

Malah, setiap kali ada kesempatan dia telah membalas menyerang.

Serangan Ko Tie bukan berupa pukulan, dia cuma menepuk, dan selalu berhasil.

Serangan demi serangan.

Ke empat orang tua itupun telah kena ditepuk pundaknya, dan mereka telah dimusnahkan ilmu silat dan tenaga dalam mereka, seperti orang tua yang pertama itu!

Ke lima orang tua itu berdiri dengan wajah yang pucat dan tubuh yang menggigil.

Tampak mereka berdiam diri dengan mata yang memandang penuh dendam.

Ko Tie juga telah berdiri di depan mereka sambil tertawa mengejek.

"Hanya sebegitu sajakah kepandaian dari anggota-anggota Angkie-pay?"

Ejeknya.

Sedangkan orang yang memakai baju hijau itu memandang tertegun mematung.

Karena dia tidak menyangka betapa hebatnya Ko Tie.

Ke lima tokoh dari Ang-kie-pay, yang diketahuinya memiliki kepandaian yang sangat tinggi, hanya dalam beberapa gebrakan saja.

Dia telah berhasil merubuhkannya.

Malah, bukan sekedar merubuhkannya, juga telah memusnahkan kepandaian dan tenaga dalam mereka.

Dengan demikian, tentu saja membuat orang yang memakai baju hijau itu seperti juga tidak mempercayai apa yang dilihatnya, seakan juga tidak mempercayai apa yang disaksikannya.

Semua itu seperti berada dalam dongeng saja.

Dia hampir tidak bisa mempercayainya, bahwa di dalam rimba persilatan terdapat seorang pemuda yang memiliki kepandaian dan ilmu silat sehebat itu.

Sedangkan Ko Tie telah berkata.

"Kali ini aku masih berlaku murah hati, karena kalian belum pernah berbuat salah kepadaku! Tapi di lain kali, jika aku bertemu dengan kalian dan masih tidak meninggalkan dunia hitam, kalian hemmm, hemmm, hemmm, di waktu itu sudah tidak ada tawar menawar lagi dan kalian harus pulang ke neraka! "

Sekarang kalian pergilah menggelinding dari tuan muda kalian!"

Sambil berkata begitu, Ko Tie memperlihatkan sikap yang bengis dan juga bersungguh-sungguh angker.

Ke lima jago dari Ang-kie-pay itu menghela napas dalam.

Mereka merasakan betapa sekujur tubuh mereka lemas tidak memiliki tenaga apa-apa.

"Tuan, apakah tuan adalah seorang dari ke dua pelajar yang belakangan ini muncul di, dalam rimba persilatan?"

Tanya orang tua yang seorang itu.

"Yaitu pelajar she Bie dan she Un itu?!"

"Sudah kukatakan tadi bahwa kalian tidak sederajat buat menanyakan diriku! Jika kalian tidak mau cepat-cepat angkat kaki menggelinding meninggalkan tempat ini, tuan mudamu tidak akan sungkan-sungkan lagi dan akan mengirim kalian ke neraka.....!"

Setelah berkata begitu, segera juga ia telah melangkah maju.

Muka ke lima orang tokoh Ang-kie-pay yang memang telah pucat itu jadi semakin pucat, dan mereka tanpa berani menanyakan sesuatu lagi telah memutar tubuh dan berlari.

Tapi gin-kang mereka telah lenyap, tubuh mereka tidak bisa diringankan kembali, dengan begitu lari mereka sangat lambat sekali.

Orang yang memakai baju warna hijau tersebut berdiri tertegun beberapa saat lamanya, sampai akhirnya ia menghampiri Ko Tie dengan merangkapkan ke dua tangannya.

Dia membungkukkan tubuhnya memberi hormat, menyatakan terima kasihnya.

"Syukur Siauw-hiap telah menolongiku, jika tidak, niscaya jiwaku telah melayang.....!"

Katanya dengan penuh rasa syukur.

Melihat wajah orang, dan apa yang dilakukannya, Ko Tie mengetahuinya, tentunya orang yang berpakaian serba hijau ini pun bukanlah sebangsa manusia baik-baik, karena itu dia kurang memiliki kesan baik buat orang tersebut.

Walaupun demikian, ia tersenyum tawar, katanya.

"Bangunlah, jangan terlalu banyak peradatan......! Dan dapatkah kau menjelaskan kepadaku, mengapa kalian saling bermusuhan?"

Orang yang berpakaian baju hijau tersebut, telah menceritakannya.

Ia menjelaskan bahwa ia sesungguhnya berasal dari Hauw-sim-pay, di mana dia memang merupakan orang-orang yang menjagoi di Bu-ciu ini, selama puluhan tahun.

Akan tetapi disebabkan memang di saat belakangan ini pihak Angkie-pay hendak mengembangkan sayap dan pengaruh di Bu-ciu, karena itu, menyadarinya, mereka jika berusaha saja pihak menentangnya.

Ang-kie-pay Mereka berhasil mengembangkan sayap dan kekuasaan di Bu-ciu, niscaya akhirnya Hauw-sim-pay akan terdesak.

Itulah sebabnya, Pangcu Hauw-sim-pay telah perintahkan kepada anak buahnya, untuk menggagalkan pertemuan dalam bentuk pesta yang diselenggarakan oleh pihak Ang-kie-pay, karena dengan menyelenggarakan pestanya itu, Ang-kie-pay memang bermaksud hendak mengunjukkan gigi dan pengaruh.

Tapi sayangnya, orang-orang Ang-kie-pay justeru merupakan orang-orang yang memiliki kepandaian tinggi.

Di samping itu juga memang mereka telah mengadakan penjagaan yang kuat.

Dengan demikian telah membuat orang-orang Hauw-sim-pay jadi dapat dirontokan.

Maksud mereka yang semula hendak membobolkan kapal di mana terdapat para tokoh dari Ang-kie-pay, dapat digagalkan, bahkan mereka telah dibinasakan, yang tinggal hanyalah orang yang mangenakan baju hijau tersebut.

Beruntung saja Ko Tie telah turun tangan menolonginya.

Jika tidak, tentu diapun telah dikirim ke neraka oleh orang-orang Ang-kie-pay.

Itulah sebabnya, betapa ia sangat bersyukur sekali kepada Ko Tie yang telah menyelamatkan dirinya.

Di waktu itu Ko Tie sambil mendengarkan cerita orang berpakaian serba hijau tersebut, juga berpikir.

"Hemm, baik Ang-kie-pay maupun Hauw-sim-pay, ke duanya merupakan perkumpulan manusia-manusia tidak benar. Kare¬na itu, aku tidak boleh berdiri di tengah-tengah mereka membela salah satu pihak.....

"Walaupun bagaimana, memang aku justeru harus membubarkan mereka, ke dua golongan itu. Cuma saja, Ang-kie-pay tampaknya memiliki orang-orang yang berkepandaian tinggi dalam jumlah tidak sedikit. Rupanya lebih sulit untuk menghancurkannya dibandingkan dengan Hauw-sim-pay."

Sambil berpikir begitu, terlihat betapa Ko Tie telah menganggukangguk beberapa kali. Kemudian dengan sikap yang angker, dia bilang.

"Baiklah! Kau boleh pulang ke markasmu. Katakan kepada ketuamu bahwa aku akan datang menemuinya! Aku harap kalian membubarkan diri dan selanjutnya tidak mengunjuk gigi lagi di Buciu ini! Siapa yang membandel, hemmm, hemmm, aku tidak akan segan-segan membasmi kalian……!"

Sambil berkata begitu, Ko Tie berdiri tegak dengan sikap yang angker sekali.

Dengan demikian membuat orang berbaju hijau tersebut tidak berani menantang tatapannya, dia hanya menunduk dan mengiyakan beberapa kali.

Semula orang berpakaian hijau dari Hauw-sim-pay tersebut girang bukan main.

Ia menyangka bahwa Ko Tie akan membela pihaknya.

Siapa sangka justeru pemuda itu perintahkan kepadanya agar menyampaikan kepada ketuanya bahwa Hauw-sim-pay harus dibubarkan, karena itu dia jadi kecele.

Namun dia mengetahui bahwa pemuda itu memang memiliki kepandaian yang tinggi dan sangat lihay, maka ia tidak berani membantah sepatah perkataan pun juga, biarpun ia tidak puas.

Dikala itu, dari kejauhan mendatangi tiga sosok tubuh, yang gerakannya sangat ringan.

Begitu cepat mereka mendatangi, dan malah salah seorang di antara mereka telah membentak bengis sekali.

"Mana pemuda she Bie itu……!"

Rupanya, ke lima orang tokoh dari Ang-kie-pay telah kembali di tengah-tengah kawan mereka dan menceritakan apa yang mereka alami.

Juga mereka menyampaikan dugaan mereka bahwa Ko Tie adalah salah seorang dari ke dua pemuda yang menggemparkan rimba persilatan sebagai Bie Siauw-hiap dan Un Siauw-hiap itu.

Dan dugaan jatuh bahwa Ko Tie adalah yang disebut Bie Siauwhiap itu.

Karena itu, Pangcu dari Ang-kie-pay segera mengutus tiga orang tokoh Ang-kie-pay buat mengurus Ko Tie.

Ia tidak leluasa pergi sendiri, karena dia tengah pesta dan juga mendampingi banyak sekali tamu-tamunya, yang terdiri dari para tokoh rimba persilatan.

Ke tiga orang itu dengan cepat sekali telah sampai di depan Ko Tie.

Orang dari Hauw-sim-pay yang belum lagi angkat kaki, jadi batal buat pergi, karena dia sangat ingin buat menyaksikan pertempuran antara orang-orang Ang-kie-pay dengan Ko Tie, yang pasti terjadi.

Di waktu itu Ko Tie berdiri tenang di tempatnya.

Dia hanya mengeluarkan suara mendengusnya beberapa kali.

"Hemmm! Hemmm! Hemmm!!"

Dilihatnya ke tiga orang tokoh Ang-kie-pay yang baru datang adalah tiga orang Tojin, yang berpakaian sangat rapih dan bersih.

Usia mereka telah lanjut sekali, mungkin tujuhpuluh tahun lebih.

Merekalah kakak-kakak seperguruan dari Oey Tojin.

"Hemmm jadi engkau yang telah membunuh Oey sute kami?"

Kata salah seorang Tojin, yang usianya paling tua, dengan suara dan sikap yang bengis. Dengan berani Ko Tie mengangguk.

"Apakah yang kalian maksudkan adalah tosu bau ini?!"

Sambil Ko Tie menunjuk kepada mayat Oey Tojin.

Bola mata ke tiga orang tosu itu mencilak-cilak memain tidak hentinya, betapa murkanya mereka.

Dan segera juga terlibat bahwa salah seorang di antara mereka berkata.

"Kau terlalu tekabur, bocah busuk……"

Sambil berkata begitu, cepat sekali ke dua tangannya bergerak.

Kagum juga Ko Tie menyaksikan cepatnya gerakan tangan tosu yang seorang mempergunakan ini, terlebih lweekang lagi yang ia menyerang dahsyat, sehingga dengan angin serangannya halus sekali, namun tajam dan kuat sekali, berkesiuran kepada Ko Tie.

Ko Tie dengan sigap telah mengelak.

Sedangkan ke dua tosu lainnya tidak tinggal berdiam diri saja.

Mereka segera juga telah bergerak buat membantu saudara seperguruan mereka dan mendesak Ko Tie.

Benar-benar Ko Tie lihay karena biarpun dia dikepung oleh ke tiga orang Tojin yang masing-masing memiliki kepandaian tinggi, namun dia bisa menghadapinya dengan baik.

Dia telah mengelakkan diri ke sana ke mari.

Selama itu Ko Tie tidak membalas menyerang, karena memang dia sengaja mengelak saja untuk bisa melihat berapa tinggi kepandaian ke tiga Tojin ini.

Setelah bergerak lima kali, melewati enam jurus dari ke tiga orang lawannya, di waktu itulah segera Ko Tie dapat mengambil kesimpulan bahwa kepandaian dari ke tiga orang lawannya ini yang berada di atas Oey Tojin, karena itu tidak terlalu mengherankan jika ke tiga orang lawan ini memang jauh lebih hebat, dan juga jauh lebih sulit untuk dirubuhkan dalam waktu yang singkat.

Terlihat betapa ke tiga Tojin itu bernafsu sekali untuk menyerang kepada Ko Tie.

Setiap kali tangan mereka itu menyambar, maka berkesiuran angin yang hebat sekali!

Di kala itu, Ko Tie dengan segera merobah cara bertempurnya.

Dia memutar ke dua tangannya, yang segera memancarkan angin serangan yang mengandung hawa dingin luar biasa, yang menyelubungi tubuhnya.

Ketiga Tojin itu kaget tidak terkira, karena segera juga mereka merasakan diri mereka menggigil kedinginan.

Karena semakin dekat dengan Ko Tie mereka merasa semakin kedinginan, seperti juga memasuki kolam es.

Karena itu cepat-cepat mereka mengerahkan tenaga dalam, agar tubuh mereka hangat dan melawan hawa yang dingin itu.

Mereka berhasil, karena memang mereka memiliki lweekang tinggi.

Mereka berhasil membuat tubuh mereka menjadi hangat.

Dalam keadaan seperti itulah terlihat Ko Tie memperhebat pukulannya.

Dia menambah hawa dingin yang tersalur pada setiap serangannya.

Ke tiga Tojin itu kembali merasakan tubuh mereka menggigil dingin.

"Setan, bocah busuk ini mempergunakan ilmu siluman apa?!"

Berpikir mereka bertiga yang jadi heran dan bingung sekali.

Karena mereka tidak bisa menduganya.

Entah ilmu apa yang dipergunakan oleh Ko Tie, sehingga dia bisa membuat ke tiga Tojin itu menggigil kedinginan, sedangkan ke tiga Tojin itu melihat usia Ko Tie masih muda sekali, dan dia memiliki sin-kang yang begitu hebat, tentunya sangat mengherankan sekali.

Dikala itu tampak Ko Tie telah melesat ke tengah udara.

Dia melambung tinggi sekali ke tengah udara, dan sekonyong-konyong dia telah membentak dengan suara yang nyaring.

"Rebahlah kalian!"

Waktu membentak begitu, cepat luar biasa ke dua tangan Ko Tie telah berkelebat.

Dan di waktu itulah terlihat betapa tubuh ke tiga orang Tojin tersebut seperti diterjang oleh angin pukulan yang sangat dahsyat, dan telah membuat mereka hampir terjengkang.

Beruntung sekali, mereka cepat-cepat dapat mengerahkan tenaga dalam pada ke dua kaki mereka, memperkokoh kuda-kuda kaki mereka masing-masing, membuat mereka tidak perlu sampai terjungkal karena sampokan tenaga dalam Ko Tie.

Ko Tie telah meluncur turun, sedangkan ke tiga Tojin itu memencarkan diri di tiga jurusan.

Mereka telah merobah cara mendesak dan menyerang Ko Tie, karena mereka sekarang tidak merangsek dengan serentak seperti tadi.

Mereka bergiliran.

Jika yang seorang di antara mereka tengah menyerang, maka yang dua lagi tidak menerjang.

Dan begitu yang seorang telah melompat mundur, barulah mereka menerjang maju secara bergantian.

Dengan cara seperti itu membuat Ko Tie tidak bisa sekaligus mengerahkan tenaga Inti Es nya, karena dia tidak bisa sembarangan hanya mencurahkan perhatiannya buat seorang lawan saja.

Dia telah bertempur dengan seru sekali.

Selama itu Ko Tie memaksa ketika Tojin itu tidak bisa datang dekat karena hawa dingin yang luar biasa kuatnya terpancar dari tubuh Ko Tie.

Orang dari Hauw-sim-pay, yang memakai baju hijau itu, ketika menyaksikan jalannya pertempuran itu, jadi bengong.

Karena seumur hidupnya belum pernah dia menyaksikan pertempuran sehebat itu!

Dengan demikian telah membuat orang itu tertegun mementang matanya lebar-lebar dan mulut terbuka lebar.

Setelah lewat sepuluh jurus lagi, Ko Tie menjejakkan ke dua kakinya, tahu-tahu tubuhnya melesat ke sana ke mari dengan lincah sekali, seperti juga bayangan.

Ke tiga orang Tojin itu jadi bingung bukan main, karena mereka tidak bisa menerka di mana beradanya Ko Tie yang sebenarnya.

Maka dari itu, mereka tidak bisa mendesak dengan serangan mereka yang sesungguhnya.

"Bocah setan!"

Teriak salah seorang di antara ke tiga Tojin itu.

"Jika memang engkau gagah, mari bertempur dengan cara berterang. Mengapa engkau seperti main kucing-kucingan dengan kami?"

Ko Tie tertawa nyaring, dia menantang.

"Jika memang kalian memiliki kepandaian yang tinggi, ayo keluarkanlah, biarlah tuan muda kalian melihatnya!"

Sambil berkata begitu, Ko Tie telah mengeluarkan ilmu pukulan Inti Es nya yang jauh lebih hebat lagi.

Dengan demikian memaksa ke tiga Tojin itu mengeluarkan seruan kaget dan melompat mundur empat tindak.

Mereka merasakan tubuh mereka dingin sekali.

Mereka tidak berhasil buat mempertahankan diri agar tidak menggigil, karena di waktu itu mereka telah menggigil sangat keras, juga merasakan betapa jalan darah di sekujur tubuh seperti beku, membuat tangan dan kaki mereka tidak bisa bergerak leluasa.

Mereka telah mundur lagi beberapa tindak.

Karena memang di waktu itu mereka menyadari, jika saja Ko Tie menyerang pula, niscaya mereka akan tidak sanggup untuk mempertahankan diri.

Di dalam keadaan seperti itu Ko Tie sudah tidak mau membuangbuang waktu.

Dikala ke tiga orang lawannya tengah mundur menjauhi diri, maka tubuh Ko Tie berkelebat ke sana ke mari.

Dia berhasil menepuk pundak ke tiga Tojin itu bergantian, dengan tepukan yang perlahan.

Itulah tepukan yang membuat ke tiga Tojin itu jadi terjungkel rubuh lantas tidak bertenaga, tulang-tulang di sekujur tubuh mereka berbunyi, menunjukkan bahwa lweekang mereka telah musnah dan ilmu silat mereka telah habis ludas.

Dengan demikian membuat mereka terduduk lemas dengan muka yang pucat pias.

Ko Tie berulang kali telah merubuhkan orang-orang Ang-kie-pay dengan begitu mudah, benar-benar membuat orang dari Hauwsim-pay semakin tunduk dan kagum bukan main, disamping sangat gentar.

Usia Ko Tie masih begitu muda, tetapi dia bisa menyerang lawannya dengan hebat, di dalam waktu singkat selalu dapat merubuhkan tokoh-tokoh dari Ang-kie-pay dan ilmu silat Ko Tie memang tinggi luar biasa.

Dengan demikian telah membuat orang yang berpakaian baju hijau ini tidak berani berdiam terlalu lama lagi di situ.

Ia kuatir nanti Ko Tie merobah pikirannya dan memusnahkan Ilmu silatnya, seperti yang dialami oleh tokoh-tokoh dari Ang-kie-pay tersebut, membuat orang yang berpakaian hijau itu melarikan diri meninggalkan tempat tersebut.

Dikala itu tampak Ko Tie berdiri dengan bertolak pinggang, mengawasi ke tiga Tojin itu.

"Hemmm, kalian belum pernah berbuat salah kepadaku. Hari ini tuan mudamu berlaku murah hati, hanya memusnahkan ilmu silat kalian! Tapi jika memang kalian tidak mau insyaf, hemmm, dilain waktu tentu aku akan mengirim kalian ke neraka!"

Setelah berkata begitu, Ko Tie menjejakkan kakinya, tubuhnya ringan sekali melesat lenyap dari tempat itu.

Ke tiga Tojin itu duduk bengong, mata mereka mengeluarkan air mata, karena mereka berduka dan penasaran bukan main.

Berduka karena mereka menyadari bahwa ilmu silat mereka telah dimusnahkan oleh Ko Tie, berarti mereka akan menjadi manusiamanusia tidak punya guna di waktu-waktu mendatang.

Penasaran, mereka dirubuhkan dengan mudah oleh pemuda itu.

Padahal si pemuda masih berusia begitu muda.

Sungguh membuat mereka penasaran tidak terkira.

Sedangkan Ko Tie telah kembali duduk di tempatnya semula, yaitu di samping Giok Hoa.

Pertandingan di atas panggung tengah berlangsung antara dua orang pemuda yang berusia tigapuluh tahun lebih!

Mereka tidak mempergunakan senjata tajam, hanya menggerakkan kepalan tangan belaka, mengandalkan kekuatan tenaga dalam mereka.

Tampaknya mereka bertempur dengan keras dilawan keras.

Ko Tie mengerutkan alisnya waktu melibat cara bertempur ke dua orang itu, karena mereka mempergunakan ilmu silat yang sesat dan juga setiap pukulan mereka telengas sekali.

"Hemmm, benar dugaanku bahwa yang berkumpul di sini umumnya terdiri dari manusia-manusia sesat yang memiliki ilmu sesat dan juga telengas serta kejam hatinya!"

Pikir Ko Tie kemudian.

Dia menoleh kepadi Giok Hoa, yang waktu itu tengah menyaksikan jalannya pertempuran dengan mata yang setengah meram dan setengah melek, tampaknya mengantuk karena pertarungan yang tidak menarik hati itu.

"Kau sudah kembali? Siapa yang telah kau hajar?"

Tanya Giok Hoa waktu merasa dirinya diawasi si pemuda, dia tersenyum kecil. Ko Tie telah menyahuti sambil tersenyum.

"Nanti, engkau akan mengetahuinya, karena memang aku telah memberikan hajaran kepada tokoh-tokoh dari Ang-kie-pay……"

Si gadis mengangguk saja, sama sekali dia tidak mendesaknya.

Di waktu itu terlihat betapa orang-orang Ang-kie-pay jadi sibuk sekali.

Ke tiga orang Tojin itu telah kembali dan telah memberikan laporan kepada ketuanya.

Mata Pangcu, atau ketua dari Ang-kiepay menyebar orang-orangnya buat mencari jejak dari Ko Tie.

Dan memang tidak lama, segera ada beberapa orang di antara mereka yang mengenali Ko Tie, karena salah seorang di antara yang mengenalinya adalah ke lima tokoh Ang-kie-pay yang sebelumnya telah dimusnahkan ilmu silatnya.

"Itu dia.....!"

Berteriak orang itu dengan suara yang nyaring.

Semua mata menoleh dan memandang Ko Tie, sedangkan Ko Tie tersenyum, tawar, tahu-tahu tubuhnya melesat sangat cepat melayang di tengah udara.

Dia telah hinggap di atas panggung dengan ringan sekali tanpa mengeluarkan suara.

Dan cara hinggapnya juga luar biasa, karena tubuhnya berjumpalitan beberapa kali di tengah udara, dan tanpa turun terlebih dulu di tanah, dia hanya sekali saja menjejakkan kakinya, tubuhnya telah sampai di lantai panggung.

Ke dua orang pemuda yang tengah bertempur itu tampaknya terkejut.

Mereka menghentikan gerakkan tangan mareka.

Belum lagi mereka mengetahui apa yang terjadi, di waktu Ko Tie telah memegang lengan mereka.

Sekali menghentak, maka tubuh ke dua pemuda tersebut terlempar ke tengah udara keluar dari panggung!

Ke dua pemuda itu sesungguhnya memiliki ilmu silat yang cukup tinggi di kalangan pendekar muda.

Namun mereka begitu mudah dicekal tangannya, tanpa berdaya buat mengelakkan.

Bahkan di waktu itu tubuh mereka telah dilontarkan begitu macam, membuat mereka kaget tidak terkira.

Sampai mereka mengeluarkan seruan nyaring, karena mereka menyadari, niscaya tubuh mereka akan terbanting di tanah dengan keras, sedikitnya tulang lengan atau kaki mereka akan patah!

Orang-orang yang hadir di tempat tersebut juga jadi kaget tidak terkira, karena mereka melihat tubuh ke dua pemuda itu terlambung tinggi sekali ke tengah udara.

Mereka kuatir kalaukalau pemuda-pemuda tersebut terbanting dengan hebat.

Namun Ko Tie melontarkan ke dua pemuda itu dengan penuh perhitungan.

Ia telah memperhitungkan tenaga melontar yang benar-benar telah mahir sekali, karena tubuh ke dua pemuda itu meluncur turun dan tahu-tahu jatuh terduduk di dua kursi!

Sama sekali mereka tidak mengalami cidera apa-apa!

Semua orang tertegun takjub dan kagum bukan main.

Ko Tie memperlihatkan betapa mahirnya tenaga dalam pemuda itu, yang dapat melontarkan ke dua pemuda itu sedemikian baiknya.

Di waktu itu juga terlihat orang-orang dari Ang-kie-pay melompat naik ke atas panggung, karena mereka bermaksud hendak mengepung Ko Tie.

Sedangkan Ko Tie telah berseru nyaring.

Dia melompat ke tengah panggung, sikapnya tenang sekali.

Ia merangkapkan ke dua tangannya kepada hadirin, sambil memberi hormat ia bilang.

"Maaf, siauwte telah mencampuri urusan ini, dimana siauwte lancang ingin membuat pesta yang diselenggarakan oleh pihak Ang-kie-pay menjadi pesta yang sungguh-sungguh menggembirakan, bukannya pesta yang banjir darah, seperti yang dikehendaki oleh Pangcu dari Ang-kie-pay!"

Setelah berkata begitu, di saat semua hadirin memperlihatkan sikap terkejut, Ko Tie memperlihatkan sikap bersungguh-sungguh dan mukanya berobah angker dan keren.

Dia juga berkata dengan suara yang berobah keras.

"Pangcu Ang-kie-pay, kuharap mau memperlihatkan diri, guna mempertanggung jawabkan maksud dan rencana busuknya itu!"

Waktu itu telah melompat ke atas panggung belasan orang anggota Ang-kie-pay, di tangan mereka semuanya siap tercekal senjata tajam.

Mereka mengepung Ko Tie.

Kemudian telah melompat ke atas panggung seorang Tojin, yang mukanya guram memancarkan kemarahan.

Dia berusia lanjut sekali, juga rambutnya telah memutih semua, kumis dan jenggotnya yang tumbuh panjang tipis itu berwarna putih juga.

Tubuhnya kurus tinggi semampai, tapi sinar matanya yang bersinar sangat tajam memperlihatkan bahwa ia merupakan seorang Tojin yang memiliki kepandaian tinggi sekali.

Dengan mata yang tetap memancarkan sinar yang tajam, dan langkah kaki yang perlahan-lahan, dia telah melangkah menghampiri kepada Ko Tie.

Diapun mengibaskan tangannya, memberikan isyarat kepada anggota Ang-kie-pay agar mundur, guna dia sendiri yang menghadapi Ko Tie.

Anggota-anggota Ang-kie-pay segera mundur, mereka berdiri di pinggiran panggung, dan mereka tetap bersiap-siap penuh kewaspadaan, karena mereka akan menerjang maju untuk mengeroyok begitu Tojin ini terdesak.

Dengan muka yang tetap guram memancarkan kemarahan, Tojin itu telah berkata.

"Bocah, engkau yang telah melukai sute-sute pinto, bukan?!"

Ko Tie berani sekali.

"Ya!"

Mengangguk pemuda ini.

"Masih beruntung mereka tidak kukirim ke neraka! Manusia-mamusia jahat seperti mereka untuk apa dibiarkan hidup..... hanya berdasarkan pertimbangan dan rasa kasihan dari tuan mudanya belaka, mereka bisa dibiarkan hidup!"

"Mereka dengan kau tidak ada hubungan atau sangkutan apapun juga, bocah, mengapa engkau menurunkan tangan begitu telengas dan telah memusnahkan seluruh kepandaian mereka? Bukankah itu tindakan yang keterlaluan?"

Bengis sekali suara tojin tua, tojin tersebut. Tubuhnya yang kurus tinggi semampai itu berdiri dengan sikap yang angker, lalu dia telah meneruskan lagi kata-katanya.

"Pinto Bian Kie Tojin, dengan ini hendak menuntut keadilan buat mereka……!"

Ko Tie tertawa tawar.

"Baik! Baik! Memang maksud Ang-kie-pay menyelenggarakan pesta ini buat menjagoi wilayah Bu-ciu, dan juga mengembangkan kekuasaan dan pengaruh. Jelas ia telah memiliki banyak sekali jago-jagonya yang bisa diandalkannya, termasuk seperti engkau! Dan aku tentu saja tidak keberatan untuk melihat, betapa tinggi kepandaian dari jago-jago andalan Ang-kie-pay....."

"Sebutkan namamu dan gurumu…… aku tidak akau membunuh orang tanpa nama!"

Kata tojin tersebut dengan sikap yang angkuh dan muka yang tetap guram sekali.

"Pinto juga akan mempertimbangkan, apakah engkau cukup untuk dibikin bercacad saja atau memang dibinasakan, guna menebus dosa-dosamu……!" Setelah berkata begitu, tanpak Tojin ini menggerakkan hud-timnya, kebutannya untuk memperlihatkan bahwa ia segera akan menyerang. Ko Tie tidak gentar, walaupun ia melihat, Bian Kie Tojin merupakan seorang tosu yang memiliki kepandaian tidak rendah. Dia tertawa, katanya.

"Baik! Baik! Kau mulailah! Tuan mudamu akan melayani apa keinginanmu! Hemmm, engkau tidak berderajat untuk mengetahui dan menanyakan nama guruku, juga kau tidak cukup berharga buat mengetahui namaku."

Bukan kepalang marahnya Bian Kie Tojin karena itulah penghinaan terhebat dalam seumur hidupnya.

Dia seorang tosu yang lihay sekali, di dalam rimba persilatan dia memang sangat terkenal dan disegani oleh orang-orang rimba persilatan, baik dari aliran hitam maupun putih, karena bertangan telengas dan berhati kejam.

Sekarang seorang pemuda seperti Ko Tie berani meremehkan dirinya.

Tentu saja ia jadi murka bukan main, sedangkan tokohtokoh rimba persilatan jika berhadapan dengannya, akan menghormat sekali padanya.

"Bocah, kau benar-benar, mencari mampus!"

Katanya dengan suara dan sikap yang bengis, dibarengi dengan tubuhnya yang melompat sangat lincah sekali, juga kebutannya telah bergerak, akan menghantam kepala si pemuda.

Hud-tim di tangan tojin itu memang lihay, karena ia memiliki lweekang yang tinggi sekali.

Dengan demikian dia bisa menyalurkan tenaga dalamnya itu pada hud-timnya dengan sekehendak hati.

Dia bisa membuat hud-tim itu menjadi lunak, bisa membuatnya jadi keras seperti baja, bisa dipergunakan buat melibat senjata lawan, tetapi juga bisa dipergunakannya sebagai palu.

Dengan demikian jelas akan membuat lawan yang berkepandaian tanggungtanggung, akan dapat dirubuhkannya dengan mudah.

Di waktu itu Ko Tie berdiri tegak di tempatnya.

Sama sekali tidak terlihat tanda-tanda bahwa ia akan berkelit dari sambaran senjata lawan.

Malah dia telah tersenyum mengejek, kemudian membarengi dengan itu, diapun telah berseru nyaring, sambil tangannya dikibaskan.

Bian Kie Tojin merasakan tangannya tergetar, dimana telapak tangannya dirasakan sakit bukan main sampai dia hampir saja tidak bisa mencekal terus hud-timnya, yang hampir terlepas dari cekalannya itu.

Namun betapapun juga, Bian Kie Tojin merupakan seorang tosu yang memiliki kepandaian terlatih baik.

Walaupun kaget, tokh dia tidak menjadi gugup dan gusar.

Dengan segera dia bisa memperbaiki dirinya, untuk mencekal lebih kuat lagi hud-timnya, malah waktu itu, di saat tubuhnya akan terdorong mundur, dia telah menarik pulang tangannya.

Hudtimnya tahu-tahu ditundukkan ke bawah, menabas ke perut Ko Tie.

Gerakan yang dilakukannya itu merupakan gerakan yang sulit diikuti oleh pandangan manusia biasa, karena jika saja kurang awas, tentu tidak akan bisa melihat gerakan hud-tim itu.

Dengan demikian, tentu akan membuat orang yang diserangnya itu mudah sekali akan terhantam oleh hud-tim pendeta itu.

Tapi Ko Tie, dia sama sekali tidak gentar menghadapi serangan seperti itu.

Malah, ketika hud-tim lawan hampir mencapai sasaran, cepat sekali dia menjejakkan ke dua kakinya, tubuhnya tahu-tahu telah lenyap dari pandangan mata Tojin itu.

Tidak kepalang kagetnya Tojin itu, dia sampai menjerit kaget, dan tahu-tahu Ko Tie telah berada di belakangnya.

Penasaran, takjub dan kagum, dicampuri juga dengan kemarahan yang bukan main.

Tampak tojin itu telah membalikkan tubuhnya.

Dia telah menghantam lagi, dengan hud-timnya, karena dia telah mau memberikan kesempatan pada Ko Tie untuk balas menyerang padanya.

Namun, dia terlambat.

Belum lagi hud-timnya mengenai sasarannya, Ko Tie telah lenyap pula dari pandangan matanya, sehingga dia kehilangan sasarannya.

Sedangkan Ko Tie telah berada di belakangnya, malah Ko Tie telah mendengus "Hemmm!"

Perlahan, membuat tojin itu tambah kaget tidak terkira.

Segera dia memutar tubuhnya.

Berulang kali terjadi begitu, dimana selalu pula Ko Tie lenyap dari hadapannya, dan dia tahu-tahu telah berada di belakang dari tojin itu.

Karena kuatir Ko Tie menyerangnya jika dia tidak memutar tubuhnya, membuat Tojin tersebut harus berputar-putar tidak hentinya.

Iapun jadi berkuatir, sebab jika bertempur terus dengan sendirinya, disamping kehabisan tenaga, juga akan membuat dia rubuh karena letih.

Matanya juga mulai kabur berkunang-kunang.

Di waktu itu tampak jelas bahwa Ko Tie memang sengaja ingin mempermainkan tojin yang galak itu.

Dia telah memperlihatkan kelincahannya yang menakjubkan.

Tojin itu pun diam-diam di dalam hatinya mengeluh, karena dia menyadari bahwa ia memang bukanlah tandingan Ko Tie.

Hanya saja, disebabkan telah terlanjur ia bicara besar tadi, untuk berhenti menyerang tentu saja tidak mungkin dilakukan, pamornya akan lenyap dan juga nama besarnya yang selama ini telah dimilikinya akan runtuh.

Karena itu ia segera mengempos seluruh semangatnya dan mengeluarkan semua kepandaiannya, untuk berusaha menyerang sehebat mungkin kepada Ko Tie.

Tapi tetap saja tubuh Ko Tie melesat ke sana ke mari dengan lincah, sehingga ia berputar semakin cepat juga untuk mengikuti gerakan Ko Tie, membuat kepala tosu itu jadi pusing sendirinya dan matanya mulai berkunang-kunang.

Dikala itu Ko Tie sendiri merasa telah cukup mempermainkan tosu itu.

Waktu ia sekali lagi mencelat ke belakang tosu itu, ia telah menepuk jalan darah Bi-ku-hiat, di bagian leher seketika tojin itu lemas tidak bertenaga lagi.

Tubuhnya juga ambruk di lantai panggung.

Mukanya meringis dengan kulit muka berkerut-kerut, dan matanya mendelik, dari mulutnya mengeluarkan busa.

Semua orang yang menyaksikan apa yang terjadi itu jadi memandang tertegun.

Untuk sejenak lamanya sunyi sekali keadaan di tempat itu.

Barulah kemudian belasan orang anggota Ang-kie-pay tersadar, mereka membentak nyaring dan senjata mereka digerakkan serentak menyerang Ko Tie.

Ko Tie mendengus mengejek, tubuhnya melesat berkelebatkelebat ke sana ke mari, sepasang tangannya digerakkan berulang kali, terdengar suara "tranggg, tranggg,"

Disusul juga oleh suara jeritan beruntun saling susul dari anggota-anggota Ang-kie-pay tersebut, yang semuanya rubuh terguling di lantai panggung.

Mereka semuanya dalam keadaan tertotok!

Itulah kepandaian yang langka dan jarang sekali dapat disaksikan, karena hebatnya pemuda ini.

Senjata dari belasan urang anggota Ang-kie-pay telah dapat direbut oleh Ko Tie, yang kemudian melancarkannya.

Belasan batang golok dan pedang telah berkesiuran menyambar tiang panggung, menancap dalam sekali!

Itupun cara menimpuk yang benar-benar hebat.

Sedangkan waktu itu terlihat Ko Tie merangkapkan ke dua tangannya memberi hormat kepada hadirin, dia bilang.

"Maafkan siauwte mengambil tindakan keras ini dengan terpaksa karena Ang-kie-pay merupakan perkumpulan dari manusiamanusia siluman yang jahat sekali! Mereka bermaksud hendak mencelakai orang-orang gagah dari Bu-ciu.

"Dengan mengembangkan pengaruh mereka hendak menumpas seluruh orang yang menantang mereka! Karena terpaksa siauwte turun tangan……!"

Hadirin berbisik-bisik, dan sejenak lamanya suasana di saat itu terdengar tadi berisik sekali.

Ko Tie membiarkan sikap dari orangorang tersebut, ia cuma berdiri dengan sikap yang gagah dan keren.

Kemudian terlihat Ko Tie juga telah berkata pula, setelah keadaan meredah.

"Dengarlah kedatangan siauwte mencampuri urusan ini, karena siauwte menginginkan Ang-kie-pay membubar diri!" "Tidak mudah!"

Tiba-tiba terdengar bentakan nyaring dari dalam kapal besar di telaga telah melesat dua sosok tubuh, gerakannya sangat ringan sekali.

Dialah seorang tua yang berusia di antara limapuluh tahun, sedangkan yang seorangnya lagi adalah seorang pemuda berusia tigapuluh tahun.

Yang berseru begitu adalah orang tua itu.

Dan mereka hinggap di lantai panggung dengan gerakan yang indah sekali.

"Tidak mudah bocah! Kau jangan bermimpi!"

Ko Tie tersenyum.

"Tentunya anda adalah Pangcu dari Ang-kie-pay, bukan?!"

Tanyanya tawar.

"Tidak salah! Aku adalah Mo Siang Liang?"

Menyahuti orang tua itu, yang matanya melotot mengawasi bengis.

"Akulah pangcu Ang-kie-pay! Nah, sekarang aku ingin minta pengajaran dari kau si mulut congkak dan besar!"

Rupanya orang tua yang mengaku dirinya sebagai pangcu atau ketua dari Ang-kie-pay itu terlalu murka.

Ia tidak membuang-buang waktu lagi.

Sepasang tangannya diulurkan.

Hebat sekali.

Pada sepuluh jari tangannya itu terlihat kuku-kukunya yang panjang dan berwarna hitam.

Ko Tie segera dapat menduganya, tentu kuku-kuku jari tangan dari orang itu sangat beracun dan ganas sekali.

Segera dia mengelak, di waktu itulah dengan ringan melesat ke samping.

Namun Mo Siang Liang rupanya telah dapat menduga gerakan yang akan dilakukan Ko Tie, sebab dia sama sekali tidak menarik pulang ke dua tangannya, dengan mendengus.

"Hemmm!"

Dia terus juga melesat ke samping menuju ke sasarannya. Ko Tie kagum juga melihat kegesitan pangcu Ang-kie-pay ini. Diam-diam dia berpikir.

"Hemmmm, pantas ia memang memiliki kepandaian yang tinggi."

Dan diapun tidak sungkan lagi, segera tangan kirinya bergerak berputar untuk melindungi dirinya, di waktu itu tangan kanannya menghantam dengan ilmu pukulan Inti Esnya.

Mo Siang Liang yang tengah menerjang dengan murka dan mengerahkan tenaga dalam sepenuhnya jadi kaget.

Karena ia merasakan angin pukulan pemuda ini dingin sekali, membuat dia menggigil.

Tapi ia memang memiliki kepandaian dan sin-kang yang kuat.

Ia bisa mempertahankan dirinya tidak sampai terhuyung mundur karenanya, malah ia cepat menutup diri.

Dia kemudian melangkah mundur dua tindak, dengan muka bengis ia menegur.

"Masih ada hubungan apa kau dengan Swat Tocu?!"

Ditanya begitu, Ko Tie terdiam juga.

Ia heran pangcu dari Ang-kiepay ini mengenal gurunya.

Hanya sekali gebrak saja, dan dapat menduga bahwa Ilmu pukulan yang dipergunakannya adalah ilmu pukulan Inti Es.

"Hemmm, tidak ada harganya kau membicarakan guruku, karena engkau tidak berderajat untuk menanyakan dirinya!"

Menyahuti Ko Tie kemudian. Di waktu itu dengan muka yang merah padam, tampak Mo Siang Liang berkata dingin.

"Hemmm, tidak tahunya murid Swat Tocu! Bagus! Bagus! Sekarang coba kau pergunakan lagi ilmu pukulan Inti Es itu……!"

Setelah berkata begitu, sepasang tangan Pangcu dari Ang-kie-pay melayang beruntun lima jurus dan merangsek hebat sekali.

Ko Tie tertawa dingin, benar-benar dia mempergunakan lagi ilmu pukulan Inti Esnya.

Namun pemuda ini kali ini terkejut, karena ilmu pukulan Inti Es-nya seperti tidak mempengaruhi apa-apa pada pangcu dari Ang-kiepay tersebut.

Karena Mo Siang Liang terus juga merangsek maju.

Untung Ko Tie cepat sekali dapat merobah cara menyerangnya.

Sekali ini ia telah mengeluarkan sin-kang dan merobah cara menyerangnya itu dengan hantaman yang kuat sekali dengan dua jurus sekaligus.

Tangan mereka saling bentur.

Keras dilawan keras, suara benturan tangan mereka terdengar nyaring sekali.

Di waktu itulah terlihat betapapun juga memang Ko Tie bermaksud ingin mencoba kekuatan tenaga dalam dari lawannya ini.

Mo Siang Liang memang hebat dan tinggi lweekangnya.

Dia tidak mundur oleh tangkisan Ko Tie, malah ke dua tangannya bergerak sebat sekali.

Kuku-kuku jari tangannya hendak mencengkeram tangan Ko Tie.

Kuku dari jari-jari tangannya mengandung racun yang hebat, daya kerjanya sangat cepat sekali.

Sekali saja kuku-kuku itu terbenam dalam daging Ko Tie, niscaya pemuda ini akan keracunan hebat.

Ko Tie juga tidak mau jika ia harus terkena cengkeraman itu.

Dengan gerakan yang sangat manis, ia menarik pulang tangannya, sehingga sepasang tangannya seperti juga licin, tahu-tahu telah berhasil ditarik pulang.

Dan Ko Tie mempergunakan gin-kangnya, tahu-tahu melompat ke belakang pangcu Ang-kie-pay dan ia bermaksud hendak menepuk pundak Pang-cu dari Ang-kie-pay tersebut.

Namun ia segera berpikir bahwa ia dengan Mo Siang Liang tidak bermusuhan apapun juga.

Ia tidak dapat menurunkan tangan terlalu kejam padanya.

Maka ia batal menepuk dan melompat ke belakang.

"Mo Siang Liang!"

Bentak Ko Tie dengan suara nyaring.

"Dengarkanlah dulu kata-kata ku!"

Muka Mo Siang Liang merah padam. Dia berkata bengis.

"Apa yang hendak kau katakan?!"

"Kedatanganku ke mari bukan hendak menanam permusuhan denganmu! Karena itu, dengarlah baik-baik! Aku hanya menghendaki agar engkau membubarkan Ang-kie-pay dan selanjutnya tidak melakukan pekerjaan busuk dan buruk lagi!" Tiba-tiba Mo Siang Liang tetawa bergelak-gelak, dia telah bilang dengan suara yang nyaring.

"Hemmm, baik-baik! Jika aku tidak dapat merubuhkan dan membinasakan kau, aku akan membubarkan Ang-kie-pay!"

Waktu berkata begitu, suaranya tergetar, karena ia tampaknya memang murka bukan main.

Waktu itu Ko Tie baru saja ingin berkata lagi, tapi Mo Siang Liang telah melesat ke depannya dan menyerang pula.

Karena mengetahui bahwa Pangcu dari Ang-kie-pay ini tidak gentar dengan pukulan Inti Es-nya, segera juga Ko Tie menghadapinya dengan cara lain.

Melihat datangnya serangan dari Mo Siang Liang begitu cepat dan kuat, ia tidak berayal lagi, tubuhnya juga melesat ke sana ke mari.

"Kau memaksa aku menurunkan tangan keras padamu!"

Sambil berkata begitu tampak tubuh Ko Tie telah melesat ke tengah udara.

Ke dua tangan Mo Siang Liang melesat di bawah kakinya.

Dan belum lagi Mo Siang Liang bisa menarik pulang tangannya, dikala itu Ko Tie telah turun tangan.

Tahu-tahu sepasang tangannya membarengi dengan meluncur turun tubuhnya, ia mencengkeram.

"Krakkk, krakkk!"

Beberapa jalan darah di tubuh Mo Siang Liang telah berhasil ditotok, membuat pangcu dari Ang-kie-pay itu segera meloso dan diam tidak berkutik, karena di waktu itu justeru seluruh tulang-tulang di tubuhnya telah rontok dan patah!

Cepat sekali pemuda yang tadi mendampingi Mo Siang Liang melesat menyerang Ko Tie dengan disertai bentakan murka.

Tapi Ko Tie kali ini tidak mau tanggung-tanggung dalam turun tangan, karena segera juga ia telah berhasil menghantam pemuda itu terpental, ambruk di lantai panggung dan seketika diam tidak bergerak, karena ia pingsan dengan tulang-tulang dadanya yang remuk!

Waktu itu, Mo Siang Liang meringis menahan sakit, dan seluruh ilmu silatnya telah musnah.

Dengan penuh dendam dia berkata.

"Baik-baik, sekarang aku rubuh di tanganmu, tapi dilain waktu aku akan mencarimu!"

"Hemmm, engkau masih bermaksud hendak menuntut balas kepadaku? Dengan mudah aku akan menghabisi jiwamu di sini! "

Tapi yang kuinginkan kesadaranmu!

Dengan dimusnahkannya kepandaianmu, berarti Ang-kie-pay akan bubar.

Siapa yang masih berani meneruskan perkumpulan itu, akan kubinasakan dengan cara yang sama……!"

Mo Siang Liang sesungguhnya dulu pernah dihajar oleh Swat Tocu dengan ilmu Inti Es-nya.

Dia sebagai seorang Ok-pa, dia menaruh dendam.

Mati-matian dia melatih diri.

Dia berhasil menciptakan semacam ilmu yang dapat dipergunakan menghadapi ilmu Inti Es tersebut.

Dia bermaksud mendirikan Ang-kie-pay menjadi perkumpulan yang sangat berpengaruh.

Itulah sebabnya, ia telah melebarkan pengaruhnya ke segala propinsi.

Perkumpulannya memang berkembang dengan pesat, karena banyak tokoh-tokoh rimba persilatan yang dirubuhkannya dan takluk bekerja buatnya.

Sehingga membuat Mo Siang Liang semakin berkepala besar.

Ia telah merencanakan setelah berhasil mendirikan Ang-kie-pay menjadi partai perkumpulan yang sangat berpengaruh, akan mengerahkan seluruh jago-jagonya untuk mencari Swat Tocu.

Tapi siapa tahu, justeru sekarang ia telah rubuh di tangan murid Swat Tocu, bahkan seluruh kepandaian dan ilmunya telah musnah.

Betapa kecewanya.

Waktu mendengar perkataan Ko Tie seperti itu, ia jadi menangis menggerung-gerung, karena kecewa dan putus asa.

Sedangkan Ko Tie telah berseru nyaring kepada hadirin dengan suara yang sangat gagah.

"Siapa saja yang masih berani menghidupkan Ang-kie-pay, aku akan mencarinya untuk menyelesaikannya! Sekarang ini, Ang-kie-pay dibubarkan!"

Semua anggota Ang-kie-pay yang melihat pangcu mereka dirubuhkan begitu mudah, bahkan sebelumnya jago-jago Ang-kiepay yang lainnya telah dirubuhkan oleh Ko Tie begitu mudah, membuat mereka ketakutan dan telah menekuk kaki mereka masing-masing berlutut, dan berjanji akan meninggalkan Ang-kiepay untuk kembali ke masyarakat serta tidak melakukan perbuatan busuk dan kejahatan lagi!

Ketika Ko Tie hendak turun dari panggung tiba-tiba berkelebat sesosok bayangan dengan cepat dan gesit sekali, hinggap di depannya.

Dialah seorang yang berusia tujuhpuluh tahun lebih, di tangannya tercekal hun-cwe, sambil tersenyum lebar dia bilang.

"Siauw-hiap, hebat sekali kepandaianmu, benar-benar sangat mengagumkan sekali! Aku si orang tua, adalah Yang Ciu Kang, ingin sekali meminta pengajaran! Jika aku rubuh di tanganmu, maka Hauw-sim-pay akan dibubarkan juga!"

Rupanya orang yang memakai baju hijau yang pernah ditolong oleh Ko Tie, telah pulang ke markasnya buat melaporkan apa yang telah terjadi pada pangcunya, yaitu Yang Ciu Kiang.

Betapa gusarnya pangcu itu.

Ia merasa tersinggung dengan perintah Ko Tie, agar ia membubarkan Hauw-sim-pay.

Karena itu, segera juga Yang Ciu Kang berangkat meninggalkan tempatnya.

Dia pergi ke panggung di mana tengah berlangsung pertempuran antara Ko Tie dengan ketua dari Ang-kie-pay.

Sedangkan saat itu, dia masih sempat melihat pangcu dari Angkie-pay dirubuhkan.

Dia melihat bahwa kepandaian Ko Tie memang sangat luar biasa, dan juga ia kagum sekali.

Namun ia penasaran, maka dia segera juga berkata dengan suara yang tawar menantang pemuda itu.

Dia bermaksud untuk mencobanya sendiri, karena ia yakin, kepandaian yang dimilikinya jarang bisa ditandingi oleh jago-jago rimba persilatan.

Ko Tie tersenyum tawar.

"Apakah engkau tidak akan menyesal?!"

Tanyanya dengan suara yang dingin. Yang Ciu Kang tertawa bergelak-gelak.

"Walaupun harus membuang jiwa, aku tidak akan menyesal! Hemmm, tidak mudah orang menganjurkan agar Hauw-sim-pang dibubarkan!"

"Baik!"

Kata Ko Tie kemudian.

"Kau boleh mulai!"

Sambil tertawa tawar, Yang Ciu Kang telah menerjang pada Ko Tie dengan hun-cwenya, dimajukan untuk menotok.

Ko Tie tetap berdiam diri di tempatnya.

Dia melihat hun-cwe menyambar sudah dekat, barulah tangan kanannya digerakkan.

"Krakkk! Krakkk!"

Hun-cwe lawannya patah dua kali, menjadi tiga potong, dan kemudian, di saat Yang Ciu Kang tengah bengong karena kaget tidak terhingga, tangan kiri Ko Tie bergerak lagi, menepuk pundaknya.

Seketika terdengar suara kretak-kretok dan tulangnya yang patah dan terlepas dari bonggolannya, karena disaat itu musnahlah seluruh kepandaian orang she Yang tersebut.

Dia berdiri lemas dengan mata mendelik dan mulut terbuka lebar.

Dia mengeluh dan tahu-tahu menangis!

Dalam satu gebrakan dia telah dirubuhkan, bahwa kepandaiannya telah dimusnahkan sampai dia jadi kecewa bukan main.

"Aku hanya perintahkan kau membubarkan perkumpulanmu, tetapi engkau malah telah berusaha untuk mencari urusan! Hemmm, sekarang aku hendak tanya kepadamu, apakah engkau mau membubarkan perkumpulanmu?"

Yang Ciu Kang menghapus air matanya, dia menyatakan akan mematuhi perintah Ko Tie.

"Baiklah, aku akan datang pula jika perintahku ini tidak dilaksanakan!"

Kata Ko Tie sambil menjejakkan kedua kakinya, tubuhnya melesat ringan sekali meninggalkan panggung itu.

Dia hinggap di dekat Giok Hoa, yang sejak tadi hanya mengawasi dengan kagum akan sepak terjang engko Tie nya itu.

"Nah…… mari kita berangkat, adik Hoa?!"

Kata Ko Tie sambil tersenyum.

"Urusan telah selesai!" Mereka berdua dengan gesit telah berlari meninggalkan tempat itu. Dalam sekejap mata saja telah lenyap dari pandangan orang banyak. Sedangkan semua orang yang berkumpul di situ, telah memandang bengong, takjub dan kagum tidak terhingga atas kepandaian yang diperlihatkan oleh Ko Tie. Dua orang pangcu dari dua perkumpulan yang sangat besar pengaruhnya dan tinggi kepandaiannya telah dirubuhkan dengan mudah, maka mereka jadi tidak mempercayai pandangan mata mereka sendiri. Namun segalanya memang telah terjadi. Ketika tersadar semua orang segera menceritakan tidak hentinya tentang kegagahan Ko Tie. Dan segera juga tersiar luas sekali tentang sepak terjang dari ke dua orang itu, yang memang merupakan pemuda yang gagah. Nama Ko Tie semakin tersiar luas dan terkenal bahkan mengejutkan orang-orang rimba persilatan. Sebagai jago muda yang baru muncul di dalam kalangan kang-ouw, namun telah berhasil mendirikan nama yang sangat besar sekali. Banyak orang-orang Kang-ouw yang kagum mendengar sepak terjang dari Ko Tie dan Giok Hoa. Tetapi ada juga sebagian dari mereka yang penasaran. Dan ada beberapa tokoh rimba persilatan justeru yang sengaja mencari Ko Tie dan Giok Hoa, untuk menguji kepandaian mereka! ◄Y► Matahari baru saja muncul ketika di jalan kecil antara Hok-an dan Jim-kiu terlihat seorang pemuda berpakaian jubah panjang warna kuning, dengan topi lebar terbuat dari anyaman rotan, tengah berjalan seorang diri dengan langkah perlahan. Dia seorang pelajar yang tampan, yang tangannya mencekal sebuah kipas, yang sering digerak-gerakan, seperti juga ia tengah mengipas. Memang, tampaknya ia melangkah perlahan, tetapi buktinya sebentar saja ia sudah melintasi tiga sampai limapuluh tombak dalam sekejap mata saja. Waktu ia sudah melintasi kota Hok-an, di tempat duapuluh lie lebih, di mana terdapat pepohonan yang lebat. Ia mendapatkan sebuah dusun kecil. Itulah dusun Jit-cap-li-pau, yang menuju ke Jim-kiu, maka biarpun tempatnya memang kecil, lalu lintasnya ramai. Tidak sedikit kuda dan kereta kaum saudagar yang mondar-mandir melintas di tempat tersebut. Waktu tiba di situ, pemuda pelajar itu memasuki sebuah rumah makan, yang merangkap sebagai rumah penginapan. Ia melihat sudah cukup banyak orang duduk bersantap. Ia mencari meja yang masih kosong, segera saja ia dilayani seorang pelayan yang berusia telah lanjut, yang rambut dan kumisnya telah ubanan, yang mukanya kuning dan tidak hentinya batuk-batuk, sedangkan suaranyapun serak. Disamping itu, iapun tidak hentinya mengedip-ngedipkan mata, seperti orang cacingan.

"Tuan ingin dahar apa!"

Tanya orang tua itu dengan suara dan sikap ramah tamah.

"Apa saja, asal yang dapat dimakan!"

Menyahuti pemuda pelajar itu dengan sikap seenaknya, dan ia menyapu seluruh ruangan dengan matanya yang tajam.

Dari matanya memancarkan sinar yang luar biasa berkilauan, menunjukkan bahwa pelajar ini bukanlah sembarangan pelajar.

Kipas di tangannya digerak-gerakkannya, seakan juga ia tengah menggerakkan kipasnya itu seenak.

Waktu itu terlihat pelayan itu cepat sekali mempersiapkan pesanan tamu ini.

Ia mengeluarkan beberapa macam makanan yang cukup enak dimakannya.

Perlahan-lahan pemuda pelajar itu bersantap, tapi matanya tetap mengawasi sekelilingnya.

Sampai ia melihat ada dua orang tamu, yang berpakaian sebagai orang Kang-ouw tengah bersantap.

Pemuda itu mendengus perlahan, sedangkan matanya tidak berkisar mengawasi terus ke dua orang itu.

Ke dua orang yang berpakaian sebagai orang Kang-ouw itu baru berusia tigapuluh tahun lebih, dan mereka masing-masing menyoren sebatang pedang di punggung mereka, sikapnya gagah sekali.

Mereka bersantap dengan cepat dan tanpa berkata apaapa.

Sedangkan pemuda pelajar itu setelah bersantap, ia berdiri dan menghampiri meja ke dua orang Kang-ouw itu.

Ia telah menepuk meja perlahan.

"Aku ingin bicara dengan kalian?"

Katanya dengan suara yang perlahan sekali dan ia kemudian memutar tubuhnya meninggalkan ke dua orang itu yang jadi tertegun mengawasi padanya.

Tanpa memperdulikan sikap terkejut ke dua orang itu, pemuda pelajar tersebut telah meletakkan sekeping uang perak di atas meja sebagai pembayaran atas apa yang telah dimakannya.

Sambil menggerak-gerakkan kipasnya ia meninggalkan ruangan rumah makan tersebut.

Kedua pemuda itu terkejut bukan oleh kata-kata pemuda pelajar tersebut.

Karena di meja mereka, pada bagian di mana tadi pelajar itu menepuknya, telah terlihat bekas tapak tangan yang cukup dalam, seperti diukir.

Itulah tepukan tangan yang memiliki sin-kang yang amat tinggi.

Inilah yang mengejutkan ke dua pemuda itu, sampai mereka mengawasi tertegun.

Mereka melihatnya usia pemuda pelajar itu paling tidak baru duapuluh lima tahun.

Tubuhnya walaupun tegap, tapi tidak terlalu besar, kulitnya halus, gerak-geriknya juga halus, maka tidak miripmiripnya ia seperti orang-orang Kang-ouw.

Ke dua pemuda itu tersadar dengan cepat.

Salah seorang di antara mereka segera bangkit dari duduknya, melompat dengan gesit.

Dalam waktu singkat ia telah berdiri dihadapan pelajar itu, katanya.

"Tuan, tunggu dulu!"

Pelajar itu menggerakkan kipasnya, menahan langkah kakinya, matanya yang bersinar tajam itu disipitkan sedikit, bibirnya yang tipis itu tersenyum, katanya.

"Apa yang ingin kau tanyakan?" "Apa maksud tuan hendak bicara dengan kami?!"

Tanya orang Kang-ouw itu.

"Kalian ikut saja denganku, nanti kalian akan mengetahui!"

Menyahut pelajar itu.

"Tapi..... kami tengah memiliki urusan penting, tidak dapat kami memenuhi keinginan tuan……!"

Menyahuti orang Kang-ouw tersebut ragu-ragu.

"Walaupun bagaimana pentingnya urusan kalian, harus ditangguhkan sementara waktu, yang hendak kubicarakan lebih penting dari segala persoalan kalian......!"

Tidak puas hati orang Kang-ouw itu, tapi ia melihat sendiri tadi pemuda pelajar ini memiliki sin-kang yang kuat sekali.

Sekali menepuk mejanya, telah membuat meja itu melesak dan berukir bekas telapak tangan.

Maka ia tidak berani bersikeras, ia hanya berkata.

"Baiklah..... jika memang demikian, tidak bisa kami mengatakan apa-apa! Tapi maafkanlah, kami menyesal sekali tidak bisa memenuhi permintaan tuan, lain waktu saja kami akan mencarimu!" Pelajar itu tersenyum sambil mengangkat bahunya dan menggerak-gerakkan kipasnya, dia bilang.

"Terserah pada kalian!"

Sambil berkata begitu, tahu-tahu kipasnya telah digerakkan, maka diwaktu itulah terlihat orang Kang-ouw itu terjungkal rubuh bergulingan di tanah sambil meringis menahan sakit.

Tapi segera juga ia bangun berdiri dengan tangannya yang sebat sekali mencabut pedangnya, yang dihunusnya.

"Kau .....kau.....!"

Katanya dengan suara yang tersendat-sendat.

Tapi pemuda pelajar itu tenang sekali.

Ia bukan memutar tubuhnya buat melangkah meninggalkan ruangan rumah makan, kipasnya tetap digerak-gerakan.

Dia hanya menggumam.

"Aku menantikan kalian di pintu kampung.......!"

Dan ia membuka langkah lebar berlalu.

Kawan orang Kang-ouw yang dirubuhkan itu tidak puas melihat kawannya dibikin terjungkir balik seperti itu.

Ia melompat sambil menghunus pedangnya, dengan pedang ditangannya itu dia menikam punggung si pelajar.

Pelajar berjubah kuning seperti juga tidak mengetahui sambaran pedang, dia melangkah terus.

Cuma saja, waktu mata pedang hampir menikam punggungnya, dia telah mengibas kipasnya ke belakang.

Pedang orang Kang-ouw itu terlepas dari cekalannya dan terlontar keras sekali, sampai menancap dalam di penglarian ruang tersebut, dan telah ber-goyang-goyang mendengung nyaring.

Orang Kang-ouw itu sendiri berdiri tertegun dengan wajah yang pucat, telapak tangannya telah lecet mengalirkan darah.

"Manusia iblis…..!"

Menggumam dia perlahan, bibirnya gemetar.

Dia melihat pelajar itu tidak memperdulikan makiannya itu, telah melangkah terus meninggalkan rumah makan itu.

Sedangkan orang Kang-ouw yang seorangnya lagi, telah merangkak berdiri dengan kaki yang agak gemetar menahan marah dan pedang terhunus.

"Mungkin…… mungkin dia yang hendak menggagalkan tugas kita!"

Katanya kemudian dengan suara tidak lancar.

Sedangkan orang yang memakai baju warna biru langit, yang telapak tangannya pecah luka itu, mengangguk perlahan dengan muka yang pucat.

"Jika dia yang harus kita hadapi, tipis sekali kemungkinan kita bisa meloloskan diri……!"

Katanya dengan suara yang sengau.

"Kita lihat saja! Jika kita telah keluar dari Hok-an, tentu kita akan selamat, di sana telah menanti ketua kita……!"

Kata kawannya, yang memakai baju warna jingga, yang mukanya empat persegi.

"Cie-te, kurasa kita harus melewati rintangan yang tidak ringan!"

Cie-te, orang yang memakai baju warna biru muda itu telah mengangguk.

Ia kemudian mengambil pedang yang menancap di atas penglarian.

Kemudian membayar harga makanan yang telah mereka makan.

Mereka berlalu dari rumah makan itu.

Hati mereka berdebar di waktu tiba di mulut perkampungan tersebut.

Dan mereka melihat tidak ada seorang pun juga manusia di tempat itu.

Sunyi juga tidak terlihat pelajar berbaju kuning itu!

"Mari kita pergi!"

Mengajak si Cie-te, dan mereka segera juga telah mementang langkah lebar, berlari ingin cepat-cepat meninggalkan tempat itu.

Namun baru berlari satu lie lebih, tiba-tiba mereka merandek, karena mereka melihat sesuatu di depan mereka.

Pelajar baju kuning itu, tengah berjalan juga dengan langkah perlahan-lahan, dan tangan mengipas-ngipas, memunggungi mereka.

Ke dua orang Kang-ouw tersebut telah saling pandang namun akhirnya mereka jadi nekad.

"Kita harus mengadu jiwa dengannya!"

Bilang si Cie-te dengan suara yang perlahan.

"Kita harus melindungi…… tidak boleh sampai terjatuh ke dalam tangannya Kawannya mengangguk.

"Ya..... mari kita serang dia dengan serentak!"

Dan setelah menyahuti begitu, dengan berbareng mereka melesat menghampiri pelajar berbaju kuning itu.

Sedangkan pelajar baju kuning itu membawa sikap seperti juga dia tidak mengetahui di belakangnya telah datang ke dua orang Kangouw yang tadi diganggunya, dan malah sedang menikamkan pedang mereka dengan serentak.

Ia melangkah terus dengan sikap yang tenang, dengan kipas di tangannya digerak-gerakkan perlahan-lahan.

Tapi waktu ke dua orang Kang-ouw itu kegirangan, disaat pedang mereka hampir sampai pada sasarannya.

Di waktu itulah pemuda pelajar berbaju kuning itu telah mengibaskan kipasnya tanpa memutar tubuhnya.

Dia menangkis pedang ke dua orang itu.

Sampai pedang itu tersampok dan terpental terlepas dari cekalan ke dua orang tersebut, melayang menancap di batang pohon di tepi jalan!

Barulah pelajar baju kuning itu memutar tubuhnya, dengan wajah yang berobah jadi bengis ia menegur.

"Bukankah kalian Cie Kwang dan Sun Long?!"

Ke dua rang itu tertegun.

Mereka tengah takjub, sekali dikibas oleh kipasnya saja mereka tidak berdaya, pedang mereka telah terpental terlepas dari cekalan mereka.

Dan juga, di waktu itu pemuda pelajar itu telah menegur mereka, mengetahui nama mereka dengan jelas, membuat mereka jadi tertegun berbareng gentar.

"Benar!"

Akhirnya Cie Kwang menjawab dengan suara tidak begitu jelas.

"Siauw-hiap kami dengan Siauw-hiap bagaikan air sumur dengan air sungai, tidak pernah bertemu dan tidak pernah mengganggu, tidak ada urusan di-antara kita. Mengapa tampaknya tuan hendak mempermainkan kami?"

Ditegur seperti itu, pemuda pelajar berjubah kuning itu tertawa dingin katanya.

"Aku Gorgo San, hendak meminta sesuatu dari kalian!" "Meminta sesuatu……?"

Tanya Cie Kwang dan Sun Long, muka mereka berobah pucat dan satu dengan yang lain saling memandang sampai akhirnya Cie Kwang berkata lagi, dengan suara yang ragu-ragu.

"Benda apakah yang diminta olehmu, tuan?"

"Kitab pusaka dari Kun-lun!"

Menyahuti pelajar baju kuning itu, yang mengaku bernama Gorgo San dengan suara yang tenang dan muka yang tidak memperlihatkan perasaan apapun juga, cuma matanya yang memandang tajam sekali.

Ke dua orang itu, Cie Kwang dan Sun Long berobah mukanya jadi pucat.

Mereka saling pandang lagi, sampai akhirnya Sun Long bilang.

"Mungkin tuan salah mengenali orang..... Kami tidak memiliki barang yang tuan kehendaki!"

"Hemmm, kalian hendak mendustai aku, heh?"

Kata pemuda pelajar itu.

Tahu-tahu berbareng dengan habisnya perkataan Gorgo San itu, ia telah melesat gesit sekali.

Gerakan yang dilakukannya begitu sebat dan lincah, sampai Cie Kwang dan Sun Long tidak bisa melihat jelas bergeraknya tubuh pelajar itu.

Tahu-tahu mereka telah merasa saku mereka ditepuk oleh tangan Gorgo San.

Dan ketika Gorgo San berdiri lagi terpisah dalam jarak dua tombak lebih, di tangannya telah mencekal sebuah kotak kayu cendana berwarna coklat yang ukurannya tidak begitu besar.

"Benda inilah yang kukehendaki!"

Katanya dengan sikap yang angkuh sekali. Muka Cie Kwang dan Sun Long berobah pucat, mereka segera menubruk.

"Kembalikan kepada kami, walaupun kau membunuh kami, tidak nantinya kami memberikan barang itu kepadamu!"

Nekad sekali Sun Long dan Cie Kwang menerjang, karena setelah lenyap kaget mereka, ke duanya jadi nekad.

Perjalanan yang tengah mereka lakukan sekarang ini justeru membawa tugas yang berat, yaitu harus membawa kotak kayu yang berisi benda pusaka dari Kun-lun itu.

Dan tentu saja sekarang melihat orang asing hendak mengambilnya, membuat mereka jadi kalap dan nekad.

Lenyap gentar mereka tanpa memperdulikan keselamatan jiwa mereka.

Ke duanya telah melompat begitu sebat dan gesit, tangan mereka pun digerakkan untuk menyerang.

Tapi Gorgo San tidak memperdulikan serangan sepasang tangan dari Cie Kwang dan Sun Long.

Ia malah sambil tertawa bergelak telah menjejakkan ke dua kakinya, tubuhnya melesat ke tengah udara, dan di waktu itu terdengar kata-katanya.

"Bagus! Jika memang aku tidak memperoleh barang ini, mungkin kalian akan kukirim ke neraka! Karena mengingat aku telah memperoleh barang ini aku mengampuni jiwa kalian..... jangan tidak tahu diri ayo pergi!"

Sambil berkata begitu, tubuhnya dalam sekejap mata saja terpisah beberapa tombak dari Cie Kwang dan Sun Long, sedangkan ke dua orang itu tambah kalap.

Mereka mengejar dengan nekad.

Gorgo San memang hendak meninggalkan tempat itu sambil tertawa dengan gembira, namun disaat ia hendak melesat lagi, telah berkelebat sesosok bayangan, yang menghadang di depannya.

Dibarengi dengan telapak tangan orang itu bekerja, angin serangan yang santer sekali menerjangnya.

Gorgo San terkejut.

Ia menahan langkah kakinya.

Pukulan sosok tubuh itu bukan sembarangan pukulan.

Iapun merasakan tekanan tenaga dalam yang kuat.

Karena itu, Gorgo San segera menyingkir ke samping, dia bermaksud hendak mengambil arah lain untuk melarikan diri.

Tapi orang yang baru muncul itu, seorang pemuda berusia antara tigapuluh tahun, namun ukuran tubuhnya pendek kecil seperti tinggi tubuh seorang anak berusia sepuluh tahun, telah melesat lagi ke depan Gorgo San dibarengi bentaknya.

"Berikan barang itu kepadaku!"

Gorgo San melihat tangan orang itu diulurkan hendak merampas kotak kayu di tangannya.

Dia segera memasukkan kotak kayu itu ke sakunya, sedangkan tubuhnya dengan gesit menghindar dari jangkauan tangan orang tersebut.

Sambil memasukkan kotak kayu itu ke sakunya, kipasnya bergerak menotok tangan orang itu.

"Ihhh…..!"

Orang tersebut melompat mundur, dan kini mereka jadi berdiri saling berhadapan.

Dengan mata memancarkan sinarnya yang bengis, Gorgo San memperhatikan orang yang telah menghadangnya.

Dia hanya dengan suara yang bengis juga mengandung kemarahan.

"Siapa kau yang ingin meminta barang yang bukan milikmu?!" "Itu pun bukan milik kau!"

Menyahuti orang bertubuh pendek itu.

"Aku, Auwyang Phu menghendaki barang itu, dan aku harus memperolehnya! Tidak ada satu keinginan dari Auwyang Phu yang tidak akan berhasil diperolehnya! "

Kau boleh pilih, menginginkan jiwa atau menghendaki barang itu?

Jika memang kau masih mau hidup dengan bahagia di dunia ini, menikmati keindahan dunia, masih bisa makan nasi dan lainlainnya, pelesiran dengan si nona cantik, cepat kau serahkan barang itu kepadaku!

"Hem, jika kau kemaruk akan barang itu, maka akhirnya kau akan menyesal, selain engkau akan mampus, barang itu tetap akan jatuh di tanganku!"

Setelah berkata begitu, Auwyang Phu memandang dengan sorot mata tidak kalah bengisnya.

Gorgo San tidak berani ceroboh.

Dalam dua kali gebrakan tadi, dia telah mengetahui bahwa manusia pendek yang ada di depannya ini memiliki kepandaian dan sin-kang yang tinggi.

Karenanya ia berlaku waspada.

Sedangkan Sun Long dan Cie Kwang telah mengejar sampai di situ, tapi mereka tidak segera menerjang.

Mereka mengawasi apa yang hendak dilakukan oleh manusia bertubuh pendek itu.

Orang yang bertubuh pendek itu memang benar Auwyang Phu, putera tunggal dari Auwyang Hong.

Ia kebetulan memang lewat di tempat tersebut, dan mendengar perihal pusaka dari Kun-lun, yang banyak sekali diincar oleh orang-orang Kang-ouw.

Karenanya, sebagai orang yang mengkhususkan diri mempelajari ilmu silat, ia pun bermaksud hendak memperoleh pusaka dari Kunlun itu, walaupun ia belum lagi mengetahui entah pusaka apa yang disebut sebagai pusaka Kun-lun itu.

Apakah sebatang pedang, juga sebatang golok, barang permata atau juga memang se

Jilid kitab.

Tetapi setelah melihat kotak kayu yang berukuran kecil itu, segera juga Auwyang Phu menduganya, jika memang bukan kitab silat, tentunya barang permata yang disebut sebagai pusaka Kun-lun.

Sayangnya dia telah kena didahului oleh Gorgo San, karenanya ia ingin merampasnya lagi.

Di waktu itu, Gorgo San telah mendengus, dia bilang.

"Hemmm, jika engkau bisa mengambilnya, ambillah!"

Setelah berkata begitu, Gorgo San bersiap-siap hendak menerima serangan.

Walaupun tampaknya si pendek ini lihay, namun dia tidak gentar.

Gorgo San pun yakin ia memiliki kepandaian yang berada di atas kepandaian dari si pendek itu.

Auwyang Phu tertawa dingin, bengis sekali dia berkata.

"Bagus! Rupanya engkau memang mencari mampus!"

Putera dari Auwyang Hong yang diperoleh dari hubungan gelapnya dengan Cek Tian, sudah tidak berdiam diri lagi, karena sebat sekali tubuhnya melesat ke depan, tahu-tahu dia menekuk ke dua kakinya.

Dia berjongkok di hadapan Gorgo San dan juga mengeluarkan suara yang aneh sekali.

"Krokkk, krokkk!"

Seperti suara kodok mengerok, mengherankan benar Gorgo San, karena ia tidak mengetahui, entah apa yang hendak dilakukan oleh lawannya yang pendek ini.

Namun belum lagi ia bisa menduganya, di waktu itu, ke dua tangan Auwyang Phu telah didorong ke depan, ke arahnya.

Dan hebat sekali, dari ke dua telapak tangan Auwyang Phu meluncur kekuatan tenaga dalam yang luar biasa kuatnya, seakan juga terjangan badai dan gelombang laut yang sangat besar sekali.

Untung saja memang Gorgo San telah memperhatikan gerak gerik lawannya dengan penuh kewaspadaan.

Dan ia sejak semula telah menduganya bahwa Auwyang Phu adalah lawan yang berat dan memiliki ilmu yang tinggi.

Dengan demikian, tentunya dia tidak bisa meremehkan dan harus menghadapinya dengan mengeluarkan ilmu andalannya.

Dan sekarang dia diserang begitu hebat, karenanya, dia segera juga menghadapinya dengan sebaik mungkin.

Dia mengayunkan kipasnya, berusaha menangkis.

Namun Gorgo San jadi kaget.

Tubuhnya seperti juga diterjang kekuatan yang tidak terlawan olehnya, hampir saja kuda-kuda ke dua kakinya itu tergempur.

Beruntung dia telah dapat menjejakkan ke dua kakinya, tubuhnya melesat dengan segera ke tengah udara dan dia mengapung begitu menghindar dari rangsekan tenaga pukulan Auwyang Phu, yang tidak lain mempergunakan ilmu pukulan Ho-mo-kang!

Memang Auwyang Phu bertangan telengas sekali.

Dia tidak mau memberikan kesempatan sedikitpun juga kepada lawannya, dimana ke dua tangannya telah didorong lagi, disertai dengan suara "Krokkk, krokkk!"

Seperti kodok.

Serangkum angin yang kuat sekali menerjang, mengincar kepada Gorgo San.

Gorgo San bukan main gusarnya, tapi ia pun menyadari tidak boleh berayal.

Seketika tubuhnya telah jungkir balik.

Dia berada di tengah udara, jelas tenaganya tengah kosong, tidak dapat dia menyambuti pukulan lawan yang kuat itu dengan kekerasan, karena pihaknya yang menderita kerugian.

Itu pula alasannya mengapa ia lebih sering menghindar saja, dan ke dua kakinya telah hinggap pula di tanah.

Dikala itu terlihat betapa tubuh Auwyang Phu telah menerjang maju lagi.

Dia telah menghantam dengan dahsyat kepada lawannya.

Tiga kali dia berhasil menghindar dan setelah itu Gorgo San baru membalas menyerang.

Cara menyerang Gorgo San pun hebat sekali.

Karena ia telah beruntun menghantam dengan sampokan kipasnya dan totokan jari tangannya.

Ilmu silat Gorgo San tidak boleh diremehkan, dan Auwyang Phu menyadarinya.

Disamping itu, dilihatnya sin-kang Gorgo San pun tidak berada di sebelah bawah kepandaiannya.

Setelah bertempur puluhan jurus, mereka tetap berimbang, belum ada yang terdesak atau jatuh di bawah angin.

Diam-diam Gorgo San jadi heran juga melihat lawannya yang bentuk tubuhnya begitu pendek, ternyata memiliki kepandaian yang tinggi seperti ini.

Ia pernah mendengar cerita dari gurunya bahwa di daratan Tionggoan ini memang terdapat semacam ilmu yang aneh, yaitu ilmu Kodok, Ha-mo-kang, milik Auwyang Hong.

Dan tampaknya Auwyang Phu ini memang mempergunakan ilmu Ha-mo-kang tersebut, karena setiap kali ia menyerang, tentu dari mulutnya mengeluarkan suara "krokk, krokk", seperti juga suara seekor kodok.

Di waktu itu tampak Gorgo San mulai memperhitungkan setiap gerakan dan serangan balasannya, karena ia menduga tentunya orang ini masih memiliki hubungan dengan Auwyang Hong.

Terlebih lagi memang tadi didengarnya orang bertubuh pendek ini she Auwyang, maka dia telah memperhatikan dengan cermat setiap cara menyerang dari Auwyang Phu.

Dia sangat cerdas.

Setelah lewat lagi beberapa puluh jurus Gorgo San mulai dapat menangkap kelemahan dari lawannya.

Ia melihat setiap kali berjonggok, Auwyang Phu tentu akan mendorong ke dua tangannya itu dengan serentak.

Dengan demikian, di bagian bawahnya, yaitu pada ke dua kakinya itu, terdapat kelemahan, yaitu kuda-kuda ke dua kaki, dalam sikap berjongkok itu, tidak akan terlalu kuat.

Maka Gorgo San akhirnya lebih banyak menjatuhkan serangannya ke bagian bawah lawannya.

Kipas dan tangannya selalu meluncur dengan pesat sekali ke bagian bawah dari lawannya.

Tubuh Gorgo San juga bergerakgerak lincah seperti bayangan.

Dalam keadaan berjongkok, tentu saja Auwyang Phu tidak bisa mengimbangi akan kegesitan lawannya, yang memutari tnbuhnya, dirinya seperti dikelilingi oleh belasan bayangan Gorgo San, karena terlalu cepatnya gerakan dari lawannya itu.

Dengan begitu pula, lama kelamaan, telah membuat Auwyang Phu terdesak jatuh di bawah angin.

"Hemmm, Gorgo San akan mengambil jiwa bangsatmu, pendek!"

Memaki Gorgo San dengan bernafsu sekali.

Memperoleh kenyataan dirinya mulai jatuh di bawah angin karena pihak lawan mengandalkan kegesitannya, segera juga Anwyang Phu merobah cara bertempurnya.

Ia tahu-tahu telah melompat ke tengah udara.

Waktu meluncur turun, kepalanya berada di bawah, maka kepalanya itu yang tiba lebih dulu di tanah, sedangkan ke dua kakinya tergantung di tengah udara.

Malah tubuhnya itu segera berputar seperti gangsing.

Dia telah menyerang dengan hebat dan gencar kepada Gorgo San.

Gorgo San kembali kaget.

Ia menyaksikan perobahan pada cara bersilat dari lawannya memang jauh lebih hebat lagi.

Diapun tidak berayal dan segera mengeluarkan ilmu andalannya.

Begitulah ke dua orang itu telah bertempur puluhan jurus.

Selama itu pohon dan batu telah terhajar remuk dan tumbang oleh pukulan-pukulan ke dua orang tersebut.

Sun Long dan Cie Kwang berdiri mematung di tempat mereka, muka mereka pucat.

Sekarang mereka baru menyadari, kemungkinan barang pusaka mereka tidak mungkin kembali, dan harapan buat merebut kembali tipis sekali.

Kepandaian Gorgo San sangat tinggi sekali, demikian pula Auwyang Phu.

Siapa saja yang memperoleh kemenangan dalam pertempuran di antara Gorgo San dan Auwyang Phu, akibatnya tetap saja sama buat Cie Kwang dan Sun Long.

Karena justeru ke dua orang yang tengah bertempur itu sama-sama menghendaki pusaka itu.

Karenanya, tampak Sun Long telah menoleh kepada Cie Kwang, katanya.

"Kita harus berusaha mengetahui siapa mereka, karena kita bisa memberikan laporan kepada ketua, agar mereka yang melakukan pengejaran untuk merebut kembali barang pusaka itu……!"

Cie Kwang mengangguk.

"Jika tidak salah dengar, tadi orang yang pendek itu mengatakan dia bernama Auwyang Phu, dan ia pun mempergunakan ilmu pukulan yang seperti Ha-mo-kang, ilmu silat dari Auwyang Hong, yang sangat terkenal itu.

"Apakah ia masih ada hubungannya dengan Auwyang Hong? Bukankah Auwyang Hong telah lama mampus? Apakah dia memiliki murid atau keturunan?!"

Sun Long juga mengangguk sambil katanya.

"Aku pun menduga dia memiliki hubungan dengan Auwyang Hong. Tapi siapa pemuda pelajar yang mengaku bernama Gorgo San? Tampaknya dia bukan bangsa Han……, dia seperti orang Mongolia yang berpakaian sebagai orang Han……!"

Begitulah Sun Long dan Cie Kwang menyaksikan jalannya pertempuran itu dengan sepasang mata terpentang lebar-lebar.

Mereka kagum dan takjub bukan main melibat kelihayan ke dua orang itu, karena seumur hidup mereka belum pernah menyaksikan pertempuran sehebat itu.

Mereka berdua pun tidak berani berada terlalu dekat dengan gelanggang pertempuran, karena angin dari pukulan ke dua orang yang tengah bertempur itu menderu-deru dahsyat, menumbangkan pohon dan menghancurkan batu-batu, yang terdapat di sekitarnya.

Auwyang Phu semakin lama jadi semakin penasaran, sampai suatu kali waktu dia memiliki kesempatan, dia menyerang beruntun sampai tiga kali.

Waktu lawannya tengah menghindarkan diri dengan melompat dua tombak lebih, Auwyang Phu pun melompat mundur, dia membentak.

"Berhenti! Siapa kau sebenarnya?!"

Gorgo San tertawa dingin, mukanya bengis sekali, dia bilang.

"Hemmm, kau ingin mengetahui siapa nama tuan besarmu? Dengarkan baik-baik! Aku Gorgo San, murid tunggal dari Dalpa Tacin!"

Auwyang Phu kaget tidak terhingga, karena ia mengetahui siapa itu Dalpa Tacin, tokoh persilatan dari Mongolia.

Sedangkan Sun Long dan juga Cie Kwang tambah kaget.

Mereka memang sering mendengar, balhwa Dalpa Tacin, merupakan orang Boan yang tangguh sekali mungkin jarang sekali di daratan Tiong-goan terdapat tokoh persilatan yang bisa menandingi akan kepandaian Dalpa Tacin, dan mungkin hanya beberapa tokoh sakti Tiong-goan saja bisa mengimbangi ilmunya.

Gorgo San sebagai murid tunggalnya saja telah bisa memiliki kepandaian yang begitu tinggi dan menakjubkan, terlebih lagi Dalpa Tacin, tentu jauh lebih hebat lagi.

Mengenai Dalpa Tacin, kita bisa menemuinya di dalam kisah "Biruang Salju", di mana telah diceritakan tentang kehebatan Dalpa Tacin.

Gorgo San sesungguhnya tidak berdusta.

Ia merupakan murid tunggal Dalpa Tacin.

Kepandaian gurunya sangat tangguh dan hebat, ditambah lagi diapun seorang pemuda yang cerdas, yang dapat menerima setiap pelajaran yang diwarisi gurunya dengan cepat dan baik.

Dengan usahanya sendiri, dia telah mengubah beberapa ilmu gurunya, yang dikombinasi dengan ilmu lainnya, maka dia bisa jauh lebih lihay dari sebelumnya.

Terlebih lagi setelah Dalpa Tacin memberikan ilmu andalannya, yang membuat Gorgo San semakin gagah saja.

Cuma saja, usianya yang masih begitu muda telah membuat dia jadi congkak dan angkuh dengan memiliki kepandaian setinggi itu.

Ia merasa bahwa dialah satu-satunya yang memiliki kepandaian tertinggi di daratan Tiong-goan.

Apa lagi memang Dalpa Tacin juga terlalu memanjakannya, maka Gorgo San merupakan murid yang selalu melakukan hal-hal yang tidak pantas, menganiaya orang, memperkosa, merayu gadisgadis dan memperkosanya, lalu membunuhnya!

Wajahnya tampan bukan main, hanya saja hatinya melebihi iblis, kejam dan tangannya telengas sekali.

Bahkan Gorgo San pernah berpikir untuk membunuh gurunya, Dalpa Tacin, karena ia menduga gurunya itu masih memiliki beberapa macam ilmu simpanan yang belum diberikan kepadanya.

Tentu dengan dibunuh gurunya itu, ia bisa memperoleh catatan mengenai ilmu simpanan gurunya tersebut.

Hanya saja Gorgo San tidak berani melakukan niatnya itu.

Ia masih jeri kalau-kalau usahanya itu gagal dan kelak ia akan dibunuh gurunya.

Dengan alasan untuk mencari pengalaman akhirnya Gorgo San telah meminta ijin dari gurunya buat berkelana.

Dan ia berkelana justeru untuk mengumbar angkara murka.

Dalam waktu satu tahun saja, Gorgo San telah menggetarkan rimba persilatan.

Memang selama itu tidak ada seorangpun yang sanggup mengendalikan dan menandingi kepandaiannya.

Lalu sampai dia mendengar perihal pusaka Kun-lun, maka dia segera berusaha merebutnya.

Dan memang dia merebutnya dengan mudah, hal ini disebabkan ia memiliki kepandaian yang tinggi.

Padahal ke dua murid Kun-lun itu, Sun Long dan Cie Kwang, bukan sebangsa manusia lemah.

Tapi karena kepandaian Gorgo San memang luar biasa, mereka tidak berhasil melindungi kotak kayu yang berisi pusaka Kun-lun itu.

Dikala itu Auwyang Phu telah memperdengarkan suara tertawa dingin, karena ia tidak mau memperlihatkan perasaan kaget kepada lawannya.

Di dalam hatinya berpikir.

"Pantas ia memiliki kepandaian yang begitu tinggi. Tentunya pusaka Kun-lun merupakan pusaka yang tidak ternilai harganya, sampai seorang seperti dia masih ingin merampasnya!"

Karena berpikir begitulah, niat buat merampas pusaka Kun-lun jadi semakin besar di hati Auwyang Phu, dan ia bilang dengan sikap yang bengis.

"Baiklah! Memandang muka terang gurumu, Dalpa Tacin, aku bersedia mengampuni jiwamu, asal engkau mau menyerahkan pusaka Kun-lun itu kepadaku!"

Gorgo San tertawa bergelak-gelak, bukan main murkanya dia, karena dengan berkata begitu, sama saja Auwyang Phu seperti tidak memandang sebelah mata padanya.

"Hemm, kepandaian apa yang kau miliki sehingga berani bertingkah di hadapanku? Terimalah ini!"

Sambil disusuli dengan bentakannya itu, tampak tangan Gorgo San telah menyambar lagi.

Ia mengulurkan tangannya bukan sekedar diulurkan buat menyerang biasa, tapi telapak tangannya itu membawa hawa yang anyir dan amis sekali.

Auwyang Phu seketika tersadar, bahwa lawannya pasti mempergunakan racun.

Ia segera menutup jalan darah dan juga pernapasannya agar tidak terhirup hawa udara yang beracun itu.

Barulah ia mengelakkan diri dari tangan Gorgo San.

Ia pun membarengi lagi dengan pukulan Ha-mo-kangnya, dengan menekuk ke dua kakinya, dia berjongkok dan menghantam.

Benar saja.

Gorgo San memang mempergunakan racun.

Di tangannya itu tercekal sebuah tabung kecil, yang dibuat sedemikian rupa, diperlengkapi dengan alat rahasia dan per, sehingga jika ia hendak mempergunakan tabung racunnya itu, ia hanya memijit tombol kecil yang ada di ujung tabung, segera racun menyambar keluar.

Jika saja lawan Gorgo San terdiri dari orang yang berkepandaian biasa saja, niscaya orang itu akan segera rubuh keracunan.

Cuma saja, sekarang yang dihadapinya adalah Auwyang Phu, putera tunggal Auwyang Hong.

Sedangkan dulunya Auwyang Hong sangat terkenal dengan julukannya sebagai See-tok, si Racun dari Barat.

Dengan begitu, bisa dibayangkan bahwa Auwyang Hong merupakan dedengkot racun, dan ia bisa menjinakkan ular dan memiliki pasukan ular yang tidak kecil jumlahnya.

Keponakan Auwyang Hong, yaitu Auwyang Kongcu saja, sudah memiliki kepandaian yang tinggi, dan juga pandai mempergunakan berbagai racun.

Auwyang Phu, walaupun tidak menerima bimbingan langsung dari ayahnya yang telah keburu mati itu, tapi ia memiliki kitab-kitab pusaka warisan Auwyang Hong.

Dengan demikian segala macam ilmu milik ayahnya telah dipelajari.

"Hemmm, engkau hendak main-main dengan racun?!"

Mengejek Auwyang Phu dengan suara yang mengejek. Katanya lagi.

"Baiklah, aku akan memperlihatkan kepadamu, bagaimana caranya yang terbaik mempergunakan racun!"

Setelah berkata begitu, Auwyang Phu merogoh sakunya, tahu-tahu ia melemparkaan sebutir benda bulat yang tidak begitu besar bentuknya.

Benda itu jatuh di tanah, meledak dan menyemburkan asap yang cukup besar dan tebal.

Gorgo San seketika merasakan hawa beracun yang amis sekali di sekelilingnya.

Ia kaget cepat-cepat menutup jalan pernapasannya agar ia tidak menghirup udara yang mengandung racun.

Tapi, biarpun Gorgo San cepat-cepat menutup jalan pernapasannya, tetap saja ia telah menghirup sedikit dari udara beracun itu, karena kepalanya seketika terasa jadi pusing dan tubuhnya terhuyung mundur ke belakang.

Auwyang Phu tidak tinggal diam menyaksikan kesempatan baik buatnya, karena itu, dia segera juga melompat ke samping Gorgo San.

Dia telah mengulurkan tangannya buat menotok Gorgo San pada jalan darah Ki-bun.

Di waktu itu Gorgo San tengah terhuyung namun ia menyadari bahaya yang tengah mengancam dirinya, maka ia segera juga membuang dirinya buat bergulingan.

Gerakannya jauh kalah cepat dengan Auwyang Phu, sebab ketika Gorgo San melompat berdiri, dilihatnya Auwyang Phu telah berdiri tersenyum-senyum sambil tangannya menimang-nimang sebuah benda, yaitu kotak kayu yang di dalamnya berisi pusaka dari Kun-lun!

Bukan main murkanya Gorgo San, karena benda itu, yang semula telah disimpan di dalam sakunya, telah dapat diambil oleh Auwyang Phu.

Di saat itu Auwyang Phu juga telah bilang dengan sikap mengejek.

"Hemmm, jika tadi aku menghendaki jiwamu, sama mudahnya seperti aku membalikkan telapak tangan!

Seperti telah kukatakan, aku mau menghormati gurumu, memandang muka terang Dalpa Tacin, aku mengampuni jiwamu.....!

Nah bocah, kau pergilah menggelinding pergi dari hadapanku, sebelum tuan besarmu merobah keputusannya!"

Muka Gorgo San jadi merah padam.

Dia mengeluarkan erangan yang menyerupai raungan penuh kemarahan, tubuhnya melesat menerjang Auwyang Phu.

Tampak menyerang dengan hebat sekali, karena ia bermaksud merebut kembali kotak kayu itu yang berisi pusaka Kun-lun itu dari tangan Auwyang Phu.

Tetapi Auwyang Phu telah menjejakkan ke dua kakinya, tubuhnya melesat cepat sekali dan ringan seperti bayangan belaka.

Ia bermaksud meninggalkan tempat itu.

Malah, Auwyang Phu telah memperdengarkan suara tertawanya yang nyaring.

Gorgo San mana mau membiarkan Auwyang Phu pergi dengan membawa kotak kayu pusaka Kun-lun itu yang telah dirampasnya.

Dengan mati-matian dia mengerahkan tenaganya, ia mengejarnya, sambil bentaknya.

"Bangsat keparat, kembalikan pusaka itu kepadaku!" Auwyang Phu tidak memperdulikan bentakan Gorgo San. Ia berlari terus dengan cepat. Demikianlah mereka berdua jadi saling kejar mengejar dengan mengerahkan gin-kangnya masing-masing, sehingga tubuh mereka berkelebat-kelebat seperti bayangan saja, dan sepasang kaki mereka itu seperti juga tidak menginjak bumi lagi. Sun Long dan Cie Kwang yang menyaksikan ke dua orang itu saling kejar, berusaha mengejar juga. Namun baru saja mereka mengejar belasan tombak, mereka telah tertinggal jauh sekali. Mereka telah kehilangan jejak, sampai ke dua orang dari Kun-lun ini akhirnya cuma saling pandang penuh sesal dan kecewa. Mereka juga kuatir sekali. Jika mereka telah kembali ke tempat mereka dan memberikan laporan kepada ketua mereka mengenai kegagalan mereka melindungi pusaka yang telah dipercayakan kepada mereka, niscaya mereka akan memperoleh hukuman yang tidak ringan. Auwyang Phu waktu itu berlari sambil tertawa-tawa, tubuhnya yang pendek itu dapat berlari gesit sekali. Sampai akhirnya ketika tiba di tegalan rumput yang cukup luas, ia berhenti dan kemudian bersiul dengan nyaring. Gorgo San girang menyaksikan lawannya berhenti berlari, ia dapat mengejar tiba dengan segera. Ia yakin, jika memang ia merampasnya dengan mati-matian, dia tentu akan berhasil dan bisa merubuhkan Auwyang Phu. Di waktu itulah, dari arah tegalan rumput itu terdengar suara mendesis yang aneh dan keras juga, di mana rumput-rumput telah bergerak-gerak. Bau amis dan juga bau anyir telah tercium oleh Gorgo San. Dikala Gorgo San tiba di hadapannya, Auwyang Phu menjejakkan ke dua kakinya lagi, melompat ke belakang, berjumpalitan di tengah udara. Kemudian meluncur turun di tanah terpisah lima tombak lebih dari Gorgo San. Dengan penasaran Gorgo San hendak mengejarnya lagi, ia baru saja hendak memakinya, sekonyong-konyong ia melihat dari gerombolan rumput, muncul puluhan ekor ular dari berbagai jenis dan ukuran. Ada yang panjangnya sampai semeter, ada yang setengah meter ada juga yang semeter lebih…… Semuanya tengah menggeleser maju mendekati Gorgo San dan mengepungnya. Itulah barisan ular yang sangat beracun sekali, loreng pada ular itupun merupakan belang bermacam-macam, maka menunjukkan bahwa ular beracun itu memang dari berbagai jenis, yang racunnya juga berbeda-beda. Di waktu itu tampak Auwyang Phu tertawa bergelak-gelak kemudian dia bilang.

"Nah, sekarang kau hadapilah ular-ular itu……!"

Sambil berkata begitu, Auwyang Phu kemudian bersiul lagi, nyaring sekali suara siulannya itu.

Ia memang telah mewarisi kepandaian ayahnya buat menjinakkan ular-ular beracun, karena itu, ia bisa memerintah ular-ular itu sekehendak hatinya.

Mendengar suara siulannya itu, ular-ular itu telah melesat menyambar Gorgo San.

Gorgo San terkejut, ia segera mengibaskan lengan bajunya berulang kali.

Dengan caranya seperti itu, ia berhasil untuk meruntuhkan ularular itu yang tersampok mental dan tidak bisa mendekati dirinya.

Tapi ular-ular beracun itu sangat banyak jumlahnya, dan datang beruntun terus menerus tidak hentinya, sehingga seperti juga gelombang lautan, yang datang tidak berkeputusan, sampai akhirnya jumlah ular-ular beracun itu mungkin lebih dari ratusan ekor.

Auwyang Phu duduk bersila di atas rumput, dengan sikap seenaknya ia menyaksikan pasukannya yang istimewa itu telah mengepung dan mengeroyok Gorgo San.

Dia sebentar-sebentar memperdengarkan tertawanya yang nyaring.

Gorgo San bukan kepalang murkanya, sampai memaki kalang kabutan.

Tapi sambil memaki kalang kabutan seperti itu, ia pun harus mengerahkan seluruh kemampuannya buat menghadapi pasukan ular, agar ia tidak sampai terserang dan terpagut, karena sekali saja ia terkena pagutan ular itu, niscaya akan membuat ia keracunan dan juga akan membuatnya terbinasa, karena ular-ular tersebut memang merupakan ular-ular yang beracun hebat dan ganas sekali.

Gorgo San menyadari, bahwa Auwyang Phu tentu memiliki hubungan yang dekat dengan Auwyang Hong.

Ia pernah mendengar cerita dari gurunya, bahwa Auwyang Hong adalah salah seorang datuk persilatan, di antara ke lima jago luar biasa di daratan Tiong-goan.

Auwyang Hong merupakan salah satu dari Ang Cit Kong, Ong Tiong Yang, Oey Yok Su dan It Teng Taysu.

Dan Auwyang Hong pun sangat pandai sekali mempergunakan racun, mengendalikan pasukan ularnya.

Sekarang justeru ia tengah menghadapi pasukan ular, yang selalu mematuhi perintah Auwyang Phu, yang mengatur barisan ularnya dengan siulan-siulan nyaringnya.

Terlebih lagi Auwyang Phu pun seorang yang licik sekali, sama liciknya seperti Auwyang Hong, ayahnya karena darah dan kelicikan ayahnya rupanya mewarisi juga di tubuhnya.

Karena itu, ia telah mengatur barisan ularnya itu menjadi dua kelompok.

Kelompok pertama mengurung Gorgo San dan sekali-kali menyerang.

Sekelompok barisan ular lainnya melingkari gelanggang ruang gerak Gorgo San, menantikan kesempatan buat bantu menyerang.

Dengan begitu, walaupun gin-kang Gorgo San memang tinggi, tokh ia tidak bisa mempergunakan kegesitan tubuhnya buat melesat keluar dari gelanggang itu, karena begitu tubuhnya melesat ke tengah udara, selain ular-ular pada kelompok pertama akan ikut melesat buat memagutnya juga kelompok barisan ular yang lainnya berada dalam luar kalangan, siap menantikan meluncur turun tubuhnya, buat menyerang dengan pagutan mereka!

Dengan menggerak-gerakkan sepasang tangannya menghalau ular-ular yang menyerangnya itu pun tidak menguntungkan Gorgo San, karena pada akhirnya ia akan letih dan kehabisan tenaga, dan akan membuat dia akhirnya rubuh sendirinya karena sudah tidak memiliki tenaga lagi.

Auwyang Phu berulang kali tertawa, dan Gorgo San mendengar tertawa mengejek dari lawannya, membuat darahnya mendidih.

Dia jadi mengempos seluruh semangatnya, dia pun berpikir.

"Aku tidak boleh rubuh! Walaupun bagaimana manusia keparat itu harus kumampusi!"

Sambil berpikir begitu, segera juga Gorgo San telah mengeluarkan ilmu simpanannya.

Mendadak sekali, setelah berhasil mengibaskan tangannya, menyampok terpental tiga ekor ular yang berukuran sepanjang hampir semeter yang tengah melompat menerjang padanya, Gorgo San kemudian duduk bersila.

Dia memutar ke dua tangannya seperti juga titiran, lalu dia juga bersiul nyaring sekali.

Suara siulannya itu mengandung kekuatan lweekang yang sangat dahsyat.

Seketika, ular-ular yang tengah mengepungnya seperti terkejut dan panik kebingungan, karena sekarang ada dua macam kekuatan yang memerintah mereka.

Auwyang Phu sendiri tercekat hatinya.

Jika barisan ularnya itu terkacaukan, berarti akan lolos Gorgo San.

Maka dari itu ia segera melompat berdiri.

Percuma saja jika ia tidak bisa mengatur barisan ularnya ini, karena setidak-tidaknya ia adalah putera tunggal dari Auwyang Hong, See-tok, si Bisa bangkotan dari Barat, yang sangat terkenal semasa hidupnya karena memakai racun dan juga mengendalikan pasukan ularnya.

Cepat Auwyang Phu menepuk ke dua tangannya.

Suara tepukan tangannya itu seperti menindih dan menembus suara siulan Gordo San, dan pasukan ular itu dengan rapih telah mundur menjauhi Gorgo San.

Gorgo San girang melihat hasil dari siulannya itu.

Ia segera melompat bangun, berdiri tegak dan berkata dengan suara yang lantang.

"Hemmm, hanya sebegitu saja kepandaianmu mengatur pasukan ularmu? Barisan ular yang tidak mempunyai arti." Muka Auwyang Phu berobah merah padam. Yang terpenting baginya adalah pusaka Kun-lun, di dalam kotak kayu yang telah berada di tangannya, yang telah disimpan di dalam sakunya. Sesungguhnya, dengan Gorgo San ia tidak memiliki permusuhan apa-apa. Namun akibat dari ejekan yang dilontarkan Gorgo San, membuat dia naik darahnya, meluap kemarahannya dan ia pun jadi penasaran.

"Baik! Aku akan memperhatikan kepadamu sesuatu yang tidak akan lagi membuat kau seenakmu saja menggoyangkan lidahmu itu!"

Setelah berkata begitu, Auwyang Hong bersiul nyaring tiga kali, dua kali panjang, satu kali pendek suara siulan itu.

Dan kemudian rumput di belakangnya bergerak-gerak seperti dilanda sesuatu.

Lalu muncul makluk yang luar biasa seekor ular yang besar sekali, yang panjangnya sampai tiga meter lebih, ukuran tubuhnya yang sepelukan sepasang tangan.

Itulah mirip-mirip dengan ular naga!

Gorgo San yang melihat ular yang luar biasa besarnya itu, jadi tercekat hatinya, tapi ia percaya, seperti tadi, ia akan berhasil mengusir ular besar itu dengan mengandalkan siulannya, yang disertai dengan tenaga sin-kangnya.

Belum lagi ular besar itu merayap lebih dekat kepadanya, ia telah bersiul nyaring.

Auwyang Phu tertawa bergelak-gelak.

"Kau boleh bersiul sekuat suaramu sampai mulutmu jontor dan monyong!"

Ejeknya.

Auwyang Phu berkata benar karena walaupun Gorgo San telah bersiul nyaring seperti itu, tokh tetap saja ular besar itu tidak mau berhenti merayap.

Dan ular itu terus juga merayap maju menghampiri Gorgo San.

Di saat itulah terlihat Gorgo San menghadapi ancaman bahaya yang tidak kecil, karena jika saja ular itu semakin dekat dan menyerangnya, niscaya dia sulit untuk mengadakan perlawanan.

Memang mudah ia bertempur dengan tokoh rimba persilatan mana saja, yang tidak akan membuatnya gentar.

Tapi jika ia harus bertempur dengan seekor ular yang berukuran besar seperti ular naga ini, benar-benar membuatnya tidak mengetahui dengan cara apa menghadapinya.

Auwyang Phu telah bersiul nyaring sekali, sampai suara siulan itu menyakiti pendengaran.

Ular besar itu tahu-tahu dengan ringan sekali telah melesat ke tengah udara, menyambar kepada Gorgo San.

Gorgo San cepat-cepat berkelit ke samping kanan.

Ular itu melesat di sampingnya tidak berhasil untuk mengenai sasarannya dengan terjangan itu.

Tapi ular tersebut rupanya memang sangat lihay dan terdidik baik sekali, begitu lawannya berkelit, ekornya segera menyambar dengan kuat.

"Plakkk!"

Gorgo San segera merasakan benda yang berlendir menjijikkan dan keras sekali telah menghantam mukanya, mata Gorgo San seketika berkunang-kunang dengan pandangan matanya jadi kabur.

Disamping itu juga Gorgo San kehilangan keseimbangan tubuhnya, karena kuda-kuda ke dua kakinya telah tergempur.

Auwyang Phu melihat ular peliharaannya itu berhasil menyampok Gorgo San dengan ekornya, jadi tertawa bergelak-gelak.

Dan ia dengan sikap yang angkuh mengejeknya.

"Hemm, engkau akan mampus, manusia sombong! Tidak ada kuburan buat kau, karena engkau akan men jadi santapan ular raksasaku!" Sedangkan Gorgo San tidak kecewa sebagai murid dari Dalpa Tacin. Walaupun bagaimana memang ia memiliki kepandaian yang tinggi, dan juga selalu berkelana di dalam rimba persilatan, jarang sekali ada orang yang bisa menandingi kepandaiannya. Jika ia tidak terdesak oleh ular raksasa Auwyang Phu, itulah disebabkan pertempuran yang berlangsung. manusia melawan ular itu yang sangat beracun, merupakan suatu pertempuran yang janggal dan aneh, yang belum pernah dialaminya, membuat ia agak bingung. Itu pula sebabnya mengapa ia sampai tersampok oleh ekor ular tersebut! Tapi, walaupun bagaimana memang dia memiliki kepandaian yang sangat tinggi disamping itu ia pun sangat cerdik, maka sekarang setelah mengalami pengalaman yang pahit, ia tidak mau berayal lagi. Sampokan ekor ular itu yang licin berlendir menjijikan membuat ia murka. Namun murkanya itu disertai dengan pikiran yang cepat sekali. Iapun telah memutuskan, terutama sekali ia harus dapat menghalau ular itu buat mendesak Auwyang Phu dan kemudian merebut kitab pusaka Kun-lun. Waktu itu ular yang besar dan ganas itu telah membalikkan tubuhnya. Tubuhnya melingkar, lidahnya yang bercagak dua dan tampak begitu ramah, benar-benar sangat mengerikan sekali, juga dari ular itu menyiarkan bau amis yang menjijikkan. Ular itu tampak siap untuk menerjang lagi. Gorgo San bersiap-siap, di antara suara tertawa mengejek dari Auwyang Phu, tampak ular tersebut tahu-tahu meluncur dengan cepat sekali hendak memagut kembali pada Gorgo San. Gorgo San mengerahkan tenaga dalamnya pada telapak tangannya. Ia telah mengeluarkan tenaga sin-kangnya yang disalurkan pada ke dua telapak tangannya. Matanya dipentang lebar-lebar, memancarkan sinar yang mengandung hawa pembunuhan. Ular itu pesat sekali meluncur dan akan memagut pundak Gorgo San. Kepala ular itu terulur sangat panjang, bahkan sambarannya sangat cepat sekali. Gorgo San melihat dengan cermat, ia memiliki penglihatan yang sangat tajam. Waktu ular itu menerjang padanya dengan sambaran yang mengeluarkan berkesiuran angin yang sangat kuat, ia mengeluarkan bentakan keras, menahan hawa amis yang menerjang hidungnya, lalu menghantam dengan telapak tangan kanannya.

"Plakkkk!"

Kepala ular itu kena dihantamnya.

Dia memukul kepala ular yang licin, berlendir menjijikkan, membuat dia menggidik, namun dia mengeraskan hatinya, walaupun bagaimana dia memang harus melumpuhkan ular itu.

Ular itu merasa pening dihantam kepalanya seperti itu oleh Gorgo San.

Tubuhnya juga terlempar ke samping, kemudian menggeliatgeliat.

Hanya saja disebabkan kepala ular itu memang licin berlendir, pukulan telapak tangan Gorgo San tidak bisa menghantam dengan tepat, melejit dan ular itu tidak mati, karena pukulan Gorgo San tidak bisa meremukkan kepala ular itu.

Hanya suara mendesis ular itu perlahan sambil menggeliat-geliat.

Waktu itu Auwyang Phu gusar bukan main, terhenti tertawanya, wajahnya memancarkan sinar yang mengandung kekejaman, bengis sekali.

Disaat itulah ia bersiul nyaring sekali.

Gorgo San sebetulnya hendak mempergunakan kesempatan itu buat menerjang kepada Auwyang Phu, namun ia terhalang oleh puluhan ekor ular yang sudah serentak menerjang kepadanya, akibat siulan Auwyang Phu yang memerintahkan ular-ular itu menerjang pada Gorgo San.

Gorgo San jadi penasaran menghadapi ular-ular beracun itu bukanlah pekerjaan yang ringan, karena dia tidak bisa mempergunakan ilmunya secara wajar.

Sedangkan ia murka karena beranggapan Auwyang Phu berlaku licik sekali, dengan mempergunakan pasukan ularnya menandakan bahwa Auwyang Phu seorang pemuda rendah hina.

Dia berteriak marah sambil menggerak-gerakkan sepasang tangannya, yang mengeluarkan kesiuran angin yang sangat hebat, melindungi sekujur tubuhnya.

Tidak ada seekor ularpun yang dapat mendekati tubuhnya.

Karena setiap kali ada ular yang menerjang maju, akan tersampok oleh angin yang begitu kuat dari ke dua telapak tangan Gorgo San.

Dan ular-ular itu telah terpental terpelanting di tanah.

Dalam keadaan seperti ini, Auwyang Phu tidak mau membuang waktu lagi, tahu-tahu dia menjejakkan ke dua kakinya, tubuhnya seperti terbang berlari pesat meninggalkan tempat itu.

Sedangkan di saat-saat Gorgo San tengah sibuk melawan ular-ularnya, dia malah bermaksud ingin mempergunakan kesempatan ini buat melarikan diri agar dia tidak direpotkan oleh Gorgo San yang masih bersikeras hendak merebut kembali kitab pusaka Kun-lun itu.

Sun Long berdua dengan Cie Kwang waktu melihat Auwyang Phu bermaksud hendak melarikan diri, mereka jadi bingung bukan main.

Mereka tengah berada dalam sikap yang serba salah.

Musuh terlalu tangguh dan mereka berdua bukan menjadi tandingannya, karenanya mereka menyadari, jika memang mereka memaksa untuk bertempur dengan Auwyang Phu, atau juga Gorgo San, niscaya mereka tidak akan sanggup menang, malah akan terluka berat, atau kemungkinan pula mereka akan menemui ajalnya.

Namun sekarang melihat Auwyang Phu hendak berlalu.

Mereka cepat-cepat ingin mengejar.

Besar tanggung jawab mereka, sebab buku pusaka dari Kun-lun telah berhasil direbut kemudian jatuh di tangan Auwyang Phu.

Dengan demikian jika mereka tidak berhasil mengambil pulang kitab pusaka itu merekapun akan memperoleh hukuman yang tidak ringan dari ketua mereka.

Disebabkan itu pula, tidak ada pilihan lain selain berseru.

"Tuan…… tunggu……!"

Mereka mengejarnya dengan sekuat tenaga, sambil masih berusaha menghiba-hiba kepada Auwyang Phu agar pemuda itu berbaik hati mengembalikan bukunya.

Tapi Auwyang Phu berlari sangat cepat meninggalkan tempat itu.

Dalam waktu yang singkat terlihat ia telah pergi jauh sekali.

Cie Kwang berdua dengan Sun Long telah tertinggal di belakangnya dan akhirnya malah ke dua orang Kun-lun itu tidak bisa mengetahui lagi ke mana Auwyang Phu berada, karena mereka telah kehilangan jejak orang buruannya itu.

Gorgo San yang tengah sibuk melayani serbuan ular-ular itu, bukan main murkanya.

Tubuhnya menggigil keras dan ia menggerakkan sepasang tangannya ganas sekali, membuat ularular yang menerjang kepadanya jadi terpental.

Bahkan sebagian ada yang tubuhnya sampai putus menjadi dua potong, ada juga yang kepalanya hancur, akibat dahsyatnya tenaga pukulan yang dipergunakan oleh Gorgo San.

Cuma saja, biarpun Gorgo San telah melihat Auwyang Phu melarikan diri, tetap saja ia tidak bisa meninggalkan tempat itu buat mengejarnya, karena justeru ia tengah dilibat oleh pasukan ular Auwyang Phu.

Akhirnya melihat Cie Kwang berdua Sun Long pergi juga meninggalkan tempat itu, ingin mengejar Auwyang Phu, Gorgo San jadi memaki kalang kabutan.

Setelah beberapa saat lagi, ia telah berhasil membunuh belasan ekor ular dan di saat jumlah ular yang menyerbunya sedikit, ia bersiul nyaring.

Pasukan ular Auwyang Phu yang hanya tinggal belasan ekor itu, jadi tertegun sejenak.

Mereka tampaknya bingung, mengangkat kepala mereka tinggi-tinggi seperti hendak memperhatikan irama suara siulan tersebut, dan mereka jadi berhenti bergerak, tidak menyerang lebih jauh.

Gorgo San tidak mau membuang-buang kesempatan yang baik ini.

Segera ia menjejakkan ke dua kakinya, tubuhnya seperti juga terbang, melesat meninggalkan tempat itu.

Dia menuju ke arah di mana tadi Auwyang Phu melarikan diri, karena dia penasaran dan hendak mengejar pemuda she Auwyang itu.

Di hatinya yang tengah panas dia mengutuk tidak hentinya untuk kelicikan Auwyang Phu.

Dia akan bersumpah jika memang kelak ia bertemu dengan pemuda itu, dan dia berhasil mengejarnya, maka dia akan membunuhnya!

Tapi setelah berlari-lari sekian lama dengan cepat dan pesat seperti terbang, tetap saja dia tidak berhasil mengejar lawannya.

Auwyang Phu seperti telah lenyap masuk ke dalam perut bumi, tidak meninggalkan jejak.

Dengan penasaran Gorgo San mengejar tetapi setelah melewati belasan lie lagi dan tetap tidak berhasil menemui jejak Auwyang Phu, ia jadi tambah murka dan penasaran.

Namun dia tidak meneruskan pengejarannya.

Sedangkan waktu dia memutar tubuhnya hendak kembali menuju ke kampung Jit-cap-li-pau, ia teringat kepada Sun Long dan Cie Kwang, ke dua orang Kun-lun itu.

Mereka tentu saja tidak memiliki ilmu meringankan tubuh yang terlalu tinggi, tapi mereka juga tidak terlihat.

Karena itu Gongo San sejenak jadi heran.

Dia lari balik kembali, karena ia pikir mungkin ke dua murid Kun-lun itu tadi tertinggal di belakang, karena dia mengejarnya memang terlalu cepat sekali bukan main, dan seperti juga dia telah berlari dengan terbang tanpa ke dua kaki menginjak bumi.

Di kala itu, ia tetap tidak melihat Sun Long dan Cie Kwang, walaupun Gorgo San telah berlari sampai puluhan lie, kembali ke arah dari mana tadi dia mendatangi.

Akhirnya, dengan uring-uringan dia memasuki kampung Jit-cap-lipau.

Dia pergi ke sebuah rumah penginapan, meminta kamar dan galak sekali menempeleng seorang pelayan yang terlambat melayani pesanan makanannya.

Benar-benar Gorgo San tengah uring-uringan, dan ia bertekad, selanjutnya akan mencurahkan seluruh perhatiannya buat mencari jejak Auwyang Phu.

Ia pun bersumpah untuk berusaha membunuh Auwyang Phu jika kelak dia berhasil menemukannya.

Percuma saja ia sebagai murid tunggal Dalpa Tacin.

Jika kini ia bisa dipermainkan seperti itu oleh Auwyang Phu.

Ke mana perginya Sun Long dan Cie Kwang?

Ternyata ke dua murid Kun-lun itu telah mengejar beberapa lie dan kehilangan jejak Auwyang Phu.

Akhirnya tersesat mengambil arah yang berlainan sekali, karena mereka memang sudah tidak mengetahui lagi, ke arah mana mereka harus mengejar Auwyang Phu.

Untuk kembali ke tempat semula, pertama mereka ngeri dan takut kepada ular-ular Auwyang Phu yang tentu banyak yang masih hidup.

Juga kuatir Gorgo San yang tengah uring-uringan, sebab kitab pusaka Kun-lun yang telah direbutnya dari tangan Sun Long dan Cie Kwang, kini telah dapat dirampas oleh Auwyang Phu malah telah dibawa pergi, meninggalkan ular-ularnya itu mengepung Gorgo San.

Kalau sampai nanti Gorgo San menumpahkan seluruh kemarahannya kepada mereka, niscaya akan membuat mereka yang repot menghadapi kemarahan murid dari Dalpa Tacin yang memiliki kepandaian tinggi itu.

Di waktu itu Gorgo San telah rebah di dalam kamar rumah penginapan, karena ia benar-benar marah dan penasaran sekali, sampai dia tidak tahu apa yang harus dilakukannya, selain uringuringan tidak karuan.

Juga ia tidak bisa tidur.

Dia rebah dengan mata terpentang lebarlebar mengawasi langit-langit kamar, berulang kali dia menghela napas.

Ia teringat kepada gurunya, Dalpa Tacin.

Ya, gurunya seorang yang memiliki kepandaian sangat tinggi.

Diapun telah mewarisi kepandaian gurunya.

Bahkan Dalpa Tacin selalu memuji muridnya sebagai murid yang pandai, yang kepandaiannya mengalami kemajuan yang pesat dan telah mewarisi seluruh kepandaian Dalpa Tacin.

Karena itu, mengapa sekarang dia seperti orang bodoh, yang tidak berhasil menghadapi Auwyang Phu?

Walaupun dia telah mengetahui bahwa Auwyang Phu adalah putera Auwyang Hong, tokoh sakti dari rimba persilatan, yang memang sangat terkenal sebagai si Bisa dari Barat yang tangannya beracun, mamun tidak seharusnya dia bisa dipermainkan oleh Auwyang Phu, karena gurunya dirasakannya memiliki kepandaian yang tentu tidak berada di bawah kepandaian Auwyang Hong.

Semakin dipikirkannya, dia jadi semakin marah dan penasaran, sampai akhirnya dia tidak bisa menahan dirinya, dengan murka dia telah menghantam tepian pembaringan.

"Plakkk!"

Tepi pembaringan itu kena dihantam sampai sempal.

Dia menghela napas.

Kemudian, karena tidak bisa tidur, dia melompat turun dari pembaringan.

Dengan jengkel dikenakan kembali jubahnya, dan keluar dari kamarnya.

Maksudnya hendak meninggalkan rumah penginapan ini, untuk jalan-jalan memutari kampung, menghirup udara malam yang mungkin bisa menyejukkan hatinya yang panas itu.

Tapi ketika dia keluar dari kamarnya, dia melihat pelayan tengah melayani dua orang pemuda yang wajahnya sangat tampan sekali.

Segera juga hatinya jadi heran.

Karena dia melihat betapa pemuda itu merupakan dua orang yang wajahnya benar-benar sangat tampan dan tubuhnya ramping.

Dilihat dari keadaan mereka, mungkin ke duanya merupakan pelajar yang lemah dan kutu buku yang tidak punya guna.

Dia tertawa dingin.

Cuma hatinya mengiri sekali, karena sebelumnya ia beranggapan dirinya sangat tampan dan gagah.

Karena itu, tidak disangkanya bahwa di dalam dunia ini terdapat pemuda-pemuda yang demikian tampan seperti ke dua pemuda itu.

Dengan sendirinya hatinya jadi jelus.

Ia memandangi dengan sikap yang sinis.

Sedangkan salah seorang dari ke dua pemuda itu tampaknya tidak senang sekali diawasi seperti itu oleh Gorgo San, dia kemudian melirik dan mendelikan matanya.

"Hemmm!"

Mendengus Gorgo San tambah tidak senang, jika memang menuruti hatinya, tentu ia akan menghampiri dan menotok biji mata pemuda itu untuk dibutakan.

Sedangkan pemuda yang seorangnya lagi, yang sikapnya walaupun halus dan wajahnya tampan, namun tampak lebih jantan, telah menarik tangan kawannya.

"Jangan mencari urusan!"

Katanya dengan suara yang perlahan. Namun Gorgo San mendengarnya, ia memang memiliki pendengaran yang tajam, maka Gorgo San mendengus "Hemmm!"

Lagi.

Kemudian Gorgo San telah memilih sebuah meja yang tidak berjauhan di sebelah kanan.

Ke dua pemuda itu menantikan pelayan selesai mempersiapkan kamar mereka, ke duanya duduk di sebuah meja, memesan beberapa macam makanan.

Dan meja Gorgo San dengan ke dua pemuda itu terpisah hanya dua meja kosong.

Pelayan yang membawa makanan buat ke dua pemuda itu segera datang sambil berseru.

"Hidangan datang! Tentu tuan-tuan akan gembira menikmati makanan lezat seperti ini......!"

Namun, waktu lewat di dekat meja Gorgo San, pelayan itu merandek, karena Gorgo San telah berkata.

"Mana pesananku?!" "Tuan…… kuingat…… tuan….. tuan tidak memesan apa-apa…..!"

Kata pelayan tersebut gugup.

"Ohhh begitu!"

Kata Gorgo San dengan sikap yang mendongkol.

"Jadi kau meremehkan tuan besarmu dan pesanku tidak dilayani? Bagus! Bagus!"

Pelayan itu jadi kikuk, dia segera bilang.

"Maafkan tuan, rupanya terjadi keteledoran di pihak kami! Segera aku akan kembali untuk mencatat pesanan dari tuan…… Tunggulah sebentar, aku akan mengantarkan makanan ini dulu!"

Sambil berkata begitu, si pelayan ingin mengantarkan makanan yang dipesan ke dua pemuda di meja yang tidak jauh terpisah dari Gorgo San.

"Tunggu!"

Bentak Gorgo San dengan suara yang bengis. Pelayan itu merandek, dia melirik takut-takut melihat tamunya yang seorang ini tengah marah.

"Ya? Ya?!"

Tanyanya tergagap.

"Karena kalian begitu meremehkan tuan besarmu, maka kau tidak dapat dimaafkan! Cepat letakan makanan itu di mejaku, aku tidak memiliki waktu banyak untuk menantikan makanan yang baru!"

Kata Gorgo San. Pelayan itu kaget, ia melangkah mundur setindak.

"Ini…… ini mana boleh?!"

Katanya tergagap.

"Letakkan!"

Bentak Gorgo San sambil menepuk keras mejanya. Pelayan itu jadi ketakutan, dia ragu-ragu kemudian dengan sikap meminta maaf dia bilang.

"Makanan ini pesanan ke dua tuan itu!"

Sambil berkata begitu, si pelayan telah melirik kepada ke dua pemuda tamunya.

Sedangkan ke dua pemuda di seberang sana, yang mendengar ribut-ribut telah mengawasi kepada Gorgo San.

Yang tertampan, tengah mengawasi dengan sikap tidak senang karena tampaknya memang ia tersinggung oleh sikap Gorgo San.

Namun pemuda yang seorang lagi telah membisikkan sesuatu dan mereka kemudian tidak mengawasi lebih jauh.

"Letakkan! Tulikah kau?!"

Bentak Gorgo San yang naik darah.

Melihat sikap pelayan itu ia memang tengah uring-uring, malah ia telah bermaksud, jika saja pelayan ini kali tidak menuruti perintahnya, dia akan menghajar pelayan itu.

"Baik...... baik.....!"

Kata pelayan itu ketakutan, walaupun hatinya tidak senang dengan sikap Gorgo San, namun dia tidak berani membantah lagi, dia jeri melihat mata pemuda yang memancarkan sinar yang sangat tajam, maka segera dia meletakkan makanan itu di atas meja Gorgo San.

Gorgo San mendengus tertawa dingin, dan mulai makan.

Pelayan itu kembali ke ruang belakang, untuk mempersiapkan makanan baru.

Ke dua pemuda itu tampak tenang-tenang saja, mereka bercakapcakap dengan gembira, sama sekali mereka sudah tidak memperhatikan Gorgo San lagi.

Sikap yang diperlihatkan ke dua pemuda itu benar-benar membuat Gorgo San tambah sengit karena memang semula ia bermaksud mencari gara-gara, yaitu dengan memaksa meletakkan pesanan makanan dari ke dua pemuda itu di mejanya, agar pemudapemuda itu menegurnya, di waktu itu ia memiliki alasan untuk menghajar mereka.

Siapa tahu, ke dua pemuda itu tidak memperlihatkan reaksi dan mereka malah sekarang tampak tengah bicara satu dengan yang lain dengan gembira sekali.

Tentu saja Gorgo San tambah sengit, dia berulang kali melirik.

Sedangkan pemuda yang seorang, yang bertubuh ramping dan wajahnya sangat cakap itu, sehingga tampak seperti wajah seorang wanita, sering juga melirik kepada Gorgo San.

Namun jika Gorgo San melirik kepadanya, maka dia membuang pandang ke arah lain.

Bukan main mendongkolnya Gorgo San, di dalam hatinya dia berpikir.

"Hemmm, kau lihat saja nanti, bagaimana aku menghajar kalian!"

Waktu itu pelayan telah datang lagi dengan membawa beberapa macam makanan dan sayur yang masih mengepul hangat.

Pelayan itu bergegas berjalan sangat cepat.

Waktu akan melewati meja Gorgo San, ia melirik dengan sikap tidak senang dan bercampur kuatir.

Ia kuatir kalau-kalau Gorgo San akan menghadangnya seperti tadi dan memerintahkannya meletakkan makanan tersebut di atas mejanya.

"Tunggu!"

Benar saja, Gorgo San telah membentaknya, membuat pelayan itu jadi merandek, dan dia melirik takut-takut.

"Ada apa, tuan besar?!"

Tanya pelayan tersebut dengan suara serak. Gorgo San tertawa dingin.

"Hemmm, masakan sayur ini sungguh tengik dan tidak sedap dimakan, dan juga makanan ini bukan untuk makanan manusia, melainkan cocok untuk makanan kuda! Mengapa kau menyajikan santapan seburuk ini? Cepat angkat ini dan buang, dan letakkan makanan yang baru itu di mejaku!"

Pelayan itu berobah mukanya.

"Tuan…… mana bisa begitu……? Tadi tuan telah mengambil pesanan tuan-tuan itu. Sekarang tuan hendak mengambil pula pesanan tuan-tuan itu…… itu….. ini tentu bisa meruntuhkan nama rumah penginapan kami, dan kelak akan sepi karena tidak ada orang yang mau datang kemari."

"Hemmm, kau terlalu rewel!"

Bentak Gorgo San, segera tubuhnya berdiri. Dan ia hanya bukan berdiri, melainkan tangan kanannya cepat sekali bergerak.

"Dukkk!"

Dada pelayan itu kena dihantamnya.

Dengan pukulan yang perlahan, sebab Gorgo San memang sama sekali tidak mempergunakan tenaga, tapi hebat kesudahannya buat pelayan itu, karena tubuhnya kontan kejengkang dan ia terguling-guling di lantai sambil menjerit-jerit dengan makanan yang dibawanya berantakan di lantai.

Habislah kesabaran pemuda yang tampan dari ke dua tamu itu, karena mereka melihat betapa sikap Gorgo San keterlaluan sekali.

Maka ia telah berdiri dengan muka yang berobah merah padam karena gusar.

Kawannya cepat-cepat menarik tangannya.

"Biarkan saja, kita tidak perlu mencari urusan!"

Kata kawannya, yang muka dan keadaannya lebih jantan. Tapi kawannya menggeleng.

"Tidak bisa dibiarkan, ia sudah keterlaluan sekali! Tadi dia telah menyerobot pesanan kita, sekarang dia mash menganiaya pelayan itu karena pelayan tersebut tidak mau menuruti keinginannya buat memberikan pesanan kita pula! Hemmm, hemmm, sungguh keterlaluan."

Kasir rumah penginapan tersebut cepat-cepat berlari menghampiri.

"Haya, jangan begitu tuan..... maafkan jika pelayan kami ada yang kurang ajar dan apa yang dilakukannya tidak berkenan di hati tuan…… Segalanya mudah diatur dan jika makanan tuan tidak sedap, biarlah nanti akan dibuatkan yang baru, yang lezat……!"

Tapi Gorgo San yang memang tengah mencari gara-gara.

Melihat pemuda yang seorang itu, yang ramping dan mukanya seperti muka wanita, berdiri dari duduknya.

Hatinya panas dan ia langsung ingin turun tangan untuk menghajarnya.

Siapa tahu datang si kasir rumah penginapan ini.

Karenanya, kemarahan dan kemendongkolan hatinya segera juga ditumpahkan kepada kasir rumah penginapan itu.

Dia lalu mengulurkan tangannya, ke lima jari tangannya terpentang, dia mencengkeram baju di bagian dada dari kasir rumah penginapan itu, sambil membentak.

"Kau juga manusia kurang ajar!" Tahu-tahu tubuh kasir itu terlempar jauh, tubuhnya sampai terguling-guling di lantai, malah tampak juga kasir itu telah rontok giginya dan berdarah. Dikala itu pemuda yang tubuhnya ramping sudah tidak bisa menahan diri, tubuhnya yang melompat dengan ringan telah berada di depan Gorgo San.

"Kau keterlaluan, saudara……!"

Katanya dengan suara yang dingin.

"Kau main turun tangan dan menganiaya orang-orang yang lemah tanpa kenal aturan! Sudah engkau yang bersalah, dan engkau pula yang tidak memakai aturan, masih engkau menyiksa mereka!"

Biji mata Gorgo San mencilak, dan tampak ia mendengus dengan muka merah padam karena gusar ditegur seperti itu oleh pemuda tersebut.

"Bagus! Kau demikian usil mencampuri urusanku atau memang engkau sudah bersiap-siap untuk mampus?!"

Tanya Gorgo San dengan suara yang bengis.

"Hemmm!"

Mendengus pemuda itu.

"Kau bicara seenakmu saja! Urusan mati adalah urusan Thian (Tuhan) dan bukan di tanganmu! Sekarang yang hendak kutanyakan, apakah engkau mempertanggung jawabkan perbuatanmu dan ganti rugi kepada pemilik rumah makan dan rumah penginapan ini karena sepak terjangmu?!"

"Ganti rugi? Ganti rugi apa?!"

Tanya Gorgo San sengaja untuk mengejek dan pura-pura tidak mengerti.

"Ganti rugi karena engkau telah menimbulkan kerusuhan di sini, dan juga menganiaya mereka! Kau harus ganti rugi pada mereka dan juga memberikan puluhan tail perak sebagai tanda penyesalanmu!"

Sambil berkata begitu, tampak pemuda itu telah memandang dengan sorot mata yang tajam kepada Gorgo San, sikapnya berani sekali.

Mata Gorgo San jadi mendelik, dan ia mengawasi dengan sinar mata yang mengandung kemendongkolan, sebab ia memang biasanya ditakuti lawan.

Siapa tahu, pemuda kerempeng yang mukanya tampan seperti pemuda ini adalah seorang wanita, telah berani menegurnya seperti itu.

Karenanya ia telah mendengus dan berkata.

"Ya, aku akan mengganti rugi pada mereka, tentu saja, dengan jiwamu sebagai penggantinya……!" Sambil berkata begitu, ia menghantam dengan telapak tangannya. Gorgo San memiliki kepandaian yang tinggi dan lihay, sekarang ia tengah gusar, karenanya kini ia benar-benar telah bermaksud membunuh pemuda tampan itu dalam sekali hantam. Dengan demikian ia bisa melampiaskan kemarahan hatinya. Tapi pemuda tampan yang berdiri di depannya tertawa dingin, dia berkelit dengan mudah waktu telapak tangan Gorgo San hampir mengenai sasarannya. Di waktu itu Gorgo San yang memukul tempat kosong, karena pemuda itu tahu-tahu telah melesat ke samping mengelakkan diri dari hantamannya, jadi terkejut juga. Ia tidak menyangkanya, bahwa pemuda yang tampan dan tampaknya begitu lemah dan halus, merupakan seorang pemuda yang lihay. Malah melihat kegesitan gerakannya itu, ditambah juga dengan cepatnya dan mudahnya ia menghindar dari serangan Gorgo San. Maka Gorgo San seketika dapat menduganya, pasti pemuda ini memiliki kepandaian yang tinggi. Karena memang di waktu itu dia pun merasakan, dengan gin-kang atau ilmu meringankan tubuh seperti itu, jelas pemuda ini mengerti ilmu silat. Dan ia tentu saja tidak boleh meremehkannya, dan harus waspada menghadapinya. Tapi di wajahnya yang merah padam karena gusar itu, ia tetap tidak memperlihatkan perasaan heran atau terkejutnya untuk lihaynya pemuda tersebut. Karenanya, ia membarengi pula dengan dua pukulan yang gencar. Pemuda tampan itu tertawa dingin, tahu-tahu tangan kanannya bergerak cepat sekali, di saat mana tubuhnya berkelebat dengan dibarengi tangannya bekerja.

"Dukkk! Dukkk!"

Terdengar dua kali suara benturan tangan yang kuat..

Dalam keadaan seperti itu, Gorgo San kembali terkejut, karena ia merasakan betapa tangkisan, pemuda itu kuat sekali.

Berbeda dengan bentuk tubuhnya yang kurus ramping dan tampaknya lemah.

Tangkisannya itu justeru mengandung lweekang yang tangguh sekali membuat pergelangan tangan Gorgo San tergetar.

Dengan segera Gorgo San merobah cara pertempurannya, karena, jika tadi ia sama sekali tidak memandang sebelah mata kepada pemuda kurus kerempeng itu, justeru sekarang ini malah menyerang lagi dengan pukulan yang bersungguh-sungguh.

Dalam waktu sekejap mata saja, telah beberapa jurus mereka lewatkan.

Kawannya pemuda kurus kerempeng, pemuda seorangnya lagi, tetap duduk tidak bergerak dari tempatnya itu, ia mengawasi dengan tenang kawannya itu tengah menghadapi Gorgo San.

Gorgo San semakin penasaran.

Jika sebelumnya ia menduga dalam satu atau dua jurus ia akan dapat merubuhkan lawannya yang dilihatnya sangat lemah itu.

Tidak tahunya justeru di waktu itu ia memperoleh perlawanan yang gigih.

Kuat tenaga dalam dari lawannya tersebut, tangguh ilmu silatnya.

Dengan demikian membuat Gorgo San mengerahkan semangatnya, ia menyerang semakin bersungguh-sungguh.

Hebat kesudahannya, tubuh mereka berkelebat-kelebat ke sana ke mari dengan gerakan yang lincah.

Juga di waktu itu ada beberapa meja dan kursi yang rusak terkena hantaman tangan dari ke dua orang yang tengah bertempur tersebut, yang hancur berantakan.

Kasir rumah penginapan itu jadi menjerit-jerit meminta ke dua orang itu tidak berkelahi lebih jauh, karena ia kuatir seluruh perabotan di dalam ruangan tersebut akan rusak dan hancur.

Sedangkan Gorgo San dan pemuda kurus kerempeng itu tetap saja melibatkan diri dalam pertempuran yang tidak berkesudahan, dimana terlihat Gorgo San semakin lama menyerang semakin hebat.

Dan juga memang ia telah mengeluarkan ilmu andalannya.

Jika sebelumnya ia tidak memandang sebelah mata kepada lawannya itu, yang diduganya sangat lemah dan sebagai kutu buku, namun sekarang justeru ia telah mengerahkan kepandaian tingkat tingginya buat berusaha merubuhkan lawannya, karena ia memperoleh lawan yang tangguh sekali.

Jika ia kurang berhati-hati justeru dirinya yang akan kena dirubuhkan atau dibinasakan oleh lawannya itu.

Karenanya, dengan cepat sekali tampak ia telah beberapa kali menyerang semakin hebat!

Namun pemuda yang bertubuh kerempeng itu dapat melayaninya dengan baik, tanpa terdesak sedikitpun juga.

Sebagai seorang yang angkuh dan selalu ditakuti oleh orang-orang rimba persilatan, dan sekarang tidak bisa merubuhkan pemuda kerempeng ini, membuat dia jadi penasaran sekali!

Dan segera ia telah mengeluarkan cengkeraman Maut Dari Langit, ilmu yang hebat dan menjadi andalannya.

Begitu ia mempergunakan jurus-jurus ilmu cengkeraman itu, seketika pemuda kerempeng itu terdesak.

Malah suatu kali, ketika ia diancam akan dicengkeram dadanya, pemuda itu mengelak dengan menunduk.

Dan dikala pemuda itu tengah menunduk, cepat sekali tangan kanan dari Gorgo San telah menyambar dan menyambak topi pemuda itu.

Begitu topi terlepas, terurai rambut yang panjang!

Gorgo San seketika tertegun, tapi kemudian tertawa bergelakgelak.

"Hahahahahaha, tidak tahunya seorang nona cantik!"

Katanya dengan suara yang mengejek, dia membuang topi yang telah direbutnya.

Gadis itu, yang menyamar sebagai seorang pemuda, mukanya berobah merah padam.

Ia telah mengeluarkan seruan dan merangsek maju.

Namun kawannya, pemuda yang seorangnya lagi segera berseru sambil melompat maju dari tempt duduknya.

"Adik Hoa, mundurlah, biar aku yang menghadapinya......!"

Dan tangan kanan pemuda ini menyambar! "Takkk!"

Tangan Gorgo San kena disampoknya, sampai ia terkejut, karena tubuhnya tergetar hebat sekali.

untung ia masih keburu mengerahkan tenaga dalamnya, sehingga dia tidak sampai terhuyung mundur.

Gadis yang dipanggil dengan sebutan "Adik Hoa"

Itu telah melompat mundur dengan maka yang merah padam, karena ia masih penasaran dan marah.

Tapi ia menyadari tidak mungkin ia sanggup menghadapi Gorgo San.

Karena itu, ia hanya menyaksikan saja kawannya menghadapi Gorgo San.

Kawan dari si Adik Hoa itu memang lihay.

Ia segera menyerang bertubi-tubi kepada Gorgo San.

Hal ini membuat Gorgo San jadi sibuk berulang kali harus menghindarkan diri dari hantaman pemuda itu.

Malah yang membuat ia jadi heran, karena setiap serangan pemuda itu selalu mengandung terjangan angin yang luar biasa dahsyatnya.

Dalam keadaan seperti itu, ia berusaha untuk mengadakan perlawanan, cuma disebabkan serangan dari pemuda itu memang aneh.

Setiap jurusnya selalu membingungkan dan sulit untuk diterka oleh Gorgo San, sementara waktu tidak bisa membalas menyerang.

Dia hanya main kelit dan mengelakkan saja, karena itu berulang kali ia pun harus dapat mengendalikan diri, guna mengawasi dan meneliti dengan cermat cara menyerang dari lawannya itu agar ia tidak terkena serangan aneh, yang selalu menimbulkan angin berkesiuran dingin.

Dikala ia terlihat Gorgo San telah melewati duapuluh jurus, masih ia belum dapat membalas menyerang.

Dan ketika suatu kali ia melompat mundur menjauhi diri dari pemuda lawannya, ia segera berseru.

"Tahan.....!"

Pemuda itu menunda penyerangannya lebih jauh, ia mengawasi tajam.

"Hemmm, kau seorang yang tidak pernah memakai aturan selalu bertindak sewenang-wenang! Apakah kau kira, di dalam dunia ini cuma engkau seorang diri yang memiliki kepandaian tinggi?!"

Mengejek pemuda itu.

"Siapa kau?"

Tanya Gorgo San dengan suara yang tawar.

"Aku tidak biasa membunuh manusia yang tidak bernama."

"Hemmmm!"

Pemuda itu mendengus.

"Aku she Lie bernama Ko Tie!"

Menjelaskan pemuda itu.

Muka Gorgo San berobah.

Memang belakangan ini, ia mendengar di dalam rimba persilatan telah muncul dua orang pemuda yang tangguh, dan yang sangat lihay ilmu silatnya.

Ia segera ingin menduga bahwa Lie Ko Tie ini adalah pemuda yang didengarnya itu.

"Hemmmm, tidak tahunya engkau, yang mungkin belakangan ini telah menimbulkan kehebatan di dalam rimba persilatan!"

Kata Gorgo San dengan suara yang nyaring.

"Bagus! Bagus! Kita bisa bertemu di sini. Tapi ku kira, manusia seperti engkau tidak perlu kulayani terus......!" Sambil berkata begitu, segera juga Gorgo San telah menjejakkan kakinya. Sebelumnya dia masih sempat mengerling kepada si gadis yang ternyata bukan lain dari Giok Hoa. Hatinya tertarik sekali melihat wajah yang begitu manis dan cantik, sehingga ia sendiri tergerak hatinya. Ia cepat sekali telah meninggalkan rumah penginapan itu! Ko Tie dan Giok Hoa, yaitu si pemuda dan si gadis, tidak mengejar. Mereka berdua memang telah tiba di tempat ini dalam perjalanan berkelana. Dan mereka tidak menyangka bertemu dengan Gorgo San. Semula mereka menduga Gorgo San hanya sebangsa buaya darat di kampung ini. Namun siapa tahu setelah Giok Hoa bertempur dengannya, barulah mereka berdua menyadarinya bahwa Gorgo San orang Kang-ouw yang memiliki kepandaian tinggi. Sebenarnya Ko Tie hendak menyangka siapa sebenarnya Gorgo San, tapi justeru Gorgo San telah keburu angkat kaki. Hal ini dilakukan oleh Gorgo San dengan memiliki alasan tersendiri. Sebetulnya jika memang menuruti adatnya, dia tentu tidak akan menyudahi urusan itu sampai di situ saja. Tapi hatinya benar-benar tergerak waktu melihat betapa cantiknya Giok Hoa. Ia begitu tertegun dan kesima melihat pemuda yang semula menjadi lawannya, adalah seorang gadis. Dengan demikian, ia kagum juga, bahwa si gadis bisa memiliki kepandaian begitu tinggi. Sebagai manusia yang licik, ia segera menyadari. Jika hendak mendekati gadis itu, jelas ia telah menanamkan kesan yang tidak baik, di mana tadi dia menimbulkan kerusuhan. Karenanya Gorgo San tidak mau menarik panjang dulu persoalan mereka. Dia menyingkir untuk mencari jalan, agar dapat kelak mendekati si gadis. Karenanya, dia segera angkat kaki dari tempat itu. Ko Tie waktu itu diberitahukan pelayan bahwa kamar yang mereka pesan itu telah disiapkan. Sedangkan beberapa orang pelayan lainnya segera membereskan perabotan yang tadi berantakan akibat pertempuran itu. Ko Tie memberikan sepuluh tail perak kepada kasir rumah makan merangkap rumah penginapan itu, sebagai ganti rugi atas kerusakan meja dan kursinya itu. Kasir rumah penginapan itu mengucapkan terima kasihnya berulang kali, dia sangat bersyukur. Sedangkan pelayan-pelayan, semua melayani Ko Tie dan Giok Hoa dengan hormat, sebab mereka mengetahuinya bahwa memang muda-mudi ini sepasang pendekar yang gagah dan lihay sekali. Juga mereka sangat kagum melihat kecantikan Giok Hoa, demikian juga buat tampannya si pemuda. Karenanya, mereka anggap, itulah pasangan yang sangat ideal dan cocok sekali. Ko Tie dan Giok Hoa ketika berada di dalam kamar, bercakapcakap membicarakan perihalnya Gorgo San. Waktu itu, dengan sengit Giok Hoa bilang.

"Hemmmmm, dia memang memiliki kepandaian yang tinggi, tapi hatinya kejam dan sifatnya buruk sekali, tangannya telengas. Karena dari itu, manusia seperti itulah yang jauh lebih berbahaya di bandingkan dengan penjahat-penjahat biasa."

Ko Tie mengangguk membenarkan.

"Entah dia murid siapa?"

Kata pemuda itu.

"Hemmm, dilihat dari kepandaiannya, dia tentunya bukannya sebangsa manusia sembarangan. Giok Hoa mengangguk mengiyakan, dan mereka terus juga bercakap-cakap sampai jauh malam dan barulah mereka tidur. Tengah ke duanya asyik tidur seperti itu, mendadak mereka terbangun terkejut, karena dari luar jendela terdengar suara ketukan kayu bok-hie yang beruntun, yang terdengarnya berirama, disertai oleh liam-keng seorang pendeta. Bukan main gusarnya Ko Tie dan Giok Hoa. Ke duanya saling memandang sejenak lamanya. Karena mereka memang tidak membuka pakaian waktu tidur, dan mereka tidur dengan pakaian lengkap, dengan segera mereka bisa melompat ke dekat jendela. Ko Tie memasang mata sejenak, dan suara bok-hie itu masih juga terdengar, dengan iringan irama liam-keng dari seorang Hweshio tua. Setelah melihat tidak ada sesuatu pun yang mencurigakan, barulah Ko Tie mendorong terbuka daun jendela. Tidak ada penyerangan. Dan pemuda ini sambil mengibaskan lengan bajunya, melompat keluar. Tidak ada penyerangan gelap juga, karena ia bisa tiba di pekarangan yang penuh dengan bungabunga yang tengah bermekaran. Ia melihat di antara kesunyian dan kekelaman malam, tampak seorang pendeta duduk di bawah sebatang pohon yang rimbun di pekarangan rumah penginapan tersebut, tidak jauh terpisah dari jendela kamar mereka, tengah duduk bersemedhi, dengan mengetuk-ngetuk pemukul bok-hienya dan juga membaca liamkeng dengan irama yang cukup keras dan nyaring, memecahkan kesunyian malam. Mungkin tamu-tamu lain di rumah penginapan tersebut tidak mau usil, dan mereka juga tidak mau mencari urusan, karena mereka menduganya, jika mereka melongok keluar, justeru mereka kuatir, kalau-kalau memang pendeta itu cuma memancing, padahal ia seorang penjahat. Tidak ada seorang pun dari tamu di rumah penginapan itu yang membuka jendela kamar mereka. Pendeta itu mengangkat kepalanya perlahan-lahan, sepasang alisnya tumbuh panjang dan telah putih, demikian juga kumis dan jenggotnya yang tumbuh panjang, telah memutih. Ia mengenakan jubah warna kuning dengan lukisan pat-kwa (segi delapan) berwarna merah, di mana ia telah memandang dengan mata yang tajam sekali. Namun, mulutnya terus juga membaca liam-keng. Dikala ini ia tengah mengetuk-ngetuk kayu bok-hienya, dan Ko Tie berdua Giok Hoa berdiri mengawasinya. "

Hai!"

Akhirnya pendeta itu menghela napas dalam-dalam.

Dia berhenti membaca liam-keng, malah ia pun tidak meneruskan ketukan pada bok-hienya, karena dia telah menatap kepada Ko Tie dan Giok Hoa bergantian, ujarnya.

"Sungguh aku seorang pendeta yang tidak tahu diri karena di tengah malam yang sunyi senyap seperti ini, telah menganggu kenyenyakan tidur tuan dan nona……!"

Ko Tie melihat, ramah suara dan kata-kata si pendeta.

Namun matanya yang memancarkan sinar yang tajam itu memperlihatkan selain ia bukan pendeta sembarangan dan pasti memiliki kepandaian yang tinggi, juga tentunya ia seorang yang licik.

Bola mata itu bergerak-gerak sangat cepat sekali.

Karenanya pula, Ko Tie berlaku hati-hati dan waspada.

"Siapakah Taysu?!"

Tanya Ko Tie sambil merangkapkan tangannya memberi hormat. Pendeta itu tersenyum.

"Pinceng seorang pendeta kelana yang tidak ternama, karena dari itu, malu menyebutkan gelaran pinceng…..!"

Katanya kemudian.

"Tapi karena memang kongcu telah menanyakan, maka baiklah, pinceng akan memberi tahukan juga, bahwa pinceng bergelar Kiang-lung Hweshio……!"

"Tokkk!"

Membarengi dengan habisnya perkataannya itu, ia telah mengetuk bok-hie nya dengan keras, suara bok-hie itu terdengar nyaring sekali dan mendengung.

Ko Tie mengawasi Kiang-lung Hweshio beberapa saat kemudian katanya.

"Apakah Taysu membutuhkan kamar? Jika memang benar, kami tentu bisa membantu……!"

"Hahahaha……!"

Belum lagi Ko Tie selesai dengan kata-katanya itu, justeru pendeta itu tertawa bergelak-gelak nyaring sekali.

"Ya, pinceng memang seorang pendeta miskin yang berkelana dari tempat yang satu ke tempat yang lain. Pinceng memang tidak memiliki uang. Dan Pinceng sama sekali tidak membutuhkan tempat berteduh, ke mana saja ke dua kaki pinceng ini melangkah, ke sanalah pinceng berteduh. Karena langit merupakan rumahku dan bumi merupakan tempatku.....

"Tidak ada yang pinceng butuhkan selain uang. Dan pinceng hendak meminta derma uang, karena memang pinceng membutuhkan uang……!" "Membutuhkan uang?!"

Tanya Ko Tie mengerutkan alisnya karena heran dan curiga, sebab seumurnya, belum pernah ada pendeta yang begitu berterus terang untuk meminta uang derma, tanpa malu-malu lagi.

Hal ini telah membuat Ko Tie jadi janggal mendengarnya.

Memang Ko Tie mengetahui, seorang pendeta selalu meminta derma.

Tapi tentu saja caranya bukan dengan cara mengetuk bok-hie dan liam-keng di tengah malam buta seperti ini, mengganggu tidur orang lain.

Dengan demikian, perbuatan seperti itu jelas merupakan suatu perbuatan yang tidak selayaknya dan agak kurang ajar.

"Tentunya kongcu dan Kouw-nio bersedia buat memberi derma uang kepada pinceng, bukankah begitu?!"

Tanya si pendeta sambil tersenyum. Ko Tie mengawasi Kiang-lung Hweshio sejenak, barulah kemudian mengangguk.

"Baiklah, jika memang Taysu membutuhkan derma uang, kami bisa memberikan!"

Setelah berkata begitu, Ko Tie merogoh sakunya mengeluarkan lima tail perak dan memberikan kepada pendeta itu.

Si pendeta mengerutkan alisnya yang telah memutih, kemudian dengan sikap tidak senang ia bilang.

"Hanya segini saja?!"

Ko Tie tertegun.

"Berapa yang Taysu inginkan?!"

Tanya Ko Tie. Kiang-lung Hweshio berdiam diri sejenak kemudian tertawa. Sinis sekali.

"Jika uang lima tail perak seperti ini, pinceng pun memiliki dan untuk uang sebesar ini, tentu saja pinceng tidak perlu meminta derma!"

"Kurang ajar sekali pendeta ini, ia seorang yang tidak mengenal budi dan terima kasih,"

Berkata Ko Tie di dalam hatinya dengan perasaan tidak senang. Di waktu itu, iapun bilang.

"Ya, hanya sebesar itu yang bisa kami dermakan!"

"Tukkk!"

Tiba-tiba Kiang-lung Hweshio mengetuk kayu bok-hienya keras sekali.

Suara itu terdenyar sangat nyaring, memekakkan anak telinga.

Ko Tie dan Giok Hoa tercekad juga, itulah suara diketuknya bokhie dengan disertai sin-kang yang kuat.

Dengan begitu memperlihatkan betapa si pendeta sesungguhnya memiliki sinkang yang tinggi sekali.

"Pinceng bukan seorang pengemis, yang diberi derma hanya sebesar ini!"

Bilang pendeta itu kurang senang. Barulah kemudian Kiang-lung Hweshio melanjutkan perkataannya setelah memperdengarkan dua kali tertawa dingin.

"Hemm, pinceng membutuhkan tigaribu tail perak!"

"Tigaribu tail perak?!"

Tanya Ko Tie dengan membeliakkan matanya.

"Ya!"

Mengangguk Kiang-lung Hweshio sambil tersenyum. Ko Tie tertawa, dia menggelengkan kepalanya perlahan, kemudian katanya.

"Maafkan, tidak dapat kami memenuhi permintaan Taysu, karena kami berdua memang tidak memiliki uang sebanyak itu!"

"Tidak bisa!"

Tiba-tiba suara si pendeta berobah keras.

"Tadi kalian telah berjanji akan memberikan dermanya kepada pinceng! Mengapa sekarang ini justeru kalian mengatakan tidak memiliki uang buat memberikan derma kepada pinceng?!" Ko Tie tersenyum pahit, katanya.

"Jika hanya untuk derma sekedarnya, kami bersedia memberikannya, karena memang kami memiliki kemampuan buat memberikannya. Tapi jika jumlahnya meliputi ratusan tail bahkan ribuan tail, mana mungkin kami memberikannya, sedangkan kami berdua memang tidak memiliki uang sebanyak itu!"

"Tukkk!"

Kembali pendeta itu mengetuk kayu bok-hienya keras sekali. Wajahnya berobah jadi bengis, dia pun tertawa dingin.

"Hemmm, bagus! Bagus! Jika memang demikian, baiklah!"

Katanya.

"Kalian telah berjanji, tetapi tidak bisa memenuhi janji kalian. Maka sebagai ganti dari tigaribu tail perak, kalian berdua harus memberikan ke dua batok kepala kalian!"

Waktu berkata begitu, mata Kiang-lung Hweshio bersinar tajam, juga mukanya sangat bengis.

Muka Ko Tie dan Giok Hoa berobah.

Mereka segera dapat menduganya bahwa pendeta itu tentunya seorang pendeta jahat dan juga memang tengah mencari gara-gara dengan mereka.

Karena itu, cepat sekali, Ko Tie mundur dua langkah menjauhi si pendeta, demikian juga Giok Hoa.

Sambil masih memaksakan diri buat tersenyum, terlihat Ko Tie berkata.

"Maafkan, kami tidak bisa memenuhi permintaan Taysu dan juga kami tidak bisa menemani Taysu lebih lama, karena kami masih mengantuk dan hendak tidur. Kami hanya bisa memberikan derma cuma sebesar lima tail perak itu!"

"Wuttt! wuttt! wuttt! wuttt! wuttt!"

Beruntun lima kali terdengar berkesiuran menyambarnya ke lima keping uang lima tail perak itu, yang menyambar cepat sekali, kepada Ko Tie dan Giok Hoa berdua.

Sambaran kepingan uang logam tersebut begitu cepat dan mengandung tenaga timpukan yang kuat sekali.

Juga jalan darah yang diincar oleh timpukan uang logam tersebut tidak lain merupakan jalan darah yang berbahaya dan bisa mematikan.

Karenanya Ko Tie dan Giok Hoa serentak mengelakkan timpukan uang logam tersebut dengan lompatan yang manis dan tubuh yang diliukkan menghindar sambaran ke lima uang logam tersebut.

Kiang-lung Hweshio tertawa bergelak-gelak, dia bilang.

"Aku tidak bisa menerima derma yang tidak berarti seperti itu! Jika cuma lima tail perak, berarti kalian memang hendak menghina pinceng, karena pinceng tentu dianggap kalian sebagai pengemis saja layaknya!"

Marah sekali tampaknya Kiang-lung Hweshio waktu mengucapkan kata-katanya itu.

Ko Tie dan Giok Hoa yang telah menghindarkan diri dari sambaran uang logam tersebut, berdiri tegak dengan muka memancarkan sikap kurang senang.

Malah Ko Tie yang sudah tidak bisa mengekang perasaan mendongkolnya telah berkata.

"Baiklah, lalu apa yang dikehendaki oleh Tay-su?!"

Kiang-lung Hweshio terus juga tertawa bergelak-gelak. Mendadak dia mengetuk bok-hie nya.

"Tukkkk!"

Suara itu terdengar nyaring sekali, jauh lebih keras dari sebelumnya.

Ko Tie dan Giok Hoa kaget.

Suara ketukan pada bok-hie itu mengandung kekuatan sin-kang yang hebat sekali.

Suara itu seperti juga raungan naga dan jeritan harimau, dan mendengung di telinga mereka seakan juga langit runtuh dan bumi amblas, mendengung-dengung keras sekali seakan ingin merusak dan merobek gendang telinganya.

Dengan demikian, telah membuat Ko Tie dan Giok Hoa cepatcepat mengerahkan sin-kang mereka buat mengurangi dan mengendalikan perasaan tergetarnya dari suara ketukan bok-hie itu pada diri mereka, karena justeru suara ketukan bok-hie itu membuat hati mereka tergetar keras, disamping membuat darah mereka bergolak.

Apalagi memang pendeta itu telah mengetuk pula berturut-turut empat ketukan.

Setiap ketukan pada bok-hienya memang disertai sin-kang yang kuat, saling susul, suara bok-hie itu semakin lama jadi semakin kuat dan keras.

Ketukan bok-hie itu bisa melumpuhkan orang yang memiliki sin-kang masih rendah, bahkan akan membuat terluka di dalam orang yang mendengarnya.

Ko Tie dan Giok Hoa menyadari bahaya yang bisa menimpah mereka, di samping mengempos sin-kang mereka, ke dua muda mudi ini juga berwaspada untuk sewaktu-waktu menerima serangan yang akan dilancarkan oleh pendeta ini, yang tampaknya memang semakin jelas bukan sebagai pendeta baik-baik.

Dalam keadaan seperti itu tampak Ko Tie dan Giok Hoa berhasil mengendalikan diri dan tidak terpengaruh oleh suara ketukan bokhie Kiang-lung Hweshio.

Hal ini membuat si pendeta jadi heran dan memandang dengan mata terbuka lebar-lebar.

Tidak biasanya orang akan sanggup untuk bertahan dari suara ketukan bok-hie nya itu.

Tapi ke dua muda mudi itu tangguh sekali, sama sekali mereka tidak memperoteh kesulitan karena suara ketukan bok-hie itu.

Karenanya telah mengherankan benar si pendeta.

Biasanya, walaupun korbannya memiliki lweekang yaag tinggi, mereka tentu tidak akan kuat bertahan diri dari ketukan bok-hienya.

Tapi ke dua muda-mudi ini tampaknya tenang-tenang dan berwaspada saja, tapi tidak mengalami sesuatu yang merugikan mereka.

Rupanya Kiang-lung Hweshio penasaran dengan kejadian ini.

Ia tidak mengetuk lebih jauh bok-hienya itu, dia bangun berdiri perlahan-lahan.

Katanya.

"Jiewie tampaknya memang memiliki kepandaian yang lumayan, sehingga jiewie menjadi begitu angkuh dengan sombong sekali terhadap seorang paderi seperti pinceng……!" Dan membarengi dengan kata-katanya sampai di situ, si pendeta telah mengibaskan tangannya. Lengan jubahnya yang lebar itu berkesiuran menderu-deru, karena telah meluncur angin yang dahsyat sekali menerjang kepada Ko Tie dan Giok Hoa. Yang lebih hebat, angin yang menyambar bergemuruh itu menderu-deru sangat hebat sekali. Dengan demikian telah membuat si pendeta jadi bermaksud untuk sekali menyerang membunuh muda-mudi itu. Karena kalau memang serangan itu mengenai sasaran dan lawannya merupakan manusia yang bertenaga dalam rendah, niscaya orang itu selain akan terpental, juga isi dadanya akan remuk. Disamping itu, selain akan memuntahkan darah segar, kontan seketika binasa di waktu itu juga. Namun Ko Tie dan Giok Hoa tetap berdiri tenang di tempat mereka. Cuma Ko Tie membisikkan Giok Hoa.

"Hati-hati, sin-kang pendeta busuk ini tinggi juga!"

Dan ia tidak bisa berkata lebih jauh, karena waktu itu tenaga serangan dari si pendeta telah dekat sekali, maka Ko Tie menangkisnya dengan mempergunakan Pukulan Inti Es-nya yang dingin luar biasa.

"Dukkk!

Dukkk!"

Dua kali terdengar suara beruntun yang sangat keras, seperti juga suara guntur yang menggelegar di tempat itu.

Ko Tie telah mewakili Giok Hoa menangkis serangan si pendeta yang meluncur pada si gadis, dan juga memunahkan tenaga pukulan si pendeta yang meluncur kepadanya.

Pendeta itu mengeluarkan suara seruan heran.

Tadi ia telah mempergunakan lima bagian tenaga dalamnya, dan itu sesungguhnya sudah merupakan serangan yang hebat sekali.

Namun celakanya, justeru tampaknya serangannya itu tidak memberikan hasil sama sekali.

Dengan demikian, benar-benar membuat si pendeta jadi heran.

Terlebih lagi seketika dia merasakan menyambarnya angin yang dingin sekali, seperti juga tubuhnya dibalut oleh lapisan es atau dirinya diceburkan ke dalam kolam es.

Dingin bukan main.

Dalam keadaan seperti itu, segera juga Kiang-lung Hweshio telah mengempos sin-kangnya.

Dia berusaha melawan hawa dingin itu dengan kekuatan sin-kangnya, agar tubuhnya tetap menjauhi panas dan tidak membekukan darahnya.

Memang dia berhasil, angin Pukulan Inti Es itu tidak mempengaruhi dirinya lagi.

Cuma saja si pendeta segera membentak bengis.

"Tahan! Siapa kau sebenarnya? Masih ada hubungan apa kau dengan Swat Tocu?!"

"Hemmm!"

Mendengus Ko Tie dengan suara yang dingin.

"Tidak perlu kau menanyakan perihal diriku, karena pendeta busuk dan jahat seperti engkau tidak berderajat buat menanyakan namaku dan juga perihal guruku!"

Bukan main murkanya si pendeta, tapi segera ia tertawa bergelakgelak.

"Hahahaha, tidak tahunya adalah muridnya Swat Tocu! Pantas! Pantas begitu angkuh sama seperti gurunya!"

Setelah begitu, dengan muka yang bengis, Kiang-lung Hweshio telah berkata lagi.

"Baiklah, sekarang aku hendak membunuhmu, bersiap-siaplah! Rupanya Sang Buddha memang maha pengasih, di mana telah diantar kehadapan pinceng murid dari musuh keparat pinceng……!" Mendengar sampai di situ perkataan si pendeta segera Ko Tie mengambil kesimpulan, bahwa pendeta ini adalah musuh gurunya, atau lebih jelasnya memusuhi gurunya. Karena itu mengingat kepandaian Kiang-lung Hweshio memang lihay, dia segera melirik kepada Giok Hoa, katanya.

"Adik Hoa, kau minggirlah, biarlah aku menghadapi pendeta busuk ini, agar ia tahu siapa kita sebenarnya yang merupakan manusiamanusia yang tidak mudah untuk dihina!"

Giok Hoa tidak rewel, dia segera melompat menyingkir ke tepi, keluar kalangan.

Dengan tajam dia mengawasi pendeta itu, di hatinya dia berpikir, jika nanti Ko Tie ternyata tidak bisa menghadapi pendeta itu, barulah dia akan maju buat membantuinya.

Sekarang, jika ia ikut bertempur menghadapi pendeta itu, dia kuatir justeru dirinya cuma mendatangkan kesulitan buat kawannya belaka.

Karena Giok Hoa mengakuinya.

Walaupun kepandaiannya sendiri memang tinggi, tentu saja dia masih berada di bawah kepandaian Ko Tie, karenanya pula, dia telah menuruti permintaan Ko Tie agar ia mundur ke samping saja.

Ko Tie setelah melihat gadis itu menyingkir ke luar kalangan, berdiri tegak menghadapi Kiang-lung Hweshio, dengan sikap yang tenang dan wajah yang memperlihatkan ketegasannya dia bilang.

"Baiklah! Kau mengatakan bahwa, guruku adalah musuhmu, maka dari itu, sekarang mari kita tentukan, apakah manusia seperti engkau ini layak untuk menjadi musuh guruku!"

Setelah berkata begitu, dia bersiap-siap untuk menghadapi Kianglung Hweshio.

Dikala itu Kiang-lung Hweshio memandang Ko Tie dengan muka yang merah padam.

Dia pun mengerang perlahan, tampaknya dia tengah mengerahkan seluruh tenaga dalamnya untuk bersiap-siap menyerang.

Kemudian ia pun telah mengangkat tangan kanannya, yang siap untuk dipakai menggempur.

Ko Tie cuma berdiam diri saja di tempatnya.

Dia sama sekali tidak memperlihatkan gerakan apapun.

Sikapnya sangat tenang, seperti juga ia tidak memandang sebelah mata terhadap lawannya.

Kiang-lung Hweshio mengerang satu kali lagi, mendadak sekali kayu pengetuk bok-hienya telah dipergunakan menimpuk kepada Ko Tie.

Timpukan yang dilakukannya itu menimbulkan kesiuran angin yang sangat dahsyat, membuat Ko Tie tak berani memandang rendah terhadap timpukan itu, dia telah mengelakkannya.

Waktu Ko Tie mengelak, kayu pengetuk bok-hie itu seperti memiliki mata, tahu-tahu telah berbalik dan menyambar kepada jalan darah Kie-bun di dekat pundak Ko Tie.

Ko Tie tertawa dingin.

Kepandaian yang dipergunakan oleh pendeta itu merupakan kepandaian yang memang langka dan jarang sekali dimiliki tokoh-tokoh rimba persilatan.

Karena jika orang yang sin-kangnya masih rendah, niscaya tidak akan dapat mempergunakan tenaganya itu dengan demikian baiknya, mengendalikan setiap timpukannya.

Karena itu kembali ia mengelak lagi, sambil berkelit.

Dia juga telah mengulurkan tangan kanannya, dia mencengkeram dan mengambil kayu pengetuk bok-hie yang tengah menyambar itu.

Gagal!

Cengkeraman Ko Tie mengenai tempat kosong.

Seperti tadi dikatakan, bahwa pengetuk kayu bok-hie tersebut benar-benar seperti memiliki mata, karena tahu-tahu kayu pengetuk bok-hie tersebut telah melesat ke samping.

Dengan demikian membuat ceogkeraman Ko Tie mengenai tempat kosong.

Kayu pengetuk bok-hie tersebut telah melesat ke samping dan menyambar terus kepada si pendeta, dan telah diterima oleh pendeta itu dengan mudah.

Malah dia mengeluarkan suara dengusan.

"Hemmm, ternyata engkau telah mewarisi kepandaian yang tidak terlalu buruk dari gurumu. Pantas saja engkau berani bersikap kurang ajar dan angkuh.....!"

Sambil berkata begitu, dia melangkah maju.

Ke dua tangannya tahu-tahu bergerak dengan cepat dan juga teratur saling susul.

Namun tenaga serangannya itu kuat sekali dan berbahaya, bisa menghancurkan jika mengenai sasarannya, karena datangnya secara bertubi-tubi, maka tenaga serangan itu seperti tidak berkeputusan.

Ko Tie tidak mau membuang-buang waktu lagi.

Dia bersilat dengan lincah sekali, tubuhnya berkelebat ke sana ke mari dengan gesit.

Setiap kali dia berkelit, tentu Ko Tie akan balas menghantam dengan pukulan Inti Es nya.

Dia melakukan semua itu dengan serentak, berkelit dan membarengi dengan menyerang.

Dengan demikian membuat pendeta itu menerima perlawanan yang tidak ringan.

Dalam waktu yang sangat singkat, mereka telah bertempur sampai tigapuluh jurus lebih.

Malah terlihat betapapun juga si pendeta tidak berhasil mendesak dan membuat si pemuda terdesak oleh setiap gempurannya.

Bisa-bisa dirinya sendiri yang mulai terdesak.

Karena belakangan ini, setelah lewat tigapuluh jurus, tampak Ko Tie menyerang semakin gencar.

Si pendeta cuma bisa mengelakkan diri ke sana ke mari dengan gin-kang yang dimilikinya.

Dia sama sekali belum bisa membalas mendesak Ko Tie lagi.

"Hemm!"

Tiba-tiba si pendeta telah mendengus, tahu-tahu dia merobah cara menyerangnya, karena sepasang tangannya telah digerak-gerakkannya bertubi-tubi, seperti juga melindungi sekujur tubuhnya.

Dalam keadaan seperti itu sebetulnya Ko Tie hendak menerjang terus buat mendesak dengan serangan-serangannya.

Akan tetapi justeru ia tidak bisa.

Tenaga bergulung-gulung dari ke dua tangan Kiang-lung Hweshio ternyata memang hebat sekali, seperti juga mengurung tubuhnya dan berusaha melibat Ko Tie, sehingga pemuda itu tidak bisa bergerak dengan leluasa.

Dikala itu terlihat, Ko Tie berusaha mengamat-amati cara menyerang dari lawannya itu.

Dia melihatnya, bahwa secara teratur, si pendeta menghirup napas dalam-dalam.

Itulah kunci rahasianya, karena setiap kali si pendeta menghirup hawa udara, maka tenaga serangannya itu semakin kuat juga.

Karena itu, Ko Tie sengaja membiarkan Kiang-lung Hweshio menyerangnya dengan beruntun.

Dan setiap kali sebelum si pendeta berhasil buat menghirup udara segar, ia merangsek dengan mempergunakan tenaga Pukulan Inti Es, yang hebat luar biasa, di samping ia mempergunakan delapan bagian dari tenaga dalamnya.

Dengan demikian membuat Kiang-lung Hweshio benarbenar jadi jatuh di bawah angin.

Kiang-lung Hweshio merasakan dirinya seperti dikelilingi oleh uap yang dingin sekali, sehingga tubuhnya itu seperti juga dibungkus oleh lapisan es yang membuat jalan darahnya tidak lancar peredarannya lagi.

Dengan demikian, gerakannya juga jadi terlambat dan tidak segesit tadi, karena itu pula, membuat Kiang-lung Hweshio jadi gugup.

Ia mengempos sin-kangnya, berusaha untuk membuat pernapasannya berjalan lancar, dan juga terutama sekali menghangatkan tubuhnya, agar dapat mengusir hawa dingin itu, dan memperlancar kembali peredaran darahnya.

Ko Tie yang melihat Kiang-lung Hweshio mulai terdesak di bawah angin tidak mau merobah cara menyerangnya.

Kiang-lung Hweshio semakin lama jadi semakin terdesak.

Malah kini ia main mundur dan hanya bisa melindungi tubuhnya tanpa bisa membalas menyerang pula.

Di antara berkesiuran angin serangan yang begitu hebat, Kianglung Hweshio menyadari dirinya sudah tidak mungkin bisa melawan terus, maka dia telah membiarkan Ko Tie bergerak terus dengan cepat untuk membuat pemuda itu letih sendirinya.

Dia cuma menutup diri dan mengadakan perlawanan guna membendung serangan itu saja.

Cara membela diri seperti itu memang berhasil membuat Kianglung Hweshio tidak terdesak hebat seperti tadi.

Karena sekarang ini ia berhasil untuk menjaga dirinya dari semua serangan Ko Tie.

Dan dengan ketatnya ia melindungi tubuhnya mempergunakan sinkang nya, berhasil untuk "memanaskan"

Jalan peredaran darahnya, membuat darahnya tidak terasa membeku seperti tadi.

karena memang sekarang dia berhasil memanaskan kembali tubuhnya, sambil memelihara tenaga dalamnya yang tidak mau dihamburhamburkannya.

Kiang-lung Hweshio yakin bahwa Ko Tie akhirnya akan kehabisan tenaga dan tentu akan dapat dirubuhkannya dengan lebih mudah di saat dia tengah lelah.

Duapuluh jurus telah lewat, disusul kemudian tigapuluh jurus lagi.

Tetap saja Ko Tie menyerangnya dengan hebat, hal ini membuat Kiang-lung Hweshia jadi heran juga.

Biasanya, jika seorang menyerang dengan bernafsu dan hebat seperti itu, tentu akan memakan banyak sekali tenaga dan cepat meletihkan.

Tapi tidak demikian halnya dengan Ko Tie, karena pemuda itu tetap saja dapat bertempur dengan bersemangat dan juga kekuatan tenaga serangannya itu tidak pula berkurang.

Dengan demikian membuat Kiang-lung Hweshio jadi penasaran.

Telah beberapa puluh jurus dilewatkan kembali olehnya.

Akhirnya napas Kiang-lung Hweshio memburu keras, keringat pun telah membanjiri tubuhnya, sampai suatu saat, kerena sudah tidak kuat buat bertahan terus, ia melompat mundur.

Dengan muka yang merah padam dia bilang.

"Baiklah, sekarang pinceng mau mengampuni engkau, karena kau telah berhasil menahan duaratus jurus serangan pinceng. Namun nanti pinceng akan mencarimu lagi, buat menghajarmu!"

Setelah berkata begitu, dia mengetuk bok-hienya, dan menjejakkan ke dua kakinya, tubuhnya melompat dengan ringan sekali ke tengah udara.

Begitu dia berpok-say di tengah udara, maka dia hinggap di tembok pekarangan.

Kemudian dia tertawa dingin, lalu menjejak lagi kakinya, maka tubuhnya segera melesat keluar, lenyap di dalam kegelapan malam.

Giok Hoa penasaran sekali, mendahului Ko Tie menjejakkan kakinya.

Tubuhnya segera melesat ke atas tembok.

Ko Tie juga telah menyusulnya.

"Kita kejar!"teriak Giok Hoa dengan suara yang nyaring sekali.

"Ya!"

Menyahuti Ko Tie, karena diapun penasaran dan hendak mengetahui siapakah sebenarnya pendeta itu, yang telah sengaja mencari urusan dengannya.

Karena gin-kang Ko Tie dan Giok Hoa yang telah mahir, mereka bisa mengejarnya dengar cepat sekali.

Tubuh mereka melesat seperti juga terbang, dan mereka mengejar ke arah menghilangnya Kiang-lung Hweshio.

Setelah melewati beberapa lie, mereka melihat di kejauhan si pendeta yang tengah berlari dengan pesat.

"Itu dia!"

Berseru Giok Hoa dengan suara nyaring, dan dia mengejar semakin cepat.

Demikian juga halnya dengan Ko Tie yang mengempos semangatnya dan telah mengejarnya dengan pesat sekali, tubuhnya seperti terbang di tengah udara.

Kiang-lung Hweshio semula berpikir bahwa ia akan dapat meloloskan diri dari Ko Tie dan Giok Hoa, karena ia melihat pertama kalinya muda-mudi itu tidak mengejarnya, dan ia hanya berlari dengan tenaga yang tidak sepenuhnya.

Namun setelah menoleh ke belakang dan melihat Ko Tie dan Giok Hoa mengejarnya, seketika juga ia mengempos semangatnya dan berlari lebih cepat.

Cuma saja sudah terlambat karena Ko Tie dan Giok Hoa mengejarnya semakin dekat.

Karena yakin ke dua muda-mudi itu tidak mau melepaskan dirinya, si pendeta tidak berlari lebih jauh.

Dia berdiri tegak dan menantikan tibanya Ko Tie dan Giok Hoa.

Malah mulutnya seketika mengeluarkan suara siulan, suara siulannya itu melengking nyaring.

Ko Tie dan Giok Hoa cepat sekali tiba di dekat si pendeta, malah mereka bermaksud begitu hendak menyerangnya, agar si pendeta kelak dapat dipaksanya buat mengaku siapa sebenarnya dia dan mengapa Kiang-lung Hweshio bermaksud mencari gara-gara dengan mereka.

Tapi, belum lagi Ko Tie dan Giok Hoa mendekati pendeta itu, mendadak sekali dari samping kiri dan kanan jalan itu, dari tempat yang gelap pekat, telah melesat belasan sosok tubuh bayangan, yang berkelebat sangat gesit, dengan di tangan masing-masing mencekal senjata tajam.

Bahkan senjata tajam itu telah menyambar kepada Ko Tie dan Giok Hoa dengan serentak, karena belasan sosok tubuh itu menyerang dengan serentak, di saat tubuh mereka masih melayang di tengah udara!

Ko Tie dan Giok Hoa bukannya sebangsa manusia lemah, maka biarpun demikian mendadak belasan sosok tubuh itu melompat keluar, dan juga menyerang dengan senjata tajam, tapi ke duanya tidak menjadi gentar atau gugup.

Cepat sekali tubuh mereka melesat ke tengah udara, dan terjangan belasan orang itu mengenai tempat kosong.

Karena mereka melompat begitu, sama saja mereka menghampiri Kiang-lung Hwesio.

Si pendeta yang tengah berdiri dengan tegak, mengawasi dengan tajam, melihat meluncurnya tubuh ke dua muda-mudi itu, tertawa dingin.

Dia menyambutnya dengan pukulan yang dahsyat.

Ko Tie dan Giok Hoa yang tengah meluncur di tengah udara, tidak mau berayal.

Mereka menyadari hebatnya tenaga pukulan dari pendeta tersebut, karena itu, mereka telah menangkisnya dengan mengerahkan tenaga dalam mereka.

Jika Ko Tie malah menangkisnya dengan mempergunakan juga ilmu Pukulan Inti Esnya.

Dengan begitu, bentrokan tenaga dalam yang hebat itu, di mana si pendeta menghadapi tenaga gempuran dari ke dua orang itu, benar-benar membuat dia terdesak sekali.

Bahkan kuda-kuda ke dua kakinya telah tergempur dan tubuhnya terhuyung sampai tiga langkah.

Ko Tie dan Giok Hoa juga seperti terbendung meluncurnya tubuh mereka di udara, karena seketika itu juga mereka telah terdorong, dan kemudian meluncur turun ke tanah.

Disaat itu baru saja kaki mereka jatuh di tanah, justeru belum lagi mereka bisa berdiri tetap di tempat masing-masing, tiba-tiba terlihat belasan orang yang tadi menyerang Ko Tie dan Giok Hoa dan gagal mengenai tempat kosong, sekarang telah menerjang lagi dengan senjata mereka.

Belasan senjata tajam itu meluncur dengan cepat sekali kepada Ko Tie dan Giok Hoa.

Malah setiap serangan mereka, mengincar bagian yang mematikan.

Karena itu, Ko Tie dan Giok Hoa tidak mau membuang-buang waktu lagi.

Mereka menghadapinya dengan pedang masingmasing, dengan serentak mereka berdua telah mencabut pedang masing-masing, yang diputar dan dipergunakan buat menangkis serangan belasan dari orang itu.

Seketika terdengar suara jeritan beberapa orang di antara mereka yang terluka oleh pedang Ko Tie dan Giok Hoa, malah juga terdengarnya benturan senjata tajam mereta.

Dengan demikian benar-benar membuat belasan orang itu tidak berani menerjang terlalu dekat.

Ko Tie dan Giok Hoa berdiri gagah sekali di tempat mereka.

Mengawasi dengan sorot mata yang tajam, di mana tangan mereka mencekal senjata mereka erat-erat.

Tiba-tiba Kiang-lung Hweshio telah berseru dengan suara nyaring.

"Bunuh mereka……!"

Sedangkan belasan orang yang mengepung Ko Tie dan Giok Hoa tidak lain dari belasan orang pendeta.

Dikala itu, mereka memang telah mengepung Ko Tie dan Giok Hoa di tengah-tengah dan siap menerjang.

Cuma saja.

Disebabkan tadi mereka telah menyaksikan betapa lihaynya kepandaian muda-mudi ini membuat mereka tidak berani sembarangan maju menerjang.

Sekarang mendengar perintah dari Kiang-lung Hweshio membuat mereka jadi terpaksa menerjang juga.

Mereka tidak berani membantah perintah itu, walaupun hati mereka agak jeri, tokh mereka segera mengeluarkan suara bentakan yang mengguntur dan telah menerjang dengan senjata masing-masing.

Sedangkan Ko Tie dan Giok Hoa telah menggerakkan pedang mereka, menghalau senjata lawan.

Dan mereka berhasil membendung serbuan dari belasan orang lawan ini, yang semuanya memiliki kepandaian cukup tinggi.

Rupanya belasan pendeta ini anak buah Kiang-lung Hweshio, karena mereka semuanya berpakaian sebagai pendeta, dan juga mereka memang patuh terhadap perintah Kiang-lung Hweshio.

Dengan demikian, membuat mereka juga tampaknya ingin mempertaruhkan diri, asal mereka bisa menangkap atau membunuh Ko Tie dan Giok Hoa.

Dikala itu, Ko Tie dan Giok Hoa beruntun telah berhasil merubuhkan tiga orang lawannya, memang belasan orang pendeta itu bukanlah lawan mereka yang setimpal, karena dengan mudah Ko Tie dan Giok Hoa berhasil untuk mendesak mereka, sehingga belasan orang pendeta itu tidak bisa mendesak maju terlalu dekat.

Tubuh Kiang-lung Hweshio tampak menggigil menahan amarah, ia telah berseru dengan suara yang bengis sekali.

"Serang mereka, bunuh! Ayo, jangan membuang-buang waktu lagi……!" Sambil memberikan perintahnya itu tampak dia telah melangkah maju satu langkah, tampaknya memang dia tidak sabaran dan bermaksud hendak melangkah maju buat bantu menyerang. Tapi kenyataannya Kiang-lung Hweshio tidak maju menyerang, karena dia telah berdiri tegak dengan selalu menganjurkan belasan orang anak buahnya buat maju lebih berani untuk membunuh Ko Tie dan Giok Hoa. Anak buahnya yang diperintahkan berulang kali menerjang maju, telah jatuh lagi dua orang korban di antara mereka, karena seketika itu juga terdengar suara jeritan, jerit kematian. Tampak Kiang-lung Hweshio semakin tidak sabar. Cuma iapun jeri dan gentar buat maju menyerang kepada Ko Tie dan Giok Hoa. Ia telah menyaksikan betapa muda-mudi ini memang memiliki kepandaian yang tidak rendah, karena itu, ia tahu, jika ia maju, pun memang tidak banyak yang bisa dilakukannya. Maka ia cuma memberikan perintah kepada anak buahnya. Di waktu itu terlihat betapa semua anak buahnya semakin raguragu, mereka gentar buat menerjang terus kepada Ko Tie dan Giok Hoa. Sedangkan Kiang-lung Hweshio mengerutkan sepasang alisnya. Dia berpikir.

"Hemmm, kepandaian mereka memang sangat tinggi sekali, terutama pemuda itu. Tidak kecewa dia menjadi muridnya Swat Tocu, karena memang dia memiliki kepandaian yang luar biasa. Jarang seorang pemuda dalam usia seperti dia bisa memiliki kepandaian begitu tinggi……!"

Sambil berpikir begitu, Kiang-lung Hweshio juga bermaksud hendak mengundurkan diri.

Dia ingin meninggalkan tempat itu secara diam-diam.

Tapi belum lagi pendeta tersebut memutar tubuhnya meninggalkan tempat itu, mendadak berkelebat dari atas sebatang pohon sesosok tubuh manusia.

Gerakan sosok tubuh itu gesit sekali, karena tahu-tahu ia telah berada di samping Kiang-lung Hwesio.

Malah disusul dengan tertawanya.

Ia telah bilang dengan suara yang cukup nyaring.

"Apa yang kukatakan, Taysu, bukankah memang benar bahwa muda-mudi itu memiliki kepandaian yang tinggi dan kau tidak mungkin bisa membekuk mereka ......?!"

Kiang-lung Hweshio menoleh, maka dia melihatnya.

Itulah seorang pemuda, yang berusia antara tigapuluh tahun, di mana tampak matanya yang bengis.

Dia tidak lain dari Gorgo San, pemuda yang jadi muridnya Dalpa Tacin, yang telah menceritakan kepadanya bahwa Ko Tie dan Giok Hoa merupakan pasangan muda-mudi yang memiliki kepandaian yang sangat tinggi.

Dan semula pendeta itu beranggapan si pemuda memang merasa gentar dan jeri pada Ko Tie dan Giok Hoa, sehingga membesar-besarkan dalam ceritanya itu mengagulkan kepandaian ke dua orang tersebut.

Namun setelah ia sendiri berusaha untuk membekuk ke dua orang itu, tetap saja ia gagal dan juga menderita malu, karena sama sekali dia tidak berdaya buat merubuhkan Ko Tie dan Giok Hoa.

Menghadapi Ko Tie seorang diri saja ia masih tidak sanggup mendesak pemuda itu, malah dia yang telah terdesak.

Dengan demikian membuktikan bahwa kepandaian Ko Tie berada di atas kepandaiannya dan terlebih lagi jika memang dia dikeroyok oleh pasangan muda-mudi itu, tentu tidak banyak yang bisa dilakukannya.

Dikala itu terlihat, banyak anak buah dari Kiang-lung Hweshio yang terluka, dan tampak Gorgo San telah tertawa tergelak-gelak.

Memang sesungguhnya, ia telah meminta kepada Kiang-lung Hweshio, agar pendeta ini bersama murid-muridnya membantu dia.

Pertemuan antara Gorgo San dengan Kiang-lung Hweshio terjadinya sangat kebetulan sekali, karena memang pemuda itu, yang bersahabat dengan Kiang-lung Hweshio, tidak menyangka akan bertemu dengannya di situ.

Segera Gorgo San menceritakan, bahwa ia baru saja menghadapi pasangan muda-mudi yang memiliki kepandaian sangat tinggi sekali.

Karenanya, Kiang-lung Hweshio tidak mempercayainya dan berkata bahwa ia akan dapat membekuk ke dua muda-mudi itu dengan mudah, asal saja Gorgo San memberitahukan kepadanya, di mana beradanya muda-mudi itu.

Segera juga Gorgo San memberitahukan di mana tempat Ko Tie dan Giok Hoa menginap.

Dan si pendeta telah pergi ke sana, untuk mencari gara-gara dengan ke dua muda-mudi itu.

Tapi dalam pertempuran yang terjadi tadi malah si pendeta yang terdesak, dengan demikian membuatnya jadi mengakui, kepandaian Ko Tie dan Giok Hoa sangat tinggi, karena dia yang semula beranggapan dirinya memiliki kepandaian yang tinggi dan jarang sekali memiliki tandingan, ternyata telah dapat didesak oleh Ko Tie dan tidak berdaya untuk balas mendesak Ko Tie, apa lagi untuk mendesak sekali gus dengan si gadis.

Karena itu, ia merasa malu ditegur seperti oleh Gorgo San.

Namun kedatangan dan munculnya Gorgo San seperti dalam keadaan itu, malah membuat hatinya jadi girang sekali.

Ia segera berpikir, dengan maju berdua dengan Gorgo San, tentu dengan mudah mereka dapat merubuhkan dan membekuk Ko Tie dan Giok Hoa.

Gorgo San berpikir yang sama, ia yakin, jika ia maju berdua dengan si pendeta, tentu dengan mudah dia bisa menghadapi Ko Tie dan Giok Hoa.

Terlebih lagi.

dia memang telah tergila-gila melihat kecantikan dan kelembutan wajah Giok Hoa, ia bermaksud dengan cara bagaimanapun juga buat membekuk gadis itu.

Karenanya, dia memang telah merencanakannya untuk memanfaatkan tenaga Kiang-lung Hweshio dalam merubuhkan Ko Tie dan Giok Hoa.

"Kita akan maju berdua membekuk mereka……!"

Membisiki Gorgo San kepada Kiang-lung Hweshio dengan suara perlahan.

"Mustahil mereka bisa menghadapi kita berdua!?"

Kiang-lung Hweshio mengangguk.

"Ya..... aku yakin, tentu mereka dengan mudah dapat kita bekuk! Walaupun bagaimana hebat kepandaian mereka, tapi usia mereka masih muda, dan tentu saja mereka tidak memiliki lweekang sekuat kita……!"

Sambil berkata begitu, segera juga terlihat Gorgo San telah mengibaskan tangannya.

Dia memberikan isyarat kepada Kianglung Hweshio, agar mereka segera maju ke depan.

Kiang-lung Hweshio memangguk, ia melompat dan dengan ringan dia telah berhasil berada di dalam kalangan.

Di waktu itu, Gorgo San pun tidak mau membuang-buang waktu lagi, karena dia pun melompat dengan tubuh yang berjumpalitan sangat cepat sekali.

Sambil bergerak seperti itu, tangan Gorgo San telah bergerak menghantam Ko Tie.

Dengan segera Gorgo San dapat mendesak Ko Tie, karena Ko Tie baru saja menghadapi belasan lawan.

Sebelumnya memang dia telah bertempur dengan Kiang-lung Hweshio, sehingga tenaganya belum lagi pulih keseluruhannya, dan ia sangat lelah.

Sekarang Gorgo San telah menyerangnya begitu hebat.

Sedangkan Gorgo San masih memiliki tenaga dan semangat yang penuh, tidak terlalu mengherankan, dalam tiga jurus, Ko Tie dapat didesaknya.

Memperoleh kenyataan seperti ini, telah membuat Gorgo San jadi girang, sampai dia tambah bersemangat.

Karena semangatnya terbangun serangannya pun jadi semakin hebat juga, ke dua tangannya bergerak-gerak dengan dahsyat.

Di waktu itulah terlihat Gorgo San dengan beruntun telah menyerang sampai empat jurus lagi.

Serangan yang pertama belum lagi selesai, dia telah menyusuli pula dengan serangan berikutnya.

Dengan demikian benar-benar membuat Ko Tie terdesak.

Pedangnya juga tidak dapat dipergunakan dengan leluasa, hal ini disebabkan karena memang Ko Tie didesak dari jarak yang dekat oleh lawannya.

Jika lawan terpisah cukup jauh, tentu dengan mudah dia bisa mengeluarkan seluruh ilmu silat pedangnya, kiam-hoat yang lihay.

Hanya saja sayang sekali, justeru di saat itu Gorgo San telah merangseknya dari jarak yang dekat, sehingga membuat dia tidak leluasa untuk menyerang dengan pedangnya.

Di antara berkesiuran angin serangan dari Gorgo San, Ko Tie kemudian menghadapi menyimpan Gorgo pedangnya, San memang karena lebih dia leluasa berpikir, dengan mempergunakan tangan kosong belaka.

Gorgo San bermata jeli.

Dia tidak mau membuang-buang kesempatan yang ada.

Waktu melihat Ko Tie tengah berusaha memasukkan pedangnya ke dalam sarungnya, dengan demikian pemuda itu merandek sejenak.

Segera terlihat Gorgo San membarengi dengan menyerang dahsyat sekali.

Angin pukulannya menderu-deru.

Sedangkan Ko Tie yang memang memasukkan pedangnya ke dalam sarungnya, waktu itu tidak keburu buat mengerahkan tenaga dalamnya pada telapak tangannya buat menangkis serangan itu.

Dan jalan satu-satunya buat dia hanyalah menjatuhkan diri bergulingan di atas tanah, dia bergulingan sambil memasukkan pedangnya.

Dia berhasil menghindarkan diri dari serangan dan juga selesai memasukkan pedangnya itu ke dalam sarungnya.

Dengan gerakan Lee-ie-ta-teng, atau ikan Gabus meletik, tampak ia melompat berdiri, dan ke dua tangannya dengan serentak dilonjorkannya.

Dia telah menghantam dengan mempergunakan ilmu Pukulan Inti Es nya.

Hebat sekali tenaga serangan itu, yang seperti datangnya angin topan menyambar ke diri Gorgo San sehingga Gorgo San yang tidak wenyangka akan diserang seperti itu, sudah tidak keburu buat mengelakkan lagi serangan Ko Tie.

Sebagai seorang yang memiliki kepandaian tinggi dan lihay, dalam keadaan terancam seperti itu tentu saja Gorgo San tidak mau berdiam diri.

Segera ia berusaha mengelakkan diri mati-matian ke samping.

Tidak urung, dadanya kena dihantam juga oleh pukulan yang kuat sampai tubuhnya terpental beberapa tombak jauhnya.

Dalam dunia persilatan, jika seseorang terluka oleh senjata tajam, hal itu mungkin masih merupakan luka yang tidak membahayakan jiwa.

Tapi jika memang seseorang terkena serangan telapak tangan yang mengandung kekuatan sin-kang, tentu jiwanya terancam maut yang tidak kecil, atau jika jiwanya bisa diselamatkan, ia pun terancam cacat seumur hidup.

Apalagi, memang Ko Tie menyerangnya dengan mempergunakan sebagian besar tenaga sin-kangnya dan juga ilmu Pukulan Inti Es nya, sehingga Gorgo San buat sementara waktu tidak bisa melakukan sesuatu, terduduk di tanah dengan muka meringis menahan sakit.

Ia baru saja mengempos semangat murni dan tenaga dalamnya, untuk melancarkan pernapasannya.

Gorgo San tidak sampai mati, tapi ia terluka di dalam yang parah.

Kalau memang ia tidak segera mengobatinya dengan tepat dan sementara waktu menyimpan tenaga, tidak mengerahkan tenaga untuk melakukan sesuatu yang berat, ia bisa selamat dan tidak sampai perlu ilmu silatnya lenyap.

Sekarang, jika ia penasaran dan menuruti adat, memang ia masih bisa menyerang Ko Tie, tapi tentu saja, hal ini berarti ia mempergunakan tenaga, malah kemungkinan ia mempergunakan tenaga berlebihan, yang akan membuat ia terluka di dalam yang lebih parah dan kelak sulit menyembuhkan lukanya, juga akan membuat ia terbinasa oleh lukanya itu.

Karena itu, Gorgo San setelah berhasil merangkak berdiri, akhirnya dia menyingkir ke tepi, dengan muka yang pucat pias.

Kiang-lung Hweshio yang menyaksikan apa yang telah dialami oleh Gorgo San jadi tertegun, karena biarpun ia memiliki kepandaian yang tinggi, tidak urung ia menggidik juga.

Sebab ia merasa jeri dan gentar menghadapi Ko Tie yang disaksikannya memang memiliki kepandaian luar biasa.

Tengah Kiang-lung Hweshio tertegun seperti itu, justeru Ko Tie telah mendengus.

"Hemmm, kalian manusia-manusia busuk dan hina, ternyata hanya pandai buat mengeroyok orang dan bertindak sewenang-wenang…….!"

"Baiklah, sekarang kami runtuh di tanganmu, tapi nantikanlah pembalasan kami kelak! Aku Gorgo San tidak akan menyudahi urusan ini sampai di sini saja, walaupun langit runtuh, dan kalian melarikan diri ke ujung langit, tetap saja aku akan mencari kalian buat memperhitungkan semua yang telah terjadi hari ini……!"

Sambil berkata begitu, tampak Gorgo San telah melirik kepada Giok Hoa.

Walaupun gadis itu sangat cantik, namun Gorgo San menyadari, tidak mungkin ia memiliki gadis itu, karenanya ia telah bermaksud untuk pergi meninggalkan tempat itu.

Setelah melirik bengis sekali lagi kepada Ko Tie, dengan muka yang masih pucat pasi, tampak ia telah memutar tubuhnya dan berlalu.

Kiang-lung Hwehio menyaksikan Gorgo San yang memiliki kepandaian tidak berada di bawahnya telah dapat dirubuhkan oleh Ko Tie dan juga sudah pergi meninggalkan tempat itu.

Karena dia telah diruntuhkan dan dilukai di dalam yang cukup parah, bermaksud hendak pergi, maka iapun segera mengeloyor mengajak anak buahnya buat berlalu.

Ko Tie dan Giok Hoa kali ini sudah tidak mengejar lebih jauh, karena mereka telah mengetahui bahwa pendeta itu adalah sahabat Gorgo San, maka dari itu mereka dapat menduganya, bahwa Gorgo San tentu yang telah menghasut pendeta itu buat memusuhi mereka.

Dan mereka hanya menganggap bahwa ke dua orang itu, berikut anak buahnya, merupakan manusia-manusia rendah hina dina.

Dan mereka tidak mau mendesak lebih jauh, karena Gorgo San tengah terluka berat, dan jika mereka mendesak terus, itulah bukan tindakan yang terpuji, di mana mereka mendesak lawan yang tengah tidak berdaya.

Setelah melihat Gorgo San dan Kiang-lung Hweshio pergi, maka Ko Tie menoleh kepada Giok Hoa, diajaknya si gadis untuk berlalu juga.

Di waktu itu, Giok Hoa menghela napas dalam-dalam.

"Mereka merupakan manusia-manusia lihay dan berbahaya sekali, karena hati mereka kejam dan tangan mereka telengas. Entah sudah berapa banyak kejahatan yang mereka lakukan?"

"Ya, sesungguhnya manusia-manusia seperti merekalah yang berbahaya, karena mereka tentu akan malang melintang di dalam Kang-ouw dengan sewenang-wenang. Dan memang jarang sekali orang yang bisa mengendalikan mereka! "

Beruntung mereka telah kita hajar sekali ini. Dengan demikian, tentu diwaktu lain, mereka akan lebih berpikir jika hendak melakukan kejahatan."

Tapi Giok Hoa menggeleng tidak setuju dengan apa yang diucapkan oleh Ko Tie, dia bilang.

"Sesungguhnya, manusia-manusia seperti mereka tidak mungkin akan sadar. Mereka tentu akan berusaha untuk berlatih diri, agar mereka bisa memiliki kepandaian yang jauh lebih tinggi. Di waktu itu mereka tentu akan melakukan kejahatan yang lebih besar lagi..... "

Karenanya, jika mereka tidak ditumpas, tetap saja mereka merupakan manusia-manusia yang berbahaya dan mengancam keselamatan dunia persilatan……!"

Setelah berkata begitu, tampak Giok Hoa menghela napas beberapa kali lagi.

Ko Tie mengajak si gadis kembali ke rumah penginapan.

Malam itu mereka tidur nyenyak sekali.

Dan besok paginya, mereka berangkat meninggalkan tempat itu.

Sama sekali mereka berdua tidak menyangkanya, justeru dengan bentroknya mereka dengan Gorgo San dan Kiang-lung Hweshio, mereka telah memancing kerusuhan yang cukup besar dan kesulitan yang tidak kecil.

Karena setiap saat mereka selalu terancam dan akan dicari oleh kawan-kawan Gorgo San dan kalangan Hek-to (jalan hitam), yang umumnya memiliki kepandaian tinggi!

Sedangkan Ko Tie dan Giok Hoa telah melanjutkan perjalanan mereka, dari kota yang satu ke kota yang lainnga, dimana mereka juga telah beberapa kali berusaha menolongi orang-orang yang tengah dalam kesulitan.

Karena memang mereka memperoleh kenyataan, ke mana saja mereka pergi, maka tampaklah banyak peristiwa yang tidak adil, pihak yang lemah ditindas oleh si kuat tapi jahat.

Karenanya, banyak sekali yang dapat dilakukan oleh Ko Tie dan Giok Hoa, mereka selalu melakukan perbuatan amal kebaikan.

Nama mereka pun semakin terkenal di dalam rimba persilatan.

Apalagi dengan ilmu silat mereka yang lihay dan tangguh sekali.

Sebagai jago-jago remaja yang memiliki kepandaian yang begitu hebat.

Ko Tie dan Giok Hoa melakukan sesuatu dan perbuatan baik tanpa mengharapkan imbalan dari orang yang mereka tolong, karena jika mereka menyaksikan ada seseorang yang tengah dalam kesulitan, tentu mereka turun tangan dan menolonginya.

Banyak penjahat tangguh yang rubuh di tangan mereka.

Disamping itu pula, memang tampaknya Ko Tie dan Giok Hoa kian lama turun tangan tidak tanggung-tanggung.

Mereka sudah tidak pernah memberikan belas kasihan lagi kepada penjahat-penjahat yang diketahui pasti oleh mereka melakukan kejahatan, tentu jika tidak dibikin bercacad dan memusnahkan seluruh kepandaian ilmu silatnya, maka mereka akan dibinasakan!

Karena itu, untuk semua sepak terjang Ko Tie dan Giok Hoa, telah menggemparkan rimba persilatan.

Banyak jago-jago dari Pek-to, yaitu jalan putih, di dalam Kang-ouw, yang merasa kagum atas sepak terjang pasangan remaja itu.

Tapi justeru para jago dari jalan Hek-to semuanya menaruh sikap antipati dan sakit hati kepada Giok Hoa dan Ko Tie.

Karena mereka beranggapan, Ko Tie dan Giok Hoa merupakan musuh-musuh mereka yang berbahaya sekali.

Seperti diketahui, dengan banyaknya Ko Tie dan Giok Hoa menolongi orang-orang yang tengah dalam kesulitan dan tertindas, dan para penjahatnya mereka beri hajaran dengan keras.

Ada yang terbinasa, ada pula yang telah dimusnahkan seluruh kepandaiannya, maka membuat banyak penjahat lain, yang saudara, kawan atau juga sanak famili mereka, yang kebetulan telah dirubuhkan oleh Ko Tie dan Giok Hoa, jadi dendam dan mencari Ko Tie dan Giok Hoa dengan maksud membalas dendam.

Dan memang Ko Tie bersama Giok Hoa, benar-benar setiap detik harus berlaku waspada.

Tidak mungkin mereka dapat berlaku lengah, sebab mereka setiap detik terancam jiwanya oleh intaian maut…….

◄Y► Sore itu tampak Ko Tie dan Giok Hoa memasuki kota Pan-lu-kwan, sebuah kota yang tidak begitu besar di daerah Utara.

Tetapi penduduk kota tersebut, yang umumnya lebih banyak berdagang, tidak terlalu padat dan tidak terlalu ramai, karena memang kota yang kecil itupun terletak pada jalan lintas yang mati, di mana jarang sekali ada orang asing yang melintas memakai jalur jalan tersebut.

Kota inipun hanya terdapat dua buah rumah penginapan, yang tampak kurang terurus dengan baik.

Banyak tempat dan bagian yang kotor dan belum diperbaiki.

Sewa kamar di rumah pemginapan inipun tidak terlalu mahal.

Waktu Ko Tie dan Giok Hoa memasuki kota tersebut, banyak penduduk kota itu yang menawarkan bermacam-macam barang dagangan mereka dengan sikap yang sangat manis.

Dan Ko Tie bersama Giok Hoa telah membeli beberapa macam barang yang mereka butuhkan, seperti mantel dan juga beberapa barang lainnya.

Barulah mereka menuju ke rumah penginapan.

Di rumah penginapan itu, mereka dilayani oleh seorang pelayan yang sudah berusia lanjut.

Mukanya kuning dan pucat, bicaranya tidak lancar, namun sikapnya sangat ramah dan sopan sekali, dengan menghormat dia melayani ke dua tamunya ini.

Ia menyediakan teh hangat buat ke dua tamu itu selama pelayan lain mempersiapkan sebuah kamar buat mereka.

Setelah selesai mereka memberitahukan Ko Tie dan Giok Hoa, bahwa kamar mereka telah disiapkan.

Ko Tie dap Giok Hoa masuk ke dalam kamar itu.

Sebuah kamar yang tidak begitu besar, dan juga perabotan yang berada di dalam kamar itu merupakan barang-barang yang tidak terlalu bagus, merupakan barang-barang tua.

Mungkin karena sepinya daerah tersebut, penginapan seperti jarang sekali mereka menerima tamu.

Dengan begitu juga, telah membuat kurangnya biaya buat pemugaran dari rumah penginapan itu, yang dari tahun ke tahun keadaannya semakin buruk dengan kerusakan-kerusakan yang terdapat di beberapa bagian.

Namun Ko Tie dan Giok Hoa memang sudah terlalu letih, mereka segera merebahkan tubuh di pembaringan masing-masing.

Mereka bermaksud beristirahat.

Perjalanan sehari suntuk memang melelahkan sekali.

Tiba-tiba Giok Hoa menoleh kepada Ko Tie, ia berkata dengan suara yang tidak begitu keras.

"Engkoh Tie.....!"

Panggilnya kemudian.

"Apakah engkau tidak melihat sesuatu yang aneh waktu kita memasuki rumah penginapan ini?"

Tanya Giok Hoa. Ko Tie memperlihatkan perasaan heran.

"Sesuatu yang mencurigakan?"

Dia balik bertanya, kemudian menggelengkan kepalanya katanya lebih jauh.

"Kukira tidak ada sesuatu yang mencurigakan, karena memang inilah kota kecil, rumah penginapan inipun boleh disebut sebuah rumah penginapan yang cukup baik, karena tentu saja di kota sepi ini sebuah rumah penginapan tidak dapat hidup dengan baik……!"

"Bukan begitu maksudku!"

Kata Giok Hoa segera memotong perkataan Ko Tie.

"Lalu, apa yang kau maksudkan dengan mencurigakan itu?!"

Tanya Ko Tie.

"Mata dari pelayan itu. Mereka semuanya memandang kita dengan sorot mata yang mencurigakan!"

Menjelaskan Giok Hoa.

Ko Tie tersenyum.

"Adik Hoa, tampaknya engkau memang terlalu bercuriga!

Mereka memperlakukan kita dengan hormat.

Mereka merupakan manusiamanusia lemah.

Tubuh mereka saja begitu kurus seperti penyakitan dan kurang makan.

Jika memang mereka bermaksud melakukan sesuatu terhadap kita maka apa yang bisa mereka lakukan?!"

Giok Hoa menghela napas.

"Jika demikian, engkau tidak melihat apa yang kulihat tadi, bahwa mereka semuanya mencurigakan sekali!"

Bilang Giok Hoa.

"Memang tampaknya mereka itu sebagai manusia-manusia yang lemah dan berpenyakitan. Tapi sinar mata mereka cukup tajam, ternyata mereka adalah orang-orang yang mengerti ilmu silat dan memiliki tenapa lweekang......!"

Ko Tie tidak segera menyahuti, dia berdiam diri beberapa saat, sampai akhirnya ia mengangguk.

"Ya, ya, aku baru ingat.....!"

Kata Ko Tie kemudian, dengan suara tidak begitu keras mirip seperti dia tengah menggumam seorang diri.

"Memang apa yang kau katakan itu tidak salah!

Waktu pelayan tua itu menyediakan teh buat kita, sempat aku melihat ia melirik kepada kau dengan sinar mata yang tajam.

"Semula aku tidak begitu memperhatikan hal itu yang tidak menjadi pikiranku. Karena kuanggap biasa saja setiap lelaki akan memandangmu seperti itu, karena ia merasa kagum dengan kecantikan yang engkau memiliki! Tapi sekarang justeru urusannya jadi lain.......!"

Giok Hoa tampak girang mendengar Ko Tie tidak membantahnya lagi. Segera dia melompat duduk di atas pembaringannya, diapun bertanya.

"Menjadi lain bagaimana?"

"Aku baru teringat bahwa sinar mata seperti itu bukanlah sinar mata dari seseorang yang tengah mengagumi kecantikan seorang gadis, tapi justeru sinar mata itu memang memperlihatkan pelayan tua itu mahir lweekangnya……!"

Dan berkata sampai di situ, tampak Ko Tie berdiam diri sejenak. Dia menghela napas beberapa kali, barulah dia meneruskan lagi kata-katanya.

"Jika melihat keadaannya demikian, jelas kita tidak lama lagi akan menghadapi sesuatu…… kita harus waspada……!" "Nah, justeru yang tengah kupikirkan, memang kita bisa berwaspada jika ada orang yang menyerang kita secara menggelap. Tapi bagaimana jika pelayan rumah penginapan itu meracuni kita? "

Apa yang hendak kita lakukan jika kita tidak minum dan tidak makan apa yang disajikan oleh rumah penginapan ini! Tentu kita akan kelaparan?"

Sambil berkata begitu, Giok Hoa mengawasi kekasihnya dengan teliti. Tampaknya dia ingin melihat reaksi dari kekasihnya tersebut, sampai akhirnya Giok Hoa bertanya.

"Lalu bagaimana menurut pikiranmu?"

"Untuk ini kita perlu waspada, tapi kita tidak perlu kuatir, karena kita akan dapat menghadapi mereka. Walaupun tampaknya mereka memiliki ilmu yang tidak rendah, tapi setinggi-tingginya kepandaian mereka, tentu dapat kita hadapi dengan baik……!"

Setelah berkata begitu, tampak dia telah merebahkan tubuhnya lagi di pembaringannya. "Engkoh Tie!"

Panggil Giok Hoa yang jadi tidak senang karena Ko Tie tampaknya tidak tertarik buat membicarakan hal itu lebih jauh lagi.

"Apalagi, adik Hoa!?"tanya Ko Tie sambil bangun pula.

"Ya, kau tampaknya memang meremehkan mereka! Bukan ilmu silat mereka yang perlu kita takuti, tapi justeru jika mereka meracuni kita dengan mempergunakan dan mencampuri racun dalam makanan!"

"Itu hanya kekuatiran yang terlalu berlebih-lebihan……!"

Menyahuti Ko Tie.

"Tapi engkoh Tie.....!"

"Sudahlah adik Hoa, tidurlah. Bukankah kita letih sekali setelah melakukan perjalanan sehari suntuk?"

Kata Ko Tie kemudian, Giok Hoa mengangguk perlahan, dengan kesal dia merebahkan tubuhnya lagi.

Tapi matanya tidak mau terpejamkan, dia berpikir keras.

Apa yang dilihatnya.

Memang mendatangkan kecurigaan buatnya, karena dia melihat gerak gerik para pelayan di rumah penginapan ini yang sungguh mencurigakan.

Juga sinar mata mereka yang tajam, membuktikan mereka memiliki kepandaian yang cukup.

Karenanya, hati si gadis jadi tidak tenang.

Terlebih lagi dia membayangkan, bahwa dilihat dari wajahnya, walaupun mereka bersikap sangat menghormat, tentunya para pelayan itu bukanlah sebangsa manusia-manusia baik.

Namun si gadis cantik itu yang tidak bisa memaksakan keyakinannya pada Ko Tie terhadap kecurigaannya pada para pelayan itu.

Ia hanya dianggap oleh Ko Tie terlalu bercuriga saja.

Giok Hoa memejamkan matanya, tapi mendadak sekali, terdengar suara ketukan pada pintu kamar mereka.

"Siapa!"

Bentak Giok Hoa yang jadi terbangun duduk dengan perasaan terkejut.

"Kongcu dan Kouw-nio, Siauw-jin (hamba) membawakan minuman buat Kongcu dan Kouw-nio……!"

Menyahuti orang di luar, ternyata seorang pelayan.

Giok Hoa turun dari pembaringannya, dia membuka pintu.

Pelayan tua yang mukanya kuning, yang pertama kali melayani mereka, telah masuk dengan membawa seteko air teh hangat dengan dua cawan.

Diletakkannya teko dan cawan itu di atas meja yang terdapat di dalam kamar, kemudian pelayan itu menoleh kepada Ko Tie, katanya.

"Kongcu, apakah Kongcu tidak mau mandi?!"

Ko Tie heran, dia mengawasi pelayan itu, kemudian tanyanya.

"Apakah di sini terdapat kamar mandi yang khusus, sehingga seorang tamu yang datang ditanyakan apakah hendak mandi?!"

Mendengar perkataan Ko Tie seperti itu, pelayan itu menggelengkan kepalanya.

"Bukan begitu, jika memang Kongcu dan Kauwnio hendak mandi sekarang, Siauw-jin akan mempersiapkan air yang diperlukan oleh kalian……!"

"Jika memang begitu, siapkan saja!"

Kata Ko Tie kemudian.

"Jika memang sudah waktunya, kami pun akan pergi mandi!"

Pelayan itu mengiyakan, dan telah mohon diri keluar dari kamar. Giok Hoa menguncinya lagi, tapi Ko Tie segera berkata.

"Tampaknya pelayan itu memang mencurigakan!"

"Kau melihat sesuatu yang mencurigakan, engkoh Tie pada dirinya?!"

Tanya Giok Hoa. Ko Tie menghela napas dan mengangguk.

"Seperti tadi, dia menanyakan apakah kita hendak pergi mandi, itulah sebuah pertanyaan yang dibikin-bikin, tampaknya memang dia tidak memiliki pertanyaan lain yang lebih baik......! Entah maksud apa yang dikandung olehnya.....!"

Dengan adanya kecurigaan seperti itu, Giok Hoa dan Ko Tie jadi tidak tenang tinggal di rumah penginapan tersebut, karenanya, mereka selalu berwaspada.

Selama itu sudah tidak terjadi sesuatu yang tidak menyenangkan mereka.

Keadaan di dalam rumah penginapan itu sunyi sekali, karena sepinya rumah penginapan itu, yang memang jarang dikunjungi tamu.

Setelah perasaan lelahnya berkurang, tampak Ko Tie melompat turun dari pembaringannya.

"Aku ingin pergi mandi dulu, adik Hoa!"

Kata Ko Tie kemudian.

Giok Hoa mengiyakan, dan Ko Tie telah membuka pintu kamarnya, melangkah keluar, untuk pergi ke kamar mandi.

Namun waktu ia membuka pintu kamarnya, di balik lorong dari hadapan kamarnya itu, dia melihat sesosok bayangan yang menyelinap hilang di tikungan.

Gerakan sosok bayangan itu gesit sekali, sehingga Ko Tie tidak bisa melihat jelas sosok bayangan tersebut.

Ia hanya melihat berkelebatnya warna baju yang kuning.

Cepat sekali Ko Tie menjejakkan kakinya, tubuhnya melesat untuk mengejar sosok bayangan itu.

Namun ketika Ko Tie tiba di ujung lorong itu, di dekat tikungannya, ia kehilangan orang buruannya.

Keadaan di tempat itu sepi sekali, malah tampak, seorang pelayan tua yang tadi menghantarkan teh hangat buat mereka, tengah mendatangi dengan tubuh terbungkuk-bungkuk.

Mukanya kuning pucat dan juga napasnya agak memburu, dengan susah ia bertanya.

"Apakah ada sesuatu yang bisa Siauw-jin bantu?!" Ko Tie mengawasi sejenak pada pelayan tua itu, kemudian tanyanya.

"Di rumah penginapan ini sekarang ada berapa tamu?!"

"Hanya Kongcu dan Kouw-nio berdua! Di sini, mengusahakan penginapan sangat sulit, karena sepi dan jarang sekali menerima tamu! Seperti Kongcu lihat, betapa banyak bagian dari rumah penginapan ini yang rusak-rusak dan kami tidak memiliki biaya buat membetulkanya……!"

Ko Tie menghela napas, katanya.

"Tadi aku melihat sesosok bayangan menyelinap ke mari, entah siapa orang itu..... Dia segera menghilang waktu kukejar!"

Kata Ko Tie menjelaskan kepada pelayan tua itu.

Sedangkan dia mengawasi dengan sorot mata yang tajam menyelidik, seperti juga bertanya heran kepada pelayan itu dan membutuhkan keterangan.

Pelayan tua itu mementang sepasang matanya lebar-lebar, tampaknya dia heran sekali.

"Tadi Kongcu melihat seseorang di sini? Siapa dia? Tentunya jika orang itu melarikan diri, dia tentu akan bertemu denganku, karena dia tentu berlari keluar! Tidak mungkin! Mungkin juga Kongcu hanya salah mata saja…….!"

Ko Tie menggeleng perlahan. "Tidak! Aku tidak salah mata! Aku telah melihatnya dengan jelas. Memang aku melihat sesosok tubuh yang berkelebat lenyap di tikungan ini……!"

"Aneh! Apakah karena usia rumah penginapan ini telah demikian tua dan tidak terurus baik, maka telah menyebabkan hantu-hantu senang menempatinya? Dan apakah yang telah dilihat oleh Kongcu tadi adalah hantu.....!"

Ko Tie tersenyum pahit.

Mana mungkin dia mempercayai adanya hantu?

Dan dia memang telah melihatnya dengan jelas, bahwa yang tadi berkelebat adalah sesosok tubuh manusia yang mengenakan baju kuning, cuma sayangnya karena terlalu cepatnya orang itu menghilang, membuat dia jadi tidak bisa melihat wajah orang itu, maupun bentuk tubuhnya dengan baik.

"Tidak mungkin hantu, tentu ada seseorang yang berkeliaran di sini yang hendak mengintai kami!"

Kata Ko Tie dengan suara sang pasti.

Pelayan itu berobah mukanya, dia telah berkata dengan suara yang terheran-heran.

"Sungguh menyeramkan…….

apakah memang mungkin bahwa yang berkelebat dan dilihat oleh Kongcu adalah hantu?

Jika memang benar hantu, ohhh, betapa mengerikannya……!"

Sambil berkata begitu, tubuh si pelayan tua tersebut telah menggigil, tampaknya dia merasa ngeri. Ko Tie tersenyum.

"Sudahlah, aku hendak pergi mandi!"

Kata Ko Tie kemudian sambil melangkah meninggalkan pelayan tua itu.

Pelayan tua itu memperlihatkan sikap seperti ketakutan dan merasa ngeri, waktu Ko Tie sempat mengerlingnya, dia melihat pelayan tua itu memang seperti tengah ketakutan.

Tapi setelah Ko Tie pergi cukup jauh, di luar jangkauan dari penglihatan Ko Tie, justeru pelayan tua itu telah tersenyum sinis, matanya bersinar, dan sinar matanya itu mengerikan sekali…….!

Setelah mencari ke sana ke mari beberapa saat, akhirnya, Ko Tie kembali ke kamarnya.

Ia menceritakan kepada Giok Hoa, ia gagal mengejar sosok tubuh yang menghilang dengan cepat itu.

Giok Hoa mengerutkan alisnya, kata si gadis.

"Apakah kau memperhatikan sikap pelayan tua itu?

Bukankah aneh dan mencurigakan sekali dia bisa muncul begitu tiba-tiba di saat engkau tengah mencari orang yang tadi kau lihat berkelebat menghilang di tikungan itu?!"

Ko Tie tidak segera menyahuti. Dia seperti tengah berpikir, sampai akhirnya dia berseru perlahan dan memukul lututnya.

"Benar!"

Berseru pemuda itu.

"Apanya yang benar?!"

Tanya Giok Hoa.

"Ya, memang pelayan tua itu mencurigakan sekali, walaupun ia tampaknya terheran-heran namun kenyataan yang ada memperlihatkan sikap terheran-herannya itu terlalu dibuatbuat.....!"

Giok Hoa mengangguk sambil tersenyum.

"Memang waktu pertama kali aku datang di rumah penginapan ini, aku sudah bisa melihat kejanggalan itu. Karena mata para pelayan di rumah penginapan ini memang sangat mencurigakan. Malah menurut hematku, mereka itu bukan sebangsa manusia baikbaik......!"

Kata Giok Hoa kemudian. "Lalu apa yang harus kita lakukan?!"

Tanya Ko Tie sambil mengawasi si gadis dengan sorot mata yang tajam, seperti ingin sekali meminta pendapat gadis itu. Giok Hoa tertawa.

"Mengapa kau bertanya kepadaku, seharusnya aku yang bertanya kepadamu, apa yang harus kita lakukan, mengingat bahwa engkau memang jauh lebih berpengalaman dariku!"

Menyahuti Giok Hoa. Ko Tie tidak urung tersenyum oleh jawaban si gadis, kemudian dia bilang.

"Ya, jika memang demikian berarti kita harus menangkap manusiamanusia itu. Jika kita bisa menangkap basah akan perbuatan mereka..…!"

Sambil berkata begitu, segera juga terlihat betapa Ko Tie tahu-tahu menjejakkan ke dua kakinya.

Tubuhnya dengan cepat melesat ke pintu.

Begitu tangannya bergerak, daun pintu menjeblak terbuka lebar-lebar.

Sedangkan Giok Hoa mengawasi heran, namun perasaan herannya itu berlangsung tidak lama, karena segera juga terlihat si gadis telah mengerti apa yang terjadi.

Ternyata Ko Tie mendengar suara langkah kaki yang perlahan sekali di luar kamarnya, karena itu dengan ringan dia telah melompat keluar kamarnya.

Dan dia bukan hanya sekedar membuka pintu itu, sebab dia dengan cepat telah mengulurkan tangannya, menyambak kepada seseorang yang waktu itu tengah terkejut, karena memang daun pintu tahu-tahu menjeblak terbuka seperti itu.

Tapi orang itu pun cukup lihay, karena dia tidak berhasil dicekuk oleh Ko Tie.

Malah dengan gesit tubuhnya melesat ke tempat lain, dan dia bermaksud melarikan diri, larinya cepat sekali, dia ingin menuju ke lorong dan menikung.

Tapi kali ini Ko Tie sudah tidak mau melepaskannya.

Segera ia mengejar dengan tubuh yang melesat seperti terbang, dan dia pun dalam waktu singkat telah berada di belakang orang itu.

Dia menghantam dengan telapak tangannya, kuat sekali angin serangan tersebut.

Dengan demikian membuat orang itu merandek untuk memutar tubuhnya menangkis serangan Ko Tie.

Jika memang dia berlari terus, niscaya dia akan terserang hebat pada pundaknya itu.

Orang itu menangkis bukan dengan tenaga yang lemah, cuma Ko Tie yang merasa tadi telah sempat dipermainkan oleh orang ini, yang diduga tentunya orang yang telah menghilang di lorong pada tikungan di ujung itu, maka dia menyerangnya dengan hebat.

"Tukkk!"

"Aduhhhh!"

Terdengar suara jerit kesakitan dari orang tersebut, yang tubuhnya seketika terpental jatuh di lantai bergulingan.

Cuma saja, karena dia memang memiliki gin-kang yang lumayan, begitu dia terguling-guling di lantai, segera dia bisa melompat bangun pula!

Begitu berdiri, segera dia mementang ke dua kakinya, bermaksud hendak melarikan diri.

Ko Tie sudah tidak mau memberikan hati, dia membentak dan telah menghantam lagi dengan tangannya.

Ilmu pukulan yang dipergunakannya adalah Inti Es, dan cara menyerangnya memang hebat sekali.

Sedangkan orang tersebut, yang merasakan menyambarnya angin serangan, kembali batal melarikan diri, dia melayani Ko Tie.

Beberapa jurus telah lewat, tapi Ko Tie belum juga bisa membekuk orang itu, tapi dia sudah bisa melihat dengan jelas muka orang itu, membuat Ko Tie sangat gusar.

"Hemm, engkau?!"

Bentaknya dengan suara yang mengandung kemarahan dan serangannya jadi semakin hebat. Orang itu tertawa bergelak-gelak nyaring sekali, dia telah berseru.

"Ya, memang benar aku…… kau heran?!"

Ternyata orang itu tidak lain seorang hweshio, yaitu Kiang-lung Hweshio.

Dia tentu saja tidak mudah buat dihantam oleh Ko Tie, apalagi ingin dibekuknya.

Karena memiliki kepandaian yang tinggi, dia bisa memberikan perlawanan yang gigih.

Ko Tie meluap darahnya.

"Pendeta keparat, beberapa saat yang lalu aku telah mengampuni jiwamu, tapi ternyata engkau telah benar-benar tidak tahu diri!"

Dan sambil berkata begitu, Ko Tie serentak menyerang beruntun dengan tiga jurus ilmu pukutan Inti Es-nya.

Dan setiap hantamannya itu mengandung kekuatan tenaga yang dingin sekali, sedingin es.

Sedangkan Kiang-lung Hweshio memberikan perlawanan, walaupun ia selalu tertawa mengejek, kenyataannya dia jeri sekali buat lama-lama bertempur dan terlibat dengan pemuda yang tangguh ini.

Dia mengelakkan ke tiga serangan itu, kemudian dengan segera dia merogoh saku jubahnya, mengeluarkan sebutir pil yang besar, kemudian dibantingnya kuat-kuat di lantai.

Terdengar suara ledakan yang mengguntur.

Sekitar tempat itu dilapisi oleh kabut yang tebal, asap yang bergulung naik memenuhi tempat itu.

Waktu ledakan itu terjadi, Ko Tie kaget juga.

Ia segera menjejakkan kakinya, tubuhnya melompat mundur, dengan gerakan yang lincah.

Dia bisa menjauhi diri.

Dan dia mementangkan matanya lebarlebar, mengawasi di mana beradanya Kiang-lung Hweshio.

Tapi asap itu sangat tebal, sementara itu ia tidak bisa melibat dengan jelas bahkan dia telah merasakan matanya pedih.

Giok Hoa yang mendengar suara ledakan itu, dengan segera telah muncul dari dalam kamar.

Dikala itu terlihat betapa Ko Tie telah berusaha mengawasi dengan sepasang mata dipentang lebar, asap itu mulai menipis, tapi bayangan dari Kiang-lung Hweshio sudah tidak terlihat lagi, karena pendeta itu telah pergi entah ke mana.

Tidak lama kemudian muncul si pelayan itu yang dengan sikap terheran-heran, bertanya.

"Ada…… ada apa, Kongcu...... ooh, asap ini, apakah terjadi kebakaran.....?!"

Ko Tie menggeleng.

"Tadi ada orang jahat........!"

Menyahuti pemuda ini.

"Ada penjahat, Kongcu…… ooohhh, apakah engkau tidak apaapa?! Mana penjahatnya?!"

Tanya pelayan itu gugup sekali dan memandang sekitarnya.

"Aku tidak apa-apa. Penjahat itu telah melarikan diri!"

Menjelaskan Ko Tie. Lalu bersama Giok Hoa, Ko Tie telah kembali ke dalam kamarnya. Di dalam kamar segera juga Ko Tie bilang.

"Seperti engkau telah ketahui, justeru yang mengintai kita bukan pelayan rumah penginapan ini, tapi justeru pendeta keparat itu…… dan juga, kita cuma salah lihat dan menduga saja tentang para pelayan itu. Karenanya, kita tidak bisa mencurigai mereka lebih jauh. Mungkin memang tampang mereka saja seperti manusia jahat tapi hati mereka bersih……!"

Giok Hoa juga tampaknya bingung, dia bilang.

"Kalau begitu sosok tubuh yang berkelebat lenyap waktu engkau mengejarnya itu, adalah si kepala gundul itu juga?!"

Ko Tie mengangguk.

"Kukira memang begitu, karena waktu itu aku melihat sosok tubuh itu mengenakan baju warna kuning. Tapi aku tidak sampai pikir pada pendeta keparat tersebut……!"

Sambil berkata begitu, segera juga terlihat betapapun juga, Ko Tie dan Giok Hoa memang harus bersikap jauh lebih waspada.

Karena sewaktu-waktu musuh bisa saja muncul untuk membinasakan mereka, atau setidak-tidaknya mencelakai mereka.

Dikala itu terlihat Ko Tie telah mengajak Giok Hoa untuk keluar dari rumah penginapan.

Dan mereka pergi menikmati keindahan kota tersebut.

Walaupun merupakan sebuah kota yang kecil, menjelang malam kota ini memiliki keindahan yang menakjubkan, dengan rembulan yang tergantung di langit.

Setelah mereka berdua merasa mengantuk, juga selama mengelilingi kota tidak ketemu dengan jejak si pendeta Kiang-lung Hweshio.

Dengan demikian tentu saja telah membuat mereka menduga bahwa Kiang-lung Hweshio mungkin sudah angkat kaki dari kota ini.

"Tidak mungkin!"

Bantah Giok Hoa waktu Ko Tie mengemukakan perkiraannya itu.

Baca Juga: Perawan Lembah Wilis 1

Baca Juga: Badai Laut Selatan Kho Ping Hoo

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert