Eps 9 Anak Rajawali - Chin Yung
Baca online Anak Rajawali - Chin Yung
Cersil Anak Rajawali - Chin Yung.
"Nona, tahukah engkau, bahwa dia sesungguhnya hendak memperkosamu pada malam itu? Dia ingin mempergunakan asap pulas untuk membuat engkau tidak sadarkan diri.
"Untung saja aku telah menyaksikan perbuatannya, sehingga aku dapat menghajarnya dan menggagalkan niat busuknya itu! Hemmmm........ jika saja memang engkau tidak mengucapkan terima kasih, berarti engkau seorang yang tidak kenal budi!"
Giok Hoa memandang bingung sejenak. Namun akhirnya ia bimbang, ia menoleh kepada Sam Lu Tang.
"Benarkah apa yang dikatakannya itu?!"
Bertanya Giok Hoa.
"Bohong…… semua itu bohong..........?!"
Sam Lu Tang berusaha untuk menyangkalnya. Muka Thio Kim Beng berobah, dia bilang.
"Bagus bocah, kau masih berani menyangkal! Baik! Aku ingin melihat, sampai di mana nyalimu itu, sehingga engkau berani menyangkal atas perbuatan busukmu itu!"
Setelah berkata begitu, dengan muka bengis, Thio Kim Beng menghampiri, setelah dekat, tahu-tahu tangan kanannya bergerak menotok jalan darah Kie-bun di dekat ketiak dari pemuda she Sam tersebut.
Segera Sam Lu Tang menderita kesakitan luar biasa.
Totokan itu membuat sekujur tubuhnya sakit seperti ditusuki ribuan jarum.
Dia merintih, keringat telah mengucur deras dari sekujur tubuhnya.
Di saat itulah, Thio Kim Beng telah berkata dengan suara yang dingin.
"Hemmm, sekarang engkau hendak mengakuinya atau tidak!?"
Sedangkan Thio Lin Kui menjerit-jerit menangis dengan marah.
"Kau…… kau pengemis tua yang busuk, mengapa engkau menyiksa Tang Koko demikian rupa……?"
Tapi waktu Thio Lin Kui berkata begitu, justeru Sam Lu Tang sudah tidak dapat lagi menahan penderitaannya, siksaan yang menderanya hebat sekali.
Dengan menotok jalan darah Kie-bun seperti itu, Thio Kim Beng membuat pemuda itu menderita kesakitan yang jauh lebih hebat dibandingkan disayat-sayat dengan pisau.
Muka pemuda itu berobah pucat, tubuhnya menggigil keras, ia pun sudah berkata dengan suara terbata-bata.
"Ya, ya.......... aku mengakuinya……!"
"Apa yang kau akui!?"
Tanya Thio Kim Beng sambil memperdengarkan suara tertawa dingin.
"Aku…… aku bermaksud hendak…… hendak menodai kesucian nona itu……!"
Menyahuti Sam Lu Tang dengan suara terbata-bata tidak lancar.
"Tolong…… tolong kau bebaskan aku dari totokanmu..... aku….. aduhhhh..... aku tidak kuat........!"
"Bagus!"
Berseru Thio Kim Beng.
"Sekarang engkau telah mengakui apa yang hendak kau perbuat. Sekarang kau jawab lagi pertanyaanku, jika memang engkau mengakuinya dengan jujur, aku akan segera membebaskan engkau dari totokan itu!"
"Ya, ya....... aku akan menjawabnya dengan jujur!"
Jawab Sam Lu Tang. "Apa pekerjaanmu selama ini?!"
"Aku….. aku.......... aku hanya seorang pemuda pelajar dan mengerti ilmu silat sedikit-sedikit. Aku berusaha bekerja sebagai seorang piauw-su…….!"
Mata Thio Kim Beng mendelik.
"Pemuda tidak kenal mampus, bocah busuk berlidah bercambang! Engkau masih hendak berdusta?!"
Dia setelah berkata begitu, segera tangan kanan Thio Kim Beng menotok lagi beberapa jalan darah di tubuh pemuda she Sam tersebut, maka seketika tubuh pemuda itu menggelinjang sambil meraung-raung.
Menyaksikan penderitaan Sam Lu Tang itu, rupanya Thio Lin Kui, tidak bisa menahan diri.
Sambil menangis dia menjerit-jerit ia telah berusaha menerjang kepada Thio Kim Beng.
Dia berteriak-teriak.
"Pengemis busuk, ayo kau bebaskan Tang Koko dari siksaanmu…… apakah engkau sudah tidak takut pada undang-undang negara?!" Tetapi Thio Kim Beng tidak mau diganggu oleh gadis itu. Ia mengibaskan tangannya, jalan darah si gadis tertotok, tepatnya jalan darah yang membuatnya tidak bisa bergeming lagi, tubuhnya telah terjungkal dan rebah diam di atas tanah. Thio Kim Beng dengan muka yang bengis bertanya kepada Sam Lu Tang.
"Aku memberikan kesempatan kepadamu hanya beberapa detik. Jika engkau masih tidak mau mengakui terus terang apa yang selama ini kau lakukan, hemmm, hemmm, aku akan mengirim engkau ke akherat.....!"
Sam Lu Tang ketakutan, ia mengetahui bahwa si pengemis tua ini tegas dan ancamannya itu bukan ancaman kosong belaka. Karenanya ia ketakutan sekali ia berkata.
"Baik! Baik! Aku akan mengakuinya! Aku memang sering melakukan perbuatan mesum itu, aku sering merusak kehormatan gadis-gadis dan wanita...... dan aku..... aku seorang pemuda bejat.....!"
Mendengar pengakuan pemuda she Sam sampai di situ, segera juga Giok Hoa menggerakkan pedangnya.
Ia ingin menabas putus batang leher pemuda itu.
Dalam keadaan seperti itu, Thio Kim Beng yang memang memiliki mata sangat tajam, telah dapat melihatnya.
Dengan gerakan yang sangat cepat ia mencekal tangan si gadis, sehingga pedang itu tidak dapat meluncur terus.
"Jangan......! Biarkan dia hidup!"
Kata Thio Kim Beng kemudian.
Sesungguhnya Kie Pa Kay waktu itu bertiga dengan ke dua pengemis lainnya, jadi murka bukan main.
Mereka mengetahui bahwa Sam Lu Tang yang baru saja mereka tolongi dari Siangkoan Lo Sian, ternyata merupakan seorang pemuda bejat yang tidak tahu malu, yang seringkali merusak kehormatan seorang wanita.
Karena dari itu, merekapun menyesal dan malu, bahwa mereka telah diakali dan ditipu oleh pemuda itu.
Karenanya merekapun bermaksud hendak menghajarnya.
Tapi melihat Tiang-lo mereka telah menahan si gadis, Giok Hoa, agar tidak menabaskan pedangnya, mereka tersadar bahwa persoalan pemuda she Sam tersebut sekarang memang telah berada di tangan Tiang-lo mereka.
Maka ke tiga pengemis itu berdiam diri saja, cuma mata mereka yang memandang mendelik kepada Sam Lu Tang, dengan pancaran sinar mata mengandung kemarahan yang sangat.
Sam Lu Tang ketakutan bukan main, dengan menangis ia menghiba-hiba.
"Ampunilah aku…… aku berjanji bahwa kelak aku akan merobah kelakuan burukku ini. Aku tidak akan melakukan pekerjaan hina itu lagi.......!"
Sambil berkata begitu, ia mengerang kesakitan karena totokan pada beberapa jalan darahnya belum lagi dibuka oleh Thio Kim Beng. Sedangkan Thio Kim Beng tertawa dingin katanya.
"Hemmm, pemuda bejat seperti engkau jika dibiarkan tentu merupakan ancaman yang tidak kecil buat kaum wanita, juga akan mendatangkan malapetaka bagi gadis-gadis yang lemah…….!"
"Tapi aku bersumpah locianpwe..... aku akan merobah kelakuanku!"
Menangis Sam Lu Tang dan ia juga kemudian merintih.
Muka Giok Hoa merah padam, karena ia marah sekali mendengar dirinya hampir saja diasap pulasan oleh pemuda itu, yang mengandung maksud hendak memperkosanya.
Thio Kim Beng telah tertawa dia bilang.
"Baiklah, aku bersedia buat mengampuni kau!" "Manusia seperti dia tidak perlu dibiarkan hidup terus!"
Berkata Giok Hoa dengan marah. Thio Kim Beng tersenyum.
"Ya, memang dia seharusnya tidak perlu dibiarkan hidup terus. Biarlah kali ini, aku akan mengampuninya!"
Setelah berkata begitu, tampak tangan kanan si pemuda tua she Thio tersebut telah bergerak, mencengkeram pundak kiri dan kanan pemuda itu.
Sam Lu Tang meraung kesakitan, tubuhnya bergulingan, dan sepasang tangannya seketika lemas dan tidak memiliki tenaga, karena dia selanjutnya menjadi manusia bercacad, di mana dia sudah tidak memiliki tenaga dalam.
Sebab seluruh kepandaiannya telah dipunahkan.
Dengan demikian membuat dia selanjutnya hanyalah merupakan pemuda yang lemah.
Dan jika ia mempelajari lagi ilmu silat, tentu dia tidak akan berhasil, karena ke dua tulang piepenya telah dihancurkan.
Jelas, seorang manusia tanpa tulang piepe yang utuh, ia tidak punya lagi……!
" Di waktu ita tampak Thio Kim Beng sambil tertawa tawar berkata.
"Baiklah, sekarang kau boleh pergi……!"
Sambil berkata begitu, tongkat bambu hijaunya bergerak, dimana dia telah membuka totokan pada tubuh Sam Lu Tang, dan pemuda itu terjungkal.
Dengan terseok-seok kemudian dia meninggalkan tempat tersebut.
Sedangkan Thio Lin Kui juga telah dibuka totokan pada jalan darahnya, sambil menangis gadis itupun telah pergi!
Betapa kecewa hatinya setelah mendengar sendiri pengakuan dari Tang Kokonya yang sesungguhnya sangat dicintainya.
Dikala itu Giok Hoa menghela napas, dia bilang.
"Locianpwe, kalau begitu maafkanlah..... karena memang boanpwe yang telah salah menduga yang benar tentang locianpwe!"
"Kau tidak perlu meminta maaf kepadaku!"
Kata si pengemis tua itu.
"Karena memang sesungguhya aku mempermainkan engkau! Namun, karena sifat jailku itu, telah membuat akupun memiliki kesempatan buat menolongi engkau, menggagalkan maksud busuk dari pemuda she Sam itu!"
"Sesungguhnya, apa yang terjadi?"
Tanya si gadis itu kemudian.
Thio Kim Beng tidak keberatan menceritakannya.
Sedangkan Kie Pa Kay bersama ke dua pengemis Kay-pang yang lainnya telah mendengarkan juga.
◄Y► Sebetulnya, memang Thio Kim Beng telah mendengarnya, bahwa di kota tersebut sering kali terjadi gangguan yang sangat mengerikan di mana seorang Jai-hwa-cat berkeliaran.
Banyak sekali merusak kehormatan gadis-gadis dan wanita isteri orang.
Dengan demikian penduduk seringkali diliputi perasaaa takut yang bukan main.
Jai-hwa-cat itu juga seorang yang memiliki gin-kang atau ilmu meringankan tubuh yang cukup tinggi, karena dia bisa bergerak dengan lincah di atas genting rumah penduduk.
Di samping itu juga, setiap kali ingin mencelakai korbannya, mempergunakan semacam obat asap hio pulas, sehingga dia bisa dapat melaksanakan maksud buruknya itu dengan mudah.
Dan juga, di malam itu, Thio Kim Beng bermaksud hendak mencari Jai-hwa-cat itu.
Namun ia tidak mengetahui, di mana tempat berdiamnya manusia busuk itu.
Kebetulan sekali, dikala ia hendak mempermainkan si gadis, ia melihat seorang pemuda tengah berlari-lari dengan gesit di atas genting rumah penduduk.
Pemuda itu mendatangkan kecurigaan di hati pengemis tua itu, yang segera mengikutinya secara diamdiam.
Pemuda itu telah hinggap di sisi kamar rumah penginapan Giok Hoa.
Setelah mengintai ia juga telah mengeluarkan sesuatu, lalu membakarnya, sehingga tersiar asap yang menyiarkan harum semerbak.
Thio Kim Beng seketika tersadar, bahwa Jai-hwa-cat yang hendak dicarinya, tidak lain adalah si pemuda.
Sungguh sangat kebetulan sekali, pemuda itu telah menampakkan dirinya.
Maka dengan segera ia mengambil sebutir batu, dan menimpuknya, sehingga hio di tangan pemuda itu jatuh dan apinya padam.
Tangan pemuda itu kesemutan dan cepat-cepat karena kaget, dia melarikan diri.
Dia berusaha meninggalkan tempat itu.
Namun, tampak Thio Kim Beng mengejarnya, membuat dia panik sekali, apa lagi memang di waktu itu Thio Kim Beng dapat mengejarnya dengan pesat sekali.
Sayangnya Thio Kim Beng melihat jendela kamar Giok Hoa terbuka dan melesat keluar sesosok bayangan.
Itulah si gadis sendiri, yang malah telah mengejar Thio Kim Beng, membuat pengemis tua ini segera merobah pikirannya.
Dia tidak mengejar terus Jai-hwa-cat itu, malah Thio Kim Beng telah mengalihkan arah larinya.
Dia memancing si gadis mengejarnya jauh sekali di luar kota.
Kemudian si pengemis telah merobah arah larinya, dia meninggalkan Giok Hoa, berlari ke rumah penginapan dan mengambil buntalan si gadis.
Dia melakukan semua ini, selain hendak mempermainkan Giok Hoa, iapun hendak memberikan pelajaran kepada gadis itu, agar di lain waktu ia bersikap hati-hati.
Dengan terkena pancingan itu dan main keluar dari kamar dan mengejar lawan, tanpa memperdulikan keadaan di dalam kamarnya, tentu akan dapat mempermudah penjahat mengambil barangnya.
Tetapi siapa sangka, justeru Giok Hoa menduga bahwa Thio Kim Beng memang sengaja memancingnya untuk dapat mencuri barang-barangnya.
Pada malam itu, Thio Kim Beng pun telah melihat si gadis keluar dari rumah penginapan.
Ia mengintai dan mengikuti diam-diam saja.
Di dalam hati Thio Kim Beng mentertawai gadis tersebut.
Waktu itu, kebetulan pula Thio Kim Beng melihat pemuda yang diduga adalah si Jai-hwa-cat, dia jadi girang, terlebih lagi memang Giok Hoa telah mengikuti pemuda itu terus, maka pengemis tua ini berpikir, jika telah tiba waktunya, dia hendak turun tangan buat membekuk dan memberikan hajaran kepada maling pemetik bunga itu.
Sedangkan ketika Siangkoan Lo Sian bertempur dengan Kie Pa Kay, dia sudah bermaksud hendak keluar dari tempat persembunyiannya, dia ingin menyelesaikan persoalan tersebut.
Siapa sangka, justeru di waktu itu memang rupanya Siangkoan Lo Sian tidak bisa bertahan terus buat menghadapi lawannya, dia telah meninggalkan tempat itu!
Waktu melihat pemuda itu pandai mengambil hati dan membuat Kie Pa Kay malah bersedia hendak mengajarkannya beberapa jurus ilmu silatnya Thio Kim Beng segera merasa bahwa dia tidak boleh berlaku ayal dan terlambat.
Karena jika sampai pemuda itu diajarkan ilmu kepandaian Kie Pa Kay, niscaya akan membuat segalanya terlanjur.
Diapun kuatir kalau-kalau pemuda itu akan terlepas dari tangannya lagi.
Maka dia segera menampakkan dirinya.
Maka semua urusan yang menyangkut dengan diri Sam Lu Tang telah dapat dibereskan.
Giok Hoa setelah mendengar cerita Thio Kim Beng, jadi menghela napas dalam-dalam.
Dia membungkukkan tubuhnya memberi hormat waktu menyambuti buntalannya yang dikembalikan oleh Thio Kim Beng, diapun mengucapkan terima kasihnya.
Sedangkan Thio Kim Beng telah bilang.
"Jika di lain saat, engkau harus lebih berhati-hati nona……!"
Kata Thio Kim Beng menasehatinya.
Si gadis mengiyakan dan mengucapkan terima kasihnya lagi.
Di waktu itu, Kie Pa Kay bertiga telah meminta pengampunan dari Tiang-lo mereka, karena justeru mereka telah salah dalam membantu dan menolongi orang.
Rupanya orang yang mereka tolongi itu tidak lain dari seorang pemuda bejad yang tidak bermoral!
Dan mereka bertiga berjanji akan mencari Siangkoan Lo Sian, guna meminta maaf padanya.
Senang dan puas Thio Kim Beng mendengar ke tiga pengemis itu berjanji seperti itu dan dia tidak menegurnya lagi.
Begitulah, mereka telah berpisah.
Dan Thio Kim Beng mengirim salam buat Ko Tie, agar Giok Hoa menyampaikan pesannya, supaya pemuda itu bersikap lebih hatihati, walaupun kepandaian Ko Tie tinggi, tokh ia masih kurang pengalaman.
Giok Hoa tertawa melihat sikap jenaka Kim Beng, ia bilang.
"Locianpwe, kau menguatirkan kami, tapi engkau mempermainkan kami! Tentunya dalam perjalanan kami ini lebih baik lagi jika saja locianpwe mau mencampurinya!"
Maksud Giok Hoa ialah Thio Kim Beng melindungi mereka secara diam-diam. Thio Kim Beng mengerti maksud si gadis, dia tertawa.
"Budak setan, engkau mungkin menyangka aku kebanyakan waktu buat kalian, heh?"
Dan setelah berkata begitu, Thio Kim Beng menjejakkan ke dua kakinya, tubuhnya melesat, dalam sekejap mata saja telah lenyap dari pandangan mata.
Giok Hoa masih berdiri tertegun melihat kepandaian pengemis tua itu.
Sedangkan Kie Pa Kay bertiga juga sudah berlalu.
Giok Hoa kembali ke rumah penginapan, ia menceritakan kepada Ko Tie apa yang telah dialaminya.
Dan Ko Tie tertawa sambil katanya.
"Anak nakal, kau mencari penyakit sendiri! Beruntung ada Thio locianpwe, jika tidak?"
"Jika tidak kenapa?"
Kata Giok Hoa manja, timbul sikap alemannya.
"Jika tidak, tentu engkau tidak akan memperoleh kembali buntalanmu itu,"
Menyahuti Ko Tie. Giok Hoa cemberut, namun dia bilang.
"Engkau yang tidak bisa melindungi aku!"
"He, he, he, aku melindungi kau sebaik mungkin!"
Kata Ko Tie.
"Tentunya akupun akan melindungimu, asal engkau tidak menjadi anak yang nakal!"
Mulut Giok Hoa dimonyongkan, ia tampaknya manja sekali dan aleman, dia bilang tidak mau kalah.
"Sudah! Sudah! Beruntung aku memperoleh kembali buntalanku ini….. hemmmm, engkau hanya bisa mempermainkan aku!"
Ko Tie hanya tertawa. "Walaupun bagaimana, semua ini ada baiknya juga, di mana sebagai pelajaran yang berharga buat kita, agar dilain waktu kita bersikap lebih hati-hati dan waspada.....!"
Giok Hoa berdiam diri saja, kemudian ia bilang, hari telah malam dan ia kembali ke kamarnya, buat tidur.
◄Y► Keesokan harinya mereka melanjutkan perjalanan, di mana mereka mengambil arah ke Utara.
Wakta itu hujan salju turun cukup lebat karena sudah memasuki musim dingin dan hampir tiba harian Tahun Baru.
Ko Tie dan Giok Hoa masing-masing menunggang kuda mereka perlahan-lahan.
Yang satu berpakaian sebagai seorang pelajar, tampan sekali, sedangkan yang seorangnya adalah searang gadis yang cantik jelita.
Mereka berpakaian sebagai pemuda dan pemudi dari golongan hartawan.
Dengan melintasi jalan kecil, mereka telah sampai di jalan besar.
Sudah dua hari salju berhenti turun, hawa udara tetap dingin.
Dan hanya sekali-sekali masih turun salju, dalam waktu yang tidak begitu lama.
Jalanan pun basah, dari itu sepatu dan kaus kaki mereka jadi demak.
Terlebih lagi, dikala mereka melanjutkan perjalanan ini, salju telah turun, sehingga pakaian mereka pun basah.
Mereka melanjutkan perjalanan, karena waktu di rumah penginapan salju sudah berhenti turun, dan mereka menduga bahwa hujan salju memang telah berhenti dan tidak akan turun hujan lagi.
Ko Tie dan Giok Hoa menuju kecamatan Kie-koan.
Di sepanjang jalan mereka menemui orang-orang yang pergi menjenguk sanak famili, guna memberi ucapan selamat tahun baru, dari itu jalanan ramai karenanya.
Itulah disaatnya tahun baru yang dirayakan oleh seluruh rakyat di daratan Tiong-goan.
Terkadang juga, lewat orang rimba persilatan, yang melarikan kudanya keras-keras, akan tetapi tidak ada yang menduga atau mencurigai Ko Tie dan Giok Hoa.
Jika tokh mereka menarik perhatian juga, itulah disebabkan mereka tampan dan cantik, mereka merupakan pasangan yang setimpal.
Di tempat mereka berada, masih termasuk di dalam wilayah Shoa-say, memang jarang sekali ada pasangan mudamudi yang tampan dan cantik seperti Ko Tie dan Giok Hoa.
Akhirnya mereka telah tiba di Chin-su dan mereka mencari sebuah rumah penginapan.
Pelayan rumah penginapan menyangka mereka adalah pengantin baru, mereka di antar ke sebuah kamar.
Seberlalunya pelayan, Ko Tie tertawa, sampai muka Giok Hoa berubah jadi merah sendirinya, sehingga ia mendelik kepada engko Tie nya tersebut.
Walaupun ia polos dan bebas merdeka, tidak urung Giok Hoa likat juga.
Ia bermaksud keluar dari kamar itu, untuk meminta pelayan menyediakan kamar lainnya buat dia, tapi ia kuatir akan menarik perhatian orang.
Dan memang, biasanya ia selalu pisah kamar dengan Ko Tie, baru kali ini, ia diantar ke sebuah kamar oleh pelayan rumah penginapan, membuat ia canggung untuk meminta kamar lainnya.
Dan ia mengharapkan Ko Tie yang pergi meminta sebuah kamar lain kepada pelayan.
Ko Tie kuatir kalau-kalau Giok Hoa keliru sangka, maka ia bilang.
"Adik Hoa, sebenarnya aku gembira sekali, di mana kita telah lebih dari tiga bulan berkelana. Dan selama ini, kitapun telah banyak melakukan perbuatan mulia menoloagi orang-orang yang dalam kesulitan! "
Kitapun bisa bersahabat demikian rapat, dan dapat menikmati keindahan tempat-tempat yang indah! Bukankah itu sangat menyenangkan sekali? Aku jadi girang bukan main!"
Giok Hoa mengerti, maka ia bilang di dalam hatinya;
"Dasar aku curiga tidak karuan juntrungannya. Memang kalau ia bermaksud buruk, tidak usah ia menunggu sampai hari ini!"
Si gadis segera mengawasi pemuda tersebut yang sebaliknya mendelong mengawasi keluar jendela itu, tangannya digendongkan.
"Engko Tie,"
Katanya kemudian.
"Selama dalam perjalanan berkelana di dalam rimba persilatan, telah banyak yang kita lihat! Memang benar, apa yang dikatakan oleh orang-orang tua tidak meleset, betapa buruknya dunia Kang-ouw!"
"Mengapa begitu, adik Hoa?"
Tanya Ko Tie kemudian. "Karena, kita telah menyaksikan banyak sekali peristiwa yang di luar dari kepantasan."
Ko Tie hanya mengangguk.
"Benar!"
Sahutnya.
"Justeru itu, mempergunakan kesempatan kita diberikan waktu untuk berkelana, harus dapat melakukan perbuatan mulia menolong orang-orang yang dalam kesukaran."
Si gadis menghela napas dalam-dalam.
"Tapi kepandaianku masih belum berarti apa-apa, banyak yang telah kulihat, bahwa sebenarnya ilmu silat itu tidak ada batasnya! Seperti dengan kau, kepandaianmu jauh berada di atas kepandaianku!"
Ko Tie tersenyum, ia menatap si gadis beberapa saat lamanya. Barulah dia kemudian berkata.
"Itulah disebabkan tenaga dalammu belum cukup! Kau berlatih terus, nanti kau akan memperoleh tenaga tambahan yang lebih baik lagi! Kaupun harus rajin bersemedhi. Aku tanggung tidak sampai tiga bulan, kau akan berhasil"
Giok Hoa berdiam, tapi matanya menatap dan wajah tersenyum.
Ko Tie juga balas mengawasi.
Dan ia sampai tersengsem.
Di matanya, pada waktu itu, Giok Hoa cantik luar biasa.
Gadis itu memakai baju warna serba hijau, hanya mantelnya yang berwarna hitam, Dia memang elok sekali, dandanannya itu menambah kementerengan parasnya yang cantik.
Menyaksikan sikap si pemuda, Giok Hoa kian menatap.
Dan mereka baru tersadar waktu terdengar pintu kamar dibuka, disusul munculnya seorang pelayan, yang telah mengantar minuman buat mereka itu.
Setelah pelayan itu berlalu mereka bercakap-cakap sampai jauh malam.
Barulah ke duanya tidur.
Di kamar itu terdapat dua pembaringan karena mereka adalah orang-orang Kang-ouw yang bebas dan merdeka, walaupun memang Giok Hoa selalu teringat pada pesan gurunya, agar ia pandai-pandai membawa diri dan menjaga kesuciannya sebagai seorang gadis, tokh ia melihat pemuda ini adalah seorang pemuda yang halus tutur bahasanya, baik jiwanya.
Karena itu ia tidak bercuriga lebih jauh, ia melihat Ko Tie adalah seorang pemuda yang jiwanya sangat besar dan tidak akan melakukan perbuatan rendah dan hina.
Mereka walaupun belum secara resmi mengeluarkan dan memuntahkan isi hati dan perasaan mereka, bahwa saling mencintai, namun di hati kecil masing-masing telah merasakan, betapapun mereka berdua memang saling mencintai.
◄Y► Malam telah larut, angin meniupkan hawanya yang dingin dan bersuara di kertas jendela.
Ko Tie dan Giok Hoa di dalam kamar di rumah penginapan sudah tertidur nyenyak.
Tapi segera juga mereka terbangun dan tersadar dari tidur masing-masing oleh suara berkeresek perlahan di atas genting.
Mereka segera menduga jelek.
Memang mereka tidur tanpa menukar pakaian lagi, karenanya, mereka dapat segera turun dari pembaringan, pergi ke sudut kamar.
Di situ mereka berdiam sambil memasang mata.
Umumnya jendela rumah di propinsi Shoa-say terdiri dari dua lembar, ukuran daun jendelanya yang panjang itu dibuka keluar, ke atas dan ke bawah.
Sekarang daun jendela rumah penginapan terdengar berkeresek.
Lantas terlihat yang sebelah atas diangkat, rupanya untuk ditunjang.
Ko Tie melihat bergerak-geraknya sebuah tangan.
Giok Hoa segera mempersiapkan sebutir biji uang tembaga.
Dengan terbukanya daun jendela, angin menerobos masuk ke dalam, dingin sekali, Ko Tie dan Giok Hoa merasakan siliran angin, tapi mereka berdiam diri saja.
Penjahat di luar tidak mendengar suara sesuatu di dalam kamar walaupun daun jendela dibukanya, hati mereka jadi besar, segera juga terlihat mereka masuk.
Mereka berdua, tangan mereka masing-masing mencekal pedang, mukanya ditutup topeng.
Dengan perlahan mereka menghampiri pembaringan, lalu dari dekat, mereka melompat untuk menotok, mungkin mereka bermaksud membikin korbannya tidak berdaya dan tidak bergerak akibat totokan.
Tapi tangan mereka, jari tangan itu, menotok pembaringan yang kosong.
Mereka kaget.
Mereka bukan menotok tubuh manusia!
Ke duanya segera juga melompat mundur, untuk melarikan diri dari jendela atau di waktu itu segera terdengar jeritan mereka, yang seorang telah rubuh terguling di lantai.
Giok Hoa telah menimpuk tepat pada kaki penjahat yang seorang itu, membuat dia jadi terguling rubuh di lantai.
Orang yang ke dua kaget dan bingung sekali, tapi ia menyadari bahaya, terus juga tanpa menghiraukan kawannya.
Dia pun melompat ke jendela.
"Kembali!"
Dia mendengar seruan nyaring.
Segera terasa kakinya terjepit sakit, lantas tubuhnya tertarik keras, sampai dia membentur tembok.
Setelah merasakan matanya berkunang-kunang, kepalanya yang pusing bukan main, dia rubuh tidak sadarkan diri!
Berbareng dengan itu, lilin menyala.
Giok Hoa menghampiri ke dua penjahat itu.
Dengan ujung sepatunya ia mencongkel topeng muka orang itu, secarik kain berwarna merah.
Ia juga telah melihat wajah orang itu bengis dan menakutkan.
Penjahat yang terluka kakinya, matanya mendelik, terus dia tertawa dingin.
"Bocah, kau ternyata mengerti ilmu silat. Kami ternyata telah terlanjur berbuat salah, kami kurang teliti, sehingga tidak mempergunakan asap pembius……!"
Berkata penjahat itu. "Hemmm, jika kau berani mengganggu kami seujung rambut saja, tentu kalian tidak akan dapat meninggalkan kota ini besok paginya!"
Itulah ancaman.
Dan Giok Hoa bersama Ko Tie menduga bahwa mereka adalah maling-maling yang menginginkan harta mereka.
Namun Ko Tie yang memang lebih cerdas dan juga memiliki pengalaman yang lebih banyak dalam rimba persilatan, akhirnya dapat menduga lain.
Ia tadi menyaksikan betapa ke dua orang itu menyergap ke pembaringan dan bermaksud menotok.
Tentunya mereka ini adalah penjahat-penjahat pemetik bunga!
"Kalian tentunya jai-hoa-cat busuk yang harus dibikin mampus!"
Kata Ko Tie bengis, memancing.
"Hemmm, siapa yang suruh kawanmu itu terlalu cantik?!"
Menyahuti penjahat itu berani sekali.
"Dan jika memang kalian berani mengganggu seujung rambut kami saja kalian tentu tidak akan dapat meninggalkan tempat ini……!"
Mengetahui bahwa penjahat ini adalah jai-hoa-cat, bukan kepalang marahnya Giok Hoa. Tubuhnya sampai menggigil menahan amarah yang serasa ingin meledakkan dadanya. "Manusia hina dina!"
Makinya kemudian.
"Baiklah malam ini aku memberikan kepada kalian kematian utuh, agar selanjutnya kalian tidak perlu lagi meninggalkan bencana buat khalayak ramai!"
Setelah berkata begitu, gadis ini hendak menotok jalan darah kematian di tubuh si penjahat.
"Tahan dulu!"
Cegah Ko Tie.
Ia mendengar bahwa penjahat ini adalah Jai-hoa-cat, penjahat pemetik bunga, berarti tukang pemerkosa gadis dan isteri penduduk, dan inilah penjahat yang paling hina.
Ia pun sangat marah sekali, dan ia tahu, memang penjahat seperti ini tidak layak dibiarkan hidup.
Tapi, mereka berada di rumah penginapan.
Ia bilang lagi.
"Di sini tidak dapat kita sembarangan membunuh orang……!"
Dan Ko Tie telah menghampiri. Pundak penjahat ditepuknya perlahan sambil katanya.
"Sahabat, kau pergilah! Dilain waktu, tidak nantinya engkau akan, mendapat kebaikan seperti sekarang kalau sampai kita bertemu lagi!"
Penjahat yang pingsan mulai sadar, ia merayap bangun. Dia gusar dan ingin melampiaskannya. Namun Ko Tie telah memimpin dia bangun dengan pundaknya ditepuk, sambil tertawa pemuda itu bilang.
"Tuan, harap kau jangan membuka mulutmu. Justeru sekarang adikku, belum lagi berpikir lain, cepat kau angkat kaki meninggalkan tempat ini!"
Penjahat itu batal mencaci. Semula ia memang hendak menegur, namun ia batal sendirinya dan matanya saja yang mendelik dan mulutnya tampak mengejek dengan beberapa kali bersuara.
"Hemmm!"
Kemudian dia bilang kepada kawannya.
"Ji-te, mari kita pergi!"
Orang yang dipanggil Ji-te itu menurut, maka sejenak kemudian mereka sudah melompat keluar dari jendela, buat menghilang di tempat gelap.
Giok Hoa segera menjatuhkan diri di kursi.
Ia duduk menangis terisak.
Ia agaknya sangat berduka dan penasaran.
Ko Tie menghampiri, dia mengusap-usap lembut rambut si gadis buat menghiburnya.
"Adik Hoa, apakah kau menyesalkan aku melepaskan mereka?"
Tanyanya sabar.
"Kau jangan salah mengerti. Kau tahu, sebelum mereka menyingkir seratus tombak, mereka akan sampai di pintu kota negara iblis! Kau jangan menyesal dan penasaran, jangan bersusah hati!"
Giok Hoa mengangkat kepalanya, ia menyusut air matanya. Tibatiba ia tertawa.
"Aku mengerti!"
Katanya.
"Benar-benar kau membunuh orang tanpa berdarah!"
Ko Tie tersenyum, ia bilang sungguh-sungguh.
"Untuk membasmi manusia jahat, aku terpaksa berbuat demikian, karena mereka sebagai penjahat pemetik bunga, tidak pantas mereka dibiarkan hidup lebih lama lagi!"
Kemudian Ko Tie pergi ke pembaringannya buat mencabut pedangnya, dia menghunusnya.
"Kita mempelajari ilmu silat, untuk disumbangkan demi keselamatan dan kepentingan masyarakat, kita harus dapat menegakkan keadilan!"
Waktu berkata seperti itu, sikapnya gagah sekali.
Menyaksikan sikap Ko Tie, Giok Hoa tampak kagum sekali, sampai gadis ini mengangguk-angguk beberapa kali.
Mereka telah melanjutkan tidur yang terganggu itu.
Keesokan paginya, Ko Tie memutuskan, lebih enak melanjutkan perjalanan dengan naik kereta, karena hawa udara yang buruk dan hujan salju yang setiap saat dapat turun.
Giok Hoa menyetujuinya, dan Ko Tie memesan pelayan untuk mencarikan sebuah kereta buat mereka.
Tentu saja Ko Tie menghendaki kusir yang benar-benar terampil dengan keahlian mengendalikan kereta.
Pelayan itu pergi untuk kembali dalam waktu yang cepat, ia memberitahukan.
"Kereta sudah siap, apakah tuan dan nona mau berangkat sekarang?"
Ia mengawasi muda-mudi itu, yang tampan dan cantik, ia sendiri sampai heran, mengapa di dunia terdapat pasangan muda-mudi yang demikian tampan dan jelita.
Tengah dia bengong, Giok Hoa memberikan hadiah buatnya satu tail perak, sehingga pelayan itu girang bukan main, tidak hentinya ia mengucapkan terima kasih.
Giok Hoa membereskan buntalannya yang kemudian disuruhnya pelayan itu membawa ke kereta.
Ko Tie sendiri telah membawa buntalannya.
Berdua mereka melangkah keluar dari rumah penginapan tersebut setelah membereskan pembayaran uang sewa kamar.
Di muka rumah penginapan tampak kereta yang dipesan, yang tendanya berwarna hitam dan keledainya empat ekor.
Tampaknya keempat ekor keledai itu adalah binatang pilihan semua.
Tukang keretanya dua orang.
Mereka tampaknya sehat dan kuat, sebagai kusir yang pandai.
Juga tampaknya mereka seperti orang asal Utara, mereka bertubuh tinggi besar.
Tangan mereka masingmasing mencekal cambuk.
Ko Tie memberi hadiah lagi sepuluh tail kepada pelayan, segera ia memimpin Giok Hoa naik kereta, ia sendiri naik belakangan.
Pelayan itu mengucapkan terima kasih dan bersyukur.
Seumur hidupnya bekerja sebagai pelayan, belum pernah ia menerima hadiah demikian besar, dari tamu yang demikian terbuka tangannya.
Kusir segera menggeprak keledainya, cambuknya dibunyikan membikin roda-roda kereta menggelinding cepat dan keras.
"Tuan dan nona, baik-baik di jalan!"
Masih terdengar suara si pelayan.
Ke empat keledai lari keras, lari di jalan yang becek.
Sekeluarnya dari Chin-su, mereka menuju Lok-yang.
Matahari memberi hawa hangat, tetapi angin dingin.
Itulah angin Utara yang keras.
Ko Tie dan Giok Hoa menyekap diri di dalam kereta, merasa hangat.
Muda-mudi itu tidak berdiam saja.
Mereka suka mengintai keluar.
Maka mereka melihat orang-orang rimba persilatan, yang menunggang kuda dan melakukan perjalanan cepat.
Orang-orang itu mengerutkan kening, suatu tanda mereka tengah menghadapi urusan penting.
Gadis itu juga heran dan menanyakan pikiran si pemuda.
Ko Tie menggeleng perlahan, dia bilang.
"Mereka tampaknya tengah menghadapi urusan penting, karena di saat udara demikian dingin dan cuaca demikian buruk, mereka masih melakukan perjalanan dengan menunggang kuda!"
Dia kemudian berdiam sejenak, mengintai keluar, baru melanjutkan perkataannya.
"Dan, tidak mungkin mereka hendak mencari urusan dengan kita." Giok Hoa tertawa. Ia anggap kawannya ini jenaka. Kereta keledai terus dilarikan keras. Kusir mencambuk dan berseru berulang kali. Lewat dua jam, Giok Hoa menyenderkan diri untuk tidur. Ko Tie tidak mau mengganggu si gadis, ia sebenarnya tidak tidur cukup semalam, tapi sekarang ia tidak tidur seperti si gadis, terus ia suka mengintai keluar. Ia memikirkan gerak-gerik orang-orang rimba persilatan yang mereka lihat tadi, yang rombongannya melakukan perjalanan dengan hanya menunggang kuda. Setelah melewati duapuluh lie, Ko Tie mulai mengerti duduknya persoalan. Jauh di depan, di tengah jalan, terlihat beberapa buah kereta piauw-kiok serta belasan piauw-su atau pengiringnya, yang dengan senjata terhunus tengah menjagai di sekitarnya. Teranglah mereka itu tengah bersiap untuk menyambut suatu penyerbuan.
"Saudara,"
Ko Tie tanya kasir.
"Di depan kita ini ada tempat persinggahan atau tidak?!"
"Ada, tuan!"
Menyahuti salah seorang kusir sambil membungkuk hormat.
"Itulah Kho-ke-kauw, lagi sepuluh lie dari sini, tempatnya memang baik……!" Suara kusir tidak lancar. Ko Tie dapat menerka sebabnya. Itulah tentu disebabkan suasana buruk di sebelah depan itu. Kusir kereta pasti banyak pengalamannya dan tahu baik segala peristiwa di tengah perjalanan.
"Sudah, kalian jangan berkuatir!"
Kata Ko Tie kemudian, tertawa.
"Jika di depan tidak ada tempat persinggahan, tidak nanti kawanan penjahat bekerja sebelum lewat Kho-ke-kauw.
"Lagi pula, kita orang-orang pelancongan, kita tidak mencampuri urusan mereka. Kalian boleh jalan terus!"
Lega hati si kusir.
Orang demikian besar hatinya, ia ingin menduga penumpangnya ini bukan orang sembarangan.
Giok Hoa tidak tidur pulas.
Ia mendengar pembicaraan itu, segera ia membuka matanya untuk memandang keluar tenda.
"Engko Tie,"
Katanya, tertawa.
"Aku dapat menerka kau. Kembali kau usil ingin mencampuri urusan orang lain, bukan?!"
Ko Tie tidak menjawab, dia hanya tertawa.
Waktu itu kereta mereka tengah lari keras sekali.
Dengan cepat mereka tiba di belakang rombongan kereta piauw-kiok.
Waktu si gadis melihat keluar, ia agak terkejut.
"Aih!"
Serunya.
"Engko Tie, kau lihat! Bendera piauw-kiok cuma sulaman empat ekor kuda, tidak ada lainnya lagi. Itulah sangat berbeda dengan yang umumnya. Apakah ini tidak aneh?!"
Ko Tie melihat berkibar-kibarnya bendera yang dimaksudkan kawannya tersebut.
Itulah bendera dari sutera putih, sulamnya benar merupakan empat ekor kuda yang jempolan, yang berlainan sikapnya.
Ia mengetahui, itulah siluman yang mencontoh gambar lukisan "Delapan Ekor Kuda"
Dari pelukis Han Siang.
Tiba-tiba ia teringat keterangan dari gurunya bahwa di propinai Holam di samping kuil Siang-kok-sie di kota Kay-hong, ada sebuah Piauw-kiok yang memakai merek Thian-ma Piauw-kiok.
Artinya Piauw-kiok (kantor ekpedisi) Kuda Langit.
Atau lebih jelasnya lagi adalah "Kuda Langit Jalan di Udara", perjalanan senantiasa selalu berhasil.
Piauw-kiok itu dipimpin oleh Tong Teng Bun yang di dunia Kangouw dijuluki sebagai It-cu-kiam-sian (Dewa Pedang Mutiara Tunggal).
Jago pedang hebat sekali, gagah dan cerdik sekali, yang usianya sudah tujuhpuluh tahun lebih, dan ia seorang piauw-su yang memiliki hati sangat baik.
"Kalau memang benar dia, Tong Teng Bun, tidak dapat tidak, aku harus membantunya!"
Demikianlah Ko Tie telah berpikir.
Karena piauw-kiok mau mengalah, maka kereta yang di tumpangi Ko Tie dan Giok Hoa dibiarkan lewat lebih dulu.
Dikala lewat seperti itulah, Ko Tie melihat seorang tua duduk di dalam kereta piauwkiok.
Ia telah ubanan rambut dan kumisnya, mukanya bersemu dadu.
Sepasang matanya tajam, tubuhnya kekar dan besar, tidak miripnya seorang tua.
Dia membekal pedang di punggungnya, akan tetapi pedang itu tidak dihunus, bahkan dia sangat tenang sikapnya.
Wajahnya memperlihatkan bahwa dia seorang tua yang sabar.
Tidak lama tibalah Ko Tie di Kho-ke-kauw.
Benar saja di mulut dusun terdapat sebuah rumah penginapan.
Ko Tie membantu si gadis untuk turun, untuk masuk ke dalam rumah penginapan.
Seorang pelayan menyambut, mereka dipimpin ke dalam.
Di pertengahan sudah ada lima tamu, yang semuanya memiliki wajah bengis.
Tubuhnya besar-besar, sambil duduk di bangku panjang, mereka bicara perlahan.
Berhenti suara mereka begitu melihat masuknya muda-mudi yang sangat cantik dan tampan itu, sehingga mereka jadi begitu terpesona.
Terlebih lagi memandang si gadis yang sangat cantik, seperti juga seorang bidadari yang baru saja turun dari kerajaan langit.
Ko Tie berdua melangkah terus, mereka ditunjukkan dua kamar, di sebelah timur di barat.
Ia memilih yang timur, terus memesan barang-barang santapan, sekalian juga untuk ke dua kusirnya.
Dikala menantikan barang makanan diantar, seorang diri ia melangkah keluar, sikapnya untuk melihat-melihat rumah penginapan itu, diam-diam ia memperhatikan ke lima tamu tadi.
Ia ingin menerkanya pasti bahwa mereka memiliki maksud-maksud tertentu yang dialamatkan kepada Thian-ma Piauw-kiok.
Piauw-kiok itu memiliki pegawai yang jalan di depan, yang biasa mengatur penginapan dan lainnya.
Pegawai itu sudah lantas tiba di rumah penginapan.
Ketika ke lima orang tadi melihat dia, mereka tersenyum tawar.
Ko Tie dapat melihat sikap mereka, ia lantas mengerti duduk persoalannya.
Cepat juga tibalah rombongan piauw-kiok, maka berisiklah suara kereta dan kuda.
Cong-piauwtauw Tong Teng Bun, masuk ke dalam rumah penginapan.
Ia melangkah di muka, diikuti orang-orangnya.
Tampak ia bersungguh-sungguh.
Ketika ia melihat Ko Tie berdiri di samping, sejenak ia mengawasi.
Agaknya ia kagum untuk ketampanan dan ketenangan pemuda itu.
Ia lantas tersenyum dan mengangguk sebagai tanda menyapa hormat.
Ko Tie tersenyum dan mengangguk, ia anggap orang tua itu manis budi.
"Banyak capai, lo-piauwtauw?"
Sapa si pemuda.
"Begitulah keadaanku si orang tua!"
Menjawab piauw-su itu, menghentikan langkah kakinya.
"Setiap tahun, setiap bulan, aku harus melakukan perjalanan jauh. Hidup di ujung pedang maka untukku tidak ada kata-kata capai, laote. Dapatkah aku mengetahui shemu yang mulia, laote?"
Sambil bertanya begitu, mata piauw-su ini melirik ke kereta si pemuda yang berada di depan rumah penginapan.
"Aku she Bie, lo-piauwtauw!"
Ko Tie menjawab.
"Kami berdua suami isteri berangkat kemarin dari Thay-goan, maksud pergi ke Lok-yang. Tadi aku melihat lo-piauwtauw di tengah jalan, aku kagum sekali!"
Tong Teng Bun mengelus kumisnya dan tersenyum.
"Bie Leote, girang aku dengan pertemuan ini!"
Katanya kemudian, bersungguh-sungguh. Karena orang tidak menanyakan she dan namanya ia memperkenalkan diri.
"Namaku si orang tua yang rendah adalah Tong Teng Bun. Kebetulan sekali, akupun mau pergi ke Lok-yang. Jika Laote tidak memiliki sesuatu urusan, mari kita jalan samasama!"
Dikala berkata begitu, jago tua itu diam-diam melirik kepada ke lima orang tamu lainnya. Ko Tie tertawa.
"Lo-piauwtauw, walaupun aku hanya seorang anak sekolah, tapi nama lo-piauwtauw telah kukenal baik sekali!"
Katanya.
"Untuk wilayah Ho-lok, anak kecil sekalipun mengenalnya. Mana itu beruntung aku dapat berkelana dengan lo-piauwtauw. Lopiauwtauw masih ada banyak urusan, silahkan, sebentar saja aku memohon pengajaran."
Sengaja memang Ko Tie memperkenalkan she samaran yaitu she Bie. Ia tidak mau memperkenalkan diri yang sebenarnya dulu, karena di sinipun terdapat ke lima orang yang dicurigainya.
"Kau baik sekali, laote,"
Kata piauw-su tua itu tertawa.
"Nah, maafkanlah aku……!"
Ia memberi hormat, lantas ia melangkah masuk Ke lima tamu itu mengawasi punggung si orang tua sambil tersenyum tawar, setelah itu mereka berlalu.
Ko Tie pun kembali ke dalam kamarnya.
Thian-ma Piauw-kiok hampir memborong seluruh kamar rumah penginapan itu.
Dari kamarnya, sambil bersantap, sering Ko Tie dari Giok Hoa mendengar suara dan tertawanya si piauw-su tua.
"Coba terka, engko Tie, siapakah musuh Thian-ma Piauw-kiok?!"
Tanya Giok Hoa kemudian, sambil tersenyum.
"Apakah penjahat akan menyelidiki lebih dulu baru mereka mau turun tangan? Menurut dugaanku, pihak piauw-kiok ini lebih banyak menghadapi bahaya dari pada keselamatan, bahkan mungkin besok magrib ini terjadinya peristiwa."
Ko Tie tampak heran.
"Bagaimana kau bisa menduganya seperti itu, adik Hoa?!"
Tanya Ko Tie. Gadis itu tersenyum.
"Menurut perkiraanku, mereka itu pasti sudah menentukan tempat dan telah mengadakan penyelidikan yang cukup,"
Ia memberikan keterangan.
"Kau lebih berpengalaman dariku, mengapa engkau tidak melihatnya? "
Empatpuluh lie dari Kho-ke-kauw ini ialah jalanan pegunungan dan di sana ada lembah Gin-kang-kiap. Itulah tempat yang bagus untuk mereka bekerja.
"Setelah berhasil, seharusnya penjahat menyingkir ke Ong-ok-san, gunung di barat daya itu. Aku tahu di gunung Ong-ok-san itu berdiam beberapa begal yang menjagoi sekitar tempat ini, seperti yang pernah dituturkan oleh guruku. Maka kecuali dari para begal itu, tidak ada penjahat lain yang nanti berani turun tangan di dalam wilayah pengaruhnya itu!"
Ko Tie tertawa.
"Aku tidak sangka kau kenal baik kaum rimba hijau!"
Katanya.
"Jadi pastikah mereka adalah begal di Ong-ok-san akan bekerja di Ginkang-kiap?!"
"Kukira begitu!"
Si gadis mengangguk.
"Dan menurut cerita guruku, begal yang berkuasa di Ong-ok-san tersebut bernama Ciu Yang Cin!"
Ko Tie terdiam.
Ketika itu terlihat pelayan datang bersama Tong Teng Bun.
Tong Teng Bun mengikuti di belakang pelayan itu, dan di belakang piauw-su tua itu juga mengikuti seorang piauw-su usia lebih kurang empatpuluh tahun, yang wajahnya bersih.
"Ohhhhh!"
Ko Tie berseru, cepat-cepat ia bangkit, juga si gadis. Tong Teng Bun tertawa, ia bilang.
"Bie laote, maafkan aku! Beginilah tabiatku, asal aku kenal orang, aku menganggapnya sebagai sahabat kekal. Aku ingin bicara dari satu hal yang tidak selayaknya aku menyebutkannya, tetapi tokh aku harus menyampaikannya kepada laote berdua.
"Sesungguhnya, aku ingin sekali mengetahui, kapan laote berdua hendak meneruskan perjalanan kalian, hari ini juga atau besok? Menurut aku, baiklah laote beristirahat satu hari di sini!"
Ko Tie pura-pura heran.
"Lo-piauwtauw,"
Katanya kemudian.
"Kata-katamu ini tentunya memiliki sebab-sebabnya!"katanya.
"Maukah lo-piauwtauw menjelaskannya?"
"Sebenarnya panjang untuk dibicarakan,"
Kata piauw-su itu, sikapnya bersungguh-sungguh.
"Baiklah aku perkenalkan dulu sahabatku ini!" Ia lantas memutar tubuhnya dan menunjuk orang di belakangnya, untuk menambahkan.
"Inilah pembantuku yang aku paling hargai, yaitu Sun Kiam."
Ko Tie memberi hormat pada piauw-su itu, yang pun memberi hormat padanya. Malah Ko Tie telah memperkenalkan Giok Hoa.
"Silahkan duduk,"
Ia mengundang kedua tamunya itu.
"Lo-piauwsu minta kami menunda perjalanan satu hari, mungkinkah itu disebabkan perjalanan kurang aman?"
Orang tua itu menghela napas, tapi kemudian ia tertawa.
"Entah mengapa, laote, begitu melihat kau, aku jadi sangat suka bergaul denganmu!"
Ia bilang.
"Mungkin ini disebabkan wajahmu mirip sekali dengan anakku yang pendek umurnya.....!"
Dan piauw-su tua itu menghela napas, ia kemudian berkata lebih jauh.
"Seperti aku telah bilang tadi, panjang untuk menceritakannya. Memang sudah umum kami sebangsa piauw-su, kami hidup di ujung senjata."
Sudah beberapa puluh tahun aku membangun Thian-ma Piauwkiok, selama itu bukannya aku belum pernah menerima gangguan, hanya syukur berkat kecintaan dan kesetiaan sahabat-sahabat Rimba Hijau, semua itu bisa dihindarkan, urusan besar bisa dibikin kecil, dapat dilenyapkan.
Begitulah perusahaanku tetap maju.
"Sekarang aku telah berusia lanjut, sudah selayaknya aku beristirahat, untuk hidup tenang dan berbahagia serumah tangga. Apa perlunya aku terus merantau menghadapi ancaman bahaya? "
Memang sejak sepuluh tahun yang lalu, aku sudah mengundurkan diri. Tapi piauw-kiok tidak aku tutup, aku serahkan kepada anakku."
Kali ini kami menerima angkutan, kebetulan anakku sakit tidak dapat keluar, terpaksa aku si tua mesti mewakilinya. Kami mengantar piauw ke kotaraja, di waktu pulang, kami mendapat pula angkutan."
Seorang saudagar perlu mengirim permata dan uang ke Lokyang.
Dia tidak dapat menemui piauw-kiok yang cocok dengan hatinya, sebab di saat akhir tahun, semua perusahaan berhenti bekerja.
Disamping itu juga banyak yang kurang berani menangani urusan pengangkutan kali ini.
"Kami harus melakukan perjalanan pulang, lalu seorang sahabat memujikan kami. Tidak dapat aku menolak permintaan sahabat itu, maka itu kami menerima lagi tanggung jawab ini. "
Kami ingin cepat sampai di tempat tujuan, sengaja aku memotong jalan.
Di luar dugaan, kali ini aku menghadapi ancaman bahaya.
Aku telah beberapa kali melihat orang-orang yang sangat mencurigakan, tetapi aku masih belum memastikan mereka mengincar kami atau bukan.
"Oleh karena itu, aku menduga, disamping berjalannya sang waktu, tentu di sebelah depan akan terjadi peristiwa. Itu pula sebabnya mengapa aku telah minta dan menyarankan pada laote mau singgah saja di sini malam ini……!"
Ko Tie pura-pura kaget.
"Jika jalanan tidak aman, tidak dapat kami berdua melanjuti perjalanan ini, terlalu berbahaya....."
Katanya kemudian.
"Apakah.....?"
Sun Kiam tertawa dan menyelak.
"Lo-piauwtauw keliru melihat! Bie laote berdua adalah ahli-ahli silat yang lihay! Lihat saja sinar mata Bie Laote!"
Ko Tie kagum untuk piauw-su yang seorang ini.
Tadinya ia ingin minta diajak jalan bersama, karena Sun Kiam mengatakan demikian ia bilang.
"Sun Lao-su, benar sebagian, tidak keseluruhannya.
Isteriku bukannya ahli, ia hanya mengerti ilmu silat kasar.
Aku sebaliknya, aku benar-benar tidak tahu apa-apa."
Tong Teng Bun tertawa.
"Benar-benar mataku si orang tua lamur! Mengapa aku tidak dapat mengenali seorang pendekar? Laote, bukankah kau pun..... akh, mungkin kau merendah saja."
Ko Tie hendak menjawab piauw-su tua itu, atau ia tercegah suara berisik di luar, di mana terdengar orang tengah bertengkar mulut.
Di kala Tong Teng Bun terkejut seorang pengawalnya lari sambil berkata.
"Cong-piauwtauw, lekas! Di sana ada seorang pengemis serta kawan-kawannya yang romannya bengis, datang-datang meraba-raba barang kita di atas kereta! "
Waktu Oey Piauw-su mencegah, mereka segera menyerang. Pengemis itu bersenjata seekor ular. Sudah empat orang kita yang rubuh di tangannya. Oey Piauw-su sendiri rubuh juga!"
"Hemmm!"
Bersuara si piauw-su tua, yang terus melangkah keluar, diikuti oleh Sun Kiam.
Ia sampai lupa meminta diri lagi pada Ko Tie dan Giok Hoa.
Mendengar di antara pengacau ada pengemis, Ko Tie mengajak Giok Hoa keluar.
Di dalam pekarangan rumah penginapan orang ramai berkumpul.
Orang-orang piauw-kiok mengurung dua orang, wajah mereka heran dan takut.
Orang yang dikatakan bengis itu, berdiri sambil bertolak pinggang, tidak hentinya ia tertawa mengejek, karena ia melihat sikap jeri dan gentar dari rombongan piauw-su.
Lima kaki terpisah dari dia berdiri seorang pengemis yang matanya merah, hidungnya lancip, mukanya tirus, kulitnya bersemu merah.
Benar ia memegangi seekor ular dengan tangan kanannya.
Ular itu melilit-lilit dan mengulur-ulur lidahnya yang lentik menjijikkan.
Di tanah rebah lima pegawai piauw-kiok.
Waktu itu terdengar si pengemis tengah berkata dengan suara yang keras dan nyaring.
"Kalian orang piauw-kiok, jangan kalian bermata anjing tidak melihat mata pada orang lain! Aku si pengemis, telah banyak penglihatanku, maka juga barang-barangmu ini tidak ada harganya di mataku! "
Sebaliknya di sebelah depan sana memang ada seorang sahabat yang tengah menantikan kesempatan buat bertemu dengan si tua she Tong!
Aku justeru datang guna menyampaikan kabar!
"Mengapa kalian galak tidak karuan?
Hemmm!
Sudahlah!
Aku si tukang minta-minta mau pergi sekarang!"
Dia melirik kepada Tong Teng Bun, yang telah muncul di waktu itu, maka sengaja ia mengucapkan kata-kata seperti itu.
Dan benarbenar dia hendak melangkahkan kakinya.
Tong Teng Bun melompati orang-orangnya, ia berhenti di depan pengemis itu.
"Tuan, siapakah yang hendak menyampaikan kabar kepadaku, si orang tua?"
Tanyanya.
"Sebelum kau memberikan keterangan, tidak dapat kau berlalu dari sini!"
Pengemis itu memutar balik biji matanya, tampaknya galak sekali. Sikapnya seperti juga ia tidak memandang sebelah mata kepada piauw-su tua itu.
"Aku kira siapa yang berani main gila terhadap aku si tukang mintaminta!"
Katanya dengan suara yang dingin menusuk telinga.
"Kiranya Tong Teng Bun! Siapa sahabat itu, sebentar juga kau akan mengetahui dengan sendirinya. Jadi tidak usah aku si pengemis menggoyang-goyang lidah lagi!"
Itulah suatu penghinaan hebat, maka juga tanpa mengatakan suatu apa lagi, Tong Teng Bun maju sambil meluncurkan langsung ke dua tangannya menyerang jalan darah Hok-kiat kiri dan kanan dari pengemis mulut besar itu.
Tidak perduli dengan serangan itu, si pengemis bergerak acuh tak acuh ke samping.
Namun gerakannya itu memang mengagumkan juga, sebab ia gesit sekali, dia dapat berkelit.
Sayang sekali justeru Tong Teng Bun bergerak lebih jauh, sehingga pengemis itu tidak bisa berkelit keseluruhannya.
Dapat ia mengegos di kanan, tetapi di kiri tidak, maka sasaran di sebelah kiri telah terkena ditotok oleh Tong Teng Bun.
Sampai karena kesakitan, mata pengemis itu mendelik keluar dan mulutnya memperdengarkan seruan kesakitan.
Bersamaan dengan mana ular di tangan kanannya dilemparkan kepada piauwsu tua itu agar ular itu memagutnya.
Tong Teng Bun heran melihat si pengemis tertotok, tetapi tidak rubuh, ia tergoncang.
Biasanya ia tidak pernah gagal dengan totokannya tersebut.
Justeru disaat Tong Teng Bun tengah tercengang seperti itu, ular sudah terlempar sampai tinggal dua dim lagi di depan matanya.
Tidak sempat lagi ia menangkis.
Sambil melenggak, ia terus berjumpalitan, tetapi lihay ular itu yang terus mengejar, sambil meleletkan lidahnya.
Para piauw-su kaget sekali, semuanya juga berteriak kuatir untuk keselamatan piauwsu, pemimpin itu.
Tepat dikala setengah dim kepala Tong Teng Bun akan kena dipagut oleh ular tersebut, mendadak binatang lugat-legot yang ganas itu jadi merengket sendirinya.
Tubuhnya lantas jatuh ke tanah.
Cuma satu kali dia berkelenjetan, seterusnya dia diam tidak berkutik lagi.
Dia mati seketika, dengan lidahnya masih melelet keluar!
Menyusuli menyambarnya ular itu, si pengemis dan kawannya juga telah membarengi menyambar dengan lompatan yang gesit maju buat menyerang Tong Teng Bun, mempergunakan kesempatan yang baik-baik itu untuk merubuhkan piauw-su ternama ini!
Tong Teng Bun heran melihat binatang berbisa itu rubuh tidak karuan-karuan, ia tercengang.
Justeru itu ia melihat menerjangnya kedua musuh tersebut, ia terkejut.
Tapi ia berpengalaman dan tabah dengan cepat ia menggeser sebelah kakinya, guna memperbaiki diri, berbareng dengan mana, ke dua tangannya diluncurkan guna menyambuti serangan dengan kekerasan.
Jurusnya ini adalah "Kuda Liar Mengibaskan Suri"!
Segera juga terjadi hal yang benar-benar luar biasa.
Mendadak terdengar jeritan hebat dari ke dua penyerang itu.
Tubuh mereka terpental melayang bagaikan layangan putus tali, jatuh di tempat sejauh beberapa tombak.
Tapi mereka tidak terluka.
Rupanya begitu mereka jatuh segera dapat merayap bangun, terus mereka membuka langkah panjang, buat melarikan diri, angkat kaki secepatnya.
Piauw-su tua itu tercengang lagi.
Tadi ia menyerang, tetapi ia kalah cepat!
Baru ia menyerang atau dadanya sudah terasa sesak dan matanya gelap berkunang-kunang, karena disebabkan gempuran angin dari tangan ke dua musuhnya.
Tepat dikala ia hendak menggeser tubuh, mendadak tubuh kedua orang itu terpental.
Kejadian seperti ini benar-benar merupakan kejadian yang hanya beberapa detik saja.
Ia heran, namun segera ia menduga sebab-sebabnya, hanya ketika ia menoleh, ia tidak melihat Ko Tie dan Giok Hoa.
Ia jadi mengerutkan kening.
"Bawa masuk mereka itu!"
Ia perintahkan orang-orangnya guna menggotong ke lima orang pengawalnya yang telah terluka, buat ditolongi. Sambil melangkah masuk, ia bertanya kepada Sun Kiam siapa yang membantu padanya.
"Apa…..?!"
Balik tanya Sun Kiam heran bukan main.
"Bukankah mereka itu rubuh oleh hajaran piauw-tauw? Akh, kalau begitu ular itu juga bukan dibunuh piauw-tauw sendiri.....!"
Ia menggelengkan kepalanya. Ia menambahkannya kemudian.
"Aku berdiri di sampingnya Bie Laote berdua. Aku tidak melihat mereka menggerakkan tangan mereka sedikitpun juga. Mungkinkah ada orang lain yang membantu secara diam-diam?!"
Piauw-su tua tersebut jadi semakin heran, hatinya juga penuh ditanda tanyai oleh keraguan yang hebat.
Tapi ia harus menolongi orang-orangnya, tidak sempat ia bertanya lebih jauh atau memikirkan urusan itu.
Sebenarnya Tong Teng Bun telah dibantu oleh Ko Tie dan Giok Hoa.
Si gadis yang menghajar ular dengan jarum rahasia Bweehwa-ciam, dan si pemuda yang membikin si pengemis dan kawannya terpental dengan gempuran pukulan "Inti Es"nya.
Untuk ia cukup mempergunakan dua jari tangannya, tidak usah ia bersikap seperti tengah menyerang hebat.
Ko Tie telah dapat menguasai ilmu pukulan Inti Es nya, karena itu, ia bisa menguasai tenaga dalamnya sekehendak hatinya.
Dengan demikian, walaupun ia cuma menggerakkan jari-jari tangannya secara perlahan, tenaga yang tersalur hebat luar biasa.
Tidak puas Ko Tie menyaksikan kegalakan dan keganasan si pengemis.
Ia segera juga mempergunakan lima bagian dari tenaga Inti Esnya pada ke dua jari tangannya yang kanan.
Begitu cepat si pengemis dan kawannya melompat menerjang.
Ia mementil dengan dua jarinya itu ke arah mereka masing-masing, maka tiada waktu lagi dia telah membikin gagal dengan serangan mereka dan malah tubuh mereka terpental.
Karena seketika mereka merasakan betapa tubuh mereka menggigil kedinginan, seperti juga mereka itu telah direndam di dalam bak yang penuh dengan es.
Dengan sendirinya Ko Tie dengan ilmu Inti Es-nya itu, yang ternyata memang sangat lihay sekali, walaupun hanya mempergunakan jari tangannya belaka, namun tetap saja ia berhasil untuk merubuhkan ke dua orang itu dari jarak yang terpisah cukup jauh.
Itulah percobaan pertama kali dimana Ko Tie mempergunakan tenaga "Inti Es"nya itu dalam jarak pisah yang jauh dan hanya mempergunakan ke dua jari tangannya belaka.
Itulah pula sebabnya mengapa Sun Kiam tidak melihat gerakan tangannya.
Setelah itu ia menarik tangan Giok Hoa, buat diajak cepat kembali ke kamar mereka.
Giok Hoa heran, sampai di dalam kamar, dia diam menjublek mengawasi Ko Tie.
Ko Tie mengerti akan sikap yang terheran-heran seperti itu.
"Aku telah berpikir,"
Kata Ko Tie kemudian sambil tersenyum.
"Karena Tong Teng Bun sahabat rimba persilatan yang namanya bersih dan ia juga seorang gagah yang mementingkan kejujuran dan kependekaran, dengan demikian aku memutuskan buat membantui dia! "
Kasihan jika sampai dia mati di tangan lawannya, manusiamanusia jahat itu.
Tapi di depan kita ada urusan lainnya, yaitu kita masih harus pergi ke berbagai tempat, maka kita tidak bisa membuang-buang waktu terlalu banyak untuk berkumpul dengan mereka.
"Aku membantuinya dengan diam-diam…… Akupun berpikir untuk melakukan perjalanan bersama-sama dengan rombongan piauwsu itu, pada saatnya, kita bekerja cepat, agar dengan demikian kita pun tidak membuang waktu terlalu banyak!"
Setelah berkata begitu, tampaknya Ko Tie ragu-ragu. Dan di saat itu Giok Hoa telah melihat kesangsian si pemuda, maka ia bertanya.
"Kenapa? Apakah ada sesuatu yang tidak beres?!!"
Waktu itu si gadis jadi canggung dan kikuk, karena ia melihat Ko Tie tengah mengawasinya dengan tatapan mata yang sangat tajam sekali, mengawasi terus padanya, maka dengan tersenyum Giok Hoa berkata.
"Dengan mata keranjangmu kau menatap saja, sebenarnya kau hendak mengatakan apa?!"
Pemuda itu tertawa karenanya. "Aku pikir dengan cara berpakaianmu seperti sekarang sangat menyolok mata,"
Jawab Ko Tie kemudian.
"Aku kuatir nanti muncul gangguan yang memusingkan kepala dari orang-orang rimba hijau! Baiklah kau menyamar menjadi seorang pemuda saja……!"
Giok Hoa melirik pemuda itu tanpa mengatakan apa-apa, ia pergi ke meja dan duduk di depannya, menghadapi cermin tembaga.
Terus juga ia membuka kuncirnya, buat dijadikan kondai yang gepeng.
Setelah mana ia membeleseki kopiah yang si pemuda beli di Kwan-gwa di atas kepalanya, sehingga kondai itu tertutup semua.
Setelah mana ia menutup tubuhnya dengan jubah kulit, sedangkan sepatunya juga ditukar.
Maka lain saat, jadilah ia seorang pemuda yang tampan luar biasa, yang berimbang tampannya dengan engko Tie nya itu.
Di muka cermin, ia tertawa sendiri melihat wajahnya dalam penyamaran seperti itu.
Ko Tie kagum tidak terhingga, sampai tidak hentinya dia telah memujinya.
Tidak lama kemudian terdengar pintu diketuk.
"Silahkan masuk!"
Kata Ko Tie setelah melirik kepada Giok Hoa. "Bie Laote, aku!"
Terdengar suara di luar, suaranya Tong Teng Bun, yang terus menolak daun pintu dengan melangkah masuk.
Mereka, merandek ketika ia melihat Ko Tie berada bersama seorang pemuda lainnya, sehingga ia mengawasi tajam.
Hanya saja, segera ia mengenali maka ia bilang di dalam hatinya.
"Mereka ini sangat setimpal sekali! Jarang pasangan seperti mereka…… cuma, mengapa ia menyamar sebagai pria?!"
Biar dia heran, piauw-su ini tidak berani menanyakan langsung, ia hanya tersenyum sambil mengangguk. Ko Tie menyambut sambil tersenyum.
"Baikkah mereka yang terluka itu?!"
Tanya Ko Tie kemudian.
"Apakah luka mereka telah dapat disembuhkan?"
Piauw-su itu mengerutkan sepasang alisnya, ia menghela napas dalam-dalam.
"Dapat dibilang mereka baru terlolos dari kematian!"
Sahutnya dengan suara yang perlahan dan muka yang guram.
"Ular si pengemis ternyata seekor ular yang sangat beracun sekali. "
Ular itu yang bernama Ngo-hoa-kim-in berasal dari tanah Biauw, di mana siapa saja yang terpagut, asal racunnya bercampur dengan darah, menyelusup ke dalam jantung, korbannya pasti binasa!
Syukur dia dapat menutup jalan darah masing-masing.
"Aku harus bekerja keras sekali menyedot ke luar racun itu. Mungkin lewat beberapa bulan sebelum mereka dapat sembuh seperti sedia kala. Barulah akan berangsur-angsur kesehatan mereka pulih....... karena untuk sembuhnya luka gigitan ular seperti Ngo-hoa-kim-in memang memakan waktu yang sangat panjang sekali!"
"Syukurlah kalau begitu!"
Kata Ko Tie, menghibur.
"Sekarang ini tidak usah lo-piauwtauw terlalu berkuatir. Tapi kami menyaksikan lagaknya ke dua orang itu, kami tidak puas, maka itu barusan kami telah berdamai. Isteriku ini telah segera menyamar sebagai pria, suka ia membantu dengan sedikit tenaganya!"
Tong Teng Bun girang.
"Sungguh itu tidak berani aku mengharapkannya!"
Katanya.
"Terima kasih! Terima kasih! Mengharap saja aku tidak berani, siapa tahu telah menerima budi yang demikian besarnya!" Walaupun ia berkata demikian, orang tua itu tetap saja curiga. Ia percaya pasti mereka ini yang telah membantunya, walaupun benar Sun Kiam tidak melihatnya. Sekarang jelas si gadis mengerti ilmu silat. Hal ini menambah kepercayaan atas terkaannya itu. Tinggallah si pemuda. Mau ia menyangka, pemuda ini telah demikian mahirnya kepandaiannya, sehingga ia dapat menyembunyikan kepandaiannya dalam lagak wajarnya. Mau atau tidak Tong Teng Bun mengawasi tajam kepada Ko Tie, masih ia tidak melihat sesuatu pada sinar mata si pemuda. Ko Tie tersenyum, ia bilang.
"Membantu kesulitan orang dan menolongi bahaya, itulah kewajiban setiap orang. Oleh karena itu kami harap lo-piauwtauw jangan mengucapkan terima kasih. Silahkan lo-piauwtauw bersiap, lebih cepat kita berangkat berarti lebih lekas tugas kita selesai!"
"Baiklah!"
Kata piauw-su itu sambil memberi hormat.
Ia segera mengundurkan diri.
Ia masih berpikir keras.
Ia kecele, ia yang demikian ternama, sekarang menerima bantuan anak-anak muda……!
" Setelah berlalunya orang tua itu, Ko Tie bilang kepada kekasihnya.
"Sebentar di tengah jalan, kalau benar terjadi sesuatu, kau sendirilah yang turun tangan, engkomu hanya ingin berpeluk tangan!"
Giok Hoa terkejut.
"Hai! Mana boleh begitu?!"
Katanya bingung.
"Jangan bergelisah!"
Kata Ko Tie kemudian mencegah orang bicara lebih jauh.
"Kau harus mengerti, setelah disalurkan olehku, sekarang ini tenagamu telah bertambah satu kali lipat.
"Setelah kau berlatih beberapa bulan lagi, tentu kepandaianmu lebih hebat lagi! Dan juga, para kurcaci itu tidak memiliki kepandaian yang berarti. Dengan kepandaian yang kau miliki saja, engkau dapat merubuhkan mereka semua! "
Nanti jika memang ada sesuatu rintangan yang berat dan engkau tidak bisa mengatasinya, barulah aku akan turun tangan…… Dan engkau harus berlaku tabah serta tenang, karena pertempuran seperti itu merupakan juga pengalaman buat kau sendiri……!"
Giok Hoa mengawasi tajam. "Kalau begitu, kau telah demikian yakin bahwa aku akan dapat membereskan persoalan ini?!"
Kata Giok Hoa kemudian menegaskan Ko Tie mengangguk.
"Ya! Dan kita lihat saja nanti!"
Ko Tie telah bilang lagi sambil tertawa. Tiba-tiba sekali terdengar suara tertawanya Tong Teng Bun di luar kamar, sambit mendatangi ia bilang.
"Bie Laote, apakah kalian sudah siap sedia? Sekarang juga kami bermaksud berangkat!"
Ko Tie berdua segera membuka pintu kamar dan keluar.
"Kami sudah siap, lo-piauwtauw!"
Jawabnya.
"Kami memang tidak mempunyai bekal apa-apa, kami dapat berangkat sembarang waktu!"
Hanya saja si gadis, yang baru pertama kali menyamar sebagai seorang pria.
Tindakannya kurang leluasa, sikapnya kaku dan ia telah tersenyum-senyum dan wajahnya berseri-seri.
Ketika mereka tiba di luar, kereta-kereta sudah mulai berangkat, pegawai yang jalan di muka asyik memperdengarkan seruannya.
"Su-ma-hui-teng atau Empat Kuda Terbang naik. Itulah isyaratnya rombongan piauw-kiok tersebut yang memang memakai gambar empat ekor kuda sebagai lambangnya. Ke lima orang yang terluka telah digotong oleh beberapa orang kawannya. Tong Teng Bun yang berjalan sambil setiap kali mengawasi kotak panjang di tangan Ko Tie. Ia jadi heran dan bertanya-tanya di dalam hati, entah apa isinya kotak panjang yang seperti khim itu. Namun ia tidak berani menanyakan apa-apa. Setelah Ko Tie berdua naik di keretanya, ia melompat naik ke atas kudanya. Ketika si tukang kereta berseru sambil mengulapkan cambuknya beberapa kali, bergeraklah ke empat keledainya, untuk menyusul kereta-kereta piauw tersebut. Tenda kereta disingkap, maka itu angin yang santer keras meniup terhembus kepada si pemuda dan si pemudi. Walaupun mereka bertubuh kuat dan tabah, mereka tokh merasakan perasaan dingin sedikit. Tapi mereka perlu melihat ke segala arah, terpaksa tenda kereta itu tetap dipentang terbuka. Kho-ke-kauw merupakan suatu jalan panjang mirip lorong, di mana terdapat seratus lebih rumah penduduk. Tapi sebentar saja mereka telah melewati ujung jalannya. Ketika itu jalanan becek, maka tidak sulit untuk melihat sesuatu di atas tanah. Tampak bekas bekas roda kereta lain serta tapak-tapak kaki kuda. Cuaca terang benderang dan cukup baik. Sekeluarnya dari batas Kho-ke-kauw, di sepanjang jalan terlihat penduduk setempat, pria dan wanita dalam rombongan-rombongan dari tiga atau lima orang, dengan membawa kartu nama, berkunjung ke rumah-rumah sanak atau sahabat mereka untuk memberi ucapan selamat tahun baru. Atau mereka yang baru pulang. Maka ramailah di jalan itu. Ko Tie dan Giok Hoa mengawasi mereka, yang cara berpakaiannya berbeda dari pada penduduk lain propinsi. Mereka mengenakan baju warna merah dan celana hijau, jalannya elok. Lengan dan jari tangan mereka seperti ditabur dengan gelang dan cincin. Rambut merekapun ada penghiasan lainnya yang berkilauan. Seperti telinga mereka terdapat giwang atau antinganting. Mereka seperti juga tengah memamerkan kemewahan mereka. Yang paling menarik hati lagi ialah wanitanya, yang memiliki kaki jauh lebih kecil dan pada kakinya wanita lain di wilayah di luar propinsi ini.
"Apakah yang bagus dilihat?!"
Tiba-tiba Giok Hoa berkata kurang senang seperti itu, waktu ia melihat Ko Tie tengah mengawasi penuh rasa kagum pada wanita-wanita di sepanjang jalan itu. Ko Tie menoleh, ia tertawa.
"Aku merasa aneh!"
Katanya.
"Kalau mereka itu dapat keluar, apakah mereka tidak boleh dipandang?!"
"Tapi kau mengawasinya mendelong-delong!"
Kata si gadis yang matanya melotot.
"Apakah kau tidak takut lo-piauwtauw nanti dapat melihat lagak burukmu dan mentertawaimu?"
"Tidak apa-apa……!"
Kata Ko Tie tertawa juga.
"Aku bahkan dengar di kota Tay-tong pada tanggal enam akan diadakan perlombaan kaki kecil dan mungil, dialah yang menang! "
Yang nomor dua dan nomor tiga juga masih dapat hadiah! Kalau sampai waktunya, mari kita pergi menyaksikan perlombaan itu, tentu merupakan pertunjukkan yang sangat menarik hati! " "
Cissssss!
"si gadis kewalahan, tapi ia terus melengos dan tidak bilang apa-apa lagi.
Ko Tie tidak melayani sikap si gadis, ia cuma tertawa tidak hentinya, tampaknya pemuda ini senang sekali.
Iring-iringan kereta berjalan terus.
Tanpa merasa telah melalui tigapuluh lie.
Kereta keledai mengikuti semua kereta piauw, yang jalannya lambat maka terlihat di sana Tong Teng Bun berdua Sun Kiam menjalankan kuda mereka berendeng, Mereka itu bicara sambil tertawa-tawa, entah apa yang dipercakapkan oleh mereka.
Di depan rombongan itu, perjalanan mulai tidak rata.
Di kiri dan di kanan, lebat dengan pohon-pohon.
Maka mulailah, mereka merasakan sukarnya.
Dengan adanya bukit-bukit di kedua sisi, artinya mereka tengah jalan di selat atau lembah.
Di antara pohon-pohon cema¬ra pun terdengar suara angin keras.
"Tidak jauh lagi ialah selat Gin-kang-kiap!"
Kata Giok Hoa perlahan, tanpa menoleh.
Belum lagi berhenti suara si gadis, di belakang mereka mendadak terdengar derapnya beberapa ekor kuda, sebentar saja keretakereta piauw dilewatkan.
Mana mereka itu dapat dikenali sebagai lima orang yang tadi mereka jumpakan di rumah penginapan.
Mereka itu mem¬bunyikan cambuk mereka berulang kali dan berseru seru juga dengan suara yang nyaring.
Rupanya mereka tengah mengeluarkan gertak¬an mereka, untuk meruntuhkan semangat dari para orang piauw tersebut.
agar mereka itu lenyap keberaniannya.......!"
Tidak jauh mereka berlima melewati rombongan kereta piauw, lalu mereka menghentikan kuda mereka, terus mereka memutar kuda masing-masing, dan lari kembali, memapak kepada rombongan piauw tersebut dengan cepat.
"Mereka menyebalkan!"
Kata Giok Hoa sengit, dan muak oleh sikap ke lima orang itu.
"Mereka harus diberi rasa!"
Ketika ke lima orang penunggang kuda itu sampai di depan kereta keledai, mendadak yang seorang berseru dengan suara yang nyaring sekali. "Eh, aneh! Mengherankan sekali!"
Segera ia menahan kudanya, diikuti oleh ke empat orang kawannya. Lantas juga dia menambahkannya.
"Bukankah tadi kita melihat seorang nona manis? Mengapa sekarang dia salin rupa?"
Kata-kata orang itu disarukan bentakan nyaring, tapi halus.
Mendadak mereka berlima rubuh dari kuda mereka, dengan masing-masing menutup mata mereka berkoseran berkelojotan di tanah.
Dari antara jari-jari tangan mereka lantas terlihat mengalirnya cairan merah.
Dan ke lima orang itupun segera menjerit-jerit teraduh-aduh hebat sekali menyayatkan hati…… Di atas keretanya, Giok Hoa tertawa dingin dan berkata.
"Nona kalian masih baik budi, maka dia membiarkan jiwamu masih hidup! Kusir! Jalankan terus kereta kita!"
Kereta itu berhenti dengan tiba-tiba sebab ke lima penunggang kuda berhenti.
Sementara itu Giok Hoa sudah mempersiapkan belasan batang jarumnya.
Ia benci keceriwisan dan ketengikkan sikap ke lima ouang tersebut, maka ia menimpuk sebelum orang menutup rapat mulutnya, maka mata mereka kena tertusuk jarum.
Saking sakitnya, mereka terguling jatuh dan bergulingan di tanah sambil berteriak-teriak kesakitan dengan suara raungan yang menyayatkan.
Tong Teng Bun dan Sun Kiam lari balik dengan kuda mereka yang dilarikan dengan cepat.
Ketika mereka melihat ke lima penunggang kuda itu, yang sikapnya mencurigakan, menghentikan kudanya di dekat kereta Ko Tie.
Mereka jadi berkuatir sekali.
Ketika mereka menyaksikan kesudahannya, walaupun mereka berkasihan, mereka tidak bilang apa-apa.
Cuma si piauw-su tua menghaturkan terima kasih, lalu ia mengajak kawannya lari pula ke depan.
Rombongan kereta berjalan terus seperti juga tidak pernah terjadi sesuatu peristiwa.
Lewat empat atau lie, kembali terdengar suara berisik di sebelah belakang.
Kali ini yang muncul belasan penunggang kuda di antaranya ada yang membawa ke lima penunggang kuda tadi.
Ketika mereka tiba di sisi ketua piauw-kiok, ialah seorang di antara mereka berkata dengan suara yang keras.
"Tua bangka she Tong, di depan kau nanti saksikan sesuatu yang bagus dilihat!"
Terus mereka melarikan kuda mereka dengan cepat.
Tong Teng Bun tidak melayani bicara bentakan orang itu.
Ia hanya menjalankan kudanya terus.
Lagi lewat sekian lama, tibalah mereka di mulut selat, yang kiri dan kanannya berlamping tajam dan curam sekali.
"Ini dia mulut Gin-kang-kiap!"
Kata Giok Hoa dengan perlahan.
"Inilah tempat yang dipilih si penjahat untuk mereka turun tangan!"
Ketika itu terdengar suaranya Tong Teng Bun, atas mana semua keretanya berhenti berjalan, terus berkumpul di dalam jarak tertentu dan rapi sekali.
Ko Tie memandang ke sekitarnya.
Selat itu memiliki rimba kecil di kiri dan kanannya.
Di situ tidak ada rumah penduduk.
Di sebelah kanan ada jalanan cagak tiga, yang tampaknya naik ke atas bukit.
Ia heran juga sebab juga sampai sekian lama ia tidak mendengar suara apa-apa.
Tengah ia menduga-duga, barulah ia melihat munculnya beberapa puluh orang, yang berlari-lari mendatangi dari dua arah, kiri dan kanan, seperti juga menutup mati jalan majunya rombongan kereta piauw tersebut.
Cepat sekali mereka juga telah sampai, puluhan orang itu, yang datang dari dua arah, tidak mempergunakan kuda tunggangan.
Melainkan mereka berlari-lari seperti juga mereka bayanganbayangan saja, karena gesitnya mereka dan mahirnya ilmu ginkang mereka.
Salah seorang di antara mereka telah menghampiri Tong Teng Bun.
Dia telah berusia enampuluh lebih, tubuhnya kekar.
Bagaimana pun ia merupakan seorang yang masih memiliki sikap yang gagah dan angker.
Ia juga memiliki apa yang dinamakan "Punggung harimau dan Pinggang biruang", cuma dia sedikit bungkuk.
Kumis dan jenggotnya sudah putih semua.
Dia segera tertawa lebar dan berkata.
"Saudara Tong! Baru berpisah belasan tahun, tidak kusangka kau masih tetap gagah dan tangguh, seperti juga dulu-dulu! Sungguh kau berbahagia sekali!"
Cuma sejenak, lantas ia menambahkan, dengan sikap bersungguh-sungguh bengis dan suaranya pun keras sekali.
"Saudara Tong, baiklah kau mengerti! Di antara kau dan aku orang she Ciu tidak ada sangkut pautnya, tetapi kali ini aku hanya menerima permintaan seorang sahabat, permintaan mana sulit untuk ditolak! "
Sebenarnya ada niatku untuk mengadakan perdamaiannya, supaya urusan dapat disudahi, apa mau kau telah melukai orangorangku.
Hal mana tidak dapat dibiarkan saja.
Maka dari itu saudara Tong, sukalah kau memberi keadilan padaku?!"
Tong Teng Bun terkejut ketika ia mengetahui bahwa orang tersebut tidak lain dari Ciu Yang Cin, begal yang paling terkenal di daerah ini, merupakan begal yang paling telengas tangannya.
Ia memberi hormat dan menyahuti sambil tertawa.
"Oohh, kiranya Ciu Tong-ke! Memang sudah lama kita tidak pernah bertemu. Tapi Ciu Tong-ke, mengenai urusan ini, sulit buat aku berkata."
Sudah tiga hari lamanya dalam perjalanan ini, Teng Bun selalu menemui orang-orang yang mencurigakan, yang senantiasa mengawasi kami.
Sulit untuk aku mengenali mereka lawan atau kawan.
Sebab mereka itu tidak sudi memperkenalkan diri.
"Tentang kejadian di tempat penginapan itu, di sana seorang pengemis yang membawa-bawa ular berbisa telah melukai beberapa orangku. Karena itu terpaksa aku turun tangan……!" Tong Teng Bun berhenti sebentar, kemudian dia memperlihatkan sikap yang heran, dia tanya.
"Mungkinkah orang-orang Kay-pang pun berada di bawah perintahmu, Ciu Tong-ke?!"
Ia berpaling kepada pihaknya dan berkata keras.
"Coba bawa kemari, mereka yang terluka, terpagut ular! Tolong perlihatkan kepada Ciu Tong-ke!"
Perintah itu dijalankan dengan segera.
Empat buah usungan segera dibawa keluar, dibawa dekat Ciu Yang Cin.
Muka Ciu Yang Cin berobah jadi merah, alisnya yang tebal dikerutkan.
Ia menggelengkan kepalanya beberapa kali.
"Pengemis itu bukan orangku!"
Katanya kemudian menjelaskannya.
"Aku cuma menanyakan lima orangku yang terlukakan……!"
Mendengar perkataan Ciu Yang Cin seperti itu, Tong Teng Bun tertawa lebar.
"Pertanyaan kau ini aneh bukan main, Ciu Tong-ke!"
Sahutnya nyaring.
"Mengapa sebelum kau menanyakan jelas segera engkau menegur aku si orang tua? "
Orang-orangmu itu sudah berlaku kurang ajar, mereka telah mengganggu dua orang muda gagah yang naik kereta keledai!
Mereka mencari bahaya sendiri, dan itu tidak dapat dipersalahkan siapa juga!
"Akupun hendak menjelaskan, ke dua orang pemuda itu bukanlah rekanku!
Ciu Tong-ke, urusan telah jadi jelas, tadi kau menyebut kau telah menerima permintaan orang, sahabat baikmu, mengapa dia tidak tampak di sini?!"
Ciu Yang Cin tidak menyahuti, dia segera memandang bengis kepada Ko Tie dan Giok Hoa berdua, yang kereta keledainya diberhentikan di dekat mereka.
Malah waktu itu Ciu Yang Cin telah tertawa bergelak-gelak.
Itulah suara tertawa ejekan, yang menyeramkan dan mengandung bawa pembunuhan yang menggidikkan tubuh.
"Sahabat baik itu telah menantikan lama sekali!"
Katanya nyaring.
Lantas ia bersiul keras dan lama.
Semakin lama suara siulannya itu semakin nyaring dan keras, terbawa angin, sampai jauh, sehingga memperoleh sambutan dari atas jurang.
Dari mana lalu tampak mendatangi melompat turun sesosok tubuh.
Orang yang tengah mendatangi itu melompat jumpalitan tiga kali.
Waktu dia sampai di bawah, tampak dia mengenakan baju panjang warna kuning emas, yang berkilauan di bawah sinar matahari, bagus sekali untuk dilihat.
Tong Teng Bun sudah segera mengenali bahwa orang itu adalah Boan Siam Ki, yang dulunya sama terkenalnya dengan dia sendiri, karena orang pun lihay kepandaiannya.
Ilmu silat pedang maupun kepalan tangan kosongnya.
Demikian juga halnya dengan senjata rahasia dia sangat terampil sekali, disegani oleh orang-orang rimba persilatan.
Dia adalah orang Kong-tong-pay, jadi dia merupakan seorang jago yang termasuk dalam golongan sesat dan lurus perbuatannya baik dan jahat bercampur baur.
Dialah seorang di antara sembilan jago pedang di Tiong-goan.
Jago nomor satu adalah seorang tokoh rimba persilatan, tokoh sakti yang jarang sekali bisa dijumpai orang.
Dan justeru Boan Siam Ki termasuk yang duduk dalam urutan ke sembilan.
Nama besar Tong Teng Bun yang terkenal akan kelihayan ilmu pedangnya, maka dia tidak puas dan segera juga ia mencari Tong Teng Bun, sampai tiga kali dia menantang, tapi selama itu Tong Teng Bun menolak tantangannya.
Dan penampikan tantangan Tong Teng Bun atas tantangan Boan Siam Ki membuat dia tidak merasakan bahwa nama besarnya jadi jatuh di sebelah bawah.
Tapi ia tetap saja tidak mau mengerti, dengan berbagai cara Siam Ki mendesak Teng Bun buat bertanding.
Akhirnya permintaannya itu diterima, dia dilayani.
Dengan kesudahannya Siam Ki kalah seurat, karena itu membuat Siam Ki jadi tambah penasaran.
Dikala pedang beradu, dia berlaku telengas.
Terpaksa akhirnya Tong Teng Bun melukai, kempolannya.
Barulah setelah itu Siam Ki mau menyingkirkan diri.
Tidak diduga sekali sekarang setelah urusan di masa belasan tahun itu lewat, dia muncul lagi.
Tentu saja Tong Teng Bun tidak pernah menyangka akan terjadi urusan seperti ini.
Dia jadi mendongkol bukan main.
M i s s i n g S e b a g i a n P a g e 48 tertawa dingin"
Di dalam rimba persilatan lebih baik orang mati dari pada namanya rusak!
Untuk sakit hati ditikam pada kempolanku oleh pedangmu dulu itu, aku telah berdiam diri di dalam gunung sampai sepuluh tahun!
Aku telah menyaksikan ilmu pedang yang lebih tinggi, maka dari itu sekarang jika kau dapat mengalahkan aku pula, nanti aku menghapus sendiri gelaranku sebagai Jago Pedang Menggentarkan Kang-ouw!"
Mau atau tidak, Tong Teng Bun jadi gusar, darahnya meluap naik.
"Boan Siam Ki, dengan kata-katamu ini tidak dapat kau memperdaya aku!"
Katanya. Kemudian.
"Jika benar kau hendak menuntut balas, engkau boleh mencari aku di kantorku, karena aku Tong Teng Bun setiap saat bersedia melayani kau! Tapi …… M i s s i n g S e b a g i a n P a g e 49 Ciu Tong-ke! Ciu Tong-ke telah menerima baik undangannya dari seorang sahabatnya, buat menghadapi seseorang yang baru muncul di dalam rimba persilatan, dan sudah mengirim orangnya ke berbagai penjuru menyelidikinya! Kebetulan saja aku mendengar kau tengah mengantar piauw dan lewat di sini. Dari itu aku segera melakoni perjalanan jauh untuk melakukan pertempuran yang memutuskan dan menentukan denganmu! Seorang laki-laki harus bekerja secara laki-laki. Kau mengatakan aku hendak merampas piauwmu, itulah lucu! Aku cuma kebetulan saja datang bersama Ciu Tong-ke!"
Di kala ia berkata-kata begitu, tampak Boan Siam Ki bengis bukan main.
Ia juga memandang dengan mata mendelik kepada Tong Teng Bun.
Disaat mereka tengah mengadu mulut, Ciu Yang Cin sudah melompat maju ke depan kereta keledainya Ko Tie, mengawasi si pemuda dan Giok Hoa, terus dia tertawa.
Sambil memperdengarkan suara tertawa menyeramkan, dia bilang.
"Dua orang pemuda, benar-benar kalian tidak mengetahui tingginya langit dan tebalnya bumi! Cara bagaimana kalian berdua berani melukai orang-orangku? Apakah mungkin kalian tidak mengetahui peraturanku?!"
Ko Tie dan Giok Hoa tertawa dengan berbareng, mendadak sekali tubuh mereka mencelat dari keretanya, lompat ke depan orang yang membuka mulut besar dan sikapnya sangat angkuh itu.
Ciu Yang Cin orang yang ternama, tapi dia heran dan terkejut.
Dia tidak melihat bagaimana caranya ke dua orang itu bergerak, karena tahu-tahu mereka sudah berdiri di depannya.
Setelah salin pakaian, berdiri berendeng dengan Ko Tie, Giok Hoa dan Ko Tie mirip sepasang anak kembar, sama-sama muda, samasama tampan, wajah mereka mentereng dan gagah.
Mengawasi mereka, jago itu pun kagum.
Tapi ia mundur selangkah, dia mengawasi ngan tajam sekali.
"Hemmm!"
Giok Hoa memperdengarkan ejekannya.
"Siapakah yang sudi memperhatikan segala peraturanmu? Sekalipun ada, aturan itu cuma untuk mengurus segala maling ayam dan pencuri anjing! Sekarang aku hendak tanya kepadamu, kau sebenarnya mau cari siapa?!"
Ciu Yang Cin tertawa keras, tetapi dingin.
"Aku tidak dapat menetapkannya!"
Jawabnya kemudian.
"Cuma satu hal sudah pasti. Siapa main gila terhadapku, dialah yang aku cari!"
Suara jago dari Ong-ok-san ini belum berhenti benar atau mendadak sekali pipi kirinya memperdengarkan suara menggelepok nyaring, pada pipi itu segera terbekas telapak tangan yang memerah.
Dia merasakan kepalanya pusing dan matanya kabur berkunang-kunang.
Ko Tie sebal untuk kejumawaan orang, maka dia telah mengirim tamparannya itu!
Semua orang jadi kaget dan heran, gerakan pemuda itu hampir tidak terlihat.
Sedangkan Sun Kiam berkuatir melihat Ciu Yang Cin menghampiri kereta keledainya Ko Tie berdua.
Dia kuatir mereka itu nanti bercelaka, maka diam-diam dia memberi isyarat dengan tangannya kepada dua orang piuwsu tua untuk piauw-su tersebut menghampiri, guna membantu disaat yang diperlukan.
Tapi menyaksikan apa yang terjadi sekarang ini, di mana Ciu Yang Cin telah ditempeleng pipinya, ia terkejut, heran dan juga kagum sekali.
Sampai ia mengawasi dengan menjublak.
Tadinya ia menyangka Giok Hoa yang lihay, tidak tahunya orang she "Bie"
Yang juga lihay sekali.
Maka sekarang legalah hatinya.
Ciu Yang Cin berdiam sekian lama karena tamparan itu, setelah tersadar ia berteriak keras, meraung, dan mementang ke dua tangannya mau melompat, untuk menyerang.
"Kereplok!"
Kembali terdengar suara gaplokan dan tamparan yang ke dua telah singgah di pipi kanannya sebelum ia melompat!
Giok Hoa menyaksikan cara Ko Tie melompat dan menyerang, ia jadi kagum dan gatal tangannya, maka dia menggerakan kaki kirinya.
Dengan tipu silat Kiu-kiong-ceng-hoan Im-yang-pou, setelah melesat bagaikan kilat menyambar, tangan kirinya terayun, mampir di pipi kanan orang, sehingga lagi-lagi Ciu Yang Cin kesakitan dan menjublak disebabkan kepalanya pening dan matanya berkunang-kunang kabur.
Ciu Yang Cin seorang ternama di dalam rimba persilatan, hampir semua orang persilatan menghormatinya.
Sekarang ia dihina demikian rupa, tidak dapat ia mengendalikan diri lagi.
Dengan segera ke dua tangannya meraba pinggangnya, untuk meloloskan senjatanya yang istimewa, yang telah mengangkat namanya ialah rantai Kiu-cu-bo-lian-hoan.
Hanya saja, belum lagi senjatanya itu terloloskan, Ko Tie sudah melompat ke depannya, memegang ke dua tangannya, sambil berbuat mana dan diiringi senyumannya.
Ko Tie berkata sabar.
"Ciu Yang Cin, jangan kesusu....."
Terus ia menunjuk dengan tangan kirinya kepada Tong Teng Bun dan Boan Siam Ki untuk menambahkannya.
"Kau tunggu sampai mereka itu sudah bertempur dan ada keputusannya, masih belum terlambat buat kau gerakan tanganmu!"
Setelah berkata begitu, tanpa menantikan jawaban, Ko Tie melepaskan tangan kanannya sedang tangan kirinya menyambar Giok Hoa.
Buat diajak melompat mundur ke belakang.
Ciu Yang Cin berdiri diam, ke dua tangannya di pinggangnya, ia mengawasi ke dua pemuda itu, pikirannya jadi kacau.
Benar-benar dia tidak mangerti.
Ia menyadari bahwa ke dua pemuda ini memang sangat lihay, namun dalam usia semuda itu dan memiliki kepandaian yang demikian hebat, benar-benar baru pertama kali dilihatnya.
Entah mengapa, tangannya seperti kehilangan tenaga.
Seumurnya belum prrnah ia mengalami kejadian seperti sekarang ini.
Sampai diakhirnya ia menghela napas dan berkata kepada dirinya sendiri.
"Ciu Yang Cin, buat apa kau banyak lagak?
Ke dua pemuda itu lihay sekali.
Lihatlah gerakannya tadi!
Apakah kepandaianmu sendiri?
Kau tidak nempil terhadap mereka....."
Lantas ia tunduk.
Dengan lesu ia mengangkat kalinya untuk ngeloyor keluar gelanggang.
Selama itu, Tong Teng Bun dan Boan Siam Ki telah berhadapan dengan pedang di tangan masing-masing.
Mereka jalan berputar tanpa ada salah seorang yang mau turun tangan lebih dulu, sampai mereka itu mirip tukang latih binatang peliharaannya, di mana sebagai pelatih mereka tengah berlaku sabar sekali.
Ko Tie melihat kelakuan ke dua orang, ia tertawa.
Ia teringat, memang banyak sekali orang-orang rimba persilatan yang umumnya dalam pertempuran selalu bersikap seperti itu.
Kemudian, dengan tiba-tiba sekali tampak Boan Siam Ki memutar pedangnya, sehingga terlihat sinarnya berkelebatan bundar, suaranya seperti mengaung dari mana bisa diduga lihaynya ilmu silat pedangnya.
Menyaksikan gerakan itu, Ko Tie segera mengerti.
Itulah ilmu silat pedang yang tidak rendah, kiam-hoat yang tidak boleh diremehkan.
Hanya saja orang she Boan ini telah merobahnya dan dimahirkannya lebih sempurna dari ilmu pedang umumnya, kemungkinan besar ilmu pedangnya berada di atas kepandaian Tong Teng Bun.
Tong Teng Bun juga sudah segera menggerakkan pedangnya, mengimbangi gerakan lawan.
Ia memutar pedangnya guna menutup dirinya, sebab penyerangan segera datang bertubi-tubi.
Dengan begitu berulang kali terdengar suara benturan pedang, di samping angin pedang mereka yang menderu-deru.
Demikianlah jika ke dua jago bertempur, hebatnya bukan buatan.
Setiap kali pedang mereka beradu, selain suaranya yang nyaring, lelatu apinyapun berpeletikan, indah dipandang di bawah sinar sang surya.
Sambil menyaksikan pertempuran itu, tampak Ko Tie tertawa.
Ia bilang kepada Giok Hoa.
"Hebat ilmu pedang mereka itu, mereka bukan jago-jago pedang yang sembarangan. Jika dua harimau berkelahi, salah satu pasti bercelaka! Demikian juga halnya dengan mereka berdua ini. Sayang tidak perduli pihak yang mana yang terluka.......!"
Giok Hoa cerdik, ia dapat menangkap maksud terlebih dalam dari kata-kata pemuda itu.
Ia dianjurkan buat memisahkan juga berbareng memamerkan ilmu silatnya yang telah dipelajarinya dengan mendalam dari gurunya, yaitu ilmu pedang So-lie-kiamhoat, warisan dari Siauw Liong Lie.
Maka dari itu Giok Hoa tersenyum, segera ia pinjam pedangnya salah seorang piauw-su, dengan itu ia melompat ke dalam gelanggang.
Belum lagi ke dua kakinya menginjak tanah, ujung pedangnya sudah menyelak di antara ke dua batang pedang milik Tong Teng Bun dan Boan Siam Ki.
Secara lincah tetapi keras, ia memaksa kedua jago pedang itu mundur masing-masing tiga tindak.
Tong Teng Bun telah mengenal ke dua pemuda itu, ia tidak menjadi terlalu heran.
Tapi Boan Siam Ki segera berpikir.
"Entah siapa anak muda ini! Mengapa ilmu pedangnya demikian lihay? Sedangkan tampaknya ia bergerak secara sederhana sekali? Siapakah dia? Murid siapa pula dia?!"
Karena berpikir, ia berdiri tertegun saja di tempatnya, berdiri dengan bungkam tidak mengeluarkan sepatah perkataanpun juga. Giok Hoa berdiri di antara mereka, sambil tertawa manis ia bilang.
"Tuan-tuan, bukannya gampang kalian mengangkat nama kalian. Dari itu buat apa kalian mengumbar angkara murka kalian? Menurut aku, baiklah sekarang kalian saling menggenggam tangan, untuk kalian dan akur pula sebagai sediakala!! Gadis ini tidak mengetahui sebab bentrokan di antara mereka itu. Ia cuma menduga saja, sedang disamping itu ia telah mendengar pembicaraan mereka, maka tahulah ia si penjahat ialah Ciu Yang Cin.
"Inilah urusan aku dengan si tua bangka she Tong. Dengan kau ada sangkut pautnya apa?"
Boan Siam Ki menegur dengan mata mendelik, karena ia gusar bukan main. Giok Hoa tidak gusar, ia tertawa lagi. Dia bilang.
"Boan Losu, antara kalian, kau dengan Tong Lopiauw-su, ada urusan apakah? Mau dan senang sekali aku mendengarkannya."
Muka Boan Siam Ki jadi merah. Malu dia buat menceritakannya. Artinya ia sama saja membuka rahasianya. Lagi-lagi si "pemuda"
Tertawa.
"Kita semua belajar silat, tidak lain tidak bukan untuk menyehatkan tubuh, buat menjaga diri. Kalau kepandaian silat kita dipergunakan untuk sekedar merebut nama, sungguh belum pernah aku mendengarnya!" "Mengapa kau belum mendengarnya?!"
Teriak Siam Ki.
"Bukankah selama duaratus tahun telah terjadi pertempuran berulang-ulang di antara sembilan partai besar di puncak Hoa-san? "
Bukankah kemudian disusul dengan Lima Jago Luar Biasa di puncak Hoa-san juga?
Disusul lagi dengan pertempuran para pendekar lainnya yang akhirnya diakui bahwa terakhir sebagai pendekar yang nomor satu adalah Ong Tiong Yang, tosu dari Coan-cin-kauw itu?
Bukankan semua itu untuk merebut nama?
Dan juga untuk menentukan siapa yang terpandai?"
"Itulah urusan lain, dan juga merupakan persoalan tokoh-tokoh besar, yang tengah menguji kepandaian dan ilmu silat masingmasing untuk kemajuan ilmu silat!"
Menyahuti si gadis dengan tetap saja tersenyumnya manis.
"Mereka itu berbeda dari kita yang perseorangan, yang hanya didorong oleh dendam dan sakit hati belaka? Apakah bukan berarti kau mengandung maksud untuk, mengacaukan rimba persilatan agar mereka bentrok satu dengan yang lainnya. Panas hati Boan Siam Ki, sampai rambut dan kumisnya bangun berdiri. "
Menurut kau, jadinya sia-sia belaka aku menyepi diri selama sepuluh tahun memahamkan ilmu pedangku?"
Tanyanya dengan suara berteriak. Giok Hoa tertawa, hanya kali ini ia tertawa dingin dan lenyap sikap ramahnya.
"Bukannya aku tak memandang mata padamu! Sebenarnya ilmu pedangmu masih banyak yang lowong!"
Bilangnya, suaranya juga jadi keras.
"Jadi benar-benarlah kau kecewa sudah menyekap diri sepuluh tahun untuk meyakinkannya! "
Kau menyebut dirimu adalah ahli pedang.
Itu artinya kau mengutamakan kemahiran dalam menggerakkan dan menguasai pedangmu!
Akan tetapi buktinya?
Permainan silat pedangmu kacau, mengambang, tidak ada isinya!"
Coba kau bertemu dengan ahli pedang yang melebihi kau, dengan satu tikaman saja kau akan dapat dibikin mati!
Andaikata aku, walaupun aku tidak berani mengaku diri sebagai ahli pedang, namun ilmu pedangku dapat dipakai buat membela diriku!"
Apakah kau tidak percaya?
Mari kita coba!
Mari kita bertanding selama sepuluh jurus, asal kau dapat mendekati aku dan menikam satu kali saja, aku mau menyebut dan menghormati kau sebagai ahli pedang nomor satu dalam Rimba Persilatan!"
Boan Siam Ki berpikir keras.
Ia mempercayai pemuda ini bukan tengah bicara tekebur.
Tadi ia telah menyaksikan bagaimana ia dan Tong Teng Bun dipaksa memisahkan diri, sehingga mereka mundur tiga tindak.
Tengah berpikir seperti itu, ia melihat ke arah Ko Tie.
Ia memperoleh kenyataan pemuda itu berdiri tenang, mengawasi dia sambil bersenyum.
Ia pikir pula.
"Kalau ke dua pemuda ini maju bersama, ilmu silat mereka pasti berimbang. Yang seorang masih sulit dilawan, apa lagi dua-duanya! Jika aku kalah di tangan Tong Teng Bun, tidak apa, tetapi.....!"
Ia jadi serba salah, tapi ia harus segera mangambil keputusan. Akhirnya ia menghela napas dan berkata.
"Benar seperti katamu, laote, aku bentrok dengan Tong Teng Bun Losu melainkan disebabkan kami masing-masing membawa adat kita sendiri! Lebih tegas, kami berebut nama! "
Demikianlah tigapuluh tahun lalu, demikian juga tigapuluh tahun nanti! Cuma saja, kalau orang tidak bersaing, apakah artinya? Bicaramu ini, laote menandakan kesabaranmu.
"Hanya perkataanmu tentang pertandingan sepuluh jurus itu, aku sangsikan betul. Aku percaya itulah berbau ketekeburan! "
Baiklah, laote, kau boleh mulai menyerang aku!
Baik dijelaskan dulu, aku sama sekali tidak menghendaki nama sebagai ahli pedang nomor satu rimba persilatan!
Aku cuma ingin belajar kenal dengan ilmu pedangmu yang lihay!"
Giok Hoa girang.
Ia telah memperoleh sebagian dari maksudnya, di mana tampaknya Boan Siam Ki sekarang telah lunak.
Jago itu telah merobah pikirannya.
Inilah kesempatan bagimu buat mencoba So-lie-kiam-hoat nya.
Ia bersenyum dan berkata.
"Boan Losu, aku cuma dapat membela diri, tidak menyerang. Silahkan losu yang mulai!"
"Baiklah!"
Kata jago tua itu.
"Maafkan aku!"
Dia tidak sabar lagi.
Inipun ketikanya untuk menguji pemuda itu.
Dengan mendadak sekali dia menggerakkan tangan kanannya, segera juga pedangnya meluncur.
Cepat luar biasa serangannya itu.
Giok Hoa tersenyum.
Ia menarik mundur kaki kanannya, tubuhnya mandek sedikit.
Ia pun mengangkat berdiri ujung pedangnya, buat dari kanan digeser ke kiri, lalu ditolak perlahan ke depan.
Itulah sikap pembelaan diri, tidak ada maksud untuk menyerang.
Tampaknya Giok Hoa bergerak perlahan sekali, tetapi pedang mereka bentrok keras, suaranya nyaring, lelatunya muncrat.
Yang hebat ialah Siam Ki terpukul mundur sendirinya.
Maka heranlah dia.
Dia jadi penasaran bukan main.
Lagi sekali dia menerjang menikam, dengan tenaga yang dikerahkan delapan bagian.
Mukanya ia melangkah, terus pedangnya menikam.
Giok Hoa tertawa.
Kali ini ia menangkis dengan pedangnya ditudingkan ke bawah lantas dari bawah ia putar naik, terus dipakai menolak.
Lantas saja Siam Ki mundur satu tindak!
Jago tua itu masih penasaran, ia menyerang lagi, berulang kali.
Ia mempergunakan sebagai jurus atau tipu ilmu pedang yang paling ampuh.
Hanya untuk herannya, setiap kali ia menyerang, tentu selalu ia terpukul mundur.
Ia tidak diberi kesempatan buat merangsek maju, sekalipun hanya untuk satu langkah saja.
Dengan begitu, tidak sanggup dia mendekati tubuh "pemuda"
Tersebut.
Selama itu, seperti janjinya, Giok Hoa cuma membela diri.
Ia tetap mempergunakan ilmu pedang So-lie-kiam-hoat, ajaran gurunya, ilmu silat pedang warisan nenek gurunya Siauw Liong Lie, yang ternyata memang benar-benar tangguh sekali.
Diam-diam Giok Hoa jadi girang bukan main.
Ko Tie menonton pertempuran yang aneh itu sambil tersenyumsenyum, sedangkan Tong Teng Bun mengurut-urut kumis jenggotnya.
Ciu Yang Cin pun ikut menyaksikan, maka sendirinya muka begal itu jadi pucat.
Hebat ilmu pedang si "pemuda".
Coba dia membalas menyerang, tentu mudah saja dia merebut kemenangan.
Juga pisuwsu lainnya ikut jadi kagum.
Sebentar saja sudah lewat delapan jurus.
Hati Siam Ki berdebaran.
Wajahnya telah jadi guram dan memerah.
Ia heran dan penasaran sekali.
Ia jadi berkuatir.
Ia berduka juga ketika ia berpikir akan runtuhlah namanya.
Sudah delapan jurus tanpa ada hasilnya.
Tinggal lagi dua jurus.
Bagaimana hasilnya.
"Akh, habislah aku, habislah aku..........!"
Pikirnya pada akhirnya ia jadi putus asa.
Tepat disaat jago ini mau menyerang untuk kesembilan kalinya, mendadak terlihat lari datang tujuh orang, gerakannya sangat cepat.
Dengan melompat dari tempat yang tinggi sampailah orangorang tersebut di antara mereka ini.
Giok Hoa dan Siam Ki mundur sendirinya.
Ketika Ciu Yang Cin telah melihat jelas rombongan itu, ia jadi berseru kegirangan.
"Kauw Supek!"
Giok Hoa sebaliknya mengawasi tajam, sehingga dia dapat melihat jelas mereka itu.
Empat orang adalah orang-orang tua yang kepalanya lanang, lanang juga alis dan kumisnya.
Bajunya serupa, yaitu baju panjang berwarna kuning, cuma wajah mereka.
Yang satu belang mukanya, pipi kirinya warna merah ungu, banyak bekas tapaknya.
Yang kedua matanya besar-besar sipit, yang ketiga mukanya keriputan dan kulit muka itu seperti juga permukaan kawah gunung berapi.
Sedangkan yang ke empat seorang pendeta muka celong dan mata yang tajam.
Tiga yang pertama berusia pertengahan, berdiri di belakang yang bermata celong itu.
Dan tiga orang lainnya lagi berdiri di belakang ke empat orang tersebut.
Tiga orang yang lainnya itu berusia pertengahan juga, pakaian mereka hitam semuanya.
Wajahnya licin.
Setelah berseru memanggil, Ciu Yang Cin melompat menghampiri ke empat orang tua itu, guna memberi hormat.
Si muka belang tertawa dan bertanya.
"Ciu Hiantit, apakah gurumu baik-baik saja?"
Kemudian matanya menyapu, lantas ia menegaskan pertanyaannya.
"Mengapa kalian bentrok?"
"Terima kasih supek, guruku baik!"
Menyahuti Yang Cin sambil berdiri dengan sikap yang amat menghormat sekali!
Ke dua tangannya diturunkan lurus.
Setelah itu ia memberikan keterangannya.
Orang yang mukanya belang tersebut memperdengarkan suara tertawanya.
"Sudah beberapa puluh tahun aku tidak turun gunung. Aku tidak sangka sekarang ada beberapa bocah yang berani menyebut dirinya sebagai ahli pedang!"
Katanya, jumawa sekali.
"Dan orangpun berani berebutan!"
Lagi sekali setelah berkata begitu ia tertawa keras dan lama.
Ke tiga orang tua lainnya berdiam saja, wajahnya dingin, sehingga mereka mirip dengan pendeta-pendeta mayat hidup.....
Waktu itu wajah Boan Siam Ki berobah, rupanya ia mendongkol sekali.
Karena ia menyadari, kata-kata si pendeta muka belang itu ditujukan buat dirinya juga.
Tong Teng Bun sendiri segera menghampiri Ko Tie.
"Aku telah mendengar berita, dari Tiong-goan muncul banyak sekali jago-jago muda!"
Terdengar lagi pendeta muka belang itu telah meneruskan kata-katanya!
"Aku Kauw Hie Hweshio, terpaksa harus turun gunung untuk membuktikannya sendiri.....!" Ko Tie tertawa dingin, sikapnya memandang ringan kepada para pendeta itu.
Giok Hoa yang mendengar kekasihnya tertawa dingin sampai melirik padanya.
Si pendeta muka belang tertawa nyaring, dia bilang lagi.
"Tidak perduli kalian pandai mempergunakan pedang dan memiliki kepandaian yang tinggi, tetap saja aku tidak akan membiarkan kalian malang melintang sesumbar sekehendak hati di dalam rimba persilatan!"
"Hemmm!"
Ko Tie sengaja memperkeras tertawa dinginnya, dan dengusannya. Pendeta muka belang menoleh mengawasi tajam kepada Ko Tie, karena ia mendengar suara dengusan itu, kemudian dia bilang.
"Inilah yang disebut anak kijang tidak gentar pada harimau!"
Dan ia melirik kepada Giok Hoa, lalu tertawa, katanya lagi.
"Ke dua bocah ini sangat tampan sekali! Jika kaIian berpikir untuk menjadi jago, baiklah lewat lagi satu tahun kalian cari aku si orang tua di puncak Ku-ing-hong di gunung Bie San!" Setelah berkata, dia melompat dengan gesit sekali, diikuti oleh enam orang di belakangnya. Maka dalam waktu sebentar saja mereka sudah memisahkan diri beberapa puluh tombak. Berulang kali Ko Tie memperdengarkan suara.
"Hemmm!"
Seraya ia mengawasi terus dengan tajam.
"Bie Laote,"
Kata Tong Teng Bun, yang tidak mengerti sikap pemuda ini.
"Ke empat orang itu adalah orang-orang yang empatpuluh tahun lalu merupakan orang-orang terhebat, yang dapat merubuhkan lima orang pendeta sakti dari Siauw-lim-sie.
"Juga mereka telah memperoleh nama di puncak Hoa-san. Cuma saja, ia rupanya masih jeri berurusan dengan Lima Jago Luar Biasa, yaitu Oey Yok Su, Ong Tiong Yang, Ang Cit Kong, It Teng Taysu dan Auwyang Hong! "
Nama mereka menggetarkan rimba persilatan!
Semenjak waktu itu mereka berempat hidup menyendiri, tidak pernah mereka turun gunung.
Sekarang mereka telah turun gunung, tentunya mereka ingin melakukan yang hebat!
Menurut penglihatanku, tentunya dunia rimba persilatan akan bermandikan darah lagi......!
" "Hemmm!"
Ko Tie tersenyum, tapi tidak mengucapkan kata-kata apapun. Waktu itu Boan Siam Ki menghadapi Giok Hoa, sambil tertawa ia bilang.
"Laote, ilmu pedangmu benar lihay, aku kagum sekali! Baiklah, dengan memandang kau, mau aku menyudahi perselisihanku dengan Tong Lo-piauwtauw. Sampai bertemu pula!"
Ia memutar tubuhnya segera ia ngeloyor pergi meninggalkan tempat itu.
Selama itu Ciu Yang Cin semua sudah tidak terlihat lagi, sekalipun bayangannya.
Tong Teng Bun memandang ke sekitarnya, ia mengerutkan alisnya.
"Ciu Yang Cin seorang manusia yang sangat licik!"
Ia bilang.
"Tadi dia angkat kaki karena dia melihat gelagat! Dilain kali, Laote baiklah kalian waspada."
"Terima kasih!"
Kata Ko Tie menyahuti.
"Sekarang ini jalanan sudah aman, karena keretaku dapat jalan lebih cepat. Ijinkanlah kami berjalan lebih dulu, agar kami dapat cepat tiba di Lok-yang. Lain waktu, bila ada kesempatan, pasti kami akan pergi berkunjung untuk unjuk hormat pada Tong Lo-piauwtauw."
Tong Teng Bun tampak berat berpisah dengan Ko Tie dan Giok Hoa.
"Aku harap laote berdua datang dengan pasti, karena aku si tua sangat mengharapkan dan menanti sekali!"
Katanya.
Ko Tie terharu, ia dipanggil laote, iapun malu sendirinya.
Tidak dapat ia dipanggil dengan sebutan adik, seperti itu.
Seharusnya ia dipanggil sebagai seorang boanpwe yang tingkatnya jauh di bawah jago tua tersebut.
Bersama Giok Hoa, ia telah naik ke keretanya.
Ia tersenyum waktu keretanya itu bergerak berangkat.
Kereta dilarikan ke arah kecamatan Tiang-tie.
Angin berhembus keras sekali, sedangkan hawa udara dingin bukan main, karena waktu itu hujan salju mulai turun bagaikan kapas yang berguguran ke bumi.
Langit bersinar layung dan sangat indah dengan warna putih salju yang tengah turun tipis, sehingga sepanjang mata memandang, segala apa menjadi putih.
Hanya warna putih belaka yang menyilaukan mata terlihat!
◄Y► Hari itu tanggal lima bulan pertama, akan tetapi di gunung Hongsan tidak terdapat suasana musim semi.
Puncak gunung penuh dengan salju, pohon-pohon gundul atau kering.
Hanya sang angin yang memberikan hawa dingin di samping dinginnya salju.
Burung-burungpun tak terdengar suaranya.
Suasana tetap merupakan suasana musim dingin.
Justeru waktu itu di jalan pegunungan terdapat dua orang pemuda yang tengah berlari-lari gesit sekali, juga pakaian mereka sama, warnanya abu-abu.
Di punggung masing-masing tergemblok pedang.
Kepala mereka tertutup kopiah bulu.
Muka mereka dilapisi dengan topeng kulit yang tipis dan buatannya sangat indah.
Yang beda dari mereka ialah seorang lebih langsing tubuhnya.
Mereka berdua tidak bicara satu dengan yang lainnya.
Setelah melintasi rimba jurang barulah mereka berhenti di depannya sebuah goa.
Namanya goa, sebenarnya sebuah selokan besar yang lebarnya dua tombak, Berliku-liku, ada airnya mengalir, airnya pun jernih sehingga tampak dasarnya.
Memandangi selokan tersebut, pemuda yang seorangnya bersenandung dengan suara perlahan dan lembut sekali.
"Air yang jernih sebenarnya tidak ada kedukaan, adalah sang angin yang membuat mukanya berkerut-kerut..... Gunung hijau sebenarnya tidak tua, adalah sang salju yang membuat kepalanya putih……"
Pemuda yang seorang tertawa, dia bilang.
"Engko Tie, kau hebat! Di waktu seperti ini kau masih memiliki kegembiraan untuk bersyair! Sebenarnya juga selokan ini indah sekali, maka aku percaya di dekat sini pasti ada rumah orang..... Menurut dugaanku, sarang Kwee Lu, si bangsat tengik itu, tidak jauh dari sekitar tempat ini."
Si pemuda berhenti bersenandung, dia tertawa.
Dialah Ko Tie.
Dan yang seorang lagi itu adalah Giok Hoa, kekasihnya, yang memang menyamar selama dalam perjalanan sebagai pria.
"Mari kita jalan mengikuti selokan ini?"
Katanya.
"Sarang Kwee Lu tentu tidak jauh dari di tempat sejauh sepuluh lie di sekitar tempat ini!"
Ia menengadah ke atas, melihat cuaca.
Ia menduga waktu sudah mendekati tengah hari.
Kawannya itu mengangguk setuju, segera mereka berjalan bersama di tepian selokan yang mirip sungai kecil.
Mereka berada di Hong-san, duapuluh lima lie di selatan kota Lokyang, di kota mana mereka telah tiba.
Dan segera mereka bekerja mencari tempat berdiamnya Kwee Lu.
Justeru waktu mereka tiba di kota Lok-yang, mereka telah mendengar sepak terjang Kwee Lu, seorang tokoh rimba persilatan yang termasuk dalam golongan sesat.
Iblis yang sangat telengas malang melintang di tempat ini.
Karena dari itu, Ko Tie dan Giok Hoa bermaksud mencari iblis yang telah membanjirkan darah tidak sedikit ke bumi karena haus akan korban-korbannya!
Mereka melakukan perjalanan mengikuti selokan itu dengan bernyanyi-nyanyi kecil dan juga sering menyelinginya dengan tertawa mereka yang cerah.
Mereka pun telah banyak berbicara mengenai hubungan mereka berdua.
Ko Tie berjalan di sebelah belakang si gadis.
Ia sendiri sering bimbang hatinya, yang tergoncang sangat keras sekali, melihat lenggok dan lenggang gadis pujaannya ini, yang sangat menggiurkan.
Betapa cantiknya Giok Hoa.
Tiba-tiba Giok Hoa berseru perlahan.
"Engko Tie, coba kau lihat……!"
Tangan si gadis pun telah menunjuk ke suatu arah.
Ko Tie memandang ke arah yang ditunjuk itu.
Di sana, tidak jauh dari ujung selokan, terdapat jurang.
Dan dari jurang itu meluncur air tumpah yang cukup deras, jatuhnya keras, suaranya nyaring bergemuruh, berkumandang di lembah.
Karena waktu itu angin utara berhembus santer, suaranya berisik di antara daun-daun dan cabang pohon di rimba situ.
Suara berisik itu sering tersamar.
Itulah sebabnya mengapa mereka tidak dapat mendengarnya dari jauh-jauh.
Juga uap air merupakan seperti mega yang tebal, sehingga tidak mudah untuk melihat jelas di sekitar air tumpah itu.
Ko Tie memandang tajam sekian lama.
Di balik uap air terjun itu, ia melihat sebidang tempat bagaikan paso.
Di tengah-tengah tempat itu ada sekelompok bangunan rumah yang cukup rapi letaknya.
Giok Hoa tidak dapat melihat sejelas Ko Tie.
Si pemuda jauh lebih mahir, tenaga dalamnya, itulah sebabnya mengapa Ko Tie bisa melihat lebih jelas.
"Pastilah itu sarangnya si bangsat Kwee Lu!"
Kata Ko Tie girang setelah mengawasi sekian lama.
"Mari kita pergi melihatnya!"
Ia segera juga menarik tangan si gadis, guna diajaknya berlari separuh diseret.
Giok Hoa pun mulai dapat melihat lebih jelas, hatinya memukul keras.
Setelah datang lebih dekat, dengan berani Ko Tie mengajak si gadis melompat turun ke tempat yang tadi mereka awasi itu, yang diduga adalah sarangnya Kwee Lu.
Justru di waktu itu terdengarlah seruan yang nyaring sekali.
"Tahan.....!" Ke duanya segera juga menunda gerakan mereka, bahkan mereka telah mengawasi arah dari mana datangnya suara bentakan itu. Segera dari sisi air terjun terlihat muncul tiga sosok tubuh yang merupakan tiga orang berusia pertengahan, yang tubuhnya kurus dan semua matanya tajam serta bengis. Salah seorang di antaranya memiliki apa yang biasanya disebut sebagai kumis kambing gunung.
"Tuan-tuan, mengapa kalian tidak dengar kata?"
Orang itu menegur, dengan suara yang bengis.
"Kami memanggil beberapa kali, mengapa kalian diam saja? Apakah kalian mengira Kwee-san-cung tempat yang depat didatangi oleh sembarangan orang?"
Suara orang itu keras dan dingin, juga di balik nada kata-katanya itu terdapat sikap tekeburnya.
Ia tidak memandang sebelah mata pada Ko Tie dan Giok Hoa.
Ko Tie jadi tidak senang, ia malah sengaja memperdengarkan suara tertawa dingin.
"Tuan, mengapa kau bicara begitu tidak tahu aturan?"
Ia malah balik menegur.
"Kau dengar sendiri, suara air terjun demikian berisik, mana kami bisa mendengar teriakanmu yang seperti suara nyamuk?"
Orang yang kumisnya seperti kambing gunung itu jadi gusar bukan main, tapi dia tertawa bergelak dengan nada yang hebat sekali, bengis dan mengandung kekejaman hatinya.
"Bocah ingusan keparat, kau benar-benar tidak tahu tingginya langit dan tebalnya bumi!"
Dia bilang kemudian dengan suara mengguntur.
"Kami Sam-lang-hun (Arwah Tiga Serigala) bukanlah sahabat dari orang-orang Kwee-san-cung itu! Hemmm, bahkan kami adalah musuh dari Kwee Lu! "
Kami telah berlaku baik hati mencegah kalian, agar kalian tidak memasuki tempat mereka.
Kalian tahu, jika kalian lompat turun dan memasuki tempat itu tiga lie, kalian akan terbinasa oleh panah beracun!
"Lagipula di sana, kecuali Kwee Lu, ada lagi dua orang yang sangat lihay sekali.
Ialah dua orang tokoh rimba persilatan yang sangat ternama!
Kami mengetahui tentunya kedatangan kalian ke mari untuk berurusan dengan pihak Kwee Lu. Karena itu kami hendak mencapaikan lidah, agar kalian tidak tertimpah bencana!"
Dua orang kawannya yang lain tertawa.
"Tuan-tuan jangan kecil hati!"
Kata salah seorang di antara mereka.
"Bagaimana jika kita bekerja sama? Sebenarnya kamipun memiliki urusan dengan pihak Kwee-san-cung!"
Ko Tie tersenyum, karena mereka adalah musuh Kwee Lu.
Dengan mengajak bekerja sama, jelas mereka hendak mempergunakan dan memperalat tenaga Ko Tie dan Giok Hoa berdua.
Maka dari itu iapun telah berpikir mengapa justeru ia bersama Giok Hoa tidak mau mempergunakan kesempatan ini untuk memanfaatkan tenaga mereka bertiga itu?
"Sam-wi, siapakah kalian?"
Tanyanya kemudian.
"Apakah Sam-wi mau, menyebutkan she dan nama kalian yang mulia? Sam-wi bersedia bekerja sama, tolong Sam-wi utarakan bagaimana caranya itu?"
"Kami Sam-lang-hun, dan aku bernama Liang An. Ini adikku yang kedua, Liang Ie, dan ini yang bungsu bernama Liang Oh," menjelaskan orang dengan kumis seperti kumis kambing gunung, sambil menunjuk kepada ke dua orang kawannya.
"Dan ji-wi berdua siapa?"
Ko Tie memberi hormat.
"Terima kasih, itulah nama-nama yang telah lama kudengar sangat terkenal sekali,"
Katanya.
"Aku sendiri she Bie bernama Lim, dan ini adik angkatku. Ia she Un dan bernama Lie."
Giok Hoa berdiam saja, ia sama sekali tidak mengucapkan sepatah perkataan pun juga. Hanya di dalam hatinya ia memuji akan hebatnya engko Tie nya ini bersandiwara.
"Oh Bie Siauwhiap dan Un Siauwhiap!"
Kata Liang An.
"Aku girang sekali dengan pertemuan ini!"
Kemudian ia berhenti sebentar, baru kemudian ia menambahkan.
"Waktu kami belum datang ke mari, telah kami dengar perihal lihaynya Kwee Lu! Maka dari itu, walaupun kita bekerja sama berlima, kalau memang kita tidak berhati-hati, tentu kita tidak akan berhasil. Sulit untuk diperoleh hasil yang memuaskan.....!" Ko Tie mengawasi ke rimba di samping kanannya, sikapnya acuh tak acuh, dengan segera ia berpaling lagi.
"Segala apa di dunia ini tergantung kepada usaha manusia,"
Katanya sambil tersenyum.
"Jika orang main jeri, takut kepala dan takut ekornya, lebih baik orang jangan datang kemari!"
Liang An jengah, mukanya berobah merah dan kemudian memperlihatkan sinar mata yang licik sekali!
Justru dikala itu di sebelah kanan mereka terdengar suara tertawa mengejek.
Segera melompat keluar seorang tosu dengan wajah menyeramkan.
Dia melompat ke dekat Sam-lang-hun, tetapi dia tidak memandang mata kepada ketiga jago tersebut.
Dia bahkan bertindak secara angkuh dan sangat jumawa sekali.
Dia bukan menghadapi mereka, justeru ia memandang ringan kepada Ko Tie dan menegurnya dengan bengis.
"Bocah busuk tidak tahu mampus, besar sekali mulutmu! Benarkah kau percaya di Kwee-san-cung tidak ada orang yang dapat menguasai kau?"
"Tua bangka, siapa kau?"
Menegur Giok Hoa yang tidak mau kalah dengan tosu itu.
Tosu itu menjadi gusar sekali, segera saja ia mengeluarkan sepuluh jari tangannya.
Melihat penyerangan tosu itu, Sam-lang-hun terkejut bukan main, sampai mereka mundur tiga tindak.
Dengan melihat sepuluh jari tangan yang hitam dari tosu itu, Samlang-hun segera teringat kepada seseorang.
Mereka jadi takut luar biasa, bahkan Liang An segera bertanya.
"Bukankah........ bukankah kau Cap-hek-cie Mo-ie Cinjin!?"
Tosu itu, yang disebut Cap-hek-cie, sepuluh jari hitam, Mo-ie Cinjin, memperdengarkan suara tertawa mengejek perlahan, sedangkan sepuluh jarinya itu perlahan-lahan, ujung jari tersebut bergerak.
Rupanya pertanyaan ini telah menahan gerakan tangannya.
"Eh bocah, ternyata matamu tajam!"
Ia menyahuti, segera ia maju lagi.
Sekarang dengan langkah kakinya, yang melangkah setindak demi setindak.
Mo-ie Cinjin memang sangat terkenal sekali untuk kekejaman hatinya dan telengas tangannya.
Dia maju tanpa bisa diterka apa sasaran penyerangannya.
Sikapnya itu dapat membuat orang bingung menerkanya.
Begitu memang biasanya.
Setelah datang dekat, barulah dia akan menyerang dengan yang sesungguhnya.
Bahkan setiap kali ia menyerang, tentu serangannya dengan tibatiba dan gerakannya sangat aneh sekali, membuat setiap lawannya harus celaka.
Sebab sepuluh jari tangannya yang hitam itupun mengandung racun yang dapat bekerja dengan cepat.
Waktu itu, angin gunung berhembus keras ditambah berisiknya suara air terjun.
Sam-lang-hun mengawasi dengan muka yang muram, hati mereka tegang bukan main.
Giok Hoa bersikap sungguh-sungguh, ia mengawasi dengan penuh kewaspadaan menantikan serangan.
Ko Tie menonton dengan ke dua tangan digendong dan mukanya tetap tenang, hanya tersenyum tawar.
Tiba-tiba tangan Cap-hek-cie Mo-ie Cinjin bergerak menyambar ke muka Giok Hoa.
"Ahh!"
Menjerit Sam-lang-hun, karena terlalu kaget melihat cepatnya serangan itu!
Mo-ie Cinjin berhenti di depan Giok Hoa, tidak ada satu kaki jaraknya, maka dari itu tangannya dapat meluncur ke muka si pemuda, dengan cepat sekali.
Akan tetapi belum lagi si gadis bergerak, Ko Tie yang berdiri di sisinya sudah berseru sambil tangannya menyambar ke dua lengan Mo-ie Cinjin.
Dia menyambar luar biasa cepatnya karena dia mempergunakan jurus Tie-liong-ciu atau "Mengekang Naga".
"Krekkk,"
Demikianlah terdengar suara keras di tempat itu, maka patahlah lengan Mo-ie Cinjin.
Menyusul dengan itu sebelah kaki si pemuda terangkat naik, tubuhnya Mo-ie Cinjin segera terpental melayang di tengah udara.
Dari mulutnya terdengar jeritan dahsyat sekali.
Tubuhnya itu jatuh ke dalam rimba jauhnya belasan tombak.
Sam-lang-hun heran bukan kepalang.
Bukankah Mo-ie Cinjin sangat lihay dan terkenal sekali akan kekejamannya dan ilmunya yang sangat tinggi?
Mengapa dia bisa rubuh dalam hanya satu gebrakan saja?
Mereka pun terkejut.
Coba tadi Liang An, toako mereka, main gila terhadap pemuda itu.
Bukankah berarti bahwa toako mereka sudah pergi ke neraka?
Untung saja tadi, Liang Oh telah menengahi mereka.
Sam-lang-hun telah banyak pengalaman!
Dan mereka menganggap sepasang pemuda ini masih hijau.
Dengan usia mereka yang masih muda seperti itu, tentu kepandaian mereka belum seberapa.
Mereka juga berpikir lebih baik ke dua pihak bekerja sama, agar ke dua pemuda itu yang maju di depan.
Mereka sendiri akan jadi si nelayan yang menerima hasil yang menguntungkan.
Sekarang ternyata ke dua orang, pemuda itu sangat lihay luar biasa.
Mereka segera bertukar siasat!
"Sungguh kau sangat lihay sekali, Bie Siauwhiap,"
Kata Liang An, mengumpak!
Ko Tie berdiam saja, demikian pula halnya dengan Giok Hoa, yang tidak melayani pujian itu.
Liang An melihat ke dua pemuda itu berdiam diri saja, wajah mereka bersungguh-sungguh, ia mengetahui apa yang harus dilakukannya.
Ia tertawa dan berkata.
"Ji-wi, kami bertiga kenal baik tempat ini, mari kami yang membuka jalan!"
Ia segera melambai kepada ke dua orang saudaranya, dan terus berjalan di sebelah depan.
Dengan segera mereka bertiga melompat turun ke bawah!
Sebelum menyusul tiga orang itu, Giok Hoa mencekal lengan engko Tie nya.
"EngKo Tie, hebat gerakan tanganmu tadi!"
Pujinya perlahan.
"Dapatkah kau memberikan petunjuk kepadaku?!"
"Baiklah!"
Sahut Ko Tie.
Tapi ia bukan segera mengajari, sebaliknya ia mencekal tangan si gadis, untuk ditarik, maka dilain saat mereka sudah bersama-sama lompat turun ke bawah.
Di situ si pemuda membawa kawannya ke dalam pepohonan yang sangat lebat.
"Begini!"
Katanya.
"Ia mempelajari jurus yang tadi, jurus "
Memutuskan Otot, Memotong Nadi " , yang terdiri dari tiga gerakan.
Giok Hoa girang bukan kepalang, terlebih lagi ketika ia segera dapat mempergunakannya.
Ia memang sangat cerdas, sedang satu jurus dengan tiga gerakan adalah pelajaran yang sangat luar biasa sekali.
"Jurus ini dapat dipergunakan berbareng denpan ilmu apapun juga. Dengan begitu, engkau dapat merubuhkan lawan dengan mudah! "
Kau cerdik adikku, tentu kau dapat menjalankannya tanpa petunjuk lebih jauh dariku. Nah, mari kira menerobos maju!"
Pemuda itu melompat ke depan, diikuti si gadis yang sangat lincah sekali.
Sedangkan Sam-lang-hun telah pergi jauh, mereka tidak terlihat bayangannya.
Namun Ko Tie berdua dapat mengikuti tapak kaki mereka di tanah.
Kwee-san-cung dari Kwee Lu memiliki hawa udara yang istimewa.
Di sini sekalipun musim dingin, matahari keluar seperti biasa dan hawanya hangat.
Di pihak lain, di dalam tiga musim semi, panas dan rontok, seluruh hari tampak kabut, jarang ada satu hari saja yang cuacanya cerah.
Maka itu, tempat ini menyenangkan sekali untuk ditinggali.
Letaknya rendah, tapi hawanya tidak lembab dan demak menyenangkan sekali.
Di saat mereka tengah menerobos maju, Ko Tie dan Giok Hoa mendengar suara bentakan-bentakan yang samar-samar.
Si pemuda memegang tangan kawannya buat diajak berhenti.
Ia pun segera berkata perlahan.
"Rupanya Sam-lang-hun kena dipergoki. Kita belum mengetahui maksud mereka bertiga. Lebih baik kita jangan terlalu sembrono turun tangan.
"Mari kita maju dengan jalan di atas pohon. Lebih dulu kita harus melihat orang-orang lihay macam apa saja yang berada di Kweesan-cung!"
Giok Hoa menyatakan setuju dengan saran pemuda ini, ia kagum sekali untuk ketelitian Ko Tie. Setelah mereka maju lagi beberapa saat, Giok Hoa mengemukakan pikirannya.
"Engko Tie,"
Katanya.
"Bukankah kau berjanji akan bekerja sama dengan Sam-lang-hun? Aku pikir, lebih baik kita bekerja begini saja.
"Kau pergi menghampiri mereka, buat membantui mereka, sedangkan aku menantikan agak jauh. Jika memang aku gagal dengan usaha kita, kita bertemu di muka air terjun itu! Bagaimana, kau setuju?"
"Jadi kau ingin menanti sambil bekerja, menyelesaikan anak buah orang she Kwee itu dengan jalan menyelusup dari belakang?"
"Itulah yang kupikirkan! Kau pandai sekali menerka, engko Tie,"
Menyahuti si gadis sambil mengangguk dengan pipi yang berobah merah.
"Baiklah,"
Mengangguk Ko Tie.
Begitulah, mereka segera berpisah.
Ko Tie maju terus, sedangkan Giok Hoa mengambil jalan memutar.
Ko Tie menanti sampai si gadis sudah tidak terlihat lagi, barulah dia pergi ke arah dari mana bentakan-bentakan tadi datangnya.
Segera juga ia telah tiba di sana, tetapi ia menyembunyikan diri di belakang lebatnya pohon-pohonan.
Pertempuran tengah berlangsung antara Sam-lang-hun dengan beberapa orang.
Sekarang mereka tidak lagi saling membentak, hanya tubuh mereka yang berkelebat ke sana ke mari dengan lincah dan gesit sekali.
Masing-masing juga telah mengeluarkan ilmu andalan mereka, buat mendesak dan merubuhkan lawan.
Di antara lawan dari Sam-lang-hun, terdapat seorang wanita tua, yang tubuhnya pendek dan kurus, mukanya telah keriputan, rambutnya juga telah ubanan semua, tangannya mencekal sebatang tongkat panjang berkepala naga-nagaan.
Matanya sangat tajam dan tubuhnya dapat bergerak sangat lincah sekali, menunjukkan bahwa ia memang sangat lihay!
Dalam keadaan seperti itu, Ko Tie tidak memperlihatkan diri.
Ia ingin menyaksikan dulu, berapa tinggi kepandaian dari Sam-langhun, maka dari itu, ia hanya berdiam diri saja.
Liang An tengah menggerakkan tangan kirinya dengan jurus "Kunci Besi Tenggelam di Sungai"
Untuk menutup tangan kanan lawan lain, ia juga telah membarengi dengan menggerakkan tangan kanannya meninju kepada lawan.
Ia telah mengerahkan tenaganya dan mempergunakan kecepatannya, sedang kakinya melangkah mengiringinya.
Lawannya terkejut.
Itulah tidak disangkanya.
Tidak keburu ia menangkis.
Maka itu ia melengak, lompat jumpalitan, setelah menaruh kaki di tanah, ia menekuk ke dua dengkulnya guna memasang kuda-kuda itu.
Dengan demikian iapun dapat mempertahankan diri agar tidak rubuh.
Liang Ie beradat keras, perangainya berangasan, ingin sekali ia segera merubuhkan lawannya dan tidak mau memberikan kesempatan kepada lawannya.
Maka ia merangsek dengan hebat.
Tangan kanannya diajukan ke muka, untuk menghajar lagi.
Jika ia berhasil, pastilah patah atau remuk tulang-tulang dada lawannya.
Sedangkan lawan Liang An bukan musuh ringan, di mana ia pun sempat memasang kuda-kuda, ia mendesak Liang An.
Dua lawan Liang Ie pun sama kuatnya, ia telah menggeser tubuhnya, tangan kirinya menangkis, tangan kanannya membalas menyerang, dengan ke dua jari tangannya ia menotok jalan darah Khi-hay-hiat dari penyerangnya yang galak itu.
Liang Ie terkejut.
Waktu itu Liang An pun terkejut sekali, karena ia melihat betapa dirinya tengah terdesak, lalu menyaksikan Liang Ie pun terancam keselamatan jiwanya.
Terlebih lagi Liang Ie.
Ia tidak menyangka musuhnya demikian hebat.
Ia menarik pulang tangannya sebelum mengenai sasarannya, dan memakai untuk menangkis berbareng dengan mana iapun melompat ke kiri.
Waktu itu lawannya ingin menyelamatkan diri.
Ia juga melompat ke kanan dengan gesit.
Sedangkan Ko Tie yang tengah menyaksikan semua itu, telah memuji akan kebolehan dari Liang An dan kawan-kawannya.
Kepandaian mereka memang tidak rendah.
Setelah itu terdengar tertawa dingin dari Liang An, yang tertawanya menyeramkan sekali.
"Aku tidak menyangka, bahwa Thian-san-ngo-kui (Lima Setan dari Thian-san) merupakan manusia tidak tahu malu. Namanya yang begitu terkenal di dalam kalangan Kang-ouw ternyata hanya siasia belaka, karena mereka merupakan manusia yang tidak tahu malu, yaitu hitam memakan hitam! "
Sekarang cepat kalian mengeluarkan peti emas dan mutiara untuk membeber itu di muka kaum rimba persilatan.
Dengan demikian ada jalan buat kalian berdamai dengan kami Sam-lang-hun!
" Mendengar perkataan Liang An itu, diam-diam Ko Tie berkata di dalam hatinya "
Hemmmmm, kiranya kalian merupakan satu bangsa dan satu aliran! Jika begitu, Sam-lang-hun juga bukan sebangsa manusia baik-baik!"
Di saat itu lawan Liang An telah tertawa lebar keras sekali. Iapun telah menyambut perkataan lawannya dengan tertawa mengejek dan sikap tidak memandang sebelah mata.
"Saudara Liang, kau keliru! Harta itu bagian yang menemukannya, dan siapa yang memperolehnya, dialah yang lihay! Kalian harus menyesalkan kepandaian kalian yang memang tidak mahir dan dangkal! Barang yang telah diperoleh dan telah berhasil dirampas kembali! "
Siapakah yang hendak kalian sesalkan?
Bahkan di waktu itu, karena mengingat kalian sesama rekan, maka kami sudah tidak mau mencelakai kalian!
"Siapa duga sekarang.
Perbuatan baik-baik dari kami tidak memperoleh balasan yang baik.
Buktinya kalian berani datang kemari!
Hemmmm, kalian muncul ke mari untuk mengacau! Karena itu, apakah kalian berpikir bahwa kalian semua dapat berdiam lamalama di sini?!"
Liang An jadi gusar bukan main, hanya belum lagi ia membuka mulut, ia sudah didului oleh Liang Oh.
Dia memang paling sabar di antara Sam-lang-hun, tapi sekarang tidak menguasai diri lagi.
Ia segera juga melompat ke depan musuh dan berkata nyaring.
"Kau mengatakan bahwa kami rekanmu, siapakah sebenarnya rekanmu? Kami Sam-lang-hun, kamilah laki-laki sejati! Benar kami menjadi penjahat dan mengambil aliran hitam, tapi cuma merampas harta. Kami biasa menghindar untuk melukai atau membunuh orang! "
Kami tidak seperti kalian, orang-orang dengan muka manusia tetapi berhati binatang! Bukan saja kalian telah merampas barang yang diperoleh kami, malah kalian juga sudah membunuh habis tua dan muda.
"Segera kalian memfitnah kami! Apakah maksud yang sebenarnya dari kalian?!"
Baru saja Liang Oh menutup mulutnya, lawannya sangat murka, dan melangkah maju.
Namun nenek-nenek tua yang bersamanya telah melompat ke depan.
Ia berada lima tombak jauhnya, tapi sekejap mata saja ia telah sampai di dekat Liang Oh.
Menyaksikan kegesitan nenek tua tersebut, bukan main kagumnya Ko Tie.
Itulah gin-kang yang benar-benar sangat tinggi.
Sedangkan lima orang lawan dari Sam-lang-hun dengan mata yang mendelik bengis mata mereka memancarkan sinar yang mengandung hawa pembunuhan.
Waktu itu si nenek tua telah berkata dengan sikap dan suara yang aseran.
"Sahabat-sahabat, kalian masih belum mengetahui aturan yang diadakan di Kwee-san-cung ini,"
Katanya kemudian dengan suara yang dingin.
"Adalah aturan kami, setelah bekerja, kami harus menutup mulut orang, guna mencegah ancaman malapetaka di belakang hari! Kalian tokh bukan orang-orang yang tersangkut dalam persoalan tersebut. Buat apa tampil ke muka, untuk mendesak kami? "
Benar apa yang dikatakan anakku ini, maka cepatlah kalian angkat kaki berlalu dari sini.
Karena semakin cepat kalian angkat kaki, semakin baik pula buat kalian!
Hari ini aku si nenek tua tidak mau membuka larangan membunuh."
Belum lagi Liang An atau juga salah seorang di antara ke dua saudaranya itu, menjawab akan perkataan nenek tua tersebut, dari arah rumah terlihat seseorang berlari-lari mendatangi.
Setelah datang dekat, dia berbisik kepada salah seorang lawan Liang An tadi.
Dia tampaknya jadi kaget bukan main.
"Ibu....., ada bahaya di rumah kita!"
Ia bilang dengan segera.
"Anak Su, keadaannya terancam sekali! Ia telah diculik! Sam-lang-hun tidak dapat dibiarkan hidup, maka dari itu cepatlah bereskan mereka!"
Muka Thian-san-ngo-kui tampak berobah bengis, ia terkejut berbareng marah sekali.
Dengan tiba-tiba saja mereka telah mengambil sikap mengepung.
Sedangkan si nenek tua itupun telah menggerakkan tongkatnya, melintang menyerang kepada Sam-lang-hun.
Ia mempergunakan jurus "Naga gusar menggoyangkan ekor".
Hebat serangan itu, anginnya tongkat tersebut sampai menderu-deru dahsyat sekali.
Sam-lang-hun tidak menyangka mereka akan diserang secara begitu.
Ketika itu mereka tengah berbaris bertiga.
Tapi mereka tabah dan cukup lihay, dengan serentak mereka melompat mundur, lalu menghunus senjata masing-masing.
Waktu itu Ko Tie melihat salah seorang dari Thian-san-ngo-kui telah berlari ke arah rumah.
Ia menduga tentunya Giok Hoa yang berhasil untuk mengacaukan keadaan di dalam rumah itu.
Ia segera bermaksud untuk menyusul.
Akan tetapi belum lagi ia bertindak, ia ingat pesan si gadis, untuk tidak melenyapkan kepercayaan terhadap Sam-lang-hun.
Sekarang ia memperoleh kenyataan, walaupun sama-sama beraliran hitam dan dari kalangan penjahat, Sam-lang-hun berbeda dari Thian-san-ngo-kui tampaknya memang memiliki tangan yang telengas dan hati yang kejam sekali.
Ketika Ko Tie tengah berpikir seperti itu, ia melihat si nenek sudah menyerang hebat kepada Sam-lang-hun, yang seperti dikurung oleh tongkatnya nenek tersebut.
Jago wanita yang sudah tua itu mau menuruti perkataan dari Thian-san-ngo-kui, karena ia tidak hendak memberikan kesempatan hidup lagi kepada Sam-langhun, di mana ia menyerang begitu hebat, karena ia bermaksud untuk membunuh ke tiga orang itu.
Sedangkan Sam-lang-hun benar-benar lihay.
Dengan segera mereka mengadakan perlawanan.
Merekapun tidak sudi kena dikepung.
Serangan mereka ganas semuanya.
Demikianlah mereka bertempur sampai belasan jurus.
Rupanya, setelah berselang sesaat lagi, habislah sabarnya nenek tua itu.
Dia bilang dengan suara yang nyaring.
"Kalian bertiga tidak tahu gelagat harus mundur atau maju. Maka kalian jangan sesalkan aku si wanita tua tidak mau berbuat baik lagi!"
Kata-kata itu dibarengi dengan rambutnya pada menegak berdiri dan ke dua matanya bersinar sangat bengis.
"Hemmm,"
Sam-lang-hun mendengus.
Bukannya mereka mundur, malah mereka berusaha merangsek maju.
Walaupun begitu, maka mereka tenang.
Hati mereka saja yang gentar melihat kelihayan nenek tua tersebut.
Mereka berusaha menghadapi serangan si nenek tua itu dengan sebaik-baiknya, dengan tenang, tapi di dalam hati, mereka gentar dan kuatir sekali.
Sebab memang mereka mengetahui kepandaian nenek tua ini berada di atas kepandaiannya.
Si nenek tua itu telah segera membuktikan ancamannya.
Ia menyerang dengan tangan kanannya, yang diluncurkan dengan cepat sekali.
Sam-lang-hun segera merasakan tubuhnya seperti tertolak keras, sehingga tubuh mereka terhuyung, hanya sedikit, mereka berdiri pula dengan tegak.
Liang An menyerang dengan Coa-tauw-pian, cambuknya yang berkepala ular-ularan.
Ia mencari jalan darah Kiebun.
Sedangkan Liang Ie telah mempergunakan tempulingnya, yaitu Sam-leng-ngo Bie-ce, menikam ke jalan darah Hok-kiat.
Dan Liang Oh, dengan sebat sekali telah mempergunakan tombak Long-gee-sok, menusuk jalan darah Giok-cim di batok kepala, untuk mana ia sudah mencelat dengan gerakan tubuh yang sangat ringan ke belakang si nenek.
Maka terancamlah nenek tua itu.
Tidak kecewa nenek tua itu menjadi jago di kalangan Kang-ouw yang disegani.
Walaupun ia seorang wanita yang usianya sudah lanjut, hatinya tabah, tubuhnyapun cukup gesit, di samping memang kepandaiannya sangat tinggi.
Ia telah memutar tongkat dengan jurus "Badai Mengibas Yang-liu" , dengan begitu, satu kali bergerak saja ia dapat menutup dirinya membuat gagal serangan dari ke tiga orang lawannya, walaupun serangan ke tiga lawannya itu merupakan serangan yang hebat sekali dan seharusnya sulit dipunahkan.
Waktu itu jago tertua dari Thian-san-ngo-kui telah pergi jauh, ia segera disusul dengan tiga orang jago Thian-san-ngo-kui lainnya.
Mereka berempat meninggalkan tempat itu, karena mereka yakin nenek tua itu akan dapat menghadapi dan melayani Sam-lang-hun.
Yang masih menanti adalah beberapa orang anak buah mereka, yang umumnya mengagumi akan ilmu tongkat nenek tua tersebut.
Dan juga Thian-san-ngo-kui yang terkecil, yang tetap berdiam di situ, Thian-san-ngo-kui yang ke lima yang bungsu.
Sam-lang-hun terkejut sekali.
Ilmu silat musuh mereka yang tua ini membuat mereka tidak dapat menyerang masuk.
Senjata mereka juga setiap kali tertangkis tentu terpental, sehingga sering-sering tubuh mereka jadi terbuka.
Mereka tahu itulah ancaman bahaya yang tidak kecil buat mereka.
Dugaan dari Sam-lang-hun, cepat juga jadi kenyataan, bahwa mereka bertiga tidak akan sanggup menghadapi nenek tua tersebut, yang sangat lihay.
Tidak berselang lama, tampak si nenek tua itu tanpa ingin memperlambat waktu lagi, telah meluncurkan tangan kanannya, dari kanan ke kiri, ia menabas dengan jurus "Menyapu Tentara Seribu Jiwa".
Untuk merubuhkan ke tiga musuhnya itu, ia berpikir untuk tidak berlaku sungkan lagi dan tentu saja dibutuhkan tangan besi.
Sam-lang-hun kaget tidak terkira, semuanya segera juga melompat mundur.
Disaat itulah, senjata mereka sudah tersampok mental, sehingga tubuh mereka jadi kosong.
Mereka semua melompat dengan cepat akan tetapi angin pukulan dari nenek tua itu tokh tetap saja mengenai pundak mereka…… Tiba-tiba sekali terdengarlah suara siulan yang jernih dan panjang.
Dikala Sam-lang-hun terancam bahaya terlihat sesosok tubuh melompat bagaikan terbang, sehingga dia tampaknya seperti bayangan.
Dikala itu Sam-lang-hun jadi kaget dan heran.
Mereka bebas dari serangan angin pukulan si nenek yang begitu hebat.
Tubuh mereka juga terpental tiga tombak, sehingga mau atau tidak mereka terhuyung, dan akhirnya rubuh.
Walaupun demikian mereka, mereka tidak takut bahkan mereka merasa lega hati.
Jelas, mereka telah ditolongi oleh seseorang, keluar dari pintu akherat.
Setelah melompat bangun dan melihatnya, mereka jadi girang.
Di depannya si nenek berdiri si pemuda yang mereka ketahui sangat lihay.
Dialah Ko Tie, yang berdiri tenang, sedangkan si nenek tua itu telah mendelik padanya.
Namun Ko Tie berdiri dengah sepasang tangan yang digendong, sikapnya sabar sekali, hanya wajahnya belaka yang tampak keren dan berwibawa.
Si nenek tua sudah kena dipaksa mundur sampai dua tindak ke belakang.
Karenanya dia heran dan tercengang bukan main.
Dia merasakan bahwa tenaga dalam pemuda ini kuat luar biasa.
Waktu dia mengawasi pemuda yang berdiri di depannya dia bertambah heran.
Dia melihat orang yang masih berusia muda sekali.
Tentu saja dia tidak mengetahui orang tengah memakai topeng.
Dia pun jadi murka bukan main.
"Bocah, hendaklah kau mencampuri urusanku si orang tua?"
Dia menegur bengis.
Ko Tie tertawa, ia sikap memandang remeh kepada nenek tua itu.
Sedangkan nenek tua itu menantikan jawaban.
Sambil menanti, ia mengawasi tajam, bengis dan sinar matanya mengandung hawa pembunuhan.
Dia benar-benar tidak puas terhadap pemuda ini, untuk sikapnya yang menghina itu.
Tapi dia tidak dapat membaca hati orang dan juga tidak tahu siapa pemuda ini, tidak mengetahui asal usulnya.
Ko Tie berkata juga kemudian, dengan suara yang tawar dan perlahan.
"Nenek tua, bukankah engkau yang di dalam rimba persilatan dinamakan Jie Sian (Dewi Kedua)?"
Tanya Ko Tie kemudian dengan sikap yang tawar! "Dan kukira, aku tidak akan perduli dengan urusan kalian! Aku tidak mau tahu apa urusan kalian ke dua belah pihak. Aku datang untuk urusan lain.
"Aku hendak bertanya kepada kau. Apakah dengan mengandalkan kepandaianmu itu, yang kau anggap sangat lihay, engkau satusatunya orang yang paling pandai dan memiliki kepandaian tertinggi di dalam rimba persilatan?" Waktu itu angin berhembus dan membawa hawa hangat. Sinar matahari memancar cukup keras. Hawanya panas! Akan tetapi tanpa merasa, nenek tua itu menggigil keras, seperti juga ia tengah kedinginan, karena ia memang sangat murka bukan main. Sedapat mungkin ia berusaha bersikap tenang menindih kemarahannya yang seakan juga hendak meledakkan dadanya, membuat tubuhnya itu menggigil.
"Benar! Jika engkau tidak berhasil merubuhkan aku, berarti akulah satu-satunya orang terpandai di dalam kalangan Kang-ouw! "
Tapi kukira engkau tidak layak untuk beradu tangan dengan nenekmu.
Engkau perlu kembali lagi kepangkuan ibumu, buat minta menetek!
"Hemmm, bocah masih bau popok, ternyata engkau tidak mengenal tingginya langit dan tebalnya bumi!
Baiklah!
Justru aku yang akan membuka matamu, agar engkau mengetahuinya.
Betapapun juga, memang engkau perlu memperoleh hajaran yang pantas....."
Kata-katanya itu belum lagi habis nenek tua tersebut, yang disebut oleh orang rimba persilatan sebagai Jie Sian, sudah tidak bisa membendung lagi kemarahan hatinya.
Ia telah membentak bengis, mengandung hawa pembunuhan, disusul dengan tubuhnya yang melesat gesit sekali, tubuhnya seperti bayangan, tangan kirinya telah menyerang, angin serangan itu berkesiuran dahsyat, sedangkan tongkatnya itupun menderu-deru dengan hebat.
Dengan demikian, tampaknya memang nenek tua itu, bermaksud sekali menyerang dia sudah bisa membunuh Ko Tie.
Ko Tie tetap berdiri tenang di tempatnya.
Walaupun Jie Sian telah melompat dalam jarak yang begitu dekat dengannya.
Malah, angin serangan tangan kirinya dan tongkatnya telah mulai menerjang dirinya dengan dahsyat.
Ko Tie hanya memperhatikan dengan sinar mata yang sangat tajam sekali kepada nenek tua itu di mana ia ingin menantikan sampai serangan dari nenek tua itu benar-benar dekat dengannya.
Setelah serangan nenek tua tersebut dekat sekali, Ko Tie tidak berdiam diri terus.
Karena iapun untuk mempertahankan diri telah membarengi ketika Jie Sian menarik dengan keras, ia mengerahkan tenaga di tiga jarinya.
Lalu.
"Takkk!"
Maka patahlah ujung tongkat sepanjang lima dim.
Ia terus melemparkan patahan itu, yang terbang meayambar batang pohon yang tidak jauh dari mereka, menancap masuk ke dalamnya!
Semua orang yang menyaksikan kejadian itu jadi kaget dan heran.
Semuanya sampai menahan napas dan muka mereka pun telah berobah.
Diam-diam Jie Sian menyedot napas dingin.
Benar-benar ia tidak menyangkanya.
Karena itu, mendadak sekali ia melemparkan tongkatnya yang sudah buntung, dengan ke dua kakinya segera menjejak tanah.
Ia melompat mundur ke luar dari kalangan.
Disaat semua orang heran menyaksikan sikap si nenek Jie Sian, waktu itu Ko Tie segera berpikir.
"Kukira aku telah cukup melayaninya. Aku tidak perlu buang-buang waktu untuk ini!"
Karena berpikir seperti itu, segera juga Ko Tie mengeluarkan siulannya yang nyaring.
Tahu-tahu tangan kanannya telah bergerak lagi, mengibas dengan mempergunakan Tenaga Inti Es nya, yang menimbulkan sambaran angin yang sedingin es.
Kemudian tubuhnya juga melesat tidak menghiraukan nyonya tua ini, ia melompat buat terus lari ke arah rumah.
Bagaikan terbang melayang ia lewat di depan nyonya tersebut.
Jie Sian terkejut sekali, karena tubuhnya menggigil kedinginan.
Sambaran angin kibasan tangan dari Ko Tie mendatangkan hawa yang sedingin es.
Ia memang memiliki lweekang yang tinggi, maka ia masih bisa mempertahankan diri tidak sampai rubuh.
Yang membuat ia lebih kaget lagi, sekarang anak buahnya yang berada di belakangnya, dengan mengeluarkan suara jeritan yang lirih, terjungkal rubuh dengan tubuh yang kaku dan juga telah diselubungi oleh lapisan es yang tipis!
Itulah akibat anak buah Jie Sian kena disambar oleh angin pukulan Inti Es nya Ko Tie.
Dan kembali Jie Sian lebih kaget, sebab waktu itu tubuh Ko Tie berkelebat di depannya seperti bayangan saja.
Belum lagi ia bisa berpikir, di waktu itu si pemuda telah pergi jauh!
Tapi sebagai seorang jago tua yang memiliki kepandaian tinggi, Jie Sian dapat menentukan dalam waktu yang singkat, apa yang harus dilakukannya!
Ia melompat dengan gesit menyusul Ko Tie, dan tangan kanannya menghantam punggung Ko Tie.
Namun Ko Tie tidak menghiraukan serangan itu, ia cuma menangkis ke belakang dengan tangan kirinya, ke dua kakinya berlari terus.
Akibatnya memang hebat buat Jie Sian.
Ia menyerang sangat keras sekali, kesudahannya ia sendiri yang tertolak mundur dua tindak, sampai dia menjerit saking kagetnya, heran dan kagum sekali.
Sekarang Jie Sian tidak tercengang lagi, maka itu, iapun segera mengejar pula.
Karena kini ia diliputi penasaran dan murka yang bukan main.
Waktu itu di dalam Kwee-san-cung terlihat asap mengepul di empat penjuru, api tampak mulai berkobar-kobar tinggi sekali.
Ko Tie segera sampai di dalam.
Ia mendapatkan sebuah rumah yang besar dan indah, yang tiang-tiangnya berukiran, tetapi tidak sempat ia menikmati itu semua, ia masuk terus mencari Giok Hoa.
Ia telah `menemui beberapa orang yang rebah di lantai, tangan dan kaki mereka patah, tapi jiwa mereka belum lenyap.
Hanya darah berlepotan.
Di antara mereka juga terdengar rintihan yang menyayatkan hati.
Ia mengerti pasti Giok Hoa sudah membuka pantangan membunuh dengan mengerjakan pedangnya.
Waktu Ko Tie masuk lebih jauh ke dalam, ia masih menemukan orang-orang yang terluka, mungkin sebanyak limapuluh orang.
Di antaranya ada beberapa orang wanita, yang semuanya merintih dan menangis.
Di sudut tembok, di luar, ia melihat seorang anak kecil tengah merengket ketakutan.
Ia menghampiri dan bertanya dengan bengis sekali.
"Apakah kau melihat seorang nona…… akh…… seorang pemuda yang membawa pedang?"
Hampir ia membuka rahasia Giok Hoa.
Bukankah Giok Hoa telah menyamar sebagai seorang pemuda?
Bocah itu tengah ketakutan bukan main.
Dia juga merengket sambil menangis, maka dari itu tidak bisa ia menyahuti pertanyaan Ko Tie.
Tubuhnya menggigil dan matanya yang basah oleh air mata itu terbuka lebar-lebar.
"Kau mau bicara atau tidak?"
Bentak Ko Tie dengan sikap bengis. Anak kecil itu tambah ketakutan, tapi sekarang dapat juga ia berkata.
"Jangan gusar tuan..... jangan bunuh aku…… dia telah membawa puteri Su……. Ia pergi lari cepat sekali!"
"Dia lari ke mana?"
Tanya Ko Tie menegaskan.
"Aku….. aku tidak tahu…… setelah melukai orang, ia pergi……. aku hanya melihat ke empat Chung-cu muda bersama dua tosu mengejarnya, dan baru saja Chung-cu (kepala kampung) pergi menyusul."
Ko Tie segera menduga, tentu yang dimaksudkan dengan bocah itu sebagai Chung-cu adalah Kwee Lu.
Ia mengangguk dan tanpa membuang waktu lagi, segera tubuhnya melesat untuk meninggalkan tempat itu.
Di belakangnya Jie Sian bersama orang-orangnya tengah berlari menyusul!
Wanita tua itu berteriak-teriak.
"Binatang, kau telah membunuh orang dan membakar rumah, apakah kau dapat meloloskan diri secara demikian mudah?"
Ko Tie mengerutkan alis!
Kedatangannya Giok Hoa ke tempat ini adalah untuk membasmi orang-orang Kwee Lu!
Tapi tentu saja yang terpenting sekali adalah Kwee Lu, sedangkan anak buahnya hanya bisa dinasehati dan dibubarkan, tidak perlu mereka dibunuh.
Namun melihat betapa Jie Sian dan anak buahnya mengejar terus, habislah kesabaran Ko Tie.
Ia berhenti berlari.
Kemudian dengan segera ia memutar tubuhnya.
Ia telah melompat ke depan Jie Sian!
Bukannya dia menyingkir, sekarang malah dia telah memapaknya, dimana begitu ke dua kakinya hinggap, seketika ia menghantam dengan saling susul mempergunakan ke dua tangannya.
Dan sekali ini memang Ko Tie tidak tanggung-tanggung dalam mempergunakan Pukulan Inti Es nya, di mana dari kedua telapak tangannya itu menyambar angin yang sangat dingin sekali, dan membuat semua orang pengejarnya jadi menggigil keras.
Ma1ah dua orang di antara mereka yang memang kepandaiannya paling rendah, telah rubuh terjungkal, di mana mereka terbungkus oleh lapisan es yang tipis.
Merekapun pingsan tidak sadarkan diri.
Jie Sian menggigil, namun ia bisa menolak hawa dingin itu dengan mengerahkan lweekangnya.
Dia berusaha untuk mengejar terus, maju ke depan.
Waktu itu jarak mereka memang terpisah tidak begitu jauh.
Dengan bengis dan bernafsu sekali Jie Sian menghantam saling susul dengan ke dua tangannya.
Dia telah mempergunakan sebagian terbesar tenaga dalamnya, karena memang dia tengah penasaran dan juga murka sekali.
Itulah sebabnya dia menghendaki dengan pukulannya ini dapat membunuh Ko Tie.
Ko Tie mendengus memperdengarkan suara tertawa dingin.
Tahutahu ke dua tangan pemuda itu memapak tangan nenek tua itu, cepat dan sebat sekali, sukar diikuti oleh pandangan mata.
Bahkan Jie Sian sendiri tidak bisa melihat jelas arah sambaran ke dua tangan pemuda itu, yang tahu-tahu telah berhasil mencekal kuat sekali ke dua pergelangan tangannya!
Waktu Ko Tie mengempos semangatnya, maka terdengarlah suara "Kreekkk, kreekkk,"
Berulangkali.
Tulang-tulang di seluruh tubuh Jie Sian telah patah dan hancur.
Waktu Ko Tie melepaskan cekalannya,tubuh nenek tua itu lunglai lesu tidak bergerak lagi.
Setelah terbanting di tanah napasnya telah putus!
Semua orang Kwee-san-cung berdiri tertegun, ngeri dan gentar.
Mereka tidak menyangka pemuda ini demikian tangguh.
Mereka berdiam sejenak, sampai akhirnya tersadar waktu Ko Tie membentak dengan suara dan sikap bengis.
"Kalian jika tidak mau cepat-cepat meninggalkan dunia kejahatan ini, dan insyaf menjadi manusia benar, maka kalian akan menemui kematian yang sama mengerikan seperti nenek tua itu!" Tidak berjanji lebih dulu, anak buah Kwee san-cung seketika menekuk lututnya. Dan mereka telah sesambatan meminta jiwa mereka diampuni. Di antara mereka bahkan ada yang menangis menyebut-nyebut anak isterinya, dan mohon diampuni.
"Baiklah!"
Kata Ko Tie kemudian.
"Memang aku menghendaki agar kalian insaf dan menyadari apa yang selama ini kalian lakukan adalah salah. Karena dari itu, jika memaag kalian mau tersadar dari kekeliruan itu, kalian akan kuampuni! Pergilah! "
Tapi ingat, kalau kelak kalian bertemu denganku lagi, dan ternyata kalian masih bergelimang di antara kejahatan, di waktu itu aku tidak akan mengampuni lagi kalian……!"
Semua anak buah Kwee-san-cung mengucapkan terima kasih mereka! Baru saja mereka bangkit dan hendak meninggalkan tempat itu, tiba-tiba sekali Ko Tie membentak.
"Tahan!"
Muka mereka seketika berobah pucat, tubuh mereka menggigil, karena mereka menduga Ko Tie telah merobah keputusannya.
"Kalian juga mengajak kawan-kawan kalian yang lainnya untuk insyaf dengan segera meninggalkan tempat ini! Dalam waktu dekat ini, jika aku masih melihat ada orang di Kwee-san-cung ini, berarti dialah seorang yang tidak mau insyaf dan dia perlu dibinasakan!"
Semua anak buah Kwee-san-cung itu mengiyakan, tergesa-gesa mereka berlalu buat mengemasi barang-barang mereka, sambil mengajak kawan-kawan mereka yang lainnya.
Ko Tie telah mendengar juga bahwa Kwee Lu merupakan seorang yang memiliki kepandaian tinggi.
Tapi dia tidak memandang sebelah mata.
Karena ia yakin akan dapat merubuhkan orang she Kwee itu, yang selama ini merupakan momok buat penduduk di sekitar tempat itu, main bunuh, memperkosa dan merampok.
Itulah sebabnya mengapa Ko Tie bersama Giok Hoa telah memutuskan datang ke sarangnya Kwee Lu buat menumpasnya.
Setelah melihat semua anak buah Kwee-san-cung itu pergi, Ko Tie berlari lagi dengan pesat, di mana ia hendak mencari Giok Hoa.
Waktu itu berkelebat sesosok bayangan yang gesit sekali, dibarengi juga dengan berkelebat sinar putih di depan muka Ko Tie.
Itulah penyerangan dengan senjata tajam.
Ko Tie awas dan iapun memang lihay, karenanya segera juga ia menyentil.
Ternyata golok yang menyambar kepadanya kena disentil jauh terpental dari mukanya, hampir saja terlepas dari cekalan orang yang baru muncul itu.
Terdengar seruan tertahannya.
Ko Tie sekarang telah melihatnya, penyerangnya itu, tidak lain adalah seorang lelaki tua berusia antara limapuluh lima tahun, dengan kumis dan jenggot yang telah berwarna putih semuanya, juga tampak betapa mukanya bengis sekali.
"Hemmm, kau kira mudah lolos dari Kwee-san-cung?"
Bentak orang tua itu.
"Cepat katakan, di mana kawanmu yang menculik anakku itu?"
Seketika Ko Tie menduganya, tentunya orang tua ini, adalah Kwee Lu.
Dan yang diculik oleh Giok Hoa tentunya puterinya, yaitu yang disebut sebagai anak Su.
Dengan tertawa dingin, Ko Tie telah berkata tawar.
"Ohh. kiranya aku tengah berhadapan dengan seorang pendekar besar Kwee Lu, bukankah benar dugaanku?" "Tidak salah! Jangan harap kau bisa lolos dari tanganku! Kwee Lu bukan seorang mudah diperhina dan dipermainkan!"
Menjawab orang itu bengis, dan memang dia tidak lain dari Kwee Lu. Sambil tertawa keras, tubuh Ko Tie tergoncang. Ia kemudian bilang, tidak kalah bengisnya.
"Bagus! Memang engkau tengah kucari! Telah luber dari takaran kejahatan yang engkau lakukan, karena itu, engkau harus dihajar dan dimusnahkan!"
Setelah berkata begitu, Ko Tie kembali memperdengarkan suara tertawa mengejek, sama sekali dia tidak memandang sebelah mata kepada orang she Kwee ini.
Kwee Lu tidak membuang waktu lagi.
Disertai raungannya yang penuh kemurkaan, mukanya juga merah padam karena marah.
Goloknya telah berkelebat berulang kali menyambar kepada Ko Tie.
Ko Tie menghindari serangan senjata lawan.
Di dalam hatinya ia berpikir.
"Hemmm, memang tidak kecewa ia memiliki nama yang cukup ditakuti, tidak tahunya ilmu goloknya memang hebat juga!" Setelah berpikir begitu, dengan ringan, tubuh Ko Tie tahu-tahu berkelebatan seperti mengelilingi Kwee Lu, membuat mata Kwee Lu jadi kabur dan berkunang-kunang. Dia kaget tidak terkira. Dan belum lagi dia bisa memutuskan apa yang harus dilakukannya, selain memutar goloknya buat menutup dirinya, di saat itulah terlihat betapa tubuh Ko Tie telah melambung tinggi sekali ke tengah udara. Dan tahu-tahu telapak tangan kanan Ko Tie telah menepuk pundak Kwee Lu. Tepukan yang dilakukan Ko Tie tampaknya perlahan, akan tetapi kesudahannya memang sangat luar biasa sekali. Di mana jalan darah yang ditepuk oleh Ko Tie adalah jalan darah Kie-bun, sehingga seketika dari mutut Kwee Lu menyembur darah yang banyak sekali. Matanya mendelik, mulutnya terbuka dan lidahnya terjulur ke luar. Kemudian ia rubuh terguling di tanah tanpa bernapas lagi! Ko Tie mengeluarkan tertawa yang nyaring, tubuhnya segera melesat meninggalkan tempat tersebut. Berlari belum lagi begitu jauh, tampak beberapa sosok tubuh tengah berlari dengan gesit sekali, disertai juga dengan bentakanbentakan mereka yang sangat berisik sekali. Waktu Ko Tie menegasi, ternyata Giok Hoa sambil menggendong seorang gadis kecil berusia tiga atau empat tahun. Dengan di tangan kanannya tercekal sebatang pedang yang diputarnya sangat cepat bergulung-gulung, tengah berlari dengan dikejar oleh empat orang. Mereka tidak lain dari Thian-san-ngo-kui, empat orang dari ke lima Thian-san-ngo-kui. Tanpa membuang waktu lagi Ko Tie menjejak ke dua kakinya, tubuhnya melesat ke depan seperti bayangan saja. Dengan tidak diketahui lagi oleh ke empat orang Thian-san-ngo-kui segera juga tubuhnya meluncur turun dengan ke dua tangannya bekerja.
"Aduhhhh! Aduhhh!"
Beruntun terdengar suara jeritan dari ke empat orang Thian-san-ngo-kui, karena tubuh mereka segera terjungkal rubuh dan terbinasa! Giok Hoa girang bukan main ketika melihat munculnya Ko Tie.
"Engko Tie!"
Berseru si gadis, yang segera menghampiri.
"Mengapa kau menculik anaknya Kwee Lu?"
Bertanya Ko Tie tidak mengerti. "Dia…... dia akan kupergunakan sebagai pancingan, karena tadi penjagaan di dalam sangat ketat sekali, aku sengaja menculiknya buat perisai belaka……!"
Menjelaskan Giok Hoa sambil tersenyum.
Ko Tie mengangguk tanda mengerti.
Giok Hoa waktu itu menurunkan gadis kecil itu, Ko Tie telah menceritakan bahwa ia telah membereskan Jie Sian, juga Kwee Lu.
Hanya tinggal Thian-san-ngo-kui yang bungsu, yang belum kelihatan mata hidungnya.
"Dia tentu bersembunyi, karena dia mengetahui, tidak mungkin dia bisa menghadapi kita!"
Begitu kata Giok Hoa menjelaskan.
"Ya!"
Ko Tie mengangguk.
"Tapi, kita telah cukup menumpas Kwee Lu dengan pembantu-pembantunya. Anak buahnya telah kuperintahkan agar bubar, tentu tidak ada kejahatan yang terjadi lagi di sekitar tempat ini....."
Baru saja Ko Tie berkata sampai di situ, mendadak dia merasakan sambaran angin yang kuat sekali dari arah belakangnya.
Ia lihay, tanpa menoleh, dengan menekuk kaki kanannya, tahu-tahu tubuhnya itu berjongkok sambil berputar dan tangan kanannya meluncur ke atas, dengan ke lima jari tangannya terbuka.
"Bukkkk!"
Nyaring sekali telapak tangan Ko Tie telah menghantam dada penyerang gelap itu, yang rupanya hendak membokongnya.
Karena ia menyerang dengan melompat, telak sekali telapak tangan Ko Tie menghantam dadanya.
Tulang dadanya juga terdengar berbunyi, tubuhnya ambruk di tanah.
Dia tidak lain adalah Thian-san-ngo-kui yang ke lima, yang bungsu.
Ko Tie menghela napas.
"Tugas kita telah selesai....!"
Kata Ko Tie kemudian.
"Tapi bagaimana dengan anak ini? Kwee Lu sudah.....!"
Ko Tie tidak meneruskan perkataannya, karena dia telah menoleh mengawasi gadis kecil itu. Sedangkan Giok Hoa menggaruk-garuk kepalanya.
"Kupikir ada baiknya dia kita serahkan kepada salah seorang penduduk di sekitar tempat ini!"
Berkata Giok Hoa kemudian.
"Dengan demikian, ada baiknya juga buat anak ini, karena ayahnyapun ia kelak akan menjadi manusia yang jahat. Untung dia telah dapat disingkirkan dari ayahnya, yang telah berhasil kita tumpas. Kalau memang anak ini memperoleh didikan dan bimbingan dari orang yang baik-baik, kelak tentunya dia menjadi gadis yang manis dan jiwanya baik…...!"
Ko Tie menyetujui pikiran Giok Hoa. Ia segera mengajak si gadis buat meneruskan perjalanan mereka meninggalkan tempat itu. Mendadak sekali berlari-lari mendatangi tiga orang, yang berseruseru.
"Ji-wi Siauwhiap, jangan pergi dulu!"
Ko Tie dan Giok Hoa menoleh.
Tidak lain ke tiga orang itu adalah Sam-lang-hun.
Cepat sekali mereka tiba di depan Ko Tie dan Giok Hoa.
Mereka tersenyum-senyum, di mana baju mereka tampak berat dan padat terisi sesuatu.
Ko Tie tersenyum, karena segera juga ia dapat menduganya.
Tentunya di saku mereka itu terisi barang-barang permata rampasan mereka di dalam rumah Kwee Lu.
"Berkat bantuan jiwi siauwhiap berdua, maka kami berhasil memperoleh bagian kami!"
Berkata mereka dengan tersenyumsenyum.
"Dan memang kami bermaksud hendak menyatakan terima kasih kami kepada ji-wi siauwhiap berdua".
Ko Tie tetap tersenyum, dia menepuk ke tiga orang itu bergantian, sambil katanya.
"Tidak usah! Tidak usah! Dilain waktu kalian harus hidup baik-baik, tidak melakukan kejahatan lagi!"
Justeru tepukan dari Ko Tie membuat tubuh Sam-lang-hun seketika menjadi lemas.
Liang An yang ditepuk paling dulu, segera juga meloso terduduk di tanah, mukanya pucat, kemudian disusul dengan Liang Ie dan Liang Oh!
"Harta yang ada disaku kalian, boleh di bawa, buat bekal kalian berdagang dan menuntut penghidupan yang baik!"
Kata Ko Tie lagi.
"Kalian sebangsa dengan Kwee Lu, seharusnya kalian juga menerima hukuman yang sama beratnya! Tapi aku hanya memusnahkan kepandaian kalian, agar kelak kalian hidup baikbaik!"
Setelah berkata begitu, Ko Tie menarik tangan Giok Hoa, mereka melesat lenyap dari pandangan Sam-lang-hun.
Sedangkan Giok Hoa berlari sambil menggendong gadis kecil itu, puteri Kwee Lu, yang bernama Kwee Su.
Sam-lang-hun berdiri bengong, setelah mereka merangkak bangun, mereka tertegun tidak bisa melangkah, karena merasakan tubuh mereka lemas.
Maka mereka hanya bisa mengawasi ke arah mana tadi Ko Tie dan Giok Hoa pergi.
Dan juga, memang terlihat jelas sekali, bahwa ke dua pemuda itu memiliki kepandaian yang luar biasa sekali, yang baru pertama kali mereka saksikan seumur hidup mereka.
Di dalam hati mereka berjanji, kelak untuk menuntut penghidupan baik-baik, karena tidak ada bagusnya buat mereka, kalau memang mereka masih berkecimpung dalam dunia kejahatan.
Sebab sekarang mereka telah memiliki harta yang cukup buat berdagang dan hidup baik-baik…… Angin di Kwee-san-cung dingin sekali, samar-samar terdengar suara air terjun…… ◄Y► Waktu itu musim semi, pohon-pohon tampak mulai bermekaran dengan indah dan segar.
Seluruh perkampungan Bu-ciu terlihat permai oleh bunga beraneka ragam, yang mulai bersemi dan juga tampaknya memang seluruh kota penuh oleh keindahan yang ada, juga wajah penduduk tampak begitu berseri-seri.
Dari arah jurusan barat Bu-ciu, terlihat dua orang penunggang kuda.
Merupakan dua orang pemuda yang mirip dengan dua orang pemuda kembar.
Masing-masing mengenakan baju abu-abu.
Muka mereka sama-sama tampan, sikap mereka sangat gagah.
Hanya mereka memiliki perbedaan cuma satu, yaitu yang seorang bertubuh langsing, Mereka tidak lain dari Ko Tie dan Giok Hoa, yang baru tiba di daerah Bu-ciu tersebut, setelah melakukan perjalanan setengah bulan lebih dari Kwee-san-chung.
Kwee Su telah dititipkan kepada seorang wanita setengah baya, penduduk di kaki gunung yang bersedia merawat Kwee Su.
Dengan begitu Ko Tie dan Giok Hoa bisa melanjutkan perjalanan mereka.
Dengan gembira.
Memang melakukan perjalanan di musim semi, di saat bunga bermekaran dan juga hawa udara mulai hangat, merupakan hal yang menyenangkan sekali.
Banyak yang dibicarakan muda-mudi ini dengan gembira sekali, terdengar tertawa mereka yang mengisi kesunyian perjalanan mereka.
Hati mereka telah semakin terpaut dengan sekian lamanya mereka melakukan perjalanan bersama.
Ko Tie semakin mencintai si gadis pujaan hatinya.
Giok Hoa pun semakin tambah berpengalaman setelah berkelana sekian lama dalam rimba persilatan.
Kini iapun menyadari bahwa ia membutuhkan dan mencintai sekali engko Tie nya tersebut.
Mereka merencanakan buat singgah di Bu-ciu, beristirahat beberapa hari di sana.
Tanpa Ko Tie dan Giok Hoa sadari bahwa nama mereka sudah menggemparkan dunia persilatan, karena mereka telah melakukan beberapa pekerjaan besar dengan menumpas para penjahat.
Dan merekapun telah membuat orang-orang rimba persilatan banyak membicarakan mereka.
Dibasminya Kwee Lu dengan anak buahnya, tersiar luas sekali.
Banyak orang rimba persilatan yang merasa heran, bahwa telah muncul jago-jago rimba persilatan memiliki kepandaian tinggi seperti mereka, padahal usia mereka masih muda sekali.
Kematian Jie Sian pun telah menggoncangkan rimba persilatan, karena nenek tua itu adalah seorang tokoh rimba persilatan yang memiliki nama sangat terkenal.
Terlebih lagi seorang dari Thian-san-ngo-kui, yaitu yang bungsu sempat meloloskan diri.
Ia telah menceritakan kepada kawan-kawannya dari aliran hitam tentang kemalangan pihaknya dan kematian Jie Sian.
Tidak mengherankan, diwaktu itu banyak juga orang-orang dari aliran hitam yang berusaha untuk mencari jejak Ko Tie dan Giok Hoa, karena mereka hendak membalas sakit hati Kwee Lu dan Jie Sian.
Nama Ko Tie dan Giok Hoa pun semakin terkenal.
Cuma saja, disebabkan mereka hanya dikenal sebagai "Bie Siauwhiap dan Un Siauwhiap"
Seperti yang mereka perkenalkan diri kepada Samlang-hun, dengan demikian dalam rimba persilatan cuma mengenal Bie Un Ji-hiap.
Tidak seorang pun yang mengetahui siapa sebenarnya mereka berdua, pemuda luar biasa itu.
Sam-lang-hun cuma menceritakan kepada kawan-kawannya, betapa Ko Tie dan Giok Hoa melumpuhkan Kwee-san-chung dengan mudah sekali, mendatangkan kagum luar biasa di kalangan kawan-kawan Sam-lang-hun.
Memang dimusnahkannya kepandaian mereka membuat Samlang-hun bersakit hati, namun mereka jeri buat menuntut balas.
Banyak kawan-kawannya yang menganjurkan agar Sam-lang-hun meminta kesediaan dari orang-orang rimba hijau untuk mencari Ko Tie dan Giok Hoa membalaskan sakit hati mereka.
Namun usul itu telah ditolak oleh Sam-lang-hun karena mereka yakin, kawan-kawannya itu tidak mungkin bisa menghadapi Ko Tie dan Giok Hoa.
Demikianlah, Ko Tie dari Giok Hoa yang tidak mengetahui pergolakan yang tengah terjadi di belakang mereka, yang tengah mencari jejak mereka dan berusaha menyelidiki siapa mereka sebenarnya, telah melakukan perjalanan dengan gembira.
Waktu tiba di Bu-ciu, Ko Tie mengajak Giok Hoa mencari rumah penginapan.
Setelah mereka memperoleh sebuah kamar yang memiliki dua buah pembaringan, mereka memesan makanan yang enak-enak.
Sambil bercakap-cakap dengan gembira, mereka bersantap di dekat jendela maka dari mana mereka bisa memandang keluar, ke jalan raya.
Menjelang malam, Giok Hoa mengajak Ko Tie untuk jalan-jalan menyaksikan keramaian kota, dan Ko Tie tidak menolaknya.
Memang sepasang muda mudi yang tengah dilanda asmara itu selalu saja merasa gembira dan asyik dengan percakapan yang mesra dan juga menggembirakan, di mana merekapun membicarakan tentang hubungan, juga tentang masa depan mereka, tentang segala macam hal.
Keadaan di kota Bu-ciu memang ramai, karena penduduk kota tersebut padat.
Di samping itu memang juga terlihat jelas penduduk kota banyak yang berdagang sampai jauh malam, toko-toko tidak segera tutup walaupun malam telah cukup larut.
Terlebih lagi rumah makan dan tempat pelesiran, di mana mereka membuka semalam suntuk.
Banyak orang yang berkumpul di rumah makan di antara sahabat-sahabatnya buat bercakap-cakap, dengan gembira.
Disamping itu, banyak juga pengemis yang berkeliaran di kota, terutama sekali di rumah-rumah makan, karena mereka mengharapkan sekali memperoleh makanan sisa.
Ko Tie dan Giok Hoa telah mengelilingi kota tersebut sampai mendekati tengah malam.
Mereka mendatangi tempat-tempat yang memiliki pemandangan yang indah permai.
Di samping itu mereka juga telah pergi ke sebuah rumah makan, untuk bersantap malam dengan perlahan-lahan, bercakap-cakap mesra dan juga membicarakan segala yang serba indah.
Dilihat dari sikap mereka berdua, ke duanya seperti sudah tidak pernah dipusingkan oleh urusan rimba persilatan.
Mereka tidak mirip-miripnya sebagai orang Kang-ouw, malah lebih tidak cocok lagi sebagai orang-orang yang baru-baru ini menggemparkan rimba persilatan dengan sepak terjang mereka.
Waktu tengah berjalan untuk pulang ke rumah penginapan, mereka lewat di muka sebuah rumah pelesiran.
Rumah yang diterangi oleh teng-to-leng memancarkan sinarnya yang merah itu, dengan suara musik terdengar dari dalam, juga suara tertawa cekikikkan dari para wanita pelesiran di dalam, genit dan centil, membuat muka Giok Hoa jadi berobah merah dan merasa panas sekali.
"Jika kelak engkau sebagai seorang suami, tentunya engkau pun tidak akan berbeda dengan para pria-pria lainnya, sering mengisi waktu senggang dengan mendatangi tempat-tempat pelesiran seperti ini? Bukankah begitu, engko Tie??"
Kata Giok Hoa sambil melirik.
"Hemmmmm, itu masih belum bisa kupastikan!"
Menjawab Ko Tie, tertawa. Muka Giok Hoa semakin merah, tapi sekarang terlihat sikap tidak puasnya.
"Mengapa belum bisa dipastikan? Jika demikian jelas memang kelak engkau pun termasuk seorang laki-laki bedodoran yang tidak punya malu! Tentu suatu saat kelak engkau pun akan datang di rumah-rumah pelesiran ini!"
Ko Tie tertawa, dia bilang.
"Adikku yang manis, engkau jangan cepat cemburu seperti itu! Jika memang aku memperoleh seorang isteri yang buruk sekali, yang tidak cantik, yang cerewet dan senang sekali mengomel, mengapa aku tidak mungkin datang ke rumah pelesiran ini buat menghibur diri? Tentu saja aku bisa datang ke rumah-rumah pelesiran ini! "
Tapi jika andaikata aku memperoleh isteri secantik engkau, semanis engkau, mana mungkin aku datang ke tempat-tempat pelesiran, sedangkan isteriku itu seorang yang cantik, seorang yang sangat manis, yang sangat kucintai!
Di rumah-rumah pelesiran seperti itu mana ada yang menang dengan kecantikan isteriku?"
Dan Ko Tie tertawa, lagi. Muka Giok Hoa berobah merah. "Boleh aku tahu siapa calon isterimu yang cantik itu?"
Tanyanya sambil mengerling.
"Ya, aku sendiri belum tahu. Tapi aku pasti tidak akan datang ke rumah-rumah pelesiran seperti ini. Jika saja aku bisa memperoleh seorang isteri secantik engkau, misalnya!"
Pipi Giok Hoa berobah semakin merah, dia menunduk, namun tangannya meluncur mencubit lengan Ko Tie.
"Kau laki-laki buaya!"
Kata Giok Hoa.
"Cissss siapa yang kesudian menjadi isterimu? Aku seorang gadis bermuka buruk, memiliki adat yang jelek, mana mungkin cocok menjadi isterimu, seperti yang kau idam-idamkan!"
"Justeru aku mengatakannya kalau saja aku bisa memperoleh isteri seperti engkau, betapa bahagianya aku, dan tentu tidak akan pernah datang ke rumah-rumah pelesiran....."
Kata Ko Tie setelah menjerit dan menggosok-gosok tangannya yang terasa sakit karena cubitan si gadis.
"Aku buruk dan juga tabiatku jelek. Jika aku menjadi isterimu, tentu aku akan menderita dan juga berduka sepanjang hari!"
Kata Giok Hoa, suaranya halus, ia juga bilang dengan perlahan sekali, kepalanya tertunduk dalam-dalam. "Mengapa begitu?!"tanya Ko Tie sambil senyum lebar.
"Karena aku tidak cocok dengan idaman kau!"menyahuti Giok Hoa.
"Aku telah mendengarnya, engkau mengharapkan seorang isteri yang cantik, yang manis yang memiliki perangai sangat baik, baru engkau tidak akan datang ke tempat-tempat pelesiran ini.
"Tapi jika aku yang buruk dan bertabiat jelek ini menjadi isterimu, bukankah engkau akan menjadi si pemuda bedodoran, yang setiap malam mendatangi rumah-rumah pelesiran, sedangkan aku hanya sepanjang malam menangis seorang diri……!?"
Ko Tie tertawa, ia tahu-tahu memegang ke dua lengan si gadis, kemudian ia mendekapnya.
"Justeru engkau yang ku idam-idamkan. Engkau cantik seperti seorang bidadari, engkau pun memiliki hati yang lembut dan juga baik sekali. Aku bersedia bersumpah tidak akan pernah menginjakkan kaki walaupun hanya setengah langkah ke tempattempat seperti itu, jika saja engkau bersedia kelak menjadi isteriku!"
Bahagia sekali Giok Hoa, ia membiarkan tangan Ko Tie mengusapusap lembut rambutnya.
Malah, tangan kanan Ko Tie tahu-tahu telah memegang dagunya, mengangkatnya, sehingga si gadis menengadah dan Ko Tie menundukkan kepalanya mencium bibir si gadis.
Untuk sementara Giok Hoa merasakan dirinya seperti melayanglayang hangat sekali.
Baru pertama kali ini ia dicium oleh lawan sejenisnya.
Ia merasakan betapa nikmat dan hangat membahagiakan sekali.
Tapi, mendadak sekali, seperti tersentak, Giok Hoa mempergunakan ke dua tangannya mendorong dada Ko Tie, sampai pemuda itu terhuyung mundur ke belakang.
"Adik Hoa……!?"
Ko Tie terkejut.
"Laki-laki buaya tidak tahu malu…… Apakah engkau tidak takut nanti jadi tontonan orang ramai? Ini tokh jalan raya?"
Kata si gadis sambil menjejakkan ke dua kakinya.
Tubuhnya melesat meninggalkan tempat itu, dan di waktu itu juga terlihat ia tersenyum malu, tapi bahagia sekali hatinya.
Walaupun ia tadi berkata dengan sikap marah, namun hatinya sesungguhnya bahagia bukan main.
Malah ia mengharapkan lagi, di suatu saat kelak, ia bisa dicium seperti itu lagi oleh Ko Tie!
Ko Tie tersenyum, ia mengetahui bahwa Giok Hoa sesungguhnya tidak marah oleh perbuatannya.
Ia mengejar sambil memanggilmanggil si gadis.
Akhirnya ia bisa mengejar sampai di sisi si gadis.
"Adik Hoa, kau marah?!"
Tanya Ko Tie kemudian, dengan suara yang halus. Giok Hoa memperlahankan larinya, dia mengerling sambil katanya.
"Aku takut berteman dengan laki-laki buaya seperti kau!"
"Aku tidak akan melakukan perbuatan itu lagi, adik Hoa. Tentunya engkau tidak marah bukan?"
Ko Tie bilang.
"Cissss, jika lain kali engkau melakukannya lagi, aku akan menampar mulutmu itu agar gigimu rontok!"
Kata si gadis dengan pipi berobah merah.
Tapi Ko Tie melihat, gadis itu memang tidak marah.
Sambil tersenyum si pemuda telah berlari terus mengikuti Giok Hoa di sisinya!
Giok Hoa telah berlari terus, kembali ke rumah penginapan.
Waktu akan tidur, tampak Ko Tie masih sempat bilang.
"Selamat tidur adikku yang manis, semoga engkau bermimpi."
"Mimpi apa?"
Bentak Giok Hoa sambil cemberut marah.
Padahal hatinya waktu itu senang dan bahagia sekali.
Dan Ko Tie melihat si gadis tengah cemberut seperti itu jadi tertegun.
Karena dilihatnya, di bawah cahaya api lilin, yang redupredup di dalam kamar mereka, waktu cemberut seperti itu Giok Hoa benar-benar cantik menawan hati.
Dan jika ia tidak kuatir nanti si gadis memiliki prasangka yang tidaktidak dan salah, tentu dia akan menubruk, untuk mencium dan menggigit bibir si gadis yang tengah cemberut itu.
Dan Ko Tie cuma menahan liurnya.
"Bermimpi indah tentunya....."
Kata Ko Tie pada akhirnya, suaranya serak dan perlahan hampir lenyap tidak terdengar.
"Dan akupun memohon kepada Thian, agar diberikan impian yang indah, impian yang memberikan kesempatan kepadaku mencium..... mencium....."
"Mencium apa?"
Bentak Giok Hoa, pipinya telah berobah merah.
"Mencium gulingku!"menyahuti Ko Tie akhirnya.
Si gadis tahu, bahwa ia tengah diperolok-olok.
Namun ia girang.
Walaupun mukanya sengaja semakin cemberut, sedangkan bantalnya telah dilontarkan kepada Ko Tie, sambil makinya seperti marah.
"Cissss, laki-laki-buaya tidak tahu malu..... Jikalau bersikap kurang ajar sekali lagi saja, untuk selamanya aku tidak mau tidur sekamar lagi denganmu..... Biarlah aku akan pindah kamar saja."
"Ohhhhh, jangan! Tidak! Aku berjanji, aku bersumpah, tidak akan berlaku kurang ajar lagi kepadamu..... aku akan menjadi laki-laki yang alim, jika memang buaya, buaya yang alim dan tenang mengapung di permukaan air……!"
Sambil berkata begitu Ko Tie menyambuti bantal si gadis.
Ia tertawa keras!
Kemudian dengan sikap yang disengaja seperti tengah memperlihatkan sikap yang menghormat sekali, Ko Tie mengembalikan bantal si gadis.
Pipi Giok Hoa berobah merah, tapi senang sekali hatinya.
Ia menyambuti bantal itu, namun tangan kirinya telah meluncur, mencubit lengan Ko Tie, sampat Ko Tie berseru kesakitan.
Di waktu itu, Ko Tie kembali ke pembaringannya, ia telah tertidur dengan bibir tersenyum lebar.
Giok Hoa tidak segera tidur.
Pengalamannya hari ini benar-benar luar biasa.
Ia bahagia sekali.
Ia malu bukan main.
Tapi ia pun mengharapkan bisa mengalaminya satu kali lagi, Ko Tie menciumnya.
Pemuda itu memang dicintainya.
Ko Tie seorang pemuda sejati.
Ia sangat dihormatinya karena sikapnya yang halus dan tidak pernah berlaku kurang ajar.
Dan Giok Hoa memang menyukainya.
Oleh karena itu, iapun telah melirik berulang kali kepada Ko Tie yang telah tidur di pembaringan di seberangnya.
Si gadis jadi tersenyum beberapa kali dengan sendirinya.
Dilihatnya Ko Tie tertidur dengan tubuh yang merengket dan juga muka yang berseri-seri, bibirnya tersenyum.
Dilihat juga oleh Giok Hoa, betapa kelopak mata Ko Tie yang tertutup rapat itu bergerakgerak.
Dan si gadis jadi tersenyum sendiri!
Tentu Ko Tie pun sama seperti dia, tidak bisa segera tidur pulas, hanya saja pemuda itu sengaja menutup rapat matanya, untuk pura-pura tidur.
Giok Hoa sengaja membalikkan tubuhnya ke arah lain, memunggungi Ko Tie.
Dan ia tertidur dengan bibir tersenyum manis sekali......
Iapun memang bermimpi indah sekali, bermimpi bergurau dengan Ko Tie, bercumbu dan berciuman.
Sampai gadis itu kaget sendirinya terbangun dari tidurnya.
Karena dalam mimpinya justeru ia yang merangsek Ko Tie, ia merangkul kuat-kuat dan geregetan, dia yang melumat bibir pemuda itu.
Tapi waktu tersadar dari tidurnya, keadaan di dalam kamar tetap sunyi, gelap gulita, api penerangan di dalam kamar telah dipadamkan.
Dan ketika ia melirik ke pembaringan Ko Tie, dilihatnya pemuda itu tengah tidur nyenyak dengan mendengkur.
Gadis ini jadi tenang hatinya, walaupun pipinya berobah merah panas, hatinya senang karena itu hanya impian belaka, yang tidak mungkin diketahui oleh Ko Tie.
Ia pun telah memejamkan matanya lagi buat tidur.....
bibirnya tersenyum bahagia.
◄Y► Begitu fajar menyingsing, Giok Hoa terbangun dari tidurnya.
Waktu ia menoleh, dilihatnya Ko Tie masih tertidur nyenyak sekali.
Perlahan-lahan si gadis turun dari pembaringannya.
Agar tidak menimbulkan suara, ia keluar dari kamar, memanggil pelayan, buat mempersiapkan santapan pagi.
Ia telah salin pakaian dikala ia menantikan tibanya santapan pagi itu.
Setelah pelayan mengantarkan santapan yang dipesannya, Giok Hoa yang mengatur sendiri di atas meja.
Ia memesan cukup banyak makanan, dan juga ia telah menyusunnya dengan rapi.
Kemudian si gadis duduk di kursi mengawasi Ko Tie yang masih tertidur lelap Dipandangi seperti itu, walaupun semula Ko Tie tertidur nyenyak, tiba-tiba ia seperti tersentak, perasaan halusnya telah menyatakan bahwa ada seseorang tengah mengawasinya.
Ia terbangun dari tidurnya, dan menoleh kepada si gadis.
Justeru dilihatnya Giok Hoa tengah duduk di depan meja, dekat pembaringannya, tengah mengawasi sambil tersenyum manis sekali.
Ko Tie jadi malu.
Cepat-cepat ia mengucek-ucek matanya, katanya sambil turun dari pembaringan.
"Maafkan adik Hoa, aku tertidur terlampau nyenyak sekali……"
Segera juga Ko Tie pergi ke kamar mandi untuk salin pakaian, barulah kemudian setelah cuci muka ia duduk di depan si gadis. "Sudah lama kau bangun, adik Hoa?"
Tanya Ko Tie. Giok Hoa mengangguk.
"Ya, sudah cukup lama aku menantikan kau bangun,"
Menyahuti si gadis.
"Mimpi apa kau tadi malam?"
Muka Ko Tie jadi berobah merah, tapi ia tertawa.
"Aku memang bermimpi, tapi jika aku memberitahukan kepadamu, tentu engkau akan marah....."
Menyahuti Ko Tie.
"Ayoh beritahukan padaku mimpi itu!"
Desak Giok Hoa ingin mengetahui. Ko Tie mennggeleng.
"Jangan ahh, nanti engkau marah!"
"Tidak! Kau harus memberitahukannya kepadaku!"
Desak si gadis.
"Kau mau berjanji tidak marah jika aku menceritakan mimpiku itu?"
Tanya Ko Tie sambil tetap tersenyum. Si gadis jadi cemberut.
"Kau mau memberitahukan atau tidak?" "Jika kau tidak mau berjanji bahwa engkau tidak marah mendengar mimpiku itu, barulah aku menceritakannya!"
"Baiklah!"
Mengangguk Giok Hoa.
"Aku berjanji tidak akan marah. Nah, sekarang kau ceritakanlah mimpimu itu!"
"Aku semalam bermimpi……"
Berkata sampai di situ Ko Tie berhenti dulu, ia tersenyum.
"Ayo katakan!"
Desak Giok Hoa tak sabar.
"Aku bermimpi mencium kau adik Hoa!"
Menjelaskan Ko Tie pada akhirnya.
"Cisssssss! Tidak tahu malu!"
Berkata Giok Hoa yang mukanya seketika berobah merah. Ko Tie tertawa.
"Tapi kau berjanji tidak akan marah bukan?"
Kata Ko Tie kemudian.
"Justeru dalam mimpiku itu, engkau tidak marah dicium malah minta lagi……"
Tiba-tiba tangan kanan si gadis meluncur, dia mencubit tangan Ko Tie kuat-kuat. "Aouwwwww!"
Menjerit Ko Tie kesakitan tapi tertawa.
"Tadi kau berjanji tidak akan marah?!"
"Engkau laki-laki tidak tahu malu!"
Kata Giok Hoa dengan pipi berobah merah.
Ia jadi malu sekali.
Diam-diam dia jadi bingung juga, mengapa si pemuda bisa bermimpi yang sama seperti yang dimimpikannya semalam.
Di mana ia yang merangsek si pemuda, yang melumat lahap bibir si pemuda itu.
Karena itu, Giok Hoa jadi malu bukan main.
Dia menunduk dalamdalam, dan masih menggumam.
"Selanjutnya aku tidak ingin bicara lagi dengan kau!"
"Ihhhhh, kok begitu?"
Kata Ko Tie cepat dan agak gugup.
"Bukankah engkau telah mendesak agar aku menceritakan mimpiku itu?!"
"Tapi engkau memiliki pikiran yang kotor!"
Kata Giok Hoa kemudian cemberut.
"Mengapa pikiranku kotor, bukankah mimpi datang tidak bisa ditolak. Jika memang bisa ditolak, tapi jika mimpi bisa mencium engkau, adikku manis, tentu aku seribu kali tidak akan menolaknya!"
Tangan Giok Hoa ingin bergerak mencubit Ko Tie lagi, tapi pemuda itu telah mendoyong tubuhnya ke belakang, bersiap-siap menghindar.
"Adikku yang manis.....!"
Kata pemuda itu sambil tertawa.
"Tentunya engkau..... engkau juga senang sekali jika saja kita bisa berhubungan lebih intim. Aku sangat mencintaimu..... aku sangat mencintaimu.....!"
Pipi Giok Hoa semakin berobah merah.
"Sudah, jangan ngoceh terus!"
Katanya kemudian.
"Aku tidak mau bicara dengan kau!"
Ko Tie tertawa.
Mereka bersantap.
Tapi, namun akhirnya dia sendiri yang banyak bicara, bercerita perihal pengalamannya yang telah dialaminya beberapa waktu yang lalu, di mana ia mengatakan dia senang sekali bisa mencoba kepandaiannya dengan membasmi penjahat.
Ko Tie juga sudah tidak menyinggung-nyinggung lagi, walaupun Giok Hoa mengancam tidak mau bicara lagi dengan Ko Tie, dan berpikir, soal "Cium-ciuman"
Itu, karena ia kuatir nanti si gadis akan marah.
Karena itu, diapun tidak pernah menyinggung-nyinggung atau menggoda si gadis lagi.
Dia telah bersantap dengan lahap sekali.
Demikian juga si gadis yang makan dengan gembira, merekapun bermaksud untuk keluar pesiar ke tempat-tempat yang indah di Bu-ciu.
Dan Ko Tie menyetujuinya karena dengan pesiar ke tempat-tempat yang indah, mereka jelas memiliki waktu yang cukup banyak untuk menjalin kemesraan mereka berdua.
Begitulah, setelah berpakaian rapi, ke duanya keluar meninggalkan rumah penginapan.
Di depan rumah penginapan Ko Tie bertanya kepada seorang pelayan, tempat mana yang indah di Bu-ciu ini.
Pelayan itu mengawasi ke dua tamunya ini.
Ia kagum melihat tampannya Ko Tie dan Giok Hoa yang masih tetap menyamar sebagai seorang pemuda.
Sampai akhirnya pelayan itu bilang.
"Jika memang tuan berdua ingin mencari tempat yang indah, kebetulan sekali hari ini Ang-kie-pay (Perkumpulan Bendera Merah) tengah mengadakan pesta di telaga Bie-ouw, duapuluh lie dari Bu-ciu..... Hari ini di sana berkumpul kurang lebih ratusan orang-orang rimba persilatan yang memiliki kepandaian tinggi.
"Mereka akan bertanding bermacam cara untuk memeriahkan pesta itu. Di sana ada juga musik-musik yang akan diperdengarkan oleh para pemain musik terkenal di Bu-ciu! "
Cuma nasibku dasar sial.
Aku sebagai pelayan rumah penginapan ini, aku tidak ijinkan oleh majikanku buat pergi menyaksikan keramaian, karena majikanku kuatir banyak tamu yang perlu dilayani!
Hai!
Hai!
Jika saja memang aku bisa menyaksikan keramaian itu……."
Ko Tie tidak menanti sampai ocehan dari pelayan itu habis, ia telah menarik tangan Giok Hoa, diajaknya pergi.
"Ang-kie-pay mengadakan pesta, tentu memang meriah! Perkumpulan apakah Ang-kie-pay itu? Tentunya merupakan lintah darat dan buaya-buaya darat di kota ini….. Para jagoan kota! "
Hemmm, tampaknya, Ang-kie-pay merupakan perkumpulan yang tidak kecil.
Karena menurut pelayan itu, yang akan berkumpul di tempat pesta mereka itu, jumlahnya lebih dari ratusan orang-orang rimba persilatan, yang semuanya berasal dari kalangan Kang-ouw.
"Tentunya memang di sana akan ramai.
Karena dari itu, ada baiknya kita pergi ke sana untuk menyaksikan keramaian.……!"
Giok Hoa setuju.
"Ya, memang kita perlu keramaian!"
Katanya kemudian mengangguk beberapa kali.
"Adikku, cuma saja, ada sesuatu yang membuat aku menyesal jika kita pergi ke sana……!"
Kata Ko Tie bersungguh-sungguh. Giok Hoa kaget.
"Kenapa?"
Tanyanya heran.
"Karena di sana sangat ramai sekali, tentu aku tidak memiliki kesempatan walaupun satu detik buat menciummu!"
Menggoda Ko Tie, Muka si gadis berubah merah, dia malu sekali. Dia juga berkata galak sambil mengayunkan tangannya.
"Akan kutampar mulutmu, engko Ko Tie."
Tapi Ko Tie memang tahu penyakit, dia telah berlari sambil tertawa.
Si gadis mengejarnya.
Namun akhirnya Ko Tie membiarkan pundaknya dipukul oleh Giok Hoa.
Tentu saja bukan pukulan yang keras, hanya pukulan yang lunak.
Ko Tie sengaja mengaduh-aduh.
"Kalau mulutmu kurang ajar lagi, aku akan memukul sampai kau berlutut minta ampun!"
Mengancam si gadis dengan muka yang berubah merah. Ko Tie merangkapkan ke dua tangannya, sambil menahan senyum, ia bilang.
"Siauw-jin akan mematuhi perintah Toa-ya."
Mau atau tidak Giok Hoa tertawa juga.
Dan mereka melanjutkan perjalanan pula dengan hati yang bahagia.
Sepanjang perjalanan, memang mereka seringkali bertemu dengan orang-orang yang berpakaian sebagai orang Kang-ouw, dengan berbagai senjata tajam terlihat berada di punggung dan di pinggang mereka.
Semua orang Kang-ouw yang bertemu dengan mereka, tidak memperhatikan mereka.
Karena mereka berdua adalah pemudapemuda tampan, yang tidak mirip-miripnya sebagai seorang rimba persilatan.
Tampaknya sebagai kutubuku-kutubuku belaka.
Dan jika ada yang tertarik juga memperhatikan mereka, karena ke dua pemuda itu sangat tampan sekali.
Waktu itu mereka telah tiba di dekat telaga, di mana mereka semakin banyak bertemu dengan orang rimba persilatan.
Bermacam-macam orang rimba persilatan itu.
Ada yang tua, ada yang muda, ada yang kejam dan bengis, tapi ada juga yang mukanya memancarkan sikap penyabar.
Tapi yang terbanyak umumnya mereka merupakan orang-orang dengan tampang menyeramkan.
Ko Tie dan Giok Hoa segera dapat menduga, bahwa Ang-kie-pay tentunya merupakan perkumpulan dari aliran hitam.
Melihat tamutamunya yang sebagian terbesar terdiri dari orang-orang Kangouw aliran hitam, tentunya Ang-kie-pay memang merupakan perkumpulan yang tidak baik.
Karena itu, sambil menoleh kepada Giok Hoa, Ko Tie berbisik.
"Jika memang perlu, kita turun tangan. Karena tampaknya Ang-kie-pay bukan perkumpulan manusia-manusia baik!"
Giok Hoa mengangguk mengiyakan.
Di waktu itu, orang Kang-ouw yang berkumpul di tepi telaga tersebut, ramai sekali.
Mereka tengah bercakap-cakap dengan gembira dan berisik sekali.
Di tepi telaga Bie-ouw telah ramai bukan main, di sebelah barat telaga itu dibangun sebuah panggung yang cukup tinggi dan mewah.
Sedangkan di pinggir kiri kanannya terdapat tetarap yang dibangun untuk menampung para tamu yang berdatangan.
Ko Tie dan Giok Hoa mengambil tempat di belakang di sebelah kanan dari panggung.
Mereka duduk dengan tenang sambil memperhatikan keadaan di sekitar tempat itu, mengawasi semua orang yang berkumpul di situ.
Banyak orang-orang yang bekerja sebagai pelayan Ang-kie-pay, melayani tamu-tamu.
Mereka sibuk menyediakan minuman dan makanan.
Waktu itu, di tengah telaga, terdapat sebuah kapal yang cukup besar dan angker sekali dengan segala hiasan.
Rupanya, pemimpin-pemimpin Ang-kie-pay berada di dalam kapal itu.
Maka Ko Tie dan Giok Hoa memperhatikannya ke arah kapal itu, yang rupanya di dalam kapal tersebut terdapat tidak sedikit orang-orang lihay.
Apa yang diduga oleh Ko Tie dan Giok Hoa memang tidak meleset, sebab waktu itu tampak sesosok tubuh telah melayang keluar dari kapal, dan telah menuju ke panggung.
Gin-kang yang diperlihatkannya memang mahir dan tinggi.
Ko Tie yang melihat gerakan orang itu, hanya tersenyum saja.
Giok Hoa bilang dengan suara tawar.
"Hemmm, mereka mulai menjual lagak!"
"Ya!"
Ko Tie mengangguk.
Orang yang hinggap di atas punggung itu, ternyata seorang lelaki tua berusia kurang lebih enampuluh tahun, dengan kumis dan jenggot yang telah memutih dan kulit muka yang keriputan.
Matanya yang sipit itu memancarkan sinar yang sangat tajam, seakan juga ingin menembusi semua orang yang berkumpul di situ karena sebelum berbicara, ia telah menyapu memandang semua orang yang berada di situ, barulah kemudian dia telah merangkapkan sepasang tangannya, dia menjurah sambil katanya dengan suara yang parau keras.
"Saudara-saudara sekalian, juga para Ho-han yang berkumpul di sini, yang telah meringankan kaki hadir dalam pesta yang kami adakan! Atas nama Pang-cu, aku menyampaikan syukur dan terima kasih kami……!"
Setelah berkata begita orang tua tersebut menjurah tiga kali.
Ia mengawasi sekelilingnya, di mana semua orang yang hadir, di sebelah kanan maupun sebelah kiri panggung itu bertepuk tangan ramai sekali.
Setelah keadaan meredah kembali, barulah orang tua itu meneruskan perkataannya.
"Sebenarnya, maksud kami menyelenggarakan pesta ini, hanyalah untuk memperingati perkumpulan kami telah berusia lima tahun! Berkat dari kesetiaan kawan-kawan Kang-ouw, kami dapat hidup terus dengan subur dan juga dapat menancapkan kaki di dalam kalangan Kang-ouw.
"Karena itu, tidak lupa, untuk menyatakan terima kasih kami dengan menyelenggarakan pesta ini! Dan juga di samping untuk ucapan terima kasih, Pang-cu kami memiliki maksud satu lagi, yaitu ingin memperkenalkan diri kepada kawan-kawan Kang-ouw di Bu-ciu ini tentang perkumpulan kami, yaitu Ang-kie-pay!"
Setelah berkata begitu, orang tua itu mementangkan ke dua tangannya, disambut oleh tepuk tangan yang riuh dan ramai.
Sedangkan Ko Tie dan Giok Hoa segera dapat menduga, tentunya Ang-kie-pay, memang bermaksud hendak mementangkan sayap dan kekuasaannya di Bu-ciu ini, di mana mereka hendak mengunjukkan gigi dan juga bermaksud hendak menanamkan kekuasaannya di Bu-ciu.
Dengan demikian, sengaja mereka membangun panggung.
Jelas Ang-kie-pay akan memajukan orang-orangnya, untuk dapat memperlihatkan betapa anggota Ang-kie-pay memang semuanya memiliki kepandaian yang lihay dan juga akan dapat merubuhkan dan menghadapi jago Bu-ciu yang mana saja!
Itulah suatu maksud untuk kepentingan kekuasaan dari orangorang Ang-kie-pay belaka maka telah membuat Ko Tie dan Giok Hoa semakin memiliki kesan tidak baik pada perkumpulan tersebut.
Sedangkan orang tua itu setelah mementangkan ke dua tangannya, dan tepuk tangan maupun pujian meredah, mereka semua telah berdiam diri, barulah ia berkata dengan suara yang lebih nyaring lagi.
"Untuk menambah meriah pesta kami ini, karena itu kami akan menampilkan dua orang anggota muda kami, untuk dapat main1742 main di panggung, guna memperlihatkan kejelekan mereka…… Harap para tamu tidak menertawainya……!"
Menyelesaikan perkataannya itu, tampak orang tua ini telah menepuk ke dua tangannya, di mana dia telah menepuknya sebanyak tiga kali, dan suaranya juga sangat nyaring sekali.
Segera tampak dari kapal itu melesat dua sosok tubuh.
Sama halnya seperti yang dilakukan oleh orang tua itu, ke dua sosok tubuh itu juga berjumpalitan di tengah udara.
Dan mereka melompat enam kali untuk dapat tiba di lantai panggung tersebut.
Ke dua orang itu adalah dua orang pemuda berusia duapuluh tahun lebih, ke duanya memakai baju warna merah yang singsat, dengan pedang tergemblok di tubuh masingmasing.
Mereka memberi hormat kepada orang tua itu, lalu memutar tubuh memberi hormat kepada para tamu.
"Harap cianpwe dan juga tuan-tuan tidak mentertawai keburukan kami.....!"
Kata mereka hampir berbareng.
"Sekarang kami hendak meramaikan pesta pangcu Ang-kie-pay, agar para Cianpwe dan tuan-tuan tidak menjadi kesepian karenanya.....!" Setelah berkata begitu, dengan gesit ke dua pemuda itu memisahkan diri. mereka telah berdiri berhadapan dan juga tangan mereka dengan sebat telah mancabut pedang masing-masing, yang berkilauan terkena sinar matahari pagi. Segera juga di sekitar tempat itu ramai oleh tepuk tangan dan suara memuji, karena orang-orang kagum dengan gerakan dan kesebatan tangan ke dua pemuda itu. Semangat ke dua pemuda tersebut terbangun dan mereka segera juga melompat dengan gesit dimana mereka telah menyerang satu dengan yang lainnya. Gerakan yang dilakukannya sebenarnya hanya merupakan kembang ilmu pedang belaka, karena biarpun tampaknya mereka gesit dan menyerang dengan hebat, namun tidak mungkin akan dapat mencelakai lawan masing-masing. Ko Tie yang menyaksikan cara bertanding ke dua pemuda itu, jadi tidak tertarik. Demikian juga Giok Hoa. Karena ke dua pemuda itu memang benar-benar hanya memperlihatkan permainan yang tidak berarti, cuma hendak meramaikan pesta tersebut. Setelah lewat duapuluh jurus, ke dua pemuda itu melompat mundur memisahkan diri. Orang tua enampuluhan tahun yang tadi telah maju pula ke depan, ia merangkapkan ke dua tangannya, kemudian katanya.
"Siapakah di antara tuan-tuan yang hendak memanaskan darah untuk main-main dengan gembira di atas panggung? Mereka merupakan anggota muda kami yang memiliki kepandaian belum berarti, karena itu, mereka telah memperlihatkan permainan ilmu yang kurang baik!"
Setelah berkata begitu, dengan sikap mempersilakan, tampak tangan orang tua itu telah diacungkan.
Dia mempersilakan jika di antara tamu-tamu itu ada yang bersedia uutuk maju ke atas panggung, untuk pibu.
Tiba-tiba Ko Tie dan Giok Hoa melihat, seorang pemuda berusia hampir tigapuluh tahun telah melompat naik ke atas panggung.
Gerakan tubuhnya begitu ringan waktu ke dua kakinya hinggap di atas panggung.
Sama sekali tidak mengeluarkan suara dan juga mereka melihat bahwa mata pemuda itu memiliki sinar tajam.
Di kala itu terlihat pemuda itu merangkapkan ke dua tangannya memberi hormat, sambil katanya, "Maaf, boanpwe Tie Koay Cie ingin sekali main-main untuk menambah kegembiraan.
Dan siapakah di antara tuan-tuan yang bersedia menemani?!"
Terdengar suara tertawa tawar, disusul dengan melesatnya sesosok bayangan ke atas panggung.
"Aku yang rendah Wu Cie Lin ingin sekali main-main untuk menambah pengalaman!"
Dan orang itu ternyata seorang pemuda berusia duapuluh lima tahun, memakai baju di sebelah atas berwarna putih, sedangkan celananya warna coklat.
Ia membawa sepasang pedang di punggungnya.
Demikianlah, ke dua pemuda itu setelah basa-basi, segera mulai bergerak.
Semua orang menyaksikan pertempuran kali ini lebih tertarik, karena ke dua pemuda yang tengah mengukur ilmu tersebut merupakan orang-orang yang jauh lebih lihay dibandingkan dengan ke dua orang anggota muda dari Ang-kie-pay.
Ko Tie dari Giok Hoa yang tengah menyaksikan pertempuran itu, tiba-tiba mendengar orang di samping mereka berkata perlahan kepada kawannya.
"Kita sudah boleh mulai bertindak!?"
"Tunggu dulu, sabar, kita tidak boleh ceroboh! Sekarang mereka berkumpul semuanya, yang terdiri dari orang-orang yang kepandaiannya tidak rendah! Jika kita meleset dalam perhitungan, niscaya kita yang celaka……!"
Ko Tie melirik.
Dia melihat orang yang tengah bercakap-cakap itu adalah dua orang laki-laki setengah baya, yang masing-masing memiliki wajah yang kejam dan bengis.
Mata mereka tengah memandang tajam sekali ke panggung.
Pakaian orang yang satunya, yang berada di samping Ko Tie berwarna hijau, sedangkan yang seorang lagi berwarna kuning.
Di saat itu yang berpakaian hijau telah berkata perlahan sekali.
"Walaupun bagaimana usaha kita kali ini harus berhasil. Jika gagal berarti untuk selanjutnya tidak ada kesempatan buat kita menancapkan kaki di Bu-ciu……!"
Yang memakai baju warna kuning cuma mengangguk.
Ko Tie jadi tertarik.
Entah apa yang hendak dilakukan ke dua orang ini.
Tapi melihat cara berkata-kata mereka, tampaknya mereka memang bukan hendak melakukan sesuatu yang baik.
Karenanya diam-diam Ko Tie jadi memperhatikan gerak gerik mereka.
Ko Tie dan Giok Hoa memakai baju warna abu-abu sebagai anak sekolahan.
Karena itu, orang yang memakai haju hijau dan kawannya yang memakai baju kuning, sama sekali tidak mencurigai Ko Tie maupun Giok Hoa.
Mereka bicara walaupun bisik-bisik, tampaknya mereka leluasa sekali dan sangat berani.
Ko Tie masih memperhatikan beberapa saat, akhirnya ia mendengar yang memakai baju warna hijau itu telah berkata perlahan kepada kawannya.
"Mari kita mulai……!"
Kawannya cuma mendengus saja, dan ikut bangun berdiri.
Mereka meninggalkan tempat duduk mereka, untuk menyelusup ke tempat lain.
Ko Tie pesan kepada Giok Hoa, agar kawannya tetap berdiam di situ, sedangkan dia sendiri telah mengikuti ke dua orang itu.
Giok Hoa mengangguk sambil tersenyum.
Ternyata ke dua orang yang diikuti oleh Ko Tie menuju ke tepi telaga sebelah utara di mana keadaan di situ sepi, tidak terdapat seorang manusiapun juga.
Orang-orang Ang-kie-pay pun justeru berkumpul di sekitar panggung.
Ko Tie menjejakkan ke dua kakinya, tubuhnya melesat ke atas sebatang pohon.
Dia menyembunyikan diri di situ, mengawasi gerak-gerik ke dua orang tersebut.
Orang yang memakai baju hijau telah mendekatkan tangannya pada bibirnya, maka terdengarlah suara siulan yang nyaring dan disusul kemudian dari tempat yang rimbun, melesat keluar beberapa orang.
Gerakan mereka sangat gesit sekali, dan telah sampai pada ke dua orang itu, yang segera berkata.
"Kita akan gembira bekerja…… waktunya telah tiba.....!"
"Ya Tong-cu……!"
Menyahuti orang-orang yang baru keluar, yang semuanya mengenakan baju singsat dan usia mereka rata-rata pertengahan umur.
Ko Tie semakin heran, entah apa yang hendak dilakukan mereka, karena mereka seperti juga telah merencanakan untuk melakukan sesuatu yang diperhitungkan benar.
Waktu itu orang yang memakai baju warna hijau telah berkata dengan sikap sungguh-sungguh.
"Jika sekali ini kita gagal, maka habislah kita…… karena Ang-kiepay memang bermaksud menelan perkumpulan kita. Karena itu, kalian harus bekerja sebaik-baiknya!"
"Ya…… kami mengerti!"
Menyahuti beberapa orang itu.
"Nah, pergilah kalian melaksanakan perintah!"
Kata orang yang memakai baju warna kuning.
Orang-orang yang berjumlah delapan orang itu telah berlari ke tepi telaga, lalu mereka menyelam ke dalam air, lenyap tidak terlihat lagi.
Hanya terlihat air yang bergerak perlahan.
Rupanya mereka berdelapan telah menyelam sambil berenang menghampiri kapal besar itu.
Orang yang memakai baju hijau dan kuning memperdengarkan tertawa dingin mereka.
Keduanya segera pergi ke balik sebatang pohon untuk menempatkan diri mereka di situ.
Baru saja Ko Tie hendak berlalu, pergi ke atas kapal besar itu, guna melihat, siapakah sebenarnya orang-orang yang berkumpul di dalam kapal itu, mendadak sekali terdengar suara orang tertawa dingin.
"Hemmm, kami tidak pernah menyangka sama sekali bahwa Houw-sim-pay (Perkumpulan Hati Harimau) ternyata hanya terdiri dari manusia-manusia rendah dan tidak tahu malu!"
Ko Tie melirik ke arah datangnya suara itu.
Tampak seorang Tojin tua berusia hampir tujuhpuluh tahun, melangkah keluar dengan langkah yang ringan.
Mukanya lancip seperti muka burung.
Matanya bersinar sangat tajam sekali.
Di waktu itu orang yang memakai baju hijau dan kuning kaget bukan main.
Namun mereka cepat bisa menguasai diri, karena mereka telah melompat berdiri dan menghadapi si Tojin.
"Ohhhhh, tidak tahunya Oey Tojin!"
Kata yang memakai baju hijau.
"Tidak kami sangka bahwa Oey Tojin yang memiliki nama sangat terkenal di dalam rimba persilatan, tidak hanya seorang manusia rendah tukang mengintip dan mencuri dengar percakapan orang lain……"
Muka Tojin itu berobah bengis. Memang mukanya sudah bengis, sekarang dia dalam keadaan gusar, maka dia tampaknya jadi lebih bengis, sedangkan matanya juga memancarkan sinar yang sangat tajam.
"Jangan bicara sembarangan ngaco balau!"
Bentak Tojin itu dengan suara mengandung kemarahan.
"Siapa yang mencuri dengar percakapan kalian? Hemmm, memang beruntung pinto mengetahui kalian memiliki maksud buruk, maka pinto telah menguntit kalian.
"Benar saja kecurigaan kami itu memperoleh kenyataan, bahwa kalian merupakan manusia-manusia rendah! Apa maksud kalian untuk menghancurkan kami? "
Hemm, beruntung saja kami telah menduga sebelumnya. Kami telah mengadakan persiapan! Nah, sekarang coba kalian berpaling. Lihatlah! Apa yang terjadi itu.....!"
Sambil berkata begitu, Tojin tersebut memperdengarkan suara tertawanya, tertawa mangejek.
Sedangkan orang berbaju hijau dan kuning itu telah mendatangi ke tengah telaga.
Benar saja air telaga telah berubah menjadi merah, disusul dengan mengambangnya beberapa sosok tubuh.
Tidak lain yang mengambang sosok mayat di tengah-tengah telaga itu adalah kawan-kawan mereka.
Saling susul satu demi satu telah mengambang, akhirnya jumlahnya genap delapan orang, yang telah mati…… mengambang menjadi mayat!"
"Hemmm!"
Tojin itu mendengus mengejek, waktu melihat muka orang berbaju hijau dan kuning itu memandang tertegun dengan wajah yang berobah memucat.
"Sekarang kalian telah menyaksikan, betapapun juga Ang-kie-pay bukanlah sebangsa perkumpulan yang mudah untuk dipermainkannya.....!"
Dan Tojin tersebut segera memperdengarkan suara tertawanya yang sangat nyaring sekali.
Suara tertawanya itu seperti juga menggema di sekitar tempat tersebut.
Sedangkan dari dalam telaga telah bermunculan beberapa orang yang berpakaian serba merah.
Mereka berjumlah lima orang.
Di tangan masing-masing tergenggam pedang, yang waktu itu berkilauan, karena darah di pedang itu telah tercuci oleh air telaga.
Dan pedang-pedang itulah yang telah menghabisi jiwa dari delapan orang anak buah orang yang memakai baju hijau dan kuning itu.
"Oey Tojin, betapa rendahnya kalian!"
Bentak orang yang memakai baju hijau dengan sengit sekali.
"Engkau telah memasang jaring buat kami!"
"Menghadapi manusia-manusia rendah seperti kalian, mengapa harus sungkan?!"
Menyahuti Tojin itu dengan suara yang tawar.
"Hemm, bukankah kalian justeru bermaksud buruk terhadap kami? Jika kami tidak mengadakan penjagaan yang ketat, niscaya kalian dapat melaksanakan maksud buruk kalian……!"
Setelah berkata begitu, Tojin tersebut telah tertawa bergelak-gelak.
Orang yang memakai baju hijau dan kuning tidak bisa menahan kemarahan mereka lagi.
Seperti juga mereka berdua telah berjanji, dengan gesit sekali dan sangat cepat, ke duanya telah menjejakkan kaki mereka masing-masing dan tubuh mereka telah melesat ke depan Tojin itu.
Tangan mereka buat menghantam.
Kuat sekali tenaga pukulan mereka, yang datang dari sebelah samping kanan dan kiri Tojin itu, karena orang yang memakai baju hijau dan kuning itu telah memperhitungkan serangan mereka tersebut, di mana memang mereka bermaksud buat menyerang serentak, agar Tojin itu tidak memiliki kesempatan lagi buat mengelakkan diri dari serangan mereka.
Tapi Tojin itu memang tabah dan lihay.
Ia tidak gentar menghadapi pukulan ke dua orang lawannya tersebut, karena dengan segera ia telah mengeluarkan tertawanya yang panjang, tahu-tahu ke dua tangannya diputar.
Akibat tangannya yang diputar cepat seperti itu, menimbulkan angin yang berkesiuran dan juga telah membuat pukulan ke dua lawannya terbendung.
Dan dikala orang yang memakai baju hijau dan juga yang memakai baju kuning, tengah terkejut.
Mereka hendak menarik pulang tenaga mereka ketika melihat serangan mereka gagal.
Di waktu itulah dengan cepat sekali terlihat betapa Oey Tojin telah menghantam dengan kedua tangannya lagi, maka seketika terlihat tubuh orang yang berbaju hijau dan kuning itu terpental, sebab mereka tidak bisa menangkis.
Juga datangnya pukulan itu sangat cepat, di samping ilmu pukulan Tojin tersebut memang merupakan ilmu pukulan yang lihay.
Ko Tie yang tengah mengintai, diam-diam, terkejut.
"Telengas sekali tangan Tojin itu!"
Pikir Ko Tie yang segera dapat mengenali ilmu pukulan Tojin tersebut adalah ilmu pukulan yang dinamakan "Menghancurkan Jantung Memutuskan Otot"
Semacam ilmu pukulan sesat yang sangat ganas sekali.
Sedangkan orang yang memakai baju hijau dan kuning, terpental cukup jauh.
Dan mereka berusaha untuk berdiri.
Memang berhasil mereka berdiri kembali, namun dari mulut mereka segera memuntahkan darah segar……!
Melihat muka orang yang memakai baju hijau dan kuning itu pucat pias, tampak Oey Tojin tertawa bergelak-gelak.
"Hemmm, seperti delapan orang kawan kalian, maka kalian berdua juga tidak dapat meloloskan diri dari tangan kami, Ang-kie-pay!"
Mengetahui bahwa Tojin ini sebagai anggota dari Ang-kie-pay memiliki tangan yang begitu telengas, dan hati yang sangat kejam, seketika Ko Tie memperoleh kesan yang pasti, bahwa Ang-kie-pay pasti sebuah perkumpulan yang kejam dan jahat, yang termasuk dalam golongan hitam!
Di waktu itu, Oey Tojin telah melangkah setindak demi setindak menghampiri ke dua orang lawannya.
Orang yang memakai baju hijau dan baju kuning jadi panik juga.
Mereka gentar setelah mengetahui bahwa Tojin itu sangat lihay, dan juga mereka memang bukan jadi tandingannya.
Apa lagi dikala itu mereka telah terluka di dalam yang tidak ringan.
Melihat Oey Tojin menghampiri mereka, ke dua orang ini, yang memakai baju hijau dan kuning mundur setindak demi setindak ke belakang.
Dan mereka bermaksud untuk meloloskan diri saja.
Hanya, ke lima orang pemuda yang memakai baju berwana merah, telah menghampiri dan mengurung mereka, berusaha buat mencegah mereka melarikan diri.
Pedang mereka telah melintang, siap dipergunakan sembarang waktu yang diperlukan.
Orang yang memakai baju warna hijau dan kuning itu menyadari, bahwa mereka sulit ingin meloloskan diri, maka yang memakai baju hijau segera jadi nekad, katanya dengan suara yang bengis.
"Hemmm, Oey Tojin, jika memang engkau memiliki kepandaian yang tinggi, bunuhlah kami! Memang kami tidak berdaya kali ini terhadapmu, tapi kau jangan gembira dulu! "
Kami tidak takut buat mati, tapi kematian kami tidak akan sudah sampai di sini saja.
Pangcu kami tentu akan mengadakan pembalasan yang jauh lebih hebat lagi kepada kalian." Waktu berkata begitu, muka si baju hijau yang memang telah pucat itu, tampak bengis mengandung kekecewaan, putus asa dan nekad.
Sedangkan yang berpakaian warna kuning, juga jadi nekad.
Namun ia tidak banyak bicara, karena tahu-tahu tubuhnya telah melesat menerjang kepada Oey Tojin.
Dia menerjang sambil mengulurkan ke dua tangannya, karena ia bermaksud hendak mencengkeram batok kepala imam itu.
Belum lagi kakinya terpisah jauh dari tanah, orang yang memakai baju kuning itu telah menjerit, jerit kematian.
Dia kemudian rubuh di tanah, karena dia telah ditabas oleh pedang salah seorang anak buah Ang-kie-pay.
Waktu melihat orang memakai baju kuning hendak maju, dengan segera pedangnya itu bergerak menabas punggung orang berbaju kuning.
Dia rubuh di tanah, dan hanya menggeliat satu kali, kemudian diam tidak herkutik lagi, karena memang napasnya telah putus.
Sedangkan kawannya yang memakai baju warna hijau, jadi berdiri menjublek.
Dia menyadari, kalau saja memang hendak melakukan pembalasan, berarti diapun akan menemui ajal seperti kawannya.
Karena memang di waktu itu diapun tengah terluka parah dan tidak berdaya.
Dengan muka yang pucat pias, dikala si imam telah tertawa bergelak-gelak, orang yang memakai baju hijau itu bilang.
"Bunuhlah aku..... jangan harap kalian bisa menghina kami! Aku tidak akan gentar menghadapi kematian!"
Oey Tojin tertawa mengejek.
"Kau ingin mampus? Justeru aku tidak bermaksud kau mati cepatcepat. Aku menginginkan engkau berangkat ke akherat tidak terburu-buru, perlahan-lahan. Itulah kematian yang paling menyenangkan! "
Hemm, sekarang engkau harus menjelaskan dulu, apa maksudmu datang untuk mengacaukan pesta yang diselenggarakan Ang-kiepay?!"
Waktu bertanya seperti itu, muka Oey Tojin bengis bukan main, matanya mendelik memancarkan sinar yang tajam.
Sebetulnya, Ko Tie melihat orang yang memakai baju kuning telah dibunuh mati, hendak turun tangan, guna melindungi orang yang memakai baju hijau.
Namun, ia jadi tertarik mendengar Oey Tojin itu menanyakan apa maksud dari orang berbaju hijau itu mengacau di situ.
Segera juga Ko Tie tersadar, walaupun bagaimana memang dia belum lagi mengetahui, urusan apa yang sesungguhnya terjadi antara Ang-kie-pay dengan perkumpulan dari orang berbaju hijau itu.
Maka dari itu, Ko Tie batal melompat keluar dari tempat persembunyiannya.
Dia berdiam diri saja, ingin menantikan jawaban dari orang berbaju hijau tersebut.
Sedangkan orang berbaju hijau itu tertawa dingin.
"Jika ingin bunuh, bunuhlah! Mengapa harus banyak bicara lagi? Tidak sepatah katapun juga aku akan memberikan keterangan kepada kalian!"
Melihat ketegasan sikap dari orang berbaju hijau itu, Oey Tojin mengangguk-angguk dengan wajah yang bengis. Dia melangkah dua tindak menghampiri.
"Baiklah, rupanya engkau memang mencari mampus!"
Sambil berkata begitu, tangan kirinya bergerak.
Tangan kanannya membarengi menyambar.
Itulah merupakan pukulan mengandung maut, telengas sekali.
Tapi, waktu orang berpakaian serba hijau itu putus asa dan memejamkan matanya, tahu-tahu berkelebat sesosok bayangan, yang menyampok dengan tangan kanannya buat menangkis pukulan yang dilakukan Oey Tojin.
Tubuh Oey Tojin terhuyung sampai tiga tindak.
Baca Juga: Mestika Golok Naga Kho Ping Hoo
Baca Juga: Sepasang Garuda Putih 5