Ceritasilat Novel Online

Sepasang Garuda Putih 5

Eps 5 Sepasang Garuda Putih - Kho Ping Hoo

Baca online Sepasang Garuda Putih - Kho Ping Hoo

Cersil Sepasang Garuda Putih - Kho Ping Hoo.

Serangan ini cepat dan dari sambaran anginnya dapat diketahui bahwa pukulan-pukulan itu mengandung tenaga yang kuat.

"Haiiiit...!"

Dengan berlagak si jenggot kambing itu memutar tubuh menghindari cengkeraman ke arah matanya dan tangan kirinya digerakkan dari samping untuk menangkis dan sekaligus menangkap tangan kanan gadis itu yang memukul ke arah perutnya.

Namun Sarmini gesit sekali.

Ia sudah menarik kembali tangan kanannya yang hendak ditangkap itu, kemudian ia mengirim tendangan dengan kaki kiri.

Kakinya mencuat tinggi menuju dada lawan.

"Eeh...?"

Si Jenggot kambing terkejut sekali karena hampir saja ulu hatinya tercium ujung kaki.

Terpaksa dia melompat ke belakang, lalu membalas serangan gadis itu yang datangnya bertubi-tubi.

Namun Sarmini amat gesitnya dan selalu dapat menghindarkan diri dari serangan balasan itu dengan jalan mengelak.

Pertandingan sudah berlangsung empat puluh jurus dan keadaan mereka seimbang.

Si Jenggot kambing itu memiliki pukulan yang lebih mantap akan tetapi Sarrnini jelas lebih cepat gerakannya sehingga ia yang lebih banyak menekan dan mendesak.

Tiba-tiba Sarmini menerjang lagi dan sekali ini ia bergerak sambil, mengeluarkan teriakan melengking tinggi.

Mendengar lengking nyaring ini, si jenggot kambing terkejut bukan main dan saking kagetnya, gerakannya menjadi lambat dan sebelum dia tahu apa yang terjadi, tiba-tiba Sarmini meloncat dan kedua kakinya mendarat di dadanya!

"Bresss...!!"

Si jenggot kambing terjengkang dan terbanting keras ke atas tanah.

Sebelum Sarmini dapat menyusulkan serangan lanjutan, dia sudah mencabut goloknya dan memutar golok itu melindungi tubuhnya.

Sarmini meloncat ke belakang.

"Pengecut! kau menggunakan senjata!"

Si jenggot kambing itu bangkit berdiri,dengan muka merah dan dia berkata.

"Aku memang terdesak dalam pertandingan dengan tangan kosong. Akan tetapi bukan berarti bahwa aku telah kalah. Aku tantang padamu untuk bertanding dengan senjata!"

Ucapannya dikeluarkan dengan suara lantang untuk menutupi rasa malunya karena dalam pertandingan tangan kosong tadi jelas bahwa dia sudah kalah. Sarmini tersenyum manis.

"Engkau yang menentukan, kalau nanti engkau mampus di ujung kerisku jangan menyalahkan aku!"

Katanya sambil mencabut sebatang keris dari ikat pinggangnya.

Keris itu kecil saja, hanya dua jengkal panjangnya dan tidak berluk, namun ada sinar mencuat keluar ketika ia mencabutnya.

Setelah melihat gadis itu mancabut kerisnya, si jenggot kambing tidak berlagak lagi seperti tadi, melainkan segera memutar goloknya di atas kepala sehingga golok itu berubah menjadi sinar bergulung-gulung dan mengeluarkan suara bercuitan.

Melihat ini, Retno Wilis mengkhawatirkan Sarmini, akan tetapi Bagus Seto yang berdiri di dekatnya berbisik.

"Ia tidak akan kalah."

Si jenggot kambing sudah menyerang dengan sambaran goloknya ke arah leher Sarmini.

Namun gadis ini dengan lincah dan dengan gerakan indah mengelak dengan loncatan ke kiri dan dari situ ia membalas dengan tusukan kerisnya ke lambung lawan.

Lawannya dapat mengelak sambil memutar golok melindungi lambungnya, kemudian menusukkan goloknya ke arah dada Sarmini.

Namun serangan inipun dengan mudah dapat dihindarkan Sarmini dengan miringkan tubuhnya.

Terjadilah serang menyerang yang lebih ramai dan menegangkan dari pada pertandingan tangan kosong tadi.

Kini si jenggot kambing tidak lagi membiarkan hatinya terpikat kecantikan gadis itu, melainkan dia berusaha keras untuk menebus kekalahannya.

Kalau perlu melukai atau bahkan membunuh lawannya.

Setiap kali golok bertemu keris, terdengar suara berdencing nyaring dan tampak bunga api berpijar menyilaukan mata dan menegangkan hati.

Kembali tiga puluh jurus telah lewat dan belum ada yang tampak mendesak atau terdesak.

Ketika golok itu kembali meluncur dan membacoknya dari atas ke bawah, ke arah kepalanya, seolah hendak membelah tubuh gadis itu menjadi dua, dengan indahnya Sarmini mengelak kekanan dan kini secepat kilat kerisnya menyambar ke arah tangan yang memegang golok.

"Lepaskan...!"

Bentaknya nyaring dan si jenggot kambing mengeluarkan teriakan mengaduh dan goloknya terlepas dari tangannya yang kini sudah berdarah, terluka oleh tusukan keris Sarmini.

Sarmini menyusulkan tendangannya yang mengenai dada lawan dan tak dapat dihindarkan lagi tubuh si jenggot kambing itu untuk ke dua kalinya terjengkang!

Dia merangkak bangun, terhuyung dan kembali ke rombongannya, wajahnya merah karena malu.

Sarmini menggunakan kakinya untuk menendang golok yang terjatuh itu sehingga golok itu mencelat ke dekat kaki pemilik yang memungutnya dengan muka ditundukkan.

Tepuk sorak menyambut kemenangan Sarmini itu dan semua anak buah Jambuko Cemeng merasa girang dengan kemenangan puteri ketua mereka.

Kini Saroji melangkah maju menggantikan adiknya.

Sambil tersenyum dia menantang.

"Siapa yang akan melawan aku?"

Sementara itu, Sarmini sudah kembali ke dekat ayahnya. Ia mendekati Bagus Seto dan Retno Wilis, tersenyum bangga.

"Waduh, diajeng, ternyata engkau seorang gadis yang sakti!"

Retno Wilis memuji.

"Ah, lawanku itu saja yang hanya besar mulut akan tetapi tidak berisi."

Jawab Sarmini sambil mengerling ke arah Bagus Seto. Karena beberapa kali dilirik, Bagus Seto merasa tidak enak kalau berdiam saja.

"Andika memang hebat, dapat mengalahkan seorang yang digdaya seperti dia."

Dipuji demikian, Sarmini tersipu dan senyumnya semakin manis.

Ia lalu mendekati ayahnya yang merasa girang dan merangkul puterinya dengan bangga.

Agaknya kini baru terbuka mata lima orang dari perkumpulan bajak Bala Cucut itu betapa hebatnya kepandaian pimpinan Jambuko Cemeng.

Melihat kehebatan gadis yang telah mengalahkan saudara termudanya, pimpinan Lima Naga itu tidak mau bertindak gegabah.

Dia dapat menduga bahwa tingkat kepandaian pemuda itu tentu lebih tinggi dari pada tingkat adiknya.

Oleh karena itu, dia sendiri yang melangkah maju menghadapi Saroji.

"Akulah yang akan menghadapimu, orang muda. Aku tantang engkau untuk bertanding dengan senjata!"

Dia memutar-mutar goloknya di atas kepala sehingga mengeluarkan bunyi berdesing-desing menyeramkan.

"Baik,"

Kata Saroji dan dia menoleh kepada ayahnya. Ki Haryosakti tertawa dan dia melemparkan tombak yang dipegangnya kepada puteranya sambil berseru.

"Pergunakan tombakku!"

Saroji menerima lontaran tombak itu dengan cekatan dan dia melintangkan tombak itu di depan dadanya dan berseru.

"Silakan maju, aku sudah siap!"

Si mata lebar juga tidak sungkan lagi. Begitu melihat pemuda itu menggunakan tombak yang dilontarkan ayahnya, dia lalu menerjang maju sambil memutar goloknya. Pemuda itu menangkis dengan tombaknya.

"Trang-cring-tranggg...!!"

Terdengar bunyi nyaring berdenting berulang kali disusul muncratnya bunga api yang berpijar.

Mereka merasa betapa senjata mereka bertemu dengan tenaga yang kuat.

Mereka menarik kembali senjata masing-masing untuk memeriksa.

Setelah melihat bahwa senjata mereka tidak rusak, mereka lalu saling serang lagi dengan hebatnya.

Ilmu kepandaian si mata lebar ini memang setingkat lebih tinggi dari pada kepandaian rekan-rekannya, akan tetapi Saroji juga telah memiliki ilmu kepandaian tinggi yang diwarisi dari ayahnya.

Kedua orang yang bertanding mati-matian itu bergerak cepat sekali sehingga tubuh mereka berkelebatan di antara sinar golok dan tombak.

Retno Wilis memandang kagum.

Pemuda itu cukup tangguh, pikirnya dan ia dapat menduga bahwa bajak bermata lebar itu tentu akan kalah.

Pertandingan sudah berlangsung lima puluh jurus dan mulai tampak tanda-tanda bahwa bajak itu mulai terdesak mundur dan pernapasannya sudah ngos-ngosan.

Sebaliknya, gerakan tombak Saroji semakin mantap.

Ketika mendapat kesempatan baik, Saroji mengeluarkan bentakan nyaring.

Bentakan ini sama dengan bentakan adiknya tadi, mengandung wibawa dan pengaruh kuat sehingga Retno Wilis dan Bagus Seto tahu bahwa dua orang kakak beradik itu sudah menerima latihan kekuatan bathin dari ayahnya.

Si mata lebar juga terkejut.

Dia tahu bahwa lawannya yang muda mengerahkan aji lewat bentakannya.

Dia mengerahkan tenaga untuk menolak, akan tetapi kekagetannya yang hanya sejenak itu merugikannya.

Kesempatan selagi dia terkejut tadi sudah dipergunakan oleh Saroji untuk menggerakkan tombaknya menyapu kedua kaki lawan.

Si mata lebar tidak mampu mengelak dan kedua kakinya kena diserampang, membuat dia roboh terpelanting dan pada saat dia roboh, Saroji sudah menusukkan ujung tombaknya pada tangan kanannya yang memegang golok.

Tangannya terluka dan golok itupun terlepas dari pegangannya.

Dia hendak melompat bangun, akan tetapi secepat kilat ujung tombak sudah menodong dadanya sehingga terpaksa dia diam tidak berani bergerak.

"Engkau telah kalah!"

Kata Saroji kepada pemimpin Lima Naga itu. Si mata lebar menjadi pucat mukanya, lalu berubah merah dan dengan suara berat dia mengakui.

"Aku sudah kalah!"

Saroji menarik kembali tombaknya dan tersenyum sambil mundur mendekati ayahnya dan mengembalikan tombak itu.

Bagus Seto merasa senang melihat sikap Sarmini dan Saroji.

Dua orang muda ini berhati baik, tidak kejam terhadap musuh sehingga tidak membunuh atau melukai berat.

Dua sifat baik ini dia catat dalam hatinya.

"Bagus ilmu tombaknya,"

Retno Wilis juga memuji dan Bagus Seto melirik ke arah adiknya yang memandang ke arah pemuda itu dengan kagum.

"Wataknya juga baik,"

Kata Bagus Seto sambil tersenyum. Kini Ki Haryosakti melangkah maju membawa tombaknya.

"Dua orang di antara kalian berlima sudah kalah. Sekarang tinggal tiga orang lagi di antara kalian. Kalian bertiga boleh maju kalau masih penasaran, dan kalian bertiga boleh maju bersama untuk mengeroyok aku! Dua orang yang sudah kalah, kalau tidak mengenal malu, boleh maju pula membantu!"

Tantangan ini hebat.

Lima Naga itu jelas memiliki ilmu kepandaian tinggi dan biarpun mereka tidak akan menang melawan Ki Haryosakti kalau maju satu-satu, akan tetapi ketua Jambuko Cemeng ini menantang mereka bertiga, bahkan berlima!

Akan tetapi ucapannya membuat si mata lebar dan si jenggot kambing merasa malu untuk maju lagi karena mereka memang sudah kalah.

Kini tiga orang dari mereka melompat maju sambil menggerakkan golok, dan mereka merasa berbesar hati.

Biarpun kedua orang rekan mereka sudah kalah, mereka bertiga belum kalah.

Dan biarpun kini yang dihadapi adalah ketua Jambuko Cemeng sendiri yang tentu lebih tinggi tingkat kepandaiannya, namun mereka maju bertiga.

Tidak mungkin mereka bertiga kalah oleh seorang lawan saja!

"Kakang, mengapa dia begitu berani?"

Bisik Retno Wilis kepada kakaknya sambil memandang kepada tiga orang yang sudah berhadapan dengan Ki Haryosakti. Bagus Seto tersenyum.

"Dia sudah melihat tingkat kepandaian mereka, tentu saja dia menjadi berani karena sebelumnya sudah tahu bahwa dia akan menang."

Kini berlangsunglah pertandingan yang mendebarkan hati.

Ki Haryosakti melawan tiga orang pengeroyok yang mempergunakan golok mereka.

Dan tiga orang itu tidak hanya main-main, melainkan mengeroyok dengan niat membunuh.

Golok mereka menyambar-nyambar bagaikan kilat dari segala jurusan.

Akan tetapi Ki Haryosakti ternyata memiliki ilmu tombak yang amat hebat.

Gerakannya sama dengan yang dimainkan Saroji tadi, akan tetapi lebih cepat dan jauh lebih kuat dari pada tadi.

Kini, setiap kali golok lawan bertemu dengan tombak, golok itu pasti terpental dan hampir terlepas dari pegangan pemiliknya.

Perkelahian itu seperti tiga ekor anjing mengeroyok seekor harimau.

Tak pernah tiga orang pengeroyok itu mampu mendesak Ki Haryosakti.

Bagus Seto dan Retno Wilis memandang kagum.

Mereka berdua maklum bahwa Ketua Jambuko Cemeng itu memang benar-benar amat tangguh.

Kedigdayaan ini masih ditambah lagi dengan kekuatan ilmu sihirnya yang dapat menguasai orang lain melalui bentakan.

"Perkelahian itu tidak akan lama."

Pikir Retno Wilis.

Dan memang demikianlah belum sampai tiga puluh jurus, Ki Haryosakti berseru tiga kali, sinar tombaknya menyambar-nyambar dan tiga orang itu terjengkang dan terkapar tewas dengan dada tertembus tomhak!

Seperti tadi ketika Sarmini dan Saroji keluar sebagai pemenang, kini kemenangan Ki Haryosakti disambut sorak sorai para anggauta Jambuko Cemeng.

Dua orang di antara lima orang penyerbu yang sudah kalah tadi, memandang dengan muka pucat kepada tiga orang rekannya yang sudah tidak bernyawa.

Ki Haryosakti tertawa dan berkata kepada mereka berdua yang bermuka pucat.

"Ha-ha-ha-ha! Kami sengaja membiarkan kalian berdua hidup untuk dapat membawa pergi tiga mayat ini dan melaporkan kekalahanmu kepada ketuamu. Kalau Ketua Bala Cucut tidak terima, dia boleh datang untuk mengantar nyawanya ke sini. Ha-ha-ha!"

Mendengar ucapan itu, si mata lebar dan si jenggot kambing cepat-cepat mengangkat tiga mayat rekan-rekan mereka dan segera pergi dari tempat itu.

Mereka tidak dapat berkata apa-apa lagi dan mereka meninggalkan pintu gerbang perkampungan Jambuko Cemeng.

Ki Haryosakti memandang kepada Bagus Seto dan Retno Wilis lalu tertawa bangga.

"Bagaimana pendapat andika berdua dengan peristiwa tadi?"

Retno Wilis tidak menjawab, maka Bagus Seto yang menjawab.

"Peristiwa tadi membuktikan bahwa kepandaian andika dan kedua putera andika amat tinggi. Akan tetapi sayang, sikap andika hanya akan mendatangkan ke ributan dan pertengkaran."

"Eh, kenapa begitu, anakmas?"

Tanya Ki Haryosakti sambil memandang kepada Bagus Seto dengan penasaran.

"Paman telah membunuh tiga orang tokoh Bala Cucut dan membiarkan yang dua orang pulang melapor kepada pimpinan mereka, maka tentu pimpinan Bala Cucut tidak akan tinggal diam dan akan menyerang ke sini."

"Ha-ha-ha, kalau benar, dia berani datang, takut apa? Aku akan membunuhnya. Memang Bala Cucut sudah lama mencari perkara, berani merampoki dusun di sekitar pantai yang masih termasuk wilayah kami. Mari kita lanjutkan pesta kita yang tadi terganggu."

Dia mengajak dua orang tamunya untuk memasuki rumah besarnya dan ditemani isterinya, Saroji dan Sarmini, mereka lalu makan minum.

"Terima kasih atas kebaikan paman,"

Kata Bagus Seto.

"Setelah kami dijamu makanan dan diterima dengan hormat, kini kami akan mohon diri untuk melanjutkan perjalanan kami."

"Eh-eh, nanti dulu. Dan jangan menyebut aku dengan sebutan paman. Terus terang saja setelah melihat diajeng Retno Wilis, timbul keinginan hatiku untuk mengangkatnya menjadi isteriku. Bagaimana pendapatmu, adimas Bagus Seto?"

"Ayah...!"

Kembali Sarmini berseru penasaran.

"Diam kau !"

Bentak ayahnya, lalu berkata kepada Retno Wilis.

"Diajeng Retno Wilis, maukah andika menjadi isteriku. Aku adalah seorang yang suka berterus terang dan jujur, maka kusampaikan keinginan hatiku itu tanpa pura-pura lagi. Bagaimana pendapat andika berdua?"

Sepasang mata Retno Wilis sudah mencorong tanda bahwa ia marah sekali, akan tetapi Bagus Seto tersenyum kepadanya.

"Urusan perjodohan adalah urusan yang penting sekali, oleh karena itu, perkenankan kami kakak beradik untuk merundingkan hal ini lebih dulu berdua saja."

"Ah, tentu saja! Tentu saja boleh, hanya asal andika berdua mengetahui saja bahwa aku, Ki Haryosakti kalau sudah menghendaki sesuatu, harus tercapai kehendakku itu, dan bahwa aku adalah seorang laki-laki yang bertanggung-jawab, maka jangan khawatir kalau kelak aku akan menyia-nyiakan diajeng Retno Wilis."

Hati Retno Wilis sudah menjadi panas sekali, akan tetapi Bagus Seto lalu memegang tangannya dan mengajak gadis itu menyingkir ke ruangan lain agar dapat berbicara berdua saja.

"Aduh, kakang. Tidak kuat hatiku, kalau engkau tidak membawaku ke sini tentu sudah kuhajar si mata keranjang itu!"

Kata Retno Wilis.

"Sabar dan tenanglah, diajeng. Dia bukan seorang jahat, hanya mata keranjang. Akan tetapi dia jujur, mengaku terus terang di depan isteri dan anak-anaknya. Dan kurasa dia tidak membual saja ketika mengatakan bahwa apa yang diinginkan harus tercapai."

"Apa? Apa maksudmu, kakang? Apakah aku harus menerima saja...!"

"Sabar dulu, jangan terburu nafsu. Kalau engkau marah dan menyerangnya, kita akan berhadapan dengan seluruh anak buah Jambuko Cemeng yang jumlahnya amat banyak. Pula, bukankah kedua puteranya itu merupakan muda mudi yang baik? Sayang kalau sampai kita bermusuhan pula dengan mereka."

"Lalu apa maksudmu sebenarnya?"

"Begini, diajeng. Kita harus menghadapi urusan ini dengan halus. Kita harus menyadarkan Ki Haryosakti dengan cara halus pula. Serahkan saja kepadaku, dan aku yang akan mengatur semuanya. Engkau hanya menyatakan menyerah saja dan nanti kalau diadakan pesta pernikahan, aku yang akan mengatur agar engkau lolos dari urusan ini. Dengan cara ini tidak sampai terjadi ke ributan dengan dia dan anak buahnya. Mereka ini merupakan kekuatan yang lumayan, kalau kita dapat menariknya agar setia kepada Panjalu, tentu amat menguntungkan."

Retno Wilis cemberut.

"Kalau menurutkan kata hatiku, ingin aku menghajar dia sampai dia bertaubat, dan kalau anak buahnya mengeroyok, akan kuhajar semua!"

"Jangan, diajeng. Turutilah nasihatku dan semua ini akan terlewat dengan aman dan baik."

"Baik, sesukamulah, kakang. Aku serahkan kepadamu untuk mengaturnya, akan tetapi aku tetap tidak sudi kalau harus menjawab sendiri dan menyatakan persetujuanku untuk menjadi isteri mudanya!"

"Baik, jangan khawatir, biar aku yang menghadapinya."

Setelah berkata demikian Bagus Seto menggandeng tangan adiknya ke luar dari situ memasuki ruangan di mana Ki Haryosakti masih menanti.

Ketika mereka masuk, Saroji dan Sarmini memandang kepada mereka dengan alis berkerut.

Isteri Ki Haryosakti juga memandang akan tetapi hanya sebentar.

Wanita ini agaknya tidak mempunyai hak suara dalam urusan ini dan hanya tunduk saja menurut apa yang dikehendaki suaminya.

"Ha-ha, kalian telah kembali? Dan bagaimana dengan keputusan jawaban kalian? Aku hanya mengharap agar jawaban itu tidak mengecewakan!"

Kata Ki Haryosakti sambil memandang kepada Retno Wilis dengan matanya yang lebar.

"Diajeng Retno Wilis, bagaimana jawabanmu terhadap pinanganku?"

Dengan terus terang dia bertanya kepada gadis itu. Retno Wilis terpaksa menundukkan mukanya agar jangan tampak betapa ia marah sekali.

"Jawabannya kuserahkan kepada kakangmas Bagus Seto,"

Katanya lirih.

"Bagus, memang seharusnya urusan perjodohan diatur oleh orang tua, dan kakakmu dapat saja mewakili kedua orang tuamu. Bagaimana, adimas Bagus Seto, sudahkah kau menentukan jawaban atas pinanganku?"

"Sudah, kakangmas Haryosakti dan kami berdua setuju dan menyerah saja atas kehendak andika,"

Jawab Bagus Seto dengan suara bersungguh-sungguh.

"Ha-ha-ha, bagus sekali! Kalau begitu, sekarang juga akan kuperintahkan kepada anak buahku untuk bersiap-siap. Pernikahan akan dilangsungkan lusa atau keesokan harinya!"

"Ayah, sudah tepatkah apa yang menjadi keputusan ayah itu?"

Tiba-tiba Saroji berkata kepada ayahnya dengan suara lantang.

"Saroji, apa maksudmu?"

"Ayah, diajeng Retno Wilis masih begini muda, pantaskah menjadi isteri ayah?"

"Tutup mulutmu! Ini bukan urusanmu melainkan urusanku pribadi. Kalau engkau tidak setuju, engkau boleh pergi dari sini!"

"Ayah...!"

Sarmini berseru.

"Sudah, kalian dua orang anak-anak tahu apa! Diamlah dan jangan membuat aku marah!"

Ki Haryosakti membentak. Isterinya hanya menundukkan mukanya, tidak berani mencampuri.

"Sambil menanti datangnya hari pernikahan, kalian berdua menjadi tamu kehormatan di sini, Saroji, Sarmini, antar mereka ke kamar samping. Berikan dua kamar untuk mereka dan layani mereka baik-baik!"

Dua orang anaknya yang diperintah itu lalu bangkit berdiri.

Saroji menghampiri Bagus Seto sedangkan Sarmini menghampiri Retno Wilis.

Bagus Seto dan Retno Wilis juga berdiri dan mengikuti mereka berdua.

Setelah mereka tiba di jajaran kamar di samping rumah besar itu, Saroji tidak dapat menahan kesabarannya lagi dan bertanya kepada Bagus Seto.

"Kakangmas Bagus Seto, apa artinya semua ini? Kenapa andika setuju saja diajeng Retno Wilis diperisteri oleh ayah?"

Pertanyaan ini diajukan dengan suara tidak senang.

"Dan andika ini bagaimana, mbakyu Retno Wilis. Mengapa tidak menolak untuk diperisteri ayah?"

Tanya pula Sarmini kepada Retno Wilis.

Retno Wilis hanya melirik kepada kakaknya.

Kalau menurutkan kata hatinya ingin ia meneriakkan bahwa ia tidak sudi diperisteri Ki Haryosakti.

Bagus Seto tersenyum.

"Ki Haryosakti adalah seorang yang gagah perkasa dan sakti. Kalau kehendaknya tidak dipenuhi tentu dia akan marah kepada kami. Kami terpaksa menerimanya."

"Terpaksa menerima?"

Kata Saroji.

"Kenapa terpaksa? Kalau kalian menolak, kami akan melindungi kalian. Ayah kami tidak pernah berbuat jahat, tentu tidak akan menggunakan kekerasan. Dia hanya tertarik oleh diajeng Retno Wilis dan menyatakan perasaannya itu dengan terus terang. Akan tetapi dia tidak akan memaksa kalau diajeng Retno Wilis menolak!"

Bagus Seto tersenyum.

Dia tahu bahwa pemuda ini kurang pengalaman.

Betapapun baiknya Ki Haryosakti, kalau dia sudah tergila-gila kepada Retno Wilis, maka penolakannya tentu akan mendatangkan ke ributan dan mungkin Ki Haryosakti tidak akan malu malu lagi untuk melakukan pemaksaan.

"Tapi ini tidak pantas!"

Sarmini berkata marah.

"Kalau ayah meminang mbakayu Retno Wilis untuk kakang Saroji, ini namanya pantas. Bukan untuk diri sendiri!"

Wajah Seroji menjadi kemerahan mendengar ucapan adiknya itu.

"Adikku Sarmini, engkaupun pantas sekali kalau menjadi isteri kakangmas Bagus Seto!"

Dia membalas. Sarmini memandang kakaknya dengan pipi merah.

"Ihh, engkau ada-ada saja, kakang!"

Berkata demikian gadis manis itu lalu berlari pergi meninggalkan mereka.

"Jangan khawatir, adimas Saroji. Kalau benar-benar andika tidak setuju dengan niat ayahmu memperisteri adikku, kami akan mengusahakan agar hal itu tidak akan terjadi, dan mudah-mudahan ayahmu dapat menyadari kesalahannya,"

Kata Bagus Seto.

Saroji memandang dengan alis berkerut.

Pemuda itu sudah menyanggupi, sudah menyetujui adiknya menikah dengan ayahnya, bagaimana mungkin hal itu dibatalkan?

"Membatalkan janji merupakan kesalahan besar,"

Katanya.

"Kalau penolakan itu adalah hak kalian. Kenapa tidak menolak saja tadi?"

"Andika tidak mengerti. Sudahlah, harap tidak risaukan hal itu. Aku yang menanggung bahwa pernikahan itu tidak akan terjadi."

Saroji meninggalkan kakak beradik itu dengan hati bertanya-tanya.

Apakah yang akan dilakukan dua orang itu untuk membatalkan pernikahan itu?

Sementara itu, dengan hati senang sekali Ki Haryosakti memimpin para anggautanya untuk membuat persiapan pesta besar-besaran untuk merayakan pernikahannya dengan Retno Wilis.

Perayaan itu diadakan pada senja hari.

Yang menghadiri adalah seluruh penduduk perkampungan itu dan mereka semua mengenakan pakaian baru serba hitam.

Semua penduduk bergembira mendengar ketua mereka hendak menikah dengan gadis jelita yang menjadi tamu agung di perkampungan itu.

Retno Wilis dibawa oleh isteri Ki Haryosakti ke dalam kamar pengantin dan di situ Retno Wilis didandani dengan pakaian pengantin.

Selain seorang wanita yang biasa mendadani pengantin, di situ hadir pula Sarmini dan ibunya.

Isteri KiHaryosakti ini agaknya menerima nasib, tidak tampak berduka walaupun suaminya hendak menikah lagi.

Semua orang sibuk berlalu lalang untuk membantu persiapan pesta.

Tiga ekor sapi dipotong dan entah berapa puluh ekor ayam.

Di dapur, para wanita sibuk memasak dan para pria masih ada yang sibuk menghias ruangan depan yang akan dipakai sebagai tempat pertemuan sepasang mempelai dan tempat duduk para anggauta Jambuka Cemeng.

Karena kini akan menjadi isteri ketua Jambuko Cemang, Retno Wilis juga diharuskan memakai pakaian pengantin yang terbuat dari kain sutera berwarna hitam!

Mukanya memakai kerudung hitam pula sehingga hanya Nampak sedikit dari balik cadar hitam itu.

Bagus Seto sejak tadi tidak tampak akan tetapi hal ini tidak dipedulikan orang.

Gamelan yang berada di ruangan depan sudah dipukul orang sejak sore tadi.

Anak-anak dengan gembira bermain-main di dekat situ sambil menonton gamelan yang mengiringi suara merdu tiga orang penyanyi.

Tempat upacara pertemuan pengantin dan tempat duduk para tamu sudah dirias dengan janur-janur dan kain warna-warni.

Setelah waktunya tiba, pengantin wanita yang memakai cadar itu dibawa keluar kamar pengantin dan dipertemukan dengan pengantin pria sebagaimana mestinya diiringi suara gamelan yang memainkan lagu-lagu pertemuan pengantin, disaksikan oleh semua anggauta Jambuka Cemeng.

Beberapa orang pini sepuh dari perkampungan itu yang melakukan upacara pernikahan itu semua orang mengikuti dengan gembira.

Akhirnya, sepasang pengantin duduk bersanding dan semua tahu mulai berpesta makan minum dengan penuh kegembiraan.

Saroji menghampiri adiknya.

"Eh, kemana perginya kakangmas Bagus Seto? Sejak sore tadi aku tidak melihatnya."

Sarmini mengerutkan alisnya.

"Sejak tadi aku juga mencarinya, akan tetapi dia tidak ada. Jangan-jangan dia pergi meninggalkan tempat ini dengan diam-diam?"

"Mana mungkin?"

Saroji menoleh ke arah pengantin wanita yang duduk dekat ayahnya dengan pandang mata penasaran.

"Tidak mungkin dia meninggalkan adiknya."

"Eh, kakang Saroji, apakah engkau melihat ibu?"

"Tidak, apakah tadi tidak bersama kita?"

"Memang tadi bersama kita semua, ikut membawa pengantin keluar kamar, akan tetapi setelah itu ia tidak tampak lagi. Jangan-jangan ibu menyembunyikan diri untuk melampiaskan kedukaannya, kakang!"

"Selama beberapa hari ini ibu tidak ada perubahan. Ibu telah menerima kenyataan itu dengan sabar. Sungguh mengherankan, kenapa ibu tidak tampak dan kakangmas Bagus Seto juga tidak tampak."

"Mari kita berdua mencari kakangmas Bagus Seto!"

Ajak Sarmini.

"Bagaimanapun juga, dia harus ikut merayakan pesta ini."

Kakak beradik itu lalu keluar dari tempat pesta.

Di luar sunyi, perkampungan itu sunyi karena semua orang pergi ke tempat pesta.

Mereka mencari ke mana-mana namun percuma.

Mereka tidak dapat menemukan Bagus Seto juga tidak tampak ibu mereka di mana-mana.

Tentu saja hal ini membuat mereka berdua terheran-heran dan terpaksa mereka kembali ke tempat pesta yang sudah mulai bubaran karena pesta makan minum sudah selesai.

Sepasang mempelai memasuki kamar mereka dan karena ibunya tidak ada, Sarmini mewakili ibunya mengantar sepasang mempelai ke kamar mereka.

Setelah pintu kamar ditutup, Sarmini masih berdiri termangu di depan kamar itu, pikirannya kacau dan gelisah karena ia tidak melihat ibunya.

Kemana perginya orang tua itu?

Dan mengapa pula Bagus Seto tidak menghadiri pesta perayaan pernikahan adiknya?

Ia teringat akan pembicaraan kakaknya dengan Bagus Seto dan Retno Wilis.

Bagus Seto menyatakan bahwa ia dan kakaknya tidak mengerti, dan menyatakan bahwa dialah yang akan mengurusnya agar pernikahan itu tidak sampai terjadi, bahkan pemuda itu berjanji akan menyadarkan ayahnya.

Akan tetapi seteiah tiba saatnya, pemuda itu pemuda yang amat dikaguminya, ternyata tidak muncul.

Betapa kecewa hatinya!

Tiba-tiba terdengar ayahnya berteriak-teriak dan suara ibunya menangis dari dalam kamar pengantin itu.

"Jahanam, aku telah tertipu! Keluar kau , cari di mana ia!"

Terdengar ayahnya berteriak dan pintu kamar itu terbuka.

Ibunya keluar dan Sarmini terbelalak.

Wanita yang bercadar, berpakaian pengantin itu, adalah ibunya!

Pengantin wanitanya adalah ibunya!

Kemudian Ki Haryosakti meloncat keluar dan melihat Sarmini, dia lalu merangkulnya.

"Ah, kiranya engkau di sini, diajeng Retno Wilis!"

Sarmini hendak dipondongnya. Sarmini meronta.

"Ayah, ini aku, Sarmini! Lepaskan aku!"

Ki Haryosakti juga terbelalak dan bagaikan baru habis mimpi, dia menggosok-gosok kedua matanya.

"Permainan apakah ini? Tiba-tiba ibumu yang menjadi pengantin wanita, dan engkau tadi kulihat seperti Retno Wilis! Siapa yang bermain-main seperti ini?"

Karena dia sendiri seorang yang ahli dalam ilmu sihir, tahulah dia bahwa dia menjadi permainan sihir yang amat kuat.

"Aku tidak tahu... tadi tahu-tahu mereka merias aku, dan aku sama sekali tidak mampu mengeluarkan suara..."

Isteri Ki Haryosakti menangis dengan sedih.

"Apa engkau melihat Retno Wilis?"

Tanya suaminya.

"Tidak, aku sama sekali tidak melihatnya. Tahu-tahu ia telah lenyap dari dalam kamar pengantin dan kulihat hanya Bagus Seto, itupun hanya sebentar. Dia berdiri di luar pintu dan memandangku dengan sinar mata aneh."

"Huh, jangan-jangan ini permainan mereka! Mereka telah mempermainkan aku, jahanam!"

Pada saat itu terdengar sorak sorai riuh rendah yang datangnya dari luar perkampungan. Lalu datang tergopoh-gopoh tiga orang lari menghampiri Ki Haryosakti.

"Celaka, denmas. Celaka, Bala Cucut datang menyerang dengan jumlah yang besar. Pimpinannya kini menantang-nantang di luar pintu gerbang!"

Mendengar ini, Sarmini sudah berlari cepat keluar dari tempat itu. Ia hampir bertubrukan dengan Saroji yang juga keluar membawa senjata tombak.

"Ada apa ribut-ribut itu?"

Tanya Saroji.

"Bala Cucut datang menyerbu, kakang. Mari kita ke sana!"

Mereka berdua lalu berlari cepat untuk memimpin anak buahnya ke luar dari perkampungan.

Ternyata di depan pintu gerbang sudah berdiri seorang kakek tinggi besar yang mukanya penuh brewok dan mata kirinya ditutup dengan kain hitam, yang dilibatkan di kepalanya.

Kakek brewok itu berusia kurang lebih lima puluh tahun dan dia memegang sebatang golok besar yang tajam sekali dan ke lihatannya berat.

Tempat itu disinari obor-obor yang dibawa para penyerbu dan juga banyak anak buah Jambuko Cemeng yang membawa obor bernyala.

Jumlah mereka tidak kurang dari se ratus orang dan mereka semua bersenjatakan golok.

Kepala mereka diikat dengan kain merah dan wajah mereka semua tampak buas.

"Suruh Ki Haryosakti, ketua kalian keluar untuk mengadu ilmu dengan aku. Katakan ini Brajamusti ketua Bala Cucut telah datang untuk menantangnya! Cepat suruh dia keluar, atau kami akan membikin perkampungan Jambuko Cemeng menjadi karang abang (lautan api)!"

Mendengar ini, Saroji dan Sarmini menjadi marah sekali. Mereka tahu bahwa ketua Bala Cucut ini hendak menuntut balas kematian tiga orang pembantunya.

"Tidak perlu ayah, kami berdua sanggup untuk mengirimmu ke neraka!"

Bentak Sarmini sambil menyerang dengan kerisnya.

Pada saat itu, Saroji juga menyerang dengan tombaknya.

Akan tetapi, Brajamusti menggerakkan goloknya dan sekali golok bergerak, dia sudah menangkis kedua senjata itu dengan kuat sekali.

Tombak dan keris itu terpental dan hampir terlepas dari tangan kedua orang muda itu.

Tentu saja mereka terkejut bukan main.

"Ha-ha-ha, jangan anak kecil yang maju. Panggil ayah kalian!"

Kembali Brajamusti menantang.

Akan tetapi Saroji sudah menyerang lagi dengan menusukkan tombak ke dada orang tinggi besar itu dan Sarmini juga sudah menubruk dan menikamkan kerisnya ke perut yang gendut itu.

"Tak...! Tak...!"

Keris dan tombak itu terpental seolah bertemu dengan dinding baja! Ternyata kakek itu memiliki kekebalan yang hebat.

"Ha-ha-ha-ha!"

Brajamusti tertawa bergelak.

"Kalian berdua mundurlah!"

Tiba-tiba terdengar bentakan nyaring dan Ki Haryosakti telah berdiri di situ, menyuruh kedua orang anaknya mundur.

Mendengar ini, dan melihat betapa saktinya pemimpin Bala Cucut, dua orang muda itu lalu mundur dan menonton dengan hati tegang.

Mereka tahu bahwa ayahnya kini berhadapan dengan lawan yang benar-benar amat tangguh.

Ki Haryosakti beradu pandang dengan Brajamusti.

"Andika inikah pemimpin Bala Cucut?"

Tanyanya dengan lantang.

"Ha-ha-ha, benar akulah pemimpin Bala Cucut. Namaku Brajamusti dan kalau benar engkau ini yang bernama Haryosakti pemimpin Jambuko Cemeng, bersiaplah engkau untuk mampus di tanganku!"

"Babo-babo, sumbarmu seperti dapat memecahkan gunung! Aku adalah Haryosakti dan selama hidupku belum pernah aku mundur menghadapi lawan. Apa maksudmu malam-malam begini datang dengan anak buahmu ke perkampungan kami?"

"Ha-ha-ha, pertanyaan yang bodoh! Andika telah membunuh tiga orang anak buahku, tentu saja aku dating untuk membalas dendam!"

"Brajamusti, kalau benar engkau seorang gagah perkasa, datanglah di waktu matahari telah bersinar sehingga kita dapat berhadapan dalam cuaca terang. Tidak datang seperti maling malam-malam begini. Kalau engkau berani, aku tantang engkau bertanding besok pagi setelah matahari terbit, di tempat ini! Dan tidak boleh ada yang membawa pembantu. Kita bertanding satu lawan satu. Kalau aku kalah, maka aku akan menyerah dan engkau boleh berbuat sesuka hatimu. Akan tetapi kalau engkau yang kalah, engkau harus minggat dari sini bersama anak buahmu!"

Tidak ada yang tahu bahwa tantangan Ki Haryosakti ini mengandung kecerdikan.

Dia tadi sudah banyak minum tuak, menjadi setengah mabok dan tentu saja dalam keadaan seperti itu dia tidak dapat bertanding dengan baik.

Selain itu, pihak Bala Cucut datang pada malam hari dan tentu sudah mempunyai perhitungan dengan baik, sedangkan pihaknya yang mendapat serangan tiba-tiba di tengah malam itu belum dapat melakukan atau mengatur siasat.

Dan lebih dari itu, baru saja dia mengalami guncangan batin yang hebat melihat bahwa pengantin wanita yang dinikahinya ternyata adalah isterinya sendiri sedangkan Retno Wilis entah ke mana.

Di lain pihak, Brajamusti yang ditantang untuk bertanding besok pagi, tentu merasa malu untuk menolak.

Menolak tantangan dapat diartikan tidak berani.

Dan diapun mengira bahwa pihak tuan rumah tentu dapat mengatur siasat pertahanan lebih baik dari pada pasukannya yang tidak mengenal medan.

Kalau pertandingan dilakukan besok di pagi hari, dia tidak khawatir musuh mengatur jebakan-jebakan yang tidak terlihat di waktu malam.

"Babo-babo, siapa takut padamu, Haryosakti! Besok pagi diwaktu matahari muncul, aku akan datang ke sini untuk mengambil nyawamu, ha-ha-ha!"

Setelah berkata demikian, dia lalu meneriakkan anak buahnya agar mundur dan membuat perkemahan agak jauh dari kampung untuk melewatkan malam itu.

Sementara itu, Ki Haryosakti segera mengatur anak buahnya untuk melakukan penjagaan dan menyusun pertahanan kalau besok musuh datang menyerang.

Setelah itu, kembali dia mencari Retno Wilis, bahkan mengerahkan orang-orangnya untuk mencari di perkampungan itu, namun segala usahanya sia-sia.

Retno Wilis dan Bagus Seto tidak dapat mereka temukan!

Pada keesokan harinya, setelah matahari mulai bersinar mengusir kabut pagi, muncullah Brajamusti bersama belasan orang pembantunya yang menjadi pasukan pengawalnya dan di belakangnya datang berbondong-bondong anak buahnya yang semua sudah membawa golok telanjang.

Sikap mereka itu menantang dan bengis sekali.

Ki Haryosakti menyambut musuh, diiringkan Saroji dan Sarmini bersama pasukan pengawal yang belasan orang banyaknya.

Akan tetapi pemuda dan gadis ini tidak berani sernbarangan maju karena mereka berdua sudah mengenal kesaktian Brajamusti yang memiliki kekebalan yang luar biasa sehingga tombak dan keris mereka tidak mampu melukainya.

Ki Haryosakti yang sudah mendengar keterangan dua orang anaknya tentang kesaktian Brajamusti juga melarang mereka maju.

Dia sendiri yang akan menghadapi Ki Bajramusti yang tangguh itu.

"Ha-ha-ha, bagus sekali. Kiranya Ki Brajamusti ternyata memiliki kegagahan dan memenuhi tantanganku. Apakah andika telah siap untuk menghadapi kekalahan?"

Ki Haryosakti berkata mengejek untuk menjatuhkan nyali lawan. Ki Brajamusti tertawa bergelak.

"Ha-ha-ha, masih untung semalam aku menitipkan nyawamu kepadamu, Haryosakti. Akan tetapi pagi ini aku akan mengambilnya dan semua orang-orangmu harus tunduk kepadaku atau akan kubasmi semua!"

"Babo-babo! Jangan omong besar. Sekarang tentukan bagaimana pertandingan diadakan. Kita berdua satu lawan satu, ataukah main keroyokan? Kami sudah siap!"

"Jangan seperti anak kecil, Haryosakti. Kita berdua adalah orang-orang tua yang memegang teguh janji. Kita bertanding satu lawan satu dan siapa yang kalah harus menaati kehendak yang menang. Bagaimana, setujukah engkau dengan peraturan ini?"

"Bagus, itulah yang kukehendaki. Mari kita mulai!"

Jawab Ki Haryosakti yang sudah membawa senjata pusakanya, yaitu tombak pusaka yang ampuh.

Dia melintangkan tombak di depan dada dan sikapnya menantang, kuda-kudanya teguh.

Melihat ini, Ki brajamusti mengeluarkan suara tawa bergelak, kemudian dia memutar golok besarnya ke atas kepala sambil berseru.

"Akupun sudah siap, mari kita mulai!"

Ki Haryosakti tidak sungkan lagi, berteriak lantang.

"Lihat tombakku!"

Tombaknya sudah menyambar ke depan dengan tusukan kilat ke arah perut lawan.

Brajamusti menggerakkan goloknya menangkis serangan tombak yang amat berbahaya itu.

Kini tentu saja dia tidak berani mengandalkan kekebalan tubuhnya.

Tombak itu sebatang tombak pusaka dan kini digerakkan oleh seorang yang memiliki tenaga sakti kuat.

Goloknya menangkis dari samping.

"Trangg...!!"

Bunga api berpijar ketika dua senjata bertemu dan keduanya merasa betapa telapak tangan mereka panas ketika senjata mereka saling bertemu.

Haryosakti menyusulkan serangan bertubi dengan tombaknya.

Brajamusti memutar-mutar goloknya dan beberapa kali tombak itu tertangkis golok.

Ketika mendapat kesempatan, Brajamusti membalas serangan lawan, goloknya menyambar dengan serangan maut.

Namun, Ki Haryosakti cukup gesit untuk mengelak dan ketika golok itu terus menerjang dengan ganasnya, diapun menangkis dengan tombaknya dan kembali dua senjata bertemu dengan kuatnya.

Serang-menyerang terjadi dan kedua orang itu masing-masing merasa terkejut karena ternyata tingkat kepandaian mereka seimbang.

Mereka mengeluarkan semua ilmu mereka dan mengerahkan seluruh tenaga untuk mendapatkan kemenangan.

Gerakan kedua orang itu demikian cepatnya sehingga bentuk golok dan tombak lenyap, berubah menjadi dua gulung sinar yang saling mendesak dan saling menekan.

Satu jam lebih mereka bertanding dan belum tampak ada yang akan menang atau kalah.

Entah sudah berapa puluh kali senjata mereka saling bertemu.

Akan tetapi diam-diam Haryosakti terkejut.

Dia merasa betapa kedua tangannya lelah sekali karena benturan-benturan antara kedua senjata itu.

Ternyata tenaga lawan luar biasa kuatnya.

Karena maklum bahwa akhirnya dia akan kalah kalau pertandingan dengan senjata itu dilanjutkan, tiba-tiba dia melompat ke belakang dan berseru nyaring.

"Tahan senjata!"

Brajamusti menghentikan gerakannya dan tertawa.

"Ha-haha, belum lecet kulitmu engkau mengajak berhenti. Apakah engkau hendak mengaku kalah, Haryosakti?"

"Siapa yang kalah? Aku tidak kalah. Akan tetapi karena dalam pertandingan adu senjata kita sama kuat, bagaimana kalau sekarang diganti dengan pertandingan tangan kosong? Kita mengadu tebalnya kulit dan kerasnya tulang, tidak lagi mengandalkan senjata melainkan mengandalkan kadigdayaan. Beranikah engkau?"

Brajamusti kembali tertawa.

Dia sendiri sudah merasa bingung tadi karena sekian lamanya tidak mampu mendesak lawan.

Kini lawannya mengusulkan untuk bertanding tanpa senjata, maka tentu saja dia merasa senang sekali.

Dia memiliki tubuh yang kebal dan tenaga yang besar.

"Bagus, siapa takut padamu? Mari kita lanjutkan dengan tangan kosong!"

Dia lalu menyerahkan goloknya kepada seorang pengawal.

Haryosakti juga menyerahkan tombaknya kepada Saroji dan kedua orang ketua jagoan ini kini saling berhadapan lagi dengan tangan kosong.

Diam-diam keduanya mengerahkan tenaga sakti disalurkan ke dalam ke dua lengan, dan Haryosakti berteriak.

"Lihat pukulan!"

Dan tubuhnya sudah menerjang ke depan, tangan kanannya menampar ke arah dagu lawan sedangkan tangan kirinya sudah siap menyusulkan serangan kalau tamparannya tidak berhasil.

"Hemm...!"

Brajamusti mengelak dengan menarik mukanya ke belakang hingga tamparan itu luput dan ketika tangan kiri Haryosakti menyusulkan tonjokan ke arah dadanya, tangan kanannya membuat gerakan berputar dan dia sudah menangkis pukulan ke arah dadanya itu.

"Dukk...!"

Kedua lengan bertemu dan keduanya mundur selangkah.

Kini Brajamusti membalas serangan lawan dengan tendangan kakinya yang mencuat dengan cepat sekali ke arah perut Haryosakti, akan tetapi ketua Jambuko Cemeng inipun sudah dapat mengelak.

Serang menyerang kembali terjadi di antara keduanya.

Mereka mengerahkan tenaga dan mengeluarkan jurus-jurus terampuh mereka dalam usahanya untuk merobohkan lawan.

Saroji dan Sarmini menonton dengan alis berkerut.

Mereka berdua maklum bahwa pihak lawan sungguh amat tangguh dan mereka tadi sudah melihat keringat membasahi leher ayah mereka ketika berhenti sebentar.

Mereka berdua tidak dapat membantu ayah mereka karena hal itu akan dianggap curang.

Maka dengan jantung berdebar tegang mereka hanya dapat menonton.

Kekhawatiran dua orang muda itu ternyata terbukti tidak lama kemudian.

Setelah pertandingan berlangsung lima puluh jurus lebih, mulai tampaklah betapa Ki Haryosakti terdesak mundur.

Sudah beberapa kali dia terkena tamparan dan pukulan lawan yang membuat dia terhuyung.

Dan beberapa kali pukulannya juga bersarang kepada tubuh lawan, akan tetapi ternyata tubuh itu kebal, membuat pukulannya mental kembali seperti mengenai benda dari karet saja.

"Robohlah!"

Tiba-tiba Bajramusti berseru dan sebuah tendangan kakinya mengenai perut lawan.

Ki Haryosakti tidak dapat menghindar.

Perutnya tertendang dan dia-pun roboh terjengkang!

Bajramusti bertolak pinggang sambil menertawakan lawannya.

Para pembantunya ikut pula tertawa dan anak buahnya yang berada di belakang bersorak melihat kemenangan ketua mereka.

Sebaliknya, di pihak Jambuko Cemeng orang-orangnya hanya berdiam saja dengan hati tegang.

"Ha-ha, Ki Haryosakti. Engkau sudah kalah! Akuilah kekalahanmu dan mulai sekarang kalian semua harus menaati perintahku!" (Lanjut ke

Jilid 11) Sepasang Garuda Putih (seri ke 05 -Serial Keris Pusaka Sang Megatantra) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo

Jilid 11 Tiba-tiba Saroji dengan tombak ayahnya di tangan melompat maju.

"Ayah sudah kalah akan tetapi aku belum! Aku yang akan melawanmu, Bajramusti!"

Melihat majunya pemuda itu, Bajramusti tertawa bergelak.

"Ha-ha-ha, ayahnya sudah kalah kini maju anaknya. Heh, orang muda, engkau bukan tandinganku, apakah engkau sudah bosan hidup?"

Melihat puteranya maju, Ki Haryosakti juga berseru.

"Saroji, mundur kau !"

Dia tahu bahwa kalau puteranya maju, sama halnya dengan membunuh diri. Pada saat itu terdengar seruan suara wanita.

"Ki Bajraniusti, akulah lawanmu!"

Ki Haryosakti dan kedua orang anaknya terkejut mendengar suara Retno Wilis, dan kini mereka melihat Retno Wilis muncul bersama Bagus Seto!

Retno Wilis sudah melompat ke depan dan berkata kepada Saroji.

"Lebih baik andika mundur, biar aku yang menghadapi raksasa brewok ini!"

Saroji ragu-ragu, tidak tega membiarkan Retno Wilis melawan ketua Bala Cucut itu, akan tetapi sekali lagi Haryosakti menghardik kepada puteranya untuk mundur.

Saroji lalu mundur dan menonton bersama adik dan ayahnya dengan hati tegang dan juga heran.

Bagaimana Retno Wilis akan mampu menghadapi raksasa yang amat sakti itu.

Bagus Seto juga memandang sambil tersenyum dan pemuda ini menonton di satu pinggiran, tidak mendekati keluarga Haryosakti.

Sementara itu, ketika Brajamusti melihat majunya seorang gadis yang cantik jelita, dia tertawa bergelak sambil menengadahkan kepalanya.

"Hoa-ha-ha-ha! Jambuko Cemeng sudah kehabisan jago dan mengajukan seorang perawan cantik untuk melawan aku. Wong ayu, jangan andika yang maju sayang kecantikanmu, sayang kulitmu yang halus kalau sampai lecet. Lebih baik andika ikut bersamaku dan kujadikan selir, ha ha-ha!"

"Brajamusti, tidak perlu bermulut besar. Kalau andika dapat mengalahkan aku, barulah andika berhak untuk bermulut besar! Atau barangkali andika takut melawan aku?"

"Takut? Ha-ha, takut? Aku takut kalau sampai membunuh atau melukaimu, cah ayu."

"Kalau begitu, bersiaplah andika!"

"Ha-ha-ha, aku sudah siap, ha-ha-ha!"

"Lihat seranganku! Haiiiittt...!"

Retno Wilis menerjang ke depan, tangan kirinya menampar ke arah dada raksasa itu.

Brajamusti hendak memamerkan kekebalannya maka diapun membiarkan saja dadanya terbuka untuk dihantam.

Jari-jari tangan Retno Wilis yang kecil mungil itu bertemu dengan dada yang bidang dan kokoh kuat itu.

Akan tetapi ia mempergunakan aji Wisolangking.

"Wuuuttt... dess...!!"

"Aduh... mati aku...!!"

Tubuh yang tinggi besar itu terjengkang dan roboh terguling-guling.

Brajamusti merasa dadanya seperti pecah.

Untung dia tadi mengerahkan ilmu kekebalannya sehingga dia tidak mati terpukul.

Dia melompat bangun, menggosok-gosok dadanya dengan telapak tangan kiri sambil memandang kepada Retno Wilis dengan mata mencorong penuh kemarahan.

Sementara itu, Ki Haryosakti dan kedua orang anaknya, juga para anggauta Jambuko Cemeng, menonton dengan mata terbelalak dan mulut ternganga!

Baru sekarang mereka mengetahui bahwa gadis itu memiliki kesaktian yang hebat sehingga sekali pukul saja dapat membuat raksasa itu roboh terguling-guling!

Terutama sekali Ki Haryosakti.

Wajahnya berubah pucat lalu kemerahan.

Dan dia sudah hendak memperisteri gadis itu!

Sekarang baru dia merasa bahwa dia dipermainkan!

Ki Bajramusti kini marah bukan main.

Dengan kedua tangan membentuk cakar harimau, dia lalu menyerang, kedua tangannya menyambar dari kanan kiri hendak menerkam tubuh gadis itu.

Akan tetapi tubrukannya luput dan tiba-tiba saja gadis itu lenyap.

Kemudian dari belakang dia mendengar ada angin menyambar.

Cepat dia merendahkan diri untuk mengelak.

Ternyata gadis itu sudah berada di belakangnya.

Demikian cepatnya gerakan gadis itu seolah-olah pandai menghilang saja.

Dia menjadi semakin marah dan dengan mengeluarkan gerengan-gerengan seperti seekor harimau marah, dia melanjutkan gerakannya, menyerang secara bertubi-tubi, mencakar, menampar, menghantam bahkan kakinya yang panjang besar itu beberapa kali menendang.

Namun, dia seperti menyerang angin saja.

Semua serangannya tidak mengenai sasaran.

Retno Wilis telah mempergunakan ilmu silat Pancaroba yang membuat tubuhnya bergerak seperti seekor burung walet, menyambar-nyambar menghindar kesana-sini dan berputaran.

Bajramusti ikut pula berputaran sampai kepalanya menjadi pening dan beberapa kali dia terhuyung!

Ketika mendapat kesempatan, Retno Wilis kembali menampar dan tamparannya mengenai leher Bajramusti.

"Wuuuttt... plak...!"

Biarpun yang menampar hanya tangan yang kecil mungil, akan tetapi Bajramusti merasa seperti disambar petir.

Hanya kekebalannya yang luar biasa saja yang masih melindunginya.

Tubuhnya berputaran, kepalanya pening dan akhirnya diapun roboh untuk yang kedua kalinya.

Akan tetapi dia memang kebal dan kuat.

Dari keadaan roboh itu dia melompat dan kedua tangannya yang besar itu berhasil menangkap pinggang yang ramping itu.

Dia mengeluarkan suara tawa girang dan dengan sepenuh tenaga dia hendak mengangkat tubuh yang pinggangnya sudah dilingkari jari-jarinya yang panjang dan besar itu.

Akan tetapi Retno Wilis yang tadi lengah sehingga pinggangnya dapat disambar, mengerahkan Aji Argoselo yang membuat tubuhnya seberat batu gunung.

Bajramusti mengerahkan tenaga untuk mengangkat, namun tubuh itu tidak bergeming sedikitpun juga.

Dia merasa terkejut dan penasaran, lalu mengerahkan lagi tenaga sampai mulutnya mengeluarkan suara ah-ah-uh-uh, namun tetap saja sia-sia.

Dan Retno Wilis yang marah karena pinggangnya dipegang orang, lalu menggerakkan kakinya menendang, mengenai perut yang gendut itu.

"Wuuuttt... ngekkk...!"

Pegangan Bajramusti terlepas dan tubuhnya terlempar dan terjengkang ke belakang, terbanting keras.

Kini agak lambat dia merangkak bangun karena kepalanya terasa pening.

Dan setelah dia bangkit, dia sudah merampas golok yang dibawa pembantunya.

Sikapnya amat menyeramkan.

Rambutnya awut-awutan, mukanya menjadi merah sekali, matanya melotot dan mengeluarkan busa.

Dia mengangkat goloknya tinggi di atas kepala.

Ki Haryosakti dan dua orang anaknya yang tadinya terkagum-kagum melihat Retno Wilis berulang kali merobohkan Bajramusti, kini memandang dengan hati khawatir sekali.

Akan tetapi Retno Wilis tetap bersikap tenang, ia meloloskan pedang Sapudenta dan menanti serangan lawan dengan pedang di tangan.

Ketika Bajramusti melihat gadis itu sudah memegang sebatang pedang yang baginya amat kecil tidak berarti, dia lalu menggereng seperti seekor harimau terluka dan tubuhnya sudah menerjang maju, goloknya menyambar-nyambar bagaikan cakar maut ke arah Retno Wilis.

Akan tetapi gadis ini dengan mudahnya mengelak ke sana sini, kemudian ketika golok itu dengan cepat menyambar ke arah kepalanya, iapun menggerakkan pedang Sapudenta untuk menangkis sambil mengerahkan tenaga saktinya.

"Singgg... trakkk...!!"

Golok itu putus menjadi dua potong!

Ki Haryosakti sampai bersorak melihat kehebatan gadis itu.

Sebaliknya Ki Bajramusti terkejut bukan main.

Dia melemparkan gagang golok ke arah Retno Wihs.

Gadis ini menangkis dengan pedangnya dan sisa golok itu meluncur ke bawah dan menancap ke atas tanah.

Tiba-tiba Ki Bajramusti mengangkat kedua tangan ke atas, mulutnya berkemak kemik membaca mantra dan tiba-tiba saja ada asap hitam bergulung-gulung keluar dari kedua tangannya dan asap itu menyerbu ke arah Retno Wilis.

Gadis ini menyimpan pedangnya dan menggunakan kedua tangannya untuk memukul dengan Aji Wisolangking.

Akan tetapi asap itu hanya membuyar dan tetap menyerbu ke arahnya.

"Diajeng, mundurlah!"

Seru Bagus Seto dan Retno Wilis menaati perintah kakaknya.

Tubuhnya mencelat ke arah Bagus Seto dan sudah berdiri di samping kakaknya.

Bagus Seto melompat ke depan menghadapi Ki Bajramusti yang menggunakan sihir itu.

Ketika gulungan asap itu menyelubunginya, Bagus Seto mengambil setangkai bunga cempaka putih dan mengangkatnya ke atas.

Seketika asap hitam itu membalik dan bergulung-gulung seperti melarikan diri kembali ke arah kedua tangan Ki Bajramusti!

Kakek ini terkejut bukan main dan memandang kepada Bagus Seto dengan mata mencorong.

"Siapakah andika?"

Bentaknya marah.

"Namaku Bagus Seto dan karena andika menggunakan ilmu hitam, akulah yang mewakili adikku menghadapimu,"

Kata Bagus Seto dengan lembut.

"Lebih baik andika pergi saja dari sini dan bawa semua anak buahmu, Ki Bajramusti. Tempatmu di lautan, bukan di daratan yang menjadi wilayah Jambuko Cemeng."

Ki Bajramusti merasa penasaran bukan main.

Tadi dalam pertandingan tangan kosong maupun dengan senjata dia telah dikalahkan seorang gadis muda!

Dan sekarang dia mengandalkan ilmu sihirnya, dia bertemu dengan seorang pemuda yang dapat menandinginya.

Dia masih merasa penasaran dan ingin mengeluarkan ilmunya yang terakhir dan yang diandalkannya.

"Bagus Seto, lihat baik-baik siapa yang kau lawan. Aku adalah Rajanya segala harimau!"

Setelah berkata demikian, Ki Bajramusti melompat jungkir balik tiga kali dan berubahlah dia menjadi seekor harimau yang amat besar, harimau jadi-jadian itu besarnya hampir seperti seekor lembu!

Sambil mengeluarkan suara gerengan, harimau itu membuka mulutnya dan mengancam Bagus Seto.

Semua orang yang melihat ini menjadi miris hatinya, kecuali tentu saja Retno Wilis.

Gadis ini hanya tersenyum karena maklum bahwa dalam menghadapi ilmu sihir, tidak ada orang yang lebih tangguh dari pada kakaknya.

Dengan gerengan yang menggetarkan seluruh perkampungan itu, harimau jadi-jadian itu kini menubruk ke arah Bagus Seto yang kelihatan diam saja, tidak mengelak maupun menangkis.

Semua orang melihat betapa harimau besar itu menerkam Bagus Seto.

Sarmini sampai menjerit saking ngerinya melihat pemuda yang dikagumi itu diterkam harimau besar.

Juga semua orang memandang kaget dan cemas.

Akan tetapi ketika harimau itu menerkam dan berusaha menggigit dan merobek-robek tubuh itu, ternyata bahwa yang diterkamnya tadi adalah sebuah batu yang keras!

Dan semua orang melihat Bagus Seto sudah berdiri dengan kedua tangan bersilang di dada, tak jauh dari situ.

Harimau jadi-jadian agaknya baru sadar bahwa yang diterkamnya adalah batu setelah taring dan cakarnya menyerang benda keras.

Dia menggereng dan memutar tubuh, melihat Bagus Seto yang sudah berdiri di belakangnya.

Kembali dia menerjang, menubruk dan menerkam dibarengi auman yang menggetarkan hati.

Kembali dia telah menerkam Bagus Seto seperti tadi, akan tetapi setelah yang diterkamnya roboh di atas tanah dan dicakarnya, pemuda itu berubah menjadi batu.

Setelah mempermainkan harimau jadi-jadian itu beberapa kali, Bagus Seto lalu mengeluarkan setangkai bunga cempaka putih dan begitu harimau itu untuk sekian kalinya menubruk, dia memukulkan bunga cempaka pulih itu ke kepala harimau.

"Dar...!"

Terdengar ledakan dan harimau itupun lenyap, berubah menjadi Ki Bajramusti yang mendekam di atas tanah sambil mengeluh.

"Aduh, tobaaatt...!"

Dia memegangi kepalanya yang rasanya seperti remuk.

"Benarkah andika telah bertobat, Ki Bajramusti?"

Tanya Bagus Seto dengan lembut.

"Aku sudah menerima kalah, denmas. Aku sudah bertobat dan hendak menaati semua perintah andika. Aduhaduhhh...!"

Bagus Seto lalu berkata.

"Kalau begitu berjanjilah bahwa engkau tidak akan mengganggu penduduk pantai, menghentikan perbuatanmu yang jahat dan engkau berjanjilah untuk membantu Panjalu jika saatnya tiba."

"Baik, denmas... aku berjanji..."

Bagus Seto menyentuh kepalanya dengan bunga cempaka putih sambil berkata.

"Kalau begitu, sembuhlah dan pergilah membawa anak buahmu kembali ke lautan."

Terkena sentuhan bunga itu, seketika Ki Bajramusti sembuh dan dia segera bangkit berdiri.

Akan tetapi sekarang dia telah kehilangan kegarangannya.

Dia memandang kepada Bagus Seto dan Retno Wilis yang berdiri di samping kakaknya dengan sikap hormat.

"Aduh, paduka berdua telah mengalahkan aku. Sebetulnya siapakah paduka berdua dan mengapa pula menyuruh aku kelak membantu Panjalu?"

Tanyanya dengan suara tetap kasar akan tetapi dengan sikap menghormat.

Memang seorang seperti dia mana dapat berbicara halus?

"Namaku Bagus Seto dan ini adikku Retno Wilis.

Kami adalah putera Kanjeng Patih Tejolaksono di Panjalu."

"Ah, maafkan aku yang telah berani melawan paduka. Baiklah, aku akan menaati segala perintah paduka. Hayo kawan-kawan, kita kembali ke lautan!"

Dia lalu memutar tubuhnya dan diiringkan semua anak buahnya meninggalkan tempat itu.

Ki Haryosakti juga membubarkan semua anak buahnya.

Ketika tinggal dia sendiri bersama Saroji dan Sarmini, sambil membungkuk hormat kepada kedua orang muda itu dia berkata.

"Mari silakan, anakmas berdua, kita bicara di dalam."

Bagus Seto saling pandang dengan Retno Wilis dan mereka tanpa berkata apa-apa ikut masuk ke ruangan dalam rumah gedung itu.

Setelah tiba di dalam, Ki Haryosakti lalu menjatuhkan diri berlutut dan menyembah kepada Bagus Seto dan Retno Wilis.

"Mata saya seperti telah buta dan tidak melihat bahwa paduka berdua adalah orang-orang yang sakti mandraguna. Saya mohon ampun atas semua perbuatan saya terhadap denajeng."

Bagus Seto cepat membangunkan ketua Jambuko Cemeng itu dan berkata.

"Sudahlah, paman, adalah baik sekali kalau paman sudah menyadari kesalahan dan tidak akan berbuat lagi. Silakan berdiri."

Ki Haryosakti bangkit berdiri dan mempersilakan kedua orang muda itu untuk duduk. Saroji dan Sarmini juga duduk dan mereka memandang kepada kedua orang muda itu dengan takjub.

"Saya telah berbuat salah besar. Saya sungguh tidak tahu diri, akan tetapi sekarangpun saya masih mengharapkan agar paduka berdua suka menerima permohonan saya."

Bagus Seto tersenyum.

"Permintaan apakah itu, paman? Kalau memang permintaan itu pantas dan kami berdua dapat melakukannya, tentu kami tidak akan keberatan untuk memenuhinya."

"Ah, sebelumnya saya menghaturkan banyak terima kasih, denmas. Akan tetapi harap paduka berdua sudi memaafkan kalau apa yang hendak saya kemukakan itu dianggap lancang."

"Katakan sajalah, paman, jangan sungkan-sungkan. Memang sebaiknya kalau ada penguneg-uneg di hati dikeluarkan dari pada disimpan menjadi dendam."

"Karena sekarang ini paduka berdua berada di sini dan saya memperoleh kesempatan yang amat baik, kapan lagi saya kemukakan niat saya ini kalau tidak sekarang karena mungkin saya tidak akan dapat bertemu dengan paduka berdua lagi."

"Paman Haryosakti, kenapa bicara berputar-putar? Katakanlah apa yang kau kehendaki!"

Kata Retno Wilis yang merasa tidak sabar lagi mendengar kata-kata yang melingkar lingkar itu.

Mendapat bentakan dari Retno Wilis, ketua Jambuko Cemeng yang biasanya bersikap gagah itu menjadi pucat wajahnya.

Kemudian dia memberanikan diri berkata.

"Niat saya inipun untuk menebus dosa saya terhadap denajeng... kalau paduka berdua sudi menerimanya, saya... saya ingin sekali menjodohkan anak saya Saroji dengan denajeng Retno Wilis, dan saya ingin menyerahkan anak saya Sarmini menjadi jodoh denmas Bagus Seto. Nah, legalah hati saya sudah mengeluarkan isi hati saya ini dan terserah kepada paduka berdua."

Kakak beradik itu saling pandang, seperti juga Saroji dan Sarmini saling pandang.

Akan tetapi kalau Sarmini memandang kakaknya lalu tersipu malu dan Saroji juga menundukkan mukanya yang menjadi kemerahan, Retno Wilis memandang kepada kakaknya dengan alis berkerut dan muka berubah merah.

Melihat sinar mata adiknya yang marah itu, Bagus Seto menggelengkan kepalanya kepada adiknya sehingga Retno Wilis terpaksa menelan lagi ucapan bernada keras yang hendak dilontarkan dari mulutnya.

Bagus Seto tersenyum memandang pada Ki Haryosakti lalu berkata dengan suara lembut.

"Permintaan paman untuk menjodohkan kami berdua dengan putera puteri paman adalah permintaan yang pantas. Akan tetapi terus terang saja kami tidak dapat memenuhi permintaan itu, paman. Bukan sekali-kali kami menolak karena tidak suka. Putera dan puteri paman adalah dua orang pemuda dan gadis yang elok dan juga gagah. Akan tetapi kami terpaksa menolak karena pada saat ini kami berdua sama sekali belum mempunyai pikiran untuk berjodoh. Kami masih ingin hidup sendiri dan melanjutkan perantauan kami. Karena itu harap paman maafkan dan kami percaya bahwa adimas Saroji dan diajeng Sarmini dapat mengerti alasan kami dan tidak menjadi kecil hati dan merasa ditolak."

Biarpun merupakan penolakan, namun kalau dikeluarkan dengan kata-kata halus dan sopan seperti itu, bagaimana Ki Haryosakti dan kedua anaknya dapat merasa tersinggung dan tidak senang hati?

Mereka memang merasa kecewa, akan tetapi dapat memaklumi alasan kedua orang muda sakti itu.

Pada hari itu juga, Bagus Seto dan Retno Wilis berpamit kepada Ki Haryosakti.

Bagus Seto berkata.

"Paman Haryosakti, kami berdua mohon pamit hendak melanjutkan perantauan kami. Hanya ada satu harapan dari kami, mudah-mudahan saja paman akan dapat memenuhi harapan kami itu."

"Apakah itu, denmas? Katakan, saya akan berusaha sekuat tenaga untuk memenuhi harapan itu."

"Nanti kalau sudah tiba waktunya Panjalu dan Jenggala menggerakkan pasukan untuk menundukkan kembali daerah-daerah yang bergolak, maukah paman membawa anggauta Jambuko Cemeng membantu Panjalu?"

"Ah, tentu saja, denmas. Harap jangan khawatir. Biarpun bagaimana juga, kami bukan pemberontak dan masih mengakui kekuasaan Jenggala dan Panjalu. Kalau kelak tiba saatnya, tentu kami akan membantu dengan senang hati."

"Terima kasih, paman."

Setelah berpamit kepada Saroji dan Sarmini, kedua kakak beradik itu lalu meninggalkan perkampungan Jambuko Cemeng, diantar oleh keluarga pimpinan Jambuko Cemeng itu sampai keluar perkampungan.

Saroji dan Sarmini berdiri bagaikan patung memandang dua bayangan yang semakin jauh itu dan merasa seolah-olah semangat mereka ikut terbawa pergi.

Diam-diam Saroji jatuh cinta kepada Retno Wilis dan Sarmini juga kagum sekali kepada Bagus Seto.

Akan tetapi mereka merasa seperti pungguk merindukan bulan.

Cinta asmara memang menjadi sumber kesedihan kalau hanya bertepuk tangan sebelah.

Dan perasaan itu diderita Saroji dan Sarmini.

Mereka merasa betapa hidup ini menjadi sunyi dengan perginya orang yang mereka cinta, dan hati terasa perih sekali mengingat bahwa cinta mereka tidak dibalas.

Ki Haryosakti juga menyadari akan semua kesalahannya dan semenjak peristiwa itu wataknya berubah, tidak selalu hendak memaksakan kehendaknya seperti yang sudah-sudah.

Dapat dibayangkan betapa marahnya hati Wasi Shiwamurti ketika menerima laporan dari Ni Dewi Durgomala dan Ki Shiwananda telah bertemu dan bertanding dan dikalahkan oleh Bagus Seto dan Retno Wilis.

Ketika itu, Wasi Shiwamurti berada di Blambangan karena dia dianggap sebagai tamu agung oleh Adipati Blambangan, yaitu Adipati Menak Sampar.

Blambangan dijadikan pusat penyebaran agama Shiwa-Durgo-Kolo yang dipimpin oleh Wasi Shiwamurti.

Dia menjadi marah sekali ketika mendengar betapa penyebaran agama itu terhalang oleh Bagus Seto dan Retno Wilis.

"Bodoh!"

Dia memaki kedua orang muridnya itu.

"Bodoh sekali kalian! Dapat dikalahkan oleh seorang pemuda dan seorang gadis muda! Membikin malu saja kepadaku! Kalau kalian kalah dalam hal kadigdayaan, apakah kalian tidak dapat mengalahkannya dengan ilmu sihir? Apa gunanya aku mengajarkan segala macam ilmu sihir kepada kalian kalau tidak dapat mengalahkan dua orang muda?" '"Maafkan kami, Kanjeng Rama,"

Kata Ki Shiwananda kepada ayah angkatnya yang marah itu.

"Kami sudah mempergunakan sihir, akan tetapi semua ilmu sihir kami dipunahkan oleh pemuda yang bernama Bagus Seto itu. Ilmu kedua orang kakak beradik itu memang luar biasa hebatnya."

"Hal itu tidaklah aneh sekali, karena mereka adalah anak-anak dari Endang Patibroto,"

Kata pula Ni Dewi Durgomala kepada Wasi Shiwamurti yang selain menjadi gurunya juga menjadi kekasihnya.

"Apa? Anak-anak Endang Patibroto?"

Bentak Wasi Shiwamurti.

"Kalau begitu mereka adalah musuh-musuh kita yang harus dibasmi!"

Selagi Wasi Shiwamurti marah-marah, datanglah Wasi Karangwolo yang menjadi penasihat Blambangan dan bersama dia datang pula Wasi Surengpati penasihat dari kadipaten Nusabarung.

Sang Wasi Shiwamurti menerima kedatangan dua orang rekannya ini dan alangkah marahnya ketika dia mendengar pula dari mereka bahwa dua orang rekannya itu telah bertemu dengan Endang Patibroto, bertanding dan mereka kalah!

"Babo-babo, Endang Patibroto keparat!

Kembali engkau yang menghalangi pekerjaan kami, bersama kedua orang anakmu.

Aku tidak akan kembali ke Cola sebelum dapat membunuh engkau dan anak-anakmu!"

Wasi Shiwamurti memukulkan tongkat naganya ke atas lantai dan pecahlah lantai itu.

"Di mana mereka sekarang? Di mana wanita jahanam itu dan anak-anaknya?"

Tanya Wasi Shiwamurti.

"Endang Patibroto datang ke Nusabarung untuk mencari kedua orang anaknya,"

Kata Wasi Surengpati.

"Dan kedua orang muda itu agaknya pergi ke timur dan kalau tidak salah perhitungan kami, sekarang mereka tentu sudah berada di daerah Blambangan,"

Kata Ni Dewi Durgomala.

"Bagus! Biarkan mereka semua masuk ke Blambangan sehingga mudah kita mencarinya. Aku sendiri yang akan turun tangan membasmi mereka!"

Kata Wasi Shiwamurti yang marah bukan main.

"Sebaiknya kalau kita melapor kepada Kanjeng Adipati agar diadakan persiapan untuk mencari mereka di daerah Blambangan. Siapa yang melihat mereka diwajibkan memberi laporan secepatnya, dengan cara demikian kita akan mudah menemukan mereka,"

Kata Wasi Karangwolo. Semua rekannya setuju dan mereka berlima lalu pergi menghadap Adipati Menak Sampar. Adipati Menak Sampar menerima kedatangan lima orang tokoh yang dihormatinya itu.

"Paman Wasi Karangwolo sudah pulang?"

Tanyanya kepada penasihatnya itu.

"Bagaimana kabarnya dengan usaha andika menyebar agama, dan agaknya ada keperluan penting sekali maka andika menghadap, didampingi oleh Wasi Surengpati, Wasi Shiwamurti, Ki Shiwananda dan Ni Dewi Durgomala."

"Sesungguhnya ada peristiwa penting yang telah terjadi, Kanjeng Adipati. Agaknya daerah Blambangan telah kemasukan telik-sandi (mata-mata) yang amat berbahaya, yaitu Endang Patibroto dan kedua orang anaknya yang bernama Bagus Seto dan Retno Wilis."

"Ahhhh...!"

Wajah sang adipati berubah pucat mendengar nama itu.

Endang Patibroto dan Retno Wilis adalah nama-nama yang amat terkenal di Blambangan sebagai nama dua orang wanita yang memiliki kesaktian hebat dan amat berbahaya.

"Benarkah? Bagaimana andika dapat mengetahuinya?"

Tanyanya.

"Saya sendiri dan adi Wasi Surengpati sudah bertemu dan bertanding dengan Endang Patibroto, sedangkan anakmas Shiwananda dan Ni Dewi Durgomala sudah bertemu dengan Bagus Seto dan Retno Wilis dan juga sudah bertanding dengan mereka."

Orang-orang yang bersangkutan itu lalu menceritakan pengalaman mereka secara terperinci, didengarkan dengan penuh perhatian oleh Adipati Menak Sampar.

"Karena itulah maka kami datang melapor kepada paduka, Kanjeng Adipati, agar dapat diambil langkah-langkah yang perlu untuk dapat menemukan tiga orang itu,"

Kata Wasi Karangwolo. Adipati Menak Sampar mengangguk-angguk lalu memberi tanda memanggil seorang pengawal. Setelah pengawal menghadap, dia lalu memerintahkan.

"Kamu pergilah dan panggil Senopati Rajahbeling dan Senopati Kurdolangit untuk sekarang juga datang menghadap ke sini!"

Tak lama kemudian dua orang senopati Blambangan itu muncul dan menghadap Sang Adipati sambil menyembah.

Senopati Rajahbeling adalah seorang senopati yang berusia lima puluhan tahun yang bertubuh tinggi besar dan tampak gagah sekali.

Dia adalah ayah dari Kalinggo, pemuda Blambangan yang pernah mengikuti sayembara tanding di Nusabarung.

Adapun yang kedua bernama Senopati Kurdolangit, orangnya tinggi kurus akan tetapi dia seorang yang digdaya dan amat terkenal di Blambangan.

"Kedua kakang senopati! Andika berdua terkejut kami panggil?"

"Benar, Kanjeng Adipati. Ini bukan waktunya bersidang, maka kami tentu saja heran mendapat panggilan ini,"

Jawab Senopati Rajahbeling.

"Ketahuilah, kakang senopati. Ternyata di daerah kita Blambangan ini telah kemasukan tiga orang telik sandi yang berbahaya. Bahkan mereka pernah mengacau di Nusabarung dan kini mereka menuju ke Blambangan. Tahukah kalian siapa mereka?"

Dua orang senopati itu saling pandang dan menggelengkan kepala.

"Kami tidak dapat menduganya, gusti."

"Ketahuilah bahwa telik sandi itu adalah Endang Patibroto, Retno Wilis dan Bagus Seto."

Dua orang senopati itu sudah mendengar nama Endang Patibroto dan Retno Wilis, bahkan sudah tahu bahwa mereka itu adalah dua orang wanita yang sakti dari Panjalu.

"Di mana mereka, Kanjeng Adipati? Kami akan mengerahkan perajurit untuk menangkap mereka."

"Inilah persoalannya. Kami belum tahu mereka kini berada di mana. Karena itu kutugaskan kalian untuk menyebar perajurit dan mata-mata. Kalau ada yang melihatnya agar cepat memberi kabar kepada Paman Wasi Karangwolo sekalian para Paman Wasi yang berada di sini agar mereka dapat ditangkap. Mereka itu sakti dan pandai menyamar, maka setiap ada orang asing memasuki wilayah Blambangan, harus diperiksa dengan cermat."

Dua orang senopati itu menyatakan kesanggupannya, kemudian memberi hormat kemudian mengundurkan diri.

Adipati Menak Sampar masih bercakap-cakap dengan para pimpinan agama Shiwa-Durgo-Kala itu, membicarakan persiapan dan rencana mereka untuk penyebaran agama dan kemudian untuk memberontak terhadap Panjalu dan Jenggala.

Masuknya Endang Patibroto dan Retno Wilis merupakan bahan pembicaraan mereka yang penting dan Wasi Shiwamurti sendiri mengatakan bahwa dia akan turun tangan sendiri terhadap kedua orang wanita sakti itu.

"Mereka adalah orang-orang yang memiliki kesaktian tinggi, dan kiranya hanya saya yang akan dapat mengatasi mereka,"

Kata Wasi Shiwamurti dan hal ini dibenarkan oleh yang lain, yang telah merasakan kehebatan ilmu kepandaian dua orang wanita itu.

"Jangan dilupakan pemuda yang bernama Bagus Seto itu, kakang Wasi,"

Kata Wasi Karangwolo.

"Biarpun kami belum mengetahui benar tingkat kadigdayaannya, namun dalam hal menghadapi ilmu sihir dia tangguh bukan main."

Wasi Surengpati membenarkan pendapat Wasi Karangwolo ini dengan mengangguk-angguk.

"Heh-heh-heh, jangan khawatir. Selama ini ilmu sihirku tidak pernah gagal terhadap siapapun juga. Pendeknya, kalau sudah diketahui dimana adanya Endang Patibroto, Retno Wilis, dan Bagus Seto, beritahulah kepadaku dan aku akan menangkap mereka bertiga."

Ucapan Wasi Shiwamurti ini bukan sekedar bualan belaka.

Wasi yang satu ini adalah saudara seperguruan dari mendiang Wasi Bagaspati dan Wasi Bagaskolo yang memiliki kesaktian tinggi.

Bahkan setelah mendengar betapa dua orang kakak seperguruannya ini tewas, dia memperdalam ilmunya sehingga kini ilmu kesaktiannya sudah melebihi kesaktian kedua orang kakak seperguruannya itu.

Terutama sekali dalam hal ilmu sihir, dia jauh melebihi kedua orang wasi yang telah tewas itu.

Mulai hari itu, ratusan orang perajurit disebar dan di mana-mana diadakan penjagaan.

Bahkan sampai jauh ke luar kota kadipaten Blambangan para perajurit itu mencari Endang Patibroto, Retno Wilis dan Bagus Seto, memeriksa semua orang asing yang kebetulan lewat di situ.

Bagus Seto dan Retno Wilis yang sedang mengadakan perjalanan dan tiba di perbatasan daerah Blambangan segera mendengar cerita para penduduk dusun bahwa pasukan Blambangan sedang mengadakan pencarian terhadap telik sandi dari Panjalu dan banyak orang yang dicurigai sebagai pendatang baru dari luar daerah Blambangan ditangkapi.

"Ah, mereka tentu sedang mencari kita, kakangmas Bagus Seto. Tentu Adipati Blambangan telah mendengar tentang diri kita dari Wasi Karangwolo dan Wasi Surengpati ketika kita berada di kadipaten Nusabarung."

"Kukira bukan hanya kedua orang wasi itu saja, diajeng. Akan tetapi Ni Dewi Durgomala dan Ki Shiwananda telah melapor pula ke sana. Agaknya, pusat penyebaran agama baru itu berasal dari Blambangan."

"Kalau begitu bagaimana baiknya, kakang. Agaknya akan sukar untuk melakukan perjalanan ke dalam daerah Blambangan dan menyelidiki keadaan di sana."

"Akan lebih mudah mereka ketahui kalau kita mengadakan perjalanan berdua. Sebaiknya kita berpencar saja dan masuk ke Blambangan. Kita saling bertemu di Blambangan. Bagaimana pendapatmu?"

"Begitu juga baik dan aku akan menyamar sebagai seorang pemuda."

"Akan tetapi engkau harus dapat menahan diri, jangan menimbulkan ke ributan, Retno. Pertahankan perasaanmu agar tidak mudah terpancing untuk berkelahi karena hal itu akan mudah mengenal kita."

"Sebaiknya kalau di luar pakaian kita yang putih, kita memakai pakaian lain yang berwarna sehingga tidak menarik perhatian. Dan jangan memakai nama Joko Wilis karena nama itu sudah dikenal baik oleh mereka."

"Lalu aku harus memakai nama apa, kakang?"

"Kita menggunakan nama sederhana saja dan menyamar sebagai pemuda dusun. Aku akan memakai nama Joko Slamet dan engkau memakai nama Joko Waras."

Retno Wilis tersenyum.

"Wah, nama yang mudah sekali diingat. Baiklah, kakang Slamet, mulai sekarang aku memakai nama Joko Waras."

Setelah membeli beberapa potong pakaian dari penduduk dusun, Retno Wilis berdandan sebagai seorang pemuda dusun.

Juga Bagus Seto mengenakan pakaian biasa berwarna biru untuk menutupi pakaiannya yang serba putih.

Setelah selesai berdandan, Retno Wilis berdiri di depan kakaknya dan bertanya.

"Bagaimana pendapatmu, kakang? sudah pantaskah aku menjadi Joko Waras?"

Bagus Seto memandang wajah adiknya dan tersenyum.

"Engkau pandai sekali menyamar. Aku sendiri tentu akan pangling kalau tidak kau beritahu lebih dulu. Ingat, jangan mencari ke ributan, adikku, dan kita saling bertemu di Blambangan."

"Akan tetapi, Blambangan itu besar. Di mana kita akan bertemu, kakang?"

"Pada hari Respati sore, datang saja ke alun-alun kadipaten dan aku akan berada di bawah pohon waringin yang berada di sana."

Setelah mengingatkan kepada adiknya agar waspada dan sabar, tidak membiarkan diri terpancing ke dalam perkelahian, Bagus Seto lalu berpisah dari Retno Wilis, mengambil jalan masing-masing memasuki daerah Blambangan.

Sebagai seorang pemuda remaja dusun yang lincah, tidak ada orang yang mencurigai Joko Waras.

Di mana-mana dia diterima dengan baik sebagai seorang perjaka yang ramah dan juga pandai membawa diri.

Jika malam tiba dia bermalam di rumah penduduk yang hanya hidup berdua dengan isterinya sehingga dia mendapat tempat tidur tersendiri.

Kalau siang Joko Waras melakukan perjalanan menuju ke kadipaten Blambangan dan di sepanjang perjalanan dia mencari keterangan tentang keadaan kadipaten Blambangan.

Dalam perjalanannya ini, Joko Waras melihat bahwa di dusun-dusun yang dilewatinya, banyak dibangun candi-candi kecil yang baru, di mana hanya terdapat arca Shiwa-Durgo-Kala.

Kalau teringat akan perbuatan Ni Dewi Durgomala dan Ki Shiwananda, rasanya ingin ia menghancurkan candi-candi itu.

Akan tetapi ia teringat akan pesan kakaknya bahwa ia tidak boleh mencari ke ributan.

Pula, apa salahnya candi-candi itu?

Itu hanya tempat pemujaan, dan orang boleh memuja dewa mana saja asalkan dalam pemujaan itu tidak mengganggu orang lain.

Iapun beberapa kali melihat serombongan perajurit Blambangan menghadang dan memeriksa orang-orang yang berlalu lalang, menanyai mereka, ada pula yang menggeledah kalau-kalau mereka menyimpan senjata.

Ia sendiri yang bersikap wajar seperti seorang pemuda dusun yang masih muda, lolos dari kecurigaan.

Pernah pula dia ditanyai mereka seperti seorang pesakitan.

"Siapa namamu?"

"Namaku Joko Waras. Ketika masih bayi sakit-sakitan maka lalu namaku diubah menjadi Joko Waras dan sejak itu aku waras terus, tidak pernah sakit,"

Katanya dengan suara lemah akan tetapi nadanya kasar seperti biasa sikap dan kata-kata seorang dusun yang tidak terpelajar.

"Apa pekerjaanmu?"

"Penggembala kerbau atau sapi. Aku sudah berpengalaman sejak kecil menggembala kerbau atau sapi. Kalau andika membutuhkan penggembala yang baik, aku bersedia..."

"Sudah, sana! Jangan banyak cerewet!"

Hardik seorang penanya dan Joko Waras bergegas pergi sambil menyeringai.

Akan tetapi pada suatu pagi ketika dia tiba di suatu dusun yang sudah masuk perbatasan Blambangan, dusun yang cukup ramai, dia melihat banyak sekali orang berkumpul dan mereka itu sedang diperiksa oleh serombongan perajurit Blambangan yang dipimpin seorang senopati yang bertubuh tinggi kurus dengan pandang mata yang tajam bersinar-sinar.

Di antara banyak orang yang dihentikan perjalanan mereka itu terdapat tiga orang wanita muda yang cantik manis.

Melihat tiga orang wanita itu, senopati yang tinggi kurus segera berkata.

"Biarkan aku yang memeriksa mereka. Siapa tahu di antara mereka terdapat orang yang kita cari."

Senopati itu adalah Kurdolangit, senopati Blambangan berusia lima puluh tahun yang terkenal sakti, akan tetapi juga terkenal mata keranjang.

Tubuhnya tinggi kurus, mukanya seperti tengkorak, akan tetapi sepasang matanya menunjukkan kecerdikan dan kepandaiannya.

Senopati Kurdolangit lalu duduk di atas bangku dan menggapai tiga orang gadis itu.

Setelah menanyakan nama mereka, tempat tinggal mereka, dia lalu menggeledah tubuh tiga orang gadis itu, menggerayangi dengan jari-jari tangannya secara kasar dan kurang ajar sekali.

Tentu saja tiga orang gadis dusun itu merintih dan menjerit kecil ketika diperlakukan seperti itu.

Tiga orang laki-laki setengah tua, ayah dari para gadis itu, melangkah maju mendekat dan mohon kepada Senopati Kurdolangit untuk melepaskan tiga orang puteri mereka.

Mendengar permohonan ini, Kurdolangit menjadi marah.

Dia bangkit berdiri dan tiga kali tubuhnya bergerak, tiga orang laki-laki itu telah ditamparnya dan mereka terpelanting dan terbanting keras.

Pipi mereka menjadi bengkak oleh tamparan tadi.

"Jangan mencampuri urusanku, atau kalian akan kuhukum mati! Aku sedang menjalankan tugas dan siapapun yang kucurigai akan kugeledah. Tak seorangpun boleh mencegahnya!"

Dan kembali tangannya dengan nakal menggerayangi tubuh tiga orang gadis itu yang menggeliat-geliat sambil merintih.

Tiba-tiba seorang laki-laki keluar dari rombongan orang dusun itu.

Joko Waras melihat laki-laki itu masih muda, berusia kurang lebih dua puluh tiga tahun, Pakaiannya sederhana akan tetapi wajahnya tampan dan terutama sekali matanya demikian terang dan mengandung wibawa.

Pemuda tampan itu bukan lain adalah Jayawijaya, pemuda dari pegunungan Tengger itu.

Seperti kita ketahui, pemuda ini telah berpisah dari Endang Patibroto setelah dia ditolong oleh wanita sakti itu.

Pada pagi hari itu, perjalanannya sampai di tempat itu.

Diapun mendengar bahwa di banyak tempat diadakan pencegatan dan pemeriksaan oleh pasukan Blambangan dan kadang pemeriksaan itu dilakukan dengan sewenang-wenang.

Kini Jayawijaya melihat dengan mata kepala sendiri perlakuan yang kurang ajar dari Kurdolangit terhadap tiga orang gadis itu.

Tentu saja dia menjadi marah sekali dan segera menghampiri senopati Kurdolangit yang tinggi kurus bermuka seperti tengkorak itu.

"Begitukah cara memeriksa wanita? Sungguh tidak sopan dan kurang ajar sekali, tidak patut dilakukan seorang senopati, pantasnya dilakukan seorang anggauta perampok jahat!"

Jayawijaya berkata demikian sambil menudingkan telunjuknya ke arah muka senopati itu.

Kurdolangit terbelalak dan mukanya berubah merah.

Dia dimaki seorang pemuda di depan umum!

Dia menghentikan pemeriksaannya, mendorong tiga orang gadis itu ke luar dari tempat pemeriksaan, lalu bangkit berdiri dan bertolak pinggang, memandang kepada Jayawijaya dengan mata melotot.

"Kau bilang apa?"

Agaknya Jayawijaya tidak tahu bahwa senopati itu marah sekali. Dia berkata dengan tegas.

"Aku bilang bahwa engkau melakukan pemeriksaan terhadap wanita secara kurang ajar dan tidak sopan sama sekali. Tidak tahu malu!"

"Jahanam, apakah engkau bosan hidup?"

Bentak Kurdolangit dengan muka berubah kemerahan seperti udang direbus.

Joko Waras melihat betapa senopati itu marah sekali dan dia ingin tahu apa yang akan terjadi selanjutnya.

Pemuda tampan itu kelihatan pemberani bukan main dan tentu pemuda itu mempunyai kepandaian yang dapat diandalkan maka dia berani menegur seorang senopati seperti itu.

Kurdolangit yang sudah tidak dapat menahan rasa malunya dimaki orang di depan umum, sudah menerjang maju dan kedua tangannya yang kurus panjang itu menyambar ke arah kepala Jayawijaya.

Pemuda ini agaknya tidak tahu bahwa dia diserang, dia berdiri tenang-tenang saja dan memandang senopati itu dengan matanya yang mencorong penuh wibawa dan kelembutan.

Kedua tangan itu menyambar ke arah kepala dengan tenaga yang dahsyat.

Akan tetapi, tiba-tiba kedua tangan itu seperti bertemu dengan tenaga yang tidak tampak dan tubuh Kurdolangit terpelanting roboh!

Joko Waras terbelalak!

Pemuda itu ternyata seorang yang memiliki ilmu kepandaian tinggi!

Kalau tadinya dia sudah bersiap untuk membantu agar pemuda yang pemberani itu tidak sampai celaka, kini diapun hanya menonton saja dengan terheran-heran.

Pemuda itu seolah tidak pernah merobohkan orang dan berdiri dengan sikap masih tenang saja.

Kurdolangit yang merasa betapa pukulan kedua tangannya tadi seperti bertemu dengan tenaga dahsyat yang membuatnya terpelanting, menjadi semakin malu dan marah.

Dia melompat bangkit kembali dan sudah mencabut sebatang kerisnya yang panjang dan dahsyat.

"Bocah kurang ajar! Engkau minta mati!"

Bentak Kurdolangit dan kini dia menggerakkan kerisnya dengan tangan kanan, menusuk ke arah dada Jayawijaya dengan keris yang besar panjang itu.

Joko Waras kini memandang penuh perhatian kepada pemuda yang diserang itu.

Dia melihat betapa pemuda itu tidak membuat gerakan menangkis atau menghindar, melainkan mengangkat kedua tangannya ke atas seperti orang hendak menyembah dan terjadilah keanehan yang kedua kalinya.

Keris seperti bertemu dengan tangkisan kuat sekali dan membalik, melukai lengan kanan Kurdolangit sendiri, Senopati ini terhuyung mundur dan memegangi lengannya yang berdarah.

Kurdolangit masih penasaran walaupun lengan kanannya sudah mengucurkan darah terkena kerisnya sendiri.

Dia bangkit lagi dan menubruk dengan kerisnya, kini serangannya dilakukan dengan tenaga sepenuhnya sambil menggereng seperti seekor harimau terluka!

Joko Waras mengamati lagi dengan penuh kewaspadaan.

ia melihat pemuda itu hanya membuat gerakan seperti mendorong ke depan dan tubuh senopati itu terpelanting seperti layang-layang putus talinya, terbanting jatuh dan bergulingan sampai jauh!

Kini tanpa malu-malu Ki Kurdolangit lalu memberi aba-aba kepada anak-buahnya yang belasan orang banyaknya untuk melakukan pengeroyokan kepada Jayawijaya.

Melihat ini, Joko Waras menjadi marah dan dia-pun melompat dan tubuhnya berkelebatan ke sana ke mari, membagi-bagi tamparan dan tendangan sehingga belasan orang anak buah Ki Kurdolangit itu jatuh bangun dan akhirnya tidak ada yang berani melawan lagi.

Joko Waras yang merasa kagum dan heran kepada Jayawijaya segera memegang tangan pemuda itu dan menariknya, berkata.

"hayo kita cepat lari dari sini!"

Jayawijaya tadi melihat betapa pemuda dusun berpakaian sederhana, bertubuh ramping kecil namun tampan sekali itu mengamuk dan merobohkan para perajurit.

Dia membiarkan dirinya ditarik dan ikut lari bersama Joko Waras.

Joko Waras ingin menguji ilmu kepandaian Jayawijaya dan berlari mempergunakan aji kesaktiannya sehingga kedua telapak kakinya seolah tidak menyentuh bumi.

Akan tetapi, Jayawijaya tertinggal jauh dan ketika tangannya digandeng pemuda itu terseret-seret!

Joko Waras menjadi semakin heran.

Pemuda ini tidak mahir ilmu meringankan tubuh dan tidak memiliki aji berlari kencang.

Dia lalu berlari biasa lagi sehingga Jayawijaya dapat mengimbanginya.

Setelah melalui beberapa dusun, dengan terengah-engah Jayawijaya bertanya.

"Ki sanak, kenapa kita berlari terus? Sampai kapankah kita harus berlari seperti ini?"

Joko Waras tersenyum dan berhenti berlari. Mereka, tiba di luar sebuah dusun dan saat itu sudah menjelang senja.

"Kita harus melarikan diri dari pasukan tadi, ki sanak,"

Katanya.

"Kenapa harus lari? Kita tidak bersalah,"

Bantah Jayawijaya.

"Hemm, mungkin kita menganggap diri kita tidak bersalah. akan tetapi senopati itu dan anak buahnya tidak akan menganggap demikian. Kita tentu dianggap melawan dan memberontak."

Mereka berjalan memasuki dusun itu.

Di tepi dusun itu terdapat sebuah warung nasi yang ramai dikunjungi orang.

Belasan orang pengunjung itu semua laki-laki dan kebanyakan masih muda.

Dari cara mereka bercakap-cakap sambil tertawa menunjukkan bahwa mereka sedang bergembira.

Joko Waras mengajak temannya untuk duduk di bangku paling ujung.

Sekarang mengertilah Joko Waras mengapa para pengunjung itu semua laki-laki muda dan suasananya Nampak gembira.

Kiranya penjaga warung nasi yang melayani mereka itu adalah seorang perawan dusun yang cantik manis.

Biarpun dandanannya sederhana sekali namun gadis itu memang manis sekali dan memiliki daya tarik yang amat kuat.

"Ki sanak, siapakah nama andika?"

Tanya Joko Waras berbisik.

Jayawijaya menengok dan memandang Joko Waras sambil tersenyum.

Mereka telah lari bersama dan tiba di tempat itu, memasuki warung itu bersama namun belum saling mengenal nama!

"Namaku Jayawijaya, dan siapa nama andika?"

"Aku Joko Waras dari dusun Selogiri di Gunung Kidul. Dan andika?"

"Aku dari Gunung Tengger."

Pada saat kedua orang muda itu saling bercakap dengan berbisik, kini pelayan warung yang manis itu menunjukkan perhatiannya kepada mereka.

Melihat dua orang muda yang demikian tampan, Saritem, demikian nama pemilik atau pelayan warung nasi itu, merasa kagum dan senang.

Sikap kedua orang muda yang bicara dengan bisik-bisik dan sopan itu saja menunjukkan bahwa mereka bukanlah dua orang muda dusun sembarangan.

"Ki sanak, andika berdua ingin makan dan minum apakah?"

Tanya Saritem kepada mereka sambil memandang wajah Joko Waras dengan penuh perhatian. Ketampanan pemuda ini sungguh menggerakkan hatinya.

"Oh, aku minta sepiring nasi sayur lodeh dan minum teh manis,"

Kata Jayawijaya.

"Aku juga sama dengan permintaan kakang Jaya,"

Kata Joko Waras sambil memandang kepada pelayan itu yang tersenyum manis memperlihatkan deretan gigi putih bersih dan indah.

"Kakang, yang jualan nasi ayu, ya?"

Kata Joko Waras.

Saritem tersipu dan kedua pipinya berubah kemerahan, lalu ia menyibukkan diri melayani mereka seolah tidak mendengar pujian itu.

Padahal, jantungnya berdebar keras dan ia sendiri merasa heran.

Sudah setiap hari ia mendengar pujian yang keluar dari mulut pria, akan tetapi mengapa pujian perjaka tampan ganteng ini membuatnya tersipu malu?

"Hushh, adi Waras, jangan keras-keras memuji orang.

Lihat, ia tersipu malu,"

Tegur Jayawijaya lirih.

Retno Wilis memang seorang gadis yang lincah dan nakal.

Sebagai Joko Waras, dia sengaja mengerlingkan matanya dan melirik tajam kepada Saritem, disertai senyum manis menawan dan ketika Saritem menjulurkan tangan menyerahkan piring nasi lodeh, dengan sengaja Joko Waras menerima piring itu dan menyentuhkan tangannya kepada tangan yang lunak lembut dan hangat itu.

Saritem tidak marah, malah tersenyum dan tersipu menarik tangannya dengan lembut.

Joko Waras tersenyum lebar dan ia melihat betapa Jayawijaya yang melihat perbuatannya itu mengerutkan alisnya.

Seorang pemuda yang alim, pikirnya.

Akan tetapi ia merasa seperti menghadapi teka-teki besar terhadap Jayawijaya.

Sudah terbukti betapa pemuda itu dapat menghindarkan semua serangan yang berbahaya dari senopati yang mata keranjang itu.

Akan tetapi ketika diajaknya berlari, pemuda itu sama sekali tidak mampu berlari kencang.

Dan juga ketika menarik tangan pemuda itu, tenaganya biasa-biasa saja seperti tenaga orang yang tidak memiliki kepandaian tinggi.

Pemuda macam apakah ini, yang tampaknya tidak memiliki ilmu kepandaian akan tetapi yang berani menentang kejahatan yang dilakukan belasan orang pasukan pemerintah yang dipimpin oleh seorang senopati yang digdaya?

Dan sekarang, dalam menghadapi Saritem, Jayawijaya memperlihatkan sikap seorang pemuda yang alim dan tidak suka menggoda wanita cantik!

Selagi mereka berdua makan nasi sayur lodeh yang hangat dan gurih itu, perhatian Joko Waras tidak pernah terlepas dari keadaan sekelilingnya.

Belasan orang laki-laki muda berada di warung itu, duduk berserakan di bangku-bangku di dalam dan luar warung.

Sebagian besar telah selesai makan dan kini bercakap-cakap gembira sambil kadang mengerling ke arah Saritem.

Tapi ada seorang pemuda yang tidak sedang makan dan yang duduk di sebelah dalam warung itu amat memperhatikan mereka berdua.

Joko Waras, memperhatikan pemuda ini.

Dia seorang pemuda berusia kurang lebih dua puluh lima tahun.

Tampangnya ganteng dan tubuhnya juga tegap kokoh seperti Raden Gatutkaca.

Kumis tipisnya menambah kejantanannya dan sepasang matanya mengeluarkan sinar tajam dan berwibawa.

Sejak Saritem melayani Joko Waras dan Jayawijaya, pemuda itu terus mengamati mereka berdua, terutama sekali Joko Waras.

Hal yang membuat Joko Waras diam-diam merasa jengkel karena tidak enak sekali selagi makan ditonton orang seperti itu.

Seolah-olah setiap dia mengunyah makanan, laki-laki itu mengikuti setiap gerak mulutnya.

Tidak enak sekali!

Karena hatinya mendongkol, setelah nasi itu dimakan habis dan melihat pemuda itu masih saja memperhatikan dia dan Jayawijaya, Joko Waras memandang kepadanya kemudian mengedipkan sebelah matanya seperti memberi isarat dengan kedip-kedipan.

Melihat mata Joko Waras berkedip-kedip kepadanya, pemuda gagah itu terbelalak lalu alisnya berkerut dan matanya menyinarkan kemarahan.

Akan tetapi Joko Waras hanya tersenyum kepadanya.

"Semua berapa, nimas ayu?"

Tanya Joko Waras dan sengaja meninggikan suaranya sehingga terdengar semua orang. Saritem yang disebut nimas ayu itu tersenyum semringah.

"Tidak ditambah tehnya, kakangmas?"

Tanya Saritem dengan suaranya yang merdu ditambah kerling tajam dan senyum memikat.

"Bagiku sudah cukup, nimas. Ah tehmu manis sekali, semanis penjualnya. Akan tetapi entah kalau kakang Jaya ingin minta tambah air tehnya."

"Aku juga sudah cukup,"

Kata Jayawijaya yang segera bangkit dan mengambil uang receh dari saku bajunya dan membayar harga makanan dan minuman.

"Aih, kakangmas bisa saja memuji orang. Air teh buatan dusun begini mana bisa lezat dan manis,"

Kata Saritem agak genit sambil tersenyum.

"Sungguh mati, nasi lodehnya hangat pulen dan gurih, air tehnya hangat sedap dan manis. Andika bukan saja cantik jelita dan manis, akan tetapi juga amat pandai memasak. Beruntunglah kelak orang yang menjadi suamimu, nimas ayu!"

Joko Waras kembali memuji, kini agak berlebihan karena dia melihat betapa pemuda tadi memandangnya dengan mata mengandung kemarahan dan bahkan kini telah bangkit berdiri dari tempat duduknya.

Ucapan Joko Waras itupun terdengar oleh para pemuda lainnya dan empat orang pemuda yang duduk di luar warung tertawa-tawa mendengar ini.

"Wah, Saritem tentu berkembang cuping hidungnya mendengar pujian setinggi langit itu!"

"Ha-ha, ia memang pantas mendapat pujian!"

"Siapa yang tidak akan memujinya? Ia cantik, manis dan dagangannya juga serba enak dan murah!"

"Aku sendiri kalau sehari saja tidak jajan di sini rasanya kangen sekali!"

Pemuda yang seperti Raden Gatutkaca itu melompat dari tempat duduknya dan sudah tiba di luar warung. Sekali dia menggerakkan kakinya, meja yang dihadapi empat orang itu terbang terlempar jauh.

"Babo-babo! Siapa berani main-main dengan Saritem? Apakah kalian berempat hendak menantangku? Majulah kalian berempat, keroyoklah aku, aku tidak takut menghadapi kalian untuk mempertahankan kehormatan Saritem kekasihku!"

Empat orang pemuda itu tampak ketakutan dan seorang diantara mereka berkata.

"Saptoko, kenapa engkau marah-marah? Bukankah kita semua adalah kawan-kawan sedusun? Kalau kami memuji-muji Saritem, hal itu bukan karena kami ingin kurang ajar, melainkan memuji dengan wajar. Siapa orangnya tidak memuji kecantikan Saritem?"

"Aku melarang kalian sembarangan memuji Saritem seperti hendak mempermainkannya. Kalian semua harus menghormatinya atau kalian boleh berantem melawan aku!"

Kata pemuda yang bernama Saptoko itu dengan bertolak pinggang, akan tetapi matanya kini menatap ke arah Joko Waras.

Seorang pemuda tinggi besar, seorang di antara empat orang pemuda tadi melangkah maju menghampiri Saptoko.

"Saptoko, jangan bersikap seperti itu. Saritem membuka warung nasi dan kami semua adalah langganannya yang baik, suka memuji-mujinya akan tetapi tidak ada yang pernah berkurang ajar kepadanya. Kenapa engkau marah-marah? Kalau tidak ingin Saritem dipuji orang, jangan perbolehkan ia membuka warung dan biarkan ia bersembunyi terus di dalam rumahnya."

Saptoko maju dan sekali mendorong dengan tangan kanannya, pemuda yang bertubuh tinggi besar dan tampak kuat itu terdorong mundur sampai terjengkang.

"Pendeknya, aku melarang siapa saja yang berani main-main dengan Saritem, termasuk pemuda yang asing dan berdiri di sana itu!"

Katanya sambil menudingkan telunjuknya kepada Joko Waras. Joko Waras terbelalak dan mengerutkan alisnya. Dengan lincahnya dia melompat dan menghampiri Saptoko.

"Eh, ki sanak. Kenapa engkau menuding-nuding aku? Apa salahku kepadamu, heh?"

Saptoko marah sekali dan menudingkan telunjuknya ke arah Joko Waras.

"Andika tadi berani memuji-muji dan menyebut Saritem nimas ayu, berarti engkau menantangku!"

Saptoko membuka kancing bajunya dan memperlihatkan dadanya yang kokoh dan bidang.

"Eh-eh, apa-apaan ini? Aku menyebut nimas ayu Saritem, sedangkan orangnya merasa senang dan tidak marah, kenapa engkau mencak-mencak seperti orang kebakaran kumis? Aku datang dan membeli makanan minuman, beramah-tamah dengan penjualnya, dengan sopan dan tidak melanggar kesusilaan, apa perdulimu?"

"Apa perduliku? Saritem adalah kekasihku, calon isteriku!"

Bentak Saptoko.

"Kalau engkau tidak ingin ia bicara dengan orang lain, kenapa memperbolehkan berjualan nasi? Suruh ia bersembunyi dikamarnya seperti kata saudara tadi."

"Kakang Saptoko, jangan begitu, kakang!"

Saritem kini keluar dari warungnya dan berdiri di depan Saptoko dengan alis berkerut dan mulut cemberut.

"Engkau ini ada apakah, tiada hujan tiada angin mengamuk seperti orang tidak waras?"

Orang tinggi besar yang tadi didorong jatuh, karena merasa tidak senang lalu berkata.

"Kalau saja Ki Blekok yang datang mengganggu, tentu dia tidak berani apa-apa."

Saptoko menjadi semakin marah mendengar ini.

"Aku memang kalah oleh Ki Blekok, akan tetapi terhadap pemuda cilik ini, siapa takut? Kalau dia berani banyak cakap, akan kurobek mulutnya!"

Marah benar Saptoko ini sehingga mengeluarkan ancaman yang demikian mengerikan.

Joko Waras juga menjadi marah.

Siapa tidak akan marah mendengar mulutnya akan dirobek orang?

Dia melompat lagi dan tiba di hadapan Saptoko.

"Apa kau bilang? Engkau mau merobek mulutku? Aku berani bertaruh bahwa sebelum engkau mampu menyentuh mulutmu yang akan lebih dulu robek!"

Saptoko menjadi semakin marah. Dia mengepal kedua tangannya dan bersikap hendak menyerang. Akan tetapi Saritem menghalanginya dan memegangi tangannya.

"Kakang Saptoko, jangan berkelahi. Aku akan bersedih kalau engkau seperti ini dan berkelahi dengan orang lain. Kakangmas ini sama sekali tidak bersalah, jangan pukul dia!"

Jayawijaya yang melihat Saptoko hendak menyerang Joko Waras, juga maju menghalangi.

"Ki sanak, bersabarlah. Adi Joko Waras ini tidak mempunyai niat buruk. Tenangkanlah hatimu."

Akan tetapi Saptoko mengira bahwa Jayawijaya hendak mengeroyok, maka dia memegang tangan Jayawijaya dan menariknya dengan sentakan.

Tubuh Jayawijaya terhuyung dan dia tentu akan tersungkur jatuh kalau Joko Waras tidak cepat memegang tangannya dan menahannya.

"Kakang Saptoko, aku akan marah kepadamu!"

Teriak Saritem.

"Aih, Saritem, setidaknya berilah kesempatan kepadaku untuk melindungimu dari godaan pria lain!"

Joko Waras sudah tidak mampu menahan kemarahannya lagi. Boleh jadi Saptoko bukan orang jahat, melainkan hanya seorang kekasih yang pencemburu, akan tetapi laki-laki kasar seperti itu pantas dihajar.

"Saptoko, masihkah engkau ada keberanian untuk bertanding dengan aku? Tanpa keroyokan?"

"Aku seorang laki-laki! Tidak sudi aku melakukan pengeroyokan."

"Kakang Saptoko "!"

"Saritem, berilah aku kesempatan untuk menandingi pemuda ini,"

Pinta Saptoko kepada Saritem dengan suara minta dikasihani. Terhadap gadis itu suara pemuda gagah ini begitu lembut dan merayu. Saritem kini menghadapi Joko Waras.

"Kakangmas, harap jangan layani Kakang Saptoko. Dia memang keras hati, akan tetapi hatinya baik sekali. Engkau akan kalah kalau melawan dia. Dia seorang kuat dan digdaya, kakangmas."

Joko Waras tersenyum.

"Saritem, jangan khawatir. Aku tidak akan merobek mulut pemuda kasar ini, hanya akan membuktikan kepadanya bahwa di dunia ini masih terdapat banyak orang yang lebih pandai dari pada dia. Hayolah, Saptoko. Majulah dan lawanlah aku!"

Joko Waras menantang.

"Baik, sambut seranganku ini!"

Saptoko lalu menyerang dengan pukulan tangan kanannya.

Pukulannya itu dilakukan dengan mantap dan cepat menurut ilmu pencak silat yang baik.

Namun, gerakan itu masih terlampau lamban bagi Joko Waras dan dengan gerakan indahnya dia menangkis sambil memutar tubuh dan tangan kirinya menampar ke arah kepala lawan.

Saptoko dapat mengelak pula dan kembali dia menyerang dengan secepat dan sekuatnya.

Namun, sernua serangannya dapat dielakkan oleh Joko Waras.

Sampai belasan jurus Saptoko menyerang, namun tanpa hasil.

Semua serangannya dapat dielakkan atau ditangkis oleh Joko Waras.

"Adi Joko Waras, jangan lukai orang!"

Kata Jayawijaya yang menonton pertandingan itu dengan sikap tenang.

Dia sudah maju, bahwa Joko Waras adalah seorang pemuda yang digdaya, dapat mengalahkan belasan orang perajurit Blambangan, maka dia dapat menduga bahwa Saptoko bukanlah lawanya dan dia khawatir kalau-kalau Joko Waras akan melukainya.

Semua orang muda yang berada di situ kini membentuk lingkaran dan menonton pertandingan itu.

Semua orang terkagum-kagum kepada Joko Waras.

Pemuda yang tampaknya masih remaja itu ternyata mampu menandingi Saptoko, pemuda dusun itu yang dianggap paling jagoan.

Setelah belasan jurus dan Saptoko belum mampu menyentuh ujung baju Joko Waras yang memperlihatkan kegesitannya seperti seekor burung srikatan, tiba-tiba Saptoko menggerakkan kaki kanannya menendang dengan sekuat tenaga.

"Wuuuuttt...!"

Kaki kanan itu menyambar akan tetapi dengan enaknya Joko Waras mengelak dan sebelum Saptoko menarik kembali kakinya yang menendang, kaki itu telah dapat ditangkap oleh Joko Waras dan didorong ke atas lalu dilontarkan!

Tubuh Saptoko melayang ke atas dan tanpa dapat dicegah lagi, tubuh itu terbanting jatuh dan sialnya, dia jatuh telungkup sehingga ketika dia bangkit kembali, bibirnya yang ujung pecah mengeluarkan darah!

Saptoko berdiri dengan kedua kaki terpentang.

Dia masih belum sadar benar apa yang telah terjadi dengan dirinya.

Baru dia menyadari ketika para pemuda di situ bertepuk tangan memuji Joko Waras yang berdiri di depannya sambil tersenyum manis.

"Bagaimana, Saptoko. Apakah engkau masih penasaran?"

Tanya Joko Waras.

"Aku bukan musuh, akan tetapi kalau engkau menantangku, tentu akan kulayani. Minta berkelahi sampai berapa hari akan kulayani!"

Saptoko tercengang dan kini teringatlah dia akan perkelahian tadi.

Baru tiga hari yang lalu, ketika orang yang menamakan dirinya Ki Blekok menggoda Saritem secara kurang ajar lalu berkelahi dengannya, dia dikalahkan oleh Ki Blekok.

Akan tetapi dia kalah setelah melalui perkelahian yang ramai dan seru.

Biarpun dia kalah akan tetapi setidaknya dia dapat mengimbangi kedigdayaan Ki Blekok yang katanya merupakan jagoan dari dusun di lereng bukit.

Sedangkan apa yang dia baru saja alami amatlah mengherankan.

Dia sama sekali tidak mampu menyentuh tubuh Joko Waras bagian manapun juga, apa lagi hendak merobek mulutnya!

Dan tadi ketika dia mengirim tendangan, sebuah ilmu serangan yang biasanya tidak pernah gagal, tendangan itu luput dan tiba-tiba saja tubuhnya terlempar ke atas dan jatuh, terbanting keras!

Saptoko adalah seorang yang berjiwa gagah, dan tahu diri.

Dia tahu pada saatnya dia kalah berhadapan dengan orang yang lebih kuat, hanya yang membuat dia penasaran, mengapa dia kalah oleh seorang perjaka tanggung seperti Joko Waras!

"Aku mengaku kalah!"

Katanya sambil melangkah lebar keluar dari lingkaran orang-orang itu, memasuki malam yang hampir tiba.

"Kakang Saptoko...!"

Saritem keluar dari warungnya dan mengejar, memanggil. Akan tetapi Saptoko hanya menengok sebentar dan berkata singkat.

"Aku telah kalah dua kali. Aku tidak ada gunanya, Saritem!"

Dan diapun melanjutkan langkahnya yang lebar.

Saritem terisak, tak kembali ke dalam warungnya.

Para pemuda yang makan di warung itu ikut merasa tidak enak dan setelah membayar harga makanan dan minuman, mereka meninggalkan tempat itu, agaknya merasa curiga dan tidak nyaman bersama dua orang pemuda asing yang telah mengalahkan jagoan mereka itu.

Joko Waras dan Jayawijaya berdua tinggal di warung.

"Saritem, sebetulnya siapakah Saptoko itu? Dia itu kekasih hatimu, calon suamimu?"

"Dahulu memang begitu, kakangmas. Aku mengharapkan dia untuk menjadi suamiku karena dia baik budi dan mencintaiku, walaupun wataknya jujur dan kasar. Akan tetapi semenjak muncul Ki Blekok itu, hubungan kami terganggu karena dia merasa telah dikalahkan Ki Blekok dan tidak akan mampu merebut aku dari tangan Ki Blekok."

"Hemmm, dan siapa itu Ki Blekok?"

Tanya Joko Waras penasaran.

"Dia jagoan dari dusun Benang di lereng bukit itu, orangnya berusia empat puluh tahun, galak sombong dan mata keranjang. Tiga hari yang lalu dia makan di sini dan langsung saja dia melamarku. Aku menolak dan kakang Saptoko marah sehingga terjadi perkelahian antara kakang Saptoko dan Ki Blekok. Akan tetapi kakang Saptoko kalah dan Ki Blekok pergi setelah berkata bahwa seminggu lagi dia akan datang untuk memboyongku ke dusunnya."

"Dan engkau mau?"

"Aku tidak sudi, kakangmas. Akan tetapi apa dayaku? Aku hanya hidup berdua dengan ibuku yang sudah janda. Ibu juga tidak mampu berbuat sesuatu. Kami hanya mengandalkan perlindungan kakang Saptoko, akan tetapi kakang Saptoko bahkan tadi kalah olehmu. Harga dirinya tentu telah terpukul parah dan aku tidak tahu apa yang harus kulakukan nanti kalau Ki Blekok muncul."

Gadis manis itu lalu menangis sesenggukan. (Lanjut ke

Jilid 12) Sepasang Garuda Putih (seri ke 05 -Serial Keris Pusaka Sang Megatantra) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo

Jilid 12

"Jangan menangis, Saritem, dan jangan khawatir. Kalau Ki Blekok datang dan hendak memaksamu menjadi isterinya di luar kehendakmu, aku yang akan mencegah dan menegurnya. Tidak ada aturan yang membenarkan seseorang memaksa seorang wanita untuk menjadi isterinya diluar kehendaknya!"

Kata Jayawijaya dengan suaranya yang lembut dan ucapan ini tentu saja merupakan hiburan besar bagi Saritem.

"Benarkah andika akan melakukan hal itu, kakangmas? Ah, terima kasih sekali!"

Kata gadis itu dengan girang.

"Tentu saja kakang Jayawijaya akan melakukan hal itu. Dia seorang laki-laki sejati yang sekali berjanji pasti akan dipenuhi. Perkenalkanlah, Saritem. Dia ini kakang Jayawijaya dan aku adalah JokoWaras. Pekerjaan kami berdua memang menegakkan yang lurus dan meluruskan yang bengkok, membela kebenaran dan keadilan dan menentang yang tidak benar."

"Ah... ah... terima kasih, kakangmas berdua. Sekarang aku akan menutup warung ini dan segera menemui kakang Saptoko untuk memberitahu kepadanya agar hatinya ikut pula menjadi tenang."

"Mari kami bantu, Saritem!"

Kata Joko Waras dan diapun segera membantu tanpa diminta.

Melihat ini, Jayawijaya terpaksa membantu juga.

Pada mulanya Jayawijaya merasa tidak senang menyaksikan Joko Waras seperti bermanis muka dan merayu si gadis manis itu, akan tetapi melihat kesungguhan hatinya untuk membantu gadis itu dan kekasihnya, rasa tidak senangnyapun hilang.

Dia percaya lagi bahwa teman barunya itu bukan golongan pemuda yang mata keranjang dan suka mengganggu wanita cantik.

Suara suling itu mengalun naik turun.

Lengkingannya yang merdu itu mendendangkan tembang Megatruh yang mengiris kalbu dan mendatangkan rasa trenyuh bagi siapa yang mendengarnya.

Suara suling bambu yang mendayu-dayu itu datang dari sebuah gubuk yang berdiri di tengah sawah yang padinya sedang tumbuh dengan suburnya, menjelang berbunga dan berbuah.

Suara itu seperti rintihan yang memanggil-manggil jiwa Saritem.

Gadis ini tahu belaka siapa peniup suling bambu itu.

Ia sudah mengenal benar tiupan suling itu.

Siapa lagi kalau bukan Saptoko yang pandai menyuling seperti itu.

Lengkingan suara suling seperti mempercepat larinya di sepanjang pematang sawah, menuju ke gubuk yang diterangi sebuah-lampu minyak kelapa yang kecil.

Akhirnya tibalah ia di dekat gubuk itu dan dengan hati penuh perasaan iba ia memandang sesosok tubuh yang rebah telentang di atas gubuk sambil meniup suling bambu.

Saptoko yang sedang asyik dibuai perasaannya sendiri yang hanyut oleh tiupan sulingnya, tidak mendengar dan tidak tahu bahwa gubuknya dihampiri orang.

Dia meniup terus sampai selesai memainkan tembang Megatruh yang mendayu-dayu itu.

Setelah selesai memainkan tembang itu, dia bangkit duduk dan hendak meniup lagi tembang yang lain.

Akan tetapi pada saat itu terdengar suara merdu memanggilnya.

"Kakang Saptoko...!"

Saptoko menaruh sulingnya di dalam gubuk dan dia meloncat turun, menyambut gadis yang baru tiba.

"Saritem! Kenapa engkau menyusulku ke sini?"

"Kakang, engkau pergi begitu terpukul, aku harus menemuimu dan membicarakan sesuatu denganmu."

Saritem lalu menghampiri dan iapun naik ke dalam gubuk dan duduk di sebelahnya.

"Saritem, apa yang dapat dibicarakan lagi? Aku telah dikalahkan Ki Blekok, tidak berhasil melindungimu dan aku tidak tahu bagaimana aku harus melindungi nanti kalau Ki Blekok muncul. Aku seorang laki-laki sejati, Saritem, dan aku akan mempertahankan kehormatanmu biarpun aku harus mati di tangan Ki Blekok. Akan tetapi apa yang terjadi? Hari ini aku kalah pula oleh seorang pemuda remaja yang berani menggodamu. Ah, sudahlah, apa lagi yang dapat dibicarakan? Aku siap mati nanti kalau Ki Blekok muncul! Hanya jiwa dan kematianku yang dapat kupersembahkan kepadamu sebagai bukti cintaku."

"Kakang Saptoko...!!"

Saritem merangkul leher pemuda itu dengan kedua tangannya dan menjatuhkan mukanya di dadanya. Saptoko memeluknya dengan hati terasa sebesar gunung.

"Kakang Saptoko, terima kasih atas cintamu yang demikian besar kepadaku, akan tetapi dengarlah dulu, jangan putus asa seperti itu, kakang. Dengarlah, orang yang kau kira menggodaku itu, pemuda yang masih remaja itu, dia adalah kakangmas Waras dan sahabatnya bernama kakangmas Jayawijaya. Mereka sama sekali bukan orang jahat atau orang kurang ajar, kakang. Bahkan aku telah menceritakan semua tentang halnya Ki Blekok dan mereka berdua sudah berjanji bahwa mereka yang akan menanggulangi kalau Ki Blekok datang hendak memboyongku ke dusunnya!"

"Saritem, bagaimana aku dapat menerima bantuan itu? Apa akan kata orang kalau aku mengandalkan dua orang asing untuk membantuku menghadapi Ki Blekok? Kehormatan dan harga diriku akan amblas, Saritem. Tidak, aku terpaksa menolak uluran tangan kedua orang asing itu dan aku harus dengan kaki tanganku sendiri menghadapi Ki Blekok sebagai seorang laki-laki sejati yang melindungi dan mempertahankan kekasihnya!"

Terdengar tepuk tangan menyambut ucapan yang gagah ini.

"Waduh gagahnya, seperti Raden Gatutkaca saja! Hebat andika, Saptoko. Akan tetapi apa arti semua kegagahan itu kalau tidak ada isinya? Apa artinya semua pengorbananmu, bahkan nyawamu, kalau akhirnya Saritem diboyong dan dipaksa menjadi isteri Ki Blekok? Harga diri dan kehormatan itu memang perlu bagi seorang laki-laki sejati, akan tetapi kalau keterlaluan lalu menjadi semacam keangkuhan yang sama sekali tidak ada manfaatnya bahkan merugikan diri sendiri!"

Saptoko melompat turun dari atas gubuknya dan dia berhadapan dengan Joko Waras dan Jayawijaya.

"Apa yang dikatakan adi Joko Waras itu benar, ki sanak. Pengorbananmu itu tidak ada artinya kalau kekasihmu tetap akan dipaksa menikah dengan orang lain,"

Kata Jayawijaya dengan suaranya yang lembut.

"Akan tetapi bagaimana aku dapat menentang orang yang mengganggu Saritem dengan minta bantuan dua orang asing? Itu akan merendahkan kehormatanku."

"Saptoko yang angkuh!"

Kata Joko Waras.

"Baiklah, kalau engkau merasa direndahkan kalau kami membantumu, kami tidak akan membantumu sama sekali. Kalau jahanam Ki Blekok itu berani datang di dusun ini, kami yang akan mengusirnya, tanpa menyebut namamu. Kami akan membuat dia bertaubat dan tidak akan berani memaksakan kehendaknya lagi. Dan ada lain jalan yang tidak akan menyinggung harga dirimu yang demikian mahal, yaitu kalau besuk pagi-pagi engkau mau datang ke gubuk ini, aku akan menunggumu dan aku akan mengajarkan semacam ilmu yang dapat kau pergunakan untuk menundukkan Ki Blekok. Bagaimana pendapatmu?"

"Kakang! Aku sudah bilang. Mereka ini adalah ksatria-ksatria yang berbudi. Terimalah penawarannya itu, kakang, demi aku!"

"Hemm, jalan itu memang baik sekali. Dan alangkah baiknya kalau aku sendiri yang dapat mengalahkan Ki Blekok. Baiklah, Joko Waras. Aku terima uluran tanganmu dan besuk pagi-pagi aku akan berada di tempat ini."

"Bagus! Sekarang, kami akan pergi mencari tempat menginap!"

Joko Waras menggandeng tangan Jayawijaya.

"Mari kakang Jaya, kita pergi dan jangan mengganggu keasyikan mereka!"

Kata Joko Waras dengan sikap jenaka sehingga sepasang muda-mudi yang ditinggalkan itu tersipu dan menjadi merah mukanya.

Malam itu dengan mudah Joko Waras dan Jayawijaya mendapatkan tempat untuk bermalam, di rumah kepala dusun yang sudah mendengar akan sepak terjang mereka.

Kepala dusun sendiri merasa cemas dengan ancaman Ki Blekok dan diapun tidak berani menghadapi Ki Blekok yang jagoan, maka mendengar bahwa ada dua orang pemuda asing yang dating ke dusun itu dan bersedia menolong dengan senang hati dia menawarkan tempat untuk bermalam bagi kedua orang pemuda itu.

"Kakang Jayawijaya, aku mempunyai kebiasan buruk sekali yang sudah kubiasakan sejak kecil, yaitu aku tidak dapat tidur sepembaringan dengan orang lain. Karena itu, biarlah engkau tidur di pembaringan itu dan aku akan tidur di lantai saja."

Jayawijaya yang lembut hati itu tentu saja menolak dengan keras.

"Tidak, adi, Joko. Aku yang lebih tua, maka sudah sepatutnya aku yang mengalah. Aku sudah terbiasa tidur di tempat dingin. Di Tengger sana, aku dapat tidur di lantai tanah, apalagi di sini yang hawanya tidak begitu dingin. Tidurlah di atas, adi Joko dan aku akan tidur di bawah."

"Terima kasih, kakang Jaya, engkau memang seorang kakak yang baik hati sekali."

Joko Waras memberi hadiah senyuman yang manis. Pada keesokan harinya, Jayawijaya menyentuh kaki Joko Waras dan mengguncang tubuhnya.

"Adi Joko, ayam telah berkokok. Ingat akan janjimu kepada Saptoko!"

Joko Waras menggeliat seperti seekor kucing lalu bangkit dan tersenyum.

"Enak sekali tidurku semalam,"

Katanya dan ia lalu cepat pergi ke sumur di belakang rumah untuk membersihkan diri dan sudah siap berangkat.

Tanpa mengganggu keluarga Lurah mereka berdua lalu meninggalkan rumah itu dan menuju ke sawah di luar dusun.

Di gubuk yang semalam, mereka menemukan Saptoko telah duduk menanti dan dia segera meloncat turun ketika melihat mereka berdua.

"Ilmu apa yang akan andika ajarkan kepadaku, adimas Joko Waras?"

Tanya Saptoko dengan sikap ramah setelah semalam dia mempertimbangkan segalanya dan disadarkan oleh Saritem bahwa dia telah bersikap terburu nafsu terhadap dua orang muda penolong itu.

"Adi Joko yang akan mengajarkan ilmu kepadamu, aku sendiri tidak bisa apa-apa,"

Kata Jayawijaya.

"Kakang Saptoko, sebelum aku menentukan ilmu apa yang kuajarkan, aku ingin tanya dulu sampai di mana tingginya ilmu kepandaian Ki Blekok itu. Bagaimana kalau dibandingkan dengan ilmu silatmu?"

Saptoko tersipu.

"Sebetulnya selisihnya tidak berapa banyak, hanya aku kalah dalam hal tenaga, juga kecepatan. Pertandingan kami berlangsung seru akan tetapi akhirnya aku kalah."

Joko Waras tersenyum.

"Ah, sepele kalau begitu. Hanya menang sedikit di atas tingkat Saptoko. Dan apakah dia menggunakan Senjata?"

"Ketika bertanding denganku dia tidak menggunakan senjata, akan tetapi andaikata dia yang terdesak tentu dia akan mencabut kerisnya yang besar dan panjang."

"Bagus! Kalau begitu aku akan mengajarkan kepadamu bagaimana untuk melawan kerisnya dan mengalahkannya."

Saptoko tertegun.

"Mengalahkan kerisnya? Dengan senjata apa?"

"Senjatamu yang paling ampuh, ialah sulingmu itu. Mana sulingmu yang kemarin sore engkau tiup dengan indahnya itu?"

Saptoko semakin heran.

"Sulingku? Akan tetapi, adimas. Sulingku itu hanya sebatang suling bambu. Bertemu tangan saja dapat patah dan remuk, apa lagi bertemu keris!"

"Hemm, engkau agaknya masih belum percaya padaku. Ambil sulingmu!"

Saptoko mengambil suling itu dari dalam gubuk dan menyerahkannya kepada Joko Waras. Sebatang suling bambu yang panjangnya setengah lengan.

"Apakah engkau memiliki senjata tajam di sini?"

Saptoko menggeleng kepala.

"Bukan senjata, hanya sebatang arit."

"Bagus, ambillah arit itu."

Arit diambil dan Joko Waras lalu berkata.

"Sekarang pergunakan arit itu untuk menyerangku, akan kuperlihatkan bagaimana sebatang suling bambu dapat mengalahkan sebatang arit!"

Karena masih belum dapat percaya, Saptoko lalu mau mencobanya.

"Lihat seranganku!"

Teriaknya sambil mengayun arit itu menyerang, dengan cepat dan kuatnya karena ia memperhitungkan kalau pemuda remaja itu menangkis dengan suling, tentu suling bambu itu akan hancur diterjang aritnya.

Akan tetapi arit itu hanya mengenai tempat kosong dan tiba-tiba saja suling meluncur, ujungnya mengenai sambungan siku kanan dan seketika tangannya menjadi kaku dan arit itupun terlepas!

"Nah, kau lihat?"

Joko Waras meyakinkan. Saptoko menjadi bengong akan tetapi dia masih belum puas.

"Kekalahanku demikian mudah karena aku yang lengah. Kalau aku berhati-hati sehingga sikuku tidak terkena sodokan suling, tentu aku belum kalah dan kalau suling itu menangkis arit, tentu sulingnya yang remuk,"

Katanya.

"Engkau masih belum yakin bahwa sulingmu dapat mengalahkan keris lawan? Tidak baik sekali kalau engkau belum yakin, itu akan melemahkan dirimu sendiri. Sekarang coba lagi. Ambil aritmu dan serang lagi aku sesukamu."

Saptoko mengambil aritnya dan kembali dia berseru.

"Awas serangan!"

Kini dia menyerang dengan hati-hati dan aritnya menyambar-nyambar ganas.

Namun Joko Waras dengan lincah mengelak ke sana sini dan sulingnya menyambar-nyambar dengan ganasnya dan kadang suling itu menangkis arit, mengeluarkan bunyi nyaring akan tetapi sama sekali tidak pecah atau rusak ketika bertemu arit, bahkan Saptoko merasa lengan kanannya tergetar hebat.

Setelah lewat belasan jurus, tiba-tiba suling itu menotok dua kali, sekali mengenai pundak kanan Saptoko dan yang kedua kali mengenai lambung dan tanpa dapat dicegah lagi tubuh Saptoko terpelanting jatuh, sekali lagi aritnya terlepas dari tangan.

Setelah untuk kedua kalinya kalah, Saptoko baru yakin bahwa ilmu silat dengan suling itu hebat sekali maka diapun bangkit dan membungkuk kepada Joko Waras.

"Waduh, hebat bukan main ilmu silat suling itu, adimas Joko. Akan tetapi apakah dalam beberapa hari ini saja aku akan dapat memainkannya dengan baik?"

"Tentu saja dapat asal engkau menaati semua pesanku,"

Kata Joko Waras.

Dan di tempat itu mulailah Joko Waras mengajarkan ilmu silat dengan suling kepada Saptoko, juga cara dia menghimpun tenaga sakti sehingga gerakan sulingnya mengandung tenaga yang dahsyat.

Memang pada dasarnya Saptoko memiliki bakat yang baik sekali dan dia telah memiliki dasar ilmu silat yang cukup tinggi maka tidak terlalu sukar bagi Joko Waras untuk menurunkan ilmu lagi kepadanya.

Sementara itu, Jayawijaya hanya menonton saja dan dia merasa semakin kagum kepada Joko Waras yang masih demikian muda namun telah memiliki kedigdayaan yang tinggi.

Jayawijaya sendiri tidak suka mempelajari aji kesaktian atau ilmu kedigdayaan.

Sejak kecil dia digembleng oleh ayahnya Tengger untuk tidak menggunakan kekerasan dalam menghadapi segala sesuatu, melainkan menghadapinya dengan kelembutan dan kebijaksanaan.

Kalau dia terancam bahaya dia merasa terlindungi oleh Kekuasaan Hyang Widhi dan dia selalu menyerah dengan penuh keikhlasan dan kepasrahan.

Baginya sudah menjadi kepercayaan yang bulat dan mendalam lahir batin bahwa tidak ada apapun atau siapapun akan dapat mecelakainya selama Hyang Widhi melindunginya.

Dia seakan selalu berlindung di bawah bayangan Kekuasaan Hyang Widhi dengan penuh iman dan penyerahan sehingga selalu merasa aman dalam keadaan apapun, aman seperti bayi dalam gendongan Ibunya.

Akan tetapi Jayawijaya kagum kepada Joko Waras karena pemuda remaja ini menggunakan semua aji kedigdayaan yang dimilikinya itu untuk menegakkan kebenaran dan keadilan, dan menentang yang jahat.

Selama lima hari lima malam, hampir tidak pernah berhenti, Saptoko melatih dirinya dengan ilmu silat sulingnya di bawah bimbingan Joko Waras dan setelah lewat lima hari, hati Joko Waras telah merasa puas dan diam-diam dia memuji "muridnya"

Yang berbakat dan amat tekun itu.

Hari yang dinanti-nanti tiba.

Pagi hari itu warung Saritem sudah penuh pemuda, bahkan yang tidak biasa jajan di situ, hari itu memerlukan datang untuk melihat apa yang akan dilakukan Ki Blekok terhadap gadis penjual nasi yang manis itu.

Bahkan Ki lurah sendiri juga datang, hanya tidak langsung memasuki warung itu, melainkan menonton dari sebuah rumah penduduknya, tidak berapa jauh dari warung nasi itu.

Setelah matahari naik tinggi dan semua orang yang datang ke warung nasi sudah sarapan pagi, muncullah orang yang ditunggu-tunggu, yaitu Ki Blekok!

Dia seorang laki-laki berusia kurang lebih empat puluh tahun, bertubuh tinggi besar dan jalannya seperti seekor singa kelaparan, sinar matanya tajam dan penuh keangkuhan, jenggotnya sekepal sebelah dan setiap gerak geriknya menunjukkan bahwa dia seorang jagoan tulen!

Di pinggangnya terselip sebatang keris yang panjang dan besar dan kepalanya memakai ikat kepala wulung.

Dengan sikap congkak dia berjalan di depan, pakaiannya serba baru dan di belakangnya dia diikuti oleh belasan orang yang di antaranya ada yang membawa sebuah joli.

Agaknya dia benar-benar datang hendak mengangkut atau memboyong Saritem untuk dijadikan isterinya.

Karena dia yang menjadi pimpinan berlagak sombong sekali, maka belasan orang bawahannya juga semua bersikap sombong.

Setelah tiba di depan warung nasi, Ki Blekok berteriak dari luar warung dengan suaranya yang parau dan lantang.

"Heii, diajeng Saritem, apakah engkau sudah siap untuk kuboyong ke Benang? Kenapa warung nasimu masih juga dibuka?"

Semua orang muda yang tadinya duduk di dalam warung sudah keluar semua dan mereka berdiri di tempat yang cukup aman.

Mereka semua memandang kepada Ki Blekok dan rombongannya dengan sikap takut-takut.

Karena tidak mendapatkan jawaban, Ki Blekok mengerutkan alisnya yang tebal dan dengan langkah tegap diapun menghampiri warung nasi itu dan memasukinya.

Warung itu nampak sepi.

Saritem duduk di belakang meja dagangannya seperti biasa dan ia hanya mengangkat muka memandang tanpa rasa takut sedikitpun kepada Ki Blekok!

Dan di sebelah wanita cantik itu duduk seorang laki-laki yang bukan lain adalah Saptoko.

Tentu saja Ki Blekok menjadi marah.

Dia sudah tahu bahwa Saptoko mengaku sebagai kekasih Saritem dan pernah pemuda itu dihajarnya.

Sekarang pemuda itu masih berani duduk di samping Saritem dan tidak memperdulikan kedatangannya.

Ki Blekok maju selangkah sehingga mendekati meja dagangan Saritem dan memandang kepada gadis itu dengan kumis bergerak-gerak dan mata terbelalak.

"Saritem! Hayo cepat keluar dan masuk ke joli yang sudah kusediakan untukmu!"

Bentaknya.

"Ki Blekok, sejak kapan engkau menganggap aku sebagai calon isterimu? Aku tidak pernah menerima pinanganmu dan aku tidak suka menjadi isterimu. Jangan ganggu aku dan pergilah dari sini,"

Kata Saritem dan suaranya sedikitpun tidak menunjukkan sikap gentar.

"Brakk...!"

Ki Blekok menghantam meja dengan telapak tangannya dan ujung meja tebal itu menjadi remuk.

"Keluar dan masuk joli atau aku akan meruntuhkan warung nasi ini dan akan memaksamu dan menyeretmu keluar!"

"Hem, sungguh sikap yang amat tidak patut!"

Terdengar seruan halus.

Ki Blekok cepat memutar tubuhnya dan baru melihat bahwa di ujung bangku panjang di sebelahnya duduk dua orang pemuda, yang seorang pemuda remaja yang memandangnya dengan sikap mengejek dan senyum cengar-cengir, sedangkan yang menegurnya adalah seorang pemuda ganteng yang bersikap lembut.

"Apa katamu?"

Bentak Ki Blekok menghadapi dua orang pemuda yang masih duduk di bangku itu. Dia marah sekali melihat ada orang berani menegurnya.

"Ki sanak, aku mengatakan bahwa sikapmu ini sungguh tidak patut dan aku mengingatkanmu bahwa perbuatan yang tidak patut tentu akan berakibat buruk terhadap pelakunya sendiri. Engkau akan memetik buah dari pada pohon yang kau tanam sendiri, karena itu tanamlah pohon yang berguna dan baik demi kebaikanmu sendiri."

"Apa perdulimu dengan perbuatanku? setan alas!"

Ki Blekok memaki dan sekali tangannya bergerak, bangku yang diduduki dua orang pemuda itu telah ditendangnya.

Joko Waras dapat meloncat sebelum tendangan tiba, akan tetapi Jayawijaya terpelanting jatuh.

Akan tetapi dia bangkit berdiri lagi dan menghadapi Ki Blekok dengan sikap sedikitpun tidak merasa takut.

"Ki sanak, kuperingatkan sekali lagi. Kalau engkau lanjutkan perbuatanmu memaksa Saritem menjadi isterinya, engkau akan menyesal kelak. Bertaubatlah sekarang sebelum terlambat!"

"Keparat kau! Sudah bosan hidup rupanya!"

Ki Blekok mengepal tangan kanannya dan melontarkan pukulan yang keras sekali ke wajah Jayawijaya.

Akan tetapi pada saat itu, mangkok yang terisi penuh sambal pecel telah melayang dan tepat mengenai mukanya.

Tentu saja ini perbuatan Joko Waras.

"Eh, aupp... aduh pedas...!"

Ki Blekok megap-megap dan mendesis-desis karena matanya yang kemasukan sambal pecel terasa pedas dan panas bukan main.

Sambil meraba-raba dia keluar dari warung nasi itu.

Teman-temannya segera datang menolongnya.

Ada yang membersihkan mukanya dari sambal pecel dan ada pula yang mencari air bersih untuk mencuci muka dan matanya.

Akhirnya Ki Blekok dapat melihat lagi.

Mukanya menjadi kemerahan dan dia sudah bertolak pinggang dan mengamangkan kerisnya ke arah warung sambil membentak.

"Eh, ki sanak yang berada di warung. Kalau memang engkau laki-laki, keluarlah dan tandingilah aku, Ki Blekok dari dusun Benang! Jangan berbuat curang seperti seorang perempuan!"

Suasana menjadi tegang dan hening setelah dia mengeluarkan tantangan itu dan semua mata ditujukan ke arah warung itu untuk melihat siapa yang akan keluar melawan Ki Blekok yang sudah mencabut kerisnya itu.

Semua orang terbelalak heran dan juga khawatir ketika melihat Saptoko keluar dari warung itu dengan langkah satu-satu dan sikapnya tenang sekali, sebatang suling bambu terselip di pinggangnya.

Di belakangnya, agak jauh, keluar pula Joko Waras dan Jayawijaya, juga Saritem ikut keluar dan memandang dengan sinar mata penuh kekhawatiran kepada kekasihnya.

"Ki Blekok! Kalau kedatanganmu untuk memaksa Saritem menjadi isterimu, akulah yang melarangmu dan akulah yang akan menandingimu!"

Kata Saptoko dengan kedua kaki dipentang lebar dan kedua lengan terlipat di depan dada, pandang matanya bersinar-sinar tertuju ke arah Ki Blekok.

Semua orang merasa heran dan juga khawatir.

Sudah jelas bahwa beberapa hari yang lalu Saptoko tidak mampu melawan Ki Blekok dan dihajarnya, padahal ketika itu Ki Blekok hanya menggunakan tangan kosong belaka.

Sekarang Ki Blekok memegang keris pusaka dan Saptoko hendak maju menandinginya?

Seperti mencari mati!

"Hua-ha-ha-ha-ha!

Andika yang bernama Saptoko itu, bukan?

Tempo hari aku masih menaruh kasihan kepadamu dan tidak membunuhmu.

Sekarang andika berani menantangku lagi?

Ingat, baik-baik, orang muda.

Aku adalah Ki Blekok, juara dari dusun Benang gemblengan yang sakti mandraguna.

Kalau andika maju lagi sekali ini andika tentu akan mati karena aku tidak pernah mau memberi ampun untuk kedua kalinya!"

"Wah-wah-wah, sumbarnya seperti dapat menggugurkan Mahameru! Padahal baru terkena sambal pecel saja sudah berkaok-kaok seperti kerbau disembelih. Ini yang namanya juara dan pendekar sambal pecel, sombongnya kepati-pati akan tetapi tidak ada artinya, gentong kosong dipukul nyaring!"

Tiba-tiba Joko Waras mengejeknya dan semua orang mau tidak mau tersenyum karena teringat akan peristiwa tadi ketika Ki Blekok disiram sambal pecel mukanya.

"Jahanam keparat! Jadi engkau anak kecil yang tadi melemparku dengan sambal pecel? Mari, kubunuh dulu engkau baru yang lain!"

Kata Ki Blekok dan dia sudah hendak mengejar Joko Waras. Akan tetapi Saptoko nenghadangnya.

"Ki Blekok, karena urusanmu mengenai Saritem, maka tidak ada lain kecuali akulah lawanmu. Saritem adalah milikku, calon isteriku, dan akulah yang akan mempertahankan kehormatannya!"

Kini kemarahan Ki Blekok sudah mencapai puncaknya, apa lagi karena ejekan JokoWaras tadi.

Keris di tangannya gemetar saking marahnya dan dia memandang Saptoko dengan mata seakan hendak menelannya bulat-bulat.

"Saptoko, sekarang engkau mampus!"

Dia membentak dan seperti seekor biruang dia sudah menubruk dan menyerangkan kerisnya ke arah dada Saptoko.

Pemuda ini mengelak ke belakang sambil mencabut sulingnya dan sambil menggeser langkahnya ke samping dia sudah mengayun sulingnya menusuk ke arah leher lawan.

Melihat pemuda itu menggunakan sebatang suling menusuk lehernya, Ki Blekok menyampok dengan tangan kirinya dan dia melangkah mundur sambil tertawa.

"Heh, Saptoko, apakah engkau sudah menjadi gila? Engkau melawan kerisku dengan sebatang suling bambu? Ha-ha-ha, engkau membuat aku menjadi malu! Gantilah senjatamu itu, aku segan membunuh orang yang tidak memegang senjata!"

"Babo-babo, Ki Blekok. Biarpun aku hanya menggunakan suling, akan tetapi jangan harap engkau akan dapat menang dariku. Majulah, aku akan menandingimu!"

"Hemm, jangan salahkan aku kalau lehermu kutebas berikut sulingmu!"

Bentak Ki Blekok dan diapun menyerang lagi, kini lebih hebat dari tadi, mengerahkan seluruh tenaga dan kepandaiannya untuk merobohkan saingannya ini secepat mungkin agar dia dapat segera memboyong Saritem ke dusunnya di mana sudah dipersiapkan pesta pengantin.

Akan tetapi, pemuda itu bergerak cepat mengelak dan kadang menangkis kerisnya dan suling itu sama sekali tidak remuk, atau patah.

Bahkan belasan jurus kemudian ujung suling itu menyerempet urat nadinya, membuat dia hamper melepaskan kerisnya dan selagi dia kaget, sebuah tendangan kaki Saptoko mengenai perutnya.

"Bukk!!"

Tubuh Ki Blekok terpental ke belakang akan tetapi dia tidak jatuh bahkan menyerang lebih dahsyat karena dia mendengar orang memuji kemenangan Saptoko itu.

Saptoko mainkan ilmu silat sulingnya seperti yang diajarkan Joko Waras.

Akan tetapi karena dia baru berlatih selama lima hari, tentu saja gerakannya belum mahir benar.

Melihat kekurangan ini, Joko Waras diam-diam mengambil sebuah batu kerikil dan sekali menyentil dengan batu kerikil itu, melesatlah kerikil itu dan tepat mengenai bawah telinga kiri Ki Blekok.

Tak seorangpun mengetahui akan hal ini dan Ki Blekok tiba-tiba menjerit dan mengaduh lalu tubuhnya terhuyung.

Kesempatan ini dipergunakan oleh Saptoko untuk menotokkan ujung sulingnya pada tekukan siku dari lawan.

Tak dapat dicegah lagi, keris itupun terlempar jatuh dan tangan kiri Saptoko, memukul, mengenai leher Ki Blekok dan betapapun kuatnya tubuh Ki Blekok, dia terjungkal juga.

Terdengar sorak sorai para pemuda dusun Lentur yang bangkit kembali semangatnya melihat kemenangan mutlak Saptoko atas diri Ki Blekok sehingga timbul kembali keberanian mereka.

Akan tetapi Ki Blekok merangkak bangun, mengambil kerisnya dan memberi isyarat kepada teman-temannya untuk mengeroyok Saptoko.

"Hei, jangan main keroyok. Itu tidak adil!"

Teriak Jayawijaya. Akan tetapi Joko Waras sudah melompat ke depan dan berkata kepada para pemuda dusun Lentur.

"Wahai para pemuda dusun Lentur! Apakah kalian akan tinggal diam saja melihat Kakang Saptoko dikeroyok? Hayo maju!"

Dan dia sendiri sudah maju dan kaki tangannya bergerak merobohkan dua orang pengeroyok!

Ketika dilihatnya Ki Blekok dengan keris di tangan hendak mengeroyok Saptoko pula, Joko Waras segera melompat ke depannya dan menjulurkan lidahnya.

"Ki Blekok pendekar sambal pecel, tidak malukah engkau mengeroyok?"

Melihat pemuda remaja ini mengejeknya, Ki Blekok lalu menubruk dengan kerisnya. Tentu saja dia tidak tahu bahwa Saptoko yang telah mengalahkannya adalah "murid"

Lima hari pemuda remaja ini.

Tubrukannya mengenai tempat kosong dan sebelum dia tahu apa yang terjadi, kerisnya sudah berpindah tangan karena tangan kanannya menjadi lumpuh.

Joko Waras menggunakan keris itu untuk mencoret dua kali ke arah muka Ki Blekok.

Ki Blekok menjerit.

Mukanya digores ujung keris dua kali sehingga tergores dan berdarah.

Kemudian, di depan matanya yang terbelalak ketakutan, dia melihat betapa pemuda remaja itu mematah-matahkan kerisnya dengan jari-jari tangannya yang kecil dan membuang patahan-patahan keris itu ke atas tanah.

Dia melihat pula bahwa teman-temannya kini berbalik dikeroyok banyak sekali pemuda Lentur.

Melihat pihaknya mengalami kekalahan, Ki Blekok lalu memekik sambil mendesis kesakitan karena mukanya terasa pedih sekali.

"Kawan-kawan, lari...!"

Ki Blekok dan kawan-kawannya lari lintang pukang, meninggalkan jolinya yang segera dihancurkan para pemuda di situ.

Para pemuda itu bersorak gembira melihat kemenangan di pihak mereka dan mereka memuji-muji Saptoko.

Biarpun Saptoko merasa bangga dan harga dirinya seolah kembali terangkat, akan tetapi kini dia menyadari tiada gunanya berbangga diri, maka dia lalu berkata.

"Kawan-kawan, dengarkan dulu ceritaku!"

Suara gaduh dari semua orang itu terhenti dan semua orang memandang kepada Saptoko yang menggandeng tangan Saritem.

"Kawan-kawan, kalian tentu merasa heran mengapa sekarang aku dapat menang melawan Ki Blekok. Semua ini berkat pertolongan adimas JokoWaras dan kakangmas Jayawijaya, dua orang penolong dan penyelamat kita. Mari kita haturkan terima kasih kepada mereka!"

Akan tetapi, ke manapun mereka semua mencari-cari, dua orang pemuda itu telah menghilang.

Agaknya Joko Waras telah dapat menduga apa yang akan dilakukan Saptoko, maka dia telah menarik tangan Jayawijaya dan diajak pergi secepatnya dari tempat itu tanpa diketahui siapapun.

Biarpun kedua orang penolongnya itu sudah tidak ada, Saptoko menceritakan semua pengalamannya kepada mereka.

Dia sekarang menjadi seorang yang rendah hati, tidak angkuh lagi dan semua orang makin menyukainya dan mengangkatnyaa sebagai pemimpin para pemuda.

Dan sejak saat itu, dusun Lentur menjadi dusun yang terkenal kuat pemudanya, tidak mudah orang dari lain tempat berlaku sewenang-wenang di situ.

Saritem juga segera menikah dengan Saptoko, dirayakan orang sedusun.

Mereka berhenti di bawah sebatang pohon beringin yang besar dan amat tua.

Jayawijaya menyusut keringat yang membasahi lehernya.

Wajahnya yang tampan itu kemerahan karena sinar matahari yang sudah naik tinggi dan sinarnya mulai panas membakar.

Joko Waras memandang wajah pemuda itu dengan penuh perhatian dan keheranan?

"Eh, adimas Joko, mengapa engkau memandangi aku seperti itu?"

Kata Jayawijaya sambil balas memandang. Joko Waras menghela napas panjang dan bertanya.

"Kakang Jayawiya, benarkah sejak dahulu engkau tidak pernah mempelajari ilmu kadigdayaan dan aji kesaktian sama sekali?"

Jayawijaya menggeleng kepalanya.

"Menurut kata ayah, orang yang mempelajari aji kesaktian banyak yang tersesat, mengandalkan aji kesaktiannya untuk memaksakan kehendaknya. Karena itu, aku tidak suka mempelajarinya. Banyak macam ilmu yang lebih patut dipelajari, yakni ilmu-ilmu yang berguna, baik bagi orang lain mau pun bagi diri sendiri. Juga banyak ilmu yang memperindah kehidupan ini, seperti ilmu kesenian, seni tari, seni suara, seni rupa dan masih banyak lagi."

"Akan tetapi tanpa menguasai seni belai diri engkau sudah diganggu dan dijahati orang, seperti halnya kakang Saptoko itu. Setelah dia mempelajari suatu ilmu silat dariku, baru dia dapat menghalau orang jahat yang hendak merampas Saritem. Kalau dia tidak mempelajari ilmu itu, tentu niat jahat Ki Blekok akan terlaksana dan ketidak adilan terjadi di dusun Lentur itu."

"Aku tidak percaya akan terjadi hal itu. Buktinya, engkau muncul dan menolongnya. Kemunculanmu itulah yang menolong mereka dan kemunculanmu itulah bentuk perlindungan dari Hyang Widhi. Kalau Hyang Widhi tidak menghendaki suatu kejahatan terjadi, tentu ada saja jalan keluar untuk menanggulanginya."

"Akan tetapi andaikata kita tidak kebetulan lewat di dusun itu?"

"Juga belum tentu kejahatan itu terjadi. Mungkin Sang Hyang Widhi akan memberikan perlindungan dalam bentuk lain, mungkin saja ada orang lain yang muncul untuk mencegah terjadinya kejahatan itu. Akan tetapi juga mungkin Sang Hyang Widhi sudah menghendaki hal itu terjadi maka pertolongan dari manapun juga tidak akan berhasil menggagalkan peristiwa itu."

"Wah, kalau begitu sama halnya dengan Sang Hyang Widhi merestui perbuatan jahat!"

"Jangan dinilai demikian, adi Joko. Rencana dan keputusan Sang Hyang Widhi merupakan rahasia besar bagi kita. Kita hanya dapat tunduk dan menyerah dengan penuh kesadaran dan kepercayaan bahwa apapun yang dikehendaki Hyang Widhi pasti terjadi dan kejadian itu tidak dapat dinilai baik atau buruk, melainkan itulah kenyataan atau kebenaran yang bebas dari pada pendapat baik dan buruk, benar dan salah."

"Walah, aku jadi pening kalau begini, kakang Jayawijaya. Sungguh banyak aku mendengar tentang ilmu kehidupan, akan tetapi seperti yang kau gambarkan tadi sungguh membingungkan hatiku. Katanya Gusti itu Maha Suci, Maha Murah dan Maha Adil. Akan tetapi kalau sampai membiarkan seorang laki-laki memaksa seorang wanita menjadi isterinya dan tidak ada yang menolong wanita itu, mana itu dapat dibilang adil?"

"Dalam hal keadilan pun, Keadilan Sang Hyang Widhi sama sekali tidak bisa diukur dengan keadilan anggapan manusia. Anggapan manusia itu selalu berpamrih. Manusia baru menganggap adil kalau keadilan itu menguntungkan dirinya, karena itu keadilan versi manusia ini di mana-mana bertabrakan sesuai dengan kepentingan masing-masing. Keadilan Sang Hyang Widhi itu maha luas dan tidak terjangkau oleh akal pikiran manusia. Karena itu, satu-satunya sikap kita adalah menerima bahwa segala sesuatu yang terjadi itu telah dikehendaki oleh Hyang Widhi dan itu sudah benar dan adil."

"Kalau begitu, kita tinggal diam saja dan tidak melakukan apa-apa, menyerahkan saja kepada kekuasaan Tuhan untuk bertindak?"

"Sama sekali salah! Sang Hyang Widhi telah menciptakan kita dengan serba sempurna dan lengkap, oleh karena itu sudah menjadi kewajiban kita untuk mempergunakan segala kesempurnaan ini di dalam kehidupan. Untuk menjaga diri, untuk mempertahankan hidup ini, untuk menikmati kebahagiaan dalam kehidupan dan sudah menjadi kewajiban setiap orang manusia untuk berusaha membela kebenaran dan keadilan umum untuk menentang tindak kejahatan."

"Jadi kita harus berusaha. Kalau usaha kita itu gagal, kita lalu menyerahkan kepada keputusan Sang Hyang Widhi?"

"Begitulah, adi Joko. Ada dongeng yang indah sekali tentang hal itu."

"Dongeng? Coba ceritakan kakang. Aku suka mendengar dongeng yang indah-indah."

Baca Juga: Suling Emas 13

Baca Juga: Sepasang Pedang Iblis 19

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert