Eps 4 Sepasang Garuda Putih - Kho Ping Hoo
Baca online Sepasang Garuda Putih - Kho Ping Hoo
Cersil Sepasang Garuda Putih - Kho Ping Hoo.
"Jangan bergerak dan jangan berteriak kalau engkau sayang nyawamu!"
Bisiknya. Laki-laki itu ketakutan dan membelalakkan matanya, menggeleng kepala menyatakan bahwa dia tidak akan berteriak atau bergerak.
"Aku hanya ingin engkau menunjukkan di mana kamar Sang Demang Kebolinggo!"
Kembali Harjadenta menggertak, dan menempelkan kerisnya lebih ketat ke leher orang itu.
"Ampunkan saya... kamar... kamarnya berada di ruangan tengah... jangan bunuh saya..."
Kata orang itu dengan tubuh menggigil dan suara gemetar.
"Hayo turun dan tunjukkan aku kamar itu!"
Kembali Harjadenta berkata, dan dengan tubuh gemetar ketakutan orang itu lalu turun dari pembaringannya.
Dia didorong ke pintu oleh Harjadenta, membuka pintu dan mereka keluar.
Retno Wilis melihat mereka, lalu ia mengikuti dari belakang.
Setelah tiba di ruangan tengah dan orang itu menudingkan telunjuknya ke arah sebuah pintu kamar yang besar, tiba-tiba Harjadenta mengetuk tengkuknya dengan tangan kiri.
Orang itu mengeluh lirih dan roboh pingsan.
"Sekarang giliranku untuk memasuki kamar sang demang lebih dulu,"
Kata RetnoWilis dan Harjadenta mengangguk.
Dengan mudah sekali Retno Wilis juga membuka daun jendela kamar itu dan bagaikan seekor kucing saja ia melompat ke dalam tanpa menimbulkan suara sedikitpun.
Kamar itu remang-remang karena hanya diterangi sebuah lampu gantung yang kecil.
Akan tetapi penglihatan Retno Wilis yang tajam dapat melihat sesosok tubuh yang tinggi kurus rebah seorang diri di atas sebuah pembaringan yang lebar dan berukir indah.
Pria itu berusia kurang lebih lima puluh tahun dan dia tidur telentang dan mendengkur.
(Lanjut ke
Jilid 08) Sepasang Garuda Putih (seri ke 05 -Serial Keris Pusaka Sang Megatantra) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo
Jilid 08 Retno Wilis menghampiri pembaringan itu dan dengan kakinya ia mendorong pembaringan itu, sehingga pembaringan terguncang keras.
Sang demang terkejut dan terbangun dari tidurnya.
Dia menggosok matanya dengan punggung tangan dan bangkit duduk, akan tetapi tiba-tiba saja ada sebatang pedang ditodongkan pada dadanya.
Dia terbelalak memandang dan melihat bahwa yang menodong dadanya dengan pedang adalah seorang wanita yang cantik jelita akan tetapi matanya mencorong menakutkan.
"Apa... ada apa ini... siapa andika?"
Tanya sang demang.
"Jangan mencoba untuk berteriak karena pedang ini tentu akan menembus dadamu!"
Retno Wilis mengancam.
Kini Demang Kebolinggo sudah sadar sepenuhnya bahwa kamarnya kemasukan maling wanita yang mangancamnya.
Dia adalah seorang laki-laki yang sedikit banyak memiliki ilmu bela diri.
Dia menganggap bahwa wanita itu berani karena memegang pedang.
Tiba-tiba dia membuang tubuh ke kiri sehingga terlepas dari todongan lalu kakinya menendang ke arah tangan Retno Wilis yang memegang pedang.
Retno Wilis terkejut, tidak mengira bahwa demang itu akan melakukan perlawanan.
Maka ia lalu menarik pedangnya dan ketika melihat kaki demang itu mencuat dalam tendangan, ia mengetuk kaki itu dengan tangan kiri yang dimiringkan.
"Dukk...!"
Kaki itu terpental kembali dan Demang Kebolinggo mengeluh kesakitan.
Kakinya terasa seperti patah.
Namun dia masih belum mau mengalah.
Setelah melompat turun dari pembaringan, dia lalu menubruk dan memukul dengan tangannya.
Dengan cepat Retno Wilis menghindar dan tangan kirinya menampar, mengenai leher demang itu dan tanpa dapat dihindarkan lagi tubuh demang itu terpelanting roboh.
"Hemm, apakah engkau ingin kubunuh dengan pedang ini?"
Bentak Retno Wilis, sambil menodongkan pedangnya di dada Demang Kebolinggo yang sudah bangkit duduk sambil menggosok-gosok lehernya yang terasa nyeri sekali.
Baru sekarang dia maklum bahwa wanita itu adalah seorang yang digdaya.
Diapun tahu bahwa wanita itu tidak ingin membunuhnya.
Kalau demikian halnya, tentu dia sudah mati sekarang.
Wanita itu hanya merobohkannya dengan tangan saja, bukan menyerang dengan pedang.
Pada saat itu, Harjadenta yang mendengar suara gedebukan dalam kamar, merasa khawatir dan diapun melompat masuk melalui jendela.
Hati Demang Kebolinggo menjadi lebih gentar lagi melihat masuknya seorang pemuda ke dalam kamarnya.
Dia tahu bahwa dia telah kalah dan harus menurut apa yang dikehendaki mereka.
"Ada apakah?"
Tanya Harjadenta kepada Retno Wilis.
"Dia mencoba untuk melawanku,"
Jawab Retno Wilis sambil tetap menodongkan pedangnya ke dada Demang Kebolinggo.
Melihat munculnya seorang pemuda membuat Demang Kebolinggo merasa semakin tidak berdaya.
Akan tetapi dia merasa bahwa selama ini dia tidak melakukan kesalahan apapun, maka dengan tabah dia lalu menegur.
"Andika berdua ini orang-orang muda mempunyai keperluan apakah? Mengapa masuk ke rumahku dan memaksaku seperti dua orang maling?"
"Hemm, andika sudah berbuat kesalahan besar masih berpura-pura bersih dan menggertak kami?"
Bentak Retno Wilis.
"Kesalahan besar apakah yang kulakukan? Aku selama menjadi demang bersikap bijaksana dan adil terhadap rakyatku."
"Bagus! Sekarang aku hendak bertanya, apakah engkau mendukung pendirian candi baru para penyembah Bathara Shiwa, Bathari Durga dan Bathara Kala di ujung padukuhan ini?"
"Benar, aku mendukungnya, akan tetapi kenapa? Mereka mendirikan agama baru, bukan melakukan kejahatan dan pendirian mereka itu telah mendapat restu pula dari Sang Adipati di Nusabarung."
Demang Kebolinggo membantah.
"Bukan pendirian candi itu yang kumaksudkan, melainkan tindakan Ni Dewi Durgomala dan Ki Shiwananda terhadap para muda mudi di Bulumanik!"
"Mereka berdua hanya memimpin pembangunan candi! Tindakan apa yang mereka lakukan?"
"Andika tidak mendengar apakah telingamu yang tuli, tidak melihat ataukah matamu yang buta. Setiap malam Respati mereka mengadakan pesta cabul di candi itu dan mengorbankan banyak pemuda dan gadis yang bodoh sehingga mereka menurut saja kehendak dua pimpinan yang cabul itu. Mustahil kalau andika tidak mengetahui hal itu!"
Retno Wilis menghardik. Wajah ki demang menjadi merah dan dia menundukkan mukanya.
"Mereka mengadakan pesta itu... kukira itu adalah upacara keagamaan mereka... dan tentang para muda itu, mereka tidak dipaksa, mereka malakukan dengan sukarela. Apa yang dapat kuperbuat?"
"Andika bodoh dan tidak patut menjadi pemimpin rakyat. Mereka melakukan kecabulan itu bukan dengan sukarela, melainkan karena bujukan dan kekuatan sihir. Relakah andika melihat para warga Bulumanik diseret ke dalam kesesatan seperti itu? Dua orang pimpinan pembangunan candi itu adalah manusia-manusia iblis yang sesat dan cabul, yang membawa para muda itu ke dalam kesesatan pula. Apakah hal demikian itu akan andika biarkan saja?"
"Habis, apakah yang harus kami lakukan? Kalau aku melarang pembangunan candi baru itu, berarti aku menentang perintah Kanjeng Adipati di Nusabarung!"
Ki Demang itu membantah.
"Bukan melarang pembangunan candi, melainkan melarang diadakannya pesta cabul itu. Kalau andika tidak melarang, berarti andika ikut menjerumuskan para muda di sini untuk menjadi sesat dan jahat. Dan kalau demikian halnya, percuma andika menjadi demang di sini, lebih baik andika dibunuh saja!"
Gertak Retno Wilis dan kini dara perkasa itu menempelkan pedang Sapudenta di leher Ki Demang Kebolinggo.
"Ampunkan aku. Baik, aku akan melarang pesta gila-gilaan itu."
"Bagus! Andika telah berjanji. Untuk sementara kutitipkan kepalamu kepadamu, akan tetapi kalau lain hari kami lewat disini dan melihat bahwa pesta cabul itu masih diadakan, aku akan mengambil kepalamu!"
Retno Wilis menggerakkan pedangnya.
"Wirrr... sratt...!"
Sebagian rambut kepala Ki Demang Kebolinggo putus dan berhamburan ke bawah. Wajah demang itu menjadi pucat sekali.
"Aku akan mengadakan pemeriksaan, kalau benar mereka merusak para muda di Bulumanik, tentu akan kularang dan kulaporkan kepada Sang Adipati di Nusabarung."
Ucapan Ki Demang Kebolinggo ini bukan hanya karena dia diancam, akan tetapi memang keluar dari hatinya.
Kalau tadinya dia mendiamkan saja orang-orang itu mengadakan pesta pora di candi, hal itu adalah karena dia tidak mau mencampuri urusan agama baru dan merasa tidak berhak.
Akan tetapi kalau mereka itu merusak para pemuda dan gadis daerah kekuasaannya, bagaimanapun juga dia harus bertindak dan kalau perlu melarang kegiatan cabul itu.
"Baik, kami percaya kepadamu!"
Kata Retno Wilis dan gadis ini lalu menyarungkan kembali pedangnya. Akan tetapi pada saat itu terdengar teriakan-teriakan banyak orang.
"Tangkap maling!"
"Tangkap penjahat!"
Kurang lebih dua puluh orang perajurit mengepung tempat itu dengan senjata di tangan.
Melihat ini, Retno Wilis dan Harjadenta sudah siap pula untuk menyambut pengeroyokan mereka.
Akan tetapi Ki Demang Kebolinggo sudah melompat ke depan dan mengangkat kedua tangannya ke atas, lalu berseru.
"Tahan...! Jangan kalian salah paham. Kedua orang ini bukan maling bukan pula penjahat, mereka adalah sahabat-sahabatku yang datang berkunjung padaku."
Tentu saja para perajurit itu terkejut dan surut.
"Pergilah kalian dan jangan ganggu kami!"
Kata pula Ki Demang Kebolinggo dan semua perajurit lalu pergi.
Tentu saja mereka semua merasa heran karena tadi ada seorang penjaga yang melihat atasannya itu berkelahi, dan kalau kedua orang itu benar sahabat yang datang bertamu, mengapa mereka tahu-tahu telah berada di dalam?
Dari mana mereka lewat?
Akan tetapi karena Ki Demang Kebolinggo sendiri yang melarang mereka, tentu saja mereka tidak berani membantah dan tidak berani pula banyak bertanya.
Retno Wilis mengangguk-angguk senang.
"Melihat sikapmu ini, kami percaya bahwa andika tentu akan memegang teguh janji untuk mengadakan pemeriksaan dan melarang perbuatan cabul yang merusak para muda."
"Percayalah, karena aku sendiri tidak suka akan kejahatan."
Kata Ki Demang Kebolinggo dengan suara mantap.
"Kalau begitu, kami sekarang hendak pergi. Selamat tinggal, Ki Demang!"
Sekali melompat, Retno Wilis telah lenyap dari depan demang itu, disusul Harjadenta yang sekali lompat sudah menghilang ditelan kegelapan.
Ki Demang Kebolinggo menghela napas panjang.
Dia tahu bahwa dua orang muda itu adalah orang-orang gagah perkasa untuk menegakkan keadilan dan kebenaran, orang-orang yang memiliki kesaktian.
Akan tetapi dia juga sudah mendengar bahwa para pimpinan agama baru itu merupakan orang-orang sakti pula.
Dia menjadi serba salah.
Akan tetapi di dalam hatinya, dia sudah mengambil keputusan untuk membujuk para anggauta dan pimpinan agama baru itu agar tidak lagi melakukan perbuatan yang melanggar kesusilaan.
Kalau perlu dia akan melaporkan kepada Adipati di Nusabarung.
Dua orang muda itu berjalan berdampingan di bawah sinar bulan yang masih terang.
Beberapa kali Harjadenta ingin membuka mulut bicara, akan tetapi dibatalkannya.
Begitu sukar dia bicara setelah berdampingan dengan Retno Wilis.
Semua kata-kata yang telah disusunnya semenjak dia bertemu dengan gadis perkasa itu, seolah runtuh semua dan dia tidak tahu harus bicara dari mana dan bagaimana.
"Andika diam saja sejak tadi. Ada apakah, kakangmas Harjadenta?"
Akhirnya Retno Wilis yang bertanya. Mereka sedang berjalan kembali ke pondokan Mbok Rondo Gati.
"Ah, aku... aku mengenang kembali peristiwa di candi itu, diajeng. Kalau tidak ada engkau dan kakangmas Bagus Seto,entah bagaimana jadinya dengan diriku."
Retno Wilis tersenyum.
"Engkau tentu akan jadi pengikut dan teman yang baik sekali dari Ni Dewi Durgomala."
Ia menggoda.
"Ihhh! Amit-amit! Aku tentu akan mencari jalan untuk membunuh perempuan iblis itu!"
Kata Harjadenta dengan marah.
"Kenapa? Ia cantik sekali."
Kembali Retno Wilis menggoda.
"Aku benci sekali pada perempuan itu. Ia telah mencuri pusaka guruku, dan ia seorang wanita tak tahu malu."
"Engkau tentu tidak mau mengkhianati gadis yang menjadi tunanganmu, bukan?"
"Wah, diajeng, aku tidak mempunyai tunangan!"
"Akan tetapi engkau tentu telah mempunyai gadis pilihan hati yang menjadi kekasihmu."
Retno Wilis berkata dengan lugu dan terus terang.
"Sungguh mati aku tidak mempunyai kekasih. Dan tentang gadis pilihan hati, memang ada, akan tetapi aku tidak berani mengakuinya."
"Eh, kenapa kakangmas?"
"Aku merasa rendah diri. Aku, seorang pemuda yatim piatu yang miskin dan bodoh, sungguh tidak berhak dan tidak pantas mencintai seorang dara seperti itu. Pantasnya ia menjadi jodoh seorang pangeran atau seorang pria yang benar-benar sepadan dengan dirinya."
Retno Wilis berhenti melangkah.
"Hemm, apakah gadis pilihan hatimu itu seorang puteri istana, kakangmas?"
"Lebih dari sekedar puteri istana biasa."
Retno Wilis mengerutkan alisnya.
"Kalau begitu ia tentu puteri kahyangan?"
"Juga lebih dari sekedar puteri kahyangan. Ia seorang dara yang tiada cacat, seorang wanita yang sempurna, baik keelokan lahirnya maupun batinnya. Ia cantik jelita, gagah perkasa, bijaksana dan budi pekertinya seperti dewi. Ia tiada keduanya di dunia ini..."
"Huh, wanita seperti itu hanya terdapat dalam angan-anganmu saja, kakangmas, bukan seorang manusia dari darah daging!"
Retno Wilis merasa penasaran sekali.
"Tidak diajeng. Ia seorang manusia seperti juga kita, hanya ia manusia pilihan."
"Hemm, ingin aku bertemu dengan wanita seperti itu. Di mana ia berada? Di awang-awang? Atau di antara bintang-bintang?"
Retno Wilis mengejek.
"Kalau dibilang jauh, ia jauh sekali, di luar jangkauanku, akan tetapi kalau dibilang dekat, ia dekat sekali berada di hadapanku."
Kata Harjadenta dengan jantung berdebar tegang karena dia sudah membuka rahasia hatinya dan merasa takut kalau-kalau Retno Wilis akan marah.
"Ehh...?"
Retno Wilis memandang tajam dan mukanya berubah merah, bukan karena marah melainkan karena jengah.
"Kau... kau maksudkan diriku?"
Harjadenta merasa kedua kakinya lemas tak bertenaga dan dia menjatuhkan dirinya berlutut.
"Ampunkan aku, diajeng... tidak semestinya aku bersikap lancang, aku tahu betapa tidak pantasnya bagi seorang seperti aku mencintaimu, akan tetapi itulah kenyataannya. Kalau engkau marah nah, makilah aku, pukullah aku..."
Retno Wilis membalikkan tubuhnya membelakangi pemuda itu.
"Kakang Harjadenta, kuminta jangan sekali-kali engkau membicarakan tentang hal ini lagi kepadaku. Aku tidak menyalahkanmu, akan tetapi aku... sama sekali aku tidak mempunyai pikiran tentang cinta."
Setelah berkata demikian, gadis itu berlari cepat meninggalkan pemuda itu.
Harjadenta menghela napas panjang, merasa tidak enak hati, akan tetapi juga lega karena sudah mengeluarkan isi hatinya.
Dan memang tidak mengharapkan bahwa cintanya akan diterima oleh Retno Wilis.
Dia merasa bahwa dirinya tidak berharga untuk mempersunting bunga yang amat mulia itu.
Retno Wilis puteri Patih Panjalu, ia seorang wanita yang sakti mandraguna, namanya terkenal sekali.
Sedangkan dia hanya seorang pemuda yatim piatu yang miskin, keturunan orang tua dari dusun, sungguh ibarat burung dia hanya seekor burung gagak dan Retno Wilis adalah seekor burung merak yang amat indah!
Dengan lemas diapun bangkit berdiri dan berjalan perlahan menuju ke pondokan Mbok Rondo Gati.
Setibanya di rumah sederhana itu, dia mendengar berita yang mengejutkan.
Para tetangga berkumpul di rumah itu dan ternyata Mbok Rondo Gati telah mati menggantung diri setelah mendapat kenyataan bahwa kedua orang anaknya mati dan hanyut di Kali Mayang.
Agaknya ia tidak lagi dapat menahan kesedihan hatinya.
Ia hanya memiliki kedua orang anaknya itu, dan kini mereka telah mati dalam keadaan amat menyedihkan, mayat mereka hanyut di Kali Mayang dan tidak dapat ditemukan.
Saking sedihnya, setelah tiga orang muda yang menjadi tamunya pergi, ia lalu menggunakan sabuk pinggangnya untuk menggantung diri sampai mati!
Ketika Bagus Seto yang tidak ikut Retno Wilis dan Harjadenta pergi ke rumah Ki Demang, tiba di rumah pondokan itu, dia mendapatkan Mbok Rondo Gati sudah tewas dan tergantung di ruangan belakang.
Tentu saja dia terkejut sekali dan cepat menurunkan tubuh Mbok Rondo Gati dari gantungan, namun wanita tua itu telah tewas.
Bagus Seto lalu memberitahu para tetangga yang berdatangan melayat.
Retno Wilis yang mendahului Harjadenta pulang ke pondokan, terkejut mendengar akan kematian Mbok Rondo Gati.
Akan tetapi ia mengerti.
Memang wanita itu hanya akan menderita sengsara dalam hidupnya, tanpa kedua orang anaknya yang dicintainya.
Kalau ia hidup terus, tentu setiap hari ia hanya akan menangisi kematian kedua orang anaknya.
Harjadenta merasa heran sekali dan juga terkejut mendengar akan kematian Mbok Rondo Gati.
"Apa yang telah terjadi?"
Tanyanya kepada Bagus Seto.
"Ia menggantung diri, tidak dapat menahan kesedihan hatinya mendengar kedua anaknya telah mati."
Jawab Bagus Seto singkat.
"Ah, kenapa ia melakukan hal ini? Kenapa ia memilih mati menggantung diri?"
Tanya Harjadenta yang merasa kasihan kepada janda itu.
"Ia menderita sekali dengan kematian kedua anaknya dan agaknya ia hendak mengakhiri kedukaannya itu dengan membunuh diri,"
Kata Retno Wilis.
"Hemm, apakah dengan cara membunuh diri orang akan dapat melepaskan diri dari kedukaan? Apakah kedukaan itu terpisah dari dirinya? Kedukaan adalah ulah hati akal pikiran dan akan mengikuti orang sampai kepada kematiannya sekalipun."
Kata Bagus Seto lirih, seperti kepada diri sendiri.
"Akan tetapi, apa yang meyebabkan ia melakukan perbuatan nekat itu, kakangmas Bagus Seto?"
Tanya Harjadenta.
"Karena kedukaan menggelapkan hati akal pikirannya. Kemilikan mendatangkan kemelekatan, dan inilah yang menjadi akar dari kedukaan. Memiliki sesuatu, baik yang dimilikinya itu berupa harta, kedudukan, atau anak, menimbulkan kemelekatan dan kalau sudah melekat, sekali dipisahkan tentu akan menimbulkan luka dihati. Padahal, memiliki tidak akan lepas dan pada perpisahan dengan yang dimilikinya. Akan tiba saatnya dia harus meninggalkan atau ditinggalkan oleh yang dimiliki, dan kalau hal ini terjadi, timbullah duka yang menggelapkan hati akal pikiran. Karena itu, orang yang bijaksana boleh mempunyai namun tidak memiliki."
"Nanti dulu, kakang! Di sini aku menjadi bingung. Apa bedanya mempunyai dan memiliki?"
"Yang kumaksudkan, mempunyai itu hanya lahiriah saja. Aku mempunyai harta, aku mempunyai kedudukan, aku mempunyai anak. Mempunyai ini hanya lahiriah dan kita bersikap dan berbuat sesuatu terhadap apa yang kita punyai secara wajar dan sesuai dengan kewajiban kita. Akan tetapi tidak memiliki, karena memiliki ini berarti melekatkan yang kita punyai itu ke dalam batin, menjadi satu dengan kita, dan kemilikan itu menguasai diri kita lahir batin. Mempunyai itu dengan kesadaran bahwa yang dipunyai itu hanyalah titipan saja, bukan miliknya. Yang memiliki hanya Hyang Widhi, dan kita ini hanya dititipi saja. Kita harus menjaga sebaiknya apa yang dititipkan kepadakita, dan kita harus rela apabila yang dititipkan kepada kita itu sewaktu-waktu diambil kembali oleh yang menitipkan, diambil kembali oleh Yang Memiliki."
"Hebat, kakangmas Bagus Seto! Keteranganmu sungguh amat jelas dan gamblang. Akan tetapi, apakah hal itu akan dapat meringankan penderitaan batin orang yang sedang berduka? Dapatkah kita melawan duka?"
Tanya Harjadenta.
"Duka timbul dari akal pikiran yang mengenang masa lalu. Kita teringat akan masa lalu yang penuh kesenangan, maka setelah kita dipisahkan dari kesenangan ini, timbullah iba diri yang menjadikan duka. Kalau kita senantiasa memandang saat ini, tidak mengenang masa lalu, maka segala apapun yang telah terjadi kita sadari bahwa hal ituudah dikehendaki Hyang Widhi dan tidak mungkin dapat diubah pula. Dengan kesadaran seperti itu, hanya memandang saat ini, kita akan menghadapi segala sesuatu dengan tabah dan semua ingatan ditujukan untuk menanggulangi keadaan saat ini. Iba diritiada kesempatan untuk masuk ke dalam batin dan kita terhindar dari kedukaan yang berlarut-larut sehingga sampai membunuh diri seperti halnya Mbok Rondo Gati."
"Kalau begitu, kematian Mbok Rondo Gati ini juga sudah menjadi kehendak Hyang Widhi, kakangmas?"
Tanya Retno Wilis dengan nada membantah.
"Tentu saja. Apa lagi soal mati dan hidup, semua berada sepenuhnya di tangan Hyang Widhi. Akan tetapi yang kita persoalkan bukan kematiannya yang sudah sewajarnya begitu, melainkan cara kematian itu terjadi. Cara yang ditempuh Mbok Rondo Gati bukan cara yang benar dan hanya akah menjadi beban keadaannya sesudah mati. Kita harus selalu waspada terhadap daya-daya rendah yang akan menjerumuskan kita ke dalam kesesatan."
"Apakah daya-daya rendah itu, kakang?"
Tanya Retno Wilis.
"Daya-daya rendah adalah setan-setan nafsu yang selalu mengejar kesenangan dan kepuasan melalui badan danpikiran kita, tidak lagi memperdulikan caranya mengejar, pokoknya asal bisa mendapatkan yang diinginkan untuk memuaskan dan menyenangkan diri. Karena pengejaran tanpa pantangan itulah maka kita terseret melakukan hal-hal tercela demi mendapatkan kepuasan dan kesenangan. Dan bekerjanya nafsu menyeret kita tidak berhenti sampai terlaksana dan tercapainya yang kita kejar, karena setelah tercapai, nafsu mendorong kita untuk mengejar lain kesenangan lagi yang dianggap lebih menyenangkan dari pada yang kita peroleh. Maka, terjadilah lingkaran setan di mana kita dipermainkan tiada hentinya, terseret melakukan perbuatan tercela demi tercapainya yang kita kejar."
"Wah, jahat sekali kalau begitu. Nafsu merupakan musuh pribadi yang harus dihancurkan dan dimatikan!"
Kata Retno Wilis.
"Keliru pendapat itu, diajeng Retno Wilis,"
Kata Bagus Seto.
"Nafsu tidak mungkin kita matikan karena tanpa adanya nafsu, kita tidak dapat hidup. Nafsu telah ada semenjak kita lahir, menjadi peserta kita yang amat berguna bagi kelangsungan hidup. Nafsu yang membuat kita enak makan, melihat dan merasakan keindahan, mendengarkan kemerduan, bahkan nafsu pula yang menjadi sarana perkembang biakan manusia. Kita tidak dapat membunuh nafsu karena nafsu merupakan peserta penting."
"Menjadi peserta penting akan tetapi juga menjadi penggoda yang amat berbahaya?"
Tanya Harjadenta.
"Benar sekali. Nafsu menjadi peserta penting kalau dia berfungsi tetap sebagai peserta atau sebagai pembantu yang baik. Akan tetapi jangan biarkan dia merajalela, kalau dia merajalela dan dari pembantu berubah menjadi majikan dan kita menjadi pembantunya, celakalah kita yang akan diseret ke dalam perbuatan jahat."
"Semua keteranganmu sudah jelas, kakangmas Bagus Seto dan aku berterima kasih sekali mendapat penerangan darimu. Kesimpulannya, kalau aku tidak salah, kitaharus dapat mengendalikan nafsu sehingga dia akan tetap menjadi hamba kita. Bukankah demikian?"
"Benar, dimas. Akan tetapi mengendalikan nafsu itu lebih mudah dikatakan dari pada dikerjakan. Nafsu telah menyusup ke dalam diri kita, sampai ke hati akal pikiran, sehingga rasanya tidak mungkin bagi manusia biasa seperti kita untuk dapat mengendalikan nafsu."
"Kalau begitu, apa yang harus kita lakukan, kakang? Nafsu pembantu penting akan tetapi juga penyeret yang jahat, dan kita tidak dapat mengendalikannya. Lalu bagaimana? Engkau membuat kita tidak berdaya!"
"Memang manusia mahluk lemah dan tidak berdaya, adikku! Baik sekali kalau dapat menyadari akan kelemahan kita ini. Akan tetapi engkau lupa, diajeng. Di dalam ketidakberdayaan kita, ada satu Kekuasaan yang mutlak, Kekuasaan yang Satu dan hanya Kekuasaan itulah yang akan dapat mengembalikan nafsu kita pada tempat semula, yaitu menjadi pembantu yang baik. Kekuasaan Mutlak itu bukan lain adalah Ke kuasaan Hyang Widhi. Kita sendiri tidak berdaya akan tetapi kita dapat menyerahkan diri kepada Hyang Widhi, mohon bimbingannya dengan penuh kepercayaan, keikhlasan dan penyerahan. Kalau Hyang Widhi sudah berkenan menjamah kita dengan sentuhan suci dari TanganNya, tidak ada hal yang tidak mungkin."
"Aduh, kakangmas Bagus Seto. Terima kasih, terima kasih atas segala petunjukmu. Hatiku lega sekarang dan makin menguatkan batinku untuk menyerahkan diri ke Tangan Hyang Widhi sebagai dasar dari segala ikhtiar kita."
"Benar, adimas. Kalau sudah menyerah kepada Hyang Widhi, bukan berarti kita lalu menganggur dan segalanya terserah kepada Hyang Widhi. Itu pandangan keliru. Kita sudah diberi kelengkapan tubuh yang sempurna, maka kita harus mempergunakan setiap anggauta tubuh sesuai dengan fungsinya. Hanya saja, segala ikhtiar itu harus dilandaskan kepasrahan dan penyerahan tadi, sehingga apapun hasil dari ikhtiar kita, akan kita terima dengan ikhlas."
Semalam itu mereka tidak tidur, hanya berbincang-bincang di sudut ruangan itu.
Pada keesokan harinya, jenazah Mbok Rondo Gati dikuburkan orang dan setelah selesai pemakanan, tiga orang muda itu lalu berpamit dari para tetangga dan meninggalkan kota Bulumanik.
Mereka berjalan bersama menuju ke Kali Mayang.
Matahari telah naik tinggi dan setelah tiba di tempat di mana mereka menambatkan perahu mereka, Bagus Seto berkata kepada Harjadenta.
"Adimas Harjadenta, sekarang kita harus berpisah. Engkau kembalilah ke Gunung Raung untuk menyerahkan pusaka Ki Carubuk kepada gurumu, dan kami akan melanjutkan perantauan kami ke timur."
Harjadenta mengerutkan alisnya, memandang kepada Bagus Seto lalu kepada Retno Wilis, dan berkata.
"Sesungguhnya aku ingin sekali dapat pergi merantau bersama kalian untuk meluaskan pengalaman, kakangmas Bagus Seto. Aku merasa bertemu dengan guru-guru baru yang membuka kedua mataku melihat kenyataan hidup dan aku ingin banyak belajar dari kalian."
Bagus Seto tersenyum dan memegang pundak Harjadenta.
"Ada waktunya kelak kita dapat bertemu kembali, adimas Harjadenta. Akan tetapi pesan gurumu itu harus kau selesaikan dulu, keris pusaka gurumu itu harus kau kembalikan dulu kepada gurumu, dan setelah urusan itu selesai, engkau dapat saja merantau seorang diri. Perbekalanmu sudah lebih dari cukup. Engkau bijaksana dan cukup tangguh untuk menjaga diri sendiri. Nah, sampai jumpa, adimas."
Setelah berkata demikian, Bagus Seto berjalan menyusuri Kali Mayang menuju ke selatan. Harjadenta menggunakan kesempatan selagi berdua dengan Retno Wilis untuk berkata.
"Diajeng, sekali lagi maafkanlah kelancanganku kepadamu semalam."
"Engkau tidak bersalah, kakangmas. Sudah menjadi hakmu untuk mencintai siapa saja termasuk aku. Akan tetapi aku sendiri belum berpikir tentang cinta. Engkau akan kukenang sebagai seorang sahabatku yang baik. Selamat tinggal!"
Retno Wilis melompat dan mengejar kakaknya.
Harjadenta mengikuti mereka dengan pandang matanya sampai mereka itu lenyap dari pandangannya.
Dia menghela napas panjang, tiba-tiba saja merasa betapa hidupnya sepi dan kosong.
Kembali dia menghela napas, kemudian mendorong perahunya ke sungai dan menaiki perahunya, mendayung ke hulu untuk kembali ke pegunungan Raung.
Pemuda itu berjalan dengan santai.
Lenggangnya lembut dan bebas, dan wajahnya yang tampan itu selalu dibayangi senyum yang mendalam.
Senyum penuh pengertian dan pandang matanya menembus.
Pemuda ini berusia dua puluh dua tahun, wajahnya masih nampak muda sekali, akan tetapi kalau melihat sinar matanya, orang akan mengira dia lebih tua dari usia sebenarnya.
Rambutnya hitam panjang yang digelung ke atas, dahinya lebar.
Sepasang alis yang tebal melindungi sepasang mata yang mencorong penuh kekuatan batin namun mata itu bersinar lembut penuh sinar kasih.
Hidungnya mancung dan mulutnya amat menarik, karena mulut itu selalu dihias senyum penuh kesabaran.
Dagunya yang berlekuk keras itu menunjukkan bahwa dia memiliki pendirian yang kuat.
Tubuhnya sedang saja dan gerak-geriknya lembut, tidak menunjukkan kekuatan yang kasar.
Siapakah pemuda yang lemah lembut itu?
Pakaiannya sederhana saja, seperti pakaian seorang petani biasa, namun melihat gerak-geriknya yang lembut, dia berbeda dari petani yang biasa bekerja kasar.
Namanya Jayawijaya, seorang pemuda yang datang dari pegunungan Tengger.
Ayahnya adalah seorang pendeta yang kini bertapa mengasingkan diri di sebuah puncak pegunungan Tengger.
Jayawijaya meninggalkan tempat pertapaan ayahnya karena dia hendak pergi merantau untuk meluaskan pengetahuan dan pengalaman, dan ayahnya mendukung keinginannya itu.
Jayawijaya tiba di sebuah dusun pada siang hari itu.
Dia memasuki dusun itu dengan maksud mencari makanan karena perutnya terasa lapar.
Akan tetapi baru saja dia memasuki dusun Pandakan itu, dia merasa heran sekali karena keadaannya sunyi sekali, seolah tidak ada penduduknya.
Akan tetapi dia mendengar suara banyak orang yang datangnya dari tengah dusun.
Dia segera menuju ke tempat itu.
Di tengah-tengah dusun itu terdapat sebuah balai dusun, sebuah bangunan panggung yang cukup besar dan kiranya di situlah para penduduk dusun itu berkumpul.
Dia lalu ikut berdiri di luar panggung untuk melihat apa yang sedang terjadi.
Di tengah-tengah panggung itu dia melihat seorang pria berusia enam puluh tahun lebih, berpakaian sebagai pendeta namun mewah, pakaiannya dari kain halus yang bersih berwarna kuning, kedua lengannya memakai hiasan lengan dari emas, rambutnya juga tersisir rapi dan mengkilap karena diberi minyak dan dia pesolek, juga gayanya agak kewanitaan ketika bicara, suka menjilat bibirnya seperti gaya seorang wanita yang centil.
Pendeta itu bukan lain adalah Wasi Karangwolo yang menjadi penasihat kadipaten Blambangan.
Bersama selosin anak buahnya dia sedang mempropagandakan agama penyembah Shiwa-Durga-Kala dan membujuk penduduk dusun Pandakan itu untuk masuk menjadi anggauta agama baru itu.
"Sekarang sudah tiba saatnya andika sekalian memasuki perkumpulan agama kami yang menjanjikan kehidupan bahagia bagi kalian. Dengan memasuki agama kami ini, hasil panen kalian akan menjadi baik, dan kalian akan dijauhkan dari bencana banjir, musim kering dan sebagainya lagi. Percayalah, kalian akan mendapat berkah dari Sang Hyang Bathara Shiwa, Sang Hyang Bathari Durgo, dan Sang Hyang Bathara Kala. Dan siapa yang tidak mau masuk menjadi anggauta agama kami ini, dia akan dikutuk hidupnya dan akan menjadi sengsara seperti seekor anjing!"
Jayawijaya mendengar ini dan dia mengerutkan alisnya. Orang bebas untuk memuji-muji agama sendiri akan tetapi kalau disertai ancaman seperti itu, namanya sudah tidak benar lagi.
"Agama lain yang kalian peluk itu hanya mendatangkan kesengsaraan dan kemiskinan belaka dan kalian membuat tidak-senang hati para dewata sehingga akan mengutuk kalian. Maka, mulai sekarang jadilah anggauta agama kami dan sekalian akan hidup berbahagia."
Tiba-tiba seorang penduduk dusun yang mempunyai nyali lebih besar berkata.
"Kami selama ini memeluk agama kami yang lama dan kami hidup berbahagia! Kalau belum ada bukti bahwa agama baru ini membahagiakan kami, bagaimana kami dapat percaya?"
Suara para penduduk menjadi riuh rendah mendukung pernyataan ini. Mendengar ucapan itu, Wasi Karangwolo memandang ke arah pemuda yang bertubuh tinggi besar itu dan dia berkata sambil tersenyum ramah.
"Saudara yang bicara tadi dipersilakan naik ke panggung dan kami akan membuktikan kebenaran omongan kami. Silakan naik!"
Dengan dorongan suara para penduduk, pemuda itu lalu naik ke atas panggung.
"Nah, saudara sekalian, kita sekarang akan membuktikan semua omongan kami tadi. Ki sanak ini akan menjadi bukti bahwa kalau menjadi anggauta agama kami tentu akan bahagia, sebaliknya kalau menolak, akan hidup seperti anjing."
Setelah berkata demikian Wasi Karangwolo mendekati pemuda tinggi besar itu dan menyerahkan sebuah batu sebesar kepalan tangan kepadanya.
Dia memperlihatkan batu itu kepada semua orang dengan mengangkatnya tinggi-tinggi di atas kepalanya.
"Lihat saudara sekalian, yang akan saya berikan kepada ki sanak ini hanyalah sebuah batu biasa. Kalian lihat baik-baik, dengan kekuasaan Sang Hyang Bathara Shiwa dan isteri serta puteranya, batu di tangannya akan berubah menjadi emas!"
Dia lalu menyerahkan batu itu kepada pemuda tinggi besar yang masih berdiri di depannya.
Pemuda itu menerima batu itu dan digenggamnya, dan dia tersenyum-senyum tidak percaya.
Wasi Karangwolo memegang tangannya yang menggegam batu dan berkata.
"Ki sanak,sekarang pejamkanlah kedua matamu dan di dalam hatimu mintalah berkah kepada Sang Hyang Bathara Shiwa dan isteri serta puteranya agar batu dalam genggamanmu ini berubah menjadi emas!"
Pemuda itu masih tersenyum dan memejamkan kedua matanya.
Wasi Karangwolo lalu membaca mantera, berkemak-kemik dan menggunakan kedua tangannya mendorong dan diarahkan kepada para penduduk yang berada di bawah panggung, kemudian membentak ke arah pemuda yang menggegam batu.
"Demi nama Sang Hyang BatharaShiwa dan isteri serta puteranya, batu itu berubah menjadi emas!"
Teriaknya sambil menggerakkan tangan ke arah tangan pemuda yang menggegam batu itu.
"Nah, sekarang buka dan perlihatkanlah kepada semua orang!"
Kata Wasi Karangwolo dengan suara biasa.
Pemuda itu membuka matanya, memandang kepada batu yang digenggamnya dan dia terbelalak.
Batu itu benar-benar telah berubah menjadi emas yang berkilauan!
"Ah, betul-betul berubah menjadi emas!"
Teriak pemuda tinggi besar itu dan dia lalu turun dari panggung dan memperlihatkan sepotong emas itu kepada siapapun yang ingin melihatnya.
Setelah itu, pemuda itu lalu melarikan diri dari situ sambil membawa emasnya.
Penduduk dusun Pandakan itu tidak ada yang mengenal pemuda itu menduga bahwa pemuda itu tentu seorang yang datang dari dusun lain dan kini saking girangnya lari membawa emasnya untuk diperlihatkan kepada orang-orang di dusunnya.
Wasi Karangwolo hanya tertawa saja melihat pemuda itu melarikan diri.
"Dia seorang yang beruntung mendapat berkah, dan tentu mulai saat ini dia mau menjadi anggauta agama baru kami. Sudah kami buktikan bahwa yang percaya kepada agama kami akan mendapat kebahagiaan, bahkan batu dapat diubah menjadi emas kalau Sang Hyang Bathara Shiwa menghendaki. Apakah masih ada saudara yang meragukan kebenaran ucapan kami?"
Seorang pemuda lain naik ke atas panggung dan dia berkata.
"Aku masih belum percaya betul bahwa agama baru ini akan membahagiakan orang!"
Wasi Karangwolo memandang pemuda itu dengan alis berkerut dan mata mencorong.
"Ki sanak, tadi sudah ada buktinya dan andika masih tidak percaya? Apakah ini berarti bahwa andika menolak menjadi anggauta agama kami?"
"Benar. Aku menolak karena agama kami sudah turun-temurun menjadi kepercayaan kami dan mendatangkan berkah,"
Kata pemuda itu dengan berani.
"Hai orang muda! Tahukah andika bahwa siapa yang tidak percaya dan menolak agama kami akan terkutuk dan hidup seperti anjing!"
Bentak Wasi Karangwolo dengan marah.
"Aku tidak takut! Para dewata akan melindungi aku yang tidak bersalah!"
Wasi Karangwolo menjadi semakin marah. Sepasang matanya mencorong dan dia menggerakkan kedua tangannya ke arah pemuda itu dan suaranya terdengar menggeledek dan berwibawa sekali.
"Kalau begitu,sekarang juga hidupmu seperti seekor anjing yang hanya pandai menggonggong!"
Semua mata yang memandang kepada pemuda yang pemberani itu tiba-tiba terbelalak.
Pemuda itu yang tadinya berdiri tegak, tiba-tiba saja membungkuk sehingga berdiri di atas kaki tangannya dan dia lalu mengeluarkan suara menyalak-nyalak seperti seekor anjing!
"Huk-huk-huk, aung-aung...!"
Orang yang berlagak seperti anjing itu berjalan-jalan di atas panggung dengan kaki tangannya dan terus menggonggong.
"Sungguh jahat! Jahat dan tidak berprikemanusiaan!"
Tiba-tiba terdengar suara seorang laki-laki dan orangnya lalu naik ke panggung.
Dia bukan lain adalah Jayawijaya.
Sejak tadi dia ikut menonton dengan para penduduk, melihat betapa Wasi Karangwolo mengubah batu menjadi emas dan kini menyumpahi seorang pemuda sehingga berubah menjadi seekor anjing!
Ia merasa tidak tahan melihat ini dan segera naik ke panggung sambil mencela.
Melihat seorang pemuda tampan naik ke panggung sambil menegur perbuatannya.Wasi Karangwolo menjadi marah.
Dia melangkah maju menghadapi pemuda itu.
"Hai, siapa andika, lancang berani naik ke panggung tanpa perkenan kami? Apa engkau sudah bosan hidup?"
Jayawijaya tidak memperdulikan bentakan ini dan dia lalu menghampiri pemuda yang masih merangkak dan menggonggong seperti anjing dan menepuk-nepuk pundak pemuda itu.
"Ki sanak, sadarlah. Jangan bermain-main seperti anak kecil. Sadarlah andika!"
Suaranya demikian lembut dan penuh kasih sayang dan terjadilah keajaiban.
Pemuda yang tadi merangkak dan menggonggong itu tiba-tiba menjadi sadar dan dia bangkit berdiri, tersipu malu dan turun dari atas panggung.
Melihat ini, Wasi Karangwolo menjadi semakin marah.
Dengan mengangkat tangan ke atas, memandang kepada Jayawijaya dengan sepasang mata bersinar-sinar, dia membentak.
"Orang muda, engkau juga menjadi anjing yang hanya pandai menggonggong!"
Dia mengerahkan kekuatan sihirnya untuk mempengaruhi Jayawijaya agar pemuda ini terpengaruh dan merasa dirinya seperti seekor anjing.
Akan tetapi, dengan pandang matanya yang lugu dan lembut sinarnya, Jayawijaya menatap wajah kakek itu dan sama sekali dia tidak terpengaruh..."Pendeta, perbuatanmu seperti ini sungguh tidak diridhoi Sang Hyang Widhi dan andika berdosa besar!"
Kata pemuda itu dengan berani.
"Engkau boleh menyebarkan agama apa saja, akan tetapi tidak boleh memaksa orang untuk masuk agamamu dengan ancaman. Setiap orang berhak untuk menentukan agamanya sendiri, kenapa engkau hendak memaksa orang. Perbuatanmu ini tidak benar, sadarlah!"
Suara pemuda itu lantang dan terdengar oleh semua penduduk dusun Pandakan.
Mendengar ucapan pemuda itu, banyak yang menyetujuinya dan perlahan-lahan banyak di antara mereka yang meninggalkan panggung itu, kecuali mereka yang ingin tahu apa yang akan terjadi selanjutnya.
Wasi Karangwolo mendengus marah seperti seekor kuda.
"Orang muda, siapa namamu, berani main-main di depan Wasi Karangwolo?"
"Namaku Jayawijaya, dan aku tidak merasa main-main di depanmu, Sang Wasi. Aku hanya mengatakan apa adanya dan mencoba untuk menyadarkanmu akan kesalahanmu."
Mendadak Wasi Karangwolo membuat gerakan dengan kedua tangannya di udara, mulutnya berkemak-kemik membaca mantera dan dia mengerahkan seluruh kekuatan sihirnya lalu membentak.
"Jayawijaya, engkau berlututlah di depanku! Aku adalah penasihat Adipati Blambangan yang harus kau hormati. Berlututlah!"
Perintahnya ini mengandung getaran yang amat kuat, bahkan para penonton yang tidak langsung diserang, suara itu, merasa seolah-olah ada kekuatan tersembunyi yang mendorong mereka untuk bertekuk lutut!
Akan tetapi, Jayawijaya tetap berdiri dan dengan tegak dia menjawab.
"Aku bukan kawula Blambangan dan tidak ada alasannya sedikitpun juga bagiku untuk berlutut di depanmu, Wasi Karangwolo!"
Sang Wasi terkejut bukan main.
Kekuatan sihirnya itu hebat sekali, kuat dan dapat melumpuhkan lawan yang kuat, akantetapi mengapa tidak mempan terhadap pemuda yang kelihatannya lemah ini?
Dia lalu melangkah maju selangkah dan tangan kirinya mendorong ke depan, disertai tenaga sakti untuk menyerang dari jarak jauh.
"Robohlah!"
Bentaknya.
Hawa pukulan yang kuat menyambar Jayawijaya dan pemuda itupun terjengkang roboh di atas papan panggung.
Akan tetapi selain roboh, agaknya pukulan jarak jauh itu tidak melukainya karena dia segera bangkit berdiri dan berkata dengan lantang.
"Wasi Karangwolo, engkau sungguh seorang pengecut. Menyerang orang yang tidak melawan. Akan terapi pukulanmu tidak membikin aku takut dan aku tetap menentang perbuatanmu hendak memaksa penduduk dusun ini memeluk agamamu dengan semua ilmu hitammu!"
Melihat pemuda itu terjengkang roboh oleh hawa pukulannya, Wasi Karangwolo menjadi semakin berani dan marah.
"Jayawijaya, engkau patut dihajar!"
Dan kini dia melompat ke depan dan menampar. Jayawijaya tidak menangkis atau mengelak karena memang dia tidak dapat bersilat sehingga tamparan itu mengenai dagunya.
"Plak...!!"
Kembali dia terpelanting keras dan roboh. Akan tetapi seolah-olah tamparan yang kuat itu tidak membuatnya merasa nyeri karena dia sudah bangkit berdiri lagi.
"Wasi Karangwolo, kekejamanmu ini tentu akan dikutuk oleh Sang Hyang Widhi!"
Dia mencela.
Tentu saja pendeta itu menjadi penasaran dan semakin memuncak kemarahannya.
Kini dia mengerahkan tenaga sepenuhnya pada tangan kanannya, tenaga yang mengandung hawa beracun dan dia memukul ke arah dada pemuda itu.
Kini dia yakin bahwa pukulannya itu tentu akan menewaskan pemuda yang berani menantangnya seperti itu.
"Wuuuuuuttt...!"
Wasi Karangwolo hampir berteriak saking kagetnya.
Ketika pukulan tangannya sudah dekat dengan dada pemuda itu, tiba-tiba saja tangan itu tertahan, seolah ada hawa yang luar biasa kuatnya melindungi dada itu dan yang membuat tangannya tidak dapat menyentuhnya!
Pukulan yang demikian hebat membawa serangan maut, tidak dapat mengenai dada Jayawijaya.
Wasi Karangwolo hanya melihat pemuda itu melangkah mundur selangkah.
Dia menjadi penasaran dan melompat lagi menghantam dengan tangan kirinya ke arah muka pemuda itu.
Akan tetapi hasilnya sama saja.
Setelah kepalan tangannya berada sejengkal dengan muka pemuda itu, pukulannya tertahan.
Dia sudah siap lagi memukul.
Akan tetapi pukulan ke tiga ini bertemu dengan sebuah tangan di udara dan terdengar seorang wanita berseru.
"Sungguh tak tahu malu! Seorang tua bangka menyerang seorang pemuda yang tidak melawan!"
"Dukkk...!"
Pukulan itu tertangkis dan tubuh Wasi Karangwolo terhuyung karena tangkisan itu demikian kuatnya.
Ketika dia memandang di atas panggung itu telah berdiri seorang wanita yang cantik jelita, dan usianya sudah setengah baya.
Wanita itu masih cantik dan anggun, pandang matanya mencorong penuh wibawa.
Wanita itu adalah Endang Patibroto yang sedang melakukan perjalanan untuk mencari Retno Wilis dan Bagus Seto.
Ketika ia tiba di dusun itu, ia juga melihat ramai-ramai di panggung dan segera datang menonton.
Ia melihat betapa dengan sihirnya pendeta itu mempengaruhi orang dusun, dan melihat pula ketika Jayawijaya naik ke panggung menentang pendeta itu.
Ketika Wasi Karangwolo mempergunakan sihir untuk mempengaruhi pemuda itu, Endang Patibroto juga heran dan kagum melihat pemuda itu sama sekali tidak terpengaruh, ia mengira bahwa pemuda itu tentu seorang yang memiliki kedigdayaan.
Akan tetapi ketika dengan hawa pukulannya saja pendeta tak mampu merobohkan Jayawijaya sampai dua kali, Endang Patibroto tahu bahwa pemuda itu tidak memiliki aji kanuragan, maka begitu melihat tamparan datang lagi, ia cepat melompat dan menangkis.
Karena ia mengerahkan aji Bayutantra, maka gerakannya ketika melompat itu seperti terbang saja cepatnya, dan tangkisannya menggunakan tenaga aji Pethit Nogo, maka tidak heran kalau Wasi Karangwolo sampai terhuyung dan merasa lengannya tergetar hebat.
Endang Patibroto memandang kepada Jayawijaya yang juga memandang kepadanya dan wanita sakti ini berkata.
"Orang muda, andika turunlah dari panggung dan biarkan aku menghadapi pendeta iblis ini!"
Jayawijaya mengamati wajah Endang Patibroto dan dengan halus dia berkata.
"Kanjeng bibi, kuharap dengan sangat jangan bibi membunuhnya."
Setelah berkata demikian pemuda itu lalu turun dari panggung dan membiarkan Endang Patibroto berhadapan dengan pendeta itu.
"Hemm, andika ini siapakah berani mencampuri urusan Wasi Karangwolo?"
Tanya pendeta itu dengan suara keras dan memberi tekanan kepada suaranya agar berpengaruh.
"Jadi andika bernama Wasi Karangwolo? Andika mencoba mengelabuhi penduduk dusun Pandakan ini dengan tipu daya dan sihirmu, lalu datang pemuda bijaksana, yang mencoba untuk menyadarkanmu. Akan tetapi andika malah menyerangnya dan hendak membunuhnya. Tentu saja aku turun tangan menentang. Namaku adalah Endang Patibroto dari Panjalu!"
Mendengar disebutnya nama ini, Wasi karangwolo terbelalak, mukanya berubah merah dan hidungnya mendengus-dengus seperti seekor kerbau marah.
Dia sudah mendengar akan kematian mendiang Wasi Bagaspati dan Wasi Bagaskolo, dua orang rekannya yang menjadi utusan Kerajaan Cola.
Kabarnya kematian mereka adalah karena perlawanan yang dilakukan oleh Endang Patibroto dan suaminya yang kini menjadi patih Panjalu bernama Tejalaksono!
"Babo-babo, kiranya andika yang bernama Endang Patibroto!
Bagus sekali, tidak usah repot-repot aku mencarimu, kini engkau telah datang mengantarkan nyawa!"
Endang Patibroto merasa heran mendengar ini.
"Eh? Pendeta siluman, siapakah engkau dan mengapa pula engkau memusuhi ku?"' "Mendiang Wasi Bagaspati dan Wasi Bagaskolo adalah rekan-rekanku dari Negeri Cola. Mereka tewas karena perlawanan andika dan suami andika, Tejolaksono! Sekarang andika harus menggantikan nyawa mereka dengan nyawamu. Heiiiiiiitttt...!!"
Dengan kemarahan meluap-luap Wasi Karangwolo lalu mengangkat kedua tangannya ke atas.
Tiba-tiba saja cuaca menjadi gelap seolah ada awan hitam yang tiba-tiba menutupi sinar matahari.
Dan dari dalam awan hitam itu terdengar gerengan-gerengan seperti suara binatang buas yang mengancam.
Melihat ini, penduduk Pandakan cerai berai melarikan diri ketakutan.
Di bawah panggung kini tinggal Jayawijaya seorang yang berdiri dengan sikap tenang.
Endang Patibroto yang tiba-tiba menghadapi cuaca yang gelap gulita itu, lalu mengerahkan tenaga sakti ke dalam dadanya, kemudian ia mengeluarkan pekik dengan aji Sardulo Baiworo.
Terdengar lengking yang amat nyaring menggetarkan panggung itu dan segera awan gelap itu membuyar dan perlahan-lahan lenyap, seolah takut mendengar lengkingan yang tinggi dan nyaring itu.
Wasi Karangwolo masih penasaran.
Dia mencabut kerisnya dan tampak sinar menyambar ke atas ketika dia melepaskan kerisnya dan keris itu berubah menjadi makhluk yang menyeramkan seperti raksasa berwajah iblis yang menubruk dan menyerang ke arah Endang Patibroto.
Wanita sakti ini tidak menjadi gentar, akan tetapi merendahkan tubuhnya dengan menekuk kedua lututnya, kemudian kedua tangannya dari dekat pinggang didorongkan ke depan, ke arah bayangan iblis hitam itu.
Itulah Aji Gelap-musti yang hebat.
Bayangan itu terpelanting dan kembali menjadi keris yang melayang ke arah tangan Wasi Karangwolo.
Maklum bahwa dengan ilmu sihir dia tidak dapat mengalahkan Endang Patibroto, kakek itu lalu menerjang dengan keris di tangan, menusuk dan gerakannya tangkas sekali, cepat dan kuat.
Namun, Endang Patibroto telah siap-siaga.
Mendengar bahwa kakek ini adalah rekan dari mendiang Wasi Bagaspati dan Wasi Bagaskolo, iapun dapat menduga bahwa kakek ini tentu memiliki kesaktian yang kuat.
Maka iapun menyambut serangan itu dengan gerakannya yang lebih cepat lagi karena ia menggunakan aji Bayu-tantra sehingga gerakannya seperti angin dan setelah mengelak dari semua serangan keris lawan, ia membalas dengan pukulan PethitNogo, bergantian dengan pukulan Wisangmolo yang beracun.
Terjadilah perkelahian yang amat seru dan sengit.
Tidak ada yang berani menonton kecuali Jayawijaya yang masih berdiri di bawah panggung dengan kagum.
Diam-diam Jayawijaya kagum sekali kepada wanita setengah tua itu.
Demikian cekatan gerakannya, demikian cepat dan pukulan-pukulannya mendatangkan hawa pukulan yang menggetarkan panggung.
Sebuah perkelahian yang hebat!
Dia mulai khawatir kalau-kalau seorang di antara mereka akan tewas dalam perkelahian itu.
Biarpun matanya juga kabur tidak dapat mengikuti jalannya perkelahian, namun di dalam hatinya Jayawijaya percaya bahwa Endang Patibroto tentu akan keluar sebagai pemenang.
Karena khawatir wanita perkasa itu akan membunuh lawannya, dari bawah panggung dia lalu berseru.
"Kanjeng Bibi, harap jangan bunuh dia. Berilah kesempatan kepada orang sesat itu untuk menyadari kesesatannya dan kembali ke jalan benar."
Sementara itu, melihat betapa tangguhnya lawan, Wasi Karangwolo lalu memberi isyarat kepada duabelas orang pembantunya dan mereka semua naik ke atas panggung dan mengeroyok Endang Patibroto.
Namun pengeroyokan itu tidak membuat Endang Patibroto gentar.
Ia menyambut selosin orang itu dengan amukan dan semangatnya bertambah.
Jiwa petualangan wanita ini kini mendapat tempat yang luas dan dengan gembira dia menyambut pengeroyokan ini dengan tendangan dan pukulannya.
Demikian hebat sepak terjang Endang Patibroto sehingga para pengeroyok itu bergelimpangan dan ada yang terguling jatuh keluar panggung.
Akan tetapi, ada sesuatu terkandung dalam ucapan pemuda di bawah panggung tadi agar dia tidak melakukan pembunuhan.
Sungguh aneh.
Suara itu demikian mempengaruhinya dan selalu terngiang dalam telinganya.
Tanpa disadarinya apa sebabnya, ia membatasi tenaganya dan tak seorangpun di antara para pengeroyok itu terpukul tewas.
Namun cukup keras membuat mereka mengaduh-aduh dengan tulang patah dan membuat mereka tidak dapat mengeroyok lagi.
Melihat ini, Wasi Karangwolo menjadi marah sekali.
Sambil mengeluarkan gerengan dahsyat, tubuhnya menerjang maju, kerisnya menyambar-nyambar seperti kilat dan setiap serangannya merupakan cengkeraman maut yang mengancam nyawa Endang Patibroto.
Akan tetapi wanita sakti ini mengelak dengan cepat.
Tubuhnya berkelebatan di antara sinar keris dan iapun membalas dengan pukulan jari tangan aji Pethit Nogo yang tidak kalah ampuhnya dibandingkan senjata ampuh yang mana juga.
Akan tetapi Wasi Karangwolo juga bukan seorang lawan yang lemah.
Diapun dapat mengelak atau menangkis semua pukulan yang dilontarkan Endang Patibroto.
Pertandingan itu berlangsung hebat sekali sehingga Jayawijaya yang berdiri di luar panggung dan menonton pertandingan itu merasa khawatir akan keselamatan Endang Patibroto.
Perkelahian itu sudah berlangsung cukup lama dan agaknya memang sekali ini Endang Patibroto menemukan lawan yang tangguh.
Akan tetapi Wasi Karangwolo sendiri merasa khawatir dan sedikit jerih.
Biarpun dia sudah mengerahkan semua ajiannya, namun tidak satupun ajian itu dapat merobohkan lawannya.
Bahkan kalau wanita itu menangkis, pertemuan antara kedua lengan mereka membuat dia tergetar hebat dan kadang terhuyung.
Dengan marah dia lalu mengeluarkan pekik menyeramkan dan menusuk dengan kerisnya ke arah dada Endang Patibroto.
Wanita ini melangkah mundur setindak sambil merendahkan diri menekuk sebelah kaki kiri, kemudian secara tiba-tiba sekali kaki kanannya mencuat dalam sebuah tendangan.
Wasi Karangwolo tidak mampu menghindarkan diri lagi.
"Wuuuuutt... bukkk...!!!"
Perut kakek itu terkena tendangan kaki kanan Endang Patibroto.
Walaupun hanya tendangan seorang wanita setengah tua, namun tendangan itu didorong oleh tenaga sakti yang amat hebat.
Wasi Karangwolo mengeluh dan tubuhnya terjengkang.
Dia terhuyung ke belakang, tidak sampai roboh akan tetapi nyalinya sudah terbang.
Dia maklum bahwa kalau dilanjutkan perkelahian itu, akhirnya dia akan kalah.
Maka, tanpa malu-malu dia lalu melompat turun dari atas panggung dan melarikan diri.
Melihat hal ini, duabelas orang anak buahnya yang tadi sudah dihajar oleh Endang Patibroto, segera mengikuti jejak pemimpin mereka, melarikan diri tunggang-langgang.
Endang Patibroto melihat ke bawah panggung.
Tidak ada seorangpun penduduk dusun yang berada di situ, semuanya telah melarikan diri pulang ke rumah masing-masing.
Akan tetapi pemuda tampan itu masih berdiri di sana, memandang kepadanya dengan kagum.
Endang Patibroto lalu melompat turun dari panggung itu, berhadapan dengan Jayawijaya.
"Kanjeng Bibi sungguh sakti mandraguna dan bijaksana,"
Kata Jayawijaya dengan pandang mata kagum.
"Saya sudah mendengar dari kanjeng Rama bahwa di Jenggala dan Panjalu terdapat banyak sekali orang yang sakti, dan ternyata keterangan kanjeng rama itu benar. Hari ini saya bertemu dengan seorang di antara orang-orang sakti dari Panjalu."
Endang Patibroto memandang pemuda itu dan senyumnya membayangkan rasa sukanya.
Pemuda ini lembut dan agaknya lemah tidak memiliki kedigdayaan, akan tetapi memiliki keberanian luar biasa sehingga berani menentang seorang sakti seperti Wasi Karangwolo.
"Orang muda yang baik, siapakah namamu dan dari mana engkau datang?"
"Kanjeng bibi, nama saya adalah Jayawijaya dan saya datang dari pegunungan Tengger."
"Siapakah orang tuamu dan mengapa engkau dapat berada di tempat ini?"
"Saya memang sedang merantau, kanjeng bibi, untuk meluaskan pengetahuan dan pengalaman. Ayah saya yang menyuruh saya merantau. Ayah saya adalah seorang pertapa bernama Panji Kelana. Pengembaraan saya membawa saya sampai ke tempat ini dan tadi ketika melihat pendeta itu hendak memaksakan kehendaknya kepada penduduk dusun untuk memasuki agamanya, saya lalu menegurnya. Baiknya ada kanjeng bibi yang datang dan mengusirnya, kalau boleh saya mengetahui, siapakah kanjeng bibi dan bagaimana secara kebetulan berada di sini? Saya mendengar tadi bahwa kanjeng bibi datang dari Panjalu."
"Namaku Endang Patibroto dan aku adalah isteri Ki Patih Panjalu. Aku sedang melakukan perjalanan untuk mencari dua orang anakku yang juga mengembara ke daerah ini. Nama mereka Retno Wilis dan Bagus Seto. Apakah andika pernah bertemu dengan mereka atau mendengar tentang mereka?"
"Saya tidak pernah mendengar tentang mereka, kanjeng bibi."
"Anakmas Jayawijaya, aku sungguh amat heran melihat keadaanmu. Andika tidak memiliki aji kanuragan, akan tetapi bagaimana andika berani menentang seorang yang digdaya seperti Wasi Karangwolo tadi. Bagaimana kalau dia memukulmu sampai tewas?"
Jayawijaya tersenyum.
"Nyawaku berada di tangan Hyang Widhi, kanjeng bibi. Apa yang harus ditakuti? Kalau Hyang Widhi belum menghendaki saya tewas, biar ada se ratus orang seperti Wasi Karangwolo tadi, bagaimana dia dapat membunuhku? Kanjeng Bibi, saya sudah sejak kecil menyerahkan jiwa ragaku kepada Sang Hyang Widhi dan saya percaya sepenuhnya bahwa Sang Hyang Widhi akan melindungi saya dari pada malapetaka."
Endang Patibroto terbelalak heran.
"Hanya dengan bekal kepercayaan dan penyerahan kepada Sang Hyang Widhi, andika berani menentang orang-orang jahat?"
"Tentu saja, mengapa tidak, kanjeng bibi? Biarpun andaikata saya memiliki ajian yang sakti mandraguna, kalau Sang Hyang Widhi menghendaki kematian saya, dengan mudah saja saya akan tewas."
"Akan tetapi andika berani menentang Wasi Karangwolo? Itu berbahaya sekali, anakmas Jayawijaya!"
"Saya memang diutus ayah merantau ke arah Nusabarung ini dan menurut ayah saya, di daerah ini ada golongan tertentu yang hendak menghapus agama lama dan menggantikan dengan agama baru yaitu penyembah Bathara Shiwa, Bathari Durgo dan Bathara Kala. Ayah memesan agar saya menentang usaha yang tidak baik itu. Apalagi kalau usaha penyebaran agama itu dilakukan dengan kekerasan. Maka, ketika melihat Wasi Karangwolo hendak memaksakan agama itu kepada penduduk Pandakan ini, saya merasa kewajiban untuk menegur dan menentangnya."
"Luar biasa! Apakah penyerahanmu kepada Sang Hyang Widhi sudah sedemikian mutlaknya sehingga andika tidak takut menghadapi bahaya maut, anakmas Jayawijaya?"
"Tentu saja, kanjeng Bibi. Bukankah kita ini hanya ciptaan Sang Hyang Widhi dan kita dapat hidup ini adalah berkat kemurahanNya. Saya menyerah dengan penuh kepasrahan dan keikhlasan, sehingga andaikata saya sampai tewas dalam penyerahan saya, sayapun akan ikhlas karena kematian saya sudah dikehendaki Sang Hyang Widhi."
Endang Patibaroto menghela napas panjang.
Sudah banyak dia bertemu para pendeta yang sakti mandraguna dan bijaksana, namun baru sekarang dia bertemu seorang pemuda lemah yang memiliki keyakinan dan kepasrahan kepada Sang Hyang Widhi seperti pemuda ini.
Ia teringat akan anak tirinya Bagus Seto.
Bagus Seto juga seorang pemuda aneh, akan tetapi dia memiliki kesaktian, bahkan dia sakti mandraguna berkat ilmu-ilmunya yang didapatkan dari gurunya, Sang Bhagawan Ekadenta.
Dia dapat menghadapi lawan-lawannya yang tangguh dengan ilmu yang dikuasainya.
Akan tetapi pemuda ini, seorang lemah yang tidak pernah mempelajari ilmu kadigdayaan, akan tetapi berani sekali menentang orang-orang yang sakti mandraguna hanya dengan mengandalkan kepasrahannya kepada Sang Hyang Widhi.
"Sekarang andika hendak kemana, anakmas?"
"Saya hendak melanjutkan perantauan saya di daerah ini, kemudian menuju ke Nusabarung, sesuai dengan perintah ayah. Kalau sudah sampai di Nusabarung dan menentang penyebaran agama secara paksa, baru saya akan pulang ke pegunungan Tengger."
"Kalau begitu, selamat jalan. Kita berpisah di s ini dan harap andika berhati-hati menjaga dirimu, anak-mas."
"Selamat berpisah, kanjeng bibi. Mudah mudahan kita akan dapat bertemu kembali. Senang sekali bertemu dengan seorang yang sakti mandraguna seperti kanjeng bibi. Dan kanjeng bibi sendiri hendak ke manakah?"
"Aku akan melanjutkan pencarianku terhadap kedua orang anakku itu."
"Namanya Retno Wilis dan Bagus Seto? Aku akan membantumu, kanjeng bibi. Kalau bertemu dengan mereka, akan kuberitahukan bahwa mereka dicari oleh kanjeng bibi."
"Terima kasih, anak-mas,"
Kata Endang Patibroto sambil tersenyum.
Kalau ia saja tidak berhasil mencari anak-anaknya, apa lagi seorang pemuda lemah seperti Jayawijaya!
Mereka lalu berpisah.
Akan tetapi belum lama Endang Patibroto berpisah dari pemuda itu, hatinya merasa tidak enak.
Membiarkan seorang pemuda lemah seperti Jayawijaya melakukan perjalanan seorang diri!
Sungguh besar bahayanya mengancam pemuda itu.
Ia merasa tidak tega dan diam-diam ia lalu menanti, kemudian membayangi perjalanan pemuda itu dari jauh.
Jayawijaya berjalan seorang diri dengan langkah tenang.
Dia merasa girang sudah dapat mencegah Wasi Karangwolo membujuk para penduduk dusun.
Munculnya Endang Patibroto mempertebal iman kepercayaannya kepada kekuasaan Sang Hyang Widhi.
Tentu hanya Hyang Widhi yang menggerakkan seorang wanita sakti seperti Endang Patibroto sehingga dapat membantunya menghadapi Wasi Karangwolo.
Kalau Hyang Widhi hendak menolong, tidak kurang jalannya.
Karena itu, sedetikpun dia tidak pernah kendur penyerahannya kepada Yang Maha Kuasa dan Yang Maha Kasih.
Sedetikpun dia tidak pernah menyangsikan bimbingan dan perlindungan Hyang Widhi kepadanya.
Hari telah menjelang senja ketika dia tiba di dekat sebuah hutan lebat.
Tiba-tiba saja dari dalam hutan berlompatan tujuh orang laki-laki bertubuh tinggi besar dan mereka menghadang jalan sambil menyeringai menakutkan.
Jayawijaya terpaksa berhenti melangkah karena tujuh orang itu sengaja menghadang di depannya.
Pemuda itu dengan sabar hendak mengambil jalan memutari mereka, akan tetapi tujuh orang itu kembali menghadangnya dan kemanapun dia melangkah, mereka tentu menghadang di depannya.
"Andika sekalian ini mau apakah? Saya sedang melakukan perjalanan, tidak mengganggu kalian dan tidak mengenal kalian. Harap membuka jalan dan biarkan aku lewat,"
Katanya dengan nada suara halus.
Tujuh orang itu dipimpin oleh seorang laki-laki tinggi besar yang mukanya penuh brewok.
Sejak tadi dia memandang ke arah buntalan di punggung Jayawijaya.
Mendengar ucapan pemuda itu, dia tertawa bergelak.
"Ha-ha-ha, orang muda. Ketahuilah bahwa daerah ini adalah daerah kekuasaan kami. Andika lewat disini, boleh saja akan tetapi tinggalkan dulu buntalan di punggungmu itu!"
"Akan tetapi mengapa? Buntalan ini berisi pakaian yang menjadi bekalku dalam perjalanan. Aku memerlukan untuk pengganti pakaianku,"
Jayawijaya membantah dengan suara halus.
"Kau berani membantah? Serahkan pakaian dan barang-barangmu, atau serahkan nyawamu! kau boleh pilih, harta atau nyawa!"
Kata kepala perampok itu dengan suara garang.
"Hemm, jadi kalian ini adalah perampok?"
"Benar, kami adalah perampok yang menguasai daerah ini. Jangan banyak membantah kalau engkau menyayangi nyawamu!"
"Sobat, tidak tahukah kalian bahwa merampok adalah pekerjaan yang amat tidak patut dan merugikan orang lain? Sebaiknya kalau kalian cepat menyadari hal itu dan mengubah jalan hidup kalian agar tidak menumpuk dosa yang akan berat pertanggunganjawabnya."
Tujuh orang laki-laki itu saling pandang dan tertawa bergelak.
Mereka merasa lucu ada seorang pemuda yang memberi Wejangan kepada mereka seperti lagak seorang pendeta saja!
"Orang muda, jangan banyak cerewet!
Serahkan buntalanmu itu kalau engkau ingin hidup!"
Bentak pemimpin perampok yang berewokan. (Lanjut ke
Jilid 09) Sepasang Garuda Putih (seri ke 05 -Serial Keris Pusaka Sang Megatantra) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo
Jilid 09
"Kalian menginginkan buntalan pakaianku ini? Boleh, kalau kalian memang membutuhkan pengganti pakaian, ambillah."
Dia melepaskan buntalannya dan menyerahkannya kepada kepala perampok.
Si brewok itu menyambar buntalan itu dengan tangannya, lalu membuka buntalan.
Ternyata benar hanya terisi beberapa stel pakaian yang sederhana, tidak dapat dibilang mewah dan tidak berharga.
Dia mengerutkan alisnya dengan kecewa dan melemparkan buntalan pakaian itu ke atas tanah.
Karena agaknya tidak bisa mendapatkan barang berharga dari pemuda itu, dia bermaksud untuk menghinanya saja sebagai tindakan bersenang-senang dan iseng untuk menebus kekecewaannya.
"Sekarang lepaskan semua pakaianmu, itupun harus diserahkan kepada kami!"
Bentaknya.
"Sobat, ini sudah keterlaluan namanya! Aku sudah menyerahkan semua pakaianku, akan tetapi andika masih menghendaki yang kupakai. Apa andika ingin agar aku bertelanjang bulat?"
"Ha-ha-ha, tidak perduli engkau akan bertelanjang seperti monyet, yang penting taatilah perintah kami. Hayo, cepat lucuti pakaianmu atau kami akan menggunakan kekerasan!"
"Tidak, terpaksa aku tidak dapat menuruti permintaanmu yang keterlaluan itu,"
Jawab Jayawijaya sambil mengerutkan alisnya dan menentang pandang mata tujuh orang itu dengan berani.
"Apa?"
Kepala rampok membentak sambil melolot.
"Berani andika menolak perintahku? Apa andika ingin mampus?"
Sambil berkata demikian dia melangkah maju dan menggunakan lengan tangannya yang besar itu untuk mendorong dada Jayawijaya.
Dorongan itu kuat sekali tanpa dapat dihindarkan lagi tubuh Jayawijaya terjengkang roboh.
Akan tetapi dia tidak merasakan nyeri dan segera dia bangkit berdiri, matanya dengan berani menentang mereka.
"Kalian jahat! Kalian tentu akan memetik buah dari perbuatan kalian sendiri!"
Katanya sambil menudingkan telunjuknya ke arah muka si brewok.
Sikap dan kata-kata pemuda ini membuat para perampok itu menjadi marah sekali.
Srat-srat-srat!
Mereka mencabut golok yang tergantung di pinggang.
Pemuda itu roboh hanya oleh dorongan tangan, akan tetapi bersikap demikian berani menentang mereka!
"Monyet tak berguna!
Sekarang aku akan mencabut nyawamu!"
Bentak si brewok sambil mengangkat goloknya tinggi-tinggi dengan sikap mengancam.
Jayawijaya tetap berdiri tenang dan sedikitpun dia tidak berkedip menghadapi ancaman tujuh orang yang memegang golok itu.
"Kalau Sang Hyang Widhi belum menghendaki aku mati, golok-golokmu itu tak ada artinya dan tidak akan mampu membunuhku!"
Katanya dengan penuh keyakinan.
Tentu saja tujuh orang itu merasa ditantang.
Si brewok lalu menerjang maju, goloknya ditebaskan ke arah leher pemuda itu dengan maksud sekali serang akan membikin putus leher itu.
Akan tetapi, ketika golok itu sudah dekat sekali dengan leher Jayawijaya yang sama sekali tidak mengelak, golok itu terpental kembali dengan kuatnya sehingga hampir terlepas dari pegangan kepala perampok, seolah ada hawa yang amat kuat melindungi leher itu!
Jayawijaya hanya mundur selangkah.
Kepala perampok menjadi heran dan penasaran sekali, bersama enam orang anak buahnya dia menyerang lagi.
Tujuh golok menyambar-nyambar ke tubuh Jayawijaya namun semua golok terpental kembali setelah mendekat tubuh pemuda itu.
Endang Patibroto yang mengintai peristiwa itu, berdiri terlongong dengan mata terbelalak dan mulut ternganga.
Belum pernah ia melihat hal yang seaneh itu.
Jayawijaya jelas tidak memiliki ilmu kepandaian atau kesaktian.
Buktinya ketika didorong tadi ia terjengkang roboh.
Akan tetapi mengapa golok-golok itu tidak dapat melukainya, bahkan tidak dapat menyentuh tubuhnya?
Ia tidak melihat pemuda itu menggunakan anggauta tubuhnya untuk menangkis atau mengelak, akan tetapi golok-golok itu terpental membuat penyerangnya terhuyung ke belakang.
Sungguh suatu penglihatan yang luar biasa anehnya.
Ia teringat kata-kata pemuda itu bahwa dia tidak mempunyai ilmu apa-apa dan satu-satunya ilmu yang menjadi pegangannya hanya penyerahan kepada Sang Hyang Widhi!
Benarkah penyerahan dapat menciptakan suatu pengaruh tidak tampak yang dapat melindunginya dari malapetaka?
Endang Patibroto tidak dapat membayangkan hal ini.
Ia sendiri percaya akan kekuasaan Hyang Widhi, Yang Maha Pencipta atau Yang Maha Kuasa yang kekuasaannya tergabung dalam Trimurti.
Yang Maha Pencipta, Yang Maha Melindungi dan Yang Maha Pembasmi.
Akan tetapi kalau ia disuruh menyerah dengan ancaman seperti itu di depan mata, kiranya penyerahannya akan menghilang dan ia tentu akan mempergunakan segala kesaktiannya untuk melindungi dirinya.
Akan tetapi pemuda itu dapat melindungi dirinya dengan iman dan penyerahan yang mutlak dan hasilnya, Hyang Widhi agaknya melindunginya dengan suatu kemujijatan!
Setelah membacok dan menusukkan golok mereka tanpa hasil dari yang mengakibatkan golok mereka terpental dan tubuh mereka terhuyung ke belakang, para perampok itu menjadi ketakutan.
Mereka menduga bahwa mereka berhadapan dengan seorang pemuda yang sakti mandraguna, maka mereka lalu memutar tubuh dan melarikan diri pontang panting dengan ketakutan.
Jayawijaya tersenyum dan mengambil buntalannya dari atas tanah, menggendong lagi buntalannya setelah membersihkannya dari tanah.
Kemudian, dia melanjutkan perjalanannya seolah-olah tidak pernah terjadi sesuatu dengan dirinya.
Karena yakin sepenuhnya bahwa Hyang Widhi yang melindunginya, maka dia sama sekali tidak merasa sombong, karena dia sendiri tidak melakukan sesuatu.
Hanya di dalam hatinya dia tiada hentinya mengucapkan puji syukur kepada Hyang Widhi yang sudah melindunginya dari marabahaya.
Sudah seringkali dia mengalami hal seperti itu, yakni selalu terlepas dari bahaya secara ajaib.
Dia sudah terbiasa dan karenanya, keyakinan imannya dan penyerahannya menjadi semakin mendalam.
Dia percaya sepenuhnya bahwa Yang Menciptakannya tidak akan membiarkan dia terancam malapetaka.
Dia tidak menggantungkan kepada perlindungan Hyang Widhi, dia akan berusaha sekuat mungkin untuk melindungi diri sendiri, akan tetapi kalau usahanya itu telah sampai di puncaknya dan tidak berhasil, dia hanya menyerahkan diri kepada Hyang Widhi.
Semua usahanya selalu berlandaskan penyerahan yang ikhlas dan sepenuh iman.
Dia tidak tahu bahwa Endang Patibroto masih terus membayanginya dari jauh, karena wanita ini tertarik sekali dan ingin melihat perkembangannya dan apa yang akan dialami oleh pemuda yang luar biasa itu.
Ia sendiri harus mengakui bahwa beberapa kali ia terhindar dari marabahaya secara yang tidak disangka-sangka, akan tetapi ia menganggap hal itu sebagai suatu kebetulan saja.
Tidak seperti pemuda itu yang seolah-olah melihat Tangan Sang Hyang Widhi selalu melindunginya!
Jayawijaya melanjutkan perjalanannya.
Hari telah menjelang senja dan melihat sebuah dusun di depan, dia bermaksud untuk mencari tempat untuk mondok dan melewatkan malam.
Di sudut dusun itu, agak terpencil, dia melihat sebuah rumah yang lumayan besarnya.
Dia segera memasuki pekarangan rumah itu.
Ruangan depan rumah itu sunyi saja, tidak tampak seorang-pun, akan tetapi lampu gantung di ruangan itu sudah dinyalakan orang.
"Kulonuwun...!"
Jayawijaya mengucapkan salam.
Ada jawaban dari dalam dan keluarlah seorang laki-laki dan seorang wanita yang usianya sudah lima puluh tahunan.
Dua orang itu menyambut kedatangan Jayawijaya dengan ramah.
"Anakmas siapakah dan ada keperluan apakah mengunjungi rumah kami?"
Tanya yang pria.
"Nama saya Jayawijaya dan karena kemalamn di jalan, saya mohon kepada paman dan bibi agar dapat menerima saya bermalam di sini untuk malam ini."
Dua orang itu mengamati wajah Jayawijaya dan melirik ke arah buntalan di punggungnya.
"Ah, boleh saja, anakmas. Silakan masuk, akan tetapi maaf, tempat kami kotor dan jelek."
"Paman terlalu merendahkan diri. Rumah ini cukup bersih dan indah. Apakah paman dan bibi hanya berdua saja tinggal di rumah ini?"
"Ya, kami hanya tinggal berdua. Kebetulan ada sebuah kamar kosong untuk andika bermalam. Silakan duduk. Kami tadi sedang siap untuk makan malam, maka marilah andika bersama kami makan malam, anakmas Jayawijaya."
"Terima kasih, paman dan bibi baik sekali,"
Kata Jayawijaya dan diapun ikut masuk ke ruangan dalam.
"Duduklah dulu sebentar, anakmas. Kami berdua akan mempersiapkan hidangan malam untuk kita bertiga,"
Kata laki-laki itu dan dia bersama isterinya lalu meninggalkan Jayawijaya seorang diri saja di ruangan itu.
Jayawijaya duduk di atas bangku dan menanti dengan hati senang.
Beruntung, pikirnya, sekali ketuk sebuah rumah sudah diterima dengan ramah.
Sementara itu, Endang Patibroto mendekati rumah itu dan mengintai dari belakang.
Ia melihat sepasang suami isteri setengah tua itu sedang sibuk di dapur.
"Dia tentu seorang priyayi,"
Kata yang wanita kepada yang pria.
"Buntalannya itu tentu mengandung isi yang berharga."
"Sekali ini kita akan untung besar."
"Akan tetapi di mana kita taruh racun ini?"
Tanya si pria sambil mengeluarkan sebuah bungkusan kain berwarna hitam.
"Jangan ditaburkan pada makanan karena kita akan makan bersama. Sebaiknya dimasukkan ke dalam air teh dan kita suguhi dia air teh itu dulu sebelum makan. Dia tentu haus dan akan minum air teh itu."
Pria itu lalu membuka bungkusan dan ternyata di dalamnya terdapat bubuk berwarna biru. Dia lalu menuangkan isi bungkusan itu ke dalam sebuah poci minuman.
"Apa itu tidak akan terasa olehnya?"
"Tidak akan terasa. Kita beri teh yang kental sehingga rasa pahitnya akan disangka pahitnya teh."
Endang Patibroto terkejut sekali.
Dua orang pemilik rumah itu bermaksud untuk meracuni Jayawijaya!
Ia mengambil keputusan untuk terus mengamati dan nanti akan turun tangan mencegah kalau pemuda itu hendak minum air teh karena betapapun juga, ia tidak ingin pemuda itu keracunan.
Apakah penyerahannya akan dapat menolak bekerjanya racun?
Endang Patibroto tidak mau membiarkan ini terjadi.
Setelah hidangan dan minuman selesai dipersiapkan, suami isteri itu lalu membawa hidangan ke ruangan tengah di mana pemuda itu masih duduk di atas bangku.
"Ah, kami hanya mempunyai suguhan sederhana ini, anakmas. Nasi jagung dan sayur lodeh. Mari silakan minum dulu, karena andika tentu kehausan!"
Kata tuan rumah sambil menuangkan air teh dari poci itu dalam sebuah cangkir dan memberikannya kepada Jayawijaya.
Pemuda itu menerima cangkir teh dan menghaturkan terima kasih lalu membawa cangkir itu ke mulutnya tanpa ragu.
Di luar jendela, Endang Patibroto sudah siap dengan sebuah batu kecil untuk ditimpukkan kalau pemuda itu benar-benar hendak minum air teh dari dalam cangkir.
Akan tetapi ia tidak tergesa-gesa karena hendak melihat perkembangannya.
Cangkir itu sudah menempel di bibir Jayawijaya akan tetapi tiba-tiba Jayawijaya menjauhkan cangkir dan mengerutkan hidung dan alisnya.
Dia menaruh kembali cangkir teh itu ke atas meja.
Suami isteri yang memandang dengan mata penuh harap menjadi kecewa melihat pemuda itu tidak jadi minum air tehnya dan meletakkan cangkir di atas meja.
"Ada apa, anakmas?"
Tanya si wanita.
"Mengapa andika tidak minum air teh yang kami suguhkan?"
Jayawijaya menggelengkan kepalanya.
"Entah mengapa, bibi. Akan tetapi mulutku tidak mau minum air teh itu,"
Katanya dengan polos. Memang ketika dia hendak minum tadi, mulutnya menolak dan air teh itu seperti mengeluarkan bau yang memuakkan.
"Denmas!"
Tuan rumah itu berkata dengan nada suara kasar.
"Kami dengan sungguh hati menerima kedatanganmu dan menyuguhkan makanan dan minuman seadanya. Kalau andika tidak mau minum air teh kami, berarti andika menghina dan memandang rendah kepada kami!"
"Ayo minumlah, denmas!"
Isterinya juga membujuk Jayawijaya.
Pemuda itu merasa tidak enak untuk menolak.
Sekali lagi dia mengambil cangkir itu dan menempelkan di mulutnya.
Akan tetapi, baru saja air teh menyentuh bibirnya, dia sudah menyemburkan keluar dan menaruh cangkir itu di atas meja kembali.
"Ada apakah, denmas? Apakah air teh kami tidak enak?"
Tanya si wanita. Jayawijaya menggeleng kepala.
"Bukan tidak enak, entah mengapa mulutku tidak dapat menerimanya."
Dia sendiripun merasa heran mengapa ketika air teh menyentuh bibirnya, bibir itu seperti terkena api rasanya. Tiba-tiba laki-laki tuan rumah itu menjadi marah.
"Orang muda, andika sungguh menghina kami! Aku tidak terima diperhina seperti ini. Andika ternyata seorang yang tidak mengenal budi dan sudah sepatutnya dihajar!"
Berkata demikian, orang itu menyambar sebatang arit dari dinding. Isterinyajuga segera memegangi kedua tangan Jayawijaya dan berkata.
"Engkau seorang pemuda yang tidak tahu diri! Cepat, pakne, hajar dia!"
Ia memegangi kedua pergelangan tangan pemuda itu dengan kuatnya. Laki-laki itu lalu melangkah maju dan aritnya diayun ke arah kepala Jayawijaya.
"Wuuuttt... crok...! Aduuhhh...!"
Wanita itu menjerit dan pundaknya terluka mengeluarkan darah.
Ternyata ketika arit tadi menyambar ke arah kepala Jayawijaya, entah bagaimana arit itu menyimpang dan mengenai pundak wanita itu!
Pria itu terbelalak melihat aritnya melukai isterinya sendiri.
Dia menjadi marah dan sekali lagi membacokkan aritnya ke arah kepala Jayawijaya.
Pemuda itu hanya berdiri tenang saja dan arit yang menyambar ke kepalanya itu pun tiba-tiba menyeleweng, bahkan terlepas dari tangan pria itu dan meluncur turun melukai pahanya sendiri!
Pria dan wanita itu mengaduh-aduh akan tetapi mereka agaknya menduga bahwa pemuda itu tentu memiliki ilmu yang tinggi, maka keduanya lalu menjatuhkan diri berlutut dan menyembah-nyembah minta ampun.
"Ampunkan kami yang telah berani mengganggu paduka..."
Kata laki-laki itu ketakutan.
"Ampunkan saya, kanjeng..."
Isterinya juga meratap.
Jayawijaya mengerti apa yang terjadi.
Minuman itu tentu mengandung racun, maka Kekuasaan Hyang Widhi yang menghalangi mulutnya untuk minum kemudian ketika kakek itu menyerangnya, Kekuasaan Gaib itu pula yang membuat arit itu melukai suami isteri itu sendiri.
Diam-diam dia mengucap syukur dan memuji Sang Hyang Widhi yang sudah melindunginya.
"Paman dan bibi. Kalau andika berdua tidak suka menerima kedatangan saya,mengapa tidak mengatakan terus terang saja? Mengapa harus menggunakan daya upaya untuk mencelakakan saya? Kalau andika berdua ingin minta ampun, mintalah ampun kepada Sang Hyang Widhi, karena perbuatan andika berdua itu merupakan dosa terhadap Sang Hyang Widhi, bukan terhadap saya."
Dia lalu mengambil pula buntalan pakaian yang tadi diletakkan di atas meja, mengikatkan di punggungnya dan melangkah keluar dari rumah itu dengan lenggang seenaknya, seolah tidak pernah terjadi sesuatu dalam rumah itu.
Suami isteri itu masih terus berlutut menyembah-nyembah dengan ketakutan.
Endang Patibroto yang mengintai dan menyaksikan semua itu, kembali menjadi bengong terlongong.
Seorang pemuda yang hebat!
Belum pernah selama hidupnya dia melihat atau mendengar akan adanya seorang pemuda yang berada dalam perlindungan Yang Maha Kuasa sedemikian ajaibnya.
Pemuda yang sukar dicari bandingannya.
Pemuda seperti itulah yang patut menjadi suami puterinya, Retno Wilis!
Dengan pikiran ini, Endang Patibroto lalu berlari menyusul pemuda itu.
"Anakmas Jayawijaya!"
Tegurnya. Pemuda itu menoleh dan melihat Endang Patibroto, dia tersenyum. Senyum itu demikian lembut dan penuh pengertian, pikir Endang Patibroto.
"Wah, kita bertemu lagi, kanjeng bibi Endang Patibroto!"
Kata Jayawijaya dengan girang.
"Aku kebetulan lewat di sini juga dan melihat andika,"
Kata Endang Patibroto.
"Dan andika dari mana sajakah?"
Tanyanya untuk memancing pemuda itu menceritakan peristiwa yang tadi dialaminya. Akan tetapi pemuda itu tersenyum.
"Aku hendak mencari tempat untuk melewatkan malam, kanjeng bibi."
"Akupun demikian. Akan tetapi tidak enak kiranya kalau kita mengganggu penduduk dusun. Mungkin mereka malah mencurigai kita."
"Habis, kanjeng bibi hendak bermalam di mana?"
"Seorang pengembara seperti aku ini tidur di manapun boleh saja. Aku melihat ada gubuk di tengah ladang, bagaimana kalau kita melewatkan malam di sana?"
"Baiklah, aku akan senang sekali, kanjeng bibi."
Mereka berdua lalu keluar dari dusun itu dan benar saja, di luar dusun terdapat ladang yang luas dan tampak beberapa buah gubuk di tengah ladang.
"Nah, aku dapat bermalam di gubuk ini, dan andika bermalam di gubuk yang berada di sana itu. Bukankah tempat ini cukup menyenangkan?"
"Menyenangkan sekali, kanjeng bibi."
"Sekarang buatlah api unggun, selain untuk mengusir nyamuk dan hawa dingin, juga aku ingin memanggang juadah (uli). Aku tadi membelinya dari dusun sana. Lumayan untuk menghilangkan lapar."
Endang Patibroto lalu membuka buntalan pakaiannya dan dari situ dia mengeluarkan sebuah bungkusan daun pisang dan ternyata di dalamnya terdapat juadah yang putih dan besar.
Jayawijaya lalu sibuk membuat api unggun di dekat gubuk, dan Endang Patibroto lalu menusuk beberapa potong juadah dengan sebilah bambu lalu memanggang sate juadah itu.
Jayawijaya yang melihat bahwa Endang Patibroto tidak membawa minuman lalu berkata sambil bangkit berdiri.
"Kanjeng bibi, biar aku memanjat pohon kelapa itu untuk mengambil buah kelapa untuk kita minum."
Endang Patibroto tersenyum. Ia hendak melihat bagaimana caranya pemuda itu mengambil buah kelapa. Kalau ia kehendaki, dengan sekali sambit saja ia akan dapat meruntuhkan dua butir buah kelapa.
"Baik sekali, anakmas Jayawijaya."
Jayawijaya lalu menghampiri pohon kelapa yang berada tak jauh dari situ dan memanjat pohon kelapa dengan perlahan.
Endang Patibroto mengamati dan menjadi semakin heran.
Pemuda itu benar-benar seorang pemuda lemah yang tidak memiliki kadigdayaan, pikirnya.
Mengambil buah kelapa saja dengan cara memanjat seperti orang biasa.
Akan tetapi dia mendiamkannya saja dan mendengar suara berdebuk dua kali ketika pemuda itu menjatuhkan dua butir buah kelapa dari atas.
Setelah juadah yang dipanggangnya menjadi matang, mereka berdua lalu makan.
Endang Patibroto tidak mau memperlihatkan kesaktiannya, maka ia menggunakan sebilah pisau yang dibawanya untuk melubangi buah kelapa.
Mereka makan juadah panggang dan minum dawegan (kelapa muda) dan terasa nikmat sekali.
Setelah makan, mereka duduk menghadapi api unggun.
Endang Patibroto menatap wajah yang tampan itu, yang kelihatan aneh karena ada sinar merah api unggun bermain-main di wajah itu.
Ia melihat betapa sinar mata pemuda itu amat lembut dan penuh pengertian.
Ia merasa seolah-olah pemuda itu mengetahui semua yang terkandung dalam hatinya melalui pandang mata yang lugu itu.
"Anakmas Jayawijaya, bolehkah aku mengetahui, berapa usiamu sekarang?"
Tanya Endang Patibroto sambil lalu.
"Sudah dua puluh tiga tahun, kanjeng bibi."
"Engkau tentu sudah menikah atau bertunangan?"
Jayawijaya tersenyum dan mukanya yang tersinar api unggun itu menjadi semakin kemerahan.
"Ah, belum kanjeng bibi. Dalam keadaan seperti saya sekarang ini, sama sekali saya tidak mempunyai pikiran untuk menikah."
"Kenapa? Bukankah pernikahan itu suatu hal yang lumrah bahkan menjadi kewajiban setiap orang manusia untuk memperoleh keturunan?"
"Benar apa yang kanjeng bibi katakan. Akan tetapi saya kira urusan perjodohan adalah ketentuan dari Hyang Widhi. Pula, berkumpulnya seorang suami dan seorang isteri bukan sekedar untuk memperoleh keturunan belaka, melainkan untuk membentuk sebuah rumah tangga yang bahagia. Dan syaratnya, di antaranya adalah tercukupinya sandang-pangan-papan. Sedangkan orang seperti saya ini, seorang perantau yang tidak mempunyai papan tertentu, panganpun sedapatnya dan sandangpun yang hanya saya bawa ini. Bagaimana saya dapat mempunyai pikiran untuk berjodoh, kanjeng bibi?"
Endang Patibroto tersenyum senang.
"Pemuda yang berpikiran luas,"
Pikirnya.
"Akan tetapi kalau andika mendapatkan seorang isteri yang baik, kalian berdua akan dapat bekerja sama menanggulangi segala kesulitan hidup, anakmas."
"Agaknya saya masih belum memikirkan jodoh saya, dan saya hanya menyerahkan kepada Hyang Widhi untuk mengaturnya."
"Anakmas Jayawijaya, apakah engkau masih mempunyai seorang ibu?"
"Kanjeng ibu sudah meninggal dunia ketika saya berusia sepuluh tahun. Semenjak itu saya hanya tinggal berdua dengan kanjeng rama di sebuah puncak dari pegunungan Tengger."
"Ah, kasihan sekali, andika, anakmas. Sejak berusia sepuluh tahun sudah ditinggal mati ibu."
Jayawijaya tersenyum.
"Tidak ada yang perlu dikasihani, kanjeng bibi. Ibu meninggal dunia sudah menjadi kehendak Hyang Widhi dan apapun yang ditentukan Hyang Widhi adalah baik dan benar, mengandung hikmah yang mendalam. Saya hidup berdua dengan kanjeng rama dan merasa cukup berbahagia, kanjeng bibi."
"Hemm, seorang muda seperti andika, bagaimana mengerti akan bahagia? Bahagia itu apakah, anakmas?"
"Bahagia itu adalah suatu perasaan, kanjeng bibi. Kalau seseorang sudah merasai cukup dengan segala yang ada, yang menganggap bahwa semua yang terjadi adalah kehendak Sang Hyang Widhi, kalau sudah tidak ada sesuatu yang membuatnya merasa tidak berbahagia, nah, orang itulah yang dapat merasakan bahagia."
Endang Patibroto tersenyum.
Teringat dia akan pendapat suaminya, Tejalaksono.
Seperti itu pulalah pendapat suaminya, akan tetapi agaknya suaminya belum menemukan intinya seperti yang diperoleh pemuda luar biasa ini.
"Wah, kalau begitu, anakmas Jayawijaya ini tidak pernah merasa berduka atau kecewa, selalu merasa bahagia?"
"Kanjeng bibi Endang Patibroto, saya hanyalah seorang manusia biasa, tiada bedanya dengan orang lain. Bagaimana saya dapat terlepas dari semua perasaan itu? Akan tetapi, kalau saya mengalami kedukaan, hal itu tidak akan berlangsung lama karena saya percaya dengan penuh keyakinan,bahwa segala keadaan itu hanya dapat terjadi kalau dikehendaki oleh Hyang Widhi. Dan kalau sudah demikian, maka saya dapat menerima apa saja yang terjadi dengan diri saya tidak menganggapnya sebagai hal yang mendukakan atau menggirangkan. Saya manusia biasa yang lemah dan dengan segalakurangan saya, kanjeng bibi. Tidak seperti kanjeng bibi yang sakti mandraguna."
"Anakmas Jayawijaya, sekarang aku mulai percaya bahwa tidak ada ilmu yang lebih hebat dari pada ilmu menyerah dengan penuh keimanan kepada Hyang Widhi seperti yang andika lakukan. Aku kagum sekali, anakmas."
"Setiap orang manusia dapat bersikap seperti itu, kanjeng bibi. Tidak ada yang patut dikagumi."
"Dengar, anakmas Jayawijaya. Sudah kuceritakan kepadamu bahwa aku sedang mencari anak-anakku Retno Wilis dan Bagus Seto. Setelah bertemu dan berkenalan denganmu, timbul niat di hatiku untuk menjodohkan anakku Retno Wilis dengan andika! Bagaimana pendapatmu, anakmas Jayawijaya?"
"Bagaimana saya harus menjawabnya, kanjeng bibi? Saya sama sekali belum mempunyai pikiran untuk berjodoh, karena itu saya tidak dapat menyanggupi atau menolak uluran tangan bibi yang memberi kehormatan sebesar itu kepada saya."
"Percayalah, anakmas. Puteriku itu seorang dara yang cantik jelita luar biasa, dan ia sakti mandraguna, lebih sakti dari pada aku Sendiri. Andika tentu akan jatuh cinta kalau bertemu dengannya."
Jayawijaya tersenyum ramah.
"Mungkin saja saya akan jatuh cinta kepadanya, akan tetapi bagaimana kalau ia tidak cinta pada saya? Cinta dua orang yang akan menjadi suami isteri tidak dapat hanya bertepuk tangan sebelah, kanjeng bibi. Akan tetapi, bagaimanapun juga, saya percaya akan kekuasaan Hyang Widhi. Kalau memang antara kami dijodohkan oleh Hyang Widhi, tidak akan ada rintangan yang dapat menghalanginya, akan tetapi kalau Hyang Widhi tidak menghendaki perjodohan kami, tiada ada sesuatupun yang dapat mendorong atau memaksa. Nah, kita semua lihat saja jalannya kekuasaan Hyang Widhi yang sempurna dan ajaib."
"Mudah-mudahan saja Hyang Widhi akan memenuhi harapanku dan akan mempertemukan kalian berdua, anakmas. Sekarang, anakmas mengaso dan tidurlah di gubuk sana itu, aku akan tidur di gubuk ini."
"Baik, selamat tidur, kanjeng bibi."
Pemuda itu lalu bangkit dan berjalan menuju ke gubuk yang tidak berapa jauh dari gubuk itu, bayangannya diikuti pandang mata Endang Patibroto.
Wanita perkasa ini merasa kagum bukan main.
Akan tetapi diam-diam iapun merasa khawatir.
Seorang seperti Jayawijaya, apakah sekali waktu tidak akan celaka oleh perbuatan manusia jahat?
Apakah selanjutnya kekuasaan Hyang Widhi akan terus melindunginya?
Dia sendiri tidak mempunyai kadigdayaan untuk melindungi diri sendiri.
Pada keesokan harinya, pagi-pagi sekali Jayawijaya sudah bangun dari tidurnya dan membersihkan tubuhnya dengan air bersih yang mengalir di dekat pematang ladang itu.
Ketika dia berjalan mendekati gubuk yang semalam menjadi tempat tidur Endang Patibroto, ternyata wanita itupun sudah bangun dari tidurnya, bahkan sudah bersiap-siap untuk meninggalkan tempat itu.
"Andika sudah bangun, anakmas? Aku hendak melanjutkan perjalananku menuju ke Nusabarung. Aku akan mengunjungi Nusa Barung untuk mencari anak-anakku."
Lalu ia menatap, wajah pemuda itu dan bertanya.
"Andika sendiri hendak kemana, anakmas?"
"Mungkin saya juga akan mengunjungi Nusabarung. Sudah lama saya mendengar tentang pulau itu, dan melihat bahwa dusun Pandakan juga termasuk daerah Nusabarung, maka saya pikir tentu penyebaran agama baru yang dipaksakan itu datangnya dari sana."
"Kalau benar datangnya dari sana, apa yang akan andika lakukan, anakmas? Tentu para pimpinan agama itu merupakan orang-orang yang berilmu tinggi. Apa yang akan andika perbuat untuk menghalangi mereka?"
"Setidaknya saya dapat menyadarakan mereka bahwa cara yang mereka tempuh itu tidak benar. Mereka boleh saja menyebarluaskan agama mereka akan tetapi dengan cara yang benar dan penuh damai. Rakyatkan dapat menilai mana agama yang baik dan mana yang tidak baik. Kalau memakai cara paksaan, akibatnya para pemeluk agama itupun hanya berpura-pura saja karena takut."
"Andika akan menegur mereka dan mengatakan begitu?"
"Benar, kanjeng bibi. Saya tidak mempunyai cara lain untuk menyadarkan mereka."
"Kalau mereka menolak caramu menyadarkannya dan bahkan menyerangmu, bagai mana?"
"Saya bermaksud baik bagi mereka sendiri, kalau sampai terjadi hal itu, saya hanya menyerah kepada kekuasaan Hyang Widhi saja."
Endang Patibroto menggeleng kepalanya, akan tetapi ia merasa tidak berhak untuk melarang.
"Kalau begitu, mudah-mudahan usahamu itu berhasil baik, anakmas Jayawijaya. Nah, selamat tinggal, aku pergi dulu."
"Selamat jalan, kanjeng bibi."
Endang Patibroto meninggalkan pemuda itu melakukan perjalanan ke Nusabarung.
Adipati Martimpang membuka persidangan itu, dihadap oleh para ponggawa, termasuk lima orang senopatinya yang digdaya, yaitu Ki Wisokolo, Ki Wisangnogo, Ki Krendomolo, Ki Damarpati dan Ki Surodiro.
Selain para ponggawa dan senopati, di-situ terdapat pula Wasi Surengpati, tokoh dari Guha Iblis itu yang kini oleh Adipati Martimpang diangkat menjadi seorang penasihat.
Mereka membicarakan tentang penyusunan kekuatan di Nusabarung dengan bertambahnya perajurit yang kini jumlahnya sudah mencapai tiga ribu orang.
Setengah jumlah itu dipusatkan di pantai daratan untuk menjaga pintu depan Nusabarung dan setengahnya lagi berada di pulau itu.
Seorang penyelidik melaporkan bahwa di Jenggala atau Panjalu belum terlihat ada gerakan pasukan yang bergerak ke timur, bahkan pasukan Panjalu banyak yang dikerahkan ke selatan dan barat untuk menundukkan para Raja muda dan adipati yang ingin melepaskan diri dari kekuasaan Panjalu.
"Bagaimana dengan usaha para wasi untuk menyebarkan agama baru kalian itu? Sampai di mana perkembangan dan hasilnya, kakang Wasi Surengpati?"
Tanya Adipati Martimpang kepada penasihatnya.
Wasi Surengpati sekarang tidak lagi berpakaian kotor dekil seperti dulu.
Pakaiannya serba indah dan baru, rambutnya yang mengkilat karena diminyaki dan disisir, matanya yang lebar itu bersinar-sinar dan hidungnya yang pesek tampak lebih pesek lagi ketika dia menyeringai.
"Ah, heh-heh-heh, sudah mendapat banyak kemajuan, Kanjeng Adipati. Banyak orang dusun yang sudah menjadi anggauta perkumpulan kami dan banyak candi didirikan orang. Mereka yang sudah menjadi anggauta agama kami itu merupakan kekuatan yang dengan mudah dapat kita pergunakan untuk menyerang musuh atau untuk mencetuskan pertentangan antara para pemeluk agama lain. Dengan demikian, maka keadaan di wilayah Jenggala dan Panjalu akan menjadi lemah."
"Bagus, kalau begitu. Apakah andika tidak menemui halangan?"
Wasi Surengpati menghela napas panjang.
"Wah, baru-baru ini memang ada beberapa orang di antara para penduduk dusun yang mencoba untuk menentang kami, akan tetapi dengan mudah kami singkirkan mereka. Hampir di setiap dusun yang termasuk wilayah Nusabarung sudah ada perwakilan agama kami, ha-ha-ha."
"Kalau begitu, kita harus cepat memberi kabar kepada Kadipaten Blambangan agar Wasi Karangwolo dan terutama Wasi Shiwamurti mengetahui bahwa gerakan kita di Nusabarung sudah berhasil."
"Harap jangan khawatir, Kanjeng Adipati. Saya sudah mengirim utusan ke sana, karena Kakang Wasi Shiwamurti perlu mengangkat kepala-kepala agama untuk memimpin mereka yang berada di dusun-dusun. Dan pengangkatan itu baru sah kalau dilakukan oleh Sang Wasi Shiwamurti."
Tiba-tiba seorang pengawal masuk ke ruangan itu. Melihat ini, Adipati Martimpang menegurnya.
"Heh, pengawal, mau apa engkau menghadap tanpa kami panggil?"
"Ampunkan hamba, Kanjeng Adipati. Di luar terdapat seorang wanita yang hendak menghadap paduka, dan ketika kami larang, ia mengamuk dan merobohkan banyak pengawal!"
"Kakang Wasi Surengpati, coba andika keluar dan lihat siapa wanita itu. Kalau ia hanya seorang pengacau, tangkap dan hajar."
Adipati Martimpang memerintah dengan marah.
Wasi Surengpati lalu keluar sambil membawa tongkat ularnya.
Langkahnya menunjukkan betapa ia sadar akan harga dirinya, dadanya dibusungkan dan langkahnya dibuat segagah mungkin.
Seolah dia berteriak kepada semua orang agar melihat bahwa dia yang ditugaskan menangkap pengacau dan kalau dia turun tangan, semua tentu akan menjadi beres!
Siapakah wanita yang mengamuk di luar itu?
Ia bukan lain adalah Endang Patibroto!
Setelah dengan perahu ia tiba di pulau Nusabarung, ia langsung saja datang ke kadipaten.
Kepada para pengawal yang berjaga di luar, ia mengatakan bahwa ia ingin bicara dengan Adipati Martimpang.
Akan tetapi para pengawal melarangnya karena tidak semua orang dapat menghadap sang adipati, apa lagi pada saat itu sang adipati sedang mengadakan persidangan.
Karena itu, para pengawal melarangnya dan hal ini membuat Endang Patibroto menjadi marah sekali.
Ia nekat untuk memasuki gedung kadipaten, akan tetapi para pengawal menghalanginya sehingga terjadilah perkelahian.
Para pengawal itu dilempar-lemparkan, ditampar dan ditendang sehingga mereka berpelantingan dan seorang di antara mereka cepat melapor ke dalam.
Ketika Wasi Surengpati tiba di luar, Endang Patibroto sudah berhenti mengamuk karena para pengawal tidak ada yang berani maju lagi.
Hampir semua dari belasan orang itu sudah berkenalan dengan tamparan dan tendangannya yang kuat.
Wasi Surengpati memandang dengan penuh perhatian.
Matanya yang berpengalaman dapat melihat seorang wanita berusia lima puluhan yang masih amat cantik dan bertubuh ramping padat dan dari kilatan matanya dia dapat menduga bahwa wanita itu tentu saorang yang memiliki ilmu kepandaian yang tinggi.
"Teja-teja sulaksana! Andika siapakah dan mengapa pula membuat kacau di sini?"
Tanya Wasi Surengpati dan lagaknya angkuh, seolah dia yang menjadi adipati di situ.
Apa lagi melihat wanita itu demikian cantik, dia lalu berulah dan bergaya.
Endang Patibroto tidak menganal siapa adanya laki-laki itu, akan tetapi ia dapat menduga bahwa bukan itu adipatinya karena pakaiannya, biarpun mewah, tidak seperti pakaian seorang adipati.
"Aku hanya ingin bertemu dan bicara dengan Sang adipati Nusabarung. Biarkan aku masuk menghadapnya!"
Katanya merasa tidak senang dengan sikap kakek yang matanya lebar hidungnya pesek itu karena lagaknya demikian angkuh.
"Tidak mudah menghadap Sang Adipati kalau kami belum mengetahui apa yang menjadi kehendakmu. Karena itu, katakan dulu kepadaku siapa andika dan apa keperluan andika hendak menghadap Sang Adipati. Baru akan kami pertimbangkan apakah andika dapat diterima menghadap atau tidak!"
"Aku tidak mau bicara denganmu! Biarkan aku masuk kalau begitu!"
Kata Endang Patibroto dan iapun melangkah maju untuk memasuki kadipaten. Wasi Surengpati memalangkan tongkat ularnya menghalangi Endang Patibroto.
"Hemm, tidak mudah masuk tanpa seijinku!"
Bentaknya marah. Pada saat itu muncul Adipati Martimpang sendiri. Dia tertarik mendengar ada wanita yang hendak memaksa bertemu dengannya maka diapun menyusul ke depan.
"Kakang Wasi, siapakah yang membikin ribut di sini?"
Tanyanya. Melihat munculnya Sang Adipati, Wasi Surengpati menurunkan lagi tongkatnya.
"Ia belum mau mengaku siapa dirinya, Kanjeng Adipati,"
Katanya menahan marah. Adipati Martimpang maju selangkah lagi dan dia bertanya dengan suara lantang.
"Eh, wanita, siapakah andika dan apa maksud andika hendak menghadap kami?"
Endang Patibroto memandang adipati itu dengan penuh perhatian. Seorang laki-laki berusia lima puluh tahunan, bertubuh tinggi besar dengan muka hitam buruk.
"Apakah andika adipati Nusabarung ini?"
Endang Patibroto balas bertanya.
"Benar, akulah Adipati Martimpang yang menguasai Nusabarung,"
Kata sang adipati itu sambil memberi isyarat dengan matanya kepada lima orang senopatinya yang sudah menyusul keluar untuk bersiap-siap.
Lima orang senopati itu sudah tanggap dan mereka berdiri melindungi sang adipati.
"Bagus sekali kalau andika sudah keluar sendiri menemuiku, Sang Adipati. Para pengawalmu ini menjemukan sekali. Mereka menghalangi dan mengeroyok aku yang ingin bertemu dengan andika, maka terpaksa aku menghajar mereka."
"Maafkan mereka. Sekarang kita sudah berhadapan, katakanlah apa keperluanmu dengan kami?"
"Aku perlu bertanya kepadamu, Sang Adipati. Aku mempunyai seorang puteri yang sedang mengadakan perjalanan merantau. Apakah ia lewat di sini? Namanya adalah Retno Wilis. Ia melakukan perjalanan bersama seorang puteraku bernama Bagus Seto. Apakah mereka pernah singgah di pulau ini?"
Mendengar pertanyaan ini, Adipati Martimpang terbelalak, demikian pula para senopatinya. Wasi Surengpati bahkan mengeluarkan suara geraman marah.
"Ah, kalau begitu apakah andika yang bernama Endang Patibroto?"
Tanya sang Adipati dengan muka berubah kemerahan karena dia marah sekali teringat akan pengalamannya ketika dijadikan sandera oleh Retno Wilis yang melarikan diri.
"Benar, akulah Endang Patibroto! Apakah anak-anakku itu lewat di sini?"
"Bukan hanya lewat! Anakmu yang keparat itu telah menipu dan menghina kami!"
Endang Patibroto mengerutkan alisnya.
"Hemm, anakku bukan seorang penipu! Jangan andika berbohong kepadaku!"
"Bukan penipu? Ia menyamar sebagai pria dan mengikuti sayembara yang kami adakan dan memenangkan sayembara itu sehingga ia kami terima sebagai calon mantuku. Baru kemudian kami mengetahui bahwa ia seorang wanita dan ia lalu melarikan diri. Keparat gadis yang mengaku sebagai Joko Wilis itu!"
Ketika mengucapkan kata-kata ini, sang adipati marah sekali.
Endang Patibroto tidak dapat menahan geli hatinya dan ia tertawa mendengar ulah Retno Wilis itu.
Ia dapat membayangkan betapa anaknya itu telah membuat geger Nusabarung.
Menyamar sebagai pria dan memenangkan sayembara untuk mendapatkan seorang puteri!
"He-he-heh-hi-hik, betapa lucunya!
Apakah kalian semua telah menjadi buta tidak melihat bahwa ia seorang wanita?"
Girang hatinya karena mendapat keterangan bahwa anaknya pernah berada di pulau ini.
"Setelah dari sini, ia pergi kemanakah?"
"Siapa tahu? Kami tidak mengetahuinya."
"Kalau begitu, aku harus meninggalkan tempat ini untuk menyusulnya."
"Babo-babo, nanti dulu, Endang Patibroto! Setelah andika berani datang ke sini, kami tidak akan melepaskanmu begitu saja. Tinggalkan dulu kepalamu di sini, baru boleh engkau pergi!"
Kata Wasi Surengpati sambil melintangkan tongkat ularnya. Lima orang senopati Nusabarung melihat Wasi Surengpati sudah siap menyerang Endang Patibroto, juga lalu mengepung wanita itu.
"Endang Patibroto, andika telah terkepung. Lebih baik menyerahkan diri untuk kami tawan!"
Kata Wasi Surengpati yang mengerahkan kekuatan sihirnya, lalu menuding dengan tongkat ularnya ke arah muka Endang Patibroto dan dia membentak! "Endang Patibroto, berlututlah andika!"
Endang Patibroto merasa betapa ada kekuatan aneh yang seolah memaksanya untuk berlutut.
Ia mengerahkan kekuatan batinnya untuk menolak dan ia lalu mengeluarkan teriakan melengking yang mengejutkan semua orang.
Itulah pekik dengan aji Sardulo Bairowo.
Suara melengking ini mengandung pengaruh yang amat hebat dan sekaligus membuyarkan kekuatan sihir yang dikerahkan Wasi Surengpati.
Setelah melihat kakek itu menggerakkan tongkat ular dan mengerahkan kekuatan sihir, baru Endang Patibroto teringat.
Ketika ia menolong Jarot, putera Adipati Pasisiran yang hendak dibunuh dua orang kakak tirinya, pendeta inipun membantu kedua kakak tiri yang jahat itu!
Ia melawan pendeta itu dan pendeta yang memegang tongkat ular ini melarikan diri.
Kiranya pendeta itu kini muncul di Kadipaten Nusabarung dan berlagak sombong karena dia kini dibantu oleh banyak orang!
"Pendeta jahanam, kiranya engkau yang berlagak di sini!"
Bentaknya dan ia sudah menerjang ke depan untuk mengirim pukulan mautnya kepada pendeta itu.
Wasi Surengpati yang sudah pula teringat akan wanita perkasa yang dulu membantu Jarot itu, menjadi marah sekali.
"Kita basmi wanita jahat ini?"
Bentaknya seperti memberi isyarat kepada lima orang senopati yang sudah mengepung Endang Patibroto.
Ki Wisokolo, senopati pertama dari Nusabarung, agaknya dapat menduga bahwa wanita itu tentu berilmu tinggi, maka ia pun segera berteriak kepada anak buahnya untuk mengepung.
Sedikitnya tiga puluh orang perajurit sudah mengepung tempat itu dengan senjata di tangan.
Namun Endang Patibroto tidak gentar sedikitpun.
"Aku datang hanya hendak bertanya tentang kedua orang anakku, akan tetapi kalian menyambut dengan senjata terhunus. Baiklah, kalau begitu aku tidak akan memberi ampun kepadamu!"
Begitu ia bergerak maju, empat orang perajurit telah menyambutnya dengan tombak.
Akan tetapi, sekali menggerakkan tangan kiri menolak, empat batang tombak itu terpental dan tangan kanannya menampar ke depan.
Empat orang itu berteriak dan terpelanting roboh, tak dapat bangkit kembali!
Lima orang senopati itu kini menerjang ke depan dengan golok mereka, mengeroyok Endang Patibroto, sedangkan Wasi Surengpati sendiripun sudah menggerakkan tongkat ularnya.
Pada saat terdengar seruan orang, nyaring sekali.
"Tahan semua senjata. Apakah orang-orang Nusabarung telah menjadi pengecut semua!"
Semua orang terkejut mendengar ucapan lantang ini dan untuk menghentikan pengeroyokan mereka sambil menoleh untuk memandang siapa yang mengeluarkan kata-kata itu.
Mereka melihat seorang pemuda yang berpakaian sederhana telah berdiri disitu sambil mengangkat tangannya.
Melihat pemuda itu, Wasi Surengpati menjadi marah.
"Orang muda lancang mulut. Apa maksudmu mengatakan kami pengecut?"
Pemuda itu bukan lain adalah Jayawijaya.
Endang Patibroto terkejut dan diam-diam sesalkan kelancangan pemuda itu.
Apakah dia tidak melihat bahwa kemunculannya dengan sikap seperti itu akan membahayakan dirinya sendiri?
"Kalian ini semua laki-laki yang gagah perkasa.
Akan tetapi kalian sungguh tidak tahu malu dan curang mengeroyok seorang wanita!
Apakah hal itu tidak membuat kalian menjadi pengecut?
Tidak malukah kalian?"
Wajah Wasi Surengpati berubah kemerahan.
"Tangkap pemuda lancang mulut itu!"
Bentaknya dan seorang perajurit lalu meringkus Jayawijaya.
Dengan mudahnya dia dapat menangkap pemuda itu dan mengikat kedua tangannya dengan tali kepada sebuah tiang rumah.
Jayawijaya tidak mampu melawan dan menyerah saja ditelikung.
Akan tetapi mulutnya masih mengeluarkan kata-kata lantang.
"Perbuatan kalian ini jahat dan ingat siapa yang jahat akhirnya akan kalah. Yang jahat tidak akan mendapatkan perlindungan Hyang Widhi! Kanjeng Bibi, larilah selagi ada kesempatan!"
Diapun berseru kepada Endang Patibroto.
Pemuda itu lebih mengkhawatirkan Endang patibroto dari pada dirinya sendiri.
Akan tetapi, Wasi Surengpati kembali sudah menggerakkan tongkat ularnya menyerang Endang Patibroto.
Cepat sekali serangannya itu dan tahu-tahu ujung tongkat itu telah menyambar dan menusuk ke arah dada Endang Patibroto.
Akan tetapi wanita perkasa ini tidak menjadi gugup dengan serangannya itu.
Tangan kirinya ditekuk dan diputar untuk menangkis sehingga tongkat itu terpental.
Pada saat itu, lima orang senopati juga sudah menyerangnya dengan golok mereka yang datang menyambar dari segala jurusan.
Endang Patibroto mengetahui dari sambaran angin serangan golok itu bahwa lima orang senopati itu bukan merupakan lawan yang lemah.
Gerakan golok mereka cepat sekali dan juga mengandung tenaga yang kuat.
Kini ia dikeroyok oleh enam orang yang merupakan lawan tangguh.
Ia lalu mengerahkan aji Bayutantra yang membuat tubuhnya dapat bergerak seperti seekor burung Srikatan cepatnya, berkelebatan di antara sinar golok dan tongkat.
Ia tidak hanya mengelak saja, melainkan juga membalas serangan enam orang pengeroyoknya dengan tamparan jari tangan dengan Aji Petni Nogo.
Melihat betapa sambaran tangan wanita itu mengeluarkan suara angin berciutan enam pengeroyok itu menjadi gentar dan mereka mengeroyok dengan hati-hati.
puluhan perajurit tidak berani maju mengeroyok setelah empat orang di antara mereka roboh tadi.
Pula, pengeroyokan enam orang itu sudah rapat dan tidak memberi kesempatan kepada mereka untuk ikut mengeroyok.
Pertandingan berlangsung seru bukan main.
Enam orang itu dapat saling melindungi.
Kalau Endang Patibroto membalas dengan tamparannya, tentu ada saja lawan yang mencoba untuk menangkis tamparan itu dengan senjata mereka.
Dengan cara begini, sampai lewat lima puluh jurus, Endang Patibroto belum juga dapat merobohkan seorang di antara mereka.
Bahkan ia terdesak oleh serangan bertubi-tubi dari enam orang pengeroyoknya itu.
Sementara itu, diam-diam Wasi Surengpati merasa kagum dan juga penasaran bukan main.
Harus diakuinya bahwa kalau dia sendiri yang maju melawan Endang Patibroto, tentu dia akan kalah.
Bahkan dengan bantuan lima orang senopati yang terkenal sakti itupun dia masih belum mampu mengalahkan wanita itu.
Jayawijaya yang sudah diikat kepada tiang itu tidak mampu bergerak, akan tetapi dia masih dapat bersuara lantang.
"Curang, pengecut curang! Kalau memang berani, hadapilah kanjeng bibi satu lawan satu! Heii, apakah kalian semua tidak tahu malu dan bukan laki-laki sejati?"
Melihat pemuda itu masih ribut terus, perajurit yang tadi menangkapnya dan kini menjaganya, lalu menampar mulutnya.
"Plak-plak!"
Dua kali mulut Jayawijaya ditampar dan bibirnya mengeluarkan darah.
Akan tetapi pemuda itu tidak menghentikan teriakan-teriakannya, bahkan dia berani mencela Sang Adipati yang sejak tadi sudah menyembunyikan diri agar jangan terulang lagi dirinya ditangkap dan dijadikan sandera, seperti yang terjadi ketika Retno Wilis dikeroyok dahulu itu.
"Hai, Sang Adipati Nusabarung! Kenapa andika mendiamkan saja orang-orang andika melakukan pengeroyokan seperti pengecut yang curang? Tidak malukah andika kalau hal ini terdengar oleh orang-orang di luar kadipaten ini?"
Demikian Jayawijaya berteriak lagi.
"Plak-plak-plak!"
Kembali perajurit itu menampar mulutnya dan kini lebih banyak lagi darah yang keluar dari mulut pemuda itu.
Endang Patibroto mendengar teriakan-teriakan ini dan ia merasa khawatir kalau-kalu pemuda itu akan dibunuh orang.
Ia sendiri juga menyadari bahwa tidak mungkin terus bertahan oleh pengeroyokan itu, maka ia lalu mengeluarkan pekik Sardulo Bairowo.
Enam orang pengeroyoknya terkejut, bahkan terhuyung ke belakang.
Kesempatan ini dipergunakan Endang Patibroto untuk melompat ke arah Jayawijaya dan sekali sambar, perajurit yang menjaganya itu terpelanting dan terguling-guling.
Cepat tangan Endang Patibroto bergerak membikin putus tali-tali pengikat, lalu memegang lengan Jayawijaya dan berkata.
"Mari kita pergi dari sini!"
Jayawijaya membiarkan dirinya ditarik oleh Endang Patibroto.
Akan tetapi bagimana mungkin dia dapat lari secepat wanita sakti itu?
Akhirnya, diapun diseret dan terangkat ke atas, dibawa lari Endang Patibroto seperti sebuah layang-layang.
Jayawijaya memejamkan kedua matanya ketika melihat betapa cepatnya tubuhnya meluncur ke depan dan kakinya seperti tidak menginjak bumi lagi!
Akhirnya mereka tiba di pantai di mana Endang Patibroto menyembunyikan perahunya.
Ia melompat ke dalam perahunya sambil menarik tangan Jayawijaya dan di lain saat mereka sudah meluncurkan perahu ke tengah lautan.
Para senopati dan anak buahnya melakukan pengejaran, akan tetapi lari mereka jauh kalah cepat sehingga ketika mereka tiba di pantai, perahu yang ditumpangi Endang Patibroto sudah pergi jauh sekali.
Sambil mendayung perahunya, Endang Patibroto mengomeli pemuda itu.
"Anak-mas Jayawijaya, mengapa andika begitu lancang datang ke sana dan membahayakan diri sendiri? Semestinya andika tidak menegur mereka karena itu sama saja dengan melakukan usaha bunuh diri."
"Eh, mengapa, kanjeng bibi? Apa salahnya kalau saya menegur mereka? Mereka memang bersikap curang dan pengecut, dan pantas untuk ditegur!"
"Akan tetapi dengan berbuat seperti itu, andika memanggil bahaya maut!"
"Saya tidak berpikir demikian. Kalau Sang Hyang Widhi menghendaki teguran saya itu akan ada gunanya bagi mereka. Saya hanya ingin agar mereka itu mengubah perbuatan mereka yang tidak benar, mengubah jalan hidup mereka yang sesat."
"Aduh, anakmas. Tidakkah andika melihat bahwa engkau memanggil bahaya maut? Kalau mereka itu menyerangmu, andika akan mampu berbuat apakah? Tadi, baru menghadapi seorang perajurit saja, andika tidak mampu membela diri dan dapat diikat. Apa lagi kalau kakek bertongkat ular itu yang maju menyerangmu!"
Jayawijaya tersenyum lebar.
"Saya tidak takut, kanjeng bibi."
"Akan tetapi andika seorang pemuda yang lemah."
"Saya memang lemah dan tidak biasa berkelahi, akan tetapi Hyang Widhi adalah maha sakti dan maha kuasa. Tidak ada kekuatan di dunia ini yang akan mampu melawanNya. Karena itu saya tidak takut karena saya yakin bahwa Hyang Widhi pasti akan melindungi saya dari marabahaya."
"Hemmm, aku ingin melihatnya!"
Kata Endang Patibroto yang merasa jengkel mendengar jawaban itu.
"Kalau tadi tidak ada aku yang melepaskanmu dan menolongmu keluar dari sana, siapa yang akan dapat menyelamatkanmu?"
"Kanjeng Bibi, tidakkah andika melihat kekuasaan Hyang Widhi tadi telah bekerja? Hyang Widhi sudah menolong saya, melalui tangan kanjeng bibi! Tidakkah kanjeng bibi merasa bahwa Sang Hyang Widhi yang telah mempergunakan kanjeng bibi untuk menyelamatkan saya?"
Endang Patibroto tertegun mendengar ini.
Ia teringat akan kata-kata suaminya bahwa manusia adalah mahluk yang selemah-lemahnya dan bahwa tanpa adanya kekuasaan Tuhan Yang Maha Kuasa, manusia ini tidak berdaya dalam hidupnya.
Teringatlah pula ia akan keterangan suaminya bahwa semua ilmu kadigdayaan yang dikuasainya adalah anugerah dari Hyang Widhi.
Kalau begitu, betapa tepat ucapan Jayawijaya bahwa ia telah dipergunakan oleh Hyang Widhi untuk bergerak menolong pemuda itu.
Bukan ia yang menolong, melainkan Hyang Widhi!
Betapa penuh kerendahan hati terhadap Hyang Widhi, betapa penuh dan lengkapnya iman kepercayaan kepada Hyang Widhi.
"Wah andika benar, anakmas. Aku yang telah terlupa. Agaknya seorang manusia seperti andika ini selamanya akan mendapat perlindungan Hyang Widhi. Akan tetapi setelah tiba di pantai daratan nanti, terpaksa kita harus berpisah dan aku hanya memperingatkan andika agar lebih berhati-hati. Ingatlah bahwa di dunia ini banyak sekali terdapat manusia yang jahat seperti iblis, yang tidak segan-segan untuk mengganggu seorang pemuda tidak berdosa seperti anakmas."
"Saya tahu, kanjeng bibi. Karena itu, sayapun harus lebih giat memperingatkan dan menasihati mereka."
Endang Patibroto menghela napas dan mempercepat gerakan dayungnya sehingga perahu itu meluncur dengan cepatnya menuju ke daratan yang sudah tampak dari situ.
Setelah tiba di daratan, Endang Patibroto berkata.
"Sekarang aku harus meninggalkan andika untuk mencari jejak kedua orang anakku. Selamat tinggal, anakmas Jayawiya. Semoga kita akan bertemu lagi kelak."
"Selamat jalan, kanjeng bibi Endang Patibroto."
Endang Patibroto menggerakan kedua kakinya dan lenyap dari depan pemuda itu karena ia menggunakan aji Bayutantra. Melihat ini, Jayawijaya menarik napas panjang dan berkata seorang diri.
"Kalau saja semua orang yang memiliki kesaktian bersikap seperti kanjeng bibi Endang Patibroto, alangkah tenteramnya dunia ini."
Diapun melangkah dan melanjutkan perjalanannya, tanpa tujuan tertentu, hanya menurutkan kata hati dan langkah kakinya saja.
Kita tinggalkan dulu Endang Patibroto yang berpisah dari Jayawijaya pemuda luar biasa itu, dan mari kita ikuti perjalanan Bagus Seto dan Retno Wilis yang telah berpisah dari Harjadenta yang kembali ke pegunungan Raung.
Kedua orang kakak beradik itu kembali menyusuri sepanjang pantai Laut Kidul menuju ke timur.
Mereka berjalan seenaknya, santai dan tidak tergesa-gesa, sambil menikmati pemandangan alam yang amat indah di sepanjang pantai Laut Kidul.
Pantai itu kadang merupakan tanah yang landai ditutup pasir putih yang kemilauan terkena cahaya matahari.
Pantai pasir putih itu amat luas dan merupakan pemandangan alam yang amat indahnya.
Akan tetapi kadang pantai itu berupa bukit-bukit yang menjulang tinggi dan ombak samudera terhempas pada dinding karang yang kokoh kuat.
Ombak yang menghantam dinding ini menimbulkan suara dahsyat dan air pecah muncrat ke atas menimbulkan uap air yang tebal.
Pemandangan ini juga teramat indahnya dan memperlihatkan kebuasan dan kedahsyatan air laut, berbeda kalau pantainya datar seperti pantai pasir putih di mana air laut menjadi menipis mengeluarkan bunyi mendesis-desis seperti air mendidih.
Ketika mereka tiba di ujung pantai pasir putih, mereka berhadapan dengan sebuah hutan di tepi pantai yang amat lebat.
Pantai berhutan itu merupakan perbukitan, akan tetapi hutannya amat lebat dan gelap menyeramkan.
"Kita sekarang akan melalui jalan pendakian yang sukar karena hutannya amat lebat, diajeng. Kita harus berhati-hati karena agaknya hutan ini mengandung hawa yang angker."
Retno Wilis, gadis yang tidak pernah mengenal rasa takut itu, tersenyum.
"Angker? kau maksudkan hutan ini ada setannya kakang?"
"Setan yang masih gentayangan tidak perlu kita takuti, akan tetapi kita harus waspada terhadap setan yang sudah masuk ke dalam diri manusia. Manusia yang sudah kesetanan itu dapat melakukan perbuatan amat jahat dan keji, adikku. Karena itu kita perlu waspada dan hati-hati."
Mereka masuk menyusup-nyusup di antara pohon-pohon raksasa dan semak-semak belukar.
Bagus Seto meminjam pedang Sapudenta milik adiknya untuk membabat semak yang merintangi jalan mereka.
Dia berjalan di depan membabati semak sedangkan Retno Wilis berjalan di belakangnya.
Hutan itu demikian lebatnya sehingga sinar matahari tidak banyak yang menerobos masuk, membuat hutan itu gelap.
Retno Wilis yang berjalan di belakang kakaknya memandang ke kanan kiri dengan penuh kewaspadaan.
Ia juga dapat merasakan keadaan hutan yang angker seolah di situ terdapat banyak bahaya yang mengintai mereka.
Tiba-tiba ia memegang lengan kakaknya.
"Ada apa?"
Tanya Bagus Seto ketika merasa betapa kuatnya cengkeraman tangan adiknya.
"Sssttt, kakang, aku merasa ada orang-orang atau entah mahluk apa mengintai kita."
"Di mana?"
"Entahlah, aku tadi seperti melihat banyak pasang mata mengintai dari balik semak belukar akan tetapi sekarang sudah lenyap lagi. Kakang, aku merasa ngeri juga."
Bagus Seto tersenyum.
"Jangan katakan bahwa engkau takut, diajeng."
Retno Wilis membusungkan dadanya.
"Takut? Aku tidak takut, akan tetapi bicaramu tentang setan tadi membuat aku merasa ngeri. Mari kita lanjutkan perjalanan kita."
Mereka melanjutkan perjalanan.
Bagus Seto tetap membabati semak yang menghalangi perjalanan mereka, sedangkan Retno Wilis mengikuti dari belakang.
Tiba-tiba, di bawah sebatang pohon randu alas yang amat besar, terdengar suara dari atas.
"Kaaak-kaak...!"
Otomatis Bagus Seto dan Retno Wilis memandang ke atas dan mata mereka terbelalak lebar ketika melihat seekor ular yang amat besar bergantung dengan ekornya pada sebatang cabang pohon dan kepalanya tergantung di bawah.
Kepala itu kini dengan moncong terbuka lebar menyambar ke bawah menyerang mereka.
Bagus Seto yang berada di depan cepat menangkis dengan bacokan pedangnya.
"Wuuuttt "
Crak "!"
Leher ular itu putus, kepalanya menggelinding ke bawah dan tubuhnya melepaskan lilitan pada cabang pohon dan jatuh berdebuk di atas tanah.
"Shanti-shanti-shanti...!"
Bagus Seto berkata dengan penuh penyesalan.
"Terpaksa aku harus membunuhmu, ular, karena engkau membahayakan keselamatan kami!"
"Kakang, kenapa engkau menyesal membunuh ular jahat itu?"
"Ia tidak jahat, diajeng."
"Tidak jahat? Kalau engkau tidak membunuhnya, tentu kita sudah ditelannya bulat-bulat! Ia buas dan liar, jahat sekali, dan kejam. Ia makan hewan yang tidak mampu melawannya, menelannya bulat-bulat, apakah itu tidak jahat dan kejam namanya?"
"Sama sekali tidak, adikku. Sudah ditakdirkan oleh Hyang Widhi bahwa ular hanya makan binatang lain yang lebih kecil. Ia tidak dapat makan daun atau rumput. Kalau ia tidak makan binatang yang lebih kecil, ia akan mati kelaparan, ia tadi menyerang kita juga untuk mengisi perutnya yang kosong. Ia tidak buas, melainkan bergerak menurut naluri dan kebutuhan badannya."
"Kalau begitu, mengapa engkau membunuhnya, kakang?"
Bantah Retno Wilis penasaran.
"Aku terpaksa membunuhnya untuk membela diri. Aku harus membunuhnya tadi, kalau tidak tentu seorang di antara kita menjadi mangsanya. Akan tetapi aku menyesal harus membunuhnya. Mari kita lanjutkan perjalanan ini."
Mereka bergerak maju lagi dan baru belasan langkah, mereka berhenti lagi karena terdengar suara aneh seperti raung anjing.
Raung itu berkepanjangan terdengar seperti keluhan dan terdengar dari segala penjuru seolah mengepung mereka.
"Kakang, suara apakah itu?"
Tanya Retno Wilis. Betapapun tabahnya, ia merinding juga mendengar suara aneh itu.
"Hemm, aku tidak tahu. Agaknya seperti suara anjing meraung, atau mungkin srigala. Mari kita maju terus, mencari tempat yang lebih lapang. Kalau berada di tengah semak semak begini, akan sukar bagi kita untuk membela diri kalau muncul bahaya."
Mereka maju terus, tidak memperdulikan suara itu dan akhirnya mereka tiba di tempat terbuka.
Pohon-pohon agak jarang dan tidak terdapat semak belukar.
Tanahnya penuh rumput dan petak rumput ini cukup luas.
Di tempat terbuka ini Retno Wilis mendapatkan kembali ketabahannya dan kembali membusungkan dadanya ia menantang dengan suara lantang.
"Heii, kalian anjing-anjing liar atau srigala atau iblis setan bekasakan! Keluarlah dan tandingilah kami, jangan hanya mengeluarkan suara seperti pengecut hendak menakut-nakuti orang! Keluarlah kalian!"
Tidak terdengar jawaban, akan tetapi tiba-tiba terdengar suara berkerosakan di sekeliling mereka seolah-olah banyak binatang hutan bergerak ke arah mereka.
Dua orang kakak beradik itu siap-siaga dan Bagus Seto masih memegang pedang pusaka Sapudenta milik Retno Wilis.
Mereka berdiri, saling membelakangi untuk saling melindungi.
Akan tetapi yang muncul bukan anjing atau srigala, melainkan dua puluh orang lebih yang berpakaian serba hitam!
Muka mereka semua memakai topeng srigala hitam dan yang tampak hanya sepasang mata mereka yang mencorong seperti mata srigala.
Mereka mengeluarkan suara seperti srigala menggereng-gereng.
Retno Wilis dan Bagus Seto memandang dengan heran.
Siapakah orang-orang bertopeng ini?
Mereka memiliki tubuh yang kokoh kuat dan mereka kini telah mengepung kakak beradik itu.
"Siapakah kalian? Mau apa mengepung kami?"
Tanya Retno Wilis yang sudah siap untuk mengamuk.
"Kami kakak beradik kebetulan lewat di sini, kami tidak bermusuhan dengan kalian!"
Kata pula Bagus Seto yang sudah menyelipkan pedang Sapudenta di ikat pinggangnya agar mereka ketahui bahwa dia tidak berniat untuk berkelahi.
Akan tetapi dua puluh lebih orang bertopeng itu mengepung semakin rapat dan tiba-tiba mereka semua mengeluarkan sebuah kantung hitam, merogoh ke dalam kantung dan mereka menyambitkan bubuk hitam ke arah Bagus Seto dan Retno Wilis!
Dua orang kakak beradik ini tidak dapat mengelak karena dari sekeliling mereka menyambar bubuk hitam itu.
Mereka menahan napas dan memejamkan mata sambil menggerakkan tangan untuk menangkis serangan.
Akan tetapi tiba-tiba sebuah jala hitam menimpa dan menutup mereka!
Para pengepung itu mengeluarkan teriakan-teriakan girang melihat betapa dua orang itu telah kena terjaring.
Bagus Seto berkata lirih kepada adiknya.
"Kita menyerah, lihat perkembangan!"
Retno Wilis tidak membantah dan iapun tidak meronta ketika ada tangan menelikung kedua lengannya dari luar jaring.
Bagus Seto menyuruh adiknya menyerah karena dia ingin tahu apa yang akan mereka lakukan terhadap diri mereka berdua.
Orang-orang ini berusaha menangkap mereka, bukannya membunuh.
Dia ingin tahu mereka itu orang apa dan apa pula maksud mereka menawan dia dan adiknya.
Setelah mengikat kedua tangan BagusSeto dan Retno Wilis ke belakang punggung, orang-orang bertopeng itu lalu membuka jaring dan mendorong kedua orang tawanan itu untuk melangkah maju mengikuti beberapa orang yang berjalan di depan.
Dengan kedua tangan terbelenggu, kakak beradik itupun melangkah mengikuti mereka.
"Kenapa, kakang?"
Tanya Retno Wilis lirih kepada kakaknya yang berjalan di sampingnya. Ia merasa heran mengapa kakaknya minta agar ia menyerah.
"Kita lihat mereka mau apa?"
Bisik Bagus Seto kembali.
"Diam kalian!"
Terdengar bentakan dari belakang dan tahulah kedua orang kakak beradik itu bahwa mereka adalah manusia-manusia biasa yang memakai topeng dan berpakaian hitam, mungkin ini menunjukkan bahwa mereka adalah anggauta-anggauta sebuah perkumpulan rahasia yang agaknya bersarang di hutan lebat itu.
(Lanjut ke
Jilid 10) Sepasang Garuda Putih (seri ke 05 -Serial Keris Pusaka Sang Megatantra) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo
Jilid 10 Kini mereka tiba di tengah hutan dan jalannya mendaki.
Kemudian, di tengah-tengah hutan pegunungan tepi laut itu tampak sebuah perkampungan.
Ada puluhan rumah di situ, rumah-rumah sederhana dan kecil yang mengelilingi sebuah rumah besar.
Penduduk perkampungan itu semua berpakaian serba hitam, akan tetapi muka mereka tidak memakai topeng.
Ada kanak-kanak, ada pula wanita, tidak berbeda dengan perkampungan biasa.
Hanya yang menyolok adalah pakaian mereka, semua mengenakan pakaian serba hitam.
Orang-orang yang tadi menangkap Bagus Seto dan Retno Wilis, setelah tiba di perkampungan itu, segera melepaskan topeng mereka dan mengantongi topeng itu.
Agaknya topeng itu hanya dipakai kalau mereka keluar dari perkampungan mereka.
Banyak orang menyambut kedatangan dua puluh lebih orang yang membawa dua tawanan itu.
Mereka yang menyambut itu mengeluarkan suara pujian akan kecantikan Retno Wilis dan ketampanan Bagus Seto dan sikap mereka seperti penduduk kampung biasa, tidak seperti penjahat.
Dua orang tawanan itu dibawa masuk ke rumah besar dan di sebuah ruangan yang luas, mereka dihadapkan seorang laki-laki berusia kurang lebih empat puluh tahun yang bertubuh tinggi besar dan berwajah gagah.
Empat orang anggauta yang tadi membawa Bagus Seto dan Retno Wilis masuk memberi hormat dengan sembah kepada laki-laki berpakaian hitam akan tetapi mewah itu.
Kedua lengannya yang kokoh memakai gelang emas, lehernya juga mengenakan rantai besar dari emas, pakaiannya yang hitam juga terbuat dari kain yang halus.
"Denmas Haryosakti, kami mendapatkan kedua orang ini melanggar hutan wilayah kekuasaan kita, maka kami menangkap mereka dan membawa mereka menghadap paduka untuk mendapat keputuan."
Seorang diantara empat orang itu melapor.
Orang yang disebut Denmas Haryosakti itu memandang kepada Bagus Seto, kemudian memandang kepada Retno Wilis dan dia tertawa bergelak sambil memuntir kumisnya yang mencuat ke kanan kiri.
Dia melirik ke arah seorang wanita yang sebaya dengannya, wanita yang cantik dan berpakaian hitam tapi mewah.
Belum habis dia tertawa, muncullah dua orang dari arah belakang.
Mereka adalah seorang pemuda berusia dua puluh tahun lebih yang tampan dan gagah perkasa, dan seorang gadis berusia kurang lebih delapanbelas tahun yang cantik jelita.
Mereka segera mengambil tempat duduk di kanan kiri orang tua mereka.
Retno Wilis menduga, bahwa kedua orang ini tentu putera puteri ketua gerombolan itu.
Dan melihat wajah mereka yang elok, ia tahu bahwa mereka menuruni wajah ibu mereka yang cantik.
"Ayah, siapakah kedua orang asing ini?"
Tanya si pemuda kepada kepala gerombolan itu.
"Kenapa mereka dibelenggu, ayah?"tanya si gadis cantik.
"Kasihan kalau mereka dibelenggu, sebaiknya belenggu mereka itu dibuka saja ayah."
"Ha-ha-ha, engkau benar, Sarmini. Hai, Blendong, bukakan tali pengikat tangan mereka, kemudian keluarlah kalian dari sini."
Seorang di antara empat anggauta itu bangkit, lalu menghampiri Bagus Seto dan Retno Wilis dan membuka pengikat tangan mereka.
Blendong, pemimpin rombongan yang menangkap kedua orang muda itu, lalu menyerahkan sebatang pedang, yaitu pedang Sapudenta yang tadi dia rampas dari ikat pinggang Bagus Seto.
"Ini adalah pedang yang tadinya dibawa pemuda ini. Denmas."
Katanya. Kepala gerombolan yang bernama Haryosakti itu menerima pedang dan memberi isarat kepada empat orang itu untuk keluar. Dia mengamati pedang yang sudan dihunusnya itu dan tampak kaget.
"Ah, pedang pusaka yang ampuh sekali!"
Katanya lalu meletakkan pedang bersarung itu ke atas meja di depannya. Setelah itu, dia memandang kepada Bagus Seto dan Retno Wilis yang masih berdiri di hadapannya.
"Silakan kalian berdua duduk. Kalian tidak kami anggap sebagai tawanan, melainkan sebagai tamu. Maafkan kekasaran anak buah kami, karena kalian telah melanggar wilayah kami."
Kata Haryosakti dengan suaranya yang dalam dan nyaring.
"Tidak ada yang perlu dimaafkan, karena kami juga bersalah telah melanggar wilayah andika tanpa kami ketahui."
Jawab Bagus Seto.
"Kisanak, siapakah namamu dan dari mana andika datang?"
"Nama saya Bagus Seto dan saya datang dari Panjalu."
"Dari Panjalu? Pantas andika demikian tampan. Orang-orang Panjalu terkenal tampan dan cantik. Dan gadis cantik ini apamu?"
"Ia bernama Retno Wilis dan ia adalah adik saya."
Kata Bagus Seto terus terang.
"Ha-ha-ha, adikmu? Bagus, bagus sekali. Tadinya kusangka ia ini isterimu. Adikmu, ya? Bagus sekali, ia cantik dan menarik."
Dia lalu menoleh kepada isterinya dan bertanya.
"Ibune, tidakkah pantas kalau ia menjadi madumu?"
Isterinya tidak menjawab, akan tetapi pemuda dan gadis itu tampak terkejut dan dengan berbareng mereka berseru.
"Kanjeng rama.!"
Akan tetapi Ki Haryosakti melambaikan tangan ke arah kedua orang anaknya dan membentak.
"Diam kalian!"
Setelah itu dia kembali memandang Bagus Seto dan berkata.
"Anakmas Bagus Seto, sekali lagi maafkan anak buah kami tadi yang telah bersikap kasar kepada kalian. Ketahuilah bahwa kami adalah orang-orang perkumpulan Jambuko Cemeng (Srigala Hitam) dan aku adalah pemimpin mereka, namaku Ki Haryosakti. Sekarang kalian berdua menjadi tamu kehormatan kami dan untuk menghormati kedatangan kalian, kami akan menyambutnya dengan sedikit pesta."
Ki Haryosakti lalu memerintahkan anak buahnya untuk menyiapkan hidangan untuk pesta mereka.
Tentu saja Retno Wilis dan Bagus Seto juga mendengar ketika Ki Haryosakti tadi bertanya kepada isterinya apakah tidak sudah pantas kalau Retno Wilis menjadi madunya.
Akan tetapi karena Retno Wilis melihat kakaknya diam dan tenang saja, iapun pura-pura tidak tahu.
Bagus Seto memang ingin mengetahui apa yang akan dilakukan kepala gerombolan itu kepada dia dan adiknya.
Diapun dapat menduga bahwa Ki Haryosakti itu tentulah seorang yang sakti.
Sinar matanya saja mencorong penuh wibawa.
Dan mengingat betapa anak buahnya juga rata-rata memiliki ilmu kanuragan yang tinggi, maka dapat dipastikan bahwa pemimpin mereka ini memiliki kesaktian.
Dia lalu mengajak Bagus Seto dan Retno Wilis bercakap-cakap.
Dia bertanya tentang Panjalu, siapa yang menjadi rajanya, dan siapa pula patihnya.
"Patih Panjalu adalah Ki Patih Tejalaksono, yaitu ayah kandung kami!"
Kata Retno Wilis sambil meninggikan suaranya. Mendengar ini, Ki Haryosakti memandang dengan mata terbelalak dan terkejut.
"Ah, jadi andika berdua ini putera puteri Ki Patih Tejolaksono yang amat terkenal itu. Sungguh kebetulan sekali, kalau begitu kami tahu siapa adanya dua orang tamu agung kami."
Pada saat itu, seorang anggauta datang menghadap.
"Hei, mau apa kamu menghadap tanpa diperintah?"
Ki Haryosakti membentak dan mengerutkan alisnya.
"Ampun, denmas."
Kata orang itu sambil menyembah.
"Saya akan melaporkan bahwa lima orang anggauta bajak laut Bala Cucut telah dapat menerobos penjagaan kami dan sekarang mereka mangamuk di depan pintu gerbang."
"Bodoh! Hanya menghadapi lima orang saja kalian tidak mampu menundukkan mereka?"
"Mereka tangguh sekali, denmas. Banyak anggauta kita yang sudah tewas melawan mereka."
"Babo-babo, iblis laknat! Pergilah dan aku sendiri yang akan menandingi mereka!"
Anggauta itu bergegas pergi dan Ki Haryosakti sudah bangkit dari tempat duduknya. Dia berkata kepada Bagus Seto dan Retno Wilis.
"Kebetulan sekali ada pengacau mengganggu kesenangan kita, mari andika berdua menyaksikan bagaimana kami memberi hajaran kepada para pengacau."
Bagus Seto dan Retno Wilis ingin tahu apa yang telah terjadi maka mereka juga bangkit dan mengikuti Ki Haryosakti yang melangkah keluar dari rumah besar itu dengan langkah lebar.
Setelah tiba diluar rumah, mereka melihat penduduk pedusunan itu seperti dalam keadaan panik, dan Ki Haryosakti terus berjalan menuju ke pintu gerbang pedusunan yang menjadi sarangnya itu.
Dari jauh sudah terdengar pertempuran itu.
Orang-orang dari perkumpulan Jambuko Cemeng yang jumlahnya belasan orang sedang bertempur melawan lima orang yang gerakannya gesit dan sepak terjang mereka membuat para pengepung itu kocar-kacir.
Lima orang itu terdiri dari lima orang laki-laki yang tinggi besar dan kelimanya bersenjatakan golok besar yang mereka mainkan dengan hebat.
Mudah dilihat betapa amukan lima orang itu membuat para pengeroyok terdesak dan di antara mereka sudah banyak yang roboh malang melintang.
Sedikitnya ada tujuh orang anggauta Jambuko Cemeng yang roboh dan terluka hebat atau mungkin tewas.
"Tahan semua senjata dan mundur!"
Ki Haryosakti membentak dengan suara nyaring.
Mendengar bentakan suara yang amat dikenalnya itu semua pengeroyok menahan senjata mereka dan berloncatan mundur dengan hati lega.
Ketua mereka sudah tiba sehingga mereka terbebas dari ancaman lima golok dari pihak musuh yang amat tangguh itu.
Bagus Seto dan Retno Wilis juga melihat betapa ilmu golok lima orang itu memang hebat dan tangguh sekali.
Lima orang itu setelah melihat para pengeroyok mundur juga menahan golok mereka dan menghadapi Ki Haryosakti dengan golok melintang di dada dan sikap mereka menantang sekali.
"Babo-babo, kalian orang-orang Bala Cucut mengapa mengamuk dan membikin kacau di sini?"
Bentak Ki Haryosakti.
"Siapakah kalian yang telah berani memasuki perkampungan kami?"
Seorang di antara lima orang itu yang matanya lebar dan rambut kepalanya diikat dengan kain merah, melangkah maju dan menjawab dengan suara lantang.
"Kami adalah Lima Naga dari perkumpulan Bala Cucut. Kami hendak membikin perhitungan karena sebulan yang lalu, beberapa orang anak buah kami telah dilukai oleh orang-orang Jambuka Cemeng. Kami tidak terima!"
"Hemmm!"
Kata Ki Haryosakti.
"Pihak Bala Cucut yang bersalah, kini bahkan hendak menuntut kami! Ketahuilah, pada waktu itu belasan orang anak buah Bala Cucut telah merampok penduduk dusun di tepi pantai. Dusun itu termasuk wilayah kekuasaan kami. Tentu saja kami turun tangan menghajar para bajak yang merampok itu. Bukankah Bala Cucut biasanya bertindak di lautan? Kenapa menyerang dusun di pantai?"
"Kami mencari rejeki di lautan atau di darat, apa hubungannya dengan Jambuko Cemeng? Belasan anak buah kami luka, bahkan ada tiga orang yang tewas, maka hari ini kami Lima Naga dari Bala Cucut datang menagih hutang kalian. Sekarang andika keluar, apakah andika yang menjadi ketuanya?"
"Benar, akulah Ki Haryosakli, ketua Jambuko Cemeng!"
"Kalau begitu, berlututlah dan menyembah kepada kami untuk minta maaf, dan baru kami akan menghabisi permusuhan ini. Juga sediakan upeti untuk kami bawa kepada ketua kami, atau kalau andika menolak, kami akan membuat perkampungan Jambuko Cemeng ini menjadi lautan api dan kami tumpas semua anggautanya!"
"Babo-babo, sumbarmu seperti dapat mengeringkan lautan meruntuhkan gunung! Kita sama lihat saja siapa yang berlutut dan menyembah minta ampun!"
Kata Ki Haryosakti dan mendadak dia mengangkat kedua tangannya ke atas membentuk cakar setan dan dia mengeluarkan suara yang demikian gemuruh dan menggetarkan semua orang yang berada di situ.
"Lima Naga perkumpulan Bala Cucut, kuperintankan kalian untuk berlutut dan menyembah kepada kami. Hayo berlutut!!"
Bentakan itu mempunyai wibawa yang Kuat sekali dan hal ini terasa oleh Bagus Seto dan Retno Wilis yang mengerahkan tenaga sakti mereka agar mereka tidak terpengaruh.
Akan tetapi lima orang jagoan dari perkumpulan bajak laut Bala Cucut itu tampak gemetaran seluruh tubuh mereka.
Agaknya mereka hendak melawan pula akan tetapi kalah kuat dan dengan serentak mereka berlima menjatuhkan diri berlutut dan menyembah kepada Ki Haryosakti!
Melihat ini, Ki Haryosakti tertawa bergelak dan semua anak buahnya ikut pula tertawa.
Setelah mereka semua tertawa, agaknya pengaruh ilmu sihir itupun membuyar dan Lima Naga dari perkumpulan bajak Bala Cucut itu kelihatan seperti orang terkejut dan heran melihat diri sendiri berlutut menyembah-nyembah.
Mereka berloncatan berdiri dan mengayun-ayun golok di atas kepala.
"Ki Haryosakti jahanam! Jangan pergunakan ilmu setanmu, kalau memang andika gagah, majulah dan lawan kami dengan menggunakan aji kanuragan!"
Tantang orang yang bermata lebar dan agaknya menjadi pimpinan lima orang itu.
"Kalian berlima hendak melawan aku? Ha-ha-ha, agaknya kalian sudah bosan hidup. Hayo majulah, tidak usah satu-satu, majulah kalian berlima mengeroyok aku!"
Kata Ki Haryosakti dan dia sudah menyambar tombaknya yang dibawakan oleh seorang pengawalnya dari dalam.
Tombak itu matanya mencorong dan mengandung hawa yang menggiriskan.
Retno Wilis dan Bagus Seto maklum bahwa tombak itu merupakan pusaka yang ampuh.
Mereka berdua menghadapi dua pihak yang bermusuhan dan tidak ingin mencampuri walaupun Retno Wilis merasa khawatir kalau pihak tuan rumah yang akan dikeroyok lima itu akan kalah.
Ia tadi sudah melihat gerakan lima orang dari perkumpulan bajak Bala Cucut itu yang cukup tangguh dan gerakan golok mereka berbahaya sekali.
Setelah menyambar tombaknya, Ki Haryosakti menghadapi lima orang lawannya.
Akan tetapi pada saat itu, dua orang anaknya, pemuda tampan yang bernama Saroji dan gadis cantik yang bernama Sarmini, sudah dengan tangkasnya melompat ke depan ayahnya.
"Ayah, ini tidak adil namanya. Masa lima orang mengeroyok ayah seorang? Kalau mau main keroyokan, kita bias mengerahkan seluruh anak buah kita! Tidak, ayah. Kalau hendak mengadakan pertandingan, biar maju satu demi satu. Aku sendiri akan melawan seorang di antara mereka!"
Kata Sarmini dengan lembut namun gagah dan ia menghadapi lima orang itu tanpa rasa gentar sedikitpun.
"Sarmini berkata benar, ayah. Akupun ingin menghadapi seorang di antara mereka, baru nanti selebihnya ayah yang menandinginya."
Ki Haryosakti tertawa bergelak, agaknya merasa bangga sekali dengan penampilan kedua orang anaknya.
"Ha-ha-ha, Lima Naga, kalian sudah mendengar sendiri usul kedua orang anakku. Nah, sekarang puteriku Sarmini yang akan maju lebih dulu. Siapa diantara kalian berlima yang sanggup melawannya?"
Tentu saja Ki Haryosakti sudah pula mengukur kepandaian lima orang itu ketika mengamuk tadi dan dia yakin bahwa puterinya akan mampu mengalahkan seorang di antara mereka.
Orang termuda dari Lima Naga itu lalu melangkah ke depan.
"Aku yang akan menandinginya!"
Setelah berkata demikian dia mengayun goloknya di atas kepala hendak menakut-nakuti gadis cantik itu dengan sikapnya yang bengis.
Sarmini melangkah ke depan menghadapi orang itu.
Sambil menatap wajah orang itu dengan tajam, ia bertanya.
"Engkau hendak bertanding menggunakan senjata atau tangan kosong?"
Retno Wilis tersenyum dan kagum juga akan ketenangan gadis itu.
Melihat sikapnya yang demikian tenang sudah dapat ia menduga bahwa gadis itu bukan sekedar berlagak, melainkan memiliki aji kanuragan yang boleh diandalkan.
Orang ke lima dari Lima Naga itu adalah seorang laki-laki berusia empat puluhan tahun yang memiliki watak mata keranjang.
Karena watak inilah maka ketika gadis cantik itu maju menantang, dia segera maju menghadapinya.
Sekarang mendengar pertanyaan gadis itu, dia pikir kalau bertanding dengan tangan kosong, lebih banyak kesempatan baginya untuk beradu lengan, mencolek atau mengusap gadis yang berwajah cantik dan bertubuh sintal itu.
"Ha-ha-ha, melawan seorang gadis cilik seperti andika tidak perlu menggunakan golok,"
Katanya sambil menyelipkan goloknya di punggung.
"Mari kita bertanding dengan tangan kosong saja!"
"Bagus! Mari kita mulai pertandingan ini!"
Kata Sarmini dan iapun sudah memasang kuda-kuda yang indah dan gagah sekali.
Kaki kanan di depan dengan lutut agak di bengkokan, kaki kiri di belakang, tangan kanan yang dikepal ditaruh di pinggang sedangkan tangan kiri dengan jari terbuka di depan dada!
Melihat kuda-kuda yang dipasang gadis itu, orang ke lima dari Lima Naga yang memelihara jenggot seperti kambing tertawa dan memandang rendah.
"Engkau maju dan mulailah dulu, aku akan melayanimu!"
Katanya sambil tersenyum dan berlagak.
"Lihat serangan!"
Tiba-tiba Sarmini membentak dan tubuhnya sudah cepat bergerak maju menyerang.
Kaki kirinya dilangkahkan ke depan dan tangan kirinya membuat gerakan mencengkeram ke arah mata lawan, sedangkan tangan kanannya menyusul dengan pukulan ke arah perut!
Baca Juga: Jodoh Rajawali 20
Baca Juga: Cinta Bernoda Darah 6