Ceritasilat Novel Online

Sepasang Garuda Putih 6

Eps 6 Sepasang Garuda Putih - Kho Ping Hoo

Baca online Sepasang Garuda Putih - Kho Ping Hoo

Cersil Sepasang Garuda Putih - Kho Ping Hoo.

"Di jaman dahulu hidup seorang janda bersama seorang anaknya. Mereka hanya hidup berdua saja dan tidaklah aneh kalau janda itu amat mencinta puteranya. Janda itu hidup saleh dan beribadah, tak pernah lupa bersembahyang untuk mohon doa restu dari Sang Hyang Widhi. Pada suatu hari ketika ia sedang mencari kayu bakar bersama puteranya yang berusia lima tahun itu, muncul seekor harimau yang menerkam puteranya sehingga anak itu tewas dengan tubuh penuh luka. Janda itu merasa hancur hatinya dan ia merasa bahwa Hyang Widhi tidak adil. Mengapa bukan ia yang diterkam harimau, melainkan puteranya yang sama sekali belum mengenal dosa? Dengan tekad besar seorang ibu yang kehilangan anaknya iapun ke Suralaya, tempat tinggal para dewata untuk memohon agar diperkenankan menghadap Sang Hyang Widhi untuk menyampaikan protesnya, ia diterima oleh kepala dewa dan ketika janda itu menyampaikan permohonan dan ulasannya, kepala dewa berkata kepadanya,"

"Nyi Rondo, tidak begitu mudah untuk dapat menghadap Sang Hyang Widhi. Sebelum andika menghadap beliau, marilah lebih dulu andika melihat layar masa depan, setelah itu baru andika tentukan apakah andika ingin menghadap Hyang Widhi ataukah tidak."

"Janda itu menurut saja diajak ke sebuah taman. Dari taman yang letaknya tinggi itu ia dapat melihat kota-kota dan pedusunan terbentang luas di hadapannya. Kemudian, ia melihat seorang pemuda menunggang kuda dan pemuda itu dengan buasnya membunuhi banyak orang sambil merampasi barang-barang berharga. Pemuda itu kuat sekali, siapa yang maju melawannya tentu dibunuhnya dan dia tidak pandang bulu dalam pembunuhan yang semena-mena itu. Wanita dan kanak-kanak juga dibunuhnya secara kejam sekali, melihat ini, janda yang lembut hati itu tidak tega menyaksikan lebih lama lagi. Ia menutupi kedua matanya dan mengeluh.

"Aduh Gusti, untuk apa saya harus melihat segala kekejaman yang tiada taranya ini? Apa hubungannya dengan permohonan saya agar anak saya yang terkasih itu dihidupkan kembali."

Kepala Dewa yang menyertainya segera menutup layar masa depan itu dan berkata.

"Nyi Rondo, ketahuilah bahwa anak muda itu bukan lain adalah puteramu sendiri setelah menjadi dewasa. Karena andika seorang yang hidup saleh dan beribadah amal, maka Sang Hyang Widhi tidak tega untuk menghancurkan perasaan hatimu menyaksikan apa yang akan terjadi dengan puteramu setelah dewasa. Karena itulah maka selagi masih kecil puteramu dimatikan, agar andika terbebas dari derita bathin yang maha hebat. Nah, sekarang terserah kepadamu. Apakah engkau masih ingin menghadap Sang Hyang Widhi untuk minta agar puteramu itu dihidupkan kembali?"

Sambil bercucuran air mata, janda itu menggeleng kepalanya kuat-kuat dan menjerit.

"Tidak! Biarkan anak itu mati. Aku tidak ingin melihat dia menjadi dewasa dan jahat seperti itu. Kini mengertilah aku mengapa Sang Hyang Widhi mematikannya. Segala kehendak Sang Hyang Widhi terjadilah karena kehendakNya selalu benar!"

Jayawijaya berhenti mendongeng dan memandang kepada Joko Waras.

"Nah, demikianlah dongengnya, adi Joko. Banyak peristiwa di dunia ini terjadi yang tampak bagi pandangan manusia tidak adil sama sekali. Akan tetapi manusia tidak tahu apa yang tersembunyi di balik itu semua."

Joko Waras menghela napas panjang.

"Ahhh, aku mengerti sekarang apa yang kau maksudkan, kakang Jaya. Jadi engkau dalam kehidupan ini berikhtiar sekuat tenagamu, dengan landasan penyerahan kepada kehendak Sang Hyang Widhi, dan akan menerima segala yang terjadi dengan ikhlas! Dan agaknya dengan bekal senjata seperti itu engkau berani menentang kejahatan dan berani pula menentang orang-orang sakti!"

"Aku bukan menentang orangnya, melainkan perbuatannya yang jahat. Tidak mungkin aku membiarkan perbuatan jahat dilakukan orang di depan mataku tanpa aku berusaha untuk mencegahnya."

"Kakang Jayawijaya, kita sudah menjadi sahabat baik akan tetapi aku belum mengenal riwayatmu. Maukah engkau menceritakan, siapa orang tuamu dimana engkau tinggal dan sekarang ini engkau hendak pergi ke mana dan apa yang sedang dan hendak kau lakukan?"

Menghadapi hujan pertanyaan itu, wajah yang selalu lembut itu tersenyum.

"Adi Joko, engkau sudah tahu bahwa namaku adalah Jayawijaya. Aku berasal dari Tengger di mana ayahku menjadi sesepuh perkampungan Tengger. Ayah bernama Panji Kelana dan hidup di Tengger sebagai pertapa dan sesepuh. Banyak orang berguru kepada ayah, akan tetapi banyak pula yang kecewa karena ayah tidak mengajarkan apa-apa kecuali ilmu menyerah dengan mutlak kepada kekuasaan Hyang Widhi seperti yang kuterangkan kepadamu tadi. Ibuku sudah tiada dan aku meninggalkan Tengger atas perintah ayah agar aku mencari pengalaman hidup berkecimpung di dunia ramai. Akan tetapi ayah berpesan agar aku selalu membela kebenaran dan keadilan karena orang yang membela kebenaran dan keadilan, yang menentang tindak kejahatan adalah orang yang akan selalu dilindungi oleh kekuasaan Hyang Widhi. Dan orang yang merasa yakin bahwa dirinya dilindungi kekuasaan Hyang Widhi, tidak takut menghadapi ancaman yang bagaimanapun juga."

"Jadi engkau sekarang sedang dalam perjalanan merantau untuk meluaskan pengalaman hidupmu?"

"Benar, adi Joko."

"Wah, kalau begitu tentu banyak sekali yang kau alami dan apakah engkau tidak pernah bertemu dengan orang-orang jahat yang mencoba untuk mengganggumu?"

"Banyak aku bertemu dengan orang-orang yang menjadi hamba nafsunya dan mereka berusaha untuk mencelakai aku, akan tetapi berkat perlindungan kekuasaan Hyang Widhi, selalu ada saja jalan keluar bagiku dan sehingga kini aku masih dalam keadaan sehat dan selamat. Yang memprihatinkan hatiku adanya banyak orang jahat yang hendak memaksa rakyat berganti agama sesat. Kalau hal ini dibiarkan, amat berbahaya sekali. Rakyat diajar untuk menjadi bodoh dan menjadi hamba nafsu daya rendah yang akan menyeret mereka ke jurang kegelapan."

Joko Waras membelalakkan matanya.

"Ah, engkau tahu juga akan hal itu? Apakah engkau tahu juga bahwa para pimpinan agama baru itu memimpin rakyat untuk membangun candi-candi Trimurti yang lama? Apakah engkau tahu juga apakah agama baru itu?"

"Aku mengerti. Aku pernah bertemu dengan Wasi Karangwolo yang memimpin pembuatan candi yang menyembah Shiwa, Durga dan Kala. Aku pernah menegurnya karena dia memaksakan agama baru kepada rakyat pedusunan."

Joko Waras tahu bahwa Wasi Karangwolo tentu seorang pemimpin agama baru yang sakti, maka tanyanya.

"Dan apa yang diperbuat olehnya kepadamu, kakang Jaya?"

"Dia berusaha membunuhku, lalu menawanku, akan tetapi akhirnya aku dapat lolos juga, berkat pertolongan seorang bibi yang sakti mandraguna."

"Siapa nama bibi itu?"

Tanya Joko Waras ingin sekali tahu.

"Bibi itu adalah Endang Patibroto, isteri Ki Patih Tejolaksono dari Kerajaan Panjalu. Orangnya hebat sekali, cantik jelita, gagah perkasa dan sakti mandraguna. Akan tetapi sayang..."

"Sayang? Kenapa, kakang?"

Tanya Joko Waras dengan jantung berdebar.

Orang sedang membicarakan ibu kandungnya!

"Sayang bahwa dia terlalu ganas.

Sepak terjangnya seperti seekor burung rajawali yang tidak mengenal ampun.

Aku ngeri menyaksikan sepak terjangnya."

"Bagi seorang ksatria, kalau bertemu dengan orang-orang jahat, dia tentu akan turun tangan membasminya, kakang. Itu bukan ganas namanya, melainkan adil."

"Hemm, engkau boleh menganggap demikian, akan tetapi aku tidak, adi Joko. Betapa jahatpun seorang manusia, dia harus diberi kesempatan untuk bertaubat dan kembali menjadi orang baik-baik. Sekarang ganti engkau, adi Joko. Ceritakanlah keadaan dirimu kepadaku. Aku merasa amat kagum dan juga heran melihat engkau, adi Joko."

"Mengapa heran? Apakah keadaan diriku mengherankan dan aneh, kakang? Bukankah aku seorang pemuda biasa seperti yang lain?"

"Sama sekali tidak biasa! Engkau seorang pemuda remaja yang aneh sekali. Bayangkan saja. Usiamu masih begini muda, paling banyak tujuhbelas tahun."

"Walah! Aku sudah dua puluh tahun, kakang!"

"Benarkah? Akan tetapi engkau tampak jauh lebih muda dan semuda ini engkau telah memiliki aji kesaktian yang hebat. Nah, ceritakanlah riwayatmu, adi Joko. Riwayatmu tentu juga hebat sekali. Siapa orang tuamu? Siapa gurumu dari mana engkau berasal dan hendak pergi ke mana?"

Joko Waras tersenyum. Diam-diam ia merasa heran sekali mengapa ia merasa begitu dekat dengan pemuda ini. Perasaan hatinya begitu senang dan aman berdekatan dengan Jayawijaya.

"Sudah kukatakan, namaku Joko Waras dari pegunungan Kidul di barat sana. Kedua orang tuaku masih hidup dan yang menjadi guruku adalah mendiang Nini Bumigarbo yang tentu saja tidak kau kenal. Seperti juga engkau, aku pergi merantau untuk menambah pengalaman dan pengetahuan, akan tetapi aku tidak pergi seorang diri. Aku pergi berdua dengan seorang kakakku yang bernama Joko Slamet. Dalam perjalanan kami selalu memberantas kejahatan dan menegakkan kebenaran dan keadilan."

Jayawijaya memandang tajam, dan bertanya.

"Di mana sekarang kakakmu itu? Dia tentu seorang yang sakti mandraguna pula."

"Dibandingkan dengan dia, maka kepandaianku tidak ada artinya, kakang. Kakakku itu selain sakti mandraguna, juga bijaksana dan aku tanggung kalau bertemu dan bercakap-cakap dengan dia, engkau tentu akan merasa akrab dan cocok sekali. Banyak kemiripan di antara kalian berdua, hanya bedanya dia memiliki kesaktian dan engkau tidak. Kami sengaja berpencar dan kami berdua memasuki kadipaten Blambangan dengan mengambil jalan masing-masing untuk bertemu kelak di Blambangan."

Setelah berkata demikian, Joko Waras memandang Jayawijaya dan melihat betapa pemuda itu memejamkan kedua matanya seperti orang bersamadhi.

Ia merasa heran, akan tetapi mendiamkan saja, dan akhirnya menjadi kesal dan menegur.

"Kakang Jayawijaya, aku bercerita seperti burung berkicau tiada hentinya, dan engkau malah tertidur pulas!"

Jayawijaya membuka matanya dan melihat Joko Waras marah-marah, dia tersenyum lalu berkata dengan sabar dan lembut.

"Adi Waras, aku sama sekali tidak tidur nyenyak, aku mendengarkan semua ceritamu. Ceritamu mergingatkan aku kepada Bibi Endang Patibroto."

"Ehh? Kenapa engkau tiba-tiba teringat kepadanya, kakang Jaya?"

Joko Waras menatap tajam wajah pemuda itu, penuh selidik.

"Bibi Endang Patibroto menceritakan kepadaku bahwa ia mencari kedua orang anaknya, seorang laki-laki bernama Bagus Seto dan anak perempuan bernama Retno Wilis. Menurut Bibi Endang Patibroto, kedua orang putera-puterinya itu memiliki kesaktian, oleh karena itu, bertemu dengan andika dan mendengar tentang kakak andika, aku teringat akan cerita Bibi Endang Patibroto itu. Alangkah cocoknya kalau andika dan kakak andika menjadi anak-anaknya. Akan tetapi, menurut ceritanya, kedua anaknya itu adalah seorang laki-laki dan seorang perempuan, sedangkan andika dan kakak andika keduanya laki-laki."

Joko Waras menelan ludahnya untuk menenteramkan hatinya yang sempat berdebar.

"Akan tetapi engkau melihat sendiri bahwa aku dan kakakku keduanya adalah laki-laki, kakang Jaya."

"Itulah yang membuat aku tadi seperti melamun karena menurut penilaianku, engkau dan kakakmu itu sungguh pantas menjadi putera-putera Bibi Endang Patibroto."

"Sudahlah, jangan membayangkan yang bukan-bukan, kakang Jaya. Sekarang aku hendak bertanya, engkau hendak melanjutkan perjalanan ke mana, kakang?"

"Ke mana saja hati dan kakiku membawanya, Adi Waras. Aku tertarik sekali mendengar ceritamu tadi. Engkau dan kakakmu berpencar memasuki Blambangan. Kalau boleh aku mengetahui, apa yang hendak kalian lakukan di Blambangan?"

"Kami berdua hendak menyelidiki keadaan di Blambangan, kakang. Kami mendengar bahwa Blambangan dan Nusabarung sedang menghimpun kekuatan untuk memusuhi Jenggala dan Panjalu, dan juga kami telah melihat ada usaha untuk meracuni rakyat Jenggala dengan pemujaan agama baru. Sebagai seorang kawula Panjalu, tentu saja kami tidak rela melihat hal ini. Kami akan melakukan penyelidikan di Blambangan untuk kemudian kami laporkan kepada Kerajaan Panjalu."

"Wah, kalau begitu andika adalah seorang telik sandi (mata-mata) yang dikirim Panjalu untuk menyelidiki keadaan di Nusabarung dan Blambangan?"

"Bukan telik sandi yang dikirimkan pemerintah. Kami kakak beradik tadinya hanya hendak merantau dan meluaskan pengalaman menambah pengetahuan. Setelah tiba di sini kami melihat kenyataan-kenyataan yang membahayakan Panjalu dan Jenggala. Maka, secara suka rela kami melakukan penyelidikan, bukan sebagai utusan Panjalu atau Jenggala."

Jayawijaya mengangguk-angguk.

"Aku mengerti dan hal itu sungguh menarik hati sekali. Tujuan andika berdua amat baik dan sekiranya andika tidak berkeberatan, aku-pun suka untuk memasuki Blambangan dan ikut pula mencegah agar para pemuja Shiwa Durgo-Kala itu tidak menyesatkan orang-orang dengan agama baru mereka."

"Akan tetapi perjalanan ini berbahaya sekali, kakang Jaya. Para pemimpin agama baru itu merupakan orang-orang sakti yang tentu akan membunuhmu kalau mereka mengetahui bahwa engkau menentang niat mereka."

Jayawijaya tersenyum.

"Sudah kukatakan berkali-kali bahwa aku berlindung di dalam Kekuasaan Hyang Widhi, aku tidak takut ancaman yang bagaimanapun juga. Kalau Gusti Yang Maha Kuasa telah menentukan bahwa aku harus mati, akupun tidak akan berkeberatan atau menyesal. Sebaliknya, kalau Yang Maha Kuasa belum menghendaki aku mati, ancaman dari manapun juga datangnya tidak akan mampu membunuhku."

"Begitu tebalkah keyakinanmu, kakang?"

"Setebal bumi, Adi Waras."

"Baiklah kalau begitu, Kakang Jaya. Semoga keyakinan dan imanmu akan benar-benar mendatangkan perlindungan bagi dirimu dari Hyang Widhi, kalau-kalau aku tidak mampu melindungimu. Mari kita lanjutkan perjalanan kita. Kita harus berhati-hati karena ini sudah dekat dengan tapal batas Kadipaten Blambangan."

Matahari telah naik tinggi, tengah hari telah lewat ketika mereka tiba di perbatasan Kadipaten Blambangan.

Dari sebuah lereng bukit mereka melihat bahwa di depan terdapat sebuah dusun, masih agak jauh hanya tampak gentengnya saja.

Karena mereka merasa haus, maka melihat dusun ini mendatangkan semangat kepada mereka sehingga mereka berjalan lebih cepat agar segera tiba di dusun itu untuk mencari minuman pelepas haus.

Tiba-tiba saja muncul seorang kakek di depan mereka, menghadang jalan.

Joko Waras menahan langkahnya, diturut oleh Jayawijaya dan mereka memandang kakek itu penuh perhatian.

Dia seorang kakek yang usianya kurang lebih enam puluh lima tahun, akan tetapi tubuhnya yang sedang besarnya itu tampak masih tegak dan kokoh.

Walaupun gerak geriknya lembut, namun di balik kelembutan itu bersembunyi kekuatan yang dahsyat.

Dia memakai jubah sederhana berwarna kuning seperti yang biasa dipakai para pendeta.

Rambutnya sudah berwarna dua, namun jenggot dan kumisnya sudah putih semua.

Tangan kirinya memegang sebatang tongkat berkepala naga yang panjangnya sama dengan tinggi badannya.

Melihat dua orang muda itu, kakek itu tersenyum lebar dan mengangkat tangan kanannya ke atas kepala seperti orang melambai.

"Dua orang muda, perlahan dulu! Siapakah andika berdua dan hendak memasuki wilayah Blambangan ada keperluan apakah?"

Pertanyaan itu dilakukan dengan suara halus.

Akan tetapi Joko Waras yang melihat pendeta itu dapat menduga bahwa dia bukanlah seorang pendeta yang hidup suci, dapat ia lihat dari sinar matanya yang mengandung kekejaman.

Maka, sebelum Jayawijaya menjawab, dia mendahului.

"Kakek, minggirlah dan beri kami jalan. Kami adalah orang-orang muda yang sedang mengembara, tidak mempunyai urusan denganmu. Minggirlah!"

Akan tetapi mendadak tampak sesosok bayangan berkelebat dan di dekat kakek itu berdiri seorang kakek lain.

Kakek ini usianya kurang lebih enam puluh dua tahun, pakaiannya mewah dan dia pesolek sekali, rambutnya tersisir licin dan berminyak, sikapnya kewanitaan.

Dia melirik ke arah Jayawijaya lalu berkata kepada kakek pertama.

"Kakang Wasi, pemuda yang lebih tinggi itulah yang pernah kutemui bersama dengan Endang Patibroto. Mereka berdua itu tentu telik sandi yang akan menyelidiki Blambangan!"

Melihat kakek ke dua ini, teringatlah Jayawijaya akan peristiwa yang dialaminya beberapa pekan yang lalu.

Kakek itu adalah Wasi Karangwolo yang dilihatnya membujuk penduduk dusun untuk beralih agama baru di sertai ancaman.

Bahkan dia telah diserang oleh kakek itu dan kemudian muncul Endang Patibroto yang mengalahkan kakek itu.

Mendengar ucapan Wasi Karangwolo, Jayawijaya lalu berkata dengan lembut, namun dengan suara mengandung penuh teguran.

"Mengapa andika selalu mencari permusuhan dan ke ributan? Dulu aku melihat andika membujuk dan memaksa rakyat untuk berganti agama, sekarang andika menghadang perjalanan kami. Siapakah andika berdua dan ada maksud apakah menghadang perjalanan kami?"

Ketika mendengar keterangan Wasi Karangwolo bahwa pemuda itu pernah bersama Endang Patibroto, Wasi Shiwamurti, yaitu kakek pertama tadi, mengelus jenggotnya dan mengangguk-angguk.

"Bagus, kiranya dia pernah bersama Endang Patibroto? Hei, orang muda. Ketahuilah bahwa aku adalah Wasi Shiwamurti dan ini adalah adik seperguruanku bernama Wasi Karangwolo yang menjadi penasihat Adipati Menak Sampar di Blambangan. Kalau engkau menyayang nyawamu sendiri, mari ikut dengan kami dan tunjukkan di mana adanya Endang Patibroto sekarang."

Joko Waras yang sejak tadi hanya menonton dan mendengarkan saja, ketika melihat Wasi Karangwolo segera mengenal kakek itu.

Wasi Karangwolo itu bersama Wasi Surengpati pernah mempergunakan sihir dan menawannya, setelah penyamarannya sebagai Joko Wilis diketahui Dyah Candramanik puteri Adipati Nusabarung dan oleh puteri itu dilaporkan kepada ayahnya.

Untung kakaknya Bagus Seto membebaskannya dari tempat tahanan dan ia mengamuk dan menyandera Adipati Martimpang, yaitu Adipati Nusabarung sehingga dia dapat lolos dari kepungan para perajurit dan senopati Nusabarung.

Hatinya sudah menjadi marah sekali melihat Wasi Karangwolo yang tidak mengenalnya sebagai Retno Wilis.

Dia lalu melangkah maju dan dengan suara lantang menegur dua orang kakek itu dengan berani.

"Kalian ini dua orang kakek tua bangka, lagi kalian adalah pendeta, seharusnya mencari jalan terang untuk bekal kematian kalian. Akan tetapi kalian bahkan berbuat jahat dan hendak memaksa orang. Pendeta macam apa kalian!"

Wasi Shiwamurti sampai terbelalak saking kaget, heran dan marahnya.

Dia, seorang wasi yang disanjung-sanjung banyak orang, dipuja-puji seperti seorang dewa titisan Bathara Shiwa, kini dimaki-maki oleh seorang bocah!

Saking marahnya dia sampai tidak dapat mengeluarkan kata-kata sampai beberapa lamanya.

Dia merasa serba salah.

Kalau meladeni seorang bocah yang tampaknya belum dewasa, berpakaian seperti bocah petani itu, sungguh merendahkan martabatnya.

Akan tetapi kalau tidak dilayani dan dihajar, bocah ini sungguh menghina sekali.

"Keparat, engkau bocah masih ingusan berani mengeluarkan kata-kata seperti itu kepadaku?"

"Mengapa tidak berani? Kalian memang pendeta-pendeta yang tidak tahu diri dan tidak tahu malu. Sepantasnya kalian ini menjadi maling atau perampok!"

Kata Joko Waras. Wasi Shiwamurti menahan kemarahannya dan membentak.

"Jangan kalian mati tanpa nama! Katakan siapa nama kalian?"

Jeko Waras mengacungkan jempolnya menunjuk ke arah dada sendiri, lalu menunjuk dengan jempolnya ke arah Jayawijaya sambil berkata.

"Aku bernama Joko Waras dan kakang ini bernama Jayawijaya. Agaknya kalian ini biang keladinya penyebaran agama baru yang menyesatkan rakyat. Benarkah itu?"

Wasi Shiwamurti mengeluarkan suara menggereng seperti seekor biruang terluka.

Suara gerengannya menggetar-getar dengan amat kuatnya dan terdengarlah suaranya yang lantang dan mengandung wibawa kuat sekali.

Ternyata dia telah mengerahkan kekuatan sihirnya.

"Joko Waras dan Jayawijaya, berlututlah kalian!"

Joko Waras terkejut bukan main karena ada dorongan yang luar biasa kuatnya memaksanya untuk menekuk kedua lututnya, ia tahu bahwa itu adalah gerengan ilmu sihir yang amat kuat.

Ia mengerahkan seluruh tenaga saktinya untuk melawan, namun ia kalah kuat dan tak dapat tertahankan lagi kedua lututnya tertekuk dan ia sudah jatuh berlutut di depan kakek itu.

Akan tetapi Jayawijaya sama sekali tidak terpengaruh.

Bentakan dan perintah itu lewat begitu saja seperti angin dan tidak mempengaruhinya, bahkan dia lalu mengangkat bangun Joko Waras sambil berkata.

"Adi Waras, tidak perlu berlutut di depan mereka. Bangunlah."

Dan seketika Joko Waras terlepas dari pengaruh yang memaksanya berlutut itu.

Ia tidak sempat terheran-heran mengapa Jayawijaya sama sekali tidak terpengaruh oleh sihir itu bahkan dapat menyadarkan dan membebaskannya dari pengaruh sihir.

Ia marah sekali kepada kakek yang menamakan dirinya Wasi Shiwamurti itu.

Karena maklum bahwa ia berhadapan dengan seorang wasi yang maha sakti, Joko Waras lalu membungkuk dan mencengkeram tanah berpasir itu dan ketika ia mengerahkan tenaga saktinya, segenggam tanah berpasir itu telah menjadi pasir sakti Pancaroba dan ia mengeluarkan bentakan sambil melontarkan pasir itu ke arah muka Wasi Shiwamurti.

Sang Wasi terkejut juga melihat serangan dahsyat ini.

Namun dengan tenang ia mengebutkan lengan jubahnya yang lebar dan pasir yang berbahaya dan mematikan itu runtuh semua ke atas tanah.

Joko Waras tidak mau berhenti sampai di situ saja.

Walau pun serangannya gagal, ia menerjang maju dan menyerang dengan Aji Wisolangking, pukulan yang mengandung racun berbahaya, yang dahulu merupakan ilmu andalan dari gurunya, yaitu Nini Bumigarbo!

Wasi Shiwamurti semakin terkejut melihat betapa "bocah ingusan"

Itu dapat menyerangnya dengan ilmu pukulan sedahsyat itu. Dia menggerakkan kedua tangan untuk menangkis.

"Wuuuttt... desss...!"

Dan wasi itu terdorong mundur sampai tiga langkah!

Hal ini terjadi karena dia masih memandang rendah sehingga ketika menangkis tidak mengerahkan seluruh tenaganya.

Akan tetapi akibat benturan dua tenaga sakti itu membuat dia mundur tiga langkah dan hal ini sungguh amat mengejutkan!

Wasi Shiwamurti menjadi marah bukan main.

Mulutnya berkemak-kemik membaca mantera, lalu dia melontarkan tongkatnya ke atas.

"Wuss...!"

Tampak asap mengepul dan keluarlah dari angkasa seekor naga hitam yang menggiriskan.

Melihat ini Joko Waras terbelalak dan perasaan ngeri mencekamnya.

Akan tetapi Jayawijaya mendorongkan kedua tangannya ke arah naga hitam itu sambil berkata lembut.

"Hong... air boyo sedyo rahayu...!"

Seketika naga hitam itu jatuh ke atas tanah dan berubah lagi menjadi tongkat berkepala naga milik Wasi Shiwamurti.

Dapat dibayangkan betapa kagetnya sang wasi melihat ini.

Ilmu sihirnya yang paling diandalkan itu begitu saja dipunahkan oleh pemuda itu!

Joko Waras juga merasa heran dan girang sekali melihat ini, maka iapun menyerang lagi dengan Aji Wisolangking, mendorongkan kedua telapak tangannya ke arah sang wasi itu.

Melihat ini, sekarang Wasi Shiwamurti tidak berani memandang rendah dan dia mengerahkan seluruh tenaga, menggunakan tangan kanan menangkis pukulan itu dan tangan kirinya menyambar ke depan, tepat mengenai bawah pundak kanan bagian depan dari Joko Waras.

"Desss...!"

Joko Waras terpelanting dan sampai bergulingan saking hebatnya pukulan itu. Ia merasa betapa dada bagian atas di bawah pundak kanan itu nyeri bukan main.

"Jangan pukul Adi Waras!"

Teriak Jayawijaya ketika melihat Joko Waras dihantam sampai terguling-guling dan dia maju menghampiri Wasi Shiwamurti untuk mencegahnya menyerang lagi kepada Joko Waras.

Wasi Shiwamurti yang tadi melihat betapa ilmu sihirnya dipunahkan oleh Jayawijaya, menyangka bahwa pemuda itu tentu memiliki kesaktian yang tinggi.

Maka melihat pemuda itu menghampirinya, dia lalu memapaki dengan pukulan yang menggunakan kedua tangannya didorongkan ke arah dada pemuda itu.

Pukulan ini hebat sekali, lebih hebat dari pada pukulan tangan kiri yang merobohkan Joko Waras tadi.

Kalau terkena pukulan dahsyat ini, tentu Jayawijaya akan remuk dadanya dan tewas seketika!

Akan tetapi terjadi keanehan yang luar biasa.

Ketika kedua tangan Wasi Shiwamurti dengan tenaga sepenuhnya mendorong ke depan, Tiba-tiba wasi itu merasakan betapa kedua tangannya bertemu dengan hawa yang maha dahsyat dan demikian kuatnya hawa itu sehingga tubuhnya terjengkang roboh dan terbanting keras seolah-olah dia yang terkena pukulannya itu!

Sebetulnya peristiwa ini adalah sederhana saja dan sama sekali tidak aneh atau mengherankan.

Harus diketahui bahwa Jayawijaya adalah seorang pemuda yang sejak kecil sekali sudah diajarkan dan ditanamkan iman dan penyerahan yang total dan ikhlas kepada kekuasaan Tuhan sehingga kalau ada bahaya mengancamnya, seolah-olah dia selalu terlindungi oleh Kekuasaan yang maha kuat dan tidak tampak.

Pukulan Wasi Shiwamurti memang hebat, terbentuk dari latihan dan penggunaan aji kesaktian, akan tetapi apa artinya semua ilmu kedigdayaan dan kesaktian yang dapat dipelajari manusia kalau dibandingkan dengan kekuasaan Tuhan??

Joko Waras yang terkena pukulan hebat itu, walaupun menderita nyeri yang hebat namun ia masih sadar.

Melihat Wasi Shiwamurti terjengkang, ia khawatir sekali kalau sampai sang wasi menyerang lagi dan membunuh Jayawijaya.

Maka ia lalu melompat, menyambar tangan Jayawijaya dan ditariknya pemuda itu melarikan diri dari tempat berbahaya itu.

Baru Wasi Shiwamurti saja sudah merupakan lawan yang terlalu tangguh, apa lagi kalau dibandingkan Wasi Karangmolo!

Dengan pikiran ini, Joko Waras menahan rasa nyerinya dan terus mengajak lari Jayawijaya yang ditariknya itu memasuki sebuah hutan yang terdapat di lereng bukit itu.

(Lanjut ke

Jilid 13) Sepasang Garuda Putih (seri ke 05 -Serial Keris Pusaka Sang Megatantra) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo

Jilid 13 Kedua tangannya siap untuk memukul, dan ia berkata dengan suara terputus-putus saking marahnya.

"Engkau... kau ..."

Akan tetapi ia menahan diri dan melanjutkan.

"Kakang Jaya apa yang engkau lakukan ini?"

Sikap Jayawijaya tenang sekali akan tetapi kini pandang matanya terhadap Joko Waras menjadi lain, penuh kekaguman dan terheran-heran setelah mengetahui bahwa "pemuda"

Yang sakti ini ternyata adalah seorang gadis!

"Dan ketika kau jatuh pingsan dan agaknya terluka pukulan di bawah pundak, maka aku berusaha untuk mengurut-urut bagian yang ada bekas pukulan itu dengan harapan mudah-mudahan bekas luka pukulan itu dapat disembuhkan.

Kemudian karena itu aku telah melihat bagian""

Maka disambungnya dengan wajah yang kemerahan.

"Maafkan aku sama sekali tidak pernah menduga bahwa andika adalah seorang wanita."

Joko Waras yang memang telah diketahui bahwa ia sebenarnya seorang gadis, meraba bagian dada yang terpukul dan menekannya.

Tidak lagi terasa nyeri!

Lalu diperiksanya.

Warna kehitaman di dadanya yang tadi sudah dilihatnya ketika ia melarikan diri, kinipun telah lenyap!

Lukanya yang mengandung racun telah disembuhkan!

Hawa beracun yang terkandung di dalamnya sudah bersih.

Ia merasa takjub dan semakin tidak mengerti akan keadaan Jayawijaya.

Tadi ketika ia berlutut karena pengaruh sihir, Jayawijaya sama sekali tidak terpengaruh!

Bahkan kemudian ketika Wasi Shiwamurti yang amat sakti itu mengirim pukulan jarak jauhnya kepada Jayawijaya, sama sekali tidak bergeming, ia malah terjengkang sendiri.

Dan lukanya hanya dengan urutan jari tangan pemuda itu telah menyembuhkan lukanya yang mengandung hawa beracun.

Pemuda macam apakah ini?

Ketika diajak untuk melarikan diri, terseret di belakangnya ternyata ia tidak dapat berlari cepat.

"Aku tahu dan bukan itu saja, aku bahkan dapat menebak bahwa andika adalah puteri Kanjeng Bibi Endang Patibroto yang bernama Retno Wilis!"

Dalam hatinya, Jayawijaya merasa agak rikuh ketika teringat akan ucapan Endang Patibroto yang hendak menjodohkan dia dengan Retno Wilis!

Akan tetapi tentu saja hal ini tidak akan dikatakannya kepada gadis itu.

"Akan tetapi apakah sebelum ini andika tidak menduga bahwa aku seorang wanita?"

Jayawijaya menggeleng kepalanya.

"Siapa yang dapat menduga? Selain penyamaranmu sempurna, juga siapa yang mengira bahwa orang muda yang sakti mandraguna itu seorang gadis? Aku sendiri sukar untuk dapat mempercaya, akan tetapi ketika aku teringat bahwa andika adalah puteri Kanjeng Bibi Endang Patibroto yang sakti mandraguna, aku menjadi tidak merasa heran lagi."

Retno Wilis kembali meraba dadanya dan menggosok-gosok bagian yang tadi terkena pukulan Wasi Shiwamurti.

"Kakang Jaya, aku merasa heran sekali. Andika tidak berkepandaian, akan tetapi bagaimana dapat menyembuhkan luka pukulan ini demikian cepatnya?"

Ia memandang dengan penuh selidik.

"Andika menggunakan ilmu apakah untuk menyembuhkan ini?"

Jayawijaya menggeleng kepalanya.

"Aku tidak mempergunakan ilmu apapun juga. Aku hanya mengurut-urut dan berdoa semoga Yang Maha Kasih akan menyembuhkanmu. Akan tetapi sudahlah, adi... eh, diajeng Retno. Kurasa sebaiknya andika tidak lagi menyamar sebagai seorang pemuda. Kalau engkau seorang wanita, tentu orang-orang itu tidak akan bersikap kejam kepadamu."

"Kau pikir begitukah, kakang? Agaknya engkau belum mengenal benar watak orang-orang jahat itu. Akan tetapi kalau engkau menghendaki, baiklah, aku akan berganti pakaian."

Retno Wilis membawa buntalannya pergi ke balik semak belukar dan di situ ia berganti pakaian, yaitu pakaiannya yang seperti biasa ia pakai, pakaian serba putih yang sederhana namun membuat ia tampak cantik jelita dan agung.

Ketika ia muncul dari balik semak belukar, ternyata Jayawijaya berdiri membelakangi semak belukar itu.

Retno Wilis tersenyum.

Benar-benar seorang pemuda yang sopan dan luar biasa sekali.

Belum pernah selama hidupnya ia bertemu dengan seorang yang aneh seperti Jayawijaya ini yang sekaligus telah menarik hatinya dan menimbulkan kekagumannya.

Bayangkan saja, seorang pemuda yang sama sekali tidak memiliki ilmu kanuragan, namun berani menentang para datuk besar, bahkan berani menentang seorang sakti mandraguna seperti Wasi Shiwamurti dan kawan-kawannya!

"Kakang Jaya...!"

Retno Wilis memanggil.

Jayawijaya memutar tubuhnya menghadapi Retno Wilis dan dia memandang dengan mata tidak berkedip, terpesona oleh apa yang dilihatnya!

Dia melihat seorang gadis yang usianya sekitar dua puluh tahun, rambutnya hitam agak berombak dan panjang sampai ke pinggang, berpakaian putih bersih dan walaupun sederhana pakaian itu tidak menyembunyikan bentuk tubuhnya dengan pinggang ramping dan padat berlekuk-lengkung sempurna.

Sinom (anak rambut) melingkar-lingkar di dahinya dan depan telinganya, alisnya melengkung hitam matanya seperti sepasang kejora, mulutnya manis menggairahkan dengan bibir yang merah basah, dihias lesung pipit di kiri mulutnya, dagunya runcing dan lehernya panjang, hidungnya kecil mancung.

Apa lagi ketika itu Retno Wilis memandangnya dengan senyum simpul dan kedua tangannya sedang berusaha untuk menggelung rambutnya yang panjang.

"Kaukah itu...? Benarkah engkau... Adi Waras... eh, diajeng Retno Wilis?"

Tanya Jayawijaya agak tersendat-sendat karena apa yang dilihatnya benar-benar melebihi semua bayangannya tentang gadis itu.

Begitu pandainya gadis itu menyamar sehingga tadi wajahnya agak kecoklatan, tidak seperti sekarang begitu putih kekuningan.

Bahkan kedua matanya juga berbeda, kini demikian indahnya dan bersinar-sinar cemerlang dan bening.

"Aih, kakang Jaya, apakah engkau pangling? Aku Retno Wilis atau Joko Waras yang tadi."

"Engkau cantik jelita seperti seorang bidadari dari kahyangan, diajeng."

Pujian itu demikian jujur dan polos, tidak mengandung rayuan.

Mendengar ini, Retno Wilis tidak menjadi marah, bahkan mukanya yang putih mulus kulitnya itu kini menjadi kemerahan dan matanya mengerling tajam.

Biasanya, pujian akan kecantikannya yang keluar dari mulut laki-laki mengandung rayuan, akan tetapi sekali ini sama sekali lain.

Jayawijaya mengucapkannya dengan setulus hati penuh kejujuran dan tidak disembunyikan, terbuka dan polos.

"Terima kasih atas pujianmu, kakang Jayawijaya, akan tetapi... ah, kukira ada orang-orang berdatangan!"

Kata Retno Wilis yang pendengarannya amat tajam terlatih.

Baru saja ia berkata demikian, tampak bayangan empat orang dan di situ telah berdiri Wasi Shiwamurti, Wasi Karangwolo, Ni Dewi Durgomala dan Ki Shiwananda!

Kiranya Ni Dewi Durgomala dan Ki Shiwananda juga berada bersama kedua orang Wasi tadi, hanya tadi belum memperlihatkan diri dan ketika mereka mengadakan pengejaran terhadap Jayawijaya dan Retno Wilis, kedua orang itupun ikut mengejar.

Wasi Shiwamurti tidak mengenal Retno Wilis, akan tetapi tiga orang yang lain segera mengenalnya.

Wasi Karangwolo pernah bertanding melawan Retno Wilis, juga Ni Dewi Durgomala dan Ki Shiwananda pernah bentrok dengan gadis perkasa itu.

"Kakang Wasi Shiwamurti, inilah gadis puteri Endang Patibroto dan Ki Patih Tejolaksono dari Panjalu!"

Kata Wasi Karangwolo kepada kakak seperguruannya.

"Ia bersama kakaknya yang bernama Bagus Seto yang telah menentang penyebaran agama kita, Kakangmas Wasi!"

Kata pula Ni Dewi Durgomala.

Melihat sikap mereka, Jayawijaya sudah melangkah maju dan melindungi Retno Wilis.

Dia membusungkan dada, dengan penuh keberanian menentang pandang mata mereka dan berkata dengan suara nyaring.

"Kalian adalah orang-orang beragama, apakah tidak malu untuk mengganggu seorang gadis? Sepatutnya kalian bicara baik-baik, bukan menggunakan kekerasan seperti orang yang tidak mengenal sopan santun!"

Wasi Shiwamurti mengangkat tangan kirinya mencegah kawan-kawannya yang sudah siap untuk bergerak menyerang itu.

Dia memandang Jayawijaya penuh selidik, juga agak gentar.

Tadi dia sudah mengalami sendiri betapa hebatnya pemuda ini.

Mampu menolak semua sihirnya, bahkan ketika dia menyerang dengan pukulan sakti jarak jauh, pemuda itu sama sekali tidak bergeming apa lagi roboh.

Sebaliknya malah dia sendiri terjengkang karena tenaga dan hawa sakti pukulannya itu membalik dan menyerang dirinya sendiri.

Kini melihat sikap pemuda seperti menasihati itu, dia menjadi semakin terheran-heran.

Siapakah sesungguhnya pemuda yang memakai nama Jayawijaya ini?

Dari perguruan mana?

Tampaknya demikian lemah lembut dan tidak memiliki kedigdayaan, akan tetapi mengapa semua serangannya gagal?

Dia tidak berani sembrono lagi dan mencegah kawan-kawannya untuk turun tangan.

"Heh, Jayawijaya. Kami melakukan kekerasan karena gadis ini berulang kali menentang kami. Demikian juga ibunya, Endang Patibroto selalu menentang dan memusuhi kami!"

"Tidak mungkin diajeng Retno Wilis memusuhi kalian kalau kalian tidak melakukan kesalahan dan kejahatan. Kalian memaksa penduduk untuk memeluk agama baru, tentu saja ia menentang kalian! Kalian yang memulai, bukan diajeng Retno Wilis!"

"Akan tetapi kami menyebarkan agama kami sendiri, tidak ada sangkut pautnya dengan kalian!"

Bantah Wasi Shiwamurti.

"Penyebaran agama secara wajar tentu tidak akan menimbulkan pertentangan. Akan tetapi kalian menggunakan kekerasan, itulah persoalannya,"

Kata pula Jayawijaya dan Retno Wilis mendengarkannya dengan heran.

Pemuda ini mengajak orang-orang tersesat itu untuk bercakap-cakap dan agaknya Wasi Shiwamurti melayaninya, seolah mereka itu berbantahan dan tidak pernah terjadi apa-apa di antara mereka.

Padahal baru saja kakek itu berusaha keras untuk membunuh ia dan Jayawijaya.

"Hemm, kalau begitu, mari kita bicarakan hal ini dan menghadap Sang Adipati di Blambangan. Kita bicarakan dengan baik-baik seperti yang kau kehendaki,"

Kata Wasi Shiwamurti dan teman-temannya juga memandang kepada Wasi itu dengan heran.

Kenapa Wasi Shiwamurti bersikap seperti sahabat terhadap pemuda itu?

Tentu saja dalam hatinya Retno Wilis tidak sudi diundang menghadap Adipati Blambangan karena ia tahu bahwa hal itu sama saja dengan memasuki guha penuh dengan srigala yang buas.

Akan tetapi Jayawijaya menyambut undangan itu dengan suara gembira!

"Begitulah seharusnya!

Kalau kami diundang secara terhormat, tentu kami mau datang, akan tetapi kalau kalian menggunakan kekerasan, kami bahkan menolak.

Kebetulan karena akupun ingin bicara dengan sang adipati, menasihatinya agar dia tidak menggunakan cara kekerasan dalam penyebaran agama, melainkan dengan halus dan kalau ada yang memasuki agama baru itu, dengan suka rela bukan dengan paksaan."

Retno Wilis terbelalak keheranan.

Jayawijaya menerima undangan itu?

Gila!

Sama saja dengan memasuki perangkap!

Akan tetapi ia tahu bahwa pada saat seperti itu, melawanpun tidak akan ada gunanya.

Kedigdayaannya masih kalah jauh untuk melawan mereka.

Baru melawan Wasi Shiwamurti seorang saja, ia sudah kalah.

Apalagi kalau Wasi Karangwolo, Ni Dewi Durgomala dan Ki Shiwananda ikut maju mengeroyok.

Ia tentu akan tertawan juga.

Dan kalau dipikir dan diperhitungkan, ikut sebagai tamu yang diundang dengan hormat jauh lebih baik dari pada ikut sebagai tawanan!

Dan anehnya, hatinya tidak merasa khawatir.

Entah mengapa, ia merasa aman bersama Jayawijaya, merasa tenang dan sama sekali tidak takut, bahkan yakin bahwa pemuda aneh itu tentu akan mampu melindunginya.

Dekat dengan Jayawijaya ia merasa seperti kalau ia dekat dengan kakaknya, Bagus Seto.

Teringat akan Bagus Seto, hatinya menjadi lebih besar lagi.

Kakaknya tentu sudah memasuki Blambangan dan kalau terjadi sesuatu dengan dirinya, tentu kakaknya akan mengetahuinya dan akan menolongnya.

"Kalau begitu, kami undang kalian berdua untuk mengikuti kami, menghadap Sang Adipati Menak Sampar di Blambangan,"

Kata Wasi Shiwamurti dan suaranya terdengar ramah dan halus! "Kakang Jaya...!"

Retno Wilis hendak memrotes, akan tetapi Jayawijaya menggerakkan tangannya menenangkan gadis itu sambil berkata lembut dan tenang.

"Tidak mengapa, diajeng. Kita mendapat undangan dengan hormat dan karena kita tidak bersalah, Sang Hyang Widhi akan selalu melindungi kita."

"Kakang Wasi...!"

Wasi Karangwolo menegur kakak seperguruannya karena telah bersikap sehalus itu terhadap kedua orang muda yang dimusuhi itu.

Akan tetapi Wasi Shiwamurti juga mengangkat tangan memberi isarat agar kawan-kawannya diam dan tidak membantah.

Demikianlah, Jayawijaya dan Retno Wilis dikawal oleh empat orang tokoh itu memasuki pintu gerbang kota kadipaten Blambangan.

Para perajurit yang berjaga di situ juga terbelalak melihat betapa dua orang itu dikawal masuk dalam keadaan tenang dan sama sekali bukan sebagai tawanan.

Wasi Shiwamurti segera menyuruh seorang perwira untuk melapor kepada Sang Adipati Menak Sampar bahwa mereka mohon menghadap.

Adipati Menak Sampar sendiri terkejut mendengar bahwa Wasi Shiwamurti membawa dua orang muda, terutama Retno Wilis yang namanya menggiriskan itu, datang menghadapnya, bukan sebagai tawanan melainkan sebagai tamu!

Dia merasa heran dan cepat bersiap-siaga untuk menyambut mereka di Balai Agung.

Karena Wasi Karangwolo berkedudukan sebagai penasihat Sang Adipati, dan tiga orang tokoh agama Shiwa-Durgo-Kala itu merupakan tamu-tamu terhormat, maka ketika menghadap Adipati Menak Sampar mereka tidak duduk di atas lantai, melainkan duduk di atas kursi yang telah disediakan.

Juga disediakan dua kursi untuk Jayawijaya dan Retno Wilis sehingga mereka benar-benar dianggap sebagai tamu!

Setelah diadakan tegur sapa resmi dan memberi penghormatan kepada sang adipati, Wasi Shiwamurti lalu melapor dengan suara lembut.

"Sang Adipati, kami datang membawa serta dua orang tamu ini. Mereka ini adalah Retno Wilis, puteri dari Kipatih Tejolaksono dari Panjalu, dan yang seorang lagi bernama Jayawijaya. Mereka datang untuk memperbincangkan tentang penyebaran agama baru di wilayah Blambangan."

Sang Adipati mengangguk dan memandang kepada dua orang muda itu dengan sinar mata penuh selidik.

Ketika memandang kepada Retno Wilis, dia terpesona oleh kecantikan gadis itu, akan tetapi mendengar akan sepak terjang Retno Wilis, hatinya diliputi kengerian dan juga hamper tidak dapat percaya bahwa gadis cantik jelita seperti itu dapat menjadi seorang ganas dan sakti menakutkan.

"Hemm, Retno Wilis dan Jayawijaya, apakah yang andika berdua hendak sampaikan kepada kami mengenai penyebaran agama itu?"

Tanya Adipati Menak Sampar kepada dua orang muda itu dengam suara yang dibuat sewibawa mungkin.

Akan tetapi suara itu sama sekali tidak menggetarkan atau menimbulkan rasa hormat kepada dua orang muda itu.

Retno Wilis hanya memandang dengan dingin dan tidak hendak menjawab karena ia ikut menjadi tamu itu sebetulnya hanya untuk mengikuti kehendak Jayawijaya saja.

Ia membiarkan pemuda itu yang menjawabnya dan hal ini agaknya juga dimengerti oleh Jayawijaya.

Dia menatap wajah sang Adipati dan dia lalu berkata.

"Sang adipati, sebetulnya bukan keinginan kami untuk datang ke sini, akan tetapi kami diundang oleh Wasi Shiwamurti untuk menghadap andika dan untuk bicara tentang penyebaran agama baru itu. Kami sungguh tidak setuju dengan cara penyebaran agama baru yang menggunakan paksaan dan kekerasan. Kami menentang itu karena hal itu sebetulnya menyalahi prikemanusiaan. Siapa saja boleh berganti agama sesuka hatinya asalkan agama yang baru itu tidak memaksakan kehendak para penyebarnya dengan ancaman. Karena kami sudah diundang ke sini, maka kebetulan sekali kami hendak menegur andika dengan cara penyebaran agama itu."

Ucapan itu tegas, tenang, tidak menjilat akan tetapi juga dengan cukup sopan.

Muka sang adipati sudah mulai merah.

Pemuda yang kelihatan seperti pemuda dusun walau pun wajahnya amat tampan itu menyebutnya dengan "andika"

Begitu saja.

Padahal seluruh kawula Blambangan menyebutnya "paduka".

Dia melirik ke arah puterinya yang hadir di situ.

Puterinya itu adalah anak tunggalnya yang terkasih, bernama Dyah Ayu Kerti.

Ibunya seorang puteri Bali dan Dyah Ayu Kerti yang berusia kurang lebih tujuh-belas tahun itu adalah seorang gadis yang teramat cantik jelita.

Sejak tadi, Dyah Ayu Kerti memandang kepada dua orang tamu itu, terutama kepada Jayawijaya.

Pandang matanya melekat kepada pemuda itu.

Entah mengapa, ada sesuatu pada diri pemuda itu yang menarik hatinya dan membuatnya terpesona.

Apalagi ketika pemuda itu sudah bicara, suaranya seperti menembus ke hatinya dan kata-katanya demikian menarik, membuat Dyah Ayu Kerti memandang tanpa berkedip.

Pada saat itu, Jayawijaya sudah selesai bicara dan Adipati Menak Sampar melirik kepada puterinya.

Melihat puterinya memandang kepada pemuda itu dengan mata terbelalak dan mulut sedikit ternganga, Adipati Menak Sampar mengerutkan alisnya.

Tidak sepantasnya kalau puterinya mendengarkan semua percakapan itu.

Pula, nanti mungkin akan terjadi kekerasan di situ kalau dia memerintahkan agar para senopatinya menangkap dua orang muda itu.

Dia tidak mau puterinya terlibat dalam kekerasan dan berada dalam bahaya.

Maka diapun segera berkata kepada puterinya.

"Anakku Dyah Ayu Kerti, engkau sebaiknya masuk ke dalam dan menemani ibumu. Urusan ini tidak ada sangkut pautnya dengan keluargaku. Masuklah, nini."

Dyah Ayu Kerti memandang kepada ayahnya, lalu menengok dan memandang lagi kepada Jayawijaya.

Akan tetapi biarpun ia tidak ingin meninggalkan tempat itu, ia tidak mau membantah perintah ayahnya.

Ia Ialu menyembah dan mengundurkan diri, sebelum memasuki pintu tembusan, kembali ia mengerling ke arah Jayawijaya.

Setelah puterinya masuk ke dalam, Adipati Menak Sampar lalu menjawab ucapan Jayawijaya tadi.

"Orang muda, sebetulnya semua ucapanmu tadi salah alamat. Ketahuilah bahwa Kadipaten Blambangan sama sekali tidak menyebar agama baru, akan tetapi yang menyebar adalah para pendeta dari Negeri Cola di dunia barat, yang dipimpin oleh Sang Wasi Shiwamurti. Bagaimana cara mereka menyebar agama adalah hak mereka, dan andika sama sekali tidak mempunyai hak untuk mencampuri. Apalagi kalau terjadi di daerah Blambangan, kami tidak ingin orang luar mencampurinya tanpa seijin kami!"

"Sang Adipati, kalau peristiwa itu terjadi di daerah Blambangan, tentu saja hal itu dapat dimengerti dan kamipun tidak akan mencampurinya. Akan tetapi banyak peristiwa pemaksaan memeluk agama baru itu terjadi di luar daerah Blambangan dan Nusabarung, bahkan menjalar ke daerah Panjalu dan Jenggala. Karena itu kami terpaksa menentangnya. Dan kami menegur kepada andika sama sekali bukan salah alamat, karena para penyebar agama itu menjadi tamu kadipaten Blambangan maka kadipaten Blambangan pula yang harus bertanggung-jawab!"

Retno Wilis merasa heran sekali akan kepandaian Jayawijaya untuk berdebat.

Juga ia merasa lucu.

Biasanya, menghadapi orang-orang seperti para wasi sesat ini, ia tidak perlu banyak cakap, melainkan tangan kaki yang bicara mengadu kesaktian.

Akan tetapi Jayawijaya berdebat dengan mulut dan pemuda itu sedikitpun tidak merasa gentar!

Diamdiam Retno Wilis bersikap waspada.

Ia tidak dapat percaya terhadap kejujuran orang-orang seperti Wasi Shiwamurti dan Wasi Karangwolo.

Orang-orang seperti itu biasanya berhati palsu, tidak pantang melakukan kecurangan dan kekerasan dalam bentuk apapun juga.

Ia merasa bahwa mereka berada di dalam sarang harimau yang penuh binatang buas dan keadaan mereka berbahaya sekali.

Bagaimana kalau sang adipati itu memerintahkan para punggawanya untuk menangkap mereka berdua?

Kalau Wasi Shiwamurti, Wasi Karangwolo, Nini Dewi Durgomala dan Ki Shiwananda turun tangan terhadap mereka, apa yang dapat ia lakukan?

Melawan mereka pasti ia akan kalah dan Jayawijaya biarpun memiliki pengaruh mujijat, belum dapat diandalkan untuk menundukkan mereka karena pemuda itu tidak dapat dan tidak mau berkelahi!

Ia teringat akan pengalamannya di Nusabarung ketika ia dikeroyok banyak punggawa Nusabarung dan keadaannya berada dalam bahaya.

Ia mampu meloloskan diri dengan menangkap Adipati Martimpang dan menjadikannya sebagai sandera.

Ingatan ini yang menimbulkan pikiranya untuk berbuat yang sama di kadipaten Blambangan itu.

Kalau terjadi sesuatu yang mengancam keselamatan ia dan Jayawijaya, ia akan menawan Adipati Menak Sampar dan menyanderanya agar ia dan Jayawijaya dapat lolos dari tempat itu!

Diam-diam Retno Wilis sudah siap sedia, seluruh urat syarafnya menegang, siap untuk bergerak.

"Dengan sekali loncatan saja ia akan dapat tiba di dekat adipati itu dan menyanderanya,"

Demikian pikirnya.

Ketika Adipati Menak Sampar mendengar bantahan Jayawijaya, wajahnya yang biasanya sudah merah itu menjadi semakin merah.

Tubuhnya yang tinggi besar bergerak gelisah di atas kursinya dan kumisnya yang melintang itu seperti menjadi semakin kaku.

"Jayawijaya, berani engkau bicara seperti itu di depan kami! Ingat, andika sekarang berada di tempat kami dan sekali kami menggerakkan tangan memberi isyarat, orang-orangku akan menangkap kalian, bahkan dengan mudah kami dapat membunuh kalian!"

Inilah yang dinanti-nanti oleh Retno Wilis.

Begitu mendengar ucapan adipati itu, terutama kalimat terakhir yang nadanya mengancam, secepat kilat ia sudah meloncat ke depan dan sebelum ada orang dapat mencegahnya, bahkan sebelum Adipati Menak Sampar dapat berkutik, tangannya sudah mencabut pedang pusaka Sapudenta dan ditempelkannya pedang itu ke leher Adipati Menak Sampar sambil menghardik dengan suara yang nyaring.

"Siapa berani mengganggu kakang Jayawijaya, pedangku akan memenggal leher Adipati Menak Sampar!"

"Diajeng Retno Wilis! Jangan, jangan bunuh orang...!"

Jayawijaya berseru kepada Retno Wilis.

Dia khawatir kalau-kalau Retno Wilis benar-benar akan memenggal leher sang adipati!

Wasi Shiwamurti adalah seorang yang berpengalaman.

Sekali pandang dan dengar saja, tahulah dia bahwa pemuda itu tidak akan membiarkan Retno Wilis membunuh sang adipati, maka cepat sekali tangannya menyambar dan dia sudah menangkap kedua lengan Jayawijaya dan dipuntirnya ke belakang.

Di detik lain Jayawijaya telah ditelikungnya dan pemuda itu tidak mampu bergerak.

"Retno Wilis! Kalau engkau mengganggu Sang Adipati, pemuda ini akan kuhancurkan kepalanya!"

Bentak Wasi Shiwamurti dan diam-diam dia merasa heran dan juga girang sekali.

Ternyata pemuda yang ditakutinya itu sama sekali tidak memiliki tenaga untuk melepaskan diri, bahkan mencobapun tidak!

Sama sekali tidak disangkanya bahwa sedemikian mudahnya dia menangkap pemuda yang disangkanya maha sakti itu.

"Diajeng Retno! Lepaskanlah Sang Adipati. Bukan karena aku takut mati, akan tetapi karena tidak baik kalau engkau sampai membunuh orang demi aku. Aku tidak akan rela!"

Retno Wilis menjadi serba salah.

Ancamannya dengan menyandera Sang Adipati ternyata gagal dan tidak ada gunanya.

Selain Wasi Shiwamurti tidak mau melepaskan Jayawijaya, juga ia tidak dapat membunuh sang adipati karena Jayawijaya menentang keras!

Dengan perasaan menyesal dan gemas karena Jayawijaya tidak mendukung siasatnya menyandera sang adipati, terpaksa Retno Wilis melepaskan adipati itu.

Akan tetapi sebelum ia melepaskan pedangnya dari leher Adipati Menak Sampar, ia berkata dengan suara penuh wibawa kepada Wasi Shiwamurti.

"Aku hanya mau membebaskan Adipati Menak Sampar kalau kalian mau berjanji bahwa kalian tidak akan membunuh Kakang Jayawijaya!"

Tidak ada yang memberi jawaban atas ucapan Retno Wilis itu.

Para wasi dan kawan-kawannya berdiam diri, dan Wasi Shiwamurti masih saja menelikung kedua lengan Jayawijaya ke belakang tubuhnya.

Retno Wilis menggigit bibirnya dengan marah sekali dan ia berkata kepada Adipati Menak Sampar.

"Adipati Menak Sampar, berjanjilah bahwa engkau tidak akan memperkenankan mereka membunuh kakang Jayawijaya, atau kalau engkau tidak mau berjanji, demi pari dewa, aku akan membunuhmu sekarang juga kemudian mengamuk, kalau perlu mengorbankan nyawaku di sini. Akan tetapi engkaulah yang akan mati lebih dulu!!"

Setelah berkata demikian, ia menekan pedangnya ke leher adipati itu. Wasi Shiwamurti menggertak dan berseru keras.

"Retno Wilis! Kalau engkau tidak cepat melepaskan Sang Adipati, aku akan membunuh Jayawijaya!"

Retno Wilis membalas dengan kata-kata lantang.

"Wasi Shiwamurti! Begitu engkau membunuh kakang Jayawijaya, kepala Adipati Menak Sampar akan menggelinding dari lehernya, kemudian aku akan mengamuk dan percayalah, sebelum aku mati kalian keroyok, aku pasti telah membunuh banyak di antara kalian! Tidak ada gunanya engkau menggertak!"

Merasa betapa pedang itu ditekankan di kulit lehernya dan tahu bahwa gadis perkasa itu bukan hanya menggertak kosong belaka, Adipati Menak Sampar menjadi ketakutan sekali.

"Paman Wasi Shiwamurti, jangan bunuh Jayawijaya!"

Teriaknya dengan mata terbelalak ketakutan.

"Retno Wilis, aku berjanji bahwa aku tidak akan memperkenankan mereka membunuh Jayawijaya!"

"Engkau berani bersumpah?"

Desak Retno Wilis.

"Aku, Adipati Menak Sampar, bersumpah tidak akan membunuhnya!"

"Aku ingin engkau berjanji dan bersumpah sebagai Adipati Blambangan, bukan pribadi Menak Sampar yang tidak kupercaya!"

Kata pula Retno Wilis.

"Baiklah, sebagai Adipati Blambangan, aku bersumpah tidak akan membunuh atau menyuruh bunuh Jayawijaya. Paman Wasi bebaskan pemuda itu!"

Mendengar ini, dengan apa boleh buat Wasi Shiwamurti melepaskan kedua lengan Jayawijaya yang tadinya dia telikung ke belakang tubuhnya.

Begitu terlepas dari cengkeraman wasi itu, Jayawijaya mendekati Retno Wilis dan berkata kepada gadis itu.

"Diajeng Retno Wilis, harap engkau suka melepaskan Sang Adipati."

Sebelum menarik kembali pedang pusakanya, Retno Wilis yang teringat akan sesuatu berkata lagi.

"Adipati Menak Sampar, katakan sekali lagi bahwa engkau akan membebaskan kakang Jayawijaya!"

"Baik, kami membebaskan Jayawijaya, Sekarang juga dia boleh meninggalkan tempat ini dan kami tidak akan mengganggunya sama sekali."

Setelah sang adipati berjanji akan membebaskan Jayawijaya, barulah lega rasa hati Retno Wilis dan iapun melepaskan ancamannya, mundur dan tangannya masih memegang pedang pusakanya.

Melihat ini, Wasi Shiwamurti, Wasi Karangwolo, Ni Dewi Durgomala dan Ki Shiwananda lalu bergerak mendekati sang adipati untuk memberi perlindungan.

Adipati Menak Sampar kini menjadi marah sekali.

Mukanya yang tadinya pucat berubah merah dan dia berkata dengan mata melotot kepada Retno Wilis.

"Retno Wilis, berani sekali engkau telah menghina kami. Kami terpaksa harus menawanmu! Terserah engkau hendak menyerah menjadi tawanan atau kami akan menggunakan kekerasan terhadap dirimu!"

Dengan tangannya sang adipati memberi isyarat dan dua orang senopatinya, yaitu Senopati Rajah Beling yang tinggi besar dan Senopati Kurdolangit yang tinggi kurus, telah memimpin belasan orang perajurit pengawal untuk mengepung dara perkasa itu.

Melihat ini, Jayawijaya berseru dengan penasaran.

"Sang Adipati Menak Sampar! Andika adalah seorang adipati yang disembah oleh orang-orang sedaerah Blambangan, apakah engkau tidak malu untuk menjilat ludah sendiri yang telah dikeluarkan? Engkau sudah berjanji untuk membebaskan kami. Mengapa sekarang engkau hendak menawan diajeng Retno Wilis?"

"Ha-ha-ha!"

Sang Adipati Blambangan itu tertawa bergelak penuh ejekan.

"Siapa yang melanggar janji? Kami memang berjanji untuk membebaskan Jayawijaya, dan sekarangpun engkau boleh pergi, kami tidak akan mencegahmu. Akan tetapi kami tidak pernah berjanji untuk membebaskan Retno Wilis! Karena itu ia harus menjadi tawanan kami!"

Retno Wilis teringat akan hal ini dan ia gemas sekali. Dalam keadaan tegang ingin menyelamatkan Jayawijaya ia sampai lupa kepada dirinya sendiri.

"Sang Adipati Menak Sampar, andika seorang adipati yang besar dan tentu tidak akan bertindak sewenang-wenang dan tanpa alasan. Alasan apa yang andika pakai untuk menawan diajeng Retno Wilis?"

"Hemm, ia seorang telik sandi dari Kerajaan Panjalu! Itu alasan pertama. Dan alasan kedua, ia telah berani menawan dan menghina kami sebagai sandera. Dan alasan itu sudah cukup untuk menawannya! Retno Wilis, menyerahlah atau kami akan menggunakan kekerasan!"

Bentak Sang Adipati.

Retno Wilis mempererat pegangannya pada gagang pedangnya, siap untuk melawan dan mengamuk.

Akan tetapi pada saat itu Jayawijaya melangkah maju menghampirinya dan berkata kepadanya dengan lembut.

"Sarungkan pedangmu, diajeng. Sang Adipati Menak Sampar, kalau engkau tidak membebaskan diajeng Retno Wilis dan hendak menawannya, maka akupun ingin menyertainya menjadi tawanan."

"Ha-ha-ha, ini adalah kemauanmu sendiri, Jayawijaya, jangan katakan bahwa kami yang melanggar janji. Retno Wilis, serahkan pedangmu dan menyerahlah."

Retno Wilis menyarungkan pedangnya menuruti permintaan Jayawijaya dan menjawab dengan suara dingin.

"Senjata merupakan nyawa kedua bagi seorang pendekar. Aku tidak akan menyerahkan pedangku selama nyawaku belum meninggalkan badan! Tawanlah kami, aku tidak akan melawan."

Sang Adipati Menak Sampar maklum akan kehebatan wanita yang sudah amat terkenal ini. Dia tidak ingin mengorbankan orang-orangnya yang tentu banyak yang akan tewas kalau wanita itu mengamuk.

"Bawa mereka dan masukkan ke dalam penjara!"

Teriaknya dengan marah.

Dua orang senopati dan belasan orang perajuritnya segera mengawal Retno Wilis dan Jayawijaya menuju ke penjara yang terdapat dibelakang kadipaten, diantarkan pula oleh Wasi Shiwamurti dan kawan-kawannya yang khawatir kalau-kalau dua orang muda itu akan memberontak dan meloloskan diri.

Biarpun hatinya mendongkol dan alisnya berkerut, namun Retno Wilis yang melihat Jayawijaya menyerah dengan sabar dan tenang, terpaksa mengikuti pemuda itu dan diam saja ketika diarak menuju ke penjara.

Mereka disuruh memasuki sebuah kamar penjara yang cukup besar, pintunya terbuat dari baja dan berterali yang kokoh kuat lalu dikunci dari sebelah luar.

Melalui pintu berterali itu Retno Wilis dapat melihat belasan orang yang memegang tombak atau golok berjaga disitu.

Setelah mereka ditinggalkan berdua saja, barulah Retno Wijis menegur kepada Jayawijaya.

"Kakang Jaya, engkau ini bagaimanakah? Kenapa menyerah saja ketika ditawan? Kalau sudah begini, kita tidak berdaya dan berada di dalam kekuasaan Adipati Blambangan dan para wasi yang jahat itu. Bagaimana kita akan dapat lolos dari tempat ini, kakang?"

"Jangan salah mengerti, diajeng Retno Wilis. Aku menyarankan agar kita menyerah karena tidak ada jalan lain. Kalau kubiarkan engkau mengamuk, biarpun engkau akan dapat membunuh banyak orang, akhirnya engkau akan roboh juga karena keadaan mereka terlalu kuat bagimu. Engkau akan tewas dan membawa banyak dosa karena membunuh banyak orang. Dan jangan sekali-kali mengira bahwa kita berada dalam kekuasaan Adipati Blambangan atau para wasi. Tidak, kita tetap berada dalam kekuasaan Hyang Widhi, diajeng. Dan aku yakin kita akan dapat terbebas dari bahaya kalau Hyang Widhi menghendaki. Aku yakin sepenuhnya bahwa Sang Hyang Widhi berada bersama kita dan betapa mudahnya bagi kekuasaan Hyang Widhi untuk membebaskan kita."

"Akan tetapi kita telah berada dalam kurungan dan tidak berdaya! Bagaimana mungkin kita akan dapat membebaskan diri tanpa daya upaya dan hanya mengandalkan kekuasaan Hyang Widhi?"

Retno Wilis membantah.

"Daya upaya merupakan kewajiban kita. Tentu saja kita harus berdaya upaya karena bimbingan Hyang Widhi mungkin tersalur lewat daya upaya kita. Akan tetapi tidak selamanya daya upaya kita mendatangkan hasil dan pada akhirnya kita harus mendasari semua itu dengan penyerahan, dengan kepasrahan ke Tangan Hyang Widhi."

Sungguh mengherankan.

Entah mengapa, setelah mendengar ucapan-ucapan yang dikeluarkan dengan suara yang demikian tenang dan sabar, penuh iman, hati Retno Wilis juga menjadi tenang.

Sampai lama mereka berdua berdiam diri, hanya duduk bersila di atas lantai yang dingin.

Sejak tadi Retno Wilis memperhatikan pemuda itu.

Tiada habis rasa heran di dalam hatinya.

Pemuda itu demikian tenang, demikian sabar, bahkan melebihi ketenangan dan kesabaran kakaknya sendiri.

Berada dalam tawanan musuh, pemuda itu sedikitpun tidak tampak bersedih atau cemas, duduk bersila memejamkan mata dengan tenangnya seperti berada di dalam kamarnya sendiri!

"Kakang Jayawijaya..."

Panggilnya. Pemuda itu membuka kedua matanya, memandangnya dan tersenyum.

"Ada apakah, diajeng?"

"Pernahkah andika merasa berduka atau bersuka?"

Jayawijaya tersenyum sebelum menjawab.

"Tentu saja, diajeng. Aku juga seorang manusia biasa yang kadang dipermainkan perasaan hati sendiri. Dapat diombangambingkan di antara suka dan duka. Merasa suka atau duka adalah manusiawi. Selama pikiran dan gagasan menguasai kita, sudah pasti kita akan diseret di antara dua perasaan yang berlawanan itu. Akan tetapi, apabila kita menghadapi setiap peristiwa yang kita hadapi sebagai sesuatu yang wajar dan sebagai pelaksanaan dari kehendak Hyang Widhi, maka kita akan dapat memulihkan ketenteraman hati dan tidak terseret antara suka dan duka. Kita mengenal duka karena kita mengenal suka dan demikian sebaliknya. Bagaimana mungkin kita dapat mengenal rasa manis kalau kita tidak mengenal rasa pahit, masam, asin, getir dan sebagainya sebagai lawan rasa? Bagaimana kita dapat mengenal malam kalau kita tidak mengenal siang? Seluruh alam mayapada digerakkan dan diputar oleh dua keadaan yang saling berlawanan ini, diajeng. Saling berlawanan, saling menunjang, saling menolak dan karenanya terjadi perputaran dan terjadi kehidupan."

"Terjadinya kehidupan, kakang?"

Tanya Retno Wilis heran, menjadi bingung oleh keterangan yang baginya terlalu rumit itu.

"Ya, terjadinya kehidupan inipun dikarenakan bertemunya dua keadaan yang berlawanan itu, diajeng. Ingat, kelahiran manusia dan semua mahluk hidup dapat terjadi karena adanya sifat jantan dan betina yang saling berlawanan. Bahkan dalam kehidupan nabati sekalipun terdapat dua sifat yang bertentangan sebagai sifat jantan dan sifat betina yang mendatangkan benih."

"Apakah andika tidak pernah merasa takut, kakang?"

Kembali Jayawijaya tersenyum.

"Kalau engkau setiap detik dengan penuh kepasrahan menyerahkan diri ke dalam kekuasaan Tuhan, engkau tidak akan mengenal rasa takut, diajeng. Apakah rasa takut itu? Rasa takut timbul kalau gagasan membayangkan masa datang, membayangkan apa yang belum terjadi, khawatir kalau sampai terjadi ini atau itu yang menimpa dirinya. Contohnya. Kalau ada wabah mengamuk, orang yang belum sakit takut kalau ketularan penyakit itu. Kalau dia sudah ketularan, maka rasa takut akan penyakit itu lenyap, terganti rasa takut kalau sampai dia mati, dan selanjutnya. Rasa takut timbul kalau pikiran membayangkan masa depan, hal yang belum terjadi. Seperti keadaan kita sekarang ini. Tentu saja rasa takut akan timbul kalau kita membayangkan apa yang akan dapat terjadi terhadap diri kita."

"Lalu, apakah kita harus tidak mengacuhkan apa yang boleh terjadi kepada kita dan tidak perduli?"

Retno Wilis mengejar.

"Bukan tidak acuh atau tidak perduli,melainkan tidak membayangkan apa yang akan datang. Hal itu bukan berarti bahwa kita tidak melakukan usaha untuk menolong diri sendiri. Akan tetapi seluruh hati akal pikiran ditujukan kepada masa kini, saat ini dan kalau kita mencurahkan kepada saat ini, maka mungkin akan terbuka mata kita untuk melihat kemungkinan-kemungkinan kita dapat menolong diri sendiri, dengan landasan penyerahan kepada kekuasaan Hyang Widhi. Bagiku, setiap detik, setiap saat kita harus selalu ingat dan waspada, diajeng."

"Ingat kepada siapa dan waspada terhadap apa,kakang?"

"Ingat kepada Sang Hyang Widhi yang berarti penyerahan diri secara mutlak ke Tangan Hyang Widhi, dan waspada akan diri sendiri, apa yang kita pikirkan, ucapkan atau lakukan."

Suasana hening meliputi hati Retno Wilis.

Seperti terbuka mata hatinya dan sadarlah ia bahwa suka duka datang silih berganti dalam kehidupan manusia dan justeru itulah romantika kehidupan.

Hidup merupakan tantangan dan kita harus berani menghadapi setiap tantangan dengan mata terbuka, tidak melarikan diri dari keadaan yang bagaimanapun juga.

Menghadapi dan mengatasi setiap tantangan, itulah seninya hidup!

Akan tetapi, kalau hidup hanya untuk diombang-ambingkan antara suka dan duka, lalu apa artinya hidup ini?

Apa tujuan kehidupan ini?

Hatinya merasa penasaran dan ia langsung mengajukan pertanyaan yang timbul dalam hatinya itu kepada Jayawijaya.

"Kakang, kalau begitu, lalu apa artinya hidup ini? Apa tujuan dari pada kehidupan ini? Apa maksudnya kita dihidupkan sebagai manusia di dunia ini?"

Jayawijaya tersenyum lebar mendengar pertanyaan ini dan memandang kepada Retno Wilis dengan mata bersinar lembut dan penuh ketenangan dan kesabaran.

"Diajeng Retno Wilis, sudah seringkali aku mendengar pertanyaan ini diajukan orang. Sebelum kita mencari jawaban atas pertanyaan apa tujuan dari pada kehidupan ini, mari kita mengamati keadaan diri kita sebagai manusia yang dilahirkan di dunia melalui ayah-bunda kita. Ingat, kita ini dilahirkan, di luar kehendak kita. Tidak ada manusia di dunia ini yang minta dilahirkan. Jadi kelahiran kita ini bukan kehendak kita, melainkan kehendak Sang Hyang Widhi! Karena kita dilahirkan di luar kehendak kita, maka tentu saja bagi kita tidak ada tujuan apapun dalam kehidupan ini. Kita dilahirkan atas kehendak Yang Maha Kuasa, maka Dialah yang berkehendak dan bertujuan! Bukan kita. Kita hanya tinggal hidup saja, tidak menguasai apapun. Bahkan kita tidak menguasai rambut kita sendiri. Tidak ada selembarpun rambut di tubuh kita yang kita kuasai sehingga kita tidak dapat mengatur pertumbuhannya. Kita tidak memiliki apa-apa, bahkan yang menempel di tubuh kita-pun bukan milik kita. Seluruh diri kita ini ada yang Memiliki, ada yang Menguasai. Berhentinya kehidupan kita terserah kepada Yang Memiliki dan Yang Menguasai itulah. Hanya, ketika kita dilahirkan, diciptakan di dunia ini sebagai manusia hidup, kita disertai tanggung jawab, disertai kewajiban-kewajiban untuk menghadapi segala kenyataan dan mengatasinya, seperti yang telah kukatakan tadi. Kita harus menghadapi segala tantangan dan mengatasinya, itulah kenyataan hidup. Perut kita lapar dan kalau tidak diisi kita akan mati kelaparan, maka sudah menjadi kewajiban kita untuk mengisinya, dan untuk dapat mengisinya sudah menjadi kewajiban kita untuk mencari makanan pengisi perut itu. Demikian pula dengan hal-hal lain. Dan Gusti Yang Maha Kasih telah menciptakan kita secara sempurna. Untuk dapat memenuhi kewajiban itu kita telah disertai segala macam alat. Setiap anggauta tubuh kita ini bermanfaat, berguna untuk mempertahankan hidup. Demikianlah kehendak Hyang Widhi. Kita tidak dapat menentang kehendakNya. Karena itu, satusatunya cara hidup yang baik adalah menyerah kepada kekuasaanNya, menyerah kepada kehendakNya. Apapun yang terjadi kepada kita, kita harus mengucap syukur karena berkahNya berlimpah-limpah setiap saat tanpa henti, walaupun berkah itu terkadang terselubung dan bersembunyi di balik peristiwa yang bagi hati akal pikiran kita terasa tidak enak atau tidak menguntungkan. Segala kehendak Hyang Widhi atas-diri kita adalah baik dan benar dan kita tidak dapat menilainya melalui pertimbangan hati akal pikiran kita, karena semua penilaian hati akal pikiran bersifat mementingkan diri sendiri, mementingkan kesenangan dan keuntungan diri sendiri. Mengertikah engkau mengapa aku setiap saat menyerah kepada kekuasaan Sang Hyang Widhi, diajeng?"

Retno Wilis mengangguk, kehabisan bahan untuk bicara.

Ia merasa bahwa segala sesuatu tentang hidup sudah tercakup dalam kata-kata Jayawijaya tadi, dan ia sudah tidak perlu mengetahui hal yang lain lagi tentang kehidupan.

Sekarang mulailah ia mengerti mengapa Jayawijaya tidak pernah merasa takut menghadapi apapun juga.

Mengapa Jayawijaya tidak pernah menggunakan kekerasan, namun tidak takut menghadapi kekerasan itu sendiri.

Cara penyerahan diri kepada Yang Maha Kuasa secara mutlak lahir dan batin.

Akan tetapi ia sangsi apakah ia mampu bersikap seperti Jayawijaya!

Agaknya tidak mungkin dapat.

Gairah hidupnya masih penuh semangat, bergelora dan ia tidak mungkin dapat mengalah terhadap kekerasan yang dilakukan orang lain terhadap dirinya.

Pasti akan dilawannya sekuat tenaga!

"Kakang, untuk dapat bersikap seperti engkau ini, dibutuhkan kekuatan yang luar biasa, melebihi tenaga sakti yang manapun.

Engkau telah membuat dirimu lebih kuat daripada segala cipta, rasa dan karsamu sendiri, engkau telah mengalahkan segala nafsu-nafsumu!

Hal itu tidak mungkin dapat tercapai oleh aku yang lemah ini."

Jayawijaya tertawa dan suara tawanya membuat Retno Wilis menyadari bahwa yang berada di depannya bukanlah dewa, melainkan manusia biasa.

"Diajeng, akupun tidak dapat melepaskan diri dari nafsu nafsuku. Kalau aku melepaskan diri dari nafsu, aku tidak akan dapat bertahan hidup di dunia ini. Nafsu adalah keduniawian. Nafsu adalah alat-alat yang kita pergunakan untuk dapat hidup dan untuk menikmati kehidupan itu sendiri. Akan tetapaku selalu memohon kekuatan dari Hyang Widhi agar nafsu tidak sampai memperbudak aku, agar nafsu-nafsuku tetap menjadi peserta, menjadi alat yang baik dan berguna, bukan menjadi majikan atas diriku, bukan menjadi kuda-kuda binal yang akan menyeret kereta berikut kusirnya ke dalam jurang."

"Kuda-kuda binal, kakang? Apa pula maksudnya itu?"

"Diajeng Retno Wilis yang bijaksana. Nafsu dapat diibaratkan api yang kalau kita kuasai akan menjadi alat yang amat berguna dan mutlak bagi kehidupan akan tetapi kalau menjadi liar akan membakar dan melahap segala yang berada di depannya. Nafsu-nafsu juga dapat diibaratkan kuda-kuda penarik kereta, di mana terdapat sang kusir,kereta adalah badan jasmani kita sedangkan kusirnya adalah rohani kita. Kalau kuda-kuda penarik itu dapat dijinakkan, maka mereka akan dapat menarik kereta sehingga maju ke arah yang semestinya. Akan tetapikalau kuda-kuda itu menjadi liar sehingga sang kusir tidak lagi mampu mengendalikannya, kuda-kuda itu akan kabur dan mungkin akan menyeret kereta berikut kusirnya masuk ke dalam jurang."

"Ah, begitukah? Jadi kuda-kuda itu amat penting untuk menarik maju sang kereta, akan tetapi juga amat berbahaya kalau sampai menjadi liar? Begitukah nafsu-nafsu kita itu, kakang? Lalu bagaimana upaya kita agar nafsu-nafsu kita tidak menjadi liar dan tetap menjadi peserta yang baik? Bagaimana cara kita untuk dapat menundukkan nafsu-nafsu kita sendiri?"

"Kita tidak dapat menundukkan nafsu-nafsu kita sendiri karena kita memang bergantung kepada mereka. Akan tetapi nafsu-nafsu itu diikut-sertakan kepada kita sejak kita lahir, merupakan anugerah pemberian Hyang Widhi sebagai penciptanya. Karena itu, satu-satunya jalan untuk dapat menempatkan nafsu-nafsu di kedudukannya semula, yaitu sebagai peserta dan pelayan, hanya lah menyerah kepada kekuasaan Hyang Widhi. Hanya kekuasaan Hyang Widhi yang mampu menundukkan nafsu-nafsu yang suka meliar itu, diajeng."

Kembali hening mengikuti percakapan, ini.

Retno Wilis termenung dan semakin merasa bahwa ia akan selalu berada dalam keadaan damai dan tenteram kalau berdekatan dengan pemuda ini.

Ia merasa terharu sekali, merasa bahwa selama hidupnya baru kini ia bertemu dengan seorang yang benar benar dikaguminya lahir batin, ia melihat seorang laki-laki yang benar-benar gagah perkasa, yang berani menentang bahaya bahkan maut dengan dada terbuka, sedikitpun tidak ada rasa takut, dengan hati bersih tidak terkandung perasaan bermusuhan apa lagi benci!

Dan setelah ia termenung dan tenggelam dalam renungannya, Retno Wilis melihat bahwa ia telah jatuh cinta kepada pria itu!

Rasa kagum bercampur dengan rasa iba dan sayang, membuatnya timbul keinginan untuk dapat membahagiakan pria yang dikaguminya itu.

Malam tiba.

Dari sela-sela jeruji, penjaga memasukkan makanan yang terbungkus daun pisang dengan minuman.

Retno Wilis membiarkannya saja.

Akan tetapi Jayawijaya lalu mengambil bungkusan nasi dan lauk pauknya itu, membawanya ke dekat Retno Wilis.

Sinar lampu menyorot dari luar, memberi penerangan yang cukup ke dalam kamar tahanan itu.

"Diajeng Retno Wilis, silakan makan dan minum hidangan antaran mereka ini,"

Kata Jayawijaya lirih.

"Hemm, aku tidak suka dengan makanan pemberian mereka, kakang,"

Jawab Retno Wilis dengan alis berkerut.

Ia tahu bahwa penolakannya itu bukan hanya karena perasaan tidak senang kepada musuh-musuhnya, melainkan juga karena rasa khawatir kalau-kalau makanan itu diberi racun.

"Orang tidak tahu apa saja yang dapat dilakukan orang-orang licik dan curang seperti itu! Dan kurasa sebaiknya kalau engkau juga jangan makan suguhan mereka ini, kakang Jaya."

"Akan tetapi mengapa, diajeng? Sudah sejak pagi kita tidak makan dan perut kita menuntut isi. Kalau tidak makan malam ini, besok kita akan merasa lemah padahal dalam keadaan seperti ini kita perlu menjaga kesehatan dan tenaga. Makanlah, diajeng, biarpun hanya sedikit,"

Jayawijaya membujuk.

"Terus terang saja, kakang. Aku sangsi akan kebersihan makanan dan minuman ini. Ingat, mereka adalah orang-orang sesat. Bisa saja mereka mencampuri makanan ini dengan racun untuk membunuh kita."

Jayawijaya tersenyum.

"Percayalah akan kekuasaan Hyang Widhi, diajeng. Kekuasaan itu tidak akan membiarkan kita diracuni orang. Mulut kita tidak akan mau menelan kalau makanan atau minuman ini mengandung racun. Marilah, biar aku dulu yang mulai makan dan minum untuk membuktikan bahwa tidak ada racun dalam hidangan ini."

Jayawijaya lalu menuangkan air teh dari poci itu ke dalam cangkir yang disediakan, kemudian menempelkan bibir cangkir pada bibirnya.

Diminumnya sedikit demi sedikit air teh itu dan ditelannya.

Tidak terjadi sesuatu.

Kemudian diambilnya sebungkus nasi dan dimakannya.

Juga tidak terjadi sesuatu.

"Nah, jelas bahwa dalam hidangan makanan dan minuman ini tidak ada racunnya, diajeng. Mari silakan makan dan minum."

Retno Wilis merasa tidak enak untuk menolak terus.

Juga kekhawatirannya hilang.

Kalau tidak ada Jayawijaya di situ, biar bagaimanapun juga ia tidak akan mau menyentuh makanan dan minuman itu.

Mulailah ia minum dan makan untuk menenangkan perutnya yang memang lapar dan tenggorokannya yang memang haus.

Setelah selesai makan dan minum, Jayawijaya membawa sisa makanan dan bekas hidangan itu ke pintu dan mengeluarkannya lewat sela-sela jeruji.

Kemudian kembali dia duduk bersila di depan Retno Wilis seperti tadi.

"Mengaso dan tidurlah kalau engkau lelah dan mengantuk, diajeng."

"Aku tidak akan dapat tidur, akan tetapi aku sudah terbiasa beristirahat dengan duduk bersila dan bersamadhi, kakang."

"Bagus kalau begitu. Mari kita mengaso, diajeng."

Mereka tetap duduk bersila.

Malam semakin larut dan Retno Wilis sudah membuat perhitungan bagaimana kalau ia berusaha meloloskan diri bersama Jayawijaya.

Pintu jeruji besi itu bukan apa-apa baginya.

Dengan aji kesaktiannya dan kekuatan yang timbul dari hawa sakti, ia tentu akan mampu menjebol pintu itu.

Pedang pusaka Sapudenta juga tentu akan mampu mematahkan jeruji-jeruji besi itu.

Dan belasan orang perajurit penjaga di luar pintu kamar tahanan, dapat dengan mudah ia robohkan.

Akan tetapi bagaimana kalau Wasi Shiwamurti dan kawan-kawannya datang?

Mereka terlalu kuat baginya.

Dan juga Jayawijaya belum tentu mau, bahkan ia hampir yakin bahwa pemuda itu tentu akan menolaknya untuk melarikan diri dengan menggunakan kekerasan.

Ah, biarlah.

Ia akan melihat apa yang hendak dilakukan pemuda luar biasa itu dan ia hanya akan menurut saja apa kehendaknya.

Iapun mulai belajar pasrah dan menyerah kepada kekuasaan Yang Maha Kuasa!

Menjelang fajar.

Suasana semakin hening.

Para penjaga tidak terdengar lagi bicara, bahkan ada suara mendengkur.

Agaknya mereka telah tertidur!

Hawa udara yang dingin memasuki ruangan kamar tahanan itu, begitu dinginnya sehingga Retno Wilis dan Jayawijaya sadar dari Samadhi mereka.

Tiba-tiba terdengar suara di pintu besi dan tampak sesosok bayangan orang ditimpa sinar lampu dari luar.

Sesosok bayangan seorang wanita!

Agaknya wanita itu sedang membuka kunci pintu penjara dan tak lama kemudian pintu itu terbuka.

Bau harum menerpa hidung kedua orang tahanan itu.

Retno Wilis segera mengenal wanita itu yang bukan lain adalah puteri Sang Adipati Menak Sampar yang cantik jelita itu.

Gadis itu memang Dyah Ayu Kerti, puteri sang adipati!

Retno Wilis segera bangkit berdiri dan bertanya kepada puteri adipati itu.

"Siapa andika dan mau apa andika memasuki kamar tahanan ini?"

Akan tetapi Dyah Ayu Kerti tidak memperdulikan pertanyaan Retno Wilis. Ia menghampiri Jayawijaya yang masih duduk bersila dan berkata dengan bisikan lembut.

"Kakangmas Jayawijaya, aku Dyah Ayu Kerti datang untuk membebaskanmu, kakangmas. Andika berdua boleh pergi dan melarikan diri sekarang juga."

Jayawijaya bangkit berdiri dan memandang gadis jelita itu dengan heran.

"Bukankah andika ini puteri Sang Adipati Menak Sampar? Bagaimana andika dapat masuk ke sini? Para penjaga itu..."

"Ssssssttt... kakangmas Jayawijaya, jangan keras-keras andika bicara. Mereka sudah tertidur semua, terkena aji penyirepanku,"

Kata Dyah Ayu Kerti lirih sambil meletakkan telunjuknya di depan sepasang bibirnya yang merah merekah.

"Akan tetapi ramamu? Para wasi itu?"

Tanya pula Jayawijaya dengan heran.

"Mereka sedang berpesta mabuk-mabukan semalam suntuk untuk merayakan kemenangan mereka atas tertawannya andika berdua."

"Akan tetapi... mengapakah andika membebaskan kami?"

Tanya pula Jayawijaya.

"Karena aku merasa kasihan kepada andika, aku... aku..."

Retno Wilis kehilangan kesabarannya, ia menyambar tangan Jayawijaya dan menariknya sambil berkata.

"Marilah, kakang. Kesempatan terbuka bagi kita untuk melarikan diri. Jangan disia-siakan kesempatan ini!"

Ia menarik Jayawijaya keluar dari kamar tahanan itu dan lari melalui lorong di mana para penjaga malang melintang dalam keadaan pulas.

Mereka berdua melangkahi tubuh para penjaga itu.

Retno Wilis tetap menggandeng tangan Jayawijaya yang agaknya tidak tampak tergesa-gesa, seperti orang hendak pergi berjalan-jalan saja, bukan melarikan diri!

"Kakangmas Jayawijaya...!"

Mereka berhenti mendengar seruan ini dan melihat Dyah Ayu Kerti berlari-lari menghampiri mereka.

Setelah dekat, Dyah Ayu Kerti memegang tangan Jayawijaya yang sebelah lagi dengan erat dan ia berkata, wajahnya berubah kemerahan.

"Kakangmas, bawalah aku. Aku ikut, kakangmas Jayawijaya..."

"Ehhhh?? Ikut bagaimana? Aku tidak mengerti maksudmu."

"Ikut ke mana saja andika pergi. Aku... aku... ingin menemanimu, selamanya...!"

Panas rasa perut Retno Wilis, diamuk cemburu! Ia cepat menepiskan tangan gadis puteri adipati itu yang memegangi tangan Jayawijaya sehingga terlepas dan ia menghardik.

"Perempuan tak tahu malu! Hayo, kakang Jayawijaya, kita lari dan jangan perdulikan gadis gila ini!"

Dan diapun menarik lagi pemuda itu, lari keluar dari bangunan itu.

Dyah Ayu Kerti yang masih berdiri di lorong itu tidak mengejar lagi, akan tetapi ia menangis sesenggukan dengan hati duka.

Ia telah jatuh kasmaran (cinta) kepada pemuda yang luar biasa itu, tergila-gila dan ingin sekali hidup bersama pemuda itu untuk selamanya.

Akan tetapi di sana ada Retno Wilis yang agaknya merebut pemuda itu dan ia merasa tidak mampu untuk menandingi wanita perkasa itu.

Ia sendiri memiliki aji penyeripan dan beberapa macam ilmu kadigdayaan, akan tetapi apa artinya kalau dibandingkan dengan Retno Wilis yang demikian sakti?

Tiba-tiba muncul Sang Adipati Menak Sampar, Wasi Shiwamurti, Wasi Karangwolo Ni Dewi Durgomala, Ki Shiwananda dan dua orang senopati Blambangan, yaitu senopati Rajah Beling dan Senopati Kurdolangit, diikuti belasan orang perajurit pengawal.

Melihat puterinya berada di luar tempat tahanan sambil menangis, sang adipati menghampiri dan bertanya heran.

"Dyah Ayu Kerti! Apa yang kau lakukan di sini? Mengapa pula engkau menangis?"

Sang adipati melihat para perajurit penjaga yang malang melintang dalam keadaan tidur.

Sambil mengerutkan alisnya karena puterinya tidak menjawab pertanyaannya, dia lalu memerintahkan dua orang senopatinya.

"Periksa ke dalam kamar tahanan!"

Dua orang senopati itu berlari cepat, berloncatan melangkahi para perajurit penjaga yang tertidur lalu masuk ke dalam. Tak lama kemudian keduanya keluar lagi dan wajah mereka berubah pucat.

"Celaka, kanjeng gusti! Dua orang tawanan telah lolos!"

Kata Senopati Kurdolangit.

"Wah, celaka! Dyah Ayu Kerti, apa yang telah terjadi?"

Bentak sang adipati kepada puterinya. Sambil menangis sesenggukan akhirnya gadis itu menjawab.

"Aku... aku... telah membebaskan mereka, kanjeng rama..."

Sang adipati marah sekali. Matanya melotot memandang kepada puterinya tersayang itu dan dia menggeram.

"Akan tetapi mengapa?"

"Aku... aku kasihan... kepada... kakangmas Jayawijaya..."

"Celaka!"

Seru sang adipati.

"Mari kita kejar. Mereka tentu belum berlari jauh,"

Kata Wasi Shiwamurti kepada kawan-kawannya dan dia melompat keluar, diikuti oleh rekan-rekannya, juga oleh dua orang senopati dan belasan perajuritnya yang dibentak oleh sang adipati untuk ikut pula melakukan pengejaran.

Sementara itu, Adipati Menak Sampar dengan marah sekali akan tetapi dia terlalu sayang kepada puteri tunggalnya untuk memarahinya terus, menarik tangan puterinya dan diajak kembali ke gedungnya.

"Perlahan dulu, diajeng Retno! Kenapa engkau menyeretku seperti ini?"

Keluh Jayawijaya yang terpaksa ikut berlari karena tangannya ditarik dengan kuat oleh Retno Wilis.

Retno Wilis berhenti dan memandang kepadanya dengan wajah cemberut.

Mereka telah berlari agak jauh juga karena sekarang fajar telah menyingsing, sinar matahari mulai mengusir kegelapan malam yang meninggalkan kabut.

"Agaknya andika tidak ingin sekali untul melarikan diri, ya kakang Jaya?"

"Eh, kenapa engkau bertanya demikian? Tentu saja aku ingin terlepas dari kurungan mereka,"

Kata Jayawijaya sambil menghapus keringatnya, berlari-lari sejak tadi melelahkannya dan membuatnya berkeringat.

"Ah, mengakulah saja terus terang. Andika tentu ingin sekali tinggal di sana agar dapat bersama-sama dengan gadis cantik jelita puteri Sang Adipati tadi!"

"Lho! Kenapa engkau berkata demikian?"

"Apakah engkau tidak tahu ataukah pura-pura tidak tahu, kakang? Dyah Ayu Kerti yang cantik jelita itu tergila-gila kepadamu! Ia telah jatuh cinta kepadamu, kakang, maka ia berani mati membebaskanmu. Kenapa engkau tadi tidak menerimanya ketika ia hendak ikut dan ingin menemanimu selama hidupnya?"

Dengan wajah cemberut Retno Wilis lalu melangkah lagi, kini tidak mengandeng tangan Jayawijaya seolah hendak meninggalkan pemuda itu. Jayawijaya mengikutinya dari belakang.

"Begitukah perkiraanmu? Aku sendiri tidak mengira..."

"Hemm, jelas sekali bahwa ia mencintamu. Kalau tidak, mengapa ia membebaskanmu?"

"Aku hanya menganggapnya sebagai uluran Kekuasaan Tuhan yang hendak menolong kita melalui tangan puteri itu, diajeng."

"Hemm, apapun anggapanmu, jelas bahwa puteri itu jatuh cinta kepadamu."

"Andaikata benar demikian, apakah hal itu karena kesalahanku, diajeng? Aku tidak sengaja..."

Retno Wilis berhenti melangkah dan menatap tajam wajah pemuda itu.

"Kakang Jayawijaya, apakah engkau tidak tertarik? Ingat, ia seorang gadis yang amat cantik jelita dan ia puteri seorang adipati yang berkuasa pula, gadis bangsawan, kaya raya dan cantik jelita. Kalau engkau menjadi suaminya, engkau tentu akan menjadi mantu adipati dan memperoleh derajat dan pangkat tinggi, menjadi orang yang mulia, terhormat dan disegani orang sekadipaten Blambangan!"

Jayawijaya tersenyum geli ketika dia memandang kepada gadis yang diam-diam menjadi pujaan hatinya itu.

"Diajeng, aku tidak mengerti mengapa engkau berkata seperti itu kepadaku. Pernikahan hanya mempunyai satu saja syarat, yaitu cinta kasih. Dan cinta kasih ini tidak memandang kecantikan, derajat pangkat atau harta, bukan pula keturunan. Dyah Ayu Kerti hendak ikut denganku, bagaimana mungkin aku dapat menerimanya? Ia seorang puteri adipati, dan aku seorang kelana. Juga tidak mungkin menemaniku selama hidupnya karena hal itu berarti bahwa aku harus menjadi suaminya, padahal tidak ada cinta kasih dalam hatiku terhadap dirinya."

Retno Wilis menunduk dan senyum berkembang di bibirnya. Wajahnya yang jelita itu berseri, semringah.

"Aku... aku girang mendengar pertanyaanmu itu, kakang Jayawijaya."

Jayawijaya menatap tajam wajah gadis itu.

"Diajeng, aku heran sekali mengapa engkau tadi seperti orang marahmarah."

Retno Wilis masih menundukkan mukanya dan matanya mengerling ke arah pemuda itu. Lalu katanya lirih.

"Aku tidak senang karena gadis itu mencintamu..."

"Dan engkau mengira bahwa aku juga membalas cintanya?"

Dengan suara masih lirih Retno Wilis menjawab.

"Aku... khawatir begitu."

"Kalau begitu, ah, benarkah dugaanku ini bahwa engkau... cemburu, diajeng?"

Wajah Retno Wilis menjadi merah sekali, kepala semakin menunduk dan suaranya semakin lirih.

"Aku... aku malu, kakang..." (Lanjut ke

Jilid 14) Sepasang Garuda Putih (seri ke 05 -Serial Keris Pusaka Sang Megatantra) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo

Jilid 14

"Kenapa, diajeng? Karena cemburu? Kita ini manusia biasa, diajeng, dan adalah wajar kalau kita masih dipermainkan perasaan yang terdorong oleh nafsu-nafsu kita. Masih baik kalau kita tidak menjadi buta oleh nafsu, melainkan dapat mempergunakan nafsu secara wajar. Kalau engkau cemburu, hal itu adalah manusiawi, diajeng. Tidak perlu membuatmu malu. Aku sendiri, aku-pun seorang manusia biasa yang sadar akan kelemahanku. Karena merasa diri lemah inilah maka aku selalu bersandar kepada Kekuasaan Hyang Widhi, selalu menyerah. Engkau tidak ingin melihat seorang wanita lain mencintaku, hal itu berarti bahwa engkau cinta kepadaku, bukan?"

Kini Retno Wilis menundukkan mukanya sampai dagunya mepet dengan bawah lehernya, jantungnya berguncang keras dan napasnya tersendat.

Jayawijaya memegang kedua tangan gadis itu, mengangkat kedua tangan itu mendekatkan kepada mukanya dan mencium jari-jari tangan itu.

"Jangan rikuh atau malu, di-ajeng karena keadaan hati kita sama. Aku-pun mencintamu sejak pertama kali kita berjumpa. Hatiku melekat kepadamu. Semoga Sang Hyang Widhi memperkenankan dan memberkahi hati kita yang saling mencinta."

"Kakang...!"

Retno Wilis mendesah dan selama hidupnya belum pernah ia merasakan kebahagiaan seperti saat itu.

Tubuhnya menjadi lemas dan seolah ia tidak kuat menyangga kepalanya dan menyandarkan kepalanya didada Jayawijaya yang segera mendekapnya.

Dalam dekapan kedua lengan pemuda itu, Retno Wilis merasa seperti seorang bayi dalam gendongan ibunya, begitu aman tenteram dan bahagia!

Ia memejamkan kedua matanya dan merasa seperti diayun-ayun.

Sesungguhnyalah, tidak ada kebahagiaan yang lebih besar dari pada dua hati yang saling mencinta bertemu.

Demikian asyik dan masyuk.

Gamelan di Lokananta bagaikan berbunyi merdu selaras dengan nyanyian hati mereka.

Desah angin di antara daun-daun pohon seperti berbisik-bisik merdu merayu.

Gemercik air di anak sungai seperti sekumpulan bidadari menyanyikan lagu puji-pujian.

Sinar matahari tampak lebih cerah dan indah dari pada biasanya.

Awan-awan yang berarak di angkasa membentuk lukisan-lukisan yang indah menakjubkan.

Andaikata dunia kiamat di saat itu, mereka berdua tidak akan merasakannya dan mati terselubung kebahagiaan yang terasa sampai di tulang sumsum itu.

Mereka tenggelam dalam lautan asmara, telinga mereka penuh dengan sajak-sajak dan nyanyian cinta yang serba indah, tidak mendengarkan apa-apa yang lain lagi.

Cinta asmara memang rremiliki kekuasaan yang amat dahsyat.

Jayawijaya yang biasanya selalu waspada itu, sekali inipun terlena.

Mendekap kepala Retno Wilis baginya seolah dia telah mendekap alam semesta, telah mendapatkan segala-galanya.

Dia sampai lupa diri dan memejamkan mata, hanyut terbawa nyanyian asmara yang mengayun kalbunya.

"Ha-ha-ha-ha-ha! Kiranya kalian berdua saling mencinta! Bagus sekali! Kami akan menyempurnakan kebahagiaan kalian dengan keduanya mati bersama!"

Tiba-tiba terdengar seruan itu yang bagaikan geledek telah menarik kedua orang muda keluar dari alam kahyangan Sang Hyang Komajaya dan Komaratih!

Mereka kembali ke dunia yang banyak halangan dan cobaan, dan menghadapi Wasi Shiwamurti yang muncul lengkap dengan Wasi Karangwolo, Ni Dewi Durgomala, Ki Shiwananda, kedua senopati Rajah Beling dan Kurdolangit bersama belasan orang anak buah mereka!

Seketika maklumlah Retno Wilis bahwa keadaan mereka dalam bahaya maut.

Gertakan Wasi Shiwamurti bukan gertakan kosong belaka.

Kalau mereka semua itu menyerang, ia tidak akan mampu melindungi Jayawijaya atau bahkan dirinya sendiri.

Ia dan kekasihnya akan mati bersama!

Pikiran ini menenangkan hatinya.

Mati bersama!

Alangkah membahagiakan itu.

Maka sedikitpun ia tidak menjadi jerih.

"Wasi Shiwamurti, kenapa kalian masih saja mengejar-ngejar kami? mengapa kalian memusuhi kami, padahal kami tidak memusuhi kalian? hentikanlah pengejaran ini dan biarkan kami pergi dengan aman,"

Kata Jayawijaya, sementara itu Retno Wilis sudah bersiap-siaga untuk mempertahankan diri dan melindungi Jayawijaya dengan sekuat tenaga sampai saat terakhir.

"Jayawijaya, sekarang juga andika boleh pergi, kami tidak akan mengganggu, kami tidak mempunyai urusan apapun denganmu. Akan tetapi, kami tidak akan membebaskan Retno Wilis. Kami harus menangkapnya, hidup atau mati!"

Mendengar ini, Retno Wilis yang sudah nekat lalu melangkah maju menghadapi Wasi Shiwamurti dan berkata dengan lantang.

"Wasi Shiwamurti, beginikah sikap seorang wasi yang mengaku sebagai kepala agama baru dan menjadi utusan negara Cola? Engkau maju bersama banyak kawan hendak mengeroyok aku? Majulah, keroyoklah, aku lidak takut mati. Lebih baik mati dengan gagah dari pada hidup sebagai manusia curang dan licik macam engkau yang hanya berani melakukan pengeroyokan terhadap seorang wanita muda!"

Ucapan Retno Wilis ini tajam sekali dan menusuk perasaan dan harga diri Wasi Shiwamurti yang menjadi merah mukanya saking marah dan malunya.

"Babo-babo, Retno Wilis!"

Bentak Wasi Shiwamurti dengan suara menggeledek.

"Sumbarmu seperti menyambarnya halilintar dimusim hujan! kau kira kami takut kepadamu untuk bertanding satu lawan satu? Hayo majulah, aku tidak akan mengeroyokmu, aku akan maju seorang diri untuk melawanmu satu lawan satu!"

Pada saat itu, tampak dua bayangan orang berkelebat dan terdengar suara lantang.

"Diajeng Retno Wilis, jangan takut aku datang membantumu!"

Retno Wilis cepat menengok dan melihat seorang pemuda yang tampan bertubuh tegap dan bersikap gagah, ia girang karena mengenal bahwa pemuda itu adalah Harjadenta, pemuda perkasa dari Gunung Raung itu.

Akan tetapi lebih girang lagi hatinya melihat Bagus Seto bersama pemuda itu.

Kalau hanya Harjadenta yang datang membantu, ia masih meragukan apakah ia dan Harjadenta mampu menghadapi banyak lawan itu.

Akan tetapi dengan munculnya Bagus Seto, ia merasa tenang.

"Kakangmas Harjadenta! Kakang Bagus Seto! Bagaimana kalian dapat datang bersama?"

"Kami saling berjumpa dalam perjalanan lalu bersama-sama menuju ke Blambangan,"

Kata Harjadenta dengan girang.

Dia tidak mengenal orang-orang tua berpakaian pendeta itu, maka dia memandang rendah.

Dengan adanya Retno Wilis dan Bagus Seto di situ, dia tidak merasa takut menghadapi siapa juga.

Akan tetapi ketika melihat Ni Dewi Durgomala dan Ki Shiwananda, dia lalu teringat akan mereka yang memimpin agama baru yang menyesatkan itu.

Dia mengerutkan alisnya, maklum bahwa dia berhadapan dengan musuh-musuh yang sakti.

Sementara itu, Bagus Seto yang mengamati Wasi Shiwamurti, dapat melihat bahwa Kakek itu memiliki wibawa yang teramat kuat.

Dia khawatir kalau adiknya tidak akan mampu menandingi wasi itu, maka dia lalu menghampiri adiknya dan berkata.

"Retno, apa yang sedang terjadi di sini?"

Dia juga menoleh kepada Jayawijaya yang berdiri di samping Retno dan terkejutlah Bagus Seto melihat sinar mata yang terang dan jernih dari pemuda yang sikapnya amat tenang itu.

Dia kaget karena dapat menduga bahwa pemuda ini tentu memiliki kekuatan yang dahsyat di balik kelembutannya.

"Kakang Bagus Seto, ini adalah Wasi Shiwamurti, pendiri dari agama baru yang dibantu Ni Dewi Durgomala dan Ki Shiwananda yang sudah kakang kenal. Yang lain-lain itu adalah para senopati Blambangan dan anak buahnya. Mereka itu hendak menangkap aku dan kakang Jayawijaya ini. Oya, perkenalkan, kakang. Ini adalah kakang Jayawijaya yang melakukan perjalanan bersamaku. Kakang Jaya, ini kakakku bernama Bagus Seto dan yang itu adalah kakangmas Harjadenta dari Gunung Raung."

Melihat sikap dan pandang mata adiknya terhadap pemuda yang lembut itu, dan melihat cara pemuda itu memandang adiknya, Bagus Seto segera tahu bahwa ada hubungan batin yang istimewa di antara keduanya.

Sejenak dia bertukar pandang dengan Jayawijaya dan dalam waktu beberapa detik itu seolah keduanya saling dapat menyelami isi hati masing-masing dan kembali Bagus Seto merasa terkejut dan kagum.

Dia tahu bahwa pemuda ini bukan seorang pemuda biasa saja, sebaliknya Jayawijaya juga merasa betapa kuatnya pancaran sinar mata Bagus Seto.

"Akan tetapi kenapa mereka itu hendak menangkap kalian, Retno?"

"Mereka itu hendak menawan aku dengan tuduhan menjadi telik sandi, kakang dan hendak membebaskan kakang Jayawijaya. Akan tetapi kakang Jayawijaya tidak mau dibebaskan seorang diri saja dan menuntut agar aku dibebaskan pula. Mereka hendak memaksa aku menyerah dan aku menentang untuk bertanding satu lawan satu kalau mereka itu bukan pengecut yang curang dan suka main keroyokan."

Melihat Retno Wilis bercakap-cakap dengan pemuda berpakaian serba putih yang baru muncul bersama seorang pemuda lain, bicara dan mengobrol tanpa memperdulikan dia dan kawan-kawannya, Wasi Shiwamurti menjadi marah.

"Retno Wilis, siapa hendak mengeroyokmu? Aku terima tantanganmu untuk bertanding satu lawan satu! Hayo majulah, siapa hendak melawanku?"

Wasi Shiwamurti menantang. Tiba-tiba Retno Wilis mendapat sebuah pikiran yang dianggap baik dan menguntungkan.

"Begini saja, Wasi Shiwamurti. Sekarang telah datang kakang Bagus Seto dan kakangmas Harjadenta, jadi kami ada bertiga. Nah, kalian boleh mengajukan tiga orang jagoan kalian untuk dipertandingkan dengan kami bertiga, maju satu demi satu. Kalau pihakku menang dua, berarti aku menang dan engkau harus membebaskan kami. Sebaliknya kalau pihak kalian yang menang dua, kalian boleh menawanku. Bagaimana, beranikah engkau menerima tantanganku ini?"

Wasi Shiwamurti tertawa mengejek. Dia mengandalkan dua orang pembantu utamanya, yaitu Ni Dewi Durgomala dan Ki Shiwa nanda.

"Ha-ha-ha, bagus! Coba sekarang kau ajukan jagomu untuk melawan jago kami. Ki Shiwananda, majulah! Nah, siapa yang akan maju melawan Ki Shiwananda?."

Pada saat itu terdengar bentakan nyaring suara wanita.

"Siapa berani menggangu anak-anakku?"

Dua sosok bayangan berkelebat dan di situ telah berdiri Endang Patibroto dan seorang pemuda gagah yang bukan lain adalah Jarot.

Putera Adipati Kertajaya dari Pasisiran ini melakukan perjalanan merantau dan memang dia ingin sekali menyusul Endang Patibroto yang pernah menolongnya dari tangan kedua orang kakaknya, Lembu Alun dan Lembu Tirta, yang bermaksud membunuhnya dengan bantuan guru mereka, yaitu Wasi Surengpati.

Karena Adipati Kertajaya adalah seorang Adipati yang setia terhadap Jenggala dan Panjalu, maka dia merasa khawatir terhadap keselamatan Endang Patibroto yang hendak menyelidiki keadaan Nusabarung dan Blambangan.

Maka dia tidak mencegah, bahkan menyetujui ketika puteranya, Jarot menyatakan keinginannya untuk merantau dan menyusul Endang Patibroto ke kedua kadipaten itu, dan kalau perlu membantunya.

Demikianlah, ketika tiba di luar perbatasan Blambangan, Jarot bertemu dengan Endang Patibroto dan mereka melanjutkan perjalanan bersama memasuki daerah Blambangan.

Kebetulan sekaii mereka melihat Retno Wilis, Bagus Seto, Jayawijaya dan Harjadenta sedang berhadapan dengan banyak orang yang sikapnya mengancam, maka Endang Patibroto lalu membentak marah.

"Retno, apa yang terjadi di sini? Siapa orang-orang menjemukan ini?"

Bentak Endang Patibroto galak kepada puterinya.

"Kanjeng ibu, mereka adalah Wasi Shiwamurti, pendiri agama baru dan kawan-kawannya. Dia hendak menawanku, dan aku mengajukan usul untuk bertanding satu lawan satu."

"Babo-babo! Siapa hendak menandingi puteriku, akulah lawannya! Engkaukah, pendeta palsu, yang hendak maju? Nah, akulah lawanmu!"

Kata Endang Patibroto sambil menghadapi Wasi Shiwamurti.

Sang wasi dan kawan-kawannya terkejut dan gentar menghadapi wanita setengah tua yang gagah perkasa dan galak bukan main itu.

Wasi Shiwamurti sudah mendengar banyak tentang Endang Patibroto, wanita yang sakti itu.

Akan tetapi tentu saja dia tidak takut karena banyak kawan dan anak buahnya.

"Bagus, kiranya engkau-sendiri yang datang, Endang Patibroto. Sudah lama karni mendengar akan namamu dan kebetulan sekali sekarang engkau datang mengantarkan nyawa!"

"Wasi Shiwamurti, keadaan sekarang berubah. Ibuku telah datang, maka dipihak kami bertambah seorang lagi, menjadi empat orang yang akan maju sebagai jago kami!"

"Bukan empat, melainkan lima!"

Endang Patibroto berseru dan ia menuding ke arah Jarot.

"Pemuda inipun dapat menjadi jago kita, Retno. Kenalkan, dia bernama Jarot, putera Adipati di Pasisiran."

Jarot mengangguk kepada Retno Wilis, Bagus Seto, Harjadenta dan Jayawijaya. Retno segera memperkenalkan dua orang pemuda yang sejak tadi diam saja itu kepada ibunya.

"Ibu, ini adalah kakangmas Harjadenta yang juga menjadi jago kita. Dan yang ini adalah kakang Jayawijaya yang bersama aku dijadikan tawanan oleh orang-orang Blambangan."

Endang Patibroto tersenyum kepada puterinya.

"Aku sudah mengenal anakmas Jayawijaya, Retno. Anakmas Jayawijaya, bagaimana andika dapat bersama anakku menjadi tawanan orang-orang Blambangngan?"

Jayawijaya memberi hormat kepada Endang Patibroto.

"Bibi, kebetulan sekali saya bertemu dengan diajeng Retno Wilis dan melakukan perjalanan bersama."

Diam-diam Endang Patibroto merasa girang sekali.

Ia sudah mengambil keputusan untuk menjodohkan Retno Wilis dengan pemuda yang aneh luar biasa ini, dan tahu-tahu mereka sudah bertemu bahkan melakukan perjalanan bersama.

"Ah, begitukah? Retno, mari kita berlima maju dan membasmi orang-orang jahat ini!"

Retno Wilis menghadapi Wasi Shiwamurti.

"Wasi Shiwamurti, di pihak kami ada lima orang jago. Mari kita bertanding satu lawan satu!"

"Paman Wasi, biar aku yang maju sebagai jago pertama!"

Terdengar bentakan keras dan seorang laki-laki tinggi besar melompat keluar. Usianya kurang lebih lima puluh tahun dan tubuhnya gagah dan tampak kokoh kuat.

"Aku adalah, senopati Blambangan bernama Rajah Beling. Siapa berani melawan aku?"

Katanya sambil membusungkan dadanya yang lebar dan tebal.

"Diajeng Retno Wilis, biar aku yang menandinginya!"

Kata Harjadenta dan Retno Wilis yang maklum akan kepandaian pemuda dari Gunung Raung ini mengangguk.

Ia belum tahu.

bagaimana tingkat kepandaian Jarot, pemuda yang dating bersama ibunya, maka tentu saja ia tidak berani mengajukan pemuda itu.

Dengan gagah Harjadenta melangkah maju menghadapi Senopati Rajah Beling yang memandang kepadanya dengan matanya yang tebar itu terbelalak menyeramkan.

Harjadenta tersenyum, sikapnya tenang saja.

"Orang muda, sebutkanlah namamu agar engkau tidak mati tanpa nama!"

Bentak Senopati Rajah Beling dengan suara menggelegar.

"Aku Harjadenta dari Gunung Raung. Guruku adalah Eyang Empu Gandawijaya kalau engkau ingin tahu,"

Jawab harjadenta dengan sikap tenang. Dia adalah seorang yang jujur, maka tanpa ditanya dia sudah memperkenalkan gurunya.

"Hemm, murid Empu Gandawijaya? Orang muda, karena kami sudah mengenal Empu Gandawijaya dan pernah memesan keris buatannya, maka kunasihatkan agar engkau pulang ke Gunung Raung dan jangan mencampuri urusan ini. Aku memberi kesempatan kepadamu untuk hidup demi gurumu."

"Senopati Rajah Beling, kita telah memilih pihak masing-masing dan kita berhadapan sebagai musuh. Tidak perlu engkau menyinggung-nyinggung nama guruku. Kita telah menjadi jago dari masing-masing pihak. Majulah, aku siap menandingimu!"

"Orang muda keras kepala, tidak tahu di sayang orang. Sekarang engkau akan mati!"

Berkata demikian, senopati yang tinggi besar itu sudah menerjang maju dengan tangan kanan dikepal sebesar kepala orang dan menyambar ke arah kepala Harjadenta, sedangkan tangan kirinya membentuk cakar mencengkeram ke arah dada pemuda itu.

Gerakannya mendatangkan angin, pertanda bahwa gerakan itu mengandung tenaga yang besar, juga datangnya amat cepatnya.

Namun Harjadenta adalah seorang pemuda yang tangkas dan gesit.

Menghadapi serangan itu dia tidak menjadi gugup, cepat miringkan tubuhnya dan menarik kepalanya ke belakang sehingga pukulan dan cengkraman lawan itu hanya mengenai angin kosong belaka.

Rajah Beling menjadi penasaran dan cepat kakinya menyusul dengan tendangan yang mencuat secepat ular mematuk.

Kaki yang besar dan panjang itu menyambar ke arah dada Harjadenta.

Namun pemuda ini sudah siap-siaga.

"Wuuuuuuuuttt... dukkkk!!"

Lengan kanan Harjadenta sudah menangkis kaki kiri lawan yang menyambar dengan tendangan itu dan ternyata tenaga pemuda ini tidak kalah oleh tenaga tendangan lawan.

Buktinya kaki yang tertangkis itu terpental dan membuat tubuh Rajah Beling menjadi doyong.

Kesempatan ini dipergunakan oleh Harjadenta untuk membalas.

Selagi tubuh lawannya condong ke kanan, dia memapakinya dengan tamparan tangan kiri dengan jari-jari terbuka yang ditujukan ke arah leher lawan.

"Syuuuuuttt...!"

Tamparan yang kuat ke itu juga tidak mengenai sasaran karena biarpun tubuhnya condong ke kanan, senopati yang banyak pengalaman bertanding itu sudah menjatuhkan tubuhnya ke belakang, lalu menggelinding dan meloncat bangun kembali.

Mereka sudah berhadapan lagi seperti dua ekor ayam jago sedang berlaga.

Keduanya memasang kuda-kuda.

Rajah Beling memasang kuda-kuda atau pasangan yang disebut Mahesa Mungkur, yaitu tubuhnya membelakangi lawan, akan tetapi lehernya menoleh ke belakang dan matanya memandang penuh kewaspadaan, kedua kakinya siap untuk membalik dan kedua tangannya dengan jari-jari terbuka terpasang di depan dada, seolah-olah seekor harimau yang sedang marah dan siap untuk menerkam musuhnya.

"Haiiiit...!"

Rajah Beling tiba-tiba memutar kedua kakinya dan kedua tangannya menyambar dari kanan kiri, membuat gerakan menggunting ke arah tubuh Harjadenta..

"Yaaaaahhhh...!"

Harjadenta juga mengeluarkan pekik dan kedua tangan yang membentuk cakar itu berkembang ke kanan kiri menangkis dua pukulan yang menggunting dari lawan, kemudian kaki kanannya menyambar ke arah perut Rajah Beling.

"Wuuuttt... desss..."

Rajah Beling tidak sempat mengelak, maka diapun menggerakkan kaki kirinya menyambut tendangan itu sehingga kedua tulang kering kaki mereka bertemu dengan kerasnya.

Keduanya terpelanting dan terhuyung ke belakang.

Jebol kuda-kuda mereka ketika kedua kaki mereka saling bertemu itu dan ternyata tenaga mereka seimbang sehingga keduanya terpelanting dan hampir roboh!

"Babo-baba, keparat!

Ada juga isinya bocah ini!"

Kata Rajah Beling marah.

"Senopati Rajah Beling, keluarkan semua kedigdayaan dan aji kesaktianmu!"

Tantang Harjadenta.

"Keparat! Sambutlah pusakaku ini kalau engkau mampu!"

Rajah Beling mencabut sebatang pedang dari pinggangnya.

"Hemm, belum lecet kulitmu, belum patah tulangmu, engkau sudah mengeluarkan pusaka! Apa engkau kira hanya engkau yang memiliki pusaka? Akupun memiliki sebatang pusaka ampuh yang akan menandingi pusakamu!"

Berkata demikian, Harjadenta mencabut kerisnya, yaitu Ki Mengeng, sebatang keris buatan Empu Gandawijaya.

"Maju dan sambutlah pusakaku ini yang akan mengantarmu ke alam baka!"

Bentak Rajah Beling dengan suara garang, dan dia sudah menerjang ke depan, pedangnya melayang dan membacok ke arah kepala harjadenta.

Pemuda itu maklum akan datangnya serangan yang berbahaya.

Dia cepat menggeser kakinya dan mengelak ke samping kiri.

Ketika pedang yang berkilauan saking tajamnya itu meluncur lewat, cepat diapun memasukkan kerisnya menusuk ke arah lambung lawan.

Rajah Beling cukup gesit dan melihat dirinya terancam maut di ujung keris lawan, diapun melompat ke belakang dan luput dari serangan itu.

kemudian dia menerjang lagi, memutar pedangnya sehingga tampak gulungan sinar pedang yang seolah berubah menjadi banyak itu.

Dari gulungan sinar itu mencuat sinar pedang menusuk ke arah dada Harjadenta.

Pemuda ini cepat memutar pergelangan tangan kanannya yang memegang keris, kerisnya berputar menangkis pedang lawan.

Karena maklufn bahwa lawannya memiliki tenaga besar, ketika menangkis Harjadenta mengerahkan tenaganya.

"Cring... tranggg...!!"

Dua kali pedang bertemu keris dan tampaklah bunga api berpijar menyilaukan mata ketika dua batang senjata itu bertemu di udara dengan kuatnya.

Keduanya lalu melangkah ke belakang untuk memeriksa senjata masing-masing.

Setelah mendapat kenyataan bahwa senjata mereka tidak rusak, keduanya maju lagi dan saling serang dengan hebatnya.

Ternyata tingkat kepandaian kedua orang ini berimbang sehingga pertandingan itu berlangsung seru dan sukar untuk diramalkan siapa yang akan keluar sebagai pemenang.

Sebetulnya Harjadenta masih menang sedikit dalam hal kecepatan, sedangkan tenaga mereka seimbang.

Akan tetapi Rajah Beling menutup kekalahannya itu dengan kemenangan dalam pengalaman bertanding.

Gerakkannya lebih matang dibandingkan Harjadenta, jurus-jurus silatnya dapat dikembangkan dengan berbagai gerakan yang cepat tidak terduga, sehingga kadang-kadang Harjadenta dibuat kaget.

Ada seperempat jam mereka bertanding dan keadaannya masih seimbang sehingga para penonton kedua pihak merasa tegang sekali.

Jayawijaya yang ikut juga menjadi penonton, mengerutkan alisnya.

Dalam hatinya dia sama sekali tidak senang menyaksikan pertandingan ini karena maklum bahwa seorang di antara mereka yang bertanding tentu akan tewas atau setidaknya terluka.

Dia menganggap bahwa pertandingan itu bukan merupakan cara penyelesaian yang baik dan sehat.

Akan tetapi diapun tahu bahwa dia tidak dapat mencegah karena kedua pihak sudah setuju untuk menyelesaikan persoalan dengan adu kepandaian silat.

Tentu saja dia berpihakkepada rombongan Retno Wilis kareni pihak gadis itulah yang benar sedangkan pihak Blambangan salah akan tetapi dia tidak menghendaki cara kekerasan seperti itu.

"Hauuuppppp...!"

Kembali Rajah Beling mengeluarkan bentakan nyaring dan dia sudah merendahkan tubuh sampai berjongkok dan pedangnya menyerampang ke arah kedua kaki Harjadenta.

Pemuda ini melompat ke atas belakang, akan tetapi baru saja kedua kakinya menginjak tanah, Rajah Beling sudah melompat ke atas dan menyerang dari atas dengan pedangnya, gerakannya seperti seekor burung garuda menyambar mangsanya.

Harjadenta terkejut bukan main.

Serangan lawannya itu sedemikian cepatnya dan tahu-tahu pedang itu telah menyambar ke arah lehernya dari atas!

Dia mencoba untuk mengelak dengan miringkan tubuh atasnya, akan tetapi pedang itu masih saja dapat menyerempet pundak kirinya.

Baju di bagian pundak kirinya robek berikut kulit pundaknya, terluka dan mengeluarkan darah.

Akan tetapi Harjadenta cepat menusukkan kerisnya ke arah tubuh yang masih melayang di atas itu.

Rajah Beling menarik kakinya, akan tetapi tetap saja keris itu masih melukai pahanya sehingga mengucurkan darah.

Keduanya berlompatan ke belakang, Harjadenta berdarah pada pundak kirinya dan Rajah beling berdarah pula paha kanannya.

Kawan-kawan dari kedua pihak cepat maju menolong teman masing-masing.

Retno Wilis merasa lega setelah melihat bahwa luka di pundak Harjadenta tidak parah walaupun tentu saja kurang baik kalau pemuda itu melanjutkan pertandingan karena lukanya itu akan membuat gerakannya menjadi kurang leluasa dan lambat.

"Retno Wilis, jagomu telah terlukai"

Kata Wasi Shiwamurti lantang. Retno Wilis bertolak pinggang menghadapi sang wasi itu.

"Akan tetapi jagomu juga terluka lebih parah pada pahanya! Jagoku tidak dapat dikatakan kalah?"

Wasi Shiwamurti melihat betapa luka di paha Rajah Beling tidak memungkinkan bagi senopati Blambangan itu untuk melanjutkan perkelahian, maka diapun segera berkata lantang.

"Retno Wilis! Karena jago kita masing-masing sudah terluka, maka keadaan mereka berimbang, tidak ada yang menang atau kalah. Pertandingan pertama ini kita anggap seri tanpa ada yang menang. Mari kita lanjutkan dengan pertandingan ke dua!"

"Kakang Wasi Shiwamurti, biarkan aku yang maju sekarang!"

Terdengar teriakan dan Wasi Karangwolo sudah melangkah maju, menghadapi pihak Retno Wilis sambil berkata.

"Hayo siapa akan berani menandingi Wasi Karangwolo, penasihat Sang Adipati di Blambangan!"

Retno Wilis yang sudah tahu akan kehebatan ilmu kanuragan maupun ilmu sihir yang dimiliki Wasi Karangwolo, menjadi ragu.

Kalau ia sendiri yang maju, bagaimana nanti kalau menandingi Wasi Shiwamurti dan kedua pembantunya yang sakti, yaitu Ni Dewi Durgomala dan Ki Shiwananda?

Mereka bertiga itu akan ia hadapi bertiga bersama ibunya dan kakaknya.

Satu-satunya jago yang ada padanya hanya pemuda yang bernama Jarot itu, akan tetapi karena ia belum tahu sampai di mana tingkat kepandaian pemuda itu, ia tidak berani menyuruhnya maju.

Kalau tingkatnya hanya setingkat kepandaian Harjadenta, tentu akan kalah menandingi Wasi Karangwolo.

Ia hanya memandang ke arah pemuda itu dan kepada ibunya.

la melihat ibunya mengangguk, dan Jarot agaknya maklum bahwa dia diharapkan untuk mewakili pihak Retno Wilis.

Sejak tadi Jarot memperhatikan Retno Wilis dan dia menjadi kagum bukan main, bahkan terpesona.

Selama hidupnya baru sekali ini dia bertemu dengan seorang dara yang bukan saja cantik jelita, namun juga pemberani dan gagah perkasa.

Seperti dara inilah kiranya tokoh Maha Bharata yang bernama Srikandi itu!

Akan tetapi karena baru saja dia diperkenalkan dengan Retno Wilis dan dia merasa rikuh untuk bicara kepada dara itu, maka dia berkata yang ditujukan kepada Endang Patibroto.

"Kanjeng Bibi Endang Patibroto! Perkenankan saya maju sebagai jago nomor dua pihak kanjeng bibi!"

Endang Patibroto tersenyum dan mengangguk.

"Akan tetapi berhati-hatilah, anak-mas Jarot. Aku pernah bertanding dengan wasi busuk ini, dia cukup tangguh dan memiliki ilmu sihir, banyak akalnya yang licik!"

Jarot tersenyum.

"Saya akan berhati-hati, kanjeng bibi."

Dia lalu melangkah maju menghadapi Wasi Karangwolo dan berkata.

"Sang Wasi, akulah tandingmu dan majulah, aku sudah siap!"

Wasi Karangwolo marah mendengar ucapan Endang Patibroto tadi.

Dia dikatakan sebagai seorang wasi busuk yang licik!

Dengan muka berubah merah saking marahnya dia sudah mencabut sebatang keris panjang dari pinggangnya, mengamangkan kerisnya kepada Jarot dan membentak.

"Orang muda, siapakah andika yang berani menghadapi Wasi Karangwolo?"

"Namaku Jarot, aku putera Adipati Kertajaya dari Pasisiran, dan aku adalah murid Sang Bhagawan Dewondaru dari Gunung Semeru,"

Kata jarot dan melihat lawannya memegang sebatang keris panjang, diapun mencabut keris yang terselip di pinggangnya, sebatang keris berluk tujuh yang berwarna hitam.

Itulah keris Nogo Ireng pemberian gurunya, sebatang keris pusaka yang ampuh.

Mendengar bahwa pemuda itu murid Sang Bhagawan Dewondaru yang telah dia kenal namanya sebagai seorang bhagawan yang sakti, Wasi Karangwolo tidak berani memandang rendah lawannya yang masih muda.

"Jarot, engkau bocah kemarin sore yang masih amat muda berani menandingi aku yang pantas untuk menjadi kakekmu? Hayo berlutut dan mengaku kalah, agar engkau tidak perlu mampus di tanganku. Berlututlah kau !"

Sambil berkata demikian, Wasi Karangwolo mengerahkan kekuatan sihirnya untuk mempengaruhi pemuda itu.

Endang Patibroto terkejut melihat ini, khawatir kalau-kalau pemuda itu akan tersihir.

Betapapun juga, ia tidak berani menggunakan kekuatan sihirnya untuk menolong, karena dalam pertandingan yang diadakan satu lawan satu itu tentu saja tidak boleh ada yang turun tangan menolong.

Maka ia hanya menonton dengan hati tegang, demikian pula Retno Wilis.

Bagus Seto yang melihat ini, hanya memandang dengan sinar matanya yang lembut namun tajam mencorong itu.

Jarot telah menerima gemblengan dari Bhagawan Dewondaru dan sudah dibekali ke kuatan batin yang hebat.

Namun menghadapi kekuatan sihir Wasi Karangwolo, pertahanan batinnya kurang kuat dan hampir saja dia menjatuhkan diri berlutut karena perintah itu demikian berpengaruh dan mengandung wibawa yang amat kuat, hampir tidak dapat dia menahannya.

Akan tetapi tiba-tiba pengaruh itu lenyap dan dorongan untuk berlutut lenyap pula.

Dia tersenyum, tidak tahu bahwa diam-diam kekuatan pandang mata Bagus Seto yang membantunya.

Dia hanya mengira bahwa lawannya itu tidak kuat mempengaruhinya!

"Sudahlah, Wasi Karangwolo, tidak ada gunanya bermain-main dengan kata-kata.

Mari kita bertanding untuk menentukan siapa yang lebih unggul!"

Kata Jarot sambil memegang kerisnya menempel di pinggang kanan dan tangan kirinya melintang di depan dada dengan jari-jari tangan terbuka.

Melihat betapa kekuatan sihirnya tidak mampu memaksa pemuda yang menjadi lawannya itu berlutut, Wasi Karangwolo maklum bahwa dia tidak akan menang menggunakan sihir.

Dia mengeluarkan suara gerengan seperti seekor binatang buas dan menerjang ke depan, menusukkan kerisnya ke arah dada Jarot.

Pemuda itu mengelak dengan cepat sambil melangkah mundur.

Akan tetapi dengan ganasnya Wasi Karangwolo sudah-menyerangkan kerisnya lagi, sekali ini menusuk ke arah perut.

Karena serangan itu di lakukan dari dekat dan cepat datangnya, Jarot tidak keburu mengelak dan diapun menggerakkan kerisnya untuk menangkis.

"Trik-trikk...!!"

Dua kali keris bertemu dan Wasi Karangwolo merasa betapa tangannya yang memegang keris tergetar.

Akan tetapi Jarot juga merasakan getaran hebat pada lengannya dan maklum bahwa lawan memiliki tenaga sakti yang amat kuat.

Diapun cepat membalas dengan tusukan kerisnya ke arah lambung lawan, namun Wasi Karangwolo juga dapat mengelak dengan cepatnya.

Terjadilah perkelahian yang seru, saling tusuk dan saling elak, kadang-kadang saling beradu keris.

"Mampus kau !"

Terdengar sang wasi membentak dan dia menubruk lagi ke depan sambil menusukkan kerisnya ke arah leher lawannya.

"Wuuuuutttt...!"

Tusukan itu luput karena Jarot mengelak ke belakang.

"Wirrr...!!"

Kaki Wasi Karangwolo menyambar dengan sebuah tendangan kilat. Tak mengira bahwa lawannya akan mengirim tendangan yang dahsyat itu, Jarot hanya dapat menggunakan tangan kirinya untuk menangkis.

"Dukkk...!"

Lengan kiri Jarot bertemu dengan kaki wasi Karangwolo.

Tendangan itu demikian kuatnya sehingga membuat tubuh Jarot terhuyung.

Kesempatan ini dipergunakan sang wasi untuk mendesak dan mengejar dengan tusukan-tusukan kerisnya.

Jarot yang terdesak hebat itu tiba-tiba melempar tubuh ke belakang, berjungkir balik tiga kali, barulah dia terhindar dari desakan dan kini sudah siap lagi menghadapi lawan!

Gerakannya ini bagus sekali, membuat Retno Wilis mengangguk-angguk.

Pemuda itu memang cukup tangkas, akan tetapi ia tetap khawatir karena Wasi Karangwolo memang benar-benar digdaya.

Kembali mereka bertanding.

Jarot membalas pula dengan tusukan-tusukan, diselingi dengan tamparan tangan kirinya dan tendangan kakinya.

Namun semua serangannya dapat dihindarkan oleh lawan dengan elakan maupun tangkisan, bahkan sang wasi membalas dengan tidak kalah hebat dan gencarnya, membuat Jarot kadang terdesak dan mundur.

Sebetulnya dari Bhagawan Dewondaru Jarot sudah menerima gemblengan yang hebat, mempelajari aji-aji kesaktian yang ampuh.

Akan tetapi dia masih muda dan masih kurang pengalaman, jarang mempergunakan kesaktiannya untuk bertanding.

Oleh karena itu, kini menghadapi seorang tokoh wasi yang berilmu tinggi dan banyak sekali pengalamannya, tentu saja dia mulai terdesak.

Ketika dia mundur-mundur terdesak dan keris lawan berkelebatan seperti tangan maut mencari mangsa, Jarot menarik tubuh atas ke belakang.

Setelah keris meluncur lewat, tubuh atasnya condong lagi ke depan dan dia melancarkan pukulan yang dahsyat ke arah dada lawannya.

Akan tetapi agaknya ini yang dinanti-nanti oleh Wasi Karangwolo.

Tadi sudah-beberapa kali mereka mengadu tenaga lewat keris mereka dan sang wasi maklum bahwa dalam hal tenaga sakti, dia masih menang sedikit.

Maka dia mengharapkan untuk dapat mengadu tenaga sakti melalui pukulan tangan kiri.

Ketika melihat Darot memukulnya dengan telapak tangan dan jarijarinya terbuka, diapun cepat menyambut dengan telapak tangan kirinya pula sam bil menggeser kaki sehingga kedua tangan kiri itu dengan tepat bertemu di udara.

"Dessss"

Hebat bukan main pertemuan kedua tangan yang didorong oleh tenaga sakti itu.

Wasi Karangwolo sudah mengerahkan seluruh tenaganya, maka ketika benturan dahsyat terjadi, tubuh Jarot melayang ke belakang seperti daun kering tertiup angin dan dia jatuh terpelanting!

Biarpun dia tidak terluka parah, namun dia menjadi pucat dan napasnya agak terengah.

Endang Patibroto sudah meloncat dan menyambar pundaknya, membantunya bangkit berdiri.

"Engkau tidak apa-apa, anakmas Jarot?"

Tanya wanita perkasa itu. Jarot menggeleng kepalanya dan menghela napas.

"Tidak apa-apa, kanjeng bibi. Maafkan bahwa saya telah kalah."

"Ha-ha-ha-ha, jagomu yang kedua sudah mengaku kalah, Retno Wilis.'? Kedudukan kita sekarang menjadi dua satu untuk kemenangan pihak kami!"

Wasi Shiwamurti tertawa dan mengejek.

Endang Patibroto menjadi marah sekali dan ia sudah melompat ke depan Wasi Shiwamurti sambil membusungkan dadanya "Akulah jago ke tiga dari pihak kami, wasi siluman.

Hayo siapa yang berani melawan aku!"

Bentak Endang Patibroto, sikapnya amat gagah perkasa, menimbulkan rasa gentar di hati musuh.

Terutama sekali Wasi Karangwolo yang tadi menangkan pertandingan melawan Jarot, dia merasa jerih karena dia pernah bertanding dengan wanita perkasa ini dan harus diakuinya bahwa dia tidak mampu menandingi Endang Patibroto.

Di pihak Blambangan, Ni Dewi Durgomala membuat perhitungan yang cerdik.

Ia sudah pernah bertanding melawan Retno Wilis dan harus diakuinya bahwa ia tidak mampu mengalahkan dara perkasa itu.

Juga ia tahu Bahwa Bagus Seto adalah seorang pemuda yang memiliki kepandaian hebat sekali.

Jelas ia tidak akan mampu mengalahkan Retno Wilis ataupun Bagus Seto.

Maka kini melihat Endang Patibroto maju, ia memilih wanita itu sebagai lawannya.

Biarlah Retno Wilis dan Bagus Seto nanti dihadapi oleh Ki Shiwananda dan Wasi Shiwamurti!

Dengan ringan ia meloncat ke depan menghadapi Endang Patibroto sambil mencabut senjatanya yang istimewa, yaitu sebatang kebutan.

Tampaknya saja hanya kebutan, namun benda itu merupakan senjata yang amat ampuh dan berbahaya.

Setiap ujung bulu kebutan itu mengandung racun yang berbahaya sekali dan Ni Dewi Durgomala dapat memainkan kebutan itu dengan dahsyatnya.

"Endang Patibroto, akulah lawanmu, sudah lama aku mendengar akan namamu, hendak kulihat apakah itu hanya nama kosong belaka! Aku adalah Ni Dewi Durgomala dari Negeri Cola."

Endang Patibroto tersenyum mengejek dan menatap wajah Ni Dewi Durgomala dengan sinar mata tajam menusuk.

"Hemm, andika tentu perempuan yang menganggap diri nya penitisan Sang Batari Durgo! Akan tetapi sayang, yang kau warisi sama sekali bukan kekuasaan dan kebaikannya, melainkan sifat sifat buruknya sehingga engkau menjadi seorang yang keji dan jahat. Karena itu, sudah menjadi kewajibanku untuk membasmi seorang manusia iblis macam andika ini!"

Wajah Ni Dewi Durgomala menjadi merah, lalu pucat, dan merah kembali, matanya melotot sampai seperti akan meloncat keluar dari rongga matanya ketika ia menudingkan telunjuk kirinya ke arah muka Endang Patibroto.

"Keparat engkau Endang Patibroto! Berani engkau menghinaku seperti itu! Aku bersumpah untuk membunuhmu, memenggal kepalamu, mencabik-cabik dada mu dan mengeluarkan jantungmu!"

Kebutan itu diputar-putarnya di atas kepalanya sehingga terdengar bunyi bersuitan.

"Tahan dulu...!"

Tiba-tiba terdengar seruan dan Jayawijaya berlari ke arah Endang Patibroto, tangannya membawa sebatang kayu yang panjangnya satu meter dan besarnya seibu-jari kaki.

"Kanjeng Bibi Endang Patibroto, ini namanya tidak adil sama sekali! Lawanmu memegang senjata sedangkan bibi tidak membawa senjata apapun. Kalau kanjeng bibi tidak membawa senjata, maka pergunakanlah sepotong kayu ini untuk senjata!"

Setelah berkata demikian dia mengulurkan tangannya menyerahkan sebatang kayu itu kepada Endang Patibroto. Endang Patibroto tersenyum dan menerima sepotong kayu itu.

"Terima kasih, anak-mas Jayawijaya dan berdirilah engkau menjauh di sana."

Jayawijaya kembali ke tempat dia berdiri semula.

Endang Patibroto menggerak-gerakkan sepotong kayu itu dan terasa enak di tangannya.

Sebagai seorang sakti, benda apapun kalau berada di tangannya dapat menjadi senjata dan memegang sepotong kayu itu ia merasa seperti memegang sebatang pedang!

Biarpun ia tidak gentar menghadapi kebutan Ni Dewi Durgomala dengan tangan kosong saja, akan tetapi menghadapi senjata beracun memang lebih baik kalau ia menggunakan sepotong kayu itu.

"Durgomala, mari kerahkan seluruh tenagamu dan keluarkan semua ilmumu! Aku sudah siap untuk menandingi dan menghajarmu!"

Kata Endang Patibroto sambil memalangkan sepotong kayu itu di depan dadanya. Ni Dewi Durgomala yang sudah marah sekali itu berteriak.

"Endang Patibroto, engkau mampus di tanganku!"

Dan secepat kilat iapun menggerakkan kebutannya melakukan serangan yang dahsyat.

Kebutan itu berputaran di atas kepala, lalu menukik dan menyambar ke arah kepala Endang Patibroto, didahului angin pukulan yang menderu.

Namun, sikap dan gerakan Endang Patibroto tenang dan mantap sekali.

Ia mengelak dengan melangkahkan kaki kanan ke kanan dan menggeser kedudukannya sehingga kebutan itu hanya mengenai tempat kosong saja.

Namun dengan menggerakkan pergelangan tangannya, Ni Dewi Durgomala telah dapat membuat kebutannya itu menyambar balik dan kini berubah menjadi kaku seperti baja dan kebutan yang sudah menjadi kaku itu menusuk ke arah dada Endang Patibroto seperti sebatang pedang!

Endang tidak menjadi terkejut melihat betapa bulu-bulu kebutan yang lemas itu kini berubah menjadi kaku seperti kawat baja dan dengan masih tenang namun tangkas ia menggerakkan tongkat kayunya untuk menangkis tusukan itu.

"Trakk...!"

Kebutan yang menjadi kaku itu terpental ketika bertemu tongkat dan Ni Dewi Durgomala merasa betapa tangannya yang memegang gagang kebutan menjadi tergetar hebat.

Diam-diam ia terkejut setengah mati.

Kiranya wanita yang kondang saktinya ini benar-benar memiliki tenaga sakti yang amat kuat!

Ni Dewi Durgomala menjadi penasaran sekali dan ia mengeluarkan suara melengking panjang, lalu kebutannya bergerak cepat, berubah menjadi sinar bergulung-gulung ketika ia menyerang secara bertubi-tubi.

Namun, Endang Patibroto berkelebatan cepat dan kadang ia lenyap dari pandang mata lawannya.

Ni Dewi Durgomala menjadi terkejut sekali.

Itulah Aji Bayu Tantra dari Endang Patibroto yang membuat tubuhnya menjadi ringan sekali dan gerakannya cepat seperti kilat.

Biarpun Ni Dewi Durgomala mengejar dan menyerang bayangan yang berkelebatan itu, namun kebutannya tidak pernah dapat menyentuh tubuh Endang Patibroto!

Karena penasaran, Ni Dewi Durgomala menambah serangan kebutannya dengan pukulan-pukulan tangan kirinya.

Tangan kiri ne nek ini berbahaya sekali karena setiap kuku jarinya mengandung racun yang amat berbahaya.

Ia bukan hanya memukul dan menampar, akan tetapi juga mencengkeram.

"Yaaaaaaattttttt... ..!"

Ni Durgomala berkali-kali mengeluarkan teriakan melengking.

"Haiiiiiitttt...!"

Endang Patibroto juga berteriak-teriak melengking dan tiba-tiba mulut wanita perkasa ini mengeluarkan pekik yang dahsyat sekali dan tiba-tiba mendengar pekik ini, tubuh Ni Dewi Durgomala menjadi gemetar dan jantungnya terguncang.

Itulah pekik yang disebut Aji Sardulo Bairawa yang memiliki pengaruh seperti auman seekor harimau yang dapat membuat calon korbannya menjadi lemas.

Dalam keadaan seperti itu, tangan kiri Endang Patibroto menyambar ke arah kepala lawan dan pukulan tangan kosong itu adalah aji yang teramat arnpuh, yaitu Aji Pethit Naga!

Angin yang kencang menyambar panas ke muka Ni Dewi Durgomala.

Wanita ini maklum bahwa pukulan itu amat ampuh maka ia melempar tubuh ke belakang lalu bergulingan di atas tanah!

Ketika Endang Patibroto mengejarnya untuk menyusulkan serangan, Ni Dewi Durgomala melompat bangun dan mengelebatkan kebutannya untuk memukul ke arah muka lawan.

"Hemm...!"

Endang Patibroto menggerakkan tongkat kayunya untuk menangkis.

"Plakk!"

Bulu-bulu itu membelit tongkat seperti seekor ular!

Endang Patibroto mencoba untuk menarik tongkatnya, namun tertahan oleh libatan kebutan yang melilit amat kuatnya.

Dengan marah Endang Patibroto mencuatkan kaki kirinya menendang ke arah tangan kanan lawan yang memegang kebutan.

Melihat tendangan kilat ini, Ni Dewi Durgomala terpaksa melepaskan lilitan kebutannya.

Begitu terbebas dari lilitan, Endang Patibroto mengamuk.

Tongkat kayunya menyambar-nyambar dengan ganasnya dan biarpun Ni Dewi Durgomala berusaha mengelak dan menangkis, tetap saja tongkat kayu itu beberapa kali mengenai tubuhnya dengan bertubi-tubi.

"Plak! Plak! Plak!"

Tongkat itu melecut ke berbagai penjuru dan selalu mengenai tubuh Ni Dewi Durgomala.

Robek-robeklah baju nenek itu dan biarpun tongkat itu tidak mendatangkan luka parah, namun kulit tumbuhnya menjadi matang biru dan berbilur-bilur, nyeri dan pedih!

Ia mundur-mundur terus dan dikejar oleh Endang Patibroto yang agaknya ingin memukuli lawan sampai mati!

Terpaksa Ni Dewi Durgomala lari melompat ke belakang Wasi Shiwamurti dan pendeta ini menggerakkan tongkatnya yang berkepala naga untuk menangkis sambaran tongkat kayu di tangan Endang Patibroto.

"Takkk!"

Tongkat di tangan Endang Patibroto terpental. Akan Tetapi wanita perkasa itu tidak takut dan ia menghadapi Wasi Shiwamurti dengan penuh tantangan.

"Andika hendak membelanya? Majulah sekalian!"

Bentak Endang Patibroto. Akan tetapi Retno Wilis sudah melompat dan menyentuh lengan ibunya.

"Kanjeng Ibu, persilakan mundur. Ibu sudah menang dalam pertandingan tadi!"

Katanya. Baru sadarlah Endang Patibroto bahwa ia bertanding untuk mencari kemenangan di pihak puterinya, bukan untuk berkelahi mati-matian. Ia lalu mundur.

"Nah, Wasi Shiwamurti. Kini pihakku menang dalam pertandingan ke tiga!"

Kata Retno Wilis dengan girang.

"Hemm, keadaan kita baru dua lawan dua, Retno Wilis. Kami masih belum kalah dan masih ada dua pertandingan lagi. Ki Shiwananda, majulah sebagai jago ke empat!"

Katanya kepada Ki Shiwananda yang bertubuh tinggi besar dan tampak gagah dan kuat sekali.

Ki Shiwananda lalu melangkah lebar ke depan.

Tangan kanannya meraih ke belakang punggung dan dia sudah melolos senjatanya yang hebat, yaitu sebuah ruyung besar bergigi.

Dahsyat dan mengerikan tampaknya senjata ini, kuat keras dan berat.

Hanya orang yang bertenaga gajah saja mampu memainkan ruyung seberat itu.

Retno Wilis mendekati Bagus Seto dan ia berkata.

"Kakang Bagus Seto, yang ini akan kuhadapi. Engkau menghadapi jago mereka yang terakhir yang tentu adalah Wasi Shiwamurti sendiri."

Bagus Seto mengangguk.

"Berhati-hatilah, Retno. Lawanmu ini bertenaga gajah. Akan tetapi engkau dapat mengatasinya kalau mempergunakan kecepatan gerakanmu,"

Kata Bagus Seto dengan tenang.

Kemudian dia memandang ke arah Jayawijaya dan merasa heran mengapa pemuda itu tenang-tenang dan diam-diam saja, tidak mengajukan diri untuk menjadi jago.

Endang Patibroto berkata kepada puterinya.

"Retno Wilis, engkau harus dapat mengalahkan raksasa itu. Jangan beri ampun, hajar saja dan kalau perlu binasakan dia!"

Retno Wilis tersenyum kepada ibunya.

Dulu ia bahkan lebih ganas dan galak dari pada ibunya.

Akan tetapi setelah melakukan perjalanan bersama Bagus Seto, ia sudah banyak berubah.

Tidak haus darah seperti dulu lagi.

Apa lagi setelah ia bertemu dan berkenalan dengan Jayawijaya.

Dengan sikap tenang ia lalu menghadapi Ki Shiwananda yang memegang ruyung dan yang memandang dengan sepasang matanya yang besar.

"Ki Shiwananda, akulah yang menjadi lawanmu!"

Kata Retno Wilis.

Ki Shiwananda adalah seorang laki-laki yang terlalu mengandalkan kekuatan sendiri dan memandang rendah orang lain.

Juga dia seorang mata keranjang dan entah sudah berapa ratus atau ribu wanita yang menjadi permainannya ketika para wanita itu terjatuh ke dalam cengkeramannya melalui sihir.

Akan tetapi selama hidupnya, belum pernah dia mendapatkan seorang wanita seperti Retno Wilis yang selain cantik jelita juga gagah perkasa dan sakti mandraguna.

Dia mengamati Retno Wilis dari kepala sampai ke kaki, lalu berkata dengan suaranya yang berat dan besar.

"Hemm, Retno Wilis. Lebih baik kalau kita berdamai saja. Eman-eman ayumu kalau engkau bertanding denganku dan sampai terluka atau lecet-lecet kulitmu yang halus dan putih mulus tanpa cacat itu. Lebih baik engkau menjadi isteriku dari pada menjadi musuhku!"

Retno Wilis tersenyum.

Tidak terpancing kemarahannya karena ia maklum bahwa ucapan itu bukan hanya dikeluarkan karena Ki Shiwananda seorang yang mata keranjang, akan tetapi juga merupakan siasat sebelum bertanding untuk membuatnya marah.

Kemarahan dapat mengurangi kewaspadaan dan inilah yang dikehendaki Ki Shiwananda.

Maka ia tidak menjadi marah bahkan tersenyum dan begitu tangannya meraih ke belakang, ia sudah memegang sebatang pedang yang berkilauan.

Itulah pedang pusaka Sapudenta!

"Ki Shiwananda, tidak perlu banyak membuka mulutmu yang lebar dan berbau bangkai itu.

Mari tandingi aku kalau engkau memang memiliki kepandaian!"

Tantang Retno Wilis.

"Keparat, tidak dapat dieman! Kalau begitu aku akan membunuhmu! Tubuhmu akan kulumatkan dengan ruyung ini. Haiiiiittt...!"

Raksasa itu menerjang, ruyungnya menyambar dahsyat sampai mengeluarkan bunyi mengaung saking kerasnya.

Retno Wilis mengelak, bergerak seperti seekor burung srikatan sehingga sambaran ruyung hanya mengenai angin belaka.

Sambil mengelak ke kiri, Retno Wilis menggerakkan pedangnya, menusuk ke arah perut yang gendut itu.

Namun, Ki Shiwananda juga cukup tangkas.

Dia sudah memutar ruyungnya dan kini senjata itu menangkis pedang yang menusuk perutnya.

"Trangggg...!"

Bunga api berpijar ketika ruyung bertemu pedang, dan Retno Wilis merasa betapa tangannya yang memegang pedang tergetar hebat.

Ia harus mengakui kebenaran peringatan kakaknya tadi bahwa lawannya ini memiliki tenaga gajah!

Pada saat itu, ruyung kembali menyambar ke arah kepala Retno Wilis.

Ruyung yang mengerikan itu kalau mengenai kepala, tentu akan melumatkan kepala itu.

Akan tetapi kembali senjata itu hanya mengenai tempat kosong karena Retno Wilis sudah mengelak dan merendahkan diri sehingga ruyung lewat di atas kepalanya.

Menggunakan kecepatan gerakannya, dengan tubuh agak merendah Retno Wilis sudah menyerang ke arah kedua kaki lawan dengan pedangnya.

Dibabat pedang secara bertubi-tubi ke arah kedua kakinya itu membuat Ki Shiwananda menjadi kerepotan.

Dia meloncat-loncat ke belakang, kemudian setelah ia memutar ruyungnya melindungi kedua kakinya, barulah desakan Retno Wilis dapat dihentikan.

Pertandingan berlangsung seru dan mati-matian.

Karena Ki Shiwananda mengandalkan kebesaran tenaganya dan Retno Wilis mengandalkan kecepatannya, maka pertandingan berjalan seru sekali, lebih menegangkan daripada pertandingan-pertandingan sebelumnya.

Ki Shiwananda mengeluarkan semua ilmu dan mengerahkan seluruh tenaganya.

Namun, tidak pernah ruyungnya dapat menyentuh tubuh lawan, bahkan sebaliknya pedang Retno Wilis yang bergerak sangat cepat itu kadang-kadang membuatnya kewalahan untuk mengelak dan menangkis.

"Terimalah Aji Kaladahana!"

Tiba-tiba Ki Shiwananda memekik dan tubuhnya merendah dengan kedua lutut ditekuk, dan tangan kirinya dengan jari tangan terbuka mendorong ke depan, mulutnya ternganga mengeluarkan hawa.

Dari tangan yang didorongkan itu keluar uap dan telapak tangannya berubah kemerahan seperti mengandung api.

Uap yang menyambar ke arah Retno Wilis itu membawa hawa yang panas sekali.

Maklum bahwa lawan menggunakan ilmu pukulan jarak jauh mengandalkan tenaga sakti, Retno Wilis tidak kehilangan akal.

Iapun merendahkan tubuhnya dan mendorongkan tangan kirinya, untuk menyambut serangan lawan.

Itulah Aji Wisolangking.

Gelombang hawa yang dingin menyambar ke depan dan ketika dua tenaga sakti itu bertumbuk di udara, keduanya terdorong mundur sampai dua langkah!

Akan tetapi gerakan Retno Wilis memang cepat sekali.

Begitu ia dapat mengatur keseimbangan tubuhnya, tubuhnya sudah melesat ke depan dan pedangnya menyambar-nyambar dengan amat ganasnya!

Ki Shiwananda terkejut.

Bukan saja ajinya Kaladahana dapat dipunahkan lawan, akan tetapi terutama sekali serangan dara itu membuatnya repot.

Dia berusaha untuk menangkis dan mengadu senjata karena dia menang kuat dalam adu tenaga kasar.

Akan tetapi Retno Wilis tidak memberi kesempatan dia mengadu tenaga.

Pedang itu mengelak setiap kali ditangkis dan sudah menusuk lagi atau membacok dengan cepatnya.

Didesak demikian, Ki Shiwananda terpaksa mempertahankan diri sambil mundur terus.

Tiba-tiba Ki Shiwananda menjadi nekat dan agaknya dia hendak mengadu nyawa, membiarkan diri terancam asal dia dapat berbalik mengancam lawan.

Dia memutar ruyungnya dan menerjang ke depan.

Dia membiarkan dirinya terbuka terhadap pedang lawan, akan tetapi kalau pedang lawan mengenai tubuhnya, ruyungnya berbareng juga akan mengenai tubuh lawan.

Menghadapi serangan nekat ini tentu saja Retno Wilis terkejut dan ia tidak sudi mengorbankan diri untuk sama-sama terluka.

Ia mengelak dan ketika lawan terus mendesak dengan sambaran ruyungnya, ia menjatuhkan diri ke belakang, berjungkir balik di atas tanah dan ketika tangan kirinya menyentuh tanah, diam-diam ia mengambil segenggarn tanah dengan tangan kirinya.

Ketika ia berdiri lagi dan melihat lawan masih terus maju menerjang, tiba-tiba ia mengeluarkan pekik melengking dan tangan kirinya bergerak menyambitkan tanah yang digenggamnya ke arah dada Ki Shiwananda.

Jarak di antara mereka dekat sekali dan sambitan itu dilakukan tiba-tiba dan sama sekali tidak tersangka-sangka oleh Ki Shiwananda.

Ketika ada sinar hitam menyambar ke arah dadanya, dia tidak sempat mengelak dan terpaksa dia mengerahkan aji kekebalannya untuk melindungi dada itu.

"Prattt...!!"

Dada itu kena disambar tanah berpasir yang disambitkan dengan Aji Pancaroba, semacam aji melempar pasir biasa menjadi pasir sakti yang berbahaya.

Karena dada itu telah dilindungi aji kekebalan, maka pasir itu tidak dapat menembus kulit.

Akan tetapi tetap saja terasa nyeri pada kulit dada dan membuat Ki Shiwananda terhuyung ke belakang.

Saat itu, sinar pedang Sapudenta menyambar ke arah lehernya.

Ki Shiwananda menggerakkan ruyungnya menangkis.

"Tranggg... bukkk!"

Pedang tertangkis akan tetapi pada saat itu Retno Wilis sudah menendang dan mengenai perut Ki Shiwananda, membuat tubuh raksasa itu terjengkang dan terbanting keras.

Untuk menyelamatkan dirinya, Ki Shiwananda menggulingkan tubuhnya ke arah Wasi Shiwamurti.

Akan tetapi Retno Wilis yang sudah merasa memperoleh kemenangan tidak melakukan pengejaran, melainkan memandang kepada Wasi Shiwamurti dengan senyum mengejek.

"Wasi Shiwamurti, jagomu yang ke empat sudah keok! Kedudukan kita kini menjadi tiga lawan dua untuk kemenangan pihakku. Sebaiknya kalian minggat dari sini dan jangan ganggu kami lagi karena kalau engkau berani menghadapi pertandingan terakhir, engkau tentu akan kalah pula."

Wajah Wasi Shiwamurti menjadi merah.

"Masih ada sebuah pertandingan lagi, yang ke lima dan aku sendiri yang akan maju! Hayo ajukanlah jagomu, Retno Wilis! Jagomu pasti akan kalah olehku dan kedudukan kita akan menjadi tiga sama dan seri sehingga kalian semua akan tetap menjadi tawanan kami untuk dihadapkan kepada Sang Adipati Blambangan sebagai telik sandi dan pengacau."

"Hei, Wasi Shiwamurti, dengarkanlah omonganku ini!"

Terdengar suara nyaring dan semua orang menoleh dan memandang kepada Jayawijaya yang mengeluarkan suara itu.

"Sadarlah bahwa engkau sebagai seorang wasi, seorang pendeta yang bijaksana, sedang melakukan hal yang sama sekali menyimpang dari kebenaran!"

"Jayawijaya, engkau ini orang lemah tidak tahu apa-apa bicara tentang kebenaran. Ketahuilah bahwa semua yang kami lakukan ini adalah benar belaka!"

"Kebenaran menurut pendapatmu sendiri! Akan tetapi ada kebenaran umum, kebenaran yang dapat ditelusuri dan dipertimbangkan akal sehat, Wasi Shiwamurti. Ada dua hal yang membuat engkau ingin menahan dan menangkap diajeng Retno Wilis dan pihaknya, yaitu pertama karena mereka engkau tuduh sebagai telik sandi dan kedua karena mereka pengacau. Tuduhan pertama itu, kalau benar bahwa mereka telik sandi, mengapa mereka melakukan itu? Bukan lain karena Blambangan bersikap memberontak terhadap Panjalu dan Jenggala, sehingga sepantasnyalah kalau diajeng Retno Wilis sebagai kawula Panjalu yang setia menyelidiki keadaan Blambangan yang rremberontak. Kedua, tuduhan bahwa ia mengacau itupun ada sebabnya, yaitu karena engkau dan kawan-kawanmu menyebarluaskan agama baru yang menyimpang dari kesusilaan. Karena itu, mawas dirilah engkau, Wasi Shiwamurti sebelum terlambat karena bagaimanapun juga, yang salah akhirnya akan kalah dan yang benar akan menang."

"Orang muda cerewet! Diam engkau atau aku akan merobek mulutmu! Hayo maju kalau engkau berani, bertanding melawanku, bukan hanya bicara seperti seorang nenek bawel!"

Bagus Seto melangkah maju menghadapi Wasi Shiwamurti.

"Paman Wasi Shiwamurti! Sepatutnya andika berterima kasih karena ada orang yang mau mengingatkanmu. Akan tetapi andika malah marah-marah, ini sesungguhnya bukan sikap seorang pendeta dan pertapa. Kalau andika menghendaki kekerasan dan menantang tanding, nah, akulah yang akan menandingi-mu!"

Dengan sepasang matanya yang mencorong Wasi Shiwamurti mengamati pemuda berpakaian putih itu dengan penuh perhatian.

Seorang pemuda yang usianya sekitar tiga puluh tahun, wajahnya lembut dan matanya juga bersinar lembut, gerak-geriknya tenang namun dibalik semua ketenangan itu dia dapat merasakan tenaga yang amat dahsyat bersembunyi.

Dia tahu bahwa pemuda ini tentu seorang yang memiliki kesaktian tinggi, dan diapun sudah mendengar laporan mengenai pemuda ini.

Maka, diam-diam dia lalu mengerahkan segenap tenaga batinnya dan menyilangkan kedua lengannya di depan dada, mulutnya kemak-kemik dan matanya terpejam mempersatukan segala daya alam pikirannya.

Baca Juga: Suling Emas 5

Baca Juga: Suling Emas Dan Naga Siluman 5

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert