Eps 7 Sepasang Garuda Putih - Kho Ping Hoo
Baca online Sepasang Garuda Putih - Kho Ping Hoo
Cersil Sepasang Garuda Putih - Kho Ping Hoo.
Kemudian dia membuka mata, memandang ke arah kedua mata Bagus Seto dan terdengar suaranya yang bergema seperti bukan suara manusia lagi.
"Bagus Seto, lihat, nagaku akan memangsamu!"
Dia mengembangkan kedua lengannya dan terdengar halilintar pada saat tengah hari terang benderang itu.
Dia melontarkan tongkat kepala naganya ke udara dan...
tongkat itu lenyap berubah menjadi seekor naga hitam yang besar badannya sama dengan pohon kelapa!
Moncongnya terbuka lebar, matanya berapi-api menyeramkan sekali sehingga semua orang yang melihatnya menjadi terkejut dan memandang dengan mata terbelalak.
Akan tetapi, walaupun naga itu menghadapinya dan moncongnya ternganga siap menelannya dan sepasang kaki depan dengan kuku-kuku melengkung runcing siap menerkamnya, Bagus Seto tetap tenang saja.
Dari rambut kepalanya dia mengambil sesuatu dan ternyata setangkai bunga cempaka putih sudah berada di tangannya.
Dengan mata mencorong menatap naga jadi-jadian itu dia menyambitkan bunga cempaka putih itu ke arah naga.
"Segala sesuatu harus kembali ke asalnya!"
Katanya dan bunga itu berubah menjadi sinar putih seperti kilat yang menyambar ke arah naga.
Terdengar suara menggelegar dan naga hitam itu mengeluarkan asap dan jatuh ke atas tanah, begitu menyentuh tanah berubah menjadi tongkat kembali.
Bunga cempaka putih itu melayang turun kembali ke tangan Bagus Seto.
Wasi Shiwamurti dengan muka merah karena marah menyambar tongkat kepala naganya lagi, lalu mengetuk-ngetukkan ujung tongkat itu ke atas tanah.
Makin lama ketukan itu semakin kuat dan dari bawah tongkat itu mengepul debu tebal berikut pasir dan kerikil menerjang ke arah Bagus Seto!
Serangan ini dahsyat sekali sehingga menegangkan hati Retno Wilis.
Namun Bagus Seto tetap tenang.
Dia menanggalkan kain putih yang menjadi pengikat rambutnya dan menggunakan kain yang cukup lebar itu untuk mengebut ke depan.
Sungguh aneh!
Biarpun yang dikebut-kebutkan itu hanya sehelai kain putih, akan tetapi ketika debu tebal berikut pasir dan kerikil itu terkena kebutan itu, terpental kembali, bahkan menyerang balik ke arah Wasi Shiwamurti.
Sang wasi menjadi marah dan memutar tongkatnya.
Semua pasir dan kerikil runtuh ke atas tanah.
"Paman Wasi Shiwamurti, andika hendak mengadu ilmu ataukah hendak main-main? Segala macam permainan untuk menakut-nakuti anak kecil ini tidak perlu andika keluarkan!"
Kata Bagus Seto, bukan mengejek melainkan dengan suara bersungguh-sungguh. Wajah sang wasi menjadi pucat, lalu merah kembali dan untuk menutup malunya dia berkata dengan congkak.
"Babo-babo, Bagus Seto! Aku sudah siap dengan senjata tongkat wasiatku, sekarang keluarkanlah senjatamu. Pilihlah senjata yang paling keras dan ampuh untuk diadu dengan tongkat kepala nagaku!"
Mempersilakan lawan memilih senjata adalah sikap yang gagah dan ini diperlihatkan Wasi Shiwamurti untuk menutupi rasa malunya karena dua kali serangan ilmu sihirnya dapat digagalkan lawan.
Akan tetapi sekali inipun dia kecelik karena Bagus Seto tersenyum dan berkata dengan sikap tenang dan lembut.
"Paman Wasi Shiwamurti, sejak tadi aku sudah memegang senjataku. Inilah senjataku!"
Dia memperlihatkan kain pengikat rambut di tangan kanan kanan dan bunga cempaka putih di tangan kiri.
Wajah Wasi Shiwamurti menjadi merah sekali sampai ke lehernya.
Diam-diam dia merasa terkejut dan juga penasaran.
Terkejut karena dia maklum bahwa kalau orang berani bersenjatakan benda-benda lemah seperti kain dan bunga cempaka, orang itu pasti memiliki kesaktian tinggi, dan dia merasa penasaran karena dengan memegang senjata remeh macam itu, pemuda itu seolah memandang rendah kepadanya!
Akan tetapi kemarahan lebih menguasai hatinya dan dia segera memutar tongkatnya sehingga tongkat itu melintang di depan dadanya.
"Bagus! Sambutlah keampuhan tongkat kepala nagaku!"
Dan dia sudah menyerang dengan dahsyat sekali.
Retno Wilis sendiri sampai mengerutkan alisnya karena darisam baran angin serangan itu saja maklumlah dara perkasa ini betapa sakti orang itu dan betapa dahsyat dan berbahaya tongkatnya.
Namun Bagus Seto bergerak sedemikian ringannya seolah tubuhnya berubah menjadi asap dan sambaran tongkat yang bertubi-tubi itu tidak pernah dapat mengenai tubuhnya.
Ketika Retno Wilis sedang memandang dengan mata tidak pernah berkedip dan dengan hati tegang, tiba-tiba terdengar orang bicara di dekatnya.
"Diajeng Retno Wilis, kakakmu ini sungguh seorang yang sakti mandraguna. Juga seorang yang bijaksana. Aku kagum sekali kepadanya."
Senang hati Retno Wilis mendengar pujian itu dan merasa bangga, walaupun kekhawatiran masih menyelinap di hatinya karena ia maklum benar bahwa sekali ini kakaknya menghadapi seorang lawan yang teramat sakti.
"Akan tetapi lawannya juga seorang yang sakti mandraguna, kakang. Aku khawatir..."
"Ingat, diajeng. Kita harus pasrah kepada kekuasaan Hyang Widhi. Aku yakin, karena kakangmas Bagus Seto berada di pihak benar, maka dia tidak akan terancam bahaya. Soal kalah menang bukan yang terpenting, akan tetapi yang lebih baik dia selalu berada daiam lindungan kekuasaan Sang Hyang Widhi."
Entah mengapa, setelah mendengar suara dan kata-kata Jayawijaya ini, hati Retno Wilis menjadi tenteram dan timbul pula keyakinan dalam hatinya bahwa kakaknya akan terlindung kekuasaan Hyang Widhi seperti yang dikatakan Jayawijaya.
Sementara itu, pertarungan antara Wasi Shiwamurti dan Bagus Seto masih berlangsung dengan serunya.
Tampak sekali perbedaan dalam sepak terjang kedua orang sakti mandraguna itu.
Kalau tongkat kepala naga di tangan Wasi Shiwamurti menyambar-nyambar ganas dan merupakan tangan maut yang haus darah, setiap serangannya dimaksudkan untuk membunuh, sebaliknya Bagus Seto hanya berusaha menghindarkan diri dan kalau sewaktu-waktu kain pengikat rambutnya membalas serangan, maka serangan itu hanya untuk menotok jalan darah dan untuk melumpuhkan saja, tidak ada niat untuk membunuh.
(Lanjut ke
Jilid 15) Sepasang Garuda Putih (seri ke 05 -Serial Keris Pusaka Sang Megatantra) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo
Jilid 15 Akan tetapi sikap mengalah dari Bagus Seto ini merugikan dirinya sendiri dan dengan sendirinya gerakan tongkat Wasi Shiwamurti menjadi semakin ganas sehingga Bagus Seto terdesak hebat.
Tiba-tiba Shiwa-murti mengeluarkan suara gerengan panjang.
Suara itu mengandung getaran yang amat kuat sehingga menggetarkan jantung mereka yang menonton dan mereka cepat-cepat mengerahkan tenaga batin untuk menahan jantung mereka dari guncangan yang .akan mendatangkan luka dalam.
Akan tetapi, bersamaan dengan getaran hebat itu, gerakan tongkat sang wasi menjadi semakin hebat pula.
Ujung tongkatnya tergetar-getar menjadi banyak dan ujung tongkat itu menyerang secara bertubi-tubi ke arah tubuh Bagus Seto.
Menghadapi serangan dahsyat dan ganas ini, tiba-tiba tubuh Bagus Seto mumbul ke atas.
Tongkat itu mengejarnya pada saat tubuh pemuda itu masih berada di atas, akan tetapi sungguh hebat.
Tubuh itu dapat mengelak seolah burung yang sedang terbang saja, atau tubuh itu seolah telah menjadi asap atau uap.
Inilah aji kesaktian yang disebut Mego Gemulung, yang membuat tubuh Bagus Seto laksana awan mendung yang berarak di angkasa, serangan tongkat yang bertubi-tubi tidak pernah dapat menyentuhnya.
Dengan sedikit elakan saja semua serangan itu luput dan kadang-kadang ujung tongkat dikebut kain pengikat rambut sehingga menyeleweng tusukannya.
Tubuh Bagus seto bergerak-gerak di udara seperti seekor kupu-kupu!
Pada saat itu terdengar suara gemuruh dan dari jauh tampak datang ratusan orang perajurit Blambangan.
Hal ini memang telah diatur sebelumnya oleh Wasi Shiwamurti.
Setelah tadi melihat bahwa pihaknya kalah tiga dua melawan pihak Retno Wilis, sebelum dia sendiri maju sebagai jago terakhir, dia telah membisiki Senopati Kurdolangit untuk mendatangkan bala bantuan pasukan untuk mengepung dan menangkap enam orang itu.
Melihat datangnya demikian banyak perajurit dan melihat pula betapa belasan orang perajurit yang berada di situ mulai mengepung mereka, pihak Retno Wilis menjadi terkejut sekali.
juga Bagus Seto melihat ini maka dia melayang turun.
Ketika tongkat kepala naga menyambar ke arahnya, dia menangkis dengan kain pengikat kepala yang melibat tongkat itu sehingga tongkat itu tidak mampu digerakkan lagi.
Bagus Seto menyimpan bunga cempaka dan pada saat itu, Wasi Shiwamurti menghantamnya dengan tangan kiri yang terbuka.
Pukulan ini dahsyat sekali mengandung hawa sakti yang amat kuat.
Melihat ini, Bagus Seto juga mendorongkan telapak tangan kirinya menyambut.
"Blarrrr...!"
Dua tenaga sakti yang amat dahsyat bertemu di udara dan akibatnya, tubuh Wasi Shiwamurti terhuyung ke belakang dan tongkatnya terlepas dari libatan kain pengikat kepala yang dipegang Bagus Seto.
Pada saat itu, Endang Patibroto yang melihat datangnya pasukan, segera berteriak kepada putera puterinya.
"Bagus! Retno! Cepat lari...! Mereka curang, mendatangkan pasukan. Lari!"
Retno Wilis menyambar pergelangan tangan kiri Jayawijaya dan mengajaknya lari dari tempat itu.
Harjadenta dan Jarot juga melihat bahaya, maka merekapun melompat dan merobohkan perajurit yang berani menghalangi mereka, lalu melarikan diri.
Endang Patibroto menggerakkan kaki tangannya dan empat orang perajurit pengepung berpelantingan dan tidak ada lagi yang berani menghalangi wanita ini lari.
Demikian pula Retno Wilis.
Biarpun sebelah tangannya ia menarik tangan Jayawijaya, namun dengan kaki dan tangan kirinya ia merobohkan dua orang perajurit lalu berlari cepat sambil menarik Jayawijaya.
Bagus Seto sendiri juga melompat dan lari paling belakang untuk melindungi yang lari di depannya.
Pasukan itu telah datang dan dua orang senopati, Rajah Beling dan Kurdolangit, segera mengerahkan mereka untuk melakukan pengejaran.
Akan tetapi Wasi Shiwamurti dan para pembantunya tidak melakukan pengejaran.
Sebetulnya para pembantu itu melihat Wasi Shiwamurti tidak melakukan pengejaran, merekapun tidak berani mengejar karena mereka merasa jerih terhadap Endang Patibroto, Retno Wilis, dan terutama Bagus Seto.
Wasi Shiwamurti sendiri tidak melakukan pengejaran karena merasa malu kalau harus ikut mengeroyok.
Diapun maklum dari pertemuan tenaganya dengan tenaga Bagus Seto tadi bahwa dia tidak akan menang melawan pemuda luar biasa itu.
Enam orang itu melarikan diri dengan cepat sekali sehingga pengejaran pasukan Blambangan itu menjadi sia-sia.
Mereka tertinggal jauh.
Setelah tiba di luar batas Blambangan, baru mereka berhenti berlari.
Endang Patibroto lalu berkata kepada kedua orang putera putrinya.
"Bagus Seto dan engkau Retno Wilis, aku sudah mendengar bahwa kalian sudah melakukan penyelidikan ke Nusabarung dan sekarang juga berada di daerah Blambangan. Kita semua sudah tahu belaka bahwa Blambangan dan Nusabarung telah mengadakan persiapan untuk memberontak terhadap Jenggala. Selain itu juga mereka mendatangkan pendeta-pendeta dari Cola yang menyebarkan agama sesat kepada rakyat jelata dengan paksaan. Semua ini sudah cukup untuk dijadikan laporan kepada Sang Prabu di Panjalu. Oleh karena itu, mari kita pulang ke Panjalu melapor kepada ayah kalian."
"Kanjeng Ibu, saya menduga bahwa setelah mendengar laporan ini, Panjalu dan Jenggala tentu akan mengirim pasukan untuk menundukkan Nusabarung dan Blambangan. Akan terjadi perang dan kalau sudah begitu, saya tidak suka terlibat dalam perang."
"Aku juga tidak suka ikut berperang,"
Kata Retno Wilis dan pernyataan puterinya ini mengherankan hati Endang Patibroto.
Biasanya, puterinya ini adalah seorang yang suka berperang dan merobohkan sebanyak mungkin musuh.
Sekarang ia menyatakan tidak suka ikut berperang.
Ia tahu bahwa tentu puterinya sedikit banyak telah terpengaruh kakaknya yang biarpun amat sakti namun tidak suka akan kekerasan.
"Urusan perang adalah urusan ayah kalian. Kalian tidak perlu mencampuri. Akan tetapi keadaan di Nusabarung dan Blambangan harus dilaporkan karena kalau dibiarkan saja, dapat membahayakan Panjalu dan Jenggala. Marilah kita pulang dan melaporkan kepada ayah kalian agar ayah kalian dapat melapor kepada Sang Prabu dan dapat diambil tindakan terhadap Nusabarung dan Blambangan sebelum terlambat,"
Kata Endang Patibroto. Retno Wilis menoleh dan memandang kepada Bagus Seto seolah hendak minta keputusan dari kakaknya itu. Bagus Seto mengangguk dan berkata kepada adiknya.
"Diajeng, sudah semestinya kalau kita menuruti kata-kata kanjeng ibu dan kembali ke Panjalu menghadap kanjeng romo."
"Kalau begitu, marilah kita segera pergi sebelum mereka mengejar sampai di sini Anakmas Jayawijaya, anakmas Harjadenta, dan anakmas Jarot, kami bertiga hendak kembali ke Panjalu. Andika bertiga hendak ke mana?"
"Saya akan pulang ke kadipaten Pasisiran, melapor kepada kanjeng romo agar mengadakan persiapan dan kalau tiba saatnya kami akan membantu gerakan pasukan Panjalu dan Jenggala,"
Kata jarot.
"Setelah Nusabarung dan Blambangan dapat ditundukkan, barulah saya akan pergi ke Panjalu dan mengunjungi keluarga kanjeng bibi."
"Baik sekali anakmas Jarot. Bantuan dari Pasisiran tentu akan sangat berguna bagi kami. Dan Andika, anakmas Harjadenta?"
Harjadenta memandang kepada Retno Wilis.
"Sayapun ingin sekali berkunjung ke Panjalu menyambung persahabatan saya dengan kakangmas Bagus Seto dan diajeng Retno Wilis, akan tetapi tentu saja saya akan menunggu sampai akhirnya perang terhadap Nusabarung dan Blambangan yang memberontak. Sekarang saya akan pulang dulu ke Gunung Raung menghadap Eyang Empu Gandawijaya."
"Baiklah, kami tunggu kunjunganmu kelak, anakmas Harjadenta. Dan bagaimana dengan andika, anakmas Jayawijaya?"
Jayawijaya memandang kepada Retno Wilis. Rasanya berat untuk berpisah dari gadis itu, akan tetapi dia tersenyum dan memberi hormat kepada Endang Patibroto dan berkata.
"Kanjeng Bibi Endang Patibroto, saya telah mendapat kehormatan besar sekali dapat berkenalan dengan kanjeng bibi sekeluarga. Sekarang saya akan kembali ke Pegunungan Tengger menceritakan pengalaman saya kepada kanjeng room dan setelah keadaan damai saya akan mengajak kanjeng romo untuk berkunjung kepada kanjeng bibi sekeluarga."
"Jangan lupa aku selalu menunggu kunjunganmu, kakang Jaya,"
Kata Retno tanpa malu-malu karena ucapannya ini sedikit banyak membuka rahasia hatinya terhadap pemuda itu.
Jarot mengerutkan alisnya dan memandang kepada Jayawijaya, akan tetapi Harjadenta menundukkan mukanya.
Pemuda ini pernah menyatakan cintanya kepada Retno Wilis namun ditolak dengan halus oleh gadis itu dan diapun tahu diri, tidak berani lagi mengharapkan dara perkasa itu untuk menjadi jodohnya.
"Mari kita berpencar dan pergi dari sini sekarang juga, jangan sampai keburu mereka yang mengejar kita sampai di sini!"
Kata Endang Patibroto dan setelah saling memberi salam perpisahan, mereka semua meninggalkan tempat itu, mengambil jalan masing-masing.
Ki Patih Tejolaksono, Patih Anom dari Panjalu, menyambut kembalinya isteri, putera dan puterinya dengan gembira.
Apa lagi melihat perubahan pada sikap Retno Wilis, dia menjadi gembira sekali.
Kalau dulu Retno Wilis bersikap dingin, kini ia berubah menjadi seorang puteri yang hangat dan ramah, penuh hormat kepada ayah bundanya.
Sifat keliarannya menghilang dan Ki Patih Tejolaksono mengerti bahwa ini berkat bimbingan Bagus Seto, puteranya yang luar biasa itu.
Menghadapi puteranya sendiri ini, Ki Patih Tejolaksono merasa seolah menghadapi seorang yang tingkatannya lebih tinggi sehingga menimbulkan rasa hormat dan kagum dalam hatinya.
Dengan penuh perhatian Ki Patih Tejolaksono mendengarkan Endang Patibroto dan Retno Wilis yang menceritakan pengalaman mereka.
Dia mengerutkan alisnya ketika mendengar akan keadaan di Nusabarung dan Blambangan, apalagi tentang cara cara para tokoh dari Cola menyebarkan agama sesat itu.
"Hemm, berita ini penting sekali! Perlu segera kulaporkan kepada Sang Prabu. Memang telah diketahui bahwa Nusabarung dan Blambangan tampaknya menyusun kekuatan dan hendak memberontak, akan tetapi baru sekarang aku tahu bahwa mereka itu bersekutu dan ada usaha melemahkan Panjalu dan Jenggala. Sekarang juga aku harus menghadap Sang Prabu untuk memberi laporan tentang hasil perjalanan dan penyelidikan kalian,"
Hari itu juga Ki Patih Tejolaksono pergi menghadap dan diterima oleh Sang Prabu Sri Jayawarshe Digdaya Shastraprabu.
Persidangan itu lengkap dihadiri para pembantu Sang Prabu, di antaranya Senopati Sepuh Suryoyudo dan yang lain-lain.
Dengan suara yang tenang dan lancar, Ki Patih Tejolaksono melaporkan apa yang didengarnya dari isteri dan anak-anaknya, tentang hasil penyelidikan mereka.
Laporan tentang persiapan perang yang dilakukan kadipaten Nusabarung dan Blambangan tidak mengejutkan karena semua orang sudah mendengar akan hal itu.
Akan tetapi keterangan bahwa Nusabarung dan Blambangan didukung oleh Bali-dwipa, dan bahwa ada usaha dari kedua kadipaten itu untuk menimbulkan pertentangan di antara rakyat Jenggala dengan menyebar agama baru yang sesat, mengejutkan Sang Prabu dan para hulabalangnya.
"Kanjeng Gusti, dengan seijin paduka, perkenankan hamba sekarang juga memimpin pasukan untuk menundukkan Nusabarung dan Blambangan, juga membasmi para penyebar agama sesat itu!"
Terdengar Ki Patih Suryoyudo dengan suara lantang. Patih yang usianya sudah tujuh puluhan tahun ini memang masih gagah dan penuh semangat. Sang Prabu menoleh kepadanya dan berkata dengan lembut.
"Paman Patih Suryoyudo, kami tidak ragu akan kemampuan andika. Akan tetapi andika sudah tua dan sebaiknya menemani kami di istana dan menjaga ketenteraman dalam kotaraja. Mengenai penalukan Nusabarung dan Blambangan, juga pembasmian para penyebar agama sesat itu, kami serahkan kepada Ki Patih Tejolaksono."
"Sendiko dawuh paduka, Kanjeng Gusti,"
Kata Ki Patih Suryoyudo dengan patuh.
Dia patuh dan tidak kecewa karena diapun maklum bahwa patih anom itu memiliki kesaktian yang bahkan melebihi kesaktiannya sendiri dan diapun tidak ragu bahwa kalau Ki patih Tejolaksono yang maju memimpin pasukan, Nusabarung dan Blambangan pasti akan dapat ditundukkan.
"Hamba siap melaksanakan perintah paduka, Kanjeng Gusti,"
Kata Ki Patih Tejolaksono sambil menghaturkan sembah.
"Kakang Patih Tejolaksono, buatlah persiapan dengan membawa pasukan secukupnya, kemudian berangkatlah segera ke Nusabarung dan Blambangan. Bujuk kedua adipati itu untuk menakluk dan datang menghadap. Kalau mereka menolak, beri hajaran kepada mereka, taklukkan mereka dengan kekuatan. Jangan lupa, cari biangkeladi penyebaran agama sesat itu dan basmi mereka."
"Sendiko dawuh paduka, Kanjeng Gusti. Hamba mohon doa restu."
"Kami bekali puja pangestu yang berlimpah, Kakang Patih."
"Terima kasih, Gusti."
Persidangan dibubarkan dan Ki Patih Tejolaksono segera pulang ke gedungnya untuk memberitahu kedua isterinya, Endang Patibroto dan Ayu Candra, dan kedua orang anaknya.
Keluarga ini lalu berkumpul untuk membicarakan tugas yang oleh Sang Prabu diberikan kepada Ki Patih Tejolaksono.
Setelah dia menceritakan hasil laporannya kepada Sang Prabu dan tentang tugas yang harus dipikulnya, Endang Patibroto lalu berkata.
"Aku akan menemanimu kakangmas. Aku akan membantumu menalukkan kedua kadipaten itu dan menghadapi para wasi penyebar agama sesat itu."
Ucapan Endang Patibroto itu diucapkan penuh semangat. Ayu Candra yang lemah lembut itupun berkata halus.
"Akupun ingin ikut membantumu dan diajeng Endang Patibroto, kakang mas."
"Jangan kalian berdua pergi semua, lalu siapa yang akan berjaga di kepatihan ini?"
Kata Ki Patih Tejolaksono.
"Diajeng Ayu Chandra, lebih baik andika berjaga di rumah saja. Biarlah diajeng Endang Patibroto ikut, sekalian menjadi petunjuk jalan karena ia sudah menyelidiki ke Nusabarung dan Blambangan."
"Apa yang dikatakan kakangmas itu betul, mbakayu. Engkau menjaga rumah karena keamanan di kepatihan juga amat penting. Biarlah aku yang pergi membantu suami kita, juga Retno Wilis dan Bagus Seto membantu ayah mereka."
"Kanjeng ibu, saya tidak ingin melibatkan diri dalam perang,"
Kata Bagus Seto dengan lembut.
"Sayapun tidak mau ikut berperang di mana saya harus membunuh banyak orang,"
Kata pula Retno Wilis.
"Kalian berdua tidak perlu ikut berperang. Akan tetapi para wasi dari Cola itu amat sakti. Kalau kalian berdua tidak membantu, ayah kalian dan aku tentu akan kewalahan menghadapi mereka,"
Kata Endang Pa tibroto.
"Bagus Seto dan Retno Wilis,"
Kata Ki Patih Tejolaksono dengan tenang.
"Kalian tentu ingat bahwa kehidupan ini baru ada manfaatnya kalau kita melaksanakan kewajiban-kewajiban dalam kehidupan ini. Hidup berarti melaksanakan kewajiban-kewajiban itu. Kewajiban sebagai seorang ayah atau ibu, kewajiban sebagai seorang suami atau-isteri, sebagai anak, sebagai sahabat, sebagai bawahan, sebagai atasan, sebagai kawula. Mempertahankan negara termasuk kewajiban suci dari seorang kawula. Lalu apa artinya menjadi kawula Negara kalau tidak mau membela negara? Membunuh orang berdasarkan kebencian dan permusuhan pribadi memang tidak baik dan tidak benar, anak-anakku. Akan tetapi membunuh musuh dalam perang merupakan tugas kewajiban seorang kawula yang membela negaranya, bebas dari pada rasa benci perorangan. Nah, sebagai kawula Panjalu, kalian juga berkewajiban untuk membela negara."
"Sudahlah,"
Endang Patibroto berkata.
"Kalau kedua orang anak kita ini tidak mau terlibat perang, terserah kepada mereka. Akan tetapi mereka harus membantu dalam menghadapi para wasi penyebar agama sesat itu, kecuali kalau mereka rela melihat rakyat dipaksa memeluk agama sesat dan kalau mereka tega melihat ayah ibunya menghadapi para wasi yang sakti mandraguna itu tanpa membantu."
"Kakang, kita harus membantu ayah menghadapi mereka!"
Retno Wilis berkata sambil memegang tangan Bagus Seto dan mengguncangnya. Bagus Seto tersenyum dan mengangguk.
"Baiklah dan kita lihat saja. Kalau memang amat diperlukan, kita turun tangan membantu."
Ki Patih Tejolaksono dan Endang Patibroto merasa girang sekali.
Hati suami isteri ini menjadi besar melihat kedua orang anak mereka yang boleh diandalkan itu mau ikut.
Ayu Chandra yang tadi merasa tidak enak melihat Bagus Seto tidak mau ikut, kini lega juga hatinya mendengar kesanggupan Bagus Seto.
"Aku merasa ikut girang kalau engkau mau ikut, anakku. Semoga Sang Hyang Widhi memberi kekuatan kepadamu untuk menanggulangi semua rintangan yang dihadapi ayah dan ibumu."
Demikianlah, Ki Patih Tejolaksono membuat persiapan, memilih pasukan istimewa dan keesokan harinya, berangkatlah pasukan itu dipimpin Ki Tejolaksono yang diiringkan isterinya Endang Patibroto dan kedua orang anaknya, Bagus Seto dan Retno Wilis.
Mereka bertiga menunggang kuda dan di sepanjang jalan mereka dielu-elukan rakyat jelata yang memandang kagum kepada empat orang itu yang tampak gagah perkasa.
Ki Patih Tejolaksono yang berusia lirna-puluh dua tahun menunggang kuda pancal panggung yang berkaki putih, masih tampak muda dan gagah perkasa.
Di pinggangnya terselip sebatang keris pusaka pemberian Sang Prabu.
Di sisinya, Endang Patibroto menunggang seekor kuda hitam, sudah berusia lima puluh tahun akan tetapi masih tampak cantik dan anggun, dengan sebatang keris terselip di pinggangnya, gagah perkasa seperti Woro Srikandi.
Pasangan yang sudah amat dikenal rakyat ini mendatangkan rasa kagum di hati penonton yang mengelu-elukan mereka.
Di Belakang pasangan ini, juga menunggang seekor kuda coklat, tampak Bagus Seto yang berpakaian serba putih, lemah lembut dengan sinar matanya yang penuh kesabaran, gerak geriknya halus, seperti Raden Arjuna yang tidak tampak gagah perkasa melainkan lembut namun di balik kelembutan itu terkandung kekuatan yang maha dahsyat yang membuat orang memandang dengan hati tunduk.
Di sampingnya, duduk di atas seekor kuda berbulu putih adalah Retno Wilis yang menjadi pusat perhatian penonton.
Seorang gadis yang juga berpakaian serba putih dari sutera, cantik jelita dan gagah perkasa, dengan sebatang pedang di punggungnya, bertubuh sempurna dengan lekuk lengkung yang menggairahkan.
Sinom yang melingkar-lingkar di dahinya bergerak-gerak tertiup angin, alisnya yang hitam melengkung dan matanya seperti bintang kejora.
Mulutnya tersenyum dan lesung pipit di sebelah kiri mulutnya menambah kemanisannya.
Hati para pria muda yang memandang menjadi terpesona oleh kecantikan dan keanggunan yang amat menawan itu.
Sepasang orang muda yang berpakaian serba putih itu benar-benar membuat hati mereka yang menonton berdebar penuh kebanggaan dan kekaguman.
Bangga karena mereka adalah putera puteri Ki Patih Tejolaksono yang telah lama menjadi kebanggaan mereka.
Lima losin barisan pengawal menunggang kuda di depan, diikuti oleh Sang Patih dan isteri serta dua orang puteranya dan di belakang mereka berbaris pasukan berkuda, lalu diikuti pasukan pejalan kaki.
Jumlah mereka tidak kurang dari selaksa orang.
Sesuai dengan perintah Sang Prabu di Panjalu, Ki Patih Tejolaksono membawa pasukannya singgah di Kerajaan Jenggala.
Pasukan berhenti di luar kadipaten, dan Ki Patih Tejolaksono, diikuti Endang Patibroto, Retno Wilis dan Bagus Seto memasuki kadipaten menghadap Sri Samarotsoha Karnake shana Dharmawangsa Kirtisinga Jayantaka Tungga Dewa, Raja di Jenggala yang dahulu nya bernama Pangeran Sigit dan pernah menjadi teman seperjuangan Ki Patih Tejolaksono dan Endang Patibroto.
Bahkan Setyaningsih yang kini menjadi permaisuri Raja Jenggala adalah saudara kandung Endang Patibroto.
Maka kedatangan keluarga Ki Patih Tejolaksono ini disambut dengan gembira dan meriah oleh keluarga Raja Jenggala.
Tentu saja Sang Prabu Jenggala sudah mendengar akan gerakan pasukan yang dilakukan Panjalu untuk menundukkan Nusabarung dan Blambangan dan untuk itu diapun sudah mempersiapkan pasukan sebanyak dua ribu orang untuk diikut sertakan dan membantu pasukan Panjalu.
Bantuan ini dengan senang hati diterima oleh Ki Patih Tejolaksono.
Tidak lama mereka singgah di Jenggala dan pada hari itu juga, pasukan diberangkatkan menuju ke timur.
Kini jumlahnya bertambah menjadi duabelas ribu orang.
Jauh sebelum mereka tiba di pesisir yang menjadi tapal batas kadipaten Nusabarung, pihak Nusabarung sudah mendengar lebih dulu dari para telik sandi mereka dan sudah membuat persiapan untuk melakukan perlawanan.
Bahkan mereka telah mendapat balabantuan dari Blambangan sebanyak se ribu orang perajurit sehingga jumlah mereka semua ada enam ribu perajurit.
Sebagian besar para perajurit itu berjaga di sekitar pantai Nusabarung dan sebagian lagi menjaga di luar kadipaten yang berada di tengah-tengah pulau.
Ki Patih Tejolaksono menghentikan pasukannya di pantai Laut Kidul, membuat perkemahan di situ.
Lalu semua alat pembuatan perahu yang telah dipersiapkan lebih dulu dikeluarkan dan sibuklah para ahli pembuat perahu bekerja siang malam membuat perahu.
Karena banyaknya orang yang bekerja, dan alat-alat sudah lengkap juga di situ banyak pohon-pohon yang dapat ditebang dan kayunya dibuat papan perahu, maka dalam waktu dua pekan saja selesailah sudah ratusan buah perahu yang akan menyeberangkan pasukan itu ke Nusabarung.
Pasukan itu telah membawa selain perlengkapan pembuatan perahu, juga tukang-tukang perahu yang ahli melayarkan perahu-perahu itu menyeberang lautan.
Akan tetapi pelayaran menuju Nusabarung itu tidak mudah karena di tengah Lautan mereka dihadang banyak perahu dari para perajurit Nusabarung sehingga terjadi pertempuran di tengah lautan.
Perang anak panah terjadi dan setelah perahu-perahu saling mendekat, terjadilah perang campuh di atas perahu.
Ahli-ahli berlayar dari Panjalu dan Jenggala mengemudikan perahu dengan sibuk dan hati-hati ketika perahu-perahu itu bertabrakan dan di atas perahu terjadi pertempuran seru.
Akan tetapi karena jumlah perajurit kalah banyak, dan kalah dalam hal ketangkasan bertempur, pasukan Nusabarung mundur dan melarikan diri dengan sisa perahu-perahu mereka ke pulau, lalu membentuk barisan di pantai pulau itu menanti datangnya perahu-perahu musuh.
Setelah pasukan Panjalu dan Jenggala mendarat, terjadilah pertempuran di darat, di pantai pulau Nusabarung.
Dalam pertempuran itu, Ki Patih Tejolaksono dan Endang Patibroto melihat betapa di bagian kiri para perajurit mereka menjadi kacau dan banyak yang berpelantingan, tidak kuat menghadapi amukan lima orang yang rata-rata bertubuh tinggi besar dan mereka ini mengamuk dengan golok mereka.
Bahkan dua orang senopati dari Jenggaia yang menjaga bagian itu kabarnya sudah roboh pula.
Mendengar ini, Endang Patibroto lalu meloncat dan berlari ke bagian itu, diikuti oleh suaminya.
Adapun Bagus Seto dan Retno Wilis hanya menonton dari tempat tinggi, tidak mencampuri perang itu.
Akan tetapi kalau ada perajurit musuh yang datang menyerbu, mereka hanya merobohkan mereka dengan tamparan dan tendangan yang cukup mengusir mereka menjauh dengan gentar dan tidak membunuh mereka.
Ketika Endang Patibroto dan Ki Patih Tejolaksono tiba di tempat pertempuran bagian sayap kiri itu, tampaklah oleh mereka lima orang senopati tinggi besar.
Mereka itu bukan lain adalah Senopati Wisokolo, Senopati Wisangnogo, Senopati Krendomolo, Senopati Damarpati, dan Senopati Surodiro, lima orang senopati jagoan dari Nusabarung yang terkenal digdaya.
Sepak terjang lima orang senopati jagoan Nusabarung ini sudah hebat, merobohkan banyak perajurit Panjalu, akan tetapi di bagian lain, ada lagi seorang kakek yang mengamuk lebih hebat lagi.
Dia seorang kakek berusia enam puluhan tahun, berpakaian serba kuning, rambutnya gimbal akan tetapi dihias tusuk sanggul terbuat dari emas permata, matanya lebar hidungnya pesek dan mulutnya selalu menyeringai.
Hebatnya, bukan saja tangan kakinya yang mengamuk dengan tongkat ularnya, juga mulutnya mengeluarkan bentakan-bentakan dan para perajurit yang terkena bentakan itu berpelantingan seperti terdorong tenaga yang dahsyat!
Endang Patibroto marah sekali melihat kakek ini karena ia mengenalnya sebagai Wasi Surengpati.
Kalau dahulu Wasi Surengpati berpakaian butut, kini biarpun pakaiannya masih dekil namun dia memakai banyak perhiasan yang mewah!
Hal ini karena dia sekarang telah menjadi penasihat Nusabarung.
"Kakangmas, hajarlah lima senopati dari Nusabarung itu, aku akan menghadapi kakek itu!"
Kata Endang Patibroto kepada suaminya.
"Hati-hati diajeng. Kakek itu kelihatan sakti, biar aku saja yang menghadapinya!"
Kata Tejolaksono khawatir.
"Jangan Khawatir, kakangmas. Aku pernah melawannya dan aku mampu mengatasinya. Lima orang senopati itupun digdaya, harap kakangmas waspada,"
Kata Endang Pati broto yang segera berlari menghampiri tempat di mana Wasi Surengpati mengamuk.
"Wasi Surengpati, sekali ini engkau tidak akan terlepas dari tanganku!"
Bentak Endang Patibroto, sambil melompat dan tiba di depan kakek yang sedang mengamuk itu.
Melihat tiba-tiba muncul wanita yang ditakuti itu, wajah Wasi Surengpati menjadi pucat lalu merah sekali karena dia sudah menjadi marah.
Untuk melarikan diri sudah tidak sempat lagi, maka diapun membentak.
"Endang Patibroto, engkaulah yang akan mampus di tanganku!"
Dan diapun segera menerjang sambil mengeluarkan pekik yang dapat menggetarkan jantung lawan.
Akan tetapi, Endang Patibroto sudah mengerahkan kekuatan batinnya dan ia mengelak dari sambaran tongkat ular, lalu mencabut kerisnya dan membalas dengan serangan kerisnya yang berada di tangan kanannya.
Tusukan itu cepat dan kuat sekali.
Wasi Surengpati terkejut dan mengelak sambil memukulkan tongkatnya untuk menangkis.
Endang Patibroto menarik kembali kerisnya dan tiba-tiba tangan kirinya menyambar ke depan dengan aji pukulan Pethit Nogo yang amat ampuh.
"Wuuuuuuttt... desss!!"
Wasi Surengpati sudah mencoba untuk menangkis pukulan itu, akan tetapi tangkisannya terpental dan dadanya terkena sambaran pukulan yang amat ampuh itu sehingga dia terjengkang dan terbanting ke atas tanah.
Dia cepat melompat bangun, akan tetapi Endang Patibroto yang menggunakan gerakan dengan ilmu Bayutantra, membuat tubuhnya dapat mengejar dengan cepat dan sebuah pukulan dengan Aji Gelap Musti menyambar ke arah kepala Wasi Surengpati.
Sang wasi cepat miringkan kepala untuk mengelak dan pukulan itu mengenai pundaknya.
Namun, hebat sekali pukulan Aji Gelap Musti itu.
Tubuh Wasi Surengpati terpelanting keras dan bergulingan, tiba di dekat para perajurit Panjalu.
Para perajurit yang melihat musuh yang sakti ini bergulingan di dekat kaki mereka, segera menghujamkan senjata mereka.
Sang wasi yang sudah terkena pukulan dua kali dengan hebatnya, tidak lagi mampu mengerahkan ilmu kekebalannya dan tubuhnya hancur lebur di bawah hujan senjata para perajurit itu.
Tewaslah dia dalam keadaan tubuh hancur.
Sementara itu, Tejolaksono menerjang lima orang senopati yang segera terdesak ke belakang.
Amukan Tejolaksono dengan aji Bajra Dahono amatlah dahsyatnya.
Kedua tangannya seolah mengeluarkan api panas dan lima orang ini terhuyung ke belakang.
Dengan gerakan Bayu Sakti, Tejolaksono dapat bergerak secepat angin dan selagi lima orang itu belum pulih keadaan mereka, Tejolaksono sudah menerjang dengan amukan Aji Dirodometo.
Seperti seekor gajah mengamuk kaki tangannya bergerak dan lima orang itu satu demi satu berpelantingan dan segera dikeroyok oleh para perajurit Panjalu.
Lima orang senopati itupun tewas semua di bawah hujan senjata.
Setelah lima orang senopati dan Wasi Surengpati tewas, para perajurit Nusabarung yang kehilangan pimpinan menjadi kacau balau dan kalang kabut, tunjang palang melarikan diri ke tengah pulau!
Mereka bergabung dengan pasukan yang berjaga di luar kadipaten.
Terjadi lagi pertempuran hebat, akan tetapi karena kalah dalam jumlah dan kekuatan, apalagi mereka tidak lagi mempunyai pimpinan yang tangguh, pasukan Nusabarung tidak kuat menahan serangan para perajurit Panjalu dan Jenggala dan akhirnya para perajurit dapat membobolkan gapura Nusabarung dan dipimpin oleh Tejolaksono dan Endang Patibroto, pasukan pengawal memasuki kadipaten!
Di tengah ruangan kadipaten mereka mendapatkan Adipati Martimpang berikut tujuh orang puterinya dan semua isteri dan selirnya berkumpul.
Sang Adipati sudah kehilangan kewibawaannya dan menundukkan mukanya ketika Tejolaksono memasuki ruangan itu bersama Endang Patibroto dan kedua orang putera puteri mereka mengikuti dari belakang.
Dyah Candramanik, puteri sulung sang Adipati Martimpang ketika melihat Retno Wilis ikut masuk ke ruangan itu, memandang dengan mata berapi.
Dara jelita ini masih merasa sakit hati karena dulu pernah ditipu oleh Retno Wilis yang menyamar sebagai Joko Wilis sehingga ia jatuh cinta kepada "pemuda"
Itu.
"Adipati Martimpang, pasukanmu sudah hancur, apakah sekarang andika sudah rnenakluk kepada Kerajaan Jenggala?"
Tanya Ki Patih Tejolaksono dengan tegas namun cukup hormat. Adipati Martimpang mengangkat muka, bertemu pandang dengan Tejolaksono dan menarik napas panjang.
"Kami sudah kalah, terserah apa yang akan andika lakukan, Ki Patih."
"Untuk sementara, andika sekeluarga menjadi tawanan di sini dan kadipaten Nusabarung akan diawasi oleh para wakil dari Jenggala. Setelah kami nanti kembali ke kerajaan Panjalu dan Jenggala, andika sekeluarga akan menjadi tawanan dan kami bawa ke Jenggala."
Adipati Martimpang yang sudah merasa kalah hanya mengangguk dan dia bersama keluarganya lalu digiring ke pedalaman kadipaten dan ditawan dalam kamar masing-masing dan dijaga oleh para perajurit Jenggala.
Ki Patih Tejolaksono lalu memanggil semua perwira Jenggala dan memerintahkan kepada mereka dan sisa dua ribu pasukan mereka untuk menguasai dan menjaga Nusabarung.
Dia sendiri bersama pasukan Panjalu yang tadinya sebanyak selaksa orang akan melanjutkan ekspidisinya ke Blambangan.
Hanya tiga hari pasukan itu dibiarkan beristirahat di Nusabarung dan pada hari ke empat pasukan itu menyeberang ke daratan lalu melanjutkan perjalanan menuju ke barat, ke Blambangan.
Akan tetapi belum lama mereka bergerak, dari depan menghadang pasukan yang berjumlah lebih kurang lima ratus orang.
Pasukan ini dipimpin oleh Sang Adipati Kertajaya, yaitu adipati dari Pasisiran, bersama puteranya, Jarot.
Ternyata pasukan ini siap membantu gerakan pasukan dari Kerajaan Panjalu dan Jenggala.
Ki Patih Tejolaksono menerima mereka dengan senang hati, bahkan menganjurkan agar Jarot saja yang memimpin lima ratus pasukan dari Pasisiran itu untuk membantu sedangkan Adipati Kertajaya menjaga ketenteraman di Pasisiran.
"Tidak baik kalau andika sekalian ikut pergi karena kadipaten Pasisiran akan menjadi kosong dari pimpinan,"
Kata pula Endang Patibroto.
"Kami rasa anakmas Jarot sudah cukup untuk membantu kami."
Adipati Kertajaya akhirnya menurut dan membiarkan puteranya seorang diri yang memimpin lima ratus orang pasukan Kerajaan Panjalu dan Jenggala.
Pasukan itu melanjutkan perjalanan mereka dan kembali di tengah perjalanan mereka dihadang dua pasukan yang terdiri dari masing-masing se ratus orang.
Mereka itu bukan lain adalah Ki Haryosakti dan Bajramusti, dua orang sakti yang menjadi pimpinan Jambuko Cemeng dan ketua Bala Cucut, dua orang yang pernah ditalukkan oleh Retno Wilis dan Bagus Seto dan kepada dua orang kakak beradik ini mereka sudah berjanji untuk kelak membantu Panjalu.
Setelah mendengar bahwa pasukan Panjalu dan Jenggala sudah mengadakan ekspidisi ke timur dan sudah menaklukkan Nusabarung, kini sedang menuju ke Blambangan.
Mereka lalu membawa anak buah masing-masing dan menghadang di tengah perjalanan.
Retno Wilis lalu memperkenalkan mereka kepada ayah ibunya.
"Paman ini adalah Ki Haryosakti, ketua dari Jambuko Cemeng yang sudah berjanji kepada kakangmas Bagus Seto dan aku untuk membantu Panjalu. Dan yang ini adalah paman Bajramusti, ketua Bala Cucut yang juga berjanji membantu pasukan Panjalu,"
Demikian Retno Wilis melaporkan kepada ayahnya.
Tejolaksono mengangguk senang dan menerima mereka dengan baik, menempatkan mereka di tengah pasukannya.
Hal ini menunjukkan bahwa Ki Patih Tejolaksono adalah seorang panglima yang berpengalaman.
Biarpun sudah diperkenalkan oleh puterinya, namun dia tidak kekurangan kewaspadaan dan menempatkan dua kepala gerombolan itu di tengah-tengah pasukannya sehingga mereka tidak akan dapat berkhianat kalau terjadi perang melawan pasukan Blambangan.
Kalau ditaruh di depan, mereka akan dapat berbalik membantu Blambangan dan kalau ditempatkan di belakang, mereka juga dapat membokong dan menyerang dari belakang untuk membantu Blambangan.
Akan tetapi kalau mereka ditaruh di tengah mereka tidak berdaya dan mau tidak mau harus membantu pasukan Panjalu!
Tentu saja pihak Blambangan sudah mendengar akan jatuhnya Nusabarung ke tangan pasukan dari Panjalu dan Jenggala, bahkan pasukan yang mereka perbantukan ke Nusabarung juga sudah melarikan diri pulang, meninggalkan kawan-kawan yang gugur, akan tetapi membawa pula banyak pasukan yang melarikan diri.
Kini mereka bergabung dengan pasukan Blambangan dan melakukan penjagaan di perbatasan Blambangan, dipimpin sendiri oleh Senopati Kurdolangit dan senopati Rajah Beling, dibantu para senopati lainnya termasuk Raden Kalinggo, putera Senopati Rajah Beling yang tinggi besar dan brewokan itu.
Raden Kalinggo ini dulu pernah ikut sayembara untuk memperebutkan Dyah Candramanik puteri Adipati Martimpang dari Nusabarung, namun dia dikalahkan oleh Joko Wilis.
Jumlah pasukan Blambangan ditambah sisa pasukan Nusabarung tidak kurang dari delapan ribu orang.
Begitu pasukan Panjalu muncul, mereka segera diserbu oleh pasukan Blambangan yang masih segar, berbeda dengan keadaan pasukan Panjalu yang baru tiba dari perjalanan yang cukup melelahkan.
Namun, pasukan Panjalu melawan dengan gigih.
Amukan Senopati Kurdolangit segera di bendung dan dihadapi oleh Ki Bajramusti ketua Bala Cucut yang diperintahkan Ki Patih Tejolaksono untuk maju.
Hal ini dinasihatkan oleh Retno Wilis yang sudah maklum akan kesaktian ketua Bala Cucut ini.
Adapun amukan Rajah Beling dihadapi oleh Ki Haryosakti yang juga maju atas anjuran Retno Wilis.
Ketika Raden Kalinggo maju, maka yang menghadapinya adalah Jarot!
Terjadilah perang pupuh yang amat seru.
Tepat sekali perhitungan Retno Wilis yang mengajukan jago-jagonya.
Senopati Kurdolangit memang sakti.
Senopati yang tinggi kurus ini memainkan pedangnya dengan tangkas dan kuat.
Namun yang menandingi adalah Ki Bajramusti yang memegang golok besar.
Selain ilmu silat yang tangguh, juga Ki Bajramusti memiliki kekuatan sihir yang cukup hebat.
Setelah bertempur dengan serunya, Ki Bajramusti berulang kali mengeluarkan pekik yang amat dahsyat, dan pekik ini yang mengguncangkan jantung Senopati Kurdolangit dan membuat permainan pedangnya menjadi kacau.
Pada saat dia terlengah, golok besar di tangan Ki Bajramusti menyambar dan mengenai pahanya, membuat tubuh Senopati Kurdolangit terpelanting roboh.
Golok besar di tangan Ki Bajramusti menyambar ganas dan putuslah leher Senopati Kurdolangit, disambut sorak sorai para perajurit atau anak buah Bala Cucut yang mendukung ketua mereka.
Senopati Rajah Beling mendengar sorak sorai itu dan segera dia mengetahui bahwa rekannya, Senopati Kurdolangit telah roboh dan tewas.
Hal ini tentu saja membuat hatinya menjadi gentar.
Akan tetapi tidak ada jalan lain baginya kecuali mengamuk dengan tombak cagaknya.
Lawannya, Ki Haryosakti juga bersenjata tombak sehingga ramailah pertandingan di antara mereka.
Akan tetapi setelah Senopati Rajah Beling mendengar akan tewasnya Senopati Kurdolangit, hatinya yang gentar membuat permainan tombaknya menjadi kacau.
"Haiiittt...!"
Dia mencoba untuk mengeluarkan gertakan dan tombak cagaknya menyambar ke arah perut Ki Haryosakti.
"Tranggg...!"
Tombak Ki Haryosakti menangkis, akan tetapi ujung tombak itu terjepit di antara cagak tombak di tangan Senopati Rajahbeling.
Mereka bersitegang mengadu kekuatan karena tombak mereka sudah saling jepit.
Dan dalam adu tenaga ini Senopati Rajahbeling masih kalah setingkat.
Tombak Ki Haryosakti mendorong maju dan tanpa dapat dielakkan lagi oleh lawan, tombaknya menusuk ke arah dada lawan.
"Creppp... auhhh...!"
Tubuh Senopati Rajahbeling terjengkang dan dia tewas seketika karena jantungnya tertembus ujung tombak Ki Haryosakti.
Kalinggo yang bertanding dekat ayahnya melihat robohnya ayahnya.
Dia menjadi kaget, sedih dan marah besar.
Akan tetapi lawannya adalah Jarot, seorang pemuda sakti murid Bhagawan Dewondaru.
Sejak tadi mereka berkelahi dengan tangan kosong dan dia sudah terdesak terus.
Sekarang, melihat ayahnya roboh dia menjadi nekat dan mencabut sebatang keris yang besar dan berwarna keemasan.
Dengan keris di tangan dia menubruk dan menyerang ke arah dada Jarot.
Pemuda Pasisiran ini mengelak cepat dan keris itu meluncur di sampingnya.
Cepat dia membalik dan mengetuk lengan kanan Raden Kalinggo dengan tepi tangannya yang miring.
"Dukk...!"
Akan tetapi Raden Kalinggo hanya meringis kesakitan.
Kerisnya tidak terlepas dari pegangannya.
Memang pemuda ini memiliki kekebalan dan kekuatan yang cukup hebat.
Dia bahkan mengamuk semakin hebat dan menghujani Jarot dengan serangan kerisnya secara bertubi-tubi.
Jarot mengelak ke sana sini dan merasa bahwa kalau dilanjutkan, mungkin dia akan kewalahan karena lawannya sudah mengamuk membabi buti.
Maka diapun lalu menghunus kerisnya dan tampak sinar hitam berkelebat.
Itulah keris pusaka Nogo lreng yang berwarna hitam.
"Trangg...!"
Ketika keris keemasan ditangan Raden Kalinggo menusuk lagi ke arah perut Jarot, pemuda ini dengan trengginas menangkis dari samping sehingga keris Kalinggo menyimpang.
Kesempatan ini dipergunakan oleh Jarot untuk memukulkan tangan kirinya ke depan, tepat mengenai dada Kalinggo.
"Bukk!"
Kalinggo terhuyung ke belakang, tangan kirinya menekan dadanya yang terasa nyeri dan napasnya terengah.
Akan tetapi pukulan ini membuatnya semakin marah dan tanpa memperdulikan rasa nyeri di dadanya yang membuat napasnya sesak, dia menerjang dengan nekat, menggunakan kerisnya menusuk dada lawan dan tangan kirinya mencengkeram ke arah muka Jarot!
Penyerangan ini sungguh nekat tanpa memperdulikan pertahanannya sendiri yang terbuka.
Jarot menghindar ke kiri dengan cepat dan keris di tangan kanannya menyambar ke samping..
"Crott!"
Keris itu menusuk lambung dan Jarot cepat mencabutnya kembali sambil melompat ke belakang agar jangan sampai terpercik darah yang menyembur keluar dari lambung Kalinggo.
Kalinggo berteriak keras dan tubuhnya terguling roboh.
Kerisnya terlepas dari pegangannya dan dengan kedua tangan dia mendekap luka di lambungnya yang mengucurkan darah.
Akan tetapi tidak lama dia menegang dan menghembuskan napas terakhir, tewas dalam kubangan yang dibuat darahnya sendiri.
Tejolaksono dan Endang Patibroto dikeroyok oleh para senopati lainnya.
Akan tetapi suami isteri ini mengamuk seperti banteng terluka.
Siapa saja yang berani menghadangnya tentu roboh terpelanting oleh tamparan atau tendangan mereka.
Keduanya tidak menggunakan senjata, hanya dengan tangan kosong saja mereka merobohkan puluhan perajurit yang berani mengeroyok mereka.
Amukan suami isteri ini menggetarkan semua perajurit Blambangan, akan tetapi menambah semangat para perajurit Panjalu.
Juga kemenangan yang diperoleh Jarot, Ki Haryosakti dan Ki Bajramusti membuat anak buah mereka menjadi bersemangat sekali.
Mereka semua mengamuk, membuat pasukan Blambangan menjadi kocar-kacir dan terdesak mundur terus sampai di pintu gapura Blambangan di mana sudah siap menjaga sebagian dari pasukan Blambangan yang diperkuat dan dipimpin Wasi Karangwolo, Adipati Menak Sampar sendiri, dibantu Wasi Shiwamurti, Ki Shiwananda, dan Ni De wi Durgomala dan beberapa orang senopati, juga belasan orang perwira Blambangan.
Agaknya sekali ini Adipati Menak Sampar mengerahkan seluruh tenaganya untuk mempertahankan Blambangan!
Tak dapat dicegah lagi terjadilah pertempuran hebat, perang campuh yang gegap gempita.
Para pemimpin kedua pihak juga segera saling berhadapan dan Retno Wilis sudah membisikan siasatnya untuk menghadapi para wasi sakti itu.
Bagus Seto segera menghadang Wasi Shiwamurti yang menjadi musuh lamanya.
Retno Wilis menghadapi Ki Shiwananda.
Endang Patibroto menghadapi Ni Dewi Durgomala.
Adapun Wasi Karangwolo dihadapi Jarot yang dibantu oleh Ki Haryosakti dan Ki Bajramusti, sedangkan Adipati Menak Sampar sendiri yang juga sakti dihadapi Ki Patih Tejolaksono!
Terjadilah perang tanding yang luar biasa serunya!
Wasi Shiwamurti yang maklum bahwa lawannya yang masih muda itu memiliki aji kesaktian yang amat hebat, menjauhkan diri dari yang lain dan mengajak lawannya untuk bertanding di atas sebuah bukit, agak menjauh dari perang campuh itu.
Bagus Seto mengikuti ke mana Sang Wasi itu pergi dan mereka kini berhadapan di atas lereng bukit itu.
"Bagus Seto, andika ini orang muda. Tidak pandai menghormati orang yang lebih tua, bahkan berani menentang aku yang datang dari negara jauh. Beginikah sikap satria di Nusa Jawa, satria dari Panjalu? Apakah gurumu mengajarkanmu untuk tidak pandai menghormati orang yang lebih tua dari-mu?"
"Paman Wasi Shiwamurti, penghormatan seseorang terhadap orang lain bukan ditinjau dari segi usianya, melainkan dari sikap dan perbuatannya. Paman wasi dating dari jauh, sepantasnya dihormati. Akan tetapi melihat bagaimana paman bersikap dan berbuat di sini, selain membantu pihak pemberontak Blambangan juga menyebar luaskan agama sesat untuk melemahkan rakyat dengan cara paksa dan kekerasan, bagaimana paman menuntut penghormatan? Sebaiknya kalau paman pulang saja ke Cola dan jangan menimbulkan kekacauan di s ini."
"Babo-babo, Bagus Seto. Jauh-jauh kami diperintahkan Raja kami untuk membantu Blambangan dan mengadakan kontak dengan Bali Dwipa, menyebar agama kami untuk membahagiakan rakyat. Bagaimana andika berani mengatakan bahwa kami menyebar agama untuk mengacaukan rakyat. Buktinya, para pengikut kami mendapatkan kebahagiaan dan mereka merasa senang menjadi anggauta kami!"
"Kesenangan yang sesat, pengumbaran nafsu yang semena-mena dan yang menyeret jiwa ke dalam kegelapan. Wasi Shiwa-murti, andika yang sudah mempelajari berbagai Weda, masih berpura-pura tidak melihat hal ini? Mustahil kalau andika tidak mengetahui bahwa agama yang andika ajarkan itu sesat dan keji!"
"Bagus Seto, jangan dikira bahwa aku takut kepadamu! Sambutlah ini!"
Wasi Shiwamurti mengangkat tongkat kepala naga ke atas menggerak-gerakkan ke arah langit dan seketika langit menjadi gelap tertutup mendung dan awan mendung itu menyambar turun ke arah Bagus Seto seolah hendak menelan pemuda itu!
Bagus Seto yang melihat ini, dengan tenang mengeluarkan setangkai bunga cernpaka putih dari rambut kepalanya dan mengangkat setangkai bunga itu ke atas kepalanya, lalu melontarkannya ke arah gumpalan awan hitam yang menyerang ke arahnya.
"Byarrr...!"
Tampak sinar terang dan awan gelap itu ambyar dan lenyap.
Bunga cempaka putih sudah turun kembali ke tangan Bagus Seto yang menyimpannya kembali ke rambut kepalanya.
Melihat serangannya dapat dipunahkan pemuda itu, Wasi Shiwamurti menjadi marah sekali.
Tongkat kepala naga itu didorongkan ke arah sebuah batu sebesar kerbau.
"Sambutlah batu ini!"
Bentaknya dan ketika dia mengerahkan tenaganya, batu sebesar kerbau itu melayang ke arah Bagus Seto dengan cepatnya.
Bagus Seto melolos ikat kepalanya dan menyambut batu besar itu dengan kebutan kain pengikat kepala.
"Darrr...!!"
Batu besar itu begitu kena dikebut kain putih pengikat kepala, menjadi hancur berantakan dan pecahannya terlempar ke kanan kiri.
Wasi Shiwamurti terkejut akan tetapi belum mau mengaku kalah.
Dia sudah menerjang dengan tongkat kepala naga itu, menyerang dengan dahsyat.
Tongkatnya menyambar-nyambar, mengeluarkan angin bersiutan sehingga menggerakkan daun-daun pohon disekitarnya, bahkan membuat pakaian putih Bagus Seto berkibar-kibar.
Namun pemuda itu sama sekali tidak merasa gentar.
Tubuhnya bagaikan berubah menjadi bayangan atau awan, diserang bagaimanapun oleh tongkat kepala naga itu tidak pernah dapat tersentuh, seolah sebelum hantaman tiba, angin pukulan tongkat itu telah membuat tubuhnya mengelak.
Diapun membalas dengan kebutan kain putih pengikat kepalanya, namun Wasi Shiwamurti juga amat tangkas dan tubuhnya kebal sehingga serangan balasan Bagus Seto juga tidak mengenai sasaran, atau kalau hanya mengenai pundak atau bagian tubuh yang tidak berbahaya, kebutan itu meleset dan tidak melukai lawan.
Adu kesaktian yang terjadi di bukit, jauh dari perang campuh itu berlangsung amat dahsyatnya.
Kalau dilihat dari jauh, yang tampak hanyalah gulungan sinar tongkat kepala naga yang bergelombang dan berlenggang-lenggok seolah-olah seekor naga yang bermain di angkasa, mengejar sesosok bayangan yang bergerak seperti awan.
Penglihatan yang menakjubkan!
Tiba-tiba tongkat bertemu dengan kebutan kain pengikat kepala yang berwarna putih itu.
"Plakk...!"
Hebat sekali pertemuan antara dua tenaga sakti yang tersalur lewat dua senjata ampuh itu dan keduanya terdorong mundur sampai lima langkah!
Maklum bahwa dia tidak akan mampu mengalahkan pemuda itu dengan ilmu sihir atau mengadu senjata, Wasi Shiwamurti lalu mencoba untuk mengeluarkan senjata pamungkasnya.
Dia menancapkan tongkatnya di atas tanah, lalu menggosok-gosokkan kedua tangannya sampai tampak asap mengepul di antara kedua telapak tangannya.
Setelah itu, dalam jarak belasan langkah itu dia lalu mendorongkan kedua telapak tangannya ke arah Bagus Seto.
Pemuda ini sudah menduga serangan apa yang akan dilakukan lawannya.
Begitu melihat Wasi Shiwamurti menancapkan-tongkatnya lalu menggosok-gosokkan kedua tangannya, dia sudah menduga bahwa lawan hendak mempergunakan aji pukulan jarak jauh mempergunakan hawa sakti yang mungkin beracun.
Maka diapun sudah menyimpan kain pengikat kepalanya dan diapun menekuk kedua lututnya, merendahkan tubuhnya dan membuka kedua tangan lalu menyambut serangan itu dengan dorongan kedua telapak tangannya yang putih ke arah depan.
Dua tenaga sakti yang mujijat itu bertemu di tengah-tengah.
Udara bagaikan tergetar dan terguncang hebat dengan adanya pertemuan dua hawa sakti yang amat kuat itu.
"Blarrrr...!"
Tubuh Bagus Seto bergerak-gerak terguncang akan tetapi kuda-kuda kedua kakinya masih tetap tegak, sedangkan tubuh Wasi Shiwamurti terhuyung ke belakang sampai beberapa langkah, mukanya berubah pucat dan dari kepalanya mengepul uap putih!
Jelas bahwa dia masih kalah kuat setingkat dibandingkan murid Ki Tunggaljiwo dan Bhagawan Ekadenta yang sakti ini!
Diapun menyadari kekalahannya, maka dengan suara agak terengah dia berkata.
"Bagus Seto, sekali ini aku mengaku kalah. Akan tetapi jagalah andika, tak berapa lama lagi aku akan mendatangimu di Panjalu mengajak seorang kakak guruku untuk menantangmu bertanding lagi satu lawan satu untuk menentukan pihak mana yang lebih unggul!"
Dengan tenang Bagus Seto menjawab.
"Aku selalu akan menunggu dan siap untuk menghadapimu, Paman Wasi Shiwamurti. Selama andika belum menyadari kekeliruanmu, aku akan selalu menentangmu."
"Bagus, tunggu saja pembalasanku!"
Setelah berkata demikian, Wasi Shiwamurti mencabut tongkat kepala naga dari atas tanah, lalu dia melarikan diri dengan amat cepatnya ke balik bukit, tidak mau memperdulikan lagi perang campuh yang masih berlangsung di kaki bukit.
Pertandingan antara Wasi Karangwolo yang dikeroyok tiga tidak berlangsung lama.
Biarpun Wasi Karangwolo adalah seorang yang sakti mandraguna, pandai pula berilmu sihir dan kerisnya amat berbahaya menyambar-nyambar, namun dia dikeroyok tiga oleh Jarot, Ki Haryosakti dan Ki Bajramusti yang ketiganya juga tidak asing dengan ilmu sihir.
Semua ilmu sihir yang dikeluarkan oleh Wasi Karangwolo dapat dipunahkan tiga orang itu.
Keris Nogo Ireng di tangan Jarot sudah hebat berbahaya, tombak di tangan Haryosakti juga ganas, terutama sekali golok besar di tangan Ki Bajramusti.
Tiga orang pengeroyok ini membuat Wasi Karangwolo kewalahan dan terdesak hebat.
Akhirnya, sebuah bacokan golok dari Ki Bajramusti menyambar dan mengenai pundaknya.
Wasi Karangwolo berteriak kesakitan dan terhuyung ke belakang.
Dia tidak mampu menangkis atau mengelak lagi ketika tombak di tangan Ki Haryosakti menusuk dan menembus lambungnya.
Ketika tombak dicabut, tubuh Wasi Karangwolo jatuh nglumpruk (terkulai) dan dia tidak bergerak lagi, tewas seketika.
Tiga orang itu lalu mengamuk, merobohkan banyak perajurit Blambangan yang berani menghadapi mereka.
Amukan tiga orang yang gagah perkasa ini membuat pasukan Blambangan kocar-kacir.
Sementara itu, Retno Wilis juga sudah mendesak Ki Shiwananda yang memang sudah merasa jerih menandingi dara perkasa yang sakti mandraguna ini.
Permainan ruyungnya yang berat itu mulai kacau berhadapan dengan Pedang pusaka Sapudenta di tangan Retno Wilis.
Beberapa kali Ki Shiwananda mencoba untuk mempengaruhi dara ini dengan sihirnya.
Namun Retno Wilis yang pernah menerima gemblengan dari Nini Bumigarbo tidak miris (gentar) menghadapi semua pengerahan sihir itu dan dapat menolaknya sehingga kembali mereka harus bertanding mengadu kedigdayaan dan ilmu kanuragan.
"Tran-cringg...!"
Ruyung bertemu dengan Pedang Sapudenta dengan kerasnya dan karena Retno Wilis mengerahkan seluruh tenaganya ketika beradu senjata, ruyung itu patah menjadi dua potong!
Wajah Ki Shiwananda menjadi pucat sekali, akan tetapi pada saat itu Retno Wilis sudah menggerakkan kaki kanannya menendang.
"Bukkkk!"
Keras sekali tendangan itu sehingga tubuh Ki Shiwananda terpental dan dia terjatuh dekat para perajurit Panjalu yang menonton pertarungan itu.
Tak dapat dicegah lagi, hujan senjata menimpa tubuh Ki Shiwananda yang tidak lagi mampu mengerahkan kekebalannya karena perutnya yang tertendang tadi merasa nyeri sekali dan melenyapkan tenaganya.
Tubuhnya hancur di bawah hujan bacokan itu.
Retno Wilis hanya menonton dan menahan napas.
Berkat bimbingan kakaknya, ia tidak ingin membunuh lawan, akan tetapi lawannya terjatuh ke tangan para perajurit yang menghabisi nyawanya.
Bagaimanapun juga, Ki Shiwananda maju berperang maka sudah lumrah kalau dia tewas dalam peperangan.
Ia lalu membalikkan tubuh dan melihat Bagus Seto melangkah menuruni bukit, agaknya sudah ditinggalkan Wasi Shiwamurti.
Dan dilihatnya pula bahwa Jarot, Ki Haryosakti dan Ki Bajramusti juga sedang mengamuk, agaknya sudah pula menewaskan Wasi Karangwolo yang tadi mereka keroyok.
Yang masih bertanding adalah Endang Patibroto melawan Ni Dewi Durgomala dan Ki Patih Tejolaksono sendiri yang masih bertarung melawan Adipati Menak Sampar yang masih gigih membuat perlawanan sungguhpun dia terus terdesak mundur.
Endang Patibroto juga mendesak Ni Dewi Durgomala yang kelihatan sudah merasa jerih.
Akan tetapi tempat itu terkepung ratusan perajurit sehingga ia tidak melihat kesempatan untuk melarikan diri lagi.
Terpaksa ia mengerahkan seluruh tenaga dan mengeluarkan seluruh kepandaiannya untuk melawan Endang Patibroto.
Retno Wilis yang kini sudah berdekatan dengan Bagus Seto, hanya menonton saja dan tidak mau membantu karena mereka maklum bahwa ayahnya dan ibunya tidak akan kalah.
"Di mana Wasi Shiwamurti?"
Tanya Retno Wilis.
"Dia sudah melarikan diri."
Jawab Bagus Seto lirih. Biarpun dia tidak bertanya, Retno Wilis menerangkan.
"Ki Shiwananda tewas di bawah puluhan senjata para perajurit setelah aku merobohkannya. Aku tidak sengaja membunuhnya."
Bagus Seto menyentuh lengan adiknya.
"Engkau tidak bersalah. Memang sudah tiba saatnya dia tewas dikeroyok banvak senjata. Agaknya itulah karmanya,"
Kata Bagus Seto seperti hendak menghibur adiknya.
"Ibu tentu akan dapat mengalahkan Ni Durgomala,"
Kata Retno Wilis sambil menuding ke arah Endang Patibroto yang mendesak lawannya dengan hebat. Bagus Seto menghela napas panjang.
"Kanjeng Ibu Endang Patibroto memang seorang wanita yang sakti mandraguna pilih tanding. Beliau pantas untuk menjadi seorang panglima perang wanita."
"Dan kanjeng romo juga tidak akan kewalahan menandingi sang Adipati Menak Sampar,"
Kata pula Retno Wilis sambil memandang kepada ayahnya yang masih bertanding melawan adipati Blambangan itu.
"Kanjeng romo jelas tidak akan membunuh sang adipati, melainkan hendak menawannya dan beliau bertindak benar. Sebaiknya kalau adipati Blambangan ditangkap hidup-hidup untuk dihadapkan kepada Gusti Prabu di Panjalu, atau Jenggala."
Apa yang dikatakan Retno Wilis dan kakaknya memang benar adanya.
Tak lama kemudian Ni Dewi Durgomala mengeluarkan suara melengking, mirip tangis bercampur tawa dan tangan kirinya memukul dengan jari-jari terbuka dan kukunya membentuk cakar.
Dari ke lima jari tangannya itu menyambar sinar menghitam dan hal ini membuat Retno Wilis terkejut dan mengkhawatirkan ibunya karena ia tahu bahwa yang dikeluarkan Ni Dewi Durgomala itu adalah ilmu yang keji dan jahat sekali.
Memang Ni Dewi Durgomala telah mengeluarkan aji pamungkasnya.
Aji ini kalau dikerahkan, dapat membunuh lawan dalam jarak jauh, karena angin yang menyambar dari pukulan itu membawa hawa beracun yang amat jahat.
Namun Endang Patibroto juga sudah waspada dan maklum bahwa lawan mengajak mengadu nyawa dengan mengerahkan semua aji pamungkas yang dimilikinya.
Maka iapun menyambut dengan Aji Gelapmusti yang digabung dengan Aji Pethit Nogo.
Tangan kanannya menyambut pukulan jarak jauh Ni Dewi Durgomala itu dengan aji Gelap Musti, sedangkan tangan kirinya membalas dengan hantaman Aji Pethit Nogo.
"Bresssss... auugghhh...!"
Tubuh Ni Dewi Durgomala terlempar sampai lima meter jauhnya dan ia terbanting roboh muntah darah dan tewas seketika.
Akan tetapi Endang Patibroto juga terhuyung dan mukanya menjadi pucat sekali.
Bagus Seto cepat menghampiri Endang Patibroto dan mengambil bunga cempaka putih dari rambut kepalanya.
Dengan bunga cempaka di tangan, dia mendekati ibunya dan mendekatkan bunga itu di depan hidung Endang Patibroto.
"Sedotlah, kanjeng ibu. Hawa beracun itu akan tersapu bersih."
Endang Patibroto menurut.
Ia menyedot aroma bunga itu dengan hidungnya dan seketika napasnya terasa lega dan sesaknya menghilang.
Mereka lalu memandang ke arah Ki Patih Tejolaksono yang masih bertanding melawan Adipati Menak Sampar.
Tejolaksono bertangan kosong dan Adipati Menak Sampar menggunakan sebatang keris yang besar dan panjang.
"Mampuslah engkau, Tejolaksono!"
Bentaknya dan untuk kesekian kalinya keris itu meluncur dan menusuk ke arah dada Tejolaksono.
Ki Patih Panjalu ini miringkan tubuhnya.
Keris menancap di bawah lengannya, lalu dikempitnya dan tangannya menebak ke arah dada lawan.
Tubuh Menak Sampar terjengkang dan keris itu terlepas dari tangannya.
Tejolaksono membuang keris itu dan melangkah maju.
"Menyerahlah, Adipati Menak Sampar!"
Katanya tegas.
Akan tetapi Adipati Menak Sampar mengeluarkan suara gerengan seperti seekor harimau terluka dan dia sudah menubruk maju seperti seekor biruang menerkam mangsanya.
Kedua lengan yang besar dan panjang itu menerkam dari kanan kiri untuk meringkus tubuh Ki Patih Tejolaksono yang terbilang kecil kalau dibandingkan dengan tubuhnya yang tinggi besar seperti raksasa.
Namun Ki Patih Tejolaksono bergerak cepat dan sudah mengelak, kemudian dari samping dia menampar dengan Aji Bajra Dahono, mengenai pundak Sang Adipati.
"Plakkk... aduuuhhh...!"
Terkena pukulan Aji Bajra Dahono, tubuh Sang Adipati terkulai dan mendesah kepanasan, Tejolaksono lalu meringkusnya dan tanpa diperintah Jarot lalu maju membawa tali dan mengikat kedua pergelangan tangan Adipati Menak Sampar sehingga dia tidak mampu berkutik lagi.
Setelah melihat para pimpinan sudah dikalahkan semua para pasukan Blambangan menjadi kecut hatinya dan semangat perlawanan merekapun membuyar.
Pada saat itu Ki Patih Tejolaksono berseru nyaring.
"Adipati Menak Sampar telah menyerah! Kalian yang melawan akan dibunuh yang menyerah akan diampuni!"
Mendengarr bentakan yang amat nyaring itu, sebagian besar pasukan Blambangan lalu membuang senjata mereka dan menjatuhkan diri berlutut, menyerah!
Ki Patih Tejolaksono lalu menggiring Adipati Menak Sampar memasuki kadipaten yang sudah dikuasai oleh para perwira Panjalu dan para perajurit pengawal.
Di tengah ruangan itu telah berkumpul keluarga Sang Adipati, lengkap dengan semua isteri dan selirnya.
Juga hadir Dyah Ayu Kerti, puteri Sang Adipati yang cantik jelita.
Melihat puteri ini, hati Jarot berdebar dan dia memandang penuh pesona, akan tetapi karena hatinya telah terlebih dulu terpikat kepada Retno Wilis, maka diapun menghilangkan perasaannya yang hanyut oleh kejelitaan puteri Adipati Menak Sampar itu.
"Bagaimana, Sang Adipati Menak Sampar? Apakah andika sudah takluk sekarang?"
Tanya Ki Patih Tejolaksono.
"Hemm, pasukanku telah hancur, aku telah kalah bertanding. Apa lagi yang dapat kulakukan selain menyerah? Aku menyerah terhadap kekuasaan kerajaan Jenggala dan Panjalu."
"Bagus kalau begitu. Anakmas Jarot, lepaskan ikatan tangan Sang Adipati", perintah Tejolaksono dan Jarot segera melaksanakan perintah itu. Tejolaksono meninggalkan para perwira pembantu dan lima ribu pasukan Panjalu dan Jenggala untuk menjaga dan mengatur ketenteraman di Kadipaten Blambangan, kemudian menggiring Sang Adipati Menak Sampar berikut semua keluarganya menuju ke Jenggala. Rombongan pasukan yang menang perang ini singgah di Nusabarung untuk mengambil tawanan Adipati Martimpang dari Nusabarung sekeluarganya untuk juga dibawa sebagai tawanan ke Jenggala. Ki Patih Tejolaksono singgah di istana Jenggala, melaporkan tentang kemenangannya dan bahwa kedua orang adipati yang memberontak itu telah dijadikan tawanan dan dibawa menghadap. Akan tetapi Sang Prabu di Jenggala menolak dan berkata.
"Kakang Patih Tejolaksono, sesungguhnya yang menggerakkan pasukan untuk menaklukkan kedua orang adipati yang memberontak adalah Panjalu, dan kami dari Jenggala hanya membantu belaka. Oleh karena itu, kedua orang tawanan ini dan sekeluarganya kami pasrahkan kepada andika untuk dibawa menghadap Paman Prabu di Panjalu dan terserah kepada beliau untuk memutuskannya. Juga sampaikan salam hormat dan terima kasihku kepada beliau yang telah menenteramkan daerah Jenggala yang dilanda pemberontakan."
Karena penolakan ini, Ki Patih Tejolaksono terpaksa membawa dua rombongan tawanan itu terus ke Panjalu.
Kedatangan pasukan yang menang perang ini disambut meriah oleh rakyat Panjalu.
Gamelan dibunyikan dimana-mana dan rakyat menyambut dengan sorak sorai di sepanjang jalan.
Sang Prabu di Panjalu juga menyambut kedatangan Ki Patih Tejolaksono dan para senopati dengan gembira.
Ketika mendengar pelaporan Ki Patih Tejolaksono tentang kemenangan di kedua kadipaten itu, dan betapa Sang Prabu di Jenggala menyerahkan pengadilan terhadap para tawanan kepada Sang Prabu di Panjalu, beliau mengangguk-angguk senang.
"Hei, Adipati Menak Sampar, benar benarkah andika sekarang telah menyadari kesalahan andika dan benar-benar telah takluk kepada Panjalu dan Jenggala?"
Tanya Sang Prabu Panjalu kepada adipati itu yang menghadap sambil menundukkan kepalanya. Sang Adipati Menak Sampar yang sudah tidak berdaya itu lalu menyembah dan berkata lirih.
"Hamba telah menyadari kesalahan hamba, dan hamba telah menyatakan takluk, terserah kepada kebijaksanaan paduka untuk menjatuhkan pidana terhadap hamba sekeluarga, Kanjeng Gusti." (Lanjut ke
Jilid 16 -Tamat) Sepasang Garuda Putih (seri ke 05 -Serial Keris Pusaka Sang Megatantra) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo
Jilid 16 (Tamat) "Dan bagaimana dengan andika, Adipati Martimpang dari Nusabarung?"
Tanya pula Sang Prabu kepada Adipati Martimpang.
"Hambapun sudah menyadari kesalahan hamba, kalau diperkenankan hamba mohon pengampunan dan selanjutnya terserah kepada kebijaksanaan paduka, Kanjeng Gusti."
"Bagus, kalau andika berdua sudah mengakui kesalahan, kamipun dapat mempertimbangkan. Akan tetapi sebelum kami memperoleh keputusan dari musyawarah yang akan kami adakan dengan para nayaka-praja, kalian menjadi tawanan terhormat dan akan diperlakukan dengan baik-baik. Kakang Patih Tejolaksono terserah bagaimana andika akan mengatunya untuk menawan kedua keluarga bekas adipati ini. Pilihkan tempat pengasingan di daerah istana dan suruh awasi mereka."
"Sendiko dawuh, Kanjeng Gusti,"
Kata Ki Patih Tejolaksono dan dia segera membawa pasukan pengawal untuk mengawal dua keluarga tawanan itu menuju kebagian belakang istana dan menahan mereka di dua bagian ruangan belakang, lalu memerintahkan para pengawal untuk menjaga mereka, akan tetapi juga agar mereka diperlakukan dengan hormat dan baik sesuai dengan kehendak Sang Prabu.
Setelah memberi pujian dan hadiah kepada semua orang yang berjasa, persidangan lalu dibubarkan.
Ki Patih Tejolaksono lalu mengundang semua orang yang telah membantunya dalam peperangan itu untuk singgah di gedungnya.
Ki Patih Tejolaksono dan dua orang isterinya mengadakan pesta makan bersama.
Perjamuan itu selain untuk merayakan kemenangan, juga untuk menghormati mereka yang telah membantunya.
Semua berkumpul di situ.
Jarot, Ki Haryosakti, Ki Bajramusti yang dijamu oleh Ki Patih Tejolaksono, Endang Patibroto, Ayu Candra, Retno Wilis, dan Bagus Seto serta para senopati Panjalu.
Pada awal perjamuan itu, datanglah beberapa orang tamu yang segera diundang untuk duduk bersama ikut dalam perjamuan.
Mereka itu adalah Saroji dan Sarmini, putera dan puteri Ki Haryosakti yang menyusul ayahnya ketika mendengar kemenangan di pihak Panjalu dan Jenggala yang dibantu ayah mereka.
Muncul pula Harjadenta, pemuda Gunung Raung yang pernah membantu Bagus Seto dan Retno Wilis, dan datang pula Adipati Kertajaya dari kadipaten Pasisiran yang datang menyusul puteranya Jarot dan untuk memberi selamat atas kemenangan Panjalu.
Lalu yang terakhir muncul Jayawijaya seorang diri.
Diapun mendengar akan kemenangan Panjalu dan datang untuk berkunjung dan memberi selamat.
Semua tamu ini dipersilakan masuk dan ikut dalam perjamuan karena mereka semua pernah membantu ketika Endang Patibroto, Retno Wilis dan Bagus Seto melakukan penyelidikan ke Nusabarung dan Blambangan.
Setelah perjamuan selesai, mereka bercakap-cakap di ruangan depan yang luas.
Sekali ini, para senopati mengundurkan diri dan yang hadir hanyalah tamu-tamu kehormatan.
Dalam kesempatan ini, Adipati Kertajaya dari kadipaten Pasisiran berkata sambil memandang kepada Ki Patih Tejolaksono yang duduk diapit kedua orang isterinya, sedangkan di sebelah kiri Endang Patibroto duduk Retno Wilis berjajar dengan Bagus Seto.
"Kakangmas Patih Tejolaksono, kedatangan saya di sini pertama-tama untuk menghaturkan selamat atas kemenangan pasukan Panjalu yang kakangmas pimpin."
"Hasil kemenangan kami juga karena dukungan putera andika, adimas Adipati Kertajaya,"
Jawab Ki Patih Tejolaksono merendah.
"Adapun maksud kunjungan saya yang kedua kalinya, sebelum saya matur mohon terlebih dulu kakangmas Patih memberi maaf yang sebesar-besarnya kalau pembicaraan saya lancang dan menyinggung perasaan."
Ki Patih Tejolaksono tersenyum.
"Adimas Adipati, mengapa bicara dengan sungkan-sungkan? Kita berada di antara golongan sendiri yang mengabdi kepada Panjalu dan Jenggala, tidak ada yang perlu disembunyikan. Kalau ada persoalan, kemukakanlah saja terus terang, kami berjanji tidak akan menyalahkan andika dan andaikata ada yang perlu dimaafkan, kami senantiasa bersedia untuk memaafkan."
"Begini maksud saya, kakangmas Patih. Mengenai anak saya yang bodoh, yaitu Jarot yang sekarang telah berusia dua puluh dua tahun dan belum memiliki calon pasangan hidup. Kami ditangisi anak kami Jarot yang kasmaran terhadap puteri kakangmas, anak mas ayu Retno Wilis. Oleh karena itu, saya memberanikan diri berlancang mulut untuk mengajukan pinangan terhadap puteri kakangmas Patih. Sekali lagi maafkan kelancangan saya."
Ki Patih Tejolaksono tersenyum dan memandang kepada Jarot dengan penuh perhatian.
"Kami telah menyaksikan kemampuan dan kegagahan puteramu, adimas Adipati Kertajaya. Murid siapakah puteramu ini?' "Jarot, engkau ditanya oleh Uwa Patih, jawablah."
Kata Adipati Kertajaya kepada puteranya. Jarot menyembah lalu menjawab dengan muka tunduk penuh hormat.
"Hamba menerima petunjuk ilmu dari Bapa Bhagawan Dewondaru, pertapa di lereng Semeru, Uwa Patih."
"Jagad Dewa Bathara...!"
Ki Tejolaksono mengucap kagum.
"Jadi gurumu adalah Kakang Bhagawan Dewondaru yang sakti mandraguna itu? Pantas engkau memiliki kemampuan yang tinggi, anak mas Jarot."
Kemudian dia menoleh lagi kepada Adipati Kertajaya dan berkata.
"Adimas Adipati Kertajaya, puteramu berkenan dihatiku, akan tetapi karena urusan perjodohan bagi kami tergantung kepada anak yang hendak menjalani, maka kami harus berunding lebih dulu dengan segenap keluarga dan juga dengan anak kami Retno Wilis."
"Pendapat kakangmas Patih itu memang tepat sekali dan memang seharusnya demikian. Maka saya persilakan kakangmas untuk memperbincangkan urusan penting ini dengan keluarga kakangmas yang kebetulan sekarang berkumpul semua di sini."
Ki Patih Tejolaksono lalu menoleh kepada Endang Patibroto dan tersenvum lalu bertanya.
"Bagaimana pendapatmu, diajeng Endang Patibroto? Anakmu si Retno Wilis agaknya sekarang sudah dewasa benar dan sudah dipinang orang! Engkau sudah mendengar sendiri pinangan yang diajukan oleh adimas Adipati Kertajaya, bagaimana pendapatmu, diajeng?"
Endang Patibroto memandang kepada suaminya dengan alis berkerut, lalu menoleh kepada Retno Wilis.
la melihat betapa puterinya itu juga mengerutkan alis dan puterinya melirik ke arah Jayawijaya yang duduk bersila sambil menundukkan mukanya.
Ia tahu bahwa melihat gelagatnya suaminya condong untuk menerima pinangan Adipati Kertajaya, menjodohkan Retno Wilis dengan Jarot.
Ia sendiri suka kepada pemuda yang gagah perkasa, tampan, dan baik budi itu, akan tetapi pilihan hatinya jatuh kepada Jayawijaya, pemuda yang tidak digdaya akan tetapi memiliki daya yang mujijat dan luar biasa.
"Bagaimana, diajeng?"
Desak Tejolaksono ketika melihat Endang Patibroto diam saja. Terpaksa Endang Patbroto menjawab.
"Terus terang saja, kakangmas. Aku sendiri sangat suka kepada anakmas Jarot. Dia seorang pemuda yang baik dan gagah perkasa. Akan tetapi sebetulnya aku sudah mempunyai pilihan seorang pemuda lain untuk menjadi calon jodoh Retno Wilis."
"Ibu...!"
Retno Wilis berseru dengan nada memrotes.
"Begitukah, diajeng? Nah, katakan siapa pilihanmu yang kau calonkan menjadi jodoh anak kita itu."
"Orangnya berada di sini, dialah itu, anakmas Jayawijaya,"
Kata Endang Patibroto sambil menunjuk ke arah Jayawijaya.
Bagus Seto tersenyum melihat ulah ibunya.
Dan aneh sekali, Retno Wilis yang tadinya seperti hendak membantah, kini menundukkan mukanya yang menjadi kemerahan dan diam se ribu bahasa!
Kini Tejolaksono yang mengerutkan alis sambil menatap ke arah pemuda yang menunduk itu dengan pandang mata tajam penuh selidik.
"Akan tetapi, ketika terjadi perang, dia tidak membantu. Putera siapakah andika, anakmas Jayawijaya?"
"Ayah saya adalah Pertapa Panji Kelana yang bertapa di bukit Tengger, paman Patih,"
Jawab Jayawijaya sederhana.
"Dan siapa gurumu yang mengajarkan ilmu kanuragan dan kadigdayaan kepadamu?"
"Tidak ada, paman Patih. Saya tidak pernah mempelajari ilmu kadigdayaan."
"Ahh, kalau begitu..."
Pada saat itu, seorang pengawal datang menghaturkan sembah dan melapor bahwa di luar datang seorang tamu yang katanya merupakan ayah dari Jayawijaya dan mohon menghadap Sang Patih.
Mendengar ini, Ki Patih Tejolaksono tertegun.
Orang yang baru saja dibicarakan muncul!
Kebetulan sekali, urusan dapat segera diselesaikan dengan orang tua yang bersangkutan.
"Persilakan dia masuk!"
Katanya kepada pengawal yang melapor, sedangkan Jayawijaya menoleh keluar dengan heran.
Tak lama kemudian pengawal mengantarkan seorang yang usianya sekitar lima puluh tahun, bertubuh tegap sedang dengan punggung lurus dan wajahnya masih tampak muda dan tampan.
Mulutnya dihias senyuman yang ramah dan pandang matanya sedemikian lembutnya sehingga Tejolaksono cepat mempersilakan tamunya duduk di atas sebuah bangku yang disodorkan oleh pengawal.
Pengawal itu atas isarat Ki Patih lalu meninggalkan ruangan itu.
"Selamat datang di kepatihan, Ki Sanak. Siapakah andika yang memberi kehormatan dengan kunjungan ini?"
Tanya Ki Tejolaksono dengan sikap hormat karena kepribadian orang itu sungguh mendatangkan rasa hormat dalam hatinya.
Orang itu tersenyum lebar dan memandang kepada Ki Tejolaksono dengan sinar mata kagum.
"Sudah lama mendengar akan nama besar Ki Patih Tejolaksono sebagai seorang yang bijaksana, dan sekarang baru saya dapat melihat buktinya! Ki Patih, nama saya adalah Panji Kelana, seorang pertapa di bukit Tengger dan saya adalah ayah dari Jayawijaya yang sekarang hadir. di sini. Karena mendengar bahwa Ki Patih telah berhasil memadamkan pemberontakan di Nusabarung dan Blambangan, juga mencegah penyebar luasan agama sesat, rnaka saya sengaja datang menyusul anak saya untuk menyampaikan rasa kagum dan ucapan selamat kepada Ki Patih."
"Kebetulan sekali andika datang berkunjung, Sang Pertapa Panji Kelana. Justeru kami sedang memperbincangkan tentang putera andika, anak mas Jayawijaya. Benarkah puteramu mempunyai niat untuk mempersunting puteri kami, Si Retno Wilis?"
Panji Kelana menoleh kepada puteranya dan tersenyum.
"Demikianlah dia pernah menyatakan kepada saya, Ki Patih, bahwa antara dia dan anak mas ayu Retno Wilis terjalin saling Kasih."
"Tidak mungkin! Benarkah itu, Retno Wilis?'"
Tanya Ki Patih Tejolaksono sambil menoleh dan memandang kepada puterinya. Retno Wilis balas memandang kepada ayahnya, kemudian dengan hati tabah ia mengangguk.
"Tidak mungkin ini terlaksana! Puteriku harus memperoleh jodoh seorang satria yang sakti mandraguna, bukan seorang pemuda lemah!"
Bentak Tejolaksono dengan suara nyaring.
"Kanjeng romo...!"
Seru Retno Wilis.
"Kakangmas...!"
Endang Patibroto juga memrotes. Akan tetapi pada saat itu terdengar suara lantang sekali yang datangnya dari luar gedung.
"Ki Patih Tejolaksono! Endang Patibroto Bagus Seto dan Retno Wilis! Keluarlah kalian, kami datang untuk membuat perhitungan!"
Suara itu begitu lantang sampai menggetarkan seisi gedung ruangan gedung itu sehingga tentu saja membuat semua orang menjadi terkejut bukan main.
Seorang perwira pengawal berlari-larian dari luar dan menghaturkan sembah kepada Ki Patih Tejolaksono dan langsung melapor.
"Gusti Patih, di luar gedung terdapat dua orang kakek yang menantang-nantang. Belasan orang pengawal yang mencoba untuk mengusirnya, dengan lambaian tangan saja dirobohkan semua oleh dua orang kakek itu!"
"Keparat!"
Bentak Ki Patih Tejolaksono dan tanpa banyak cakap lagi diapun bangkit dan melangkah keluar, diikuti oleh Endang Patibroto, Bagus Seto, Retno Wilis, Ayu Candra, dan semua tamu yang hadir di situ, semua lalu keluar untuk melihat siapa orangnya yang berani menantang keluarga Ki Patih Tejolaksono yang sakti mandraguna itu.
Para tamu itu adalah Adipati Kertajaya dan Jarot, Ki Haryosakti dan putera puterinya Saroji dan Sarmini, Ki Bajramusti, Harjadenta, kemudian paling akhir Jayawijaya melangkah keluar bersama ayahnya, Ki Panji Kelana.
Mereka berdua ini keluar tanpa tergesa-gesa seperti yang lain, bahkan dengan senyum tersungging di bibir seolah tidak ada terjadi sesuatu yang hebat dan menegangkan.
Setelah tiba di luar, Ki Patih Tejolaksono dan rombongannya melihat para pengawal masih berserakan dan mulailah mereka bangun dengan wajah ketakutan.
Di sana berdiri dua orang kakek yang seorang adalah Wasi Shiwamurti yang berjubah kuning, jenggot dan kumisnya yang panjang sudah putih semua, tangannya memegang tongkat kepala naga, dan usianya yang sudah enam puluh lima tahun itu.
"Siapakah andika berdua?"
Bentak Ki Patih Tejolaksono yang memang belum pernah bertemu dengan Wasi Shiwamurti.
"Dan apa sebabnya kalian datang menantang-nantang kami?"
Sang Wasi Shiwamurti memukul-mukulkan ujung tongkatnya ke atas tanah sehingga terdengar suara duk-duk-duk dan tanah di sekitar tempat itu seperti tergetar.
"Ha-ha-ha, Ki Patih Tejolaksono. Andika memang belum mengenal aku, akan tetapi puteramu Bagus Seto sudah mengenalku. Aku adalah Wasi Shiwamurti dan ini adalah kakak seperguruanku yang berjuluk Wasi Shiwasakti dan yang sedang bertugas di Bali-dwipa. Kami berdua datang untuk membuat perhitungan dan kami menantang kalian untuk bertanding satu lawan satu untuk menentukan siapa yang lebih unggul di antara kita!"
Kakek ke dua yang disebut Wasi Shiwasakti itu hanya tersenyum dan mengangguk-angguk.
Dia lebih tua dari Wasi Shiwamurti, sedikitnya enam puluh delapan tahun, tangannya memegang sebatang tongkat bambu kuning yang sederhana, tubuhnya tinggi kurus dan tampaknya lemah, namun sepasang matanya mencorong seperti mata seekor naga!
"Hemm, andika berdua menantang mengadu kesaktian, dengan dasar dan maksud apa?"
Tanya pula Ki Patih Tejolaksono dengan lantang.
"Ha-ha-ha, Ki Patih Tejolaksono. Kami hanya hendak memperebutkan hak kami untuk menyebar luaskan agama kami. Kalau kami kalah bertanding dengan pihakmu, sudahlah kami tidak akan banyak cakap lagi dan akan kembali ke Cola dan tidak akan menyebar luaskan agama kami di daerah Nusa Jawa dan Bali Dwipa. Akan tetapi kalau pihakmu tidak mampu mengalahkan kami, kami berhak menyebar luaskan agama kami tanpa gangguan dari kalian. Bagaimana pendapatmu?"
Kata Wasi Shiwamurti dengan tidak kalah lantangnya. Tiba-tiba Endang Patibroto melompat ke depan dan bertolak pinggang, telunjuk kirinya menuding ke arah dua orang pendeta dari Cola itu.
"Pendeta-pendeta cabul dan palsu! Bagaimana kami dapat membiarkan kalian menyebar agama yang cabul dan menyesatkan rakyat jelata kami. Hayo kalian cepat pergi dari sini sebelum kuhajar!"
"Ha-ha, Endang Patibroto! Sejak muda andika telah memusuhi kami yang datang dari negeri Cola. Andika bahkan memusuhi pula Paman Wasi Bagaspati. Sudah kami katakan. Kami akan mundur dan pergi kalau di antara kalian ada yang mampu mengalahkan kami dalam pertandingan satu lawan satu. Engkau sendiri lebih baik mundur saja, Endang Patibroto karena engkau tidak akan becus mengalahkan kami!"
Ucapan ini amat memanaskan hati Endang Patibroto.
Seperti telah kita kenal, Endang Patibroto adalah seorang wanita gagah perkasa yang tidak pernah merasa gentar melawan siapa saja.
Maka mendengar tantangan yang meremehkannya itu, wajahnya berubah merah dan kedua matanya bersinar kilat!
Ia mengerahkan tenaga saktinya dan tiba-tiba ia membentak.
"Wasi palsu, sambutlah seranganku ini!"
Dan ia lalu mengeluarkan pekik melengking panjang yang amat dahsyat.
Itulah pekik Aji Sardulo Bairowo dan tubuhnya melayang ke atas lalu menerjang ke arah Wasi Shiwamurti dengan pukulan Gelap Musti yang hebat dengan tangan kanan, sedangkan tangan kirinya menghantam dengan jari-jari tangan yang diisi Aji Pethit Naga!
Hebat bukan main serangan Endang Patibroto ini.
Udara di sekitar situ seolah tergetar dengan dikeluarkannya kedua aji pukulan yang amat ampuh ini.
Akan tetapi, Sang Wasi Shiwamurti dengan tenangnya menggerakkan tongkat kepala naga itu ke atas untuk menangkis pukulan Aji Gelap Musti dan Aji Pethit Naga itu.
"Wuuuuttt... bressss...!!"
Dua tenaga raksasa bertemu di udara dan akibatnya, tubuh Endang Patibroto terpental ke belakang.
Akan tetapi wanita perkasa ini tidak roboh, melainkan berjungkir balik menjaga keseimbangan tubuhnya dan ia dapat hinggap di atas tanah dengan kedua kakinya.
Endang Patibroto menjadi marah dan kembali tubuhnya mencelat ke udara.
Ia menggunakan Aji Bayutantra seperti menunggang angin melayang kembali ke arah lawan dan sekali ini ia menyerang dengan menggunakan pukulan Aji Wisangmolo dan mengandung hawa beracun.
Serangan ini bahkan lebih ganas dari pada tadi.
"Pergilah!"
Wasi Shiwamurti membentak dan kini dia menancapkan tongkat kepala naga di atas tanah, lalu menggunakan kedua tangan yang terbuka untuk menerima serangan Endang Patibroto dengan dorongan kuat.
"Wuuuuttt... desss...!"
Kembali tubuh Endang Patibroto terpental lebih keras daripada tadi dan kembali Endang Patibroto harus menggunakan kelincahannya untuk membuat salto jungkir balik sampai tiga kali sebelum ia hinggap kembali ke atas tanah.
Sekali ini wajahnya agak pucat karena hawa pukulannya tadi membalik dan membuat pernapasannya agak sesak.
"Keparat!"
Ki Patih Tejolaksono tidak dapat menahan kemarahannya ketika melihat isterinya dikalahkan sedemikian mudahnya oleh Wasi Shiwamurti.
Kekalahan isterinya di depan orang banyak itupun membuatnya merasa terhina.
Dalam kemarahannya Ki Patih Tejolaksono sudah mengerahkan Aji Triwikromo!
Tubuhnya yang menjadi besar seperti raksasa itu menerjang ke depan dan dengan suara menggereng yang mengandung getaran kuat dia menyerang dengan pukulan Aji Bajra Dahono yang mengandung hawa panas membakar!
Itulah serangan yang amat dahsyat dan jarang ada orang yang akan mampu menahan serangan itu.
Akan tetapi kembali Wasi Shiwamurti menyambut serangan dahsyat ini dengan dorongan kedua tangannya.
Angin menyambar dahsyat dari kedua telapak tangannya itu, mengandung hawa dingin sekali.
"Wuuuutttt....desssss...!"
Tubuh Wasi Shiwamurti melangkah mundur tiga tindak, akan tetapi tubuh Ki Patih Tejolaksono terhuyung ke belakang sampai lima langkah dan mungkin dia akan terjengkang kalau saja tiba-tiba Retno Wilis tidak menahan punggung ayahnya itu dari belakang.
Ki Patih Tejolaksono tidak roboh, akan tetapi wajahnya juga pucat, tanda bahwa ia masih kalah kuat dibandingkan Wasi Shiwamurti.
"Wasi Shiwamurti jahanam, terimalah "Kematianmu!"
Retno Wilis sudah mencabut pedang Sapudenta dan sekali melompat tubuhnya sudah melayang ke atas lalu menukik ke arah di mana Wasi Shiwamurti berdiri.
Menghadapi serangan pedang ini, Wasi Shiwamurti mencabut tongkat yang tadi dia tancapkan di atas tanah dan diapun memutar tongkat kepala naga itu untuk menangkis sambil mengerahkan tenaga saktinya.
"Trangggg...!"
Tampak bunga api berpijar-pijar dan tubuh Retno Wilis terpental ke belakang.
Akan tetapi begitu kakinya menginjak tanah, gadis perkasa ini sudah mencelat lagi ke atas dan kembali ia menyerang dengan pedangnya, sekali ini lebih hebat karena ia telah mengerahkan seluruh tenaganya untuk menghantamkan pedangnya ke arah kepala kakek itu.
"Retno Wilis, pergilah engkau!"
Wasi Shiwamurti membentak dan tongkat kepala naga itu menangkis lagi dengan gerakan memutar.
"Cringggg...!"
Beradunya kedua senjata sekali ini lebih dahsyat lagi dan akibatnya tubuh Retno Wilis terpental semakin jauh.
la berjungkir balik sampai jauh dan ketika hinggap di atas tanah ia hendak menerjang lagi dengan nekat.
Akan tetapi sebuah tangan memegang lengannya.
Ia menoleh dan melihat Bagus Seto yang memegang lengannya.
"Diajeng Retno Wilis, dia terlampau sakti untukmu. Biarkan aku yang maju menghadapinya."
Kata Bagus Seto dengan sikap tenang.
Retno Wilis mengangguk.
Memang dari semula dara ini sudah maklum bahwa Satu-satunya orang yang akan mampu menandingi Wasi Shiwamurti hanyalah kakaknya ini.
Dengan langkah tenang Bagus Seto maju menghampiri Wasi Shiwamurti.
Dia memandang tajam wajah sang wasi dan berkata dengan sikap berwibawa namun lembut.
"Paman Wasi Shiwamurti, mengapa andika masih saja hendak membuat kekacauan? Apakah andika pikir bahwa perbuatan andika ini layak dan patut dilakukan seorang wasi seperti andika? Harap andika menyadari kesalahan dan pergi meninggalkan Nusa Jawa, kembali ke tempat asalmu dan menyudahi permusuhan yang tidak ada artinya ini."
Sepasang alis yang putih itu berkerut dan sepasang mata Wasi Shiwamurti mengeluarkan sinar berapi-api.
Dia pernah dikalahkan pemuda ini dan di dasar hatinya dia masih belum mau menerima kekalahan itu.
Walaupun kini dia memiliki orang andalan, yaitu kakak seperguruannya, namun dia masih penasaran dan ingin mencoba lagi mengadu kesaktian melawan pemuda berpakaian serba putih ini.
"Bagus Seto, hari ini aku datang untuk membalas kekalahanku terdahulu! Sambutlah tongkat kepala nagaku!"
Berkata demikian, Wasi Shiwamurti lalu menyerang dengan tongkatnya.
Terdengar suara bersiutan ketika tongkat itu menyambar ganas.
Bagus Seto mempergunakan kelincahan tubuhnya untuk mengelak dan kembali terulang pertandingan seperti yang terjadi di bukit daerah Blambangan itu.
Tongkat itu berubah menjadi sinar melayang-layang seperti seekor naga terbang, namun tubuh Bagus Seto seperti berubah menjadi bayang-bayang atau awan di mana naga itu bermain-main dan tidak pernah naga itu mampu menjamahnya.
Bagus Seto sudah melolos kain pengikat kepalanya dan kini kain putih itu menyambar-nyambar bagaikan kilat yang keluar dari awan mendung.
"Tar-tar-tarrr...!"
Kain pengikat kepala itu meledak-ledak dan Wasi Shiwamurti terhuyung-huyung ke belakang.
Dia melompat jauh ke belakang dan tiba-tiba melontarkan tongkat kepala naga itu ke arah tubuh Bagus Seto yang masih melayang di atas.
Bagus Seto menangkis dengan kain ikat kepalanya.
"Darrr...!"
Tongkat itu membalik seperti anak panah menuju ke arah dada Wasi Shiwamurti sendiri.
Sang wasi terkejut, cepat menangkap tongkatnya, akan tetapi dia terbawa terpelanting saking kuatnya luncuran tongkat itu.
Bagus Seto sudah turun lagi ke atas tanah, berdiri dengan tenang dan waspada memandang lawannya.
"Adi Wasi Shiwamurti, mundurlah. Bocah ini harus aku yang menandinginya!"
Terdengar suara yang kecil tinggi seperti suara wanita dan Sang Wasi Shiwasakti sudah melangkah maju membawa tongkat bambu kuningnya.
Telunjuk tangan kirinya menuding ke arah muka Bagus Seto dan diapun berkata.
"Orang muda, semuda ini andika telah memiliki kesaktian yang memadai. Katakan lah siapa yang menjadi gurumu?"
"Paman Wasi Shiwasakti, guruku bernama Ki Tunggaljiwo dan Bhagawan Ekadenta,"
Jawab Bagus Seto dengan sejujurnya. Kakek itu tampak terkejut.
"Wah, dia adalah adi seperguruan dari Ki Satyadarma? Pantas! Pantas andika memiliki ilmu yang tinggi dan sakti mandraguna. Akan tetapi sekali ini andika berhadapan dengan Wasi Shiwasakti! Maka, demi kebaikanmu sendiri, mundurlah dan jangan berani menandingi aku, Bagus Seto!"
"Paman-Wasi Shiwasakti, bukan aku yang mencari permusuhan. Melainkan andika yang datang mencari ke ributan. Demi membela keluarga ayah bundaku, terpaksa aku memberanikan diri untuk menandingi andika!"
"Babo-babo, Bagus Seto. Kalau begitu, waspada dan bersiaplah untuk menerima Aji Suryo Dahono dariku!"
Setelah berkata demikian, tiba-tiba kakek itu menancapkan tongkat bambu kuningnya di atas tanah di sebelah kirinya, kemudian dia mengembangkan kedua tangannya dari kanan kiri, menyembah ke atas lalu mendorongkan kedua telapak tangannya ke arah Bagus Seto.
Terdengar suara gemuruh dan tampak api keluar dari kedua telapak tangan itu, berkobar-kobar dan semakin membesar menerjang ke arah Bagus Seto.
Dan di dalam kobaran api itu seperti tampak bentuk-bentuk yang mengerikan dari binatang-binatang aneh menyeramkan dan muka-muka raksasa berambut api!
Dahsyat sekali serangan ini sehingga Retno Wilis, Endang Patibroto dan Tejolaksono memandang dengan mata terbelalak dan hati tegang.
Melihat serangan yang luar biasa ini, Bagus Seto tidak berani berlaku lengah.
Cepat dia mengeluarkan setangkai bunga cempaka dari rambut kepalanya dan menimpuk ke arah api berkobar-kobar itu dengan bunga cempaka putih.
"Syuuuuttt... wirrrr...!"
Api yang berkobar dan bergulung-gulung itu tertahan, tidak dapat maju dan bunga cempaka putih terpental kembali ke tangan Bagus Seto.
"Aji Surya Candra!"
Terdengar kakek itu berseru lagi dengan suara yang mengandung getaran penuh wibawa.
Dia mendorongkan kedua tangannya dan kobaran api itu maju lagi, kini tampak dua cahaya yang menyilaukan mata, merah dan kuning mendorong kobaran api itu, seperti cahaya matahari dan cahaya bulan, dua inti tenaga yang dikerahkan oleh Wasi Shiwamukti!
Bagus Seto yang maklum akan kehebatan lawan, juga merendahkan tubuh dengan menekuk kedua lututnya, kemudian diapun mendorongkan kedua tangannya menyambut serangan itu, menggunakan Aji Mego Gemulung sehingga dari kedua telapak tangannya tampak awan bergulung-gulung menyambut kobaran api itu.
"Wuuuuttt... bressss...!"
Tubuh Bagus Seto terpental ke belakang. Dia tidak roboh, melainkan jatuh berdiri di dekat Ki Tejolaksono. Wajahnya agak pucat dan napasnya agak terengah.
"Bagaimana kulup?"
Tanya Ki Tejolaksono kepada puteranya. Bagus Seto menghela napas dan menggelengkan kepalanya.
"Kanjeng Romo, dia terlalu tangguh untuk dapat saya tundukkan."
Ki Tejolaksono menjadi bingung.
Kalau Bagus Seto saja kalah, lalu siapa lagi yang dapat diajukan sebagai jago untuk menanggulangi Wasi Shiwasakti itu?
Wasi Shiwasakti tertawa, suara tawanya juga seperti suara tawa wanita.
"Hi-hi-hik, begitu saja kesaktianmu, Bagus Seto! Hayo, orang Panjalu, siapa lagi yang dapat menandingi aku Wasi Shiwasakti? Majulah!"
Ditantang begitu, Ki Patih Tejolaksono menjadi semakin gugup dan dia teringat sesuatu.
"Siapa yang mampu mengalahkan dia, pinangannya terhadap puteriku akan kupertimbangkan!"
Mendengar ini, Harjadenta yang sejak tadi hanya menonton dan mendengarkan, hendak mencari jasa dan dia sudah mencabut keris pusakanya, yaitu Ki Mengeng dan dia berseru.
"Paman Patih, perkenankan saya menandinginya!"
Tanpa menanti jawaban, pemuda itu meloncat ke depan dengan keris di tangan.
Ki Tejolaksono tidak mencegah, namun dari sikap dan tindakan pemuda ini diapun tahu bahwa Harjadenta ternyata juga mencinta puterinya, Retno Wilis.
Hal ini tentu saja sudah diketahui oleh Retno Wilis karena pemuda itu pernah menyatakan cinta kepadanya walaupun tidak ia tanggapi.
Kini dara itu memandang dengan penuh kekhawatiran, la tahu sampai di mana tingkat kepandaian pemuda itu.
Kalau ia sendiri dan kakaknya tidak mampu menandingi Wasi Shiwasakti, apa pula pemuda dari Gunung Raung itu.
"Wasi jahat, akulah lawanmu!"
Harjaden ta membentak dan melompat ke depan kakek itu. Melihat gerakan ini, Wasi Shiwasakti terkekeh.
"Hl-hi-hik, bocah kemarin sore berani maju? Apakah hendak mengantar nyawa?"
"Terimalah pusakaku Ki Mengeng!"
Harjadenta lalu menerjang dan menusukkan keris Ki Mengeng ke arah dada kakek itu. Akan tetapi Wasi Shiwasakti tidak mengelak atau menangkis sama sekali. Dia menerima tusukan keris itu dengan dadanya.
"Tukkk!"
Keris itu seperti mengenai dinding baja, bahkan tangan Harjadenta yang terpental dan terguncang hebat.
Wasi Shiwasakti mengebutkan lengan baju tangan kirinya dan ujung lengan baju itu menyambar ke arah dada Harjadenta.
"Wirrr... bukkk!"
Tubuh pemuda itu terlempar sampai lima meter jauhnya dan jatuh terbanting keras ke atas tanah.
Masih untung baginya bahwa Wasi Shiwasakti tidak ingin membunuh, maka dia hanya terkejut saja, tidak mengalami luka parah.
Akan tetapi tentu saja dia tidak berani maju lagi.
Kini Jarot melompat ke depan.
Melihat Harjadenta berani maju melawan kakek itu, Jarot yang tadi mendengar ucapan Ki Patih Tejolaksono, lalu menjadi nekat.
Dia harus memperlihatkan dirinya sebagai seorang satria sejati yang tidak takut menghadapi lawan tangguh, tidak takut mati.
Karena dengan demikian barulah pantas dia menjadi pasangan Retno Wilis, dara perkasa itu.
Dengan gerakan ringan sekali dia melompat ke depan Wasi Shiwasakti.
"Wasi Shiwasakti, akulah lawanmu!"
Katanya dengan sikap gagah. Wasi Shiwasakti melihat betapa gerakan pemuda ini berbeda dengan gerakan Harjadenta. Dia memandang penuh perhatian, lalu bertanya.
"Orang muda, siapakah andika dan murid siapakah andika?"
"Namaku Jarot dan aku adalah murid Bapa Bhagawan Dewondaru dari Gunung Semeru."
"Hemm, bagus! Pernah aku mendengar tentang Bhagawan Dewondaru yang kabarnya memiliki kesaktian yang cukup tinggi. Nah, majulah, Jarot dan perlihatkan kemampuanmu kepadaku!"
Jarot mencabut senjata kerisnya yang bernama Nogo Ireng. Sinar kehitaman tampak ketika keris itu dicabut.
"Jaga serangank'u, Wasi Shiwasakti!"
Kata Jarot yang mulai menyerang dengan kerisnya.
Serangannya cukup kuat dan cepat dan agaknya sekali ini Wasi Shiwasakti ingin menguji kepandaian silat pemuda itu.
Diapun mengelak dan tongkat bambu kuning ditangannya membalas, menyambar dari samping dengan tusukan ke arah lambung Jarot.
Akan tetapi pemuda ini dengan gesitnya dapat pula mengelak lalu menubruk maju lagi dengan kerisnya, menusuk kearah perut lawan.
Gerakannya licin bagaikan belut dan Wasi Shiwasakti terkekeh.
"Hi-hi-hik, andika boleh juga, Jarot!"
Katanya sambil memutar tongkat bambu kuningnya untuk menghalau keris Jarot yang menyerang secara bertubi-tubi.
"Trang-trang-cring...!"
Jarot terkejut bukan main.
Tigakali beradu senjata itu membuat tangan kanannya seperti lumpuh karena tergetar hebat sekali, dan sebelum dia dapat mengatur keseimbangan tubuhnya, tiba-tiba kaki Sang Wasi Shiwasakti mencuat dan tak dapat dihindarkannya lagi tubuhnya terkena tendangan.
"Bukkk...!"
Tubuh Jarot terlempar jauh dan terbanting ke atas tanah.
Akan tetapi seperti juga halnya Harjadenta, dia tidak menderita luka parah karena agaknya Wasi Shiwasakti memang sengaja tidak mau membunuhnya.
Melihat betapa semua orang telah kalah oleh Wasi Shiwasakti, Ki Patih Tejolaksono mulai merasa gelisah.
Siapa lagi yang akan mampu menandingi wasi yang sakti mandraguna itu?
Sebetulnya sejak tadi, setelah melihat kekalahan Bagus Seto, dia sudah putus asa.
"Adimas Jayawijaya, hanya andikalah tumpuan harapan kami. Harap andika suka maju menghadapi Wasi Shiwasakti!"
Tiba-tiba Bagus Seto mendekati Jayawijaya dan berkata dengan suara lembut.
Jayawijaya memandang kepadanya dan sejenak dua pasang mata bertemu pandang, dua pasang mata yang penuh pengertian dan Jayawijaya tersenyum mengangguk.
"Mohon doa restu, kakangmas Bagus Seto,"
Bisiknya.
"Majulah dan jangan ragu, adimas."
Jayawijaya lalu menghampiri ayahnya dan menyembah.
"Kanjeng Romo, hamba mohon doa restu untuk menghadapi Wasi Shiwasakti."
Ayahnya tersenyum, mengangguk.
"Sang Hyang Widhi melindungimu, kulup,"
Katanya. Jayawijaya menghampiri Ki Patih Tejolaksono dan berkata lirih.
"Kanjeng Paman, hamba mohon doa restu untuk menghadapi Wasi Shiwasakti."
Ki Tejolaksono terbelalak heran, tak dapat berkata-kata saking herannya dan hanya mampu mengangguk. Setelah itu, Jayawijaya menghampiri Endang Patibroto dan berkata hormat.
"Kanjeng Bibi Endang Patibroto, hamba mohon doa restu."
Endang Patibroto yang sudah mendengar ucapan Jayawijaya kepada suaminya tadi, tersenyum mengangguk.
"Berhati-hatilah, anakmas Jayawijaya."
Paling akhir Jayawijaya menghampiri Retno Wilis dan berkata.
"Diajeng, aku mohon doa restumu."
"Kakang Jaya, jaga dirimu baik-baik,"
Kata Retno Wilis sambil mencoba untuk menahan kegelisahannya.
Kekasihnya hendak menandingi Wasi Shiwasakti yang sakti madraguna itu.
Pada hal ia sendiri dan kakaknya sudah kalah!
Kekasihnya sama sekali tidak pernah mempelajari ilmu kanuragan.
Biarpun ia juga tahu bahwa kekasihnya itu mempunyai sesuatu yang luar biasa, namun tetap saja ia merasa khawatir sekali.
Kini Jayawijaya melangkah maju dengan tenang, langkahnya perlahan-lahan, menghampiri Wasi Shiwasakti yang masih menanti tanding.
Melihat seorang pemuda yang berwajah terang dan bersikap lemah-lembut menghampirinya, dia merasa heran.
Akan tetapi ketika pandang matanya bertemu dengan pandang mata pemuda itu, dia terkejut bukan main.
Dia merasa seolah olah sinar matanya yang tajam amblas dan tenggelam ke dalam samudera ketenangan yang terkandung dalam sepasang mata pemuda itu.
"Hati-hati, kakang Wasi. Pemuda ini memiliki kelebihan,"
Dia mendengar Wasi Shiwamurti berbisik di belakangnya.
Akan tetapi Wasi Shiwasakti adalah seorang sakti mandraguna yang jiwanya tersesat.
Karena dia memiliki kedigdayaan yang linuwih, maka timbul kesombongan dalam hatinya.
Dia merasa bahwa di dunia ini tidak ada seorangpun yang akan mampu menandingi kesaktiannya.
Apa lagi hanya seorang pemuda seperti ini!
Maka dia tertawa cekikikan ketika melihat Jayawijaya menghadapinya.
"Hi-hi-hi-hik, bocah yang masih berbau kencur! Mau apa engkau datang menghadapi aku?"
Jayawijaya bersikap sabar dan dia mengangkat mukanya, memandang kepada wajah kakek itu dengan tenang. Lalu katanya, dengan suara yang lemah lembut pula.
"Paman Wasi Shiwasakti, masihkah andika belum juga mau menyadari kesalahan andika sendiri? Ingat, Paman Wasi, kejahatan kalau dilanjut-lanjutkan akhirnya akan menjerat leher sendiri. Permusuhan dan kebencian kalau dibiarkan akan menjadi racun bagi bathin sendiri. Hentikan lah semua ini, Paman Wasi, dan kembalilah ke tempat asalmu, hidup dengan aman tenteram penuh damai. Bukankah hal itu akan menjadi baik sekali?"
"Hi-hi-hi-hik! Bocah masih berbau pupuk berani berkhotbah di depanku! Aku melihat engkau seorang pemuda yang masih bersih, hanya itu kelebihanmu. Dengan apa engkau hendak melawanku? Lebih baik engkau mundur, aku tidak tega untuk mencelakai orang seperti engkau."
"Nah, hati nuranimu sudah bicara, Paman Wasi. Turutilah suara hati nuranimu itu, larutkan kebencian dan perrrtusuhan ini. Yang kalah atau menang akan sama saja, tidak ada artinya memperebutkan kemenangan karena akhirnya akan kalah juga pada saatnya. Biarkan Kekuasaan Hyang Widhi yang akan mengatur segalanya. Andika tidak perlu mencampuri pekerjaan Hyang Widhi."
"Heh, bocah lancang! Bagaimana mungkin aku tidak mencampuri pekerjaan Hyang Widhi? Penyebar luasan agama kalau tidak kubantu, bagaimana Hyang Widhi dapat bekerja sendiri?"
Kata Wasi Shiwasakti yang tadinya tertunduk akan tetapi lalu membantah.
"Memang menjadi tugas kita setiap orang manusia untuk membantu pekerjaan Sang Hyang Widhi. Akan tetapi membantu bukan berarti mencampuri, karena mencampuri itu bersifat menentang, sedangkan membantu bersifat mendukung! Yang andika lakukan adalah menentang kehendak Sang Hyang Widhi, Paman Wasi. Andika mengajarkan agama yang sesat, yang membawa manusia menjadi hamba nafsu yang akan menyeret mereka ke lembah duka. Karena itu insaflah, Paman Wasi, dan hendaknya andika suka mundur dan tidak melanjutkan pekerjaan yang tidak benar itu, sebelum terlambat."
"Sebelum terlambat? Bocah sombong, apa yang akan dapat kau lakukan terhadap diriku kalau aku tidak mau mundur?"
"Aku tidak dapat berbuat apa-apa, Paman Wasi Shiwasakti, akan tetapi aku yakin bahwa Kekuasaan Sang Hyang Widhi yang akan bekerja untuk menghentikan tindakan yang menyimpang dari kebenaran."
"Babo-babo, Jayawijaya! Ucapanmu semakin lancang dan engkau menantang aku! Apa engkau kira akan mampu untuk melindungi dirimu sendiri terhadap serangan aji kesaktianku?"
"Aku tidak mampu melindungi diriku sendiri, akan tetapi aku bersandar kepada Kekuasaan Sang Hyang Widhi, Paman Wasi."
"Engkau tidak takut mati?"
"Mati atau hidup berada di tangan Sang Hyang Widhi. Kalau Sang Hyang Widhi tidak menghendaki aku mati, bahkan engkau sekalipun tidak akan mampu membunuhku, Sang Wasi! Kalau Sang Hyang Widhi menghendaki kematianku di tanganmu, akupun akan menerimanya dengan ikhlas dan penuh penyerahan, tidak akan menyesal seujung rambut sekalipun!"
"Hati-hati, kakang Wasi. Bocah ini mengerikan,"
Bisik Wasi Shiwamurti di belakang kakak seperguruannya.
"Biar aku membinasakannya, Adi Wasi!"
Wasi Shiwasakti berseru dan dia menancapkan tongkat bambu kuningnya di atas tanah, kemudian kedua tangannya berkembang, membentuk sembah lalu dibuka lagi, mulutnya mengeluarkan pekik menggetarkan.
"Aji Suryo Dahono...!"
Seperti tadi ketika menyerang Bagus Seto, tampak api keluar dari sepasang telapak tangan itu, api yang makin lama semakin berkobar, di sebelah dalam kobaran itu terdapat bentuk-bentuk yang menggiriskan, seperti binatang-binatang buas dan kepala-kepala setan, semua hendak menyergap berikut kobaran api ke arah Jayawijaya!
Akan tetapi pemuda itu sama sekali tidak tampak gentar.
Dengan tabah dia malah maju menghampiri dan menyambut kobaran api itu, kedua lengannya bersedekap, matanya dipejamkan dan dari mulutnya terdengar ucapan yang jelas dan lembut.
"Hong, nir boyo sedyo rahayu! Hong, nir ing sambekala sedyo rahayu!"
Kobaran api itu kini "menelan"
Tubuh Jayawijaya.
Semua orang yang menyaksikan menjadi tegang dan khawatir sekali, terutama Retno Wilis yang khawatir kalau kekasihnya akan terbakar hangus dan menemui kematiannya.
Ki Patih Tejolaksono juga memandang dengan mata terbelalak dan mulut ternganga.
Belum pernah dia melihat peristiwa seperti itu!
Dia tahu benar betapa saktinya aji yang dikeluarkan Wasi Shiwasakti itu, akan tetapi pemuda yang tampak lemah lembut dan tidak memiliki kedigdayaan itu berani memasuki kobaran api yang bernyala nyala dan di dalamnya terkandung sosok-sosok binatang buas dan kepala-kepala setan itu!
Dan terjadilah keanehan yang membuat semua orang terbelalak kagum dan terpesona.
Bentuk-bentuk mengerikan dalam kobaran api itu begitu bertemu dengan Jayawijaya, tampak ketakutan seperti sekawanan anjing dibawakan cambuk!
Mereka mundur-mundur dan kobaran api itu dengan sendirinya juga mundur ke belakang dan semakin menyempit dan mengecil.
"Aji Surya Candra...!"
Wasi Shiwasakti mengeluarkan pekik mengerikan lagi dan kini kedua telapak tangannya mendorong sehingga api mulai berkobar lagi ditambah dua cahaya mengkilat yang menyilaukan mata.
Kobaran api itu menyambar ke arah Jayawijaya yang masih bersedakap dan kini pemuda itu terhuyung ke belakang.
Demikian kuatnya Aji Surya Candra itu sehingga seolah-olah Jayawijaya tidak akan kuat bertahan!
Retno Wilis menahan napas, matanya terbelalak memandang kekasihnya yang terancam bahaya, tangan kirinya menutup mulutnya seolah hendak menahan agar ia tidak menjerit.
Semua orang juga merasa gelisah sekali, kecuali Bagus Seto dan Ki Panji Kelana yang masih menonton dengan sikap tenang sekali.
Bagus Seto bersikap tenang karena dia maklum bahwa dia bertemu dengan seorang yang telah dilindungi oleh Kekuasaan Sang Hyang Widhi.
Kekuatan atau kekuasaan apakah di dunia ini yang akan mampu menandingi Kekuasaan Sang Hyang Widhi yang sudah melindungi seseorang?
Karena pengertian inilah maka dia bersikap tenang saja, yakin bahwa tidak ada sesuatu yang akan mampu mencelakai Jayawijaya.
Adapun Ki Panji Kelana bersikap tenang karena dia adalah seorang yang sudah sepenuh nya menyerah kepada Kehendak Sang Hyang Widhi, seperti yang diajarkannya kepada puteranya sejak Jayawijaya kecil.
Kepasrahan dan penyerahan ini yang membuat dia tenang dan tidak pernah gelisah karena apapun yang akan terjadi menimpa diri Jayawijaya sudah diikhlaskan karena semua itu sudah dikehendaki Sang Hyang Widhi.
Kalau Sang Hyang Widhi menghendaki kematian Jayawijaya atau dirinya sendiri, setiap saat dia ikhlas dan dia akan merelakan tanpa rasa penyesalan sedikitpun.
Dengan penyerahan yang mutlak lahir bathin ini, bagaimana hati Ki Panji Kelana dapat menjadi khawatir?
Tubuh Jayawijaya bergoyang-goyang ke belakang dan ke depan, seperti di dorong-dorong oleh kekuatan gaib yang amat besar.
Seolah-olah setiap saat dia akan roboh terjengkang.
Akan tetapi tiba-tiba terjadi perubahan.
Kedua lengannya yang tadinya bersedakap, bergerak lepas, kemudian kedua tangan itu dirangkap dan dia melakukan gerakan menyembah ke atas.
Gerakan yang wajar dan sama sekali tidak dibuat-buat karena gerakan ini memang terjadi dengan sendirinya, gerakan yang bukan digerakkan oleh hati akal pikiran, melainkan gerakan langsung dari jiwanya.
Kemudian, kedua tangan yang menyembah itu meluncur lurus ke depan, kedua telapak tangan menghadap ke depan seperti orang mendorong.
Gerakan inipun wajar dan lembut, sama sekali tidak mengandung tenaga, hanya kedua tangan itu tergetar dan...
kobaran api itu tertiup mundur, sosok-sosok dan bentuk-bentuk mengerikan terjengkang ke dalam kobaran api dan kobaran api itu terus mundur sampai mengenai tubuh Wasi Shiwasakti sendiri.
Terdengar jerit mengerikan keluar dari mulut Wasi Shiwasakti!
"Auuugrgghh...!
Taubat...
taubat...
hamba menyerah...!"
Dan tubuhnya bergulingan di atas tanah.
Wasi Shiwamurti cepat membantu kakak seperguruannya bangkit berdiri lagi.
Kobaran api telah lenyap dan kini tampak betapa semua rambut, kumis dan jenggot Wasi Shiwasakti terbakar habis dan mukanya masih terbungkus hangus sehingga kelihatan lucu dan juga mengerikan.
Wasi Shiwamurti memondong tubuh yang lunglai itu, yang kini hanya dapat mendesis-desis seperti kepanasan, dan Wasi Shiwamurti menyeret tongkat kepala naganya, lalu pergi dari tempat itu sambil memondong tubuh kakak seperguruannya yang sudah tidak berdaya sama sekali.
Semua orang yang menonton pertunjukan luar biasa hebatnya itu bersorak sorai atas kemenangan Jayawijaya.
Pemuda itu bersikap biasa saja dan ketika Ki Tejolaksono menghampirinya dan memegang kedua pundaknya sambil memuji, dia berkata lirih.
"Sang Hyang Widhi yang menalukkannya, bukan saya..."
Semua orang mendekat dan merubung Jayawijaya dan saking girang hatinya, Ki Tejolaksono memandang Adipati Kertajaya sambil berkata.
"Maafkan kami, adimas Adipati, terpaksa sekali kami tidak dapat menerima pinangan andika kepada puteri kami untuk puteramu itu, karena Retno Wilis telah memiliki seorang calon jodohnya, yaitu anak mas Jayawijaya."
Adipati Kertajaya menghela napas dan menoleh kepada Jarot yang mengangguk sambil tersenyum, rela menerima "Kekalahan"
Itu.
"Kami mengerti, Kakangmas Patih. Kami menjadi saksi bahwa yang mampu menandingi Wasi Shiwasakti tadi adalah anak mas Jayawijaya, maka sudah sepantasnya kalau dia yang berhak mempersunting puterimu."
Ki Patih Tejolaksono lalu menghadapi Ki Panji Kelana dan berkata dengan sikap ramah.
"Marilah, adimas Panji Kelana, kita semua bicara di dalam karena pinanganmu kepada Retno Wilis untuk putera andika Jayawijaya kami terima dengan senang hati."
Semua orang dipersilakan masuk dan kembali mereka disuguhi perjamuan kecil untuk merayakan kemenangan atas kedua orang wasi dari Cola itu.
Suasana meriah dan biarpun Jarot ditolak pinangannya namun dia tidak menjadi kecil hati.
Dia maklum benar bahwa memang Jayawijaya lebih berhak, bukan saja pemuda itu telah menandingi dan mengusir Wasi Shiwasakti, akan tetapi lebih-lebih lagi karena dia merupakan pilihan hati Retno Wilis.
Juga Harjadenta tidak merasa penasaran walaupun cintanya bertepuk tangan sebelah.
Retno Wilis memang terlalu tinggi baginya untuk dijangkau.
Jarot segera mengalihkan perhatiannya, yaitu kepada puteri Adipati Blambangan yang bernama Dyah Ayu Kerti.
Jarot membisikkan kehendak hatinya kepada ayahnya dan orang tua itu tidak merasa ragu untuk mengajukan pinangan kepada keluarga yang menjadi tawanan terhormat itu.
Ayah Jarot adalah seorang adipati pula, dan dia sendiri sedang menjadi tawanan, maka melihat uluran tangan yang meminang puterinya itu, Adipati Menak Sampar dari Blambangan tidak melihat jalan lain yang lebih terhormat kecuali menerimanya.
Apa lagi dia melihat bahwa Jarot adalah seorang pemuda yang tampan dan gagah perkasa, dan kelak menggantikan kedudukan ayahnya menjadi Adipati di Pasisiran.
Juga Dyah Ayu Kerti tidak menolak ketika ditanya ayahnya karena puteri inipun sudah meiihat kegagahan dan ketampanan Jarot.
Saroji, putera Ki Haryosakti pemimpin perkumpulan Jambuko Cemeng, memiliki, pilihan lain.
Dia segera tertarik sekali kepada Dyah Candramanik, puteri Adipati Martimpang dari Nusabarung.
Maka dia memberanikan diri dengan perantaraan ayahnya dan didukung oleh keluarga Ki Patih Tejolaksono yang telah hutang budi atas bantuan Jambuko Cemeng, dia meminang Dyah Candramanik.
Adipati Martimpang juga menerima pinangan ini dengan senang hati mengingat bahwa ayah pemuda itu, Ki Haryosakti merupakan ketua dari perkumpulan Jambuko Cemeng yang cukup terkenal kesaktiannya.
Harjadenta tidak mau kalah.
Dia telah melihat Sarmini, puteri Ki Haryosakti yang cantik manis dan lembut, maka dengan bantuan Bagus Seto dan Retno Wilis, dia minta pertolongan kepada Ki Patih Tejolaksono untuk sudi menjadi walinya karena dia sudah yatim piatu dan gurunya berada jauh.
di Gunung Raung, untuk meminangkan puteri Ki Haryosakti itu.
Pinangan inipun diterima dengan senang hati.
Maka lengkaplah sudah orang-orang muda itu mendapatkan jodoh masing-masing, Hanya Bagus Seto seorang yang belum mendapatkan jodoh.
Ayu Chandra, ibunya menoleh kepada puteranya dan memberi isyarat kepadanya untuk mengikutinya masuk ke dalam gedung.
Setelah berada berdua saja, ibu ini bertanya dengan suara terharu.
"Dan engkau sendiri bagaimana, angger? Kapan engkau akan menentukan pilihan hatimu dan menikah? Ibumu sudah rindu menimang cucu darimu."
Bagus Seto tersenyum dan menggeleng kepalanya.
"Belum tiba saatnya, ibu. Saya masih suka menyendiri, mengarungi Bumi Nusantara yang luas ini."
Pada saat itu, Ki Patih Tejolaksono memasuki ruangan tengah itu. Ketika melihat isterinya menggapai Bagus Seto masuk ke dalam, hati Ki Patih ini sudah dapat menduga maka diapun menyusul ke dalam.
"Bagus Seto, bagaimana dengan engkau? Siapa yang akan menjadi jodohmu?"
"Baru saja kami membicarakannya kakangmas."
Kata Ayu Candra dengan suara kecewa.
"Akan tetapi dia masih belum menentukan pilihannya, masih suka menyendiri dan ingin berkelana mengarungi Bumi Nusantara."
"Hemm, bagaimanakah engkau ini, kulup? Usiamu sudah tiga puluh tahun. Akan menanti kapan lagi? Tunjukan puteri mana yang kau kehendaki dan aku tentu akan meminangkan untukmu,"
Kata Ki Patih Tejolaksono.
"Terima kasih, kanjeng romo. Akan tetapi jodoh berada di Tangan Sang Hyang Widhi. Kalau belum jodohnya tentu tidak akan bertemu. Pula, hati saya belum tertarik untuk urusan perjodohan, kanjeng romo. Harap kanjeng romo dan kanjeng ibu tidak menjadi kecewa dan suka memaafkan puteranda."
"Akan tetapi, kulup Bagus Seto. Adikmu Retno Wilis sudah memperoleh jodoh, kenapa engkau malah belum? Apakah adimu harus menikah lebih dulu?"
Tanya Ki Patih Tejolaksono. Bagus Seto tersenyum.
"Saya merasa berbahagia sekali bahwa diajeng Retno Wilis telah memperoleh jodoh seorang pemuda yang bijaksana dan budiman. Saya merasa yakin bahwa diajeng Retno Wilis akan memperoleh kebahagiaan hidup dibawah bimbingan adimas Jayawijaya. Tidak mengapa kalau ia menikah lebih dulu, kanjeng romo. Jodoh masing-masing tidaklah dapat ditentukan."
"Aku hanya khawatir kalau-kalau engkau tidak mau menikah dan akan hidup sebagai seorang pertapa. Ingat, hanya engkau yang menjadi tumpuan harapanku untuk memperoleh keturunan dari ayah, anakku."
Bagus Seto kembali tersenyum.
"Kalau Sang Hyang Widhi menghendaki, apapun yang akan terjadi kepada saya tentu akan saya terima dengan rela, kanjeng romo. Untuk penyerahan seperti ini kita harus banyak belajar dari adimas Jayawijaya."
Para tamu mulai berpamitan meninggalkan kepatihan dan kembali ke tempat masing-masing.
Ki Patih Tejolaksono lalu mengawal para tawanan menuju ke istana Sang Prabu di Panjalu di persidangan dan di situ Sang Prabu memutuskan tindakan apa yang akan dijatuhkan kepada kedua orang adipati itu.
Sang Prabu Panjalu adalah seorang yang bijaksana.
Beliau mengerti bahwa pemberontakan yang dilakukan oleh dua orang adipati terutama sekali karena ada dorongan, dan dari para utusan Cola dan persekutuan mereka dengan Bali-dwipa.
Maka Sang Prabu memaafkan mereka, mengangkat Adipati Martimpang kembali menjadi adipati di Nusabarung.
Juga beliau mengangkat Adipati Menak Sampar kembali menjadi adipati di Blambangan dengan disertai janji dan sumpah bahwa mereka tidak lagi akan mengulang perbuatan mereka yang memberontak terhadap Panjalu dan Jenggala.
Tentu saja kedua orang adipati itu sekeluarga merasa bersukur sekali dan setelah menghaturkan sembah dan terima kasih, mereka semua lalu kembali ke kadipaten masing-masing, siap untuk mengadakan, pesta pernikahan bagi anak-anak mereka.
Jayawijaya melangsungkan pernikahannya dengan Retno Wilis.
Pernikahan ini dilangsungkan secara meriah sekali dan mengingat akan jasa Ki Patih Tejolaksono, Sang Prabu di Panjalu dan Jenggala berkenan menghadiri pesta pernikahan itu.
Setelah menikah, di dalam kamar mereka, Jayawijaya berkata kepada isterinya.
"Diajeng, setelah sebulan tinggal di sini, aku akan mengajakmu ke Tengger dan kita tinggal di sana, Tentu engkau suka tinggal bersamaku di sana, bukan?"
Retno Wilis melirik manja.
"Tentu saja. Di mana engkau tinggal, di sanalah tempatku berada, kakangmas."
"Akan tetapi, diajeng. Engkau terbiasa hidup di kepatihan yang serba mewah dan hidup senang. Apakah engkau akan betah tinggal di pegunungan yang sunyi, sebagai seorang petani yang hidup bersahaja?"
Retno Wilis tersenyum.
"Hidup di manapun sama saja kakangmas. Aku sudah pernah hidup di dalam hutan, pernah hidup di kota raja, dan pernah menjadi pengembara. Kebahagiaan bukan ditentukan oleh keadaan lahir, melainkan keadaan batin. Di mana saja aku hidup, kalau berada di sampingmu, aku akan selalu merasa bahagia, kakangmas!"
Jayawijaya merangkul isterinya dengan hati bahagia.
"Berbahagia sekali aku mendapatkan seorang isteri seperti engkau, diajeng."
"Aku hanya isterimu yang bodoh dan membutuhkan bimbinganmu dalam hidup ini, kakangmas. Aku akan merasa berbahagia kalau engkau bahagia."
Sepekan kemudian, keluarga Ki Patih Tejolaksono mengantarkan Bagus Seto yang berpamit untuk pergi mengembara.
Mereka mengantar pemuda itu sampai keluar kota Raja dan baru berhenti setelah tiba di luar batas kota, melihat pemuda itu berjalan perlahan mendaki sebuah bukit di timur.
Makin ke atas, gerakan pemuda itu semakin cepat sehingga akhirnya yang tampak hanya titik putih seperti seekor garuda putih yang melayang menjauh.
Ayu Candra mengusap matanya yang menjadi basah.
Ki Patih Tejolaksono merangkulnya.
"Relakanlah, diajeng. Dia menuju kepada kebahagiaannya dan kalau memang Sang Hyang Widhi menghendaki, kita tentu akan bertemu lagi dengan dia, putera kita."
Mereka lalu kembali ke kepatihan dan sebulan kemudian Retno Wilis diajak pergi Jayawijaya, suaminya, menuju ke Tengger untuk menemui ayahnya, Ki Panji Kelana.
Sementara itu, Jarot melaksanakan pernikahannya dengan Dyah Ayu Kerti yang diboyongnya ke kadipaten Pasisiran.
Saroji, putera Ki Haryosakti, menikah dengan Dyah Candramanik dan oleh Adipati Martimpang di Nusabarung, mantunya itu disuruh tinggal di Nusabarung dan diberi kedudukan senopati.
Adapun Harjadenta memboyong Sarmini puteri Ki Haryosakti ke Gunung Raung di mana dia tinggal bersama Empu Gandawijaya, gurunya.
Harjadenta ini kemudian kelak menjadi seorang empu pembuat keris yang pandai.
Sementara itu, Kerajaan Jenggala tampak semakin mundur.
Kejayaannya kalah oleh Kerajaan Panjalu dan akhirnya, melihat betapa daerah-daerah di timur, terutama Bali-dwipa masih selalu merupakan daerah-rawan, Kerajaan Jenggala bersatu dengan Kerajaan Panjalu dan berubah kembali menjadi Kerajaan Kediri yang semakin besar, kuat dan jaya.
Sampai di sini, selesailah sudah kisah Sepasang Garuda Putih ini dengan harapan pengarang bahwa selain sebagai bacaan hiburan, kisah ini mengandung manfaat semua.
Sampai Jumpa di lain cerita!
Lereng Lawu, Medio Oktober 1988 TAMAT
Baca Juga: Kisah Pendekar Bongkok 7
Baca Juga: Istana Pulau Es 19