Eps 2 Pecut Sakti Bajrakirana - Kho Ping Hoo
Baca online Pecut Sakti Bajrakirana - Kho Ping Hoo
Cersil Pecut Sakti Bajrakirana - Kho Ping Hoo.
Diam-diam ia harus mengakui bahwa dia masih kalah setingkat dalam hal kecepatan dan keringanan gerakan tubuh dibandingkan dara itu.
Dia tahu bahwa kalau hanya mengadalkan kecepatan, tidak akan pernah dapat menundukkan gadis bandel ini.
Maka dia mengubah siasat.
Ketika kedua tangan gadis itu kembali menamparnya ke arah dada dan leber, diam-diam dia mengerahkan aji kekebalan Kawoco dan menerima pukulan itu dengan dada dan leher terbuka, sama sekali tidak dielakkan atau ditangkis.
"Plaakk! Plaakk!!"
Dua kali tamparan tepat mengenai dada dan lehernya akan tetapi akibatnya Retno Susilo menahan jeritnya karema merasa betapa kedua telapak tangannya terasa panas dan pedih seperti telah menampar dinding baja!
Kedua tangannya itu terpental dan pemuda itu berdiri tenang saja, memasang tubuhnya untuk dipukul.
"Silakan pitih mana bagian yang paling lunak, Retno Susilo! Pukullah dengan tanganmu yang lunak seperti agar-agar itu!"
Sutejo sengaja mengejek karena diapun sudah mendongkol sekali melihat kebandelan gadis ini.Mendengar ejekan bahwa tangannya lunak seperti agar-agar, Retno Susilo membalalakkan matanya dan menjadi marah bukan main.
Tanpa memperdulikaa kedaa tanganaya yang terasa panas dan nyeri, ia memukul terus, daridepan, dari belakang, memukuli dengan ngawur saja asal kena, terdengar suara plak-plok dan bak-bok ketika tubuh Sutejo dihujani pukulan, akan tetapi semua pukulan itu membalik dan tangan yang memukul terpental.
Sutejo baru mengelak atau menangkis kalau pukulan itu mengarah kepala atau mukanya, akan tetapi di bagian tubuh lainnya, dia menerima begitu saja.
Akhirnya, Retno Susilo tidak tahan.
Kedua tangannya sudah menjadi kemerahan dan nyeri sekali dan hatinya sedemikian kesal dan gemasnya sehingga kedua matanya sudah basah air mata.
Ia menangis tanpa suara.
"Keparat!"
Ia memaki dan tiba-tiba ia mencabut sebatang pedang dari punggungnya.
Begitu dicabut, tampak sinar kehijauan.
Itulah sebatang pedang pusaka pemberian gurunya.
Pedang pusaka Nogo Wilis yang mengeluarkan sinar kehijauan.
Begitu pedang Nogo Wilis berada di tangannya, Retno Susilo sudah menerjang dengan ganas dan dahsyat, tidak mengeluarkan kata-kata lagi.
Serangannya bertubi-tubi dan dahsyat sekali karena selain cepat, juga mengandung tenaga sakti dan pedang itu sendiri mempunyai kandungaa hawa yang amat berbahaya.
"Heeiiiittttt.......!"
Sutejo sudah waspada, maklum betapa besar bahayaa pedang pusaka di tangan gadis yang liar dan binal itu.
Diapun menggunakan kelincahannya untuk melompat dan mengelak.
Akan tetapi Ratno Susilo mengejar dan tidak memberi kesempatan kepadanya untuk menjauh.
Pedangnya menyambar-nyambar seperti seekor naga bermain-main di angkasa, di antara awan yang bergulung-gulung.
Repot juga Sutejo didesak oleh rangkaian serangan pedang yang dahsyat Maklum bahwa kalau dia hanya menghadapinya dengan tangan kosong keadaaannya dapat berbahaya, dia lalu melolos kain pengikat rambutnya.
Kain kepala itu cukup panjang dan lebar dan sekali dikelebatkan, tampak gulungan sinar putih seperti awan yang menyambut gulungan sinar pedang yang kehijauan.
"Plak-plak cringgg...... !"
Kain yang lunak itu di tangan Sutejo dapat berubah menjadi keras dan kaku seperti terbuat dari logam dan beberapa kali pedang itu tertangkis dan terpental.
Akan tetapi Retno Susilo mengeluarkan semua kepandaiannya dan mengerahkan semua tenaganya sehingga gerakannya selain cepat, juga trengginas sehingga Sutejo lebih banyak mengelak dan menangkis daripada menyerang.
Karena sampai puluhan jurus belum juga dapat mengalahkan pemuda itu, Retno Susilo menjadi semakin penasaran.
"Hyaaaattt.......!"
Tiba-tiba tubuhnya melayang dan pedangnya menyambar ganas bagaikan seekor burong garuda dara itu melompat dan mengirim serangan dari udara.
Pedangnya menyambar ke arah kepala Sutejo secaradahsyat sekali.
Pemuda ini mengambil keputusan untuk menyudahi perkelahian itu sebelum perkelahianmenjadi semakin berbahaya.
Dia tidak ingin mencelakai Retno Susilo, akan tetapi tentu saja diapun tidak ingin kalah di tangan gadis bandel ini.
Melihat pedang itu menyambar dahsyat, dia mengelak, menyelinap di bawah sambaran pedang, Kemudian ketika lengan yang memegang pedang itu lewat, dia menggunakan kain pengikat kepalanya untuk mengebut atau melecut ke arah pergelangan tangan Retno Susilo yang memegang pedang.
"Pssstttt....... !!"
Gadis itu menjerit kecil dan pedangnya terlepas dari pegangan, terlempar sampai jauh.
Sejenak gadis itu terbelalak, kemudian mukanya menjadi merah sekali.
Diserangnya Sutejo dengan kedua tangannya dan di lain saat ia telah menghujankan pukulan dan tamparan kepada tubuh Sutejo, akan tetapi pemuda itu menerimanya sambil tersenyum.
Karena semua pukulannya tidak mempan, akhirnya gadis itu menjatuhkan diri berlutut sambil manangis, menutupi mukanya dengan kedua tangannya!
Sutejo memandang kepada gadis itu, kemudian perlahan-lahan dia membalikkan tubuhnya dan melompat pergimenuruni lereng bukit itu, tidak memperdulikan lagi kepada gadis berpakaian pria yang sedang menangis kesal dan marah itu.
Dua orang laki-laki yang gagah dan bertubuh tinggi besar perlahan-lahan menghampiri Retno Susilo yang sedang menangis itu.
Mereka itu bukan lain adalah Ki Mundingsosro ketua Sardula Cemeng dan adiknya, Ki Munidngloyo.
Mereka saling pandang lalu memandang kepada Retno Susilo sambil menghela napas dan menggeleng-geleng kepala.
"Retno Susilo, engkau kenapakah?"
Mengapa engkau menangis di sini?"
Tanya Ki Mundingsosro, pura.pura tidaktahu padahal tadi dia dan adiknya telah melihat dari jauh betapa puterinya itu bertanding melawan Sutejodan dikalahkan pemuda itu.
Mendengar suara ayahnya, Retno Susilo tidak menurunkan kedua tangannya dari depan muka, bahkan menangis semakin mengguguk!
Ayah dan paman itu dengan suara halus membujuknya agar tidak menangis lagi.
"Sudahlah, anakku. Kalau ada urusan baiknya dirundingkan dulu dengan kami, ditangisi saja tidak ada gunanya. Pula, engkau adalah seorang gadis yang gagah perkasa, bagaimana masih dapat menangis seperti seorang anak perempuan yang lemah dan cengeng? Katakanlah, siapa yang telah berani menyakitimu? Kami tidak akan tinggal diam saja."
Kata pula Ki Mundingsosro. Retno Susilo menghapus air matanya dan menghentikan tangisnya. Ia lalu mengambil pedangnya yang tadi terlempar jauh, kemudian berkata kepada ayahnya.
"Bapa, aku mau pergi mencari guruku untuk memperdalam ilmu agar lain kali tidak sampai dihina orang!"
"Eh, Siapa yang telah menghinamu, anakku?"
Tanya ayahnya.
"Kakang Sutejo itu! Aku ingin ikut dia mengembara, akan tetapi dia menolak, bahkan ketika aku memaksa, dia mengalahkan aku. Aku harus belajar lagi dari guruku Nyi Rukmo Petak, kemudian aku akan mencari Sutejo menantangnya lagi untuk menebus kekalahanku hari ini!"
Ki Mundingsosro saling pandang dengan Ki Mundingloyo dan keduanya tersenyum.
Maklumlah Ki Mundingsosro akan isi hati puterinya.
Puterinya yang keras hati ini tidak tidak salah lagi telah jatuh hati kepada Sutejo dan hendak ikut pemuda itu merantau akan tetapi menjadi marah ketika ditolak dan lalu menantang akan tetapi dapat dikalahkan.
"Baiklah, akan tetapi mari pulang dulu. Engkau harus pikirkan dulu baik-baik dan juga berpamit kepada ibumu, bukan pergi mendadak seperti ini."
Ayahnya dan pamannya membujuk dan akhirnya gadis bandel itu mau juga diajak pulang.
Akan tetapi sepekan kemudian, Retno Susilo meninggalkan perkampungan Sardulo Cemeng di hutan KebonJambe.
Semua alasan yang diajarkan ayahnya dan pamannya, juga ibunya untuk mencegah kepergiannya, tidak didengarnya lagi sehingga akhirnya mereka terpaksa membiarkan gadis itu pergi.
Retno Susilo membawa bekal emas untuk biaya perjalanan dan ia tidak lagi menyamar sebagai seorang pemuda, melainkan berdandan seperti seorang pendekar wanita yang gagah perkasa, dengan pakaian serba ringkas, tidak lupa, Pedang Nogo Wilis tergantung di punggungnya.
Sang Adipati Wirosobo tampak marah sekali.
Tubuhnya yang tinggi besar itu tampak semakin kokoh, wajahnya yang penuh brewok itu berubah kemerahan, matanya yang lebar terbelalak menonjol seolah hendak keluar dari pelupuknya, tangan kirinya memuntir kumisnya yang sekepal sebelah.
"Babo-babo keparat ! Andika kalah oleh murid Bhagawan Sidik Paningal, Paman Bhagawan Jaladara? Bahkan Pecut Sakti Bajrakirana telah dirampas oleh pemuda itu? Siapa namanya? Sutejo?"
Sang Bhagawan Jaladara menundukkan mukanya.
"Sesungguhnya saya tidak seharusnya kalah oleh Sutejo. anakmas Adipati. Bagaimanapun dia adalah murid keponakan saya sendiri dan ilmu kami sealiran. Akan tetapi agaknya dia telah mendapat dukungan dari Bapa guru Resi Limut Manik sehingga dia memiliki kekuatan yang luar biasa. Maafkan bahwa saya terpaksa tidak mampu mempertahankan Pecut Sakti Bajrakirana."
"Celaka!"
Sang Adipati menggebrak meja di depannya sehingga ruangan itu tergetar.
Seorang laki-laki berusia sepantar dengan Sang Adipati, yaitu kurang lebih empat puluh lima tahun, yang berwajah tampan dan bersikap gagah dan tenang, yang ikut pula menghadap di situ bernama Ki Warok Petak dan Ki Baka Kroda, mengangkat mukanya dan menyembah kepada Sang Adipati.
"Ampunkan hamba kalau berani mengajukkan usul, Gusti Adipati. Hamba kira sekarang belum terlambat. Karena yang merampas Pecut Sakti itu adalah murid Sang Bhagawan Sidik Paningal, tentu pecut itu dibawa ke Gunung Kawi oleh pemuda bernama Sutejo itu. Belum terlambat bagi kita untuk mengejarnya menyusul dan merampasnya kembali, sekalian memberi hajaran kepada Bhagawan Sidik Paningal dan muridnya. Kalau hamba pergi bersama Paman Bhagawan Jaladara. Kakang Warok Petak dan Kakang Baka Kroda, mustahil kami tidak akan dapat mengalahkan mereka."
Sang Adipati mengangguk-angguk.
Pembicara itu adalah Tumanggung Janurmendo, jagoan nomer satu dari Wirosobo yang memiliki kesaktian tinggi dan dapat diandalkan.
Kalau dia yang pergi, Sang Adipati yakin akan memperoleh hasil.
"Bagus sekali, Adi tumenggung Janurmendo. Agaknya hanya andikalah yang menjadi tumpuan harapan kami untuk mendapatkan kembali Pecut Bajrakirana itu dan memberi pelajaran kepada Bhagawan Sidik Paningal dia tidak mau menuruti kehendak kami membantu Wirosobo. Biar dia tahu bahwa Kadipaten Wirosobo tidak boleh dibuat main-main! Untuk memperkuat kedudukanmu, terimalah Keris Pusaka Jalu Sarpo ini. Pusaka ini menjadi milikmu dan pergunakan sesuka hatimu untuk mengakhiri hidup Bhagawan Sidik Paninggal"
Tumenggung Janurmendo bergerak menghaturkan sembah dan menerima pusaka sambil menghaturkan terima kasih.
Keris Jalu Sarpo adalah sebatang keris lurus yang ampuh sekali karena mengandung racun yang mematikan.
Setelah mendapat restu dari Sang Adipati Wirosobo dan mengadakan persiapan, berangkatlah empat orang itu.
Tumenggung Janurmendo, Bhagawan Jaladara, Ki Warok Petak dan Ki Baka Kroda.
Mereka menunggang empat ekor kuda pilihan dan mereka membalapkan kuda mereka menuju Ke lereng Gunung Kawi.
Bhagawan Sidik Paningal menghela napai dalam.
Sebagai seorang pertapa yang sudah tajam dan peka perasaannya, pada pagi hari itu dia merasa hatinya amat tidak tenang.
Jantungnya berdebar tanpa sebab dan dia maklum bahwa hal ini merupakan tanda bahwa akan ada sesuatu yang tidak baik menimpa dirinya.
Mukanya yang biasanya berseri itu kini tampak muram dan berulang kali dia, menghela napas panjang, Lalu diam-diam dia membisikkan doa ke hadirat Illahi menyerahkan diri sebulatnya kepada Kehendak Yang Maha Kuasa.
"Seorang manusia, siapapun adanya dia, tidak dapat mengubah apa yang sudah dikehendaki Yang Maha Kuasa,"
Pikirnya dan dengan pikiran ini Diapun menyerah dan hatinya menjadi tenang kembali.
Dia kini berada seorang diri di padepokannya.
Dia tidak mempunyai seorangpun cantrik.
Biasanya dia hidup berdua saja dengan muridnya yang sudah dianggap sebagai puteranya sendiri,yaitu Sutejo.
Semenjak Sutejo pergi, diapun hidup seorang diri dan pagi hari itu dia melaksanakan tugas sehari-hari seperti biasa.
Setelah mengisi kolam air di tempat pemandian dan dapur, diapun memasak air untuk membuat minuman air teh.
Apakah muridnya hari ini akan pulang?
Pikiran yang menjadi harapannya ini menyelinap dalam hatinya.
Muridnya mempunyai tugas penting, yaitu merampas kembali Pecut Sakti Bajrakirana dari tangan Bhagawan Jaladara.
Dia yakin bahwa kini Sutejo tidak akan kalah kalau melawan Bhagawan Jaladara karena muridnya itu telah dibekali Aji Gelap Musti.
Dia mengharapkan mudah-mudahan muridnya itu sudah mampu merampas kembali Pecut Sakti Bajrakirana untuk dikembalikan kepada gurunya, Resi Limut Manik di puncak Gunung Semeru.
Bhagawan Sidik Paningal menuangkan air teh panas dari poci ke dalam cangkir.
tiba-tiba dia menghentikan gerakannya itu dan meletakkan kembali poci air teh ke ataa meja di depannya.
Matanya menatap ke arah depan pondoknya.
Dia mendengar derap kaki kuda yang mendatangi pondoknya.
Perasaannya menjadi semakin tidak enak.
Dia bangkit berdiri Lalu melangkah menuju keluar.
Empat orang penunggang kuda itu berhenti di depan pondok.
Mereka masih duduk di punggung kuda dan mereka semua memandang ke arah pintu pondok dari mana Bhagawan Sidik Paningal muncul.
Pendeta ini mengerutkan alisnya ketika mengenal siapa yang datang.
Bhagawan Jaladara, Ki Warok Petak, Baka Kroda, dan seorang laki-laki gagah perkasa dan tampan berusia sekitar empat puluh lima tahun yang tidak dikenalnya.
"Adi Jaladara, andika datang lagi?"
Tegur Bhagawan Sidik Paningal kepada adik seperguruannya itu.
"Kakang Sidik Paningal! Sudah kukatakan kepadamu bahwa aku akan datang lagi dan kalau sekarang andika masih juga belum menurut untuk meninggalkan Agama Islam dan membantu kadipaten Wirosobo, terpaksa aku akan membunuhmu."
Bhagawan Sidik Paningal memandang adi seperguruannya dengan sinar mata tajam namun lembut, lalu dia menggelengkan kepalanya.
"Apapun yang terjadi, aku yang sedang mempelajari agama Islam tidak akan meninggalkan agama baru itu, dan aku tidak akan membantu Kadipaten Wirosobo kalau kadipaten itu hendak memberontak terhadap Mataram. Tentang andika hendak membunuhku, nyawaku bukan berada di tanganmu, adi Jaladara, melainkan di tangan Hyang Widhi.
"Babo-babo, kalau begitu kami akan mengantar nyawamu!"
Kata Bhagawan Jaladara sambil mengamangkan tongkat hitamnya.
Melihat ini Bhagawan Sidik Paningal melompat keluar karena dia tidak Ingin menghadapi Perkelahian di dalam pondoknya.
Empat orang itupun berlompatan turun dari kuda mereka dan menambatkan kuda mereka di batang pohon yang tumbuh di depan pondok itu.
"Kakang Sidik Paningal, bersiaplah untuk mampus!"
Bentak Bhagawan Jaladara dan dia menerjang ke depan dengan tongkat hitamnya.
Bhagawan Sidik Paningal merasa lega bahwa Bhagawan jaladara tidak mengeluarkan Pecut Sakti Bajrakirana.
Ke manakah pecut itu, pikirnya?
Apakah Sutejo telah berhasil merampasnya?
Kalau pecut itu masih berada pada Bhagawan Jaladara, tentu sudah dikeluarkan untuk menundukkannya dan dia tidak akan berani melawan.
Akan tetapi Bhagawan Jaladara tidak mengeluarkan pecut itu, sebaliknya menyerang dengan tongkat hitamnya.
Karena dia maklum betapa dahsyatnya tongkat itu, Bhagawan Sidik Paningal lalu melolos kain pengikat kapalanya yang berwarna kuning.
Ketika tongkat menyambar ke arah kepalanya, diapun menangkis dengan kebutan kain kuning itu.
"Wuuuttt...... desss.....!!"
Hebat sekali pertemuan antara kedua senjata yang mengandung tenaga sakti itu.
Akan tatapi karena memang Bhagawan Jaladara masih tidak mampu menandingi kakak seperguruannya, tubuhnya terdorong ke belakang dan terhuyung.
"Paman Bhagawan Jaladara, serahkan dia kepadaku!"
Tiba-tiba terdengar bentakan nyaring dan Tumenggung Janurmendo telah melompat ke depan.
Gerakannya tangkas sekali dan Tumenggung yang gagah perkasa itu kini telah berhadapanan dengan Bhagawan Sidik Paningal.
Pertapa ini memandang dengan ragu karena dia belom mengenal orang ini.
Karena merasa tidak semestinya berkelahi melawan orang yang sama Sekali tidak dikenalnya, maka diapun bertanya dengan suara tenang.
"Siapakah andika, Ki sanak dan mengapa mencampuri urusan antara dua orang kakak beradik yang tidak ada sangkut pautnya denganmu?"
Tumenggung Janurmendo tersenyum dan menjawab dengan lantang.
"Bhagawan Sidik Paningal. aku adalah Tumenggung Janurmendo, utusan sang Adipati Wirosobo. Menyerahlah andika untuk kubawa menghadap Sang Adipati, dari pada aku harus terpaksa mempergunakan kekerasan terhadap dirimu!"
Mengertilah kini Bhagawan Sidik Paningal bahwa dia berhadapan dengan seorang jagoan Wirosobo.
"Hmmm, mengapa aku harus pergi menghadap Sang Adipati Wirosobo? Aku tidak mempunyai urusan dengan beliau!"
"Bhagawan Sidik Paningal. Ingatlah bahwaandika berasal dari daerah Wirosobo, berarti andika adalah kawula Wirosobo. Oleh karena itu Adipati berhak memanggil kawulanya yang manapun juga, dan sudah menjadi kewajibanmu sebagai kawula Wirosobo untuk datang menghadap apabila dipanggil."
"Aku tahu bahwa aku dipanggil, hanya untuk membantu Wirosobo yang hendak memberontak terhadap Mataram. Aku tidak mau terlibat dalam perang pemberontakan, karena itu sekali lagi aku tegaskan bahwa aku tidak mau menghadap Kadipaten Wirosobo. Kalian mau apa?"
"Babo-babo! Ketahuilah, Bhagawan Sidik Paningal bahwa semua purbowasesonya telah diserahkan ke dalam tanganku. Kalau engkau membangkang, terpaksa dikau akan kutangkap dan kuseret menghadap Sang Adipati!"
Bhagawan Sidik Paningal mengerutkan alisnya.
Karena dia sudah yakin kini bahwa Bhagawan Jaladara tidak membawa Pecut Bajrakirana, maka timbul ketabahan dalam hatinya.
Dia tidak takut menghadapi mereka semua.
"Tumenggung Janurmendo, cobalah kalau andika memang mampu menangkap aku !"
Tumenggung yang gagah perkasa itu lalu memasang kuda-kuda, kedua kakinya terpentang lebar, yang kiri di depan, yang kanan di belakang agak ditekuk lulutnya, kedua lengannya dikembangkan, kemudian mulutnya berseru.
"Sambutlah.....!! Auurrrrhhhhh!"
Kedua tangan itu lalu dirangkap menyembah di depan dada dan tiba -tiba tangan kanannya meluncur depan dibarengi Kaki kanannya yang melangkah lebar ke depan.
Telapak tangan kanan didorongkan ke depan dan ada angin dahsyat menyambar ganas ke arah tubuh Bhagawan Sidik Paningal.
Sang Bhagawan mengenal pukulan ampuh, maka diapun cepat mengelak dengan gerakan kaki ke samping, tubuhnnya condong ke kiri mengelak dan ketika pukulan itu lewat di samping tubuhnya, diapun membalas dengan pukulan tangan yang terbuka ke arah lambung lawan.
Namun, Sang Tumenggung Janurmendo ternyata begitu tangkas sekali.
Begitu pukulannya luput lengan kanan itu sudah ditekuk dan membuang kesamping sebagai tangkisan sehingga ketika tangan kiri Bhagawan Sidik Paningal datang memukul, tangan itu tertangkis oleh tangan kanan Tumenggung Janurmendo.
Pada saat itu tampak sesosok bayangan berkelebat dan tahu-tahu di situ telah berdiri Sutejo dengan Pecut Sakti Bajrakirana di tangan.
Sepasang mata pemuda itu terbelalak dan dia berseru nyaring.
"Apa yang terjadi di sini? Apa yang kalian lakukan di sini?"
Melihat munculnya pemuda ini, Bhagawan Jaladara yang cerdik itu cepat memegang punggung baju Bhagawan Sidik Paningal dan membantu pendeta yang sudah lemah itu untuk berdiri.
"Sutejo, jangan bergerak dan cepat serahkan pecut itu kepadaku atau...... aku akan membunuh Kakang Sidik Paningal lebih dulu!"
Tongkat hitam di tangannya ditempelkan ke kepala Bhagawan Sidik Paningal.
Sutejo memandang dan terkejut sekali, karena sekali pandang saja tahulah dia akan keadaan gurunya yang Agaknya Demikian lemah dan terluka parah, luka sebelah dalam tubuhnya Karena tidak berdarah.
"Apa yang kalian lakukan terhadap Bapa Guru....?"
Katanya dengan gelisah ketika dia melihat keadaan Bhagawan Sidik Paningal.
"Kami akan membunuhnya kalau engkau tidak segera menyerahkan pecut Bajrakirana kepada kami!"
Kembali Bhagawan Jaladara membentak dan mengancam.
"Cepat serahkan atau......!' Dia mengangkat tongkatnya dipukulkan ke arah kepala Bhagawan Sidik Paningal. Melihat ini sutejo tidak mempunyai pilihan lain. Tentu saja dia memberatkan keselamatan gurunya dari pada Pecut Bajrakirana itu. Akan tetapi dia agak ragu. Dia tahu bahwa paman gurunya itu adalah seorang yang berwatak tidak baik, bagaimana kalau nanti menipunya, setelah menerima pecut lalu tidak mau membebaskan gurunya? "Berjanjilah dulu untuk membebaskan Bapa Guru sebelum aku menyerahkan Pecut ini!"
Katanya.
"Aku berjanji!"
Kata Bhagawan Jaladara dan dia memberi isarat kepada Ki Warok petak untuk menerima pecut itu.
Ki Warok Petak menghampiri Sutejo dan mengulurkan tangannya.
Terpaksa Sutejo menyerahkan pecut yang segera diterima oleh Ki Warok Petak dan diserahkan kepada Bhagawan Jaladara.
Sang Bhagawan senang sekali dan dia menerima sambil tertawa, kemudian didorongnya tubuh Bhagawan Sidik Paningal sehingga jatuh tersungkur.
"Bapa.....!"
Sutejo lari menghampiri gurunya dan merangkulnya.
"Sutejo...... engkau keliru........ tidak seharusnya.... engkau menyerahkan Pecut Bajrakirana kepadanya...."
Kata Bhagawan Sidik Paningal terengah-engah.
"Akan tetapi Bapa......
"Rampaslah kembali.......!"
Perintah Bhagawan Sidik Paningal sambil menahan rasa nyeri di dadanya.
Mendengar ketegasan dalam suara gurunya, Sutejo tidak berani membantah lagi.
Dia bangkit berdiri perlahan-lahan dan memandang kepada Bhagawan Jaladara yang memegang tongkat di tangan kirinya dan Pecut Bajrakirana di tangan kanan.
"Sutejo, aku pemegang Pecut Sakti Bajrakirana!"
Sebagai murid perguruan Jatikusumo, berlututlah engkau!"
Bentak Bhagawan Jaladara sambil mengangkat pecut itu ke atas. Akan tetapi Sutejo memandang dengan mata bersinar penuh kemarahan.
"Aku tidak pernah menjadi murid perguruan Jatikusumo!"
Katanya.
"Bhagawan Jaladara, kembalikan pecut itu kepadaku!"
Akan tetapi Bhagawan Jaladara berdiri di antara tiga orang temannya dan empat orang itu telah siap dengan senjata masing-masing.
Bhagawan Jaladara sendiri memegang Pecut Bajrakirana dan tongkat hitamnya.
Tumenggung Janurmendo juga sudah menghunus sebatang keris pemberian Adipati Wirosobo, yaitu pusaka Jalu Sarpo.
Ki Warok Petak memegang sebatang golok besar dan Ki Baka Kroda memegang sebatang keris pula.
Mereka siap untuk mengeroyok Sutejo.
Sutejo mengerti bahwa dia berhadapan dengan empat orang lawan yang tangguh.
Akan tetapi dia sudah marah dan sama sekali tidak merasa jerih.
Cepat dia melolos kain pengikat kepalanya dan dengan pekik melengking tinggi dia sudah menerjang ke depan, kain pengikat kepala itu diputar berubah menjadi gulungan sinar biru dan dia langsung saja memainkan senjata itu dengan Aji Sihung Nila.
Hebat bukan main serangannya ini, mendatangkan angin bergelombang karena dia mengerahkan tenaga saktinya yang dia dapatkan dari kakek gurunya.
Empat orang lawannya menggerakkan senjata menyambut, akan tetapi keempatnya terhuuyung ke belakang oleh sergapan angin serangan yang amat dahsyat itu.
empat orang itu terkejut sekali dan Bhagawan Jaladara menjadi khawatir.
Pembantu yang dapat dia andalkan adalah Tumenggung Janurmendo.
Tumenggung ini agaknya merupakan satu-satunya orang di antara mereka yang akan mampu menandingi Sutejo.
Akan tetapi pada saat itu sang Tumenggung sudah menderita luka dalam akibat adu tenaga melawan Bhagawan Sidik Paningal tadi sehingga tentu saja gerakannya menjadi kurang kuat.
Maka, Bhagawan Jaladara lalu mengamuk, mempergunakan pecut pusaka di tangannya yang merupakan senjata ampuh sekali.
"Tar-tar-tarr.........!"
Pecut Sakti Bajrakirana meledak-ledak di atas kepala Sutejo.
Pemuda itu tidak berani mempergunakan kekebalan Kawoco untuk menyambut pecut yang amat ampuh itu.
Terpaksa dia mengelak dan kadang menangkis dengan kebutan kain pengikat kepalanya.
Akan tetapi setiap kali ujung kain bertemu ujung pecut, kain itu robek ujungnya!
Ujung pecut Bajrakirana itu seolah mengeluarkan api atau kilat yang luar biasa panas dan tajamnya.
Sementara itu, biarpun sudah terluka dalam, ilmu silat Tumenggung Janormendo masih amat kuat.
Keris pusaka Jalu Serpo di tangannya jaga berbahaya bukan main karena keris ini mengandung racun yang ampuh.
Ki Warok Petak dan Baka Kroda juga merupakan dua orang |awan yang kuat.
Akan tetapi pada saat itu, Sutejo sudah tidak memikirkan keselamatan diri sendiri, bahkan dia sudah melupakan Pecut Bajrakirana.
Yang teringat olehnya hanya bahwa gurunya telah terluka parah oleh orang-orang ini dan dia bertekad untuk membalas.
Maka sepak terjangnya menggiriskan dan amukannya seperti seekor naga terluka!
Kain pengikat kepala itu berubah menjadi segulungan sinar kebiruan yang dahsyat sekali.
Baru angin pukulannya saja menyambar-nyambar ganas, didukung tenaga dalam yang diwarisi dari Resi Limut Manik, didorong kecepatan gerak Aji Harina Legawa yang membuat tubuhnya berkelebatan seperti bayang-bayang!
"Trang......
Trakk....!"
Ki Warok petak dan Ki Baka Kroda terhuyung ke belakang.
Hampir saja golok dan keris mereka terlepas dari tangan ketika bertemu dengan ujung kain, kemudian gelombang sinar hitam itu menyambar ke arah dada Bhagawan Jaladara dan sebatang kaki mencuat dan menendang ke arah perut Tumenggung Janurmendo!
Begitu hebat serangan ini sehinggga Bhagawan Jaladara cepat melompat ke belakang, demikian pula Tumenggung Janurmendo membuang diri ke belakang sambil berjungkir balik sehingga terbebas dari tendangan berputar itu.
Bhagawan Jaladara menjadi kecut hatinya.
Tumenggung Janurmendo tidak dapat diandalkan lagi dan pemuda itu mengamuk sedemikian hebatnya.
Pecut Pusaka sudah berada ditanganya, maka tidak menguntungkan kalau dia terus menyerang pemuda perkasa itu.
Dia lalu berseru dengan nyaring.
"Mundur....!"
Dan dia sendiri melompat ke atas punggung kudanya.
Perbuatan ini dicontoh Tumenggung Janumendo.
Ki Warok dan Ki Baka Kroda.
Bagaikan berlomba, membalapkan kuda mereka dan pergi meninggalkan tempat itu.
Dalam kemarahannya Sutejo hendak mengejar, akan tetapi dia teringat akan keadaan gurunya, maka ditahan niatnya untuk mengejar dan dia berlutut di dekat gurunya.
Diangkatnya tubuh gurunya dan dibawa masuk ke dalam pondok.
Setelah merebahkan tubuh Bhagawan Sidik Paningal ke atas dipan, Sutejo memeriksa tubuh gurunya dan dia mendapat kenyataan bahwa gurunya memang menderita yang parah.
Napas gurunya terengah-engah dan dia menahan rasa nyeri yang hebat, wajahnya pucat sekali.
"Bapa, biarlah saya berusaha mengobati dengan pengerahan hawa sakti."
Kata Sutejo, siap hendak menempelkan kedua tangan di dada kakek itu. Bhagawan Sidik Paningal menggeleng kepalanya dan menghela napas untuk menegangkan pernapasannya.
"Tiada gunanya lag!, Sutejo Kurasa........ lukaku tidak dapat....... disembuhkan lagi......."
"Bapa........!"
"Tenanglah, angger....... usia berada di tangan Hyang Widhi..... tidak ada yang disesalkan........ sekarang dengarlah baik-baik........"
Dengan hati prihatin karena merasa bahwa gurunya hendak meninggalkan pesan terakhir, Sutejo duduk di tepi. dipan dan mendekatkan mukanya agar dapat mendengarkan dengan baik.
"Pertama-tama akan kupesankan tugas-tugas kewajiban untukmu,"
Kata Bhagawan Sidik Paningal dengan suara lirih dan terputus-putus.
"Karena hidup berarti memenuhi kewajiban-kewajiban. Tanpa adanya kewajiban-kewajiban hidup tidak ada artinya. Pertama, engkau harus berusaha untuk merampas kembali Pecut sakti Bajrakirana. Pecut itu adalah pusaka keramat dari perguruan Jatikusumo, menjadi lambang keadilan dan penegak kebenaran. Kalau pusaka itu sampai jatuh ke tangan orang jahat dan dipergunakan untuk kejahatan, nama baik perguruan Jatikusumo akan tercemar. Engkau harus mendapatkan kembali pecut itu dan menyerahkannya kepada Bapa Guru Resi Limut Manik atau Para tokoh Jatikusumo, dalam ini kakak seperguruanku Bhagawan Sindusakti di pantai Laut Kidul daerah Pacitan menjadi tokoh utamanya setelah eyang gurumu. Setelah itu, kewajibanmu yang kedua, engkau harus menghambakan diri kepada Kanjeng Sultan Agung, Sang Prabu Pandan Cokrokusumo Raja Mataram, Berbaktilah kepada Negara dan Bangsa, kulup, karena itu merupakan kewajiban seorang satria sejati. Nah, sanggupkah engkau melaksanakan dua tugas itu?"
"Saya sanggup, Bapa."
Jawab Sutejo dengan suara mantap.
"Sekarang soal kedua yaitu mengenai dirimu dan riwayatmu......"
Berdebar rasa jantung Sutejo mendengar ini.
Dia memang ingin sekali mendengar tentang riwayat dirinya, tentang ayah bundanya.
Selama ini kalau ditanya, Bhagawan Sidik Paningal hanya mengatakan bahwa dia sendiri hanya mengatakan siapa ayah bundanya dan tidak memberi keterangan lebih jauh.
Sekali ini agaknya di saat terakhir, gurunya itu akan membuka rahasianya!
"Berulang kali engkau menanyakan siapa ayah bundamu, Sutejo dan aku tidak berbohong ketika aku menjawab bahwa aku tidak tahu.
Begini riwayatnya.
Kurang lebih dua puluh tahun yang lalu, ketika aku merantau sampai di kaki Gunung Anjasmoro, pada suatu pagi aku mendengar tangis seorang anak kecil di dalam hutan.
Karena merasa curiga mendengar anak itu terus menerus menangis, aku cepat memasuki hutan dan mencari dari mana suara itu datang.
Kemudian aku melihat seorang wanita cantik berambut panjang, berusia kurang lebih tiga puluh tahun, masih muda dan cantik, sedang duduk menangis dan ia memangku seorang anak laki-laki berusia kurang lebih tiga tahun.
Anak itulah yang menangis keras, sedangkan wanita itu hanya terisak perlahan saja.
Kemudian wanita itu membentak, menyuruh anak itu diam.
Si anak tidak mau diam bahkan menangis semakin keras.
Tiba-tiba wanita itu menotok leher anak itu dengan dua jari tangannya dan seketika tangis itu terhenti, atau anak itu tetap menangis akan tetapi tidak mengeluarkan sedikitpun suara!
Aku menjadi curiga melihat kekejaman wanita itu, dan wanita itu berkata.
"Mengingat sakit hatiku terhadap orang tuamu, sudah sepatutnya kalau engkau kubunuh sekarang juga. Akan tetapi aku bukan orang sekejam itu!"
Setelah berkata demikian, ia memodong anak itu dan hendak melompat pergi."
Sutejo mendengarkan dengan jantung berdebar debar penuh ketegangan dan dugaan.
Mudah saja menduga bahwa dialah kiranya anak berusia tiga tahun itu.
Akan tetapi dia diam saja, menanti gurunya mengatur pernapasannya sebelum melanjutkan.
"Aku menghadangnya dan minta kepadanya agar ia melepaskan anak yang kusangka diculiknya itu. Ia menjadi marah dan menantangku, menanyakan namaku dan juga mengakui dirinya seorang wanita bernama Ken Lasmi. Kami bertanding dan harus kuakui bahwa ia merupakan seorang lawan yang amat tangguh. Dengan susah payah akhirnya aku dapat mengalahkannya dan ia melarikan diri meninggalkan anak itu. Dan anak itu adalah....."
"Sayalah anak itu, bukan, Bapa?"
Tanya Sutejo penuh gairah.
"Benar, engkau anak itu. Aku membebaskan engkau dari pengaruh totokan yang membuat engkau tidak dapat bersuara. Engkau menyebut namamu Tejo, maka kuberi nama Sutejo. Ada dua buah tanda kudapati pada dirimu. Pertama adalah ini.
"Bhagawan Sidik Paningal mengambil sebuah benda dari saku jubahnya dan memberikan benda itu kepada Sutejo. Dengan tangan agak gemetar karena terharu Sutejo menerima benda itu. Itu adalah sehelai kalung emas dengan mainan yang indah sekali berbentuk seekor naga berwarna putih, terbuat dari gading terukir.
"Benda ini kutemukan tergantung di leher mu. Entah itu hanya mainan biasa ataukah ada artinya, akan tetapi sedikitnya itu merupakan tanda ketika engkau kutemukan. Pakaialah kalung itu, Sutejo."
Sutejo mengenakan kalung itu di lehernya "Dan apakah adanya tanda kedua Bapa?"
"Tanda kedua adalah sebuah tembong di punggungmu, sebesar tiga buah jari tangan Tembong itu tidak hilang sampai sekarang dan dapat menjadi tanda bagimu. Mereka yang menjadi ayah bundamu tentu masih ingat akan adanya tembong di punggungmu itu."
Sutejo mengangguk-angguk. Tidak banyak memang untuk dipakai mencari ayah ibunya, akan tetapi setidaknya ada tanda-tanda itu.
"Satu-satunya jalan bagimu untuk mencari orang tuamu........"
Tiba-tiba pertapa itu terhenti bicara dan napasnya semakin terengah-engah.
Ternyata dia telah terlalu banyak mengerahkan tenaga untuk bicara sejak tadi.
Mukanya pucat sekali dan napasnya tinggal satu-satu.
Sutejo memandang dengan (Lanjut ke
Jilid 05) Pecut Sakti Bajrakirana (Seri ke 01 -Serial Pecut Sakti Bajrakirana) Karya". Asmaraman S. Kho Ping Hoo
Jilid 05 gelisah.
"Sudahlah, Bapa, harap jangan memaksa diri banyak bicara."
Katanya walaupun sebetulnya dia ingin sekali tahu apa yang akan di katakan selanjutnya oleh gurunya itu.
Akan tetapi Bhagawan Sidik Paningal menggeleng kepala, menggigit bibirnya dan memaksa dirinya bicara.
".......kau......, carilah Ken Lasmi...... ia tahu....... siapa..... orang tuamu....., Sutejo......, sesudah aku mati...... kuburkanlah....... aku sudah mantap........merasuk agama...... baru....... Agama Islam......!"
Kakek itu memejamkan Kedua matanya, mulutnya tersenyum dan napasnya tinggal satu-satu. Sutejo mendekatkan mulutnya di telinga gurunya dan berbisik dengan hati terharu.
"Bapa, sebutlah Nama Hyang Widhi.....!"
"Allah Hu Akbar...... Allah Hu Akbar......Laillah Hailallah.......!"
Bhagawan Sidik Paningal menghembuskan napas terakhir dengan Nama Tuhan di bibirnya!
Sutejo dengan khidmat menggunakan jari tangannya untuk merapatkan mata dan bibir gurunya.
Barulah dia melepas perasaan hatinya dan menangis mengguguk di samping jenazah Gurunya.
Guru ini baginya juga merupakan pengganti orang tuanya, sahabatnya dan pembimbingnya.
Kurang lebih dua puluh tahun dia tidak pernah terpisah dari gurunya dan sekarang dia ditinggal mati!
Setelah puas menangisi kematian gurunya, Sutejo lalu duduk termenung.
Masih terngiang pesan terakhir gurunya agar dia memenuhi kewajiban-kewajibannya.
Hidup memang tidak ada artinya tanpa adanya kewajiban-kewajiban itu.
Kewajiban sebagai seorang murid yang menaati pesan terakhir gurunya, dia harus merampas kembali Pecut Sakti Bajrakirana!
dan mengembalikan kepada eyang gurunya walaupun eyang gurunya pernah menyatakan bahwa pecut sakti itu di Berikan kepadanya untuk dipakai membela Mataram.
Kewajiban sebagai seorang anak membuat dia harus mencari keterangan tentang orang tuanya.
Dia harus mencari wanita yang bernama Ken Lasmi, yang menurut gurunya dahulu menculik dia dari orang tuanya.
Hanya Ken Lasmi seorang yang akan Dapat memberitahu kepadanya siapa adanya ayah bundanya!
Dia akan mencari tokoh sakti itu sampai dapat ditemukan!
Setelah memenuhi dua kewajibannya ini dengan tuntas, barulah dia akan memenuhi kewajibannya sebagai seorang Kawulo Mataram, yaitu menghambakan diri kepada Kanjeng Sultan Agung, untuk membela Nusa dan Bangsa.
Gurunya pernah memberi wejangan bahwa dia harus menjadi seorang manusia utama yang seutuhnya, yakni yang memenuhi semua kewajibannya sebagai manusia.
Apa artinya menjadi sorang satria yang baik kalau dia tidak menjadi seorang anak yang baik?
Apa artinya menjadi anak yang baik kalau dia tidak menjadi seorang kawulo yang baik?
Kebaikan ini harus meliputi seluruh kehidupan, bukan hanya sebagian saja.
Kebaikan harus berada pada sumbernya, seperti matahari yang cahayanya menyinari semua perbuatan dalam kehidupannya.
Setelah hatinya tenang, Sutejo lalu mengubur jenazah gurunya di belakang pondok, di bukit kecil.
Setelah Itu, dia berkemas, Dibawanya pakaiannya yang tidak banyak dan sederhana, kemudian dia meninggalkan pondok, mulai dengan perantauannya.
Dia tidak tahu harus mencari Ken Lasmi ke mana, akan tetapi dia tahu ke mana harus mencari Pecut Sakti Bajrakirana, yaitu ke Kadipaten Wirosobo.
Dia harus berhati-hati karena di Wirosobo terdapat banyak orang pandai yang pasti akan menyambutnya sebagai musuh.
Bukit itu disebut Bukit Ular, bukan karena bentuknya Seperti ular, melainkan karena di bukit Itu terkenal banyak ularnya.
Ular yang besar seperti pohon kelapa sampai yang kecil sebesar kelingking.
Akan tetapi yang kecil itu bahkan lebih berbahaya dari pada yang besar karena ular -ular besar sebangsa Ular Sawa Kembang Itu tidak akan menyerang orang bila tidak sedang kelaparan, hanya berdiam di guha-guha atau melibatkan dirinya di batang pohon.
Sebaliknya, ular sebesar kelingking seperti Ular Welang dan sebangsanya itu mudah menggigit kaki orang yang tanpa sengaja menginjaknya dan gigitannya merupakan taring maut.
Sekali gigit dapat melayangkan nyawa manusia!
KARENA terkenal dengan ular-ularnya, tidak sembarang orang berani menjelajah bukit ini.
Bahkan para pawang ular, kalau hendak mencari ular hanya berani mencari di tepi-tepi hutan yang berada di bukit itu, tidak berani mendaki bukit.
Apa lagi di puncak bukit kecil itu terdapat sebuah guha yang keramat dan menyeramkan.
Betapa berbahayanya guha itu dapat tampak dari adanya beberapa kerangka dan tengkorak manusia berserakan di luas dan dalam guha.
Karena banyaknya tengkorak itu, maka guha itu disebnt orang Guha Tengkorak.
Guha ini merupakan satu di antara sebab mengapa orang tidak berani memasuki daerah bukit ini.
Apa lagi di waktu malam, keadaan dibukit itu sungguh menyeramkan.
Karena jarang didatangi manusia, tempat itu menjadi sarang berbagai macam burung malam yang suka berbunyi di waktu malam, memperdengarkan suara mereka yang aneh-aneh dan menyeramkan.
Di waktu siang hari sekalipun, keadaan di dalam hutan di bukit itu sudah sangat menyeramkan.
Pohon-pohonnya lebat dan besar-besar, dikelilingi semak belukar dan mengandung duri, di mana bersembunyi ular.
Ular kecil yang berbahaya.
Akan tetapi, sungguh akan membuat orang terheran-heran kalau kebetulan melihatnya, pada siang hari itu, seorang gadis memasuki daerah itu dengan langkah-langkah yang tenang namun gesit.
Ia seorang gadis jelita berusia delapan belas tahun, pakaiannya ringkas dan, cukup mewah, memakai perhiasan dari pada emas permata.
Wajahnya cantik jelita, terutama sekali mata dan mulutnya yang berbentuk menggairahkan.
Di balik kecantikan dan kelembutan pada diri gadis itu terdapat sesuatu yang membuat orang menaruh hormat, yakni sikapnya yang demikian tenang, sinar, maunya yang tajam dan gerak geriknya menunjukkan bahwa ia bukan seorang gadis sembarangan.
Apalagi sebatang pedang yang tergantung di punggungnya jelas menandakan bahwa ia seorang gadis yang memiliki ilmu kanuragan dan tidak boleh dipandang ringan atau dijadikan permainan!
Gadis itu bukan lain adalah Retno Susilo!
Seperti kita ketahuhi, Retno Susilo meninggalkan Hutan kebonjambe yang menjadi perkampungan Sardulo Cemeng di mana ayahnya menjadi ketua.
Keluarganya tidak mampu menahannya ketika ia menyatakan hendak pergi mencari gurunya untuk memperdalam Ilmu kanuragan yang telah dikuasainya.
Tujuannya hanya satu, ialah memperdalam ilmu kanuragan, agar kelak ia dapat mengalahkan Sutejo!
Ia mendaki Bukit ular karena maklum bahwa tempat angker ini merupakan satu di antara tempat-tempat yang kadang dijadikan tempat tinggal Nyi Rukmo Petak, gurunya itu.
Pernah ia satu kali diajak oleh gurunya tinggal di tempat ini selama sebulan.
Karena itu, tanpa ragu ia memasuki hutan dan mendaki Bukit Ular dengan hati-hati karena ia maklum bahwa tempat ini amat berbahaya dengan ular-ularnya.
Ia maklum bahwa yang berbahaya adalah ular-ular kecil yang suka bersembunyi di balik daun-daun kering yang berserakan di atas tanah.
Sekali saja ia salah injak dan menginjak tubuh seekor ular welang, ia akan terancam bahaya maut!
Dengan penuh kewaspadaan dan hati-hati sekali, mengerahkan ilmu meringankan tubuh Aji Kluwung Sakti yang mem buat tubuhnya menjadi ringan sekali, Retno Susilo maju setapak demi setapak memasuki hutan menuju ke Guha Tengkorak yang berada di tengah hutan.
Setibanya di guha besar, di depan mana masih berserakan tulang-tulang dan tengkorak manusia, Retno Susilo berhenti dan memandang ke arah guha.
Guha itu tampak kosong.
Akan tetapi ia tidak putus asa karena Ia tahu bahwa di dalam guha terdapat beberapa ruangan yang tidak tampak dari luar.
Mungkin gurunya berada di dalam ruangan Itu.
Retno Susilo lalu berseru dengan suaranya yang merdu dan nyaring.
"Nyi Dewi......! Apakah engkau berada di dalam guha? Aku muridmu Retno Susilo yang datang menghadap!"
Gurunya itu bernama Nyi Rukmo Petak, akan tetapi sejak dahulu minta disebut Nyi Dewi olehnya dan hubungan mereka tidak seperti guru dan murid, lebih merupakan sahabat!
Karena Itu, Retno Susilo sudah terbiasa tidak memakai terlalu banyak, tata-krama kalau bicara dengannya.
Setelah mengeluarkan seruan itu, Retno Susilo menanti sebentar.
Tak lama kemudian terdengar suara tawa terkekeh dari dalam guha dan terdengar suara lembut namun tajam dan berwibawa.
"Hi-hi-hik, Retno. jauh-jauh engkau datang mencariku, tentu ada maumu! Masuklah saja, aku sedang membuat ramuan dan engkau dapat membantuku!"
Girang sekali hati Retno Susilo mendengar jawaban ini.
Seperti diduganya, gurunya benar berada di tempat itu.
Tidak sia-sia perjalanan jauhnya menuju ke Bukit Ular.
Ia segera melangkah maju, tetap dengan hati-hati karena guha itupun bukan tempat yang tidak berbahaya.
Dimasukinya guha itu dan ternyata di sebelah dalamnya cukup terang karena mendapat cahaya dari atas yang terbuka dengan adanya lubang besar.
Ia melihat gurunya sedang duduk bersila menghadapi sebuah keranjang besar dan di dekatnya terdapat sebuah periuk tanah yang bermulut lebar.
Dengan tangan kirinya, nenek itu membuka tutup keranjang dan cepat sekali tangan kanannya menyambar ke dalam keranjang.
Ketika tangan itu keluar, ia sudah menjepit leher seekor ular welang sebesar ibu jari kaki.
Ular itu menggeliat-geliat dan membelit-belit tangan nenek itu, akan tetapi tidak mampu melepaskan diri dari jepitan telunjuk dan ibu jari tangan kanan nenek itu sedemikian kuatnya sehingga mau tidak mau ular itu membuka mulutnya lebar-lebar.
Tampak dua pasang gigi taringnya yang runcing melengkung, putih kebiruan.
Nenek itu dengan tangan kirinya mengambil sebatang pisau kecil, menekan dan menggurat-guratkan pisau itu pada dua pasang taring.
Ular itu kesakitan dan dari kedua pasang taringnya itu menetes cairan putih kebiruan, menetes-netes dan ditampung oleh Nyi Rukmo Petak ke dalam periuk tanah yang telah dipersiapkan di situ.
Retno Susilo memandang gurunya dengan penuh perhatian dan mengertilah ia bahwa gurunya sedang memaksa ular itu mengeluarkan racunnya yang amat berbahaya.
Agaknya gurunya sedang mengumpulkan racun ular-ular yang paling berbahaya.
Ia memandang wajah gurunya penuh perhatian.
Wajah yang terlalu muda bagi seorang nenek yang sebetulnya usianya sudah enam puluh lima tahun.
Tampaknya wajah itu seperti baru berusia tiga puluh tahunan saja.
Akan tetapi yang amat menyolok adalah warna rambatnya.
Rambut yang panjang sampai ke punggung itu putih semua, halus seperti benang-benang sutera perak.
Tubuhnyapun masih ramping padat, kulitnya masih halus belum dipenuhi keriput.
"Nyi Dewi, untuk apa engkau menampung racun ular itu?"
Retno Susilo bertanya dan menghampiri gurunya.
"Jangan bertanya sekarang, nanti kuceritakan. Sekarang lebih baik engkau membantu aku. Atau, engkau sudah lupa lagi bagaimana untuk menangkap ular dan engkau takut?"
"Takut?"
Tanya Retno Susilo penasaran sambil berjongkok dekat gurunya.
"Sudah lama engkau mengusir rasa takut dari hatiku."
"Kalau begitu bantulah. Pergunakan pisau itu untuk menekan taringnya agar ia mengeluarkan liurnya yang beracun."
Latanya sambil menunjukkan dengan dagunya ke arah pisau kecil yang berada tidak jauh dari situ.
Retno Susilo lalu duduk bersila dekat keranjang.
Seperti yang dilakukan gurunya tadi, dengan tangan kiri dibukanya keranjang Itu sedikit.
Ternyata didalamnya penuh dengan ular-ular yang berbisa, Ada ular welang, ular sendok, ular hijau, ular keling dan bermacam ular berbisa lainnya.
Tangan kanan Retno Susilo cepat menyambar ke dalam keranjang dan ia telah menjepit leher seekor ular sendok yang besarnya ada sepergelangan tangannya.
Ular itu membelit-belit tangannya, akan tetapi gadis itu mengerahkan tenaga menjepit leher dekat kepala sehingga ular itu terpaksa membuka mulutnya terpentang lebar dan tampaklah dua pasang taringnya yang mengerikan.
Seperti yang dilakukan gurunya.
Retno Susilo menekan-nekan dan menggurat-gurat pada taring ular itu sehingga dari taring itu keluar liur berbisa yang ditampungnya dengan periuk tanah tadi.
Setelah bisanya habis, sepert yang dilakukan oleh gurunya, ia melemparkan tubuh ular itu keluar dari gua.
Ular yang sudah kehabisan bisa itu, merayap perlahan meninggalkan guha itu dengan lemas.
Guru dan murid bekerja tanpa bicara dan akhirnya semua ular dalam keranjang telah dikuras bisanya.
Periuk itu menampung bisa banyak ular, tampak cairan keruh kebiruan yang agak berbusa di dalam periuk.
Setelah ularnya habis Retno Susilo bertanya kepada gurunya.
"Nah, sekarang engkau harus menceritakan, untuk apa engkau menampung semua bisa yang berbahaya ini, Nyi Dewi."
"Heh-heh-heh, aku sedang merangkai untuk menciptakan sebuah aji baru yang ampuh, Retno. Aji pukulan itu kuberi nama Aji Wiso Sarpo dan untuk melatihnya kubutuhkan semua bisa ini. Aji pukulan ini akan ampuh sekali, Retno. Terkena pukulan ini sama dengan terkena gigitan beberapa ekor ular berbisa yang membuat seluruh tubuh melepuh dan mendatangkan kematian yang mengerikan."
Retno Susilo terbelalak, ngeri juga juga membayangkan aji yang amat menyeramkan itu.
Ia memang ingin sekali, memperdalam ilmunya, akan tetapi kalau ia mempergunakan aji itu kemudian tubuh Sutejo melepuh semua dan terancam maut, alangkah mengerikan dan ia tidak akan tega melakukan hal itu terhadap pria yang amat dicintainya itu.
"Wah, hebat sekali. Jadi, siapa saja yang terpukul Aji Wiso Sarpo ini tidak akan dapat ditolong lagi, Nyi Dewi?"
"Hi-hi-hik, tentu saja kalau menciptakan sebuah aji, tentu juga mengadakan penawarnya yang disebut Wisopoho. Siapa yang menguasai Aji Wiso Sarpo, tubuhnya akan kebal terhadap segala macam racun, juga hanya ia yang akan mampu mengobati orang yang terkena pukulan dengan aji itu."
"Bagus sekali. Aku ingin mempelajari ilmu itu, Nyi Dewi!"
Kata Retno Susilo gembira.
"Hah! Untuk apa engkau hendak mempelajarinya? Tidak cukupkah aku melatihmu selama itu?"
"Sama sekali tidak cukup, Nyi Dewi. Justeru kedatanganku berkunjung ini adalah untuk minta tambahan ilmu kanuragan karena aku telah dihina dan dikalahkan orang. Nyi Dewi harus mengajarkan ilmu-ilmu yang lebih tinggi kepadaku agar aku dapat membalas kekalahan itu. Kebetulan sekali kalau engkau menciptakan ilmu baru ini. Aku ingin sekali mempelajarinya."
"Siapa dia yang telah mengalahkanmu?"
Tanya Nyi Rukmo Petak (Wanita Rambut Putih) dengan penasaran.
"Namanya Sutejo. Akan tetapi sudahlah, engkau tidak akan mengenalnya. Dia adalah urusanku sendiri. Engkau hanya perlu menggemblengku lebih lanjut agar aku dapat mengalahkannya."
"Baiklah. Kebetulan sekali, kalau begitu. Aku jadi mempunyai teman untuk berlatih Aji Wiso Sarpo ini dan aku akan mengajarkan pula aji pamungkas lainnya agar engkau dapat membalas kekalahanmu."
"Berapa lama aku harus membuang waktu untuk mempelajari Aji Wiso Sarpo dan aji pamungkas lainnya, Nyi Dewi? Kuharap jangan terlalu lama. Aku tidak akan betah tinggal terlalu lama di tempat menyeramkan ini!"
"Engkau pernah bertahun-tahun belajar dariku, bakatmu cukup baik. Dasarmu sudah cukup kuat dan da|am waktu seratus hari saja engkau akan dapat menguasai Aji Wiso Sarpo dan aji pamungkas lain yang disebut Aji Gelap Sewu."
"Bagus, terima kasih Nyi Dewi. Aku akan belajar dan berlatih dengan tekun!"
Kata Retno Susilo dan suaranya mengandung sorak kemenangan seolah ia sudah merasa yakin bahwa setelah menguasai dua macam ilmu itu, ia akan mampu mengalahkan Sutejo!
Resi Limut Manik pagi hari itu tampak lesu dan tidak bersemangat.
Kakek yang usianya sudah tujuh puluh empat tahun ini tampak lebih tua daripada biasanya.
Rambut, alis, dan kumis jenggotnya yang panjang, ditimpali pakaiannya yang serba putih, membuat dia tampak seperti bukan Seorang manusia biasa.
Dia duduk bersila di atas dipan bambu, dihadap dua orang cantriknya, Penggik yang berusia enam belas tahun dan Pungguk yang berusia delapan belas tahun.
Dua orang cantrik yang masih muda remaja ini tampak sehat dan wajah mereka cerah gembira, berbeda dengan wajah sang resi.
"Pungguk dan Penggik, majulah dan duduklah dekat denganku,"
Kata Sang Resi Limut Manik, dengan suaranya yang khas, lembut dan halus.
Melihat sikap sang Resi tidak seperti biasanya, dua orang cantrik itu merangkak dan duduk bersila di atas lantai dekat dipan bambu.
"Eyang Resi, tidak seperti biasanya paduka tampak lesu dan tidak bergembira, membuat kami berdua ikut merasa prihatin."
Kata Pungguk.
"Eyang Resi, apakah gerangan yang mengganggu hati paduka? Kami ingin sekali menghibur paduka."
Kata pula Penggik.
Kedua orang cantrik ini adalah kakak beradik yang sudah tidak memiliki ayah bunda lagi, tidak memiliki sanak keluarga dan sejak kecil mereka dipelihara oleh Resi Limut Manik maka tidak mengherankan kalau mereka sangat mencinta kakek itu.
Hati mereka terikat kuat kepada junjungan mereka.
Mendengar ucapan dua orang cantriknya, Resi Limut Manik menghela napas panjang dan berkata.
"Yang menjadi pengganggu pikiranku adalah kalian berdua. Kalau aku sudah tidak ada, lalu bagaimana dengan kalian berdua? Siapakah yang akan kalian ngengeri? Itulah pertanyaan yang mengganggu hatiku sehingga hari ini aku tidak merasa bergembira."
"Wah, Eyang Resi. Eyang hendak pergi kemanakah? Eyang, kalau eyang pergi, kami berdua mohon diperkenankan untuk ikut. Kami tidak dapat berpisah dari Eyang. Paduka merupakan pelita hidup kami, tanpa adanya paduka, kami seperti kehilangn pelita dan hidup dalam kegelapan."
Kata Pungguk.
"Benar, Eyang Resi. Mati hidup kami berdua akan ikut paduka!"
Kata Penggik.
"Mati hidup akan ikut aku?"
Resi Limut Manik berucap dengan suara terharu.
"Jagad Dewa Bathara.......! Kehendak Sang Hyang Widhi tidak mungkin diubah oleh apapun atau siapapun!"
"Eyang Resi, mohon jangan tinggalkan kami berdoa!"
Pungguk berkata dengan suara penuh kekhawatiran.
"Mohon perkenan paduka agar kami dapat mengikut paduka ke manapun paduka pergi, Eyang Resi."
Kata pula Penggik. Resi Limut Manik mengelus jenggotnya, mengangguk-angguk dan tersenyum.
"Baiklah, Pungguk dan Penggik. Kalian boleh ikut bersamaku kemanapun aku pergi. Sekarang keluarlah, aku hendak bersamadhi dan ingat, siapapun juga tidak boleh mengganggu samadhiku dan kalian harus menjaga dan mempertahankan larangan ini."
"Sendhiko Eyang. Mari, Penggik, kita berjaga di luar."
Kata Pungguk dengan sikap gagah dan setelah menyembah dengan hormat, dua orang bersaudara itu keluar dari dalam pondok dengan wajah berseri karena telah diperkenankan ikut ke manapun sang resi pergi.
Setelah kedua orang cantrik itu keluar.
Resi Limut Manik lalu mengangkat kedua tangan menengadah ke atas.
"Hamba menyerah atas Semua Kehendak Paduka. Segala Kehendak Paduka jadilah!"
Dan dia lalu duduk diam dan tenggelam dalam samadhi.
Matahari mulai naik tinggi ketika terdengar derap kaki kuda dan empat orang penunggang kuda mendaki puncak Semeru di mana Resi Limut Manik mendirikan padepokannya.
Pungguk dan Penggik memandang mereka yang datang berkuda itu dengan heran.
Jarang ada tamu datang berkunjung, apa lagi empat orang berkuda yang kesemuanya mengenakan pakaian serba indah itu.
Akan tetapi setelah mereka datang lebih dekat.
Pungguk dan Penggik segera mengenal seorang di antara mereka.
Dua orang cantrik itu mengerutkan alisnya ketika mengenal Bhagawan Jaladara.
Tentu saja mereka tahu bahwa murid ke tiga dari Resi Limut Manik ini pernah datang berkunjung, bermalam di situ dan pergi sambil mencuri pecut pusaka Bajrakirana!
Kini dia muncul kembali bersama tiga orang yang tampaknya gagah dan menyeramkan!
Tiga orang itu bukan lain adalah Ki Warok Petak, Ki Baka Kroda dan Tumenggung Janurmendo!
Ketika mereka tiba di depan pondok, empat orang itu lalu berlompatan turun dari atas punggung kuda mereka dan Bhagawan Jaladara memandang kepada dua orang cantrik itu.
"Heh. Pungguk dan Penggik! Di mana Bapa Resi?"
Tanyanya dengan kasar. Pungguk menjawab.
"Eyang Resi sedang bersamadhi di dalam pondok."
"Cepat beritahu kepada Bapa Resi bahwa kami datang untuk bertemu dan bicara dengannya!"
Perintah Bhagawan Jaladara. Dua orang cantrik itu saling pandang dan Pungguk lalu menjawab dengan suara tegas.
"Eyang Resi sedang bersamadhi dan tadi sudah memerintahkan kepada kami berdua agar tidak membiarkan siapapun juga mengganggu samadhinya."
Bhagawan Jaladara mengerutkan alisnya dan membentak.
"Bedebah! Tidak kau lihat siapa aku? Katakan aku Bhagawan Jaladara yang datang dan dia harus keluar sekarang juga untuk bicara! Lihat, apa yang kubawa ini? Kalian harus mentaati perintahku!"
Setelah berkata demikian, Bhagawan Jaladara mengangkat tinggi Pecut Sakti Bajrakirana di tangan kanannya.
"Maaf, Paman Bhagawan Jaladara. Kami tetap tidak dapat memenuhi permintaanmu untuk mengganggu Eyang Resi."
Kata Pungguk.
"Jahanam! Kalau begitu minggirlah, kami akan masuk pondok dan menemui sendiri Bapa Resi!"
Setelah berkata demikian Bhagawan Jaladara melecut dengan cambuknya. Pecut Bajrakirana meledak di udara "Tar-tar-tar.......!"
"Kalau Paman Bhagawan hendak memaksa, terpaksa kami akan menghalangi!"
Kata Penggik.
Pemuda remaja berusia enam belas tahun ini berdiri dengan kedua kaki terpentang lebar di depan pintu menghalang empat orang itu untuk memasuki pondok.
Pungguk juga melompat ke dekat adiknya dan dua orang kakak beradik itu berjaga di depan pintu dengan sikap menantang dan tabah, sedikitpun tidak merasa takut.
Melihat sikap kedua orang pemuda remaja itu, tentu saja Bhagawan Jaladara menjadi marah bukan main!
Dia merasa dihina oleh dua orang cantrik, di depan tiga orang rekannya lagi.
"Keparat! Kalian sudah bosan hidup!"
Pecut Bajrakirana di tangannya bergerak ke atas, meledak dua kali di udara lalu meluncur ke bawah, menyambar ke arah kepala dua orang cantrik muda itu.
Pecut Bajrakirana adalah sebuah senjata pusaka yang sakti, dan yang menggerakkan adalah tangan Bhagawan Jaladara, seorang yang sakti mandraguna, maka dapat dibayangkan betapa hebatnya serangan itu.
Sia-sia saja dua orang cantrik itu hendak mengelak.
Kepala mereka telah disambar dan dilecut.
"Tarrr........! Tarrr.....!!"
Dua tubuh remaja itu terpelanting dan roboh, tak bergerak lagi, kepala mereka retak retak, darah merah dan otak putih berceceran di atas tanah! "Duh Jagad Dewa Bathara !"
Tiba -tiba terdengar seruan halus dan Resi Limut Manik telah berdiri di ambang pintu, matanya memandang ke arah tubuh dua orang cantriknya dengan mata sayu.
Kemudian mata itu menyambar ke arah Bhagawan Jaladara dan dia menegur.
"Jaladara, apa yang kau perbuat ini? Andika telah melanggar pantangan, menggunakan Pecut Sakti Bajrakirana untuk membunuh!"
"Bapa Resi, tidak perlu banyak cakap lagi. Lihat kenyataan bahwa akulah pemegang Pecut Bajrakirana, maka andika harus menuruti semua perintahku! Cepat serahkan kitab Aji Bajrakirana dan keris pusaka Kartika Sakti berikut kitab Pelajaran ilmu keris itu! Kami membutuhkan untuk memperkuat perguruan Jatikusumo yang akan kami dirikan kembali."
"Aku menghormati Pecut Bajrakirana karena pusaka itu dahulu adalah pusaka peninggalan guruku, karenanya aku tidak akan melawan. Akan tetapi untuk menyerahkan kitab kitab dan pusaka yang kau minta, hal itu jelas tidak dapat kulakukan. Jaladara Andika telah membunuh dua orang, cantrik yang tidak berdosa, semoga Hyang Widhi mengampunimu, sekarang sebaiknya kalian pergi dari sini jangan menggangguku lagi."
"Bapa Resi, kalau tidak andika berikan barang-barang yang kuminta, terpaksa aku akan menggunakan kekerasan!"
Bentak Bhagawan Jaladara, Bukan saja dia mengandalkan Pecut Bajrakirana, akan tetapi juga dia mengandalkan bantuan teman-temannya untuk menghadapi Resi Limut Manik yang sudah tua renta itu terutama mengandalkan Tumenggung Janurmendo yang sakti mandraguna.
"Hemm, kekerasan yang bagaimana kau maksudkan, Jaladara?"
Tanya Sang Resi dengan tenang dan sabar.
"Membunuhmu dan merampas kitab-kitab dan pedang pusaka itu!"
Bentak Bhagawan Jaladara. Resi Limut Manik tersenyum dan melipat kedua lengan di depan dada.
"Mati dan hidupku berada di Tangan Hyang Widhi, Jaladara. Aku tetap tidak akan memberikan semua itu kepadamu karena engkau tidak berhak memilikinya."
Bhagawan Jaladara menjadi marah sekali. Dia memberi isarat kepada tiga orang rekannya. Tiga itu maklum akan isarat yang diberikan maka mereka bertigapun mencabut senjata masing-masing.
"Serang......! Bunuh...!!"
Teriak Bhagawan! Jaladara dan dia sendiri sudah menggerakan Pecut Bajrakirana.
"Tar-tar-tarrr.....!"
Tiga kali pecut itu meledak dan menyambar ke arah kepala dan tubuh Sang Resi.
Ujung pecut itu dengan tepat mengenai sasaran.
Terdengar kain robek dan tampak wajah dan dada Sang Resi mengeluarkan darah dari guratan memanjang bekas lecutan pecut.
Tongkat hitam di tangan kiri Bhagawan Jaladara menyusul dan menusuk ke arah dadanya.
"Dess......!"
Tongkat itu tepat mengenai ulu hati.
Golok besar di tangan Ki Warok Petak juga menyambar dan mengenai pundak Sang Resi, disusul keris di tangan Ki Baka Kroda menusuk perutnya dan keris pusaka di tangan Tumenggung Janurmendo juga menyambar dan menusuk lambungnya.
Tubuh Sang Resi penuh luka, akan tetapi kakek itu masih berdiri tegak dan tidak roboh, bahkan senyumnya tidak pernah menghilang dari mukanya.
Melihat ini, Bhagawan Jaladara terbelalak, ,demikian pula tiga orang rekannya sehingga mereka menahan senjata dan hanya memandang dengan heran dan jerih.
"Manusia-manusia berhati iblis yang keji!"
Tiba -tiba terdengar bentakan suara yang halus dan nyaring dan muncullah seorang pemuda yang tampan sekali, pakaiannya menunjukkan bahwa dia seorang bangsawan, usianya sekitar dua puluh tahun dan pemuda ini sudah mencabut Sebatang pedang yang berkilauan saking tajamnya, Kemudian sekali menggerakkan kakinya pemuda itu sudah melompat dan melindungi Resi Limut Manik yang masih berdiri bersedekap dengan wajah dan tubuh mandi darah dan pakaian robek-robek!
Melihat munculnya seorang pemuda tampan yang melindungi Resi Limut Manik, Bhagawan Jaladara menjadi marah.
Dia menyimpan Pecut bajrakirana dan menyerang dengan tongkatnya yang menyambar amat dahsyatnya ke arah kepala pemuda tampan itu.
"Bocah lancang berani engkau mencampuri urusan kami!"
Melihat sambaran tongkat hitam itu si pemuda sudah waspada itu maklum akan datangnya serangan yang berbahaya. Dia mengelebatkan pedangnya menangkis.
"Trangggg.....!"
Pedang dan tongkat bertemu dan Bhagawan Jaladara terkejut sekali karena tongkatnya tergetar hebat, membuktikan bahwa pemuda itu memiliki tenaga sakti yang amat kuat.
Akan tetapi pada saat itu, Tumenggung Janurmendo sudah turun tangan.
Keris pusaka Jalu Sarpo menyambar dan menusuk ke arah dada pemuda itu.
Namun si pemuda tampan juga dapat bergerak dengan gesit dan mantap.
Dia menggeser kakinya dan tubuhnya sudah miring, mengelak dari tusukan keris dan dari samping pedangnya membabat ke arah leher Tumenggung Janurmendo!
Serangan balasan inipun dapat dielakkan oleh tumenggung yang digdaya itu.
Ki Warok Petak dan Ki Baka Kroda tidak mau tinggal diam dan mereka juga sudah menerjang dan menyerang dengan senjata masing-masing.
Ternyata pemuda itu memang tangguh Biarpun dikeroyok empat orang yang kesemuanya merupakan jagoan-jagoan yang memiliki ilmu kanuragan yang tinggi, dia tidak menjadi gentar.
Dia memutar pedangnya sedemikian cepat dan kuatnya sehingga pedang itu lenyap bentuknya, berubah menjadi gulungan sinar putih yang menyambar ke sana sini.
Namun, karena dia dikepung dari empat jurusan, akhirnya diapun hanya dapat menangkis dan tidak mendapat kesempatan untuk membalas serangan empat orang pengeroyoknya!
Bhagawan Jaladara yang merasa penasaran sekali, menjadi marah.
Kalau mereka berempat tidak mampu mengalahkan Resi Limut Manik, itu tidaklah aneh dan tidak akan membuat menjadi penasaran.
Nyatanya Resi Limut Manik tidak melakukan perlawanan berkat adanya Pecut Sakti Bajrakirana.
Akan tetapi sekarang mereka berempat tidak mampu segera merobohkan seorang pemuda remaja yang mereka keroyok, hal ini sungguh membuat dia menjadi penasaran bukan main.
Diam-diam dia mengerahkan Aji Gelap Musti di tangan kirinya dan setelah mengambil ancang-ancang, dia berseru nyaring dan mendorong dengan pukulan Aji Gelap Musti.
"Makanlah Aji Gelap Musti!"
Teriaknya dan ketika tangan kirinya memukul, dari tangan kiri itu keluar, angin pukulan yang amat dahsyat bagaikan kilat menyambar. Akan tetapi, pemuda itupun menekuk"
Lututnya menyambut pukulan itu dengan pukulan yang sama!
"Wuuuuttt......Desss.......!!n Dua tenaga sakti Aji Gelap Musti bertemu di udara dan keduanya terdorong ke belakang.
Bhagawan Jaladara menjadi terkejut setengah mati mendapat kenyataan betapa pemuda itu menyambut pukulannya dengan aji yang sama.
"Siapa andika....?"
Tanyanya dan tiga orang juga menghentikan penyerangan mereka.
"Siapa adanya aku tidak penting kau ketahui!"
Jawab pemuda itu sambil melintangkan pedangnya di depan dada.
"Yang jelas siapa adanya aku, aku akan tetapi menentangmu. Andika seorang berpakaian pendeta, akan tetapi sepak terjangmu seperti penjahat yang melakukan pembunuhan terhadap dua orang ini dan mengeroyok seorang tua renta yang mengalah dan tidak mau melawan kalian!"
"Keparat, engkau pun bosan hidup!"
Bhagawan Jaladara membentak lalu memberi isarat kepada tiga orang rekannya untuk menyerang lagi.
Pemuda itu memutar pedangnya dan menyambut serangan mereka dengan berani walapun dia segera terkepung dan terdesak.
Pada saat itu tampak sesosok bayangan berkelebat dan di situ telah berdiri seorang pemuda lain.
Pemuda itu adalah Sutejo yang baru datang.
Melihat betapa eyang gurunya berdiri bersedakap dan mandi darah, dua orang cantrik menggeletak tak bernyawa dan seorang pemuda berpedang, sedang dikeroyok dan didesak oleh Bhagawan Jaladara dengan tiga orang rekannya, Sutejo menjadi marah.
Tanpa bertanyapun dia dapat menduga bahwa empat orang itu tentu datang mengacau di padepokan Resi Limut Manik, maka diapun segera melolos kain ikat kepalanya dan melompat ke tengah pertempuran.
"Bhagawan Jaladara, di mana-mana engkau mendatangkan kekacauan!"
Serunya dan kain ikat kepala berwarna biru itu berubah menjadi gulungan tangan sinar biru ketika dia menggerakkannya.
Sinar biru itu menyerang ke arah kepala Bhagawan Jaladara.
Bhagawan Jaladara terkejut sekali ketika dia melihat bahwa penyerangnya adalah Sutejo, pemuda yang sakti mandraguna itu.
Dia cepat mengelak sambil melompat mundur.
Baru menghadapi tampan itu saja dia dan tiga orang rekannya belum dapat menang, apa lagi kini muncul Sutejo.
Pada hal, Resi Limut Manik juga belum tewas.
Kini keadaan pihaknya yang terancam bahaya, maka dia lalu berseru memberi tanda kepada kawan-kawannya untuk mundur.
Mereka berloncatan dan di lain saat mereka telah melompat ke atas punggung kuda masing-masing dan melarikan diri meninggalkan puncak itu.
Sutejo sudah melompat untuk melakukan pengejaraan akan tetapi tiba-tiba terdengar suara Resi Limut Manik.
"Sutejo, tidak perlu mengejar mereka"
Sutejo menahan langkahnya dan membalikkan memandang eyang gurunya.
Dia melihat tubuh kakek itu terkulai dan bagaikan dua orang berlomba, dia dan pemuda yang tampan itu cepat sekali sudah meloncat ke depan dan menyambut tubuh kakek yang terkulai itu sehingga tidak sampai terjatuh.
"Mari kita bawa eyang masuk ke pondok,"
Kata pemuda itu.
Sutejo merasa heran sekali.
Pemuda itu bersuara lembut namun di balik kelembutannnya terkandung wibawa yang kuat seolah-olah pemuda itu sudah biasa memerintah, tanpa berkata sesuatu diapun membantu pemuda itu memondong tubuh Resi Limut Manik dan membawanya masuk ke dalam pondok, merebahkan tubuh yang lunglai itu ke atas dipan.
Melihat luka-luka di wajah dan tubuh Resi Limut Manik, pemuda itu kembali memerintah kepada Sutejo.
"Ki sanak, cepat carilah buah pace, kulit pohon dan akarnya, juga Widoro Upas dan Biji Jarak untuk mengobati luka-luka yang diderita eyang guru!"
Kembali Sutejo merasa heran.
Pemuda tampan ini menyebut eyang guru kepada Resi Limut Manik!
Dan dia diperintah begitu saja, anehnya dia tidak ingin membantah karena maklum bahwa apa yang diperintahkan itu benar dan perlu sekali.
Akan tetapi Resi Limut Manik menggerakkan tangan kirinya.
"Tidak perlu tergesa-gesa mengobati aku. Yang penting, angkatlah jenazah kedua orang cantrik itu dan uruslah mereka baik-baik. Cucunda Puteri, andika bantulah dia mempersiapkan pemakaman kedua orang cantrik, aku ingin mereka dikubur di belakang pondok."
Sutejo terbelalak memandang kepada pemuda itu Cucunda Puteri?
Jadi pemuda itu adalah seorang gadis?
Seorang puteri malah?
Pantas ketampannya luar biasa!
Melihat keheranan Sutejo, Resi Limut Manik bangkit duduk dibantu dua orang pemuda itu dan setelah duduk bersila dia bekata.
"Kalian belum saling mengenal? Sutejo, dara yang menyamar pria ini adalah Gusti Puteri Wandasari, puteri dari Kanjeng Gusti Sultan Agung di Mataram dan ia adalah murid perguruan Jatikusumo, murid dari Bhagawan Sindusakti di pantai Laut Kidal. Cucunda Puteri, pemuda ini adalah Sutejo, murid dari Bhagawan Sidik Paningal yang bertapa di Gunung Kawi."
Puteri Wandansari dan Sutejo saling pandang.
Dua pasang mata bertemu pandang dengan penuh perhatian kemudian keduanya saling memberi hormat dengan membungkuk.
Akan tetapi Puteri Wandasari lalu mencurahkan perhatiannya lagi kepada Resi Limut Manik.
"Akan tetapi, Eyang. Eyang telah menderita luka-luka parah yang harus segera dirawat! Biarlah...... kakang Sutejo yang mengurus dua jenazah itu dan aku sendiri akan mencarikan daun-daun obat untuk Eyang agar tidak terlambat....."
Resi Limut Manik menggoyang tangannya.
"Memang sudah terlambat, cucunda Puteri. Aku sudah merasa bahwa luka-lukaku tidak dapat disembuhkan lagi. Pecut Sakti Bajrakirana telah menghantam kepala dan dadaku, Masih baik aku dapat bertahan, tidak tewas seketika. Sekarang, jangan kalian ragu dan lakukan saja apa yang kuperintahkan. Kalian berdua cepat urus pengu-buran dua jenazah cantrik itu, setelah itu kalian datanglah menghadap ke sini karena ada sesuatu yang amat penting hendak kubicarakan dengan kalian."
Suara itu lemah dan lembut, namun mengandung pesan yang tidak dapat dibantah lagi.
Dua orang muda itu saling pandang, lalu mengangguk dan keduanya segera keluar untuk melaksanakan apa yang diperintahkan oleh Resi Limut Manik.
Dua orang itu bekerja keras.
Diam diam Sutejo merasa heran dan juga kagum.
Puteri itu ternyata cekatan dan biarpun ia seorang wanita, namun ia membantunya menggali lubang.
Pada hal ia bukan wanita biasa melainkan seorang puteri keturunan raja besar!
Mereka bekerja tanpa kata-kata sehingga tugas itu dapat mereka selesaikan dengan cepat.
Matahari telah condong ke barat ketika mereka kembali menghadap Resi Limut Manik.
Mereka mendapatkan kakek itu masih tetap duduk bersila seperti tadi ketika mereka tinggalkan.
Puteri Wandasari tadi telah menyelinap ke dapur dan membuatkan bubur untuk eyang gurunya, dan membawa bubur dalam mangkok itu ketika ia menghadap bersama Sutejo.
Resi Limut Manik membuka matanya ketika dua orang muda itu datang menghadap.
"Eyang, silakan eyang dahar bubur ini dulu agar tubuh eyang menjadi kuat."
Kata sang puteri sambil menyerahkan semangkok bubur itu.
Resi Limut Manik tersenyum memandang semangkok bubur yang masih mengepul panas itu!
"Terima kasih, puteri.
Andika memang seorang gadis yang baik sekali, terima kasih."
Dia lalu makan bubur itu dengan perlahan dan bertanya.
"Bagaimana dengan tugas kalian?"
"Kami berdua telah mengubur dua jenazah itu sebagaimana mestinya, eyang."
Kata Sutejo.
"Bagus. Aku girang mendengar itu. Dan sekarang ceritakan apa yang mendorong kalian datang kesini. Engkau lebih dulu, Sutejo. Ceritakan mengapa engkau datang ke sini."
"Eyang, setelah dulu saya meninggalkan eyang, saya bertemu dengan Paman Bhagawan Jaladara dan setelah bertanding, akhirnya saya berhasil merampas Pecut Sakti Bajrakirana. Kemudian pecut itu saya bawa pulang ke Gunung Kawi dan disana saya melihat Bapa Guru sudah ditodong oleh Paman Bhagawan Jaladara yang datang bersama tiga orang temannya tadi. Dia mengancam untuk membunuh Bapa Guru kalau saya tidak menyerahkan pecut pusaka itu. Karena melihat Bapa Guru terancam, terpaksa saya menyerahkan pecut itu. Mereka pergi membawa pecut dan meninggalkan Bapa Guru dalam keadaan terluka berat. Akhirnya Bapa Guru meninggal dunia karena luka-lukanya. Setelah mengurus penguburannya, saya lalu pergi ke sini untuk melaporkan semua itu kepada Eyang dan mendapatkan Eyang terluka parah, kedua cantrik tewas dan...... Gusti Puteri ini dikeroyok mereka berempat."
"Kakang Sutejo, Jangan menyebut aku Gusti Puteri. Bagaimanapun juga kita ini masih kakak beradik seperguruan. Cukup menyebutku adik atau diajeng saja."
"Baiklah dan terima kasih atas kehormatan itu, diajeng Wandansari,"
"Sadhu-Sadhu-Sadhu.....!"
Resi Limut Manik berucap sambil menghela napas panjang.
"Memang kebaikan dan keburukan saling menimpali dan saling mendorong, tidak akan ada kebaikan kalau tidak ada keburukan, tidak akan ada kebajikan kalau tidak ada kejahatan. Akan tetapi di perguruan Jatikusumo muncul Jaladara, sungguh akan membuat suram dan ternoda nama perguruan kita. Apa pesan Sidik Paningal kepadamu, Sutejo?"
"Bapa Guru meninggalkan pesan dan tugas kepada saya, Eyang. Pertama saya harus mencari dan merampas kembali Pecut Sakti Bajrakirana, dan kedua saya harus mempergunakan pecut itu untuk menentang kejahatan dan membela kebenaran dan keadilan, lalu saya harus berbakti kepada Nusa Bangsa dengan menghambakan diri kepada Mataram."
"Bagus, semoga Hyang Widhi memberi bimbingan kepadamu sehingga engkau dapat melaksanakan semua tugas itu dengan baik. Sekarang giliranmu Cucunda Puteri. Bagaimana andika dapat kebetulan datang ke sini pada saat Jaladara mengacau? Apa yang mendorong andika datang berkunjung ke sini?"
"Pertama-tama saya datang berkunjung untuk menengok keadaan Eyang Resi karena sudah lama saya tidak datang menghadap, Kedua kalinya, saya diutus Kanjeng Romo untuk datang berkunjung,"
"Hmmmm, Kanjeng Romomu mengutus andika datang ke sini? Apakah yang beliau kehendaki dariku Puteri?"
"Pertama-tama Kanjeng Romo mengirim salam dan hormat untuk dihaturkan kepada Eyang Resi."
"Jagad Dewa Bathara....! Salam itu kuterima dengan senang hati, dan sebaliknya kalau andika pulang sampaikan doa restuku untuk Kanjeng Romomu Dan pesan selanjutnya?"
"Eyang Resi, sekarang ini timbul gejala gejala pemberontakkan, terutama dari kadipaten dan kabupaten di bagian timur dan utara seperti Kabupaten Lasem, Tuban, Jipang, Wirosobo, Pasuruan, Arisbaya dan Sumenep di Madura, dipimpin oleh Sang Adipati di Surabaya dengan penasihat Sunan Giri. Karena adanya gejala yang tidak sehat ini, Mataram harus memperkuat diri dan untuk usaha ke arah itu, Kanjeng Romo telah mengundang para satria dan orang gagah untuk menjadi perwira dan perajurit, dan para pertapa dan pendeta yang arif bijaksana untuk menjadi penasihat. Mengingat bahwa Eyang Resi adalah seorang yang sakti mandraguna lagi arif bijaksana, maka Kanjeng Romo mengutus saya untuk mohon kepada Eyang agar melimpahkan pangestu dan dukungan terhadap Mataram"
Resi Limut Manik mengangguk-angguk.
"Sudah semestinya begitu, Puteri. Akan tetapi aku sudah terlalu tua sekarang untuk melibatkan diri dalam perang. Apa lagi keadaanku yang terluka parah dan maut sewaktu-waktu akan datang menjemput. Aku hanya dapat mengirim doa restu yang tiada putusnya dan aku yakin bahwa Mataram akan jaya karena dikendalikan oleh romomu, seorang Raja yang Bijaksana!"
"Terima kasih, Eyang. Akan saya sampaikan kepada Kanjeng Romo."
Kata dara perkasa itu.
"Sekarang dengarkan baik -baik. Aku akan meninggalkan pesan penting untuk kalian berdua. Agaknya memang sudah ditentukan oleh para dewata bahwa kalian datang pada saatnya yang tepat. Sutejo, ambilkan peti kecil di balik dipan itu."
Sutejo bangkit dan mencari di tempat yang ditunjukkan Sang Resi.
Ditemukan sebuah peti berukir yang panjangnya satu meter dan lebarnya tiga puluh senti berwarna hitam, terbuat dari kayu jati yang tua.
Dibawanya peti itu kepada Resi Limut Manik.
Resi Limut Manik yang tampak semakin lemah menggunakan kedua tangannya yang agak gemetar untuk membuka tutup peti dan dikeluarkan tiga buah benda dari dalam peti, yaitu sebatang pedang dan dua buah kitab.
Ketika dia mencabut pedang itu dari sarungnya, tampak sinar berkilat menyilaukan mata.
Lalu dimasukkankan kembali pedang itu ke dalam sarung pedang.
"Cucunda Puteri, pedang ini disebut Pedang Kartiko Sakti, merupakan pedang pusaka, perguruan Jatikusumo di samping Pecut Bajrakirana. Terimalah aku memberikan pedang pusaka ini kepadamu agar dapat kau pergunakan untuk membela Mataram. Dan ini adalah kitab pelajaran ilmu pedang Kartiko Sakti, sebuah ilmu pedang yang tidak pernah kuajarkan kepada murid yang manapun juga. Pelajarilah ilmu ini dengan Pedang Kartiko Sakti."
Dengan sikap hormat Puteri Wandansari menerima pedang dan kitab kuno itu.
"Banyak terima kasih Eyang Resi. Saya akan mempelajarinya dengan tekun."
"Bagus. Dasar-dasar ilmu pedang ini akan kuberi petunjuk kepadamu selagi aku masih mampu. Dan sekarang engkau, Sutejo. Terimalah kitab ini. Ini adalah kitab pelajaran ilmu Pecut Bajrakirana. Ilmu ini memang khas untuk dimainkan dengan Pecut Bajrakirana dan seperti juga Ilmu pedang Kartiko Sakti, ilmu Bajrakirana ini tidak pernah kuajarkan kepada murid yang manapun juga. Karena engkau bertugas untuk merampas Pecut Bajrakirana, maka setelah berhasil, pecut itu kuserahkan kepadamu berikut ilmunya ini agar dapat engkau pergunakan untuk menegakkan kebenaran dan keadilan, juga untuk dipergunakan membela Mataram."
Sutejo menerima kitab itu dan menghaturkan terima kasih.
"Mulai hari ini, selagi aku masih mampu, aku akan memberi petunjuk kepada kalian tentang ke dua ilmu itu, yaitu mengenai dasar-dasarnya. Sutejo, carilah pecut milik Pungguk dan Penggik di belakang pondok. Engkau dapat mempergunakan pecut biasa itu untuk berlatih."
Sutejo mencari pecut itu di kandang kerbau yang berada di belakang pondok dan menemukannya Biarpun keadaan tubuh Resi Limut Manik lemah sekali, akan tetapi dia memaksakan diri untuk memberi petunjuk kepada Sutejo dan Puteri Wandansari dalam mempelajari kedua ilmu itu.
Puteri Wandansari menggunakan pedang pusaka itu untuk berlatih Ilmu Pedang Kartiko Sakti sedangkan Sutejo menggunakan pecut panjang itu untuk berlatih ilmu Pecut Bajrakirana.
Karena keduanya memang amat berbakat dan telah memiliki dasar-dasar ilmu silat perguruan Jatikusumo maka dalam waktu dua pekan saja mereka telah dapat menguasai dasar-dasarnya, tinggal mematangkan ilmu itu dengan latihan-latihan yang dapat mereka lakukan sendiri dengan petunjuk kitab masing-masing.
Setelah lewat dua pekan, dua orang muda itu telah menguasai dasar ilmu masing-masing, akan tetapi Resi Limut Manik yang selama itu mengerahkan seluruh sisa tenaganya tidak kuat dan ambruk, jatuh pingsan dalam rangkulan Sutejo dan Puteri Wandansari.
Mereka memondong tubuh sang resi ke dalam pondok dan merebahkannya di atas pembaringan Napas kakek itu tinggal satu-satu ketika akhirnya dia membuka matanya dan melihat Sutejo dan Putera Wandansari duduk di tepi dipan bambu, dia memandang dan tersenyum!
"Eyang Resi,"
Kata Puteri Wandansari.
"Eyang terlalu lelah. Ah, kami yang berdosa telah membuat Eyang, terlalu lelah memberi petunjuk kami."
"Tidak, Puteri. Hatiku sudah puas sekarang. Aku yakin bahwa andika berdua yang kelak akan mengangkat nama perguruan Jatikusumo dan memanfaatkan dua ilmu warisan dari nenek moyangku. Sekaraag aku siap menghadapi kematian dengan hati tenteram..."
Dia terengah-engah.
"Eyang Resi.......!"
Hampir berbareng Sutejo Wandansari berseru, Kakek itu menggeleng kepalanya.
"Sudah terlalu lama aku memperkuat diri menangguhkan datangnya kematian, sudah terlalu lama kedua cantrikku menanti......, kalau ajalku tiba, kuburkanlah aku di antara kuburan mereka berdua...... mereka itu setia sampai mati......"
Keadaan Resi Limut Manik menjadi semakin lemah dan malam harinya kakek itupun menghembuskan napas terakhir di depan Sutejo dan Puteri Wandansari.
Sutejo dan Puteri Wandansari merasa berduka, akan tetapi Sutejo mendapat kenyataan bahwa puteri itu memiliki ketabahan dan kekuatan, tidak menangis sedih seperti sebagaian besar wanita kalau merasa berduka.
Puteri itu hanya duduk bersimpuh di dekat pembaringan sambil menundukkan mukanya.
Seorang dara yang luar biasa, pikir Sutejo.
Dia sendiri melihat tadi betapa puteri ini sanggup menghadapi pengeroyokan Bhagawan Jaladara dan tiga orang kawannya yang sakti.
Walaupun puteri ini terdesak, namun berani dan mampu menghadapi pengeroyokan mereka sudah merupakkan hal yang luar biasa sekali.
Seorang dara yang luar biasa cantiknya hal ini mudah dilihat walaupun ia berpakaian pria, dan seorang dara yang memiliki kedigdayaan.
Bahkan dibandingkan dengan Retno Susilo, Puteri Wandansari ini lebih hebat kepandaiannya!
Apa lagi ia memperoleh Pedang Kartiko Sakti berikut ilmu pedangnya!
Dan selain memiliki kelebihan itu, kecantikan dan kesaktian sang puteri ini juga puteri seorang raja, anggun berwibawa, dan sama sekali tidak cengeng.
Diapun memandang dengan hati kagum sekali.
"Diajeng Wandansari"
Katanya lirih karena panggilan ini baginya masih terasa membuat hatinya risih dan canggung terlalu lancang.
Akan tetapi karena panggilan itu atas permintaan sang puteri sendiri, maka dia memberanikan diri memanggil diajeng.
"Hari sudah malam, sebaiknya andika mengaso di kamar sebelah. Biarlah aku yang akan menunggu jenazah Eyang Resi di sini."
Ucapan ini keluar dari hati yang jujur.
Dia merasa kasian kepada dara itu yang telah membantunya ketika mengubur jenazah kedua orang cantrik dan selama belasan hari ini setiap hari tekun berlatih ilmu pedang yang baru secara rajin sekali.
Puteri itu tentu merasa lelah dan perlu beristirahat.
Akan tetapi puteri Wandansari menggeleng kepalanya.
"Aku memang lelah, akan tetapi untuk menjaga jenazah Eyang Resi, biarpun lelah harus kulakukan. Apakah artinya sedikit kelelahan ini kalau dibandingkan dengan budi kebaikan dan pengorbanan diri Eyang Resi kepada kita? Dalam keadaan terluka parah dan sakit berat Eyang Resi telah memaksa dirinya membimbing kita selama dua pekan sampai raganya tidak kuat lagi bertahan. Apalah artinya bergadang semalam suntuk untuk menjaga jenazahnya?"
Sutejo merasa terpukul oleh ucapan itu. Betapa tepatnya dan tidak mungkin dapat dibantah lagi. Diapun hanya menundukkan mukanya dan berkata lirih.
"Diajeng Wandansari, andika adalah seorang puteri yang arif bijaksana."
Hening mengikuti percakapan yang terhenti itu.
Malam itu hawa udaranya amat dingin sampai rasanya hawa dingin itu menyusup ke tulang sumsum.
Dingin dan sunyi menembus dinding menguasai kamar di mana jenazah Resi Limut Manik, terbaring dengan tenangnya.
Wajah itu tampak seperti sedang tidur saja, mulut dibalik kumis itu tersenyum.
Sutejo merasa kesepian.
Biarpun di situ ada Puteri Wandansari, namun sang puteri itu duduk bersimpuh tak bergerak dan diam saja tidak pernah mengeluarkan sepatahpun kata.
Kesunyian mencekam dan seolah mencekiknya.
"Diajeng....."
Ucapnya lirih sambil menatap tajam wajah yang elok itu. Puteri Wandansari mengangkat sepasang mata bintangnya dan balas memandang.
"Ada apakah, kakang Sutejo?"
"Bolehkah aku mengajak andika bercakap-cakap dalam keadaan seperti ini?"
"Bercakap-cakap? Mengapa tidak boleh? Apa yang hendak kau katakan, kakang?"
Lega rasa hati Sutejo. Tadinya dia khawatir kalau-kalau sang puteri akan marah diajak bercakap-cakap, maka terlebih dulu dia minta persetujuannya.
"Aku mendapatkan kenyataan yang amat membanggakan hatiku bahwa di antara kita masih terdapat pertalian persaudaraan seperguruan. Karena adanya tali persaudaraan itu, kurasa sudah sepatutnyalah kalau kita saling mengenal dan mengetahui keadaan diri masing-masing lebih baik, Bagaimana pendapatmu, diajeng?"
Puteri Wandansari tersenyum kecil.
"Bukankah kita sudah saling mengenal, kakang? Andika adalah murid mendiang Bhagawan Sidik Paningal, paman guruku, dan andika tahu bahwa aku adalah puteri Kanjeng Romo Sultan Agung di Mataram, dan murid Bapa Guru Bhagawan Sindusakti, ketua perguruan Jatikusumo di pantai laut Kidul."
"Maksudku, riwayat kita masing-masing, diajeng. Seperti, bagaimana seorang puteri Gusti Sultan seperti andika ini dapat menjadi murid Jatikusumo dan lain-lain. Biarlah aku bercerita tentang diriku lebih dulu."
"Berceritalah, kakang, aku siap mendengarkan."
"Aku adalah seorang yang tidak mengenal ayah ibunya sendiri. Sejak aku berusia tiga tahun, aku diselamatkan oleh mendiang Bapa Guru dari tangan seorang wanita sakti yang agaknya telah menculikku, dan oleh Bapa Guru aku diberi nama Sutejo. Sampai sekarang aku belum tahu siapa ayah bundaku."
"Ah, untuk menyelidiki hal itu tidaklah amat sukar, kakang, Kalau engkau tahu siapa wanita yang menculikmu itu, dapat kau tanyakan kepadanya!"
"Baru menjelang wafatnya Bapa Guru menceritakan kepadaku akan riwayatku itu dan menurut Bapa Guru, wanita itu bernama Ken Lasmi, Aku memang sedang berusaha mencari wanita bernama Ken (Lanjut ke
Jilid 06) Pecut Sakti Bajrakirana (Seri ke 01 -Serial Pecut Sakti Bajrakirana) Karya". Asmaraman S. Kho Ping Hoo
Jilid 06 Lasmi itu karena ia tentu mengetahui siapa adanya ayah bundaku."
Sutejo berhenti sebentar dan menghela napas panjang, merasa sedih karena teringat akan kematian gurunya yang amat disayangnya.
"Lalu bagaimana, kakang? Teruskan ceritamu yang amat menarik hati itu."
"Oleh mendiang Bapa Guru, aku digembleng ilmu kanuragan yang kiranya tidak banyak bedanya dari yang kau pelajari, karena datang dari satu sumber. Kemudian, beberapa bulan yang lalu padepokan Bapa Guru didatangi Paman Bhagawan Jaladara dan dua orang kawannya, yaitu Ki Warok Petak dan Ki Baka Kroda yang keduanya kemudian kuketahui adalah jagoan-jagoan dari Wirosobo. Agaknya Paman Bhagawan Jaladara juga telah menjadi utusan Adipati Wirosobo. Dia datang dan hendak memaksa mendiang Bapa Guru untuk membantu kadipaten Wirosobo dan agar Bapa Guru tidak mempelajari Agama Islam. Tentu saja Bapa Guru menolak dan terjadilah perkelahian. Sebetulnya Paman Bhagawan Jaladara dan dua orang kawannya itu tidak mampu menandingi Bapa Guru, akan tetapi dia lalu mengeluarkan Pecut Bajrakirana! Melihat pecut pusaka itu, Bapa Guru tidak berani melawan dan akupun dilarang melawan. Kami berdua dipukuli oleh Paman Bhagawan Jaladara dan dua orang kawannya yang kemudian pergi sambil mengancam kalau selama satu bulan Bapa Guru belum mau menghadap ke Wirosobo, kami akan dibunuh."
"Hemm, tidak kusangka sedemikian jauhnya Paman Bhagawan Jaladara menyeleweng dan tega terhadap kakak seperguruan sendiri."
Kata Puteri Wandansari dengan nada suara mengandung kemarahan.
"Setelah sembuh dari siksaan Paman Jaladara dan kawan-kawannya, aku diutus Bapa Guru untuk pergi menghadap Eyang Resi di sini dan menceritakan tentang perbuatan Paman Bhagawan Jaladara. Mendengar laporanku, Eyang Resi mengatakan bahwa Pecut Bajrakirana itu telah dicuri oleh Paman Bhagawan Jaladara. Eyang Resi lalu memberi kekuatan dan menyalurkan tenaga sakti kepadaku kemudian beliau mengutus aku untuk merampas kembali Pecut Bajrakirana dari tangan Paman Bhagawan Jaladara. Aku lalu berangkat ke Wirosobo dan sampai di perbatasan Wirosobo, secara kebetulan sekali aku bertemu dengan Paman Bhagawan Jaladara."
"Ah, dan berhasilkah andika merampas Pecut Bajrakirana, kakang Sutejo?"
Sutejo menghela napas panjang. Dia teringat akan Retno Susilo dan dia tidak ingin bercerita tentang gadis itu. Maka jawabnya.
"Aku berhasil merampas pecut itu."
"Akan tetapi mengapa pecut itu kini berada di tangan Paman Bhagawan Jaladara kembali?"
"Dia bertindak curang, diajeng. Setelah mendapatkan Pecut Bajrakiraaa, aku pergi ke Gunung Kawi menghadap Bapa Guru. Akan tetapi di sana aku melihat Bapa Guru telah tertawan oleh Paman Jaladara yang datang bersama tiga orang kawannya, yaitu Ki Warok Petak, Ki Baka Kroda dan seorang lagi yang sakti mandraguna, yaitu Tumenggung Janurmendo yang merupakan senopati yang tangguh dari kadipaten Wirosobo. Paman Bhagawan Jaladara mengancam hendak membunuh Bapa Guru yang sudah ditawan kalau aku tidak menyerahkan kembali Pecut Bajrakirana kepadanya. Melihat keselamatan Bapa Guru terancam, terpaksa aku menyerahkan pecut pusaka itu dan mereka melepaskan Bapa Guru. Aku lalu mengamuk dan menyerang mereka. Akan tetapi mereka melarikan diri sambil membawa Pecut Bajrakirana. Aku tidak mengejar karena harus menolong Bapa Guru yang terluka parah. Akhirnya, karena luka-lukanya, Bapa Guru meninggal dunia."
Sutejo berhenti dan tampak berduka sekali, teringat akan kematian gurunya.
"Jahat! Jahat sekali mereka itu!"
Kata Puteri Wandansari.
"Aku dapat menebak kelanjutan ceritamu. Engkau datang ke sini hendak menceritakan kepada Eyang Resi akan semua kejadian itu dan melihat aku dikeroyok mereka lalu membantuku."
"Benar sekali, diajeng. Nah, demikianlah riwayatku, riwayat seorang yang sejak kecil dirundung malang. Bagaimana kalau sekarang andika yang ganti bercerita?"
"Riwayatku memang tidak sesedih riwayatmu, kakang Sutejo. Akan tetapi tidak ada peristiwa yang aneh dalam hidupku selama ini, kecuali peristiwa yang terakhir di tempat ini. Biarpun aku terlahir sebagai seorang wanita, namun Kanjeng Romo mengutamakan pendidikan kanuragan untukku dan aku memang senang mempelajarinya. Para senopati di Mataram membimbingku, akan tetapi aku masih merasa tidak puas. Akhirnya mendengar akan nama besar perguruan Jatikusumo di pantai Laut Selatan daerah Pacitan, aku lalu ber guru ke sana, dengan surat pengantar dari Kanjeng Romo. Aku diterima dengan baik dan jadilah aku murid perguruan Jatikusumo, dibimbing Sendiri oleh Bapa Guru Sindusakti yang menjadi kakak seperguruan dari mendiang gurumu dan Paman Bhagawan Jaladara. Setelah dinyatakan tamat belajar, aku kembali ke istana Mataram, sampai hari ini aku diutus oleh Kanjeng Romo untuk minta dukungan Eyang Resi dengan adanya keresahan karena banyak kadipaten dan kabupaten yang memperlihatkan sikap memberontak terhadap Mataram. Kanjeng Romo mengharapkan bantuan Eyang Resi Limut Manik. Maka datanglah aku ke sini. Ketika aku datang, aku melihat Eyang Resi tanpa melawan diserang dan dipukuli oleh empat orang itu. Tentu saja aku tidak dapat berpeluk tangan saja. Aku lalu menerjang mereka dan biarpun mereka berempat merupakan lawan berat, aku nekat melawan mereka mati-matian. Untung pada saat aku sudah kewalahan sekali muncul andika, kakang Sutejo sehingga akhirnya kita berdua dapat mengusir mereka."
"Andika memang hebat, diajeng. Aku kagum sekali kepadamu. Seorang diri andika berani menentang mereka"
"Tentu saja! Untuk membela Eyang Resi, aku tidak takut untuk mempertaruhkan nyawa!"
Kata Puteri Wandansari dengan sikap gagah.
"Tak dapat aku membayangkan semula bahwa seorang puteri istana dapat bersikap seperti andika. Tentu perguruan Jatikusumo itu sebuah perguruan yang hebat sekali dan agaknya Bhagawan Sindusakti yang masih uwa guruku itu telah menggembleng para muridnya secara hebat sekali. Selain andika, diajeng, siapa saja murid perguruan Jatikusumo? Aku ingin sekali mengetahui tentang mereka karena bagaimanapun juga mereka adalah saudara-saudara seperguruanku."
"Perguruan yang dipimpin oleh Bapa Guru Bhagawan Sindusakti mempunyai banyak murid, tidak kurang dari seratus orang. Akan tetapi mereka adalah murid-murid tingkat rendahan dan mereka itu dibimbing oleh para murid Bapa Guru. Sedangkan murid-murid yang digembleng oleh BapaGuru Bhagawan Sindusakti sendiri hanya ada lima orang termasuk aku yang merupakan murid termuda. Murid tertua bernama Maheso Seto, berusia kurang lebih tiga puluh tahun dan kedua adalah Mbakyu Rahmini yang sekarang menjadi isteri kakang Maheso Seto. Murid ketiga bernama Priyadi, berusia kurang lebih dua puluh enam tahun, sedangkah murid keempat bernama Cangak Awu yang berusia kurang lebih dua puluh empat tahun. Nah, mereka berempat itulah kakak-kakak seperguruanku, kakang Sutejo."
"Wah, melihat kedigdayaanmu. tentu para kakak seperguranmu itu memiliki kesaktian yang hebat, diajeng Wandansari."
"Memang begitulah, kakang Sutejo. Tingkat kepandaian mereka tentu saja melebihi tingkatku, Terutama sekali kakang Maheso Seto dan mbakyu Rahmini, mereka telah mencapai tingkat tinggi sekali dalam ilmu kanuragan, Kakang Maheso Seto terkenal dengan permainan pedangnya, mbakyu Rahmini terkenal dengan cambuknya, kakang Priyadi amat cerdik dan pandai bersilat keris dan kakang Cangak Awu yang keras, kasar dan jujur itu amat tangguh dengan senjata tongkatny. Aku hanya murid bungsu, paling kecil dari Bapa Guru Sindusakti."
"Akan tetapi setelah andika menerima pedang dan ilmu pedang Kartika Sakti, aku yakin bahwa tentu lebih tangguh dari pada mereka, kata Sutejo.
"Apakah Ilmu Pedang Kartiko Sakti dan Ilmu Pecut Bajrakirana tidak diajarkan di perguruan Jatikusumo sana, diajeng?"
"Setahuku tidak, kakang Sutejo. Kami para murid hanya mendengar dari Bapa Guru, bahwa perguruan Jatikusumo mempunyai dua buah pusaka dan ilmu simpanan yang hanya dikuasai oleh Eyang Resi."
Waktu berlalu amat cepatnya kalau tidak diperhatikan.
Karena bercakap-cakap dengan asiknya, kedua orang muda itu tidak merasa lagi betapa cepatnya sang waktu melayang dan tahu-tahu mereka telah mendengar ayam jantan berkokok, tanda bahwa fajar telah menyingsing.
Setelah terang tanah, mereka lalu menggali kuburan di antara dua makam Cantrik Pungguk dan cantrik Penggik, kemudian dengan sedehana namun khidmat mereka menguburkan jenazah Resi Limut Manik.
Setelah selesai penguburan itu barulah keduanya beristirahat, Sutejo di ruangan depan sedangkan Puteri Wandansari di ruangan dalam.
Mereka tidur sebentar untuk menghilangkan lelah dan kantuk dan memulihkan tenaga mereka.
Tiga orang mendaki puncak Semeru.
Tiga orang muda, seorang wanita dan dua orang pria itu bergerak dengan cepat dan tangkas ketika mendaki puncak, menunjukkan bahwa mereka Bertiga bukanlah orang-orang muda biasa, melainkan orang-orang muda yang memiliki ilmu kanuragan yang tinggi.
Wanita itu berusia kurang lebih dua puluh tujuh tahun namun masih nampak muda seperti seorang gadis remaja, pakaiannya ringkas dan cukup mewah.
Wajahnya cantik, matanya bersinar tajam dan di balik kecantikan wajahnya itu terkandung kekerasan yang menyinar keluar melalui pandang matanya.
Sebatang cambuk hitam dililitkan di pinggang yang ramping itu.
Mulutnya yang berbentuk manis itu membayangkan keangkuhan karena sadar akan kemampuan dirinya.
Di sampingnya berjalan seorang laki-laki berusia tiga puluh tahun.
Tubuhnya tinggi besar dan kokoh kuat, wajahnya genteng dengan kumis melintang.
Sebuah tahi lalat sebesar kedele menghias dagunya.
Sepasang matanya juga mengeluarkan sinar tajam dan keras, dan di punggungnya tergantung sebatang pedang.
Orang ke tiga adalah seorang laki-laki yang lebih tinggi besar lagi, seperti raksasa muda, usianya sekitar dua puluh empat tahan.
Wajahnya tidak buruk, akan tetapi wajah ini membayangkan kekasaran dan kejujuran.
Matanya yang lebar itu memandang dengan terbuka dan mendatangkan kesan bodoh.
Siapakah mereka yang mendaki puncak mempergunakan ilmu meringankan tubuh yang cukup tinggi itu.
Mereka itu bukan lain adalah tiga orang murid perguruan Jatikusumo!
Wanita itu bernama Rahmini, murid kedua dari Sang Bhagawan Sindusakti.
Yang berjalan di sebelahnya adalah suaminya bernama Maheso Seto, murid pertama dari Bhagawan Sindusakti dan orang ketiga adalah Canggak Awu, murid keempat yang bertubuh seperti raksasa.
Dengan cepat mereka bertiga tiba di depan pondok tempat tinggal mendiang Resi Limut Manik.
Mereka bertiga memandang ke kanan kiri dan ketiganya merasa heran melihat keadaan di situ demikian sunyi, tidak ada suara dan tidak, tampak seorangpun cantrik, sedangkan pintu pondok itu, tertutup.
Padahal, matahari telah naik cukup tinggi sehingga agaknya tidak mungkin kalau penghuni pondok masih tidur.
"Kulonuwun........!"
Maheso Seto berseru. Mereka bertiga memandang ke arah pintu pondok, namun tidak ada jawaban, juga pintu pondok tidak dibuka dari dalam.
"Sungguh aneh! Mereka semua pergi ke mana?"
Kata Rahmini sambil menghampiri pintu pondok dan menggunakan jari tangannya untuk mengetuk pintu.
"Tok-tok-tok-tok!"
Beberapa kali ia mengulang ketukannya namun tetap saja tidak ada jawaban.
Rahmini menjadi jengkel dan ia mengerahkan tenaga dalamnya lalu berseru, suaranya tinggi melengking nyaring menggetarkan seluruh pondok.
"Kulonuwuuuunnn......!"
Suara yang melengking nyaring ini menggugah Sutejo dan Puteri Wandansari dari tidurnya.
Sutejo yang terbangun lebih dulu dan dia meloncat bangun, berdiri lalu menuju ke pintu depan pondok sambil menjawab.
"Monggoooo......!"
Pintu dibuka Sutejo dari dalam dan dengan rambut masih agak awut-awutan dia melangkah keluar, memandang kepada tiga orang itu dengan mata bertanya karena dia tidak mengenal tiga orang itu.
Tiga orang itupun menatap, wajah Sutejo dengan heran.
Maheso Seto segera menegur Sutejo dengan alis berkerut.
"Kisanak, siapa andika dan mengapa andika berada di sini? Di mana para cantrik dan di mana pula Eyang Resi Limut Manik?"
Sutejo juga mengerutkan alisnya. Dia merasa curiga. Jangan-jangan tiga orang ini adalah orang-orangnya Adipati Wirosobo juga, pikirnya.
"Siapakah andika bertiga dan ada keperluan apakah andika mencari Eyang Resi Limut Manik?"
Canggak Ayu yang berwatak kasar dan jujur itu segera membentak.
"Kisanak, kami adalah cucu-cucu murid Eyang Resi Limut Manik! Hayo katakan siapa andika dan di mana adanya Eyang Resi!"
Sutejo terkejut dan dia cepat dapat menduga siapa adanya tiga orang ini.
Orang tinggi besar seperti raksasa yang memegang sebatang tongkat ini tentu adalah murid perguruan Jatikusumo yang bernama Cangak Awu, dan pria dan wanita itu tentulah pasangan Maheso Seto dan Rahmini!
Akan tetapi sebelum dia sempat menjawab, dari dalam keluarlah Puteri Wandansari.
"Kakang Mahesa Seto! Mbakayu Rahmini dan Kakang Cangak Awu!"
Teriaknya girang melihat tiga orang itu.
Akan tetapi Rahmini mengerutkan alisnya ketika melihat Puteri Wandansari keluar dengan rambut awut-awutan dan jelas sekali seperti orang baru bangun tidur.
Juga rambutnya yang terlepas itu membuktikan bahwa ia seorang wanita, tidak seperti dandanannya sebagai seorang pria, sehingga pemuda tampan itu tentu sudah tahu bahwa Puteri Wandansari adalah seorang wanita.
"Diajeng Wandansari!"
Bentak Rahmini dengan suara lantang.
"Apa yang kau lakukan di dalam pondok bersama pemuda itu!?"
Wajah puteri Wandansari berubah merah mendengar teguran yang mengandung nada menuduh dan mencela ini.
"Mbakyu Rahmini, sebelum aku memberi penjelasan, perkenalkan dulu, ini adalah Kakang Sutejo, murid dari Paman Bhagawan Sidik Paningal di Gunung Kawi, yang sekarang telah meninggal dunia. Kebetulan saja kami, berdua datang pada saat berbareng di sini dan kami berdua melihat dua orang cantrik telah terbunuh dan Eyang Resi Limut Manis dikeroyok empat orang. Kami berdua segera turun tangan membantu sehingga empat orang itu terusir pergi, akan tetapi Kanjeng Eyang Resi mengalami luka-luka parah sehingga akhirnya meninggal dunia."
"Eyang Resi meninggal dunia?"
Terdengar suara Cangak Awu menggeledek.
"Siapa empat orang jahat itu?"
"Kakang, Cangak Awu, para penyerang itu bukan lain adalah Paman Bhagawan Jaladara bersama tiga orang kawannya,"
Kata puteri Wandansari.
"Paman Jaladara? Akan tetapi bagaimana mungkin Paman Bhagawan Jaladara dapat menyerang dan melukai Eyang Resi?"
Tanya Maheso Seto terheran-heran.
"Paman Bhagawan Jaladara memegaag Pecut Pecut Bajrakirana dan agaknya Eyang Resi tidak melakukan perlawanan."
Jawab Puteri Wandansari.
"Lanjutkan ceritamu, lalu bagaimana engkau sampai berdua saja dengan orang muda ini?"
Rahmini mendesak, alisnya tetap berkerut.
"Mbakyu, kami berdua merawat dan Menunggu sampai Eyang Resi meninggal dunia. Kemarin dan tadi malam kami tidak tidur, menjagai jenazah Eyang Resi, dia pagi-pagi tadi kami lalu menguburnya seperti yang beliau pesan. Karena kelelahan, maka kami mengaso dan tidur."
"Hemmm, sungguh tidak pantas! Sungguh melanggar kesusilaan! Seorang gadis tidur berdua dalam sebuah pondok kosong!"
Rahmini mencela dan pandang matanya kepada Sutejo dan Puteri Wandansari jelas membayangkan prasangka bahwa kedua orang muda itu tentu telah melakukan hal yang tidak senonoh.
"Mbakyu Rahmini! kami tidur terpiasah, dia di ruangan depan, aku di ruangan dalam!"
Bantah Puteri Wandansari. Suaranya meninggi.
"Akan tetapi, tetap saja tidak patut seorang gadis berdua saja dengan seorang pria di dalam, sebuah pondok kosong! Seorang murid Jatikusumo haras tahu aturan dan tidak melanggar pantangan!"
Kembali Rahmini menyerang dengan galaknya.
Puteri Wandansari memandang dengan mata bersinar seperti mengeluarkan api karena marah.
Kalau yang bicara itu bukan kakak seperguruannya, tentu telah dimaki dan diserangnya karena ucapannya itu sungguh merupakan dugaan yang keji dan kotor.
"Mbakyu Rahmini! Tahan sedikit ucapaknmu yang menuduh itu. Aku bukan saja murid Jatikusumo akan tetapi juga puteri Kanjeng Romo Sultan yang dapat menjaga martabat dan kesusilaan! Dan kakang Sutejo bukan orang lain, melainkan murid Paman Bhagawan Sidik Paningal, jadi terhitung masih kakak seperguruanku sendiri. Kami tidak pernah melakukan hal-hal yang melanggar peraturan dan kesusilaan. Mbakyu Rahmini patut mengetahui hal itu!"
Rahmini masih cemberut.
"Akan tetapi....."
"Sudahlah, untuk apa ribut-ribut? Aku percaya bahwa diajeng Wandansari dapat menjaga kehormatan dan diri. Sekarang Eyang Resi telah meninggal dunia, perlu kita selidiki tentang pusaka-pusaka itu!"
Kata Maheso Seto mencegah isterinya bicara lagi memanaskan suasana. Sambil memandang ke arah Puteri Wandansari, Maheso Seto melanjutkan.
"Diajeng Wandansari, sebelum Eyang Resi meninggal dunia, tentu beliau meninggalkan pesan kepadamu, terutama mengenai dua buah pusaka milik beliau, yaitu Pecut Sakti Bajrakirana dan Pedang Sakti Kartika Sakti,"
"Kakang Maheso Seto, seperti telah kuceritakan tadi, Pecut Bajrakirananya berada di tangan Paman Bhagawan Jaladara dan dibawanya lari pergi,"
Kata Puteri Wandansari.
"Dan kitabnya? Kitab pelajaran Ilmu Cabuk Bajrakirana?"
Tanya Maheso Seto. Puteri Wandansari tidak menjawab melainkan menoleh dan memandang kepada Sutejo. Dengan sikap tenang Sutejo berkata kepada Maheso Seto.
"Eyang Guru Resi Limut Manik telah berkenan memberikan kitab pelajaran ilmu pecut Bajrakirana kepadaku dan menugaskan aku untuk merampas kembali Pecut Sakti Bajrakirana dari tangan Paman Bhagawan Jaladara."
"Pedang Pusaka Kartika Sakti dan kitab pelajarannya?"
"Pedang Kartiko Sakti dan kitab pelajarannya telah diberikan kepadaku oleh mendiang Eyang Resi, Kakang Maheso Seto."
Kata Puteri Wandansari.
"Serahkan semua itu kepada kami!"
Bentak Rahmini dengan galak.
"Sutejo, engkau harus menyerahkan kitab pelajaran ilmu pecut sakti bajrakirana itu kepada kami!"
Kata Maheso Seto kepada Sutejo.
"Mendiang Eyang Resi telah menyerahkannya kepadaku, kenapa harus kuserahkan kepada andika? tanya Sutejo ragu.
"Karena kitab itu harus diserahkan kepada Bapa Guru Sindusakti. Kitab itu adalah benda pusaka perguruan Jatikusumo. Dan engkau juga, diajeng Wandasari. Pedang pusaka Kartiko Sakti dan kitab pelajarannya itu harus kau serahkan kepada kami untuk dihaturkan kepada Bapa, Guru. Kami bertiga memang datang ke sini diutus oleh Bapa Guru untuk minta dua buah pusaka dan kitab-kitanya itu dari Eyang Guru."
Puteri Wandaasari mengerutkan alisnya dan otomatis tangan kanannya meraba gagang pedang Kartiko Sakti yang tergantung di punggungnya.
"Maaf, kakang Maheso Seto. Pedang pusaka ini oleh mendiang Eyang Resi telah diberikan kepadaku, maka terpaksa aku menolak permintaanmu, biarlah, kelak aku sendiri yang akan melaporkan kepada Bapa Guru dan beliau tentu dapat mengerti."
"Diajeng Wandansari! Berani engkau menentang kakak-kakak seperguruanmu?"
"Aku tidak berani menentang, akan tetapi pedang pusaka ini adalah hakku, mbakyu Rahmini. Eyang Resi telah memberikan, kepadaku berikut. kitab pelajarannya dan tidak akan kuserahkan kepada siapapun."
"Kalau bagiku, aku akan merampasnya dari tanganmu!"
Bentak Rahmini dan dia sudah melangkah maju, membuka pasangan untuk menyerang adik seperguruannya itu.
"Sutejo, serahkan kitab pelajaran Ilmu Pecut Bajrakirana kepadaku!"
Seru Mahesa Seto sambil menghampiri Sutejo dan diapun sudah siap untuk menyerang pemuda itu.
"Atau terpaksa aku akan menggunakan kekerasan!"
Pada saat itu Cangak Awu maju ke depan dan berkata.
"Kakang Maheso Seto, mbakayu Rahmini, harap mundur dan ingatlah. Kita adalah saudara-saudara seperguruan sendiri. Adimas Sutejo sebagai murid Paman Bhagawan Sidik Paningal adalah juga saudara seperguruan kita. Tidak baik menggunakan kekerasan di antara saudara sendiri. Akan ditertawai orang bahwa perguruan Jatikusumo mempunyai murid-murid yang tidak dapat hidup rukun! Biarlah urusan ini kita laporkan saja kepada Bapa Guru dan biar beliau yang memutuskan."
Ucapan Cangak Awu itu menyadarkan Maheso Seto.
"Hemm. kalau tidak ada adimas Cangak Awu yang mengingatkanku, tentu aku sudah menghajarmu, Sutejo!"
Dia menoleh kepada isterinya dan berkata.
"Sudahlah, adimas Cangak Awu benar, kita laporkan saja kepada Bapa Guru. Mari kita pergi!"
Rahmini mengerutkan alisnya dan sejenak menatap wajah Puteri Wandansari dengan mata mengandung kemarahan, akan tetapi ia lalu membalikkan tubuh dan mengikuti suaminya yang sudah melangkah pergi meninggalkan tempat itu.
Cagak Awu memandang kepada Puteri Wandansari.
"Diajeng Wandansari, aku pamit."
"Silakan, kakang Cangak Awu, dan selamat jalan. Sampaikan, saja sembah hormatku kepada Bapa Guru."
Jawab Puteri Wandansari.
Orang tinggi besar itu mengangguk dan dia lalu membalikkan tubuh dan melangkah lebar mengejar kedua orang kakak seperguruannya.
Setelah bayangan tiga orang itu menghilang di tikungan.
Sutejo memandang Puteri Wandansari dan berkata.
"Jadi itukah kakak-kakak seperguruanmu, murid-murid Jatikusumo."
Puteri Wandansari juga memandang wajah Sutejo dan ia menghela napas.
"Sebetulnya mereka adalah orang-orang gagah perkasa, akan tetapi memang Kakang Maheso Seto, terutama sekali Mbakayu Rahmini memiliki watak yang keras."
"Tadi andaikata mereka benar-benar menyerang kita, lalu apa yang akan kau lakukan, diajeng Wandansari?"
"Hemm, tentu saja aku akan melawannya semampuku. Mungkin aku tidak akan menang melawan Mbakayu Rahmini, akan tetapi, aku harus melawan karena aku mempertahankan hakku dan aku tidak merasa bersalah. Dan bagaimana dengan andika, kakang Sutejo?"
"Aku? Aku tidak tahu, Aku masih bingung. Tentu akupun tidak akan mampu menandingi Kakang Maheso Seto. Sebagai murid pertama dari Uwa Guru Sindusakti, tentu tingkat ilmu kepandaiannya sudah tinggi sekali."
"Jadi andika akan menyerahkan kitab Bajrakirana begitu saja kepada kakang Maheso Seto?"
"Entahlah, akan tetapi peristiwa tadi sungguh membuat hatiku merasa tidak enak, diajeng Wandansari. Bagaimanapun juga aku bukanlah murid perguruan Jatikusumo sungguhpun guruku adalah adik seperguruan ketua perguruan Jatikusumo Aku merasa seperti orang luar, tidak seperti andika yang berurusan dengan keluarga seperguruan sendiri. Bisa saja mereka menganggap aku tidak berhak memiliki Bajrakirana.
"Tidak! Aku yang menjadi saksi, kakang Sutejo! Aku yang menyaksikan ketika mendiang Sang Resi menyerahkah kitab Bajrakirana kepadamu dan aku akan menerangkan kepada siapapun juga, termasuk kepada Bapa Guru, Bajrakirana, juga pecutnya, telah diberikan kepadamu dan andika berhak memilikinya!"
"Sekarang apa yang akan andika lakukan, diajeng?"
"Aku akan pulang ke kota raja, kakang Sutejo. Aku akan melapor kepada Kanjeng Romo tentang wafatnya Eyang Resi, dan aku akan tekun melatih diri dengan Ilmu Pedang Kartika Sakti. Dan andika sendiri, kakang Sutejo?"
"Kalau saja Pecut Bajrakirana sudah terampas olehku, akupun akau pergi ke Mataram karena aku ingin menghambakan diri kepada Kanjeng Gusti Sultan. Akan tetapi karena pecut pusaka itu masih berada di tangan Paman Bhagawan Jaladara, maka aku harus mencari dan merampas dulu pecut itu, Setelah pusaka itu berada di tanganku, baru aku akan pergi ke Mataram dan menghambakan diriku."
"Baik, kakang Sutejo. Kanjeng Romo tentu akan senang sekali menerimamu dan memberimu kedudukan yang sesuai dengan kemampuanmu. Aku akan menerangkan kepada Kanjeng Romo bahwa engkau terhitung masih kakak seperguruanku dan pantas untuk menjadi seorang senopati."
"Senopati? Ah, andika bergurau, diajeng! Orang seperti aku ini mana pantas menjadi seorang senopati?"
"Mengapa tidak, kakang Sutejo? Aku tahu bahwa andika kini memiliki tingkat ilmu kanuragan yang cukup hebat. Andika hanya perlu untuk mempelajari ilmu perang, yaitu cara memimpin pasukan untuk maju perang. Kalau andika sudah mempelajari ilmu perang, andika akan menjadi seorang senopati yang boleh diandalkan."
Sutejo tersipu, merasa matu dan merasa akan kekurangan pada dirinya, akan tetapi hatinya gembira sekali mendengar ucapan puteri itu.
"Nah sekarang aku pergi, kakang. Selamat tinggal dan mudah-mudahan andika akan cepat berhasil merampas kembali Pecut Bajrakirana."
"Selamat jalan dan selamat berpisah, diajeng. Mudah-mudahan kelak kita akan dapat saling berjumpa kembali."
Gadis itu lalu melangkah pergi, kemudian mempergunakan ilmu berlari cepat sehingga tubuhnya berkelebat cepat meninggalkan tempat itu, diikuti pandang mata Sutejo.
Setelah bayangan itu lenyap, Sutejo menarik napas panjang, pikirannya menggerayangi hati sendiri lalu dia mencela diri sendiri.
"Bodoh kau! Engkau ibarat katak merindukan bulan. Sadarlah siapa engkau dan siapa dia!"
Dia lalu mengusir semua gagasan dan bayangan itu, kemudian pergi ke kandang di belakang pondok, mengeluarkan tiga ekor kerbau milik mendiang Resi Limut Manik dan dituntunnya tiga ekor kerbau itu turun dari puncak, Di pondok itu kini tidak ada siapapun juga.
Kalau kerbau-kerbau itu dia tinggalkan, tentu akan mati kelaparan atau diambil orang yang tidak berhak.
Dari pada begitu, lebih baik dia bawa turun puncak dan dia berikan kepada para petani miskin yang membutuhkannya.
Ketika tiba di dusun pertama di lereng Semeru, Sutejo lalu menyerahkan tiga ekor kerbau itu kepada keluarga miskin yang menerimanya dengan gembira sekali.
Setelah itu, Sutejo melanjutkan perjalanan menuju ke Wirosobo karena dia tahu bahwa untuk mencari Bhagawan Jaladara, dia harus pergi ke kadipaten itu.
Iring-iringan pengantin itu menarik perhatian orang, terutama anak-anak banyak yang mengikutinya ketika melewati dusun itu.
Rombongan itu adalah rombongan pengantin wanita yang sedang diboyong ke tempat tinggal calon suaminya.
Di depan rombongan berjalan lima orang laki-laki tinggi besar dan gagah sekali dengan golok tergantung di pinggang.
Mereka adalah pengawal-pengawal yang menjaga keselamatan rombongan yang terdiri dari dua puluh orang lebih itu.
Serombongan penabuh gamelan berjalan di belakang sambil menabuh gamelan sehingga iring-iringan itu berjalan meriah.
Selebihnya adalah sanak keluarga pengantin wanita dan para penjemput yang diutus pengantin pria untuk menjemput dan memboyong pengantin wanita.
Kalau ada pengantin wanita dari dusun diboyong orang, hal itu berarti bahwa pengantin prianya tentu seorang bangsawan atau hartawan.
Pengantin wanitanya duduk di dalam sebuah joli yang dipikul empat orang.
Biarpun ada suara gamelan, akan tetapi lapat-lapat terdengar tangis sedih keluar dari dalam tandu (Joli).
Hal inipun bukan suara aneh karena sebagian besar pengantin wanita menangis pada saat diboyong, menangis karena harus meninggalkan ayah bundanya, menangis karena gelisah menghadapi kehidupan baru yang tidak dikenal sebelumnya, atau menangis karena ini merupakan suatu kepantasan.
Bahkan menjadi pergujingan orang kalau pengantin wanita tidak menangis!
Karena itulah, suara tangis itu tidak diperhatikan orang.
Ketika rombongan keluar dari dusun, berpapasan dengan seorang dara yang bepakaian ringkas dan yang membawa pedang di punggungnya.
Dara yang cantik jelita, bermata tajam dan mulutnya berbibir menggairahkan.
Ia adalah Retno Susilo yang baru saja meninggalkan tempat pertapaan gurunya, Nyi Rukmo Petak, setelah ia memperdalam ilmunya.
Selama seratus hari ia melatih diri dengan dan ilmu baru yang merupakan, ilmu simpanan gurunya, yaitu Aji Gelap Sewu dan Aji Wiso Sarpo yang mengandung hawa beracun.
Setelah menguasai dua macam ilmu baru ini ia lalu meninggalkan gurunya, akan tetapi ia mendapatkan sebuah tugas.
"Retno, sekali ini aku minta balas jasa darimu. Sudah banyak aku mengajarkan ilmu dan sekarang aku minta agar engkau membantuku membalaskan sakit hatiku kepada seseorang. Dengan kepandaianmu yang sekarang, aku percaya engkau akan mampu membunuh orang yang amat kubenci itu."
Retno Susilo mengerutkan alisnya. Sungguh tugas yang amat berat. Membunuh seseorang! "Mengapa orang itu harus dibunuh Nyi Dewi? Dan siapakah dia?"
"Tidak perlu engkau tahu mengapa aku ingin agar engkau membunuhnya. Namanya Harjodento dan dia, adalah ketua dari perguruan silat Nogo Dento yang berpusat di Lembah Bengawan Solo di daerah Ngawi. Kalau engkau dapat, sekalian bunuh isterinya yang bernama Padmosari. Atau kalau tidak dapat kedua-keduanya, bunuh seorang di antara mereka sudah cukuplah bagiku. Inilah tugas yang kuberikan kepadamu, Retno dan harus kau lakukan demi untuk membalas budi yang selama ini kulimpahkan kepadamu."
Berat sekali rasa hati Retno Susilo menerima tugas ini.
Ia harus membunuh orang-orang yang sama sekali tidak dikenalnya, bahkan tidak diketahui mengapa ia harus membunuh mereka, apa dosa mereka.
Permusuhan gurunya dengan merekapun tidak ia ketahui.
Akan tetapi karena gurunya menyebut-nyebut tentang tadi, Iapun tidak kuasa untuk membantah atau menolak.
"Baik, Nyi, Dewi, akan kulaksanakan tugas itu."
"Akan tetapi berhati-hatilah! Dia memiliki banyak murid dan anak buah. Biarpun demikian, dia seorang yang gagah dan kalau engkau menantangnya untuk bertanding satu lawan satu, dia pasti tidak akan mau melakukan pengeroyokan."
Demikianlah, Retno Susilo meninggalkan gurunya dan pada hari itu, ia berpapasan dengan rombongan pengantin wanita yang sedang diboyong menuju ke rumah calon suaminya di dusun lain.
Kalau orang-orang lain mendengar tangis pengantin wanita menganggapnya sebagai hal biasa saja.
Retno Susilo mengerutkan alisnya ketika mendengar tangis itu.
Ia dapat menangkap kesedihan dan ketakutan yang mendalam terkandung dalam tangis itu dan hatinya tertarik sekali.
Di sana ada seorang wanita yang berada dalam kegelisahan dan kedukaan, yang membutuhkan uluran tangan untuk menolongnya.
Ia tidak mungkin tinggal diam saja!
Maka, setelah rombongan itu lewat, Retno Susilo lalu berbalik dan cepat ia mengejar, lalu mendahului rombongan itu dan setelah tiba di depan, ia membalikkan tubuh dan menghadang di tengah jalan.
"Berhenti!"
Serunya kepada lima orang pengawal yang bersenjata golok dan tampak seram menakutkan itu.
Tentu saja lima orang pengawal dan semua anggauta rombongan itu memandang dengan heran dan segera terdengar decak-decak kekaguman di antara para anggauta rombongan pria setelah melihat dara yang menghentikan mereka itu.
Kecantikkan luar biasa yang jarang mereka lihat.
Bagaimana mereka berlima dapat bersikap galak terhadap seorang dara yang demikian ayu?
Mereka terdiri dari pria yang berusia antara tiga puluh dan empat puluh tahun dan seorang di antara mereka yang berkumis melintang dan menjadi pemimpin diantara mereka, segera melangkah maju.
Sambil memasang aksi tersenyum segaya mungkin, diapun berkata sambil melahap wajah ayu itu dengan pandang matanya.
"Nimas ayu, siapakah andika dan mengapa pula andika menghentikan perjalanan kami?"
Pertanyaan itu terdengar lembut dan sama sekali tidak galak!
Karena orang bersikap lunak dan ramah, Retno Susilo menjadi tidak enak hati juga.
Iapun tersenyum.
Hanya sedetik, akan tetapi cukup membuat jantung hati si kumis melintang itu jungkir balik!
"Siapa adanya aku tidaklah penting dan aku sengaja menghentikan rombongan ini karena ingin bicara dengan mempelai wanita yang berada di di dalam joli."
Setelah berkata demikian, ia menyusup ke dalam rombongan itu menghampiri joli yang dipikul empat orang itu.
"Turunkan joli ini!"
Kata Retno Susilo kepada empat orang itu.
Karena terpesona oleh kecantikan dara itu, empat orang pemikul joli juga tidak mampu menolak permintaan itu dan mereka, lalu perlahan-lahan menurunkan joli di mana terdapat pengantin wanita yang masih menangis.
Kini tangisnya makin jelas terdengar karena para penabuh gamelan menghentikan tabuhan mereka dan semua orang memandang kepada Retno Susilo yang membuka tirai joli.
Retno Susilo melihat seorang gadis remaja duduk di dalam joli dan ketika tirai dibuka, gadis itu memandang dengan mata terbelalak dan muka pucat.
Air matanya bercucuran menuruni kedua pipinya.
Gadis itu masih amat muda, paling banyak lima belas tahun usianya, berdandan seperti seorang pengantin.
Cadar yang menutupi mukanya telah ia singkapkan dan wajah yang manis itu tampak ketakutan dan berduka sekali.
Ia memandang Retno Susilo dengan Sepasang mata merah dan ketakutan seperti mata seekor kelinci yang ditangkap.
"Jangan takut, adik yang manis. Engkau menjadi pengantin, mengapa menangis di sepanjang Jalan? Mengapa engkau tidak bergembira seperti kebiasaan pengantin lain. dan menangis sedih?"
Ditanya demikian, gadis remaja yang masih kekanak-kanakan itu makin mengguguk dalam tangisnya dan ia tidak dapat mengeluarkan kata-kata. Retno Susilo memegang pundaknya dan menghibur.
"Jangan takut, katakanlah saja kalau engkau tidak suka menjadi pengantin. Aku akan menolongmu."
"Saya...... saya dipaksa ..... saya tidak suka."
Akhirnya gadis itu berkata.
"Siapa yang memaksamu? Orang tuamu?"
Gadis itu menggeleng kepala dan menahan isaknya sehingga pundaknya bergoyang-goyang.
"Tidak, ayah dan ibu malah dipaksa dan mereka ketakutan."
"Tenanglah, adik yang manis Ceritakan yang jelas, siapa namamu dan mengapa engkau dipaksa menikah? Siapa yang memaksamu?"
Pada saat itu, lima orang tukang pukul sudah mendekati Retno Susilo.
Si kumis melintang mengerutkan alis dan merasa tak senang juga melihat kelancangan Retno Susilo yang bertanya-tanya kepada mempelai wanita.
Mereka adalah pengawal-pengawal yang dikirim oleh mempelai pria untuk menjemput mempelai wanita dan keamanan di perjalanan merupakan tanggung jawab mereka.
"Heii, nimas ayu, apa yang kaulakukan ini!"
Bentaknya sambil mendekati Retno Susilo.
"Engkau tidak boleh membuka tirai joli dan mengajak mempelai wanita bercakap-cakap!"
Retno Susilo memutar tubuh dan menghadapinya.
"Hemm, siapa yang tidak memperbolehkan?"
"Kami berlima bertugas menjadi pengawal dan menjaga keamanan, kami yang melarang!"
Kata si kumis melintang garang. Retno Susilo mengedipkan kepalanya dan membusungkan dadanya.
"Kalau aku tetap mengajaknya bicara kalian mau apa? Ia dipaksa menikah, dan aku malah akan membebaskannya, memulangkannya ke desanya dan siapapun juga tidak boleh memaksanya menikah!"
Lima orang pengawal itu terkejut mendengar ini dan biarpun yang bicara itu adalah seorang dara yang sangat cantik, tetap saja mereka menjadi marah sekali.
"Bocah perempuan lancang! Berani andika mengacau dan menentang kami?"
"Mengapa tidak berani? Ditambah seratus orang lagi macam kalian, aku tidak akan undur selangkahpun!"
"Babo-babo, bocah kurang ajar, andika tidak takut dihajar! Kawan-kawan, kita tangkap dia!"
Perintah si kumis melintang dan dia sendiri mendahului kawan-kawannya untuk menubruk ke arah Retno Susilo sambil mengembangkan kedua lengan untuk menangkap dara jelita itu.
Empat orang kawannya juga cepat bergerak dan seperti berebut hendak berlumba untuk menangkap dan merangkul dara yang menggemaskan namun juga menarik hati itu.
"Bressss.......!"
Lima orang itu saling bertubrukan karena ketika mereka menubruk ke arah satu sasaran, sasaran iiu tiba tiba seperti menghilang, demikian cepatnya Retno Susilo bergerak menghindar sehingga mereka saling bertubrukan.
Ketika mereka memutar tubuh sambil menggosok-gosok bagian muka yang berbenturan, mereka melihat Retno Susilo sudah berdiri sambil menyilangkan kedua lengan di depan dada sambil tersenyum memandang mereka.
Lima orang itu menjadi penasaran dan mereka berlumba lagi untuk meraih tubuh dara itu, ada yang menyambar lengan, ada yang menangkap pundak dan ada yang menubruk seperti seekor harimau kelaparan menubruk seekor domba gemuk.
Akan tetapi yang disergap sudah melompat ke atas dan ketika tiba di atas tubuh Retno Susilo berjungkir balik.
Lima orang itu menengadah dan saat itu, kedua tangan dara perkasa itu bergerak cepat sekali, membagi tamparan kepada wajah-wajah yang menengadah itu.
"Plak-plak-plak-plak-plak!"
Lima orang itu masing-masing terkena tamparan pada muka mereka, hanya sekali saja setiap orang akan tetapi yang sekali itu sudah cukup untuk membuat mereka terpelanting roboh dan ketika mereka merangkak bangun, pipi mereka bengkak!
Bukan main marahnya lima orang pengawal itu.
Mereka adalah tukang-tukang pukul yang sudah terkenal di daerah itu.
selama bertahun-tahun tidak ada orang berani menentang mereka, dan kalau ada yang berani, tentu akan mereka hajar babak belur.
Akan tetapi sekali ini mereka ditampari sampai terpelanting jatuh oleh seorang dara di depan banyak orang lagi.
Sungguh suatu peristiwa yang membuat mereka merasa malu dan terhina, sekaligus menghancurkan nama mereka sebagai jagoan-jagoan yang ditakuti orang-orang.
Tanpa dikomando, lima orang itu sudah mencabut golok masing-masing.
Retno susilo tidak tampak sebagai seorang gadis ayu yang memikat hati lagi, melainkan tampak sebagai seorang musuh yang harus dibunuh!
"Bocah keparat!"
Si kumis melintang memaki dan bersama empat orang kawannya dia mengepung Retno Susilo, kemudian mereka menyerang dengan golok mereka.
Semua orang yang menonton merasa ngeri karena mereka membayangkan betapa tubuh gadis cantik jelita yang mulus itu akan menjadi korban bacokan lima batang golok yang berkilauan saking tajamnya itu.
Akan tetapi Retno Susilo sudah siap siaga.
Ia mengelak mempergunakan kecepatan gerakannya.
Bagaikan seekor burung sikatan saja tubuhnya berkelebatan di antara sinar lima batang golok dan kedua tangannya seperti ular mematuk.
Untuk kecepatan gerakan tubuhnya ia mengerahkan Aji Kluwung Sakti, dan tangannya diisi Aji Gelap Sewu ketika membagi-bagi pukulan.
"Des-des-des-des-dess!"
Lima kali tangannya menyambar dengan Aji Gelap Sewu, akan tetapi tentu saja ia membatasi tenaganya karena tidak ingin membunuh orang.
Akan tetapi pukulan itu sungguh hebat.
Lima orang itu sempoyongan seperti orang mabuk sebelum mereka terkulai dan roboh seperti sehelai kain basah dengan mati menjadi juling dan bumi rasanya terputar-putar!
"Bagaimana?
Apakah kalian masih ingin melarangku?"
Retno Susilo bertanya kepada si kumis melintang.
"Ampuh..... tobat.....kami menyerah kepada raden ajeng....."
Si kumis melintang berkata terengah-engah dan menyembah-nyembah, diikuti empat orang temannya.
Mereka benar-benar sudah takluk karena maklum bahwa dara itu adalah seorang yang sakti mandraguna.
Baru tangannya saja sudah seampuh itu, apa lagi kalau gadis itu mencabut pedang yang tergantung di punggungnya!
Retno Susilo menghampiri joli di mana gadis cilik ini bersembunyi dengan wajah ketakutan.
"Jangan takut. Keluarlah engkau, adik kecil,"
Setelah menuntun gadis remaja itu keluar dari joli, ia lalu memandang ke sekeliling, ke arah rombongan orang-orang yang mengantar pengantin.
"Siapa di antara kalian yang menjadi keluarga pengantin wanita ini?"
Seorang laki-laki berusia empat puluh tahunan menjawab.
"Saya adalah pamannya, den ajeng."
"Bagus, sekarang aku serahkan adik ini kepadamu. Engkau harus membawanya pulang ke dusunnya dan menyerahkannya kembali kepada orang tuanya."
Laki-laki itu menjadi pucat dan tubuhnya gemetar.
"Ampun, den ajeng. Akan tetapi saya.... saya tidak berani..... saya tentu akan dibunuh Raden Prabowo....."
"Hemm, siapa Raden Prabowo itu?"
"Dia pengantin pria yang memboyong Sartumi "Jangan takut. Aku akan menggantikan menjadi pengantin wanita. Bawalah dia pulang dan kalau ada apa apa, akulah yang menanggung! Sartumi namamu, adik? Lepaskan hiasan kepalamu berikut cadar itu, akan kupakai!"
Retno susilo membantu pengantin wanita itu melepaskan hiasan kepala dan kemudian menyuruh ia cepat pergi bersama pamannya untuk kembali pulang ke rumah orang tuanya.
Setelah itu Retno Susilo memasuki joli, memasang hiasan kepala berikut cadarnya dan berkata kepada empat orang pemikul.
"Hayo cepat pikul aku dan semua rombongan bergerak menuju ke rumah Raden Prabowo! Bunyikan gamelan dan kalian lima orang pengawal, berjalanlah seperti biasa di sebelah depan. Jangan takut, aku seoranglah yang akan bertanggung jawab atas semua peristiwa ini!"
Lima orang pengawal yang sudah kehilangan nyali itu sambil menundukkan kepala berjalan di depan dan rombongan itupun bergerak maju melanjutkan perjalanan.
Gamelanpun ditabuh dan tampaknya seperti tidak pernah terjadi sesuatu.
Tentu saja di dalam hati, semua anggauta rombongan merasa tegang dan jantung mereka berdebar gelisah karena mereka tahu tentu akan terjadi hal-hal hebat setelah mereka tiba di rumah Raden Prabowo!
Sementara itu Sartumi gadis remaja yang dipaksa menjadi pengantin itu, telah dibawa pergi pamannya pulang ke rumah orang tuanya.
Raden Prabowo adalah seorang laki-laki hartawan yang tinggal di dusun Sintren.
Dia amat terkenal, ditakuti dan disegani orang sedusun, bahkan oleh para penghuni dusun-dusun di sekitarnya karena dia kaya raya dan karena dia adik dari kepala dusun Sintren, mempunyai banyak tukang pukul, dan suka "menolong"
Penduduk dusun-dusun itu dengan uang pinjaman yang disertai bunga tinggi. Tidak ada orang yang berani menentangnya. Dia minta disebut "raden"
Walaupun dia sama sekali tidak mempunyai keturunan darah bangsawan.
Raden Prabowo adalah seorang laki-laki bertubuh tinggi kurus dengan muka kemerahan, berusia kurang lebih empat puluh tahun.
Dia sudah beristeri dan bahkan memiliki selir sebanyak empat orang.
Namun dia masih selalu haus akan wanita muda dan seringkali dia mengganggu para wanita cantik di dusun-dusun itu, baik yang masih perawan maupun yang sudah menjadi isteri orang.
Dan wanita maupun yang ditaksirnya, harus didapatkannya, baik secara halus maupun kasar.
Karena itulah, banyak keluarga yang mempunyai anggauta keluarga wanita cantik, pergi mengungsi dan pindah ke lain dusun.
Akan tetapi kebanyakan dari mereka menyerah kepada nasib, bahkan ada yang senang kalau anak perempuannya dikehendaki Raden Prabowo karena dengan demikian maka mudah bagi mereka untuk mendapatkan uang dari hartawan itu.
Sartumi, gadis remaja dusun Sintren itupun menarik perhatian Raden Prabowo dan dia menghendaki agar gadis yang baru berusia Lima belas tahun itu menjadi selirnya yang nomer lima!
Dengan jalan mengancam dan sekaligus membujuk dengan banyak uang kepada orang tua Sartumi, akhirnya dia berhasil mendapatkan gadis itu dan pada hari itu, dia merayakan pernikahannya dengan Sartumi.
Dia mengutus lima orang di antara para jagoannya untuk pergi ke dusun tempat tinggal Sartumi dan memboyong gadis itu ke rumahnya di mana dia telah menanti sebagai seorang pengantin pria dan di situ telah berkumpul pula banyak tamu.
Gamelan telah dibunyikan sejak pagi tadi.
"Pengantin datang! Pengantin datang! Anak-anak berteriak-teriak dengan gembira dan mereka berlari-larian menyambut iring-iringan pengantin yang datang menuju ke rumah besar yang sudah dirias dengan meriah itu. Semua orang menyambut kedatangan rombongan itu dengan pandang mata mereka. Mereka melihat dengan jelas betapa semua anggauta rombongan itu tampak seperti orang bingung dan tegang, bahkan lima orang pengawal yang biasanya tampak gagah itu kini kelihatan seperti orang-orang yang ketakutan. Akan tetapi tidak ada seorangpun yang dapat menduga apa yang telah terjadi. Para anggauta rombongan berhenti dipendopo, dan atas isarat dari orang yang menyambut dan mengatur rombongan, empat orang pemikul joli disuruh masuk dah terus memikul joli itu membawanya ke ruangan tengah. Ruangan ini letaknya sangat tinggi sehingga tampak jelas oleh para tamu yang telah duduk di seputar ruangan yang disediakan untuk pertemuan dua orang pengantin itu. Pengantin pria muncul, dengan berpakaian serba indah Raden Prabowo yang bertubuh tinggi kurus dan berwajah cukup tampan itu sambil tersenyum lebar melangkah maju menyambut joli itu. Empat orang pemikul joli segera menurunkan joli itu di tengah ruangan dan. disaksikan oleh ratusan pasang mata para tamu Raden Prabowo menghampiri joli dan menyingkap tirai joli. Joli kini terbuka dan semua orang melihat pengantin wanita yang duduk di dalam joli dengan muka tertutup cadar dan hiasan kepala. Sambil tersenyum gembira Raden Prabowo mengulurkan tangan untuk membantu pengantin wanita keluar dari joli. Akan tetapi pengantin wanita tidak menerima uluran tangan itu dan melangkah sendiri keluar dari joli. Setelah pengantin wanita berdiri di luar joli, baru terasalah oleh Raden Prabowo kelainan yang ada pada diri pengantin wanita, Wanita ini bukan Sartumi! Tubuhnya lebih tinggi dan lebih langsing, lebih matang dari pada tubuh Sartumi yang masih remaja! "Eh, andika bukan Sartumi.....!"
Kata Raden Prabowo sambil melangkah maju dan tanganaya menyambar cadar untuk dibukanya.
Akan tetapi Retno Susilo mundur melangkah dan sambaran tangan pada cadar itu luput.
Dengan perlahan Retno Susilo membuka sendiri cadar yang menutupi mukanya sehingga kini wajahnya tampak jelas.
Raden Prabowo terbelalak sebentar, akan tetapi kemudian sepasang matanya mengeluarkan sinar berseri gembira karena dia melihat bahwa wanita ini jauh lebih cantik jelita daripada Sartumi!
"Andika ......
bukan Sartumi....
akan tetapi tidak mengapa......aku senang menerima andika sebagai selirku yang ke lima......!"
Hatinya senang sekali walaupun dia terheran-heran.
"Siapa nama andika dan dari mana andika datang, diajeng?"
Retno Susilo melepaskan hiasan kepalanya dan membantingnya ke atas lantai sehingga benda itu hancur berantakan.
Kini tampaklah Retno Susilo yang aseli, dengan rambutnya yang hitam panjang, matanya yang bersinar tajam seperti bintang kejora dan mulutnya yang tersenyum manis penuh daya tarik.
Akan tetapi tampak pula pedang yang tergantung di punggungnya, yang mendatangkan kesan gagah perkasa.
Semua tamu memandang kepadanya dengan terheran-heran akan tetapi juga terkagum-kagum oleh kecantikannya.
Retno Susilo menudingkan telunjuk kirinya ke arah muka Raden Prabowo dan terdengar suaranya lantang.
"Apakah engkau yang bernama Raden Prabowo?"
Semua orang terkejut dan heran mendengar "pengantin wanita"
Yang tampak marah itu membanting hiasan kepala lalu bertanya seperti itu kepada pengantin pria.
Sementara itu lima orang pengawal tadi sudah berbisik-bisik kepada para jagoan pengikut Raden Prabowo yang jumlahnya ada belasan orang.
Para jagoan itu terkejut mendengar laporan lima orang kawannya tentang Retno Susilo yang kini menyamar sebagai pengantin wanita.
Mendengar bahwa wanita itu telah membebaskan Sartumi dan telah memukul roboh lima orang pengawal, mereka menjadi marah dan kini belasan orang tukang pukul itu sudah mendekat dan mengepung Retno Susilo untuk melindungi Raden Prabowo.
Raden Prabowo yang masih kegirangan dan merasa gembira mendapatkan seorang dara yang demikian cantik jelita seperti bidadari, masih dapat tersenyum dan memasang gaya.
"Benar sekali, diajeng. Akulah yang bernama Raden Prabowo dan akulah yang akan menjadi suamimu!"
"Keparat jahanam! Engkau telah mempergunakan kekayaanmu untuk memaksa gadis remaja bernama Sartumi untuk menjadi selirmu! Aku sengaja membebaskan Sartumi dan datang ke sini Untuk mengakhiri perbuatanmu yang sewenang-wenang!"
Baru terkejutlah hati Raden Prabowo melihat sikap dan mendengar bentakan Retno Susilo itu.
akan tetapi dia juga menjadi marah sekali.
Dengan alis berkerut dan mata terbelalak dia memandang kepada dara itu karena merasa dia dihina di depan para tamu yang banyak.
Apa lagi dia melihat belasan orang tukang pukulnya sudah mengepung tempat itu hatinya menjadi besar dan tabah.
"Hei, perempuan asing! Siapakah namamu dan berani sekali engkau menghinaku!"
"Aku adalah Retno Susilo dan aku sengaja datang ke sini untuk memberi hajaran kepadamu, kalau engkau tidak menghentikan kesewenang-wenanganmu, merampas wanita untuk dijadikan selir, aku tentu akan membunuhmu!"
Raden Prabowo bukan seorang yang lemah. Dia pernah mempelajari ilmu kanuragan.
"Kurang ajar ! Engkaulah yang akan kutangkap dan kuberi pelajaran! Hyaaaaattt.....!"
Tiba-tiba Prabowo menubruk ke depan, maksudnya untuk meringkus tubuh yang bahenol itu.
Akan tetapi dia menubruk angin karena Retno Susilo telah mengelak ke kiri dan dari kiri kakinya mencuat dalam sebuah tendangan "Bukkk......!"
Perut Prabowo terkena tendangan yang keras, Tubuhnya terjengkang dan dia terbanting keras.
Perutnya menjadi mulas karena tendangan itu dan pinggulnya menghantam lantai, membuat dia mengaduh-aduh, tangan kiri memegangi perut, tangan kanan mengelus pinggul.
"Aduh..... aduhhh..... tangkap ia.....!"
Ia mengaduh sambil memerintahkan para tukang pukulnya untuk mengeroyok Retno Susilo.
Akan tetapi, empat orang tukang pukul yang lebih dulu maju, disambut tamparan-tamparan kedua tangan Retno Susilo dan empat orang itu berpelantingan ke kanan kiri sehingga para tukang pukul yang lain menjadi gentar dan memandang dengan mata terbelalak dan muka pucat!
Pada saat itu, sebelum para tukang pukul menggunakan senjata untuk mengeroyok, terdengar suara nyaring berseru.
(Lanjut ke
Jilid 07) Pecut Sakti Bajrakirana (Seri ke 01 -Serial Pecut Sakti Bajrakirana) Karya". Asmaraman S. Kho Ping Hoo
Jilid 07
"Biarkan aku yang akan menangkapnya!"
Seorang laki-laki tinggi kurus yang tadi duduk di bagian tamu kehormatan, sudah melompat dan berdiri di depan Retno Susilo.
Gadis itu memandangnya dan segera mengenal laki-laki berusia empat puiuh lima tahun, bertubuh tinggi kurus itu.
"Hemmm, kiranya andika berada di sini, Mahesa Meta! Pantas saja Prabowo berani berbuat sewenang-wenang, kiranya, andika adalah kawannya!"
Retno Susilo berkata mengejek.
Ia masih mengenal baik perampok yang pernah memusuhi perkumpulan Sardulo Cemeng yang dipimpin ayahnya itu.
Perampok ini pernah dikalahkan Sutejo dan tidak dibunuh, dilepas dan diampuni.
"Retno Susilo! Tadinya aku hampir tidak mengenalmu, akan tetapi setelah engkau memperkenalkan namamu, teringatlah aku bahwa engkau adalah gadis kurang ajar puteri Ki Mundingsosro! Bagus sekali, sekarang tibalah saatnya aku membalas dendam. Akan tetapi aku tidak akan membunuhmu, melainkan menangkapmu untuk kuserahkan kepada anakmas Prabowo agar mempermainkanmu sepuasnya sebelum engkau dibunuh!"
Merah wajah Retno Susilo mendengar ucapan yang amat menghinanya itu. Telunjuk kirinya menuding ke arah muka Mahesa Meta dan ia membentak.
"Keparat Mahesa Meta! Lupakah engkau ketika dulu diampuni oleh Kakang Sutejo? Kiranya engkau masih saja mengumbar nafsu kejahatanmu dan sekarang aku tidak akan mengampuni mu lagi!"
Mahesa Meta maklum bahwa Retno Susilo adalah seorang dara perkasa yang pernah mengalahkan kawannya ketika dia mengadu ilmu dengan pihak Sardulo Cemeng.
Akan tetapi dia menganggap bahwa tingkat kepandaian gadis itu tidak akan mampu menandinginya, maka dia memandang rendah.
Sama sekali dia tidak mengira bahwa dahulupun sebelum ia diberi ilmu simpanan oleh Nyi Rukmo Petak, tingkat ilmu kepandaian Retno Susilo sudah tidak akan tertandingi olehnya.
Apa lagi sekarang setelah Retno Susilo mempelajari dua ilmu baru yang amat ampuh!
"Bocah sombong, rasakan pembalasanku sekarang!"
Bentak Mahesa Meta.
Retno Susilo memandang sambil tersenyum mengejek."Sebagai seorang manusia yang curang dan licik, engkau tentu akan mempergunakan pengeroyokan.
Akan tetapi, aku tidak takut menghadapi pengeroyokanmu!"
Ucapan itu memanaskan hati Mahesa Meta.
Dia merupakan tamu kehormatan Prabowo yang pernah menerima pelajaran beberapa macam ilmu silat darinya.
Para tamu juga sudah tahu bahwa dia merupakan tamu kehormatan karena tempat duduknya di sebelah kanan tempat duduk pengantin.
Dan kini dia menerima, ucapan yang di anggapnya amat memandang rendah dan menghinanya dari seorang wanita muda, seorang gadis yang baru menjelang dewasa Saking marahnya dia melolos rantai baja yang dibelit kan di pinggang sebagai sabuk.
Lupa dia akan niatnya tadi untuk menangkap dara itu dan diserahkan kepada Prabowo.
Dengan sabuk rantai baja di tangan, tentu saja niatnya hanya satu, ialah merobohkan gadis itu, mungkin membunuhnya!
Sambil memutar-mutar rantai bajanya, dia melangkah maju menghampiri Retno Susilo.
Para tamu yang merasa tidak setuju, diam-diam lalu meninggalkan tempat itu, tidak tega melihat dara perkasa yang berani menentang Prabowo itu celaka di tangan para tukang pukul.
Mereka tidak senang dengan tindakan yang dilakukan Prabowo, akan tetapi mereka adalah orang-orang dusun yang tidak berani menentang.
Akan tetapi mereka yang menjadi teman-teman Prabowo menonton dengan senang hendak melihat bagaimana tamu Prabowo yang dihormati itu menundukkan gadis yang mereka anggap terlalu kurang ajar itu.
"Wirrrr....... syuuuuttt.... ! Rantai baja itu menyambar ke arah kepala Retno Susilo. Akan tetapi dara itu dengan lincahnya mengelak dengan menekuk lututnya sehingga kepalanya merendah. Rantai baja meluncur lewat di atas kepalanya dan sekali tangan kanannya bergerak, dara itu telah mencabut sebatang pedang. Sinar kehijauan menyilaukan mata ketika Pedang Pusaka Nogo Wilis tercabut dan sinar hijau itu meluncur ke arah dada Mahesa Meta. Orang ini terkejut bukan main dan cepat melompat ke belakang untuk menghindarkan diri dari tusukan pedang itu, kemudian dia memutar rantai bajanya menyerang lagi. Sekali ini Retno Susilo tidak mengelak melainkan menggerakkan pedangnya menangkis.
"Trangggg.......!"
Bunga api berpijar ketika, pedang bertemu rantai baja dan alangkah terkejut hati Mahesa Meta melihat betapa ujung rantai bajanya putus!
Dia mengeluarkan suara gerengan seperti seekor harimau marah dan rantainya diputar menjadi segulungan sinar menerjang ke arah dara itu.
Retno Susilo juga memainkan pedangnya dan karena ia mengandalkan kecepatan geraknya dengan Aji Kluwung Sakti, maka gerakannya cepat seperti kilat dan membingungkan Mahesa Meta yang hanya melihat bayangan berkelebat di seputar dirinya!
Terpaksa dia memutar rantai bajanya untuk melindungi dirinya karena dia tidak tahu dari arah mana lawan akan menyerang dengan pedang pusakanya yang ampuh.
Prabowo menjadi tidak sabar melihat betapa Mahesa Meta tidak mampu mendesak gadis itu.
Dia masih meringis kesakitan.
Pinggulnya sudah tidak nyeri lagi, akan tetapi perutnya yang tertendang masih mulas.
Agaknya isi perutnya terguncang !
Sambil melogis memegangi perutnya dengan mendongkol dia lalu memberi aba-aba kepada para tukang pukulnya untuk maju mengeroyok dara perkasa itu.
Prabowo adalah seorang yang cerdik dan licik.
Dia tahu bahwa dara perkasa itu adalah seorang yang amat tangguh dan akan sukarlah menangkapnya dalam keadaan hidup-hidup dan tidak terluka seperti yang dikehendakinya.
Dia ingin mendapatkan gadis itu dalam keadaan hidup Untuk membalas penghinaan yang telah diterimanya!
"Pergunakan jaring!"
Perintahnya.
"Tangkap ia hidup-hidup!"
Para tukang pukul itu mengerti akan maksud majikan mereka maka beberapa orang lain berlari-larian mengambil jaring yang biasa mereka pakai menjala ikan di sungai.
Tak lama kemudian belasan orang sudah mengepung Retno Susilo dan mereka membawa jaring-jaring ikan.
Dengan jaring-jaring itulah mereka menyerang Retno susilo.
Dara itu terkejut sekali.
Serangan Mahesa Meta sudah berbahaya dan ia harus berhati-hati memainkan pedangnya untuk menghalau serangan itu.
Ia sudah mulai dapat mendesak lawan dan menanti saat baik untuk menggunakan Aji pamungkasnya, yaitu Aji Gelap Sewu atau kalau perlu ia dapat menggunakan Aji Wiso Sarpo untuk membunuh lawan itu.
Akan tetapi, belasan orang yang mengeroyoknya itu menggunakan jaring yang membuat ia repot sekali.
Sehelai jaring menyelimuti tubuhnya.
Akan tetapi ia sempat menggerakkan pedangnya dan jaring itu robek semua membuat ia terbebas kembali.
Akan tetapi jaring kedua, ketiga dan seterusnya datang seperti hujan dan iapun tertutup jaring-jaring itu.
Ia meronta-ronta, berusaha menggerakkan pedangnya, akan tetapi tali-tali jaring itu membuat ia tidak dapat bergerak leluasa dan sebelum ia mampu membebaskan dirinya, belasan tangan telah meringkusnya dan ia segera diikat kaki tangannya sehingga tidak mampu bergerak lagi!
"Ha-ha-ha, bocah sombong!
Engkau seperti seekor ikan emas terjaring, tinggal memanggang dan memakan saja!"
Prabowo yang melihat hasil baik ini melupakan nyeri di perutnya dan dia tertawa-tawa, lalu memerintahkan orang-orangnya untuk mengangkat Retno Susilo yang sudah dibelenggu kaki tangannya itu ke dalam kamarnya.
Dara itu ditelentangkan di atas pembaringan dalam kamar pengantin dan kaki tangannya diikat kuat-kuat sehingga tidak mampu bergerak.
Pedangnya dirampas oleh Mahesa Meta dengan hati girang karena dia mendapatkan sebuah senjata pusaka yang ampuh.
Pesta pora dilanjutkan oleh Prabowo dengan para tamu yang tinggal sedikit itu, tinggal teman-temannya sendiri dan mereka yang cocok dengan perbuatan sesat, sebanyak kurang lebih lima puluh orang.
Mereka mabok-mabokan sampai tengah malam baru bubaran.
Akan tetapi setelah semua orang berpamit dan pergi meninggalkan tempat pesta, bahkan para niyogo juga sudah mengangkati alat tabuhan mereka dan meninggalkan tempat itu.
Mahesa Meta yang menemani Prabowo makan minum melihat seorang laki-laki tua masih duduk minum tuak seorang diri.
Laki-laki itu sudah tua, lebih dari lima puluh tahun usianya, wajahnya penuh brewok seperti muka singa, pakaiannya longgar seperti pakaian seorang pertapa.
Kedua orang itu, dan juga para tukang pukul yang masih berjaga di situ, merasa heran melihat orang ini.
Tak seorangpun mengenalnya dan agaknya tadi dia menyelinap di antara para tamu untuk menikmati hidangan.
Seorang tamu yang tidak diundang dan menggunakan kesempatan itu untuk, makan minum sepuasnya!
Bahkan sekarangpun setelah semua tamu pergi, orang itu masih minum minum seorang diri.
Melihat cara dia minum tuak, sungguh luar biasa.
Dia minum terus menerus tanpa menjadi mabuk.
Matanya yang lebar itu bersinar-sinar gembira, mulut yang tertutup kumis dan jenggot itu hanya tampak giginya ketika dia menyeringai.
Sepintas dia melihat ke arah mereka yang sedang memandangnya dan dia mengangguk-angguk lalu berkata seorang diri.
"Bagus, bagus! Tuak yang baik, makanan yang enak, hari ini aku mendapat rejeki bagus, ha-ha-ha-ha!"
Prabowo mengerutkan alisnya dan ketika Mahesa Meta memandang kepadanya, dia mengangguk dan berkata.
"Kakang Mahesa Meta, minta dia meninggalkan tempat ini!" ---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------HAL 32 DAN 33 HILANG ---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------sekali dan setiap sambaran rantai baja selain dapat dielakkannya dengan cepat. Meja dan kursi di sekitar tempat itulah yang menjadi korban pengamukan rantai baja Mahesa Meta sehingga hancur dan terlempar berserakan. Karena orang itu hanya mengelak terus, Mahesa Meta membuat kesalahan dengan mengira bahwa orang itu jerih terhadapnya. Maka dia menyerang terus dengan ganasnya dan suatu saat rantai bajanya menyambar dari depan ke arah dada orang itu. Sekali ini, kakek itu tidak mengelak melainkan menerima ujung rantai baja itu dengan tangan kanannya.
"Wuuuutttt.....plakk!"
Ujung rantai baja itu dapat ditangkapnya dan tiba-tiba saja orang itu menggerakkan tangan kanannya dan melepaskan ujung rantai baja.
Senjata itu menyambar ke depan dan tak dapat dihindarkan lagi ujung rantai baja itu mengenai muka Mahesa Meta dengan keras sekali karena ketika melemparkannya, orang itu mengerahkan tenaga dalam yang amat kuat.
"Wuuuttt.....desss.....!"
Muka Mahesa Meta.
dihantam ujung rantai bajanya sendiri dan demikian kerasnya hantaman itu sehingga kepalanya seketika retak dan Mahesa Meta tak sempat mengeluarkan jeritan, tubuhnya terjengkang dan dia tewas seketika dengan muka hancur dan kepala retak!
Melihat ini, Prabowo menjadi terkejut sekali.
Dia tidak mampu mengeluarkan suara, hanya tangannya saja yang memberi isarat menuding-nuding ke arah kakek itu, mengerahkan semua tukang pukulnya untuk mengeroyok.
Para tukang pukul itu dengan golok di tangan sudah maju mengepung dan tanpa dikomando lagi mereka yang berjumlah lima belas orang itu menyerang dari semua jurusan dengan golok mereka.
Orang itu tertawa mengejek dan menyambut dengan gerakan kaki tangannya.
Para pengeroyok itu seperti diserang badai.
Mereka berpelantingan terkena tendangan atau tamparan sehingga dalam waktu singkat mereka telah roboh semua dan saking takutnya mereka tidak berani bangkit lagi.
Orang itupun tidak memperdulikan mereka dan dia melangkah di antara tubuh-tubuh para tukang pukul yang bergelimpangan, menghampiri mayat Mahesa Meta, membungkuk dan mengambil Pedang Nogo Wilis milik Retno Susilo yang tadi dirampas perampok tunggal dari Gunung Kelud itu, kemudian menyelipkan pedang itu di ikat pinggangnya dan dia masuk ke dalam rumah besar.
Dia tidak memperdulikan Prabowo yang melarikan diri tunggang langgang ke dalam rumah dan bersembunyi ketakutan.
Dimasukinya kamar pengantin itu dan dilihatnya Retno Susilo yang telentang diatas pembaringan dengan kedua kaki tangan terikat.
"Hemm, engkau terlalu berharga untuk terjatuh ke tangan jahanam-jahanam busuk itu!"
Katanya dan tangan kirinya meraih lalu dipondongnya tubuh Retno Susilo, dipanggulnya di pundak kiri dan dirangkul dengan lengan kiri lalu dia membawa tubuh gadis itu keluar dari rumah dengan langkah lebar.
Ditinggalkannya rumah itu dan tidak ada seorangpun berani menghalanginya, Para penduduk dusun itupun hanya berani melihat dari jauh saja ketika kakek yang memanggul tubuh Retno Susilo itu keluar dari dusun dengan langkah lebar dan gerakan kaki cepat sekali.
Sejak dibawa pergi dari rumah Prabowo, Retno Susilo dalam keadaan sadar bahwa ia dibawa pergi seorang kakek yang pakaiannya seperti seorang pertapa dan mukanya menyeramkan seperti muka seekor singa jantan.
Ia diam saja karena maklum bahwa baru saja ia terlepas dari ancaman bahaya yang mengerikan di tangan Prabowo yang telah menawannya.
Ia tidak tahu apa yang dikehendaki kakek singa itu yang memanggulnya dan setelah keluar dari dusun lalu berlari dengan cepat sekali.
Diam diam ia mengerahkan tenaga dan mencoba untuk membebaskan diri dari ikatan tangannya, namun tidak berbasil.
Ternyata ikatan itu kuat sekali.
Ketika kakek itu membawanya ke dalam sebuah hutan yang lebat di lereng sebuah bukit, ia mulai merasa khawatir.
Kalau memang kakek ini bermaksud untuk menolongnya, mengapa ia dibiarkan terikat saja dan tidak dibebaskan?
"Paman yang baik, harap suka lepaskan aku."
Kata Retno Susilo dengan suara lembut. Ia belum tahu orang macam apakah kakek yang menolongnya.
"Heh-heh-heh-heh......"
Kakek ini hanya terkekeh dan tidak menjawab, membawanya masuk lebih dalam ke hutan yang lebat itu.
Karena kakek itu tidak menjawab, hanya terkekeh saja, Retno Susilo merasa semakin khawatir.
Jangan-jangan kakek yang membawanya pergi itu seorang yang tidak waras!
Akan tetapi jelas bahwa dia seorang yang memiliki ilmu kepandaian tinggi.
Ketika ia dipanggul keluar rumah tadi ia melihat Mahesa Meta sudah menggeletak menjadi mayat dan belasan orang tukang pukul masih mengaduh dan merintih, tubuh mereka berserakan.
Tentu kakek itu yang telah merobohkan mereka lalu membawanya pergi.
Ia menanti sampai beberapa lama, akan tetapi kakek itu tetap diam saja.
"Paman yang baik, aku hendak dibawa ke manakah?"
Tanyanya lagi.
Kembali kakek Itu terkekeh dan tidak menjawab.
Tentu saja hati Retno Susilo menjadi semakin tegang dan gelisah.
Jangan-jangan ia seperti terlepas dari mulut harimau terjatuh ke mulut srigala!
"Paman, tolonglah lepaskan ikatan kaki tanganku, aku akan berterima kasih sekali."
Kembali ia membujuk dengan suara lembut.
"Heh-heh belum waktunya, ha-ha-ha, belum saatnya......"
Biarpun kakek itu menolaknya, namun setidaknya dia sudah menjawab dan ini sedikit banyak melegakan hati Retno Susilo.
Makin besar dugaannya bahwa kakek ini tidak waras atau miring otaknva.
Ia harus dapat mengajaknya bercakap-cakap dan membujuknya agar suka melepaskan, ikatan tangan kakinya.
Karena ia dipanggul dengan kepala di depan ia dapat melihat bahwa pedang pusakanya terselip di pinggang kakek itu padahal ini menggirangkan hatinya.
Kalau saja ia dapat terlepas dari ikatan dan dapat menguasai pedang itu.
Ia memutar otak mencari akal.
Setiap orang tentu memiliki kelemahan, pikirnya.
Kakek ini yang agaknya tidak waras adalah seorang yang memiliki ilmu kepandaian tinggi.
Mungkin ia lemah terhadap pujian, pikirnya.
"Paman, andika memiliki ilmu kepandaian yang amat tinggi, sakti mandraguna. Paman pasti seorang tokoh besar dalam dunia ini, dengan nama yang amat terkenal, dihormati kawan disegani lawan. Siapakah gerangan nama besar paman? "Ha-ha-ha! Dugaanmu benar sekali, anak manis. Aku adalah Ki Klabangkolo yang menguasai sebagai bahurekso Pegunungan Ijen!"
Retno Susilo merasa senang bahwa perkiraannya tidak meleset.
Kakek ini seorang yang gila hormat dan gila sanjungan!
"Ah, Paman Klabangkolo, aku merasa girang dan bangga sekali mendapat pertolongan dari seorang yang gagah perkasa dan sakti mandraguna, juga amat terkenal seperti paman!
Lepaskan tali pengikat kaki tanganku paman, agar aku dapat menghaturkan terima kasih dan sembah kepadamu."
Retno membujuk.
"Hemm, melepaskanmu dan membiarkan engkau melarikan diri dariku? Tidak, belum saatnya aku melepaskanmu dari ikatan, anak manis!"
Kakek itu melangkah terus dengan cepatnya dan kembali Retno merasa gelisah. Biarpun gila hormat dan gila sanjungan, ternyata kakek ini cerdik dan tidak mudah dibujuk.
"Paman Klabangkolo, engkau hendak membawaku ke manakah?"
"Ha-ha, diam sajalah, sebentar engkau akan mengetahuinya sendiri. Diam saja dan menurut sajalah, engkau pasti akan senangi"
Kata kakek itu Retno melihat bahwa mereka tiba di depan sebuah guha yang besar di tengah hutan belantara itu.
"Nah, inilah tempat tinggalku. Bagus, bukan?"
Kakek itu menurunkan tubuh Retno dari panggulan dan merebahkannya dengan lembut ke dalam guha di mana lantainya bertilamkan rumput kering dan tikar pandan.
Retno yang rebah telentang memandang dengan mata terbelalak ketika kakek itu mencabut Pedang Nogo Wilis yang diselipkan di pinggangnya lalu mengangkat pedang itu ke atas seolah hendak dibacokkan kepadanya.
Pedang itu menyambar turun.
"Wuuuttt.....cappp!"
Pedang itu tidak membacok Retno, melainkan menancap di atas lantai sampai amblas ke gagangnya! "Ha-ha-ha, katakan, engkau senang tinggal di sini bersamaku bukan? Katakan!"
Kakek itu menghardik.
Retno Susilo menjadi makin panik.
Kakek itu jelas gila dan kalau ia tidak menyenangkan hatinya dengan jawaban-jawabannya, bukan tidak mungkin ia akan dibunuhnya begitu saja!
"Senang, paman, senang!
Akan tetapi mengapa paman tidak melepaskan ikatan kaki tanganku?
"Apa yang akan paman lakukan terhadap diriku?"
Apa yang akan, kau lakukan?
Ha-ha-ha, engkau seorang wanita yang amat cantik dan gagah berani.
Dan sudah belasan tahun aku hidup menyendiri di tempat ini setelah aku pergi dari Pegunungan Ijen karena kehilangan isteriku.
Engkaulah yang pantas menjadi penggantinya, menjadi isteriku.
Engkau yang mau menjadi isteriku, bukan?
Mau?"
Sekali ini Retno tidak menjawab.
Wajahnya berubah pucat.
Ia seorang dara perkasa yang tidak takut menghadapi kematian, Akan tetapi ia menghadapi keadaan yang lebih mengerikan dari pada kematian!
Ia akan diperisteri kakek ini yang tentu tidak segan menggunakan kekerasan.
Ia akan diperkosa!
Karena itu, ia hanya memandang kakek itu dengan mata terbelalak dan tidak dapat menjawab.
"Ha-ha-ha, setelah engkau menjadi isterku malam ini, barulah ikatan kaki tanganmu akan kulepaskan. Setelah menjadi isteriku, engkau tentu tidak akan melarikan diri lagi. Kita harus merayakan pernikahan kita dengan pesta. Ya, aku akan menangkap seekor kijang muda. Kita berpesta makan daging kijang muda, kemudian kita menikah, ha-ha-ha! Iinggallah di sini dulu, sayang, aku akan pergi menangkap kijang muda dan mencari buah-buahan untukmu!"
Setelah berkata demikian, kakek itu melangkah keluar dari guha sambil tertawa terkekeh-kekeh, agaknya dia girang sekali.
Setelah kakek itu pergi, Retno berusaha melepaskan diri dari ikatan.
Ia mengerahkan seluruh tenaganya.
Akan tetapi ia tidak berhasil.
Ikatan itu terlampau kuat.
Sampai nyeri semua rasa kulit pergelangan tangan dan kakinya ketika ia meronta-ronta.
Tali yang kuat itu menggigiti kulitnya.
Terdengar langkah kaki memasuki guha.
Jantung Retno berdegup penuh ketegangan dan ketakutan.
Kakek itu kembali dan ia akan diperkosa!
Tidak dapat ia membayangkannya dan ia memejamkan matanya yang mulai basah dengan air mata.
Ingin ia menjerit dan menangis, akan tetapi keinginan ini ditahannya, ia tidak akan memperlihatkan kelemahannya kepada kakek gila itu!
Ia memang tidak berdaya.
Ia merasa lebih baik mati dibunuh dari pada diperkosa.
Akan tetapi ia tidak berdaya.
Kalau sampai ia di perkosa, ia akan tetap bertahan hidup untuk dapat membalas kakek itu.
Ia harus dapat membunuh kakek itu sebelum ia membunuh diri sendiri!
Ia mendengar langkah kaki itu berhenti di dekatnya, lalu mendengar gerakan orang itu berjongkok.
Jantungnya berdebar.
Hampir ia pingsan saking merasa ngeri dan takut.
Ketika ada jari-jari tangan menyentuh kakinya, ia demikian terkejut seperti dipagut ular sehingga ia terjingkat.
Akan tetapi apa ini?
Jari-jari tangan itu mulai melepaskan ikatan kakinya!
Bagus!
Kalau begitu ia akan dapat melawan.
Ia akan melawan mati-matian, mempertahankan diri sampai mati kalau mau diperkosa.
Ia membuka matanya dan ia terbelalak memandang keheran-heranan kepada wajah itu.
Wajah itu tampan dan gagah sekali.
Wajah seorang pemuda berusia kurang lebih dua puluh enam tahun.
Wajah tampan itu tersenyum.
Tubuhnya sedang dan tegap.
Sebatang keris terselip dipinggangnya.
Jari-jari tangan itu demikian kuatnya ketika melepaskan ikatan kakinya, kemudian ikatan tangannya.
"Tenanglah, nimas. Aku datang untuk membebaskanmu. Kebetulan sekali kakek jahat itu pergi."
Kata pemuda itu, suaranya lembut dan sopan. Jantung dalam dada Retno berdebar saking gembiranya.
"Harap cepat sedikit. Kalau dia datang kembali......."
"Kalau dia datang kembali, kita hadapi bersama. Aku telah melihat tadi akan kegagahanmu. kurasa kalau kita berdua maju bersama, kita tidak usah takut menghadapi kakek gila itu."
Tak lama kemudian Retno bebas.
Digosok-gosoknya kedua pergelangan kaki dan tangannya, kemudian dicabutnya Pedang Nogo Wilis yang tertancap di atas lantai.
Ia bangkit berdiri dan sudah siap.
Dipandangnya pemuda yang berdiri di depannya itu penuh perhatian.
"Ki Sanak, terima kasih kuucapkan kepadamu atas pertolonganmu ini. Bolehkah aku bertanya, andika dan bagaimana andika dapat datang ke tempat ini dan menolongku?"
"Ha-ha-ha-ha-ha! Manis, aku datang membawa seekor kijang muda untukmu, ha-ha ha!"
Suara lantang ini membuat pemuda itu tidak jadi menjawab pertanyaan Retno. Dia lalu menyambar lengan tangan dara itu dan ditariknya, diajak keluar.
"Mari kita keluar, menghadapinya di luar yang lebih luas."
Mereka berdua berloncatan keluar.
Ternyata Ki Klabangkolo belum tampak dan ternyata suaranya tadi diteriakkan dari jauh.
Hal ini saja sudah membuktikan betapa hebat ilmu kepandaian orang itu, dapat melontarkan suara dari jauh dengan dorongan tenaga saktinya.
Retno Susilo sudah siap dengan Pedang Nogo Wilis di tangannya sedangkan pemuda itu masih berdiri tenang namun sepasang matanya mencorong dan memandang ke sekeliling dengan penuh kewaspadaan karena dia tidak tahu dari arah mana pemilik suara tadi akan muncul.
Akhirnya muncullah orang yang ditunggu-tunggu itu.
Kemunculannya mengejutkan.
Ki Klabangkolo tahu-tahu terjun ke depan mereka dalam jarak sepuluh meter sambil tertawa-tawa.
Akan tetapi suara tawanya tiba-tiba terhenti ketika dia melihat Retno Susilo sudah berdiri di depan guha dengan pedang di tangan dan sepasang mata dara itu bersinar-sinar penuh kebencian memandangnya.
Akan terapi ketika Ki Klabangkolo menoleh dan memandang ke arah pemuda itu, maklumlah apa yang terjadi, Calon korbannya itu tentu ditolong dan dibebaskan oleh pemuda itu!
Mukanya berubah bengis.
Matanya mencorong seperti mengeluarkan api dan tiba-tiba dia mengangkat bangkai kijang yang tadi dipanggulnya dan melontarkannya ke arah pemuda itu.
Bangkai kijaag itu cukup berat dan dilontarkan dengan tenaga yang dahsyat, maka tentu saja lontaran itu merupaka serangan yang amat berbahaya.
Namun, pemuda itu ternyata cekatan sekali.
Dengan gerakan ringan dan cepat, mudah saja dia menghindarkan diri dengan elakan sehiugga bangkai kijang itu meluncur lewat dan melayang sampai jauh.
Melihat betapa lontarannya tidak mengenai sasaran.
Ki Klabangkolo semakin marah.
Dia mengeluarkan gerengan-gerengan seperti seekor harimau marah, memandang kepada Retno dan pemuda itu bergantian, kemudian tiba-tiba dia menubruk ke arah Retno Susilo dengan kedua lengan dikembangkan.
Tubrukannya itu cepat sekali datangnya dan mendatangkan angin yang menyambar.
Retno meloncat ke samping untuk mengelak dan dari samping pedangnya, menyam"bar ke arah leher Ki Klabangkolo.
Kakek itu menggerakan tangan kirinya dan ujung lengan bajunya yang lebar itu menangkis pedang.
"Wuuuitt.....tranggg....!"
Retno terkejut bukan main karena ia merasa betapa pedangnya seolah bertemu dengan benda keras dan pedang itu terpental.
Akan tetapi ia masih dapat mempertahankan sehingga pedangnya tidak terlepas dari pegangan tangannya.
Ki Klabangkolo menggunakan kesempatan itu untuk menubruk lagi ke samping.
"Plakk!"
Tangannya terbentur dengan sebuah tangan lain yang kuat sehingga dia terdorong ke belakang.
Ketika dilihatnya bahwa pemuda tampan itu yang menangkis tangannya, dia menjadi semakin marah.
Dia mengeluarkan teriakan melengking dan kini dia menerjang kepada pemuda itu dengan tamparan tangan yang mengandung hawa panas!
Pemuda itu maklum akan datangnya serangan yang berbahaya sekali, maka dia juga menggunakan kegesitannya antuk mengelak sehingga tamparan itu hanya mengenai tempat kosong.
Ketika kakek itu memutar tubuh dan mengejar, menerjang lagi kepada pemuda itu, Retno sudah menyerangnya dengan tusukan pedangnya dari belakang.
"Ting.....!"
Kakek itu cepat memutar tubuhnya mengelak dari tusukan pedang dan kini menyerang Retno dan mendesak dara itu dengan cengkeraman-cengkeraman kedua tangannya.
Kembali pemuda itu yang membantu Retno dengan pukulan tangan dari belakang.
Pukulan tangan pemuda itu juga mengandung tenaga sakti yang kuat sehingga Ki Klabangkolo terpaksa membalik lagi dan menangkis.
Akan tetapi pemuda itu kini telah mencabut kerisnya dan menggunakan senjata itu untuk menyerang, membantu Retno Susilo yang juga menggunakan Pedang Nogo Wilis untuk menyerang.
Dalam keadaan bertangan kosong kakek itu dikeroyok dua dan dihujani serangan pedang dan keris.
Akan tetapi Ki Klabangkolo memang tangguh sekali.
Hanya dengan kedua ujung lengan baju dia mampu menangkis kedua senjata dua orang pengeroyok itu.
Akan tetapi dia terdesak dan kurang leluasa untuk membalas.
Tiba-tiba dia melengking nyaring dan menubruk ke arah pemuda itu sambil melancarkan pukulan yang amat dahsyat dengan tangan kanannya.
Pemuda itu terkejut dan melompat ke kiri.
Ki Klabangkolo tak dapat menahan tangannya yang memukul dengan pengerahan tenaga sepenuhnya.
Tangan itu terus meluncur ke depan dan mengenai sebatang pohon yang tadi berada di belakang pemuda itu.
"Dess.....braaakkk.,...!"
Pohon sebesar paha orang itu terkena pukulan tangannya langsung patah dan tumbang!
Melihat ini, Ki Klabangkolo menyambar batang pohon itu dan mempergunakannya sebagai senjata untuk menyerang kedua pengeroyoknya!
Tentu saja Retno dan pemuda itu menjadi kalang kabut diserang batang pohon berikut cabang dan daun daunnya itu.
Mereka berlompatan ke sana sini untuk menghindarkan diri dari serangan itu.
Retno berlaku cerdik.
Ia mulai menggerakkan pedangnya untuk membacok!
cabang-cabang pohon yang menyambar nyambar.
Terdengar bunyi "crak-crok"
Ketika Pedang Nogo Wilis membabati cabang-cabang pohon itu sehingga terbabat putus semua.
Setelah tinggal cabangnya yang dipegang kakek itu, iapun mulai membabati cabang pohon itu.
Pedang Nogo Wilis adalah sebatang pedang yang ampuh dtn tajam bukan main.
Begitu bertemu dengan pedang itu, batang pohon yang dijadikan senjata Ki Klabangkolo terbabat putus.
Sementara itu, pemuda yang memegang keris itupun menyerang Ki Klabangkolo dengan tusukan-tusukan maut, diseling dengan tamparan tangan kirinya yang amat kuat.
Kembali Ki Klabangkolo terdesak hebat.
"Wuuuttt.....plakk!"
Tangan kiri pemuda itu berhasil menampar pundak kiri Ki Klabangkolo.
Kakek itu terhuyung akan tetapi masih sempat memutar batang pohon yang tinggal pendek untuk melindungi tubuhnya.
Pada saat itu, pedang berkelebat membacok ke arah batang pohon yang kini menjadi tongkat yang panjangnya tinggal satu setengah meter lagi.
Baca Juga: Jodoh Rajawali 7
Baca Juga: Suling Emas Dan Naga Siluman 18