Eps 3 Sepasang Garuda Putih - Kho Ping Hoo
Baca online Sepasang Garuda Putih - Kho Ping Hoo
Cersil Sepasang Garuda Putih - Kho Ping Hoo.
"Baiklah!"
Kata kakaknya sambil tersenyum.
Retno Wilis lalu mengerahkan ilmunya berlari cepat.
Tubuhnya melesat seperti angin menuju ke dusun Grobokan dan Bagus Seto mengikutinya dari belakang.
Setelah tiba di dusun itu, dengan mudah Retno Wilis dapat mencari rumah Lasmini karena dusun itu sudah gempar dengan adanya perkelahian itu.
Dengan cepat Retno Wilis dan Bagus Seto tiba di tempat itu dan Retno Wilis melihat seorang pemuda yang memegang keris dikeroyok belasan orang yang memegang golok.
Terutama sekali seorang raksasa yang bersenjatakan kolor merupakan lawan yang amat tangguh sehingga pemuda itu kini main mundur, bahkan sudah ada beberapa batang golok yang mengenai tubuhnya.
Paha dan pundaknya sudah terluka, namun pemuda itu tidak gentar sedikitpun juga, masih tetap melakukan perlawanan gigih dengan kerisnya.
Ada pula lima orang di antara para pengeroyok yang sudah roboh oleh pemuda itu, dan mereka hanya merintih dan menonton dari pinggiran, tidak dapat ikut mengeroyok lagi.
Mudah bagi Retno Wilis untuk berpihak apa lagi ia telah mendengar dari Martono bahwa pemuda itu merupakan penolong keluarga Lasmini.
Ia mengeluarkan suara panjang melengking dan tubuhnya sudah meloncat ke dalam pertempuran, tangannya bergerak menampar ke arah raksasa yang memutar kolornya secara dahsyat.
"Wuuuttt... plakk...!!"
Biarpun hanya ditampar pundaknya yang kebal, namun tubuh Suropekik terhuyung dan dia merasa seolah dirinya disambar petir!
Dia terhuyung dan melihat siapa orangnya yang berani menyerangnya sehebat itu dengan tangan kosong dan ketika dia melihat seorang wanita muda yang amat cantik berdiri di depannya, ia terbelalak dan juga marah.
Sementara itu, ketika tidak lagi didesak oleh Suropekik, Harjadenta leluasa mengamuk menghadapi anak buah warok itu sehingga para pengeroyoknya menjadi kocar-kacir.
Diam-diam Harjadenta memperhatikan Retno Wilis dan dia terkejut, juga kagum.
Akan tetapi timbul kecurigaan dalam hatinya.
Yang mencuri keris pusaka Carubuk adalah seorang wanita cantik yang sakti.
Jangan-jangan ini orangnya?
Akan tetapi karena wanita itu kini bertanding melawan Suropekik, diapun diam saja dan hanya mengamuk menghadapi pengeroyokan belasan orang lawannya.
Bagus Seto hanya berdiri menonton.
Dia tidak khawatir akan adiknya karena sekali pandang saja dia tahu bahwa betapa hebatpun kolor raksasa itu, dia tidak akan mampu mengalahkan adiknya.
Yang di khawatirkan malah Harjadenta.
Pemuda ini mengamuk dengan kerisnya dan dia khawatir kalau kalau pemuda itu membunuh orang banyak.
Sayang kalau seorang pemuda segagah itu melakukan pembunuhan terhadap banyak orang dan melihat betapa dia sudah luka-luka, bukan tidak mungkin dia menjadi mata gelap dan membunuhi para pengeroyoknya.
Setelah membuat penilaian, Bagus Seto lalu menggerakkan kakinya dan tubuhnya seperti melayang ke arah Harjadenta yang sedang mengamuk.
"Tidak perlu membunuhi orang, ki sanak!"
Katanya dan dengan tangannya dia menangkis keris pusaka Harjadenta yang menyambar-nyambar mencari korban.
Harjadenta terkejut sekali ketika ada orang menangkis keris pusakanya hanya dengan tangan kosong saja.
Akan tetapi karena orang itu tidak menyerangnya, maka diapun hanya menghentikan amukannya dan memandang dengan heran.
Dia melihat seorang pemuda berpakaian serba putih yang kini dikeroyok banyak orang.
Tentu para pengeroyok itu mengira bahwa pemuda pakaian putih itu membantunya, maka mereka kini mengayunkan senjata mereka untuk menyerang si pemuda pakaian putih.
Melihat betapa orang-orang itu meninggalkan pemuda yang mengamuk tadi dan kini mereka menyerangnya, Bagus Seto lalu menggerakkan kedua tangannya seperti orang mendorong dan mereka yang menyerbu ke arahnya itu terjengkang seperti daun-daun kering ditiup angin.
Tentu saja mereka terkejut dan belum tahu mengapa mereka tiba-tiba terdorong ke belakang oleh tenaga yang amat kuatnya.
Mereka bangkit dan menyerang lagi.
Kini Bagus Seto menggerakkan tangan seperti menampar dan orang-orang itu berpelantingan keras.
Kini mengertilah mereka bahwa mereka berhadapan dengan seorang yang amat sakti, maka tanpa banyak bicara lagi mereka lari tunggang-langgang.
Harjadenta melihat ini semua dan dia terbelalak kagum.
Diapun tahu bahwa pemuda berpakaian putih itu memiliki kadigdayaan yang luar biasa, seorang sakti mandraguna.
Akan tetapi karena pemuda itu kini memandang ke arah pertempuran antara Suropekik dan wanita cantik itu, Harjadenta juga memandang dan menonton pertandingan yang seru dan hebat itu.
Dia semakin kagum.
Wanita itu bertangan kosong saja menandingi kolor di tangan Suropekik.
Padahal dia melihat wanita itu membawa sebatang pedang di punggungnya.
Ia tidak mau menggunakan pedang dan melawan dengan tangan kosong saja, berarti bahwa wanita itu yakin akan mampu mengalahkan lawan!
Dan apa yang dilihatnya memang demikian.
Suropekik berusaha untuk menghantamkan kolornya yang ampuh, namun gadis itu dengan gerakan seperti seekor burung srikatan saja mengelak ke sana sini, bahkan kadang ia berani menangkis pukulan kolor itu dengan tangannya!
Dan gadis itu membalas dengan tamparan-tamparan tangannya yang membuat Suropekik menjadi repot untuk mengelak atau menangkis dengan kolornya.
Menghadapi tamparan-tamparan itu tampaknya Suropekik merasa jerih untuk menerimanya dengan kekebalan tubuhnya.
Memang demikianlah.
Tadi Suropekik mengandalkan kekebalan tubuhnya, menerima tamparan Retno Wilis dengan dadanya.
Ia menganggap bahwa pukulan seorang gadis itu tentu tidak berapa kuat, maka dia menerima dengan dadanya sambil mengerahkan tenaganya.
"Bukk...!"
Tubuh Suropekik terjengkang dan hampir saja dia roboh, dadanya terasa panas dan sesak.
Dia menjadi marah dan mengamuk dengan kolornya, namun senjatanya itu sama sekali tidak dapat menyentuh ujung baju Retno Wilis yang bergerak dengan ilmu silat Pancaroba yang membuat tubuhnya bergerak demikian cepatnya sehingga seringkali Suropekik kehilangan lawan.
Dia secara ngawur hanya memutar kolornya dan berputar-putar, mencoba menandingi kecepatan gerakan Retno Wilis dengan putaran kolornya.
Retno Wilis kini bergerak mengitari lawan dan memaksa Suropekik juga berputaran.
Karena sejak tadi Suropekik mengerahkan seluruh tenaganya untuk menggerakkan kolornya dan dia harus berputar-putar, lama kelamaan pandang matanya berkunang dan kepalanya menjadi pusing.
Melihat keadaan lawan sudah mulai mengendur gerakan kolornya, Retno Wilis menggerakkan kakinya menendang.
Lutut Suropekik disentuh ujung kaki dara perkasa itu, membuat dia hampir roboh dan lutut kanannya ditekuk, dan pada saat itu, sebuah tamparan tangan kiri Retno Wilis hinggap di dagunya.
"Dess...!!"
Tubuh raksasa itu berputar dan diapun roboh terpelanting, kepalanya berdenyut nyeri dan dadanya sesak, akan tetapi karena dia memang kuat dan kebal, Suropekik sudah dapat bangkit kembali.
Dia menggoyang-goyang kepalanya untuk mengusir kepeningannya dan kedua matanya yang besar berubah merah.
Dia marah sekali.
Biarpun dia melihat betapa semua anak buahnya sudah melarikan diri, dia tetap nekat.
Dia tidak percaya bahwa dia dikalahkan oleh seorang dara yang bertangan kosong!
Dia tidak dapat menerima kenyataan ini.
Dia bangkit berdiri mengerahkan aji yang dimilikinya sehingga tangan yang memegang kolor itu seperti menggigil, mulutnya mengeluarkan gerengan seperti seekor binatang buas dan dia mengayun kolornya ke atas kepala, lalu menerjang maju sambil menghantamkan kolornya.
"Darr...!"
Retno Wilis menggunakan kedua tangan untuk menyambut hantaman kolor itu dengan pukulan jarak jauh dan begitu terdengar kolor itu meledak seperti sebuah cambuk, Suropekik roboh!
Dia masih memegangi kolornya, akan tetapi dari mulutnya muntah darah segar, tanda bahwa dia telah terluka parah di sebelah dalam tubuhnya akibat benturan tenaganya dengan tenaga sakti dara itu.
"Pergilah kalau engkau tidak ingin mati!"
Kata Retno Wilis yang merasa penasaran juga melihat kenekatan orang tinggi besar itu.
Kini Suropekik benar-benar yakin bahwa dia tidak akan mampu menandingi dara itu, maka dengan lemah dia bangkit berdiri, memandang kepada Retno Wilis dengan mata mencorong, kemudian dia membalikkan tubuhnya dan terhuyung-huyung pergi tanpa menengok lagi.
Harjadenta yang menonton pertandingan itu, menjadi kagum bukan main.
Dia yang menggunakan keris pusakanya saja tidak mampu mengalahkan Suropekik, akan tetapi dara itu dengan bertangan kosong saja dapat mengalahkan raksasa itu hanya dalam pertempuran yang pendek.
Tahulah dia bahwa dara itu, dan juga pemuda berpakaian putih seperti juga pakaian dara itu, keduanya adalah orang-orang yang memiliki kesaktian hebat.
Maka dia lalu menghampiri mereka sambil membungkuk-bungkuk memberi hormat.
"Banyak terima kasih saya ucapkan atas pertolongan andika berdua,"
Katanya sambil menatap wajah mereka.
"Kalau andika berdua tidak datang membantu, tentu aku sudah mati dikeroyok mereka."
"Tidak perlu berterima kasih, sobat. Kita semua hanya melaksanakan tugas-kewajiban kita saja secara wajar. Andika juga telah menyelamatkan keluarga Ki Dirun."
"Nama saya Harjadenta. Bolehkah saya mengetahui nama andika berdua yang terhormat?"
Bagus Seto tersenyum.
"Namaku Bagus Seto dan ini adalah adikku bernama Retno Wilis. Kami datang dari Panjalu. Dan andika datang dari manakah?"
"Saya datang dari Gunung Raung, hendak mencari seseorang... barangkali andika berdua dapat membantu saya. Saya sedang mencari seorang wanita yang telah mencuri keris pusaka guru saya. Apakah andika berdua mengetahui seorang wanita cantik yang sakti, yang mencuri Pusaka Carubuk milik guru saya?"
Harjadenta menatap tajam wajah Retno Wilis untuk melihat perubahan pada wajah itu. Akan tetapi Retno Wilis tidak bereaksi apa-apa terhadap ucapan itu, bahkan ia lalu berkata.
"Kita tidak boleh berhenti sampai di sini saja! Demang keparat itu harus dihajar agar jera memaksa gadis menjadi selirnya. Hayo kakang, kita cari Demang jahanam itu!"
"Terserah kepadamu, diajeng. Akan tetapi aku pesan agar engkau membatasi diri, jangan membunuh orang."
"Tadinya saya memang berniat untuk memberi hajaran kepada Demang itu, akan tetapi melihat dia mempunyai begitu banyak tukang pukul, tentu saja saya tidak berdaya. Sekarang setelah andika berdua muncul, saya akan membantu andika berdua memberi hajaran kepada Demang dan anak buahnya yang jahat dan sewenang-wenang itu."
Kata Harjadenta.
"Adimas Harjadenta, engkau telah terluka. Lihat, paha dan pundakmu masih berdarah. Engkau perlu merawat diri dan mengobati lukamu. Biar urusan dengan Demang ini dirampungkan oleh diajeng Retno Wilis."
"Hanya luka kecil saja, kakangmas Bagus Seto. Tidak semestinya kalau diajeng Retno Wilis melakukan tugas itu seorang diri saja. Biar aku membantu kalian."
"Marilah kita pergi. Kakangmas Harjadenta, apakah engkau sudah mengetahui di mana letak rumah Demang jahanam itu?"
"Aku sendiri belum pernah ke sana. Akan tetapi mudah saja. Kita tanya kepada penduduk, tentu mereka semua mengetahuinya."
Mereka bertiga lalu keluar dari pekarangan rumah Ki Dirun itu.
Cuaca sudah mulai gelap ketika mereka bertanya kepada seorang dusun di mana rumah Demang dan segera menuju ke tempat itu.
Rumah itu paling besar di dusun Grobokan.
Pekarangannya juga luas dan ketika mereka bertiga tiba di pekarangan itu, sedikitnya dua puluh orang segera mengepung mereka.
Selain penerangan dari lampu-lampu yang tergantung di luar rumah, juga di antara mereka ada yang membawa obor sehingga tempat menjadi terang seperti siang.
Bagus Seto yang melihat para tukang pukul itu mengepung, segera maju dan berkata dengan suara lantang namun lembut.
"Saudara sekalian! Kami datang untuk bertemu dengan Ki Demang! Minta dia keluar menemui kami dan harap saudara sekalian mundur. Kami tidak ingin berkelahi dengan kalian!"
Para tukang pukul itu memang sudah merasa jerih.
Di antara mereka terdapat orang-orang yang tadi membantu Suropekik dan mereka sudah mengetahui bahwa tiga orang muda itu memiliki kesaktian.
Akan tetapi untuk mundur merekapun takut akan kemarahan Ki Demang, maka mereka semua hanya ragu-ragu dan tetap mengepung, biar pun tidak ada yang berani turun tangan menyerang.
"Kakangmas, aku khawatir kalau demang itu akan melarikan diri melalui pintu belakang. Biar aku menangkapnya dan membawanya keluar,"
Kata Retno Wilis kepada kakaknya.
Bagus Seto mengangguk dan sekali berkelebat, gadis itu lenyap dari situ.
Para pengepung hanya melihat berkelebatnya bayangan orang, tidak tahu bahwa yang berkelebat itu adalah dara perkasa yang telah melompat di atas kepala mereka.
Retno Wilis terus masuk ke dalam gedung.
Ketika tiba di ruangan belakang, ia melihat seorang laki-laki berusia lima puluhan tahun sedang hendak melarikan diri.
Tangan kirinya membawa sebuah buntalan kain dan tangan kanannya memegang sebatang tombak.
Dari pakaiannya saja Retno Wilis dapat menduga bahwa orang itu tentulah demang dusun Grobokan itu.
Ia lalu membentak nyaring.
"Engkau tentu Demang Grobokan keparat itu! Hendak lari kemana kau?"
Orang itu memang Demang Grobokan.
Kepala dusun yang kaya raya ini memang seorang yang mata keranjang, mengandalkan kekuasaannya untuk merampas wanita yang disukainya.
Tidak perduli gadis, janda atau bahkan yang sudah bersuami, kalau menimbulkan seleranya, tentu akan dimintanya dengan halus maupun kasar.
Dia memiliki kurang lebih tiga puluh orang anak buah atau tukang pukul yang sekarang berada di pekarangan mengepung Bagus Seto dan Harjadenta.
Ketika melihat seorang gadis cantik tahu-tahu berada di depannya, demang itu terkejut sekali.
Dia memang sudah dilapori anak buahnya betapa anak buahnya kocar-kacir diamuk oleh dua orang pemuda dan seorang gadis cantik yang digdaya.
Kini melihat gadis itu datang membentaknya, dia dapat menduga bahwa ini tentu gadis yang dimaksudkan anak buahnya.
Tanpa banyak cakap lagi dia lalu menyerang dengan tombaknya.
Tombak yang runcing itu dengan tepat sekali meluncur dan menusuk ke arah perut Retno Wilis!
Akan tetapi dengan sigap Retno Wilis miringkan tubuhnya dan menangkap tombak itu dengan tangan kanannya kemudian sekali tarik tombak itu telah pindah ke tangannya.
Ia lalu menekuk gagang tombak dengan kedua tangan.
"Trakkk...!"
Gagang tombak itu patah di tengah-tengahnya.
Melihat ini, Demang Grobokan terkejut dan ketakutan.
Dia meloncat untuk berlari pergi, akan tetapi kaki Retno Wilis menyambar, menendang lututnya dan Demang Grobokan jatuh menelungkup, buntalan di tangan kirinya terlepas dan isinya tercecer.
Kiranya buntalan itu berisi banyak perhiasan emas permata!
Retno Wilis sudah melangkah maju dan menginjak punggung Demang Grobokan.
"Apakah engkau masih akan berani melawan?"
Bentak Retno Wilis sambil mengerahkan tenaga pada kakinya yang menginjak punggung.
"Uhhh... hekkkkk... uhhh, ampunkan saya...!"
Demang itu terengah-engah dan mengeluh.
Retno Wilis sebetulnya marah sekali kepada orang itu.
Kalau saja ia tidak mendapat peringatan dari kakaknya tadi agar jangan membunuh orang, tentu ia sudah menginjak pecah dada Demang Grobokan.
Ia melepaskan kakinya.
Demang Grobokan merangkak untuk bangkit, akan tetapi kaki kiri Retno Wilis menyambar lehernya dan dia roboh kembali sambil merintih kesakitan.
Ketika tiga kali dia mencoba bangkit selalu disambut tendangan kaki gadis itu yang membuat pipinya bengkak-bengkak dan kepala seperti pecah rasanya, dia tidak berani bangkit kembali, dan tetap menelungkup sambil mengeluarkan rintihan menangis.
Retno Wilis merasa sudah cukup memberi hajaran.
Ia tadi memang sengaja menghajar Demang itu.
"Hayo bangkit!"
Bentaknya dan Demang Grobokan dengan ketakutan, wajahnya bengkak-bengkak dan mukanya pucat tubuhnya menggigil bangkit dan terhuyung..."Hayo keluar!"
Retno Wilis mendorongnya dan Demang Grobokan dengan rasa takut sekali melangkah keluar.
"Perintahkan tukang-tukang pukulmu untuk mundur semua!"
Melihat di luar semua tukang pukulnya mengepung dua orang pemuda akan tetapi mereka tidak berani bergerak itu, Demang Grobokan lalu berteriak dengan suara gemetar.
"Kalian semua mundurlah. Mundur dan jangan turun tangan!"
Biarpun tidak dilarang oleh Demang Grobokan, para tukang pukul itu memang sudah tidak berani berkutik.
Kini mendengar perintah majikan mereka, semua tukang pukul lalu mundur dan hanya menonton dari jauh.
"Hei, kalian anak buah Demang Grobokan. Cepat perintahkan semua penduduk Grobokan untuk berkumpul di sini. Cepat!!"
Tiga puluh orang itu lalu berpencar dan cepat mereka memanggil para penduduk Grobokan untuk berkumpul di pekarangan rumah Demang Grobokan.
Para penduduk dusun itu berbondong-bondong datang di tempat itu.
"Ampunkan saya, den ajeng...!"
Demang Grobokan minta ampun sambil berlutut dan menyembah-nyembah.
"Diam kau! Kita tunggu sampai semua penduduk berkumpul di sini!"
Kata Retno Wilis.
Bagus Seto hanya tersenyum melihat sepak terjang adiknya dan Harjadenta memandang dengan sinar mata penuh kagum.
Dia ingin sekali melihat apa yang akan dilakukan dara perkasa itu.
Hatinya penuh kekaguman akan kehebatan sepak terjang Retno Wilis dan penuh pesona akan kecantikannya.
Mimpipun belum pernah dia bertemu dengan seorang dara seperti itu!
Kalau hanya mendengar cerita orang tentang seorang dara seperti Retno Wilis, tentu dia tidak akan percaya.
Mana ada dara segagah dan sehebat itu?
Namun Retno Wilis melampaui semua khayalnya.
(Lanjut ke
Jilid 06) Sepasang Garuda Putih (seri ke 05 -Serial Keris Pusaka Sang Megatantra) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo
Jilid 06 Setelah pekarangan itu penuh penduduk dusun Grobokan dan tempat itu diterangi lampu dan obor-obor, Retno Wilis lalu berkata dengan suara lantang kepada para penduduk.
"Para paman, bibi dan saudara sekalian dengarlah baik-baik. Demang Grobokan ini telah mengakui bahwa dia telah melakukan perbuatan yang jahat, hendak merampas puteri Ki Dirun untuk dijadikan selirnya. Sekarang, Demang Grobokan ini telah mengakui kejahatannya, dan bertaubat, tidak akan melakukan kejahatan lagi di dusun ini. Kalian semua menjadi saksi, kalau sampai dia berani melakukan kejahatan lagi, lain kali kalau aku lewat di sini, aku tentu akan membunuhnya di depan kalian."
Setelah berkata demikian, Retno Wilis berkata kepada Demang Grobokan yang masih duduk berlutut.
"Ki Demang, hayo kau katakan sendiri kepada mereka semua bahwa engkau telah bertaubat dan tidak akan mengulangi semua perbuatanmu yang jahat. Engkau tidak akan mengerahkan para tukang pukulmu lagi untuk memaksa rakyat!"
Demang Grobokan yang telah hilang nyalinya sejak Suropekik meninggalkannya, apa lagi setelah dia dihajar keras oleh Retno Wilis, bangkit berdiri.
Semua orang kini dapat melihat mukanya yang matang biru dan benjol-benjol, dan dengan suara lemah dia berkata.
"Saudara warga dusun Grobokan sekalian..."
"Bicara yang keras!"
Bentak Retno Wilis. Demang Grobokan lalu mengulang kata-katanya dengan suara yang keras.
"Saudara warga dusun Grobokan sekalian! Aku, Demang Grobokan, mengaku telah berbuat banyak kesalahan terhadap kalian. Akan tetapi aku telah menyadari kesalahanku, dan mulai saat ini, aku berjanji bahwa aku sudah bertaubat dan tidak akan mengulangi semua perbuatanku yang keliru. Kalau aku berbuat jahat lagi, biarlah Hyang Widhi akan memberi hukuman yang seberat-beratnya kepadaku!"
Retno Wilis merasa puas dengan ucapan itu, dan ia berkata.
"Ingat baik-baik, Ki Demang. Ucapanmu itu disaksikan semua warga dusun Grobokan, dan jangan kira aku hanya menggertak saja. Lain kali aku tentu akan lewat di sini untuk melihat apakah benar-benar engkau memenuhi janjimu. Awas, kalau engkau masih jahat, aku tidak akan memberi ampun lagi kepadamu!"
Demang Grobokan mengangguk-angguk.
"Aku tidak akan melanggar janji."
Retno Wilis lalu menoleh kepada kakaknya dan berkata.
"Kakang, mari kita pergi dari s ini!"
Akan tetapi Harjadenta menahan mereka berdua dan berkata.
"Malam telah tiba, andika berdua tidak mungkin melanjutkan perjalanan dalam kegelapan malam, rumah Ki Dirun sudah kosong ditinggal pergi penghuninya, kalau andika tidak berkeberatan, silakan menggunakan rumah itu. Tadinya aku juga mondok di rumah itu untuk semalam ini."
Bagus Seto mengangguk kepada adiknya.
"Kurasa sebaiknya begitu, diajeng. Melanjutkan perjalanan di waktu malam begini, apa lagi kalau jauh dari kota dan pedusunan, kita akan kemalaman di perjalanan."
Retno Wilis memandang kepada kakaknya, kemudian kepada Harjadenta, lalu berkata.
"Baiklah kalau begitu."
Mereka bertiga lalu meninggalkan tempat itu dan menuju ke rumah Ki Dirun.
Baru saja mereka memasuki rumah itu, beberapa orang penduduk dusun Grobokan berdatangan membawa segala macam makanan dan minuman yang mereka punya, disuguhkan kepada tiga orang muda yang menggemparkan itu.
Malam itu semua penduduk hampir tidak dapat pulas, dengan gembira membicarakan peristiwa sore tadi dan membayangkan betapa akan bahagia hidup mereka kalau Ki Demang benar-benar menyadari kesalahannya dan akan mengubah sikap hidupnya.
Mereka semua akan merasa aman dan dapat bekerja dengan tenang dan sejahtera.
Setelah makan hidangan yang disuguhkan para penduduk, tiga orang muda itu bercakap-cakap di ruangan depan.
"Adimas Harjadenta, andika tadi mengatakan bahwa andika mengejar seorang pencuri keris. Bagaimana sebetulnya duduk perkaranya dan siapakah guru andika itu?"
Retno Wilis juga memandang pemuda itu penuh perhatian karena diapun ingin mendengar riwayat pemuda tampan yang gagah perkasa itu.
Harus diakui bahwa ia merasa tertarik kepada pemuda yang halus dan lembut tutur sapanya itu, yang dengan gagah berani menghadapi pengeroyokan banyak lawan.
Tadipun Retno Wilis sudah mencarikan daun untuk mengobati luka-luka di pundak dan paha Harjadenta.
Harjadenta menarik napas panjang dan mulai bercerita.
"Aku adalah seorang yatim piatu yang tidak mempunyai seorangpun keluarga lagi. Guruku adalah Empu Gandawijaya yang bertapa di Gunung Raung. Sejak aku berusia tigabelas tahun sampai kini, sudah sepuluh tahun lamanya aku diambil murid oleh Bapa Guru dan tinggal di lereng Gunung Raung bersamanya. Beberapa pecan yang lalu, Bapa Guru memanggilku dan memberi tahu bahwa dia telah kehilangan sebuah keris pusaka bernama Ki Carubuk yang katanya hilang dicuri seorang wanita sakti yang tidak diketahui namanya. Bapa Guru lalu mengutusku untuk pergi mengejar dan mencari pencuri itu, merampas kembali Ki Carubuk, baru diperbolehkan pulang ke Gunung Raung. Bapa Guru tidak banyak memberi petunjuk, hanya mengatakan bahwa pencuri itu seorang wanita sakti, pandai ilmu sihir dan guna-guna. Aku disuruh naik perahu sepanjang Kali Mayang menuju ke muaranya di Lautan Kidul. Ketika perjalananku tiba di Grobokan, aku singgah dan mencari tempat penginapan. Kebetulan aku bertemu Ki Dirun dan dia menerimaku menginap di rumahnya. Kemudian aku ketahui tentang urusannya dengan Ki Demang Grobokan itu dan aku lalu menolongnya."
Harjadenta menceritakan tentang peristiwa itu, semula dia mengusir dua orang utusan Ki Demang, lalu datang lima orang tukang pukul yang dapat diusirnya pula.
"Tidak kusangka bahwa mereka itu masih belum mau menyerah, bahkan lalu datang bersama Suropekik, warok yang digdaya itu dan aku dikeroyok oleh dia dan belasan orang anak buahnya. Aku sudah kewalahan dan tentu aku sudah tewas kalau andika berdua tidak datang menolong. Sekarang tiba giliran kalian berdua. Bagaimana andika berdua dapat datang pada saat yang demikian cepatnya? Andika berdua datang dari manakah dan hendak ke mana?"
Bagus Seto memandang kepada adiknya dan berkata.
"Diajeng, engkau sajalah yang bercerita kepada dimas Harjadenta tentang diri kita."
Retno Wilis adalah seorang gadis yang bersikap polos dan terbuka, dan tidak malu-malu seperti para gadis lainnya.
Biasanya, seorang gadis akan merasa sungkan dan malu-malu terhadap seorang pemuda yang baru dijumpainya akan tetapi tidak demikian dengan Retno Wilis.
Ia berani menentang pandang mata Harjadenta dengan tenang tanpa perasaan apapun seperti kalau ia memandang seorang gadis lain.
Biarpun ia sudah amat berpengalaman dalam dunia persilatan dan pertempuran, namun ia masih seperti kanak-kanak dalam pergaulannya dengan pria.
Maka kinipun ia menatap wajah Harjadenta sedemikian terbuka dan jujur sehingga pemuda itulah yang merasa jantungnya berdebar ketika pandang matanya bertemu dengan sinar mata yang demikian tajam dan jernih.
"Nah, apakah yang ingin kau ketahui tentang kami, kakangmas Harjadenta?"
Pertanyaan itu demikian polos dan dikeluarkan dengan suara yang merdu, sehingga Harjadenta menjadi gugup dan tidak berani menentang pandang mata itu terlalu lama.
Dia sendiri juga sejak kecil ikut gurunya di lereng Gunung Raung sehingga sama sekali tidak mempunyai pengalaman pergaulan dengan wanita, maka pertemuannya dengan Retno Wilis membuat dia tegang dan tidak tenang.
"Segalanya, diajeng. Riwayat andika berdua, putra siapa datang dari mana, lalu hendak ke mana dengan tujuan apa. Pula, bagaimana andika berdua begitu kebetulan dapat datang pada saat aku terancam bahaya maut?"
Retno Wilis tersenyum.
"Baiklah, pertama-tama kami adalah putera dan puteri Ki Patih Tejolaksono dari Panjalu."
Harjadenta terbelalak.
"Putera puteri Patih? Ah, andika berdua adalah orang-orang muda bangsawan tinggi, maafkan kalau aku telah bersikap kurang patut!"
"Hush...!"
Retno Wilis mencela.
"Kalau engkau mengubah sikapmu kepada kami dan merendahkan diri, aku tidak mau lagi bersahabat denganmu, kakangmas Harjadenta!"
Pemuda ini terkejut dan memandang wajah cantik yang kini cemberut itu.
"Akan tetapi... kalian putera puteri seorang Patih, apalagi Patih Panjalu...!"
"Apa bedanya patih dan bukan patih?. Apa pula bedanya seorang Raja dan seorang rakyat biasa? Mereka sama-sama manusia! Tidak, aku tidak mau engkau mengubah sikapmu. Kita biasa-biasa saja sebagai sahabat."
Harjadenta menghela napas panjang dan diam-diam dia menjadi semakin kagum.
Seorang puteri bangsawan bicara seperti itu!
Dia merasa seperti mimpi bertemu dengan seorang dara yang benar-benar luar biasa.
"Baiklah, diajeng RetnoWilis. Maafkan aku yang kurang pengertian. Nah, silakan engkau melanjutkan ceritamu. Andika adalah putera puteri seorang Patih dari Panjalu. Lalu mengapa andika berdua datang ke tempat yang begini jauh dari tempat tinggalmu?"
"Kami berdua memang sengaja meninggalkan Panjalu untuk merantau dan mencari pengalaman."
"Ah, dua orang muda yang berilmu tinggi, sakti mandraguna seperti andika berdua masih mencari pengalaman lagi? Kalau boleh aku mengetahui, siapakah guru-guru andika berdua yang mulia?"
"Guruku adalah Nini Bumigarbo dan guru kakakku adalah Sang Bhagawan Ekadenta."
Kembali Harjadenta terbelalak.
"Ah, guruku pernah bercerita tentang seorang wanita maha sakti berjuluk Nini Bumi garbo dan seorang Pendeta linuwih berjuluk Sang Bhagawan Ekadenta. Mereka itu seolah manusia setengah dewa yang amat sakti, seperti dalam dongeng. Kiranya andika berdua adalah murid-murid mereka? Pantas kalian memiliki kesaktian yang demikian hebat!"
"Nah-nah-nah, mulai lagi! Aku paling tidak senang melihat orang menjilat-jilat dan memuji setinggi langit!"
Tiba-tiba Retno Wilis berkata tegas dan suaranya seperti orang marah. Harjadenta kembali terkejut dan cepat berkata, dengan suara lirih.
"Maafkan aku, diajeng, aku... bukan maksudku untuk menjilat-jilat..."
"Tapi engkau memuji setinggi langit. Kami hanya orang-orang biasa saja yang tiada bedanya dengan engkau atau orang lain, tidak perlu memuji-muji seperti itu atau aku tidak mau bercerita lagi."
Harjadenta menelan ludahnya. Gadis ini selain sakti dan hebat, juga galaknya bukan main! "Maafkan, tidak akan kuulangi lagi. Harap kau suka melanjutkan ceritamu, diajeng Retno Wilis."
Kini dia bahkan tidak berani menentang langsung wajah gadis itu, hanya memandang ke arah pakaiannya yang serba putih sederhana, akan tetapi yang tidak menyembunyikan lekuk-lengkung tubuhnya yang ramping padat.
"Kami juga tidak sengaja datang ke tempat ini. Kami berdua sedang melakukan perjalanan menyusuri Kali Mayang yang indah pemandangannya. Ketika kami tiba di hutan dekat dusun ini, kami bertemu dengan seorang pemuda bernama Martono bersama ibunya. Ibunya menangis dan kami mendengarnya lalu menemui mereka. Martono itu yang bercerita kepada kami tentang perbuatan Ki Demang, yang hendak merampas Lasmini tunangannya. Karena itu kami lalu cepat memasuki dusun ini dan melihat engkau dikeroyok banyak orang maka aku lalu cepat membantumu."
"Untung sekali engkau tahu siapa yang perlu dibantu dan siapa yang harus ditentang."
Kata Harjadenta.
"Tentu saja aku tahu. Martono sudah bercerita tentang seorang pemuda yang menolong keluarga Dirun dan yang kini dikeroyok di sini."
"Dan aku tadinya mempunyai dugaan yang amat buruk terhadap dirimu, diajeng Retno."
Retno Wilis memandang wajah pemuda itu penuh selidik.
"Dugaan buruk. Apa itu?"
"Melihat engkau demikian cantik dan demikian sakti, sekilas terlintas dalam pikiranku akan pemberitahuan Bapa Guru bahwa pencuri pusaka Ki Carubuk adalah seorang wanita cantik yang sakti."
"Sialan! kau kira aku ini pencuri keris itu?"
"Maaf, aku tidak tahu..."
"Sudahlah,"
Kata Bagus Seto sambil tertawa.
"Sekarang kita harus memikirkan keadaan Ki Dirun dan keluarganya, juga Martono dan ibunya. Mereka entah lari ke mana. Sebaiknya mereka itu kembali lagi ke sini, di mana mereka meninggalkan rumah dan sawah mereka."
"Benar,"
Kata Harjadenta.
"biar aku memberitahu kepada para tetangga untuk mengejar mereka dan memberitahu mereka bahwa dusun Grobokan telah aman dan mereka boleh kembali lagi ke sini."
Bagus Seto membenarkan pendapat Harjadenta yang segera menghubungi para tetangga dan minta agar mereka menyusul ke mana larinya keluarga Dirun dan keluarga Martono untuk memanggil mereka pulang.
Malam itu mereka melewatkan malam di rumah keluarga Dirun.
Retno Wilis menggunakan kamar yang biasa ditiduri Lasmini, sedangkan Bagus Seto dan Harjadenta menggunakan kamar Ki Dirun.
Pada keesokan paginya, setelah mereka mandi dan makan sarapan pagi yang diantar dan disuguhkan oleh para penduduk Grobokan, mereka lalu hendak meninggalkan Grobokan dan mereka merasa perlu untuk berpamit kepada Ki Demang Grobokan.
Kunjungan mereka disambut dengan ramah dan hormat oleh Ki Demang.
Melihat sikap orang itu, Bagus Seto merasa gembira dan mengharapkan agar penguasa itu benar-benar bertaubat dan selanjutnya akan menjadi seorang penguasa yang memimpin penduduk dusun Grobokan ke arah kehidupan yang sejahtera dan makmur.
"Ki Demang,"
Kata Retno Wilis setelah mereka bertiga berpamit.
"Kalau sewaktu-waktu pikiranmu menggodamu untuk melakukan hal-hal yang tidak baik dan menekan rakyat, ingatlah kepada kami karena sekali waktu kami pasti akan lewat di sini melihat keadaan."
Ki Demang tersenyum.
Kini baru dia mengerti bahwa tiga orang itu adalah orang-orang muda sakti yang hidupnya sebagai pendekar, dan mereka adalah orang-orang yang baik dan yang memperjuangkan tegaknya kebenaran dan keadilan.
Bukan seperti orang macam Suropekik yang mau melakukan apapun juga asalkan mendapat upah besar.
Sekali waktu orang macam Suropekik itu bagaikan memelihara seekor harimau ganas dapat membalik dan menyerang pemeliharanya sendiri.
Kalau dia ingin hidup sejahtera dan makmur penuh ketenteraman, dia harus mengubah jalan hidupnya dan tidak selalu menuruti nafsunya sendiri.
"Harap andika bertiga jangan khawatir. Saya tidak akan melanggar janji yang telah saya ucapkan dan disaksikan semua penghuni Grobokan."
Tiga orang muda itu lalu meninggalkan rumah Ki Demang.
Akan tetapi Ki Demang Grobokan mengikuti dan mengantar mereka.
Di sepanjang jalan para penduduk juga menyambut dan ikut pula mengantar mereka.
Setelah mereka tiba di luar pagar yang mengelilingi dusun Grobokan, barulah Ki Demang dan para penduduk dusun berhenti mengantar, apa lagi karena hal ini diminta oleh Retno Wilis.
"Sudahlah, sampai di sini saja kalian mengantar. Sekarang kami harus pergi."
Mereka bertiga lalu menuju ke Kali Mayang. Setelah tiba di tempat di mana Harjadenta menyimpan dan menambatkan perahunya, pemuda ini bertanya kepada Bagus Seto.
"Andika berdua hendak pergi ke manakah?"
"Kami akan kembali ke pantai dan melanjutkan perjalanan perantauan kami."
Jawab Bagus Seto.
"Kalau begitu, silakan ikut dalam perahuku. Akupun hendak pergi ke muara sungai ini untuk menaati nasihat Bapa Guru bahwa aku diharuskan mencari sampai ke muara sungai Mayang ini."
Bagus Seto memandang kepada adiknya dan tersenyum.
"Tentu menarik sekali melakukan perjalanan melalui air, pemandangannya tentu berbeda. Bagaimana, maukah engkau, Retno?"
"Bagaimana engkau saja kakang. Kalau memang kita sejalan, tidak ada salahnya ikut dalam perahu kakangmas Harjadenta, asal saja tidak menyusahkan dia."
Harjadenta tertawa senang.
"Mengapa menyusahkan? Kita melakukan perjalanan bersama, membeli beras dan masak sendiri di perahu, lauknya kita cari di sungai dengan mengail."
Pemuda itu tampak gembira sekali dan tak lama kemudian merekapun sudah meluncurkan perahu ke tengah sungai.
Karena perahu itu menuju ke hilir, Harjadenta hanya perlu mengemudikannya saja dengan dayungnya, perahu itu sendiri sudah terbawa arus air yang cukup kuat, sehingga meluncur dengan cepatnya ke depan.
Naik perahu ini merupakan pengalaman baru bagi Retno Wilis, maka iapun merasa gembira sekali.
Sebelum memuntahkan airnya di laut Kidul, Kali Mayang bertemu dengan Kali Sanen yang mengalir dari timur.
Pertemuan dua buah kali itu terjadi di sebelah selatan dusun Ambulu.
Tak jauh dari tempat pertemuan dua kali yang membuat muara sungai itu menjadi lebar dan besar, terdapat sebuah kota besar yang disebut Bulumanik.
Penduduknya banyak yang menjadi nelayan, karena di muara sungai itu terdapat banyak sekali ikan yang seakan tiada habis-habisnya mereka tangkapi setiap hari.
Selain menjadi nelayan, juga para penghuni itu merupakan petani-petani yang hidupnya cukup makmur karena sawah ladang di sepanjang lembah sungai itu amat subur.
Bulumanik terkenal sebagai tempat yang gemah ripah loh-jinawi dan tempat itu dikunjungi banyak pedagang dari kota lain.
Rakyatnya cukup mampu untuk membeli barang-barang dari luar kota yang dibawa oleh para pedagang itu.
Juga karena adanya sungai, maka lalu lintas dapat dilakukan dengan mudah melalui air.
Bulumanik dipimpin seorang Demang yang bernama Kebolinggo, seorang berusia lima puluh tahun yang bertubuh tinggi kurus dan berwibawa.
Dia ditaati oleh penduduk Bulumanik karena terkenal sebagai seorang penguasa yang adil dan pandai memimpin.
Kedemangan Bulumanik ini termasuk wilayah kekuasaan Kadipaten Nusabarung, bahkan Demang Kebolinggo adalah seorang yang berasal dari Nusabarung juga dan yang diangkat oleh Adipati Martimpang dari Nusabarung.
Pada suatu hari, penduduk melihat betapa Candi Trisakti yang berada di Kebolinggo dipugar.
Para pendetanya yang memuja Trimurti oleh Demang Kebolinggo dipecat dan candi itu dipugar dan dibangun kembali, arca-arcanya diganti dengan arca Bathara Shiwa, Bathari Durga dan Bathara Kala.
Pembuatan arca-arca dan pemugaran candi itu dilakukan oleh banyak ahli pahat yang terkenal, bahkan dipimpin oleh seorang yang tidak dikenal oleh penduduk Bulumanik.
Dia adalah seorang pendeta yang berusia enam puluh lima tahun dan selain ahli tentang bangunan candi, juga ahli membuat arca yang indah.
Selain itu, pendeta ini juga amat berwibawa, sebentar saja terkenal sebagai seorang pendeta yang dihormati Demang Kebolinggo dan kabarnya memiliki ilmu kepandaian tinggi, sakti mandraguna dan ahli sihir!
Bagi yang sudah mengenal pendeta itu, tentu saja tidak merasa heran karena dia adalah Sang Wasi Siwamurti, utusan Negeri Cola yang sakti, dan penyebar Agama Shiwa.
Seperti telah kita ketahui, Wasi Siwamurti adalah kakak seperguruan dari Wasi Surengpati dan Wasi Karangwolo yang menjadi penasihat di Blambangan.
Wasi Siwamurti ini dating dari Negeri Cola membawa dua orang lain, yaitu anak angkatnya yang berjuluk Ki Shiwananda, dan seorang muridnya yang bernama Ni Dewi Durgomala yang cantik dan genit, masih nampak muda dan menarik walaupun usianya sudah empat puluh tahun.
Ni Dewi Durgomala ini kelihatan seperti berusia dua puluh tahun lebih saja.
Wasi Siwamurti telah mendapat persetujuan dari Adipati Menak Sampar di Blambangan dan sekutunya, Adipati Martimpang dari Nusabarung untuk menyebar-luaskan agama Shiwa dan memecah-belah musuh-musuh mereka, Panjalu dan Jenggala melalui perpecahan agama.
Dalam rangka penyebar-luasan agama Shiwa itulah maka dia memugar dan membangun kembali candi di Bulumanik, lalu mengganti candi itu menjadi candi Shiwa, Durga dan Kala!
Arca ketiga dewadewi ini yang menghiasi candi baru itu.
Untuk pembangunan candi yang membutuhkan tenaga banyak orang, Wasi Shiwamurti mendapat perkenan dari Demang Kebolinggo untuk mengerahkan tenaga warga Bulumanik.
Terjadilah kekacauan di kota itu ketika Wasi Shiwamurti melakukan paksaan kepada para orang muda di Bulumanik untuk bekerja membantu pembangunan candi.
Menurut berita angin, siapa berani menolak untuk membantu, oleh sang wasi dikutuk menjadi gila atau menderita penyakit parah yang mengakibatkan kematian.
Berita ini didesas-desuskan orang sehingga penduduk dihinggapi perasaan takut dan tidak ada yang berani lagi menolak perintah untuk membantu pembangunan candi baru itu.
Biarpun ada berita yang mengerikan itu, tetap saja ada yang berani menentang, perintah itu.
Seorang di antara mereka adalah seorang pemuda bernama Sularko.
Sularko adalah seorang pemuda berusia kurang lebih dua puluh lima tahun yang berwajah tampan dan bertubuh tegap.
Dia tinggal di sebuah rumah bersama ibunya yang sudah janda Mbok Rondo Gati dan seorang adik perempuannya yang sudah dewasa berusia delapan belas tahun bernama Sawitri.
Seperti juga kakaknya yang tampan, Sawitri seorang gadis yang cantik manis, bagaikan setangkai bunga yang sedang mekar mengharum.
Sularko sudah mengetahui akan adanya pembangunan candi itu, dan diapun mendengar desas-desus akan bujukan yang melanda kau m muda di Bulumanik untuk membantu pembangunan candi itu.
Bahkan kabarnya, mereka yang membantu pembangunan candi mendapat hadiah-hadiah yang menarik, sering diajak berpesta ria.
Akan tetapi mereka yang menolak akan mendapat malapetaka.
Dia sendiri menganggap ajakan membangun candi itu mencurigakan, karena walaupun tidak ada paksaan, akan tetapi yang menolak dikenakan kutukan yang membuatnya gila atau sakit.
Ini sama saja dengan paksaan.
Yang membuat dia tidak senang adalah berita bahwa mereka yang membantu kelompok pembangunan candi itu diajarkan untuk menganut agama baru itu yang katanya penuh dengan kesenangan sorga dunia!
Sularko adalah seorang pemuda yang berwatak gagah dan dia pernah mempelajari kanuragan selama beberapa tahun sehingga dia menjadi seorang pemuda yang pemberani.
Dia bekerja sebagai seorang nelayan yang juga mempunyai sedikit ladang untuk bertani.
Setiap hari dia bekerja, kadang dibantu adiknya Sawitri yang cantik manis itu, kalau tidak menangkap ikan tentu menggarap ladangnya.
Karena dia tekun dan rajin, maka kehidupan mereka bertiga dapat dibilang cukup.
Pada suatu pagi yang cerah di waktu sinar matahari pagi menghidupkan segala sesuatu di permukaan bumi, Sularko ditemani Sawitri sedang bekerja di ladangnya.
Dia sedang menanam benih jagung bersama Sawitri.
Dia yang membuat lubang dengan paculnya dan Sawitri memasukkan biji jagung kedalam lubang-lubang itu yang lalu ditutupnya.
Sularko bekerja dengan menanggalkan bajunya, hanya memakai celana hitam yang sebatas bawah lutut, sedangkan Sawitri juga mengenakan pakaian sederhana untuk bekerja di lading yang berlumpur itu.
Namun, dengan pakaian sederhana itu, kedua kakak beradik ini bahkan tampak elok dan wajar.
Sularko tampak perkasa dengan dadanya yang bidang berotot, sedangkan Sawitri tampak lemah gemulai dan ayu dalam pakaiannya yang sederhana dan kainnya yang diangkat sampai memperlihatkan betisnya yang memadi-bunting.
Sambil bekerja ini, Sularko bersenandung dan mereka berdua menikmati cahaya matahari yang hangat menyinari tubuh mereka.
Kepala mereka terlindung sebuah caping yang lebar.
Sularko memang pandai bertembang.
Dia bersenandung tembang Kinanti dengan suara yang merdu dan Sawitri dapat merasakan kedamaian dalam tembang itu.
Betapa indahnya keadaan seperti itu.
Bekerja dengan hati dan tangan yang ringan, menikmati kehangatan matahari dan kesegaran angin yang semilir.
Perpaduan antara kehangatan dan kesejukan yang memberi semangat dan kegembiraan hidup.
Punggung dan dada Sularko berkilauan karena keringat yang membasahi tubuhnya dan ayunan cangkulnya mantap dan kuat.
Sawitri mengikutinya sambil menaburkan benih jagung dan tubuhnya membuat gerakan amat lenturnya ketika ia membungkuk-bungkuk seperti itu.
Dua orang yang lewat di jalan itu, kemudian memandang mereka dan datang menghampiri dan duduk di pematang ladang adalah seorang wanita yang cantik dan pesolek, dan seorang laki-laki yang tinggi besar dan bertampang menyeramkan.
Walaupun wajahnya itu termasuk gagah namun matanya yang lebar dan bersinar-sinar itu mendatangkan kesan menyeramkan.
Wanita itu cantik dan pesolek, kain yang dipakainya baru, rambutnya tersisir rapi dan digelung bagus, mukanya putih karena bedak dan diberi pemerah pipi dan bibir.
Di lengan, jari dan lehernya terdapat perhiasan yang indah, demikian pula telinganya memakai perhiasan yang gemerlapan.
Yang pria juga mengenakan pakaian baru, dengan baju terbuka sehingga nampak dadanya yang lebar dan berbulu.
Siapakah dua orang itu?
Mereka bukan lain adalah Ki Shiwananda dan Ni Dewi Durgornala, anak angkat dan murid Wasi Shiwamurti.
Merekalah yang ditugaskan oleh Wasi Shiwamurti untuk melaksanakan pemugaran dan pembangunan candi di Bulumanik.
Mereka pula yang membujuk para muda di dusun Bulumanik dan sekitarnya untuk ikut membangun candi itu.
Pada pagi hari itu, kebetulan mereka lewat di jalan itu dan melihat Sularko dan Sawitri, mereka merasa kagum dan tertarik sehingga mereka menghampiri dan duduk di pematang tegal itu.
Sepasang mata Ni Dewi Durgomala bersinar-sinar memandang ke arah Sularko yang mencangkul, sedangkan sepasang mata lebar dari Ki Shiwananda juga seolah-olah hendak menelan tubuh Sawitri dengan pandang matanya.
Melihat Sularko dan Sawitri, sikap dua orang itu seperti dua ekor singa yang memandang dua ekor domba muda yang berdaging gemuk dan lunak.
Air liur telah membasahi mulut mereka dan beberapa kali Ni Dewi Durgomala menjilat bibir sendiri dengan lidahnya yang merah.
Sularko dan Sawitri yang sedang asyik bekerja itu akhirnya merasa bahwa ada orang memandang mereka.
Keduanya menghentikan pekerjaan masing-masing, berdiri tegak dan menoleh ke arah dua orang itu.
Keduanya memandang heran, apalagi melihat bahwa dua orang itu berpakaian mewah dan sedang mengamati mereka.
"Aduh betapa sayangnya orang-orang muda yang elok harus bekerja keras memeras keringat di lumpur yang kotor!"
Terdengar Ni Dewi Durgomala berseru.
"Dan gadis seayu itu sepatutnya berada di keputren!"
Kata pula Ki Shiwananda dengan suaranya yang berat. Sularko dan Sawitri memandang heran dan Sularko bertanya.
"Apakah andika berdua bicara kepada kami?"
"Duh orang muda yang elok, siapa lagi kalau bukan kepada kalian kami bicara? Di sini tidak ada orang lain. Aku hanya menyayangkan seorang pemuda seperti andika ini bekerja keras di lumpur yang kotor,"
Kata Ni Dewi Durgomala sambil melempar senyum dan kerling yang memikat.
Biarpun usianya sudah empat puluh tahun, wanita ini masih tampak cantik sekali dan masih muda seolah seorang perawan berusia dua puluh tahun saja!
Senyumnya memikat dan kerling matanya sungguh tajam menggores kalbu.
Muka Sularko berubah merah mendengar ucapan yang merayu itu, akan tetapi dia menjawab dengan tegas.
"Kenapa sayang bekerja di ladang? Lumpur ini sama sekali tidak kotor dan bekerja di ladang merupakan pekerjaan yang bersih dan sehat!"
"Benar sekali, wong bagus, akan tetapi pekerjaan seperti itu hanya pantas dilakukan para petani yang kotor. Akan tetapi seorang muda yang elok seperti andika ini sepantasnya memiliki pekerjaan yang lebih terhormat dan bersih."
"Misalnya bekerja apa?"
Tanya Sularko penasaran.
"Misalnya pekerjaan membangun candi yang suci. Andika tidak perlu bekerja keras cukup kalau hanya mengawasi para pekerja mengangkut batu, atau membantu para seniman pemahat arca dan hiasan candi."
Sularko menggeleng kepalanya.
"Aku tidak pandai memahat arca, juga adikku ini tidak pandai apa-apa kecuali bekerja di ladang."
"Biarpun begitu, kami dapat menerima andika berdua bekerja kepada kami. Kami dapat mengajarkan sehingga engkau akan pandai memahat arca, dan adikmu dapat menjadi seorang yang bekerja di dapur. Kalian akan mendapatkan pakaian baru yang indah, pekerjaan tidak berat dan kalau malam ikut berpesta dengan kami. Kami menjanjikan penghidupan yang penuh dengan kesenangan untuk kalian. Marilah kalian tinggalkan ladang ini dan ikut bersama kami."
Sularko menjadi tak senang hatinya.
Wanita cantik genit itu seakan hendak memaksanya, membujuk-bujuk dengan janji muluk.
Dia sudah mendengar akan desas-desus bahwa siapa menolak untuk diajak bekerja membangun candi akan dikutuk.
Dia tidak takut.
"Sudahlah, harap andika tidak membujuk lagi. Bagaimanapun kami berdua tidak tertarik dan tidak mau bekerja membangun candi. Kami adalah keluarga petani dan pekerjaan kami di ladang atau di sungai,"
Katanya dan dia mulai memegang gagang paculnya pula. Ki Shiwananda mengerutkan alisnya yang tebal dan dia bangkit berdiri sambil menudingkan telunjuknya kepada Sularko.
"Orang muda, engkau sombong benar! Apakah engkau ingin hidupmu sengsara?"
Sularko menunda pekerjaannya dan balas memandang.
"Kami sudah berbahagia dengan kehidupan kami sebagai petani, kalau kami mengubah pekerjaan kami membangun candi, tentu kami hidup sengsara!"
"Kau... kau ...!"
Ki Shiwananda sudah menudingkan lagi telunjuknya, akan tetapi Ni Dewi Durgomala cepat bangkit berdiri mencegah dia bicara lebih lanjut.
"Sudahlah, biarkan mereka berpikir dulu. Eh, orang muda, biarlah kami memberi waktu kepada kalian berdua untuk berpikir mempertimbangkan penawaran kami. Malam nanti kami akan mengunjungi kalian di rumah kalian."
Sularko diam saja dan melanjutkan pekerjaannya menggali lubang.
Sawitri juga melanjutkan pekerjaannya, membiarkan dua orang itu pergi meninggalkan tempat itu.
Setelah mereka pergi jauh, barulah Sawitri menghentikan pekerjaannya dan berkata kepada Sularko.
"Kakang, siapakah dua orang tadi?"
"Aku sendiripun tidak mengenal mereka, Sawitri. Akan tetapi mendengar bujukan mereka, kukira mereka adalah orang-orang yang mendirikan candi baru itu."
"Kakang, aku takut melihat pandang mata mereka, terutama yang laki-laki tadi."
"Tidak perlu takut, Sawitri. Mereka boleh saja membujuk dengan janji yang manis dan muluk-muluk, akan tetapi kalau kita tidak mau, mereka tidak dapat memaksa kita."
"Akan tetapi aku tetap khawatir, kakang. Bukankah sebelum mereka pergi mereka mengatakan bahwa malam nanti mereka akan datang mengunjungi kita?"
"Mereka dapat berbuat apa? Jangan takut, aku akan melindungimu. Kalau mereka mengancam, kita dapat memukul kentongan memanggil para penduduk untuk mengeroyok mereka."
Biarpun dihibur oleh kakaknya, tetap saja Sawitri merasa gelisah.
Bayangan sepasang mata Ki Shiwananda itu seperti terus mengikutinya dan ia merasa ngeri.
Akan tetapi gadis ini tidak mengeluarkan kata-kata lagi dan melanjutkan pekerjaannya.
Setelah hari menjadi sore dan mereka sudah menyelesaikan pekerjaan mereka, kakak beradik itu pulang.
Di tengah perjalanan, Sularko memesan adiknya agar tidak menceritakan peristiwa kunjungan dua orang tadi kepada ibu mereka.
Dia khawatir kalau hal itu akan membuat ibu mereka gelisah.
Mbok Rondo Gati menyambut kedua anaknya dengan gembira.
Setelah menyuruh mereka mandi, ia lalu mengeluarkan hidangan makan malam yang sederhana untuk mereka.
Mereka bertiga lalu makan bersama dengan gembira.
Bukan main lezatnya hidangan sederhana itu bagi Sularko dan Sawitri yang sudah merasa lelah dan kelaparan setelah sehari bekerja di ladang.
Sejak sarapan pagi sebelum berangkat ke ladang, mereka tidak makan apa-apa lagi sampai sore.
Malam itu terang bulan.
Malam yang indah karena bulan muncul sepenuhnya.
Ramai suara anak-anak yang bermain di pelataran rumah sambil berdendang.
Suara banyak anak-anak bertembang "ilir-ilir"
Terdengar mengalun dan mengandung pengaruh aneh yang mendatangkan rasa haru.
Malam Respati (Kamis malam) yang indah akan tetapi juga menyeramkan.
Bau kembang dan kemenyan dibakar menambah keseraman malam itu.
Telah terjadi kepercayaan umum bahwa pada malam Respati seperti itu, para jin setan dan mahluk-mahluk halus lainnya keluar dari sarang mereka untuk mandi sinar bulan purnama yang memperkuat tubuh halus mereka dan berpesta sekenyangnya dalam asap kemenyan dan keharuman bunga setaman yang oleh manusia memang dihidangkan untuk mereka.
Setelah suara anak-anak bertembang menghilang, tanda bahwa anak-anak itu telah memasuki rumah masing-masing dan tidur, suasana menjadi hening.
Keheningan yang menghanyutkan manusia dalam lamunan yang ajaib.
Suara burung malam kini menggantikan tembang anak-anak, akan tetapi suara burung-burung hantu itu mendatangkan suasana yang mengerikan, seolah-olah suara itu menjadi pertanda bahwa akan datang suatu malapetaka bagi mereka yang mendengarnya.
Tak lama kemudian, terdengar sayup-sayup suara gamelan.
Suara ini datangnya dari candi yang sedang dibangun.
Tahulah para penduduk dusun Bulumanik bahwa di candi itu diadakan pesta seperti yang sering diadakan tiap Respati malam.
Tidak ada penduduk yang berani menonton keramaian itu karena pesta itu diadakan untuk para anggauta khususnya.
Di halaman depan candi itu dibuat panggung dan diatas panggung inilah orang-orang itu mengadakan pesta dengan iringan gamelan yang bertalu-talu.
Biasanya, dalam pesta itu terjadi pengangkatan anggauta baru.
Banyak sudah kau m muda, laki-laki dan perempuan yang sudah masuk menjadi anggauta agama baru penyembah Bathara Shiwa, Bathari Durgo, dan Bathara Kala itu.
Bukan hanya para anggauta agama baru yang berpesta, akan tetapi juga mereka yang bekerja membangun candi itu.
Para pekerja inipun otomatis telah menjadi anggauta mereka sehingga dalam waktu beberapa bulan saja sudah ratusan orang yang menjadi anggauta agama baru itu.
Pesta ini selain untuk memuja tiga dewa dewi itu, juga untuk memberi hiburan dan kesenangan kepada para anggautanya.
Di situ mereka diberi kesempatan untuk makan dan minum sepuasnya, juga ikut berpesta pora mengumbar nafsu secara bebas dalam keadaan mabok-mabokan.
Sambil minum tuak (minuman keras dari pohon aren) mereka berpesta pora dan diperbolehkan mencari pasangan masing-masing dan memuaskan nafsu mereka dengan bebas.
Malam itu, gamelan baru saja dibunyikan dan pesta belum dimulai.
Biasanya pesta baru dimulai kalau Ni Dewi Durgomala yang memimpin pesta itu sudah muncul bersama Ki Shiwananda yang dianggap sebagai puteranya.
Kalau kedua orang ini muncul, barulah dilakukan sembahyangan untuk mengundang Wasi Shiwamurti yang dianggap sebagai titisan Bathara Shiwa, yang datang pada setiap Respati malam di waktu bulan sedang purnama.
Hanya sebulan sekali Wasi Shiwamurti muncul di situ, sekalian untuk memeriksa hasil pembangunan candi yang pada hari-hari biasa dipimpin oleh Ni Dewi Durgomala dan Ki Shiwananda.
Malam itu, Ni Dewi Durgomala dan Ki Shiwananda belum muncul dan semua orang menantikan ke dua orang ini karena kemunculan mereka berarti pesta pora dimulai.
Sularko dan Sawitri juga mendengar suara gamelan yang menggantikan suara tembang anak-anak tadi.
Mereka merasa heran mendengar gamelan itu yang mengingatkan mereka akan pertemuan mereka dengan dua orang di ladang pagi tadi.
Sawitri yang merasa gelisah, tidak dapat tidur.
Setelah ibunya pulas, ia keluar dari kamar dan dilihatnya kakaknya juga belum tidur dan sedang duduk di ruangan depan.
Ia lalu duduk pula di dekat kakaknya.
"Engkau belum tidur, Sawitri?"
Sawitri menggeleng kepalanya.
"Engkau juga belum kakang? Aku tidak dapat tidur, suara gamelan itu terdengar mengerikan."
Biarpun hatinya sendiri merasa tidak tenang, namun Sularko menghibur adiknya.
"Ah, apanya yang mengerikan? "Gamelan itu adalah gamelan biasa, hanya lagunya yang asing bagi kita. Tidak ada yang mengerikan. Tidurlah, Sawitri. Apakah ibu sudah tidur?"
"Sudah, kakang. Justeru karena ibu sudah tidur dan aku belum, maka aku merasa seram dan melihat engkau duduk di sini, aku lalu datang mencari kawan."
Sularko tertawa.
"Ha-ha, engkau penakut benar, Sawitri. Apakah yang kau takutkan?"
"Entahlah, kakang. Aku seperti dapat firasat buruk, hatiku terasa berdebar tak menentu dan sepasang mata laki-laki tinggi besar itu seperti mengikuti aku terus."
"Itu hanya karena engkau membayangkan terus, Sawitri..."
Tiba-tiba Sularko menghentikan kata-katanya dan dia memandang ke arah pintu depan. Terdengar suara tawa lirih dari depan dan disusul suara seorang wanita yang merdu.
"Orang muda yang bagus, aku telah datang. Bukakan pintu rumahnya."
Suara itu segera disusul suara yang dalam dan berat.
"Perawan ayu, aku datang menjemputmu, bukalah pintunya."
Sawitri menggigil ketakutan dan ia lari mendekati kakaknya, bersembunyi di belakang tubuh kakaknya.
"Kakang, aku takut..."
Sularko adalah seorang pemuda pemberani, walaupun dua suara itu membuat tengkuknya meremang, namun dengan tabah dia lalu membentak ke arah luar.
"Kalian datang mau apa? Kami tidak membutuhkan kalian dan tidak ingin bertemu dengan kalian. Kalian pergilah dari sini!"
"Orang muda, namamu Sularko dan adikmu bernama Sawitri, bukan? Kami datang untuk mengajak kalian bersenang-senang. Bukalah pintunya dan biarkan kami bercakap-cakap dengan kalian."
"Tidak! Kalian pergilah, atau kami akan berteriak agar semua orang datang mengeroyok kalian!"
Kata pula Sularko, lalu dia melepaskan rangkulan Sawitri, yang ketakutan untuk mengambil sebuah arit yang berada di sudut ruangan.
Setelah memegang arit, Sularko menjadi tabah.
Suara Ki Shawananda terdengar pula.
"Bukalah pintunya, atau kami terpaksa menjebolnya."
"Kalau kalian berani menjebol pintu, kalian akan kubunuh!"
Sularko berteriak, penuh kemarahan dan tangannya memegang gagang arit dengan kuat.
Sawitri masih memegang lengan kakaknya dan bersembunyi di balik tubuh kakaknya.
Hening sejenak, kemudian terdengar suara keras.
"Brakkkk...!"
Daun pintu rumah itu jebol dan pada saat kedua orang itu muncul, Sawitri menjerit ketakutan.
Ni Dewi Durgomala menggerakkan kedua tangannya ke atas seperti menggapai kepada kakak beradik itu.
Tiba-tiba saja Sularko dan Sawitri merasa tubuhnya lemas dan kesadarannya hilang.
Mereka berdua terkulai lemas, seolah kedua kaki mereka tidak bertenaga lagi dan keduanya seperti terhuyung hendak jatuh.
Pada saat itu Ni Dewi Durgomala melompat ke depan dan merangkul tubuh Sularko, sedangkan Ki Shiwananda juga memeluk tubuh Sawitri dara itu juga tidak sampai jatuh.
Kemudian mereka memanggul tubuh kakak beradik yang sudah terkulai lemas itu dan membawanya keluar.
Pada saat itu, Mbok Rondo Gati yang mendengar jeritan Sawitri tadi, terbangun dari tidurnya dan tergopoh keluar kamar.
Ia sempat melihat kedua orang anaknya dipanggul dua orang yang tidak dikenalnya dan dibawa keluar.
Tentu saja ia menjadi kaget dan marah.
"Heii, tahan! Apa yang terjadi dengan anak-anakku? Hendak kalian bawa ke mana mereka?"
Ia mengejar.
Ni Dewi Durgomala membalikkan tubuhnya dan melihat seorang wanita setengah tua mengejar, ia lalu mendorongkan tangan kirinya ke arah Mbok Rondo Gati.
Bagaikan dilanda angin yang amat kuat tubuh janda itu terjengkang dan roboh.
Dadanya terasa sesak dan ketika ia merangkak dan berhasil berdiri, kedua orang anaknya yang dipanggul dua orang itu telah lenyap dari situ.
Hanya angin malam saja yang menerobos masuk melalui pintu yang telah jebol.
Mbok Rondo Gati menjerit-jerit dan menangis.
Ketika para tetangga datang, ia hanya dapat mengatakan bahwa kedua orang anaknya dibawa lari orang.
Akan tetapi ia tidak dapat bercerita dengan jelas bagaimana rupa orang-orang yang dikatakan menculik kedua orang anaknya.
Para tetangga menjadi ragu.
Rasanya sukar dipercaya ada dua orang dewasa diculik begitu saja oleh dua orang.
Padahal mereka semua tahu bahwa Sularko adalah seorang pemuda yang pemberani dan juga bukan pemuda lemah karena pernah mempelajari kanuragan.
Akan tetapi melihat daun pintu yang jebol mereka juga merasa heran sekali.
Para penduduk Bulumanik masih percaya sekali akan tahyul, maka para tetangga Janda Mbok Gati itu segera menduga bahwa yang dapat melakukan penculikan itu tentu sebangsa mahluk halus atau iblis.
Mereka lalu pulang dan bersembunyi di rumah masing-masing.
Dalam malam Respati seperti itu mereka semua percaya bahwa di luar banyak hantu dan setan gentayangan mencari korban, dan mereka percaya bahwa yang mendatangi rumah Mbok Rondo Gati tentulah sebangsa setan pula.
Mbok Rondo Gati yang ditinggal pergi para tetangganya, hanya dapat menangis.
Ia sendiri juga ketakutan dan percaya bahwa dua orang yang membawa pergi anak-anaknya tentulah sebangsa iblis.
Buktinya, hanya dengan gerakan tangan, wanita cantik yang memanggul tubuh Sularko membuat ia roboh terjengkang, ia menangis akan tetapi tidak berani keluar untuk mencari kedua orang anaknya.
Sementara itu, Ni Dewi Durgomala dan Ki Shiwananda membawa dua orang muda itu ke dalam ruangan belakang candi.
Ni Dewi Durgomala lalu mencekoki Sularko dan Sawitri dengan secawan minuman yang telah diramu dan dimantera sehingga kedua orang muda itu terbangun akan tetapi mereka seperti orang mimpi.
Mereka menurut saja apa yang dikehendaki dua orang itu dan ketika mereka diajak keluar dari ruangan itu menuju ke panggung di halaman depan, keduanya hanya menurut saja.
Kemunculan Ni Dewi Durgomala dan Ki Shiwananda disambut dengan meriah, dengan sorak sorai.
Semua orang bergembira karena kemunculan mereka ini menjadi pertanda bahwa pesta pora akan segera dimulai.
Ketika mereka melihat bahwa Sularko dan Sawitri, mereka yang berasal dari Bulumanik mengenal mereka dan menjadi gembira sekali, menganggap bahwa kedua orang muda itu sependapat dengan mereka dan mau masuk menjadi anggauta agama baru dan malam ini tentu akan diadakan upacara penerimaan mereka menjadi murid atau anggauta baru.
Maka mereka bersorak dengan gembira.
Sedikitnya ada se ratus orang anggauta agama baru itu berkumpul di situ.
Mereka adalah juga para pekerja yang membangun candi, dari para seniman pembuat arca dan pemahat yang pandai, sampai kuli-kuli angkut batu dan pelaksana pekerjaan berat lainnya.
Pada malam pesta seperti itu mereka diperlakukan sama.
Hal ini yang menggembirakan mereka.
Pada malam seperti itu biasanya mereka berpesta pora, makan berlimpah ruah dan mereka diperbolehkan mengumbar nafsu mereka.
Para anggauta itu bukan hanya laki-laki, akan tetapi juga banyak perempuannya.
Kesemuanya masih muda-muda dan berkulit bersih.
Bahkan banyak di antara mereka yang tampan dan cantik.
Di sudut panggung serombongan penabuh gamelan dan di atas panggung itu tampak tiga kursi.
Kursi yang tengah besar dan diukir indah, sedangkan dua kursi yang mengapitnya lebih kecil dan lebih sederhana bentuknya.
Ni Dewi Durgomala dan Ki Shiwananda naik ke panggung bersama Sularko dan Sawitri.
Pemuda dan pemudi ini tampak seperti domba yang jinak.
Kalau tadi mereka baru dibawa dari rumah mereka, keduanya seperti kehilangan semangat dan lesu, setelah diberi minum ramuan minuman seperti tuak itu, keduanya menjadi penurut dan menaati semua perintah Ni Dewi Durgomala dan Ki Shiwananda.
Mereka ikut naik ke panggung dan ketika Ni Durgomala dan Ki Shiwananda duduk dikursi yang mengapit kursi besar, Sularko dan Sawitri juga duduk di atas lantai panggung.
Malam itu tidak seperti malam Respati lainnya.
Pada malam Respati yang tidak disinari bulan purnama, pesta itu dilakukan oleh para anggauta dan dipimpin oleh dua orang tokoh agama baru itu.
Akan tetapi, khusus diwaktu malam terang bulan purnama, seperti pada bulan-bulan yang lalu, Wasi Shiwamurti sendiri akan muncul dan memimpin upacara dan pesta.
Para anggauta masih gaduh menyambut munculnya Sularko dan Sawitri.
Ni Dewi Durgomala lalu mengangkat tangannya ke atas sambil berdiri dari kursinya, memberi isyarat agar semua orang diam tidak membuat gaduh.
Semua terdiam dan suasana menjadi hening, bahkan gamelan juga dihentikan.
"Saudara-saudara para anggauta sekalian, anak-anakku yang berbahagia, seperti kalian dapat melihat sendiri, malam ini ada seorang pemuda dan seorang pemudi masuk menjadi anggauta kita. Dan pada malam hari ini, Sang Wasi Shiwamurti sebagai penjelmaan Sang Hyang Bathara Shiwa akan hadir dan memimpin sendiri upacara penerimaan murid dan pesta yang akan diadakan pada malam hari ini, untuk menyatakan syukur bahwa pembangunan candi berjalan lancar dan hampir selesai. Sekarang diminta kalian diam karena kami membutuhkan suasana hening untuk mengundang Yang Mulia Sang Wasi Shiwamurti datang ke tengah-tengah kita."
Seorang gadis cantik yang memang menjadi pembantu Ni Dewi Durgomala naik ke panggung membawa sebuah pedupaan di mana terdapat arang membara yang mengepulkan sedikit asap putih.
Setelah berjongkok di depan Ni Dewi Durgomala, gadis itu meletakkan pedupaan di atasi lantai panggung.
Ni Dewi Durgomala menerima sebungkus besar kemenyan dari gadis itu dan ia memberi isyarat agar gadis itu mundur!
Hanya ada Sularko dan Sawitri yang masih duduk bersimpuh di atas panggung depan Ni Dewi Durgomala dan Ki Shawananda, duduk tak bergerak bagaikan telah menjadi arca.
Ni Dewi Durgomala lalu membaca doa seperti orang berkidung yang terdengar aneh, makin lama semakin nyaring, kemudian ia mengambil kemenyan dan memasukkannya ke dalam bara api dipedupaan.
Asap putih yang tebal mengepul dari pedupaan, terus kemenyan itu ditambah sambil membaca mantera dan asap yang mengepul semakin tebal.
Tercium bau harum yang menyeramkan dari asap itu.
Semua orang membelalakkan mata karena mereka maklum, seperti yang biasa dilakukan setiap bulan purnama, Wasi Shiwamurti tentu akan datang memenuhi panggilan itu secara luar biasa.
Dan benar saja, tak lama kemudian tampak bayangan berkelebat dan muncullah seorang kakek berjubah pendeta yang usianya sudah enam puluh lima tahun, Berjenggot dan berkumis putih, memegang sebatang tongkat yang gagangnya terukir kepala naga, tahu-tahu telah duduk di atas kursi besar yang berada di tengah sambil tersenyum!
Ni Dewi Durgomala lalu menaburkan bunga mawar ke kaki Sang Wasi, sambil memberi hormat dan Ki Shiwananda juga memberi hormat dengan menyembah.
Semua anggauta memandang dengan kagum dan hormat disertai rasa takut karena bagi mereka Wasi Shiwamurti adalah titisan Sang Hyang Shiwa sendiri.
Dan mereka percaya bahwa Wasi Shiwamurti pandai menghilang dan melakukan segala macam kesaktian.
Wasi Shiwamurti lalu mengangkat tangan kanan ke atas sebagai tanda bahwa upacara dapat dimulai.
Segera para penabuh gamelan membunyikan gamelan mereka dan suasana mendadak menjadi meriah.
Seorang anggauta wanita yang cantik lalu naik ke panggung membawa seekor ayam jago putih, diikuti seorang anggauta lain yang membawa periuk dan pisau.
Pisau yang tajam berkilau itu diserahkan kepada Wasi Shiwamurti sambil berlutut oleh anggauta wanitai itu.
Wasi Shiwamurti lalu menggunakan pisau itu untuk menyembelih ayam jantan putih dan darahnya lalu ditampung ke dalam periuk tanah.
Kemudian datang lagi seorang anggauta membawa seguci besar yang terisi tuak, dan darah ayam itu dituangkan kedalam guci, bercampur dengan tuak.
Wasi Shiwamurti membaca mantera diatas guci itu, kemudian mulailah pesta minum-minum tuak yang sudah bercampur darah.
Mula-mula, Ni Dewi Durgomala yang menuangkan tuak darah itu dalam dua buah cawan, menyerahkan kepada Sularko dan Sawitri, menyuruh mereka meminumnya.
Dua orang yang sudah menjadi seperti boneka hidup itu, tanpa ragu lalu minum tuak itu sampai habis, diikuti sorak sorai para anggauta.
Setelah itu, setiap orang anggauta kebagian secawan tuak dan beramai-ramai mereka meminumnya.
Hidangan lalu dikeluarkan dan para anggauta mulai naik ke atas panggung dan mereka mulai makan minum, disaksikan oleh Wasi Shiwamurti, Ni Dewi Durgo mala dan Ki Shiwananda sambil tertawa-tawa.
Gamelan terus dipukul gencar.
Semua orang bergembira.
Tuak dituangkan dan diminum dan tak lama kemudian banyak di antara mereka menjadi mabok.
Ni Dewi Durgomala melaporkan kepada Wasi Shiwamurti tentang dua orang muda yang mulai malam itu masuk menjadi anggauta.
Wasi Shiwamurti mengangguk-angguk senang.
"Kuserahkan kepada andika berdua untuk melatih mereka agar menjadi anggauta yang setia dan baik,"
Kata Wasi Shiwamurti sambil tersenyum.
Dua orang muridnya itu mengangguk senang.
Setelah makan minum selesai dan semua bekas pesta disingkirkan dari panggung, mulailah kini pesta menari yang dimulai dengan tarian Ni Dewi Durgomala.
Wanita ini menari dengan indah dan liar, tersenyum-senyum dan ia menari di depan Wasi Shiwamurti yang menonton sambil tertawa-tawa senang, kadang kalau Ni Dewi Durgomala menari dekat, tangannya meraih dan membelai murid yang kadang juga menjadi kekasihnya itu.
Karena Wasi Shiwamurti menganggap dirinya titisan Bathara Shiwa, dan Ni Dewi Durgomala sebagai titisan Bathari Durgo, maka wanita itu dianggap sebagai isterinya.
Dan Ki Shiwananda yang menjadi putera angkat Wasi Shiwamurti dianggap sebagai titisan Sang Bathara Kala, putera Bathawa Shiwa.
Setelah menari beberapa lamanya, Ni Dewi Durgomala lalu berteriak kepada para anggautanya agar segera menari merayakan malam Respati bulan purnama itu.
Dan mulailah tari-tarian yang gila-gilaan.
Para anggauta wanita menari-nari, diikuti anggauta pria dan di panggung itu mereka menari berpasang-pasangan.
Dalam keadaan mabok-mabokan mereka menari.
Terjadi hal yang amat aneh, yaitu Sularko dan Sawitri yang tadinya seperti orang kehilangan semangat dan menurut saja, kinipun bangkit dan ikut pula menari!
Mereka menari sambil memejamkan mata, dengan tarian liar, asal melenggang-lenggok menurutkan irama gamelan yang dipukul gencar.
Karena mereka menari berpasangan dan liar dalam keadaan setengah mabok, sebentar saja nafsu mereka memuncak, bagaikan api membakar mereka semua dan mulailah terjadi perbuatan yang tidak sopan yang tidak terkendalikan lagi.
Mereka itu, laki-laki dan perempuan, mulai saling berangkulan, berciuman dan saling belai.
Dan berpasang-pasangan mereka mulai turun dari panggung dan sambil menari-nari mereka pergi menjauhkan diri, mencari tempat-tempat sunyi dan gelap, membiarkan nafsu berahi menggulung dan menelan mereka.
Melihat ini, Wasi Shiwamurti lalu melempar kemenyan di atas pedupaan dan selagi asap mengepul tebal, diapun menghilang di balik asap.
Ni Dewi Durgomala lalu menghampiri Sularko yang masih menari-nari, menggandeng pemuda itu, mengajaknya menari bersama kemudian mereka berduapun turun dari panggung dan masuk ke bagian belakang candi di mana terdapat kamar Ni Dewi Durgomala.
Demikian pula Ki Shiwananda.
Raksasa ini menari dan menuntun Sawitri menuruni panggung.
Sawitri yang seperti mabok itu hanya tertawa dan menurut saja ketika tangannya digandeng dan ia digiring masuk ke dalam kamar Ki Shiwananda yang berada di belakang candi pula.
Inilah yang menarik banyak orang muda untuk memasuki perkumpulan agama baru itu.
Ada pesta pora, ada mabok-mabokan lalu terjadi permainan cinta yang liar di antara mereka, dapat memilih pasangan masing-masing dan dalam keadaan mabok mereka menenggelamkan diri ke dalam lautan nafsu berahi dan melampiaskan nafsu sepuas-puasnya.
Bagaikan sebuah boneka hidup, Sularko menurut saja segala kemauan Ni Dewi Durgomala.
Dia bagaikan telah kehilangan kesadarannya karena pengaruh minuman keras, juga karena ilmu sihir dan guna-guna yang dikerahkan wanita itu untuk menundukkannya.
Tentu saja Ni Dewi Durgomala girang bukan main dan wanita iblis ini berpelesir sampai pagi, bersenang-senang tanpa ada yang menghalanginya.
Selama semalam Sularko memenuhi semua permintaan atau perintah Ni Dewi Durgomala seperti orang yang telah kehilangan pribadinya, bahkan akal pikirannya sudah tidak dapat dipergunakan lagi.
Semua terjadi seperti mimpi yang tidak dapat dikuasainya.
Akan tetapi menjelang pagi, ketika Ni Dewi Durgomala yang telah kelelahan itu tertidur, berangsur-angsur lenyaplah kekuasaan yang mencengkeram dan mempengaruhi batin Sularko dan diapun mulai sadar akan keadaan dirinya.
Tentu saja dia menjadi amat terkejut dan menyesal.
Dengan hati-hati dan cepat dia membereskan pakaiannya dan meninggalkan Ni Dewi Durgomala yang masih tertidur.
Sularko teringat akan adiknya.
Secara samar-samar, seperti dalam mimpi, dia kini teringat kembali betapa dia dan adiknya berada di rumah mereka dan akan kedatangan dua orang, yaitu Ni Dewi Durgomala dan seorang laki-laki seperti raksasa.
Dia khawatir sekali akan keadaan adiknya.
Kalau dia dibawa ke tempat ini tanpa diketahui, tentu adiknyapun dibawa ke sini pula.
Dia lalu menyelinap keluar dari kamar itu dan mendapat kenyataan bahwa dia berada di bagian belakang dari candi yang sedang dibangun.
Dia menjadi bingung.
Terdapat beberapa buah kamar di situ dan dia tidak tahu di kamar mana adiknya berada.
Dia tahu bahwa tempat itu amat berbahaya dan di situ terdapat banyak orang sakti, maka dia tidak berani sembarangan membuka pintu kamar-kamar itu.
Sementara itu, keadaan Sawitri tidak banyak bedanya dengan keadaan kakaknya, Sularko.
Bahkan sebagai seorang wanita muda, keadaan Sawitri lebih parah lagi.
Seperti juga dengan Sularko, Sawitri sama sekali tidak sadar akan apa yang dilakukannya.
Ia hanya taat dan menurut saja apa yang dikehendaki Ki Shiwananda darinya.
Iapun berada di bawah pengaruh sihir dan minuman yang mengandung obat pembius.
Seperti juga Ni Durgomala, setelah kelelahan Ki Shiwananda tertidur pulas dan sedikit demi sedikit Sawitri mendapatkan kembali kesadarannya.
Dapat dibayangkan betapa kaget dan sedih hatinya ketika ia mendapat kenyataan tentang dirinya yang sudah ternoda.
Dengan menahan rasa sakit di badan dan hati, Sawitri yang melihat Ki Shiwananda sedang tidur mendengkur, segera membereskan pakaiannya, ia melihat sebatang keris tergantung di dinding.
Dengan hati-hati diambilnya keris itu, kemudian ia menghampiri Ki Shiwananda yang sedang tidur, kemudian dengan segala kebencian yang terkandung di hatinya, ia menusukkan keris itu pada dada raksasa yang telah merusak kehormatan dirinya itu.
"Wuuutt... takk...!!"
Sawitri terkejut sekali.
Keris itu tidak dapat menembus kulit dada yang tebal dan kebal itu.
Bahkan Ki Shiwananda terbangun dari tidurnya.
Melihat Sawitri memegang keris terhunus dan hendak menusuknya lagi, dia menjadi marah sekali.
Tangan kirinya menampar, mengenai tangan Sawitri yang memegang keris sehingga keris itu terlepas dari tangannya dan terlempar ke atas lantai.
"Jahanam! Berani engkau mencoba membunuhku!"
Ki Shiwananda melompat bangun dan dengan langkah lebar dia menghampiri Sawitri.
Gadis yang marah akan tetapi juga ketakutan ini menjerit pada saat tangan yang besar itu menyambar dan mengenai kepalanya.
Tubuhnya terputar dan terbanting keras ke atas lantai dan Sawitri tidak dapat bangun kembali.
Kepalanya retak terkena hantaman tangan Ki Shiwananda.
Pada saat itu, Sularko berada di luar pintu kamar itu.
Terkejut sekali dia ketika mendengar jerit adiknya.
Dengan nekat dia lalu mendobrak daun pintu sehingga terbuka.
Dia melihat Ki Shiwananda dengan pakaian tidak karuan berdiri marah dan Sawitri menggeletak di atas lantai, tak dapat gerak lagi.
"Sawitri...!"
Sularko memekik dan menubruk adiknya.
Diangkatnya kepala adiknya dan ketika dia melihat bahwa adiknya telah tewas dengan kepala mengeluarkan darah, dia menjadi marah bukan main.
Lupa akan kekuatan sendiri, Sularko merebahkan kembali adiknya dan dia lalu meloncat dan menyerang Ki Shiwananda dengan pukulan tangan kanannya.
Pukulan itu keras sekali karena Sularko yang amat marah itu mengerahkan seluruh tenaganya.
Kepalan tangan kanannya menghantam dada Ki Shiwananda.
"Bukk...!"
Tangan Sularko terasa nyeri dan terpental seolah dia memukul dinding baja.
Sebelum dia dapat menyerang lagi, Ki Shiwananda yang sudah marah telah menggerakkan tangannya, dihantamkan ke arah kepala Sularko.
"Wuuuuuttt... prakkkk!"
Sekali pukul saja retaklah kepala Sularko dan tubuhnya terpelanting.
Robohlah Sularko di dekat tubuh adiknya yang sudah menjadi mayat dan diapun tewas seketika!
Mendengar suara ribut-ribut, Ni Dewi Durgomala berlari keluar dari kamarnya dan memasuki kamar Ki Shiwananda.
Melihat pemuda dan gadis yang semalam menjadi permainan mereka itu menggeletak di atas lantai dan tewas, ia menegur Ki Shiwananda.
"Apa yang kau lakukan ini?"
"Terpaksa kubunuh mereka, gadis ini mencoba untuk menyerangku dengan kerisku, dan pemuda itu masuk kamar dan memukulku,"
Jawab Ki Shiwananda dengan pendek dan masih marah.
"Ah, engkau terburu nafsu. Sekarang cepat bawa mereka keluar dan lemparkan ke Kali Mayang!"
Karena malam itu baru menjelang pagi dan suasana masih sunyi sekali, Ki Shiwananda cepat mengangkat dua buah mayat itu dan membawanya keluar dari candi.
Dia menggunakan ilmunya berlari cepat dan sebentar saja ketika fajar mulai menyingsing, dia sudah tiba di tepi Kali Mayang.
Dia lalu melemparkan dua mayat itu ke dalam sungai dan dua mayat itu hanyut.
Setelah melihat dua mayat itu hanyut, Ki Shiwananda lalu cepat kembali ke Bulumanik dan masuk ke dalam candi.
"Bagaimana?"
Tanya Ni Dewi Durgomala.
"Sudah beres, mereka sudah hanyut di sungai,"
Jawab Ki Shiwananda puas.
"Hemm, lain kali engkau harus lebih dapat menahan diri. Sejauh ini kita belum pernah membunuh secara langsung seperti itu. Kalau ada orang lain mengetahui, sungguh tidak enak sekali."
"Aku menjadi mata gelap ketika mereka berani menyerangku,"
Ki Shiwananda membela diri.
"Biasanya, tidak ada yang bersikap seperti dua orang muda itu."
Ni Dewi Durgomala menghela napas panjang.
"Itulah yang membuat mereka menjadi istimewa. Sayang kita lalai sehingga tidak mengikat kesadaran mereka lebih jauh sehingga mereka mendapatkan kesadaran dan mencoba untuk menyerangmu. Pemuda-pemuda lain kalau sadar lalu menjadi jinak seperti domba dan menjadi anggauta yang baik."
"Demikian pula gadis itu. Coba pikir, ia berani menyerangku dengan kerisku sendiri.Untung aku keburu sadar dan dapat mengerahkan aji kekebalan pada saat ia menusuk dadaku. Karena marah aku menamparnya, akan tetapi terlalu kuat sehingga ia tewas seketika. Biasanya, para gadis lain yang sudah melayani aku tidak bersikap seperti gadis itu. Dan pemuda itu agaknya hendak membela adiknya dan menyerangku, terpaksa pula kurobohkan dia dengan pukulan."
"Sudahlah, yang sudah terlanjur tak dapat diubah. Akan tetapi selanjutnya agar engkau berhati-hati, jangan sembarangan membunuh secara langsung seperti itu. Kalau sampai ada yang mengetahui, tentu akan berkurang atau bahkan hilang kepercayaan mereka kepada kita dan kita tentu akan mendapat teguran keras dari Bapa Guru Wasi Shiwamurti."
Setelah matahari mulai naik, kedua orang itu sudah sibuk lagi memimpin para pekerja yang membangun candi.
Tidak ada yang tahu bahwa pagi tadi telah terjadi pembunuhan keji yang dilakukan oleh Ki Shiwananda, orang yang mereka anggap sebagai pembantu Ni Dewi Durgomala.
Sementara itu, Mbok Rondo Gati yang kehilangan dua orang anaknya, setelah pagi menggantikan malam, baru berani keluar.
Ia menangis dan menceritakan kepada para tetangganya tentang dua orang anaknya yang dibawa pergi seorang laki-laki dan seorang wanita yang dapat bergerak seperti iblis cepatnya.
Para tetangga tidak ada yang dapat menduga siapa yang melakukan penculikan itu, hanya menduga bahwa tentu iblis sendiri yang datang mengganggu.
Dengan bingung dan sambil menangis, Mbok Rondo Gati lalu keluar dari rumahnya dan pergi mencari-cari kedua anaknya, bertanya-tanya kepada siapa saja kalau-kalau ada yang melihat dua orang anaknya.
Akhirnya ia pergi ke candi yang baru dibangun dan di situ ia mendapat keterangan dari seorang pemahat arca bahwa semalam kedua anaknya ikut berpesta di candi itu.
Mbok Rondo Gati merasa girang sekali mendengar ini.
"Akan tetapi kenapa mereka sampai sekarang belum pulang? Di manakah kedua orang anakku itu?"
"Kami tidak tahu bibi, mungkin kalau bibi bertanya kepada Ni Dewi, ia akan dapat memberitahu kepada bibi ke mana perginya dua orang anak bibi itu."
Orang itu lalu bekerja lagi dan tidak memperhatikan lagi kepada Mbok Rondo Gati.
Wanita yang kehilangan anaknya itu lalu bertanya-tanya di mana ia dapat menemui Ni Dewi, dan akhirnya ia diberitahu bahwa Ni Dewi berada di bagian belakang candi dan sedang memberi petunjuk kepada para pekerja yang mengerjakan ukir-ukiran pada batu relief, ia pergi ke belakang candi dan benar saja, di situ ia dapat bertemu dengan Ni Dewi Durgomala.
Mbok Rondo Gati memandang wanita itu dengan mata terbelalak dan alis berkerut.
Ia merasa ragu-ragu.
Wanita yang semalam memanggul Sularko mirip wanita ini, akan tetapi juga ada perbedaannya.
Kalau yang semalam bersikap mengerikan, yang sekarang berhadapan dengannya itu merupakan seorang wanita yang ramah, murah senyum dan lemah lembut.
(Lanjut ke
Jilid 07) Sepasang Garuda Putih (seri ke 05 -Serial Keris Pusaka Sang Megatantra) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo
Jilid 07
"Bibi mencari siapakah?"
Ni Dewi, Durgomala yang di antara para pekerja dan para anggauta disebut Ni Dewi saja, bertanya sambil tersenyum manis.
"Saya... saya mencari dua orang anak saya, yang laki-laki bernama Sularko dan yang perempuan bernama Sawitri. Saya mendengar bahwa malam tadi mereka ikut pesta di sini."
Kata Mbok Rondo Gati dengan suara penuh harap akan tetapi juga lirih karena merasa segan berhadapan dengan wanita yang pandang matanya amat berwibawa itu.
Ni Dewi Durgomala mengerutkan sepasang alisnya yang hitam panjang dan berkata.
"Sularko dan Sawitri? Aha, aku ingat sekarang. Mereka adalah dua orang kakak beradik yang menjadi anggauta baru perkumpulan kami. Memang benar, bibi, mereka semalam ikut berpesta dengan kami."
Bukan main girang dan leganya hati Mbok Rondo Gati mendengar keterangan ini.
"Den ajeng, di mana adanya mereka sekarang? Semalam mereka tidak pulang,"
Tanyanya. Ni Dewi Durgomala mengerutkan alisnya dan memandang heran.
"Tidak pulang? Akan tetapi pagi tadi mereka sudah meninggalkan tempat ini, seperti para anggauta lain, kecuali mereka yang bekerja di sini."
"Sudah meninggalkan tempat ini? Akan tetapi mengapa mereka tidak pulang?"
"Barangkali ketika andika ke sini, mereka sudah sampai di rumah, bibi. Kami tidak tahu, akan tetapi mereka pagi tadi sudah meninggalkan tempat ini,"
Setelah berkata demikian, Ni Dewi Durgomala menoleh kepada para pekerja dan memberi petunjuk ini itu, seolah memberi tanda kepada Mbok Rondo Gati bahwa ia sedang sibuk bekerja dan bahwa kehadiran wanita setengah tua itu hanya mengganggu saja.
Mendengar jawaban itu, Mbok Rondo Gati timbul pula harapannya.
Mungkin saja kedua anaknya itu sudah pulang sekarang.
Maka ia mengucapkan terima kasih dan segera meninggalkan tempat itu.
Bergegas ia pulang ke rumahnya dengan harapan akan melihat kedua orang anaknya sudah pulang, begitu tiba di rumah, ia sudah memanggil-manggil sambil berlari masuk.
"Sularko...! Sawitri...! Di mana kalian?"
Akan tetapi, biarpun ia sudah mencari sampai ke dapur dan kebun belakang, ia tidak melihat kedua orang anaknya itu.
Tentu saja harapan tipis itu segera membuyar lagi dan ia mulai menangis lagi sambil meratap, memanggil-manggil kedua orang anaknya.
Akan tetapi tidak ada yang menjawab.
Kini tidak ada tetangga yang datang menjenguknya.
Mereka semua sudah pergi bekerja, ke sawah ladang atau ke sungai mencari ikan.
Mbok Rondo Gati tidak dapat berbuat apa-apa kecuali menangis.
Hendak mencari, harus dicari ke mana?
Ia tadi sudah mencari di seluruh pelosok Bulumanik.
Ia menangis terus sampai hari menjadi siang, air matanya sudah habis dan ia menjadi bingung tidak tahu harus berbuat apa.
Ia lupa makan, lupa segala, kadang duduk, kadang berdiri atau merebahkan diri di atas bale-bale sambil terus menangis.
Tiba-tiba ia mendengar suara memanggilnya dari luar rumah.
"Mbok Rondo Gati! Mbok Rondo Gati!"
Mendengar ada suara orang memanggilnya, ia cepat keluar.
Biarpun tubuhnya terasa lemas karena sejak semalam ia tidak makan atau minum dan hatinya yang sedih dan gelisah membuat tubuhnya lemas sekali, namun kini ia bangkit dan berlari keluar, muncul harapannya akan mengetahui di mana adanya kedua anaknya.
Setibanya di luar rumah, ia melihat seorang pemuda kawan Sularko berdiri dengan muka pucat dan mata terbelalak.
"Mbok Rondo Gati, aku... aku melihat Sularko dan Sawitri...!"
Tentu saja wanita setengah tua itu menjadi girang sekali, ia lari menghampiri pemuda itu dan memegang lengannya.
"Di mana? Di mana engkau melihat mereka?"
"Aku... aku... ah...!"
Pemuda itu menggagap dan agaknya sukar sekali bicara. Mbok Rondo Gati menjadi bingung.
"Kenapa? Ada apa? Mari minumlah dulu, engkau kelihatan begitu tegang."
Ia menuntun pemuda itu memasuki rumah dan menyerahkan sebuah kendi.
Pemuda itu menerima kendi dengan kedua tangan menggigil lalu dia menuangkan air dari mulut kendi ke dalam mulutnya yang ternganga.
Setelah minum air kendi, pemuda itu tampak lebih tenang dan dia meletakkan kendi kembali ke atas meja dan memandang kepada Mbok Rondo Gati.
"Nah, sekarang ceritakan di mana engkau melihat kedua anakku itu,"
Kata Mbok Rondo Gati. Pemuda itu menghela napas panjang, dua kali, memandang wajah wanita itu dan mulai bercerita.
"Begini, Mbok Rondo, tadi pagi-pagi sekali aku sudah mendayung perahuku ke hilir sungai dan menjala ikan. Sialnya aku tidak berhasil, maka aku terus mendayung perahuku ke hilir, mencari tempat sepi untuk mendapatkan ikan lebih banyak. Kemudian tadi... aku melihat ada dua benda terapung di sungai... dan ketika aku mendayung perahuku mendekat... kulihat... kulihat dua benda terapung itu adalah Sularko dan Sawitri... sudah menjadi mayat..."
Mbok Rondo Gati mengeluarkan suara jeritan yang menyayat hati dan iapun jatuh pingsan!
Tentu saja pemuda itu menjadi bingung, mengguncang-guncang dan memanggil-manggil Mbok Rondo Gati.
Akhirnya Mbok Rondo Gati siuman dari pingsannya dan ia lalu menangis lagi dengan sedihnya.
"Apakah engkau sudah membawa mereka ke tepi sungai?"
Tanyanya memelas dengan suara lirih. Pemuda itu menggeleng kepalanya.
"Aku seorang diri, Mbok. Dan saking takut dan tegang hatiku, aku lalu mendayung perahuku kuat-kuat untuk kembali dan cepat memberitahu kepadamu. Aku belum memberitahu kepada siapapun juga kecuali kepadamu."
Wanita itu menangis lagi.
"Ah, mengapa tidak kau bawa ke tepi? kau biarkan mereka hanyut terus...?"
Mbok Rondo Gati lalu mengajak pemuda itu ke sungai. Iapun memiliki sebuah perahu, yang biasa dipergunakan Sularko untuk mencari ikan.
"Hayo tunjukkan kepadaku dimana engkau milihat mereka,"
Katanya dan iapun mengikuti perahu pemuda itu ke hilir.
Akan tetapi, tentu saja mereka tidak menemukan dua jenazah yang hanyut itu, entah sudah sampai di mana.
Mungkin saja sudah sampai di Laut Kidul.
Saking bingung dan takutnya karena ditanya terus oleh Mbok Rondo Gali, pemuda itu lalu kembali ke Bulumanik untuk minta bantuan orang-orang mencari dua jenazah itu.
Sedangkan wanita itu melanjutkan sendiri pencariannya.
Akan tetapi ia tidak berhasil menemukan dua mayat anaknya itu, dan Mbok Rondo Gati terus mendayung hilir mudik sambil menangis dan kadang seperti orang yang sudah berubah pikirannya, ia memanggil-manggil nama kedua anaknya.
"Sularko...! Sawitri... Di mana kalian, anak-anakku...?"
Ia memanggil-manggil. Tiba-tiba ada suara dari tepi sungai.
"Mbok, ada apakah, mbok?"
Mbok Rondo Gati menoleh dan memandang ke arah tepi sungai dan wajahnya tiba-tiba berseri, matanya terbelalak dan mulutnya tersenyum.
"Sularko! Sawitri! Anak-anakku...!"
Dan dengan cepat ia mendayung perahunya ke tepi sungai di mana berdiri sepasang orang muda itu. Setelah tiba di pantai, ia meninggalkan perahunya dan lari ke arah dua orang muda.
"Sawitri anakku...!"
Ia menjerit dan menubruk, merangkul gadis itu.
Gadis itu terheran-heran, akan tetapi ia membiarkan wanita itu merangkul dan menciumnya.
Ia merasa terharu sekali.
Pemuda itu menyentuh pundak Mbok Rondo Gati sambil berkata.
"Mbok, tenanglah, mbok dan waspadakan siapa sebetulnya kami berdua."
Suara pemuda itu lembut sekali. Mbok Rondo Gati melepaskan rangkulannya dari gadis itu dan kini ia merangkul pemuda itu sambil menangis.
"Sularko... anakku Sularko...!"
Pemuda itu membiarkan dirinya dipeluk, akan tetapi dia mengusap ke arah dahi wanita tua itu dan berkata lagi dengan suara lembut.
"Mbok, sadarlah, mbok. Kami bukan anak-anakmu."
Mbok RondoGati tampak terkejut, memandang wajah pemuda yang tersenyum lembut itu, lalu melepaskan rangkulannya dan mundur tiga langkah.
Kemudian ia menoleh ke arah gadis itu, matanya penuh keheranan dan juga kekagetan, digosok-gosoknya kedua matanya dengan punggung tangan akan tetapi matanya yang merah dan basah itu tidak menipunya.
Yang berdiri di depannya memang seorang gadis dan seorang pemuda yang sebaya kedua anaknya, yang bentuk tubuhnya juga sama, akan tetapi jelas mereka itu bukan anak-anaknya.
Pemuda itu seorang pemuda tampan berpakaian serba putih, dan gadis itupun berpakaian serba putih akan tetapi bukan Sawitri.
Tubuhnya seketika menjadi lemas, ia terhuyung dan tentu sudah terpelanting jatuh kalau saja gadis itu tidak dengan cepat merangkulnya.
Gadis itu adalah Retno Wilis dan pemuda itu adalah Bagus Seto.
Seperti telah kita ketahui, Bagus Seto dan Retno Wilis naik perahu bersama Harjadenta menuju ke hilir.
Harjadenta dalam usahanya mencari keris pusaka Ki Carubuk milik gurunya yang hilang dicuri orang dan menurut gurunya dia harus mencari sampai ke muara Kali Mayang.
Adapun Retno Wilis dan Bagus Seto ikut naik perahu itu karena mereka hendak kembali ke pantai laut Kidul untuk melanjutkan perjalanan mereka ke timur.
Ketika perahu sudah mendekati muara Kali Mayang, tepat pada pertemuan antara Kali Mayang dan Kali Sanen, Bagus Seto berkata kepada Harjadenta.
"Adimas Harjadentra, kurasa sudah cukup sampai di sini saja kami mendarat dan melanjutkan perjalanan kami dengan jalan kaki. Engkaupun harus melakukan penyelidikanmu sampai kemuara Kali Mayang, bukan?"
"Betul, kakangmas. Akan tetapi aku tidak tahu ke mana aku harus melakukan penyelidikan di tempat sunyi ini,"
Kata Harjadenta yang tiba-tiba merasa sedih karena harus berpisah dengan kakak beradik itu, terutama harus berpisah dari Retno Wilis.
Akan tetapi biarpun dia berkata demikian, dia mendayung perahunya ke pinggir seperti yang diminta oleh Bagus Seto.
Pada saat kakak beradik itu mendarat itulah mereka mendengar tangis Mbok Rondo Gati yang naik perahu seorang diri.
Bagus Seto lalu menegur wanita malang itu.
Harjadenta juga belum menengahkan perahunya lagi, dan mereka belum sempat berpamitan.
Dia juga tertarik sekali melihat wanita yang menangis dan yang mengira Bagus Seto dan Retno Wilis anaknya, maka Harjadenta juga ikut mendarat dan mengikat perahunya pada sebatang pohon.
Dia lalu menghampiri dan melihat wanita itu pingsan dalam rangkulan Retno Wilis.
"Ia kenapakah, diajeng Retno?"
Tanyanya sambil menghampiri.
"Kami belum tahu, akan tetapi ia pingsan setelah mengetahui bahwa kami bukan anak-anaknya. Kasihan sekali orang ini."
Retno Wilis lalu merebahkan tubuh wanita itu di atas rumput.
Bagus Seto memijit-mijit tengkuk Mbok Rondo Gati dan wanita itupun siuman dari pingsannya.
Tubuhnya amat lemah karena sehari semalam ia sama sekali tidak makan atau minum dan terus-menerus menangis.
Kini begitu siuman dari pingsannya dan melihat tiga orang muda berjongkok di dekatnya.
Ia memandang mereka lalu matanya mencari-cari, ia bangkit dan bertanya.
"Di mana mereka?"
"Mereka siapa? Andika mencari siapa, Mbok?"
Tanya Retno Wilis.
"Anakku... anak-anakku, Sularko dan Sawitri, di manakah mereka? Ya Gusti... kalau mereka benar-benar sudah mati, di mana mayat mereka? Kalau masih hidup, di mana mereka?"
Wanita itu kembali menangis teringat akan cerita pemuda yang mengabarkan bahwa dia melihat mayat Sularko dan Sawitri.
"Tenanglah, mbok, dan ceritakan kepada kami apa yang terjadi dengan anak-anakmu. Siapa andika dan di mana andika tinggal dan apa yang terjadi dengan mereka berdua?"
Harjadenta ikut bertanya karena hatinya tertarik sekali.
Dia tahu bahwa gurunya adalah seorang Empu yang sakti dan gurunya itu menyuruh dia mencari jejak pencuri di tempat itu.
Siapa tahu ada hubungan antara peristiwa wanita kehilangan anak-anaknya ini dengan hilangnya Ki Carubuk.
Mendengar ucapan orang-orang muda yang tenang sabar itu, Mbok Rondo Gati merasa agak tenang juga.
Setelah menyusut air matanya yang hampir kering, iapun bercerita.
"Saya adalah Mbok Rondo Gati dari Bulumanik, kademangan di hulu sana. Saya mempunyai dua orang anak bernama Sularko dan Sawitri, yang usianya sebaya dengan andika bertiga. Malam tadi... malam yang menyeramkan... saya melihat dua orang anak saya itu diculik orang... eh, diculik mahluk halus."
"Diculik makhluk halus? apa maksudmu, mbok?"
Tanya Retno Wilis penasaran sekali.
"Saya melihat sendiri Sularko dipanggul seorang wanita cantik dan Sawitri dipanggul seorang laki-laki seperti raksasa. Ketika saya berteriak wanita itu hanya menggerakkan tangan ke arah saya dan saya terjengkang seperti disambar halilintar. Mereka lalu lenyap membawa kedua oranganak saya itu..."
Wanita itu mulai menyusuti air matanya lagi yang sudah jatuh bercucuran.
"Tenanglah, mbok. Kami bertiga akan membantu. Lalu bagaimana lanjutan ceritamu?"
Tanya Bagus Seto dengan lembut.
"Semalam saya menangis, tidak berani keluar karena malam tadi malam Respati terang bulan purnama. Saya takut kepada setan-setan yang berkeliaran di luar rumah. Baru tadi pagi saya keluar dari rumah dan mencari-cari anak saya sampai ke seluruh pelosok kademangan Bulumanik."
"Lalu?"
Desak Retno Wilis yang tertarik sekali oleh cerita itu.
"Saya tidak dapat menemukan mereka. Lalu saya datang ke candi yang baru dibangun. Seperti biasa, pada malam Respati di candi itu diadakan pesta pada malam harinya dan saya mencari ke situ kalau-kalau kedua orang anak saya berada di sana. Dari beberapa orang pekerja di candi itu saya mendapat kabar bahwa semalam memang kedua anak saya ikut berpesta, katanya mereka menjadi anggauta-anggauta baru agama itu."
"Hemm, agama apakah itu, mbok?"
"Saya sendiri tidak tahu, hanya kabarnya, agama baru itu didukung oleh Ki Demang dan kabarnya yang disembah adalah arca Bathara Shiwa, Bathari Durgo, dan Bathara Kala..."
Retno Wilis dan Bagus Seto saling pandang dan mereka menjadi tertarik sekali.
Mereka berdua sudah pernah mengalami bentrok dengan tokoh-tokoh penyembah tiga bathara dan bathari itu.
Harjadenta yang belum mempunyai pengalaman mengenai agama baru itu, bertanya.
"Lalu bagaimana, mbok?"
"Saya lalu pergi menemui pimpinan agama itu yang disebut Ni Dewi, akan tetapi ia mengatakan bahwa memang semalam kedua anak saya ikut berpesta, akan tetapi pagi tadi telah pergi lagi seperti para anggauta lain yang tidak ikut bekerja membangun candi."
"Kalau begitu, kedua anakmu tentu masih selamat dan yang perlu kita ketahui, ke mana mereka pergi,"
Kata Retno Wilis. Tiba-tiba wanita itu menangis lagi.
"Ada berita buruk sekali... aduh Gusti... kuatkanlah hamba..."
"Tenang, mbok. Ceritakanlah kepada kami apa yang terjadi selanjutnya,"
Kata Bagus Seto dan suara pemuda itu menenangkan hati Mbok Rondo Gati.
"Ketika saya sedang bingung dan berada di rumah karena tidak tahu harus mencari ke mana, tiba-tiba datang seorang pemuda dusun, seorang kawan dari Sularko. Dia memberitahu kepada saya bahwa ketika dia sedang mencari ikan, dia melihat mayat kedua orang anakku terapung di tengah sungai...! Saya sudah mencari-carinya, akan tetapi tidak dapat saya temukan..."
"Kenapa ketika pemuda itu melihat mayat anak-anakmu, dia tidak mengambilnya?"
Tanya Retno Wilis.
"Dia bilang... dia kaget dan ketakutan, karena seorang diri, dan dia cepat-cepat mendayung perahunya untuk memberitahu kepada saya."
"Jadi mbok tadi sedang mencari-cari kedua orang anak yang dikabarkan sudah mati itu ketika mendengar Kami memanggil?"
Mbok Rondo Gati mengangguk.
"Saya sudah hampir gila, ketika andika berdua memanggil, saya kira andika adalah Sularko dan Sawitri anak saya, maka... maafkanlah saya..."
"Mbok, apakah keterangan pemuda, kawan anak andika itu boleh dipercaya kebenarannya?"
Mbok Rondo Gati menghapus air matanya dan mengangguk.
"Dia sahabat Sularko, dia pasti tidak berbohong walaupun saya mengharap mudah-mudahan keterangannya tentang kematian anak saya tidak benar."
"Sudahlah, mbok. Sekarang sebaiknya mbok pulang saja dan kami bertiga yang akan melakukan penyelidikan dan mencari ke mana hilangnya kedua orang anakmu itu."
Retno Wilis membujuk.
Akhirnya Mbok Rondo Gati menurut nasihat itu dan Retno Wilis naik perahu janda itu, sedangkan Bagus Seto kembali naik perahu Harjadenta.
Mereka berempat lalu mendayung perahu untukkembali ke Bulumanik.
Untuk sementara tiga orang muda perkasa itu tinggal mondok di rumah Mbok Rondo Gati dan hal ini merupakan hiburan besar bagi janda yang berduka kehilangan dua orang anaknya itu.
Tiga orang muda yang berjanji untuk menyelidiki hilangnya dua orang anaknya itu mendatangkan harapan dalam hatinya.
Akan tetapi harapan untuk bertemu kembali dengan dua orang anaknya sudah hilang ketika Bagus Seto mengundang pemuda yang mengabarkan akan adanya dua mayat anak Mbok Rondo Gati dan pemuda itu menyatakan dengan sumpah bahwa dia tidak berbohong.
Mbok Rondo Gati hanya mengharapkan untuk dapat mengetahui siapa yang menculik anaknya dan siapa pula yang membunuhnya.
Maka ia melayani tiga orang muda itu dengan baik, memasakkan makan dan minum sederhana untuk mereka.
Malam itu mereka bertiga berunding.
"Biar malam ini aku sendiri yang mengadakan penyelidikan ke candi yang baru dibangun itu. Kita harus mencurigai mereka karena sejak dahulu, penyembah Bathari Durgo dan Bathara Kala itu selalu melakukan penyelewengan-penyelewengan. Sebaiknya kalian mengaso dulu dan menanti hasil penyelidikanku."
Retno Wilis dan Harjadenta menyetujui pendapat Bagus Seto ini.
Mereka berdua tentu saja maklum akan kesaktian pemuda itu dan tidak mengkhawatirkan kepergiannya seorang diri.
Malam itu, bulan masih bersinar terang, bagus Seto menggunakan kepandaiannya, berkelebat di antara baying-bayang pohon dan tak lama kemudian tibalah dia di candi yang sedang dibangun itu.
Malam itu tidak ada yang bekerja dan juga tidak diadakan pesta seperti pada malam Respati.
Keadaan di sekitar candi itu sunyi.
Bagus Seto mengadakan pemeriksaan dari atas atap, akan tetapi dia tidak menemui sesuatu yang mencurigakan.
Dia melihat para pekerja pria berkumpul dan bermalam di sebuah bangunan besar dan para pembantu wanita berkumpul dan bermalam di sebuah bangunan lain.
Tidak terjadi apa-apa di antara mereka.
Memang menjadi peraturan agama itu, kecuali pada hari Respati malam, tidak diperbolehkan mereka saling berhubungan atau saling mengganggu dengan ancaman hukuman berat yaitu dikutuk.
Di bagian belakang candi itu terdapat belasan buah kamar yang kebanyakan kosong dan di dalam dua kamar di antaranya, Bagus Seto melihat seorang wanita cantik duduk bersamadhi.
Dari hawa di sekitar kamar itu saja tahulah Bagus Seto bahwa wanita itu adalah seorang yang memiliki kesaktian.
Dia mendapatkan pula seorang laki-laki bertubuh raksasa, juga sedang bersamadhi.
Laki-laki inipun memiliki kesaktian.
Bagus Seto membayangkan cerita Mbok Rondo Gati.
Apakah dua orang ini yang menculik Sularko dan Sawitri?
Akan tetapi, mereka kelihatan sebagai orang-orang yang berilmu, rasanya tidak masuk akal kalau mereka melakukan kejahatan seperti itu.
Setelah puas melakukan penyelidikan keadaan candi yang baru dibangun, sebuah candi yang indah dan di mana-mana terdapat arca Bathara Shiwa, Bathara Kala dan Bathari Durgo.
Bagus Seto lalu meninggalkan tempat itu dan kembali ke rumah Mbok Rondo Gati.
"Aku tidak menemukan sesuatu yang mencurigakan di sana,"
Katanya kepada Retno Wilis dan Harjadenta.
"Kecuali dua orang yang sakti, yaitu seorang perempuan cantik dan seorang pria raksasa."
"Hemm, jangan-jangan mereka itu yang menculik Sularko dan Sawitri!"
Kata Harjadenta.
"Rasanya sukar dipercaya orang-orang yang memiliki kesaktian seperti mereka melakukan penculikan,"
Kata Bagus Seto.
"Akan tetapi kita hatus menyelidiki dua orang itu!"
Kata Retno Wilis.
"Tidak ada lain jalan. Kita harus menanti sampai datangnya hari Respati malam di waktu mereka mengadakan pesta dan kita lihat saja apa yang terjadi di sana."
"Hari Respati malam masih kurang sepekan lagi,"
Kata Retno Wilis.
"Kita harus bersabar kalau ingin berhasil,"
Kata kakaknya.
"Dan untuk memancing mereka mengulangi lagi perbualan mereka, kita perlu mengadakan umpan."
"Akan tetapi itu berbahaya sekali!"
Kata Retno Wilis.
"Aku sendiri sudah pernah menjadi korban ilmu sihir dan guna-guna mereka."
"Justeru itulah, kita harus memancing. Dan sebaiknya adimas Harjadenta yang menjadi umpan. Beranikah engkau menjadi umpan untuk mereka, adimas?"
Harjadenta tersenyum. walaupun agak masam karena hatinya agak gentar juga mendengar betapa Retno Wilis saja menganggap hal ini berbahaya.
"Tentu saja aku berani. Bukankah di sini terdapat anda berdua yang pasti akan melindungiku?"
"Tentu saja kami akan melindungimu, adimas."
"Lalu bagaimana pemasangan umpan itu dilakukan kakang?"
Tanya Retno Wilis.
"Pada hari Respati, sebaiknya kalau adimas Harjadenta datang ke sana dan minta pekerjaan membangun candi. Engkau tentu dapat melakukan pekerjaan memahat dan mengukir, adimas?"
"Walaupun bukan ahli, akan tetapi aku dapat membantu pekerjaan mereka."
"Bagus, nanti pada hari Respati, engkau minta pekerjaan di sana dan aku yakin pasti akan diterima. Nah, malamnya tentu engkau akan kebagian pesta pula. Dan aku mengharap pada malam hari itu akan terjadi sesuatu yang akan mengungkap rahasia ini."
"Apakah tidak sebaiknya kalau akupun menjadi umpan, kakang? Ingat, yang menjadi korban, anak-anak Mbok Rondo Gati, adalah seorang pemuda dan seorang pemudi. Biarlah akupun ikut memancing mereka dan engkau yang melindungi aku dan kakangmas Harjadenta."
Bagus Seto menggeleng kepalanya.
"Aku tidak setuju dengan pendapatmu itu. Ingat, engkau bukanlah gadis yang tidak terkenal. Aku khawatir kalau di antara mereka yang sakti itu mengenalmu dan kalau mereka mengenalmu, tentu gagal usaha kita untuk memancing. Berbeda dengan adimas Harjadenta, dia belum lama turun gunung dan tidak pernah berurusan dengan orang-orang dari golongan itu. Sudahlah, pada Respati malam nanti, kalau dalam pesta, engkau mengintai dan menyelidiki bagian wanita, dan aku menyelidiki bagian pria. Akan tetapi hati-hati diajeng, di sana ada wanita yang cantik dan sakti yang berbahaya sekali."
"Wanita cantik yang sakti? Aku jadi ingat akan pesan guruku."
Kata Harjadenta. Retno Wilis tersenyum dan memandangnya.
"Tentu engkau menduga ia menjadi pencuri Ki Carubuk, bukan?"
Bagus Seto berkata.
"Bukan tidak mungkin ia yang mencuri pusaka itu! Di sekitar kamarnya aku mencium adanya kekuatan tersembunyi seperti kekuatan sihir dan guna-guna."
"Bagus! Kalau begitu aku menjadi lebih bersemangat pula untuk melakukan penyelidikan. Biar aku yang menjadi umpannya untuk menangkap si pencuri laknat itu!"
Kata Harjadenta.
Demikianlah, tiga orang itu tinggal di rumah Mbok Rondo Gati dan setelah hari Respati tiba, Harjadenta pagi-pagi benar telah pergi mengunjungi candi yang baru dibangun.
Ketika dia mengatakan pada para pekerja dan penjaga bahwa kedatangannya adalah untuk minta pekerjaan membantu pembangunan candi, dia segera dihadapkan kepada Ni Dewi Durgomolo.
Wanita yang masih cantik dan genit itu menyambut kunjungan Harjadenta dengan wajah berseri dan matanya yang tajam itu meneliti Harjadenta dari kepala sampai ke kaki dan agaknya ia merasa puas dengan apa yang dilihatnya.
Seorang pemuda yang tegap tampan dan gagah, wajahnya riang dan terang penuh senyum.
Bukan seperti pemuda dusun kebanyakan, melainkan lebih pantas menjadi seorang pemuda kota atau pemuda bangsawan.
"Siapa namamu?"
Tanyanya ketika Harjadenta menghadapnya.
Pemuda yang tampak amat hormat itu mengangkat mukanya.
Dia duduk bersila di atas lantai sedangkan Ni Dewi Durgomala duduk di atas sebuah kursi.
Harjadenta memandang wanita itu dan jantungnya berdebar.
Wanita yang cantik, pikirnya.
Usianya sukar ditaksir.
Melihat wajah dan bentuk tubuhnya, agaknya ia baru berusia dua puluhan tahun, akan tetapi pandang matanya yang tajam demikian matang dan penuh pengertian seperti pandang mata seorang wanita yang lebih tua.
Matanya mengerling tajam dan genit, senyumnya memikat dan sehabis bicara ia menggunakan ujung lidahnya yang merah untuk menjilat bibirnya sendiri.
Seperti seekor ular yang cantik, pikir Harjadenta, menduga-duga apakah wanita ini yang dimaksudkan gurunya, yang telah mencuri Ki Carubuk.
"Nama saya Harjadenta,"jawabnya sederhana, lalu menundukkan mukanya karena pandang wanita itu penuh selidik, seolah hendak menjenguk isi hatinya melalui pertemuan pandang mata.
"Dari mana engkau datang, siapa orang tuamu?"
Tanya pula Ni Dewi Durgomala penuh selidik. Kalau yang minta pekerjaan itu seorang pemuda dusun, ia tidak akan bertanya sebanyak itu.
"Saya datang dari hulu Kali Manyar dari dusun Manukan,"
Dia membohong. Dia tidak berani mengaku bahwa dia berasal dari Gunung Raung karena kalau benar wanita ini yang mencuri Ki Carubuk, tentu wanita ini akan menjadi curiga kepadanya.
"Saya sudah tidak mempunyai orang tua lagi, sudah yatim piatu."
Wanita cantik itu berseri, girang mendengar bahwa pemuda itu sudah yatim piatu.
"Dan engkau datang ke tempat ini mau apa?"
Tanyanya lagi sambil memandang dengan tersenyum manis.
"Saya adalah seorang pengembara yang mencari pengalaman hidup dan disini saya mendengar bahwa pembangunan candi ini membutuhkan banyak tenaga. Nah, kalau sekiranya saya dapat diterima, saya akan senang sekali bekerja di sini, membantu pembangunan candi ini."
"Engkau dapat membuat arca, memahat dan mengukir"
"Sedikit-sedikit, dan saya dapat belajar dari ahli-ahli yang berada di sini."
"Bagus sekali! Engkau diterima, akan tetapi kalau menjadi pekerja di sini, engkau juga harus menjadi anggauta perkumpulan agama kami. Sanggupkah engkau?"
"Kalau memang itu persyaratannya, tentu saja saya sanggup."
"Baik sekali, Harjadenta. Malam ini adalah malam Respati, malam nanti ada pesta di sini dan pada kesempatan ini engkau dapat menerima pengangkatan sebagai seorang anggauta baru."
Ni Dewi Durgomala memandang kepada Harjadenta dengan sinar mata penuh arti.
Pemuda ini diam-diam bergidik.
Pandang mata itu begitu penuh tantangan, penuh rayuan, penuh daya tarik maka dia cepat-cepat menundukkan mukanya.
"Saya bersedia, den ajeng..."
"Hemm, jangan sebut aku den ajeng, tetapi sebut aku Ni Dewi begitu saja. Ketahuilah bahwa aku yang memimpin pembangunan di sini, dan wakilku adalah Ki Shiwananda. Kalau engkau bekerja dengan baik dan penurut, engkau tentu akan dapat menemukan kebahagiaan di sini. Agama kami bertujuan membahagiakan semua anggautanya."
"Terima kasih."
Harjadenta lalu diajak pergi menemui para tukang membuat arca dan diperbantukan di bagian ini. Mulai pagi itu Harjadenta sudah bekerja ikut membangun candi.
"Andika diterima sendiri oleh Ni Dewi dan diberi pekerjaan di sini? Ah, andika beruntung sekali,"
Kata seorang di antara mereka, seorang laki-laki muda yang mukanya penuh noda hitam bekas cacar.
"Aku tidak seberuntung andika."
"Mengapa engkau mengatakan aku beruntung?"
Tanya Harjadenta.
"Engkau tentu diterima menjadi anggauta agama baru, bukan?"
"Benar."
"Nah, engkau akan mengerti sendiri malam nanti. Engkau sungguh beruntung dan aku iri kepadamu,"
Kata pula pria yang mukanya bernoda itu.
Dia sudah menutup mulut dan tidak mau bercerita lebih banyak dan mencurahkan seluruh perhatiannya kepada pekerjaannya mengukir dan memahat.
Berdebar tegang juga hati Harjadenta menanti datangnya malam.
Apa yang akan terjadi dengan dirinya?
Mengapa laki-laki bopeng itu mengatakan bahwa dia beruntung?
Siang dan sore itu para pekerja mendapatkan makan yang cukup banyak dan enak.
Harjadenta juga ikut makan dan dia mendapat kenyataan betapa para pekerja itu bekerja dengan rajin dan agaknya patuh sekali kepada atasan mereka.
Mereka bekerja sambil bernyanyi dan bersenandung.
Kalau Ni Dewi datang menjenguk, mereka semua menganggukan wajah mereka berseri gembira.
Wanita cantik itupun bersikap ramah sekali kepada para pekerja, kalau ada yang bekerja benar, ia memuji-muji dan kalau ada yang pekerjaannya tidak benar, ia memberi petunjuk dengan sabar.
Tidak mengherankan kalau mereka bekerja dengan senang, pikir Harjadenta.
Para pekerja diperlakukan dengan ramah dan mendapat makan yang cukup memadai.
Malam Respati itupun tibalah.
Bulan muncul dan masih cukup terang karena bulan masih muncul tiga perempatnya.
Gamelan sudah dibunyikan dan para pekerja dan para anggauta agama baru itu sudah mandi dan bersiap-siap untuk ikut dalam pesta.
Harjadenta disuruh mandi dan bertukar pakaian.
Lalu dia dipanggil oleh Ni Dewi Durgomala.
Setelah dia menghadap, wanita itu berkata dengan ramah.
"Sudah siapkah, engkau untuk melakukan upacara pengangkatan sebagai anggauta baru dari agama kami?"
Harjadenta mengangguk dan menjawab.
"Saya sudah siap, Ni Dewi."
"Kalau begitu, engkau ikutilah para peserta lainnya mendekati panggung dan kalau nanti aku dan Ki Shiwananda sudah muncul di panggung, engkau harus naik ke panggung dan berlutut memberi hormat kepadaku. Pada waktu itu engkau harus minum anggur kebahagiaan sebagai tanda bahwa engkau telah menerima agama baru sebagai agamamu, dan engkau telah menjadi anggauta kami. Dan selanjutnya, sebagai seorang anggauta yang baik dan taat, engkau harus melaksanakan segala perintahku. Mengertikah engkau, Harjadenta?"
Harjadenta mengangguk.
"Saya mengerti."
"Bagus, nah sekarang bersiaplah dengan para anggauta yang lain. Malam ini, untuk menghormati kemunculan Sang Bathari Durgo dan Sang Bathara Kala yang menjelma menjadi aku dan Ki Shiwananda, kita semua akan mengadakan pesta seperti biasa, engkau boleh ikut bersenang-senang dan mendapatkan kebahagiaan."
Harjadenta tidak mengerti apa yang dimaksudkan wanita itu, akan tetapi dia mengangguk dan tidak banyak bertanya agar tidak menimbulkan kecurigaan.
Dia akan menghadap apa yang datang nanti sambil mencari kesempatan untuk menyelidiki tentang pusaka Ki Carubuk, dan juga tentang nasib Sularko dan Sawitri.
Ketika dia bercampur dengan para anggauta agama itu, berkumpul dibawah panggung sambil mendengarkan gamelan yang mengiringkan nyanyian seorang pesinden yang suaranya merdu, dia mencari si muka bopeng yang siang tadi dibantunya bekerja.
"Tampaknya kita semua akan bersenang-senang, kawan."
Katanya.
"Tentu saja, setiap malam Respati kita semua bersenang-senang, dan inilah yang membuat kita semua senang bekerja di sini dan menjadi anggauta agama baru ini."
Jawab si muka bopeng. Agaknya dia bergembira sekali sehingga mau banyak bicara secara terbuka. Kesempatan ini tidak disia-siakan oleh Harjadenta untuk memperoleh keterangan sebanyak-banyaknya.
"Menurut Ni Dewi, aku akan diangkat menjadi anggauta baru malam ini. Apa yang akan terjadi denganku nanti. Aku belum mengerti dan tidak dapat membayangkan apa yang terjadi sehingga aku merasa agak gugup."
Si muka bopeng tertawa.
"Ha ha, tidak perlu gugup, kawan. Engkau akan mendapatkan kesenangan luar biasa. Engkau tinggal menaati saja dan biasanya dalam pengangkatan anggauta baru di malam Respati biasa, bukan kalau sedang bulan purnama di mana Sang Hyang Bathara Shiwa sendiri hadir dalam tubuh Wasi Shiwamurti, engkau hanya akan disuruh minum secawan tuak yang sudah diberi mantera dan engkau akan merasa bahagia sekali. Jangan khawatir kawan. Engkau akan mendapat kehormatan dan kesenangan yang luar biasa malam ini dan melihat gelagatnya, Bathari Durgo akan memilih engkau menjadi pelayannya malam ini."
"Bathari Durgo...?"
"Penjelmaan Bathari Durgo, yaitu Ni Dewi. Apakah engkau belum mengerti?"
"Belum. Maukah engkau menerangkan sejelasnya, kawan?"
"Agama kami menyembah Tritunggal, yaitu Sang Bathara Shiwa, Bathari Durgo dan Bathara Kala yang menjelma menjadi Sang Wasi Shiwamurti, Ni Dewi Durgomala dan Ki Shiwananda. Nah, kita memuja tiga dewa dewi itu melalui mereka bertiga yang akan mengajarkan tentang agama ini kepada kita."
"Hemm, begitukah? Kawan, apakah pada malam Respati yang lalu juga ada anggauta-anggauta baru yang diangkat?"
Tanya Harjadenta sambil lalu, seolah pertanyaan itu tidak penting, pada hal dia mau mencari keterangan tentang Sularko dan Sawitri.
"Oh, ada. Mereka itu adalah kakak beradik dari Bulumanik sini saja, bernama Sularko dan adiknya yang bernama Sawitri."
"Lalu apa yang terjadi dengan mereka?"
Si muka bopeng menyeringai.
"Tentu saja mereka menjadi pilihan Ni Dewi dan Ki Shiwananda. Mereka tentu hidup berbahagia sekarang."
Harjadenta tidak mendesak lebih jauh.
"Bagaimana kalau ada orang berani menentang agama ini?"
"Siapa berani menentang? Ki Demang Kebolinggo sendiri menunjang didirikannya candi baru ini. Bahkan Kadipaten Nusabarung juga mendukungnya. Yang menentang tentu akan celaka oleh kutukan!"
"Kutukan?"
"Ya, tiga orang pimpinan kami adalah orang-orang sakti dan kalau mereka diserang dan menjadi marah, maka cukup dengan kutukan saja mereka yang berani mengganggu akan celaka hidupnya."
"Celaka bagaimana?"
"Sedikitnya tentu akan diserang penyakit berat atau bahkan dapat mati."
Percakapan itu terhenti karena di panggung telah muncul Ni Dewi Durgamala dan Ki Shiwananda.
Harjadenta memandang ke atas panggung dan dengan penuh perhatian dia memandang ke arah Shiwananda.
Seorang laki-laki yang bertubuh raksasa, tinggi besar dan kokoh kuat.
"Seorang lawan yang tangguh,"
Pikirnya.
Melihat semua orang berlutut dan menyembah ke arah kedua orang itu, Harjadenta juga ikut berlutut dan menyembah.
Akan telapi dia segera teringat pesan Ni Dewi bahwa kalau Ni Dewi sudah muncul di panggung, dia harus naik ke panggung menghadapnya.
Maka, diapun lalu naik ke panggung melalui tangga yang tersedia di situ.
Setelah berada di atas panggung, dia berlutut di depan Ni Dewi dan menyembah.
Ni Dewi Durgomala tertawa melihat dia.
Ni Dewi lalu bangkit berdiri dan berkata dengan suara lantang.
"Saudara-saudara, malam ini ada seorang anggauta baru. Inilah dia orangnya dan namanya adalah Harjadenta!"
Ia memberi isyarat dan dua orang gadis lalu naik ke panggung membawa seguci tuak dan cawan-cawannya.
Ni Dewi sendiri menuangkan tuak ke dalam sebuah guci, lalu membaca mantera dan menyerahkan cawan itu kepada Harjadenta.
"Harjadenta, sebagai tanda bahwa engkau mulai malam ini menjadi anggauta agama kami, minumlah anggur bahagia ini sampai habis!"
Matanya memandang dengan mencorong ke arah muka Harjadenta.
Harjadenta terkejut sekali ketika merasa betapa jantungnya berdebar dan ketika dia balas memandang, ada pengaruh hebat menguasai pikirannya.
Dia berusaha menolak pengaruh itu, akan tetapi dia mendengar suara berwibawa dan memerintah.
"Minumlah anggur kebahagiaan ini!"
Seperti dalam mimpi, Harjadenta tidak dapat melawan atau menolak sama sekali.
Seolah bergerak dengan sendirinya, kedua tangannya menerima cawan itu dan dia segera minum tuak itu.
Hampir dia tersedak karena pemuda ini tidak biasa minum-minuman keras seperti tuak itu.
Akan tetapi ditahannya dan tuak secawan itupun habis diminumnya.
Terdengar sorak sorai dan setelah semua orang memberi hormat kepada Ni Dewi Durgomala dan Ki Shiwananda dengan nyanyian pujian yang aneh terdengarnya, pestapun dimulailah.
Hidangan yang enak-enak disuguhkan dan tuak berlimpah-limpah.
Semua orang makan dan minum dengan gembira, gamelan dibunyikan, makin lama semakin cepat dan keras iramanya dan orang-orang itupun mulai berjoget!
Berlenggang-lenggok dengan gerakan-gerakan yang menunjukkan berkobarnya nafsu.
Para wanitanya tanpa sungkan dan malu menggoyang-goyangkan pinggulnya sambil tertawa-tawa dan merekapun mendapatkan pasangan masing-masing.
Ni Dewi Durgomala bangkit dari kursinya, menghampiri Harjadenta dan menjulurkan tangan sambil berkata.
"Harjadenta, mari kita bersenang-senang. Mari menari dengan aku!"
Harjadenta merasa heran sendiri ketika melihat betapa dia tidak mempunyai tenaga untuk menolak sama sekali.
Bahkan hatinya merasa ikut bergembira dan kegembiraan yang meluap ini dapat disalurkan melalui tarian.
Dia melihat Ni Dewi sudah menari di depannya, tariannya liar dan bernapsu, tubuhnya yang montok itu berlenggang-lenggok, pinggulnya bergoyang-goyang dan kedua tangannya seperti mengajak Harjadenta.
Tanpa dapat ditahannya lagi Harjadenta pun mulai ikut menari menurutkan irama gamelan yang panas!
Ki Shiwananda juga sudah memperoleh pasangan seorang gadis yang cantik dan agaknya ia adalah seorang anggauta yang sudah lama.
Ia tidak canggung lagi menari-nari bersama raksasa itu sambil tertawa-tawa genit.
Makin malam, pesta tari-tarian itu semakin panas memuncak dan akhirnya mereka berpasang-pasangan meninggalkan panggung.
Ki Shiwananda juga sudah menggandeng pasangannya menghilang dari panggung.
Ni dewi Durgomala sambil tertawa-tawa menggandeng tangan Harjadenta menuruni panggung dan menuju ke belakang candi.
Harjadenta bagaikan seekor domba yang dituntun ke tempat penjagalan, hanya menurut saja.
Dia bagaikan sedang mimpi dan sama sekali tidak menolak ketika ditarik memasuki sebuah kamar di belakang candi.
Ketika pintu kamar itu dibuka dan Ni Dewi Durgomala menarik tangan Harjadenta untuk masuk, tiba-tiba saja ada sinar putih menyambar dan benda putih itu mengenai muka Harjadenta.
Harjadenta terkejut dan merasa seperti kepalanya disiram air dingin yang membuat dia seketika menyadari keadaannya, benda putih itu ternyata setangkai kembang cempaka yang kini menyusup ke rambutnya.
"Ah, tidak...!!"
Dia meronta dan melepaskan diri dari pegangan tangan Ni Dewi Durgomala. Wanita inipun terkejut dan memandang pemuda itu dengan matanya yang berapi penuh nafsu.
"Harjadenta, wong bagus, mari kita bersenang-senang,"
Katanya dan ia hendak meraih untuk menangkap lagi tangan pemuda itu.
Akan tetapi kini Harjadenta sudah sadar sama sekali akan keadaannya yang luar biasa, bahkan dia teringat betapa tadi dia ikut menari-nari seperti orang gila, tahu pula bahwa semua ini akibat pengaruh wanita yang kini berada di depannya.
"Iblis betina, engkau tidak bisa memaksaku!"
Katanya lagi dan dia mengelak dari sambaran tangan Ni Dewi Durgomala dan melompat keluar dari kamar itu.
Ni Dewi Durgomala menjadi marah dan juga heran sekali.
Bagaimana mungkin pemuda itu sudah terlepas dari pengaruh sihirnya?
Ia lalu mengerahkan tenaga sihirnya, menggerakkan kedua tangan ke arah muka Harjadenta dan ia membentak dengan suara yang mengandung penuh wibawa.
"Harjadenta, ke sini kau! Engkau menurut atas segala kehendakku! Engkau telah menjadi anggauta perkumpulan agamaku, dan engkau telah menjadi budakku. Kesinilah!"
Harjadenta merasakan ada tarikan yang amat kuat mencengkeram dirinya dan seperti memaksa dirinya untuk masuk ke kamar itu dan berlutut menyembah wanita itu.
Akan tetapi ada kekuasaan lain di belakangnya dan terdengar bisikan.
"Adimas Harjadenta. Tolak pengaruh iblis itu!"
Bisikan itu amat lembut namun mengandung kekuatan yang demikian hebatnya sehingga mengalahkan daya tarik dari wanita itu.
"Iblis betina, aku tidak akan tunduk ke padamu!"
Harjadenta berkata sambil melangkah mundur menjauhi pintu kamar itu.
Bukan main marahnya Ni Dewi Durgomala mendengar dan melihat sikap ini.
Dengan teriakan marah ia melompat keluar dan sudah tiba di depan Harjadenta.
"Keparat! Kalau begitu, apakah engkau lebih memilih mati dari pada menaati perintahku?"
"Ah, Ni Dewi Durgomala, beginikah engkau telah membunuh Sularko?"
Harjadenta balas membentak.
Ni Dewi Durgomala terkejut bukan main mendengar ucapan itu dan tanpa banyak cakap tubuhnya sudah meluncur ke depan, tangan kirinya menampar ke arah kepala Harjadenta.
Pemuda yang pernah menerima gemblengan ilmu kanuragan dari Empu Gandawijaya, cepat menangkis dengan memutar lengan kanannya.
"Dukkk...!"
Harjadenta yang menangkis pukulan itu terpental dan terhuyung ke belakang sampai beberapa langkah.
"Mampuslah!"
Ni Dewi Durgomala yang sudah marah sekali, melompat dan mengirim pukulan susulan yang sangat dahsyat dan cepat sehingga agaknya pukulan ini tidak akan dapat dihindarkan lagi oleh Harjadenta.
"Wuuuuuttt... plakkkk!!"
Kini tubuh Ni Dewi Durgomala yang terhuyung ke belakang.
Ternyata pukulannya tadi ada yang menangkis, seorang yang muncul dari belakang Harjadenta, seorang pemuda yang berpakaian serba putih dan bersikap sederhana.
Ketika tadi menangkis pukulan Ni Dewi Durgomala, diapun tampak tenang dan menangkis sembarangan saja, akan tetapi ternyata telah membuat Ni Dewi Durgomala terhuyung ke belakang.
Ni Dewi Durgomala tertegun dan bukan main kagumnya melihat seorang pemuda yang demikian tenang dan tampan, seperti Sang Harjuna saja!
Jantungnya berdebar keras dan biarpun ia tadi ditangkis sampai terhuyung, ia tidak marah kepada pemuda itu, bahkan kini ia mengerling dan tersenyum manis sekali.
Ia sendiri ketika itu sedang dilanda nafsu berahi yang memuncak, maka begitu melihat Bagus Seto yang demikian tampan, ia segera mengerahkan aji pengasihan untuk mengguna-gunai dan menarik hati perjaka yang tampan ini.
"Teja-teja sulaksana tejanya orang yang baru tampak! Satria bagus, siapakah andika, wong ganteng?"
Ia bertanya sambil tersenyum.
Saking kuatnya aji pengasihan yang ia kerahkan, bahkan Harjadenta yang sudah terlepas dari pengaruh sihirnya, kini memandang terlongong penuh kagum kepada Ni Dewi Durgomala yang mendadak kelihatan demikian cantik jelita dan menarik seperti seorang dewi yang baru turun dari kahyangan!
Akan tetapi Bagus Seto tersenyum tenang.
Sebelum dia menjawab, terdengar suara ribut-ribut di kamar sebelah dan Retno Wilis yang berpakaian serba putih itu melompat keluar dari kamar itu dikejar oleh Ki Shiwananda!
Apakah yang terjadi di kamar itu?
Ternyata Retno Wilis membagi tugas dengan kakaknya.
Bagus Seto membayangi Ni Dewi Durgomala dan Retno Wilis membayangi Ki Shiwananda.
Gadis perkasa ini tadi mengintai pesta liar di atas panggung dan ia pun teringat akan pengalamannya dahulu.
Pernah ia terlibat dalam pesta seperti itu di bawah pengaruh orang-orang sesat yang menggunakan sihir kepadanya, ia merasa ngeri dan juga marah bukan main.
Ia melihat pula betapa Harjadenta terpengaruh sihir dan ikut menari-nari liar, akan tetapi karena Bagus Seto yang akan mengawasinya, maka ia terus mengamati Ki Shiwananda yang kemudian menarik tangan seorang gadis yang tadi menjadi pasangannya menari menuju ke belakang candi dan memasuki sebuah kamar!
Retno Wilis merasa malu untuk ikut masuk kamar itu, maka ia mengambil jalan memutar dan tiba di luar jendela kamar itu.
Dengan tenaga Argoselo, ia menggunakan tangan kanannya untuk mendorong daun jendela kamar itu.
Jendela itu jebol dan Retno Wilis meloncat masuk dengan maksud untuk menghajar laki-laki raksasa itu sambil membentak.
"Jahanam busuk, apa yang telah kau lakukan terhadap Sawitri?"
Ki Shiwananda terkejut bukan main ketika jendela jebol dan ia melihat berkelebatnya bayangan putih memasuki kamar, apalagi mendengar bentakan yang menanyakan tentang Sawitri itu.
Akan tetapi diapun maklum bahwa wanita yang masuk kamarnya itu tentu seorang yang sakti, maka untuk menyelamatkan diri, dia sudah merangkul gadis pasangannya tadi dengan tangan kiri dan memasangnya di depan tubuh seperti perisai!
Melihat ini, tentu saja Retno Wilis terkejut dan tidak jadi menyerang.
Ia melihat betapa sarunya kalau dilihat orang ia berada di kamar seorang pria, maka ia lalu mendorong daun pintu dan melompat keluar.
Ki Shiwananda yang sudah terhindar dari serangan mendadak itupun timbul keberaniannya dan diapun lompat mengejar.
Ketika tiba di luar, Retno Wilis melihat bahwa kakaknya bersama Harjadenta juga sudah berhadapan dengan wanita cantik itu, maka ia mengulang pertanyaannya kepada Ki Shiwananda.
"Shiwananda, engkau tentu telah membunuh Sawitri, bukan? Engkau jahanam busuk, pendiri agama yang sesat! Setelah bertemu dengan Retno Wilis, jangan harap engkau akan dapat melarikan diri!"
Mendengar gadis berpakaian putih itu menyebut namanya, Ki Shiwananda terkejut bukan main, bahkan juga Ni Dewi Durgomala terkejut sekali.
Ni Dewi Durgomala telah mendengar bahwa rekannya yang bernama Ni Dewi Nilamanik dahulu juga tewas secara mengerikan di tangan seorang dara yang bernama Retno Wilis!
Dan gadis ini menurut penuturan Wasi Karangwolo dan Surengpati, gadis ini adalah puteri dari KiPatih Tejolaksono dan Puteri Endang Patibroto yang terkenal sakti.
Sementara itu, Bagus Seto menjawab pertanyaan Ni Dewi Durgomala yang tadi diajukan kepadanya.
"Ni Dewi Durgomala, aku bernama Bagus Seto. Katakanlah, apa yang kalian lakukan terhadap Sularko dan Sawitri?"
Melihat betapa Bagus Seto sama sekali tidak terpengaruh oleh aji pengasihannya, Ni Dewi Durgomala maklum bahwa ia berhadapan dengan orang yang sakti mandraguna, tidak terpengaruh oleh ilmu sihirnya.
Akan tetapi ia masih hendak mencoba dan mulutnya berkemak-kemik, lalu ia membungkuk, mengambil segenggam pasir dan menaburkan pasir itu ke atas dan mendadak saja pemandangan menjadi gelap.
Entah dari mana datangnya, ada asap hitam menutupi sinar bulan dan Hartjadenta sendiri terkejut dan merasa jerih.
Akan tetapi Retno Wilis segera mengeluarkan lengkingan panjang, dan Bagus Seto berkata dengan lembut.
"Ni Dewi Durgomala, simpan saja ilmu setanmu yang hanya dapat dipakai menakut-nakuti anak kecil!"
Bagus Seto menggerakkan tangan kirinya ke arah asap hitam itu menjadi buyar dan lenyap dan keadaan menjadi terang kembali.
"Augghhh...!!"
Ki Shiwananda telah mengeluarkan gerengan seperti seekor biruang dan tubuhnya sudah menerjang maju, menyerang ke arah Retno Wilis.
Namun gadis itu dengan tangkasnya sudah mengelak sehingga lawannya hanya menubruk angin kosong.
Segera terjadi pertandingan yang amat seru di antara mereka.
Ki Shiwananda adalah murid Wasi Shiwamurti yang tercinta, bahkan diangkat menjadi anaknya, maka ilmu kepandaiannya amat tinggi.
Bahkan dia lebih tangguh dibanding Ni Dewi Durgomala, hanya bedanya wanita ini menguasai segala macam ilmu sihir dan guna-guna.
Akan tetapi sekali ini dia bertemu dengan Retno Wilis, maka terjadilah perkelahian yang amat dahsyat.
Sementara itu, Ni Dewi Durgomala menjadi pucat wajahnya ketika ilmu sihirnya demikian mudah dipunahkan oleh bagus Seto.
Maka ia tidak mau mencoba lagi ilmu sihirnya dan secepat kilat ia mencabut senjatanya, sebatang keris dan menubruk Bagus Seto mengirim serangan maut.
"Kakangmas, itu Ki Carubuk yang dipegangnya!"
Harjadenta berteriak ketika mengenal keris yang berada di tangan Ni Dewi Durgomala.
Jelaslah bahwa yang mencuri Ki Carubuk adalah wanita iblis itu.
Mendengar seruan ini, Ni Dewi Durgomala tidak perduli dan menyerang terus.
Kerisnya seperti berubah menjadi seekor naga yang menyambar-nyambar, mengeluarkan hawa panas yang terasa oleh Harjadenta yang berdiri di pinggir.
Namun tubuh Bagus Seto bagaikan telah berubah menjadi bayangan, selalu menghindar dengan lembut dan cepat sekali, terbebas dari semua tusukan keris.
Harjadenta hanya menonton perkelahian itu.
Dia maklum bahwa ilmu kepandaiannya belum cukup untuk menandingi seorang lawan seperti Ni Dewi Durgomala atau Ki Shiwananda.
Maka dia hanya menonton dengan hati tertarik.
Pada saat itu, muncul puluhan anak buah atau anggauta kumpulan agama itu dan melihat betapa Ni Dewi Durgomala dan Ki Shiwananda berkelahi dengan seorang pemuda dan seorang gadis, Mereka beramai-ramai segera maju untuk mengeroyok Bagus Seto dan Retno Wilis.
Harjadenta merasa mendapat tugas.
Dia melompat ke depan dan mengamuk di antara para anggauta agama itu.
Akan tetapi karena dia tahu bahwa mereka ini adalah orang-orang yang tidak bersalah, hanya ikut-ikutan saja dan terdiri dari orang-orang dusun yang lugu, maka dia tidak mau menggunakan senjata, hanya membagi-bagi pukulan dan tendangan saja untuk mencegah mereka mengeroyok Retno Wilis atau Bagus Seto.
Pertandingan antara Bagus Seto dan Ni Dewi Durgomala seperti seekor kucing mempermainkan seekor tikus saja.
Bagus Seto hanya mengelak dan ketika keris itu menyambar lagi ke arah dadanya, dia berkata.
"Keris ini harus dikembalikan kepada pemiliknya!"
Setelah berkata demikian, dia menyambut tusukan itu dengan tangannya, menangkap Keris itu dan sekali renggut, keris itu telah terlepas dari tangan Ni Dewi Durgomala.
Wanita ini terkejut bukan main.
Hampir tidak percaya bahwa ada orang berani menangkap keris pusaka ampuh itu dengan tangannya begitu saja dan merenggutnya lepas dari tangannya, ia marah akan tetapi juga jerih, maklum bahwa ia tidak akan menang melawan pemuda berpakaian serba putih itu.
Sambil berteriak ia lalu mencabut senjatanya yang istimewa, yaitu sebuah kebutan berbulu hitam yang tadi terselip di pinggangnya.
"Haittt... tar-tar!"
Kebutan itu digerakkan sedemikian rupa sehingga ujung bulu-bulunya dapat meledak di atas kepala Bagus Seto.
Namun pemuda itu tenang-tenang saja dan ketika ia menangkis ke atas, beberapa helai bulu kebutan putus!
Ni Dewi Durgomala kini hanya berputar-putar dan menyerangkan kebutannya ke arah muka Bagus Seto dan selalu dielakkan oleh pemuda itu.
Sementara itu, pertandingan antara Retno Wilis melawan Ki Shiwananda berjalan seimbang.
Ki Shiwananda memang tangguh sekali.
Raksasa ini selain memiliki tenaga yang tidak lumrah manusia, juga dapat bercorak cepat biarpun tubuhnya demikian besarnya.
Sepak terjangnya seperti seorang raksasa saja, kasar dan keras.
Kadang dia bergulingan dan menyerang lawan dari bawah.
Kedua lengannya yang panjang besar itu mencuat dan menyambar-nyambar ke arah segala bagian tubuh Relno Wilis.
Namun, Retno Wilis segera mainkan ilmu silat Pancaroba dan tubuhnya berkelebat melebihi burung walet cepatnya, sukar diraih tangan yang besar itu.
Akan tetapi, Retno Wilis juga mengalami kesukaran untuk dapat merobohkan lawannya.
Sudah dua kali tangan dan kakinya mengenai tubuh lawan, akan tetapi hanya membuat lawan terhuyung saja, tidak merobohkannya.
Kiranya raksasa itupun memiliki tubuh yang kebal sekali.
Karena kesal sampai sekian lamanya tidak mampu merobohkan lawannya, Retno Wilis mencabut pedang pusakanya, yaitu pedang Sapudenta!
Tampak sinar terang berkelebat menyilaukan mata ketika pedang itu berada di tangan kanannya.
"Babo-babo keparat, belum lecet kulitmu sudah mengeluarkan pusaka!"
Bentak Ki Shiwananda dan diapun mengeluarkan senjatanya yang berat, yaitu sebatang ruyung yang tadi tergantung di pinggangnya.
Ruyung ini terbuat dari baja hitam, berat dan kuatnya bukan main.
Sebongkah batu besarpun akan pecah berantakan kalau sekali kena pukulannya dengan ruyung ini, apa lagi kalau mengenai kepala manusia!
Akan tetapi begitu dia menggerakkan ruyungnya, Retno Wilis telah mengerahkan aji Wisolangking di tangan kirinya.
Aji Wisolangking ini membuat tangan kirinya panas sekali dan kalau mengenai tubuh lawan dapat menghanguskan bagian yang terkena pukulan!
Melihat sepak terjang adiknya yang begitu menggiriskan, Bagus Seto lalu menyambut serangan Ni Dewi Durgomala.
Ketika kebutan itu menyambar ke arah kepalanya, ia menyambut dengan tangan kanannya dan sekali tangan itu menyambar, dia telah berhasil merampas kebutan dari tangan Ni Dewi Durgomala!
Wanita ini memekik marah dan juga gentar.
"Ki Shiwananda, sudah saatnya kita pergi!"
Bentaknya kepada raksasa itu yang sedang bertanding seru melawan Retno Wilis. Bagus Seto juga melompat ke dekat adiknya.
"Diajeng, hati-hati dengan pusakamu!"
Dia menggerakkan tangan menahan ruyung Ki Shiwananda yang dihantamkan.
"Plakkkkk!"
Ki Shiwananda merasa betapa tenaga pada tangan kanannya seperti tenggelam dan lenyap.
Dia terkejut sekali.
Menarik kembali ruyungnya dan maklumlah dia bahwa seruan Ni Dewi Durgomala tadi benar.
Baru melawan Retno Wilis saja dia kerepotan dan tidak mampu menang, apa lagi kalau Bagus Seto maju.
Tangan pemuda itu dapat menyambut ruyungnya!
Dia merasa gentar dan segera mengayun dan memutar ruyungnya.
Ketika Bagus Seto dan Retno Wilis mundur, mereka berdua melompat dan lenyap di kegelapan malam.
Harjadenta masih mengamuk, merobohkan para pengeroyok.
Melihat ini, Bagus Seto lalu melompat ke atas atap candi dari berseru.
"Saudara sekalian, hentikan pengeroyokan itu!"
Lalu dia melayang ke bawah.
Melihat ini, apa lagi melihat betapa dua orang pemimpin mereka telah melarikan diri, merekapun menghentikan pengeroyokan dan berdiri bingung seperti sekawanan domba kehilangan penggembalanya.
Harjadenta juga berhenti mengamuk dan melompat kebelakang, dekat Bagus Seto dan Retno Wilis.
Dia menjadi semakin kagum kepada dua orang kakak beradik ini, yang demikian mudah mengalahkan Ni Dewi Durgomala dan Ki Shiwananda sehingga dua orang sakti itu melarikan diri.
Dan dia girang bukan main ketika Bagus Seto menyerahkan keris pusaka Ki Carubuk kepadanya.
"Ini keris gurumu, kembalikanlah kepadanya,"
Kata Bagus Seto.
"Terima kasih banyak, kakangmas Bagus Seto,"
Katanya sambil menerima dan menyelipkan keris pusaka itu di pinggangnya.
"Kakang, kenapa kita tidak basmi saja perkumpulan agama ini?"
Kata Retno Wilis sambil memandang kepada para anggauta agama baru itu dengan alis berkerut.
"Jangan, diajeng. Agama mereka itu samasekali tidak bersalah. Sang Hyang Bathara Shiwa yang mereka sembah adalah Yang Kuasa Membasmi di alam mayapada ini, dan sudah selayaknya kalau disembah dan dipuja. Adapun Bathari Durgo adalah isterinya dan Bathara Kala adalah puteranya. Tidak ada salahnya dengan mereka yang disembah-sembah. Semua kesalahan terletak kepada manusianya yang menyelewengkan pelajaran agama itu untuk tujuan buruk. Mereka bebas menentukan agama mereka sendiri. Kita tidak boleh menentangnya dan mereka boleh mendirikan candi seperti yang mereka kehendaki. Yang kita tentang adalah manusianya yang melakukan tindakan menyeleweng dan jahat. Para anggauta agama ini tidak bersalah. Mereka bahkan menjadi korban, korban penyelewengan Ni Dewi Durgomala dan Ki Shiwananda. Setelah kekalahan mereka malam ini, kurasa mereka tidak akan berani lagi melakukan kejahatan mereka di antara penduduk Bulumanik."
Harjadenta yang mendengarkan ucapan Bagus Seto ini, menjadi semakin kagum.
"Saya rasa apa yang diucapkan kakangmas Bagus Seto itu benar, diajeng Retno. Orang-orang itu tidak berdosa. Mereka melakukan segala itu karena mereka tidak sadar bahwa apa yang mereka lakukan adalah suatu perbuatan jahat. Mereka seperti mabuk atau terbius, seperti yang kualami tadi. Aku sendiri tidak sadar bahwa aku ikut menari-nari seperti orang yang gila. Mereka tidak salah bahkan patut dikasihani."
"Kalau begitu kesalahan ini selain terletak pada pundak kedua orang pimpinan agama itu, juga terletak di pundak Demang Kebolinggo. Sebagai seorang kepala daerah, dia tidak seharusnya memberi ijin kepada orang-orang seperti Ni Dewi Durgomala dan Ki Suwananda itu untuk membangun candi dan mempengaruhi penduduk. Tidak mungkin kalau dia tidak tahu apa yang telah terjadi di candi ini,"
Kata pula Retno Wilis dengan gemas.
"Orang seperti dia tidak patut menjadi pemimpin dan harus mendapat peringatan keras!"
Bagus Seto mengangguk-angguk.
"Pendapatmu itu ada benarnya, diajeng. Silakan saja kalau engkau ingin memperingatkan dia, akan tetapi ingat, jangan menggunakan kekerasan, apa lagi membunuhi orang."
"Diajeng Retno Wilis memang benar, dan kalau boleh, aku akan senang kalau menemanimu pergi ke rumah demang dan memberi peringatan kepadanya."
"Kalau begitu lebih baik lagi agar Demang Kebolinggo lebih terkesan dan menaati nasihat kalian,"
Kata Bagus Seto.
RetnoWilis terpaksa tidak dapat menolak permintaan Harjadenta.
Ia sendiri memang kagum juga kepada pemuda yang berani dan telah membantu ia dan kakaknya menghadapi pimpinan agama baru itu.
"Baiklah, dan sebaiknya kita lakukan itu malam ini juga,"
Kata Retno Wilis.
"Pergilah kalian, aku akan lebih dulu pulang ke pondokan Mbok Rondo Gati."
Tiga orang itu lalu berpisah.
Retno Wilis dan Harjadenta pergi meninggalkan Bagus Seto dan mencari rumah Demang Kebolinggo, penguasa di Bulumanik.
Tidak sukar bagi mereka untuk menemukan rumah yang paling besar di Bulumanik itu.
Mereka berdua melihat bahwa ada tujuh orang penjaga di gardu penjagaan depan gedung itu.
Akan tetapi Retno Wilis dan Harjadenta tidak mengganggu mereka.
Mereka lalu mengambil jalan dari belakang rumah besar itu.
Dengan mudah mereka melompat pagar tembok yang mengitari rumah itu dan menyusup ke arah gedung melalui taman bunga yang berada di bagian belakang.
Malam telah larut dan suasana sunyi sekali.
Agaknya semua penghuni gedung itu sudah tidur nyenyak.
Akan tetapi mereka menemui kesulitan untuk mencari di mana kamar tidur sang demang.
"Biar aku yang mencari keterangan,"
Bisik Harjadenta kepada Retno Wilis.
Gadis itu mengangguk.
Harjadenta mengintai dari lubang di jendela sebuah kamar dan melihat seorang laki-laki tidur dalam kamar itu.
Melihat kamar itu hanya kecil dan sederhana, maka dia dapat menduga bahwa laki-laki yang berada di dalam kamar seorang diri itu tentulah hanya seorang pelayan.
Dengan mudah dia dapat membuka jendela itu dan melompat ke dalam.
Retno Wilis hanya menanti di luar kamar, bersembunyi di balik tikungan dinding.
Setelah berada di dekat pembaringan laki-laki setengah tua itu, Harjadenta lalu mengguncang tubuhnya.
Laki-laki itu terbangun dan sebelum dia dapat membuka mulut, Harjadenta telah menempelkan keris pusaka Ki Mengeng di leher orang itu.
Baca Juga: Dewi Maut 5
Baca Juga: Jodoh Rajawali 9