Ceritasilat Novel Online

Pecut Sakti Bajrakirana 1

Eps 1 Pecut Sakti Bajrakirana - Kho Ping Hoo

Baca online Pecut Sakti Bajrakirana - Kho Ping Hoo

Cersil Pecut Sakti Bajrakirana - Kho Ping Hoo.

Pecut Sakti Bajrakirana (Seri ke 01 -Serial Pecut Sakti Bajrakirana) Karya". Asmaraman S. Kho Ping Hoo

Jilid 01 Malam Jumat kliwon yang gelap pekat dan menyeramkan dalam tahun 1613.

Dilereng Gunung Kawi yang sunyi sepi itu suasananya demikian angker dan menyeramkan.

Sebuah pondok kayu yang berdiri di lereng sebelah timur tampak sunyi diselimuti malam.

Hanya sebuah lampu gantung kecil menerangi depan pondok, sinarnya yang lemah menimbulkan bayang-bayang besar dan menakutkan, menjadikan rupa-rupa bentuk yang mengerikan.

Pohon-pohon besar di sekitarnya yang tersapu angin malam tampak seolah-olah menjadi hidup dan bergerak-gerak.

"Kulik-kulik-kulik""!"

Suara burung malam yang terdengar lapat-lapat menambah seram suasana dan bau kemenyan menyengat hidung.

Bau kemenyan ini mengingatkan orang-orang mati dan setan iblis belasakan.

Terpisah dua lereng di bawah pondok itu lapat-lapat dapat terdengar suara anjing meraung, datang dari arah dusun di sana yang tampak lampunya berkelap-kelip dari lereng di pondok itu.

Tentu malam itu tak seorang pun dari para penduduk dusun itu berani keluar, karena telah menjadi kepercayaan turun temurun bahwa malam Jumat kliwon adalah malamnya bangsa setan demit dan iblis yang berkeliaran di permukaan muka bumi untuk menggoda manusia.

Di dalam pondok kayu itu pun suasananya sepi sekali seolah pondok itu tidak ada penghuninya.

Padahal penghuni pondok itu sedang duduk bersila di atas pembaringannya.

Seorang laki-laki berusia enam puluh lima tahun, rambutnya yang sudah hampir putih semua itu digelung ke atas dan diikat kain berwarna kuning.

Jubahnya seperti jubah pendeta yang berwarna putih dan hanya merupakan pakaina yang amat sederhana.

Wajahnya masih tampak segar seperti wajah seorang muda saja, terutama sekali sepasang matanya yang lembut itu kadang mengeluarkan cahaya mencorong, menandakan bahwa dia seorang pendeta atau pertapa yang memiliki kesaktian dan tenaga dalam yang amat kuat.

Dari pintu kamarnya muncuk seorang pemuda yang segera duduk bersila di bawah pembaringan.

Melihat pertapa itu seperti orang dalama samadhi, pemuda itu tidak berani menggangunya, hanya duduk diam seperti gurunya, bersila dan memangku kedua tangan.

Tak lama kemudian keduanya sudah tenggelam ke dalam samadhi mereka dan suasana menjadi semakin sunyi.

Siapakah pendeta itu?

Dia seorang pertapa yang sudah bertahun-tahun bertapa di lereng Gunung Kawi.

Namanya disebut orang Bhagawan Sidik Paningal.

Seorang tua yang bertubuh jangkung kurus, yang mukanya masih segar seperti muka orang muda dan wajah itu masih terdapat bekas wajah seorang pria yang tampan dan lembut.

Adapun pemuda yang duduk bersila di bawah pemabaringan itu adalah Sutejo, muridnya yang terkasih.

Seorang pemuda berusia dua puluh dua tahun, bertubuh tinggi tegap dengan dada yang bidang dan kedua pundak dan lengannya tampak kokoh kuat.

Wajahnya tampan dengan sepasang mata lebar yang memandang dunia dengan sinar mata cerah dan penuh semangat, sepasang alisnya hitam tebal, hidungnya mancung dan mulutnya selalu mengandung senyum yang ramah.

Dagunya berlekuk menambah kejantanan wajah itu, dan kulit tubuhnya juga bersih kemuning.

Rambutnya panjang ditekuk dan digelung ke atas, diikat dengan sehelai kain biru.

Bajunya berlengan penadek sebatas siku, celananya hitam sampai ke betis dan sehelai sarung dikalungkan di pundak kiri.

Seorang pemuda yang tampan dan gagah.

Dia menghadap gurunya bersamadhi, diapun tidak berani menggangu, hanya mengikuti contoh gurunya, ikut pula bersamadhi di depan gurunya.

Tiba-tiba Bhagawan Sidik Paningal terbatuk-batuk tiga kali.

Batuk yang lebih merupakan isyarat kepada muridnya yang berada di depannya bahwa dia kini sudah sadar dari samadhinya dan isyarat itupun bertanya apa keperluan muridnya memasuki kamarnya dan menghadap.

Sutejo menangkap isyarat itu dan menyembah.

"Mohon maaf Bapa, bahwa saya berani menghadap dan mengganggu samadhi Bapa. Akan tetapi, Bapa, sejak senja tadi, saya merasakan sesuatu yang aneh, suasana yang berlainan sekali daripada malam-malam yang lain. Seluruh perasaan saya tergugah, bahkan batin saya merasa terkacau oleh suatu tenaga yang rahasia. Karena itu saya berani mengganggu Bapa untuk minta penjelasan apa artinya semua yang saya rasakan pada saat ini."

"Hong wilaheng". Andika juga merasakan itu, Sutejo? Bagus, hal itu menunjukkan bahwa andika telah memiliki kepekaan. Memang apa yang andika rasakan itu ada sebabnya, cukup. Sekarang cepatlah engkau pergi ke belakang, mengambil air jernih sepiring dan letakan piring itu di depan kita di sini. Cepat, mereka telah mulai menyerang!"

Sutejo terkejut.

Siapa yang mulai menyerang?

Dan menyerang bagaimana yang dimaksudkan gurunya?

Akan tetapi dia tidak bertanya dan cepat melaksanakan perintah gurunya, mengambil air jernih dalam sebuah piring yang dibawanya masuk lagi ke kamar gurunya lalu meletakkan piring itu di atas lantai di antara mereka.

"Bagus! Sekarang mari kita bersamadhi lagi dan kerahkan seluruh tenaga batinmu untuk melindung dirimu dari marabahaya. Kerahkan aji kekebalanmu seolah engkau berhadapan dengan musuh yang hendak menikam tubuhmu. Dan jangan banyak bertanya, lakukan saja apa yang kukatakan."

"Sendhika, Bapa Guru."

Sutejo tidak bertanya-tanya, melainkan sepenuhnya menaati perintah gurunya.

Dia bersila lagi dan bersamadhi mengumpulkan seluruh akal pikirannya dan mengerahkan aji kekebalan untuk melindungi tubuhnya.

"Kulik-kulik-kulik......!"

Burung malam itu seperti terbang melewati atas pondok mereka sambil mengeluarkan bunyi yang mengerikan itu.

Akan tetapi Sutejo tidak memperdulikan suara itu dan tetap tenggelam ke dalam samadhinya.

Terdengar pula raungan anjing di kejauhan dan kelepak sayap burung di atas rumah, lalu bunyi seperti dua batang tulang dipukul-pukulkan.

"Tek-tek-tek-tek!"

Menurut dongeng tahyul itu adalah suara setan tetekan.

Akan tetapi semua itu tidak menggoyahkan Sutejo yang tetap tenang dalam samadhinya.

Bau kembang menyan semakin menyentuh hidung dan tiba-tiba Sutejo merasa dadanya dan lehernya tertusuk sesuatu yang runcing.

Akan tetapi aji kekebalannya menolak tusukan itu dan terdengar suara nyaring berdenting di depannya, di atas piring terisi air jernih itu.

Sampai beberapa kali peristiwa itu berulang, namun semua tusukan tidak ada yang mempan ketika mengenai kulit tubuh Sutejo yang sudah dilindungi aji kekebalan Kawoco (Baju Besi) itu.

Kemudian sunyi kembali dan terdengar Bhagawan Sidik Paningal terbatuk tiga kali.

Sutejo membuka matanya dan yang pertama kali dilihatnya adalah piring terisi air jernih itu.

Dan di dalam air itu, tampak jelas adanya beberapa batang jarum dan paku berserakan di dalam piring!

Bhagawan Sidik Paningal membuat gerakan dan ternyata kakek itu melemparkan dua batang cundrik (keris kecil) dari atas pembaringan.

Dua batang cundrik itu jatuh ke atas lantai dekat piring dan Sutejo melihat betapa ujung kedua batang cundrik itu berwarna biru kehitaman, tanda bahwa dua batang senjata kecil itu mengandung racun yang amat berbahaya.

"Sadhu-sadhu-sadhu-sadhu...! Keji sekali orang yang menyerang kita dengan ilmu hitamnya."

Suetjo terbelalak.

"Kita diserang orang, Bapa? Jadi beginikah orang menyerang dengan gelap dengan ilmu santet?"

Sutejo pernah diceritakan gurunya tentang ilmu hitam dan ilmu santet akan tetapi baru sekarang ini dia menyaksikan sendiri karena diapun menjadi sasaran serangan santet!

Bhagawan Sidik Paningal menggangguk-angguk.

"Bawalah semua itu ke belakang dan tanam dua batang cundrik dan semua paku dan jarum itu ke dalam tanah."

Tanpa bicara Sutejo melaksanakan perintah gurunya lalu dia duduk kembali di hadapan gurunya.

"Akan tetapi, Bapa. Bukankah Bapa dulu pernah mengatakan bahwa serangan ilmu hitam seperti itu dapat ditangkis dan semua serangannya dapat dikembalikan kepada penyerangnya? Kenapa Bapa malah memerintahkan saya untuk mengubur semua senjata rahasia itu?"

"Kulup, membalas kejahatan dengan kejahatan pula adalah perbuatan sesat. Mereka menyerang dengan santet kepada kita, hal itu jelas merupakan kecurangan dan kejahatan. Kalau sekarang kita menyerang mereka dengan cara yang sama, bukankah itu berarti keadaan kita tidak sama dengan mereka? Tidak, muridku. Dan ingatlah bahwa selama hidupmu engkau tidak boleh melakukan penyerangan dengan ilmu santet yang jahat dan curang itu."

"Lalu, kalau demikian, apakah kita harus mendiamkan saja perbuatan jahat orang terhadap kita?"

"Jangan khawatir akan hal itu. Yang menjerat seseorang, yang membalas seseorang adalah hasil dari perbuatannya sendiri. Aku percaya bahwa besok pagi penyerangnya sendiri akan datang ke sini. Sekarang beristirahatlah engkau, Sutejo karena besok akan terjadi hal-hal menegangkan yang mungkin akan menguras tenaga kita. Jangan khawatir, biasanya serangan ilmu hitam yang tidak mengenai sasaran tidak akan diulangi dalam semalam. Tidurlah."

"Sendhika, Bapa."

Suetjo lalu memasuki kamarnya sendiri.

Pondok kayu sederhana itu memang hanya memiliki dua buah kamar yang bersebelahan.

Biarpun baru saja menghadapi peristiwa yang menegangkan, namun begitu Sutejo mengambil keputusan untuk menaati gurunya dan tidur, maka segera dia tertidur lelap.

Matahari pagi muncul dengan megahnya.

Sinarnya sejak subuh sudah mulai mengusir kegelapan malam.

Embun pagi bergantungan di ujung-ujung daun bambu.

Kabut mulai berterbangan, seolah takut menghadapi sinar matahari yang semakin terang.

Burung-burung berkicau dari dahan ke dahan, tampak sibuk dan cerewet dalam persiapan mereka untuk mencari makan hari itu.

Tidak lama lagi celoteh mereka akan terhenti dan mereka akan berterbangan ke segenap penjuru untuk mencari makan.

Sinar matahari mulai menyusuri tebing-tebing dan jurang-jurang di pegunungan kawi, menjenguk semua celah dan menghidupkan segala yang tampak di permukaan bumi.

Sutejo telah bangun sejak ayam jantan berkokok tadi.

Dia sudah sibuk bekerja, mengambil air dari sumber dan memenuhi semua gentong dan tempayan tempat air, lalu memasak air untuk membuatkan minuman bagi gurunya.

Ketela dan pohung yang diambilnya kemarin masih bersisa banyak dan dia tahu bahwa gurunya suka sekali makan ketela dan pohung yang dibakar, maka diapun membakar beberapa butir pala-kependam itu.

Gurunya hanya minum air teh yang encer, tanpa gula.

Sambil bekerja, Sutejo selalu waspada.

Dia tidak lupa akan kat-kata gurunya bahwa para penyerang gelap dengan ilmu hitam semalam, hari ini tentu akan muncul.

Setelah selesai semua pekerjaannya, dia cepat mandi dengan air dingin sehingga tubuhnya terasa segar dan penuh semangat.

Gurunya juga terbangun dan segera pergi ke tempat pemandian di mana telah tersedia air setempayan besar penih.

Setelah Bhagawan Sidik Paningal duduk di pendopo rumah itu seperti biasa setiap pagi, Sutejo lalu menghidangkan ketela dan pohung bakar dengan air teh.

Bhagawan Sidik Paningal menggangguk-angguk tanda senangnya hati lalu mulai sarapan sederhana itu.

Dia menawarkan kepada Sutejo dan pemuda ini pun menemani gurunya sarapan pagi.

Sinar matahari telah mulai menyentuh pelataran rumah itu ketika mereka melihat datangnya tiga orang itu.

Sutejo memandang dengan penuh perhatian.

Dia tidak mengenal tiga orang itu.

Yang seorang adalah seorang pendet yang bertubuh tinggi besar bermuka hitam, akan tetapi sepasang matanya mencorong seperti mata harimau.

Pendeta ini berusia kurang lebih enam puluh tahun dan tangan kanannya memegang sebatang tongkat hitam.

Orang kedua juga seorang laki-laki tinggi besar yang kumisnya melintang sekepal sebelah, tampak gagah dan juga seram.

Dipundaknya tergantung sebatang golok yang sarungnya terukir indah.

Adapun orang ketiga bertubuh kecil pendek, berusia kurang dari orang kedua, paling banyak lima puluh tahun dan dia tampak gesit dan cekatan.

Dipinggangnya terselip sebatang keris dan tiga batang pisau belati telanjang.

"Kakakng Sidik Paningal!"

Pendeta itu berseru memanggil dengan suaranya bukan mengandung salam, melainkan mengandung teguran.

"Ah, andhika yang datang. Adi Jaladara dan tidak tahu siapakan andika, dua orang yang datang bersama adi Jaladara?"

Tanya Bhagawan Sidik Paningal dengan suara lembut dan wajah mengandung keramahan.

"Aku bernama Ki Warok Petak!"

Kata orang tinggi besar yang berkumis tebal.

"Dan aku adalah Ki Baka Kroda!"

Kata orang yang bertubuh kecil pendek.

Sikap kedua orang ini ketika memperkenalkan diri begitu angkuh seolah memperkenalkan nama yang sudah amat terkenal.

Akan tetapi Sutejo belum pernah mendengar nama-nama itu, bahkan nama Bhagawan Jaladara juga belum pernah didengarnya.

"Selamat datang dan selamat pagi adi Jaladara dan kalian. Ki Warok Petak dan Ki Baka Kroda. Mari silakan duduk dan membagi sarapan pagi sekedarnya ini bersamaku."

Kata bhagawan Sidik Paningal dengan suara ramh dan tidak dibuat-buat.

Akan tetapi tiga orang itu tetap berdiri dengan kaki terpentang lebar dan sikap menantang.

Bhagawan Jaladara mengelus jenggotnya yang panjang dan alisnya berkerut, mulutnya cemberut sebelum dia menjawab dengan suara yang kaku.

"Kakang Sidik Paningal, andika tentu tahu bahwa kunjunganku ini bukan untuk sarapan pohung bersamamu dan bukan untuk mengobrol denganmu!"

Bhagawan Sidik Paningal masih sabar dan senyumnya tidak pernah meninggalkan wajahnya yang cerah dan berseri itu.

"Kalian bukan untuk itu, apakah andika berkunjung untuk membicarakan peristiwa semalam. Adi Jaladara?"

Wajah yang sudah hitam itu berubah semakin hitam dan matanya yang mencorong itu mengeluarkan sinar berapi ketika dia meluruskan lehernya dan menatap wajah Bhagawan Sidik Paningal dengan alis berkerut.

"Peristiwa semalam tidak perlu dibicarakan lagi. Andika telah dapat menangkis serangan kami, akan tetapi pagi hari ini, kalau andika tetap tidak mau mendengarkan saran kami, terpaksa kami akan bertindak keras dan tidak memberi ampun kepadamu."

"Hmm, Adi Jaladara. Coba ulangi apa saranmu itu. Aku sudah hampir lupa."

Kata Bhagawan Sidik Paningal dengan sabar.

"Lupa atau pura-pura lupa? Kami mendengar bahwa andika mulai tertarik dan mempelajari agam baru, berarti andika mengingkari guru kita dan melupakan agama sendiri. Kedua, andika telah menolak untuk diajak bekerja sama membantu Bupati Wirosobo."

"Ah, itukah yang kau maksudkan? Adi Jaladara, aku adalah seorang manusia yang bebas untuk mempelajari agama apapun juga dan aku melihat bahwa Agama Islam tidak menyimpang dari ajaran-ajaran lama. Bukan berarti aku melupakan agama sendiri. Siapapun tidak berhak untuk melarang aku mempelajari Agama Islam. Bahkan kalau andika mau, ada baik sekali kalau andika juga mempelajarinya sehingga andika akan dituntun kembali ke jalan benar, meninggalkan jalan dursila."

"Pengkhianat! Andika memburuk-burukkan agam sendiri dan memuji agama baru?"

"Bukan, karena yang jahat dan baik itu bukan agamanya, melainkan manusianya. Semua agama mengajarkan kebajikan, namun manusianya sendiri yang mengingkari semua pelajaran itu dan terperosok ke jalan sesat. Apakah kau kira Sang Hyang Widhi akan meridhoi jalan yang kau tempuh semalam, mengirim santet untuk menyerang orang secara rahasia dan pengecut? Sadarlah, Adi Jaladara bahwa jalan yang kau tempuh itu sesat dan keliru."

"Babo-babo, kakang Sidik Paningal. Kata-katamu semakin membakar hatiku. Sekarang katakanlah apakah andika tetap tidak mau bekerja sama untuk membantu Bupati Wirosobo. Bukankah kita berasal dari daerah Wirosobo? Andika tidak mau membantu bahkan memusuhi daerah sendiri?"

"Kalau Wirosobo mengadakan usaha untuk memperbaiki kehidupan rakyatnya dengan pembangunan, dengan senang hati aku akan membantu. Akan tetapi kalau diajak untuk memberontak terhadap Mataram, terima kasih, aku tidak suka bekerja sama!"

"Bagus, berarti andika menantang kami!"

"Adi Jaladara, aku adalah kakak seperguruanmu, bagaimana aku akan menantangmu. Aku tidak menantang siapapun juga, akan tetapi juga tidak akan undur selangkahpun kalau ditantang orang."

"Baik, kalau begitu mari kita putuskan urusan ini dengan mengadu kesaktian!"

Kata Bhagawan Jaladara sambil membantingkan tongkat hitamnya ke atas tanah.

Tampak debu mengepul dan"..

tongkat hitam itu telah berubah menjadi seekor ular hitam yang besar dan ular itu menghampiri Bhagawan Sidik Paningal dengan sikap mengancam, mendesis-desis dan menjulurkan lidahnya yang merah.

Dengan tenang Bhagawan Sidik Paningal melepaskan kain pengikat rambutnya dan melemparkan kain itu ke arah ular yang siap menyerangnya sambil berseru dengan suara lembut namun amat berwibawa.

"Kembalilah ke asalmu!"

Kain pengikat rambut mengenai ular dan kembalilah ujud ular itu menjadi tongkat hitam dan sekali Bhagawan Sidik Paningal menjulurkan tangan kanan, kain pengikat rambut berwarna kuning itu terbang ke arah tangannya!

Bhagawan Jaladara tidak mau kalah.

Dia pun menjulurkan tangan kanannya dan tongkat itu terbang ke tangannya.

"Kakang Bhagawan Jaladara, biarkan aku yang lebih dulu maju menghajar orang tua yang keras kepala ini!"

Tiba-tiba Ki Baka Kroda yang bertubuh kecil pendek dan yang gerak geriknya gesit itu meloncat ke depan dan melolos kerisnya yang tidak berlekuk akan tetapi cukup panjang itu.

"Hayo, Bhagawan Sidik Paningal, kita mengadu kedigdayaan!"

Bhagawan Sidik Paningal memandang Ki Baka Kroda itu seperti seorang guru memandang muridnya yang sombong. Pada saat itu, Sutejo sudah melangkah ke depan.

"Maaf, Bapa Guru. Mereka datang bertiga menantang Bapa, sungguh tidak adil. Karena itu perkenankan saya mewakili Bapa menghadapi lawan yang sombong ini!"

Bhagawan Sidik Paningal mengangguk-anggukkan kepalanya.

"Boleh, untuk latihan bagimu, Sutejo. Akan tetapi hati-hati, jangan sampai engkau melukai parah apa lagi membunuhnya."

"Sendhika, Bapa. Saya mengerti bahwa ilmu yang saya pelajari bukan untuk menyiksa atau membunuh orang."

Kata Sutejo dan dia sudah melangkah maju menghadapi Ki Baka Kroda sambil mengikatkan sarungnya di pinggang.

Pemuda ini tidak memegang senjata apapun, akan tetapi melihat lawannya memegang keris, diapun melepaskan pengikat kepalanya yang berwarna biru dan membiarkan rambutnya terlepas dan berjuntai disekeliling pundaknya.

"Ki Baka Kroda, kalau andika memang ingin mengadu kesaktian, akulah lawanmu mewakili Bapa Guru. Nah, mulailah!"

Kata Sutejo sambil berdiri dengan kedua kaki terpentang lebar dan kain pengikat kepala yang panjangnya sama dengan lengannya itu terpegang di tangan kanannya.

Dia memegang sudut kain itu dan begitu diputar, kain itu menjadi segulungan kain yang keras.

"Bocah sombong, engkau sudah bosan hidup! Makanlah senjataku!"

Tiba-tiba Ki Baka Kroda berseru keras dan dia sudah menyerang dengan kerisnya, menubruk dan keris itu meluncur ke arah dada Sutejo yang bidang.

Namun biarpun gerakan Ki Baka Kroda ini sangat cepat, gerakan Sutejo lebih cepat lagi.

Pemuda itu mengelak ke kiri dan dari situ dia menggerakkan tangan kanannya.

Gulungan kain pengikat kepala itu berubah menjadi sinar biru yang mencuat dan memukul ke arah hidung Ki Baka Kroda.

Orang ini terkejut sekali karena sambaran kain itu mendatangkan angin yang kuat!

Dia melompat ke belakang dan tiba-tiba tangan kirinya bergerak cepat tiga kali dan tiga batang cundrik melayang dan menyambar ke arah leher, dada dan perut Sutejo!

Pemuda itu agak terkejut juga, karena serangan itu mendadak dan tidak terduga-duga datangnya!

"Curang!"

Serunya dan tubuhnya sudah melesat ke samping sehingga tiga batang cundrik itu lewat dan tidak mengenai tubuhnya.

Sutejo kini balas menyerang dengan kain pengikat kepalanya.

Biarpun kain itu lemas, namun di tangannya dapat berubah menjadi kaku dan gulugan kain itu berubah seperti sebatang tongkat, atau tombak.

Dari gurunya dia memang mendapat gemblengan menggunakan kain pengikat kepala ini menjadi sebuah senjata yang ampuh dan ilmu silat yang dimainkannya dengan kain itu disebut Sihung Nila (Taring Biru).

Begitu Sutejo menggerakan senjatanya itu dan memainkan Sihung Nila, Ki Baka Kroda segera terdesak hebat.

Kain itu berubah menjadi gulungan sinar biru yang mengepungnya dari segenap penjuru sehingga dia hanya menggunakan kerisnya untuk menangkis saja, sambil mengelak ke sana ke mari.

Setelah lewat lima puluh jurus, Sutejo sudah merasa cukup.

Melihat keris lawannya menyambar ke arah dadanya, dia cepat mengerahkan aji kekebalan Kawoco.

"Tukk!"

Keris itu mengenai dadanya akan tetapi tidak dapat menembus kulit dadanya.

Ki Baka Kroda terkejut bukan main dan pada saat itu, sinar biru menyambar dan mengenai lehernya.

Ki Baka Kroda terbanting dan terpelanting roboh!

Dengan kepala agak pening, Ki Baka Kroda bangkit berdiri, akan tetapi dia maklum bahwa dia telah kalah.

Kalau nekat maju lagi, tentu akan mengalami kekalahan kedua dan tidak mau dia menjadi bahan tertawaan.

Sambil bersungut-sungut dia lalu mundur ke sebelah Sang Bhagawan Jaladara seperti minta bantuannya.

"Babo-babo, muridmu telah dapat mengalahkan seorang rekanku, kakang Sidik Paningal. Sekarang mari kita yang tua sama tua maju untuk menentukan siapa yang kalah dan siapa yang menang."

Kata Bhagawan Jaladara sambil memalangkan tongkat hitamnya di depan dada. Bhagawan Sidik Paningal bangkit dari tempat duduknya dan berdiri di depan adik seperguruannya.

"Adi Jaladara, sejak kecil kita sudah sama-sama digembleng oleh Bapa Guru Resi Limut Manik di puncak Semeru, apakah setelah tua begini kita sama-sama mempergunakan semua ilmu itu untuk saling serang, hanya karena kesalah fahaman sekecil ini? Kalau andika hendak membantu Bupati Wirosobo, silakan dan jangan bawa-bawa aku. Dan tentang agama baru yang kupelajari, engkau tidak perlu memusingkan hal itu karena sama sekali tidak ada sangkut pautnya dengan dirimu. Adi Jaladara, apakah kita tidak dapat menyudahi saja pertikaian ini, dan menghindarkan diri dari buah tertawaan orang sedunia bahwa ada kakek dan adik seperguruan saling hantam di sini? Apakah hal ini tidak akan menurunkan derajat dan wibawa Bapa Guru Resi Limut Manik?"

"Kakang Sidik Paningal! Kalau engaku berkecil hati dan takut menghadapi aku, lebih baik engkau memenuhi saranku dan mari kita sama-sama membantu Kabupaten Wirosobo sehingga suka duka akan kita alami bersama."

"Adi Jaladara, seorang pertapa seperti aku ini sudah tidak mempunyai nafsu sama sekali untuk mencapai kemahsuran, kemuliaan dan kedudukan. Engkau berangkatlah dan lakukan sendiri dan aku akan tinggal bertapa di sini memisahkan diri dari keramaian dunia."

"Andika berkukuh, kakang Sidik Paningal?"

"Engkau yang berkukuh. Adi Jaladara karena andika yang hendak memaksakan kehendak."

"Babo-babo, kalau begitu tidak ada jalan lain kecuali memutuskannya dengan mengadu kesaktian!"

"Terserah kalau andika menghendaki demikian."

"Kakang Sidik Paningal, agaknya saat ini sudah merupakan waktunya bagimu untuk meninggalkan dunia ini! Awas serangan tongkatku!"

Setelah berkata demikian, Bhagawan Jaladara mengirim serangan hebat.

Serangan itu datangnya dahsyat bukan main, mendatangkan angin menderu tanda bahwa tongkat di gerakan oleh tenaga yang amat dahsyat.

Sutejo sendiri sampai terkejut melihat hebatnya serangan dari Paman gurunya yang baru pertama kali dijumpainya.

Bhagawan Sidik Paningal cepat mengelak dan seperti juga Sutejo, pendeta ini mengandalkan ikat kepalanya sebagai senjata untuk membela diri.

Dia melepaskan kain pengikat kepala dan membiarkan rambutnya yang sudah hampir putih itu terjurai.

Terjadilah pertandingan yang amat hebat antara kakek bersama adik seperguruan itu.

Demikian hebatnya perkelahian itu sehingga debu mengebul tinggi dan daun-daun pohon yang terletak di sekitar tempat perkelahian itu bergoyang-goyang dan banyak daun kuning rontok seperti dilanda angin besar.

Sutejo dapat merasakan pula sambaran angin pukulan yang dahsyat dari kedua orang sakti itu.

Setelah mereka bertanding selama hampir satu jam, dari kepala kedua orang kakek itu mengepul uap putih dan keduany sudah mandi keringat.

Agaknya ilmu kepandaian mereka memang setingkat.

Akan tetapi, perlahan namun pasti, Bhagawan Jaladara mulai terdesar.

Kain pengikat kepala berwarna kuning itu telah berubah menjadi sinar bergulung-gulung yang kuning warnanya dan agaknya sinar ini menembus semua pertahanan Bhagawan Jaladara sehingga dia kehilangn dan keseimbangan dan terus terdesak mundur.

Pada suatu saat, ketika tongkat hitm menyambar ke arah kepala Bhagawan Sidik Paningal, kain kuning itu meluncur dan menangkis lalu melibat tongkat sehingga tidak mampu dilepaskan lagi.

Melihat ini Bhagawan Jaladara lalu mengeluarkan suara bentakan nyaring dan dia memukul dengan tangan kirinya ke arah kepala kakak seperguruannya.

Akan tetapi Bhagawan Sidik Paningal sudah waspada, diapun mengangkat lengan kirinya ke atas sambil mengerahkan tenaga.

"Wuuuuutttt".. desss"..!"

Dua lengan kini bertemu dan akibatnya, tubuh Bhagawan Jaladara terhuyung ke belakang kemudian roboh terjengkang.

Dari mulutnya mengalir darah.

Adapun tubuh Bhagawan Sidik Paningal hanya terguncang dan mukanya berubah pucat.

Dengan bantuan tongkatnya Bhagawan Jaladara bangkit berdiri dan pada saat itu, Ki Warok Petak yang tinggi besar berkumis tebal itu sudah menerjang dan membacokan goloknya dari samping ke arah kepala Bhagawan Sidik Paningal.

"Sadhu-Sadhu-Sadhu!"

Sang Bhagawan berseru dan sekali dia mengangkat lengan kirinya dia sudah berhasil menangkap golok itu dan sekali rengut golok itu berpindah tangan lalu dipatahkan oleh jari-jari tangan sang Bhagawan yang sakti.

Ki Warok Petak memandang dengan mata terbelalak dan tidak berani bergerak lagi.

Bhagawan Jaladara membuang tongkat hitamnya dan dia melolos sesuatu dari pinggangnya, lalu menghampiri Bhagawan Sidik Paningal sambil membentak dengan suara yang masih nyaring.

"Sidik Paningal, lihat pusaka ini. Beranikah andika menentangnya?"

Bhagawan Sidik Paningal menengadah untuk melihat benda itu.

Seketika mukanya menjadi pucat dan cepat dia berlutut dan menyembah ke arah pecut itu.

Sebatang pecut yang panjang, gagangnya terbuat dari gading gajah dan pecut itu terbuat dari benang semacam lawe yang panjangnya ada dua meter.

"Saya tidak berani"".."

Kata Sang Bhagawan Sidik Paningal ketika melihat pecut itu.

Dia segera mengenal cambuk itu yang bukan lain adalah Pecut Sakti Bajrakirana, pusaka milik gurunya.

Gurunya pernah memesan kepada para muridnya bahwa siapa yang kelak memiliki pecut itu, dialah orangnya yang menggantikan kedudukan gurunya dan harus ditaati oleh para murid lain!

Dan sekarang, pecut itu berada di tangan Bhagawan Jaladara.

Sebagai seorang murid yang amat hormat dan patuh kepada gurunya, yaitu Sang Resi Limut Manik di puncak Semeru, Bhagawan Sidik Paningal segera memberi hormat dan menyembah ketika melihat pecut wasiat itu.

"Hemm, engaku murid yang tidak patuh! Pecut pusaka sudah berada di tanganku dan engkau masih belum juga mau menuruti perintahku? Sidik Paningal, mulai sekarang aku perintahkan kepadamu untuk meninggalkan agama baru dan untuk membantu Bupati Wirosobo. Bagaimana, apakah engkau masih berani membangkang!"

"Saya tidak berani membangkang, akan tetapi dahulu Bapa Guru sudah memberi peringatan agar kita jangan sampai terlibat dalam perang saudara. Karena itu aku tetap tidak dapat membantu Bupati Wirosobo kalau dia ingin memberontak terhadap Mataram!"

"Kurang ajar!"

Bhagawan Jaladara lalu menggerakan kakinya menendang.

"Desss"""!"

Tubuh Bhagawan Sidik Paningal tertendang seperti bola, terlempar dan jatuh bergulingan karena dia sama sekali tidak berani melawan, juga tidak berani mengerahkan aji kekebalannya.

Bibirnya pecah dan berdarah, akan tetapi dia bangkit duduk dan berlutut lagi menghadap Bhagawan Jaladara yang masih memegang pecut di atas kepalanya.

"Andika masih tidak mau menurut?"

Bentaknya.

"Sampai mati saya tidak akan dapat membantu kabupaten yang hendak memberontak terhadap Mataram. Bapa Guru sudah berpesan agar kita semua membantu Mataram, bukan melawannya."

"Tar-tar-tarrrr"".!"

Cambuk itu meledak-ledak di udara lalu meluncur turun ke arah tubuh Bhagawan Sidik Paningal.

Pakaian pendeta itu tercabik-cabik dan kulit tubuhnya robek berdarah.

Namun Bhagawan Jaladara tidak peduli dan masih mencambuki terus.

"Tar-tar-tar-tar-tarrrr".!"

Tubuh Bhagawan Sidik Paningal bergulingan dan seluruh tubuhnya mandi darah.

Melihat ini, Sutejo tidak dapat tinggal diam lagi.

Dia melompat dan berusaha merampas pecut itu dari tangan Bhagawan Jaladara, akan tetapi sebuah tendangan dari paman gurunya itu membuatnya terjungkal.

Dan sebelum dia mampu bangkit, Ki Warok Petuk dan Ki Baka Kroda sudah mengeroyoknya dan memukulinya.

Dia dijadikan bola oleh kedua orang itu, jatuh bangun dan bengkak-bengakak.

"Cukup!"

Kata Bhagawan Jaladara kepada dua orang pembantunya.

Mereka melepaskan Sutejo yang terkulai roboh ke atas tanah, setengah pingsan.

Akan tetapi pemuda ini menggoyang kepalanya mengusir kepeningan dan dia memandang kepada gurunya yang kini bagaikan seonggok daging yang berdarah.

"Bapa Guru".!"

Dia merangkak mendekati, lalu merangkul gurunya yang seluruh tubuhnya sudah bermandikan darahnya sendiri.

"Sutejo".kita".tidak"..boleh"..me"lawan".."

Kata gurunya terputus-putus.

"Sidik Paningal, sekali lagi kuperingatkan. Kalau dalam waktu sebulan ini engkau belum datang ke Kabupaten Wirosobo, aku akan datang dan mewakili Bapa Guru untuk membunuhmu!"

Setelah berkata demikian, Bhagawan Jaladara meninggalkan tempat itu bersama dua orang rekannya.

"Bapa"..!"

Sutejo merangkul lalu memondong tubuh gurunya yang basah oleh darah itu, diangkatnya masuk ke dalam rumah pondok walaupun tubuhnya sendiri penuh luka dan semua bagian tubuh terasa nyeri.

Akan tetapi kakek pendeta itu tidak menjawab karena dia sudah jatuh pingsan di atas pembaringannya.

Biarpun tubuhnya sendiri penuh luka, namun Sutejo tidak memperdulikan dirinya dan dengan tekun dia merawat dan mengobati luka-luka cambukan yang diderita gurunya.

Dia juga sudah mempelajari ilmu pengobatan dari gurunya.

Dia mencari biji pinang, daun piciran, bawang merah, gula aren dan arang kayu.

Semua ini diaduk dan dipergunakan untuk mengobati luka-luka ditubuh gurunya.

Setelah seminggu luka-luka di seluruh tubuh gurunya itupun menjadi kering dan sembuh.

Tubuh Sutejo sendiri adalah tubuh yang kuat dan sehat, maka luka-luka yang dideritanya sendiri dengan mudah saja diobatinya dan dalam waktu yang tiga hari luka-luka itu pun sembuh.

Untung bahwa Bhagawan Jaladara tidak berniat untuk membunuh mereka sehingga mereka tidak menderita luka dalam, hanya luka di kulit saja.

Adapun Sutejo ketika dipukuli dua orang kawan Bhagawan Jaladara telah mengerahkan ilmu kekebalannya Kawoco sehingga diapun tidak menderita luka dalam.

Pada hari ke delapan, seperti biasa Bhagawan Sidik Paningal sudah bangun dari tidurnya dan bersama muridnya dia sarapan pagi.

Keadaan mereka biasa saja seolah tidak pernah terjadi sesuatu.

"Bapa, Bolehkah saya bertanya!"

"Tentu saja, Sutejo. Apakah yang hendak kau tanyakan itu!"

"Bapa tidak kalah ketika melawan Bhagawan Jaladara itu".."

"Hemm, dia itu paman gurumu, maka engkau juga sepatutnya menyebut dia Paman Guru."

"Baiklah, Bapa. Bapa tidak kalah melawan Paman Guru Jaladara, akan tetapi mengapa Bapa mandah saja dan sama sekali tidak melawan ketika dia mengeluarkan cambuk itu! Apa artinya itu, Bapa?"

Bhagawan Sidik Paningal menghela napas panjang.

"Cemeti itu disebut Pecut Sakti Bajrakirana dan pecut itu adalah pusaka milih Bapa Guru Resi Limut Manik di puncak Semeru. Guruku itu mempunyai tiga orang murid. Yang pertama bernama Bhagawan Sindusakti yang kini bertapa di pantai Laut Kidul di daerah Pacitan. Murid kedua adalah aku sendiri, dan Bhagawan Jaladara itu adalah murid ke tiga. Guruku pernah mengatakan kepada kami bertiga bahwa pecut sakti bajrakirana adalah senjata pusaka guruku semenjak beliau masih muda dan memesan pula bahwa kelak siapa yang memegang pecut itu dialah pengganti guru dan harus ditaati segala perintahnya. Nah, hari itu Bhagawan Jaladara mengeluarkan pecut itu! Tentu saja aku tidak berani menentangnya."

"Akan tetapu apakah Eyang Guru itu masih hidup, Bapa? "Setahuku masih, karena kalau beliau sudah meninggal dunia, tentu ada yang memberi kabar kepadaku."

"Akan tetapi kalau Eyang Guru masih hidup, mengapa pecut sakti itu diserahkan kepada Paman Guru Jaladara dan dia pergunakan untuk memaksa Bapa untuk membantu kabupaten Wirosubo?"

Kembali Bhagawan Sidik Paningal menghela napas panjang.

"Bapa Guru biasanya bertindak secara bijaksana sekali, maka aku sendiripun merasa heran mengapa Cambuk Sakti Bajrakirana dapat berada di tangan Jaladara. Karena itu, aku mewakilkan kepadamu untuk melaksanakan penyelidikan akan hal itu, Sutejo. Pergilah engkau ke puncak Semeru dan pergi menghadap eyang gurumu, ceritakan apa yang terjadi di sini. Kalau Adi Jaladara memiliki pecut itu secara tidak semestinya, engkau harus membantu eyang guru untuk merampasnya kembali."

"Akan tetapi Bapa Guru, bagaimana saya akan dapat merampasnya kembali dari tangannya? Paman Guru Jaladara demikian sakti, sedangkan saya".."

"Percayalah, dalam hal kesaktian, engkau tidak kalah olehnya. Hanya karena dia memiliki ilmu pukulan yang disebut Aji Gelap Musti, kiranya engaku tidak akan mampu menandinginya. Akan tetapi sebelum engkau pergi akan kulatih ilmu itu agar dapat menandinginya kalau engkau berkelahi melawannya."

"Dan Bagaimanakan dengan Kabupaten Wirosubo itu Bapa? Saya masih tidak mengerti mengapa Paman Guru hendak memaksa Bapa untuk membantu kabupaten itu. Benarkah bahwa kabupaten itu hendak memberontak terhadap Mataram?"

"Ketahuilah keadaan Mataram pada saat ini, Sutejo. Engkau tentu sudah mendengar pula betapa selama pemerintahan Mas Jolang atas yang kemudian disebut Sang Prabu Sedo Krapyak karena beliau wafat di Krapyak, di mana-mana terdapat pemberontakan. Terutama sekali di bagian timur yang didukung oleh Adipati di Surabaya dan disokong pula oleh Sunan Giri. Daerah-daerah seperti Ponorogo, Kertosono, Kediri, Wirosobo (Mojoagung) beramai-ramai bangkit dan memberontak. Biarpun sebagian dari mereka itu sudah ditundukkan kembali oleh Mas Jolang, namun setelah beliau wafat, daerah-daerah itu kembali bergolak. Kini yang menjadi pengganti Mas Jolang adalah puteranya, yaitu Pangeran Raden Mas Rongsang yang setelah dinobatkan menjadi raja Mataram lalu bergelar Panembahan Agung Senopati Ing Alogo Ngabdurrachman (1613-1645)."

"Saya sudah mendengar akan semua itu, Bapa."

"Beliau disebut pula Sang Prabu Pandan Cokrokusumo dan disebut pula sebagai Sultan Agung. Dalam usianya yang masih muda ketika dinobatkan, beliau sudah harus berhadapan dengan daerah-daerah yang bergolak dan memberontak dan di antara daerah-daerah itu, kabupaten Wirosobo juga memberontak. Nah, Paman Gurumu itu membela kabupaten Wirosobo dan memaksaku untuk membantu pula. Akan tetapi, aku teringat akan pesan Eyang Gurumu, bahwa kita harus membantu Mataram, tidak boleh melibatkan diri dalam pemberontakan. Nah, demikianlah keadaan kerajaan Mataram pada saat ini, Sutejo. Engkau harus berjanji pula kepadaku bahwa engkau akan membela Mataram dari para pemberontak. Setelah engkau berhasil merampas kembali pecut sakti Bajrakirana dan mengembalikanny kepada Eyang Gurumu, engaku harus mengabdikan dirimu kepada Mataram, Dengan demikian, tidak sia-sialah selama ini aku mengajarkan semua ilmu itu kepadamu."

"Sendhika dawuh, Bapa Guru. Saya akan menaati semua perintah Bapa."

"Bagus, Nah, sekarang marilah engakau kulatih dengan Ilmu Gelap Musti. Kalau engkau sudah menguasai ilmu itu, engkau tidak perlu takut lagi menghadapi Bhagawan Jaladara. Waktunya tidak banyak. Sebelum satu bulan lewat, engkau harus sudah dapat merampas pecut wasiat itu. Kalau Adi Jaladara sudah tidak mempunyai pecut sakti bajrakirana, dia tidak akan dapat berbuat sesuatu terhadap diriku."

Demikianlah, mulai hari itu sampai dua pekan lamanya, Sutejo melatih diri dengan Aji Gelap Musti.

Karena dia memang amat berbakat dan dia sudah memiliki dasar yang kokoh dan kuat, maka dalam waktu dua pekan saja dia sudah dapat menguasai ilmu itu dengan sempurna.

Setelah itu, berangkatlah dia menuju ke puncak Gunung Semeru untuk pergi menghadap Eyang Gurunya, yaitu Sang Resi Limut Manik yang bertapa di puncak gunung besar itu, sesuai dengan petunjuk gurunya.

Sultan Agung yang tadinya bernama Pangeran Raden Mas Rangsang dan yang kemudian diangkat menjadi raja menggantikan pamannya yang telah wafat, bergelar Panembahan Agung Senopati Ing Alogo Ngabdurrachman (1613-1645) masih cukup muda ketika dinobatkan menjadi raja di Mataram.

Usianya baru tiga puluh tahun dan dia telah mempunyai beberapa orang putera dan puteri yang berusia sekitar tujuh sampai sepuluh tahun.

Begitu dinobatkan menjadi raja, Sultan Agung sudah harus menghadapi pemberontakan yang dilakukan beberapa daerah, terutama di daerah timur.

Namun dia seorang pemimpin negara yang cakap.

Disusunnya pasukan besar untuk melindungi Mataram dan diangkatnya orang-orang yang gagah perkasa menjadi senopati.

Pemimpin negara yang bijaksana adalah orang-orang yang memiliki kelebihan, pandai mengumpulkan orang-orang sakti dan memberi mereka kedudukan penting.

Sultan Agung juga memperhatikan kepentingan rakyat jelata sehingga rakyat tunduk dan patuh kepada rajanya yang bijaksana.

Daerah Mataram di sepanjang Bengawan Solo merupakan daerah yang subur makmur, di mana pertanian berjalan dengan baiknya, tanahnya loh jinawi sehingga kehidupan rakyat pada umumnya makmur.

Juga pemerintahan dilaksanakan dengan adil sehingga keadaan aman tenteram tidak ada penjahat yang berani muncul terang-terangan karena mereka tentu akan ditumpas oleh pasukan keamanan yang selalu menjaga ketentraman kehidupan rakyat jelata.

Apa bila membutuhkan tenaga bantuan rakyat, dalam beberapa hari saja Sultan Agung tentu akan mampu mengumpulkan ratusan ribu rakyat yang berbondong datang untuk mengabdi kepadanya.

Sultan Agung sendiri adalah seorang pria yang berwajah bundar dan tampan sekali.

Gerak geriknya halus lembut, tegur sapanya ramah, dan sepasang matanya mencorong penuh wibawa walaupun sinarnya lembut.

Pakaiannya sederhana, tidak mencolok dan tidak jauh bedanya dengan pakaian para punggawa dan senopati.

Kehidupan sehari-hariny juga tidak mewah meriah, melainkan sederhana saja.

Keadaan inilah yang membuat rakyat semakin mencintai junjungan ini.

Karena Sultan Agung ingin sekali untuk selalu berdekatan dengan para punggawanya, maka sepekan dua kali, yakni hari Senin dan Kamis, tentu diadakan "sebo" (persidangan menghadap raja).

Dalam kesempatan itu, Sang Prabu duduk di atas bangku dari kayu cendana yang terletak di atas setinggil (Batu Balai) yang luasnya tiga meter persegi.

Di sekelilingnya menghadap ratusan punggawanya, duduk di lantai tiga jajar.

Sultan Agung akan menanyakan keadaan pemerintahannya, keadaan kehidupan penduduk dan terutama sekali dari para senopati dia ingin mendengar akan laporan mengenai ketentraman.

Juga Sultan Agung memerintahkan kepada para senopatinya agar memperhatikan kesiap siagaan pasukannya, mengadakan latihan perang-perangan sepekan sekali sehingga pasukannya selalu berada dalam keadaan sigap dan terampil, dan siap kalau sewaktu-waktu dibutuhkan untuk berperang.

Para Adipati dan bupati yang masih tunduk, diharuskan setiap setahun sekali untuk menghadap Sang Prabu untuk berwawancara, untuk menyuburkan hubungan-hubungan yang sudah baik dan menghilangkan kesalah pahaman di antara mereka.

Dalam hal kesusatraan, Sang Prabu juga menaruh perhatian besar.

Bukan hanya kesusatraan, melainkan juga tentang filsafat dan kesenian.

Bahkan beliau telah menulis kitab filsafat "Satrio Gending".

Pada masa itu, orang-orang Belanda sudah mulai menancapkan kuku-kuku penjajahannya, mula-mula di Batavia.

Hal ini amat menganggu perasaan Sultan Agung dan ada satu cita-cita dalam batinnya, yaitu mempersatukan semua kekuatan daerah-daerah untuk kelak mengusir bangsa Belanda.

Akan tetapi sebelum itu, dia harus lebih dulu menundukkan daerah-daerah yang bergolak dan yang memberontak terhadap kedaulatan Mataram.

Pada suatu hari Sultan Agung mengadakan persidangan "sebo"

Dan dihadiri oleh para punggawa lengkap. Dia ingin sekali tahu tentang gerakan di daerah-daerah, maka tanyanya kepada seorang senopati tua yang dipercayanya, yaitu Senopati Ki Mertoloyo.

"Kakang Senopati Mertoloyo, bagaimana keadaan di daerah-daerah sekarang?"

Senopati Ki Mertoloyo menyembah dan mengerutkan alisnya.

"Beritanya tidak begitu menyenangkan Gusti. Terjadi pergolakan di Lasem, Pasuruan, Tuban, Gresik, bahkan di kabupaten Wirosobo yang tidak berapa kuat itu kini telah membentuk dan mengembangkan pasukan. Pada Adipati dan bupati di daerah-daerah timur itu tidak mau sowan (menghadap) paduka dan meremehkan Mataram."

"Hemm, sampai demikian jauh sikap mereka, kakang mertoloyo? Dan menurut pendapatmu, bagaimana baiknya untuk menghadapi mereka?"

"Menurut Hamba, sebaiknya kita menyerang mereka lebih dulu sebelum mereka bergerak, Gusti."

Sang Prabu mendengarkan pendapat para senopati yang lain dan kebanyakan dari mereka juga mengusulkan agar menggempur daerah-daerah yang membangkang.

Setelah mendengarkan pendapat mereka semua, Sang Prabu lalu berkata dengan lantang dan tegas.

"Usul dan pendapat andika sekalian memang benar, akan tetapi kita tidak dapat menyetujui kalau kita harus menggempur lebih dulu. Apa akan kata daerah-daerah lain yang masih setia kepada kita kalau kita menggempur daerah-daerah itu tanpa alasan yang kuat? Biarkanlah mereka itu lebih dulu memperlihatkan pemberontakan mereka, baru kita gempur memberi pelajaran kepada mereka. Kalau mereka memberontak dengan bersatu, akan lebih mudahlah bagi kita untuk sekali pukul menghancurkan beberapa daerah, daripada harus menundukan daerah satu demi satu. Sebaiknya diambil jalan musyawarah lebih dulu dengan mereka itu, bujuk mereka agar jangan melakukan tindakan yang sia-sia itu. Kalau mereka menolak dan memperlihatkan gerakan pemberontakan, kitapun harus membalasnya dengan kekuatan."

Semua senopati menunduk dan taat terhadap pernyataan yang bijaksana ini.

"Hamba mendengar bahwa daerah-daerah yang bergolak didukung oleh Adipati Surobaya dan bahkan didukung oleh Sunan Giri. Apa yang harus hamba lakukan terhadap dua daerah besar itu?"

"Sama saja, tunggu sikap mereka lebih jauh dan kirimlah orang-orang yang berhubungan dekat dengan mereka untuk membujuk agar mereka itu menghentikan sikap bermusuh mereka. Kalau mereka membangkang kelak kami sendiri yang akan memimpin pasukan untuk menghukum mereka."

"Mohon beribu ampun, Gusti."

Kata Senopati Mertoloyo.

"Menurut pendapat hamba, lebih baik membunuh ular sebelum dia menggigit kita dari pada membiarkan mereka makin besar dan berbahaya bagi keselamatan kita sendiri."

"Kakang Mertoloyo, ingatlah bahwa bagaimanapun juga mereka itu adalah bangsa-bangsa Jawa, bangsa kita juga. Sebelum mengambil jalan terakhir, yaitu memerangi mereka, alangkah baiknya kalau mereka itu dapat diajak bermusyawarah dan dengan jalan damai menyelesaikan semua masalah. Musuh kita yang utama adalah Belanda yang kini semakin berkuasa saja di Barat, bukan bangsa Jawa, bangsa kita sendiri."

Senopati Mertoloyo menyembaj dan tidak membantah lagi.

"Sendika dawuh, Gusti."

"Mulai sekarang, undang semua pemuda dan para pendekar agar membantu kita, beri mereka kedudukan sesuai dengan bakat dan kepandaian mereka. Pesilakan para sesepuh dan pendeta yang arif bijaksana untuk bekerja sama dengan kita untuk memakmurkan kehidupan rakyat jelata. Undang pekerja-pekerja yang pandai, seniman-seniman, sastrawan untuk membangun Mataram. Jangan lupa perkuat penjagaan keamanan, tangkapi dan hukum semua malin dan perampok. Urus perkara pertikaian seadil-adilnya, tidak pilih kasih atau melihat keduudkan dan kekayaan masing-masing, menangkan yang benar dan kalahkan yang salah."

"Sendhika dawuh, Gusti."

Persidangan itu ditutup lalu bubaran dan dalam hati masing-masing punggawa tertanam kesan yang mendalam akan segala perintah yang dikeluarkan Sultan Agung.

Pendeta itu sudah tua.

Sedikitnya tentu sudah tujuh puluh tahun usianya.

Rambutnya yang panjang terurai sampai ke punggung sudah putih semua.

Bahkan alis, kumis dan jenggotnya yang sudah putih semua seperti terbuat dari benang-benang perak.

Yang amat mencolok adalah sinar matanya yang demikian lembut namun menghanyutkan.

Kalau mata kita bertemu dengan pandang mata itu, perasaan seperti luluh dan segala kekerasan dan segala kekerasan dalam hati melunak, memancing datangnya senyum ramah.

Agaknya tidak ada di dunia ini yang dapat bersikap keras dan kasar terhadap orang yang memiliki sepasang mata seperti itu.

Dia adalah Sang Resi Limut Manik, pertapa yang sudah puluhan tahun tinggal di puncak Semeru.

Tubuhnya kurus tinggi, terbungkus kain putih yang agaknya selalu bersih.

Dia duduk di depan sebuah pondok kayu yang kokoh, duduk di atas batu besar dan dari jauh dia tampak seperti sebuah arca saja yang membuat suasana di sekeliling tempat itu menjadi keramat.

Pagi itu udara cerah sekali.

Sinar matahari telah menerobos celah-celah daun pohon.

Seorang cantrik berusia empat belas tahun sedang menyapu pelataran setelah lebih dahulu menyirami tanah pelataran agar tidak menimbulkan debu.

Daun-daun kering disapu, dikumpulkan menjadi setumpuk lalu dibakar.

Seorang cantrik lain sedang bekerja di belakang mencucu pakaian.

Pendeta itu tidak merasa terganggu oleh pekerjaan cantrik dipekarangan itu.

Dia tetap duduk bersila di atas batu seperti sedang termenung dan sesekali dia menghela napas panjang.

Bukan tarikan napas karena duka, melainkan tarikan napas untuk menyedot hawa murni sebanyaknya sehingga seluruh dada dan perut terisi hawa murni yang dapat menentramkan gejolak hati yang merasakan apa yang belum tampak oleh kedua matanya.

"Penggik."

Akhirnya dia membuka matanya yang bersinar lembut itu dan memandang kepada cantrik yang sedang membakar daun-daun kering.

"Pergilah ke belakang dan beritahu Pungguk agar mempersiapkan minuman dan jagung bakar untuk seorang tamu."

"Sendhiko, Bapa Resi."

Kata cantrik bernama Penggik itu.

Dia tidak merasa heran mendengar bahwa pendeta itu sudah mengetahui bahwa akan ada tamu yang datang.

Baginya, biasa saja melihat sang pendeta melakukan hal-hal yang tidak masuk akal, seperti dia tidak tahu bahwa pendeta itu duduk di atas batu, tidak melihat datangnya dan tahu-tahu orang tua itu sudah duduk di situ.

Maka dengan taat diapun pergi ke belakang untuk memberitahu rekannya.

Hanya Penggik dan Pungguk, dua orang kakak beradik ini yang bekerja di situ membantu sang resi sebagai cantrik-cantrik.

Mereka ini tidak diberi ilmu kanuragan, melainkan diajar tentang kehidupan dan bagaimana untuk menjadi manusia yang baik dan benar.

Baru saja air yang dimasak mendidih untuk dijadikan minuman air teh, dan baru saja jagung-jagung muda itu selesai dibakar sampai kekuning-kuningan dan menyiarkan bau harum, tibalah "tamu"

Yang dimaksudkan oleh Sang Resi Limut Manik.

Wajah sang resi yang biarpun sudah tua masih memperlihatkan bekas ketampanan itu berseri dan mulutnya yang masih bergigi utuh itu tersenyum ketika dia melihat seorang pemuda tampan dan gagah datang menghampiri rumah dan memasuki pelataran.

"Kulonuwun".!"

Kata pemuda itu yang bukan lain adalah Sutejo.

"Hemm, orang muda, silakan maju mendekat."

Sutejo lalu melangkah maju menghampiri kakek itu. Sambil membungkuk sopan dia bertanya.

"Apakah saya berhadapan dengan Eyang Guru Resi Limut Manik?"

"Heh heh, benar akulah yang disebut Resi Limut Manik, orang muda."

Mendengar ini, tanpa ragu lagi Sutejo lalu maju dan menjatuhkan diri berlutut di bawah batu besar yang diduduki pendeta itu lalu menyembah dengan sikap hormat dan khidmat.

"Eyang Guru, saya Sutejo murid Bapa Guru Bhagawan Sidik Paningal datang menghadap dan memberi hormat kepada Eyang Guru."

Mulut itu tersenyum lebar, wajah itu berseri-seri dan matanya bersinar-sinar.

"Duh Jagat Dewa Bathara! Sungguh pandai Sidik Paningal memilih murid. Selamat datang di Semeru, Sutejo. Angin dari mana yang meniupmu sampai ke tempat ini? Berita apa yang kau bawa dari gurumu?"

"Bapa Guru berada dalam keadaan baik-baik saja dan beliau menitipkan sembah sujud untuk dipersembahkan kepada Eyang Guru. Dan Bapa Guru juga mendoakan semoga keadaaan Eyang Guru baik-baik dan sehat-sehat saja."

Pendeta itu mengangguk-angguk.

"Gurumu itu muridku yang baik sekali, dan kebaikanlah yang membuat dia hidup bahagia. Selain salam yang telah kuterima dengan senang hati, ada urusan apa lagi yang harus kau sampaikan kepadaku, Sutejo?"

"Eyang Guru, ada peristiwa terjadi beberapa hari yang lalu menimpa diri Bapa Guru. Pada hari itu, kami kedatangan paman guru Bhagawan Jaladara yang datang bersama dua orang kawannya yang bernama Ki Warok Petak dan Ki Bara Kroda. Setelah berhadapan dengan Bapa Guru, Paman Guru Jaladara lalu memaksa Bapa Guru untuk tidak mempelajari agama baru dan juga agar Bapa Guru membantu Kabupaten Wirosobo yang hendak memberontak terhadap Mataram. Akan tetapi Bapa Guru menolak, terutama sekali menolak untuk membantu kabupaten Wirosobo dalam pemberontakannya. Paman Guru Jaladara marah dan terjadi pertandingan adu kesaktian. Paman Guru Jaladara kalah lalu dia mengeluarkan Pecut Sakti Bajrakirana. Bapa Guru tidak berani melawan lalu beliau dihajar oleh cambukan cambukan pecut sakti itu sampai babak belur. Setelah menghajar (Lanjut ke

Jilid 02) Pecut Sakti Bajrakirana (Seri ke 01 -Serial Pecut Sakti Bajrakirana) Karya". Asmaraman S. Kho Ping Hoo

Jilid 02 saya juga mereka bertiga pergi dengan pesan akan kembali dalam waktu sebulan.

Kalau dalam waktu itu Bapa Guru belum juga mau membantu Kabupaten Wirosobo, Paman Guru Jaladara akan membunuhnya dengan pecut sakti bajrakirana.

Demikianlah Eyang Resi, Pesan Bapa Guru agar disampaikan kepada paduka."

Wajah itu tetap tersenyum dan dia mengangguk-angguk.

"Mengeruhkan batin saja kalau mengingat Jaladara. Ketahuilah, Sutejo. Beberapa pekan yang lalu Jaladara datang ke sini, bermalam dan pada keesokan harinya dia pergi pamit dan ternyata pecut sakti bajrakirana telah dicurinya dari kamarku."

"Ah! Tepat seperti yang diduga oleh Bapa Guru!"

Resi itu mengangguk-angguk.

"Tidak kusangka Jaladara akan menggunakan pecut itu untuk memaksakan kehendaknya atas gurumu. Gurumu sudah benar menolak permintaanya."

"Atas perintah Bapa Guru, saya disuruh merampas kembali pecut sakti itu dan mengembalikannya kepada Eyang Guru."

Resi Limut Manik mengangguk-angguk dan mengelus jenggotnya yang putih bersih.

"Dia telah mencurinya, maka sudah sewajarnya kalau engkau sebagai cucu muridku merampasnya kembali. Akan tetapi, apakah engaku akan sanggup menandingi Jaladara?"

"Bapa Guru telah mengajarkan Aji Gelap Musti kepada saya untuk menandingi Paman Guru Jaladara."

"Bagus! Akan tetapi Jaladara itu pandai dan licik. Mendekatlah dan julurkan kedua telapak tanganmu menghadap aku."

Perintah sang resi. Sutejo menurut. Dia meluruskan lengannya dengan telapak tangan menghadap sang resi. Kakek itupun menyodorkan kedua lengannya dan kedua telapak tangan mereka bertemu.

"Jangan kerahkan tenagamu. Terima saja apa yang masuk!"

Kata kakek itu.

Mula-mula Sutejo merasa betapa telapak tangannya hangat lalu panas sekali dan dia merasa ada hawa yang amat dahsyat memasuki lengannya, terus berputar ditubuhnya dan akhirnya menerobos masuk ke pusat hawa di pusarnya!

Dia mencoba bertahan akan tetapi demikian kuatnya hawa itu sehingga dia pun pingsan dengan masih duduk bersila dan beradu telapak tangan dengan kakek itu.

Ketika siuman, Sutejo masih mendapatkan dirinya duduk bersila di depan batu, akan tetapi tangannya sudah tidak disodorkan ke depan lagi dan dia merasa betapa seluruh tubuhnya hangat dan nyaman sekali.

"Bagus! Engkau kini telah memiliki tenaga sakti yang kiranya tidak akan kalah dibandingkan tenaga Jaladara. Nah, sekarang marilah kita sarapan dulu, Sutejo."

Ternyata bakar jagung dan air teh sudah disediakan oleh pungguk di depan mereka.

Sutejo tidak malu-malu lagi, lalu bersama Eyang Gurunya dia makan Jagung Bakar dan minum air teh sehingga terasa kenyang perutnya.

Setelah santapan, Resi Limut Manik bertanya kepada Sutejo sambil menatap wajah pemuda itu.

"Sekarang ke mana engkau akan mencari Jaladara dan apa yang akan kau lakukan terhadap dirinya kalau engkau sudah berjumpa dengannya, Suetejo?"

"Karena agaknya Paman Guru Jaladara menjadi utusan kabupaten Wirosobo, saya akan mencarinya ke sana, Eyang Guru. Dan kalau sudah berjumpa dengan dia, saya akan secara baik-baik minta pecut pusaka itu darinya untuk dikembalikan kepada Eyang Resi. Kalau dia tidak memperbolehkan, baru saya akan mencoba merampasnya dengan kekerasan."

"Engkau akan membunuhnya?"

"Dijauhkan Sang Hyang Widhi saya dari keinginan itu, Eyang Resi. Saya tidak akan bertindak sekejam itu. Saya hanya akan merampas Pecut Sakti Bajrakirana, tidak ingin membunuhnya."

"Kemudian, Pecut pusaka itu akan kau bawa kemana?"

"Setelah berhasil, saya akan langsung kembali ke sini dan menyerahkan kembali pusaka itu kepada Eyang Resi."

Kakek itu tertawa dan mengelus jenggotnya.

"Jagad Dewa Bathara! Senang hatiku mempunyai cucu murid seperti engkau, Sutejo. Dengar baik-baik. Mataram sekarang terancam bahaya, terkepung oleh banyak musuh yang tadinya menjadi bawahan yang memberontak. Oleh karena itu, kalau engkau sudah berhasil merampas Pecut sakti Bajrakirana, jangan kembalikan kepadaku. Pecut itu kuserahkan kepadamu dan boleh engkau pergunakan untuk membela Mataram. Akan tetapi hati-hati ada pantangannya, yaitu bahwa pecut sakti bajrakirana sama sekali tidak boleh untuk membunuh orang. Mengertikah engaku, Sutejo?"

Di dalam hatinya, pemuda ini merasa girang bukan main.

"Tentu saja saya mengerti Eyang Guru, dan saya akan menaati semua perintah Eyang. Sekarang bolehkah saya mengundurkan diri untuk melanjutkan perjalanan mencari Paman Guru Jaladara?"

"Baiklah. Engkau pergilah ke Wirosobo, mengambil jalan dari barat memasuki kota kabupaten itu. Jangan mengambil jalan lain karena di sanalah engkau akan bertemu dengan paman gurumu yang sesat itu."

"Sendika dawuh, eyang Guru."

Sutejo menyembah dengan hormat lalu pergi meninggalkan tempat uty.

Dia merasa betapa kedua kakinya amat ringan, dan ketika dia mempercepat langkahnya berlari, tubuhnya seperti terbang saja saking lajunya.

Tentu saja Sutejo menjadi kaget dan juga girang.

Dia memang sudah mempelajari ilmu berlari cepat dari Bhagawan Sidik Paningal, yaitu aji harina Legawa (Kecepatan Kijang) sehingga dia dapat berlari secepat kijang.

Namun dibandingkan dengan sekarang ini, dia telah memperoleh kemajuan pesat karena sekarang dia merasa tidak lagi berlari, melainkan seperti terbang!

Tahulah bahwa semua ini tentu akibat dari tenaga sakti yang didapatnya dari Eyang gurunya.

"Terima kasih, Eyang Resi!"

Teriaknya gembira dan diapun berlari semakin cepat sehingga kedua telinganya mendengar suara angin menderu di kanan kirinya.

Sutejo berjalan cepat dan pada suatu sore tibalah dia di luar kabupaten wirosobo (Mojoagung).

Jalanan itu sunyi sekali, tidak tampak seorangpun manusia lain.

Sutejo melangkah cepat dengan niat untuk memasuki kabupaten Wirosobo sebelum gelap.

Akan tetapi tiba-tiba dia melihat dua orang menunggag kuda.

Kuda mereka berjalan perlahan menuju ke selatan dan seorang di antara mereka memboncengkan seorang wanita yang dipangkunya di punggung kuda.

Sebetulnya hal ini tidak ada sangkut pautnya dengan dia dan merupakan hal yang lumrah saja.

Akan tetapi dia mendengar isak tangis wanita itu!

Tentu saja ini menarik perhatiannya dan diapun memandang lebih seksama.

Dua orang penunggang kuda itu bertubuh tinggi besar, yang seorang brewokan dan matanya sebesar telor ayam, tampak bengis dan kejam sekali, usianya sekitar empat puluh tahun.

Orang kedua juga tinggi besar wajahnya tidak berkumis atau berjenggot, akan tetapi mukanya kehitaman bekas cacar sehingga muka itu tampak tidak kalah bengis dan menyeramkan dibandingkan dengan sibrewok.

Juga orang kedua ini berusia kurang lebih empat puluh tahun.

Orang kedua inilah yang memangku wanita itu.

Sutejo memperhatikan wanita itu, usianya kurang lebih dua puluh lima tahun, wajahnya cantik manis dan tubuhnya denok menggairahkan.

Wanita ini meronta-ronta dalam pangkuan itu, menangis terisak-isak dan mengeluarkan kata-kata yang mengandung ketakutan.

"Lepaskan aku". Jangan bawa aku pergi". Ah, kasihanilah aku, lepaskan aku"!"

Sedikit ucapan ini cukup bagi Sutejo untuk bertindak.

Jelas bahwa laki-laki itu hendak memaksakan kehendaknya atas diri wanita yang dipangkunya!

Mungkin wanita itu di culik dan dipaksa diajak pergi olehnya.

Maka sekali melompat dia sudah tiba di depan dua ekor kuda itu dan memegang kendali kuda yang ditunggangi oleh pria dan wanita itu.

"Tahan dulu"!"

Bentak Sutejo.

Kuda itu terkejut dan mengangkat kedua kaki depannya.

Karena gerakan ini, wanita yang tadinya dipangku pria bermuka hitam itu terlepas dari rangkulan dan terbanting jatuh.

Akan tetapi dengan sigapnya, Sutejo menyambar tubuh wanita itu dengan kedua tangannya sehingga tubuh wanita itu tidak sempat terbanting.

Melihat ada orang yang mau menolongnya, wanita itu segera merangkul pinggang Sutejo dan berkata penuh permohonan.

"Ki sanak, tolonglah aku". Aku diculik oleh mereka"."

"Mundurlah mbakyu, biar aku yang menghadapi mereka."

Kata Sutejo sambil mendorong perlahan wanita itu agar jangan merangkul pinggangnya.

Dua orang laki-laki tinggi besar itu menjadi marah sekali, terutama yang tadi memangku wanita itu.

Mereka berlompatan turun dari atas kuda dan laki-laki yang bermuka hitam itu memandang kepada wanita itu lalu menghardik.

"Kesinilah engkau, Sarminten!"

Akan teteapi wanita yang bernama Sarminten itu menggeleng kepalanya dan sambil menangis ia berkata.

"Tidak". Aku tidak mau"."

"Ki sanak sungguh memalukan kalau dua orang laki-laki gagah seperti andika berdua ini hendak memaksa seorang wanita. Bersikaplah gagah dan bebaskan wanita yang tidak mau ikut dengan kalian ini."

"Bocah Setan! Apa engaku sudah bosan hidup? Perempuan itu adalah isteriku! Engkau berani menghalangi aku membawa isteriku sendiri?"

Sutejo tertegun juga mendengar ini. Isterinya? Dia menoleh kepada wanita itu, yang menggeleng-gelengkan kepalanya dan berkata tegas.

"Bukan, Aku bukan isterinya. Mereka memaksa aku pergi setelah merobohkan suamiku!"

Suetjo lebih percaya kepada wanita itu dan diapun kembali memandang kepada si muka hitam.

"Sobat, sudahlah. Jangan memaksakan kehendakmu yang tidak waras itu kepada seorang wanita. Tinggalkan ia pergi dengan aman."

Si brewok sudah tidak dapat menahan kemarahannya lagi.

"Heh, siapa engkau berani mencampuri urusan kami? Apakah engkau belum pernah mendengar nama besar Klabang Lorek dan Klabang Belang? Kamulah Sepasang Kelabang itu dan kalau engkau tidak cepat pergi dari sini, kami akan mencabik-cabik tubuhmu dan membiarkan mayatmu dimakan burung gagak di sini!!"

Sutejo tersenyum.

"Apa lagi kalau andika berdua sudah memiliki nama sebagai orang-orang gagah, tidak semestinya menculik seorang wanita dari suaminya. Aku peringatkan kalian, lebih baik kalian yang cepat pergi dari sini sebelum terlambat."

"Apa?"

Seru si muka hitam.

"Terlambat bagaimana?"

"Sebelum aku menghajar kalian berdua!"

Kata Sutejo.

Terdengar gerengan yang keluar dari mulut si brewok dan dia sudah menerjang seperti seekor harimau kelaparan menubruk seekor domba.

Kedua tangannya dipentang dan hendak mencekik leher Sutejo.

Jari-jari tangn itu mengeluarkan bunyi berkerotokan dan otot-otot seperti kawat menonjol pada kedua tangannya.

Dengan tenang Sutejo menghadapi serangan ini.

Serangan tubrukan dengan kedua tangan hendak mencekik lehernya.

Dia membuat gerakan mengelak ke kiri sambil miringkan tubuhnya dan ketika tangan kanan lawan menyambar, dia mengetuk ke arah siku kanan lawan itu.

"Dukk! Aduhh".!"

Klabang Lorek, si brewok itu mengaduh dan memegangi lengan kanan yang seketika terasa lumpuh.

Akan tetapi hanya sebentar karena lengan itu dapat bergerak kembali dan sekali dia meraba ke belakang tubuhnya, dia sudah mengeluarkan sebatang klewang (golok) yang tampak berkilauan terkena sinar matahari senja.

Dia memutar goloknya dan berseru.

"Sekarang engkau mampus!"

"Suuttt".. Singgg""! Golok lewat dekat leher Sutejo yang mengelak dan sambil memutar tubuh, kakinya mencuat mengenai pergelangan tangan yang memegang golok.

"Adduuhh".!"

Untuk kedua kalinya si brewok mengaduh dan sekali ini goloknya terlepas dari tangan dan terlempar jauh.

Pada saat itu si muka hitam maju mengayun goloknya untuk membantu temannya mengeroyok Sutejo.

Akan tetapi, kedua orang kasar ini sama sekali bukan lawan Sutejo.

Dengan mudah dia menghindar dari serangan si muka hitam dan kembali kakinya mencuat dalam sebuah tendangan memutar, tepat mengenai perut si muka hitam sehingga tubuhnya yang tinggi besar terjengkang.

Dua orang jagoan itu hampir tidak percaya akan apa yang mereka alami.

Mereka, dua jagoan yang ditakuti di daerah Wirosobo, sekarang roboh dalam beberapa gebrakan saja melawan seorang pemuda bertangan kosong!

Mereka tidak percaya dan dengan kemarahan meluap-luap keduanya bangkit lagi dan menyerang dengan membabi buta, membacokkan golok mereka dengan kalap.

Sutejo tetap tenang.

Dia mempergunakan keringanan tubuhnya yang sudah maju pesat itu untuk menyelinap di antara sinar golok dan pada suatu saat yang baik dia mendapat kesempatan mengayun kedua tangannya dengan berbareng, tepat mengenai kedua orang penggeroyoknya.

"Plak! Plak!"

Dua orang tinggi besar itu terjungkal roboh dan sekali ini sampai agak lama tidak mampu berdiri karena ketika mereka membuka mata, bumi seakan berputar dan membuat mereka pusing.

Setelah pusingnya mereda, mereka kini harus mengakui bahwa mereka berhadapan dengan seorang pemuda yang memiliki ilmu kesaktian.

Mereka merangkak bangun dan cepat meninggalkan tempat itu, menghampiri kuda mereka.

Akan tetapi setelah mereka melompat ke atas punggung kuda.

Klabang Belang yang bermuka hitam itu berseru.

"Hem, orang muda. Kalau engkau memang ksatria, tinggalkan namamu!"

"Aku bukan ksatria, hanya orang biasa dan namaku Sutejo."

Dua orang itu lalu membalikan kuda mereka dan cepat meninggalkan tempat itu.

Sutejo berdiri dan melihat ke arah mereka sambil menghela napas panjang.

Tiba-tiba dua buah lengan yang lunak dan lembut seperti dua ekor ular mengelungi lehernya dari samping.

Sutejo terkejut dan ketika dia menengok dia melihat wajah yang cantik dan manis itu sudah begitu dekat dengan wajahnya.

Dia sudah dapat mencium bau sedap dari rambut wanita itu yang memandang kepadanya dengan sepasang mata yang sayu.

"Kakangmas""

Beribu terima kasih kuhaturkan kepadamu yang telah menyelamatkan aku dari dua orang jahat tadi."

Wajahnya itu disusupkan ke atas dadanya. Bagaikan dipagut ular berbisa, Sutejo melangkah mundur dan melepaskan rangkulan kedua lengan pada lehernya itu.

"Apa".. apa yang kau lakukan ini?"

Tanyanya gagap dan memandang kepada wanita itu dengan sepasang mata terbelalak, heran, kaget dan juga ngeri.

Selamanya belum pernah dia berdekatan dengan wanita dan wanita ini merangkulnya, membelainya dan hampir menciumnya!

Sarminten melangkah maju hendak merangkul lagi.

"Kakangmas, setelah andika menyelamatkan aku, maka aku akan memasrahkan jiwa ragaku kepadamu."

Sutejo kembali melangkah mundur.

"Mbakyu, jangan begitu. Aku tidak menghendaki itu. Bukankah engkau sudah bersuami? Bukankah katanya suamimu dipukul roboh oleh kedua orang itu kemudian engkau diculik?"

"Huh, suami macam apa itu! Tidak dapat melindungi isterinya. Tidak, mulai saat ini aku ikut denganmu kakangmas Sutejo! Indah dan gagah namamu, Sutejo. Aku akan ikut denganmu, biar aku yang mencarikan nafkah. Ketahuilah, aku adalah ledek (pesinden/penari) yang kenamaan di Wirosobo. Kalau engaku mau menerimaku, engkau boleh tinggal enak-enak di rumah dan aku yang mencarikan uang. Terimalah, wong bagus dan engkau akan hidup senang bersamaku."

Kembali wanita itu mendekati. Sutejo habis kesabarannya.

"Diam!"

Bentaknya.

"Tidak pantas engkau berkata dan bersikap seperti ini, mbakyu Sarminten. Seorang isteri, harus setia kepada suaminya. Bukan salah suamimu kalau dia tidak dapat melindungimu dari dua orang jagoan tadi. Sekarang, kembalilah kepada suamimu. Aku tidak"..sudi berdekatan denganmu!"

Kalimat terakhir itu diucapkan dengan muak dan marah.

Pada saat itu, dalam keremangan senja muncul seorang laki-laki.

Usianya tentu hampir empat puluh tahun, mukanya bengkak bekas pukulan, pakaiannya awut-awutan.

"Sarminten"..! Sarminten isteriku, engkau di sini? Engkau selamat dari dua orang jagoan itu?"

Ternyata dia adalah Karyo, suami Sarminten.

Karyo adalah seorang penabuh gamelan dan dia menjadi suami Sarminten yang ledek terkenal dari Wirosono itu.

Tiba-tiba Sarminten mengubah sikapnya.

Ia lari menghampiri suaminya dan jatuh dalam rangkulan Karyo.

Ia menangis terisak-isak.

"Aku dilarikan dua orang jahat itu dan".. dan diperebutkan dengan orang ini. Dua orang jahat itu melarikan diri, akan tetapi orang ini tidak kalah jahatnya. Dia hendak memperkosa aku, kakang""!"

Karyo memandang marah dan merasa heran bahwa yang akan memperkosa isterinya itu seorang pemuda yang demikian tampan dan gagah!

"Hei, ki sanak.

Andika seorang yang masih muda dan gagah perkasa, mengapa hendak melakukan perbuatan yang tidak tahu malu itu, hendak memperkosa isteriku?"

Dapat dibayangkan betapa jengkelnya hati Sutejo. Wanita itu seperti ular berkepala dua, menggigit sana sini dengan bisanya yang berbahaya.

"Sudahlah urus binimu yang liar ini. Aku tidak sudi berurusan dengan kalian berdua!"

Katanya dan diapun melompat pergi, tidak jadi masuk ke dalam kabupaten Wirosobo.

Untuk apa malam-malam memasuki kabupaten itu?

Ke mana dia hendak mencari Bhagawan Jaladara?

Dia lalu ke selatan dan setelah menemukan sebuah gubuk di tengah sawah yang kosong, dia lalu masuk ke gubuk dan merebahkan dirinya terlentang.

Langit mulai gelap dan ribuan bintang gemerlapan.

Dia termenung.

Mengapa ada wanita yang demikian jahat dan palsunya?

Apakah semua wanita itu demikian?

Dia bergidik ngeri.

Mempunyai seorang isteri seperti itu sama dengan hidup bersama dengan iblis betina yang berbahaya.

Dia menenangkan batinnya yang bergelora penuh kemarahan.

Kalau tahu akan menemukan wanita seperti itu, lebih baik dia tidak menolong dan biar wanita itu dibawa Klabang Lorek dan Klabang Belang.

Dua orang laki-laki itu lebih pantas berteman wanita seperti Sarminten itu.

Dan suaminya yang lemah itu tentu hanya menjadi boneka bagi Sarminten.

Diam-diam dia merasa iba juga kepada suami wanita itu.

Pada keesokan harinya, mendengar bunyi kokok ayam jantan yang datangnya dari kabupaten Wirosobo, Sutejo terbangun dari tidurnya.

Dia mencari air jernih dan mendapatkan sebuah anak sungai tak jauh dari situ.

Airnya jernih sekali dan karena tempat itu masih pagi dan sunyi sekali, Sutejo meninggalkan semua pakaiannya karena dia ingin sekali mandi di sungai kecil yang airnya jernih dan banyak batu-batunya itu.

Dia meletakan pakaiannya menumpuk di atas sebuah batu dan segera masuk ke dalam air.

Airnya sejuk bukan main, ketika dia menyelam dan kepalanya tenggelam di air, rasa sejuk seakan-akan masuk ke dalam kepalanya dan ke dalam seluruh tubuhnya.

Segar dan sejuk!

Akan tetapi ketika dia muncul kembali ke permukaan air, di dekat pakaiannya itu diatas batu besar sudah duduk seorang pemuda remaja.

Tampaknya seperti pemuda dusun dilihat dari pakaiannya yang sederhana dan longgar.

Pakaian itu terlalu besar untuk pemuda itu sehingga tampak lucu dan kedodoran.

Rambutnya digelung ke atas dan diikat dengan kain hitam.

Biarpun pakaian pemuda remaja itu kedodoran dan sederhana sekali, namun Sutejo harus mengakui bahwa belum pernah dia melihat seorang pemuda setampan itu!

Sebagian mukanya memang kotor terkena debu, namun demikian halus.

Rambutnya panjang hitam sekali sehingga biarpun digelung ke atas masih ada sisa ujung rambut yang terjuntai ke bawah.

Dahinya halus dan alisnya hitam kecil.

Sepasang matanya!

Seperti bintang kejora kembar, bersinar-sinar penuh gairah hidup.

Hidungnya kecil mancung dan lucu, Ujungnya agak terangkat ke atas, dan mulutnya, mulut yang manis sekali dan senyum mengejek tersungging di bibirnya.

Dari mata dan bibir ini saja sudah diketahui bahwa dia seorang pemuda remaja yang nakal, lincah dan jenaka.

"Hei, adik yang baik. Mari temani aku mandi di sini! Airnya sejuk dan segar sekali. Mari turun!"

Ajak Sutejo yang merasa suka melihat pemuda remaja itu. Akan tetapi pemuda remaja itu menggeleng kepalanya.

"Mandi bersamamu? Tak tahu malu! Sungguh engkau seorang yang tidak tahu malu, mandi telanjang di tempat umum!"

"Ini bukan tempat umumj dan tempat ini sepi, tidak ada orang lain!"

"Kau pikir aku ini bukan orang?!"

"Akan tetapi engkau juga seorang pria dan apa salahnya dua orang pria mandi telanjang bersama?"

"Tidak, aku tidak sudi. Aku sudah mandi tadi, lihat rambutku masih basah."

Dia memperlihatkan ujung rambutnya yang memang masih basah.

"Wah agaknya engkau kalau mandi tidak membersihkan mukamu. Itu masih ada debu menempel. Hayo mandi lagi yang bersih bersamaku."

"Aku tidak sudi!"

Pemuda remaja itu lalu melompat dari atas batu besar dan melarikan diri.

"Heii"! Jangan bawa pakaianku! Tunggu, jangan bawa pakaianku. Bagaimana aku dapat keluar dari sini kalau engkau membawa pergi pakaianku!"

Akan tetapi biarpun Sutejo berteriak-teriak, pemuda remaja yang nakal itu tidak mau berhenti berlari.

"Celaka! Sialan anak itu!"

Sutejo menjadi bingung dan marah.

Akan tetapi apa yang dapat dia lakukan?

Pakaiannya sudah dibawa anak itu, juga buntalan bekal pakaian!

Dia melihat ada beberapa batang pohon pisang tumbuh di dekat sungai.

Wajahnya gembira dan cepat dia keluar dari air dalam keadaan telanjang bulat.

Dia mengambil beberapa helai daun pisang yang lebar, menutupkan ke bawah perut dan diikat dengan tali dari kulit batang pisang.

Setelah rapat benar, barulah dia berlari mengejar.

Dia melihat bayangan pemuda itu berlari di sebelah depan.

Sutejo mengerahkan tenaganya untuk berlari lebih cepat lagi, akan tetapi tiba-tiba pemuda itu lenyap dan buntalan pakaiannya tersangkut di dahan sebatang pohon!

Sutejo berhenti mengejar dan mengambil buntalannya.

Anak sialan, pikirnya.

Dia merasa seolah ada mata yang mengintainya, maka dia cepat membawa buntalan pakaiannya ke balik semak belukar dan di sana, tertutup oleh semak-semak dia mengenakan pakaiannya.

Setelah selesai berpakaian dan menggendong buntalan pakaiannya, Sutejo keluar dari balik semak belukar dan memandang ke kanan kiri.

Dia hendak mencari bocah itu untuk diberi hajaran.

Bocah kurang ajar itu memerlukan penanganan yang keras.

Usianya paling banyak lima belas tahun akan tetapi dia sudah nakal sekali, suka menggoda orang.

Bayangkan saja kalau banyak orang melihat dia berpakaian daun pisang tadi!

Akan tetapi sekelilingnya sunyi saja.

Agaknya pemuda remaja tadi sudah ketakutan dan melarikan diri.

Sutejo lalu melanjutkan langkah kakinya menuju Kabupaten Wirosobo.

Baru beberapa langkah dia berjalan, dia melihat seorang laki-laki datang dari depan.

Jantungnya berdegup penuh ketegangan ketika dia mengenal laki-laki itu yang bukan lain adalah Bhagawan Jaladara sendiri!

Ah, betapa kebetulan sekali.

Kalau saja dia tidak bertemu dengan Sarminten dan berkelahi dengan Klabang Lorek dan Klabang Belang, juga andaikata pakaiannya tidak dilarikan pemuda remaja tadi, tentu dia tidak akan bertemu dengan Bhagawan Jaladara!

Sepatutnya dia berterima kasih kepada pemuda remaja itu!

Melihat paman gurunya itu, dia teringat bahwa waktu yang sebulan itu sudah tinggal beberapa hari lagi dan agaknya paman gurunya itu akan pergi ke puncak Kawi untuk mencari gurunya dan menekannya dengan ancaman akan membunuhnya kalau sampai hari itu gurunya tetap tidak mau membantu kabupaten Wirosobo.

Teringat akan hal ini, panas hatinya dan dia segera melompat dan menghadang di jalan yang masih sunyi itu.

Sang Bhagawan Jaladara berjalan sambil termenung agaknya, maka ketika tiba-tiba muincul Sutejo di depannya, dia agak terkejut.

Akan tetapi ketika dia mengenal siapa orangnya yang menghadang perjalanannya, dia tersenyum mengejek.

"Bukankah andika ini Sutejo, murid Kakang Sidik Paningal?"

Tanyanya sambil mengamati pemuda itu dari kepala sampai ke kakinya.

"Benar paman Guru Jaladara. Saya adalah Sutejo dan saya mengucapkan salam kepada Paman Guru."

"Ha-ha-ha, baik juga sikapmu. Sekarang katakan apa maksudmu menghadang perjalananku? Apakah engkau diutus gurumu untuk memberitahu kepadaku bahwa dia sudah mengambil keputusan untuk menaati pesanku?"

"Sama sekali tidak, paman. Bagaiamanpun juga, Bapa Guru adalah murid Eyang Resi Limut Manik yang taat, karena itu Bapa Guru tidak sudi membantu Kabupaten Wirosobo yang memberontak kepada Mataram."

"Babo-babo! Kalau begitu gurumu itu pasti akan mati ditanganku!"

"Nanti dulu, paman. Aku yang akan menghalangi paman datang ke kawi. Ketahuilah bahwa aku Sutejo, diutus oleh Eyang Limut Manik untuk mengambil kembali Pecut Sakti Bajrakirana yang telah paman curi dari kamar Eyang Guru Resi. Karena itu paman, sebelum terpaksa aku melawan paman, serahkanlah Pecut Sakti Bajrakirana itu kepadaku."

"Apa? Engkau hendak mengambil pecut sakti dari tanganku? Sutejo, engkau anak kecil jangan ikut campur. Pecut ini akan kukembalikan sendiri kepada Bapa Guru resi Limut Manik setelah tugasku selesai membujuk Kakang Sidik Paningal. Pergilah dan jangan ganggu aku, Sutejo!"

"Tidak Paman. Sebelum Pecut Sakti Bajrakirana paman serahkan kepadaku aku tidak akan pergi dari depan paman."

"Apa? Engkau ini anak kemarin sore yang masih bau kencur ubun-ubunmu berani menantangku?"

"Apa boleh buat, paman. Berat mengemban dawuh Eyang Resi kalau paman tidak mau mengembalikan Pecut pusaka itu, tentu aku akan menantang paman dan merampasnya dengan kekerasan!"

"Babo-babo! Apa yang kau andalkan maka berani melawan paman gurumu sendiri?"

"Andalanku adalah kebenaran dan restu eyang resi limut manik!"

"Kalau begitu, akan kuhabisi nyawamu di sini juga!"

Kata Bhagawan Jaladara sambil memutar tongkat hitamnya.

Sutejo sudah maklum akan kedahsyatan senjata tongkat hitam itu, maka diapun meloloskan ikat kepalanya yang berwarna biru, lalu memasng kuda-kuda ilmu silat sinung nila.

Tangan kanan memegang ujung ikat kepala, tangan yang lain memegang ujung yang lain, tubuhnya merendah dengan kedua lutut ditekuk kedepan dan belakang, matanya tajam memandang gerakan lawan.

"Makanlah senjataku ini!"

Bhagawan Jaladara sudah menyerang dengan tongkatnya.

Serangannya dahsyat bukan main, mendatangkan angin pukulan yang menyambar kuat.

Namun Sutejo sudah siap siaga.

Dia menggunakan kecepatan dan keringanan tubuhnya untuk mengelak dan dari bawah, ujung ikat kepalanya menyambar ke arah dada lawan.

Biarpun hanya ikat kepala, akan tetapi karena sudah dialiri tenaga sakti, kain itu menjadi kaku dan kuat seperti sebatang tombak!

Bhagawan Jaladara juga maklum bahwa Sutejo adalah murid kakak seperguruannya yang berbakat dan tangguh, maka diapun mengelak sambil memutar tongkatnya yang kini menyambar dari atas ke arah ubun-ubun kepala Sutejo!

Serangan ini juga dahsyat sekali dan kalau ubun-ubun kepala itu terkena hantaman tongkat, tentu kepala itu akan pecah berserakan.

Batu karang saja tidak akan kuat menerima hantaman tongkat ini apa lagi kepala manusia.

Sutejo kembali mengelak.

Dia melihat suatu keuntungan, yaitu bahwa dia dapat bergerak lebih cepat dan gesit dibandingkan paman gurunya.

Maka, dia mengandalkan kegesitan tubuhnya untuk mengelak dan berloncatan ke sana sini, menyelinap di antara sinar tongkat dan kalau ada lowongan terbuka dia balas menyerang dengan ujung ikat kepalanya!

Pertandingan itu berjalan seru sekali tanpa ada yang menyaksikan.

Akan tetapi tanpa setahu kedua orang itu, sebetulnya ada sepasang mata tajam yang menonton pertandingan antara mereka.

Seorang yang bersembunyi di balik semak belukar menonton pertandingan itu dan matanya bersinar-sinar penuh perhatian dan ketegangan.

Memang pertandingan antara Bhagawan jaladara melawan murid keponakannya itu berlangsung dengan sengit dan seru.

Bhagawan Jaladara merasa penasaran sekali karena sampai puluhan bahkan hampir seratus jurus belum juga dia mampu mengalahkan murid keponakannya.

Dia sudah mengerahkan seluruh tenaga pada tongkatnya, namun Sutejo lebih banyak mengelak dan kalau sekali waktu dia menangkis dengan ikat kepalanya, maka ikat kepala itu mampu menandingi tenaga yang tersalur lewat tongkat!

Dan Bhagawan Jaladara juga diam-diam mengakui bahwa dalam hal kegesitan, dia telah kalah banyak!

Dia tidak tahu bahwa pemuda itu telah memperoleh tenaga sakti dari eyang gurunya!

Dan dia juga tidak mengira bahwa pemuda itu telah melatih diri dengan Aji Gelap Musti dan juga Patala Bajra!

Bagaimanapun juha, kalau dua orang jagoan bertemu, maka faktor usia memegang peran penting dan cukup menentukan.

Bhagawan Jaladara yang sudah berusia enam puluh tahun itu mana dapat dibandingkan dengan Sutejo yang baru berusia dua puluh dua tahun!

Tentu saja dia kalah dalam hal tenaga, kecepatan dan terutama pengaturan pernapasan.

Setelah lewat seratus jurus, tubuhnya sudah mandi keringat dan dari kepalanya sudah mengepul uap putih, napasnya mulai memburu sedangkan Sutejo masih segar bugar!

Sang Bhagawan Jaladar merasa penasaran dan marah sekali.

Dia mengerahkan seluruh sisa tenaganya dan menghatamkan tongkatnya ke arah kepala Sutejo.

Melihat serangan yang nekat ini, Sutejo melompat ke samping dan ketika tongkat itu lewat, dia cepat menggerakan ikat kepalanya menjadi lemas dan ujung ikat kepala itu melibat tongkat, dibarengi dengan pukulan tangan kirinya ke arah lengan kanan lawan.

"Dukkk""!"

Ketika dia menarik, tongkatnya itu telah terlempar jauh sekali!

Bhagawan Jaladara yang sudah kehilangan tongkatnya, menggereng marah seperti seekor harimau terluka, lalu tangan kanannya bergerak ke pinggang dan dia sudah melolos Pecut Sakti Bajrakirana dari pinggangnya.

"Tar-tar-tar""!"

Dia memutar pecut itu diatas kepalanya sehingga pecut itu meledak-ledak dengan nyaring.

Sutejo terkejut karena jantungnya tergetar oleh suara pecut yang meledak-ledak.

Akan tetapi ketika ujung pecut menyambar, dengan gesitnya dia mengelak.

Cepat sekali gerakannya, seperti seekor burung walet keluar dari guha.

Sia-sia Bhagawan Jaladara menghujamkan pecutnya ke arah bayangan yang berkelebatan itu.

Sampai tiga puluh jurus Bhagawan Jaladara mengejar Sutejo dengan ayunan cambuknya, dan sekali-kali pemuda itu dapat membalas dengan sambaran ikat kepalanya yang tidak kalah dahsyatnya.

Karena merasa penasaran Bhagawan Jaladara lalu mengeluarkan Aji Gelap Musti!

Ketika pecutnya menyambar dan dapat di elakkan oleh Sutejo ke kanan, tangan kirinya yang sudah siap dengan saluran tenaga Gelap Musti, tiba-tiba menampar dengan sambaran dahsyat!

Sutejo mengenal Aji pukulan ini maka diapun menggerakan tangan kirinya dengan aji yang sama dan menangkis sambil mengerahkan seluruh tenaganya ke lengan kiri.

"Wuuutttt"". Desssss""!"

Dua tenaga raksasa bertemu di udara, seolah kilat menyambar dan akibatnya tubuh Sang Bhagawan Jaladara terpelanting keras.

Mendapatkan kesempatan ini, Sutejo menggerakan ikat kepalanya, menjadi kaku dan menotok ke arah pergelangan tangan kanan lawannya.

"Tukk"..!"

Tangan itu tergetar dan pecut yang dipegangnya terlepas.

Bagaikan seekor burung sikatan Sutejo menyambar dan di lain saat pecut itu telah berada di tangan kirinya!

Bhagawan Jaladara berdiri dengan muka pucat memandang pemuda itu.

Mulutnya menyeringai seperti orang menangis dan dia membentak.

"Kembalikan pecut itu!"

"Tidak, Paman Guru. Pecut ini harus kembali ke tangan Eyang Guru!"

Kata Sutejo dengan suara tegas.

"Keparat kau".!"

Dengan nekat Bhagawan Jaladara lalu menyerang Sutejo dengan tangan kosong.

Tubrukannya adalah tubrukan seorang yang sudah nekat untuk mengadu nyawa dan dia berhasil menyambar tubuh pecut yang berada di tangan Sutejo.

Sutejo mempertahankan, kalau dia mau menyerang lawan tentu dengan mudah dia akan dapat membunuh Bhagawan Jaladara yang sudah bertangan kosong.

Akan tetapi dia tidak menghendaki hal ini terjadi, maka dia ragu dan lengah sehingga pecut itu dapat terpegang oleh tangan Bhagawan Jaladara.

Mereka berkutetan, saling dorong dan saling betot.

Ketika keduanya mengerahkan tenaga, dalam waktu yang berbarengan keduanya mengayunkan kaki kana menendang.

"Desss!!"

Keduanya terlempar ke belakang dan pecut yang dijadikan rebutan itu terlepas dari tangan mereka dan melayang jauh.

Mendadak muncuk seorang pemuda remaja dari balik rumpun semak belukar dan tubuhnya menyambar ke arah pecut dengan kecepatan kilat, tahu-tahu pecut telah berada di tangannya dan dia melarikan diri sipat kuping dengan cepat sekali!

Sutejo mengenal bocah nakal yang pernah menggodanya pagi tadi.

Dia meloncat dan berseru.

"Heii"

Berhenti kau""!"

Melihat bahwa pecut itu telah diambil oleh seorang pemuda remaja, Bhagawan Jaladara juga melakukan pengejaran.

Akan tetapi bocah itu bergerak amat cepat, bahkan Sutejo sendiri yang mempergunakan Aji Harina Legawa tidak mampu menyusulnya.

Tak lama kemudian pemuda itu sudah menghilang di dalam hutan!

Melihat ini, Bhagawan Jaladara marah sekali kepada Sutejo.

Dia menerjang Sutejo dengan pukulan sambil memaki.

"Bocah setan, engkau yang membikin pecut itu hilang!"

Serangannya ganas, akan tetapi sekali ini Sutejo juga sudah marah.

Bahkan bukan dia yang membuat pecut itu hilang, melainkan kakek ini.

Maka ketika melihat kakek itu memukul, dia mengerahkan Aji Gelap Musti menyambut.

"Desss"..!"

Kembali dua tenaga sakti bertemu di udara dan untuk kedua kalinya tubuh Bhagawan Jaladara terpelanting dan muntah darah.

Dia telah terluka dalam dan merangkak bangun, tidak berani lagi menyerang.

Sutejo tidak memperdulikannya dan dia lalu melompat ke dalam hutan untuk mencari pemuda remaja yang telah membawa pergi pecut sakti bajrakirana.

Sutejo berlari cepat sekali memasuki hutan, akan tetapi dia segera menjadi bingung karena hutan itu liar dan lebat sekali.

Tidak tampak jalan setapak dan juga dia tidak dapat menemukan tapak kaki pemuda remaja yang melarikan Cemeti Sakti Bajrakirana.

Kemana dia harus mencarinya.

Beberapa kali dia berteriak.

"Heii, anak nakal! Keluarlah dan mari kita bicara!"

Kalau bocah itu keluar, dia akan bicara baik-baik, membujuknya untuk mengembalikan pecut yang amat penting itu.

Akan tetapi sampai suaranya serak memanggil-manggil jangankan anak itu keluar, jawabannya pun tidak ada.

Akhirnya Sutejo lari ke sebuat dataran tinggi yang di mana terdapat sebatang pohon randu alas raksasa.

Dia meloncat dan memanjat pohon itu sampai puncaknya dan dari tempat tinggi itu dia memandang ke sekeliling.

Akhirnya dia melihat pemuda remaja itu.

Jauh di sebelah timur, berjalan perlahan sambil mengayun-ayun pecut itu di atas kepalanya, seperti seorang kanak-kanak sedang bermain-main.

"Anak sialan!"

Sutejo cepat turun dan berlari cepat menuju ke timur untuk mengejar.

Akhirnya dia keluar dari hutan itu dan tiba di tanah pegunungan yang sunyi.

Tadi dia melihat anak itu berada di sisi dan akhirnya dia berhenti di tepi sebatang sungai yang cukup lebar.

Kiranya tidak mungkin melompati sungai itu dan dia melihat bayangan anak itu di seberang sana!

"Hei".

Kamu"".!

Berhenti dan kembalikan pecut itu!"

Sutejo berteriak nyaring. Anak muda itu memutar tubuhnya memandang Sutejo, lalu membunyikan pecut di atas kepalanya.

"Tar-tar-tar!"

Setelah itu dia tertawa dan lari lagi ke depan dengan amat cepatnya! "Bocah mendem (mabok)!"

Sutejo memaki dan dia menjadi bingung bagaimana untuk melewati sungai itu.

Karena di situ tidak ada perahu atau alat lain untuk menyebrang, sedangkan untuk berenang pakaiannya tentu akan basah semua, akhirnya tidak ada lain pilihan baginya kecuali menyebrang dengan berenang.

Dia menanggalkan pakaiannya, hanya memakai sebuah celana dalam, menaruh buntalan pakaiannya di atas kepala dan terpaksa dia lalu berenang sedapatnya dengan satu tangan untuk menyebrang.

Dalam hatinya dia merasa gemas sekali dan kini dia berjanji kepada diri sendiri kalau sampai dapat mengejar pemuda remaja itu, dia akan menangkapnya, menelungkupkannya ke atas kedua pahanya dan memukuli pantatnya sampai puas!

Biarpun dengan susah payah, dapat juga Sutejo menyebrang!

Dia mengenakan kembali pakaiannya dan cepat berlari lagi mengejar ke depan.

Dari dataran tinggi itu dia dapat melihat sawah dan ladang yang luas dan tergarap rapi, tanda bahwa di tempat itu ada dusunnya.

Dan benar saja, dari jauh dia melihat segerombolan pohon-pohon dan tampak genteng-genteng rumah orang.

Tentu pemuda remaja itu tinggal di dusun itu, pikirnya.

Matahari telah naik tinggi dan tanpa memperdulikan tubuhnya yang lelah karena tadi bertempur hebat melawan Bhagawan Jaladara, diapun berlari lagi menuju ke dusun yang tampak dari dataran tinggi itu.

Akhirnya dia tiba di luar dusun yang di kelilingi pagar bambu yang ketat itu.

Dia tidak melihat jalan masuk kecuali sebuah gapura yang lebar dan juga tertutup.

Heran juga dia melihat sebuah danau yang serba tertutup ini, seolah menyimpan rahasia besar.

Dia tidak berani lancang masuk, melainkan berdiri di luar gapura dan dia mengetuk pintu gapura yang terbuat dari kayu itu, menggunakan sepotong batu.

"Tok-tok-tok! Kulonuwun""!"

Teriaknya berulang kali.

Tiba-tiba dia mendengar gerakan di belakangnya.

Cepat dia menengok dan ternyata dia telah dikepung oleh belasan orang!

Dan orang-orang itu amat aneh.

Pakaian mereka serba hitam, akan tetapi muka mereka dicoreng moreng dengan warna hitam dan putih, lereng-lereng bergaris panjang diseluruh muka sampai ke leher mereka sehingga sukarlah mengenal wajah yang semua dicoreng moreng itu.

Dan di tangan mereka tergenggam bermacam-macam senjata.

Ada yang membawa keris, ada yang bersenjatakan tombak trisula, dan ada pula yang membawa perisai dan golok.

Biarpun muka mereka coreng moreng namun cara mereka mengepung Sutejo amat teratur, tidak kacau seolah mereka merupakan barisan yang terlatih baik.

Biarpun terkejut dan heran, Sutejo tidak merasa gentar dan bersikap waspada.

Dia melangkah maju menghadapai seorang tinggi besar di antara mereka yang memegang keris panjang, lalu berkata dengan sikap hormat.

"Maafkan saya. Saya adalah seorang pengembara yang tanpa disengaja tiba di dusun ini. Kalau boleh saya memasuki dusun ini"."

"Dia mata-mata musuh. Serang!"

Orang tinggi besar itu mendadak berseru dengan suara parau dan belasan orang itu, tidak kurang dari lima belas orang banyaknya, sudah menerjang dengan senjata mereka kepada Sutejo.

Sutejo merasa penasaran juga.

Orang-orang ini menuduhnya mata-mata!

Akan tetapi karena mereka semua sudah menggerakan senjata untuk menyerangnya, dia tidak mempunyai kesempatan lagi untuk bicara.

Sambil mengerahkan tenaga, dia menggerakan kedua lengannya, diputar menangkis semua senjata itu dan para pengeroyoknya berpelantingan.

Dia segera melompat keluar dari kepungan dan kini, orang tinggi besar yang memegang keris panjang sudah menyerangnya.

Serangannya cukup hebat.

Keris itu meluncur cepat ke arah perutnya.

Suetjo miringkan tubuhnya dan sekali tangan kirinya memukul dengan tangan miring ke arah pergelangan tangan yang memegang keris, senjata itupun terpukul lepas dan jatuh.

Sutejo mendorong dengan tangan kanannya dan si tinggi besar itu terjengkang dan terbanting jatuh dengan kerasnya.

Semua orang terkejut melihat ini dan menahan serangan, hanya mengurung saja dengan pandangan mata ragu karena mereka sudah melihat kehebatan gerakan pemuda itu yang membuat mereka merasa jerih.

"Dengar, saudara sekalian! Aku bukan mata-mata, juga aku bukan seorang jahat. Aku ingin bicara dengan pimpinan kalian! Bawalah aku menghadap padanya!"

Ucapan Sutejo ini dikeluarkan dengan pengerahan tenaga dalam sehingga terdengar amat lantang dan juga berwibawa.

Orang tinggi besar yang tadi memegang keris sudah mengambil lagi kerisnya dan agaknya dialah pemimpin belasan orang itu.

Tiba-tiba pintu gerbang itu terbuka dan muncullah belasan orang lain sehingga jumlah mereka lebih dari tiga puluh orang yang mengepung Sutejo!

Akan tetapi pemuda ini tidak gentar dan kembali dia berkata dengan lantang.

"Aku bernama Sutejo dan kedatanganku ini bukan membawa maksud buruk. Aku hanya ingin bertemu dan bicara dengan pemimpin kalian karena ada urusan penting sekali. Aku bukan mata-mata manapun juga, bukan pula musuh, maka harap kalian jangan menyerangku!"

Si tinggi besar itu memandang dengan matanya yang lebar, kemudian mengangguk dan berkata kepada teman-temannya.

"Kita bawa dia masuk menghadap pimpinan!"

"Mari masuk akan tetapi awas, kalau engkau membuat ulah, kamu akan mengeroyokmu!"

Kata pula si tinggi besar kepada Sutejo.

Pemuda itu merasa lega.

Dia memang tidak ingin mencari permusuhan.

Dia belum tahu siapa mereka yang mencoreng moreng muka mereka ini, dan dari perkumpulan macam apa.

Karena sukar mengajak orang ini bicara baik-baik, maka dia minta dipertemukan dengan pemimpin mereka agar dia dapat bicara dengan baik, terutama menanyakan pemuda remaja yang telah membawa pergi pecut sakti bajrakirana.

Ternyata perkampungan itu besar juga.

Agaknya tidak kurang dari seratus orang laki-laki dan wanita serta anak-anak mereka tinggal di perkampungan ini.

Yang berada di dalam perkampungan tidak memakai coreng moreng mukanya dan hidup sebagai penduduk dusun biasa.

Tiga puluh lebih orang yang mukanya di coreng moreng itu membawa dan mengawal dia ke sebuah rumah besar di tengah perkampungan yang dikelilingi oleh rumah-rumah yang lebih kecil.

Rumah besar itu memiliki pendopo yang luas dan ke sanalah Sutejo di bawa mereka.

Setelah berada di pendopo.

Sutejo melihat dua orang laki-laki tinggi besar duduk berjajar di sebuah bangku dan di belakang mereka berdiri si bocah nakal yang melarikan pecutnya!

Akan tetapi, kini dia tidak membawa pecut itu dan pemuda remaja itu memandang kepadanya sambil tersenyum mengejek, bahkan mengedipkan mata kirinya seperti memberi isyarat atau memang sengaja menggodanya.

Kalau saja dia tidak berada di situ sebagai tamu atau bahkan orang tangkapan, tentu sudah dikejar dan ditangkapnya pemuda remaja nakal itu dan dia pukuli pantatnya sampai bertaubat!

"Hayo berlutut dan menyembah!"

Kata orang tinggi besar yang berdiri di belakang Sutejo.

Pemuda itu menoleh dan memandang kepada si tinggi besar sambil tersenyum.

Dia melihat betapa tiga puluh lebih orang itu kini sudah menjatuhkan diri dan duduk bersimpuh dengan sikap hormat terhadap dua orang pria tinggi besar itu.

"Ki sanak, aku bukan kawula di sini, maka tidak semestinya aku berlutut. Aku adalah seorang tamu dan datang dengan suka rela."

Katanya dengan sikap ramah.

"Orang muda, kalau andika tidak mau duduk di bawah. Nah, ini duduklah di bangku ini!"

Kata seorang di antara kedua orang tinggi besar yang mukanya hitam dan matanya lebar.

Dia menyambar sebuah bangku dan melemparkannya ke arah Sutejo.

Bangku itu cukup besar dan berat karena terbuat dari kayu jati, akan tetapi kini benda itu melayang dengan kecepatan luar biasa ke arah Sutejo.

Namun, dengan tenang saja Sutejo menjulurkan tangan kirinya dan menyambar bangku itu dengan seenaknya, lalu menaruh bangku itu dan duduk di atasnya.

"Terima kasih atas sambutan ini"

Kata Sutejo sambil mengangguk kepada kedua orang itu sebagai tanda penghormatan, akan tetapi ketika pandang matanya bertemu dengan pandang mata pemuda remaja itu, matanya seperti mengeluarkan sinar berapi saking penasaran dan dongkolnya.

Awas kau, pantatmu akan menjadi matang biru kutampar biar kapok!

Demikian kata hatinya, apa lagi melihat pemuda remaja itu tersenyum-senyum menggodanya dan mengejeknya.

"Orang muda, siapakah andika dan ada urusan apakah andika datang ke perkumpulan Sardula Comeng (Macan Hitam) ini?"

Tahulah kini Sutejo bahwa dia berada di sarang perkumpulan yang menamakan dirinya Sardula Comeng.

Pantas saja semua anak buahnya berpakaian hitam dan mencorengi mukanya loreng-loreng meniru bentuk macan loreng.

"Maafkan kalau kedatang saya ini menganggu, Paman. Saya bernama Sutejo dan sedang melakukan perjalanan merantau untuk menambah pengalaman hidup. Akan tetapi di dalam perjalanan, saya kehilangan sebuah pusaka berupa sebatang pecut. Pecut itu diambil orang dan saya melakukan pengejaran. Kemudian ternyata bahwa pengambil pecut itu melarikan diri ke sini, maka terpaksa saya mengejar sampai ke sini dan mengganggu paman."

Orang tinggi besar yang bermuka merah dan berkumis tebal menepuk lengan kirinya.

"Apa? Kau berani menuduh bahwa orang kamu ada yang mencuri pecut? Ketahulah hei orang muda bahwa perkumpulan Sardula Comeng adalah perkumpulan orang gagah yang pantang merampok atau mencuri! Aku Ki Mundingsosro dan adikku ini Ki Mundingjoyo tidak akan menerima begitu saja kalau kau katakan bahwa ada anak buah kami yang mencuri pecut! Apa lagi hanya sebatang pecut, apa artinya?"

Ki Mundingsosro agaknya tersinggung oleh kata-kata Sutejo.

"Maafkan saya paman, Akan tetapi saya bukan sekedar melempar fitnah, bahkan pencuri pecut itu sekarangpun berada di sini!"

"Hah? Dia berada di sini?"

Tanya Ki Mundingsosro dan matanya terbelalak, kumisnya bergerak-gerak dan dia memandang ke kanan kiri.

"Orang muda, yakin benarkah andika bahwa pencuri pecut itu berada di sini?"

Sutejo kini memandang kepada pemuda remaja yang nakal itu, akan tetapi sebelum dia menundingnya, pemuda remaja itu telah lebih dulu memegang pundak Ki Mundingsosro dari belakang dan berkata dengan suara manja.

"Ayah, yang mengambil pecut itu adalah aku!"

Semua orang memandang pemuda remaja itu dan Ki Mundingsosro menoleh ke belakang.

"Susilo, kau mencuri pecut?"

Tanyanya dengan suara keras dan tidak percaya.

Anaknya mencuri pecut?

Anaknya tidak pernah kekurangan sesuatu, mengapa mencuri?

Dan pecut pula yang dicurinya!

"Apakah sudah tidak waras lagi pikiranmu!"

"Ayah, sebetulnya aku sama sekali tidak mencuri atau merampas. Aku melihat pemuda ini berkelahi melawan seorang kakek sakti dan mereka memperebutkan sebatang pecut. Dalam perebutan itu pecut itu terlempas ke arahku dan aku lalu menyambarnya dan melarikan diri. Aku tidak mencuri, pecut itu sendiri yang ingin ikut aku!"

Panas rasa perut Sutejo.

Mana ada pecut ingin mengikuti seseorang?

"Paman, pecut itu adalah milikku, milik Eyang Guruku yang dicuri oleh kakek itu dan aku merampas darinya.

Kalau pecut itu tidak diambil oleh pemuda ini, tentu sudah berada di tanganku."

"Susilo, hayo kembalikan pecut itu! Bikin malu saja. Aku dapat memberi seribu batang pecut kepadamu kalau engkau membutuhkannya!"

"Tidak begitu mudah, ayah. Aku sudah bersusah payah melarikan pecut itu dan dikejar-kejarnya, sekarang suruh mengembalikan begitu saja? Tidak. Ada dua syarat yang harus dipenuhi sebelum pecut itu dapat kembali kepadanya."

Sutejo hilang kesabarannya.

"Apa syarat-syarat itu? Pasti akan kupenuhi! Bertanding denganmu akupun tidak takut!"

Pemuda remaja yang bernama Susilo ini tersenyum.

"bertanding ya bertanding, akan tetapi menurut aturanku. Besok aku akan menggembala domba di lapangan rumput lereng sana. Engkau boleh mencoba untuk merampas pecut itu dari tanganku. Adapun syarat ke dua"""

"Baik, syarat pertama dengan senang hati akan kupenuhi!. Apa syarat yang kedua?"

Tanya Sutejo dengan suara membentak.

"Syarat kedua, engaku harus membantu kami mengalahkan Mahesa Meta, musuh besar kami."

"Akan tetapi aktu tidak mengenal siapa itu Mahesa Meta, tidak mempunyai urusan dengannya!"

Bantah Sutejo yang tidak mau diadu domba dengan orang yang tidak dikenalnya dan tidak diketahui kesalahannya.

"Aku tidak mau membunuh atau mencelakakan orang yang sama sekali tidak kukenal dan tidak kuketahui kesalahannya!"

Kini Ki Mundingsosro dan Ki Mundingloyo mengerti mengapa Susilo melarikan pecut dari pemuda itu.

Kiranya Susilo hendak minta bantuan pemuda itu untuk menandingi Mahesa Meta.

Tentu saja timbul harapan di dalam hati mereka dan Ki Mundingsosro berkata.

"Anak mas Sutejo. Ketahuilah bahwa Mahesa Meta adalah seorang perampok tunggal yang keji dan (Lanjut ke

Jilid 03) Pecut Sakti Bajrakirana (Seri ke 01 -Serial Pecut Sakti Bajrakirana) Karya". Asmaraman S. Kho Ping Hoo

Jilid 03 sakti. Kami pernah bentrok dengan dia ketika dia mengancam akan membinasakan Sardula Cemeng. Dia amat digdaya dan kiranya kami semua bukan lawan dia!"

Sutejo mengerutkan alisnya, masih merasa sangsi.

"Baiklah, akan kupenuhi syarat kedua, akan tetapi dengan janji bahwa kalau ternyata Mahesa Meta bukan orang jahat, aku tidak mau menandinginya."

"Bagus!"

Pemuda remaja itu bertepuk tangan dengan girang.

"Engkau sudah berjanji dan janji seorang gagah tidak akan diingkari. Besok pagi-pagi engkau boleh mencoba untuk merampas pecut itu, akan tetapi aku akan dibantu oleh ayah dan pamanku!"

"Hei, akal apa pula ini?"

Sutejo membantah.

"Kami akan maju bertiga untuk menguji sampai dimana tingkat kesaktianmu. Kalau engkau tidak dapat mengalahkan kami bertiga dan tidak dapat merampas pecut, mana mungkin engakau becus menandingi Mahesa Meta?"

Pemuda remaja itu menekan pundak ayahnya.

"Betul tidak, Ayah dan Paman?"

Dan dua orang pria itu terpaksa mengangguk angguk karena memang ujian itu penting sekali.

Apa artinya mereka minta bantuan pemuda ini kalau dia tidak memiliki kemampuan yang besar?

Kalau dia dapat mengalahkan pengeroyokan mereka bertiga, barulah ada kemungkinan dia akan mampu menandingi Mahesa Meta yang sakti.

Sutejo mengerutkan alisnya.

Tidak ada pilihan baginya.

Masih mending kalau hanya dikeroyok tiga.

Kalau mereka mengajukan semua anggauta mereka berarti dia akan berhadapan dengan hampir seratus orang!

"Baiklah, aku terima dua syarat itu.

Dan sekarang aku permisi untuk melewatkan malam di luar perkampungan ini!"

Dia bangkit berdiri dan hendak pergi, akan tetapi Susilo menahannya.

"Ah, tidak boleh engkau pergi dari sini. Pertama, engkau adalah seorang tamu kami, bagaimana kami membiarkan engkau tidur di luar? Selain itu, kalau engkau tidur di luar perkampungan dan besok pagi tidak muncul, ,bukankah kami yang akan menanti-nanti dengan sia-sia? Engkau boleh bermalam di sini, kami mempunyai banyak kamar untuk kau pakai. Bukankah begitu, ayah dan Paman?"

Kembali kedua orang laki-laki tinggi besari itu mengangguk-angguk.

Bagaimanapun juga mereka mengharapkan bahwa pemuda ini benar-benar sakti dan besok akan dapat membantu mereka menghadapi Mahesa Meta yang merupakan musuh besar dan ancaman bagi keselamatan perkumpulan Sardula Cemeng.

"Benar seperti yang diucapkan anakku Joko Susilo. Engkau boleh bermalam di sini sebagai tamu kami, anak mas Sutejo dan malam ini kami akan menjamu andika sebagai tamu yang terhormat."

Kata Ki Mundingsosro.

Karena pihak tuan rumah bersikap ramah dan bersungguh-sungguh, Sutejo tidak menolak lagi.

Akan tetapi hatinya masih gemas terhadap Susilo dan dia sudah mengambil keputusan tetap bahwa kalau besok dia menang dan mampu memenuhi syarat-syarat itu sehingga pecut dikembalikan kepadanya, dia pasti akan menelungkupkan tubuh anak itu di atas pangkuannya dan menampari pinggulnya sampai dia menjerit-jerit minta ampun!

Kau tunggu saja, bisik hatinya gemas, apalagi melihat betapa pemuda remaja itu memandangnya dengan cuping hidung kembang kempis dan mulut tersenyum mengejek.

Malam itu benar saja, Sutejo dijamu dengan royal oleh tuan rumah.

Untuk keperluan itu tuan rumah menyembelih beberapa ekor ayam dan seekor domba, membuat bermacam masakan.

Mereka duduk semeja.

Sutejo, Ki Munindingsosro, Ki Mundingloyo dan Joko Susilo.

Dan dalam perjamuan makan itu Joko Susilo tidak lagi menggoda dengan kerling mata dan senyum mengejek, melainkan ramah sekali bahkan dia yang terus menerus menawarkan masakan ini itu kepada Sutejo.

Akan tetapi keramahan ini tidak melunturkan kejengkelan hati Sutejo terhadap pemuda remaja itu.

Kalau bukan karena ulahnya, tentu dia tidak akan bersusah payah berkunjung ke sini dan harus memenuhi dua syarat yang diajukan bocah nakal itu!

Sore itu Sutejo mandi di air pancuran yang segar sejuk, dan malamnya dia dapat tidur nyenyak dalam sebuah kamar yang khusus disediakan untuknya.

Dia tidur tanpa mimpi karena tubuhnya memang sudah lelah sekali.

Pertandingannya melawan Bhagawan Jaladara menguras tenaganya dan tidur nyenyak semalam itu banyak menolong memulihkan kembali tenaganya untuk menghadapi apa yang akan terjadi besok.

Ketika pada keesokan harinya, pagi-pagi sekali Sutejo terbangun dari tidurnya dan mandi di air pancuran, dia melihat penduduk perkampungan itu sudah sibuk bekerja.

Dan dia merasa heran karena tidak seorangpun di antara mereka memakai coreng moreng di mukanya, juga pakaian mereka bukan pakaian serba hitam!

Akan tetapi dia tidak melihat Ki Mundingsosro dan Ki Mundingloyo, juga tidak melihat Joko Susilo!

Melihat seorang anak berusia kurang lebih sepuluh tahun bermain-main seorang diri, Sutejo lalu menghampiri anak laki-laki itu.

"Eh, adik yang baik, tahukah engkau ke mana perginya Ki Mundingsosro, Ki Mundingloyo dan Joko Susilo?"

Bocah itu memandang Sutejo dengan matanya yang bening lalu menjawab.

"Mungkin mereka sedang menggembala domba di padang rumput yang berada di lereng sebelah sana."

Dia menuding ke arah barat, di mana terdapat sebuah bukit hijau.

"Dan kenapa tidak ada orang yang memakain pakaian hitam dan mencoreng moreng mukanya?"

Bocah laki-laki itu tersenyum.

"Untuk apa?, Para Paman itu mencoreng mukanya dan mengenakan pakaian hitam kalau Sardula Cemeng hendak melakukan sesuatu upacara atau hendak melakukan sesuatu upacara atau hendak menentang musuh. Kalau tidak ada apa-apa, mereka juga berpakaian biasa dan tidak mencoreng mukanya."

Sutejo mengerti dan diam-diam dia merasa heran.

Mengapa dua orang pimpinan itu bersikap demikian aneh.

Mengharuskan anak buah mereka berpakaian hitam dan mencoreng-moreng muka mereka kalau menghadapi lawan?

Kini dia tahu bahwa kedatangannya kemarin juga sudah diketahui lebih dulu sehingga mereka menyambutnya dengan "Pakaian Dinas"

Perkumpulan itu.

Diapun tidak memperdulikan lagi.

Ditinggalkannya perkampungan itu dan dia keluar dari situ menuju ke bawah bukit sebelah barat sambil berlari cepat.

Hawa dipagi hari itu sejuk dan segar dan dia terus berlari sampai akhirnya tiba di padang rumput.

Dari jauh dia melihat Joko Susilo menggembala domba dan tamapi dia memegang Pecut Sakti Bajrakirana, dibunyikan berdetak-detak untuk menggiring domba yang jumlahnya seratus ekor lebih!

Sialan, pikirnya.

Pecut Sakti Bajrakirana, pecut pusaka yang demikian dihormati oleh Bapa Gurunya, kini dipergunakan oleh seseorang pemuda remaja kurang ajar untuk menggembala domba!

Dia mempercepat larinya dan ketika tiba dekat tempat menggembala domba itu, dia melihat Ki Mundingsosro dan Ki Mundingloyo juga sudah berada di situ.

Dan agaknya kedua orang pimpinan itu sudah siap siaga.

Ki Mundingsosro sudah memegang sebatang golok terhunus dan Ki Mundingloyo memegang sebuah tombak trisula.

Sutejo segera menghampiri mereka dan memberi uluk salam.

"Selamat pagi, kedua paman!"

"Ah, andika sudah datang, anak mas Sutejo. Lihat, kami sudah siap untuk mempertahankan pecut itu dari tanganmu!"

Kata Ki Mundingsosro dengan sikap ramah.

"Kalau andika dapat menandingi tombak trisulaku dan golok Kakang Mundingsosro ditambah lagi kecepatan Susilo, engkau berhak memiliki pecut yang diperebutkan itu!"

Kata Ki Mundingloyo sambil memalangkan tombak trisula di depan dada. Joko Susilo datang berlarian dan bergabung dengan ayah dan pamannya.

"Engkau sudah datang sepagi ini? Bagus, pecut ini dapat menjadi senjata yang baik, dan aku akan menghadapimu dengan pecut ini. Coba kalahkan kami kalau engkau bisa, Sutejo!"

Sutejo memandang dengan mata bersinar marah.

"Andika adalah seorang bocah yang nakal, Susilo. Agaknya engkau memang pantas dihajar agar jera dan tidak menganggu orang lain!"

"Coba kalau engaku mampu menghajarku!"

Joko Susilo menantang.

"Anak mas Sutejo, kami bertiga sudah siap. Cobalah engkau merampas pecut itu kalau dapat. Akan tetapi senjata kami tidak bermata, jangan salahkan kami kalau sampai engkau terluka oleh senjata kami!"

Kata Ki Munindingsosro.

"Saya mengerti, paman. Sebaiknya paman bertiga juga harus berhati-hati menghadapi senjata saya!"

"Apakah senjatamu? Keluarkan!"

Tantang Ki Mundingloyo. Sutejo melepaskan ikatan kepalanya dan memegang ujung ikatan kepala itu dengan tangan kanannya.

"Inilah senjata saya!"

Katanya. Joko Susilo berkata kepada ayahnya dan pamannya.

"Ayah dan paman, jangan pandang ringan senjatanya itu. Dengan itu dia telah melawan pendeta yang sakti itu!"

"Bagus. Nah, mulailah, anak mas Sutejo!"

Kata lagi Ki Mundingsosro. Sutejo juga tidak sungkan-sungkan lagi.

"Lihat senjataku!"

Teriaknya dan dia sudah menerjang maju.

Tentu saja yang diterjangnya adalah Joko Susilo karena dia ingin merampas pecut itu secepatnya.

Akan tetapi dari kanan kiri kedua orang pimpinan Sardula Cemeng itu telah menggerakkan golok dan tombak trisula ke arahnya dengan serangan yang dahsyat.

Sutejo mengelak, mempergunakan kecepatan tubuhnya dan setelah berhasil mengelak dia menyerang lagi ke arah Joko Susilo dengan ikat kepalanya.

"Tar-tar-tarrrrrr"..!"

Joko Susilo meledak-ledakkan pecut itu, ke arah kepala Susilo dan berbareng dengan itu, ayah dan pamannya juga kembali menyerang Sutejo.

Hemm, mereka ini lumaya juga, pikir Sutejo.

Dua orang pimpinan itu memiliki tenaga yang kuat, sedangkan pemuda remaja itu ternyata memiliki gerakan yang ringan dan gesit bukan main, bahkan mungkin dapat mengimbangi kecepatannya sendiri.

Dia merasa heran karena ayah dan paman pemuda itu tidak segesit itu.

Tentu pemuda remaja itu telah mempelajari ilmu meringkan tubuh dari orang lain, pikirnya.

Namun Sutejo tidak memusingkan hal itu.

Kalau dia hendak mendesak Joko Susilo, dia harus lebih dahulu membuat dua orang laki-laki itu tidak berdaya.

Oleh karena itu, dia lalu mengubah gerakan dan serangannya.

Tidak lagi dia mendesak untuk merampas pecut dari tangan Joko Susilo.

Sebaliknya dia mendesak Ki Mundingsosro dan Ki Mundingloyo dengan gerakan ikat kepalanya.

Dan usahanya berhasil.

Dua orang laki-laki tinggi besar ini kalah jauh dalam hal kecepatan gerakan oleh Sutejo, maka begitu Sutejo mendesak, mereka menjadi kewalahan dan main mundur, mengelak dan menangkis sambaran ujung ikat kepala yang demikian cepatnya sehingga mereka tidak mampun membalas lagi!

Joko Susilo melihat pemuda itu kini mendesak ayah dan pamannya, lalu menerjang Sutejo dengan pecut itu.

"Tar-tarrr"..!"

Pecut itu meledak di atas kepala Sutejo dan menyambar turun bagaikan seekor burung garuda mematuk ke arah ubun-ubun kepala Sutejo!

Hemm, hebat juga pemuda remaja ini, pikir Sutejo.

Bahkan mungkin ilmu kepandaiannya melampaui ayah dan pamannya.

Akan tetapi dia sudah siap dan melihat pecut itu meledak dan menyambar ubun-ubun kepalanya, dia lalau menggerakkan tangan kirinya dan sekali sambar dia sudah dapat menangkap ujung pecut!

Terjadi tarik menarik dan karena takut kalau-kalau pecut itu akan putus, terpaksa Sutejo melepaskannya dan dia kini mendesak dengan hebat ke arah dua orang laki-laki itu.

Trisula yang menyambar ke arah dadanya dia sambut dengan ikat kepalanya yang ujungnya melibat trisula dan sebelum Ki Mundingloyo dapat menarik kembali trisulanya, tangan kiri Sutejo sudah mendahului memukul ke depan dengan Aji Gelap Musti, akan tetapi tentu saja dengan pengerahan tenaga terbatas karena dia tidak ingin mencelakai orang.

"Wuuutttt". Desss"..!"

Tubuh Ki Mundingloyo terpental dan trisulanya terampas oleh Sutejo.

Pada saat itu, Ki Mundingsosro menyerangkan goloknya.

Sutejo yang memegang trisula dengan tangan kirinya menangkis sambil mengerahkan tenaganya.

"Traanngggg"..!!"

Golok itu patah menjadi dua dan Ki Mundingsosro melompat ke belakang dengan kaget sekali.

Jelas bahwa dia dan Ki Mundingloyo telah kalah dan kini Joko Susilo menghadapi Sutejo seorang diri.

Akan tetapi pemuda remaja itu tidak merasa gentar walaupun ayah dan pamannya sudah tidak membantunya lagi.

"Berikan pecut itu!"

Kata Sutejo sambil mengejar Joko Susilo.

"Hemm, Kalau engkau dapat merebutnya, rebutlah!"

Tantang Joko Susilo sambil menyeringai mengejek.

Panas rasa hati Sutejo dan dia menubruk dengan cepat.

Namun, Joko Susilo mengelak dengan kecepatan seperti seekor burung sikatan sehingga tubrukan itu luput.

Sutejo menjadi penasaran.

Tentu saja dia tidak ingin memukul pemuda remaja itu, melainkan hanya ingin merebut pecutnya.

Kembali dia menubruk, namun Joko Susilo sungguh gesit luar biasa.

Sampai belasan kali Sutejo menubruk, makin lama semakin cepat, namun tetap saja tidak berhasil, bahkan ketika Joko Susilo menggerakkan pecutnya, ujung pecut mengenai lengan Sutejo sehingga kulit lengannya terdapat guratan merah.

Marahlad dia!

"Anak kepala batu!"

Bentaknya dan kini dia menubruk, ketika Joko Susilo mengelak, ,tangan kirinya menyambar dengan pukulan Gelap Musti dengan tenaga terkendali ke arah kaki pemuda remaja itu.

Sekali ini Joko Susilo tidak dapat mengelak.

Kakinya mendadak seperti lumpuh dan diapun terguling jatuh, ,dan di lain saat pecutnya sudah berpindah ke tangan Sutejo!

Sutejo cepat melibatkan pecut itu di pinggangnya dan ketika melihat pemuda remaja itu merangkak hendak bangkit berdiri, dia lalu menyambar lengan kanannya dan mememuntir lengan itu.

Tubuh Joko Susilo terpuntir dan dia berteriak kesakitan dan di lain saat tubuhnya sudah di telungkupkan di atas kedua paha Sutejo yang sudah duduk di atas tanah.

Kemudian, tangan kanan Sutejo mengempit kedua tangan itu kebelakang dan tangan kirinya mulai menampari pinggul Joko Susilo.

"Plak plak plak plak!"

Empat kali dia menampar bagian tubuhh yang berdaging itu.

"Aduh-aduh-aduhhh""

Lepaskan aku". Huhuuh huhu".!"

Joko Susilo berteriak-teriak sambil menangis mengguguk.

Tubuhnya meronta sehingga pengikat rambutnya terlepas dan kini rambut yang panjang hitam itu terurai di sekitar pundak dan punggungnya.

Sutejo merasa tubuhnya seperti disengat ular berbisa!

Dia melepaskan pegangannya dan melompat berdiri, matanya terbelalak keherannya memandang kepada Joko Susilo yang masih menangis sesegukan, kedua tangannya menggosok mata yang mengalirkan air mata!

Dia merasa terkejut bukan main dan ada perasaan aneh menyelinap di hatinya.

"Kau". Kau".!"

Dia berkata sambil menundingkan telunjuknya ke arah pemuda remaja yang kini rambutnya tergerai lepas.

Baru sadarlah dia bahwa Joko Susilo itu sebenarnya adalah seorang wanita, seorang dara yang cantik jelita!

Dan baru saja dia menampari pinggulnya, pinggul seorang gadis.

Ki Mundingsosro mengahmapiri anaknya dan membantunya bangkit berdiri.

"Sudahlah, Retno. Tidak perlu menangis lagi karena engakau memang bersalah."

"Akan tetapi".. dia".. dia""

Memukuli pinggulku. Aku benci padanya, ,aku benci"".!"

Dan gadis itu lalu melarikan diri kembali ke perkampungan sambil menangis. Sutejo menghadapi dua orang laki-laki itu dengan muka masih kemerahan dan jantung berdebar tegang.

"Paman, apa artinya ini? Apakah Joko Susilo itu""..?"

"Ia seorang gadis, anak mas Sutejo. Memang sejak kecil ia suka berpakaian dan menyamar sebagai pria dan wataknya juga liar dan ugal-ugalan seperti seorang anak laki-laki. Karena itulah, apabila ia menyamar sebagai seorang pria, kami memanggilnya Joko Susilo. Sebenarnya namanya adalah Retno Susilo. Ahhh, anak itu memang nakal, akan tetapi ia cerdik sekali, anak mas. Buktinya ia telah dapat memancing engkau datang ke sini untuk membantu kami. Marilah kita bicara di perkampungan agar lebih leluasa. Adi Munidngloyo, karena Retno telah pulang, maka tolong engkau yang menggiring domba-domba ini."

"Baiklah, ,kakang Mundingsosro, jawab Mundingloyo sambil tersenyum geli menyaksikan peristiwa itu. Sutejo lalu kembali ke perkampungan Sardula Cemeng bersama Ki Mundingsosro dan tak lama kemudian mereka sudah duduk di sebelah dalam rumah besar dan bercakap-cakap.

"Paman, maafkan perlakuanku terhadap puterimu. Sungguh saya tidak pernah mengira bahwa ia seorang wanita."

Kata Sutejo dengan hati yang tulus karena dia benar-benar menyesali perbuatannya.

Tentu saja kalau dia tahuhu bahwa Joko Susilo sebenarnya adalah Retno Susilo, ,dia tidak meungkin berani menelungkupkan tubuh gadis itu di atas pangkuannya dan menampari pinggulnya!

Ki Mundingsosro tersenyum.

"Tidak mengapa karena engkau memang benar tidak tahu akan hal itu. Boleh jadi malah kebetulan. Anak itu terlalu dimanja dan liar, dan agaknya sudah sejak dulu aku harus menampari pinggulnya biar ia kapok."

Agak terhibur hati Sutejo mendengar ini.

"Ada suatu hal lagi yang membuat saya benar-benar tidak mengerti, paman, yaitu mengenai perkumpulan Sardula Cemeng. Perkumpulan apakah ini sebenarnya?"

"Perkumpulan kami terdiri dari paksaan para petugas dari Blambangan untuk menjadi tentara. Juga kami menentang kejahatan dan dengan bersatu kami merasa kuat. Tadinya perkumpulan kami hanya kecil saja, bekerja sebagai petani di daerah ini, akan tetapi setelah ada pelatihan-pelatihan itu perkumpulan kami bertambah besar. Kami menentang kejahatan dan kami bekerja sebagai petani dan nelayan, juga peternak."

Sutejo mengangguk-angguk.

"Akan tetapi ada hal aneh yang tidak saya mengerti paman. Kenapa saya kemarin tidak melihat anak buah paman mengenakan pakaian hitam dan mencoreng moreng mukanya seperti itu? Apa artinya ini semua?"

Ki Mundingsosro tersenyum dan memuntir kumisnya yang tebal.

"Semua itu selalu untuk menyesuaikan dengan nama perkumpulan kami, juga untuk mencegah agar muka para anggauta kami tidak dikenal orang, agar kami tidak lagi menjadi pelarian. Pula, ada alasan kuat mengapa aku memerintahkan mereka mencoreng moreng muka mereka. Ketahuilah anak mas Sutejo. Sebelum tinggal di sini, belasan tahun yang lalu. Aku pernah tinggal di pedalaman Kalimantan dan kebetulan aku menjadi kepala suku Dayak di sana. Aku membawa kebiasaan suku Dayak di sana. Aku membawa kebiasaan suku Dayak itu kesini, yaitu setiap kali hendak melakukan aksi atau hendak bertempur kami mencoreng moreng muka kami seperti yang dilakukan oleh suku Dayak".

"Dengan maksud?"

"Untuk menambah wibawa, memperbesar semangat dan itu tadi, agar jangan dikenal orang."

"Kemudian, bagaimana dengan Mahesa Meta itu Paman? Siapakah sebenarnya orang itu dan bagaimana pula sampai bermusuhan dengan Paman?"

"Sudah kuceritakan bahwa dia adalah seorang perampok tunggal yang sakti. Tidak mempunyai anak buah, akan tetapi untuk daerah pegunungan Kelud namanya terkenal sekali dan banyak penjahat yang tunduk kepadanya. Sebenarnya tidak ada permusuhan di antara kami karena daerah Gunung kelud bukan wilayah kami. Akan tetapi dua minggu yang lalu, Mahesa Meta menggangu penduduk dusun di daerah kami. Bukan saja dia menguras harta penduduk dusun itu, juga dia hendak menculik dua orang gadis kakak beradik. Mendengar ini kami lalu mendatanginya dan tidak dapat dihindarkan lagi, terjadi bentrokan antara kami dan dia. Dia seorang yang benar-benar digdaya, dan mungkin pengeroyokan kami bertiga tidak akan dapat mengalahkannya. Karena para penduduk dusun memihak kami hendak melakukan penggeroyokan, ditambah anak buah kami, ,dia lalu mundur dan berjanji bahwa dua pekan setelah hari itu, dia akan mendatangi perkampungan kami dan membinasakan semua orang. Kalau dia datang seorang diri saja, kami bersama semua anak buah mungkin masih dapat mengusirnya, akan tetapi kalau dia datang membawa pasukannya, bagaimana kami dapat melawannya? Itulah sebabnya maka Retno Susilo yang agaknya melihat kemampuanmu lalu memancingmu untuk datang ke sisni dan membantu kami. Maafkan caranya yang kasar, anak mas Sutejo, akan tetapi sesungguhnya anak saya itu tidak bermaksud buruk, sekedar untuk minta bantuanmu."

Sutejo mengangguk angguk.

"Ia telah berhasil membuat aku berjanji dan tentu saja aku tidak akan mengingkari janji, Paman. Kalau Mahesa Meta datang hendak membikin ribut di sini, biarlah aku yang menghadapi dia. Akan kuminta dia mundur dengan baik-baik dan kalau dia memaksa tentu akan kutandingi. Akan tetapi, kapankah waktu yang ditentukan itu?"

"Menurut perhitungan kami, besok pagi tentu dia sudah datang."

"Baik, aku akan menginap semalam lagi, menanti sampai dia muncul.

"Kata Sutejo. Pada sore hari itu, setelah mandi dan bertukar pakaian, Sutejo berjalan-jalan dalam taman yang berada di belakang rumah indah perkumpulan Sardula Cemeng itu. Sebuah taman yang indah karena teratur baik dan tercium bau mawar dan melati bercampur keharuman bunga tanjung dan kantil. Ada pula bunga harum dalu dan sedap malam, menambah semaraknya taman itu dan merupakan pesta bagi hidung dan mata. Sutejo merasa segar dan senang berada di dalam taman itu. Akan tetapi ketika dia tiba di tengah taman dimana terdapat tempat peristirahatan beratap tanpa dinding, yang besarnya tidak lebih dari tiga meter persegi, dia melihat adanya seseorang duduk di sana. Orang itu duduk seorang diri, tidak bergerak-gerak. Karena orang itu adalah seorang wanita, ,dilihat dari samping ia seperti sebuah arca yang indah. Sutejo merasa tidak pantas untuk mendekatinya, , akan tetapi entah mengapa, ada sesuatu yang aneh menariknya untuk menghampiri tempat peristirahatan itu. Tempat itu terbuka, maka apa salahnya untuk mendekati tempat itu? Akhirnya tibalah dia di belakang wanita itu. Wanita itu mendengar suara jejak kakinya, lalu memutar duduknya dan Sutejo terpesona. Alangkah cantik jelitanya gadis itu. Wajahnya bulat telur dengan dagu meruncing. Rambutnya panjang dibiarkan terurai dan di hias bunga dan hiasan rambut dari emas permata. Anak rambut berjuntai nakal di dahi dan pelipisnya. Alisnya hitam panjang dan sepasang mata itu! Bersinar-sinar seperti sepasang bintang kejora, dihias bulu mata yang panjang lentik. Hidungnya kecil mancung, ujungnya agak berjungat ke atas sehingga tampak lucu sekali. Dan mulutnya! Demikian manis menggairahkan dengan sepasang bibir berbentuk gendewa terpentang. Sutejo terpesona dan tanpa berkedip mengamati wajah itu, bentuk tubuh yang langsing padat itu dan dia merasa seperti dalam mimpi. Mata dan mulut itu dikenalnya benar. Sama sekali tidak asing baginya. Akan tetapi kapan dan dimanakah dia pernah bertemu dengan dewi ini? Ketika memutar tubuh dan memandangnya, tiba-tiba saja kedua mata itu menjadi basah dan dua titik air mata menuruni sepasang pipi yang halus dan berbentuk sempurna itu.

"Andika sungguuh cantik jelita,"

Keluar ucapan dari mulutnya yang langsung keluar dari hatinya, tidak sempat dicegahnya.

"akan tetapi mengapa andika menangis?"

Gadis itu berdiri perlahan-lahan dan tubuhnya tampak ramping dan padat dengan pinggang kecil dan dada membusung. Tangan kirinya bergerak perlahan, diangkat dan ditudingkan ke arah muka Sutejo.

"Andika manusia kurang ajar! Mau apa engkau datang ke sini? Apakah mau menghina aku lagi?"

Suara itu terdengar mengandung isak. Suara itu! Sutejo segera mengenalnya.

"Andika"..Joko"". eh, Retno Susilo?!"

"Mau apa andika datang ke sini? Pergi!"

Retno Susilo menundingkan telunjuknya mengusir Sutejo, , mulutnya cemberut dan sepasang matanya kini bersinar marah. Sutejo menundukkan mukanya.

"Aku tahu"".. aku telah bersalah kepadamu, aku telah berbuat kurang ajar. Akan tetapi aku tidak tahuh bahwa andika seorang dara".."

"Tidak perlu membela diri. Engkau sudah melakukan hal yang tidak pantas terhadap diriku. Perbuatanmu tidak mungkin dapat kumaafkan sebelum aku membalas padamu!"

"Begitukah, nimas? Baiklah, kalau andika baru dapat memaafkan aku setelah andika membalas perbuatanku itu, nah, lakukanlah! Pukullah aku dan aku tidak akan melawan, biar puas rasa hatimu!"

Sutejo melangkah maju mendekat dan menundukkan mukanya, membiarkan kedua lengannya tergantung di kanan kiri tubuhhnya.

Retno Susilo mengepal kedua tangannya, siap untuk memukul.

Matanya menatap tajam penuh dendam.

Kalau ia teringat betapa pinggulnya ditampari sampai empat kali, sehingga sampai saat itu masih terasa pedasnya, ingin ia memukuli pemuda di depannya ini untuk melampiaskan dendamnya dan untuk meredakan kemarahannya.

Ia teringat bahwa tangan kiri pemuda ini yang memukuli pinggulnya.

Tiba-tiba ia mendapat suatu pikiran dan ditangkapnya lengan kiri Sutejo, ditariknya mendekat dan""

Digigitnya lengan tangan kiri itu sekuatnya! "Aduhh-aduhh"..!"

Sutejo berseru kesakitan.

Dia tidak mau menggunakan aji kekebalannya, takut kalau gigi dara itu menjadi rusak.

Kalau dia menggunakan kekebalannya dan mengerahkan tenaga, tentu kulit lengannya akan berubah keras seperti baja.

Maka diapun menyimpan tenaganya dan membiarkan lengan kirinya digigit.

Akan tetapi gigitan itu kuat sekali sampai kulit dan dagingnya tertembus gigi dan robek.

Setelah merasa kulit lengan itu robek dan ada rasa asin di mulutnya tanda bahwa luka itu berdarah, barulah Retno Susilo melepaskan giginya.

Ia memandang terbelalak kepada lengan yang terluka dan berdarah itu, seperti orang tertegun.

Seutejo menjulurkan kedua lengannya kedepan.

"Kalau andika belum puas membalas, nimas Retno, silakan memilih lagi yang mana boleh kau gigit sampai penuh luka."

Retno Susilo memandang lengan yang terluka dan berkata lirih.

"Lenganmu". Luka berdarah"..! Nyerikah"..?"

"Tentu saja nyeri."

"Biar kuberi obat agar lukanya tidak semakin parah."

Dara itu lalu menghampiri tanaman-tanaman obat yang terletak di sepetak tanah yang dipagari dan dengan cekatan dan cepat ia mengumpulkan beberapa macam daun dan terutama widoro upes, diremas-remasnya dengan jari tangannya dan setelah lebut dan mengeluarkan air lalu ditutupkan pada luka di lengan kiri Sutejo, ,kemudian dia membalut luka itu dengan sehelai saputangan sutera putih.

Selama pengobatan ini Sutejo mengamati wajah itu dan jantungnya berdebar kencang.

Alangkah cantik jelitanya dara ini.

Jari-jari tangannya dengan cekatan merawat lukanya sehingga sebelum diobatipun Sutejo sudah merasakan kelembutan jari-jari tangan itu yang mempunyai daya menyembuhkan dan menghilangkan rasa nyeri.

"Nah, sekarang lukamu tidak berbahaya lagi."

Kata Retno Susilo.

"Terima kasih, nimas. Ternyata engkau seorang yang berbudi. Padahal aku pernah berbuat kurang ajar kepadamu, akan tetapi andika membalasnya dengan baik budi. Sekali lagi terima kasih dan sekali lagi maafkanlah aku atas perbuatanku tadi kepadamu."

"Kalau aku tidak memaafkanmu, tentu aku akan membunuhmu!"

Kata dara itu cemberut.

"Dan aku tidak mau membunuhmu karena kami membutuhkan bantuanmu menghadapi Mahesa Meta."

"Andika memang pintar sekali, ,membuat aku sama sekali tidak mengira bahwa andika seorang dara."

"Sejak kecil aku memang suka berpakaian sebagai anak laki-laki, membuat aku lebih leluasa bergerak dan pergi ke mana saja. Kakang Sutejo, begitu sakitkah hatimu, begitu marahkah andika karena godaan-godaanku maka andika menghajarku?"

"Maaf nimas. Karena aku menyangka andika seorang pemuda remaja yang amat nakal menggodaku, maka sejak semula aku sudah mengambil keputusan untuk memukuli pinggulmu kalau andika sampai terjatuh ketanganku. Kalau saja aku tahu bahwa andika seorang dara, sampai matipun aku tentu tidak mau melakukannya."

Agaknya setelah menggigit lengan Sutejo sampai berdarah, hati Retno Susilo sudah merasa puas dan ia tidak lagi memperlihatkan kemarahannya.

Dua titik air mata yang masih tinggal di bawah matanya seperti embun di ujung daun, ,menambah kemanisannya.

"Kakang Sutejo, aku sekarang menjadi khawatir."

Ia duduk kembali di atas bangku panjang itu dan tangannya mempersilahkan Sutejo untuk duduk di ujung bangku yang lain sehingga mereka duduk berjejer.

"Apa yang kau khawatirkan, nimas Retno Susilo?"

"Mahesa Meta itu sakti mandraguna, dan aku sudah melukai lengamu. Jangan-jangan luka di lenganmu itu menghalangi andika untuk memenangkan pertandinganmu melawannya."

"Ah, sama sekali tidak, nimas. Jangan khwatir. Luka di lenganku hanya kulit dan sedikit dagingnya saja, bahkan setelah andika memberi obat sekarang rasanya sudah sembuh dan sama sekali tidak terasa nyeri. Dan tentang Mahesa Meta, kalau memang dia itu jahat aku tentu akan berusaha untuk mengalahkannya sekuat tenagaku."

Gadis itu mengganguk.

"Aku percaya bahwa engkau tentu akan menang, kakang Sutejo. Engkau telah dapat menangkan penggeroyokan kami bertiga. Andika ini masih begini muda sudah memiliki ilmu kepandaian yang amat hebat. Siapakah guru andika, kakang?"

"Guruku adalah seorang pertapa, ,nimas."

"Ah, mengagumkan. Kalau begitu, ,gurumu tentulah seorang yang sakti mandraguna. Bolehkah aku mengetahui siapa namanya dan di mana tempat tinggalnya?"

"Guruku bernama Bhagawan Sidik Paningal dan tinggal di lereng Gunung Kawi."

"Hebat, kiranya engkau seorang satria, murid seorang bhagawan, kakang. Aku sungguh merasa girang sekarang dapat bertemu dan berkenalan denganmu."

"Andika juga hebat, nimas. Seorang dara yang masih sangat muda"."

"Muda? Usiaku sudah delapan belas tahun, kakang!"

"Benarkah? Akan tetapi kalau andika berpakaian pria, tampaknya seperti bocah yang baru empat belas tahunn usianya. Andika masih begini muda akan tetapi memiliki ilmu kepandaian yang sudah tinggi, bahkan kalau aku tidak keliru menilai, kepandaianmu lebih tinggi dari ayah dan pamanmu. Terutama sekali kepandaianmu dalam hal kecepatan gerakan. Dan andika demikian penuh keberanian dan ketabahan."

Retno susilo memandang dengan senang.

"Pandang matamu tajam bukan main, kakang. Dapat melihat dan membandingkan tingkat kepandaianku. Terus terang saja, selain menerima gemblengan dari ayah sendiri, akupun pernah selama beberapa tahun dijadikan murid seorang wanita sakti. Ia kebetulan merantau sampai ke daerah ini, bertemu dengan aku dan tertarik lalu memberi pelajaran aji kanurangan, terutama ilmu meringankan tubuh dan gerakan kilat."

"Pantas saja ketika aku pernah mengejar andika, aku tidak dapat menyusul. Bolehkah aku tahu, siapa nama gurumu yang mulia itu dan di mana tempat tinggalnya?"

"Sudah kukatakan ia seorang perantau yang tidak tentu tempat tinggalnya. Ia seorang nenek yang usianya sudah enam puluh lima tahun dan nama julukannya adalah Nyi Rukmo Petak karena seluruh rambutnya sudah putih."

Sutejo tidak pernah mendengar nama ini akan tetapi dapat menduga bahwa nenek yang menjadi guru Retno Susilo itu tentu seorang wanita yang sakti mandraguna.

Pada saat itu terdengar suara ribut-ribut yang datangnya dari arah luar rumah bagian depan.

"Apa itu?"

Retno Susilo bertanya.

"Mari kita lihat!"

Kata Sutejo dan keduanya sudah berlompatan dan lari keluar dari taman itu.

Biarpun ia berpakaian wanita, namun Retno Susilo masih dapat bergerak dan berlari dengan cepat dengan menyingkap kainnya karena ia mengenakan celana sebatas betisnya.

Setelah tiba di luar, ternyata Ki Mundingsosro dan Ki Mundingloyo telah berhadapan dengan tiga orang laki-laki.

"Yang tinggi kurus itulah Mahesa Meta."

Kata Retno Susilo.

Sutejo memandang penuh perhatian sambil menghampiri.

Mahesa Meta adalah seorang laki-laki berusia kurang lebih empat puluh lima tahun, bertubuh tinggi kurus dan wajahnya membayangkan kecongkakan.

Kepalanya dikedikan, sepasang matanya memancarkan sinar kejam dan mulutnya juga tertarik membentuk senyum mengejek dan memandang rendah semua orang.

Wajahnya yang kurus tinggal kulit membungkus tulang sehingga dari jauh dia tampak seperti tengkorak.

"Mahesa Meta!"

Seru Ki Munidngsosro dengan suara lantang.

"Kiranya andika datang membawa kawan!"

Mahesa Meta tersenyum lebar dan sinar matanya menyambar ke arah Retno Susilo dan seolah melahap gadis itu.

Agaknya dia heran melihat dara yang cantik jelita itu berada di situ.

Kepada Sutejo dia sama sekali tidak memperdulikan dan menganggap pemuda itu hanya seorang anggauta Sardula Cemen biasa saja.

"Dua orang kawanku ini hanya datang sebagai saksi bahwa kalian tidak akan melakukan pengeroyokan atas diriku. Kita mempunyai perhitungan dan permusuhan, mari kita selesaikan satu lawan satu atau kalian boleh maju berbareng!"

Tantangnya.

"Akan tetapi kalau anak buahmu semua maju mengeroyok, terpaksa dua orang kawanku ini akan turun tangan. Sardula Cemeng, hari ini aku Mahesa Meta akan membasmi kalian, kecuali kalau kalian semua menakluk dan menjadi anak buahku.

"Dan membiarkan andika memimpin kami untuk menjadi perampok dan penjahat? Lebih baik mati daripada mempunyai seorang pemimpin macam andika, Mahesa Meta!"

Kata Ki Mundingloyo dengan suara nyaring.

"Ha-ha-ha, memang yang membangkang akan mati ditanganku. Hanya yang menyerah saja akan dapat menjadi anak buahku. Sekarang siapakah diantara kalian berdua yang akan maju menandingiku? Ataukah kalian akan maju berdua mengeroyokku?"

Tantangnya sambil tertawa mengejek.

"Mahesa meta, ,manusia sombong! Kami tidak akan main keroyokan. Kami telah mempunyai seorang wakil yang akan menandingimu! Anak mas Sutejo, silakan!"

Kata Ki Mundingsosro.

Sutejo maju dengan langkah tenang menghadapi Mahesa Meta.

Melihat yang maju hanya seorang pemuda yang tubuhnya tidak berapa besar, bahkan sikapnya sangat sederhana, Mahesa Meta tertawa bergelak.

Juga dua kawannya yang semua bertubuh tinggi besar itu tertawa mengejek.

"Hua hahahaha! Yang begini kalian ajukan sebagai jago? Suruh dia pulang ke pangkuan ibunya dan ajukan lawan yang lebih tangguh lagi. Kalian hendak menghinaku dengan mengajukan jagoan seperti ini, ,Mundingsosro?"

Mahesa Meta tertawa sampai tubuhnya bergoyang-goyang.

"Mahesa Meta, tadinya aku masih sangsi untuk percaya apakah engkau benar yang jahat. Akan tetapi setelah melihat sikapmu dan mendengar omonganmu, baru aku yakin bahwa engkau memang seorang penjahat besar yang berwatak sombong. Sumbarmu seolah dapat meruntuhkan puncak gunung! Ketahuilah, aku sudah berjanji kepada Sardula Cemeng untuk menandingimu dan mengalahkanmu. Apakah engkau gentar dan takut melawan aku?"

Hua ha ha ha!

Takut melawanmu?

Biar ada semacam andika ini sepuluh orang jumlahnya dan maju bersama, aku tidak akan takut!

Akan tetapi , orang muda sebelum kuhancurkan kepalamu, katakana dulu siapa engkau?"

"Namaku Sutejo dan aku sudah siap untuk melawanmu, Mahesa Meta! Akan tetapi andika harus berjanji bahwa kalau andika kalah melawanku, selama hidupmu andika harus menjauhkan diri dari Sardula Cemeng dan tidak boleh mengganggu daerah wilayah ini lagi."

"Kalah olehmu? Hua ha ha ha, kalau aku sampai kalah olehmu, aku bersumpah tidak akan muncul lagi di dunia ramai!"

"Bagus kami semua mendengar sumpahmu Mahesa Meta."

"Akan tetapi kalau andika yang kalah, jangan mengeluh kepada Dewata, karena andika tentu akan mati di tanganku."

"Seorang gagah sudah berani maju bersanding, kematian bukan berarti apa-apa, Mahesa Meta. Aku sudah siap, mulailah!"

Sutejo melangkah maju dan tidak membuka pasangan apa-apa, hanya berdiri sederhana dengan kedua lengan tergantung di kanan kiri tubuhnya.

"Haiiiittt".!"

Mahesa Meta sudah memasang kuda-kuda, kakinya terpentang lebar, tubuhnya merendah dan kedua tangannya dipasang di depan belakang dengan dua jari menunjuk ke atas.

Pasangannya tampak gagah sekali sehingga diam-diam Retno Susilo mengerutkan alis dan menonton dengan hati berdebar penuh ketegangan.

Ki Mundingsosro dan Ki Mundingloyo juga sudah melangkah mundur untuk memberi tempat yang luas bagi kedua orang yang hendak bertanding itu.

"Majulah, Sutejo! Sekali terkena tendanganku, akan rontok igamu dan sekali terkena pukulanku, akan pecah kepalamu!"

Bentak Mahesa Meta dengan Suara lantang penuh gertakan.

Sutejo tersenyum.

Dia tahuu bahwa orang ini memiliki ilmu kepandaian tinggi, namun kesombongannya merupakan titik kelemahan yang akan mengurangi daya serangnya sendiri karena kesombongan itu sudah mengurangi kewaspadaan.

"Andika adalah tamu, Mahesa Meta, maka andika berhak menyerang lebih dulu."

Kata Sutejo. Baru saja Sutejo berhenti bicara, Mahesa Meta sudah menerjang dengan dahsyat.

"Syyyaattttt". Hehh!"

Kakinya menendang dengan cepat dan ketika Sutejo mengelak ke samping, pukulan tangannya sudah menyusul, ,menyambar ke arah dada pemuda itu.

Sutejo menggunakan lengan kirinya menangkis dan dia mengerahkan tenaga untuk menguji sampai di mana kekuatan lawan.

"Duukkk".!"

Dua lengan bertemu dan Mahesa Meta terhuyung, sedangakn Sutejo hanya memindahkan langkah saja.

Dari pertemuan tenaga tadi saja maklumlah Mahesa Meta bahwa pemuda sederhana yang menjadi lawannya itu ternyata memiliki tenaga yang amat kuat.

Dia menjadi penasaran sekali dan cepat dia menerjang lagi dan kini dia mengerahkan seluruh tenaganya pada pukulan tangan kananya yang mengarah kepala Sutejo, agaknya dia hendak membuktikan sumbarnya bahwa dia akan memukul pecah kepala Sutejo.

Sutejo maklum akan datangnya serangan yang disertai tenaga sepenuhnya itu, maka diapun mengerahkan Aji Gelap Musti dan menyambut pukulan itu dengan tangan terbuka.

"Wuuutttt "". Desss""..!!"

Tangan terbuka dan kepalan bertemu di udara dan akibatnya, tubuh Mahesa meta terguncang sampai gemetaran dan dia terhuyung-huyung ke belakang sedangkan Sutejo hanya melangkah dua kali ke belakang.

Sepasang mata Mahesa Meta terbelalak dan wajahnya berubah agak pucat.

Dia yakin bahwa pukulannya tadi telah mengandung tenaga sepenuhnya namun pemuda itu mampu menangkisnya bahkan membuat dia terhuyung!

"Keparat!!"

Makinya dan kini dia menyerang lagi, cepat sekali karena dia hendak mempergunakan kecepatan gerakannya untuk memperoleh kemenangan.

Namun Sutejo dapat mengimbanginya dengan kecepatan secepat gerakan burung walet.

Raihan tangan Mahesa Meta untuk mencengkram hanya dapat memegang angin dan semua pukulannya melesat karena tangkisan atau dapat dielakkan oleh Sutejo.

Sutejo bergerak dengan hati-hati karena dia maklum bahwa lawan ini cukup berbahaya.

Dia lebih dulu memancing agar lawannya menghujankan serangan.

Karena setiap serangan dilakukan dengan tenaga penuh, sedangkan dia lebih banyak mengelak, maka dengan cara itu dia dapat memeras tenaga lawannya.

Pukulan yang tidak mengenai sasaran menghamburkan tenaga dan melelahkan.

Benar saja perhitungannya.

Setelah bertanding seperempat jam tanpa pernah menghentikan serangnnya yang bersambung sambungan.

Mahesa Meta mulai memburu napasnya dan keringatnya sudah membasahi muka dan lehernya.

Makin bernafsu dia, semakin banyak tenaga terhambur.

Sutejo tidak berniat mencelakai atau membunuh orang ini.

Bukankah dia sudah bersumpah bahwa kalau kalah dia akan mengundurkan diri dan tidak menjadi penjahat lagi?

Sebaliknya mengampuninya dan memberi kesempatan untuk bertobat.

Karena itu, dia menanti sampai lawannya yang telah kelelahan itu menjadi lengah dan tiba-tiba kakinya menendang ke arah lutut kanan lawan.

Tidak keras tendangan itu, akan tetapi karena tepat mengenai sambungan lutut, tak dapat dicegah lagi Mahesa meta jatuh berlutut dengan sebelah kakinya seperti orang menakluk!

Terdengar tepuk tangan dan ternyata yang bertepuk tangan adalah Retno Susilo yang segera berseru.

"Baru sebegitu saha andika telah bertekuk lutut minta ampun, Mahesa Meta? Sungguh tidak sepadan dengan sesumbarmu tadi!"

Wajah Mahesa Meta yang tadinya pucat kini berubah menjadi merah sekali karena malu. Dia menguatkan dirinya bangkit berdiri dan dengan napas terengah-engah dia meninggikan suaranya.

"Aku masih belum kalah!"

Dan dia meloloskan sehelai sabuk rantai baja dari pinggangnya.

"Sutejo, keluarkan senjatamu dan mari kita bertanding mempergunakan senjata!"

Tantangnya untuk menutupi rasa malunya karena tadi dia jatuh berlutut.

"Begitukah kehendakmu, Mahesa Meta? Baiklah, aku hanya menuruti kehendakmu!"

Sutejo lalu melepaskan ikat kepalanya dan memegang ujung ikat kepala itu sambil menghadapi lawannya.

Mahesa meta membelalakkan matanya.

Dia yang bersenjata rantai baja yang amat keras dan kuat itu hendak di hadapi dengan kain pengikat kepala?

"Itukah senjatamu?"

Tanyanya ragu. Sutejo memutar kain ikat kepalanya.

"Inilah senjataku."

"Masa bodoh, engkau yang memilih sendiri. Sekali ini akan pecah dadamu, hancur kepalamu!"

Katanya dan dia mulai menyerang.

Rantai baja itu menyambar, mengeluarkan suara berciutan saking cepat dan kuatnya.

Sutejo tetap mempergunakan ilmunya gerakan kijang, berlompatan dan mengelak, menyelinap di antara sambaran sinar rantai.

Tadi saja bermain silat dan menyerang dengan tangan kosong.

Mahesa meta sudah kehabisan tenaga, apa lagi kini harus memainkan rantai baja yang berat.

Napasnya mulai ngos-ngosan lagi dan gerakan rantainya makin mengendur.

Sutejo tahu bahwa tiba saatnya untuk mengalahkan lawan, maka sekali dia membentak, kain ikat kepala menyambar, ujungnya mengenai leher bawah telinga Mahesa Meta dan tubuh yang tinggi kurus itu terkulai roboh dan pingsan!

Retno susilo kembali bertepuk tangan dan bersorak kegirangan melihat kemenangan Sutejo.

Ketika itu, dua orang laki-laki tinggi besar yang tadi datang bersama Mahesa Meta, ,sudah mencabut golok masing-masing dari punggung dan seperti dua ekor harimau marah mereka berdua melompat dan mengeroyok Sutejo.

"Hei, curang! Pengecut!"

Retno Susilo berseru dan dara ini melompat ke depan, tangannya sudah memegang sebatang pedang dan iapun menyambut seorang di antara mereka yang mengeroyok Sutejo.

Sutejo sendiri juga menggerakkan ikat kepalanya untuk menandingi yang seorang lagi.

Terjadilah perkelahian kedua yang berat sebelah.

Tingkat kepandaian dua orang rekan Mahesa Meta itu tidak setinggi Mahesa Meta maka tentu saja yang melawan Sutejo menjadi kewalahan sekali.

Bahkan yang ditandingi Retno Susilo juga menjadi pening kepalanya melihat gerakan gadis itu yang luar biasa cepatnya.

Retno Susilo bergerak dengan tangkas dan cepat sekali, dan baru belasan jurus saja ia sudah melukai paha orang itu dengan ujung pedangnya.

Lawannya mengaduh dan roboh terguling.

Pada saat itu Sutejo juga dapat menendang lawannya sehingga terpental dan roboh.

Retno Susilo hendak mengirim serangan susulan, ,akan tetapi tiba-tiba lengannya ada yang menyentuhnya.

"Sudah cukup nimas. Tidak perlu membunuh mereka, berilah kesempatan kepada mereka untuk bertaubat."

"Penjahat-penjahat macam mereka ini mana mungkin mau bertaubat, kakang? Kalau tidak dibasmi, kelak hanya akan menimbulkan bencana saja!"

Bantah Retno Susilo dan dengan pedangnya ia menyerang ke arah Mahesa Meta yang sudah mulai bergerak merangkak bangun.

"Plakk!"

Pedang itu ditangkis oleh tangan Sutejo, lalu lengan Retno Susilo ditarik oleh Sutejo.

"Jangan sembarangan membunuh orang nimas. Hal itu amatlah tidak baik. Ampuni mereka."

Kata Sutejo. Ki Mundingsosro juga berkata dengan suara nyaring kepada puterinya.

"Biarkan mereka pergi Retno. Karena mereka itu sudah jera untuk menganggu kita lagi."

Dengan bantuan dua orang kawannya yang lebih dulu bangkit, Mahesa Meta berdiri dan dipapah.

Biarpun dia sudah terluka, namun sinar matanya masih penuh penasaran.

Kini dia tidak lagi memusuhi Kin Mundingsosro dan Ki Mundingloyo yang sudah dikalahkannya, akan tetapi dia memandang kepada Sutejo dengan sinar mata berapi.

"Sekali ini aku kalah olehmu, Sutejo, akan tetapi akan tiba saatnya aku membalas kekalahan ini."

"Hemm, apa kukatakan tadi, kakang Sutejo. Orang macam ini mana bisa bertaubat dan menjadi orang baik?"

"Retno, jangan mencampuri."

Kata ayahnya.

"Ayah aku hanya mengkhawatirkan kakang Sutejo. Dia mengampuni orang-orang macam itu, mengharapkan mereka bisa bertaubat, akan tetapi sesungguhnya dia hanya membuat musuh-musuh baru yang kelak akan mencoba untuk membalas dendam."

"Biarlah, nimas Retno. Kalau dia masih merasa penasaran dan kelak hendak mencariku untuk membalas dendam, akan kulayani."

Kata Sutejo. Kini Mahesa Meta memandangn kepada Retno Susilo dengan sinar mata berapi.

"Engkau juga, gadis cilik. Kelak akan tahu rasa!"

Setelah berkata demikian Mahesa Meta mengajak dua orang kawannya meninggalkan tempat itu. Setelah tiga orang itu pergi, Ki Mundingsosro berkata kepada Sutejo.

"Kami bertiga menghaturkan banyak terima kasih kepadamu, anakmas Sutejo. Tanpa bantuanmu mungkin kami semua telah binasa di tangan orang jahat itu. Marilah kita kembali keperkampungan. Ada satu hal yang ingin sekali saya bicarakan dengan andika."

Sebetulnya Sutejo ingin melanjutkan perjalannannya dan tidak singgah lagi ke perkampungan Sardula Cemeng, akan tetapi Retno Susilo tanpa malu-mali memegang tangannya.

"Kakang Sutejo marilah singgah dulu di rumah kami. Setelah engkau berhasil mengusir Mahesa Meta itu, engkau menjadi penolong dan tamu agung kami."

Ia menarik tangan Sutejo dan terpaksa Sutejo tidak dapat menolak lagi. Setelah tiba di rumah, Ki Mundingsosro berkata kepada Retno Susilo.

"Retno Susilo pergilah engkau ke dapur dan aturlah agar disediakan hidangan siang ini untuk menjamu anak mas Sutejo." (Lanjut ke

Jilid 04) Pecut Sakti Bajrakirana (Seri ke 01 -Serial Pecut Sakti Bajrakirana) Karya". Asmaraman S. Kho Ping Hoo

Jilid 04

"Baik, ayah."

Retno Susilo pergi ke dapur dengan senang hati. Kini Sutejo duduk bertiga dengan Ki Mundingsosro dan Ki Mundingloyo.

"Urusan apakah yang hendak pama bicarakan dengan saya?"

Tanya Sutejo setelah mereka duduk berhadapan.

"Anakmas, bolehkah kami mengetahui brapa usiamu sekarang?"

Tanya Ki Mundingsosro sambil menatap wajah yang tampan itu penuh selidik. Sutejo tersenyu, dan merasa heran akan tetapi dia menjawab juga sejujurnya.

"Saya berusia dua puluh tahun, paman."

"Apakah anakmas sudah beristeri?"

Atau sudah bertunangan?"

Tanya pula tuan rumah dan sekali ini wajah Sutejo berubah kemerahan karena merasa tertegun dan rikuh mendengar pertanyaan tentang itu.

Karena itu rasanya sukar baginya untuk menjawab dengan kata-kata, ,maka diapun hanya menggeleng kepalanya saja.

Gelengan kepala itu rupanya cukup bagi Ki Mundingsosro karena wajahnya menjadi berseri.

"Bolehkah kami bertanya, siapa orang tuamu yang terhormat, anakmas Sutejo?"

Ditanya tentang orang tuanya, tiba-tiba wajah Sutejo yang biasanya cerah itu menjadi muram.

Alisnya yang tebal berkerut dan sejenak dia memejamkan kedua matanya, tanpa menjawab.

Akan tetapi Ki Mundingsosro menanti dengan sabar dan ketika Sutejo membuka matanya dan memandang kepadanya, dia terkejut.

Ada sinar aneh mencorong dari mata pemuda itu.

Dia menjadi terkejut sendiri dan khawatir kalau-kalau pemuda itu marah.

"Maafkan saya, anakmas. Kalau sekiranya anakmas tidak mau menjawab pertanyaan saya tadi, tidak mengapalah."

Sutejo menggeleng kepalanya.

"Bukan tidak mau menjawab, Paman, melainkan tidak bisa menjawab karena saya sendiri tidak tahu siapa ayah bundaku!"

"Eh, bagaimana pula ini, anakmas?"

Ki Mundingloyo yang sejak tadi hanya mendengarkan saja kini tidak dapat menahan keheranannya.

Bagaimana mungkin seseorang tidak mengetahui siapa ayah bundanya?

"Sesungguhnyalah, paman.

Sejak berusia tiga tahun saya ditemukan dan dirawat guru saya.

Bahkan beliau juga tidak tahu siapa orang tua saya.

Agaknya tidak ada orang di dunia ini yang mengetahui siapa sebetulnya ayah bunda saya."

"Aneh, sungguh aneh!"

Kata Ki Mundingsosro.

"Akan tetapi, siapakah gurumu itu, ,anakmas?"

"Guru saya adalah Bhagawan Sidik Paningal, pertapa di lereng Gunung Kawi."

"Hemmmm, kami pernah mendengar nama besar gurumu, anakmas. Bukankah beliau seorang tokoh besar dari perguruan Jatikusumo?"

Tanya Ki Mundingsosro.

Sutejo tidak heran mendengar ini.

Memang dahuulu Resi Limut Manik terkenal dengan perguruannya Jatikusum dan mempunyai tiga orang murid yang terkenal di seluruh Mataram, yaitu Bhagawan Sindusakti, Bhagawan Sidik Paningal dan Bhagawan Jaladara.

Akan tetapi setelah tiga orang murid itu meninggalkan puncak Semeru, perguruan itupun bubar.

Dia sendiri belum pernah berhubungan dengan uwa dan paman gurunya, dan bertemu dengan Bhagawan Jaladara juga baru ketika sang Bhagawan itu mengunjungi gurunya dan memukulinya, kemudian dia berhasil merampas Pecut Sakti Bajrakirana dari tangan paman gurunya itu.

Dengan Sang Bhagawan Sindusakti dia bahkan belum pernah bertemu sama sekali.

"Kiranya benar demikian, Paman. Akan tetapi saya tidak banyak mengetahui tentang perguruan itu."

"Kalau begitu kami masih mempunyai harapan, anakmas. Sebetulnya niat kami adalah untuk memperat hubungan di antara kita dan kerena andika juga belum terikat pernikahan, maka kami bermaksud untuk menjodohkan anak kami Retno Susilo dengan anakmas. Dan untuk itu, kami akan menghubungi gurumu dan minta persetujuannya, atau tegasnya kami hendak mengusulkan perjodohan ini kepadanya. Tentu saja kalau anakmas menyetujui."

Kata Ki Mundingsosro dengan ramah.

"Ha ha ha, usul yang baik sekali!"

Kata Ki Mundingloyo sambil tersenyum.

"Retno itu bandek bukan main dan agaknya hanya andika saja yang mampu mengendalikannya. Sebetulnya ia anak baik dan pemberani, juga mengenai kecantikannya, agaknya jarang ada yang dapat menyainginya, anakmas."

Wajah Sutejo berubah kemerahan.

Sungguh sama sekali dia tidak pernah menyangka bahwa dua orang itu akan mengajukan usul perjodohan seperti itu.

Retno Susilo!

Dia menjadi salah tingkah.

Dia memang suka dan kagum kepada dara itu.

Akan tetapi berjodoh dengannya?

Sama sekali tidak pernah terpikirkan olehnya, ,sedikitpun tidak pernah.

Dia sama sekali belum pernah memikirkan perjodohannya, ,dengan siapapun juga.

Masih jauh jalan yang harus dia lalui, masih luas pengalaman hidup yang harus ditempuhnya.

Mana mungkin sekarang tiba-tiba mengikatkan diri dengan perjodohan?

Hal itu berarti dia akan berhenti, ,berumah tangga membentuk keluarga!

Padahal jangkauannya amat jauh, ,dia akan menghambakan dirinya kepada Sang Prabu Pandan Cokrokusumo atau Sultan Agung yang arif bijaksana, menghambakan diri kepada nusa dan bangsanya.

"Bagaimana pendapatmu dengan usul kami itu, anakmas? Kami melihat kalian berdua serasi sekali. Retno susilo memiliki kepandaian yang melebihi kami dan dengan bimbingan anakmas kelak ia akan menjadi seorang wanita yang hebat."

Kata pula Ki Mundingsosro.

"Maaf, beribu maaf, paman berdua. Bukan sekali saya menolak usul andika berdua. Bahkan saya menghaturkan terima kasih sekali atas kepercayaan yang besar itu. Akan tetapi terus terang saja, untuk waktu sekarang ini saya sama sekali belum mempunyai pikiran untuk mengikatkan diri dengan perjodohan. Saya ingin meluaskan pengalaman dan pengetahuan dan untuk itu saya harus hidup seorang diri. Bukan berarti saya menampik nimas Retno Susilo. Ia bahkan mungkin terlalu baik untuk saya. Akan tetapi terus terang saja, untuk saat ini saya tidak dapat menerima usul itu. Saya masih ingin hidup sebatang kara dan bebas merdeka tidak terikat oleh apapun."

Dua orang pria itu saling pandang dan mereka tampak kecewa. Akan tetapi karena alasan Sutejo kuat, mereka hanya dapat menghela napas dan Ki Mundingsosro berkata dengan lambat.

"Kami dapat mengerti pendirian andika, anakmas. Akan tetapi kalau tiba saatnya bagi andika untuk memikirkan perjodohan, jangan lupakan Retno Susilo, jangan melupakan kami, anakmas. Kami masih selalu mengharapkanmu"""

"Ah, saya tidak berani menjanjikan apa-apa, paman. Nimas Retno Susilo adalah seorang gadis yang cantik jelita dan pandai. Kalau memang ada seorang perjaka yang meminangnya dan ia setuju, jadikan saja perjodohan itu, jangan menunggu saya. Saya khawatir kalau-kalau paman akan menunggu dengan sia-sia. Siapa tahu saya tidak akan mengikatkan diri dengan perjodohan selamanya."

Kembali Ki Mundingsosoro menghela napas panjang.

"Biarlah anakmas. Di antara kita tidak ada janji apa-apa, tidak ada ikatan apa-apa. Hanya kami harap anakmas tidak akan melupakan kami yang telah menjadi sahabat baik."

Siang itu kembali Sutejo dijamu makan siang yang mewah.

Retno Susilo ikut makan semeja dan ia bersikap masih sekali terhadap Sutejo yang dikaguminya.

Ia melayani Sutejo dengan ramah, mengambilkan dan menambahkan lauk pauk, mengisi cangkir minumannya setiap kali kosong.

"Kalau saja aku dapat mempunyai guru seperti andika, kakang Sutejo, akan puaslah hidupku. Aku ingin menjadi sakti mandraguna seperti andika."

"Engkau sudah cukup digdaya sebagai seorang gadis, ,nimas. Pula aku tidak mempunyai waktu untuk menjadi seorang guru. Aku harus berkelana, melaksanakan tugas sebagai seorang satria membela kebenaran dan keadilan, dan terutama aku hendak mengabdi kepada Yang Mulia Sultan Agung di Mataram."

"Ah, engkau akan berkelana kakang Sutejo? Tidak tinggal dulu beberapa lamanya di sini menjadi tamu kami?"

"Tidak, nimas. Aku bahkan akan berangkat hari ini juga meninggalkan tempat ini."

"Apa?"

Retno Susilo bangkit dari tempat duduknya.

"Pergi sekarang juga? Ayah, aku boleh ikut kakang Sutejo pergi, bukan? Ikut berkelana? Boleh, ya, ayah?"

Ia membujuk ayahnya. Ayahnya saling pandang dengan pamannya, kemudian menggerakan kedua pundaknya dan berkata.

"Tentu saja boleh kalau anakmas Sutejo tidak berkeberatan."

"Kakang Sutejo tentu tidak berkeberatan ya kakang? Boleh ya aku ikut denganmu merantau?"

Sutejo tersenyum dengan hati merasa tidak enak.

"Tentu saja tidak mungkin, nimas. Dalam perantauanku, aku banyak menempuh bahaya dan aku akan mengabdikan diriku kepada Yang Mulia Sultan Agung di Mataram menjadi prajurit. Bagaimana andika seorang gadis muda hendak ikut? Pula, bukankah akan tidak pantas sekali dilihat orang kalau seorang gadis muda melakukan perjalanan berdua saja dengan seorang pria?"

"Aku tidak takut menempuh bahaya, asal bersamamu, kakang! Dan siapa bilang tidak pantas? Aku bisa bilang bahwa aku adikmu atau aku akan menyamar menjadi Joko Susilo, siapa akan tahuu aku seorang wanita?"

Sutejo mengerutkan alisnya.

Dia harus berani berkeras hati menghadapi gadis manja ini.

Dia menggeleng kepalanya dan suaranya terdengar tegas.

Tidak mungkin, nimas.

Maafkan aku, terpaksa aku menolak keinginanmu.

Aku tidak bisa melakukan perjalanan bersamamu, karena banyak yang harus kuurus dan selesaikan.

Keikutanmu akan merupakan hambatan bagiku.

Sekali lagi maaf, aku harus pergi seorang diri saja."

Retno susilo mengerutkan alisnya dan duduk kembali, cemberut dan kedua matanya basah. Ia tida mau makan lagi.

"Sudahlah, Retno, anakmas Sutejo mempunyai banyak urusan yang harus dilaksanakan. Kalau dia tidak mengijinkan engkau ikut, engkat tidak boleh memaksa."

Kata Ki Mundingsosro menghibur anaknya.

"Siapa yang memaksa?"

Kata Retno Susilo galak dan iapun bangkit berdiri lalu meninggalkan ruangan makan itu. Sutejo menghela napas, merasa tidak enak sekali.

"Maafkan, paman Mundingsosro, aku telah membuat Retno marah."

"Ah, tidak mengapa anakmas. Anak itu memang manja, ,minatnya selalu harus dituruti kemauannya."

Jamuan makan itupun selesai dan Sutejo segera berkemas untuk meninggalkan perkampungan Sardulo Cemeng.

Kemudian dia berpamit dari Ki Mundingsosro dan Ki Mundingloyo.

Seluruh keluarga tuan rumah ikut mengantar tamu kehormatan mereka keluar dari perkampungan.

Hanya Retno Susilo yang tidak tampak.

Ki Mundingsosro sudah mencari anak perempuannya itu, namun tidak berhasil.

Gadis itu tetap tidak tampak sampai Sutejo meninggalkan perkampungan.

Setelah melewati Hutan Kolojambe di luar perkampungan itu, tibalah dia di lereng bukit.

"Kakang Sutejo!"

Dia mendengar panggilan.

Suara Retno Susilo!

Akan tetapi ketika dia menengok kebelakang dan ke sekelilingnya, ,tidak tampak gadis itu.

Akhirnya dia melihat gadis itu berada di depan, duduk di atas cabang pohon dengan kedua kaki ongkang-ongkang.

Gadis itu telah mengenakan pakaian sebagai pemuda remaja!

"Eh, engkau nimas Retno!"

Dengan gerakan yang amat gesit, gadis itu berjungkir balik beberapa kali dan turun di depan Sutejo.

"Aku bukan Retno. Aku Joko Susilo!"

Katanya tegas.

"Dan tidak ada seorangpun di dunia ini dapat melarang seorang pemuda remaja seperti aku untuk merantau ke mana saja aku suka!"

Sutejo menghela napas panjang.

"Tidak ada yang melarangmu merantau hanya aku tidak mungkin mengajakmu, ,nimas. Bagaimanapun juga, aku tahu bahwa andika seorang wanita, dan ini amat tidak baik. Apa akan kata orang kalau melihat aku melakukan perjalanan dengan seorang gadis? Dan aku masih mempunyai banyak tugas yang harus kuselesaikan."

"Tidak perduli! Aku akan ikut denganmu, dan kalau engkau melarang, engkau harus dapat menggunakan kekerasan. Selama kedua kakiku dapat digerakkan, aku akan ikut engkau, kakang!"

Kata Retno Susilo dengan suara mengandung tangis.

Sebenarnya Sutejo merasa kasihan sekali kepada gadis ini, akan tetapi dia juga jengkel menghadapi kekerasan hatinya.

Seorang gadis berkepala batu!

Segala kehendaknya harus dituruti!

"Aku tetap tidak mau membawamu.

Aku akan pergi!"

Setelah berkata demikian Sutejo hendak melanjutkan perjalanan meninggalkan lereng bukit itu.

Akan tetapi dengan sebuah lompatan yang sigap, tubuh retno susilo telah mendahuluinya dan kini ia berdiri di depan Sutejo, matanya yang lebar dan bening itu bersinar-sinar penuh penasaran dan kemarahan, kedua pipi yang bentuknya indah itu merah sekali, napasnya agak memburu ketika ia bertolak pinggang menghadang di depan Sutejo.

"Kakang Sutejo, demikian kejamkah hatimu untuk tidak mau mengajaku dan hendak meninggalkan aku begitu saja?"

Tanyanya dengan suara penuh tuntutan. Sutejo mengbela napai.

"Aku tidak kejam Retno. Akan tetapi sungguh tidak mungkin aku mengajakmu pergi merantau. Banyak sekali tugas yang harus kuhadapi. Aku harus menghadap Bapa Guru di Gunung Kawi, kemudian pergi menghadap Eyang Guru di puncak Semeru. Setelah itu aku harus menghambakan diri kepada Sinuhun dan berbakti untuk Nusa dan Bangsa. Untuk memenuhi semua tugas itu, aku harus menempuh perjalanan yang jauh dan berat. Bagainana mungkin aku dapat membawamu?"

"Akan tetapi aku tidak minta digendong, tidak minta dituntun. Aku berjalan dengan kakiku sendiri dan aku dapat menjaga diri dengan kaki tanganku sendiri. Engkau tidak perlu repot-repot mengurusku, kakang, hanya membolehkan aku mengikutimu ke mana engkau pergi."

"Ini hal yang tidak mungkin, Retno. Engkau seorang wanita, seorang gadis. Bagaimana dapat melakukan perjalanan bersamaku seorang pemuda? Sunguh tidak pantas dan melanggar kesusilaan. Namamu adalah Retno Susilo, maka engkau harus tahu apa artinya kesusilaan itu. Seorang gadis melakukan perjalanan bersama seorang pemuda yang bukan apa-apanya marupakan pelanggaran susila yang besar."

"Akan tetapi aku menyamar sebagai seorang pemuda bernama Joko Susilo. Tidak akan ada yang tahu bahwa aku seorang gadis!"

Bantah Ratno Susilo.

"Rahasia itu tidak akan dapat dipertahankan untuk selamanya. Akhirnya orang akan tahu bahwa engkau seorang gadis dan habislah nama baik dan kehormatan kita. Bagiku masih tidak begitu buruk akibatnya karena aku seorang laki-laki, akan tetapi bagimu! Namamu sebagai seorang gadis akan menjadi rusak dan terhina. Tidak, aku tidak dapat mengajakmu, Retno Susilo!"

"Aku tetap akan mengikutimu!"

"Dan aku tetap menolak untuk mengajakmu!"

Sutejo sudah menjadi marah sekali. Gadis ini sungguh bandel dan tidak mau tahu urusan hendak mambawa kehendaknya sendiri saja, hendak memaksakan kahendaknya.

"Kalau begitu engkau juga tidak boleh pergi begitu saja. Aku akan menghalangimu pergi!"

Setelah berkata demikian, Retno Susilo bergerak cepat sekali.

Tubunya berkelebatan seperti terbang saja karena ia sudah mengerahkan aji meringankan tubah yang disebut Kluwung Sakti.

Cepat bukan main gerakan tubuhnya dan tiba-tiba saja ia sudah menyerang Sutejo dengan tamparan tangan kirinya ke arah dada!

"Wuuuuuuttt.......!"

Sutejo cepat mengelak.

Pemuda inipun merasa marah dan jengkel sekali menghadapi gadis yang liar dan binal ini.

Dia mengelak sambil melangkah ke samping.

Namun gerakan Retno Susilo amat cepatnya.tubuhnya sudah membuat gerakkan berputar dan kembali tangannya sudah menyambar dengan tamparan yang lebih kuat lagi ke arah wajah Sutejo.

"Hemmm, kepala batu!"

Sutejo mengomel dan dia cepat mengangkat lengannya untuk menangkis sambil mengerahkan tenaga.

"Wuutttt......... dukk!"

Tangan itu tertangkis dan tubuh Retno Susilo terlempar sedikit saking kuatnya tangkisan itu.

Akan tetapi dalam keadaan berputar tubuhnya itu, siku kanan Retno Susilo mencuat dan menyerang ke arah dada Sutejo!

"Dess........!"

Karena serangan ini tidak disangka-sangka, Sutejo kena disiku dadanya sehingga agak terhuyung ke belakang.

Siku yang runcing itu cukup mendatangkan rasa nyeri karena dia tidak melindungi tubuhnya dengan aji kekebalan.

Dengan marah tangannya menyambar untuk menangkap pergelangan tangan gadis itu.

Namun, gadis itu memang memiliki ilmu meringankan tubuh yang sempurna.

Cepat bukan main gerakaanya dan ia sudah dapat menarik tangannya sehingga luput dari cengkeraman Sutejo, bahkan kini ia menghujamkan serangan lagi dengan tangannya yang menyambar-nyambar, menampar dan menonjok.Cepat sekali gerakan kedua tangannya sehingga seolah ia memiliki enam buah tangan, bukan hanya dua.

Dan tubuhnya berkelebatan gesit seperti seekor burung walet.

Penasaran juga rasa hati Sutejo.

Baca Juga: Mutiara Hitam 24

Baca Juga: Dewi Maut 10

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert